Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Joey : Si Frustasi Yang Beruntung

HARI PERTAMA

1
Joey Coyle tersungkur di tempat tidur. Ia sakau sepanjang malam, sakit yang dibuat atas ulahnya sendiri, kesemua permasalahannya berawal dari meth cairan kimia terlarang, yang selalu membuatnya uring-uringan dan bingung. Ketika ia kembali memompakan cairan itu ke dalam tubuhnya, tenaga hebat serta merta menjalar memenuhi seluruh aliran darahnya; detak jantung dan putaran pikiran dalam otaknya seraya berlomba untuk berpacu lebih keras lagi. Itulah yang dirasakannya malam itu. Ia baru bisa benar-benar memejamkan matanya, tidur lelap ketika hari menjelang siang.
Hari ini, ia akan mendapat jatah tidur sebentar saja karena ia telah kehabisan persediaannya. Tidak ada persediaan apa pun yang tersisa, itu menunjukkan bahwa dirinya sedang bokek, tidak memiliki uang. Sudah hampir satu bulan lamanya, serikat kerja tempat di mana ia bekerja di pelabuhan, belum menelepon untuk memintanya kembali bekerja. Ia menghasilkan uang banyak dari kerja serabutan, kerja kontrak musiman, pekerja kasar sebagai seorang longshoreman (pekerja pelabuhan) yang biasanya mengerjakan pekerjaan yang berkenaan dengan mekanik, konstruksi, dan lainnya di seputar pelabuhan. Ayah dan kakak lelakinya pun bekerja di sana. Joey tidak tamat Sekolah Menengah Atas, namun dirinya berbakat dalam bidang mesin. Di pelabuhan, ia juga biasanya ditugaskan untuk memperbaiki lift, Joey memang ahlinya dalam bidang yang satu ini. Ia bangga atas keahliannya itu. Oli mesin kotor melumuri telapak tangannya yang tebal dan keras. Sudah lebih dari satu tahun belakangan ini, laju perekonomian di wilayah Philadelphia sedang lamban dan
buruk; dan akibatnya kesempatan kerja semakin terbatas. Panggilan kerja memang sempat diterimanya untuk mengisi kekosongan pekerja tetap di pelabuhan, karena mereka pergi berlibur memperingati hari raya Natal. Sejak itu, Joey belum mendapatkan pekerjaan lain. Menjelang matahari terbit, Joey uring-uringan seperti orang gila. Di manakah kiranya ia akan menemukan pekerjaan perbaikan atau renovasi lain?
Jam-jam kosong tanpa kegiatan apa pun, telah membuat Joey merasa seolah dirinya dihimpit beban yang sangat berat. Dia berusia dua puluh empat tahun dan masih tinggal di rumah ibunya. Ia sangat menyanyangi ibunya dan berbakti kepadanya. Ayahnya telah meninggal dunia karena penyakit serangan jantung pada suatu malam setelah ia dan ayahnya memperdebatkan suatu argumentasi. Lelaki tua itu tidak pernah menyukai penampilan Joey yang berambut gondrong. Kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya, disampaikannya kepada Joey dengan penuh kemarahan hebat; dan Joey merasa bersalah bahwa kematian ayahnya itu telah disebabkan oleh kelakuannya yang urakan. Delapan tahun telah berlalu, namun rasa bersalah yang membebani perasaannya tidak pernah sirna dari hatinya. Membantu ibunya memang telah sedikit menolong, mengurangi beban bersalah yang dipikulnya, oleh karenanya Joey tinggal bersama ibunya. Namun, ibunya jatuh sakit. Ia menderita penyakit liver akut dan membutuhkan perawatan. Joey tidak bisa diandalkan.
Ibu Joey pindah rumah ke sebuah apartemen beberapa blok jauhnya dari rumah itu, tinggal bersama kakak perempuannya, Ellen. Joey menanggapi kenyataan seperti itu sebagai serangan mental lain bagi dirinya. Ia merasa
dirinya telah mengecewakan ibunya, dan sebaliknya, ia merasa ibunya telah membuatnya kecewa. Ibunya tidak lagi berada di dekatnya. Joey merasa terpukul dan gagal, tetapi untuk berbagi cerita dengan orang lain mengenai perasaannya, tentu tidak mudah baginya. Joey bukanlah tipe orang yang mau melihat Jauh ke dalam sisi dirinya, bagaimana dan mengapa ia ditimpa permasalahan yang bertubi-tubi. Joey terus menjalani hidup apa adanya sesuai pembawaan alamiah dirinya sementara meth dengan setia, membantunya. Banyak orang menjulukinya dengan istilah speed, Joey menyebutnya "blow". Karena menurut Joey, meth mampu meniup semua setan penyebab keraguan dalam diri, begitu pula dengan depresi. Beberapa bulan lamanya sejak ibu Joey meninggalkannya sendiri mengarungi malam seperti sedang menunggang carousel, komedi putar; tekanan darahnya tinggi, memuncak ke ubun-ubun lalu tiba-tiba ambruk. Kemudian tekanan darahnya kembali naik dan berpacu keras, untuk mendapatkan uang banyak dan lebih banyak lagi keperluannya, terutama benda yang satu itu, yang selalu membuatnya bersemangat.
Rumahnya yang terletak di Front Street, berada di ujung deretan perumahan. Di bagian barat area itu adalah kawasan utama; gereja, sekolah, pasar, restoran, dan bar. Kota ini adalah kawasan tertua di Philadelphia; rumah batako yang beratap rendah, kebanyakan dari rumah-rumah di sana, yang tertinggi hanya memiliki dua lantai. Sikap kekeluargaan antara warga di sana masih kuat. Para anak laki-laki, ayah-ibu, keponakan-kemenakan, dan para cucu; semuanya hidup berdampingan dalam damai. Setiap warga yang bertemudengan warga lainnya, mereka akan saling menyapa hormat. Anak-anak kecil dan cucu-
cicit sering terlihat bermain bola di jalanan. Jika salah seorang warga South Philly ditanya, apakah Anda mengenal si A "dari lingkungan sekitarnya", artinya sama saja mereka menanyakan saudara atau kerabat dekat, atau teman akrab. Mayoritas penduduk South Philly memeluk agama Katholik. Mereka bangga akan kepercayaan yang dipeluk mereka; dan bahkan kadang-kadang mereka bersikap takhyul, fragmatis; namun hati mereka tulus,
Dunia telah berubah di sekitar wilayah South Philly. Kesempatan kerja yang dulu melimpah, kini sukar didapat. Yang asalnya terbentang lebar seperti permadani indah, kini benang-benangnya pun telah rapuh. Permadani yang semestinya merupakan tempat berpijak menuju masa depan gemilang, kini tiada lagi. Dari pintu belakang rumah Joey, jika menatap ke arah timur, terbentang luas dunia yang semrawut, sebuah kawasan tanah yang terbengkalai. Rumput dan ilalang tumbuh tinggi dan rimbun, tempat yang sekaligus sebagai pembuangan sampah dan barang bekas, Beberapa rumah gudang terlihat telah rusak, yang dulunya dikenal sebagai area industri, kini telah mati. Beberapa rongsokan mobil bekas terlihat berjejer di sana, tidak teratur. Sesekali terlihat mobil baru atau keluaran baru, yang melintas di antara bangkai-bangkai mobil Itu, menelusuri sepanjang tepian Sungai Delaware. Langit di atas kawasan ini selalu terlihat kelabu dan berdebu. Di belakang deretan perumahan di mana Joey tinggal, terdapat sebuah bangunan jalan tol tinggi dan kokoh Interstate 95, yang bayangannya saja lebih panjang dan lebih lebar daripada bayangan satu blok perumahan di sekelilingnya.
Semasa kanak-kanak, Joey sering bermain di areal terbengkalai itu. Ia akan berteduh di bawah bayangan
Interstate itu, sementara suara mesin kendaraan berderu di atas kepalanya seperti suara dewa yang sedang marah. Ia akan mencari lubang tikus, menyiramkan bensin ke dalamnya, kemudian membakarnya. Ia akan duduk menjauh dari lubang itu sembari mengawasi, siap dengan busur dan anak panah di tangan, yang serta merta melesat menerjang sasarannya; tikus-tikus yang terpaksa melompat keluar dari lubang persembunyiannya karena kepanasan. Ketika usianya menginjak remaja, ia dan teman-temannya akan menyelinapkan sebuah pesawat televisi dari truk atau mobil boks yang dipenuhi muatan barang, yang melintas lamban di sana, lalu menjual barang haram itu ke pasar gelap. Uangnya lalu dipakai membeli ganja dan minuman keras. Bagi anak-anak dan sebagian bocah remaja tanggung, tempat itu dianggap layaknya surga dan sekaligus tempat pelarian. Tempat yang liar, menggiurkan bagi mereka, sekaligus berbahaya. Suatu ketika, Joey pernah ditangkap seseorang yang kejam berperawakan tinggi besar, dan mengangkat tubuhnya menggantung di udara, hanya dengan jempolnya saja. Cukup lama sebelum bala bantuan dari teman-temannya tiba, sebelum ia mampu kembali ke pangkuan ibunya. Dunia luar memang ganas. Kini bagi Joey, semua itu tinggallah kenangan.
Tidak seperti teman-temannya, beberapa tahun belakangan ini, Joey jarang keluar rumah. Kematian ayahnya, krisis di tempat kerjanya, dan ketergantungannya yang kian hari semakin meningkat pada narkoba seakan telah memanjangkan masa kanak-kanaknya. Ia merasa terlahir kembali dalam usia yang berbeda; Joey semestinya dapat menjalani kehidupannya dengan bahagia jika tidak salah langkah; bekerja normal setamat sekolah, menikah, memiliki anak, menjadi kakek,dan pulang ke tempat
peristirahatan terakhir di pemakaman HolyCrossCemetery. Kini pekerjaan telah sukar didapat. Kebanyakan dari teman-teman Joey telah menamatkan sekolah menengah serta studi di sekolah keterampilan lainnya, dan mendapatkan pekerjaan yang layak di tempat lain. Lain halnya dengan Joey, ia tidak bisa beradaptasi seperti teman-temannya. Ia tidak sabar, untuk duduk di bangku sekolah, mendengarkan pelajaran dari guru dan membaca buku. Ia harus terus bergerak, melangkah, dan melaksanakan ke-mauannya. Itulah mengapa ia senang bekerja di pelabuhan atau galangan kapal, ia dapat menghindarkan diri bekerja dengan otak, melainkan menggunakan kekuatan fisik, tangan dan kakinya. Tanpa pekerjaan seperti itu, ia stuck, mati kutu.
Di luar sifat buruknya, ia tidak membahayakan orang lain serta sikapnya penyayang. Banyak orang menyenanginya. Kulit wajah Joey berwarna merah jambu, rambutnya tipis dan berwarna pirang, bahkan kumisnya yang berwarna sama, hampir tidak kentara padahal ia telah memelihara kumisnya selama limatahun. Begitu pula dengan alisnya, hanya samar-samar terlihat jelas karena warnanya yang juga pirang; ditambah lagi matanya yang berwarna biru selalu terlihat sayu. Joey berbicara seperti orang yang berbisik dengan keras, hal itu seringkah membuat lawan bicara tidak mampu menahan geli, mereka menertawakannya. Ia pemurah, sikap pemurah yang dimilikinya seperti sikap seorang bocah ingusan yang tidak tahu nilai sebuah barang. Jika Joey sedang dalam mood baik, ia akan rela memberikan barang apa pun yang diminta teman-temannya atau orang lain yang dikenalnya; bahkan jika benda itu pun bukan miliknya. Mudah bagi orang lain untuk menyukai Joey. Namun orang lain pun
akan mudah dibuat frustasi olehnya. Joey tidak dapat diandalkan, dalam segala hal. Perkataannya tidak bisa dipegang, seperti halnya helaan nafasnya yang tidak teratur.
Joey kebal terhadap masalah apa pun yang menderanya; masalah itu sendiri seakan enggan menghampirinya, ketika Joey sedang tidak bermasalah, ia akan mencari masalah. Seperti halnya yang dilakukan Joey suatu hari, ia memarkir mobilnya di tengah jalan memblokir laju lalu-lintas kendaraan lain. Memang, sekarang sudah lazim dilihat, mobil-mobil diparkir di pinggir jalan di South Philly, menghalangi lalu-lintas. Dengan banyaknya mobil di sebelah kiri dan kanan jalan, tentu yang tersisa hanyalah satu jalur saja. Sudah menjadi kebiasaan dan kesenangan tersendiri bagi para penghuni kawasan itu untuk memiliki hanya satu jalur jalan saja yang melintas di areal perumahan mereka. Jika seorang pengemudi menghentikan mobilnya, hanya untuk sekadar berbasa-basi dengan penghuni yang dikenalnya di sana, tentu saja, mobil-mobil di belakangnya harus rela menunggu, antri untuk sekadar dapat melintas. Begitu pula dengan mereka yang pulang berbelanja, mobilnya dibiarkan di tengah jalan sementara mengantar belanjaan ke dalam rumah. Pada hari ketika mobil Joey mogok di tengah jalan, ia membenamkan wajahnya di bawah kap mesin. Seorang pengemudi lain, tentu saja sedang terperangkap di dalam mobilnya, di belakang mobil Joey; jelas Joey tidak peduli akan kemacetan yang diakibatkan mogoknya mobil miliknya. Ia tidak peduli ketika lelaki itu memintanya untuk mendorong mobilnya ke bahu jalan. Pengemudi yang marah menorehkan pisaunya ke pelipis Joey bagian kiri. Oleh karenanya, Joey memiliki codet bekas luka pisau itu, yang memanjang
dari ujung mata kirinya hingga ke bagian bawah daun telinga. Bekas lukanya tidak membuat orang yang melihatnya lucu, namun cara pembawaan Joey bercerita pengalamannya, itulah yang membuat orang tertawa geli. Ia bercerita bahwa ketika ia hampir berhasil mengalahkan penyerangnya itu, polisi datang dan menuduhnya telah melakukan penyerangan, menuduhnya sebagai biang kerok kerusuhan itu sehingga ia malahan dipukuli oleh petugas keamanan tersebut. Nasib buruk yangmenimpanya adalah kenangan tersendiri buat Joey. Ia turut tertawa terpingkal-pingkal walaupun temannya menertawakan ulah bodohnya. Sebagai ironi, ia menyebutnya sebagai the luck of Irish keberuntungan Irlandia; Joey bahkan membuat tato "Irish" di bagian atas lengan kanannya, lengkap dengan tato gambar sebuah pipa cangklong, shamrock and shillelagh (bentuk ranting dengan tiga daun emblem Irlandia). Leher, dada, dan bahu Joey; lebar dan berisi. Tangannya terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan tubuhnya; disebabkan kebiasaannya menahan alat-alat mesin berat dengan dua lengannya karena telapaknya tidak cukup untuk menggenggam benda-benda berat dan besar tersebut. Ia tampak gagah, terutama dengan luka bekas codetan di wajahnya. Sebenarnya, Joey lebih berbahaya bagi dirinya sendiri daripada bagi orang lain. Speed atau blow telah merasuki otaknya, ia terkadang tidak mampu berkata dengan jelas bahkan untuk mengucapkan beberapa kalimat saja. Deretan gigi depannya tanggal, Joey kini mengenakan gigi palsu. Ketika gigi palsunya dilepas, Joey terlihat seperti kakek-kakek ompong. Joey mungkin saja dalam keadaan seperti itu terlihat seperti seorang gelandangan, namun pesona tebaran senyumnya, tidak pernah lepas dari bibirnya.
Hari ini, Joey memerlukan daya pegas untuk melawan kelakar humor atas dirinya, yang kini tengah dihadapinya.
2
Joey bangun segar bugar pada siang menjelang sore hari itu. Ia bangkit dari peraduannya, dari kasur besar milik ibunya di sebuah kamar tidur yang pinggirannya dihiasi panel kayu, dalam rumah ibunya di Front Street. Pengaruh narkoba masih dirasakannya, namun Joey memiliki satu keperluan yang sangat penting.
Joey yang mengenakan celana pendek, berjalan ke lantai bawah untuk menyiapkan seteko kopi. Joey berjalan ke luar rumah untuk duduk di tangga halaman depan sembari menikmati secangkir kopi. Sore itu udara sejuk. Joey menatap jalanan yang agak terhalang deretan mobil yang diparkir di kiri dan kanan jalan. Pandangan matanya menembus hingga ke arah Spite's Bar di ujung jalan.
Di atas kabel telepon yang membentang di antara tiang-tiang, langit di atasnya terlihat kelabu. Joey sudah tidak sabar menunggu datangnya 'pak pos1, cek pembayaran pekerjaannya di musim liburan yang lalu, belum juga diterimanya. Semestinya akan tiba hari itu jumlahnya lebih kurang $700. Uang itu tentu akan sangat berarti baginya, paling tidak untuk bertahan hidup selama beberapa waktu. Belum terlihat tandatanda kemunculan tukang pos, dan kalaupun cek-nya tiba, tentu akan menyita waktu yang tidak sebentar baginya mengantri untuk mencairkannya. Desakan candu obat dari dalam tubuhnya kembali menagih. Joey berpikir untuk meminta bandar obat terlarangnya agar rela mengutanginya.
Selang beberapa rumah di depannya, terlihat John Behiau sedang memperbaiki mobil ayahnya. Mobil Chevy Malihu '71 berwarna biru maroon. Johnny sedang mengetok bagian depan mobil dan mengecetnya kembali dengan warna biru primer. Temannya, Jed Pennock, hanya berdiri mengawasi Johnny yang sedang sibuk bekerja. Keduanya, John dan Jed, sedang menganggur, sama seperti Joey. John berusia dua puluh satu tahun, tubuhnya yang tertinggi dari kedua rekannya, kurus, berambut pirang dan sedikit congkak, peringainya kasar. Jed bertubuh pendek dan tambun, rambutnya hitam. Pada usianya menginjak dua puluh tahun, kumis Jed lebih terlihat jelas daripada kumis Joey. Jed mengenakan kacamata tebal dan frame-nya lebar. Sikapnya, kontras sekali dengan sikap John, ia pemalu, tutur katanya lemah lembut dan pesimis. Keduanya stuck seperti halnya Joey, usia mereka sudah terlalu tua untuk kembali ke Sekolah Menengah Atas, lagipula mereka tidak berminat untuk melanjutkan ke jenjang kuliah. Terlalu lama mereka telah menunggu perekonomian di Philadelphia kembali membaik, agar dapat memperoleh pekerjaan stabil dan menjalani kehidupan normal.
Joey mengenal keduanya karena sama-sama tumbuh dewasa sejak ketiganya masih kanak-kanak. Joey berniat untuk membuat keduanya senang. Ia berjalan menuju kedua pria itu sembari tersenyum lebar.
"Aku bisa memperbaiki mobilmu jika kau mau mengajakku ke kota," kata Joey. Masalah Johnny segera terselesaikan. Kini ketiganya telah berada di dalam mobil Chevy yang sedang melesat ke arah kota.
Bandar obat langganan Joey sedang keluar rumah. John dan Jed menunggunya di dalam mobil, sementara Joey mengetuk pintu, lalu berjalan ke samping rumah dan
mengetuk pintu samping. Bukan masalah besar bagi kedua rekan Joey, namun baginya, dengan tidak adanya sang bandar di rumah, itu adalah musibah besar. Ia kelabakan. Joey membantingkan tubuhnya ke jok mobil dengan perasaan kesal dan penuh kekecewaan.
"Kita akan mencobanya lagi nanti," katanya. Dalam perjalanan pulang, John mampir untuk mengisi bahan bakar di Pom Bensin Sheii yang terletak di Oregon Avenue. Selesai memenuhi tanki Chevy, John pulang dengan memotong jalan melewati Swanson Street. Jalan menuju kawasan barat tanah terbengkalai itu, di bawah jembatan I-9S; sedang rusak berat dan bergelombang. Jalan itu dulunya ramai dilintasi kendaraan, namun sejak pembangunan jalur cepat yang membentang di salah satu sisi jalan itu tidak diteruskan, Swanson kini sepi. Jalan itu sudah ada semenjak lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Swanson Street sekarang hanya dilintasi oleh truk-mobil boks barang yang melintas, memotong jalan menuju dermaga dekat Oregon dan Delaware Avenue. Bagi masyarakat setempat, keberadaan jalan itu telah dimanfaatkan untuk menghindar dari kemacetan yang sering terjadi seputar Lee Street, Jauh di depan, terlihat jembatan Wait Whitman yang membentang kaku.
Sementara John sedang sibuk memilih jalan yang agak rata, Joey duduk lemas di jok belakang, depresi dan merana seperti halnya kawasan terbengkalai yang sedang dilalui mereka. Di sebelah kiri mereka, terlihat tumpukan ban bekas yang menggunung seperti bukit hitam, juga sampah, pegas springbed, dan busa kasur bekas, serta serpihan beling. Di sebelah kanan jalan adalah sebuah lahan kosong milik perusahaan yang bernama Puroiator Armored Car Company, perusahaan keamanan pengiriman
uang atau barang berharga lainnya. Sudah menjadi kebiasaan lama Joey, ia akan menyusuri pinggiran jalan Swanson ini, untuk sekadar menemukan barang bekas yang masih layak digunakan. Terkadang orang membuang barang bekas yang masih bisa dijual kembali.
Tentu saja, kesempatannya pada hari itu pun tidak dilewatkan begitu saja; terlihat sebuah kotak besar metal berwarna kuning, terbalik dengan rodanya berada di bagian atas. John melambatkan laju mobilnya.
"Berhenti," kata Joey. "Mungkin kotak itu bisa kita pergunakan sebagai kotak perkakas." John menghentikan mobilnya.
Joey membuka pintu mobil kemudian mendekati untuk memeriksa benda tersebut. Kotak itu dapat dibuka dua arah dengan sebuah lubang untuk gembok di bagian tengah. Tidak dilihatnya sebuah gembok pun. Tutup kotak itu terhempas ke samping ketika Joey membukanya, dua buah kantong kanvas terlempar keluar dari dalam kotak. Joey mengambil salah satu kantong kanvas itu lalu membawanya ke dalam mobil untuk diteliti lebih seksama. Bagian atas kantong itu disegel dan tergantung di segel itu, sebuah tag berwarna kuning. Tulisan warna hitam di tag kuning itu berbunyi:
"Federal Reserve Bank."
Joey berjingkrak kegirangan.
"Wow!" teriaknya. "Milik siapa kotak ini?"
Joey kembali keluar dari mobil untuk mengambil kantong kedua dan segera menaruhnya di jok belakang. Ia menutup pintu mobil bagian belakang, kemudian duduk di jok depan bersama salah satu tas kanvas itu.
"Ayo, cepat pergi dari sini!" teriaknya lagi, "Cepat!"
"Ke mana?" Teriak John yang telah menginjak gas.
"Rumahku! Cepat-cepat!"
John tancap gas. Mobil melaju kencang seakan sedang melompat-lompat di atas rel kereta api, kemudian belok ke kiri di perempatan jalan Wolf Street. Joey meraba-raba laci mobil, mencari sesuatu alat untukmembuka segel kantong kanvas. Ia berhasil melubangi tas itu kemudian merobek paksa kain kanvas kantong tersebut. Joey histeris.
John menghentikan mobilnya sejenak di antara dua bangunan gudang tua untuk melihat isi kantong. Jed,yang kini duduk di jok belakang, segera mendongak ke depan. Di dalam kantong kanvas yang baru saja dibuka lebar oleh Joey, terlihat beberapa ikat benda yang terlihat seperti ... Sweet Jesus! ... uang kertas pecahan $100 ...!
"Oh, mani" kata Joey. "Mimpi apa aku semalam."
John dan Jed menelan ludah.
Roda mobil berputar cepat ketika Malibu meluncur kembali menuju bayang-bayang 1-95 yang sudah tidak asing lagi bagi mereka. Joey merasa tekanan darahnya mengalir deras memenuhi nadinya, hampir-hampir terasa seperti ketika cairan haram bereaksi di tubuhnya. Bocah-bocah dewasa itu berjingkrak-jingkrak riang, berteriak-teriak sembari menepuk bahu teman-temannya satu sama lain. Joey terpaku menatap tumpukan uang dalam kantong kanvas itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya apa yang tengah dilihatnya. Ia pun tertawa, dan tertawa, tak henti-hentinya. Joey tertawa berlebihan sehingga gigi palsunya copot dan jatuh ke pangkuannya.
3
Detektif Pat Laurenzi yang kalut sedang berpatroli, ketika
sekitar pukul 3 sore, ia mendengar sebuah laporan dari radio komunikasi polisi. Sebuah mobil jasa pengamanan uang secara tidak sengaja telah menjatuhkan kantong uang di sekitar Front Street dekat properti Purolator Armored Car Company. Tidak disebutkan berapa jumlah uang yang hilang.
Detektif Pat terlihat seperti anak remaja yang baru menginjak dewasa, Bola matanya lebar dan kelopak matanya kubil, menandakan ia telah lama mengabdi di kepolisian. Ia senang membuat orang lain mengira dirinya sepuluh tahun lebih muda dari usia yang sebenarnya, tiga puluh satu tahun. Gaya rambutnya dibelah dua tepat di tengah-tengah. Ia telah menjadi detektif sejak lima tahun yang lalu, dan ia menyenangi pekerjaan tersebut. Ketika kasus penting mengharuskannya bekerja tanpa istirahat, siang dan malam, bahkan tanpa sempat pulang ke rumahnya; kapan ia memiliki waktu untuk cukur rambut? Terkadang Pat terpaksa harus tidur meringkuk di mobilnya, dan ketika ia terbangun, rambutnya akan terlihat berdiri dan susah diatur. Beberapa detektif lainnya di South Philly berpenampilan rapi. Ketika mereka naik pangkat mengenakan opulet kuning emas di pundaknya, pakaian mereka terlihat jauh lebih bagus, dan mereka akan membeli sepatu kulit asli buatan Italia. Tidak demikian halnya dengan Pat. Penampilannya seperti seorang anak SMA yang tergesa-gesa mengenakan seragamnya karena terlambat pergi ke sekolah. Kaos oblong yang dikenakan Pat dimasukkan ke dalam celanajeans-nya yangberwarna coklat muda yang dikenakan di atas garis pinggang. Ia mengenakan kaos kaki putih di dalam sepatu-bot polisinya.
Pat merespons berita dari kantor pusat kepolisian tersebut. Ia tidak merasa kaget atas laporan kasus kehi-
langan uang perusahaan Purolator. Kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Hal itu biasanya melibatkan nilai sekitar dua ribuan dolar saja dan uang yang hilang akan segera ditemukan. Dengan ditemukannya uang yang hilang, tentu akan terungkap pula siapa pengemudi kendaraannya yang juga menghilang, yang biasanya akan tertangkap beberapa hari kemudian setelah kejadian, dalam keadaan mabuk berat dan bangkrut di tempat perjudian di Atlantic City.
Namun, segera setelah ia menginjakkan kaki di kawasan South Philly (Philadelphia bagian selatan), di mana terlihatbeberapa pilar batu menjulang tinggi di antara beberapa batang pohon yang tumbuh jarang, Pat barulah sadar bahwa masalah kehilangan uang Purolator ini jauh lebih serius, Ditemukan dua buah kotak metal yang terjatuh dari mobil armored (mobil pengangkut uang), yang menurut laporan satu kotak metal tersebut berisi dua buah kantong kanvas dan kotak satunya kosong. Kedua kantong uang telah raib. Menurut perusahaan Purolator, jumlah keseluruhan uang yanghilang adalah sebesar US $1.2 million (satu koma duajuta dolar Amerika). Uang hasil keuntungan perjudian sebuah perusahaan kasino; yang artinya bahwa bundel uangtidak urut, baru diambil dari Federal Reserve Bank dalam nominal US $100 (pecahan seratus dolar Amerika), tidak akan mudah terlacak, uang yang benar-benar bersih yang siapa pun dapat menggunakannya dengan aman.
Bersama Letnan Jimmy Potocnak dan keempat anak buahnya, Pat pergi menuju kantor Purolator. Jajaran eksekutif perusahaan sangat senang menyambut kedatangan mereka dan segera menjelaskan bahwa mereka telah mencurigai pelakunya adalah sang pengemudi mobil boks.
"Sangat tidak mungkin kotak uang akan terjatuh begitu saja kalau kedua pintu belakang mobil boks telah dikunci rapat," salah seorang dari eksekutif perusahaan menjelaskan. "Tidak mungkin sama sekali."
Perusahaan Purolator meminta pihak kepolisian untuk melakukan tes lie detector (mesin deteksi kebohongan) kepada kedua pengemudi yang bertugas saat itu.
Bill Proctor dan Ralph Saracino yang malang telah mengetahui keduanya berada dalam masalah serius. Ketika keduanya digiring memasuki ruangan oleh anak buah Letnan Potocnak, Pat dapat melihat dengan jelas tubuh Proctor gemetar hebat. Ia seorang pria berusia lima puluh tahuan yang rambutnya telah memutih dan kumisnya tebal, seorang veteran perang yang kemudian dipekerjakan oleh Purolator.
Ia sepertinya sudah menyadari bahwa kecerobohannya akan mengakibatkan dirinya kehilangan pekerjaan, dan ia yakin benar bahwa semua orang tentunya akan mencurigai pria inilah yang telah merampok uang sebesar itu; bekerja sama dengan pihak lain. Ia telahmenceritakan detil kejadiannya berulangkaliselama dua jam terakhir ini. Proctor bahkan bersumpah bahwa dirinya telah mengunci kedua pintu belakang mobil boks dengan aman sore itu. Kedua kantong uang telah disimpan dalam salah satu dari kedua kotak yang dikuncinya dengan rapat untuk dikirim ke Ventnor, New Jersey, pada keesokan harinya. Saracino, kawan Proctor yang usianya lebih muda, menambahkan bahwa dia melihat sendiri Proctor mengunci pintu mobil boks.
Keduanya telah mengemudikan mobil boks melewati Delaware Avenue dan belok kanan di Wolf Street kemudian berbelok ke kiri menelusuri kawasan Swanson untuk
menuju pintu gerbang belakang Purolator. Perjalanan mereka lancar dan hanya berkisar enam menit saja dari tempat asal hingga tiba di tujuan. Tentunya jalanan memang bergelombang, tetapi dengan pintu mobil boks terkunci rapat, tentu mustahil jika kedua kotak metal berisi uang itu akan jatuh terpental!
Seorang petugas keamanan pintu gerbang adalah orang pertama yang melihat pintu belakang mobil boks terbuka. Proctor menghentikan laju mobil boks dan segera memeriksanya. Gembok baja masih dalam keadaan terkunci, namun pintu telah terbuka lebar. Setelah diperiksa dengan seksama, diketahui kemudian bahwa kedua kotak metal telah lenyap! Ia pun berlari kembali ke depan mobil boks.
"Putar haluan," Proctor berteriak pada Saracino. "Kita harus kembali dan mencari dua kotak uang yang terjatuh!"
Proctor berlari untuk meminta penjaga membuka kembali gerbang pertama. Saracino telah memutar kendaraan dan Proctor segera melompat kembali ke atasmobil boks. Kepanikan mereka reda seketika melihat salah satu kotak metal berwarna kuning berada di tepi jalan. Tidak terlihat kotak metal yang kedua. Keduanya lalu berdiri dekat kotak tersebut dan membuka penutupnya sembari berkata, "Apa kau yakin uang sudah dimasukkan ke kotak ini?"
"Tentu saja," jawab Proctor, harapannya pupus.
Di dalam kotak, mereka menemukan kertas kuning kopian tanda terima pengiriman uang, pada satu salinannya tertera nominal $800,000; dan di kertas satunya tertulis $400,000. Kedua pria itu tidak dapat mengucap sepaten kata pun. Mereka baru saja lewat di sana kurang
dari tiga menit yang lalu! Namun demikian, selama kurun waktu yang tak lama itu untuk melewati gerbang pertama, supir tersebut menyadari bahwa pintu belakang mobil boks telah terbuka, dan ia kembali keluar dari gerbang, lalu menelusuri jalan itu. Seseorang pastilah telah mengambil kedua kantong kanvas dari dalam kotak metal. Proctor merasa sangat terpukul hebat karena telah keco-longan. Ia sedih dan gugup serta sangat ketakutan.
Semua orang telah, dengan sabar, mendengarkan penjelasannya, namun tentu saja dengan penuh kecurigaan padanya. Pat sendiri tidak yakin sang pengemudi berkata jujur. Eksekutif perusahaan berbicara empat mata dengan detektif yang serta merta menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin," katanya. Mereka mencoba menipu mesin lie detector. Pat sendiri tidak percaya pada hasil tes mesin pendeteksi kebohongan itu, tetapi ia menyetujui untuk melakukan tes kebohongan bagi mereka. Kedua pengemudi diperingatkan atas konsekuensi logis yang akan timbul.
Sementara itu, FBI muncul di lokasi. Mereka memperkenalkan diri kemudian ... diam. Para agen FBI yang mengenakan jas bagus berdiri tidak jauh dari para polisi, mengamati tanpa memberikan komentar apa pun atau melibatkan diri. Sikap mereka membuat kesal para detektif Philadelphia. Pat percaya mereka adalah para agen hebat, dan dengan diploma yang mereka raih Cardinal Dougherty High School/Philadelphia Police Academy; ia tentunya tidak ingin membuat dirinya terlihatseolah tidak menghormati kedatangan mereka dalam rangka kunjungan profesionalisme tetapi melihat mereka hanya berdiri dan mengawasi saja, itu tentu menyebalkan. Akhirnya, Letnan
Potocnak menyarankan pada FBI jika mereka ingin melibatkan diri, sebaiknya segera mendatangkan para ahli laboratorium kriminal untuk memeriksa mobil boks pengangkut uang. Para agen Federal berdiskusi lalu memutuskan untuk menolak dengan dalih tertentu.
"Kasus ini di luar jurisdiksi kami," salah seorang dari mereka angkat bicara.
"Dengar," kata Potocnak yang mulai merasa kesal, "jika tidak berbuat apa-apa, aku sarankan agar kalian segera angkat kaki dari sini."
Mereka pun pergi. Pat menyukainya. Jimmy adalah tipe orang yang tidak suka dirinya dianggap rendah oleh orang lain.
Setelah para agen FBI lenyap dari pandangan, Pat meneruskan investigasinya. Ia melakukan interview dengan para saksi mata yang telah dikumpulkan di bangunan kantor Purolator, kemudian berjalan menuju Swanson Street. Perusahaan juga telah mencatat nama kedua orang yang menurut Proctor dan Saracino telah bertemu mereka ketika keduanya mendapati kotak metal kosong itu. Salah satu dari saksi mata bernama Thomas Piacen-tino, yang pada saat itu sedang bekerja di tempat pengumpulan barang bekas milik ayahnya, tidak jauh dari tempat kotak metal terjatuh. Ia menjelaskan kesaksiannya.
Kotak warna kuning terjatuh dari sebuah mobil boks. Satu atau dua menit kemudian, satu atau dua mobil melintas di Swanson, menyingkirkan ke tepi, kotak yang menghalangi jalan tersebut. Lalu tiba-tiba, sebuah mobil berhenti mendadak, terdengar seorang pria tertawa cukup kencang untuk dapat terdengar dari jarak empat puluh yard, menarik dua benda berwarna putih sepertinya
karung goni keluar dari kotak, melempar salah satu kantong itu ke jok depan, dan kantong kedua dilemparnya ke jok belakang. Mobil melaju kencang lalu berbelok di perempatan jalan. Piacentino dan saudaranya, Charles, berjalan mendekati tempat itu untuk melihat isi kontainer, dan ketika mereka baru tiba di sana, sebuah mobil boks securitcor (armored truck) mendekat, datang dari arah Purolator; kemudian keluarlah seorang petugas bersera-gam, yang terlihat begitu gugup.
"Apakah kau masih ingat mobil itu?" Tanya Pat.
"Sebuah mobil Chevy Malibu marun yang bemper depan bagian kanannya dicat warna biru," jawab Piacentino. Orang ini benar-benar hebat.
"Bagaimana dengan pria yang mengambil kantong uang itu?"
"Sepertinya ia berusia akhir dua puluh tahunan, mendekati usia tiga puluh tahun," kata Piacentino.
"Rambutnya tipis, berwarna pirang atau coklat muda." Penjelasannya sama dengan versi yang dijelaskan pengemudi mobil boks. Ketika Pat kembali ke properti Purolator ia mengadakan briefing dengan Potocnak, dan letnan meminta eksekutif perusahaan untuk mengurungnya di dalam mobil armor tersebut. Permintaan aneh. Hal pertama yang harus dilakukan oleh para eksekutif itu adalah mendemonstrasikanmekanisme penguncian pintu mobil boks, untukmenunjukkan betapa tidak masuk akalnya cerita yang dipaparkan oleh Proctor dan Saracino. Terdapat dua daun pintu di belakang mobil boks. Daun pintu sebelah kiri harus ditutup terlebih dahulu dan dikunci gembok sebelum daun pintu yang sebelah kanan bisa ditutup rapat, agar salah satu pintu selalu tertutup rapat. Bagian atas dan bawah daun pintu sebelah kanan harus benar-
benar dirapatkan dengan menggunakan plat baja yang masuk dengan pas di selotnya. Plat baja bergerak sesuai dengan rotasi gagang pintu yang digerakkan pertama ke kanan lalu ke kiri. Setelah benar-benar pas, sebuah knob (bagian yang terdapat pada lubang kunci,biasanya ber-bentuk bulat) yang terdapat di tengah-tengah, harus ditekan agar kunci benar-benar aman. "Kelakar apa lagi," kata letnan.
Kemudian mereka pun mengurung pria itu di dalamnya lalu mengunci pintu sesuai prosedur di atas.
Dari dalam mobil boks, Potocnak menendang daun pintu sebelah kanan mobil boks tadi menggunakan ujung sepatu botnya. Terdengar suara dentuman keras di daun pintu dan serta merta pintu tersebut, terbuka lebar.
Hari sudah gelap ketika Pat meninggalkan area properti Purolator petang itu. Ia dan para detektif lainnya yakin benar bahwa sang pengemudi tidak mengada-ada denganpenjelasannya atas kejadian yang sesungguhnya. Tidak terdengar seperti kebohongan sama sekali. Detil cerita mendekati kesempurnaan. Begitu cocok dengan urutan kejadian. Demonstrasi penguncian pintu yang dilakukan Jimmy, yang telah mempermalukan jajaran eksekutif purolator, telah membuktikannya. Tentunya asyik juga untuk ditonton. Tetapi jika pengemudi mengatakan yang sebenarnya, jika uang benar-benar terjatuh dari mobil boks, maka kasus ini akan menjadi rutinitas yang sukar dilacak.
Pat kembali menelusuri jalan di jalur yang dilalui oleh mobil boks armor, mulai dari halaman parkir gedung bank Federal Reserve hingga Swanson Street. Jika seseorang baru saja lewat di Swanson dan memungut uang tersebut dan itulah yang sepertinya terjadi bagaimana kita akan
menemukan orang tersebut jika ia tidak berniat mengembalikan uang temuannya itu? Purolator telah siap untuk memberikan hadiah $50,000 bagi siapa pun yang menemukan dan mau mengembalikan uang yang hilang. Namun tentunya dibutuhkan kelapangan dada dari siapa pun yang menemukan uang tersebut, untuk mau menukar uang sebesar $1.2 juta dengan hadiah yang hanya sebesar $50,000.
Detektif memikirkan tentang apa kira-kira yang akan dilakukan orang pintar, yang menemukan uang tersebut agar dirinya aman menggunakan uang hasil temuannya. Pertama, ia akan menyembunyikan uang tersebut di tempat aman dan tidak akan berbicara kepada siapa pun. Itulah kuncinya. Tidak memheritahu siapa pun. Yang kedua, tidak kalah pentingnya dari yang pertama adalah kesabaran.
Jika penemu uang mau bersabar untuk beberapa bulan saja, pada saat itulah orang akan berhenti mencari uang yang hilang. Penemu uang sudah boleh mulai membelanjakan uangnya, secara bertahap, pergi ke tempat wisata, jalan-jalan dan bersenang-senang, membuka beberapa rekening baru di bank, secara acak, di beberapa lokasi yang berbeda. Jangan pernah menyetor terlalu banyak, cukup beberapa ribu dolar saja untuk setiap rekening yang berbeda, tetapi pikir matangmatang betapa repotnya jika harus membuka rekening baru yang berbeda setiap harinya di beberapa tempat yang juga berbeda? Kebanyakan anggota masyarakat, menghabiskan waktunya seharian untuk mendapatkan uang; penemu uang punya waktu seharian, setiap harinya, untuk memikirkan cara terbaik memanfaatkan uang itu. Ada lagi pekerjaan yang lebih rumit dan membutuhkan ketelitian yaitu me-
mindahkan dan mengkonsolidasikan uangnya. Jika pandai dalam konsolidasi uang temuan tersebut, tidak seorang pun akan bisa melacak dan menangkap penemu uang itu.
Philadelphia adalah sebuah kota yang berpenduduk enam juta orang. Satu-satunya kesalahan yang harus dihindari adalah: jangan sekali-kali mulai membicarakan temuan uang, walaupun perasaan tentu saja menggebu-gebu, karena berita itu akan segera menyebar. Tidak seorang pun mungkin akan berbuat sebodoh itu, akan tetapi Pat tahu kebodohan seperti itulah, satu-satunya harapan baginya untuk dapat mengungkap misteri ini.
Lagipula, Swanson Street bukanlah jalan raya utama, melainkan hanyalah jalan pintas. Orang yang lewat di jalan itu adalah mereka yang bekerja sepanjang jalur sungai yang membentang searah jalur jalan ... dan, mereka yang tinggal di sekitarnya. Pat kini mencari pria yang berambut pirang atau coklat muda.
Dan, sebuah Chevy Malibu dengan warna bumper depan yang menyolok, kini terlihat.
4
Sepertinya kita harus mulai memercayai keberuntungan yang berjalan sebagai berikut. Joey dan teman-temannya sudah tidak sabar lagi untuk segera merasakan bagaimana memegang bundelan uang sebanyak itu, menyobek ikatan pengamannya, merabai, dan mencium wanginya bau uang kertas baru dan hangatnya lembaran tersebut. John Beh-lau belok kanan menuju Front Street dan menghentikan mobil ayahnya di depan rumah Coyle. Joey membawa kantong kanvas yang lebih besar, masuk rumah dan segera berlari menuju lantai dua. Jed membawa tas kedua
yang lebih kecil. Jed dan John mengikuti Joey ke lantai atas.
Mereka masuk ke ruangan kamar Joey, segera merobek kantong kanvas yang lebih kecil, dan menumpahkan isinya di atas tempat tidur. Ketiganya berdiri melongo menatap tumpukan uang harta karun sebanyak itu. Satu tas plastik cellophane terdiri dari sepuluh bundel kecil uang cash, semuanya pecahan $100. Sungguh jumlah uang yang sangat banyak dan terbanyak yang belum pernah dilihat mereka selama ini. Setiap bundel kecil diikat dengan kertas bertuliskan $10,000! Semuanya, nominal uang adalah pecahan seratus dolar Amerika.
Joey histeria dalam kegembiraan. Ia memekik, melompat-lompat, dan tertawa terbahak-bahak. Ia terus menerus merangkul dan menciumi kedua temannya, John dan Jed; saking bahagianya, yang keduanya pun tidak keberatan diciumi; mungkin ketiganya tidak sadar atas apa yang diperbuatnya. Joey terus menerus berkata 'seperti cerita film', 'seperti cerita dalam film action'. Setiap kali ia menatap tumpukan uang di atas kasur, ia tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri, mimpikah atau kenyataan?
Tentu saja, seseorang akan segera mencari keberadaan uang tersebut. Setelah pesta kegembiraan mereka tercurah, realitas mulai muncul mengganggu pikiran. Joey, John, dan Jed berdiri, tertegun di tepian tempat tidur besar bergaya kolonial itu dan, segera mendiskusikan langkah yang akan ditempuh mereka. Menurut mereka, uang itu pastilah milik pemerintah, yang jatuh dari mobil pengaman kiriman uang Purolator dan telah tergeletak di pinggir jalan dekat gudang tua dan properti perusahaan Purolator, berjam-jam lamanya, siang dan malam. Polisi
akan segera mencari tahu siapa yang menemukan uang sebanyak itu. John dan Jed bertanya-tanya, sebesar apa gerangan hadiah yang akan diberikan jika mereka mengembalikan uang tersebut. Pikiran seperti itu segera ditepis jauh-jauh sebelum sempat menemukan jawabannya. Finders Keepers, man!
"Uang ini milikku," kata Joey pada kedua temannya.
"Aku telah bekerja keras sepanjang hidupku. Tanganku kasar dan rusak karenanya. Dan aku tidak mendapat hasil apa-apa."
Joey bukanlah tipe seorang pria yang pandai berkata-kata, apalagi dengan ungkapan kata yang tepat bahkan puitis. Akan tetapi Joey merasa pada saat itu seperti telah tersentuh oleh suratan takdir, oleh tangan Tuhan. Ia merasa ayahnya tengah tersenyum menatapnya dari surga, atas semua permasalahannya. Inilah saatnya. Joey memang tidak pernah yakin atas segala sesuatu dalam hidupnya. Sempurna! Dan ia tidak pernah berbuat salah sebelumnya. Tidak pernah melakukan tindakan kriminal. Tidak pernah menyakiti perasaan orang lain. Finders Keeper*, jika saja ia tahu bagaimana cara memanfaatkan uang tersebut.
Joey menghela nafas dalam-dalam dan berusaha untuk menenangkan diri. Ia harus berpikir jernih.
"Tidak seorang pun boleh memberitahu orang lain," Joey berkata seakan memberi perintah pada kedua temannya.
"Kepada ayahku sekalipun?" Tanya Jed. "Tidak," kata Joey. Tidak kepada siapa pun. Bahkan
* itulah istilah yang tepat bagi seseorang yang ketiban untung menemukan uang sebanyak itu dan tidak mengembalikannya, melainkan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri dan aman
kepada kedua orangtua ataupun pacar. John dan Jed begitu terkejut melihat Joey yang santai, tiba-tiba menjadi seseorang yang begitu serius. Dengan semangat yang menggebu-gebu seperti itu, bagaimanakah ia dapat mengontrol situasi?
"Aku akan mengurus segalanya," katanya. "Aku tidak ingin mendengar lagi pembicaraan tentang uang hadiah pengembalian uang ini. Uang ini adalah milikku milik kita," Joey mengoreksi pernyataannya. Jika berjalan lancar, mereka bertiga akan mendapatkan jatah masing-masing, tentunya, kata Joey. Jika gagal, tanggungjawab akan dipikulnya sendiri.
"Percayakan saja semuanya padaku," kata Joey.
Joey mungkin saja tampak sepertinya memiliki kehebatan niengaturan uang tersebut, namun jauh di dalam dirinya, ia gugup, dan otaknya terus berputar memikirkan cara terbaik mengamankan uang temuan itu. Masalah ini sepertinya tidak bisa dianggap sepele sama sekali. Joey harus mencari tahu bagaimana memecah uang nominal seratus dolar ke dalam nominal yang lebih kecil. Bagaimana? Ke mana? Joey tahu persis dirinya sedang membutuhkan bantuan. Dan orang yang pertama muncul dalam benaknya adalah seorang teman pria bernama Car! Masi,
5
Cari Masi dulunya seorang petinju. Setelah masa Perang Dunia II usai, Masi menjadi seorang petinju kelas ringan untuk beberapa tahun lamanya sebelum ia kembali ke Philadelphia dan bekerja sebagai ahli setting. Usianya kini lima puluh empat tahun, namun masih terlihat gagah dan ototnya kekar, tegap, walau rambut ikalnya telah me-
mutih. Masi memiliki kekurangan. Ia gagal cangkok jantung, sudah dua kali bagian depan tubuhnya dibedah; ope-rasi yang dilakukan dari ujung leher hingga ke bagian perutnya. Doktor selalu memberinya semangat dan bersikap optimis, tetapi Masi menganggap seolahkematian akan segera menjemputnya. Keadaan fisiknyayang seperti itu telah membuat perangainya sedikit lunak, memang sebenarnya ia seorang pria yang berhati mulia. Baginya, yang kini lebih banyak diam, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang mampu memberinya kejutan, dan bahkan kemarahan atau rasa takut; atau sesuatu yang dapat membuatnya bersemangat dan lebih bergairah lagi dalam menjalani sisa hidupnya. Dua anak gadisnya telah tumbuh dewasa, yang tertua sudah menikah. Istri Cari, yang bernama Dee, bekerja di bank Fidelity, Karena ia tidak memiliki pekerjaan tetap, Masi bekerja shift malam sebagai tukang pukul untuk perusahaan jasa hiburan yang bernama Purgatory Club di Second Street. Perusahaan itu milik temannya, ia dipekerjakan juga walaupun kondisinya sudah tidak layak lagi untuk bergelut dengan kekerasan di sana.
Masi mengenal Joey dan keluarganya dari para tetangga yang tinggal di sekitarnya. Sudah bertahuntahun lamanya lelaki itu menyukai Joey. Anak yang tidak memiliki ayah maupun keturunan. Joey memang terkadang bermasalah, ia pecandu obat terlarang dan sering mabuk-mabukan sehingga kesehatannya mungkin tidak lebih baik dari kesehatan ibunya, namun Masi menganggap Joey sebagai seorang anak yang baik hati. Cari akan marah besar jika mengetahui orang lain memanfaatkan bocah itu. Teman-temannya tahu Joey mendapatkan uang banyak dari hasil bekerja di pelabuhan, dan mereka pun tahu Joey tidak
bisa berpikir rasional. Ia gampang dibodohi. Jika Joey disuruh pergi dengan segepok uang di sakunya, maka ia akan pulang dalam keadaan sakau, nyinyir dan luka-luka, bahkan uang di sakunya pun sudah ludes. Namun Masi sayang pada anak muda ini. Ia tidak pernah gusar apa pun anggapan orang terhadapnya. Ia tetap menyukai Joey dan mengharapkan lelaki itu mau memperbaiki perilakunya. Sekali waktu, Cari pernah mencarikan pekerjaan bagi Joey sebagai seorang penjaga pintu di Purgatory Club. Di sanalah Joey mulai memahami bahwa Masi memiliki masa lalu yang kelam, dan pria itu ternyata, adalah salah seorang anggota mafia yang terselubung rapat di Philadelphia dan Atlantic City.
Sekali nama Cari Masi muncul di benaknya, maka akan terdiam di sana selama hidupnya. Joey meninggalkan Jed untuk menjaga uang temuannya, ia beserta John kembali ke mobil Chevy untuk pergi menuju Sunoco station di Oregon Avenue. Dari sebuah telepon umum koin, Joey menelepon rumah Masi. Anak perempuan Masi menjawab teleponnya.
"Ini Joey. Penting."
"Dia tidak di rumah, Joey," kata anak perempuan Masi. "Coba telepon ke ibu ... di tempat kerjanya!"
Joey pun memutar nomor telepon bank tempat Dee Masi bekerja.
"Di mana lelaki tua bangka itu berada?" Tanya Joey.
"Ia pastinya akan segera menjemputku," jawab Dee.
"Ada apa, Joey?"
"Apa kau akan segera pulang?"
"Ya."
"Bagus kalau begitu. Aku akan menunggu di rumahmu," kata Joey, sembari sedikit menggoda wanita itu.
"Aku punya sesuatu buatmu ..."
Sebelum pergi ke rumah Cari, John mengantar Joey pergi ke rumah salah seorang pengedar, dan berhasil mendapatkan benda haram yang dibutuhkannya, lalu Joey menyuruh John memacu terbang mobilnya. Mereka terlebih dulu mampir ke rumah Joey yang sudah tidak sabar dan mulai mengorek kantong plastik berisi bubuk putih di dalam saku jaketnya.
Setibanya di rumah, Joey segera meracik bubuk putih untuk disuntikkan ke tubuhnya. Ia melakukannya di dapur. Prosedur seperti itu bukanlah sesuatu yang aneh bagi Joey. Ia menaruh sejumput kecil di sendok, lalu menambahkan beberapa tetes air, dan memanaskan sendok di atas api kompor gas. Setelah tercampur merata, Joey segera mengambil jarum suntik. Tentu saja kini semakin sukar bagi Joey untuk mencari nadi yang tepat, karena tangannya telah tumbuh besar dan kekar serta kuat. Namun Joey sangat memerlukannya dalam kepanikan ini, ia pun melakukannya setiap setengah jam.
Joey kembali ke kamarnya untuk memeriksa kembali uang yang berserakan di atas kasur. Ia duduk sekian lamanya menatap tanpa kedip tumpukan uang di depan matanya. Semangatnya kini bertambah menggebu-gebu. Joey mengambil dua buah tas sekolah Bishop Newman dan sebuah koper persegi empat kecil yang terbuat dari bahan karbord, dari lemarinya. Ia menyusun rapi bundel uang tersebut, kemudian menutupinya dengan kantong kanvas putih. Joey dan John kemudian pergi menuju rumah Masi di South 29th Street
"Ia punya koneksi hebat," Joey menjelaskan pada John, yang maksudnya adalah Masi memiliki koneksi dengan kelompok mafia rahasia. "Cari pasti tahu apa yang
akan dilakukannya dengan uang sebanyak ini," kata Joey. Anak perempuan Masi mempersilahkan kedua anak muda itu masuk. Mereka membawa koper dan kedua tas itu ke dalam sebuah kamar tamu di lantai dua. Joey menyimpan barang bawaannya di atas kasur ruang tamu tersebut.
Joey mengeluarkan uang dari koper dan tas. Setiap bundel kecil ($10.000) diberinya tanda tiga buah inisial huruf sesuai dengan teller di antara keduanya yang telah selesai menghitungnya. Joey kagum pada keindahan dan rapinya paket setiap bundel uang tersebut. Lalu uang ditumpuk berdasarkan inisial. Kini Joey mulai melepas pembungkus plastik dan tag uang. Setelah Joey berhasil mengumpulkan semua plastik dan kertas bekas pembungkus uang, ia memasukkannya ke dalam kantong kanvas, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik belanjaan yang telah dilapis rangkap dua. Ia meminta sekaleng cairan minyak dari anak perempuan Masi, lalu pergi ke serambi kecil di belakang rumah. Joey memasukkan benda tadi ke dalam tong sampah, menyiramnya dengan cairan isi lighter kemudian membakarnya. John berdiri menunggu barang-barang itu hancur terbakar dan menambahkan lebih banyak cairan lighter. Kertas, kain, dan plastik hancur, dan kini yang tersisa tinggallah lempengan logam tag kantong uang yang telah mencair dan menggumpal, terlihat bulat seperti disc kecil. Setelah dingin, ia memasukkan disc tadi ke dalam sakunya. Joey tidak ingin meninggalkan jejak.
Sementara Joey sibuk dengan tugasnya, John pergi untuk menjemput Jed. Joey kembali ke ruang tamu dan kembali mengatur uang, setiap tumpukan terdiri dari $50,000, ia pun memasukkannya ke dalam laci meja samping. Joey pergi ke dapur untuk menunggu Carl dan Dee pulang. John dan Jed telah kembali kemudian menghem-
paskan tubuh mereka di atas sofa ruang tamu Masi.
Cari dan Masi tiba di rumah sekitar pukul empat sore. Joey menyambut keduanya di ambang pintu.
"Ayo ke lantai atas" ajak Joey. "Aku punya sesuatu." Masi pikir Joey tengah mabuk berat. Masi juga melihat selidik pada kedua orang pria yang duduk di ruang tamu, yang belum dikenalnya. Joey menyuruh kedua temannya untuk menunggu di ruang tamu, sementara ia dan Masi serta Dee segera bersama-sama menaiki tangga. Di kamar tamu, Joey menarik laci yang telah penuh uang. Cari dan Masi memandangi uang sebanyak itu tanpa mampu berucap.
"Joey, apa kau telah membunuh seseorang?" Tanya Masi yang akhirnya dapat mengeluarkan suara.
"Tidak," jawab Joey sambil tertawa.
"Apa kau melukai seseorang?"
"Tidak!"
Joey sudah tidak sabar dengan respons dingin dari kedua orang kenalannya itu. Ia mengeluarkan uang dari dalam laci kemudian menumpuknya di atas kasur. Joey mengangkat tubuh Dee dan menidurkannya di atas tumpukan uang tersebut. Dee tertawa. Masi hanya diam menatap keduanya. Ia masih bingung dari mana Joey mendapatkan uang sebanyak itu, namun Masi tahu uang itu bukanlah mutlak milik Joey Coyle. Lalu ia ingat. Dari berita di radio yang didengar di mobilnya, Masi mendengarkan berita tentang hilangnya uang satu juta dolar yang terjatuh dari sebuah mobil boks armor.
"Aku telah mendengar berita kehilangan uang ini," katanya. "Ini uang yang jatuh dari sebuah mobil boks, bukan?"
"Ya...," jawab Joey.
"Joey, kau harus segera menghubungi pengacara untuk mengatur pengembaliannya pada Purolator dan kau akan mendapat hadiah dari mereka."
"Tidak bisa, Cari. Uang ini milikku. Aku yang menemukannya."
"Joey, aku tidak bisa membiarkanmu menahan uang itu." "Lalu bagaimana bisa mereka tahu bahwa aku yang menyimpannya?"
Masi tahu Joey, dan ia juga tahu tidak mungkin Joey dan kedua temannya yang sedang duduk di lantai bawah, akan dapat menyimpan rahasia seperti itu. Mereka terlalu bersemangat, terlalu muda, dan terlalu ceroboh. Masi juga tahu bagaimana sikap Joey ketika ia sedang dalam pengaruh narkoba. Dalam dua hari saja kabar itu akan tersebar luas di seantero South Philly, sukar untuk dicegah lagi.
"Mereka telah mengetahui ciri-ciri mobil yang kalian pergunakan ketika mengambil uang itu," kata Masi. "Aku mendengarnya di radio berulangkah. Sebuah Chevy marun dengan bumper warna biru. Yang sekarang sedang diparkir di depan rumahku. Kau gila, Joey."
Joey sejenak merasa panik. Tidak terpikir olehnya sebelum itu bahwa seseorang telah melihat mereka ketika mengambil uang tersebut.
"Aku datang menemuimu untuk meminta bantuan," kata Joey. Joey menjelaskan bahwa dirinya menelepon Masi karena ia tahu pria yang dipercayanya itu memiliki koneksi khusus. Joey ingin seseorang yang kuat dari kelompok mafia menolongnya menukarkan uang pecahan seratus dolar menjadi pecahan yang lebih kecil. Ia juga rela berbagi, katanya.
"Bisakah kau menghubungi kenalanmu? Untuk meme-
cahkan nominal seratus dolaran menjadi pecahan yang lebih kecil?"
Apa pun rencana yang akan mereka lakukan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan jejak, menghancurkan mobil itu. Mobil marun yang kini berada di depan rumah, berlagak dengan gagah seperti berdera yang berkibar. Saat itu jam telah menunjukkan pukul empat tiga puluh menit. Berita sore media masa lokal akan disiarkan pada jam enam sore. Saat itulah, setiap orang di kawasan Philadelphia akan mulai mencari-cari mobil Chevy yang bumpernya warna biru.
Joey dan Cari turun ke lantai bawah untuk menjelaskan pada John bahwa mobil ayahnya harus dimusnahkan. John histeris ketakutan.
"Mobil itu punya ayahku!" kata John. "Apa yang harus aku katakan kepada ayahku? Apa yang akan kalian lakukan pada mobilnya?"
"Dengar, kami hanya akan membawa mobil itu melewati jembatan dan meninggalkannya di Jersey untuk beberapa waktu saja," jawab Joey. "Jika kita tidak menyingkirkan mobil itu, tentu akan mudah bagi pihak yang berwajib dalam melacak keberadaan kita."
John menurut, ia segera pergi menuju mobilnya, mengambil beberapa surat penting dan mencopot identitas mobil, kemudian menyerahkan kuncinya kepada Joey. Joey segera mengemudikan mobil Chevy, dan Masi mengikutinya dari belakang mengendarai mobilnya. Joey menahan nafas ketika menyeberangi jembatan Walt Whitman. Pandangan matanya tidak pernah berhenti melihat ke depan, lalu ke spion kiri, kanan, dan kaca spion di atas ke palanya, untuk memastikan situasi di belakangnya aman. Ia telah memperkirakan tempat untuknya segera menepi.
Joey mengemudikan mobil itu hingga 2DD blok arah Mercer Street di Gloucester, dekat sebuah galangan kapal laut, di mana kakaknya, Billy, bekerja di situ sebagai supervisor. Joey kemudian memarkirnya di sana. Usai memarkir mobil ayah John, Joey dan Masi pergi ke bar untuk minum dan sekadar menghilangkan stres. Mereka tiba di bar menjelang berita sore disiarkan. Apa yang telah terjadi dengan peristiwa hilangnya uang itu, kini menjadi berita utama. Uang Raib, itulah judul berita yang terpampang di monitor televisi di depan mereka. Reporter menunjukkan foto mobil boks armor yang menjatuhkan kotak uang metal serta kawasan seputar properti Purolator. Pihak eksekutif perusahaan tersebut, juga diwawancarai. Ia terlihat gugup. Joey menonton dengan perasaan bangga dan seolah berkuasa, mungkin itulah saat kali pertama dalam sejarah hidupnya, Joey merasakan kebanggaan sebuah kekuasaan. Joey adalah orangnya! Joey punya uang banyak! Ia bangga akan dirinya yang baru saja melenyapkan bukti, mobil Chevy Malibu itu. Kerja bagus. Banyak kaum pria yang dirinya merasa yakin akan dapat bertahan dalam masa krisis, namun berapa banyakkah dari mereka yang benar-benar telah diuji dalam kasus nyata?
John dan Jed menunggu di rumah Masi bersama Dee dan anak gadisnya. Dua jam kemudian, Joey dan Masi muncul. Mereka juga telah menonton berita heboh itu di televisi, kedua pria teman Joey sempat gusar dibuatnya. Sementara Joey tidak bersama keduanya, kaki mereka berkeringat dingin.
"Apa yang kau lakukan pada mobil ayahku?" Tanya
John.
"Jangan khawatir," jawab Masi.
"Kita seharusnya telah menghancurkan mobil itu,"
kata Joey menimpali.
John bertambah ketakutan. "Itu mobil ayahku!"
"Oke, oke, Jesus!" kata Joey. "Kita akan membelikannya sebuah mobil baru. Bahkan tiga buah mobil baru sekaligus! Katakan kepadanya saat ini kau sedang mengecat ulang mobil ayahmu. Dia akan mendapatkan mobilnya kembali dua hari lagi."
Keenam orang itu lalu duduk bersama di ruang tamu rumah Masi yang sempit, sembari menonton televisi serta mendiskusikan pendapat atas apa yang baru saja didengarnya dari berita tadi. Mereka memang agak terkejut betapa berita kehilangan uang itu telah menjadi sebuah berita yang menggemparkan. Semua yang hadir di sana menyarankan pada Joey agar segera mengembalikan uang temuannya itu.
"Jangan cemas, kalian semua tidak perlu khawatir," kata Joey, dengan nada suara tinggi karena hampir kehilangan kesabarannya. "Kita tidak pernah tercatat sebagai warga yang pernah melakukan kejahatan. Jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi saat ini, itu kesalahan mereka sendiri, bukan kesalahan kita! Misalnya, atas kecerobohan mereka sendiri uang itu telah jatuh dan kini raib. Lagipula tidak seorang pun menyebut Purolator akan memberikan imbalan. Kita tenang saja, tidak perlu ribut. Kita kaya. Mereka tahu uang itu telah hilang, tetapi mereka tidak akan pernah tahu uang mereka ada pada kita."
6
Apa yang terjadi selanjutnya sore itu adalah sebuah bagi-
an cerita yang menjadi bias. Salah satu kelompok bisnis yang berpengaruh di Philly selatan ini adalah kelompok mafia yang cara kerjanya begitu rapi, terselubung, dan kuat; telah berjalan untuk waktu yang cukup lama, hirar-kis, organisasi kejahatan wilayah setempat. Anggotanya terdiri dari siapa pun yang akan tersenyum dan menggelengkan kepala, menyangkal keberadaan mereka, atau bahkan bersumpah bahwa isu tentang mereka hanyalah kabar burung semata. Sudah beberapa kali terjadi dalam satu tahun saja, telah ditemukan seorang pria yang segar bugar, sehat wal afiat, penduduk South Philly sendiri; ditemukan tengah duduk di jok dalam mobilnya atau bahkan sedang meringkuk di bagasi, dengan perutnya kembung penuh pasta dan terlihat sebuah lubang bekas peluru panas di jidatnya. Para korban adalah orang baik-baik, kebanyakannya; rata-rata dari mereka taat beribadah, rajin pergi ke gereja setiap hari minggu, dan biasanya mereka membersihkan mulut anak-anaknya dengan sabun karena bersumpah tidak tahu menahu bentuk kejahatan apa pun yang terjadi di seputar kawasan tempat tinggal mereka. Bayangan akan dunia kejahatan yang terselubung di South Philly ini, hanya disimpan rapat di dalam hati saja; bahkan untuk membicarakan kejelekan orang tertentu pun sudah dianggap dosa. Segala sesuatu rahasia tentang kebohongan dan kejahatan tertutup rapat. Bahkan mereka yang sebenarnya ingin menceritakannya, sudah kadung merasa takut. Banyak hal yang terlihat janggal akan segera menjadi rahasia; dan kebenaran seolah tertutup untuk diungkap, bahkan serum hukum, persidangan, sumpah seperti apa pun, tidak akan mampu menembusnya.
Malam itu, seorang pria dari bayangan kelompok rahasia itu datang ke rumah Masi. Namanya Sonny. Ber-
usia lima puluh tahunan, bertubuh pendek dan gemuk, mengenakan kacamata dan jidatnya lebar. Suaranya berat dan parau. Joey mengetahui orang itu bernama lengkap Mario "Sonny" Riccobene, adik seorang pria bercambang lebat dan bungkuk bernama Harry Riccobene, Kedua orang itu namanya sudah dikenal masyarakat sebagai dua orang pemimpin yang kuat di Philadelphia, dan sepertinya, seakan kebal dari hukum apa pun yang berlaku di sana. Joey merasa sedikit ketakutan sekaligus merasa senang duduk bersama orang itu dalam satu ruangan. Ia, Masi, dan Sonny kemudian pergi ke lantai dua, ke kamar di mana uang masih ditumpuk di atas kasur, sementara yang lainnya menunggu di lantai bawah.
"Ada apa? Apa kau punya masalah?" Tanya Sonny.
Joey menunjukkan setumpuk uang cash padanya. Ia menjelaskan uang itu milik Purolator. Uang yang terjatuh dari mobil boks sebanyak satu koma dua juta dolar.
"Apa kau akan mengembalikannya?"
"Aku pikir kelihatannya, sepertinya, bu...bu... bukanlah kejahatan apa yang aku lakukan ini," jawab Joey terbata-bata. Ia berbicara gagap karena gugup dan terob-sesi bayangan kesenangan memiliki uang sebanyak itu.
"Apakah mereka menjanjikan hadiah bagi siapa pun yang mengembalikannya?"
"Sepertinya, uang ini sedang dicari pihak kepolisian beritanya gempar disiarkan di televisi dan radio namun belum terdengar pernyataan dari pihak pemilik uang tentang kesediaan mereka memberikan imbalan maupun berapa jumlah hadiah yang akan diberikan," jawab Joey.
"Jadi kupikir, orang-orang ini telah kehilangan satu poin dua juta dolar dan bodohnya tidak mau mengumumkan pemberian imbalan bagi yang mengembalikannya! Dan
uang itu sedang ada di hadapanku, uang asli, dan mereka, tidak sedikit pun, sama sekali tidak peduli, nol besar, untuk menawarkan hadiah atau imbalan apa pun, kau paham apa maksudku..., kan? Hey, aku tidak serakah, tapi tolong tunjukkan padaku suatu bukti niat yang baik itu."
"Apa yang akan kau lakukan dengan uang sebanyak ini?" Tanya Sonny.
Joey telah sempat berpikir sewaktu menunggu kedatangan Sonny, dan kini ia mengungkapkan rencananya pada lelaki itu.
"Dengar, kupikir akan bijaksana jika kita menyimpan uang ini dan memisahkannya ke dalam tiga bagian. Empat ratus buatmu, empat ratus buatku, dan empat ratus lagi buat Cari. Tiga arah yang berbeda, bukan? Dengan begitu, jika aku tertangkap, kita masih memiliki delapan ratus ribu dolar ketika aku dibebaskan dari tahanan. Kau bawa empat ratus dan kembalikan tiga ratus dalam pecahan uang kertas dengan nominal yang lebih kecil. Ambillah seratus ribu dolar untukmu pribadi. Apa pun itu istilahnya. Kau tahu maksudku, bukan? Jadi, kau pecahkan uangku yang tiga ratus ribu dolar ke dalam nominal yang lebih kecil, sesegera mungkin, dan yang seratus ribu dolar adalah upahmu, karena telah melakukannya untukku."
Sonny mengangguk. Joey duduk sendiri di kasur di antara tumpukan uang sementara Carl dan Sonny keluar untuk berdiskusi. Mereka kini kembali ke ruangan tadi.
"Aku rasa aku bisa melakukannya, " kata Sonny. "Kami bisa membawanya ke kasino dan memainkan uang ini. Menang sekian dan kalah sekian, namun cara memutar uang akan secepat mungkin sebisa kami. Dan kami ahli dalam hal itu. Nomor seri uang tidak berurut, tentu itu
memudahkan kami. Mungkin dalam satu dua hari saja akan beres."
Joey sangat bahagia mendengarnya. Lebih cepat dari sekadar bantuan yang pernah dibayangkannya. Mungkin ini salah satu cara pengenalan dan penerimaan diri dari seorang pria yang berpengaruh dalam organisasi besar dan kuat itu. Mereka ternyata menyukai rencana Joey! Joey merasa ... ya ... tersanjung, terhormat. Joey lalu memisahkan uang menjadi tiga tumpuk, lalu memisahkan bagiannya sendiri, kembali dimasukkan ke dalam koper berwarna hitam. Sonny dan Masi menaruh tumpukan uangnya ke dalam kantong kertas besar warna coklat. Keduanya kembali ke lantai bawah. Sebelum meninggalkan rumah, Sonny melirik pada John dan Jed kemudian menempelkan telunjuk di bibirnya. Kemudian ia mengangkat ibu jarinya ke atas, menunjuk ke arah mereka, lalu serta merta membalikkannya menunjukkan ibu jarinya ke bawah, ke lantai. Sonny berlalu meninggalkan mereka yang sedang melamun. Keduanya mengerti maksud isyarat jari yang diberikan Sonny tadi.
Nyawa Cari Masi ternyata masih bertahan di raganya jauh lebih lama dari yang diperkirakan dirinya. Bahkan mungkin di tahun-tahun berikutnya, ia masih akan sempat membeberkan kisah Joey Coyle dan uangnya. Ia tentu saja akan menghilangkan bagian cerita tentang seorang pria yang datang ke rumahnya malam itu.
"Bukankah ada seorang pria lain yang datang ke rumahmu malam itu?" Tanya Joey pada Masi setelah cerita tentang kisah temuan uangnya menjadi terkenal.
"Ke sini?"
"Ya. Orang lainnya yang sedang berada di sini saat itu, mengatakan bahwa Sonny Riccobene telah datang
menemuimu malam itu."
"Tidak mungkin. Mana mau Sonny Riccobene menginjakkan kakinya di rumahku."
"Joey telah menyuruh seseorang datang ke rumahku tapi dia bukanlah Sonny Riccobene. Anak-anak muda itu memang brengsek. Aku kenal Sonny Riccobene. Mereka pastilah telah salah menduga. Aku bertaruh jika saja kuajak mereka untuk bertemu dengan Sonny Riccobene yang asli, face to face, tentu saja mereka tidak akan mengenal pria itu."
"Apa kau tahu siapa yang datang ke rumahmu malam
itu?"
"Seseorang ... ya. Tapi bukanlah Sonny Riccobene.
Kuharap anak-anak itu berada di sini sekarang, bertatap mata denganku, ketika mengatakan padamu tentang kunjungan pria itu ke rumahku. Karena mereka salah. Mereka tetap bersikeras pria itu adalah Sonny Riccobene. Namanya memang 'Sonny'. Menurut mereka pria itu Sonny Riccobene. Bohong besar. Seratus persen salah. Apa kau pikir seorang pria seperti Sonny Ricobene akan rela membiarkan seorang pemuda kampungan seperti Joey Coyle mendapatkan jatah dua pertiga dari uang temuan tersebut? Mungkin mereka sudah gila, menyebarkan gosip seperti itu. Sonny Riccobene tidak pernah datang ke rumahku malam itu. Dan itulah yang sebenarnya terjadi."
7
Rencana Joey sudah mulai berjalan, ia merasa bagaikan ksatria yang baru saja berhasil melumpuhkan raksasa ke tanah. Walaupun Joey tahu pertandingan belum usai, ia kembali dapat menarik nafas lega untuk kali pertamanya
sejak ia dan kedua temannya menemukan uang itu siang tadi. Segera setelah Sonny pergi, Masi mengantar Joey, John, dan Jed, kembali ke Front Street. Mereka meninggalkan sisa uang $800,000, jatah Joey; di dalam laci meja kamar tamu di rumah Masi. Dengan demikian Joey dan kedua temannya merasa bebas dari beban perasaan seakan sedang dikejar-kejar oleh pihak kepolisian.
Masi telah mengatur agar seorang temannya menyewakan mobil sesuai dengan impian Joey jika ia menjadi kaya. Sebuah mobil Caddilac El Dorado warna hijau mutiara dengan atap convertible, dapat dibukatutup, warna putih serta interior yang juga bernuansa putih. Sungguh ... sempurna.
Seorang gadis kurus, kecil, berambut pirang bernama Linda Rutter, sedang menunggu di rumah Joey. Linda baru berusia delapan belas tahun. Joey adalah pacar gelap Linda karena gadis itu telah mempunyai seorang pacar resmi, dari kalangan yang lebih terhormat, yang mana Joey tidak mengetahuinya. Hubungan keduanya telah berjalan satu tahun. Di rumah Joey, Linda menemukan selembar cek senilai tujuh ratus dolar, dalam sebuah amplop surat yang tergeletak di atas lantai di bawah pintu. Linda telah membawanya ke tempat pencairan cek yang letaknya tidak jauh dari area perumahan Joey. Mereka telah mengenal Linda dan Joey yang sering mencairkan ceknya di sana. Linda telah berhasil menguangkan cek tersebut. Ia tahu Joey sedang hausakan uang itu, lagipula Linda sudah tidak sabar untuk bersama-sama fly dengan Joey malam itu. Ketika Joey pulang, Linda melihat pacarnya sudah berada dalam pengaruh obat terlarang. Tanpa ragu, Joey serta merta membocorkan rahasianya pada gadis itu.
"Akulah orangnya!" Kata Joey. "Orang apa?"
"Orang yang menemukan uang itu!" "Uang apa?" Tanya Linda sembari menatap Joey yang sedang menyeringai. "Uang milik Purolator."
Keduanya berjingkrak-jingkrak saking gembira. Joey menyiapkan jarum suntik untuk Linda dan untuknya. Mereka bergumul di tempat tidur sepuasnya sore itu. Petang hari, mereka pergi untuk berbelanja keperluan sehari-hari di Pathmark Supermarket yang berlokasi di Oregon Avenue. Ketika keduanya kembali ke rumah Joey dengan tangan penuh kantong plastik belanja, didapati John dan Jed sedang menunggunya.
Joey tidak sedang bergairah untuk bercengkrama dengan mereka. Ia tahu Sonny telah membuat kedua temannya ketakutan dengan menyuruh keduanya untuk tidak mengatakan pada siapa pun mengenai uang yang mereka temukan. Oleh karenanya Joey berkata bahwa ia tidak ingin membicarakan urusan mereka di depan pacarnya melainkan untuk bertemu kemudian di sudut jalan tempat biasa mereka nongkrong. John dan Jed berlalu. Keduanya menunggu di tempat yang telah ditetapkan Joey. Namun ketika melihat Joey dan Linda keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil Cadillac lalu tancap gas; keduanya hanya bisa diam sembari menatap Joey dengan penuh amarah.
Joey pergi ke rumah kakak perempuannya, Ellen, yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah ibunya. Ellen sedang menyeterika. Tubuhnya gemuk, berambut pirang, pintar, pandai bergaul yang usianya tertaut enam tahun lebih tua dari Joey, serta berusaha memberi per-
hatian pada Joey dengan perlakuannya seperti kepada anaknya sendiri. Ellen melihat Joey sebagai seorang pria lemah, mudah rapuh namun artistik dan memiliki suatu kekurangan di mana Ellen tidak dapat menjelaskan apakah sebenarnya itu. Mungkin kedewasaan atau rasa percaya diri Joey, bahkan untuk mengurusi hidupnya sendiri pun, belum bisa diandalkan. Bukan hanya karena kehidupan Joey berantakan; Joey juga menolak untuk memanfaatkan keahlian dan peluang yang dimilikinya. Seperti hampir sama dengan keadaan di mana ia akan takut untuk mencoba, takut akan suatu komitmen apa pun. Karena menurut Joey, kesuksesan tentu saja akan meminta pertanggung jawaban, dan Joey tidak memiliki cukup rasa percaya diri untuk dapat memikul suatu tanggung jawab. Seperti ketika Joey menciptakan sebuah alat, untuk menghindarkan para pengemudi yang keluar masuk lokasi pelabuhan di mana gerakan lift bisa saja membahayakan mereka. Sebenarnya ide yang ia berikan cukup cemerlang memang berasal dari buah pemikirannya, serta semua orang menyetujuinya. Metode yang diterapkan Joey cukup praktis dan dapat diterapkan di sana. Ellen menyankan agar ia membuat detil cara kerja dan aturan mainnnya, serta segera menemui pengacara untuk mempatenkan prakarsanya.
Dengan demikian, tentu Joey akan mendapatkan keuntungan, semacam royalti dari perusahaan perkapalan. Joey melakukannya dan segera pergi menemui seorang pengacara, namun ketika pengacara menelepon dan meninggalkan pesan untuknya, Joey tidak pernah kembali menemuinya. Orang akan dibuat pusing olehnya memikirkan apa sebenarnya kemauan Joey yang menghindar dari suatu urusan yang tengah mendekati kenyataan seperti
itu. Itulah Joey. Orang menyenangi Joey. Dengan kualitas kekanak-kanakannya itulah mereka senang padanya, dan akibatnya bagi Joey, ia lamban untuk dapat berpikir dewasa. Ellen, sebaliknya, adalah seorang wanita tangguh. Ellen telah merasa jauh lebih cemas pada Joey setelah ibunya sering terbaring karena sakit, di tempat tidur, yang akhirnya pindah dari rumah lamanya ke apartemen Ellen. Ellen tahu ia seorang pemakai, pecandu berat obat terlarang dan sedang menganggur. Ellen sangat mencemaskannya. Ellen hanya mampu mendoakan adiknya agar perilakunya menjadi lebih baik dan itulah hal terbaik yang dapat dilakukannya saat ini.
Joey meninggalkan Linda sendiri di dalam mobilnya. Ia pergi ke lantai dua untuk menemuinya ibunya yang sedang duduk menonton televisi bersama anak perempuan Ellen yang berusia delapan tahun, Katie, Ibunya sedang duduk di atas kasur. Penyakitnya terlihat semakin parah. Katie duduk di lantai sambil menonton televisi. Joey menghabiskan waktu sekitar lima belas menit berbicara dengan mereka. Ia tidak bisa menahan diri menceritakan rahasia besarnya pada gadis kecil itu. Joey memintanya untuk bersumpah bahwa Katie tidak akan memberitahu siapa pun. Dengan kedua matanya terbelalak, Katie mengacungkan dua jarinya, bersumpah. Joey menceritakan tentang dirinya yang telah menemukan uang dalam jumlah yang sangat banyak dan menyatakan pada Katie bahwa mereka sekarang kaya raya.
"Kau adalah anak kesayanganku, tidak perlu khawatir akan masalah apa pun," kata Joey kepada Katie, "Aku akan pergi untuk sementara waktu, tetapi tidak lama lagi aku akan segera mengirimkan uang untuk kalian. Kita akan membawa mama keluar dari kota ini, dan mencarikan
dokter terbaik untuk menyembuhkan penyakitnya."
Ketika Joey kembali ke ruang bawah, Ellen melihat wajah adiknya sedang kesal. Oleh karena itu ia segera menawarkan secangkir kopi pada Joey.
"Tidak usah, terima kasih," jawab Joey. "Aku harus segera pergi." Katanya sembari mengitari ruangan, pergi mendekati jendela lalu menatap ke luar, ke jalan di mana ia memarkir mobilnya.
"Ada apa, Joey?" Tanya Ellen.
"Tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja."
Joey lalu berpamitan dan bergegas pergi.
***
HARI KEDUA
Jum'at, 27 Februari
1
Siapakah orangnya yang tidak pernah bermimpi atau mengharapkan memiliki uang banyak senilai jutaan dolar; baik dengan cara menemukannya di suatu tempat, memenangkan lotere, maupun dari warisan leluhur?
Mungkin sudah diperdebatkan banyak orang, di antara para penduduk Philladelphia khususnya, bahwa berita tentang nasib buruk yang dialami oleh Purolator Armored Car Co., walaupun tidak seheboh berita kunjungan Presiden Ronald Reagen ke Perdana Menteri Inggris untuk mendiskusikan wacana perdagangan internasional; atau berita teror pembunuhan anakanak yang menggemparkan kota Atlanta korban pembunuhan berantai; maupun tentang debat pengiriman pasukan militer ke Amerika Tengah. Akan tetapi pada headline berita koran terpampang dengan tulisan besar di halaman muka berjudul: $1,2 JUTA DOLAR JATUH DARI MOBIL BOKS DUA KANTONG UANG RAIB.
Para penduduk kota itu tengah sibuk mencari berita paling panas tersebut. Lalu beragam komentar terdengar di seputar jalanan Broad Street dan Market Street, di dalam kereta bawah tanah dan di tengah desakan para penumpang yang memadati bus. Kondisi seperti itulah yang saat ini sedang terjadi.
Seorang penulis, kolumnis Philadelphia Daily News telah mempersiapkannya dengan matang dan ulasannya muncul di halaman muka surat kabar tersebut.
"Aku telah berfantasi tentang langkah apa yang akan aku lakukan jika aku menemukan uang sebesar $1,2 juta...," Greg Walker mengawali ulasannya. "Yang mana kami semua belum pernah mengalaminya...? Kalaupun hal
itu terjadi, walau mustahil, aku telah sempat berkhayal, aku akan segera mengamankan sebagian besar uang itu, lalu pergi ke Key West, Florida. Pada saatnya semua orang menyadari akan uang yang hilang itu, maka saat itu aku telah berada di pantai yang lautnya berwarna hijau dan indah, dengan ratusan dolar berada dalam saku, dan duduk santai layaknya seorang cowboy kokain. Perjalananku ke wilayah paling ujung selatan benua Amerika itu tentu dengan didasari kesadaran penuh bahwa di sana beredar jauh lebih banyak pecahan seratus dolar daripada jumlah yang telah lenyap dari tangan Purolator."
Seorang penulis lainnya yang tidak mau disebutkan namanya, memberikan pendapatnya bahwa ia akan menyembunyikan uang tersebut di suatu tempat yang paling aman, lalu segera pergi jauh ke luar negeri untuk waktu yang lama, dengan tetap menggunakan kartu kredit dan uang cash dari tabungan yang dimilikinya, walau harus dihabiskannya hingga bokek, yang pada akhirnya satu atau dua tahun kemudian, ia akan pulang dan menemukan harta karun yang telah dipendamnya sendiri, dan pada saat itulah situasi telah benar-benar aman.
Elizbeth Delaney seorang warga South Philly berkomentar bahwa kemungkinan besar ia akan mengembalikan uang temuan itu, namun temannya tentu saja menyarankan agar segera pergi berlibur ke tempat jauh, dengan menggunakan semua fasilitas mewah, membayar lunas semua tagihan dan utang-utangnya, serta berjudi dengan taruhan besar di Atlanctic City.
Steven Farmer, seorang butcher yang telah berpengalaman di kota besar, cosmopolitan; menyatakan pada wartawan bahwa uang tebusan atau hadiah yang diberikan terlalu kecil: "Di Eropa, jika seseorang mengem-
balikan uang milik orang lain yang ditemukannya, pihak pemilik uang akan memberinya 20% dari nilai keseluruhan uang yang hilang tersebut. Jika aku sendiri menemukan uang tersebut, aku akan sangat ketakutan untuk mempergunakannya, dan tentunya aku takut dipenjara. Aku punya teman yang bekerja di Federal Reserve Bank dan ia menyebutkan setiap lembar uang kertas memiliki nomor seri tersendiri yang berbeda satu sama lain, serta nomor kode dan referensi lainnya, terutama untuk jumlah uang yang sangat besar."
Tentu saja jalan terbaik dalam kasus seperti ini adalah dengan mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Semua ulasan berita itu tidak lain untuk memberikan pemahaman pada masyarakat, karena di negara bagian Pennsylvannia, sebagai contoh, dengan menyimpan uang milik orang lain sebesar minimal $250 saja, sudah merupakan sebuah kejahatan, apalagi jika penemu uang tidak berusaha mencari tahu siapa pemilik uang tersebut yang sebenarnya. Namun demikian tentu di salah sudut pikiran setiap orang pun akan terbersit suatu niat untuk menyimpan uang temuannya. Orang masih saling bertanya: Apa yang akan kau lakukan? Terdapat sebuah berita lain yang menarik perhatian masyarakat South Philly saat itu. Pihak kepolisian telah menemukan jasad Frank Stillitano, berusia tiga puluh tahun, mati di sebuah tempat parkir Philadelphia International Airport. Stillitano, yang tengah dicari polisi untuk diinterogasi berkenaan dengan sebuah pembunuhan yang dilakukan geng mafia, telah terbunuh dengan dua buah peluru bersarang, satu di kakinya dan satu lagi di dekat telinganya. Dia ditemukan di dalam sebuah bagasi mobil yang telah diparkir di sana untuk waktu yang cukup lama.
Berita itu merupakan salah satu berita terkini tentang pembunuhan berantai yang diduga dilakukan oleh mafia terdapat selusin laporan kejadian serupa di tahun 1981 yang telah tersulut oleh usaha pembunuhan pada boss mafia Philadelphia mereka, Angelo Bruno. Berita tentang pembunuhan terbaru ini telah menyebar di lingkungan sekitarnya, bahkan tanpa diberitakan media massa modern sekalipun.
Masih pada surat kabar yang sama, Letnan Jimmy Potocnak, kepala investigator yang beranggotakan dua belas orang detektif di South Detective Division, telah ditugasi untuk menyelesaikan kasus tersebut. Dia dibuat geram oleh reporter lantaran mewawancarainya ketika ia sedang melakukan penyelidikan.
"Kupikir orang atau sekelompok orang yang menemukan uang tersebut, terlalu takut untuk mengembalikannya," katanya. "Walaupun kami sebenarnya tidak akan menahan dan memenjarakannya."
Sang letnan ingin memastikan sang reporter untuk menuliskan nomor telepon pribadinya di kantor kepolisian jika seseorang ingin melapor padanya dengan aman tentang temuan uang tersebut: MU-6-7640 dan MU-6-3013. Pastikan agar nomor telepon terpampang jelas di surat kabar. Begitulah, Letnan Potocnak menjelaskannya pada wartawan.
2
Joey Coyle dan pacarnya, Linda Rutter, tidak sempat membaca surat kabar. Kala itu masih dini hari di seputar area Franklin Birdge. Joey mengemudikan El Dorado mengitari sebuh gedung berstruktur baja perusahaan
Alexander Calder milik Pak Ben tua, lalu bergabung dengan ramainya lalu lintas pagi itu. Berita tentang uang satu juta dolar yang hilang, yang kini berada padanya, memenuhi berita pagi di semua siaran radio. Linda tidak henti-hentinya menekan tombol radio untuk mengganti frekuensi. Joey tidak benar-benar menyimaknya. Ia sudah terlalu payah karena pengaruh efek narkoba dan tubuhnya menggigil hebat. Sejak kemarin, sudah berapa banyak racun yang menjalar dalam tubuhnya akibat ia menyuntikkannya dengan interval waktu yang begitu singkat. Hal terbaik yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah duduk, diam dan berusaha konsentrasi di depan stir. Ia dan Linda telah menghabiskan waktu semalaman bersenang-senang di dalam kamar Admiral Wilson Motel, di mana nama mereka terdaftar sebagai Tuan dan Nyonya Joseph Coyle. Joey tidak bisa tinggal di motel itu terlalu lama. Luapan kegembiraan kedua insan tersebut, dipacu oleh kesenangan akan bayangan memiliki uang melimpah dan pengaruh obat terlarang. Keduanya tidak bisa tidur. Seks, alkohol, dan obat bius; selalu seperti itu ... Joey tidak pernah merasa puas. Ia tidak merasa lapar dan tidak pernah mengantuk. Mereka meninggalkan dari motel karena desakan Linda yang ingin melihat uang temuannya.
Sejujurnya, Joey merasa cemas. Ia mulai khawatir temannya, Cari Masi dan rekan-rekannya dari geng mafia, tidak akan tinggal diam menatap tumpukan uangnya. Joey mulai berpikir mungkin mereka akan mengkhianatinya.
Kecemasan Joey semakin meningkat ketika ia dan Linda tiba di rumah Masi, mendapati kedua orang yang telah dikenalnya sedang berduaan di dapur. Sonny serta merta berdiri ketika mereka memasuki ruangan itu dan segera berlalu tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Kami ingin memastikan keberadaan uangku," kata
Joey.
Masi membawa pasangan anak muda itu ke lantai dua rumahnya. Ia menunjukkan pada Joey sebuah koper berwarna hitam penuh dengan sepertiga jumlah keseluruhan uang temuan, yang merupakan bagian Joey. Dua tas lainnya tidak lagi berada di sana. Joey meminta Linda untuk mempertebal bungkusan uang dan kembali menyimpannya ke dalam laci. Sementara itu, ia dan Masi berunding di koridor.
"Di mana uang sisanya berada?" Tanya Joey.
Lelaki tua itu menjelaskan bahwa ia telah mengamankan bagiannya, dan Sonny telah berangkat ke Las Vegas pagi itu membawa sepertiga bagiannya. Masi dapat melihat betapa cemas Joey saat itu.
"Jangan khawatir," kata Masi menjelaskan bahwa rencana dilaksanakan sesuai kehendak. Tentunya, akan memerlukan waktu lebih lama untuk memecah uang sebanyak itu. Masi dan Sonny memang sempat mendapat masalah, namun ia pastikan semuanya akan baikbaik saja. Joey percaya pada temannya, Masi. Namun kecemasannya tetap saja menyelimuti perasaannya. Perasaan yang muncul pagi ini dan terus bertambah kuat seiring dengan beranjaknya pagi menuju siang. Selain itu, pengaruh obat menambah kecemasannya semakin buruk.
"Aku akan membawa sepertiga bagianku," kata Cari.
Lalu ketika Masi pergi mengantar Dee berangkat kerja di bank, Joey dan Linda mengemasi sepertiga bagian uang tersebut dan segera memasukkannya ke dalam koper hitam kemudian menghampiri El Dorado untuk pulang ke rumah Joey.
3
Di kamarnya yang terletak di lantai dua, Joey membuka kemasan uang. Ia memisahkan uang pecahan seratus dolar tersebut menjadi empat puluh tumpuk, masing-masing bundel bernilai seratus lembar, lalu mengikatnya dengan karet gelang. Ia memberi Linda sebuah kaleng bekas kopi, memintanya untuk memasukkan kertas pengikat uang dan membakarnya di kamar mandi, lalu membuang abunya ke dalam toilet.
Joey kemudian mengantar Linda ke rumah saudara perempuannya di Roseberry Street. Joey bermaksud menghabiskan waktunya seharian, hari itu, di rumah saja tanpa melakukan apa pun, sendirian. Ia berkata kepada Linda bahwa ia akan menjemputnya nanti malam.
Ketika tiba di rumahnya di Front Street, Joey, lagi-lagi memompakan barang haram ke tubuhnya. Telah bertahun-tahun lamanya Joey mengandalkan cairan itu sebagai pelipur lara yang memberinya kesenangan tersendiri. Kecanduannya telah berlipat ganda, bahkan tiga kali lipat merasuki dirinya. Pada awalnya ia merasakan kesenangan yang didapat dari obat terlarang itu membuatnya sangat bergairah, kekuatannya seakan bertambah hebat, begitu juga dengan kemampuan seksualnya, dan ia benar-benar bahagia dibuatnya. Namun ternyata, lama-kelamaan desakan candu narkoba tersebut terasa semakin keras menghimpit dirinya, ia merasa dirinya tersesat di tengah hutan belantara, bahkan kalaupun ia tidak sedang menyuntik dirinya, otot dan pembuluh darahnya akan kejang dan berdenyut hebat, lebih kencang dua hingga tiga kali lipat dari aliran darah normalnya, seperti mesin yang terus dipaksa berputar, siang dan malam, campuran
antara rasa sakit dan kesenangan sementara. Ia terkadang merasa dipermainkan ulahnya sendiri. Dan efek negatif dari obat terlarang itu memainkan sisi jahatnya yang paling keji. Bukannya memberikan Joey energi dan potensi tambahan bagi tubuhnya, ia malahan semakin ketergantungan akan hadirnya cairan mematikan dalam aliran darahnya secara terus-menerus. Hanya berselang beberapa jam saja tanpa cairan itu, mesin dalam tubuhnya akan segera menagihnya, di luar kendali, sensasinya teramat menggebu-gebu, otaknya menjadi bebal dan terus dihantui bayangan teror yang menakutkan, tubuhnya akan menggigil, bergetar hebat dan seluruh persendiannya terasa sakit. Dalam keadaan seperti itulah, Joey akan kelabakan mencari-cari jarum suntiknya.
Kali ini, selain kecemasannya sedikit terobati, Joey merasakan desakan rasa takut yang muncul dari dalam dirinya. Sembari menatap tumpukan uang yang berwarna hijau itu, Joey tiba-tiba merasa takut kehilangan benda yang sedang berada di depannya. Ide untuk mendapatkan uang sebanyak itu ternyata lebih mendebarkan dari kenyataan dirinya yang kini memilikinya. Namun perasaan takutnya jauh lebih mendominasi, saat ini, daripada ketika ia mengharapkan untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Kenyataan pahit tentang hidup adalah yang mana orang lain telah berhasil mengambil pelajaran darinya, sementara Joey tidak sedikit pun mau peduli bahwa suatu kesuksesan, apa pun, harus diraih dengan kerja keras agar dapat dinikmati dengan tenang. Sukses, pencapaian diri, penghargaan dunia itu semua adalah sesuatu yang dapat dipalsukan, atau dapat dibeli, pun didapati jika keberuntungan berpihak pada orang tersebut. Ketika kali pertama Joey menemukan uang tersebut, sekilas ia dapat mem-
bayangkan dirinya akan bahagia bergelimang uang banyak. Uang menjanjikan kemakmuran, status sosialyang tinggi, serta kebahagiaan. Dengan uang, ia akan dapat membeli atau memperoleh apa pun yang diinginkannya di dunia ini. Namun sebaliknya, semuanya hanya semu belaka, paling tidak itulah yang dirasakan nurani Joey saat itu; uanglah yang kini menguasai dirinya, sama seperti obat terlarang yang terus-menerus mengatur hidupnya. Bagaimana ia akan mampu mengatur uang? Bagaimana ia dapat menyembunyikannya dengan aman? Bagaimana ia dapat membelanjakan uang tersebut dengan tenang? Apa langkah tepat yang harus dilakukannya?
Kini Joey merasa jika saja polisi tiba-tiba datang dan mendobrak pintu rumahnya serta menangkapnya. Mungkin sebaiknya ia telah menitipkan uangnya di rumah Masi dan tidak membawanya kembali ke rumahnya. Ia berdiri dan menghampiri jendela, melihat ke bawah, ke luar rumah, hanya untuk memastikan keadaan. Agak jauh di jalanan itu, terlihat John dan Jed sedang memperbaiki sebuah mobil pick-up. Dari arah berlawanan, terlihat sebuah mobil polisi. Sedang melaju dengan lambat menelusuri jalan komplek perumahan, kemudian lewat di depan rumah Joey, terus melaju dan berbelok ke kanan menuju Wolf Street, dekat sebuah rumah di deretan paling ujung. Para penghuni perumahan hanya berdiri sambil menatap, seolah sedang menonton mobil polisi yang baru saja berlalu.
Joey berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia harus segera menemukan tempat aman untuk menyembunyikan uang senilai $400,000 dolar tersebut. Tapi, di mana? Ia segera memasukkan uangnya ke dalam kantong kertas berwarna coklat dan membawanya ke dapur. Di bawah lantai dapur, dulu ia sempat membuat lubang
untuk menyembunyikan obat-obatan terlarang. Sudah dua kali polisi datang untuk menggeledah rumahnya, namun mereka tidak berhasil menemukan tempat persembunyian rahasianya itu. Joey memasukkan sekantong uang ke dalam lubang tersebut, lalu menutup kembali dengan lantai kayu, rapi, di atasnya. Akhirnya ia dapat menenangkan diri.
Perasaan tenang hanya bertahan satu menit. Rasa cemas kembali menghantui. Hanya karena lubang itu telah berhasil menjadi tempat persembunyian yang sempurna bagi obat-obatan terlarang miliknya, bukan berarti, tempat tersebut akan cukup aman untuk menyembunyikan uang sebanyak itu. Polisi tentu saja akan menggeledah lebih seksama dan berusaha lebih keras lagi untuk dapat menemukan tempat di mana Joey menyembunyikan uang daripada ketika mereka mencari-cari kalau-kalau Joey menyembunyikan narkoba di rumahnya. Sebuah tempat persembunyian di bawah lantai? Tidak. Pihak kepolisian tentu tidak bodoh, mereka akan membawa serta anjing pelacak yang mungkin dapat mengendus bau uang. Joey paranoid dan merasa dirinya sedang mencium bau anjing di rumahnya. Ia kembali memeriksa jendela, kemudian pergi ke dapur, dan kembali mengangkat penutup lubang tempat persembunyian uang cash itu, lalu mengangkat kantong yang penuh berisi uang.
Pasti ada tempat lain yang lebih aman. Joey melangkahkan kakinya di anak tangga menuju basement, mencari-cari tempat yang cocok. Ia berada di bawah sana selama lebih kurang sepuluh menit, lalu terbersit dalam benaknya untuk menyembunyikan uang tersebut di dalam pipa saluran air panas. Joey meletakkan kantong uang dan mengambil perkakas. Setelah ia berhasil melepas
pipa, Joey membuka bagian atas wafer heater dan menarik insulasi fiberglass bagian luar, juga bagian dalamnya. Joey menyimpan uang di dalam ruang yang kini terbuka di bagian dalam, memasang kembali fiberglass dan membetulkan pipa. Tubuhnya bermandikan keringat. Joey kembali ke dapur dan membuat untuk dirinya, secangkir kopi instan.
Dinamo tetap berputar. Pemanas air bertenaga gas. Dan memiliki lampu indikator di dalamnya. Bagaimana jika uang menjadi panas dan terbakar? Semua uang akan terlalap habis! Secangkir penuh kopinya belum tersentuh, Joey segera berlari ke basemen dengan terlebih dahulu menyambar kotak perkakas. Ia melalukan hal sama seperti yang dilakukannya tadi ketika membuka pemanas air, kemudian menarik uang keluar dari sana. Ia berlalu setelah membetulkan pemanas air tersebut.
Dua jam telah berlalu, uang dalam koper hitam masih tergeletak dekat kakinya. Dengan sebelah tangan memegangi perkakas dan sebelas lagi memegangi koper uang, Joey kembali ke lantai dua, langsung menuju toilet. Ia memiliki ide lain. Sambil merangkak, ia membuka toilet. Ia memang ahlinya dan senang bekerja dengan menggunakan tangan. Setelah Joey berhasil mengangkat WC duduk, ia menyimpan koper uang di dalamnya. Ruangan ini, pikirnya, sempurna. Joey teringat seorang bandar narkotika yang menyembunyikan obat-obatan terlarang di bawah toilet. Aroma dari toilet akan mengaburkan bau obat-obatan terlarang di dalamnya dari endusan anjing pelacak. Joey lalu membetulkan kembali toiletnya.
Akhirnya, Joey merasa tenang dan sekarang ia bisa mandi dan berganti pakaian. Ia membuat secangkir kopi baru, karena kopi yang dibuat sebelumnya sudah dingin
dan tidak terminum. Joey duduk di ruang tamu. Ia merasakan betapa sulitnya untuk menenangkan diri. Setiap beberapa menit, ia akan berdiri untuk melihat situasi di luar rumah dari balik gorden jendela ibunya yang telah usang. Joey melihat ke samping kiri dan kanan jalan. Ia melangkah mondar-mandir di ruang tamu. Ketika efek obat mulai berkurang, Joey segera menancapkan speed-nya kembali. Joey buang air kecil di toliet kamarnya di lantai dua. Ia merasa tidak nyaman dan sepertinya toliet mampet. Tidak benar, pikirnya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa terlintas pikiran seperti itu. Joey mengambil perkakas lalu membongkar toilet.
Bahkan sebelum ia selesai membongkarnya, sudah terlintas dalam benak Joey akan satu tempat untuk menyembunyikan uangnya, yang lebih baik. Terdapat ruang kosong di antara dinding luar dan dinding bagian dalam rumahnya yang terbuat dari kayu. Dari sebuah lemari yang berada dalam kamar ibunya, dengan mudah dia dapat mencapai satu ruang terbuka antara atap dan rusuk rumah. Memang agak sempit, namun Joey berhasil merayap hingga ke bagian depan rumah di antara celah-celah tersebut. Joey kemudian memasukkan kopernya ke dalam ruangan kosong antara kedua dinding pemisah di bagian depan rumah. Agak sukar, tetapi koper masuk dengan pas di antara kedua celah itu.
Masalahnya sekarang, Joey tidak dapat memutar badannya untuk kembali ke lubang masuk tadi. Ia harus merangkak mundur sebelum bisa turun. Sungguh sukar baginya. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, sesekali berhenti untuk menghela nafas, lalu mundur satu langkah, perlahan, sedikit demi sedikit. Ia sudah setengah jalan menuju lubang turun ketika, tiba-tiba, sebuah hen-
takan melemparkan badannya. Tubuhnya terpental dan ambruk sehingga, entah bagaimana caranya, ia kini terkapar di lantai kamar. Ia terlalu parah dalam pengaruh obat untuk merasakan sakit. Beberapa saat Joey terdiam memikirkan kembali apa yang baru saja dialaminya. Ia sempat pingsan, entah untuk berapa lama. Di sekelilingnya terlihat beberapa lempengan alumunium dan beberapa keping plafon yang telah hancur dan terjatuh dari langit-langit rumah. Di atasnya terlihat sebuah lubang besar dan menganga. Rupanya ketika ia merangkak mundur tadi, dirinya telah salah menginjak, bukannya melangkahkan kaki mundur mengenai tulang rusuk langit-langit, melainkan menginjak tepat di atas plafon tadi. Joey kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya seberat seratus tujuh puluh lima pon, terhempas jatuh ke lantai yang jaraknya delapan feet setelah menabrak dan menghancurkan plafon dan tulang rangka langit-langit, Joey duduk dan masih merasa kaget sembari menatap lubang yang menganga di langit-langit rumah.
Joey menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk membetulkan plafon. Ia meluruskan lempengan alumunium penyangga dan kembali memasangnya lalu menempelkan plafon cadangan. Selesai melakukannya, Joey kembali menyuntik cairan haram dan memutuskan bahwa tempat itu tidak aman untuk menyembunyikan uang.
4
Detektif Pat Laurenzi telah pulang ke rumahnya di Rox-borough, Philadelphia utara, pada hari Kamis tengah malam. Sebelum meninggalkan kantor, ia sempat membuat laporan hasil penyelidikannya dan menulis pesan untuk
dikirim kepada pihak kepolisian
Buronan: Pencurian, RSP, tgl. 26-2-81 sktr 2:30 sore ant jl Swanson & Wolf oleh 2 K.putih/L #l.usia 20 sd 30 th rambut coklat muda tipis NFD #2. L mobil Chevy Malibu '69-72. bemper biru. L ambil dr Hwy. 2 tas kanvas dr kotak kuning jatuh dr Mobil boks Purolator isi + $1,2 jt dolar cash nom $100 Ser# tdk urut, uang dr Federal Reserve Bank 6th Arch St. 26-2-81. Tag di tas. Putih dg tulisan Atlantic National Bank of Ventnor, NJ, Diikat dan segel. Info Ibh lanjut kontak FBI atau South Det Special Invest Unit. Det.Laurenzi.
Ketika Detetif Pat kembali ke kantor keesokan harinya pada pukul delapan pagi, banyak sekali pesan masuk di mesin penjawab teleponnya. Telepon sudah mulai berdering di kantornya sejak disiarkannya berita malam pada hari Kamis dan setelah ia meninggalkan kantor, tanggapan masyarakat untuk membantunya semakin besar. Setiap uang kertas nominal seratus dolar di negara bagian itu dicurigai. Masyarakat telah melihat mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam berita, di tiga negara bagian yang berbeda, sedang melaju menuju lima arah yang berbeda. Seorang penelepon melaporkan bahwa ia melihatnya di Philadelphia Barat dekat Drexel University, oleh karenanya Pat segela melompat ke jok mobilnya untuk mengamati kawasan seputar kota tersebut. Nihil. Ia kembali ke markas untuk mencatat berita telepon lainnya.
Ia meminta surat tugas untuk menggeledah sebuah area pembuangan rongsokan kendaraan, berjaga-jaga siapa tahu Piacentino bersaudara tidak menyambut kedatangannya dengan ramah, namun setibanya di sana, Pat berpikir bahwa mungkin akan menyita waktu berminggu-minggu hanya untuk meneliti satu persatu rongsokan mobil yang menumpuk di sana dan, selain itu ia teringat
cerita orang mengenai watak bengis sang kedua bersaudara.
Pat menyadari kendala yang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat lebih jauh kecuali menunggu suatu keadaan yang lebih baik atau suatu kejadian lain yang dapat dijadikannya petunjuk. Di atas meja metalnya, dengan menggunakan penggaris, sang detektif merekareka peta sederhana Swanson Street, antara Oregon dan Wolf. Ia memberi tanda letak kantor Purolator dan tempat pembuangan barang bekas, kemudian menggambarkan sebuah kotak kecil tepat di bagian tengah-kanan jalan itu dan memberinya tanda dengan tulisan "Tub." Ia lalu membubuhkan detil lainnya. Beberapa yard dari tempat kotak metal (tub) terjatuh, terdapat sebuah tiang kabel telepon, Pat memberinya tanda "Pole."
Selesai ia menggambar, Pat tertawa sendiri. Begitu kocak kelakuannya dan begitu sedikit informasi yang dapat digunakannya demi kelancaran penyelidikannya. Akhirnya Pat memutuskan untuk mengemudi di seputar kawasan menghilangnya uang, untuk lebih mengenal situasi di area tersebut, tentang tata letak jalan yang membentang hingga ke ujung sebelah timur. Unit investigator berseragam telah disebar acak ke beberapa wilayah ini, dengan berjalan kaki, mengendarai mobil, maupun menggunakan helikopter. Mereka semua sedang mencari jika saja terlihat mobil Chevy Malibu seperti yang dideskripsikan dalam laporannya. Namun tempat itu terlalu lengang serta tanda-tanda keberadaan mobil tersebut tidak terlihat sama sekali. Mungkin saja kedua bersaudara Piacentino telah salah melihat, baik jenis mobil, maupun warnanya. Sejauh ini, penyisiran lokasi tidak membuahkan hasil apa pun.
Semakin lama Detektif Pat menunggu datangnya petunjuk, semakin tidak sabar ia dibuatnya; ia merasa hari berjalan lambat dan waktu terasa lebih panjang. Akan tetapi Pat bukanlah tipe seorang pria yang mudah menyerah. Di luar pesan telepon yang terus masuk terkadang, deskripsinya tidak masuk akal ia merasa bahwa siapa pun yang telah mengambil uang tersebut, pastilah tinggal tidak jauh dari tempat terjatuhnya. Jika perkiraannya benar, harapannya untuk segera mengungkap kasus itu semakin besar. Ini adalah South Philly. Sesuai tradisi masyarakat yang terlalu akrab satu sama lain, di tempat ini tidak mungkin jika seseorang anggota kelompok masyarakat di sana menemukan uang sebesar itu, beritanya tidak akan bocor pada seseorang lainnya. Jika seseorang itu dikabari tentang temuan uang, orang itu dalam kurun waktu yang relatif singkat tentu akan segera mengabari orang lainnya, lalu pada orang lainnya lagi, dan seterusnya, secara berantai. Lagipula, keadaan seperti itu tentu sifatnya alamiah, bagi manusia yang selalu tidak sabar untuk menunjukkan kegembiraannya di mata orang lain. Naluri Pat mengatakan bahwa ia harus terus berjalan-jalan di seputar kawasan tersebut dan bersiap siaga untuk beraksi jika dugaannya menjadi kenyataan.
Ia mengemudi perlahan, memutar dan mengitari kawasan perumahan hingga sepuluh blok jauhnya dari Wolf dan Swanson Street, kemudian berbalik arah, bolak-balik hingga lingkaran arah yang dilaluinya semakin kecil. Setelah selesai, Detektif Pat mengulanginya kembali.
5
Joey meninggalkan rumahnya dengan membawa uangnya
yang dikemas di dalam sebuah tas ransel sekolah. Hari menjelang petang. Di sebelas atas atap rumahnya terlihat bayangan besar 1-95 yang tersorot sinar matahari berwarna ungu. Di seberang kota, pantulan sinar matahari itu terlihat berkemilau warna oranye dan pink, dan di jalanan depan rumahnya, suasana sudah terlihat gelap. Banyak terdapat polisi berkeliaran di mana-mana. Joey merasa seolah-olah tas ransel yang dipikul di pundaknya mengeluarkan cahaya lampu neon kerlap-kerlip di bagian luarnya, sama seperti perasaan bersalahnya yang terlihat menyala dalam kegelapan. Detak jantungnya terasa memukuli genderang telinganya. Apalagi ketika sebuah helikopter terbang rendah di atas kepala, ia merasa pastilah polisi yang sedang mengawasi gerak-geriknya. Joey merasa ingin lari, namun ia melihat betapa banyak polisi dan anjing pelacak yang besar-besar di seputar kawasan perumahan itu. Pemandangan itulah yang membuatnya mengurungkan niat berlari. Ia berjalan santai menuju mobil El Dorado. Ia lemparkan tas dari punggungnya ke jok depan di samping kemudi. Joey mulai mengemudi, perlahan dan dengan penuh kehati-hatian, ia menuju Wolf Street yang berjarak sekitar tujuh blok dari rumahnya, menuju rumah salah seorang teman bernama Mike DiCriscio.
Setelah ia mengemudi beberapa blok, Joey menghentikan kendaraannya sesaat, memindahkan tas uang ke bagasi, kemudian melanjutkan perjalanan.
Mike berusia enam tahun lebih tua dari Joey. Tubuhnya tinggi dan kulitnya agak gelap, berkumis tebal dan rambutnya ikal berwarna hitam. Mike seorang pria yang pandai bicara, lelaki yang sikapnya serius dan kurang rasa humor. Ia menafkahi istrinya dengan usaha jual-beli; membeli rumah yang sudah agak rusak, merenovasinya,
lalu menjualnya kembali dengan harga tinggi. Joey melihat potensi lelaki itu sebagai seorang yang senang membeli uang dengan uang. Joey menaruh hormat padanya. Ia melirik Mike karena mulai merasa kehilangan kepercayaan kepada Cari Masi. Oleh karena ia berpikir mungkin lebih baik membawa uang bagiannya itu kepada Mike untuk me-minta bantuan. Mungkin saja Mike dapat memberikan ide cemerlang.
Malam tiba dan hari sudah gelap ketika Mike mem-persilahkan Joey masuk ke dalam ruang tamunya. Ia terlihat tegang, dan senyumannya dilihat Joey seperti senyuman seorang lelaki tolol. Mike dan istrinya, Marion, mengajak Joey untuk minum kopi bersama di dapur.
Mereka duduk-duduk sambil berbincang-bincang. Mike mengeluh karena lambannya bisnis penjualan kembali rumah yang telah direnovasinya. Keduanya mengeluh atas pembayaran tagihan pajak rumah yang sudah jatuh tempo dan tagihan lainnya.
"Tidak perlu cemas, " kata Joey yang tiba-tiba merasa seolah ditarik medan magnet. "Aku akan mengurus semua itu. Aku bahkan akan memberimu apa pun yang kalian minta."
Sepasang suami istri hanya tersenyum mendengarnya. Pikirnya, bagaimana mungkin anak muda ini mampu membereskan kesusahan mereka?
"Apa kalian pernah mendengar berita tentang sebuah mobil boks armored Purolator yang menjatuhkan uang jutaan dolar yang kini telah lenyap karena diambil seseorang?" Joey bertanya pada Mike dan Marion.
"Yeah."
"Akulah orangnya." Mike tidak merespons.
"Aku-\ah orangnya," Joey mengulangi perkataanya dengan berbisik namun cukup keras untuk bisa didengar oleh siapa saja, jika saja ruangan dapur penuh disesaki orang. "Aku telah menemukan uang mereka."
Mike sudah pernah melihat Joey berbicara ngawur sebelumnya. Kali ini pun, ia berpikir bahwa Joey tengah setengah mati berada dalam pengaruh obat terlarang. Joey mengajak Mike keluar menuju mobilnya untuk membuka bagasi dan menunjukkan uangnya. Ia hampir-hampir tidak percaya atas apa yang sedang dilihatnya. Tas yang terlihat padat itu, sepertinya berisi lebih dari sepertiga jumlah keseluruhan uang jutaan dolar yang hilang.
Joey mengakui bahwa beban pikirannya terlalu berat. Ia membutuhkan bantuan Mike. Langkah pertama, katanya, mereka harus berbicara pada seorang pria bernama Cari Masi untuk mengembalikan dua pertiga bagian uang yang telah dititipkannya kepada Carl dan Sonny. Selanjutnya Joey akan menyerahkan uang tersebut kepada temannya yang satu ini untuk mengelolanya.
Sudah seharian Joey berpikir keras, dan apa yang dipikirkannya tidak lain hanyalah prasangka bahwa Masi dan temannya dari geng mafia, Sonny, tidak sepenuhnya jujur. Semakin lama Joey memikirkannya, semakin berat membebani pikiran, menganggap bahwa ia akan kehilangan bagian terbesar dari uang temuannya yaitu senilai $300,000. Joey semakin merasa cemas. Pikirnya, ia telah salah langkah. Ia ingin pergi menemui Masi dan bicara baik-baik padanya dengan didukung orang yang lebih hebat dalam bicara seperti halnya Mike.
Ketika Joey menelepon dari rumah Mike, anak perempuan Masi-lah yang mengangkat teleponnya. Ia menjawab bahwa ayahnya sedang tidak di rumah dan menga-
takan bahwa kedua teman Joey yang pernah diajaknya ke sana, saat itu sedang berada di rumah Masi.
Seolah ia kekurangan masalah, kini Joey harus juga berurusan dengan John dan Jed. Ia telah memarkir mobil ayah John di suatu tempat di Jersey. Mereka tentu saja menginginkan mobil itu kembali. John dan Jed pastilah menginginkan bagian mereka atau sebaliknya, berniat mengembalikan uang temuan kepada pemilik aslinya. Malam sebelumnya, keduanya pernah menyarankan demikian. Joey meminta anak perempuan Masi untuk berbicara kepada pada John.
"Jangan keluar dari rumah itu," kata Joey kepada John. "Aku akan segera ke sana."
Kedua pria yang usianya lebih muda dari Joey itu, masih marah dengan kelakuan Joey yang memberitahukan rahasia mereka pada pacarnya. Pada kenyataannya, John pun telah memberitahukan ayahnya akan rahasia temuan uang tersebut. Ia merasa tidak punya pilihan lain. Bagaimana ia akan memberikan penjelasan pada ayahnya tentang mobilnya yang hilang? Ayahnya tentu saja marah besar. John akhirnya mengakuinya. Lagipula deskripsi mobil yang digunakan penemu uang cocok sekali dengan apa yang diberitakan media massa. Semua kacau. Jed, sementara itu, telah juga membocorkan rahasia mereka kepada ibunya. Orang tua keduanya tentu saja bersikeras. Mereka menginginkan mobil tuan Behlau kembali, dan meminta ketiga pria itu segera mengembalikan uang milik Purolator sebelum masalahnya menjadi lebih rumit!
Joey menaruh koper hitamnya di dalam lemari kamar tamu di rumah Mike. Keduanya lalu pergi ke rumah Masi. Ketika mereka tiba di sana, John meminta untuk mengembalikan mobil ayahnya. Keduanya juga menyatakan bahwa
mereka bersikeras meminta Joey untuk segera mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya. Suasana semakin panas. Kedua teman Joey terlalu takut untuk mengambil risiko. Mereka ingin mengakhiri petualangan, dan cukup dengan hanya menerima imbalan atas pengembalian uang jutaan dolar tersebut.
Joey sangat kesal mendapati kedua temannya berubah pikiran. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut John dan Jed. Ia pun marah besar. Bagaimana bisa kedua teman baik Joey bertindak bodoh!
"Aku telah bekerja keras selama bertahun-tahun!" kata Joey. "Aku bekerja sistem aplusan setiap delapan jam selama hidupku! Aku ketakutan dan dihantui maut yang mengintai! Aku telah bekerja terlalu keras untuk berani mengambil risiko tidak mempunyai apa-apa! Apakah aku harus menderita untuk selamanya?" Joey memukulkan dengan keras kepalan tinjunya ke meja ruang tamu Masi sehingga jam tangannya lepas dari pergelangan dan terhempas jauh di atas lantai. "Aku tidak bisa mengembalikan uang itu kalaupun aku mau melakukannya!" Katanya. "Mafia telah menahan uang kita, dan sangatlah tidak mungkin untuk kita mendapatkannya kembali. Mereka sedang memproses mencuci uang itu."
"Joey, ada imbalan sebesar lima-puluh-ribu dolar," kata Jed.
"Dari siapa?"
"Dari Purolator."
"Aku tidak percaya sama sekali," kata Joey. "Dengar, milik siapa sebenarnya uang itu? Kau tentu tidak tahu. Tidak tertulis apa pun pada kantong kanvas itu apalagi nama 'Purolator1. Di kantong itu hanya tertulis 'Federal Reserve', itu artinya Amerika. Uang itu milik negara, milik
umum, milik kita sekarang ini. Jika mereka menyinggung masalah imbalan, baiklah, kita akan membahas tentang uang imbalan. Kalian mengerti maksudku, kan?"
John dan Jed tetap pada pendirian mereka. Cerita tentang hilangnya uang, telah menyebar luas. Uang tersebut milik Purolator. Semua orang pun tahu. Imbalannya $50,000 bagi siapa saja yang mengembalikannya, serta nilai yang ditawarkan tentunya, jauh lebih besar dari pendapatan mereka selama ini.
Joey mengejek tingkah polah kedua temannya.
"Aku tidak akan mengembalikan uang itu!" Katanya.
"Lima puluh ribu. Apa artinya lima puluh ribu dolar? Bukankah kita memiliki lebih dari satu juta dolar?"
Joey menekankan, perlu waktu dua hari lagi sebelum ia bisa melarikan diri ke tempat yang jauh dan aman. Katanya, ia akan pergi ke luar negeri, setelah uang dipecah, ia akan mengatur rencana perjalanannya. Ia akan memberikan jatah kedua temannya dan mereka boleh melakukan apa saja, namun dalam situasi separah apa pun, Joey tidak akan pernah sudi mengembalikan uang tersebut. Lalu ia memberi keduanya masing-masing seratus dolar dan berpesan untuk tidak membelanjakannya sebelum ia pergi dari sana.
Hal itu tentu saja sama sekali tidak memberi kepuasan pada John dan Jed sama sekali. Mereka tahu, hadiah dari Purolator jauh lebih besar dari sekadar seratus dolar, belum lagi kalau berbicara mengenai bagian keduanya atas temuan uang itu. Mereka lalu berkata, dua ratus dolar untuk dua orang saat itu, tentu saja tidak akan mampu membungkam mulut keduanya lebih lama lagi. Joey merasa sakit hati dan marah. Joey berjanji akan segera memberikan bagian kedua temannya dengan adil.
"Dengar, aku akan bertemu kalian malam minggu di Dick's Lee, tepat tengah malam. Aku akan memberikan jatah kalian berdua. Setelah itu, aku tidak akan peduli lagi apa pun yang akan kalian lakukan. Mafia telah melibatkan diri dalam urusan kita, Jika kalian berani menyebutkan namaku pada polisi, aku tidak segan-segan menembak kepala kalian. Jika kalian pergi melapor pada polisi saat ini juga, kalian berdua akan mati. Jika bukan aku yang melakukannya, maka seseorang akan melakukannya untukku."
Selesai mengancam, Joey pergi meninggalkan mereka. Mike mengikutinya menuju El Dorado. Ketika keduanya telah berada di dalam mobil, Joey merabai sakunya dan tidak mendapati kunci mobil. Kunci El Dorado hilang. John dan Jed keluar dari rumah Masi. Mereka berdua hanya terdiam melihat Joey yang turun dari mobil, dan kembali melangkah memasuki rumah sembari menggerutu dengan maksud untuk mencari kunci.
Mike menghampiri John dan Jed yang terlihat sangat ketakutan.
"Dia memang gila," kata John. "Tidak ada gunanya bicara pada orang itu."
Joey akhirnya dapat menemukan kunci El Dorado yang tergeletak di jok belakang. Ia mengantar Mike ke rumahnya di Wolf Street dan kembali untuk menjemput Linda, serta mampir di rumah kakak perempuannya, Ellen. Ia terlebih dulu berjanji pada Mike untuk kembali menemuinya dalam dua jam.
Ketika Mike tiba di rumahnya, ia menyempatkan diri mengintip isi koper hitam yang ditaruh Joey di lemari depan. Memang benar! Joey Coyle, dialah orangnya, yang sedang heboh dibicarakan seluruh masyarakat saat ini.
6
Durwood menyuruh sang sekuriti untuk memeriksa halaman kuning buku telepon. Nama Alan David Silverman memang benar terdaftar sebagai seorang pengacara. Kantornya terletak di Center City, Jadi, pria tersebut tidak berbohong.
Durwood menelepon sang pengacara. Istri Alan menjawab teleponnya dan menjelaskan bahwa suaminya sedang tidak di rumah dan memberitahukan suaminya tidak lama lagi akan segera pulang. Sekitar dua puluh menit kemudian, telepon Durwood berdering.
"Klienku memiliki sekitar dua puluh lima hingga tiga puluh prosen uang Purolator yang hilang," jelas Silverman. Ia berkata bahwa kliennya akan mengembalikan uang itu dan, ia serta kliennya harus dibebaskan dari tuntutan hukum apa pun.
"Apa kau mewakili perusahaanmu?" Tanya Silverman.
"Ya, benar."
"Kurasa klienku berhak untuk mendapatkan semacam imbalan." Silverman mengatakan kalau kliennya tidak mungkin menyimpan uang itu terlalu lama. Kliennya
"khawatir dan tidak tenang," kata sang pengacara, "karena salah satu orang yang terlibat dalam urusan uang itu adalah anggota sebuah organisasi kejahatan terkuat di Philadelphia, dan akan segera melakukan penyucian uang."
"Siapa namanya?" Tanya Durwood. "Apa terkait dengan kasus Angelo Bruno?"
Silverman tidak menanggapi pertanyaan tersebut.
"Bagaimana klien Anda bisa mendapatkan uang itu?" Tanya Durwood.
Menurut pengacara Silverman, kliennya tidak berniat untuk menahan maupun melakukan penyucian uang. Katanya bahwa kliennya secara kebetulan bertemu de-
Bagi Jack Durwood, yang bekerja sebagai sekuriti di perusahaan Purolator, dua puluh empat jam terakhir dalam hidupnya, tak ubahnya seperti mimpi buruk. Bagaimana bisa kau kehilangan uang sebanyak jutaan dolar dengan begitu saja? Apakah tidak ada cara yang lebih buruk dari menghilangkan uang dengan cara menjatuhkannya dari pintu belakang mobil boks? Dari mana kau akan memulai mencari siapa badut pelakunya.
Durwood adalah seorang pria pendiam, kepalanya botak, serta tubuhnya kekar dan tegap, penampilannya cocok untuk menghiasi halaman "depan" majalah bodybuilding. Ia seorang veteran perang Vietnam, Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika, yang dulu sering direndahkan masyarakat. Mengurusi keamanan di sebuah perusahaan pengantar uang jutaan dolar milik para klien dari perusahaan-perusahaan pelanggan lain, tentu saja tidak sama dengan urusan militer apalagi untuk seorang pensiu-nan sepertinya. Durwood selalu menyenangi tantangan, tetapi kasus yang satu ini sangatlah buruk. Sedikit sekali petunjuk yang sekaligus, membuatnya kesukaran untuk melacak uang yang hilang.
Menjelang matahari terbenam sore itu, Durwood menerima telepon di rumahnya, isi berita yang disampaikan penelepon, membuatnya sedikit merasa lega. Seorang sekuriti di terminal Philadelphia meneleponnya untuk mengabari bahwa ia telah dihubungi oleh seorang pria bernama Alan David Silverman. Katanya ia adalah seorang pengacara; Silverman ingin berbicara pada seseorang dari perusahaan Purolator tentang uang yang hilang. Ia meninggalkan nomor telepon.
ngan "orangnya" di sebuah bar pada hari Jum'at pagi. Mereka berdua minum-minum bersama lalu kembali ke rumah kliennya untuk menyuntikkan obat terlarang. Kemudian, setelah ia mengantar pulang pria tersebut, pada saat itulah, kliennya menemukan bahwa "orang itu" telah meninggalkan sebuah koper berwarna hitam dengan tidak sengaja. Ketika ia membukanya, klienku menemukan uang sejumlah $300,000 tunai di dalamnya.
Mike DiCriscio tidak membuang-buang waktu. Dengan mengetahui sikap Joey yang kalap, mendengar cerita tentang Sonny Ricobene darinya, dan menyaksikannya sendiri bagaimana Joey, John, dan Jed bertengkar tentang uang temuan mereka; Mike merasa petualangan mereka tidak akan berjalan mulus. Ketika ia mengantar Joey ke rumah Masi dan setelah melihat uang yang disimpan Joey di lemari kamar tamunya, Mike sudah merasa bahwa dirinya akan terlibat jauh dalam konspirasi kejahatan yang sedang mereka lalukan. Tiba-tiba, kabar tentang uang hadiah bagi siapa pun yang mengembalikan uang temuan milik Purolator walaupun nilainya jauh lebih kecil menarik perhatiannya.
"Bagaimana klienmu tahu bahwa uang itu milik Purolator?" Tanya Durwood.
"Aku tidak tahu," jawab Silverman. "Kurasa'orang itu' telah mengatakannya sendiri pada klienku."
Durwood mengatakan pada Silverman bahwa kliennya akan mendapat imbalan sebesar $50,000; walau jumlah uang yang dikembalikan tidak penuh. Dan, sejauh yang diketahui sang sekuriti, Purolator tidak akan menuntut apa pun kepada siapa saja yang mengembalikan uang tersebut.
7
Kakak perempuan Joey, Ellen, tidak mengetahui adiknya memasuki rumah. Waktu telah menunjukkan lewat pukul delapan malam . Ellen baru menyadari kedatangan adiknya ketika Joey memanggilnya, dan ia segera turun ke lantai bawah. Joey tengah berdiri di sudut ruang tamu.
"Kemarilah, EH," kata Joey.
"Ada apa, Joey?"
"Ke sini. Ada hal penting untuk dibicarakan."
Kepala Joey menunduk. Ketika Ellen menyalakan lampu ruangan, Joey menyuruhnya untuk mematikannya kembali.
"Ada apa?" Tanya Ellen.
"Aku baik-baik saja." Joey memeluk kakaknya. "Kau adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki."
Ellen berusaha menenangkannya. Tubuh Joey gemetar.
"Dengar," kata Joey. "Aku punya uang." "Apa, Joey?"
"Aku punya uang banyak."
"Uang apa?"
"Uang Purolator itu."
"Joey, tenang. Mari minum kopi, santai, dan kita diskusikan pemecahan masalahmu."
"Tidak usah. Tetap di sini saja." "Joey."
"Uang itu ada padaku. Uang milik Purolator."
"Benarkah?"
"Ya."
"Mengapa tak secepatnya kau kembalikan?" "Kembalikan? Tidak mungkin aku mengembalikannya."
"Kenapa?"
"Apa kau tidak percaya bahwa ayah yang melakukannya, ayah dan Tuhan telah mengirimnya untuk kita?"
"Joey kumohon. Tenanglah. Rileks."
"Ayah telah bekerja keras semasa hidupnya. Pikir baik-baik. Untuk apa?"
Ellen tidak menjawab pertanyaan Joey seperti itu. Ia bingung. Ellen tidak bisa memercayai apa yang baru saja dikatakan adiknya. Joey mungkin saja sedang berfantasi lantaran diperngaruhi obat. Juga sangat ketakutan. Ellen berusaha mengatasi situasi yang sedang dihadapi adiknya. Ia menyarankan agar Joey menginap di rumahnya malam itu. Paling tidak, mungkin adiknya dapat mencurahkan perasaannya. Joey menolak.
"Dengar, aku tidak bisa tinggal di sini. Aku harus pergi. Ada beberapa orang yang sedang mengincarku."
"Orang apa, Joey?"
Joey tidak menjawab, ia melihat ke luar jendela, gelisah dan tidak dapat berdiri dengan tenang. Ellen khawatir mungkin adiknya akan histeria. Ia terus menerus berkata, "Tenang, tenang, Joey!" Kata Ellen sambil menangis.
"Ellen, kau tidak perlu cemas," kata Joey. "Semua akan baik-baik saja."
"Joey, aku mencemaskanmu. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi padamu."
"Tidak akan ada sesuatu yang buruk menimpaku. Aku baik-baik saja. Aku punya pelindung tersendiri. Ayah dan Tuhan pun selalu mengawasiku. Mengerti, kan?" Lalu ia mengeluarkan sebuah benda hadiah 'tanda keberuntungan' dari sakunya, yang dulu diberikan oleh ayahnya. Benda milik ayahnya. Joey telah sempat mengambilnya dari rumah, hari itu.
"Ini," kata Joey sembari menyobek selembar uang pecahan $S, dibagi dua. Ia berikan sepotong pada Ellen dan menyimpan sepotong lagi ke dalam sakunya.
"Seseorang akan menghubungimu dan mengatakan di mana aku berada serta mengabarimu bahwa aku baik-baik saja, seseorang yang akan membawa potongan uang kertas yang ada padaku sekarang."
"Joey, berjanjilah untuk meneleponku. Setiap hari. Kabari aku bahwa kau aman dan baik-baik saja."
"Baiklah!"
Joey pun pergi.
* * *
HARI KETIGA
Sabtu, 28 Februari 1981
1
Setelah seharian Joey berada dalam pengaruh obat, sedang sakau; pikiran Joey jauh lebih kacau dari biasanya. Ia tidak sedikit pun mengantuk. Lalu ia teringat akan janjinya untuk bertemu dengan John dan Jed di Dick's Lee. Ia cemas kedua temannya akan melaporkan dirinya kepada polisi. Joey pernah mengancam mereka bahwa jika keduanya melapor pada polisi, ia akan membunuh mereka walaupun Joey tahu kedua temannya tidak akan menanggapi ancamannya dengan serius. Ia bingung dan merasa keberatan untuk berbagi uang sejumlah yang dijanjikannya.
Ancaman kematian terasa jauh lebih buruk menghantui Joey, daripada efek yang dirasakan oleh John dan Jed. Seolah-olah, Joey telah mengutuk dirinya sendiri dan menghempas tubuhnya menuju sebuah sisi gelap kehidupannya yang terbuka lebar. Sisi gelap tempat para iblis memangsa dirinya yang berbalut ketakutan. Joey mulai berpikir, mungkin uang itu bukanlah anugerah melainkan kutukan baginya. Ia bahkan ragu dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali uang senilai $800,000 yang telah dititipkannya pada Carl Masi dan Sonny Riccobene. Bahkan, mungkin sisa uang yang ada padanya senilai $400,000 akan juga direbut oleh kelompok mafia itu. Tetapi Joey tetap merasa uang itu miliknya! Ia percaya bahwa dirinya telah ditakdirkan untuk mendapatkan uang sebanyak itu, bahwa arwah ayahnya lah yang telah membimbingnya menemukan uang itu, juga oleh Tuhan. Uang itu akan memberinya kekuatan, sebuah alat untuk pencapaian semua keinginan, dan ia tidak ingin melewatkan kesempatan sebaik ini begitu saja. Bahkan ia berpikir,
dengan uang sebanyak itu, dirinya mampu membuka usaha sebagai 'bandar' narkoba dan sebagian lagi akan digunakannya untuk membuka usaha ril yaitu bengkel dan workshop alat-alat berat, sesuai dengan keahliannya. Dengan demikian uang haram yang didapatinya dari bisnis narkoba, akan sukar dilacak dan terselubung dengan kepemilikan usahanya yang kedua. Kedua potensi bisnis dalam fantasinya telah membuat kepala Joey pusing. Ia berpikir lebih jauh lagi, mungkin inilah saatnya ia melakukan peninjauan usaha dengan mendatangi bengkel alat-alat berat yang sudah maju saat ini, mungkin juga mencoba untuk menawarkan usaha kerjasama dengan mereka, atau bahkan mengambil alih perusahaan tersebut. Tiba-tiba ia teringat akan ayahnya yang dulu sering mengejeknya sebagai anak yang tidak berguna, yang lamban dalam berpikir dan bekerja, yang selalu membuat kesalahan dalam bekerja. Lintasan pikiran seperti itu telah membuatnya berpikir lebih jauh, bahwa uang-semua uang yang ada.'-bahkan terasa semakin berat untuk dipertanggung jawabkannya. Jumlah yang terlalu besar bagi Joey, yang mana mustahil baginya untuk dapat mengaturnya dengan baik.
Janji bertemu dengan John dan Jed telah membuat dadanya terasa sesak. Hari Jumat tengah malam, waktu yang telah dijanjikan, semakin dekat. Joey berpikir ulang, mungkin akan lebih baik menemui kedua temannya pada hari Sabtu pagi, Joey telah siap siaga atas segala risiko dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, ia telah mempersiapkan sebuah pistol kaliber 0.44 Magnum yang diambilnya dari tempat persembunyian di rumahnya, kini diselipkannya di pinggang bagian belakang.
Setelah berbicara dengan Ellen, Joey menjemput
Linda dan membawanya serta di dalam mobil El Dorado, keduanya pergi menuju rumah Mike DiCriscio. Joey merasa tidak nyaman dengan pistol yang mengganjal di punggung. Mike sedang menunggu kedatangannya bersama John DiBruno, seseorang bertubuh pendek dan gemuk; yang mana belum pernah dikenalnya.
Serta merta Joey tidak dapat menahan diri untuk mengungkap siapa dirinya: orang yang telah menemukan uang milik Purolator. Joey pun memberi pria itu dua lembar uang kertas yang masih lurus dan bersih kepada DiBruno.
"Ini untukmu," katanya sembari menyeringai.
Joey jelas telah bertolak belakang. Sejak kali pertama ia menemukan dua kotak metal berwarna kuning, serta berjanji dan menyuruh kedua temannya bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia, Joey sendiri telah melanggarnya, dan sepertinya, hingga detik itu dialah yang telah paling sering mengumbar mulut, sampai detik ini, mungkin semua orang di South Philly telah mengetahui rahasia itu. Joey seakan bangga pada siapa saja yang dijumpainya, seakan ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dirinyalah "orang yang menemukan uang itu" termasuk kepada kemenakannya, keluarga Masi, Sonny Riccobene, Linda, Mike dan Marion, Ellen, dan sekarang pada lelaki asing yang baru saja dijumpainya di rumah Mike. John benar-benar tidak bisa menahan diri. Memiliki jabatan sebagai "penemu" telah memberinya kebanggaan dan status tersendiri. Joey belum pernah meraih status apa pun sebelumnya, dan kesempatan yang sangat langka untuk menggembor-gemborkan statusnya ini, tentu sangat sukar untuk dihindari. Semakin banyak orang yang diberitahu, semakin banyak pula peluang dirinya menjadi semakin terancam. Sejauh ini, memang belum terjadi
sesuatu yang tidak diharapkan menimpanya. Disamping itu, ia pun telah merencanakan menghindar dari keramaian untuk sementara waktu, lalu pergi ke luar negeri dan kembali ke tanah kelahirannya ketika situasi sudah aman, kelak. Joey belum memutuskan ke mana ia akan pergi, dan rencana seperti apa yang akan dijalaninya.
Satu hal yang benar-benar tidak disadarinya, mungkin juga karena ketololannya, ia telah memberitahukan siapa dirinya kepada banyak pihak, yang mungkin saja masing-masing orang tersebut, telah juga menyebarluaskan siapa Joey sebenarnya, dan seterusnya. Memang manusiawi. Tidak mengherankan jika saja berita akan siapa sebenarnya yang telah menemukan dan mengambil uang milik Purolator, telah tersebar luar di seantero kawasan South Philly. John dan Jed juga telah memberitahu orang tua mereka; dan Mike, tanpa sepengetahuan Joey, telah meminta bantuan seorang pengacara untuk melaporkan temuan uang milik Purolator. Joey tidak berpikir sejauh itu. Ia terlalu parah dalam pengaruh narkotika, yang dari waktu ke waktu, tidak lain yang memenuhi benaknya hanyalah mimpi-mimpi indah. Joey memiliki perasaan yang terlalu kuat atas kepercayaan pada agama yang dipeluknya, bahwa ia telah ditakdirkan untuk menemukan uang itu, dan bahwa kesempatan ini adalah mutlak miliknya.
Dalam kerangka pikiran Joey, suasana tidak nyaman yang telah diciptakan dua temannya, John Behlau dan Jed Pennock, telah membuatnya, dari detik ke detik, semakin bertambah cemas. Ia berpikir untuk melenyapkan kedua orang itu, atau paling tidak,menakut-nakuti keduanya. Joey kini meminta Mike dan John DiBruno untuk mengantarnya ke Dick's Lee menemui John dan Jed. Wajah kedua
orang ini sangat khas sebagai orang keturunan Italia. Dengan demikian, Joey dapat dengan mudah membuat kedua temannya merasa ketakutan. Tentunya, pikir Joey, wajah keduaorang ini mirip dengan anggota mafia, apalagi ia kini membawa pistol. Joey menaruh koper hitamnya di dalam bagasi Cadillac. Ia dan kedua orang Italia ini pergi melintasi jembatan Walt Whitman.
Tentu saja, waktu sepagi itu bukanlah waktu yang tepat, tidak sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan Joey pada kedua temannya. Oleh karenanya, setiba dibar Dick's Lee, mereka hanya minum-minum dan bercakap-cakap dengan bartender, yang heran karenaJoey bertingkah tidak seperti biasanya. Ia terus menerus mentraktir minuman pada kedua pendampingnya, lagi dan lagi. Komentar Joey awalnya singkat, "Aku punya uang."
Lalu Joey lepas kendali, ia berkata kepada bartender dialah "orangnya" yang menemukan uang Purolator. Joey menambahkan dengan penjelasan rinci kepada sang bartender. Joey, Mike, dan John, yang ternyata ditemani juga oleh Linda, meninggalkan bar kemudian pergi menuju rumah kedua orang tua Mike di C/ementon, New Jersey. Setan dalam tubuh Joey kembali menagih asupan cairan haram.
Lewat tengah malam, mobil yang ditumpangi Joey dan Linda berbelok ke sebuah kawasan pemukiman di pinggiran kota. Keduanya mabuk berat. Joey kehilangan jejak mobil yang ditumpangi Mike, yang baru kemudian dapat dikenalinya ketika sebuah mobil sedang diparkir di depan sebuah rumah, beberapa blok dari tikungan di mana ia berbelok tadi. Ia memarkir El Dorado di depan mobil Mike, lalu memasuki halaman depan rumah yang basah menuju pintu depan rumah orang tua Mike.
Joey membuka pintu, dilihatnya dua orang tua yang belum dikenalnya sedang tiduran di atas sofa. Lelaki pendek dan gemuk itu bangun dan berdiri.
"Siapa kamu!" Teriaknya sambil memasang kudakuda karate, ia telah siap untuk menyerang dengan jurus-jurusnya yang mematikan. Joey mundur beberapa langkah dan tangannya merengkuh punggungnya untuk mengambil pistol.
"Kamu siapa?" Tanya Joey.
"Siapa kamu?" Tanya lelaki tua itu lagi. "Apa Mike ada di sini?" Tanya Joey yang punggungnya telah menyentuh daun pintu dan ia merasa kebingungan.
"Siapa kamu?" Lelaki tua itu kembali berteriak. "Aku teman Mike." "Siapa itu bajingan Mike?"
Lelaki tua pemilik rumah mendesak Joey ke pintu untuk keluar dari rumah itu.
"Aku salah, maaf, aku telah membuat kesalahan!" Joey memekik.
"Kau memang telah membuat kesalahan," kata lelaki tua itu sambil mendorong tubuh Joey keluar pintu. Joey terus mengulangi perkataannya bahwa ia telah salah masuk rumah. Demikian juga dengan Linda, ia mengatakan hal yang sama. Istri DiBruno muncul dan meluruskan permasalahan.
"Maaf, mungkin kami telah memasuki rumah yang salah," kata Joey; dengan wajahnya yang tampak seperti orang dungu karena pengaruh narkoba, yang telah membuat istri lelaki tua itu tertawa geli. Semua orang tertawa, rupanya Joey telah salah masuk rumah, ia kelewatan dua pintu dari pintu rumah orang tua Mike.
Keluarga DiBruno mengajak mereka ke rumah yang benar. Kedua orang tua Mike sedang tidur di dipan dekat koridor. Mike menyiapkan kopi panas, sementara Joey dan Linda berjinjit menuju sebuah kamar di lantai atas untuk menyuntik diri. Joey menyuntik mereka berdua dengan speed, yang secara temporer telah berhasil memberikan efek tenang atas ketegangan yang baru sajadialami sepasang kekasih itu. Joey memutuskan untuk menghitung ulang uangnya, ia menebarnya di atas kasur. Ketika selesai menghitung, Joey kaget karena uang yang tadinya berjumlah total $400,000, kini tinggal $378,000.
Joey kembali ke lantai bawah dan meminta Mike untuk menginvestasikan uangnya. Ia ingin agar uangnya dikelola ke dalam sebuah usaha semacam real estate investment di Atlantic City, atau bahkan ke dalam bisnis jual beli narkoba. Mike setuju untuk membantunya. Joey memberikan uang kepada Mike senilai $238,000 yangtelah dibungkus kantong plastik. Mike menyimpannya di lemari salah satu ruangan di lantai dua.
Joey memutuskan bahwa ia perlu meminta maaftelah memasuki rumah orang lain. Ia keluar dari rumah DiCriscio, kembali melewati halaman depan rumah yang basah itu, kemudian mengetuk pintu. Lelaki jago karate tadi membukakan pintu, wajahnya masih tampak kesal. Kali ini ia Joey telah diberitahu bahwa lelaki itu bernama Michael Madgey memperkenalkan diri. Madgey mengajaknya masuk. Lalu ia dan istrinya yang masih tersenyum geli, menyiapkan kopi di dapur. Lagi-lagi, Joey memperkenalkan diri bahwa ia adalah "orang" yang telah menemukan uang milik Purolator. Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya percaya, Tuhan telah memilihnya untuk memiliki uang itu. Ia juga mengatakan bahwa dirinya adalah supir pribadi sekaligus body-
guard Angelo Bruno dan Frank Rizzo.
"Ayahku selalu bilang aku seorang pecundang," kata
Joey.
Keluarga Madgey merasa kasihan padanya. Joey terharu.
"Aku tidak tahu apa agama kalian, tetapi aku sendiri seorang pemeluk agama Katholik yang taat," katanya. "Aku percaya kepada Jesus Kristus dan Tuhan dan semua tentang mereka. Aku percaya ayahku sedang berada di surga bersama mereka, dan mereka telah mengatur skenario agar aku-lah yang menemukan uang tersebut. Dan, apakah kalian ingin tahu apa rencanaku dengan uang sebanyak itu? Aku akan membagi-bagikannya kepada semua orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, terutama para jompo dan fakir miskin. Aku sangat cemas dengan para yatim piatu yang berada di Atlanta."
Joey menawarkan diri untuk melunasi tunggakan rumah kedua orang tua yang berada di hadapannya. Ia mengambil pil dari sakunya dan menawarkan pada kedua orang tua itu jikalau mereka mau menelan "pil haram." Tentu saja mereka menolak. Joey lalu memberi keduanya masing-masing seratus dolar, yang melongo karena dia pergi sembari membawa cangkir kopi mereka.
"Jangan dibelanjakan dulu, ya," kata Joey setengah berbisik. "Aku akan pergi ke Italia. Setibanya di sana, aku akan menelepon kalian bahwa aku telah tiba dengan selamat. Pada saat itu, barulah kalian boleh menggunakan uang pemberianku."
Ketika Joey tiba di ambang pintu keluar, ia menghentikan langkahnya dan berbalik untuk mencium pipi wanita tua itu. Setelah Joey berlalu, sang wanita tua berkata kepada suaminya, "Oh, kasihan sekali, sungguh me-
milukan!"
Mike telah kehilangan Joey yang baru saja berkunjung ke rumah Madgey. Ia telah sempat mencari-cari di mana Joey berada sebelum dilihatnya lelaki muda itu berjalan kembali ke rumah orang tua Mike sembari memegangi cangkir kopi dan bernyanyi riang.
Saat itu jam telah menunjukkan pukul empat tiga puluh menit dini hari, ketika Anthony DiCriscio terbangun dari tidurnya. Ia memang sudah terbiasa bangun subuh. Ia mengenakan baju handuk mandi; dan berjalan menuju dapur serta terkejut mendapati lampu dapur menyala, poci kopi di atas mesin kopi masih hangat dan terlihat asbak penuh puntung rokok. Ia pergi ke ruang tamu, dilihatnya Michael, anaknya, sedang berada di sana.
Mike sedang berdiri dan bersiap-siap melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu. Ia menjelaskan dengan singkat bahwa dirinya beserta "temannya yang dungu" hanya mampir di rumah orangtuanya. Mike juga memberitahukan bahwa temannya salah masuk rumah orang. Seketika setelah anaknya pergi, dari jendela Anthony DiCriscio melihat keluar. Sebuah mobil Cadillac El Dorado tengah diparkir dekat tikungan jalan. Seorang pria berambut pirang sedang berdiri di belakangnya, membetulkan sesuatu di bagasi belakang di mobil bak terbuka. Selesai membetulkan barang bawaannya, lelaki itu masuk ke mobil. Mobil anaknya dan mobil El Dorado pergi meninggalkan jalanan di depan rumahnya.
Lelaki tua itu kini melihat betapa berantakan dapurnya. Di atas konter dapur, tergeletak sebuah cangkir kopi yang tampak asing baginya.
2
"Bolehkah aku masuk?" Tanya Joey.
"Apa maumu?" Tanya kakak iparnya ketus. Hubungan antara kedua bersaudara itu memang tegang. Joey tahu kakaknya kecewa atas kelakuannya, dan ia merasa sukar berkomunikasi dengan kakak iparnya, seolah-olah hubungan buruk yang telah terjalin di antara mereka, kini bertambah parah.
"Bolehkah aku menggunakan safe deposit-mu?"
"Untuk apa?"
"Dengar, aku menemukan uang ini. Aku ingin menyimpannya di sana sampai aku berhasil menemukan cara terbaik menggunakan uang ini."
Joey membuka koper hitamnya, lalu menunjukkan isinya bundel ratusan dolar kepada kakak iparnya. Ia histeris. "Siapa yang telah kau bunuh? Tidak, kamu tidak bisa memakai safe deposit kami! Pergi jauh-jauh dari sini!" Teriaknya kemudian membanting pintu depan rumahnya.
Merasa kecewa berat dan sakit hati, Joey kembali ke El Dorado, yang mesinnya dibiarkan hidup untuk menghindari mogok kedua kalinya.
"Kita dapat menyimpannya di ruang bawah tanah rumah kakakku," Linda menawarkan jasa. "Dia bahkan tidak akan menyadari keberadaan uangmu."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah kakak Linda di Roseberry Street. Linda menyelinap ke ruang bawah tanah dan menyimpan koper itu di dalam bangkai peralatan elektronik tua dan rusak, milik kakaknya yang sudah tak terpakai.
3
Banyak telepon masuk ke meja detektif yang memberi pe-
Joey mengikuti mobil Mike menelusuri Route 42 menuju Philadelphia. Sebelum tiba di jembatan, dari kaca spion, Mike melihat mobil Cadillac yang mengikutinya, berhenti di dekat Camden Marine Terminal. Beberapa saat menjelang fajar menyingsing, El Dorado warna hijau mendekat ke arah terminal marine. Mesin ngadat, lajunya tersendat-sendat, kemudian berputar di tempat dan berhenti total.
Joey terus menerus memutar kunci starter, namun mesin mobil Cadillac enggan untuk menyala. Joey lalu berjalan ke terminal pelabuhan laut untuk menemui kakaknya, Billy, yang bekerja shift pagi di sana. Joey teringat bahwa kakaknya memiliki safe deposit boks besar di rumahnya yang berlokasi di South Philly. Pikirnya, benda itu akan menjadi tempat penyimpanan yang tepat, sisa uang tunai yang masih ada padanya. Ia merencanakan untuk bersantai beberapa hari, kemudian kembali menemui Masi dan mencari tahu perkembangan sisa uangnya senilai $800,000 yang telah dititipkan kepadanya pada hari Kamis malam.
Billy belum tiba di tempat kerja. Teman Billy mengantar Joey kembali ke mobil Cadillac-nya yang sedang mogok. Setelah keduanya memancing strum aki mobil itu, mesin berhasil menyala. Joey kembali menyetir menuju Route 42, menyeberangi jembatan Ben Franklin sementara matahari pagi di hari Sabtu yang indah mulai muncul, sinarnya dipantulkan kaca spion El Dorado.
Ia mengemudi menuju rumah kakaknya di Second Street. Setibanya di depan pintu, Joey menekan bel rumah. Kakak ipar Joey membukakan pintu untuknya. Ia mengatakan bahwa Billy baru saja pergi bekerja.
tunjuk tentang jejak uang yang hilang, semua tidak membuahkan hasil maksimal, dan malahan membuat Pat Lau-renzi bertambah pusing kepala, pada hari Sabtu pagi itu. Sempat terlintas dalam benak Pat untuk melepas saluran telepon kantornya. Tapi tentunya ia tidak mungkin melakukannya. Pat harus tetap menerima semua telepon masuk dengan sopan dan menanggapi masukan para penelepon satu persatu.
Di berita dan ulasan radio atau televisi, terdengar dan terlihat beberapa pendapat masyarakat, dihiasi gelak tawa tentang pendapat para pemirsa dan perkiraan apa yang akan dilakukan jika mereka menemukan uang sebanyak itu. Tentunya, yang paling penting bagi mereka adalah mengetahui sejauh mana kemajuan investigasi uang hilang tersebut yang sedang dilakukan polisi dan detektif. Demikian pula dengan bos Pat Laurenzi, beliau meminta laporan dari sang detektif tentang perkembangan investigasi yang dilakukannya.
Pagi itu, paling tidak Pat mendapat laporan dari seorang penelepon yang memberi kabarmenggembirakan. Seorang pria yang katanya pernah mengemudi melewati kedua kotak metal berwarna kuning di Swanson Street, serta secara sekilas telah melihat sebuah mobil lain yang berada di belakangnya, berhenti di tempat kedua kotak itu tergeletak. Awalnya ia tidak begitu ingat, namun setelah sang penelepon mendengar berita di radio hari Jum'at malam, tiba-tiba ia tersentak ... Kalau tidak salah dengar, ia mendengar semacam hadiah atau imbalan yang ditawarkan?
Pat mengemudi menuju rumah sang penelepon. Benar, orang itu menyaksikan sendiri dua buah kantong kanvas ditarik seseorang dan dimasukkan ke dalam sebuah
mobil. Ia pun mengklarifikasi ciri-ciri kendaraan yang dilihatnya waktu itu.
"Apa kau melihat plat nomor kendaraan itu?" Tanya sang detektif tidak sabar.
"Aku hanya melihatnya dari kaca spion, waktu itu aku mengemudi ke arah yang berlawanan," jawab pria itu.
Menurutnya tanda pada plat nomor mobil tersebut, terdaftar sebagai mobil Philadelphia, namun dia tidak ingat nomornya. Jawaban mentahnya cukup membuat Pat kesal yang telah jauh-jauh menyempatkan diri mendatangi lelaki itu.
Apa yang tidak diketahui Pat saat ia sedang keluar menuju tempat penelepon tadi adalah seorang polisi dari Delaware River di Gloucester City, New Jersey, telah meneleponnya untuk memberi kabar. Sebuah informasi penting berkenaan dengan mobil yang digunakan sang penemu uang Purolator. Pihak kepolisian di sana telah menderek sebuah mobil yang ditelantarkan pengemudinya di kawasan 200 block of Mercer Street. Ia melaporkan mobil itu adalah Chevy Malibu tahun 1975 dengan warna primer biru di bumper depannya. Pat mengomentari bahwa temuan mobil tersebut tidak begitu penting, karena Malibu tahun '75 sangatlah jauh berbeda dengan Chevy Malibu keluaran tahun 1971, sesuai laporan dari para saksi tentunya. Mobil yang dilaporkan sebenarnya adalah Malibu '71.
Satu lagi berita yang masuk ke saluran teleponnya, sepertinya kurang penting. Seorang petugas jaga menyodorkan laporan pembicaraan telepon sewaktu ia pergi tadi, sebuah file berisi ratusan pesan telepon yang diterimanya pada hari yang sama.
4
"Ini aku, Joey."
"Ada kabar apa Joey, kamu baik-baik saja, kan?" "Ya, aku baik-baik saja, aku tidak bisa bicara banyak. Aku akan meneleponmu lagi nanti." Joey menutup telepon.
Masi datang sendiri. Mereka pergi bersama menuju Atlantic City. Joey mempunyai sejuta pertanyaan. Di mana sisa uangnya? Kapan ia akan mendapatkannya kembali? Apa yang dilakukan Sonny terhadap uangnya? Apa rencana selanjutnya? Namun apa yang diharapkan Joey tentu saja lebih mendalam dari sekadar jawaban atas pertanyaannya: Apakah Masi benar-benar membantu atau mengkhianatinya? Apakah ia akan memperoleh kembali uang yang dititipkannya? Apakah kelompok mafia Sonny tengah mengincarnya? Haruskah ia merasa takut, setakut yang telah dirasakannya selama ini? Joey memerlukan dukungan Masi, namun dengan tenangnya lelaki itu menjawab seperlunya. Sepertinya, setiap kali ia bertanya kepada Masi, ia akan balik bertanya pada Joey. Hal itu membuatnya frustasi. Sialan, pikirnya dan kembali menyalahkan dirinya yang telah meragukan temannya.
Malam sudah larut ketika mereka tiba di Atlantic City. Meja perjudian di Golden Nugget sudah tutup. Oleh karenanya, Joey dan Masi pergi makan malam di restoran mewah. Joey mengikuti langkah Masi yang sempat menggoda seorang pelayan. Keduanya bercengkrama dengan beberapa orang teman Masi. Dalam perjalanan pulang ke motel, Joey berkata kepada Masi bahwa ia memutuskan untuk mengambil kembali uang yang telah dititipkannya, selanjutnya Jeoy akan pergi ke luar negeri.
Masi berkata bahwa Sonny akan mengontaknya hari Senin. Dia bertanya di mana Joey akan berada saat itu.
Joey dan Linda menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka belakangan ini, dengan check-in di Four Winds Motel, Admiral Wilson Boulevard. Sore itu, Joey menyodorkan kunci El Dorado pada Linda yang secara kebetulan mesin, segera hidup. Joey memintanya untuk mengembalikan mobil itu pada temannya tidak lupa mengembalikan kunci mobil itu kepada pemiliknya.
Setelah Linda berlalu, Joey berjalan ke gedung di samping motel itu, French Quarters Bar. Ia memesan minuman dan menghabiskan waktunya sepanjang sore itu, dengan menelepon, mencoba untuk menghubungi Cari Masi. Ketika telepon berhasil terkoneksi dengan Cari, lelaki itu menyuruhnya pergi ke jembatan untuk berbicara dengannya di situ. Joey ingin meyakinkan. Ia ingin tahu perkembangan penyucian dua pertiga uangnya, dan ingin mendengar kabar baik dari Carl dan Sonny. Joey menyadari langkah yang ditempuhnya salah karena berbahaya. Ia telah melakukan kontak dengan anggota mafia. Joey gugup dan cemas, ia mengatakan kepada Cari bahwa dirinya berada di Admiral Bar, yang terletak jauh di sudut dan seberang jalan di mana ia berada kini. Joey berpikir, dengan begitu ia akan tahu ketika Masi datang nanti, sendirikah atau didampingi orang lain?
Ia kembali ke motel untuk meyuntik cairan haram dan menunggu bertemu Masi tiba di bar. Ia memandangi matahari terbenam di luar jendela sembari minum. Ketika hari mulai gelap, ia teringat akan janji untuk menelepon kakaknya.
"EH?"
"Ya."
"Aku akan menunggu di motel," jawab Joey, namun tiba-tiba bisikan lain terdengar di dalam benaknya, Kau gila, Joey, pasti kamu akan ditipu mereka!
Masi mengangguk, ia mencoba menenangkan Joey.
"Sudahlah, tidak perlu cemas, Semua akan baik-baik
saja."
"Cari, mereka mengincarku. Mereka akan menangkapku."
"Polisi tidak akan tahu siapa yang menyimpan uang itu, Joey. Tenang saja."
Joey tidak berani mengatakan bahwa saat itu ia lebih takut pada Carl dan Sonny Riccobene ketimbang polisi. Masi terus saja mengoceh agar Joey tenang, bahwa proses penyuncian uang membutuhkan waktu agak lama serta kesabaran penuh dari Joey. Uang sebanyak itu tidak mungkin dipecah dalam satu malam. Mungkin teman Joey yang satu ini benar. Mungkin hanya pengaruh obatlah yang membuatnya paranoid. Namun, jikapun benar, Masi merencanakan untuk membodohinya, bukankah perkataan seperti itu jualah yang akan terlontar dari mulutnya?
* * *
Minggu, l Maret 1981
1
Joey Coyle tidak bisa tidur pada malam minggu di Four Winds Motel. Tubuhnya limbung bahkan sejak hari Kamis sore, siang, dan malam, menyuntik diri, setiap jamnya, dalam usahanya menenangkan diri. Ia merebahkan diri di atas kasur ruangan motel, memejamkan mata sembari merasakan ketegangan otot-ototnya. Ia akan terjaga dari keadaan dirinya yang seperti tidur, melihat waktu pada jam di tangannya, hanya sepuluh menit saja yang telah berlalu. Joey kembali pada rutinitas menyuntik diri. Ritual yang sudah dikuasainya dengan baik.
Joey bermimpi. Ia menginvestasikan uang jutaan d-olar dalam bisnis narkoba. Di dalam mimpinya saja,Joey sudah mulai merasakan ketamakan tengah merasuki diri. Mimpinya lebih berhubungan dengan kebanggaan, status diri. Dirinya yang sudah kecanduan narkoba, telah menjadi objek penghinaan, ia telah bergantung penuh pada obat yang satu itu, sampaisampaiia harus mengutang karena dompetnya kosong,dan desakan candu dari dalam tubuhnya tidak mau bersahabat apalagi menunggu. Ia semakin bangkrut, dan terus terpuruk. Dengan uang jutaan dolar di tangan, ia akan menjadi orang yang kuat karena uang, dan barang dagangan melimpah ruah. Para pecandu akan berdatangan. Joey akan menggunakan kekayaannya untuk mengobati penyakit yang diderita ibunya kepada dokter terbaik di dunia. Joey tidak lagi bersikap kekanak-kanakan dan hanya menjadi pecundang, ia adalah penyedia barang dan jasa, menunjukkan keberhasilannya pada Billy yang bekerja sebagai seorang pengawas di pelabuhan. Joey masih merasa sakit hati atas perlakuan kakak iparnya. Dengan kekayaannya, Joey akan membangun
usaha bengkel alat-alat berat di kawasan Delaware River. Ia akan menjadi boss perusahaan tersebut.
Mimpi Joey berakhir dalam kebingungan dan ketakutan. Di dalam sakunya, ia hanya menemukan uangsebesar dua ratus dolar dan sisa uang dari hasil pacarnya mencairkan cek pembayaran pekerjaannya yang terakhir selama musim liburan hari Natal dan Tahun baru di pelabuhan, yang diterimanya pada hari Kamis dari Marine Terminal. Uang Purolator tersebar entah di mana, di kawasan Philadelphia dan New Jersey Joey bahkan sudah kehilangan jejak sama sekali: $400,000 dipegang Masi dan $400,000 lagi ada pada Sonny Riccobene. Seberapa besar kesempatannya untuk dapat melihat uangnya lagi? Semakin ia memikirkan tentang uang yang tidak diketahui rimbanya, semakin yakin diri Joey bahwa anggota geng mafia akan datang mencarinya untuk merampas sisa uang yang masih ada padanya. Joey menitipkan sebesar $240,000 (Joey sendiri tidak yakin berapa jumlah total yang dititipkannya) kepada Mike DiCriscio di Clementon, New Jersey; dengan harapan bahwa Mike akan memanfaatkan uangnya sebagai modal investasi pada suatu bisnis yang menguntungkan. Sebesar lebih kurang $150,000 disembunyikan di dalam stereo rusak di ruang bawah tanah kakak perempuan pacarnya di Roseberry Street. Ia sendiri telah membagikan beberapa lembar uang ratusan dolar berapa banyak? Joey tidak tahu. Bisakah orang-orang ini dipercaya? Atau bisakah Joey, paling tidak percaya pada salah seorang dari mereka? Orang biasanya suka datang ke toko-toko di pinggir jalan untuk memecah uang $100 dolar menjadi lima lembar uang nominal $20! Bisakah Joey berharap memecah uang sebanyak itu di jalanan?
Empat hari sudah berlalu sejak ia menemukan uang Purolator, uang yang kini membebaninya dan seakan menjadi kutukan berat baginya. Efek mimpi yang dialaminya pun begitu kuat. Mimpi yang dirasanya begitu nyata, kesempatan-pemberian Tuhan untuk bekalhidupnya. Jika saja ia dapat melewati kemelut yang tengah menghantuinya.
Pagi-pagi sekali di hari Minggu, Joey menelepon rumah Masi. Dee menghampirinya dekat jembatan Walt Whitman pagi itu. Dee mengajak Joey pergi ke toko peralatan kecantikan dan membelikan Joey cat rambut. Lalu membawanya ke rumah kemenakan Joey, Joey "Bucky" McCall, seorang longshoreman yang tinggal di Gloucester. Bucky telah menjadi seperti saudara bagi Joey di luar keluarga aslinya. Keduanya seusia, tubuhnya hampir sama besar, bentuk fisiknya cocok, menurut orangorang, sebagai adik-kakak. Joey memberitahu Bucky bahwa dialah yang menemukan uang Purolator. Ia meminjam sepasang celana Jeans dan sebuah kemeja Flannel milik Bucky, mencukur kumis warna pirangnya, kemudian mengecat rambut yang asalnya berwarna pirang menjadi hitam legam.
Siang harinya, Dee mengantar Joey kembali ke rumahnya. Joey duduk di dapur, berbincang-bincang dengan Carl dan Dee. Joey berharap sangkaan buruknya pada Masi salah. Ia telah beberapa kali pulang pergi ke rumah Masi untuk sekadar memastikan uangnya. Masi telah menyembunyikan bagiannya dan mereka belum mendengar kabar dari Sonny. Joey mengetahui bahwa Sonny telah membawa uangnya ke Las Vegas, di mana uang sebanyak itu akan lebih mudah dipecah dan ditransfer ke rekening tujuan dengan cepat.
"Jangan terlalu cemas," kata Cari pada Joey. "Tentu butuh waktu lebih lama dalam upaya memecah uang sebanyak ini."
2
Kakak perempuan Joey, Ellen sedang mencuci piring dan suaminya, Charlie O'Brien, sedang menonton televisi ketika Joey membuka pintu depan dan langsung masuk menuju ruang tamu di dalam apartemen mereka. "Yo!" sapa Joey dengan nada riang.
Ellen telah mengenal suara adiknya dengan baik, ia kemudian menghampirinya di ruang tamu. Ellen danCharlie tidak percaya apa yang tengah dilihatnya. Mereka menatap Joey kemudian keduanya saling memandang.
"Joey, apa yang kau lakukan pada rambutmu?" Tanya Ellen.
"Aku harus mengubah penampilan. Aku harus menyamar."
"Untuk apa?"
"Tenang, jangan khawatir. Aku pernah mengatakan tentang orang-orang yang menginginkanku, bukan? Aku harus terlihat berbeda. Bagus, kan?"
Sebenarnya tidak terlihat bagus sama sekali. Terlihat kotoran bekas percikan cat pewarna rambut di leher Joey. Charlie hanya menatap pada Ellen sambil menggelengkan kepala.
"Duduklah, Joey. Kita akan minum kopi," kata Ellen.
"Tidak usah. Aku tidak punya banyak waktu," jawab Joey. "Apa ibu ada di atas?"
"Ya, kurasa begitu. Ia sedang menonton televisi bersama Kathy."
"Baiklah. Aku akan menemuinya."
Joey duduk di lantai atas bersama ibu dan kemenakan perempuannya selama kira-kira sepuluh menit. Ia kembali ke lantai bawah dan segera menuju ruang tamu serta duduk di samping Charlie. Ia mengeluarkan pistol 0.44 magnumnya. Ellen dan Charlie kaget melihatnya. Joey meletakkan pistolnya di atas meja kopi dan mulai mengeluarkan peluru dari pistol itu kemudian membungkusnya dengan saputangan.
"Apa kau baik-baik saja, Joey?" Tanya Ellen.
"Yeah, aku tidak apa-apa," jawab Joey yang sepertinya kesal dengan pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi dan selalu menanyakan hal yang sama,
Ellen sangat mencemaskan adiknya sejak Joey muncul di apartemennya hari Jum'at petang. Malam itu, sewaktu Joey memberinya sepotong uang kertas pecahan lima dolar, ia masih terlihat gugup, walau tidak separah sebelumnya. Ellen sempat bingung apa yang harus diucapkan kepada adiknya.
"Apa yang akan kau lakukan? Kau mau pergi ke mana?" Tanya Ellen.
"Ellen, aku boleh numpang mandi, kan?"
"Ya, tentu saja."
"Bolehkah aku juga meminjam mobilmu? Aku perlu pulang dan mengambil pakaian bersih."
Sementara Joey mandi dan pergi mengambil pakaian bersih di rumah ibunya, Ellen menyempatkan diri berunding dengan Charlie, langkah apa yang akan ditempuh keduanya dalam menghadapi situasi yang sedang dialami adiknya. Mungkin Joey akan lebih tenang setelah mandi. Mereka bertiga dapat membahas bersama, cara terbaik untuk membantu kesulitan Joey.
Joey pergi dengan mengendarai mobil Chevy Nova milik Charlie. Ellen menyiapkan seteko kopi dan mengeluarkan beberapa keping kue dari kulkas.
Tetapi Joey tidak kunjung tiba.
* * *
1
Ketika Detektif Pat Laurenzi selesai membaca memo di genggaman jarinya, wajah Pat merah padam menahan amarah. Letnan telah memberinya kertas memo tersebut setibanya ia di kantor pagi itu. Pat berjalan menuju meja kerjanya sebelum sempat menuangkan secangkir kopi seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi. Ia menelepon kantor pusat Purolator untuk memastikan bahwa Jack Durwood, sang pengirim pesan di memo itu, masuk kerja. Pat kembali berjalan keluar dari kantor pusat kepolisian South Division, menuju ke mobilnya dan segera melaju dengan cepat ke kantor Purolator di Swanson Street.
Pat menapaki tangga menuju ruang kantor para eksekutif perusahaan Purolator, dengan melewati dua anak tangga sekali langkah, lalu mencari tahu di mana Durwood berada saat itu. Ia berdebat dengan seorang pria bertubuh kekar, tegap, namun sedikit botak. Pat hampir-hampir tidak bisa menahan diri untuk meluapkan kemarahannya.
"Mengapa aku tidak segera dikabari!" Tanya Pat kesal.
Memo tersebut berisi detil pembicaraan antara Durwood dengan pengacara Alan David Silverman pada hari Jum'at sore. Silverman telah menelepon Purolator untuk menanyakan uang tebusan atau imbalan pada siapa pun yang mengembalikan uang yang hilang. Hal itu, sepertinya, adalah satu-satunya petunjuk yang pasti, agar investigasi yang telah dijalankannya selama empat hari terakhir, dapat menemukan titik terang. Bahkan tidak dikabari sama sekali!
"Pengacara itu mengatakan bahwa kliennya tidak ingin dilibatkan dengan urusan polisi," jawab Durwood.
Sikapnya yang tenang, sama sekali tidak bergeming menghadapi seorang detektif yang tengah memarahinya. "Kami mencoba jalan terbaik untuk mendapatkankembali uang kami yang hilang. Bahkan kami belumpernah melakukan kontak apa pun dengan orang yang katanya menyimpan uang tersebut, oleh karenanya kami sama sekali tidak tahu siapa orang itu. Kau tidak akan mampu berbuat apa-apa kepada sang pengacara, bahkan jika kau berniat melakukan sesuatu padanya."
"Tidak melibatkan pihak kepolisian?" Sanggah Pat. "Biar aku jelaskan padamu. Aku sudah dilibatkan sejak awal kejadian ini! Bagaimana bisa kau mengabaikanku begitu saja?"
Durwood menjelaskan bahwa perusahaannya lebih tertarik untuk mendapatkan uang mereka kembali daripada untuk menangkap siapa pelaku pengambilan uang milik Purolator. Mereka tidak peduli siapa pun yang melakukannya asalkan uangnya kembali.
"Tidakkah kalian pikir kasus ini lebih baik ditangani polisi terutama berkenaan dengan negosiasi urusan uang tebusan?" Pat kembali memberi komentar dengan nada suaranya yang tinggi. "Tidakkah kau pikir bahwa kami lebih berhak dalam urusan ini?"
Pat berjalan mondar-mandir dalam ruangan itu. Ia menjelaskan bagaimana dirinya telah melewati berbagai macam kendala dalam usahanya mengungkap kasus ini di tengah penduduk kota yang beragam karakter, yang secara keseluruhan berjumlah hampir enam juta orang. Ia telah mendapatkan deskripsi mobil yang digunakan untuk mengambil uang yang terjatuh dari kedua kotak metal kuning itu, deskripsi, yang sebenarnya masih samar tentang seorang pria muda berambut pirang yang mengambil ke-
dua kantong kanvas uang warna putih. Dugaan sementara uang tersebut masih tersimpan rapat di sebuah tempat tidak jauh dari lingkungan dekat uang terjatuh, walaupun sejauh ini, perkiraannya itu belum membuahkan hasil maksimal. Purolator tahu seberapa keras Pat telah bekerja mengungkap kasus ini. Perusahaan itu pun sempat membayar untuk melakukan hipnotis pada seorang saksi mata, di mana ia tidak dapat mengingat dengan jelas detil kejadian yang dilihatnya. Barulah setelah dihipnotis, orang itu dapat mengingat kembali semua detil kejadian pengambilan uang Purolator yang terjatuh dari mobil boks.
Pat sudah dapat menenangkan diri. Ia mengerti penjelasan Durwood; cukup masuk akal. Tetapi mengapa sekarang pihak mereka kembali melibatkan Pat Laurenzi?
"Negosiasi telah disepakati, selesai dilakukan dan menemukan kesepahaman. Siapa pun klien Silverman, orang itu telah mundur dari kesepakatan karena mengharapkan imbalan yang lebih besar. Hal ini tentunya tidak bisa kami lakukan."
Sekembalinya ke kantor pusat, Pat meminta izin letnan untuk melakukan hipnotis pada saksi mata barunya. Tidak semua orang di kepolisian percaya akanmetode yang satu ini, sebagaimana juga Pat sendiri. Akan tetapi, seperti yang ia katakan kepada letnan, "Mungkin saja benar, metode ini tepat dilakukan namun, mungkin juga ... karena kita sudah kehabisan cara yang tepat untuk mengungkap tuntas kasus ini."
Berita tentang rencana Pat segera menyebar ke semua pejabat tinggi di kepolisian. Jawabannya "Tidak". Kalangan press telah siap siaga meliputnya. Pihak kepolisian Philadelphia belum siap untuk melakukan metode hipnotis
yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Detektif Pat kalap. Ia menelepon Durwood dan meminta dukungan. Perusahaan Purolator siap untuk membiayai metode hipnotis yang diajukan oleh Pat Laurenzi.
Pat menjemput Durwood. Kemudian keduanya menjemput saksi mata yang baru, seorang pria yang melihat tersangka mengambil kedua kantong kanvas uang, yang dilihatnya dari kaca spion mobilnya. Mereka membawa saksi mata menuju Center City office untuk menemui ahli metode hipnotis, Dr, Howard Pharnes. Pharnes mulai menghipnotis sang saksi mata itu dan menanyainya sejumlah pertanyaan. Ia mencoba untuk mengungkap setiap detil kejadian yang tadinya diingat pria itu samar-samar. Saksi mata yakin sekali bahwa plat nomor kendaraan tersebut terdaftar sebagai mobil dari Pennsylvania. Ia masih belum yakin namun dapat memastikan bahwa dirinya melihat angka tujuh pada plat nomor kendaraan tersebut, angka tujuh lalu angka sembilan. Itu saja.
Pat kecewa dengan hasil yang dicapai. Saksi mata benar-benar tidak dapat mengingatnya secara keseluruhan, namun Pat sedikit lega. Ia telah melakukan suatu tindakan yang tepat sebagai pendukung investigasinya. Angka "7" dan "9" memang tidak banyak berarti. Namun kedua angka yang baru saja didapatinya tentu merupakan suatu teka-teki baru. Senang juga rasanya mendapatkan suatu pengalaman baru.
2
Setelah meninggalkan apartemen Ellen pada hari Minggu petang, Joey pergi menjemput Linda yang tengah menunggunya di pojok luar rumah kakak perempuannya. Me-
reka bermaksud menghabiskan malam itu bersenang-senang di kamar motel Admiral Wilson, New Jersey.
Keesokan harinya, Minggu pagi, kedua insan yang sedang mabuk kepayang ini, pergi berbelanja di Deptford Mali, di mana Joey membelikannya celana baru, pakaian dalam, kaos kaki, dan sebuah overcoat dari bahan kulit lembut berwarna coklat muda.
Usai berbelanja Joey mampir di sebuah telepon umum dalam kawasan mail untuk menelepon Cari, memeriksanya jika saja pria itu telah dikabari oleh Sonny.Joey baru saja memasukkan sebuah koin ke slot telepon ketika seorang petugas berseragam, dari perusahaan telekomunikasi, masuk ke kamar telepon umum di sebelahnya, kemudian mengangkat gagang telepon. Joey yang merasa curiga dan tidak ingin percakapannya dicuri dengar, segera meletakkan gagang telepon dan ia mengurungkan niatnya untuk menelepon Cari. Ia kembali ke mobil di mana Linda tengah menunggunya.
"Tidak dijawab?" Tanya Linda.
"Bukan, pria itu mungkin saja seorang polisi yang sedang menyamar."
Linda menertawakannya. Katanya, paranoia yang dialami Joey semakin sukar dikendalikan.
***
1
Frankie Santos adalah seorang ahli sulap. Ia dapat melakukan tipuan permainan kartu di konter bar, yang tentu saja hiburan ekstra bagi para pelanggan yang dapat membuat mereka nyaman dan betah minum di sana semalaman.
Tubuhnya agak bungkuk, berambut hitam, kulitnya gelap, serta sikapnya persuasif, kedua matanya besar dan berwarna coklat. Frank seorang pria periang, pandai, dan tinggal di kawasan South Philly. Rambutnya berwarna coklat tua, tulang rahang dan pipinya terlihat menonjol. Frank bekerja giliran malam, dan di siang hari ia kursus keterampilan di Camden Community College. Ia senang mengumpulkan botol-botol antik bekas minuman wine dan liquor, membaca buku dan berlatih sulap sehingga tidak masalah betapa sering pelanggan melihat ia melakukan sulap lelaki itu sepertinya selalu memiliki trik sulap yang baru, yang sempurna dan belum pernah dilihat sebelumnya. Frank juga bekerja sebagai traffic controller, pengatur lalulintas dan bergabung dengan Delaware River Pilot Association, sebuah asosiasi penting lalu lintas sungai yang tentu saja memerlukan kecakapan dan keahlian khusus. Sebuah pekerjaan yangmembutuhkan kerja keras, disiplin, dan tanggungjawab, serta dedikasi tinggi kualitas yang setara seperti dimiliki oleh Frank. Ia seorang yang sukses, mampu menyimpan uang hasil jerih payahnya dan ia berhasil menginvestasikan dana simpanannya. Penampilan Frank biasa saja, low profile, dan ia tidak suka neko-neko bergaya dalam busana. Mungkin apabila selama temannya tidak berjumpa degannya setahun, pasti ia akan mendapati pria ini masih mengenakan pakaian yang
sama, yang pernah dilihatnya pada perjumpaan sebelumnya. Itulah Frank, namun ia patut diacungkan jempol karena ia tidak lupa dengan tanah kelahirannyadan selalu memperhatikan adat kebiasaan yang berlaku di tempat asalanya. Frank adalah tipe seorang pria yang loyal. Ia adalah salah seorang pria kesayangan masyarakat South Philly.
Pada tahun 198D, Frank pernah tinggal di rumah milik ibu Joey di Front Street, selama enam bulan setelah ia bercerai dengan istrinya. Frank dan Joey telah berteman sejak kelas satu ketika keduanya masih belajar di sekolah Katholik. Hidup serumah dengan Joey pada awalnya baik-baik saja, tentu Frank berterima kasih pada Joey. Lama kelamaan, Frank mengetahui gaya hidup Joey yang urakan dan tidak beraturan. Frank sebenarnya tidak bisa tetap tinggal bersama Joey.
Sebagai contoh, suatu hari ketika Joey kesulitan untuk menghidupkan mesin mobilnya, ia dan temannya segera membuka kap mesin mobil Frank untuk meminjam "batere" (aki) mobil tersebut. Mereka tidak saja mengabaikan tatakrama untuk meminta izin dari Frank terlebih dahulu atau paling tidak segera memberitahu, tetapi juga Joey tidak peduli untuk memasang accu kembali ke mobil Frank yang sedang diparkir. Tentu saja, ketika Frank menghidupkan mobilnya, ia kelabakankarena mesin mobil miliknya tidak dapat menyala. Frank terus saja memutar kunci untuk menghidupkan mesin, sementara ia harus segera berangkat kerja. Hal menjengkelkan seperti itu tidak saja terjadi satu kali. Pernah juga terjadi ketika Joey dan teman-temannya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Sementara Frank sedang bertugas di sungai sebagai traffic controller, Joey dan teman-temannya
menjarah koleksi minuman miliknya yang masih terisi bourbon, old-style Wild Turkey, dan Old Forrester yang segelnya masih tertutup rapat. Kejadian tersebut telah membuat Frank sakit hati. Ia telah mengumpulkan dan membeli koleksi botolnya, baik kosong maupun masih penuh, dari bandar minuman keras; dan benda-benda tersebut sangat bernilai bagi Frank. Frank kehilangan kesabarannya dan memutuskan bahwa ia tidak bisa hidup berdampingan dengan Joey beserta rekan-rekannya yang tidak tahu aturan. Bagi Joey, sebotol bourbon adalah sebotol minuman bourbon, tidak memiliki nilai lebih apa pun kecuali sekadar minuman keras. Menenggaknya habis ketika dibutuhkan, dan membelinya kembali ketika dompet sudah terisi uang. Joey tidak dapat memahami mengapa seseorang dapat menikmati sebotol minuman tanpa membukanya atau mencicipinya dan meminumnya sama sekali.
Frank akhirnya menemukan tempat tinggal yang cocok di New Jersey. Ia pindah ke sana. Tanpa sakit hati. Ia tidak dapat terus menerus merasa kesal dan marah pada Joey karena betapa menjengkelkan kelakuan pria yang satu ini. Sebenarnya Frank tahu Joey tidak pernah bermaksud jelek sama sekali. Selain itu, ada sesuatu hal yang sukar untuk dijelaskan dalam diri Joey, yang membuatnya luluh dan tidak bisa tegas, apalagi marah padanya. Setelah kemarahannya reda, Frank akan segera merasa bersalah karena telah kehilangan kendali emosi dirinya kepada lelaki itu. Frank selalu saja merasa sukar untuk menjelaskan mengapa botol minuman koleksinya penting baginya, ia pun sempat merasa ragu akan hobinya tersebut; dan kenyataannya Joey dengan polosnya dan merasa tidak berdosa, bahkan terkesan dungu, akan mengulangi perbuatannya yang tidak disenangi oleh Frank.
Joey, jika ia meminjam atau meminta sesuatu dan tidak pernah ditagih, ia akan lupa untuk mengembalikannya. Lagi pula, barang apa yang bisa diambil sebagai penggantinya yang Joey miliki? Ia tidak punya apa-apa.
Pagi hari itu, suasana masih gelap, Frank harus berangkat bekerja giliran pagi.
"Hey, Frank. Ini aku, Joey. Dengar baik-baik, Frank, aku dalam masalah besar. Aku perlu bicara denganmu."
"Aku sedang berada di tempat kerja sekarang, Joey," jawab Frank.
"Jam berapa kau selesai?"
"Lebih kurang lima belas menit lagi."
"Aku perlu bicara denganmu."
"Kamu di mana, Joey?"
"Fourth and Butler."
"Okay. Aku akan menjemputmu di Sixth and Porter. Lima belas menit lagi."
Mobil Frankie, Chevelle berwarna merah berhenti di sudut jalan yang telah dijanjikan, tepat pada waktunya.
"Man, kau terlihat menjijikan," kata Frank ketika Joey naik ke dalam mobilnya. Tubuhnya juga bau.
"Aku belum bisa tidur selama beberapa hari terakhir," jawab Joey yang kemudian segera menjelaskan kepada Frank bahwa dialah 'orangnya yang menemukan uang' milik Purolator. Ia menjelaskan dirinya telah menitipkan $800,000 kepada kedua kenalannya serta mengatakan mungkin dirinya tengah diburu oleh pihak yang berwajib, begitu juga oleh polisi yang membawa anjing pelacak dan menaiki helikopter ...
"Banyak pihak yang sedang mengejarku. Mereka akan menangkapku!" Katanya.
"Joey, dengar. Tenanglah."
"Aku harus keluar dari kota ini," kata Joey, kemudian dengan nada memaksa, "Kau harus menolongku. Aku sedang diincar. Aku masih memiliki sebagian kecil uang itu."
"Mana uangnya sekarang?"
"Linda akan mengantarkannya. Dia pasti akan datang sebentar lagi."
Joey menunjukkan pistol magnum kaliber 0.44 yang terasa mengganggu, mengganjal di punggungnya dan telah dibawanya ke mana-mana selama dua hari terakhir. Punggungnya lecet karena benda itu. Joey meminta Frank untuk membawanya dalam kapal yang melintas di sungai Delaware, pergi jauh dari Philadelphia bahkan ke luar negeri.
"Polisi pastinya akan menjaga setiap stasiun kereta dan di airport," kata Joey.
Frank hanya terdiam melongo di depan stir, tanpa bisa berucap sepatah kata pun. Tubuh Joey gemetar dan ia histeria, juga takut jika saja Frank tidak memercayai kebenaran ceritanya. Frank tentu saja telah mendengar berita kehilangan uang jutaan dolar tersebut namun, ia meragukan bahwa kelompok geng terlibat dalam urusan Joey. Bedebah para anggota kelompok geng mafia yang terorganisir dengan rapi seperti di Philadelphia itu, tidak akan membiarkan Joey berkeliaran dengan sisa uang $400,000 masih di tangannya. Frank mengenal Cari Masi. Menurut Frank, Masi pintar telah menyuruh seseorang yang mirip atau seolah-olah Sonny Riccobene, untuk datang ke rumahnya. Tentunya, ia berniat menakut-nakuti Joey sehingga pada suatu titik stres tertentu yang dialami Joey karena ketakutan jiwanya terancam kelompok geng tersebut, tentu Joey mau menyerahkan sepertiga bagian, sisa uang yang semestinya masih berada di
tangannya. Frank yang telah mengetahui gelagat dan modus operandi yang dilakukan Cari Masi, tidak segera memberitahu Joey, bahwa uangnya senilai $800,000, yang dititipkan pada kedua pria itu, akan lenyap secara permanen, untuk selamanya.
Frank dan Joey duduk di dalam mobil sambil menunggu Linda, yang muncul kemudian dengan membawa sisa uang Joey yang telah dimasukkannya ke dalam beberapa buah kaos kaki. Linda menyimpan uang itu di balik jaket yang dikenakannya. Ia masuk mobil dan duduk di jok belakang, membuka jaket, dan segera memberikannya pada Joey. Frank menatap lama sekali pada tumpukan uang yang baru saja diberikan Linda, kemudian ia menatap dalam-dalam pada gadis itu. Ia sudah dapat menduga bahwa Linda telah membuat masalah baru. Namun ia belum tahu tindakan apa yang akan dilakukannya pada pacar Joey, dan Frank perlu berbicara empat mata dengan Joey.
"Linda, kupikir akan lebih baik jika kau menunggu di rumahmu untuk sementara waktu dan aku akan pastikan Joey segera mengabarimu tentang rencana selanjutnya," kata Frank. "Jangan bilang pada siapa pun bahwa kita bertemu saat ini. Jangan katakan kepada siapa-siapa bahwa Joey bersamaku."
"Dengar, sayang, jika aku berhasil mengatur segala sesuatunya sesuai rencana, aku akan segera menghubungimu," kata Joey. "Kita akan segera pergi ke luar negeri."
Frank mengemudikan mobilnya, membawa serta Joey menuju rumahnya di kawasan pinggiran kota, di Eriat, New Jersey. Mereka menghitung uang yang digelar di meja dapur. Selesai menghitung, didapati jumlah keseluruhan uang tersebut kini tinggal $119,900.
"Mana lagi sisa uangnya?" Tanya Frank. "Semua disatukan di situ, koq."
"Joey, kau bilang padaku bahwa dirimu masih memiliki empat ratus ribu dolar! Kenyataannya hanya sekitar seratus dua puluh ribu dolar! Artinya, uang ini telah hilang hampir sebanyak dua ratus delapan puluh ribu dolar!"
"Pastilah Linda telah mengambilnya."
"Joey! Uang ini hilang dua ratus delapan puluh ribu dolar? Apa kau yakin semestinya empat ratus ribu dolar semuanya?"
"Yeah. Pacarku pasti telah mengambilnya," jawab Joey santai seolah tidak merasa kehilangan sama sekali.
Joey tentu saja tidak memberitahu Frank apa pun tentang Mike DiCriscio. Ia mencoba bermain licik, pikirnya cukup memberitahu semua pihak yang terlibat dengannya dan jumlah kasar keseluruhan uangnya saja. Joey merasa dialah yang berkuasa untuk mengatur semua pihak. Joey pikir dialah satu-satunya orang yang berhak mengetahui rangkaian teka-teki di pihak mana saja keseluruhan uangnya kini tersangkut.
"Aku menguburnya di suatu tempat," kata Joey, namun tatapan mata polosnya tidak bisa menyembunyikan kebohongannya dan sepertinya ia masih ingin terus bercerita. Setelah ia ragu sejenak dan sebelum Frank sempat menimpali, Joey, seperti biasanya tidak dapat menahan diri dari rahasia apa pun, ia lalu bercerita panjang lebar tentang kisah petualangannya. Ia kehilangan jejak kisahnya sendiri. Joey kebingungan siapa saja yang telah melakukan kontak dengannya, di mana saja, dan berapa jumlah uang yang tersebar. Joey semakin ngawur. Frank segera menghentikan celotehan Joey.
"Okay, okay," katanya. "Dengar baik-baik Joey. Kau
tidak perlu bercerita panjang lebar lagi. Semakin sedikit yang aku ketahui tentang kronologis uang ini, semakin baik bagiku. Kau bilang telah mengubur uang ini. Itu sudah cukup, baiklah, anggap saja aku percaya. Anggap saja kau benar-benar telah mengubur sisa uang yang hilang. Semakin sedikit yang aku ketahui, semakin baik efeknya bagimu."
"Okay."
Frank pikir langkah terbaik yang harus dilakukannya adalah mencari solusi atas uang yang kini berada di hadapan mereka. Kenyataannya sudah jelas, Joey telah kehilangan sebagian besar uang jutaan dolar itu. Pastinya Joey memerlukan suatu sistem untuk menelusuri kembali uangnya. Frank berinisiatif untuk memperlakukan pria itu seperti seorang bocah yang perlu bimbingan.
"Begini saja, Joey, mengapa tak kau ambil uang itu lalu kau masukkan ke dalam amplop," kata Frank. Ia pergi meninggalkan dapur kemudian kembali menemui Joey dengan membawa setumpuk amplop putih.
"Sekarang, coba kau hitung lima puluh lembar uang pecahan seratus dolar, dan setiap nilai yang telah dipecah dimasukkan ke dalam masing-masing amplop yang terpisah."
Sementara Joey menghitung dan memasukkan jumlah yang telah dipecah masing-masing lima puluh lembar seratus dolaran, ia mulai mengingat di mana saja sisa uang yang belum kembali padanya, berada. Ia memberi tahu Frank tentang Mike DiCriscio.
"Tadi katamu kau telah mengubur uang itu," kata Frank yang tentunya kesal atas kecerobohan temannya itu.
Joey hanya mengangkat bahu.
"Joey, terus terang saja, siapa saja yang telah mengetahui bahwa kau menemukan uang ini?"
Frank mendengarkan dengan seksama, lalu ia merasa terguncang, kemudian dirinya merasa bingung; ketika Joey mulai menyebutkan serangkaian nama. Ada nama Behlau, Pennock, Masi, dan ada lagi orang yang bernama Sonny, Linda Rutter, kemenakan perempuan Joey, kakak perempuan Joey dan suaminya, kakak iparnya Eleanor, mungkin juga kakak Joey Billy, Mike DiCriscio, John DiBruno, bartender di bar Dick's Lee ...
"Bartender di Dick's Lee?" Joey nyinyir kuda.
Frank menggelengkan kepala. Ia sedih. "Joey, jika kau tetap berniat menahan uang ini, lupakan saja! Kau telah membagikannya kepada semua orang. Semua orang telah mengetahui rahasiamu! Tidak mungkin kau dapat kabur dari permasalahan yang akan timbul. Bagaimana mungkin kau bisa membelanjakan uangmu dengan aman? Kau harus bisa menarik kembali sebisa dan sebanyak mungkin uang itu untuk ditukar dengan imbalan dari Purolator sebesar $50,ODD. Kau harus meminta bantuan seorang pengacara dan coba kita lihat apa yang bisa dilakukannya untuk menolongmu."
Joey menekankan pada Frank bahwa dia tidak mungkin melakukannya walaupun ia berniat demikian.
"Kelompok mafia telah menguasai uang itu, Frank. Mereka akan terus mencariku. Mungkin juga sekarang, mereka sedang mengincar keberadaanku!"
Frank ragu, akan tetapi ia melihat dari wajah temannya bahwa lelaki itu terlalu ketakutan untuk dapat menerima saran apa pun dengan kepala dingin. Dengan alasan apa pun, Joey masih sayang untuk melepas uang temuan-
nya. Ia punya suatu rencana. Joey masih percaya uang yang sedang berkeliaran sekarang akan kembali padanya. Pada momen yang sama, Joey takut pada Carl dan Sonny, walau ia dengan keras kepala telah berusaha memercayai keduanya serta percaya pada Mike DiCriscio. Frank merasakan situasi yang aneh. Pada satu sisi ia merasa mengetahui cara terbaik bagi Joey, sebaliknya pada sisi lainnya, Joey telah meminta pertolongannya, telah menaruh kepercayaan padanya. Joey juga kawan lama Frank. Ia merasa sudah sepatutnya membantu teman, bahkan jikalau hal itu bertentangan dengan nalar positif yang ada dalam benaknya.
"Kau harus membawaku keluar negeri dengan kapal laut," kata Joey.
Frank sadar akan risiko dan komplikasi menjalankan rencana sesuai keinginan Joey. Ia rela membantu teman. Namun ia tidak mungkin melibatkan pekerjaannya yang tentunya akan membahayakan masa depannya.
"Joey kau tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan, naik ke atas kapal dan berlayar ke luar negeri. Kenapa kau tidak pergi ke Meksiko saja? Kau tidak perlu paspor untuk pergi ke sana. Perlu waktu dua atau tiga hari, paling tidak untuk mengurus paspor, dan petugas keamanan di kantor imigrasi tentu akan segera menangkapmu ketika kau menunggu aplikasi paspor disetujui. Kurasa, tidak ada perjanjian ektradisi antara Amerika dan Meksiko. Setibanya kau di sana, kau bisa melanjutkan terbang ke Swiss atau ke mana saja yang kau mau."
Mantan istri Frank, Laura, bekerja pada American Express Travel Agency. Frank mengatakan ia akan mengurus tiket penerbangannya ke luar negeri. Sementara Joey melanjutkan menghitung uang, Frank menelepon
Laura dan menjelaskan situasi yang sedang dihadapi temannya. Menurut hemat Frank, Joey sebaiknya pergi ke luar negeri dari airport New York, siapa tahupolisi tengah berjaga-jaga di bandara setempat. Ia menyadari bahwa polisi telah mengetahui, lebih kurang, ciri-ciri fisik Joey. Laura menjelaskan bahwa terdapat penerbangan nonstop dari bandara John F, Kennedy, New York ke Aca-pufco, yang berangkat pada hari Rabu pagi dengan begitu Frank dan Joey memiliki waktu sehari penuh untuk tiba di New York dan selanjutnya boarding ke atas pesawat, di sana.
Frank menanyakan pada Joey jika temannya tersebut memiliki KTP, atau Surat Kenal Lahir, atau semacam kartu Pemilu. Joey menjawab, tidak. Frank memesan tiket round-trip, penerbangan pergi-pulang, menggunakan namanya. Menurut pemikiran Frank, tiket round-trip tentu akan menghindarkan kecurigaan dari pihak imigrasi, Joey akan memiliki alasan kuat bahwa ia tidak sedang kabur dari negaranya, atau jika sesuatu hal yang tidak diharapkan terjadi di Meksiko, ia akan mudah untuk kembali ke Amerika.
Frank kembali ke dapur, ia meminta uang ratusan dolar secukupnya untuk membayar tiket pesawat.
"Aku akan pergi mengatur rencana perjalananmu," Frank berkata kepada Joey. "Kau tenang-tenang saja di sini dan tunggu aku pulang. Jangan ke mana-mana dan jangan menjawab semua panggilan telepon masuk."
Frank pergi ke bank untuk menyetor uang dari Joey ke dalam rekening miliknya. Ia kemudian pergi ke Philadelphia mengunjungi Laura di kantor American Express untuk membeli tiket pesawat dengan menggunakan cek pribadi atas nama dirinya. Laura membuat reservasi untuk Joey di
sebuah hotel di Acapulco. Ketika Frank kembali tiba di rumahnya, ia mendapati Joey sedang melakukan percakapan telepon. Frank marah. Ia mengancam akan mengusirnya jika dia tidak bersikap seperti yang disuruhnya.
Joey menjelaskan bahwa ia menelepon John Behlau yang memberinya batas waktu hingga jam delapan malam sebelum dia melapor kepada polisi.
"Ya ...jika kau tetap bersikeras untuk melakukan sesuai kemauanmu, Joey, kita harus berangkat detik ini juga," kata Frank. "Kita akan menginap di New York, Joey. Apa tekadmu sudah bulat bahwa kau tidak mau menghubungi pengacara untuk mengatur pengembalian uang dan bernegosiasi mengenai nilai uang imbalan yang akan mereka berikan? Apa kau yakin berani mengambil semua risiko yang akan timbul?"
"Aku tidak akan pernah mengembalikan uang itu, "kata Joey, "Sepanjang hidup, kita telah bermimpi untuk mendapat kesempatan sebaik ini, Frank, Ini adalah kesempatan terbaik kita. Mengapa kau tidak ikut saja denganku?"
Frank menggelengkan kepala. "Tidak. Aku akan membantumu, tapi tidak akan ikut pergi denganmu ke luar negeri. Jika kau ingin pergi, kau bisa pergi sendiri." Mereka berkemas dan bersiap untuk segera berangkat. Keduanya mengosongkan dompet Joey, membakar semua kartu dan kertas yang berbau informasi tentang diri Joey dalam tungku perapian di ruang keluarga, Frank mengambil sertifikat kelahiran baptis-nya, kartu pemilu, KTP dan identitas lain menyangkut dirinya, kemudian menyodorkannya pada Joey.
Selama Joey menghitung uang tadi, ia menemukan 13 lembaran uang kertas yang telah distempel dengan
cap "Federal Reserve Bank" dan dibubuhi tanggal sesuai waktu ketika ia menemukan uang: "February 26, 1981, "Kesemuanya ditemukan Joey pada lembaran kertaspaling atas disetiap bundel yang dibukanya. Joeymemberikannya pada Frank untuk dibakar. Frankberkata bahwa ia tidak mungkin membakar ke tiga belas lembar uang atau senilai $1,300. Lalu katanya, ia akan menyimpannya untuk sementara waktu.
Frank memasukan semua keperluan Joey ke dalam satu tas. Mereka telah siap berangkat, namun tiba-tiba Joey berkata bahwa dia akan mengurungkan niat untuk kabur.
"Apa!" Frank mulai frustasi. "Kenapa tidak jadi?" "Frank, ibuku sakit keras. Bagaimana jika penyakitnya bertambah parah dan harus dilarikan ke rumah sakit sementara aku melarikan diri?"
"Bukankah dia tinggal bersama Ellen dan Charlie?"
"Yeah, aku membawa uang banyak, bukan? Aku tidak mungkin dapat pergi bebas begitu saja. Bagaimana jika mereka menangkapku di atas pesawat?"
Frank memahami ketakutan Joey, "Tenang, Joey, Rileks. Tidak seorang akan membunuhmu di dalam pesawat. Jika kau mencemaskan kesehatan ibumu dan mau menitipkan sesuatu untuknya, kalau-kalau ia perlu masuk rumah sakit, baiklah. Aku akan meyakinkan jikapun ia harus dirawat, semua tagihan perawatan akan aku urus sebaikbaiknya."
Joey memberi Frank dua buah amplop, $10,000; dan menambahkan uang tunai sebesar $4,800 untuk biaya yang diperlukan Frank mengurus ibunya selama Joey pergi jika, mungkin, Frank sendiri harus terbang ke Acapulco menyusulnya untuk membawa Joey pulang bersamanya.
Frank berkata bahwa ia akan menyimpan uangnya di suatu tempat yang aman. Frank kembali meminta Joey menunggu sementara ia pergi sebentar dan menyuruhnya menjauhi telepon. Dia berangkat ke rumah pacarnya tidak jauh dari situ. Frank menitipkan uang sebesar $14,500 serta uang yang ditandai bank, yang tadi diberikan oleh Joey kepadanya. Ketika ia kembali, Frank mendapati Joey sedang rebahan di kasur kamar tidur yang terletak di lantai dua, sebelah tangan memegangi tas yang penuh berisi uang, dan satunya memegangi pistol Magnum kaliber 0.44.
"Joey apa yang kau pikirkan, seseorang akan mendobrak pintu rumah dan merampokmu?"
"Ya ... mungkin saja," jawabnya.
"Kau benar-benar paranoid," Frank berkata dan untuk kali pertamanya pada hari itu, keduanya tertawa terpingkal-pingkal.
2
Fajar hari Selasa pagi telah menyingsing. Lima hari sudah berlalu sejak kejadian uang jutaan dolar terjatuh dari mobil boks untuk kali pertamanya.
Pat tidak memiliki petunjuk lain yang memungkinkannya melanjutkan investigasi lebih jauh, selain petunjuk terakhir yang didapatinya pada hari Kamis; tentang deskripsi mobil yang terlihat di TKP, ciri-ciri lelaki muda yang mengambil kantong uang, dan seorang pria tua yang badannya agak bongkok serta cek buku asli atau, mungkin bekerja di seputar lokasi kejadian dekat tempat pembuangan sampah di Front Street.
Pat lelah dan bosan melihat setumpuk file kertas manila yang berisi laporan dari masyarakat tentang pe-
tunjuk kasus yang dihadapinya, yang telah terkumpul selama lima hari terakhir. Dengan perutnya yang lapar, Pat merasakan naluri yang kurang baik dari kasus ini.
Pat melihat sebuah pesan yang belum pernah dibaca sebelumnya. Pesan yang masuk ke mejanya pada hari Sabtu, sebuah pesan dari Gloucester City, Kepolisian New Jersey yang meralat laporan tentang model dan tahun keluaran mobil Chevy yang terlantar di sebuah gudang dekat pelabuhan. Malibu tersebut bukanlah model '75 melainkan keluaran tahun '71!
Dua orang rekan Pat mengemudi dan menyeberangi jembatan Walt Whitman menuju Gloecester City untuk membuktikan kebenaran laporan. Benar saja, Chevy Malibu marun tahun 1971, dengan warna biru primer di bumper depan sebelah kanan. Hampir pasti, mobil itulah yang dimaksud dalam laporannya.
Ketika Pat mendapatkan laporan tentang mobil tersebut, ia segera mencatat nomor serial plat kendaraan tersebut. Informasi yang didapat dari layar monitor komputer adalah mobil tersebut terdaftar sebagai milik John Henry Behlau yang tinggal di 314 Durfor Street yang mana, Pat segera teringat bahwa tempat itu hanya berjarak tidak lebih dari tiga blok jauhnya dari tempat terjatuhnya uang Purolator.
Pat segera meluncur ke lokasi bersama sekelompok investigator berseragam. Mereka menuju rumah termaksud. Ketika ia menekan bel pintu, seorang wanita membukanya. Dia menatap tajam pada sang detektif lalu memandangi teman-teman Pat yang mengenakan seragam. Pat mengenalkan diri. Wanita itu tidak terlihat kaget sama sekali.
"Kami semua bertanya-tanya kapan kalian akan da-
tang ke sini," katanya
3
Saat itu jarum jam menunjukkan pukul lima sore ketika Frank dan Joey tengah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah, berangkat ke New York. Frank menyuruh Joey untuk meninggalkan pistolnya.
"Pistol ini akan menjadi salah satu alasan kita berdua di penjara selain karena urusan uang," kata Frank menjelaskan pada Joey. "Kasusnya akan jauh berbeda jika polisi menemukan kita berdua membawa uang dan senjata api."
Keduanya bergegas pergi. Mereka berputar-putar dan sempat frustasi, selama empat puluh lima menit, sebelum menemukan tikungan jalan New Jersey.
Setelah sampai di perempatan, mereka barulah mengenali jalan di sana. Ketika keduanya masih berusia enam belas tahun, dan Joey baru saja mendapatkan SIM pelajarnya, keduanya pernah mengemudi sepanjang Broad Street, merasa seperti orang besar dan mengajak serta dua orang perempuan yang usianya jauh lebih tua, sedang berdiri di tepi jalan dan mencoba mendapatkan tumpangan ke New York.
"Maukah kalian pergi bersama kami ke New York?" Tanya perempuan tadi.
Frank menatap pada Joey, dan sebaliknya, Joey memandangi wajah reaksi Frank.
"Boleh!" Kata mereka serempak, dan keduanya berangkat beserta kedua orang wanita itu, ke kota New York, pada malam itu juga. Kedua pemuda itu hanya memiliki uang lima dolar yang sebagian besar digunakan un-
tuk membayar tol. Mereka tertawa dan bersenda gurau sepanjang perjalanan. Kedua wanita itu terus menerus merayu bahwa Joey dan Frank tampan dan gagah. Kedua pria berusia enam belas tahun, tentu saja senang bukan kepalang, seperti baru saja memenangkan lotere; hidungnya kembang kempis, kepala keduanya manggut-mang-gut, dan pandangan mata mereka cerah berbinar. Sesampainya di New York, kedua perempuan tadi segera membawa Frank dan Joey menuju sebuah hotel besar bercat coklat. Setibanya di sana, kedua perempuan berpamitan untuk pergi sebentar membeli minuman. Mereka menyuruh Frank dan Joey untuk menunggu di lobby.
Frank dan Joey menunggu hampir dua jam sebelum menyadari apa yang tengah terjadi pada mereka. Keduanya kembali ke mobil. Udara malam itu sangat dingin sehingga mereka tetap menghidupkan mesin mobil, mengunci pintu, menyalakan heater, penghangat ruangan dalam mobil; lalu mencoba tidur. Mereka terbangun keesokan harinya ketika seorang polisi patroli mengetuk atap mobil dengan tongkatnya. Kedua pria muda itu berhasil mengumpulkan uang dari saku senilai total lima puluh sen, yang dipakai membeli donat dan secangkir kecil kopi untuk dinikmati berdua. Mobil hampir kehabisan bensin dan mereka sudah tidak lagi mempunyai uang sepeser pun.
Frankie menelepon ibunya. Ia punya seorang teman yang tinggal di Brooklyn. Frankie dan Joey segera meluncur ke sana. Setelah mengemudi sekian lamanya di tengah kemacetan lalulintas, ditambah pula keduanya tersesat, Frankie menyuruh Joey minggir. Joey menghentikan kendaraan. Frankie pergi untuk bertanya pada seorang polisi yang sedang bertugas di perempatan: jalan ke Brooklyn. Polisi melihat seorang pengemudi remaja di
belakang stir mobil yang sedang parkir di tepi jalan, ia menghampiri mobil itu dan menanyakan SIMsang pengemudi. Joey menunjukkan pada polisi Cinderella License, semacam SIM lokal yang diberikan pada pelajar sebagai identitas bahwa pengemudi tersebut baru bisa menyetir dan masih dalam masa percobaan. SIM Joey tidak berlaku di New York, kedua pemuda itu pun ditahan polisi. Ibu Frank akhirnya muncul untuk membebaskan mereka, membayar penginapan untuk keduanya beristirahat, memberi bekal untuk makan, minum, dan membeli bensin serta membayar tol.
Kejadian itu telah berlalu lebih dari satu dekade, dan sekarang keduanya merasakan kegembiraan yang sama seperti ketika mereka berangkat ke New York dulu. Hanya saja, perbedaannya adalah kini mereka mengemudi mobil ke kota besar di arah utara itu dengan membawa uang tunai senilai lebih dari $100,000. Siang itu, Frank berkata kepada Joey untuk berhenti di sebuah toko karena ia ingin membeli jas baru. Joey tidak berani mengambil risiko, namun ia menghentikan kendaraannya.
"Membantu dan bersekongkol," kata Frank. "Itulah yang sedang aku lakukan sekarang di sini. Jika kita tertangkap, aku sendiri sama bermasalah seperti halnya dirimu, posisi kita sama."
"Masalah apa?" Tanya Joey. "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun."
Frank menjelaskan bahwa uang yang dibawa Joey bukanlah mutlak miliknya.
"Hey, kepemilikanku atas uang ini secara hukum tidak bisa sepenuhnya disalahkan," jawab Joey bersikeras seolah-olah mengerti hukum. "Aku tidak melakukan kejahatan apa pun."
Frank menjelaskan bahwa, sesuai pemahamannya pada aturan yang berlaku, hukum menegaskan bahwa jika seseorang menemukan sesuatu yang berharga, maka orang tersebut diharuskan untuk mengembalikannya. Jika tidak, maka orang tersebut dianggap telah melakukan pencurian.
"Tidak bisa!" Sanggah Joey yang buta hukum dan tetap merasa uang itu miliknya. "Finders Keepers,'" siapa yang menemukannya, dialah yang memilikinya; "itulah hukum lama yang paling benar dan masih berlaku."
Frank kembali menjelaskan bahwa memang hukum tersebut berlaku pada tatanan masyarakat dulu, tetapi menurut hukum yang berlaku di Pennsylvania saat ini, aturan tersebut sudah tidak dipakai lagi. Joey tidak mau mendengar penjelasan Frank.
Mereka akhirnya check-in di Sky Line Inn, yang mereka pilih asal saja setibanya di Manhattan. Di ruang kamar mereka di lantai atas, Frank menelepon jasa penyewaan limo untuk malam itu. Joey menyuntikkan speed-nya di kamar mandi, dan semua amplop uang dimasukan ke dalam kaus kaki. Tidak muat, Sepatu boots Joey pendek sementara kaos kakinya panjang dan melorot karena terbebani beratnya amplop uang. Joey tidak mau meninggalkan uangnya di ruang kamar hotel, dan ia tidak mau dirinya menghabiskan waktu semalaman berada di dalam kamar, Joey pun berlari ke lobby untuk membeli selotif. Ia kembali ke kamar dan memasukkan setengah dari jumlah uang yang dikeluarkannya tadi, ke dalam kaos kaki yang sama, lalu membalutnya dengan selotif pada bagian atas kaos kaki tersebut. Beres, pikirnya, Sebagian dari amplop uang disimpannya di laci, dan Joey mengambil sebuah amplop lagi untuk dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
Mereka kini sedang berada di New York, saat itu adalah malam terakhir keduanya berada di kota besar sebelum Joey berangkat ke luar negeri pada keesokan harinya. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan berniat menghabiskan sebagian kecil uang. Dalam perjalanan keluar dari hotel, Joey sempat menggantungkan tanda DO NOT DISTURB di gagang pintu kamar dan memasang sedikit selotif dari daun pintu ke kusen agar ia tahu jikalau ada seseorang yang telah memasuki kamarnya. Joey takut kepada mafia yang akan mampu melacaknya hingga ke tempat itu. Frank hanya menggelengkan kepala. Ia berpikir bahwa kehati-hatian Joey yang terlalu berlebihan terlihat lucu, tetapi, ada baiknya juga dia bertingkah seperti itu, karena ketegangan Joey akibat rasa takut yang menghantuinya, sedikit reda.
Mereka turun ke lantai dasar untuk menunggu limo. Joey sudah tidak sabar, ia memasuki sebuah taksi yang sedang parkir di situ, kemudian menyuruh pengemudi segera tancap gas menuju Broadway. Ia berkata kepada supir taksi bahwa mereka tidak akan pergi untuk menonton pertunjukan show melainkan untuk bersenang-senang dengan pelacur. Pengemudi taksi menawarkan jasa untuk membantu mereka. Mereka pergi jauh dari kawasan kota dan berhenti di sebuah kawasan di mana terdapat deretan rumah-rumah batako.
Sempat terlintas dalam benak Joey, dengan semua uang yang disimpan dalam kaos kakinya, tentu ia akan terlihat lucu jika dirinya diperlukan untuk membuka celana, nanti. Ia menunggu di luar sementara Frank, dengan diantar oleh supir taksi, naik ke ruangan atas. Sepuluh menit kemudian Frank kembali sambil menyeringai dan wajahnya berseri-seri, lalu menyadari tiket pesawat tidak
berada di saku celana. Ia kembali ke atas dan berteriak, katanya, ia telah dirampok. Tiket ditemukan dalam amplop yang tergeletak di lantai. Seorang wanita mengikuti Frank menemui Joey di lantai bawah. Dia mengikuti mereka masuk ke dalam taksi dan menawarkan jasa seksual pada Joey.
"Tidak, terima kasih. Gak usah, terima kasih, sayang," jawab Joey sambil menghindar dari wanita itu. Joey sebenarnya tidak enak untuk menolak namun ia keberatan untuk diketahui kaos kakinya penuh dengan uang. Sebelah tangannya merogoh saku, mengambil gulungan uang kertas seratus dolaran lalu menarik satu lembar dan diberikannya pada wanita itu. Mereka pun berangkat, meninggalkan wanita tadi berdiri di tepi jalan sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
4
Cahaya lampu sorot dari helikopter dan kamera para wartawan menerangi halaman depan rumah Cari Masi. Siaran langsung tengah disiarkan di televisi swasta. Kru berjejer seperti sedang melangsungkan acara syuting film di sana. Sedari tadi, para wartawan telah keluar masuk halaman rumah para tetangga Masi, mengetuk pintu, dan mewawancarai penghuninya, apa yang mereka ketahui tentang keluarga Carl Masi. Dee sedang berada di dalam rumah, ia panik dan ketakutan.
"Mereka orang baik dan ramah kepada tetangga," kata salah seorang tetangga Masi, yang merasa cemas mungkin tidak seharusnya ia berkomentar apa pun.
Sekelompok reporter sedang berkumpul, menunggu di jalan kecil belakang rumah Masi. Dua orang wanita
muncul dari rumah yang terletak di belakang. Salah satu dari kedua wanita itu mengenakan jacket bulu binatang yang disarungkan di leher dan bahunya. Kedua wanita berjalan melewati para reporter yang sedang berkerumun, membuka pintu gerbang belakang rumah Masi kemudian mengetuk pintu belakang. Seorang polisi membukakan pintu.
"Dia baru saja meneleponku dan meminta kami datang," kata wanita yang mengenakan jaket bulu binatang. Polisi menahan langkah mereka, katanya, keduanya tidak diizinkan masuk.
"Nyonya Masi sedang histeris di dalam sana!" Jawab wanita tadi berteriak. "Ia membutuhkan kehadiran kami. Biarkan kami masuk. Ia tidak mempunyai teman untuk berkeluh kesah."
Polisi dengan halus mengusir kedua wanita tersebut. Dengan perasaan kesal, keduanya berlalu dan melirik pada kamera wartawan yang sedari tadi meliput kejadian itu.
"Kamu sekalian tidak lebih dari sekelompok manusia yang senang menimbulkan tragedi bagi orang lain, iya kan?"
Ini sebenarnya bukan tragedi. Ini adalah misteri. Penduduk kota ini tidak sepenuhnya mengikuti setiap momen kasus heboh yang sepertinya semakin mendekati pengungkapan misteri atas peristiwa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Para detektif memeriksa setiap sudut rumah Masi. Beberapa polisi berseragam tampak berjaga-jaga di seputar rumah bagian luar, baik di sisi depan, maupun belakang; serta menahan masyarakat yang semakin lama, jumlahnya semakin banyak, berdesakan, seakan berlomba dengan para reporter yang sedang meliput berita penting
itu. Kabar burung yang menyebar di kalangan masyarakat adalah polisi telah menemukan uang jutaan dolar milik Purolator yang hilang. Namun kabar itu sepertinya harus menggantung tanpa kesimpulan, sebab polisi seakan bungkam tanpa berani memberi komentar apa pun.
Menjelang sore, kamera wartawan menangkap gambar Cari Masi, mengenakan jaket kulit, dan digiring keluar dari pintu depan rumahnya menuju mobil polisi. Beberapa orang detektif mengikutinya sambil membawa beberapa buah kantong sampah berwarna hijau. Dugaan massa adalah kantong-kantong tersebut berisi penuh uang yang hilang dan telah ditemukan di rumah Masi, akan tetapi, satu jam kemudian, dalam acara berita di televisi dan radio, pihak kepolisian memberikan pernyataan bahwa uang Purolator belum ditemukan.
Liputan kejadian penggeledahan di rumah Masi, hanya berselang beberapa jam saja setelah polisi mengetuk pintu depan rumah John Behlau. Saat itu, John dan Jed terlihat sangat ketakutan, kesal, dan marah. Setelah berkonsultasi dengan seorang pengacara sore itu, serta mendapati kepastian penjelasan bahwa keduanya tidak hanya dapat menghindar dari tuntutan, tetapi juga besar kemungkinannya akan mendapat imbalan jika saja mereka memberitahukan Joey berada. Mereka pun menjelaskan pada Pat bagaimana ketiganya menemukan uang tersebut, lalu membawanya ke rumah Joey. Mereka menjelaskan bagaimana, keduanya telah memaksa Joey untuk segera mengembalikan uang temuan itu, namun Joey bersikeras memaksa John dan Jed mengantarnya ke rumah Cari Masi untuk meminta bantuan lelaki itu. John dan Jed lalu menjelaskan ketiga orang, Joey Coyle, Cari Masi, dan seorang pria lain. Mereka tidak menyebut nama lelaki yang
ke tiga. Kata mereka, keduanya tidak tahu menahu siapa nama pria itu telah membagi uang menjadi tiga bagian, dan itulah akhir cerita yang dipaparkan oleh kedua teman Joey. Di rumah Masi, polisi hanya menemukan sisa pembakaran kertas segel pengikat uang di dalam tempat sampah serambi belakang.
Sementara penggeledahan barang bukti terus berlangsung di kawasan perumahan seputar tempat tinggal Masi, di kantor pusat kepolisian South Detective Division, Carl Masi merasa kepanasan. Sambil berusaha menahan rasa sakit yang masih dirasakannya akibat operasi jantung, ia berusaha untuk tetap terlihat tenang, walau ia pun tahu bahwa dirinya sedang menghadapi kasus yang lebih berat daripada yang sedang dihadapi oleh Behlau dan Pennock. Para detektif tentu tahu, bahwa ia telah dititipi bagian uang terbesar dari hasil temuan Joey dan rekan-rekannya. Masi menjawab semua pertanyaan Detektif Pat yang menyudutkan dirinya dengan tenang, penuh kehati-hatian, jujur, dan semua jawabannya tidak mengada-ada. Sifat dasar Masi seorang eks-petinju yang memiliki koneksi khusus dengan geng mafia adalah tidak mau untuk melibatkan diri membantu polisi lebih jauh. Menurutnya, jawaban yang telah diberikannya kepada sang detektif, sudah cukup jujur dan membantu. Ia telah bekerja-sama dengan baik, katanya. Pat menekankan pada Cari bahwa satusatunya cara yang terbaik untuk menghindari tuntutan adalah dengan mengembalikan uang Purolator, secepatnya.
Kedua orang ini seolah telah lama kenal. Suatu kemiripan sikap di antara keduanya, telah membuat mereka dapat berkomunikasi dengan lancar, dan Cari kini merasa nyaman dalam berdiskusi dengan Pat. Pat telah men-
dengar dari ayahnya. Ia telah mencatat nama "Massey" setelah berbicara dengan Behlau dan Pennock. Ia mencatatnya sebagai seseorang yang memiliki hubungan kuat dengan dunia mafia, walaupun nama itu sendiri belum pernah tercatat dalam daftar pribadinya. Pat tahu persis pergerakan terselubung grup mafia itu, namun belum pernah mendengar nama Massey sebelumnya. Ia lalu bertanya kepada ayahnya, Pasquale Laurenzi. Menurut ayahnya, ia sendiri pun belum pernah mendengar nama Massey.
"Ada masalah apa?" Tanya ayah Pat. "Apa?"
"Coba eja nama itu," pinta ayahnya. "M-A-S-S-E-Y."
"Bukan S-S-E-Y, tetapi M-A-S-I. Dia adalah kakak Joey Masi."
Pat telah mengenal Joey Masi sejak ia masih anak-anak. Tubuhnya pendek dan gemuk serta ia memiliki sebuah usaha frozen food, makanan yang dibekukan, yang mana lelaki itu sering mengantar pesanan ke toko ayahnya.
Ketika Pat mengatakan bahwa ia adalah anak dari Pasquale Laurenzi, beban berat seakan tiba-tiba terangkat dari dadanya. Ia pun bercerita panjang lebar. Cari sempat meminta Pat keluar kantor untuk membelikan obat penyakit jantung yang dideritanya, Pat pun melakukannya. Akhirnya sang detektif meyakinkan Cari bahwa ia tidak akan dikenai dakwaan apa pun atas keterlibatannya dalam konspirasi penahanan uang temuan itu.
"Kami hanya ingin uang itu kembali, Cari."
"Ya ... tentu, namun pastinya akan menyita waktu lama," jawab Cari.
"Kau sudah boleh memulainya saat ini juga," kata Pat sembari menyodorkan pesawat telepon pada Cari. "Jangan lupa untuk menekan angka '9' untuk terhubung ke saluran luar."
Sementara itu sesuatunya berjalan dengan sangat cepat sekarang Pat telah mengirim buletin ke agensi hukum:
DPO: JOSEPH COYLE 28 W/M DOB 22-2-53 RES 2323 S FRONT ST PHILA. PA. 6 FOOT, 150 LBS, RMBT PIRANG KUSAM, TATO O 1 LENGAN (SHAMROCK), LUKA BKS SENJ TAJAM SBLH WAJAH DR TELINGA KE BWH MATA KIRI, PENCURIAN, RSP & CONSP. SUBYEK BURON SP #98946. TTD HAKIM LEOERER.
Dalam satu jam, terdapat telepon masuk dari Washington Township police di New Jersey. Mereka telah menangkap seorang pria bernama Joseph Coyle ketika sedang bertengkar di sebuah bar. Pat sedang sibuk bersama Cari, namun karena menemukan uang yang hilang adalah prioritas utama, Pat mengirim dua orang anak buahnya untuk meninjau lokasi penangkapan dan pergi ke Washington Township untuk menjemput tersangka.
Ucapan selamat banyak terlontar di kantor polisi ... sementara itu, Cari terus berusaha mengontak orang-orang yang terlibat dengan uang yang hilang. Pat merasa lega sekaligus bangga bahwa kasus sesukar itu tampaknya akan segera berakhir ... Lalu telepon di kantornya kembali berdering. Dari kedua detektif anak buahnya yang telah tiba di Washington Township.
Merek telah berhasil menemui Joseph Coyle. Tingginya sama, usianya tepat, juga memiliki tato shamrock dan berambut pirang, hanya saja ... pria yang satu ini tidak memiliki bekas luka gores senjata tajam di wajahnya. Dia adalah Joey Coyle yang salah.
5
Setelah meninggalkan sang pelacur di pinggir jalan, Joey dan Frank meminta sang supir taksi untuk mengantar mereka ke sebuah restoran masakan Perancis yang paling mewah di kota itu. Malam sudah larut dan jam pelayanan makan malam telah berakhir. Namun keduanya tetap disambut tuan rumah dengan ramah. Frank segera beramah tamah dengan kepala pelayan, dan ia mengundangnya untuk makan malam bersama satu meja. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam menikmati hidangan makan malam dan membuka beberapa botol sampanye mahal dari Perancis, Dom Perignon, memakan daging burung menu khas restoran itu, dan menikmati, hidangan penutup yang lezat. Mereka juga mengajak sang pelayan untuk makan bersama. Uang persenan, yang mereka berikan hampir sebesar $450.
Lewat tengah malam, barulah mereka meninggalkan restoran. Mereka tiba di sebuah klab malam. Penjaga pintu tidak mengizinkan mereka masuk, barulah setelah Joey menyodorkan $100, pintu terbuka lebar. Mereka minum-minum di sana, setelah mabuk berat, keduanya keluar untuk memanggil taksi. Memasuki taksi, baik Joey maupun Frank, sudah tidak ingat lagi tempat di mana mereka menginap malam itu, baik nama hotel maupun alamatnya. Frank menyuruh pengemudi taksi untuk berhenti di depan Hotel Sheraton. Ia memberi uang sogokan pada petugas resepsionis malam sebesar $50 untuk mengizinkan keduanya menginap di salah satu kamar kosong hotel itu, walau hanya untuk beberapa jam saja. Keduanya segera menuju kamar yang diberikan sang resepsionis. Joey segera masuk kamar mandi untuk menyuntikkan speed nya. Joey
gelisah, mondar-mandir dalam ruangan kamar dan tidak bisa tidur. Ia membayangkan bagaimana kalau salah satu anggota mafia berhasil melacak keberadaannya kemudian menembaknya sewaktu ia tidur. Frank merasa terganggu dengan kelakuan Joey.
"Man, aku tidak peduli apa pun yang kamu ingin lakukan, tapi sekarang, aku benar-benar ingin tidur," katanya.
Joey berjalan-jalan ke lantai bawah hingga tiba di basement, ia berada di ruang parkir dan menemukan sebuah mobil milik orang lain yang pintunya tidak terkunci. Joey masuk dan tidur meringkuk di jok belakang mobil itu.
* * *
HARI KETUJUH
Rabu, 4 Maret 1981
1
Menjelang fajar menyingsing, ratusan dari ribuan eksemplar surat kabar yang telah dicetak; telah tersebar luas ke seluruh penjuru kota Philadelphia dengan halaman muka dihiasi tulisan besar-besar yang menyatakan bahwa Joey Coyle telah tertangkap. Surat kabar telah dicetak dan tersebar sebelum pihak kepolisian menyadari kekeliruan mereka telah menangkap Joey Coyle yang salah. Cerita dalam berita koran pagi itu penuh dengan tulisan yang mengulas tentang seorang pria yang selalu ceria, periang, urakan, dan sedang menganggur; seorang, pekerja musiman di galangan kapal pelabuhan sungai, yang telah membagi-bagikan uangnya dengan royal kepada siapa saja yang ia sukai; yang akan segera mengembalikan harta kekayaannya, uang jutaan dolar dari hasil temuannya, milik Purolator.
PERTENGKARAN DI BAR TELAH BERHASIL MENGUNGKAP TERSANGKA YANG TELAH MELARIKAN UANG TEMUAN SEBESAR $1,2 JUTA.
"Tidak ada jawaban apa pun," John Behlau berkata kepada seorang wartawan yang mengetuk pintu rumahnya. "Pengacaraku menyarankan agar aku tidak menjawab pertanyaan apa pun dari wartawan," kata John dengan raut muka yang terlihat gembira.
Di jalan raya, Jed Pennock bersikap lebih tegas, ia berkata, "Maaf, sobat. Tidak ada komentar apa pun."
Sementara itu, Frank Santos terbangun dari tidurnya di kamar hotel kota New York, ia mendapati Joey Coyle sedang gelisah dan berada di dekatnya.
Mereka hanya memiliki waktu lebih kurang empat jam
untuk menemukan di mana Sky Line Inn berada, mengambil sisa uang yang disimpan Joey di sana, kemudian segera pergi ke bandara John F. Kennedy untuk penerbangan jam 10:45 ke Acapulco.
Frank bergegas mengganti pakaian. Ia dan Joey berhenti di sebuah toko yang berada di dalam bangunan Hotel Sheraton untuk membeli tas jinjing kain seharga dua puluh lima dolar yang penuh dengan peralatan mandi. Keduanya belum pernah berkunjung ke Meksiko, dan Frank berpikir barang-barang keperluan sehari-hari seperti itu, tidak akan dapat ditemukan Joey dengan mudah di Acapulco. Frank juga membeli satu set untuknya. Joey membeli sepasang kacamata baru yang mahal. Keduanya keluar dari hotel Sheraton dan segera menumpang sebuah taksi.
Baik Joey maupun Frank tidak ingat sama sekali nama persis dari hotel di mana keduanya check-in kemarin petang. Tugas keduanya saat ini adalah mencari di mana hotel tersebut. Joey menyalahkan Frank, dan Frank menyalahkan Joey. Setelah keduanya hampir putus asa, akhirnya, Frank menjelaskan pada supir taksi bahwa hotel yang sedang mereka cari adalah "S/Supir taksi mengernyitkan dahi. Ia mengemudi ke arah alamat tujuan sesuai penjelasan a!a-kadarnya dari Frank. Tidak ditemukan hotel dengan tanda-tanda sesuai penjelasannya. Joey, yang merasa jauh lebih gugup dari sebelumnya, menyalakan sebatang rokok. Pengemudi taksi membalikan wajah dan meminta Joey untuk segera mematikan rokoknya. Joey dan supir taksi bertengkar, mereka adu argumentasi.
"Sudah, turunkan saja kami di sini!" Frank berteriak.
Dengan tidak sabar, Frank segera membayar ongkos taksi, Joey berjalan di trotoar mengikuti langkah kaki Frank sambil menggerutu karena kesal pada sang supir taksi tadi. Mereka menghentikan taksi lain dengan supir yang berasal dari Iran dan hampir-hampir tidak mengerti sama sekali maksud dari penjelasan Frank tentang tujuan mereka. Mereka berjalan mengitari kota selama dua puluh menit sebelum Frank akhirnya memutuskan untuk berganti taksi lain. Mereka membayar pengemudi dan segera melangkah keluar dari taksi. Namun, ketika taksi mulai beranjak pergi, Joey berteriak, "Oh, tidak! Tasku ketinggalan di jok belakang taksi itu!"
Frank bergegas lari menyusul taksi yang mulai melaju, melambaikan tangannya sembari berteriak. Ia berlari dua blok jauhnya dari tempat tadi dan baru berhasil menyusul taksi ketika mobil tersebut berhenti di lampu merah. Frank kembali menemui Joey yang sedang bersungut betapa tolol dirinya. Saat itu, mereka berdua memiliki uang tunai sekitar $100,000, yang sebagian besarnya ditinggal Joey dalam kamar sebuah hotel, yang hingga detik itu, belum berhasil ditemukan mereka. Joey merasa baik polisi Philadelphia, FBI, atau siapa pun 'hanya Tuhan yang tahu', tengah mengejarnya. Ia pun harus bergegas berada ke dalam pesawatnya menuju Acapulco dan harus bertarung melawan sesaknya orang yang berkeliaran di kota paling sibuk di seluruh dunia. Ironinya ia lebih mementingkan berlari cepat mengejar tas belanja senilai hanya $25 dolar saja, yang tertinggal di jok belakang taksi. Frank melempar tas itu ke muka Joey segera setelah ia mendekat padanya.
Supir taksi yang ketiga, seorang pria yang usianya sudah cukup tua, menemukan hotel mereka. Ia segera
tahu penjelasan yang diberikan oleh Frank.
"Dekat Lincoln Tunnel?" Tanyanya, "Ah pastilah Sky Line Inn."
Frank tidak ingin kehilangan supir taksi yang berharga ini, yang lancar berbicara bahasa Inggris, sepertinya sudah berpengalaman, dan mengenal dengan baik seluk beluk Manhattan. Oleh karenanya ia menyuruh Joey untuk menunggu bersama supir taksi di bawah, sementara ia bergegas lari menuju kamar hotel Sky Line Inn untuk mengambil uang. Di dalam kamar, Frank segera mengambil beberapa amplop yang penuh dengan uang. Ia melihat sebuah tas penuh dengan obatobatan terlarang milik Joey. Frank berpikir, tidak akan aman jika Joey pergi ke luar negeri dengan membawa narkoba. Frank segera membuang narkotika tersebut ke dalam toilet. Joey tentu akan marah besar, namun ia melakukannya demi kebaikan temannya. Sebelum Frank meninggalkan ruangan, Frank tidak lupa mengambil alat tulis dan kertas berlogo hotel dari atas meja rias,
Sekembalinya ke dalam taksi, Frank menyuruh sang supir untuk membawa keduanya menuju bandara, secepat mungkin. Ia memberikan tas uang kepada Joey, membubuhkan tanda tangannya pada secarik kertas kemudian memberikannya pada Joey.
"Ini, sekarang kau harus latihan membuat tanda tangan sesuai namaku," kata Frank, "Siapa tahu kau diminta untuk membuat tanda tangan sesuai KTP itu, nanti di kantor imigrasi."
Sementara sang supir mengemudi di tengah ramainya lalulintas pagi itu, Joey terus menerus berlatih membuat tanda tangan "Francis Santos" di atas setumpuk kertas yang diberikan temannya.
Mereka tiba di airport sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Joey menyempatkan diri pergi ke toilet untuk menyuntik dan memasukan lebih banyak uang ke dalam kaos kaki, sepatu boots-nya, dan ke dalam saku baju, celana, serta jaket, Frank melakukan konfirmasi nomor tempat duduk Joey di dalam pesawat.
Joey kesulitan. Uang yang disebarnya di beberapa lokasi penyimpanan dalam tubuhnya selalu bergerakgerak seirama gerakan langkahnya. Joey merasa tidak nyaman sama sekali. Joey putar otak. Ia mendapat ide untuk membeli panty hose, semacam stocking wanita. Joey tentu tidak terbiasa mengenakan barang koleksi perempuan itu. Bulu betisnya terasa sakit. Namun setelah berjuang sekuat tenaga, Joey berhasil.
Sempat terpikir olehnya bagaimana jika ia nanti digeledah dan dipaksa untuk mengeluarkan uangnya? Joey pastinya akan terlihat konyol dan terhina. Apakah orang akan mengerti posisi kebingungan dirinya? Dengan waktu sempit yang ia miliki saat itu, ia membuka panty hose kemudian mengeluarkan uangnya serta menyusun kembali dengan cara seperti yang dilakukannya sebelum ia membeli benda itu. Joey akan mengambil risiko apa pun yang mungkin timbul. Ia keluar dari toilet dan membuang panty hose tadi ke tong sampah, yang digenggamnya dengan erat dalam kepalan tangan agar tidak terlihat oleh orang lain.
Frank telah menunggunya dengan cemas di luar pintu toilet pria.
"Apa saja yang kamu lakukan di dalam sana?" Tanya Frank sembari berlalu tanpa menunggu Joey memberinya penjelasan. Ia menunjukkan kepada Joey pintu gerbang masuk menuju pesawatnya. Setibanya di sana, Frank
memberikan tiket pesawat berikut dokumen perjalanan Joey lainnya, serta menyuruhnya mengantri. Seorang pramugari mengumumkan proses boarding ke pesawat akan segera dimulai.
Ketika Joey antri di antara para penumpang lain, dua orang pria mengenakan jas berjalan menghampirinya.
"Apakah namamu Joey Coyle?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Ya," jawab Joey refleks. Dari sudut matanya, ia melihat seorang pria lain sedang berjalan menghampiri Frank.
Sebelah tangan pria itu merogoh sakunya untuk mengeluarkan badge tanda pengenal. Teman pria itu memegangi bahu Joey dengan kencang. Lelaki yang menunjukkan pengenalnya tadi segera berujar, "Kau ditahan." "Oh, Sial," kata Joey. "FBI."
2
Tentu saja, sedari awal kejadian, laporan hilangnya uang milik Purolator, yang paling pertama dalam skenario investigasi Pat Laurenzi adalah siapa pun yang menemukan uang tersebut, tentu saja akan segera minggat ke luar negeri. Namun, tentu semua usaha yang telah dilakukannya dengan cara menghubungi semua perusahaan penerbangan dan travel agency, belum membuahkan hasil positif. Oleh karenanya ia hanya bisa berpesan agar agen perjalanan mana pun segera melapor padanya apabila ada seseorang yang membeli tiket menggunakan uang pecahan seratus dolar atau memang sang pembeli tiket terlihat mencurigakan.
Barulah ketika ia mengetahui nama tersangka adalah Joey Coyle pada hari Selasa malam, detektif dapat ber-
harap lebih banyak. Sementara ia tengah sibuk mewan-carai Carl Masi, John Behlau dan Jed Pennock, detektif lainnya diberi tugas untuk mencari informasi berkenaan dengan nama Joey Coyle, sebanyak mungkin.
Ellen O'Brien, saudara perempuan Joey yang selalu mencemaskannya, mencoba untuk berpura-pura tidak mengetahui banyak hal tentang adik kesayangannya. Walau bagaimanapun, sebagai kakak dari tersangka, tentunya ia merasa harus membelanya, sesuai kadar kemampuan dirinya. Pada kenyataannya, memang benar bahwa Ellen sama sekali tidak mengetahui di mana adiknya berada, ataupun di mana adiknya menyembunyikan uang milik Purolator yang ditemukannya. Ellen hanya mengikuti irama permainan. Ketika detektif meminta izin menggeledah apartemen, Ellen, hanya mejawab, "Silahkan, tetapi tentu saja kalian tidak akan menemukan apa pun di sini." Dan ketika salah satu dari polisi investigator bertanya padanya siapa saja teman baik Joey, Ellen tidak bisa menyangkal untuk tidak memberi penjelasan rinci pada mereka. Salah satu nama yang paling melekat dalam ingatannya adalah seorang pria yang baik hati dan bekerja sebagai pilot pemandu lalulintas kapal di perairan sungai, bernama Frankie Santos.
Saat itu hari Selasa tengah malam, ketika Cari Masi masih sibuk penuh kecemasan, ia menelepon semua kenalannya; diketahui bahwa Frank Santos telah memesan tiket pulang pergi ke Acapulco dengan penerbangan pesawat dari bandara J.F. Kennedy, New York, yang dijadwalkan berangkat keesokan harinya. Informasi itu segera masuk ke meja kantor pusat FBI di New York City, beserta deskripsi detil mengenai Coyle.
Special Agent FBI Waiter F. Yoos dan partner kerja-
nya, Agent James J. Maltey, harus memastikan dua kali, ketika Joey melangkahkan kaki menuju tempat antrian pintu gerbang boarding. Pria yang sedang mereka cari kusam. Sementara pria ini, mengenakan jaket sport dan celana santai, rambutnya berwarna hitam, dan tidak berkumis. Namun dia tidak bisa menyem-bunyikan bekas luka goresan pisau dari wajahnya. Ciri yang terakhir itulah yang membuat kedua agen FBI merasa yakin, dialah pria yang sedang diincar mereka.
Uang Purolator mulai dikembalikan, sedikit demi sedikit, beberapa jam sebelum penangkapan Joey Coyle dan Frank Santos dilakukan. Sementara Cari terus berusaha mengontak teman-tamannya dari pesawat telepon di meja Pat Laurenzi di kantor pusat South Detective Division sepanjang malam, Pat menerima panggilan masuk dari seseorang yang meneleponnya di sebuah telepon umum dekat lahan parkir Delaware Avenue, sebelah utara Washington Avenue. Sang penelepon menjelaskan bahwa tempat pertemuan mereka itu sangat luas dan terbuka yang letaknya tidak jauh dari tempat jatuhnya uang Purolator enam hari yang lalu dan Pat serta sang penelepon segera bertemu di sana tanpa didampingi siapa pun. Pat memarkir mobil Chrysler-nya yang berwarna biru di dekat jalan masuk. Ia menghirup dalam-dalam segarnya udara pagi. Langit terlihat cerah dan Pat duduk di atas kap mobil, menunggu. Pada jam yang telah ditentukan, sebuah mobil parkir tepat di sebelahnya, seorang pria menurunkan jendela mobilnya dan melongokan wajahnya ke luar.
"Apa kau Laurenzi?" Tanya pria itu.
"Benar."
Lelaki itu menjatuhkan sebuah kantong plastik berwarna hitam-kuning keluar dari jendela mobil, kemudian
tancap gas. Pada satu sisi kantong itu tertera tulisan "Fabulous Las Vegas"; sepertinya Pat mengenali tas seperti itu sebagai kantong belanja dari sebuah toko cinde-ramata. Di dalamnya ditemukan uang tunai sebesar $381,700.
Pada hari yang sama, Rabu siang, pengacara Dennis Eisman menyerahkan uang tunai sebesar $229,300 langsung ke kantor pusat kepolisian di 8th and Race Streets, Eisman mewakili kliennya yang bernama Mike DiCriscio, orang yang dititipi uang oleh Joey Coyle untuk diinves-tasikan oleh temannya itu.
Pat menjemput sejumlah uang lainnya pagi itu. Hari itu sungguh menyenangkan bagi Pat Laurenzi. Sembari menunggu lebih banyak uang tunai yang bermunculan dan diserahkan kepada pihak kepolisian, di atas mejanya, Pat bermain-main dengan pecahan uang seratus dolaran yang masih baru, lurus, dan krispi. Pat merasa permukaan mejanya terlalu sempit untuk menumpuk uang sebanyak itu. Ia menumpuknya dengan rapi, dibuatnya seperti sebuah kotak yang panjang dan lebarnya, jika diukur, lebih kurang satu feet persegi; dan tingginya sekitar empat inci. Ia merasa senang bermainmain dengan uang seperti seorang bocah, Pat membuat semacam bangunan piramida dari uang tersebut.
Pat menyempatkan diri pulang ke rumahnya di Rox-borough. Ia terbaring seperti zombie di sofa ruang tamu ketika telepon rumahnya berdering, dan meminta ia kembali ke kantornya segera. Ia diharapkan akan sudah berada di kantornya untuk menunggu telepon masuk satu jam kemudian. Detektif Pat kembali ke South Philly, menggulung jaketnya dan membuatnya seperti bantal guling, dan kemudian digunakannya sebagai penyangga kepala
untuk alas tidur di atas meja kantor. Baru saja ia merebahkan diri, pesawat telepon berdering dan memintanya segera menghadiri pertemuan penting di Washington Avenue dan Water Street.
Pagi hari sekitar pukul lima, Pat melintas di bawah cahaya lampu jalan yang dihiasi butiran salju yang turun kali pertama di pergantian musim tahun itu. Salju akan turun terus menerus selama dua puluh empat jam hari ini, yang akumulasinya akan menghalangi jalan menuju New York City di mana beberapa orang detektif anak buah Pat tengah melaju untuk menjemput Joey dan Frank.
Frank menunggu sembari duduk di atas kap mesin mobilnya. Sebuah mobil lain mendekat. Seorang pria melongok keluar dari jendela mobilnya yang telah diturunkan, kemudian menunjuk ke arah semak-semak. Usai memberi isyarat pada Pat, pria tersebut segera pergi dan menghilang. Di balik semak-semak, terlihat sebuah tas belanja berwarna coklat dan basah karena salju. Di dalam tas ditemukan uang tunai sebesar $267,800.
Di New York City, polisi menghitung jumlah keseluruhan uang yang dikeluarkan dari dalam kaos kaki, sepatu boots, dan saku Joey sebanyak 1.052 lembar uang kertas nominal seratus dolar. Dari Frank mereka menemukan sejumlah total empat puluh delapan lembar. Pacar Frank mengembalikan sebanyak seratus empat puluh lima lembar. Linda Rutter mengembalikan selembar uang pecahan seratus dolar paling atas dari salah satu bundel, yang tadinya akan dijadikan suvenir olehnya. Dua lembar dikembalikan oleh keluarga Madgey, Clementon-New Jersey, sepasang suami istri yang telah lanjut usia, di mana Joey sempat salah masuk rumah.
Ketika perusahaan Purolator meminjamkan mesin hi-
tung uang yang bentuknya indah kepada Pat, ia segera menghitung keseluruhan jumlah uang yang terkumpul di mejanya. Sebanyak $196,400 masih berkeliaran di luar, belum dikembalikan kepada pihak kepolisian. Pat menganggap jumlah uang sisa yang belum kembali, telah benar-benar raib dan tidak akan pernah dikembalikan oleh siapa pun. Dari keseluruhan uang yang terjatuh dari mobil boks secuticor armored truck Purolator, hanyasekitar 16% saja yang belum kembali. Nilai presentasi yang cukup bagus, dan anggap saja sebagai biaya pengembalian uang yang hilang, pikir Pat.
Siapa pun yang masih menyimpan ke-enam belas persen dari nilai keseluruhan uang itu, tetap masih misterius. Pat menduga sebagian besar dari jumlah sisa uang yang hilang tersebut telah dihabiskan seseorang di meja judi kasino Las Vegas.
3
Setelah tertangkap, Joey merasakan suatu sensasi tersendiri, ia merasa heran mengapa beban rasa takut dan kecemasannya seakan sirna dengan sendirinya. Joey merasa lega, inilah akhir dari petualangan fantasi hebatnya dan sekaligus merasa terlepas bebas dari paranoid kejaran para geng mafia. Setelah penangkapan dirinya, Joey barulah merasa betapa ketakutannya selama ini telah mengalahkan fantasi hebatnya.
Cari Masi tentunya menyangkal bahwa mafia terlibat dalam urusan uang Purolator yang hilang. Frankie Santos tidak habis pikir mengapa seseorang yang terlibat dengan skema "kejahatan terorganisir", telah ikut campur dalam urusan uang temuan Joey. Dari semua kesaksian yang
diberikan pada FBI dan pihak kepolisian, tidak seorang pun menyebut nama "Sonny". Nama Mario Riccobene itu terkubur begitu saja dari cerita heboh yang menggemparkan masyarakat, sama seperti raibnya uang yang belum dikembalikan yaitu sebesar $196,400.
Ketika kali pertama Joey diinterogasi pihak kepolisian New York, ia menolak untuk melakukan rekonstruksi perbuatan gilanya. Dengan santun tetapi pasti, Joey mengungkapkan permohonan maafnya.
"Kurasa, tidak ada manfaatnya kalaupun aku harus membahasnya kembali," jawab Joey yang dikelilingi empat orang agen FBI yang tidak dikenalinya. Joey menjelaskan, jika ia berbicara lebih lanjut, maka reputasinya di kalangan masyarakat di mana ia tinggal, akan hancur. "Aku bertanggungjawab penuh atas keselamatan rekan-rekanku," katanya. "Keterlibatan mereka tidak lebih dari sekadar membantuku, dengan suka rela. Hey, lagipula aku hanyalah manusia biasa. Hingga Jum'at malam, aku bahkan belum mampu menghitung uang seribu dolar pun. Jika saja aku tahu bahwa Purolator memberi imbalan bagi siapa saja yang mengembalikan uangnya, sudah barang tentu aku akan segera mengembalikan uang mereka. Tentunya, aku berpikir paling tidak untuk saat itu, tindakanku bukanlah suatu kejahatan." Joey berusaha sekuatnya untuk mencairkan wajah para agen FBI yang keras seperti batu.
FBI tentunya berpikiran sederhana saja. Kecuali jika uang dikembalikan utuh maka posisi Joey dapat saja dianggap tidak bersalah. Saat ini, tetap saja Joey dalam masalah besar.
"Jika aku dipaksa untuk mengatakan di mana uang itu berada, artinya aku diharuskan untuk menyerahkan teman-temanku pada pihak yang berwajib!" Joey protes.
"Mungkin kau punya cara lain untuk mengembalikan uang Purolator tanpa melibatkan teman-temanmu," salah seorang agen FBI memberi saran.
Joey khawatir. Ia meminta izin untuk berbicara dengan Frank secara pribadi, empat mata. FBI meninggalkan mereka berdua untuk beberapa saat.
Frank menekankan, Joey harus melakukan apa pun yang dipikirnya perlu dilakukan, demi keamaan diri Joey sendiri. Ketika FBI kembali, Joey meminta izin untuk menggunakan pesawat telepon. Ia berkata bahwa dirinya akan mencoba mengontak teman-temannya untuk mengembalikan uang yang masih berkeliaran entah di mana, secara serentak dan sekaligus. Pertama, Joey menelepon Dee Masi, di kantor Fidelity Bank, namun wanita itu sedang tidak berada di kantornya. Joey berhasil menghubungi rumahnya. Dee berada di sana. Dee menjelaskan bahwa polisi telah datang dan menggeledah rumahnya; bahwa Cari sedang bekerja sama dengan pihak kepolisian; bahwa Behlau dan Pennock telah menyerahkan diri dan memberitahu bahwa mereka mengetahui di mana uang berada, serta sedang melakukan negosiasi mengenai uang tebusan atau imbalan yang akan diberikan Purolator; dan bahwa seorang pengacara yang mewakili kliennya DiCriscio, telah mengembalikan sebagian kecil uang yang hilang. Joey tentu saja merasa dirinya telah "ditikam dari belakang" oleh rekan-rekan yang dipercayainya yang kini dengan susah payah dilindunginya. Ia menutup telepon, kesal dan merasa kebingungan sendiri.
"Sungguh menakjubkan," katanya. "Sementara aku berada di sini, bersusah payah, berkorban dan berjuang agar teman-temanku selamat dari tuntutan apa pun, mereka telah mengembalikan uang itu, cuci tangan, dan
menunjuk jari bahwa akulah sang pelaku kejahatan."
Joey melanjutkan kisah temuan uangnya sebaik mungkin dan sebisanya. Ia belum menyuntik diri selama beberapa jam terakhir, oleh karenanya ia merasa tegang dan mulai didera rasa cemas dan takut tak beralasan. Joey ingat dengan jelas bagaimana kejadian yang sebenarnya ketika ia menemukan uang itu berikut semua detil kejadian sesudahnya, siang dan malam, semua terekam jelas dalam ingatannya; kejadian ketika ia berkunjung ke rumah orangtua Mike DiCriscio di New Jersey dan ketika ia salah masuk ke rumah orang lain; pengalamannya bercinta tanpa kenal lelah dengan Linda Rutter; dan ketika ia pergi bersama Cari Masi ke Atlantic City malam itu; dan sebagainya. Namun waktu kejadian dalam alur kisah yang dipaparkan Joey tidak sesuai bahkan bertolak belakang dari kejadian yang sesungguhnya. Sebagai contoh, ketika ia menjelaskan dirinya dan Frank, menurut Joey; ia telah menelepon Frankie pada hari Minggu, lalu bersama-sama berangkat ke Manhattan dengan mengendarai mobil pada hari yang sama dan menginap satu malam di sebuah hotel.
"Itu pasti tidak benar," sanggah salah seorang agen
FBI.
"Kenapa tidak?" Tanya Joey dengan wajahnya yang tampak tidak berdosa dan kecewa.
"Karena berdasarkan ceritamu, kalian hanya menginap satu malam saja di New York City, iya kan? Itu artinya kami menangkapmu pada hari Senin pagi."
"Benar!"
"Ya ... tetapi hari ini adalah hari Rabu." "Oh ..."
4
Walaupun tebalnya salju telah menghambat lajulalulintas dari dan ke Manhattan pada hari Kamis siang itu, Detektif Martin Mikstas dan Jake Morrison telah berhasil menjemput Joey dan Frank dari ruang tahanan dan segera membawa keduanya kembali ke Philadelphia. Mereka berdua senang meninggalkan kota New York, terlebih lagi Joey.
"Apa kalian tidak suka kota New York?" Tanya Mikstas.
"Aku lebih senang berada di Philly," jawab Joey. "Kenapa?"
"Kenangan pahit," jawab Joey.
Mereka mengeluh bahwa keduanya sangat lapar, maka dari itu Mikstas segera berbelok ke Interstate 95 untuk membeli makanan. Kedua pria ini hanya memiliki keseluruhan uang sejumlah $1.2 (satu dolar dan dua puluh sen)-persis, nilainya setara dengan 1/1.ODD.ODD dari jumlah total uang Purolator yang ditemukan Joey. Morrison mengolok-olok keduanya. Dan sang detektif membelikan mereka hamburger.
"Aku berani bertaruh, rasanya pasti seperti hamburger seharga $1,ODD,ODD" kata Morrison.
Setelah itu mereka menuju Tasker Street, Mikstas melambatkan laju mobilnya lalu mengitari sebuah kotak besar yang tergeletak di tepi jalan.
"Hey, Joey, apa kau mau keluar untuk melihat isi kotak?" Tanya Mikstas.
"Sialan," jawab Joey.
1
Joey Coyle pulang ke tanah kelahirannya sebagai pahlawan. Semua orang terkejut melebihi keterkejutan yang dirasakan oleh Joey. Pada headline berita sebuah surat kabar Daily News, terpampang dengan tulisan besardan menyolok: RICH MAN POOR MAN.
Di halaman depan koran itu, terpampang dengan jelas foto Joey Coyle, besar, sedang memasuki ruang sidang, ia terlihat gagah dan jas hujan panjang yang dikenakannya dibiarkan tidak dikancingkan, rambutnya disemir, dan ia mengenakan sepasang kacamata pilot yang telah dibelinya di Airport Kennedy.
Surat kabar menyebutnya dengan istilah "romantis" dan "pahlawan pujaan masyarakat"; sementara Philadelphia Inquirer menyebutnya "tampan, ramah tamah, disukai para wanita, dan tidak pernah melanggar hukum." Ellen tidak bisa membedakan apakah adik kesayangannya merasa sedih, kacau, atau terharu; dengan dimuatnya berita tersebut.
Apa yang sedang terjadi? Terkadang kisah nyata kehidupan terasa begitu dekat dengan fabel yang membuat kita sukar membedakannya dengan fantasi. Surat kabar sering mengulas berita romantis dari pengalaman, yang kebanyakan, sifatnya tersembunyi; namun yang pastinya selalu diburu para wartawan, dari hari ke hari, tahun ke tahun, tak bedanya dari sebuah keajaiban, kejanggalan dari kebaikan, sebuah tujuan akhir pencapaian kesuksesan seseorang, baik maupun buruk. Jika kita melihat ke belakang, sering dijumpai sebuah kisah yang sepertinya, jauh dari kenyataan ... ya, begitulah.
Belum lagi dalam hal ini mengenai kisah kecanduan
Joey pada narkoba, yang sebenarnya sedikit demi sedikit, ia juga telah dan sering melanggar hukum. Apa yang disajikan oleh media massa saat ini, tidak lain adalah sebuah kisah seorang pria kota kecil, untuk menarik para pembaca, tentu saja beberapa bagian telah disesuaikan dengan animo masyarakat.
Joey pada awalnya tidak keberatan. Ia senang dirinya digembor-gemborkan sebagai pujaan kaum wanita, walaupun Joey tahu, itu tidaklah benar sama sekali. Ia selalu takut untuk mendekati kaum hawa, dan sebaliknya, kaum wanita tentu saja melihat diri Joey sebagai sosok yang tidak menarik, tidak berdaya, impulsif, pecandu, dan pemalas. Joey tentu saja harus berimprovisasi dengan penampilan dan image dirinya yang baru. Ia mulai berdandan trendi, langkah kakinya tegap dan gagah. Para wartawan berdatangan mewawancarainya, namun Joey akan segera menyodorkan pengacara barunya. A. Charles Peruto, Jr., telah berpesan agar Joey tidak sekali-kali memberi komentar apa pun. Namun demikian, Joey merasa ia tidak perlu menurutinya. Dan ia sebenarnya tidak perlu melakukannya karena masyarakat di lingkungan seputar tempat tinggalnya, telah menjadi tameng hebat baginya, yang membela dirinya. Joey dianggap sebagai sosok pria terhebat yang asli terlahir di South Philly. Seakan dikomando, secara otomatis, masyarakat di sekitar Joey mengumpulkan uang jaminan untuk menebus Joey dan Frank agar terbebas dari hukuman. Dalam istilah yang diberikan mereka, Joey disebut-sebut sebagai Robin Hood abad mo-deren, seorang pria yang beruntung, anak muda yang disukai masyarakat di mana pun ia berada, orang biasa, yang telah rela berbagi temuan uangnya dengan siapa pun orangnya yang telah dijumpainya.
"Joey memberi $100 kepada teman bahkan orang asing, tanpa pandang bulu, mentraktir minuman di barbar yang dikunjunginya," itulah salah satu komentar ulasan berita di Inquirer. Sementara itu, Daily News menulis, "Sepertinya, seolah-olah narasi sebuah buku cerita tentang seorang pria miskin yang rela berkorban di tengah orang-orang kaya yang tidak mau peduli kepada lingkungan di sekitarnya, Joey telah berhasil mewujudkan imajinasi banyak orang." Teman-teman Joey, yang telah berkolaborasi untuk menyerahkannya kepada pihak kepolisian, sekarang berbalik memberikan pujian dan pembelaan padanya.
"Jika diperlukan saksi untuk membela Joey yang tidak bersalah, ruang sidang akan penuh sesak dan tidak akan mampu menampung para saksi yang akan hadir membanjiri persidangannya," kata Mike DiCriscio. "Aku sekarang punya sebutan baru baginya-the Millionaire, sang jutawan bahkan dermawan untuk memberikan baju yang sedang dipakainya."
"Aku rasa dia bukanlah seorang pahlawan, tetapi aku kasihan padanya," komentar Michael Madgey, yang rumahnya telah salah disinggahi oleh Joey minggu lalu. "Sungguh suatu kisah keberuntungan yang sukar untuk dipertahankan, Joey mendapat sebuah kesempatan emas, namun dia sendiri yang mengacaukannya."
Nyonya Madgey masih teringat kepolosan pria muda yang satu ini.
"Bukan pengalaman buruk," katanya. "Dia sama sekali tidak berbuat jahat kepada kami. Jika aku diperlukan untuk memberi kesaksian dalam pembelaannya, aku akan melakukannya dengan senang hati. Dia seorang pria yang baik hati."
Bahkan FBI memberikan komentarnya.
"Setiap orang bersimpati kepadanya, aku yakin benar akan hal itu," kata agen Mike Wald.
Sebuah toko pakaian di Center City memesan kaos oblong dari The T-Shirt Museum bertuliskan "Free Joey Coyle" di mana Joey singgah di sana untuk membubuhkan tanda tangannya.
"Kami semua menyayangi orang yang teraniaya," tulis seorang kolumnis Daily News, Jill Porter, yang dalam ulasannya menyesalkan sikap Joey, mengapa ia mengembalikan uang temuannya. "Yang aku tahu, tidak ada juri mana pun di dunia ini yang akan memberi dakwaan bersalah pada kasus seperti yang dialami Joey Coyle."
Ketika Joey muncul untuk menghadiri sidang tuntutan pertamanya di Philly, ia mengenakan jaket sport di luar kaos bahan sutera warna hitam yang risletingnya dibuka hingga bagian perut. Ia juga mengenakan jimat dan kalung emas; ratusan pendukungnya memadati balai sidang yang terletak di ruangan bawah tanah kantor pusat kepolisian. Banyak di antaranya yang tidak mendapat tempat duduk, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berjubel memadati koridor dan ruangan lain di sana. Mereka mengelu-elukan Joey, menyalaminya, dan menepuk bahunya sedari awal ketika Joey melangkah memasuki pintu utama gedung itu. Hakim memutuskan untuk memberi izin kepada para wartawan meliput langsung jalannya persidangan besar itu.
Assistant District Attorney, Robert Casey, berargumentasi bahwa Joey Coyle bukanlah pahwalan masyarakat; ia tidak lebih dari seorang pencuri. Hukum yang berlaku di Pennsylvania sudah jelas mengaturnya. Jika seseorang menemukan uang milik orang lain senilai minimum
$250, maka orang tersebut diwajibkan untuk mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah. Dalam kasus ini, dengan publikasi hilangnya uang yang berjumlah keseluruhan lebih dari satu juta dolar, tentunya tidak ada ampun bagi Joey Coyle, apa pun alasannya. Tindakannya adalah pencurian, konspirasi pencurian, dan kesalahan besar. Sang penuntut umum juga menambahkan bahwa Joey ditangkap ketika ia berusaha kabur ke Acapulco, sang terdakwa tentu saja telah mengambil risiko besar untuk melarikan diri menggunakan pesawat, lagipula, uang senilai $196,400 masih raib entah di mana!
Penuntut umum yang usianya masih muda itu tentu benar, ia menjalankan tugasnya sesuai tatanan aturan hukum yang berlaku, namun ia lupa animo publik yang tengah memadati ruang sidang. Pengacara atau pembela Joey Coyle pun bermain peran di depan kamera dan massa yang memihak pada Coyle.
"Yang Mulia, tindakan klien ini bukanlah sebuah kejahatan yang terorganisir," katanya. "Dengan dalih apa pun, tetap saja kejadian yang dilalui Joey Coyle merupakan kejahatan yang tidak terorganisir. Artinya sang tertuduh tidak sama sekali berniat melakukan tindakan kriminal. Klienku juga seorang pemeluk Katholik yang taat beribadah, seorang pria yang kesehariannya tinggal di rumah dan merawat ibunya yang sudah renta. Ia bahkan tidak pernah sekalipun bersinggungan dengan dan melakukan sedikit pun pelanggaran hukum." Peruto juga menekankan bahwaJoey menemukan uang itu, bukan mencuri uang tersebut. Ia bersalah karena telah teledor, tidak segera mengembalikannya. "Fakta yang ada menunjukkan bahwa ia telah bersikap sejujur para politisi," tambah Peruto.
Hakim Ketua, Mitchell Lipshutz, sebenarnya tidak
simpati dengan dakwaan kasus dari kantor jaksa penuntut umum wilayah negara bagian.
"Kantormu seharusnya telah menyiapkan berkas dakwaan dengan lebih baik dalam kasus ini," kata sang hakim memberikan teguran pada Casey. Menurut aturan hukum di negara bagian Pennsylvania, dijelaskan bahwa, siapa pun yang menemukan uang dalam jumlah besar harus mengambil "langkah yang masuk akal" dalam rangka upaya pengembaliannya, penggunaan uang itu sementara waktu bukanlah pencurian; sang juri menegaskan. Lipshutz menyalahkan Casey yang tidak memberikan bukti kuat bahwa Joey melarikan diri bersama uangnya, atau bahkan berniat untuk menggunakan uang temuan milik Purolator demi kepentingan sendiri. Ia akhirnya membebaskan Joey dengan uang tebusan dan memerintahkan kedua pengacara itu untuk mempersiapkan berkas laporan hasil sidang tertulis. Beberapa minggu kemudian, Hakim Lipshutz membebaskan semua tuntutan atas diri Joey Coyle.
Kantor kejaksaan negara bagian tidak mudah menyerah. Casey segera mengajukan tuntutannya kembali, kali ini dengan data pendukung yang lebih jelas bahwa Joey Coyle didakwa atas tindakan kejahatan "pencurian yang diakibatkan kelalaian pengembalian barang milik pihak lain yang hilang, tidak diketahui keberadaannya, ke-dumian dicuri terdakwa." Tuntutannya adalah tiga setengah hingga tujuh tahun hukuman penjara.
Pengacara Joey melakukan serangan balik. Kondisi jiwa kliennya, menurut Peruto untuk sementara secara temporer tidak waras setelah ia menemukan uang itu. Episode temuan uang milik Purolator telah menghancurkan hidup kliennya. Pada kenyataannya, kata Peruto, Joey sedang mempersiapkan berkas tuntutannya kepada pihak
Purolator yang telah mengakibatkannya menderita men-thai suffering (Penderita Jiwa).
"Semua pihak perusahaan itu telah bersikap idiot," kata sang pengacara. "Kelalaian mereka telah membawa masalah besar bagi Joey Coyle, yang kesemua kejadian hilangnya uang tersebut tidak lain hanya karena ketololan yang parah pihak mereka sendiri."
2
Sukar sekali untuk mendapatkan juri yang tepat dalam persidangan Joey Coyle. Tubuh sistem politik di Philadelphia seperti merasa "kejahatan" itu sangat eratkaitannya dengan moral masyarakat lanjut usia di sana, atau bahkan berkenaan erat dengan perasaan yang menancap ke dasar hati setiap orang. Siapakah di antara kita yang tidak masalah betapa luhur budi dan baiknya niat orang tersebut tidak akan mungkin, bisa dengan begitu saja secara spektakuler, menahan diri dari godaan untuk tidak ikut serta terlibat dalam kasus yang menghebohkan seperti ini? Dan dalam hal ini, siapakah korban sebenarnya itu? Apakah Federal Reserve Bank? Yaitu sebuah gedung megah di pusat kota, yang merupakan simbol dari kekuasaan abstrak sumber daya nasional yang tidak bisa dihitung berapa besar nilainya? Bagi Federal Reserve Bank, satu koma dua juta dolar Amerika tidak berarti seujung kuku pun. Dan Purolator. Apa itu Purolator? Sebuah perusahaan yang mengirim dan mengambil, atau memindahkan uang yang jumlahnya trilyunan setiap harinya, yang tentunya semua kegiatan usahanya telah diasuransikan. Semua orang berani bertaruh hal yang sama, pada akhirnya, Purolator tidak merugi sepeser pun. Korban satu-
satunya dari skenario uang hilang ini tidak lain dan tidak bukan adalah Joey Coyle sendiri. Vang kini telah ditangkap. Yang mana kantor kejaksaan pemerintah negara bagian bersikeras untuk memenjarakan sang tersangka ini antara tiga setengah hingga tujuh tahun lamanya.
Dalam surat kabar, Joey telah disebut-sebut sebagai seseorang yang romantis, figur seorang pria gagah. Seorang reporter lain menulis bahwa bekas luka yang terbentang di wajahnya membuat Joey lebih pantas menyandang gelar sebagai "segarang seorang bajak laut." Joey tidak lebih dari sekadar pria dungu yang telah beruntung menemukan uang jutaan dolar Amerika, yang pekerjaannya tidak tetap dan sedang menunggu kesempatan lain untuk mendapatkan penghasilan. Tentu saja, sesungguhnya Joey tidak pernah berkeliling membagikan uang pecahan seratus dolar yang dilakukannya dengan sepenuh hati atas dasar ketulusan hatinya, akan tetapi lebih cenderung ia melakukan tindakan bodoh seperti itu karena ingin mendapat dukungan dari mereka yang diberi uang olehnya, agar tutup mulut. Bahkan keluarga Madgey, yang telah di berikan uang dua ratus dolar semata-mata karena perasaan bersalah Joey yang salah masuk rumah dan mengganggu ketenangan mereka. Uang dua ratus dolar tersebut lebih cocok dianggap sebagai permohonan maaf Joey kepada mereka. Joey pernah merasakan sedikit kesenangan dengan temuan uang tersebut tentunya selain sisi buruk yang dialaminya. Kenyataan dirinya yang kini seolah-olah setenar selebriti, semakin membawanya mengikuti arus yang lebih dalam. Joey semakin merasa takut untuk dipenjara, dan ketika ibunya meninggal, bertepatan dengan Hari Ibu, beberapa minggu setelah ia tertangkap, Joey semakin merasa kematian ibunya
telah disebabkan oleh kekhawatiran akan permasalahan yang sedang menimpanya. Ia berjalan dengan kepala merunduk, merasa berdosa atas kematian kedua orang-tua-nya, yang pikirnya, telah disebabkan melulu karena ulahnya. Joey pun kembali bokek, dan tidak mungkin dapat membeli speed yang telah menjadi pendorong semangat hidupnya. Posisinya sebagai selebriti baru, membuatnya semakin terpojok. Joey hanya menginginkan satu hal: semua orang menjauh darinya saat ini; dan berhenti menanyakan di mana ia menyembunyikan sisa uang senilai $ 196.34DD milik Purolator yang belum kembali. Ia ingin menjadi Joey yang dulu, sebelum ia menemukan uang itu. Ia merasa risih dianggap sebagai pahlawan masyarakat karena ia sebenarnya tidak merasa sebagai pahlawan sama sekali Joey merasa terpuruk. Beberapa minggu kemudian setelah ibunya meninggal, Joey memotong nadinya dengan silet. Lukanya tidak parah, namun ketika surat kabar ramai memuat berita tentang usaha bunuh diri yang dilakukan Joey, masyarakat beranggapan bahwa seorang public figure pujaan mereka belum berhasil menuntaskan kisah heboh yang benar-benar langka itu.
Tetap saja, figur Joey tetap populer di kalangan masyarakat. Hal itu telah menyulitkan bagi pengadilan untuk dapat mengumpulkan juri persidangannya yang dapat mengambil keputusan objektif. Hakim Ketua persidangannya kali ini, John J. Chiovero memimpin persidangan yang dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 1982. Sang hakim adalah seorang pria setengah baya, yang di wajahnya telah terlihat jelas garis usia. Beliau mulai mengumpulkan calon juri potensial. Salah satu dari para calon yang dihadapkan padanya kali ini adalah Cheryl Deppenshmidt.
"Apakah Anda Nona atau Nyonya?" Tanya sang ha-
kim.
"Nyonya, tetapi aku telah bercerai."
"Dari hasil laporan yang masuk ke meja kami, Anda mengindikasikan telah mendengar dan membaca serta memahami kasus ini?"
"Benar, yang mulia."
"Berapa lama berselang setelah kejadian itu?" "Aku pastikan, lebih dari satu tahun yang lalu." "Oh begitu. Apa Anda bisa mengingat kembali apa yang telah Anda dengar atau baca?" "Ya." "Apa itu?" "Secara rinci?"
"Boleh. Anda boleh mengungkap deng rinci detil kejadiannya di ruang sidang."
"Apa yang dapat kuingat adalah bahwa mobil boks Purolator telah menjatuhkan sekantong uang, yang kemudian diambil oleh seorang pria yang bernama Tuan Coyle, serta uang itu tidak dikembalikannya ke Purolator."
"Baiklah. Apakah itu saja yang bisa Anda ingat?"
"Aku dapat mengingat bahwa Tuan Coyle telah ditangkap ketika ia berada di bandara JFK-New York oleh FBI."
"Baik. Baiklah. Fakta bahwa uang terjatuh dari mobil Purolator dan ditahan untuk tidak dikembalikan oleh Tuan Coyle, bukanlah kasus yang akan dibahas dalam persidangan kita kali ini. Di luar apa yang Anda dengar atau baca dan berdasarkan ulasan yang baru saja aku jelaskan, dapatkah Anda mengesampingkan apa yang Anda baca dan pahami itu, untuk memberikan penilaian hukum seadil-adilnya, adjudicate, -menimbang dan memutuskan, hanya berdasar pada kesaksian dan atas barang bukti yang akan
dipresentasikan nanti dalam persidangan kali ini?" "Adjudicate?"
"Decide (memutuskan saja). Mohon maaf. Dapatkah Anda melakukannya? Apa Anda dapat memberi keputusan bersalah atau tidak bersalah kepada Tuan Coyle?"
"Kupikir, ya. Benar, yang mulia." "Benarkah? Dan itu adalah keputusan dengan berdasar pada fakta bahwa Tuan Coyle telah menemukan uang yang terjatuh dan berniat menyimpannya untuk kepentingannya sendiri?"
"Benar, yang mulia."
"Seperti yang aku katakan tadi, fakta itu tidak disangkal oleh pengacara tersangka. Pengacara dalam kasus yang sekarang diangkat ke meja sidang adalah berkenaan dengan 'ketidakwarasan', selain faktor lainnya yang harus dipertimbangkan oleh para juri. Dapatkah Anda mempertimbangkan faktor lain tersebut seadiladilnya dan tidak setengah-setengah serta objektif, dalam kasus termaksud?"
"Kurasa aku pikir bahwa, tidak saja aku mampu melakukannya, yang mulia. Tetapi aku yakin dapat melakukannya."
"Kau tidak yakin rupanya."
Nyonya Deppenschmidt menjelaskan bahwa ia tidak merasa kaget dengan sikap yang dilakukan oleh Joey setelah menemukan uang tersebut, dan ia melanjutkan bahwa dirinya dapat mencoba untuk bersikap adil dengan bukti dan kesaksian yang akan dipresentasikan dalam persidangan Joey nanti. Setelah ditekankan apakah ia mampu memberikan jawaban penuh dalam sidang dengar pendapat, wanita itu akhirnya mengakui bahwa ia tidak mampu menjadi anggota juri. Namanya dicoret dari daftar
calon juri.
Calon juri selanjutnya adalah Thomas Bugeida, yang menyatakan dirinya telah sering mendengar kasus serupa dan menurutnya ia sudah memiliki opini kuat berkenaan dengan kasus Joey.
"Berdasarkan pengetahuan yang sudah kumiliki hingga detik ini serta berdasar pada opini yang terbentuk dalam pemikiranku, kupikir tidak sepatutnya aku berubah pendirian," kata Bugeida menjelaskan.
Bugeida juga gagal sebagai calon juri. Lalu tibalah giliran James Mellor.
"Selamat siang, Tuan Mellor," sapa hakim.
"Selamat siang."
"Tuan Mellor..., Anda menunjukkan telah mengetengahkan dugaan pasti mengenai kasus kejahatan yang sedang kita bahas sekarang, apa benar?" "Benar, tuan."
"Bisakah Anda menjelaskan kepada dewan sidang apa sesungguhnya maksud praduga sesuai laporan Anda?" "Kupikir pastilah aku akan melakukan hal serupa berkenaan dengan situasi dalam kasus Joey."
"Tuan Mellor?"
"Aku pikir jika seorang pria selalu kekurangan uang selama hidupnya dan tiba-tiba ketiban rezeki uang banyak, otaknya akan berpikiran gila."
"Ya ... aku mengerti," kata sang hakim. "Aku menghargai kepedulianmu, Tuan Mellor. Itu adalah jawaban yang paling jujur. Kami sangat menghargai pendapat Anda. Terima kasih."
"Kembali," jawab Mellor. Ia pun gagal.
Kini saatnya giliran Martin E. Fosque menghadap hakim.
"Tuan Fosque, selamat pagi," kata sang hakim. "Selamat pagi."
"Tuan Fosque, Anda memberikan indikasi bahwa Anda tidak bisa bersikap adil ketika aku menanyakan pada para calon juri. Apakah hal itu benar?"
"Mungkin saja benar, yang mulia."
"Apakah itu benar?"
"Ya, benar."
"Aku terkejut. Aku tidak percaya bahwa salah seorang dari anggota masyarakat kita tidak dapat berlaku adil dalam menimbang dan memutuskan suatu perkara dalam persidangan. Dapatkan Anda menjelaskan mengapa demikian?"
"Banyak hal yang berkenaan dengan suatu kasus terlalu banyak pula yang telah kubaca dan kulihat dalam kasus yang satu ini, karena aku sendiri orang biasa, aku bahkan mungkin saja, akan melakukan hal yang sama seperti halnya yang telah dilakukan sang terdakwa. Siapa tahu? Atau mungkin saja aku akan segera mengembalikan uang tersebut. Maka dari itu, aku tidak dapat berkomentar apa-apa. Aku tidak bisa benar-benar bersikap adil dalam kasus temuan uang ini. Aku tidak akan mampu bersikap adil dalam persidangan nanti."
Tuan Fosque dimaafkan karena ketidak sanggupan-nya bersikap adil. Kini giliran Paui Vettraino.
"Tuan Vettraino, dalam menanggapi pertanyaanku dalam panel kelompok para calon juri, Anda menunjukkan bahwa diri Anda telah mendengar dan membaca sesuatu mengenai kasus yang tengah diajukan, apakah itu benar?"
"Itu benar adanya."
"Berapa lama berselang Anda mendengar atau membacanya?"
"Sepanjang waktu yang telah berlalu hingga kini. Aku telah mengikuti perkembangan kasus ini sejak bulan Februari."
"Apa inti pemahaman Anda tentang kasus ini?" "Ya ... uang terjatuh dari pintu belakang sebuah mobil boks."
"Benar."
"Satu koma dua juta dolar Amerika terjatuh dari mobil uang Purolator yang kemudian ditemukan oleh Tuan Coyle."
"Benar."
"Dan ia tertangkap ketika boarding ke pesawat menuju Acapulco, di New York City, bersama uangnya yang disimpan di dalam sepatu boots."
"Benar."
"Dan itu saja, lebih kurang, kupikir. Itu semua yang dapat aku ingat tentang kasus yang satu ini."
"Itu saja aku mengerti," kata sang hakim, yang kemudian menjelaskan bahwa pada prinsipnya fakta insiden yang terjadi itu bukanlah terletak pada perdebatannya. "Jadi jika Anda memiliki opini yang pasti tentang kasus tersebut, yang bukan berdasar pada konsekuensi nyata karena terdapat faktor lain yang, dalam hal ini, harus dipertimbangkan masak-masak sebelum membuat satu keputusan penting; dan keputusan yang tepat adalah hanya dua pilihan yaitu terdakwa bersalah atau tidak bersalah. Apa Anda mengerti sekarang?"
"Ya."
"Sekarang berdasarkan apa yang baru saja aku jelaskan, dan anggap saja Anda telah membaca dan memahami laporan tentang kasus ini, dapatkah Anda mengambil sikap adil dan objektif dalam mempertimbangkan dan
memutuskan kepada semua yang hadir dalam persidangan nanti, bahwa sang terdakwa dalam kasus ini, bersalah atau tidak bersalah?"
"Mempertimbankan dan memutuskan?"
"Maaf. Memutuskan."
"Ya ... secara pribadi, aku merasa, lebih kurang jika aku berada pada posisi yang sama seperti terdakwa, aku cenderung akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh terdakwa. Itulah mengapa ..."
"Itulah mengapa, apa?"
"Jauh di lubuk hatiku aku merasa tidak memiliki kualifikasi karena kompatibilitas berkenaan dengan finansial. Dan saat ini, aku sendiri sedang menganggur."
"Kau pikir kau akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan terdakwa. Tidak bisakah kau menghilangkan hal itu dari benakmu, bahkan jika sidang menginstruksikannya kepadamu?"
"Semalam aku tidak tidur. Aku memikirkan tentang kasus ini tadi malam serta hal yang sama seperti yang telah dilakukan terdakwa. Dengan segala kejujuranku, aku tidak akan bisa benar-benar menyatakan bahwa aku tidak akan melakukan hal sama seperti yang dilakukannya."
"Kau benar-benar tidak dapat menghilangkan perasaan itu dari pikiranmu lalu bersikap adil?"
"Aku rasa, susah untuk melakukannya."
Vettraino pun dipersilahkan pulang, ia gagal untuk menjadi anggota juri.
Joey, sementara itu tidak memiliki kesan yang baik atas diri sang hakim. Siang itu, di hari pertama pemilihan para juri, ia berjalan memasuki ruang sidang setengah jam setelah acara jejak pendapat pemilihan juri dimulai. Hakim Chiovero mempersilahkan Joey untuk duduk di sebuah
bangku.
"Selamat sore, Tuan Coyle. Tuan Coyle, aku lihat Anda datang terlambat menghadiri persidangan awal tadi pagi. Dan siang ini, kau pun datang terlambat."
"Ya, Tuan. Aku harus bergegas ke hotel untuk berganti pakaian."
"Maaf?"
"Aku pergi sebentar ke hotel tempatku menginap, kemudian berganti pakaian. Dan aku telah mencoba untuk kembali sesegera mungkin."
"Aku tekankan bahwa aku ingin agar kau mengerti, betapa pentingnya datang tepat waktu selama persidangan digelar. Apa kau mengerti?"
"Ya, tuan. Maaf. Maafkan aku."
3
Diperlukan waktu tiga hari lamanya untuk memilih para juri. Diadakan pada tanggal 23 Februari 1982 kurang dari tiga hari menjelang satu tahun setelah kejadian Joey menemukan uang. Dilaksanakan di salah satu gedung besar yang terbagi ke dalam beberapa ruang sidang di dalam City Haii, yang di dekatnya terlihat sebuah gedung French School Empire di perempatan jalan utama pusat kota Broad and Market street. Laju kendaraan yang bergerak dari kedua arah yang berlawanan, diarahkan memutar gedung balai kota gedung bercat abu-abu dan selalu terlihat ramai. Sistem penghangat ruangan antik masih bekerja dengan baik di musim dingin, dan terkadang terasa terlalu hangat bagi sang hakim, yang memiliki dua kendala lain selain kasus yang sedang diselesaikannya; yaitu, ributnya massa yang tidak pernah sepi, atau sakitnya
tenggorokan karena penghangat ruangan terlalu panas. Hakim Chiovero biasanya membuka sedikit jendela agar udara dari luar dapat masuk. Akhirnya ia dapat mengumpulkan juri sebanyak delapan wanita dan empat laki-laki. Hanya satu orang dari mereka baru lulus universitas. Tiga orang juri berusia dua puluh tahunan, dan dua orang berusia lanjut. Setengah anggota juri terdiri dari kulit putih, dan setengahnya lagi berkulit hitam. Hanya seorang juri yang tinggal di South Philly, yaitu seorang supir bus.
Robert Casey akan melakukan tuntutan kepada Joey Coyle. Rambut di kepalanya sudah mulai menipis, Casey adalah seorang pria muda yang pembawaannya tenang serta sikapnya profesional. Casey telah bekerja di kantor kejaksaan negara bagian selama beberapa tahun, cukup lama dalam menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan cerita horor seputar kehidupan dalam persidangan kriminal di Philadelphia. Casey mempertahankan profesionalismenya, dan ia tetap gigih memperjuangkan kasusnya. Kapasitas moral Casey secara utuh belum tercemar. Setelah satu tahun sejak penangkapan Joey, kini ia dibela oleh pengacara sidang kaum veteran Harold Kane, seorang pria bertubuh pendek, pembawaannya penuh percaya diri, berpakaian perlente, terlihat gagah dan sikapnya dewasa. Rambutnya dibiarkan tumbuh agak panjang, dan ia memelihara kumis. Penampilannya seakan kontras dengan jaksa penuntut persidangan kasus itu. Selain sebagai penuntut Joey, Casey cenderung terlihat teliti, usil, dan mendetil, sikapnya seperti seorang murid di kelas yang mengacungkan tangannya untuk melaporkan kenakalan teman sekelasnya kepada guru. Kane pandai bergaul. Ia adalah tipe pria yang sarat pengalamannya, tahan banting, memiliki selera humor yang tinggi; seorang
pengacara-pembela klasik. Ia berbicara dengan aksen khas Philadelphia, peramah, dan suka memaafkan.
Ralph Saracino, sudah hampir satu tahun hingga saat itu, ia dikeluarkan dari tempat kerjanya sebagai sekuriti sekaligus supir Purolator, kini ia sedang menjelaskan langkah-langkah yang ditempuhnya bersama William Proctor, pada hari keduanya bernasib naas. Mereka memulai hari kerja sejak pagi hari dan telah berada di Pennsauken, New Jersey; serta telah menghabiskan waktu sepagian itu mengantar dan menjemput uang ke dan dari beberapa bank. Kemudian mereka mengantar uang yang baru saja dijemputnya dari gedung Federal Reserve Bank, di mana, pada kebanyakan hari kerja, mereka akan menjemput uang yang akan diantarkan pada keesokan harinya. Saracino memaparkan rutinitas kerjanya. Terlebih dulu ia akan melakukan inspeksi kantong uang. Untuk memastikan tidak terdapat sobekan atau kantong tersebut sudah usang dan mudah koyak. Kemudian ia akan memeriksa segel kantong uang, untuk memastikan bahwa segel masih baru dan tidak rusak, sehingga tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Jika kantong uang maupun segelnya sudah rusak, bank yang dituju tidak akan mau menerima kiriman uang tersebut. Lalu Saracino mempersamakan jumlah yang tertera di tag pada leher kantong uang dengan manifes pengiriman uang yang diberikan oleh pihak bank. Satu kantong berisi senilai $800,000; dan kantong satunya senilai $400,000.
"Setelah menandatangani tanda terima pengiriman uang sebesar satu koma dua juta dolar, apa yang selanjutnya Anda lakukan dengan kedua kantong uang tersebut?" Tanya penuntut Casey.
"Aku kembali menuju mobil boks, kemudian menyim-
pan kedua kantong kanvas tersebut di dalam sebuah kotak metal berwarna kuning yang telah tersedia di dalam mobil. Aku meletakkan kedua kantong kanvas uang di dalamnya."
Lalu katanya bahwa rekan kerjanya kembali memeriksa kantong uang dan tanda bukti pengiriman barang yang baru saja diletakkan oleh Saracino.
"Aku berdiri di platform sementara ia memeriksa kembali uang yang baru saja aku masukan ke sana, lalu rekanku keluar."
"Keluar dari mana?"
"Dari dalam mobil boks. Mengunci pintu ..." "Siapa nama orang yang mengunci pintu belakang mobil boks?"
"Bill Proctor."
"Apakah kau melihatnya sendiri bahwa ia melakukannya?"
"Ya."
"Dapatkah kau jelaskan proses penguncian pintu?"
"Pintu belakang mobil boks memiliki dua buah handel yang mana harus dilakukan cara penguncian sebagai berikut pertama harus menarik handel ke atas, lalu ke bawah, kedua selot kunci akan masuk ke lubang selot kunci di bagian atas pintu mobil boks dan bagian bawahnya, kemudian kita harus menekan sebuah knob yang terletak di tengah-tengah, knob tersebut berfungsi untuk menahan selot bergerak naik turun."
"Bagaimana halnya dengan kotak kuning itu? Apakah kotak metal itu juga dikunci?"
"Tidak. Kotak metal kuning di dalam mobil boks tidak memiliki kunci."
Saracino melanjutkan penjelasannya bahwa kemudi-
an ia dan Bill Proctor naik ke mobil boks (di bangku depan) dan melaju meninggalkan bank. Mereka mengemudi mengitari kawasan perumahan dan tiba di Arch Street lalu melintas di jalan Delaware Avenue, yang terbentang sepanjang pinggiran sungai. Mereka berbelok ke kanan di Wolf Street kemudian belok kiri di Swanson.
"Jalan berlubang dan bergelombang, rusak parah," katanya.
"Apakah kau yang mengemudi mobil boks itu, Tuan Saracino?"
"Benar, tuan."
"Okay, mohon jelaskan pada kami apa saja yang terjadi, ketika kau tiba di pintu gerbang lahan parkir Purolator."
"Kami memasuki pintu gerbang lahan parkir pertama. Kami masuk dan tidak terjadi apa-apa. Tibalah kami di gerbang kedua. Kami masuk dan seorang sekuriti yang sedang bertugas saat itu muncul untuk memberi tahu kami bahwa pintu belakang mobil terbuka."
Saracino lalu menjelaskan bagaimana ia dan Proctor menjadi panik saat itu, dan mereka memutar balik kendaraan lalu kembali menelusuri Swanson Street untuk mencari kotak metal warna kuning yang terjatuh dari dalam mobil boks. Casey menanyai serangkaian pertanyaan kepada Saracino yang berkenaan dengan prosedur dalam sidang kasus tersebut, lalu ia membuat suatu kesimpulan, suatu formalitas yang ganjil didengar oleh peserta yang hadir di ruang sidang, tentang pertanyaan kesimpulan, yang menurutnya, berkenaan dengan sisi kriminal dalam kasus Joey,
"Aku bertanya, Tuan Saracino, apa Anda memberi izin pada terdakwa yang sedang duduk di tengah persida-
ngan ini, untuk mengambil kedua kantong uang yang terjatuh tersebut?"
"Tidak, tuan. Tersangka tidak melakukannya." Casey menanyakan ikhwal pekerjaannya.
"Ya, begitulah. Kami berdua telah dipecat karena kasus tersebut," jawab Proctor. "Pertama-tama kami dibe-bas tugaskan dari pekerjaan dengan waktu yang tidak ditentukan. Sekitar tiga minggu atau dua minggu berselang setelah kejadian, kami mendapat surat pemecatan kerja."
Dalam uji pernyataan silang atas kedua saksi tersebut, Kane berusaha semampunya untuk meringankan dan membebaskan kliennya dari tuduhan sebagai penyebab utama kedua saksi tersebut dipecat dari pekerjaan. Kunci bagi strategi yang dilakukan oleh Kane adalah membiarkan episode tersebut terlontar sejelas mungkin, sebanyak mungkin data yang diperolehnya dari tanya jawab penuntut dengan kedua saksinya, di mana ia akan melihat kelemahan pernyataan tersebut untuk dijadikannya serangan balik, agar Joey terbukti tidak bersalah sebagai pelaku kejahatan yang telah menimbulkan korban kepada pihak tertentu. Ia menekankan bahwa kedua mantan pekerja Purolator tersebut telah lalai untuk mengunci pintu belakang mobil boks dengan sebaik-baiknya, oleh karenanya, pantas saja jika keduanya kemudian dipecat dari pekerjaan mereka.
Ketika Charles Strebeck, seorang pejabat eksekutif Purolator, memberikan kesaksiannya mengenai kerugian yang diderita perusahaan Purolator; yang katanya senilai $196,400; Kane bertanya: "Pradugaku, oleh karenanya, bahwa Purolator tidak mengasuransikan pengiriman uang tersebut, apa benar demikian?"
Casey keberatan, sang penuntut dan pembela ber-
adu argumentasi. Casey menanyakan tentang relevansi status asuransi Purolator dengan kasus Joey.
"Relevansinya adalah jika kerugian perusahaan tentang hilangnya uang mereka dibahas dalam kasus persidangan kali ini... aku bisa pastikan bahwa Purolator sama sekali tidak dirugikan. Mereka tidak sedikit pun kehilangan uang tersebut karena memang telah diasuransikan sepenuhnya, maka dari itu, Purolator bukanlah korban kejahatan, dalam hal ini kerugian berupa materi, uang, sama sekali."
"Aku melihat pendapatmu sukar dicerna, Tuan Kane. Menurut argumentasi logis. Kasus ini adalah tentang pencurian dan sisi kriminalitas yang dilakukan oleh terdakwa. Pengeluh tentu saja dilindungi hukum. Titik."
"Okay ...," jawab Kane. "Kupikir para juri yang terhormat berhak untuk mengetahui jika korban dalam kasus ini adalah benar-benar sang korban dengan berdasar tuduhan yang mana kerugian telah disebabkan oleh sang terdakwa. Sang korban tentunya akan berkata,
'Hakim yang mulia, kami rugi sebesar $196,400.' Purolator tidak sama sekali dirugikan senilai $196,400." Hakim menghentikan pernyataan Kane. Dalam Interograsi selanjutnya, Kane menyodorkan bukti bahwa uang imbalan telah dibayarkan kepada Jed Pennock, John Behlau, Mike DiCriscio, dan John DiBruno. Bukan saja, tidak seorang pun merasa dirugikan, Kane memberikan implikasinya, kasus Joey telah membuat banyak pihak senang dan kebanjiran rezeki atas uangjasa atau imbalan yang diterima oleh mereka. Kane pun telah berhasil memastikan kepada hakim dan semua peserta sidang, bahwa Strebeck telah menekankan, kedua mantan pegawainya memang telah lalai dalam melakukan penguncian pintu belakang
mobil boks uang Purolator dengan cara yang tidak sepenuhnya tepat dan penuh kehati-hatian.
"Sebagai akibat dari hasil investigasi yang dilakukan perusahaan Anda, Purolator telah memecat kedua pengemudi itu, benarkah?" Tanya Kane.
"Benar," jawab Strebeck. "Menurut hasil investigasi yang dilakukan oleh perusahaan kami, terbukti bahwa baik pintu mobil boks maupun kunci dan gemboknya dalam keadaan baik, sama sekali tidak rusak." Kane merasa senang hari itu. Usaha dari penuntut untuk memojokkan Joey telah disimpulkan bahwa
"kejahatan" yang telah dilakukan kliennya tidak mengakibatkan "korban" di pihak mana pun. Secara logis, semua keberatan telah dibuktikan dengan baik. Dan Jed Pennock, yang memberikan kesaksian beberapa menit menjelang rehat sidang untuk sore itu, telah berhasil menjadikan Joey sebagai hadiah tersendiri bagi sang pembela. Jed, dalam terstimoni langsungnya, telah ditanyai oleh Casey sebagai berikut, "Ketika kau bertemu dengan terdakwa hari Jum'at malam ... apakah kau memberitahukan adanya uang tebusan atau imbalan bagi siapa pun yang mengembalikan uang milik Purolator?"
"Ya ... kami memberitahunya bahwa ada uang imbalan."
"Apa respons yang diberikan terdakwa, apa saja, menurutmu mengenai uang imbalan tersebut?" "Tidak ada respons." "Dia tidak berkata apa pun?" "Tidak."
"Apa reaksi yang diberikannya tanpa mengucapkan apa yang semestinya terucap olehnya?"
"Ia bersikap aneh, seperti orang gila," jawab Pen-
nock. Jawabannya menarik perhatian semua orang di ruang sidang, karena dalam kasus Joey, ia mulai masuk kategori 'ketidakwarasan defensif.' Dengan menemukan uang tersebut, ia mengklaim, bahwa uang itu telah membuatnya gila sementara. Pennock adalah saksi pertama yang cukup bernilai tinggi bagi Joey, dan pernyataannya telah mulai membuat kasus Joey lebih segar, lebih kuat.
"Apa yang kau maksud dengan 'gila?' Tanya Casey, yang berusaha untuk mengaburkan kekuatan pembelaan dari saksi tersebut.
"Katanya ia ingin menyimpan uang itu, bahwa ia tidak memiliki uang dan benda yang bernilai seperti itu selama hidupnya, dan ia memukulkan tinjunya ke meja."
Pertanyaan terakhir dari sang penuntut hanya berselang beberapa menit sebelum hakim menutup sidang untuk hari itu. Kane belum sempat menanamkan opini pada para juri di malam sesi persidangan yang pertama tersebut. Malam itu, hakim memerintahkan penitipan barang bukti yang akan memperkuat jalannya persidangan kasus itu.
4
Kane membahas tema yang tepat ketika ia mendapati giliran pertama untuk menanyai saksi di sesi persidangan selanjutnya pada keesokan harinya. Kane mengajak saksi kembali melangkah pada peristiwa ketika mereka menemukan uang Purolator.
"Ketika kau melihat uang tersebut, apa yang terjadi kemudian di dalam mobilmu?" Tanya Kane. "Apakah semua orang merasa gembira?"
"Ya, tentu. Sangat-sangat bergembira," jawab Jed.
"Semua orang berjingkrak dan saling mencium satu sama lain?"
"Ya, kami saling berpelukan." "Apakah semua orang gila dibuatnya?" "Ya, benar."
Setelah selesai, Kane mencatat laporan pernyataan dari respons yang diberikan Jed terhadap Joey, inilah saatnya Kane memberikan kesimpulan yang memperkuat pembelaannya.
"Dan menurutmu, Joey menjadi gila ..."
"Ya."
"Kau menyuruhnya untuk mengembalikan uang itu, dan Joey tidak mau mendengar saranmu?" "Ia tidak mau mendengar."
"Ia tidak mau mendengar alasan apa pun, benarkah?" "Tidak. Joey terlalu kesal dirinya telah menemukan uang itu dan ingin menyimpannya sendiri."
"Ia terlalu gugup dengan temuan uang tersebut?" "Ya."
"Dan ia hanya ingin menyimpannya sendiri?" "Ia benar-benar gugup."
"Dan ia tidak mau mendengar alasan apa pun, apa itu benar adanya?"
Sampai di situ, Casey keberatan.
"Dalam istilah hukum inilah yang disebut sebagai phraseology," jawab Kane, lebih spesifik.
"Banyak orang yang bersikap seperti itu; tidak dapat memahami alasan apa pun yang masuk akal (phraseology)," bantah Casey.
Hakim mengizinkan Kane untuk melanjutkan.
"Katamu, Joey terlalu kesal?"
"Ya."
"Dan ia terlalu gugup?" "Benar."
"Dan ia mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas dan kebingungan serta berjingkrak-jingkrak, apakah itu benar?" 11 Ya."
"Dan ia bertingkah seperti orang yang gila; apa benar?"
"Keberatan, Yang Mulia," Casey membantah lagi. "Kupikir phraseology adalah lazim terjadi," kata Kane. Sang hakim bertanya pada Jed apakah ia memahami makna dari kata nuts tersebut. "Ya," jawab Jed.
"Apa pemahamanmu terhadapa kata nuts tersebut?" Tanya sang hakim kepada Jed.
"Itu artinya bahwa ia kehilangan kontrol dirinya, lebih kurang begitu."
Kane senang sekali mendengar jawaban yang diberikan oleh Jed.
"Baiklah," kata hakim. "Kau boleh menjawab pertanyaan dari pembela."
"Apakah benar sikap itulah yang dilakukan oleh Joey?" Tanya Kane.
"Ya."
"Dia benar-benar sudah keluar dari kontrol dirinya sama sekali?" "Ya."
"Dan kau tidak bisa menanamkan alasan apa pun padanya, begitu juga Masi atau Behlau?" "Benar sekali."
"Dan kau telah mencobanya?" "Ya."
Kane melanjutkan menancapkan virus perkataannya
yang mematikan kepada urat nadi Jed, kepada hakim, para juri, dan semua hadirin. Ia menekankan, dalam kesempatan memunculkan opini Jed, dengan menitik beratkan pada perbuatan Joey yang dianggap telah crazy, out of control, dan no reasoning with him, Casey segera mengalihkan penekanan Kane yang dirasanya akan memberatkan dan melemahkan peluangnya untuk menekan sang terdakwa. Jika Kane dengan fasih seakan telah melakukan diagnosa atas keadaan mental Joey yang terkesan tidak waras, sebaliknya, Casey berupaya untuk mengklarifikasinya. Hanya saja usaha Casey ternyata membuatnya diserang balik oleh Kane.
"Apakah Tuan Coyle mengenal uang kertas nominal seratus dolar Amerika seyogyanya sebagai uang kertas pecahan seratus dolar Amerika?" Tanya Casey kepada Jed.
"Ya," jawab Jed.
"Keberatan, Yang Mulia," sanggah Kane, "Pertanyaan tersebut di luar bahasan kasus."
"Kupikir kita telah mendengar tesetimoni dari saksi, aku pikir kata yang digunakannya adalah nuts. Aku ingin mengetahui sejauh mana Joey bersikap "di luar kontrol dirinya."
Namun sepertinya hakim telah berpihak kepada pernyataan terakhir dari kesimpulan Kane atas kesaksian Jed. Lebih kurang itulah yang tengah dirasakan oleh Kane ketika hakim memberikan komentarnya.
"Aku pikir sebaiknya keberatan pembela harus didukung agar penuntut mengajukan pertanyaan dengan alasan yang lain," kata Chiovero. "Tidak penting apakah Tuan Coyle mengenal atau tidak bahwa uanguang tersebut adalah pecahan nominal seratus dolar Amerika, bahkan
aku berpikir bahwa dia [katanya sambil menunjuk kepada Jed] pun mungkin saja pada saat itu merasa sukar untuk membedakannya."
"Baiklah," kata Casey yang kemudian kembali memalingkan wajahnya untuk menatap Jed, lalu bertanya, "Apa reaksi yang diberikan oleh Tuan Coyle ketika melihat pecahan uang yang kau kenal sebagai uang kertas pecahan seratus dolar?"
"Bagaimana dia bereaksi?" Jed balik bertanya.
"Ya, benar, tuan."
"going bananas (menjadi gila, ngawur, ngelantur, dan tidak waras)."
Jawaban itu bukanlah yang diharapkan oleh sang jaksa penuntut. Berapa banyak bahasa atau istilah siang yang digunakan saat itu hanya untuk mewakili keadaan mental 'tidak waras' sang terdakwa Joey? Casey berusaha untuk memperbaiki kekurangannya.
"Apakah terdapat indikasi bahwa Tuan Coyle pikir apa yang terdapat di dalam kantong uang itu adalah bananas (pisang) atau bahkan apel?"
"Tidak."
"Dapatkah Anda menjelaskan, terlepas dari Anda melakukan observasi atau tidak atas diri Tuan Coyle, bahwa ia telah mengarah pada keadaan dirinya tidak mengetahui di mana ia berada pada saat itu?"
"Pada saat ketika kami menemukan uang itu?"
"Ya, sepanjang waktu selama dua hari setiap kali Anda bertemu dengannya."
"Ya."
"Dan apakah Anda memiliki alasan kuat untuk meyakinkan para juri bahwa ia tidak mengetahui siapa dirinya atau di mana ia tengah berada saat itu?"
"Satu-satunya momen ketika, aku pikir, dia tidak tahu di mana ia tengah berada adalah, kalau tidak salah, hari Jum'at malam."
"Pada hari Jum'at malam, apa yang membuatmu sampai pada kesimpulan bahwa terdakwa pada saat itu tidak mengetahui di mana dirinya berada?"
"Karena ia tidak waras, memukulkan tinjunya ke meja dan barang-barang lainnya."
"Apa kau pikir ia tahu di mana meja itu berada ketika ia memukulkan tinjunya ke meja itu?"
"Yaaa."
Sampai di situ. Casey menyimpulkan bahwa Joey Coyle cukup waras untuk mengetahui bagaimana caranya memukulkan tinjunya pada sebuah meja. Namun kesimpulan Casey kurang mengena pada sasaran. Dia harus berbuat sesuatu, karena Kane telah berhasil menanamkan kepada hadirin persidangan itu bahwa Joey Coyle tidak waras, sang Penuntut kemudian mengalihkan pertanyaannya kepada Jed tentang Joey, apakah ia menggunakan obat-obatan terlarang. Menurut hukum yang berlaku, jika sikap yang telah diperbuat oleh Joey karena pengaruh narkotika, maka ia tidak layak disebut sebagai seseorang yang tidak waras.
"Kau telah sering bertemu dengan terdakwa sebelum ia, pada saat itu, berbuat sesuatu yang terkesan sebagai kelakuan orang yang tidak waras, bukan?" Tanya Casey.
"Ya."
"Sekarang pertanyaannya adalah, pernahkah kau mengetahui sikap dan perbuatan seseorang yang sedang berada dalam pengaruh methamphetamine (zat metan dari narkotika)?" Kane mengajukan keberatannya.
"Keberatan Yang Muiia!" Katanya.
"Sustained (diterima), "jawab hakim.
Casey pun melanjutkan karena didukung oleh hakim. "Aku ingin memunculkan suatu opini," kata Casey. Suatu argumentasi yang berlangsung cukup lama sebelum akhirnya membuat para juri tersentak. Casey memberikan argumentasi bahwa, jika Kane mengunakan dalih "ketidak-warasan", maka Kane harus mampu menunjukkan bukti kuat bahwa perilaku tidak menentu yang ditunjukan oleh Joey Coyle bukan dikarenakan penggunaan narkotika atau obat-obatan terlarang lainnya.
"Jika tidak sepenuhnya memahami yang benar dari yang salah karena efek penggunaan narkoba, tentunya kasusnya bukanlah ketidakwarasan sama sekali," kata Casey seolah mengolok-olok pada Kane.
"Dalam persidangan ini, tidak ditemukan petunjuk harus adanya kesaksian mengenai penggunaan methamphetamine atas diri terdakwa...," kata Kane. "Tidak ada laporan tentang bukti yang ditemukan pada tersangka."
"Belum kata Casey. "Mari kita akhiri permainan ini. Adakah bukti pendukung yang kuat?"
"Dokter tidak membuat pernyataan bahwa terdakwa sedang menggunakan zat kimia metan atau dalam pengaruh obat tersebut," jawab Kane. "Menurut dokter, ia pernah menggunakan methamphetamine, itu saja yang didapat dari laporannya. Dokter tidak menjelaskan bahwa pada saat kejadian itu, tersangka sedang menggunakannya. Tidak dalam kasus ini."
"Aku harus mampu membuktikan bahwa keadaan terdakwa bukanlah sakit mental atau sakit jiwa, yang mana jika seseorang sedang dalam pengaruh narkotika, itu artinya orang tersebut bukanlah pengidap ketidakwarasan legal," Casey memberikan pernyataannya kepada hakim.
"Saksi ini tidak memiliki kualifikasi untuk dapat memberikan opini berkenaan dengan seseorang yang berada dalam pengaruh methamphetamine, sangat tidak memenuhi kualifikasi tersebut," kata hakim.
"Lalu, siapakah yang memenuhi kualifikasi untuk itu?" Tanya Casey.
"Seorang ahli dalam bidang obat-obatan atau seorang dokter, namun bukan individu biasa."
"Bolehkah aku mengulas mengenai alkohol?"
"Ya," jawab hakim.
"Mengapa tidak tentang narkotika?"
"Ia tidak memenuhi kualifikasi untuk menjelaskannya."
Casey terpojok. Jed Pennock telah berhasil menancapkan dasar pertahanan argumentasi ketidakwarasan Joey. Casey tidak dapat berbuat apa-apa dengan semua jawaban polos yang telah diberikannya. Sekali lagi, Casey mencoba untuk menundukkan Kane. Ia meminta reses. Hakim dan kedua pengacara penuntut dan pembela berunding. Ketika selesai, wajah Casey terlihat sepertinya ia baru saja memenangkan pendapatnya selama reses tadi. Hakim Chiovero meminta juri untuk berkumpul kembali. "Dari hasil reses, aku telah mengizinkan asisten jaksa wilayah negara bagian untuk mengajukan pertanyaan pada Tuan Pennock apakah Tuan Coyle, ketika ia menunjukkan perilaku yang dijelaskan dalam istilah 'nuts', dan sebagai-nya, benar atau tidak, sang terdakwa tengah berada dalam pengaruh alkohol atau sesuatu yang bersangkut paut secara erat dengan alkohol? Dan asisten jaksa penuntut umum negara bagian harus mengikuti secara spesifik aturan pertanyaan yang diajukannya terpaksa diakhiri dengan perkataan, 'Harap menjawab ya atau tidak'."
"Keberatan," Kane mengajukan keberatannya.
"Tuan Kane keberatan," hakim mengulang perkataan Kane sebagai tanda ia setuju dengan keberatan yang diajukannya, hakim kemudian mengarahkan Casey untuk segera, mengajukan pertanyaan terakhirnya. Jed kembali duduk di mimbar saksi, sementara Casey berdiri. Momen itu seperti dalam sebuah drama. Dengan kemampuan terbaiknya, Casey berniat menancapkan opininya ke dalam pikiran para juri bahwa Joey tidak 'tidak waras' melainkan sedang 'dalam pengaruh'.
"Tuan Pennock, pada waktu terdakwa bersikap gila atau tidak waras, seperti yang telah Anda jelaskan, apa ia terlihat sedang mabuk atau dalam pengaruh alkohol atau sesuatu yang lain semacam itu? Mohon agar menjawab cukup dengan ya atau tidak?"
"Tidak," jawab Jed.
Itulah mengapa sang penuntut disarankan untuk tidak pernah bertanya pada sidang terbuka, sesuatu yang belum yakin apa pastinya jawaban yang akan diberikan oleh saksi. Kemenangan baru saja berpihak pada sang pembela.
Kini tibalah giliran John Behlau sebagai saksi, yang hasilnya tetap saja tidak imbang, walaupun Casey sempat menyuntikan ide bahwa kebingungan Joey adalah implikasinya sendiri.
"Pada waktu ketika terdakwa bertemperamen tinggi dan memukulkan jam tangannya ... apakah terdakwa terlihat seperti dalam pengaruh atau sedang mengkonsumsi alkohol atau sesuatu seperti itu? Silahkan menjawab dengan ya atau tidak?
"Ya," jawab Behlau.
Namun itu saja pertanyaan yang boleh diajukan Casey kepada Behlau. Casey meminta Linda Rutter sebagai
saksi kunci, seorang gadis lemah berusia sembilan belas tahun yang diberi julukan sebagai gadis 'pemalu'. Rambut pirangnya terurai sebatas bahu. Linda sangat ketakutan berada di ruang sidang dan merasa sangat kesal dirinya telah dipanggil untuk memberikan kesaksian melawan pacarnya, Dalam tanya jawabpendahuluan saja ketika ditanya nama, alamat, dan hubungan saksi dengan terdakwa; tubuhnya sudah terlihat mulai gemetar dan ia menangis tersedu-sedu.
"Cobalah untuk menguasai keadaan," kata hakim dengan ramah. "Cobalah untuk menenangkan diri. Aku tahu sulit untuk dapat menguasai emosi dalam situasi seperti ini."
Lima menit kemudian Linda kembali ke ruang sidang setelah berhasil menenangkan diri, ia menjawab semua pertanyaan yang sifatnya rutin. Lalu Casey kembali mengajukan pertanyaan yang sebenarnya masih berkenaan dengan penggunaan obat-obatan.
"Sekarang, nona Rutter, Dapatkah Anda memperkirakan berapa banyak waktu yang telah kau habiskan bersama dengan terdakwa selama ini?" Tanyanya.
Linda hanya tercengang.
"Perkiraan saja. Jika mungkin."
"Lebih kurang tiga hari," jawab Linda. "Selama kau bersama dengan terdakwa, apakah ia menggunakan obat-obatan?"
"Keberatan," sanggah Kane.
"Lanjut," kata hakim, yang sepertinya menjadi jenuh dengan pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Casey seputar masalah itu-itu saja.
"Apa kau mengerti sepenuhnya\ yang dikategorikan sebagai obat-obatan?" Tanya Casey kepada
Linda.
"Keberatan," teriak Kane lagi. "Lanjutkan," kata hakim.
Reses kembali dilaksanakan oleh ketiga pemeran utama dalam persidangan itu.
"Yang mulia, saksi akan mampu memberikan kesaksian sebagai 'saksi kunci' yang telah melihat terdakwa menggunakan jarum suntik narkotika yang notabene dikategorikan sebagai obat-obatan terlarang, lebih dari satu kali selama periode di mana terdakwa telah disebut-sebut sebagai seorang yang tidak waras, yang mana penekanannya sedang diangkat oleh pembela."
Kane memberikan argumentasinya bahwa memunculkan kesaksian penggunaan obat-obatan terlarang yang dilakukan oleh Joey, sama sekali tidak berpengaruh pada pengambilan keputusan hukuman atas terdakwa.
"Ini adalah tindakan kejahatan terdahulu," kata Kane. "Penuntut telah memperkenalkan sebuah tindak kejahatan yang terdahulu tanpa mampu menunjukkan rencana, skema, atau desain atas kejahatan apa pun, yang memang sebenarnya tidak dilakukan oleh tersangka. Okay? Cukup jelas, itulah tepatnya yang sedang dilakukan penuntut. Prasangka dalam hal ini jelas-jelas terindikasi. Satu-satunya alasan yang dimilikinya adalah menunjukkan semua keinginannyauntuk memunculkan hal tersebut agar mudah dimengerti, yaitu dengan cara menimbulkan kesan atau prasangka tertentu di pihak para juri."
Hakim Chiovero memutuskan menahan sanggahan dan pertanyaan lebih lanjut dari penuntut, oleh karenanya Casey tidak dapat lagi menggunakan Rutter untuk membuktikan bahwa Joey selama ini senantiasa berada dalam pengaruh narkotika atau minuman keras sejak dari awal
hingga ia menemukan uang itu. Untuk menjadikan permasalahan lebih buruk bagi pihak penuntut, dalam tanya jawab silang, Kane berhasil menggiring Rutter lebih jauh, sehingga ia mengklaim bahwa Joey secarasementara tengah berada dalam strata tidak waras.
"Sekarang lebih mendalam lagi, pada hari Senin, ketika terdakwa pergi berbelanja di pusat pertokoan, apa ia terlihat kebingungan sepanjang hari itu?" Kane bertanya kepada Linda. "Ya."
"Apa bagimu, Joey terlihat irasional pada hari itu?" "Ya."
"Apa perbuatannya terlihat aneh pada hari itu?" "Ya."
"Ia menelepon dari pusat pertokoan, apa benar?" "Ia tidak pernah benar-benar melakukannya, walau ia sempat memutar nomor telepon tujuan, namun ia mengurungkan niatnya untuk berbicara di telepon."
"Seseorang dari perusahaan telekom datang dan masuk ke ruang telepon umum di sebelahnya?"
"Ya."
"Joey pikir ia seseorang yang sedang menyamar atau semacam itu, benarkah?" "Ya."
"Apa Joey pikir kelakuannya lucu?" "Tidak, tidak pada saat itu."
"Ia sangat ketakutan tanpa sebab, pada saat itu, bukan?" "Ya."
"Ia paranoid pada saat itu?" "Ya."
Kemudian, ketika Linda berkata bahwa ia pikir Joey
"tidak sepenuhnya mengerti kondisi jiwanya", dan pengacara pembela Joey memintanya untuk menjelaskan lebih rinci, tanya jawab dan saling adu argumentasi pun menjadi semakin seru antara Casey dan Kane yang mendapat dukungan dari sang hakim apakah Linda cukup memiliki kualifikasi untuk memberikan penilaian seperti yang diharapkan Casey.
"Seseorang seperti saksi ini dapat memberikan hasil pengamatannya," menurut Casey, "saksi dapat mengatakan betapa sang terdakwa terlihat tidak waras, namun saksi tidak mungkin dapat memberikan isu final yang mana hanya berhak ditentukan oleh juri: Apa terdakwa mengetahui apa yang dilakukannya? Apakah terdakwa mengetahui perbuatannya salah? Hal ini mutlak hak juri sepenuhnya."
"Kupikir kau bisa merinci informasi yang diharapkan tanpa harus bertanya kepada saksi secara langsung mengenai benar atau tidaknya terdakwa, mengetahui persis apa sebenarnya yang dilakukan oleh terdakwa," hakim berkata kepada Kane. "Bisakah kau melakukannya?"
"Kurasa aku bisa, tentu, yang mulia," jawab pengacara pembela Joey.
Kane melanjutkan pertanyaannya kepada Linda,
"Ketika Joey 'tidak sepenuhnya mengerti kondisi ji-wa-nya', apa maksudmu ia sedang labil?"
"Ya."
"Jiwanya tergoncang, apakah demikian adanya?" "Ya."
"Irasional?" "Ya."
"Kehilangan kontrol diri?" "Ya."
"Apa ia terkesan tidak ingin memiliki uang itu?" "Ya."
"Apa ia menyesal telah menemukan uang tersebut?" "Ya."
Tidak lama berselang, Casey menyudahi kasusnya. Dengan bantuan dari hakim, Kane telah berhasil menguasai tuntutan kasus yang diajukan Casey. Sidang ditunda karena menjelang akhir pekan. Pada hari Senin, pengacara Joey tersebut, akan mempresentasikan kasus pembelaannya.
5
Frank Santos menjalani gilirannya sebagai saksi dalam kasus terdakwa. Ia mungkin akan sangat mudah untuk memberikan kesaksian sebagai saksi bagi penuntut, dengan anggapan bahwa ia telah menghabiskan waktu selama beberapa hari untuk membantu Joey meninggalkan Amerika, serta ia telah dititipi sebagian uang temuan Joey. Namun ketika Frank mulai berbicara, barulah dipahami mengapa Casey tidak menjadikannya sebagai saksi. Kawan lama Joey ini cukup alot dalam pembelaannya, berargumentasi bahwa Joey telah menjadi kacau, dan jiwanya benar-benar terganggu atas temuan uang Purolator itu sehingga pada saat itu bertingkah seperti seorang bocah ingusan. Tentunya, Frank tidak menyebutkan bahwa ketololan tingkah polah Joey saat itu dikarenakan pengaruh narkotika.
"Pada saat kami dalam perjalanan menuju New York, aku mencoba untuk menjelaskan hukum yang berlaku," katanya. "Aku tahu apa aturan hukum seputar permasalahan kasus uang temuan seperti ini. Finders Keepers
hanyalah sebuah hukum yang berlaku dalam tatanan masyarakat lama. ...Aku tidak dapat memengaruhinya untuk menjelaskan bahwa uang itubukanlah miliknya, bahwa semua orang yang terlibat dalam kasus penemuan uang Joey harus segera mengembalikan uang itu."
"Jadi, dengan kata lain. Ketika kau berusaha untuk dapat memengaruhinya, dia tidak benar-benar memahaminya?" Tanya Kane.
"Dia tidak mengerti sama sekali. Joey percaya pada aturan hukum kuno, finders keepers, losers weepers, (siapa yang menemukannya dialah yang memilikinya, siapa yang kehilangannya, dialah yang menangis tersedusedu). Apa yang dipahami Joey bahwa dialah yang menemukan uang itu, uang tersebut menjadi miliknya dan semua orang, siapa saja yang diberikan uang olehnya ... Dia tidak memahaminya. Sama sekali tidak."
Frank menjelaskan bahwa satu-satunya momen dari keseluruhan episode di mana ia melihat Joey tenang, adalah setelah keduanya ditangkap polisi, "Beban yang mengganjal dalam dirinya seolah terangkat lepas," Frank menjelaskan.
"Bahwa dia sudah tidak terbebani kepemilikan uang temuan?" Tanya Kane.
"Saat itulah untuk kali pertamanya aku bisa melihat Joey tidur."
"Bagaimana kau dapat menyebutnya perilaku Joey pada tanggal tiga dan empat Maret?"
"Paranoid, tidak menentu. Ia bertingkah seperti anak kecil. Dia tidak mengerti sama sekali sesuatu yang seharusnya dapat dimengerti dengan mudah oleh lelaki seusia-nya. Itu terjadi, mungkin sekitar satu tahun yang lalu. Maksudku, ia bahkan tidak ingat nama ibuku, dan hari
ulang tahunku. Ia telah sering berkunjung ke rumahku, namun tetap tidak ingat alamat rumahku. Aku telah mengenal Joey untuk waktu yang cukup lama. Kami tumbuh besar bersama, dan sekarang ia telah benar-benar berbeda dari Joey yang dulu."
"Apakah maksudmu, ia sudah tidak waras?"
"Tidak waras, gila. Kelakuannya tidak karuan."
Pernyataan Frank membuat semua yang hadir di ruangan itu berdecak. Joey tersenyum karena memahami permainan yang sedang diperankan teman lamanya.
"Apakah pernah suatu ketika kau melihat Joey berlaku rasional, menurut pendapatinu?" Tanya Kane.
"Menurut pendapatku, tidak pernah." "Menurut pendapatmu, apakah kendali dirinya terlepas?"
"Joey seperti orang gila. Ia benar-benar gila, begitulah keadaan yang sesungguhnya."
Casey berupaya sekuat tenaga untuk melawan skema kasus yang tidak jauh dari skenario rutinitas rekayasa temannya-teman. Apa memang kebetulan saja, atau memang, apa yang tersirat dalam benak Casey bahwa, kepada semua teman-temannya, Joey telah meminta bantuan untuk menekankan kata "crazy", "irasional" dan sejenisnya, terutama pada temannya yang bekerja membantu menyetir kapal keluar masuk perairan sungai Philadelphia, atau yang istrinya bekerja di sebuah travel agent?
"Mantan istri," kata Frank.
"Terdakwa telah memutuskan bahkan sebelum ia bertemu denganmu bahwa ia berniat untuk kabur ke luar negeri; apakah itulah fakta sebenarnya?"
"Bukan, tuan."
"Dalam kesaksian yang kau berikan, itu adalah sa-
ranmu bahwa Joey harus pergi ke luar negeri?" "Benar, tuan."
"Tidakkah ia memberitahumu tentang niatnya, 'Aku akan pergi ke Irlandia'? Atau 'Aku akan pergi ke Italia?' Joey tidak pernah mengatakannya padamu, benarkah?"
"Tidak, ia tidak pernah."
Frank berbohong dengan maksud untuk menolong temannya. Joey sebenarnya pernah berkata padanya bahwa dia bermaksud melarikan diri ke luar negeri, bahkan sebelum ia bertemu dengan Frank, dan juga pernah meminta bantuannya untuk membawanya ke luar negeri dengan menumpang kapal. Casey tidak dapat berbuat banyak. Kini ia berputar haluan. Lalu ia bertanya mengapa Frank memilih Meksiko sebagai tempat pelarian Joey. Menurut Frank itu karena Joey tidak perlu paspor untuk berkunjung ke negara itu, dan Joey tidak mau menunggu dua hari lamanya untuk memperoleh paspor dari imigrasi.
"Sementara menunggu untuk mendapat paspor, Joey pikir mereka akan menangkapnya," kata Frank. "Mereka akan menangkapnya?"
"Ya. Mereka. Orang-orang yang mengejarnya. Dia begitu histeris, Tuan Casey."
"Apakah kau melihat ada orang yang mengejarnya?" "Tidak."
"Apakah kau memberikan kesaksian secara jujur bahwa kau percaya ada orang yang sedang mengejarnya?"
Dalam hal yang satu ini, Frank benar. Joey sedang sangat ketakutan waktu itu, dan keduanya mudah untuk ditemukan, jika saja ada orang yang sedang mengejarnya.
"Tuan Casey, Anda membaca surat kabar setiap paginya, dan membaca berita banyak orang terbunuh hanya karena sepuluh dolar atau dua puluh dolar saja. Menurut
pendapat Anda, apakah orang akan melakukan hal yang sama demi seratus ribu dolar? Aku percaya memang ada orang yang sedang mengincar terdakwa."
Casey mulai merasa kesal dan frustasi dengan kelihaian saksi yang satu ini. Ia memutuskan untuk segera menikam tepat di jantung kesaksian Frank, atau paling tidak untuk memunculkan sisi buruk dari niatan Frank dalam menutupi fakta yang sesungguhnya.
"Kau memahami sepenuhnya dengan jelas sebelum memberikan kesaksian hari ini bahwa ketidakwarasan adalah isu yang kita bahas, dan kau harus meyakinkan juri bahwa terdakwa tidak tahu atau sadar dengan apa yang diperbuatnya? Kau memahaminya sebelum bersaksi dalam persidangan ini, benar begitu?"
"Mohon ulangi pertanyaannya."
"Okay, aku akan memberimu beberapa saat untukmu berpikir lebih dalam."
"Tidak, aku mohon pertanyaannya diulangi," pinta
Frank.
Pertanyaan jaksa penuntut diulangi oleh stenografer sidang.
"Pemahamanku adalah untuk mengatakan yang sesungguhnya tentang perilaku Joey," jawab Frank.
"Untuk membuat permasalahan lebih jelas," kata Casey. "Apakah kau sekarang akan mengatakan kepada juri bahwa kau tidak memahami dirimu telah dipanggil sebagai saksi, untuk menunjukkan bahwa terdakwa tidak mengetahui apa yang dilakukannya."
"Aku mengerti bahwa diriku dipanggil dalam sidang ini sebagai seorang saksi."
"Dan bukan ... kenapa?"
"Ya. Kenapa? Karena aku bersamanya saat itu."
"Bukan karena isu ketidakwarasan?"
"Aku tidak berada di sini Aku berada di sini, sama saja, Tuan Casey ... untuk mengatakan yang sebenarnya."
Casey terus menekan tetapi jelas ia tidak bisa membuat Frank Santos bergeming sedikit pun. Kane berkeberatan ketika penuntut mengatakan, "Aku percaya ia telah menjawab semua pertanyaan, yang mulia. Katanya, 'Aku berada di sini untuk mengatakan yang sebenarnya." "Aku tidak ingin saksi memberikan kesaksian lebih jauh lagi," kata Casey selanjutnya, yang terlihat kesal dan sakit hati.
Saksi berikutnya adalah kakak perempuan Joey, Ellen O'Brien yang meneruskan penekanan yang telah berlangsung yaitu tentang perilaku tak menentu sang terdakwa. Perilaku-perilaku terdakwa yang sangat mencemaskannya adalah keadaan diri terdakwa yang bersifat meledak-ledak, sukar ditebak, dan irasional; yang kesemuanya itu tidak lain mendukung keadaan yang berhubungan erat dengan ketidakwarasan terdakwa. Ia menjelaskan pada juri bahwa adiknya pernah menderita epilepsi ketika masih kanak-kanak, dan kegilaan Joey setelah ia menemukan uang itu telah mengingatkan Ellen pada itu. Ia mengulas bagaimana Joey menceritakan kepadanya bahwa ayah-nyalah yang telah mengirimkan uang itu untuknya, dan Ellen berkata bahwa ia belum pernah melihat perilaku adiknya berantakan seperti itu, dan Joey telah terus menerus bersikap 'histeria'. Pertanyaan Casey kepada Ellen dilakukannya dengan lembut dan tampak tidak berniat mengguncang mental saksi agar saksi terkesan baik kepada sang penuntut.
Joey tertidur selama masa kesaksian berlangsung.
Kepalanya mendongak ke belakang di sandaran kursi.
"Nyonya O'Brien, mohon maaf," kata sang hakim.
"Maafkan aku telah melakukan interupsi kesaksian kali ini. Kita akan melakukan reses selama sepuluh menit."
Juri dibubarkan sementara, dan hakim ketua persidangan memberikan penjelasannya.
"Aku meminta juri untuk dibubarkan sementara dari ruang sidang, Tuan Kane, karena kepala terdakwa mendongak terlalu jauh ke belakang pada sandaran kursi dan ia tertidur, dan aku khawatir keadaannya yang seperti itu akan terlihat oleh juri untuk dijadikan suatu prasangka. Jika juri melihat terdakwa dalam kondisi seperti itu, mereka akan berpikir bahwa terdakwa tidak peduli dengan jalannya persidangan tuntutan atas kasusnya."
Joey terdengar mendengkur. Kepala maju mundur di sandaran kursi. Kane membangunkannya dan membawa Joey keluar ruangan untuk jalan-jalan di koridor.
6
Setengah dari waktu perdebatan seru dan alot dalam persidangan kali ini, berhasil membuktikan bahwa Joey telah berperilaku, secara sementara, tidak waras atau gila; dan pembela sepertinya akan memenangkan kasusnya. Karena Casey tidak diizinkan untuk mengulas secara rinci kesaksian penggunaan methamphetamine oleh Joey, ketidakwarasan sepertinya merupakan penjelasan terbaik bagi perilaku Joey yang manic [fenomena perilaku yang mendekati gila atau gejala kegilaan yang muncul karena faktor pendorong dari luar dirinya], tidak bisa tidur, dan paranoid. Sebagai prosedur untuk memperkuat argumentasi, Kane harus menunjuk seorang ahli yang terpercaya
dalam menjelaskan istilah-istilah klinis berkenaan dengan isu terkini dalam kasus Joey. Hari Senin pagi, tanggal 1 Maret, pengacara pembela kasus Joey telah menunjuk Albert Levitt, seorang psikolog dari Temple University yang telah diminta untuk melakukan pemeriksaan pada diri Joey beberapa bulan berselang setelah penangkapannya. Dia sering dihadirkan dalam beberapa persidangan penting untuk memeriksa para terdakwa, untuk memberikan ke-putusan pasti jika saja para terdakwa layak untuk dia dili. Sang psikolog cuti kerja hari itu dalam rangka menghadiri persidangan.
Ia menunjukkan hasil test menggambar sederhana, tes IQ, serta metode tes inkblot kepada dewan juri, menjelaskan sejarah penderitaan penyakitnya semasa kanak-kanak, ketidakmampuannya untuk bertahan pada satu pekerjaan tetap, periode manic terdakwa, dan yang tidak kalah penting, adalah hasil pemeriksaan terdakwa yang memiliki kecenderungan keadaan mental terdakwa mendekati strata gradisosity atau grandiosa "Yang artinya, nilai atau pengaruh dari luar dirinya, lebih kuat memengaruhi jiwanya dari kemampuannya, jauh melampaui kekuatan mental terdakwa untuk dapat menghadapinya dengan baik." Joey menunjukkan nilai inteligensia rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan untuk mengontrol sisi impulsif dirinya. Begitulah Levitt menjelaskan.
"Apakah Anda mampu memberikan opini mengenai kondisi psikologis terdakwa pada masa-masa insiden terjadi?" Tanya Kane.
"Ya."
"Apakah opini Anda tersebut?" "Opiniku, sang terdakwa adalah gila." "Mohon dijelaskan lebih lanjut atas dasar apakah
Anda dapat menyebutkan bahwa terdakwa adalah gila?"
"Aku mendasari opini pada fakta yang kutemukan bahwa mental sang terdakwa benar-benar terganggu ketika aku melakukan tes terhadapnya. Berdasarkan pula pada reka ulang yang kulakukan, kembali ke masa ketika ia menemukan uang tersebut. Sungguh mengejutkan bahwa terdakwa memasuki strata kejiwaan frenzy, setelah melewati fase manic di mana ia tidak dapat mengatur kerja otak atau berpikir jernih, bahkan untuk membuat suatu keputusan pun. Terdakwa tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah dan, sebagai akibatnya, aku merasa yakin bahwa terdakwa memasuki keadaan 'gila' setelah menemukan uang tersebut dan membawanya pulang. Kepemilikan sementara uang sebanyak itu telah benar-benar mengguncang jiwa dan mentalnya."
"Anda menyebutkan kondisi kejiwaan manic dalam diri sang terdakwa. Dapatkah Anda menjelaskan implikasi dari manic tersebut kepada dewan juri?" Tanya Kane.
" 'Manic' adalah istilah yang diambil dari Bahasa Yunani yang artinya 'frenzy1. Seseorang yang mengalami euphoria [kondisi perasaan antara bahagia bercampur cemas], semua yang berkenaan dengan aspek perasaan berlebihannya, otaknya terus berputar dengan kecepatan tinggi, namun tidak dapat mengatur atau menerima masukan apa pun, bahkan tidak dapat berpikir jernih; dengan demikian, orang tersebut tidak dapat membuat keputusan atau penilaian yang tepat. Karena itulah ia membutuhkan sebanyak mungkin kontak dengan semua orang yang dirasakan nyaman, ia mulai memberikan apa saja kepada mereka, bergerak ke sana ke mari dengan aktif, bahkan berkeinginan untuk terbang dan pergi sejauh mungkin, melarikan diri dari situasi yang tengah dihadapinya, dan
melakukan segala bentuk kegiatan apa pun yang dirasa harus dilaksanakannya di luar kebiasaannya sehari-hari. Aku sendiri tidak penah tahu apa sebelumnya tersangka bersikap normal, dalam arti kondisi normal seperti yang dilakukan kebanyakan orang normal yang sesungguhnya."
Casey menyimak dengan seksama, dan ia berpikir penjelasan tersebut benar-benar ditujukan pada kondisi kejiwaan seseorang yang melambung tinggi, setinggi layang-layang putus dan terbang tertiup angin, jauh di angkasa.
"Orang ini terguncang karena uang sejuta dolar, dan kaget karena merasakan dirinya baru saja memiliki uang sebanyak itu, itulah hal terburuk yang terjadi padanya. Kepemilikan secara tiba-tiba uang sebesar satu juta dolar telah membuatnya limbung dan terperangkap ke dalam kondisi kejiwaan, dan sementara itu, ia bergelut dengan uang yang ia sendiri tidak bisa berpikir dengan tepat dan langkah jelas apa yang akan dilakukannya dengan uang sebesar itu," Levitt memberikan penjelasannya secara panjang lebar.
Casey tahu ia tidak akan mampu mengubah opini Levitt sama sekali selama tanya jawab berlangsung. Ia pun memberikan serangkaian pertanyaan tambahan dengan harapan dirinya akan dapat menjegal kesimpulan psikologis ketidakwarasan terdakwa. Sang penuntut mencoba mengungkap sisi yang tersembunyi dari niat Joey untuk menyembunyikan fakta bahwa terdakwa menyuruh rekan-rekannya untuk tutup mulut, membakar kantong uang, segel, dan tag kantong uang, serta menyembunyikan mobil Behlau di New Jersey kemudian merencanakan kabur, dengan mengontak Frank Santos, menyemir rambutnya dengan warna hitam, menyukur kumis, memakai
kacamata hitam, membeli tiket pesawat dengan tujuan Acapulco, dan pergi ke bandara untuk boarding ke dalam pesawat.
"Sekarang, dengan asumsi semua fakta tersebut, akankah Anda mengubah opini, apakah benar individu yang bersangkutan mengalami gangguan kejiwaan manic?" Tanya Casey.
"Tidak," jawab Levitt. "Hal tersebut bahkan lebih memperkuat keadaan mental manic sang terdakwa."
"Mengapa demikian?"
"Benar, karena ia melakukan terlalu banyak kegiatan di mana ia sendiri tidak dapat membuat keputusan logis apa yang harus dilakukannya. Ia mondar-mandir ke sana ke mari seperti orang gila. Ia berusaha mengubah identitas dirinya. Perubahan identitas diri merupakan salah satu ciri gejolak manic dalam diri seseorang. Mereka mengubah-ubah nama, mencoba beberapa karakterisasi yang berbeda, dan berusaha menyembunyikan jati diri aslinya. Hal-hal seperti itu lebih cenderung dikategorikan sebagai gejala mental seseorang yang menderita manic."
"Anda telah banyak berhubungan, bahkan berpengalaman dalam persidangan yang erat kaitannya dengan tindak kriminal, benarkah demikian?" Tanya Casey. "Ya."
"Apakah Anda akan setuju bahwa sudah merupakan hal yang normal bagi siapa pun yang melakukan tindakan kriminal, sebagai contoh perampokan dan sejenisnya, bahwa pelaku kejahatan tersebut akan dicari oleh polisi, untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya?"
"Ya, benar Tetapi tentunya hal itu berbeda dengan kasus yang satu ini. Ini adalah kasus yang menyangkut pertanyaan bahwa pelaku sama sekali tidak memahami
apakah ia melakukan tindakan kriminal atau bukan. Ia seolah-olah sedang berada di alam khayal. Ia pikir Tuhan dan ayahnya-lah yang telah mengatur pengiriman uang tersebut baginya. Ia tidak yakin apakah dirinya seharusnya segera mengembalikan uang yang ditemukannya. Ia sangat kebingungan apakah dirinya melakukan tindak kejahatan, ataukah tindakannya adalah wajar."
Casey kini mencoba untuk mengaburkan pendapat Levitt dengan menekankan mungkin saja metode pengujian yang telah dilakukannya tidak tepat, sudah barang tentu sang psikolog merasa tersinggung dan meninggalkan mimbar begitu saja. Tentu saja pernyataan itu tertanam di hati para dewan juri. Selanjutnya, Kane memanggil Dr. Kenneth Kool sebagai saksi berikutnya; yang juga seorang psikiater yang telah melakukan tes pada terdakwa setelah ia ditangkap. Kool lebih kurang telah memberikan pernyataan senada dengan Levitt.
"Aku menganggap kasus ini adalah kasus berkenaan dengan aspek psikologis, dan bukan kasus kriminal," katanya. Menemukan uang sebanyak itu telah menjadikan Joey menjadi seorang pengkhayal sementara bahwa dirinya telah menjadi seorang "King Coyle", dan dalam kondisi kejiwaan seperti yang dialaminya saat itu, Joey tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Dalam tanya jawab kali ini, Casey, sekali lagi, mencoba menyinggung isu ketergantungan Joey pada obat-obatan terlarang.
"Apakah tes darah dilakukan pada terdakwa berkenaan dengan sikap psikologisnya yang cenderung di luar normalitas?"
"Tidak."
"Oh, begitu. Tes darah, tentunya, akan menunjukkan jika dalam diri terdakwa terdapat sinyalemen alkohol, apa benar demikian?"
"Ya."
"Apakah Anda juga melakukan atau mengharuskan terdakwa untuk melakukan tes urine?" "Tidak."
"Jika pada saat itu, Anda melakukan analisa urine dan berdasarkan hasil laboratoriun, apakah akan terlihat atau mungkinkah akan dapat dipastikan bahwa terdakwa seorang pecandu narkoba atau bukan, benarkah?"
"Ya."
Kane mengajukan keberatannya, namun kali ini hakim memberikan izin kepada Casey untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Apakah adil untuk mengatakan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan tes fisik adalah dengan terlebih dulu menghilangkan faktor-faktor lain, yaitu segala faktor fisik yang terbukti secara klinis akan mengurangi penilaian diagnosis penyakit mental seseorang yang tidak dapat diuji hanya berdasarkan ilmu pengetahuan semata? Apakah hal itu dianggap adil jika dipermasalahkan?"
Kool menjawab bahwa idealnya memang harus demikian, namun dalam banyak kasus yang telah terjadi, hal itu tidak selalu diharuskan untuk dilakukan terlebih dulu sebelum melakukan tes fisik yang berkenaan dengan unsur kejiwaan.
"Dengan asumsi bahwa Anda mengerti definisi yang telah Anda kemukakan, apakah Anda setuju bahwa gejala-gejala berikut ini adalah kegilaan," tanya Casey, lalu ia mulai membacakan serangkaian daftar gejala mental
yang diasosiasikan dengan efek dari penggunaan zat me-tan. "Euphoria, kekuatan fisik dan kapasitas mental yang lebih terpacu, individu tidak merasakan kantuk atau lapar, selalu terjaga, selalu siaga penuh, tidak atau sedikit sekali merasa letih, peningkatan mood yang disertai keteguhan, percaya diri, kemampuan untuk berkonsentrasi penuh, kegembiraan yang tidak wajar, peningkatan kemampuan kerja motorik, dan kemampuan berbicara yang melonjak drastis? Apakah kesemua itu adalah gejala?"
"Keberatan," sanggah Kane. "Aku ingin tahu dari mana sumber bacaan penuntut tersebut."
Hakim dan kedua pengacara tersebut kembali berdiskusi. Kane memberikan argumentasi bahwa jelas-jelas, Casey telah membacakan serangkaian gejala umum berkenaan dengan penggunaan zat amphetamine dalam dosis tinggi. Namun hakim mengizinkan penuntut melanjutkan pertanyaannya.
Menurut Kool bahwa beberapa gejala yang tadi dibacakan oleh penuntut memang dapat diasosiasikan dengan kegilaan.
"Pertanyaanku adalah berdasarkan pada buku petunjuk 'Pharmacological Basis of Therapeutics' yang disusun oleh Goodman and Gilman," kata Casey. Ia menekankan bahwa gejala-gejala tersebut timbul akibat kebiasaan buruk seseorang yang menyuntik dirinya dengan narkotika. "Apakah Anda setuju dengan pendapat Goodman dan Gilman dalam subjek gejalagejala penggunaan berlebihan zat methamphetamine atau yang dikenal pula dengan morfin?"
"Ya."
"Apakah Anda melakukan diskusi secara personal dengan saksi mata kasus ini bahwa terdakwa adalah pe-
candu narkotika?"
"Keberatan,"kata Kane. "Teruskan," kata hakim.
"Aku bertanya kepada kakak perempuan terdakwa dalam percakapan telepon kami mengenai sesuatu yang berkenaan dengan isu tersebut," jawab Dr. Kool, "dan ia mengindikasikan bahwa dirinya pernah melihat beberapa kali keadaan diri sang terdakwa, yang menurut pemikiran kakak perempuannya itu, Joey tengah berada dalam pengaruh sesuatu zat. Dan itu terjadi pada hari di mana adiknya tersebut benar-benar tidak sedang dalam pengaruh sesuatu zat semacam itu. Oleh karenanya aku sendiri bertanya pada Tuan Coyle apakah ia sedang dalam pengaruh obat-obatan pagi itu, dan ia menjawab bahwa dirinya bahkan belum mengkonsumsi apa pun sedari pagi, saat itu. Kedua hal itulah telah memberikan dasar sebagai tambahan pertimbangan atas semua pernyataanku."
'Tentu, menurut indikasi dalam laporan Anda bahwa setelah usia dua puluh dua tahun, terdakwa mulai menggunakan methamphetamine, apakah benar adanya?"
"Ya."
"Tuan saksi yang terhormat, berdasarkan pengalaman Anda, ketidakwarasan legal tidak dapat didasari atas penyalahgunaan obat terlarang, apakah pernyataan tersebut benar?"
"Pernyataan itu benar, aku tahu itu."
Casey mengakhiri pertanyaanya. Karena dokter Kool tidak menemukan bukti penggunaan obat terlarang pada diri Joey, tentu kasus tidak bisa diperpanjang dengan mengangkat isu narkotika. Casey akirnya memutuskan untuk berhenti mencoba penekanan isu tersebut. Kane mendapat kesempatan satu kali lagi untuk mengajukan
pertanyaan kepada Dr. Kool. Ia menggunakan penekanan dalam isu manic.
Casey melakukan kesaksian bantahan beberapa hari kemudian setelah kesaksian itu. Ia mengajukan Linda Rutter untuk memberikan kesaksiannya, dan segera mempertanyakan tentang penyalahgunaan obat yang dilakukan Joey.
"Apakah Anda melihat terdakwa dalam pengaruh narkotika?"
"Ya," jawab Rutter.
"Dan, apakah Anda dapat menjelaskan dengan lebih spesifik, berapa kali terdakwa ditemukan tengah berada di bawah pengaruh obat terlarang?"
"Setengah dari seluruh perjumpaanku dengannya."
"Dan apakah Anda melihatnya sendiri, terdakwa itu telah melakukannya?"
"Ya."
"Okay."
Kane berdiri.
"Anda tidak melihatnya sedang dalam pengaruh obat terlarang, pada hari Kamis, apa benar?" Kane bertanya pada Linda.
"Ya."
"Dan menurut Anda, hari Kamis adalah hari terburuk baginya? Hari Kamis dan Senin?" "Ya."
"Dan, fakta menunjukkan, ketika ia menggunakan obat terlarang, apakah dia berperilaku lebih baik. Joey bersikap tenang, benarkah?"
"Ya."
"Jadi ia tidak bersikap liar atau aneh atau kalut atau frenzy ketika dalam pengaruh obat-obatan?"
"Ya."
"Okay, Anda pernah melihatnya memakai narkotika sebelumnya, apa itu benar?" "Ya."
"Dan ia tidak pernah bertingkah liar bahkan gila sebelumnya?"
"Tidak. Tidak pernah."
"Sikap liar dan gila, kalut, ketakutan, serta aneh yang ditunjukkan terdakwa, telah terjadi setelah ia menemukan uang itu, benarkah?"
"Ya."
"Narkotika memiliki kemampuan untuk sebenar-benarnya membuatnya tenang?" "Ya."
Terus menerus selama persidangan Casey berupaya sekuat tenaga untuk meyakinakan juri dengan tuduhannya, namun dengan gemilang Kane berhasil menjatuhkannya. Hakim menyimpulkan dan mempersilahkan sang gadis mungil berambut pirang untuk kembali ke tempat duduknya.
"Para hadirin sidang kali ini, Anda telah mendengar kesaksian berkenaan dengan penggunaan obat-obatan yang dilakukan oleh Tuan Coyle. Anda berhak percaya atau tidak memercayai terstimoni tersebut ... karena Anda sekalian adalah pencari fakta dalam kasus ini. Namun demikian, aku ingin memberikan instruksi dan menegaskan kembali bahwa Anda, dengan cara bagaimanapun, akan mempertimbangkan hasil kesaksian tersebut dengan dalih penyalahgunaan narkotika, sebagai sebuah indikasi bahwa terdakwa memiliki karakter buruk atau melakukan sesuatu yang tidak benar atau tidak tepat. Tentu saja, dalam hal ini, secara fundamental tidak adil bagi Tuan
Coyle jika saja Anda melakukannya. Dengan ini aku memberi peringatan dan instruksi. Kuharap Anda sekalian memahaminya. Terima kasih."
Seorang saksi bantahan lain yang diajukan oleh Casey adalah Psikiater Dr. Richard Schwartzman, yang telah memberikan kesaksiannya dalam review kasus bahwa Joey telah "memiliki cukup bukti, menolak deteksi, dan mencoba untuk kabur."
"Seharusnya ia tahu bahwa tindakannya salah yaitu telah melakukan aksi seperti itu," kata Schwartzman. "Dan seorang individu yang gila ... tidak memiliki niat untuk melakukan tindak kriminal. Mereka tidak memiliki pilihan seperti itu. Mereka tidak peduli akan ancaman atau hukuman yang akan dibebankan. Tentunya saya menganggap ... bahwa pria ini benar-benar sadar apa yang dilakukannya dan ia tahu perbuatannya salah, namun ia melakukan aksi penolakan untuk memahaminya."
Jika tadinya Casey merasa ragu akan memenangkan kasusnya itu segera sirna setelah ia memunculkan saksi yang terakhir ini. Seorang reporter surat kabar lokal bernama Jack Reiiiy muncul di tengah persidangan dan menyatakan bahwa ia memiliki informasi penting untuk hakim berkenaan dengan kasus yang sedang dibahas saat itu. Reilly memohon untuk berbicara empat mata dengan hakim, di mana ia memberitahunya bahwa salah seorang dari dewan juri telah mengontak dirinya via telepon.
"Reilly tidak memberitahu nama dari anggota juri tersebut," Hakim Chiovero memberitahu kedua pengacara setelah pertemuan empat matanya selesai dilakukan. "Salah seorang anggota dewan juri telah melaporkan pada reporter tersebut bahwa para juri telah melakukan diskusi tentang kasus ini sejak hari pertama sidang dilaksanakan
[yang mana dilarang untuk melakukan hal seperti itu], dan bahwa dalam pikiran semua anggota dewan juri, terdapat sebuah indikasi jelas bahwa mereka tidak akan memutuskan berdasar pada terminologi bersalah terdakwa Joey Coyle, namun semata-mata berdasar pada ketololan beberapa kelakuannya. Mereka tidak menganggap bahwa Coyle telah melakukan kejahatan apa pun."
Hakim Chiovero menanyai para anggota dewan juri satu persatu tentang kebenaran laporan sang reporter. Masing-masing individu menyangkal pernah mengadakan diskusi kasus dengan siapa pun. Tidak ditemukan cukup bukti kuat untuk menyatakan bahwa hasil sidang tidak sah. Kane dan Casey memberikan pernyataan argumentasi penutup, yang disusul dengan keputusan akhir dari hakim. Terlepas benar atau tidaknya laporan dari Reilly, informasi yang diberikan olehnya cukup akurat. Dewan juri memutuskan bahwa terdakwa, Joey Coyle, tidak bersalah."
Sungguh mengharukan. Joey memeluk sang pengacara pembela kasusnya, kakak perempuannya, dan melakukan toast dengan Frank Santos menggunakan kelima jarinya. Di koridor di luar ruang sidang, para juri berderet untuk memberi ucapan selamat dengan menyalami tangan dan menepuk bahu Joey. Dan Joey mencium tangan para wanita yang menyalaminya, dengan rasa bangga dan penuh haru.
Philadelphia belum siap untuk memenjarakan seorang pria dungu namun pemurah, baik hati, dan disenangi masyarakat; yang bernasib baik telah menemukan uang jutaan dolar namun kurang disiplin untuk segera mengembalikannya. Seorang pria yang tidak merasa kaget sama sekali adalah Pat Laurenzi, yang mengamatinya dari kejauhan. Casey sama sekali tidak mau mendekat, demikian
juga halnya dengan seorang polisi yang telah dipanggil oleh Casey sebagai saksi dalam persidangan yang baru saja usai.
"Persidangan Joey sangat lama, membosankan, dan sebenarnya tidak perlu dilakukan," kata Laurenzi beberapa saat berselang, ia memberi komentar. "Kasusnya tidak lain hanyalah memenuhi headline surat kabar yang muncul akibat ulah jaksa penuntut wilayah. Kasus seperti yang dialami Joey merupakan fantasi setiap orang. Kita semua tampak seperti orang bodoh ketika sidang usai. Dan siapa pun yang telah membantu tuntutan, pada akhir sidang namanya akan tercoreng buruk di mata umum."
Joey merasa lega, jauh lebih baik dari perasaan yang dirasanya layak. Ia adalah pahlawan masyarakat, "Pria yang menemukan uang jutaan dolar." Di dalam sakunya, ia selalu membawa lempengan timah yang didapatnya dari segel kantong kanvas uang, ke mana pun ia melangkah selama episode kasusnya dibahas. Namun orang masih saja belum merasa jemu untuk menanyakan di mana sisa uang $196,400 yang masih raib. Sebaliknya, Joey tidak pernah berhenti menyangkal bahwa ia tahu ke mana larinya uang tersebut.
"Tidak seorang pun memercayaiku," katanya. "Suatu hari aku akan melangkah keluar rumah dengan membawa skop di atas pundak, pada saat itu, aku ingin tahu berapa banyak orang yang akan mengikuti kemana aku pergi."
***
Joey merayakan kemenangannya telah terbebas dari tuntutan apa pun, dengan pesta ala Joey yang biasa dilakukannya. Ia kembali melakukan penyuntikan zat terlarang ke dalam aliran darahnya, high, dan terus menerus dilakukannya. Joey giat mencari uang dengan cara apa pun sesuai kemampuan, lalu menghabiskan uang hasil jerih payahnya demi meth. Ia kembali pada kebiasaannya mengecewakan orang lain. Ia merasa sukar untuk dapat berbaur dalam kehidupan normal, dengan begitu ia mudah terjatuh ke dalam jurang masalah. Delapan bulan kemudian, Joey ditangkap polisi karena terbukti memiliki dan mengunakan meth. Tahuntahun selanjutnya, ia keluar masuk panti rehabilitasi pacandu narkotika dan tidak bosan-bosannya, ia keluar masuk penjara.
Hubungan Joey dengan Linda Rutter telah berakhir, dan gadis itu meninggal akibat overdosis beberapa tahun kemudian.
Tujuh tahun berlalu, dan pada 1992 kisah Joey diangkat ke layar perfilman dengan judul Money for Nothing. Karakternya diperankan oleh John Cusack, seorang aktor yang sangat kita kenal di dalam film Con Air dan The Thin Red Line.
Joey sendiri beberapa kali menolak menonton film itu. Ia khawatir kalau dirinya digambarkan sebagai pe-candu narkotik, dan hal itu akan mengakibatkan anggapan negatif dari penduduk di sekitarnya.
Kali pertama Joey bertemu dengan John Cusack adalah ketika aktor itu mengunjunginya di Philadelphia pada November 1992. Dari namanya, Joey mengira bahwa aktor itu pastilah berasal dari Polandia. Maka itu, untuk menjamunya, ia bersama pacarnya, Tish Konowal, menyajikan hidangan kiefbasa yang khas Polandia. Tapi ternyata
Cusack sendiri berasal dari Irlandia, sama seperti Joey, hanya saja secara keturunan, aktor itu jauh lebih kental. Mereka pun tertawa geli sambil menyantap hidangan kiefbasa,
***

0 Response to "Joey : Si Frustasi Yang Beruntung"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified