HOME

Wednesday, July 25, 2012

Perhu Kertas 1

Dee

Dewi Lestari

1.
JALAN YANG BERPUTAR
Amsterdam, Juni 1999 ...
Tidak ada alasan untuk meninggalkan Amsterdam pada musim
panas. Inilah masa terbaik untuk bersepeda di sekitar
Leidseplein dan Dam Square sambil menikmati sinar matahari
yang merupakan surga tahunan bagi warga kota. Ia
masih ingin duduk di pinggir pantai Blomendahl berbekal
kanvas dan alat lukis, atau menikmati ............ ................1 di
salah satu kafe di 9 Straatjes dari pagi hingga sore bersama
buku sketsanya.
Sambil mengosongkan baris terakhir bukunya dari rak
yang bergantung di samping tempat tidur, pertanyaan yang
sama seminggu terakhir ini berulang dalam kepalanya: umurku
baru jalan delapan belas, tapi kenapa aku merasa terlalu
lelah untuk semua ini?
Pintu di balik punggungnya berderit pelan.
“Nee2, Keenan. Jangan bebani kopermu dengan buku.
Biar Oma yang kirim semua bukumu ke Jakarta.”
1 Kopi susu atau café latte.
2 Tidak.
2
Keenan tersenyum tipis, urung membereskan buku-buku
tadi. Hatinya terusik. Oma mengatakan itu seolah-olah ia
tak akan pernah kembali ke rumah ini.
Keenan tahu saat ini akan hadir tak terelakkan. Hanya
keajaiban yang bisa membatalkannya kembali ke Indonesia.
Bertahun-tahun, Keenan berharap dan berdoa keajaiban itu
akan datang. Keajaiban tak datang-datang. Hanya sesekali
telepon dari Mama yang memuji sketsa-sketsa yang ia kirim,
tanpa ucapan tambahan yang menyiratkan kalau ia bisa
terus tinggal di Amsterdam, menemani Oma yang berjuang
agar tidak digusur ke panti jompo karena dianggap terlalu
tua untuk hidup sendiri, melukis di salah satu bangku di
Vondelpark, tumbuh besar menjadi seniman-seniman yang
ia kagumi dan banyak berseliweran di kota ini.
Keajaiban yang dimiliki Keenan punya tanggal kedaluwarsa.
Cukup enam tahun saja. Orangtuanya bertengkar
hebat seminggu sebelum akhirnya memutuskan bahwa ia,
anak pertama mereka, dilepas ke negeri orang. Padahal
Keenan tidak merasa di negeri orang. Bukankah di kota ini
mamanya dilahirkan dan menjadi pelukis, sampai akhirnya
pergi ke Indonesia dan berhenti menjadi pelukis? Keenan
tidak tahu persis apa yang terjadi. Bagaimana mungkin
orangtuanya, sumber dari bakat melukis yang mengalir dalam
darahnya, justru ingin memadamkan apa yang mereka
wariskan?
Papa khawatir Amsterdam akan menghidupkan seorang
seniman dalam diri anaknya. Kenapa Papa takut? Keenan
dulu bertanya. Karena otakmu terlalu pintar untuk cuma
jadi pelukis, jawab ayahnya. Keenan pun bertanya-tanya,
haruskah dia mulai menyabotase nilai-nilainya sendiri di
sekolah agar papanya keliru? Tapi, untungnya, sebelum itu
terjadi, Papa dan Mama sepakat. Dia diizinkan bersekolah
di Amsterdam untuk enam tahun. Hanya enam tahun.
3
Dua ribu lebih hari berlalu dan Keenan merasa enam tahun
sesingkat kedipan mata.
“Mungkin ini saja yang sebaiknya kamu bawa, vent3,”
Oma menyerahkan dua buah buku bertuliskan 2500 Latihan
Soal UMPTN, “supaya jij4 bisa belajar di pesawat.”
“Ja5, Oma.” Keenan menyambut dua buku tebal itu dan
berencana untuk meninggalkannya di kolong tempat tidur
begitu Oma keluar kamar nanti.
“Oma tunggu kamu di meja makan, ya.” Perempuan tua
itu berdiri, membereskan blus motif paisley-nya yang berkerut,
mengencangkan jepit yang mencapit rambutnya yang
sudah putih tapi masih lebat. Oma tersenyum. Keriput tidak
menyusutkan kecantikan dari wajahnya. Oma sangat mirip
Mama. Keenan mendadak merasakan kangen yang menjadikan
kepulangannya ke Jakarta tidak terlalu buruk.
“Oma jadi masak?”
“Bruinebonen soep6 dan kaas brodje7. Sesuai pesananmu.
Oma kan niet ferget8, vent. Oma selalu pegang janji.”
Satu malam pada musim dingin pertamanya di rumah
ini, pemanas rumah mereka rusak. Oma mendekapnya dan
membungkusnya dalam selimut tebal. Mereka berdua bertahan
seperti itu di sofa. Menunggu pagi. Untuk pertama
kalinya juga mereka merasakan kedekatan seperti dua sahabat
yang saling menjaga. Malam itu, Oma janji tidak akan
menangis kalau satu saat Keenan pulang ke Indonesia. Dan
Keenan pun ikut berjanji tanpa tahu betapa beratnya memegang
janji itu.
3 Panggilan untuk anak laki-laki.
4 Kamu.
5 Ya.
6 Sup kacang merah.
7 Roti keju.
8 Tidak bisa lupa.
4
Keenan memandangi neneknya yang berjalan menuju
meja makan. Sudut mulut Oma selalu tampak tersenyum
dan membuat air mukanya selalu ramah, langkahnya masih
tegap meski memelan setahun belakangan ini. Dari celah
pintu yang sedikit membuka, Keenan memandangi Oma
membereskan taplak meja yang sudah rapi dan duduk menatap
sup kacang merah yang mengepul di wajahnya. Sekalipun
samar, Keenan dapat melihat mata tua itu berkaca-kaca,
dan dalam gerakan cepat Oma tampak menyusut sesuatu
dari ujung matanya.
Keenan menutup pintu kamar. Tak lama, seluruh ruangan
itu tampak kabur. Berkali-kali Keenan mengerjapkan mata,
tapi air di pelupuknya seperti tidak bisa berhenti.
Jakarta, Juli 1999 ...
Cewek bertubuh mungil itu tak henti-hentinya bergerak, berjingkat,
kadang melompat, bahkan kakinya menendangi
udara. Padahal kegiatannya hanyalah mengemas buku ke
dalam dus, tapi dia memutuskan untuk mengombinasikannya
dengan berjoget.
Kupingnya tersumbat earphone yang mengumandangkan
musik new wave koleksi abangnya. Dia baru lulus SMA sebulan
yang lalu, tapi selera musiknya sama dengan anak
SMA lima belas tahun yang lalu. Semua orang selalu bilang,
yang namanya Kugy itu luarannya doang up-to-date, tapi
dalamannya out-of-date. Yang dikatai malah cuek cenderung
bangga. Kugy tetap bersikeras bahwa musik tahun ’80, terkecuali
fashion-nya, sangat keren dan genius.
“Karma-karma-karma-karma-karma Chameleon ... you
come and go ... you come and gooo ...” Kugy mengipasngipas
sebuah buku sambil menandak-nandak. Ia berusaha
5
keras tidak melihat cermin karena kelebatan bayangannya
saja sudah membuat ia ingin terpingkal-pingkal. Jelek
banget, decaknya. Terkagum-kagum sendiri.
Dari luar, adik perempuannya, Keshia, mengetuk-ngetuk
pintu. Setelah semenit tidak ada hasil, Keshia yang tidak
sabar mulai menggedor-gedor.
.............. .............. ........ .................. ..........
Ada suara dewasa berceletuk pelan dari belakang, “Kak
Kugy.” Terdengar penekanan pada kata ‘‘Kak’’.
Keshia melirik ibunya sambil melengos. Beliau tidak
bosan-bosannya mengingatkan untuk memanggil Kugy dengan
tambahan ‘kak’. Masalahnya, kelakuan kakak perempuannya
yang satu itu kurang layak untuk menyandang titel
‘‘kakak’’.
Pintu penuh stiker di hadapan Keshia membuka. Kugy
melongok dengan sebelah earphone-nya menjuntai. Bukannya
buru-buru mengangkat telepon, dia malah menengok ke
ibunya dulu, “Ma, gimana kalau aku ganti nama jadi Karma?
Kan tetap dari ‘K’. Jadi nggak menyalahi aturan rumah ini.”
Keshia ikut menengok ke ibunya dengan tatapan putus
asa, “Tuh, kan, Ma? Dia aneh banget, kan?”
Ibunya hanya mengangkat bahu sambil terus membaca.
“Punya anak lima saja manggilnya suka ketukar-tukar, apalagi
ada yang mau ganti nama. Malas, ah. Nanti saja kalau
Mama sudah tua, sudah pikun. Jadi nggak ngaruh. Mau
Karma, kek, mau Karno ... terserah.”
Keshia dibuat melongo. Dia mulai menyadari dari mana
keanehan Kugy itu berasal.
Dengan logat British yang dibuat-buat, Kugy menjawab
telepon. “Karma Chameleon speaking. Who is this?”
Ada beberapa detik kosong sampai terdengar jawaban
dari ujung telepon. “Gy? Noni, nih. Emang lu sangka siapa
yang nelepon? Ratu Inggris?”
6
Mendengar suara Noni, mata Kugy langsung berbinar.
Noni adalah sahabatnya sejak kecil. Dialah orang yang paling
menunggu-nunggu Kugy selesai berkemas supaya bisa
langsung cabut ke Bandung. Noni juga orang yang paling
repot, persis seperti panitia penyambutan di kampung yang
mau kedatangan pejabat tinggi. Dia yang mencarikan tempat
kos bagi Kugy, menyiapkan jemputan, bahkan menyusun
daftar acara mereka selama seminggu pertama. Singkatnya,
Noni adalah seksi sibuknya.
“Jadi ke sini, nggak? Entar kamar kos lu keburu gua lego
...... ............ .............. ............ .......... .......... ...................... ............ ..............
kontras menggantikan suara Boy George yang halus dari kuping
Kugy.
“Santailah sedikit, Bu Noni. Legalisasi STTB ke sekolah
aja gua belum sempat ....”
“HA? Orang lain tuh sudah dari berabad-abad yang lalu
...................... .................... ............
“Itu jelas nggak mungkin. Yang namanya STTB baru ada
waktu angkatan abang gua sekolah ....”
“Kapan mulai beres-beres, Gy? Buku-buku lu yang banyak
banget itu dipaket aja ke Bandung, nggak usah bawa
sendiri. Bagasi mobilnya Eko kan kecil, nanti nggak bakal
muat. Lu bawa baju-baju aja, ya? Tiket kereta api udah pesan,
belum? Lagi penuh lho. Ntar terpaksa beli di calo. Sayang
duit.”
“Non, lu tuh lebih cerewet dari tiga nyokap gua dijadiin
satu. Serius.”
“Minggu depan, pokoknya nggak mau tahu, lu harus
udah sampai di Bandung. Mobil Eko udah gua suruh masuk
bengkel dulu biar nggak mogok pas ngejemput lu ke stasiun.
Habis itu kita langsung keliling buat belanja kebutuhan lu.
Kamar lu udah gua sapu-sapu dari kemarin. Pokoknya tahu
beres, deh.”
7
“Tapi lu juga lebih rajin dari tiga pembantu gua dijadiin
satu.”
.............. .......... ............
“Kurang ajar lagi ....”
............ .............. ............
“Gimana sih, gua. Payah banget.”
Noni tiba-tiba tertawa. “Kok lu jadi marahin diri lu sen-
............
“Iya, ya?” Kugy ikut tertawa. “Supaya menghemat energi
lu, Non. Kan lu udah capek bantuin gua. Udah capek
ngurusin si Eko dan Fuad-nya yang ngadat melulu itu ...”
................ ............................ .................... ........date pake sepeda
kumbang daripada Fiat kuning itu. Lebih sering si
Fuad mogok daripada si Kombi kawin.”
.................... ............ ................ ............ ................ .......... .......... ..........
beranak, minimal kalian bisa jadi peternak Fiat ...” Kugy
tergelak-gelak. Komba dan Kombi adalah pasangan hamster
peliharaan Noni dan pacarnya, Eko. Pasangan Komba dan
Kombi ini tidak henti-hentinya beranak sampai-sampai Noni
dan Eko sempat punya profesi baru yakni pedagang
hamster.
“Ya udah, minggu depan pokoknya gua tunggu di Bandung,
ya. Jangan lupa: STTB, pesan tiket KA, packing, paketin
buku-buku lu, payung lipat yang dulu lu pinjam, jaket
jins gua—masih di lu kan, ya? Terus ...”
Kugy menjauhkan gagang telepon sebentar dari kupingnya,
menunggu sayup suara Noni selesai bicara sambil
pindah-pindah saluran teve.
“Gy? Udah dicatat semua? Kugy?”
.......... .................... .................... ................ .................. .............. ........
........ .............. .............. .............. ........
Saat pembicaraan telepon itu usai, Kugy terkikik-kikik
sendiri. Sahabatnya yang satu itu memang luar biasa. Ke8
luarganya sendiri bahkan tidak usah repot mengurus ini-itu
ketika Kugy harus bersiap kuliah di Bandung. Noni membereskan
hampir segala persiapan Kugy dengan baik dan
sukarela. Dari mereka kecil memang selalu begitu. Orangorang
bilang, Noni seperti mengasuh adik, padahal mereka
seumuran.
Noni yang anak tunggal dan Kugy yang dari keluarga besar
adalah sahabat karib yang saling melengkapi sejak TK.
Kedua ayah mereka sama-sama merintis karier di perusahaan
yang sama, dan hubungan kedua keluarga itu terjalin
akrab semenjak hari pertama mereka berjumpa. Seperti disengaja,
kedua ayah mereka pun selalu ditugaskan berbarengan.
Noni dan Kugy tumbuh besar bersama, selalu tinggal di
kompleks perumahan yang sama, pindah dari satu kota ke
kota lain hampir selalu bersamaan: Ujungpandang, Balikpapan,
Bontang, dan berakhir di Jakarta saat mereka kelas
1 SMP. Pada tahun itu, untuk pertama kalinya mereka berpisah.
Ayah Noni yang duluan pensiun, memilih tinggal di
Subang untuk menghabiskan hari tuanya, dan Noni kemudian
disekolahkan di Bandung. Sementara ayah Kugy tetap
tinggal di Jakarta bersama keluarganya.
Meski Noni selalu tampak lebih dewasa dan teratur ketimbang
Kugy yang serampangan, sesungguhnya Kugy memiliki
keteguhan yang tidak dimiliki Noni. Sejak kecil, Kugy tahu
apa yang dimau, dan untuk hal yang ia suka, Kugy seolaholah
bertransformasi menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Pilihannya mengambil jurusan Sastra adalah buah dari
cita-citanya yang ingin jadi penulis dongeng. Pilihannya
kuliah di kota lain adalah buah dari khayalannya untuk hidup
mandiri. Di luar dari perilakunya yang serba spontan,
Kugy merencanakan dengan matang perjalanan hidupnya.
9
Ia tahu alasan di balik semua langkahnya, dan benar-benar
serius menangani impiannya.
Dari SD, Kugy rajin menabung, dan semua hasil tabungannya
dibelikan buku cerita anak-anak, dari mulai cergam
stensilan sampai buku dongeng klasik yang mahal.
Kemudian investasi itu ia putarkan lagi melalui usaha penyewaan,
sampai bukunya terus bertambah banyak. Jadilah
Kugy pemilik taman bacaan termuda di kompleksnya, sekaligus
yang tergalak. Seperti predator di hutan rimba, ia memburu
para penyewa ‘‘nakal’’ dengan sepeda mininya, hingga
mereka tersudut dan tidak ada cara lain agar berhenti dikejar-
kejar selain mengembalikan buku.
Kugy melakoni dengan tekun segala kegiatan yang ia anggap
menunjang cita-citanya. Kugy menjadi Pemimpin Redaksi
majalah sekolah dari mulai SMP sampai SMA. Ia dikenal
sebagai pionir dengan ide-ide segar bagi kehidupan
................ .................. ...... ............ ................ .......... .......... .............. ................
untuk diwawancarai dengan pendekatan yang profesional,
yang lalu dituangkan ke dalam bentuk artikel yang serius.
Dengan rajin ia mengikuti segala perlombaan menulis di
majalah-majalah, lalu bekerja sebaik dan sekeras mungkin,
untuk akhirnya keluar menjadi juara. Sampai-sampai Kugy
hafal juri-juri mana yang biasa dipakai dan bagaimana seleranya.
Tidak semua orang menganggap menjadi penulis dongeng
layak disebut sebagai cita-cita. Kugy juga tahu itu. Semakin
ia beranjak besar, Kugy sadar bahwa sebuah cita-cita yang
dianggap layak sama dengan profesi yang pasti menghasilkan
uang. Penulis dongeng bukan salah satunya. Untuk itu, sepanjang
hidupnya Kugy berupaya membuktikan bahwa ia
bisa mandiri dari buku dan menulis.
Dalam kamarnya yang bergabung dengan taman bacaan
di loteng rumah, Kugy menyusun balok demi balok mimpi10
nya. Suatu hari ia bukan hanya seorang kolektor buku dongeng.
Ia akan menulis dongengnya sendiri, kendati jalan
yang ditempuhnya harus berputar-putar.
11
Jakarta, Agustus 1999 ...
“Keenan mana, Ma?” tanya pria itu dengan gelisah.
Badannya, yang tinggi dan masih tegap untuk umurnya yang
memasuki kepala lima, hanya berbalutkan kaus putih polos
dan celana olahraga. Langkah-langkah beratnya hilir mudik
sedari tadi.
“Palingan juga masih tidur,” jawab istrinya santai. Konsentrasinya
lebih terpusat pada dua gelas berisi kopi susu
panas yang sedang ia aduk.
“Gimana, sih. Kok kayaknya kita yang lebih antusias menunggu
pengumuman UMPTN daripada pesertanya sendiri,”
dumel suaminya.
.......... .......... .................. .................. .......... .................. .............. ...... ........
dengar gesekan kertas koran di depan pintu.
Seperti balap lari, mereka buru-buru ke pintu depan dan
langsung membuka halaman tengah koran yang padat dengan
barisan nama-nama.
.......... .................. ........ ................ .................. ................ .............. ............
tercekat sambil menunjuk satu nama.
2.
PINDAH KE BANDUNG
12
Antara percaya dan tidak, pria itu pun meyakinkan dirinya
berkali-kali, bahwa memang cuma ada satu nama seperti
itu: K E E N A N. Tercetak jelas.
“Kita bangunkan saja dia,” ujarnya tidak sabar.
“Ah, nggak usah. Biar dia tidur sepuas-puasnya. Kasihan
Keenan, dari kemarin begadang terus,” istrinya menyergah
dengan senyum mengembang, “toh hari ini dia sudah membuat
kita semua lega.”
Padahal Keenan sudah tahu apa yang terjadi. Tidak mungkin
menutup telinga dari suara apa pun di rumah mungil
ini. Sambil meringkuk dan memeluk lutut, Keenan menerawang
di atas tempat tidur, bertanya-tanya pada dirinya
sendiri: apakah ia salah karena tidak merasakan kebahagiaan
yang sama? Apakah ia puas atas kesuksesannya menyenangkan
orang lain? Dan apakah ia cukup berduka atas pengkhianatannya
pada diri sendiri?
Di depan kanvas, mata Keenan terpaku. Mendapatkan
lembar kosong itu sebagai jawaban pertanyaan hatinya.
Dua belokan dari rumah Kugy, ada sebuah kali. Meski berair
cokelat, arus kali itu mengalir lancar dan tidak mampat seperti
kebanyakan kali di Kota Jakarta. Kugy menyadari sesuatu
ketika baru pindah ke Jakarta, di mana pun ia tinggal,
ia selalu menemukan air mengalir dekat rumahnya. Seolaholah
ada yang menginginkan agar kebiasaannya yang satu
itu terus berjalan.
Kugy ingat betul bagaimana sejarah kebiasaan itu bermula.
Waktu itu keluarganya masih tinggal di Ujungpandang.
Rumah mereka yang berseberangan dengan laut membuat
Kugy kecil banyak menghabiskan hari-harinya di pantai.
Adalah Karel, abangnya yang paling besar, yang pertama kali
13
memberi tahu bahwa zodiak Kugy adalah Aquarius. Simbolnya
air. Kugy kecil lalu berkhayal dirinya adalah anak buah
Dewa Neptunus yang diutus untuk tinggal di daratan. Seperti
mata-mata yang rutin melapor ke markas besar, Kugy
percaya bahwa ia harus menulis surat untuk Neptunus dan
melaporkan apa saja yang terjadi dalam hidupnya.
Ia mengirim suratnya yang pertama saat mulai bisa menulis
sendiri. Kugy melipat surat itu menjadi perahu lalu
dihanyutkan ke laut. Hampir setiap sore Kugy selalu mampir
ke pantai, mengirimkan surat-surat berisi cerita atau gambar
untuk Neptunus.
Kugy protes keras saat keluarga mereka harus pindah
kota, yang artinya tak ada pantai lagi dekat rumah. Ia ngambek
berkepanjangan sampai akhirnya Karel menjelaskan
bahwa selama ada aliran air, di mana pun itu, Kugy tetap
bisa mengirim surat ke Neptunus. Semua aliran air akan
menuju ke laut, begitu kata Karel sambil menyusutkan linangan
air mata di pipi Kugy.
“Air sungai bakal sampai ke laut?”
Karel mengangguk.
“Air empang bakal sampai ke laut?”
Karel mengangguk lagi.
“Air selokan bakal sampai ke laut?”
Karel masih mengangguk.
Barulah Kugy teryakinkan. Kendati bukan lagi dekat laut,
rumah mereka yang berpindah-pindah selalu dekat sesuatu
yang mampu meyakinkan Kugy bahwa surat-suratnya tetap
sampai pada Neptunus. Termasuk rumah mereka yang dekat
kali di Jakarta.
Namun, kebiasaan itu mengendur seiring waktu. Kugy
yang beranjak besar pun sadar bahwa besar kemungkinan
Dewa Neptunus itu tidak ada, bahwa surat-suratnya sampai
ke laut sudah dalam bentuk serpihan mikron yang tak lagi
14
bermakna, atau bahkan tidak sampai sama sekali. Namun,
Kugy juga tidak bisa menjelaskan bagaimana di lubuk hatinya
ia masih ingin percaya. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana
batinnya dibuat damai dengan menyaksikan perahuperahu
kertas itu hanyut terbawa air.
Pagi itu ia berdiri di tepi kali. Hiruk-pikuk kerumunan
anak kampung dari pelosok gang berdengung di telinganya.
Namun, Kugy tak terganggu. Matanya tak lepas mengamati
aliran air cokelat di bawah kakinya. Perlahan, ia mengeluarkan
sesuatu dari kantong celana. Sebuah perahu kertas.
Kugy tidak ingat kapan terakhir ia menghanyutkan perahu
di sana. Terlalu lama ia lupa tugasnya sebagai mata-mata
dunia air. Entah kenapa, kepergiannya kali ini menggerakkan
ia kembali menulis. Sebuah surat pendek berisi sebaris
kalimat:
Nus,
.......... .............. ...... .................. .......... ........ ...... ................
Sampai ketemu.
Berbarengan dengan batu, kail, daun, dan segala yang
dicemplungkan tangan-tangan kecil di sebelahnya, sebuah
perahu kertas melaju tak terganggu.
Seorang anak SMP berambut ikal tampak berlari dan bergegas
memasuki pagar rumahnya yang terbuat dari kayu
bercat putih. Garis-garis mukanya yang tegas dan runcing
dikombinasikan dengan kulit putih tapi gosong kemerahan
akibat terpaan sinar matahari membuatnya persis seperti
turis peselancar di pinggir Pantai Kuta. Rumah asri yang
terletak di daerah hijau di Jakarta Timur itu tampak le15
ngang. Anak lak-laki itu melihat sekeliling dengan khawatir.
Napasnya baru melega ketika mobil orangtuanya ternyata
masih terparkir di dalam garasi. Langkahnya pun meringan
saat ia membuka pintu.
.......... .............. ............ ...................... ............ .................. ....................
memastikan.
Ibunya tersenyum dan menggeleng. “Belum. Tapi kamu
harus mandi dulu baru bisa ikut antar abangmu ke stasiun.”
Keenan melangkah keluar dari kamarnya dan nyengir
melihat adiknya yang dekil bermandikan keringat. “Tapi
jelek-jelek gitu, Jeroen banyak yang naksir, Ma.”
Muka Jeroen bersemu merah. Pikirannya melayang pada
surat-surat dan foto-foto yang sering diselipkan di tasnya
oleh cewek-cewek di sekolah, dan ia menebak-nebak mana
yang kira-kira ditemukan oleh abangnya.
“Untung kamu tidak di sini, Nan. Mama sudah kayak
resepsionis pribadi ngangkatin telepon buat dia,” celetuk
ibunya lagi. Diam-diam ia mengamati kedua anak laki-lakinya
yang terpaut jarak umur enam tahun, dan menyadari
betapa berbeda keduanya. Jeroen yang ekstrover, atletis,
diplomatis, senang bergaul dan berorganisasi, adalah cetak
biru ayahnya. Sementara Keenan yang introver, halus, tidak
menyukai keramaian, dan lebih senang menyendiri untuk
melukis, adalah cetak biru dirinya. Namun, Keenan dan
Jeroen saling menjaga dan mengagumi seperti magnet yang
lekat erat. Bagi Jeroen, Keenan adalah idolanya nomor satu.
Dan Keenan menyayangi Jeroen lebih dari apa pun. Jeroen
seperti orang patah hati ketika Keenan harus pergi ke
Amsterdam, dan kini ia harus melepas abangnya lagi untuk
bersekolah di Bandung.
“Ma, aku bolos sehari, deh. Aku juga mau ke Bandung.
Ketemu Mas Eko,” rengek Jeroen. Permohonannya sudah
16
ditolak mentah oleh ayahnya, dan kini ia mencoba celah
lain, yakni lewat ibunya.
Sayang, ibunya tetap menggeleng. “Nggak bisa, Roen.
Kamu harus sekolah.”
“Mama yakin saya dijemput Eko?” tanya Keenan.
“Ya iyalah. Mama sudah telepon langsung ke Eko. Memangnya
kenapa?”
“Saya nggak ingat mukanya, dia juga pasti sama. Kami
.................. .............. ........ ............ ........
.............. .................. .................... ................ ............ ........ .......... ........
Kalau aku ikut, aku nanti bisa kasih tahu Mas Eko yang
mana.”
Ibu mereka tersenyum melihat usaha keduanya. Eko adalah
sepupu Keenan yang sejak SMA bersekolah di Bandung
dan kini mereka akan berkuliah di kampus yang sama. Semasa
keduanya masih SD, sebelum Keenan berangkat ke
Amsterdam, Keenan dan Eko bersahabat karib. Baru sekarang
lagi mereka akan bertemu setelah terpisah sekian
lama.
“Alasan kamu memang masuk akal, Nan. Tapi Eko sudah
Mama pesankan untuk bawa tulisan nama kamu. Jadi, biarpun
kalian tidak hafal muka, kalian pasti akan bertemu,”
jawab ibunya sambil mengerling ke arah Jeroen.
Terdengar suara pintu kamar membuka, dan melangkahlah
keluar ayahnya yang masih berkemeja dan dasi lengkap.
Ia pun telah minta izin dari kantornya demi melepas Keenan
ke Bandung.
“Semua barang kamu sudah siap, Nan?” tanyanya sambil
meraih kunci mobil dari meja.
“Sudah, Pa.” Keenan berdiri di samping satu travel
bag.
“Itu saja?”
“Sisanya dipaket ke Bandung,” timpal ibunya. Dan ujung
17
matanya menunjuk ke sudut yang penuh sesak oleh tumpukan
dus berisi alat lukis.
Ayahnya menghela napas. Riak pada air mukanya tidak
bisa disembunyikan, dan Keenan melihatnya dengan jelas.
Ada suasana mendung yang seketika menggantung di
ruangan itu. Satu demi satu pun melanjutkan kegiatannya
masing-masing tanpa suara.
Bandung, Agustus 1999 ...
Tidak ada yang lebih dahsyat daripada gabungan gerimis
hujan di luar dan selimut hangat di dalam kamar. Demikian
prinsip Kugy. Meringkuk di tempat tidur sepanjang sore
sambil bermimpi indah adalah misinya sore itu. Sayangnya,
ia lupa mengunci pintu.
Cahaya dari luar seketika menerangi kamarnya yang temaram.
Langkah tergesa dan suara bernada tinggi mengacaukan
suasana hening yang membungkus Kugy seperti kepompong.
.......... ................ .............. ..........
Selimut yang tampak menggunduk itu tak bergerak.
“Gy, Eko udah di depan. Si Fuad nggak bisa dimatiin,
............ .............. .......... ......................
Kugy menyahut dengan gumaman tak jelas.
Noni terpaksa mengambil tindakan lebih ekstrem. Dengan
gesit ia menyingkap selimut dan memercik-mercikkan
air dari gelas di sebelah tempat tidur.
.......... ........................ ...................... ................................ ..............
............ ......................
“Nggak usah berlagak, deh. Ayo, bangun.”
Kugy terduduk dengan paksa, mata terpejam sebelah dan
rambut semrawut. “Non, berhubung kamar kita bakal se18
belahan setidaknya dalam empat tahun ke depan, gua jelaskan
satu aturan yang sangat penting, oke. Tidur siang adalah
............ .............. .......... .......... ............ .............. ............ .................. ...... ......
suk ke sini pun jalannya pake lutut dan sungkem dulu ke
kaki tempat tidur ....”
“Kita jemput sepupunya Eko ke stasiun, yuk. Jam lima
keretanya nyampe. Lu mau pakai baju yang mana? Biar gua
siapin,” Noni seperti tak mendengar khotbah penting
Kugy.
Kedua mata Kugy terbuka. “Bentar ... bentar. Kenapa kok
gua harus ikut? Itu kan sepupu si Eko, lu yang pacarnya si
Eko, kenapa gua harus dilibatkan segala?” Kugy berseru putus
asa.
“Soalnya ... Si Fuad ngadat lagi. Kalo mogok harus ada
yang dorong. Untuk dorong kita butuh tenaga.”
Kugy menganga tak percaya, “Jadi ... gua dibangunin dari
tidur suci gua untuk jadi cadangan tenaga ngedorong si
Fuad?”
“Ya iyalah. Buat apa lagi?”
.............. .............. ........................ ............ .............. ........ .......... ......
anggap kuli dorong mobil ...,” sambil menggerutu Kugy bangun.
“Mau pakai baju yang mana?”
............ ............ .......... .................. ................ .......... .................. ......
tubuhnya. Celana batik selutut yang sudah mengusam, dan
kaus kegedean bertuliskan “Lake Toba” yang sudah tipis dan
lentur seperti lap dapur.
“Yah, jangan gitu-gitu amat, dong, Gy. Lu ngambek, ya?”
“Oh, nggak. Gua cuma berdandan sesuai kasta gua aja.
.......... .............. .............. .......... ................ ............ .......... .............. ..............
bar jaket jins di gantungan.
Noni memandang temannya dengan khawatir. Rambut
sebahu Kugy sebagian naik ke atas seperti disasak setengah
19
jadi. Bajunya mendekati compang-camping. Jaket jins kegombrongan
milik Karel yang digondol Kugy detik-detik
terakhir sebelum dia berangkat ke Bandung itu pun tentu
tidak membantu. Belum lagi, jam tangan plastik Kura-kura
Ninja yang nyaris tak pernah lepas dari pergelangan tangannya.
Lalu sandal khusus kamar mandi dari bahan plastik
berwarna pink elektrik seolah menyempurnakan “keajaiban’’
penampilan Kugy sore itu.
Namun, Kugy berjalan mantap keluar menantang dunia,
disambut Eko yang kontan meringkuk-ringkuk tertawa melihat
pemandangan nyentrik itu.
.......... ...... ............ .............. .......... ............ ................ .............. ........ ........
bari merogoh-rogoh ransel mencari kamera. “Siap ... satu,
dua, tiga, pose!”
Dengan cepat Kugy langsung membengkungkan kedua
lengannya seperti atlet binaraga.
“Sip. Gua cetak 5R, nanti gua pajang di mading kampus.”
Eko tersenyum puas.
“10R lah, Ko. Standar majalah, dong.”
“Orang gila lu layanin, ya makin senanglah dia. Lihat tuh,
mukanya hepi gitu ....” Noni menunjuk Kugy yang sedang
mematut-matut diri di spion mobil Eko, mulai menyadari
betapa aneh dandanannya, dan mulai tertawa-tawa bahagia
tanda menikmati.
Melihat itu, Eko juga mulai khawatir. “Lu tahu betapa
gua menghargai setiap liter bensin, kan, Gy? Dan gua nggak
bisa matiin mesin mobil karena takut mogok. Tapi gua akan
merelakan lima menit buat lu untuk ganti baju. Kalau lu
mau,” kata Eko penuh penekanan. Dia sebetulnya sudah bisa
menduga pilihan Kugy.
“Daripada bensin lima menit lu habiskan buat tunggu
gua ganti baju, mendingan lu konversi jadi duit terus beliin
........ .............. .......... .......... ................ ............ ..........
20
Jawaban tegas Kugy menuntaskan kontroversi sore itu,
dan meluncurlah Fiat 124S kuning itu memecah air di atas
jalanan Kota Bandung yang basah.
Lautan penumpang kereta api telah melewati tiga sekawan
itu sejak sepuluh menit yang lalu, tapi mereka belum juga
menemukan objek jemputannya. Noni dan Kugy sudah mulai
resah.
“Lu yakin dia pakai kereta jam lima? Kok nggak munculmuncul?”
tanya Kugy pada Eko yang celingak-celinguk tiada
henti.
“Gua yakin dia pakai kereta yang ini. Masalahnya, gua
nggak tahu mukanya.”
“HAH?” teriak Kugy dan Noni hampir berbarengan.
“Kok kamu nggak bawa tulisan atau apa, kek?” cecar
Noni.
Eko nyengir masam. “He-he, ketinggalan, Non.”
................ .......... ............ .............. .......... .......... ........ ........ .......... ..........
.............. .......... .................. .......... ..........
“Tenang ... muka sepupuku tuh unik, kok ... pokoknya
gimana, ya ... hmm ....”
“Kapan kalian terakhir ketemu?” tanya Kugy.
“Waktu SD,” Eko menjawab setengah menggumam.
Kugy dan Noni langsung berpandang-pandangan. Noni
memutuskan untuk lanjut mengomel, sementara Kugy bergegas
ke arah muka stasiun.
.......... ............ .......... ........................ .............. .......... ............ ..........
sepupu lu?”
..................
“KEENAN?”
Bersamaan dengan itu muncul serombongan orang yang
21
menghalangi pandangan keduanya. Kugy berharap ia tak
salah mendengar. “Keenan ... Keenan ...,” ulangnya sendirian
sambil terus berjalan.
Tak jauh dari sana, seseorang merasa namanya dipanggil.
Keenan merasa sumbernya adalah perempuan yang sedang
bergerak ke arahnya. Keenan mengamati dengan saksama.
Ia yakin belum pernah berkenalan dengan cewek satu itu
seumur hidupnya. Tepatnya, ia belum pernah menemukan
orang dengan penampilan seaneh itu.
Ragu, Keenan mendekati, menjajarkan langkahnya dengan
kaki kecil yang melangkah besar-besar dan terburuburu.
“Permisi ....”
Kugy berhenti, tertegun menatap orang yang tahu-tahu
muncul di sampingnya dan kini mengadang persis di hadapan.
Keenan mengamati sekali lagi. Perempuan mungil setinggi
dagunya, kelihatan seperti anak SMP, gaya berbusana
tidak ada juntrungnya, rambut seperti orang baru kesetrum,
kedua mata membelalak seperti mengancam. Mendadak
Keenan menyesal telah memanggil.
“Ada apa, ya?” tanya Kugy dengan suara dibesar-besarkan.
Berusaha sangar.
Setengah mati Keenan menahan senyum gelinya yang
spontan ingin membersit. Ternyata ia berhadapan dengan
anak kucing yang berusaha jadi singa.
“Nggak pa-pa. Saya salah mengenali orang. Saya pikir
tadinya kamu ... emm ... maaf, ya.” Keenan mulai bingung
menjelaskan, dan akhirnya hanya tersenyum lebar lalu ambil
langkah seribu. Namun, dalam hati ia tahu, ia tidak akan
pernah melupakan wajah itu.
Kugy pun hanya mengangguk kecil, lalu berjalan lagi ke
arah bilik informasi yang menjadi tujuannya. Napasnya baru
lepas setelah ia yakin orang itu sudah hilang jauh di balik
22
punggungnya. Sejujurnya, ia tidak keberatan salah dikenali.
Laki-laki tadi adalah makhluk tertampan yang pernah ia
temui sejak tokoh Therrius dalam komik Candy-Candy.
Namun, harus selalu waspada dengan semua makhluk sok
akrab, tegas Kugy dalam hati. Lebih baik konsentrasi mencari
sepupu Eko nan malang, ia pun memotivasi diri. Berusaha
melupakan apa yang baru ia lihat.
23
Noni dan Eko, yang mulai putus asa menunggu di tempat
sama, akhirnya berjalan ke teras depan stasiun. Suasana mulai
lengang, tinggal segelintir orang yang tersisa.
“Aku coba telepon ke rumah tanteku, deh. Siapa tahu
memang dia pakai kereta yang lain. Pinjam HP ya, Non.
Pulsa cekak, nih.”
Sambil memberengut, Noni menyerahkan ponselnya.
Namun, tangannya tergantung di udara, karena tiba-tiba terdengar
suara yang sangat ia kenal bergaung lewat speaker
seantero stasiun.
“Panggilan untuk Keenan penumpang KA Parahyangan
dari Jakarta, sekali lagi, saudara Keenan, sepupu dari Eko
Kurniawan, ditunggu oleh saudara Eko yang ciri-cirinya sebagai
berikut: rambut cepak berjambul Tintin, tinggi 175 cm,
kulit cokelat sedang, mata besar bulu mata lentik, pakai
kaus Limpbizkit, ditemani oleh dua cewek cakep ....”
Noni dan Eko melongo. Keduanya menoleh ke belakang,
melihat Kugy di bilik informasi sedang menguasai mikrofon.
Tak lama seorang petugas datang tergopoh-gopoh untuk me-
3.
MOTHER ALIEN
24
ngendalikan situasi. Seorang anak kurang ajar rupanya telah
menjajah daerah kekuasaannya saat ia pergi sebentar ke kamar
mandi barusan.
Tak hanya Noni dan Eko yang ikut menoleh, seorang pemuda
yang berdiri tak jauh dari mereka pun ikut melongok.
Dan kini orang itu yakin bahwa perempuan aneh yang kini
tengah diusir petugas itu memang orang sama yang memanggil
namanya tadi.
Sambil tertawa riang, Kugy menghampiri Noni dan Eko.
“Ha-ha ... salah sendiri posnya ditinggal ....”
Dari arah lain, tampak satu sosok mendekati mereka bertiga.
Baru saja Keenan mau mengucap “permisi” untuk yang
kedua kalinya, matanya tertumbuk pada wajah yang kali ini
rasanya ia sungguhan kenal.
“Eko?” panggilnya setengah meragu.
“Keenan?” Eko membalas sama ragunya.
Keduanya tercenung memandangi satu sama lain. Dalam
koridor memori masing-masing, ingatan mereka berkejaran
menuju ke sembilan tahun lalu. Dalam ingatan Keenan, Eko
adalah anak berbadan besar cenderung tambun, periang,
bermata cantik seperti anak perempuan dengan bulu mata
lebat dan lentik. Dalam ingatan Eko, Keenan adalah anak
bule berambut kecokelatan, kurus dengan tungkai-tungkai
panjang, bersorot mata teduh dan selalu tersenyum ramah,
tapi jarang bicara. Dan sekarang Keenan menjulang tinggi
dan tegap, rambutnya yang diikat tak lagi cokelat melainkan
hitam pekat, tampak terjurai sedikit melewati pundak. Hanya
sorot matanyalah yang tak berubah, yang sejak kecil
membuat Keenan tampak lebih dewasa dari umurnya.
Keenan pun tak akan mengenali sepupunya jika saja tidak
menemukan kedua mata bundar yang dinaungi bulu-bulu
lentik yang sejak dulu menjadi ciri khas Eko, yang mem25
buatnya dulu dipanggil ‘‘Si Cowok Cantik’’. Sekarang sepupunya
sudah tidak bulat lagi seperti bola, malah lebih mirip
pelatih .............
Jarak sembilan tahun itu seketika melumer ketika keduanya
berdekapan sambil tertawa bersama, menyadari bahwa
sejak tadi mereka ternyata berdiri bersisian.
“Bener juga kata Tante Lena, lu udah makin kayak seni-
........ ...................... .......... ........ .............. ................ .......... ................
“Kenalin, Nan. Ini cewek gua, Noni. Dan ini sahabatnya
Noni ....”
Hanya Kugy yang tampak menyimpan kepanikan saat
berkenalan dengan Keenan. Wajahnya bersemburat merah
saat ia mengulurkan tangan, “Hai. Kugy ....”
Keenan tersenyum lebar menyambut tangan mungil dengan
muka yang kini merunduk malu itu. Betulan seperti
anak kucing. “Hai. Akhirnya kenalan juga.”
“Memangnya kalian udah ketemu?” komentar Eko melihat
pemandangan ganjil itu. Kugy yang tahu-tahu melempem
seperti kerupuk disiram air, sementara ekspresi Keenan
seperti orang yang menangkap basah sesuatu.
.................. .................. .................. ................ .............. ..............
berpandangan lalu tertawa.
.................. ............ .................. ............ .......... ...................... ........ ......
reka tertawa lagi.
“Gimana, sih?” Eko dan Noni mulai merasa ada konspirasi
di balik ini semua.
“Mungkin kita sudah ketemu di kehidupan lampau ....”
timpal Kugy cepat.
“Yup. Dan dulu dia galak sekali.” Keenan ikut menambahkan,
mantap.
Eko melengos melihat keduanya, malas mempermasalahkan
apakah dua orang itu serius atau bercanda. “Dari dulu
26
dia udah hancur gini belum dandanannya?” celetuknya sambil
menunjuk Kugy.
.......... .................. .............. ................
Kugy ikut mengekeh, bangga. Percaya dirinya sudah kembali.
Seketika ada keakraban yang juga mencairkan jarak
dan waktu di antara mereka berempat, seolah mereka telah
berkenalan jauh lebih lama dan bukannya barusan.
Tak lama kemudian, hujan kembali mengguyur Kota Bandung.
Sebuah Fiat warna kuning terang tampak berusaha
keras keluar dari parkiran stasiun. Noni di belakang kemudi,
sementara ketiga temannya mendorong di belakang. Tubuh
mungil Kugy diapit oleh kedua lelaki besar di kiri-kanan,
tapi jelas suara lantangnya yang berfungsi sebagai mandor.
Ia berteriak-teriak sekuat tenaga untuk membakar semangat,
sampai akhirnya Fiat itu berhasil kembali melaju dengan
tenaga mesin. Bukan manusia.
Dering telepon meraung-meraung di koridor kos-kosan itu
sejak tadi, bersahutan dengan derap kaki yang berlari dan
.................. ................................ .............. .......... ........................ ........ ..........
................
Kugy menyambar kop telepon dan terengah menyapa,
“Halo ....”
“Hai, Sayang.”
“Hai, Jos ....”
“Kamu baru jogging? Tumben rajin.”
“Bukan. Baru dorong mobil.”
“Hah?”
“Hujan-hujanan lagi. Gede banget.”
“HAH? Kok bisa?”
“Biasa. Fuad lagi penyakitan, sementara Eko harus jem27
put sepupunya ke stasiun, yang dari Belanda itu lho, terus
mereka butuh aku untuk dorong mobil kalau-kalau mogok.
Eeeh ... dasar si Fuad, beneran mogok dia.”
............ ...... ...... .......... ............ ........ ............ ............ .......... .......... ..........
yang mereka andalkan? Di stasiun kan banyak kuli. Bayar
kek buat dorong mobil, ngemodal dikit. Nanti kalau kamu
...... .................... ...................... .................... ...... ........ .......... ...... ..........
bisa gantiin kamu kuliah?”
“Jos, nggak pa-pa, kok. Yang dorong beneran kan Eko
sama sepupunya. Aku cuma nyumbang spirit sama akting
ngedorong doang.”
“Tapi tetap hujan-hujanan, kan?”
“Iya, siiih ....”
............ ........ ............ ........ .................. ................ ...................... ............
mengalir tanpa jeda.
Kugy menunggu sambil memanyunkan mulut dan memeras
ujung-ujung kausnya yang basah. Ia memang tak
akan pernah bisa menang jika beradu mulut dengan Joshua,
pacarnya sejak dua tahun terakhir. Kendati begitu, Joshua
pun seringkali mati kutu jika berhadapan dengan Kugy.
Buktinya, dia harus merelakan namanya yang indah
‘‘dirusak’’ menjadi “Ojos”, dan hanya Kugy satu-satunya di
dunia yang berani melakukan itu.
Bagi Kugy, ungkapan opposite attract adalah yang paling
sempurna untuk menggambarkan dinamikanya dengan Ojos.
Tak ada satu pun temannya yang percaya bahwa keduanya
bisa jadian, begitu juga dengan teman-teman Ojos. Keduanya
bertolak belakang hampir dalam segala hal. Ojos yang necis
dan jago basket adalah pujaan banyak cewek di sekolah karena
kegantengannya, mobilnya yang keren, dan sikapnya
yang sesuai primbon Prince Charming. Membukakan pintu,
membawakan seikat bunga, dan makan malam di restoran
mewah bertemankan sinar lilin, adalah standar prosedur
28
Ojos. Di sisi yang berbeda, Kugy pun termasuk sosok
populer di sekolah karena aktivitas dan pergaulannya yang
luas. Tapi Kugy berasal dari kutub yang berbeda. Kugy dikenal
dengan julukan Mother Alien. Ia dianggap duta besar
dari semua makhluk aneh di sekolah. Semuanya tak habis
pikir, bagaimana mungkin Prince Charming dan Mother
Alien bisa bersatu?
Tidak juga Ojos, atau Kugy, tahu jawabannya. Mungkin
karena Kugy begitu berbeda dengan semua cewek yang pernah
dipacarinya, Ojos begitu terkesima melihat bagaimana
Kugy begitu santai dan berani menjadi dirinya sendiri, sementara
cewek-cewek lain sibuk mencari muka hanya supaya
Ojos mau mengajak mereka makan atau nonton barang
sekali saja. Kugy sendiri tak pernah menganggap Ojos serius
mendekatinya karena menyadari betul perbedaan mencolok
di antara mereka berdua. Kugy tak sadar, sikapnya justru
membuat Ojos semakin penasaran.
Kugy tak akan pernah lupa hari mereka jadian. Pada sore
itu, hujan pun turun sama lebatnya. Dan Ojos keburu menerima
tantangan Kugy untuk bertandang ke rumahnya pakai
kendaraan umum. Datanglah Ojos di depan pintu, basah
kuyup karena gengsi bawa payung, rambut rapinya layu ditimpa
air hujan, dan seikat mawar putihnya berantakan
tergencet punggung orang di Metro Mini. Dan kali itu, Kugy
melihat Ojos dengan pandangan lain, bukan lagi anak manja
yang dipuja-puja satu sekolah, melainkan seseorang yang
siap berkorban demi pilihan hatinya. Dan hati Kugy pun
akhirnya memilih.
Hampir dua tahun mereka pacaran, dan mereka tetap
dua manusia yang bertolak belakang. Di mata Kugy, Ojos
yang perhatian dan cerewet kadang-kadang berfungsi sebagai
penata hidupnya dan kaki-kaki yang membantunya menjejak
bumi saat terlalu lama berada di dunia khayal. Di mata
29
Ojos, Kugy yang cuek dan seenaknya terkadang menjadi
pengingat bagi dirinya untuk bersikap santai dan terbuka
bagi segala kejutan dalam hidup.
Cukup banyak penyesuaian yang mereka pelajari selama
dua tahun ini. Salah satu trik yang dipelajari Kugy kalau
Ojos sedang kambuh cerewetnya adalah menjauhkan sedikit
gagang telepon lalu mencari kesibukan lain, dan kini ia masih
asyik memeras ujung-ujung bajunya.
“Gy? Kugy? Denger nggak?”
Kugy tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang telepon.
“Kenapa? Sori tadi kresek-kresek ....”
“Tadi aku bilang, lain kali kamu naik taksi aja ke manamana,
jangan percaya deh sama si Fuad. Udah sering kamu
dikerjain mobil satu itu.”
“Ogah, ah. Naik taksi mahal. Kalau dorong Fuad, udahannya
malah suka dijajanin minum sama Eko.”
Ojos menghela napas. Putus asa. “Ya udah. Terserah.
Ganti baju gih, nanti masuk angin. Oh, ya, kapan dong
kamu beli HP baru? Masa kalau mau telepon harus ke kosan
terus. Kan enakan ngobrol di kamar.”
Ponsel Kugy, produk second keluaran empat tahun yang
lalu, sudah tak berfungsi lagi layarnya. Selama ini ia terpaksa
menggantungkan nasib pada feeling, dari mulai
urusan memencet nomor sampai menerima telepon. Alhasil,
Kugy kehabisan banyak pulsa karena salah sambung, dan
tak berhasil menghindari telepon-telepon yang tak diinginkan
karena tidak tahu siapa gerangan yang meneleponnya.
“Aku nabung dulu, ya, Jos. Aku lagi bikin cerpen, nih.
Kali ini aku mau coba kirim ke majalah. Jadi ada penghasilan.
Malu minta sama Bokap. Lagian kalo buat HP kayaknya
nggak akan dikasih.”
“Kamu lagi bikin cerita apa?”
30
“Aku lagi bikin cerpen cinta gitu. Kalau dimuat, honornya
cukupan beli HP baru.”
“Pasti dimuat. Kamu kan hebat. Ceweknya siapa dulu
...”
“Oh, ya, aku juga lagi bikin dongeng tentang sayursayuran.
Jadi gini, tokoh utamanya Pangeran Lobak dari
kerajaan Umbi, lalu tokoh antagonisnya penyihir namanya
Nyi Kunyit dari negeri Rempah ...”
Ojos punya trik jika Kugy sedang berceloteh tentang
dunia khayal yang tak ia mengerti, yakni menjauhkan
gagang telepon sedikit dan mencari kesibukan lain. Ojos
mulai membuka-buka tumpukan majalah otomotif di
hadapannya, sementara mulutnya sesekali membuka, “Oh,
ya? Hmm. Oooh. Ya, ya. Hmm. Oh, ya? Hmm ....”
“Seru, kan? Hebat nggak ceritaku? Jos? Halo?”
Ojos tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang
.................. ............ ............ .......... ................ ...... ............ .......... ..............
gih. Besok aku telepon lagi ya, Sayang. Bye!”
.............. ............ ............ .......... .......... .......... .............. ................
berdiri, tahu-tahu selembar handuk telah dilemparkan ke
pangkuannya.
“Diomelin sama Ojos, ya?” tanya Noni yang sudah berdiri
di depan Kugy.
“Yah, biasalah. Kayak nggak tahu aja. Dia kan jelmaan lu
dalam bentuk laki-laki,” ujar Kugy sambil terkekeh.
“Nanti malam diajak makan sama Eko. Gabung, yuk.”
Kugy menelan ludah. “Pakai Fuad lagi?”
“Fuad tewas. Besok masuk bengkel dulu. Rencananya Eko
dan Keenan mampir ke sini pakai angkot, nanti kita jalan
kaki aja cari yang dekat-dekat, atau pesan makanan lewat
telepon.”
................ ............ ........ .............. ............ ................ ............ ............
.................. .......... .................. .............. ........ ...................... ...... ............
pintu kamar mandi.
31
Di ruangan tamu yang digunakan bersama itu, tampak karton
pipih lebar bekas pizza menganga terbuka. Sebuah teve
yang tak ditonton menyala dengan suara sayup. Empat
orang duduk di lantai, berbincang asyik sambil tertawa-tawa,
dengan dus pizza kosong sebagai pusat bagaikan kawanan
Indian yang mengelilingi api unggun.
“Kugy ... giliran lu kasih ide.”
“Oke,” Kugy berdehem, “di lingkaran suci ini, sebutkan
hal paling aneh yang pernah kita lakukan. Ayo, yang jujur,
........
“Maaf, sebetulnya gua kurang setuju,” Noni angkat tangan,
“karena bagi Kugy semua hal nggak ada yang aneh,
termasuk yang paling aneh sekalipun untuk ukuran orang
normal.”
Mereka tergelak-gelak, termasuk Kugy. “Itu memang apesnya
lu aja, Non. Dan untung di gua,” celetuk Kugy.
Noni berpikir sejenak. “Waktu SD gua pernah ikut drama
sekolah, dan dapat peran jadi .... Pak Raden. Lengkap
dengan kumis palsu.”
4.
LINGKARAN SUCI
32
Semua terkikik-kikik.
................ .......... ...... .............. .............. .............. ..........
“Tapi karakter pas banget.”
Giliran Keenan. “Hmm. Lipsync lagu Meggy Z. Lengkap
dengan joget.”
Pengakuan Keenan disambut sunyi. Semua terlongo, takjub.
Melihat reaksi itu, Keenan merasa perlu memberikan penjelasan.
“Jadi, waktu itu ada malam kesenian di sekolah gua
di Amsterdam, dan karena mereka tahu gua dari Indonesia,
gua diminta menyumbangkan satu kesenian yang khas Indonesia.
Yah, cuma itu yang gua bisa. Tapi mereka suka banget.
Satu sekolah ikut joget.”
“Lagu yang mana?”
“Sakit Gigi.”
Sunyi lagi. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang
diprakarsai oleh Eko. Tak lama, yang lain mengikuti.
“Terima kasih, terima kasih,” Keenan membungkuk hormat.
Giliran Kugy. Anak itu berpikir keras. Betul kata Noni,
pikirnya, berhubung hampir semua yang ia lakukan cenderung
aneh, susah sekali memilih satu.
“Ayo, dong. Lama banget, sih,” desak Eko tak sabar.
“Bentar, bentar. Susah banget, nih,” gumam Kugy. Mukanya
berkerat-kerut tanda berpikir keras.
“Mau dibantu, Gy?” Tahu-tahu Noni memberi usul.
“Please.”
“Kugy suka kirim surat ke Dewa Neptunus,” ungkap Noni
sambil menahan geli.
Alis Keenan seketika bertemu. “Gimana caranya?”
“Oh, gampang. Dulu, waktu rumah gua masih di dekat
pantai, ya gua hanyutkan di laut. Sesudah itu dihanyutkan
saja di segala aliran air, karena semua aliran air bermuara
33
ke laut.” Kugy langsung duduk tegak dan menjelaskan dengan
semangat.
“Terus, tujuannya lu kirim surat apa?” Eko bertanya.
“Teman-teman, sudah saatnya kalian tahu bahwa gua
ini sebetulnya ...,” Kugy menahan napas, suaranya bergetar
“... alien.”
Sunyi yang lebih mencekam, atau tepatnya mencekik, seketika
memberangus mereka. Eko sudah mau mati menahan
semburan tawa.
“Gua sebetulnya anak buah Neptunus yang dikirim ke
Bumi untuk jadi mata-mata,” papar Kugy lagi, “dan, SECARA
KEBETULAN SEKALI, zodiak gua Aquarius. Ajaib,
kan?” tambahnya dengan mata berbinar-binar.
“Sama, dong. Gua juga Aquarius,” sahut Keenan.
“Yo! Brotha’!” Kugy kontan menjabat tangan Keenan.
Eko membelesakkan kepalanya ke dalam bantal. Tertawa
terpingkal-pingkal. “Kok gua serasa ada di tengah alien
nation gini, ya?” cetusnya dari dalam benaman bantal.
“Betul, kan? Tantangan ini memang nggak relevan buat
si Kugy,” kata Noni lagi, “ayo, giliran kamu, Ko.”
“Dengan segala hormat, tapi hal paling aneh yang pernah
gua lakukan adalah ... naksir Kugy.”
Keenan terbahak keras, diikuti Kugy yang sampai terguling
di lantai. Sementara mulut Noni menganga tak percaya,
“Kamu pernah naksir Kugy? Ka—kapan?”
“Yah, waktu aku kelasnya sebelahan sama dialah, pas kelas
2 SMP. Untung kamu udah keburu pindah, Sayang. Jadi
nggak perlu ikut menyaksikan aib ini,” Eko menepuk bahu
Noni, “tenang, Non. Langsung menyesal, kok. Dulu aku sering
ke taman bacaannya Kugy. Bisa naksir karena setiap
ketemu Kugy selalu pas dia lagi baca buku. Begitu ngobrol
........ ............ ................ ........ ........ ..............................
34
“Terus, kok kalian bisa ... jadian?” Keenan perlahan menunjuk
Eko dan Noni.
Eko langsung pasang tampang serius. “Sebetulnya cinta
sejati gua adalah Noni, Nan. Gua udah naksir dia dari kelas
1 SMP ....”
.............. ................ ............ ........ ................ ................ ............ ............
kan kenal aku justru setelah aku pindah. Gara-gara pernah
ketemu aku di rumah Kugy, kan? Yang mungkin waktu itu
kamu masih jadi pelanggan setia taman bacaannya dalam
.............. .......................... .......... .......... ........ .............. ........ .......... ..............
aku dari kelas 1, padahal aku yakin kamu tahu aku aja
nggak,” cerocos Noni sengit.
“Ya’elah, Non. Dendam banget, sih. Namanya juga usaha.
Bokis dikit kan biasa. Yang penting hasilnya ...” Eko membujuk-
bujuk.
“Jadi kalian dicomblangin Kugy?” tanya Keenan lagi.
.......................... .......... ........ ........ ........ .......... .......... ............
Kugy menggeleng, “Sori. Aku paling anti percomblangan
dan segala usaha perjodohan lainnya,” sahutnya kalem.
“Si Semprul satu ini justru orang yang paling menghalang-
halangi, tahu nggak?” sambar Eko lagi. “Masa dia
pernah bilang ke Noni kalo gua itu spesies berbahaya?”
“Yah, gua kan cuma menganalisa dari statistik pengembalian
buku lu, Ko. Dan judul-judul apa yang lu pinjam. No
hard feeling, dong.”
............ ...................... ............ .......... .......... ................ ........ ......
hancurkan gara-gara track record kartu anggota taman
bacaan?”
“Memangnya Eko pinjam buku apa aja?” tanya Keenan
pada Kugy. Betulan penasaran.
“Dua tahun jadi anggota masa cuma pinjam Godam si
Putera Petir? Dan lebih dari sepuluh kali dia pinjam yang
judulnya Anak Rabaan Setan,” jawab Kugy, “terakhir-ter35
............ ............ .......... ............ ...................... .............. ........ ............ ......
riga?”
Menyusul seketika ledakan tawa Keenan dan Noni. Wajah
Eko merah padam. Kali ini ia terpaksa bungkam.
Kugy berdehem lagi. “Nah. Berhubung segala sesuatu
yang berhubungan dengan gua adalah keren adanya, jadi
gua nggak aneh. Dan Eko, yang harusnya lebih aneh karena
bisa suka sama orang aneh bahkan jadi anggota perpustakaan
orang aneh dengan pilihan buku yang aneh, akhirnya
juga jadi nggak aneh. Kalau begitu, pemenang lingkaran suci
kali ini adalah ....”
.................... .............. ................ ................ ..............
Malam itu ditutup dengan Keenan yang memperagakan
lipsync lagu Sakit Gigi-nya Meggy Z.
“Hai. Boleh masuk?”
Kugy yang sedang mengetik di komputer terkejut melihat
Keenan muncul di pintu kamarnya yang setengah terbuka.
“Lho. Belum pulang?” tanya Kugy sambil melirik jam
yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
“Pinginnya, sih. Tapi nggak enak ganggu yang pacaran.
Cuma bingung juga bengong di luar.”
Kugy pun segera membukakan pintu. “Silakan masuk,
Meneer.”
Keenan melihat sekitar, tampak terkesan.
“Kenapa? Kamarku rapi, ya? Nggak matching sama yang
punya.”
“Iya. Saya nggak sangka,” jawab Keenan jujur. Matanya
lalu berlabuh pada sebuah pigura berisikan foto keluarga
Kugy.
“Keluarga besarku. The ‘K’ family. Lima bersaudara.
36
Nama depannya dari ‘K’ semua,” Kugy menjelaskan, “Ini
abangku paling besar, Karel. Kakak perempuanku, Karin. Ini
abangku yang cuma beda setahun sama aku, Kevin. Dan
adik bungsuku, Keshia.”
“Nama kamu yang paling unik, ya.”
“Tepatnya, yang paling aneh,” Kugy tergelak, “kayaknya
waktu itu orangtuaku habis bahan. Masih untung nggak jadi
Karbol.”
“Tapi kamu yang paling cantik.”
Mendadak kerongkongan Kugy seperti tercekat. Tangannya
serta-merta menunjuk ke arah rak buku tempat koleksi
komik dan buku dongengnya berbaris rapi, demi mengalihkan
pembicaraan. “Ini sebagian kecil koleksiku. Yang di rumah
jauh lebih banyak.”
“Kata Eko, kamu suka nulis dongeng, ya?”
“Iya. Hobi sejak kecil.”
“Tulisan kamu udah banyak?”
“Kalau kuantitas sih banyak, tapi pembaca nggak ada.
Dan bukannya tulisan baru bermakna kalau ada yang baca?”
Kugy tertawa kecil, “Sejauh ini sih cuma dinikmati sendiri
aja.”
“Kenapa gitu?”
“Siapa sih yang mau baca dongeng?” Kugy terkekeh lagi.
“Mungkin aku harus jadi guru TK dulu, supaya punya pembaca.
Minimal dongengku bisa dibacakan di kelas.”
“Banyak penulis cerita dongeng yang bisa terkenal, dan
nggak harus jadi guru TK dulu untuk punya pembaca.”
Senyum simpul mengembang di wajah Kugy, seolah-olah
hendak menjawab pertanyaan klasik yang sudah ia hafal
mati jawabannya. “Keenan, umurku 18 tahun, kuliah jurusan
Sastra, kepingin jadi penulis serius dan dihargai sebagai penulis
serius. Orang-orang di lingkunganku kepingin jadi
juara menulis cerpen di majalah dewasa, atau juara lomba
37
novel Dewan Kesenian Jakarta, dan itu menjadi pembuktian
yang dianggap sah. Sementara isi kepalaku cuma Pangeran
Lobak, Peri Seledri, Penyihir Nyi Kunyit, dan banyak lagi
tokoh-tokoh sejenis. Di umurku, harusnya aku nulis kisah
cinta, kisah remaja, kisah dewasa ....”
“Banyak cerita dongeng yang isinya kisah cinta.”
“Intinya adalah: semua itu nggak matching! Antara umur-
........ .................. .......................... ...................... .......... ............ ........ ............
dan isi kepala ini.”
“Saya masih nggak ngerti.” Keenan melipat tangannya di
dada.
“Waktu aku kecil, punya cita-cita ingin jadi penulis dongeng
masih terdengar lucu. Begitu sudah besar begini, penulis
dongeng terdengar konyol dan nggak realistis. Setidaknya,
aku harus jadi penulis serius dulu. Baru nanti setelah
mapan, lalu orang-orang mulai percaya, aku bisa nulis dongeng
sesuka-sukaku.”
“Jadi ... kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri
kamu dulu, untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli,
begitu?”
“Yah, kalau memang harus begitu jalannya, kenapa
nggak?”
“Bukannya itu yang nggak matching?” tanya Keenan lagi,
tajam.
“Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis
yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka
punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek,
copy writer di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis
.................. .................... ........ .............. .................... .................. .......... ......
nulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. Nggak bisa makan.”
“Tadi kamu makan pizza. Nggak ada masalah, kan? Artinya
kamu bisa makan.”
38
“Aku harus bisa mandiri, punya penghasilan yang jelas,
baru setelah itu ... TER-SE-RAH,” nada suara Kugy mulai
tinggi, “aku nggak tahu kamu selama ini ada di planet mana,
tapi di planet bernama Realitas ini, aturan mainnya ya
begitu.”
Keenan terdiam. Di kepalanya melintas gulungan-gulungan
kanvas bertorehkan lukisan yang ia tinggalkan di
Amsterdam. “Betul. Memang begitu aturan mainnya,” gumamnya.
Keduanya membisu, cukup lama hingga suasana di kamar
itu terasa menjengahkan.
“Saya tunggu di luar, ya. Siapa tahu Eko bentar lagi mau
pulang.” Keenan pun berjalan ke arah pintu.
“Sebentar,” sergah Kugy, “aku mau kasih pinjam kamu
sesuatu.” Ia lalu membuka lemari kecil di bagian bawah
meja belajarnya dan mengeluarkan bundel tebal berukuran
A-4 yang dijilid ring logam.
Keenan menerima bundel yang disodorkan padanya. Di
sampul depannya tertulis: “Kumpulan Dongeng Dari Peti
Ajaib—Oleh: Kugy Karmachameleon”.
“Aku punya peti kuno, dikasih sama Karel, abangku. Bentuknya
kayak peti harta karun yang ada di komik-komik.
Karel bilang, peti itu diambil dari perahu karam, dan isinya
gulungan-gulungan naskah sejarah yang jadi hancur karena
terendam air laut. Aku senang sekali dapat peti itu, dan aku
bertekad untuk mengisinya ulang dengan naskah-naskah dongeng
buatanku, supaya peti itu kembali berisikan sesuatu.
Aku menulis dengan super semangat. Bertahun-tahun. Dan
jadilah bundel itu. Silakan kamu baca-baca. Kamu bisa kembalikan
kapan pun kamu mau.”
Keenan menatap Kugy, kehilangan kata-kata. Diusapnya
sampul depan bundel itu dengan hati-hati.
“Barang itu belum pernah berpindah tangan sebelumnya.
39
Aku juga nggak tahu kenapa bisa tergerak meminjamkannya
sama orang yang baru aku kenal tadi sore,” ucap Kugy
pelan.
“Makasih. Dan maaf kalau tadi saya ....”
“Baru beberapa tahun yang lalu aku tahu kalau peti itu
dibeli Karel dan ayahku di toko barang antik, di Jalan
Surabaya, di Jakarta. Peti itu bukan peti harta karun. Bukan
juga dari kapal karam. Sama seperti Neptunus yang tidak
ada, dan surat-suratku yang mungkin cuma jadi mainan
ikan, atau jadi sampah yang bikin sungai banjir,” Kugy menatap
Keenan tajam, “dan itulah kenyataan di planet bernama
Realitas ini.”
Keenan kembali kehilangan kata-kata. Keheningan kembali
membungkus ruangan itu.
Namun, ada satu hal yang mengusik Keenan, dan ia memutuskan
untuk bertanya. “Nama lengkap kamu Kugy
Karmachameleon?”
“Bukan. Kugy Alisa Nugroho.”
“Jauh, ya?”
Malam itu, Keenan terjaga hingga larut. Ia tenggelam dalam
dunia khayal Kugy yang membawanya jauh ke Negeri Antigravitia
yang menggantung di selapis langit sebelum bulan,
ke bawah tanah tempatnya Joni Gorong si undur-undur
penggali, ke dunia sayur-mayur tempat Wortelina menjadi
penari balet yang ternama.
Keenan menyadari betapa berharganya bundel yang ada
di tangannya itu. Setiap helai bernapaskan semangat dan
rasa percaya yang begitu kuat. Sebagian besar naskah itu
ditulis Kugy menggunakan komputer, tapi ada banyak juga
yang ia tulis dengan tangan. Bahkan beberapa kali Kugy ke40
dapatan mencoba menggambar, membuat ilustrasi atas
tokoh-tokohnya sendiri.
Ada rasa haru yang spontan membersit ketika Keenan
melihat usaha Kugy itu. Anak ini adalah penulis yang luar
biasa, tapi dia sama sekali tidak bisa menggambar, komentarnya
dalam hati. Keenan lalu meraih buku sketsanya yang
masih baru, meraih peralatannya yang masih tersimpan di
dalam tas, dan ia mulai menggambar dengan tekun. Sepanjang
malam, Keenan membuat puluhan sketsa sekaligus.
Saat ayam berkokok dari kejauhan, Keenan baru berhenti.
Tersadar bahwa baru kali itulah ia menggambar begitu banyak
untuk seseorang yang baru dikenalnya tadi sore.
41
Bandung, September 1999 ...
Dari kejauhan Kugy seketika bisa mengenali sosok itu. Tubuh
yang menjulang tinggi dengan rambut melewati bahu
yang diikat satu. Di punggungnya tergandul ransel merah
marun dengan emblem huruf “K” warna hitam yang dijahit
di tengah-tengah. Dia satu-satunya yang berambut gondrong
di tengah anak-anak angkatan baru yang dipotong cepak
gara-gara ikut opspek. Dia memilih tidak ikut opspek daripada
kehilangan kuncirnya itu—satu-satunya peninggalan
otentik dari Amsterdam yang terbawa sampai ke Bandung,
katanya begitu.
“Hey, Kay ....”
“Hey ... another Kay.” Keenan tertawa lebar sambil
sekilas mengacak rambut Kugy. “Baru mandi, ya?”
Kugy langsung manyun. “Segitu kelihatannyakah?”
“Oh, jelas sekali. Rambut kamu masih basah, dan kamu
kelihatan agak cemerlang dari biasa.”
Kugy manyun lagi. “Tumben aku ketemu kamu di kam-
5.
SEBATANG PISANG SUSU
42
pus. Kalau bukan kita berempat punya ritual nonton midnight
setiap Sabtu, kayaknya aku nggak akan ketemu kamu
di mana-mana lagi. Sibuk, ya?”
Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar, mengangkat
bahu sekilas. “Saya di kampus hanya seperlunya aja.
Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong.”
Kugy ingin berceletuk: pantas saja. Hampir setiap hari ia
melewati Fakultas Ekonomi, tempat Keenan berkuliah. Dan
hampir setiap hari ia melongok untuk melihat keberadaan
ransel merah marun bertuliskan huruf “K” itu. Kugy bahkan
sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat
jalur Universitas Terbuka.
“Kalau makan siang di kampus—masih berminat?” tanya
Kugy.
“Tergantung siapa yang ngajak.”
Kugy menggelengkan kepala, “Jawaban yang salah. Harusnya:
tergantung siapa yang bayar.”
“Jadi, saya bakal ditraktir, nih?”
“Ada satu tempat makan yang wajib dijajal. Jangan ngaku
anak kampus deh kalau belum pernah ke sana ....”
“Enak banget, ya?”
“Bukan. Murah banget.”
“Oh. Pantesan nraktir ...,” gumam Keenan sambil mengekeh
pelan.
Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat.
Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan prasmanan.
Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang
tergantung di pintu: “Warteg Pemadam Kelaparan”.
Mereka lalu duduk di pojok dekat jendela, bersebelahan
dengan pisang susu yang digantung bertumpuk.
43
Keenan sungguhan terpana melihat nasi yang menggunung
sampai nyaris tumpah dari pinggiran piring Kugy.
“Kecil-kecil makannya banyak juga, ya,” komentarnya.
“Menurut survei: selain narik becak dan gali kubur, pekerjaan
mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan
kalori tinggi,” sahut Kugy, lalu mencabut dua pisang susu
yang bergantung di sebelah kepalanya.
Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. “Kamu
memang makhluk penuh kejutan.”
.......... ........ ............ ............ ................ ............ .................. ............ ..........
................ ................ ............ ...................... .... ........ ..................
“Handphone?” Keenan memicingkan mata.
................ .......... ................ .............. .............. .................. .................. ........
penku dimuat. Honornya cukup buat beli HP baru dan traktir
kamu makan siang sekarang.”
“Wah, kejutan baru lagi. Selamat, ya,” Keenan menyalami
Kugy, “mau baca cerpennya, dong.”
Kugy tampak gelagapan. Mendadak ia merasa gugup. Sesungguhnya,
salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas
Keenan adalah untuk memberikan majalah yang memuat
cerpennya, yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia
bawa setiap hari. Kugy lalu membongkar tasnya dan menyerahkan
majalah yang sudah agak ringsek itu. “Ini, aku
sudah siapkan satu untuk kamu.”
Keenan menerimanya dengan mata berbinar. “Kugy
Karmachameleon ... jadi penulis betulan. Hebat.”
Kugy tergelak, “Aku memang sudah mengusulkan ke
mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Tapi belum ada tanggapan.”
“Saya boleh kasih tahu kamu sesuatu? Menurut saya,
kamu penulis yang sangat bagus.”
Muka Kugy memerah. “Baca aja belum, kok bisa bilang
bagus ....”
44
“Saya bukan ngomongin cerpen kamu, tapi dongengdongeng
kamu.”
Mendadak Kugy merasa mati gaya. Mati langkah. Ia tersadar,
satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah.
Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya Kugy
mencomot satu lagi pisang susu. Mengunyahnya lahap.
“Kamu terakhir makan kapan, sih? Lapar berat, ya?”
“Aku suka lukisan-lukisan kamu.”
“Memangnya kamu udah lihat?”
“Belum. Justru itu. Belum lihat aja suka, apalagi kalau
udah lihat,” Kugy terkekeh sendiri. Ia merasa wajahnya semakin
panas, dan omongannya semakin ngaco.
“Kalau gitu, habis makan siang, kita ke tempat saya, yuk.
Saya mau kasih lihat lukisan-lukisan saya.”
Kugy mengangguk. Ada senyum spontan yang tak bisa ia
tahan. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi. Mendadak
ia ingin cepat-cepat menuntaskan makan siang ini.
Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka.
Sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang dikelilingi
pepohonan rindang. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan
Noni yang padat, tempat kos Keenan hanya diisi oleh beberapa
orang saja. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan
langit-langit yang tinggi.
Napas Kugy seketika tertahan ketika pintu besar itu terbuka
dan Keenan menyalakan sakelar lampu. Rel-rel kawat
bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halogen
kecil yang bergantungan menerangi beberapa spot tempat
lukisan-lukisan Keenan yang terpaku di dinding atau
didirikan begitu saja di atas lantai. Kamar dengan ubin abuabu
itu tampak lengang karena tidak banyak perabot. Hanya
45
satu tempat tidur, lemari pakaian kecil yang di atasnya diletakkan
sebuah mini compo, dan meja belajar besar tempat
alat-alat gambar Keenan berjajar rapi.
“Nan ..., harusnya kamu bukan kuliah Manajemen, tapi
Seni Rupa ...,” gumam Kugy sambil pelan-pelan melangkah
masuk, “dan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar
kos ....”
Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisannya,
seperti orang pameran. “Ini judulnya: Sunset from the
Rooftop ... ini judulnya: Heart of Bliss ... yang ini: The Shady
Morning ... yang ini: Silent Confession ... dan ini ....”
“Yang ini yang paling aneh,” potong Kugy, menunjuk lukisan
yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus
seperti larik-larik kapas. “Yang lain ada gambar orangnya
semua. Cuma ini yang nggak ada.”
“Tebak judulnya apa.”
“Gila, itu sih mission impossible, namanya. Mana mungkin
ketebak.”
“Lukisan yang satu ini jangan dipikir, tapi harus dirasa.
Apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini?
Itulah judulnya.”
Kugy menatap lukisan itu lekat-lekat. Lalu ia memejamkan
mata. Lama. Lantas terdengar napasnya mengembus,
dan setengah berbisik ia mengucap, “Bebas.”
Giliran Keenan yang terpaku. Perlahan, ia membalik lukisan
yang berdiri di lantai itu, dan menunjuk judul yang
tertera di baliknya.
Kugy melongo. “Freedom?”
“Sumpah ... saya sama sekali nggak sangka kamu bisa
menebak setepat itu,” Keenan garuk-garuk kepala, “ini kebetulan
yang aneh.”
Kugy menggeleng, “Aku nggak percaya kebetulan. Ini
pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus. Wak46
tu itu, kita dibekali telepati. Cuma, sebelum dikirim ke
Bumi, kita dibikin amnesia. Supaya seru,” katanya mantap.
Keenan manggut-manggut. “Bisa jadi. Boleh juga teorinya.”
“Ehm, tapi untuk pertanyaan yang satu ini aku nggak
mau menggunakan kemampuan telepati,” Kugy nyengir, “sebetulnya
ini gambar apa, ya?”
“Lukisan ini menggambarkan sudut pandang seekor burung
di angkasa saat terbang. Dia tidak melihat batas apaapa,
tidak melihat perintang apa-apa, tidak terikat oleh
Bumi. Bebas. Total.”
Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan
beralih pada Keenan, ia seperti tergerak untuk menanyakan
sesuatu. “Boleh tahu kapan kamu melukisnya?”
“Waktu tahu saya lolos UMPTN.”
“Kamu ... sebetulnya ... terpaksa kuliah di sini, ya?” ucap
Kugy hati-hati. Tidak yakin apakah pertanyaan itu pantas
diajukan, tapi mulutnya seperti tak bisa ditahan.
Keenan menatap Kugy balik, tebersit senyum getir di
wajahnya. “Nggak matching,” ujarnya pendek, “antara minat,
cita-cita, dan keinginan orangtua. Harus membuktikan bahwa
saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatannya
tidak pernah dikasih.” Ia lalu mengangkat bahu, “Mungkin
harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar
menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri
kita lagi.”
Ingatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu.
Barulah ia mengerti, sesungguhnya waktu itu Keenan membicarakan
dirinya sendiri. Dan kesunyian yang sama kembali
hadir di antara mereka.
“Dan ... karena kamu sudah berhasil menebak judul lukisan
ini, saya mau kasih hadiah.” Air muka Keenan kembali
menghangat.
47
“Nggak percaya kalau kita bisa telepati, ya? Aku tuh bukan
nebak, tauk ... tapi ...” celotehan Kugy tahu-tahu
berhenti. Di hadapannya terbentang lembar pertama buku
sketsa yang dibuka Keenan. Perlahan, Kugy meraih buku itu.
Membuka lembar demi lembar. “Ini ...?”
Keenan menunjuk satu per satu sketsa tersebut. “Pangeran
Lobak ... Peri Seledri ... Wortelina ... Nyi Kunyit ...
Joni Gorong ... Hopa-Hopi ... dan ini lembah tempat mereka
tinggal ...” dengan asyik Keenan menjelaskan. Setetes air
tiba-tiba jatuh di lembar sketsanya. Keenan kontan terdiam
dan mendongak, mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan
air mata.
“Aduh. Maaf. Gambarnya kena, ya? Sori ...,” Kugy sibuk
menyeka air mata di pipinya.
“Nggak pa-pa, nggak masalah, kok. Justru ... kamu nggak
pa-pa?” tanya Keenan khawatir.
Kugy terisak, antara tertawa dan menangis. “Hi-hi. Aku
cengeng, ya? Tapi ... seumur hidup belum pernah ada yang
membuatkan ilustrasi buat dongengku ... bagus banget lagi
... aku ... nggak tahu harus ngomong apa ....”
Keenan tersenyum. “Cerita kamu yang bagus. Inspiratif.
Makanya saya tergerak untuk bikin sketsa.”
“Ini ... boleh aku pinjam dulu?” Kugy mendekap buku itu
di dadanya dengan penuh harap.
“Buku itu buat kamu, Gy. Ambil aja.”
Tak ada yang bisa menahan Kugy untuk memeluk
Keenan, tidak juga dirinya sendiri. Pelukan spontan itu hanya
berlangsung dua detik karena Kugy langsung beringsut
mundur dengan muka merah padam. “Makasih ...,” bisiknya
nyaris tak terdengar.
Keduanya diam bergeming, antara rikuh dan tak tahu
harus berbuat apa. Sampai akhirnya Kugy memecah kekakuan
itu dengan merogoh saku celananya.
48
“Untuk sementara ... aku cuma bisa kasih kamu ini.”
Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Sebatang
pisang susu yang dibawa dari Pemadam Kelaparan. “Oke.
Saya anggap kita impas,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
49
Fiat kuning itu berdesakan dengan mobil-mobil lain yang
menyusuri Jalan Dago pada malam Minggu. Kugy dan
Keenan di bangku belakang. Eko mengemudi, di sampingnya
ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang.
Noni mematikan ponselnya dengan lega. “Guys, Mas Itok
berhasil dapat empat tiket, barisan agak depan, sih. Tapi
lumayan daripada lu manyun.”
“Sebagai geng midnight yang profesional, kita memang
............ ............ ................ ............ ........ ............ ............ ........ .............. ..........
Eko.
...................... .................... .......... .................. .................... .......... ..........
kang.
Sepuluh menit kemudian, mobil itu memasuki parkiran
Bandung Indah Plaza. Dan keempatnya pun langsung bergegas
ke lantai paling atas.
Seorang pria kurus berkacamata menyambut mereka,
Mas Itok, penjaga toko kaset langganan Eko yang suka menyambi
menjadi pengantre tiket bioskop buat mereka. “Ini
buat Mas Eko sama Mbak Noni,” ia menyerahkan dua tiket,
“nah, ini buat Mas Keenan dan pacarnya ....”
6.
HUNUSAN PEDANG ES
50
Keempatnya saling berpandangan, lalu tertawa bersama.
Mas Itok menerima honornya lalu berlalu dari sana, tanpa
tahu apa yang membuat keempat anak itu tertawa.
“Gawat,” komentar Eko geli. “Gara-gara keseringan nonton
midnight bareng, kita berempat nanti bisa jadi double
date beneran.”
.................... .................... .............. .................. .......... ..................
Empat-empatnya tertawa lagi. Tapi Kugy sedikit merasa
terusik dengan celetukan itu. Diam-diam, ia melirik Keenan
yang berjalan di sampingnya. Mencari sesuatu, mencari semacam
petunjuk entah apa. Ia sendiri tak mengerti. Tahutahu
Keenan meliriknya balik. Cepat-cepat Kugy membuang
muka ke sembarang arah, menemukan mesin popcorn sebagai
objek perhatian baru yang lebih aman.
“Mau popcorn, Gy?” Keenan bertanya.
Kugy merasa tak punya pilihan selain mengangguk.
“Ko, lu duluan aja. Gua beli popcorn dulu bareng Kugy,”
kata Keenan pada Eko yang berjalan di depannya.
.............. ............ .......... ...... ........ ...................... .............. ................
teater bersama Noni.
“Yuk,” Keenan berujar ringan pada Kugy, lalu menggandeng
tangannya.
Kugy tak yakin apakah Keenan menyadari perubahan
yang terjadi. Dalam hati, sungguh Kugy berharap langkahnya
yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah
tegang tidak terdeteksi.
Jakarta, Oktober 1999 ...
Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat telepon
di ruang tamunya sendiri. Tangannya memegang sebuah
buku telepon yang terbuka, jemarinya bergerak-gerak tanda
51
gelisah. Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku
tidak harus melakukan ini, pikirnya. Puluhan tahun telah
berlalu, tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah. Sambil
menelan ludah, akhirnya ia membulatkan tekad dan memencet
tombol-tombol itu: 0-3-6-1 ....
“Halo, selamat sore.” Terdengar suara laki-laki remaja di
ujung sana.
“Selamat sore. Bisa bicara dengan Pak Wayan? Ini dari
Ibu Lena, Jakarta.”
Tak lama terdengar sayup suara itu memanggil, “Poyaaan
...9 ada telepon dari Jakartaaa ....”
Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara
lelaki menyapa.
“Wayan?” panggilnya hati-hati.
Sejenak sunyi. “Lena?” Suara lelaki itu terdengar tak yakin.
“Iya, ini Lena. Apa kabar?”
“Kabar baik. Tumben sekali kamu telepon.” Setiap kata
dilontarkan dengan kaku.
“Aku mau bicara soal Keenan. Di liburan semesternya
nanti, dia kepingin sekali pergi ke tempatmu di Ubud ....”
“Keenan sudah lama bilang. Sejak dia masih di
Amsterdam, dia juga pernah meneleponku soal itu,” potong
Wayan.
“Tapi aku tidak enak kalau tidak langsung minta izin
sama kamu.”
“Keenan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Ini
rumahnya juga. Kapan pun dia ingin kemari, sudah pasti
kuterima.” Nada itu berubah tegas.
“Mudah-mudahan dia tidak akan merepotkan ....”
“Keenan tidak pernah merepotkan. Seluruh keluargaku di
9 Poyan: Panggilan singkat untuk paman yang bernama Wayan.
52
sini malah senang kalau dia datang.” Lagi-lagi nada itu tegas
memotong, seolah Wayan ingin percakapan itu cepat usai.
Lena menghela napas. “Terima kasih kalau begitu.”
“Cuma satu yang ingin aku pastikan. Ayahnya memberi
izin Keenan kemari, kan?”
“Sudah. Adri sudah kasih izin ...”
“Oke. Tidak ada masalah lagi kalau begitu.”
Sunyi lagi. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu
disudahi.
Bandung, Oktober 1999 ...
Keenan menaiki anak tangga eskalator sekaligus dua-dua,
menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri, berusaha
tiba di lantai paling atas secepat-cepatnya. Saat ia
sampai, sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacungkan
tiga lembar tiket bioskop.
“My man. Right on time. Pintu bioskopnya udah dibuka,
.......... .............. ............ .............. ............ .............. ........
“Tenang. Minuman buat lu udah gua beliin,” kata Noni,
menunjukkan sekantong plastik berisi minuman kotak dan
makanan ringan.
“Sori banget telat, ya. Tadi gua ketiduran,” ujar Keenan
dengan napas yang masih terengah. Tiba-tiba ia tersadar
sesuatu. Ada yang kurang di situ. “Si Kecil mana?”
“Kugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. Biasaaa ...,”
seloroh Noni.
Kening Keenan berkerut. “Tamu agung? Maksudnya?”
“Cowoknya dia, si Ojos, lagi ngapelin dia ke Bandung.
Jadi nggak mungkinlah gabung sama geng midnight kita
ini,” timpal Eko.
“Kalau Ojos sih pasti candle light dinner gitu, deh ....”
53
“Iya. Satu-satunya kesempatan Kugy naik kasta dari Pemadam
Kelaparan,” Eko terkekeh.
Keenan terdiam sejenak. “Gua baru tahu Kugy punya pacar.
Di Jakarta?”
Noni mengangguk, “Pacarnya dari SMA.”
“Galak,” Eko menambahkan.
“Nggak, ah ...,” sanggah Noni.
“Ke semua teman ceweknya nggak. Ke semua teman
cowoknya? Wuiiih ... galakan Ojos daripada menwa kampus.”
“Pengalaman pribadi, ya? Itu karena Ojos bisa mendeteksi,
cowok-cowok mana yang diam-diam naksir Kugy,
tauk,” ledek Noni sambil menoyor bahu Eko.
................ ...................... ........ .................... .................. .......... ............
cuma galak kayak menwa, tapi juga sensi kayak herdernya
polisi ....”
Percakapan itu berlanjut terus hingga keduanya memasuki
ruangan bioskop, dan Keenan hanya mengikuti dari
belakang dengan mulut terkunci.
..................
Suara yang ia kenal. Nada ceria yang ia hafal. Derap langkah
setengah berlari yang khas. Namun, entah kenapa, kali
ini Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Ditariknya
napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan punggung.
“Hai, Gy.”
............ .......... .............. ............ .............. .................. .......... ........ ........
nya? Noni sampai kemimpi-mimpi gitu. Sori ya, aku nggak
gabung. Udah makan malam belum? Pemadam Kelaparan
yuk ...,” dengan semangat tinggi Kugy menyerocos.
54
“Saya masih kenyang, dan harus cepat pulang. Banyak
tugas. Nggak pa-pa, ya?” Keenan menimpali ringkas.
“No problemo,” Kugy tersenyum lebar, “sebetulnya sih
aku kepingin ngobrol, tapi ya udah, nanti-nanti aja.”
“Tentang?”
“Mmm ...,” Kugy berpikir sejenak, “udah hampir dua
minggu aku kasih majalah yang ada cerpenku itu, tapi ...
he-he ... kok, kamu belum komentar,” Kugy mesem-mesem,
“nggak maksa, sih ... cuma penasaran aja.”
Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. “Boleh
jujur?” tanyanya.
................ .............. .......... .......... ..............
“Saya nggak suka.”
Letupan dalam hati Kugy mendadak seperti dibanjur air
dingin. Padam. Air mukanya seketika berubah, meski ia berusaha
tampil tenang.
“Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin
bagus. Tapi saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih
otentik, lebih orisinal, dan lebih mencerminkan kamu yang
sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri
kamu. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar merangkai
kata-kata, tapi nggak ada nyawa,” sambung Keenan
lagi.
Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Kata-kata
Keenan seolah menyulapnya menjadi patung. Ia cuma bisa
merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak
sempat terkunyah.
“Maaf ya, Gy. Kalau memang kamu kepingin saya jujur,
ya itulah opini saya. Nggak kurang, nggak lebih.”
Kugy mengangguk kecil. “Makasih udah jujur,” ucapnya
pelan.
Tak lama kemudian, Keenan pamit pulang, dan Kugy tetap
berdiri di tempatnya. Merenungi kata demi kata yang
55
menusuknya bagai hunusan pedang es. Menyakitkan sekaligus
membekukan. Membuatnya bungkam tanpa bisa melawan.
Malam itu Kugy terjaga lama di tempat tidur. Telentang
menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang
terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. Ia tak mengerti
mengapa komentar Keenan meninggalkan dampak yang
begitu dalam. Ia juga tak mengerti mengapa ia begitu menunggu-
nunggu pendapat Keenan, seolah pendapat manusia
satu itulah yang terpenting. Ironisnya, semua orang terdekatnya,
termasuk Ojos, menyukai dan memuji-muji cerpennya.
Hanya Keenan yang begitu tegas dan tanpa tedeng alingaling
menyatakan tidak suka.
Seharian Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah?
Bagaimana mungkin Keenan menyebutnya penulis yang
cuma pintar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal ia
setengah mati mengerjakan cerita pendek itu. Setiap kata
dipilihnya dengan cermat dan teliti. Ia menulis dengan plot
.......... ............ .............. ............ .............. .............. ........................ ..............
momen yang sudah diperhitungkan. Ia hafal mati formula
dan teori dari pedoman membuat cerita yang baik dan benar.
Mungkinkah selera Keenan yang ‘‘salah’’?
Kugy terduduk tegak. Membuka majalah yang memuat
cerpennya, dan mulai membaca dari awal hingga akhir. Lalu
ia menyalakan komputer, membuka salah satu ........dongengnya,
dan juga membacanya saksama. Kugy mulai menyadari
sesuatu. Dalam dongengnya, ia seolah berlari bebas, sesuka
hati. Dalam cerpen itu, ia seperti berjalan meniti tali, berhati-
hati dan penuh kendali. Dan ada satu perbedaan yang
kini menjadi sangat jelas baginya: dalam dongengnya ia ber56
cerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam
cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain.
Ingatannya pun kembali mundur ke siang tadi, dan kembali
ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Namun, kali
ini Kugy ikut merasakan kebenarannya.
57
Bandung, Desember 1999 ...
Tempat kos yang lengang itu semakin terasa sepi karena
hampir semua penghuninya sudah kembali ke kota masingmasing
untuk menikmati liburan semester. Hanya segelintir
yang tersisa.
Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum
tas itu resmi diamankan dengan gembok kecil.
Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka
lebar. Bimo, teman kosnya, muncul sambil menenteng travel
bag. “Hai, Nan. Jadi mau ikut ke Jakarta pakai mobil gua,
nggak? Masih ada tempat untuk satu lagi.”
Keenan menggeleng. “Nggak, Bim. Gua pakai kereta api
nanti sore. Udah beli tiket. Salam buat anak-anak, deh.”
Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan
langkahnya, seperti teringat sesuatu. “Oh, ya ... selamat,
ya.”
“Untuk?”
“Kata anak-anak, IP lu tertinggi satu angkatan. Nggak
7.
BULAN, PERJALANAN, KITA
58
percuma lu disebut Siluman Kampus, kerjanya pulang melulu,
ngerem di kamar kayak beruang,” Bimo terkekeh.
Keenan hanya tersenyum sekilas, entah harus merasa
bangga atau tersindir. Tapi ia cukup suka sebutan itu. Siluman
Kampus.
Begitu Fiat kuning itu menepi, Keenan yang sudah menunggu
di teras depan langsung menghampiri bagasi mobil
dan memasukkan tasnya. Baru setelah membuka pintu, ia
tersadar akan satu sosok yang tidak ia duga kehadirannya.
“Kugy? Kamu ke Jakarta hari ini juga?” tanya Keenan
heran.
“Hai, Nan. Aku tukeran tiket sama Eko,” jawab Kugy berseri-
seri.
Keenan ganti menatap Eko, “Gua pikir, Fuad dititip ke
Noni dan lu pulang ke Jakarta hari ini sama gua.”
“Ternyata gua baru bisa ke Subang lusa, Nan. Jadi Eko
nemenin gua dulu di Bandung,” Noni menjelaskan.
“Oh. Oke.” Keenan berkata pendek.
Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Kugy, yang melengkapi
kecurigaannya selama ini. Tadinya Kugy berasumsi
bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar
mati-matian, dan itu memang dibuktikan oleh IP tertinggi
yang diraihnya. Tapi baru sore ini Kugy merasakan adanya
alasan lain. Ia merasa dihindari oleh Keenan.
Tanpa banyak bicara, Keenan mengempaskan tubuhnya
di jok belakang. Tungkai kakinya yang panjang membuat
lututnya selalu nyaris beradu dengan jok depan. Dengan
ekor matanya, Kugy mengamati. Sebagaimana ia mengamati
sepatu Keenan yang kali ini tampak baru dicuci bersih, sebagaimana
ia tahu Keenan sedang mengenakan kemeja jins
59
lengan panjang yang dulu dipakai saat menggandeng tangannya
di bioskop, sebagaimana ia hafal aroma sampo
yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. Kugy mengamati
dan mengingat itu semua. Untuk apa, ia pun tak mengerti.
Namun, semua itu melekat dalam memorinya, telah
lama menghantuinya, tanpa bisa ia kendalikan.
Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama
kereta api itu bertolak dari Stasiun Bandung. Ia terbangun
oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan
terlalu lama dari seharusnya. Saat matanya membuka, kereta
itu memang sedang berhenti di sebuah stasiun kecil. Dan
Kugy tidak ada di sebelahnya.
Dari kasak-kusuk orang di sekeliling, Keenan menyimpulkan
bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana, dan keterlambatan
ini mulai menggelisahkan banyak penumpang.
Penasaran, Keenan pun memutuskan untuk keluar dan
bertanya langsung pada petugas.
“Muhun. Ada kereta yang anjlok, Cep. Jadi kita tertahan
di sini, mungkin setengah jam sampai sejam. Belum ada
pemberitahuan.” Petugas stasiun itu menjelaskan. Di atas
kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Kereta itu bahkan
belum menempuh separuh perjalanan.
Langit mulai remang, pertanda sore mulai menua. Awan
mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan
selapis gerimis tipis. Meski dianjurkan menunggu di dalam
kereta, Keenan merasa tak ingin kembali ke sana cepatcepat.
Ia mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang
sekiranya membuat perasaannya tertarik. Dan matanya tertumbuk
pada pelataran depan stasiun.
“Cep!.. .............. ......................
60
Sayup, Keenan mendengar petugas tadi memperingatkannya.
Namun, ia merasa kakinya terundang untuk keluar,
menuju jalanan pedesaan yang setengah becek, berhiaskan
satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petromaksnya
untuk menyambut gelap malam.
Di sebuah warung, Keenan berhenti. Aneka gorengan
yang terpajang di sana tampak menarik, belum lagi bersisirsisir
pisang susu yang kuning masak tampak bergelantung
di kayu penyangga tendanya.
“Mangga, ngopi dulu, Den.” Ibu tua pemilik warung menyapa
ramah.
Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu, tibatiba
dari sisi seberangnya muncul kepala dan kedua tangan
mungil yang sedang meraih pisang susu.
“Kugy?”
............ .......... ................ ........ .......... .............. .......... .............. ..........
heran bukan main.
“Hmm. Radar Neptunus—mungkin?” cetus Keenan,
antara geli dan takjub. Ia pun duduk di sebelah Kugy dan
memesan secangkir kopi panas. Keduanya langsung
mengobrol dan tertawa-tawa, tak habis pikir bagaimana mereka
bisa berakhir di tempat yang sama tanpa janjian.
“Sebentar ... sebentar ...” tiba-tiba Kugy memotong pembicaraan.
Wajahnya tampak siaga seolah-seolah sesuatu akan
menyeruak muncul.
“Ada apa?” Keenan ikut melihat ke sekeliling.
“Bau ini ... kamu cium, nggak?” Kugy mengendusendus.
“Kamu kentut?”
.................. .......... .......................... .......... ........ ............ .......... ..........
kena hujan ... kecium, nggak?” Kugy lantas menghirup napas
dalam-dalam, berkali-kali, dan mukanya seperti orang
ekstase. “Sedaaaaap ...,” gumamnya.
61
Keenan ikut mengendus, dan mulai ikut menghirup. “Gy
... tambah lagi wangi kopi, nih ... hmmm ... enaaak ....”
Kugy mencomot kulit pisang, “Tambah lagi nih wangi
pisang ... asoooy ....”
Keduanya sibuk membaui ini-itu, tanpa menyadari ibu
pemilik warung sudah mulai waswas melihat kelakuan mereka.
“Gerimis, wangi tanah kena hujan, kopi, dan pisang ...
dahsyat. Aku nggak bakal lupa kombinasi ini.” Kugy tersenyum
lebar, kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar
lampu.
“Stasiun Citatah, warung, lampu templok, dan ... kamu.
Saya juga nggak bakal lupa.”
Mendengar itu, Kugy termangu. Ia merasa tergerak untuk
mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Ia ingin bertanya,
apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah
menghindarinya. Bahwa ada keanehan yang terjadi antara
mereka berdua, tapi entah apa. Namun, Kugy tak tahu harus
memulai dari mana.
Kembali dalam keheningan, mereka duduk diam. Keenan
menyeruput kopinya perlahan. Begitu juga Kugy dengan teh
panasnya. Namun, kali ini hening itu tidak menjengahkan.
Setiap detik bergulir sejuk dan khidmat, seperti tetes hujan
yang kini turun satu-satu.
“Nan ... kamu benar soal cerpenku itu,” tiba-tiba Kugy
memecah sunyi, “aku nggak menjadi diriku sendiri. Aku
bikin cerita itu untuk cari duit, untuk cari pengakuan doang
....”
Keenan mengangkat kepalanya, menatap balik pada Kugy
yang tengah menatapnya lekat-lekat.
“Makasih, ya. Kalau bukan karena kamu berani jujur
sama aku, mungkin aku nggak akan menyadari itu semua.
Nggak berarti aku bakal berhenti nulis cerpen sama sekali,
62
sih. Tapi sekarang aku bisa melihat diriku apa adanya, di
mana kelemahanku, dan di mana kekuatanku.”
Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy,
jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan,
kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat,
kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”
Kugy menghela napas, pandangan matanya mengembara.
“Gerimis, melukis, menulis ... satu saat nanti, kita jadi diri
kita sendiri,” gumamnya lambat, seperti mengeja. Seperti
mengucap doa.
Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta api akan
segera diberangkatkan. Mereka berdua pun beranjak dari
sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan
hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan, kaki mereka menjejak
gerbong.
Di gang antargerbong yang sempit dan berguncang keras,
keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan
yang begitu dekat di punggungnya, membaui aroma minyak
wangi yang samar tercium dari kemejanya, dan terasa sesekali
wajah Keenan menyentuh rambutnya.
Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat
mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang
berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, untuk
dirinya sendiri, atau untuk mereka berdua. Namun, dengan
jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan
Keenan: “Bulan, perjalanan, kita ....”
Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan
jendela, Kugy menyadari bahwa bulan bersinar benderang
di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk
matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ingin
rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya
di hati. Tiga kata yang tak sepenuhnya ia pahami, tapi nyata
ia alami saat ini. Bulan. Perjalanan. Mereka berdua.
63
Sudah sejam Ojos menunggu di kafe itu, segala macam minuman
dan donat aneka rasa sudah ia pesan sampai perutnya
penuh sesak. Dan akhirnya bergaunglah pengumuman
bahwa kereta api Parahyangan yang ditumpangi Kugy telah
tiba. Segera ia beranjak dari sana dan menunggu di mulut
pintu keluar.
Dari jauh Ojos sudah bisa mengenali sosok mungil itu.
Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar
yang seolah menenggelamkan tubuh kecilnya, belum lagi
jaket jins yang sudah bisa dipastikan hasil minjam saking
kebesarannya. Namun, sesuatu di balik kekacauan berbusana
itulah yang membuat sosok itu mencuat di mana pun ia berada.
Dari jarak seperti ini pun Ojos bahkan sudah bisa melihat
hidupnya binar kedua mata itu, merasakan hangat kehadirannya,
tawanya yang lepas tanpa beban ... kening Ojos
tahu-tahu berkerut. Matanya memicing. Ada seseorang yang
berjalan di sebelah Kugy. Orang yang tidak ia kenal. Saksama,
Ojos mengamati, seperti menjalankan scanning. Keningnya
semakin berkeriut.
................ .......... ........................ ................ .......... ..............................
setengah berlari.
“Hi, Babe,” Ojos meraih pinggang Kugy, dan mengecupnya
di pipi. Sigap, ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu
menyampirkan barang besar itu di bahunya.
“Jos, kenalin. Ini sepupunya Eko ....”
“Keenan.” Keenan langsung mengulurkan tangan dan tersenyum
ramah.
“Hai. Joshua.” Ojos menyambut tangan itu. Sebelah tangannya
tak lepas merangkul Kugy.
“Sampai ketemu semester depan, ya, Gy. Selamat menulis.”
64
“Selamat melukis. Jangan lupa ....” Kugy menempelkan
kedua telunjuknya di ubun-ubun seperti antena.
Seketika Keenan tertawa renyah. “Radar Neptunus ...,” ia
lalu ikut menempelkan kedua telunjuk di ubun-ubun.
Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua, bahkan ketika
Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. Ada gelombang
yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang mengisyaratkan
ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Dan
Ojos tidak merasa nyaman.
65
Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang,
satu kursi masih kosong. Meski hanya bertiga, suasana di
meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu
mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu.
Ibu mereka sesekali menimpali, atau ikut tertawa bersama.
Terdengar suara pintu depan terbuka, dan seseorang memasuki
ruang makan, duduk di kursi keempat.
“Hai, Pa ...,” Jeroen dan Keenan menyapa.
“Maaf ya, kalian jadi menunggu. Tamu itu sudah Papa
suruh datang ke kantor saja, tapi dia maksa datang ke sini
karena udah nggak ada waktu lagi, katanya.”
“It’s okay.” Lena tersenyum sambil menuangkan teh panas
ke cangkir suaminya. “Keenan punya pengumuman buat
kamu, tuh.”
“Oh, ya? Apa, Nan?” tanya ayahnya sambil meminum teh
itu sedikit demi sedikit.
Keenan melirik ibunya, seperti ragu untuk bicara. “Mmm
... IP saya 3,7 semester ini.”
“Tertinggi di angkatannya,” Lena menambahkan dengan
senyum berseri.
8.
MEMULAI DARI YANG KECIL
66
“Bagus,” sahut ayahnya datar, ditambah sedikit manggutmanggut.
Namun, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan
membersit di wajahnya. “Sudah kubilang kamu memang cocok
kuliah di Ekonomi. 0,3 lagi untuk IP sempurna, semester
depan kira-kira bisa?”
“Mungkin,” jawab Keenan pendek.
“Apa pun yang kamu butuh, komputer baru, buku-buku
referensi ... bilang saja. Nanti Papa siapkan.”
“Saya mau minta waktu.”
Cangkir teh itu segera diletakkan di meja. “Maksud
kamu?”
“Saya minta ekstra seminggu dari jatah liburan kuliah.”
“Dia minta waktu lebih lama di Ubud ...” Lena berusaha
menjelaskan.
“Aku ngerti maksudnya,” potong ayahnya tajam. “Kamu
minta izin seminggu bolos kuliah, gitu?”
Keenan mengangguk.
“Buat Papa, kuliah kamu harus jadi prioritas. Dan kamu
sudah membuktikan itu di semester ini. Lalu ... kamu malah
minta hadiah berupa ... bolos kuliah?”
Keenan mengangguk lagi.
“Aneh. Nggak ngerti,” ayahnya geleng-geleng kepala,
“lalu, barusan kamu bilang mau meningkatkan IP kamu sampai
4, gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung
bolos seminggu?”
“Saya kan nggak janji, Pa. Saya cuma bilang: mungkin.”
“Nan, jangan mulai sok pintar, ya ....”
“Pa, saya nggak minta macam-macam. Saya nggak minta
kendaraan. Saya nggak minta komputer baru. Saya nggak
minta buku apa-apa. Saya cuma minta waktu tambahan satu
minggu di tempat Pak Wayan.” Nada bicara Keenan mulai
mengeras.
“Tapi minta bolos itu namanya ‘macam-macam’. Se67
.............. ............ .......... ........ ........ .......... .................... .......... ......
Ubud?”
“Saya udah kasih enam bulan buat Papa. Dan sekarang
saya cuma minta satu minggu ....”
“Memangnya kamu kuliah buat saya?” sergah ayahnya.
Keenan tak menjawab, hanya menghela napas, seolah
menghadapi pertanyaan retoris yang semua orang di situ
tahu jawabnya.
Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa
bekas, berganti dengan ketegangan yang sunyi. Empat orang
duduk kaku tanpa suara.
“Aku yakin Keenan nanti bisa mengejar ketinggalan satu
minggunya,” akhirnya Lena berkata.
“Terserah,” sahut suaminya setengah menggumam, lalu
berdiri dan pergi.
Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi. Begitu juga
dengan Jeroen yang bahkan sudah siap packing sejak dua
hari yang lalu. Dia akan menemani abangnya beberapa hari
di Ubud, sebelum menyusul teman-temannya yang study
tour di Kuta. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang
sepi, tapi ia rela mengorbankan beberapa hari liburannya
demi menghabiskan waktu bersama Keenan.
Hanya ada satu hal yang Keenan ingin lakukan sebelum
dia pergi ke bandara sebentar lagi. Dibukanya buku kecil
berisikan daftar nomor telepon teman-temannya, mencari
satu nama.
“Halo ....” Suara remaja cewek menyambutnya.
“Selamat pagi, bisa bicara dengan Kugy?”
Suara dari ujung sana terdengar riuh, berlatar belakang
.............. .............. ............ .......... ...................... .................. ......................
68
........ ............ ............ ...................... .................... ........ ............ ............
puan yang menyahut.
.......... .......... .......... .......... .............. ........ .................. ............ ........ ............
laki-laki menimpali.
Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga.
............ .......... .......... ...... ............ ............ ....................
.................. ............ ........ .......... ...... ............ .............. ........ ....................
........ .......... ................ ........ ..............
“Halo,” akhirnya terdengar suara Kugy menyapa.
“Hai, Gy.”
Mata Kugy membundar seketika. “Keenan?”
“Iya. Rame banget di rumah kamu. Lagi ada acara?”
“Oh, nggak. Tiap hari memang begini,” Kugy tertawa
kecil, “kamu ... apa kabar? Kok, tumben telepon? He-he, bukannya
nggak boleh, lho. Cuma aneh aja. Bukan aneh
gimana, sih. Cuma ... yah ....” Kugy mulai salah tingkah.
“Saya mau ke Bali, mungkin sampai sebulan. Mau pamitan.”
“Oh ....”
“Habis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Pamitan
juga,” gugup Keenan menambahkan. “Mau oleh-oleh apa?”
“Hmm. Apa, ya?” Kugy berpikir-pikir, “Kaus barong udah
punya lima, sarung pantai ada tiga, miniatur papan ............
ada satu ....”
“Kacang asin?”
.......... .............. .......... ............ .................. .......... ............ ............ ......
beli.”
“Jadi dicuri?”
Kugy tergelak, “Bukan. Sesuatu yang harus dibikin.”
“Oke,” Keenan tersenyum, “saya janji.”
Terasa ada sesuatu yang mengaliri darahnya. Kugy merasa
hangat. Terasa ada sesuatu yang menariki kedua ujung
bibirnya. Kugy merasa ingin terus tersenyum. Sekilas Kugy
69
melihat bayangannya di lemari kaca, dan merasa tolol sendiri.
“Gy ... udah harus cabut, nih. Sori nggak bisa telepon
lama-lama. Baik-baik, ya. Sampai ketemu semester depan.”
“Sip. Sampai ketemu semester depan.” Dan telepon itu
ditutup dari ujung sana. Kugy meletakkan gagang telepon
dengan hati-hati, lalu terduduk lama. Percakapan telepon
barusan tak sampai dua menit, tapi serasa waktu telah melemparkan
jangkarnya dan berhenti di sana. Dan kini perlahan
Kugy mencabut jangkar tadi, kembali ke ruang keluarga
rumahnya, kembali bersama kegaduhan yang rutin
berlangsung di sana.
Ubud, Desember 1999 ...
Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat
kota, semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks keluarga
satu itu. Di sana tinggallah Pak Wayan dan keluarga
besarnya, di sebuah tanah berbukit-lembah yang dilewati
sungai dengan luas hampir lima hektar. Semua anggota keluarga
itu menjadi seniman-seniman besar. Ada yang mendalami
lukis, ukir, patung, tari, bahkan perajin perhiasan.
Seolah-olah semua ragam seni di Bali memiliki wakilnya
masing-masing di keluarga tersebut. Satu bulan di tempat
keluarga Pak Wayan membayar seluruh kerinduan Keenan
terhadap seni, sekaligus mengisi baterainya untuk berbulanbulan
ke depan.
Ibunya adalah sahabat lama Pak Wayan, dan Keenan mengenal
sosok pria itu sejak kecil. Pertemuannya dengan Pak
Wayan terbilang jarang, tapi amat membekas di hati. Ia bertemu
dengan pria itu hanya jika ibunya mengunjungi pameran
lukisan Pak Wayan di galeri di Jakarta. Inilah kun70
jungan pertamanya ke Desa Lodtunduh, tempat yang selama
ini cuma ia lihat dari foto-foto yang dikirimi Pak Wayan.
Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. Ia merasa bisa
tinggal selamanya di sana.
Sejak pindah ke Amsterdam, baru kali inilah Keenan bertemu
langsung dengan Pak Wayan lagi. Keduanya tak berhenti
berkorespondensi. Keenan selalu mengirimkan fotofoto
lukisannya, begitu juga dengan Pak Wayan. Keenan
bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak
Wayan yang seumur dengannya, dan mereka akrab seperti
saudara meski belum pernah bertemu langsung. Kedatangannya
kali ini memang lebih terasa seperti mengunjungi keluarga
di kampung halaman.
Tidak setiap hari Keenan menghabiskan waktunya untuk
melukis, terkadang ia merasa cukup puas hanya menontoni
aneka kegiatan seni yang dilakukan sanak-saudara itu. Seharian
ini ia cuma menguntit Banyu, salah satu keponakan
Pak Wayan, yang sedang mengerjakan pesanan patung.
Pak Wayan berdiri tak jauh dari sana, tempat Keenan
jongkok di sebelah Banyu dengan mata nyaris tak berkedip.
“Tertarik belajar mahat, Nan? Serius sekali.”
Keenan tertawa ringan. “Cuma mengagumi, Poyan. Saya
belum pernah coba. Poyan sendiri—bisa memahat?”
Pak Wayan gantian tertawa sambil memampangkan kedua
telapaknya, “Ini jari kuas. Bukan jari perkakas. Biar
sajalah itu jadi jatahnya Banyu dan bapaknya.”
“Dicoba saja, Nan. Siapa tahu cocok ...,” Banyu ikut
menimpali.
Keenan melihat sekelilingnya. Bonggol-bonggol kayu dan
perkakas pahat yang berserakan. Air mukanya mulai menunjukkan
ketertarikan.
“Sudah, tunggu apa lagi? Mumpung bapaknya si Banyu
71
juga lagi di sini. Jadi kamu bisa tanya-tanya. Karya mereka
ini bahkan disegani di Desa Mas, pusatnya seni patung,” Pak
Wayan ikut memanas-manasi.
“Oke, oke. Hari ini saya nonton dulu aja, Poyan,” sambil
mesem-mesem Keenan berkata. Ia pun kembali menontoni
Banyu dengan setia.
Menjelang petang, Keenan kembali masuk ke studio patung
keluarga Pak Putu. Kali ini ia cuma sendirian di sana. Di
studio itulah Pak Putu dan anaknya, Banyu, biasa bekerja.
Hanya terpisahkan sepetak taman dengan studio lukis Pak
Wayan.
Ada banyak bahan mentah berbagai ukuran yang teronggok
di sana. Keenan mengenali beberapa. Ada kayu sonokeling,
kayu kamboja, kayu suar, kayu belalu, kayu ketapang,
dan beberapa elemen tambahan seperti akar, serat, serta
ranting-ranting. Setelah membolak-balik beberapa bahan,
Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran
agak kecil.
Memulai dari yang kecil, pikirnya. Tak lama kemudian,
Keenan mengambil posisi, menyiapkan perkakas yang ia
butuhkan, dan mulai memahat. Sampai larut malam ia tak
keluar-keluar dari sana.
72
Jakarta, Desember 1999 ...
Kugy punya kesibukan baru sekarang. Ia kembali seperti
anak sekolah yang punya tugas prakarya. Ia memfotokopi
semua sketsa dari Keenan, lalu memotongnya menjadi
kotak-kotak. Printer kecil di kamarnya tak henti-henti berbunyi,
mencetak seluruh dokumen dongengnya. Setelah semua
siap, Kugy mulai menggabungkan teks-teks dongengnya
dengan sketsa-sketsa Keenan, membuat semacam buku
buatan tangan. Dan ia mengerjakan setiap detail dengan sepenuh
hati.
Ada satu tanggal yang menginspirasinya untuk membuat
buku itu. Tanggal itu jugalah yang mendorongnya untuk
bekerja dengan semangat penuh. Kugy sudah melingkari
tanggal itu di kalendernya. Tanggal yang hanya terpaut sehari
dari ulang tahunnya sendiri.
9.
PROYEK PERCOMBLANGAN
73
Kuta, malam tahun baru 2000 ...
Keenan memutuskan keluar dari ‘‘gua beruang’’-nya, turun
gunung dari Ubud. Malam ini ia ikut dengan Banyu dan
Agung ke Kuta untuk bertahun baru. Jalan Legian penuh
sesak dengan orang-orang, mobil-mobil bahkan nyaris tak
bergerak. Hampir setiap kafe dipadati pengunjung yang sampai
tumpah ruah ke trotoar jalan. Mereka bertiga bahkan
harus bicara dengan berteriak-teriak.
“Jadi, kita mau ke mana?” seru Banyu pada keduanya.
Mobil mereka sudah diparkir di sebuah rumah dan mereka
memutuskan untuk jalan kaki.
Keenan mengangkat bahu, berdiri di pinggir jalan saja
sudah terasa sedang berpesta saking ramainya. Sejujurnya,
ia malah ingin cepat pulang ke Lodtunduh.
Agung menunjuk satu kafe di pojokan jalan. “Ke situ
............ ........ .................... .............. ............ ............ .......... ............ .......... ............
............
Mereka bertiga akhirnya bergerak menuju kafe temaram
berhiaskan ornamen-ornamen Buddha yang hanya beberapa
puluh meter dari tempat mereka berdiri tadi. Namun, langkah
Keenan sempat tersendat ketika ia melihat wartel kecil
yang menyempil di antara toko-toko.
................ .............. .................. ........ ............ .............. .......... ................
seru Keenan sambil memasuki wartel itu. Ada satu bilik
yang kosong. Keenan segera merogoh dompetnya, mencari
catatan kecil yang ia selipkan.
Nomor telepon seluler yang ia hubungi tersambung ke
kotak suara. Ia mencoba satu nomor lagi.
“Halo ....”
Keenan masih ingat suara itu. Suara yang juga mengangkat
telepon darinya terakhir kali.
“Halo, bisa bicara dengan Kugy?”
74
“Sebentar, ya,” suara itu menyahut manis. Dan saat kop
telepon dijauhkan, suara manis itu berubah menjadi teriakan
.................. .................. .......... .......... ............ .......... ............ ........ ............
............ ................ .......... ............ .......... .............. ........ ............ ........ ..........
telepon aku sih dari tadi?”
.............. .............. ............ ............ ........ .......... ............ .................... ......
nyahut.
“Dasar ABG. Entar tuaan dikit kamu bakal males terima
telepon, tauk.”
“Kalo teleponnya buat orang lain melulu, nggak usah
nunggu tua, sekarang juga udah males.”
Lalu terdengar suara derap kaki menuruni tangga. Sejenak
kemudian telepon itu berpindah tangan. “Halo?”
Keenan spontan tersenyum. Sepotong ‘‘halo’’ yang baru
saja ia dengar sudah cukup membuat suasana hatinya kembali
cerah.
“Kamar kamu di lantai atas, ya? Saya selalu dengar kamu
lari-lari turun tangga.”
“Keenan?” Kugy hampir melonjak dari tempat duduknya.
............ ........ ..............
“Kabar baik. Saya lagi di Kuta, mau tahun baruan dengan
keponakan-keponakannya Pak Wayan. Tadi tiba-tiba inget
kamu, dan kepingin nelepon. Saya pikir kamu nggak bakal
ada di rumah. Nggak ada acara?”
“Tawaran banyak, tapi aku tolak semua,” Kugy terkekeh.
“Ada acara di rumah?”
“Nggak juga. Aku lagi ada kerjaan.”
Mata Keenan membesar, “Sebegitu pentingnya sampai
melewatkan tahun baruan segala?”
“Hmm ... begitulah,” jawab Kugy sambil melirik
jemarinya yang masih bersaputkan sisa lem akibat kegiatan
tempel menempelnya sejak beberapa hari terakhir.
75
“Di sini kan lebih awal sejam, dan sebentar lagi udah
mau jam 12. Jadi ... selamat tahun baru, ya, Kecil. Jangan
cepat gede, nanti nggak seru lagi.”
Entah mengapa, omongan Keenan yang setengah bercanda
itu malah membuat Kugy terharu. “Makasih. Selamat
tahun baru juga,” ucapnya setelah menelan ludah terlebih
dulu.
“Saya sebetulnya pingin cerita banyak. Tapi begitu nelepon,
malah bingung. Mungkin nanti aja kalau kita ketemu
di Bandung lagi, ya.”
Dalam hati, Kugy merasakan sebersit kecewa. Agaknya
percakapan telepon ini tidak akan lebih dari dua menit lagi.
“Oleh-oleh buatku—nggak lupa, kan?”
“Kaus barong?” gurau Keenan, yang langsung disahut gelak
tawa di ujung sana. Sementara itu pikirannya melayang
pada satu benda yang hampir tak lepas dari tangannya beberapa
hari terakhir ini, yang membuat Pak Wayan dan
Banyu geleng-geleng kepala saking seriusnya Keenan mengulik
benda satu itu, bolak-balik dihaluskan dan disempurnakan
setiap hari.
“Pokoknya kamu utang Pemadam Kelaparan kalau sampai
nanti cuma bawain kaus barong, atau sarung pantai, atau
miniatur papan ............ ....”
“Kacang asin?”
“Seneng amat sih sama kacang asin.”
“Saya bakal bawain itu semua, plus sesuatu yang saya
bikin. Jadi, kita tetap nge-date ke Pemadam Kelaparan. Gimana?”
“Setuju,” ujar Kugy berseri-seri.
Tak lama kemudian, telepon itu disudahi. Kembali Kugy
melirik jam. Dugaannya benar. Telepon dua menit itu kembali
terjadi. Dan kembali Sang Waktu membuang sauhnya,
berhenti di sana. Dan kembali Kugy mendapatkan dirinya
76
tertambat dalam ruang dan waktu yang membeku, tempat
segala kenangan tentang mereka dikristalkan.
Bandung, Januari 2000 ...
Tiga orang itu menduduki meja kebangsaan mereka dengan
membawa piring masing-masing. Ketiganya juga membawa
kisah masing-masing seputar kegiatan mereka selama liburan
semester.
Eko memulai dengan menceritakan program penyembuhan
yang telah dijalani Fuad. “Fuad udah ganti mesin,
ibarat orang nyawanya diganti baru. Sekarang Fuad bodinya
............ .......... .......... .............. .......... ....................
“Yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah ...?”
“Statistik mogok Fuad akan menurun dan hidup kalian
lebih tenteram,” demikian penutup dari Eko.
.................... .......... ........ .......... ..................
“Lu ngapain aja, Gy?” tanya Noni.
“Gua banyak di rumah. Merenungi nasib.”
“Nggak ada yang lebih menarik?” Eko melengos.
“Gua juga lagi bikin ....” Kugy terdiam sejenak, merasa
tidak perlu melanjutkan.
“Gantung amat,” celetuk Noni.
“Lu ngapain aja, Non?” Kugy balas bertanya, cepat-cepat
mengalihkan bola panas itu.
Wajah Noni seketika cerah seperti disorot lampu, seperti
hendak menyampaikan berita spektakuler yang disimpannya
sejak tadi. “Gua udah cerita dikit ke Eko soal ini, dan dia
juga setuju kalo rencana ini sangat brilian.”
Mata Kugy ikut berbinar. Duduknya menegak. “Kayaknya
seru, nih ...,” desisnya penasaran.
“Dimulai dengan Latar Belakang Masalah,” celetuk Eko.
77
“Oke. Latar Belakang Masalah. Ehm. Jadi begini,” Noni
mulai memaparkan, “selama ini ada ketimpangan di geng
kita. Lu punya pacar, gua punya pacar, cuma Keenan doang
yang jomblo. Dan anak itu kayaknya terlalu antisosial untuk
cari pacar sendiri. Jadi ....”
Napas Kugy mendadak tertahan.
“Jadi ... Neng satu ini mau mencoba peruntungannya jadi
Mak Comblang,” timpal Eko seraya menyentuh sekilas ujung
hidung Noni.
“Gua punya saudara, sepupu nggak langsung sih, tapi hubungan
kita lumayan deket. Dia lama tinggal di Melbourne.
Sekarang ini dia lagi cuti kuliah, pulang ke Indonesia buat
magang di perusahaan bokapnya. Dia mau main ke Bandung
minggu depan. Pas banget momennya dengan Keenan pulang
dari Bali,” Noni melanjutkan.
Badan Kugy rasanya semakin tidak rileks. “Terus?” tanyanya.
“Terus ... ya, mereka berdua mau dipertemukan, gitu lho,
Jeng Kugy,” Eko menyambar.
“Memangnya Keenan mau dicomblangin gitu? Kok gua
nggak yakin,” kata Kugy. Ia sungguh tidak bisa memaksakan
diri untuk tampak antusias dengan proyek Noni.
“Jangan ketahuan, dong. Semuanya harus na-tu-ral,”
Noni mengeja, “yang tahu percomblangan ini cukup kita bertiga
doang.”
“Kalian berdua aja, deh. Gua nggak bakat nyomblangin
orang. Statistik kegagalan gua seratus persen,” sahut Kugy
malas. Tubuhnya yang tadi tegak kini kembali bersandar ke
kursi.
“Lu kok pesimis gitu, Gy,” tukas Eko. “Bayangkan, nanti
kita bisa triple-date. Gua dan Noni, lu dan Ojos, Keenan
dan—siapa namanya?”
“Wanda.”
78
“… dan Wanda. Seru, kan?”
“Yah, gua hargai optimisme lu. Tapi udahlah, mereka berdua
ketemu aja belum. Belum tentu nyantol. Nggak usah
mengkhayal triple-date dulu,” kata Kugy, hampir tak bisa
menutupi nada suaranya yang berubah ketus.
“Bukannya lu yang selama ini seorang pengkhayal profesional?
Aneh,” komentar Eko.
Noni terkekeh, “Kalo cuma soal nyantol, gua yakin mereka
bakal nyantol.”
“Oh, ya?” Kugy menyahut sangsi.
“Lihat aja nanti,” Noni tersenyum simpul.
Bukan hanya karena pembicaraan di Pemadam Kelaparan
tadi siang, sudah beberapa minggu belakangan ini Kugy merasa
ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski rasanya
sudah di ujung lidah, Kugy belum bisa menguraikan apa
yang sesungguhnya terjadi. Tidak juga pada dirinya sendiri.
Ia merasa sudah saatnya bicara dengan seseorang. Kugy berharap
bisa memperoleh kejelasan dengan setidaknya memberanikan
diri untuk bercerita.
Diketuknya pintu Noni yang setengah terbuka, “Non ...
lagi sibuk?”
Noni tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Namun, isyarat tangannya menyuruh Kugy untuk masuk.
Kugy pun duduk menunggu di sudut tempat tidur.
“Oke ... weekend depan udah pasti, ya? Perlu dijemput?
Ya. Nanti aku sama Eko jemput kamu ke hotelmu aja, baru
kita jalan bareng. Iya ... nanti ada teman-temanku juga. Oke.
.............. ................ ........ Take care ... bye!” Noni meletakkan
ponselnya, “Sori, Gy. Gua baru teleponan sama Wanda.
What’s up?”
79
Mendengar nama itu, kembali rasa tidak nyaman merambati
tubuh Kugy. Ia merasa makin tidak beres. Ditatapnya
Noni yang juga menatapnya dengan tatapan menunggu.
Entah kenapa, tiba-tiba Kugy merasa Noni bukanlah orang
yang tepat untuk diajak bicara masalah ini, tidak dengan
adanya proyek percomblangan yang sepertinya betul-betul
diseriusi sahabatnya itu.
“Kenapa, Gy?” Noni bertanya lagi.
“Nggak. Nggak jadi. Gua lupa mau ngomong apa. He-he.
Sori,” Kugy pun bangkit berdiri.
“Yakin?” Noni mengamati air muka sahabatnya. “Hari ini
lu banyak gantung, deh.”
“Mungkin udah saatnya gua bertobat dan banyak berbuat
baik,” cetus Kugy asal sambil ngeloyor pergi.
“Dasar gila,” Noni nyengir, lalu menutup pintu kamarnya.
80
Lewat pukul lima, Kugy baru sampai ke tempat kosnya. Ia
baru saja kembali dari pertemuan Klub Kakak Asuh yang
mengundangnya untuk menjadi pengajar sukarela di sebuah
sekolah dasar darurat. Sekolah itu akan dinamai “Sakola
Alit” dan akan mengambil tempat di alam terbuka di daerah
perbukitan Bojong Koneng. Tepatnya, mereka tak punya
dana cukup untuk menyewa bangunan dan terpaksa melaksanakan
kegiatan belajar mengajar di saung-saung ladang
atau di bawah pohon.
“Kamu nggak percaya kan di kota secanggih Bandung ini
masih ada anak-anak yang nggak bisa baca tulis, padahal
umur mereka sudah sembilan-sepuluh tahun?” kata Ami
pada Kugy di pertemuan tadi.
“Jadi, kita harus mulai dari mana?” Kugy bertanya.
“Kita akan bagi tiap kelas sesuai kemampuan mereka
masing-masing. Kelas paling dasar hanya akan belajar membaca,
menghitung, dan menggambar. Persis pelajaran anak
TK. Tapi dalam satu kelas umurnya bisa bervariasi, dari mulai
empat tahun sampai sepuluh tahun.”
10.
KURATOR MUDA
81
Kugy terdiam mendengar penjelasan itu. Matanya tak lepas
mengamati foto-foto anak-anak yang akan dibina oleh
Ami dan teman-temannya.
“Kamu pikirkan dulu aja, Gy. Kita berkomitmen mengajar
mereka empat hari seminggu. Jadi lumayan menyita waktu.”
“Berapa sukarelawan yang sudah terkumpul sekarang?”
“Dua orang, termasuk aku.”
“Anak yang harus diajar?”
“Dua puluh dua.”
Kugy terdiam lagi. “Oke, aku kabari dalam minggu ini,
ya.”
Sepanjang perjalanan pulang, Kugy tak bisa menanggalkan
wajah anak-anak itu dari ingatannya. Perhatiannya baru teralih
saat ia membuka pintu kamar dan melihat ada setumpuk
benda asing di tempat tidur. Kugy menyalakan lampu.
................ ........ ........................ .................. .............. .......... ....................
Terdengar ada suara yang menyahut dari kamar sebelah.
Tak lama, Noni muncul di pintu.
“Keenan ke sini?” tanya Kugy segera.
“Iya, tadi dia mampir sama Eko, cari lu, tapi nggak ada.
Dia titip oleh-oleh, tuh. Udah lihat, ya?”
Kugy mengangguk, menatap kaus putih bergambar barong
dan sarung hitam bercorak yang terlipat rapi. Di atasnya
tergeletak papan ..............mini dan sekotak kacang asin.
“Nanti malam gua sama Eko janjian mau ke tempat kosnya.
Mau ikut, nggak?”
............ ............ .......... .................. .................. .................. ........ ..........
gup menyembunyikan kegembiraan yang membeludak.
Ketika Noni sudah keluar, Kugy membuka laci meja
belajarnya. Sekadar mengecek buku buatan tangannya yang
kini sudah rampung. Sesuatu serasa merekah di hatinya. Tak
sabar rasanya menanti malam datang.
82
“Udah siap, Gy?” Noni melongok ke kamar Kugy dan sedikit
terperanjat, “tumben lu agak cakepan.”
“Nggak ... biasa aja, kok.” Gugup, Kugy merapikan baju
terusan hitam selututnya. Baju terbaik yang pernah ia miliki
dan tak pernah keluar lemari saking istimewanya. Tahutahu,
Kugy menyambar jaket jins Karel dan buru-buru mengenakannya.
“Yaaah ... rusak lagi, deh,” Eko tertawa, “tapi lebih sesuai
.............. ............ ........ ........
Tiba-tiba sesosok perempuan tak dikenal muncul di balik
punggung Eko dan Noni. Tubuh semampai itu melangkah
anggun dalam jins ketat dan tank-top. Sepatu wedge yang
tebal dan trendi tampak serasi dengan tas kecil yang ia pegang.
Rambut panjang itu tampak tertata rapi seperti baru
keluar dari salon. Semilir parfum .......... tercium di udara
tiap kali perempuan itu bergerak. Dan semua itu membuat
Kugy terpaku.
“Gy, kenalin. Ini sepupu gua, Wanda,” Noni berkata.
“Wanda,” ia mengulang namanya dengan nada merdu
bak resepsionis kantor.
Kugy menerima uluran tangan Wanda. Tampak barisan
kuku terlapis cat biru metalik yang berkilau tertimpa sinar
lampu. Kugy pun menyadari, bola mata Wanda dilapisi lensa
kontak biru yang serasi dengan warna kukunya. Setiap inci
penampilan Wanda seperti direncanakan dengan matang.
Satu hal yang rasanya mustahil dilakukan Kugy.
“Non, shall we?” Wanda memutar tubuhnya menghadap
Noni.
“Gua nyusul bentar lagi. Kalian duluan aja ke depan,”
ujar Kugy. Dan ketika tiga orang itu pergi, Kugy mengempaskan
tubuhnya ke tempat tidur. Perasaannya campur aduk.
83
Ada kegelisahan yang nyaris tak bisa ia tahankan. Segala
sesuatu tentang Wanda, rencana Noni, dan aneka kemungkinan
yang bisa terjadi malam ini, seperti melumpuhkan
sistemnya. Dan Kugy akhirnya memutuskan sesuatu.
Ia berlari ke depan, menemui teman-temannya yang sudah
menunggu di mobil, membuat alasan palsu yang membatalkan
kepergiannya ke tempat kos Keenan. Sebagai ganti,
Kugy meringkuk di tempat tidurnya semalaman.
Dari dalam kamar, Keenan sudah bisa mendengar Fuad menepi.
Tak lama, ia mendengar langkah-langkah kaki mendekati
kamarnya. Keenan pun segera berdiri, membuka
pintu. Sejenak ia menyadari detak jantungnya yang sedikit
bertambah cepat, seolah mengantisipasi sesuatu.
Pintu terbuka. Tampak Noni dan Eko nyengir selebarlebarnya.
“Si Kecil mana?” tanya Keenan langsung.
Terdengar suara hak sepatu beradu dengan ubin dari kejauhan,
menuju arah mereka. “Sorry, guys. I just dropped
my contact. Untung ketemu lagi ....”
Keenan terheran-heran melihat seorang cewek tinggi tak
dikenal berjalan ke arah mereka dengan mata berkedipkedip
seperti orang kelilipan. Ia ganti menatap Noni dan
Eko, meminta penjelasan.
“Nan, ini Wanda. Sepupu gua dari Melbourne. Kamu pernah
dengar Galeri Warsita di Menteng, nggak? Nah, ayah
Wanda itu pemiliknya. Wanda senang lukisan juga. Dia pokoknya
ngerti banget soal yang seni-seni gitu. Gua bilang
juga ke dia kalo lu hobi melukis. Wanda ceritanya lagi
hunting lukisan di Bandung, lho,” Noni menyerocos seperti
tukang obat sedang promosi.
84
Dengan gestur agak kaku, Keenan berkenalan dengan
Wanda. Sementara di belakang punggung Wanda, Eko mendelik-
delik penuh maksud, meminta diundang masuk.
“Oh, sori. Masuk, yuk ...,” gelagapan Keenan menyilakan
sambil membuka pintunya lebar. “Maaf agak berantakan, ya.
Belum sempat beres-beres setelah pulang dari Bali ....”
Tanpa menunggu penjelasan Keenan selesai, Wanda langsung
menerobos masuk. Matanya sudah terkunci pada
lukisan-lukisan yang menyebar di seluruh penjuru ruangan
itu. Bak seorang kurator profesional, ia menelaah lukisan
demi lukisan dengan teliti. Perhatiannya begitu terpusat
seolah yang lain sudah melesak ke perut Bumi dan tinggal
ia sendiri bersama lukisan-lukisan Keenan.
Dengan bingung Keenan memandangi kegiatan Wanda
yang menekuni lukisannya seperti hendak menelanjangi. Sementara
dilihatnya Eko dan Noni mesem-mesem di pojok
kamar. Keenan merasakan banyak tanda tanya di udara malam
ini.
“Kamu sudah pernah pameran?” tanya Wanda pada
Keenan, sementara matanya terus terpaku pada lukisan.
“Belum ....”
“Lukisan kamu sudah pernah masuk galeri?”
“Belum ....” Keenan menggeleng lagi. “Saya melukis hanya
karena hobi aja, masih iseng-iseng.”
“Ah. Such a shame,” Wanda tersenyum tipis, “kamu sangat,
sangat berbakat.”
“Oh, ya?” Alis Keenan mengangkat. “Menurut kamu—
lukisan-lukisan ini cukup layak masuk galeri?”
“Layak?” kali ini Wanda mendongak menatap Keenan,
tergelak halus, “harusnya kamu cari nafkah dari melukis.”
Air muka Keenan berubah seketika. Ia mulai melangkah
mendekati Wanda dan menyimak ucapannya sungguh-sungguh.
85
“Kamu pelukis potret yang sangat bagus. Semua objek
kamu hidup, mendetail, guratan dan garis kamu tegas,
akurat. Dan uniknya, kamu menggabungkan lukisan potret
dengan abstrak dalam satu frame. Abstrak kamu juga sangat
kuat. Biasanya, pelukis hanya kuat di salah satu, tapi kamu
kuat di keduanya. Impressive,” tutur Wanda dengan decak
kagum.
Keenan menelan ludah. Baru kali itu seseorang mengomentari
lukisannya dengan sangat serius. Kunjungan ini
mendadak menjadi menarik.
Malam itu, Noni dan Eko terpaksa menggantungkan nasib
perut mereka pada Mas-Mas pengantar pizza. Wanda
dan Keenan mengobrol soal dunia lukisan dengan asyiknya
hingga tak menggubris desakan Noni dan Eko untuk makan
malam di luar.
Sambil menyuap potongan pizza ke mulut, Noni menjulurkan
sebelah tangannya diam-diam, mengajak Eko bersalaman.
Misi mereka berhasil.
Sejak tadi, Kugy tetap terjaga di kamar. Berbagai kegiatan
sudah ia lakukan untuk mendistraksi, tapi pikirannya tetap
terikut dengan Fuad, menuju tempat kos Keenan, dan menciptakan
seribu satu skenario tentang apa gerangan yang
terjadi malam ini. Tidak mungkin ada cowok normal yang
tidak tertarik dengan Wanda ... tapi Keenan mungkin beda,
dia melihat kualitas yang lain ... tapi cowok tetap saja cowok
... tapi mungkin Wanda membosankan, nggak seru,
dan nggak nyambung ... tapi kalau secantik itu, siapa lagi
yang peduli soal seru dan nyambung ... dan benak Kugy
pun tak berhenti berceloteh.
Saat pintu kamar sebelahnya kedengaran membuka, me86
lonjaklah Kugy dari tempat tidur. Berdiri di dekat pintu kamarnya
dengan lagak malas-malasan.
“Belum tidur, Gy? Tadi katanya banyak kerjaan, terus
sakit perut, terus mau tidur cepat,” kata Noni sambil melirik
Kugy yang bersandar di dinding sambil menguap-nguap dan
garuk-garuk kepala.
“Baru mau tidur, nih. Tadi nulis dulu,” Kugy menguap
lagi, “gimana debut Mak Comblang kita? Sukses?”
“Dari skala 1-100, nilai gua 95. Yang 5 sisanya hanya untuk
jaga-jaga siapa tahu Keenan atau Wanda mendadak
amnesia,” cetus Noni mantap.
Kugy terkekeh, “Optimis banget sih ente. Emangnya
Keenan mau sama tipe cewek Barbie kayak Wanda gitu?”
“Kugy darling, Wanda itu kurator muda. Bokapnya yang
punya Galeri Warsita di Menteng,” jelas Noni dengan senyum
kemenangan, “awalnya memang si Keenan kayak sedikit
alergi, tapi begitu Wanda mulai ngomentarin lukisannya ...
....................................................................................................................
reka berdua ngobrol, yang ada kita batal makan ke luar,
cuma order pizza, dan gua sama Eko akhirnya minggat ke
warnet. Gila, kita dianggurin kayak tembok.”
Kugy ikut tertawa. Namun, terasa tawar dan sumbang.
Lidahnya seperti kelu untuk memberikan tanggapan apa
pun. Akhirnya ia memilih permisi tidur.
Ada sesuatu yang remuk di hati Kugy, dan pecahan-pecahannya
seolah menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya
meringkuk memeluk guling menahan pedih. Dan segala keresahan
dan kebingungannya selama ini juga ikut memuncak,
meledak, hingga kesedihan itu tak tertanggungkan lagi.
Butir demi butir air mata pun mulai melelehi pipinya.
Sejenak Kugy mengangkat mukanya, melirik buku dongeng
buatannya yang kini tergeletak di meja. Ia langsung
mengernyit. Mendadak ia merasa bodoh. Buku itu tampak
87
buruk. Dan Kugy pun membenamkan mukanya kembali ke
dalam guling. Jengah melihat hasil karyanya sendiri.
Dalam benaman guling itu, untuk pertama kalinya Kugy
menyadari ... ia telah jatuh cinta pada Keenan.
Pagi itu, Kugy bangun dengan mata sembap. Terpaksa ia
membungkus es batu dalam sapu tangan lalu mengompreskannya
ke mata. Dengan satu mata yang terbuka, ia membuka
catatannya lalu memencet sederet nomor di ponselnya.
“Ami? Hai, ini Kugy. Aku udah memutuskan ... iya ... aku
mau jadi pengajar di Sakola Alit. Mulai secepatnya bisa? Iya
... aku siap, kok.”
Setelah pembicaraan itu selesai, Kugy mengembuskan
napas lega. Ia harus berbuat sesuatu. Ia harus mencari kesibukan.
Ia ingin melupakan pedih itu, apa pun caranya.
Dan tawaran Ami mendadak menjadi tiket keluar yang paling
baik.
Ia lalu teringat sesuatu. Sebuah benda buatannya yang
sudah terbungkus rapi dengan kertas kado. Kugy mengambilnya
dari dalam laci. Membuka lemari pakaiannya yang
bergabung dengan beberapa dus kecil berisi barang-barang
bekas. Kugy membuka salah satu dus lalu menjebloskan benda
itu di sana. Belum cukup puas, dibenamkannya lagi dus
kecil itu di dalam tumpukan benda lain. Sementara ini, Kugy
ingin sekali melupakan benda itu. Perasaan itu.
88
Angkutan kota Colt L-300 yang sudah tua dan kepayahan
nanjak itu hanya mengantarkan mereka bertiga sampai di
mulut sebuah jalan setapak. Matahari pagi terasa hangat
menyentuh kulit muka setelah sekian lama mereka terperangkap
dalam mobil.
Kugy, Ami, dan Ical sejenak saling berpandangan sebelum
mereka menuruni jalan tanah itu. Ini adalah hari pertama
mereka resmi mengajar di Sakola Alit. Tidak ada yang bisa
membayangkan apa yang akan mereka hadapi. Sambil menenteng
masing-masing sebuah papan tulis kecil dan menyandang
ransel yang penuh sesak dengan alat tulis dan
buku-buku, ketiga orang itu mulai melangkah memasuki jalan
menurun yang dinaungi rimbunan pohon bambu di kirikanan.
Setelah kurang lebih setengah jam berjalan kaki, sampailah
mereka di sebuah masjid. Banyak anak kecil berlarian di
sekitarnya. Seorang bapak berpeci yang sedang duduk sambil
merokok, cepat-cepat bangkit berdiri dan menyambut mereka.
11.
SAKOLA ALIT
89
“Neng Ami ... kumaha10, Neng? Damang11?” Bapak itu
menjulurkan ujung tangannya untuk menyalami Ami.
“Pak Somad, kenalkan, ini teman-teman saya yang nanti
ikut ngajar,” Ami memperkenalkan ketiga temannya satu per
satu, “Pak Somad ini yang membantu mengumpulkan anakanak
dari kampung sini,” Ami lalu gantian mengenalkan.
“Muhun12,” sahut Pak Somad, “hari ini baru ada lima belas
anak, Neng. Sisanya mungkin baru besok atau lusa. Maklum,
banyak yang sambil kerja juga.”
“Nggak apa-apa, Pak. Kita mulai sekarang aja. Saungnya
di sebelah mana, ya?”
“Oh, mangga, mangga.13 Diantar ku Bapa14,” buru-buru
Pak Somad mematikan rokok kreteknya lalu mulai memanggili
anak-anak yang tercerai-berai di sekitar masjid.
Tak lama, mereka pun berjalan beramai-ramai menuju sebuah
saung yang berukuran cukup besar di pinggir ladang
cabai.
Sekumpulan anak itu akhirnya dibagi dalam tiga kelas.
Ami kebagian di saung besar, Ical mendapat tempat di sebuah
saung agak kecil yang terpisah sekitar seratus meter,
dan Kugy kebagian di bawah pohon.
Kugy pun bergegas menyiapkan ‘‘ruang kelas’’-nya. Menggelar
tikar plastik untuk mereka semua duduk, menyandarkan
papan tulisnya di pohon, dan membagikan buku serta
alat tulis. Di hadapannya kini sudah ada lima anak dari mulai
umur empat sampai sembilan tahun. Semuanya mengaku
tidak bisa membaca dan menulis. Sejenak Kugy menghela
napas, mereka-reka harus memulai dari mana.
10 Bagaimana.
11 Sehat.
12 Betul.
13 Silakan, silakan.
14 Oleh Bapak.
90
“Selamat pagi,” sapa Kugy semanis mungkin. Tak ada
yang menjawab. Ada yang asyik mencari kutu di kepala temannya,
ada yang langsung merobek kertas dari bukunya
dan bikin kapal-kapalan, ada yang kerjanya teriak-teriak terus
memanggili temannya di saung sebelah, dan ada juga
yang menatapnya bergeming seperti melihat hantu.
Keringat dingin Kugy menetes.
Laki-laki setengah baya itu berjalan menuju ruang kantornya
yang terletak di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ia hanya
mengenakan kemeja linen dan celana kain, dan begitulah ia
biasa berkantor sehari-hari. Kantornya hanya satu ruangan
dari keseluruhan galeri yang luas itu. Galeri miliknya memang
galeri terbesar di Jakarta. Ia menjalankannya hanya
berdua dengan sahabatnya, Syahrani, yang juga sudah puluhan
tahun menjadi kolektor karya seni, dan akhirnya menikah
dengan seorang perupa terkenal yang karya patungnya
pun menghiasi berbagai sudut galeri itu.
“Selamat pagi, Pak Hans,” sekretarisnya menyapa.
“Pagi, Mia. Wanda sudah di dalam?”
“Sudah, Pak. Dari setengah jam yang lalu.”
Laki-laki itu melirik jam tangannya, “Wah, rajin banget
dia. Pantas tadi langsung hilang dari rumah sehabis sarapan.”
“Morning, Hans. Morning, Mia,” seorang ibu berkacamata
menghampiri mereka. Meski nyaris polos tanpa riasan, wajahnya
tampak cerah. Hanya seoles tipis lipstik merah tua
mewarnai bibirnya. Selendang batik membungkus lehernya
seperti syal.
“Met pagi, Ran. Gimana pameran patung Teguh di Jerman?
Sukses?” Hans menyapa mitranya.
91
“Wonderful. They love it, those strange bules,” Syahrani
tertawa ringan, “so, how’s our young and beautiful curator?
Dia nelepon aku semalam. Sepertinya dia semangat banget,
tuh. Katanya banyak dapat lukisan bagus di Bandung.”
“Tapi kali ini dia agak aneh,” Hans geleng-geleng kepala,
“dia bahkan nggak mau kasih aku sneak preview. Tadi pagi
kami sarapan bareng di rumah, lalu dia langsung menghilang.
Ternyata sudah duluan kemari, dari setengah jam
yang lalu malah.”
“Oh, ya? Let’s see what she got, then.” Syahrani tersenyum
dan menggosokkan kedua telapak tangannya seolah
hendak mengantisipasi sebuah kejutan.
Hans pun membuka pintu kantornya yang sedari tadi
tertutup, melangkah masuk bersama mitranya.
Wanda menyambut keduanya dengan senyum merekah.
Semuanya tampak sudah rapi ia persiapkan, termasuk proyektor
yang sudah menyala dan terhubung ke laptop-nya.
Wanda langsung menghampiri Syahrani dan memeluknya,
“Tante Rani, I miss you so much ....”
“Miss you too, dear. Papimu cerita, kamu semangat banget
mau presentasi pagi ini,” kata Syahrani sambil menjawil
pipi Wanda.
Wanda mengangguk mantap, lalu tanpa banyak bicara ia
langsung memulai mempresentasikan slide-slide foto lukisan
yang sudah ia persiapkan. Wanda memulai dengan karya
pelukis paling senior terlebih dahulu, hingga foto demi foto
berlalu, dan Wanda tiba pada koleksi terakhirnya. Napasnya
sejenak dihela sebelum mulai memberikan ulasan. Wanda
tampak sedikit tegang. “Yang ini adalah karya pelukis muda.
Menurut saya dia sangat gifted. Karyanya segar, otentik. Dengan
manajemen yang baik, menurut saya dia bisa punya
prospek luar biasa.”
92
“Siapa namanya? Keenan?” tanya Syahrani sambil membaca-
baca arsip yang sudah dipersiapkan Wanda di meja.
“Iya. Dia yang temannya Noni di Bandung itu, Papi.”
Wanda berkata sambil melirik ayahnya.
“Sudah pernah pameran?” tanya ayahnya.
Wanda menghela napas. Ia sudah menduga pertanyaan
itu pasti muncul. “Belum,” jawabnya.
“Pernah masuk di galeri mana?” Syahrani ikut bertanya.
Pertanyaan kedua yang pasti muncul. “Belum pernah,”
jawab Wanda lagi.
Syahrani dan Hans berpandang-pandangan. “Well,” Hans
berdehem, “kalau soal dia berbakat, saya setuju. Otentik?
Bisa jadi. Tapi, anak ini kelihatannya masih berproses dan
belum mencapai titik kematangannya sebagai pelukis. Saya
lihat dia seperti masih mencari identitas. Kasih satu-dua tahun
lagi, mungkin dia baru layak masuk ke Warsita.”
Ekspresi Wanda seketika berubah. Mulutnya mengerut.
“Papi, tapi saya yakin dia punya sesuatu. He’s like a raw
diamond ....”
“Persis,” sahut ayahnya santai, “raw—mentah. Dia bagus,
tapi mentah.”
“Saya setuju dengan semua poin kamu, Hans,” Syahrani
angkat bicara, “tapi ada faktor lain yang bisa jadi pertimbangan,
yaitu kejelian Wanda melihat talenta baru. Warsita
memang terkenal dengan koleksi karya-karya pelukis mapan,
tapi nggak ada salahnya galeri ini juga memulai membuka
peluang untuk pelukis baru. Ini bisa jadi kredit buat kita
jika kelak pelukis ini berkembang bagus.”
Hans tersenyum kecil, “Sudah ada berapa puluh pelukis
baru yang antre ingin masuk sini dan kita tolak, lalu kenapa
yang satu ini bisa mendapat perkecualian?”
“Karena dia berbeda, Papi,” Wanda menyambar tegas.
Syahrani sekilas memeriksa arsip Keenan sekali lagi. Ada
93
selembar foto Keenan di samping lukisannya yang ikut dilampirkan
di sana. “Karena ... I think our Wanda likes
him.”
Muka Wanda langsung merah padam. Mulutnya siap
membuka, tapi ia kehilangan kemampuannya berkata-kata.
“Bercanda, Sayang,” cepat Syahrani menambahkan sambil
tertawa halus. “Anak ini memang berbakat. Dan saya pikir
dia layak diberi kesempatan.”
Hans mengangkat bahunya ringan. “Oke. Kita lihat saja
nanti perkembangannya.”
Napas Wanda melega. Meski ia masih terusik dengan apa
yang dilontarkan padanya barusan, senyum puas yang menyembul
di wajahnya sungguh tak bisa ia tahan.
Bandung, Februari, 2000 ...
Rasa pegal yang mulai menyerang kakinya menunjukkan
bahwa sudah cukup lama ia berdiri di sana. Keenan mulai
berpikir barangkali sudah saatnya ia menyerah dan pulang.
Namun, ia mengedarkan pandangannya sekali lagi, meneliti
wajah-wajah yang lalu-lalang di sekitarnya. Akhirnya, tampak
sekelebat siluet yang ia cari. Rambut sebahu yang tergerai,
jaket jins yang hampir setiap hari dipakai, ransel yang
tampak tidak proporsional karena ukurannya terlalu besar
............ ............ ...................... .......... ................ .............. ................
Yang dipanggil malah terus berjalan. Terpaksa Keenan
mengejar dan menarik tangannya.
Kugy memejamkan mata sebelum berbalik dan menyetel
.......... .............. .................... ............ ............ ........ ..............
Keenan menatapnya tak percaya. “Kamu ke mana aja?”
“Ada ...,” jawab Kugy bergumam.
“Gy, saya tuh nggak pernah betah lama-lama di kampus.
94
Tapi gara-gara nyariin kamu, hampir setiap hari saya nongkrong
di sini, nunggu di tempat yang sama, dan kamu nggak
pernah nongol,” ujar Keenan. “Kamu sibuk banget, ya?”
Baru pertama kali itu Kugy mendengar nada bicara
Keenan terdengar agak emosional, tidak lagi kalem seperti
biasa. Dia seperti orang yang sungguh-sungguh kehilangan.
“Yah, lumayan sibuk ...,” Kugy kembali menjawab dengan
suara berkumur.
“Ulang tahun kamu udah lewat,” kata Keenan dengan
nada menyesal.
“Ulang tahun kamu juga,” balas Kugy pelan. “Maaf ya,
nggak sempat kasih selamat. Tapi waktu itu aku udah titip
pesan ke Eko.”
“Nggak bisa ngomong sendiri?”
Kugy menelan ludah. Pertanyaan itu dilontarkan dengan
halus, tapi sorot mata Keenan begitu menusuk, dan Kugy
merasa seperti tertuduh. “Waktu itu kan pas Wanda lagi datang
ke Bandung, dan aku nggak mau ganggu. Kalian berempat
kan ada acara sendiri—”
“Dan saya ngundang kamu juga,” potong Keenan, “saya
nggak pernah bikin acara itu untuk eksklusif berempat, kok.
Gy, kamu sahabat saya, nggak mungkin saya—”
“Nan, kadang-kadang sahabat yang baik itu justru harus
tahu diri,” Kugy gantian menyambar, “aku kan udah bilang,
karena justru nggak mau ganggu makanya aku—”
“Kamu sebetulnya kesal sama saya, ya?”
“Kesal—soal apa?” tanya Kugy tegang.
Keenan mengangkat bahu, “Nggak tahu. Yang jelas alasan
‘nggak mau ganggu’ itu kok kedengarannya agak basi, ya.”
Kugy terdiam. Mana mungkin bisa jujur, batinnya. Justru
alasan jujurnya yang bakal jadi juara basi.
“Saya sebetulnya punya sesuatu buat kamu. Tadinya saya
mau kasih untuk hadiah ulang tahun kamu ....”
95
“It’s okay, Nan. Kapan-kapan aja,” sahut Kugy cepat, sambil
mengusahakan senyum lebar di mulutnya.
“Malam minggu ini kita mau nonton midnight kayak
biasa. Ikut, yuk. Kamu selalu ditanyain sama Mas Itok,
tuh.”
“Kita—berempat?” Kugy bertanya hati-hati.
“Mungkin berlima. Katanya weekend ini Wanda mau datang
lagi ke Bandung.”
“Lihat nanti, ya. Aku usahain,” ucap Kugy dengan nada
yang dibuat serileks mungkin. Dua ratus persen pasti nggak
bakalan ikut, sambungnya dalam hati.
“Lukisan saya bakal masuk ke Galeri Warsita,” Keenan
menambahkan, “gara-gara itu Wanda bolak-balik terus ke
Bandung.”
.......... .......... ...................... ............ .................. .......... .......... ........ ......
sungguhan tulus mengatakannya. “Keenan Aquaneptuniamania
... jadi pelukis beneran. Hebat.”
Keenan tergelak. “Sejak kapan nama saya jadi Keenan—
apa tadi? Kleptomania?”
“Aquaneptumania. Resmi ditahbiskan barusan,” Kugy nyengir.
“Beneran ... aku ikut senang. Kamu memang pantas
kok masuk galeri seperti Warsita. Cuma masalah waktu.”
“Makan bareng, yuk. Saya traktir. Pemadam Kelaparan?”
Kugy menghela napas. Perutnya sudah keroncongan sejak
tadi. Dan tidak ada manusia lain yang paling ideal untuk
menemaninya makan siang selain Keenan. “Hmm ... sori.
Aku harus cabut, ada janji dengan Ami dari Klub Kakak
Asuh. Kapan-kapan, ya?”
Keenan sejenak terdiam mendengar respons Kugy. “Udah
dua kali kamu ngomong ‘kapan-kapan’ ke saya hari ini.
Moga-moga nggak ada yang ketiga kali,” ucapnya pelan.
Kugy tak berani menatap Keenan langsung. Perasaan seperti
tertuduh itu kembali menyerangnya. “Duluan, ya,”
96
kembali setengah berkumur Kugy berkata, dan cepat-cepat
ia berlalu dari sana. Kakinya melangkah besar-besar, matanya
terus menekuni aspal. Kalau nggak begini, kamu akan
terjebak terus, Kugy. Seperti merapal mantra, Kugy mengulang-
ulang kalimat itu dalam hatinya.
97
Bandung, Maret 2000 ...
Pria berkacamata itu sudah siaga berdiri dengan empat tiket
bioskop di tangan. Ada beberapa helai tiket lagi tersimpan
di kantong belakang kiri dan kanan. Ini sudah menjadi pekerjaan
tetapnya hampir setiap malam Minggu. Sejak Eko
sering menitip beli tiket midnight, banyak teman-teman Eko
lainnya yang juga ikut memakai jasanya, sampai-sampai dia
harus mulai mengerahkan beberapa teman untuk ikut membantu.
.......... ............
Pria itu menoleh. Tampak rombongan Eko muncul di
tangga eskalator.
“Nah, ini buat Mas Eko dan Mbak Noni, ini buat Mas
Keenan dan ... Mbak Pacar Baru.” Tanpa beban, Itok menyerahkan
tiket itu masing-masing dua lembar ke tangan
Eko dan Keenan.
Mereka berempat spontan tertawa.
“Nama saya Wanda, Mas. Tapi nggak pa-pa juga kalau
12.
JENDERAL PILIK & PASUKAN ALIT
98
disebut ‘Mbak Pacar Baru’,” celetuk Wanda sambil mengerling
ke arah Keenan yang berdiri di sebelahnya dengan
muka memerah.
“Mbak Kugy nggak pernah ikut lagi, ya, Mas Keenan?
Resmi putus nih ceritanya?” Itok mesem-mesem dengan tatapan
haus gosip.
“Mas Itok, jangan aneh-aneh, deh. Beliin tiket bioskop
aja,” Eko mulai protes.
“Hebat Mas Keenan, ya. Mentang-mentang ganteng, pacarnya
ganti-ganti, cantik-cantik lagi,” Itok masih terus berkomentar.
Transaksi pun berjalan seperti biasa, dan cepat-cepat mereka
berlalu dari hadapan Mas Itok sebelum manusia itu
terus mengorek-ngorek info tidak penting.
“Memangnya—kamu pernah pacaran sama Kugy?” tanya
Wanda pelan.
Keenan hanya menggeleng. Entah kenapa, ia tidak berselera
untuk panjang lebar menjelaskan.
“Kugy dan Keenan pacaran itu selamanya hanya akan ada
di otak Mas Itok seorang,” Eko menambahkan sambil terkekeh.
Dalam hatinya, Keenan merasa tersentil dengan
ucapan Eko, sekalipun tahu bahwa temannya hanya bercanda.
“Tauk tuh Kugy. Sibuk banget sekarang. Dia jadi guru
relawan buat sekolah darurat gitu, hampir tiap hari ngajar.
Pulangnya sore terus, habis itu nggak pernah keluar kamar,”
Noni bercerita.
“Aneh. Emangnya dia ngajar sampai malam? Memangnya
ada layar tancap midnight di Bojong Koneng? Kalo kata gua,
ada faktor sibuk dan sok sibuk,” Eko menimpali lagi.
“Nan, are you okay?”
Keenan tersentak dengan pertanyaan Wanda yang tibatiba,
dan ia pun tersadar bahwa Wanda memperhatikannya
99
saksama sejak tadi. Sebagai jawaban, Keenan tersenyum sekilas.
“Beli popcorn, yuk,” Wanda tahu-tahu menggamit tangannya,
dan mereka berdua berjalan menuju mesin popcorn di
dekat sana.
Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Semua ini
terasa seperti dejavu. Ia mengenal adegan ini. Malam Minggu,
tempat yang sama, mesin popcorn yang sama. Bedanya,
orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu adalah
Kugy.
Bandung, April 2000 ...
Sambil rebahan di atas karpet, Ojos mengamati wajah pacarnya
sejak tadi. Rambutnya yang semakin panjang, kaus
“Lake Toba”—seragam tidur favoritnya—sudah semakin lusuh,
celana pendek batiknya yang berkeriut-keriut, mata
bundarnya tampak serius menekuni buku J.R.R. Tolkien
yang tebalnya minta ampun. Ojos pernah bercanda, buku
setebal itu lebih cocok buat senjata melawan anjing galak
ketimbang buat bacaan. Seumur hidupnya, Ojos tak membayangkan
akan bisa membaca sepuluh persen saja dari
jumlah buku yang dibaca Kugy.
Mulai merasa diamati, Kugy pun mengangkat mukanya.
“Mau baca juga, Jos? Aku ada Donal Bebek ....”
Ojos menggeleng. Kugy pun kembali pada bacaannya.
Ojos kembali mengamati. Ruangan itu kembali hening.
Lama.
“Gy ....”
“Hmm?”
“Are you okay?”
Kugy menatap Ojos, “I’m okay. Kenapa, Jos?”
100
“Kamu jadi lebih diam akhir-akhir ini. Ada yang kamu
pikirin?”
Kugy seperti terusik mendengar pertanyaan itu, tapi cepat
ia tersenyum. “Nggak ada. Paling-paling soal Sakola Alit.
Murid kita tambah banyak sekarang.”
“Kamu sibuk banget ngurusin sekolah itu.”
“Aku betah ngajar di sana. Anak-anak itu ....” Kugy berdecak,
“kadang-kadang aku yang merasa banyak belajar dari
mereka.”
“Tapi kamu sekali-sekali harus memperhatikan diri kamu
juga, dong. Kamu tambah kurus.”
“Makanku tetap sadis, kok.”
“Iya, tapi aktivitas kamu juga gila-gilaan. Kamu harus
istirahat. Badan kamu sampai habis, gitu.”
“Bukan. Itu karena anakonda di perutku juga tambah besar
....”
“Gy, aku serius.”
“Jos, I’m okay,” tandas Kugy, “... oke?” Tak lama, Kugy
kembali tenggelam dalam bacaannya, dan ruangan itu kembali
hening.
“Gy ....”
“Hmm?”
“Kamu butuh liburan.”
“Liburan apa?”
“Kita ke Singapur, yuk. Weekend aja. Omku baru beli
apartemen di daerah Orchard. Kita bisa stay di sana.”
“Nggak punya uang.”
“Aku bayarin.”
“Nggak mau.”
“Waktu kamu dari Senin sampai Jumat dihabiskan buat
anak-anak itu. Aku cuma minta satu weekend doang. Masa
sih kamu nggak bisa kasih?”
101
“Jos, hari ini malam Minggu, dan aku bareng sama
kamu. Apa bedanya?”
“Kamu nggak bareng sama aku,” Ojos berkata pedas,
............ .............. .......... .................... ........ ...... ........ ................ ..................
meninggalkan ruang itu dan Kugy yang termangu.
Hari Minggu pagi. Tidak biasanya Ojos bangun sepagi itu.
Tapi karena dia janji menemui Noni yang rutin lari pagi di
Gasibu, Ojos pun dengan terpaksa menyeret badannya untuk
menyetir ke daerah Gedung Sate. Nongkrong di dekat penjual
minuman sambil menunggu Noni menyelesaikan putaran
terakhirnya.
Tak lama, Noni datang menghampiri, langsung menenggak
air mineral botol yang sudah disediakan Ojos.
“Hebat banget sih lu, Non. Baru malamnya nonton midnight,
kok bisa paginya udah jogging lagi,” komentar Ojos.
“Masih kurang kurus nih, Jos. Dua kilo lagi, deh. Lagi
kejar target.”
Ojos melengos. “Apa lagi sih yang mau dikurusin? Dasar
cewek-cewek. Nggak ngerti gue. Temen lu tuh yang jadi kurus
padahal nggak jogging.”
“Maksud lu—Kugy?”
“Itu dia yang pingin gue tanya sama lu, sampai gue belabelain
bangun nyubuh begini,” air muka Ojos berangsur serius.
“Dia kenapa sih, Non?”
“Kenapa memangnya?”
“Lu kan tiap hari ketemu dia. Merasa ada yang aneh
nggak, sih?”
Noni berpikir sejenak. “Mmm. Dia memang jarang jalan
sama kita akhir-akhir ini. Sibuk sama Ami di Sakola Alit.
102
Tiap hari kayaknya dia kecapean kali, ya. Sama gua aja jadi
jarang ngobrol. Kalo ada yang penting-penting doang.”
“Selain Sakola Alit, kira-kira ada faktor lain nggak?”
Noni berpikir lagi, lalu mengangkat bahu.
“Dia ...,” Ojos seperti berat mengatakannya, “nggak lagi
dekat sama cowok lain, kan?”
Kening Noni kontan berkerut. “Cowok lain? Setahu gua
nggak ada.”
Ojos kelihatan menimbang-nimbang, seperti ingin mengungkapkan
sesuatu yang lebih berat lagi. “Kalo dengan
Keenan ... dia nggak—”
Spontan, Noni tergelak, sampai hampir tersedak.
“Aduuuh ... lu kena sindrom Mas Itok juga ternyata.”
“Siapa tuh Mas Itok?”
“Never mind,” Noni mengibaskan tangannya, “setahu gua,
mereka berdua memang dekat, nyambung, tapi nggak ada
apa-apa. Keenan malah lagi naksir-naksiran sama sepupu
gua yang dari Melbourne itu.”
“Oh, ya? Mereka udah jadian?”
“Belum, sih. Paling bentar lagi,” Noni terkekeh, “gua lho
Mak Comblang-nya.” Tak lupa ia menambahkan dengan
nada bangga.
Informasi Noni terasa membawa sedikit ketenangan bagi
Ojos, tapi kecemasan itu tak sepenuhnya hilang. “Gue titip
Kugy, ya, Non. Kalau ada ada apa-apa, tolong kabarin gue.”
“Lu tenang aja, Jos. Mungkin Kugy memang lagi fokus
banget ke kegiatan barunya itu. Kan dia memang gitu anaknya.
Kalo udah suka sesuatu, suka jadi asyik sendiri.”
Namun, ingatan Ojos kembali ke adegan di Stasiun Gambir
malam hari itu. Sorot mata Kugy, sorot mata Keenan,
dan gaya antena yang seolah-olah merupakan bahasa sandi
antara mereka berdua. Dalam hatinya, Ojos yakin ia tak pernah
salah. Radarnya tak pernah salah.
103
Dibutuhkan waktu delapan kali pertemuan untuk meluluhkan
hati mereka, murid-murid Kugy yang kini berjumlah
sebelas orang itu. Sedikit di antara mereka yang lancar berbahasa
Indonesia. Hampir semuanya terus-terusan menggunakan
bahasa Sunda. Sementara Kugy sama sekali tidak
bisa berbahasa Sunda. Setelah dua minggu, masing-masing
pihak mulai saling mempelajari. Kini, anak-anak itu mau
lebih banyak memakai bahasa Indonesia, dan Kugy pun diajari
secara tidak langsung istilah-istilah Sunda oleh anakanak
itu. Alhasil, bahasa Sunda Kugy yang centang perenang
menjadi salah satu hiburan favorit mereka.
Selain menjadikan dirinya sendiri dagelan, Kugy akhirnya
menemukan cara lain untuk memotivasi mereka belajar
membaca. Awalnya, Kugy membawa setumpuk buku-buku
dongeng klasik, termasuk koleksi Donal Bebeknya yang berjubel.
Terkaget-kagetlah Kugy ketika mengetahui bahwa
anak-anak itu tidak mengetahui sama sekali keberadaan
Thumbelina, Putri Salju, Cinderella, Prajurit Timah, dan
tokoh-tokoh dongeng klasik lainnya. Donal Bebek dan
Mickey Mouse pun hanya sebatas tahu gambar di kaus saja.
Dan tersadarlah ia, bahwa dunia kanak-kanaknya dan dunia
anak-anak di Sakola Alit sangat jauh berbeda.
Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu,
setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy
membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya diambil
dari masing-masing anak, lengkap dengan ornamenornamen
pendukung yang ada dalam kehidupan mereka.
........ ............ .......... ........ .......... ...................... ................ .......... ..........
acungkan tangannya sambil membusungkan dada ketika
Kugy pertama kali menceritakan rencananya itu di depan
kelas.
104
Dalam hatinya, Kugy bersorak gembira. Anak itu, Pilik,
adalah anak yang paling tua dan disegani di antara muridmurid
lain. Usianya sembilan tahun, dan belum bisa baca
tulis. Seminggu pertama, Kugy habis dipelonco oleh Pilik. Ia
tak berhenti-henti berceletuk, tertawa keras-keras, mengomentari
Kugy dengan bahasa Sunda yang tak dimengertinya,
dan Kugy sadar sedang diperolok-olok.
Walau sempat mangkel luar biasa, Kugy tahu anak itu
sesungguhnya cerdas dan berjiwa pemimpin. Tak heran,
Piliklah yang paling bersemangat menyambut ide dongeng
Kugy, dengan catatan: ia harus jadi tokoh utama, alias jadi
Jenderal.
.................. .................. .............. ............ .......... ........ .............. .............. ......
nya Kugy pada semua.
Melihat Pilik begitu antusias, yang lain pun langsung ikut
mengajukan diri. Maka hari itu, terbentuklah: Jenderal Pilik
dan Pasukan Alit. Ada juga Hogi si Ayam Pelung Keramat,
Palmo si Kambing Nekat, Gogog si Anjing Jago Renang, dan
tokoh-tokoh hewan yang diadopsi dari peliharaan mereka di
rumah. Setiap hari sepulang sekolah, Kugy menyempatkan
diri bermain bersama mereka di kampung. Dan setiap hari
pula, ia menuliskan petualangan mereka dalam sebuah buku
tulis. Kendati dengan kemampuan baca yang terbata-bata,
anak-anak itu selalu riuh bersorak-sorai dan bertepuk tangan
menyemangati satu sama lain ketika mereka bergiliran
membaca dongeng mereka sendiri. Sejak hari itu, Pilik menjadi
sahabat setianya. Dan Kugy menjadi idola mereka semua.
Sore itu, setelah semua muridnya pulang, kembali Kugy
duduk di saung kecilnya, menuliskan kisah petualangan
Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dari kejauhan terdengar
kokok ayam pelung yang lantang dan panjang. “Hogi ...,”
gumam Kugy. Dan tangannya spontan mencoret-coret
105
gambar ayam jantan dengan bulu-bulu hitam berkilau yang
mekar sempurna. Tiba-tiba tangannya berhenti. “Lho ... kok
jadi kayak Stegosaurus ...,” gumamnya sendirian.
“Ngapain, Gy?”
Kugy terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba
muncul dari belakang.
“Eh, si Ical. Gua pikir Pak Somad lagi razia saung,” Kugy
terkekeh, “gua lagi iseng-iseng bikin ilustrasi. Tapi gagal
total.”
“Ya, kata Ami, metode dongeng lu sukses berat,” puji
Ical, lalu matanya melirik coretan tangan Kugy, “tapi jangan
dipaksain pakai gambar, deh.”
Kugy tergelak. “Untuk soal satu itu, gua tahu diri, kok.
Gambar ayam purbakala ini cukup gua, lu, dan Tuhan aja
yang tahu.”
“Gua punya teman, jago banget ngegambar. Mungkin dia
bisa sekali-sekali kita undang jadi guru gambar di sini.”
“Anak Seni Rupa? ITB?”
“Bukan. Anak kampus kita, kuliah di Manajemen. Dia
satu kos sama Bimo, sobat gua.”
Jantung Kugy seketika seperti ditusuk.
“Nanti gua coba hubungi lewat Bimo, deh. Siapa juga
yang nggak terketuk hatinya lihat gambar lu itu, Gy,” ujar
Ical geli.
Kugy ikut tersenyum, tapi senyuman itu sudah berubah
masam. Sepertinya ia tahu siapa yang Ical maksud. Susah
payah ia berlari, menghindar, dan menenggelamkan diri dalam
dunia baru ini. Tiba-tiba saja, orang itu akan diundang
lagi untuk bergabung. Kalau sampai itu terjadi, Kugy tak
tahu harus lari ke mana lagi.
106
Jakarta, Mei 2000 ...
Kugy tidak bisa lari kali ini. Gara-gara pulang ke Jakarta
nebeng Fuad yang kini sudah bisa menempuh perjalanan
luar kota, Kugy tak bisa menghindar ketika Noni mengajaknya
mampir ke Galeri Warsita.
“Apa maksud dan tujuan kita ke sana, sih?” Kugy bertanya
setengah protes, “Beli lukisan? Kagak mampu. Lihat
lukisan Keenan? Udah sering. Jadi, apa?”
“Ini namanya: support, Sayang. Kita harus menunjukkan
dukungan kita pada Keenan. Ini hari bersejarah buat dia,”
Noni berpidato, “bayangin, pertama kali lukisannya masuk
galeri, eeh ... langsung ke galeri besar kayak gitu. Nggak semua
pelukis muda bisa punya kesempatan kayak Keenan.
Masa kita nggak bangga sebagai sahabat-sahabatnya?”
Meski mukanya kurang rela, dalam hati Kugy setuju dengan
semua yang diucapkan Noni. Ia hanya malas menghadapi
adegan-adegan yang sekiranya bakal pedas di mata.
“Kita cuma mampir bentar, kan? Ngelihat lukisannya dipajang
terus kita pulang?” Kugy memastikan sekali lagi.
13.
RENCANA BESAR WANDA
107
Eko sedikit terbatuk, “Jadi gini, Gy. Sore ini akan ada
acara high tea di galeri untuk memperkenalkan koleksi barunya
Warsita, salah satunya lukisan Keenan. Nanti bakal ada
pelukis-pelukis, wartawan, kolektor, kurator ....”
.......... .................. ............ ............ ................ ........ ............ .......... ..............
................ ............ ........ ............ .......... ............ .............. ..........
Kepala Eko langsung menoleh ke belakang. “Lu adalah
manusia paling cuek dan pe-de yang gua tahu. Masa gentar
sama acara gitu doang? Bukan acara besar, kok. Kata
Wanda, cuma sekitar lima puluh orang yang diundang ....”
“Lima puluh?” Kugy setengah berteriak. “Gua pokoknya
.............. ...... ..............
“Yah ... jangan gitu, dong, Gy. Lu kelihatan oke, kok
....”
.............. ............ ............ ............ ................ ........ .......... .............. ........
.............. ...... .............. ..............
Namun, bukan jatahnya Kugy untuk bisa kabur hari ini.
Saat Fuad tiba di pelataran parkir galeri, mereka bertiga
langsung disambut oleh Wanda dan Keenan yang datang
semobil dan juga baru parkir.
“Hi, guys. Thanks ya udah mampir,” Wanda menyapa
mereka. Kali ini baju Wanda serba silver, serasi dengan tas,
sepatu, dan kuku-kuku. Riasan wajahnya lengkap seperti
penyanyi mau pentas.
Kugy melirik bajunya sendiri. Ada sebersit penyesalan di
hatinya. Kalau saja ia tahu akan dibawa ke Galeri Warsita
dulu, ia pasti akan lebih membenahi dandanannya. Namun,
bukan jatahnya untuk tampil siap hari ini. Ia harus pasrah
dengan kaus eks-panitia Fun Bike yang sablonannya sudah
memudar dan resmi tercantum dalam daftar “calon lap
mobil” Ojos yang siap diculik dari lemari pakaiannya setiap
saat.
Keenan langsung menghampiri Kugy dengan sumringah,
“Hai, Gy. Saya nggak nyangka kamu ikut.”
108
“Aku juga nggak,” Kugy tersenyum masam. Rasanya ingin
ia menciut jadi semut lalu minggat dari situ. Minggat dari
Wanda yang seperti artis Ibu Kota siap naik panggung, dari
Keenan yang berkemeja rapi dan terlihat sangat tampan,
dari pemandangan jemari Wanda yang melingkar di lengan
Keenan, dari Noni dan Eko yang tampaknya sangat bangga
dengan keberhasilan proyek perjodohan mereka. Namun,
bukan jatahnya untuk bisa minggat hari ini.
Di pojokan itu, terdapat meja besar tempat berbagai aneka
teh dan minuman dihidangkan, lengkap dengan penganan
kecil yang ditata apik di nampan-nampan perak. Di sanalah
Kugy bercokol, meminum bercangkir-cangkir teh dan mengenyangkan
perutnya dengan kue-kue yang tinggal comot dari
tempat ia berdiri.
“Memang kamu nggak boleh dikasih makan gratis, bikin
rugi panitia.”
Kugy menoleh, mendapatkan Keenan yang sudah berdiri
di sampingnya. “Ini modus operasi standar mahasiswa kurang
gizi ...,” Kugy menyahut susah payah, mulutnya masih
penuh dengan kue.
Keenan menatapnya hangat, “Saya senang kamu bisa datang.”
Kugy mau tak mau tersenyum. Selalu ada kesejukan yang
mengaliri tubuhnya tiap kali melihat tatapan itu. “Aku terharu
lihat lukisan kamu dipajang tadi. Buatku, lukisan kamu
yang paling bagus dari semua yang ada di galeri ini,” ucap
Kugy polos, “mmm ... tapi aku nggak ngerti apa-apa soal
lukisan. Ini sih cuma selera, dan mungkin, yah, karena
kamu sahabatku,” tambahnya sambil mesem-mesem.
109
Keenan balik tersenyum, “Kamu nggak perlu ngerti lukisan
untuk suka lukisan. Cukup pakai hati aja.”
Mendengar kalimat Keenan, napas Kugy langsung menghela.
“Setuju. Pakai hati saja,” ia pun menimpali pelan.
“Mas Itok nyangka kita putus.”
Teh yang baru diseruput Kugy nyaris tersembur lagi keluar
dari mulutnya. “Ha-ha-ha ... di jagat raya ini mungkin
cuma Mas Itok yang tahu kapan kita jadian. Kita berdua aja
nggak tuh ....”
“Sekarang, dia nyangka saya pacaran sama Wanda.”
Tawa Kugy masih berlanjut, tapi berangsur hambar, hingga
akhirnya surut sama sekali. “Siapa tahu Mas Itok itu sebenarnya
cenayang. Dia bisa melihat apa yang terjadi di
masa depan ...” Kugy menelan ludah, “Kamu—nggak tertarik
pacaran sama Wanda?”
Keenan tak langsung menjawab. Matanya beralih pada
Wanda yang berdiri di ujung ruangan dan tampak sibuk berbicara
dengan orang-orang. Kugy mengikuti arah mata
Keenan. Dan kini mereka berdua menatap objek yang
sama.
“Kalo aku jadi cowok ..., bego banget kalo nggak suka
sama Wanda ...” gumam Kugy.
“Mungkin aja cowok sebego itu ada,” gumam Keenan balik.
Darah Kugy terasa berdesir. Ada yang melonjak dalam
hatinya. “Jadi ... kamu—”
Namun, arah mata Keenan mendadak berubah. “Keluarga
saya datang. Sori, saya tinggal dulu, ya, Gy ....”
Kugy terpaksa mengangguk, menelan apa yang ingin ia
ucapkan, dan membiarkan Keenan melesat ke arah pintu
depan. Matanya ikut mengamati. Kugy sudah pernah melihat
keluarga Keenan dari foto, tapi baru kali inilah ia melihat
langsung. Ibunya yang orang Belanda tampak lebih cantik
110
dari foto, berbaju serba putih, dengan rambut panjang yang
digelung ke atas. Ayahnya menjulang tinggi seperti Keenan,
juga tampak gagah dengan jas biru tua yang dipadu dengan
jins. Ada seorang anak remaja laki-laki berambut ikal yang
ikut bersama mereka, mukanya mirip Keenan tapi dengan
kulit lebih gelap. “Jeroen ...,” desis Kugy sendirian.
Bersamaan dengan itu, tampak seseorang yang ikut bergabung,
menyalami mereka satu-satu dengan senyuman
cantik. Wanda. Mulut Kugy langsung manyun.
Tahu-tahu tangan Kugy ada yang menarik. “Itu ortunya
Keenan. Sini, gua kenalin,” kata Eko yang muncul di sampingnya
bersama Noni.
“Tante Lena, Om Adri, Jeroen, apa kabar?” Eko menyapa
ketiganya.
“Hai, Eko,” sapa Lena sambil memeluk keponakannya,
“hai, Noni ....”
“Ini Kugy, Tante. Sahabatnya Noni,” Eko memperkenalkan
Kugy yang berdiri di belakangnya.
Lena langsung menoleh ke arah Keenan, “Ooh ... ini yang
namanya Kugy?”
Ketiga anak itu, plus Wanda, langsung berpandang-pandangan
mendengar nada mencurigakan yang terlontar dari
ibunya Keenan.
“Keenan cerita banyak tentang kamu, Kugy. Katanya
kamu suka menulis cerita, ya?
Kugy nyengir lebar, antara gugup dan senang, “Iya, Tante
....”
“Keenan kagum sekali dengan cerita-cerita buatan kamu.”
Kugy pun kontan berdehem. “Ehm. Dia memang fans
saya, Tante. Tapi sayangnya sampai sekarang cuma dia
doang yang nge-fans, yang lain nggak ... ha-ha ....”
Semua orang di situ ikut tertawa, kecuali Wanda. “Tante,
Om, mari saya antar keliling,” ajaknya sambil menarik le111
ngan Keenan hingga semua orang terpaksa ikut bergerak.
Mata Kugy tak bisa lepas dari kuku-kuku bercat perak yang
melingkar erat di lengan Keenan bagaikan rantai besi.
Tibalah mereka di depan empat lukisan Keenan yang sudah
terbingkai indah dan tergantung rapi di panel. Keempatnya
tampak berkilau disorot oleh lampu halogen. Terdengar
suara Lena yang tercekat, dan mata itu berkaca-kaca. Sementara
suaminya hanya berdiri bergeming. Seketika Lena merangkul
Keenan dan berbisik, “Ik ben erg trots op jou.15
Mama bangga sekali, vent.”
“Ada agenda apa lagi, ya? Kita harus ke mana lagi sekarang?”
tanya ayah Keenan pada Wanda.
Wanda menatapnya bingung. “Mmm ... nggak ada apaapa
lagi, Om. Silakan saja lihat-lihat. Mungkin Om dan
Tante mau minum? Kita ada teh, wine ....”
“Maaf, saya nggak bisa terlalu lama,” ujar ayah Keenan
lagi, “Lena, lima belas menit lagi kita jalan, ya?”
“Mama bisa pulang dengan saya. Kalau Papa mau duluan,
silakan saja,” sambar Keenan.
Ada ketegangan yang seketika merembet dan menginfeksi
semua.
“Jeroen, kamu nanti ikut saya?” tanya ayahnya.
Jeroen tampak gelagapan, “Mmm ... aku mau jalan-jalan
sama Mas Eko dulu, Pa.”
Suasana tak nyaman itu diselamatkan oleh seorang pelayan
yang hadir di antara mereka dan menawarkan makanan
dan minuman. Eko, Noni, Kugy, dan Jeroen langsung
menyibukkan diri dengan kegiatan mengunyah.
“Kamu duluan saja, Dri. Aku nanti ikut Keenan,” Lena
berkata pada suaminya, “aku mau lihat-lihat lebih lama di
sini.”
15 Saya selalu bangga padamu
112
“Naik apa kalian nanti? Memangnya Keenan ada kendaraan?”
“Nanti pakai mobil saya, Om,” Wanda cepat menimpali.
Kunyahan Kugy langsung berhenti mendengar itu.
“Oke. Terserah kalian,” kata ayahnya singkat. Tak lama,
ia benar-benar berlalu dari tempat itu.
Meski Keenan berusaha bersikap wajar, semua yang di
sana merasakan perubahan sikapnya. Seolah ada awan mendung
yang menggantungi Keenan dan tak kunjung-kunjung
pergi, bahkan hingga acara sore hari itu selesai.
Wanda tak langsung beranjak sesudah mengantar ibu dan
adik Keenan pulang. Ia dan Keenan duduk di beranda depan,
di bawah pergola yang beratapkan tanaman merambat
Mandevilla dengan bunga-bunga putih yang menjuntai, bertemankan
dua gelas air yang sedari tadi tak mereka sentuh.
“Papa kamu nggak setuju kamu melukis, ya?” tanya
Wanda memecah keheningan.
Keenan menggeleng. “Dari kecil, yang saya suka cuma
melukis. Tapi, nggak tahu kenapa, Papa kayak alergi sama
segala sesuatu yang ada hubungannya dengan lukisan.
Mama juga dulu pelukis, tapi sejak menikah Mama berhenti.
Papa nggak kepingin saya tinggal terus di Amsterdam karena
takut saya jadi seniman. Papa pikir dengan saya kuliah
Manajemen, hobi melukis bisa hilang dengan sendirinya.
Tahunya ....”
“Kamu malah ketemu aku,” Wanda menyambung.
Keenan menghela napas. Getir. “Dan ketika lukisan saya
bisa masuk ke galeri seperti Warsita, saya yakin Papa shock.
Mungkin dia merasa terancam.”
113
“Papa kamu pasti punya bisnis sendiri, ya?”
“Iya, dia punya perusahaan trading, ekspor-impor. Dia
bangun semuanya sendiri dari nol. Kok, kamu tahu?”
“Papiku juga sama. Dan aku anak tunggal. I know the
pressure,” Wanda tersenyum, “untungnya, aku suka dengan
bisnisnya Papi. Dan aku pingin banget serius di bisnis seni.
Tapi tetap saja, aku juga harus kerja keras membuktikan
sama Papi dan Tante Rani kalau aku sanggup ikut menjalankan
Warsita.” Perlahan, Wanda meletakkan tangannya di
atas tangan Keenan, “Kita sebetulnya senasib,” ucapnya setengah
berbisik. “Nan, kalau boleh aku tahu, apa yang sebenarnya
paling kamu inginkan?”
Keenan menoleh, menatap Wanda lekat-lekat. “Menjadi
diri saya sendiri,” jawabnya tegas. “Begitu ada kesempatan,
saya nggak takut ninggalin ini semua. Satu-satunya yang bikin
saya bertahan cuma karena saya masih bergantung pada
Papa. Saya belum mandiri.”
“Dengan melukis, kamu bisa mandiri. Aku yakin sama
kemampuan kamu. Cuma masalah waktu.”
Keenan tersenyum sekilas. “Yah, berarti tinggal tunggu
siapa yang mau beli lukisan-lukisan itu, kan?”
“You’re absolutely right,” Wanda mengangguk. Ia lantas
terdiam dan matanya menerawang, tapi otaknya berputar
keras memikirkan sesuatu.
Sekembalinya dari rumah Keenan, semalaman Wanda
terbaring di tempat tidurnya. Berpikir dan berpikir. Tersusunlah
sebuah rencana yang akan ia jalankan secepatnya.
Wanda tak sabar menunggu pagi tiba.
Dari pukul setengah sepuluh pagi, Wanda sudah tiba di galeri.
Menelusuri daftar panjang jaringan kolektor dan pe114
langgan Warsita, menandai sederet nama. Jemarinya yang
lentik mulai menari-nari di atas tuts telepon, menghubungi
nama-nama itu satu per satu.
“Om Halim? Ini Wanda, Om. Katalog Warsita yang baru
sudah diterima? Di bagian belakang ada koleksi dari pelukis
baru, namanya Keenan, sudah sempat dilihat? Iya, dia memang
masih baru, Om. Tapi prospeknya bagus, kok ....”
“Apa kabar, Tante Lien? Ini Wanda dari Warsita. Dari
katalog baru kita, kira-kira sreg sama yang mana, Tante?
Kalau aku sih rekomen pelukis baru, yang namanya Keenan,
ada di bagian belakang. Mmm. Belum, Tante, dia belum pameran,
tapi ....”
Seharian, Wanda dengan tekun meneleponi satu-satu
orang yang ada dalam daftarnya, hingga akhirnya ia menyerah.
Tak satu pun dari mereka yang tertarik untuk berinvestasi
pada lukisan Keenan. Alasannya semua sama,
Keenan masih terlalu muda dan belum punya rekor yang
meyakinkan.
Wanda menelaah daftarnya sekali lagi. Semua orang yang
ia kontak adalah pemain-pemain lama yang sudah terbiasa
mengoleksi lukisan pelukis ternama. Barulah Wanda menyadari
tantangan yang dimaksud ayahnya. Ayahnya benar.
Galeri Warsita bukanlah tempat yang cocok untuk lukisan
Keenan, setidaknya untuk masa sekarang ini. Wanda menggigiti
bibirnya, otaknya pun berputar lagi. Ia harus mengubah
strateginya.
Jemarinya kembali menari di atas tuts telepon, tapi kali
ini ia tak lagi melihat daftar yang sudah disusunnya. Ia meneleponi
teman-temannya sendiri.
“Pasha, ini gue, Wanda. Gue minta tolong, ya? Gue cuma
butuh data lo doang buat customer list gue. Nggak ... lo
nggak perlu beli lukisan ... tapi ceritanya elo yang beli.
Boleh, ya, Say? Thanks ....”
115
“Virna? Dear, would like to ask you for a favor. Gue
mau beli lukisan, tapi gue nggak bisa pakai data gue sendiri.
Jadi, atas nama lo boleh, ya? Gue cuma pinjam data doang,
kok ....”
Dalam waktu singkat, empat lukisan Keenan terjual sudah.
Dibeli oleh empat orang yang berbeda. Namun,
kesemuanya dibayar oleh satu orang yang sama: Wanda.
116
Bandung, Juni 2000 ...
Jip CJ-8 yang dikendarai Bimo dan Keenan berhenti di sebuah
puskesmas kecil yang punya parkiran cukup untuk satu
mobil.
“Gila, ini sih tempat gua biasa pergi off-road sama anakanak
klub,” celetuk Bimo sambil mengedarkan pandangan.
Matanya berhenti di satu bukaan jalan. Sempit dan curam.
“Kata Ical, kita ikutin jalan ini, kira-kira setengah jam, terus
nanti ada masjid. Ical nunggu kita di sana,” ujarnya seraya
sesekali menyibak dedaunan bambu yang menggempur mereka
dari kiri-kanan.
Di kepalanya, Keenan membayangkan si kecil Kugy yang
menempuh jalan ini setiap harinya demi mengajar. Hatinya
mendadak terenyuh.
Di masjid yang dimaksud, Ical sudah menunggu mereka.
Dan mereka berjalan kaki lagi menuju ladang cabai tempat
saung mereka mengajar. Tak lama, mereka tiba di sebuah
saung bambu. Ada Ami yang langsung menyambut Keenan
dan Bimo.
14.
BUKU HARTA KARUN
117
“Itu tempat gua ngajar,” Ical menunjuk saung kecil yang
terletak di tengah bukit. “Kugy ngajar di sana,” tangan Ical
lalu menunjuk pohon beringin besar yang di bawahnya terdapat
sepuluhan anak lesehan di atas tikar.
Dari kejauhan, Keenan bisa melihat siluet Kugy yang memunggunginya.
Tangan kecilnya bergerak-gerak lincah seperti
sedang memperagakan sesuatu.
“Kita nggak ada ikatan apa-apa, lho, Nan. Karena ceritanya
kamu pengajar tamu, kapan pun kamu mau ngajar,
kamu bisa datang. Tidak ada keharusan waktu atau apa
pun,” Ami menjelaskan.
“Anak-anak ini semangat banget pingin belajar gambar,
tapi kita satu pun nggak ada yang bisa. Asal lu muncul sekalisekali
aja, mereka pasti udah senang,” Ical menambahkan.
“Saya ngajar di kelas siapa dulu, nih?” tanya Keenan seraya
menyandangkan ransel berisi peralatan gambar yang
sudah ia bawa.
Ical dan Ami saling berpandangan. “Bebas. Terserah
kamu aja,” jawab Ami.
“Saya ke sana dulu, ya,” Keenan menunjuk ke arah pohon
beringin. Tempat yang paling ingin ia datangi sejak tadi.
Keenan muncul tepat saat Kugy sedang beraksi sebagai domba
Garut siap ngamuk yang ceritanya akan dikalahkan oleh
Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Masih dalam posisi menungging
dengan kedua tangan membentuk tanduk, Kugy terpaku
saat mengenali ransel marun berinisial “K” yang tahu-tahu
muncul di depan mukanya. Sepasang sepatu yang ia kenal.
Kedua tungkai kaki yang rasanya tak asing. Cepat-cepat,
Kugy berdiri, mendapatkan Keenan yang tersenyum simpul
sambil membuat tanda antena dengan kedua jarinya.
118
“Agen Keenan Klappertaartmania siap beroperasi,” sapa
Keenan dengan posisi tegap seperti perwira.
“Kata sandi?” tanya Kugy. Mukanya serius.
“Pisang susu.”
Kugy tampak berpikir keras. “Hmm. Baiklah. Silakan bergabung.”
Mukanya berubah cerah seperti biasa, “Anak-
................ .......... ...................... .......... ............ ................ ........ ..........
................
Keenan mengernyit. Nama itu terdengar aneh di kupingnya.
“Rangginang16?” Seorang anak berceletuk, disambut pekik
tawa yang lain.
“Eh, Pilik. Kamu belum tahu Kang Keenan ini bisa apa.
Dia bisa gambar apa saja yang kalian mau—dalam waktu ti-
........ ............ .......... .......... ..............
Keenan mengernyit lagi.
“Satu menit teh sakumaha17?” Pilik bertanya kembali.
“Satu menit itu enam puluh detik. Jadi kalian harus berhitung
satu sampai enam puluh, bareng-bareng semuanya.
Yang belum bisa, ikuti saya. Tapi semua harus ikut menghitung.
Siaaap?”
.................... .................... ........ .................. ..................
“Kalian mau dibuatkan gambar apa, ayo?” Keenan bertanya
seraya bersiaga di samping kertas besar dan spidol
yang sudah berdiri tegak di atas sandaran kayu yang ia
bawa.
................ ...... .............. ................ .......... ....................
Keenan mengernyit untuk yang ketiga kali. “Apa tuh
‘Hogi’?” bisiknya pada Kugy.
“Ayam jago, besar, hitam, pokoknya ganteng. Oke?” Kugy
16 Sejenis makanan ringan khas Jawa Barat terbuat dari beras.
17 Seberapa.
119
lalu beralih lagi pada murid-muridnya, “Siap berhitung,
barudak18.... .......... ........ ........ ........ .......... ........ ............ ........ .......... ........
Beramai-ramai mereka menghitung sampai enam puluh.
Di hitungan keempat puluhan, Keenan sudah ongkangongkang
kaki. Gambar ayam pesanan mereka sudah siap.
Tercenganglah anak-anak itu melihat gambar ayam yang
tampak hidup muncul di hadapan mereka dalam waktu singkat.
Mereka bersorak-sorai kesenangan. Langsung terlontarlah
bertubi-tubi permintaan berikutnya untuk Keenan.
................ ..............
................ ..................
................ ........ ..............
Seharian itu Keenan meladeni permintaan mereka. Tiap
gambar selalu disambut cengangan kagum dan sorak-sorai.
Hari itu, kehadiran Keenan di tengah mereka bak seorang
superstar di antara para pemuja. Gambar-gambar yang ia
buat terpaksa dibagi-bagikan untuk mereka bawa pulang.
Dan mereka menerimanya dengan bangga seolah baru men-
............ ............ .............. .......... ................ ........ ..................
“Kang Keenan sering-sering datang, ya?” pinta Pilik sambil
memasukkan gulungan gambar dari Keenan ke dalam
tasnya yang terbuat dari karung bekas tepung terigu. “Nanti
bikinin gambar saya sama Pasukan Alit.”
Keenan tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud Pilik,
tapi tak urung ia mengangguk.
“Oh, ya. Saya Jenderal Pilik. Tong hilap19!” Pilik membusungkan
dadanya lalu menjabat tangan Keenan dengan
mantap. Ia lantas berlari-lari kecil menyusul teman-temannya.
“Pasukaaan ... dagoan euy!20”
Keenan menoleh ke arah Kugy. “Saya nggak ngerti, entah
18 Anak-anak.
19 Jangan lupa.
20 Tunggu, dong.
120
kamu yang selalu berhasil membuat orang-orang jadi kebawa
aneh, atau memang kamu selalu berjodoh dengan
orang-orang aneh.”
Kugy terkikik. “Anak itu memang ‘ajaib’. Dulu kami sempat
jadi musuh bebuyutan. Tapi begitu berhasil kutaklukkan,
sekarang malah jadi kompak banget sama aku. Satu kelas
juga ikutan kompak, karena mereka semua nurut sama
Pilik.”
“Apa rahasianya, Agen Karmachameleon?” Keenan bertanya
dengan tampang serius.
Dengan tak kalah serius, Kugy menyambar sesuatu dari
dalam tasnya bagaikan menghunus pedang. “Ini rahasianya,
.......... .................................... .......... ............ ...... .................... ......................
sebuah buku tulis lecek.
“Apa itu? Manual Manusia Aneh?”
Kugy langsung duduk di samping Keenan. Matanya berkilat-
kilat pertanda semangatnya menyala-nyala. “Lihat, Nan.
Ini adalah seri petualangan yang kubuat selama aku mengajar
di sini. Tokohnya adalah murid-muridku sendiri. Dulu
mereka males banget belajar baca, terus aku bikin perjanjian
dengan mereka. Aku janji akan membuatkan dongeng tentang
mereka, tapi mereka harus mau belajar baca, supaya
nanti mereka bisa baca kisah petualangan mereka sendiri.
Dan jadilah ide ini: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Semua
tokoh dalam serial ini aku ambil dari kehidupan mereka
sendiri. Nih, ada Hogi si Ayam Pelung Keramat ... Palmo si
Kambing Nekat ... Gogog si Anjing Jago Renang ... Somad
Sang Pendekar Tanpa Tanda-Tanda ....” Kugy
memperlihatkan halaman demi halaman dengan semangat,
“anak-anak ini nggak kenal yang namanya Teddy Bear,
Barney, atau Elmo. Dan mereka cuma bengong waktu aku
kasih tahu soal Snow White, Peter Pan, Red Riding Hood ...
tapi, begitu aku bisa membuat sesuatu dari dunia mereka
121
sendiri, sesuatu yang mereka kenal, mendadak kayak ada
sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka. Seperti ada
kebanggaan, harapan, semangat ...,” Kugy sampai berhenti
mengatur napasnya, “seperti ada keajaiban.”
Keenan pun menghela napas panjang. Tersadar bahwa
napasnya sedari tadi ikut tertahan karena terhanyut cerita
Kugy. “Kamu hebat,” decaknya, “itu memang keajaiban. Saya
bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri
mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka
keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya
kebanggaan.”
Kugy menggeleng, “Mereka yang hebat. Aku cuma saksi
mata yang kebetulan numpang lewat. Nggak tahu Sakola Alit
bisa bertahan di sini sampai kapan. Tapi aku merasa bersyukur
banget punya kesempatan ini.”
Keenan menatap kilauan di bola mata Kugy. Dan Kugy
menatap balik kedua mata jernih itu tanpa ada rasa jengah.
Lama mereka terdiam. Hanya angin yang berbunyi lewat
gemerisik daun. Hanya serangga-serangga pohon yang terdengar
bersahut-sahutan. Mereka berdua hanya saling menatap
tanpa suara.
“Saya kehilangan kamu,” ucap Keenan akhirnya, nyaris
berbisik.
Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca, seiring dengan
arus perasaan yang begitu kuat, yang seolah hendak menjebol
dadanya. Dan, sungguh, ia tidak tahu harus merespons
apa. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbendaharaan
kata di benaknya. Akhirnya, Kugy memilih untuk
menunduk.
“Sesama agen harus saling mendukung. Sebentar lagi
kamu bakal jadi pelukis profesional. Waktu aku di Warsita,
aku sempat dengar Wanda cerita. Dia bilang, kalo kamu memang
ingin serius jadi pelukis, kamu harus meluangkan
122
waktu banyak untuk nambah koleksi lukisan kamu. Terus,
kamu harus pameran, keliling-keliling. Kamu nggak akan
sempat lagi gambar di bawah pohon seperti begini,” tutur
Kugy dengan nada yang dibuat setenang mungkin, “perjalananku
masih panjang dibanding kamu. Kamu sudah ketemu
orang yang bisa mendukung impian kamu,” Kugy mulai
merasa kata-kata itu membebani mulut, tapi ia harus
tetap mengucapkannya, “cita-cita hidup kamu lebih penting
dari apa pun. Kita ini punya misi, Nan. Makanya kita dikirim
ke sini oleh Neptunus. Dan sebentar lagi kamu berhasil.
Jangan sampai rusak di tengah jalan hanya gara-gara
kita cuma menuruti keinginan sendiri doang,” Kugy menelan
ludah, tak tahu harus bilang apa lagi, “yang namanya bus
satu perusahaan itu tidak boleh saling menyalip.”
Tiba-tiba Kugy merasa dagunya diangkat. Kembali menemukan
tatapan Keenan yang menembus jantung.
“Gy, saya nggak ngerti kamu ngomong apa,” ucap Keenan
lembut, “makasih kamu udah mau ngertiin soal impian saya,
cita-cita saya, dan kesempatan yang sekarang ini sedang datang
untuk saya. Tapi di luar itu semua, saya kehilangan
kamu. Kamu menghilang akhir-akhir ini.”
Halus, Kugy menjauhkan wajahnya, hingga genggaman
jari Keenan di dagunya lepas. “Aku nggak ke mana-mana,
kok,” jawab Kugy lirih sembari mengusahakan sebuah senyum,
“sekarang kamu tahu di mana markasku. Tinggal cari
aku di bawah pohon ini.”
Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Ami
muncul dari arah belakang. “Gy, Nan, pulang, yuk? Mumpung
Bimo masih nungguin di depan. Kita sesak-sesakan aja
berlima kayak pindang,” ajak Ami sambil terkekeh.
.............. .......... ................ ................
Tahu-tahu tangan Keenan menahannya. “Saya dan Kugy
123
pulang naik angkot, Mi. Kalian duluan aja pakai mobil Bimo.
Jadi nggak perlu kayak pindang. Oke?”
“Yakin?” tanya Ami lagi. Dilihatnya kontras antara
Keenan yang tampak yakin dan Kugy yang ragu. Sebetulnya
Kugy sudah ingin protes, tapi genggaman tangan Keenan
yang mencengkeram kuat di pergelangannya seperti mengisyaratkan
dia untuk diam di tempat.
“Yakin. Kita naik angkot aja,” Kugy akhirnya bersuara.
............ ..........
Setelah bayangan Ami menjauh, Keenan melepaskan genggamannya.
“Sebagai upah kamu ngilang, hari ini saya mau
seharian booking kamu.”
“Coba kontak ke manajer saya dulu, namanya Mami
Noni. Mumpung sekarang lagi low-season, jadi bisa dapat
harga murah,” Kugy nyengir sambil mendorong bahu
Keenan pelan.
Sisa hari itu mereka habiskan di jalan, bersama-sama.
Mereka berjalan-jalan ke toko buku, iseng-iseng ke Kebun
Binatang di Taman Sari, ngopi sore di Jalan Dago, hingga
akhirnya Keenan mengantar Kugy pulang ke kosannya.
Di depan gerbang besi bercat putih itu mereka berdua
berdiri. Langit mulai gelap dan lampu-lampu di taman depan
mulai menyala. Sahut-sahutan serangga malam lamatlamat
terdengar.
“Kecil, saya pulang dulu, ya. Hari ini sangat, sangat menyenangkan.
Makasih untuk semuanya,” ucap Keenan. Nadanya
terasa berat. Kakinya terasa berat untuk bergerak.
“Sebagai bonus sudah booking aku seharian ini, aku ada
kenang-kenangan untuk kamu,” Kugy menyerahkan buku
lecek berisikan kisah petualangan Pilik.
Keenan tampak terkejut menerimanya. “Gy ... tapi ini
harta karun kamu ....”
124
“Nggak pa-pa. Buku itu udah habis. Aku lagi nulis di
buku baru.”
“Tapi ... masa buku yang lama ini dikasih ke saya?”
Keenan masih tak percaya.
“Cuma itu yang bisa aku kasih. Aku juga seneng banget
hari ini,” ucap Kugy berseri-seri.
Serta-merta lengan Keenan terentang, dan Kugy terpana
ketika ia sudah ada dalam rengkuhan Keenan. Sejenak sekujur
tubuh Kugy kaku bagai papan. Matanya pun masih
membelalak. Pikirannya bertanya-tanya, apa gerangan yang
terjadi? Hingga perlahan panas tubuh Keenan mulai merambat,
mencairkan otot-otot Kugy yang tadi terkunci, memejamkan
kelopak matanya yang tadi terbuka, dan dengan segenap
hati ia mulai meresapi bahwa dirinya sedang dipeluk.
Beberapa detik kemudian, pelukan itu melonggar, lalu
lepas. Keenan tersenyum samar dan mengacak rambut Kugy
sekilas. Mulai salah tingkah. “Kamu baik-baik, ya, Kecil,” gumam
Keenan. Cepat, ia membalikkan punggung dan pergi.
“Kamu juga,” Kugy menggumam balik. Tidak yakin
Keenan mendengar suaranya atau tidak. Namun, ia yakin
degup jantungnya terdengar saat tubuhnya direngkuh oleh
Keenan tadi, sebagaimana ia juga mendengar degup jantung
Keenan.
Di bawah sinar lampu mejanya, Keenan membuka buku tulis
pemberian Kugy. Berderetlah tulisan tangan kecil-kecil dan
rapi seperti dicetak. Ia membaca kisah demi kisah. Tergelakgelak
sendiri. Tulisan Kugy mampu menghadirkan pertunjukan
sinema di otaknya, yang memutar alur cerita dan
menghidupkan tokoh-tokohnya seolah mereka semua mewujud
nyata. Keenan tak bisa berhenti membaca.
125
Perhatiannya tahu-tahu tertumbuk pada coretan tangan
Kugy. Keenan tak bisa menebak makhluk apa itu yang berusaha
digambar Kugy kalau saja ia tak melihat tulisan
“Hogi” di bawahnya. Di beberapa halaman berikutnya, tampak
Kugy mencoba lagi. Menggambar manusia berpeci dengan
struktur tak proporsional, dan di bawahnya tercantum
keterangan “Somad Sang Pendekar”. Dari guratannya,
Keenan bisa membayangkan betapa Kugy berusaha keras
untuk menggambar. Ia bisa membayangkan air muka Kugy
yang serius, seolah sedang mencipta lukisan mahakarya.
Rasa haru tahu-tahu merembesi hati Keenan.
Buku itu pun ditutup. Lalu Keenan menggeser kursinya
ke depan kanvas kosong yang stand by di sebelah meja. Sudah
lama kanvas itu kosong. Sejak ia pulang ke Indonesia,
belum pernah lagi Keenan tergerak untuk membuat lukisan
baru. Namun, malam ini ia merasakan dorongan itu. Seolah
ada sesuatu yang meminta dijemput olehnya. Apa itu,
Keenan tak tahu pasti. Ia hanya memasrahkan tangan-tangannya
bergerak, menari dan menoreh di atas kekosongan,
hingga sesuatu itu mewujud perlahan di atas kanvasnya.
Keenan melukis dan melukis, hingga pagi tiba.
126
Pukul dua siang. Lazimnya, kos-kosan baru kembali berpenghuni
setelah sore. Eko tidak kaget melihat betapa sepinya
tempat kos itu, apalagi penghuninya memang cuma lima
orang. Yang aneh justru ketika salah satu penghuni di kosan
itu malah ada di tempat. Bahkan sudah berhari-hari tidak
muncul di kampus sama sekali.
Pintu kamar itu dibukakan dari dalam. Keenan berdiri di
hadapannya, masih dengan rambut acak-acakan dan mata
setengah terbuka.
“Gile. Baru bangun lu?”
“Hmm,” Keenan menggumam, lalu kembali mengempaskan
tubuhnya ke tempat tidur.
“Kata Bimo udah beberapa hari ini lu nggak kuliah.
Kenapa bisa gitu, Bos?”
Tangan Keenan menunjuk ke arah kanvas.
“Wow. Lukisan baru? Ck-ck-ck ... sadis. Lukisan keren
gila,” Eko berdecak kagum.
“Yang itu belum selesai ....”
“Wah. Lukisan belum selesai yang keren gila,” Eko cenge-
15.
MENCARI KETULUSAN
127
ngesan. “Anyway, gua datang ke sini sebetulnya sebagai
pengantar pesan dari Wanda yang udah beberapa hari ini
nyariin elu. Dia bilang, dia punya kabar superpenting buat
lu, tapi lu nggak bisa dihubungi. Dia juga bilang, udah saatnya
lu punya HP. Dan, sore ini Wanda bakal datang ke Bandung
khusus buat nemuin lu.”
“Ada apa, ya?”
Eko mengangkat bahu. “Mana gua tahu. Tapi kayaknya
penting banget. Jadi, siang ini gua nganterin lu ke toko HP,
oke?”
“Ogah,” Keenan menjawab dengan suara berkumur karena
mulutnya masih membenam di bantal.
“Dasar seniman gaptek. Di era milenium ini, sungguh
absurd adanya kalo lu nggak punya HP.”
“Males. Belum butuh.”
“Anyway yang kedua: lu sebetulnya udah jadian belum
sama Wanda?”
Kali ini Keenan melepaskan mukanya dari bantal. Perlahan,
ia duduk tegak di atas tempat tidur.
“Oke, oke. Gua ralat pertanyaan gua. Sebetulnya, lu suka
nggak sih sama dia?” Eko bertanya lagi.
“Gua sebetulnya lebih tertarik dengan ... kenapa lu bisa
tahu-tahu nanya gitu?” Keenan bertanya balik.
“Well, udah hampir lima bulan kalian kenal dan jalan
bareng. Jelas-jelas kalian nyambung. Jelas-jelas dia selalu
bela-belain nemuin lu, bahkan dialah orang yang paling ber-
.......... .......... .............. ........ ........ ........................ ........ ........ ........ .............. ............
Kurang apa lagi sih cewek satu itu? Cowok sehat mana yang
nggak ngiler ngacak-ngacak tanah lihat dia?” tutur Eko berapi-
api. “Sooo?”
“So—what?” Keenan menyahut polos.
Kening Eko kontan berkerut. “Nan, udah saatnya lu jujur
sama gua. Are you straight?”
128
Keenan tergelak pelan, “Terakhir gua cek sih iya.”
“Harus ada sesuatu yang nggak beres kalo lu sampe
nggak suka sama Wanda.”
“Gua bukannya nggak suka. Sama sekali gua nggak ada
masalah dengan Wanda. Dia baik, pintar, dewasa, dan lu
bener, untuk urusan seni, gua ngerasa nyambung banget.
Dia juga banyak bantu gua. Gua sadar itu. Urusan cantik?
Nggak usah diperdebatkan. Orang buta juga mungkin tahu
kalo dia cantik. Tapi ... untuk jadian ...,” Keenan menghela
napas, “nggak tahu, ya. Ada sesuatu tentang dia yang gua
belum yakin.”
Eko menatapnya tak percaya. “Man! Kalo ternyata lu bukan
gay, lu adalah cowok hetero yang sangat nggak tahu
............ .......... .......... .............. ............ .............. ........ .......... .............. ......
Bandung ngapelin lu? Lu bertapa di gua beruang berapa
hari doang aja, dia yang bela-belain nyusulin. Apa yang
bikin lu nggak yakin, sih?”
Keenan menggeleng, “Nggak tahu. Pokoknya ada sesuatu
yang rasanya belum ... pas.”
Eko mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Nyerah,
.......... .................. ...... ........ ................ .................. ............ .............. .......... ......
ternyata nggak punya feeling sama dia, jangan juga lu ngegantungin,
apalagi ngasih harapan. Nggak fair buat
Wanda.”
Siang itu, akhirnya Keenan pergi makan ditemani sepupunya.
Mereka tak lagi membahas masalah tadi. Namun, sepulangnya
Eko, barulah Keenan termenung di kamarnya.
Akibat pembicaraan itu, ia jadi terpicu untuk merenungkan
lebih dalam perihal hubungannya dengan Wanda. Untuk
pertama kalinya Keenan dipaksa berhadapan dengan perasaannya.
129
Malam itu, Wanda memberanikan diri untuk pergi ke tempat
Keenan sendirian tanpa dipandu Eko dan Noni. Sepanjang
jalan, ia berharap-harap cemas tidak tersasar. Dan
akhirnya ia berhasil. Wanda tersenyum sendiri saat tiba di
depan pintu gerbang tempat kos Keenan. Tak sabar rasanya
ia mengumumkan kabar baik itu.
Tak lupa, Wanda mengecek bayangannya di kaca sebelum
masuk. Bajunya kali ini serba merah, dengan rok jins mini
yang memamerkan tungkainya yang jenjang. Riasannya masih
sempurna. Semuanya tampak beres.
Diketuknya pintu itu hati-hati. “Keenan? It’s me. Wanda,”
panggilnya merdu.
Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Keenan,
yang mengenakan kemeja putih dengan wajah bersih sehabis
mandi, menyambutnya dengan senyum lebar. Napas Wanda
sontak tertahan.
“Hai, Wanda. Kamu cantik banget,” puji Keenan tulus.
Wanda tersipu, senyum senangnya tak bisa dibendung.
“You look very handsome as well,” ucapnya malu-malu.
“Dan kalo digabung, kita berdua kayak bendera. Siap dikerek,”
Keenan tertawa renyah, “masuk, yuk. Saya ada kejutan
buat kamu.”
Wanda memekik kecil, “Kejutan buatku?”
Keenan tak menjawab. Ia hanya menangkupkan kedua
tangannya di atas mata Wanda, lalu mengarahkan langkah
gadis itu ke hadapan kanvas. Setelah itu, barulah Keenan
melepaskan tangannya.
Lama Wanda mematung. Menatap lukisan di hadapannya
tanpa berkedip.
“Kamu suka? Baru banget saya selesaikan.”
“Nan ... this is it,” bisik Wanda, “this is the real YOU.”
“Maksud kamu?”
Wanda memegangi dadanya yang sesak oleh rasa kagum,
130
“Oh, gosh. Papi pasti akan berkomentar lain kalau lihat lukisan
kamu yang ini ....”
“Memangnya Papi kamu sempat berkomentar apa soal
lukisan saya?”
“Oh, nggak, Papi suka lukisan kamu, tapi Papi bilang
kamu masih harus menggali potensi kamu lagi untuk menemukan
... apa, ya?” Wanda langsung kelihatan gelisah,
“Mmm ... your signature. Your ‘X’ factor. Sesuatu yang
benar-benar menjadi kekuatan kamu. Dan menurutku, kamu
menemukannya di lukisan ini.”
“Kamu kok nggak pernah cerita soal itu?”
Cepat Wanda mengutas sebuah senyum lalu menggenggam
tangan Keenan, “Well, aku punya kabar yang lebih penting
lagi buat kamu. Ready?”
Keenan mengangguk.
Kaki Wanda pun berjinjit, dan ia berbisik tepat di kuping
Keenan, “Lukisan kamu di Warsita ... laku terjual. Empatempatnya.”
Di tangan Keenan, Wanda menyelipkan selembar
cek atas nama Galeri Warsita.
Kali ini Keenan yang mematung lama. Berusaha mencerna
kata-kata Wanda yang rasanya sangat sulit dipercaya.
Keenan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. Lukisannya
... empat-empatnya ... laku terjual. Ia tahu betul apa
artinya itu. Tak ada yang bisa mengukur kebahagiaan yang
ia rasakan. Langkah terakhir menuju impiannya terwujud
sudah.
Perlahan, Keenan melepaskan jemarinya yang digenggam
Wanda. Sebagai ganti, ia mendekap Wanda sepenuh hati.
“Makasih untuk kesempatan yang kamu kasih,” desisnya,
“saya nggak bisa bilang apa-apa lagi.”
Wanda merapatkan tubuhnya, tenggelam lebih dalam ke
pelukan Keenan. “Ini sudah lebih dari cukup,” bisiknya lembut.
131
Keenan dan Wanda memilih makan malam di salah satu
restoran di puncak Kota Bandung, di daerah pegunungan
yang berpemandangan lampu kota. Meski duduk di bagian
dalam restoran, angin dingin tetap terasa menusuk saat
semilirnya menyentuh kulit.
“Kamu kedinginan?” tanya Keenan khawatir. Sedari tadi
dilihatnya Wanda mengusap-usap lututnya yang terbuka.
“Lumayan,” Wanda mengangguk, “aku boleh pindah duduk
di dekat kamu, ya.”
Sebelum diiyakan, Wanda sudah duluan beranjak ke sebelah
Keenan. Di bangku panjang itu, Wanda leluasa menumpangkan
setengah tubuhnya, dan tanpa ragu lengannya
langsung melingkar memeluk pinggang Keenan.
Saat itu juga Keenan langsung merasa tubuhnya berubah
kaku. Risi dengan posisi Wanda yang tahu-tahu menempel
seperti anak kanguru.
“Ehm. Maksud saya, kalau memang kamu kedinginan,
kamu bisa pakai jaket saya,” ujar Keenan kikuk.
“Never mind. Begini lebih hangat,” sahut Wanda seraya
mempererat pelukannya.
Keenan kehilangan argumen. Namun, poros tubuhnya
tetap tegang pertanda tak nyaman.
Wanda mulai merasakan sinyal itu. Pelukannya pun melonggar.
“Are you okay? Kamu risi ya kalo pacaran di depan
umum?”
Seketika Keenan melepaskan lengan-lengan Wanda yang
membelit tubuhnya. “Wanda, sori banget. Saya nggak mau
kamu salah paham. Tapi ... rasanya, kita belum pernah sepakat
untuk pacaran,” ucapnya hati-hati.
Air muka Wanda langsung berubah. Tubuhnya beringsut
menjauh. “Well ... nggak semua pacaran harus dimulai de132
ngan proses nyatain, kan? Aku pikir, selama ini kita berdua
... memang ....” Kalimat Wanda mulai tersendat, matanya
berkaca-kaca. “Have I been embarassing myself? Jadi ...
kamu ... nggak suka sama aku?”
“Bukan gitu,” sergah Keenan cepat, “gimana mungkin
saya nggak suka sama kamu? Kamu baik, kamu perhatian,
kamu banyak banget bantuin saya ... tapi, memangnya kita
harus langsung pacaran?”
Bibir Wanda kontan mengatup, rahangnya tampak mengeras.
“Nan, aku udah kerja keras untuk kamu dan lukisan
kamu. Semua ucapan kamu barusan bikin hati aku sakit.”
Mendengar itu, serta-merta Keenan merangsak mendekat.
Wanda sampai terlonjak kaget. Tak siap mengantisipasi. Ditatapnya
mata Wanda dalam-dalam sambil bertanya, “Selama
ini kamu bantu saya karena lukisan saya—atau karena
saya?”
Wanda menelan ludah, gugup. Namun, ia berusaha keras
mengendalikan kegentarannya. “Keenan, I’m a professional,”
desisnya. “Lukisan kamu sangat bagus, prospek kamu luar
biasa, bahkan lebih dari yang kamu sadari. Tapi itu semua
nggak ada hubungannya dengan perasaan aku.”
Tatapan Keenan yang menghunjam sama sekali tidak berkurang
intensitasnya. “Terus, perasaan kamu sendiri gimana?”
tanyanya. Tenang dan tajam.
Wanda pun memberanikan diri menentang sorot mata
Keenan. Sudah tak bisa mundur, pikirnya. “I’m in love with
you,” ia akhirnya berkata. Jelas dan tegas.
Sesuatu terasa bergetar dalam hati Keenan. Tatapan matanya
melunak. Lama sudah Keenan berusaha menyelami dua
bola mata yang selalu dilapisi lensa kontak berwarna-warni
itu, mencari sesuatu yang selama ini belum ia temukan. Ketulusan.
Sekalipun masih samar, Keenan merasa ada sesuatu
yang barusan muncul dalam diri Wanda. Sesuatu yang be133
lum pernah ia temui sebelumnya. Barangkali, itulah ketulusan
yang dicarinya.
“Terus, perasaan kamu sendiri gimana?” Wanda mengulang
pertanyaan persis sama yang diajukan Keenan tadi.
Bedanya, ia mengutarakannya dengan lebih tenang dan percaya
diri.
Giliran Keenan yang menelan ludah.
Cahaya lilin yang kekuningan menerpa wajah Kugy. Kombinasi
antara langit malam, remang kafe tenda itu, dan cahaya
lilin, membuat ia tampak sangat cantik di mata Ojos
yang tak lepas mengamati sejak tadi. Wajah pacarnya itu
juga kelihatan sendu. Sorot matanya melayang jauh entah
ke mana.
“Mikirin apa, sih?”
Kugy sedikit tersentak. Namun, senyumnya berangsur
terbit melihat tampang Ojos yang cemberut. “Kenapa? Aku
sering ngelamun, ya? Maaf, ya, Jos. Akhir-akhir ini aku memang
lagi agak tulalit.”
“Kamu ada masalah?”
“Nggak,” Kugy menggeleng, “tepatnya, nggak tahu. Perasaanku
suka agak aneh aja belakangan ini.”
“Ada hubungannya dengan aku?”
Kugy lama menatap Ojos sebelum akhirnya menjawab,
“Nggak.”
“Gy, aku merasa kita kurang banget quality time berdua.
Pingin banget deh kita jalan bareng ke mana, liburan kek
....”
“Maksud kamu ke Singapur?” Kugy melengos, “Aku kan
udah bilang, aku nggak mau.”
“Nggak ..., nggak harus Singapur. Kalo ke Bali aja, gi134
mana?”
“Berdua?”
“Kita bisa pergi rame-rame. Anak-anak di Jakarta pada
pingin cabut, kok. Yang jelas, di sana kita berdua bisa
bener-bener rileks, have fun—”
“Aku nggak punya uang,” potong Kugy, “tabunganku sih
ada, tapi bukan buat liburan. Aku mau nabung beli laptop.”
Tiba-tiba, Ojos meletakkan sesuatu di atas meja. Mata
Kugy memicing. Dua lembar tiket pesawat.
“Jos ... kamu beliin aku tiket?”
“Nggak ada lagi alasan untuk kamu ngomong nggak.
Oke?” tegas Ojos dengan senyum mengembang.
“Memangnya—mau berangkat kapan?”
“Kita berangkat awal bulan depan. Cabut hari Jumat, pulang
Minggu. Nanti aku langsung antar kamu ke Bandung
pakai mobil. Pokoknya semua beres, aku yang arrange.
Kamu tinggal bawa tas sama badan doang.”
Kugy menghela napas. Dilihatnya ekspresi Ojos yang
sangat berharap. Tak habis akal, Ojos lantas mengambil tiket
itu dari meja lalu menempelkannya di jidat. Memasang
muka memelas seperti anak anjing hilang induk. “Please,
Gy? Wuf ... wuf ... wuf ....”
Kugy pun tertawa, dan mengangguk.
Hampir tengah malam saat sedan hitam itu kembali memasuki
halaman parkir hotel di daerah Ciumbuleuit tempat
Wanda menginap. Keenan menemaninya berjalan hingga ke
lobi. Perapian yang menyala di sana tampak mulai menyurut
apinya. Sofa-sofa kosong tanpa tamu. Piano grand hitam
yang semalaman tadi berdenting pun sudah terkunci.
“Kamu ke kamar aja duluan. Saya tunggu di sini. Bentar
135
lagi taksi saya juga datang,” kata Keenan.
Wanda menggeleng. “Aku mendingan kedinginan di sini,
daripada kehilangan momen sama kamu,” ujarnya pelan.
“Lain kali, ingat-ingat kalo ini Kota Bandung. Pakai rok
mini malam-malam gini hanya disarankan bagi yang udah
kebal dan terlatih nahan angin kayak bencong di Jalan
Veteran.”
“Kamu tuh, kok nggak romantis banget sih sama aku,”
rajuk Wanda manja, “masa aku malah disamain sama bencong?”
“Lho, siapa yang nyamain?” Keenan tergelak pelan,
“Cuma ngingetin aja, lain kali kamu lebih baik pakai celana
panjang, bawa jaket atau sweater.”
“Lain kali itu kapan?” pancing Wanda lagi.
Keenan pura-pura berpikir dengan muka jahil. “Mmm.
Malam Minggu depan?”
Wanda langsung berseri-seri. Kakinya berangsur maju,
kedua tangannya lantas digantungkan di leher Keenan, “So,
kita—pacaran?”
Keenan tersenyum simpul. Lembut, ia menarik lepas tangan
Wanda, mengecup jemarinya pelan. “Kita jalani pelanpelan,
ya.”
Meski api perapian berada beberapa meter di belakang,
tampak jelas mata Wanda berbinar benderang. Dinginnya
malam bahkan sirna. Seluruh tubuhnya dijalari hawa bahagia
yang terasa begitu hangat.
Terdengar suara mobil memasuki pelataran lobi. Taksi
yang dipesan Keenan sudah datang. Baru saja ia mau berbalik
melangkah, tahu-tahu tangannya ditahan.
“You know what?” Wanda berkata lirih, “Kamu nggak
perlu pulang malam ini ke kos. Kamu bisa di sini sama
aku.”
Keenan hanya tersenyum lalu mengecup halus keningnya,
136
“Pelan-pelan, Wanda.”
Tak lama, taksi itu melaju pergi meninggalkan hotel.
Wanda masih terpaku di tempatnya. Rasanya ingin ia melesat
menembus atap saking gembiranya. Tiba-tiba ia teringat
seseorang. Noni. Ia harus menelepon Noni. Malam ini
juga.
137
Kugy merogoh kantongnya dan mengambil anak kunci kecil
itu, membuka sendiri gembok pagar tempat kosnya. Ia sudah
mengantisipasi kepulangannya yang larut malam dan
sudah mengajukan dirinya sebagai juru kunci malam ini.
Deretan kamar di koridor itu sudah gelap, tirai-tirai sudah
tertutup. Namun, dilihatnya lampu kamar Noni masih
menyala, bahkan terdengar suara bernada tinggi khas Noni
yang sedang mengobrol dengan terpekik-pekik.
Baru saja tangannya mau mendarat di handel pintu kamarnya,
pintu Noni terbuka. Mata sahabatnya itu membela-
........ ............ ................ .......... ............ ............ ............ .......... ............ ........
.......... .......... .......... .................. .............. ........ .................... ........ ............ ............ ........
aduh, nggak boleh berisik, ya? Nggak kuat niiih ...”
“Lu kebelet pipis?” tanya Kugy, melihat Noni yang sampai
membungkuk-bungkuk seperti menahan sesuatu.
“Bukan, gila. Gua baru ditelepon sama Wanda. Aduuuh
... seneng banget gua ....” Noni terkikik-kikik sendiri, “Tadi
Wanda sama Keenan kencan berdua, gitu. Terus, nggak tahu
gimana, pokoknya Wanda akhirnya nembak si Keenan ...
16.
SALAH BERHARAP
138
monyong, ya? Dasar cowok-cowok sekarang. Bikin susah aja.
Kok bukan si Keenan yang nembak duluan, coba? Emang
dia makhluk aneh sih, kayak elu. Nggak bisa ditebak maunya
apa. Terus ....” Noni mengambil napas, mengatur antara
tawa dan kata-kata yang berbalapan di mulutnya.
Sementara itu mulut Kugy seperti memahit. Jantungnya
terasa berdebar lebih kencang menunggu kelanjutan cerita
Noni.
“Terus, habis ditembak gitu, Keenan ngomong gini ke
Wanda: ‘nggak mungkin saya nggak suka sama kamu.’ Ya
.................. .......... .............. ........ ...... ................ .......... ........ ......................
Terus, mereka pulang ke hotelnya Wanda. Oh my God ...
gila, ini romantis banget ....” Noni menempelkan kedua tangannya
di pipi, “Di dekat perapian, Gy ... nggak ada siapa-
............ .......... ........ .......... .............. .............. ........ .......... ........ .............. ..........
Nggak pernah ngajak gua ke tempat kayak gitu. Yang ada
................ ........................ ..............
“Terus, Non?” desak Kugy, mulai tak sabar.
................ .................. .......... .......... ............................ ...................... ........
........ .................... ................ .............. ........ .......... ........ ...................... ......
lalu menari-nari kecil.
Kugy merasa sebagian dari dirinya menguap. Hampa.
“Terus?” tanyanya lagi.
“Gy, lu kok nggak kasih selamat atau apa gitu ke gua?”
Noni bertanya heran melihat reaksi Kugy yang dingin.
“Congrats, Mak Comblang Milenium. Terus, apa lagi
ceritanya?”
“Lu bayangin aja sendiri. Di tempat yang segitu romantis,
pakai perapian segala, cuma berdua, lagi jatuh cinta. Ngapain
lagi gua tanya-tanya?” ujar Noni sewot. “Lu kok nggak
antusias, sih? Ini kan proyek kita bersama.”
Kugy menggeleng kecil. “Seingat gua, itu proyek lu dan
Eko. Tapi apa pun yang terjadi gua ikut senang,” tuturnya
139
ringkas. “Gua masuk duluan, ya. Capek banget. Nite, nite.”
Tanpa menunggu reaksi lebih panjang lagi dari Noni, Kugy
langsung melangkah masuk ke kamarnya. Menutup pintu.
Bahkan untuk menyalakan lampu saja, Kugy tak punya
daya. Dalam gelap, ia berdiri mematung. Terlintas jelas di
kepalanya sore hari di Galeri Warsita, saat Keenan dan ia
sama-sama memandangi Wanda dari kejauhan, dan terdengar
jelas di kupingnya waktu itu, apa yang diucapkan
Keenan .... Kugy menggeleng, barangkali waktu itu ia salah
menangkap, atau ia salah berharap ... melintas jelas di
kepalanya siang hari di bawah pohon beringin dekat ladang
cabe, saat Keenan berkata bahwa ia kehilangan dirinya,
Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya .... Kugy pun
menggeleng, barangkali waktu itu ia salah melihat, atau lagilagi
salah berharap. Dan terlintaslah petang di pintu
gerbang, saat ia mendapatkan dirinya dipeluk, degup jantung
yang terasa berdenyut bersama .... Kugy pun menggeleng,
barangkali waktu itu ia salah. Selama ini ia salah.
Terakhir, ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang
ia simpan, yang ia kenang hampir setiap malam. Tiga kata
yang selalu menjadi penyejuk bagi hatinya. Bulan, perjalanan,
kita. Kugy menggeleng lagi. Bulan yang sama ada
di angkasa malam ini. Namun, rasanya lain sekali. Membayangkannya
saja terasa begitu pedih di mata. Kugy mengusap
matanya yang basah. Sekali. Dua kali. Dan berapa kali
pun ia mengusap, air mata itu tak kunjung berhenti mengalir.
Jakarta, Juli 2000 ...
Layar ponselnya yang berwarna tiba-tiba menyala. Wajah
Wanda sekonyong-konyong cerah bagai matahari siang bo140
long. Sigap, ditutupnya pintu kamarnya yang tadi setengah
membuka. Ia ingin menikmati telepon itu tanpa diganggu.
“Hai, Sayang. Kamu lagi ngapain? I miss you already.
Aku lagi bengong di kamar. Kamu ke sini, dong,” Wanda
tertawa ringan, “just kidding, Sweetie. Kamu harus rajin
melukis di Bandung. Karena, bentar lagi aku mau atur supaya
kamu bisa pameran.”
Di ujung sana, Keenan pun tertawa. “Justru karena itu
saya telepon kamu sekarang.”
Tawa Wanda pudar. “Jadi, kamu telepon aku untuk
urusan bisnis doang?”
Keenan kontan nyengir. “Jangan sensitif gitu, dong. Katanya
profesional.”
“Ya, udah. Mau ngomongin apa?” tanya Wanda ketus.
“Saya kepikir apa yang pernah kamu bilang, bahwa di
lukisan saya yang terbaru ada karakter yang berbeda dengan
lukisan saya yang lain. Saya juga ngerasa gitu. Saya cuma
mau minta pendapat kamu aja, kalau saya bikin lukisan
serial dengan tema yang sama, gimana?”
“Ide bagus,” komentar Wanda pendek.
“Sejak tahu lukisan saya laku, perspektif saya benarbenar
berubah. Saya merasa makin yakin untuk mengambil
jalan ini.”
Duduk Wanda menegak, “Jalan apa maksud kamu?”
“Saya cuma mau melukis. Mungkin sudah saatnya saya
mempertimbangkan untuk benar-benar mandiri. Selesai semester
ini saya akan coba bicara sama Papa untuk nggak
usah meneruskan kuliah.”
“Kamu tahu apa artinya itu, kan, Nan?” ujar Wanda dengan
penekanan, “Kamu akan menggantungkan diri sepenuhnya
ke penjualan lukisan kamu. Kamu nggak bisa
main-main.”
“Saya memang nggak main-main,” tegas Keenan.
141
“Dan aku juga nggak main-main soal pameran. Kamu
harus siapkan dua puluhan lukisan, tiga puluh lebih bagus,”
sambung Wanda.
Bayangan akan pameran membuat darah Keenan terpompa
adrenalin. Semangatnya memuncak. “Oke, siap,”
jawabnya mantap.
“Aku kasih kamu waktu enam bulan. Demi kamu, aku
mau panjangin cuti kuliahku satu semester lagi.”
Terdengar napas panjang Keenan mengembus. “Wanda,
kamu udah banyak banget bantuin saya ... kadang-kadang,
saya ngerasa nggak enak ....”
“Nan, this is how I am,” potong Wanda, “kalo aku sayang
dan yakin sama seseorang, aku nggak akan tanggung-tanggung.
Kamu nggak perlu merasa nggak enak. Aku nggak
minta apa-apa, just ... love me. Okay?”
Terdengar sunyi di ujung sana. “Nan?” panggil Wanda.
“Kamu mau ngomong sesuatu ... atau ... speechless?”
“Sori, saya beneran nggak tahu mau ngomong apa,” jawab
Keenan akhirnya.
“Nggak pa-pa. Lama-lama aku biasa, kok. Mungkin kamu
ekspresifnya hanya di depan kanvas. Tapi nggak di depan
aku,” Wanda berkata, separuh menyindir.
Sunyi lagi di ujung sana.
Wanda melengos. “Ya udah, kayaknya aku malah bikin
kamu nggak nyaman. Kita ngomongin yang lain aja kalo
gitu.”
Tanpa menunggu terlalu lama, pembicaraan mereka lancar
lagi seperti aliran sungai. Dan walau akhirnya percakapan
telepon itu ditutup dengan manis, Wanda sedikit
gondok. Ia mulai terganggu dengan sikap Keenan yang seolah
jengah setiap kali percakapan mereka mulai menyinggung
soal perasaan. Seolah-olah kata ‘‘cinta’’ dan ‘‘sayang’’
ada dalam daftar tabu Keenan. Dari pertama kali mereka
142
dekat hingga resmi jadian pun, belum pernah satu kali pun
Keenan mengungkapkan perasaannya secara terbuka.
Ponsel Wanda berdering lagi. “Ya, Virna? What’s up?
Hmm. Sori, gue emang lagi bete. What? Duh, lo bikin gue
tambah bete, deh ....”
“Sori banget, ya,” sahut Virna, “gue bener-bener nggak
ada tempat buat nyimpan lukisan itu. Sebetulnya Pasha juga
sama. Dia nggak enak aja sama lo. Jadi kita berdua samasama
nggak bisa nampung, Say.”
Wanda berdecak kesal. “Cuma nitip gitu aja masa nggak
bisa, sih? Lo taro di kamar tidur lo, kek. Gantung di kamar
mandi, kek.”
“Lo pikir itu poster ukuran A3? Lagian dinding rumah
gue itu dikuasai nyokap gue. Dia nggak demen lukisan modern.
Tahu sendiri seleranya kayak apa, lukisan kudalah ...
ikan koi ... nenek-kakek gue ...,” Virna membela diri, “di
tempat lo masa nggak ada space? Rumah lo kan segede-gede
apaan tauk.”
“Bukan gitu. Masalahnya—” Wanda cepat-cepat menelan
kembali kata-katanya. Perihal ini cukup dia sendiri yang
tahu. “Ya udah. It’s okay. Besok gue suruh orang untuk
ambil lagi, deh. Sekalian lukisan yang ada di Pasha.”
Selepas telepon dari Virna usai, Wanda berkeliling rumahnya
sendiri. Mencari ‘‘tempat persembunyian’’ yang aman.
Dan pencariannya pun berakhir di kamarnya sendiri: kolong
tempat tidur.
Di saung tempat Ami mengajar, ketiganya berkumpul. Ami
bahkan seperti ingin menangis ketika hendak menyampaikan
kabar yang sudah ia simpan sejak tadi.
143
“Kugy, Ical ... Sakola Alit akhirnya diloloskan untuk ikut
perlombaan antar-SD se-Kecamatan.”
Kugy dan Ical langsung melonjak kegirangan. Ical bahkan
sampai berlari mengelilingi saung sambil bersorak-sorai.
Kugy pun tak kalah, ikutan di belakangnya.
“Aku tahu, kita diizinkan ikut karena mereka simpati,
atau kasihan, atau karena mereka juga yakin kita nggak bakal
menang,” Ami terkekeh, “aku nggak ambil pusing. Ini
bukan soal kalah dan menang. Tapi ketika anak-anak Alit
bisa partisipasi dan ketemu dengan peserta dari sekolah
lain, pasti semangat mereka terpacu lagi untuk serius sekolah.
Ini akan menjadi pengalaman yang baru buat mereka.
Jadi, kita akan ikut lomba baca puisi, lomba menyanyi pupuh
Sunda, dan lomba mengarang. Hari ini kita tentukan
siapa-siapa yang ikutan, ya,” lanjut Ami lagi.
............ .................. .......... .................. .................... ............ ........ ......
mana, Mi?”
“Hari Sabtu minggu depan. Di Taman Lalu Lintas.”
.......... .............................. .............. .............. ........................ ....................
Mereka semua pasti senang banget bisa sekalian main di
sana.” Beberapa saat kemudian, ekspresi mukanya berubah.
Kugy teringat sesuatu. “Sebentar ... Sabtu depan?”
“Iya, Gy. Kenapa?”
“Aku—ada janji mau ke luar kota.”
Ami menggigit bibirnya. “Wah. Kalau tanpa kamu, kita
berdua pasti kerepotan. Bukan cuma soal menemani, tapi
kalau anak-anak tahu kamu nggak akan ikut, mereka pasti
nggak semangat. Kamu tuh panutan mereka, Gy.”
Kugy berpikir keras. “Kasih waktu sampai Senin, ya. Tapi
aku usahakan banget untuk ikut.”
“Please, ya, Gy. Karena hari Senin kita udah harus mulai
nyiapin anak-anak,” kata Ami penuh harap.
Kugy melirik jam tangannya. Ojos sedang dalam per144
jalanan ke Bandung. Jika ia memutuskan untuk membatalkan
kepergiannya ke Bali, entah apa yang akan terjadi
malam ini.
Keenan berdiri memandangi lukisannya sendiri. Lukisan dengan
objek sebelas anak kecil. Sepuluh sedang berbaris melingkar,
dan seorang anak dengan topi caping hadir di depan
barisan sebagai pemimpin. Di bagian belakang kanvas,
Keenan menuliskan judul: “Jenderal Pilik dan Pasukan
Alit”.
Keenan memperhatikan guratan kuasnya sendiri. Ini bukan
masalah teknik, pikirnya. Ada sesuatu dalam objekobjek
itu yang membuat lukisan yang satu ini mencuat dibandingkan
lukisan-lukisannya yang lain. Sesuatu yang
meremangkan bulu kuduk. Sesuatu yang membangkitkan
gejolak dalam batin siapa pun yang melihatnya.
Ia melangkah mundur, mengamati sekali lagi. Kehidupan.
Keenan akhirnya menyimpulkan dalam hati. Lukisan ini
begitu berenergi. Ada kehidupan yang dipancarkan dengan
sangat kuat dan menyentuh.
Matanya lantas tertumbuk pada satu benda di meja
belajarnya. Buku tulis kumal yang diberikan Kugy beberapa
bulan yang lalu. Keenan teringat apa yang pernah ia ucapkan,
bahwa buku tulis itu merupakan harta yang harusnya
disimpan Kugy sendiri. Tak pernah ia sangka, dirinyalah
yang menjadi penemu harta karun itu. Kugy telah mewariskan
sesuatu yang sangat berharga, melebihi perkiraan mereka
berdua.
145
Film komedi yang ditonton mereka barusan bahkan tak sanggup
membuat tawanya lepas seperti biasa. Sepanjang malam,
dari mulai saat perjalanan, makan malam, sampai bubaran
bioskop, Kugy berada dalam status siaga. Terus meraba-raba
momen yang kira-kira tepat untuk menjadi celahnya bicara
pada Ojos.
............ .............. .................... .................... .................... ....................
nya.
Kugy menoleh. Mas Itok, agen pengantre tiket langganannya
Eko, melambaikan tangan dengan tawa lebar. Kugy pun
balas melambai.
“Ke mana aja, Mbak? Kok udah nggak pernah nonton
midnight rame-rame lagi? Mas Eko seringnya berdua doang
sama Mbak Noni.”
“Kita udah ganti aktivitas, Mas. Sekarang seringnya main
gapleh rame-rame,” jawab Kugy asal.
............ .............. ............ .............. ........ .......... .................... ................
gara-gara Mbak Kugy sama Mas Keenan putus, terus pada
punya pacar baru, kelompoknya jadi pecah. Ini pacar barunya,
Mbak?”
17.
TIGA KATA SAJA
146
Ojos dan Kugy serentak membeku kaku mendengar
omongan Mas Itok yang tanpa tedeng aling-aling itu. “Bu-
.......... .......... ........ ............ ............ ................ .......... .......... .................... ......
nyudahi, lalu menggandeng tangan Ojos pergi dari situ.
Sepanjang perjalanan, Ojos memasang muka cemberut.
Bungkam seribu bahasa. Saat mobilnya sampai di depan
tempat kos Kugy, barulah Ojos bersuara. “Ada sesuatu yang
belum pernah kamu bilang ke aku, dan aku perlu tahu?”
tanyanya.
“Tentang apa?” balas Kugy pelan. Perasaannya mulai tidak
enak.
“Gy, Mas Itok itu mungkin orang paling sok tahu sedunia,
tapi aku yakin dia punya alasan sampai bisa bilang
begitu. Memangnya ada apa antara kamu dan Keenan?”
Kugy diam sejenak. “Nggak ada apa-apa,” jawabnya pendek.
Ojos menggeleng. “Gue mungkin orang paling cemburuan
di dunia, tapi radar gue nggak pernah salah. Udah, deh. Jujur
aja. Lo suka sama dia, kan? Dia juga suka sama lo?”
Hati Kugy terasa menciut. Kalau Ojos sudah mulai memakai
‘gue-lo’ padanya, berarti anak itu marah betulan. “Jos,
Keenan udah punya pacar. Aku juga udah punya pacar.
Kami berdua cuma sahabatan. Nggak lebih, nggak kurang.”
“Suka ya suka aja. Nggak ada urusan punya pacar atau
nggak,” tandas Ojos lagi.
“Aku nggak bisa ikut ke Bali,” tiba-tiba Kugy menceplos.
Ia bahkan kaget sendiri begitu kata-kata itu terlontar begitu
saja dari mulutnya.
“What?” Ojos tersentak.
“Sakola Alit ikut perlombaan antar-SD hari Sabtu depan.
Nggak mungkin kalau aku sampai nggak ikut. Aku tahu kamu
udah beli tiket dan udah siapin semuanya. Tapi aku benarbenar
nggak bisa. Kita liburannya kapan-kapan aja ya—”
147
“Gue kok nggak yakin yang namanya ‘kapan-kapan’ itu
bakal ada,” potong Ojos dengan nada tinggi.
Kugy terdiam. Banyak hal berkecamuk di benaknya, tapi
lidahnya seperti kelu. Tidak tahu harus bereaksi apa.
Terdengar Ojos menghela napas berat. “Gue capek jadi
nomor kesekian dalam hidup lo. Sejak lo di Bandung, gue
ngerasa makin terpinggir. Lo kayak punya dunia sendiri.
Kayaknya cuma gue yang usaha buat ngertiin lo, Gy. Cuma
gue yang usaha buat kita berdua.”
Mata Kugy mulai terasa panas. Dadanya mulai terasa sesak.
“Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar dunia
lo. Tapi lo bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka
lupa, gue masih di Bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana
kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda,” tutur
Ojos getir.
Air mata Kugy mulai merembesi pipi. Satu demi satu.
Namun, mulutnya masih belum bisa berkata-kata.
“Lo suka sama Keenan, Gy? Lo jatuh cinta sama dia?”
Linangan air mata di pipi Kugy makin deras. Perlahan,
ia menggeleng, “Apa pun perasaanku sama Keenan, aku sayang
banget sama kamu ....”
“Ini memang bukan cuma soal Keenan, tapi prioritas
buat gue di hidup elo. Sekarang, kita bikin semuanya sederhana
aja, Gy. Berangkat hari Jumat depan sama gue, atau
lo tetap di Bandung. Pilih yang mana?” Ojos bertanya lugas.
Namun, nada itu terdengar perih, suara itu bergetar.
“Tapi ... tapi aku bener-bener nggak bisa berangkat.
Sabtunya kan aku harus ... apa kita nggak bisa pergi hari
lain—”
“Sederhana, kan, Gy? Lagi-lagi gue yang harus berkorban,”
gumam Ojos pahit.
148
Kugy terdiam lagi. Hanya terdengar isakan pelan.
“Pergi dengan gue hari Jumat, atau semuanya selesai
sampai di sini,” Ojos menandaskan ulang.
“Kenapa harus pakai ultimatum begini, sih? Kenapa
nggak bisa diundur aja? Ini bukan pilihan, Jos. Ini namanya
.......................... .......... .......... ............ ........
Ojos menatap pacarnya dalam-dalam, lalu berkata pelan,
“Karena kalo lo emang sayang sama gue, sekarang juga lo
bisa tahu jawabannya. Bahkan dari tadi harusnya lo udah
tahu. Pembicaraan ini nggak perlu ada, Gy.”
Meski keduanya sama-sama membisu, suasana di dalam
mobil itu pengap oleh berbagai macam emosi dan perasaan.
Akhirnya, Ojos membukakan pintu Kugy. “Gue tunggu lo
di airport hari Jumat siang. Pesawat kita take-off jam tiga.
Kalo lo nggak datang, berarti semuanya selesai,” ucapnya
lirih.
Sebelum keluar dari mobil, Kugy menatap Ojos sekali lagi
dengan matanya yang basah. Dalam waktu yang sedemikian
singkat, semua kenangan mereka selama hampir tiga tahun
terkilas balik. Kugy pun berlari masuk, menerobos kamarnya.
Sesak di dadanya tak tertahankan lagi, dan Kugy menangis
sepuasnya. Ia sudah tahu apa yang akan ia putuskan.
Dan ia menangis untuk perpisahan yang belum terjadi.
Namun, akan terjadi.
Kedua pasangan itu akhirnya memutuskan untuk menghabiskan
malam Minggu mereka dengan berkumpul bersama
di tempat kos Keenan. Dua kotak martabak asin dan manis
yang sudah hampir ludes isinya mengambil tempat di tengah
lingkaran mereka duduk. Noni dan Wanda tampak serius
149
berdiskusi. Noni berencana untuk merayakan ulang tahunnya
yang ke-20 bulan September depan di rumah Wanda.
Rumah di daerah Kebayoran Baru itu punya taman yang
luas, cocok dengan konsep garden party yang ingin dibuat
Noni. Karena acara itu cukup besar, Noni mempersiapkan
dari jauh-jauh hari, dibantu oleh Wanda yang terkenal sebagai
party maker andal.
Wanda sibuk mencatat ini-itu, lalu menyerahkan catatannya
pada Noni.
“Buset ... lu gape banget, sih,” Noni terkagum-kagum
membaca catatan Wanda.
“Bikin acara beginian doang sih makanan gue sehari-hari.
Hampir semua acara di Warsita gue yang koordinasi. Nggak
perlu sewa EO,” Wanda tersenyum bangga. “Pokoknya kalo
lo ada detail tambahan lagi, kabarin aja, nanti gue yang
atur.”
Sambil memetik gitar dan berselonjor santai, Eko pun
ikut berceletuk, “Diam-diam ternyata Wanda punya bakat
mandor. Penampilannya juga makin lama makin kayak mandor.”
“Excuse me?” Wanda mendelik, “Coba perjelas, apa yang
dimaksud dengan ‘penampilan mandor’?”
Permainan gitar Eko langsung memelan. Tersadar bahwa
dirinya baru saja menyenggol dawai Wanda yang paling sensitif,
yakni masalah penampilan. Namun, mulut jahil Eko tak
sanggup diberangus. “Mmm ... gua perhatiin, makin hari
dandanan lu makin santai, sementara dulu kan lu Miss
Matching abis,” Eko cengengesan, “kuku lu udah nggak
warna-warni, terus sekarang baju lu kayaknya kegedean semua—
kalo dulu kekecilan, he-he. Kaus gede banget itu lu
dapet dari mana, coba?”
“Punya Keenan.”
“Jaket yang tadi lu pake punya siapa?”
150
“Punya Keenan.”
Noni pun tak dapat menahan tawa kecilnya. “Hi-hi ...
bener banget kata Eko, sebetulnya gua juga udah pingin komentar.
Dandanan lu makin mirip Kugy, Wan. Pantes aja,
...................... .......... ............ .................... ............ ................
Ekspresi Wanda berubah drastis. Apalagi melihat Eko
yang langsung terbahak-bahak mendengar celetukan Noni.
Melihat itu, Keenan cepat-cepat berusaha menetralisasi, “Sebetulnya
gua yang minta ke Wanda, kalau di Bandung mendingan
pakai baju yang praktis-praktis aja, kan dingin ....”
............ ........ .................... ............ .............. .................... ................ ........
berdandan a la Kugy. Kalo kata gua, dia lebih cocok di kategori
yang kedua,” Eko ngakak-ngakak lagi.
Muka Wanda kontan memerah. Meski ia berusaha ikut
tertawa, suasana hatinya rusak berantakan sudah. Sepanjang
sisa malam itu, tinggal Keenan yang kena getahnya, sementara
Eko dan Noni pamit pulang duluan.
.................... .............. ........ .......... ........ .............. fashion. Kayak dia
aja yang paling bener pakai baju. Noni juga, nyama-nyamain
aku sama Kugy. Memangnya aku separah itu?” gerutu
Wanda panjang lebar.
Keenan tak berkomentar dan membiarkan Wanda melampiaskan
kekesalannya. Ia memilih membuka buku sketsa
lalu asyik mencorat-coret. Menjadi pendengar sekaligus tempat
sampah yang baik.
Namun, Wanda seperti tak mau berhenti. “Aku cuma sekali-
sekali doang pakai baju kamu. Itu juga kalo memang
kepepet. Sementara kalo Kugy itu udah jadi style, jadi trademark!”
cibirnya sewot. “Inget nggak waktu Kugy datang ke
Warsita? Emangnya mungkin aku pakai baju kayak gitu?
Idih. Gila aja ....”
“Ngapain sih masalah gitu doang diributin?” Keenan mendongak,
mukanya menunjukkan bahwa ia mulai terganggu.
Sudah hampir sejam topik omelan Wanda tidak berubah.
151
Wanda terdiam. Merajuk. “Aku cuma sebel aja. Kok, dibandinginnya
sama Kugy. Kugy kan ancur banget—”
“Buat saya, dia baik-baik aja,” potong Keenan tegas.
“Buat saya, kamu juga baik-baik aja. Mau Miss Matching,
mau nggak, saya nggak ambil pusing.”
“Tapi Kugy kan—”
“Sebenarnya kamu ada apa sih sama Kugy?” Keenan bertanya
agak keras.
“Kamu ada apa sama Kugy?” Wanda malah bertanya
balik.
Keenan mengerutkan kening.
“Aku udah lihat judul lukisan kamu yang baru. ‘Alit’ itu
nama sekolah tempat Kugy ngajar, kan? Kamu terinspirasi
gara-gara dia? Hebat banget itu anak sampai dibikinkan lukisan
segala,” ujar Wanda sinis.
Keenan menghela napas, dongkol. “Iya, memang saya
buat lukisan itu dari cerita yang Kugy buat tentang anakanak
di sekolahnya. Terus?”
“Nan, aku mungkin kolokan, but I’m not stupid. I’m not
blind. Aku lihat gimana cara kamu melihat dia. Baju-baju
yang kamu suruh aku pakai ... dan sekarang lukisan itu. You
have feelings for her, don’t you?” Wanda bertanya tajam.
Kali ini Keenan terdiam.
“Don’t you?” cecar Wanda lagi.
“Wanda, ini mulai konyol. Kamu cuma cemburu berlebihan—”
“You’re damn right I am! Dan udah selayaknya aku cemburu.
Memangnya kamu pikir aku nggak tahu kalo kamu
sebenarnya sedang berusaha mengubah aku jadi dia? Well,
I tell you this: you will fail! Karena aku bukan dia, dan
............ .......... .............. ........ .......... ............ ............ ..........................
Dadanya turun naik saking emosinya.
Keenan menatap Wanda lama. “Wanda, kamu bebas per152
caya apa pun yang kamu mau. Saya nggak bisa mengubah
anggapan kamu. Hanya kamu sendiri yang bisa. Kalau kamu
merasa begitu soal saya dan Kugy, saya terima. Saya nggak
bisa bikin kamu yakin sama saya. Hanya kamu sendiri yang
bisa,” ucapnya datar.
“Bullshit,” desis Wanda.
“Mau saya antar pulang?” Keenan bangkit berdiri.
Wanda menepis tangan Keenan yang mencoba menggamit
bahunya. “Ada yang bisa kamu lakukan supaya aku yakin,”
Wanda lantas menentang mata Keenan lurus-lurus, “lihat ke
mataku, and say that you love me.”
Keenan tampak terkejut mendengar tantangan Wanda.
Namun, kedua mata mereka telanjur beradu, dan tak bisa
lagi Keenan menghindar.
“It’s so simple, Nan. Aku hanya mau dengar kamu bilang
tiga kata itu,” bisik Wanda. Jarak mereka hanya terpaut sekian
senti. Sorot matanya memburu Keenan ke dasar hatinya
yang terdalam.
Mulut Keenan tampak setengah membuka, otot-otot
mukanya tegang seperti bersiap mengatakan sesuatu.
Namun, setelah sekian lama, tetap tak ada sepatah kata
keluar. Hanya embusan udara kosong yang terbata-bata.
Wanda menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis.
Air matanya pun tak terbendung lagi. Dalam sekejap, isakannya
meledak. Wanda langsung menyambar tasnya dan berlari
menuju pintu.
Secepat kilat, Keenan menahan tangannya. “Wanda ...
.......... .............. .............. ............ ........ ............ .......... ........
Bercampur dengan senggukan, Wanda berteriak, “Maaf?
Damn it,.. ................ ........ ............ ............ .......... ............ I just want
you to love me. Why can’t you just love me?”
Lagi, Keenan tak bisa menjawab. Ia hanya menarik
Wanda ke arahnya, berusaha memeluk Wanda yang me153
ronta, menghiraukan kepalan-kepalan tinju lemah yang dilancarkan
Wanda dengan frustrasi, hingga akhirnya Wanda
menyerah. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan
Keenan.
Baru kali itu Keenan merasa sedemikian pilu. Rasa bersalah
yang sangat kuat terasa memenuhi seluruh rongga
tubuhnya sampai ke tulang, dan ia merasa sesak luar biasa.
Dan yang membuat hatinya lebih pedih lagi, meski desakan
itu begitu kuat, tetap Keenan tak bisa memaksakan mulutnya
mengatakan apa-apa. Hanya lengannya yang semakin
erat mendekap, jemarinya tak henti membelai rambut
Wanda, berusaha menenangkan isakannya yang terus menjadi.
Keenan terus berharap dalam hati, semoga itu cukup.
154
Bandung, Agustus 2000 ...
Terdengar langkah kaki berlari di koridor, semakin lama semakin
dekat, dan ternyata langkah itu berhenti di depan
pintu kamarnya. Menyusul ketukan bertubi di pintu.
“Masuk ...,” kata Kugy, matanya tak lepas dari layar komputer.
............ .......... .................... .............. ................ .............. ........ ............
sama Ojos?” tembaknya tanpa basa-basi.
Kugy menatap Noni tanpa bersuara, lalu mengangguk
kecil.
“Ya, ampun. Kenapa? Kok bisa? Gua baru teleponan
sama Ojos. Dia sedih banget. Kok lu nggak langsung bilang
sama gua? Sebetulnya kalian ada apa, sih? Lu kenapa?” Pertanyaan
Noni berentet seperti peluru senapan otomatis.
Kugy benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya
mengangkat bahu. “Memang udah saatnya kali, Non,” sahutnya
pendek.
“Kok jawaban lu gitu sih, Gy? Kok lu nggak terbuka sama
18.
KEPERGIAN DAN KEHILANGAN
155
gua? Gua kan sayang banget sama kalian berdua. Gua ikut
sedih, tauk,” kata Noni kecewa. “Kalian kan pasangan legendaris,
bikin orang-orang ngiri, kalian tuh cocok banget ...”
Kugy tersenyum getir. “Please, deh, Non. Gua sama Ojos
itu bedanya kayak langit dan sumur. Semua ini kayak bom
waktu yang tinggal tunggu meledak.”
Tampang Noni langsung berubah serius. “Gy, lu sahabat
gua. Gua pasti belain elu. Tapi terus terang, kali ini gua ngelihat
lu memang jadi berubah. Lu kayak sengaja menarik
diri. Ojos juga ngerasa gitu, dan dia udah lama ngomong ke
gua. Dia ngerasa ada sesuatu yang aneh. Gua dan Eko juga
ngerasa kehilangan lu,” Noni terdiam sejenak, “gua nggak
enak ngomong gini. Tapi sebagai sahabat, gua harus jujur
sama lu. Kita semua kehilangan Kugy yang dulu.”
Lama Kugy membisu. Dalam benaknya ia berusaha keras
untuk merangkai penjelasan demi penjelasan, tapi yang ia
temukan hanya sebongkah benang kusut. Ia tak tahu lagi
harus memulai dari mana. Semua sudah bercampur aduk.
“Thanks for your concern, Non,” kata Kugy akhirnya, “tapi
gua baik-baik aja, kok. Gua nggak tahu Kugy yang dulu itu
yang mana. Tapi inilah gua. Kalau memang ternyata berubah,
ya terimalah gua apa adanya. Sama seperti gua menerima
lu, Eko, Ojos, Keenan ... apa adanya. Menurut gua,
itu yang bisa kita lakukan sebagai sahabat.”
Jelas terlihat ekspresi protes di muka Noni, tapi kata-kata
Kugy seperti membungkam mulutnya. Noni pun bangkit berdiri.
“Whatever, Gy. Terserah,” ujarnya dingin.
Pintu kamar itu kembali menutup. Kugy termenung di
kursi komputernya. Sekilas ia melihat bayangannya di cermin.
Ia mengerti kehilangan yang dimaksud Noni. Sama seperti
sahabatnya, ia pun merasakan kehilangan itu. Namun,
Kugy tak tahu harus ke mana mencari. Semua terlalu kusut
baginya.
156
Jakarta, Agustus 2000 ...
Atmosfer di ruangan itu terasa mengimpit. Di meja makan
segi empat yang kosong tanpa makanan itu, Keenan dan
ayahnya duduk berhadap-hadapan. Ibunya duduk di tengahtengah
seumpama wasit tinju yang mengamati pertarungan
dengan tegang. Sementara Jeroen mengurung diri di kamar,
ia paling tidak tahan mendengar orang bertengkar.
“Inilah yang membuat saya nggak pernah setuju dia pergi
...... ...................... ............ .......... .............. ................ .................. ............ ........
lihat anak kamu, dia pikir dia siapa? Berani-berani minta
berhenti kuliah hanya gara-gara lukisannya laku segelintir.
Dia nggak mikir bahwa saya, bapaknya, sudah setengah mati
banting tulang buat bayar seluruh biaya sekolahnya dari dia
kecil sampai sekarang,” ayahnya lalu menoleh pada Keenan,
............ .......... ........................ .......... ................................ ............ ..........
keluar biaya paling besar. Bisa nggak kamu bayar Papa untuk
menggantikan uang sekolah kamu dari cek yang kamu
.............. .......... .................. .......... .......... ................
Dari wajahnya, Keenan tampak sudah mau meletus, tapi
ia menahan diri, mengeraskan rahangnya kuat-kuat. “Ini
bukan soal uang, Pa,” ujarnya tertahan. “Sampai kapan pun
saya nggak bisa menggantikan semua yang sudah Papa kasih.
Tapi saya benar-benar nggak kuat lagi untuk pura-pura
betah kuliah. Saya nggak kuat meneruskan sesuatu yang
saya nggak suka. Sementara hati saya ada di tempat lain.”
“Apa sih masalah kamu? Tanpa banyak usaha saja kamu
.......... ............ ...... .............. ................ ........ .................. .......... ..................
kuliah?” tanya ayahnya gemas.
“Itu bukan dunia saya, Pa,” Keenan menyahut pelan, “bukan
itu jalan hidup yang saya mau.”
Adri tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya.
157
“Kamu tahu apa tentang hidup? Kamu masih dua puluh ta-
.......... .......... ............ .......... ..................
“Saya cukup tahu bahwa hidup yang sekarang ini saya
jalankan adalah hidup yang Papa mau, bukan yang saya
mau,” kata Keenan getir. “Saya ingin berhenti kuliah mulai
dari semester depan. Dan saya tidak akan membebani Papa
lagi. Saya akan cari uang dan membiayai hidup saya sendiri.”
.................. Let op je woorden!21” Lena menyambar seketika,
“ga niet al te ver.22 Jangan asal ngomong kamu ....”
Adri pun sontak bangkit berdiri, menatap anaknya tak
percaya. “Kamu—kamu belum tahu seujung kuku pun ten-
.......... .............. .............. ............ .......... .................. .............. ............ ..........
yang sok kepingin mandiri itu. Kamu nggak tahu apa yang
kamu hadapi di luar sana—”
“Maaf, saya bukannya mau menyakiti kalian berdua dengan
keputusan saya ini, tapi saya betul-betul nggak bisa
maksain diri lagi,” sela Keenan tegas.
Lena sudah ingin berbicara, tapi tangan suaminya terangkat
menahannya, “Oke. Kalau memang itu yang kamu
mau, silakan.” Suara Adri terdengar tegas dan garang. “Mulai
detik ini, saya berhenti membiayai kamu. Mandirilah
sana. Silakan kamu rasakan sendiri hidup yang sebenarnya.
Kamu urus diri kamu sendiri. Saya tidak mau tahu lagi.”
.......... ........ ........ .......... ................ .......... ............ .............. .......... ..........
jangan ikutan ngawur. Kita bicarakan lagi semua ini baikbaik
....”
Keenan malah ikut bangkit berdiri. “Sudah, Ma. Het is
goed zo23. Memang itu yang saya inginkan. Saya mau beresberes
sekarang, lalu pulang ke Bandung,” ujarnya tenang.
21 Berhenti bicara.
22 Jangan kelewatan.
23 Kalau memang begitu, tidak apa-apa.
158
“Ya. Biarkan dia pergi,” Adri menyahut, “jangan ditahantahan.”
.............. ................ .............. .............. .......... ............ ............ ..............
........ .............. .................. .............. ............ ............ ............ ............ ............
begitu cara menyelesaikan masalah ini. Pasti ada jalan keluar
yang lebih baik.”
Namun, baik Keenan maupun ayahnya tidak tertarik untuk
duduk kembali. Keduanya tetap berdiri di tempat
masing-masing dengan sorot mata beradu.
“Laat maar zitten24, Lena. Kita lihat saja nanti, siapa
yang akan kembali ke pintu rumah ini, merengek minta
maaf, dan menelan kembali semua ucapannya,” ucap Adri
dingin.
Keenan tersenyum samar. “Ya, kita lihat saja nanti.”
Bandung, Agustus 2000 ...
Sekembalinya ke Bandung, Keenan tak menunda-nunda lagi
rencananya. Ia sadar bahwa ia tengah melakukan perombakan
hidup besar-besaran. Perasaannya bercampur antara
semangat sekaligus gentar. Namun, Keenan tahu ia tak bisa
mundur lagi.
Selama libur jeda semester ini, bolak-balik Keenan
mengurus surat pengunduran dirinya ke bagian administrasi
kampus. Dibantu Bimo, Keenan pun pindah dari tempat kosnya
dulu ke tempat kos yang jauh lebih kecil, di dalam sebuah
gang di daerah Sekeloa, yang ongkos sewanya berkali
lipat lebih murah dibandingkan tempat kosnya yang dulu.
Keenan mulai menata ulang hidupnya di Bandung. Cek
dari Warsita tak disentuhnya sama sekali. Ia hanya berniat
24 Biarlah kita tunggu dulu
159
mencairkannya jika kelak kondisinya sudah sangat kepepet.
Keenan hanya mengandalkan sisa tabungan pribadi yang ia
miliki. Sebagai konsekuensinya, ia tahu dirinya tidak bisa
lagi bergaya hidup seperti dulu. Segalanya berubah sekarang.
Bimo meletakkan dus yang terakhir ke lantai. Kamar kos
kecil itu bahkan terlalu sesak rasanya menampung mereka
berdua. Buru-buru Bimo membuka pintu agar udara segar
masuk.
“Lu adalah orang paling gila yang pernah gua tahu,”
Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, “entah itu karena lu
nekat atau bloon, tapi gua salut sama keberanian lu.”
Keenan hanya nyengir sambil mengusap-usap kepalanya
sendiri, “Gua juga nggak ngerti ini gila atau malah waras.
Yang jelas, inilah rasanya hal paling benar yang pernah gua
lakukan.”
“Lu emang sinting nggak kepalang. IP terbaik dua semes-
........ ................................ ...... ........ ............ .............. .................. .......... ............
kek. Kasihani orang-orang kayak gua yang IP-nya satu koma
gini,” Bimo tergelak.
“Tenang. Selama gua masih di Bandung, gua pasti bisa
bantuin lu. Udah tahu harus cari gua ke mana, kan?”
Keenan tersenyum.
“Siapa aja yang udah tahu lu di sini?”
“Belum ada siapa-siapa lagi.”
“Eko?”
Keenan menggeleng.
Bagi Bimo, itu menjadi petunjuknya untuk tidak perlu
bilang pada siapa-siapa soal kepindahan Keenan. Banyak
pertanyaan yang muncul di kepalanya, tapi Bimo merasa
lebih baik menunda hingga saat yang tepat. “Angkatan kita
akan kehilangan silumannya,” Bimo menghela napas seraya
menepuk bahu Keenan.
160
“Siapa tahu setelah nggak jadi mahasiswa, gua malah jadi
macan kampus.”
“Gua mohon jangan, Nan. Bentar lagi ada cewek-cewek
.................. ............ ........ ........ .......... .................. .......... ........ ....................
Bimo tergelak lagi, dan tak lama kemudian ia pamit pulang.
Sepeninggal Bimo, Keenan termenung di kamar barunya
yang terletak sendirian di loteng. Juntaian tali jemuran yang
saling silang di depan jendelanya akan menjadi pemandangan
rutin setiap hari. Kucing-kucing yang berjemur
santai di atap tetangga akan menjadi teman setianya. Udara
panas ini akan ia hirup sampai entah berapa lama. Barangbarangnya
yang padahal tak banyak itu bahkan terasa menyesaki
saking kecilnya kamar itu. Namun, untuk pertama
kalinya setelah pulang ke Indonesia, Keenan merasakan kebebasan.
Kugy memutuskan mengambil semester pendek bulan ini.
Terkadang, ia merasa keputusannya itu adalah usaha pelarian
dari suasana tidak enak yang mengungkungnya ketimbang
melulu keputusan akademis. Lebih baik membenamkan diri
dalam pelajaran dan tugas menumpuk ketimbang berhadapan
dengan Noni yang menjaga jarak, Eko yang juga ikut menghilang,
Keenan yang lebih tak tentu rimbanya, dan perasaan
bersalahnya pada Ojos yang belum surut-surut juga.
Sepulang dari kampus dan mengajar di Alit siang itu,
Kugy benar-benar penat dan ingin langsung cepat mendarat
di kasur. Namun, langkahnya yang gegap gempita berangsur
menjadi pelan dan berjingkat ketika ia melihat si Fuad terparkir
di halaman tempat kosnya. Sehati-hati mungkin, Kugy
menyelinap masuk menuju kamarnya.
............ ........ .............. ...... ...................... .......... ............ ............ ............
161
Noni. Bertepatan dengan Kugy yang sudah membuka handel
pintu kamar. “Manusia satu ini ... lama ngilang,” sambung
Eko lagi.
Mau tak mau Kugy melayani dulu basa-basi itu. “Lu kali
yang ngilang. Gua kan di sini terus,” katanya sambil nyengir
lebar.
“Masa? Kok, tiap kali gua ke sini lu juga nggak pernah
ada. Tiap gua ajak pergi lu nggak pernah mau. Kata anakanak,
lu ambil SP, ya? Pingin cepat lulus terus ninggalin
kita, ya?” Eko menoyor jidat Kugy pelan, “Huuuh ... curang.
Ke mana aja, sih? Kangen tauk.”
“Iya, gua juga kangen. Tapi gua sibuk banget belakangan
ini, Ko,” jawab Kugy jujur. Jangankan untuk main dengan
Eko dan teman-temannya yang lain, tidur siang pun sudah
jadi kesempatan langka baginya.
“Sibuk boleh sibuk, tapi minggu depan sempatkan datang,
ya?”
“Datang ke mana?” tanya Kugy.
“Ultah Noni. Masa lu belum tahu, sih?” Eko berdecak gemas,
“Dia kan mau bikin acara di Jakarta, gede-gedean. Kita
justru mau berangkat ke Jakarta sore ini, dia mau siapsiapin
acaranya ....”
Mendengar Eko berbicara dengan seseorang, Noni ikut
menongolkan diri. Mukanya tampak berubah ketika tahu
orang yang ngobrol dengan Eko ternyata Kugy. “Hei, Gy.
Baru pulang?” sapanya enggan.
“Hai, Non,” jawab Kugy setengah bergumam.
Eko melihat Noni dan Kugy bergantian. “Kayaknya kalian
berdua perlu bicara, deh. Gua tunggu di depan aja, ya.” Ia
pun langsung melenggang dari sana, tanpa memedulikan
pelototan dari kedua perempuan itu.
“Katanya minggu depan mau bikin acara, ya? Seru,
dong,” Kugy mencoba membuka pembicaraan. Kaku.
162
“Iya. Mudah-mudahan. Semua teman gua udah pada
tahu, kok. Anak-anak yang dari Jakarta udah mau datang.
Sebagian anak-anak dari Bandung juga pada ikut,” sahut
Noni dengan penekanan, seolah-olah menunjukkan fakta
bahwa Kugy secara ironis malah menjadi orang yang belakangan
tahu.
Kugy menyadari betul maksud yang tersimpan di balik
intonasi Noni. “Sori ya, gua tahu pembicaraan kita terakhir
agak kurang enak. Jujur, gua juga nggak nyaman jadi
dingin-dinginan sama lu begini. Sekali lagi maaf ya, Non.
Kayaknya memang gua yang nggak sensitif dan jadi terlalu
cuek sama lu, sama kalian.”
Noni mengangkat mukanya dan menatap Kugy. Ia pun
menyadari dirinya terlalu sayang pada makhluk aneh di hadapannya
itu, dan tak mungkin ia marah berlama-lama.
“It’s okay, Gy. Gua juga minta maaf kalo terlalu nyampurin
urusan lu sama Ojos. Gua yakin lu pasti punya alasan
lu sendiri, dan gua nggak berhak ngutak-ngatik. Gimanapun
juga, lu tetap sahabat gua,” kata Noni. Seulas senyum mulai
terbit di wajahnya. “Tapi, gua boleh request sesuatu,
nggak?”
“Anything,” Kugy membalas tersenyum.
“Gua minta lu datang ke pesta ultah gua minggu depan,
ya. Lu adalah sobat gua terlama, Gy. Lu tahu gua dari kecil
sampai umur kepala dua begini. Sangat berarti buat gua
kalo lu bisa hadir. Please?” Noni memohon.
“Gua pasti datang,” jawab Kugy mantap.
Noni langsung menghambur memeluk Kugy. “Jangan ngilang
lagi ya, ‘Nyet,” bisiknya.
“Kecuali kalo lagi berburu pisang,” bisik Kugy lagi.
Noni tertawa. “Gua cabut ke Jakarta dulu. Gua tunggu
.............. ............ ...... ............ .............. ........
Kugy menelan ludah. Jantungnya terasa mengkeret se163
kian senti. “Rumah Wanda?” ia berusaha meyakinkan pendengarannya.
“Yup. Gua bikin garden party, minjem halaman rumahnya
Wanda yang segede setan. Pokoknya bakal mantap banget.
Wanda yang jadi EO-nya. Tugas lu tinggal datang dan
have fun,.. ............ .......... .......... .............. ............ ........ See you next
week!”
Kugy balas melambai. Lama memandangi Noni yang berlari-
lari kecil dengan riang gembira sampai bayangan sahabatnya
itu menghilang di balik pintu gerbang. Terasa ada
beban baru yang menghunjam pundak Kugy begitu tahu di
mana pesta itu diadakan. Benaknya seketika bergerak maju,
membayangkan suasana pesta itu nanti, dan aneka pemandangan
yang sekiranya akan menusuk mata. Kugy masuk ke
kamarnya dengan langkah terseret. Sore ini terasa semakin
penat.
164
Wanda nyaris pingsan ketika dibawa masuk ke tempat kos
Keenan yang baru. Untung saja ia masih sanggup mengumpulkan
kekuatan untuk bertahan duduk di atas kasur tipis
di situ.
“Nan, kamu ngapain sampai harus tinggal di tempat kayak
gini? Aku hargai banget keberanian kamu untuk berhenti
kuliah demi serius melukis, tapi ... ini ... ekstrem
.................. .......... ...... ................ .......... ............ ........ .......... ................
tempat,” bujuk Wanda sambil sesekali mengelap wajahnya
sendiri dengan tisu. Bandung memang lebih sejuk
dibandingkan Jakarta, tapi kamar Keenan yang berada di
loteng dan beratapkan asbes itu terpanggang sinar matahari
siang hingga terasa panas dan pengap.
“Saya lebih baik di Bandung, Wan. Biaya hidup di sini
lebih murah. Dan saya bisa mempersiapkan diri untuk melukis
tanpa banyak diganggu,” ujar Keenan sambil membuka
jendela dan pintu lebar-lebar agar ada angin yang berembus
masuk.
“Gimana mungkin kamu melukis di tempat busuk
19.
TRAGEDI PESTA NONI
165
begini?” tukas Wanda, tangannya tak henti-henti mengipasngipas
muka. “Keluargaku punya villa di Puncak. Nanti aku
bisa bilang Papi kalo kamu mau tinggal di situ dulu buat
melukis. Aku yakin Papi bakal kasih izin. Gimana?”
“Nggak usah. Di sini enak juga kok kalo sudah malam.
Bisa lihat langit luas, tinggal selonjoran aja di luar,” Keenan
tersenyum, “mau coba?”
Wanda melengos. “Mau berapa lama kamu tinggal di
sini?”
Keenan mengangkat bahu, “Nggak tahu. Yang pasti,
begitu saya sudah punya cukup modal dari hasil penjualan
lukisan, saya pasti cari tempat tinggal yang lebih baik. Tapi
saya nggak mikirin itu dulu sekarang. Yang penting saya
mempersiapkan diri untuk pameran, melukis sebanyakbanyaknya.”
“Mentang-mentang objek lukisan kamu anak-anak melarat,
jadi kamu harus ikut-ikutan melarat, ya?” kata Wanda
ketus seraya melipat tangannya di dada.
Keenan mengeraskan rahangnya, mengumpulkan kesabaran.
“Saya bisa antar kamu pulang ke hotel kalau memang
kamu udah nggak betah di sini. Kita ketemu besok
untuk bareng ke Jakarta. Oke?”
“Kamu nanti nginap di mana kalau di Jakarta? Kamu kan
nggak bisa pulang ke rumahmu. Aku bukain kamar di hotel,
ya? Aku nanti temenin kamu.”
“Nggak usah. Saya tinggal di tempat Bimo.”
Mendengar jawaban Keenan, Wanda pun bangkit berdiri.
“Ya udah, terserah. Aku mau pulang sendiri aja. Kita ketemu
besok,” katanya pendek.
Keenan tahu Wanda sedang merajuk. Namun, ia memilih
untuk tidak menahannya dan membiarkan Wanda pergi.
Di depan pintu, tahu-tahu Wanda berbalik. Mukanya merah
padam. Antara kepanasan dan kesal. “You know what,
166
Nan? Aku udah nggak bisa ngitung berapa cowok yang setengah
mati berjuang ngedeketin aku hanya untuk dapat
sepuluh persen perhatian yang aku kasih ke kamu. Mungkin
........ ........ .......... .............. .............. .......... .............. ........ ..............
Punggung itu lantas berbalik sekaligus, bergegas pergi.
“Wan ... hati-hati ….”
Terdengarlah suara batok kepala beradu dengan kayu.
Keenan kontan meringis. “Atap di atas tangga itu rendah
banget. Kamu harus nunduk—”
Namun, Wanda sudah tak mau dengar apa-apa. Suara
hak sepatunya terdengar beradu buru-buru dengan tangga.
Kekesalannya dengan tempat itu lengkap sudah.
Kesempatan untuknya libur akhirnya tiba. Walaupun cuma
sehari, Kugy memanfaatkan waktu luang itu sebaik-baiknya.
Setelah seharian bermalas-malasan dan main ke warnet,
Kugy pergi ke supermarket sendirian untuk mengisi lemari
makanannya yang sudah kosong. Sambil bersenandung,
Kugy menenteng keranjang belanjanya ke bagian minuman
untuk memborong jus buah kesukaannya.
Terperanjatlah ia melihat Wanda sedang berbelanja,
mengambil minuman yang sama. Kugy cepat-cepat kabur ke
area lain. Namun, perasaannya mengatakan bahwa Wanda
juga berjalan ke arah yang sama. Tepat di belakangnya.
Kugy sibuk berdoa supaya Wanda tidak mengenali sosoknya.
Di area perabot rumah tangga, Kugy pun terpojok. Tak
bisa menghindar lagi. Wanda sedang berjalan lurus ke arahnya.
Spontan, Kugy mencomot segagang sapu. Melindungi
mukanya di balik ijuk hitam. Langkah itu terdengar semakin
dekat. Kugy berusaha mengingat-ingat mimpi sial apa yang
167
dialaminya tadi malam hingga hari ini bisa berbelanja di
supermarket yang sama dengan Wanda, dengan jalur belanja
yang sama pula.
“Kugy?” Suara itu menyapa sekaligus bertanya.
Terpaksa, Kugy menurunkan gagang sapu itu. Meng-
.............. ............ .............. .......... ................ .................. ..........................
Belanja sapu juga?”
“Nggak. Aku cuma lewat aja,” Wanda tersenyum manis,
“sapunya gede banget, Gy. Buat nyapu jalan?”
“Buat terbang,” Kugy membalas dengan senyum yang lebih
manis. “Sampai kapan di Bandung?”
“Nanti juga udah pulang ke Jakarta. Bareng Keenan. Aku
lagi belanja buat dia, nih. Kasihan, dia kan suka kerja sampai
malam, suka nggak ada makanan,” Wanda lantas menunjukkan
keranjangnya yang sudah penuh sesak.
“Kalo sebanyak itu sih dia pasti butuh bantuan. Nanti
aku bantu ngabisin deh,” Kugy terkekeh.
Kening Wanda berkerut. “Memangnya kamu tahu tempat
tinggal dia yang baru?”
“Memangnya dia pindah dari tempat kosnya?” Kugy gantian
terheran-heran.
Senyum manis kembali menghiasi muka Wanda. “Kamu
nggak tahu, ya? Keenan udah berhenti kuliah. Dia mau total
melukis. Dan dia pindah kos.”
Mulut Kugy otomatis menganga. “Keenan berhenti kuliah?
Kok—dia—nggak kasih tahu, ya?” ucapnya terbata.
“Kayaknya dia cuma kasih tahu orang-orang dekat aja,”
ujar Wanda sambil mengangkat bahu. “Anyway, dia lagi sibuk
mempersiapkan diri buat pameran. Sesudah itu dia
akan pindah ke Jakarta, bareng sama aku. Karena sesudah
itu kami berdua harus keliling bareng untuk promosi lukisannya,”
tuturnya ringan, “dia masih ribut sama keluarganya
gara-gara keputusannya berhenti kuliah. Makanya …,”
168
Wanda mengembuskan napas panjang, mukanya tampak
prihatin, “selain aku, dia nggak punya siapa-siapa lagi
sekarang.”
Kugy lama terdiam. Berusaha mencerna keterangan
Wanda satu per satu. “Salam buat Keenan, ya.” Kugy akhirnya
berkata pelan.
Wanda mengangguk. “Kamu datang ke acaranya Noni,
kan? It’s going to be fun. Noni, Eko, aku, dan Keenan, akan
jadi host-nya.”
“Aku usahakan,” jawab Kugy ringkas. Ia pun pamit pergi
dari situ. Kugy berjalan pulang untuk menenangkan hatinya
.......... ........................ ...... ........ .......... ............................ ..........................
Benang kusut itu terasa tambah kusut. Kugy sungguhan
kaget dengan keputusan Keenan, sekaligus kecewa karena
tak diberi tahu langsung. Ia pun patah hati mengetahui kedekatan
Wanda dan Keenan yang sedemikian dalam. Mendadak,
Kugy merasa bodoh. Selama ini ia menyangka punya
tempat spesial dalam hidup Keenan. Ternyata ia salah. Diri-
........ .......... ........ ............ .......... .............. ........ ................
Jakarta, September 2000 ...
Halaman luas dengan kolam renang itu mulai dipenuhi
orang-orang yang berseliweran. Obor-obor mulai dipancangkan
di taman, dan meja-meja berisi makanan mulai mengambil
posisi. Wanda tampak yang paling sibuk hilir mudik
mengatur ini-itu.
Noni menyaksikan persiapan acaranya sendiri dengan
muka tegang. Di kelompok perkawanan mereka, selain
Wanda yang dijuluki “Miss Matching”, dan Kugy yang dikenal
sebagai “Mother Alien”, Noni menyandang gelar sebagai
“Madam Perfect”. Bagi Noni, segala sesuatu harus sempurna
169
dan bebas error. Tahu-tahu sikutnya disenggol oleh Eko.
“Kamu tuh, rileks dong, Sayang. Jangan segalanya dipikirin.
Kan udah banyak yang bantuin. Ada aku, Wanda,
Keenan …,” celetuk Eko.
“Anak-anak pasti datang nggak, ya? Kalo tahu-tahu nanti
sepi gimana, Ko? Kok, sampai jam segini masih belum ada
yang nelepon atau kasih kabar. Yang dari Bandung kalo
tahu-tahu pada ngebatalin pergi gimana, ya?” rentet Noni
gelisah.
“Ya udah, kita pesta sendiri aja. Makan sampai bego,”
Eko tertawa.
............ .............. ............ .............. ................ .............. .......... ........
berut.
.................... ........ .......... .......... ............ ........................ .......... ............
stres, dibercandain kamu stres juga, ya mendingan bercandalah.
Minimal aku yang hepi.”
“Kugy datang kan, ya?” kata Noni sambil menggigit kukunya.
“Pastilah. Gila aja kalo sampai dia nggak muncul.”
“Medalinya udah siap, kan, Ko?”
................
Bandung, September 2000 ...
Sudah setengah jam lebih Kugy memandangi ransel besarnya
yang tergeletak di lantai dalam keadaan kosong. Sudah sedari
tadi seharusnya ransel itu terisi. Sudah sedari tadi pula
dirinya harus bersiap dan berangkat ke stasiun kereta api.
Namun, sedari tadi Kugy diam di tempat duduknya. Membayangkan
apa yang terjadi jika ia tidak datang, sekaligus
apa yang terjadi ia jika hadir di pesta itu.
Jika ia tidak datang, Noni pasti kecewa. Dan makin ge170
naplah kesimpulan sahabatnya itu bahwa ia memang berubah,
menghindar, dan menjauh. Jika ia datang, hatinyalah
yang remuk.
Kugy membuka jaketnya, melemparkannya ke lantai, lalu
mengempaskan tubuhnya ke kasur. Setengah dari dirinya
kesal sendiri, menyadari betapa manusia satu itu telah mengacaukan
hidupnya, membuat ia kehilangan kemampuannya
untuk cuek dan berlagak tak peduli. Keenan telah membuatnya
seperti orang lumpuh.
Setengah dari dirinya pun takjub dan terpana. Baru kali
itu ia menyadari betapa dalam perasaannya untuk Keenan
dan betapa jauh hatinya telah jatuh. Dan sebagai kesimpulan,
Kugy tahu bahwa ia akhirnya memilih tidak pergi.
“Maaf ya, Non …” bisiknya sendirian.
Jakarta, September 2000 ...
Halaman itu kini dipadati manusia. Lilin dan obor menyala
di segala sudut. Musik berdegup dari pengeras suara. Semua
orang tampak menikmati suasana. Namun, muka Noni
masih seperti baju tak disetrika.
Untuk kesekian kalinya, Noni mendatangi Eko. “Udah
telepon ke rumahnya? Dia udah sampai?” tanyanya resah.
“Kata orang rumahnya, dia nggak jadi ke Jakarta. Kalaupun
iya, pasti langsung ke sini, dan nggak pulang dulu,”
jawab Eko, berusaha setenang mungkin.
“Nggak jadi ke Jakarta?” Mata Noni membelalak.
“MUNGKIN, Noni. Mungkin nggak jadi. Nggak ada yang
tahu pasti, oke?” Eko berusaha meredam kegelisahan pacarnya,
“HP-nya mati dari tadi. Telepon di tempat kos juga
nggak ada yang angkat.”
“Keterlaluan deh Kugy …,” Noni berkata lirih.
171
Kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Terdengar suara seseorang memanggil mereka dari ke-
................ .............. .......... .............. .......... .......... .............. .................... ...... ............
............ ............ .......... ............
Lunglai, Noni berjalan ke dekat meja tempat kuenya
nanti dipajang. Wanda berdiri di sana sambil senyumsenyum.“
Hi, guys. Aku punya bonus buat kalian,” Wanda
menyambut mereka dengan dua gelas berisi champagne.
“Dom Perignon. Aku ambil satu botol dari lemarinya Papi.
Ssst, diam-diam ya, ini khusus buat kita doang, lho,” Wanda
cekikikan sendiri.
Eko mengambil satu gelas. Sementara Noni menggeleng,
“Buat lu aja, Wan,” katanya dengan muka enggan.
“Oh, come on, girl! Have fun! Kenapa sih muka lo kusut
banget?” tanya Wanda seraya menenggak isi gelas yang ditolak
Noni.
“Kita mulai aja tiup lilinnya, yuk?” ajak Noni langsung.
“Oke. Semuanya udah siap, kan?” Wanda pun meletakkan
gelasnya yang sudah kosong dalam sekejap itu. “Medali yang
mau dikasih ke Kugy udah ada, Ko?”
Tangan Eko spontan merogoh ke kantong belakangnya.
Memastikan barang itu ada. Noni punya ide sejak lama ingin
mengalungkan medali-medalian untuk Kugy pada pesta
ulang tahunnya yang ke-20 ini sebagai tanda persahabatan
mereka. Sebuah medali emas yang mereka berdua pesan di
toko olahraga, bertuliskan: Sahabat Terbaik dan Terawet.
Eko menelan ludah. Meski medali itu telah terparkir dengan
baik di kantongnya, ia tidak yakin benda satu itu akan punya
manfaat malam ini.
“Pakai aja medalinya buat ganjal meja,” gumam Noni seraya
ngeloyor pergi.
172
Tidak ada yang tahu bahwa sebetulnya pesta ulang tahun
Noni itu sudah rusak berantakan. Sebagian besar tamu yang
diundang dari luar Jakarta tidak datang. Dan yang paling
fatal adalah ketidakhadiran Kugy. Prosesi penyerahan medali
“Sahabat Terbaik dan Terawet” yang telah disiapkan matang
oleh Noni tidak terjadi. Namun, keempat sekawan itu mampu
bersandiwara dengan baik, hingga tamu-tamu yang hadir
merasa pesta itu berjalan baik-baik saja. Yang ganjil hanyalah
Noni yang menghilang dengan cepat, mengakibatkan
acara usai lebih dini dari yang diperkirakan. Pukul sepuluh,
hampir semua tamu sudah pulang. Segelintir orang saja
yang tersisa, dan sebagian besar adalah pegawai-pegawai
dari rumah Wanda sendiri.
Keenan mendatangi Eko yang sedang ikut gotong-royong
membereskan kursi. “Ko, Noni mana, sih?” tanyanya.
“Migraine,” Eko melengos, “biasalah, si Madam Perfect
satu itu. Nggak tahan stres. Masih untung larinya cuma tiduran,
nggak ngadu-ngaduin kepala ke tembok.”
“Lu yakin Noni nggak apa-apa?”
20.
KEBOHONGAN GIGANTIS
173
Eko mengangguk, “Tadi udah tidur, kok. Dan ada kakaknya
yang nemenin juga,” jawabnya, “kayaknya justru elu
yang harus ngejagain seseorang.”
“Siapa?”
Eko tak langsung menjawab. Dari bawah kolong meja, ia
mengeluarkan sebotol Dom Perignon yang sudah tiga perempat
kosong. “Kalo tadi nggak gua sita, udah pasti botol
ini kering sampai tetes terakhir. Tinggal jadi vas bunga.”
“Wanda ...?” Keenan terenyak. “Dia di mana?”
Eko mengangkat bahu. “Mendingan lu cari dia sekarang
dan langsung antar ke kamarnya. Kalau sampai Om Hans
lihat anaknya mabok champagne hasil curian, wah ... kita
semua pasti kena.”
Keenan cepat mengedarkan pandangannya. “Oke, gua cari
dia.”
Tampak siluet dua orang sedang berjoget di pojokan dekat
kolam renang, diiringi alunan musik dari plat yang masih
aktif berputar. Keenan seketika mengenali keduanya: Wanda
dan Ivan, DJ pesta malam itu.
“Hi, babe ... kamu ke mana aja?” Berseri-seri, Wanda menyapa
Keenan. Gerakannya tampak terhuyung-huyung.
Justru Ivan yang kelihatan tersentak, dan langsung buruburu
melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang
Wanda. “Hai, Nan. Whassup ...,” sapanya, berusaha santai.
Keenan tak menjawab. Tangannya langsung merentang,
mengajak Wanda pergi. “Wanda, kamu mabok,” tandasnya
langsung. “Saya antar kamu ke kamar. Sekarang.”
Wanda menyambut tangan Keenan sambil sempoyongan.
Berat tubuhnya seketika dijatuhkan ke dekapan Keenan. “I
can’t walk ...,” bisiknya di kuping Keenan.
174
“Kalau kamu masih bisa joget, kamu pasti masih bisa
jalan. Ayo,” dengan nada tegas, Keenan melepaskan rangkulan
Wanda lalu menggandengnya.
Susah payah, Wanda pun berusaha mengikuti langkah
Keenan. “Nan ... jangan cepat-cepat dong,” rajuknya.
Namun, Keenan tak menghiraukan, ia terus berjalan dengan
irama yang sama, dan tangannya tak lepas menggiring
Wanda.
Sesampainya di depan kamar Wanda, Keenan baru menghentikan
langkahnya. “Kamu nggak seharusnya minum sebanyak
itu. Kontrol sedikit, kenapa sih?” tegurnya pedas.
Wanda menatap lurus-lurus mata Keenan, dan malah tersenyum.
“Kamu marah karena aku minum, atau karena—
Ivan?” tanya Wanda, dan senyumnya terus melebar, “Are
you jealous?”
“Dari yang saya lihat, Ivan cuma efek samping. Penyebab
utamanya karena kamu kebanyakan minum. Kamu beruntung
ayah kamu belum pulang,” tandas Keenan lagi.
Wanda tertawa ringan, “Ah, he wouldn’t know the
difference. Papi lebih jago membaca lukisan daripada anaknya
sendiri ....”
“Kamu harus istirahat, Wanda. Minum air putih yang banyak.
Mandi air panas dulu kalau perlu,” ujar Keenan seraya
membukakan pintu kamar itu. “Saya pulang dulu, ya.”
“What?” Wanda langsung menarik Keenan masuk, lalu
................ ............ .................... ............ ............ ............ ................
Sejenak Keenan melirik pintu yang sudah tertutup di balik
punggungnya. Dan seperti membaca gerak mata Keenan,
Wanda cepat menyelinap dan bersandar menghalangi
pintu.
“Wanda ... please ... jangan kayak anak kecil ... saya
harus pergi,” ujar Keenan setengah mengeluh.
“Why? Kenapa harus pergi? Aku mau kamu temenin aku.
175
Dan kamu kan pacarku. I want you to stay.”
“Karena kamu lagi nggak sober, that’s why,” Keenan berkata
lagi, “dan saya nggak mau kita melakukan hal yang
bodoh hanya karena kamu mabok.”
Mendengar perkataan Keenan, Wanda tertawa lepas.
.......... ........ ............ ................ .......... ............ .......... ................ ................
lantang. Dengan gerakan sekaligus, Wanda merangkul leher
Keenan, “Kamu bisa bayangin apa yang dilakukan cowok
kayak Ivan kalau dia punya kesempatan ini? Di kamar ini,
berdua sama aku?” bisiknya dengan bibir yang ditempelkan
di atas bibir Keenan.
Sontak, Keenan menahan napas, menarik jauh lehernya.
“Wanda, tolong dengar baik-baik. Bukannya saya nggak
mau, dan bukannya saya nggak ngerti kesempatan apa yang
saya punya. But you’re drunk. This is not right.”
..............You’re such a hypocrite!” teriak Wanda kesal. “Gue
............ ............ ........ ...... ............ .............. .......... ............ .......... ............
alasan sober atau nggak. You never wanted me. You never
loved me. You never did! Padahal gue udah mati-matian
.......................... .................... .......... .......... ........ .......... ........ ............
.................. .......... ..........
Keenan terdiam. Walaupun ia tahu Wanda tidak sedang
dalam keadaan sepenuhnya sadar, tak urung kata-kata itu
kembali mengusik rasa bersalahnya. Lembut, ia berusaha
menarik Wanda dan mendekapnya. Namun, Wanda sudah
terlalu emosional. Ditepiskannya tangan Keenan dengan kasar.
.......... ............ ............ .................. ........ ............ ............ ........................
Gue ogah terus ngemis-ngemis perhatian sama lo kayak orang
..........................................................................................................................
tangannya mengacung tegas menunjuk ke arah pintu. “Pulang
..............................................................................................................
Keenan berusaha mencamkan pada dirinya sendiri bahwa
176
Wanda sedang dipengaruhi alkohol, bahwa ia tidak sungguhsungguh
mengucapkan itu semua. Dengan nada sewajar
mungkin, Keenan mencoba pamit dengan sopan, “Ya, udah.
Kamu istirahat malam ini, ya. Saya akan mampir ke sini lagi
besok ....”
“Apa bedanya besok sama malam ini? Memangnya kalau
besok lo jadi mau sama gue?” sambar Wanda dengan nada
yang semakin tinggi, “Forget it,.. ................ There will be no
tomorrow for you!”
Dengan gerakan sempoyongan, Wanda lantas membungkuk,
menyibak bed cover tempat tidurnya yang menjuntai
menyentuh lantai, lalu menarik keluar gulungan-gulungan
.............. .............. .............. .......... .......... .............. .............. ............ ..............
paskan benda-benda itu.
Kerongkongan Keenan seperti tercekat. Perasaannya langsung
tak enak. Diambilnya satu gulungan itu, membuka sedikit
lapisan karton pembungkusnya. Begitu Keenan tahu
bahwa gulungan itu adalah kain kanvas, seketika lututnya
terasa lemas. Jantungnya berdegup kencang. Keenan menyadari
jumlah gulungan karton itu pun persis sama ...
empat. Jumlah lukisannya yang dipajang di Galeri Warsita
dan dilaporkan telah laku terjual.
Dengan sedikit gemetar, Keenan menghampiri Wanda.
“Tolong jelaskan sebisa kamu, kenapa lukisan saya bisa ada
di sini?” tanyanya dengan suara tertahan.
................ ........ ................ ...... .............. .......... .......... ............
Keenan mematung. Berusaha mencerna kalimat Wanda.
Berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Pikirannya
merangkaikan semua kejadian selama ini, menghubungkannya
dengan intuisi yang selama ini tak pernah bisa ia
jelaskan. Peristiwa demi peristiwa terhubung, dan ia seolah
menyaksikan sebuah kebohongan menggelembung, merekah
kian besar, dan kini berdiri lurus-lurus di hadapan. Keenan
serta-merta memalingkan muka, tak kuat melihat Wanda.
177
Saat menyaksikan perubahan air muka Keenan, mulai
timbul rasa panik di hati Wanda. “Nan ..., aku nggak bermaksud
jahat. Aku cuma ingin nolong kamu ...,” katanya
terbata.
Keenan merasa kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia
cerna. Kepalanya berputar. Hatinya teraduk-aduk. Galeri
Warsita, cek itu, rasa percaya dirinya, keyakinannya untuk
melukis ... impiannya musnah satu demi satu dalam
hitungan detik.
Seiring dengan kedoknya yang ikut meluruh, air mata
pun mulai membasahi mata Wanda. Kemarahannya yang
tadi meledak-ledak berganti dengan esktrem menjadi tangis
tersengguk-sengguk. “Nan ... I’m sorry ... aku tahu itu salah.
Please understand, aku sayang banget sama kamu ... don’t
leave ... please ....” Wanda tahu-tahu melorot, bersimpuh di
atas kedua lututnya, memeluk kaki Keenan.
Kembali Keenan hanya mematung. Matanya melirik
Wanda yang menangis menjadi-jadi sambil merangkul erat
pahanya. Terasa celana panjangnya melembap karena air
mata. Namun, Keenan tak mampu bereaksi apa-apa, ingin
bicara pun tidak. Kegalauan yang ia rasakan ternyata melampaui
amarah, melampaui segala reaksi emosi yang ia
kenal.
Lama Keenan membiarkan Wanda tersedu-sedan sambil
meratapkan segala penyesalannya, hingga perlahan, Keenan
melepaskan rangkulan tangan Wanda di kakinya, lalu menariknya
lagi untuk kembali berdiri.
“Keenan ... please, say something, anything ... kamu
boleh marah-marah kayak apa aja, aku rela, aku siap terima,
tapi jangan pergi ....”
Keenan memungut gulungan-gulungan itu dengan hati
remuk redam. “Uang kamu akan saya kembalikan. Utuh.
178
Dan saya akan bawa pulang lagi semua lukisan ini,” katanya
lirih.
Wanda menatapnya pilu. “Nan ... jangan pergi ...”
“Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda,” desis
Keenan sambil membuka pintu, “tapi kamu nggak akan pernah
bisa membeli saya.” Dipanggulnya keempat lukisan itu,
berjalan pergi dan tak menoleh lagi.
Bandung, September 2000 ...
Ada lima silinder karton yang sudah dibawanya ke kantor
ekspedisi itu: empat lukisan yang ia bawa dari rumah
Wanda, dan satu ikut ditambahkannya: lukisan “Jenderal
Pilik dan Pasukan Alit”.
“Formulirnya sudah selesai?” Petugas itu bertanya sambil
melirik formulir yang sedari tadi diberikannya pada Keenan
tapi tak kunjung diisi.
“Sebentar, Pak ...” jawab Keenan. Dilihatnya sekali lagi
kelima silinder yang sudah tergulung dan terikat rapi itu.
Dengan berat, akhirnya ia melengkapi formulir pengiriman
paket tersebut.
Setelah formulir dikembalikan, petugas tadi mengecek
sekali kelengkapan isian Keenan. “Ubud—Bali, ya? Tigaempat
hari sudah sampai,” gumamnya. “Ada yang bisa dibantu
lagi?”
Keenan menggeleng.
Petugas lain pun datang untuk mengambil gulungangulungan
itu.
“Pak ... tolong hati-hati,” sela Keenan cemas, “bisa tolong
ditempel stiker ‘fragile’? Dan jangan sampai kena air. Tolong
ya, Pak. Makasih.”
179
Sambil tersenyum maklum, petugas itu menyiapkan
stiker-stiker petunjuk yang diminta Keenan.
Sampai kelima benda itu dimasukkan ke gudang, mata
Keenan tak lepas mengawasi. Sejenak lagi, kelima lukisannya
akan berlayar ke Pulau Dewata, dan Keenan merasa benarbenar
seperti hendak melepaskan mereka ke khayangan.
Entah kapan bisa melihatnya lagi.
Dalam hati, ia telah mengucapkan selamat tinggal pada
impiannya, pada lukisannya. Namun, apakah ia sungguhan
siap, Keenan tak berani lagi memeriksa. Yang ia tahu dan
yakini, lukisan-lukisan itu akan berada di tangan yang baik.
Saat ini, itulah yang lebih penting.
180
Setengah jam yang lalu, kamar itu masih gelap. Sekarang
cahaya lampu sudah membayang dari tirai jendela, dan
papan berhuruf warna-warni yang tergantung di pintu sudah
bertuliskan: NONI ADA. Kugy memandangi kamar itu dengan
hati kecut.
Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun itu, dan baru malam
ini Noni kembali dari Jakarta. Mereka belum bicara lagi
sejak itu. Tepatnya, Kugy tak punya cukup keberanian untuk
menghubungi Noni. Sampai hari ini pun lidahnya masih
kelu, tak tahu harus bilang apa.
Pintu itu membuka. Noni keluar dari dalam membawa
kantong sampah yang siap dibuang. Kugy pun tersentak.
Namun, sudah terlambat untuk bergerak ke mana-mana.
Noni mengangkat mukanya sedikit, menyadari bahwa ada
Kugy sedang berdiri di koridor. Cepat, mata Noni berpaling
ke arah lain.
“Hai, Non ...,” Dengan suara pelan dan sedikit bergetar,
Kugy menyapa.
Noni tak menjawab, melirik pun tidak. Ia berjalan keluar
seolah Kugy tak punya wujud.
21.
HAMPA YANG MENYAKITKAN
181
Sempat melintas di pikiran Kugy untuk mengejar Noni
dan berbicara lebih panjang, tapi kakinya terasa kaku. Ia tak
punya cukup nyali. Akhirnya Kugy masuk ke kamarnya. Ia
sadar, sebuah perang dingin resmi dimulai. Dan entah kapan
akan berakhir.
Pukul sepuluh malam. Lambungnya riuh rendah seolah tengah
berlangsung pertandingan bola. Terakhir dia makan
adalah tadi siang, dan tampaknya lambungnya tak akan mendapat
olahan baru sampai besok siang lagi.
Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya, berbisik sendirian,
“Sabar, ya. Jangan masuk angin dulu, karena saya
harus lihat langit.”
Terduduklah Keenan di dekat jemuran yang bisa ia datangi
dengan cuma membuka jendela kamar. Di sana ia bisa
memandang hamparan atap rumah lain beserta pendarpendar
lampu di rimba gang yang padat ini.
Keenan menengadah. Dari tempat ia duduk, langit tampak
berhiaskan saling-silang tali jemuran, beberapa kolor
dan jins tidak kering yang tampak masih diangin-anginkan.
Tidak apa-apa, pikirnya. Memandang angkasa malam adalah
pelipur sederhana yang membantunya sedikit merasa
lebih baik.
Sesungguhnya, Keenan tak keberatan dengan rasa lapar
ini. Baginya, itulah bagian dari konsekuensi yang harus ditanggungnya
dengan mengirit setiap rupiah dari sisa uangnya
yang tak seberapa lagi. Namun, tak ada yang bisa mengobati
kekosongan jiwanya. Dan rasa kosong ini lebih
menyakitkan dari apa pun.
Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia
ini tidak cukup membelinya, pikir Keenan getir. Uang me182
mang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. Rasa percaya dan
uang ada di dimensi yang sama sekali lain. Kini ia yakin
itu.
Ludahnya terasa memahit. Baru kali ini ia merasa prihatin
pada dirinya sendiri. Kalau bisa, ia ingin mengirim
kembang tanda dukacita. Tak punya rasa percaya ... tak
ada kebanggaan ... hampa. Dan kembali Keenan merenung:
bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti
tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti
tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.
Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang diputar di
kamarnya:
“Fare thee well my bright star
It was a brief, brilliant miracle dive
that which I looked up to and I clung to for dear life
... your last dramatic scene against a night sky stage.”
Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. Rasa sedih.
Masa gemilang itu datang, sekejap, dan tak lebih dari sebuah
drama besar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang
yang bermimpi melampaui skenarionya.
Tiba-tiba wajah neneknya di Amsterdam melintas.
Keenan teringat hari terakhir mereka bersama, saat Oma
memasakkannya sup kacang merah yang mereka nikmati
dalam hening. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan
tak tuntas terungkapkan. Keenan mengkhayalkan bisa kembali
ke sana malam ini, meninggalkan semuanya tanpa kecuali.
Namun, kedua kakinya hanya sanggup mengantarkannya
ke atap itu. Tak bisa lebih jauh lagi. Ingatan akan Oma
dan langit malam berbaur. Semuanya lebur dan tampak
kabur dari mata yang basah oleh air mata.
183
Bandung, Oktober 2000 ...
Kugy tak bisa melupakan pagi ini. Untuk pertama kalinya ia
pindah mengajar ke saung baru yang dibangun oleh orangorang
kampung. Keberadaan Sakola Alit serta konsistensi
Ami dan kawan-kawan akhirnya menarik simpati penduduk
sekitar. Berkat gotong-royong warga, satu saung baru didirikan.
Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar di
Sakola Alit terganggu karena musim hujan sudah tiba, sementara
mereka tahu bahwa ada kelas yang selama ini dijalankan
di bawah pohon.
Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tempat
baru mereka, tak urung muka anak-anak pagi itu kusut
karena hari ini mereka belajar perkalian dan pembagian.
Kugy mengamati anak didiknya yang tampak mutung dan
tak bergairah. Ia sendiri mulai ikut putus asa. Belum berhasil
mendapatkan cara yang lebih kreatif untuk mengajar.
Tiba-tiba seorang muridnya, Dadi, berlari ke arah saung
dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk
ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gigi
serinya yang ompong. “Bu Ugiiii ... ada Pak Guru Rangginang
...,” serunya lantang.
Rangginang? Kugy bertanya dalam hati. Saat ia melongok
ke arah yang ditunjuk Dadi, sadarlah ia siapa yang
dimaksud anak itu. Dan sungguhan Kugy tak siap. “Keenan
…,” desisnya.
Sejenak Kugy menunduk, memejamkan mata, berusaha
mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekejap, tawa
segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria,
............................................................................................................
Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika memenuhi
rongga hatinya melihat tawa lebar Kugy yang khas.
Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya
184
matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan
senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun
membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang
lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan murni.
Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari
perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan
kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun menyadari,
perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya
sendiri.
“Apa kabar, Kecil?” sapa Keenan. “Kamu kok tambah kecil
....”
“Pemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi
asupan makanan ke badanku agak berkurang,” Kugy terkekeh.
“Kamu juga kurusan. Kamu baik-baik?”
Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. “Lumayan,”
jawabnya singkat.
Kehadiran Keenan seketika membawa suasana berbeda.
Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan
membebaskan mereka dari pelajaran yang memusingkan
pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil
...................... .................. ................ ................
.......... .......................................... ................ ................ .............. ......
lian tetap harus belajar Matematika ....”
Ucapan Kugy disambut riuh protes.
Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggambar.
Dengan cepat, ia menggambar enam layang-layang.
“Ayo, dihitung, layang-layangnya ada berapa?”
Anak-anak itu berhitung dari satu sampai enam.
“Sekarang ... Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang
ini dengan Dadi,” Keenan menarik garis, “Jadi, Pilik punya
berapa, dan Dadi punya berapa?”
................ .............. .................. ..................
185
Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari itu ia
harus membiarkan kelasnya diambil alih oleh Keenan.
Kelas Kugy bubar agak lebih siang dari biasanya. Persis seperti
kunjungan Keenan sebelumnya, layaknya penggemar
bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan
Keenan lebih lama agar lebih banyak menggambar.
Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong
membereskan saung.
“Kadang-kadang aku berharap kamu jadi pengajar tetap
di sini,” kata Kugy.
“Supaya?”
“Ya, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggambar,
dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara pengajaran
kreatif yang bisa kamu lakukan, yang aku sendiri
nggak sanggup ....”
“Oh. Kirain biar kita tiap hari ketemu,” celetuk Keenan
jahil.
Kugy tergelak. “Ya, itu boleh juga jadi bonus. Aku nggak
keberatan ketemu kamu tiap hari.”
“Saya juga nggak.”
Keduanya terdiam sejenak. Kugy tahu-tahu meletakkan
ransel yang tadinya sudah siap disandangkan di bahu.
“Kamu ke mana aja sih, Nan?”
“Ada,” sahut Keenan setengah menggumam.
“Kok nggak bilang-bilang kamu pindah tempat kos?”
“Ceritanya panjang, Gy.”
“Kamu bisa mulai cerita sekarang,” tegas Kugy sambil
duduk bersila.
“Saya udah nggak kuliah lagi dari awal semester. Saya
mengundurkan diri,” Keenan bertutur sekenanya.
186
“Ya, aku tahu. Dari Wanda ...” Kugy menyahut lirih. “Keluarga
kamu gimana? Mereka setuju?”
“Saya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak
setuju pastinya.”
Lama Kugy termenung. Segaris senyum lalu membersit
di wajahnya. “Kamu berani banget, Nan. Aku salut.
Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar
itu,” ucapnya tulus.
“Saya nggak melukis lagi.”
Kugy nyaris mencelat dari lantai. “Ke—kenapa?” tanyanya
terbata.
“Saya salah selama ini, saya pikir melukis adalah jalan
hidup saya, tapi ternyata bukan,” jelas Keenan dengan datar.
“Tapi ... bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ketemu
Wanda, dan dia cerita kalau kamu lagi konsentrasi
melukis, terus kamu bakal keliling-keliling, pindah ke
Jakarta ...”
Keenan tersenyum samar. “Dia cuma bercanda. Pameran,
galeri, keliling-keliling ... semuanya cuma bercanda.”
“Aku nggak ngerti ...,” Kugy menggelengkan kepala, “maksud
kamu ... rencana pameran itu nggak pernah ada?”
“Om Hans sejak awal sebetulnya nggak setuju lukisan
saya masuk ke Warsita, karena menurutnya karya saya belum
matang. Tapi karena Wanda yang minta, lukisan saya
bisa lolos.”
“Iya ... tapi kan ... lukisan kamu pada akhirnya laku.
.............................. .............. .............. ........ ........ ................ ............ ............
................ .......... .............. ....................
“Oleh satu orang tepatnya,” Keenan berkata getir, “Wanda.
Dia yang ternyata membeli semua lukisan saya, dan disembunyikan
di rumahnya. Saya nggak sengaja tahu. Dia
yang kelepasan gara-gara mabok waktu ulang tahun Noni.”
187
Kugy menatapnya tak percaya, “Jadi ... selama ini ...”
“Selama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya
yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah
siapa-siapa kok, Gy,” Keenan tersenyum samar, “saya nggak
menyalahkan Wanda, apalagi Om Hans. Saya yang terlalu
bego.”
“Bukan berarti kamu harus mengorbankan impian kamu
gitu aja dong, Nan. Masa cuma gara-gara seorang Wanda
kamu jadi berhenti melukis ...,” protes Kugy tak tertahankan.
“Ini bukan masalah Wanda,” potong Keenan keras, “kamu
bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah,
saya sudah keluar dari rumah. Dengan naif dan yakinnya
saya merasa bisa membuktikan sama keluarga saya, sama
orang-orang, kalau saya mampu mandiri dari melukis—”
........ .......... .......... .................... .............. .......... ............ ....................
“Kenapa malah berhenti?” Kugy menatap Keenan tak mengerti,
“Nan, kamu adalah pelukis paling hebat yang aku
tahu. Terserah Om Hans mau ngomong apa, Wanda punya
motivasi apa, kolektor-kolektor itu punya penilaian apa ...
buatku, kamu melukis dengan seluruh jiwa kamu, dan itu
.......... ..................
“Gy ... kalau saya memang pelukis yang sehebat yang
kamu kira, udah dari dulu-dulu Om Hans langsung meloloskan
lukisan saya. Nggak usah pakai dibujuk-bujuk sama
Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus
yang kamu kira, waktu pameran katalog barunya Warsita
sudah pasti ada yang membeli lukisan saya. Nggak perlu
Wanda yang sampai pura-pura beli.”
“Jadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelompok
orang yang entah siapa, kamu mengorbankan semua
mimpi kamu. Gitu?” Nada bicara Kugy kian meruncing.
“Wake up, Gy,” Keenan melengos, “Warsita bukan se188
kadar galeri. Dan orang-orang itu adalah kolektor lukisan
yang berpengalaman. Kamu atau Eko bisa aja bilang lukisan
saya bagus karena kalian teman-teman saya. Tapi orangorang
itu lebih tahu.”
Kugy menggeleng lagi. “No. YOU wake up! Nggak peduli
galeri bilang apa, nggak peduli orang-orang itu punya pengalaman
apa, harusnya kamu yakin sama diri kamu sendiri.”
“Bener banget,” balas Keenan tegas. “Saya harus bangun
dan lihat kenyataan. Dan ini realitasnya. Lukisan saya cuma
jadi sarana seorang Wanda yang cuma mau pe-de-ka-te. Dan
ketololan sayalah yang memungkinkan dia melakukan itu
semua.”
“Kamu bilang ini bukan masalah Wanda, tapi dari tadi
kamu bolak-balik selalu kembali mengungkit dia dan galerinya.
Justru aku yang nggak melihat bahwa ini soal Wanda
.......... .................. ........ .............. .......... .......... ........ .................... ..............
ujar Kugy setengah mengeluh. “Nan ... selama ini kamu yang
menginspirasi aku untuk tetap yakin pada impian-impianku.
Gara-gara kamu aku semangat bikin dongeng lagi. Aku
nggak rela kamu menyerah gitu aja—”
............ ............ .............. ............ .......... ................ ..........................
Nggak usah menambah beban saya dengan omongan seperti
............ .............. .................. .................. ....................
Seketika Kugy bungkam. Dengan sedikit gemetar, tangannya
membereskan sisa barangnya yang tercecer, lalu ia menyandangkan
tasnya di bahu. Bersiap pergi dari sana. “Ternyata
selama ini aku ketinggian menilai kamu ...,” desisnya
tanpa lagi menatap Keenan. Tak lama, langkah-langkahnya
yang besar membawa Kugy dengan cepat menghilang di
balik rimbunan bambu. Ia berjalan buru-buru tanpa menoleh.
Di tempatnya, Keenan duduk diam dan hanya sanggup
menatapi. Banyak kata yang ia sesali tapi telanjur terucap.
189
Namun, untuk menahan Kugy, ia bahkan tak punya percaya
diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus menyentuh
kulitnya seolah menembusi pori, memasuki nadi,
dan meninggalkan perasaan kehilangan yang menjalar ke
seluruh tubuh. Mendadak, Keenan menggigil. Tak hanya kehilangan,
ia pun merasa ditinggalkan.
190
Sendirian di kamarnya, Kugy mulai menulis seperti orang
kesetanan. Malam itu ia berniat menumpahkan semuanya
dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekejap,
bidang petak putih itu terisi penuh oleh tulisan tangannya.
Sambil menulis, tak jarang air matanya ikut terselinap, meninggalkan
jejak-jejak tinta yang memecah di atas kertas.
Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi
peduli.
Baru pada lembar ketiga, kecepatan menulisnya mulai
melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjukkan
wajah aslinya. Seharusnya ia bersukacita saat tahu hubungan
Keenan dan Wanda usai. Seharusnya ia lega ketika
tahu Keenan tidak jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan
dirinya gara-gara harus mempromosikan lukisan. Tapi ternyata
tidak. Kugy pun tersadar, inilah patah hati yang sesungguhnya.
Hatinya pernah hancur ketika tahu Keenan
harus bersama orang lain, tapi hatinya baru benar-benar
patah ketika tahu bahwa Keenan bukanlah sosok yang selama
ini ia cinta.
22.
PULANG KE UBUD
191
Pada lembar ketiganya, Kugy mulai menangis sedih. Tidak
banyak lagi yang ia tulis. Hanya beberapa baris penyesalan.
Kugy menyadari, selama ini ia telah menciptakan
sendiri ilusi tentang Keenan dan mencintai ilusi itu. Kenyataannya,
Keenan rapuh dan lemah.
Terdengar suara pintu di kamar sebelah membuka. Tak
lama, terdengar langkah Noni di koridor. Mendengar suarasuara
itu, Kugy menelan ludahnya yang terasa pahit. Tak
hanya ia kehilangan cintanya, ia pun telah kehilangan Noni
dan Ojos gara-gara cinta itu. Orang-orang yang ia cinta.
Dilipatnya lembar-lembar kertas tadi, dibentuknya menjadi
tiga perahu kertas.
Di seberang kampus, ada sebuah permukiman yang dilewati
kali. Itulah aliran air terdekat yang bisa Kugy temukan.
Pagi itu, sebelum kuliah, Kugy menyempatkan diri mampir
ke kali. Terdapat beberapa anak kecil yang sedang asyik
menangkapi kecebong. Kugy beringsut maju, menjauhi mereka.
Ia tak ingin misi pentingnya gagal secara prematur
hanya karena anak-anak tadi tak jadi menangkapi kecebong,
dan malah lebih tertarik pada barang yang ingin ia hanyutkan.
Setelah merasa berada di jarak aman, barulah Kugy berhenti
dan mendekat ke tepi kali. Dari dalam ranselnya, ia
mengeluarkan tiga perahu kertas. Tak ada saluran lain, tak
ada teman bicara lain ... hanya Neptunus, batinnya.
Satu demi satu, ia mengapungkan perahu-perahu kertasnya
ke kali.
Sesuatu seperti lepas dari hatinya seiring dengan melajunya
perahu-perahu tadi. Kugy merasa lebih lega bernapas.
Sekian lama sudah ritual ini terkubur, dan dibutuhkan
192
sekian banyak peristiwa untuk membangkitkannya kembali.
Kugy lupa betapa melegakannya perasaan ini, saat cerita dan
beban hatinya dihanyutkan air menuju lautan. Betapapun
jauhnya perjalanan itu.
Bandung, November 2000 ...
Hari pertama di bulan November. Keenan dikagetkan oleh
kedatangan Bimo yang muncul di tempat kosnya pagi-pagi.
“Hai, Nan ... apa kab—?” Bimo sampai menghentikan
kalimatnya ketika sepenuhnya menyadari apa yang ia lihat,
“gila, lu kurus banget, Nan.”
Keenan, yang berdiri di pintu, hanya tersenyum. Itu adalah
komentar klasik yang selalu ia terima setiap kali bertemu
dengan teman kampusnya.
“Hai, Bim. Masuk, yuk,” sapa Keenan seraya membuka
pintu kamarnya lebih lebar, menyilakan Bimo masuk.
“Gua mau ngasih ini,” Bimo menyerahkan sepucuk
amplop putih.
Keenan menerima surat itu dan seketika mengenali tulisan
tangan yang tertera. Alamat pengirim di sampul bela-
.......... .............. ........ .......................... ...................... ............ .......... ........
Wayan di Ubud, dikirimkan ke alamat kosnya yang lama.
“Surat ini ... kapan sampai?” tanya Keenan.
“Sebetulnya udah cukup lama, Nan. Mungkin hampir dua
minggu. Tapi baru sampai ke tangan gua semingguan yang
lalu. Dan baru sekarang gua baru sempat ke sini. Sori, ya,”
jelas Bimo.
“Nggak apa-apa. Thanks, Bim. Harusnya gua aja yang
ambil ke sana. Nggak perlu sampai lu ke sini ....”
.......... .................... ............ ...... .......... .......... .............. ............ ........ ..........
mana? Telepati? HP lu kagak punya, kosan ini kagak punya
193
.................. ........ ........ ........ ........ .................. ...... .......... .................... ..............
otak lu agak ciut ...”
“Oh, iya. Bener juga ...” Keenan ikut mesem-mesem.
“Sarapan, yuk. Gua yang traktir. Kapan lu terakhir makan
enak?”
Keenan berpikir, lalu menggelengkan kepala. “Kalau soal
enak, kayaknya sih makanan gua enak-enak aja. Tapi kalau
enak dan mahal ... hmm ... gua sampai udah nggak inget
.................. .............. .......... .......... ............
.......... .................... .............. ............ ........ .......... it is then!”
Acara sarapan bersama Bimo ternyata berlanjut hingga menjelang
sore. Keenan kembali menjenguk kampus dan nongkrong
seharian bersama teman-teman lamanya. Keenan tersadar
betapa ia merindukan kebersamaan semacam itu.
Sejak insiden di rumah Wanda, ia lama menyendiri dan mengurung
diri bak seorang pertapa. Kedatangan Bimo benarbenar
terasa bagai angin segar di tengah atmosfer jiwanya
yang pengap.
Keenan membuka jendela kamar kosnya lebar-lebar. Tempat
ini pun butuh angin segar setelah seharian tertutup dan
terpapar panas matahari siang. Ia menimang-nimang amplop
itu, bertanya-tanya adakah surat itu menjadi angin segar
berikutnya. Keenan menggeleng sendirian, seolah menyesali
pikirannya sendiri. Ia lelah berharap.
Tanpa pikir panjang lagi, Keenan membuka surat itu.
Terdapat dua lembar kertas surat bertulis tangan dan selembar
kertas tambahan. Seketika Keenan terenyak ketika menyadari
apa kertas itu. Langsung ia membaca dengan tergesa-
gesa. Setelah selesai, Keenan pun mematung. Lama.
Keenan memandangi kertas-kertas di pangkuannya.
Pikirannya masih berusaha mencerna dan hatinya berusaha
194
beradaptasi dengan berbagai lonjakan perasaan yang sontak
muncul ketika membaca surat dari Pak Wayan. Untuk kedua
kalinya, Keenan membaca surat tersebut. Kali ini dengan
lebih lambat.
Pak Wayan menceritakan betapa kagetnya dia ketika dikirimi
lukisan-lukisan Keenan yang seperti jatuh dari langit
saking tak terduganya. Sekalipun di surat pengantarnya
Keenan menuliskan sejelas-jelasnya bahwa itu semua adalah
kenang-kenangan sekaligus tanda terima kasih untuk apa
yang didapatnya selama di Bali, Pak Wayan merasa ada sesuatu
yang luar biasa yang telah terjadi dalam hidup
Keenan. Namun, Pak Wayan tidak berhasil menghubungi
Keenan untuk bertanya langsung.
Salah satu lukisan Keenan yang paling disuka oleh Pak
Wayan lantas diberi rangka kayu dan dipajang begitu saja
di studionya. Beberapa minggu kemudian, lukisan itu mencuri
perhatian seorang kolektor lukisan dan ia tertarik ingin
membeli. Pak Wayan sudah mengatakan bahwa lukisan itu
tidak dijual, tapi orang itu benar-benar gigih dan bersikeras
ingin membeli. Pak Wayan bilang, orang itu seperti terkena
cinta buta. Jatuh hati habis-habisan pada lukisan Keenan.
Pak Wayan lalu minta maaf jika dirinya lancang, tapi
kata hatinya mengatakan untuk melepaskan lukisan Keenan
pada orang tersebut. Dalam suratnya, Pak Wayan menulis:
“... seperti cinta yang satu hari bertalian tanpa bisa dijelaskan,
saya merasa lukisan itu menemukan jodohnya. Saya
kenal baik dengan orang yang membeli lukisan kamu itu,
makanya saya yakin lukisan itu berada di tangan yang
tepat. Dia membelinya bukan semata-mata untuk investasi,
tapi karena cinta.”
Keenan lanjut membaca: “Lukisan yang satu itu memang
sangat bagus dan rohnya kuat. Sekalipun saya sendiri
ingin sekali menyimpannya, saya juga tidak mau meng195
hambat rezeki kamu. Semoga uang ini bisa bermanfaat
banyak. Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Saya
dan keluarga besar di sini selalu mengharapkan kamu pulang.
Tolong beri kabar secepatnya setelah kamu menerima
surat ini.”
Kembali Keenan memandangi selembar kertas yang diselipkan
di dalam dua lembar surat tadi. Selembar cek senilai
tiga juta rupiah. Di sana dituliskan keterangan: Pembelian
lukisan: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.”
Sisa hari itu dihabiskan Keenan dalam perenungan. Sore
berganti malam. Langit jingga berganti hitam. Dan ia masih
merenung. Banyak yang berkecamuk di benaknya. Hal-hal
yang tadinya tak terlintas dan tak digubris. Ada keraguan,
trauma, dan gentar. Namun, kalimat satu itu terus
mengiang-ngiang: Kapan kamu pulang ke rumahmu di
Ubud?
Jakarta, November 2000 ...
Perempuan itu tidak sanggup menahan aliran air matanya.
Mereka berjanji bertemu pada jam tatkala ia hanya sendirian
dan semua orang lain sedang berada di luar rumah. Hatinya
seketika tersayat dan teriris melihat anaknya sendiri muncul
sembunyi-sembunyi seperti narapidana kabur dan takut tertangkap.
Keenan pun terpaksa membiarkan ibunya menghabiskan
seperempat jam pertama pertemuan mereka untuk menangis.
“Tapi ... kamu ... sehat-sehat kan, Nan?” Lena kemudian
bertanya patah-patah.
“Sehat, Mam. Biarpun jadi kurus gini, saya nggak pernah
sakit, kok,” jawab Keenan, berusaha santai.
196
“Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Percaya sama
Mama. Papa kamu pasti melunak. Di luarnya saja dia keras,
tapi sebenarnya dia kehilangan sekali sama kamu ....”
Keenan tersenyum tipis. “Saya ingin ketemu Mama hari
ini bukan karena saya kepingin pulang ke rumah. Tapi ...
saya justru ingin pamit.”
Lena langsung tersentak. “Pamit? Ke mana?”
Keenan tak segera menjawab. Ia mengeluarkan amplop
berisi surat dari Pak Wayan dan menyerahkannya pada ibunya.
“Tolong baca ini, Ma.”
Lena pun mulai membaca. Napas panjangnya menghela
ketika ia sampai pada akhir surat. Ia seketika tahu arti pertemuan
ini. Perpisahan yang kedua kali akan segera terjadi.
Namun, kali ini, ada semacam kelegaan karena ia tahu anaknya
akan terjaga dengan baik.
“Saya akan tinggal dengan Pak Wayan,” ujar Keenan mantap,
“lusa saya berangkat.”
Lena menatap anak sulungnya dari matanya yang tersaput
air. Menyadari betapa bocah kecilnya telah tumbuh
besar menjadi seorang laki-laki dewasa yang memiliki jalan
hidup sendiri. Sejenak lagi Keenan terbang dengan sayapnya,
menuju tempat dan kehidupan yang ia pilih. Tidak dirinya,
atau siapa pun, yang mampu membendung kepakan sayapsayap
itu.
Suara Lena bergetar saat ia mengucap, “Baik-baik di
sana, ya? Jangan bikin susah Pak Wayan.”
Keenan menelan ludah. Sangat kentara ibunya berusaha
kelihatan tegar demi dirinya. Mata Keenan mulai panas. Pandangannya
mulai mengabur. Keenan terpaksa mengatur
napasnya terlebih dahulu sebelum bisa lanjut berkata-kata.
“Saya ada satu permintaan lagi, Ma ....”
“Apa itu?”
“Tolong jangan bilang siapa-siapa saya ada di Ubud.
197
Bahkan Jeroen nggak perlu tahu. Cukup Mama yang
tahu.”
Lena merasa dadanya sesak.
“Saya benar-benar ingin memulai halaman baru. Dari nol
lagi. Ini jalan hidup saya, Ma. Dan saya nggak mungkin kembali
ke penjara yang sama.”
Lama Lena tercenung, sampai akhirnya kepalanya mengangguk.
Berat.
Perlahan, Keenan bangkit berdiri. Mengecup kening ibunya,
dan mendekapnya erat. Setiap bulir detik bergulir penuh
arti. Hanya hening dan air mata yang jatuh sesekali
dari mata keduanya.
198
Ubud, November 2000 ...
Dua puluh jam Keenan terduduk dalam bus yang mengantarkannya
dari Bandung hingga terminal Ubung. Selama dua
puluh jam, matanya tetap membeliak terjaga. Sesuatu dalam
perjalanan ini membuatnya gelisah sekaligus bersemangat.
Keenan menyadari, ini adalah salah satu keputusan terbesar
yang pernah dibuatnya selama hidup. Dalam hati ia pun merasa,
sesuatu yang besar akan menantinya di Ubud.
Dari jendela bus, tampak Pak Wayan dan keponakannya,
Agung, menunggu di terminal. Keenan langsung mengenali
dua sosok yang sama-sama tinggi besar itu hilir mudik memakai
setelan lengkap: sarung, kemeja, dan udeng. Seperti
habis baru selesai upacara.
“Poyan! ................ .............. ........................ .............. ..............
menginjakkan kaki ke tanah.
Serta-merta terbit tawa cerah di wajah Pak Wayan, sementara
Agung dengan gesit langsung berlari menghampiri
Keenan dan membantu membawakan tasnya.
23.
MENANGKAP BINTANG
199
“Agung, rupanya ada yang harus cepat-cepat kita kasih
makan sebelum dia dilirik sama anjing-anjing seluruh Bali
karena disangka tulang berjalan,” Pak Wayan terkekeh.
Keenan ikut terkekeh, “Setuju, Poyan. Saya nggak nolak
dikasih makan, apalagi kalau dalam waktu dekat.”
Pak Wayan tergelak seraya merangkul Keenan erat-erat,
“Saya senang sekali kamu pulang ke sini. Keluarga di Ubud
sudah menunggu.”
Hati Keenan berdesir mendengarnya. Haru. Ia pun tersadar
betapa ia merindukan konsep itu: pulang, dan ...
keluarga.
Mobil itu tiba di sebuah gerbang kayu tinggi yang diapit
pohon-pohon rindang dan semak-semak tanaman rambat
yang tumbuh besar dan rapat. Di balik gerbang kayu itu
langsung terlihat puncak pura yang mencuat hingga tampak
dari jalan. Di lahan hektaran itulah tinggal keluarga besar
Pak Wayan dalam beberapa rumah terpisah. Terdapat pula
sekurang-kurangnya tiga studio kerja besar yang menampung
segala macam aktivitas dan barang-barang seni yang digarap
oleh keluarga seniman itu.
Napas Keenan sontak tertahan melihat gerbang kayu itu
lagi. Rumahnya yang baru. Ia tak bisa membendung senyum
yang menyungging otomatis di mulutnya.
Pak Wayan tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan
bahwa seluruh keluarganya telah menunggu. Lagi-lagi,
Keenan harus terenyak haru ketika melihat keluarga Pak
Wayan berkumpul di teras saat mobil mereka tiba di halaman
depan kompleks itu.
200
“Beli25.... ........ ................ .............. ............ .......... .................... ........
Wayan yang akrab dengan Keenan, langsung menyongsong
dan merangkul Keenan dengan hangat. Disusul Pak Putu,
ayah Banyu, lalu yang lainnya. Wajah-wajah yang tak
asing.
“Kamar kamu yang dulu sudah dibersihkan. Sekarang ditambah
lemari pakaian, karena katanya Keenan sudah mau
tinggal terus di sini, ya?” ujar Ibu Ayu berseri, adik ipar Pak
Wayan sekaligus ibu kandung dari Agung.
“Iya, Bu. Rencananya begitu,” jawab Keenan dengan tawa
lebar. “Ini, saya bawakan oleh-oleh sedikit dari Bandung,
Bu. Buat semua yang di sini,” Keenan pun menyerahkan sekantong
besar aneka makanan yang ia sempatkan beli di
toko oleh-oleh sebelum menaiki bus kemarin.
“Mata kamu kelihatan capek sekali, Nan,” celetuk Pak
Nyoman, adik Pak Wayan yang juga sama-sama pelukis.
“Di jalan saya nggak bisa tidur, Pak. Saya belum tidur
dari kemarin. Tapi rasanya masih oke, kok,” sahut Keenan.
............ .......... ............ ............ .................... ............ .............. ..............
Ibu Ayu, “Tidur dulu saja. Nanti malam baru dibangunkan
untuk makan sama-sama, ya?”
“Boleh, Bu. Terima kasih banyak,” Keenan menjawab dengan
anggukan semangat. Ia sama sekali tidak keberatan
dengan ide itu. Begitu kakinya kembali ke rumah ini, seluruh
sistemnya seolah melepas beban dan ketegangan yang
menumpanginya sejak berangkat, hingga lelah tubuhnya pun
akhirnya terasa.
.................. ................ ........ .......... ................ .......... ............ ..............
dulu, jangan lupa nanti siapkan minum.”
Alis Keenan sedikit berkerut. Nama itu asing. Dan sesosok
asing yang sedari tadi berdiri malu di pojok, tertutup
25 Beli: Panggilan untuk laki-laki (saudara/umum).
201
orang-orang, menyeruak keluar. Menatap Keenan sambil setengah
menunduk.
“Keenan, kenalkan, ini Luhde Laksmi. Keponakan saya
dari keluarga di Kintamani,” jelas Pak Wayan. “Luhde juga
akan tinggal di sini. Dia dititipkan oleh bapaknya, Pak Made
Suwitna, yang datang berkunjung waktu tahun baru. Waktu
kamu liburan terakhir kali kemari. Ingat?”
Keenan mengangguk. Ia ingat Pak Made, sepupu Pak
Wayan yang juga koreografer tari Bali yang sangat terkenal.
Sejenak ia mengamati Luhde. Sekilas, Luhde seperti remaja
perempuan pada umumnya. Tubuhnya mungil, dan sikap
malu-malunya membuat ia tampak makin ringkih. Yang mencuat
adalah rambut panjangnya yang dibiarkan terurai melewati
bahu hingga menyerupai selendang hitam yang menggantung
hingga pinggul. Namun, meski tampak ringkih dan
pemalu, kedua mata besar itu berbinar penuh rasa ingin
tahu. Keenan tertegun. Ada sesuatu yang tak asing dari sosok
yang baru pertama kali ia temui itu. Entah apa.
“Lagaknya saja pemalu. Padahal dia banyak tahu,” sambung
Pak Wayan lagi sambil terkekeh.
Muka Luhde langsung memerah. “Mari, Beli. Saya antar,”
ucap Luhde sambil cepat-cepat berjalan. Meski ia berkata
dengan volume pelan, tapi terdengar jelas suara itu begitu
bening seperti embun.
“Panggilnya ‘Keenan’ saja,” sahut Keenan.
Dengan sungkan, Luhde mengangguk.
“Istirahat dulu, Nan. Nanti malam kita bicara-bicara lagi.
Santai saja. Kamu tidak perlu ke mana-mana lagi,” ujar Pak
Wayan sambil menepuk bahu Keenan.
Keenan menatap wajah-wajah itu sekali lagi. Memastikan
bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sudah terlalu lelah ia bermimpi.
202
Bandung, November 2000 ...
Eko memandangi Noni yang sedang membereskan isi lemari
pakaiannya. Belakangan ini kegiatan mereka sudah banyak
bergeser. Ia dan Noni lebih banyak menghabiskan waktu
berdua. Masih ada beberapa kelompok teman yang sering
jalan bareng dengan mereka, tapi rasanya tidak pernah lagi
sama.
“Mau sampai kapan sih kalian diem-dieman begini?”
Tiba-tiba Eko berceletuk.
Noni terpaku sejenak. Tapi dengan cepat, ia kembali meneruskan
kegiatannya melipat baju. “Maksud kamu—aku dan
Kugy?”
“Iya,” jawab Eko setengah melengos. “Memangnya enak
kayak begini? Padahal kalian satu kos. Aku kan jadi serba
salah mau menempatkan diri. Kamu pacarku, Kugy sahabatku,
tapi kalian nggak saling ngomong.”
Noni mengangkat bahu. “Habis mau gimana? Apa kamu
nggak lihat kayak apa dia sekarang? Negurnya aja males.”
Dagu Noni menunjuk ke arah jendela.
Eko menengok sedikit ke luar, dilihatnya Kugy baru saja
pulang. Mukanya yang lucu kini mengeras sehingga kelihatan
judes. Matanya cekung seperti orang kelelahan. Ia
lebih mirip rumah angker. Pendiam, muram, seakan-akan
beban dunia ada di pundaknya.
“Males nggak lu kalo dia tampangnya kayak gitu tiap
hari,” celetuk Noni lagi. “Udah deh, Ko. Aku sih merasa
percuma. Udah pasti kita nggak akan bisa balik lagi kayak
dulu. Kugy tuh udah berubah banget.”
“Kenapa ya dia?”
“Sejak ngajar di Alit, terus putus sama Ojos, dia jadi
berubah banget. Aku juga nggak ngerti. Dan dia kayaknya
nggak mau terbuka sama aku. Ya, udah.”
203
Eko menatap Noni lurus-lurus. “Kamu nggak kehilangan,
apa? Kenapa sih kamu nggak coba ngedeketin dia, kek,
ngajak ngobrol pelan-pelan, kek ....”
Noni balik menatap Eko. Tajam. “Harusnya, dia yang
coba ngedeketin aku, ngajak aku ngobrol pelan-pelan, minta
.......... .............. ............ .............. ...... .................. ............ ........................
Eko terdiam. Dibiarkannya Noni kembali sibuk dengan
mulutnya yang memberengut.
“Non ...,” ucapnya pelan setelah sekian lama hening,
“kamu tahu nggak, kijang yang larinya cepat kayak kilat,
bisa beku kayak patung kalau ketemu singa ....”
............ ............ ....................
“Maksudku, saking ketakutannya kijang itu sama singa,
dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. Dia malah
nggak bisa gerak sama sekali.”
“Terus ... hubungannya apa dengan aku?”
“Pernah nggak kamu kepikir, saking merasa bersalahnya
Kugy sama kamu, dia jadi kayak kijang itu. Dia malah nggak
bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri,
............ .............. ........ .......... .................... .......... ........ .............. .......... ............
bisa dia lawan, saking merasa salah sama kamu. Dia jadi
takut ngedeketin kamu.”
Noni gantian terdiam lama. Lalu, sambil melipat bajunya
yang terakhir, ia pun bergumam, “Please deh, Ko. Nggak
usah sok nganalisis kayak psikolog. Dari dulu kamu memang
selalu ngebelain dia. Di mata kamu, Kugy memang nggak
pernah salah.” Dan usai berkata demikian, Noni bergegas
pergi meninggalkan kamarnya. Meninggalkan Eko yang terbengong-
bengong sendiri. Bertanya-tanya, apa gerangan
yang ia lakukan hingga Noni jadi korslet begitu.
204
Ubud, November 2000 ...
Di bawah naungan bale26, Keenan diam mematung. Ini adalah
minggu ketiga ia tinggal di Lodtunduh. Keenan mulai
merasa tak ada bedanya dengan gerombolan ayam kampung
yang dipelihara Pak Wayan di halaman belakang. Disembelih
tidak, dijual telurnya tidak, hanya dibiarkan saja berkeliaran
bebas sampai tua. Barangkali Pak Wayan cuma membutuhkan
kehadiran mereka, suara mereka, gerak-gerik mereka
untuk menghidupkan suasana. Terkadang, Keenan merasa
gerombolan ayam itu bahkan lebih berguna dari dirinya. Sekalipun
setiap hari ia berusaha membantu pekerjaan rumah
apa pun sebisanya, tetap ia tidak merasa berguna. Keenan
mulai merasa lelah dan frustrasi dengan semua ini. Kebaikan
dan ketulusan Pak Wayan beserta seluruh keluarganya justru
membuat ia semakin tidak enak hati. Selama tiga minggu,
ia hanya menumpang tidur dan makan. Dan bukan untuk
itu ia seharusnya di sini. Seharusnya ia ... berkarya.
Di hadapannya sudah ada kanvas polos, di sampingnya
berserakan semua peralatan melukis. Tiap pagi ia menyiapkan
perangkat yang sama di tempat yang sama. Namun,
belum ada secercah pun dorongan di hatinya.
Tiba-tiba, dari belakang punggungnya, terdengar sesuatu
bergesek dengan lantai kayu. Keenan otomatis menoleh ke
belakang. Kaget melihat Luhde sudah duduk bersimpuh di
tangga bale. Luhde pun sama kagetnya. Tampangnya langsung
pucat seperti maling tertangkap basah.
“Hai, Tuan Putri. Kok bisa parkir di situ? Kapan munculnya?”
Keenan menyapa sambil tertawa.
“Sudah—dari tadi,” jawab Luhde terbata. “Saya mau lihat
Keenan melukis.”
26 Balai.
205
Keenan tergelak lagi. “Kamu nggak sayang waktu, apa?
Karena dari tadi berarti kamu cuma melihat saya melamun,
bukan melukis.”
Luhde tersenyum. “Pelukis yang baik bisa mengungkapkan
semuanya, termasuk kekosongan sekalipun,” dengan suaranya
yang lembut dan lirih Luhde berkata.
Sejenak, Keenan tertegun. “Kamu tuh ... pendiam, tapi
sekalinya ngomong kok pintar banget, sih.”
Luhde pun beringsut, duduk di sebelah Keenan. “Kalau
pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi.
Sepanjang hayatnya melukis, mereka akan melukis berdasarkan
sumber yang sama. Tapi justru dengan begitu, mereka
bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. Mungkin hal
seperti itu yang perlu Keenan cari.”
Kembali Keenan terpana mendengar kata-kata Luhde.
Sama sekali tidak menyangka ucapan sedemikian bijak dan
bernas akan meluncur dari mulut gadis tujuh belas tahun di
hadapannya.
“Seperti Poman, inspirasinya adalah sesajen, akhirnya
semua lukisannya adalah gambar sesajen. Kalau Poyan,
inspirasinya adalah upacara adat. Beli Banyu, sekalipun
lukisannya abstrak, tapi sumber inspirasinya sebenarnya
adalah corak kain Bali. Perhatikan saja semua lukisannya.
Iya, kan?” dengan asyik, Luhde berceloteh, “Kalau Keenan
sudah dapat ‘jodoh’-nya, pasti tangannya langsung lancar.
Dan lukisannya dari ke hari akan semakin bagus.”
Keenan melongo. Jodoh?
“Setiap pelukis pasti memiliki ‘jodoh’-nya masing-masing.
Kalau mereka mau bertekun sekaligus berserah, pasti mereka
akan menemukannya. Jadi, Keenan jangan cepat putus
asa. Kadang-kadang kanvas kosong juga bersuara. Tanpa
kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu,”
lanjut Luhde lagi.
206
Kali ini Keenan tidak tahan lagi. Sesuatu menyesak di
dadanya. Sudah lama ia ingin bicara dengan seseorang tentang
kesulitan dan tekanan yang ia alami. Dan mendadak,
hari ini Luhde muncul seperti malaikat penolong yang mengetuk
pintu pertahanannya. “Luhde ... saya benar-benar
nggak tahu harus mulai dari mana ... saya ... bahkan nggak
yakin saya bisa melukis lagi ...,” susah payah Keenan berkata.
Luhde tak langsung merespons. Ia mendekati kanvas kosong
di hadapan Keenan. “Ini ... anggaplah ini langit ...,”
katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas,
“sepertinya langit ini kosong. Tapi kita tahu, langit tidak
pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga
banyaknya. Keenan harus percaya itu. Langit ini cuma
tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu,
Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari
sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan
kita.
“Saya akan berdoa supaya Keenan cepat menemukan
bintangnya,” ucap Luhde sambil menundukkan kepala dan
menangkupkan tangannya di depan dada. Tak lama, ia
beringsut menuju tangga, meninggalkan Keenan sendirian
lagi di bale.
Sampai senja, Keenan tak beranjak dari sana. Berbaring
telentang menghadap langit, dan mencoba melihat jauh ke
balik awan, mencari sesuatu di sana.
207
Bandung, Desember 2000 ...
Pagi-pagi, sambil menyandang ransel besar yang gemuk terisi
buku, Kugy berjalan cepat meninggalkan tempat kos yang
sepi ditinggal para penghuninya untuk berlibur. Ia benarbenar
tidak buang waktu. Tidak ada lagi liburan di agendanya.
Ia kembali mengambil mata kuliah sebanyak-banyaknya
di semester pendek. Kini fokusnya hanya satu: cepat lulus.
Hampir tidak ada lagi yang menahannya di Bandung, selain
kampus dan Sakola Alit. Sebagian besar impiannya,
masa-masa bahagia persahabatannya sudah tidak ada lagi.
Hubungannya dengan Noni tidak mengalami perbaikan. Sahabat
yang dikenalnya sejak kecil sekarang telah menjadi
orang asing.
Kugy pun merasa sudah berada di puncak ketidaknyamanan
tinggal di tempat kosnya, dengan jarak hanya
satu kamar dengan Noni yang sudah tak pernah bicara dengannya.
Tidak mungkin selamanya ia berlagak seolah-olah
Noni tidak tampak. Ia terlalu lelah untuk itu. Diam-diam,
24.
PEMBELI PERTAMA
208
Kugy mulai mencari tempat kos baru yang akan segera ia
tempati begitu semester baru dimulai.
Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan
ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya tergantikan
oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis
bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar.
Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah
perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bahkan
merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu
bertahan waras dan kuat. Cerita hatinya pada Neptunus
yang entah ada entah tidak. Tak jadi masalah. Setiap kali
melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali, Kugy
kembali bisa bernapas lega. Hatinya kembali lapang.
Ia bercerita soal keluh-kesahnya, keresahan batinnya, dan
kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Termasuk
kerinduannya pada Keenan.
Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. Akan ia
apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Andai
perahu itu dibuka, maka hanya akan terbaca satu paragraf
pendek:
Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah
akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia
menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya
pulang.
Ubud, Desember 2000 ...
Setiap pagi, di bale yang sama, kanvas demi kanvas mulai
terisi. Jari dan kuas itu tak pernah berhenti menari-nari,
menorehkan garis dan warna.
Awan-awan itu akhirnya berhasil tersibak, dan setiap harinya
Keenan bertemu dengan langit bersih yang siap dilukisi.
209
Satu benda yang sama selalu menemaninya. Sebuah buku
tulis lecek penuh tulisan tangan. Dulu, tangan mungil Kugy
yang menari-nari di tiap lembarnya. Kisah-kisah petualangan
Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.
Dari teras rumah utama, Luhde diam mengamati bale
itu.
“Poyan ...,” bisiknya pada Pak Wayan.
“Dia luar biasa berbakat, ya. Lukanya juga mulai sembuh.
Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu,” komentar Pak
Wayan, seolah mengetahui arah pikiran Luhde.
Luhde tersenyum menatap pamannya. Wajahnya berseriseri.
“Keenan sudah menemukan bintangnya.”
Akhir Desember tiba. Bali mulai dipenuhi oleh turis, termasuk
Ubud. Hawa liburan pun ikut merasuk pada Keenan.
Ia mulai merasa harus sejenak mengambil ‘‘cuti’’ singkat
dari aktivitas kreatifnya yang sangat menggebu-gebu selama
sebulan terakhir. Belakangan, ia lebih sering tertidur di bale
ketimbang melukis. Namun, sore itu, tidur siangnya terganggu.
Badannya tiba-tiba diguncang oleh Luhde.
................ .......... ................ ...... .............. ........ .......... .......... ........ ..............
............ ........ ........ ................
Dengan berat, Keenan membuka matanya. Tanpa bisa
mengurai apa gerangan yang terjadi, tangannya sudah ditarik
oleh Luhde, dan tampak Banyu sudah siap dengan sepeda
motor untuk mengantarkannya ke galeri.
............ ............ .................. .............. ............ ........................ ..............
suara deruan motor Banyu yang segera melesat menuju galeri
dengan Keenan terbonceng di belakang.
Perjalanan dari rumah Pak Wayan ke galeri hanya tiga
menit. Keenan bahkan belum sempat mengumpulkan nyawa210
nya. Masih sambil agak terhuyung, dia memasuki galeri,
menemui Pak Wayan. “Ada tamu siapa, Poyan?” tanyanya
sembari menggosok-gosok mata.
............ ........ ........ ........................ .......... .............. .............. ..................
...,” Pak Wayan malah menertawainya keras-keras. Ada
seorang laki-laki muda yang berdiri di sampingnya, ikut
senyum-senyum. Necis meski hanya memakai kaus polos
dan jins. Tubuhnya tegap dan terawat. Wajah itu bersih dan
tampan. Dari pengamatan sekian detik, Keenan bisa
menyimpulkan ia pasti datang dari kota besar di luar Bali,
kemungkinan besar Jakarta.
“Keenan, ini penggemar fanatik lukisanmu, yang membeli
lukisanmu pertama kali. Datang jauh-jauh dari Jakarta untuk
menanyakan karyamu yang baru. Saya yang beri tahu
kalau kamu sudah kembali tinggal di sini.”
Tergopoh-gopoh, Keenan langsung memperkenalkan
diri.
“Lukisan kamu makin matang sekarang,” puji pria itu,
“saya terkagum-kagum sejak tadi. Luar biasa.”
“Terima kasih,” sahut Keenan sambil tersenyum lebar,
tak mampu menyembunyikan rasa senang dan bangga yang
seketika menyeruak di hatinya. Untuk pertama kalinya ia
melihat ada orang yang menyukai lukisannya dengan tulus.
“Lukisan mana yang kira-kira Mas suka?” tanyanya sopan.
Pria itu menebar pandangannya, menyapu lukisan-lukisan
Keenan yang terpajang mengitari tempat mereka berdiri.
“Jujur, saya nggak bisa memilih. Kalau boleh saya tanya,
sebenarnya semua lukisan ini rangkaian cerita, ya?”
Keenan mengangguk-anggukkan kepala bersemangat.
“Betul sekali. Tokoh-tokohnya sama, cuma petualangannya
saja yang beda-beda. Saya terinspirasi oleh seri petualangan
anak-anak karya sahabat saya. Tema lukisan yang saya buat
211
disesuaikan dengan ceritanya. Lebih mirip ilustrasi, jadinya.
Hanya saja dalam bentuk lukisan.”
“Itu dia masalahnya,” pria itu tertawa ringan, “saya jadi
nggak bisa milih. Kalau bisa, saya kepingin beli semuanya.
Jadi saya punya koleksi lengkap.”
“Kalau beli banyak, nanti dapat diskon menarik, Mas,”
canda Keenan sambil terkekeh, “tapi, kalau boleh tanya
balik, sebetulnya apa sih yang membuat Mas tertarik dengan
lukisan saya?”
Pria itu mengambil ancang-ancang bicara. Seolah mengantisipasi
pertanyaan yang sudah lama ia siapkan jawabannya.
“Pertama, tema lukisan kamu unik. Tidak umum, tulus,
dan tanpa pretensi. Kedua, menurut saya, gaya melukis kamu
itu fresh. Orisinal. Rapi, ilustratif, tapi tidak terasa seperti
ilustrasi. Rasanya tetap seperti monumen tersendiri, dan bukan
pelengkap sesuatu. Ketiga, dan ini yang paling penting,
lukisan kamu punya roh yang kuat. Saya sudah hobi koleksi
lukisan sejak lama. Dan bagi saya, lukisan yang bagus adalah
lukisan yang bisa membuat orang merenung. Tapi lukisan
kamu bukan cuma membuat orang merenung, malah bisa
mengundang orang untuk masuk ke dunia kamu. Itu pengalaman
apresasi yang luar biasa. Kamu perlu tahu, jarang
sekali ada lukisan yang punya ketiga unsur tadi sekaligus.”
Keenan menelan ludah. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi
itu semua.
“Dengan sangat terpaksa, saya harus mengambil dua lukisan
saja hari ini. Tapi pastinya saya akan mengoleksi lebih
banyak lukisan kamu,” sambung pria itu lagi, sambil berjalan
ke arah lukisan yang ia pilih, “berapa harganya?”
Keenan menelan ludah lagi. Matanya melirik ke arah Pak
Wayan, meratap minta tolong.
212
Selembar cek bertuliskan 10 juta tergeletak di atas meja.
“Tidak terlalu susah kan menentukan harga karya sendiri?
Butuh pembiasaan, tapi makin lama nanti kamu makin
pintar, kok,” Pak Wayan tertawa kecil.
Keenan geleng-geleng kepala, “Saya masih nggak percaya,
Poyan. Ini pertama kalinya saya lihat langsung ada orang
yang beli lukisan saya.” Tiba-tiba Keenan mengambil tangan
Pak Wayan, menggenggamnya sambil menundukkan kepala,
“Poyan ... terima kasih sekali buat semuanya. Saya nggak
tahu harus bilang apa, atau melakukan apa. Kalau Poyan
nggak keberatan, saya ingin membagi setengah dari penjualan
ini dengan galeri.”
Dengan cepat, Pak Wayan menggeleng. “Nggak, nggak
ada itu. Kamu pelukis baru, dan kamu sudah seperti anak
saya sendiri. Kamu butuh uang itu untuk bekalmu. Jangan
pikirkan dulu soal keuntungan galeri. Saya bisa cari rezeki
dari karya saya sendiri. Kalau memang saya benar-benar
butuh bantuanmu, saya akan bilang. Tapi tidak sekarang.
Oke?” ujarnya tegas.
Keenan merasa tak punya pilihan selain mengangguk.
“Luhde, sini kamu. Kok malah ngintip dari situ,” Pak
Wayan memanggil keponakannya yang sedari tadi hanya
berdiri mengamati dari balik partisi.
Tampak Luhde keluar pelan-pelan sambil tersenyum
malu. Berjalan menghampiri mereka.
“Kenapa ngintip? Naksir sama tamu tadi, ya?” goda
Keenan.
........ ........ ................ .............. .............. ............
“Eh, benar itu si Keenan. Nanti kalau kamu cari jodoh,
cari yang seperti itu. Ganteng, sukses, masih muda ... cinta
.......... .............. ................ .................... .............. .................... ................ ........
sama yang kayak kita-kita ini. Kantongnya sakit asma, napas-
........ ......................
213
Wajah Luhde kian merah jambu. Dalam hatinya, ia sama
sekali tidak sepakat dengan pamannya.
Ubud, malam tahun baru 2001 ...
Akibat desakan semua orang, Keenan akhirnya setuju membeli
ponsel. Sambil duduk di tepi pantai Jimbaran, ia menimang-
nimang benda kecil yang masih terasa asing di tangannya.
Tidak banyak data nomor telepon yang tersimpan di ponselnya.
Hanya keluarga di Bali dan beberapa nama yang ia
pindahkan dari buku alamatnya yang lama.
Keenan melirik jam di layar ponselnya. Lima menit sebelum
pergantian tahun. Suara di belakangnya makin ingarbingar,
berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari
depan. Jempolnya bergerak, mencari satu nama itu. Dan
begitu nama itu muncul di layar, ia tertegun sendiri. Batinnya
menyapa spontan: Apa kabar kamu, Kecil?
Mendadak Keenan gelisah. Ia tidak yakin apakah nomor
itu masih berlaku. Namun, entah mengapa, ada desakan
kuat untuk ... ia memencet tombol hijau bergambar simbol
telepon ... connecting. Keenan mengamati lekat satu kata itu
berkedip dan berpendar di layarnya. Bisakah ia berbicara?
Sanggupkah ia ...? Tidak. Keenan memejamkan mata, jempolnya
memencet tombol merah. Disconnecting.
Jakarta, malam tahun baru 2001 ...
Sebagian besar keluarganya tengah berkumpul di depan
teve. Sebagian yang beracara sedang asyik bermalam tahun
baru di berbagai tempat. Kugy termasuk yang berkumpul di
214
depan teve. Selain karena tidak ada undangan apa-apa untuknya,
ia memang malas keluar. Rasanya tidak ada yang lebih
menyenangkan selain selonjoran kaki di sofa, makan cemilan,
sambil mengomentari apa pun yang muncul di layar
kaca lalu tertawa-tawa sendiri.
Tiba-tiba Kugy terduduk tegak. “HP aku bunyi, ya?”
“Bukan. Itu suara dari teve,” komentar Kevin pendek.
“HP aku di mana, sih?” Kugy mulai membongkari bantalbantal
sofa. “Kev, ayo berdiri bentar,” Kugy mendorong tubuh
kakaknya, “kayaknya didudukin sama kamu.”
.............. .................. .................. .................... ............ .............. .......... ........
yang ganjal,” cetus Kevin asal.
Tapi Kugy tidak menyerah. Ia terus mendorong tubuh
Kevin dan mencari-cari di sela-sela sofa.
.............. ........ ............ .......... .......... ............................ ............ ..............
................ .............. .......... ............
............ .............. .......... .............. So much for sensitivity! Diet
........ .......... .......... .................... .................... .......... .................. ..................
ponselnya yang ditemukan persis di bawah Kevin.
Kening Kugy berkerut. Nomor yang tak ia kenal. Namun,
matanya tak lepas mengamati deretan angka itu. Rasanya
ada sesuatu di sana. Kugy pun mengirim pesan: Ini siapa?
Satu jam berlalu. Pesan itu tidak dibalas.
Lena membuka pintu kamarnya, mendapatkan suaminya
masih terduduk di depan teve yang menyala.
“Adri, kamu belum mau tidur? Sudah jam dua pagi, lho,”
katanya sambil menguap.
Pria itu mendongak sejenak, mendapatkan istrinya sudah
berkimono dengan muka mengantuk. “Sebentar lagi. Kamu
215
duluan saja tidur. Acara tevenya bagus. Nanti saya nyusul
kalau sudah selesai, oke?” jawabnya lugas.
Lena mengintip layar teve sekilas. Tidak yakin dengan
arti ‘‘bagus’’ yang dimaksud oleh suaminya. Tapi ia memilih
untuk tidak mempermasalahkan dan kembali ke kamar.
Sepeninggal istrinya, Adri kembali menatap teve dengan
pandangan kosong, seperti yang ia lakukan sedari berjamjam
yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang berjalan
sendiri. Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu
orang. Keenan.
Keenan ... di mana kamu sekarang, Nak? Bertahun baru
di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan?
Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua dalam
hati. Dalam kesunyian. Dalam ketiadaan.
Setengah mati, Adri berusaha menahan. Hingga pada
satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Dan sebutir air
mata pun bergulir di pipinya.
216
Bandung, Januari 2001 ...
Belum genap seminggu kepindahannya ke tempat kos baru.
Kugy masih menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
suasana yang berbeda. Jarak tempat kosnya kini lebih dekat
ke kampus, sehingga Kugy makin leluasa untuk bolak-balik.
Pas dengan programnya yang ingin secepat-cepatnya lulus.
Belum semua barang-barangnya tertata dengan rapi. Setiap
sore, Kugy mencicil beres-beres sendirian. Dan, entah
mengapa, ia mulai menikmati kesendirian ini. Sepi ini.
................ ................ Kulonuwun!” Terdengar teriakan manusia
yang mengganggu gendang telinga.
Kugy segera meletakkan buku-bukunya dan bergegas menuju
pintu. Eko?
Benar saja. Begitu pintu dibuka, tampaklah Eko dengan
.................. .................. .......... ............ ............ .............. ..............
“EKO?” Kugy tercengang seperti betulan melihat alien.
“Kok—tahu gua di sini?”
“Tanya sama anak-anaklah,” jawab Eko ringan, “gua tadi
tiba-tiba inget lu. Jadi kepingin nengok. Kangen gua.”
25.
HADIAH DARI HATI
217
Kugy menghela napas, dibarengi senyum cerah yang langsung
mengembang. “Gua juga kangen sama elu,” sahutnya
sungguh-sungguh.
............ ........ .............. .............. ................ ............ ........ ..........................
tangannya ke leher Kugy dan mengacak-acak rambutnya.
Mereka berdua tertawa-tawa. “Ada yang perlu gua bantu,
nggak, Gy? Lu pasti masih beres-beres, kan?”
“Bantuin beresin buku sambil bayarin gua makan nanti
malam, yuk.”
Eko langsung memonyongkan mulut. “Monyet,” dumelnya,
“yang begini nih yang bikin orang nyesel.”
Kugy terbahak keras. “Selamat datang di jebakan
................
Tak lama kemudian, keduanya sudah berjongkok sambil
membereskan sisa barang Kugy yang masih berserakan di
lantai.
“Noni tahu lu ke sini, Ko?” Tiba-tiba Kugy bertanya.
“Nggak. Tapi nanti gua bilang ke dia,” jawab Eko,
“kenapa?”
“Nggak pa-pa. Mmm ....” Kugy menghentikan kegiatannya
sejenak, menimbang-nimbang apakah akan meneruskan
kalimatnya atau tidak.
“Yes?” tanya Eko lagi.
“Selama ini gua ngira, lu ikut ngejauhin gua. Walaupun
gua sebetulnya pingin banget bisa ngobrol dan dekat sama
lu kayak dulu, tapi yah, gua ngerti posisi lu yang serba sulit,
karena lu pacarnya Noni, dan mau nggak mau harus
mempertimbangkan perasaan dia,” jelas Kugy lirih. “Tapi,
jujur, gua kehilangan banget sama kalian berdua.”
“You know what, Gy?” Eko menatapnya lurus-lurus, “Gua
seneng dan lega lu akhirnya pindah kos. Karena setidaknya
gua punya jarak yang lumayan netral untuk bisa dekat sama
lu lagi. Gua bisa temenan sama lu, ngunjungin lu sekali-se218
............ ............ ........ ............ ............................ .............. ...... .......... ............
Gua juga kehilangan banget sama lu.
“Sekarang ini Noni masih berproses menyembuhkan sakit
hatinya. Gua nggak tahu sampai berapa lama. Dan walaupun
dia pacar gua, dan gua temenan sama lu dari kita ABG, gua
nggak mau mencampuri urusan kalian berdua. Gua percaya
kalian akan punya jalan sendiri untuk menyelesaikan masalah
kalian. Yang penting buat gua sekarang, gua bisa tetap
dekat dengan kalian berdua, sesuai dengan apa yang selama
ini kita semua jalankan. Noni pacar gua, dan lu sahabat baik
gua. Apa pun yang terjadi di antara kalian berdua, nggak
akan mengubah arti lu dan Noni buat gua,” lanjut Eko
tegas.
Kugy terdiam. Kehilangan kata-kata. “Makasih, Ko,” ucapnya
setengah berbisik, “seumur hidup, gua nggak pernah
bisa membayangkan jadi melankolis di depan lu, tapi ... kedatangan
lu hari ini, dan apa yang barusan lu bilang, adalah
hal terindah dalam hidup gua sepanjang tahun ini.”
Eko tersenyum kecil. Namun, dalam hitungan detik, senyumannya
sirna. “Sialan ... tahun ini kan baru jalan
................ ............ .............. ........ ........ .......... .......... .............. ..............
.................. .......... ........ ................ ...... .......................... ................ ................
...... .............. ............ ......................
Tawa mereka berdua pecah seketika.
“Tahun ini baru jalan sepuluh hari, dan lu udah berhasil
........ ............ ........ ............ ........ .................. ............ .......... ............ ........ ......
....” Kugy tergelak-gelak di lantai.
“Yup, dan mimpi buruk gua sudah akan dimulai sebentar
............ .............. .......... .............. ............ ........ ................ ................
“Lho, kamar gua kan belum beres?” protes Kugy.
“Lu aja sama keluarga melankolis lu yang beresin,” Eko
terkekeh. “Eh, ada recehan buat angkot, nggak?”
“Lu nggak bawa Fuad?”
219
“Ada. Tapi begitu nyampe di depan kos lu, dia langsung
mogok gitu. Jadi, paling gua titip Fuad dulu di depan, nanti
pas mau pulang, gua minta tolong lu buat dorongin dikit.
Ya?”
Kugy memandang Eko geram. “Kok, gua mulai merasa
gua yang sial?”
Ubud, Februari 2001 ...
Sebuah halaman baru resmi terbuka untuknya. Keenan menjalani
hidup dengan ritme baru. Sepanjang hari kegiatannya
tak pernah lepas dari berkesenian dan berupacara, layaknya
anggota keluarga yang lain. Jika tak sibuk melukis, ia tak
pernah luput membantu keluarga Pak Wayan, dari mulai
upacara ngagah hingga ngaben.
Kini, dengan fasih Keenan memakai udeng dan sarung
Bali ke mana-mana. Ia lebih banyak berteman dengan
pemuda-pemuda asli, sesekali ikut nonton sabung ayam,
membaur bersama mereka tanpa merasa risi dan canggung.
Namun, dari semua orang, Pak Wayanlah yang paling
bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru ini. Keenan
sudah dianggap putranya sendiri, seorang anak yang selalu
ia dambakan dan bisa ia banggakan. Keenan, yang tak hanya
berbakat di seni lukis, ternyata bisa memahat dengan halus.
Dengan cepat, ia mempelajari ukiran-ukiran dasar Bali seperti
patra kuta mesir, taluh kakul, dan pungelan. Bahkan
kemampuannya melebihi seniman-seniman muda setempat
yang sering berlatih di studio keluarga Pak Wayan.
Ketika lukisan Keenan dipuji-puji orang, Pak Wayanlah
yang merasa paling tersanjung. Tanpa ragu dan permisi
dulu, ia selalu mengenalkan Keenan dengan berkata: “Niki
220
putran titiange ane lanang27, I Wayan Keenan.” Alhasil,
Keenan yang terbengong-bengong mendengar nama barunya
itu.
Jika tak sedang pergi ke mana-mana, Keenan hanya
menghabiskan waktunya di bale. Melukis, atau sekadar
mengobrol dengan Luhde yang selalu setia menemaninya.
“Keenan harus mulai belajar bahasa Bali.” Dengan gayanya
yang dewasa, Luhde mulai menasihati.
“Boleh. Ajarin, dong,” tantang Keenan.
............ ............ ............ .......... ............ .................... “Cang bojok28
...”
“Cang bojok ...”
“... care bojog.29”
Dengan patuh dan serius, Keenan mengikuti, “Cang bojok
care bojog.”
“Pintar,” Luhde manggut-manggut sambil menahan senyum.
“Artinya apa?” tanya Keenan.
Tawa Luhde menyembur. “Artinya: saya jelek seperti mo-
.............. .................. .......... .............................. ................
Keenan gantian manggut-manggut. “Oooh ... iya.
Memang, sih.”
Tawa Luhde kontan berhenti.
“Udah deh, kamu tuh nggak pantes jahilin orang,”
Keenan terkekeh. “Makanya, nulis aja. Kan katanya mau jadi
penulis terkenal.”
Luhde tersenyum, “Iya. Nanti seperti Keenan dan temannya.
Saya menulis cerita, lalu Keenan buatkan lukisan.”
Ucapan Luhde seperti membekukan udara. Keenan pun
terpaku.
27 Ini anak laki-laki saya yang paling besar.
28 Saya jelek.
29 Seperti monyet.
221
Luhde yang tidak menyadari perubahan itu, terus berceloteh,
“Di keluarga saya, semua orang bisa bikin macammacam.
Beli Banyu pandai memahat, Beli Agung pandai
melukis, semua kakak kandung saya penari hebat. Cuma
saya yang tidak seperti mereka. Tapi, menurut Poyan, sesungguhnya
kata-kata juga bisa dilukis, diukir, bahkan ditarikan.
Jadi, saya tetap bisa melukis kata-kata seindah lukisan,
mengukir kata-kata secantik ukiran, dan membuat
kata-kata menari gemulai seperti tarian.”
“Saya setuju dengan Poyan. Kamu punya bakat itu, tanpa
harus banyak usaha. Saya sendiri sering terpesona dengan
kata-kata kamu,” puji Keenan tulus. “Dan ... kamu sering
mengingatkan saya pada seseorang.”
“Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita
cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap
jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.”
Keenan tersentak dengan ucapan Luhde yang sama sekali
tidak ia duga. Begitu juga dengan Luhde, yang sepertinya
pun tidak berencana untuk melontarkan kalimat itu.
“Maaf, ya. Saya bukan bermaksud lancang,” ucap Luhde
cepat, “tapi ... kalau boleh tahu, siapa sih yang menulis buku
itu?” tanyanya sehati-hati mungkin. “Soalnya, saya perhatikan,
Keenan nggak bisa melukis kalau buku itu nggak
ada di dekat-dekat Keenan.”
“Dia sahabat saya waktu kuliah,” jawab Keenan pendek.
“Orangnya pasti pintar dan jiwanya halus,” komentar
Luhde lagi.
Keenan tidak menjawab.
“Sahabat kamu itu perempuan, ya?”
“Iya.”
“Kalian pasti sangat dekat, ya?”
“Dulu sih iya.”
“Kapan-kapan, boleh nggak saya dikenalkan sama dia?”
222
Kali ini Keenan mendongak, mengadu matanya langsung
dengan Luhde. “Untuk soal yang satu itu, saya nggak bisa
janji,” sahutnya ketus.
“Kenapa?”
“Karena saya nggak yakin akan ketemu dia lagi.”
Masih banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak
Luhde, pertanyaan yang sudah ia tumpuk dan simpan sejak
lama. Namun, nada pahit yang terlontar dari kalimat
terakhir Keenan tadi membuat ia urung mengungkapkannya.
Mungkin memang tak perlu ia mengetahui. Hanya
memahami. Karena tanpa perlu berkata-kata, Keenan telah
bercerita banyak dari lukisannya, dari kesehariannya, dari
diamnya. Lebih dari yang Keenan sadari.
Jakarta, Februari 2001 ...
Sekeluarnya dari ruang itu, Lena membaca lagi lembaran
hasil laboratorium yang baru saja dianalisis dokter beberapa
menit yang lalu, yang membuat suaminya diolehi-olehi sederet
resep obat dan beraneka petuah ini-itu.
“Kok, bisa begini, sih? Padahal kamu selalu dibawakan
makan dari rumah. Kegiatan kamu juga nggak banyak berubah.
Aku nggak ngerti, deh,” Lena geleng-geleng kepala
sendiri. “Memangnya ada sesuatu yang aku nggak tahu?”
Adri menyalakan mesin mobil. “Maksud kamu?”
“Tadi dokter bilang, bisa jadi karena faktor stres. Mungkin
nggak kamu stres tentang sesuatu, dan kamu belum
cerita ke aku?” tanya Lena lagi.
“Ah, stres apa? Sekarang semua penyakit dibilangnya
gara-gara stres,” komentar suaminya sambil melengos.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
223
Sepanjang perjalanan, dalam kompartemen pikirannya,
Ardi menyadari sesuatu. Ia bisa memilih tidak terbuka pada
dokter, bahkan istrinya, tapi ia tidak bisa membohongi
dirinya sendiri. Satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya,
menggerogotinya dari dalam secara pelan-pelan. Keenan.
Ubud, Maret 2001 ...
Luhde sedang menyeduhkan kopi kayu manis bagi seluruh
keluarga. Kegiatan rutinnya setiap hari, setiap sore. Dan ia
nyaris menumpahkan termos berisi air panas yang sedang
ia pegang, karena tiba-tiba Keenan muncul dari belakang,
memegang kedua bahunya.
“Hei, minggu depan kamu ulang tahun, ya?” tembak
Keenan langsung.
Luhde membalik badan. Wajahnya sekonyong-konyong
cerah. “Keenan kok tahu? Diberi tahu siapa?”
“Banyu.” Keenan pun tersenyum, “Mau delapan belas tahun,
ya? Udah bukan anak kecil lagi, nih,” godanya. “Kamu
mau kado apa? Lipstik? Parfum?”
Luhde tersipu. “Nggak. Saya nggak mau yang seperti itu,”
ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi.
“Lho, kenapa? Kan biasanya perempuan seusia kamu mulai
kepingin dandan. Atau mau dibeliin baju? Nanti kita cari
ke Kuta, yuk.”
Luhde tambah kuat menggelengkan kepala. “Nggak ...
............ ............ .................... .................. ............ ................ ..........
“Oke, oke. Jadi, maunya apa? Buku?”
Luhde terdiam sejenak. Berpikir. Pelan-pelan, ia menurunkan
kedua tangannya dari pipi. “Saya sudah tahu,” katanya
pelan. Dan Luhde pun mengutas senyum. Satu senyum yang
224
mengubah wajah lucunya menjadi cantik dan ... dewasa.
“Saya ingin, satu karya Keenan yang dibuat dengan sepenuh
hati,” ucap Luhde. Jernih dan jelas.
Keenan terenyak. Pertama, oleh kecantikan Luhde yang
tak pernah ia sadari sebelumnya. Dan kedua, oleh kalimat
yang meski ia pahami betul maksudnya, rasanya tak sanggup
ia penuhi. Keenan menelan ludah. “Semua lukisan saya dibuat
dengan sepenuh hati. Kalau kamu menginginkan salah
satu di antaranya, kamu boleh pilih yang mana aja. Atau
kalau kamu mau dibuatkan khusus, saya juga bersedia melukis
untuk kamu.”
Luhde menggeleng lembut. “Semua lukisan itu dibuat dengan
cinta Keenan pada seni. Tapi ada satu yang berbeda.
Begitu saya melihatnya, saya sampai menitikkan air mata.
Yang satu itu ... indah sekali. Dan dia menjadi indah karena
Keenan membuatnya dengan cinta yang lebih dalam dari
sekadar cinta Keenan pada seni.”
Kali ini Keenan kehilangan kemampuan untuk
merespons.
Dalam sekejap, Luhde berubah menjadi gadis remaja
yang pemalu. “Saya cuma ingin menyimpannya. Tidak ada
maksud lain. Kalau memang tidak mungkin, juga tidak apaapa.
Maaf ya kalau saya sering lancang sama Keenan,” tuturnya
dengan nada sesal. Cepat, Luhde mengangkat baki berisi
cangkir-cangkir kopi itu dan berlalu dari sana.
Keenan tertegun di tempat. Satu dilema besar menyerang
hatinya. Dilema yang sebelumnya tak pernah ada.
225
Ubud, Maret 2001 ...
Malam menjelang petang, saat semua orang sudah terlelap,
seseorang masih berada di luar kamarnya. Menatap langit
malam yang jernih, yang memunculkan serakan bintang tak
terhingga banyaknya.
Keenan duduk sendirian dengan posisi menengadah. Ia
ingin mengenang malam-malam seperti ini, saat ia berbaring
di atap kamarnya di Bandung, menikmati jernih dan luasnya
angkasa, memikirkan orang yang sama.
Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar
genggaman tangan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang
lalu. Sesuatu yang tak pernah ia sempat berikan. Sesuatu
yang ia bersihkan hampir setiap hari, tapi cuma bisa dinikmati
sendiri. Pahatan itu berbentuk hati yang dipenuhi
relief abstrak menyerupai gelombang air di seluruh permukaannya.
Begitu rapi dan detail. Ketika membuatnya, leher
Keenan sampai sakit selama satu minggu. Ia tersenyum
sendirian mengingatnya.
26.
LEMBARAN BARU
226
Diamati dan dirabanya lagi relief itu. Di antara motif gelombang
air tadi, tersembunyilah dua inisial yang kalau diamati
dengan saksama baru terbaca: K & K.
Mendadak, terdengar bunyi angin yang bertiup bagai seruling.
Menggoyangkan kentungan-kentungan bambu yang
tergantung di tepi atap, yang seketika melantunkan bebunyian
merdu. Keenan bergidik kedinginan saat angin itu
mengembusi kulitnya. Namun, ia masih belum ingin beranjak.
Ia teringat bebunyian itu. Lebih dari setahun yang lalu,
bercampur dengan satu lagu yang dulu ia putar hampir tiap
malam saat memahat sendirian di sini. Lagu yang selalu
mengingatkannya pada orang yang sama. Pelan, hanya untuk
didengar dirinya sendiri, Keenan mulai bersenandung:
“And my bitter pill to swallow is the silence that I keep/
That poisons me, I can’t swim free/ The river is too deep/
I am no worse in love with your ghost/ In love with your
ghost ...”
Nada terakhirnya menggantung di udara. Menyisakan
suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan teringat
kata-kata Luhde. Kenangan hanyalah hantu di sudut
pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara sebuah cinta pada
kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekalipun
Kugy adalah bayangan terindah yang pernah hidup dalam
hatinya.
Keenan memejamkan mata. Meresapi perih yang merasuki
seluruh sel tubuh. Namun, ia pun tahu, sudah saatnya
ia melepaskan bayangan itu. Keenan mengecup pelan pahatannya.
“Kecil ... mungkin ini memang bukan untuk
kamu,” bisiknya. Baru sekali itu Keenan merasakan perihnya
perpisahan yang dilakukan sendirian.
227
Hari hampir pagi. Kokok ayam sudah terdengar dari berbagai
jurusan. Semburat matahari mulai terlihat, perlahan
menggeser jernih langit malam dan bintang-bintang.
Keenan tahu kamar itu tidak dikunci. Dan ia pun tidak
berniat membangunkan si empunya kamar. Hati-hati, ia
membuka pintu kayu itu. Melangkah sepelan mungkin.
Tampak Luhde tertidur pulas dengan wajah damai, tubuhnya
terbungkus selimut sampai leher, dan rambutnya yang
panjang tergerai bebas di atas bantal.
Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbulkan
suara, Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah
Luhde, lalu berkata lirih, “Selamat ulang tahun ....”
Bandung, Mei 2001 ...
Eko kembali janjian dengan Kugy di Pemadam Kelaparan.
Makan siang bersama, seperti yang biasa mereka lakukan
setidaknya dua kali seminggu belakangan ini. Sebuah ritme
baru yang benar-benar menjadi oasis bagi Kugy setelah sekian
lama. Ekolah satu-satunya sahabat terdekat baginya
sekarang.
Siang itu, Kugy membahas rencana pengambilan SKS-nya
dua semester ke depan. Apa yang ia rencanakan membuat
Eko tercengang-cengang.
................ .............. .......... ...... ................ ................ .......... ..................
ini?” Mata Eko seperti mau lompat keluar dari wadahnya.
“Terus ... semester depan lu udah bisa skripsi?”
Kugy mengangguk sambil tersenyum-senyum kecil.
“Wah, Gy ... waaah ...” Eko geleng-geleng kepala, “Ini
.............. .......... .................. ............ .............. ........ ........ ............ ........
................
Kugy memperlebar cengirannya. “Coba tolong diperjelas,
228
maksudnya ‘nggak elu banget’ itu, apa?”
“Gua tahu, lu kalo udah terobsesi sama sesuatu memang
kayak orang kesurupan jin Prambanan, suka rajin nggak
...................... .......... ........ ........ ........ .............. .................. ................ ........ ..........
pernah lu segila ini sama sekolah? Napsu banget sih pingin
............ .............. ........ ............ ................ .................. .......... ........ ................
lebar.
Kugy terbahak. “Berarti, selama ini kita temenan sejak
SMP masih belum cukup untuk lu memahami gua luar dalam.
Gua napsu pingin cepet lulus bukan karena gua cinta
kuliah. Justru gua pingin cepat-cepat keluar, makanya gua
ngebut gila-gilaan.”
Eko mengeluarkan ‘‘ooh’’ panjang. Matanya mendelik penuh
arti. “Jadi ... ceritanya ada yang mau kabur dari
sesuatu, nih?”
Kugy mengerutkan kening, “Kabur apaan, sih.” Namun,
sesuatu tersentil di dalam hatinya oleh ucapan Eko
barusan.
Air muka Eko berubah serius. “Gy, gua nggak pernah
mau tanya macem-macem sama lu karena gua menghargai
privacy lu. Gua tahu lu bukan tipe orang yang dikit-dikit
curhat. Jadi, selama ini gua lebih banyak nunggu bola. Kalo
lu mau cerita, ya syukur. Kalo nggak, gua juga nggak akan
maksa. Tapi, please, gua cuma mau tanya satu hal: ada apa
dengan lu sejak setahun yang lalu? Lu berubah drastis, menarik
diri, dan kita nggak pernah tahu kenapa.”
Lama Kugy menatap Eko, tanpa bisa bersuara. Di tenggorokannya
sudah membuncah aneka cerita yang siap muntah
keluar. Namun, lagi-lagi, ia merasa lumpuh. Kugy pun
menggeleng sambil tersenyum tipis, “Sori, ya, Ko. Gua masih
belum bisa cerita.”
Eko menghela napas panjang. “Lu nggak kangen masamasa
geng midnight kita zaman dulu, apa?”
229
“Kangen,” jawab Kugy pelan, “tapi gua juga nggak keberatan
dengan kondisi sekarang. Kadang-kadang, rasanya
lebih enak malah. Lebih lega.”
“Terserah, deh,” sahut Eko seraya mengangkat bahu.
Keduanya terdiam.
“Gua kangen Keenan,” kata Eko tiba-tiba. “Dia ke mana,
ya?”
Hati Kugy seperti kena setrum di gardu listrik begitu
mendengar nama itu disebut. Sebisa mungkin, ia berusaha
tampak tenang dan tak terpengaruh. “Lu kan sepupunya,
nggak bisa tanya keluarganya yang di Jakarta?”
“Keluarganya aja nggak tahu dia di mana.”
“Oh,” gumam Kugy pendek. Meski air mukanya tak berubah,
tapi timbul gelombang besar dalam hatinya.
.......... .......... ............ .............. ................ .......... ............ ........ ..............
Gila, ya. Kok bisa gitu, sih? Gua nggak ngerti ...” tahu-tahu
Eko mendongak menatap Kugy, “lu berdua tuh emang orang
............ .......... .......... .......... .................. .......... .......... .......... .............. ..............
sih lu pada?”
Kugy tak kuat menahan senyum melihat sewotnya Eko.
“Marah-marah kayak gitu pertanda sayang, tauk.”
“Sayang-sayang ... nyebelin lu, Gy,” sahut Eko sambil manyun.
“Tapi gua masih berminat kok jadi temen lu lamaan
dikit. Mungkin karena sayang, atau mungkin karena pada
dasarnya gua hobi mengoleksi spesies langka dan jelek kayak
lu.”
Kugy tertawa. “I love you, too.”
..............
Ubud, Oktober 2001 ...
Tidak sampai setahun. Lukisan Keenan mulai ramai dibicarakan
orang. Namanya mulai beredar di kalangan galeri
230
dan kolektor. Namun, Keenan belum berminat untuk masuk
ke pasaran galeri Jakarta, ia bertahan di galeri Pak Wayan
di Ubud. Beberapa kolektor yang pernah membeli karyanya
dengan rajin menanyakan lukisannya yang terbaru, dan peminat
baru yang tertarik pada karyanya juga terus bertambah.
Namun, tidak ada yang segesit kolektor yang satu itu.
Pembeli lukisannya yang pertama. Ia bahkan seolah-olah
membaca siklus kreativitas Keenan. Jarang sekali ia keduluan
oleh pembeli lain. Sepertinya ia terobsesi untuk mengumpulkan
seri lengkap dari lukisan serial Keenan yang
sekarang mulai digunjingkan di mana-mana.
Keenan sendiri merasa lucu ketika tahu lukisannya menjadi
perebutan dan perbincangan. Di hadapannya terbuka
buku tabungan yang baru dibukakan oleh Pak Wayan. Setelah
mengalami masa-masa tersulitnya di Bandung, ia tak
pernah bermimpi akan punya uang sebanyak itu. Dan tibatiba
Keenan tergerak untuk bertanya, “Poyan ... apa jadinya
kalau saya tahu-tahu mentok? Jenuh? Atau ... gimana kalau
orang-orang itu yang bosan dengan lukisan saya?”
Pak Wayan terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. Ia
menarik kursi lalu duduk di hadapan Keenan. “Kita memang
tidak pernah bisa menduga selera kolektor. Kita juga tidak
pernah bisa mengendalikan pendapat kurator. Mereka itu
musiman seperti buah,” jawab Pak Wayan sambil tersenyum
lebar, “tapi, kekhawatiran kamu ada benarnya. Sebenarnya
diri kita sendirilah yang paling susah diduga.
“Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana
semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi.
Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tapi tidak
selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber
inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,
tidak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi rasa
231
cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sendiri,
tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi
kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”
Karena tidak yakin, Keenan memilih untuk menggeleng.
Pak Wayan berpikir sejenak. “Begini. Sekarang kamu sedang
menjalin cinta dengan Jenderal Pilik. Cerita-cerita itu
menjadi sumber inspirasi kamu. Jodohmu. Supaya Jenderal
Pilik bukan cuma hidup di buku tulis itu, melainkan di hati
kamu, cinta itu harus dipelihara. Selama Jenderal Pilik belum
benar-benar hidup dan mendarah daging bersama
kamu, selama itu kamu harus selalu hati-hati. Mengerti?”
Kali ini Keenan mengangguk. Namun, ia tak menduga,
betapa dalam makna yang tersembunyi dari percakapan sore
itu.
Jakarta, malam tahun baru 2002 ...
Saat semua orang rumahnya sudah tertidur. Kugy memilih
tetap terjaga di teras depan. Bertemankan obat nyamuk
bakar dan Santai, anjing basset cokelatnya, yang sedari tadi
tertidur santai di kakinya.
Dua kali tahun baru ia lewatkan tanpa resolusi apa-apa.
Berbeda dengan kebiasaannya yang gemar melakukan ritual
menulis target dan khayalan di atas kertas lalu menyembunyikannya
di satu tempat untuk dibaca lagi pada malam
tahun baru berikutnya. Persis seperti Santai yang gemar menyembunyikan
tulang di satu tempat, untuk satu hari kembali
ia gali dan nikmati.
Namun, di hadapannya terletak secarik kertas dan
pulpen. Hanya saja bukan untuk resolusi. Setelah sekian
lama merenung, Kugy pun menyambar pulpen dan mulai
menulis:
232
Neptunus, kali ini saya benar-benar berharap surat ini
betulan sampai ke laut. Kenapa begitu? Karena saya
kepingin jujur: saya kangen sekali. Saya kehilangan sekali.
Dan, saya merasa, malam ini dia dekat sekali dengan laut.
Titip salam, ya. Awas kalo nggak disampein. Saya mogok
jadi agen.
Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Baru siang nanti
ia bisa menghanyutkannya di kali dekat rumah. Khusus untuk
malam ini, ia harus memikirkan cara lain. Kugy lalu
mendekapkan surat itu di dadanya. Memejamkan mata.
Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. Ia
pernah bilang pada Keenan, suara ombak adalah lagu alam
yang paling merdu. Dan Kugy kini merasa mendengar
ombak bersahutan.
Di mana pun kamu ... semoga pesan ini sampai, meski
tanpa perahu ... aku sangat kehilangan kamu.
Sanur, malam tahun baru 2002 ...
Di tepi pantai, Keenan melamun menatap ombak laut. Menyadari
bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus
berhenti, memikirkan sosok satu itu.
Kamu pasti senang sekali kalau bisa di sini ... dekat dengan
laut ... kamu pernah bilang, suara ombak adalah
lagu alam yang paling merdu. Napas Keenan menghela
panjang. Sedang apa kamu sekarang, Kecil?
.................... ............ ................ .......... ............................ ................ ......
ngan suara perempuan yang juga memanggil namanya.
Keenan kembali diingatkan, ia sedang berada di tengah-tengah
pesta tahun baru di rumah milik teman baik Pak
Wayan. Halaman belakang yang langsung menghadap pantai
memungkinkannya untuk sejenak menikmati keluasan ini
233
tanpa perlu diusik kerumunan orang.
“Nan, ayo, ke dalam sebentar. Kamu dicari Pak Wayan,”
ajak pria itu.
Sementara Luhde langsung beringsut ke sisi Keenan dan
merangkul lengannya. Ia begitu bersinar dan ceria malam ini.
Untuk pertama kalinya, Luhde menghadiri sebuah pesta.
Namun, yang paling membahagiakannya adalah semata-mata
ia bisa melewatkan pengalaman pertama ini dengan
Keenan.
“Maaf, ya. Saya sempat keluar sebentar dan ninggalin
kamu. Nggak pa-pa, kan?” kata Keenan seraya mengelus pelan
punggung tangan Luhde.
“Tidak apa-apa, dari tadi saya ditemani ngobrol,” Luhde
melirik pria di sebelahnya.
Keenan tertawa kecil, “Terima kasih udah mau dititipin
Luhde, Mas. Semoga nggak kapok.”
“No problem. Seru kok ngobrol sama Luhde. Pintar, dan
banyak kejutan,” sahut pria itu sambil melempar senyum.
Hampir otomatis, Luhde langsung menunduk tersipu, se-
............ .............. ............ .......... .......... .................. .................... .......... ........
senggol. Namun, dalam hatinya, ia senang bukan main.
Luhde tahu, pria itu bukan orang sembarangan. Dialah pembeli
lukisan Keenan yang pertama, dan kini pria itu dan
Keenan tak ubahnya dua orang sahabat. Setiap kali datang
ke Bali, pria itu selalu mampir ke galeri, menyempatkan
waktu untuk berjalan-jalan dan ngobrol bersama Keenan
dan keluarganya. Dan malam ini, pria itu bahkan memilih
bertahun baru bersama mereka di Bali.
Mereka bertiga lalu kembali ke rumah. Sambil berjalan,
Keenan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah laut
untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, sisa tiupan terompet
kertas masih terdengar. Kembali mengingatkannya bahwa
tahun baru telah dimulai. Lembaran baru telah dibuka.
234
Kepalanya pun berputar. Menghadap ke depan. Meninggalkan
pantai di belakangnya.
Jakarta, Januari 2002 ...
Kugy telah lulus seminar dengan nilai A. Dan ia merayakannya
dengan pulang ke Jakarta setelah berbulan-bulan tidak
pernah pulang. Pada Minggu siang itu, seluruh anggota
keluarganya komplet berkumpul di ruang teve. Keriuhan dan
lemparan celetukan menjadi ciri khas setiap kali “The K
Family” berkumpul.
“Jadi, semester depan kamu tinggal skripsi, Gy?” tanya
kakak perempuannya, Karin.
“Yup!”
“Keviiin ... kok lu lelet, siiih? D3 tapi udah mau empat
tahun dan masih belum menunjukkan gejala kelulusan. Kalah
sama Kugy yang S1,” timpal Karin lagi sambil menjitak
kepala Kevin, adik laki-lakinya.
............ .......... ................ ............ ................ ............ .............. ........ ............
dong, gue kan gaul, penuh prestasi, Kugy kan nerd. Ya terang
aja dia cepet kuliahnya. Nggak ada kegiatan lain.”
27.


Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified