HOME

Monday, July 30, 2012

Sandra Brown, Exclusive 1

Penulis: Sandra Brown

Bab Satu

"Anda kelihatan cerah, Mrs. Merrit."
"Aku kelihatan Kacau"
Vanessa Merrit sebetulnya memang tampak kacau,
dan Barrie jadi malu karena ketahuan menyampaikan pujian kosong.
Ia berusaha memperbaiki kesalahannya dengan tenang.
" Setelah apa yang Anda alami, Anda berhak tampak sedikit kusut.
Wanita lain, termasuk say, khususnya saya, akan puas jika bisa tampil
seperti Anda biarpun Anda sedang sangat kacau.
"Terima kasih." Ia mengaduk cappucino-nya tanpa semangat.
kalau saraf bisa berbunyi, saraf Vanessa Merrit pasti
sudah berdenting-denting seperti sendoknya ketika Ia
dengan gemetar meletakkannya kembali.
'Ya Tuhan. Demi sebatang rokok, aku rela semua kuku
jariku dicabut dengan tang."
Ia jelas tidak pernah tampak merokok di edepan umum,
jadi Barrie terkejut mendengar Ia ternyata peroko.
Meskipun sikapnya yang gelisah memang ciri pecandu nikotin.
Tangannya tak pernah diam. Ia mengotak-atik kalung
mutiaranya, bermain-main dengan giwang berlian indah
di telinganya, dan berulang kali membetulkan letak
kacamata RayBan yang nyaris menutupi lingkaran hitam
dan bengkak di sekeliling matanya.
Matanya yamg cemerlang sangat menunjang
kecantikannya. Sampai saat ini. Hari ini, mata indah
berwarna biru muda itu menunjukkan rasa sakit dan
kecewa. Hai ini sepasang mata itu tampak seperti mata
bidadari yamg baru saja melihat neraka untuk pertama
kalinya.
“Saya tidak punya tang,” ujar Banie. “Tapi saya punya
ini.” Dari tas kulit besarnya, ia mengeluarkan sebungkus
rokok yang belum dibuka dan menyodorkannya ke
seberang meja.
Mrs. Merrit jelas tampak tergoda. Matanya yang kalut
dengan gelisah mengamati teras luar restoran. Cuma ada
beberapa pria di meja lain dan seorang pelayan yang
lewat tak jauh dari mereka Meski begitu, ditolaknya
rokok itu. “Sebaiknya aku tidak merokok. Tapi kadau kau
mau. silakan.”
“Saya tidak merokok. Saya membawanya untuk jagajaga
seandainya saya harus membuat orang yang saya
wawancarai merasa rileks.”
“Sebelum kau mencecarnya.”
Barrie tertawa. “Saya cuma bisa berharap saya seganas
itu.”
“Sebetulnya kau lebih bagus menggarap kisah-kisah
kemanusiaan.”
Merupakan kejutan yang menyenangkan bagi Barrie
mendengar Mrs. Merrit tahu tentang karya-karyanya.
“Terima kasih.”
“Beberapa laporanmu cukup luar biasa. Seperti
tentang pasien-pasien AIDS itu. Dan laporan yang
7
kaubuat tentang wanita tunawisma tanpa suami yang
beranak empat itu.”
“Kisah itu dinominasikan untuk penghargaam industri.”
Barrie merasa tak ada alasan untuk memberitahu bahwa
ia sendirilah yang mengikutsertakan kisah itu.
“Aku menangis menontonnya,” kata Mrs. Merrit.
“Saya juga.”
“Terus terang, kau begitu hebat, aku jadi sering
bertanya-tanya kenapa kau tidak bergabung saja dengan
sebuah jaringam pemberitaan.”
“Saya punya beberapa aib.”
Alis Vanessa Merrit yang rapi berkerut. “Bukankah ada
isu mengenai Justice Green yang...”
“Ya, itu,” potong Barrie. la tak ingin semua
kegagalannya dibeberkan satu demi satu dalam
perbincangan ini. “Kenapa Anda menghubungi saya,
Mrs. Merrit? Saya senang, tapi penasaran.”
Senyum Vanessa Merrit perlahan-lahan memudar.
Dengan suara rendah dan serius ia berkata, “Sudah
kukatakan, bukan? Ini bahan wawancara.”
“Saya mengerti.”
Sebetulnya tidak. Barrie Travis sama sekali tidak tahu
mengapa Mrs. Merrit mendadak menelepon dan
mengundangnya minum kopi. Selama beberapa tahun ini
mereka memang saling kenal, tapi tidak akrab.
Bahkan pilihan tempat pertemuan hari ini pun
mencurigakan. Restoran ini salah satu dari beberapa
tempat serupa di sepanjang pantai selat yang
menghubungkan Sungai Potomac dengan Tidal Basin.
Malam hari, seluruh kelab dan tempat makan di
sepanjang Water Street ini selalu penuh pengunjung, yang
8
sebagian besar adalah turis. Kadang-kadang memang ada
yang makan siang di sini. tapi di siang bolong pada hari
kerja begini, restoran-restoran ini kosong melompong.
Mungkin tempat ini dipilih memang karena sepinya.
Barrie memasukkan sepotong gula ke cangkir
cappuccino-nya, kemudian dengan malas-malasan
mengaduknya sambil memandang ke luar pagar besi
teras.
Mrs. Merrit mengaduk cappuccino-nya dan akhirnya
menyesapnya. “Sudah dingin.”
“Anda mau pesan lagi?” tanya Barrie. “Biar saya
panggil pelayannya.”
“Tidak, terima kasih. Sebetulnya aku tidak ingin
minum kopi. Kopi cuma, kau tahu...” la mengangkat
bahunya yang dulu langsing menarik tapi sekarang kurus
melengkung.
“Cuma alasan?” tebak Barrie.
Vanessa Merrit mengangkat kepala. Di balik kacamata
hitam itu, Barrie melihat kejujuran muram tersorot dari
mata wanita itu “Aku harus bicara dengan seseorang.”
“Dan Anda teringat pada saya?”
“Well, ya.”
“Karena beberapa kisah saya membua t Anda
menangis’?”
“Itu. dan karena kartu simpati yang kaukirim. Aku
tersentuh. Sangat tersentuh.”
“Saya senang kartu itu bisa menghibur Anda”
“Aku. aku tidak punya banyak temam akrab. Kau dan
aku kira-kira seumur. Kupikir kau bisa jadi pendengar
yang baik.” la menunduk. Seuntai rambut kocekelatan
tergerai ke depan, menutupi sebagiam tulang pipinya
9
yang klasik dan dagunya yang aristokrat.
Dengan suara pelan Barrie berkata, “Kartu saya tidak
mampu mengutarakan betapa sedihnya saya atas apa yang
terjadi.”
“Sesungguhnya mampu. Terima kasih,” Vanessa Merrin
mengambil tisu dari tas dan menyelipkannya di bawah
kacamata hitam untuk mengusap matanya. “Entah dari
mana air mata ini.” katanya tentang air mata yang
membasahi tisunya itu. “Mestinya aku sudah kekeringan
sekarang.”
“Itukah yang ingin Anda bicarakan?” tanya Barrie
lembut ‘’Bayi itu?”
“Robert Rushton Merrit,” kata Mrs. Merritt sengit
“Kenapa sih semua orang tidak mau menyebut namanya?
Demi Tuhan, dia punya nama selama tiga bulan. dia ada
dan punya nama”
“Saya rasa “
la tidak memberi Barrie waktu untuk bicara. “Rushton
nama gadis ibuku.” Mrs. Merritt menjelaskan “Dia pasti
suka kalau cucu pertamanya diberi nama
keluarganya”Sambil memandangi air selat yang bergolak,
Mrs. Merritt melanjutkan bicaranya dengan suara
melamun. ‘’Dan aku selalu suka nama Rohen. Itu nama
yang lugas, tanpa tahi kucing”
Kevulgaran ucapannya mengejutkan Banie. Omongan
sepeni itu sangat jauh dari citra wania Selatan terhormat
.Vanessa Merritt Seumur hidup, helum pernah Barrie
merasa hegitu kehabisan kata-kara Dalam situasi seperti
ini, apa yang pantas diucapkannya? Apa yang bisa
dikatakannya pada wanita yang baru saja kehilangan
bayinya? Pemakaman yang bagus?
10
Tiba tiba Mrs. Merritt bertanya, “Apa yang kau ketahui
tentang masalah itu?”
Barrie tergagap. Apakah ia sedang ditantang? Apa
yang kau ketahui tentang kehilangan anak? Apa yang
betul-betul kau ketahui tentang apa pun?
“Apakah maksud Anda...? Yang Anda maksud kematian
bayi... maksud saya, kematian Robert?”
“Ya. Apa yang kauketahui?”
“Tidak ada yang benar-benar tahu soal SIDS (Sudden
infant Death Syndrome—siodrom kematian bayi secara
mendadak), bukan?” tanya Barrie, meraba-raba maksud
di balik pertanyaan itu.
Rupanya Mrs. Merritt berubah pikiran tentang rokok
tadi. Dirobeknya bungkus rokok yang tergeletak di meja.
Gerakannya seperti boneka tali, tersentak-sentak dan
kaku. Jari-jari yang menempelkan rokok ke bibirnya
bergetar. Barrie cepat-cepat mengambil pemantik api dari
tas. Vanessa Merritt tidak berbicara lagi sampai setelah
mengisap rokoknya dalam-dalam beberapa kali. Tapi
tembakau itu tidak menenangkannya, malah membuatnya
makin resah.
“Robert sedang tidur, menyamping, disangga salah
satu bantal kecil, seperti posisi yang diajarkan padaku.
Kejadiannya begitu cepat! Bagaimana bisa...” Suaranya
lenyap.
“Apakah Anda menyalahkan diri Anda? Dengar.”
Barrie mengulurkan tangan ke seberang meja, mengambil
rokok dari tangan Mrs. Merritt, dan melumatkannya di
asbak. Lalu ia menekan tangan dingin wanita itu di antara
kedua tangannya. Gerakan untuk menunjukkan simpati
itu dilihat oleh pria-pria di meja lain.
11
“Robert meninggal karena kematian di tempat tidur
bayi. Ribuan ibu dan ayah setiap tahun kehilangan anak
akibat SIDS, dan tak satu pun di antara mereka yang tidak
meragukan kemampuan mereka merawat anak. Sudah
sifat manusia untuk menimpakan kesalahan pada tragedi,
jadi manusia menimpakan kesalahan pada diri mereka
sendiri. Jangan jatuh ke dalam perangkap itu. Kalau Anda
mulai berpikir Anda-lah yang bertanggung jawab atas
kematian bayi Anda, Anda mungkin tidak akan pernah
bisa melupakannya.”
Mrs. Merritt menggeleng kuat-kuat. “Kau tidak
mengerti. Semuanya memang salahku.” Di balik kacamata
hitam itu matanya memandang sekeliling dengan liar. Ia
menarik tangannya dari genggaman Barrie, menyentuh
pipi. pindah ke permukaan meja, pangkuan, sendok.
leher. Ia berusaha menenangkan diri. “Bulan-bulan
terakhir kehamilanku tak tertahankan rasanya.”
Selama beberapa saat ia menutupi mulutnya dengan
tangan, seolah trimester terakhir itu amat sangat
menyakitkan. “Lalu Robert lahir. Tapi keadaan bukannya
membaik, seperti yang kuharapkan, malah semakin
buruk. Aku tidak bisa...”
“Tidak bisa apa? Mengatasinya? Semua ibu yang baru
melahirkan akan merasa galau,” Barrie menghibumya.
Mrs. Merritt memijat pelipisnya dengan ujung jari.
“Kau tidak mengerti,” ia mengulangi dengan suara
berbisik yang tegang. “Tidak ada yang mengerti. Aku
tidak bisa bicara dengan siapa pun. Dengan ayahku pun
tidak. Oh, Tuhan, aku tidak tahu mesti bagaimana!”
Kekacauan emosinya begitu nyata hingga para pria di
meja sebelah menoleh dan memandanginya. Pelayan
12
mendekat, ekspresinya tampak khawatir.
Barrie cepat-cepat berbicara dengan suara tertahan.
“Vanessa, kumohon, tenangkan dirimu. Orang-orang
memperhatikan kita.”
Entah karena Barrie memanggilnya dengan nama
depannya atau karena alasan lain, kekacauan emosi tadi
segera berubah 180 derajat. Tangannya yang tadi terus
bergerak, kini diam. Air matanya langsung kering. Ia
menenggak habis cappuccino dingin yang beberapa saat
lalu tak ingin diminumnya, kemudian mengakhirinya
dengan mengusap bibirnya yang pucat dengan serbet.
Barrie mengamati transformasi itu dengan takjub.
Pulih seutuhnya, dengan suara tenang dan datar, ia
berkata, “Percakapan ini sama sekali off the record,
bukan?”
““Tentu,” jawab Barrie. “Anda sudah mengatakannya
waklum menelepon saya.”
“Mengingat posisimu, dan posisiku, aku sekarang
menganggap mestinya pertemuan ini tidak dilangsungkan.
Sejak Robert meninggal, aku jadi kacau. Kupikir aku
harus membicarakannya, tapi temyata aku salah.
Membicarakannya cuma membuatku makin tidak keruan.”
“Anda baru saja kehilangan bayi Anda. Anda pantas
merasa galau.” Barrie menyentuh lengan wanita di
hadapannya itu. “Jangan terlalu keras pada diri Anda.
SIDS terjadi begitu saja.”
la membuka kacamata hitamnya dan menatap mata
Barrie lurus-lurus. “Betul begitu?”
Lalu Vanessa Armbruster Merritt, sang Ibu Negara
Amerika Serikat, mengenakan kembali RayBan-nya,
menyandang tasnya, dan berdiri. Para agen Dinas Rahasia
13
di meja sebelah cepat-cepat bangun. Mereka diikuti tiga
agen lain yang sejak tadi berdiri di sepanjang pagar besi,
tidak kelihatan.
Mereka mengelilingi Ibu Negara dan mengawalnya
dari teras restoran ke limusin yang telah menunggu.
14
Bab Dua
BARRIE mengaduk-aduk tasnya, mencari koin untuk
mesin minuman. “Ada yang punya beberapa koin 25 sen
yang bisa kupinjam?”
“Untukmu tidak ada, Manis,” jawab seorang editor
video yang kebetulan lewat. “Kau sudah berutang 75 sen
padaku.”
“Besok kubayar. Sumpah.”
“Tidak usah ya, Cantik.”
“Pernah dengar soal pelecehan seksual di kantor?” seru
Barrie pada laki-laki itu.
“Tentu. Aku mendukungnya,” balas laki-laki itu
sambil menoleh.
Barrie berhenti mencari koin di dasar tasnya,
memutuskan sekaleng minuman diet tidak cukup berarti
untuk membuatnya bersusah payah begitu.
Ia berjalan di antara kerumunan orang, melintasi ruang
berita stasiun televisi, melewati labirin bilik sampai ia
tiba di biliknya sendiri. Kalau melihat mejanya yang
berantakan, pengidap obsesif-kompulsif pasti sudah
bunuh diri. Barrie melemparkan tasnya ke meja, hingga
tiga majalah terjatuh ke lantai.
“Kau pernah membaca majalah-majalah itu?”
15
Suara yang tak asing itu membuat Barrie mengerang.
Howie Fripp adalah editor penugasan departemen berita,
atasan langsungnya, dan orang yang amat sangat
menyebalkan.
“Tentu saja aku membacanya,” dusta Barrie. “Dari
awal sampai akhir.”
la berlangganan beberapa majalah. Majalah-majalah
itu datang secara teratur, menumpuk tinggi di mejanya
sampai ia terpaksa membuangnya, lebih sering belum
dibaca. Dengan setia ia membaca horoskop bulanan di
Cosmopolitan. Kira-kira itulah waktu yang dihabiskannya
untuk majalah-majalah itu, tapi ia berprinsip takkan
berhenti berlangganan. Semua jurnalis TV yang baik
merupakan pecandu berita, mereka membaca semua yang
bisa dibaca.
Dan dia adalah jurnalis TV yang baik.
Betul.
“Tidakkah hati nuranimu terusik kalau tahu bahwa
ribuan pohon menyerahkan nyawa mereka hanya supaya
kau bisa tetap punya bahan bacaan yang tidak kaubaca?”
“Howie, kau-lah yang mengusikku. Lagi pula, beraniberaninya
kau berkhotbah soal kesadaran lingkungan,
padahal asap rokokmu yang empat bungkus sehari itu
mengotori atmosfer.”
“Belum lagi kentutku.”
la membenci seringai kecil jahat laki-laki itu hampir
seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur
WVUE, stasiun TV independen di bawah standar yang
beranggaran kecil, yang setengah mati bertahan hidup di
antara raksasa-raksasa berita di Washington, D.C. Ia
harus mengemis supaya memperoleh dana untuk
16
memproduksi feature story seperti yang dipuji Ibu
Negara tadi. Dan ia punya ide untuk banyak feature story
lain. Tapi manajemen stasiun ini, termasuk Howie,
berbeda pendapat. Ide-idenya dihalangi oleh para pria
yang tak punya visi, bakat, dan energi. Tempatnya
memang bukan di sini.
Bukankah itu juga keyakinan para penghuni penjara?
“Terima kasih, Howie,. karena tidak menyebut-nyebut
soal kentutmu.”
la mengempaskan diri ke kursi dan menyisir rambut
dengan jari-jarinya, lalu menariknya ke belakang. Penata
rambutnya memang tidak hebat, tapi angin lembap di
teras restoran tadi membuatnya berantakan.
Pilihan tempat pertemuan yang aneh.
Lebih aneh lagi pertemuan itu sendiri.
Apa tujuannya?
Dalam perjalanan pulang ke stasiun TV, Barrie
menelaah setiap patah kata yang terucap sepanjang
pertemuannya dengan Ibu Negara. Ia menganalisis semua
infleksi dalam suara Vanessa Merritt, menimbang setiap
gerakan tangan, menebak bahasa tubuhnya, memikirkan
pertanyaan final meresahkan yang merupakan kata-kata
perpisahan untuknya itu, tapi ia tetap tak bisa mengatakan
dengan pasti apa yang terjadi. Atau apa yang tidak terjadi.
“Sudah periksa e-mail-mu?” tanya Howie,
membuyarkan pikirannya.
“Belum.”
“Harimau yang. kabur dari karnaval keliling itu?
Mereka sudah menemukannya Ternyata dia tidak kabur.
Jadi, tak ada berita.”
“Oh tidaaak!” kata Barrie dramatis. “Padahal aku
17
sangat ingin meliputnya.”
“Hei, itu bisa jadi berita besar. Kucing besar itu bisa
saja memakan anak kecil.” Howie tampak benar-benar
kecewa peristiwa itu tidak terjadi.
“Itu liputan kelas teri, Howie. Kau selalu memberiku
liputan kelas teri. Apa karena kau tidak suka padaku, atau
karena aku wanita?”
“Aduh, jangan ngomong soal feminis itu lagi deh. Kau
mau dapat haid, ya?”
Barrie menghela napas. “Howie, kau payah.”
Payah. Itu dia. Vanessa Merritt tadi kelihatan payah.
Tidak sabar menghadapi ocehan laki-laki itu, Barrie
berkata, “Dengar, Howie, kalau tidak ada alasan spesifik
kau datang kemari, aku masih banyak pekerjaan, seperti
yang bisa kaulihat.”
Howie mundur ke partisi yang memisahkan kotaknya—
begitulah pendapatnya tentang bilik kerjanya yang penuh
sesak—dari bilik sebelah. Tanpa memedulikan musim,
Howie mengenakan kemeja putih lengan pendek. Selalu.
Selalu dengan celana panjang hitam yang mengilap.
Dasinya dijepit. Hari ini dasi pilihannya sangat norak dan
ada noda di ujunguya yang sudah berjumbai, yang
panjanguya cuma sampai di bagian tengah perutnya yang
buncit, sangat tidak proporsional dengan bokongnya yang
tepos dan kakinya yang melengkung kurus.
Sambil menyilangkan tangan dan kaki, ia berkata,
“Tidak ada salahnya kalau kau punya berita, Barrie. Kau
tahu, berita. Kau digaji untuk mencari berita, setidaktidakuya
satu setiap hari. Bagaimana kalau kaucari untuk
warta berita malam ini?”
“Aku sedang menggarap sesuatu yang ternyata tidak
18
menarik,” gumcun Barrie seraya menghidupkan komputer.
“Tentang apa?”
“Karena tidak menarik, buat apa dibahas?”
Vanessa Merritt bilang bulan-bulan menjelang kelahiran
anaknya rasanya tak tertahankan. Biarpun tidak
mengatakannya secara tegas dan jelas, dari sikapnya saja
dapat terlihat bahwa ia mengalami masa-masa sulit.
Sesudah kelahiran si bayi, “tak tertahankan” berkembang
jadi semakin buruk. Tapi apa yang begitu tak tertahankan?
Dan mengapa memberitahu aku?
Howie terus berceloteh, tidak sadar bahwa Barrie
cuma setengah mendengarkan. “Aku tidak minta liputan
langsung tentang orang yang menembak kepalanya
sendiri, atau langkah-langkah pertama manusia di Mars,
atau kelompok ekstrem menyandera Paus di Vatikan.
Berita kecil yang menyenangkan sudah cukup. Pokoknya
berita tentang apa saja. Untuk mengisi enam puluh detik
antara siaran iklan kedua dan ketiga. Cuma itu yang
kuminta.”
“Kau ini dangkal sekali, Howie,” komentar Barrie.
“Kalau itu tadi pidato pendorong semangat paling bagus
yang bisa kausampaikan, pantas saja kau mendapatkan
hasil yang begitu tidak memuaskan dari para
bawahanmu.”Howie meluruskan tangan dan kaki, lalu
menegakkan tubuh hingga tingginya yang 165 senti,
berkat ganjalan di sepatu, jadi kelihatan. “Kau tahu apa
masalahmu? Di matamu tampak ambisi. Kau ingin jadi
Diane Sawyer. Well, kuberitahu kau, ya... kau bukan dia.
Dan takkan pernah jadi dia. Kau takkan pernah menikah
dengan sutradara film terkenal atau memiliki news
magazine show—acara berita yang membahas masalah19
masalah aktual secara mendalam—sendiri. Kau takkan
pernah memiliki respek dan kredibilitas dalam bisnis ini.
Karena kau pecundang dan semua orang di industri ini
tahu. Jadi berhentilah menunggu berita besarmu dan
terima saja apa yang bisa ditangani oleh diri dan bakatmu
yang terbatas. Berita yang bisa kuudarakan. Oke?”
Barrie mengabaikannya persis setelah pernyataan “di
matamu tampak ambisi”. Ia pertama kali mendengar
pidato itu pada hari Howie mempekerjakannya, karena
kebaikan hatinya. begitu kata laki-laki itu. Lagi pula, pria
itu menambahkan, pihak manajemen mendesaknya untuk
menambah “cewek” lagi, dan Barrie “lumayan manis”.
Sejak saat itu hampir setiap hari ia mendengar pidato
yang sama. Selama tiga tahun.
Ada beberapa pesan di e-mail-nya, tapi semua bisa
ditunda. Ia mematikan komputer dan berdiri. “Sekarang
sudah terlalu malam untuk melakukan apa pun, Howie.
Tapi akan kuberi kau berita besok. Janji.” Ia menyambar
tas dan menyandangkannya di bahu.
“Hei! Mau ke mana kau?” Howie berteriak pada Barrie
yang bergegas melewatinya.
“Ke perpustakaan.”
“Untuk apa?”
“Riset, Howie.”
Ketika melewati mesin minuman dingin, Barrie
meninjunya. Sekaleng Diet Coke menggelinding keluar.
Ia menganggapnya sebagai pertanda baik.
Sambil dengan susah payah menjaga agar tas, setumpuk
buku perpustakaan, dan kunci-kunci yang dibawanya
tidak berjatuhan, Barrie membuka kunci pintu belakang
20
townhouse-nya dan bergegas masuk. Begitu melalui
ambang pintu, ia disambut ciuman basah dan penuh
semangat.
“Terima kasih, Cronkite.” Barrie mengusap wajahnya
yang lengket. “Aku cinta padamu juga.”
Cronkite dan saudara-saudarapya tadinya akan
“ditidurkan” di tempat penampungan anjing pada hari
Barrie memutuskan ia membutuhkan teman berkaki
empat, setelah teman berkaki duanya menyatakan ingin
berpisah dan meninggalkannya selamanya.
Ia sulit memutuskan anak anjing mana yang akan
diselamatkannya, tapi ia tidak pernah menyesali pilihannya.
Cronkite bertubuh besar dan berbulu panjang, jelas
memiliki darah golden retriever. Matanya yang cokelat
besar memandangnya tanpa berkedip sekarang, sementara
ekornya memukul-mukul betisnya dengan gembira.
“Selesaikan urusanmu,” ia memberitahu anjing itu,
mengangguk ke arah halaman belakang. “Pakai pintu
anjingmu.” Cronkite mendengking. Barrie menghela
napas. “Oke, kutunggu. Tapi cepat. Buku-buku ini berat.”
Dengan gembira Cronkite mengencingi semak-semak,
lalu melesat ke dalam mendahului Barrie.
Mari kita lihat apa ada surat asyik hari ini,” ia berkata
ketika melangkah ke ruang depan tempat surat-suratnya
menumpuk di bawah celah pintu depan.
“Tagihan, tagihan, tagihan lewat batas waktu. Undangan
makan malam di Gedung Putih.” la memandang
anjingnya, yang memiringkan kepala dan menatapnya
dengan pandangan bertanya. “Cuma mengecek apakah
kau mendengarkan atau tidak.”
Cronkite membuntutinya naik ke karnar, tempat Barrie
21
mengganti pakaian dan sepatu hak tingginya dengan
jersey Redskins yang panjangnya hampir mencapai lutut
dan kaus kaki olahraga. Sesudah menyisir rambut, ia
mengikatnya jadi buntut kuda. Sambil memandangi
bayangannya di cermin, ia bergumam, “Cantik,” kemudian
melupakan soal penampilan dan memusatkan perhatian
pada pekerjaan.
Setelah bertahun-tahun, ia sekarang memiliki banyak
narasumber—para klerek, sekretaris, kekasih gelap,
pelayan, polisi, orang di posisi kunci—yang kadangkadang
memberinya infomasi berharga dan petunjukpetunjuk
yang bisa dipercaya. Salah satu di antaranya
adalah seorang wanita bemama Anna Chen, yang bekerja
di kantor administrasi General Hospital Washington.
Gosip-gosip panas yang ditangkap Anna Chen dari
seluruh penjuru rumah sakit sering menjadi berita-berita
bagus. Ia termasuk narasumber Barrie yang paling dapat
diandalkan.
Berharap belum terlalu larut untuk meneleponnya di
kantor, Barrie mencari nomomya di Rolodex dan
menghubunginya. Operator rumah sakit langsung
menyambungkannya.
“Hai, Anna. Ini Barrie Travis. Untung kau masih ada.”
“Aku baru mau pergi. Ada apa?”
“Bagaimana peluangku memperoleh salinan laporan
autopsi bayi keluarga Merritt?”
“Kau bercanda?”
“Sekecil itu?”
“Nyaris mustahil, Barrie. Maaf.”
“Sudah kukira, tapi tidak ada ruginya mencoba.”
“Kenapa kau menginginkannya?”
22
la menyebutkan beberapa alasan palsu, yang tampaknya
bisa memuaskan narasumbernya itu. “Bagaimanapun
juga, terima kasih, Anna.”
Kecewa, Barrie menutup telepon. Laporan autopsi
akan merupakan titik awal yang bagus, walau ia masih
tidak jelas apa persisnya yang akan dimulainya.
“Kau ingin makan malam apa, Cronkite?” Barrie
bertanya sambil melompat-lompat menuruni tangga ke
dapur. Ia membuka lemari dan menyebutkan pilihan
menu. “Hidangan istimewa malam ini adalah Kibbles and
Bits, Alpo ayam dan hati, atau Gravy Train.” Aojing itu
mendengking kecewa. Kasihan, Barne berkata, “Luigi’s?”
Lidahnya yang panjang dan merah jambu langsung
terjulur, dan ia mulai ribut mendengus-dengus.
Akal sehatnya menyuruhnya makan Lean Cuisine, tapi
masa bodoh. Saat kau berada di rumah pada malam hari,
mengenakan jersey dan kaus kaki olahraga, bercakapcakap
dengan anjing kampung dan tidak akan melakukan
apa-apa selama berjam-jam selain riset, apa salahnya
menikmati beberapa ratus gram lemak?
Sewaktu ia berbicara di telepon untuk memesan dua
piza, Cronkite mulai mendengking-dengking minta
keluar. Barrie menutup corong telepon. “Kalau memang
mendesak, pakai pintu anjingmu.” Dengan sebal Cronkite
melirik celah tertutup di pintu belakang. Lubang itu
cukup untuk dilewati Cronkite, tapi tidak cukup besar
bagi manusia hingga Barrie tidak perlu takut didatangi
tamu tak diundang. Sambil mengulang pesanan piza, ia
menudingkan telunjuknya ke pintu anjing. Dengan
tampang terhina, Cronkite keluar melalui pintu itu.
Barrie sudah selesai menelepon waktu Cronkite ingin
23
masuk kembali, jadi ia membukakan pintu belakang
untuknya. “Pizanya dijamin diantarkan dalam 25 menit,
kalau tidak, kita tidak perlu membayarnya.”
Sementara menunggu, ia menuang segelas merlot dan
membawanya ke lantai tiga, yang telah diubahnya jadi
ruang kerja. Ia telah menguras tabungannya untuk
membeli townhouse yang terletak di distrik Dupont
Circle yang gaya ini. Bangunan ini tua tapi menarik dan
berkarakter, juga dekat dari mana-mana.
Tadinya ia menyewakan lantai paling atas, yang
merupakan apartemen tersendiri. Tapi ketika penyewanya
pindah ke Eropa meskipun uang sewa selama enam
bulannya masih ada, Barrie menggunakan uang ekstra itu
untuk mengubah ketiga kamar berukuran kecil itu
menjadi sebuah ruang kerja yang luas.
Salah satu dinding ruangap itu kini digunakan khusus
untuk menyimpan kaset video. Ada beberapa rak. Ia
menyimpan semua laporannya sendiri, siaran berita yang
membahas peristiwa-peristiwa bersejarah, dan semua
news magazine show. Kaset-kaset itu disusun sesuai abjad
subjeknya. Ia langsung mengambil kaset yang diinginkannya,
memasukkannya ke VCR, dan menontonnya
seraya menyesap anggur pelan-pelan.
Kematian dan pemakaman Roben Rushton Merritt
didokumentasikan secara lengkap. Tragedi itu rasanya
semakin tidak adil karena menimpa keluarga Merritt,
yang pemikahannya dianggap merupakan lambang
kesempurnaan.
Presiden David Malcomb Merritt bagai tokoh panutan
bagi pria muda Amerika yang bercita-cita menjadi
presiden. Ia tampan, atletis, menarik, dan karismatis bagi
24
pria dan juga wanita.
Vanessa Merritt adalah pasangan yang serasi bagi
suaminya. Ia menawan. Kecantikan dan daya tarik
Selatannya menutupi kekurangannya. Misalnya dalam
segi intelektualitas. Dan kebijaksansan. Ia tidak dianggap
punya kelebihan di bidang kecerdasan, tapi tampaknya
tidak ada yang peduli. Masyarakat menginginkan Ibu
Negara yang menarik hati, dan Vanessa Armbruster
Merritt dengan rnudah memenuhi keinginan itu.
Orangtua David sudah lama meninggal. Ia tidak
memiliki keluarga yang masih hidup. Namun ayah
Vanessa lebih dari cukup dalam menutupi kekurangan ini.
Tak ada yang bisa mengingat sejak kapan Cletus
Anmbruster menjadi senator senior dari Mississippi. Ia
memegang jabatan itu lebih lama daripada entah berapa
presiden.
Bersama mereka membentuk tiga serangkai menarik
yang sama terkenalnya dengan. keluarga kerajaan dan
mana pun. Sejak pemerintahan Kennedy, tidak satu pun
presiden Amerika, istrinya, dan kehidupan pribadi
mereka, menarik begitu banyak perhatian dan kekaguman
publik, di tingkat nasional dan dunia, seperti keluarga
Merritt. Apa pun yang mereka lakukan, ke mana pun
mereka pergi, sendirian atau bersama, selalu menjadi
berita.
Wajarlah Amerika bergembira ketika diumumkan
bahwa Ibu Negara tengah mengandung anak pertama
pasangan itu. Bayi itu akan membuat keluarga sempuma
itu jadi semakin sempuma.
Kelahiran sang bayi mendapatkan liputan pers lebih
besar daripada berita apa pun. Barrie ingat waktu itu ia
25
menonton, dari monitor ruang berita, berita kesekian
kalinya tentang kedatangan bayi Merritt di Gedung Putih.
Waktu itu Howie berkomentar dengan masam, “Perlukah
kita mencari bintang di Timur?”
Satu-satunya peristiwa yang mendapat liputan sebesar
itu adalah kematian bayi yang sama tiga bulan kemudian.
Dunia terperangah, terkejut, dan sedih. Tak ada yang
mau mempercayainya. Tak ada yang bisa mempercayainya.
Amerika berduka.
Barrie menghabiskan minumannya, memutar ulang
video itu untuk ketiga kalinya, dan menonton lagi
gambar-gambar pemakaman yang memilukan.
Vanessa Menitt tampak pucat dan sedih, namun cantik
dengan setelan berkabunguya. Ia tak sanggup berdiri
tanpa dibantu. Semua orang bisa melihat betapa hancur
hatinya. Setelah bertahun-tahun menikah, baru sekarang
ia memperoleh anak; satu lagi aspek kehidupan pribadinya
yang diselidiki dan dibeberkan secara sangat mendetail
oleh pers. Kehilangan anak yang telah dengan susah
payah diperolehnya, membuatnya jadi tokoh yang betulbetul
tragis.
Presiden tampak tabab sementara air mata membasahi
pipinya yang cekung dan mengalir ke sisi mulutnya.
Orang-orang berkomentar tentang betapa penuh
perhatiannya ia pada istrinya. Hari itu, David Merritt
lebih dipandang sebagai suami dan ayah yang kebetulan
juga menjadi kepala eksekutif.
Senator Armbruster terang-terangan menangis.
Kontribusinya untuk peti mati kecil cucunya adalah
bendera mungil Negara Bagian Mississippi, yang mencuat
di antara mawar putih dan baby’s breath.
26
Jika Barrie menjadi sang Ibu Negara, ia pasti ingin
berduka tanpa dilihat orang-orang. Ia pasti membenci
semua kamera dan komentator itu. Meskipun ia tahu para
koleganya cuma melakukan tugas mereka—Barrie sendiri
ikut meliput—pemakaman itu jadi tontonan publik,
dikirim lewat satelit ke seluruh dunia. Bagaimana Vanessa
Merritt sanggup tampil setenang itu?
Bel pintu Barrie berbunyi.
Ia melirik jam. “Sialan! Dua puluh empat menit, 39
detik. Kau tahu, Cronkite,” ia berkata ketika mereka
menuruni tangga, “kurasa mereka sengaja berbuat begitu
untuk membuat kita berharap.”
Luigi sendiri yang mengantar. Ia orang Italia bertubuh
pendek gemuk dengan wajah kemerahan, bibir penuh,
dan segumpal rambut hitam keriting—di dada. Kepalanya
botak tanpa rambut sehelai pun.
“Miss Travis,” katanya, berdecak memandang pakaiannya.
“Saya tadinya berharap piza tambahan malam
ini untuk sang pacar.”
“Bukan. Yang pakai bakso untuk Cronkite. Kuharap
kau tidak terlalu banyak memberi bawang putih.
Perutnya jadi kembung. Berapa?”
“Saya masukkan ke tagihan Anda.”
‘’Terima kasih.” Diraihnya kedua kotak itu. yang
aromanya membuat Cronkite melompat-lompat histeris
di kakinya. Gerakan Cronkite, merlot tadi, dan perutnya
yang kelaparan membuat Barrie pusing.
Tapi Luigi tidak mau melepaskan pizanya tanpa
ceramah yang merupakan tambahan gratis darinya.
“Anda bintang film...”
“Aku di bagian berita TV.”
27
“Sama saja,” bantah Luigi. “Saya bilang pada istri
saya, ‘Miss Travis pelanggan yang baik. Dua-tiga malam
dalam seminggu dia menelepon kita. Baik bagi kita, tapi
buruk baginya. Dia terlalu banyak sendirian.’ Dan istri
saya bilang...”
“Bahwa mungkin Miss Travis memang ingin sendirian.”
“Tidak. Katanya Anda tidak bertemu pria karena
terlalu banyak bekerja.”
“Aku bertemu pria, Luigi. Tapi yang baik sudah ada
yang punya semua. Laki-laki yang kujumpai, kalau tidak
sudah menikah, homo, aneh, atau tak mungkin didapat.
Tapi kuhargai perhatianmu.” Diraihnya piza itu lagi.
Kembali tak berhasil.
“Anda cantik, Miss Travis.”
“Aku tidak bisa membuat lalu lintas macet.”
“Rambut Anda bagus. Warna kemerahan yang indah.
Kulit Anda juga bagus. Dan mata hijau Anda sangat tidak
biasa.”
“Warna hazel yang sangat biasa.” Sama sekali tidak
spektakuler. tidak seperti, yah, mata safir jernih Vanessa
Merritt.
“Agak kecil di atas sini.” Mata Luigi bergerak ke
payudaranya Barrie tahu dari pengalaman, bahwa jika ia
membiarkan, pria itu sekarang akan mulai mengevaluasi
tubuhnya.
“Tapi tidak terlalu kecil,” ia cepat-cepat menghibur
Barrie. “Secara keseluruhan, Anda langsing.”
“Dan makin langsing.” Barrie menyambar kotak-kotak
piza. “Terima kasih, Luigi. Tambahkan tip yang banyak
untuk dirimu dalam tagihanku, dan kirim salam untuk
istrimu.” Ia menutup pintu sebelum Luigi sempat
28
berkomentar lagi tentang kehidupan asmaranya.
Cronkite sudah kalap, jadi Barrie langsung memberinya
pizanya lengkap dengan kotaknya. Lalu ia sendiri duduk
di meja dapur, makan piza sambil minum segelas anggur
lagi, ditemani buku-buku perpustakaan yang dipinjamnya
tadi siang. Piza itu, seperti biasa, sangat lezat. Anggur
keduanya habis lebih cepat daripada yang pertama. Riset
tentang SIDS ternyata mengasyikkan.
Dibanding piza dan anggur, ia lebih menikmati
risetnya, ingin mencari tahu lebih banyak.
29
Bab Tiga
SAMBlL mengerutkan kening dengan skeptis, Howie
Fripp mengorek telinganya dengan kunci mobil. “Entah,
ya.”
Barrie menahan keinginannya untuk menyerbu ke
seberang meja dan menerkam tenggorokan pria itu. Tak
seorang pun bisa membangkitkan aspek ganas
kepribadiannya ini. Kecuali Howie. Bukan hanya kebiasaan
pribadinya yang menjijikkan dan chauvinisme-nya yang
menyebalkan yang membangunkan insting buas pada diri
Barrie. Ketololan dan pandangannya yang sempitlah yang
membuat Barrie benci setengah mati pada laki-laki itu.
“Apanya yang tidak kausukai?”
“Membuat depresi saja,” jawab Howie, seraya bergidik
untuk menekankan perkataannya. “Bayi meninggal di
tempat tidur. Siapa yang mau menonton serial tentang
masalah itu?”
“Para orangtua baru. Para calon orangtua. Para
orangtua yang mengalaminya. Siapa saja yang ingin tahu
dan memahaminya, yang kuharap termasuk paling tidak
sebagian dari pemirsa kita.”
“Kau hidup di dunia mimpi, Barrie. Pemirsa kita
menonton karena ada tayangan ulang Cheers setelah
30
warta berita.”
Barrie berusaha menyembunyikan nada tidak sabar
dalam suaranya. Kalau Howie tahu ia geram padanya.
laki-laki itu akan makin hertingkah. “Karena subjeknya,
serial itu memang tidak akan menjadi tontonan yang
menyenangkan. Tapi tidak berarti harus jadi cengeng
juga. Aku sudah menghubungi pasangan yang kehilangan
anak akibat SIDS dua tahun yang lalu. Mereka, sekarang
sudah punya anak lagi, dan bersedia melakukan wawancara
di depan kamera tentang bagaimana meneka mengatasinya.”
Seraya berdiri, Barrie mencoba memenangkan perdebatan
ini. “Temanya habis gelap terbitlah terang Kemenangan
dalam mengatasi kesedihan. Bisa membangkitkan
semangat.”
“Kau sudah menyiapkan orang-orang yang akan
diwawancara?”
“Tergantung persetujuanmu, tentu saja,” Barrie berkata,
menyenangkom hatinya. “Aku ingin semua sudah siap
sebelum menemuimu, Howie . Aku melakukan riset
mengenai masalah ini selama seminggu, berbicara dengan
berbagai dokter anak dan psikolog. Ini topik yang tepat,
terutama sejak kematian bayi Merritt.”
“Orang sudah muak mendengarnya.”
“Tapi aku membahasnya dari beberapa sudut yang
unik.”
Ini bukan sekadar untuk mempromosikam proyeknya.
Makin dalam ia meriset SIDS, makin penasaran ia pada
subjek-subjek sampingan yang sama menarik dan pantas
diselidiki dengam subjek inti. Ketika mempelajarinya, ia
jadi sadar bahwa laporan tunggal sepanjang sembilan
puluh detik takkan cukup untuk membahasnya.
31
Tapi Howie menghalanginya. “Entah, ya,” ulangnya.
Kunci mobil tadi berputar-putar di telingamya yang satu
lagi sementara ia membaca ulang proposal Barrie.
Proposal itu mendetil namun singkat. Tentu orang yang
berkapasitas mental terbatas seperti Howie pun mestinya
mampu memahaminya.
Barrie meminta tiga segmen, untuk mengudara selama
dua malam berturut-turut dalam warta berita malam.
Masing-masing segmen akan membahas elemen SIDS
yang berbeda. Ia juga mengusulkan agar acara ini
dipromosikan besar-besaran sebelum diudarakan.
Pada akhirnya, tentu saja, ini tidak tercammm dalam
proposal, akan ada produser berita di antara para pemirsa
yang mengagumi karyanya dan menawarkan pekerjaan
padanya sehingga ia bisa keluar dari koloni lepra
jurnalisme TV ini, yang juga dikenal sebagai Departemen
Berita WVUE.
Howie bersendawa. Di ujung kunci tadi tampak
segumpal kotoran cokelat, yang disapukannya ke lembaran
paling atas proposal Barrie. “Aku tidak yakin...”
“Aku telah mewawancarai Mrs. Merritt.”
Howie menjatuhkan kunci itu. “Apa?”
Barrie berbohong, tentu saja. Tapi kalau keadaan
memaksa... “Baru-baru ini kami minum kopi bersama.”
“Kau dan Ibu Negara?”
“Betul. Dia yang mengundang. Dalam perbincangan
kami, aku bercerita tengah menggarap sebuah serial. Dia
mendukung ideku dan setuju untuk mengungkapkan
pendapatnya.”
“Di depan kamera?”
Di kepala Barrie mendadak muncul bayangan Vanessa
32
Merritt yang berusaha bersembunyi di balik RayBan,
dengan tangan gemetaran memegang rokok yang sebetulnya
tidak boleh diisapnya; gambaran Ibu Negara sebagai
wanita yang emosinya kacau.
“Tentu saja di depan kamera,” Barrie berkata, matanya
membelalak.
“Kau tidak bilang apa-apa soal Ibu Negara dalam
proposalmu.”
“Aku menyimpannya untuk kejutan.”
Oke, aku terkejut,” kata Howie datar.
Barrie tak pernah pandai berbohong, tapi Howie pun
bukan orang yang pandai menilai karakter orang, Jadi
menurut Barrie ia aman.
Pria itu mendoyongkan tubuh di mejanya. “Jika Mrs.
Merritt setuju untuk diwawancara...”
“Pasti.”
“Kau tetap harus membuat satu liputan setiap hari.”
Setelah berkata begitu, ia bersandar dan menggaruk
selangkangannya.
Barrie mempertimbangkan syarat itu, kemudian menggeleng
tegas. “Aku harus memberi perhatian penuh pada
masalah ini, Howie. Aku ingin menggunakan seluruh
waktuku untuk liputan ini.”
“Dan aku ingin tidur dengan Sharon Stone. Tapi kita
tidak selalu memperoleh keinginan kita, bukan?”
Barrie berpikir lagi. “Oke. Syarat disetujui.”
“Barrie Travis.”
“Siapa?”
Ibu Negara berdehem sebelum mengulangi nama itu.
“Barrie Travis. Dia reporter untuk WVUE.”
“Oh, yeah. Yang suaranya agak serak?” David Merritt,
33
Presiden Amerika Serikat, memasang manset bergambar
lambang kepresidenan. “Aku menyilakan dia bertanya
dalam konferensi pers baru-baru ini. Laporan-laporannya
tentang Gedung Putih biasanya bagus, bukan?”
“Sangat bagus.”
“Kenapa dia?”
Vanessa, sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa,
meneguk anggur putihnya seteguk. “Dia membuat serial
tentang SIDS dan ingin mewawancara aku.”
Merritt mengenakan tuksedo dan memandang bayangannya
di cermin. Ketika memasuki Gedung Putih, ia
memutuskan untuk tidak memiliki pelayan pribadi.
Penjahit paling berpengalaman sekalipun tidak bisa
menampilkan kelebihan fisiknya lebih baik daripada
dirinya sendiri. Potongan jasnya menonjolkan bahunya
yang lebar dan pinggangnya yang ramping. Rambutnya
selalu dipangkas rapi tapi tidak pernah diberi minyak
rambut. Diam-diam ia sebetulnya lebih suka rambutnya
tampak seperti habis ditiup angin. Ia mengenakan pakaian
resmi dengan elegan dan anggun. Kalau mengenakan
blue jeans, ia tampak seperti orang kebanyakan.
Menyukai apa yang tampak di cermin, ia menoleh
pada istrinya. “Dan?”
“Dan dia akan hadir pada resepsi malam ini. Dalton
berjanji akan memberikan jawaban padanya.”
Dalton Neely adalah sekretaris pers Gedung Putih. Ia
dipilih dan dididik dengan baik oleh Merritt dan
penasihat andalannya, Spencer Martin.
“Sebetulnya, permintaan resminya diajukan melalui
kantor Dalton.” Vanessa mengeluarkan sebutir Valium
yang diresepkan dokter dari botol obat di dalam tas
34
tangan manik-maniknya. “Barrie Travis selama beberapa
hari terakhir ini menelepon kantorku terus. Aku tidak
pernah menerima teleponnya, tapi dia pantang menyerah.”
“Reporter mencari uang dengan bersikap pantang
menyerah.”
“Well, sikapnya itu membuatku repot. Dalton tadi
siang memberitahu aku soal permintaannya. Mereka
berdua menginginkan jawabanku malam ini.”
Dengan cepat Presiden menghampiri istrinya dan
mencengkeram tangannya. Diambilnya tablet kuning
kecil dari tetapak tangan Vanessa. Lalu dikeluarkannya
botol obat dari tas tangan istrinya dan dimasukkannya pil
tadi ke dalamnya. Setelah itu ia mengantongi botol itu.
“Aku membutuhkannya, David.”
“Tidak. Ini juga sudah cukup.” Diambilnya gelas
anggur dan disisihkannya. “Anggur menetralkan obatmu.”
“Aku baru minum dua gelas.”
“Tiga. Kau membohongiku, Vanessa.”
“Oke, aku lupa. Bukan masalah. Aku...”
“Bukan soal anggur itu. Soal reporter ini. Bukan dia
yang merepotkanmu, kau sendirilah yang melakukannya.
Dia mulai menelepon kantormu sejak kau bertemu
dengannya beberapa minggu yang lalu. Begitu kan
kejadiannya?”
la diberitahu tentang pertemuan mereka hari itu juga,
jadi ia tidak terkejut dengan permintaan wawancara
Barrie Travis. Yang mengganggu pikirannya adalah,
tanpa seizinnya, Vanessa telah memulai pembicaraan
dengan orang pers. Vanessa dan seorang reporter,
khususnya yang memiliki reputasi buruk, meropakan
kombinasi berbahaya.
35
“Kau memata-matai aku?” sembur Vanessa.
“Kenapa kau menemui dia. Vanessa?”
“Aku butuh teman bicara. Apakah itu merupakan
kejahatan?”
“Kau memilih teman bicara seorang reporter?” David
tertawa sinis.
“Dia mengirimi aku kartu yang menyentuh. Kupikir
dia pasti menyenangkan diajak bicara.”
“Lain kali cari pendeta saja.”
“Kau melebih-lebihkan, David.”
“Kalau memang tidak penting, kenapa kau tidak
memberitahu aku?”
“Pertemuan itu tidak penting sampai dia meminta
wawancara di depan kamera ini. Sebelumnya, pembicaraan
kami tidak perlu diceritakan. Dia berjanji apa pun yang
kukatakan siang itu off the record. Ako butuh seseorang—
wanita—untuk kuajak bicara.”
“Tentang apa?”
“Kaukira apa?” sergah Vanessa.
Ia melompat bangun dari sofa, menyambar gelas
anggur, dan dengan gaya menantang menghabiskannya.
David bersusah payah menahan amarahnya. “Kau
kehilangan kontrol, Vanessa.”
“Betul sekali. Jadi akan lebih baik kalau kau pergi
tanpa aku malam ini.”
Resepsi malam itu, yang diadakan untuk menghormati
delegasi muhibah dari negara-negara Skandinavia, adalah
penampilan resmi pertamanya sejak kematian tragis
Robert Rushton. Pesta kecil dan formal itu hanya cocok
untuk pemunculan kembali Vanessa ke depan publik. Ia
menghilang sesudah kematian bayinya. Tiga bulan waktu
36
yang cukup lama. Masyarakat yang memilih suaminya,
butuh melihatnya kembali beraksi.
“Tentu saja kau ikut” ujar Presiden. “Kau akan jadi
primadona pesta. Selalu begitu.”
“Tapi...”
“Tidak ada tapi-tapi. Aku muak mencari alasan
untukmu. Kita barus mengatasi ini, Vanessa. Sudah dua
belas minggu.”
“Memangnya ada batas waktu untuk berduka?”
Presiden mengabaikan nada sengit dalam suaranya.
“Malam ini kau harus tampil sempurna. Jadilah dirimu
sendiri yang menawan, selalu tersenyum, maka semua
akan beres.”
“Aku benci orang-orang itu, mereka memandangiku
dengan tatapan kasihan dan prihatin, dan tidak tahu harus
bilang apa. Dan ketika ada yang bicara, omongannya
begitu hambar, aku jadi ingin berteriak rasanya.”
“Bilang saja terima kasih untuk ucapan belasungkawa
mereka, titik.”
“Ya Tuhan!” jerit Vanessa, suaranya bergetar. “Bagaimana
kau bisa tanpa perasaan begitu...”
“Karena aku harus melakukannya, brengsek. Dan kau
juga.”
Suaminya memandangnya begitu tajam hingga Vanessa
terduduk kembali di sofa. Lalu ia mendongak terpana
menatap David.
David membuang muka, dan ketika ia berbicara lagi,
kemarahannya tak terdengar. “Aku suka gaun malammu.
Baru, ya?”
Bahu Vanessa melorot. Ia menunduk. David mengamatinya
di cermin, dan mengenali gerakan refleks itu sebagai
37
tanda menyerah. “Berat badanku turun,” gumam Vanessa.
“Baju-bajuku kebesaran semua.”
Terdengar ketukan di pintu. Presiden melintasi
ruangan dan membukanya. “Hei, Spence. Mereka sudah
siap?”
Spencer Martin memandang ke balik bahu David dan
mengamati kamar. Melihat Vanessa, dan gelas anggur
kosong di meja, ia balik bertanya “Anda sudah siap?”
Presiden sengaja tidak mengacuhkan komentar penasihatnya.
“Vanessa agak demam panggung, tapi, seperti
yang kau tahu, dia selalu berhasil mengatasinya.”
“Mungkin kita terlalu mendesaknya. Jika dia merasa
belum siap...”
“Omong kosong. Dia sudah siap.” Ia menoleh pada
istrinya dan mengulurkan tangan. “Siap, Sayang?”
Vanessa berdiri dan pelan-pelan mendatangi mereka,
tanpa memandang mereka.
Salah satu sifat David adalah mengabaikan hal-hal
yang tidak ingin diakuinya misalnya perasaan tidak suka
di antara istri dan penasihat andalannya. “Dia kelihatan
cantik malam ini, bukan, Spence?”
“Betul, Mr. President.”
“Terima kasih,” jawab Vanessa kaku. Ketika mereka
melangkah ke koridor, ia menggandeng suaminya dan
bertanya “Apa yang harus dikatakan Dalton pada Barrie
Travis?”
“Barrie Travis si reporter?” sela Spence. “Mengatakan
apa pada dia?” Ia memandang Presiden dengan tatapan
bertanya.
“Dia minta izin Dalton untuk mewawancara Vanessa”
“Tentang apa?”
38
“SIDS,” jawab Presiden.
Semangat Barrie meluap-luap. Kata-katanya mengalur
deras seperti air bah.
“Aku melewati barisan penerima tamu bersama
pasanganku. Jangan girang dulu. Dia homo yang masih
merahasiakan kondisinya. Kami saling menolong, kuranglebih
begitulah. Dia mendapat undangan ke resepsi itu
dan membutuhkan pasangan wanita, dan aku mendapat
kesempatan untuk berbicara langsung dengan Presiden
dan Ibu Negara.
“Begitulah, aku meluncur sepanjang barisan penerima
tamu, bersikap seanggun mungkin, dan ketika samp u di
dekat Presiden, dia menggenggam tanganku dengan
kedua tangannya, demi Tuhan aku tidak bohong, dan
berkata, ‘Miss Travis, terima kasih banyak Anda bersedia
datang. Kami selalu senang menerima Anda di Gedung
Putih. Anda tampak luar biasa malam ini.’
“Sebetulnya, aku tidak ingat kata-kata persisnya, tapi
cukup jika kukatakan aku tidak diperlakukan-seperti
orang asing, atau sekadar kenalan, atau bahkan reporter
biasa. Barbara Walters saja tak mungkin disambut lebih
hangat daripada aku:’
Cronkite menguap dan mencari posisi yang lebih
nyaman di tengah-tengah tempat tidur Barrie.
“Aku membuatmu bosan, ya?” tanya Barrie, berhenti
untuk menarik napas. “Kelihatannya kau tidak menyadari
betapa pentingnya kesempatan yang kudapat untuk
melakukan wawancara eksklusif permma dengan Ibu
Negara sejak kematian anaknya.
“Sesungguhnya Presiden yang menyinggung masalah
itu lebih dulu. Dia bilang Mrs. Merritt telah memberi39
tahunya soal serial SIDS-ku. Dia berpendapat itu ide
bagus dan mengatakan dia mendorong Ibu Negara untuk
berpartisipasi. Dia memujiku karena telah membangkitkan
kesadaran masyarakat tentang fenomena menyedihkan
ini. Kemudian dia berkata dia dan Mrs. Merritt akan
membantuku sepenuhnya. Aku... Yah, begini saja.
Seandainya itu seks, aku seperti mengalami orgasme
berkali-kali.”
la naik ke samping Cronkite, yang menempati hampir
dua pertiga tempat tidurnya dan tak mau bergeser seinci
pun. Sambil menjaga keseimbangan di pinggir kasur, ia
menambahkan, “Aku cuma berharap Howie tadi ada di
sana supaya bisa melihatnya.”
40
Bab Empat
IA tahu pesawat TV menyala, namun ia hanya samarsamar
mendengarkan sampai akhirnya terdengar suara
yang familier itu. Ia langsung mengangkat kepala dari
wastafel kamar mandi, tempat ia mencuci muka dengan
air dingin. Setelan menyambar handuk kecil, ia berbelok
dan rnasuk ke kamar.
“... yang, malangnya, Anda dan Presiden Merritt alami
bersama ribuan pasangan lain.”
la tidak mengenali reporter itu. Wanita itu berusia tiga
puluhan, mungkin lebin tua. Rambut pirang sebahu. Mata
besar dan bibir penuh yang menjanjikan kenikmatan,
meskipun mata dan bibir itu tidak tersenyum saat ini.
Suara yang jelas dan serak, tidak biasa untuk jurnalis TV.
Namanya tertulis di dasar layar TV. Barrie Travis. Nama
itu tidak berarti apa-apa.
“Presiden dan saya terkejut ketika mengetahui jumlah
keluarga yang mengalami tragedi ini,” Vanessa Merritt
berkata. “Lima ribu per tahun di negara kita saja”
Gray Bondurant mengenal dan mengetahui wajah dan
suara yang ini dengan baik, meskipun ia langsung tahu
sikap Vanessa selama wawancara itu bukan sikap aslinya,
melainkan hasil latihan. Ia meletakkan tangannya di
41
pangkuan dengan anggun, tidak boleh ada gerakan.
Ekspresi wajah dengan hati-hati dijaga.
Pewawancara memutar rekaman suara Dr. George
Allan, dokter pribadi keluarga Merritt, yang mendapat
tugas tidak menyenangkan untuk mengumumkan kematian
Robert Rushton Merritt di kamar tidur bayi Gedung
Putih. Dr. Allan menjelaskan bahwa ilmu kedokteran
masih berusaha mengetahui penyebab dan tindakan
pencegahan SIDS.
Lalu wawancara berkembang jadi lebih pribadi. “Mrs.
Merritt, kami semua menyaksikan kesedihan Anda dan
Presiden Merritt waktu pemakaman putra Anda.” Tampak
adegan-adegan saat pemakaman. “Peristiwa itu terjadi
tiga bulan yang lalu. Luka hati Anda pasti belum sembuh,
tapi saya tahu para pemirsa kami ingin mendengar kesankesan
Anda.”
Vanessa diam sejenak. “Ayah saya pernah bilang,
‘Kemalangan adalah peluang hebat yang tersembunyi.’
Seperti biasa, Daddy benar,” katanya sambil tersenyum
sekilas. “David dan saya merasa bahwa kami jadi semakin
kuat, sebagai pasangan dan individu, sebab kami telah
diuji sampai batas ketahanan kami, dan kami berhasil
mengatasinya.”
“Omong kosong.” la menggulung handuk kecil yang
dipegangnya dan melemparkannya ke seberang kamar,
lalu mengambil remote eontrol, tidak mau mendengar
lagi.
Tapi ia mengurungkan niatnya. Vanessa tengah berkata,
“Presiden dan saya berharap orang-orang yang saat ini
mengalami tragedi yang sama dapat memperoleh semangat
dan penghiburan dari orang orang yang pernah mengalami
42
dan berhasil mengatasinya seperti kami ini. Hidup harus
terus berlanjut.”
Sambil mengumpat, Bondurant menekan tombol Off.
Respons itu ditulis, ditandatangani, disegel, dan
diserahkan pada Vanessa untuk diingat dan diulangi.
Kata-kata bustan Dalton Neely. Mungkin malah buah
pikiran ayahnya Clete Armbruster. Barangkali bahkan
sang Presiden, dengan persetujuan akhir dari Spencer
Martin.
Biarpun sudah dilatih dan diperbaiki sebelum
wawancara, kata-kata itu bukanlah kata-kata Vanessa. Ia
memang mengucapkannya. tapi tidak secara spontan dan
bukan berasal dari sanubarinya. Bondurant ragu reporter
bersuara seksi itu sadar ia telah ditipu. Vanessa sudah
diprogram dengan baik hingga seperti robot yang
dilengkapi chip komputer di kepala. Rasanya tidak pantas
kalau ia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
Yang jelas, tidak baik dari segi politik.
Merasa dinding-dinding kamar seperti mengurungnya,
Bondurant pergi ke dapur untuk mengambil bir, lalu
berjalan ke teras depan. Ia mengempaskan diri ke kursi
goyang dan meminum birnya. Otot-otot lehernya yang
kecokelatan terbakar matabari bergerak-gerak ketika ia
menghabiskan setengah isi kaleng dalam satu tegukan
panjang.
Ia tampak seperti bintang iklan bir. Gambar dirinya
bertelanjang dada minum bir di-lokasi pedusunan seperti
ini pasti bisa menjual jutaan kaleng bir merek apa pun,
tapi ia tidak menyadarinya, atau memedulikannya. Ia
tahu ia membuat orang terkesan, tapi tak pernah mau
repot- repot menganalisis sebabnya. la tidak acuh pada
43
masalah penampilan, terutama setahun terakhir ini, ketika
ia tidak menemui satu manusia pun selama bermingguminggu.
Kalau ia pergi ke Jackson Hole, ia mungkin akan
bercukur. Mungkin juga tidak.
Seperti inilah dirinya. Terima atau tinggalkan. Sejak
dulu begitulah sikapnya, dan tanpa suara ia
menyampaikannya pada semua orang yang ditemuinya
yang merupakan salah satu penyebab ia kurang cocok
dengan lingkungan Washington. Ia senang bisa keluar
dari sana. Orang-orang kepercayaan Presiden harus bisa
berkompromi, tapi Gray Bondurant tak kenal kompromi.
Dengan mata birunya yang sekeras dan sedingin es, ia
menatap puncak-puncak tajam dan bersalju Pegunungan
Teton. Sebetulnya dari jarak bermil-mil, pegunungan itu
tampak cukup dekat umtuk bisa disentuh. Keagungan
pegunungan ungu. Di halaman depan rumahnya.
Bayangkan!
Diremasnya kaleng bir yang sudah kosong itu seakan
benda itu bungkus permen karet. Ia berharap bisa
mengulang kembali sepuluh menit terakhir tadi. Kenapa
ia tadi tidak berada di luar lebih lama sebelurn masuk
untuk mencuci muka? Kebetulan apa yang membuatnya
menyalakan TV pada saluran itu tadi?
Ia berharap tak pernah menonton wawancara itu.
Terima kasih banyak, Barrie Travis, siapa pun kau.
Selama berhari-hari ia akan dihantui pikiran tentang
David, Vanessa, dan anak yang meninggal di kamar tidur
bayi Gedung Putih itu.
Yang paling membuamya gusar adalah bahwa
wawancara itu mungkin akan kembali menarik perhatian
publik terhadap dirinya. Orang-orang akan mulai berpikir,
44
menduga, menghubung-hubungkan. Lalu kekacauan
akan terulang kembali.
David Merritt mondar-mandir di depan meja kerjanya
di Ruang Oval. Lengan kemejanya digulung sampai siku;
kedua tangan terbenam dalam-dalam di saku. Di bawah
rambutnya yang berantakan, alisnya berkerut. “Aku tidak
pernah mendengarnya. Apa itu?”
“Namanya Munchausen Syndrome by Proxy, sesuai
nama seorang bangsawan Jerman yang senang menyakiti
diri sendiri.”
“Kukira itu masokisme,” celetuk Spencer Martin.
Dr. George Allan mengangkat bahu dan menuang
segelas scotch lagi untuk dirinya sendiri dari persediaan
pribadi Presiden. “Itu sedikit di luar bidangku, dan aku
belum menelitinya secara menyeluruh.”
“Barrie Travis sudah.” Merritt mengatakannya dengan
nada seperti memarahi, dan dokter itu merasa seperti
dimarahi.
Tampak malu, ia berkata, “‘By Proxy’ maksudaya rasa
sakit itu ditimbulkan pada orang lain, biasanya anakanak.”
“Apa huburigannya dengan SIDS?” tanya Merritt.
“Kenapa Barrie Travis menyelidikinya begitu dalam?”
Dr. Allan meneguk scotch-nya deagan cepat. “Karena
orang-orang dewasa yang menderita sindrom itu, kadangkadang
berbuat ekstrem. Mereka melukai anak-anak
mereka, terkadang malah membunuh mereka, dalam
usaha untuk memperoleh perhatian dan simpati bagi diri
mereka sendiri. Beberapa kematian misterius bayi yang
tadinya dikatakan karena SIDS, sekarang diinvestigasi
45
kembali sebagai kemungkinan pembunuhan.”
Sambil memaki pelan, Merritt duduk di balik meja
kerja. “Kenapa si Travis brengsek itu tidak bisa tetap pada
subjek itu saja tanpa menyeret segala kisah mengerikan
itu? Tolong tuangkan aku minuman.”
Sang dokter mematuhinya.
“Terima kasih.” Merritt meneguk minumannya sambil
merenung beberapa saat. Lalu ia memandang Spence. Ia
tidak menyukai apa yang dilibatnya. Spence tengah
berpikir, dan masalah yang dipikirkannya meresahkan.
“Mungkin mestinya aku tidak mendorong Vanessa
melakukan wawancara itu,” ia berkata.
“Aku tidak setuju. Memangnya apa sih yang terjadi?”
tanya Dr. Allan.
“Demi Tuhan, George, mestinya kau lebih tahu
daripada orang lain,” tukas Merritt kesal. “Serial sialan ini
membuatnya tidak keruan lagi.”
“Orang-orang menyadarinya,” komentar Spence tenang.
Merritt memandangnya dengan tajam, menyuruhnya
menyebutkan nama orang-orang itu. “Staf, Sir. Orangorang
menyadari gelombang emosi Ibu Negara, dan
mereka merasa prihatin.”
Dengan suara bernada memarahi lagi, Merritt berpaling
pada sang dokter.
“Aku tidak bisa mengontrol gelombang emosinya
dengan obat kalau dia minum sebanyak itu,” ujar Dr.
Allan.
Merritt menutup mata dengan tangan. “Clete merecoki
aku soal masalah itu. Aku terus mengingatkannya bahwa
Vanessa baru saja kehilangan anak, kenapa aku berharap
kita tidak pernah menyetujuinya? Aku punya frasat
46
buruk. Aku merasa tidak tenang karena dialah yang
menghubungi reporter itu duluan, bukan sebaliknya.”
“Aku juga merasa tidak tenang, mula-mula,” Merritt
mengakui. “Namun ternyata semua beres. Itu merupakan
kegiatan humas yang bagus baginya dan bagi kita. Seperti
kata George, tidak terjadi apa-apa.”
Ketika Spence tak berkomentar, Presiden menatapnya
tajam.
“Yah, kita lihat saja,” ugar Spence, nadanya tidak
yakin.
“Baiklah, siapa dia?”
“Siapa?” Barrie bahkan tidak mendongak. Di
pangkuannya ada setumpuk pesan telepon, kartu, dan
surat dari para pemirsa, semua sehubungan dengan serial
SIDS-nya. Dalam mimpinya yang paling optimis
sekalipun, ia tak pernah mengira akan memperoleh
tanggapan begitu hebat.
“Kau curang, Barrie, menyembunyikan yang ini dan
kami.”
Akhirnya ia mengangkat kepala “Oh, ya Tuhan!”
Resepsionis ruang berita itu tersembunyi sama sekali di
balik rangkaian bunga sangat besar yang d~bawanya ke
bilik Barrie. “Kau mau ini ditaruh di mana?”
“Uh...” Seperti biasa permukaan mejanya berantakan.
“Lantai, kurasa.”
Setelah meletakkan karangan bunga itu, si resepsionis
berdiri. “Siapa pun dia, biarpun tampangnya seperti
kodok, kalau rela menghamburkan uang untuk membeli
bunga seperti ini, menurutku dia harus dipertahankan. “
Barrie membuka kartu yang menyertai buketrdan
ersenyam. “Menurutku juga begitu, tapi dia sudah
47
menikah.”
“Yang bagus-bagus memang begitu.”
Barrie menyodorkan kartu itu pada temannya yang
matanya langsung membelalak waktu melihat tanda
tangan familier di bawah pesan bertulisan tangan di kartu
itu. Jeritannya membuat beberapa staf ruang berita
menyerbu biliknya.
Barrie mengambil kartu dan berkipas dengannya.
“Cuma tanda penghargaan kecil dari Presiden, mengagumi
bakat dan wawasanku, memuji serialku, dan berterima
kasih atas jasa patriotis yang kulakukan.”
“Satu kata lagi, maka aku bakal muntah,” Howie
bergabung.
Barrie tertawa dan mengembalikan kartu itu ke dalam
amplop. Kenang-kenangan untuk ditunjukkan pada
cucunya nanti. “Kau cuma iri karena kau bukan teman
dekat keluarga Merritt.” Howie dan rekan-rekan kerjanya
yang lain berbondong-bondong pergi, beberapa
menggerutu tentang betapa beruntunguya sebagian orang.
Ketika sudah sendirian, Barrie menelepon. Dengan
suara pelan ia bertanya, “Kau punya acara malam ini?”
“Kau serius?”
“Ada apa di kulkasmu?”
“Dua steak.”
“Aku akan bawa anggur.” Ia melirik buket itu “Dan
bunga. Setengah jam lagi aku datang.”
48
Bab Lima
“KAU bilang tadi setengah jam?”
“Berhentilah mengomel dan bantu aku.” Barrie, sambil
membawa buket dari Presiden, dua botol anggur, dan
kantong belanjaan, dengan susah payah melewati pintu
depan rumah Daily Welsh.
“Kau habis merampok kuburan baru, ya?” Daily
bertanya.
“Baca dulu kartunya, tolol.”
Daily mencabut kartu dari karangan bunga itu dan
bersiul pelan. “Cukup impresif.”
Barrie tersenyum lebar. “Biasa saja.”
“Apa yang akan kaulakukan untuk menunjukkan
kehebatanmu?”
“Di lain kesempatan, aku pasti berkomentar pedas soal
bakatmu yang luar biasa dalam memadamkan kebahagiaan
orang . Tapi aku capek, jadi takkan kupedulikan
omonganmu tadi dan membuka botol anggur saja.”
“Aku setuju.”
Bersama-sama mereka pergi ke dapur, yang merupakan
ruangan paling menarik karena ruangan-ruangan lain
buruk. Rumah itu memang jelek. Daily berkutat dengan
laci yang macet untuk mengambil pembuka botol.
49
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Barrie, menunjukkan
keprihatinannya.
“Aku belum mati.”
Namun Ted Welsh, atau Daily, begitulah temantemannya
memanggilnya, tampak seolah tarikan napasnya
yang berikut merupakan tarikan napasnya yang terakhir.
Ia menderita emfisema akibat mengisap rokok tak
terhitung banyaknya selama hari-hari kerja yang juga tak
terhitung banyaknya ketika ia menyuguhkan berita pada
masyarakat.
Begitu lulus dari sekolah menengah, ia bekerja
serabutan di suatu surat kabar harian. Dari situlah nama
panggilannya berasal. Ia meniti tangga karier dan bekerja
di beberapa media jurnalistik sebelum menjadi kepala
bagian berita di sebuah stasiun TV di Richmond. Ia
pensiun dini dari pekerjaannya itu gara-gara penyakitnya.
Belum cukup tua untuk memperoleh Jaminan Sosial—
dan mungkin takkan pernah—ia hidup dengan uang
pensiun seadanya. “Steak” yang tengah dicairkan di atas
meja sebetulnya cuma daging giling. Karena sudah
menduganya, Barrie membeli dua T-bone ketika mampir
di toko untuk membeli anggur. Daily menyesap anggur
Sonoma County itu sementara Barrie menyiapkan makan
malam.
Ketika menarik tangki oksigen portabel ke dekat kursi
supaya tidak menghalangi Barrie, ia berkata, “Cronkite
bisa terangsang kalau mencium bau daging-daging itu.”
“Tidak mungkin. Dia sudah dikebiri.”
“Oh, aku lupa Dia pun kau kebiri.”
Barrie menghantamkan sebotol kaldu ke meja dan
menoleh padanya. “Jangan mulai lagi!”
50
“Tapi benar kok. Kau mengebiri semua laki-laki yang
kau temui. Itu caramu menolak pria sebelum pria
menolakmu.”
“Aku belum menolakmu.”
“Aku tidak masuk hitungan,” kata Daily sambil tertawa
dengan susah payah. “Lagi pula aku sudah terlalu tua dan
lemah untuk membangunkan alatku. Aku tidak
membuatmu merasa terancam. Yang membuatku teringat
pada persoalan lain. Kau mestinya tidak menghabiskan
malam-malammu dengan datang menemuiku. Kalau
cuma aku pria yang bisa kau peroleh, hidupmu lumayan
payah.”
“Tapi aku sayang padamu, Daily.” Barrie mendekati
laki-laki itu dan mencium pipinya.
“Sudahlah.” Daily mendorongnya “Dan jangan terlalu
lama, memasak steak-nya. Aku ingin yang masih merah.”
Barrie tidak tertipu dengan sikap kasarnya. Mereka
berdua saling menyayangi. Persahabatan mereka mulamula
memang tidak terlalu mulus, namun sekarang tak
tergoyahkan. Mereka telah tiba di tingkat keakraban di
mana celaan hampir sama artinya dengan pujian.
“Aku rela menukar dua puluh tahun umurku dengan
sebatang rokok,” Daily berkata ketika mereka menikmati
kopi di ruang tamu setelah makan malam.
“Kau sudah melakukannya”
“Oh. Benar juga.” la duduk di kursi santai yang usang,
alat bantu pernapasannya tergeletak di samping kursi itu.
Selang plastik mengalirkan oksigen dari tangki portabel
langsung ke hidungnya.
Di seberang ruangan, Barrie bersantai di sofa la duduk
bersila dan memeluk bantal kursi. “Baru-baru ini aku
51
mengobrol dengan seseorang yang kecanduan nikotin.
Seseorang yang takkan pemah bisa kautebak.”
“Siapa?”
“Rahasia.”
“Aku mau membocorkannya pada siapa sih? Yang
datang kemari cuma kau.”
“Sebetulaya kau bisa minta teman-temanmu yang lain
datang ke sini. Tapi kau tidak pernah mengundang
mereka.”
“Aku tidak tahan mendengar belas kasihan mereka”
“Kalau begitu kau harus ikut kelompok sesama
penderita emfisema.”
“Siapa yang mau berkumpul dengan sesama orang
sakit yang kerjanya cuma menghirup angin!”
“Kita sudah pernah membahas masalah ini,” kata
Barrie dengan suara berirama. “Jangan kita ulangi malam
ini.”
“Aku setuju saja,” gerutu Daily . “Siapa perokok
misterius itu?”
Barrie ragu-ragu. “Ibu negara kita.”
Alis Daily terangkat karena merasa tertarik. “Yang
benar? Gugup sebelum wawancara?”
“Bukan. Hari itu kami bertemu untuk minum kopi.”
“Karena sekarang kau telah mewawancarainya secara
langsung, kau tetap menganggap dia tak punya otak?”
“Aku tidak pernah menganggapnya begitu.”
Daily memandangnya tajam. “Kau pernah berkali-kali
mengatakan dia seperti itu, dan waktu itu kau duduk
persis di tempatmu sekarang. Mississippi Belle. Itu kan
julukanmu untuknya? Kau menggambarkan dia sebagai
wanita yang tidak pernah punya pendapat sendiri, atau
52
berpura-para begitu. Semua pendapatnya dibentuk oleh
para pria, pria-pria yang dipujanya yaitu ayah dan
suaminya. Kepalanya kosong melompong. Ada yang
belum kukatakan?”
“Tidak, semuanya sudab.” Sambil menghela napas,
Barrie mengusap tepi cangkir kopinya “Aku masih
berpendapat begitu, tapi aku juga merasa kasihan
padanya. Maksudku, kehilangan anak. Ya Tuhan.”
“Jadi?”
Barrie tidak sadar ia tenggelam dalam lamunan sampai
pertanyaan Daily menyentaknya. “Jadi, apa?”
“Kau menggigit-gigit bibir, tanda ada yang mengganggu
pikiranmu. Sejak tadi aku menunggu kau bercerita apa
pun masalahnya.”
Barrie bisa menyembunyikan perasaannya dari orang
lain, termasuk dirinya sendiri, tapi tidak pernah dari
Daily. Kalau ia sedang bingung, atau risau, atau, stress,
pria itu bisa mengetahuinya berkat radar batin yang
membuatnya jadi wartawan jempolan.
“Aku tidak tahu apa” Barrie berkata sejujurnya. Aku
cuma merasa...”
“Tergelitik?”
“Begitulah.”
“Mungkin artinya kau mendapat sesuatu, tapi tidak
tahu apa.”
Daily mencondongkan tubeh di kursi, matanya
berkilat seperti mata anjing pemadam kebakaran ketika
mendengar bel tanda bahaya berbunyi. Pipinya bersemu
merah, membuatnya tampak lebih sehat dari pada
minggu-minggu terakhir ini, semangatnya bangkit kembali
karena mencium petunjuk penting.
53
Minatnya yang luar biasa membuat Barrie merasa
bersalah karena telah memulai membicarakan masalah
ini. Ia akan membuat Daily sangat kecewa. Mungkin
tidak ada berita dalam kasus ini. Di lain pihak, apa
salahnya bercerita pada teman? Mungkin Daily bisa
menjelaskannya. Atau sahabatnya itu bisa memberitahunya
bahwa ide-idenya tidak logis.
“Serial SIDS itu sangat menarik perhatian,” Barrie
memulai. “Sudah kubilang aku mendapat jangkauan
luas?” Serialnya dikirim ke satelit, membuatnya disiarkan
secara nasional.
“Serial itu jelas membuat kariermu meroket,” kata
Daily. “Dan memang itu yang kauinginkan, bukan? Jadi,
apa masalahnya?”
Barrie menatap cangkirnya, lalu mengaduk kopi yang
sekarang sudah terlalu dingin hingga tidak enak untuk
diminum. “Ketika aku pertama kali bertemu dengannya,
dia memiliki rasa bersalah yang bisa dipahami, jadi
kuingatkan dia bahwa kematian bayinya bukan salah
siapa-siapa—peristiwa itu terjadi begitu saja. Anehnya,
dia berkata, ‘Betul begitu?’
“Pertanyaan itu, dan caranya bertanyalah yang
mendorongku melakukan riset mengenai SIDS. Kemudian
aku menemukan kisah tentang wanita yang empat
anaknya meninggal karena sindrom yang sama. Yang
belakangan terbukti bukan itu penyebabnya.”
“Dia menderita sindrom... sindrom...”
“Munchausen Syndrome by Proxy,” Barrie membantu.
“Beberapa kasus SIDS sekarang dicurigai. Para ibu
didakwa membunuh bayi mereka untuk menarik perhatian.
“Yah...” Barrie menarik napas dalam-dalam dan
54
menahannya, mengangkat kepala, lalu memandang
Daily.
Temannya menatapnya selama beberapa saat. Akhirnya
ia berkata, “Mungkin aku harus menaikkan kadar
oksigenku. Aku kekurangan, atau kebanyakan oksigen.
Sesaat kukira kau tadi bermaksud mengatakan Ibu Negara
Amerika Serikat membunuh anaknya sendiri.”
Barrie meletakkan cangkir di meja kopi dan berdiri.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kedengarannya begitu.”
“Bukan itu yang ingin kukatakan, Daily. Sumpah.”
“Kalau begitu, kenapa kau menggigit-gigit bibir?”
“Aku tidak tahu! Tapi ada yang tidak beres.” Barrie
duduk kembali di pinggir sofa dan memegangi kepala.
“Dalam beberapa minggu terakhir ini aku dua kali
bertemu Vanessa Merritt. Pada pertemuan pertama, dia
sekacau pecandu narkotik pada hari kedua rehabilitasi —
wanita yang emosinya nyaris ambruk. Pada pertemuan
kedua, dia jadi orang yang sama sekali berbeda. Superior.
Tenang. Terkontrol. Tepat. Dan semanusiawi... semanusiawi
meja kopi itu.”
“Wawancaranya bagus.”
“Wawancaranya tak berjiwa, Daily, dan kau tahu itu,”
balas Barrie. Kernyitan di wajah Daily menunjukkan ia
sependapat. “Wawancara dengan Mrs. Merritt itu mestinya
jadi puncak serialku. Ternyata, malah sebaliknya, Dia
seperli robot. Kalau dia seperti itu pada pertemuan
pertama, aku mungkin takkan menyadarinya. Tapi
perbedaan antara Vanessa Merritt pertarna dan kedua
begitu mencolok.”
“Jadi dia minum beberapa Valium sebelum tampil di
55
depan kamera,” kata Daily, mengangkat bahu.
“Mungkin. Aku yakin dia minum obat pada malam aku
melihatnya di resepsi itu—atau mabuk. Seanggun
biasanya, tapi goyah. Nyaris... entahlah... takut. Presiden
menutupi...
“Itu juga masalah,” Barrie berkata, memotong
perkataannya sendiri dan bercerita panjang-lebar. “Dia
menyapaku seolah kami teman akrab. Tentu saja aku
merasa tersanjung atas perhatiannya, tapi kupikir sikapnya
itu aneh. Dia antusias soal serial itu, sebelum dan sesudah
serial itu diproduksi. Maksudku, lihatlah bunga-bunga
itu. Biayanya bisa membuat utang negara membengkak.”
“Dengan begitu teorimu jadi berantakan, bukan? Dia
tidak mungkin merasa seperti itu terhadapmu dan
serialmu kalau serialmu itu menimbulkan citra buruk
pada istrinya.”
“Aku cuma terkejut dengan sikap akrabnya. Sudah
lama aku meliput kehidupan di Gedung Putih. Kenapa
tiba-tiba Presiden dan aku jadi akrab?”
“Barrie, kau wartawan. Dia pejabat yang menghadapi
pemilu tahun depan. Dia harus bermanis-manis pada
semua wartawan. Merebut hati pers berarti merebut suara
pemilih.”
la terpaksa mengakui kebenaran penjelasan Daily.
David Merritt, sejak masa tugas pertamanya di Kongres,
memang tahu bagaimana caranya menghadapi media.
Bulan madu mereka terus bertahan sampai masa
kampanye kepresidenan selesai. Sekarang hubungan
mereka mulai merenggang, namun pers masih mendukungnya.
Tapi bukankah Barrie Travis cuma reporter
kelas teri yang tak berpengaruh? Untuk apa Presiden
56
bermanis-manis dengannya?
Pikirannya berpindah-pindah dari satu teka-teki ke
teka-teki yang lain, yang sudah terjadi sejak pertemuan
pertamanya dengan Vanessa Merritt. Ia tidak mau terlalu
lama memikirkan salah satu teka-teki itu, karena takut
semua itu cuma jebakan.
“Aku bisa saja melupakan ketidakcocokan itu dan tidur
pulas, tapi ada satu ganjalan,” katanya pada Daily. “Dan
menurutku inilah yang paling penting. Sesudah kami
melakukan wawancara, Ibu Negara memelukku. Aku.”
Daily terus berperan sebagai lawannya “Itu untuk
menimbulkan kesan baik.”
“Bukan, itu cuma alasan.”
“Untak apa?”
“Untuk mendekatiku dan membisikkan sesuatu di
telingaku supaya tidak didengar orang lain. Dia berkata,
‘Barrie, kumohon, tolong aku. Tidakkah kau tahu apa
yang ingin kukatakan padamu?”’
“Sialan!”
“Aku juga merasa persis seperti itu, Daily. Itulah untuk
pertama dan terakhir kali dia menunjukkan perasaannya
yang sesunggahnya. Dia terdengar putus asa. Menurutmu,
apa maksudnya?”
“Mana aku tahu? Bisa saja berarti, ‘Tolong aku
membantu suamiku terpilih kembali.’ Atau, ‘Tolong aku
membangkitkan kesadaran masyarakat tentang SIDS.’
Atau, ‘Tolong aku melupakan kesedihanku.’ Artinya bisa
apa saja, atau tak ada sama sekali.”
“Kalau tidak ada, ya tidak ada,” kata Barrie. “Tapi
kalau berarti sesuatu, implikasinya sangat luar biasa.”
Daily menggeleng. “Aku tetap tak sependapat. Kenapa
57
dia membunuh bayi yang dengan susah payah didapatkannya?”
“Kukira kita sudah sepakat soal ito. Munchausen
Syndrome.”
“Dia tidak sesuai dengan profill penyakit itu,” bantah
Daily . “Wanita-wanita yang menderita kelainan itu
biasanya mencari simpati dan perhatian. Vanessa Merritt
mendapat sorotan pers lebih luas daripada Putri Diana.
Dia memperoleh perhatian lebih banyak daripada wanita
mana pun di dunia ini.”
“Tapi apakah dia memperolehnya dari orang yang
betul-betul penting?”
“Sang Presiden? Kaupikir dia istri yang tersia-sia, dan
dia melakukan ini untuk menarik perhatian suaminya?”
“Mungkin saja.”
“Kemungkinan itu kecil.”
“Tapi mungkin,” Barrie berkeras. “Ingat saja simpati
publik yang diterima Jackie Kennedy waktu Patrick kecil
meninggal. Dia jadi pujaan.”
“Karena banyak alasan lain selain kehilangan anak.”
“Tapi tragedi itu ikut membuatnya menjadi legenda
seperti sekarang. Mungkin Ibu Negara yang ini ingin
menciptakan aura yang sama bagi dirinya.”
“Teori berikutnya,” kata Daily sambil mengibaskan
tangan.”HIV. Bagaimana kalau salah seorang dari mereka
mengidap virus itu? Hasil tes anak itu mungkin saja
positif. Mrs. Merritt tak mau mengambil risiko bahwa
dunia mengetahui soal riwayat seksualnya atau suaminya.”
“Kemungkinan yang sangat kecil juga,” tukas Daily.
“Kalau salah satu dari mereka mengidap HIV, pasti dari
dulu sudah ketahuan. Misalnya, saat dia hamil. Presiden
58
menjalani pemeriksaan fisik secara rutin. Rahasia seperti
itu takkan bisa bertahan lama.”
“Kurasa kau benar.” Barrie merenungkannya lagi
selama beberapa saat. ‘’Mungkin kita tidak melihat fakta
yang sebetulnya ada di depan mata. Bagaimana kalau
motifnya cuma untuk balas dendam? Aku punya kesan
dia wanita yang terbiasa dituruti kemauannya, wanita
yang tak bisa menerima penolakan.”
“Maksudmu?”
“Dia membunuh putra mereka untuk menghukum
Presiden karena berselingkuh.”
“Digosipkan berselingkuh.”
“Ayolah, Daily,” erang Barrie. “Semna orang tahu dia
penakluk wanita. Dia cuma belum tertangkap basah di
tempat tidur bersama wanita telanjang saja.”
“Sampai dia tertangkap basah, dan ada kru 60 Minutes
yang meliputnya, dan Mike Wallace merekam pengakuannya
dengan video, perselingkuhannya tetap cuma
gosip.”
“Mrs. Merritt pasti tahu.”
“Tentu saja dia tahu. Tapi dia akan tersenyum dan
berpura-pura tidak tahu, persis seperti yang dilakukan
istri para pejabat negara selama ini.”
“Aku tetap berpendapat motivasi wanita-marah itu
sangat kuat.”
Daily menarik-narik bibir bawahnya sambil berpikir.
“Barrie, kisah ini membuatmu diperhatikan banyak
orang. Perhatian yang positif kali ini.”
“Pengalaman burukku tak ada hubungannya dengan
masalah ini.”
“Kau yakin? Serial ini begitu bagus hingga sesaat
59
menutupi kejadian buruk Hakim Agung Green dan
membuktikan kritik-kritik untukmu itu keliru. Kau
pantas menerima pujian-pujian ini, tapi jangan sampai
rakus. Kau yakin tidak mengeksploitasi perhatian yang
mendadak kauperoleh dengan menciptakan kisah lain?
Mungkinkah kau memanfaatkan segala penghargaan ini
untuk menyucikan diri secara profesional?”
Barrie ingin membantah dengan tegas dan tanpa
keraguan, tapi ia diam sebentar untuk merenungkan
kembali motivasinya. Benarkah ia membentuk faktafakta
supaya sesuai dengan tujuannya sendiri? Benarkah
ia membiarkan ambisinya mempengaruhi objektivitasnya?
Lebih buruk lagi, apakah ia kembali ke kebiasaannya
yang suka cepat-cepat menarik kesimpulan yang salah
untuk menciptakan kisah yang jauh lebih dramatis?
“Sejujurnya, tidak. Aku memandang masalah ini
dengan objektif dan dari setiap sudut yang ada. Wanita itu
kehilangan anaknya. Untuk itu dia memperoleh simpatiku
yang paling dalam. Tapi apakah tidak mungkin, bahwa
bukannya menjadi korban nasib buruk, dia malah
merupakan korban kebencian yang tidak dapat diduga
kemunculannya, yang membuatnya melakukan kejahatan
paling buruk yang bisa dibayangkan? Itulah pertanyaan
yang terus mengganggu pikiranku.
“Sejak awal, urusan ini mencurigakan. Kenapa dia
menelepon dan mengajakku bertemu? Dia tidak pernah
berbuat begitu sebelumnya. Tidak dengan semua reporter
yang kukenal Dan waktu kami bercakap-cakap, dia seolah
berusaha menyampaikan sesuatu tanpa jelas-jelas
mengatakannya. Bagaimana kalau sesuatu itu pengakuan?
“Kalau dia bukan Ibu Negara, aku takkan menunggu
60
selama ini untuk menyelidiki kisahnya. Kurasa demi
diriku sendiri aku harus menggali lebih dalam. Dan
biarpun aku tahu akan terdengar norak sekali, kurasa aku
harus melakukannya demi negaraku.”
“Oke,” kata Daily. “Aku ingin menanyakan satu hal
lagi padamu.”
“Silakan.”
“Kenapa kau buang-buang waktu di sini?”
61
Bab Enam
SETELAH selama seminggu dengan penuh semangat
mengikuti petunjuk yang tidak menghasilkan apa-apa,
semangat menggebu-gebu Barrie mulai redup. Yang
diperolehnya setelah menghabiskan waktu untuk memburu
kisah tentang kematian Robert Rushton Merritt cuma rasa
frustrasi.
Ia mengeksplorasi setiap sudut yang didoskusikannya
dengan Daily, namun tak ada yang berhasil. Ia terperangkap
dalam Catch-22: Kisahnya harus diselidiki secara menyeluruh,
yang tidak bisa dilakukan tanpa mengungkapkan
kisah itu sendiri.
Untuk membuat urusan bertambah runyam, prostat
Howie kumat lagi—tentu saja, ia menganugerahi Barrie
dengan semua detailnya yang menjijikkan— jadi pria itu
lebih menyebalkan daripada biasanya. Iri dengan
kesuksesan serial Barrie, ia memberinya tugas-tugas yang
tidak mau dikerjakan reporter lain, kisah-kisah yang
berada di orutan terakhir. Barrie menggarapnya tanpa
mengeluh, dan secepat mungkin, supaya ia bisa menghabiskan
lebih banyak waktu untuk kisah yang menarik
perhatiannya.
Hanya berpikir bahwa Ibu Negara mungkin telah
62
membunuh anaknya sendiri sodah terasa seperti mengkhianati
negara. Apa hukuman ontuk pengkhianat pada
zaman sekarang? Hukuman gantung di depan umum?
Ditembak mati?
Barrie takut dirinyalah, bukan VaneSsa Merritt, yang
mengalami gangguan mental. Ia mendengar suara-suara
yang sebetulnya tidak ada, merasa ada makna tersembunyi
dalam pernyataan-pernyataan yang sebetulnya lugas. Ia
seharusnya mengabaikan pikiran konyol ini dan memusatkan
energi pada berita-berita yang diberikan Howie
padanya, bukan malah memasrahkan masa depannya
pada bintang yang mungkin akan meledak dan membentak
lubang hitam di sekeliling dirinya dan kariernya.
Tapi ia tak bisa mengabaikannya. Bagaimana jika,
setelah beberapa kejadian mengecowakan, Bernstein dan
Woodward mengabaikan kisah Watergate?
Ia berada di biliknya, mempelajari catatan-catatannya
untuk mencari ketidakcocokan lain, waktu sutradara
warta berita malam membuyarkan konsentrasinya. “Ya,
Barrie. Intro kisah yang kaugarap untuk malam ini?”
“Memanguya kenapa?”
“Mike-nya rusak. Kata Howie, kau harus mengucapkan
intro langsung dari studio.”
la melirik jam di meja. Tinggal delapan menit dari
waktu siaran. “Kalau kau belum melihat, tadi siang aku
basah kuyup kehajanan, persis setelah kami menyelesaikan
syuting kisah itu. Rambutku masih basah.”
“Dan riasan matamu...” Gerakan tangan pria itu tidak
menggembirakan. “Tapi kalau kau tidak mau, kisah itu
tidak akan disiarkan. Howie bilang ini peluang emasmu
menuju ketenaran.”
63
“Aku tak mau berharap,” Barrie menghela napas, “tapi
demi perdamaian, aku akan melakukannya.” la menyambar
tasnya. “Kalau ada yang mencariku, bilang aku di karnar
mandi.”
“Aku akan berdoa semoga tejadi mukjizat,” seru si
sutradara.
Setelah siaran berita itu, Barrie kembali ke meja
kejanya dan mengecek pesan-pesan. Ada pesan dari
seorang maniak yang sudah bertahun-tahon meneleponnya,
menyatakan bahwa para pembuat sebuah merek obat
pencahar yang terkenal telah menggunagunanya sehingga
ia menderita sakit perut kronis. Ada juga pesan dari
seorang maniak baru, yang memperkenalkan diri sebagai
Charlene dan mencaci maki Barrie karena berotak udang
dan tolol. Dan pesan dari Anna Chen, narasumbemya di
General Hospital.
“Anna?”
“Hai.”
Suara Anna Chen terdengar tertahan dan berhati-hati,
dan Barrie sadar wanita itu tidak menyebotkan namanya,
meskipun jelas ia mengenali suaranya Barrie otomatis
meraih notes dan pensil.
“Masalah yang kita bicarakan beberapa hari yang
lalu?” pegawai rumah sakit itu mulai.
“Ya.”
‘-Tidak ada copy-nya.”
“Begitu.” Barrie menunggu, merasa masih ada yang
ingin disampaikan wanita itu.
“Prosedurnya tak pernah dilakukan.” Barrie menelan
lodah. “Tidak pernah dilakokan? Apakah itu... prosedur
tidak wajib? Dalam, uh, keadaan tidak biasa bukankah itu
64
wajib dilakukan?”
“Biasanya ya. Tapi-dalam kasus ini, dokter yang
bertogas memutuskan itu tidak perlu. Dia rnemerintahkan
agar prosedur itu diabaikan, dan itulah yang terjadi.”
Dr. George Allan, dokter pribadi Presiden, telah
memerintahkan pemeriksa mayat supaya tidak melakukan
autopsi. Bank begitu ketat menekan pensilnya hongga
ujungnya patah. “Kau yakin?”
“Aku harus pergi.”
Beberapa pertanyaan lagi?”
“Maaf.”
Anna Chen menutup telepon. Barrie menjejalkan
notesnya ke dalam tas, menyambar jas hujan dan payung,
lalu bergegas meninggalkan ruang berita.
la memang tak berharap Anna Chen menunggunya di
kantornya di rumah sakit. Meskipun begitu, ia kecewa
juga ketika mendapati kantor itu terkunci dan gelap.
Sekembsonya di mobil, ia menggunakan ponselnya.
“Kau punya buku telepon?” ia bertanya pada Daily
begitu laki-laki itu mengangkat telepon.
“Selamat malam juga”
“Tak ada waktu untak basa-basi.”
Menanggapi suaranya yang mendesak, Daily bertanya,
“Metro D.C.?”
“Mulai dari sana Cari nama Anna Chen. C-h-e-n.”
“Siapa dia?”
“Aku tak boleh bilang.”
“Oh. Narasumber. Ada apa?”
“Terlalu panjang untuk diceritakan di telepon.”
“Aku melihatmu di warta berita malam ini,” kata
65
Daily. Barrie mendengar suara halaman-halaman buku
dibuka.
“Bagaimana penampilanku?”
“Aku pernah lihat yang lebih jelek.”
“Separah itu? Bagaimana soal Chen-nya?”
“Tidak ada Anna, tapi A. Chen ada.”
“Beritahu aku yang itu. Nomor telepon dan alamatnya.”
Pegawai rumah sakit itu tinggal di bangunan yang belum
lama direnovasi di Adams Morgan, lingkungan yang
funky dan kaya secara etnis. Restorasi bangunan itu tidak
termasuk lift, jadi Barrie agak kehabisan napas ketika
sampai di apartemen di lantai tiga itu. Ia tak ingin
memberi Anna Chen kesempatan untuk menghindarinya,
jadi ia tidak menelepon lebih dulu. Ia lega mendengar
suara TV di balik pintu.
Ia menekan bel. Suara TV langsung lenyap. Ia merasa
dirinya tengah diamati dari lubang kecil di pintu.
“Kumohon, Anna, aku harus bicara denganmu.”
Setelah jeda yang terasa lama sekali, selot-selot
dibuka, lalu rantai terentang ketika pintu terbuka
beberapa inci. Dari celah itu, Barrie cuma bisa melihat
setengah wajah Anna Chen yang cantik.
“Apa yang kaulakukan di sini? Mestinya kau tidak
kemari.”
“Selagi di sini, boleh aku masuk?”
“Apa yang kauinginkan?”
“Apa yang aku inginkan? Bukankah sudah jelas?
Aku ingin bertanya kenapa tidak dilakukan autopsi
pada...”
“Aku akan menutup pintu sekarang. Tolong jangan
66
ganggu aku lagi.”
“Anna!” Barrie menyelipkan kakinya, di pintu. “Aku
tidak mengerti. Kau tidak bisa begitu saja meneleponku,
memberitahuku berita itu, lalu tidak...”
“Aku tidak tahu kau bicara apa.”
Barrie terpana “Anna ada apa? Aku tidak mengerti.”
Sedetik kemudian ia mengerti. Mata berbentuk
almond dan indah milik Anna Chen tampak ngeri.
Sambil memelankan suaranya hingga jadi bisikan,
Barrie bertanya, “Apakah kau dilarang bicara denganku?”
“Kumohon, pergilah.”
“Ada yang mengingatkanmu supaya tidak bicara
denganku? Apakah kau diancam? Oleh siapa, Anna? Para
atasanmu di rumah sakit? Orang di kantor pemeriksa
kesehatan? Dr . Allan?” Tetap memelankan suara, ia
berkata dengan nada mendesak, “Namamu takkan disebut
sebagai narasumberku. Aku bersumpah. Mengangguk
saja kalau aku benar. Dr. George Allan memerintahhn
bagian pemeriksaan mayat supaya tidak melakukan
autopsi. Apakah mandat itu datang langsung dari
Presiden?”
Sekali lagi wanita muda yang ketakutan itu mencoba
menutup pintu, yang sekarang terasa seperti catuk di kaki
Barrie. “Anna, tolong beritahu aku apa yang kauketahui.”
“Aku tidak tahu apa-apa. Pergi. Jangan ganggu aku.”
Wanita Asia itu dengan sekuat tenaga mengempaskan
tubuhnya yang berbobot empat pulah kilogram lebih ke
pintu. Barrie cepat-cepat menarik kakinya la berdiri
terpana di koridor, menatap angka-angka kuningan di
pintu yang mengatakan aparternen itu bemomor 3C, dan
bertanya-tanya siapa yang telah membungkam Anna
67
Chen. Dan mengapa.
Vanessa Merritt mematikan TV di ruang pribadinya. la
tadi tengah berpindah-pindah saluran ketiga kebetulan
melihat Barrie Travis di warta berita WVUE. Kenapa
gadis itu bisa begitu tolol? Kenapa ia belum juga
mengikuti petunjuknya? Tapi kalau dipikir-pikir, Vanessa
merasa lega juga reporter itu telah bersikap seperti itu.
la sebetulnya tak ingin rahasianya terungkap, namun ia
tidak tahu berapa lama lagi ia dapat menahan diri untuk
menyimpannya. Bagaimanapun, ia takut ranasianya bisa
membunuhnya.
la menuang segelas anggur terlarang lagi untuk dirinya
sendiri. Masa bodoh kalau dokternya ayahnya, dan
suaminya marah. Bagaimana mereka tahu apa yang
dibutuhkan atau tidak dibutuhkannya? Mereka tidak
mungkin memahami penderitaannya. Mereka berkomplot
melawannya. Mereka...
Pikiran itu lenyap sebelum selesai. Hal seperti ini
sering terjadi. Rasanya ia tidak bisa memikirkan hal yang
sama selama beberapa detik, pikirannya selalu buyar.
Apa yang dipikirkannya tadi?
Bayinya, ya. Selalu. Tapi ada masalan lain...
Ketika matanya kembali ke TV, ia ingat. Barrie Travis.
Wanita tolol itu. Apakah ia perlu ditabrak truk dulu baru
bisa mengerti? Kenapa ia belum mengerti juga? Atau
mungkinkah ia sudah mengerti, namun terlalu takut
untuk menindaklanjutinya? Apakah ia bodoh, atau
pengecut? Apa pun, hasilnya sama saja. Ia tidak bisa
mengharapkan bantuan dari pihak itu.
Vanessa tadinya menganggap dirinya pintar karena
68
memanfaatkan reporter itu sebagai kuda tunggangan. Ide
itu muncul ketika ia melihat Barrie di konferensi pers di
halaman timur belum lama ini. Bukankah ia yang
menyiarkan berita soal “kematian” Hakim Agung Green?
Bukankah ia yang mengajukan pertanyaan sangat bodoh
di suatu konferensi pers hingga membuat orang tertawa
terbabak-bahak?
Kredibilitas Barrie Travis yang rendah membuatnya
jadi pilihan yang tepat untuk tujuan Vanessa, yaitu
memberikan beberapa petunjuk pada seorang reporter tak
bertanggung jawab, orang yang bakal menggelindingkan
bola. Reporter itu akan mulai mengajukan pertanyaanpertanyaan
yang mula-mula terasa ganjil, namun
belakangan jawaban-jawabannya akan diburu para pemain
penting. Kalau Vanessa menanam bibit kisahnya pada
salah satu reporter kelas kakap jaringan berita, hasil yang
akan dituainya bisa membahayakan dirinya. Dengan cara
begini, rahasianya akan diketahui orang, tapi tidak
langsung dari dirinya.
Atau begitulah yang diharapkannya. Jelas ia telah salah
memilih Barrie Travis. Reporter itu bukan cuma ceroboh,
tapi juga tak berotak.
Jadi, pada siapa ia selanjutnya mesti berpaling?
Karena kebiasaan, Vanessa meraih telepon.
“Hai, Daddy.”
“Halo!” kata Senator. “Aku memang sudah berniat
meneleponmu. Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Rumah sedang sepi?”
“David tengah berpidato di suatu pertemuan serikat
buruh. Aku lupa di mana.”
69
“Mau aku datang dan menemanimu?”
“Tidak, tapi terima kasih.” la tidak bisa minum
banyak-banyak kalau ayahnya ada.
“Kau tidak boleh sendirian, Sayang.”
“David pulang malam ini. Memang setelah larut
malam, tapi dia sudah berjanji akan membangunkan aku.”
Setelah hening sejenak, Vanessa bisa membayangkan
ayahnya pasti sedang mengerutkan kening. Pria itu
kemudian berkata, “Mungkin sebaiknya kau menemui
kembali ginekologmu. Siapa tahu dia bisa memberimu
suntikan hormon atau apa.” Ia menganggap semua
penyakit ringan wanita disebabkan oleh ketidakseimbangan
hormon.
“George bakal tersinggung.”
“Persetan dengan George dan perasaannya,” kata
Senator menggelegar . “Yang penting kesehatanmu.
George orang yang baik, dan kurasa dia dokter yang
kompeten untuk masalah-masalah rutin seperti sakit perut
dan flu. Tapi kau membutuhkan dokter spesialis. Kau
membutuhkan psikiater.”
“Tidak, Daddy. Aku tidak membutuhkannya. Semuanya
bisa kuatasi.”
“Kehilangan Robert kecil membuat dirimu kacau.”
Vanessa menenggak anggurnya untuk menghilangkan
tusukan rasa sesal yang ditimbulkan kata-kata ayahnya
tadi. “David takkan setuju. Ibu Negara tidak boleh
berobat ke psikiater.”
“Urusannya bisa dilakukan secara diam-diam. Lagi
pula, siapa yang akan memandang rendah dirimu karena
mencari bantuan ketika kau sangat membutuhkannya?
Aku akan membicarakannya dengan David.”
70
“Tidak!”
“Sayang...”
“Kumohon, Daddy, jangan membuat dia khawatir.
Aku akan mengatasinya. Aku cuma butuh waktu lebih
banyak daripada yang kita kira.”
Vanessa telah belajar dari ahlinya, Senator Cletus
Armbruster, bagaimana cara mempraktekkan politik.
Ketika mereka mengucapkan salam perpisahan, ia
berhasil membuat ayahnya berjanji tidak akan
membicarakan masalah kesehatannya dengan David.
Untuk menenangkan diri, ia minum sebutir Valium
lagi dengan anggur, lalu pergi ke kamar mandi dengan
pikiran melayang-layang dan mengganti pakaiannya
dengan gaun tidur dan mantel. Sambil duduk bersandar
di tempat tidur, ia mencoba menulis surat, tapi tak bisa
mengontrol penanya. Ia berusaha membaca buku laris
baru yang dibicarakan banyak orang, namun matanya
sulit difokuskan dan kata-kata di buku itu sulit
dipahaminya. Ia baru saja akan menyerah dan mematikan
lampu ketika terdengar pintunya diketuk. Ia bangkit dari
ranjang dan melintasi ruangan.
“Vanessa!”
Ia membuka pintu. “Halo, Spence.”
“Anda tadi sudah tidur?”
“Aku sedang membaca.” Spence selalu membuatnya
gelisah. Ia menyisir rambutnya dengan jari. “Mau apa
kau?”
“Presiden minta aku mengecek Anda.”
“Oya?” kata Vanessa sinis.
“Dia merasa tidak enak karena harus meninggalkan
Anda malam ini.”
71
“Kenapa malam ini harus berbeda?”
Ekspresi mata pria itu sama sekali tak berubah.
Sekadar sikap kurang ajar takkan bisa membuatnya
marah. Kalaupun marah, ia takkan menampakkannya Itu
sudah bagian dari pendidikannya.
Pemerintahan Nixon memiliki Gordon Liddy, yang
rela telapak tangannya terluka karena menutupi api
skandal atasannya sampai dirinya sendiri hangus terbakar.
Liddy tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
Spencer Martin. Pria itu sendiri menakutkan. Dan tak
terkira nilainya bagi Presiden.
“Ada yang bisa kuambilkan?” ia bertanya dengan sikap
sopan namun dingin.
“Misalnya?”
“Apa saja.”
“Tidak usah repot-repot.”
“Tidak akan merepotkan, kujamin. Bagaimana kondisi
Anda?”
“Bagus sekali, bangsat. Bagaimana kondisimu?”
“Anda kacau. Biar kupanggilkan Dr. Allan.”
“Aku tidak butuh dia.” bentak Vanessa. “Yang
kubutuhkan...” la berhenti sejenak untuk menghimpun
tenaga. “Yang kubutuhkan adalah orang-orang di sini
mengakui bahwa aku pernah punya anak, dan anak itu
sekarang sudah meninggal.”
“Itu sudah diakui, Vanessa. Kenapa berlarut-larut
memikirkannya? Apa gunanya mengunyah-ngunyah fakta
bahwa anak Anda...”
“Sebut namanya, bajingan!” Diterjangnya pria itu dan
dicengkeramnya kerah jasnya yang dijahit sempurna
“Kau dan David sulit sekali menyebutkan namanya
72
bukan? Hati nuranimu tidak sanggup. Katakan!” hardiknya
“Katakan sekarang juga!”
Seorang agen Dinas Rahasia menyerbu masuk. “Mr.
Martin, ada yang tidak beres?”
“Ibu Negara sedang tidak sehat,” kata Spence.
“Telepon Dr. Allan dan suruh segera datang.”
Spence membuatnya mundur ke kamar dan menutup
pintunya. “Mau mengurungku di kamar, Spence?”
“Sama sekali tidak. Kalau Anda ingin mempermalukan
diri sendiri di depan staf, silakan,” kata Spence tenang,
sambil menunjuk ke pintu.
Vanessa tenggelam dalam kebisuan, namun dengan
gaya membangkang menuang segelas anggur lagi untuk
dirinya sendiri. Ketika dokter datang, ia sudah menghabiskannya
dan sedang minum segelas lagi.
“Dia mabuk, George,” Spence memberitahu.
Ia memberontak ketika Dr. Allan berusaha memeriksanya.
“Vanessa pengobatan Anda tidak memperbolehkan
Anda minum sebanyak ini.”
Spence lantas memerintahkannya memberi Vanessa
obat untuk membungkam mulutnya “Aku tidak bisa. Aku
harus menaikkan dosisnya supaya efektif.”
“Aku tak peduli kau harus berbuat apa” kata pria
berhati batu itu.
Vanessa menyodorkan lengannya. “Beri aku obat
sialan itu! Satu-satunya kesempatanku merasa damai
cuma kalau aku tidur. Dan, seperti kata Spence, aku tidak
mengantuk, aku mabuk.”
Ketika obat mengaliri pembuluh darahnya David
memasuki kamar. Ia jelas tampak marah sekali karena
keributan yang ditimbulkan Vanessa waktu ia pergi.
73
Sayang sekali, Mr. President, pikir Vanessa, meskipun
ia sekarang terlalu rileks untuk mengucapkannya.
Ia bersama Spence dan Dr. Allan melakukan pembicaraan
yang tegang dan berbisik-bisik di kaki tempat
tidur. Sebagai penutup, Vanessa mendengar Spence
berkata, “Kita tidak bisa membiarkan ini lebih lama lagi.”
Apa, tepatnya, maksud ucapannya itu? Vanessa tadi
berharap bisa tidur, tapi sekarang ia berjuang supaya tetap
terjaga.
Ia pulas ketika mereka menjemputnya tepat sebelum
fajar.
74
Bab Tujuh
PRESIDEN MERRITT, mengakhiri percakapan teleponnya
dengan Barrie Travis dan berpaling pada penasihatnya.
“Bagamana menurutmu?”
Spencer Martin telah mendengar setiap patah kata
melalui pengeras suara. “Dia mencoba-coba, tapi Anda
menanganinya dengan baik,” jawabnya. “Anda menolak
permintaannya, tapi melakukannya dengan halus. Apakah
sebelum menelepon kemari dia menelepon Dalton?”
“Ya. Dia mematuhi peraturan.”
“Kalau begitu Anda menimbulkan kesan lebih baik
lagi karena menolak permintaannya secara langsung.
Kurasa dia berpikir tidak ada salabnya meminta wawancara
eksklusif dengan Anda untuk membicarakan strategi
kampanye Anda. Dia sekarang rupanya sudah akrab
dengan Vanessa, dan Anda mengiriminya bunga-bunga
itu. Wajar kalau dia mengira kini punya jalur pribadi ke
Ruang Oval.”
David Merritt memandang ke luar jendela yang
menghadap ke halaman Gedung Putih yang terawat baik.
Para pengunjung antre di sepanjang pagar besi, menunggu
giliran mengikuti tur yang akan membuat mereka
ternganga melihat peralatan makan para presiden terdahulu.
75
Dalam hati, David membenci rakyat Amerika, tapi ia
senang menjadi presiden mereka, dan tidak akan suka
meninggalkan tempat ini, bahkan setelah masa jabatan
keduanya. Ia tak pernah berpikir takkan ada masa jabatan
kedua. Terpilih kembali merupakan keyakinannya. Itu
termasuk dalam program yang disusunnya untuk dirinya
sendiri waktu di taman trailer di Biloxi dulu. Dengan
hanya sangat sedikit penyimpangan, semua berjalan
sesuai dengan rencana pokoknya. Tak ada yang bisa
merusak masa depan yang telah ditetapkan David
Malcomb Merritt untuk dirinya sendiri. Tak ada.
Seolah bisa membaca pikirannya Spence berkata,
“Aku ingin tahu kenapa dia mengajukan pertanyaan
terakhir tentang Vanessa itu.”
“Sekarang ini semua orang memikirkan keadaan
istriku. Akan lebih mencurigakan jika dia tidak
menyinggung soal Vanessa.”
“Kurasa,” ujar Spence.
Suaranya yang tidak yakin membuat Merritt menoleh,
wajahnya tampak bertanya.
Spence mengangkat bahu. “Beberapa minggu yang
lalu, kita tidak kenal Barrie Travis. Sekarang, ke mana
pun kita berpaling, dia ada.” la memaki pelan. “Apa yang
ada dalam benak Vanessa waktu melakukan perbuatan itu?
Dan mengapa reporter ini masih saja lapar? Aku bisa
mengerti kenapa dia menyelidik ke sana kemari di
General Hospital sebelum serial SIDS-nya, tapi
setelahnya?”
“Itu meresahkan aku juga,” Merritt mengakui. “Tapi
narasumbernya sudah diberitahu mengenai kekeliruan
tindakannya itu. Kurasa Ms. Travis bakal sangat sulit
76
menemukan sumber berita lain di rumah sakit itu.”
Barrie Travis mungkin saja beranggapan para
narasumbernya rahasia, tapi para narasumber Spence
lebih lagi. Presiden tidak menanyakan bagaimana atau
siapa yang mengkonfrontasi Anna Chen karena telah
membocorkan informasi rahasia pada pers. Ia cuma
diberitahu oleh Spence bahwa urusan itu sudah dibereskan—
dan jika begitu kata Spence, tidak ada gunanya
meragukannya.
Spence pandai melakukan hal-hal seperti itu. Kalau
ada masalah, ia akan rnembereskannya. Tidak perlu
penjelasan. Tidak perlu alasan. Tidak perlu argumen.
Spence tidak merepotkan. Tidak seperti teman mereka
Gray Bondurant, yang berkeras ingin tahu sebab dan
tujuan setiap permintaan Eksekutif.
Kalau aksi dibutuhkan, David Merritt menginginkan,
aksi itu dilakukan tanpa harus menjelaskannya. Ia
menginginkan hasil dan tak peduli soal integritas
perbuatan itu. Gray sebaliknya. Integritas merupakan
masalah penting bagi laki-laki itu.
“Kurasa Barrie Travis cuma reporter yang terlalu
bersemangat. Dia berhasil muncul di TV selama lima
belas menit—yang sebetulaya tidak terlalu hebat—dan
sekarang dia berusaha memaksimalkan peluangnya meraih
ketenaran. Sayangnya dia jadi menjengkelkan.” Presiden
terkekeh. “Dia payah dan semua orang mengetahuinya.
Tenang saja. Dia tidak cukup pintar untuk menimbulkan
masalah serius apa pun.”
“Entahlah, David,” Spence khawatir. “Kurasa dia lebih
pintar daripada yang dikira orang. Kalau tidak ada
kesalahan yang dipublikasikan secara luas itu, dia bisa
77
menjadi kekuatan media yang layak diperhitungkan.
Kegigihannya yang menyebalkan menunjukkan sifatnya.”
“Atau kecerobohan dan ambisi butanya.”
“Bagaimanapun, kalau dia tetap menyelidiki masalah
ini, kita bisa terkena imbasnya.”
Merritt memandang penasihatnya. Kata-kata sering
tidak diperlukan di antara mereka. Seperti para pejuang
gerilya yang mengendap-endap di hutan penuh musuh,
mereka bisa berkomunikasi tanpa kata-kata. Dengan mata
saja mereka dapat saling mengingatkan soal kemungkinan
adanya bahaya. Inilah salah satu contohnya.
“Kalau kau akan merasa lebih tenang karenanya,
Spence, teruslah menyelidik.”
“Aku akan merasa lebih tenang.”
Sambil berpikir keras Barrie menatap catatan transkrip
percakapan teleponnya dengan Presiden Merritt. Ia tidak
menemukan keganjilan pada semua yang dikatakan pria
itu atau bagaimana ia mengatakannya Pembicaraan
mereka tadi menyenangkan. Presiden tegas namun sopan
ketika menolak permintaan wawancara eksklusifnya, tapi
itu tidak membuatnya kecewa atau bahkan terkejut.
Permintaan wawancara itu memang cuma kedok. Tujuan
sebenarnya ia menelepon adalah untuk bertanya soal Ibu
Negara.
Sejak hari yang berangin dan mendung ketika ia
menemui Vanessa Merritt untuk minum cappuccino itu,
Barrie mencari kisah dramatis di balik setiap batu di
Washington. Ia tidak menemukan apa-apa. Para narasumbernya
tutup mulut. Penyeranta yang dinyalakannya
24 jam sehari, yang nomornya cuma diketahui para
78
narasumbernya dan Daily, tak pernah sekali pun
berbunyi, jadi ia melanggar peraturan dan menelepon
mereka. Tak ada yang tahu apa pun. Ia sudah rela
mengakui bahwa khayalannya terlalu mengada-ada, dan
bukan untuk pertama kalinya hal itu terjadi.
Lalu insiden misterius dengan Anna Chen menggoyahkan
keyakinannya Dan persis keesokan paginya,
Dalton Neely mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan
bahwa Mrs. Merritt akan mengasingkan diri
selama jangka waktu yang tidak ditentukan. Setelah
berita pembuka yang mengejutkan itu, ia membacakan
pernyataan singkat Presiden:
“Senator Armbruster dan saya percaya bahwa tanggung
jawab Vanessa sebagai Ibu Negara tidak memberinya
waktu untuk sepenuhnya melupakan peristiwa tragis yang
menimpa putra karni. Karni membuatnya sadar betapa ia
sangat berharga bagi kami sebagai individu dan sebagai
patriot. Demi keluarga dan negaranya, dia harus sembuh
seutuhnya, dari segi fsik dan emosi, sebelum menjalani
kembali hidup yang begitu padat yang dibuatnya sendiri.
Untuk tujuan itu, dia akan beristirahat panjang.”
Pertanyaan-pertanyaan para wartawan ditanggapi.
Istirahat untuk penyembuhan ini akan dilakukan di bawah
pengawasan Dr. George Allan, begitu kata Neely sebagai
jawaban untuk salah satu dari serangkaian pertanyaan
yang diajukan. Ia dengan tegas membantah adanya
keterlibatan alkohol maupun zat-zat lain. Dengan berteriak
mengalahkan suara teman-temannya, Barrie bertanya
kapan Ibu Negara akan kembali; ia diberitahu sekarang
masih terlalu dini untuk menjawabnya.
Sejak saat itu, Neely memberi media yang haus, berita
79
laporan berkala tentang kondisi Mrs. Merritt. Menurut
Dr. Allan, ia menikmati masa istirahatnya. Pagi ini, ketika
Barrie berbicara dengan Presiden, pria itu berterima kasih
karena ia telah menanyakan kabar istrinya dan berjanji
akan menyampaikan salamnya. Vanessa membaik dengan
cepat. Presiden sangat senang dengan kemajuan
kondisinya.
Semuanya begitu bagus.
“Omong kosong,” gumam Barrie. Tengkuknya kembali
terasa gatal. Ada yang tidak beres. Ia meraih telepon.
“General Hospital Washington, D.C. Mau disambungkan
ke mana?”
“Tolong sambungkan dengan Anna Chen.”
“Ms. Chen tidak bekerja di sini lagi.”
“Maaf?”
“Ms. Chen tidak bekerja di sini lagi. Bisakah orang lain
membantu Anda?”
“Uh, tidak. Terirna kasih.”
Barrie cepat-cepat menutup telepon dan mencoba
menghubungi nomor telepon apartemen Anna Chen.
Suara ramah mesin yang diatur komputer memberitahu
bahwa nomor itu sudah tidak berfungsi. Dalam waktu tak
sampai lima menit Barrie sudah berada di mobil, melaju
ke gedung apartemen Anna Chen. Ia berlari menaiki
tangga sampai ke lantai tiga dan menekan bel pintu
apartemen 3C. Setelah bel berbunyi beberapa kali tanpa
ada yang membukakan pintu, jelas baginya tempat itu
kosong.
Merasa frustrasi ia menekan bel pintu tetangga di
seberang lorong. Ketika menempelkan telinga ke pintu, ia
mendengar suara orang bergerak dan berbisik-bisik di
80
dalam. “Halo?” seru Barrie sambil mengetuk pintu. “Saya
mencari Ms. Chen.”
Si tetangga ternyata tipe eksekutif muda berbuntut
kuda dan mengenakan kemeja bermonogram. Kemeja itu
terbuka sampai bagian pinggang celana panjangnya, yang
ritsletingnya jelas kelihatan terburu-buru ditutup. Salah
satu ujung kemejanya menyembul ke luar. Barrie
memandang ke belakang bahu pria itu dan melihat bahwa
ia tengah menjamu seorang wanita muda. Mereka sedang
makan siang di lantai ruang tamu.
“Maaf saya mengganggu...”
“Kalau Anda mencar i Anna, dia sudah pindah,”
katanya jelas ingin segera melanjutkan kembali makan
siangnya. Atau entah apa yang sedang dilakukannya.
“Kapan?”
“Minggu lalu. Jumat, Kamis mungkin. Sebelum akhir
pekan, karena pengawas rnembereskan apartemen itu hari
Sabtu, Para tukang keluar-masuk seharian.”
“Anda tahu...”
“Ke mana dia pindah? Tidak. Tapi dia bekerja di
General Hospital.”
“Tidak lagi.”
“Huh. Kalau begitu saya tidak tahu apa-apa.”
“Terima kasih kau mau datang, Daily.” Barrie masuk
ke rumahnya dari pintu belakang. Dapur penuh dengan
bau masakan.
“Bagaimana aku bisa menolak undangan yang begitu
menarik? ‘Datang jam tujuh. Buat makan malam’.”
Daily berdiri di depan kompor, mengaduk sepanci saus
spageti, celemek Natal terikat di pinggangnya. Barrie
samar-samar ingat ia memperoleh celemek itu sebagai
81
hadiah beberapa tahun yang lalu dan tak pernah
melihatnya lagi sejak itu. Ia ingin tahu di mana Daily
menemukannya.
“Baunya sedap.” Ditepuknya Cronkite, yang kegirangan
melihat ia datang. “Kau sudah memberi makan dia?”
“Bakso mentah, yang ditelannya bulat-bulat.” Daily
menyisihkan sendok dan berpaling padanya “Kenapa aku
tadi harus turun di pojok, berjalan di gang, dan masuk
dari pintu belakang? Kita sedang-main petak umpet, ya?”
“Setelah makan malam.”
Daily menerima janjinya. Begitu piring-piring
dibereskan, mereka duduk nyaman di ruang tamu.
Setidaknya Daily yang merasa nyaman, duduk di sofa
empuk, kepala Cronkite yang besar di pangkuannya.
Barrie berjalan ke sana kemari di ruangan itu. Dua kali ia
memeriksa pintu depan untuk memastikan pintu itu sudah
dikunci dan diselot. Ia menurunkan penutup jendela,
hingga orang di luar tak bisa memandang ke dalam.
“Ada apa sih?” tanya Daily.
Barrie menempelkan jarinya di bibir dan menyalakan
TV. Ia memutar volumenya hingga memekakkan telinga,
kemudian bergerak ke bangku di dekat kursi Daily.
“Kau mungkin berpikir aku terlalu mendramatisir,”
katanya, “tapi kurasa aku sedang diawasi. Tadi siang
kuputus ponselku. Mulai saat ini, aku tidak mau ada
catatan telepon. Kalau kita bicara, kita harus sangat
berhati-hati tentang apa yang kita katakan, khususnya
mengenai Vanessa Merritt.”
Daily mengangguk ke arah TV yang menggelegar.
“Menurutmu rumah ini disadap?”
“Aku takkan terkejut kalau benar begitu.” Barrie
82
menceritakan lenyapnya Anna Chen. Lalu katanya, “Aku
bicara dengan pengawas gedung itu. Anna tidak
memberitahu lebih dulu, hanya membayar uang sewa,
berkemas, dan pergi.”
“Dia bisa saja punya puluhan alasan kenapa pergi.
Pekerjaan lain, apartemen lain.”
“Dia juga tidak meninggalkan alamatnya yang baru di
rumah sakit maupun pada si pengawas. Itu kan aneh bagi
orang yang pindah rumah.”
“Mungkin dia menghindari pacarnya yang pemarah.”
“Dia ketakutan, tapi bukan pada mantan pacar yang
kejam. Dia takut terlihat berbicara denganku. Ada yang
tahu dia membocorkan informasi padaku, dan dia telah
ditakut-takuti hingga jadi tutup mulut.”
Daily mencubit bibir bawahnya, tidak berkomentar.
“Kenapa bayi itu tidak diautopsi?” lanjot Barrie. “Dr.
Allan tidak ada waktu dia meninggal. Untuk kematian
tidak wajar, hukum mengharuskan diselenggarakannya
autopsi untok mengetahui penyebabnya.”
“Kita bicara tentang Presiden dan Ibu Negara Amerika
Serikat, Barrie. Hukum bisa dibengkokkan.”
“Kalao anakmu mendadak meninggal tanpa sebab
jelas, tidakkah kau ingin tahu apa penyebab pastinya?
Kenapa suami-istri Merritt keberatan ada aotopsi kalau
tidak ada yang mereka sembunyikan?”
“Banyak orang keberatan dengan aotopsi.” Daily
mengibaskan tangan. “Argumen berikut.”
“Aku selalu kembali ke pesan-pesan aneh Vanessa
untukku. Mungkinkah pesan-pesan itu mengandung
pengakuan?”
83
“Kalau memang dia yang membunuh bayi itu, kenapa
dia mengaku?”
“Jauh di lubuk hatinya, dia ingin kejahatannya
diketahui. Dia ingin dihukum.”
“Kau tahu, semakin banyak kau bicara, semakin
sinting wanita itu kedengarannya.”
“Dan di mana dia?” tanya Barrie tak sabar, sambil tetap
memelankan suara. “Di Highpoint?” Tempat peristirahatan
pribadi keluarga Merritt itu terletak beberapa jam
perjalanan ke barat daya Washington.
“Itu masuk akal,” ujar Daily, “walaupun menurut
keterangan resmi dia sedang beristirahat di ‘suatu
tempat’.”
“Kalau dia cuma beristirahat, dan dalam keadaan sehat,
kenapa begitu dirahasiakan?”
“Jika putrinya sakit berat, Clete Armbruster pasti turun
tangan,” kata Daily . “Dia pasti menempatkannya di
tempat dengan fasilitas medis paling bagus di negeri ini,
menjalani segala macam tes yang mereka miliki. Kau
sudah bicara dengan orang di kantornya?”
“Sudah kucoba. Pernyataan-pernyataan Neely
merupakan kitab suci stafnya.”
“Jika kesehatannya dalam bahaya, Senator takkan puas
dengan sekadar istirahat panjang. Dia akan berusaha
dengan segala cara untuk memperoleh pengobatan
terbaik.”
“Sama saja, jika Senator tahu Vanessa telah melakukan
pembunuhan, dia akan berusaha sama kerasnya untuk
menutupinya dan melindungi anaknya.”
“Sial,” tukas Daily. “Aku masuk perangkapmu.”
“Kau terus-menerus menentangku,” kata Barrie kesal.
84
“Kau tidak mau aku benar.”
“Aku tidak mau kau salah. Aku tidak mau kau main
hantam saja seperti yang kaulakukan dengan kisah Hakim
Agung Green. Dan yang lain-lainnya.”
“Ini sama sekali tidak mirip dengan kasus-kasus itu.
Sama sekali tidak.”
“Dan aku tidak mau jadi mirip. Setelah serentetan
kekacauan, kau sekarang mulai meraih kredibilitas
kembali. Bisa kaubayangkan kehebohan yang bakal
ditimbulkan teori-teorimu ini kalau sampai diketahui
orang?”
“Bisa kaubayangkan seberapa jauh dan cepat karierku
akan melesat kalau teori teoriku terbukti benar?”
“Sebelum mulai berkhayal tentang magazine showmu
sendiri, sebaiknya kau akui apa yang kaumiliki. Firasat,
Barrie. Cuma itu. Firasat, yang dalam jurnalisme sama
artinya dengan nol besar.”
“Tidak,” bantah Barrie sengit. “Kecuali kau betul-betul
ada di sana ketika seseorang melompat dari gedung
tinggi, atau ada pesawat jatuh, atau waktu pembunuh
tertangkap ketika berdiri di dekat mayat dengan senjata
masih berasap di tangannya; semua berita yang bagus
dimulai dengan firasat, insting yang memberitahumu ada
sesuatu di balik suatu situasi, bukan sekadar yang
kelihatan.
“Kau mungkin tidak akan mempercayai perkataanku
ini, Daily, namun motifku bukan cuma kepentinganku
sendiri. Aku prihatin memikirkan Vanessa. Kondisi
mentalnya sangat gawat. Katakanlah aku mengada-ada
dan bayi itu meninggal karena SIDS, seperti yang
dilaporkan. Mungkin kesedihan membuatna sinting. Jika
85
dia membuat Gedung Putih kehilangan muka, apakah
tidak mungkin mereka mengirimnya ke suatu tempat
supaya tidak diketahui publik?”
“Kaupikir Presiden menahannya secara paksa?”
Kalau dikatakan seperti itu, hipotesisnya jadi terdengar
konyol. “Itu sangat tidak masuk akal, ya?”
“Sama tidak masuk akalnya dengan hal-hal lain yang
sejak tadi kita bicarakan.” Daily berpikir sebentar. “Tapi
kalau dipikir-pikir lagi, kekuasaan memiliki psikologi
uniknya sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa bagi
beberapa presiden, untuk mencapai suatu tujuan, semua
cara sah-sah saja dilakukan. Kurasa itu termasuk
mengasingkan ibu negara beremosi labil yang bisa
menghalangi terpilihnya kembali sang presiden.”
Barrie bergidik. “Ya Tuhan, teori-teori kita makin
seram saja.”
“Tetap cuma teori, Barrie.”
“Jangan ingatkan aku,” gumam Barrie.
“Itu tugasku.”
“Kau bukan bosku lagi.”
“Betul. Aku cuma temanmu. Dengar, Barrie.” Daily
diam sejenak untuk menarik napas dengan tersengalsengal.
“Dunia sekarang sudah menghargaimu. Sekali ini,
jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Barrie tak suka mendengar nada bicaranya. “Waktunya
berpsikologi, Daily? Waktunya membuka kepala Barrie
dan melihat apa yang membuatnya bergerak?”
“Aku sudah tahu apa yang membuatmu bergerak.
Lebih penting lagi, kau juga tahu.”
“Kalau begitu, kenapa dibabas...” tanya Barrie marah.
“Bisakah kau menatap mataku dan mengatakan bahwa
86
motivasimu untuk maju terus dengan kisah berbahaya ini
tidak ada hubungannya dengan usahamu mendapat pujian
dari dua orang yang...”
“Ya, aku bisa menatap matamu dan mengatakan hal itu
padamu. Lagi pula, apa pun motivasiku, ini kisah yang
perlu disebarluaskan. Setuju?”
“Kalau kisannya memang ada, ya,” Daily menjawab
sambil bersungut-sungut.”Oke, jadi berhentilah
mengungkit-ungkit masa kecilku yang tidak bahagia dan
bantu aku.”
“Caranya?”
“Siapa yang mau bicara denganku? Senator Armbruster?”
Daily menggeleng. “Tak peduli apa yang sebetulnya
diyakini batinya, dia akan mengikuti versi pemerintah
dan membelanya sampai mati. Dia politikus tulen dari
ujung rambut sampai ujung kaki. Dia takkan menjatuhkan
orang yang ditempatkan partainya di Gedung Putih,
biarpun orang itu Jack the Ripper. Apalagi kalau orang itu
menantunya Dia nyaris sendirian menempatkan David
Merritt di kursi kepresidenan.”
“Oke. Jadi, siapa lagi yang mengenal pasangan Merritt
secara mendalam? Kalau ada orang yang dekat dengan
mereka namun berbeda pendapat. Atau orang yang...”
Tiba-tiba pikiran lain menyentaknya “Si... si.. tentara
yang menyelamatkan para sandera itu.”
“Bondurant?”
“Bondurant! Ya! Gary Bondurant.”
“Gray.”
“Betul. Gray. Dia sangat dekat dengan keluarga
Merritt. Mungkin dia mau bicara denganku.”Barrie sakit
87
hati mendengar Daily tertawa terping kalpingkal biarpun
dengan susah payah. “Kau bakal memperoleh lebih
banyak keterangan kalau mewawancarai salah satu wajab
di Mount Rushmore. Mereka jauh lebih bersababat dan
banyak bicara daripa& Bondurant. Dia sama seperti ular
kobra sulit didekati.”
“Bagaimana riwayat bidupnya? Dari mana asalaya?”
Daily mengangkat bahu. “Pengetahuanmu sama dengan
orang lain.”
“Dia tidak mungkin muncul begitu saja waktu Merritt
menunjuknya sebagai penasihat,” kata Barrie frustrasi.
“Tapi kelihatannya begitu,” balas Daily . “Spencer
Martin sama misteriusnya. Yang diketahui publik tentang
rnereka sebelum pemerintahan Merritt sedikit sekali.
Pendapatku, mereka sengaja menimbulkan aura miisterius
itu.”
“Untuk apa?”
“Efek, kurasa.”
“Apa yang dilakukan Bondurant sebelum rnisi penyelamatan
itu?”
“Merencanakannya, kupikir. Mereka bertiga— Martin,
Bondurant, dan Merritt—pernah menjalani pendidikan
Marinir. Dari mereka bertiga, Presiden yang paling halus,
dia benar-benar politikus tulen. Spencer Martin adalah
tokoh di belakang layar. Dia sangat cocok dengan
perannya dalam pemerintahan ini. Dan Bondurant... Dia
yang paling kompleks di antara trio itu. Mau tahu
rahasiaku? Orang itu selalu membuatku ketakutan
setengah mati. Sejujurnya, kurasa dia juga membuat
Presiden ketakutan setengah mati.”
“Kupikir Merritt memecatnya karena dia tertarik pada
88
Vanessa.”
Daily menggerutu. “Kenapa kau begitu ketinggalan
tentang masalah ini? Di mana kau ketika ini berlangsung?
Kan kejadiannya belum terlalu lama.”
“Waktu itu Howie marah padaku karena suatu hal, jadi
dia menyuruhku meliput tuduhan pelanggaran dalam
gulat profesional. Aku tidak mengikuti berita kembalinya
Bondurant dan kemudian kepergiannya dari
Washington.””Sebetulnya, kau tidak ketinggalan banyak.
Bondurant membuat semua reporter di Washington
frustrasi. Dia menghindari kamera dan tak mau
diwawancara. Tabloid-tabloid memuat omong kosong
mereka yang biasa, namun tentu saja itu bukan kisah yang
sebenarnya”
“Apa kisahnya yang sebenarnya?”
“Aku tak tahu. Tapi kalau Merritt menganggap
Bondurant main api dengan Ibu Negara, kenapa dia
memilnihaya untuk memimpin misi penyelamatan itu?
Dia membuat Bondurant jadi pahlawan nasional. Itu
rasanya bukan dadakan suami yang cemburu, bukan.”
Daily menggoyang-goyangkan telunjuknya. “Dan itu
satu lagi kesalahanmu. Presiden tidak memecatnya.
Sesudah misi itu, dia meminta Bondurant kembali ke
posisinya di Gedung Putih. Bondurant bilang, ‘Terima
kasih, tapi tidak.”’
“Dari mana kau tahu semua ini?”
“Bukan cuma kau yang punya banyak sumber
informasi, Nona. Sebelah kakiku mungkin saja sudah
nnasuk liang kubur, tapi yang sebelah lagi masih
disambut di Washington.”
“Kalau kau memang tahu banyak, di mana Bondurant
89
sekarang?”
“Dia pindah ke suatu tempat di Barat. Ke salah satu
negara bagian terpencil itu.”
90
Bab Delapan
IA sampai rela mengajaknya makan siang. Mereka pergi
ke restoran favoritnya. Ia bahkan membiarkannya makan
sebelum mengajukan permohonannya.
“Kumohon, Howie. Beri aku lampu hijau. Beberapa
hari saja.”
Howie menyapu saus dari sandwich dagingnya dengan
potongan terakhir roti dan menjejalkannya ke dalam
mulut. Sambil mengunyah, ia berkata, “Biaya perjalanan
mahal, tahu. Kita tidak punya anggaran untuk itu.”
“Biar kupakai uangku dulu. Akan kusimpan
kuitansi-kuitansinya Stasiun bisa menggantinya nanti.
Tapi hanya kalau aku memperoleh berita.”
la berharap pengorbanannya ini dapat memenangkan
hati Howie. Ini juga meninggikan semangatnya untuk
menghasilkan berita eksklusif yang akan menyentak
seluruh penjuru negeri, yang ia yakin akan dilakukannya
sebentar lagi. Hanya berita sedahsyat ini yang dapat
rnembuataya mau makan bersama Howie Fripp.
Pria itu mengunyah sambil berpikir... mengunyah
bawang mentah dan memikirkan permintaannya. “Kau
mau pergi ke mana?”
“Aku tak bisa mengatakannya.”
91
“Kau berharap aku memberimu izin sementara kau
tidak mau memberitahu aku ke mana kau pergi atau apa
bentanya?”
“Beritanya menghebohkan. Untak memperolehnya
dibutuhkan kerahasiaan mutlak.” Barrie memelankan
suara dan mencondongkan tubuh ke depan, meskipun bau
bawang merah dan putih yang keluar dari mulut Howie
membuat matanya berair. “Kalau sampai tersebar kabar
bahwa aku tengah menggarap berita ini, orang yang
mengetahuinya bisa terancam bahaya.”
“Sudahlah,” erang Howie. “Kenapa kau tidak mencoba
menjual omong kosong itu di NBC? Orang-orang
sombong di sana mungkin akan mempercayainya.”
“Terima kasih, Howie. Aku memang berharap kau
bilang begitu.” Barrie meraih tasnya.
Howie mula-mula. kaget, lalu menyipitkan mata
dengan curiga. “Kenapa kau tidak marah?”
“Karena sekarang aku bisa menghadap Jenkins dengan
tenang. Aku tidak mau melompati tangga kekuasaan, jadi
kutanya kau dulu. Karena kau menolak permintaanku,
aku dapat menghadap sang dirut.”
Mendengar Direktur Utama WVUE disebut, hati
Howie Fripp langsung ciut. “Jenkins pasti akan mendukung
keputusanku,” katanya, pura-pura yakin. “Dia akan geli
setengah mati karena kau punya nyali untuk minta izin
bepergian.”
“Kurasa tidak,” kata Barrie riang. “Aku belum cerita
soal memo yang ditulisnya untukku.”
Howie menyipitkan mata lagi.
“Isinya ulasan penuh pujian tentang serial SlDS-ku.
Dia ingin aku membuat lebih banyak laporan spesial
92
seperti itu. Dia bilang bakatku terbuang sia-sia untuk
berita-berita kacangan. Dia juga ingin aku merancang
program pelayanan masyarakat. Mungkin kegiatan luar
juga, seperti tampil di depan umum, berpidato, hal-hal
seperti itu.” Ia mengerutkan kening. “Kukira dia sudah
menceritakannya padamu. Belum? Yah, kurasa saking
sibuknya, dia tidak sempat memberitahumu.”
Semua ceritanya itu cuma bualan, namun Howie
menelannya mentah-mentah. “Akan kupertimbangkan,”
gerutunya.
“Tidak perlu. Betul. Lupakan saja. Biar aku langsung
ke Jenkins saja.”
“Tunggu! Tahan! Beri aku waktu sebentar, demi
Tuhan. Kau memberitahu masalah ini tanpa peringatan
sedikit pun.” Sambil memikirkannya, ia menggigiti acar
timun. “Kau berani sumpah berita ini sangat
menghebohkan?”
“Luar biasa. Menggemparkan.”
Howie melotot memandang seorang wanita muda
yang sedang joging di luar jendela. Setelah itu ia
menggigit acarnya, dan menggaruk ketiaknya. “Oke, kau
boleh pergi selama beberapa hari. Tapi awas kalau kau
main-main denganku.”Barrie bergidik membayangkannya.
“Selamat datang di Ponderosa,” kata Barrie pada dirinya
sendiri ketika ia melaju melewati gerbang yang terbuka
dan menyusuri jalan kerikil menuju rumah Gray
Bondurant.
Bepergian dengan nama samaran, menggunakan kartu
identitas palsu yang dibuatkan untuknya oleh seorang
mantan narapidana—salah satu sumber berita Daily dari
93
dunia hitam—dan membayar dengan uang kontan supaya
tidak meninggalkan jejak, Barrie sampai di tempat
tujuannya sore itu. Ia berharap tindakan berjagaja-ganya
itu berlebihan, namun ia tidak mau mengambil risiko.
Menurut standar Wyoming Barat Laut sekalipun,
tempat tinggal Bondurant termasuk bobrok. Rumah
pertanian satu lantai itu dibangun di depan hutan aspen
yang wamanya tampak spektakuler pada musim gugur
seperti sekarang. Untuk mencapai rumah itu ia harus
menyeberangi sungai dengan air jernihnya yang
menggelegak di dasar batu.
Rumah itu terbuat dari kayu gelondongan dan batu. Di
sekelilingnya terdapat teras beratap. Tiga ekor kuda
sedang merumput di lapangan. Di bagian belakang
terdapat lumbung yang tampak lebih tua daripada rumah
dan garasi terpisah yang pintunya terbuka dan cuma berisi
mobil salju. Beberapa ikat kayu ditumpuk di luar garasi.
Selain kuda-kuda tadi, tidak kelihatan ada makhluk hidup
lain.
Setelah berada di sini, Barrie merasa sangat gentar.
Alam di sekelilingnya keras dan menakutkan. Deretan
pegunungan membuatnya merasa kecil dan tak berarti,
yang pasti begitu jugalah pendapat Gray Bondurant nanti
tentang dirinya. Ketika turun dari mobil sewaan, ia
bertanya-tanya dalam hati apa persisnya yang akan
dikatakannya pada pria itu untuk memperkenal kan diri.
Dari sedikit. informasi yang didengar dan dibacanya
tentang pria itu, ia tahu hampir tak mungkin ia akan
disarnbut dengan tangan terbuka.
Kegentarannya tak beralasan; Gray Bondurant tak ada
di rumah. Ia menyadari hal itu setelah membunyikan bel
94
dan mengaetuk pintu selama beberapa menit. Sialan.
Mentalnya sudah bersiap-siap menghadapi mantan Marinir
itu. Sudah terlalu banyak yang dikorbankannya, ia tidak
mau menyerah begitu saja. Bahkan perjalanan singkat
kembali ke Jackson Hole pun terasa menjengkelkan.
Setelah memutuskan untuk rnenunggu Bondurant
pulang, ia duduk di kursi goyang di teras depan.
Pemandangan Pegunungan Tetons sangat memesona, jadi
ia tidak keberatan duduk dan bergoyang-goyang sambil
menikmati keindahan alam. Namun, tak lama kemudian
ia menyadari fenomena alam lairi, yang satu ini sifatnya
biologis. Ia harus ke kamar mandi.
Setelah menunggu lima belas menit lagi, ia
meninggalkan tas di kursi dan kembali ke pintu depan.
Karena garasi dibiarkan terbuka, kemungkinan besar
rumahnya pun tidak dikunci. Memang benar.
Pintu itu langsung membuka ke ruang tengah. Palangpalang
kayu menopang langit-langit tinggi. Perapian
berukuran besar mendominasi dinding batu di ujung
ruangan. Dekorasinya sangat maskulin. Kursi-kursi
berukuran besar dilapisi kulit warna hijau daun. Jendelajendelanya
tanpa hiasan. Karpet-karpet wol yang tampak
seperti selimut sadel besar terhampar di lantai yang
terbuat dari kayu hardwood. Suasana sunyi senyap, detak
jam pun tak ada. Ruangan itu samar-samar berbau asap
kayu dan... dan laki-laki.
Suasana jantan itu begitu kuat, begitu terasa, hingga
Barrie berpaling cepat-cepat mengira akan melihat
Bondurant mendadak muncul.
Sambil memarahi dirinya karena bersikap konyol, ia
bergegas melintasi ruang tengah dan tiba di kamar
95
berukuran besar. Di sini, lagi-lagi semua tampak keras,
kecuali tempat tidur yang masih berantakan, yang sengaja
tidak mau dilihatnya. Ia masuk ke kamar mandi di dekat
situ.
Sebuah sikat gigi tergantung dari rak di atas wastafel.
Handuk-handuk terlipat di lemari. Kemeja tergantung di
cantelan kuningan di belakang pintu. la tak bisa menahan
diri untuk tidak menyentuhnya. Katun. Tidak dikanji.
Nyaman.
Kamar mandinya cukup rapi, meskipun ia melihat
bahwa tutup botol cologne-nya berdebu karena jarang
dibuka. Ia tergoda untuk membuka lemari obat yang
dilengkapi cermin, namun memutuskan itu akan merupakan
pelanggaran privasi yang keterlaluan.
Setelah menggunakan toilet, ia mencuci tangan dan
mengeringkannya dengan handuk yang terjuntai dari
cincin krom yang dipasang di dinding. Handuk itu agak
lembap. Beberapa saat yang lalu, Bondurant mengeringkan
wajah atau tangannya dengan handuk itu. Pikiran Barrie
jadi agak kacau dan muncul sensasi aneh di perutnya.
Sekali lagi, ia sangat menyadari keberadaan penghuni
rumah ini, seolah pria itu ada, cuma tidak kelihatan.
Pasti karena tempat ini begitu senyap dan terpencil
hingga ia jadi merasa yang tidak-tidak, Barrie memutuskan.
Ia keluar dari kamar, berjanji pada tuan rumahnya
yang tidak ada bahwa setelah minum segelas air, ia akan
keluar dari situ.
Ia menemukan dapur dengan mudah. Ada enam kaleng
bir di dalam kulkas. Tak ada air mineral. Atau minuman
ringan. Ia mengambil air dari keran, lalu menambahkan
beberapa potong es yang diambilnya dari freezer yang
96
penuh dengan potongan daging dan sedikit makanan lain.
Sambil memegang janji, ia kembali ke teras untuk
melanjutkan penantiannya. Tentunya Bondurant akan
kembali sebelum hari gelap. Ia tak mungkin meninggalkan
rumabnya dalam keadaan tak terkunci jika ia merencanakan
pergi lama.
Matahari terbenam mengubah warna langit dari jingga
menjadi ungu gelap. Bintang-bintang bermunculan, lebih
banyak daripada yang pernah dilihatnya, karena seumur
hidup ia tinggal di kota besar. Bima Sakti tampak jelas
persis di atas kepalanya.
Dengan datangnya kegelapan, temperatur udara pun
turun. Supaya hangat ia memeluk dirinya sendiri.
Meskipun dingin, ia tetap saja jatuh tertidur, dagunya
mengenai dada setiap kali kepalanya terkulai. Tubuhnya
mengikuti waktu yang dua jam lebih cepat daripada
Waktu Pegunungan, dan wekernya tadi berbunyi pada
pukul 05.00.
“Ini sinting,” katanya, giginya bergemeletuk.
Sebelum sempat melarang dirinya, ia kembali ke
dalam rumah dan berbaring di sofa kulit yang panjang.
Beberapa detik saja setelah merebahkan kepalanya, ia
tertidur.
97
Bab Sembilan
BOLA-BOLA biliar berkeletak, dan Howie Fripp
mendengus seperti babi ketika tembakannya berhasil
memasukkan sebuah bola ke lubang . “Aku menang.
Berapa tadi?”
“Tiga.”
“Yi-ha! Lima belas dolar. Kecuali kau ingin main
lagi.”
“Tidak, terima kasih. Kau bisa menguras kantongku.”
Howie mengambil tiga lembar uang lima dolar yang
diulurkan lawannya padanya. Dimasukkannya uang itu
ke saku dan nyaris mengucapkan komentar sombong lain
tentang kemenangan hebatnya, namun sesuatu di mata
pria lain itu memperingatkan bahwa menyombongkan
diri bukanlah tindakan yang bijaksana.
“Setidaknya kau bisa membelikan aku minuman.”
Orang yang kalah itu tersenyum, tapi tipis.
“Minuman? Boleh, boleh,” kata Howie. “Kau mau
minum apa?”
la minta vodka dengan es. Howie pergi ke bar dan
memesan minuman itu. Ia kembali membawa vodka dan
bir untuk dirinya sendiri ke meja tempat pria tadi duduk.
“Aku tidak bisa lama-lama,” Howie berkata ketika
98
duduk di depannya. Sebetulnya ia malah ingin pergi
sekarang juga Teman semejanya itu memesan vodka
merek terkenal. Sekali atau dua kali minum dengannya
bisa menghabiskan kemenangannya. “Aku harus masuk
kantor pagi-pagi.”
Pria itu menyesap minumannya. “Kau bekerja di
bidang apa?”
“Jurnalisme televisi,” Howie menyombongkan diri,
sambil menaburkan garam di bir. “WVUE.”
“Kau tampil di TV?”
“Tidak, aku tidak muncul di TV. Itu pekerjaan untuk
orang-orang idiot, yang cuma bisa bicara. Tidak, aku
membagikan tugas peliputan berita pada para reporter.”
“Jadi, kau kurang-lebih bertanggung jawab mengenai
apa yang akan disiarkan?”
“Aku memang bertanggung jawab mengenai apa yang
akan diudarakan.” Menikmati minat laki-laki itu, Howie
bercerita panjang-lebar dan melebih-lebihkan. “Aku yang
menentukan reporter mana meliput berita apa berita yang
mana yang dibatalkan, dan mana yang disiarkan serta
berapa lama waktunya. Setiap hari, banyak sekali yang
harus kuputuskan.”
“Itu posisi yang sangat berat.”
“Aku suka tekanan,” kata Howie sombong.
Laki-laki yang duduk di seberangnya adalah laki-laki
yang ingin dilihat Howie Fripp di cerminnya sendiri.
Kadang-kadang ia membohongi dirinya sendiri supaya
percaya bahwa ia menimbulkan kesan yang sama pada
orang lain seperti yang ditimbulkan pria itu pada dirinya.
Teman barunya itu pandai bicara. Apa pun situasinya, ia
tetap tenang. Ia bahkan tidak marah ketika kalah tiga set
99
berturut-turut dalam pertandingan biliar dan kehilangan
banyak uang. Ia tipe pria yang membuat wanita bernafsu
dan laki-laki merasa takut bercampur hormat.
“Kau pasti tahu banyak tentang apa yang tengah
terjadi,” ujar pria itu.
“Kau mengetahui beritanya lebih dulu daripada orang
lain.”
“Betul.”
“Jadi, berita apa yang sedang hangat?”
Howie sibuk berpikir tentang berita yang dapat
membuat individu mengesankan ini terkesan. “Hmm,
well, sebentar . Aku mengirim reporter ke lokasi
penembakan tiga orang kemarin malam itu, beberapa
menit setelah kejadian. Aku punya video mayat-mayatnya
sebelum ditutup.”
Laki-laki itu tersenyum sedikit dan melirik jam
tangannya.
“Dan, uh, apa lagi ya...”
“Yah, aku menikmati pertandingan kita. Sebaiknya
aku pergi sekarang.”
“Tapi berita paling heboh yang kami garap akhir-akhir
ini adalah serial tentang SIDS itu. Kau tahu, kematian di
tempat tidur bayi,” kata Howie, berharap bisa menarik
perhatian laki-laki itu.
“Yeah?”
Bingo! “Aku yang mengusulkan pembuatan serial itu.
Semacam lanjutan untuk peristiwa anak Presiden, kau
tahu.”
“Peristiwa tragis.”
“Kami mewawancara Ibu Negara.”
“Itu hebat sekali. Dia jarang mau diwawancara, kan?”
100
“Itu wawancara eksklusif WVUE.”
“Bagaimana kau bisa melakukannya?”
“Biasa saja. Aku menelepon beberapa orang. Menagih
janji.” Ia mengangkat bahu, seolah mengatakan ia sudah
biasa berurusan dengan Gedung Putih. “Kau mau minum
lagi?”
“Tidak, terima kasih. Kalau aku mabuk, bisa-bisa aku
setuju membiarkan kau mengalahkan aku lagi.” Orang itu
menyeringai.
Howie balas menyeringai. Ia tak pernah punya teman.
Mungkin pria ini akan menjadi temannya. Pikiran itu
membuatnya bersemangat.
“Aku menonton wawancara dengan Ibu Negara itu,”
ujar si pria “Sangat tajam. Siapa nama reporternya?”
“Barrie Travis.” Howie menceritakan bagaimana
proses ia mempekerjakan Barrie. “Waktu itu dia tidak
punya pekerjaan biarpun sudah melamar ke mana-mana.
Kupikir, masa bodohlah. Beri dia kesempatan, dan
dapatkan nilai positif dari FCC sebagai imbalan. Dan dia
lumayan cantik.”
Teman barunya terkekeh. “Kalau kita terpaksa bekerja
dengan mereka, kenapa tidak kita pekerjakan saja yang
cantik, bukan?”
Howie mengerling. Teman barunya punya pandangan
yang sama dengannya. “Kau betul sekali, Sobat.” Howie
mengedipkan sebelah mata. “Barrie dan aku pernah
pacaran selama beberapa waktu, tapi semua jadi ruwet,
bekerja sebagai atasannya dan sebagainya, jadi aku
terpaksa menyudahinya. Dia tidak keberatan. Tidak
menimbulkan masalah, tidak seperti beberapa wanita
lain. Ternyata dia reporter yang cukup bagus. Dia penuh
101
semangat. Mungkin agak terlalu ambisius.”
“Begitu. Kenapa?”
“Ah, kau tahu. Karena kesuksesan serialnya, yang
sebetulnya kuproduksi, dia jadi punya pikiran macammacam.
Dia membuatku sinting dengan berita heboh
yang tengah dikejarnya.”
“Oya?” Temannya tak lagi melirik jam tangannya. la
bersandar nyaman di kursi, mengaduk-aduk es di
gelasnya. “Berita apa?”
“Entah. Dia tidak mau bilang.”
“Ayolah. Aku akan membocorkan pada siapa sih?”
“Aku bersumpah tidak tahu apa-apa. Tapi dia bilang
kalau berita itu ternyata seperti dugaannya, Watergate
akan tampak seperti Mickey Mouse.”
Senyum pria itu luntur sedikit. “Kalau begitu pasti
beritanya dahsyat.”
“Cukup dahsyat sehingga dia pergi beberapa hari
untuk melakukan riset di luar kota.”
“Di mana?”
Nada suara laki-laki itu membuat tangan Howie
terhenti di antara mangkuk kacang dan mulutnya. Tibatiba
ia merasa mungkin terlalu banyak omong, mungkin
sebaiknya ia tidak bercerita sebanyak ini mengenai berita
Barrie. “Dia tak mau memberitahuku.”
Pria itu tersenyum lagi. “Sedikit pun?”
“Sedikit pun.”
“Cewekmu penuh rahasia.”
“Dia cewek biasa. Aku bisa bilang apa? Siapa yang bisa
menebak isi kepala cewek?” Howie meraih bir untuk
melicinkan tenggorokannya setelah makan kacang.
“Yah, sudah malam, dan kau harus ke kantor pagi102
pagi. Terima kasih untuk minumannya.”
Howie tergagap bangkit waktu teman barunya berdiri.
“Aku senang mengobrol denganmu.”
“Sudah semestinya, bajingan. Kau pulang dengan isi
kantong bertambah lima belas dolar.”
“Mungkin kita bisa rnelakukannya lagi kapan-kapan,”
kata Howie, berharap tidak terkesan terlalu bersemangat.
Ia tak ingin pria itu mengira ia homo. “Aku ke sini
beberapa malam dalam seminggu. Kalau sedang tidak
punya rencana lain. Cuma ngobrol dengan orang-orang,
kau tahu.”
“Kalau begitu, mungkin kita akan bertemu.” Mereka
bersalaman.
Howie memandanginya pergi, iri dan kagum pada
sikap percaya diri laki-laki itu, dan tahu, hampir pasti,
bahwa ia takkan bertemu dengannya lagi.
Kalena alasan yang tetap merupakan misteri baginya
Howie tampaknya tidak mudah memperoleh teman.
Spencer Martin sudah melewati dua blok ketika kebetulan
melibat bayangannya di kaca spion. Sambil tertawa, ia
mengulurkan tangan untuk membuka topi bisbol yang di
bagian belakangnya dihiasi rambut panjang keriting. Ia
juga mencopot kumis palsunya. Akan sedikit lebih susah
untuk menghilangkan bau tajam asap tembakau dan bir
basi akibat terjunnya ia ke kehidupan kumuh Howie
Fripp.
Benar-benar brengsek, pikir Spence ketika ia melaju
kembali ke Gedung Putih,Tapi dari Fripp-lah ia mengetahui
informasi yang ia dan David harus ketahui—Barrie
Travis masih memburu berita yang menurumya panas.
103
Apakah berita itu berhubungan dengan Presiden atau
Mrs. Merritt atau kematian Robert Rushton Merritt?Ia
yakin Fripp tidak tahu; kalau sebaliknya pasti laki-laki itu
sudah berkoar-koar. Saat ini Spence juga tidak tahu. Tapi
menyelidikinya merupakan prioritas utamanya.”Yah,
saya senang Anda senang, Mrs. Gaston... Tidak, saya
yakin Mrs. Merritt akan puas dengan pilihan saya...
Bagus. Nah, mengenai pengaturan untuk besok, Anda
akan dijemput dengan mobil pada pukul 06.30. Saya tahu
memang pagi sekali, tapi... Baikah. Bagus sekali. Kalau
Begitu, sampai ketemu besok. Selamat malam.”
Tangan Dr. George Allan masih memegang gagang
telepon, dan ia tengah memandanginya sambil berpikir,
waktu istrinya masuk membawa dua gelas kopi yang
mengepul-ngepul. Wanita itu meletakkan satu gelas di
depannya di meja dan membawa yang satu lagi ke kursi
kulit yang berada di depan meja itu. “Siapa tadi?”
Ruang kerjanya berada di lantai dua kediaman mereka
yang bergaya namun nyaman, tak jauh dari bagian
Massachusetts Avenue yang terkenal sebagai Embassy
Row. George Allan mencicipi kopinya “Anak-anak sudah
tidur?”
“Di tempat tidur, tapi kuberi mereka tambahan sepuluh
menit, sesudah itu lampu harus dimatikao. Siapa itu
tadi?” tanya Amanda lagi, sambil menunjuk telepon.
“Perawat pribadi yang kupekerjakan untuk Vanessa.
Mrs. Gaston tak bisa dibilang gembira mendengar siapa
pasien barunya dia amat sangat gembira. Dia tak percaya
dirinya akan merawat Ibu Negara.”
“Vanessa membutuhkan perawatan kontinyu?”
Keluarga Allan sudah mengenal keluarga Merritt sejak
104
mereka baru menikah. “Cuma untuk berjaga-jaga,” jawab
George. “David berpendapat dia harus didampingi orang
yang terlatih secara medis setiap saat.”
“Kupikir dia cuma beristirahat.”
“Memang.”
“Kalau dia membutuhkan perawatan medis secara
kontinu, tidakkah dia sebaiknya masuk rumah sakit?”
“Berhentilah menginterogasi aku, Amanda.” George
bangkit dari kursi kerjanya begitu cepat hingga kursi itu
terguling ke belakang dan menabrak dinding. Ia pergi ke
lemari minuman keras untuk mengambil brendi dan
menuangkannya ke kopi.
“Aku tidak menginterogasimu,” kata Amanda lembut.
“Apanya yang tidak. Semua percakapan kita akhirakkir
ini berkembang menjadi pemeriksaan silang.”
“Itu karena kau sangat defensif,” balas Amanda.
“Pertanyaan paling sederhana pun membuatmu
marah.””Pertanyaanmu tak pernah sederhana, Amanda.
Semuanya menyelidik dan penuh kecurigaan.”
“Dan kau paranoid,” hardik Amanda. “Apa sih yang
dimiliki David hingga membuatmu takut pada segala hal,
bahkan aku?”
“Kau tidak tahu apa yang kaukatakan.”
“Aku tahu sejak menerima pekerjaan ini, kau jadi lain.”
“Kau keliru, Amanda.”
“Dad?”
George berbalik dan melihat dua putranya yang masih
kecil berdiri di ambang pintu. Mengenakan piyama,
mereka tampak sangat manis dan rapuh, wajah mereka
bersih karena habis mandi. Begitu melihat mereka,
kemarahannya menguap. “Hai, anak-anak. Masuklah.”
105
Mereka berdiri ragu di pintu sampai putra sulungnya
dengan berani melangkah lebih dulu ke area berbahaya.
Adiknya mengikuti. George kembali ke kursi,
mendudukkan kedua anaknya di lutut, dan memeluk
mereka erat-erat.
Kedua anaknya wangi sabun, pasta gigi, dan sampo.
Mereka begitu bersih. Ia nyaris lupa betapa nyamannya
dalam keadaan bersih. Sudah lama ia tidak mengalaminya.
“PR matematikaku dapat nilai A,” si sulung
memberitahunya dengan bangga.
“Guru menyuruhku membaca kuat-kuat hari ini. Aku
tahu semua katanya,” si bungsu ikut berceloteh.
“Hebat sekali! Kalian berdua pantas diberi hadiah.
Bagaimana kalau akhir pekan ini? Nonton film? Atau
jalan-jalan ke toko? Pokoknya acara istimewa.”
“Mom ikut?”
George melirik Amanda “Tentu, Mom ikut. Kalau dia
mau.”
“Mau, Mom?”
Amanda tersenyum pada kedua putranya. “Yang
kumau sekarang ini adalah kalian berdua tidur.”
Setelah berpelukan lagi dan aneka taktik untuk
menunda, ia membawa mereka keluar dari ruangan
menuju kamar mereka.
Amanda sudah berada di kamar tidur utama ketika
George menyusulnya setengah jam kemudian. Ia tengah
menyikat rambutnya yang modelnya tetap sama dengan
ketika mereka berkenalan, bob lurus sedagu. Seperti
matanya, rambutnya berwarna cokelat tua.
Amanda siap untuk tidur, hanya mengenakan celana
dalam dan atasan pendek lembut. George berdiri di pintu
106
sebentar dan memandanginya. Ia langsung jatuh cinta
pada Amanda ketika mereka diperkenalkan di pesta
Empat luli. Mereka mulai pacaran, tapi ia butuh waktu
enam bulan untuk mengumpulkan keberanian dan
mengajak Amanda tidur dengannya. Amanda bilang ya,
dan ingin tahu kenapa ia menunggu begitu lama. Mereka
menikah sebelum Empat Juli berikutnya.
Amanda tak pernah keberatan dengan tuntutan pekerjaan
George. Ia memiliki kehidupan dan minat sendiri. Selain
membina rumah yang indah bagi keluarga mereka, ia
juga mengajar sejarah seni di Georgetown University. Ia
penasihat sukarela di rumah penampungan wanita korban
penyiksaan. Di lapangan tenis ia sangat andal dan
kompetitif. Ia mengadakan pesta-pesta yang hebat dan
cukup menguasai beberapa bahasa. Ia tahu cara berpakaian
dan bagaimana membawa diri dalam situasi apa pun.
George mencintainya. Ya Tuhan, betapa ia mencintainya.
George mengamati gerakan anggun lengannya yang
langsing ketika ia terus menyikat rambutnya. Seratus kali
semalam, begitulah yang diajarkan ibunya yang berasal
dari Virginia. Itu merupakan kebiasaan yang disukai
George. Payudaranya yang ikut naik-turun membuatnya
tak berkedip. Putingnya membuat tonjolan kecil di katun
lembut blusnya.
“Maaf tadi aku marah,” ia memulai dengan suara sendu
dan menyesal.
Mata Amanda yang gelap beralih untuk menatap
matanya di cermin.
“Aku tidak menginginkan pernyataan maaf, George.”
la berbalik untuk memandangnya “Aku menginginkan
suamiku.”
107
George mendekatinya, memeluknya, menariknya ke
dekatnya. “Kau memiliki aku.”
Meskipun memeluknya erat-erat, Amanda menggeleng.
“David yang memilikimu. Dia merebutmu dariku dan
dari anak-anak kita.”
George menjauhkannya dan menyusupkan jari-jarinya
ke rambutnya yang berkilau. “Itu tidak benar, Amanda.”
“Benar. Aku takut aku takkan pernah memperolehmu
kembali.”
“Aku tidak pergi ke mana-mana,” bisik George di bibir
istrinya. “Bagiku, kau dan anak-anak lebih berarti
daripada nyawaku sendiri. Aku tak sanggup kehilangan
kalian.”
Amanda menatap mata suaminya lekat-lekat. “Kau
kehilangan kami, George. Setiap hari kau semakin jauh
dan terus menjauh. Tidak peduli seberapa keras aku
berusaha, rasanya aku tak bisa meraihmu lagi.
Kau penuh rahasia Kao jadi orang asing.” Suaranya
pecah dan air mata menggenangi matanya.
“Kumohon, jangan menangis. Jangan.” George
mencium tulang pipi istrinya yang anggun, lalu bibirnya
yang bergetar. “Semuanya baik-baik saja.”
Ia berbohong. Lebih jauh lagi, ia tahu istrinya tahu ia
berbohong. Ia bisa merasakannya dari cara Amanda
mencengkeramnya. Ciumannya lebih dari bergairah,
ciumannya putus asa.
Amanda membawa perasaan itu ke tempat tidur,
menanggapi hasrat George dengan nafsu tak terkendali,
seolah seks liar bisa mengalahkan pengaruh David Merritt
atas diri suaminya. Ketika tubuh mereka bersatu, masingmasing
tenggelam dalam perasaan mendamba yang
108
begitu dalam.
Kemudian, puas secara seksual, telanjang dan basah
oleh keringat, mereka saling berpelukan erat dan
membisikkan pernyataan cinta dan kesetiaan abadi.
Tapi mereka sama-sama tahu kesetiaan George pada
Presiden sama tak tergugatnya... dan jauh lebih menuntut.
109
Bab Sepuluh
BARRIE terbangun dan mendapati laras senapan menekan
bagian bawah payudara kirinya.
Sambil menahan dorongan untuk melompat dan lari,
ia sama sekali bergeming, cuma matanya yang bergerak.
Pandangannya menyusuri laras senjata sampai tiba di
sepasang mata yang lebih dingin, lebih biru, dan lebih
keras daripada laras senjata itu.
“Sebaiknya bagus.”
Barrie mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya
betul-betul kering. “Apa?”
“Alasanmu berada di dalam rumahku.” Ditekannya
payudara Barrie, mengangkatnya sedikit dengan senapannya.
“Well?”
“Saya sampai semalam. Anda tak ada, jadi saya
menunggu berjam-jam di teras. Malam tiba dan udara
jadi dingin. Saya mengantuk. Pintu tak dikunci. Saya kira
Anda takkan keberatan.”
“Aku keberatan.”
“Nama saya Barrie Travis.” Mata laki-laki itu menyipit
sedikit. Barrie berani bersumpah pria itu mengenali
namanya, meskipun tak mau mengakuinya.
“Saya datang jauh-jauh dari Washington, D.C., untuk
110
bertemu Anda.”
“Kalau begitu perjalananmu sia-sia.” Ia mengayunkan
senapan ke bahu. “Karena sudah tahu di mana letak pintu,
kau bisa keluar sendiri” la menepi supaya Barrie bisa
bangun.
Barrie pelan-pelan meluruskan badan dan dengan
leman berdiri. Kemudian ia mengangkat tangan dan
menampar kuat-kuat pipi pria itu. “Berani-beraninya kau
menodongkan senjata ke arahku! Kau sudah sinting apa?
Kau bisa membunuhku!”
Rahangnya berdenyut-denyut. “Miss, kalau aku memang
ingin membunuhmu, kau sekarang sudah tamat.
Dan aku tak mau mengotori sofaku karena melakukannya.”
Dengan satu gerakan sigap, ia membungkuk dan
memungut tas Barrie dari lantai dan melemparkannya
padanya. “Keluar, dan bawa bahan bacaanmu yang payah
itu sekalian.”
Sebelum meninggalkan Washington, Barrie telah
mengumpulkan bacaan yang terdiri atas semua tabloid
dengan kepala berita mencolok mengenai gosip perselingkuhan
Gray dengan Ibu Negara. Semua itu memang
sampah, namun ia jadi marah karena laki-laki itu
seenaknya membongkar isi tasnya. “Kau memeriksa
tasku?”
“Kau yang masuk tanpa izin, bukan aku.”
“Itu bukan bahan bacaan yang sengaja kupilih, Mr.
Bondurant. Itu riset. Aku reporter.”
“Berarti kau semakin harus pergi.”
Mengira Barrie akan mematuhi perintahnya, ia
berbalik dan masuk ke kamar.
Barrie bersyukur mendapat kesempatan untuk mene111
nangkan diri. Ia pernah mengalami beberapa peristiwa
yang cukup mencekam sepanjang hidupnya, tapi tak
pernah ia dihadapkan pada moncong senjata. Apalagi
pada jarak dekat. Gray Bondurant ternyata memang
mengerikan seperti yang digambarkan orang selama ini,
meskipun ia merasa laki-laki itu takkan menembaknya.
Tadi itu hanya taktik menakut-nakuti, tidak lebih.
Bondurant berharap bisa membuatnya ketakutan hingga
langsung kabur . Well, ia belum mau mengibarkan
bendera putih.
Diusapnya rambutnya, dirapikannya pakaiannya, dan
berdehem. “Mr. Bondurant?” Kesenyapan tidak mematahkan
semangatnya. Ia melangkah memasuki pintu
kamar yang terbuka. “Aku... Oh!”
Bondurant telah melepaskan kemejanya. Lemak tubuh,
nol. Yang lainnya, sepuluh. Sepuluh sempurna. Bulubulu
tumbuh membentuk huruf V di dada dan tubuhnya
yang langsing. Pada salah satu rusuknya tampak bekas
luka mengerikan namun menarik.
Semua tabloid yang dibacanya memuat foto kaburnya
yang sama. Jelas itu merupakan satu-satunya foto yang
ada. Kacamata hitam penerbangnya mendominasi foto
itu. Dagu dan rahang bagai batu granit, mulut tipis,
rambut berantakan ditiup angin, dan kacamata tadi. Cuma
itu.
Sosok dua dimensi dalam foto itu jelas berbeda dengan
wujud nyatanya. Barrie berusaha tidak melotot. “Mr.
Bondurant, aku menunggu Anda selama berjam-jam.”
“Itu masalahmu.”
“Paling tidak Anda bisa...””Aku tidak harus berbuat
apa-apa.”Untuk mengulur waktu, Barrie bertanya, “Pukul
112
berapa sekarang?”
“Sekitar jam empat.” Bondurant menarik sebelah
sepatu bot dan kaus kakinya dan membiarkannya jatuh
begitu saja.
“Pukul empat pagi?”
“Kau datang jauh-jauh dari D.C. untuk menanyakan
waktu padaku, Miss Travis?” Sepatu bot dan kaus kaki
yang sebelah lagi dilepas juga.
“Tidak, aku datang jauh-jauh dari D.C. untuk
berbicara pada Anda soal Vanessa Merritt.”
Pria itu langsung kaku. Ditatapnya. Barrie dengan
tatapan sekeras baja. “Kedatanganmu sia-sia.”
“Kita harus bicara.”
la membuka ikat pinggang, mencopot kancing jeans,
dan, melepaskannya. Lalu berdiri telanjang.
Jelas ia berharap Barrie akan menjerit dan kabur.
Barrie tak mau menampakkan reaksi apa pun, meskipun
ia sebenarnya terguncang. “Anda tidak bisa membuatku
gemetar, Mr. Bondurant.”
“Oh, aku yakin bisa,” kata Bondurant pelan. Ia
bergerak melewati Barrie ketika menuju kamar mandi.
Kemudian ia tiba-tiba berbalik dan menariknya ke
dekatnya.
Entah karena sentakan mendadak dengan dadanya,
atau kaget setengah mati, Barrie jadi tak bisa bernapas,
tak sanggup bicara, dan tak mampu bergerak. Mata lakilaki
itu terus menatapnya tajam sementara tangannya
meraba-raba ke balik sweternya. Lengan baju itu cukup
lebar hingga Bondurant bisa mendorong tali kamisolnya
dari bahunya. Barry bergeming. Barulah ketika ia
merasakan telapak tangan kasar laki-laki itu di payuda113
ranya, ia bergerak, itu pun cuma terhuyung ke dinding di
belakangnya menyeret Bondurant bersamanya.
Ketika bibir pria itu bergerak turun ke payudaranya, ia
melengkungkan tubuh, tanpa rasa malu ingin merasakan
mulut pria itu di tubuhnya la merasa seolah setiap sel
dalam dirinya bagai tersentak bangun. Di sekujur
tubuhnya menderu gelombang gairah, gelombang kehidupan,
yang tak bisa ditahan maupun dikendalikan. Seumur
hidup ia tak pernah mengalami yang seperti ini, serbuan
hawa nafsu ini, perasaan yang teramat dahsyat ini, insting
yang sangaf kuat, primitif dan menggebu-gebu untuk
menyatu dengan laki-laki ini, segera, cepat, saat ini juga!
Mereka bersama-sama tersandung-sandung ke tempat
tidur. Barrie membuka sweternya lewat kepala, dan
ketika melakukannya tanpa sengaja merobek salah satu
tali kamisolnya membuat payudaranya kelihatan. Mereka
jatuh menyamping ke ranjang yang berantakan, sibuk
saling meraba bagai dalam pertandingan yang tidak
memiliki peraturan maupun batasan. Bondurant merogoh
ke balik roknya dan membuka celana dalamnya.
Lalu pria itu menyentuhnya.
Begitu memabukkan.
Sentuhannya seperti sambaran kilat, panas dan menyentak.
Barrie mengerang penuh kenikmatan, sementara
bibir Bondurant bergerak menyusuri perutnya menciuminya
dengan ringan. Sambil mengelus kulit Barrie dengan
lidahnya, pria itu kembali naik ke payudaranya. Barrie
memegang pipi laki-laki itu dan merasa senang ketika
merasakan teksturnya yang kasar.
Jari-jarinya yang membelai-belai begitu erotis dan
sugestif dan begitu pas, hingga ia sudah mencapai
114
orgasme nyaris sebelum menyadarinya.
Setelah gelombang gairahnya mereda, Barrie tergeletak
bagai kapal karam—basah, kehabisan tenaga, mata
terpejam, perut naik-turun dengan cepat. Ketika ia
membuka mata, Bondurant menatapnya lekat-lekat.
Diraihnya tangan Barrie dan dibawanya ke tubuhnya.
“Sekarang katakan padaku,” bisiknya parau. “Adakah
yang tidak akan kaulakukan?”
Bibir Barrie terbuka oleh tarikan napas pendek. Ia
menelan ludah. “Apa yang kauinginkan?”
Bondurant meletakkan tangannya di kedua lutut Barrie
dan pelan-pelan meregangkannya lagi. Ketika ia mendekatkan
wajahnya ke wajah Barrie, jeritan kaget wanita itu
berubah jadi erangan penuh kenikmatan. Bondurant tidak
takut-takut. Ia tidak malu menyusupkan tangannya ke
bawah pinggul wanita itu dan menariknya ke atas.
Namun saat-saat penuh sensasi yang begitu luar biasa
dan tak tertahankan itu tetap saja membuat Barrie
tersentak ketika tubuh pria itu akhirnya menyatu
dengannya. Klimaks ini bukan gelombang sensasi yang
perlahan, hangat, sedikit demi sedikit. Sama sekali
bukan. Klimaks ini bagai semburan energi dan api
dahsyat yang tiba-tiba menyerbunya menyedot sekelilingnya
menimbulkan kekosongan yang hampa.
Ketika Barrie akhirnya sadar dan membuka mata pria
itu tengah berdiri di samping tempat tidur. Kulitnya
mengilat oleh keringat, yang membuat sebagian bulu
dadanya mengikal. Wajahnya kaku dan tegang. Di
sampingnya tangannya secara refleks mengepal dan
membuka.
“Jangan kira kau telah mengubah pendirianku. Kalau
115
aku keluar dari pancuran, sebaiknya kau sudah pergi.” Ia
berbalik dan pergi ke kamar mandi, membanting
pintunya setelah ia masuk.
Barrie memejamkan mata dan berbaring tanpa bergerak.
Inilah salah satu saat ia akan berpura-pura sedang
bermimpi. Permainan itu berasal dari masa kanakkanaknya.
Kalau suasana di rumah tak tertahankan, kalau
pertengkaran orangtuanya semakin menggila, ia akan
naik ke tempat tidur dan memejamkan mata rapat-rapat
dan meyakinkan dirinya bahwa dunia nyatanya cuma
mimpi buruk, dan bahwa ia akan segera terbangun di
dunia lain, yang penuh pesona, cinta dan kedamaian,
dunia tempat semuanya serba menyenangkan dan orangorang
di dalamnya saling menyayangi.
Trik itu tak pernah berhasil ketika ia masih kanakkanak,
dan sekarang pun sama saja. Waktu membuka
mata, ia masih berada di kamar tidur Gray Bondurant, di
ranjangnya, dan pakaiannya berantakan.
Seperti juga hal-hal lainnya.
la menenangkan diri, lantas bangun dan mengenakan
sisa pakaiannya. Air pancuran masih mengucur ketika ia
meninggalkan kamar itu. Tasnya masih di tempat ia
meninggalkannya tadi. Ia mengambilnya menjejalkan
kamisolnya, dan beranjak ke pintu.
Tapi di sana ia berhenti. Kalau ia pergi sekarang, ia
takkan memperoleh apa-apa selain rasa malu yang begitu
dalam hingga ia tak dapat menduga seberapa dalamnya.
Tidak ada penjelasan untuk kelakuannya barusan, jadi ia
tak mau menghina sanubarinya dengan berusaha membenarkan
atau membelanya.
Peristiwa itu sudah terjadi. Ia telah membiarkannya
116
terjadi. Ralat: ia secara aktif, secara liar, berpartisipasi
dalam membuatnya terjadi. Itu merupakan kenyataan
yang harus diterima. Ia tak bisa mengubah sejarah.
Peristiwa itu akibatnya sangat berat. Ia sekarang hanya
bisa menerima konsekuensi tindakannya mengusahakan
yang terbaik dari situasi gawat ini, dan berharap dapat
memperoleh kembali setidaknya sepotong harga dirinya.
Dalam prosesnya mungkin ia dapat menarik pelajaran
dari kedatangannya kemari.
Ketika Bondurant memasuki dapur sepuluh menit
kemudian, Barrie sudah menunggunya, punggung menempel
di meja, siap membela diri. “Supaya kau ketahui,
Mr. Bondurant, aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam
sana tadi.”
“Supaya kau ketahui, Miss Travis, aku tahu.” Dengan
santai Gray mengambil gelas dari lemari dan menuangkan
kopi untak dirinya sendiri. Barrie yang membuat kopi itu
atas inisiatifnya sendiri. “Keluarkan notesmu. Kau
mungkin ingin menulis ini.” Kemudian ia berpaling ke
arahnya “Namanya ‘bersetubuh’.”
Hati Barrie menciut, namun ia mempertahankan
ekspresi berani di wajahnya. “Kau berharap jika kau
cukup mengerikan, aku akan pergi. Percuma saja.”
“Apa yang akan membuatmu pergi?”
“Bicaralah padaku.”
“Tak sudi,” tukas Bondurant gusar. “Sebagian alasanku
meninggalkan Washington adalah untuk menyingkir dari
reporter. Sebagian besar dari kalian rela menjual diri
demi berita. Dan kalau tidak ada berita, kalian mengarangnya.”
Dipandangnya Barrie dari kepala sampai kaki
dengan sinis. “Meskipun kau berbeda, Miss Travis. Kau
117
bahkan tidak menjual apa pun, kau memberikannya
begitu saja.”
Barrie mengangguk ke arah kama r. “Tadi itu...
kecelakaan.”
“Kurasa tidak. ‘Senjataku’ tahu persis ke mana dia
pergi.”
Barrie menggigit bibir supaya tidak mengatakan apaapa.
Ia berusaha menahan tangis, ia sudah bersumpah
takkan melakukannya. “Kumohon, Mr. Bondurant, aku
berusaha menyelamatkan apa yang tersisa dari integritas
profesionalku.”
“Aku tidak tahu kau memilikinya.”
Sambil membentangkan tangan Barrie bertanya
“Apakah aku kelihatan seperti orang yang datang ke
rumahmu untuk merayumu?”
Pria itu mengamati penampilannya yang berantakan.
“Tidak juga. Tapi ketika situasinya hadir, aku tidak
mendengar keberatan apa pun dari pihakmu di ranjang.”
Barrie merasa wajahnya memerah ketika mengingat
suara yang didengar pria itu dari mulutnya di ranjang
tadi. “Aku datang kemari cuma untuk menanyakan
padamu baberapa pertanyaan tentang keluarga Merritt.”
“Mesti berapa kali aku mengatakannya? Aku takkan
memberitahumu apa pun.”
“Bahkan bahwa berita tabloid-tabloid itu bohong?”
“Memang bohong.”
“Kau tidak punya affair dengan Vanessa Merritt?”
“Bukan urusanmu.”
“Kaukah yang membuatnya begitu tidak bahagia?”
“Jika dia tidak bahagia, mungkin karena anaknya baru
saja meninggal.”
118
“Apakah kau yakin?”
“Apakah aku yakin?”
“Apakah kau yakin dia meninggal? Atau apakah
Robert Rushton Merritt dibunuh?”
119
Bab Sebelas
GRAY memunggunginya, dalam hati memaki-maki.
Wanita yang satu ini memang keterlaluan. Caranya
menanyai orang sama ganasnya dengan caranya bercinta.
Bahkan sebelum membangunkannya, ia mengenalinya
sebagai reporter yang mewawancarai Vanessa beberapa
minggu yang lalu. Rupanya ia tak berhasil memperoleh
semua yang diinginkannya dari wawancara itu. Gray
memang setengah mengharapkan wartawan itu, atau
orang sejenisnya, untuk muncul dan mulai mengorekngorek
masa lalunya. Selama berminggu-minggu ia
mengumpulkan kebenciannya terhadap kekacauan yang
sebentar lagi akan datang.
Jadi ia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang
telah terjadi. Ia merasa kesal dan butuh pelampiasan
seksual. Barrie menanggapi, dan itu istilah yang terlalu
lembut. Ciptakan kondisi seperti tadi, maka sesuatu pasti
akan terjadi.
Sebetulnya, ia ragu Barrie berniat merayunya. Roknya
yang panjang, sweter, dan sepatu bot tidak ditujukan
untuk menimbulkan fantasi seks. Mata wanita itu masih
bengkak karena baru bangun tidur, dan maskaranya
luntur di tulang pipinya. Lipstiknya sudah lama hilang,
120
dan rambutnya awut-awutan.
Namun suaranya sungguh luar biasa. Sangat merangsang.
Suara seperti itu bukan cuma menjanjikan seks yang
fantastis, tapi juga menyajikannya.
Tapi jika Barrie mengira percintaan yang panas akan
melunakkan hatinya, wanita itu salah besar. Ia sekarang
malah jadi lebih membenci invasi wanita itu terhadap
rumah dan privasinya daripada sebelumnya. Barrie pantas
dimarahi.
Setelah menghabiskan kopi ia meraih wajan dan panci,
lalu meletakkan keduanya di atas kompor. Ia mengambil
sekaleng chili dari lemari makanan, membukanya, dan
menuang isinya ke panci, lalu mulai memecah telur ke
dalam mangkuk. Sesudah mengocoknya sampai berbusa,
ia menuang secangkir kopi lagi untuk dirinya sendiri dan
menyesapnya sementara chili itu mendidih.
“Boleh?” Barrie mengacungkan gelas kosong.
“Silakan. Kau yang membuatnya. Aku tak mau
bertanggung jawab kalau kau sampai tertidur sambil
menyetir waktu pergi dari sini.”
Dilihatnya Barrie memegangi gelas besar itu dengan
kedua tangannya yang sangat kecil. Barrie merasakan
tatapannya, lalu rnengangkat kepala “Aku minta maaf
tadi menamparmu. Seumur hidup aku belum pernah
memukul orang. Kau individu yang amat provokatif, Mr.
Bondurant.”
“Begitulah kata orang.” Diaduknya chili itu. “Bagaimana
caramu menemukan aku?”
“Sebagian besar lewat sumber-sumber di D.C. Jangan
khawatir. Aku berhati-hati.”
“Aku tak pernah khawatir, Miss Travis. Kau belum
121
menikah, kan? Atau kau barusan mengkhianati suamimu?”
Komentar itu, lebih dari perbuatannya sendiri maupun
ejekan-ejekan sebelumnya, membangkitkan amarannya.
Matanya berkilat kesal. “Tidak, aku tidak berkhianat.
Aku cuma mengacu pada pengalamanmu yang jauh lebih
banyak dalam masalah itu. Dan panggil Barrie saja sudah
cukup, terima kasih.”
Gray berbalik kembali ke kompor, memasukkan satu
sendok teh mentega ke wajan, dan memutar tombol api
di bawahnya. Sambil memandangi mentega meleleh, ia
memikirkan cara menyingkirkan Barrie tanpa perlu
benar-benar melemparnya ke luar. Tanpa perlu berpikir
keras, ia bisa menyusun daftar cara membunuh orang
tanpa suara, seketika, dan tanpa rasa sakit. Tapi pikiran
akan menyakiti wanita secara fisik membuatnya mual.
“Tempat ini indah,” komentar Barrie, menyadarkannya
dari lamunannya.
“Terima kasih.”
“Berapa luasnya?”
“Lima puluh ekar, kurang-lebih.”
“Kau sendirian di sini?”
“Sampai pagi ini.”
“Aku yakin kau tahu ada kota bernama Bondurant tak
terlalu jauh dari sini. Apakah...?”
“Tidak. Cuma kebetulan.”
“Kau memelihara ternak? Selain kuda-kuda di lapangan
itu?”
“Aku punya beberapa sapi.”
“Jadi dari situlah daging-daging di kulkasmu berasal.”
Gray berbalik dan memandangnya tajam.
“Aku minum segelas air dan meminjam beberapa
122
potong es,” kata Barrie, diangkatnya dagunya dengan
gaya menantang.
“Apa lagi yang kautemukan sewaktu mengintip-intip
tempat ini?”
“Aku tidak mengintip-intip.”
Pria itu kembali menghadap ke kompor, mengoleskan
mentega yang sudah meleleh ke seluruh dasar wajan, lalu
menuangkan telur. Ia memasukkan dua iris roti ke
pemanggang, mengambil piring dari lemari, lalu mengaduk
telur dengan sendok kayu sampai sesuai dengan yang
diunginkannya. Ia menyendok dan meletakkannya di
tengah piring. Di atas telur itu ia menuangkan chili yang
menggelegak, lalu menambahkan Tabasco banyak-banyak.
Roti panggang melompat ke atas seolah tahu saat yang
tepat. Ia meletakkan kedua iris roti di piring, juga garpu,
dan membawa semuanya ke meja dan duduk,
mengangkangi kursinya.
Dari sudut mata ia melihat Barrie mendekat. Wanita itu
duduk di seberangnya. Tanpa memedulikannya, ia
menikmati makanannya. Ketika berhenti untuk minum
kopi, barulah ia bertanya “Lapar?”
“Begitulah.”
“Mau?”
la memandang piring Gray dengan ragu. “Aku tak
yakin.”
Gray mengangkat bahu. “Ada di kompor.”
Barrie meninggalkan meja dan kembali beberapa
menit kemudian, membawa sarapannya dalam porsi yang
lebih kecil. Gray mengamati wanita itu mencicipinya.
Barrie mengunyah, menelan, lalu mulai makan dengan
lahap.
123
“Ini daerah sepi,” komentarnya sambil makan. “Kau
tidak merasa kesepian?”
“Tidak.”
“Bosan?”
“Tak pernah.”
“Sebelum uh, pensiunmu, kau menjalani hidup yang
penuh petualangan. Kau tidak merindukan suasana
Washington?”
“Kalau merindukannya, aku pasti sudah kembali ke
sana.”
“Bagaimana caramu mengisi waktu?”
“Sesuka hatiku.”
“Dari mana penghasilanmu?”
“Tidak sopan membicarakan masalah keuangan.”
“Yah, kalau begitu tidak masalah, karena kau toh sudah
menyatakan bahwa semua reporter kasar.” Barrie
mengangkat alis, menunggu jawaban.
“Aku beternak.”
Jawaban sederhana itu tampaknya mengejutkannya.
“Beternak?” Gray mengangguk. “Oya? Hmm. Kau tahu
cara melakukannya?”
“Aku belajar waktu masih kecil.”
“Di mana?”
“Di tempat ayahku.”
“Itu informasi yang samar.”
“Memang itu tujuannya, Miss Travis.”
Dengan frustrasi, Barrie menghela napas. “Kau sudah
membuktikan dirimu cakap dalam operasi-operasi militer
rahasia, dan kau dulu penasihat kepresidenan. Sama
sekali tidak ada faktor menegangkan dalam beternak. Aku
sulit menerima bahwa kau menganggap karier baru ini
124
mengasyikkan dan menantang.”
“Aku tak peduli kau menerima atau tidak.”
“Kau cuma diam di sini dan berkuda seharian?”
Gray tak mau repot-repot menjawab pertanyaan itu.
“Kau hanya mengurusi ternakmu seperti peternak yang
baik?”
“Yeah. Kalau ternakku porlu diurus.”
“Itukah yang kaulakukan kemarin? Pergi mengurus
ternak?”
“Tidak. Kemarin aku pergi ke Jackson Hole.”
“Aku datang dari sana. Kita pasti berpapasan di jalan.”
Barrie menyingkirkan piringnya yang sudah kosong.
“Sarapannya enak. Terima kasih.”
Bondurant tertawa “Walau cuma daging cincang pun,
kau pasti akan memakannya dan mengatakannya lezat.”
“Kenapa aku berbuat begitu?”
“Karena kau menginginkan sesuatu dariku. Karena
seks tidak membuatmu berhasil mendapatkannya, kau
berpikir untuk mencoba bersikap bersahabat. Bukankah
segala basa-basi ini cuma usahamu yang lain untuk
mengorek informasi dariku? Terus terang, Miss Travis,
aku lebih menyukai pendekatanmu yang pertama.”
“Itu bukan pendekatan. Sudah kubilang, itu...”
“Kecelakaan. Coba katakan, kau melompat ke tempat
tidur dengan setiap pria yang kau jumpai?”
“Dengar...”
“Apakan ayahmu tidak menyayangimu?”
Banie menunduk memandangi meja, lalu hampir
seketika itu juga memandang pria itu lagi. “Kurasa aku
tak bisa menyalahkanmu karena punya pendapat yang
begitu rendah tentang diriku.”
125
“Ah, sekarang kita beralih dari teman ke penyesalan.”
“Sialan kau,” maki Barrie, menggebrak meja sambil
berdiri. “Aku bersikap jujur.”
Gary ikut berdiri. “Tidak, Miss Travis, kau entah
bersikap berani atau bodoh. Aku tak dapat memastikannya.
Tapi yang mana pun itu, aku tak mau bicara padamu soal
diriku atau keluarga Merritt. Dan aku tidak tertarik
dengan apa pun yang kaukatakan tentang mereka.”
“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan mengenai
kematian anak mereka?”
“Aku mendengarnya. Aku mengabaikannya. Aku akan
terus begitu.” la menumpuk piring mereka, lalu
membawanya ke bak cuci dan mengguyurnya dengan air.
“Kenapa kau mengabaikannya?”
“Karena komentar seperti itulah yang biasa kalian,
para reporter, lontarkan, berharap ada orang tolol akan
terpancing.”
“Kaukira aku akan mengucapkan pernyataan seserius
itu cuma untuk memancing-mancing?”
Bondurant mematikan air dan memandanginya “Yeah.
Dalam masa perkenalan kita yang singkat, aku punya
alasan untuk berpikir bahwa kau boleh dibilang rela
melakukan apa saja untuk tampil di 20/20. Kenapa kau
tidur denganku, bukan dengan produser jaringan berita
saja?”
“Karena tak satu pun produser jaringan berita yang
kukenal adalah pacar Vanessa Merritt.”
Gelombang kemarahannya membuat Bondurant takut
sendiri. Supaya tidak melampiaskan emosinya itu, ia
meninggalkan Barrie dan pergi ke bagian belakang
rumah. Ia bisa mendengarnya mengikutinya. Barrie
126
bergerak begitu cepat hingga tiba-tiba sudah berada di
hadapannya, tangannya menekan dada Bondurant.
Wanita itu terengah-engah. “Kaupikir aku datang
kemari untuk memantasikan seks agar mendapatkan
berita bagus? Tidak. Aku malah sangat malu dengan
caraku mengorbankan diri dan profesiku. Kau tidak
mengenalku, jadi kau harus mempercayai kata-kataku
kalau kukatakan padamu betapa inginnya aku mengendapendap
keluar dari pintu itu, dan betapa sulitnya bagiku
untuk menatap matamu.”
Sesuatu dalam suaranya membuat Bondurant menunggu
dan mendengarkan.
Ia menarik tangannya dari dada praia itu dan
mengusapkannya ke bagian samping rokaya “Bahwa aku
masih di sini mestinya menunjukkan padamu betapa
pentingnya berita itu, Mr. Bondurant. Bukan cuma
bagiku dan karierku. Tapi bagi semua orang. Tolong
dengarkan aku. Setelah itu, kalau kauperintahkan aku
pergi, aku akan pergi. Tanpa banyak cincong. Lima
menit, oke?”
Aktingnya bagus sekali, pikir Bondurant, namun tidak
cukup bagus. Kewaspadaannya telah dipertajam oleh
pendidikan militernya yang mengajarkan padanya untuk
tak pernah mempercayai penampilan permukaan sesuatu
atau seseorang. Pengalaman telah mengajarkan padanya
banwa semua wartawan adalah burung bangkai yang
ganas. Tanpa sedikit pun merasa bersalah, mereka akan
menghabisimu tanpa ampun, lalu meninggalkanmu
dalam keadaan telanjang dan tak berdaya sementara
mereka berpindah ke mangsa berikut.
Namun, biarpun dirinya mengatakan yang sebaliknya,
127
Bondurant semakin tertarik pada apa yang diketahui
Barrie Travis, atau apa yang diduganya, mengenai
kemahan SIDS anak Vanessa. Tahu ini merupakan
tindakan yang salah, dan berharap ia nantinya tidak
terlalu menyesalinya, ia setuju untuk memberi Barrie
waktu lima menit. “Di luar.”
la duduk di kursi goyang. Barrie di anak tangga paling
atas, tangannya memeluk kaki. Wanita itu mungkin
kedinginan, tapi ia tidak menawarinya apa pun untuk
mengusir dinginnya pagi.
Karena kini pria itu mau mendengarkan, ia tampak
segan memulai, biarpun sudah mengeluarkan notesnya.
“Indah sekali di sini.”
Pagi itu lembah diselimuti kabut. Gunung-gunung jadi
tampak kabur, tapi sinar matahari yang cemerlang
membuat kabut tampak berwarna pink seperti gulali.
Udara terasa sejuk dan segar.
“Lumbungmu tampaknya lebih tua daripada rumah
dan garasi.”
Tajam juga matanya. “Bangunan itu sudah ada waktu
aku membeli tempat ini. Rumah ini didirikan di atas
rumah aslinya. Aku cuma merenovasi sedikit.”
Kuda-kuda berkejaran di lapangan. “Siapa nama
mereka?”
“Mereka tidak punya nama.”
la melihat wanita itu terkejut. “Kuda-kudamu tidak
punya nama? Menyedihkan sekali. Kenapa begitu?”
“Ini wawancara, Miss Travis”
Barrie menggeleng bingung. “Belum pernah aku
bertemu orang yang tidak menamai binatang
peliharaannya. Sebagian dari kepribadian Cronkite adalah
128
namanya.” Ketika ia bercerita tentang anjingnya, wajahnya
jadi lembut dan hidup. “Dia makhluk yang besar, gendut,
penyayang, dan manja. Mestinya kau punya anjing,” ia
berkata. “Dia akan jadi teman yang menyenangkan.”
“Aku menyukai kesendirianku.”
“Kau menunjukkannya dengan sangat jelas.”
“Jam terus berdetak.”
Jadi, Barrie mengungkapkannya. Tanpa tedeng alingaling
. “Kupikir Vanessa Merritt membunuh bayinya
sendiri.”
Gray mengertakkan gigi supaya tidak mengatakan apa
pun.
Barrie kemudian berbicara tanpa henti selama beberapa
menit. Bondurant tak tahu berapa lama, namun jelas lebih
dari lima menit. Ia menjelaskan beberapa motif mengapa
Ibu Negara mungkin menyingkirkan anaknya, lalu
menceritakan padanya langkah-langkah yang telah diambilnya
untuk menyelidikinya dan halangan-halangan
yang dihadapinya.
“Sekarang Mrs. Merritt pergi ke pengasingan. Tidakkah
menurutmu itu aneh”
“Tidak,” Gray berbohong.
“Waktu dia rnengundurkan diri dari kehidupan publik
setelah kematian anaknya, itu bisa dimengerti. Jackie
Kennedy melakukan hal yang sama ketika bayinya
meninggal. Tapi masa pengasingannya ditetapkan untuk
suatu waktu tertentu, dan kini sudah melaluinya. Kalau
Ibu Negara cuma beristirahat, seperti kata orang dalam,
kenapa dia tidak tinggal bersama ayahnya? Atau kenapa
dia tidak pulang ke rumah mereka di Mississippi?”
“Dari mana kau tahu dia tidak berbuat begitu?’
129
“Aku memang tidak tahu,” Barrie mengakui dengan
kening berkerut. “Tapi sudah diumumkan bahwa dia
berada dalam perawatan Dr. Allan, dan dokter itu masih
di Washington. Aku tidak mengerti kenapa semua ini
begitu dirahasiakan.”
“Tidak ada rahasia.”
“Kalau begitu, apa penjelasanmu tentang kelakuan
aneh Anna Chen? Dia selalu merupakan narasumber yang
bisa diandalkan, mau bekerja sama.”
“Kau membuatnya kesal?”
“Aku tidak mengenalnya cukup baik hingga bisa
membuatnya marah.”
“Aku sama sekali tidak mengenalmu, mpi kau sudan
membuatku marah.”
“Dia ketakutan,” Barrie bersikeras. “Aku mengena1i
rasa takut ketika melihatnya.”
“Oke, mungkin dia memang ketakutan,” tukas Gray
tak sabar.
“Mungkin dia cuma melihat tikus. Dan mungkin sikap
Vanessa agak tidak biasa, tapi apakah dia tidak berhak
berduka secara diam-diam?”
Barrie Travis ini, reporter bersuara seksi ini, mengutarakan
keraguan yang juga dirasakannya. Dengan perasaan
tidak keruan, Gray bangkit dan berjalan ke tepi teras. “Ya
Tuhan, betapa berat penderitaannya.” la menyisir rambutnya
dengan jari, memejamkan mata kuat-kuat, dan berusaha
sekuat tenaga untuk menahan emosi.
Beberapa menit berlalu sebelum ia teringat kehadiran
Barrie. Ia mendapati wanita itu memandanginya, ekspresi
aneh menghiasi wajahnya. “Hubungan kalian bukan
sekadar affair. Kau betul-betul mencintainya kan?”
130
katanya tertahan. “Sekarang pun masih.”
Sambil memaki dirinya sendiri karena tadi memberi
wanita ini waktu lima menit, Gray membungkuk dan
untuk kedua kalinya pagi ini, mengambil tas Bariie dan
menyodorkan padanya. “Waktumu habis..”
Tangannya mencengkeram lengan wanita itu ketika ie
manariknya berdiri. Untuk menjaga keseimbangan,
Barrie berpegangan di salah satu tiang yang menyangga
atap teras. “Setelah semua yang kuceritakan padamu,
cuma itu yang dapat kau katakan?”
“Kau cuma buang-buang tenaga, Miss Travis. Semua
ketidakcocokan itu cuma pemutarbalikan fakta-fakta,
disatukan imajinasimu yang berlebihan dan pikiranmu
yang ambisisus untuk menciptakan berita yang kotor tapi
sensasional.
“Kusarankan kau melupakan masalah ini sebelum
meresahkan seseorang di pemerintahan yang betul-betul
dapat menyakitimu. Lupakan soal bayi itu dan bagaimana
dia meninggal.”
“Aku tak bisa melupakannya begitu saja. Ada yang tak
beres dengan kematiannya.”
“Terserah. Tapi apa pun yang kau lakukan, lupakan
tentang aku.” Ia masuk danmengunci pintu depan.
131
Bab Duabelas
KETIKA Howie menerima penggilan ke kantor dirut,
perutnya langsung mulas. Dari WC ia segera pergi ke
kantor berkarpet di lantai dua itu. Sekretaris dengan
dingin memberitahunya bahwa “mereka” sudah menunggunya
dan menyilakannya masuk.
Jenkins duduk di balik meja kerjanya. Seorang pria
berdiri di depan jendela, sementara seorang lagi menempati
kursi bersandaran tangan. “Masuklah Howie,” kata
Jenkins. Dengan lutut lemas, Howie memasuki ruangan.
Biasanya, pertemuan mendadak begini berarti kabar
buruk, misalnya penurunan peringkat yang tajam,
pemotongan anggaran secara besar-besaran, atau omelan
panjang lebar.
“Selamat pagi , Mr. Jenkins,” Howie berkata, berusaha
tampak tenang. Ia sengaja memusatkan pandangan pada
bosnya dan bukan pada dua pria kaku yang memandanginya
seolah ia tersangka penjahat. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Orang-orang ini dari FBI.”
Perut Howie menagang. IRS sialan. Ia tidak mengirimkan
surat pajak selama tiga tahun terakhir ini.
“Mereka ingin mengajukan beberapa pertanyaan
padamu mengenai Barrie Travis.”
132
Howie nyaris tertawa saking leganya. Keringat dingin
sudah mengalir dari ketiak dan mengumpul di pinggangaya.
“Ada apa dengannya?”
“Kau mengirimnya bertugas?” tanya Jenkins.
“Uh...”
Itu pertanyaan menjebak, dan Howie butuh waktu
untuk menimbang jawabannya. Jika ia bilang ya, dan
Barrie terlibat masalah, ia akan terseret bersamanya. Jika
ia bilang tidak, dan insting wanita itu mengenai berita
menggegerkan yang superrahasia itu ternyata benar, ia
tidak akan kecipratan penghargaan.
Diliriknya agen FBI yang hanya tampak seperti siluet
di dekat jendela. Orang itu bersikap resmi, begitu juga
partnernya.
“Tidak,” jawab Howie. “Dia minta izin untuk pergi
selama beberapa hari dalam rangka menyelidiki berita,
namun saya tidak menugaskannya.”
“Berita apa?” tanya agen di dekat jendela.
“Saya tidak tahu. Sesuatu yang diperolehnya sendiri.”
“Dia tidak membicarakannya dengan Anda?” tanya
agen kedua.
“Tidak secara spesifik... bukan tentang subjeknya. Dia
cuma bilang beritanya menggegerkan.”
“Anda sama sekali tidak punya gambaran?”
Teman baru yang dijumpainya di bar semalam
mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. “Tidak,
Sir.”
“Saya sulit mempercayainya.”
“Itulah yang sebenarnya,” tegas Howie. “Saya berusaha
mengorek informasi darinya, tapi katanya dia tidak mau
bercerita sebelum punya sesuatu jang konkret untuk
133
mendukung pendapatnya.”
“Anda atasan langsungnya, bukan?”
“Ya, Sir.”
“Dan Anda tak tahu berita apa yang sedang diburu
reporter Anda?”
Howie merasa dirinya melemah, jadi ia cepat-cepat
berubah defensif. “Yah, Anda harus mengetahui filosofi
manajemen personalia saya, yaitu membiarkan para
bawahan saya berinisiatif. Kalau seorang reporter merasa
dia punya berita bagus, saya beri dia kesempatan. Tapi dia
juga paham bahwa sebagai imbalan kebaikan saya, saya
mengharapkan berita yang luar biasa.”
Jenkins tidak terkesan. Ia malah menimpali kata-kata
terakhir Howie. “Tapi Ms. Travis memang tidak ada
minggu ini?”
“Benar. Dia pergi, sebentar, kemarin dulu. Katanya dia
mungkin tidak akan berada di tempat sepanjang minggu
ini.”
Salah seorang agen bertanya, “Ke mana dia pergi?’
“Dia tidak mau memberitahu saya.”
Para agen berpandang-pandangan dengan penuh arti.
Howie berharap ia tahu apa artinya.
“Apakah stasiun membayar pengeluarannya?” Ini dari
Jenkins, kerutan di wajahnya semakin dalam selama
beberapa menit terakhir.
“Hanya kalau dia menghasilkan berita.” Howie
menjelaskan kesepakatannya dengan Barrie. “Saya tidak
mau dia menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk
pengejaran yang sia-sia.” Mestinya itu membuatnya
dipuji.
“Bagaimana dengan politiknya?”
134
Howie menoleh pada agen di jendela. “Politik?”
“Kecenderungan politiknya. Apakah dia secara umum
cenderung ke kiri atau ke kanan?”
Howie berpikir sebentar. “Saya rasa bisa dibilang dia
liberal. Anda tahu, dia selalu membela pihak yang lemah.
Wanita, homo, orang asing, orang-orang seperti itulah.
Dia memilih Presiden Merritt.” la tersenyum pada orangorang
di sekelilinguya yang tidak tersenyum. “Presiden
baru-baru ini mengiriminya bunga. Dia girang sekali.”
Tidak ada komentar dari kedua agen. Yang duduk di
kursi bertanya, “Apakah Ms. Travis anggota suatu
organisasi? Kelompok aktivis, sekte agama, atau kelompok
pemejean?”
“Yeah,” kata Howie, mengangguk-angguk penuh
semangat. “Dia Metodis.”
Salah seorang agen memutar matanya dengan kesal.
Temannya berkata, “Dia tidak bisa dibilang penganut
agama fanatik?”
“Tidak. Dia tidak keberatan jika orang mengumpat,
kira-kira begitulah.”
“Apakah dia bersimpati pada kelompok sempalan atau
organisasi radikal pecahan?”
“Setahu saya tidak. Tapi dia peroah berpartisipasi
dalam beberapa protes.”
“Menentang apa?”
“Larangan peredaran buku. Penghancuran hutan
tropis. Memakan lumba-lumba dan bukannya ikan tuna.
Hal-hal seperti itu.”
“Tidak ada yang subversif?”
“Tidak.”
“Bagaimana soal kehidupan pribadinya?”
135
“Dia tidak banyak membicarakannya.”
“Pacar?”
“Tak ada yang tetap.”
“Teman sekamar?”
“Dia tinggal sendirian.”
“Teman dekat?”
Howie menggeleng. “Saya tidak pernah mendengar
dia menyebutkannya. Dia termasuk wanita yang, Anda
tahu, menikah dengan kariernya.”
“Bagaimana dengan orangtuanya?”
“Meninggal.”
“Anda tahu nama mereka? Di mana mereka dulu
tinggal?”
“Maaf. Mereka sudah meninggal sebelum dia bekerja
di sini.”
Saking bersemangatnya supaya tampak penting dan
informatif Howie hampir lupa bahwa mereka tengah
membicarakan Barrie, bukan penjahat kelas kakap. Ia
merasa tak enak hati. Barrie mungkin saja karyawan
menyebalkan, namun ia merasa bersalah karena
membicarakannya begitu bebas dengan agen-agen federal
ini.
“Apakah dia terlibat masalah? Apakah dia melakukan
kesalahan?”
“Cuma pemeriksaan rutin.” Agen yang duduk sekarang
berdiri. “Dia secara teratur menelepon untuk menanyakan
kesehatan Ibu Negara, menunjukkan apa yang kelihatannya
merupakan minat yang berlebihan terhadap Mrs. Merritt
dan keadaan beliau.”
Howie jadi rileks. “Oh, demi Tuhan, dia menelepon
sebagai temen. Mereka jadi dekat setelah Barrie
136
mewawancarai Ibu Negara.”
Agen kedua berkata, “Gedung Putih cenderung curiga
kalau ada orang mulai sibuk bertanya-tanya soal Presiden
atau anggota keluarganya.”
Kedua orang itu rnengucapkan terima kasih pada
Jenkins dan Howie atas waktu yang mereka berikan, dan
pergi.
Howie tak bisa pergi secepat mereka. Wajah Jenkins
yang cemberut bagai rantai yang membelit mata kakinya
“Kau mengetahui sesuatu yang tidak mau kaukatakan?”
desaknya.
“Tidak, Sir.”
“Apa berita hebatnya?’
“Seperti kata saya pada mereka tadi, Mr. Jenkins, saya
bersumpah demi Tuhan bahwa saya tidak tahu. Tapi kata
Barrie berita itu akan membua t Watergate tak ada
artinya.”
“Jadi memang tentang politik”
“Dia tidak bilang begitu. Cuma bahwa beritanya
dahsyat.”
Jenkins menudingkan jarinya dengan marah. “Aku tak
mau ada orang sinting radikal bekerja di stasiun TV-ku.”
“Barrie tidak sinting, Sir. Dia reporter yang andal.
Anda sendiri bilang begitu dalam memo Anda.”
“Aku tak pernah mengirim memo padanya. Bicara apa
kau ini?”
“George?”
Vanessa tak yakin suaranya terdengar, namun dokter
itu memandangnya sekilas dan tersenyum. “Senang
melihat Anda sudah bangun. Bagaimana perasaan Anda?”
137
“Tidak bagus.” la merasa mual dan sulit memfokuskan
pandangannya, hingga pria itu tampak ganda dan
bergoyang-goyang. Samar-samar ia ingat suatu keributan
yang memalukan. George menyuntiknya untuk menenangkannya.
Rasanya sudah lama sekali. “Aku kenapa? Mana
David?”
“Presiden dan aku sepakat Anda membutuhkan bed
rest, jadi kami memindahkan Anda ke sini.” Dokter itu
menepuk lengannya, namun sepertinya ia takkan merasakan
sentuhannya kalau saja tidak memandang tangannya. Di
sana ia mendapatkan jarum infus meneteskan cairan
bening ke dalam pembuluh darahnya.
Gerakan di sisi lain tempat tidur menarik perhatiannya.
Seorang perawat tersenyum padanya. “Saya Jayne
Gaston,” katanya. Ia berusia sekitar 55 tahun, wajahnya
lebar dan ramah, rambutnya yang pendek berwarna
kecokelatan.
“Mrs. Gaston mendampingi Anda 24 jam sehari,” ujar
George. “Dia merawat Anda dengan sangat baik, dan
sejauh ini Anda merupakan pasien ideal.”
Vanessa bingung dan kacau. Ruangan ini samar-samar
tampak familier, tapi ia tak dapat mengingat di mana
pernah melihatnya. “Kenapa aku diinfus?”
“Untuk memastikan Anda tidak mengalami dehidrasi,”
dokter itu menjelaskan. “Anda tak bisa menahan cairan
apa pun.”
Perawat tadi mengukur tekanan darahnya.
“Aku sakit?” Vanessa bertanya, tiba-tiba dicekam
kepanikan. Apa yang tidak diberitahukan mereka padanya?
Apakah ia mengalami kecelakaan dan diamputasi?
Apakah ia mengidap kanker stadium akhir? Apakah ia
138
ditembak?
Kemungkinan-kemungkinan menakutkan itu langsung
buyar oleh kenyataan mengerikan; bahwa Davidlah yang
telah memasukkannya kemari.
“Mana David? Aku ingin bicara dengannya.”
“Presiden sedang pergi ke Pantai Barat hari ini,”
George memberitahunya, wajahnya tersenyum manis.
“Tapi aku yakin dia pulang malam ini. Mungkin Anda
bisa bicara dengannya nanti.”
“Kenapa aku membutuhkan perawat? Apakah aku
sekarat?”
“Tentu saja tidak, Mrs. Merritt. Berbaringlah,” kata
George, menekan bahunya dengan lembut ketika ia
berusaha duduk. Ditatapnya Jayne Gaston. “Sebaiknya
kita tidurkan lagi dia.”
“Tapi, Dr. Allan...”
“Saya mohon, Mrs. Gaston.”
“Tentu, Dokter.” Perawat itu meninggalkan ruangan.
“Mana ayahku?” tanya Vanessa, suaranya terdengar
jauh dan lemah meskipun di telinganya sendiri. “Aku
ingin bertemu Daddy. Telepon dia. Suruh dia menjemputku.”
“Kurasa aku tidak bisa melakukannya, Vanessa. Aku
harus mendapat persetujuan David dulu.”
Perawat kembali sambil membawa jarum suntik. Ia
menginjeksi paha Vanessa.
“Anda akan lebih cepat sembuh kalau Anda rileks dan
membiarkan kami merawat Anda,” kata George lembut.
“Aku kenapa? Bayinya sudah mau lahir?”
Jayne Gaston memandang Dr. Allan. “Kasihan. Dia
mengira masih hamil.”
139
George mengangguk muram.
“Bayiku,” tangis Vanessa. “Bayiku sudah lahir?”
“Mari kita keluar supaya dia bisa beristirahat.”
“Tidak, kumohon,” kata Vanessa serak. “Jangan
tinggalkan aku. Kalian semua membenciku. Aku tahu.
Kenapa kalian tidak memberitahu aku? Bayiku sudah
mati, kan?”
Dr . Allan memberi tanda pada perawat agar
mengikutinya meninggalkan kamar. Mrs. Gaston pelanpelan
menutup pintu.
Vanessa berusaha keras mengingat sesuatu. Hal itu
penting, namun ia tidak bisa mengingatnya dengan tepat.
Ia harus berpikir, harus mengingat. Ada sesuatu yang
harus ia ingat. Tapi apa?
Lalu erangan muncul dari suatu tempat jauh di dalam
dirinya. Ia ingat tubuh tak bernyawa yang diangkatnya
dari tempat tidur bayi. Ia mendengar gema jeritannya
sendiri, persis seperti yang terdengar di sepanjang
koridor-koridor Gedung Putih malam itu.
“Bayiku,” Vanessa tersedu. “Bayiku. Oh, Tuhan.
Maafkan aku.”
Bukannya melumpuhkan, kesedihan malah menguatkannya.
Ia tidak tahu pasti tujuannya, namun ia tahu dirinya
tak boleh berbaring pasrah di sini lebih lama lagi. Tanpa
menyadari rasa sakit, ia menyentakkan perekat yang
menempelkan jarum infus ke punggung tangannya.
Sesudah menyingkirkannya, ia menahan rasa mual dan
menarik slang kecil dari pembuluh darahnya.
Waktu mencoba duduk, ia merasa seakan batu besar
menindih dadanya, menahannya di tempat tidur. Setelah
mengumpulkan segenap sisa tenaganya, ia akhirnya
140
berhasil memaksa dirinya duduk. Ruangan bagai bergelombang.
Pepohonan di balik jendela tampak miring.
Ia muntah-muntah, tapi tak ada yang keluar.
Otaknya seperti tak mampu menyampaikan perintah
ke kedua kakinya. Ia butuh waktu lima menit, dan usaha
yang luar biasa untuk menurunkan tubuhnya dari tempat
tidur. Kemudian kakinya tergantung di atas lantai ketika
ia menahan perasaan mual dan gelombang pusing yang
bagai tak ada habis-habisnya. Akhirnya ia berhasil
mengumpulkan keberanian dan stamina untuk turun dari
tepi tempat tidur dan menjejakkan kaki di lantai.
Kakinya tak mampu rnenahannya. Ia ambruk di
samping ternpat tidur, lalu berbaring di sana sambil
menangis tersedu-sedu, napasnya tersengal-sengal. Ia
terlalu lemas untuk berdiri, terlalu lemah bahkan untuk
sekadar berteriak minta tolong. Ia berharap dirinya mati
saja.
Tidak. Terkutuklah ia kalau membuat semua ini begitu
mudah bagi mereka.
Dengan penuh tekad ia merayap di lantai seperti
makhluk tak bertulang, menggunakan tangan, kaki, bahu,
tumit seperti pseudopod, mendorong tubuhnya maju
seinci demi seinci.
Ketika akhirnya sampai di pintu, tubuhnya basah
bermandikan keringat. Rambut dan gaun tidurnya lengket
di kulit. Ia rneringkuk seperti janin dan beristirahat,
tubuhnya gemetaran sementara keringatnya mengering.
Akhirnya ia mengangkat kepala dan mendongak
memandang kenop pintu. Benda itu seperti bulan yang
tinggi di langit. Ia mencoba menggedor pintu, tapi
tangannya cuma sanggup memukul-mukulnya dengan
141
lemah. Jadi ia menekankan telapak tangannya ke kayu
yang sejuk itu dan merayap menaikinya, memaksa otot
lengan dan dadanya bekerja keras, sampai ia bisa
mendirikan sebelah kakinya, lalu yang sebelah lagi, dan
kemudian berlutut.
Ia memegangi kenop pintu dengan dua tangan dan
berhasil memutarnya. Pada saat yang sama ia bersandar
di daun pintu. Pintu terbentang, dan ia tersungkur ke
koridor, mendarat dengan keras hingga lengannya bagai
ditusuk ribuan jarum.
“Mrs. Merritt! Oh, Tuhanku! Dr. Allan!”
Suara-suara berteriak. Suara kaki berlari-lari Tangantangan
menyusup di ketiaknya, mengangkatnya.
Lemas kehabisan tenaga, ia terayun-ayun di antara dua
agen ketika mereka menggotongnya kembali ke tempat
tidur.
George menyingkirkan kedua agen itu. “Terima kasih,
Tuan-tuan.”
“Saya panggilkan ambulans, Dr. Allan?” tanya salah
seorang dari mereka.
“Tidak perlu.” Didengarkannya detak jantung Vanessa
dengan stetoskop.
“Mrs. Gaston, tolong pasangkan infus lagi, ya?”
Agen yang satu lagi bertanya apakah ia perlu
menghubungi Presiden atau Mr. Martin. Sang dokter
berkata ia sendiri yang akan menghubungi mereka begitu
Mrs. Merritt stabil. Kedua agen itu mengundurkan diri.
“Ayo kita pasang penahan padanya,” kata George pada
perawat. “Lengan dan kaki.”
“Apakah tidak berlebihan?”
“Kita tak bisa menghadapi risiko dia turun dari tempat
142
tidur dan terjatuh lagi, Mrs. Gaston.”
“Dengan senang hati saya akan membantunya kalau
dia ingin bangun, Dr. Allan. Malah, mungkin akan bagus
baginya untuk turun dari tempat tidur. Saya pikir dia
terlalu lama dibius.”
“Saya menghargai masukan Anda” kata George, nada
suaranya mengatakan sebaliknya “tapi saya tahu apa yang
terbaik bagi pasien saya. Tolong patuhi perintah saya,
yang juga merupakan perintah Presiden Amerika Serikat.
Jelas?”
“Ya, Dr. Allan.”
Mata Vanessa terpejam, tapi ia mengikuti sebagian
besar percakapan mereka, meskipun beberapa kata sulit
dipaharni maknanya Kenapa ia tidak boleh bangun jika ia
menginginkannya?
Di mana David?
Di mana ayahnya?
Di mana ia?
Neraka, mungkin.
Ya, pasti di neraka.
“Di mana?”.
“Wyoming.”
“Sialan!”
Setelah menyarnpaikan kabar buruk itu pada Presiden,
Spence berdiam diri sambil berjogging di samping pria
itu. Rentetan makian setelah itu muncul bagai amukan
badai. Merritt menggunakan bahasa yang dipelajarinya
dari ayahnya, yang bekerja di galangan kapal Biloxi.
Asal-usul Merritt dipaparkan dalam kampanye
pertamanya untuk memperoleh kursi di Kongres. Ketika
143
ikut perrrilihan Presiden, para pemilih sudah tahu ia tidak
menjalani hidup yang penuh kemewahan dan
keistimewaan. Ibunya bekerja sebagai tukang masak di
sekolah negeri, namun keluarga berpenghasilan ganda itu
tak bisa dibilang berkecukupan. Mereka tak pernah punya
rumah. Masa kanak-kanak David dihabiskan di trailer
sewaan di taman trailer kelas dua.
Bukannya berusaha menutupi masa mudanya yang
sederhana, komite kampanye malah menggembargemborkan
dirinya sebagai perwujudan impian Amerika.
Ia adalah Abraham Lincoln abad 21. Ia berhasil
mengatasi rintangan-rintangan berat untuk mendapatkan
kursi tertinggi di dunia. Ajaran Senator Armbruster
memang sangat membantu, tapi kecerdasan dan tekad
Merritt sendiri yang membuat perhatian Armbruster
tertarik pada awalnya.
Yang tidak dipublikasikan adalah sampai seberapa
miskinnya Merritt muda dulu. Tak banyak yang tahu
bahwa kedua orangtuanya pecandu alkohol. Ia bisa
dibilang bertanggung jawab atas dirinya sendiri lama
sebelum orangtuanya meninggal akibat minuman keras.
Satu-satunya kesempatan ia membiarkan dirinya mabuk
adalah pada hari ia mengubur ayahnya. Ia minum untuk
merayakan kebebasannya dari dua orang yang dipandang
rendah dan dibencinya sejak lama.
Spence melirik Presiden sekarang.
Seperti biasa, amarahnya tak bertahan lama la tidak
berkata apa-apa lagi, hanya terengah-engah.
Spence memilih saat ini untuk menyampaikan berita
buruk tadi, sebab berita itu menyangkut masalah pribadi
dan membutuhkan privasi total. Di tempat joging ini
144
rasanya tak mungkin mereka bisa didengar bahkan oleh
para agen Dinas Rahasia yang mengikuti beberapa meter
di belakang. Mereka sudah tahu untuk tidak dekat-dekat
kalau Presiden sedang berbincang-bincang dengan Spence.
Semua yang terjadi di antara mereka bersifat sangat
rahasia.
“Bagaimana kau tahu Barrie Travis pergi ke Wyoming?”
tanya Presiden gusar.
“Sudah dua hari dia tidak pulang. Anjingnya dititipkan
di tempat penampungan.”
“Aku tidak tanya apakah dia ke luar kota,” bentak
Merritt. “Aku bertanya bagaimana kau tahu dia pergi ke
Wyoming.”
Spence tidak membiarkan cara bicara yang kasar itu
mengusiknya. Ia menganggap sffat pemarah merupakan
kelemahan, bahkan pada diri Presiden, terutama pada diri
Presiden. “Waktu Anda di California, aku bicara dengan
rekan kerjanya yang tolol itu.” Ia bercerita pada Merritt
tentang pertemuannya dengan Howie Fripp di bar
setempat. “Orang itu payah. Tapi meski begitu, kurasa dia
tidak tahu ke mana Barrie pergi, karena kemarin pagi dia
memberitahukan hal yang sama pada dua agen FBI di
stasiun TV itu. Kata mereka dia sangat ketakutan. Kalau
mengetahui sesuatu, dia pasti akan mengatakannya.”
“Rumahnya sudah digeledah?”
“Secara resmi, belum,” ujar Spence. “Kita tidak punya
surat izin atau alasan kuat untuk memperoleh surat itu “
“Bagaimana kalau secara tidak resmi?”
“Secara tidak resmi, rumah itu sudah diperiksa oleh
orang terbaik di bidang itu,” Spence melaporkan sambil
menyeringai dingin. “Menurut dia kelihatannya wanita
145
itu mencoba menghilangkan jejak. Dia tidak menemukan
satu pun surat, atau potongan kertas, atau kuitansi, apa
saja untuk menunjukkan dia pergi atau kenapa dia pergi.
Dia cuma menemukan beberapa buku perpustakaan yang
batas waktu pengembaliannya sudah lewat, semuanya
berhubungan dengan gangguan psikologis wanita dan
SIDS.”
Merritt mengusap pelipisnya yang berkeringat. “Dia
masih memburunya.”
“Itulah dugaanku. Kami menemukan mobilnya di
lapangan parkir bandara nasional, lalu mulai memeriksa
daftar penumpang semua penerbangan keluar dari sana
selama beberapa hari terakhir. Dia tidak bepergian
menggunakan namanya sendiri, dan tak ada tagihan kartu
kredit di rekeningnya.”
Presiden berhenti berlari. Spence ikut berhenti. Para
agen Dinas Rahasia ikut berhenti, namun tetap menjaga
jarak.
“Dia bersikap sangat paranoid,” ujar Merritt.
“Benar. Ketika namanya tak ada pada daftar-daftar itu,
kami memeriksa agen-agen penerbangan sampai
menemukan agen yang menjualkan tiket padanya. Travis
bepergian dengan nama samaran dan membayar kontan
tiketnya ke Jackson Hole. Pegawai perusahaan penerbangan
itu mengenalinya dari foto.”
“Dia pergi menemui Gray.”
“Dia pergi menemui Gray.” Ekspresi Spence sama
muramnya dengan Presiden. “Setidaknya harus begitulah
dugaan kita.”
Pandangan Merritt menerawang, ia memutar otak.
“Dia membenci reporter. Kurasa dia takkan bicara
146
dengannya.”
“Kau mau menanggung risiko itu?”
“Brengsek.” Merritt menjentikkan setitik keringat dari
ujung hidungnya. “Bagaimana kalau kita terlambat?
Kalau dia sudah bicara dengan Gray, kalau Gray
memberitahunya sesuatu...”
“Berarti kita punya masalah potensial,” kata Spence.
“Menjelang tahun pemilu, kita tak boleh menghadapi
masalah walau hanya yang potensial.”
“Aku setuju.” Spence berpandang-pandangan dengan
Menritt. “Kurasa kita harus memastikan reporter ini tutup
mulut.”
Presiden mengangguk, lalu kembali berlari. “Lakukanlah
apa yang kauanggap perlu.”
Spence ikut melangkah. “Akan segera kulaksanakan.”
147
Bab Tiga Belas
“BOHONG! FBI?”
“Itulah yang dikatakan Howie.” Barrie memandangi
dirinya di cermin sambil berbicara di telepon jarak jauh
dengan Daily, dari kamar motelnya di Jackson Hole.
Apakah lampu ruangan yang remang-remang atau
ketakutannya yang semakin dalam yang membuatnya
begitu pucat?
“Dua agen mendatangi WVUE dan menanyai Howie
tentang aku.” Ia mengulangi pada Daily semua yang bisa
diingatnya dari cerita Howie. “Mereka membuatnya
ketakutan setengah mati. Secara harfiah. Dia bercerita
lengkap dengan detail-detail yang tidak perlu kuulangi
mengenai perutnya yang mulas-mulas.”
“Ini bukan lelucon, Barrie.”
Satu lagi mekanisme pertahanan diri yang dikembangkannya
waktu masih kanak-kanak adalah selera
humor yang sinis. Kali ini taktiknya tak mampu
meringankan situasi gawat ini. Tadinya ia berharap Daily
akan menganggap enteng kegalauannya. Ternyata pria itu
malah menanggapinya dengan serius. “Menurutmu, apa
artinya?”
“Menurutku, artinya kau telah membuat orang-orang
148
gelisah.”
“Orang-orang yang mana?”
“Mungkin cuma Dalton Neely . Teleponmu yang
berulang kali membuat gusar sekretaris pers Gedung
Putih itu. Tindakanmu seolah mengatakan dia tidak
mengatakan yang sebenarnya tentang- keadaan Ibu
Negara. Caranya memberitahumu supaya mundur adalah
menyuruh FBI menyerangmu.”
“Atau?”
“Atau,” Daily menghela napas, “bisa saja berasal dari
Ruang Oval. Apa Howie punya teori?”
“Dia dan Jenkins diberitahu bahwa itu cuma penyelidikan
rutin, kemudian Howie mengatakan pada mereka
bahwa perhatianku terhadap Vanessa cuma karena
perasaan bersahabat setelah wawancara baru-baru ini.”
“Mereka percaya?”
“Kelihatannya begitu. Penjelasan itu mungkin menyelesaikan
masalah.”
“Mungkin.”
Sesaat kemudian Barrie berkata, “Daily, kita sepakat
tentang suatu hal yang sama-sama tidak kita percaya”
Mereka terdiam selama beberapa waktu, yang terdengar
di telepon cuma suara napas Daily yang tersengal-sengal.
Akhirnya ia bertanya, “Aku hampir lupa, bagaimana
Bondurant?”
Jantung Barrie serasa berhenti berdetak. Bagaimana
Bondurant? Di atas atau di luar ranjang? Di atas ranjang,
dia amat sangat luar biasa Di luar ranjang... “Seperti yang
kuduga. Galak. Tidak banyak omong.”
“Tidak menyambutmu dengan tangan terbuka, heh?”
Sebetulnya, sebaliknya. “Yah, begitulah.”
149
“Dia bercerita tentang topik itu?”
“Sedikit pun tidak. Setidaknya, secara sengaja Aku
yakin ada perasaan mendalam di antara dia dan Vanessa.
Setidakanya dari pihaknya.”
“Menurutmu mereka melakukan ‘perbuatan itu’?”
“Melakukan atau tidak, dia masih terikat secara
emosional. Ketika sedang tidak sadar, dia berkomenhr
tentang betapa beratnya penderitaan yang dialami
Vanessa. Aku menduga yang dimaksudkannya adalah
kesedihan wanita itu atas kematian bayinya.”
“Jangan pernah menduga apa pun, Barrie. Tidakkah
kau dengar? Tidakkah kau mengerti? Cari faktafaktanya.”
“Yah, aku tak sudi kembali berhadapan dengannya,
kalau itu yang kau usulkan. Dia menyuruhRu melupakan
beritaku, dan kurang-lebih melupakan dirinya. Aku
bermaksud melakukan yang terakhir. Akan kudapatkan
beritaku, tapi akan kulakukan tanpa bantuan Bondurant.”
“Kenapa kau ini?”
“Tidak apa-apa.” Ya Tuhan, ia akan mati kalau Daily
sampai tahu bagaimana ia telah mengorbankan integritas
dan objektivitas jurnalistiknya hanya untuk kenikmatan
seksual sesaat.
“Oke,” Daily tak yakin. “Kau cuma kedengaran begitu
defensif.”
“Aku mencemaskan beritaku.”
“Jadi, kau akan terus menggarapnya?”
“Tentu saja. Sejak kapan atasan reporter kelas teri
perlu didatangi FBI? Makin banyak pintu tertutup
bagiku, makin yakin aku seseorang menyembunyikan
sesuatu.”
150
“Kapan kau pulang?”
“Besok. Akan kulanjutkan perburuanku di Washington.
Ada kabar tentang Ibu Negara?”
“Masih ornong kosong yang lama.”
“Besok malam kutelepon kau setelah aku sampai di
rumah. Kau sehat-sehat saja?”
“Sehat,” jawab Daily, sama sekali tak terdengar begitu.
“Barrie? Kalau kau menemukan sesuatu yang sangat tidak
menyenangkan... Yah, berhati-hatilah. Oke?”
Perhatiannya begitu menyentuh dan membuat Barrie
merindukannya. Bahkan setelah meletakkan gagang
telepon, ia masih memeganginya, tak ingin memutuskan
kontak emosional di antara mereka. Daily lebih seperti
keluarga daripada sahabat, lebih menyayanginya daripada
orangtuanya sendiri.
Dengan kelelahan ia masuk ke kamar mandi dan mulai
membuka pakaian. Cermin di atas wastafel tak lebih baik
daripada yang di meja rias. Ia tampak mengerikan. Sisa
make-up-nya sudah berumur 36 jam. Bedaknya meaggumpal
di kerutan halus di sekeliling matanya, yang setiap
hari tampak makin dalam saja. Umurnya sekarang sudah
33 tahun. Seperti apa ia nanti pada usia 43? Lima puluh
tiga? Ia tak punya perbandingan. Umur ibunya tidak
sepanjang itu.
Barrie menyibak tirai pancuran dan menyalakan air. Ia
menjerit ketika semburan air mengenai dadanya dan
menunduk untuk melihat apa yang membuatnya merasa
seperti tersengat itu. Di payudaranya ada lecet-lecet samar
berwarna merah jambu. Bekas goresan rambut kasar yang
tumbuh di dagu.
Ya Tuhan, apa yang telah dilakukannya?
151
Ia menundukkan kepala di bawah ujung pancuran
berharap semburan yang kuat itu dapat nenghapus
kenangannya tentang Gray Bondurant. Dalam keadaan
telanjang pria itu tampak langsing, tegap, dan liat.
Tubuhnya memang tidak mulus seperti tubuh anak muda.
Tubuhnya telah kenyang makan asam garam kehidupan.
Tapi segala goresan itu justru membuatnya makin
memikat, seperti rambut di pelipisnya yang sudah
beruban dan kerut-kerut di sekitar matanya, yang
membuat wajahnya tampak lebih menarik.
Aku membutuhkan istirahat, pikirnya, seraya
menggosokkan sampo ke rambut. Kelelahan dan stres
membuatnya rapuh secara emosional, hingga ia berpikir
yang tidak-tidak. Mula-mula tentang Daily. Lalu tentang
orangtuanya. Sekarang tentang pria tinggi tegap dengan
mata sebiru sinar laser dan mulut yang kejam.
Apakah ayahmu tidak menyayangimu?
Tidak, Mr. Bondurant, ia tidak menyayangiku. Ia juga
tidak menyayangi ibuku.
Kalau sayang, mengapa ayahnya mengkhianati ibunya?
Kenapa ia membuat perselingkuhan menjadi kebiasaan
sepanjang perkawinannya? Kenapa ia berbohong dan
membantah tuduhan-tuduhan ibunya, dan melibatkannya
dalam pertengkaran sengit yang membuat hidup Barrie
penuh kesengsaraan dan kengerian? Kenapa ia terus
menyiksa keluarganya dengan semua affair-nya sampai ia
mati karena serangan jantung di kamar hotel sementara
pacarnya untuk bulan itu tengah melumuri kemaluannya
dengan gel rasa kelapa? Ia bahkan tidak punya nurani
untuk mati di tempat yang pantas.
Dan apa yang dilahirkan ibu Barrie yang konyol dan
152
bodoh itu? Pernahkah ia memarahi suaminya karena
mengkhianati janji pernikahan mereka? Pernahkah ia
mencercanya karena menelantarkan putri mereka, karena
terlalu sibuk bercinta di sana-sini hingga tidak menyadari
perubahan anaknya dari kanak-kanak menjadi dewasa?
Pernahkah ia mengomeli dan menyerang suaminya
karena telah menjadi orangtua paling dingin dan paling
tidak peduli sepanjang sejarah? Bahkan setelah kematian
laki-laki itu pun, pernahkah ia memberitahu orang betapa
brengsek suaminya?
Tidak. Ia menguburkannya dengan gaya mewah, dan
kemudian, tak mampu membayangkan hidup tanpa pria
itu, ia pulang dan menelan sebotol pil.
Satu minggu, dua pemakaman.
Ya, Mr. Bondurant, kau memang keterlaluan.
Barrie keluar dari pancuran dan meraih handuk. Ia
sudah membaca buku-buku itu, mendengarkan acaraacara
bincang-bincang itu. Ia tahu psikologinya. Anakanak
perempuan yang tidak disayang oleh ayah mereka
biasanya berkembang menjadi dua tipe: Mereka jadi
nimfomaniak, mencari kasih sayang dan perhatian dalam
bentuk apa pun dari setiap laki-laki yang mereka temui,
atau mereka menolak pria mentah-mentah, dan biasanya
menggantikannya dengan wanita lain.
Barrie tidak melakukan keduanya.
Ia tidak menjadi wanita murahan, yang sangat
membutuhkan perhatian laki-laki dan menggantungkan
harga dirinya pada mereka. Ia juga tidak menjadi yang
satu lagi. Minat seksualnya hanya bisa dibangkitkan oleh
laki-laki. Kalau ia bersama pria yang dianggapnya
menarik dari segi fisik, menawan, cukup cerdas, ia akan
153
sangat menikmati seks. Ia punya peraturan yang tak dapat
ditawar-tawar, yaitu dialah yang menentukan waktu,
tempat, dan parameter hubungan mereka. Ia yang
berkuasa.
Sampai episode seksual pagi ini.
Tak pernah ia kehilangan kontrol seperti itu. Tindakan
menyerah pada nafsu yang gegabah; tanpa pikir panjang,
dan ceroboh seperti itu dapat merusak jiwa. Salah satu
contohnya, ibunya sendiri. Barrie telah bertekad takkan
mengulangi kesalahan fatal ibunya yang mencintai
dengan membabi buta dan membuat cinta itu dimanfaatkan.
Barrie akan menyerahkan tubuhnya kalau nafsu dan
keadaan mengizinkan. Tapi ia sudah bersumpah takkan
pernah membiarkan pikirannya, dan jelas tidak hatinya,
diperlakukan sembarangan.Gray terbangun tepat pada
saat ia melihat bantal itu akan menutupi wajahnya.
Secara refleks ia berusaha meraih pistol di balik bantal,
namun sepasang lutut menekan kedua lengannya, sementara
penyerangnya bertumpu di dadanya. Ia menggeliat dan
memberontak. Ia melengkungkan tubuh. Ia berusaha
menghirup udara yang tak ada.
Dan bangsat itu tertawa.
Gray mengenali suara tawa itu sepersekian detik
sebelum bantal dilemparkan ke samping. Wajah Spence
tampak di atasnya, menyeringai. “Kau jadi lembek di
pegunungan ini, orang tua.”
Gray menyentakkan tubuhnya dan turun dari tempat
tidur . “Dasar orang sinting sialan. Aku tadi bisa
membunuhmu.”
“Apa bukan sebaliknya?” kata Spence, masih tertawa.
“Aku tadi bisa membunuhmu.”
154
“Apa yang kaulakukan di sini, mengendap-endap
masuk rumahku, main—main seperti ini? Ya ampun, jam
berapa sekarang? Aku mau kencing.”
“Senang bertemu kau juga, Gray.” Spence mengikutinya
sampai pintu kamar mandi. “Berat badanmu turun.”
Gray mengambil jeans yang tergantung di balik pintu.
Sambil mengenakannya, ia mengamati mantan rekan
kerjanya itu. “Berat badanmu bertambah. Koki Gedung
Putih rupanya masih andal.”
Spence tetap melontarkan senyumnya yang biasanya
jarang kelihatan. ‘’Tahu apa yang paling kurindukan
sejak kau pergi?”
“Pesonaku?”
“Sikapmu yang sama sekali tidak memesona. Sebagian
besar orang menjilatku. Aku penasihat terpercaya dan
sahabat karib Presiden. Tak peduli betapa kasarnya aku,
orang-orang tetap memujiku. Tapi kau tidak, Gray. Kau
memperlakukan semua orang sama saja. Seperti kotoran
kucing,” ia menambahkan.
“Jadi, itu sebabnya kau kemari? Kau merindukan
aku?”
la mendahului Spence melintasi rumah dan masuk ke
dapur. Ia cuma punya satu jam di rumah ini, dan letaknya
di atas kompor. Ia melihat waktu. Hampir pagi. Sudah 24
jam berlalu sejak ia menjamu Barrie Travis di ruangan
ini. Jarak waktu yang begitu dekat tak lolos dari
perhatiannya.“Kau bukan orang yang menimbulkan
suasana gembira, Gray. Tapi kau cukup menyenangkan
diajak bicara. Kau tahu tempatmu.”
Gray memandang Spence dengan tajam. “Yeah, aku
memang seperti itu, ya? Aku mendampingimu ketika kau
155
sangat membutuhkan aku.” la terus bertatapan dengan
Spence selama beberapa detik yang menegangkan
sebelum mengalihkan pandangannya. “Kopi?”
“Terima kasih. Punya makanan?”
la menyiapkan sarapan yang sama dengan yang
diberikannya pada Barrie kemarin. Ketika mereka
makan, kesunyian hanya dipecahkan oleh denting
peralatan makan. Setelah beberapa saat, Spence bertanya,
“Apakah selalu seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Sesepi ini.”
“Tidak.” Gray menyesap kopi. “Biasanya lebih sepi.
Tak ada yang berbicara.”
“Gray si penyendiri,” kata Spence. “Sang pahlawan
tegar dan pendiam, mantap, tak pernah tersenyum, yang
menghindari publikasi dan menjalani hidup menyendiri.
Sialan! Itu ciri-ciri tokoh legendaris. Siapa tahu?
Mungkin seratus tahun dari sekarang, anak-anak sekolah
akan menyanyikan lagu rakyat tentang kau.”
Gray tak berkomentar.
Setelah misi penyelamatan sandera itu, ia didatangi
banyak penerbit dan produser film yang ingin sekali
menjadikan petualangannya sebagai hiburan. Mereka
menawarkan uang dalam jumlah menakjubkan, namun ia
tak pernah tergoda. Ia sudah menabung uang cukup
banyak untuk membeli tempat ini dan hidup nyaman
sampai akhir hayat. Yang diinginkannya cuma menyingkir,
dan menyingkirlah ia.
Gray mengangkat piring-piring dari meja, lalu kembali
sambil membawa teko kopi dan mengisi kembali gelas
156
mereka. Akhirnya, ia mengembalikan topik pembicaraan
ke alasan Spence datang ke Wyoming.
“Kau. Sederhana saja,” ujar Spence. “David menugaskan
aku ke Seattle. Kupikir mumpung aku harus
terbang ke daerah ini, tidak ada salahnya aku mampir dan
menjengukmu.”
David mungkin memang menugaskan Spence kemari,
tapi perbuatan Spence tak pernah ada yang sederhana. Ia
memiliki berbagai motif untuk setiap tindakan. Dengan
begitu, ia aman. Ia punya posisi cadangan jika tindakannya
diperiksa secara teliti oleh salah satu badan pengawas
dalam sistem federal.
Spence merupakan yang terbaik di seluruh divisi
infanteri dan pengintaian mereka. Ia unggul dalam segala
hal—senjata, intelijen, kemampuan untuk bertahan
hidup. Ia tidak kenal takut. Spence bagai mesin. Gray
takkan terkejut kalau menemukan komputer, bukan otak,
di dalam tengkoraknya. Atau mesin di dalam rongga
dadanya, di tempat jantung seharusnya berada.Ia tahu
pria yang duduk di hadapannya ini tak punya hati.
“Kau bohong, Spence.”
Spencer Martin tak berkedip sedikit pun. “Tepat sekali,
aku memang bohong. Dan aku tak bisa mengatakan
padamu betapa senangnya aku karena kau mengetahuinya,
Gray. Kau tajam seperti biasanya. Belum kehilangan
kemampuan.” la mencondongkan tubuh ke depan. “Dia
menginginkanmu kembali.”
Meskipun terkejut, Gray tetap tampak tenang.
“David membutuhkan kau di Washington,” Spence
menekankan.
“Aku tak percaya.”
157
“Dengar dulu.” Spence mengangkat kedua tangannya,
telapak tangan menghadap ke depan. “Dia orang yang
sombong. Sialan, aku tidak perlu memberitahumu soal
itu. Dia keras kepala dan berhati batu, dan dia paling sulit
mundur atau mengakui telah melakukan kesalahan.”
“Jadi dia mengirimmu untuk melakukan hal itu
baginya.”
“Aku tak mau merendahkan diri, aku cuma minta, atas
nama David, agar kau kembali ke Washington, tempatmu
semestinya berada.”
“Tempatku di sini.”
Spence memandang sekilas pemandangan
mengagumkan di balik jendela. “Kau bukan Grizzly
Adams, Gray.”
“Aku menyukai pegunungan.”
“Aku juga. Gunung bagus untuk dipanjat, tempat main
ski, dan bernyanyi. Penahankan tempat ini untuk liburan,
tapi kembalilah bersamaku ke Washington. Bakatmu
tersia-sia di sini. Presiden membutuhkanmu. Aku
membutuhkanmu. Negara membutuhkanmu.”
“Itu pidato yang menggugah. Siapa yang menuliskannya
untukmu? Neely?”
“Aku serius.”
“Negara membutuhkan aku?” dengus Gray. “Omong
kosong. Negara tak peduli aku mati atau hidup. Aku
melakukan tugas yang sesuai dengan pendidikanku.
Negaraku tidak boleh meminta lebih dariku, dan aku
takkan minta lebih darinya. Begitulah seharusnya.”
“Oke, lupakan soal kewajiban patriotis. Bagaimana
dengan David?”
“Brengsek, dia tidak membutuhkan aku. Peringkatnya
158
menjulang ke angkasa. Partai lain akan mengorbankan
seorang bajingan malang untuk menantangnya pada
pemilu tahun depan, tapi itu akan jadi usaha yang sia-sia
karena David akan memenangkan masa jabatan keduanya
Dia membutuhkan aku seperti dia membutuhkan bisul di
pantat.”
“Tidak.”
Spence berdiri, mengggeliat, dan memandang ke luar
jendela. Matahari sudah terbit sekarang, jadi pemandangannya
menakjubkan. Salju di puncak gunung tampak
seperti disaput emas.
“Masalah dengan Vanessa ini,” kata Spence, “merupakan
potensi berbahaya.”
“Masalah apa?”
Spence berbalik. “Kematian bayinya. Dia jadi kacau
karenanya”
“Setiap ibu pantas merasa begitu.”
Spence menggeleng. “Masalahnya lebih dari itu.
Kesedihan telah memperburuk masalahnya yang lain.
Intinya dia tak boleh ditinggal sendirian.” Ia memberitahu
Gray bahwa Vanessa berada di Highpoint dalam perawatan
George Allan dan seorang perawat. “David takut dia akan
melakukan perbuatan gila.”
“Maksudmu seperti menyakiti dirinya sendiri?”
“Itulah yang ada dalam pikiran setiap orang. Tapi
David menganggap kalau kuo kembali, kau mungkin
punya efek menstabilkan terhadap dirinya.”
“Keyakinannya tentang kemampuanku untuk menyembuhkan
lebih daripada yang pantas kuterima. Lagi pula,
kalau dia tidak mampu menguasai istrinya apa yang
diharapkannya dariku?”
159
“Menghilangkan gosip baru tentang pernikahan mereka,”
Jawab Spence lugas. “Akhir-akhir ini Vanessa sering
menghilang. Kau tahu bagaimana orang-orang bicara.
Desas-desus mulai berkembang.
“Pernikahan yang sehat akan sangat membantu
terpilihnya David kembali. Pernikahan yang retak akan
membahayakan. Kalau kau kembali, desas-desus itu akan
padam untuk selamanya. David mungkin pria yang
pemaaf, namun dia takkan mungkin memanggil kembali
laki-laki yang pernah menjadi pacar istrinya.”
Gray mengertakkan gigi begitu kuat hingga rahangnya
terasa sakit. Di bawah meja tangannya mengepal.
“Reporter ini membuat situasi tambah ruwet,” Spence
melanjutkan sambil kembali ke kursi. “Barrie Travis. Dia
mengajukan beberapa pertanyaan yang sedikit terlalu
pribadi. Dia memiliki reputasi yang tidak terlalu
mengesankan.” Sambil meletakkan tangan di atas laptop
yang selalu dibawanya ia menguraikan riwayat pekerjaan
Barrie. “Tapi setelah Vanessa memberinya wawancara itu,
dia menganggap dirinya sahabat karib dan tempat
curahan hati Ibu Negara. Dia cuma reporter kelas teri,
tapi kadang-kadang meriam kecil bisa jadi ancaman
paling buruk.”
“Dia memang ancaman. Dia sudah kemari.”
“Kemari? Kapan?”
“Kemarin.”
Spencer mengusap wajahnya dengan kesal. “Kami kira
dia cuma mengendus-endus di sekitar Washington, tapi
kalau dia mencarimu, berarti dia serius.”
“Oh, dia memang serius. Dia punya satu ransel penuh
kliping tabloid tentang aku dan Vanessa. Dia sudah
160
mempersiapkan segalanya dengan matang. Kuberitahu
dia aku tidak mau mengatakan apa pun tentang keluarga
Merritt dan tidak berminat mendengarkan informasi yang
sudah diperolehnya tentang mereka.”
“Apakah dia mengatakan sesuatu tentang mereka?”
Gray terkekeh. “Jangan kaget mendengar ini, Sobat.
Menurut dia Vanessa membunuh bayinya dan cuma
berpura-pura itu SIDS.”
“Kuharap kau bercanda.”
“Kau pernah tahu aku bercanda?”
“Ya Tuhan,” bisik Spence. “Kami tahu dia tak punya
otak, tapi... dia betul-betul percaya Vanessa tega berbuat
begitu? Keterlaluan.”
“Tentu saja.”
“Tapi kalau Travis membocorkan informasi ngawur
seperti itu pun, aku tak perlu memberitahumu betapa
buruk pengaruh yang dapat ditimbulkannya, bukan cuma
terhadap David dan kampanye tahun depan, tapi juga
terhadap Vanessa. Dia sangat rapuh sekarang. George
terpaksa meningkatkan pengobatannya supaya dia tidak
kacau. Dia jadi sangat menyukai anggur, dan itu
menambah masalah. Kalau teori Travis sampai tersebar
luas, Vanessa akan benar-benar hancur.”
Gray bisa membayangkan pikiran Spence bekerja
keras dengan satu tujuan: melindungi dan menyelamatkan
kursi kepresidenan untuk David dan secara tak langsung
untuk dirinya sendiri.
“Di mana si Travis sekarang?”
Gray mengangkat bahu. “Dalam perjalanan kembali ke
Washington, kurasa. Aku mengusirnya.”
Spence berdiri. “Sebaiknya kuhubungi Washington.
161
David pasti ingin segera mendengar kabar ini.”
“Telepon ada di meja di kamar.”
“Terima kasih. Oya, sarapannya enak,” kata Spence
sambil menoleh ketika ia meninggalkan ruangan.
Gray menyalakan radio untuk mendengarkan berita
dan laporan cuaca sambil membersihkan dapur. Secara
metodis ia mengembalikan makanan ke dalam kulkas dan
lemari. Sewaktu memasukkan barang-barang, ia membuka-
laci tempat menyimpan peralatan besar dan menukar
sendok kayu bergagang panjang dengan pistol Beretta.
Kemudian ia menyalakan keran dan mulai mengisi bak
cuci dengan air sabun panas. Ia merendam piring-piring
kotor di bak itu. Sambil mencuci, ia terus memandangi
panggangan roti. Ketika permukaan kromnya memantulkan
gerakan di belakangnya, ia mencabut pistol dari pinggang,
berbalik, dan menembak.
Senjata genggamnya meneteskan busa sabun ke lantai
dapur.
162
Bab Empat Belas
PENERBANGAN kembali Barrie ke Washington lama
dan diguncang badai. Bandara nasional hiruk-pikuk
seperti pasar Turki. Ketika ia mengambil mobilnya dari
tempat parkir dan tiba di stasiun TV, ia sudah kepayahan.
Ia berharap bisa masuk diam-diam, mengecek surat dan
pesan untuknya, lalu pergi tanpa terlihat atau harus bicara
dengan siapa pun.
Tak ada pesan di e-mail-nya; di kotak surat teleponnya
ada empat. Dua berasal dari kenalan, satu dari binatu
yang mengatakan mereka tak bisa membersihkan noda di
blusnya, dan yang terakhir dari si sinting Charlene, yang
dengan kesal menanyakan mengapa Barrie tidak membalas
telepon-teleponnya.
Barrie ingin tahu apa berita terbaru Charlene: teroris
menyusup ke antara anggota Pramuka, aktivitas mafia di
antara orang-orang Eskimo, sianida di Corn Flakes?
“Kasihan,” gumam Barrie ketika menghapus pesanpesan
telepon itu. “Dia mungkin cuma kesepian dan ingin
bicara dengan seseorang.”
“Siapa?”
“Sialan, Howie!” hardik Barrie seraya memutar
kursinya. “Kau suka ya, mengendap-endap dan mem
163
buatku kaget setengah mati?”
“Kau takkan kaget kalau tidak punya perasaan
bersalah.”
“Jangan mulai. Aku sedang tidak mood.”
“Oya?” serunya dengan suara melengking. “Bagaimana
dengan aku? Aku yang menyelamatkan dirimu ketika FBI
datang. Aku yang kau bohongi dan kau buat tampak
konyol di hadapan Jenkins. Memo, memo apaan!”
“Maafkan aku soal itu, Howie. Sungguh. Aku takkan
berbohong kalau memang tidak diperlukan.”
Barrie bergerak pergi, namun Howie menghalangi
jalannya. “Apa yang sedang kauselidiki, Barrie? Katakan
padaku.”
“Tunggu sampai aku memperoleh informasi lebih
banyak.”
“Kenapa kau tidak membawa juru kamera?”
Barrie memang ingin tahu kapan terlintas di benak si
Einstein ini bahwa ia tidak minta seorang juru kamera
video untuk menemaninya ketika ia memburu berita
besar. Apa jadinya berita TV tanpa rekaman visual?
“Terlalu dini untuk membawa juru kamera. Kau akan
jadi orang pertama yang tahu kalau ada yang siap diambil
pernyataannya.”
Ekspresi Howie berubah kesal. Lebih kesal. “Waktu
pensiunku tinggal beberapa tahun lagi. Kalau kaupikir
aku rela mengorbankan uang pensiunku demi kau, kau
harus berpikir lagi. Kau penuh risiko, tapi-aku tetap
mencoba memakaimu.”
“Untuk itu aku akan benerima kasih sampai mati. Nah,
aku barusan melintasi Continental Divide dan dua
wilayah waktu. Aku capek, teler, dan tubuhku tak bisa
164
dibilang bersih. Aku akan menjemput anjingku, pulang,
dan tidur. Selamat malam.” Ia memaksakan diri melewatinya.
“Oke, terserah, kubur dirimu sendiri. Tapi jangan
harap kau bisa menyeretku! Itulah terakhir kalinya aku
mau menyelamatkanmu.” Barrie nyaris tidak mendengar
waktu laki-laki itu berteriak, “Dan kau seperti tikus
tercebur got.”
la mempertimbangkan untak membiarkan Cronkite di
tempat penitipan anjing semalam lagi, namun memutuskan
ia butuh teman. Lagi pula, ia tak mau mengurungnya
lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia sampai di tempat penitipan itu beberapa menit
sebelum tutup. Petugasnya dan Crookite sama-sama
sangat gembira melioatnya “Dia baik, tapi sangat manja,”
kata wanita muda itu sambil menyerahkan binatang itu.
“Yeah, aku tahu. Tapi dia pangeran di antara anjinganjing.”
Barrie berlutut dan mengacak-acak bulunya,
sementara Cronkite dengan penuh semangat menjilat-jilat
wajahnya.
Kegirangannya tak berkurang sepanjang perjalanan
pulang. “Aku janji kau akan makan besar begitu kita
sampai,” kata Barrie ketika mereka turun dari mobil.
“Sekarang kumohon tenang dulu.” Karena ada yang
menempati tempat parkir di depan rumahnya, Barrie
terpaksa memarkir mobilnya setengah blok dari situ.
“Cronkite!” Anjing seberat empat-puluh kilo itu
menariknya. Tahu sudah dekat-dengan rumah, tempat
makanan enak menanti, Cronkite nyaris histeris.
“Oke, oke.” Barrie melepas tali anjing itu. Kalau tidak,
165
bisa-bisa ia terseret. Begitu bebas, Cronkite langsung
melompat, lalu melesat di jalan, kuku-kukunya memukulmukul
trotoar.
“Masuklah lewat pintu anjingmu,” seru Barrie.
Ia berbalik ke jok belakang untuk mengambil tas dan
kopernya.
Entakan ledakan itu menghantarnnya bagai tangan
raksasa dan mendorongnya hingga terpental ke tanah.
Bola api sangat besar membubung tinggi ke langit
malam, menerangi lingkungan tempat tinggalnya dengan
cahaya merah menyeramkan.
“Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan.” Dengan susah payah
ia berhasil bertumpu pada tangan dan kakinya. Selama
beberapa detik ia cuma bisa ternganga memandangi
neraka yang letaknya setengah blok darinya, di tempat
rumahnya semua berada. Asap hitam bergulung di
atasnya, menutupi bulan yang baru seperempat.
Selama beberapa saat ia tak mampu bergerak karena
terlalu kaget. Lalu adrenalinnya mengalir. Ia bangkit
terhuyung-huyung dan mulai berlari sepanjang trotoar.
Setidaknya ia berusaha lari. Sebetulnya lebih tepat
dibilang ia tersandung-sandung.
“Cronkite!” Jeritannya tak lebih dari erangan. “Cronkite!
Kemari, Sayang!”
la tidak menyadari panasnya api ketika tertatih-tatih
menyusuri jalan yang menuju pintu depan rumahnya
“Miss, kau sudah gila, ya!”
Tangan-tangan menangkapnya dari belakang dan
menahannya.
“Tolong bantu aku,” seru seorang pria. “Dia berusaha
masuk ke dalam.”
166
Lalu beberapa pasang tangan memeganginya menahannya.
Ia memberontak, tapi sia-sia. Mereka menyeretnya
ke seberang jalan dan memasuki halaman rumah
tetangga, jauh dari bahaya. Ia berusaha bicara, namun
cuma bisa tersedu-sedu. “Cronkite. Cronkite.”
“Kurasa Cronkite anjingnya.”
“Tidak lagi. Kalau dia tadi ada di dalam rumah itu,
dia...”
“Ada yang tahu apa yang terjadi?”
“Rumah siapa itu?”
Barrie cuma samar-samar mendengar suara-suara di
sekelilingnya. Para tetangga berdatangan. Trotoar dan
jalanan penuh dengan penonton. Dari jauh terdengar
lengkingan sirene.
Setelah para tetangga yang bermaksud baik yakin
Barrie takkan menyerbu ke lautan api itu, mereka
melepaskannya dan pelan-pelan pergi untuk menonton
kebakaran itu. Barrie mundur ke pagar tanaman yang
memisahkan pekarangan dan memandangi dengan ngeri
ketika rumahnya hancur lebur. Tak ada yang memperhatikannya.
Para penonton asyik berbicara sendiri, berusaha
mengetahui urutan kejadian.
“Itu pemadam kebakaran datang. Bisakah mereka
masuk?”
“Kuharap mereka menyiram atap rumah kita.”
“Ada orang di dalam?”
“Cuma binatang peliharaan. Ada yang bilang itu anjing
pemilik rumah.”
Tanpa suara Barrie berbisik, “Cronkite.”
Itulah kata terakhir yang diucapkannya sebelmn
sebuah tangan membekap mulutnya dan ia ditarik
167
mundur menerobos pagar tanaman.
Ia menjerit, atau berusaha melakukannya, namun
tangan itu semakin menekan mulutnya. Barrie menancapkan
tumitnya ke rumput halaman belakang tetangganya,
tapi si penculik menyentakkannya hingga ia tak menyentuh
tanah. Ketika mereka sampai di jalan kecil di belakang
rumah itu, Barrie menendang tulang keringnya kuat-kuat
hingga orang itu melonggarkan cengkeramannya, tapi ia
terbebas cuma untuk jatuh ke trotoar dan membuat kulit
lututnya robek. Ia menjerit, tapi tak mungkin jeritannya
bisa terdengar di antara keributan dan kegaduhan
kerumunan penonton dan mobil pemadam kebakaran.
Ia bangkit dengan susah payah, tapi sekali lagi dipeluk
kuat-kuat sampai napasnya sesak. “Tutup mulut, kalau
tidak kusakiti kau.”
Ia percaya penculik itu serius, jadi ia tidak memberontak
lagi ketika diseret pergi. Akhirnya mereka tiba di mobil
yang diparkir dua blok dari rumahnya.
Ketika si penculik meraih pegangan pintu, gigi Barrie
menghunjam kuat-kuat bagian empuk telapak tangan pria
itu dan ia menyikut perut orang itu. Pria itu tersentak dan
mengumpat pelan. Barrie cepat-cepat lari. Kebebasannya
cuma berumur pendek Orang tadi menjambak rambutnya
dan menahannya.
Barrie diputar dan diguncang begitu kuat sampai ia
ngeri tulangnya patah “Berhentilah melawanku, brengsek.
Aku berusaha menyelarnatkan nyawamu.”
Ketika otaknya berhenti bergoncang, Barrie tersadar
dirinya berhadapan dengan Gray Bondurant.
“Kau membawa kacamatamu?”
168
Bondurant menyetir, melaju menuju daerah pinggir
kota di Maryland. Ia mengemudi dengan ahli, namun
tetap dalam batas kecepatan. Ia sama sekali tak ingin
dihentikan karena pelanggaran rutin lalu lintas. Ia terus
mengawasi kaca spion, tapi setelah melewati beberapa
blok, ia yakin mereka tidak dibuntuti. Tidak ada yang
mencarinya. Belum.
Menyadari pertanyaannya belum dijawab, ia memandang
Barrie sekilas. Wanita itu memandang lurus ke
depan, terpana. “Kau membawa kacamatamu?” ulang
Gray.
Barrie menoleh dan menatapnya dengan pandangan
kosong selama beberapa detik, lalu mengangguk. Entah
bagaimana, ia berhasil terus menyandang tasnya.
“Lepaskan lensa kontak dan pakai kacamata,” perintah
laki-laki itu.
Barrie menjilat bibir, menelan ludah. “Bagaimana kau
tahu...”
“Aku tahu. Lakukan saja. Lalu selipkan rambutmu di
bawah topi bisbol itu.” Ia membawa sebuah topi. Benda
itu tergeletak di antara mereka.
“Apa... Kenapa...”
“Karena aku tak mau menanggung risiko kau
dikenali.”
“Oleh siapa?”
“Oleh orang-orang yang meledakkan rumahmu sampai
berkeping-keping, oleh siapa lagi menurutmu?”
“Anjingku mati.”
Suara Barrie bergetar. Sinar lampu mobil yang datang
dari depan memantul di matanya yang berkaca-kaca. Ia
mulai menangis, tanpa suara. Gray tak mengatakan apa169
apa. Ia tak tahu harus bilang apa. Ia tidak terlalu pintar
dalam hal-hal seperti itu. Tapi ia lebih suka Barrie
menangis daripada bersikap seperti mayat hidup.
Ia terus mengemudi, benar-benar bagai mengalir
seiring dengan air mata Barrie. Ketika akhirnya tangisnya
berhenti, Gray berbelok ke tempat parkir kedai kopi 24
jam.
“Banyak yang harus kita bicarakan,” kata Gray. “Aku
tidak bisa membawamu masuk ke dalam sana kalau kau
terus mencucurkan air mata dan menarik perhatian.”
Ia mengamati ketika Barrie membuka lensa kontak dan
mengenakan kacamata. Ia melihat kacamata itu di tasnya
ketika memeriksanya setelah mendapati Barrie tidur di
sofanya
“Kau punya saputangan?” tanya wanita itu.
“Tidak.”
Barrie mengusap hidungnya dengan lengan baju.
“Kalau begitu aku siap. Tapi lupakan topi itu. Takkan ada
yang mengenali aku.”
Sebelum Gray sempat menghentikannya, Barrie
membuka pintu dan keluar. Ia berhasil menyusul wanita
itu ketika ia disambut oleh pelayan yang tersenyum, yang
mengantarkan mereka ke tempat duduk. Ia menolak
daftar menu. “Tolong kopi saja”
Tempat itu terang benderang. Hanya beberapa tempat
duduk yang terisi.
“Mr. Bondurant, bagaimana caramu bisa menculikku
cuma beberapa detik setelah rumahku meledak?”
Ia tak mau menjawab sampai pelayan telah menuangkan
kopi mereka dan pergi. “Bukan aku pelakunya, kalau itu
yang ada dalam benakmu.”
170
“Memang itulah yang ada dalam benakku.”
“Yah, kau salah.” Sambil memandangi kopi, ia
menambahkan, “Aku turut bersedih atas matinya anjingmu.”
“Ini diucapkan laki-laki yang bahkan tidak menamai
kuda-kudanya” kata Barrie sinis.
“Dengar, aku justru menolongmu dengan menyeretmu
dari sana tahu.”
“Tapi kenapa menyeret? Kenapa kau tidak mengajak
aku pergi dari lokasi?”
“Karena kondisimu tidak memungkinkan dirimu
menggunakan akal sehat Aku harus menyingkirkan kau
dari sana dan itulah cara tercepat. Kukira mereka bakal
mengincarmu, dan aku benar. Tapi kalau kau sekarang
ingin pergi, aku sih tidak keberatan.”
“Aku tak tahu apa yang kaubicarakan,” seru Barrie,
tapi dengan suara pelan, supaya tidak menarik perbatian.
“Kalau begitu kenapa kau tidak tutup mulut dan
membiarkan aku memberitahumu?”
Barrie bersandar di tempat duduk dan melipat
tangannya.
Pria itu meminum kopinya beberapa teguk. “Pertama,
aku ingin tahu apa tepatnya yang telah terjadi. Kurasa
tidak keliru kalau aku menebak Brinkley...”
“Cronkite.”
“Cronkite mendahuluimu masuk rumah.”
“Memang ada pintu anjing di pintu belakang, yang
sekarang sudah tidak ada lagi.”
“Dari situkah kau biasanya masuk, dari belakang?”
“Biasanya.”
“Kalau begitu mereka mungkin memasang bom di
171
pintu itu.”
Barrie mencondongkan tubah ke depan. “Siapa? Dan
apa yang kaulakukan di sini? Kenapa kau mengikuti aku
kembali ke Washington? Kau memang mengikuti aku,
kan?”
“Aku datang untuk mengingatkanmu bahwa kau telah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang salah pada
orang-orang yang salah. Kau menyusuri berita yang tak
diinginkan Presiden sampai bocor.”
Wajah Barrie memucat. Dengan gugup ia mengisapisap
bibir bawahnya. “Dari mana kau tahu?”
“Kurang dari 24 jam setelah kau meninggalkan
tempatku, aku dikunjungi Spencer Martin.”
“Bukankah dia punya hubungan tertentu dengan
Gedung Putih?”
“Bisa dibilang begitu. Setelah David Merritt, dialah
orang paling berkuasa di negara ini.”
“Kalau begitu, kenapa kita jarang mendengar atau
melihat dia?”
“Sebab dia tak mau kau mendengar atau melihatnya.
Dia gentayangan di lorong-lorong Gedung Putih seperti
hantu, dan itulah yang diinginkannya karena kemisteriusannya
membuatnya makin berkuasa Dia selalu
merendah, namun dialah penasihat utama Merritt.”
“Kau ketinggalan berita Mr. Bondurant. Penasihat
utama Presiden adalah...”
“Lupakan Frank Montgomery. Dia cuma boneka,
kacung. Merritt melemparkan sepotong tulang, dia
menangkapnya. Dia memiliki jabatan, kantor yang bagus,
dan fasilitas-fasilitas, tapi Spence-lah tangan kanan
David. David takkan berbuat apa-apa tanpa berkonsultasi
172
dengan Spence lebih dulu. Dia terlibat dalam setiap
keputusan, tak peduli seberapa penting atau sepelenya.
Dia orang yang bisa kausebut fasilitator”
“Apa yang dimudahkannya?”
“Tugas-tugas.”
Barrie mengerutkan alis.
“Tugas-tugas yang akan membahayakan Presiden jika
dia melakukannya sendiri.”
Ia tak perlu menjelaskannya pada Barrie. “Dengan kata
lain, ada area antara hitam dan putih tentang tugas-tugas
yang dilaksanakan Spencer Martin untuk Presiden. Dan
kau mengetahui ini sebab dulu kau...”
“Juga fasilitator.”
“Begitu.”
Mata Barrie bagai cermin bagi hati nurani Gray yang
menatapnya lewat kacamata wanita itu. “Tapi aku
mengundurkan diri. Sudah setahun lebih aku tidak
melihat atau mendengar kabar dari Spence; sejak aku
meninggalkan Washington. Lalu sehari setelah kau
datang ke rumahku, dia muncul.”
“Kebetulan?”
“Tidak. Dia datang menemuiku karena entah dia
menebak atau mengetahui kau pernah ke tempatku,
menanyaiku soal Vanessa.”
“Apa yang kaukatakan padanya? Tentang aku,
maksudku.”
Gray tahu mengapa Barrie bertanya; ia ingin tahu
apakah Gray menyombongkan penaklukan seksual
terakhirnya pada sobatnya. Tangannya yang digigit
Barrie berdenyut-denyut, sakitnya bukan main. Beberapa
detik setelah mereka bertemu, wanita itu menamparnya.
173
Kalau dipikir-pikir, Barrie Travis ini memang punya
nyali dan nekat. Tapi saat ini ia tampak sangat tak
berdaya, dan sialan, anjingnya baru saja terbunuh, jadi
meskipun ini merupakan kesempatan bagus untuk
mempermalukannya lagi, Gray tak mau.
“Kuberitahu Spence bahwa kau datang mengendusendus,
bahwa kau punya pikiran ngawur tentang Vanessa
membunuh bayinya dan mengatakan penyebabnya SIDS.”
“Kau bilang begitu padanya?” seru Barrie;”Pantas saja
mereka meluluh-lantakkan rumahku.”
“Kalau kukatakan aku tidak tahu apa-apa, dia pasti
langsung tahu aku berbohong, jadi aku harus mengikuti
permainannya. Tapi aku segera tahu kau punya berita
besar. Kalau tidak, kenapa Spence begitu gelisah hingga
datang ke Wyoming dan menyelidiki apa yang kuketahui?”
“Kau yakin itulah tujuan kunjungannya?”
“Yeah,” kata Gray. “Di saku dalam jasnya ada selembar
tiket pesawat komersial, penerbangan pulang-pergi Washington-
Jackson Hole-Washington.”
“Jadi?”
“Jadi, Spence memberitahu bahwa dia ditugaskan
Presiden ke Seattle. Kalau ditugaskan seperti katanya
mestinya dia menaiki pesawat pemerintah. Plus, nama
yang tertulis di tiket tadi nama palsu. Kemudian, di
Jackson Hole, dia menyewa mobil atas nama palsu
lainnya. Dia tidak bermaksud pergi ke Seattle. Tidak,
Miss Travis, dia berkunjung bukan untuk beramahtamah.
Beritamu mengandung ancaman sangat serius
bagi pemerintah, dan mereka akan melakukan apa saja
supaya berita itu tidak disiarkan.”
“Ya Tuhan,” bisik Barrie seraya menutup mulutnya
174
dengan jemari pucat pasi. “Semuanya mulai jelas. Aku
benar. Bayi itu meninggal bukan karena SIDS.”
“Kapan kau pertama kali mencurigainya?” Barrie
cuma terpana. “Miss Travis?”
“Maaf,” kata Barrie, lalu menggosok-gosok pelipisnya.
“Mendengar orang lain mengatakan hipotesisku, membuatnya
jadi nyata. Implikasinya amat mengguncangkan...
dan sekaligus mengerikan.”
“Terutama bagi pria yang menempati Gedung Putih.
Ceritakan semuanya padaku,” ujar Gray. “Kapan kau
pertama kali curiga ada yang tidak beres?”
“Vanessa tiba-tiba menelepon dan memintaku menemuinya.
Aku segera melihat dia setengah mati berusaha
mempertahankan kewarasannya.”
Gray mendengarkan ketika Barrie menceritakan semua
yang terjadi sesudah pertemuan pertama itu dan menjelaskan
langkah-langkah yang telah diambilnya untuk
memproduksi serial TV-nya.
“Aku melihatnya; wawancaramu dengan Vanessa.”
“Vanessa Merritt yang kuwawancara di depan kamera
berbeda 180 derajat dari wanita sangat sengsara yang
kujumpai berminggu-minggu sebelumnya.”
“Sama sekali tidak mengejutkan,” kata Gray. “Vanessa
mengidap manic-depressive.”
la memandangi bibir penuh Barrie yang terbuka
karena kaget. “Kau yakin? Kapan dia didiagnosis?”
“Sudah lama. Tak lama setelah mereka menikah,
kurasa.”
Kentara sekali Barrie terpana. “Bagaimana mereka
bisa menutupi fakta itu selama bertahun-tahun ini?”
“Karena dia diobati dengan baik dan dipantau dengan
175
cermat. Kondisi manic-nya membuatnya menjadi
pendukung kampanye yang baik. Dia selalu bersemangat.
Selalu siap. Tentu saja dia minum Lithium untuk
mengatur perubahan suasana hatinya, jadi hanya orangorang
yang kenal dekat dengannya yang tahu. Dia juga
minum obat antidepresi dan anti-psychotic. Kalau rajin
minum obat, kelakuannya baik. Satu perkataan Spence
yang benar adalah bahwa kematian bayi itu membuatnya
kacau. Begitu melihatnya di TV, aku langsung tahu ada
yang sangat tidak beres,” ia menyimpulkan.
“Jadi, kau sangat mengenalnya”
Gray menghindari perkataan menjebak itu dengan
berkata, “Aku jauh lebih mengenal David.”
“Kau betul-betul percaya dia dan pembantu andalannya
bertanggung jawab atas peledakan rumahku?”
“Dari tadi kau tidak mendengarkan, ya? Sialan, ya, aku
percaya. Spence pasti mengaturnya sebelum pergi ke
Jackson Hole. Kalau sudah ketahuan bhkwa satu-satunya
korban malam ini adalah anjingmu, mereka bakal
mencoba menyingkirkanmu dengan cara lain.”
Dengan wajah seputih kapas, Barrie menarik napas
pendek. Dengan suara yang lebih serak daripada
biasanya, ia berkata, “Maksudmu nyawaku tak ada
artinya?”
“Kurang-lebih, yeah.”
Barrie memegang keningnya. “Aku ingin muntah.”
“Jangan,” sergah Gray tajam. “Kita tak boleh menimbulkan
kehebohan. Bernapaslah lewat mulut.”
Gray duduk tegang sampa rasa mual Barrie hilang.
Beberapa saat kemudian ia minta segelas air, dan Gray
memanggil pelayan. Wanita itu melihat Barrie kurang
176
sehat. “Dia tidak apa-apa?”
“Mual-mual karena hamil muda,” ujar Gray, berpikir
betapa konyol senyum palsunya. “Tapi dia mengalaminya
di malam hari.”
“Oh, mualnya bakal hilang setelah bulan-bulan awal,
Manis. Sudah berapa bulan?”
“Uh...”
“Tiga,” kata Gray.
Sambil menepuk-nepuk pundak Barrie, pelayan itu
menawarkan secangkir teh panas. “Dia akan sembuh,”
kata Gray. “Tapi terima kasih tawarannya.”
Setelah puas, pelayan itu pergi. Barrie menelan air itu
beberapa teguk. “Kau pintar sekali berbohong.”
“Kau tidak.”
“Aku tahu.”
Gray sadar Barrie masih shock. Matanya berkaca-kaca.
“Aku membuatmu terseret dalam masalah ini, ya?”
Gray mengangkat bahu dengan tak acuh.
“Memang benar,” Barrie bersikeras. “Karena aku
menemuimu, hidupmu jadi terancam bahaya juga. Kau
mengetahui kisah yang mereka tak ingin sampai tersebar.”
Makin banyak ia bicara makin cemas perasaannya.
“Kau mengambil risiko dengan datang ke mari.
Mestinya kau tetap tinggal di Wyoming. Kalau kau
pulang sekarang, mungkin mereka akan lupa kau tahu.
Mereka akan mengira kau tidak mau berurusan denganku.”
Gray geli dengan kenaifannya, namun ia tetap
memasang tampang serius. “Mereka tidak akan lupa
Mereka juga tidak suka meninggalkan masalah yang
belum beres. Di mana pun kau berada, itu bukan masalah.
Mereka ingin apa pun yang telah terjadi pada bayi itu, dan
177
apa pun yang tengah terjadi pada Vanessa, dikubur dalamdalam.
Juga rasa ingin tahu kita.”
“Bagaimana caramu sampai kemari begitu cepat?”
“Kubongkar komputer Spence dan kukembalikan
mobil sewaannya dengan meletakkan kunci dan suratsuratnya
di kotak checkout di bandara. Lalu kupakai tiket
pesawatnya.”
Mengetahui cuma ada sedikit penerbangan komersial
yang menuju Jackson Hole, Barrie bertanya, “Kau naik
pesawatku?” Gray mengangguk “Aku tidak melihatmu.”
“Memang itu yang kuinginkan.”
“Oh.” Barrie terdiam sejenak, berusaha menebak
bagaimana laki-laki itu lolos dari pengamatannya “Kenapa
kau tidak memperingatkan aku sebelum ini? Kalau
kaulakukan, Cronkite mungkin masih hidup.”
“Aku salah perhitungan. Aku tidak mengira peringatan
pertama mereka akan begitu kejam. Kupikir mereka akan
mulai dengan ancaman terselubung; seperti yang barangkali
diterima informanmu di rumah sakit itu. Tapi mereka
ternyata serius. Mereka tak ingin kau ketakutan hingga
tutup mulut. Mereka ingin kau mati.”
“Kau pernah bilang.” Barrie menggigit-gigit bagian
dalam pipinya “Sampai mana kau dengan Spence?”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, bagaimana kau bisa memperoleh tiket
pesawatnya? Bagaimana kau bisa menghindari dia?”
Gray menatapnya lama sekali, berpikir-pikir seberapa
banyak ia sebaiknya bercerita padanya. Akhirnya, ia
cuma berkata, “Aku tidak menghindarinya.”
178
Bab Lima Belas
“DAILY, ini Gray Bondurant. Gray, Daily Welsh.”
Barrie senang Daily tidak menanyakan kenapa mereka
muncul di depan pintunya pada pukul 02.00. la tidak
mengomel atau menghujani mereka dengan pertanyaan.
Ia cuma mendengus ketika menepi dan menyilakan
mereka masuk.
Jelas mereka membuamya terbangun. Rambutnya
yang sudah beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai
ujung-ujung mahkota Patung Liberty. Ia mengenakan
kaus dalam kusam dan celana pendek yang panjangnya
hampir mencapai lutumya yang kurus. Kaus kaki hitam
tidak menambah bagus kakinya yang putih dan tak
berbulu.
Ketika meninggalkan kedai kopi, mereka sepakat
mereka membutuhkan tempat untuk beristirahat, berunding,
dan memutuskan tindakan selanjumya. Gray
mengikuti petunjuk Barrie untuk mencapai rumab Daily.
Sekarang, Barrie bisa menebak apa yang ada dalam benak
pria itu: Jika ini tempat terbaik yang bisa mereka gunakan
untuk bersembunyi, masa depan mereka memang suram.
Rumah kecil Daily sama sekali bukan benteng dan, di
mata orang asing, ia tampak seperti pria penyakitan yang
179
hidupnya tergantung pada uang pensiunnya yang kecil
dan alat bantu pernapasan. Dan semua itu, sayangnya,
memang benar.
“Aku tahu aku sangat merepotkanmu,” ujar Barrie
ketika Daily mengelilingi ruang tamu untuk menyalakan
lampu-lampu. “Tapi tak ada tempat lain... Mereka
membunuh Cronkite.”
Tangan Daily tertahan di sakelar lampu. “Membunuh
Cronkite? Siapa?”
“Ceritanya panjang.”
“Aku punya waktu semalaman.”
Rasa sakit di wajahnya merupakan pantulan perasaan
Barrie. Dibentangkannya lengannya, dan Barrie mendatanginya.
Biasanya dialah yang memeluk Daily, sementara
pria itu pura-pura kuat dan menolak perhatiannya.
Kali ini ia bukan cuma mengambil inisiatif untuk
memeluknya, tapi juga merangkulnya, menepuk-nepuk
punggungnya, agak canggung tapi tulus. “Dasar orangorang
sinting. Apa yang mereka lakukan, meracuninya?
Kalau sampai kutangkap rnereka... Siapa pelakunya?”
Barrie rnenjauh dan membuka kacamata untuk
mengusap mata. “Banyak yang harus diceritakan.”
Daily otomatis pergi ke kursi santainya sambil
menyeret tangki oksigen. Barrie duduk di tempat biasa, di
sofa. Gray tetap berdiri. Sejauh ini Daily tidak
menunjukkan rasa penasaran kenapa pahlawan nasional
yang telah pensiun itu muncul dari pengasingan dan
berdiri di ruang tamunya tengah malam begini.
Kini ia mengangguk ke arah Gray . “Apa yang
dilakukannya di sini?”
“Rumahku diledakkan tadi malam.”
180
“Diledakkan? Maksudmu seperti booom?” Dipandangnya
Barrie, lalu Gray, lalu kembali pada Barrie.
“Rumahku musnah, Daily. Hancur. Semuanya Termasuk
koleksi videoku,” kata Barrie pahit, teringat pada videovideo
tak tergantikan yang dikumpulkannya selama
bertahun-tahun. “Menurut Bondurant, pintu belakang
dipasangi bom. Cronkite masuk mendahului aku, lewat
pintu anjingnya.”
Daily terdiam. “Siapa yang tega berbuat begitu?”
“Presiden.”
“Apa? Presiden Amerika Serikat?”
“Menurut Bondurant ledakan itu dimaksudkan untuk
membunuhku karena pertanyaan-pertanyaan yang
kuajukan mengenai kesehatan Ibu Negara dan kematian
bayinya,” Barrie menjelaskan.
“Ya Tuhan.” Daily mendongak pada Gray. “Apa yang
membuatmu mengira.. Ya ampun, duduk dong. Kau
membuatku harus memutar leher.”
Untuk pertama kali setelah berjam-jam, Barrie rasanya
ingin tersenyum. Gray duduk di satu-satunya tempat lain
yang ada, yaitu di samping Barrie di sofa.
“Apa yang membuatmu berpikir Merritt mau berbuat
sejauh ini untuk membungkam Barrie?” Daily bertanya
padanya.
“Dia mengutus Spencer Martin untuk membereskan
aku cuma karena aku bicara dengannya”
“Jelaskan ‘membereskan’.”
“Membunuh.”
“Kukira kalian berteman.”
“Dulu. Biarpun begitu, dia datang ke Wyoming untuk
membunuhku karena takut Barrie telah menceritakan
181
padaku teorinya tentang kematian bayi itu. Itu seharusnya
menunjukkan padamu betapa kuat tekad mereka untuk
menutup kisah Barrie sebelum sampai disebarluaskan.”
Dengan dahi berkerut, Daily mengusap rambutnya
yang berantakan.
“Kau yakin tentang ini?” tanyanya skeptis.
“Dia yakin,” ujar Barrie. “Ceritakanlah, Bondurant.”
Sementara ia bercerita pada Daily mengenai keganjilankeganjilan
dalam kunjungan Spence ke Wyoming, Barrie
bertanya-tanya dalam hati bagaimana ia bisa tidak
mengenali Gray di antara para penumpang dalam
penerbangan kembali ke Washington. Ia memang tidak
terlalu memperhatikan penumpang lain, namun bukankah
Gray seharusnya menarik perhatiannya? Jelas pria itu
rupanya berusaha supaya hal itu tidak terjadi. Bakat
bunglonnya tidak menambah kepercayaan Barrie padanya.
Hal itu malah membuatnya makin tidak mempercayainya.
“Jadi, sepanjang yang diketahui orang, Spence tidakpernah
ke Wyoming,” Daily menyimpulkan.
“Dia tidak menyentuh apa pun di dalam rumahku
selain peralatan makan yang dipakainya, dan aku telah
mencucinya. Tindakannya yang tidak mau menyentuh
apa pun itu merupakan salah satu tanda peringatan bahaya
pertama yang kutangkap.”
“Di mana Martin sekarang?” tanya Daily.
Wajah Gray tanpa ekspresi. Kesunyian tidak mengenakkan
membentang di antara mereka sampai Barrie
menjawab dengan terpaksa. “Mr. Bondurant tidak
bersedia mengatakan bagaimana dia bisa kabur dari orang
itu.”
Barrie melirik sosok kaku pria yang duduk di
182
sebelahnya. Ia tidak ragu Gray bisa membunuh orang,
bahkan mantan temannya sekalipun. Matanya yang
dingin dan mulutnya yang tegas menunjukkan ia mampu
melakukannya. Jika ia membunuh Spencer Martin untuk
membela diri, itu bisa dimaafkan. Tapi bisakah ia
mempercayai omongan laki-laki itu?Daily melontarkan
pertanyaan yang sudah lama ada dalam benak Barrie.
“Bukankah mestinya sekarang Spence sudah melapor
pada Presiden?”
“Biasanya, ya. Dia bahkan minta izin keluar ruangan
dengan alasan akan menelepon Gedung Putih. Tapi dia
tak mungkin menelepon sebelum bisa memberikan
laporan lengkap pada David, termasuk tentang pernbinasaanku.
Malam ini David mungkin sedang gelisah,
bertanya-tanya kenapa dia belum mendapat kabar dari
Spence, namun dia tak bisa menyuruh orang pergi ke
Wyoming untuk mencari orang itu karena Spence
resminya tidak pernah ke sana.”
“Cepat atau lambat seseorang akan kehilangan dia dan
mulai mencari,” komentar Barrie.
“Spence tak pernah punya keluarga atau teman dekat,”
kata Gray . “David dan pemerintahannya merupakan
seluruh hidup Spence. Untuk memahami itu, kau harus
mengetahui dari mana Spence berasal. Dia dulu anak kutu
buku yang rapuh, ditakut-takuti melulu di sekolah, diejek
karena bertubuh kecil. Tapi dia jauh lebih pintar daripada
anak-anak biasa.
“Bertahun-tahun menjadi sasaran para bajingan membuatnya
bertekad menjadi bajingan paling wahid.
Dia mencapai tujuannya —dan menjadi bajingan
paling ditakuti di Washington. Semua orang tahu bahwa
183
menentang Spence sama saja dengan meludahi Ruang
Oval. Spence takkan memberitahu siapa pun ke mana dia
pergi. Dia bercerita hanya pada David.”
“Pembantu andalan Presiden pun tidak mungkin
semandiri itu,” bantah Barrie. “Departemen Kehakiman,
Jaksa Agung Yancey, FBI...” la terdiam ketika Gray
menggeleng.
“Bill Yancey orang yang baik,” katanya. “Begitu baik
hingga nyaris tidak cocok dengan pemerintah. Sejak
pengangkatannya Yancey dan David beberapa kali
berbeda pendapat. Tapi percayalah pada kata-kataku.
Jaringan agen Spencer Martin sama elite dan kejamnya
dengan pasukan SS Reich III. Mereka beroperasi seperti
tikus-tikus tanah dalam setiap badan pemerintah, termasuk
Dinas Rahasia. Orang-orang Spence selalu siaga. Jika
perintahnya bertentangan dengan perintah yang mereka
terima lewat jalur resmi, perintah Spence-lah yang
dipatuhi orang-orang itu.”
Barrie memeluk dirinya. “Kau membuatku takut.”
“Ini memang tokoh-tokoh mengerikan. Sebagian besar
dari mereka adalah pasukan terlatih khusus yang sudah
pensiun dan tidak punya medan pertempuran.”
Barrie bertanya dalam hati apakah Gray sadar ia tengah
menggambarkan dirinya sendiri?
“Kalau tugas itu benar-benar vital,” tambah Gray,
“Spence yang akan melakukannya sendiri.”
“Seperti membunuh mantan teman, misalnya.”
Gray menanggapi komentar Daily dengan tersenyum
muram. “Benar. Seperti itulah. Walaupun dia lebih sering
memberikan tugas seperti itu pada orang lain. Biasanya
pelaksanaannya ketika Spence sedang ke luar kota, jadi
184
dia punya alibi kalau pelaku sesungguhnya tertangkap
atau meninggalkan bukti yang bisa dilacak. Aku yakin dia
melakukan pengaturan seperti itu ketika meledakkan
rumah Barrie. Dia memang biasa bepergian. Akan makan
waktu cukup lama sebelum orang jadi cukup penasaran
untuk mulai bertanya-tanya.”
“Merritt akan penasaran.”
“Begitu David mendengar aku masih hidup,” katanya
menanggapi pernyataan Barrie, “dia akan tahu bahwa
Spence gagal melaksanakan tujuan kepergiannya ke
Wyoming.”
Komentar menyeramkan itu membuat mereka terdiam
selama beberapa waktu. Akhirnya, Daily menoleh pada
Gray. “Aku mengagumi apa yang kaulakukan di Timur
Tengah.”
Gray menanggapi pujian itu dengan anggukan kecil.
“Tapi?”
“Tapi maafkan aku kalau mengatakan bahwa semua
ceritamu tadi bisa saja cuma omong kosong.”
Penghinaan itu tampaknya tidak berpengaruh apaapa
padanya. “Kau memang berhak merasa curiga. Sudah
jadi rahasia umum bahwa ada ketegangan antara David
dan aku waktu aku meninggalkan Washington.”
“Karena istrinya.”
Barrie kaget setengah mati mendengar kelancangan
Daily. Ia mengatakan dan menanyakan hal-hal yang tak
berani diucapkannya.
“Vanessa merupakan salah satu sebab pertengkaran
terakhir kami, ya.”
“Kalau begitu, kenapa aku mesti mempercayai semua
yang kaukatakan pada kami?”
185
“Dengan kata lain, aku bisa saja mengarangngarang
semua ini dengan harapan akan menghancurkan posisi
kepresidenan David.”
“Pikiran itu terlintas di benakku,” Daily mengakui
dengan kelugasan khasnya.
Dengan ketenangan yapg melebihi dugaan Barrie,
Gray berkata, “Aku tidak memulai ini. Aku tidak
memburu Miss Travis dengan membawa berita menggegerkan.
Dialah yang mendatangi aku dengan serentetan
pertanyaan tentang kematian bayi itu, pertanyaanpertanyaan
yang mencerminkan kecurigaanku sendiri.”
Itu mengejutkan Barrie dan membuatnya marah.
“Kenapa kau tidak bilang padaku? Kau membuatku
percaya bahwa kau menganggap aku orang yang paling
oportunis. Ka...”
“Biarkan orang ini bicara, Barrie,” Daily berkata.
Dipandangnya Gray. “Apa yang membangkitkan kecurigaanmu?”
Bondurant bangkit dan mulai mondar-mandir ketika
bicara. “Vanessa bisa menarik dan manis. Tapi dia juga
bisa menjadi makhluk paling menjengkelkan, egois, dan
manipulatif yang pernah diciptakan Tuhan. Dia sangat
dipengaruhi oleh ayahnya dan David, namun aku pernah
melihat bagaimana dia menggunakan akal bulus mereka
supaya menguntungkannya, dan tanpa mereka menyadarinya.”
“Gambaranmu mengenai dia tidak terlalu bagus.
Wanita yang barusan kauceritakan cocok dengan kesan
awalku tentang dirinya,” Barrie mengakui.
“Intinya adalah, bahwa biarpun punya banyak masalah,
aku tahu Vanessa menginginkan anak lebih daripada dia
186
menginginkan apa pun,” katanya. “Aku tahu pasti soal itu.
Dia bersedia melakukan apa saja supaya bisa punya anak,
meski para dokter tidak menganjurkan kehamilan karena
penyakitnya.”
“Penyakit?” Daily memandang mereka dengan bingung.
“Dia menderita manic-depressive.” Barrie menjelaskan,
lalu menceritakan apa yang telah dikatakan Gray.
“Sialan,” kata Daily, terpesona.
“Sayang dia tidak memberitahu masyarakat tentang
kondisinya,” komentar Barrie . “Ribuan orang bisa
mengambil manfaat karena mengetahui hal itu. Semangat
para penderita lain akan bertambah melihat kemampuannya
menjalani hidup dengan penuh gairah biarpun mengidap
penyakit itu.”
“Sampai baru-baru ini,” ujar Gray.
“Betul,” Barrie mengiyakan.
“Seharusnya dia tidak dibiarkan sendirian malam itu.”
“Menurut laporan, pengasuh anak Gedung Putih minta
cuti malam itu karena ada urusan keluarga yang
mendesak,” Daily mengingatkan mereka.
“Permintaannya diajukan lama sebelumnya.
Pertanyaannya: Kenapa tidak ada pengasuh cadangan?”
kata Gray. “Mengapa Vanessa dibiarkan mengurus anak
itu sendirian, hanya dengan David dan Spence sebagai
pendamping jika ada keadaan gawat, padahal semua
orang yang berkepentingan tahu Vanessa sering tak
mampu menangani keadaan gawat?”
“Sebagai penderita manic-depressive, Vanessa akan
merasakan emosi yang jauh lebih buruk daripada yang
biasa dirasakan oleh wanita normal yang baru melahirkan.
Perasaan benci, tak mampu, terperangkap, dan sebagainya.”
187
Barrie menatap Gray. “Itu sebabnya kau tidak menceritakan
kecurigaanmu pada siapa pun, bukan? Kau ingin
melindungi dia.”
“Aku melindungi dia dengan sikap diamku, tapi bukan
seperti yang kaumaksud. Kau tahu, aku tidak sependapat
denganmu. Vanessa tidak menghabisi anaknya.”
“Aku bingung,” tukas Barrie kesal. “Kau setuju
bayinya meninggal bukan karena SIDS.”
“Tepat.”
“Itu tidak masuk akal,” kata Barrie pelan. “Kalau
bukan Vanessa yang menghabisinya, lalu siapa...”
Ucapannya mendadak terhenti. Ia melirik Daily, yang
sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka. Mata
mereka bertemu, berpandangan, dan Barrie melihat
bahwa pikiran yang mendadak timbul di kepala mereka
berdua sama.
Ia berbalik kembali pada Gray. “Merritt?”
la mengangguk.
“Tapi kenapa?”
“Apa yang membuat laki-laki begitu membenci bayi
berumur tiga bulan hingga tega membunuhnya?”
Barrie tak perlu berpikir untuk mengetahui jawabannya.
“Jika bayi itu bukan anaknya.”
Gray mengangguk cepat, lalu memunggunginya dan
berjalan ke jendela.
Tentu saja. Ini menjelaskan begitu banyak pertanyaan.
Kegalauan dan ketidakberdayaan Vanessa. Tidak dilakukannya
autopsi. Usaha-usaha keras untuk membungkam
berita ini. Keterlibatan Bondurant. Terutama keterlibatan
Bondurant.
Pelan-pelan tatapan Barrie bergerak ke pria itu. Ia
188
masih berdiri memunggungi ruangan, Menatap ke luar
lewat celah di gorden yang sudah kusam.
Daily berdiri. “Yah, kurasa menuduh Presiden Amerika
Serikat membunuh bayi sudah cukup menggegerkan
untuk malam ini. Setidaknya bagi orang tua seperti aku.
Aku mau tidur lagi. Kalian boleh tinggal di sini selama
yang kalian mau.”
Roda kereta yang membawa tangki oksigennya
berderit-derit. Bunyinya kedengaran ketika ia berjalan
dan memasuki kamar. Setelah ia menutup pintu, rumah
langsung sepi mencekam.
Barrie berkata dengan suara pelan, “Presiden sangat
setuju aku mewawancarai Vanessa.”
“Untuk mengelabui semua orang. Yang mana yang
lebih mencurigakan: Membicarakan sebuah isu secara
terang-terangan, atau menutupinya?”
“Kurasa kau benar.”
“Aku berani mempertaruhkan semua milikku.”
“Kau mengkhawatirkan Vanessa, bukan?”
la berbalik dan menatap Barrie, tapi tak mengatakan
apa-apa.
“Sepanjang dia tampaknya bisa menerima kenyataan,”
ujar Barrie, menyusun pikirannya sambil berbicara, “kau
melupakan kecurigaanmu mengenai kematian si bayi.
Tapi ketika kau melihat wawancaraku dengannya, kau
menyadari dia tak seperti biasanya, biarpun setelah
mempertimbangkan suasana hati dan kelakuannya yang
sering berubah-ubah. Itu menimbulkan keraguan-keraguan
lain di pikiranmu. Lalu aku datang menemuimu, dan
teoriku menegaskan apa yang selama ini kautakuti, bahwa
kematian bayi itu bukan karena SIDS. Kunjungan Spence
189
menegaskan hal itu bagimu.
“Sekarang kau percaya nyawa Vanessa dalam bahaya
juga Jika David Merritt tega membunuh seorang bayi, dia
takkan segan-segan membunuh istrinya supaya kejahatan
pertamanya tidak ketahuan.”
“Benar,” ujar Gray. “Kalau kau tidak mempercayai
omonganku yang lain, percayalah yang itu. Dia bersedia
melakukan apa saja untuk melindungi kursi kepresidenannya
dan mendapatkan masa jabatan kedua. Apa saja.”
Barrie menggosok-gosok kedua lengannya untuk
mengusir perasaan menggigil yang mendadak timbul.
“Kau kelihatan hampir pingsan,” komentar laki-laki
itu. “Besok pagi kita lanjutkan pembicaraan ini. Tidurlah.”
“Kau serius? Aku takkan bisa tidur.”
“Berbaring dan pejamkan mata. Kau akan tidur.”
Terlalu lelah untuk membantah, ia menunjuk ke
bagian belakang rumah. “Kamar tamu, kalau bisa
dikatakan begitu, terietak di ujung koridor. Di dalamnya
ada dipan, tapi aku tidak menyarankannya. Cronkite yang
terakhir tidur di situ.”
Gray memandang pintu kamar Daily yang tertutup.
“Kau percaya padanya?”
“Dengan nyawaku.”
“Kalau begitu bisa dibilang mereka tak tahu harus
mencarimu ke sini.”
‘Tidak ada yang tahu aku sering kemari.”
“Mau menjelaskannya?”
“Tidak.” Persahabatannya dengan Daily dirahasiakannya
dari siapa pun, dan ia tidak merasa tergerak untuk
memberitahu Bondurant alasannya. “Takkan ada yang
mencariku di sini. Untuk saat ini kita aman.”
190
“Baiklah,” kata Bondurant, bersungut-sungut. “Aku
akan tidur di luar sini. Kau di dipan itu.”
Barrie berjalan menyusuri koridor, kakinya nyaris tak
kuat melangkah. Ia tak ingat pernah merasa begitu lelah
secara fisik maupun mental.
Di lemari kecil di kamar kedua Daily, ia menemukan
piama yang sangat norak, menurut standar selera Daily
yang liberal sekalipun. Ia membawa piama itu ke kamar
mandi dan mengisi bathub.
Sudah hampir 24 jam ia tak tidur. Matanya perib.
Semua persendian dan ototnya nyeri. Lututnya luka. Ia
menelan dua butir aspirin yang diambilnya dari lemari
obat Daily, lalu dengan penuh rasa syukur membenarnkan
dirinya, bahkan kepalanya, di air yang panas. Sesudah
bersabun dan bersampo, ia bersandar di bathtub dan
memejamkan mata.
Setelah tubuhnya terasa lebih nyaman, luka emosionalnya
mulai terasa lebih parah. Luka hatinya perih tak
terkatakan. Mengingat betapa banyak nyawa manusia
melayang akibat bencana alam, penyakit, perang, dan
pembunuhan, rasanya terlalu berlebihan untuk berduka
atas kematian seekor arijing kampung. Biarpun begitu, ia
merasa sangat kehilangan. Meski sudah berusaha sekuat
tenaga menahan tangis, ia akhirnya menangis tersedusedu.
Butiran air menetes dari keran ke bathtub, menimbulkan
bunyi gemercik lembut yang terasa menenangkan. Air
mata mengalir di pipinya, turun ke dagu, sampai ke dada,
lalu menyusuri lekuk tubuhnya hingga menyatu dengan
air. Setiap kali merasa air matanya sudah habis, ia teringat
kenangan manis tentang Cronkite lagi dan tangisnya
191
kembali meledak. Air mata menetes dari balik kelopak
matanya yang tertutup dan akhirnya masuk ke bathtub.
Saat merasakan embusan udara sejuk di kulitnya,
barulah ia sadar ia tak lagi sendirian. Ia membuka mata.
Bondurant berdiri di ambang pintu, satu tangan di kenop
pintu, yang satu lagi di kusen, matanya terpusat pada
Barrie.
Barrie tak bergerak. Tak ada gunanya meraih sesuatu
untuk menutupi tubuhnya. Pria itu sudah melihat
segalanya la juga telah menyentuh semuanya. Secara
intim. Tubuhnya mulai bereaksi seperti di kamar Gray
pagi itu, menggelegak penuh gairah.
“Kau baik-baik saja?”
Tanpa mampu bicara, Barrie mengangguk.
“Kau menangis.”
la tak tahu harus bilang apa, jadi ia diam saja dan terus
memandanginya. Pandangan mereka cuma terputus
sekali, ketika mata laki-laki itu menelusuri tubuhnya
sebelum kembali ke wajahnya.
Dengan suara parau ia berkata, “Rocket, Tramp, dan
Doc.”
Barrie menggeleng pelan tak mengerti.
“Kuda-kudaku. Mereka punya nama.”
Laki-laki itu mundur kembali ke koridor dan menutup
pintu.
192
Bab Enam Belas
SENATOR Clete Armbruster tiba di Gedung Putih pagipagi
keesokan harinya, menuntut ingin bertemu Presiden
segera. Ia diberitahu bahwa Presiden sudah bangun
namun belum meninggalkan ruangan pribadi. Armbruster
mengatakan ia akan menunggu. Ia diantar ke Ruang Oval
dan ditawari kopi. Ia sudah hampit menghabiskan cangkir
kedua ketika David Merritt melangkah masuk, tampak
sesehat biasanya, tapi agak kesal.
“Maaf membuatmu menunggu, Clete. Ada urusari
mendesak apa? Terima kasih,” David berkata pada
sekretaris yang memberinya secangkir kopi. “Kau bisa
meninggalkan kami berdua sekarang.”
Clete bukan penyabar. Ia sudah bangun sejak pukul
04.00. la berganti pakaian dan membaca Post, mengisi
waktu sampai ia bisa menelepon Presiden di saat yang
menurutnya pantas. Penantian yang panjang itu memberinya
waktu untuk menumbuhkan amarah.
Ia tidak buang-buang waktu. “Aku mau ketemu
putriku. Hari ini.”
“Aku diberitahu kau pergi ke Highpoint kemarin.”
“Aku yakin kau juga diberitahu oleh si tolol yang
menyebut dirinya dokter itu, bahwa dia menolak
193
mengizinkan aku menjenguknya.”
“Sesuai permintaan Vanessa, Clete. Kau sudah minum
obat darah tinggi? Mukamu merah sekali.”
Ketenangan sikap menantunya mernbuat tekanan
darahnya makin tinggi. “Dengar, David, aku ingin tahu
apa yang tidak beres dengan Vanessa. Kenapa dia diisolir?
Kenapa ada perawat yang menjaganya selama 24 jam?
Kalau dia separah itu, seharusnya dia dimasukkan ke
rumah sakit.”
“Tenanglah, Clete, kalau tidak aku terpaksa membawamu
ke rumah sakit.” Merritt menuntun senator itu ke sofa,
lalu duduk di sampingnya. “Vanessa minum-minum.
Alkohol dan pengobatannya tidak sejalan. George dan
aku menanyainya soal itu, dan dia setuju untuk dirawat
karena ketergantungannya.”
“Ketergantungan? Apakah kondisinya begitu buruk
hingga diklasifikasikan seperti itu?”
“Secara klinis, aku meragukannya. Itu isti1ah Vanessa.
Tapi dia menyadari-beberapa gelas anggur sehari dapat
menimbulkan problem yang lebih serius jika dia tidak
menghentikannya sekarang.”
“Kenapa dia tidak bercerita padaku? Kenapa kau tidak
menceritakannya?”
“Aku ingin memberitahumu,” kata David. “Aku ingin
minta nasihatmu, tapi Vanessa berkeras kau jangan
diberitahu.”
“Kenapa?”
“Dia malu, Clete.” Merritt bangkit dan menuangkan
kopi lagi untuk dirinya “Dia tak ingin kau kecewa
padanya. Dia sangat memujamu.”
“Dan sebaliknya Dia selalu menceritakan masalah194
masalahnya padaku, dan aku menyelesaikannya untuknya.”
Vanessa baru berumur tiga belas tahun ketika ibunya
meninggal, namun Clete tidak panik ditinggal sendirian
untuk membesarkan putrinya Vanessa sejak dulu merupakan
anak kesayangan Daddy. Clete menyayanginya
sejak ia lahir dan lebih mempengaruhi masa kanakkanaknya
daripada istrinya.
Mungkin ia agak terlalu memanjakannya tapi ia
membenarkan sikapnya. Ada orang yang sejak lahir
memang sewajarnya dimanjakan, dan Vanessa termasuk
salah satunya. Pada awal kedewasaannya ketika gangguan
mentalnya ketahuan, Clete memandangnya sebagai satu
lagi alasan untuk memanjakan dan melindunginya.
“Mungkin dia merasa sudah waktunya untuk mulai
menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar David. “Atau
mungkin dia tak mau membuatmu khawatir. Apa pun itu,
pokoknya dia memohon padaku supaya tidak memberitahumu
lebih daripada yang diberitahukan pada masyarakat,
yang tentu saja adalah yang sebenarnya. Dia sedang
berusaha mengatasi masalahnya”
“Sampai kapan?”
“Sampai George bisa menstabilkannya. Vanessa sependapat.
Dia ingin menjadi Ibu Negara seperti waktu belum
punya anak. Begitu pengobatannya selesai, tak ada alasan
dia tidak dapat memperoleh keinginannya itu. Tunggu
sebentar,” David berkata, menunda komentar Clete
selanjutnya.
Merritt mengambil remote TV layar lebar yang sejak
tadi suaranya dimatikan. Selama percakapan mereka,
Clete menyadari perhatian David terbagi antara dirinya
dan layar TV. Ia menoleh untuk melihat apa yang telah
195
menarik perhatian sang Presiden.
Seorang reporter, berdiri di depan pepohonan hangus,
reruntuhan yang mengepulkan asap, dan petugas pemadam
kebakaran yang tengah bekerja, mengatakan, “Reaksi
cepat para petugas pemadam kebakaran mencegah api
menyebar ke rumah-rumah lain di jalan dekat Dupont
Circle ini. Api berhasil dibatasi hanya pada satu rumah.”
Kamera menyoroti sisa-sisa bangunan yang menghitam
dan berasap. “Pagi ini, para agen ATF dari Biro Alkohol,
Tembakau, dan Senjata Api, serta petugas kebakaran
setempat memeriksa puing-puing yang masih membara,
mencari petunjuk tentang penyebab ledakan.”
la membaca catatan. “Townhouse itu milik Barrie
Travis, reporter WVUE, sebuah stasiun TV lokal yang
independen. Ms. Travis baru-baru ini memperoleh pujian
karena memproduksi serial SIDS. Diyakini Ms. Travis
lolos dari ledakan, namun sejauh ini dia tak berhasil
ditemukan untuk dimintai komentar.”
Setelah itu pembaca berita di studio muncul. David
mematikan suara TV ketika ayah mertuanya bangun.
“Aku berniat terus mengejarnya sampai dia menemuiku.”
“Barrie Travis?” tanya David tajam.
“Buat apa aku ingin menemui wartawan itu? Kasihan
dia karena rumahnya lenyap, tapi dia itu memang
menyebalkan. Selalu merecoki kantorku untuk minta
pernyataan mengenai pengasingan Vanessa.” la mengibaskan
tangan, menunjukkan keinginannya untuk
menyingkirkan wanita itu.
“Aku ingin bertemu Vanessa” tegas Clete. “Dia harus
tahu aku tidak akan memarahinya hanya karena beberapa
gelas anggur. Bukan salahnya kalau dia sakit.”
196
“Persis dengan pendapatku, Clete . Aku memohon
padanya supaya tidak menyalahkan dirinya sendiri karena
masalah ini, tapi kau tahu sendiri bagaimana perfeksionisnya
Vanessa. Dia benci pada keterbatasan yang
ditimbulkan manic-depression terhadap dirinya.”
Merritt menepuk bahunya dan mengajaknya ke pintu.
“Aku berharap kita dapat bercakap-cakap lebih lama, tapi
pagi ini aku punya banyak sekali acara. Aku akan bicara
lewat telepon dengan Vanessa nanti siang. Akan
kusampaikan salammu.”
“Jangan lupa.”
Senator membiarkan punggungnya ditepuk dan dirinya
dituntun seperti anak kecil ke pintu. Tapi jika David
Merritt, Presiden Amerika Serikat, mengira ia dapat
menenteramkan hatinya dengan beberapa komentar
dangkal dan kemudian mendorongnya keluar dari Ruang
Oval dengan ucapan fasih dan senyum polosnya, ia salah.
David Merritt yang tersenyum membukakan pintu.
Clete Anubruster yang tak tersenyam menutupnya.
Merritt memandangnya, bingung. “Ada apa, Clete?”
“Kau dan aku sudah lama saling kenal, David. Aku
mengenali bakat dan potensi ketika melihatnya dan aku
melihat kau memiliki keduanya banyak sekali. Aku tak
ingin menjadi presiden, aku ingin menciptakannya. Kau
punya bahan mentah yang dibutuhkan. Kau mudah
dididik. Kau memahami politik dengan cepat. Instingku
tentang dirimu benar, dan aku sangat bangga padamu.”
“Terima kasih.”
“Tapi aku ingat suatu malam delapan belas tahun yang
lalu waktu kau datang padaku, ketakutan setengah mati
dan merengek-rengek seperti anjing karena situasimu
197
sangat kacau. Kau ingat malam itu, Nak?”
“Apa maksudmu?” tanya Merriu sengit.
“Maksudku,” kata Armbruster, sambil mendekat,
“insiden yang kukatakan tadi memiliki cukup banyak
kemiripan dengan yang ini hingga aku merasa amat tidak
enak.”
“Ya Tuhan, Clete, kau tidak boleh membandingkan...”
Senator menghentikan permohonan sungguh-sungguh
itu dengan memukulkan tinjunya ke dada Merritt. “Aku
tahu pernikahanmu dengan putriku tidak sempurna.
Pernikahan memang tidak ada yang sempurna. Aku tahu
kau main api. Sialan, aku bahkan menutupi perbuatanmu,
karena aku menerima kenyataan bahwa pertama kau
adalah laki-laki dan kedua kau menantuku. Aku mentolerir
sikapmu, karena pada dasarnya, kau membuat Vanessa
bahagia.” Ia memelankan suaranya menjadi geraman.
“Tapi kalau kau sampai membuatnya tidak bahagia, aku
akan marah, David. Kau dengar, Nak?”
“Hati-hati, Clete. Kedengarannya kau mengancam
Presiden Amerika Serikat.”
“Memang betul,” Arrnbruster marah. “Kau sebaiknya
ingat siapa yang menempatkanmu di kantor ini. Aku yang
menciptakanmu, aku bisa menghancurkanmu. Aku tidak
takut pada si bajingan kecil Spence Martin itu maupun
pasukan bandit rahasianya atau siapa pun. Aku punya
kekuasaan yang tak bisa kaubayangkan di kota ini. Aku
memiliki teman dan musuh yang sama banyaknya, dan
aku tahu kelemahan mereka masing-masing.”
Ia berhenti sebentar supaya setiap katanya tadi
meresap. “Nah, Nak, aku ingin kau mengatakan padaku
bahwa Vanessa akan sembuh total setelah Dr. Allan selesai
198
mengobatinya di Highpoint.”
“Aku bersumpah.”
Senator memandangnya dingin lama sekali. “Sebaiknya
kau tidak membohongi aku, David. Atau kau boleh
mengucapkan selamat tinggal pada kursi kepresidenanmu.”
Merritt mengantarkan ayah mertuanya keluar, lalu
tanpa buang-buang waktu menyalakan komputer dan
mengetikkan kode sekuriti yang mengakses laptop
Spence.
Nihil. Nihil! Komputer Spence tidak menjawab.
Komputer itu telah diprogram dengan beberapa backup
antigagal. Tidak mungkin mati total, kecuali laptop itu
telah dihancurkan. Jika itu yang terjadi, komunikasi
pribadi mereka akan ikut hancur, sebab kemungkinan itu
telah dimasukkan ke dalam program.
Tapi yang menjadi beban pikiran Merrin bukan sistem
komputer itu. Kegagalannya mengakses itulah yang
membuatnya resah. Itu merupakan pertanda ada yang
sangat tidak beres. Spence takkan membiarkan jalur
komunikasi mereka terhalang, kecuali dirinya terhalang
juga. Dan satu-satunya yang memungkinkan hal itu
terjadi adalah kalau Gray...
“Gray.”
Merritt mengucapkan nama itu seperti mengejek.
Santo Gray, satu-satunya kesalahan yang diakui Presiden.
Ia mengajak pria itu karena salah mengira sikap hatihatinya
sebagai sikap tanpa ampun. Siapa kira orang yang
dilatih untuk membunuh secara kilat dengan tangan
kosong ternyata penuh norma? Gray dan kode etiknya
seperti mur karatan di roda yang diminyaki dengan baik.
Namun, Gray Bondurant bukannya tanpa cacat. Ia
199
mencintai istri orang lain. Istrinya.
Kemungkinan bahwa Gray yang menyebabkan Spence
tidak melapor membuat Merritt takut dan jengkel.
Dengan marah ia mengetikkan kode yang mengakses
sebuah terminal di kantor tak mencolok di seberang kota.
Setelah mendapat izin, ia mengetikkan sepatah kata:
Bondurant.
Orang di ujung sana, salah satu serdadu rahasia paling
andal yang dimiliki Spence, akan tahu apa yang harus
dilakukan. Ia akan segera pergi untuk mengecek situasi di
Wyoming. Tak ada lagi yang dapat dilakukan Merritt
selain menunggu laporannya.
Tidak, sebetulnya ia bisa berbuat lebih dari itu. Ia
meminta sekretarisnya menghubungi kantor direktur Biro
Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api.
Setelah berbasa-basi, Merritt bertanya, “Apa yang
berhasil diketahui orang-orangmu tentang ledakan di
Dupont Circle?”
la tahu direktur itu bingung karena ia menaruh minat
pada hal itu, namun pria itu langsung menjawab. “Kami
baru saja memulai penyelidikan kami, Mr. President. Saat
ini, penyebabnya belum ketahuan.”
“Barrie Travis adalah teman dekat Mrs. Merritt.
Ledakan ini membuat istriku kacau, dan terus terang, Ibu
Negara tidak memerlukan lebih banyak stres. Aku
berjanji padanya akan menelepon dan menanyaimu. Aku
tidak suka merepotkanmu, tapi tahu sendirilah.”
Tidak lagi seheran tadi, direktur itu berkata, “Tentu
saja, Mr. President, saya mengerti. Tolong sampaikan
pada Mrs. Merritt bahwa kami menomorsatukan masalah
ini.”
200
“Dan kau akan mengungkapkannya secepat mungkin?”
“Akan saya jadikan prioritas, Mr. President.”
“Mrs. Merritt dan aku akan sangat berterima kasih.
Oya, ada yang sudah bicara dengan Miss Travis pagi ini?
Bagaimana keadaannya?”
“Maaf Sir, saya tidak tahu. Tidak ada yang pernah
bertemu dengannya sejak ledakan itu. Para saksi yang
melihatnya segera setelah ledakan mengatakan dia sangat
kacau. Anjingnya tewas dalam ledakan itu.”
“Hmm. Mengerikan. Yah, terus kabari aku.”
“Tentu, Mr. President.”
Merritt menutup telepon, namun pikirannya tetap
resah. Spence pasti telah memastikan agar ledakan itu
takkan bisa dilacak sampai Gedung Putih. Biarpun
begitu, akan lebih baik kalau penyelidikannya dilakukan
asal-asalan.
Pagi ini memang tidak menyenangkan.
Merritt tidak mengkhawatirkan ancaman ayah mertuanya.
Senator itu tidak semengerikan yang dikiranya.
Sebagian besar teman dan musuh yang digembargemborkannya
tadi sudah pensiun, meninggal, atau
terlalu pikun untuk menghancurkan presiden yang sedang
naik daun.
Lagi pula, senator itu takkan bisa menjelek-jelekkan
Presiden tanpa membuka aibnya sendiri. Clete sama
busuknya dengan dia. Biarpun ribut mengancam, ia
takkan mengungkit-ungkit masa lalunya.
Tapi orang tua itu akan terus merecokinya soal Vanessa
sampai ia yakin anaknya baik-baik saja. Ia harus
melakukan sesuatu untuk meredakan keresahannya. Nanti
ia akan bertanya pada Spence...
201
Ia mengumpat keras. Ada beberapa masalah yang perlu
ditanyakannya pada Spence. Di mana orang itu?
Meskipun jauh di lubuk hati ia tahu, David tak sanggup
membuat dirinya menerima fakta yang sudah jelas itu.
202
Bab Tujuh Belas
“AKU memang tak pernah menyukai orang itu, tapi tetap
saja sulit rasanya untuk percaya dia tega berbuat begitu.”
“Dia tega melakukannya. Dengan mudah.”
“Siapa yang tega berbuat apa?” tanya Barrie, masuk ke
dapur Daily, tempat pria itu dan Gray sedang minum
kopi. Barrie menuang secangkir untuk dirinya sendiri dan
bergabung dengan mereka di meja. Ia tak mau menatap
mata Bondurant. Seperti yang diramalkan laki-laki itu, ia
tidur pulas.
Setelah saling mengucapkan selamat pagi, Daily
menjawab, “Gray sedang meyakinkan aku bahwa presiden
kita tega melakukan pembunuhan.”
“Aku tak punya bukti tentang apa yang akan kukatakan
pada kalian,” Gray berkata. “Kalian mungkin menganggap
aku berkhayal, atau paranoid, atau pembohong besar.”
“Atau kami mungkin percaya padamu,” kata Barrie.
Gray menoleh, dan untuk pertama kali pagi itu, mata
mereka bertemu. Perut Barrie langsung mulas. Cepatcepat
ia mengalihkan perhatiannya kembali pada kopinya.
“Well, mari kita dengarkan,” ujar Daily.
“David menugaskan aku untuk mengorganisir dan
memimpin para tentara yang menyelamatkan sandera203
sandera itu. Ada alasannya.”
“Kau sangat memenuhi syarat?”
“Banyak orang lain juga begitu. Tapi dia mengirimku
ke sana supaya aku mati.”
“Karena gosip yang menghubungkan kau dengan
Vanessa?” tanya Barrie.
“Ya.”
la terdiam selama beberapa saat, seolah mengumpulkan
ingatan. “Aku memilih 30 orang. Tentara-tentara terbaik
yang ada di Marinir. Orang-orang muda ini mampu
mengendap-endap mendatangimu dan mencabut sehelai
bulu matamu tanpa ketahuan.
“Kami diterbangkan ke sana dengan helikopter dari
kapal pengangkut di Teluk Persia. Satu skuadron F-16
mengalihkan perhatian supaya kami bisa mendarat tanpa
ketahuan. Kami berjalan tiga mil sampai ke kota. Aku
tidak bisa menggambarkan betapa busuk bau kota itu. Di
mana-mana kotoran. Seluruh anggaran nasional negara
itu dipakai untuk perang; tak sepeser pun untuk sanitasi
dan kualitas hidup.
“Tempat itu penuh gedung kuno dan jalan buntu,
namun pihak intel telah memberitahu kami lokasi
penjaranya, dan kami tahu bagaimana akan memasukinya.
Kami memiliki cetak biru gedung itu dan deskripsi
mendetail penjagaan keamanannya dari seorang mantan
tawanan. Sekuritinya tidak canggih ataupun teratur rapi,
tapi para penjaganya anggota militer dan bersenjata
lengkap. Kami juga tahu lokasi sel-sel tempat para
sandera disekap. Tak perlu kukatakan bahwa kami telah
melatih dan memperhitungkan setiap tindakan.
“Semua berjalan sesuai rencana. Kami membereskan
204
para penjaga tanpa mereka sempat tahu apa yang
menyerang mereka. Ketika kami menemukan para
sandera, aku khawatir mereka akan membuyarkan
semuanya, tapi mereka ternyata amat tenang dan
mematuhi bahasa isyarat kami tanpa banyak cincong.
Beberapa di antara mereka menderita luka yang tidak
diobati. Semua lemah karena sakit dan kekurangan
makan, namun mereka bisa berjalan. Kami sudah
setengah perjalanan pulang.
“Dan pada saat kami pulang itulah semuanya mulai
berantakan. Beberapa penjaga telah menyeret seorang
tawanan laki-laki yang masih muda ke sel kosong dan
secara bergantian ‘mengerjainya’. Karena mereka mestinya
tak ada di sana, dan bagian penjara yang itu seharusnya
tertutup, kami langsung masuk perangkap. Suasana
hiruk-pikuk. Terdengar tembakan senjata dari kedua
belah pihak. Peluru pertamaku menembus anak laki-laki
itu.”
la terdiam. Barrie dan Daily tak berkedip sedikit pun.
“Dia. uh... dia tak mungkin lebih dari sembilan atau
sepuluh tahun.” Gray memejamkan mata dan memijat
rongga matanya dengan ibu jari dan jari tengah. “Di
bagian belakang kakinya mengalir darah segar. Lantai
licin oleh darah itu. Aku yakin isi perutnya sudah
berantakan. Bangsat-bangsat itu telah... Yah, dia menjeritjerit.
Karena kehilangan darah sebanyak itu, dia takkan
bertahan hidup. Dia kesakitan. Jadi kutembak dia.”
Dari balik air mata yang membasabi matanya, Barrie
melihatnya mengambil cangkir kopi, namun tidak
meminum isinya. Ia hanya memeganginya dengan kedua
tangannya yang kokoh.
205
“Kami menghujani bajingan-bajingan terkutuk itu
dengan peluru, tapi tentu saja kami gagal. Kami masih
barus melalui... Ya Tuhan, entah berapa koridor lagi. Para
sandera sudah tidak tenang. dan ketakutan.
“Tapi kami bertekad tidak mau mati di sarang ular itu.
Entah bagaimana kami berhasil keluar dari situ, namun
saat itu pihak militer telah diberitahu. Kami dikepung
pasukan cinta senjata yang membenci Amerika. Begajulbegajul
sinting itu menembaki apa saja yang bergerak—
bahkan teman-teman mereka sendiri karena mereka haus
darah kami.
“Kami menamukan tempat perlindungan sementara.
Aku menghubungi regu pendukung udara lewat radio,
untuk mengecek apakah mereka bisa membantu kami
keluar. Mereka melakukan tugas mereka, tapi helikopterhelikopter
itu tak bisa lebih dekat daripada tempat yang
telah direncanakan. Kalau sampai mereka tertembak,
kami semua akan mati.
“Salah satu anggota pasukanku mengintip dan
menemukan gang yang kelihatannya aman. Kami berlari
ke sana, meskipun tidak tahu ke mana gang itu berujung.
Saat itu, kami cuma ingin pergi dari penjara.
“Tapi begitu sampai di gang, kami mulai ditembaki
oleh para sniper yang mengambil tempat di atap. Orangorangku
membereskan para penembak itu satu demi satu,
tapi selama sekitar lima menit kami terperangkap nyaris
tanpa tempat berlindung. Saat itulah peristiwa itu terjadi.”
la mengangkat kepala, lalu menatap Barrie dan Daily
sebelum melanjutkan, “Kami melihat tembakan sniper itu
datang dari jendela terbuka gedung yang tampak seperti
gedung apartemen. Seseorang mengusulkan-menembak206
kan misil ke situ, tapi David mendesakku untuk
menghindari korban warga sipil jika memungkinkan. Dia
ingin ini jadi misi penyelamatan, bukan aksi agresif yang
bakal menimbulkan ketegangan di masyarakat dunia.
“Kami terjebak, satu-satunya pilihan kami adalah
memancing tembakan si sniper dan membiarkan salah
satu penembak kami menghabisinya. Aku mengajukan
diri sebagai umpan. Kubuat diriku menjadi sasaran
terbuka. Orang-orangku menyikatnya. Tapi dalam tembakmenembak
itu, salah seorang anggota pasukanku
mengarahkan senjatanya padaku.
“Namanya Ray Garrett. Dia pria bertubuh besar dan
tegap dari Alabama. Aku tumbuh di Louisiana, jadi kami
sering bercanda tentang asal-usul kami yang dari Selatan.
Aku memilih dia merancang strategi bersamanya,
berlatih dengannya Tapi dia malah ingin membunuhku.
Dan pasti akan berhasil, kalau saja kami tidak melakukan
kontak mata.
“Dia pasti merasakan keraguan sedetik lamanya, dan
itu menyelamatkan nyawaku. Dia ragu-ragu sedetik
terlalu lama untuk menembak. Saat itulah penembak
musuh menamatkan riwayatnya.”
Beberapa saat Gray menatap kosong, lalu menarik
napas dalam-dalam. “Kisah selebihnya, kurang-lebih
kalian sudah tahu. Setelah enam jam yang menyiksa,
kami berhasil mencapai helikopter. Kami bahkan membawa
mayat Garrett, dan dia dimakamkan sebagai pahlawan.”
“Mungkin kau salah,” Barrie mencoba-coba dengan
suara pelan. “Dalam situasi kacau...”
“Tak mungkin aku salah membaca niatnya. Dia cuma
tiga meter dariku. Tak ada yang melihat kecuali aku.”
207
“Ingat kesalahan Presiden?” tanya Daily . “Ketika
diumumkan misi itu menelan satu korban di pihak
Amerika, Merritt membuat pidato seolah kau yang
meninggal.”
“Aku lupa soal itu,” potong Barrie. “Kesalahan bicara
itu terlupakan oleh kehebohan yang ditimbulkan oleh
kepulangan kalian yang penuh kemenangan. Tapi aku
ingat betapa memalukan kejadian itu bagi Dalton Neely.
Dia mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan
kesuksesan misi dan kembalinya para sandera dengan
selamat. Lalu dia membacakan pernyataan singkat dari
Presiden, yang memujimu karena telah mengorbankan
nyawa bagi negaramu. Dia berkata tak ada tentara dan
patriot yang lebih hebat daripada Gray Bondurant, tak
ada sahabat sebaik kau. Para hadirin mencucurkan air
mata.”
“Waktu David mendengar ada korban jatuh, dia
menduga pembunuhnya berhasil melenyapkan aku. Dia
membuat pernyataan itu sebelum mengecek fakta-fakta.”
“Bagaimana mereka tahu anak muda itu bisa disogok?”
tanya Daily.
“Aku tak percaya dia seperti itu,” kata Gray,
mengejutkan mereka berdua. “Garrett tak mungkin
disuap dengan materi. Aku yakin Spence, bertindak
sebagai juru bicara Presiden, mendekatinya dan mengatakan
padanya bahwa aku pengkhianat, mata-mata,
ancaman untuk demokrasi, yang seperti itulah.
“Garrett anggota Marinir yang sangat andal, namun
dia bukan anak ajaib. Ketika dia menodongkan senjata itu
padaku, dia pasti sedang melaksanakan perintah yang
datang langsung dari Panglima Tertinggi. Jika kurang
208
dari itu, dia takkan mau mengkhianatiku, biarpun maut
ancamannya. Aku tidak menyalahkan dia. Dia cuma pion
bagi David dan Spence. Mereka juga membunuhnya,
sama seperti sniper musuh itu.”
“Apakah kau mengkonfrontasi Merritt mengenai hal
ini?” tanya Barrie.
“Tuhan tahu betapa ingin aku melakukannya namun
tak bisa tanpa mengungkapkan diriku dan membuatku
makin tak berdaya.”
“Tapi kau toh pergi juga.”
“Aku mengundurkan diri bukan karena takut,” Gray
menjawab dengan ketus.
Daily, yang tadi berkomentar, mengangkat tangan
sebagai tanda menyerah. “Jangan tersinggung. Aku tak
bermaksud apa-apa.”
“Aku mundur dari jabatanku di Gedung Putih karena
tidak ingin melayani David Merritt.”
“Tapi kau tetap merupakan gangguan baginya Tibatiba
Wyoming rasanya terlalu dekat dengan Gedung
Putih.”
Gray mengangguk. “David tahu aku menentang
kehendaknya. Pertama soal Garrett, kedua soal bayi
Vanessa. Aku merupakan masalah yang tak pernah
terselesaikan, jadi dia mengutus Spence agar membereskan
aku untuk selamanya.”
“Gara-gara aku,” kata Barrie sendu.
“Pasti akan terjadi juga, cepat atau lambat. Sudah lama
aku menunggu. David tak berani melenyapkan aku waktu
aku masih menjadi sorotan publik dan dipandang sebagai
pahlawan nasional. Jadi dia purapura menyukai dan
menikmati pujian-pujian yang kudapatkan.
209
“Begitu perhatian publik mereda, dia mengira bisa
lebih mudah menyingkirkan aku tanpa menarik perhatian.
Dengan atau tanpa kau, Barrie, itu cuma masalah waktu.”
“Karena sekarang sudah tahu masalahnya, bagaimana
cara kita menyelesaikannya?” tanya Daily . “Umurku
takkan lama lagi, tapi aku tak mau menghabiskan harihari
terakhirku di penjara federal gara-gara mengancam
akan menghancurkan Presiden.”
“Begitu fakta sebenarnya tentang kematian bayi itu
tersebar luas, pemerintahan ini akan mati secara alami,”
Gray menenangkannya.
“Aku sependapat,” ujar Barrie. “Masalah itu tak perlu
dipikirkan. Aku sangat memprihatinkan Vanessa. Saat ini,
dia ancaman terbesar bagi Merritt.”
“Aku sama sekali tak percaya omong kosong ‘istirahat’
ini. David mengucilkannya di suatu tempat.”
“Untuk tujuan apa, Gray?” tanya Daily.
“Untuk mengintimidasinya supaya tutup mulut
mengenai sebab bayinya meninggal: Aku tahu cara
berpikirnya. Baginya, Vanessa mendapat ganjaran yang
sudah sepantasnya. Dia akan mencoba meyakinkan
wanita itu bahwa dia sendirilah yang telah menimbulkan
bencana itu dengan mengkhianatinya. Tergantung metode
persuasi apa yang digunakannya, Vanessa mungkin akan
bertahan, mungkin juga tidak.”
“‘Metode persuasi’?”
“Memikirkannya saja aku tak tega.”
“Bagaimana dengan Armbruster? Apakah dia sudah
pasrah dan pura-pura tidak tahu?”
“Aku sendiri pun ingin tahu, Daily. Tapi sampai tahu
lebih banyak, aku lebih suka tidak melibatkannya dan
210
bekerja sendiri.”
“Apa yang akan kaulakukan?” tanya Barrie.
“Aku punya beberapa ide.”
Daily berkata, “Kau boleh menggunakan rumah ini
sebagai basis operasimu.”
“Terima kasih, tapi aku tak ingin menyeretmu dalam
bahaya juga.”
Daily tertawa. “Apa ruginya buatku? Lagi pula, ini
tempat aman. Takkan ada yang mencarimu di sini.”
“Dia juga bilang begitu tadi malam,” kata Gray,
mengangguk ke arah Barrie.
“Dia tak mau menyebarluaskan persahabatan kami,”
Daily menjelaskan.
“Kenapa?”
“Itu masalah pribadi antara Daily dan aku,” Barrie
membentak.
Daily berkata, “Tapi kau boleh percaya kata-kataku,
Gray. Ini tempat paling aman buatmu.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Gray bertanya
pada Barrie.
“Dia memang sudah punya masalah dengan kantornya,”
Daily menjawab untuk Barrie. “FBI mendatangi kantornya
dan bertanya-tanya soal dia.”
Gray mengerutkan kening. “Bukan FBI biasa— orangorang
Spence, aku yakin. Dia ingin menjaga segala
kemungkinan. Barrie, berapa orang di stasiun TV-mu
yang tahu soal berita ini?”
“Aku tidak membicarakannya dengan siapa pun.”
“Teman.”
“Tidak ada kecuali Daily.”
“Pacar?”
211
Merasa ada ejekan di balik pertanyaannya, Barrie
membantah dengan sengit.
“Bagus,” kata Gray. “Makin sedikit orang yang tahu
mengenai hal ini, makin bagus.”
Daily berkata, “Setelah tadi malam, kurasa dia
sebaiknya menahan diri, paling tidak sampai kita tahu apa
yang terjadi dengan Mrs. Merritt.”
“Tepat.” Gray berpaling pada Barrie. “Tinggallah di
sini bersama Daily dan jangan keluar-keluar. Biarkan aku
membereskan masalah ini. Tapi aku berjanji, kau akan
jadi orang pertama yang tahu beritanya.”
“Oya? Wah, terima kasih banyak.” Barrie memandang
mereka berdoa dengan marah. “Kalian membicarakan
aku seolah aku tidak ada di sini. Kalian bahkan
menyusunkan rencana untukku. Yah, terima kasih, tapi
tidak usah. Beginilah seharusnya.”
“Maaf, Nona, area ini tertutup.”
“Itu rumahku. Aku tinggah di sana. Aku Barrie
Travis.”
Persis seperti perkiraannya, kata-kata ito bagai tongkat
sihir. Dalam beberapa detik, ia dikerumuni reporter yang
sejak tadi luntang-lantung dengan juru kamera mereka,
menunggu pernyataan dari seseorang, siapa saja, petugas
resmi.
Wawancara dengan para tetangga dan saksi mata
benar-benar melelahkan, namun cerita mereka sama saja.
Semua sudut telah diliput. Tak ada hal baru untuk
dilaporkan. Saat ini pihak berwenang enggan berspekulasi
mengenai penyebab ledakan. Agen-agen penyelidik ATF
menutup mulut rapat-rapat. Tak ada yang mau bicara.
Sekarang, tiba-tiba, muncul Barrie Travis yang selama
212
ini entah di mana. Aneka mikrofon dan kamera video
diarahkan padanya. “Seperti yang bisa kalian lihat,
rumahku hancor total. Tinggal ini yang kumiliki,” ia
berkata, seraya membentangkan lengan. “Tapi kehilangan
yang paling besar adalah anjingko. Cronkite, yang mati
akibat ledakan itu.”
“Di mana Anda sejak ledakan itu terjadi?”
“Kenapa sebelum ini Anda tidak muncul?”
“Anda tahu penyebabnya?”
Barrie mengangkat tangan untuk menghentikan hujan
pertanyaan itu. “Mengenai penyebabnya, saya serahkan
pada pihak berwenang untuk menjawabnya.
“Apakah menurut Anda itu kecelakaan?”
Barrie memandang reporter itu dengan tajam, seolah
pertanyaannya absurd. “Tentu saja itu kecelakaan. Apa
lagi, coba? Kalau penyelidikan sudah selesai, aku yakin
pasti ada penjelasan logis.”
Gray sudah mengatakan Spence pasti akan memastikan
hal itu.
“Sekarang, kumohon, permisi...”
Mereka membuntutinya ke mobilnya, yang masih
terparkir di tempat yang sama dengan ketika ledakan
terjadi. Beberapa reporter yang ngotot bahkan mengikutinya
ke WVUE, tapi ia menghindari mereka di tempat
parkir, tak mau berkomentar lebih lanjut. Polisi swasta di
pintu menghalangi mereka mengikutinya ke dalam.
Sejam yang lalu ia telah menolak saran Gray dan Daily
untuk bersembunyi. “Aku tak suka bergerak di bawah
tanah,” tukasnya sengit. “Pertama, karena kupikir itu tak
ada gunanya. Jika sistem intelijen Spence sehebat yang
kaukatakan, mereka akan tetap menemukanku.
213
“Kedua, pekerjaanku adalah melaporkan berita.
Ironisnya, sekarang akulah yang membuat berita. Aku
pasti sudah sinting kalau tidak memanfaatkan ketenaranku
saat ini semaksimal mungkin.
“Ketiga, semakin sering aku tampil di muka umum,
semakin kurang kemungkinan terjadi lagi ‘kecelakaan’
fatal padaku. Seperti yang kaukatakan tadi tentang
dirimu, Gray, Merritt takkan bertindak selama aku
menjadi sorotan publik.”
“Hebat sekali, Bondurant,” tukas Daily masam.
“Merritt bukan orang tolol,” lanjut Barrie. “Dia tak
bisa mencoba menghabisi nyawaku untuk kedua kalinya
tanpa tampak sangat mencurigakan bahkan bagi orang
yang paling naif sekalipun. Tidak, Tuan-tuan,” Barrie
berkata, “selama aku kelihatan, aku akan aman.”
Sekarang berita bahwa ia berada dalam gedung
menyebar bagai lidah api liar. Howie tiba di bilik Barrie
lebih cepat daripada biasanya dan mengusir semua orang.
Kalimat pembukanya adalah, “Ya ampun, Barrie, kami
kira kau sudah jadi arang.”
“Maaf telah mengecewakanmu.”
“Aku cuma mencoba ramah.”
Mungkin benar, karena ia kelihatan betul-betul kecewa
dengan reaksi Barrie. “Kau mau berita eksklusif untuk
warta berita malam ini?” ia bertanya. “Wawancara
denganku, apa adanya.” la harus mengenakan pakaian
yang sama dengan yang dipakainya semalam. “Tampak
memelas dan payah. Aku mungkin bahkan bisa memeras
setetes-dua tetes air mata untuk close up.”
Mata Howie berbinar-binar. “Hebat!”
“Besok aku akan membuat berita lanjutan, tentang
214
pengalaman nyaris tewas, berhadapan dengan kefanaan
seorang manusia—yang seperti itulah. Aku akan berusaha
memperoleh rekaman suara dari pendeta dan psikolog
yang biasa menangani korban-korban trauma. Mungkin
akhir minggu ini para penyelidik sudah menentukan
penyebab ledakan.”
“Secepat itu?”
“Aku ragu penyelidikannya akan lama” Barrie berkata
dengan nada masam yang tidak ditangkap Howie.
“Bagaimanapun, sesudah mengetahui keputusan mereka,
aku akan membuat liputan tentang bagaimana mereka
menghubungkan bukti-bukti untuk merekonstruksi kejadian
dan menemukan penyebabnya.”
“Wow, menggairahkan. Aku cuma ingin memujimu,
tidak ada niat melecehkan secara seksual.” Setelah
menoleh ke belakang dengan hati-hati, Howie berbisik,
“Ada kemungkinan ledakannya disengaja? Ada yang
mengetahui berita eksklusif yang tengah kaugarap?
Bisakah beritamu dan ledakan itu dihubungkan?”
“Kau terlalu banyak menonton film-film Sylvester
Stallone, Howie. Tak mungkin ada hubungan. Berita
besarku itu?” Barrie berkata sambil tertawa mengejek.
“Tak ada apa-apanya dibandingkan rumahku yang
meledak persis di depan batang hidungku. Jadi kau dan
Jenkins bisa rileks. Aku sudah berhadapan langsung
dengan kematian. Percayalah, hal itu membuat pandanganmu
tentang hidup langsung berubah secepat ini!” Ia
menjentikkan jari-jarinya. “Mulai sekarang, kau akan
melihat Barrie Travis yang baru.”
Gray pernah bilang ia tidak pandai berbohong. Barrie
berharap laki-laki itu salah.
215
“Yah, aku sangat senang mendengarnya,” kata Howie,
sambil membusungkan dada. “Aku sudah tahu kalau kau
kupertahankan, kau akan bagus juga akhirnya.”
Di balik senyum manisnya, Barrie mengertakkan gigi.
216
Bab Delapan Belas
PRESIDEN menyalurkan rasa frustrasinya di ruang
olahraga pribadinya di Gedung Putih. Diperlakukannya
Stairmaster dan alat-alat olahraga lainnya sebagai musuhmusuh
yang harus ditaklukkan. Keringat menetes dari
hidung, telinga, dagu, dan ujung jemarinya. Otot-otot
kencang bertonjolan ketika ia menggerakkannya sampai
maksimal.
Orang yang diutusnya untuk mengecek situasi di
Wyoming telah menghubunginya tadi pagi lewat komputer.
Laporannya tak sesuai dengan keinginan Merritt. Tampaknya
Spence tak pernah mendatangi tempat Bondurant.
Ketika ditanya apa yang dikatakan Bondurant tentang hal
itu, si utusan menjatuhkan bom kedua—jejak Bondurant
juga lenyap sama sekali.
Meski sudah mendapat laporan seperti itu, Merritt
yakin Spence pernah ke sana. Ia cuma menutupi jejaknya
dengan hati-hati. Ia juga yakin Gray tak mungkin
menghilang tanpa alasan kuat. Dari situ ia menduga Gray
telah membungkam Spence sebelum Spence punya
kesempatan membungkamnya.
Jika dugaan itu benar, berarti Gray sudah mengetahui
rencana mereka. Pikiran itu begitu dahsyat, begitu
217
mengerikan, hingga Merritt langsung menyepi di ruang
olahraga. Ia butuh waktu sendirian untuk berpikir, untuk
menyusun rencana.
Gray takkan takut menentang kepresidenan. Hambatan
yang akan membuat takut dan gentar orang lain yang
menentang Gedung Putih takkan meresahkannya. Ia juga
takkan pernah menyerah dan pergi. Kalau Gray
menganggap dirinya benar, tak ada yang dapat menghentikannya
dalam mempertahankan pendapatnya. Keyakinannya
sekeras Gibraltar. Sikapnya itulah yang membuat
Merritt membencinya.
Ketika disumpah sebagai presiden, ia punya rencanarencana
hebat untuk mereka bertiga. Ia sendiri dikaruniai
cukup karisma dan kepandaian berpolitik hingga mampu
meyakinkan Kongres dan negara mengenai apa pun.
Spence merupakan tukang pukul tanpa ampun trio
mereka. Ia tidak membutuhkan alasan, ia langsung
bertindak, dengan efisien dan hati-hati. Gray adalah
pakar strategi. Ia memandang setiap situasi dari semua
sudut dan selalu memilih pendekatan yang terbaik.
Bersama-sama, mereka bisa menjadi tiga orang paling
berkuasa di dunia.
Kalau saja Gray tidak berminat pada istrinya dan
punya hati nurani.
“Bangsat goblok,” gumam Merritt ketika turun dan
meraih handuk kecil. Ketika ia mengelap wajah dan
tengkuk, seseorang mengetuk pintu. “Masuk.”
Seorang agen Dinas Rahasia membukakan pintu. Gray
Bondurant berdiri di sampingnya.
“Mr. President,” kata agen yang tersenyum itu, “saya
punya kejutan untuk Anda.”
218
Merritt tersenyum lebar, yang di wajahnya terasa
seperti retakan di lempengan beton. “Gray! Ya Tuhan, ini
benar-benar mengejutkan.”
Gray tersenyum, meskipun, seperti biasa, tak ada
kehangatan di matanya. “Aku mengambil risiko Anda
punya waktu cukup lama untuk bertemu denganku.”
Ditatapnya Merritt dari kepala sampai kaki dengan
tatapan puas. “Negara dapat tidur dengan nyenyak, Mr.
President. Anda tampak cukup fit untuk mengalahkan
semua musuh sendirian, baik dari dalam maupun luar
negeri.”
Dengan berjabatan tangan dan saling menepuk punggung,
mereka bersandiwara. Tak ada alasan bagi agen
Dinas Rahasia itu untuk meragukan persahabatan mereka.
Desas-desus tentang perselisihan di antara mereka telah
dibantah dengan tegas.
Merritt harus menggunakan seluruh kemampuan
aktingnya untuk menutupi kemarahannya. la telah
diserang mendadak oleh pakarnya. Bukankah ia barusan
berpikir tentang betapa andalnya Gray sebagai ahli
strategi? Ini penyergapan yang sudah direncanakan
masak-masak, tapi dibuat agar tampak tak sengaja. Gray
datang langsung dari gunung, tanpa pemberitahuan dan
begitu telak. Staf Gedung Putih mengenalnya dengan
baik dan takkan curiga. Ia datang untuk menjenguk
sobatnya sang Presiden, dan betapa baiknya ia mau
berbuat begitu.
Yang paling membuat Merritt sakit hati adalah ia harus
mengikuti permainan Gray, paling tidak sampai tahu apa
tujuan laki-laki itu. Setelah mereka tinggal berdua, ia
berjalan ke bar. “Apa yang bi sa kuambilkan?”
219
“Apa saja yang ada.”
Merritt menuangkan dua gelas jus jeruk. “Brengsek,
senang bertemu denganmu,” katanya, menyentuhkan
gelas mereka untuk bersulang.
“Jangan sampai aku mengganggu acara olahraga
Anda.”
“Aku memang sudah mau berhenti kok. Tidak sanggup
lagi selama dulu,” kata Merritt sambil meringis mengejek
diri sendiri.
“Aku meragukannya.”
“Keberatan kalau aku masuk whirlpool?”
“Sama sekali tidak.”
Merritt melepas celana pendeknya dan melangkah
memasuki air yang berputar dan berbuih. Uap bergumpalgumpal
naik dari kolam itu. “Ahh, segar rasanya. Mau
bergabung?”
“Tidak, terima kasih.” Gray menyeret kursi ke tepi
whirlpool dan duduk.
“Ubanmu makin banyak.”
“Turunan,” jawab Gray . “Bukankah aku pernah
bercerita ayahku sudah beruban biarpun masih muda?”
Pada dasarnya, Gray tidak berubah. Tubuhnya masih
tegap dan kencang, ekspresi wajahnya tetap dingin.
Perasaan iri jarang dirasakan oleh orang yang berjuang
sendiri keluar dari taman trailer hingga berhasil memasuki
Gedung Putih; namun perasaan irilah yang menjadi dasar
kebencian Merritt terbadap Gray.
Ia lebih tampan daripada Gray. Bahkan barangkali
lebih cerdas. Secara fisik, mereka sama kuat.
Tapi Gray memiliki rasa percaya diri dan moralitas tak
tergoyahkan yang membuatnya bisa menatap mata semua
220
orang tanpa gentar. Bahkan di masa lalu, ketika mereka
masih tergabung di Korps, lama sebelum perselisihan
mereka, selalu saja Merritt yang membuang muka lebih
dulu ketika beradu pandang dengan Gray. Ia membenci
ketenangan Gray dalam menjaga martabat dan kewibawaannya.
Ia kesal padanya karena prinsip-prinsipnya,
sementara pada saat yang sama ia diam-diam iri pada
kekuatan tambahan yang ditimbulkan oleh prinsipprinsip
itu pada diri laki-laki itu.
“Perutmu masih rata,” Merritt mengamati. “Aku
senang melihat Wyoming tidak membuatmu kendur.”
“Tempat itu keras, tapi kalau aku tidak berpengalaman
di Washington, aku tak mungkin bisa menaklukkannya.”
Merritt terkekeh. “Aku merindukan selera humormu.
Kering seperti debu, tapi kau selalu bisa membuatku
tertawa.” Ia merentangkan tangan di sepanjang bibir
whirlpool itu. Mengira sudah tahu jawabannya, ia
bertanya, “Apa yang membuatmu datang ke Washington?”
“Seorang wanita.”
Merritt tak siap dengan jawaban itu. Gray melemparkan
umpan berbahaya lagi. Ia menyembunyikan kekagetannya
dengan tertawa. “Wanita? Seorang wanita akhirnya
berhasil membuat Bondurant sang penakluk bertekuk
lutut? Sulit dipercaya.”
“Menyedihkan, namun betul.”
“Yang benar saja,” erang Merritt. “Jangan hancurkan
bayanganku tentang dirimu dengan mengatakan kau
sekarang punya perasaan. Kau belum berubah jadi ‘lakilaki
sembilan puluhan’, kuharap.”
Gray tersenyum muram. “Takkan pernah. Itu sebabnya
221
yang satu ini sangat cocok dengan seleraku. Dia enak
dipandang, suaranya bagai milik bintang film porno, dan,
yang paling bagus, dia tidak terlalu pandai.”
“Apakah cewek ajaib ini punya nama?”
“Barrie Travis.”
Merritt mengernyit. “Kau pasti bercanda. Dia sangat
menyebalkan. Setuju, suaranya memang seksi. Wajah dan
tubuh pantas diberi nilai tinggi. Tapi, Gray, sobatku, dia
duri di dalarn daging. Jika dia melihat ada yang lebih dari
sekadar seks dalam suatu hubungan, dia akan menempel
bagai lintah padamu dan kau takkan bisa melepaskannya.
Kau yakin tahu kau bergaul dengan siapa?”
“Saat ini aku menggaulinya.”
Mereka berdua tertawa mesum. “Itu tidak mungkin
tidak enak,” Merritt mengakui.
“Cukup enak sehingga aku rela meninggalkan
peternakanku dan kembali kemari.”
“Sampai kapan?”
Gray mengangkat bahu. “Sampai aku selesai dengannya
dan pulang.”
Merritt menghabiskan jus dan meletakkan gelas di
bibir kolam, lalu keluar. Ia melingkarkan handuk di
pinggang dan duduk di kursi dekat Gray. Meneruskan
pembicaraan ini dengan mantan temannya mungkin akan
membuatnya terlibat dalam urusan yang lebih panas
daripada air yang barusan ditinggalkannya, tapi ia tak bisa
menahan diri. Jika Gray bisa melanjutkan parodi reuni
bersahabat ini, ia juga bisa. Kalau menyangkut akting, ia
jauh lebih hebat daripada Gray.
“Di mana kalian bertemu? Aku ingin mendengar
semua detailnya.”
222
“Dia mencariku. Pada suatu hari minggu lalu tiba-tiba
dia muncul begitu saja.”
“Untuk apa?”
“Berita. Tepatnya sudut pandang baru berita lama. Dia
ingin membuat liputan lanjutan tentang misi penyelamatan
sandera yang dulu itu.”
“Dan kau tidak menyuruhnya pergi? Kau kan tidak
pernah menyukai reporter?”
“Bukan pekerjaannya yang kugauli, David.”
Merritt tertawa. “Betul, kan? Selera humor kering itu
lagi.” la mengerutkan alis. “Aku baru ingat. Rumahnya
terbakar semalam.”
“Yeah. Memang sangat menyedihkan.”
“Aku melihatnya di warta berita tadi pagi, bicara
dengan reporter. Dia penuh semangat.”
“Itulah yang membuatnya menantang.”
“Jadi, di mana kalian tinggal? Hotel?”
“Tidak, di rumah teman.”
Teman Barrie Travis adalah pensiunan wartawan
bernama Ted Welsh. Biarpun Spence sedang tidak ada,
jaringan intelnya memberi Merritt foto-foto Welsh ketika
mengenakan jubah mandi dan mengambil koran pagi dari
halaman depan yang penuh ilalang. Laki-laki tua itu
dilaporkan menderita emfisema dan tampak sama
berbahayanya dengan lalat.
Pasangan yang cukup aneh, Travis dan Welsh, tinggal
di rumah reyot Welsh, ketika mereka merencanakan
penghancuran jabatan kepresidenannya. Benar-benar
lucu. Sekali sapu saja, ia bisa menyingkirkan mereka
berdua.
Gray-lah yang jadi masalah. Dengan ia sebagai
223
pemimpin, trio itu mencapai tingkat gangguan yang tak
bisa ditertawakan lagi.
“Omong-omong soal teman,” kata Gray, “aku heran
Anda belum tahu detail-detail tentang Barrie dan aku.
Kukira Spence sudah memberitahu Anda. Dia mendatangi
aku tak lama setelah kunjungan Barrie ke peternakanku.”
Senyum Merritt memudar sedikit. Aktor yang paling
hebat pun takkan bisa tetap tenang. “Spence sedang
berlibur. Aku benar-benar harus memaksanya pergi, dia
kan pecandu kerja. Katanya mungkin dia akan mampir ke
tempatmu, tapi aku belum mendengar kabar darinya sejak
dia berangkat. Apakah dia mengatakan mau pergi ke
mana setelah Wyoming?”
“Dia tidak menyebutkan rencana apa pun. Tapi kau
tahu Spence. Dia akan muncul di saat kau sama sekali tak
menduga. Aku jelas tak mengharapkan kedatangannya
ketika dia muncul di tempatku.”
Merritt tadinya punya secercah harapan bahwa Spence
masih hidup. Sekarang ia tahu pasti laki-laki itu sudah
tewas. Gray telah membunuhnya.
Merritt tak mau membiarkan perasaannya terhanyut.
Ia tidak butuh Spence. Ia tidak membutuhkan siapa-siapa.
Tapi kalau dipikir-pikir, Spence sangat banyak membantu.
Jarang ada orang yang memiliki bakat, loyalitas, dan
kepatuhan mutlak yang tidak perlu diragukan lagi seperti
Spence. Lebih jarang lagi orang yang sama sekali tidak
punya hati seperti laki-laki itu.
Gray telah merampas aset berharga itu darinya dan
sekarang duduk-duduk bercanda tentang hal itu, ekspresi
polos menghiasi wajahnya. Merritt ingin sekali meninjunya.
Tapi dengan hati-hati ia menyembunyikan kemaranannya.
224
Jika ia menampakkannya, sama saja dengan menghancurkan
diri sendiri.
Lagi pula, ia tak mau buang-buang energi untuk
sesuatu yang sudah menjadi bubur. Spence akan jadi
orang pertama yang setuju bahwa berdukacita tidak
produktif dan hanya orang lemah yang melakukannya.
“Aku ingin tahu, Ibu Negara ada?”
Pertanyaan Gray bagai cambuk yang membuyarkan
lamunan Merritt. “Uh, tidak, dia belum pulang.”
“Di ‘lokasi rahasia’ ini?”
“Betul,” jawab Merritt. “Dan aku sudah disumpah tak
boleh mengatakannya.”
Gray mencondongkan tubuh ke depan, menumpukan
lengan di paha, dan menampilkan pose penuh percaya diri
yang kadang-kadang juga digunakan Merritt. “David, aku
cemas memikirkan dia. Apakah dia baik-baik saja?
Bicaralah sejujurnya padaku sekarang. Jangan katakan
omong kosong yang disampaikan Neely pada pers.
Bagaimana keadaan Vanessa, sesungguhnya?”
“Kau berusaha memperoleh bocoran untuk teman tidur
barumu?”
“Saat kami di ranjang dia melakukan hal lain yang
lebih bagus daripada mewawancarai aku.”
“Sulit baginya untuk bicara dengan mulut penuh,
heh?”
Gray mendengus sebagai ganti tawa yang diharapkan
Merritt. Lalu wajahnya yang berkerut dan tirus kembali
serius. “Vanessa bersikap aneh sejak bayinya meninggal.
Apakah dia sakit?”
Kalau saat itu Merrit punya pilihan, ia pasti akan
mencekik leher Gray. Pria itu telah membuat istrinya
225
menyeleweng. Gosip tentang dia dan Vanessa berhasil
dipadamkan, tapi tidak cukup cepat.
Berapa orang yang telah menyimpulkan bahwa Gray,
bukan dia. yang menjadi ayah bayi Vanessa? Beraniberaninya
bangsat ini menyebut si perempuan jalang itu
tanpa setitik pun rasa menyesal di mata birunya?
Dengan sekuat tenaga, Presiden Amerika Serikat
mengontrol kemarahannya. Ia tak mungkin bisa menjelaskan
kematian Gray akibat tenggelam di whirlpool ruang
olahraga Gedung Putih. Bahkan Spence pun takkan
senekat itu untuk mencoba meyakinkan kisah itu pada
Jaksa Agung dan rakyat Amerika.
Sambil menahan keinginan untuk membunuh, Merritt
menunduk dan menyisir rambutnya dengan jari. “Aku
tidak keberatan memberitahumu, Gray, situasinya cukup
buruk. Dia menyalahkan dirinya sendiri—penyakitnya—
karena tidak menjadi ibu yang sempurna dan
menyelamatkan anak itu dari SIDS.”
“Aku khawatir kejadiannya seperti itu. Aku tahu
George Allan yang merawatnya. Mampukah dia menangani
masalah seperti ini?”
“Sangat mampu. Sudah bertahun-tahun dia menjadi
dokter Vanessa. Dia tahu persis apa yang dibutuhkan
istriku supaya bisa tetap berfungsi senormal mungkin.
Begitu sudah melewati krisis, dia akan baik-baik saja.”
“Kuharap demikian.”
Merritt sengaja melirik jam dinding, lalu bangkit.
“Senang sekali bertemu denganmu, Gray. Aku tidak suka
mengakhirinya, namun setengah jam lagi aku harus
menghadiri rapat kabinet.”
“Aku beruntung dapat berbicara dengan Anda selama
226
ini.” Gray berdiri dan mereka bersalaman. “Tolong
katakan pada Vanessa, aku menanyakan kabarnya. Ada
kemungkinan aku menjenguknya?”
“Kurasa tidak. Kondisinya semakin baik tiap hari, tapi
dia bahkan tidak bersedia menemui Clete. Sampaikan
rasa prihatinku pada Barrie Travis mengenai rumahnya.”
“Yeah. Akan kulakukan.”
Para agen Dinas Rahasia berdiri di luar pintu ruang
olahraga, menunggu untuk mengawal Presiden kembali
ke ruangannya. Kepada salah seorang dari mereka Merritt
berkata, “Tolong antarkan Mr. Bondurant ke mobilnya.”
“Tidak usah,” kata Gray santai. “Aku pernah bekerja di
sini, ingat? Aku tahu jalan kok.”
“Sama saja,” kata Merritt, meniru gaya santai Gray,
“kami ingin memperlakukan teman lama dengan istimewa.”
227
Bab Sembilan Belas
RESAH bukan kata yang tepat untuk menggambarkan
perasaan Presiden saat ini.
Lewat telepon, Merritt baru saja memberitahu Dr.
George Allan tentang kunjungan mendadak Gray Bondurant.
Ia mengatakannya seolah senang bertemu teman
lamanya itu, namun George bisa menangkap makna yang
tersirat: David tak mau Gray gentayangan di Washington,
dan terlalu dalam menyelidiki kematian bayi Merritt.
George meyakinkan diri sendiri, seperti ia telah
meyakinkan rakyat, bahwa anak itu meninggal akibat
SIDS. Ketika malam itu ia terburu-buru pergi ke ruang
anak Gedung Putih setelah dipanggil dari rumah, ia
mempercaya keterangan David bahwa ia dan Vanessa
mendapati bayi itu meninggal di tempat tidurnya.
Tak ingin mengetahui informasi lain, George tak
banyak bertanya la mengurus pemakaman si bayi, seperti
yang diinstruksikan Presiden. Selesai.
Tapi ternyata belum. Vanessa membuat seorang
reporter yang selalu ingin tahu jadi terlibat. Wanita itu,
menurut David, telah mendekati Gray Bondurant. Jelas,
David lebih suka jika apa yang sesungguhnya terjadi di
ruang anak dibengkokkan sedikit. Ia tentu tak ingin rasa
228
ingin tahu Gray Bondurant terusik. Karena jika ada yang
bisa membuka kedok David Merritt, orang itu adalah
Gray.
“Bagaimana dengan, uh, reporter itu?” tanya George.
“Kudengar di siaran berita, rumahnya hancur karena
ledakan.”
“Ya, aku mendengarnya juga. Kasihan sekali, tentu
saja, namun setidaknya masalah pribadinya telah mengalihkan
perhatiannya dari kita.” Setelah diam sejenak,
Merritt menambahkan, “Ini semua salah Vanessa. Dia
bertanggung jawab atas minat ulet Barrie Travis. Jika dia
dulu tidak menghubunginya kita tidak perlu kerepotan
seperti sekarang.” Lalu ia bertanya, “Bagaimana keadaan
Vanessa hari ini?”
Cara Presiden beralih ke tujuan sebenarnya telepon ini,
sangat halus. George, sambil menutupi kepanikannya,
melaporkan kondisi terakhir istrinya.
Lalu David memberikan instruksi-instruksinya pada
George.
Ia tidak menjelaskannya sarnpai mendetail, tapi
memang tidak perlu. Makna yang terkandung sudah jelas
bagi siapa pun yang mendengarkannya, dan George
mendengarkan.
Hari inilah saatnya. Presiden menagih utang budinya.
George meletakkan gagang telepon dan menutupi
wajahnya yang berkeringat dengan kedua tangannya
Sekujur tubuh dan jiwanya bergetar . Terdengar deru
keras di dalam telinganya. Ia merasa lemas dan mual.
Ia mempertimbangkan untuk menelepon Amanda.
Mantap dan tenang, istrinya bagai pulau kedamaian di
tengah hidupnya yang kacau-balau. Kadang-kadang
229
suaranya saja mampu memberinya harapan, meskipun
masa depannya seperti padang ranjau yang menuju
bencana. Dan itu alasan yang cukup kuat untuk tidak
menghubunginya. Kenapa membebani Amanda dengan
konsekuensi kesalahannya?
Bukannya menelepon istrinya, ia malah menelan
Valium.
Ini pekerjaan kotor yang biasanya diberikan David
pada Spence. Spence takkan gentar seperti dirinya saat
ini. Spence takkan butuh Valium. George ingin tahu apa
yang diketahui David tentang Spence, hingga bisa
membuatnya patah total seperti itu. Atau sebaliknya?
Apakah sebenarnya Spence-lah sang dalang dan David
cuma bonekanya? Atau—dan ini yang paling mungkin—
Spence tak membutuhkan alasan untuk melakukan segala
perbuatannya.
Ia sangat menyukai kebengisan. Ia tak pernah
mencintai wanita atau mengenal cinta wanita. Ia tak
pernah menyaksikan lahirnya anak yang diciptakannya
dengan cinta. Ia tak pernah memegang kehidupan baru
yang menggeliat-geliat di tangannya dan memandang
makhluk itu dengan air mata bercucuran. Ia juga tak
pernah merasa bersalah atau menyesal.
George mungkin pengecut, tapi ia laki-laki yang lebih
baik daripada Spence Martin.
Tapi pendapat itu meragukan. Spence, tampaknya,
telah menghilang. Dengan kata-kata yang dipilih dengan
cermat, David secara tidak langsung mengatakan bahwa
Gray bertanggung jawab atas kepergian Spence yang
misterius. George berharap jika Gray telah membunuhnya,
ia membuat bangsat tak berhati itu menderita lebih dulu.
230
Gray pintar karena pergi selagi bisa. George berharap
ia memiliki keberanian seperti itu. Gray berkata, “Aku
pergi,” dan pergilah dia. Tapi Gray memang tak punya
ganjalan apa pun.
George punya, dan hambatan itu makin besar
sekarang.
Dicubitnya pangkal hidungnya sampai sakit. Lalu ia
menurunkan tangan dan memandang pintu ruang kerjanya
yang kini tertutup. Ia bisa saja duduk di sini selania satu
atau dua jam lagi, memandangi pintu itu, tapi akhirnya ia
tetap saja harus melaksanakan perintah Presiden tadi.
Semakin lama menundanya, semakin ia memikirkannya,
dan semakin ia memikirkannya, semakin keji perintah itu
rasanya.
la berdiri pelan-pelan seperti orang yang sudah
berumur sembilan puluh tahun. Langkah kakinya terasa
berat ketika ia meninggalkan ruang kerja dan melintasi
koridor.
Ruang rawat itu senyap.
Jayne. Gaston perawat yang penuh perhatian. Dengan
hati-hati ia memandikan pasiennya setiap pagi dan
mengganti seprai. Tapi ruang rawat tetap ruang rawat,
dan penyakit memiliki bau khas.
George Allan mendekati tempat tidur. “Bagaimana
keadaannya?””Dia tidur sekarang.” Perawat itu memandang
pasiennya dengan penuh simpati.
George memeriksa Vanessa sekilas. Ia mendengarkan
detak jantungnya, memeriksa grafik tekanan darah dan
temperaturnya, tanpa sekali pun menatap wajah nya.
Mata Vanessa terpejam, untung saja. Ia takkan sanggup
menatap mata wanita itu. Setelah ini, ia bertanya-tanya
231
dalam hati, bagaimana ia akan mampu menatap mata
Amanda atau bahkan matanya sendiri?
“Beberapa saat yang lalu dia merasa galau dan
menangis,” perawat itu melaporkan. “Dia memohon pada
saya supaya mengizinkan dia bangun. Dr Allan, jika dia
merasa cukup kuat, saya tidak mengerti...”
“Terima kasih, Mrs. Gaston.”
“Dokter, saya yakin Anda tahu yang terbaik, namun...”
“Saya yakin saya juga tahu.” George menatapnya
tajam. “Saya tidak akan mentolerir lagi bantahan seperti
ini, Mrs. Gaston.”
“Saya cuma memikirkan kepentingan pasien.”
“Anda kira saya tidak?”
“Tentu saja ya, Dokter. Saya sama sekali tidak
bermaksud meragukan Anda.” Mrs. Gaston menegakkan
tubuhnya. “Tapi saya perawat terlatih yang memiliki
pengalaman bertahun-tahun.”
“Itulah sebabnya Anda dipilih untuk posisi ini. Tapi
Anda melewati batas.”
“Mrs. Merritt dibius sangat berat. Jika Anda minta
pendapat saya...”
“Tidak!” bentak George.
“Lebih jauh lagi, saya pikir dosis Lithium-nya begitu
tinggi hingga membahayakan.”
“Anda sudah lihat laporan lab. Tingkat Lithium dalam
darahnya normal.”
“Kalau begitu saya tidak mempercayai lab, dan saya
tidak mempercayai laporannya.”
Jantung George berdebar kencang di dadanya.
Lututnya terasa lemas, nadinya berdenyut-denyut di
balik matanya, dan ia tahu wajahnya merah padam.
232
Sambil berjuang menenangkan diri, ia berkata dengan
kaku, “Tenaga Anda tidak diperlukan lagi, Mrs. Gaston.
Silakan segera kemasi barang-barang Anda. Saya akan
menyuruh orang mengantar Anda kembali ke Washington
malam ini.”
Wanita itu bersedekap. “Anda memecat saya?”
“Anda tidak cocok lagi dengan program pengobatan
Mrs. Merritt. Nah, sekarang silakan Anda..!”
Mrs. Gaston menggeleng dengan keras kepala dan
meraih tangan Vanessa. “Saya tak mau pergi. Dia pasien
saya juga. Saya menolak meninggalkannya dalam kondisi
seperti ini. Jika Anda ingin tahu pendapat saya yang
sejujurnya, saya pikir dia keracunan dan hampir koma.”
“Kalau Anda tak mau pergi secara sukarela saya tidak
punya pilihan selain mengusir Anda dengan paksa.”
George melangkah cepat melintasi ruangan, membuka
pintu, dan berteriak memanggil agen-agen Dinas Rahasia.
233
Bab Dua Puluh
“BARRIE TRAVIS?”
“Aku sendiri. Siapa ini?” Barrie menutup telinganya
yang tidak menempel di gagang telepon supaya bisa
mendengar lebih jelas suara wanita itu di tengah kenuhan
ruang berita.
“Kau tahu soal Highpoint?”
Barrie langsung waspada. “Dalam urusan apa?”
“Ada yang tidak beres.”
“Bisakah Anda bicara lebih spesifik?”
“Tidak. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikan.”
Keresahan wanita itu terdengar jelas. “Harus ada yang
menyelidiki apa yang sedang terjadi di sana.”
Lalu si penelepon mengakhiri hubungan.
Barrie menghubungi operator telepon. “Apakah penelepon
yang barusan kauhubungkan menyebutkan jati
dirinya atau mengatakan dari mana dia menelepon?”
‘Tidak, dia cuma minta bicara denganmu. Maniak
lagi?”
“Aku tak yakin. Terima kasih.”
Barrie melompat bangun dan menyambar tas. Tugasnya
hari ini sudah selesai. Liputannya untuk warta berita
malam sudah beres dan berada di meja produser. Tak ada
234
yang bakal mencarinya kalau ia pulang lebih awal sedikit.
Selama beberapa hari terakhir, ia dengan sukses
melakukan tugasnya meyakinkan penonton—yang diharapkannya
termasuk David—bahwa ia bekerja seperti biasa
setelah kehilangan rumah.
Juri masih menyelidiki penyebab ledakan yang
menghancurkan rumahnya, tapi di muka umum ia tak
pernah menghubungkan ledakan itu dengan penyelidikannya
terhadap kehidupan pribadi Presiden dan Ibu
Negara.
Ketika bergegas melintasi ruang berita, ia berpikirpikir
untuk menarik juru kamera dan membawanya serta,
berjaga-jaga seandainya petunjuk tadi sahih. Tapi ia
memutuskan untuk menahan diri. Ia akan membawa
kamera handycam ke Highpoint. Kalau memang ada
berita, setidaknya ia bisa merekamnya.
Tapi pertama-tama, ia harus mencari jalan untuk
masuk ke Highpoint tanpa ditembak.
“Kau tidak mengenali suaranya?”
“Aku barusan bilang begitu, kan?” kata Barrie jengkel.
“Tidak, Gray, aku tidak mengenali suaranya”
“Jangan marah-marah padanya,” kata Daily . “Dia
cuma tak mau kau pergi tanpa persiapan matang, itu saja.”
Barrie jadi marah karena Daily berada di pihak Gray.
“Aku tidak minta siapa pun pergi denganku tanpa
persiapan matang. Tinggal saja di sini. Aku tak peduli.
Pokoknya aku akan mengikuti petunjuk ini.”
“Mungkin saja si maniak itu,” ujar Daily . “Si
Charlene.”
“Bukan,” Barrie ngotot. “Aku tidak tahu siapa
orangnya tapi dia tidak memiliki karakteristik penelepon
235
sinting biasa. Dia terdengar sanmn dan berpendidikan.
Juga ketakutan. Aku mempercayai kata-katanya.”
Daily tetap pada pendapamya. “Kau tak punya
verifikasi bahwa ada yang tidak beres di Highpoint. Ini
bisa jadi ulangan kasus Hakim Agung Green. Akhirnya
kau akan mempermalukan dirimu sendiri.”
“Kenapa dengan Hakim Agung Green?” tanya Gray.
“Tidak apa-apa,” bentak Barrie. Ia memelototi Daily,
lalu memotong udara dengan tangan dan berkata,
“Perdebatan ini selesai. Aku tetap pergi.”
la takkan kembali ke rumah Daily dan memberitahu
mereka tentang rencananya seandainya handycam itu ada
padanya. Baru-baru ini ia membelinya untuk menggantikan
kameranya yang musnah gara-gara ledakan itu. Benda itu
masih ada dalam kotaknya di kamar tamu Daily. Dengan
baterai yang sekarang telah terpasang, ia memeriksanya,
memasukkannya ke tas, dan berpaling pada teman-teman
seperjuangannya yang tampak waswas. “Yah, doakan saja
aku.”
Daily begitu kalut hingga mulai tersengal-sengal. Ia
menoleh pada Gray. “Kau Marinir. Punya ide?”
“Cuma mengikatnya, ide lain sama sekali tak ada. Tapi
aku akan pergi bersamanya, dan dia mungkin akan
membuat kami berdua tertembak.” la berkata begitu
seraya menyelipkan pistol di pinggang.
Saat itulah penyeranta Barrie berbunyi.
“Salah satu narasumbermu?” tanya Daily.
“Selain kau, cuma mereka yang tahu nomor ini.”
la tidak mengenali nomor telepon di layar digital itu,
namun langsung ingat suara yang mengangkat telepon,
yang jelas menggunakan telepon umum itu. Ia bisa
236
mendengar suara lalu lintas di latar belakang. Narasumber
itu tidak buang-buang waktu dalam menyampaikan
pesannya, lalu segera memutuskan hubungan.
Sambil merenung Barrie meletakkan gagang telepon
dan memandang Gray. “Ayo pergi sekarang kalau kau
memang jadi pergi.”
“Siapa itu tadi?” Daily bertanya, mengikuti mereka ke
pintu, menyeret tangkinya yang berdecit-decit. “Apakah
tentang Highpoint?”
“Tidak. Bukan apa-apa” jawab Barrie, tapi senyurn
lemahnya berkata lain. “Kami akan meneleponmu begitu
mengetahui sesuatu. Cobalah beristirahat.”
“Cobalah menjaga keselamatanmu. Aku ingin bisa
menjengukmu di penjara.”
“Di Louisiana bagian mana?”
“Apa?”
“Kau bilang kau dari Louisiana. Kota apa?”
“Titik lebar di peta,” kata Gray. “Kau tak pernah
mendengarnya.”
“Nilai geografiku dulu bagus.”
“Grady.”
“Aku tidak pernah mendengarnya.”
Gray mengemudi dengan serius, kedua tangannya
mencengkeram setir. Mereka menuju barat daya ke arah
daerah pedesaan Virginia. Pemandangannya berupa
hamparan ladang, peternakan kuda, dan hutan-hutan, tapi
mereka berdua fidak memperhatikannya.Itu tadi adalah
kata-kata pertama yang mereka ucapkan sejak meninggalkan
daerah tempat tinggal Daily. Tak sanggup menghadapi
satu mil lagi dalam kesunyian menegangkan dan pikiranpikirannya
yang galau, Barrie mengungkit topik yang
237
diharapkannya merupakan topik netral.
“Sewaktu kau besar di sana, bagaimana kota itu?”
“Baik.”
“Masa kecil menyenangkan?”
“Lumayan.”
“Buruk?”
“Apa aku bilang buruk?”
“Kalau begitu menyenangkan?”
“Lumayan. Oke?”
“Kau tak perlu marah-marah begitu. Aku cuma ingin
tahu dari mana orang seperfi kau berasal.”
“Orang seperti aku?” Gray mengulangi dengan sinis.
“Memangnya aku orang seperti apa?”
Barrie perlu berpikir sebentar sebelum berhasil
menemukan jawaban yang disukainya. “Tinggi.”
Gray terpaksa tersenyum mendengarnya, biarpun
hanya sedikit.
“Orangtua?” tanya Barrie.
“Dua.”
“Yang benar saja, Bondurant.”
Beberapa detik kemudian Gray berkata, “Ibu dan
ayahku meninggal ketika tornado sempalan menerjang
tempat usaha mereka.”
“Aku turut sedih,” kata Barrie sungguh-sungguh.
“Berapa umurmu waktu itu?”
“Sembilan. Kira-kira.”
Barrie sulit membayangkan—bukan fakta orangtuanya
jadi korban badai—Gray pernah jadi anak-anak. Ia tak
bisa membayangkan pria itu sebagai anak kecil nakal,
bermain dengan anak-anak lain, ikut dalam permainan di
pesta ulang tahun, membuka hadiah bersama anggota238
anggota keluarga yang berkumpul di sekeliling pohon
Natal.
“Pagi itu di Wyoming, kau bercerita belajar beternak
dari ayahmu.”
“Dia selalu memelihara sekawanan sapi. Tapi dia juga
mengelola bengkel di kota. Tak ada satu mesin pun di
negara bagian itu yang tak bisa diperbaikinya. Dan ibuku
sama andalnya dengan dia dalam menggunakan kunci
Inggris.”
Barrie menyadari kelembutan yang jarang tampak di
sekitar mulut tegas pria itu. “Kau menyayangi mereka.”
Gray mengangkat bahu. “Aku masih kegil. Anak-anak
selalu menyayangi orangtua mereka.”
Biarpun bila mereka tak pantas disayangi, pikir Barrie.
“Siapa yang membesarkanmu setelah mereka tiada?”
“Secara bergantian, kakek-nenekku dari kedua belah
pihak. Mereka orang-orang baik. Semua sudah meninggal
sekarang.”
“Saudara kandung?” tanyanya.
“Saudara perempuan. Masih tinggal di Grady. Ibu
empat anak, menikah dengan akuntan yang jadi ketua
dewan sekolah dan diaken di gereja Baptis.”
“Kau pasti senang, punya banyak keponakan untuk
dimanja.”
“Aku tak pernah mengunjungi mereka.”
“Kenapa?”
“Iparku menganggap aku berbahaya.”
“Menurutmu?”
Gray menoleh. Mata setajam laser serasa menghunjam
Barrie. “Kau belum tahu juga jawabannya sekarang?”
“Sudah.” Barrie menunduk. “Menurutku, kau mungkin
239
sangat berbahaya.”
Ketika memandang ke luar jendela, Barrie melihat
bahwa tanpa disadarinya, senja telah berganti dengan
malam gelap gulita. Hutan di kedua sisi jalan tampak
gelap. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Telepon yang
kuterima sebelum kita meninggalkan rumah Daily berasal
dari narasumberku di Kehakiman.”
“Kau punya sumber informasi di Departemen
Kehakiman?”
“Apakah begitu mengejutkan?”
“Siapa? Divisi apa? Seberapa senior?”
“Kau tahu aku tak dapat memberitahumu.”
“Yah, kalau begitu kita cuma bisa berharap dia bukan
salah satu kaki tangan Spence.”
Sambil mengabaikan sindiran itu, Barrie berkata,
“Narasumberku mengatakan kau dan Merritt bertemu di
balik pintu tertutup kemarin.”
“Betul.”
“Lucu juga kau tidak menceritakannya pada Daily atau
aku.”
“Tidak ada yang penting.”
“Kau berduaan dengan Presiden Amerika Serikat
selama lima belas menit dan kau bilang tidak ada yang
penting?”
“Aku cuma mampir...”
“Mampir? Aku pun bisa mampir, tapi David Merritt
takkan pernah mau bertemu empat mata denganku.”
“Aku punya banyak teman di Dinas Rahasia. Aku
muncul tiba-tiba agar bisa mengetahui bagaimana
reaksinya ketika melihatku.”
“Yaitu?”
240
“Dia nyaris terkencing di celana.”
la mengulangi percakapan mereka untuk Barrie.
“Kuberitahu dia bahwa Spence gagal melaksanakan misi
terakhirnya,” tambahnya.
“Cuma itu yang kalian bicarakan?”
“Cuma itu.”
“Mungkin.”
Gray meliriknya, matanya tampak curiga. “Kenapa
narasumbermu mengontakmu soal kunjunganku pada
David?”
“Karena memikirkan keselamatanku. Narasumberku
agak mengkhawatirkan teman-teman yang kumiliki.
Misalnya, aku diberitahu bahwa Presiden mungkin saja
memanfaatkan kau untuk menjebak reporter
menjengkelkan yang ingin dibungkamnya.”
“Aku tak lagi bekerja pada Presiden.”
“Itu kan katamu. Tapi aku ingin tahu ada berapa
lapisan dalam hubunganmu dengan keluarga Merritt.
Sebelum menjadi kekasih istrinya, kau sahabat karib
Merritt. Itu bisa menimbulkan banyak ambiguitas.”
Tangan Gray makin erat mencengkeram setir. “Kenapa
tidak langsung saja kaukatakan pendapatmu.”
“Menurutku, barangkali loyalitasmu terbagi.”
la menatap Barrie dengan marah, namun tidak
membenarkan ataupun membantah tuduhannya.
“Apakah namaku disebut-sebut dalam pertemuan itu?”
la ingin tahu.
Pria itu mengangguk.
“Dalam konteks apa?”
“Kukatakan padanya aku menidurimu.”
Barrie merasa pipinya merah padam. “Aku lebih suka
241
istilah itu daripada kata yang satu lagi, meskipun tetap
saja kasar.”
“Seperti itulah aku mengingatnya. Kasar.”
“Apakah dia menyinggung soal Vanessa?” tanya Bame,
mengembalikannya ke topik pembicaraan mereka.
“Tak ada yang baru.”
“Apakah kau akan memberitahu aku kalau ada yang
baru?”
“Mungkin tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kau sudah keterlaluan.”
“Demi berita eksklusif yang akan mengguncang dunia,
aku bersedia mengambil risiko.”
“Yah, aku sih tidak,” kata Gray singkat. “Aku tak mau
mempertaruhkan nyawaku, atau nyawa Vanessa, atau
bahkan nyawamu, supaya kau bisa menegosiasikan
tambahan beberapa ribu dolar dalam kontrakmu yang
berikut. Aku berusana agar kita tetap hidup setelah urusan
ini selesai, dan aku tak ingin strategiku dikacaukan
amatiran yang penuh khayalan.”
Komentar itu menyakitkan. “Aku profesional.”
“Mungkin dalam masalah berita TV,” kata Gray.
“Tapi di Highpoint, kita takkan berhadapan dengan
kamera-kamera studio. Kita akan berhadapan dengan
orang-orang bersenjata. Kau tidak siap menghadapinya.”
“Aku lebih berani daripada yang kaukira.”
“Oh, aku tahu kau nekat. Rasanya aku ingat kau
bersedia melakukan apa pun untuk memperoleh berita.
Atau kau sudah lupa?”
Karena Gray tampaknya bertekad membuatnya marah,
Barrie memelankan suaranya hingga jadi bisikan sengit
242
dan berkata, “Belum, aku belum lupa. Aku belum
melupakan sedetik pun peristiwa itu. Lebih penting lagi,
Bondurant, kau juga begitu.”
Serangannya berhasil. Otot rahang pria itu berdenyut.
Sambil tersenyum pongah Barrie kembali memandang
jalanan di depan.
Kepuasannya cuma sebentar. “Awas!” ia menjerit.
Dengan reaksi secepat kilat pasukan komando terlatih,
Gray membanting setir untuk menghindari tabrakan.
Empat polisi-bersepeda motor muncul dari tikungan,
melaju dua-dua. Di belakangnya mobil pemadam
kebakaran, mobil yang kelihatan seperti mobil dinas, dan
ambulans. Semua melaju dengan kecepatan tinggi.
Gray tetap di tepi selokan di jalur yang berlawanan
sampai semua kendaraan lewat, kemudian ia berputar
tajam dan mengejar mobil-mobil itu. “Kau akan
mengikuti mereka?” “Jelas.”
“Tapi kenapa...?” “Di atas,” kata Gray, dan itu sudah
menjawab pertanyaannya. Barrie menekankan pipinya di
jendela dan melihat dua helikopter membelok tajam
ketika keduanya naik di atas puncak pepohonan.
“Narasumber misteriusmu benar. Ada yang tidak beres.”
“Tapi Highpoint di sebelah sana,” tukas Barrie,
menunjuk ke arah yang berlawanan.
“Tempat peristirahatan kepresidenan memang di sisi
lain danau, tapi seluruh area ini dinamakan Highpoint.
Rumah peristirahatan Dr. George Allan berada di
punggung bukit itu.” Gray menunjuk dengan dagunya ke
arah suatu titik di hutan tempat helikopter-helikopter tadi
tinggal landas.
“Di sanalah mereka menempatkan Vanessa.”
243
“Dari mana kau tahu?”
“Aku punya firasat, dan firasat. itu baru saja terbukfi
kebenarannya. Mobil di belakang pemadam kebakaran
tadi milik pemerintah, mungkin Dinas Rahasia.”
Tangannya masih memegang setir dengan mantap. Ia
menekan pedal gas sampai maksimal supaya fidak
tertinggal dari kendaraan terakhir rombongan tadi.
“Menurutmu, apa artinya ini?”
“Menurutmu?” tanya Gray singkat.
Barrie tak ingin mengutarakan apa yang ada di
benaknya. “Dr. Allan takkan menyakitinya. Tidak secara
sengaja. Tidak dengan Dinas Rahasia mengawalnya.”
“Gedung Putih penuh dengan agen Dinas Rahasia pada
malam bayi itu meninggal. Itu tidak menghalangi dokter
itu menyatakan bahwa anak itu meninggal akibat SIDS.
Jika David sudah memegang kelemahan George Allan,
dia akan bersedia mengatakan dan berbuat apa saja.”
Mereka membuntuti konvoi itu sampai Shinlin, tempat
indah dengan penduduk sekitar 15.000 jiwa Karena
dekatnya kota itu dengan tempat penstirahatan
kepresidenan, para penduduk sudah terbiasa jika konvoi
membuyarkan ketenangan jalan-jalan mereka.
Gray mempertahankan jarak yang aman. Ia tetap
berada dua blok dari kendaraan-kendaraan itu ketika
mereka memasuki gerbang gawat darurat rumah sakit.
Barrie menatap Gray. “Jika Vanessa membutuhkan
perawatan medis darurat, kenapa dia tidak dibawa kemari
dengan helikopter?”
Sebelum mereka sempat berspekulasi, pintu belakang
ambulans terpentang. Dan keluarlah George Allan.
Dokter itu tampak sangat tegang. Lengan kemejanya
244
digulung sampai siku; rambutnya berdiri tegak, seolah ia
sejak tadi mengacak-acaknya dengan jemarinya. Ia, sopir,
dan seorang paramedis mengangkat brankar dari ambulans.
Sesosok tubuh tertutup selimut terikat di brankar itu.
“Oh, Tuhanku, tidak!” teriak Barrie.
Para paramedis mendorong brankar menuju pintu kaca
otomatis. Kedua pria di sedan dinas keluar dan dengan
muram berjalan di belakang brankar ketika alat itu
didorong memasuki rumah sakit.
Dr. George Allan membungkuk dan muntah di trotoar.
245
Bab Dua Puluh Satu
KET1KA telepon Clete Armbruster berdering membangunkannya
dari tidur nyenyak, ia berguling dan melihat
jam di meja. “Sialan.” Telepon pada jam seperti ini
menandakan keadaan gawat.
“Senator Armbruster?”
Mengira akan mendengar suara asistennya, ia tidak
siap ketika terdengar suara wanita yang lembut dan serak
yang lebih cocok untuk telepon seks daripada menyampaikan
berita buruk. Ironisnya, ia justru jadi panik. Sudah
lama ia tidak memakai jasa profesional, tapi pikiran
pertama yang melintas di benaknya adalah bahwa salah
satu pasangannya di masa lalu telah diperintahkan untuk
memberitahu semua mantan kliennya bahwa ia mengidap
virus mematikan.
“Siapa ini?”
“Barrie Travis. Teman Vanessa. Si reporter.”
Dengan kesal Senator menendang selimut, lalu
mengayunkan kakinya ke lantai dan bangkit. Beraniberaninya
Barrie Travis menganggap dirinya teman
Vanessa. Lebih konyol lagi tindakannya menyebut
dirinya reporter. Ia sama sekali tak bisa menebak kenapa
Vanessa mengabulkan permintaan wawancaranya baru246
baru ini.
“Mau apa kau?”
“Saya harus bicara dengan Anda. Tentang Vanessa.”
“Kau tahu jam berapa sekarang? Omong-omong, dari
mana kau bisa memperoleh nomor telepon pribadiku?
Bukankah staf kantorku sudah secara tegas memberitahumu
bahwa aku tidak mau membicarakan putriku dengan
nyamuk-nyamuk pers?”
“Ini bukan telepon seperti itu, Sir.”
“Jangan macam-macam kau. Selamat malam.”
“Senator! Tolong jangan ditutup!”
Kecemasan dalam suaranya membua t Armbruster
berpikir. Sambil membawa telepon tanpa kabel itu ke
kamar mandi, ia berdiri di atas toilet dan buang air kecil.
“Ada apa? Ledakan lagi?”
“Saya harus bertemu Anda.”
“Untuk apa?”
“Saya tak bisa mengatakannya sampai kita bertemu.”
Armbruster terkekeh sambil menyiram toilet. “Aku
sudah tak sabar.”
“Saya pastikan, Senator Armbruster, ini bukan tipuan
wartawan, juga bukan sesuatu yang bisa ditertawakan
atau dianggap enteng. Percayalah, urusan ini sangat
penting. Bersediakah Anda menemui saya?”
Senator menggaruk kepala. “Ah, brengsek. Mungkin
seumur hidup aku akan menyesalinya, tapi telepon
kantorku besok dan buat janji temu.”
“Anda tidak mengerti. Saya harus menemui Anda
segera. Sekarang juga.”
“Sekarang? Ini masih tengah malam.”
“Saya mohon. Saya berada di rumah makan di Shinlin,
247
di pojok Lincoln Street dan Paul’s Meadow Road. Saya
akan menunggu kedatangan Anda.”
la menutup telepon, dan Senator mengumpat-umpat
pada dinding kamarnya. Setelah membanting telepon, ia
menuang Jack Daniel’s ke gelas. Ia menghabiskan
minuman itu sekali teguk dan berniat akan mengabaikan
telepon tadi dan kembali tidur.
Tapi ia ragu. Apa sih yang diketahui reporter itu
tentang Vanessa yang tak bisa menunggu sampai pagi?
Dengan kesal ia menatap telepon itu, seolah benda itu
musuh bebuyutannya. Ia takkan bisa tidur lagi. Lagi pula,
ada nada mendesak dalam suara wanita itu, yang
terdengar serius.
Ia berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian ia sudah
berada di mobil, melaju ke Shinlin. Ia tahu kota itu,
karena sudah begitu sering ke Highpoint. Ia mengemudi
bagai pilot otomatis.
Ingatannya kembali ke malam lain, delapan belas
tahun yang lalu, waktu ia dibangunkan pada tengah
malam juga. Saat itu ia tengah berlibur di pertaniannya di
pedesaan Mississippi. Kehidupan di sana lambat dan
tenang. Kecuali malam itu.
Ia terbangun gara-gara bel pintu yang berdering tanpa
henti. Pengurus rumah keluar dari kamarnya di belakang
dapur, mengikat tali mantelnya, namun Clete sampai di
pintu lebih dulu.
David Merritt berdiri di ambang pintu, basah kuyup
kehujanan seperti kucing yang nyaris mati tenggelam dan
tampak sama memelasnya. Cahaya kilat menampakkan
goresan-goresan panjang dan berdarah di pipinya.
“Kenapa kau?” seru Clete.
248
“Aku minta maaf telah membangunkan Anda, tapi aku
harus segera menemui Anda.”
“Ada apa? Kau mengalami kecelakaan?”
David memandang pengurus rumah dengan gelisah.
Clete menyuruhnya pergi dan wanita itu kembali ke
kamar.
Clete membawa David ke ruang kerja, menyalakan
lampu meja, dan menuang segelas brendi untuk anak
muda itu. David duduk di kursi dekat jendela, memegangi
gelas dengan kedua tangannya, dan menghabiskan isinya
sekali teguk.
“Tidak biasanya kau minum seperti itu,” komentar
Clete, sambil menyerahkan saputangan untuk membersihkan
goresan-goresan berdarah di wajah David. “Apa pun
yang terjadi padamu pasti gawat. Jadi, ceritakanlah.”
Clete duduk bersandar di sofa santai yang terbuat dari
kulit dan mengambil cerutu. David berdiri dan mondarmandir.
“Ada seorang gadis.”
“Sudah kukira,” ujar Clete, mengibaskan korek api
yang digunakannya untuk menyalakan cerutu.
“Aku berkenalan dengannya waktu kita kemari musim
panas yang lalu.”
“Gadis setempat? Di mana kau bertemu dengannya?
Siapa namanya? Siapa orangtuanya?”
“Namanya Becky Sturgis, tapi Anda tak mungkin
mengenalnya. Dia cewek murahan, bukan orang penting.
Aku bertemu dengannya di restoran kumuh di tepi jalan.
Dia sudah mabuk ketika aku tiba. Kami berkenalan,
akhirnya berdansa Kami saling merayu, mulai bercumbu.
Dalam sekejap mata suasana jadi panas dan menggebu249
gebu. Dia menciumiku tanpa henti. Kami harus keluar,
kalau tidak akan terjadi peristiwa memalukan. Kami baru
saja keluar dari pintu ketika dia menarikku. Karni
melakukannya di situ, bersandar di dinding bangunan
itu.”
la bersikap munafik kalau memarahi anak asuhnya
karena berhubungan seks tanpa pikir panjang. Ketika
seumur David, ia juga melakukan perbuatan-perbuatan
liar. Baru setelah dewasa ia mengerti betapa pentingnya
berpikir panjang dan bertindak bijaksana. Meskipun
begitu, ia merasa harus menegur juga.
“Beberapa negarawan besar gagal memasuki Gedung
Putih karena tidak bisa mengontrol nafsu mereka. Mereka
tidak menggonakan otak ketika berurusan dengan
wanita.”
“Aku tahu,” tukas David sengit. “Demi Tuhan, kukira
dia tak berbahaya. Dia manis, seksi, dan tak banyak
menuntut. Dia tinggal sendirian, bekerja di perusahaan
susu sebagai operator untuk truk-truk pengantar, tidak
punya keluarga dekat.”
Clete menggeram tak percaya. “Kalau dia begitu tak
berbahaya apa yang membuatmu datang ke rumahku
tengah malam begini, berdarah-darah dan tampak seperti
akan muntah di karpet mahal almarhumah istriku?”
“Aku... aku membunuhnya.”
Bibir Clete ternganga begitu lebar hingga cerutunya
yang masih menyala nyaris jatuh ke pangkuannya. Pelanpelan
ia berhasil menguasai diri hingga bisa meninggalkan
kursi dan menuang segelas brendi lagi, kali ini untuk
dirinya sendiri. Ia menenggaknya hampir secepat David
menghabiskan minumannya tadi. Clete bisa melihat
250
impiannya untuk pemuda itu lenyap bagai asap.
David Merritt bekerja begitu penuh dedikasi sebagai
relawan dalam kampanye Armbruster, hingga tak lama
kemudian ia ditawari pekerjaan yang sesungguhnya.
Ketika Clete pertama kali berjumpa dengannya, David
baru saja keluar dari Marinir. Ia penuh disiplin dan
intuitif. Ia cuma membutuhkan pengawasan sedikit atau
tidak sama sekali. Ia melaksanakan semua tugas dengan
penuh percaya diri dan bijaksana. Clete tidak butuh waktu
lama untuk memberinya tanggung jawab yang lebih
besar.
Setelah terpilih menjadi senator, ia mengajak David
bergabung sebagai stafnya di Washington Selama dua
tahun terakhir David membuktikan dirmya merupakan
aset yang berharga dan murid yang pandai di bidang
politik. Clete sudah punya rencana-rencana besar untuknya,
sebab ia melihat David memiliki kualitas yang dibutuhkan
untuk menjadi politisi andal.
Ia pintar mengurus bidang ekonomi, karena di masa
mudanya ia harus mencukup-cukupkan uang seadanya
yang dimilikinya. Di waktu senggang ia mempelajari
hukum dan prosedur pemerintah. Ia memiliki catatan
masa tugas yang bagus di militer. Ia tampan dan pandai
bicara, dan sampai malam ini, bebas dari skandal.
Clete terpaksa berjuang keras untuk menahan diri
supaya tidak menghampiri pria itu dan menamparnya
kuat-kuat karena telah berbuat begitu tolol. “Kurasa kau
punya alasan kuat untuk membunuhnya,” ia berkata
dengan marah.
“Aku bersumpah demi Tuhan bahwa itu kecelakaan.”
“Jangan bersumpah pada Tuhan,” kata Clete mengge251
legar.
“Bersumpahlah padaku, Nak.”
“Aku bersumpah, Clete.”
Lama ia mengamati wajah David, namun tidak melihat
tanda-tanda kebohongan pada ekspresinya yang kalut. Ia
cuma anak muda yang ketakutan.
“Baiklah,” Clete berkata. “Apa yang terjadi?”
“Pertama, aku harus kembali ke masa lalu dulu.
Setelah kejadian pertama itu, aku mulai menemuinya
setiap kita kemari.”
Clete memindahkan cerutu dari ujung mulutnya yang
satu ke ujung yang lain. “Saat Natal?”
“Ya, Sir.”
“Paskah?”
David mengangguk.
“Waktu kau pacaran dengan Vanessa? Kau menipu
kami berdua!”
“Anda salah mengerti, Clete,” David berbicara penuh
emosi, suaranya bergetar. “Anda tahu bagaimana perasaanku
terhadap Vanessa. Aku mencintainya dan ingin
menikahinya, tapi...”
“Tapi kau merasakan dorongan untuk menggauli
cewek murahan yang suka mabuk dan berhubungan seks
sambil bersandar di dinding luar kedai bir kumuh. Itukah
pendapatmu tentang cara menjalani kehidupan asmaramu?”
Semburan kemarahan itu menjernihkan kepala Clete.
Ia kembali ke sofanya dan membiarkan emosinya
menggelegak sementara ia mengisap cerutu dengan
marah. Dengan bijaksana David memberinya waktu
untuk menenangkan diri. Akhirnya ia menggeram,
“Ceritakan sisanya.”
252
“Pada kunjungan terakhir kita ke sini, dia menelepon
dan minta aku menemuinya di tempatnya. Ketika aku tiba
di sana...” David terdiam sejenak, mengusap wajahnya.
“Aku kaget setengah mati. Perutnya tidak serata biasanya.”
Clete cuma menatapnya selama beberapa saat. “Berikan
botol brendi itu.” David menurut, biarpun Clete tampak
ingin melemparnya dengan botol kristal itu. Clete
meminumnya dua teguk. “Maksudmu, dia hamil?”
“Ya. Dia melahirkan beberapa minggu yang lalu. Anak
laki-laki.”
“Anakmu?”
“Mana aku tahu?” teriak David, meninggikan suara
untuk pertama kalinya. “Mungkin saja, tapi mungkin juga
dia anak puluhan laki-laki lain. Katanya sih itu anakku.
“Dia mulai merengek-rengek supaya aku melihat bayi
itu, berkeras dia anakku. Aku takut kalau aku tidak
menurutinya, dia akan berbuat gila.
“Jadi aku pergi ke sana malam ini untuk memberinya
uang. Kupikir paling tidak itulah yang bisa kulakukan.
Tapi... tapi dia tak mau diajak berunding, Clete. Dia
melempar uang itu ke mukaku, mengatakan aku tak bisa
mengganti tanggung jawabku dengan uang, mengatakan
dia takkan mau menerima apa pun selain pernikahan.”
Setiap kata bagai hantaman palu, memaku peti mati
masa depan David Merritt di dunia politik. Kini Clete
takut dirinya sendirilah yang bakal muntah di karpet
mahal almarhumah istrinya.
“Aku langsung memberitahu dia bahwa pernikahan tak
mungkin terjadi,” ,kata David. “Kukatakan bahwa aku
sudah benunangan dengan orang lain, dengan wanita
yang kucintai.”
253
la berhenti sebentar dan melirik Clete. “Aku sadar
belum melamar Vanessa secara resmi, dan tidak bermaksud
melakukannya sampai dia selesai kuliah, tapi dia tahu aku
sangat mencintainya. Di antara kami kurang-lebih ada
pengertian bahwa...”
“Lanjutkan ceritamu,” potong Clete kasar’ “Apa yang
terjadi waktu kauberitahu pelacur itu bahwa kau takkan
menikahinya?”
“Dia mengamuk.” David duduk kembali dan menutupi
wajahnya dengan dua tangan selama beberapa saat.
Akhirnya, ia menurunkan tangannya dan menyatukannya
di antara lututnya. “Dia menggunakan laci lemari sebagai
tempat tidur bayi. Kurasa teriakannya membuat si bayi
ketakutan. Yah, anak itu menangis keras, dan itu
tampaknya membuatnya kehilangan kontrol. Katanya dia
tak mau kerepotan membesarkan anak itu sendirian, lalu,
dia... dia mencengkeram leher anak itu dan mulaimencekiknya.
Aku berusaha melepaskan tangannya,
namun tidak bisa. Dia mencekiknya.”
“Ya Tuhan!” Clete terkesiap. “Dia membunuhnya?”
David mengangguk. “Aku kaget setengah mati. Sesaat
yang lalu bayi itu masih menangis, sesaat berikutnya, dia
diam. Mati.”
“Kenapa kau tidak menghubungi polisi?”
“Dia tidak memberiku kesempatan,” bantah David.
“Perempuan jalang itu menyerangku. Karena itulah
wajahku sepeni ini. Dia menerkamku seperti kucing liar.
Aku harus melindungi diri. Kami berkelahi. Dia
kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam sudut
meja yang dipaku ke lantai. Tengkoraknya pasti pecah.
Tempat itu penuh darah. Dia mati.”
254
la memejamkan mata kuat-kuat, namun air matanya
tak tertahankan. Ia mulai tersedu-sedu. Dengan bahu
terguncang-guncang, ia menangis seperti bayi. “Satu
kesalahan. Satu kesalahan, dan sekarang semua yang telah
Anda lakukan untukku, semua usaha kita, hancur. Dan
Vanessa. Ya Tuhan,” David tergagap. “Apa kata Vanessa
nanti tentang diriku? Bagaimana kejadian ini akan
mempengaruhi masa depan kami?”
Clete sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dan
perhatian untuk menjadikan David Merritt presiden, dan
ia tak mau membuang semua itu hanya gara-gara seorang
gadis yang tak mau didepak dan seorang bayi yang tidak
semestinya dilahirkan. Kalau mereka hanya perlu
mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi politik
akibat perbuatan David, Clete dengan mudah akan
membereskan masalah ini untuk melindungi investasinya.
Tapi dengan melibatkan Vanessa, David membuat
Clete harus turun tangan. Ia takkan mungkin membiarkan
hati putrinya hancur karena mengetahui laki-laki yang
dipujanya selama bertahun-tahun dan diharapkannya
akan menjadi suaminya telah menghamili wanita kelas
bawah dan kemudian secara tak sengaja membunuhuya.
Dalam rencana besarnya, Becky Sturgis dan bayinya
tidak berarti banyak, sementara David Malcomb Merritt
ditakdirkan berjaya. Suatu hari nanti ia akan memiliki
lebih banyak kekuasaan daripada individu lain di muka
bumi ini. Kenapa segala potensinya itu harus dikorbankan
gara-gara satu kesalahan? Kenapa semua harapan dan
impian Vanessa mesti buyar padahal ia tidak bersalah?
Dan kenyataannya, walaupun tidak melakukan kesalahan
apa pun, Vanessa-lah yang paling menderita.
255
Clete takkan membiarkan hal itu terjadi, apa pun
risikonya.
“Baiklah, Nak, tenangkan dirimu.” Didekatinya David
dan ditepuknya punggungnya. “Mandilah. Minum segelas
brendi. Tidur. Jangan ceritakan hal ini pada siapa pun.
Sampai kapan pun.”
David mendongak, ekspresi wajahnya muram. “Maksud
Anda...”
“Aku akan membereskannya,” Clete berkata.
David berdiri dengan goyah. “Aku tak bisa meminta
Anda melakukan itu. Dua orang telah meninggal.
Bagaimana Anda akan...”
“Biar aku saja yang memikirkan detailnya.” Ditekannya
dada David dengan telunjuknya yang kokoh. “Tugasku
adalah membuat persoalan ini lenyap. Tugasmu adalah
menutupi perbuatanmu. Kau mengerti, Nak?”
“Ya, Sir.”
“Jangan lagi berhubungan seks sembarangan. Kalau
kau ingin menyalurkan nafsumu, pergi ke tenaga
profesional dan kirimkan tagihannya padaku.”
“Ya, Sir.”
“Kami tak bisa membuatmu terpilih menjadi presiden,
lalu menghadapi segerombolan pelacur yang tiba-tiba
muncul dan menuntut kau mengakui anak mereka sebagai
anakmu, bukan?” Clete tersenyum.
Dengan lemah, David ikut tersenyum. “Ya, Sir.”
“Nah, di mana trailer gadis itu?”
Clete membereskan masalah itu malam itu juga.
Seperti kata David, tempat itu berantakan, tapi tidak ada
kata tak mungkin dalam kamus Clete. Dalam waktu
kurang dari 48 jam, seluruh insiden Becky Sturgis telah
256
lenyap ditelan bumi.
David tak pernah bertanya bagaimana Clete membuat
dua mayat lenyap tanpa membangkitkan kecurigaan. Ia
tak pernah bertanya bagaimana Clete berhasil menghapuskan
keberadaan Becky Sturgis. Sesuai petunjuk Clete,
David bersikap seolah insiden itu tak pernah terjadi.
Selama delapan belas tahun berikutnya mereka tak pernah
menyebut-nyebumya lagi. Sampai beberapa hari yang
lalu di Ruang Oval, waktu Clete secara halus menyinggungnya.
Kematian cucunya sendiri membuat Clete teringat
pada kematian wanita muda lain dan anaknya yang baru
lahir. Kedua peristwa itu tidak sama namun memiliki
cukup banyak kemiripan yang membuatnya resah.
Pikiran yang amat mengganggu sering melintas di
benak sang Senator.
Apakah David Merritt, dan bukan si ibu, yang
membunuh bayi itu delapan belas tahun yang lalu? Dan
jika benar, apakah ia telah membunuh lagi?
257
Bab Dua Puluh Dua
BARRIE terus mengawasi pintu rumah makan, tidak
sabar, tapi juga takut, menghadapi Senator Armbruster.
Di daerah tempat sebagian besar bangunannya
berarsitektur Georgian, restoran itu tampak tidak cocok.
Tengah malam begini, para tamunya cuma beberapa
pegawai rumah sakit dan sepasang remaja yang asyik
mengisap milk shakes yang sudah mencair dan berciuman.
Barrie dan Gray menikmati kopi mereka di tempat
duduk di depan jendela kaca besar yang menampakkan
pemandangan pintu masuk ruang gawat darurat. Setelah
muntah-muntah, Dr. Allan butuh waktu sebentar untuk
menenangkan diri, lalu mengikuh iringiringan muram
tadi memasuki rumah sakit. Ia belum muncul kembali,
dan sejak tadi tak ada kegiatan lebih lanjut.
Gray tak banyak bicara. Matanya terpaku pada pintu
yang tadi dilewah brankar yang mengangkut tubuh
Vanessa. Ia duduk dengan lengan bertumpu di permukaan
meja berwarna pink flamingo. Kadang-kadang ia
mengepalkan jemarinya, lalu meluruskannya lagi dengan
kaku. Ia tampak marah dan sangat berbahaya.
Barrie berdehem. “Mereka mungkin mencoba dan
menyatakan kematiannya karena bunuh diri.”
258
“Tidak jika ada hubungannya denganku. Vanessa tak
mungkin membunuh bayinya, dan dia tidak bakal bunuh
diri.”
Menuruti dorongan hatinya, Barrie mengulurkan
tangan ke seberang meja dan memegang lengan pria itu.
Terkejut oleh sentuhannya, Gray menatap tangannya, lalu
memandang wajahnya.
“Aku turut prihatin, Gray,” Barrie berkata. “Aku tahu
kau dulu mencintai Vanessa. Bayi itu...” Ia ragu-ragu
sejenak. “Dia anakmu, bukan?”
“Apa bedanya?” Gray membentak, melepaskan
pegangan Barrie. “Dia sudah mati, begitu juga Vanessa.”
Barrie sakit hati oleh penolakannya. Bahkan ayahnya
sendiri, waktu mau repot-repot pulang, yang jarang
terjadi, tidak pernah menolakaya secara fisik atau sengaja
bersikap jahat padanya.
“Persetan kau, Mr. Bondurant.”
Barrie bangkit, ingin berjalan ke luar dan meninggalkannya
sendirian di sana, tenggelam dalam kesedihan.
Kalau bukan karena Senator Armbruster yang sebentar
lagi datang, ia pasti sudah melakukannya. Tapi akhirnya
ia hanya pergi ke kamar mandi. Sambil meletakkan
tangannya di kedua sisi wastafel, ia bersandar di situ
sampai berhasil mengumpulkan cukup banyak keberanian
untuk mengangkat kepala dan memandang dirinya di
cermin. Mungkin kemarahannya pada Gray tidak sesengit
kemarahannya pada dirinya sendiri. Rasa sakit pria itu
apa adanya, emosinya jujur. Sedang ia, kompleks.
Pergulatan antara minat profesional dan hati nuraninya
menimbulkan dilema moral baginya.
Ia adalah saksi mata peristiwa yang akan tercatat dalam
259
sejarah. Potensi berita yang akan membuat kariernya
meroket itu memenuhi pikirannya. Ia jadi bersemangat
membayangkan dirinya menjadi reporter pertama dan
satu-satunya yang ada di tempat kejadian untuk menyebarkan
berita itu.
Namun kematian tragis seorang wanita tidaklah pantas
untuk dirayakan, khususnya oleh orang yang mengenalnya
secara pribadi seperti Barrie. Kalau ia dulu berhenti
menyelidiki misteri yang menyelimuti kematian anak itu,
apakah Vanessa akan tetap dibunuh? Dalam mengejar
berita panas, apakah ia telah bertindak terlalu jauh?
Apakah ia ikut bertanggung jawab atas berbagai peristiwa
yang berakhir pada tragedi ini, atau nasib mengenaskan
Vanessa sudah ditentukan lama sebelum ia mengajak
Barrie minum kopi?
Yang paling menjengkelkan, ia takkan pernah tahu.
Selama sisa hidupnya, ia akan dihantui pertanyaanpertanyaan
meresahkan itu.
Ia mencuci tangan, lalu menekankan selembar handuk
kertas lembap ke wajahnya. Ketika keluar dari kamar
mandi, ia melihat Armbruster mendekati pintu masuk; Ia
menyongsong pria itu.
“Senator Armbruster.” Tiba-tiba ia teringat bahwa ia
belum memikirkan apa yang akan dikatakannya pada
senator itu. Pria itu mampu membuat siapa pun gentar.
Barrie jelas tidak suka menjadi orang yang harus
memberitahu pria itu bahwa putrinya sudah meninggal.
“Terima kasih atas kedatangan Anda,” katanya pelan.
“Miss, sebaiknya kau punya alasan sangat kuat untuk
membangunkan aku tengah malam seperti ini,” Armbruster
berkata, seraya mengikutinya ke tempat duduk. “Aku
260
takkan datang kemari kalau bukan.’.” la langsung
berhenti melangkah ketika melihat Gray Bondurant.
Gray berdiri. “Clete, lama tidak bertemu denganmu.”
Senator itu tak senang melihamya. Jelas ia memandang
rendah Gray, dan tidak sulit menebak penyebabnya.
Seorang ayah sudah sewajarnya membenci laki-laki yang
merusak kehormatan putrinya, khususnya jika putrinya
itu kebetulan menjadi Ibu Negara Amerika Serikat.
“Bondurant.” Ia tidak memedulikan uluran tangan
Gray. “Apa yang kaulakukan di sini?” Ia berpaling pada
Barrie. “Inikah kejutan besar yang kaukatakan di telepon,
‘urusan sangat penting’ itu?”
“Silakan duduk dulu, Senator. Beri kami kesempatan
untuk menjelaskan. Anda ingin minum kopi?”
“Tidak.” Armbruster duduk di hadapan Gray; Barrie
dan Gray duduk berdampingan di depannya. Sambil
menoleh pada Gray, ia berkata, “Kau jauh dari Montana.”
“Tepatnya Wyoming, dan aku di sini bukan karena
kemauanku sendiri.”
“Aku tak pernah tahu kau mau melakukan apa pun
yang tidak kauinginkan.”
“Dia berada di sini karena yakin beberapa nyawa
terancam,” kata Barrie. “Begitu juga saya.”
Alis Armbruster terangkat dengan gaya mencemooh.
“Oya? Nyawa siapa? Nyawa Hakim Agung Green?”
Ejekannya menyakitkan, namun Barrie tetap tenang.
“Anda mungkin tidak terlalu mempercayai kredibilitas
saya,” ia berkata, “tapi yang akan saya sampaikan ini
adalah fakta yang sebenarnya. Silakan Anda menarik
kesimpulan sendiri. Setuju?”
“Aku tertarik pada apa yang akan kausampaikan suma
261
sampai hal-hal yang menyangkut putriku.”
Barrie berpikir sebentar sebelum bicara. “Senator,
menurut pendapat saya, kematian cucu Anda bukan tidak
disengaja. Saya yakin dia dibunuh. Mungkin dibekap
supaya nafasnya terhenti dan kelihatan seperti SIDS.”
Armbruster menatapnya kaget. “Apa yang ingin
kausampaikan, Miss? Kalau kau bermaksud mengatakan
bahwa Vanessa…”
“David membunuhnya,” sela Gray, langsung ke
sasaran.
Tubuh senator itu sama sekali bergeming, cuma
matanya yang bergerak, memandang mereka bergantian.
Sesaat kemudian ia mencondongkan tubuh ke depan dan
mendesis, “Kau gila?”
“Tidak,” jawab Gray tenang. “David membunuh bayi
Vanessa karena dia bukan ayah bayi itu.”
“Itu kebohongan yang keterlaluan!” protes Armbruster,
tapi suaranya tetap pelan. “Kau orang terakhir yang boleh
menghakimi moral putriku, Bondurant. Dasar bangsat
tukang fitnah, mestinya kutembak kau sekarang juga.”
Wajah Gray jadi kaku. “David bukan ayah bayi
Vanessa. Tak mungkin. Dia telah divasektomi. Bertahuntahun
yang lalu.”
Barrie sama terkejutnya dengan sang Senator ketika
mendengar berita itu. Gray tak memedulikan seruan
pelannya dan memusatkan perhatian hanya pada
Armbruster. “Tidak ada yang tahu soal itu, Clete. Vanessa
pun tidak. Khususnya Vanessa. Selama bertahun-tahun
dia mencoba segala cara supaya bisa hamil, dan bajingan
itu membiarkannya, tahu itu takkan pernah terjadi. Dia
senang melihat istrinya kecewa setiap bulan ketika
262
mendapat menstruasi.”
Barrie memandangi Gray dari samping. Ia sudah
memutuskan bahwa pria itu individu yang kompleks, tapi
ia sekarang jadi bertanya-tanya berapa banyak sisi yang
dimilikinya. Tepat ketika ia merasa sudah melihat
semuanya, sisi lain pun muncul.
“David Merritt tak pernah melakukan vasektomi,
kalau pernah aku pasti mengetahuinya,” kata Senator.
“Kau bohong.”
“Aku tak peduli kau percaya atau tidak, Clete. Aku
cuma mengatakan faktanya. David tak mungkin menjadi
ayah, tapi Vanessa baru mengetahui hal itu setelah dia
hamil dan memberitahukannya pada David.”
Clete terus memandang tajam dengan ekspresi tidak
percaya, tapi Barrie mendeteksi bahwa kesengitannya
berkurang. “Dari mana kau tahu semua ini?” ia bertanya.
“Vanessa menelepon dan memberitahu aku.
“Kabar itu membuat Barrie terhenyak. Semula ia
mengira bahwa setelah Gray menyepi ke Wyoming, ia
tidak berhubungan dengan Vanessa lagi. Senator itu pun
kelihatannya punya pikiran yang sama. Ia tampak sama
terkejutnya dengan Barrie.
“Dia meneleponku sambil menangis,” Gray melanjutkan.
“Dia bertanya apa yang harus dilakukannya.”
“Jadi bayi itu anakmu,” kata Armbruster.
“Bukan itu masalahnya.”
“Itulah masalahnya!”
Kedua pria itu saling melotot, Armbruster dengan
pandangan menuduh, Gray dengan pandangan membangkang
. Akhirnya ia berkata, “Kau mau mendengar
kelanjutannya atau tidak?.”
263
Armbruster menggerakkan tangannya dengan tidak
sabaran.
“Biarpun kalian melihat yang sebaliknya di media,”
kata Gray, melirik Barrie sekilas, “David mengamuk
ketika Vanessa memberitahu dia hamil, karena hal itu
membenarkan gosip perselingkuhannya denganku. Kau
tahu betapa mudahnya David tersinggung, jadi bisa
kaubayangkan apa yang terjadi pada Vanessa.
“Ya Tuhan.” Gray menarik napas, menggeleng-geleng.
“Selama sembilan bulan itu dia membuat hidup Vanessa
seperti neraka jahanam. David tak punya pilihan selain
pura-pura ikut bergembira, namun dia cuma menunggu
kesempatan.”
Bahu Senator membungkuk. Jelas ia mempercayai
cerita Gray.
Barrie yang pertama memecah kesunyian mencekam
yang mendadak timbul. “Kenapa Presiden tidak menyuruh
Dr. Allan melakukan aborsi?”
“Aku pun bertanya-tanya” kata Armbruster.
“Karena aborsi tidak cukup menyakitkan bagi Vanessa,”
jawab Gray tanpa ragu. “Kurasa David ingin menghukumnya
karena perselingkuhannya. Kupikir hukuman terkejam
yang bisa direncanakannya adalah membiarkan Vanessa
mengandung anak itu, melahirkannya, menyayanginya,
mungkin bahkan mengurangi perasaan waswas istrinya
tentang hukuman itu. Ketika Vanessa sudah melakukan
semua itu, dia melaksanakan hukumannya, dengan tidak
tanggung-tanggung. Dan karena Vanessa menyaksikan
pembunuhan itu, David...”
Barrie menyadari bahwa Gray tak sanggup mengatakan
pada Senator apa yang harus dikatakannya. Ia menoleh
264
pada pria yang lebih tua itu. “Mrs. Merritt punya alasan
ketika menghubungi saya. Saya yakin dia berusaha
memberitahukan adanya bahaya”
“Bahaya?”
“Terhadap dirinya sendiri. Karena dia mengetahui
kejahatan Presiden.” Barrie menatapnya dengan penuh
simpati. “Saya menelepon Anda malam ini, Senator,
karena kami percaya bahwa Presiden telah... telah
menciptakan situasi yang membuat Vanessa tak mungkin
bersaksi atas tindakan kriminalnya.”
“Tidak mungkin bersaksi?” Armbruster mengulangi.
“Apa maksudmu?”
Barrie menggerakkan kepala ke arah rumah sakit.
Armbruster memandang ke balik kaca. Kaca itu memantulkan
interior restoran, termasuk bayangan mereka yang
muram. “Dia dibawa ke sana dengan ambulans sekitar
dua jam yang lalu,” katanya.
“Dari rumah George Allan?”
la mengangguk. “Kami mengikuti mereka.”
Armbruster tak lagi kelihatan seperti negarawan
berwibawa yang memiliki kekuasaan, yang punya
wewenang. Ia tampak seperti seorang ayah yang baru saja
mendapat kabar buruk tentang anak tunggalnya. Selama
beberapa saat terakhir wajahnya kelihatan seperti kalah
telak. Kerut wajahnya tampak makin dalam, lipatan
kulitnya rnengendur. Suaranya lemah, penuh dengan rasa
tidak percaya. “Baru beberapa hari yang lalu aku pergi ke
rumah itu.”
“Kau bertemu Vanessa secara langsung?” tanya Gray.
Ketika Senator menggeleng, kulit yang menggelambir
di bawah dagunya bergoyang. “George bilang dia sedang
265
beristirahat dan tak ingin diganggu, oleh aku sekalipun.
Dia menghiburku, katanya Vanessa cuma butuh istirahat.”
“Clete,” ujar Gray sabar, “George akan melakukan apa
saja yang diperintahkan David, seperti pada malam David
membunuh bayi itu.”
“Tapi Dinas Rahasia berada di sana untuk melindunginya.”
“Mereka tidak mampu melindungi cucumu. Percayalah
padaku, David sudah merencanakan semua ini dengan
cermat—dibantu Spence, aku yakin. Vanessa harus
minum banyak obat. Dia mungkin memanfaatkan fakta
itu. Jika Vanessa meninggal...”
“Meninggal?” ulang Armbruster. “Maksudmu...” Matanya
dengan cepat berpindah dari Gray ke Barrie.
Belakangan Banie tak ingat ia meninggalkan restoran
itu dan berlari melewati jarak pendek yang memisahkan
tempat itu dengan pintu masuk ruang gawat darurat. Para
agen Dinas Rahasia sama sekali tak tampak. Perawat yang
sedang bertugas di meja resepsionis bertanya ramah
apakah ia bisa membantu mereka.
Senator bahkan meliriknya pun tidak. Ia berjalan cepat
melewati pintu otomatis, diikuti Barrie dan Gray tepat di
belakangnya. Dr . Allan sedang bersandar di dinding
ujung koridor. Ia tampak sama kalutnya dengan ketika
mengantarkan mayat Vanessa ke dalam rumah sakit.
Ketika ia mengangkat kepala dan melihat Armbruster,
Barrie, dan Gray mendatanginya, wajahnya berubah
seputih kapas.
“Senator Arrnbruster, kenapa... kenapa Anda ada di
sini?”
“Mana putriku?” Armbruster memandang pintu di
266
belakang dokter itu. “Dia di dalam sana?”
“Tidak.”
“Dasar bangsat pembohong.” Didoronguya dokter itu
ke samping, namun George Allan mencengkeram lengan
kemejanya.
“Senator, saya mohon. Saya tak bisa membiarkan
Anda masuk. Tunggu sampai dia selesai diperiksa.”
Armbruster mengeluarkan suara tercekik yang terdengar
seperti isakan. Gray menyambar kerah jas dokter itu dan
mendesaknya ke dinding. “Bajingan kau. Mereka akan
menghabisimu karena perbuatanmu ini... kalau aku tidak
membunuhmu lebih dulu.”
Karena diberitahu tentang adanya situasi tegang, para
petugas rumah sakit berkumpul di ujung koridor, namun
kepala penjaga keamanan sekalipun tak berani turun
tangan.
Armbruster membuka pintu yang sejak tadi dijaga Dr.
Allan, tapi ia terpaku berpegangan di situ, supaya tidak
jatuh. Di seberang ruangan, menempel di dinding,
tampak brankar tadi. Tali-tali pengikat telah dilepaskan.
Sosok kaku itu tertutup selimut.
“Oh, Tuhan.” Suaranya terdengar seperti kain dirobek.
Ia menyeret tubuhnya dan berjalan terhuyung-huyung
menyeberangi ruangan. Barrie dan Gray mengapitnya,
siap memapah. George memasuki ruangan. Protes-protes
sengitnya tetap tak digubris.
Ketika mereka sampai di dekat brankar, Senator
berdiri diam, memandangi selimut itu, tangannya terjntai
di samping tubuhnya.
“Clete?” kata Gray.
Senator itu mengangguk. Gray memegang dua sudut
267
selimut dan mengangkatnya.
Terdengar suara napas tersentak waktu mereka menatap
wajah mayat itu; wajah Jayne Gaston, R.N.
268
Bab Dua Puluh Tiga
“JAYNE GASTON adalah perawat pribadi yang dipekerjakan
George Allan untuk merawat Vanessa sewaktu
dia dalam pengasingan di Highpoint.” Barrie berbaring
telentang di ranjang lipat yang dulu merupakan tempat
tidur Cronkite setiap kali ia membawanya ke rumah
Daily. Ia sedang melaporkan kejadian-kejadian semalam
supaya Daily tidak ketinggalan berita. “Omong-omong,
terima kasih kau mengizinkan aku menginap di sini.”
“Memangnya ada tempat lain?”
“Persis itulah maksudku. Aku warga kasta paria. Kalau
aku penderita lepra, tak mungkin aku lebih dihindari
orang lagi. Mungkin sebaiknya kaukalungkan lonceng di
leher untuk memperingatkan orang-orang bahwa aku
datang.”
“Tidak terlalu lucu,” tukas Daily masam.
“Kupikir juga begitu.” Suara Barrie serak karena
menahan tangis. “Yah, kembali ke semalam. Rupanya
Jayne Gaston mengalami serangan jantung kemarin sore
di rumah Highpoint Dr . Allan. Dia berusaha
menyelamatkan wanita itu, tapi tak berhasil.”
Sesaat, cuma suara napas Daily yang tersengal-sengal
yang terdengar di ruangan kecil dan berantakan itu. Di
269
mana-mana berserakan barang-barang yang dibeli Barrie
sejak rumahaya hancur. Sebagian besar pakaian itu masih
di dalam tas belanja. Daily duduk di ujung tempat tidur,
kaki Barrie yang terbalut stocking berada di pahanya. Ia
memijati kakinya tanpa semangat.
“Kalau perawat itu meninggal siangnya, kenapa
mereka menunggu sampai gelap dulu baru memindahkan
mayatnya?” Daily bertanya.
“Dr . Allan harus mengoros masalah pemindahan
Vanessa kembali ke Washington. Dia ingin melindungmya
dan trauma akibat kematian Mrs. Gaston. Sebuah
helikopter dikirim ontuk membawanya pulang ke
Gedung Putih, tapi saat itu dia sudah mengetahui soal
Mrs. Gaston. Dia tak bisa dihibur. Menurut dokter itu,
hubungan mereka berdua cukup dekat.
“Kemudian keluarga terdekat Mrs. Gaston, putranya,
yang tinggal di kota itu, tak bisa segera ditemukan. Dr.
Allan tidak mau tiba di rumah sakit dengan mayatnya
sebelum anaknya itu diberitahu.”
“Tapi itu kan sering terjadi.”
“Berbeda kalau yang meninggal perawat pribadi Ibu
Negara. Dr. Allan takut berita itu bocor dan tersebar luas
sebelum anaknya dapat dihubungi. Dia kan tinggal tidak
terlalu jauh.”
“Kurasa itu masuk akal,” gumam Daily. “Tapi kalau
kau tanya pendapatku, rasanya alasannya mengada-ada.”
“Yah, singkat cerita, Dr . Allan menunggu untok
menghubungi ambolans sampao dia merasa tak bisa
menunggu lebih lama lagi. Gray dan aku kebetulan
melihat iring-iringan kendaraan mereka di jalan. Kami
mengikutinya. Ketika kami melihat mayat itu...” Barrie
270
menghela napas.
“Kau menarik kesimpulan berdasarkan dugaan, bukan
fakta.”
“Silakan mencelaku terus.”
“Aku takjub kau betul-betul menelepon Armbruster
supaya datang ke sana.”
“Tetaplah takjub. Aku betul-betul menelepon Armbruster
dan juru kamera WVUE yang datang pada saat yang
tepat. Dia muncul beberapa detik setelah kesalahan
besarku ketahuan. Demi kepentingan anakcucu, dia
merekam kekagetanku dan Gray, Armbruster yang nyaris
semaput, dan kedatangan Ralph Gaston, Jr., putra
almarhumah, yang bukan cuma dihadapkan pada kesedihan
mendalam karena kematian ibunya, tapi juga dilibatkan
dalam keributan sebagai buntut kekeliruanku.
“Salah satu individu sadis dari kalangan pegawai
rumah sakit memberitahu pers setempat, yang akibatnya...
Yah, kau tahu kesudahannya. Kami jadi berita utama.
Syukurlah berita itu sudah dipadamkan sebelum jaringan
berita tiba. Aku kabur dengan satu-satunya rekaman
video peristiwa itu.”
la berhenti sebentar untuk menghapus air mata dan
membersihkan hidung. Ia jadi gampang menangis sejak
dimarahi Senator Armbruster habis-habisan. Tanpa
memedulikan orang lain, pria itu mencercanya karena
telah mempermalukan diri sendiri dan, lebih buruk lagi,
mempermalukan sang Senator. Ia harus dicambuk dengan
cemeti kuda karena membuatnya ketakutan seperti itu,
kata Armbruster, dan mempenngatkan bahwa ia akan
menerima ganjaran akibat perbuatannya yang tak bisa
dimaafkan, tak bisa ditolerir, dan tidak profesional itu.
271
Barrie tidak meragukan keseriusan kata-katanya dan
ngeri dengan peringatannya.
Ancaman orang itu bagai pisau mengilat yang siap
menebas lehernya. Tamat sudah riwayatnya; ia cuma tak
tahu kapan atap bagaimana pisau itu akan menebas
lehernya. Untuk jangka panjang, ia mungkin tak perlu
takut pada pembalasan dendam senator itu, sebab
ketegangan akibat tidak mengetahui bentuk pembalasan
dendam itu mungkin akan membuatnya hancur lebih
dulu.
“Ya Tuhan, Daily,” erang Barrie seraya menutupi
matanya dengan lengan, “kenapa aku bisa begitu keliru?
Semua fakta mengarahkan aku untuk menarik kesimpulan
bahwa Presiden Amerika Serikat telah melakukan satu,
bahkan mungkin dua pembunuhan. Aku mestinya
menggunakan logika dan berpikir dua kali.”
“Terus terang, menurutku masalahnya bukan cuma
logika,” kata Daily bersimpati. “Kalau kau ingat searah,
coba sebutkan tokoh yang tidak pernah mengabaikan
logika.”
“Berhentilah menghiburku. Biarkan aku tenggelam
dalam kesengsaraan. Aku pantas mengalaminya.”
Daily memijat tumimya. “Kau memang melakukan
kekacauan cukup besar, kuakui. Ini bahkan lebih parah
daripada insiden Hakim Agung Green.”
“Aku tak habis pikir,” Barrie berkata, suaranya nyaris
berbisik. “Waktu Gray menyibakkan selimut itu, aku
mengira bakal melihat rambut kecokelatan Vanessa yang
indah dan wajahnya yang halus. Tapi yang terbaring di
sana wanita yang sama sekali asing. Aku terpana. Dan
kemudian Armbruster tentu saja meledak seperti Gunung
272
St. Helens. Dan Gray...”
“Gray?” Daily bertanya.
“Dia menghilang seperti David Copperfield.”
Tindakannya yang konyol memang punya konsekuensikonsekuensi
berat, namun, dari semua itu, menghilangnya
Gray mungkin merupakan konsekuensi yang paling
berat. Ia pasrah dirinya akan menjadi sasaran balas
dendam Armbruster. Senator itu akan membuatnya
menderita karena selama beberapa menit Barrie telah
membuatnya yakin putrinya sudah meninggal. Selama
bertahun-tahun yang akan datang, ia bakal menjadi bahan
tertawaan korps wartawan Washington. Serpihan-serpihan
kredibilitas yang dengan susah payah dikumpulkannya
sejak peristiwa Hakim Agung Green kini musnah sudah.
Ia akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, itu pun
kalao mungkin, untuk mendapatkan kembali sejumlah
kecil rasa hormat dari kalangan jumalistik.
Biarpun seandainya ia tidak memberitahu stasiun TVnya
sendiri, akhirnya kejadian itu akan sampai juga ke
telinga mereka. Pennsylvania Avenue seperti jalan utama
di setiap kota kecil Amerika. Gosip dan berita buruk
tersebar dengan kecepatan cahaya. Kekacauan dengan
tokoh seterkenal itu tak mungkin bisa dirahasiakan.
Jadi ia siap diolok-olok. Rasanya pasti menyakitkan.
Namun tidak separah perginya Gray.
Ia mengalihkan pandangan dari topeng kematian Jayne
Gaston ke wajah pria itu, dan wajah keduanya sama-sama
tanpa ekspresi. Anehnya, ia lebih mengkhawatirkan
reaksi Gray daripada reaksi Armbruster. D, antara mereka
berdua, senator itu lebih vokal dan penuh makian.
Amukannya mengalihkan perhatian Barrie, dan ketika
273
laki-laki itu selesai mencercanya, Gray telah lenyap.
“Aku mencari-cari ke seantero rumah sakit, lalu ke
tempat parkir,” ujarnya. “Tak ada yang ingat pernah
melihatnya pergi. Mobilku masih di tempat kami
meninggalkannya, jadi aku tak tahu transportasi apa yang
digunakannya. Dia lenyap begitu saja.”
Dicabutnya kutikel ibu jarinya. “Kurasa dia malu
sekali karena orang yang begitu berpengalaman seperti
dia terseret oleh khayalan idiot seperti aku.”
“Kumohon,” erang Daily. “Ucapan mengasihani diri
sendiri membuatku ingin muntah.’’
“Aku tidak...”
“Kau tidak membuat Bondurant jadi percaya pada apa
pun, dan kau terlalu berbesar kepala kalau mengira
mampu berbuat begitu. Kau cuma mengkonfirmasi
kecurigaan yang memang sudah dirasakannya, ingat?”
“Tapi berdasarkan informasiku, dia jadi membunuh
Spence.”
“Untuk membela diri.”
“Kita yakin?”
“Kau meragukannya?”
“Yah, kalau tidak ada yang perlu disembunyikan
Merritt, kenapa dia mengirim Spence ke Wyoming untuk
menyingkirkan Bondurant? Karena aku telah menceritakan
padanya teori ngawurku, Gray pasti salah mengira tujuan
kunjungan Spence. Padahal waktu kedatangannya yang
tak lama setelah aku itu barangkali tak lebih dari sekadar
kebetulan. Merritt takkan membiarkan penasihat
andalannya hilang tanpa melakukan pencarian dan
penyelian besar-besaran. Gray akan dituduh melakukan
pembunuhan.”
274
“Dia menghapus jejak Martin dan mungkin
menyingkirkan mayatnya dengan begitu rapi hingga
takkan bisa ditemukan,” Daily berspekulasi. “Tak ada
mayat, tak ada pembunuhan.”
“Itu masalah teknis.”
“Kelihatannya dia tidak terlalu peduli.”
“Memang, dia lebih peduli soal Vanessa. Waktu
mengira wanita itu sudah meninggal, wajahnya sendiri
pucat seperti mayat.”
Gray mencintai Vanessa Merritt. Bukan cuma nafsu,
melainkan cinta sejati la begitu mencintainya hingga rela
mengorbankan kariernya demi wanita itu. Ia
mengundurkan diri supaya pernikahan maupun status
Vanessa di mata publik tidak hancur akibat skandal affairnya.
Ia begitu mencintainya hingga rela melepaskan hak
apa pun terhadap putranya. Ia pasti merasa tersiksa karena
tidak hadir ketika anak itu dilahirkan, dan kemudian
berduka sendirian atas kematiannya, di tempat yang bagai
pengasingan.
Barrie takkan pernah mendapatkan cinta seperti itu,
dan ia kesal karena menganggap pengabdian seperti itu
telah disia-siakan untuk wanita yang sedangkal dan
seegois Vanessa Armbruster Merriu. Ia sakit, itu betul.
Tapi apakah itu membuatnya boleh bersikap sangat
manipulatif? Kenapa Vanessa dulu melibatkan dia?
Mengapa ia melemparkan begitu banyak petunjuk untuk
diikutinya?
“Dia bisa dibilang jantan,” komentar Daily.
“Hmm. Apa? Siapa? Bondurant?” Barrie cepat-cepat
menarik kakinya dan duduk. “Aku tidak tahu.”
“Kalian tidak...” Daily mengangkat alis.
275
“Tentu saja tidak.”
“Tapi kau sebetulnya ingin.”
“Jangan macam-macam. Mr. Bondurant kita itu
memang memiliki beberapa sifat mengagumkan, namun
dia sangat jauh dari laki-laki idealku. Dia kuat, pendiam,
yang menurut pendapatku, sama artinya dengan bajingan
beradab.
“Dia membunuh teman karena katanya membela diri,
tapi kita kan cuma mendengar versinya. Dia berhubungan
dengan wanita yang takkan pernah dimilikinya, sampai
kapan pun. Dia hidup seperti pertapa di tengah hutan,
tempat yang aneh dan cukup menyeramkan.
“Bahkan kalaupun dia tinggal di pojok jalan dan
menjadi Warga Negara Teladan Tahun Ini, dia sama
sekali tidak merahasiakan pendapamya tentang aku, yaitu
aku ini sumber malapetaka, bencana yang sebentar lagi
akan terjadi. Yah, percakapan ini sebetulnya mubazir
karena aku tidak tertarik padanya, lagi pula dia kan sudah
menghilang. Oke?”
“Jadi, berapa lama sejak bertemu dengannya kalian
tidur seranjang?”
“Kira-kira sembilan puluh detik.”
“Ya ampun, Barrie.”
“Yeah. Benar-benar cara profesional, tapi cuma kalau
kau pelacur.” Barrie menghela napas. “Karena karierku
sebagai wartawan sudah tamat, barangkali sebaiknya aku
mempertimbangkan untuk bergerak di bidang pemenuhan
kesenangan pribadi.”
“Kau, jadi pelacur?” Daily terkekeh. “Aku ingin lihat.”
“Aku terpaksa minta bayaran tambahan karena kau
juga melihat.” Barrie mengayunkan kaki melewati tepi
276
tempat tidur . “Percakapan ini, yang kamuai dengan
harapan akan membangkitkan semangatku, malah
membuatku semakin tertekan. Aku mau mandi.”
“Mandi takkan menghilangkan sakit hatimu.”
“Yah, pokoknya aku mau mandi.” Dirogohnya tas
belanjanya untuk mengambil pakaian dalam baru. Sambil
melepas labelnya, ia berkata, “Kalau aku boleh mengajukan
satu permintaan, Daily, aku ingin kembali ke hari
Vanessa menelepon untuk mengajakku minum kopi. Dan
aku akan menolaknya.”
“Berarti kau kini yakin bayi Merritt meninggal akibat
SIDS, dan yang lainnya cuma penilaian buruk dan
khayalan aktifmu?”
Barrie mendongak dan menatapnya tajam. “Memangnya
kau tidak?”
“Kau tampak mengagumkan!” Clete memeluk putrinya
erat-erat. “Tak bisa kukatakan betapa senang hatiku
bertemu denganmu.”
“Senang bertemu denganmu juga, Daddy.” Vanessa
membalas pelukannya, namun Senator merasakan
kegelisahannya dan melepaskannya. Senyum Vanessa
secerah cincin berlian seharga sepuluh dolar dan tampak
jauh lebih palsu. “Tadi pagi aku melihat diriku di cermin.
Kurasa aku takkan menggunakan kata mengagumkan,
untuk menggambarkan diriku.”
“Kau baru sembuh setelah sakit berminggu-minggu.
Wajar kan kalau kau pucat? Sebentar lagi pipimu akan
kembali bersemu.”
“Menurutku, dia tampak luar biasa.” Ini perkataan
David Merritt, yang sedang mengoleskan mentega ke
muffin blueberry.


Penulis: Sandra Brown

Bab Satu

"Anda kelihatan cerah, Mrs. Merrit."
"Aku kelihatan Kacau"
Vanessa Merrit sebetulnya memang tampak kacau,
dan Barrie jadi malu karena ketahuan menyampaikan pujian kosong.
Ia berusaha memperbaiki kesalahannya dengan tenang.
" Setelah apa yang Anda alami, Anda berhak tampak sedikit kusut.
Wanita lain, termasuk say, khususnya saya, akan puas jika bisa tampil
seperti Anda biarpun Anda sedang sangat kacau.
"Terima kasih." Ia mengaduk cappucino-nya tanpa semangat.
kalau saraf bisa berbunyi, saraf Vanessa Merrit pasti
sudah berdenting-denting seperti sendoknya ketika Ia
dengan gemetar meletakkannya kembali.
'Ya Tuhan. Demi sebatang rokok, aku rela semua kuku
jariku dicabut dengan tang."
Ia jelas tidak pernah tampak merokok di edepan umum,
jadi Barrie terkejut mendengar Ia ternyata peroko.
Meskipun sikapnya yang gelisah memang ciri pecandu nikotin.
Tangannya tak pernah diam. Ia mengotak-atik kalung
mutiaranya, bermain-main dengan giwang berlian indah
di telinganya, dan berulang kali membetulkan letak
kacamata RayBan yang nyaris menutupi lingkaran hitam
dan bengkak di sekeliling matanya.
Matanya yamg cemerlang sangat menunjang
kecantikannya. Sampai saat ini. Hari ini, mata indah
berwarna biru muda itu menunjukkan rasa sakit dan
kecewa. Hai ini sepasang mata itu tampak seperti mata
bidadari yamg baru saja melihat neraka untuk pertama
kalinya.
“Saya tidak punya tang,” ujar Banie. “Tapi saya punya
ini.” Dari tas kulit besarnya, ia mengeluarkan sebungkus
rokok yang belum dibuka dan menyodorkannya ke
seberang meja.
Mrs. Merrit jelas tampak tergoda. Matanya yang kalut
dengan gelisah mengamati teras luar restoran. Cuma ada
beberapa pria di meja lain dan seorang pelayan yang
lewat tak jauh dari mereka Meski begitu, ditolaknya
rokok itu. “Sebaiknya aku tidak merokok. Tapi kadau kau
mau. silakan.”
“Saya tidak merokok. Saya membawanya untuk jagajaga
seandainya saya harus membuat orang yang saya
wawancarai merasa rileks.”
“Sebelum kau mencecarnya.”
Barrie tertawa. “Saya cuma bisa berharap saya seganas
itu.”
“Sebetulnya kau lebih bagus menggarap kisah-kisah
kemanusiaan.”
Merupakan kejutan yang menyenangkan bagi Barrie
mendengar Mrs. Merrit tahu tentang karya-karyanya.
“Terima kasih.”
“Beberapa laporanmu cukup luar biasa. Seperti
tentang pasien-pasien AIDS itu. Dan laporan yang
7
kaubuat tentang wanita tunawisma tanpa suami yang
beranak empat itu.”
“Kisah itu dinominasikan untuk penghargaam industri.”
Barrie merasa tak ada alasan untuk memberitahu bahwa
ia sendirilah yang mengikutsertakan kisah itu.
“Aku menangis menontonnya,” kata Mrs. Merrit.
“Saya juga.”
“Terus terang, kau begitu hebat, aku jadi sering
bertanya-tanya kenapa kau tidak bergabung saja dengan
sebuah jaringam pemberitaan.”
“Saya punya beberapa aib.”
Alis Vanessa Merrit yang rapi berkerut. “Bukankah ada
isu mengenai Justice Green yang...”
“Ya, itu,” potong Barrie. la tak ingin semua
kegagalannya dibeberkan satu demi satu dalam
perbincangan ini. “Kenapa Anda menghubungi saya,
Mrs. Merrit? Saya senang, tapi penasaran.”
Senyum Vanessa Merrit perlahan-lahan memudar.
Dengan suara rendah dan serius ia berkata, “Sudah
kukatakan, bukan? Ini bahan wawancara.”
“Saya mengerti.”
Sebetulnya tidak. Barrie Travis sama sekali tidak tahu
mengapa Mrs. Merrit mendadak menelepon dan
mengundangnya minum kopi. Selama beberapa tahun ini
mereka memang saling kenal, tapi tidak akrab.
Bahkan pilihan tempat pertemuan hari ini pun
mencurigakan. Restoran ini salah satu dari beberapa
tempat serupa di sepanjang pantai selat yang
menghubungkan Sungai Potomac dengan Tidal Basin.
Malam hari, seluruh kelab dan tempat makan di
sepanjang Water Street ini selalu penuh pengunjung, yang
8
sebagian besar adalah turis. Kadang-kadang memang ada
yang makan siang di sini. tapi di siang bolong pada hari
kerja begini, restoran-restoran ini kosong melompong.
Mungkin tempat ini dipilih memang karena sepinya.
Barrie memasukkan sepotong gula ke cangkir
cappuccino-nya, kemudian dengan malas-malasan
mengaduknya sambil memandang ke luar pagar besi
teras.
Mrs. Merrit mengaduk cappuccino-nya dan akhirnya
menyesapnya. “Sudah dingin.”
“Anda mau pesan lagi?” tanya Barrie. “Biar saya
panggil pelayannya.”
“Tidak, terima kasih. Sebetulnya aku tidak ingin
minum kopi. Kopi cuma, kau tahu...” la mengangkat
bahunya yang dulu langsing menarik tapi sekarang kurus
melengkung.
“Cuma alasan?” tebak Barrie.
Vanessa Merrit mengangkat kepala. Di balik kacamata
hitam itu, Barrie melihat kejujuran muram tersorot dari
mata wanita itu “Aku harus bicara dengan seseorang.”
“Dan Anda teringat pada saya?”
“Well, ya.”
“Karena beberapa kisah saya membua t Anda
menangis’?”
“Itu. dan karena kartu simpati yang kaukirim. Aku
tersentuh. Sangat tersentuh.”
“Saya senang kartu itu bisa menghibur Anda”
“Aku. aku tidak punya banyak temam akrab. Kau dan
aku kira-kira seumur. Kupikir kau bisa jadi pendengar
yang baik.” la menunduk. Seuntai rambut kocekelatan
tergerai ke depan, menutupi sebagiam tulang pipinya
9
yang klasik dan dagunya yang aristokrat.
Dengan suara pelan Barrie berkata, “Kartu saya tidak
mampu mengutarakan betapa sedihnya saya atas apa yang
terjadi.”
“Sesungguhnya mampu. Terima kasih,” Vanessa Merrin
mengambil tisu dari tas dan menyelipkannya di bawah
kacamata hitam untuk mengusap matanya. “Entah dari
mana air mata ini.” katanya tentang air mata yang
membasahi tisunya itu. “Mestinya aku sudah kekeringan
sekarang.”
“Itukah yang ingin Anda bicarakan?” tanya Barrie
lembut ‘’Bayi itu?”
“Robert Rushton Merrit,” kata Mrs. Merritt sengit
“Kenapa sih semua orang tidak mau menyebut namanya?
Demi Tuhan, dia punya nama selama tiga bulan. dia ada
dan punya nama”
“Saya rasa “
la tidak memberi Barrie waktu untuk bicara. “Rushton
nama gadis ibuku.” Mrs. Merritt menjelaskan “Dia pasti
suka kalau cucu pertamanya diberi nama
keluarganya”Sambil memandangi air selat yang bergolak,
Mrs. Merritt melanjutkan bicaranya dengan suara
melamun. ‘’Dan aku selalu suka nama Rohen. Itu nama
yang lugas, tanpa tahi kucing”
Kevulgaran ucapannya mengejutkan Banie. Omongan
sepeni itu sangat jauh dari citra wania Selatan terhormat
.Vanessa Merritt Seumur hidup, helum pernah Barrie
merasa hegitu kehabisan kata-kara Dalam situasi seperti
ini, apa yang pantas diucapkannya? Apa yang bisa
dikatakannya pada wanita yang baru saja kehilangan
bayinya? Pemakaman yang bagus?
10
Tiba tiba Mrs. Merritt bertanya, “Apa yang kau ketahui
tentang masalah itu?”
Barrie tergagap. Apakah ia sedang ditantang? Apa
yang kau ketahui tentang kehilangan anak? Apa yang
betul-betul kau ketahui tentang apa pun?
“Apakah maksud Anda...? Yang Anda maksud kematian
bayi... maksud saya, kematian Robert?”
“Ya. Apa yang kauketahui?”
“Tidak ada yang benar-benar tahu soal SIDS (Sudden
infant Death Syndrome—siodrom kematian bayi secara
mendadak), bukan?” tanya Barrie, meraba-raba maksud
di balik pertanyaan itu.
Rupanya Mrs. Merritt berubah pikiran tentang rokok
tadi. Dirobeknya bungkus rokok yang tergeletak di meja.
Gerakannya seperti boneka tali, tersentak-sentak dan
kaku. Jari-jari yang menempelkan rokok ke bibirnya
bergetar. Barrie cepat-cepat mengambil pemantik api dari
tas. Vanessa Merritt tidak berbicara lagi sampai setelah
mengisap rokoknya dalam-dalam beberapa kali. Tapi
tembakau itu tidak menenangkannya, malah membuatnya
makin resah.
“Robert sedang tidur, menyamping, disangga salah
satu bantal kecil, seperti posisi yang diajarkan padaku.
Kejadiannya begitu cepat! Bagaimana bisa...” Suaranya
lenyap.
“Apakah Anda menyalahkan diri Anda? Dengar.”
Barrie mengulurkan tangan ke seberang meja, mengambil
rokok dari tangan Mrs. Merritt, dan melumatkannya di
asbak. Lalu ia menekan tangan dingin wanita itu di antara
kedua tangannya. Gerakan untuk menunjukkan simpati
itu dilihat oleh pria-pria di meja lain.
11
“Robert meninggal karena kematian di tempat tidur
bayi. Ribuan ibu dan ayah setiap tahun kehilangan anak
akibat SIDS, dan tak satu pun di antara mereka yang tidak
meragukan kemampuan mereka merawat anak. Sudah
sifat manusia untuk menimpakan kesalahan pada tragedi,
jadi manusia menimpakan kesalahan pada diri mereka
sendiri. Jangan jatuh ke dalam perangkap itu. Kalau Anda
mulai berpikir Anda-lah yang bertanggung jawab atas
kematian bayi Anda, Anda mungkin tidak akan pernah
bisa melupakannya.”
Mrs. Merritt menggeleng kuat-kuat. “Kau tidak
mengerti. Semuanya memang salahku.” Di balik kacamata
hitam itu matanya memandang sekeliling dengan liar. Ia
menarik tangannya dari genggaman Barrie, menyentuh
pipi. pindah ke permukaan meja, pangkuan, sendok.
leher. Ia berusaha menenangkan diri. “Bulan-bulan
terakhir kehamilanku tak tertahankan rasanya.”
Selama beberapa saat ia menutupi mulutnya dengan
tangan, seolah trimester terakhir itu amat sangat
menyakitkan. “Lalu Robert lahir. Tapi keadaan bukannya
membaik, seperti yang kuharapkan, malah semakin
buruk. Aku tidak bisa...”
“Tidak bisa apa? Mengatasinya? Semua ibu yang baru
melahirkan akan merasa galau,” Barrie menghibumya.
Mrs. Merritt memijat pelipisnya dengan ujung jari.
“Kau tidak mengerti,” ia mengulangi dengan suara
berbisik yang tegang. “Tidak ada yang mengerti. Aku
tidak bisa bicara dengan siapa pun. Dengan ayahku pun
tidak. Oh, Tuhan, aku tidak tahu mesti bagaimana!”
Kekacauan emosinya begitu nyata hingga para pria di
meja sebelah menoleh dan memandanginya. Pelayan
12
mendekat, ekspresinya tampak khawatir.
Barrie cepat-cepat berbicara dengan suara tertahan.
“Vanessa, kumohon, tenangkan dirimu. Orang-orang
memperhatikan kita.”
Entah karena Barrie memanggilnya dengan nama
depannya atau karena alasan lain, kekacauan emosi tadi
segera berubah 180 derajat. Tangannya yang tadi terus
bergerak, kini diam. Air matanya langsung kering. Ia
menenggak habis cappuccino dingin yang beberapa saat
lalu tak ingin diminumnya, kemudian mengakhirinya
dengan mengusap bibirnya yang pucat dengan serbet.
Barrie mengamati transformasi itu dengan takjub.
Pulih seutuhnya, dengan suara tenang dan datar, ia
berkata, “Percakapan ini sama sekali off the record,
bukan?”
““Tentu,” jawab Barrie. “Anda sudah mengatakannya
waklum menelepon saya.”
“Mengingat posisimu, dan posisiku, aku sekarang
menganggap mestinya pertemuan ini tidak dilangsungkan.
Sejak Robert meninggal, aku jadi kacau. Kupikir aku
harus membicarakannya, tapi temyata aku salah.
Membicarakannya cuma membuatku makin tidak keruan.”
“Anda baru saja kehilangan bayi Anda. Anda pantas
merasa galau.” Barrie menyentuh lengan wanita di
hadapannya itu. “Jangan terlalu keras pada diri Anda.
SIDS terjadi begitu saja.”
la membuka kacamata hitamnya dan menatap mata
Barrie lurus-lurus. “Betul begitu?”
Lalu Vanessa Armbruster Merritt, sang Ibu Negara
Amerika Serikat, mengenakan kembali RayBan-nya,
menyandang tasnya, dan berdiri. Para agen Dinas Rahasia
13
di meja sebelah cepat-cepat bangun. Mereka diikuti tiga
agen lain yang sejak tadi berdiri di sepanjang pagar besi,
tidak kelihatan.
Mereka mengelilingi Ibu Negara dan mengawalnya
dari teras restoran ke limusin yang telah menunggu.
14
Bab Dua
BARRIE mengaduk-aduk tasnya, mencari koin untuk
mesin minuman. “Ada yang punya beberapa koin 25 sen
yang bisa kupinjam?”
“Untukmu tidak ada, Manis,” jawab seorang editor
video yang kebetulan lewat. “Kau sudah berutang 75 sen
padaku.”
“Besok kubayar. Sumpah.”
“Tidak usah ya, Cantik.”
“Pernah dengar soal pelecehan seksual di kantor?” seru
Barrie pada laki-laki itu.
“Tentu. Aku mendukungnya,” balas laki-laki itu
sambil menoleh.
Barrie berhenti mencari koin di dasar tasnya,
memutuskan sekaleng minuman diet tidak cukup berarti
untuk membuatnya bersusah payah begitu.
Ia berjalan di antara kerumunan orang, melintasi ruang
berita stasiun televisi, melewati labirin bilik sampai ia
tiba di biliknya sendiri. Kalau melihat mejanya yang
berantakan, pengidap obsesif-kompulsif pasti sudah
bunuh diri. Barrie melemparkan tasnya ke meja, hingga
tiga majalah terjatuh ke lantai.
“Kau pernah membaca majalah-majalah itu?”
15
Suara yang tak asing itu membuat Barrie mengerang.
Howie Fripp adalah editor penugasan departemen berita,
atasan langsungnya, dan orang yang amat sangat
menyebalkan.
“Tentu saja aku membacanya,” dusta Barrie. “Dari
awal sampai akhir.”
la berlangganan beberapa majalah. Majalah-majalah
itu datang secara teratur, menumpuk tinggi di mejanya
sampai ia terpaksa membuangnya, lebih sering belum
dibaca. Dengan setia ia membaca horoskop bulanan di
Cosmopolitan. Kira-kira itulah waktu yang dihabiskannya
untuk majalah-majalah itu, tapi ia berprinsip takkan
berhenti berlangganan. Semua jurnalis TV yang baik
merupakan pecandu berita, mereka membaca semua yang
bisa dibaca.
Dan dia adalah jurnalis TV yang baik.
Betul.
“Tidakkah hati nuranimu terusik kalau tahu bahwa
ribuan pohon menyerahkan nyawa mereka hanya supaya
kau bisa tetap punya bahan bacaan yang tidak kaubaca?”
“Howie, kau-lah yang mengusikku. Lagi pula, beraniberaninya
kau berkhotbah soal kesadaran lingkungan,
padahal asap rokokmu yang empat bungkus sehari itu
mengotori atmosfer.”
“Belum lagi kentutku.”
la membenci seringai kecil jahat laki-laki itu hampir
seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur
WVUE, stasiun TV independen di bawah standar yang
beranggaran kecil, yang setengah mati bertahan hidup di
antara raksasa-raksasa berita di Washington, D.C. Ia
harus mengemis supaya memperoleh dana untuk
16
memproduksi feature story seperti yang dipuji Ibu
Negara tadi. Dan ia punya ide untuk banyak feature story
lain. Tapi manajemen stasiun ini, termasuk Howie,
berbeda pendapat. Ide-idenya dihalangi oleh para pria
yang tak punya visi, bakat, dan energi. Tempatnya
memang bukan di sini.
Bukankah itu juga keyakinan para penghuni penjara?
“Terima kasih, Howie,. karena tidak menyebut-nyebut
soal kentutmu.”
la mengempaskan diri ke kursi dan menyisir rambut
dengan jari-jarinya, lalu menariknya ke belakang. Penata
rambutnya memang tidak hebat, tapi angin lembap di
teras restoran tadi membuatnya berantakan.
Pilihan tempat pertemuan yang aneh.
Lebih aneh lagi pertemuan itu sendiri.
Apa tujuannya?
Dalam perjalanan pulang ke stasiun TV, Barrie
menelaah setiap patah kata yang terucap sepanjang
pertemuannya dengan Ibu Negara. Ia menganalisis semua
infleksi dalam suara Vanessa Merritt, menimbang setiap
gerakan tangan, menebak bahasa tubuhnya, memikirkan
pertanyaan final meresahkan yang merupakan kata-kata
perpisahan untuknya itu, tapi ia tetap tak bisa mengatakan
dengan pasti apa yang terjadi. Atau apa yang tidak terjadi.
“Sudah periksa e-mail-mu?” tanya Howie,
membuyarkan pikirannya.
“Belum.”
“Harimau yang. kabur dari karnaval keliling itu?
Mereka sudah menemukannya Ternyata dia tidak kabur.
Jadi, tak ada berita.”
“Oh tidaaak!” kata Barrie dramatis. “Padahal aku
17
sangat ingin meliputnya.”
“Hei, itu bisa jadi berita besar. Kucing besar itu bisa
saja memakan anak kecil.” Howie tampak benar-benar
kecewa peristiwa itu tidak terjadi.
“Itu liputan kelas teri, Howie. Kau selalu memberiku
liputan kelas teri. Apa karena kau tidak suka padaku, atau
karena aku wanita?”
“Aduh, jangan ngomong soal feminis itu lagi deh. Kau
mau dapat haid, ya?”
Barrie menghela napas. “Howie, kau payah.”
Payah. Itu dia. Vanessa Merritt tadi kelihatan payah.
Tidak sabar menghadapi ocehan laki-laki itu, Barrie
berkata, “Dengar, Howie, kalau tidak ada alasan spesifik
kau datang kemari, aku masih banyak pekerjaan, seperti
yang bisa kaulihat.”
Howie mundur ke partisi yang memisahkan kotaknya—
begitulah pendapatnya tentang bilik kerjanya yang penuh
sesak—dari bilik sebelah. Tanpa memedulikan musim,
Howie mengenakan kemeja putih lengan pendek. Selalu.
Selalu dengan celana panjang hitam yang mengilap.
Dasinya dijepit. Hari ini dasi pilihannya sangat norak dan
ada noda di ujunguya yang sudah berjumbai, yang
panjanguya cuma sampai di bagian tengah perutnya yang
buncit, sangat tidak proporsional dengan bokongnya yang
tepos dan kakinya yang melengkung kurus.
Sambil menyilangkan tangan dan kaki, ia berkata,
“Tidak ada salahnya kalau kau punya berita, Barrie. Kau
tahu, berita. Kau digaji untuk mencari berita, setidaktidakuya
satu setiap hari. Bagaimana kalau kaucari untuk
warta berita malam ini?”
“Aku sedang menggarap sesuatu yang ternyata tidak
18
menarik,” gumcun Barrie seraya menghidupkan komputer.
“Tentang apa?”
“Karena tidak menarik, buat apa dibahas?”
Vanessa Merritt bilang bulan-bulan menjelang kelahiran
anaknya rasanya tak tertahankan. Biarpun tidak
mengatakannya secara tegas dan jelas, dari sikapnya saja
dapat terlihat bahwa ia mengalami masa-masa sulit.
Sesudah kelahiran si bayi, “tak tertahankan” berkembang
jadi semakin buruk. Tapi apa yang begitu tak tertahankan?
Dan mengapa memberitahu aku?
Howie terus berceloteh, tidak sadar bahwa Barrie
cuma setengah mendengarkan. “Aku tidak minta liputan
langsung tentang orang yang menembak kepalanya
sendiri, atau langkah-langkah pertama manusia di Mars,
atau kelompok ekstrem menyandera Paus di Vatikan.
Berita kecil yang menyenangkan sudah cukup. Pokoknya
berita tentang apa saja. Untuk mengisi enam puluh detik
antara siaran iklan kedua dan ketiga. Cuma itu yang
kuminta.”
“Kau ini dangkal sekali, Howie,” komentar Barrie.
“Kalau itu tadi pidato pendorong semangat paling bagus
yang bisa kausampaikan, pantas saja kau mendapatkan
hasil yang begitu tidak memuaskan dari para
bawahanmu.”Howie meluruskan tangan dan kaki, lalu
menegakkan tubuh hingga tingginya yang 165 senti,
berkat ganjalan di sepatu, jadi kelihatan. “Kau tahu apa
masalahmu? Di matamu tampak ambisi. Kau ingin jadi
Diane Sawyer. Well, kuberitahu kau, ya... kau bukan dia.
Dan takkan pernah jadi dia. Kau takkan pernah menikah
dengan sutradara film terkenal atau memiliki news
magazine show—acara berita yang membahas masalah19
masalah aktual secara mendalam—sendiri. Kau takkan
pernah memiliki respek dan kredibilitas dalam bisnis ini.
Karena kau pecundang dan semua orang di industri ini
tahu. Jadi berhentilah menunggu berita besarmu dan
terima saja apa yang bisa ditangani oleh diri dan bakatmu
yang terbatas. Berita yang bisa kuudarakan. Oke?”
Barrie mengabaikannya persis setelah pernyataan “di
matamu tampak ambisi”. Ia pertama kali mendengar
pidato itu pada hari Howie mempekerjakannya, karena
kebaikan hatinya. begitu kata laki-laki itu. Lagi pula, pria
itu menambahkan, pihak manajemen mendesaknya untuk
menambah “cewek” lagi, dan Barrie “lumayan manis”.
Sejak saat itu hampir setiap hari ia mendengar pidato
yang sama. Selama tiga tahun.
Ada beberapa pesan di e-mail-nya, tapi semua bisa
ditunda. Ia mematikan komputer dan berdiri. “Sekarang
sudah terlalu malam untuk melakukan apa pun, Howie.
Tapi akan kuberi kau berita besok. Janji.” Ia menyambar
tas dan menyandangkannya di bahu.
“Hei! Mau ke mana kau?” Howie berteriak pada Barrie
yang bergegas melewatinya.
“Ke perpustakaan.”
“Untuk apa?”
“Riset, Howie.”
Ketika melewati mesin minuman dingin, Barrie
meninjunya. Sekaleng Diet Coke menggelinding keluar.
Ia menganggapnya sebagai pertanda baik.
Sambil dengan susah payah menjaga agar tas, setumpuk
buku perpustakaan, dan kunci-kunci yang dibawanya
tidak berjatuhan, Barrie membuka kunci pintu belakang
20
townhouse-nya dan bergegas masuk. Begitu melalui
ambang pintu, ia disambut ciuman basah dan penuh
semangat.
“Terima kasih, Cronkite.” Barrie mengusap wajahnya
yang lengket. “Aku cinta padamu juga.”
Cronkite dan saudara-saudarapya tadinya akan
“ditidurkan” di tempat penampungan anjing pada hari
Barrie memutuskan ia membutuhkan teman berkaki
empat, setelah teman berkaki duanya menyatakan ingin
berpisah dan meninggalkannya selamanya.
Ia sulit memutuskan anak anjing mana yang akan
diselamatkannya, tapi ia tidak pernah menyesali pilihannya.
Cronkite bertubuh besar dan berbulu panjang, jelas
memiliki darah golden retriever. Matanya yang cokelat
besar memandangnya tanpa berkedip sekarang, sementara
ekornya memukul-mukul betisnya dengan gembira.
“Selesaikan urusanmu,” ia memberitahu anjing itu,
mengangguk ke arah halaman belakang. “Pakai pintu
anjingmu.” Cronkite mendengking. Barrie menghela
napas. “Oke, kutunggu. Tapi cepat. Buku-buku ini berat.”
Dengan gembira Cronkite mengencingi semak-semak,
lalu melesat ke dalam mendahului Barrie.
Mari kita lihat apa ada surat asyik hari ini,” ia berkata
ketika melangkah ke ruang depan tempat surat-suratnya
menumpuk di bawah celah pintu depan.
“Tagihan, tagihan, tagihan lewat batas waktu. Undangan
makan malam di Gedung Putih.” la memandang
anjingnya, yang memiringkan kepala dan menatapnya
dengan pandangan bertanya. “Cuma mengecek apakah
kau mendengarkan atau tidak.”
Cronkite membuntutinya naik ke karnar, tempat Barrie
21
mengganti pakaian dan sepatu hak tingginya dengan
jersey Redskins yang panjangnya hampir mencapai lutut
dan kaus kaki olahraga. Sesudah menyisir rambut, ia
mengikatnya jadi buntut kuda. Sambil memandangi
bayangannya di cermin, ia bergumam, “Cantik,” kemudian
melupakan soal penampilan dan memusatkan perhatian
pada pekerjaan.
Setelah bertahun-tahun, ia sekarang memiliki banyak
narasumber—para klerek, sekretaris, kekasih gelap,
pelayan, polisi, orang di posisi kunci—yang kadangkadang
memberinya infomasi berharga dan petunjukpetunjuk
yang bisa dipercaya. Salah satu di antaranya
adalah seorang wanita bemama Anna Chen, yang bekerja
di kantor administrasi General Hospital Washington.
Gosip-gosip panas yang ditangkap Anna Chen dari
seluruh penjuru rumah sakit sering menjadi berita-berita
bagus. Ia termasuk narasumber Barrie yang paling dapat
diandalkan.
Berharap belum terlalu larut untuk meneleponnya di
kantor, Barrie mencari nomomya di Rolodex dan
menghubunginya. Operator rumah sakit langsung
menyambungkannya.
“Hai, Anna. Ini Barrie Travis. Untung kau masih ada.”
“Aku baru mau pergi. Ada apa?”
“Bagaimana peluangku memperoleh salinan laporan
autopsi bayi keluarga Merritt?”
“Kau bercanda?”
“Sekecil itu?”
“Nyaris mustahil, Barrie. Maaf.”
“Sudah kukira, tapi tidak ada ruginya mencoba.”
“Kenapa kau menginginkannya?”
22
la menyebutkan beberapa alasan palsu, yang tampaknya
bisa memuaskan narasumbernya itu. “Bagaimanapun
juga, terima kasih, Anna.”
Kecewa, Barrie menutup telepon. Laporan autopsi
akan merupakan titik awal yang bagus, walau ia masih
tidak jelas apa persisnya yang akan dimulainya.
“Kau ingin makan malam apa, Cronkite?” Barrie
bertanya sambil melompat-lompat menuruni tangga ke
dapur. Ia membuka lemari dan menyebutkan pilihan
menu. “Hidangan istimewa malam ini adalah Kibbles and
Bits, Alpo ayam dan hati, atau Gravy Train.” Aojing itu
mendengking kecewa. Kasihan, Barne berkata, “Luigi’s?”
Lidahnya yang panjang dan merah jambu langsung
terjulur, dan ia mulai ribut mendengus-dengus.
Akal sehatnya menyuruhnya makan Lean Cuisine, tapi
masa bodoh. Saat kau berada di rumah pada malam hari,
mengenakan jersey dan kaus kaki olahraga, bercakapcakap
dengan anjing kampung dan tidak akan melakukan
apa-apa selama berjam-jam selain riset, apa salahnya
menikmati beberapa ratus gram lemak?
Sewaktu ia berbicara di telepon untuk memesan dua
piza, Cronkite mulai mendengking-dengking minta
keluar. Barrie menutup corong telepon. “Kalau memang
mendesak, pakai pintu anjingmu.” Dengan sebal Cronkite
melirik celah tertutup di pintu belakang. Lubang itu
cukup untuk dilewati Cronkite, tapi tidak cukup besar
bagi manusia hingga Barrie tidak perlu takut didatangi
tamu tak diundang. Sambil mengulang pesanan piza, ia
menudingkan telunjuknya ke pintu anjing. Dengan
tampang terhina, Cronkite keluar melalui pintu itu.
Barrie sudah selesai menelepon waktu Cronkite ingin
23
masuk kembali, jadi ia membukakan pintu belakang
untuknya. “Pizanya dijamin diantarkan dalam 25 menit,
kalau tidak, kita tidak perlu membayarnya.”
Sementara menunggu, ia menuang segelas merlot dan
membawanya ke lantai tiga, yang telah diubahnya jadi
ruang kerja. Ia telah menguras tabungannya untuk
membeli townhouse yang terletak di distrik Dupont
Circle yang gaya ini. Bangunan ini tua tapi menarik dan
berkarakter, juga dekat dari mana-mana.
Tadinya ia menyewakan lantai paling atas, yang
merupakan apartemen tersendiri. Tapi ketika penyewanya
pindah ke Eropa meskipun uang sewa selama enam
bulannya masih ada, Barrie menggunakan uang ekstra itu
untuk mengubah ketiga kamar berukuran kecil itu
menjadi sebuah ruang kerja yang luas.
Salah satu dinding ruangap itu kini digunakan khusus
untuk menyimpan kaset video. Ada beberapa rak. Ia
menyimpan semua laporannya sendiri, siaran berita yang
membahas peristiwa-peristiwa bersejarah, dan semua
news magazine show. Kaset-kaset itu disusun sesuai abjad
subjeknya. Ia langsung mengambil kaset yang diinginkannya,
memasukkannya ke VCR, dan menontonnya
seraya menyesap anggur pelan-pelan.
Kematian dan pemakaman Roben Rushton Merritt
didokumentasikan secara lengkap. Tragedi itu rasanya
semakin tidak adil karena menimpa keluarga Merritt,
yang pemikahannya dianggap merupakan lambang
kesempurnaan.
Presiden David Malcomb Merritt bagai tokoh panutan
bagi pria muda Amerika yang bercita-cita menjadi
presiden. Ia tampan, atletis, menarik, dan karismatis bagi
24
pria dan juga wanita.
Vanessa Merritt adalah pasangan yang serasi bagi
suaminya. Ia menawan. Kecantikan dan daya tarik
Selatannya menutupi kekurangannya. Misalnya dalam
segi intelektualitas. Dan kebijaksansan. Ia tidak dianggap
punya kelebihan di bidang kecerdasan, tapi tampaknya
tidak ada yang peduli. Masyarakat menginginkan Ibu
Negara yang menarik hati, dan Vanessa Armbruster
Merritt dengan rnudah memenuhi keinginan itu.
Orangtua David sudah lama meninggal. Ia tidak
memiliki keluarga yang masih hidup. Namun ayah
Vanessa lebih dari cukup dalam menutupi kekurangan ini.
Tak ada yang bisa mengingat sejak kapan Cletus
Anmbruster menjadi senator senior dari Mississippi. Ia
memegang jabatan itu lebih lama daripada entah berapa
presiden.
Bersama mereka membentuk tiga serangkai menarik
yang sama terkenalnya dengan. keluarga kerajaan dan
mana pun. Sejak pemerintahan Kennedy, tidak satu pun
presiden Amerika, istrinya, dan kehidupan pribadi
mereka, menarik begitu banyak perhatian dan kekaguman
publik, di tingkat nasional dan dunia, seperti keluarga
Merritt. Apa pun yang mereka lakukan, ke mana pun
mereka pergi, sendirian atau bersama, selalu menjadi
berita.
Wajarlah Amerika bergembira ketika diumumkan
bahwa Ibu Negara tengah mengandung anak pertama
pasangan itu. Bayi itu akan membuat keluarga sempuma
itu jadi semakin sempuma.
Kelahiran sang bayi mendapatkan liputan pers lebih
besar daripada berita apa pun. Barrie ingat waktu itu ia
25
menonton, dari monitor ruang berita, berita kesekian
kalinya tentang kedatangan bayi Merritt di Gedung Putih.
Waktu itu Howie berkomentar dengan masam, “Perlukah
kita mencari bintang di Timur?”
Satu-satunya peristiwa yang mendapat liputan sebesar
itu adalah kematian bayi yang sama tiga bulan kemudian.
Dunia terperangah, terkejut, dan sedih. Tak ada yang
mau mempercayainya. Tak ada yang bisa mempercayainya.
Amerika berduka.
Barrie menghabiskan minumannya, memutar ulang
video itu untuk ketiga kalinya, dan menonton lagi
gambar-gambar pemakaman yang memilukan.
Vanessa Menitt tampak pucat dan sedih, namun cantik
dengan setelan berkabunguya. Ia tak sanggup berdiri
tanpa dibantu. Semua orang bisa melihat betapa hancur
hatinya. Setelah bertahun-tahun menikah, baru sekarang
ia memperoleh anak; satu lagi aspek kehidupan pribadinya
yang diselidiki dan dibeberkan secara sangat mendetail
oleh pers. Kehilangan anak yang telah dengan susah
payah diperolehnya, membuatnya jadi tokoh yang betulbetul
tragis.
Presiden tampak tabab sementara air mata membasahi
pipinya yang cekung dan mengalir ke sisi mulutnya.
Orang-orang berkomentar tentang betapa penuh
perhatiannya ia pada istrinya. Hari itu, David Merritt
lebih dipandang sebagai suami dan ayah yang kebetulan
juga menjadi kepala eksekutif.
Senator Armbruster terang-terangan menangis.
Kontribusinya untuk peti mati kecil cucunya adalah
bendera mungil Negara Bagian Mississippi, yang mencuat
di antara mawar putih dan baby’s breath.
26
Jika Barrie menjadi sang Ibu Negara, ia pasti ingin
berduka tanpa dilihat orang-orang. Ia pasti membenci
semua kamera dan komentator itu. Meskipun ia tahu para
koleganya cuma melakukan tugas mereka—Barrie sendiri
ikut meliput—pemakaman itu jadi tontonan publik,
dikirim lewat satelit ke seluruh dunia. Bagaimana Vanessa
Merritt sanggup tampil setenang itu?
Bel pintu Barrie berbunyi.
Ia melirik jam. “Sialan! Dua puluh empat menit, 39
detik. Kau tahu, Cronkite,” ia berkata ketika mereka
menuruni tangga, “kurasa mereka sengaja berbuat begitu
untuk membuat kita berharap.”
Luigi sendiri yang mengantar. Ia orang Italia bertubuh
pendek gemuk dengan wajah kemerahan, bibir penuh,
dan segumpal rambut hitam keriting—di dada. Kepalanya
botak tanpa rambut sehelai pun.
“Miss Travis,” katanya, berdecak memandang pakaiannya.
“Saya tadinya berharap piza tambahan malam
ini untuk sang pacar.”
“Bukan. Yang pakai bakso untuk Cronkite. Kuharap
kau tidak terlalu banyak memberi bawang putih.
Perutnya jadi kembung. Berapa?”
“Saya masukkan ke tagihan Anda.”
‘’Terima kasih.” Diraihnya kedua kotak itu. yang
aromanya membuat Cronkite melompat-lompat histeris
di kakinya. Gerakan Cronkite, merlot tadi, dan perutnya
yang kelaparan membuat Barrie pusing.
Tapi Luigi tidak mau melepaskan pizanya tanpa
ceramah yang merupakan tambahan gratis darinya.
“Anda bintang film...”
“Aku di bagian berita TV.”
27
“Sama saja,” bantah Luigi. “Saya bilang pada istri
saya, ‘Miss Travis pelanggan yang baik. Dua-tiga malam
dalam seminggu dia menelepon kita. Baik bagi kita, tapi
buruk baginya. Dia terlalu banyak sendirian.’ Dan istri
saya bilang...”
“Bahwa mungkin Miss Travis memang ingin sendirian.”
“Tidak. Katanya Anda tidak bertemu pria karena
terlalu banyak bekerja.”
“Aku bertemu pria, Luigi. Tapi yang baik sudah ada
yang punya semua. Laki-laki yang kujumpai, kalau tidak
sudah menikah, homo, aneh, atau tak mungkin didapat.
Tapi kuhargai perhatianmu.” Diraihnya piza itu lagi.
Kembali tak berhasil.
“Anda cantik, Miss Travis.”
“Aku tidak bisa membuat lalu lintas macet.”
“Rambut Anda bagus. Warna kemerahan yang indah.
Kulit Anda juga bagus. Dan mata hijau Anda sangat tidak
biasa.”
“Warna hazel yang sangat biasa.” Sama sekali tidak
spektakuler. tidak seperti, yah, mata safir jernih Vanessa
Merritt.
“Agak kecil di atas sini.” Mata Luigi bergerak ke
payudaranya Barrie tahu dari pengalaman, bahwa jika ia
membiarkan, pria itu sekarang akan mulai mengevaluasi
tubuhnya.
“Tapi tidak terlalu kecil,” ia cepat-cepat menghibur
Barrie. “Secara keseluruhan, Anda langsing.”
“Dan makin langsing.” Barrie menyambar kotak-kotak
piza. “Terima kasih, Luigi. Tambahkan tip yang banyak
untuk dirimu dalam tagihanku, dan kirim salam untuk
istrimu.” Ia menutup pintu sebelum Luigi sempat
28
berkomentar lagi tentang kehidupan asmaranya.
Cronkite sudah kalap, jadi Barrie langsung memberinya
pizanya lengkap dengan kotaknya. Lalu ia sendiri duduk
di meja dapur, makan piza sambil minum segelas anggur
lagi, ditemani buku-buku perpustakaan yang dipinjamnya
tadi siang. Piza itu, seperti biasa, sangat lezat. Anggur
keduanya habis lebih cepat daripada yang pertama. Riset
tentang SIDS ternyata mengasyikkan.
Dibanding piza dan anggur, ia lebih menikmati
risetnya, ingin mencari tahu lebih banyak.
29
Bab Tiga
SAMBlL mengerutkan kening dengan skeptis, Howie
Fripp mengorek telinganya dengan kunci mobil. “Entah,
ya.”
Barrie menahan keinginannya untuk menyerbu ke
seberang meja dan menerkam tenggorokan pria itu. Tak
seorang pun bisa membangkitkan aspek ganas
kepribadiannya ini. Kecuali Howie. Bukan hanya kebiasaan
pribadinya yang menjijikkan dan chauvinisme-nya yang
menyebalkan yang membangunkan insting buas pada diri
Barrie. Ketololan dan pandangannya yang sempitlah yang
membuat Barrie benci setengah mati pada laki-laki itu.
“Apanya yang tidak kausukai?”
“Membuat depresi saja,” jawab Howie, seraya bergidik
untuk menekankan perkataannya. “Bayi meninggal di
tempat tidur. Siapa yang mau menonton serial tentang
masalah itu?”
“Para orangtua baru. Para calon orangtua. Para
orangtua yang mengalaminya. Siapa saja yang ingin tahu
dan memahaminya, yang kuharap termasuk paling tidak
sebagian dari pemirsa kita.”
“Kau hidup di dunia mimpi, Barrie. Pemirsa kita
menonton karena ada tayangan ulang Cheers setelah
30
warta berita.”
Barrie berusaha menyembunyikan nada tidak sabar
dalam suaranya. Kalau Howie tahu ia geram padanya.
laki-laki itu akan makin hertingkah. “Karena subjeknya,
serial itu memang tidak akan menjadi tontonan yang
menyenangkan. Tapi tidak berarti harus jadi cengeng
juga. Aku sudah menghubungi pasangan yang kehilangan
anak akibat SIDS dua tahun yang lalu. Mereka, sekarang
sudah punya anak lagi, dan bersedia melakukan wawancara
di depan kamera tentang bagaimana meneka mengatasinya.”
Seraya berdiri, Barrie mencoba memenangkan perdebatan
ini. “Temanya habis gelap terbitlah terang Kemenangan
dalam mengatasi kesedihan. Bisa membangkitkan
semangat.”
“Kau sudah menyiapkan orang-orang yang akan
diwawancara?”
“Tergantung persetujuanmu, tentu saja,” Barrie berkata,
menyenangkom hatinya. “Aku ingin semua sudah siap
sebelum menemuimu, Howie . Aku melakukan riset
mengenai masalah ini selama seminggu, berbicara dengan
berbagai dokter anak dan psikolog. Ini topik yang tepat,
terutama sejak kematian bayi Merritt.”
“Orang sudah muak mendengarnya.”
“Tapi aku membahasnya dari beberapa sudut yang
unik.”
Ini bukan sekadar untuk mempromosikam proyeknya.
Makin dalam ia meriset SIDS, makin penasaran ia pada
subjek-subjek sampingan yang sama menarik dan pantas
diselidiki dengam subjek inti. Ketika mempelajarinya, ia
jadi sadar bahwa laporan tunggal sepanjang sembilan
puluh detik takkan cukup untuk membahasnya.
31
Tapi Howie menghalanginya. “Entah, ya,” ulangnya.
Kunci mobil tadi berputar-putar di telingamya yang satu
lagi sementara ia membaca ulang proposal Barrie.
Proposal itu mendetil namun singkat. Tentu orang yang
berkapasitas mental terbatas seperti Howie pun mestinya
mampu memahaminya.
Barrie meminta tiga segmen, untuk mengudara selama
dua malam berturut-turut dalam warta berita malam.
Masing-masing segmen akan membahas elemen SIDS
yang berbeda. Ia juga mengusulkan agar acara ini
dipromosikan besar-besaran sebelum diudarakan.
Pada akhirnya, tentu saja, ini tidak tercammm dalam
proposal, akan ada produser berita di antara para pemirsa
yang mengagumi karyanya dan menawarkan pekerjaan
padanya sehingga ia bisa keluar dari koloni lepra
jurnalisme TV ini, yang juga dikenal sebagai Departemen
Berita WVUE.
Howie bersendawa. Di ujung kunci tadi tampak
segumpal kotoran cokelat, yang disapukannya ke lembaran
paling atas proposal Barrie. “Aku tidak yakin...”
“Aku telah mewawancarai Mrs. Merritt.”
Howie menjatuhkan kunci itu. “Apa?”
Barrie berbohong, tentu saja. Tapi kalau keadaan
memaksa... “Baru-baru ini kami minum kopi bersama.”
“Kau dan Ibu Negara?”
“Betul. Dia yang mengundang. Dalam perbincangan
kami, aku bercerita tengah menggarap sebuah serial. Dia
mendukung ideku dan setuju untuk mengungkapkan
pendapatnya.”
“Di depan kamera?”
Di kepala Barrie mendadak muncul bayangan Vanessa
32
Merritt yang berusaha bersembunyi di balik RayBan,
dengan tangan gemetaran memegang rokok yang sebetulnya
tidak boleh diisapnya; gambaran Ibu Negara sebagai
wanita yang emosinya kacau.
“Tentu saja di depan kamera,” Barrie berkata, matanya
membelalak.
“Kau tidak bilang apa-apa soal Ibu Negara dalam
proposalmu.”
“Aku menyimpannya untuk kejutan.”
Oke, aku terkejut,” kata Howie datar.
Barrie tak pernah pandai berbohong, tapi Howie pun
bukan orang yang pandai menilai karakter orang, Jadi
menurut Barrie ia aman.
Pria itu mendoyongkan tubuh di mejanya. “Jika Mrs.
Merritt setuju untuk diwawancara...”
“Pasti.”
“Kau tetap harus membuat satu liputan setiap hari.”
Setelah berkata begitu, ia bersandar dan menggaruk
selangkangannya.
Barrie mempertimbangkan syarat itu, kemudian menggeleng
tegas. “Aku harus memberi perhatian penuh pada
masalah ini, Howie. Aku ingin menggunakan seluruh
waktuku untuk liputan ini.”
“Dan aku ingin tidur dengan Sharon Stone. Tapi kita
tidak selalu memperoleh keinginan kita, bukan?”
Barrie berpikir lagi. “Oke. Syarat disetujui.”
“Barrie Travis.”
“Siapa?”
Ibu Negara berdehem sebelum mengulangi nama itu.
“Barrie Travis. Dia reporter untuk WVUE.”
“Oh, yeah. Yang suaranya agak serak?” David Merritt,
33
Presiden Amerika Serikat, memasang manset bergambar
lambang kepresidenan. “Aku menyilakan dia bertanya
dalam konferensi pers baru-baru ini. Laporan-laporannya
tentang Gedung Putih biasanya bagus, bukan?”
“Sangat bagus.”
“Kenapa dia?”
Vanessa, sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa,
meneguk anggur putihnya seteguk. “Dia membuat serial
tentang SIDS dan ingin mewawancara aku.”
Merritt mengenakan tuksedo dan memandang bayangannya
di cermin. Ketika memasuki Gedung Putih, ia
memutuskan untuk tidak memiliki pelayan pribadi.
Penjahit paling berpengalaman sekalipun tidak bisa
menampilkan kelebihan fisiknya lebih baik daripada
dirinya sendiri. Potongan jasnya menonjolkan bahunya
yang lebar dan pinggangnya yang ramping. Rambutnya
selalu dipangkas rapi tapi tidak pernah diberi minyak
rambut. Diam-diam ia sebetulnya lebih suka rambutnya
tampak seperti habis ditiup angin. Ia mengenakan pakaian
resmi dengan elegan dan anggun. Kalau mengenakan
blue jeans, ia tampak seperti orang kebanyakan.
Menyukai apa yang tampak di cermin, ia menoleh
pada istrinya. “Dan?”
“Dan dia akan hadir pada resepsi malam ini. Dalton
berjanji akan memberikan jawaban padanya.”
Dalton Neely adalah sekretaris pers Gedung Putih. Ia
dipilih dan dididik dengan baik oleh Merritt dan
penasihat andalannya, Spencer Martin.
“Sebetulnya, permintaan resminya diajukan melalui
kantor Dalton.” Vanessa mengeluarkan sebutir Valium
yang diresepkan dokter dari botol obat di dalam tas
34
tangan manik-maniknya. “Barrie Travis selama beberapa
hari terakhir ini menelepon kantorku terus. Aku tidak
pernah menerima teleponnya, tapi dia pantang menyerah.”
“Reporter mencari uang dengan bersikap pantang
menyerah.”
“Well, sikapnya itu membuatku repot. Dalton tadi
siang memberitahu aku soal permintaannya. Mereka
berdua menginginkan jawabanku malam ini.”
Dengan cepat Presiden menghampiri istrinya dan
mencengkeram tangannya. Diambilnya tablet kuning
kecil dari tetapak tangan Vanessa. Lalu dikeluarkannya
botol obat dari tas tangan istrinya dan dimasukkannya pil
tadi ke dalamnya. Setelah itu ia mengantongi botol itu.
“Aku membutuhkannya, David.”
“Tidak. Ini juga sudah cukup.” Diambilnya gelas
anggur dan disisihkannya. “Anggur menetralkan obatmu.”
“Aku baru minum dua gelas.”
“Tiga. Kau membohongiku, Vanessa.”
“Oke, aku lupa. Bukan masalah. Aku...”
“Bukan soal anggur itu. Soal reporter ini. Bukan dia
yang merepotkanmu, kau sendirilah yang melakukannya.
Dia mulai menelepon kantormu sejak kau bertemu
dengannya beberapa minggu yang lalu. Begitu kan
kejadiannya?”
la diberitahu tentang pertemuan mereka hari itu juga,
jadi ia tidak terkejut dengan permintaan wawancara
Barrie Travis. Yang mengganggu pikirannya adalah,
tanpa seizinnya, Vanessa telah memulai pembicaraan
dengan orang pers. Vanessa dan seorang reporter,
khususnya yang memiliki reputasi buruk, meropakan
kombinasi berbahaya.
35
“Kau memata-matai aku?” sembur Vanessa.
“Kenapa kau menemui dia. Vanessa?”
“Aku butuh teman bicara. Apakah itu merupakan
kejahatan?”
“Kau memilih teman bicara seorang reporter?” David
tertawa sinis.
“Dia mengirimi aku kartu yang menyentuh. Kupikir
dia pasti menyenangkan diajak bicara.”
“Lain kali cari pendeta saja.”
“Kau melebih-lebihkan, David.”
“Kalau memang tidak penting, kenapa kau tidak
memberitahu aku?”
“Pertemuan itu tidak penting sampai dia meminta
wawancara di depan kamera ini. Sebelumnya, pembicaraan
kami tidak perlu diceritakan. Dia berjanji apa pun yang
kukatakan siang itu off the record. Ako butuh seseorang—
wanita—untuk kuajak bicara.”
“Tentang apa?”
“Kaukira apa?” sergah Vanessa.
Ia melompat bangun dari sofa, menyambar gelas
anggur, dan dengan gaya menantang menghabiskannya.
David bersusah payah menahan amarahnya. “Kau
kehilangan kontrol, Vanessa.”
“Betul sekali. Jadi akan lebih baik kalau kau pergi
tanpa aku malam ini.”
Resepsi malam itu, yang diadakan untuk menghormati
delegasi muhibah dari negara-negara Skandinavia, adalah
penampilan resmi pertamanya sejak kematian tragis
Robert Rushton. Pesta kecil dan formal itu hanya cocok
untuk pemunculan kembali Vanessa ke depan publik. Ia
menghilang sesudah kematian bayinya. Tiga bulan waktu
36
yang cukup lama. Masyarakat yang memilih suaminya,
butuh melihatnya kembali beraksi.
“Tentu saja kau ikut” ujar Presiden. “Kau akan jadi
primadona pesta. Selalu begitu.”
“Tapi...”
“Tidak ada tapi-tapi. Aku muak mencari alasan
untukmu. Kita barus mengatasi ini, Vanessa. Sudah dua
belas minggu.”
“Memangnya ada batas waktu untuk berduka?”
Presiden mengabaikan nada sengit dalam suaranya.
“Malam ini kau harus tampil sempurna. Jadilah dirimu
sendiri yang menawan, selalu tersenyum, maka semua
akan beres.”
“Aku benci orang-orang itu, mereka memandangiku
dengan tatapan kasihan dan prihatin, dan tidak tahu harus
bilang apa. Dan ketika ada yang bicara, omongannya
begitu hambar, aku jadi ingin berteriak rasanya.”
“Bilang saja terima kasih untuk ucapan belasungkawa
mereka, titik.”
“Ya Tuhan!” jerit Vanessa, suaranya bergetar. “Bagaimana
kau bisa tanpa perasaan begitu...”
“Karena aku harus melakukannya, brengsek. Dan kau
juga.”
Suaminya memandangnya begitu tajam hingga Vanessa
terduduk kembali di sofa. Lalu ia mendongak terpana
menatap David.
David membuang muka, dan ketika ia berbicara lagi,
kemarahannya tak terdengar. “Aku suka gaun malammu.
Baru, ya?”
Bahu Vanessa melorot. Ia menunduk. David mengamatinya
di cermin, dan mengenali gerakan refleks itu sebagai
37
tanda menyerah. “Berat badanku turun,” gumam Vanessa.
“Baju-bajuku kebesaran semua.”
Terdengar ketukan di pintu. Presiden melintasi
ruangan dan membukanya. “Hei, Spence. Mereka sudah
siap?”
Spencer Martin memandang ke balik bahu David dan
mengamati kamar. Melihat Vanessa, dan gelas anggur
kosong di meja, ia balik bertanya “Anda sudah siap?”
Presiden sengaja tidak mengacuhkan komentar penasihatnya.
“Vanessa agak demam panggung, tapi, seperti
yang kau tahu, dia selalu berhasil mengatasinya.”
“Mungkin kita terlalu mendesaknya. Jika dia merasa
belum siap...”
“Omong kosong. Dia sudah siap.” Ia menoleh pada
istrinya dan mengulurkan tangan. “Siap, Sayang?”
Vanessa berdiri dan pelan-pelan mendatangi mereka,
tanpa memandang mereka.
Salah satu sifat David adalah mengabaikan hal-hal
yang tidak ingin diakuinya misalnya perasaan tidak suka
di antara istri dan penasihat andalannya. “Dia kelihatan
cantik malam ini, bukan, Spence?”
“Betul, Mr. President.”
“Terima kasih,” jawab Vanessa kaku. Ketika mereka
melangkah ke koridor, ia menggandeng suaminya dan
bertanya “Apa yang harus dikatakan Dalton pada Barrie
Travis?”
“Barrie Travis si reporter?” sela Spence. “Mengatakan
apa pada dia?” Ia memandang Presiden dengan tatapan
bertanya.
“Dia minta izin Dalton untuk mewawancara Vanessa”
“Tentang apa?”
38
“SIDS,” jawab Presiden.
Semangat Barrie meluap-luap. Kata-katanya mengalur
deras seperti air bah.
“Aku melewati barisan penerima tamu bersama
pasanganku. Jangan girang dulu. Dia homo yang masih
merahasiakan kondisinya. Kami saling menolong, kuranglebih
begitulah. Dia mendapat undangan ke resepsi itu
dan membutuhkan pasangan wanita, dan aku mendapat
kesempatan untuk berbicara langsung dengan Presiden
dan Ibu Negara.
“Begitulah, aku meluncur sepanjang barisan penerima
tamu, bersikap seanggun mungkin, dan ketika samp u di
dekat Presiden, dia menggenggam tanganku dengan
kedua tangannya, demi Tuhan aku tidak bohong, dan
berkata, ‘Miss Travis, terima kasih banyak Anda bersedia
datang. Kami selalu senang menerima Anda di Gedung
Putih. Anda tampak luar biasa malam ini.’
“Sebetulnya, aku tidak ingat kata-kata persisnya, tapi
cukup jika kukatakan aku tidak diperlakukan-seperti
orang asing, atau sekadar kenalan, atau bahkan reporter
biasa. Barbara Walters saja tak mungkin disambut lebih
hangat daripada aku:’
Cronkite menguap dan mencari posisi yang lebih
nyaman di tengah-tengah tempat tidur Barrie.
“Aku membuatmu bosan, ya?” tanya Barrie, berhenti
untuk menarik napas. “Kelihatannya kau tidak menyadari
betapa pentingnya kesempatan yang kudapat untuk
melakukan wawancara eksklusif permma dengan Ibu
Negara sejak kematian anaknya.
“Sesungguhnya Presiden yang menyinggung masalah
itu lebih dulu. Dia bilang Mrs. Merritt telah memberi39
tahunya soal serial SIDS-ku. Dia berpendapat itu ide
bagus dan mengatakan dia mendorong Ibu Negara untuk
berpartisipasi. Dia memujiku karena telah membangkitkan
kesadaran masyarakat tentang fenomena menyedihkan
ini. Kemudian dia berkata dia dan Mrs. Merritt akan
membantuku sepenuhnya. Aku... Yah, begini saja.
Seandainya itu seks, aku seperti mengalami orgasme
berkali-kali.”
la naik ke samping Cronkite, yang menempati hampir
dua pertiga tempat tidurnya dan tak mau bergeser seinci
pun. Sambil menjaga keseimbangan di pinggir kasur, ia
menambahkan, “Aku cuma berharap Howie tadi ada di
sana supaya bisa melihatnya.”
40
Bab Empat
IA tahu pesawat TV menyala, namun ia hanya samarsamar
mendengarkan sampai akhirnya terdengar suara
yang familier itu. Ia langsung mengangkat kepala dari
wastafel kamar mandi, tempat ia mencuci muka dengan
air dingin. Setelan menyambar handuk kecil, ia berbelok
dan rnasuk ke kamar.
“... yang, malangnya, Anda dan Presiden Merritt alami
bersama ribuan pasangan lain.”
la tidak mengenali reporter itu. Wanita itu berusia tiga
puluhan, mungkin lebin tua. Rambut pirang sebahu. Mata
besar dan bibir penuh yang menjanjikan kenikmatan,
meskipun mata dan bibir itu tidak tersenyum saat ini.
Suara yang jelas dan serak, tidak biasa untuk jurnalis TV.
Namanya tertulis di dasar layar TV. Barrie Travis. Nama
itu tidak berarti apa-apa.
“Presiden dan saya terkejut ketika mengetahui jumlah
keluarga yang mengalami tragedi ini,” Vanessa Merritt
berkata. “Lima ribu per tahun di negara kita saja”
Gray Bondurant mengenal dan mengetahui wajah dan
suara yang ini dengan baik, meskipun ia langsung tahu
sikap Vanessa selama wawancara itu bukan sikap aslinya,
melainkan hasil latihan. Ia meletakkan tangannya di
41
pangkuan dengan anggun, tidak boleh ada gerakan.
Ekspresi wajah dengan hati-hati dijaga.
Pewawancara memutar rekaman suara Dr. George
Allan, dokter pribadi keluarga Merritt, yang mendapat
tugas tidak menyenangkan untuk mengumumkan kematian
Robert Rushton Merritt di kamar tidur bayi Gedung
Putih. Dr. Allan menjelaskan bahwa ilmu kedokteran
masih berusaha mengetahui penyebab dan tindakan
pencegahan SIDS.
Lalu wawancara berkembang jadi lebih pribadi. “Mrs.
Merritt, kami semua menyaksikan kesedihan Anda dan
Presiden Merritt waktu pemakaman putra Anda.” Tampak
adegan-adegan saat pemakaman. “Peristiwa itu terjadi
tiga bulan yang lalu. Luka hati Anda pasti belum sembuh,
tapi saya tahu para pemirsa kami ingin mendengar kesankesan
Anda.”
Vanessa diam sejenak. “Ayah saya pernah bilang,
‘Kemalangan adalah peluang hebat yang tersembunyi.’
Seperti biasa, Daddy benar,” katanya sambil tersenyum
sekilas. “David dan saya merasa bahwa kami jadi semakin
kuat, sebagai pasangan dan individu, sebab kami telah
diuji sampai batas ketahanan kami, dan kami berhasil
mengatasinya.”
“Omong kosong.” la menggulung handuk kecil yang
dipegangnya dan melemparkannya ke seberang kamar,
lalu mengambil remote eontrol, tidak mau mendengar
lagi.
Tapi ia mengurungkan niatnya. Vanessa tengah berkata,
“Presiden dan saya berharap orang-orang yang saat ini
mengalami tragedi yang sama dapat memperoleh semangat
dan penghiburan dari orang orang yang pernah mengalami
42
dan berhasil mengatasinya seperti kami ini. Hidup harus
terus berlanjut.”
Sambil mengumpat, Bondurant menekan tombol Off.
Respons itu ditulis, ditandatangani, disegel, dan
diserahkan pada Vanessa untuk diingat dan diulangi.
Kata-kata bustan Dalton Neely. Mungkin malah buah
pikiran ayahnya Clete Armbruster. Barangkali bahkan
sang Presiden, dengan persetujuan akhir dari Spencer
Martin.
Biarpun sudah dilatih dan diperbaiki sebelum
wawancara, kata-kata itu bukanlah kata-kata Vanessa. Ia
memang mengucapkannya. tapi tidak secara spontan dan
bukan berasal dari sanubarinya. Bondurant ragu reporter
bersuara seksi itu sadar ia telah ditipu. Vanessa sudah
diprogram dengan baik hingga seperti robot yang
dilengkapi chip komputer di kepala. Rasanya tidak pantas
kalau ia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
Yang jelas, tidak baik dari segi politik.
Merasa dinding-dinding kamar seperti mengurungnya,
Bondurant pergi ke dapur untuk mengambil bir, lalu
berjalan ke teras depan. Ia mengempaskan diri ke kursi
goyang dan meminum birnya. Otot-otot lehernya yang
kecokelatan terbakar matabari bergerak-gerak ketika ia
menghabiskan setengah isi kaleng dalam satu tegukan
panjang.
Ia tampak seperti bintang iklan bir. Gambar dirinya
bertelanjang dada minum bir di-lokasi pedusunan seperti
ini pasti bisa menjual jutaan kaleng bir merek apa pun,
tapi ia tidak menyadarinya, atau memedulikannya. Ia
tahu ia membuat orang terkesan, tapi tak pernah mau
repot- repot menganalisis sebabnya. la tidak acuh pada
43
masalah penampilan, terutama setahun terakhir ini, ketika
ia tidak menemui satu manusia pun selama bermingguminggu.
Kalau ia pergi ke Jackson Hole, ia mungkin akan
bercukur. Mungkin juga tidak.
Seperti inilah dirinya. Terima atau tinggalkan. Sejak
dulu begitulah sikapnya, dan tanpa suara ia
menyampaikannya pada semua orang yang ditemuinya
yang merupakan salah satu penyebab ia kurang cocok
dengan lingkungan Washington. Ia senang bisa keluar
dari sana. Orang-orang kepercayaan Presiden harus bisa
berkompromi, tapi Gray Bondurant tak kenal kompromi.
Dengan mata birunya yang sekeras dan sedingin es, ia
menatap puncak-puncak tajam dan bersalju Pegunungan
Teton. Sebetulnya dari jarak bermil-mil, pegunungan itu
tampak cukup dekat umtuk bisa disentuh. Keagungan
pegunungan ungu. Di halaman depan rumahnya.
Bayangkan!
Diremasnya kaleng bir yang sudah kosong itu seakan
benda itu bungkus permen karet. Ia berharap bisa
mengulang kembali sepuluh menit terakhir tadi. Kenapa
ia tadi tidak berada di luar lebih lama sebelurn masuk
untuk mencuci muka? Kebetulan apa yang membuatnya
menyalakan TV pada saluran itu tadi?
Ia berharap tak pernah menonton wawancara itu.
Terima kasih banyak, Barrie Travis, siapa pun kau.
Selama berhari-hari ia akan dihantui pikiran tentang
David, Vanessa, dan anak yang meninggal di kamar tidur
bayi Gedung Putih itu.
Yang paling membuamya gusar adalah bahwa
wawancara itu mungkin akan kembali menarik perhatian
publik terhadap dirinya. Orang-orang akan mulai berpikir,
44
menduga, menghubung-hubungkan. Lalu kekacauan
akan terulang kembali.
David Merritt mondar-mandir di depan meja kerjanya
di Ruang Oval. Lengan kemejanya digulung sampai siku;
kedua tangan terbenam dalam-dalam di saku. Di bawah
rambutnya yang berantakan, alisnya berkerut. “Aku tidak
pernah mendengarnya. Apa itu?”
“Namanya Munchausen Syndrome by Proxy, sesuai
nama seorang bangsawan Jerman yang senang menyakiti
diri sendiri.”
“Kukira itu masokisme,” celetuk Spencer Martin.
Dr. George Allan mengangkat bahu dan menuang
segelas scotch lagi untuk dirinya sendiri dari persediaan
pribadi Presiden. “Itu sedikit di luar bidangku, dan aku
belum menelitinya secara menyeluruh.”
“Barrie Travis sudah.” Merritt mengatakannya dengan
nada seperti memarahi, dan dokter itu merasa seperti
dimarahi.
Tampak malu, ia berkata, “‘By Proxy’ maksudaya rasa
sakit itu ditimbulkan pada orang lain, biasanya anakanak.”
“Apa huburigannya dengan SIDS?” tanya Merritt.
“Kenapa Barrie Travis menyelidikinya begitu dalam?”
Dr. Allan meneguk scotch-nya deagan cepat. “Karena
orang-orang dewasa yang menderita sindrom itu, kadangkadang
berbuat ekstrem. Mereka melukai anak-anak
mereka, terkadang malah membunuh mereka, dalam
usaha untuk memperoleh perhatian dan simpati bagi diri
mereka sendiri. Beberapa kematian misterius bayi yang
tadinya dikatakan karena SIDS, sekarang diinvestigasi
45
kembali sebagai kemungkinan pembunuhan.”
Sambil memaki pelan, Merritt duduk di balik meja
kerja. “Kenapa si Travis brengsek itu tidak bisa tetap pada
subjek itu saja tanpa menyeret segala kisah mengerikan
itu? Tolong tuangkan aku minuman.”
Sang dokter mematuhinya.
“Terima kasih.” Merritt meneguk minumannya sambil
merenung beberapa saat. Lalu ia memandang Spence. Ia
tidak menyukai apa yang dilibatnya. Spence tengah
berpikir, dan masalah yang dipikirkannya meresahkan.
“Mungkin mestinya aku tidak mendorong Vanessa
melakukan wawancara itu,” ia berkata.
“Aku tidak setuju. Memangnya apa sih yang terjadi?”
tanya Dr. Allan.
“Demi Tuhan, George, mestinya kau lebih tahu
daripada orang lain,” tukas Merritt kesal. “Serial sialan ini
membuatnya tidak keruan lagi.”
“Orang-orang menyadarinya,” komentar Spence tenang.
Merritt memandangnya dengan tajam, menyuruhnya
menyebutkan nama orang-orang itu. “Staf, Sir. Orangorang
menyadari gelombang emosi Ibu Negara, dan
mereka merasa prihatin.”
Dengan suara bernada memarahi lagi, Merritt berpaling
pada sang dokter.
“Aku tidak bisa mengontrol gelombang emosinya
dengan obat kalau dia minum sebanyak itu,” ujar Dr.
Allan.
Merritt menutup mata dengan tangan. “Clete merecoki
aku soal masalah itu. Aku terus mengingatkannya bahwa
Vanessa baru saja kehilangan anak, kenapa aku berharap
kita tidak pernah menyetujuinya? Aku punya frasat
46
buruk. Aku merasa tidak tenang karena dialah yang
menghubungi reporter itu duluan, bukan sebaliknya.”
“Aku juga merasa tidak tenang, mula-mula,” Merritt
mengakui. “Namun ternyata semua beres. Itu merupakan
kegiatan humas yang bagus baginya dan bagi kita. Seperti
kata George, tidak terjadi apa-apa.”
Ketika Spence tak berkomentar, Presiden menatapnya
tajam.
“Yah, kita lihat saja,” ugar Spence, nadanya tidak
yakin.
“Baiklah, siapa dia?”
“Siapa?” Barrie bahkan tidak mendongak. Di
pangkuannya ada setumpuk pesan telepon, kartu, dan
surat dari para pemirsa, semua sehubungan dengan serial
SIDS-nya. Dalam mimpinya yang paling optimis
sekalipun, ia tak pernah mengira akan memperoleh
tanggapan begitu hebat.
“Kau curang, Barrie, menyembunyikan yang ini dan
kami.”
Akhirnya ia mengangkat kepala “Oh, ya Tuhan!”
Resepsionis ruang berita itu tersembunyi sama sekali di
balik rangkaian bunga sangat besar yang d~bawanya ke
bilik Barrie. “Kau mau ini ditaruh di mana?”
“Uh...” Seperti biasa permukaan mejanya berantakan.
“Lantai, kurasa.”
Setelah meletakkan karangan bunga itu, si resepsionis
berdiri. “Siapa pun dia, biarpun tampangnya seperti
kodok, kalau rela menghamburkan uang untuk membeli
bunga seperti ini, menurutku dia harus dipertahankan. “
Barrie membuka kartu yang menyertai buketrdan
ersenyam. “Menurutku juga begitu, tapi dia sudah
47
menikah.”
“Yang bagus-bagus memang begitu.”
Barrie menyodorkan kartu itu pada temannya yang
matanya langsung membelalak waktu melihat tanda
tangan familier di bawah pesan bertulisan tangan di kartu
itu. Jeritannya membuat beberapa staf ruang berita
menyerbu biliknya.
Barrie mengambil kartu dan berkipas dengannya.
“Cuma tanda penghargaan kecil dari Presiden, mengagumi
bakat dan wawasanku, memuji serialku, dan berterima
kasih atas jasa patriotis yang kulakukan.”
“Satu kata lagi, maka aku bakal muntah,” Howie
bergabung.
Barrie tertawa dan mengembalikan kartu itu ke dalam
amplop. Kenang-kenangan untuk ditunjukkan pada
cucunya nanti. “Kau cuma iri karena kau bukan teman
dekat keluarga Merritt.” Howie dan rekan-rekan kerjanya
yang lain berbondong-bondong pergi, beberapa
menggerutu tentang betapa beruntunguya sebagian orang.
Ketika sudah sendirian, Barrie menelepon. Dengan
suara pelan ia bertanya, “Kau punya acara malam ini?”
“Kau serius?”
“Ada apa di kulkasmu?”
“Dua steak.”
“Aku akan bawa anggur.” Ia melirik buket itu “Dan
bunga. Setengah jam lagi aku datang.”
48
Bab Lima
“KAU bilang tadi setengah jam?”
“Berhentilah mengomel dan bantu aku.” Barrie, sambil
membawa buket dari Presiden, dua botol anggur, dan
kantong belanjaan, dengan susah payah melewati pintu
depan rumah Daily Welsh.
“Kau habis merampok kuburan baru, ya?” Daily
bertanya.
“Baca dulu kartunya, tolol.”
Daily mencabut kartu dari karangan bunga itu dan
bersiul pelan. “Cukup impresif.”
Barrie tersenyum lebar. “Biasa saja.”
“Apa yang akan kaulakukan untuk menunjukkan
kehebatanmu?”
“Di lain kesempatan, aku pasti berkomentar pedas soal
bakatmu yang luar biasa dalam memadamkan kebahagiaan
orang . Tapi aku capek, jadi takkan kupedulikan
omonganmu tadi dan membuka botol anggur saja.”
“Aku setuju.”
Bersama-sama mereka pergi ke dapur, yang merupakan
ruangan paling menarik karena ruangan-ruangan lain
buruk. Rumah itu memang jelek. Daily berkutat dengan
laci yang macet untuk mengambil pembuka botol.
49
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Barrie, menunjukkan
keprihatinannya.
“Aku belum mati.”
Namun Ted Welsh, atau Daily, begitulah temantemannya
memanggilnya, tampak seolah tarikan napasnya
yang berikut merupakan tarikan napasnya yang terakhir.
Ia menderita emfisema akibat mengisap rokok tak
terhitung banyaknya selama hari-hari kerja yang juga tak
terhitung banyaknya ketika ia menyuguhkan berita pada
masyarakat.
Begitu lulus dari sekolah menengah, ia bekerja
serabutan di suatu surat kabar harian. Dari situlah nama
panggilannya berasal. Ia meniti tangga karier dan bekerja
di beberapa media jurnalistik sebelum menjadi kepala
bagian berita di sebuah stasiun TV di Richmond. Ia
pensiun dini dari pekerjaannya itu gara-gara penyakitnya.
Belum cukup tua untuk memperoleh Jaminan Sosial—
dan mungkin takkan pernah—ia hidup dengan uang
pensiun seadanya. “Steak” yang tengah dicairkan di atas
meja sebetulnya cuma daging giling. Karena sudah
menduganya, Barrie membeli dua T-bone ketika mampir
di toko untuk membeli anggur. Daily menyesap anggur
Sonoma County itu sementara Barrie menyiapkan makan
malam.
Ketika menarik tangki oksigen portabel ke dekat kursi
supaya tidak menghalangi Barrie, ia berkata, “Cronkite
bisa terangsang kalau mencium bau daging-daging itu.”
“Tidak mungkin. Dia sudah dikebiri.”
“Oh, aku lupa Dia pun kau kebiri.”
Barrie menghantamkan sebotol kaldu ke meja dan
menoleh padanya. “Jangan mulai lagi!”
50
“Tapi benar kok. Kau mengebiri semua laki-laki yang
kau temui. Itu caramu menolak pria sebelum pria
menolakmu.”
“Aku belum menolakmu.”
“Aku tidak masuk hitungan,” kata Daily sambil tertawa
dengan susah payah. “Lagi pula aku sudah terlalu tua dan
lemah untuk membangunkan alatku. Aku tidak
membuatmu merasa terancam. Yang membuatku teringat
pada persoalan lain. Kau mestinya tidak menghabiskan
malam-malammu dengan datang menemuiku. Kalau
cuma aku pria yang bisa kau peroleh, hidupmu lumayan
payah.”
“Tapi aku sayang padamu, Daily.” Barrie mendekati
laki-laki itu dan mencium pipinya.
“Sudahlah.” Daily mendorongnya “Dan jangan terlalu
lama, memasak steak-nya. Aku ingin yang masih merah.”
Barrie tidak tertipu dengan sikap kasarnya. Mereka
berdua saling menyayangi. Persahabatan mereka mulamula
memang tidak terlalu mulus, namun sekarang tak
tergoyahkan. Mereka telah tiba di tingkat keakraban di
mana celaan hampir sama artinya dengan pujian.
“Aku rela menukar dua puluh tahun umurku dengan
sebatang rokok,” Daily berkata ketika mereka menikmati
kopi di ruang tamu setelah makan malam.
“Kau sudah melakukannya”
“Oh. Benar juga.” la duduk di kursi santai yang usang,
alat bantu pernapasannya tergeletak di samping kursi itu.
Selang plastik mengalirkan oksigen dari tangki portabel
langsung ke hidungnya.
Di seberang ruangan, Barrie bersantai di sofa la duduk
bersila dan memeluk bantal kursi. “Baru-baru ini aku
51
mengobrol dengan seseorang yang kecanduan nikotin.
Seseorang yang takkan pemah bisa kautebak.”
“Siapa?”
“Rahasia.”
“Aku mau membocorkannya pada siapa sih? Yang
datang kemari cuma kau.”
“Sebetulaya kau bisa minta teman-temanmu yang lain
datang ke sini. Tapi kau tidak pernah mengundang
mereka.”
“Aku tidak tahan mendengar belas kasihan mereka”
“Kalau begitu kau harus ikut kelompok sesama
penderita emfisema.”
“Siapa yang mau berkumpul dengan sesama orang
sakit yang kerjanya cuma menghirup angin!”
“Kita sudah pernah membahas masalah ini,” kata
Barrie dengan suara berirama. “Jangan kita ulangi malam
ini.”
“Aku setuju saja,” gerutu Daily . “Siapa perokok
misterius itu?”
Barrie ragu-ragu. “Ibu negara kita.”
Alis Daily terangkat karena merasa tertarik. “Yang
benar? Gugup sebelum wawancara?”
“Bukan. Hari itu kami bertemu untuk minum kopi.”
“Karena sekarang kau telah mewawancarainya secara
langsung, kau tetap menganggap dia tak punya otak?”
“Aku tidak pernah menganggapnya begitu.”
Daily memandangnya tajam. “Kau pernah berkali-kali
mengatakan dia seperti itu, dan waktu itu kau duduk
persis di tempatmu sekarang. Mississippi Belle. Itu kan
julukanmu untuknya? Kau menggambarkan dia sebagai
wanita yang tidak pernah punya pendapat sendiri, atau
52
berpura-para begitu. Semua pendapatnya dibentuk oleh
para pria, pria-pria yang dipujanya yaitu ayah dan
suaminya. Kepalanya kosong melompong. Ada yang
belum kukatakan?”
“Tidak, semuanya sudab.” Sambil menghela napas,
Barrie mengusap tepi cangkir kopinya “Aku masih
berpendapat begitu, tapi aku juga merasa kasihan
padanya. Maksudku, kehilangan anak. Ya Tuhan.”
“Jadi?”
Barrie tidak sadar ia tenggelam dalam lamunan sampai
pertanyaan Daily menyentaknya. “Jadi, apa?”
“Kau menggigit-gigit bibir, tanda ada yang mengganggu
pikiranmu. Sejak tadi aku menunggu kau bercerita apa
pun masalahnya.”
Barrie bisa menyembunyikan perasaannya dari orang
lain, termasuk dirinya sendiri, tapi tidak pernah dari
Daily. Kalau ia sedang bingung, atau risau, atau, stress,
pria itu bisa mengetahuinya berkat radar batin yang
membuatnya jadi wartawan jempolan.
“Aku tidak tahu apa” Barrie berkata sejujurnya. Aku
cuma merasa...”
“Tergelitik?”
“Begitulah.”
“Mungkin artinya kau mendapat sesuatu, tapi tidak
tahu apa.”
Daily mencondongkan tubeh di kursi, matanya
berkilat seperti mata anjing pemadam kebakaran ketika
mendengar bel tanda bahaya berbunyi. Pipinya bersemu
merah, membuatnya tampak lebih sehat dari pada
minggu-minggu terakhir ini, semangatnya bangkit kembali
karena mencium petunjuk penting.
53
Minatnya yang luar biasa membuat Barrie merasa
bersalah karena telah memulai membicarakan masalah
ini. Ia akan membuat Daily sangat kecewa. Mungkin
tidak ada berita dalam kasus ini. Di lain pihak, apa
salahnya bercerita pada teman? Mungkin Daily bisa
menjelaskannya. Atau sahabatnya itu bisa memberitahunya
bahwa ide-idenya tidak logis.
“Serial SIDS itu sangat menarik perhatian,” Barrie
memulai. “Sudah kubilang aku mendapat jangkauan
luas?” Serialnya dikirim ke satelit, membuatnya disiarkan
secara nasional.
“Serial itu jelas membuat kariermu meroket,” kata
Daily. “Dan memang itu yang kauinginkan, bukan? Jadi,
apa masalahnya?”
Barrie menatap cangkirnya, lalu mengaduk kopi yang
sekarang sudah terlalu dingin hingga tidak enak untuk
diminum. “Ketika aku pertama kali bertemu dengannya,
dia memiliki rasa bersalah yang bisa dipahami, jadi
kuingatkan dia bahwa kematian bayinya bukan salah
siapa-siapa—peristiwa itu terjadi begitu saja. Anehnya,
dia berkata, ‘Betul begitu?’
“Pertanyaan itu, dan caranya bertanyalah yang
mendorongku melakukan riset mengenai SIDS. Kemudian
aku menemukan kisah tentang wanita yang empat
anaknya meninggal karena sindrom yang sama. Yang
belakangan terbukti bukan itu penyebabnya.”
“Dia menderita sindrom... sindrom...”
“Munchausen Syndrome by Proxy,” Barrie membantu.
“Beberapa kasus SIDS sekarang dicurigai. Para ibu
didakwa membunuh bayi mereka untuk menarik perhatian.
“Yah...” Barrie menarik napas dalam-dalam dan
54
menahannya, mengangkat kepala, lalu memandang
Daily.
Temannya menatapnya selama beberapa saat. Akhirnya
ia berkata, “Mungkin aku harus menaikkan kadar
oksigenku. Aku kekurangan, atau kebanyakan oksigen.
Sesaat kukira kau tadi bermaksud mengatakan Ibu Negara
Amerika Serikat membunuh anaknya sendiri.”
Barrie meletakkan cangkir di meja kopi dan berdiri.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kedengarannya begitu.”
“Bukan itu yang ingin kukatakan, Daily. Sumpah.”
“Kalau begitu, kenapa kau menggigit-gigit bibir?”
“Aku tidak tahu! Tapi ada yang tidak beres.” Barrie
duduk kembali di pinggir sofa dan memegangi kepala.
“Dalam beberapa minggu terakhir ini aku dua kali
bertemu Vanessa Merritt. Pada pertemuan pertama, dia
sekacau pecandu narkotik pada hari kedua rehabilitasi —
wanita yang emosinya nyaris ambruk. Pada pertemuan
kedua, dia jadi orang yang sama sekali berbeda. Superior.
Tenang. Terkontrol. Tepat. Dan semanusiawi... semanusiawi
meja kopi itu.”
“Wawancaranya bagus.”
“Wawancaranya tak berjiwa, Daily, dan kau tahu itu,”
balas Barrie. Kernyitan di wajah Daily menunjukkan ia
sependapat. “Wawancara dengan Mrs. Merritt itu mestinya
jadi puncak serialku. Ternyata, malah sebaliknya, Dia
seperli robot. Kalau dia seperti itu pada pertemuan
pertama, aku mungkin takkan menyadarinya. Tapi
perbedaan antara Vanessa Merritt pertarna dan kedua
begitu mencolok.”
“Jadi dia minum beberapa Valium sebelum tampil di
55
depan kamera,” kata Daily, mengangkat bahu.
“Mungkin. Aku yakin dia minum obat pada malam aku
melihatnya di resepsi itu—atau mabuk. Seanggun
biasanya, tapi goyah. Nyaris... entahlah... takut. Presiden
menutupi...
“Itu juga masalah,” Barrie berkata, memotong
perkataannya sendiri dan bercerita panjang-lebar. “Dia
menyapaku seolah kami teman akrab. Tentu saja aku
merasa tersanjung atas perhatiannya, tapi kupikir sikapnya
itu aneh. Dia antusias soal serial itu, sebelum dan sesudah
serial itu diproduksi. Maksudku, lihatlah bunga-bunga
itu. Biayanya bisa membuat utang negara membengkak.”
“Dengan begitu teorimu jadi berantakan, bukan? Dia
tidak mungkin merasa seperti itu terhadapmu dan
serialmu kalau serialmu itu menimbulkan citra buruk
pada istrinya.”
“Aku cuma terkejut dengan sikap akrabnya. Sudah
lama aku meliput kehidupan di Gedung Putih. Kenapa
tiba-tiba Presiden dan aku jadi akrab?”
“Barrie, kau wartawan. Dia pejabat yang menghadapi
pemilu tahun depan. Dia harus bermanis-manis pada
semua wartawan. Merebut hati pers berarti merebut suara
pemilih.”
la terpaksa mengakui kebenaran penjelasan Daily.
David Merritt, sejak masa tugas pertamanya di Kongres,
memang tahu bagaimana caranya menghadapi media.
Bulan madu mereka terus bertahan sampai masa
kampanye kepresidenan selesai. Sekarang hubungan
mereka mulai merenggang, namun pers masih mendukungnya.
Tapi bukankah Barrie Travis cuma reporter
kelas teri yang tak berpengaruh? Untuk apa Presiden
56
bermanis-manis dengannya?
Pikirannya berpindah-pindah dari satu teka-teki ke
teka-teki yang lain, yang sudah terjadi sejak pertemuan
pertamanya dengan Vanessa Merritt. Ia tidak mau terlalu
lama memikirkan salah satu teka-teki itu, karena takut
semua itu cuma jebakan.
“Aku bisa saja melupakan ketidakcocokan itu dan tidur
pulas, tapi ada satu ganjalan,” katanya pada Daily. “Dan
menurutku inilah yang paling penting. Sesudah kami
melakukan wawancara, Ibu Negara memelukku. Aku.”
Daily terus berperan sebagai lawannya “Itu untuk
menimbulkan kesan baik.”
“Bukan, itu cuma alasan.”
“Untak apa?”
“Untuk mendekatiku dan membisikkan sesuatu di
telingaku supaya tidak didengar orang lain. Dia berkata,
‘Barrie, kumohon, tolong aku. Tidakkah kau tahu apa
yang ingin kukatakan padamu?”’
“Sialan!”
“Aku juga merasa persis seperti itu, Daily. Itulah untuk
pertama dan terakhir kali dia menunjukkan perasaannya
yang sesunggahnya. Dia terdengar putus asa. Menurutmu,
apa maksudnya?”
“Mana aku tahu? Bisa saja berarti, ‘Tolong aku
membantu suamiku terpilih kembali.’ Atau, ‘Tolong aku
membangkitkan kesadaran masyarakat tentang SIDS.’
Atau, ‘Tolong aku melupakan kesedihanku.’ Artinya bisa
apa saja, atau tak ada sama sekali.”
“Kalau tidak ada, ya tidak ada,” kata Barrie. “Tapi
kalau berarti sesuatu, implikasinya sangat luar biasa.”
Daily menggeleng. “Aku tetap tak sependapat. Kenapa
57
dia membunuh bayi yang dengan susah payah didapatkannya?”
“Kukira kita sudah sepakat soal ito. Munchausen
Syndrome.”
“Dia tidak sesuai dengan profill penyakit itu,” bantah
Daily . “Wanita-wanita yang menderita kelainan itu
biasanya mencari simpati dan perhatian. Vanessa Merritt
mendapat sorotan pers lebih luas daripada Putri Diana.
Dia memperoleh perhatian lebih banyak daripada wanita
mana pun di dunia ini.”
“Tapi apakah dia memperolehnya dari orang yang
betul-betul penting?”
“Sang Presiden? Kaupikir dia istri yang tersia-sia, dan
dia melakukan ini untuk menarik perhatian suaminya?”
“Mungkin saja.”
“Kemungkinan itu kecil.”
“Tapi mungkin,” Barrie berkeras. “Ingat saja simpati
publik yang diterima Jackie Kennedy waktu Patrick kecil
meninggal. Dia jadi pujaan.”
“Karena banyak alasan lain selain kehilangan anak.”
“Tapi tragedi itu ikut membuatnya menjadi legenda
seperti sekarang. Mungkin Ibu Negara yang ini ingin
menciptakan aura yang sama bagi dirinya.”
“Teori berikutnya,” kata Daily sambil mengibaskan
tangan.”HIV. Bagaimana kalau salah seorang dari mereka
mengidap virus itu? Hasil tes anak itu mungkin saja
positif. Mrs. Merritt tak mau mengambil risiko bahwa
dunia mengetahui soal riwayat seksualnya atau suaminya.”
“Kemungkinan yang sangat kecil juga,” tukas Daily.
“Kalau salah satu dari mereka mengidap HIV, pasti dari
dulu sudah ketahuan. Misalnya, saat dia hamil. Presiden
58
menjalani pemeriksaan fisik secara rutin. Rahasia seperti
itu takkan bisa bertahan lama.”
“Kurasa kau benar.” Barrie merenungkannya lagi
selama beberapa saat. ‘’Mungkin kita tidak melihat fakta
yang sebetulnya ada di depan mata. Bagaimana kalau
motifnya cuma untuk balas dendam? Aku punya kesan
dia wanita yang terbiasa dituruti kemauannya, wanita
yang tak bisa menerima penolakan.”
“Maksudmu?”
“Dia membunuh putra mereka untuk menghukum
Presiden karena berselingkuh.”
“Digosipkan berselingkuh.”
“Ayolah, Daily,” erang Barrie. “Semna orang tahu dia
penakluk wanita. Dia cuma belum tertangkap basah di
tempat tidur bersama wanita telanjang saja.”
“Sampai dia tertangkap basah, dan ada kru 60 Minutes
yang meliputnya, dan Mike Wallace merekam pengakuannya
dengan video, perselingkuhannya tetap cuma
gosip.”
“Mrs. Merritt pasti tahu.”
“Tentu saja dia tahu. Tapi dia akan tersenyum dan
berpura-pura tidak tahu, persis seperti yang dilakukan
istri para pejabat negara selama ini.”
“Aku tetap berpendapat motivasi wanita-marah itu
sangat kuat.”
Daily menarik-narik bibir bawahnya sambil berpikir.
“Barrie, kisah ini membuatmu diperhatikan banyak
orang. Perhatian yang positif kali ini.”
“Pengalaman burukku tak ada hubungannya dengan
masalah ini.”
“Kau yakin? Serial ini begitu bagus hingga sesaat
59
menutupi kejadian buruk Hakim Agung Green dan
membuktikan kritik-kritik untukmu itu keliru. Kau
pantas menerima pujian-pujian ini, tapi jangan sampai
rakus. Kau yakin tidak mengeksploitasi perhatian yang
mendadak kauperoleh dengan menciptakan kisah lain?
Mungkinkah kau memanfaatkan segala penghargaan ini
untuk menyucikan diri secara profesional?”
Barrie ingin membantah dengan tegas dan tanpa
keraguan, tapi ia diam sebentar untuk merenungkan
kembali motivasinya. Benarkah ia membentuk faktafakta
supaya sesuai dengan tujuannya sendiri? Benarkah
ia membiarkan ambisinya mempengaruhi objektivitasnya?
Lebih buruk lagi, apakah ia kembali ke kebiasaannya
yang suka cepat-cepat menarik kesimpulan yang salah
untuk menciptakan kisah yang jauh lebih dramatis?
“Sejujurnya, tidak. Aku memandang masalah ini
dengan objektif dan dari setiap sudut yang ada. Wanita itu
kehilangan anaknya. Untuk itu dia memperoleh simpatiku
yang paling dalam. Tapi apakah tidak mungkin, bahwa
bukannya menjadi korban nasib buruk, dia malah
merupakan korban kebencian yang tidak dapat diduga
kemunculannya, yang membuatnya melakukan kejahatan
paling buruk yang bisa dibayangkan? Itulah pertanyaan
yang terus mengganggu pikiranku.
“Sejak awal, urusan ini mencurigakan. Kenapa dia
menelepon dan mengajakku bertemu? Dia tidak pernah
berbuat begitu sebelumnya. Tidak dengan semua reporter
yang kukenal Dan waktu kami bercakap-cakap, dia seolah
berusaha menyampaikan sesuatu tanpa jelas-jelas
mengatakannya. Bagaimana kalau sesuatu itu pengakuan?
“Kalau dia bukan Ibu Negara, aku takkan menunggu
60
selama ini untuk menyelidiki kisahnya. Kurasa demi
diriku sendiri aku harus menggali lebih dalam. Dan
biarpun aku tahu akan terdengar norak sekali, kurasa aku
harus melakukannya demi negaraku.”
“Oke,” kata Daily. “Aku ingin menanyakan satu hal
lagi padamu.”
“Silakan.”
“Kenapa kau buang-buang waktu di sini?”
61
Bab Enam
SETELAH selama seminggu dengan penuh semangat
mengikuti petunjuk yang tidak menghasilkan apa-apa,
semangat menggebu-gebu Barrie mulai redup. Yang
diperolehnya setelah menghabiskan waktu untuk memburu
kisah tentang kematian Robert Rushton Merritt cuma rasa
frustrasi.
Ia mengeksplorasi setiap sudut yang didoskusikannya
dengan Daily, namun tak ada yang berhasil. Ia terperangkap
dalam Catch-22: Kisahnya harus diselidiki secara menyeluruh,
yang tidak bisa dilakukan tanpa mengungkapkan
kisah itu sendiri.
Untuk membuat urusan bertambah runyam, prostat
Howie kumat lagi—tentu saja, ia menganugerahi Barrie
dengan semua detailnya yang menjijikkan— jadi pria itu
lebih menyebalkan daripada biasanya. Iri dengan
kesuksesan serial Barrie, ia memberinya tugas-tugas yang
tidak mau dikerjakan reporter lain, kisah-kisah yang
berada di orutan terakhir. Barrie menggarapnya tanpa
mengeluh, dan secepat mungkin, supaya ia bisa menghabiskan
lebih banyak waktu untuk kisah yang menarik
perhatiannya.
Hanya berpikir bahwa Ibu Negara mungkin telah
62
membunuh anaknya sendiri sodah terasa seperti mengkhianati
negara. Apa hukuman ontuk pengkhianat pada
zaman sekarang? Hukuman gantung di depan umum?
Ditembak mati?
Barrie takut dirinyalah, bukan VaneSsa Merritt, yang
mengalami gangguan mental. Ia mendengar suara-suara
yang sebetulnya tidak ada, merasa ada makna tersembunyi
dalam pernyataan-pernyataan yang sebetulnya lugas. Ia
seharusnya mengabaikan pikiran konyol ini dan memusatkan
energi pada berita-berita yang diberikan Howie
padanya, bukan malah memasrahkan masa depannya
pada bintang yang mungkin akan meledak dan membentak
lubang hitam di sekeliling dirinya dan kariernya.
Tapi ia tak bisa mengabaikannya. Bagaimana jika,
setelah beberapa kejadian mengecowakan, Bernstein dan
Woodward mengabaikan kisah Watergate?
Ia berada di biliknya, mempelajari catatan-catatannya
untuk mencari ketidakcocokan lain, waktu sutradara
warta berita malam membuyarkan konsentrasinya. “Ya,
Barrie. Intro kisah yang kaugarap untuk malam ini?”
“Memanguya kenapa?”
“Mike-nya rusak. Kata Howie, kau harus mengucapkan
intro langsung dari studio.”
la melirik jam di meja. Tinggal delapan menit dari
waktu siaran. “Kalau kau belum melihat, tadi siang aku
basah kuyup kehajanan, persis setelah kami menyelesaikan
syuting kisah itu. Rambutku masih basah.”
“Dan riasan matamu...” Gerakan tangan pria itu tidak
menggembirakan. “Tapi kalau kau tidak mau, kisah itu
tidak akan disiarkan. Howie bilang ini peluang emasmu
menuju ketenaran.”
63
“Aku tak mau berharap,” Barrie menghela napas, “tapi
demi perdamaian, aku akan melakukannya.” la menyambar
tasnya. “Kalau ada yang mencariku, bilang aku di karnar
mandi.”
“Aku akan berdoa semoga tejadi mukjizat,” seru si
sutradara.
Setelah siaran berita itu, Barrie kembali ke meja
kejanya dan mengecek pesan-pesan. Ada pesan dari
seorang maniak yang sudah bertahun-tahon meneleponnya,
menyatakan bahwa para pembuat sebuah merek obat
pencahar yang terkenal telah menggunagunanya sehingga
ia menderita sakit perut kronis. Ada juga pesan dari
seorang maniak baru, yang memperkenalkan diri sebagai
Charlene dan mencaci maki Barrie karena berotak udang
dan tolol. Dan pesan dari Anna Chen, narasumbemya di
General Hospital.
“Anna?”
“Hai.”
Suara Anna Chen terdengar tertahan dan berhati-hati,
dan Barrie sadar wanita itu tidak menyebotkan namanya,
meskipun jelas ia mengenali suaranya Barrie otomatis
meraih notes dan pensil.
“Masalah yang kita bicarakan beberapa hari yang
lalu?” pegawai rumah sakit itu mulai.
“Ya.”
‘-Tidak ada copy-nya.”
“Begitu.” Barrie menunggu, merasa masih ada yang
ingin disampaikan wanita itu.
“Prosedurnya tak pernah dilakukan.” Barrie menelan
lodah. “Tidak pernah dilakokan? Apakah itu... prosedur
tidak wajib? Dalam, uh, keadaan tidak biasa bukankah itu
64
wajib dilakukan?”
“Biasanya ya. Tapi-dalam kasus ini, dokter yang
bertogas memutuskan itu tidak perlu. Dia rnemerintahkan
agar prosedur itu diabaikan, dan itulah yang terjadi.”
Dr. George Allan, dokter pribadi Presiden, telah
memerintahkan pemeriksa mayat supaya tidak melakukan
autopsi. Bank begitu ketat menekan pensilnya hongga
ujungnya patah. “Kau yakin?”
“Aku harus pergi.”
Beberapa pertanyaan lagi?”
“Maaf.”
Anna Chen menutup telepon. Barrie menjejalkan
notesnya ke dalam tas, menyambar jas hujan dan payung,
lalu bergegas meninggalkan ruang berita.
la memang tak berharap Anna Chen menunggunya di
kantornya di rumah sakit. Meskipun begitu, ia kecewa
juga ketika mendapati kantor itu terkunci dan gelap.
Sekembsonya di mobil, ia menggunakan ponselnya.
“Kau punya buku telepon?” ia bertanya pada Daily
begitu laki-laki itu mengangkat telepon.
“Selamat malam juga”
“Tak ada waktu untak basa-basi.”
Menanggapi suaranya yang mendesak, Daily bertanya,
“Metro D.C.?”
“Mulai dari sana Cari nama Anna Chen. C-h-e-n.”
“Siapa dia?”
“Aku tak boleh bilang.”
“Oh. Narasumber. Ada apa?”
“Terlalu panjang untuk diceritakan di telepon.”
“Aku melihatmu di warta berita malam ini,” kata
65
Daily. Barrie mendengar suara halaman-halaman buku
dibuka.
“Bagaimana penampilanku?”
“Aku pernah lihat yang lebih jelek.”
“Separah itu? Bagaimana soal Chen-nya?”
“Tidak ada Anna, tapi A. Chen ada.”
“Beritahu aku yang itu. Nomor telepon dan alamatnya.”
Pegawai rumah sakit itu tinggal di bangunan yang belum
lama direnovasi di Adams Morgan, lingkungan yang
funky dan kaya secara etnis. Restorasi bangunan itu tidak
termasuk lift, jadi Barrie agak kehabisan napas ketika
sampai di apartemen di lantai tiga itu. Ia tak ingin
memberi Anna Chen kesempatan untuk menghindarinya,
jadi ia tidak menelepon lebih dulu. Ia lega mendengar
suara TV di balik pintu.
Ia menekan bel. Suara TV langsung lenyap. Ia merasa
dirinya tengah diamati dari lubang kecil di pintu.
“Kumohon, Anna, aku harus bicara denganmu.”
Setelah jeda yang terasa lama sekali, selot-selot
dibuka, lalu rantai terentang ketika pintu terbuka
beberapa inci. Dari celah itu, Barrie cuma bisa melihat
setengah wajah Anna Chen yang cantik.
“Apa yang kaulakukan di sini? Mestinya kau tidak
kemari.”
“Selagi di sini, boleh aku masuk?”
“Apa yang kauinginkan?”
“Apa yang aku inginkan? Bukankah sudah jelas?
Aku ingin bertanya kenapa tidak dilakukan autopsi
pada...”
“Aku akan menutup pintu sekarang. Tolong jangan
66
ganggu aku lagi.”
“Anna!” Barrie menyelipkan kakinya, di pintu. “Aku
tidak mengerti. Kau tidak bisa begitu saja meneleponku,
memberitahuku berita itu, lalu tidak...”
“Aku tidak tahu kau bicara apa.”
Barrie terpana “Anna ada apa? Aku tidak mengerti.”
Sedetik kemudian ia mengerti. Mata berbentuk
almond dan indah milik Anna Chen tampak ngeri.
Sambil memelankan suaranya hingga jadi bisikan,
Barrie bertanya, “Apakah kau dilarang bicara denganku?”
“Kumohon, pergilah.”
“Ada yang mengingatkanmu supaya tidak bicara
denganku? Apakah kau diancam? Oleh siapa, Anna? Para
atasanmu di rumah sakit? Orang di kantor pemeriksa
kesehatan? Dr . Allan?” Tetap memelankan suara, ia
berkata dengan nada mendesak, “Namamu takkan disebut
sebagai narasumberku. Aku bersumpah. Mengangguk
saja kalau aku benar. Dr. George Allan memerintahhn
bagian pemeriksaan mayat supaya tidak melakukan
autopsi. Apakah mandat itu datang langsung dari
Presiden?”
Sekali lagi wanita muda yang ketakutan itu mencoba
menutup pintu, yang sekarang terasa seperti catuk di kaki
Barrie. “Anna, tolong beritahu aku apa yang kauketahui.”
“Aku tidak tahu apa-apa. Pergi. Jangan ganggu aku.”
Wanita Asia itu dengan sekuat tenaga mengempaskan
tubuhnya yang berbobot empat pulah kilogram lebih ke
pintu. Barrie cepat-cepat menarik kakinya la berdiri
terpana di koridor, menatap angka-angka kuningan di
pintu yang mengatakan aparternen itu bemomor 3C, dan
bertanya-tanya siapa yang telah membungkam Anna
67
Chen. Dan mengapa.
Vanessa Merritt mematikan TV di ruang pribadinya. la
tadi tengah berpindah-pindah saluran ketiga kebetulan
melihat Barrie Travis di warta berita WVUE. Kenapa
gadis itu bisa begitu tolol? Kenapa ia belum juga
mengikuti petunjuknya? Tapi kalau dipikir-pikir, Vanessa
merasa lega juga reporter itu telah bersikap seperti itu.
la sebetulnya tak ingin rahasianya terungkap, namun ia
tidak tahu berapa lama lagi ia dapat menahan diri untuk
menyimpannya. Bagaimanapun, ia takut ranasianya bisa
membunuhnya.
la menuang segelas anggur terlarang lagi untuk dirinya
sendiri. Masa bodoh kalau dokternya ayahnya, dan
suaminya marah. Bagaimana mereka tahu apa yang
dibutuhkan atau tidak dibutuhkannya? Mereka tidak
mungkin memahami penderitaannya. Mereka berkomplot
melawannya. Mereka...
Pikiran itu lenyap sebelum selesai. Hal seperti ini
sering terjadi. Rasanya ia tidak bisa memikirkan hal yang
sama selama beberapa detik, pikirannya selalu buyar.
Apa yang dipikirkannya tadi?
Bayinya, ya. Selalu. Tapi ada masalan lain...
Ketika matanya kembali ke TV, ia ingat. Barrie Travis.
Wanita tolol itu. Apakah ia perlu ditabrak truk dulu baru
bisa mengerti? Kenapa ia belum mengerti juga? Atau
mungkinkah ia sudah mengerti, namun terlalu takut
untuk menindaklanjutinya? Apakah ia bodoh, atau
pengecut? Apa pun, hasilnya sama saja. Ia tidak bisa
mengharapkan bantuan dari pihak itu.
Vanessa tadinya menganggap dirinya pintar karena
68
memanfaatkan reporter itu sebagai kuda tunggangan. Ide
itu muncul ketika ia melihat Barrie di konferensi pers di
halaman timur belum lama ini. Bukankah ia yang
menyiarkan berita soal “kematian” Hakim Agung Green?
Bukankah ia yang mengajukan pertanyaan sangat bodoh
di suatu konferensi pers hingga membuat orang tertawa
terbabak-bahak?
Kredibilitas Barrie Travis yang rendah membuatnya
jadi pilihan yang tepat untuk tujuan Vanessa, yaitu
memberikan beberapa petunjuk pada seorang reporter tak
bertanggung jawab, orang yang bakal menggelindingkan
bola. Reporter itu akan mulai mengajukan pertanyaanpertanyaan
yang mula-mula terasa ganjil, namun
belakangan jawaban-jawabannya akan diburu para pemain
penting. Kalau Vanessa menanam bibit kisahnya pada
salah satu reporter kelas kakap jaringan berita, hasil yang
akan dituainya bisa membahayakan dirinya. Dengan cara
begini, rahasianya akan diketahui orang, tapi tidak
langsung dari dirinya.
Atau begitulah yang diharapkannya. Jelas ia telah salah
memilih Barrie Travis. Reporter itu bukan cuma ceroboh,
tapi juga tak berotak.
Jadi, pada siapa ia selanjutnya mesti berpaling?
Karena kebiasaan, Vanessa meraih telepon.
“Hai, Daddy.”
“Halo!” kata Senator. “Aku memang sudah berniat
meneleponmu. Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Rumah sedang sepi?”
“David tengah berpidato di suatu pertemuan serikat
buruh. Aku lupa di mana.”
69
“Mau aku datang dan menemanimu?”
“Tidak, tapi terima kasih.” la tidak bisa minum
banyak-banyak kalau ayahnya ada.
“Kau tidak boleh sendirian, Sayang.”
“David pulang malam ini. Memang setelah larut
malam, tapi dia sudah berjanji akan membangunkan aku.”
Setelah hening sejenak, Vanessa bisa membayangkan
ayahnya pasti sedang mengerutkan kening. Pria itu
kemudian berkata, “Mungkin sebaiknya kau menemui
kembali ginekologmu. Siapa tahu dia bisa memberimu
suntikan hormon atau apa.” Ia menganggap semua
penyakit ringan wanita disebabkan oleh ketidakseimbangan
hormon.
“George bakal tersinggung.”
“Persetan dengan George dan perasaannya,” kata
Senator menggelegar . “Yang penting kesehatanmu.
George orang yang baik, dan kurasa dia dokter yang
kompeten untuk masalah-masalah rutin seperti sakit perut
dan flu. Tapi kau membutuhkan dokter spesialis. Kau
membutuhkan psikiater.”
“Tidak, Daddy. Aku tidak membutuhkannya. Semuanya
bisa kuatasi.”
“Kehilangan Robert kecil membuat dirimu kacau.”
Vanessa menenggak anggurnya untuk menghilangkan
tusukan rasa sesal yang ditimbulkan kata-kata ayahnya
tadi. “David takkan setuju. Ibu Negara tidak boleh
berobat ke psikiater.”
“Urusannya bisa dilakukan secara diam-diam. Lagi
pula, siapa yang akan memandang rendah dirimu karena
mencari bantuan ketika kau sangat membutuhkannya?
Aku akan membicarakannya dengan David.”
70
“Tidak!”
“Sayang...”
“Kumohon, Daddy, jangan membuat dia khawatir.
Aku akan mengatasinya. Aku cuma butuh waktu lebih
banyak daripada yang kita kira.”
Vanessa telah belajar dari ahlinya, Senator Cletus
Armbruster, bagaimana cara mempraktekkan politik.
Ketika mereka mengucapkan salam perpisahan, ia
berhasil membuat ayahnya berjanji tidak akan
membicarakan masalah kesehatannya dengan David.
Untuk menenangkan diri, ia minum sebutir Valium
lagi dengan anggur, lalu pergi ke kamar mandi dengan
pikiran melayang-layang dan mengganti pakaiannya
dengan gaun tidur dan mantel. Sambil duduk bersandar
di tempat tidur, ia mencoba menulis surat, tapi tak bisa
mengontrol penanya. Ia berusaha membaca buku laris
baru yang dibicarakan banyak orang, namun matanya
sulit difokuskan dan kata-kata di buku itu sulit
dipahaminya. Ia baru saja akan menyerah dan mematikan
lampu ketika terdengar pintunya diketuk. Ia bangkit dari
ranjang dan melintasi ruangan.
“Vanessa!”
Ia membuka pintu. “Halo, Spence.”
“Anda tadi sudah tidur?”
“Aku sedang membaca.” Spence selalu membuatnya
gelisah. Ia menyisir rambutnya dengan jari. “Mau apa
kau?”
“Presiden minta aku mengecek Anda.”
“Oya?” kata Vanessa sinis.
“Dia merasa tidak enak karena harus meninggalkan
Anda malam ini.”
71
“Kenapa malam ini harus berbeda?”
Ekspresi mata pria itu sama sekali tak berubah.
Sekadar sikap kurang ajar takkan bisa membuatnya
marah. Kalaupun marah, ia takkan menampakkannya Itu
sudah bagian dari pendidikannya.
Pemerintahan Nixon memiliki Gordon Liddy, yang
rela telapak tangannya terluka karena menutupi api
skandal atasannya sampai dirinya sendiri hangus terbakar.
Liddy tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
Spencer Martin. Pria itu sendiri menakutkan. Dan tak
terkira nilainya bagi Presiden.
“Ada yang bisa kuambilkan?” ia bertanya dengan sikap
sopan namun dingin.
“Misalnya?”
“Apa saja.”
“Tidak usah repot-repot.”
“Tidak akan merepotkan, kujamin. Bagaimana kondisi
Anda?”
“Bagus sekali, bangsat. Bagaimana kondisimu?”
“Anda kacau. Biar kupanggilkan Dr. Allan.”
“Aku tidak butuh dia.” bentak Vanessa. “Yang
kubutuhkan...” la berhenti sejenak untuk menghimpun
tenaga. “Yang kubutuhkan adalah orang-orang di sini
mengakui bahwa aku pernah punya anak, dan anak itu
sekarang sudah meninggal.”
“Itu sudah diakui, Vanessa. Kenapa berlarut-larut
memikirkannya? Apa gunanya mengunyah-ngunyah fakta
bahwa anak Anda...”
“Sebut namanya, bajingan!” Diterjangnya pria itu dan
dicengkeramnya kerah jasnya yang dijahit sempurna
“Kau dan David sulit sekali menyebutkan namanya
72
bukan? Hati nuranimu tidak sanggup. Katakan!” hardiknya
“Katakan sekarang juga!”
Seorang agen Dinas Rahasia menyerbu masuk. “Mr.
Martin, ada yang tidak beres?”
“Ibu Negara sedang tidak sehat,” kata Spence.
“Telepon Dr. Allan dan suruh segera datang.”
Spence membuatnya mundur ke kamar dan menutup
pintunya. “Mau mengurungku di kamar, Spence?”
“Sama sekali tidak. Kalau Anda ingin mempermalukan
diri sendiri di depan staf, silakan,” kata Spence tenang,
sambil menunjuk ke pintu.
Vanessa tenggelam dalam kebisuan, namun dengan
gaya membangkang menuang segelas anggur lagi untuk
dirinya sendiri. Ketika dokter datang, ia sudah menghabiskannya
dan sedang minum segelas lagi.
“Dia mabuk, George,” Spence memberitahu.
Ia memberontak ketika Dr. Allan berusaha memeriksanya.
“Vanessa pengobatan Anda tidak memperbolehkan
Anda minum sebanyak ini.”
Spence lantas memerintahkannya memberi Vanessa
obat untuk membungkam mulutnya “Aku tidak bisa. Aku
harus menaikkan dosisnya supaya efektif.”
“Aku tak peduli kau harus berbuat apa” kata pria
berhati batu itu.
Vanessa menyodorkan lengannya. “Beri aku obat
sialan itu! Satu-satunya kesempatanku merasa damai
cuma kalau aku tidur. Dan, seperti kata Spence, aku tidak
mengantuk, aku mabuk.”
Ketika obat mengaliri pembuluh darahnya David
memasuki kamar. Ia jelas tampak marah sekali karena
keributan yang ditimbulkan Vanessa waktu ia pergi.
73
Sayang sekali, Mr. President, pikir Vanessa, meskipun
ia sekarang terlalu rileks untuk mengucapkannya.
Ia bersama Spence dan Dr. Allan melakukan pembicaraan
yang tegang dan berbisik-bisik di kaki tempat
tidur. Sebagai penutup, Vanessa mendengar Spence
berkata, “Kita tidak bisa membiarkan ini lebih lama lagi.”
Apa, tepatnya, maksud ucapannya itu? Vanessa tadi
berharap bisa tidur, tapi sekarang ia berjuang supaya tetap
terjaga.
Ia pulas ketika mereka menjemputnya tepat sebelum
fajar.
74
Bab Tujuh
PRESIDEN MERRITT, mengakhiri percakapan teleponnya
dengan Barrie Travis dan berpaling pada penasihatnya.
“Bagamana menurutmu?”
Spencer Martin telah mendengar setiap patah kata
melalui pengeras suara. “Dia mencoba-coba, tapi Anda
menanganinya dengan baik,” jawabnya. “Anda menolak
permintaannya, tapi melakukannya dengan halus. Apakah
sebelum menelepon kemari dia menelepon Dalton?”
“Ya. Dia mematuhi peraturan.”
“Kalau begitu Anda menimbulkan kesan lebih baik
lagi karena menolak permintaannya secara langsung.
Kurasa dia berpikir tidak ada salabnya meminta wawancara
eksklusif dengan Anda untuk membicarakan strategi
kampanye Anda. Dia sekarang rupanya sudah akrab
dengan Vanessa, dan Anda mengiriminya bunga-bunga
itu. Wajar kalau dia mengira kini punya jalur pribadi ke
Ruang Oval.”
David Merritt memandang ke luar jendela yang
menghadap ke halaman Gedung Putih yang terawat baik.
Para pengunjung antre di sepanjang pagar besi, menunggu
giliran mengikuti tur yang akan membuat mereka
ternganga melihat peralatan makan para presiden terdahulu.
75
Dalam hati, David membenci rakyat Amerika, tapi ia
senang menjadi presiden mereka, dan tidak akan suka
meninggalkan tempat ini, bahkan setelah masa jabatan
keduanya. Ia tak pernah berpikir takkan ada masa jabatan
kedua. Terpilih kembali merupakan keyakinannya. Itu
termasuk dalam program yang disusunnya untuk dirinya
sendiri waktu di taman trailer di Biloxi dulu. Dengan
hanya sangat sedikit penyimpangan, semua berjalan
sesuai dengan rencana pokoknya. Tak ada yang bisa
merusak masa depan yang telah ditetapkan David
Malcomb Merritt untuk dirinya sendiri. Tak ada.
Seolah bisa membaca pikirannya Spence berkata,
“Aku ingin tahu kenapa dia mengajukan pertanyaan
terakhir tentang Vanessa itu.”
“Sekarang ini semua orang memikirkan keadaan
istriku. Akan lebih mencurigakan jika dia tidak
menyinggung soal Vanessa.”
“Kurasa,” ujar Spence.
Suaranya yang tidak yakin membuat Merritt menoleh,
wajahnya tampak bertanya.
Spence mengangkat bahu. “Beberapa minggu yang
lalu, kita tidak kenal Barrie Travis. Sekarang, ke mana
pun kita berpaling, dia ada.” la memaki pelan. “Apa yang
ada dalam benak Vanessa waktu melakukan perbuatan itu?
Dan mengapa reporter ini masih saja lapar? Aku bisa
mengerti kenapa dia menyelidik ke sana kemari di
General Hospital sebelum serial SIDS-nya, tapi
setelahnya?”
“Itu meresahkan aku juga,” Merritt mengakui. “Tapi
narasumbernya sudah diberitahu mengenai kekeliruan
tindakannya itu. Kurasa Ms. Travis bakal sangat sulit
76
menemukan sumber berita lain di rumah sakit itu.”
Barrie Travis mungkin saja beranggapan para
narasumbernya rahasia, tapi para narasumber Spence
lebih lagi. Presiden tidak menanyakan bagaimana atau
siapa yang mengkonfrontasi Anna Chen karena telah
membocorkan informasi rahasia pada pers. Ia cuma
diberitahu oleh Spence bahwa urusan itu sudah dibereskan—
dan jika begitu kata Spence, tidak ada gunanya
meragukannya.
Spence pandai melakukan hal-hal seperti itu. Kalau
ada masalah, ia akan rnembereskannya. Tidak perlu
penjelasan. Tidak perlu alasan. Tidak perlu argumen.
Spence tidak merepotkan. Tidak seperti teman mereka
Gray Bondurant, yang berkeras ingin tahu sebab dan
tujuan setiap permintaan Eksekutif.
Kalau aksi dibutuhkan, David Merritt menginginkan,
aksi itu dilakukan tanpa harus menjelaskannya. Ia
menginginkan hasil dan tak peduli soal integritas
perbuatan itu. Gray sebaliknya. Integritas merupakan
masalah penting bagi laki-laki itu.
“Kurasa Barrie Travis cuma reporter yang terlalu
bersemangat. Dia berhasil muncul di TV selama lima
belas menit—yang sebetulaya tidak terlalu hebat—dan
sekarang dia berusaha memaksimalkan peluangnya meraih
ketenaran. Sayangnya dia jadi menjengkelkan.” Presiden
terkekeh. “Dia payah dan semua orang mengetahuinya.
Tenang saja. Dia tidak cukup pintar untuk menimbulkan
masalah serius apa pun.”
“Entahlah, David,” Spence khawatir. “Kurasa dia lebih
pintar daripada yang dikira orang. Kalau tidak ada
kesalahan yang dipublikasikan secara luas itu, dia bisa
77
menjadi kekuatan media yang layak diperhitungkan.
Kegigihannya yang menyebalkan menunjukkan sifatnya.”
“Atau kecerobohan dan ambisi butanya.”
“Bagaimanapun, kalau dia tetap menyelidiki masalah
ini, kita bisa terkena imbasnya.”
Merritt memandang penasihatnya. Kata-kata sering
tidak diperlukan di antara mereka. Seperti para pejuang
gerilya yang mengendap-endap di hutan penuh musuh,
mereka bisa berkomunikasi tanpa kata-kata. Dengan mata
saja mereka dapat saling mengingatkan soal kemungkinan
adanya bahaya. Inilah salah satu contohnya.
“Kalau kau akan merasa lebih tenang karenanya,
Spence, teruslah menyelidik.”
“Aku akan merasa lebih tenang.”
Sambil berpikir keras Barrie menatap catatan transkrip
percakapan teleponnya dengan Presiden Merritt. Ia tidak
menemukan keganjilan pada semua yang dikatakan pria
itu atau bagaimana ia mengatakannya Pembicaraan
mereka tadi menyenangkan. Presiden tegas namun sopan
ketika menolak permintaan wawancara eksklusifnya, tapi
itu tidak membuatnya kecewa atau bahkan terkejut.
Permintaan wawancara itu memang cuma kedok. Tujuan
sebenarnya ia menelepon adalah untuk bertanya soal Ibu
Negara.
Sejak hari yang berangin dan mendung ketika ia
menemui Vanessa Merritt untuk minum cappuccino itu,
Barrie mencari kisah dramatis di balik setiap batu di
Washington. Ia tidak menemukan apa-apa. Para narasumbernya
tutup mulut. Penyeranta yang dinyalakannya
24 jam sehari, yang nomornya cuma diketahui para
78
narasumbernya dan Daily, tak pernah sekali pun
berbunyi, jadi ia melanggar peraturan dan menelepon
mereka. Tak ada yang tahu apa pun. Ia sudah rela
mengakui bahwa khayalannya terlalu mengada-ada, dan
bukan untuk pertama kalinya hal itu terjadi.
Lalu insiden misterius dengan Anna Chen menggoyahkan
keyakinannya Dan persis keesokan paginya,
Dalton Neely mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan
bahwa Mrs. Merritt akan mengasingkan diri
selama jangka waktu yang tidak ditentukan. Setelah
berita pembuka yang mengejutkan itu, ia membacakan
pernyataan singkat Presiden:
“Senator Armbruster dan saya percaya bahwa tanggung
jawab Vanessa sebagai Ibu Negara tidak memberinya
waktu untuk sepenuhnya melupakan peristiwa tragis yang
menimpa putra karni. Karni membuatnya sadar betapa ia
sangat berharga bagi kami sebagai individu dan sebagai
patriot. Demi keluarga dan negaranya, dia harus sembuh
seutuhnya, dari segi fsik dan emosi, sebelum menjalani
kembali hidup yang begitu padat yang dibuatnya sendiri.
Untuk tujuan itu, dia akan beristirahat panjang.”
Pertanyaan-pertanyaan para wartawan ditanggapi.
Istirahat untuk penyembuhan ini akan dilakukan di bawah
pengawasan Dr. George Allan, begitu kata Neely sebagai
jawaban untuk salah satu dari serangkaian pertanyaan
yang diajukan. Ia dengan tegas membantah adanya
keterlibatan alkohol maupun zat-zat lain. Dengan berteriak
mengalahkan suara teman-temannya, Barrie bertanya
kapan Ibu Negara akan kembali; ia diberitahu sekarang
masih terlalu dini untuk menjawabnya.
Sejak saat itu, Neely memberi media yang haus, berita
79
laporan berkala tentang kondisi Mrs. Merritt. Menurut
Dr. Allan, ia menikmati masa istirahatnya. Pagi ini, ketika
Barrie berbicara dengan Presiden, pria itu berterima kasih
karena ia telah menanyakan kabar istrinya dan berjanji
akan menyampaikan salamnya. Vanessa membaik dengan
cepat. Presiden sangat senang dengan kemajuan
kondisinya.
Semuanya begitu bagus.
“Omong kosong,” gumam Barrie. Tengkuknya kembali
terasa gatal. Ada yang tidak beres. Ia meraih telepon.
“General Hospital Washington, D.C. Mau disambungkan
ke mana?”
“Tolong sambungkan dengan Anna Chen.”
“Ms. Chen tidak bekerja di sini lagi.”
“Maaf?”
“Ms. Chen tidak bekerja di sini lagi. Bisakah orang lain
membantu Anda?”
“Uh, tidak. Terirna kasih.”
Barrie cepat-cepat menutup telepon dan mencoba
menghubungi nomor telepon apartemen Anna Chen.
Suara ramah mesin yang diatur komputer memberitahu
bahwa nomor itu sudah tidak berfungsi. Dalam waktu tak
sampai lima menit Barrie sudah berada di mobil, melaju
ke gedung apartemen Anna Chen. Ia berlari menaiki
tangga sampai ke lantai tiga dan menekan bel pintu
apartemen 3C. Setelah bel berbunyi beberapa kali tanpa
ada yang membukakan pintu, jelas baginya tempat itu
kosong.
Merasa frustrasi ia menekan bel pintu tetangga di
seberang lorong. Ketika menempelkan telinga ke pintu, ia
mendengar suara orang bergerak dan berbisik-bisik di
80
dalam. “Halo?” seru Barrie sambil mengetuk pintu. “Saya
mencari Ms. Chen.”
Si tetangga ternyata tipe eksekutif muda berbuntut
kuda dan mengenakan kemeja bermonogram. Kemeja itu
terbuka sampai bagian pinggang celana panjangnya, yang
ritsletingnya jelas kelihatan terburu-buru ditutup. Salah
satu ujung kemejanya menyembul ke luar. Barrie
memandang ke belakang bahu pria itu dan melihat bahwa
ia tengah menjamu seorang wanita muda. Mereka sedang
makan siang di lantai ruang tamu.
“Maaf saya mengganggu...”
“Kalau Anda mencar i Anna, dia sudah pindah,”
katanya jelas ingin segera melanjutkan kembali makan
siangnya. Atau entah apa yang sedang dilakukannya.
“Kapan?”
“Minggu lalu. Jumat, Kamis mungkin. Sebelum akhir
pekan, karena pengawas rnembereskan apartemen itu hari
Sabtu, Para tukang keluar-masuk seharian.”
“Anda tahu...”
“Ke mana dia pindah? Tidak. Tapi dia bekerja di
General Hospital.”
“Tidak lagi.”
“Huh. Kalau begitu saya tidak tahu apa-apa.”
“Terima kasih kau mau datang, Daily.” Barrie masuk
ke rumahnya dari pintu belakang. Dapur penuh dengan
bau masakan.
“Bagaimana aku bisa menolak undangan yang begitu
menarik? ‘Datang jam tujuh. Buat makan malam’.”
Daily berdiri di depan kompor, mengaduk sepanci saus
spageti, celemek Natal terikat di pinggangnya. Barrie
samar-samar ingat ia memperoleh celemek itu sebagai
81
hadiah beberapa tahun yang lalu dan tak pernah
melihatnya lagi sejak itu. Ia ingin tahu di mana Daily
menemukannya.
“Baunya sedap.” Ditepuknya Cronkite, yang kegirangan
melihat ia datang. “Kau sudah memberi makan dia?”
“Bakso mentah, yang ditelannya bulat-bulat.” Daily
menyisihkan sendok dan berpaling padanya “Kenapa aku
tadi harus turun di pojok, berjalan di gang, dan masuk
dari pintu belakang? Kita sedang-main petak umpet, ya?”
“Setelah makan malam.”
Daily menerima janjinya. Begitu piring-piring
dibereskan, mereka duduk nyaman di ruang tamu.
Setidaknya Daily yang merasa nyaman, duduk di sofa
empuk, kepala Cronkite yang besar di pangkuannya.
Barrie berjalan ke sana kemari di ruangan itu. Dua kali ia
memeriksa pintu depan untuk memastikan pintu itu sudah
dikunci dan diselot. Ia menurunkan penutup jendela,
hingga orang di luar tak bisa memandang ke dalam.
“Ada apa sih?” tanya Daily.
Barrie menempelkan jarinya di bibir dan menyalakan
TV. Ia memutar volumenya hingga memekakkan telinga,
kemudian bergerak ke bangku di dekat kursi Daily.
“Kau mungkin berpikir aku terlalu mendramatisir,”
katanya, “tapi kurasa aku sedang diawasi. Tadi siang
kuputus ponselku. Mulai saat ini, aku tidak mau ada
catatan telepon. Kalau kita bicara, kita harus sangat
berhati-hati tentang apa yang kita katakan, khususnya
mengenai Vanessa Merritt.”
Daily mengangguk ke arah TV yang menggelegar.
“Menurutmu rumah ini disadap?”
“Aku takkan terkejut kalau benar begitu.” Barrie
82
menceritakan lenyapnya Anna Chen. Lalu katanya, “Aku
bicara dengan pengawas gedung itu. Anna tidak
memberitahu lebih dulu, hanya membayar uang sewa,
berkemas, dan pergi.”
“Dia bisa saja punya puluhan alasan kenapa pergi.
Pekerjaan lain, apartemen lain.”
“Dia juga tidak meninggalkan alamatnya yang baru di
rumah sakit maupun pada si pengawas. Itu kan aneh bagi
orang yang pindah rumah.”
“Mungkin dia menghindari pacarnya yang pemarah.”
“Dia ketakutan, tapi bukan pada mantan pacar yang
kejam. Dia takut terlihat berbicara denganku. Ada yang
tahu dia membocorkan informasi padaku, dan dia telah
ditakut-takuti hingga jadi tutup mulut.”
Daily mencubit bibir bawahnya, tidak berkomentar.
“Kenapa bayi itu tidak diautopsi?” lanjot Barrie. “Dr.
Allan tidak ada waktu dia meninggal. Untuk kematian
tidak wajar, hukum mengharuskan diselenggarakannya
autopsi untok mengetahui penyebabnya.”
“Kita bicara tentang Presiden dan Ibu Negara Amerika
Serikat, Barrie. Hukum bisa dibengkokkan.”
“Kalao anakmu mendadak meninggal tanpa sebab
jelas, tidakkah kau ingin tahu apa penyebab pastinya?
Kenapa suami-istri Merritt keberatan ada aotopsi kalau
tidak ada yang mereka sembunyikan?”
“Banyak orang keberatan dengan aotopsi.” Daily
mengibaskan tangan. “Argumen berikut.”
“Aku selalu kembali ke pesan-pesan aneh Vanessa
untukku. Mungkinkah pesan-pesan itu mengandung
pengakuan?”
83
“Kalau memang dia yang membunuh bayi itu, kenapa
dia mengaku?”
“Jauh di lubuk hatinya, dia ingin kejahatannya
diketahui. Dia ingin dihukum.”
“Kau tahu, semakin banyak kau bicara, semakin
sinting wanita itu kedengarannya.”
“Dan di mana dia?” tanya Barrie tak sabar, sambil tetap
memelankan suara. “Di Highpoint?” Tempat peristirahatan
pribadi keluarga Merritt itu terletak beberapa jam
perjalanan ke barat daya Washington.
“Itu masuk akal,” ujar Daily, “walaupun menurut
keterangan resmi dia sedang beristirahat di ‘suatu
tempat’.”
“Kalau dia cuma beristirahat, dan dalam keadaan sehat,
kenapa begitu dirahasiakan?”
“Jika putrinya sakit berat, Clete Armbruster pasti turun
tangan,” kata Daily . “Dia pasti menempatkannya di
tempat dengan fasilitas medis paling bagus di negeri ini,
menjalani segala macam tes yang mereka miliki. Kau
sudah bicara dengan orang di kantornya?”
“Sudah kucoba. Pernyataan-pernyataan Neely
merupakan kitab suci stafnya.”
“Jika kesehatannya dalam bahaya, Senator takkan puas
dengan sekadar istirahat panjang. Dia akan berusaha
dengan segala cara untuk memperoleh pengobatan
terbaik.”
“Sama saja, jika Senator tahu Vanessa telah melakukan
pembunuhan, dia akan berusaha sama kerasnya untuk
menutupinya dan melindungi anaknya.”
“Sial,” tukas Daily. “Aku masuk perangkapmu.”
“Kau terus-menerus menentangku,” kata Barrie kesal.
84
“Kau tidak mau aku benar.”
“Aku tidak mau kau salah. Aku tidak mau kau main
hantam saja seperti yang kaulakukan dengan kisah Hakim
Agung Green. Dan yang lain-lainnya.”
“Ini sama sekali tidak mirip dengan kasus-kasus itu.
Sama sekali tidak.”
“Dan aku tidak mau jadi mirip. Setelah serentetan
kekacauan, kau sekarang mulai meraih kredibilitas
kembali. Bisa kaubayangkan kehebohan yang bakal
ditimbulkan teori-teorimu ini kalau sampai diketahui
orang?”
“Bisa kaubayangkan seberapa jauh dan cepat karierku
akan melesat kalau teori teoriku terbukti benar?”
“Sebelum mulai berkhayal tentang magazine showmu
sendiri, sebaiknya kau akui apa yang kaumiliki. Firasat,
Barrie. Cuma itu. Firasat, yang dalam jurnalisme sama
artinya dengan nol besar.”
“Tidak,” bantah Barrie sengit. “Kecuali kau betul-betul
ada di sana ketika seseorang melompat dari gedung
tinggi, atau ada pesawat jatuh, atau waktu pembunuh
tertangkap ketika berdiri di dekat mayat dengan senjata
masih berasap di tangannya; semua berita yang bagus
dimulai dengan firasat, insting yang memberitahumu ada
sesuatu di balik suatu situasi, bukan sekadar yang
kelihatan.
“Kau mungkin tidak akan mempercayai perkataanku
ini, Daily, namun motifku bukan cuma kepentinganku
sendiri. Aku prihatin memikirkan Vanessa. Kondisi
mentalnya sangat gawat. Katakanlah aku mengada-ada
dan bayi itu meninggal karena SIDS, seperti yang
dilaporkan. Mungkin kesedihan membuatna sinting. Jika
85
dia membuat Gedung Putih kehilangan muka, apakah
tidak mungkin mereka mengirimnya ke suatu tempat
supaya tidak diketahui publik?”
“Kaupikir Presiden menahannya secara paksa?”
Kalau dikatakan seperti itu, hipotesisnya jadi terdengar
konyol. “Itu sangat tidak masuk akal, ya?”
“Sama tidak masuk akalnya dengan hal-hal lain yang
sejak tadi kita bicarakan.” Daily berpikir sebentar. “Tapi
kalau dipikir-pikir lagi, kekuasaan memiliki psikologi
uniknya sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa bagi
beberapa presiden, untuk mencapai suatu tujuan, semua
cara sah-sah saja dilakukan. Kurasa itu termasuk
mengasingkan ibu negara beremosi labil yang bisa
menghalangi terpilihnya kembali sang presiden.”
Barrie bergidik. “Ya Tuhan, teori-teori kita makin
seram saja.”
“Tetap cuma teori, Barrie.”
“Jangan ingatkan aku,” gumam Barrie.
“Itu tugasku.”
“Kau bukan bosku lagi.”
“Betul. Aku cuma temanmu. Dengar, Barrie.” Daily
diam sejenak untuk menarik napas dengan tersengalsengal.
“Dunia sekarang sudah menghargaimu. Sekali ini,
jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Barrie tak suka mendengar nada bicaranya. “Waktunya
berpsikologi, Daily? Waktunya membuka kepala Barrie
dan melihat apa yang membuatnya bergerak?”
“Aku sudah tahu apa yang membuatmu bergerak.
Lebih penting lagi, kau juga tahu.”
“Kalau begitu, kenapa dibabas...” tanya Barrie marah.
“Bisakah kau menatap mataku dan mengatakan bahwa
86
motivasimu untuk maju terus dengan kisah berbahaya ini
tidak ada hubungannya dengan usahamu mendapat pujian
dari dua orang yang...”
“Ya, aku bisa menatap matamu dan mengatakan hal itu
padamu. Lagi pula, apa pun motivasiku, ini kisah yang
perlu disebarluaskan. Setuju?”
“Kalau kisannya memang ada, ya,” Daily menjawab
sambil bersungut-sungut.”Oke, jadi berhentilah
mengungkit-ungkit masa kecilku yang tidak bahagia dan
bantu aku.”
“Caranya?”
“Siapa yang mau bicara denganku? Senator Armbruster?”
Daily menggeleng. “Tak peduli apa yang sebetulnya
diyakini batinya, dia akan mengikuti versi pemerintah
dan membelanya sampai mati. Dia politikus tulen dari
ujung rambut sampai ujung kaki. Dia takkan menjatuhkan
orang yang ditempatkan partainya di Gedung Putih,
biarpun orang itu Jack the Ripper. Apalagi kalau orang itu
menantunya Dia nyaris sendirian menempatkan David
Merritt di kursi kepresidenan.”
“Oke. Jadi, siapa lagi yang mengenal pasangan Merritt
secara mendalam? Kalau ada orang yang dekat dengan
mereka namun berbeda pendapat. Atau orang yang...”
Tiba-tiba pikiran lain menyentaknya “Si... si.. tentara
yang menyelamatkan para sandera itu.”
“Bondurant?”
“Bondurant! Ya! Gary Bondurant.”
“Gray.”
“Betul. Gray. Dia sangat dekat dengan keluarga
Merritt. Mungkin dia mau bicara denganku.”Barrie sakit
87
hati mendengar Daily tertawa terping kalpingkal biarpun
dengan susah payah. “Kau bakal memperoleh lebih
banyak keterangan kalau mewawancarai salah satu wajab
di Mount Rushmore. Mereka jauh lebih bersababat dan
banyak bicara daripa& Bondurant. Dia sama seperti ular
kobra sulit didekati.”
“Bagaimana riwayat bidupnya? Dari mana asalaya?”
Daily mengangkat bahu. “Pengetahuanmu sama dengan
orang lain.”
“Dia tidak mungkin muncul begitu saja waktu Merritt
menunjuknya sebagai penasihat,” kata Barrie frustrasi.
“Tapi kelihatannya begitu,” balas Daily . “Spencer
Martin sama misteriusnya. Yang diketahui publik tentang
rnereka sebelum pemerintahan Merritt sedikit sekali.
Pendapatku, mereka sengaja menimbulkan aura miisterius
itu.”
“Untuk apa?”
“Efek, kurasa.”
“Apa yang dilakukan Bondurant sebelum rnisi penyelamatan
itu?”
“Merencanakannya, kupikir. Mereka bertiga— Martin,
Bondurant, dan Merritt—pernah menjalani pendidikan
Marinir. Dari mereka bertiga, Presiden yang paling halus,
dia benar-benar politikus tulen. Spencer Martin adalah
tokoh di belakang layar. Dia sangat cocok dengan
perannya dalam pemerintahan ini. Dan Bondurant... Dia
yang paling kompleks di antara trio itu. Mau tahu
rahasiaku? Orang itu selalu membuatku ketakutan
setengah mati. Sejujurnya, kurasa dia juga membuat
Presiden ketakutan setengah mati.”
“Kupikir Merritt memecatnya karena dia tertarik pada
88
Vanessa.”
Daily menggerutu. “Kenapa kau begitu ketinggalan
tentang masalah ini? Di mana kau ketika ini berlangsung?
Kan kejadiannya belum terlalu lama.”
“Waktu itu Howie marah padaku karena suatu hal, jadi
dia menyuruhku meliput tuduhan pelanggaran dalam
gulat profesional. Aku tidak mengikuti berita kembalinya
Bondurant dan kemudian kepergiannya dari
Washington.””Sebetulnya, kau tidak ketinggalan banyak.
Bondurant membuat semua reporter di Washington
frustrasi. Dia menghindari kamera dan tak mau
diwawancara. Tabloid-tabloid memuat omong kosong
mereka yang biasa, namun tentu saja itu bukan kisah yang
sebenarnya”
“Apa kisahnya yang sebenarnya?”
“Aku tak tahu. Tapi kalau Merritt menganggap
Bondurant main api dengan Ibu Negara, kenapa dia
memilnihaya untuk memimpin misi penyelamatan itu?
Dia membuat Bondurant jadi pahlawan nasional. Itu
rasanya bukan dadakan suami yang cemburu, bukan.”
Daily menggoyang-goyangkan telunjuknya. “Dan itu
satu lagi kesalahanmu. Presiden tidak memecatnya.
Sesudah misi itu, dia meminta Bondurant kembali ke
posisinya di Gedung Putih. Bondurant bilang, ‘Terima
kasih, tapi tidak.”’
“Dari mana kau tahu semua ini?”
“Bukan cuma kau yang punya banyak sumber
informasi, Nona. Sebelah kakiku mungkin saja sudah
nnasuk liang kubur, tapi yang sebelah lagi masih
disambut di Washington.”
“Kalau kau memang tahu banyak, di mana Bondurant
89
sekarang?”
“Dia pindah ke suatu tempat di Barat. Ke salah satu
negara bagian terpencil itu.”
90
Bab Delapan
IA sampai rela mengajaknya makan siang. Mereka pergi
ke restoran favoritnya. Ia bahkan membiarkannya makan
sebelum mengajukan permohonannya.
“Kumohon, Howie. Beri aku lampu hijau. Beberapa
hari saja.”
Howie menyapu saus dari sandwich dagingnya dengan
potongan terakhir roti dan menjejalkannya ke dalam
mulut. Sambil mengunyah, ia berkata, “Biaya perjalanan
mahal, tahu. Kita tidak punya anggaran untuk itu.”
“Biar kupakai uangku dulu. Akan kusimpan
kuitansi-kuitansinya Stasiun bisa menggantinya nanti.
Tapi hanya kalau aku memperoleh berita.”
la berharap pengorbanannya ini dapat memenangkan
hati Howie. Ini juga meninggikan semangatnya untuk
menghasilkan berita eksklusif yang akan menyentak
seluruh penjuru negeri, yang ia yakin akan dilakukannya
sebentar lagi. Hanya berita sedahsyat ini yang dapat
rnembuataya mau makan bersama Howie Fripp.
Pria itu mengunyah sambil berpikir... mengunyah
bawang mentah dan memikirkan permintaannya. “Kau
mau pergi ke mana?”
“Aku tak bisa mengatakannya.”
91
“Kau berharap aku memberimu izin sementara kau
tidak mau memberitahu aku ke mana kau pergi atau apa
bentanya?”
“Beritanya menghebohkan. Untak memperolehnya
dibutuhkan kerahasiaan mutlak.” Barrie memelankan
suara dan mencondongkan tubuh ke depan, meskipun bau
bawang merah dan putih yang keluar dari mulut Howie
membuat matanya berair. “Kalau sampai tersebar kabar
bahwa aku tengah menggarap berita ini, orang yang
mengetahuinya bisa terancam bahaya.”
“Sudahlah,” erang Howie. “Kenapa kau tidak mencoba
menjual omong kosong itu di NBC? Orang-orang
sombong di sana mungkin akan mempercayainya.”
“Terima kasih, Howie. Aku memang berharap kau
bilang begitu.” Barrie meraih tasnya.
Howie mula-mula. kaget, lalu menyipitkan mata
dengan curiga. “Kenapa kau tidak marah?”
“Karena sekarang aku bisa menghadap Jenkins dengan
tenang. Aku tidak mau melompati tangga kekuasaan, jadi
kutanya kau dulu. Karena kau menolak permintaanku,
aku dapat menghadap sang dirut.”
Mendengar Direktur Utama WVUE disebut, hati
Howie Fripp langsung ciut. “Jenkins pasti akan mendukung
keputusanku,” katanya, pura-pura yakin. “Dia akan geli
setengah mati karena kau punya nyali untuk minta izin
bepergian.”
“Kurasa tidak,” kata Barrie riang. “Aku belum cerita
soal memo yang ditulisnya untukku.”
Howie menyipitkan mata lagi.
“Isinya ulasan penuh pujian tentang serial SlDS-ku.
Dia ingin aku membuat lebih banyak laporan spesial
92
seperti itu. Dia bilang bakatku terbuang sia-sia untuk
berita-berita kacangan. Dia juga ingin aku merancang
program pelayanan masyarakat. Mungkin kegiatan luar
juga, seperti tampil di depan umum, berpidato, hal-hal
seperti itu.” Ia mengerutkan kening. “Kukira dia sudah
menceritakannya padamu. Belum? Yah, kurasa saking
sibuknya, dia tidak sempat memberitahumu.”
Semua ceritanya itu cuma bualan, namun Howie
menelannya mentah-mentah. “Akan kupertimbangkan,”
gerutunya.
“Tidak perlu. Betul. Lupakan saja. Biar aku langsung
ke Jenkins saja.”
“Tunggu! Tahan! Beri aku waktu sebentar, demi
Tuhan. Kau memberitahu masalah ini tanpa peringatan
sedikit pun.” Sambil memikirkannya, ia menggigiti acar
timun. “Kau berani sumpah berita ini sangat
menghebohkan?”
“Luar biasa. Menggemparkan.”
Howie melotot memandang seorang wanita muda
yang sedang joging di luar jendela. Setelah itu ia
menggigit acarnya, dan menggaruk ketiaknya. “Oke, kau
boleh pergi selama beberapa hari. Tapi awas kalau kau
main-main denganku.”Barrie bergidik membayangkannya.
“Selamat datang di Ponderosa,” kata Barrie pada dirinya
sendiri ketika ia melaju melewati gerbang yang terbuka
dan menyusuri jalan kerikil menuju rumah Gray
Bondurant.
Bepergian dengan nama samaran, menggunakan kartu
identitas palsu yang dibuatkan untuknya oleh seorang
mantan narapidana—salah satu sumber berita Daily dari
93
dunia hitam—dan membayar dengan uang kontan supaya
tidak meninggalkan jejak, Barrie sampai di tempat
tujuannya sore itu. Ia berharap tindakan berjagaja-ganya
itu berlebihan, namun ia tidak mau mengambil risiko.
Menurut standar Wyoming Barat Laut sekalipun,
tempat tinggal Bondurant termasuk bobrok. Rumah
pertanian satu lantai itu dibangun di depan hutan aspen
yang wamanya tampak spektakuler pada musim gugur
seperti sekarang. Untuk mencapai rumah itu ia harus
menyeberangi sungai dengan air jernihnya yang
menggelegak di dasar batu.
Rumah itu terbuat dari kayu gelondongan dan batu. Di
sekelilingnya terdapat teras beratap. Tiga ekor kuda
sedang merumput di lapangan. Di bagian belakang
terdapat lumbung yang tampak lebih tua daripada rumah
dan garasi terpisah yang pintunya terbuka dan cuma berisi
mobil salju. Beberapa ikat kayu ditumpuk di luar garasi.
Selain kuda-kuda tadi, tidak kelihatan ada makhluk hidup
lain.
Setelah berada di sini, Barrie merasa sangat gentar.
Alam di sekelilingnya keras dan menakutkan. Deretan
pegunungan membuatnya merasa kecil dan tak berarti,
yang pasti begitu jugalah pendapat Gray Bondurant nanti
tentang dirinya. Ketika turun dari mobil sewaan, ia
bertanya-tanya dalam hati apa persisnya yang akan
dikatakannya pada pria itu untuk memperkenal kan diri.
Dari sedikit. informasi yang didengar dan dibacanya
tentang pria itu, ia tahu hampir tak mungkin ia akan
disarnbut dengan tangan terbuka.
Kegentarannya tak beralasan; Gray Bondurant tak ada
di rumah. Ia menyadari hal itu setelah membunyikan bel
94
dan mengaetuk pintu selama beberapa menit. Sialan.
Mentalnya sudah bersiap-siap menghadapi mantan Marinir
itu. Sudah terlalu banyak yang dikorbankannya, ia tidak
mau menyerah begitu saja. Bahkan perjalanan singkat
kembali ke Jackson Hole pun terasa menjengkelkan.
Setelah memutuskan untuk rnenunggu Bondurant
pulang, ia duduk di kursi goyang di teras depan.
Pemandangan Pegunungan Tetons sangat memesona, jadi
ia tidak keberatan duduk dan bergoyang-goyang sambil
menikmati keindahan alam. Namun, tak lama kemudian
ia menyadari fenomena alam lairi, yang satu ini sifatnya
biologis. Ia harus ke kamar mandi.
Setelah menunggu lima belas menit lagi, ia
meninggalkan tas di kursi dan kembali ke pintu depan.
Karena garasi dibiarkan terbuka, kemungkinan besar
rumahnya pun tidak dikunci. Memang benar.
Pintu itu langsung membuka ke ruang tengah. Palangpalang
kayu menopang langit-langit tinggi. Perapian
berukuran besar mendominasi dinding batu di ujung
ruangan. Dekorasinya sangat maskulin. Kursi-kursi
berukuran besar dilapisi kulit warna hijau daun. Jendelajendelanya
tanpa hiasan. Karpet-karpet wol yang tampak
seperti selimut sadel besar terhampar di lantai yang
terbuat dari kayu hardwood. Suasana sunyi senyap, detak
jam pun tak ada. Ruangan itu samar-samar berbau asap
kayu dan... dan laki-laki.
Suasana jantan itu begitu kuat, begitu terasa, hingga
Barrie berpaling cepat-cepat mengira akan melihat
Bondurant mendadak muncul.
Sambil memarahi dirinya karena bersikap konyol, ia
bergegas melintasi ruang tengah dan tiba di kamar
95
berukuran besar. Di sini, lagi-lagi semua tampak keras,
kecuali tempat tidur yang masih berantakan, yang sengaja
tidak mau dilihatnya. Ia masuk ke kamar mandi di dekat
situ.
Sebuah sikat gigi tergantung dari rak di atas wastafel.
Handuk-handuk terlipat di lemari. Kemeja tergantung di
cantelan kuningan di belakang pintu. la tak bisa menahan
diri untuk tidak menyentuhnya. Katun. Tidak dikanji.
Nyaman.
Kamar mandinya cukup rapi, meskipun ia melihat
bahwa tutup botol cologne-nya berdebu karena jarang
dibuka. Ia tergoda untuk membuka lemari obat yang
dilengkapi cermin, namun memutuskan itu akan merupakan
pelanggaran privasi yang keterlaluan.
Setelah menggunakan toilet, ia mencuci tangan dan
mengeringkannya dengan handuk yang terjuntai dari
cincin krom yang dipasang di dinding. Handuk itu agak
lembap. Beberapa saat yang lalu, Bondurant mengeringkan
wajah atau tangannya dengan handuk itu. Pikiran Barrie
jadi agak kacau dan muncul sensasi aneh di perutnya.
Sekali lagi, ia sangat menyadari keberadaan penghuni
rumah ini, seolah pria itu ada, cuma tidak kelihatan.
Pasti karena tempat ini begitu senyap dan terpencil
hingga ia jadi merasa yang tidak-tidak, Barrie memutuskan.
Ia keluar dari kamar, berjanji pada tuan rumahnya
yang tidak ada bahwa setelah minum segelas air, ia akan
keluar dari situ.
Ia menemukan dapur dengan mudah. Ada enam kaleng
bir di dalam kulkas. Tak ada air mineral. Atau minuman
ringan. Ia mengambil air dari keran, lalu menambahkan
beberapa potong es yang diambilnya dari freezer yang
96
penuh dengan potongan daging dan sedikit makanan lain.
Sambil memegang janji, ia kembali ke teras untuk
melanjutkan penantiannya. Tentunya Bondurant akan
kembali sebelum hari gelap. Ia tak mungkin meninggalkan
rumabnya dalam keadaan tak terkunci jika ia merencanakan
pergi lama.
Matahari terbenam mengubah warna langit dari jingga
menjadi ungu gelap. Bintang-bintang bermunculan, lebih
banyak daripada yang pernah dilihatnya, karena seumur
hidup ia tinggal di kota besar. Bima Sakti tampak jelas
persis di atas kepalanya.
Dengan datangnya kegelapan, temperatur udara pun
turun. Supaya hangat ia memeluk dirinya sendiri.
Meskipun dingin, ia tetap saja jatuh tertidur, dagunya
mengenai dada setiap kali kepalanya terkulai. Tubuhnya
mengikuti waktu yang dua jam lebih cepat daripada
Waktu Pegunungan, dan wekernya tadi berbunyi pada
pukul 05.00.
“Ini sinting,” katanya, giginya bergemeletuk.
Sebelum sempat melarang dirinya, ia kembali ke
dalam rumah dan berbaring di sofa kulit yang panjang.
Beberapa detik saja setelah merebahkan kepalanya, ia
tertidur.
97
Bab Sembilan
BOLA-BOLA biliar berkeletak, dan Howie Fripp
mendengus seperti babi ketika tembakannya berhasil
memasukkan sebuah bola ke lubang . “Aku menang.
Berapa tadi?”
“Tiga.”
“Yi-ha! Lima belas dolar. Kecuali kau ingin main
lagi.”
“Tidak, terima kasih. Kau bisa menguras kantongku.”
Howie mengambil tiga lembar uang lima dolar yang
diulurkan lawannya padanya. Dimasukkannya uang itu
ke saku dan nyaris mengucapkan komentar sombong lain
tentang kemenangan hebatnya, namun sesuatu di mata
pria lain itu memperingatkan bahwa menyombongkan
diri bukanlah tindakan yang bijaksana.
“Setidaknya kau bisa membelikan aku minuman.”
Orang yang kalah itu tersenyum, tapi tipis.
“Minuman? Boleh, boleh,” kata Howie. “Kau mau
minum apa?”
la minta vodka dengan es. Howie pergi ke bar dan
memesan minuman itu. Ia kembali membawa vodka dan
bir untuk dirinya sendiri ke meja tempat pria tadi duduk.
“Aku tidak bisa lama-lama,” Howie berkata ketika
98
duduk di depannya. Sebetulnya ia malah ingin pergi
sekarang juga Teman semejanya itu memesan vodka
merek terkenal. Sekali atau dua kali minum dengannya
bisa menghabiskan kemenangannya. “Aku harus masuk
kantor pagi-pagi.”
Pria itu menyesap minumannya. “Kau bekerja di
bidang apa?”
“Jurnalisme televisi,” Howie menyombongkan diri,
sambil menaburkan garam di bir. “WVUE.”
“Kau tampil di TV?”
“Tidak, aku tidak muncul di TV. Itu pekerjaan untuk
orang-orang idiot, yang cuma bisa bicara. Tidak, aku
membagikan tugas peliputan berita pada para reporter.”
“Jadi, kau kurang-lebih bertanggung jawab mengenai
apa yang akan disiarkan?”
“Aku memang bertanggung jawab mengenai apa yang
akan diudarakan.” Menikmati minat laki-laki itu, Howie
bercerita panjang-lebar dan melebih-lebihkan. “Aku yang
menentukan reporter mana meliput berita apa berita yang
mana yang dibatalkan, dan mana yang disiarkan serta
berapa lama waktunya. Setiap hari, banyak sekali yang
harus kuputuskan.”
“Itu posisi yang sangat berat.”
“Aku suka tekanan,” kata Howie sombong.
Laki-laki yang duduk di seberangnya adalah laki-laki
yang ingin dilihat Howie Fripp di cerminnya sendiri.
Kadang-kadang ia membohongi dirinya sendiri supaya
percaya bahwa ia menimbulkan kesan yang sama pada
orang lain seperti yang ditimbulkan pria itu pada dirinya.
Teman barunya itu pandai bicara. Apa pun situasinya, ia
tetap tenang. Ia bahkan tidak marah ketika kalah tiga set
99
berturut-turut dalam pertandingan biliar dan kehilangan
banyak uang. Ia tipe pria yang membuat wanita bernafsu
dan laki-laki merasa takut bercampur hormat.
“Kau pasti tahu banyak tentang apa yang tengah
terjadi,” ujar pria itu.
“Kau mengetahui beritanya lebih dulu daripada orang
lain.”
“Betul.”
“Jadi, berita apa yang sedang hangat?”
Howie sibuk berpikir tentang berita yang dapat
membuat individu mengesankan ini terkesan. “Hmm,
well, sebentar . Aku mengirim reporter ke lokasi
penembakan tiga orang kemarin malam itu, beberapa
menit setelah kejadian. Aku punya video mayat-mayatnya
sebelum ditutup.”
Laki-laki itu tersenyum sedikit dan melirik jam
tangannya.
“Dan, uh, apa lagi ya...”
“Yah, aku menikmati pertandingan kita. Sebaiknya
aku pergi sekarang.”
“Tapi berita paling heboh yang kami garap akhir-akhir
ini adalah serial tentang SIDS itu. Kau tahu, kematian di
tempat tidur bayi,” kata Howie, berharap bisa menarik
perhatian laki-laki itu.
“Yeah?”
Bingo! “Aku yang mengusulkan pembuatan serial itu.
Semacam lanjutan untuk peristiwa anak Presiden, kau
tahu.”
“Peristiwa tragis.”
“Kami mewawancara Ibu Negara.”
“Itu hebat sekali. Dia jarang mau diwawancara, kan?”
100
“Itu wawancara eksklusif WVUE.”
“Bagaimana kau bisa melakukannya?”
“Biasa saja. Aku menelepon beberapa orang. Menagih
janji.” Ia mengangkat bahu, seolah mengatakan ia sudah
biasa berurusan dengan Gedung Putih. “Kau mau minum
lagi?”
“Tidak, terima kasih. Kalau aku mabuk, bisa-bisa aku
setuju membiarkan kau mengalahkan aku lagi.” Orang itu
menyeringai.
Howie balas menyeringai. Ia tak pernah punya teman.
Mungkin pria ini akan menjadi temannya. Pikiran itu
membuatnya bersemangat.
“Aku menonton wawancara dengan Ibu Negara itu,”
ujar si pria “Sangat tajam. Siapa nama reporternya?”
“Barrie Travis.” Howie menceritakan bagaimana
proses ia mempekerjakan Barrie. “Waktu itu dia tidak
punya pekerjaan biarpun sudah melamar ke mana-mana.
Kupikir, masa bodohlah. Beri dia kesempatan, dan
dapatkan nilai positif dari FCC sebagai imbalan. Dan dia
lumayan cantik.”
Teman barunya terkekeh. “Kalau kita terpaksa bekerja
dengan mereka, kenapa tidak kita pekerjakan saja yang
cantik, bukan?”
Howie mengerling. Teman barunya punya pandangan
yang sama dengannya. “Kau betul sekali, Sobat.” Howie
mengedipkan sebelah mata. “Barrie dan aku pernah
pacaran selama beberapa waktu, tapi semua jadi ruwet,
bekerja sebagai atasannya dan sebagainya, jadi aku
terpaksa menyudahinya. Dia tidak keberatan. Tidak
menimbulkan masalah, tidak seperti beberapa wanita
lain. Ternyata dia reporter yang cukup bagus. Dia penuh
101
semangat. Mungkin agak terlalu ambisius.”
“Begitu. Kenapa?”
“Ah, kau tahu. Karena kesuksesan serialnya, yang
sebetulnya kuproduksi, dia jadi punya pikiran macammacam.
Dia membuatku sinting dengan berita heboh
yang tengah dikejarnya.”
“Oya?” Temannya tak lagi melirik jam tangannya. la
bersandar nyaman di kursi, mengaduk-aduk es di
gelasnya. “Berita apa?”
“Entah. Dia tidak mau bilang.”
“Ayolah. Aku akan membocorkan pada siapa sih?”
“Aku bersumpah tidak tahu apa-apa. Tapi dia bilang
kalau berita itu ternyata seperti dugaannya, Watergate
akan tampak seperti Mickey Mouse.”
Senyum pria itu luntur sedikit. “Kalau begitu pasti
beritanya dahsyat.”
“Cukup dahsyat sehingga dia pergi beberapa hari
untuk melakukan riset di luar kota.”
“Di mana?”
Nada suara laki-laki itu membuat tangan Howie
terhenti di antara mangkuk kacang dan mulutnya. Tibatiba
ia merasa mungkin terlalu banyak omong, mungkin
sebaiknya ia tidak bercerita sebanyak ini mengenai berita
Barrie. “Dia tak mau memberitahuku.”
Pria itu tersenyum lagi. “Sedikit pun?”
“Sedikit pun.”
“Cewekmu penuh rahasia.”
“Dia cewek biasa. Aku bisa bilang apa? Siapa yang bisa
menebak isi kepala cewek?” Howie meraih bir untuk
melicinkan tenggorokannya setelah makan kacang.
“Yah, sudah malam, dan kau harus ke kantor pagi102
pagi. Terima kasih untuk minumannya.”
Howie tergagap bangkit waktu teman barunya berdiri.
“Aku senang mengobrol denganmu.”
“Sudah semestinya, bajingan. Kau pulang dengan isi
kantong bertambah lima belas dolar.”
“Mungkin kita bisa rnelakukannya lagi kapan-kapan,”
kata Howie, berharap tidak terkesan terlalu bersemangat.
Ia tak ingin pria itu mengira ia homo. “Aku ke sini
beberapa malam dalam seminggu. Kalau sedang tidak
punya rencana lain. Cuma ngobrol dengan orang-orang,
kau tahu.”
“Kalau begitu, mungkin kita akan bertemu.” Mereka
bersalaman.
Howie memandanginya pergi, iri dan kagum pada
sikap percaya diri laki-laki itu, dan tahu, hampir pasti,
bahwa ia takkan bertemu dengannya lagi.
Kalena alasan yang tetap merupakan misteri baginya
Howie tampaknya tidak mudah memperoleh teman.
Spencer Martin sudah melewati dua blok ketika kebetulan
melibat bayangannya di kaca spion. Sambil tertawa, ia
mengulurkan tangan untuk membuka topi bisbol yang di
bagian belakangnya dihiasi rambut panjang keriting. Ia
juga mencopot kumis palsunya. Akan sedikit lebih susah
untuk menghilangkan bau tajam asap tembakau dan bir
basi akibat terjunnya ia ke kehidupan kumuh Howie
Fripp.
Benar-benar brengsek, pikir Spence ketika ia melaju
kembali ke Gedung Putih,Tapi dari Fripp-lah ia mengetahui
informasi yang ia dan David harus ketahui—Barrie
Travis masih memburu berita yang menurumya panas.
103
Apakah berita itu berhubungan dengan Presiden atau
Mrs. Merritt atau kematian Robert Rushton Merritt?Ia
yakin Fripp tidak tahu; kalau sebaliknya pasti laki-laki itu
sudah berkoar-koar. Saat ini Spence juga tidak tahu. Tapi
menyelidikinya merupakan prioritas utamanya.”Yah,
saya senang Anda senang, Mrs. Gaston... Tidak, saya
yakin Mrs. Merritt akan puas dengan pilihan saya...
Bagus. Nah, mengenai pengaturan untuk besok, Anda
akan dijemput dengan mobil pada pukul 06.30. Saya tahu
memang pagi sekali, tapi... Baikah. Bagus sekali. Kalau
Begitu, sampai ketemu besok. Selamat malam.”
Tangan Dr. George Allan masih memegang gagang
telepon, dan ia tengah memandanginya sambil berpikir,
waktu istrinya masuk membawa dua gelas kopi yang
mengepul-ngepul. Wanita itu meletakkan satu gelas di
depannya di meja dan membawa yang satu lagi ke kursi
kulit yang berada di depan meja itu. “Siapa tadi?”
Ruang kerjanya berada di lantai dua kediaman mereka
yang bergaya namun nyaman, tak jauh dari bagian
Massachusetts Avenue yang terkenal sebagai Embassy
Row. George Allan mencicipi kopinya “Anak-anak sudah
tidur?”
“Di tempat tidur, tapi kuberi mereka tambahan sepuluh
menit, sesudah itu lampu harus dimatikao. Siapa itu
tadi?” tanya Amanda lagi, sambil menunjuk telepon.
“Perawat pribadi yang kupekerjakan untuk Vanessa.
Mrs. Gaston tak bisa dibilang gembira mendengar siapa
pasien barunya dia amat sangat gembira. Dia tak percaya
dirinya akan merawat Ibu Negara.”
“Vanessa membutuhkan perawatan kontinyu?”
Keluarga Allan sudah mengenal keluarga Merritt sejak
104
mereka baru menikah. “Cuma untuk berjaga-jaga,” jawab
George. “David berpendapat dia harus didampingi orang
yang terlatih secara medis setiap saat.”
“Kupikir dia cuma beristirahat.”
“Memang.”
“Kalau dia membutuhkan perawatan medis secara
kontinu, tidakkah dia sebaiknya masuk rumah sakit?”
“Berhentilah menginterogasi aku, Amanda.” George
bangkit dari kursi kerjanya begitu cepat hingga kursi itu
terguling ke belakang dan menabrak dinding. Ia pergi ke
lemari minuman keras untuk mengambil brendi dan
menuangkannya ke kopi.
“Aku tidak menginterogasimu,” kata Amanda lembut.
“Apanya yang tidak. Semua percakapan kita akhirakkir
ini berkembang menjadi pemeriksaan silang.”
“Itu karena kau sangat defensif,” balas Amanda.
“Pertanyaan paling sederhana pun membuatmu
marah.””Pertanyaanmu tak pernah sederhana, Amanda.
Semuanya menyelidik dan penuh kecurigaan.”
“Dan kau paranoid,” hardik Amanda. “Apa sih yang
dimiliki David hingga membuatmu takut pada segala hal,
bahkan aku?”
“Kau tidak tahu apa yang kaukatakan.”
“Aku tahu sejak menerima pekerjaan ini, kau jadi lain.”
“Kau keliru, Amanda.”
“Dad?”
George berbalik dan melihat dua putranya yang masih
kecil berdiri di ambang pintu. Mengenakan piyama,
mereka tampak sangat manis dan rapuh, wajah mereka
bersih karena habis mandi. Begitu melihat mereka,
kemarahannya menguap. “Hai, anak-anak. Masuklah.”
105
Mereka berdiri ragu di pintu sampai putra sulungnya
dengan berani melangkah lebih dulu ke area berbahaya.
Adiknya mengikuti. George kembali ke kursi,
mendudukkan kedua anaknya di lutut, dan memeluk
mereka erat-erat.
Kedua anaknya wangi sabun, pasta gigi, dan sampo.
Mereka begitu bersih. Ia nyaris lupa betapa nyamannya
dalam keadaan bersih. Sudah lama ia tidak mengalaminya.
“PR matematikaku dapat nilai A,” si sulung
memberitahunya dengan bangga.
“Guru menyuruhku membaca kuat-kuat hari ini. Aku
tahu semua katanya,” si bungsu ikut berceloteh.
“Hebat sekali! Kalian berdua pantas diberi hadiah.
Bagaimana kalau akhir pekan ini? Nonton film? Atau
jalan-jalan ke toko? Pokoknya acara istimewa.”
“Mom ikut?”
George melirik Amanda “Tentu, Mom ikut. Kalau dia
mau.”
“Mau, Mom?”
Amanda tersenyum pada kedua putranya. “Yang
kumau sekarang ini adalah kalian berdua tidur.”
Setelah berpelukan lagi dan aneka taktik untuk
menunda, ia membawa mereka keluar dari ruangan
menuju kamar mereka.
Amanda sudah berada di kamar tidur utama ketika
George menyusulnya setengah jam kemudian. Ia tengah
menyikat rambutnya yang modelnya tetap sama dengan
ketika mereka berkenalan, bob lurus sedagu. Seperti
matanya, rambutnya berwarna cokelat tua.
Amanda siap untuk tidur, hanya mengenakan celana
dalam dan atasan pendek lembut. George berdiri di pintu
106
sebentar dan memandanginya. Ia langsung jatuh cinta
pada Amanda ketika mereka diperkenalkan di pesta
Empat luli. Mereka mulai pacaran, tapi ia butuh waktu
enam bulan untuk mengumpulkan keberanian dan
mengajak Amanda tidur dengannya. Amanda bilang ya,
dan ingin tahu kenapa ia menunggu begitu lama. Mereka
menikah sebelum Empat Juli berikutnya.
Amanda tak pernah keberatan dengan tuntutan pekerjaan
George. Ia memiliki kehidupan dan minat sendiri. Selain
membina rumah yang indah bagi keluarga mereka, ia
juga mengajar sejarah seni di Georgetown University. Ia
penasihat sukarela di rumah penampungan wanita korban
penyiksaan. Di lapangan tenis ia sangat andal dan
kompetitif. Ia mengadakan pesta-pesta yang hebat dan
cukup menguasai beberapa bahasa. Ia tahu cara berpakaian
dan bagaimana membawa diri dalam situasi apa pun.
George mencintainya. Ya Tuhan, betapa ia mencintainya.
George mengamati gerakan anggun lengannya yang
langsing ketika ia terus menyikat rambutnya. Seratus kali
semalam, begitulah yang diajarkan ibunya yang berasal
dari Virginia. Itu merupakan kebiasaan yang disukai
George. Payudaranya yang ikut naik-turun membuatnya
tak berkedip. Putingnya membuat tonjolan kecil di katun
lembut blusnya.
“Maaf tadi aku marah,” ia memulai dengan suara sendu
dan menyesal.
Mata Amanda yang gelap beralih untuk menatap
matanya di cermin.
“Aku tidak menginginkan pernyataan maaf, George.”
la berbalik untuk memandangnya “Aku menginginkan
suamiku.”
107
George mendekatinya, memeluknya, menariknya ke
dekatnya. “Kau memiliki aku.”
Meskipun memeluknya erat-erat, Amanda menggeleng.
“David yang memilikimu. Dia merebutmu dariku dan
dari anak-anak kita.”
George menjauhkannya dan menyusupkan jari-jarinya
ke rambutnya yang berkilau. “Itu tidak benar, Amanda.”
“Benar. Aku takut aku takkan pernah memperolehmu
kembali.”
“Aku tidak pergi ke mana-mana,” bisik George di bibir
istrinya. “Bagiku, kau dan anak-anak lebih berarti
daripada nyawaku sendiri. Aku tak sanggup kehilangan
kalian.”
Amanda menatap mata suaminya lekat-lekat. “Kau
kehilangan kami, George. Setiap hari kau semakin jauh
dan terus menjauh. Tidak peduli seberapa keras aku
berusaha, rasanya aku tak bisa meraihmu lagi.
Kau penuh rahasia Kao jadi orang asing.” Suaranya
pecah dan air mata menggenangi matanya.
“Kumohon, jangan menangis. Jangan.” George
mencium tulang pipi istrinya yang anggun, lalu bibirnya
yang bergetar. “Semuanya baik-baik saja.”
Ia berbohong. Lebih jauh lagi, ia tahu istrinya tahu ia
berbohong. Ia bisa merasakannya dari cara Amanda
mencengkeramnya. Ciumannya lebih dari bergairah,
ciumannya putus asa.
Amanda membawa perasaan itu ke tempat tidur,
menanggapi hasrat George dengan nafsu tak terkendali,
seolah seks liar bisa mengalahkan pengaruh David Merritt
atas diri suaminya. Ketika tubuh mereka bersatu, masingmasing
tenggelam dalam perasaan mendamba yang
108
begitu dalam.
Kemudian, puas secara seksual, telanjang dan basah
oleh keringat, mereka saling berpelukan erat dan
membisikkan pernyataan cinta dan kesetiaan abadi.
Tapi mereka sama-sama tahu kesetiaan George pada
Presiden sama tak tergugatnya... dan jauh lebih menuntut.
109
Bab Sepuluh
BARRIE terbangun dan mendapati laras senapan menekan
bagian bawah payudara kirinya.
Sambil menahan dorongan untuk melompat dan lari,
ia sama sekali bergeming, cuma matanya yang bergerak.
Pandangannya menyusuri laras senjata sampai tiba di
sepasang mata yang lebih dingin, lebih biru, dan lebih
keras daripada laras senjata itu.
“Sebaiknya bagus.”
Barrie mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya
betul-betul kering. “Apa?”
“Alasanmu berada di dalam rumahku.” Ditekannya
payudara Barrie, mengangkatnya sedikit dengan senapannya.
“Well?”
“Saya sampai semalam. Anda tak ada, jadi saya
menunggu berjam-jam di teras. Malam tiba dan udara
jadi dingin. Saya mengantuk. Pintu tak dikunci. Saya kira
Anda takkan keberatan.”
“Aku keberatan.”
“Nama saya Barrie Travis.” Mata laki-laki itu menyipit
sedikit. Barrie berani bersumpah pria itu mengenali
namanya, meskipun tak mau mengakuinya.
“Saya datang jauh-jauh dari Washington, D.C., untuk
110
bertemu Anda.”
“Kalau begitu perjalananmu sia-sia.” Ia mengayunkan
senapan ke bahu. “Karena sudah tahu di mana letak pintu,
kau bisa keluar sendiri” la menepi supaya Barrie bisa
bangun.
Barrie pelan-pelan meluruskan badan dan dengan
leman berdiri. Kemudian ia mengangkat tangan dan
menampar kuat-kuat pipi pria itu. “Berani-beraninya kau
menodongkan senjata ke arahku! Kau sudah sinting apa?
Kau bisa membunuhku!”
Rahangnya berdenyut-denyut. “Miss, kalau aku memang
ingin membunuhmu, kau sekarang sudah tamat.
Dan aku tak mau mengotori sofaku karena melakukannya.”
Dengan satu gerakan sigap, ia membungkuk dan
memungut tas Barrie dari lantai dan melemparkannya
padanya. “Keluar, dan bawa bahan bacaanmu yang payah
itu sekalian.”
Sebelum meninggalkan Washington, Barrie telah
mengumpulkan bacaan yang terdiri atas semua tabloid
dengan kepala berita mencolok mengenai gosip perselingkuhan
Gray dengan Ibu Negara. Semua itu memang
sampah, namun ia jadi marah karena laki-laki itu
seenaknya membongkar isi tasnya. “Kau memeriksa
tasku?”
“Kau yang masuk tanpa izin, bukan aku.”
“Itu bukan bahan bacaan yang sengaja kupilih, Mr.
Bondurant. Itu riset. Aku reporter.”
“Berarti kau semakin harus pergi.”
Mengira Barrie akan mematuhi perintahnya, ia
berbalik dan masuk ke kamar.
Barrie bersyukur mendapat kesempatan untuk mene111
nangkan diri. Ia pernah mengalami beberapa peristiwa
yang cukup mencekam sepanjang hidupnya, tapi tak
pernah ia dihadapkan pada moncong senjata. Apalagi
pada jarak dekat. Gray Bondurant ternyata memang
mengerikan seperti yang digambarkan orang selama ini,
meskipun ia merasa laki-laki itu takkan menembaknya.
Tadi itu hanya taktik menakut-nakuti, tidak lebih.
Bondurant berharap bisa membuatnya ketakutan hingga
langsung kabur . Well, ia belum mau mengibarkan
bendera putih.
Diusapnya rambutnya, dirapikannya pakaiannya, dan
berdehem. “Mr. Bondurant?” Kesenyapan tidak mematahkan
semangatnya. Ia melangkah memasuki pintu
kamar yang terbuka. “Aku... Oh!”
Bondurant telah melepaskan kemejanya. Lemak tubuh,
nol. Yang lainnya, sepuluh. Sepuluh sempurna. Bulubulu
tumbuh membentuk huruf V di dada dan tubuhnya
yang langsing. Pada salah satu rusuknya tampak bekas
luka mengerikan namun menarik.
Semua tabloid yang dibacanya memuat foto kaburnya
yang sama. Jelas itu merupakan satu-satunya foto yang
ada. Kacamata hitam penerbangnya mendominasi foto
itu. Dagu dan rahang bagai batu granit, mulut tipis,
rambut berantakan ditiup angin, dan kacamata tadi. Cuma
itu.
Sosok dua dimensi dalam foto itu jelas berbeda dengan
wujud nyatanya. Barrie berusaha tidak melotot. “Mr.
Bondurant, aku menunggu Anda selama berjam-jam.”
“Itu masalahmu.”
“Paling tidak Anda bisa...””Aku tidak harus berbuat
apa-apa.”Untuk mengulur waktu, Barrie bertanya, “Pukul
112
berapa sekarang?”
“Sekitar jam empat.” Bondurant menarik sebelah
sepatu bot dan kaus kakinya dan membiarkannya jatuh
begitu saja.
“Pukul empat pagi?”
“Kau datang jauh-jauh dari D.C. untuk menanyakan
waktu padaku, Miss Travis?” Sepatu bot dan kaus kaki
yang sebelah lagi dilepas juga.
“Tidak, aku datang jauh-jauh dari D.C. untuk
berbicara pada Anda soal Vanessa Merritt.”
Pria itu langsung kaku. Ditatapnya. Barrie dengan
tatapan sekeras baja. “Kedatanganmu sia-sia.”
“Kita harus bicara.”
la membuka ikat pinggang, mencopot kancing jeans,
dan, melepaskannya. Lalu berdiri telanjang.
Jelas ia berharap Barrie akan menjerit dan kabur.
Barrie tak mau menampakkan reaksi apa pun, meskipun
ia sebenarnya terguncang. “Anda tidak bisa membuatku
gemetar, Mr. Bondurant.”
“Oh, aku yakin bisa,” kata Bondurant pelan. Ia
bergerak melewati Barrie ketika menuju kamar mandi.
Kemudian ia tiba-tiba berbalik dan menariknya ke
dekatnya.
Entah karena sentakan mendadak dengan dadanya,
atau kaget setengah mati, Barrie jadi tak bisa bernapas,
tak sanggup bicara, dan tak mampu bergerak. Mata lakilaki
itu terus menatapnya tajam sementara tangannya
meraba-raba ke balik sweternya. Lengan baju itu cukup
lebar hingga Bondurant bisa mendorong tali kamisolnya
dari bahunya. Barry bergeming. Barulah ketika ia
merasakan telapak tangan kasar laki-laki itu di payuda113
ranya, ia bergerak, itu pun cuma terhuyung ke dinding di
belakangnya menyeret Bondurant bersamanya.
Ketika bibir pria itu bergerak turun ke payudaranya, ia
melengkungkan tubuh, tanpa rasa malu ingin merasakan
mulut pria itu di tubuhnya la merasa seolah setiap sel
dalam dirinya bagai tersentak bangun. Di sekujur
tubuhnya menderu gelombang gairah, gelombang kehidupan,
yang tak bisa ditahan maupun dikendalikan. Seumur
hidup ia tak pernah mengalami yang seperti ini, serbuan
hawa nafsu ini, perasaan yang teramat dahsyat ini, insting
yang sangaf kuat, primitif dan menggebu-gebu untuk
menyatu dengan laki-laki ini, segera, cepat, saat ini juga!
Mereka bersama-sama tersandung-sandung ke tempat
tidur. Barrie membuka sweternya lewat kepala, dan
ketika melakukannya tanpa sengaja merobek salah satu
tali kamisolnya membuat payudaranya kelihatan. Mereka
jatuh menyamping ke ranjang yang berantakan, sibuk
saling meraba bagai dalam pertandingan yang tidak
memiliki peraturan maupun batasan. Bondurant merogoh
ke balik roknya dan membuka celana dalamnya.
Lalu pria itu menyentuhnya.
Begitu memabukkan.
Sentuhannya seperti sambaran kilat, panas dan menyentak.
Barrie mengerang penuh kenikmatan, sementara
bibir Bondurant bergerak menyusuri perutnya menciuminya
dengan ringan. Sambil mengelus kulit Barrie dengan
lidahnya, pria itu kembali naik ke payudaranya. Barrie
memegang pipi laki-laki itu dan merasa senang ketika
merasakan teksturnya yang kasar.
Jari-jarinya yang membelai-belai begitu erotis dan
sugestif dan begitu pas, hingga ia sudah mencapai
114
orgasme nyaris sebelum menyadarinya.
Setelah gelombang gairahnya mereda, Barrie tergeletak
bagai kapal karam—basah, kehabisan tenaga, mata
terpejam, perut naik-turun dengan cepat. Ketika ia
membuka mata, Bondurant menatapnya lekat-lekat.
Diraihnya tangan Barrie dan dibawanya ke tubuhnya.
“Sekarang katakan padaku,” bisiknya parau. “Adakah
yang tidak akan kaulakukan?”
Bibir Barrie terbuka oleh tarikan napas pendek. Ia
menelan ludah. “Apa yang kauinginkan?”
Bondurant meletakkan tangannya di kedua lutut Barrie
dan pelan-pelan meregangkannya lagi. Ketika ia mendekatkan
wajahnya ke wajah Barrie, jeritan kaget wanita itu
berubah jadi erangan penuh kenikmatan. Bondurant tidak
takut-takut. Ia tidak malu menyusupkan tangannya ke
bawah pinggul wanita itu dan menariknya ke atas.
Namun saat-saat penuh sensasi yang begitu luar biasa
dan tak tertahankan itu tetap saja membuat Barrie
tersentak ketika tubuh pria itu akhirnya menyatu
dengannya. Klimaks ini bukan gelombang sensasi yang
perlahan, hangat, sedikit demi sedikit. Sama sekali
bukan. Klimaks ini bagai semburan energi dan api
dahsyat yang tiba-tiba menyerbunya menyedot sekelilingnya
menimbulkan kekosongan yang hampa.
Ketika Barrie akhirnya sadar dan membuka mata pria
itu tengah berdiri di samping tempat tidur. Kulitnya
mengilat oleh keringat, yang membuat sebagian bulu
dadanya mengikal. Wajahnya kaku dan tegang. Di
sampingnya tangannya secara refleks mengepal dan
membuka.
“Jangan kira kau telah mengubah pendirianku. Kalau
115
aku keluar dari pancuran, sebaiknya kau sudah pergi.” Ia
berbalik dan pergi ke kamar mandi, membanting
pintunya setelah ia masuk.
Barrie memejamkan mata dan berbaring tanpa bergerak.
Inilah salah satu saat ia akan berpura-pura sedang
bermimpi. Permainan itu berasal dari masa kanakkanaknya.
Kalau suasana di rumah tak tertahankan, kalau
pertengkaran orangtuanya semakin menggila, ia akan
naik ke tempat tidur dan memejamkan mata rapat-rapat
dan meyakinkan dirinya bahwa dunia nyatanya cuma
mimpi buruk, dan bahwa ia akan segera terbangun di
dunia lain, yang penuh pesona, cinta dan kedamaian,
dunia tempat semuanya serba menyenangkan dan orangorang
di dalamnya saling menyayangi.
Trik itu tak pernah berhasil ketika ia masih kanakkanak,
dan sekarang pun sama saja. Waktu membuka
mata, ia masih berada di kamar tidur Gray Bondurant, di
ranjangnya, dan pakaiannya berantakan.
Seperti juga hal-hal lainnya.
la menenangkan diri, lantas bangun dan mengenakan
sisa pakaiannya. Air pancuran masih mengucur ketika ia
meninggalkan kamar itu. Tasnya masih di tempat ia
meninggalkannya tadi. Ia mengambilnya menjejalkan
kamisolnya, dan beranjak ke pintu.
Tapi di sana ia berhenti. Kalau ia pergi sekarang, ia
takkan memperoleh apa-apa selain rasa malu yang begitu
dalam hingga ia tak dapat menduga seberapa dalamnya.
Tidak ada penjelasan untuk kelakuannya barusan, jadi ia
tak mau menghina sanubarinya dengan berusaha membenarkan
atau membelanya.
Peristiwa itu sudah terjadi. Ia telah membiarkannya
116
terjadi. Ralat: ia secara aktif, secara liar, berpartisipasi
dalam membuatnya terjadi. Itu merupakan kenyataan
yang harus diterima. Ia tak bisa mengubah sejarah.
Peristiwa itu akibatnya sangat berat. Ia sekarang hanya
bisa menerima konsekuensi tindakannya mengusahakan
yang terbaik dari situasi gawat ini, dan berharap dapat
memperoleh kembali setidaknya sepotong harga dirinya.
Dalam prosesnya mungkin ia dapat menarik pelajaran
dari kedatangannya kemari.
Ketika Bondurant memasuki dapur sepuluh menit
kemudian, Barrie sudah menunggunya, punggung menempel
di meja, siap membela diri. “Supaya kau ketahui,
Mr. Bondurant, aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam
sana tadi.”
“Supaya kau ketahui, Miss Travis, aku tahu.” Dengan
santai Gray mengambil gelas dari lemari dan menuangkan
kopi untak dirinya sendiri. Barrie yang membuat kopi itu
atas inisiatifnya sendiri. “Keluarkan notesmu. Kau
mungkin ingin menulis ini.” Kemudian ia berpaling ke
arahnya “Namanya ‘bersetubuh’.”
Hati Barrie menciut, namun ia mempertahankan
ekspresi berani di wajahnya. “Kau berharap jika kau
cukup mengerikan, aku akan pergi. Percuma saja.”
“Apa yang akan membuatmu pergi?”
“Bicaralah padaku.”
“Tak sudi,” tukas Bondurant gusar. “Sebagian alasanku
meninggalkan Washington adalah untuk menyingkir dari
reporter. Sebagian besar dari kalian rela menjual diri
demi berita. Dan kalau tidak ada berita, kalian mengarangnya.”
Dipandangnya Barrie dari kepala sampai kaki
dengan sinis. “Meskipun kau berbeda, Miss Travis. Kau
117
bahkan tidak menjual apa pun, kau memberikannya
begitu saja.”
Barrie mengangguk ke arah kama r. “Tadi itu...
kecelakaan.”
“Kurasa tidak. ‘Senjataku’ tahu persis ke mana dia
pergi.”
Barrie menggigit bibir supaya tidak mengatakan apaapa.
Ia berusaha menahan tangis, ia sudah bersumpah
takkan melakukannya. “Kumohon, Mr. Bondurant, aku
berusaha menyelamatkan apa yang tersisa dari integritas
profesionalku.”
“Aku tidak tahu kau memilikinya.”
Sambil membentangkan tangan Barrie bertanya
“Apakah aku kelihatan seperti orang yang datang ke
rumahmu untuk merayumu?”
Pria itu mengamati penampilannya yang berantakan.
“Tidak juga. Tapi ketika situasinya hadir, aku tidak
mendengar keberatan apa pun dari pihakmu di ranjang.”
Barrie merasa wajahnya memerah ketika mengingat
suara yang didengar pria itu dari mulutnya di ranjang
tadi. “Aku datang kemari cuma untuk menanyakan
padamu baberapa pertanyaan tentang keluarga Merritt.”
“Mesti berapa kali aku mengatakannya? Aku takkan
memberitahumu apa pun.”
“Bahkan bahwa berita tabloid-tabloid itu bohong?”
“Memang bohong.”
“Kau tidak punya affair dengan Vanessa Merritt?”
“Bukan urusanmu.”
“Kaukah yang membuatnya begitu tidak bahagia?”
“Jika dia tidak bahagia, mungkin karena anaknya baru
saja meninggal.”
118
“Apakah kau yakin?”
“Apakah aku yakin?”
“Apakah kau yakin dia meninggal? Atau apakah
Robert Rushton Merritt dibunuh?”
119
Bab Sebelas
GRAY memunggunginya, dalam hati memaki-maki.
Wanita yang satu ini memang keterlaluan. Caranya
menanyai orang sama ganasnya dengan caranya bercinta.
Bahkan sebelum membangunkannya, ia mengenalinya
sebagai reporter yang mewawancarai Vanessa beberapa
minggu yang lalu. Rupanya ia tak berhasil memperoleh
semua yang diinginkannya dari wawancara itu. Gray
memang setengah mengharapkan wartawan itu, atau
orang sejenisnya, untuk muncul dan mulai mengorekngorek
masa lalunya. Selama berminggu-minggu ia
mengumpulkan kebenciannya terhadap kekacauan yang
sebentar lagi akan datang.
Jadi ia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang
telah terjadi. Ia merasa kesal dan butuh pelampiasan
seksual. Barrie menanggapi, dan itu istilah yang terlalu
lembut. Ciptakan kondisi seperti tadi, maka sesuatu pasti
akan terjadi.
Sebetulnya, ia ragu Barrie berniat merayunya. Roknya
yang panjang, sweter, dan sepatu bot tidak ditujukan
untuk menimbulkan fantasi seks. Mata wanita itu masih
bengkak karena baru bangun tidur, dan maskaranya
luntur di tulang pipinya. Lipstiknya sudah lama hilang,
120
dan rambutnya awut-awutan.
Namun suaranya sungguh luar biasa. Sangat merangsang.
Suara seperti itu bukan cuma menjanjikan seks yang
fantastis, tapi juga menyajikannya.
Tapi jika Barrie mengira percintaan yang panas akan
melunakkan hatinya, wanita itu salah besar. Ia sekarang
malah jadi lebih membenci invasi wanita itu terhadap
rumah dan privasinya daripada sebelumnya. Barrie pantas
dimarahi.
Setelah menghabiskan kopi ia meraih wajan dan panci,
lalu meletakkan keduanya di atas kompor. Ia mengambil
sekaleng chili dari lemari makanan, membukanya, dan
menuang isinya ke panci, lalu mulai memecah telur ke
dalam mangkuk. Sesudah mengocoknya sampai berbusa,
ia menuang secangkir kopi lagi untuk dirinya sendiri dan
menyesapnya sementara chili itu mendidih.
“Boleh?” Barrie mengacungkan gelas kosong.
“Silakan. Kau yang membuatnya. Aku tak mau
bertanggung jawab kalau kau sampai tertidur sambil
menyetir waktu pergi dari sini.”
Dilihatnya Barrie memegangi gelas besar itu dengan
kedua tangannya yang sangat kecil. Barrie merasakan
tatapannya, lalu rnengangkat kepala “Aku minta maaf
tadi menamparmu. Seumur hidup aku belum pernah
memukul orang. Kau individu yang amat provokatif, Mr.
Bondurant.”
“Begitulah kata orang.” Diaduknya chili itu. “Bagaimana
caramu menemukan aku?”
“Sebagian besar lewat sumber-sumber di D.C. Jangan
khawatir. Aku berhati-hati.”
“Aku tak pernah khawatir, Miss Travis. Kau belum
121
menikah, kan? Atau kau barusan mengkhianati suamimu?”
Komentar itu, lebih dari perbuatannya sendiri maupun
ejekan-ejekan sebelumnya, membangkitkan amarannya.
Matanya berkilat kesal. “Tidak, aku tidak berkhianat.
Aku cuma mengacu pada pengalamanmu yang jauh lebih
banyak dalam masalah itu. Dan panggil Barrie saja sudah
cukup, terima kasih.”
Gray berbalik kembali ke kompor, memasukkan satu
sendok teh mentega ke wajan, dan memutar tombol api
di bawahnya. Sambil memandangi mentega meleleh, ia
memikirkan cara menyingkirkan Barrie tanpa perlu
benar-benar melemparnya ke luar. Tanpa perlu berpikir
keras, ia bisa menyusun daftar cara membunuh orang
tanpa suara, seketika, dan tanpa rasa sakit. Tapi pikiran
akan menyakiti wanita secara fisik membuatnya mual.
“Tempat ini indah,” komentar Barrie, menyadarkannya
dari lamunannya.
“Terima kasih.”
“Berapa luasnya?”
“Lima puluh ekar, kurang-lebih.”
“Kau sendirian di sini?”
“Sampai pagi ini.”
“Aku yakin kau tahu ada kota bernama Bondurant tak
terlalu jauh dari sini. Apakah...?”
“Tidak. Cuma kebetulan.”
“Kau memelihara ternak? Selain kuda-kuda di lapangan
itu?”
“Aku punya beberapa sapi.”
“Jadi dari situlah daging-daging di kulkasmu berasal.”
Gray berbalik dan memandangnya tajam.
“Aku minum segelas air dan meminjam beberapa
122
potong es,” kata Barrie, diangkatnya dagunya dengan
gaya menantang.
“Apa lagi yang kautemukan sewaktu mengintip-intip
tempat ini?”
“Aku tidak mengintip-intip.”
Pria itu kembali menghadap ke kompor, mengoleskan
mentega yang sudah meleleh ke seluruh dasar wajan, lalu
menuangkan telur. Ia memasukkan dua iris roti ke
pemanggang, mengambil piring dari lemari, lalu mengaduk
telur dengan sendok kayu sampai sesuai dengan yang
diunginkannya. Ia menyendok dan meletakkannya di
tengah piring. Di atas telur itu ia menuangkan chili yang
menggelegak, lalu menambahkan Tabasco banyak-banyak.
Roti panggang melompat ke atas seolah tahu saat yang
tepat. Ia meletakkan kedua iris roti di piring, juga garpu,
dan membawa semuanya ke meja dan duduk,
mengangkangi kursinya.
Dari sudut mata ia melihat Barrie mendekat. Wanita itu
duduk di seberangnya. Tanpa memedulikannya, ia
menikmati makanannya. Ketika berhenti untuk minum
kopi, barulah ia bertanya “Lapar?”
“Begitulah.”
“Mau?”
la memandang piring Gray dengan ragu. “Aku tak
yakin.”
Gray mengangkat bahu. “Ada di kompor.”
Barrie meninggalkan meja dan kembali beberapa
menit kemudian, membawa sarapannya dalam porsi yang
lebih kecil. Gray mengamati wanita itu mencicipinya.
Barrie mengunyah, menelan, lalu mulai makan dengan
lahap.
123
“Ini daerah sepi,” komentarnya sambil makan. “Kau
tidak merasa kesepian?”
“Tidak.”
“Bosan?”
“Tak pernah.”
“Sebelum uh, pensiunmu, kau menjalani hidup yang
penuh petualangan. Kau tidak merindukan suasana
Washington?”
“Kalau merindukannya, aku pasti sudah kembali ke
sana.”
“Bagaimana caramu mengisi waktu?”
“Sesuka hatiku.”
“Dari mana penghasilanmu?”
“Tidak sopan membicarakan masalah keuangan.”
“Yah, kalau begitu tidak masalah, karena kau toh sudah
menyatakan bahwa semua reporter kasar.” Barrie
mengangkat alis, menunggu jawaban.
“Aku beternak.”
Jawaban sederhana itu tampaknya mengejutkannya.
“Beternak?” Gray mengangguk. “Oya? Hmm. Kau tahu
cara melakukannya?”
“Aku belajar waktu masih kecil.”
“Di mana?”
“Di tempat ayahku.”
“Itu informasi yang samar.”
“Memang itu tujuannya, Miss Travis.”
Dengan frustrasi, Barrie menghela napas. “Kau sudah
membuktikan dirimu cakap dalam operasi-operasi militer
rahasia, dan kau dulu penasihat kepresidenan. Sama
sekali tidak ada faktor menegangkan dalam beternak. Aku
sulit menerima bahwa kau menganggap karier baru ini
124
mengasyikkan dan menantang.”
“Aku tak peduli kau menerima atau tidak.”
“Kau cuma diam di sini dan berkuda seharian?”
Gray tak mau repot-repot menjawab pertanyaan itu.
“Kau hanya mengurusi ternakmu seperti peternak yang
baik?”
“Yeah. Kalau ternakku porlu diurus.”
“Itukah yang kaulakukan kemarin? Pergi mengurus
ternak?”
“Tidak. Kemarin aku pergi ke Jackson Hole.”
“Aku datang dari sana. Kita pasti berpapasan di jalan.”
Barrie menyingkirkan piringnya yang sudah kosong.
“Sarapannya enak. Terima kasih.”
Bondurant tertawa “Walau cuma daging cincang pun,
kau pasti akan memakannya dan mengatakannya lezat.”
“Kenapa aku berbuat begitu?”
“Karena kau menginginkan sesuatu dariku. Karena
seks tidak membuatmu berhasil mendapatkannya, kau
berpikir untuk mencoba bersikap bersahabat. Bukankah
segala basa-basi ini cuma usahamu yang lain untuk
mengorek informasi dariku? Terus terang, Miss Travis,
aku lebih menyukai pendekatanmu yang pertama.”
“Itu bukan pendekatan. Sudah kubilang, itu...”
“Kecelakaan. Coba katakan, kau melompat ke tempat
tidur dengan setiap pria yang kau jumpai?”
“Dengar...”
“Apakan ayahmu tidak menyayangimu?”
Banie menunduk memandangi meja, lalu hampir
seketika itu juga memandang pria itu lagi. “Kurasa aku
tak bisa menyalahkanmu karena punya pendapat yang
begitu rendah tentang diriku.”
125
“Ah, sekarang kita beralih dari teman ke penyesalan.”
“Sialan kau,” maki Barrie, menggebrak meja sambil
berdiri. “Aku bersikap jujur.”
Gary ikut berdiri. “Tidak, Miss Travis, kau entah
bersikap berani atau bodoh. Aku tak dapat memastikannya.
Tapi yang mana pun itu, aku tak mau bicara padamu soal
diriku atau keluarga Merritt. Dan aku tidak tertarik
dengan apa pun yang kaukatakan tentang mereka.”
“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan mengenai
kematian anak mereka?”
“Aku mendengarnya. Aku mengabaikannya. Aku akan
terus begitu.” la menumpuk piring mereka, lalu
membawanya ke bak cuci dan mengguyurnya dengan air.
“Kenapa kau mengabaikannya?”
“Karena komentar seperti itulah yang biasa kalian,
para reporter, lontarkan, berharap ada orang tolol akan
terpancing.”
“Kaukira aku akan mengucapkan pernyataan seserius
itu cuma untuk memancing-mancing?”
Bondurant mematikan air dan memandanginya “Yeah.
Dalam masa perkenalan kita yang singkat, aku punya
alasan untuk berpikir bahwa kau boleh dibilang rela
melakukan apa saja untuk tampil di 20/20. Kenapa kau
tidur denganku, bukan dengan produser jaringan berita
saja?”
“Karena tak satu pun produser jaringan berita yang
kukenal adalah pacar Vanessa Merritt.”
Gelombang kemarahannya membuat Bondurant takut
sendiri. Supaya tidak melampiaskan emosinya itu, ia
meninggalkan Barrie dan pergi ke bagian belakang
rumah. Ia bisa mendengarnya mengikutinya. Barrie
126
bergerak begitu cepat hingga tiba-tiba sudah berada di
hadapannya, tangannya menekan dada Bondurant.
Wanita itu terengah-engah. “Kaupikir aku datang
kemari untuk memantasikan seks agar mendapatkan
berita bagus? Tidak. Aku malah sangat malu dengan
caraku mengorbankan diri dan profesiku. Kau tidak
mengenalku, jadi kau harus mempercayai kata-kataku
kalau kukatakan padamu betapa inginnya aku mengendapendap
keluar dari pintu itu, dan betapa sulitnya bagiku
untuk menatap matamu.”
Sesuatu dalam suaranya membuat Bondurant menunggu
dan mendengarkan.
Ia menarik tangannya dari dada praia itu dan
mengusapkannya ke bagian samping rokaya “Bahwa aku
masih di sini mestinya menunjukkan padamu betapa
pentingnya berita itu, Mr. Bondurant. Bukan cuma
bagiku dan karierku. Tapi bagi semua orang. Tolong
dengarkan aku. Setelah itu, kalau kauperintahkan aku
pergi, aku akan pergi. Tanpa banyak cincong. Lima
menit, oke?”
Aktingnya bagus sekali, pikir Bondurant, namun tidak
cukup bagus. Kewaspadaannya telah dipertajam oleh
pendidikan militernya yang mengajarkan padanya untuk
tak pernah mempercayai penampilan permukaan sesuatu
atau seseorang. Pengalaman telah mengajarkan padanya
banwa semua wartawan adalah burung bangkai yang
ganas. Tanpa sedikit pun merasa bersalah, mereka akan
menghabisimu tanpa ampun, lalu meninggalkanmu
dalam keadaan telanjang dan tak berdaya sementara
mereka berpindah ke mangsa berikut.
Namun, biarpun dirinya mengatakan yang sebaliknya,
127
Bondurant semakin tertarik pada apa yang diketahui
Barrie Travis, atau apa yang diduganya, mengenai
kemahan SIDS anak Vanessa. Tahu ini merupakan
tindakan yang salah, dan berharap ia nantinya tidak
terlalu menyesalinya, ia setuju untuk memberi Barrie
waktu lima menit. “Di luar.”
la duduk di kursi goyang. Barrie di anak tangga paling
atas, tangannya memeluk kaki. Wanita itu mungkin
kedinginan, tapi ia tidak menawarinya apa pun untuk
mengusir dinginnya pagi.
Karena kini pria itu mau mendengarkan, ia tampak
segan memulai, biarpun sudah mengeluarkan notesnya.
“Indah sekali di sini.”
Pagi itu lembah diselimuti kabut. Gunung-gunung jadi
tampak kabur, tapi sinar matahari yang cemerlang
membuat kabut tampak berwarna pink seperti gulali.
Udara terasa sejuk dan segar.
“Lumbungmu tampaknya lebih tua daripada rumah
dan garasi.”
Tajam juga matanya. “Bangunan itu sudah ada waktu
aku membeli tempat ini. Rumah ini didirikan di atas
rumah aslinya. Aku cuma merenovasi sedikit.”
Kuda-kuda berkejaran di lapangan. “Siapa nama
mereka?”
“Mereka tidak punya nama.”
la melihat wanita itu terkejut. “Kuda-kudamu tidak
punya nama? Menyedihkan sekali. Kenapa begitu?”
“Ini wawancara, Miss Travis”
Barrie menggeleng bingung. “Belum pernah aku
bertemu orang yang tidak menamai binatang
peliharaannya. Sebagian dari kepribadian Cronkite adalah
128
namanya.” Ketika ia bercerita tentang anjingnya, wajahnya
jadi lembut dan hidup. “Dia makhluk yang besar, gendut,
penyayang, dan manja. Mestinya kau punya anjing,” ia
berkata. “Dia akan jadi teman yang menyenangkan.”
“Aku menyukai kesendirianku.”
“Kau menunjukkannya dengan sangat jelas.”
“Jam terus berdetak.”
Jadi, Barrie mengungkapkannya. Tanpa tedeng alingaling
. “Kupikir Vanessa Merritt membunuh bayinya
sendiri.”
Gray mengertakkan gigi supaya tidak mengatakan apa
pun.
Barrie kemudian berbicara tanpa henti selama beberapa
menit. Bondurant tak tahu berapa lama, namun jelas lebih
dari lima menit. Ia menjelaskan beberapa motif mengapa
Ibu Negara mungkin menyingkirkan anaknya, lalu
menceritakan padanya langkah-langkah yang telah diambilnya
untuk menyelidikinya dan halangan-halangan
yang dihadapinya.
“Sekarang Mrs. Merritt pergi ke pengasingan. Tidakkah
menurutmu itu aneh”
“Tidak,” Gray berbohong.
“Waktu dia rnengundurkan diri dari kehidupan publik
setelah kematian anaknya, itu bisa dimengerti. Jackie
Kennedy melakukan hal yang sama ketika bayinya
meninggal. Tapi masa pengasingannya ditetapkan untuk
suatu waktu tertentu, dan kini sudah melaluinya. Kalau
Ibu Negara cuma beristirahat, seperti kata orang dalam,
kenapa dia tidak tinggal bersama ayahnya? Atau kenapa
dia tidak pulang ke rumah mereka di Mississippi?”
“Dari mana kau tahu dia tidak berbuat begitu?’
129
“Aku memang tidak tahu,” Barrie mengakui dengan
kening berkerut. “Tapi sudah diumumkan bahwa dia
berada dalam perawatan Dr. Allan, dan dokter itu masih
di Washington. Aku tidak mengerti kenapa semua ini
begitu dirahasiakan.”
“Tidak ada rahasia.”
“Kalau begitu, apa penjelasanmu tentang kelakuan
aneh Anna Chen? Dia selalu merupakan narasumber yang
bisa diandalkan, mau bekerja sama.”
“Kau membuatnya kesal?”
“Aku tidak mengenalnya cukup baik hingga bisa
membuatnya marah.”
“Aku sama sekali tidak mengenalmu, mpi kau sudan
membuatku marah.”
“Dia ketakutan,” Barrie bersikeras. “Aku mengena1i
rasa takut ketika melihatnya.”
“Oke, mungkin dia memang ketakutan,” tukas Gray
tak sabar.
“Mungkin dia cuma melihat tikus. Dan mungkin sikap
Vanessa agak tidak biasa, tapi apakah dia tidak berhak
berduka secara diam-diam?”
Barrie Travis ini, reporter bersuara seksi ini, mengutarakan
keraguan yang juga dirasakannya. Dengan perasaan
tidak keruan, Gray bangkit dan berjalan ke tepi teras. “Ya
Tuhan, betapa berat penderitaannya.” la menyisir rambutnya
dengan jari, memejamkan mata kuat-kuat, dan berusaha
sekuat tenaga untuk menahan emosi.
Beberapa menit berlalu sebelum ia teringat kehadiran
Barrie. Ia mendapati wanita itu memandanginya, ekspresi
aneh menghiasi wajahnya. “Hubungan kalian bukan
sekadar affair. Kau betul-betul mencintainya kan?”
130
katanya tertahan. “Sekarang pun masih.”
Sambil memaki dirinya sendiri karena tadi memberi
wanita ini waktu lima menit, Gray membungkuk dan
untuk kedua kalinya pagi ini, mengambil tas Bariie dan
menyodorkan padanya. “Waktumu habis..”
Tangannya mencengkeram lengan wanita itu ketika ie
manariknya berdiri. Untuk menjaga keseimbangan,
Barrie berpegangan di salah satu tiang yang menyangga
atap teras. “Setelah semua yang kuceritakan padamu,
cuma itu yang dapat kau katakan?”
“Kau cuma buang-buang tenaga, Miss Travis. Semua
ketidakcocokan itu cuma pemutarbalikan fakta-fakta,
disatukan imajinasimu yang berlebihan dan pikiranmu
yang ambisisus untuk menciptakan berita yang kotor tapi
sensasional.
“Kusarankan kau melupakan masalah ini sebelum
meresahkan seseorang di pemerintahan yang betul-betul
dapat menyakitimu. Lupakan soal bayi itu dan bagaimana
dia meninggal.”
“Aku tak bisa melupakannya begitu saja. Ada yang tak
beres dengan kematiannya.”
“Terserah. Tapi apa pun yang kau lakukan, lupakan
tentang aku.” Ia masuk danmengunci pintu depan.
131
Bab Duabelas
KETIKA Howie menerima penggilan ke kantor dirut,
perutnya langsung mulas. Dari WC ia segera pergi ke
kantor berkarpet di lantai dua itu. Sekretaris dengan
dingin memberitahunya bahwa “mereka” sudah menunggunya
dan menyilakannya masuk.
Jenkins duduk di balik meja kerjanya. Seorang pria
berdiri di depan jendela, sementara seorang lagi menempati
kursi bersandaran tangan. “Masuklah Howie,” kata
Jenkins. Dengan lutut lemas, Howie memasuki ruangan.
Biasanya, pertemuan mendadak begini berarti kabar
buruk, misalnya penurunan peringkat yang tajam,
pemotongan anggaran secara besar-besaran, atau omelan
panjang lebar.
“Selamat pagi , Mr. Jenkins,” Howie berkata, berusaha
tampak tenang. Ia sengaja memusatkan pandangan pada
bosnya dan bukan pada dua pria kaku yang memandanginya
seolah ia tersangka penjahat. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Orang-orang ini dari FBI.”
Perut Howie menagang. IRS sialan. Ia tidak mengirimkan
surat pajak selama tiga tahun terakhir ini.
“Mereka ingin mengajukan beberapa pertanyaan
padamu mengenai Barrie Travis.”
132
Howie nyaris tertawa saking leganya. Keringat dingin
sudah mengalir dari ketiak dan mengumpul di pinggangaya.
“Ada apa dengannya?”
“Kau mengirimnya bertugas?” tanya Jenkins.
“Uh...”
Itu pertanyaan menjebak, dan Howie butuh waktu
untuk menimbang jawabannya. Jika ia bilang ya, dan
Barrie terlibat masalah, ia akan terseret bersamanya. Jika
ia bilang tidak, dan insting wanita itu mengenai berita
menggegerkan yang superrahasia itu ternyata benar, ia
tidak akan kecipratan penghargaan.
Diliriknya agen FBI yang hanya tampak seperti siluet
di dekat jendela. Orang itu bersikap resmi, begitu juga
partnernya.
“Tidak,” jawab Howie. “Dia minta izin untuk pergi
selama beberapa hari dalam rangka menyelidiki berita,
namun saya tidak menugaskannya.”
“Berita apa?” tanya agen di dekat jendela.
“Saya tidak tahu. Sesuatu yang diperolehnya sendiri.”
“Dia tidak membicarakannya dengan Anda?” tanya
agen kedua.
“Tidak secara spesifik... bukan tentang subjeknya. Dia
cuma bilang beritanya menggegerkan.”
“Anda sama sekali tidak punya gambaran?”
Teman baru yang dijumpainya di bar semalam
mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. “Tidak,
Sir.”
“Saya sulit mempercayainya.”
“Itulah yang sebenarnya,” tegas Howie. “Saya berusaha
mengorek informasi darinya, tapi katanya dia tidak mau
bercerita sebelum punya sesuatu jang konkret untuk
133
mendukung pendapatnya.”
“Anda atasan langsungnya, bukan?”
“Ya, Sir.”
“Dan Anda tak tahu berita apa yang sedang diburu
reporter Anda?”
Howie merasa dirinya melemah, jadi ia cepat-cepat
berubah defensif. “Yah, Anda harus mengetahui filosofi
manajemen personalia saya, yaitu membiarkan para
bawahan saya berinisiatif. Kalau seorang reporter merasa
dia punya berita bagus, saya beri dia kesempatan. Tapi dia
juga paham bahwa sebagai imbalan kebaikan saya, saya
mengharapkan berita yang luar biasa.”
Jenkins tidak terkesan. Ia malah menimpali kata-kata
terakhir Howie. “Tapi Ms. Travis memang tidak ada
minggu ini?”
“Benar. Dia pergi, sebentar, kemarin dulu. Katanya dia
mungkin tidak akan berada di tempat sepanjang minggu
ini.”
Salah seorang agen bertanya, “Ke mana dia pergi?’
“Dia tidak mau memberitahu saya.”
Para agen berpandang-pandangan dengan penuh arti.
Howie berharap ia tahu apa artinya.
“Apakah stasiun membayar pengeluarannya?” Ini dari
Jenkins, kerutan di wajahnya semakin dalam selama
beberapa menit terakhir.
“Hanya kalau dia menghasilkan berita.” Howie
menjelaskan kesepakatannya dengan Barrie. “Saya tidak
mau dia menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk
pengejaran yang sia-sia.” Mestinya itu membuatnya
dipuji.
“Bagaimana dengan politiknya?”
134
Howie menoleh pada agen di jendela. “Politik?”
“Kecenderungan politiknya. Apakah dia secara umum
cenderung ke kiri atau ke kanan?”
Howie berpikir sebentar. “Saya rasa bisa dibilang dia
liberal. Anda tahu, dia selalu membela pihak yang lemah.
Wanita, homo, orang asing, orang-orang seperti itulah.
Dia memilih Presiden Merritt.” la tersenyum pada orangorang
di sekelilinguya yang tidak tersenyum. “Presiden
baru-baru ini mengiriminya bunga. Dia girang sekali.”
Tidak ada komentar dari kedua agen. Yang duduk di
kursi bertanya, “Apakah Ms. Travis anggota suatu
organisasi? Kelompok aktivis, sekte agama, atau kelompok
pemejean?”
“Yeah,” kata Howie, mengangguk-angguk penuh
semangat. “Dia Metodis.”
Salah seorang agen memutar matanya dengan kesal.
Temannya berkata, “Dia tidak bisa dibilang penganut
agama fanatik?”
“Tidak. Dia tidak keberatan jika orang mengumpat,
kira-kira begitulah.”
“Apakah dia bersimpati pada kelompok sempalan atau
organisasi radikal pecahan?”
“Setahu saya tidak. Tapi dia peroah berpartisipasi
dalam beberapa protes.”
“Menentang apa?”
“Larangan peredaran buku. Penghancuran hutan
tropis. Memakan lumba-lumba dan bukannya ikan tuna.
Hal-hal seperti itu.”
“Tidak ada yang subversif?”
“Tidak.”
“Bagaimana soal kehidupan pribadinya?”
135
“Dia tidak banyak membicarakannya.”
“Pacar?”
“Tak ada yang tetap.”
“Teman sekamar?”
“Dia tinggal sendirian.”
“Teman dekat?”
Howie menggeleng. “Saya tidak pernah mendengar
dia menyebutkannya. Dia termasuk wanita yang, Anda
tahu, menikah dengan kariernya.”
“Bagaimana dengan orangtuanya?”
“Meninggal.”
“Anda tahu nama mereka? Di mana mereka dulu
tinggal?”
“Maaf. Mereka sudah meninggal sebelum dia bekerja
di sini.”
Saking bersemangatnya supaya tampak penting dan
informatif Howie hampir lupa bahwa mereka tengah
membicarakan Barrie, bukan penjahat kelas kakap. Ia
merasa tak enak hati. Barrie mungkin saja karyawan
menyebalkan, namun ia merasa bersalah karena
membicarakannya begitu bebas dengan agen-agen federal
ini.
“Apakah dia terlibat masalah? Apakah dia melakukan
kesalahan?”
“Cuma pemeriksaan rutin.” Agen yang duduk sekarang
berdiri. “Dia secara teratur menelepon untuk menanyakan
kesehatan Ibu Negara, menunjukkan apa yang kelihatannya
merupakan minat yang berlebihan terhadap Mrs. Merritt
dan keadaan beliau.”
Howie jadi rileks. “Oh, demi Tuhan, dia menelepon
sebagai temen. Mereka jadi dekat setelah Barrie
136
mewawancarai Ibu Negara.”
Agen kedua berkata, “Gedung Putih cenderung curiga
kalau ada orang mulai sibuk bertanya-tanya soal Presiden
atau anggota keluarganya.”
Kedua orang itu rnengucapkan terima kasih pada
Jenkins dan Howie atas waktu yang mereka berikan, dan
pergi.
Howie tak bisa pergi secepat mereka. Wajah Jenkins
yang cemberut bagai rantai yang membelit mata kakinya
“Kau mengetahui sesuatu yang tidak mau kaukatakan?”
desaknya.
“Tidak, Sir.”
“Apa berita hebatnya?’
“Seperti kata saya pada mereka tadi, Mr. Jenkins, saya
bersumpah demi Tuhan bahwa saya tidak tahu. Tapi kata
Barrie berita itu akan membua t Watergate tak ada
artinya.”
“Jadi memang tentang politik”
“Dia tidak bilang begitu. Cuma bahwa beritanya
dahsyat.”
Jenkins menudingkan jarinya dengan marah. “Aku tak
mau ada orang sinting radikal bekerja di stasiun TV-ku.”
“Barrie tidak sinting, Sir. Dia reporter yang andal.
Anda sendiri bilang begitu dalam memo Anda.”
“Aku tak pernah mengirim memo padanya. Bicara apa
kau ini?”
“George?”
Vanessa tak yakin suaranya terdengar, namun dokter
itu memandangnya sekilas dan tersenyum. “Senang
melihat Anda sudah bangun. Bagaimana perasaan Anda?”
137
“Tidak bagus.” la merasa mual dan sulit memfokuskan
pandangannya, hingga pria itu tampak ganda dan
bergoyang-goyang. Samar-samar ia ingat suatu keributan
yang memalukan. George menyuntiknya untuk menenangkannya.
Rasanya sudah lama sekali. “Aku kenapa? Mana
David?”
“Presiden dan aku sepakat Anda membutuhkan bed
rest, jadi kami memindahkan Anda ke sini.” Dokter itu
menepuk lengannya, namun sepertinya ia takkan merasakan
sentuhannya kalau saja tidak memandang tangannya. Di
sana ia mendapatkan jarum infus meneteskan cairan
bening ke dalam pembuluh darahnya.
Gerakan di sisi lain tempat tidur menarik perhatiannya.
Seorang perawat tersenyum padanya. “Saya Jayne
Gaston,” katanya. Ia berusia sekitar 55 tahun, wajahnya
lebar dan ramah, rambutnya yang pendek berwarna
kecokelatan.
“Mrs. Gaston mendampingi Anda 24 jam sehari,” ujar
George. “Dia merawat Anda dengan sangat baik, dan
sejauh ini Anda merupakan pasien ideal.”
Vanessa bingung dan kacau. Ruangan ini samar-samar
tampak familier, tapi ia tak dapat mengingat di mana
pernah melihatnya. “Kenapa aku diinfus?”
“Untuk memastikan Anda tidak mengalami dehidrasi,”
dokter itu menjelaskan. “Anda tak bisa menahan cairan
apa pun.”
Perawat tadi mengukur tekanan darahnya.
“Aku sakit?” Vanessa bertanya, tiba-tiba dicekam
kepanikan. Apa yang tidak diberitahukan mereka padanya?
Apakah ia mengalami kecelakaan dan diamputasi?
Apakah ia mengidap kanker stadium akhir? Apakah ia
138
ditembak?
Kemungkinan-kemungkinan menakutkan itu langsung
buyar oleh kenyataan mengerikan; bahwa Davidlah yang
telah memasukkannya kemari.
“Mana David? Aku ingin bicara dengannya.”
“Presiden sedang pergi ke Pantai Barat hari ini,”
George memberitahunya, wajahnya tersenyum manis.
“Tapi aku yakin dia pulang malam ini. Mungkin Anda
bisa bicara dengannya nanti.”
“Kenapa aku membutuhkan perawat? Apakah aku
sekarat?”
“Tentu saja tidak, Mrs. Merritt. Berbaringlah,” kata
George, menekan bahunya dengan lembut ketika ia
berusaha duduk. Ditatapnya Jayne Gaston. “Sebaiknya
kita tidurkan lagi dia.”
“Tapi, Dr. Allan...”
“Saya mohon, Mrs. Gaston.”
“Tentu, Dokter.” Perawat itu meninggalkan ruangan.
“Mana ayahku?” tanya Vanessa, suaranya terdengar
jauh dan lemah meskipun di telinganya sendiri. “Aku
ingin bertemu Daddy. Telepon dia. Suruh dia menjemputku.”
“Kurasa aku tidak bisa melakukannya, Vanessa. Aku
harus mendapat persetujuan David dulu.”
Perawat kembali sambil membawa jarum suntik. Ia
menginjeksi paha Vanessa.
“Anda akan lebih cepat sembuh kalau Anda rileks dan
membiarkan kami merawat Anda,” kata George lembut.
“Aku kenapa? Bayinya sudah mau lahir?”
Jayne Gaston memandang Dr. Allan. “Kasihan. Dia
mengira masih hamil.”
139
George mengangguk muram.
“Bayiku,” tangis Vanessa. “Bayiku sudah lahir?”
“Mari kita keluar supaya dia bisa beristirahat.”
“Tidak, kumohon,” kata Vanessa serak. “Jangan
tinggalkan aku. Kalian semua membenciku. Aku tahu.
Kenapa kalian tidak memberitahu aku? Bayiku sudah
mati, kan?”
Dr . Allan memberi tanda pada perawat agar
mengikutinya meninggalkan kamar. Mrs. Gaston pelanpelan
menutup pintu.
Vanessa berusaha keras mengingat sesuatu. Hal itu
penting, namun ia tidak bisa mengingatnya dengan tepat.
Ia harus berpikir, harus mengingat. Ada sesuatu yang
harus ia ingat. Tapi apa?
Lalu erangan muncul dari suatu tempat jauh di dalam
dirinya. Ia ingat tubuh tak bernyawa yang diangkatnya
dari tempat tidur bayi. Ia mendengar gema jeritannya
sendiri, persis seperti yang terdengar di sepanjang
koridor-koridor Gedung Putih malam itu.
“Bayiku,” Vanessa tersedu. “Bayiku. Oh, Tuhan.
Maafkan aku.”
Bukannya melumpuhkan, kesedihan malah menguatkannya.
Ia tidak tahu pasti tujuannya, namun ia tahu dirinya
tak boleh berbaring pasrah di sini lebih lama lagi. Tanpa
menyadari rasa sakit, ia menyentakkan perekat yang
menempelkan jarum infus ke punggung tangannya.
Sesudah menyingkirkannya, ia menahan rasa mual dan
menarik slang kecil dari pembuluh darahnya.
Waktu mencoba duduk, ia merasa seakan batu besar
menindih dadanya, menahannya di tempat tidur. Setelah
mengumpulkan segenap sisa tenaganya, ia akhirnya
140
berhasil memaksa dirinya duduk. Ruangan bagai bergelombang.
Pepohonan di balik jendela tampak miring.
Ia muntah-muntah, tapi tak ada yang keluar.
Otaknya seperti tak mampu menyampaikan perintah
ke kedua kakinya. Ia butuh waktu lima menit, dan usaha
yang luar biasa untuk menurunkan tubuhnya dari tempat
tidur. Kemudian kakinya tergantung di atas lantai ketika
ia menahan perasaan mual dan gelombang pusing yang
bagai tak ada habis-habisnya. Akhirnya ia berhasil
mengumpulkan keberanian dan stamina untuk turun dari
tepi tempat tidur dan menjejakkan kaki di lantai.
Kakinya tak mampu rnenahannya. Ia ambruk di
samping ternpat tidur, lalu berbaring di sana sambil
menangis tersedu-sedu, napasnya tersengal-sengal. Ia
terlalu lemas untuk berdiri, terlalu lemah bahkan untuk
sekadar berteriak minta tolong. Ia berharap dirinya mati
saja.
Tidak. Terkutuklah ia kalau membuat semua ini begitu
mudah bagi mereka.
Dengan penuh tekad ia merayap di lantai seperti
makhluk tak bertulang, menggunakan tangan, kaki, bahu,
tumit seperti pseudopod, mendorong tubuhnya maju
seinci demi seinci.
Ketika akhirnya sampai di pintu, tubuhnya basah
bermandikan keringat. Rambut dan gaun tidurnya lengket
di kulit. Ia rneringkuk seperti janin dan beristirahat,
tubuhnya gemetaran sementara keringatnya mengering.
Akhirnya ia mengangkat kepala dan mendongak
memandang kenop pintu. Benda itu seperti bulan yang
tinggi di langit. Ia mencoba menggedor pintu, tapi
tangannya cuma sanggup memukul-mukulnya dengan
141
lemah. Jadi ia menekankan telapak tangannya ke kayu
yang sejuk itu dan merayap menaikinya, memaksa otot
lengan dan dadanya bekerja keras, sampai ia bisa
mendirikan sebelah kakinya, lalu yang sebelah lagi, dan
kemudian berlutut.
Ia memegangi kenop pintu dengan dua tangan dan
berhasil memutarnya. Pada saat yang sama ia bersandar
di daun pintu. Pintu terbentang, dan ia tersungkur ke
koridor, mendarat dengan keras hingga lengannya bagai
ditusuk ribuan jarum.
“Mrs. Merritt! Oh, Tuhanku! Dr. Allan!”
Suara-suara berteriak. Suara kaki berlari-lari Tangantangan
menyusup di ketiaknya, mengangkatnya.
Lemas kehabisan tenaga, ia terayun-ayun di antara dua
agen ketika mereka menggotongnya kembali ke tempat
tidur.
George menyingkirkan kedua agen itu. “Terima kasih,
Tuan-tuan.”
“Saya panggilkan ambulans, Dr. Allan?” tanya salah
seorang dari mereka.
“Tidak perlu.” Didengarkannya detak jantung Vanessa
dengan stetoskop.
“Mrs. Gaston, tolong pasangkan infus lagi, ya?”
Agen yang satu lagi bertanya apakah ia perlu
menghubungi Presiden atau Mr. Martin. Sang dokter
berkata ia sendiri yang akan menghubungi mereka begitu
Mrs. Merritt stabil. Kedua agen itu mengundurkan diri.
“Ayo kita pasang penahan padanya,” kata George pada
perawat. “Lengan dan kaki.”
“Apakah tidak berlebihan?”
“Kita tak bisa menghadapi risiko dia turun dari tempat
142
tidur dan terjatuh lagi, Mrs. Gaston.”
“Dengan senang hati saya akan membantunya kalau
dia ingin bangun, Dr. Allan. Malah, mungkin akan bagus
baginya untuk turun dari tempat tidur. Saya pikir dia
terlalu lama dibius.”
“Saya menghargai masukan Anda” kata George, nada
suaranya mengatakan sebaliknya “tapi saya tahu apa yang
terbaik bagi pasien saya. Tolong patuhi perintah saya,
yang juga merupakan perintah Presiden Amerika Serikat.
Jelas?”
“Ya, Dr. Allan.”
Mata Vanessa terpejam, tapi ia mengikuti sebagian
besar percakapan mereka, meskipun beberapa kata sulit
dipaharni maknanya Kenapa ia tidak boleh bangun jika ia
menginginkannya?
Di mana David?
Di mana ayahnya?
Di mana ia?
Neraka, mungkin.
Ya, pasti di neraka.
“Di mana?”.
“Wyoming.”
“Sialan!”
Setelah menyarnpaikan kabar buruk itu pada Presiden,
Spence berdiam diri sambil berjogging di samping pria
itu. Rentetan makian setelah itu muncul bagai amukan
badai. Merritt menggunakan bahasa yang dipelajarinya
dari ayahnya, yang bekerja di galangan kapal Biloxi.
Asal-usul Merritt dipaparkan dalam kampanye
pertamanya untuk memperoleh kursi di Kongres. Ketika
143
ikut perrrilihan Presiden, para pemilih sudah tahu ia tidak
menjalani hidup yang penuh kemewahan dan
keistimewaan. Ibunya bekerja sebagai tukang masak di
sekolah negeri, namun keluarga berpenghasilan ganda itu
tak bisa dibilang berkecukupan. Mereka tak pernah punya
rumah. Masa kanak-kanak David dihabiskan di trailer
sewaan di taman trailer kelas dua.
Bukannya berusaha menutupi masa mudanya yang
sederhana, komite kampanye malah menggembargemborkan
dirinya sebagai perwujudan impian Amerika.
Ia adalah Abraham Lincoln abad 21. Ia berhasil
mengatasi rintangan-rintangan berat untuk mendapatkan
kursi tertinggi di dunia. Ajaran Senator Armbruster
memang sangat membantu, tapi kecerdasan dan tekad
Merritt sendiri yang membuat perhatian Armbruster
tertarik pada awalnya.
Yang tidak dipublikasikan adalah sampai seberapa
miskinnya Merritt muda dulu. Tak banyak yang tahu
bahwa kedua orangtuanya pecandu alkohol. Ia bisa
dibilang bertanggung jawab atas dirinya sendiri lama
sebelum orangtuanya meninggal akibat minuman keras.
Satu-satunya kesempatan ia membiarkan dirinya mabuk
adalah pada hari ia mengubur ayahnya. Ia minum untuk
merayakan kebebasannya dari dua orang yang dipandang
rendah dan dibencinya sejak lama.
Spence melirik Presiden sekarang.
Seperti biasa, amarahnya tak bertahan lama la tidak
berkata apa-apa lagi, hanya terengah-engah.
Spence memilih saat ini untuk menyampaikan berita
buruk tadi, sebab berita itu menyangkut masalah pribadi
dan membutuhkan privasi total. Di tempat joging ini
144
rasanya tak mungkin mereka bisa didengar bahkan oleh
para agen Dinas Rahasia yang mengikuti beberapa meter
di belakang. Mereka sudah tahu untuk tidak dekat-dekat
kalau Presiden sedang berbincang-bincang dengan Spence.
Semua yang terjadi di antara mereka bersifat sangat
rahasia.
“Bagaimana kau tahu Barrie Travis pergi ke Wyoming?”
tanya Presiden gusar.
“Sudah dua hari dia tidak pulang. Anjingnya dititipkan
di tempat penampungan.”
“Aku tidak tanya apakah dia ke luar kota,” bentak
Merritt. “Aku bertanya bagaimana kau tahu dia pergi ke
Wyoming.”
Spence tidak membiarkan cara bicara yang kasar itu
mengusiknya. Ia menganggap sffat pemarah merupakan
kelemahan, bahkan pada diri Presiden, terutama pada diri
Presiden. “Waktu Anda di California, aku bicara dengan
rekan kerjanya yang tolol itu.” Ia bercerita pada Merritt
tentang pertemuannya dengan Howie Fripp di bar
setempat. “Orang itu payah. Tapi meski begitu, kurasa dia
tidak tahu ke mana Barrie pergi, karena kemarin pagi dia
memberitahukan hal yang sama pada dua agen FBI di
stasiun TV itu. Kata mereka dia sangat ketakutan. Kalau
mengetahui sesuatu, dia pasti akan mengatakannya.”
“Rumahnya sudah digeledah?”
“Secara resmi, belum,” ujar Spence. “Kita tidak punya
surat izin atau alasan kuat untuk memperoleh surat itu “
“Bagaimana kalau secara tidak resmi?”
“Secara tidak resmi, rumah itu sudah diperiksa oleh
orang terbaik di bidang itu,” Spence melaporkan sambil
menyeringai dingin. “Menurut dia kelihatannya wanita
145
itu mencoba menghilangkan jejak. Dia tidak menemukan
satu pun surat, atau potongan kertas, atau kuitansi, apa
saja untuk menunjukkan dia pergi atau kenapa dia pergi.
Dia cuma menemukan beberapa buku perpustakaan yang
batas waktu pengembaliannya sudah lewat, semuanya
berhubungan dengan gangguan psikologis wanita dan
SIDS.”
Merritt mengusap pelipisnya yang berkeringat. “Dia
masih memburunya.”
“Itulah dugaanku. Kami menemukan mobilnya di
lapangan parkir bandara nasional, lalu mulai memeriksa
daftar penumpang semua penerbangan keluar dari sana
selama beberapa hari terakhir. Dia tidak bepergian
menggunakan namanya sendiri, dan tak ada tagihan kartu
kredit di rekeningnya.”
Presiden berhenti berlari. Spence ikut berhenti. Para
agen Dinas Rahasia ikut berhenti, namun tetap menjaga
jarak.
“Dia bersikap sangat paranoid,” ujar Merritt.
“Benar. Ketika namanya tak ada pada daftar-daftar itu,
kami memeriksa agen-agen penerbangan sampai
menemukan agen yang menjualkan tiket padanya. Travis
bepergian dengan nama samaran dan membayar kontan
tiketnya ke Jackson Hole. Pegawai perusahaan penerbangan
itu mengenalinya dari foto.”
“Dia pergi menemui Gray.”
“Dia pergi menemui Gray.” Ekspresi Spence sama
muramnya dengan Presiden. “Setidaknya harus begitulah
dugaan kita.”
Pandangan Merritt menerawang, ia memutar otak.
“Dia membenci reporter. Kurasa dia takkan bicara
146
dengannya.”
“Kau mau menanggung risiko itu?”
“Brengsek.” Merritt menjentikkan setitik keringat dari
ujung hidungnya. “Bagaimana kalau kita terlambat?
Kalau dia sudah bicara dengan Gray, kalau Gray
memberitahunya sesuatu...”
“Berarti kita punya masalah potensial,” kata Spence.
“Menjelang tahun pemilu, kita tak boleh menghadapi
masalah walau hanya yang potensial.”
“Aku setuju.” Spence berpandang-pandangan dengan
Menritt. “Kurasa kita harus memastikan reporter ini tutup
mulut.”
Presiden mengangguk, lalu kembali berlari. “Lakukanlah
apa yang kauanggap perlu.”
Spence ikut melangkah. “Akan segera kulaksanakan.”
147
Bab Tiga Belas
“BOHONG! FBI?”
“Itulah yang dikatakan Howie.” Barrie memandangi
dirinya di cermin sambil berbicara di telepon jarak jauh
dengan Daily, dari kamar motelnya di Jackson Hole.
Apakah lampu ruangan yang remang-remang atau
ketakutannya yang semakin dalam yang membuatnya
begitu pucat?
“Dua agen mendatangi WVUE dan menanyai Howie
tentang aku.” Ia mengulangi pada Daily semua yang bisa
diingatnya dari cerita Howie. “Mereka membuatnya
ketakutan setengah mati. Secara harfiah. Dia bercerita
lengkap dengan detail-detail yang tidak perlu kuulangi
mengenai perutnya yang mulas-mulas.”
“Ini bukan lelucon, Barrie.”
Satu lagi mekanisme pertahanan diri yang dikembangkannya
waktu masih kanak-kanak adalah selera
humor yang sinis. Kali ini taktiknya tak mampu
meringankan situasi gawat ini. Tadinya ia berharap Daily
akan menganggap enteng kegalauannya. Ternyata pria itu
malah menanggapinya dengan serius. “Menurutmu, apa
artinya?”
“Menurutku, artinya kau telah membuat orang-orang
148
gelisah.”
“Orang-orang yang mana?”
“Mungkin cuma Dalton Neely . Teleponmu yang
berulang kali membuat gusar sekretaris pers Gedung
Putih itu. Tindakanmu seolah mengatakan dia tidak
mengatakan yang sebenarnya tentang- keadaan Ibu
Negara. Caranya memberitahumu supaya mundur adalah
menyuruh FBI menyerangmu.”
“Atau?”
“Atau,” Daily menghela napas, “bisa saja berasal dari
Ruang Oval. Apa Howie punya teori?”
“Dia dan Jenkins diberitahu bahwa itu cuma penyelidikan
rutin, kemudian Howie mengatakan pada mereka
bahwa perhatianku terhadap Vanessa cuma karena
perasaan bersahabat setelah wawancara baru-baru ini.”
“Mereka percaya?”
“Kelihatannya begitu. Penjelasan itu mungkin menyelesaikan
masalah.”
“Mungkin.”
Sesaat kemudian Barrie berkata, “Daily, kita sepakat
tentang suatu hal yang sama-sama tidak kita percaya”
Mereka terdiam selama beberapa waktu, yang terdengar
di telepon cuma suara napas Daily yang tersengal-sengal.
Akhirnya ia bertanya, “Aku hampir lupa, bagaimana
Bondurant?”
Jantung Barrie serasa berhenti berdetak. Bagaimana
Bondurant? Di atas atau di luar ranjang? Di atas ranjang,
dia amat sangat luar biasa Di luar ranjang... “Seperti yang
kuduga. Galak. Tidak banyak omong.”
“Tidak menyambutmu dengan tangan terbuka, heh?”
Sebetulnya, sebaliknya. “Yah, begitulah.”
149
“Dia bercerita tentang topik itu?”
“Sedikit pun tidak. Setidaknya, secara sengaja Aku
yakin ada perasaan mendalam di antara dia dan Vanessa.
Setidakanya dari pihaknya.”
“Menurutmu mereka melakukan ‘perbuatan itu’?”
“Melakukan atau tidak, dia masih terikat secara
emosional. Ketika sedang tidak sadar, dia berkomenhr
tentang betapa beratnya penderitaan yang dialami
Vanessa. Aku menduga yang dimaksudkannya adalah
kesedihan wanita itu atas kematian bayinya.”
“Jangan pernah menduga apa pun, Barrie. Tidakkah
kau dengar? Tidakkah kau mengerti? Cari faktafaktanya.”
“Yah, aku tak sudi kembali berhadapan dengannya,
kalau itu yang kau usulkan. Dia menyuruhRu melupakan
beritaku, dan kurang-lebih melupakan dirinya. Aku
bermaksud melakukan yang terakhir. Akan kudapatkan
beritaku, tapi akan kulakukan tanpa bantuan Bondurant.”
“Kenapa kau ini?”
“Tidak apa-apa.” Ya Tuhan, ia akan mati kalau Daily
sampai tahu bagaimana ia telah mengorbankan integritas
dan objektivitas jurnalistiknya hanya untuk kenikmatan
seksual sesaat.
“Oke,” Daily tak yakin. “Kau cuma kedengaran begitu
defensif.”
“Aku mencemaskan beritaku.”
“Jadi, kau akan terus menggarapnya?”
“Tentu saja. Sejak kapan atasan reporter kelas teri
perlu didatangi FBI? Makin banyak pintu tertutup
bagiku, makin yakin aku seseorang menyembunyikan
sesuatu.”
150
“Kapan kau pulang?”
“Besok. Akan kulanjutkan perburuanku di Washington.
Ada kabar tentang Ibu Negara?”
“Masih ornong kosong yang lama.”
“Besok malam kutelepon kau setelah aku sampai di
rumah. Kau sehat-sehat saja?”
“Sehat,” jawab Daily, sama sekali tak terdengar begitu.
“Barrie? Kalau kau menemukan sesuatu yang sangat tidak
menyenangkan... Yah, berhati-hatilah. Oke?”
Perhatiannya begitu menyentuh dan membuat Barrie
merindukannya. Bahkan setelah meletakkan gagang
telepon, ia masih memeganginya, tak ingin memutuskan
kontak emosional di antara mereka. Daily lebih seperti
keluarga daripada sahabat, lebih menyayanginya daripada
orangtuanya sendiri.
Dengan kelelahan ia masuk ke kamar mandi dan mulai
membuka pakaian. Cermin di atas wastafel tak lebih baik
daripada yang di meja rias. Ia tampak mengerikan. Sisa
make-up-nya sudah berumur 36 jam. Bedaknya meaggumpal
di kerutan halus di sekeliling matanya, yang setiap
hari tampak makin dalam saja. Umurnya sekarang sudah
33 tahun. Seperti apa ia nanti pada usia 43? Lima puluh
tiga? Ia tak punya perbandingan. Umur ibunya tidak
sepanjang itu.
Barrie menyibak tirai pancuran dan menyalakan air. Ia
menjerit ketika semburan air mengenai dadanya dan
menunduk untuk melihat apa yang membuatnya merasa
seperti tersengat itu. Di payudaranya ada lecet-lecet samar
berwarna merah jambu. Bekas goresan rambut kasar yang
tumbuh di dagu.
Ya Tuhan, apa yang telah dilakukannya?
151
Ia menundukkan kepala di bawah ujung pancuran
berharap semburan yang kuat itu dapat nenghapus
kenangannya tentang Gray Bondurant. Dalam keadaan
telanjang pria itu tampak langsing, tegap, dan liat.
Tubuhnya memang tidak mulus seperti tubuh anak muda.
Tubuhnya telah kenyang makan asam garam kehidupan.
Tapi segala goresan itu justru membuatnya makin
memikat, seperti rambut di pelipisnya yang sudah
beruban dan kerut-kerut di sekitar matanya, yang
membuat wajahnya tampak lebih menarik.
Aku membutuhkan istirahat, pikirnya, seraya
menggosokkan sampo ke rambut. Kelelahan dan stres
membuatnya rapuh secara emosional, hingga ia berpikir
yang tidak-tidak. Mula-mula tentang Daily. Lalu tentang
orangtuanya. Sekarang tentang pria tinggi tegap dengan
mata sebiru sinar laser dan mulut yang kejam.
Apakah ayahmu tidak menyayangimu?
Tidak, Mr. Bondurant, ia tidak menyayangiku. Ia juga
tidak menyayangi ibuku.
Kalau sayang, mengapa ayahnya mengkhianati ibunya?
Kenapa ia membuat perselingkuhan menjadi kebiasaan
sepanjang perkawinannya? Kenapa ia berbohong dan
membantah tuduhan-tuduhan ibunya, dan melibatkannya
dalam pertengkaran sengit yang membuat hidup Barrie
penuh kesengsaraan dan kengerian? Kenapa ia terus
menyiksa keluarganya dengan semua affair-nya sampai ia
mati karena serangan jantung di kamar hotel sementara
pacarnya untuk bulan itu tengah melumuri kemaluannya
dengan gel rasa kelapa? Ia bahkan tidak punya nurani
untuk mati di tempat yang pantas.
Dan apa yang dilahirkan ibu Barrie yang konyol dan
152
bodoh itu? Pernahkah ia memarahi suaminya karena
mengkhianati janji pernikahan mereka? Pernahkah ia
mencercanya karena menelantarkan putri mereka, karena
terlalu sibuk bercinta di sana-sini hingga tidak menyadari
perubahan anaknya dari kanak-kanak menjadi dewasa?
Pernahkah ia mengomeli dan menyerang suaminya
karena telah menjadi orangtua paling dingin dan paling
tidak peduli sepanjang sejarah? Bahkan setelah kematian
laki-laki itu pun, pernahkah ia memberitahu orang betapa
brengsek suaminya?
Tidak. Ia menguburkannya dengan gaya mewah, dan
kemudian, tak mampu membayangkan hidup tanpa pria
itu, ia pulang dan menelan sebotol pil.
Satu minggu, dua pemakaman.
Ya, Mr. Bondurant, kau memang keterlaluan.
Barrie keluar dari pancuran dan meraih handuk. Ia
sudah membaca buku-buku itu, mendengarkan acaraacara
bincang-bincang itu. Ia tahu psikologinya. Anakanak
perempuan yang tidak disayang oleh ayah mereka
biasanya berkembang menjadi dua tipe: Mereka jadi
nimfomaniak, mencari kasih sayang dan perhatian dalam
bentuk apa pun dari setiap laki-laki yang mereka temui,
atau mereka menolak pria mentah-mentah, dan biasanya
menggantikannya dengan wanita lain.
Barrie tidak melakukan keduanya.
Ia tidak menjadi wanita murahan, yang sangat
membutuhkan perhatian laki-laki dan menggantungkan
harga dirinya pada mereka. Ia juga tidak menjadi yang
satu lagi. Minat seksualnya hanya bisa dibangkitkan oleh
laki-laki. Kalau ia bersama pria yang dianggapnya
menarik dari segi fisik, menawan, cukup cerdas, ia akan
153
sangat menikmati seks. Ia punya peraturan yang tak dapat
ditawar-tawar, yaitu dialah yang menentukan waktu,
tempat, dan parameter hubungan mereka. Ia yang
berkuasa.
Sampai episode seksual pagi ini.
Tak pernah ia kehilangan kontrol seperti itu. Tindakan
menyerah pada nafsu yang gegabah; tanpa pikir panjang,
dan ceroboh seperti itu dapat merusak jiwa. Salah satu
contohnya, ibunya sendiri. Barrie telah bertekad takkan
mengulangi kesalahan fatal ibunya yang mencintai
dengan membabi buta dan membuat cinta itu dimanfaatkan.
Barrie akan menyerahkan tubuhnya kalau nafsu dan
keadaan mengizinkan. Tapi ia sudah bersumpah takkan
pernah membiarkan pikirannya, dan jelas tidak hatinya,
diperlakukan sembarangan.Gray terbangun tepat pada
saat ia melihat bantal itu akan menutupi wajahnya.
Secara refleks ia berusaha meraih pistol di balik bantal,
namun sepasang lutut menekan kedua lengannya, sementara
penyerangnya bertumpu di dadanya. Ia menggeliat dan
memberontak. Ia melengkungkan tubuh. Ia berusaha
menghirup udara yang tak ada.
Dan bangsat itu tertawa.
Gray mengenali suara tawa itu sepersekian detik
sebelum bantal dilemparkan ke samping. Wajah Spence
tampak di atasnya, menyeringai. “Kau jadi lembek di
pegunungan ini, orang tua.”
Gray menyentakkan tubuhnya dan turun dari tempat
tidur . “Dasar orang sinting sialan. Aku tadi bisa
membunuhmu.”
“Apa bukan sebaliknya?” kata Spence, masih tertawa.
“Aku tadi bisa membunuhmu.”
154
“Apa yang kaulakukan di sini, mengendap-endap
masuk rumahku, main—main seperti ini? Ya ampun, jam
berapa sekarang? Aku mau kencing.”
“Senang bertemu kau juga, Gray.” Spence mengikutinya
sampai pintu kamar mandi. “Berat badanmu turun.”
Gray mengambil jeans yang tergantung di balik pintu.
Sambil mengenakannya, ia mengamati mantan rekan
kerjanya itu. “Berat badanmu bertambah. Koki Gedung
Putih rupanya masih andal.”
Spence tetap melontarkan senyumnya yang biasanya
jarang kelihatan. ‘’Tahu apa yang paling kurindukan
sejak kau pergi?”
“Pesonaku?”
“Sikapmu yang sama sekali tidak memesona. Sebagian
besar orang menjilatku. Aku penasihat terpercaya dan
sahabat karib Presiden. Tak peduli betapa kasarnya aku,
orang-orang tetap memujiku. Tapi kau tidak, Gray. Kau
memperlakukan semua orang sama saja. Seperti kotoran
kucing,” ia menambahkan.
“Jadi, itu sebabnya kau kemari? Kau merindukan
aku?”
la mendahului Spence melintasi rumah dan masuk ke
dapur. Ia cuma punya satu jam di rumah ini, dan letaknya
di atas kompor. Ia melihat waktu. Hampir pagi. Sudah 24
jam berlalu sejak ia menjamu Barrie Travis di ruangan
ini. Jarak waktu yang begitu dekat tak lolos dari
perhatiannya.“Kau bukan orang yang menimbulkan
suasana gembira, Gray. Tapi kau cukup menyenangkan
diajak bicara. Kau tahu tempatmu.”
Gray memandang Spence dengan tajam. “Yeah, aku
memang seperti itu, ya? Aku mendampingimu ketika kau
155
sangat membutuhkan aku.” la terus bertatapan dengan
Spence selama beberapa detik yang menegangkan
sebelum mengalihkan pandangannya. “Kopi?”
“Terima kasih. Punya makanan?”
la menyiapkan sarapan yang sama dengan yang
diberikannya pada Barrie kemarin. Ketika mereka
makan, kesunyian hanya dipecahkan oleh denting
peralatan makan. Setelah beberapa saat, Spence bertanya,
“Apakah selalu seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Sesepi ini.”
“Tidak.” Gray menyesap kopi. “Biasanya lebih sepi.
Tak ada yang berbicara.”
“Gray si penyendiri,” kata Spence. “Sang pahlawan
tegar dan pendiam, mantap, tak pernah tersenyum, yang
menghindari publikasi dan menjalani hidup menyendiri.
Sialan! Itu ciri-ciri tokoh legendaris. Siapa tahu?
Mungkin seratus tahun dari sekarang, anak-anak sekolah
akan menyanyikan lagu rakyat tentang kau.”
Gray tak berkomentar.
Setelah misi penyelamatan sandera itu, ia didatangi
banyak penerbit dan produser film yang ingin sekali
menjadikan petualangannya sebagai hiburan. Mereka
menawarkan uang dalam jumlah menakjubkan, namun ia
tak pernah tergoda. Ia sudah menabung uang cukup
banyak untuk membeli tempat ini dan hidup nyaman
sampai akhir hayat. Yang diinginkannya cuma menyingkir,
dan menyingkirlah ia.
Gray mengangkat piring-piring dari meja, lalu kembali
sambil membawa teko kopi dan mengisi kembali gelas
156
mereka. Akhirnya, ia mengembalikan topik pembicaraan
ke alasan Spence datang ke Wyoming.
“Kau. Sederhana saja,” ujar Spence. “David menugaskan
aku ke Seattle. Kupikir mumpung aku harus
terbang ke daerah ini, tidak ada salahnya aku mampir dan
menjengukmu.”
David mungkin memang menugaskan Spence kemari,
tapi perbuatan Spence tak pernah ada yang sederhana. Ia
memiliki berbagai motif untuk setiap tindakan. Dengan
begitu, ia aman. Ia punya posisi cadangan jika tindakannya
diperiksa secara teliti oleh salah satu badan pengawas
dalam sistem federal.
Spence merupakan yang terbaik di seluruh divisi
infanteri dan pengintaian mereka. Ia unggul dalam segala
hal—senjata, intelijen, kemampuan untuk bertahan
hidup. Ia tidak kenal takut. Spence bagai mesin. Gray
takkan terkejut kalau menemukan komputer, bukan otak,
di dalam tengkoraknya. Atau mesin di dalam rongga
dadanya, di tempat jantung seharusnya berada.Ia tahu
pria yang duduk di hadapannya ini tak punya hati.
“Kau bohong, Spence.”
Spencer Martin tak berkedip sedikit pun. “Tepat sekali,
aku memang bohong. Dan aku tak bisa mengatakan
padamu betapa senangnya aku karena kau mengetahuinya,
Gray. Kau tajam seperti biasanya. Belum kehilangan
kemampuan.” la mencondongkan tubuh ke depan. “Dia
menginginkanmu kembali.”
Meskipun terkejut, Gray tetap tampak tenang.
“David membutuhkan kau di Washington,” Spence
menekankan.
“Aku tak percaya.”
157
“Dengar dulu.” Spence mengangkat kedua tangannya,
telapak tangan menghadap ke depan. “Dia orang yang
sombong. Sialan, aku tidak perlu memberitahumu soal
itu. Dia keras kepala dan berhati batu, dan dia paling sulit
mundur atau mengakui telah melakukan kesalahan.”
“Jadi dia mengirimmu untuk melakukan hal itu
baginya.”
“Aku tak mau merendahkan diri, aku cuma minta, atas
nama David, agar kau kembali ke Washington, tempatmu
semestinya berada.”
“Tempatku di sini.”
Spence memandang sekilas pemandangan
mengagumkan di balik jendela. “Kau bukan Grizzly
Adams, Gray.”
“Aku menyukai pegunungan.”
“Aku juga. Gunung bagus untuk dipanjat, tempat main
ski, dan bernyanyi. Penahankan tempat ini untuk liburan,
tapi kembalilah bersamaku ke Washington. Bakatmu
tersia-sia di sini. Presiden membutuhkanmu. Aku
membutuhkanmu. Negara membutuhkanmu.”
“Itu pidato yang menggugah. Siapa yang menuliskannya
untukmu? Neely?”
“Aku serius.”
“Negara membutuhkan aku?” dengus Gray. “Omong
kosong. Negara tak peduli aku mati atau hidup. Aku
melakukan tugas yang sesuai dengan pendidikanku.
Negaraku tidak boleh meminta lebih dariku, dan aku
takkan minta lebih darinya. Begitulah seharusnya.”
“Oke, lupakan soal kewajiban patriotis. Bagaimana
dengan David?”
“Brengsek, dia tidak membutuhkan aku. Peringkatnya
158
menjulang ke angkasa. Partai lain akan mengorbankan
seorang bajingan malang untuk menantangnya pada
pemilu tahun depan, tapi itu akan jadi usaha yang sia-sia
karena David akan memenangkan masa jabatan keduanya
Dia membutuhkan aku seperti dia membutuhkan bisul di
pantat.”
“Tidak.”
Spence berdiri, mengggeliat, dan memandang ke luar
jendela. Matahari sudah terbit sekarang, jadi pemandangannya
menakjubkan. Salju di puncak gunung tampak
seperti disaput emas.
“Masalah dengan Vanessa ini,” kata Spence, “merupakan
potensi berbahaya.”
“Masalah apa?”
Spence berbalik. “Kematian bayinya. Dia jadi kacau
karenanya”
“Setiap ibu pantas merasa begitu.”
Spence menggeleng. “Masalahnya lebih dari itu.
Kesedihan telah memperburuk masalahnya yang lain.
Intinya dia tak boleh ditinggal sendirian.” Ia memberitahu
Gray bahwa Vanessa berada di Highpoint dalam perawatan
George Allan dan seorang perawat. “David takut dia akan
melakukan perbuatan gila.”
“Maksudmu seperti menyakiti dirinya sendiri?”
“Itulah yang ada dalam pikiran setiap orang. Tapi
David menganggap kalau kuo kembali, kau mungkin
punya efek menstabilkan terhadap dirinya.”
“Keyakinannya tentang kemampuanku untuk menyembuhkan
lebih daripada yang pantas kuterima. Lagi pula,
kalau dia tidak mampu menguasai istrinya apa yang
diharapkannya dariku?”
159
“Menghilangkan gosip baru tentang pernikahan mereka,”
Jawab Spence lugas. “Akhir-akhir ini Vanessa sering
menghilang. Kau tahu bagaimana orang-orang bicara.
Desas-desus mulai berkembang.
“Pernikahan yang sehat akan sangat membantu
terpilihnya David kembali. Pernikahan yang retak akan
membahayakan. Kalau kau kembali, desas-desus itu akan
padam untuk selamanya. David mungkin pria yang
pemaaf, namun dia takkan mungkin memanggil kembali
laki-laki yang pernah menjadi pacar istrinya.”
Gray mengertakkan gigi begitu kuat hingga rahangnya
terasa sakit. Di bawah meja tangannya mengepal.
“Reporter ini membuat situasi tambah ruwet,” Spence
melanjutkan sambil kembali ke kursi. “Barrie Travis. Dia
mengajukan beberapa pertanyaan yang sedikit terlalu
pribadi. Dia memiliki reputasi yang tidak terlalu
mengesankan.” Sambil meletakkan tangan di atas laptop
yang selalu dibawanya ia menguraikan riwayat pekerjaan
Barrie. “Tapi setelah Vanessa memberinya wawancara itu,
dia menganggap dirinya sahabat karib dan tempat
curahan hati Ibu Negara. Dia cuma reporter kelas teri,
tapi kadang-kadang meriam kecil bisa jadi ancaman
paling buruk.”
“Dia memang ancaman. Dia sudah kemari.”
“Kemari? Kapan?”
“Kemarin.”
Spencer mengusap wajahnya dengan kesal. “Kami kira
dia cuma mengendus-endus di sekitar Washington, tapi
kalau dia mencarimu, berarti dia serius.”
“Oh, dia memang serius. Dia punya satu ransel penuh
kliping tabloid tentang aku dan Vanessa. Dia sudah
160
mempersiapkan segalanya dengan matang. Kuberitahu
dia aku tidak mau mengatakan apa pun tentang keluarga
Merritt dan tidak berminat mendengarkan informasi yang
sudah diperolehnya tentang mereka.”
“Apakah dia mengatakan sesuatu tentang mereka?”
Gray terkekeh. “Jangan kaget mendengar ini, Sobat.
Menurut dia Vanessa membunuh bayinya dan cuma
berpura-pura itu SIDS.”
“Kuharap kau bercanda.”
“Kau pernah tahu aku bercanda?”
“Ya Tuhan,” bisik Spence. “Kami tahu dia tak punya
otak, tapi... dia betul-betul percaya Vanessa tega berbuat
begitu? Keterlaluan.”
“Tentu saja.”
“Tapi kalau Travis membocorkan informasi ngawur
seperti itu pun, aku tak perlu memberitahumu betapa
buruk pengaruh yang dapat ditimbulkannya, bukan cuma
terhadap David dan kampanye tahun depan, tapi juga
terhadap Vanessa. Dia sangat rapuh sekarang. George
terpaksa meningkatkan pengobatannya supaya dia tidak
kacau. Dia jadi sangat menyukai anggur, dan itu
menambah masalah. Kalau teori Travis sampai tersebar
luas, Vanessa akan benar-benar hancur.”
Gray bisa membayangkan pikiran Spence bekerja
keras dengan satu tujuan: melindungi dan menyelamatkan
kursi kepresidenan untuk David dan secara tak langsung
untuk dirinya sendiri.
“Di mana si Travis sekarang?”
Gray mengangkat bahu. “Dalam perjalanan kembali ke
Washington, kurasa. Aku mengusirnya.”
Spence berdiri. “Sebaiknya kuhubungi Washington.
161
David pasti ingin segera mendengar kabar ini.”
“Telepon ada di meja di kamar.”
“Terima kasih. Oya, sarapannya enak,” kata Spence
sambil menoleh ketika ia meninggalkan ruangan.
Gray menyalakan radio untuk mendengarkan berita
dan laporan cuaca sambil membersihkan dapur. Secara
metodis ia mengembalikan makanan ke dalam kulkas dan
lemari. Sewaktu memasukkan barang-barang, ia membuka-
laci tempat menyimpan peralatan besar dan menukar
sendok kayu bergagang panjang dengan pistol Beretta.
Kemudian ia menyalakan keran dan mulai mengisi bak
cuci dengan air sabun panas. Ia merendam piring-piring
kotor di bak itu. Sambil mencuci, ia terus memandangi
panggangan roti. Ketika permukaan kromnya memantulkan
gerakan di belakangnya, ia mencabut pistol dari pinggang,
berbalik, dan menembak.
Senjata genggamnya meneteskan busa sabun ke lantai
dapur.
162
Bab Empat Belas
PENERBANGAN kembali Barrie ke Washington lama
dan diguncang badai. Bandara nasional hiruk-pikuk
seperti pasar Turki. Ketika ia mengambil mobilnya dari
tempat parkir dan tiba di stasiun TV, ia sudah kepayahan.
Ia berharap bisa masuk diam-diam, mengecek surat dan
pesan untuknya, lalu pergi tanpa terlihat atau harus bicara
dengan siapa pun.
Tak ada pesan di e-mail-nya; di kotak surat teleponnya
ada empat. Dua berasal dari kenalan, satu dari binatu
yang mengatakan mereka tak bisa membersihkan noda di
blusnya, dan yang terakhir dari si sinting Charlene, yang
dengan kesal menanyakan mengapa Barrie tidak membalas
telepon-teleponnya.
Barrie ingin tahu apa berita terbaru Charlene: teroris
menyusup ke antara anggota Pramuka, aktivitas mafia di
antara orang-orang Eskimo, sianida di Corn Flakes?
“Kasihan,” gumam Barrie ketika menghapus pesanpesan
telepon itu. “Dia mungkin cuma kesepian dan ingin
bicara dengan seseorang.”
“Siapa?”
“Sialan, Howie!” hardik Barrie seraya memutar
kursinya. “Kau suka ya, mengendap-endap dan mem
163
buatku kaget setengah mati?”
“Kau takkan kaget kalau tidak punya perasaan
bersalah.”
“Jangan mulai. Aku sedang tidak mood.”
“Oya?” serunya dengan suara melengking. “Bagaimana
dengan aku? Aku yang menyelamatkan dirimu ketika FBI
datang. Aku yang kau bohongi dan kau buat tampak
konyol di hadapan Jenkins. Memo, memo apaan!”
“Maafkan aku soal itu, Howie. Sungguh. Aku takkan
berbohong kalau memang tidak diperlukan.”
Barrie bergerak pergi, namun Howie menghalangi
jalannya. “Apa yang sedang kauselidiki, Barrie? Katakan
padaku.”
“Tunggu sampai aku memperoleh informasi lebih
banyak.”
“Kenapa kau tidak membawa juru kamera?”
Barrie memang ingin tahu kapan terlintas di benak si
Einstein ini bahwa ia tidak minta seorang juru kamera
video untuk menemaninya ketika ia memburu berita
besar. Apa jadinya berita TV tanpa rekaman visual?
“Terlalu dini untuk membawa juru kamera. Kau akan
jadi orang pertama yang tahu kalau ada yang siap diambil
pernyataannya.”
Ekspresi Howie berubah kesal. Lebih kesal. “Waktu
pensiunku tinggal beberapa tahun lagi. Kalau kaupikir
aku rela mengorbankan uang pensiunku demi kau, kau
harus berpikir lagi. Kau penuh risiko, tapi-aku tetap
mencoba memakaimu.”
“Untuk itu aku akan benerima kasih sampai mati. Nah,
aku barusan melintasi Continental Divide dan dua
wilayah waktu. Aku capek, teler, dan tubuhku tak bisa
164
dibilang bersih. Aku akan menjemput anjingku, pulang,
dan tidur. Selamat malam.” Ia memaksakan diri melewatinya.
“Oke, terserah, kubur dirimu sendiri. Tapi jangan
harap kau bisa menyeretku! Itulah terakhir kalinya aku
mau menyelamatkanmu.” Barrie nyaris tidak mendengar
waktu laki-laki itu berteriak, “Dan kau seperti tikus
tercebur got.”
la mempertimbangkan untak membiarkan Cronkite di
tempat penitipan anjing semalam lagi, namun memutuskan
ia butuh teman. Lagi pula, ia tak mau mengurungnya
lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia sampai di tempat penitipan itu beberapa menit
sebelum tutup. Petugasnya dan Crookite sama-sama
sangat gembira melioatnya “Dia baik, tapi sangat manja,”
kata wanita muda itu sambil menyerahkan binatang itu.
“Yeah, aku tahu. Tapi dia pangeran di antara anjinganjing.”
Barrie berlutut dan mengacak-acak bulunya,
sementara Cronkite dengan penuh semangat menjilat-jilat
wajahnya.
Kegirangannya tak berkurang sepanjang perjalanan
pulang. “Aku janji kau akan makan besar begitu kita
sampai,” kata Barrie ketika mereka turun dari mobil.
“Sekarang kumohon tenang dulu.” Karena ada yang
menempati tempat parkir di depan rumahnya, Barrie
terpaksa memarkir mobilnya setengah blok dari situ.
“Cronkite!” Anjing seberat empat-puluh kilo itu
menariknya. Tahu sudah dekat-dengan rumah, tempat
makanan enak menanti, Cronkite nyaris histeris.
“Oke, oke.” Barrie melepas tali anjing itu. Kalau tidak,
165
bisa-bisa ia terseret. Begitu bebas, Cronkite langsung
melompat, lalu melesat di jalan, kuku-kukunya memukulmukul
trotoar.
“Masuklah lewat pintu anjingmu,” seru Barrie.
Ia berbalik ke jok belakang untuk mengambil tas dan
kopernya.
Entakan ledakan itu menghantarnnya bagai tangan
raksasa dan mendorongnya hingga terpental ke tanah.
Bola api sangat besar membubung tinggi ke langit
malam, menerangi lingkungan tempat tinggalnya dengan
cahaya merah menyeramkan.
“Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan.” Dengan susah payah
ia berhasil bertumpu pada tangan dan kakinya. Selama
beberapa detik ia cuma bisa ternganga memandangi
neraka yang letaknya setengah blok darinya, di tempat
rumahnya semua berada. Asap hitam bergulung di
atasnya, menutupi bulan yang baru seperempat.
Selama beberapa saat ia tak mampu bergerak karena
terlalu kaget. Lalu adrenalinnya mengalir. Ia bangkit
terhuyung-huyung dan mulai berlari sepanjang trotoar.
Setidaknya ia berusaha lari. Sebetulnya lebih tepat
dibilang ia tersandung-sandung.
“Cronkite!” Jeritannya tak lebih dari erangan. “Cronkite!
Kemari, Sayang!”
la tidak menyadari panasnya api ketika tertatih-tatih
menyusuri jalan yang menuju pintu depan rumahnya
“Miss, kau sudah gila, ya!”
Tangan-tangan menangkapnya dari belakang dan
menahannya.
“Tolong bantu aku,” seru seorang pria. “Dia berusaha
masuk ke dalam.”
166
Lalu beberapa pasang tangan memeganginya menahannya.
Ia memberontak, tapi sia-sia. Mereka menyeretnya
ke seberang jalan dan memasuki halaman rumah
tetangga, jauh dari bahaya. Ia berusaha bicara, namun
cuma bisa tersedu-sedu. “Cronkite. Cronkite.”
“Kurasa Cronkite anjingnya.”
“Tidak lagi. Kalau dia tadi ada di dalam rumah itu,
dia...”
“Ada yang tahu apa yang terjadi?”
“Rumah siapa itu?”
Barrie cuma samar-samar mendengar suara-suara di
sekelilingnya. Para tetangga berdatangan. Trotoar dan
jalanan penuh dengan penonton. Dari jauh terdengar
lengkingan sirene.
Setelah para tetangga yang bermaksud baik yakin
Barrie takkan menyerbu ke lautan api itu, mereka
melepaskannya dan pelan-pelan pergi untuk menonton
kebakaran itu. Barrie mundur ke pagar tanaman yang
memisahkan pekarangan dan memandangi dengan ngeri
ketika rumahnya hancur lebur. Tak ada yang memperhatikannya.
Para penonton asyik berbicara sendiri, berusaha
mengetahui urutan kejadian.
“Itu pemadam kebakaran datang. Bisakah mereka
masuk?”
“Kuharap mereka menyiram atap rumah kita.”
“Ada orang di dalam?”
“Cuma binatang peliharaan. Ada yang bilang itu anjing
pemilik rumah.”
Tanpa suara Barrie berbisik, “Cronkite.”
Itulah kata terakhir yang diucapkannya sebelmn
sebuah tangan membekap mulutnya dan ia ditarik
167
mundur menerobos pagar tanaman.
Ia menjerit, atau berusaha melakukannya, namun
tangan itu semakin menekan mulutnya. Barrie menancapkan
tumitnya ke rumput halaman belakang tetangganya,
tapi si penculik menyentakkannya hingga ia tak menyentuh
tanah. Ketika mereka sampai di jalan kecil di belakang
rumah itu, Barrie menendang tulang keringnya kuat-kuat
hingga orang itu melonggarkan cengkeramannya, tapi ia
terbebas cuma untuk jatuh ke trotoar dan membuat kulit
lututnya robek. Ia menjerit, tapi tak mungkin jeritannya
bisa terdengar di antara keributan dan kegaduhan
kerumunan penonton dan mobil pemadam kebakaran.
Ia bangkit dengan susah payah, tapi sekali lagi dipeluk
kuat-kuat sampai napasnya sesak. “Tutup mulut, kalau
tidak kusakiti kau.”
Ia percaya penculik itu serius, jadi ia tidak memberontak
lagi ketika diseret pergi. Akhirnya mereka tiba di mobil
yang diparkir dua blok dari rumahnya.
Ketika si penculik meraih pegangan pintu, gigi Barrie
menghunjam kuat-kuat bagian empuk telapak tangan pria
itu dan ia menyikut perut orang itu. Pria itu tersentak dan
mengumpat pelan. Barrie cepat-cepat lari. Kebebasannya
cuma berumur pendek Orang tadi menjambak rambutnya
dan menahannya.
Barrie diputar dan diguncang begitu kuat sampai ia
ngeri tulangnya patah “Berhentilah melawanku, brengsek.
Aku berusaha menyelarnatkan nyawamu.”
Ketika otaknya berhenti bergoncang, Barrie tersadar
dirinya berhadapan dengan Gray Bondurant.
“Kau membawa kacamatamu?”
168
Bondurant menyetir, melaju menuju daerah pinggir
kota di Maryland. Ia mengemudi dengan ahli, namun
tetap dalam batas kecepatan. Ia sama sekali tak ingin
dihentikan karena pelanggaran rutin lalu lintas. Ia terus
mengawasi kaca spion, tapi setelah melewati beberapa
blok, ia yakin mereka tidak dibuntuti. Tidak ada yang
mencarinya. Belum.
Menyadari pertanyaannya belum dijawab, ia memandang
Barrie sekilas. Wanita itu memandang lurus ke
depan, terpana. “Kau membawa kacamatamu?” ulang
Gray.
Barrie menoleh dan menatapnya dengan pandangan
kosong selama beberapa detik, lalu mengangguk. Entah
bagaimana, ia berhasil terus menyandang tasnya.
“Lepaskan lensa kontak dan pakai kacamata,” perintah
laki-laki itu.
Barrie menjilat bibir, menelan ludah. “Bagaimana kau
tahu...”
“Aku tahu. Lakukan saja. Lalu selipkan rambutmu di
bawah topi bisbol itu.” Ia membawa sebuah topi. Benda
itu tergeletak di antara mereka.
“Apa... Kenapa...”
“Karena aku tak mau menanggung risiko kau
dikenali.”
“Oleh siapa?”
“Oleh orang-orang yang meledakkan rumahmu sampai
berkeping-keping, oleh siapa lagi menurutmu?”
“Anjingku mati.”
Suara Barrie bergetar. Sinar lampu mobil yang datang
dari depan memantul di matanya yang berkaca-kaca. Ia
mulai menangis, tanpa suara. Gray tak mengatakan apa169
apa. Ia tak tahu harus bilang apa. Ia tidak terlalu pintar
dalam hal-hal seperti itu. Tapi ia lebih suka Barrie
menangis daripada bersikap seperti mayat hidup.
Ia terus mengemudi, benar-benar bagai mengalir
seiring dengan air mata Barrie. Ketika akhirnya tangisnya
berhenti, Gray berbelok ke tempat parkir kedai kopi 24
jam.
“Banyak yang harus kita bicarakan,” kata Gray. “Aku
tidak bisa membawamu masuk ke dalam sana kalau kau
terus mencucurkan air mata dan menarik perhatian.”
Ia mengamati ketika Barrie membuka lensa kontak dan
mengenakan kacamata. Ia melihat kacamata itu di tasnya
ketika memeriksanya setelah mendapati Barrie tidur di
sofanya
“Kau punya saputangan?” tanya wanita itu.
“Tidak.”
Barrie mengusap hidungnya dengan lengan baju.
“Kalau begitu aku siap. Tapi lupakan topi itu. Takkan ada
yang mengenali aku.”
Sebelum Gray sempat menghentikannya, Barrie
membuka pintu dan keluar. Ia berhasil menyusul wanita
itu ketika ia disambut oleh pelayan yang tersenyum, yang
mengantarkan mereka ke tempat duduk. Ia menolak
daftar menu. “Tolong kopi saja”
Tempat itu terang benderang. Hanya beberapa tempat
duduk yang terisi.
“Mr. Bondurant, bagaimana caramu bisa menculikku
cuma beberapa detik setelah rumahku meledak?”
Ia tak mau menjawab sampai pelayan telah menuangkan
kopi mereka dan pergi. “Bukan aku pelakunya, kalau itu
yang ada dalam benakmu.”
170
“Memang itulah yang ada dalam benakku.”
“Yah, kau salah.” Sambil memandangi kopi, ia
menambahkan, “Aku turut bersedih atas matinya anjingmu.”
“Ini diucapkan laki-laki yang bahkan tidak menamai
kuda-kudanya” kata Barrie sinis.
“Dengar, aku justru menolongmu dengan menyeretmu
dari sana tahu.”
“Tapi kenapa menyeret? Kenapa kau tidak mengajak
aku pergi dari lokasi?”
“Karena kondisimu tidak memungkinkan dirimu
menggunakan akal sehat Aku harus menyingkirkan kau
dari sana dan itulah cara tercepat. Kukira mereka bakal
mengincarmu, dan aku benar. Tapi kalau kau sekarang
ingin pergi, aku sih tidak keberatan.”
“Aku tak tahu apa yang kaubicarakan,” seru Barrie,
tapi dengan suara pelan, supaya tidak menarik perbatian.
“Kalau begitu kenapa kau tidak tutup mulut dan
membiarkan aku memberitahumu?”
Barrie bersandar di tempat duduk dan melipat
tangannya.
Pria itu meminum kopinya beberapa teguk. “Pertama,
aku ingin tahu apa tepatnya yang telah terjadi. Kurasa
tidak keliru kalau aku menebak Brinkley...”
“Cronkite.”
“Cronkite mendahuluimu masuk rumah.”
“Memang ada pintu anjing di pintu belakang, yang
sekarang sudah tidak ada lagi.”
“Dari situkah kau biasanya masuk, dari belakang?”
“Biasanya.”
“Kalau begitu mereka mungkin memasang bom di
171
pintu itu.”
Barrie mencondongkan tubah ke depan. “Siapa? Dan
apa yang kaulakukan di sini? Kenapa kau mengikuti aku
kembali ke Washington? Kau memang mengikuti aku,
kan?”
“Aku datang untuk mengingatkanmu bahwa kau telah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang salah pada
orang-orang yang salah. Kau menyusuri berita yang tak
diinginkan Presiden sampai bocor.”
Wajah Barrie memucat. Dengan gugup ia mengisapisap
bibir bawahnya. “Dari mana kau tahu?”
“Kurang dari 24 jam setelah kau meninggalkan
tempatku, aku dikunjungi Spencer Martin.”
“Bukankah dia punya hubungan tertentu dengan
Gedung Putih?”
“Bisa dibilang begitu. Setelah David Merritt, dialah
orang paling berkuasa di negara ini.”
“Kalau begitu, kenapa kita jarang mendengar atau
melihat dia?”
“Sebab dia tak mau kau mendengar atau melihatnya.
Dia gentayangan di lorong-lorong Gedung Putih seperti
hantu, dan itulah yang diinginkannya karena kemisteriusannya
membuatnya makin berkuasa Dia selalu
merendah, namun dialah penasihat utama Merritt.”
“Kau ketinggalan berita Mr. Bondurant. Penasihat
utama Presiden adalah...”
“Lupakan Frank Montgomery. Dia cuma boneka,
kacung. Merritt melemparkan sepotong tulang, dia
menangkapnya. Dia memiliki jabatan, kantor yang bagus,
dan fasilitas-fasilitas, tapi Spence-lah tangan kanan
David. David takkan berbuat apa-apa tanpa berkonsultasi
172
dengan Spence lebih dulu. Dia terlibat dalam setiap
keputusan, tak peduli seberapa penting atau sepelenya.
Dia orang yang bisa kausebut fasilitator”
“Apa yang dimudahkannya?”
“Tugas-tugas.”
Barrie mengerutkan alis.
“Tugas-tugas yang akan membahayakan Presiden jika
dia melakukannya sendiri.”
Ia tak perlu menjelaskannya pada Barrie. “Dengan kata
lain, ada area antara hitam dan putih tentang tugas-tugas
yang dilaksanakan Spencer Martin untuk Presiden. Dan
kau mengetahui ini sebab dulu kau...”
“Juga fasilitator.”
“Begitu.”
Mata Barrie bagai cermin bagi hati nurani Gray yang
menatapnya lewat kacamata wanita itu. “Tapi aku
mengundurkan diri. Sudah setahun lebih aku tidak
melihat atau mendengar kabar dari Spence; sejak aku
meninggalkan Washington. Lalu sehari setelah kau
datang ke rumahku, dia muncul.”
“Kebetulan?”
“Tidak. Dia datang menemuiku karena entah dia
menebak atau mengetahui kau pernah ke tempatku,
menanyaiku soal Vanessa.”
“Apa yang kaukatakan padanya? Tentang aku,
maksudku.”
Gray tahu mengapa Barrie bertanya; ia ingin tahu
apakah Gray menyombongkan penaklukan seksual
terakhirnya pada sobatnya. Tangannya yang digigit
Barrie berdenyut-denyut, sakitnya bukan main. Beberapa
detik setelah mereka bertemu, wanita itu menamparnya.
173
Kalau dipikir-pikir, Barrie Travis ini memang punya
nyali dan nekat. Tapi saat ini ia tampak sangat tak
berdaya, dan sialan, anjingnya baru saja terbunuh, jadi
meskipun ini merupakan kesempatan bagus untuk
mempermalukannya lagi, Gray tak mau.
“Kuberitahu Spence bahwa kau datang mengendusendus,
bahwa kau punya pikiran ngawur tentang Vanessa
membunuh bayinya dan mengatakan penyebabnya SIDS.”
“Kau bilang begitu padanya?” seru Barrie;”Pantas saja
mereka meluluh-lantakkan rumahku.”
“Kalau kukatakan aku tidak tahu apa-apa, dia pasti
langsung tahu aku berbohong, jadi aku harus mengikuti
permainannya. Tapi aku segera tahu kau punya berita
besar. Kalau tidak, kenapa Spence begitu gelisah hingga
datang ke Wyoming dan menyelidiki apa yang kuketahui?”
“Kau yakin itulah tujuan kunjungannya?”
“Yeah,” kata Gray. “Di saku dalam jasnya ada selembar
tiket pesawat komersial, penerbangan pulang-pergi Washington-
Jackson Hole-Washington.”
“Jadi?”
“Jadi, Spence memberitahu bahwa dia ditugaskan
Presiden ke Seattle. Kalau ditugaskan seperti katanya
mestinya dia menaiki pesawat pemerintah. Plus, nama
yang tertulis di tiket tadi nama palsu. Kemudian, di
Jackson Hole, dia menyewa mobil atas nama palsu
lainnya. Dia tidak bermaksud pergi ke Seattle. Tidak,
Miss Travis, dia berkunjung bukan untuk beramahtamah.
Beritamu mengandung ancaman sangat serius
bagi pemerintah, dan mereka akan melakukan apa saja
supaya berita itu tidak disiarkan.”
“Ya Tuhan,” bisik Barrie seraya menutup mulutnya
174
dengan jemari pucat pasi. “Semuanya mulai jelas. Aku
benar. Bayi itu meninggal bukan karena SIDS.”
“Kapan kau pertama kali mencurigainya?” Barrie
cuma terpana. “Miss Travis?”
“Maaf,” kata Barrie, lalu menggosok-gosok pelipisnya.
“Mendengar orang lain mengatakan hipotesisku, membuatnya
jadi nyata. Implikasinya amat mengguncangkan...
dan sekaligus mengerikan.”
“Terutama bagi pria yang menempati Gedung Putih.
Ceritakan semuanya padaku,” ujar Gray. “Kapan kau
pertama kali curiga ada yang tidak beres?”
“Vanessa tiba-tiba menelepon dan memintaku menemuinya.
Aku segera melihat dia setengah mati berusaha
mempertahankan kewarasannya.”
Gray mendengarkan ketika Barrie menceritakan semua
yang terjadi sesudah pertemuan pertama itu dan menjelaskan
langkah-langkah yang telah diambilnya untuk
memproduksi serial TV-nya.
“Aku melihatnya; wawancaramu dengan Vanessa.”
“Vanessa Merritt yang kuwawancara di depan kamera
berbeda 180 derajat dari wanita sangat sengsara yang
kujumpai berminggu-minggu sebelumnya.”
“Sama sekali tidak mengejutkan,” kata Gray. “Vanessa
mengidap manic-depressive.”
la memandangi bibir penuh Barrie yang terbuka
karena kaget. “Kau yakin? Kapan dia didiagnosis?”
“Sudah lama. Tak lama setelah mereka menikah,
kurasa.”
Kentara sekali Barrie terpana. “Bagaimana mereka
bisa menutupi fakta itu selama bertahun-tahun ini?”
“Karena dia diobati dengan baik dan dipantau dengan
175
cermat. Kondisi manic-nya membuatnya menjadi
pendukung kampanye yang baik. Dia selalu bersemangat.
Selalu siap. Tentu saja dia minum Lithium untuk
mengatur perubahan suasana hatinya, jadi hanya orangorang
yang kenal dekat dengannya yang tahu. Dia juga
minum obat antidepresi dan anti-psychotic. Kalau rajin
minum obat, kelakuannya baik. Satu perkataan Spence
yang benar adalah bahwa kematian bayi itu membuatnya
kacau. Begitu melihatnya di TV, aku langsung tahu ada
yang sangat tidak beres,” ia menyimpulkan.
“Jadi, kau sangat mengenalnya”
Gray menghindari perkataan menjebak itu dengan
berkata, “Aku jauh lebih mengenal David.”
“Kau betul-betul percaya dia dan pembantu andalannya
bertanggung jawab atas peledakan rumahku?”
“Dari tadi kau tidak mendengarkan, ya? Sialan, ya, aku
percaya. Spence pasti mengaturnya sebelum pergi ke
Jackson Hole. Kalau sudah ketahuan bhkwa satu-satunya
korban malam ini adalah anjingmu, mereka bakal
mencoba menyingkirkanmu dengan cara lain.”
Dengan wajah seputih kapas, Barrie menarik napas
pendek. Dengan suara yang lebih serak daripada
biasanya, ia berkata, “Maksudmu nyawaku tak ada
artinya?”
“Kurang-lebih, yeah.”
Barrie memegang keningnya. “Aku ingin muntah.”
“Jangan,” sergah Gray tajam. “Kita tak boleh menimbulkan
kehebohan. Bernapaslah lewat mulut.”
Gray duduk tegang sampa rasa mual Barrie hilang.
Beberapa saat kemudian ia minta segelas air, dan Gray
memanggil pelayan. Wanita itu melihat Barrie kurang
176
sehat. “Dia tidak apa-apa?”
“Mual-mual karena hamil muda,” ujar Gray, berpikir
betapa konyol senyum palsunya. “Tapi dia mengalaminya
di malam hari.”
“Oh, mualnya bakal hilang setelah bulan-bulan awal,
Manis. Sudah berapa bulan?”
“Uh...”
“Tiga,” kata Gray.
Sambil menepuk-nepuk pundak Barrie, pelayan itu
menawarkan secangkir teh panas. “Dia akan sembuh,”
kata Gray. “Tapi terima kasih tawarannya.”
Setelah puas, pelayan itu pergi. Barrie menelan air itu
beberapa teguk. “Kau pintar sekali berbohong.”
“Kau tidak.”
“Aku tahu.”
Gray sadar Barrie masih shock. Matanya berkaca-kaca.
“Aku membuatmu terseret dalam masalah ini, ya?”
Gray mengangkat bahu dengan tak acuh.
“Memang benar,” Barrie bersikeras. “Karena aku
menemuimu, hidupmu jadi terancam bahaya juga. Kau
mengetahui kisah yang mereka tak ingin sampai tersebar.”
Makin banyak ia bicara makin cemas perasaannya.
“Kau mengambil risiko dengan datang ke mari.
Mestinya kau tetap tinggal di Wyoming. Kalau kau
pulang sekarang, mungkin mereka akan lupa kau tahu.
Mereka akan mengira kau tidak mau berurusan denganku.”
Gray geli dengan kenaifannya, namun ia tetap
memasang tampang serius. “Mereka tidak akan lupa
Mereka juga tidak suka meninggalkan masalah yang
belum beres. Di mana pun kau berada, itu bukan masalah.
Mereka ingin apa pun yang telah terjadi pada bayi itu, dan
177
apa pun yang tengah terjadi pada Vanessa, dikubur dalamdalam.
Juga rasa ingin tahu kita.”
“Bagaimana caramu sampai kemari begitu cepat?”
“Kubongkar komputer Spence dan kukembalikan
mobil sewaannya dengan meletakkan kunci dan suratsuratnya
di kotak checkout di bandara. Lalu kupakai tiket
pesawatnya.”
Mengetahui cuma ada sedikit penerbangan komersial
yang menuju Jackson Hole, Barrie bertanya, “Kau naik
pesawatku?” Gray mengangguk “Aku tidak melihatmu.”
“Memang itu yang kuinginkan.”
“Oh.” Barrie terdiam sejenak, berusaha menebak
bagaimana laki-laki itu lolos dari pengamatannya “Kenapa
kau tidak memperingatkan aku sebelum ini? Kalau
kaulakukan, Cronkite mungkin masih hidup.”
“Aku salah perhitungan. Aku tidak mengira peringatan
pertama mereka akan begitu kejam. Kupikir mereka akan
mulai dengan ancaman terselubung; seperti yang barangkali
diterima informanmu di rumah sakit itu. Tapi mereka
ternyata serius. Mereka tak ingin kau ketakutan hingga
tutup mulut. Mereka ingin kau mati.”
“Kau pernah bilang.” Barrie menggigit-gigit bagian
dalam pipinya “Sampai mana kau dengan Spence?”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, bagaimana kau bisa memperoleh tiket
pesawatnya? Bagaimana kau bisa menghindari dia?”
Gray menatapnya lama sekali, berpikir-pikir seberapa
banyak ia sebaiknya bercerita padanya. Akhirnya, ia
cuma berkata, “Aku tidak menghindarinya.”
178
Bab Lima Belas
“DAILY, ini Gray Bondurant. Gray, Daily Welsh.”
Barrie senang Daily tidak menanyakan kenapa mereka
muncul di depan pintunya pada pukul 02.00. la tidak
mengomel atau menghujani mereka dengan pertanyaan.
Ia cuma mendengus ketika menepi dan menyilakan
mereka masuk.
Jelas mereka membuamya terbangun. Rambutnya
yang sudah beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai
ujung-ujung mahkota Patung Liberty. Ia mengenakan
kaus dalam kusam dan celana pendek yang panjangnya
hampir mencapai lutumya yang kurus. Kaus kaki hitam
tidak menambah bagus kakinya yang putih dan tak
berbulu.
Ketika meninggalkan kedai kopi, mereka sepakat
mereka membutuhkan tempat untuk beristirahat, berunding,
dan memutuskan tindakan selanjumya. Gray
mengikuti petunjuk Barrie untuk mencapai rumab Daily.
Sekarang, Barrie bisa menebak apa yang ada dalam benak
pria itu: Jika ini tempat terbaik yang bisa mereka gunakan
untuk bersembunyi, masa depan mereka memang suram.
Rumah kecil Daily sama sekali bukan benteng dan, di
mata orang asing, ia tampak seperti pria penyakitan yang
179
hidupnya tergantung pada uang pensiunnya yang kecil
dan alat bantu pernapasan. Dan semua itu, sayangnya,
memang benar.
“Aku tahu aku sangat merepotkanmu,” ujar Barrie
ketika Daily mengelilingi ruang tamu untuk menyalakan
lampu-lampu. “Tapi tak ada tempat lain... Mereka
membunuh Cronkite.”
Tangan Daily tertahan di sakelar lampu. “Membunuh
Cronkite? Siapa?”
“Ceritanya panjang.”
“Aku punya waktu semalaman.”
Rasa sakit di wajahnya merupakan pantulan perasaan
Barrie. Dibentangkannya lengannya, dan Barrie mendatanginya.
Biasanya dialah yang memeluk Daily, sementara
pria itu pura-pura kuat dan menolak perhatiannya.
Kali ini ia bukan cuma mengambil inisiatif untuk
memeluknya, tapi juga merangkulnya, menepuk-nepuk
punggungnya, agak canggung tapi tulus. “Dasar orangorang
sinting. Apa yang mereka lakukan, meracuninya?
Kalau sampai kutangkap rnereka... Siapa pelakunya?”
Barrie rnenjauh dan membuka kacamata untuk
mengusap mata. “Banyak yang harus diceritakan.”
Daily otomatis pergi ke kursi santainya sambil
menyeret tangki oksigen. Barrie duduk di tempat biasa, di
sofa. Gray tetap berdiri. Sejauh ini Daily tidak
menunjukkan rasa penasaran kenapa pahlawan nasional
yang telah pensiun itu muncul dari pengasingan dan
berdiri di ruang tamunya tengah malam begini.
Kini ia mengangguk ke arah Gray . “Apa yang
dilakukannya di sini?”
“Rumahku diledakkan tadi malam.”
180
“Diledakkan? Maksudmu seperti booom?” Dipandangnya
Barrie, lalu Gray, lalu kembali pada Barrie.
“Rumahku musnah, Daily. Hancur. Semuanya Termasuk
koleksi videoku,” kata Barrie pahit, teringat pada videovideo
tak tergantikan yang dikumpulkannya selama
bertahun-tahun. “Menurut Bondurant, pintu belakang
dipasangi bom. Cronkite masuk mendahului aku, lewat
pintu anjingnya.”
Daily terdiam. “Siapa yang tega berbuat begitu?”
“Presiden.”
“Apa? Presiden Amerika Serikat?”
“Menurut Bondurant ledakan itu dimaksudkan untuk
membunuhku karena pertanyaan-pertanyaan yang
kuajukan mengenai kesehatan Ibu Negara dan kematian
bayinya,” Barrie menjelaskan.
“Ya Tuhan.” Daily mendongak pada Gray. “Apa yang
membuatmu mengira.. Ya ampun, duduk dong. Kau
membuatku harus memutar leher.”
Untuk pertama kali setelah berjam-jam, Barrie rasanya
ingin tersenyum. Gray duduk di satu-satunya tempat lain
yang ada, yaitu di samping Barrie di sofa.
“Apa yang membuatmu berpikir Merritt mau berbuat
sejauh ini untuk membungkam Barrie?” Daily bertanya
padanya.
“Dia mengutus Spencer Martin untuk membereskan
aku cuma karena aku bicara dengannya”
“Jelaskan ‘membereskan’.”
“Membunuh.”
“Kukira kalian berteman.”
“Dulu. Biarpun begitu, dia datang ke Wyoming untuk
membunuhku karena takut Barrie telah menceritakan
181
padaku teorinya tentang kematian bayi itu. Itu seharusnya
menunjukkan padamu betapa kuat tekad mereka untuk
menutup kisah Barrie sebelum sampai disebarluaskan.”
Dengan dahi berkerut, Daily mengusap rambutnya
yang berantakan.
“Kau yakin tentang ini?” tanyanya skeptis.
“Dia yakin,” ujar Barrie. “Ceritakanlah, Bondurant.”
Sementara ia bercerita pada Daily mengenai keganjilankeganjilan
dalam kunjungan Spence ke Wyoming, Barrie
bertanya-tanya dalam hati bagaimana ia bisa tidak
mengenali Gray di antara para penumpang dalam
penerbangan kembali ke Washington. Ia memang tidak
terlalu memperhatikan penumpang lain, namun bukankah
Gray seharusnya menarik perhatiannya? Jelas pria itu
rupanya berusaha supaya hal itu tidak terjadi. Bakat
bunglonnya tidak menambah kepercayaan Barrie padanya.
Hal itu malah membuatnya makin tidak mempercayainya.
“Jadi, sepanjang yang diketahui orang, Spence tidakpernah
ke Wyoming,” Daily menyimpulkan.
“Dia tidak menyentuh apa pun di dalam rumahku
selain peralatan makan yang dipakainya, dan aku telah
mencucinya. Tindakannya yang tidak mau menyentuh
apa pun itu merupakan salah satu tanda peringatan bahaya
pertama yang kutangkap.”
“Di mana Martin sekarang?” tanya Daily.
Wajah Gray tanpa ekspresi. Kesunyian tidak mengenakkan
membentang di antara mereka sampai Barrie
menjawab dengan terpaksa. “Mr. Bondurant tidak
bersedia mengatakan bagaimana dia bisa kabur dari orang
itu.”
Barrie melirik sosok kaku pria yang duduk di
182
sebelahnya. Ia tidak ragu Gray bisa membunuh orang,
bahkan mantan temannya sekalipun. Matanya yang
dingin dan mulutnya yang tegas menunjukkan ia mampu
melakukannya. Jika ia membunuh Spencer Martin untuk
membela diri, itu bisa dimaafkan. Tapi bisakah ia
mempercayai omongan laki-laki itu?Daily melontarkan
pertanyaan yang sudah lama ada dalam benak Barrie.
“Bukankah mestinya sekarang Spence sudah melapor
pada Presiden?”
“Biasanya, ya. Dia bahkan minta izin keluar ruangan
dengan alasan akan menelepon Gedung Putih. Tapi dia
tak mungkin menelepon sebelum bisa memberikan
laporan lengkap pada David, termasuk tentang pernbinasaanku.
Malam ini David mungkin sedang gelisah,
bertanya-tanya kenapa dia belum mendapat kabar dari
Spence, namun dia tak bisa menyuruh orang pergi ke
Wyoming untuk mencari orang itu karena Spence
resminya tidak pernah ke sana.”
“Cepat atau lambat seseorang akan kehilangan dia dan
mulai mencari,” komentar Barrie.
“Spence tak pernah punya keluarga atau teman dekat,”
kata Gray . “David dan pemerintahannya merupakan
seluruh hidup Spence. Untuk memahami itu, kau harus
mengetahui dari mana Spence berasal. Dia dulu anak kutu
buku yang rapuh, ditakut-takuti melulu di sekolah, diejek
karena bertubuh kecil. Tapi dia jauh lebih pintar daripada
anak-anak biasa.
“Bertahun-tahun menjadi sasaran para bajingan membuatnya
bertekad menjadi bajingan paling wahid.
Dia mencapai tujuannya —dan menjadi bajingan
paling ditakuti di Washington. Semua orang tahu bahwa
183
menentang Spence sama saja dengan meludahi Ruang
Oval. Spence takkan memberitahu siapa pun ke mana dia
pergi. Dia bercerita hanya pada David.”
“Pembantu andalan Presiden pun tidak mungkin
semandiri itu,” bantah Barrie. “Departemen Kehakiman,
Jaksa Agung Yancey, FBI...” la terdiam ketika Gray
menggeleng.
“Bill Yancey orang yang baik,” katanya. “Begitu baik
hingga nyaris tidak cocok dengan pemerintah. Sejak
pengangkatannya Yancey dan David beberapa kali
berbeda pendapat. Tapi percayalah pada kata-kataku.
Jaringan agen Spencer Martin sama elite dan kejamnya
dengan pasukan SS Reich III. Mereka beroperasi seperti
tikus-tikus tanah dalam setiap badan pemerintah, termasuk
Dinas Rahasia. Orang-orang Spence selalu siaga. Jika
perintahnya bertentangan dengan perintah yang mereka
terima lewat jalur resmi, perintah Spence-lah yang
dipatuhi orang-orang itu.”
Barrie memeluk dirinya. “Kau membuatku takut.”
“Ini memang tokoh-tokoh mengerikan. Sebagian besar
dari mereka adalah pasukan terlatih khusus yang sudah
pensiun dan tidak punya medan pertempuran.”
Barrie bertanya dalam hati apakah Gray sadar ia tengah
menggambarkan dirinya sendiri?
“Kalau tugas itu benar-benar vital,” tambah Gray,
“Spence yang akan melakukannya sendiri.”
“Seperti membunuh mantan teman, misalnya.”
Gray menanggapi komentar Daily dengan tersenyum
muram. “Benar. Seperti itulah. Walaupun dia lebih sering
memberikan tugas seperti itu pada orang lain. Biasanya
pelaksanaannya ketika Spence sedang ke luar kota, jadi
184
dia punya alibi kalau pelaku sesungguhnya tertangkap
atau meninggalkan bukti yang bisa dilacak. Aku yakin dia
melakukan pengaturan seperti itu ketika meledakkan
rumah Barrie. Dia memang biasa bepergian. Akan makan
waktu cukup lama sebelum orang jadi cukup penasaran
untuk mulai bertanya-tanya.”
“Merritt akan penasaran.”
“Begitu David mendengar aku masih hidup,” katanya
menanggapi pernyataan Barrie, “dia akan tahu bahwa
Spence gagal melaksanakan tujuan kepergiannya ke
Wyoming.”
Komentar menyeramkan itu membuat mereka terdiam
selama beberapa waktu. Akhirnya, Daily menoleh pada
Gray. “Aku mengagumi apa yang kaulakukan di Timur
Tengah.”
Gray menanggapi pujian itu dengan anggukan kecil.
“Tapi?”
“Tapi maafkan aku kalau mengatakan bahwa semua
ceritamu tadi bisa saja cuma omong kosong.”
Penghinaan itu tampaknya tidak berpengaruh apaapa
padanya. “Kau memang berhak merasa curiga. Sudah
jadi rahasia umum bahwa ada ketegangan antara David
dan aku waktu aku meninggalkan Washington.”
“Karena istrinya.”
Barrie kaget setengah mati mendengar kelancangan
Daily. Ia mengatakan dan menanyakan hal-hal yang tak
berani diucapkannya.
“Vanessa merupakan salah satu sebab pertengkaran
terakhir kami, ya.”
“Kalau begitu, kenapa aku mesti mempercayai semua
yang kaukatakan pada kami?”
185
“Dengan kata lain, aku bisa saja mengarangngarang
semua ini dengan harapan akan menghancurkan posisi
kepresidenan David.”
“Pikiran itu terlintas di benakku,” Daily mengakui
dengan kelugasan khasnya.
Dengan ketenangan yapg melebihi dugaan Barrie,
Gray berkata, “Aku tidak memulai ini. Aku tidak
memburu Miss Travis dengan membawa berita menggegerkan.
Dialah yang mendatangi aku dengan serentetan
pertanyaan tentang kematian bayi itu, pertanyaanpertanyaan
yang mencerminkan kecurigaanku sendiri.”
Itu mengejutkan Barrie dan membuatnya marah.
“Kenapa kau tidak bilang padaku? Kau membuatku
percaya bahwa kau menganggap aku orang yang paling
oportunis. Ka...”
“Biarkan orang ini bicara, Barrie,” Daily berkata.
Dipandangnya Gray. “Apa yang membangkitkan kecurigaanmu?”
Bondurant bangkit dan mulai mondar-mandir ketika
bicara. “Vanessa bisa menarik dan manis. Tapi dia juga
bisa menjadi makhluk paling menjengkelkan, egois, dan
manipulatif yang pernah diciptakan Tuhan. Dia sangat
dipengaruhi oleh ayahnya dan David, namun aku pernah
melihat bagaimana dia menggunakan akal bulus mereka
supaya menguntungkannya, dan tanpa mereka menyadarinya.”
“Gambaranmu mengenai dia tidak terlalu bagus.
Wanita yang barusan kauceritakan cocok dengan kesan
awalku tentang dirinya,” Barrie mengakui.
“Intinya adalah, bahwa biarpun punya banyak masalah,
aku tahu Vanessa menginginkan anak lebih daripada dia
186
menginginkan apa pun,” katanya. “Aku tahu pasti soal itu.
Dia bersedia melakukan apa saja supaya bisa punya anak,
meski para dokter tidak menganjurkan kehamilan karena
penyakitnya.”
“Penyakit?” Daily memandang mereka dengan bingung.
“Dia menderita manic-depressive.” Barrie menjelaskan,
lalu menceritakan apa yang telah dikatakan Gray.
“Sialan,” kata Daily, terpesona.
“Sayang dia tidak memberitahu masyarakat tentang
kondisinya,” komentar Barrie . “Ribuan orang bisa
mengambil manfaat karena mengetahui hal itu. Semangat
para penderita lain akan bertambah melihat kemampuannya
menjalani hidup dengan penuh gairah biarpun mengidap
penyakit itu.”
“Sampai baru-baru ini,” ujar Gray.
“Betul,” Barrie mengiyakan.
“Seharusnya dia tidak dibiarkan sendirian malam itu.”
“Menurut laporan, pengasuh anak Gedung Putih minta
cuti malam itu karena ada urusan keluarga yang
mendesak,” Daily mengingatkan mereka.
“Permintaannya diajukan lama sebelumnya.
Pertanyaannya: Kenapa tidak ada pengasuh cadangan?”
kata Gray. “Mengapa Vanessa dibiarkan mengurus anak
itu sendirian, hanya dengan David dan Spence sebagai
pendamping jika ada keadaan gawat, padahal semua
orang yang berkepentingan tahu Vanessa sering tak
mampu menangani keadaan gawat?”
“Sebagai penderita manic-depressive, Vanessa akan
merasakan emosi yang jauh lebih buruk daripada yang
biasa dirasakan oleh wanita normal yang baru melahirkan.
Perasaan benci, tak mampu, terperangkap, dan sebagainya.”
187
Barrie menatap Gray. “Itu sebabnya kau tidak menceritakan
kecurigaanmu pada siapa pun, bukan? Kau ingin
melindungi dia.”
“Aku melindungi dia dengan sikap diamku, tapi bukan
seperti yang kaumaksud. Kau tahu, aku tidak sependapat
denganmu. Vanessa tidak menghabisi anaknya.”
“Aku bingung,” tukas Barrie kesal. “Kau setuju
bayinya meninggal bukan karena SIDS.”
“Tepat.”
“Itu tidak masuk akal,” kata Barrie pelan. “Kalau
bukan Vanessa yang menghabisinya, lalu siapa...”
Ucapannya mendadak terhenti. Ia melirik Daily, yang
sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka. Mata
mereka bertemu, berpandangan, dan Barrie melihat
bahwa pikiran yang mendadak timbul di kepala mereka
berdua sama.
Ia berbalik kembali pada Gray. “Merritt?”
la mengangguk.
“Tapi kenapa?”
“Apa yang membuat laki-laki begitu membenci bayi
berumur tiga bulan hingga tega membunuhnya?”
Barrie tak perlu berpikir untuk mengetahui jawabannya.
“Jika bayi itu bukan anaknya.”
Gray mengangguk cepat, lalu memunggunginya dan
berjalan ke jendela.
Tentu saja. Ini menjelaskan begitu banyak pertanyaan.
Kegalauan dan ketidakberdayaan Vanessa. Tidak dilakukannya
autopsi. Usaha-usaha keras untuk membungkam
berita ini. Keterlibatan Bondurant. Terutama keterlibatan
Bondurant.
Pelan-pelan tatapan Barrie bergerak ke pria itu. Ia
188
masih berdiri memunggungi ruangan, Menatap ke luar
lewat celah di gorden yang sudah kusam.
Daily berdiri. “Yah, kurasa menuduh Presiden Amerika
Serikat membunuh bayi sudah cukup menggegerkan
untuk malam ini. Setidaknya bagi orang tua seperti aku.
Aku mau tidur lagi. Kalian boleh tinggal di sini selama
yang kalian mau.”
Roda kereta yang membawa tangki oksigennya
berderit-derit. Bunyinya kedengaran ketika ia berjalan
dan memasuki kamar. Setelah ia menutup pintu, rumah
langsung sepi mencekam.
Barrie berkata dengan suara pelan, “Presiden sangat
setuju aku mewawancarai Vanessa.”
“Untuk mengelabui semua orang. Yang mana yang
lebih mencurigakan: Membicarakan sebuah isu secara
terang-terangan, atau menutupinya?”
“Kurasa kau benar.”
“Aku berani mempertaruhkan semua milikku.”
“Kau mengkhawatirkan Vanessa, bukan?”
la berbalik dan menatap Barrie, tapi tak mengatakan
apa-apa.
“Sepanjang dia tampaknya bisa menerima kenyataan,”
ujar Barrie, menyusun pikirannya sambil berbicara, “kau
melupakan kecurigaanmu mengenai kematian si bayi.
Tapi ketika kau melihat wawancaraku dengannya, kau
menyadari dia tak seperti biasanya, biarpun setelah
mempertimbangkan suasana hati dan kelakuannya yang
sering berubah-ubah. Itu menimbulkan keraguan-keraguan
lain di pikiranmu. Lalu aku datang menemuimu, dan
teoriku menegaskan apa yang selama ini kautakuti, bahwa
kematian bayi itu bukan karena SIDS. Kunjungan Spence
189
menegaskan hal itu bagimu.
“Sekarang kau percaya nyawa Vanessa dalam bahaya
juga Jika David Merritt tega membunuh seorang bayi, dia
takkan segan-segan membunuh istrinya supaya kejahatan
pertamanya tidak ketahuan.”
“Benar,” ujar Gray. “Kalau kau tidak mempercayai
omonganku yang lain, percayalah yang itu. Dia bersedia
melakukan apa saja untuk melindungi kursi kepresidenannya
dan mendapatkan masa jabatan kedua. Apa saja.”
Barrie menggosok-gosok kedua lengannya untuk
mengusir perasaan menggigil yang mendadak timbul.
“Kau kelihatan hampir pingsan,” komentar laki-laki
itu. “Besok pagi kita lanjutkan pembicaraan ini. Tidurlah.”
“Kau serius? Aku takkan bisa tidur.”
“Berbaring dan pejamkan mata. Kau akan tidur.”
Terlalu lelah untuk membantah, ia menunjuk ke
bagian belakang rumah. “Kamar tamu, kalau bisa
dikatakan begitu, terietak di ujung koridor. Di dalamnya
ada dipan, tapi aku tidak menyarankannya. Cronkite yang
terakhir tidur di situ.”
Gray memandang pintu kamar Daily yang tertutup.
“Kau percaya padanya?”
“Dengan nyawaku.”
“Kalau begitu bisa dibilang mereka tak tahu harus
mencarimu ke sini.”
‘Tidak ada yang tahu aku sering kemari.”
“Mau menjelaskannya?”
“Tidak.” Persahabatannya dengan Daily dirahasiakannya
dari siapa pun, dan ia tidak merasa tergerak untuk
memberitahu Bondurant alasannya. “Takkan ada yang
mencariku di sini. Untuk saat ini kita aman.”
190
“Baiklah,” kata Bondurant, bersungut-sungut. “Aku
akan tidur di luar sini. Kau di dipan itu.”
Barrie berjalan menyusuri koridor, kakinya nyaris tak
kuat melangkah. Ia tak ingat pernah merasa begitu lelah
secara fisik maupun mental.
Di lemari kecil di kamar kedua Daily, ia menemukan
piama yang sangat norak, menurut standar selera Daily
yang liberal sekalipun. Ia membawa piama itu ke kamar
mandi dan mengisi bathub.
Sudah hampir 24 jam ia tak tidur. Matanya perib.
Semua persendian dan ototnya nyeri. Lututnya luka. Ia
menelan dua butir aspirin yang diambilnya dari lemari
obat Daily, lalu dengan penuh rasa syukur membenarnkan
dirinya, bahkan kepalanya, di air yang panas. Sesudah
bersabun dan bersampo, ia bersandar di bathtub dan
memejamkan mata.
Setelah tubuhnya terasa lebih nyaman, luka emosionalnya
mulai terasa lebih parah. Luka hatinya perih tak
terkatakan. Mengingat betapa banyak nyawa manusia
melayang akibat bencana alam, penyakit, perang, dan
pembunuhan, rasanya terlalu berlebihan untuk berduka
atas kematian seekor arijing kampung. Biarpun begitu, ia
merasa sangat kehilangan. Meski sudah berusaha sekuat
tenaga menahan tangis, ia akhirnya menangis tersedusedu.
Butiran air menetes dari keran ke bathtub, menimbulkan
bunyi gemercik lembut yang terasa menenangkan. Air
mata mengalir di pipinya, turun ke dagu, sampai ke dada,
lalu menyusuri lekuk tubuhnya hingga menyatu dengan
air. Setiap kali merasa air matanya sudah habis, ia teringat
kenangan manis tentang Cronkite lagi dan tangisnya
191
kembali meledak. Air mata menetes dari balik kelopak
matanya yang tertutup dan akhirnya masuk ke bathtub.
Saat merasakan embusan udara sejuk di kulitnya,
barulah ia sadar ia tak lagi sendirian. Ia membuka mata.
Bondurant berdiri di ambang pintu, satu tangan di kenop
pintu, yang satu lagi di kusen, matanya terpusat pada
Barrie.
Barrie tak bergerak. Tak ada gunanya meraih sesuatu
untuk menutupi tubuhnya. Pria itu sudah melihat
segalanya la juga telah menyentuh semuanya. Secara
intim. Tubuhnya mulai bereaksi seperti di kamar Gray
pagi itu, menggelegak penuh gairah.
“Kau baik-baik saja?”
Tanpa mampu bicara, Barrie mengangguk.
“Kau menangis.”
la tak tahu harus bilang apa, jadi ia diam saja dan terus
memandanginya. Pandangan mereka cuma terputus
sekali, ketika mata laki-laki itu menelusuri tubuhnya
sebelum kembali ke wajahnya.
Dengan suara parau ia berkata, “Rocket, Tramp, dan
Doc.”
Barrie menggeleng pelan tak mengerti.
“Kuda-kudaku. Mereka punya nama.”
Laki-laki itu mundur kembali ke koridor dan menutup
pintu.
192
Bab Enam Belas
SENATOR Clete Armbruster tiba di Gedung Putih pagipagi
keesokan harinya, menuntut ingin bertemu Presiden
segera. Ia diberitahu bahwa Presiden sudah bangun
namun belum meninggalkan ruangan pribadi. Armbruster
mengatakan ia akan menunggu. Ia diantar ke Ruang Oval
dan ditawari kopi. Ia sudah hampit menghabiskan cangkir
kedua ketika David Merritt melangkah masuk, tampak
sesehat biasanya, tapi agak kesal.
“Maaf membuatmu menunggu, Clete. Ada urusari
mendesak apa? Terima kasih,” David berkata pada
sekretaris yang memberinya secangkir kopi. “Kau bisa
meninggalkan kami berdua sekarang.”
Clete bukan penyabar. Ia sudah bangun sejak pukul
04.00. la berganti pakaian dan membaca Post, mengisi
waktu sampai ia bisa menelepon Presiden di saat yang
menurutnya pantas. Penantian yang panjang itu memberinya
waktu untuk menumbuhkan amarah.
Ia tidak buang-buang waktu. “Aku mau ketemu
putriku. Hari ini.”
“Aku diberitahu kau pergi ke Highpoint kemarin.”
“Aku yakin kau juga diberitahu oleh si tolol yang
menyebut dirinya dokter itu, bahwa dia menolak
193
mengizinkan aku menjenguknya.”
“Sesuai permintaan Vanessa, Clete. Kau sudah minum
obat darah tinggi? Mukamu merah sekali.”
Ketenangan sikap menantunya mernbuat tekanan
darahnya makin tinggi. “Dengar, David, aku ingin tahu
apa yang tidak beres dengan Vanessa. Kenapa dia diisolir?
Kenapa ada perawat yang menjaganya selama 24 jam?
Kalau dia separah itu, seharusnya dia dimasukkan ke
rumah sakit.”
“Tenanglah, Clete, kalau tidak aku terpaksa membawamu
ke rumah sakit.” Merritt menuntun senator itu ke sofa,
lalu duduk di sampingnya. “Vanessa minum-minum.
Alkohol dan pengobatannya tidak sejalan. George dan
aku menanyainya soal itu, dan dia setuju untuk dirawat
karena ketergantungannya.”
“Ketergantungan? Apakah kondisinya begitu buruk
hingga diklasifikasikan seperti itu?”
“Secara klinis, aku meragukannya. Itu isti1ah Vanessa.
Tapi dia menyadari-beberapa gelas anggur sehari dapat
menimbulkan problem yang lebih serius jika dia tidak
menghentikannya sekarang.”
“Kenapa dia tidak bercerita padaku? Kenapa kau tidak
menceritakannya?”
“Aku ingin memberitahumu,” kata David. “Aku ingin
minta nasihatmu, tapi Vanessa berkeras kau jangan
diberitahu.”
“Kenapa?”
“Dia malu, Clete.” Merritt bangkit dan menuangkan
kopi lagi untuk dirinya “Dia tak ingin kau kecewa
padanya. Dia sangat memujamu.”
“Dan sebaliknya Dia selalu menceritakan masalah194
masalahnya padaku, dan aku menyelesaikannya untuknya.”
Vanessa baru berumur tiga belas tahun ketika ibunya
meninggal, namun Clete tidak panik ditinggal sendirian
untuk membesarkan putrinya Vanessa sejak dulu merupakan
anak kesayangan Daddy. Clete menyayanginya
sejak ia lahir dan lebih mempengaruhi masa kanakkanaknya
daripada istrinya.
Mungkin ia agak terlalu memanjakannya tapi ia
membenarkan sikapnya. Ada orang yang sejak lahir
memang sewajarnya dimanjakan, dan Vanessa termasuk
salah satunya. Pada awal kedewasaannya ketika gangguan
mentalnya ketahuan, Clete memandangnya sebagai satu
lagi alasan untuk memanjakan dan melindunginya.
“Mungkin dia merasa sudah waktunya untuk mulai
menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar David. “Atau
mungkin dia tak mau membuatmu khawatir. Apa pun itu,
pokoknya dia memohon padaku supaya tidak memberitahumu
lebih daripada yang diberitahukan pada masyarakat,
yang tentu saja adalah yang sebenarnya. Dia sedang
berusaha mengatasi masalahnya”
“Sampai kapan?”
“Sampai George bisa menstabilkannya. Vanessa sependapat.
Dia ingin menjadi Ibu Negara seperti waktu belum
punya anak. Begitu pengobatannya selesai, tak ada alasan
dia tidak dapat memperoleh keinginannya itu. Tunggu
sebentar,” David berkata, menunda komentar Clete
selanjutnya.
Merritt mengambil remote TV layar lebar yang sejak
tadi suaranya dimatikan. Selama percakapan mereka,
Clete menyadari perhatian David terbagi antara dirinya
dan layar TV. Ia menoleh untuk melihat apa yang telah
195
menarik perhatian sang Presiden.
Seorang reporter, berdiri di depan pepohonan hangus,
reruntuhan yang mengepulkan asap, dan petugas pemadam
kebakaran yang tengah bekerja, mengatakan, “Reaksi
cepat para petugas pemadam kebakaran mencegah api
menyebar ke rumah-rumah lain di jalan dekat Dupont
Circle ini. Api berhasil dibatasi hanya pada satu rumah.”
Kamera menyoroti sisa-sisa bangunan yang menghitam
dan berasap. “Pagi ini, para agen ATF dari Biro Alkohol,
Tembakau, dan Senjata Api, serta petugas kebakaran
setempat memeriksa puing-puing yang masih membara,
mencari petunjuk tentang penyebab ledakan.”
la membaca catatan. “Townhouse itu milik Barrie
Travis, reporter WVUE, sebuah stasiun TV lokal yang
independen. Ms. Travis baru-baru ini memperoleh pujian
karena memproduksi serial SIDS. Diyakini Ms. Travis
lolos dari ledakan, namun sejauh ini dia tak berhasil
ditemukan untuk dimintai komentar.”
Setelah itu pembaca berita di studio muncul. David
mematikan suara TV ketika ayah mertuanya bangun.
“Aku berniat terus mengejarnya sampai dia menemuiku.”
“Barrie Travis?” tanya David tajam.
“Buat apa aku ingin menemui wartawan itu? Kasihan
dia karena rumahnya lenyap, tapi dia itu memang
menyebalkan. Selalu merecoki kantorku untuk minta
pernyataan mengenai pengasingan Vanessa.” la mengibaskan
tangan, menunjukkan keinginannya untuk
menyingkirkan wanita itu.
“Aku ingin bertemu Vanessa” tegas Clete. “Dia harus
tahu aku tidak akan memarahinya hanya karena beberapa
gelas anggur. Bukan salahnya kalau dia sakit.”
196
“Persis dengan pendapatku, Clete . Aku memohon
padanya supaya tidak menyalahkan dirinya sendiri karena
masalah ini, tapi kau tahu sendiri bagaimana perfeksionisnya
Vanessa. Dia benci pada keterbatasan yang
ditimbulkan manic-depression terhadap dirinya.”
Merritt menepuk bahunya dan mengajaknya ke pintu.
“Aku berharap kita dapat bercakap-cakap lebih lama, tapi
pagi ini aku punya banyak sekali acara. Aku akan bicara
lewat telepon dengan Vanessa nanti siang. Akan
kusampaikan salammu.”
“Jangan lupa.”
Senator membiarkan punggungnya ditepuk dan dirinya
dituntun seperti anak kecil ke pintu. Tapi jika David
Merritt, Presiden Amerika Serikat, mengira ia dapat
menenteramkan hatinya dengan beberapa komentar
dangkal dan kemudian mendorongnya keluar dari Ruang
Oval dengan ucapan fasih dan senyum polosnya, ia salah.
David Merritt yang tersenyum membukakan pintu.
Clete Anubruster yang tak tersenyam menutupnya.
Merritt memandangnya, bingung. “Ada apa, Clete?”
“Kau dan aku sudah lama saling kenal, David. Aku
mengenali bakat dan potensi ketika melihatnya dan aku
melihat kau memiliki keduanya banyak sekali. Aku tak
ingin menjadi presiden, aku ingin menciptakannya. Kau
punya bahan mentah yang dibutuhkan. Kau mudah
dididik. Kau memahami politik dengan cepat. Instingku
tentang dirimu benar, dan aku sangat bangga padamu.”
“Terima kasih.”
“Tapi aku ingat suatu malam delapan belas tahun yang
lalu waktu kau datang padaku, ketakutan setengah mati
dan merengek-rengek seperti anjing karena situasimu
197
sangat kacau. Kau ingat malam itu, Nak?”
“Apa maksudmu?” tanya Merriu sengit.
“Maksudku,” kata Armbruster, sambil mendekat,
“insiden yang kukatakan tadi memiliki cukup banyak
kemiripan dengan yang ini hingga aku merasa amat tidak
enak.”
“Ya Tuhan, Clete, kau tidak boleh membandingkan...”
Senator menghentikan permohonan sungguh-sungguh
itu dengan memukulkan tinjunya ke dada Merritt. “Aku
tahu pernikahanmu dengan putriku tidak sempurna.
Pernikahan memang tidak ada yang sempurna. Aku tahu
kau main api. Sialan, aku bahkan menutupi perbuatanmu,
karena aku menerima kenyataan bahwa pertama kau
adalah laki-laki dan kedua kau menantuku. Aku mentolerir
sikapmu, karena pada dasarnya, kau membuat Vanessa
bahagia.” Ia memelankan suaranya menjadi geraman.
“Tapi kalau kau sampai membuatnya tidak bahagia, aku
akan marah, David. Kau dengar, Nak?”
“Hati-hati, Clete. Kedengarannya kau mengancam
Presiden Amerika Serikat.”
“Memang betul,” Arrnbruster marah. “Kau sebaiknya
ingat siapa yang menempatkanmu di kantor ini. Aku yang
menciptakanmu, aku bisa menghancurkanmu. Aku tidak
takut pada si bajingan kecil Spence Martin itu maupun
pasukan bandit rahasianya atau siapa pun. Aku punya
kekuasaan yang tak bisa kaubayangkan di kota ini. Aku
memiliki teman dan musuh yang sama banyaknya, dan
aku tahu kelemahan mereka masing-masing.”
Ia berhenti sebentar supaya setiap katanya tadi
meresap. “Nah, Nak, aku ingin kau mengatakan padaku
bahwa Vanessa akan sembuh total setelah Dr. Allan selesai
198
mengobatinya di Highpoint.”
“Aku bersumpah.”
Senator memandangnya dingin lama sekali. “Sebaiknya
kau tidak membohongi aku, David. Atau kau boleh
mengucapkan selamat tinggal pada kursi kepresidenanmu.”
Merritt mengantarkan ayah mertuanya keluar, lalu
tanpa buang-buang waktu menyalakan komputer dan
mengetikkan kode sekuriti yang mengakses laptop
Spence.
Nihil. Nihil! Komputer Spence tidak menjawab.
Komputer itu telah diprogram dengan beberapa backup
antigagal. Tidak mungkin mati total, kecuali laptop itu
telah dihancurkan. Jika itu yang terjadi, komunikasi
pribadi mereka akan ikut hancur, sebab kemungkinan itu
telah dimasukkan ke dalam program.
Tapi yang menjadi beban pikiran Merrin bukan sistem
komputer itu. Kegagalannya mengakses itulah yang
membuatnya resah. Itu merupakan pertanda ada yang
sangat tidak beres. Spence takkan membiarkan jalur
komunikasi mereka terhalang, kecuali dirinya terhalang
juga. Dan satu-satunya yang memungkinkan hal itu
terjadi adalah kalau Gray...
“Gray.”
Merritt mengucapkan nama itu seperti mengejek.
Santo Gray, satu-satunya kesalahan yang diakui Presiden.
Ia mengajak pria itu karena salah mengira sikap hatihatinya
sebagai sikap tanpa ampun. Siapa kira orang yang
dilatih untuk membunuh secara kilat dengan tangan
kosong ternyata penuh norma? Gray dan kode etiknya
seperti mur karatan di roda yang diminyaki dengan baik.
Namun, Gray Bondurant bukannya tanpa cacat. Ia
199
mencintai istri orang lain. Istrinya.
Kemungkinan bahwa Gray yang menyebabkan Spence
tidak melapor membuat Merritt takut dan jengkel.
Dengan marah ia mengetikkan kode yang mengakses
sebuah terminal di kantor tak mencolok di seberang kota.
Setelah mendapat izin, ia mengetikkan sepatah kata:
Bondurant.
Orang di ujung sana, salah satu serdadu rahasia paling
andal yang dimiliki Spence, akan tahu apa yang harus
dilakukan. Ia akan segera pergi untuk mengecek situasi di
Wyoming. Tak ada lagi yang dapat dilakukan Merritt
selain menunggu laporannya.
Tidak, sebetulnya ia bisa berbuat lebih dari itu. Ia
meminta sekretarisnya menghubungi kantor direktur Biro
Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api.
Setelah berbasa-basi, Merritt bertanya, “Apa yang
berhasil diketahui orang-orangmu tentang ledakan di
Dupont Circle?”
la tahu direktur itu bingung karena ia menaruh minat
pada hal itu, namun pria itu langsung menjawab. “Kami
baru saja memulai penyelidikan kami, Mr. President. Saat
ini, penyebabnya belum ketahuan.”
“Barrie Travis adalah teman dekat Mrs. Merritt.
Ledakan ini membuat istriku kacau, dan terus terang, Ibu
Negara tidak memerlukan lebih banyak stres. Aku
berjanji padanya akan menelepon dan menanyaimu. Aku
tidak suka merepotkanmu, tapi tahu sendirilah.”
Tidak lagi seheran tadi, direktur itu berkata, “Tentu
saja, Mr. President, saya mengerti. Tolong sampaikan
pada Mrs. Merritt bahwa kami menomorsatukan masalah
ini.”
200
“Dan kau akan mengungkapkannya secepat mungkin?”
“Akan saya jadikan prioritas, Mr. President.”
“Mrs. Merritt dan aku akan sangat berterima kasih.
Oya, ada yang sudah bicara dengan Miss Travis pagi ini?
Bagaimana keadaannya?”
“Maaf Sir, saya tidak tahu. Tidak ada yang pernah
bertemu dengannya sejak ledakan itu. Para saksi yang
melihatnya segera setelah ledakan mengatakan dia sangat
kacau. Anjingnya tewas dalam ledakan itu.”
“Hmm. Mengerikan. Yah, terus kabari aku.”
“Tentu, Mr. President.”
Merritt menutup telepon, namun pikirannya tetap
resah. Spence pasti telah memastikan agar ledakan itu
takkan bisa dilacak sampai Gedung Putih. Biarpun
begitu, akan lebih baik kalau penyelidikannya dilakukan
asal-asalan.
Pagi ini memang tidak menyenangkan.
Merritt tidak mengkhawatirkan ancaman ayah mertuanya.
Senator itu tidak semengerikan yang dikiranya.
Sebagian besar teman dan musuh yang digembargemborkannya
tadi sudah pensiun, meninggal, atau
terlalu pikun untuk menghancurkan presiden yang sedang
naik daun.
Lagi pula, senator itu takkan bisa menjelek-jelekkan
Presiden tanpa membuka aibnya sendiri. Clete sama
busuknya dengan dia. Biarpun ribut mengancam, ia
takkan mengungkit-ungkit masa lalunya.
Tapi orang tua itu akan terus merecokinya soal Vanessa
sampai ia yakin anaknya baik-baik saja. Ia harus
melakukan sesuatu untuk meredakan keresahannya. Nanti
ia akan bertanya pada Spence...
201
Ia mengumpat keras. Ada beberapa masalah yang perlu
ditanyakannya pada Spence. Di mana orang itu?
Meskipun jauh di lubuk hati ia tahu, David tak sanggup
membuat dirinya menerima fakta yang sudah jelas itu.
202
Bab Tujuh Belas
“AKU memang tak pernah menyukai orang itu, tapi tetap
saja sulit rasanya untuk percaya dia tega berbuat begitu.”
“Dia tega melakukannya. Dengan mudah.”
“Siapa yang tega berbuat apa?” tanya Barrie, masuk ke
dapur Daily, tempat pria itu dan Gray sedang minum
kopi. Barrie menuang secangkir untuk dirinya sendiri dan
bergabung dengan mereka di meja. Ia tak mau menatap
mata Bondurant. Seperti yang diramalkan laki-laki itu, ia
tidur pulas.
Setelah saling mengucapkan selamat pagi, Daily
menjawab, “Gray sedang meyakinkan aku bahwa presiden
kita tega melakukan pembunuhan.”
“Aku tak punya bukti tentang apa yang akan kukatakan
pada kalian,” Gray berkata. “Kalian mungkin menganggap
aku berkhayal, atau paranoid, atau pembohong besar.”
“Atau kami mungkin percaya padamu,” kata Barrie.
Gray menoleh, dan untuk pertama kali pagi itu, mata
mereka bertemu. Perut Barrie langsung mulas. Cepatcepat
ia mengalihkan perhatiannya kembali pada kopinya.
“Well, mari kita dengarkan,” ujar Daily.
“David menugaskan aku untuk mengorganisir dan
memimpin para tentara yang menyelamatkan sandera203
sandera itu. Ada alasannya.”
“Kau sangat memenuhi syarat?”
“Banyak orang lain juga begitu. Tapi dia mengirimku
ke sana supaya aku mati.”
“Karena gosip yang menghubungkan kau dengan
Vanessa?” tanya Barrie.
“Ya.”
la terdiam selama beberapa saat, seolah mengumpulkan
ingatan. “Aku memilih 30 orang. Tentara-tentara terbaik
yang ada di Marinir. Orang-orang muda ini mampu
mengendap-endap mendatangimu dan mencabut sehelai
bulu matamu tanpa ketahuan.
“Kami diterbangkan ke sana dengan helikopter dari
kapal pengangkut di Teluk Persia. Satu skuadron F-16
mengalihkan perhatian supaya kami bisa mendarat tanpa
ketahuan. Kami berjalan tiga mil sampai ke kota. Aku
tidak bisa menggambarkan betapa busuk bau kota itu. Di
mana-mana kotoran. Seluruh anggaran nasional negara
itu dipakai untuk perang; tak sepeser pun untuk sanitasi
dan kualitas hidup.
“Tempat itu penuh gedung kuno dan jalan buntu,
namun pihak intel telah memberitahu kami lokasi
penjaranya, dan kami tahu bagaimana akan memasukinya.
Kami memiliki cetak biru gedung itu dan deskripsi
mendetail penjagaan keamanannya dari seorang mantan
tawanan. Sekuritinya tidak canggih ataupun teratur rapi,
tapi para penjaganya anggota militer dan bersenjata
lengkap. Kami juga tahu lokasi sel-sel tempat para
sandera disekap. Tak perlu kukatakan bahwa kami telah
melatih dan memperhitungkan setiap tindakan.
“Semua berjalan sesuai rencana. Kami membereskan
204
para penjaga tanpa mereka sempat tahu apa yang
menyerang mereka. Ketika kami menemukan para
sandera, aku khawatir mereka akan membuyarkan
semuanya, tapi mereka ternyata amat tenang dan
mematuhi bahasa isyarat kami tanpa banyak cincong.
Beberapa di antara mereka menderita luka yang tidak
diobati. Semua lemah karena sakit dan kekurangan
makan, namun mereka bisa berjalan. Kami sudah
setengah perjalanan pulang.
“Dan pada saat kami pulang itulah semuanya mulai
berantakan. Beberapa penjaga telah menyeret seorang
tawanan laki-laki yang masih muda ke sel kosong dan
secara bergantian ‘mengerjainya’. Karena mereka mestinya
tak ada di sana, dan bagian penjara yang itu seharusnya
tertutup, kami langsung masuk perangkap. Suasana
hiruk-pikuk. Terdengar tembakan senjata dari kedua
belah pihak. Peluru pertamaku menembus anak laki-laki
itu.”
la terdiam. Barrie dan Daily tak berkedip sedikit pun.
“Dia. uh... dia tak mungkin lebih dari sembilan atau
sepuluh tahun.” Gray memejamkan mata dan memijat
rongga matanya dengan ibu jari dan jari tengah. “Di
bagian belakang kakinya mengalir darah segar. Lantai
licin oleh darah itu. Aku yakin isi perutnya sudah
berantakan. Bangsat-bangsat itu telah... Yah, dia menjeritjerit.
Karena kehilangan darah sebanyak itu, dia takkan
bertahan hidup. Dia kesakitan. Jadi kutembak dia.”
Dari balik air mata yang membasabi matanya, Barrie
melihatnya mengambil cangkir kopi, namun tidak
meminum isinya. Ia hanya memeganginya dengan kedua
tangannya yang kokoh.
205
“Kami menghujani bajingan-bajingan terkutuk itu
dengan peluru, tapi tentu saja kami gagal. Kami masih
barus melalui... Ya Tuhan, entah berapa koridor lagi. Para
sandera sudah tidak tenang. dan ketakutan.
“Tapi kami bertekad tidak mau mati di sarang ular itu.
Entah bagaimana kami berhasil keluar dari situ, namun
saat itu pihak militer telah diberitahu. Kami dikepung
pasukan cinta senjata yang membenci Amerika. Begajulbegajul
sinting itu menembaki apa saja yang bergerak—
bahkan teman-teman mereka sendiri karena mereka haus
darah kami.
“Kami menamukan tempat perlindungan sementara.
Aku menghubungi regu pendukung udara lewat radio,
untuk mengecek apakah mereka bisa membantu kami
keluar. Mereka melakukan tugas mereka, tapi helikopterhelikopter
itu tak bisa lebih dekat daripada tempat yang
telah direncanakan. Kalau sampai mereka tertembak,
kami semua akan mati.
“Salah satu anggota pasukanku mengintip dan
menemukan gang yang kelihatannya aman. Kami berlari
ke sana, meskipun tidak tahu ke mana gang itu berujung.
Saat itu, kami cuma ingin pergi dari penjara.
“Tapi begitu sampai di gang, kami mulai ditembaki
oleh para sniper yang mengambil tempat di atap. Orangorangku
membereskan para penembak itu satu demi satu,
tapi selama sekitar lima menit kami terperangkap nyaris
tanpa tempat berlindung. Saat itulah peristiwa itu terjadi.”
la mengangkat kepala, lalu menatap Barrie dan Daily
sebelum melanjutkan, “Kami melihat tembakan sniper itu
datang dari jendela terbuka gedung yang tampak seperti
gedung apartemen. Seseorang mengusulkan-menembak206
kan misil ke situ, tapi David mendesakku untuk
menghindari korban warga sipil jika memungkinkan. Dia
ingin ini jadi misi penyelamatan, bukan aksi agresif yang
bakal menimbulkan ketegangan di masyarakat dunia.
“Kami terjebak, satu-satunya pilihan kami adalah
memancing tembakan si sniper dan membiarkan salah
satu penembak kami menghabisinya. Aku mengajukan
diri sebagai umpan. Kubuat diriku menjadi sasaran
terbuka. Orang-orangku menyikatnya. Tapi dalam tembakmenembak
itu, salah seorang anggota pasukanku
mengarahkan senjatanya padaku.
“Namanya Ray Garrett. Dia pria bertubuh besar dan
tegap dari Alabama. Aku tumbuh di Louisiana, jadi kami
sering bercanda tentang asal-usul kami yang dari Selatan.
Aku memilih dia merancang strategi bersamanya,
berlatih dengannya Tapi dia malah ingin membunuhku.
Dan pasti akan berhasil, kalau saja kami tidak melakukan
kontak mata.
“Dia pasti merasakan keraguan sedetik lamanya, dan
itu menyelamatkan nyawaku. Dia ragu-ragu sedetik
terlalu lama untuk menembak. Saat itulah penembak
musuh menamatkan riwayatnya.”
Beberapa saat Gray menatap kosong, lalu menarik
napas dalam-dalam. “Kisah selebihnya, kurang-lebih
kalian sudah tahu. Setelah enam jam yang menyiksa,
kami berhasil mencapai helikopter. Kami bahkan membawa
mayat Garrett, dan dia dimakamkan sebagai pahlawan.”
“Mungkin kau salah,” Barrie mencoba-coba dengan
suara pelan. “Dalam situasi kacau...”
“Tak mungkin aku salah membaca niatnya. Dia cuma
tiga meter dariku. Tak ada yang melihat kecuali aku.”
207
“Ingat kesalahan Presiden?” tanya Daily . “Ketika
diumumkan misi itu menelan satu korban di pihak
Amerika, Merritt membuat pidato seolah kau yang
meninggal.”
“Aku lupa soal itu,” potong Barrie. “Kesalahan bicara
itu terlupakan oleh kehebohan yang ditimbulkan oleh
kepulangan kalian yang penuh kemenangan. Tapi aku
ingat betapa memalukan kejadian itu bagi Dalton Neely.
Dia mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan
kesuksesan misi dan kembalinya para sandera dengan
selamat. Lalu dia membacakan pernyataan singkat dari
Presiden, yang memujimu karena telah mengorbankan
nyawa bagi negaramu. Dia berkata tak ada tentara dan
patriot yang lebih hebat daripada Gray Bondurant, tak
ada sahabat sebaik kau. Para hadirin mencucurkan air
mata.”
“Waktu David mendengar ada korban jatuh, dia
menduga pembunuhnya berhasil melenyapkan aku. Dia
membuat pernyataan itu sebelum mengecek fakta-fakta.”
“Bagaimana mereka tahu anak muda itu bisa disogok?”
tanya Daily.
“Aku tak percaya dia seperti itu,” kata Gray,
mengejutkan mereka berdua. “Garrett tak mungkin
disuap dengan materi. Aku yakin Spence, bertindak
sebagai juru bicara Presiden, mendekatinya dan mengatakan
padanya bahwa aku pengkhianat, mata-mata,
ancaman untuk demokrasi, yang seperti itulah.
“Garrett anggota Marinir yang sangat andal, namun
dia bukan anak ajaib. Ketika dia menodongkan senjata itu
padaku, dia pasti sedang melaksanakan perintah yang
datang langsung dari Panglima Tertinggi. Jika kurang
208
dari itu, dia takkan mau mengkhianatiku, biarpun maut
ancamannya. Aku tidak menyalahkan dia. Dia cuma pion
bagi David dan Spence. Mereka juga membunuhnya,
sama seperti sniper musuh itu.”
“Apakah kau mengkonfrontasi Merritt mengenai hal
ini?” tanya Barrie.
“Tuhan tahu betapa ingin aku melakukannya namun
tak bisa tanpa mengungkapkan diriku dan membuatku
makin tak berdaya.”
“Tapi kau toh pergi juga.”
“Aku mengundurkan diri bukan karena takut,” Gray
menjawab dengan ketus.
Daily, yang tadi berkomentar, mengangkat tangan
sebagai tanda menyerah. “Jangan tersinggung. Aku tak
bermaksud apa-apa.”
“Aku mundur dari jabatanku di Gedung Putih karena
tidak ingin melayani David Merritt.”
“Tapi kau tetap merupakan gangguan baginya Tibatiba
Wyoming rasanya terlalu dekat dengan Gedung
Putih.”
Gray mengangguk. “David tahu aku menentang
kehendaknya. Pertama soal Garrett, kedua soal bayi
Vanessa. Aku merupakan masalah yang tak pernah
terselesaikan, jadi dia mengutus Spence agar membereskan
aku untuk selamanya.”
“Gara-gara aku,” kata Barrie sendu.
“Pasti akan terjadi juga, cepat atau lambat. Sudah lama
aku menunggu. David tak berani melenyapkan aku waktu
aku masih menjadi sorotan publik dan dipandang sebagai
pahlawan nasional. Jadi dia purapura menyukai dan
menikmati pujian-pujian yang kudapatkan.
209
“Begitu perhatian publik mereda, dia mengira bisa
lebih mudah menyingkirkan aku tanpa menarik perhatian.
Dengan atau tanpa kau, Barrie, itu cuma masalah waktu.”
“Karena sekarang sudah tahu masalahnya, bagaimana
cara kita menyelesaikannya?” tanya Daily . “Umurku
takkan lama lagi, tapi aku tak mau menghabiskan harihari
terakhirku di penjara federal gara-gara mengancam
akan menghancurkan Presiden.”
“Begitu fakta sebenarnya tentang kematian bayi itu
tersebar luas, pemerintahan ini akan mati secara alami,”
Gray menenangkannya.
“Aku sependapat,” ujar Barrie. “Masalah itu tak perlu
dipikirkan. Aku sangat memprihatinkan Vanessa. Saat ini,
dia ancaman terbesar bagi Merritt.”
“Aku sama sekali tak percaya omong kosong ‘istirahat’
ini. David mengucilkannya di suatu tempat.”
“Untuk tujuan apa, Gray?” tanya Daily.
“Untuk mengintimidasinya supaya tutup mulut
mengenai sebab bayinya meninggal: Aku tahu cara
berpikirnya. Baginya, Vanessa mendapat ganjaran yang
sudah sepantasnya. Dia akan mencoba meyakinkan
wanita itu bahwa dia sendirilah yang telah menimbulkan
bencana itu dengan mengkhianatinya. Tergantung metode
persuasi apa yang digunakannya, Vanessa mungkin akan
bertahan, mungkin juga tidak.”
“‘Metode persuasi’?”
“Memikirkannya saja aku tak tega.”
“Bagaimana dengan Armbruster? Apakah dia sudah
pasrah dan pura-pura tidak tahu?”
“Aku sendiri pun ingin tahu, Daily. Tapi sampai tahu
lebih banyak, aku lebih suka tidak melibatkannya dan
210
bekerja sendiri.”
“Apa yang akan kaulakukan?” tanya Barrie.
“Aku punya beberapa ide.”
Daily berkata, “Kau boleh menggunakan rumah ini
sebagai basis operasimu.”
“Terima kasih, tapi aku tak ingin menyeretmu dalam
bahaya juga.”
Daily tertawa. “Apa ruginya buatku? Lagi pula, ini
tempat aman. Takkan ada yang mencarimu di sini.”
“Dia juga bilang begitu tadi malam,” kata Gray,
mengangguk ke arah Barrie.
“Dia tak mau menyebarluaskan persahabatan kami,”
Daily menjelaskan.
“Kenapa?”
“Itu masalah pribadi antara Daily dan aku,” Barrie
membentak.
Daily berkata, “Tapi kau boleh percaya kata-kataku,
Gray. Ini tempat paling aman buatmu.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Gray bertanya
pada Barrie.
“Dia memang sudah punya masalah dengan kantornya,”
Daily menjawab untuk Barrie. “FBI mendatangi kantornya
dan bertanya-tanya soal dia.”
Gray mengerutkan kening. “Bukan FBI biasa— orangorang
Spence, aku yakin. Dia ingin menjaga segala
kemungkinan. Barrie, berapa orang di stasiun TV-mu
yang tahu soal berita ini?”
“Aku tidak membicarakannya dengan siapa pun.”
“Teman.”
“Tidak ada kecuali Daily.”
“Pacar?”
211
Merasa ada ejekan di balik pertanyaannya, Barrie
membantah dengan sengit.
“Bagus,” kata Gray. “Makin sedikit orang yang tahu
mengenai hal ini, makin bagus.”
Daily berkata, “Setelah tadi malam, kurasa dia
sebaiknya menahan diri, paling tidak sampai kita tahu apa
yang terjadi dengan Mrs. Merritt.”
“Tepat.” Gray berpaling pada Barrie. “Tinggallah di
sini bersama Daily dan jangan keluar-keluar. Biarkan aku
membereskan masalah ini. Tapi aku berjanji, kau akan
jadi orang pertama yang tahu beritanya.”
“Oya? Wah, terima kasih banyak.” Barrie memandang
mereka berdoa dengan marah. “Kalian membicarakan
aku seolah aku tidak ada di sini. Kalian bahkan
menyusunkan rencana untukku. Yah, terima kasih, tapi
tidak usah. Beginilah seharusnya.”
“Maaf, Nona, area ini tertutup.”
“Itu rumahku. Aku tinggah di sana. Aku Barrie
Travis.”
Persis seperti perkiraannya, kata-kata ito bagai tongkat
sihir. Dalam beberapa detik, ia dikerumuni reporter yang
sejak tadi luntang-lantung dengan juru kamera mereka,
menunggu pernyataan dari seseorang, siapa saja, petugas
resmi.
Wawancara dengan para tetangga dan saksi mata
benar-benar melelahkan, namun cerita mereka sama saja.
Semua sudut telah diliput. Tak ada hal baru untuk
dilaporkan. Saat ini pihak berwenang enggan berspekulasi
mengenai penyebab ledakan. Agen-agen penyelidik ATF
menutup mulut rapat-rapat. Tak ada yang mau bicara.
Sekarang, tiba-tiba, muncul Barrie Travis yang selama
212
ini entah di mana. Aneka mikrofon dan kamera video
diarahkan padanya. “Seperti yang bisa kalian lihat,
rumahku hancor total. Tinggal ini yang kumiliki,” ia
berkata, seraya membentangkan lengan. “Tapi kehilangan
yang paling besar adalah anjingko. Cronkite, yang mati
akibat ledakan itu.”
“Di mana Anda sejak ledakan itu terjadi?”
“Kenapa sebelum ini Anda tidak muncul?”
“Anda tahu penyebabnya?”
Barrie mengangkat tangan untuk menghentikan hujan
pertanyaan itu. “Mengenai penyebabnya, saya serahkan
pada pihak berwenang untuk menjawabnya.
“Apakah menurut Anda itu kecelakaan?”
Barrie memandang reporter itu dengan tajam, seolah
pertanyaannya absurd. “Tentu saja itu kecelakaan. Apa
lagi, coba? Kalau penyelidikan sudah selesai, aku yakin
pasti ada penjelasan logis.”
Gray sudah mengatakan Spence pasti akan memastikan
hal itu.
“Sekarang, kumohon, permisi...”
Mereka membuntutinya ke mobilnya, yang masih
terparkir di tempat yang sama dengan ketika ledakan
terjadi. Beberapa reporter yang ngotot bahkan mengikutinya
ke WVUE, tapi ia menghindari mereka di tempat
parkir, tak mau berkomentar lebih lanjut. Polisi swasta di
pintu menghalangi mereka mengikutinya ke dalam.
Sejam yang lalu ia telah menolak saran Gray dan Daily
untuk bersembunyi. “Aku tak suka bergerak di bawah
tanah,” tukasnya sengit. “Pertama, karena kupikir itu tak
ada gunanya. Jika sistem intelijen Spence sehebat yang
kaukatakan, mereka akan tetap menemukanku.
213
“Kedua, pekerjaanku adalah melaporkan berita.
Ironisnya, sekarang akulah yang membuat berita. Aku
pasti sudah sinting kalau tidak memanfaatkan ketenaranku
saat ini semaksimal mungkin.
“Ketiga, semakin sering aku tampil di muka umum,
semakin kurang kemungkinan terjadi lagi ‘kecelakaan’
fatal padaku. Seperti yang kaukatakan tadi tentang
dirimu, Gray, Merritt takkan bertindak selama aku
menjadi sorotan publik.”
“Hebat sekali, Bondurant,” tukas Daily masam.
“Merritt bukan orang tolol,” lanjut Barrie. “Dia tak
bisa mencoba menghabisi nyawaku untuk kedua kalinya
tanpa tampak sangat mencurigakan bahkan bagi orang
yang paling naif sekalipun. Tidak, Tuan-tuan,” Barrie
berkata, “selama aku kelihatan, aku akan aman.”
Sekarang berita bahwa ia berada dalam gedung
menyebar bagai lidah api liar. Howie tiba di bilik Barrie
lebih cepat daripada biasanya dan mengusir semua orang.
Kalimat pembukanya adalah, “Ya ampun, Barrie, kami
kira kau sudah jadi arang.”
“Maaf telah mengecewakanmu.”
“Aku cuma mencoba ramah.”
Mungkin benar, karena ia kelihatan betul-betul kecewa
dengan reaksi Barrie. “Kau mau berita eksklusif untuk
warta berita malam ini?” ia bertanya. “Wawancara
denganku, apa adanya.” la harus mengenakan pakaian
yang sama dengan yang dipakainya semalam. “Tampak
memelas dan payah. Aku mungkin bahkan bisa memeras
setetes-dua tetes air mata untuk close up.”
Mata Howie berbinar-binar. “Hebat!”
“Besok aku akan membuat berita lanjutan, tentang
214
pengalaman nyaris tewas, berhadapan dengan kefanaan
seorang manusia—yang seperti itulah. Aku akan berusaha
memperoleh rekaman suara dari pendeta dan psikolog
yang biasa menangani korban-korban trauma. Mungkin
akhir minggu ini para penyelidik sudah menentukan
penyebab ledakan.”
“Secepat itu?”
“Aku ragu penyelidikannya akan lama” Barrie berkata
dengan nada masam yang tidak ditangkap Howie.
“Bagaimanapun, sesudah mengetahui keputusan mereka,
aku akan membuat liputan tentang bagaimana mereka
menghubungkan bukti-bukti untuk merekonstruksi kejadian
dan menemukan penyebabnya.”
“Wow, menggairahkan. Aku cuma ingin memujimu,
tidak ada niat melecehkan secara seksual.” Setelah
menoleh ke belakang dengan hati-hati, Howie berbisik,
“Ada kemungkinan ledakannya disengaja? Ada yang
mengetahui berita eksklusif yang tengah kaugarap?
Bisakah beritamu dan ledakan itu dihubungkan?”
“Kau terlalu banyak menonton film-film Sylvester
Stallone, Howie. Tak mungkin ada hubungan. Berita
besarku itu?” Barrie berkata sambil tertawa mengejek.
“Tak ada apa-apanya dibandingkan rumahku yang
meledak persis di depan batang hidungku. Jadi kau dan
Jenkins bisa rileks. Aku sudah berhadapan langsung
dengan kematian. Percayalah, hal itu membuat pandanganmu
tentang hidup langsung berubah secepat ini!” Ia
menjentikkan jari-jarinya. “Mulai sekarang, kau akan
melihat Barrie Travis yang baru.”
Gray pernah bilang ia tidak pandai berbohong. Barrie
berharap laki-laki itu salah.
215
“Yah, aku sangat senang mendengarnya,” kata Howie,
sambil membusungkan dada. “Aku sudah tahu kalau kau
kupertahankan, kau akan bagus juga akhirnya.”
Di balik senyum manisnya, Barrie mengertakkan gigi.
216
Bab Delapan Belas
PRESIDEN menyalurkan rasa frustrasinya di ruang
olahraga pribadinya di Gedung Putih. Diperlakukannya
Stairmaster dan alat-alat olahraga lainnya sebagai musuhmusuh
yang harus ditaklukkan. Keringat menetes dari
hidung, telinga, dagu, dan ujung jemarinya. Otot-otot
kencang bertonjolan ketika ia menggerakkannya sampai
maksimal.
Orang yang diutusnya untuk mengecek situasi di
Wyoming telah menghubunginya tadi pagi lewat komputer.
Laporannya tak sesuai dengan keinginan Merritt. Tampaknya
Spence tak pernah mendatangi tempat Bondurant.
Ketika ditanya apa yang dikatakan Bondurant tentang hal
itu, si utusan menjatuhkan bom kedua—jejak Bondurant
juga lenyap sama sekali.
Meski sudah mendapat laporan seperti itu, Merritt
yakin Spence pernah ke sana. Ia cuma menutupi jejaknya
dengan hati-hati. Ia juga yakin Gray tak mungkin
menghilang tanpa alasan kuat. Dari situ ia menduga Gray
telah membungkam Spence sebelum Spence punya
kesempatan membungkamnya.
Jika dugaan itu benar, berarti Gray sudah mengetahui
rencana mereka. Pikiran itu begitu dahsyat, begitu
217
mengerikan, hingga Merritt langsung menyepi di ruang
olahraga. Ia butuh waktu sendirian untuk berpikir, untuk
menyusun rencana.
Gray takkan takut menentang kepresidenan. Hambatan
yang akan membuat takut dan gentar orang lain yang
menentang Gedung Putih takkan meresahkannya. Ia juga
takkan pernah menyerah dan pergi. Kalau Gray
menganggap dirinya benar, tak ada yang dapat menghentikannya
dalam mempertahankan pendapatnya. Keyakinannya
sekeras Gibraltar. Sikapnya itulah yang membuat
Merritt membencinya.
Ketika disumpah sebagai presiden, ia punya rencanarencana
hebat untuk mereka bertiga. Ia sendiri dikaruniai
cukup karisma dan kepandaian berpolitik hingga mampu
meyakinkan Kongres dan negara mengenai apa pun.
Spence merupakan tukang pukul tanpa ampun trio
mereka. Ia tidak membutuhkan alasan, ia langsung
bertindak, dengan efisien dan hati-hati. Gray adalah
pakar strategi. Ia memandang setiap situasi dari semua
sudut dan selalu memilih pendekatan yang terbaik.
Bersama-sama, mereka bisa menjadi tiga orang paling
berkuasa di dunia.
Kalau saja Gray tidak berminat pada istrinya dan
punya hati nurani.
“Bangsat goblok,” gumam Merritt ketika turun dan
meraih handuk kecil. Ketika ia mengelap wajah dan
tengkuk, seseorang mengetuk pintu. “Masuk.”
Seorang agen Dinas Rahasia membukakan pintu. Gray
Bondurant berdiri di sampingnya.
“Mr. President,” kata agen yang tersenyum itu, “saya
punya kejutan untuk Anda.”
218
Merritt tersenyum lebar, yang di wajahnya terasa
seperti retakan di lempengan beton. “Gray! Ya Tuhan, ini
benar-benar mengejutkan.”
Gray tersenyum, meskipun, seperti biasa, tak ada
kehangatan di matanya. “Aku mengambil risiko Anda
punya waktu cukup lama untuk bertemu denganku.”
Ditatapnya Merritt dari kepala sampai kaki dengan
tatapan puas. “Negara dapat tidur dengan nyenyak, Mr.
President. Anda tampak cukup fit untuk mengalahkan
semua musuh sendirian, baik dari dalam maupun luar
negeri.”
Dengan berjabatan tangan dan saling menepuk punggung,
mereka bersandiwara. Tak ada alasan bagi agen
Dinas Rahasia itu untuk meragukan persahabatan mereka.
Desas-desus tentang perselisihan di antara mereka telah
dibantah dengan tegas.
Merritt harus menggunakan seluruh kemampuan
aktingnya untuk menutupi kemarahannya. la telah
diserang mendadak oleh pakarnya. Bukankah ia barusan
berpikir tentang betapa andalnya Gray sebagai ahli
strategi? Ini penyergapan yang sudah direncanakan
masak-masak, tapi dibuat agar tampak tak sengaja. Gray
datang langsung dari gunung, tanpa pemberitahuan dan
begitu telak. Staf Gedung Putih mengenalnya dengan
baik dan takkan curiga. Ia datang untuk menjenguk
sobatnya sang Presiden, dan betapa baiknya ia mau
berbuat begitu.
Yang paling membuat Merritt sakit hati adalah ia harus
mengikuti permainan Gray, paling tidak sampai tahu apa
tujuan laki-laki itu. Setelah mereka tinggal berdua, ia
berjalan ke bar. “Apa yang bi sa kuambilkan?”
219
“Apa saja yang ada.”
Merritt menuangkan dua gelas jus jeruk. “Brengsek,
senang bertemu denganmu,” katanya, menyentuhkan
gelas mereka untuk bersulang.
“Jangan sampai aku mengganggu acara olahraga
Anda.”
“Aku memang sudah mau berhenti kok. Tidak sanggup
lagi selama dulu,” kata Merritt sambil meringis mengejek
diri sendiri.
“Aku meragukannya.”
“Keberatan kalau aku masuk whirlpool?”
“Sama sekali tidak.”
Merritt melepas celana pendeknya dan melangkah
memasuki air yang berputar dan berbuih. Uap bergumpalgumpal
naik dari kolam itu. “Ahh, segar rasanya. Mau
bergabung?”
“Tidak, terima kasih.” Gray menyeret kursi ke tepi
whirlpool dan duduk.
“Ubanmu makin banyak.”
“Turunan,” jawab Gray . “Bukankah aku pernah
bercerita ayahku sudah beruban biarpun masih muda?”
Pada dasarnya, Gray tidak berubah. Tubuhnya masih
tegap dan kencang, ekspresi wajahnya tetap dingin.
Perasaan iri jarang dirasakan oleh orang yang berjuang
sendiri keluar dari taman trailer hingga berhasil memasuki
Gedung Putih; namun perasaan irilah yang menjadi dasar
kebencian Merritt terbadap Gray.
Ia lebih tampan daripada Gray. Bahkan barangkali
lebih cerdas. Secara fisik, mereka sama kuat.
Tapi Gray memiliki rasa percaya diri dan moralitas tak
tergoyahkan yang membuatnya bisa menatap mata semua
220
orang tanpa gentar. Bahkan di masa lalu, ketika mereka
masih tergabung di Korps, lama sebelum perselisihan
mereka, selalu saja Merritt yang membuang muka lebih
dulu ketika beradu pandang dengan Gray. Ia membenci
ketenangan Gray dalam menjaga martabat dan kewibawaannya.
Ia kesal padanya karena prinsip-prinsipnya,
sementara pada saat yang sama ia diam-diam iri pada
kekuatan tambahan yang ditimbulkan oleh prinsipprinsip
itu pada diri laki-laki itu.
“Perutmu masih rata,” Merritt mengamati. “Aku
senang melihat Wyoming tidak membuatmu kendur.”
“Tempat itu keras, tapi kalau aku tidak berpengalaman
di Washington, aku tak mungkin bisa menaklukkannya.”
Merritt terkekeh. “Aku merindukan selera humormu.
Kering seperti debu, tapi kau selalu bisa membuatku
tertawa.” Ia merentangkan tangan di sepanjang bibir
whirlpool itu. Mengira sudah tahu jawabannya, ia
bertanya, “Apa yang membuatmu datang ke Washington?”
“Seorang wanita.”
Merritt tak siap dengan jawaban itu. Gray melemparkan
umpan berbahaya lagi. Ia menyembunyikan kekagetannya
dengan tertawa. “Wanita? Seorang wanita akhirnya
berhasil membuat Bondurant sang penakluk bertekuk
lutut? Sulit dipercaya.”
“Menyedihkan, namun betul.”
“Yang benar saja,” erang Merritt. “Jangan hancurkan
bayanganku tentang dirimu dengan mengatakan kau
sekarang punya perasaan. Kau belum berubah jadi ‘lakilaki
sembilan puluhan’, kuharap.”
Gray tersenyum muram. “Takkan pernah. Itu sebabnya
221
yang satu ini sangat cocok dengan seleraku. Dia enak
dipandang, suaranya bagai milik bintang film porno, dan,
yang paling bagus, dia tidak terlalu pandai.”
“Apakah cewek ajaib ini punya nama?”
“Barrie Travis.”
Merritt mengernyit. “Kau pasti bercanda. Dia sangat
menyebalkan. Setuju, suaranya memang seksi. Wajah dan
tubuh pantas diberi nilai tinggi. Tapi, Gray, sobatku, dia
duri di dalarn daging. Jika dia melihat ada yang lebih dari
sekadar seks dalam suatu hubungan, dia akan menempel
bagai lintah padamu dan kau takkan bisa melepaskannya.
Kau yakin tahu kau bergaul dengan siapa?”
“Saat ini aku menggaulinya.”
Mereka berdua tertawa mesum. “Itu tidak mungkin
tidak enak,” Merritt mengakui.
“Cukup enak sehingga aku rela meninggalkan
peternakanku dan kembali kemari.”
“Sampai kapan?”
Gray mengangkat bahu. “Sampai aku selesai dengannya
dan pulang.”
Merritt menghabiskan jus dan meletakkan gelas di
bibir kolam, lalu keluar. Ia melingkarkan handuk di
pinggang dan duduk di kursi dekat Gray. Meneruskan
pembicaraan ini dengan mantan temannya mungkin akan
membuatnya terlibat dalam urusan yang lebih panas
daripada air yang barusan ditinggalkannya, tapi ia tak bisa
menahan diri. Jika Gray bisa melanjutkan parodi reuni
bersahabat ini, ia juga bisa. Kalau menyangkut akting, ia
jauh lebih hebat daripada Gray.
“Di mana kalian bertemu? Aku ingin mendengar
semua detailnya.”
222
“Dia mencariku. Pada suatu hari minggu lalu tiba-tiba
dia muncul begitu saja.”
“Untuk apa?”
“Berita. Tepatnya sudut pandang baru berita lama. Dia
ingin membuat liputan lanjutan tentang misi penyelamatan
sandera yang dulu itu.”
“Dan kau tidak menyuruhnya pergi? Kau kan tidak
pernah menyukai reporter?”
“Bukan pekerjaannya yang kugauli, David.”
Merritt tertawa. “Betul, kan? Selera humor kering itu
lagi.” la mengerutkan alis. “Aku baru ingat. Rumahnya
terbakar semalam.”
“Yeah. Memang sangat menyedihkan.”
“Aku melihatnya di warta berita tadi pagi, bicara
dengan reporter. Dia penuh semangat.”
“Itulah yang membuatnya menantang.”
“Jadi, di mana kalian tinggal? Hotel?”
“Tidak, di rumah teman.”
Teman Barrie Travis adalah pensiunan wartawan
bernama Ted Welsh. Biarpun Spence sedang tidak ada,
jaringan intelnya memberi Merritt foto-foto Welsh ketika
mengenakan jubah mandi dan mengambil koran pagi dari
halaman depan yang penuh ilalang. Laki-laki tua itu
dilaporkan menderita emfisema dan tampak sama
berbahayanya dengan lalat.
Pasangan yang cukup aneh, Travis dan Welsh, tinggal
di rumah reyot Welsh, ketika mereka merencanakan
penghancuran jabatan kepresidenannya. Benar-benar
lucu. Sekali sapu saja, ia bisa menyingkirkan mereka
berdua.
Gray-lah yang jadi masalah. Dengan ia sebagai
223
pemimpin, trio itu mencapai tingkat gangguan yang tak
bisa ditertawakan lagi.
“Omong-omong soal teman,” kata Gray, “aku heran
Anda belum tahu detail-detail tentang Barrie dan aku.
Kukira Spence sudah memberitahu Anda. Dia mendatangi
aku tak lama setelah kunjungan Barrie ke peternakanku.”
Senyum Merritt memudar sedikit. Aktor yang paling
hebat pun takkan bisa tetap tenang. “Spence sedang
berlibur. Aku benar-benar harus memaksanya pergi, dia
kan pecandu kerja. Katanya mungkin dia akan mampir ke
tempatmu, tapi aku belum mendengar kabar darinya sejak
dia berangkat. Apakah dia mengatakan mau pergi ke
mana setelah Wyoming?”
“Dia tidak menyebutkan rencana apa pun. Tapi kau
tahu Spence. Dia akan muncul di saat kau sama sekali tak
menduga. Aku jelas tak mengharapkan kedatangannya
ketika dia muncul di tempatku.”
Merritt tadinya punya secercah harapan bahwa Spence
masih hidup. Sekarang ia tahu pasti laki-laki itu sudah
tewas. Gray telah membunuhnya.
Merritt tak mau membiarkan perasaannya terhanyut.
Ia tidak butuh Spence. Ia tidak membutuhkan siapa-siapa.
Tapi kalau dipikir-pikir, Spence sangat banyak membantu.
Jarang ada orang yang memiliki bakat, loyalitas, dan
kepatuhan mutlak yang tidak perlu diragukan lagi seperti
Spence. Lebih jarang lagi orang yang sama sekali tidak
punya hati seperti laki-laki itu.
Gray telah merampas aset berharga itu darinya dan
sekarang duduk-duduk bercanda tentang hal itu, ekspresi
polos menghiasi wajahnya. Merritt ingin sekali meninjunya.
Tapi dengan hati-hati ia menyembunyikan kemaranannya.
224
Jika ia menampakkannya, sama saja dengan menghancurkan
diri sendiri.
Lagi pula, ia tak mau buang-buang energi untuk
sesuatu yang sudah menjadi bubur. Spence akan jadi
orang pertama yang setuju bahwa berdukacita tidak
produktif dan hanya orang lemah yang melakukannya.
“Aku ingin tahu, Ibu Negara ada?”
Pertanyaan Gray bagai cambuk yang membuyarkan
lamunan Merritt. “Uh, tidak, dia belum pulang.”
“Di ‘lokasi rahasia’ ini?”
“Betul,” jawab Merritt. “Dan aku sudah disumpah tak
boleh mengatakannya.”
Gray mencondongkan tubuh ke depan, menumpukan
lengan di paha, dan menampilkan pose penuh percaya diri
yang kadang-kadang juga digunakan Merritt. “David, aku
cemas memikirkan dia. Apakah dia baik-baik saja?
Bicaralah sejujurnya padaku sekarang. Jangan katakan
omong kosong yang disampaikan Neely pada pers.
Bagaimana keadaan Vanessa, sesungguhnya?”
“Kau berusaha memperoleh bocoran untuk teman tidur
barumu?”
“Saat kami di ranjang dia melakukan hal lain yang
lebih bagus daripada mewawancarai aku.”
“Sulit baginya untuk bicara dengan mulut penuh,
heh?”
Gray mendengus sebagai ganti tawa yang diharapkan
Merritt. Lalu wajahnya yang berkerut dan tirus kembali
serius. “Vanessa bersikap aneh sejak bayinya meninggal.
Apakah dia sakit?”
Kalau saat itu Merrit punya pilihan, ia pasti akan
mencekik leher Gray. Pria itu telah membuat istrinya
225
menyeleweng. Gosip tentang dia dan Vanessa berhasil
dipadamkan, tapi tidak cukup cepat.
Berapa orang yang telah menyimpulkan bahwa Gray,
bukan dia. yang menjadi ayah bayi Vanessa? Beraniberaninya
bangsat ini menyebut si perempuan jalang itu
tanpa setitik pun rasa menyesal di mata birunya?
Dengan sekuat tenaga, Presiden Amerika Serikat
mengontrol kemarahannya. Ia tak mungkin bisa menjelaskan
kematian Gray akibat tenggelam di whirlpool ruang
olahraga Gedung Putih. Bahkan Spence pun takkan
senekat itu untuk mencoba meyakinkan kisah itu pada
Jaksa Agung dan rakyat Amerika.
Sambil menahan keinginan untuk membunuh, Merritt
menunduk dan menyisir rambutnya dengan jari. “Aku
tidak keberatan memberitahumu, Gray, situasinya cukup
buruk. Dia menyalahkan dirinya sendiri—penyakitnya—
karena tidak menjadi ibu yang sempurna dan
menyelamatkan anak itu dari SIDS.”
“Aku khawatir kejadiannya seperti itu. Aku tahu
George Allan yang merawatnya. Mampukah dia menangani
masalah seperti ini?”
“Sangat mampu. Sudah bertahun-tahun dia menjadi
dokter Vanessa. Dia tahu persis apa yang dibutuhkan
istriku supaya bisa tetap berfungsi senormal mungkin.
Begitu sudah melewati krisis, dia akan baik-baik saja.”
“Kuharap demikian.”
Merritt sengaja melirik jam dinding, lalu bangkit.
“Senang sekali bertemu denganmu, Gray. Aku tidak suka
mengakhirinya, namun setengah jam lagi aku harus
menghadiri rapat kabinet.”
“Aku beruntung dapat berbicara dengan Anda selama
226
ini.” Gray berdiri dan mereka bersalaman. “Tolong
katakan pada Vanessa, aku menanyakan kabarnya. Ada
kemungkinan aku menjenguknya?”
“Kurasa tidak. Kondisinya semakin baik tiap hari, tapi
dia bahkan tidak bersedia menemui Clete. Sampaikan
rasa prihatinku pada Barrie Travis mengenai rumahnya.”
“Yeah. Akan kulakukan.”
Para agen Dinas Rahasia berdiri di luar pintu ruang
olahraga, menunggu untuk mengawal Presiden kembali
ke ruangannya. Kepada salah seorang dari mereka Merritt
berkata, “Tolong antarkan Mr. Bondurant ke mobilnya.”
“Tidak usah,” kata Gray santai. “Aku pernah bekerja di
sini, ingat? Aku tahu jalan kok.”
“Sama saja,” kata Merritt, meniru gaya santai Gray,
“kami ingin memperlakukan teman lama dengan istimewa.”
227
Bab Sembilan Belas
RESAH bukan kata yang tepat untuk menggambarkan
perasaan Presiden saat ini.
Lewat telepon, Merritt baru saja memberitahu Dr.
George Allan tentang kunjungan mendadak Gray Bondurant.
Ia mengatakannya seolah senang bertemu teman
lamanya itu, namun George bisa menangkap makna yang
tersirat: David tak mau Gray gentayangan di Washington,
dan terlalu dalam menyelidiki kematian bayi Merritt.
George meyakinkan diri sendiri, seperti ia telah
meyakinkan rakyat, bahwa anak itu meninggal akibat
SIDS. Ketika malam itu ia terburu-buru pergi ke ruang
anak Gedung Putih setelah dipanggil dari rumah, ia
mempercaya keterangan David bahwa ia dan Vanessa
mendapati bayi itu meninggal di tempat tidurnya.
Tak ingin mengetahui informasi lain, George tak
banyak bertanya la mengurus pemakaman si bayi, seperti
yang diinstruksikan Presiden. Selesai.
Tapi ternyata belum. Vanessa membuat seorang
reporter yang selalu ingin tahu jadi terlibat. Wanita itu,
menurut David, telah mendekati Gray Bondurant. Jelas,
David lebih suka jika apa yang sesungguhnya terjadi di
ruang anak dibengkokkan sedikit. Ia tentu tak ingin rasa
228
ingin tahu Gray Bondurant terusik. Karena jika ada yang
bisa membuka kedok David Merritt, orang itu adalah
Gray.
“Bagaimana dengan, uh, reporter itu?” tanya George.
“Kudengar di siaran berita, rumahnya hancur karena
ledakan.”
“Ya, aku mendengarnya juga. Kasihan sekali, tentu
saja, namun setidaknya masalah pribadinya telah mengalihkan
perhatiannya dari kita.” Setelah diam sejenak,
Merritt menambahkan, “Ini semua salah Vanessa. Dia
bertanggung jawab atas minat ulet Barrie Travis. Jika dia
dulu tidak menghubunginya kita tidak perlu kerepotan
seperti sekarang.” Lalu ia bertanya, “Bagaimana keadaan
Vanessa hari ini?”
Cara Presiden beralih ke tujuan sebenarnya telepon ini,
sangat halus. George, sambil menutupi kepanikannya,
melaporkan kondisi terakhir istrinya.
Lalu David memberikan instruksi-instruksinya pada
George.
Ia tidak menjelaskannya sarnpai mendetail, tapi
memang tidak perlu. Makna yang terkandung sudah jelas
bagi siapa pun yang mendengarkannya, dan George
mendengarkan.
Hari inilah saatnya. Presiden menagih utang budinya.
George meletakkan gagang telepon dan menutupi
wajahnya yang berkeringat dengan kedua tangannya
Sekujur tubuh dan jiwanya bergetar . Terdengar deru
keras di dalam telinganya. Ia merasa lemas dan mual.
Ia mempertimbangkan untuk menelepon Amanda.
Mantap dan tenang, istrinya bagai pulau kedamaian di
tengah hidupnya yang kacau-balau. Kadang-kadang
229
suaranya saja mampu memberinya harapan, meskipun
masa depannya seperti padang ranjau yang menuju
bencana. Dan itu alasan yang cukup kuat untuk tidak
menghubunginya. Kenapa membebani Amanda dengan
konsekuensi kesalahannya?
Bukannya menelepon istrinya, ia malah menelan
Valium.
Ini pekerjaan kotor yang biasanya diberikan David
pada Spence. Spence takkan gentar seperti dirinya saat
ini. Spence takkan butuh Valium. George ingin tahu apa
yang diketahui David tentang Spence, hingga bisa
membuatnya patah total seperti itu. Atau sebaliknya?
Apakah sebenarnya Spence-lah sang dalang dan David
cuma bonekanya? Atau—dan ini yang paling mungkin—
Spence tak membutuhkan alasan untuk melakukan segala
perbuatannya.
Ia sangat menyukai kebengisan. Ia tak pernah
mencintai wanita atau mengenal cinta wanita. Ia tak
pernah menyaksikan lahirnya anak yang diciptakannya
dengan cinta. Ia tak pernah memegang kehidupan baru
yang menggeliat-geliat di tangannya dan memandang
makhluk itu dengan air mata bercucuran. Ia juga tak
pernah merasa bersalah atau menyesal.
George mungkin pengecut, tapi ia laki-laki yang lebih
baik daripada Spence Martin.
Tapi pendapat itu meragukan. Spence, tampaknya,
telah menghilang. Dengan kata-kata yang dipilih dengan
cermat, David secara tidak langsung mengatakan bahwa
Gray bertanggung jawab atas kepergian Spence yang
misterius. George berharap jika Gray telah membunuhnya,
ia membuat bangsat tak berhati itu menderita lebih dulu.
230
Gray pintar karena pergi selagi bisa. George berharap
ia memiliki keberanian seperti itu. Gray berkata, “Aku
pergi,” dan pergilah dia. Tapi Gray memang tak punya
ganjalan apa pun.
George punya, dan hambatan itu makin besar
sekarang.
Dicubitnya pangkal hidungnya sampai sakit. Lalu ia
menurunkan tangan dan memandang pintu ruang kerjanya
yang kini tertutup. Ia bisa saja duduk di sini selania satu
atau dua jam lagi, memandangi pintu itu, tapi akhirnya ia
tetap saja harus melaksanakan perintah Presiden tadi.
Semakin lama menundanya, semakin ia memikirkannya,
dan semakin ia memikirkannya, semakin keji perintah itu
rasanya.
la berdiri pelan-pelan seperti orang yang sudah
berumur sembilan puluh tahun. Langkah kakinya terasa
berat ketika ia meninggalkan ruang kerja dan melintasi
koridor.
Ruang rawat itu senyap.
Jayne. Gaston perawat yang penuh perhatian. Dengan
hati-hati ia memandikan pasiennya setiap pagi dan
mengganti seprai. Tapi ruang rawat tetap ruang rawat,
dan penyakit memiliki bau khas.
George Allan mendekati tempat tidur. “Bagaimana
keadaannya?””Dia tidur sekarang.” Perawat itu memandang
pasiennya dengan penuh simpati.
George memeriksa Vanessa sekilas. Ia mendengarkan
detak jantungnya, memeriksa grafik tekanan darah dan
temperaturnya, tanpa sekali pun menatap wajah nya.
Mata Vanessa terpejam, untung saja. Ia takkan sanggup
menatap mata wanita itu. Setelah ini, ia bertanya-tanya
231
dalam hati, bagaimana ia akan mampu menatap mata
Amanda atau bahkan matanya sendiri?
“Beberapa saat yang lalu dia merasa galau dan
menangis,” perawat itu melaporkan. “Dia memohon pada
saya supaya mengizinkan dia bangun. Dr Allan, jika dia
merasa cukup kuat, saya tidak mengerti...”
“Terima kasih, Mrs. Gaston.”
“Dokter, saya yakin Anda tahu yang terbaik, namun...”
“Saya yakin saya juga tahu.” George menatapnya
tajam. “Saya tidak akan mentolerir lagi bantahan seperti
ini, Mrs. Gaston.”
“Saya cuma memikirkan kepentingan pasien.”
“Anda kira saya tidak?”
“Tentu saja ya, Dokter. Saya sama sekali tidak
bermaksud meragukan Anda.” Mrs. Gaston menegakkan
tubuhnya. “Tapi saya perawat terlatih yang memiliki
pengalaman bertahun-tahun.”
“Itulah sebabnya Anda dipilih untuk posisi ini. Tapi
Anda melewati batas.”
“Mrs. Merritt dibius sangat berat. Jika Anda minta
pendapat saya...”
“Tidak!” bentak George.
“Lebih jauh lagi, saya pikir dosis Lithium-nya begitu
tinggi hingga membahayakan.”
“Anda sudah lihat laporan lab. Tingkat Lithium dalam
darahnya normal.”
“Kalau begitu saya tidak mempercayai lab, dan saya
tidak mempercayai laporannya.”
Jantung George berdebar kencang di dadanya.
Lututnya terasa lemas, nadinya berdenyut-denyut di
balik matanya, dan ia tahu wajahnya merah padam.
232
Sambil berjuang menenangkan diri, ia berkata dengan
kaku, “Tenaga Anda tidak diperlukan lagi, Mrs. Gaston.
Silakan segera kemasi barang-barang Anda. Saya akan
menyuruh orang mengantar Anda kembali ke Washington
malam ini.”
Wanita itu bersedekap. “Anda memecat saya?”
“Anda tidak cocok lagi dengan program pengobatan
Mrs. Merritt. Nah, sekarang silakan Anda..!”
Mrs. Gaston menggeleng dengan keras kepala dan
meraih tangan Vanessa. “Saya tak mau pergi. Dia pasien
saya juga. Saya menolak meninggalkannya dalam kondisi
seperti ini. Jika Anda ingin tahu pendapat saya yang
sejujurnya, saya pikir dia keracunan dan hampir koma.”
“Kalau Anda tak mau pergi secara sukarela saya tidak
punya pilihan selain mengusir Anda dengan paksa.”
George melangkah cepat melintasi ruangan, membuka
pintu, dan berteriak memanggil agen-agen Dinas Rahasia.
233
Bab Dua Puluh
“BARRIE TRAVIS?”
“Aku sendiri. Siapa ini?” Barrie menutup telinganya
yang tidak menempel di gagang telepon supaya bisa
mendengar lebih jelas suara wanita itu di tengah kenuhan
ruang berita.
“Kau tahu soal Highpoint?”
Barrie langsung waspada. “Dalam urusan apa?”
“Ada yang tidak beres.”
“Bisakah Anda bicara lebih spesifik?”
“Tidak. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikan.”
Keresahan wanita itu terdengar jelas. “Harus ada yang
menyelidiki apa yang sedang terjadi di sana.”
Lalu si penelepon mengakhiri hubungan.
Barrie menghubungi operator telepon. “Apakah penelepon
yang barusan kauhubungkan menyebutkan jati
dirinya atau mengatakan dari mana dia menelepon?”
‘Tidak, dia cuma minta bicara denganmu. Maniak
lagi?”
“Aku tak yakin. Terima kasih.”
Barrie melompat bangun dan menyambar tas. Tugasnya
hari ini sudah selesai. Liputannya untuk warta berita
malam sudah beres dan berada di meja produser. Tak ada
234
yang bakal mencarinya kalau ia pulang lebih awal sedikit.
Selama beberapa hari terakhir, ia dengan sukses
melakukan tugasnya meyakinkan penonton—yang diharapkannya
termasuk David—bahwa ia bekerja seperti biasa
setelah kehilangan rumah.
Juri masih menyelidiki penyebab ledakan yang
menghancurkan rumahnya, tapi di muka umum ia tak
pernah menghubungkan ledakan itu dengan penyelidikannya
terhadap kehidupan pribadi Presiden dan Ibu
Negara.
Ketika bergegas melintasi ruang berita, ia berpikirpikir
untuk menarik juru kamera dan membawanya serta,
berjaga-jaga seandainya petunjuk tadi sahih. Tapi ia
memutuskan untuk menahan diri. Ia akan membawa
kamera handycam ke Highpoint. Kalau memang ada
berita, setidaknya ia bisa merekamnya.
Tapi pertama-tama, ia harus mencari jalan untuk
masuk ke Highpoint tanpa ditembak.
“Kau tidak mengenali suaranya?”
“Aku barusan bilang begitu, kan?” kata Barrie jengkel.
“Tidak, Gray, aku tidak mengenali suaranya”
“Jangan marah-marah padanya,” kata Daily . “Dia
cuma tak mau kau pergi tanpa persiapan matang, itu saja.”
Barrie jadi marah karena Daily berada di pihak Gray.
“Aku tidak minta siapa pun pergi denganku tanpa
persiapan matang. Tinggal saja di sini. Aku tak peduli.
Pokoknya aku akan mengikuti petunjuk ini.”
“Mungkin saja si maniak itu,” ujar Daily . “Si
Charlene.”
“Bukan,” Barrie ngotot. “Aku tidak tahu siapa
orangnya tapi dia tidak memiliki karakteristik penelepon
235
sinting biasa. Dia terdengar sanmn dan berpendidikan.
Juga ketakutan. Aku mempercayai kata-katanya.”
Daily tetap pada pendapamya. “Kau tak punya
verifikasi bahwa ada yang tidak beres di Highpoint. Ini
bisa jadi ulangan kasus Hakim Agung Green. Akhirnya
kau akan mempermalukan dirimu sendiri.”
“Kenapa dengan Hakim Agung Green?” tanya Gray.
“Tidak apa-apa,” bentak Barrie. Ia memelototi Daily,
lalu memotong udara dengan tangan dan berkata,
“Perdebatan ini selesai. Aku tetap pergi.”
la takkan kembali ke rumah Daily dan memberitahu
mereka tentang rencananya seandainya handycam itu ada
padanya. Baru-baru ini ia membelinya untuk menggantikan
kameranya yang musnah gara-gara ledakan itu. Benda itu
masih ada dalam kotaknya di kamar tamu Daily. Dengan
baterai yang sekarang telah terpasang, ia memeriksanya,
memasukkannya ke tas, dan berpaling pada teman-teman
seperjuangannya yang tampak waswas. “Yah, doakan saja
aku.”
Daily begitu kalut hingga mulai tersengal-sengal. Ia
menoleh pada Gray. “Kau Marinir. Punya ide?”
“Cuma mengikatnya, ide lain sama sekali tak ada. Tapi
aku akan pergi bersamanya, dan dia mungkin akan
membuat kami berdua tertembak.” la berkata begitu
seraya menyelipkan pistol di pinggang.
Saat itulah penyeranta Barrie berbunyi.
“Salah satu narasumbermu?” tanya Daily.
“Selain kau, cuma mereka yang tahu nomor ini.”
la tidak mengenali nomor telepon di layar digital itu,
namun langsung ingat suara yang mengangkat telepon,
yang jelas menggunakan telepon umum itu. Ia bisa
236
mendengar suara lalu lintas di latar belakang. Narasumber
itu tidak buang-buang waktu dalam menyampaikan
pesannya, lalu segera memutuskan hubungan.
Sambil merenung Barrie meletakkan gagang telepon
dan memandang Gray. “Ayo pergi sekarang kalau kau
memang jadi pergi.”
“Siapa itu tadi?” Daily bertanya, mengikuti mereka ke
pintu, menyeret tangkinya yang berdecit-decit. “Apakah
tentang Highpoint?”
“Tidak. Bukan apa-apa” jawab Barrie, tapi senyurn
lemahnya berkata lain. “Kami akan meneleponmu begitu
mengetahui sesuatu. Cobalah beristirahat.”
“Cobalah menjaga keselamatanmu. Aku ingin bisa
menjengukmu di penjara.”
“Di Louisiana bagian mana?”
“Apa?”
“Kau bilang kau dari Louisiana. Kota apa?”
“Titik lebar di peta,” kata Gray. “Kau tak pernah
mendengarnya.”
“Nilai geografiku dulu bagus.”
“Grady.”
“Aku tidak pernah mendengarnya.”
Gray mengemudi dengan serius, kedua tangannya
mencengkeram setir. Mereka menuju barat daya ke arah
daerah pedesaan Virginia. Pemandangannya berupa
hamparan ladang, peternakan kuda, dan hutan-hutan, tapi
mereka berdua fidak memperhatikannya.Itu tadi adalah
kata-kata pertama yang mereka ucapkan sejak meninggalkan
daerah tempat tinggal Daily. Tak sanggup menghadapi
satu mil lagi dalam kesunyian menegangkan dan pikiranpikirannya
yang galau, Barrie mengungkit topik yang
237
diharapkannya merupakan topik netral.
“Sewaktu kau besar di sana, bagaimana kota itu?”
“Baik.”
“Masa kecil menyenangkan?”
“Lumayan.”
“Buruk?”
“Apa aku bilang buruk?”
“Kalau begitu menyenangkan?”
“Lumayan. Oke?”
“Kau tak perlu marah-marah begitu. Aku cuma ingin
tahu dari mana orang seperfi kau berasal.”
“Orang seperti aku?” Gray mengulangi dengan sinis.
“Memangnya aku orang seperti apa?”
Barrie perlu berpikir sebentar sebelum berhasil
menemukan jawaban yang disukainya. “Tinggi.”
Gray terpaksa tersenyum mendengarnya, biarpun
hanya sedikit.
“Orangtua?” tanya Barrie.
“Dua.”
“Yang benar saja, Bondurant.”
Beberapa detik kemudian Gray berkata, “Ibu dan
ayahku meninggal ketika tornado sempalan menerjang
tempat usaha mereka.”
“Aku turut sedih,” kata Barrie sungguh-sungguh.
“Berapa umurmu waktu itu?”
“Sembilan. Kira-kira.”
Barrie sulit membayangkan—bukan fakta orangtuanya
jadi korban badai—Gray pernah jadi anak-anak. Ia tak
bisa membayangkan pria itu sebagai anak kecil nakal,
bermain dengan anak-anak lain, ikut dalam permainan di
pesta ulang tahun, membuka hadiah bersama anggota238
anggota keluarga yang berkumpul di sekeliling pohon
Natal.
“Pagi itu di Wyoming, kau bercerita belajar beternak
dari ayahmu.”
“Dia selalu memelihara sekawanan sapi. Tapi dia juga
mengelola bengkel di kota. Tak ada satu mesin pun di
negara bagian itu yang tak bisa diperbaikinya. Dan ibuku
sama andalnya dengan dia dalam menggunakan kunci
Inggris.”
Barrie menyadari kelembutan yang jarang tampak di
sekitar mulut tegas pria itu. “Kau menyayangi mereka.”
Gray mengangkat bahu. “Aku masih kegil. Anak-anak
selalu menyayangi orangtua mereka.”
Biarpun bila mereka tak pantas disayangi, pikir Barrie.
“Siapa yang membesarkanmu setelah mereka tiada?”
“Secara bergantian, kakek-nenekku dari kedua belah
pihak. Mereka orang-orang baik. Semua sudah meninggal
sekarang.”
“Saudara kandung?” tanyanya.
“Saudara perempuan. Masih tinggal di Grady. Ibu
empat anak, menikah dengan akuntan yang jadi ketua
dewan sekolah dan diaken di gereja Baptis.”
“Kau pasti senang, punya banyak keponakan untuk
dimanja.”
“Aku tak pernah mengunjungi mereka.”
“Kenapa?”
“Iparku menganggap aku berbahaya.”
“Menurutmu?”
Gray menoleh. Mata setajam laser serasa menghunjam
Barrie. “Kau belum tahu juga jawabannya sekarang?”
“Sudah.” Barrie menunduk. “Menurutku, kau mungkin
239
sangat berbahaya.”
Ketika memandang ke luar jendela, Barrie melihat
bahwa tanpa disadarinya, senja telah berganti dengan
malam gelap gulita. Hutan di kedua sisi jalan tampak
gelap. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Telepon yang
kuterima sebelum kita meninggalkan rumah Daily berasal
dari narasumberku di Kehakiman.”
“Kau punya sumber informasi di Departemen
Kehakiman?”
“Apakah begitu mengejutkan?”
“Siapa? Divisi apa? Seberapa senior?”
“Kau tahu aku tak dapat memberitahumu.”
“Yah, kalau begitu kita cuma bisa berharap dia bukan
salah satu kaki tangan Spence.”
Sambil mengabaikan sindiran itu, Barrie berkata,
“Narasumberku mengatakan kau dan Merritt bertemu di
balik pintu tertutup kemarin.”
“Betul.”
“Lucu juga kau tidak menceritakannya pada Daily atau
aku.”
“Tidak ada yang penting.”
“Kau berduaan dengan Presiden Amerika Serikat
selama lima belas menit dan kau bilang tidak ada yang
penting?”
“Aku cuma mampir...”
“Mampir? Aku pun bisa mampir, tapi David Merritt
takkan pernah mau bertemu empat mata denganku.”
“Aku punya banyak teman di Dinas Rahasia. Aku
muncul tiba-tiba agar bisa mengetahui bagaimana
reaksinya ketika melihatku.”
“Yaitu?”
240
“Dia nyaris terkencing di celana.”
la mengulangi percakapan mereka untuk Barrie.
“Kuberitahu dia bahwa Spence gagal melaksanakan misi
terakhirnya,” tambahnya.
“Cuma itu yang kalian bicarakan?”
“Cuma itu.”
“Mungkin.”
Gray meliriknya, matanya tampak curiga. “Kenapa
narasumbermu mengontakmu soal kunjunganku pada
David?”
“Karena memikirkan keselamatanku. Narasumberku
agak mengkhawatirkan teman-teman yang kumiliki.
Misalnya, aku diberitahu bahwa Presiden mungkin saja
memanfaatkan kau untuk menjebak reporter
menjengkelkan yang ingin dibungkamnya.”
“Aku tak lagi bekerja pada Presiden.”
“Itu kan katamu. Tapi aku ingin tahu ada berapa
lapisan dalam hubunganmu dengan keluarga Merritt.
Sebelum menjadi kekasih istrinya, kau sahabat karib
Merritt. Itu bisa menimbulkan banyak ambiguitas.”
Tangan Gray makin erat mencengkeram setir. “Kenapa
tidak langsung saja kaukatakan pendapatmu.”
“Menurutku, barangkali loyalitasmu terbagi.”
la menatap Barrie dengan marah, namun tidak
membenarkan ataupun membantah tuduhannya.
“Apakah namaku disebut-sebut dalam pertemuan itu?”
la ingin tahu.
Pria itu mengangguk.
“Dalam konteks apa?”
“Kukatakan padanya aku menidurimu.”
Barrie merasa pipinya merah padam. “Aku lebih suka
241
istilah itu daripada kata yang satu lagi, meskipun tetap
saja kasar.”
“Seperti itulah aku mengingatnya. Kasar.”
“Apakah dia menyinggung soal Vanessa?” tanya Bame,
mengembalikannya ke topik pembicaraan mereka.
“Tak ada yang baru.”
“Apakah kau akan memberitahu aku kalau ada yang
baru?”
“Mungkin tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kau sudah keterlaluan.”
“Demi berita eksklusif yang akan mengguncang dunia,
aku bersedia mengambil risiko.”
“Yah, aku sih tidak,” kata Gray singkat. “Aku tak mau
mempertaruhkan nyawaku, atau nyawa Vanessa, atau
bahkan nyawamu, supaya kau bisa menegosiasikan
tambahan beberapa ribu dolar dalam kontrakmu yang
berikut. Aku berusana agar kita tetap hidup setelah urusan
ini selesai, dan aku tak ingin strategiku dikacaukan
amatiran yang penuh khayalan.”
Komentar itu menyakitkan. “Aku profesional.”
“Mungkin dalam masalah berita TV,” kata Gray.
“Tapi di Highpoint, kita takkan berhadapan dengan
kamera-kamera studio. Kita akan berhadapan dengan
orang-orang bersenjata. Kau tidak siap menghadapinya.”
“Aku lebih berani daripada yang kaukira.”
“Oh, aku tahu kau nekat. Rasanya aku ingat kau
bersedia melakukan apa pun untuk memperoleh berita.
Atau kau sudah lupa?”
Karena Gray tampaknya bertekad membuatnya marah,
Barrie memelankan suaranya hingga jadi bisikan sengit
242
dan berkata, “Belum, aku belum lupa. Aku belum
melupakan sedetik pun peristiwa itu. Lebih penting lagi,
Bondurant, kau juga begitu.”
Serangannya berhasil. Otot rahang pria itu berdenyut.
Sambil tersenyum pongah Barrie kembali memandang
jalanan di depan.
Kepuasannya cuma sebentar. “Awas!” ia menjerit.
Dengan reaksi secepat kilat pasukan komando terlatih,
Gray membanting setir untuk menghindari tabrakan.
Empat polisi-bersepeda motor muncul dari tikungan,
melaju dua-dua. Di belakangnya mobil pemadam
kebakaran, mobil yang kelihatan seperti mobil dinas, dan
ambulans. Semua melaju dengan kecepatan tinggi.
Gray tetap di tepi selokan di jalur yang berlawanan
sampai semua kendaraan lewat, kemudian ia berputar
tajam dan mengejar mobil-mobil itu. “Kau akan
mengikuti mereka?” “Jelas.”
“Tapi kenapa...?” “Di atas,” kata Gray, dan itu sudah
menjawab pertanyaannya. Barrie menekankan pipinya di
jendela dan melihat dua helikopter membelok tajam
ketika keduanya naik di atas puncak pepohonan.
“Narasumber misteriusmu benar. Ada yang tidak beres.”
“Tapi Highpoint di sebelah sana,” tukas Barrie,
menunjuk ke arah yang berlawanan.
“Tempat peristirahatan kepresidenan memang di sisi
lain danau, tapi seluruh area ini dinamakan Highpoint.
Rumah peristirahatan Dr. George Allan berada di
punggung bukit itu.” Gray menunjuk dengan dagunya ke
arah suatu titik di hutan tempat helikopter-helikopter tadi
tinggal landas.
“Di sanalah mereka menempatkan Vanessa.”
243
“Dari mana kau tahu?”
“Aku punya firasat, dan firasat. itu baru saja terbukfi
kebenarannya. Mobil di belakang pemadam kebakaran
tadi milik pemerintah, mungkin Dinas Rahasia.”
Tangannya masih memegang setir dengan mantap. Ia
menekan pedal gas sampai maksimal supaya fidak
tertinggal dari kendaraan terakhir rombongan tadi.
“Menurutmu, apa artinya ini?”
“Menurutmu?” tanya Gray singkat.
Barrie tak ingin mengutarakan apa yang ada di
benaknya. “Dr. Allan takkan menyakitinya. Tidak secara
sengaja. Tidak dengan Dinas Rahasia mengawalnya.”
“Gedung Putih penuh dengan agen Dinas Rahasia pada
malam bayi itu meninggal. Itu tidak menghalangi dokter
itu menyatakan bahwa anak itu meninggal akibat SIDS.
Jika David sudah memegang kelemahan George Allan,
dia akan bersedia mengatakan dan berbuat apa saja.”
Mereka membuntuti konvoi itu sampai Shinlin, tempat
indah dengan penduduk sekitar 15.000 jiwa Karena
dekatnya kota itu dengan tempat penstirahatan
kepresidenan, para penduduk sudah terbiasa jika konvoi
membuyarkan ketenangan jalan-jalan mereka.
Gray mempertahankan jarak yang aman. Ia tetap
berada dua blok dari kendaraan-kendaraan itu ketika
mereka memasuki gerbang gawat darurat rumah sakit.
Barrie menatap Gray. “Jika Vanessa membutuhkan
perawatan medis darurat, kenapa dia tidak dibawa kemari
dengan helikopter?”
Sebelum mereka sempat berspekulasi, pintu belakang
ambulans terpentang. Dan keluarlah George Allan.
Dokter itu tampak sangat tegang. Lengan kemejanya
244
digulung sampai siku; rambutnya berdiri tegak, seolah ia
sejak tadi mengacak-acaknya dengan jemarinya. Ia, sopir,
dan seorang paramedis mengangkat brankar dari ambulans.
Sesosok tubuh tertutup selimut terikat di brankar itu.
“Oh, Tuhanku, tidak!” teriak Barrie.
Para paramedis mendorong brankar menuju pintu kaca
otomatis. Kedua pria di sedan dinas keluar dan dengan
muram berjalan di belakang brankar ketika alat itu
didorong memasuki rumah sakit.
Dr. George Allan membungkuk dan muntah di trotoar.
245
Bab Dua Puluh Satu
KET1KA telepon Clete Armbruster berdering membangunkannya
dari tidur nyenyak, ia berguling dan melihat
jam di meja. “Sialan.” Telepon pada jam seperti ini
menandakan keadaan gawat.
“Senator Armbruster?”
Mengira akan mendengar suara asistennya, ia tidak
siap ketika terdengar suara wanita yang lembut dan serak
yang lebih cocok untuk telepon seks daripada menyampaikan
berita buruk. Ironisnya, ia justru jadi panik. Sudah
lama ia tidak memakai jasa profesional, tapi pikiran
pertama yang melintas di benaknya adalah bahwa salah
satu pasangannya di masa lalu telah diperintahkan untuk
memberitahu semua mantan kliennya bahwa ia mengidap
virus mematikan.
“Siapa ini?”
“Barrie Travis. Teman Vanessa. Si reporter.”
Dengan kesal Senator menendang selimut, lalu
mengayunkan kakinya ke lantai dan bangkit. Beraniberaninya
Barrie Travis menganggap dirinya teman
Vanessa. Lebih konyol lagi tindakannya menyebut
dirinya reporter. Ia sama sekali tak bisa menebak kenapa
Vanessa mengabulkan permintaan wawancaranya baru246
baru ini.
“Mau apa kau?”
“Saya harus bicara dengan Anda. Tentang Vanessa.”
“Kau tahu jam berapa sekarang? Omong-omong, dari
mana kau bisa memperoleh nomor telepon pribadiku?
Bukankah staf kantorku sudah secara tegas memberitahumu
bahwa aku tidak mau membicarakan putriku dengan
nyamuk-nyamuk pers?”
“Ini bukan telepon seperti itu, Sir.”
“Jangan macam-macam kau. Selamat malam.”
“Senator! Tolong jangan ditutup!”
Kecemasan dalam suaranya membua t Armbruster
berpikir. Sambil membawa telepon tanpa kabel itu ke
kamar mandi, ia berdiri di atas toilet dan buang air kecil.
“Ada apa? Ledakan lagi?”
“Saya harus bertemu Anda.”
“Untuk apa?”
“Saya tak bisa mengatakannya sampai kita bertemu.”
Armbruster terkekeh sambil menyiram toilet. “Aku
sudah tak sabar.”
“Saya pastikan, Senator Armbruster, ini bukan tipuan
wartawan, juga bukan sesuatu yang bisa ditertawakan
atau dianggap enteng. Percayalah, urusan ini sangat
penting. Bersediakah Anda menemui saya?”
Senator menggaruk kepala. “Ah, brengsek. Mungkin
seumur hidup aku akan menyesalinya, tapi telepon
kantorku besok dan buat janji temu.”
“Anda tidak mengerti. Saya harus menemui Anda
segera. Sekarang juga.”
“Sekarang? Ini masih tengah malam.”
“Saya mohon. Saya berada di rumah makan di Shinlin,
247
di pojok Lincoln Street dan Paul’s Meadow Road. Saya
akan menunggu kedatangan Anda.”
la menutup telepon, dan Senator mengumpat-umpat
pada dinding kamarnya. Setelah membanting telepon, ia
menuang Jack Daniel’s ke gelas. Ia menghabiskan
minuman itu sekali teguk dan berniat akan mengabaikan
telepon tadi dan kembali tidur.
Tapi ia ragu. Apa sih yang diketahui reporter itu
tentang Vanessa yang tak bisa menunggu sampai pagi?
Dengan kesal ia menatap telepon itu, seolah benda itu
musuh bebuyutannya. Ia takkan bisa tidur lagi. Lagi pula,
ada nada mendesak dalam suara wanita itu, yang
terdengar serius.
Ia berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian ia sudah
berada di mobil, melaju ke Shinlin. Ia tahu kota itu,
karena sudah begitu sering ke Highpoint. Ia mengemudi
bagai pilot otomatis.
Ingatannya kembali ke malam lain, delapan belas
tahun yang lalu, waktu ia dibangunkan pada tengah
malam juga. Saat itu ia tengah berlibur di pertaniannya di
pedesaan Mississippi. Kehidupan di sana lambat dan
tenang. Kecuali malam itu.
Ia terbangun gara-gara bel pintu yang berdering tanpa
henti. Pengurus rumah keluar dari kamarnya di belakang
dapur, mengikat tali mantelnya, namun Clete sampai di
pintu lebih dulu.
David Merritt berdiri di ambang pintu, basah kuyup
kehujanan seperti kucing yang nyaris mati tenggelam dan
tampak sama memelasnya. Cahaya kilat menampakkan
goresan-goresan panjang dan berdarah di pipinya.
“Kenapa kau?” seru Clete.
248
“Aku minta maaf telah membangunkan Anda, tapi aku
harus segera menemui Anda.”
“Ada apa? Kau mengalami kecelakaan?”
David memandang pengurus rumah dengan gelisah.
Clete menyuruhnya pergi dan wanita itu kembali ke
kamar.
Clete membawa David ke ruang kerja, menyalakan
lampu meja, dan menuang segelas brendi untuk anak
muda itu. David duduk di kursi dekat jendela, memegangi
gelas dengan kedua tangannya, dan menghabiskan isinya
sekali teguk.
“Tidak biasanya kau minum seperti itu,” komentar
Clete, sambil menyerahkan saputangan untuk membersihkan
goresan-goresan berdarah di wajah David. “Apa pun
yang terjadi padamu pasti gawat. Jadi, ceritakanlah.”
Clete duduk bersandar di sofa santai yang terbuat dari
kulit dan mengambil cerutu. David berdiri dan mondarmandir.
“Ada seorang gadis.”
“Sudah kukira,” ujar Clete, mengibaskan korek api
yang digunakannya untuk menyalakan cerutu.
“Aku berkenalan dengannya waktu kita kemari musim
panas yang lalu.”
“Gadis setempat? Di mana kau bertemu dengannya?
Siapa namanya? Siapa orangtuanya?”
“Namanya Becky Sturgis, tapi Anda tak mungkin
mengenalnya. Dia cewek murahan, bukan orang penting.
Aku bertemu dengannya di restoran kumuh di tepi jalan.
Dia sudah mabuk ketika aku tiba. Kami berkenalan,
akhirnya berdansa Kami saling merayu, mulai bercumbu.
Dalam sekejap mata suasana jadi panas dan menggebu249
gebu. Dia menciumiku tanpa henti. Kami harus keluar,
kalau tidak akan terjadi peristiwa memalukan. Kami baru
saja keluar dari pintu ketika dia menarikku. Karni
melakukannya di situ, bersandar di dinding bangunan
itu.”
la bersikap munafik kalau memarahi anak asuhnya
karena berhubungan seks tanpa pikir panjang. Ketika
seumur David, ia juga melakukan perbuatan-perbuatan
liar. Baru setelah dewasa ia mengerti betapa pentingnya
berpikir panjang dan bertindak bijaksana. Meskipun
begitu, ia merasa harus menegur juga.
“Beberapa negarawan besar gagal memasuki Gedung
Putih karena tidak bisa mengontrol nafsu mereka. Mereka
tidak menggonakan otak ketika berurusan dengan
wanita.”
“Aku tahu,” tukas David sengit. “Demi Tuhan, kukira
dia tak berbahaya. Dia manis, seksi, dan tak banyak
menuntut. Dia tinggal sendirian, bekerja di perusahaan
susu sebagai operator untuk truk-truk pengantar, tidak
punya keluarga dekat.”
Clete menggeram tak percaya. “Kalau dia begitu tak
berbahaya apa yang membuatmu datang ke rumahku
tengah malam begini, berdarah-darah dan tampak seperti
akan muntah di karpet mahal almarhumah istriku?”
“Aku... aku membunuhnya.”
Bibir Clete ternganga begitu lebar hingga cerutunya
yang masih menyala nyaris jatuh ke pangkuannya. Pelanpelan
ia berhasil menguasai diri hingga bisa meninggalkan
kursi dan menuang segelas brendi lagi, kali ini untuk
dirinya sendiri. Ia menenggaknya hampir secepat David
menghabiskan minumannya tadi. Clete bisa melihat
250
impiannya untuk pemuda itu lenyap bagai asap.
David Merritt bekerja begitu penuh dedikasi sebagai
relawan dalam kampanye Armbruster, hingga tak lama
kemudian ia ditawari pekerjaan yang sesungguhnya.
Ketika Clete pertama kali berjumpa dengannya, David
baru saja keluar dari Marinir. Ia penuh disiplin dan
intuitif. Ia cuma membutuhkan pengawasan sedikit atau
tidak sama sekali. Ia melaksanakan semua tugas dengan
penuh percaya diri dan bijaksana. Clete tidak butuh waktu
lama untuk memberinya tanggung jawab yang lebih
besar.
Setelah terpilih menjadi senator, ia mengajak David
bergabung sebagai stafnya di Washington Selama dua
tahun terakhir David membuktikan dirmya merupakan
aset yang berharga dan murid yang pandai di bidang
politik. Clete sudah punya rencana-rencana besar untuknya,
sebab ia melihat David memiliki kualitas yang dibutuhkan
untuk menjadi politisi andal.
Ia pintar mengurus bidang ekonomi, karena di masa
mudanya ia harus mencukup-cukupkan uang seadanya
yang dimilikinya. Di waktu senggang ia mempelajari
hukum dan prosedur pemerintah. Ia memiliki catatan
masa tugas yang bagus di militer. Ia tampan dan pandai
bicara, dan sampai malam ini, bebas dari skandal.
Clete terpaksa berjuang keras untuk menahan diri
supaya tidak menghampiri pria itu dan menamparnya
kuat-kuat karena telah berbuat begitu tolol. “Kurasa kau
punya alasan kuat untuk membunuhnya,” ia berkata
dengan marah.
“Aku bersumpah demi Tuhan bahwa itu kecelakaan.”
“Jangan bersumpah pada Tuhan,” kata Clete mengge251
legar.
“Bersumpahlah padaku, Nak.”
“Aku bersumpah, Clete.”
Lama ia mengamati wajah David, namun tidak melihat
tanda-tanda kebohongan pada ekspresinya yang kalut. Ia
cuma anak muda yang ketakutan.
“Baiklah,” Clete berkata. “Apa yang terjadi?”
“Pertama, aku harus kembali ke masa lalu dulu.
Setelah kejadian pertama itu, aku mulai menemuinya
setiap kita kemari.”
Clete memindahkan cerutu dari ujung mulutnya yang
satu ke ujung yang lain. “Saat Natal?”
“Ya, Sir.”
“Paskah?”
David mengangguk.
“Waktu kau pacaran dengan Vanessa? Kau menipu
kami berdua!”
“Anda salah mengerti, Clete,” David berbicara penuh
emosi, suaranya bergetar. “Anda tahu bagaimana perasaanku
terhadap Vanessa. Aku mencintainya dan ingin
menikahinya, tapi...”
“Tapi kau merasakan dorongan untuk menggauli
cewek murahan yang suka mabuk dan berhubungan seks
sambil bersandar di dinding luar kedai bir kumuh. Itukah
pendapatmu tentang cara menjalani kehidupan asmaramu?”
Semburan kemarahan itu menjernihkan kepala Clete.
Ia kembali ke sofanya dan membiarkan emosinya
menggelegak sementara ia mengisap cerutu dengan
marah. Dengan bijaksana David memberinya waktu
untuk menenangkan diri. Akhirnya ia menggeram,
“Ceritakan sisanya.”
252
“Pada kunjungan terakhir kita ke sini, dia menelepon
dan minta aku menemuinya di tempatnya. Ketika aku tiba
di sana...” David terdiam sejenak, mengusap wajahnya.
“Aku kaget setengah mati. Perutnya tidak serata biasanya.”
Clete cuma menatapnya selama beberapa saat. “Berikan
botol brendi itu.” David menurut, biarpun Clete tampak
ingin melemparnya dengan botol kristal itu. Clete
meminumnya dua teguk. “Maksudmu, dia hamil?”
“Ya. Dia melahirkan beberapa minggu yang lalu. Anak
laki-laki.”
“Anakmu?”
“Mana aku tahu?” teriak David, meninggikan suara
untuk pertama kalinya. “Mungkin saja, tapi mungkin juga
dia anak puluhan laki-laki lain. Katanya sih itu anakku.
“Dia mulai merengek-rengek supaya aku melihat bayi
itu, berkeras dia anakku. Aku takut kalau aku tidak
menurutinya, dia akan berbuat gila.
“Jadi aku pergi ke sana malam ini untuk memberinya
uang. Kupikir paling tidak itulah yang bisa kulakukan.
Tapi... tapi dia tak mau diajak berunding, Clete. Dia
melempar uang itu ke mukaku, mengatakan aku tak bisa
mengganti tanggung jawabku dengan uang, mengatakan
dia takkan mau menerima apa pun selain pernikahan.”
Setiap kata bagai hantaman palu, memaku peti mati
masa depan David Merritt di dunia politik. Kini Clete
takut dirinya sendirilah yang bakal muntah di karpet
mahal almarhumah istrinya.
“Aku langsung memberitahu dia bahwa pernikahan tak
mungkin terjadi,” ,kata David. “Kukatakan bahwa aku
sudah benunangan dengan orang lain, dengan wanita
yang kucintai.”
253
la berhenti sebentar dan melirik Clete. “Aku sadar
belum melamar Vanessa secara resmi, dan tidak bermaksud
melakukannya sampai dia selesai kuliah, tapi dia tahu aku
sangat mencintainya. Di antara kami kurang-lebih ada
pengertian bahwa...”
“Lanjutkan ceritamu,” potong Clete kasar’ “Apa yang
terjadi waktu kauberitahu pelacur itu bahwa kau takkan
menikahinya?”
“Dia mengamuk.” David duduk kembali dan menutupi
wajahnya dengan dua tangan selama beberapa saat.
Akhirnya, ia menurunkan tangannya dan menyatukannya
di antara lututnya. “Dia menggunakan laci lemari sebagai
tempat tidur bayi. Kurasa teriakannya membuat si bayi
ketakutan. Yah, anak itu menangis keras, dan itu
tampaknya membuatnya kehilangan kontrol. Katanya dia
tak mau kerepotan membesarkan anak itu sendirian, lalu,
dia... dia mencengkeram leher anak itu dan mulaimencekiknya.
Aku berusaha melepaskan tangannya,
namun tidak bisa. Dia mencekiknya.”
“Ya Tuhan!” Clete terkesiap. “Dia membunuhnya?”
David mengangguk. “Aku kaget setengah mati. Sesaat
yang lalu bayi itu masih menangis, sesaat berikutnya, dia
diam. Mati.”
“Kenapa kau tidak menghubungi polisi?”
“Dia tidak memberiku kesempatan,” bantah David.
“Perempuan jalang itu menyerangku. Karena itulah
wajahku sepeni ini. Dia menerkamku seperti kucing liar.
Aku harus melindungi diri. Kami berkelahi. Dia
kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam sudut
meja yang dipaku ke lantai. Tengkoraknya pasti pecah.
Tempat itu penuh darah. Dia mati.”
254
la memejamkan mata kuat-kuat, namun air matanya
tak tertahankan. Ia mulai tersedu-sedu. Dengan bahu
terguncang-guncang, ia menangis seperti bayi. “Satu
kesalahan. Satu kesalahan, dan sekarang semua yang telah
Anda lakukan untukku, semua usaha kita, hancur. Dan
Vanessa. Ya Tuhan,” David tergagap. “Apa kata Vanessa
nanti tentang diriku? Bagaimana kejadian ini akan
mempengaruhi masa depan kami?”
Clete sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dan
perhatian untuk menjadikan David Merritt presiden, dan
ia tak mau membuang semua itu hanya gara-gara seorang
gadis yang tak mau didepak dan seorang bayi yang tidak
semestinya dilahirkan. Kalau mereka hanya perlu
mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi politik
akibat perbuatan David, Clete dengan mudah akan
membereskan masalah ini untuk melindungi investasinya.
Tapi dengan melibatkan Vanessa, David membuat
Clete harus turun tangan. Ia takkan mungkin membiarkan
hati putrinya hancur karena mengetahui laki-laki yang
dipujanya selama bertahun-tahun dan diharapkannya
akan menjadi suaminya telah menghamili wanita kelas
bawah dan kemudian secara tak sengaja membunuhuya.
Dalam rencana besarnya, Becky Sturgis dan bayinya
tidak berarti banyak, sementara David Malcomb Merritt
ditakdirkan berjaya. Suatu hari nanti ia akan memiliki
lebih banyak kekuasaan daripada individu lain di muka
bumi ini. Kenapa segala potensinya itu harus dikorbankan
gara-gara satu kesalahan? Kenapa semua harapan dan
impian Vanessa mesti buyar padahal ia tidak bersalah?
Dan kenyataannya, walaupun tidak melakukan kesalahan
apa pun, Vanessa-lah yang paling menderita.
255
Clete takkan membiarkan hal itu terjadi, apa pun
risikonya.
“Baiklah, Nak, tenangkan dirimu.” Didekatinya David
dan ditepuknya punggungnya. “Mandilah. Minum segelas
brendi. Tidur. Jangan ceritakan hal ini pada siapa pun.
Sampai kapan pun.”
David mendongak, ekspresi wajahnya muram. “Maksud
Anda...”
“Aku akan membereskannya,” Clete berkata.
David berdiri dengan goyah. “Aku tak bisa meminta
Anda melakukan itu. Dua orang telah meninggal.
Bagaimana Anda akan...”
“Biar aku saja yang memikirkan detailnya.” Ditekannya
dada David dengan telunjuknya yang kokoh. “Tugasku
adalah membuat persoalan ini lenyap. Tugasmu adalah
menutupi perbuatanmu. Kau mengerti, Nak?”
“Ya, Sir.”
“Jangan lagi berhubungan seks sembarangan. Kalau
kau ingin menyalurkan nafsumu, pergi ke tenaga
profesional dan kirimkan tagihannya padaku.”
“Ya, Sir.”
“Kami tak bisa membuatmu terpilih menjadi presiden,
lalu menghadapi segerombolan pelacur yang tiba-tiba
muncul dan menuntut kau mengakui anak mereka sebagai
anakmu, bukan?” Clete tersenyum.
Dengan lemah, David ikut tersenyum. “Ya, Sir.”
“Nah, di mana trailer gadis itu?”
Clete membereskan masalah itu malam itu juga.
Seperti kata David, tempat itu berantakan, tapi tidak ada
kata tak mungkin dalam kamus Clete. Dalam waktu
kurang dari 48 jam, seluruh insiden Becky Sturgis telah
256
lenyap ditelan bumi.
David tak pernah bertanya bagaimana Clete membuat
dua mayat lenyap tanpa membangkitkan kecurigaan. Ia
tak pernah bertanya bagaimana Clete berhasil menghapuskan
keberadaan Becky Sturgis. Sesuai petunjuk Clete,
David bersikap seolah insiden itu tak pernah terjadi.
Selama delapan belas tahun berikutnya mereka tak pernah
menyebut-nyebumya lagi. Sampai beberapa hari yang
lalu di Ruang Oval, waktu Clete secara halus menyinggungnya.
Kematian cucunya sendiri membuat Clete teringat
pada kematian wanita muda lain dan anaknya yang baru
lahir. Kedua peristwa itu tidak sama namun memiliki
cukup banyak kemiripan yang membuatnya resah.
Pikiran yang amat mengganggu sering melintas di
benak sang Senator.
Apakah David Merritt, dan bukan si ibu, yang
membunuh bayi itu delapan belas tahun yang lalu? Dan
jika benar, apakah ia telah membunuh lagi?
257
Bab Dua Puluh Dua
BARRIE terus mengawasi pintu rumah makan, tidak
sabar, tapi juga takut, menghadapi Senator Armbruster.
Di daerah tempat sebagian besar bangunannya
berarsitektur Georgian, restoran itu tampak tidak cocok.
Tengah malam begini, para tamunya cuma beberapa
pegawai rumah sakit dan sepasang remaja yang asyik
mengisap milk shakes yang sudah mencair dan berciuman.
Barrie dan Gray menikmati kopi mereka di tempat
duduk di depan jendela kaca besar yang menampakkan
pemandangan pintu masuk ruang gawat darurat. Setelah
muntah-muntah, Dr. Allan butuh waktu sebentar untuk
menenangkan diri, lalu mengikuh iringiringan muram
tadi memasuki rumah sakit. Ia belum muncul kembali,
dan sejak tadi tak ada kegiatan lebih lanjut.
Gray tak banyak bicara. Matanya terpaku pada pintu
yang tadi dilewah brankar yang mengangkut tubuh
Vanessa. Ia duduk dengan lengan bertumpu di permukaan
meja berwarna pink flamingo. Kadang-kadang ia
mengepalkan jemarinya, lalu meluruskannya lagi dengan
kaku. Ia tampak marah dan sangat berbahaya.
Barrie berdehem. “Mereka mungkin mencoba dan
menyatakan kematiannya karena bunuh diri.”
258
“Tidak jika ada hubungannya denganku. Vanessa tak
mungkin membunuh bayinya, dan dia tidak bakal bunuh
diri.”
Menuruti dorongan hatinya, Barrie mengulurkan
tangan ke seberang meja dan memegang lengan pria itu.
Terkejut oleh sentuhannya, Gray menatap tangannya, lalu
memandang wajahnya.
“Aku turut prihatin, Gray,” Barrie berkata. “Aku tahu
kau dulu mencintai Vanessa. Bayi itu...” Ia ragu-ragu
sejenak. “Dia anakmu, bukan?”
“Apa bedanya?” Gray membentak, melepaskan
pegangan Barrie. “Dia sudah mati, begitu juga Vanessa.”
Barrie sakit hati oleh penolakannya. Bahkan ayahnya
sendiri, waktu mau repot-repot pulang, yang jarang
terjadi, tidak pernah menolakaya secara fisik atau sengaja
bersikap jahat padanya.
“Persetan kau, Mr. Bondurant.”
Barrie bangkit, ingin berjalan ke luar dan meninggalkannya
sendirian di sana, tenggelam dalam kesedihan.
Kalau bukan karena Senator Armbruster yang sebentar
lagi datang, ia pasti sudah melakukannya. Tapi akhirnya
ia hanya pergi ke kamar mandi. Sambil meletakkan
tangannya di kedua sisi wastafel, ia bersandar di situ
sampai berhasil mengumpulkan cukup banyak keberanian
untuk mengangkat kepala dan memandang dirinya di
cermin. Mungkin kemarahannya pada Gray tidak sesengit
kemarahannya pada dirinya sendiri. Rasa sakit pria itu
apa adanya, emosinya jujur. Sedang ia, kompleks.
Pergulatan antara minat profesional dan hati nuraninya
menimbulkan dilema moral baginya.
Ia adalah saksi mata peristiwa yang akan tercatat dalam
259
sejarah. Potensi berita yang akan membuat kariernya
meroket itu memenuhi pikirannya. Ia jadi bersemangat
membayangkan dirinya menjadi reporter pertama dan
satu-satunya yang ada di tempat kejadian untuk menyebarkan
berita itu.
Namun kematian tragis seorang wanita tidaklah pantas
untuk dirayakan, khususnya oleh orang yang mengenalnya
secara pribadi seperti Barrie. Kalau ia dulu berhenti
menyelidiki misteri yang menyelimuti kematian anak itu,
apakah Vanessa akan tetap dibunuh? Dalam mengejar
berita panas, apakah ia telah bertindak terlalu jauh?
Apakah ia ikut bertanggung jawab atas berbagai peristiwa
yang berakhir pada tragedi ini, atau nasib mengenaskan
Vanessa sudah ditentukan lama sebelum ia mengajak
Barrie minum kopi?
Yang paling menjengkelkan, ia takkan pernah tahu.
Selama sisa hidupnya, ia akan dihantui pertanyaanpertanyaan
meresahkan itu.
Ia mencuci tangan, lalu menekankan selembar handuk
kertas lembap ke wajahnya. Ketika keluar dari kamar
mandi, ia melihat Armbruster mendekati pintu masuk; Ia
menyongsong pria itu.
“Senator Armbruster.” Tiba-tiba ia teringat bahwa ia
belum memikirkan apa yang akan dikatakannya pada
senator itu. Pria itu mampu membuat siapa pun gentar.
Barrie jelas tidak suka menjadi orang yang harus
memberitahu pria itu bahwa putrinya sudah meninggal.
“Terima kasih atas kedatangan Anda,” katanya pelan.
“Miss, sebaiknya kau punya alasan sangat kuat untuk
membangunkan aku tengah malam seperti ini,” Armbruster
berkata, seraya mengikutinya ke tempat duduk. “Aku
260
takkan datang kemari kalau bukan.’.” la langsung
berhenti melangkah ketika melihat Gray Bondurant.
Gray berdiri. “Clete, lama tidak bertemu denganmu.”
Senator itu tak senang melihamya. Jelas ia memandang
rendah Gray, dan tidak sulit menebak penyebabnya.
Seorang ayah sudah sewajarnya membenci laki-laki yang
merusak kehormatan putrinya, khususnya jika putrinya
itu kebetulan menjadi Ibu Negara Amerika Serikat.
“Bondurant.” Ia tidak memedulikan uluran tangan
Gray. “Apa yang kaulakukan di sini?” Ia berpaling pada
Barrie. “Inikah kejutan besar yang kaukatakan di telepon,
‘urusan sangat penting’ itu?”
“Silakan duduk dulu, Senator. Beri kami kesempatan
untuk menjelaskan. Anda ingin minum kopi?”
“Tidak.” Armbruster duduk di hadapan Gray; Barrie
dan Gray duduk berdampingan di depannya. Sambil
menoleh pada Gray, ia berkata, “Kau jauh dari Montana.”
“Tepatnya Wyoming, dan aku di sini bukan karena
kemauanku sendiri.”
“Aku tak pernah tahu kau mau melakukan apa pun
yang tidak kauinginkan.”
“Dia berada di sini karena yakin beberapa nyawa
terancam,” kata Barrie. “Begitu juga saya.”
Alis Armbruster terangkat dengan gaya mencemooh.
“Oya? Nyawa siapa? Nyawa Hakim Agung Green?”
Ejekannya menyakitkan, namun Barrie tetap tenang.
“Anda mungkin tidak terlalu mempercayai kredibilitas
saya,” ia berkata, “tapi yang akan saya sampaikan ini
adalah fakta yang sebenarnya. Silakan Anda menarik
kesimpulan sendiri. Setuju?”
“Aku tertarik pada apa yang akan kausampaikan suma
261
sampai hal-hal yang menyangkut putriku.”
Barrie berpikir sebentar sebelum bicara. “Senator,
menurut pendapat saya, kematian cucu Anda bukan tidak
disengaja. Saya yakin dia dibunuh. Mungkin dibekap
supaya nafasnya terhenti dan kelihatan seperti SIDS.”
Armbruster menatapnya kaget. “Apa yang ingin
kausampaikan, Miss? Kalau kau bermaksud mengatakan
bahwa Vanessa…”
“David membunuhnya,” sela Gray, langsung ke
sasaran.
Tubuh senator itu sama sekali bergeming, cuma
matanya yang bergerak, memandang mereka bergantian.
Sesaat kemudian ia mencondongkan tubuh ke depan dan
mendesis, “Kau gila?”
“Tidak,” jawab Gray tenang. “David membunuh bayi
Vanessa karena dia bukan ayah bayi itu.”
“Itu kebohongan yang keterlaluan!” protes Armbruster,
tapi suaranya tetap pelan. “Kau orang terakhir yang boleh
menghakimi moral putriku, Bondurant. Dasar bangsat
tukang fitnah, mestinya kutembak kau sekarang juga.”
Wajah Gray jadi kaku. “David bukan ayah bayi
Vanessa. Tak mungkin. Dia telah divasektomi. Bertahuntahun
yang lalu.”
Barrie sama terkejutnya dengan sang Senator ketika
mendengar berita itu. Gray tak memedulikan seruan
pelannya dan memusatkan perhatian hanya pada
Armbruster. “Tidak ada yang tahu soal itu, Clete. Vanessa
pun tidak. Khususnya Vanessa. Selama bertahun-tahun
dia mencoba segala cara supaya bisa hamil, dan bajingan
itu membiarkannya, tahu itu takkan pernah terjadi. Dia
senang melihat istrinya kecewa setiap bulan ketika
262
mendapat menstruasi.”
Barrie memandangi Gray dari samping. Ia sudah
memutuskan bahwa pria itu individu yang kompleks, tapi
ia sekarang jadi bertanya-tanya berapa banyak sisi yang
dimilikinya. Tepat ketika ia merasa sudah melihat
semuanya, sisi lain pun muncul.
“David Merritt tak pernah melakukan vasektomi,
kalau pernah aku pasti mengetahuinya,” kata Senator.
“Kau bohong.”
“Aku tak peduli kau percaya atau tidak, Clete. Aku
cuma mengatakan faktanya. David tak mungkin menjadi
ayah, tapi Vanessa baru mengetahui hal itu setelah dia
hamil dan memberitahukannya pada David.”
Clete terus memandang tajam dengan ekspresi tidak
percaya, tapi Barrie mendeteksi bahwa kesengitannya
berkurang. “Dari mana kau tahu semua ini?” ia bertanya.
“Vanessa menelepon dan memberitahu aku.
“Kabar itu membuat Barrie terhenyak. Semula ia
mengira bahwa setelah Gray menyepi ke Wyoming, ia
tidak berhubungan dengan Vanessa lagi. Senator itu pun
kelihatannya punya pikiran yang sama. Ia tampak sama
terkejutnya dengan Barrie.
“Dia meneleponku sambil menangis,” Gray melanjutkan.
“Dia bertanya apa yang harus dilakukannya.”
“Jadi bayi itu anakmu,” kata Armbruster.
“Bukan itu masalahnya.”
“Itulah masalahnya!”
Kedua pria itu saling melotot, Armbruster dengan
pandangan menuduh, Gray dengan pandangan membangkang
. Akhirnya ia berkata, “Kau mau mendengar
kelanjutannya atau tidak?.”
263
Armbruster menggerakkan tangannya dengan tidak
sabaran.
“Biarpun kalian melihat yang sebaliknya di media,”
kata Gray, melirik Barrie sekilas, “David mengamuk
ketika Vanessa memberitahu dia hamil, karena hal itu
membenarkan gosip perselingkuhannya denganku. Kau
tahu betapa mudahnya David tersinggung, jadi bisa
kaubayangkan apa yang terjadi pada Vanessa.
“Ya Tuhan.” Gray menarik napas, menggeleng-geleng.
“Selama sembilan bulan itu dia membuat hidup Vanessa
seperti neraka jahanam. David tak punya pilihan selain
pura-pura ikut bergembira, namun dia cuma menunggu
kesempatan.”
Bahu Senator membungkuk. Jelas ia mempercayai
cerita Gray.
Barrie yang pertama memecah kesunyian mencekam
yang mendadak timbul. “Kenapa Presiden tidak menyuruh
Dr. Allan melakukan aborsi?”
“Aku pun bertanya-tanya” kata Armbruster.
“Karena aborsi tidak cukup menyakitkan bagi Vanessa,”
jawab Gray tanpa ragu. “Kurasa David ingin menghukumnya
karena perselingkuhannya. Kupikir hukuman terkejam
yang bisa direncanakannya adalah membiarkan Vanessa
mengandung anak itu, melahirkannya, menyayanginya,
mungkin bahkan mengurangi perasaan waswas istrinya
tentang hukuman itu. Ketika Vanessa sudah melakukan
semua itu, dia melaksanakan hukumannya, dengan tidak
tanggung-tanggung. Dan karena Vanessa menyaksikan
pembunuhan itu, David...”
Barrie menyadari bahwa Gray tak sanggup mengatakan
pada Senator apa yang harus dikatakannya. Ia menoleh
264
pada pria yang lebih tua itu. “Mrs. Merritt punya alasan
ketika menghubungi saya. Saya yakin dia berusaha
memberitahukan adanya bahaya”
“Bahaya?”
“Terhadap dirinya sendiri. Karena dia mengetahui
kejahatan Presiden.” Barrie menatapnya dengan penuh
simpati. “Saya menelepon Anda malam ini, Senator,
karena kami percaya bahwa Presiden telah... telah
menciptakan situasi yang membuat Vanessa tak mungkin
bersaksi atas tindakan kriminalnya.”
“Tidak mungkin bersaksi?” Armbruster mengulangi.
“Apa maksudmu?”
Barrie menggerakkan kepala ke arah rumah sakit.
Armbruster memandang ke balik kaca. Kaca itu memantulkan
interior restoran, termasuk bayangan mereka yang
muram. “Dia dibawa ke sana dengan ambulans sekitar
dua jam yang lalu,” katanya.
“Dari rumah George Allan?”
la mengangguk. “Kami mengikuti mereka.”
Armbruster tak lagi kelihatan seperti negarawan
berwibawa yang memiliki kekuasaan, yang punya
wewenang. Ia tampak seperti seorang ayah yang baru saja
mendapat kabar buruk tentang anak tunggalnya. Selama
beberapa saat terakhir wajahnya kelihatan seperti kalah
telak. Kerut wajahnya tampak makin dalam, lipatan
kulitnya rnengendur. Suaranya lemah, penuh dengan rasa
tidak percaya. “Baru beberapa hari yang lalu aku pergi ke
rumah itu.”
“Kau bertemu Vanessa secara langsung?” tanya Gray.
Ketika Senator menggeleng, kulit yang menggelambir
di bawah dagunya bergoyang. “George bilang dia sedang
265
beristirahat dan tak ingin diganggu, oleh aku sekalipun.
Dia menghiburku, katanya Vanessa cuma butuh istirahat.”
“Clete,” ujar Gray sabar, “George akan melakukan apa
saja yang diperintahkan David, seperti pada malam David
membunuh bayi itu.”
“Tapi Dinas Rahasia berada di sana untuk melindunginya.”
“Mereka tidak mampu melindungi cucumu. Percayalah
padaku, David sudah merencanakan semua ini dengan
cermat—dibantu Spence, aku yakin. Vanessa harus
minum banyak obat. Dia mungkin memanfaatkan fakta
itu. Jika Vanessa meninggal...”
“Meninggal?” ulang Armbruster. “Maksudmu...” Matanya
dengan cepat berpindah dari Gray ke Barrie.
Belakangan Banie tak ingat ia meninggalkan restoran
itu dan berlari melewati jarak pendek yang memisahkan
tempat itu dengan pintu masuk ruang gawat darurat. Para
agen Dinas Rahasia sama sekali tak tampak. Perawat yang
sedang bertugas di meja resepsionis bertanya ramah
apakah ia bisa membantu mereka.
Senator bahkan meliriknya pun tidak. Ia berjalan cepat
melewati pintu otomatis, diikuti Barrie dan Gray tepat di
belakangnya. Dr . Allan sedang bersandar di dinding
ujung koridor. Ia tampak sama kalutnya dengan ketika
mengantarkan mayat Vanessa ke dalam rumah sakit.
Ketika ia mengangkat kepala dan melihat Armbruster,
Barrie, dan Gray mendatanginya, wajahnya berubah
seputih kapas.
“Senator Arrnbruster, kenapa... kenapa Anda ada di
sini?”
“Mana putriku?” Armbruster memandang pintu di
266
belakang dokter itu. “Dia di dalam sana?”
“Tidak.”
“Dasar bangsat pembohong.” Didoronguya dokter itu
ke samping, namun George Allan mencengkeram lengan
kemejanya.
“Senator, saya mohon. Saya tak bisa membiarkan
Anda masuk. Tunggu sampai dia selesai diperiksa.”
Armbruster mengeluarkan suara tercekik yang terdengar
seperti isakan. Gray menyambar kerah jas dokter itu dan
mendesaknya ke dinding. “Bajingan kau. Mereka akan
menghabisimu karena perbuatanmu ini... kalau aku tidak
membunuhmu lebih dulu.”
Karena diberitahu tentang adanya situasi tegang, para
petugas rumah sakit berkumpul di ujung koridor, namun
kepala penjaga keamanan sekalipun tak berani turun
tangan.
Armbruster membuka pintu yang sejak tadi dijaga Dr.
Allan, tapi ia terpaku berpegangan di situ, supaya tidak
jatuh. Di seberang ruangan, menempel di dinding,
tampak brankar tadi. Tali-tali pengikat telah dilepaskan.
Sosok kaku itu tertutup selimut.
“Oh, Tuhan.” Suaranya terdengar seperti kain dirobek.
Ia menyeret tubuhnya dan berjalan terhuyung-huyung
menyeberangi ruangan. Barrie dan Gray mengapitnya,
siap memapah. George memasuki ruangan. Protes-protes
sengitnya tetap tak digubris.
Ketika mereka sampai di dekat brankar, Senator
berdiri diam, memandangi selimut itu, tangannya terjntai
di samping tubuhnya.
“Clete?” kata Gray.
Senator itu mengangguk. Gray memegang dua sudut
267
selimut dan mengangkatnya.
Terdengar suara napas tersentak waktu mereka menatap
wajah mayat itu; wajah Jayne Gaston, R.N.
268
Bab Dua Puluh Tiga
“JAYNE GASTON adalah perawat pribadi yang dipekerjakan
George Allan untuk merawat Vanessa sewaktu
dia dalam pengasingan di Highpoint.” Barrie berbaring
telentang di ranjang lipat yang dulu merupakan tempat
tidur Cronkite setiap kali ia membawanya ke rumah
Daily. Ia sedang melaporkan kejadian-kejadian semalam
supaya Daily tidak ketinggalan berita. “Omong-omong,
terima kasih kau mengizinkan aku menginap di sini.”
“Memangnya ada tempat lain?”
“Persis itulah maksudku. Aku warga kasta paria. Kalau
aku penderita lepra, tak mungkin aku lebih dihindari
orang lagi. Mungkin sebaiknya kaukalungkan lonceng di
leher untuk memperingatkan orang-orang bahwa aku
datang.”
“Tidak terlalu lucu,” tukas Daily masam.
“Kupikir juga begitu.” Suara Barrie serak karena
menahan tangis. “Yah, kembali ke semalam. Rupanya
Jayne Gaston mengalami serangan jantung kemarin sore
di rumah Highpoint Dr . Allan. Dia berusaha
menyelamatkan wanita itu, tapi tak berhasil.”
Sesaat, cuma suara napas Daily yang tersengal-sengal
yang terdengar di ruangan kecil dan berantakan itu. Di
269
mana-mana berserakan barang-barang yang dibeli Barrie
sejak rumahaya hancur. Sebagian besar pakaian itu masih
di dalam tas belanja. Daily duduk di ujung tempat tidur,
kaki Barrie yang terbalut stocking berada di pahanya. Ia
memijati kakinya tanpa semangat.
“Kalau perawat itu meninggal siangnya, kenapa
mereka menunggu sampai gelap dulu baru memindahkan
mayatnya?” Daily bertanya.
“Dr . Allan harus mengoros masalah pemindahan
Vanessa kembali ke Washington. Dia ingin melindungmya
dan trauma akibat kematian Mrs. Gaston. Sebuah
helikopter dikirim ontuk membawanya pulang ke
Gedung Putih, tapi saat itu dia sudah mengetahui soal
Mrs. Gaston. Dia tak bisa dihibur. Menurut dokter itu,
hubungan mereka berdua cukup dekat.
“Kemudian keluarga terdekat Mrs. Gaston, putranya,
yang tinggal di kota itu, tak bisa segera ditemukan. Dr.
Allan tidak mau tiba di rumah sakit dengan mayatnya
sebelum anaknya itu diberitahu.”
“Tapi itu kan sering terjadi.”
“Berbeda kalau yang meninggal perawat pribadi Ibu
Negara. Dr. Allan takut berita itu bocor dan tersebar luas
sebelum anaknya dapat dihubungi. Dia kan tinggal tidak
terlalu jauh.”
“Kurasa itu masuk akal,” gumam Daily. “Tapi kalau
kau tanya pendapatku, rasanya alasannya mengada-ada.”
“Yah, singkat cerita, Dr . Allan menunggu untok
menghubungi ambolans sampao dia merasa tak bisa
menunggu lebih lama lagi. Gray dan aku kebetulan
melihat iring-iringan kendaraan mereka di jalan. Kami
mengikutinya. Ketika kami melihat mayat itu...” Barrie
270
menghela napas.
“Kau menarik kesimpulan berdasarkan dugaan, bukan
fakta.”
“Silakan mencelaku terus.”
“Aku takjub kau betul-betul menelepon Armbruster
supaya datang ke sana.”
“Tetaplah takjub. Aku betul-betul menelepon Armbruster
dan juru kamera WVUE yang datang pada saat yang
tepat. Dia muncul beberapa detik setelah kesalahan
besarku ketahuan. Demi kepentingan anakcucu, dia
merekam kekagetanku dan Gray, Armbruster yang nyaris
semaput, dan kedatangan Ralph Gaston, Jr., putra
almarhumah, yang bukan cuma dihadapkan pada kesedihan
mendalam karena kematian ibunya, tapi juga dilibatkan
dalam keributan sebagai buntut kekeliruanku.
“Salah satu individu sadis dari kalangan pegawai
rumah sakit memberitahu pers setempat, yang akibatnya...
Yah, kau tahu kesudahannya. Kami jadi berita utama.
Syukurlah berita itu sudah dipadamkan sebelum jaringan
berita tiba. Aku kabur dengan satu-satunya rekaman
video peristiwa itu.”
la berhenti sebentar untuk menghapus air mata dan
membersihkan hidung. Ia jadi gampang menangis sejak
dimarahi Senator Armbruster habis-habisan. Tanpa
memedulikan orang lain, pria itu mencercanya karena
telah mempermalukan diri sendiri dan, lebih buruk lagi,
mempermalukan sang Senator. Ia harus dicambuk dengan
cemeti kuda karena membuatnya ketakutan seperti itu,
kata Armbruster, dan mempenngatkan bahwa ia akan
menerima ganjaran akibat perbuatannya yang tak bisa
dimaafkan, tak bisa ditolerir, dan tidak profesional itu.
271
Barrie tidak meragukan keseriusan kata-katanya dan
ngeri dengan peringatannya.
Ancaman orang itu bagai pisau mengilat yang siap
menebas lehernya. Tamat sudah riwayatnya; ia cuma tak
tahu kapan atap bagaimana pisau itu akan menebas
lehernya. Untuk jangka panjang, ia mungkin tak perlu
takut pada pembalasan dendam senator itu, sebab
ketegangan akibat tidak mengetahui bentuk pembalasan
dendam itu mungkin akan membuatnya hancur lebih
dulu.
“Ya Tuhan, Daily,” erang Barrie seraya menutupi
matanya dengan lengan, “kenapa aku bisa begitu keliru?
Semua fakta mengarahkan aku untuk menarik kesimpulan
bahwa Presiden Amerika Serikat telah melakukan satu,
bahkan mungkin dua pembunuhan. Aku mestinya
menggunakan logika dan berpikir dua kali.”
“Terus terang, menurutku masalahnya bukan cuma
logika,” kata Daily bersimpati. “Kalau kau ingat searah,
coba sebutkan tokoh yang tidak pernah mengabaikan
logika.”
“Berhentilah menghiburku. Biarkan aku tenggelam
dalam kesengsaraan. Aku pantas mengalaminya.”
Daily memijat tumimya. “Kau memang melakukan
kekacauan cukup besar, kuakui. Ini bahkan lebih parah
daripada insiden Hakim Agung Green.”
“Aku tak habis pikir,” Barrie berkata, suaranya nyaris
berbisik. “Waktu Gray menyibakkan selimut itu, aku
mengira bakal melihat rambut kecokelatan Vanessa yang
indah dan wajahnya yang halus. Tapi yang terbaring di
sana wanita yang sama sekali asing. Aku terpana. Dan
kemudian Armbruster tentu saja meledak seperti Gunung
272
St. Helens. Dan Gray...”
“Gray?” Daily bertanya.
“Dia menghilang seperti David Copperfield.”
Tindakannya yang konyol memang punya konsekuensikonsekuensi
berat, namun, dari semua itu, menghilangnya
Gray mungkin merupakan konsekuensi yang paling
berat. Ia pasrah dirinya akan menjadi sasaran balas
dendam Armbruster. Senator itu akan membuatnya
menderita karena selama beberapa menit Barrie telah
membuatnya yakin putrinya sudah meninggal. Selama
bertahun-tahun yang akan datang, ia bakal menjadi bahan
tertawaan korps wartawan Washington. Serpihan-serpihan
kredibilitas yang dengan susah payah dikumpulkannya
sejak peristiwa Hakim Agung Green kini musnah sudah.
Ia akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, itu pun
kalao mungkin, untuk mendapatkan kembali sejumlah
kecil rasa hormat dari kalangan jumalistik.
Biarpun seandainya ia tidak memberitahu stasiun TVnya
sendiri, akhirnya kejadian itu akan sampai juga ke
telinga mereka. Pennsylvania Avenue seperti jalan utama
di setiap kota kecil Amerika. Gosip dan berita buruk
tersebar dengan kecepatan cahaya. Kekacauan dengan
tokoh seterkenal itu tak mungkin bisa dirahasiakan.
Jadi ia siap diolok-olok. Rasanya pasti menyakitkan.
Namun tidak separah perginya Gray.
Ia mengalihkan pandangan dari topeng kematian Jayne
Gaston ke wajah pria itu, dan wajah keduanya sama-sama
tanpa ekspresi. Anehnya, ia lebih mengkhawatirkan
reaksi Gray daripada reaksi Armbruster. D, antara mereka
berdua, senator itu lebih vokal dan penuh makian.
Amukannya mengalihkan perhatian Barrie, dan ketika
273
laki-laki itu selesai mencercanya, Gray telah lenyap.
“Aku mencari-cari ke seantero rumah sakit, lalu ke
tempat parkir,” ujarnya. “Tak ada yang ingat pernah
melihatnya pergi. Mobilku masih di tempat kami
meninggalkannya, jadi aku tak tahu transportasi apa yang
digunakannya. Dia lenyap begitu saja.”
Dicabutnya kutikel ibu jarinya. “Kurasa dia malu
sekali karena orang yang begitu berpengalaman seperti
dia terseret oleh khayalan idiot seperti aku.”
“Kumohon,” erang Daily. “Ucapan mengasihani diri
sendiri membuatku ingin muntah.’’
“Aku tidak...”
“Kau tidak membuat Bondurant jadi percaya pada apa
pun, dan kau terlalu berbesar kepala kalau mengira
mampu berbuat begitu. Kau cuma mengkonfirmasi
kecurigaan yang memang sudah dirasakannya, ingat?”
“Tapi berdasarkan informasiku, dia jadi membunuh
Spence.”
“Untuk membela diri.”
“Kita yakin?”
“Kau meragukannya?”
“Yah, kalau tidak ada yang perlu disembunyikan
Merritt, kenapa dia mengirim Spence ke Wyoming untuk
menyingkirkan Bondurant? Karena aku telah menceritakan
padanya teori ngawurku, Gray pasti salah mengira tujuan
kunjungan Spence. Padahal waktu kedatangannya yang
tak lama setelah aku itu barangkali tak lebih dari sekadar
kebetulan. Merritt takkan membiarkan penasihat
andalannya hilang tanpa melakukan pencarian dan
penyelian besar-besaran. Gray akan dituduh melakukan
pembunuhan.”
274
“Dia menghapus jejak Martin dan mungkin
menyingkirkan mayatnya dengan begitu rapi hingga
takkan bisa ditemukan,” Daily berspekulasi. “Tak ada
mayat, tak ada pembunuhan.”
“Itu masalah teknis.”
“Kelihatannya dia tidak terlalu peduli.”
“Memang, dia lebih peduli soal Vanessa. Waktu
mengira wanita itu sudah meninggal, wajahnya sendiri
pucat seperti mayat.”
Gray mencintai Vanessa Merritt. Bukan cuma nafsu,
melainkan cinta sejati la begitu mencintainya hingga rela
mengorbankan kariernya demi wanita itu. Ia
mengundurkan diri supaya pernikahan maupun status
Vanessa di mata publik tidak hancur akibat skandal affairnya.
Ia begitu mencintainya hingga rela melepaskan hak
apa pun terhadap putranya. Ia pasti merasa tersiksa karena
tidak hadir ketika anak itu dilahirkan, dan kemudian
berduka sendirian atas kematiannya, di tempat yang bagai
pengasingan.
Barrie takkan pernah mendapatkan cinta seperti itu,
dan ia kesal karena menganggap pengabdian seperti itu
telah disia-siakan untuk wanita yang sedangkal dan
seegois Vanessa Armbruster Merriu. Ia sakit, itu betul.
Tapi apakah itu membuatnya boleh bersikap sangat
manipulatif? Kenapa Vanessa dulu melibatkan dia?
Mengapa ia melemparkan begitu banyak petunjuk untuk
diikutinya?
“Dia bisa dibilang jantan,” komentar Daily.
“Hmm. Apa? Siapa? Bondurant?” Barrie cepat-cepat
menarik kakinya dan duduk. “Aku tidak tahu.”
“Kalian tidak...” Daily mengangkat alis.
275
“Tentu saja tidak.”
“Tapi kau sebetulnya ingin.”
“Jangan macam-macam. Mr. Bondurant kita itu
memang memiliki beberapa sifat mengagumkan, namun
dia sangat jauh dari laki-laki idealku. Dia kuat, pendiam,
yang menurut pendapatku, sama artinya dengan bajingan
beradab.
“Dia membunuh teman karena katanya membela diri,
tapi kita kan cuma mendengar versinya. Dia berhubungan
dengan wanita yang takkan pernah dimilikinya, sampai
kapan pun. Dia hidup seperti pertapa di tengah hutan,
tempat yang aneh dan cukup menyeramkan.
“Bahkan kalaupun dia tinggal di pojok jalan dan
menjadi Warga Negara Teladan Tahun Ini, dia sama
sekali tidak merahasiakan pendapamya tentang aku, yaitu
aku ini sumber malapetaka, bencana yang sebentar lagi
akan terjadi. Yah, percakapan ini sebetulnya mubazir
karena aku tidak tertarik padanya, lagi pula dia kan sudah
menghilang. Oke?”
“Jadi, berapa lama sejak bertemu dengannya kalian
tidur seranjang?”
“Kira-kira sembilan puluh detik.”
“Ya ampun, Barrie.”
“Yeah. Benar-benar cara profesional, tapi cuma kalau
kau pelacur.” Barrie menghela napas. “Karena karierku
sebagai wartawan sudah tamat, barangkali sebaiknya aku
mempertimbangkan untuk bergerak di bidang pemenuhan
kesenangan pribadi.”
“Kau, jadi pelacur?” Daily terkekeh. “Aku ingin lihat.”
“Aku terpaksa minta bayaran tambahan karena kau
juga melihat.” Barrie mengayunkan kaki melewati tepi
276
tempat tidur . “Percakapan ini, yang kamuai dengan
harapan akan membangkitkan semangatku, malah
membuatku semakin tertekan. Aku mau mandi.”
“Mandi takkan menghilangkan sakit hatimu.”
“Yah, pokoknya aku mau mandi.” Dirogohnya tas
belanjanya untuk mengambil pakaian dalam baru. Sambil
melepas labelnya, ia berkata, “Kalau aku boleh mengajukan
satu permintaan, Daily, aku ingin kembali ke hari
Vanessa menelepon untuk mengajakku minum kopi. Dan
aku akan menolaknya.”
“Berarti kau kini yakin bayi Merritt meninggal akibat
SIDS, dan yang lainnya cuma penilaian buruk dan
khayalan aktifmu?”
Barrie mendongak dan menatapnya tajam. “Memangnya
kau tidak?”
“Kau tampak mengagumkan!” Clete memeluk putrinya
erat-erat. “Tak bisa kukatakan betapa senang hatiku
bertemu denganmu.”
“Senang bertemu denganmu juga, Daddy.” Vanessa
membalas pelukannya, namun Senator merasakan
kegelisahannya dan melepaskannya. Senyum Vanessa
secerah cincin berlian seharga sepuluh dolar dan tampak
jauh lebih palsu. “Tadi pagi aku melihat diriku di cermin.
Kurasa aku takkan menggunakan kata mengagumkan,
untuk menggambarkan diriku.”
“Kau baru sembuh setelah sakit berminggu-minggu.
Wajar kan kalau kau pucat? Sebentar lagi pipimu akan
kembali bersemu.”
“Menurutku, dia tampak luar biasa.” Ini perkataan
David Merritt, yang sedang mengoleskan mentega ke
muffin blueberry.


Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified