Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

In The Name Of Broken Wishes

Prologue
Tahun 1687 penanggalan matahari, desa Exemptio - Benua Sol.
Guntur meraung-raung bersama angin kasar. Bongkah besar air jatuh menangis
dari langit turun ke bumi mengguyur desa Exemptio. Desa yang sepi dan jauh dari
hingar bingar kota ini mulai terendam. Air setinggi lutut membanjiri tanah lembut desa
yang terletak di lembah Librea -bagian selatan Negara Scutleiss. Hewan-hewan sudah
lebih dahulu melarikan diri, mereka tahu alam tidak boleh ditentang. Mereka tahu,
sekuat apapun keinginan mereka menantang hujan tetap saja mereka akan terlindas
olehnya. Tapi tidak bagi manusia…
Dari balik gundukan bukit terlihat dua sosok yang berjalan menjauhi desa. Satu
kakek tua dan satu gadis remaja. Guntur sesekali bersahutan mengiringi kepergian
mereka. Deru kasar angin dan alam mencoba menerbangkan Daun Payung Besar, daun
besar seukuran tiga kali tubuh manusia dewasa, yang dibawa oleh sang kakek tua.
Cengkraman yang kuat berbalut keinginan membuatnya tetap tegar dalam genggaman
manusia. Lingkung lindung Daun Payung Besar ini membuat tubuh atas kedua sosok ini
tak basah. Hanya kaki saja yang terendam lumpur. Becek tanah yang hampir
menenggelamkan separuh betis bukanlah halangan tuk menerapkan tujuan.
Sang kakek, berjanggut hitam tebal panjang, mencitrakan ketegasan. Tulang
rahangnya tinggi dan proporsi wajahnya memanjang ke atas. Ia mengenakan jubah
putih dengan Mantel putih yang kaku tak berkibar walau terhantam angin. Aksaraaksara
frunic, aksara kuno benua Sol, menghias lengan kirinya yang bertuliskan
namanya: Vristinus Adam. Sekali lihat saja, badan kakek ini tetap tegak walau keriput
sudah menghias seluruh ototnya. Ia membiarkan sang gadis berjalan di sampingnya. Ia
tahu, badai seperti ini justru menjadi pelajaran bagi sang gadis.
Sang gadis, bermata biru pucat dan bergaris mata sayu, mencitrakan kesenduan.
Rambutnya yang hitam sebahu sudah kuyu sama lelahnya dengan sang pemilik. Baju
biru kelamnya lusuh menggambarkan suasana hatinya. Bibirnya yang merah telah
membiru, memucat kedinginan. Perkara dingin dan banjir tidaklah mengganggu hatinya
tapi angin mengusik hatinya. Ia sesekali melirik kebelakang seolah berharap akan
datangnya sesuatu. Ia berusaha mempertegas gerak langkahnya, meyakinkan keputusan
yang telah diambilnya. Ia tahu, bila ia bergerak terlalu kentara maka isi hatinya akan
terbaca oleh kakek di sampingnya.
Sang kakek justru tersenyum, ia tahu apa yang digundahkan oleh sang gadis.
Walau mau disembunyikan seperti apapun, walau teman perjalanannya tak berbicara
sepatah katapun, tetap saja ada hal yang selalu terucap dalam denyut gerakan, denyut
kehidupan.
“Jangan sedih dengan perpisahan ini. Ingatlah kalau kau akan berjumpa kembali
dengan ibumu.”
Sebuah usapan halus di punggung sang anak membuatnya tentram. Sang gadis
hanya mengangguk bisu mengikuti jalan yang terus menurun.
Jalan setapak keluar lembah mereka susuri, mengitari aliran sungai di bawah sana
yang mengalir deras. Patahan-patahan kayu yang hanyut terhantam batu apung
bermaksud menakuti perjalanan tapi tak kesampaian. Arus itu bagi mereka adalah
pertanda jalan keluar dari lembah itu semakin dekat. Pertanda perpisahan segera
menjadi kenyataan tak terucap.
Pohon-pohon Matara berdaun hijau coklat mulai terlihat merapat. Tiga puluh lima
baris pohon terletak di kiri dan kanan dengan jarak hanya seperempat tombak per
pohon. Pohon yang tingginya lima tombak dan juga berdaun lebar-gemuk-lagi keras ini
menjadi formasi masuk dan keluar desa Exemptio.
Andai pengunjung tak tahu sistematika langkah yang tepat maka mereka hanya
akan melewati lembah Librea tanpa sekalipun mengendus jejak desa Exemptio.
Sang kakek memberikan kendali payung besarnya pada sang gadis. Ia melangkah
keluar dari lindungan payung. Titik air sama sekali tak menyentuhnya seolah
terlindungi oleh selaput tipis tak terlihat. Ia menelengkan kepala sebagai isyarat bagi
sang gadis untuk mengikutinya.
Mulailah sang kakek melangkah lurus menuju baris ke sebelas -kanan, lalu
menuju baris dua puluh lima -kiri, lalu tujuh belas-kiri dan terakhir baris pertamakanan.
Ia selesai dan menunggu sang gadis yang mengikuti tanpa cela.
Tapi sang gadis berhenti di baris tujuh belas -kiri. Ia menunduk, matanya kembali
dialihkan ke belakang. Sebisa mungkin tidak menengok.
“Tenanglah Saravine… Allen sudah diberitahu akan kepergianmu ini.”
Saravine ingin berucap. Dagunya sempat naik sesaat tapi kembali urung, bibirnya
kelu. Tak ada suara terlontar sesuai nama belakangnya: Mutia. Pencinta Diam.
Saravine Mutia, gadis 15 tahun yang memiliki takdir bagai ilalang mawar.
Berduri, tajam, dan menyakitkan. Sejarah hidupnya terbuang dalam lingkar darah
kuntum kekuasaan. Satu-satunya yang ia harapkan adalah adanya kelopak cinta yang
akan mekar, kelopak yang sanggup memerahkan isi hatinya dalam cinta.
Keengganan melangkah semakin menjadi. Ia diterjang dua pilihan. Pergi demi
menemui kesejatian indahnya cinta... atau tinggal bersama pupuk untuk untuk melihat
mekarnya bunga baru. Ia menunggu hatinya berbicara. Tapi nama dirinya menjadi
pembungkam segala rasio. Emosi yang larut tak mampu menolong. Hanya
memperrumit.
Sang kakek tahu dan membiarkan, toh umur sang gadis memang sudah
mengharuskannya untuk bertanggung jawab.
Saravine mengangkat dagunya. Ia telah memutuskan, untuk terakhir kalinya. Ia
tidak akan gentar lagi dan tidak akan menyesal karenanya. Ia melangkah, ia memilih
meninggalkan sang pupuk. Gerak langkahnya tidak lagi berat. Formasi Matara telah
ditinggalkannya. Ia kembali berdiri sejajar dengan sang kakek. Petir pun semakin
meraung-raung menggetarkan angkasa saat Daun Payung Besar diserahkannya. Ia
ponggah bertanya pada Saravine ‘yakinkah kau!?’ dan Saravine menjawab ‘yakin!’
Saat itulah suara langkah kaki yang lemah terdengar. Suara becek langkah itu…
Saravine langsung menengokkan mukanya. Ia tahu langkah kaki itu! Ia tahu kecepatan
kaki itu bergerak! Ia tahu siapa yang datang. Dan ia benar… Sang pupuk tiba.
Remaja mungil, laki-laki, seumuran dengan Saravine, yang berrambut hitam
berantakan berdiri di atas tanjakan. Napasnya tersenggal-senggal membuat hidung
mancungnya kembang kempis cepat. Keringat, basah air hujan, dan lumpur bercampur
menjadi satu menggambar baju hitam robek-robeknya. Kakinya lecet karena tak
berterompah. Tapi si mungil justru nyengir puas. Mata hitam lurusnya menyampaikan
lebih dari seribu kata pada Saravine.
Sayang, Saravine tidak menanggapi, ia terlanjur membelokkan wajahnya menuju
pintu keluar lembah. Ia telah menetapkan keinginannya dan ia tak boleh melanggarnya.
Tapi tetap saja, kegundahan melanda. Langkahnya kembali berat. Sang kakek tentu saja
mengetahuinya, ia terpaksa turun tangan.
Saravine mendadak menerkam sang kakek, tangan kecilnya memegang erat
tangan sang kakek. Saravine tak perlu menggeleng, sang kakek sudah mengerti
semuanya. Ia mengurungkan kehendaknya.
“Sara!!” teriak sang anak. Saravine terhenyak mendengarnya. Ia tak menyangka
suara itu mampu menembus hujan dan menusuk kalbunya. Hatinya semakin tersiksa
kala kaki mungil pengejarnya kembali mendekat.
“Allen!” bentak sang kakek. Allen, si mungil, sama sekali tak menghentikan
langkahnya. Ia punya hal yang harus dikerjakannya. Lihat saja, ia menerjang badai
seorang diri, tanpa pelindung, tanpa terompah, hanya dengan tubuh kecilnya. Ia
mencapai formasi Matara dan melangkah asal-asalan. Formasi Matara langsung
menahan geraknya! Efek formasi ini akan berbeda bagi mereka yang memulai dari baris
tiga puluh lima. Pohon-pohon besar itu bergerak mengepung Allen. Penduduk biasa
mungkin akan mundur untuk mengulang tapi tidak untuk bocah ini! Ia justru makin
nekat maju! Ia tak peduli akan daun besar yang seakan hendak menelan tubuhnya itu.
Allen kecil terpental dihantam daun besar. Ia tak menyerah dan kembali bangkit meski
darah mengucur membasahi kepalanya.
“Allen!”
Lengking suara Saravine menghentikan gerak Allen. Derasnya hujan kembali
membungkam mereka berdua. Petir mulai berkilat senang. Gemuruhnya deras mendera
telinga. Sang petir makin berkilat tatkala Saravine menjauh. Sang kakek pun mengikuti
Saravine dengan wajah kecut. Ia dapat melihat apa yang Allen tak dapat lihat: Air mata
kesedihan dan kepahitan.
“Sara~!! Kamu harus janji!! Kalau nanti kita ketemu lagi~” teriak Allen kencang.
GLEGAR!!
Suara petir memutus perkataan Allen. Saravine pun tak bisa mendengar lagi apa
yang diteriakkan Allen. Perlahan suara guntur mereda membuat suara Allen kembali
bergetar di udara.
“Aku pasti akan mencarimu! Walau kau menjadi Wishmaster, Aku pasti akan
menjadi Darkmaster untukmu~~”
Allen kecil tak mengerti arti kata dan janji yang ia ucapkan. Konsekuensi yang
akan ditanggungnya suatu saat tidaklah akan semanis yang dikiranya. Ia hanya tahu,
dirinya akan menjadi angin yang turut membawa awan, air, dan angin yang lebih keras
lagi demi menjalankan janjinya itu. Itulah perpisahan pertama Allen dan Saravine, di
bawah hujan deras, ditertawai sang petir, dihalangi formasi Matara, dan juga dihalangi
oleh pengorbanan keinginan.
Chapter 1
Pertemuan dan Kembali
5 tahun setelahnya
Tahun 1692 penanggalan matahari, -Benua Sol.
Istana Erune. Istana yang berupa kumpulan menara serupa Bulan sabit menjadi
pemandangan sendiri bagi penduduk kota Lovisolistia.”Penangkap Keindahan Langit”
adalah nama lain darinya. Julukan ini didapat dari lengkung sabit Istana yang mampu
membawa matahari atau bulan bernaung di tengahnya. Tak hanya itu kerlip delapan
menara pada pojok-pojok pagar menjadi penunjuk waktu bagi penduduk kota.
Situs wisata mata ini pun dijaga oleh patroli barisan R-Knight; unit tempur paling
umum dalam Benua Sol. Dengan zirah perak dan Rapier tertutup mantel, mereka
menjaga istana setinggi 30 tombak ini. Helm Anima1 berstrata tinggi –predatormemberi
ancaman tak sembarang. Kabar burung menyatakan satuan unit R-Knight
istana Erune sebanding dengan unit terkuat di benua Sol: Paladin, barisan Pelindung
Keyakinan. Maka tak sembarang orang bisa menerobos tempat ini. Tapi selalu terdapat
pengecualian dalam segala hal.
“PENYUSUP! BUNYIKAN ALARM!”
Teriakan keras menggema di seantero istana Erune. Di siang bolong dan terik
kuning begini para pasukan kerajaan tampaknya mencurigai adanya oknum misterius
yang berkelebat masuk dalam daerah terlarang istana. Dentang bel memekakkan
telinga. Gemanya menusuk dari menara-menara tinggi istana kerajaan. Penanda waktu
sontak berhenti berdenyut dan mengubah semua warnanya menjadi merah gelap dan
biru terang secara bergantian.
Barisan R-Knight mulai terpencar dan mencari sang penyusup. Sementara itu,
jauh di atas salah satu menara istana, terlihat satu sosok yang merapat pada pojok
langit-langit. Ia turun, tanpa suara, setelah barisan patroli R-Knight menjauh.
Sosok pemuda ini memakai baju dan celana panjang hitam bergelombang yang
dipenuhi robekan. Hanya scarf putihnya sajalah yang terlihat bersih mengkilap. Aksara
frunic A. I. tercetak dalam lipatan Scarf. Sebuah Plakat Platinum Hitam bergelung di
antara scarf putih dan baju hitamnya. Hidung mancung ditambah mata yang dipenuhi
semangat dan geliat hidup mengisi wajah yang terlihat jenaka. Angin segar mengibas
rambut hitam acak-acakan sosok ini. Aroma hangat lagi lembut angin tropis bergelung
tipis, bermain dan bercanda bersama. Angin yang mengundang tapi juga bisa
mengguncang.
1 Adalah salah satu kepercayaan dalam Benua Sol yang sering dipadakankan dengan Kultur R dari RKnight.
Arti Anima adalah “Sosok hewan pelindung (roh) yang berdiam dalam diri manusia dan
diasosiasikan dengan kekuatan hidup seseorang.”. Tiap Anima memiliki tingkatan tersendiri. Karena
itulah bentuk helm menjadi dasar pangkat. Pangkat tertinggi dimiliki oleh 4 hewan suci: Naga, Elang,
Macan dan Kura-Kura. Setiap hewan merepresentasikan 4 kekuatan dasar manusia: Kebijaksanaan/
Pengetahuan (Kura-Kura), Kekuatan (Macan), Kecepatan (Elang), dan Kharisma (Naga).
Inilah Allen Inverson. Anak kecil yang 5 tahun lalu berusaha menghentikan
kepergian Saravine. Sekarang ia tak lagi pendek, tingginya sudah cukup untuk membuat
satu tombak kurang sejengkal sejajar denganya. Tangannya terlihat kekar pertanda
cukup terlatih. Ia dipastikan bisa menggendong perempuan manapun dan membawanya
lari sejauh apapun. Meski cukup banyak berubah, ada banyak hal yang ternyata tidak
berubah.
Ia tersenyum, bukan... nyengir. Cengiran itu memperlihatkan barisan giginya
yang rapih putih diikuti dengan taring kecil. Matanya yang hitam terlihat nakal mondarmandir
melihat sekeliling. Hiruk pikuk gelap terang mengisi sekeliling tapi baginya itu
tak lebih dari sekedar candaan angin belaka. Yah, ia tetap membawa angin dan ia tetap
memiliki cengiran yang sama. Cengiran yang selalu memperlihatkan lesung pipinya
yang imut.
“Fiuuh~ tak kusangka kalau ternyata mencari informasi kali ini akan seru.”
ujarnya senang. Baginya suasana bahaya seperti ini justru dianggap seperti permainan
belaka. Tak lebih.
Saat hendak melangkah, ia menginjak ranting. Sontak patroli R-knight curiga dan
hendak kembali.
“Wah~ Dark Nature benar-benar senang memberiku kejutan hari ini.” gerutusenang
Allen pada dirinya sendiri. Ia langsung memilih hal pertama yang terlintas di
kepalanya. Ia melompat tinggi, menunjukkan dirinya pada patroli R-Knight. Riuh RKnight
kembali mengguncang istana.
Semua ini bermula dari keisengan belaka. Allen yang penasaran dengan larangan
masuk istana ini tertarik melihat Kristal-kristal penanda waktu di salah satu menara. Ia
tak beruntung, patroli R-Knight yang awas menemukannya. Jadilah ia lari-lari bermain
petak umpet. Ini tidak diinginkannya tapi toh senang-senang tetap menyenangkan.
Sekarang ia mengulanginya lagi, ia harus berlari menyusuri atap selasar
penghubung antar menara. R-Knight hanya mampu mengejar seadanya, mereka unit
darat yang kesulitan mengejar benda cepat dalam topografi tinggi. Perintah-perintah
dalam nada tinggi mulai terdengar menjauh. Allen senang, apalagi ia ditemani oleh bulu
Merak yang tiba-tiba muncul entah darimana. Tapi, ia ingin kesenangan lebih. Ia ingin
menjadi Angin.
“Area level 2, Angin.” Bisiknya pada Plakat Platinum Hitam yang terangkat.
Kecepatan lesat Allen meningkat. Ia membuat R-Knight kesulitan mengejarnya,
tak hanya dalam kecepatan. Menara berundak didakinya dengan lesatan tinggi.
Allen melompat masuk ke dalam jendela pertama dari menara tempatnya
bernaung. Ia cekikikan sesaat setelah melihat patroli R-Knight lewat saja tanpa bisa
mengecek jendela yang tingginya 7 tombak lebih.
Sekarang ganti Allen yang memperhatikan ruangan itu. Ruang besar dengan
warna-warna megah dan penuh aura kekuasaan seakan turut menceritakan keagungan
sang pemilik. Permadani merah nan romantis menyelimuti lantai. Ornamen-ornamen
dan dekorasi perak dengan pola ukiran tiga mata menyala memenuhi hampir seluruh
ruangan. Pencuri manapun pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka seperti
ini. Untuk Allen, ia justru senang bermain dengan benda yang baru dilihatnya.
Kursi malas Evallift berwarna putih terletak ditengah ruangan tepat di depan
sebuah kaca besar yang ukurannya setara 2 kali tubuh Allen. Tentu ia tak menyianyiakan
kesempatan untuk mendudukinya. Berontak liar kursi Evallift membuatnya
tersentak-sentak kegirangan sembari menjelajah sekeliling dengan matanya. Satu yang
menarik perhatian Allen adalah atribut-atribut bersolek yang tergantung dekat kaca
besar itu. Meski begitu di dekat kaca itu disandingkan sepasang Rapier.
Sebuah tempat tidur besar dengan menjadi perhatian Allen berikutnya. Lambang
kerajaan menempel di kepala kasur. Ditutupi oleh seprei dan kelambu besar. Tanpa
menunggu lebih lama, ia merebahkan diri dan berenang-renang mendapati kenyamanan
kelas istana.
Tepat pada saat itulah ia mendengar adanya suara yang bercakap-cakap di
seberang pintu kayu coklat hitam. Ia hendak mengambil ancang-ancang kabur tapi
patroli R-Knight masih berseliweran di bawah. Ia bosan main kejar-kejaran. Opsi
bermain baginya saat ini adalah:
Ngumpet.
Kolong ranjang adalah tempat terbaik yang ia pikirkan. Tak lupa ia mengaktifkan
Sumbat Suara melalui Plakat Platinum Hitam. Ia mampu mendengar suara tapi siapapun
tak bisa mendengar suaranya. Alat curang untuk petak umpet yang kurang disukainya.
Tapi untuk beberapa urusan dibutuhkan.
Pintu kamar terbuka setengah. Allen mendapati tiga pasang kaki berdiri di antara
pintu masuk: Sepasang sepatu bot bertabur batu Rubidium merah dan dua pasang sepatu
hitam lain dengan kaus kaki putih panjang. Tiga-tiganya berbetis ramping. Ia
mendengar suara dua perempuan berbicara
“Pangeran.” kata mereka –nyaris berbarengan. Nada mereka terdengar cemas.
Tapi suara berat-agak-manja membuat dua suara perempuan tersebut tak lagi terdengar.
Dua suara itu pamit dan meninggalkan kaki bersepatu bot indah itu. Allen
menduga ini kaki sang pangeran. Ia tak cukup bodoh untuk mengetahui pemilik kamar
setelah melihat kemewahan sepatu itu.
Allen melihat kaki pangeran melintasi ruangan dan berhenti di depan kaca besar.
Balutan sepatu bot yang dipakainya nyaris menenggelamkan betis itu. Allen pernah
mendengar kalau pangeran kerajaan ini terlihat kemayu dan ringkih. Tidak mampu
berpedang, tidak lincah, berjari lentik dan senang bersolek. Allen mencoba mengingatingat
namanya... seingatnya ada nama ‘Velicious’ saja di depan nama pangeran ini.
Kasur di atas Allen bergetar ringan. Satu dua gerakan ringan dari getar ranjang
menandakan sosok di atas tengah merebahkan diri. Terdengar erangan berat lagi manja.
Bagi Allen, ini kesempatan untuk keluar dari persembunyian. Tapi ia telat selangkah...
Sebuah Rapier, Fleuret, tiba-tiba menembus kasur dan bertengger setipis kertas di
depan hidung Allen. Pedang tipis itu nyaris mengubah hidung mancung menjadi pisang
dedel. Ia bahkan bisa merasakan dinginnya hawa Debole Rapier. Kilau logam perak
pada mata Rapier menunjukan betapa tajam dan mematikannya pedang itu. Allen
mengerenyitkan alis. Kebetulan?
Allen mencoba menggeser hidungnya sedikit. Bilah pedang itu mengikutinya
tanpa mengubah rentang jarak sehelai rambutpun. Tidak hanya sekali, gerakan halus
turut diikuti tanpa cela. Ketepatan kontrol yang luar biasa. Mau tak mau Allen tertegun
melihatnya.
Tapi bukan Allen namanya kalau ia tak bisa kabur. Ia tahu, Rapier yang tertahan
kasur itu tak mungkin mengejarnya dengan cepat. Ia merayap ke samping bak serangga
Kexoa. Sekali lagi Allen salah! Tusukan Fleuret datang terlalu cepat. Andai saja
reflexnya tidak sebagus serangga menjijikan itu, bisa dipastikan tusukan itu sudah
menembus ubun-ubunnya. Ia merayap lebih cepat! Kasur berlubang-lubang
menghamburkan bulu-bulu Angsa. Allen melesat keluar dari kolong sebelum
pandangannya terganggu oleh debur bulu. Jalan kabur yang terpikir baginya saat itu
adalah: jendela!
Baru saja berpikir seperti itu lantas sang pangeran menghadangnya di depan
jendela. Siapa bilang Pangeran satu ini bangsawan kemayu yang ringkih!? Pangeran ini
memang bertubuh kecil. Ia kalah tinggi dari Allen tapi kecepatan geraknya menyamai
lesatan tubuh Allen yang semakin tersudut.
Tangan yang berjari lentik itu terlihat lihai sekali menusukkan Flueret.
Kecepatannya tusukannya luar biasa. Angin dapat ditembusnya. Perabotan gaduh
hancur akibat hawa tusukan. Ia bisa memanfaatkan titik buta pandangan yang terhalang
oleh bulu-bulu angsa. Tak pelak, arah tusukannya selalu terpusat pada dada kiri.
Serangan manapun yang dilakukan selalu mengancam dan siap merenggut nyawa dalam
sekejap mata.
Nyaris tak terlihat kelengahan. Gerakannya efektif. Bahkan Rambut putih panjang
pangeran bisa digunakan sebagai penyapu udara saat kedudukannya lemah. Badai
serangan tak berhenti walau tusukannya lurus.
Allen melompat mundur ke pojok langit-langit. Ia menemplok bagai Cicak.
Wajahnya pucat tapi senang. Napasnya berderu kencang. Serangan barusan cukup
memacu jantungnya.
Debur bulu angsa perlahan luruh menyentuh tanah, membuat pandangan mereka
tak lagi terhalang. Sebuah nuansa nostalgia sepertinya terciprat dari wajah Allen. Ia
merasakan sesuatu yang familiar dari sang pangeran. Di lain pihak, sang pangeran
justru merenggangkan kuda-kudanya, Fleuret-nya diturunkan. Wajah yang tadi terlihat
serius dan garang berubah tenang.
“Allen?”
Suara sang pangeran terdengar lembut dan tinggi persis seperti perempuan.
Padahal sebelumnya suaranya terdengar berat. Allen kembali mengerenyitkan kening.
Penyakit nomor satu Allen kambuh: PIKUN!
“Kamu kenal aku?” tanya Allen polos.
Sang pangeran terhenyak. Raut mukanya jelas memperlihatkan kekecewaan tapi
langsung kembali tenang.
“Tampaknya kau lupa.” ucap sang pangeran sembari mengibaskan tangannya
menarik sebuah mahkota bunga -entah dari mana asalnya. Mahkota bunga itu
dikenakanya di atas kepala diiringi senyum manis. Allen mengerutkan alisnya. Ia
kembali memutar matanya memandangi cicak imut yang ikut menempel di dinding.
Memangnya siapa pria yang pernah bertindak feminin seperti itu di hadapannya?
“Masih saja pikun.” Sang Pangeran melirik kiri dan kanan sebelum mengusap
wajahnya. Tak dinyana usapan itu mengganti warna kulit pangeran yang putih pucat
menjadi kuning langsat. Perubahan itu bahkan juga mengubah garis mata, dari garis
mata yang kecil meliuk tajam menjadi mata yang sayu. Hidung pangeran yang sedikit
besar ikut mengecil. Bibir pangeran yang kering pucat perlahan merekah merah basah.
Rambut putih itupun perlahan menghitam dan berubah ikal. Satu-satunya yang tak
berubah hanya warna mata pangeran yang berwarna biru pucat. Allen ternganga... ia
tahu, tidak! Ia ingat! Ia ingat siapa yang berada dihadapannya walau tubuh itu tak ikut
berubah.
“Eh... bohong...”
“Ini aku, Saravine Mutia.”
“Sara!!”
Allen mendarat turun dan tanpa ba bi bu langsung memeluk Saravine- yang masih
bertubuh pria. Saravine jengah dan mendorong Allen dengan ringan.
“Kau ini, apa kata orang kalau mereka melihat kita.”
“Tidak ada siapa-siapa di sini. Lagipula kamu kan tahu aku mana peduli omongan
orang.” sebuah cengiran menghias wajah Allen. Wajahnya menjadi lima kali lebih
cerah dari sebelumnya.
“Jadi, jadi bagaimana kabarmu Sara? Ada banyak sekali yang ingin kutanyakan.
Tapi pertama-tama itu saja dulu.” Tanya Allen antusias.
Saravine mengacuhkannya. Fokusnya justru memandangi Allen dari atas sampai
bawah. Pandanganya berhenti pada Plakat Platinum Hitam yang tergantung di scarf
putih milik Allen. Plakat itu adalah penanda kelas misterius yang disandang Allen.
“Darkmaster?” tanya Saravine pelan.
“Yap!” Allen berkacak pinggang. Ia mengibaskan scarf putihnya memperlihatkan
Plakat tersebut.
“Sekarang aku sudah diresmikan menjadi Darkmaster. Artinya…”
Wajah Allen berubah serius. Ia mendekatkan wajahnya pada Saravine.
Reaksi pertama Saravine justru memundurkan muka. Meski mengenalnya cukup
lama tetap saja ia selalu dikagetkan akan perubahan mimik muka Allen yang serba tibatiba.
“Aku takkan jatuh kalah lagi lawan kamu!!” saat itulah Allen mengetuk kening
Saravine. Keterkejutan Saravine berganti menjadi kekesalan yang tidak terlihat dari
balik mata sayu itu.
“Kata siapa?”
Saravine menempelkan jemari tangan di dada Allen. Ia berbisik lembut pada sang
angin.
”Kuingin kau jatuh.” gemulai jari Saravine melentak turun. Bagai mantra,
efeknya langsung terasa.
Allen terjatuh bergedebam. Muka duluan.
Allen menggerutu “Kenapa jatuh melulu siih~?” sembari berkali-kali memukul
lantai. Kesal. Ia berguling-guling menyapu bulu-bulu angsa di lantai.
“Dasar Wishmaster jeniuu~s.” ledeknya dan terus diulangi “Dasar Wishmaster
jeniuu~s.”
Wishmaster, panggilan Allen pada Saravine barusan, adalah kelas tersembunyi
yang mampu mengakselerasikan keinginan pribadi mereka menjadi kekuatan. Mereka
menyebut kemampuan mereka dengan sebutan Kekuatan Keinginan. Variasi paling
dasar dari Kekuatan Keinginan adalah memaksimalkan kondisi fisik mereka2.
Mudahnya, jerawat mampu disingkirkan ataupun diciptakan di wajah. Seperti apa yang
dilakukan Saravine; mengubah susunan otot wajah, suara, dan tubuh untuk menjadi
seorang pria.
Memang, tak semua keinginan bisa dikristalkan atau dimaterikan secepatnya.
Buktinya, keinginan mereka belum tentu bisa mencegah keinginan orang lain; seperti
misalnya mencegah Allen berguling-guling di lantai.
Saravine justru membiarkan Allen bertingkah. Ia tahu polah kekanak-kanakan
pria ini takkan selesai begitu saja. Dan Saravine cukup tahu alternatif menghentikan
Allen tanpa menggunakan Kekuatan Keinginan.
Saravine membuka lemari kecil berlapis gading Electaphon dan mengambil ceret
Lavageni, dua buah cangkir, dua sendok perak, dan tatakannya. Ia menuang air ke ceret
Lavageni. Dalam sehirupan napas, uap panas mengepul dari mulut ceret. Air panas
instan dari ceret berelemen api ini telah siap.
Melihat ini Allen langsung bersalto dan berdiri tegak. Ia mengambil sesuatu dari
balik pakaian hitam kumalnya. Memang benar, Saravine tahu cara membungkam Allen.
“Jreng~!” Allen menunjukkan kantung kulit coklat kumal pada Saravine “Teh
Gratios!!” ujarnya senang.
“Masih sama, aku yang menyiapkan gelas sementara kau yang mengambil teh.
Kupikir kau sudah lupa tugasmu satu itu.” balas Saravine.
Saravine memberi ruang bagi Allen untuk menabur daun teh. Setiap cangkir
diberi dua helai daun. Lebih dari cukup.
“Mana mungkin aku lupa biarpun kakek Greul sudah tiada.” celetuk Allen.
Saravine memandangi Allen dan scarf putihnya.
“Scarf itu peninggalan terakhirnya?”
2 Walau menurut sebagian peneliti Kelas dalam Benua Sol, Wishmaster adalah salah satu kelas
misterius yang tak hanya mampu memanipulasi fisik individu saja tapi dikatakan dapat pula
memanipulasi benda yang disentuhnya dengan menggunakan Kekuatan Keinginan. Salah satu contoh
yang dapat dikatakan valid adalah menyatukan bagian tubuh tertentu dengan senjata tanpa mekanisme
operasi fisik bahkan tanpa menggurat luka pada tubuh.
Allen mencibir “Hah? Siapa bilang kakek Greul sudah meninggal?”
Saravine menyitir air di kedua cangkir itu secara bersamaan dengan ritme yang
stabil. Warna air dalam cangkir perlahan berubah menjadi berwarna coklat. Embun
kecil mengisi sisi-sisi cangkir keduanya diiringi uap panas. Aroma manis teh bertebaran
mengisi kamar, membaur bersama aroma perhiasan yang aristokratik. Saravine
menyendok teh itu dan menyisipnya.
“Barusan?” tanya Saravine.
“Wah, kakek Greul sih biarpun sudah karatan juga tidak akan mati secepat itu,
mungkin lebih baik baginya kalau~”
Saravine menyipratkan air menghentikan ucapan Allen.
“Tidak boleh bicara seperti itu! Keinginan yang konyol sekalipun bisa terkabul.”
“Oke oke! Aku lupa-aku lupa, Matreisha-ku~! Keinginanmu adalah titah
bagiku.”
Allen nyengir dan membungkukkan badannya. Kedua tanganya mengembang
dengan muka menengadah pada Saravine. Memberi salam ala Wishmaster sekaligus
kalimat khas mereka saat menemukan Matreisha mereka.
Matreisha adalah orang yang dijadikan tempat mengabdi bagi seorang
Wishmaster. Persyaratan utama untuk menjadi Matreisha sangat mudah: memiliki
keinginan yang sangat kuat yang secara umum dibahasakan sebagai impian. Seorang
Wishmaster yang menemukan Matreisha akan membantu mereka untuk mencapai
impian mereka apapun resikonya.
Apa keuntungan dari Wishmaster sendiri dengan mengabdi? Mereka akan
mendapat kekuatan dari akumulasi keinginan yang telah berhasil mereka bantu. Tidak,
mereka tidak mengurangi ataupun menyedot jumlah keinginan. Mereka hanya
bersinkronisasi dengan keinginan kuat itu dan mengolahnya menjadi sumber energi
mereka. Jadi dengan membantu orang lain mereka telah membantu diri mereka sendiri.
Mereka tentu saja percaya keinginan yang baik akan berakhir pada hal yang baik.
Begitupun sebaliknya. Tapi mereka percaya, merekalah yang menentukan akhir dari
keinginan-yang-baik itu sendiri.
Saravine dan Allen mengambil cangkir masing-masing dan mulai meminumnya.
Allen langsung menenggak separuh dan berteriak kepanasan karenanya. Ia menjerit
tertahan sembari mengibas-ngibaskan mulut dan lidahnya. Ia kurang sabar dalam
urusan tata krama minum teh. Atau mungkin, ia berusaha secepatnya membahas
masalah yang sudah lama dipendamnya.
Pintu kamar diketuk. Allen langsung menjengkit kaget. Refleks utamanya adalah
ambil langkah seribu. Tapi sebelum ia siap ambil ancang-ancang kabur tahu-tahu saja
bahunya dicengkram oleh Saravine dan dilempar masuk dalam sebuah ruangan yang
pengap.
“Pangeran?”
Saravine berdehem. Ia mengusap wajahnya kembali menjadi pangeran. Pangeran
Velicious Ravnell Ananda.
“Siapa di sana~?” suaranya kembali berat dengan nada manja.
“Arche Efeether, yang mulia pangeran Ravnell.”
Saravine membukakan pintu sekedarnya. Cukup untuk menyambut tanpa harus
membuat sang tamu mampu melongok kedalam.
“Ada urusan apa? Arche~”
Di hadapan Saravine adalah seorang pria besar berumur sekitar 30 tahun-an. Dia
adalah Arche Efeether sang Merak Putih, komandan pasukan Infantry R-Knight dari
sayap selatan. Sesuai julukannya, ia memakai zirah putih mengkilat. Helmnya
berbentuk paruh besar tajam lurus. Dua buah kristal merah menghias di atas paruh besar
itu. Anehnya, sebagai Komandan R-Knight ia sama sekali tak membawa selembar
senjata tak seperti dua ajudan di sampingnya. Gantinya ia menempelkan 5 helai bulu
ekor Merak gemulai-namun-mengancam di punggungnya.
Tatapan mata Arche tajam seolah mampu menelisik masalah apapun hanya dalam
sekali pandang. Dalam pertempuran, kemampuan memandangnya sebanding dengan
para Telik Sandi. Mata hijau itu merupakan pembawaan keturunan orang barbar utara
yang tinggal di perbatasan gunung Teoterrateis. Kesan kepercayaan diri memancar
darinya; yang sering pula diartikan sebagai keangkuhan oleh lawan bicaranya.
Arche adalah hasil perkawinan campur antara suku Barbar di selatan Teoterrateis
dengan masyarakat gunung negara Scutleiss. Dia besar, tingginya setara dengan satu
tombak, bertubuh kekar, berdada bidang, dan memiliki ketampanan yang cukup
membuat para gadis di kota Scutleiss untuk berteriak (dan pingsan) mengagumi bila
dirinya lewat.
“Pangeran Ravnell, hamba mohon ijin untuk masuk kamar pangeran. Kami
mendapat laporan adanya penyusup yang masuk dalam daerah terlarang.” Arche
membuka helm dan menyangkutkannya di tengkuk zirah. Helai-helai rambut hitamnya
yang terawat jatuh lembut tatkala ia menundukkan wajah.
“Dan Arche curiga dia ada di kamarku~?”
“Hamba tak berani... tapi para dayang sempat mendengar suara-suara aneh dari
kamar pangeran dan mereka melaporkannya pada kami. Kami khawatir penyusup itu
sedang bersembunyi di ruangan pangeran. Lagipula, saat ini keamanan pangeran
menjadi tanggung jawab pribadi hamba semenjak hamba di sini.” Arche menyilangkan
tangan kiri di bahu kanan dan berlutut.
“Tidak ada siapa-siapa di sini selain aku~” Saravine baru saja hendak menutup
pintu. Saat itulah tangan kekar Arche menghalangi gerak pintu itu. Ia kembali berdiri.
“Oh maafkan hamba pangeran, tapi kami harus memaksa pangeran. Ini demi
kebaikan pangeran sendiri.”
Saravine menghela napas. Menyerah pada kekerasan hati Arche.
“Silahkan periksa bila kau mau tapi ingat, jangan utak-utik lemari gading
putihku~ hihi tapi kalau kalian bisa membukanya juga~”
Arche memasuki kamar pangeran diikuti oleh dua ajudannya. Ia takjub melihat
pemandangan di kamar itu. Rumah sehabis dilanda taifun cocok untuk
menggambarkannya.
“Aku habis berlatih dan kembali disadarkan kalau aku memang tidak berbakat
dalam seni Rapier. Si Maria jelek itu saja sampai menyerah mengajariku dan harus
menyerahkan dua Fleuret Otomath buat latihan~” Saravine mengerang
“Tapi tetap saja... tanganku ini terlalu ringkih untuk menahan tenaga kuda liar
itu~ apa Arche tidak bisa meminta pada ibunda untuk membuang saja Rapier jelek itu?”
rintihanya terdengar menyayat. Dua orang ajudan Arche sampai harus mengelus dada
mendengar kalimat ini.
“Hamba tidak berani. Sayangnya Yang Mulia Ratu tidak mempercayakan seni
Rapier pangeran pada hamba.”
Cemberut. Saravine menggembungkan pipinya, membuat ekspresi khas pangeran
Ravnell “Terserah deh~ aku baru tahu kalau ‘komandan’ Arche ternyata begitu
kelakuannya~”
“Mohon pangeran bersabar.” Putus Arche. Mendengar ini Saravine melengos
begitu saja. Ia berjalan menuju tengah kamar dan duduk di kursi malas yang terbuat dari
kayu Evallift yang berjiwa. Kursi itu bergoyang ringan tanpa Saravine menggerakan
ujung jarinya pun. Kursi itu mengenali majikannya dan membuainya dengan lembut.
Saravine mengambil sisir yang tergantung di kantung kulit bertabur benang perak. Ia
mulai menyisir rambut lurus putihnya dan sama sekali tak memedulikan para R-Knight
yang menyelidik kamarnya.
“Aku heran mengapa mereka tidak mengajarkanku seni berbunga saja.
Memangnya Pedang mampu mengubah dunia menjadi lebih indah~?” erang Saravine
kesal “Aku yakin kota ini pasti dapat kuubah jadi lebih indah~ dengan bunga-bunga nan
harum dan juga multi warna~. Arche setuju kan?”
Arche tersenyum, tidak membenarkan tidak mendustakan.
Dua orang ajudan itu menggeledah seisi kamar. Mereka mengecek kolong
ranjang, jendela luar, dan juga langit-langit sampai ke pojok. Arche memperhatikan
kamar sekali lagi. Pandangannya terpaku pada dua buah cangkir teh, satu masih penuh
terisi sementara satu lagi sudah tinggal separuh. Ia melihat jejak tusukan Fleuret tak
beraturan yang bermula dari kasur. Ke arah langit-langit lalu ke lantai. Debu-debu
bercampur kerikil tertera pada lantai ruangan. Matanya bergeser pada lemari gading
putih di pojok ruangan. Ia menyadari sesuatu.
Dua orang ajudan Arche melaporkan bahwa mereka tidak menemukan apapun
dalam ruangan yang dapat dirujuk sebagai bukti kehadiran penyusup.
“Pangeran, kami meminta ijin untuk melihat isi lemari pangeran.”
Saravine mencibir pada Arche.
“Pangeran... kami mohon padamu.”
“Asal kau mau merapihkannya saja nanti~” Saravine pun berdiri dari kursinya.
“Pangeran sudah memegang leher saya.”
Saravine berhenti sebentar sembari memegang handel lemari. Ia menatap kunci
hitam kecil dengan aksara Frunic “Escrest” di tanganya.
“Satu lagi… kalau ada satu kabarpun tentang isi lemari ini yang terdengar
keluar~ apalagi ke telinga ibunda~” Saravine memandangi mereka satu persatu sebelum
menambahkan
“Siap-siap saja untuk menyambut pensiun di Lune Justicia~”
Dua orang ajudan itu langsung menelan ludah. Mereka menghitung berapa sisa
umur yang baru mereka pakai untuk bersenang-senang dan bila dilihat dari wajah
kecewa mereka, bisa dipastikan bahwa mereka masih sangat muda untuk dipenjara di
Justicia.
“Pangeran boleh tenang, mulut hamba akan terkunci rapat layaknya gembok
Matilda yang terpasang di lemari gading putih pangeran.”
Saravine memasukkan kunci hitam dan membuka pintu lemari itu. Arche
menyipitkan matanya, urat kepalan tangannya menyembulkan diri. Arus angin perlahan
menyebar dari telapak tangan Arche. Begitu pintu lemari terbuka lebar hanya dalam
hitungan detik tubuh Saravine diserang oleh...
“Boneka kapas... Raffith?” ucap Arche dalam kesangsian. Urat tangannya yang
sempat bersiaga kembali diregangkan. Ia tak menyangka bahwa yang keluar dari lemari
itu tak lebih hanyalah tumpukan boneka Raffith si Kelinci angin dalam berbagai ukuran
dan warna.
Saravine menyembulkan kepala dari balik timbunan boneka kelinci besar Raffith.
“Kedatangan kalian yang tiba-tiba terpaksa membuatku menyempal mereka masuk
begitu saja kedalam lemari, kasihan mereka~” Saravine mengusap-usap kepala boneka
Raffith berwarna putih. Boneka itulah yang paling besar dan terlihat menyeringai,
berusaha untuk terlihat lucu tapi justru menyeramkan dengan gigi depannya yang
terlalu tajam.
“Jadi…” Arche melirik cangkir teh. Ia tahu, deduksinya tidak mungkin salah
secara gamblang. Saravine menebak arah pembicaraan Arche dari lirikan mata tersebut.
“Apa Arche tidak pernah main rumah-rumahan? Kasihan sekali masa mudamu
hihihi~” Saravine terkikik geli ala pangeran Ravnell.
“Pangeran tidak sedang berkelahi dengan seseorang?” selidik Arche tanpa basa
basi lagi. Saravine mendengus dan berkacak pinggang.
“Astaga, Arche sayang~ aku sedang bermain dengan mereka sampai tiba-tiba aku
ingat si Maria jelek itu memintaku untuk berlatih setiap hari. Ia jelas-jelas mengejekku
dan bahkan menghasut bunda untuk berpihak padanya. Dasar mulut ular~” sebuah
helaan napas memberi jeda sebelum kalimat itu berlanjut
“Dan yah seperti yang kau lihat, hasilnya begini~” Saravine membentangkan
tangan memperlihatkan ruangan yang kacau balau bin hancur lebur.
“Mengapa boneka pangeran bisa tidak rusak?”
Saravine menepuk kepalanya “Lihat sekelilingmu Arche sayang~ yang hancur
hanya separuh kamar saja kan? Aku sengaja berlatih agak jauh dari si kecil nan luculucu
ini.”
“Lalu jejak kotor ini? Hamba yakin debu kotor ini tidak berasal dari dalam
ruangan ini.”
Saravine mengangkat kaki boneka Raffith putih paling besar.
“Ini~ kaki si besar ini terkena lumpur kering dan belum sempat kubersihkan~”
“Ah, berarti memang intuisiku yang salah. Mohon pangeran memaafkan hamba.”
Arche mengatupkan tangan dan kembali menundukkan badan.
“Nah sekarang, periksalah dan rapikan~!” perintah Saravine dengan kikikan
mengancam kemayu khas pangeran Ravnell.
Arche dan ajudannya memeriksa lemari itu dan tidak menemukan apapun di
dalamnya. Mereka memasukkan kembali boneka-boneka itu dengan susah payah. Berat
boneka-boneka itu cukup mengganggu terutama boneka Raffith putih yang paling
besar... entah apa yang disempalkan di dalamnya. Ukuran lemari yang kecil membuat
mereka mau tak mau menyempalkannya dengan dorongan yang cukup keras. Hardikan
kesal khas Ravnell sekali lagi meletup. Misah-misuhnya makin terdengar jelas tatkala
gembok Matilda hendak dipasang.
“Terima kasih pangeran, kami akan memanggil dayang untuk membersihkan
kamar anda. Sekali lagi kami minta maaf telah mengganggu anda.”
“Jangan~ kan sudah kubilang tadi jangan sebarkan isinya keluar~! Aku tak mau
ada lagi yang tahu isi lemari ini selain kalian. Sudah pergilah sana~”
Arche undur diri dengan sopan. Ia menutup pintu kamar pangeran. Setelah pintu
itu ditutup terdengar sedikit cekikikan diikuti dengan suara benda terhantam keras +
teguran.
Saravine menutup matanya. Ia mencoba merasakan kembali kehadiran para
penyambang kamar Ravnell. Jujur saja, saat bersama Allen tadi kewaspadaannya
sempat hilang. Ia lengah sampai tak menyadari ada yang masuk dalam radius lima
tombak pengawasannya.
Setelah ia merasa para R-Knight itu telah menghilang barulah ia membereskan
ruangan dan juga membuang bulu merak Arche yang tertinggal. Ia kembali mengganti
rupanya dan membuka pintu lemari. Runtuhan boneka menyambutnya. Ia menahannya
dengan satu tangan. Hanya boneka Raffith putih besar saja yang dibiarkannya terjatuh.
Boneka besar itu menggeliat dan berdiri.
“BHUAH~!”
Allen keluar dari dalam boneka Raffith. Ia menggeleng-gelengkan kepala
berusaha melempar kapas-kapas yang tersangkut di mana-mana.
Allen melepeh-lepeh mulutnya yang masih terisi kapas. “Kenapa kamu harus
memasukkanku ke dalam boneka dengan Kekuatan Keinginan-mu sih? Sumpek sekali
tahu!! Bikin pusing!” ujar Allen misah-misuh.
“Aku harus melakukan itu. Bila tidak, mereka akan menemukanmu.”
Allen memutar matanya mencoba mengingat-ingat.
“Oh, si R-Knight yang besar itu ya? Ya, aku lihat sih matanya memang tajam.
Tapi kan kamu tidak perlu memaksaku masuk ke dalam situ! Aku masih bisa ngumpet
di atas sana.” ujar Allen sembari membuang boneka Raffith yang sudah kosong
melompong itu.
“Kalau kau bersembunyi di sana pasti langsung ketahuan.”
Allen bermuka masam dan mencibir. Ia memikirkan ledekan balik pada Saravine.
“Aku baru tahu kalau kamu bisa berlagak seperti itu.”
“Terpaksa.”
Hening. Salah balasan rupanya. Allen mencoba ledekan lain.
“Ini boneka kapas Raffith? Ini pasti boneka favorit pangeran itu! Seingatku
boneka favoritmu itu...” Allen mencoba mengingat-ingat. Ia menepuk tangannya
dengan kepalan. Mulutnya berujar O besar “Boneka jerami dekil!”
Saravine membanting pintu lemari. Aura ancaman muncul dari balik punggung
mungilnya. Allen bungkam.
“…Bisa diam tidak?”
“Ba... baik.” Allen menghormat cepat. Keringat dinginnya mengucur. Lagi-lagi
salah balasan.
“Sekarang silakan minum teh anda kembali, tuan Raffith.” Ujar Saravine
menawarkan teh. Allen mesem-mesem kesal saja mendengarnya.
Acara minum teh kembali dilanjutkan. Layaknya kebiasaan masyarakat benua Sol
tengah, acara minum teh selalu diiringi dengan obrolan santai.
“Kamu tahu Sara, Menjadi Darkmaster itu sangat menyenangkan. Aku bisa
bepergian bebas kemana saja. Kemarin ini aku pergi ke Benua Luna dan ikut dalam
ekspedisi menjelajah reruntuhan kuno! Benua itu isinya petualangan yang mendebarkan
dan menegangkan!” Ujar Allen penuh semangat. Tapi, hal ini berlaku satu arah untuk
Allen dan Saravine. Hanya Allen saja yang berbicara, sementara Saravine memberinya
terapi diam dalam seruput cangkir teh. Sayangnya cuap-cuap Allen tak padam begitu
saja oleh hening diam Saravine. Mata pemuda ini terus berbinar-binar menjelaskan
petualanganya dengan suara yang semakin meninggi dan ceria.
“Lalu... ah iya! Aku juga sempat berkenalan dengan L-Aider dan L-Knight
Sinting!! Andai saja Benua Sol tidak terpisah oleh Coasta Dimu Erte3 kuyakin mereka
bisa saja menjadi salah satu champion benua ini!”
Saravine hanya melirik sejenak pada Allen lalu kembali pada tehnya. Ia terkesan
tidak tertarik sama sekali dengan topik Allen.
“Nah aku kan sudah bertualang jauh tuh, terus kamu sendiri... apa kamu sudah
bertemu dengan ibumu?” tanya Allen tiba-tiba.
Saravine tak menjawab. Ia diam dan terus menyeruput tehnya dengan khidmat
“Kamu tahu, aku berulang kali bertanya pada kakek Greul dan kakek Adam tapi
mereka tak mau memberi tahu kamu ada di mana. Beruntung sekali aku bisa bertemu
denganmu di sini. Doaku ternyata dibalas oleh Dark Nature.”
Cangkir teh Saravine bergetar sejenak tapi bungkam masih mengisi pergerakan
bibir Saravine.
“Selama 5 tahun kamu menghilang. Aku ini cemas tahu apalagi kalau mendengar
kamu harus bertemu dengan ibumu. Dalam benakku selalu terbayang apa yang akan
kamu katakan kepadanya... jadi apa yang kamu katakan padanya? Aku yakin kamu
pasti sudah berjumpa dengannya.”
Saravine justru menyeruput isi tehnya lebih cepat. Allen melongokkan kepalanya.
“Hey, isi tehmu masih banyak kan? Boleh kuminta? Sedikiiit saja.”
Sebuah tatapan tajam melesat dari Saravine. Allen hanya nyengir-nyengir tak
melanjutkan. Saravine langsung menengak habis tehnya dalam satu tarikan napas. Ia
meletakkan cangkir di meja dengan kasar. Suaranya jelas terdengar. Ia tahu efek
penenang dari teh Gratios tetap tak mampu membuatnya tenang bila berhadapan dengan
Allen. Terlebih lagi karena pertanyaan yang diajukan sang Angin satu ini.
Allen sendiri, di lain sisi juga tahu akan sikap Saravine seperti ini. Ia merasakan
dengan jelas kehadiran angin gundah yang berkabut di atas kepala gadis itu. Belum lagi
matanya seakan hendak berawan mendung. Cukuplah bagi Allen untuk tak lagi
mengusik pertanyaan itu. Ia tahu satu hal pasti: Masalah ibu Saravine masih tabu
dibicarakan.
Allen menutup pesta minum teh itu dengan satu tegukan besar. Panas teh itu
meluncur begitu saja melewati kerongkongannya, menahan deras laju kata-kata yang
hendak ditanyakannya. Cangkir Allen dilontarkan dengan ringan dan mendarat lembut
bagai dituntun oleh angin.
Pesta minum teh keduanya berakhir. Sebagai tuan rumah yang mendapat kursi
kehormatan, Saravine berkewajiban membereskan cangkir tetamunya.
“Aku senang kau mau mengunjungiku tapi aku yakin kehadiranmu di sini pasti
untuk meng‘gelap’kan terdakwamu.”
3 Nama lain dari baris laut kematian. Di sekitar Laut Selatan Benua Sol terdapat ombak pasang, tornado
besar, dan kilat-kilat di langit yang menjadi dinding pembatas antara benua Sol dan Benua Luna.
Dikatakan pula bahwa disekitar Coasta Dimu Erte bersemayam bangsa keturunan Naga Air Bahamuth;
Bangsa Drarkana. Penduduk benua Sol pada umumnya tak berani melangkah mendekati Benua Luna
dan begitupun sebaliknya karena kapal mereka akan karam.
Allen duduk di kursi Evallift dengan santai. Ia nyaris terjerembab dari kursi
Evallift yang tiba-tiba saja hendak melontarkannya ke udara. Si kursi marah akibat
diduduki pantat yang tak dikenalnya.
“Tepat sekali. Tenang sajalah, kamu bukan terdakwaku kok.”
“Boleh kutahu siapa?” Saravine menyitir gelas dan mengangkat embun air,
membentuknya menjadi gumpalan air yang melayang dan menguapkannya di udara.
Fokus perhatiannya tak lepas dari Allen. Mata sayu itu membawa keinginan yang
tersimpan.
Allen mengisyaratkan kancing mulut sambil terus mencengkram kursi yang
bergoyang tanpa henti. Justru kursi itu semakin kencang berontak membuat Allen
terlonjak-lonjak. Allen justru kegirangan mendapati kursi itu semakin liar. Lompatan itu
semakin tinggi dan membuat Allen mampu melihat lenggangnya jalan tanpa patroli di
bawah sana.
Reaksi itu bukanlah jawaban yang ingin didengar Saravine. Tapi ia maklum,
Adalah sebuah keharusan bagi seorang Darkmaster untuk merahasiakan hal-hal tertentu.
Keharusan ini bersifat religius dan karenanya tidak dapat diganggu gugat. Saravine
berbisik pelan
“Dark secret… kau tidak berubah. Untuk hal-hal tertentu kau bisa mengingatnya
dengan baik.”
Allen melompat ke hadapan Saravine. Kuping tajam itu mampu mendengar bisik
suara Saravine dan karenanya pula, dulu, mereka bisa dekat. Sekarang pun begitu.
“Justru kamu yang banyak berubah.” Allen menempelkan pipinya dengan pipi
Saravine.
Wajah Saravine memerah. Ia sekali lagi menjauh dan menautkan kedua
tangannya. Debar jantungnya sontak meningkat seiring panas wajahnya.
“Dimananya?” tanyanya pelan.
“Jadi kayak laki-laki.” jawab Allen enteng tanpa dosa.
Akhirnya urat marah Saravine menyembul. Ia menginjak lantai dengan keras. Dan
lagi-lagi Allen jatuh dengan kepala duluan.
“ADduh~!!”
“Kau tahu aku benci dibilang seperti itu.” keluh Saravine sembari meletakkan
cangkir teh Allen kembali ke lemari gading Electaphon.
Meski terlihat marah tapi seulas senyum sempat terbetik dari mulut Saravine.
Allen yang sedang berguling-guling iseng langsung menyembur kalimat.
“Nah akhirnya senyum! Dari tadi manyun terus, bisa cepat tua nantinya.”
Saravine dengan cepat mengendalikan dirinya lagi.
“Kau lupa kalau Wishmaster bisa mengendalikan wajah mereka.”
“Mau wajahmu diubah seperti apapun tetap saja kamu terlihat tak senang.”
Ucapan barusan menohok Saravine. Ia terdiam sejenak dan memandangi wajah
Allen. Terkadang Saravine tak habis pikir mengapa Allen selalu bisa membaca
keinginannya.
Saravine menghela napasnya “Mungkin benar… banyak sekali yang kuhadapi di
sini. Masalah pemerintahan, isu politik, penjagaan ketat, dan yang paling tak kusuka
harus berganti tubuh seperti ini.” nada suara Saravine terdengar pilu. Lembut mata sayu
itu layu ke tanah.
“Dan... ah tidak... tidak apa-apa.”
Lagi-lagi ia menghentikan ucapannya. Ia tahu dirinya bisa saja pecah berantakan
bila lidahnya terus bergerak. Tidak seperti saat dirinya menyamar menjadi pangeran. Ia
selalu bisa menggunakan baris kata dan ekspresi yang tepat. Tapi keberadaan Allen
merusak segala keteraturan yang dipadankanya.
Allen berdiri, ia berjalan mendekati Saravine. Wajah jenakanya terus
memperhatikan wajah Saravine. Gugup lantas menghampiri Saravine.
“A… apa lagi?”
Allen nyengir “Darkmaster memang tidak bisa mengubah bentuk tubuh tapi
Darkmaster satu ini akan selalu mengajarimu cara tersenyum dan bebas!” tanpa diduga
Allen menarik tangan Saravine.
Tanpa sempat Saravine menolak, tahu-tahu saja mereka sudah melesat keluar dari
jendela. Allen berbisik pelan pada Plakat Platinum Hitamnya saat berada di udara.
“Area level 2, Angin.”
Plakat itu meresponnya dengan kerlip ringan simbol Radiata et Radial Hexa
sigma Ein4 yang tercetak perak di plakat tersebut. Selain sebagai identitas, Plakat ini
juga adalah media kekuatan mereka. Seorang Darkmaster tanpa Plakat Platinum Hitam
sama saja dengan Wishmaster tanpa Kekuatan Keinginan.
Sebelum mereka sempat menyentuh tanah, tahu-tahu saja tubuh mereka sudah
melenting jauh bagai ditembak ketapel angin tanpa ada satu ringkih suara terdengar.
Saravine nyaris terpekik kaget karena keadaan serba tiba-tiba itu. Apalagi saat Allen
mengubah posisi tangannya, dari sekedar memegang menjadi membopongnya. Sekali
lagi senyum nakal menyerang memori Saravine.
“Baik pangeran… eh putri Mutia, hari ini aku akan mengantarmu pergi keluar
istana. Dan aku akan membuat senyum bidadarimu dikenang oleh angin dan bumi.”
Saravine hanya bisa jengah saja. Tapi ia tak membiarkan Allen melihatnya.
Terbaik yang ia bisa lakukan hanyalah menatap jauh ke horizon sementara angin lembut
menyapa baju dan kulitnya.
Allen melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Atas nama sang Kebebasan
ia telah menyimpang dari jalur misi utamanya untuk mencari bukti. Tapi senyum
wajahnya menyiratkan bahwa ia telah mendapatkan apa yang ia cari.
4 Terjemahan literalnya berarti “Cahaya (yang jatuh) atas separuh lingkaran dalam sigma enam tambah
satu”. Ahli sejarah benua Sol sempat menemukan simbol ini pada peradaban lama benua Sol selatan
yang berdekatan dengan benua Luna dan juga negara Dracktgana. Simbol ini terlihat seperti busur
besar dengan sebuah tanda panah mengarah keatas pada garis vertikalnya. Di depan lengkung dan di
belakang garis vertikalnya terdapat tiga lingkaran. Diatas mata panahlah terdapat sebuah lingkaran
yang lebih besar.
Chapter 2
Kenangan dan Desa Exemptio
Allen dan Saravine berputar-putar di sekitar kota. Terlihat tanpa tujuan jelas.
Hutan Akairn Merah yang terletak di barat daya kota Lovisolistia saja sudah dikunjungi
lebih dari tiga kali. Burung Yuta yang buta pun bahkan berdecit tiga kali tanda dirinya
terganggu. Ia sangat tak suka dengan mereka berdua yang bersuara ribut saat menyibak
daun-daun pohon merah yang rimbun. Decit berisik burung ini membangunkan
tetangganya.
Di lain sisi, dua insan ini justru terdiam dalam petualangan kecil mereka.
Saravine diam saja melihat tingkah Allen. Ia tahu Allen akan segera bertanya.
Denting Keinginan pria di sampingnya berdetak kencang dalam irama naik-turun
berulang-ulang.
“Ada tempat yang ingin dituju?” tanya Allen.
Wishmaster memang bisa mendeteksi keinginan seseorang. Mereka biasa
menyebutnya Denting Keinginan. Semakin kuat Denting Keinginan maka semakin
nyaring pula bunyi itu beresonansi dalam jantung dan otak mereka. Dan itulah cara
mereka mengenali siapa yang berhak menjadi Matreisha mereka.
Saravine mengerutkan alis.
“Bukankah seharusnya kau yang paling tahu?”
Tapi tetap saja, mereka hanya bisa membaca keinginan dan bukan membaca
pikiran.
“Ahahaha niatku hanya mengajakmu keluar dan membuat kerut di alismu itu
hilang.”
Saravine mendesah mendengar tawa sok pintar Allen.
“Sama seperti dulu… tak bisa merencanakan dengan baik.” ia terdiam sejenak
dan memandangi selatan kota Lovisolistia. Jauh di ufuk horizon. Sebuah percikan
nostalgia melanda hatinya.
“…Bisa ke desa Exemptio?”
Allen tak percaya apa yang diucapkan oleh Saravine. Tapi toh ia justru senang.
“Pasti! Pegangan yang kencang!”
Allen berbisik
“Area level 3, Angin!”
Dan kembali mereka melesat secepat angin berhembus. Desir angin mulai terasa
kasar di kulit Saravine. Andai dirinya tak terbiasa dengan kecepatan ini dipastikan
matanya akan terus mengerjap menutup perih. Tapi... baginya walau saat ini ia harus
masuk kedalam angin taifun sekalipun, ia takkan menutup matanya... tidak untuk saat
ini.
Tak sampai sepeminum teh hangat, mereka telah sampai di gerbang depan
Lembah Librea. Jarak sekitar 50.000 tombak tidak membuat wajah Allen terlihat lelah.
Hanya satu hal yang membuat Allen keringatan di gerbang depan ini.
Formasi pohon Matara.
Setelah dua puluh langkah dari baris pohon pertama yang terlihat di jalan besar
barulah pohon Matara terlihat merapat.
“Kamu masih ingat urutannya kan?” bisik Allen.
Saravine memandang Allen separuh tak percaya “Memangnya kau tidak ingat?”
Allen menggeleng polos. Saravine tidak dapat membayangkan bagaimana Allen
bisa keluar dari desa Exemptio.
“Aku keluar dengan cara ini.” Allen merapatkan kedua tangannya seperti melipat
kertas. “...Dan Plak! Tahu-tahu saja aku sudah di luar. Eh, kenapa mata itu? Kamu tidak
percaya? Aku bisa mengulangnya lagi kalau kamu mau lihat.” Allen mengangkat Plakat
Platinum Hitamnya hendak berbisik.
“Tak perlu.” ujar Saravine. Iapun mulai melangkah diikuti Allen yang mengekor
satu langkah di belakangnya. Tiap-tiap langkah yang dijalankan Saravine seolah
menjadi bandul memori yang terus berayun. Saravine kembali melihat dirinya yang
terdiam memandangi Allen yang berada di ujung baris 35. Ia kembali melihat dirinya
yang telah memilih. Di saat begini, Saravine berharap Allen akan cerewet dan membuat
pikirannya teralih.
Justru Allen diam dan memandangi punggung gadis itu. Ia menikmati gerak
mengayun lembut rambut ikal gadis yang terhembus angin di hadapannya. Ia
membiarkan aroma rambut gadis itu menyapa hidungnya. Allen sengaja diam. Diamnya
Allen adalah rencananya terhadap Saravine.
Suasana nostalgia masa lalu membungkam mereka berdua. Setelah keluar dari
formasi Matara, Saravine menghela napasnya.
“Wow! Kamu benar-benar mengingatnya! Aku memang jelas kalah jauh darimu
kalau soal ingatan!” puji Allen riang.
Saravine tak menanggapi. Ia punya alasan untuk masuk ke desa Exemptio. Dan
alasan itu bukanlah untuk mengulang kenangan pahitnya. Serta (mungkin) bukan juga
untuk tersenyum.
Desa Exemptio adalah desa yang berada jauh dalam lembah mangkuk Librea.
Dikatakan lembah mangkuk karena desa ini seperti sedang berkubang di sebuah lubang
besar. Aliran air sungai yang jernih turun dan membentuk jalan dengan kuas alamnya.
Aliran air inilah yang memisahkan tiap satu rumah dengan rumah lainnya. Meski begitu
ada beberapa rumah yang saling tersambung dengan jembatan kayu. Ikatan antar rumah
menjadi penanda ikatan keluarga. Maka tak heran bila hampir semua rumah tersambung
satu dengan yang lain.
“Desa ini berubah.” desis Saravine. Ia nyaris tersenyum saat memandang dari
gundukan bukit yang berada di atas desa. Semenjak banjir besar 5 tahun lalu, Pasak
kayu 6 tiang utama tiap rumah di desa ini diangkat satu tombak. Kurang lebih tinggi
setiap rumah dari tanah sama dengan satu setengah tombak. Dinding dan lantai kayu
Jatee yang harum juga sudah dilapisi serat karet Myasmia untuk mencegah masuknya
air. Banjir besar itu mengajarkan mereka untuk tambah waspada dengan alam yang
semakin mengganas.
Pandangan Saravine terlempar pada sebuah rumah mungil yang terletak di pojok
barat desa. Rumah kayu itu masih tegak. Masih ada yang mengurusnya meski tak
‘serapih’ bila ada yang menempatinya. Rumput Fyul yang tak bisa dijerat oleh bumi
sesekali melayang bersama sang angin, menempel di tiang utama rumah mungil itu lalu
kembali lagi ke tanah setelah bosan. Tak ada yang mau mendekati rumah itu, sama
seperti dulu saat Saravine masih menempatinya sebagai orang luar. Rumah Terpojok,
sebuah nama yang sangat ironis baginya.
“Hey, aku membawamu ke sini untuk membuatmu senyum. Kalau tak suka
melihatnya ya jangan dilihat!” ujar Allen menghalangi pandangan mata Saravine
dengan tangannya.
“Bisa ke tempat kakek Greul saja?” tanya Saravine lirih
“Apapun yang bisa membuatmu tersenyum putri Mutia.” Lagak Allen meniru
Arche.
Mereka melewati jalan sungai sembari memutar pandangan ke sekelilingnya.
Desa ini memang terlihat berubah secara fisik tapi tidak di keseharian. Saravine masih
melihat ibu-ibu dan gadis-gadis yang pulang membawa bumbung-bumbung air berisi
ikan dari sungai. Ia juga masih melihat ayah-ayah dan pemuda-pemuda yang pergi ke
ladang dengan cangkul dan sabit besar tertenteng. Kakek-kakek dan nenek-nenek masih
terlihat asyik bersantai bersama cucu-cucu mereka. Mereka mewariskan legenda desa
melalui mite. Dalam tiap cerita selalu terkandung filosofi dasar alam dan keinginannya.
“Desa ini... ternyata tidak berubah.” komentar Saravine pelan.
“Memang apa yang tidak berubah dari desa ini?”
Saravine terdiam, ada beberapa hal yang ia harap berubah dari desa ini... terutama
yang berkaitan dengan identitasnya.
Mereka berjalan menuju bagian yang sedikit menanjak dari utara desa. Sedikit
jauh dari desa. Allen tentu saja, masih cerewet meledek Saravine. Dan Saravine lebih
memilih untuk mendiamkannya sampai mereka tiba di tempat tujuan.
Mereka sampai di depan rumah kakek Greul. Rumah ini berbeda 180 derajat
dengan rumah penduduk yang berada di bawah. Rumah ini memiliki dinding batu dan
bukan kayu. Rumah bertingkat dua ini juga memiliki pagar besi mawar setinggi satu
setengah tombak yang mengurung rapat rumah itu dengan halaman seluas 20 x 20
tombak. Luas memang, bahkan terlalu luas untuk ditempati seorang diri.
Mereka memasuki pagar besi mawar yang tinggi dengan salam terucap. Mereka
jelas tahu apa akibat dari tidak mematuhi etiket tuan rumah.
Pintu rumah diketuk. Hening, tak ada jawaban dari dalam. Dua tiga kali mereka
mencoba tapi tetap tak ada hasil. Mereka berputar sejenak dan mencoba mengintip
melalui jendela-jendela. Tak banyak yang mereka dapat, mengingat susunan kamar
rumah ini terhitung berantakan.
“Kayaknya kakek Greul tidak ada di sini. Atau mungkin sedang asyik di
bengkelnya. Kamu pasti ingatlah bagaimana kakek Greul kalau sedang konsentrasi
dengan ‘kreasi’ barunya.”
Saravine membisu.
“Kamu benar-benar ada perlu dengan kakek Greul? Kalau mendesak aku akan
mendobrak pintu ini.” ujar Allen sembari mempersiapkan Plakat Platinum Hitamnya.
Saravine kembali diam. Pandangannya meluncur ke angkasa, ke arah matahari yang
masih terik kuning.
“Tak perlu...” Saravine membuang badannya dari pintu. Ia berjalan menjauh.
“Wah, moodmu berantakan lagi ya? Sedari tadi aku bertanya kamu diamkan
saja.”
“Tidak... hanya saja...”
“Hanya saja?”
“Terlalu banyak yang bisa kukenang di tempat ini... sementara waktu yang
kumiliki sekarang terlalu sedikit.”
“Masa? Kamu kan bisa saja pergi keluar dari Istana kapan saja dan berkunjung
kesini, mumpung dekat. Jarak segini tidak akan memutuskan ikatan keinginan5-mu
dengan Matreishamu bukan?” Allen mengikuti langkah kecil dan enggan Saravine.
“Aku mulai meragukan status Darkmastermu terutama tentang pemahaman
peraturan. Lagipula apa kau tak pernah tahu kondisi Istana Erune dan mengapa aku
harus menjadi pangeran di sana?”
“Oh, memangnya seperti apa di Istana itu? Yang kutahu sih di tempat itu banyak
mainannya. Ada kristal kedap-kedip, boneka, dan tempat-tempat tinggi kan?”
Saravine menghela napas, kadang berharap Allen bisa lebih serius menilai
sesuatu.
“Kacau. Semenjak mendengar kabar bahwa pangeran meninggal tiga tahun lalu,
permaisuri Velicious Vex menjadi cepat emosi dan tak jarang mengeluarkan perintah
aneh-aneh pada para Patih dan Komandan.”
“Wew! Aneh-aneh seperti apa?”
“Kau tahu deklarasi Pancivist Scutleiss 15 tahun?” Allen menggeleng.
“Inti dari deklarasi Pancivist adalah agar Hyddrick menjadi mediator dalam
perselisihan antara Scutleiss dengan negara kecil Freedo Crata di Timur laut Scutleiss.
Scutleiss mengklaim bahwa pertambangan Crater berada di bawah garis negara
Scutleiss sementara Freedo Crata mengakui sebaliknya. Awalnya kudengar karena
pangeran dari Freedo Crata diculik dan menghilang di daerah perbatasan kedua Negara.
Saat itu, terdapat perselisihan batas Negara yang ditandai oleh pertambangan Crater dan
karenanya Freedo Crata tak dapat melanjutkan investigasi secara formal. Kala itu,
Freedo Crata menggunakan Hyddrick sebagai tameng diplomasi dan digaungkanlah
Deklarasi Pancivist. Sayang, tidak ada kesepakatan karena kedua pihak ngotot.
Ditambah lagi, pihak Freedo Crata menuduh bahwa penculik pangeran mereka ada di
Scutleiss. Scutleiss menuding balik dengan dalih bahwa Freedo Crata menggunakan
alasan itu untuk menginvasi daerah perbatasan. Saling tuding itu memang berhasil
diredam oleh Hyddrick tapi perselisihan tetap tak terselesaikan. Tapi tiga tahun lalu
Scutleiss merasa Hyddrick terlalu ikut campur dan akhirnya membatalkan deklarasi
Pancivist. Dan tak lama Scutleiss justru bertempur dengan Hyddrick. Siapa yang
memulai masih simpang siur tapi intinya perbatasan menjadi daerah panas. Bagiku
sangat ironis persengketaan kedua negara justru akhirnya melibatkan agresi dengan
pihak lain.”
Saravine menghela napas pendek. Ia melirik Allen. Mata Allen berbinar-binar.
Saravine tak menyangka Allen akan tertarik dengan masalah politik. Saravine
melanjutkan kembali
“Akibatnya sekarang hubungan Scutleiss dan Central Hyddrick memburuk.
Belakangan agresi dari kedua pihak berkurang dan stagnasi terjadi. Bila kedua belah
5 Ikatan keinginan adalah ikatan imajiner antara Wishmaster dengan Master of Wish mereka. Para
Wishmaster sering menyebutnya sebagai benang biru, benang pembawa kebahagiaan. Ikatan ini akan
terpisah dengan sendirinya apabila: jarak mereka terlalu jauh, keinginan sang Master of Wish
terpenuhi, atau terjadi pemutusan hubungan diantara keduanya. Dengan Ikatan keinginan, seorang
Wishmaster dapat mengetahui dengan pasti dimana Master of Wish mereka. Seorang Wishmaster bisa
saja menyembunyikan Ikatan keinginan miliknya agar tidak mengganggu garis pandangan matanya.
pihak sama-sama lelah berkonflik maka kemungkinan diplomasi damai bisa terjadi.
Tapi isu terburuk bisa saja muncul bila permaisuri kembali goyah jiwanya. Beliau bisa
saja mengumandangkan perang total. Karena itulah aku pun menerima permohonan
dari seseorang untuk menyamar menjadi pangeran demi permaisuri. Setidaknya itu
cukup untuk membuatnya merasa senang karena ia merasa putra satu-satunya masih
hidup.” Saravine tercekat sejenak. Ia menelan ludahnya, sekali lagi Allen telah berhasil
membuat pertahanan diamnya rontok. Ia baru menyadari bahwa binar mata Allen
adalah karena senang karena bisa membuatnya bicara. Ia menggigit lidahnya, melarang
dirinya untuk akrab lebih lama lagi pada Allen.
Allen mengusap dagu, manggut-manggut seolah mengerti lalu memandangi
Saravine dari atas sampai bawah.
“Oh pantas saja pangerannya tidak kemayu dan ringkih. Terlalu sangar nih kalau
jadi pangeran Ravnell.”
“Sekali lagi kau mengejekku akan kubuat kau tak bisa lagi mengingat namamu.”
“Asal jangan namamu yang kulupakan.” ucap Allen dengan cengiran lebar.
Saravine memukul perut Allen dengan pelan. Meskipun pelan tapi efek pukulan
itu luar biasa karena mampu membuat korbannya mengerang seperti menahan sembelit.
Tentu saja karena ‘sakit perut’ dibungkus Kekuatan Keinginan sebagai bonus pukulan
itu.
“Gombal.” bisik Saravine pada sang angin. Tapi di balik itu, kecemasan kecil
datang menghampirinya. Dalam lubuk hatinya, ia tahu, apa yang sedang dilakukannya
ini dapat menjadi bumerang. Tapi ia butuh kepastian.
Mereka turun dan berjalan menuju sudut lain desa. Beberapa kali, semenjak awal
mereka memasuki desa, pandangan mata dari penduduk tertuju kagum akan perhiasan
yang menempel di baju pangeran Ravnell. Saravine mengacuhkannya. Tidak, wajahnya
justru kelam. Tidak satupun penduduk desa ini yang ingat akan dirinya. Lain dengan
Allen yang masih disapa sesekali oleh beberapa anak muda dan orang tua bahkan
beberapa anak-anak meminta bermain bersama Allen. Tapi Saravine sendiri sadar,
keberadaannya di sini memang tidak diharapkan oleh penduduk. Baik karena
penampilan atau status yang disandangnya.
Saravine menghentikan langkahnya saat melihat sekumpulan anak-anak sedang
bermain air di sungai. Mereka terlihat ceria dalam basah kuyup.
Saravine menyipitkan matanya. Rona pilu sekali lagi tergambar di pelupuk mata.
Ia ingat masa kecilnya tak pernah mengalami canda dan tawa seperti itu. Hanya
kesendirian yang menemaninya, sama seperti kondisinya di istana Erune. Tak pernah
terbayang baginya bila ia tak bertemu Allen.
Allen menepuk tangannya, membuat lamunan Saravine lenyap.
“Hey, aku tadi janji untuk membuatmu tersenyum bukan? Nah sekarang, aku
ingat tempat yang bisa membuatmu tersenyum.” sekali lagi Allen menarik tangan
Saravine. Saravine tak bisa dan tak ingin menolak.
Sekali lagi udara bagai bertolak menjadi angin meninggalkan kelompok anakanak
itu dalam keheranan dan kekaguman. Sosok yang berbaju–aneh-bagi-mereka itu
tiba-tiba saja dibawa terbang keudara.
Saravine diam saja dibawa lari seperti itu. Kepingan-kepingan memori-nya
kembali mengulas peristiwa masa kecilnya. Ia pernah mengalaminya dulu, dilarikan dan
dibopong oleh Allen.
Dulu ia berontak mati-matian bahkan mencakar kiri kanan sampai akhirnya
pelipis kiri Allen tercakar. Ia ingat darah yang mengalir itu dan ia sempat takut akan apa
yang Allen akan ucapkan atau lakukan tapi...
“Nah kita sampai!”
Suara Allen membuyarkan lamunan Saravine. Mereka sampai di padang rumput
di atas bukit. Jauh di atas desa Exemptio. Dalam jarak ini desa Exemptio tak lebih dari
hamparan melengkung yang kecil. Matahari siang cerah menyiangi rumput-rumput
yang bergelung lembut dicengkramai sang angin. Tempat ini... bagi Saravine tempat ini
menjadi tempat yang dirindukan sekaligus dibencinya. 10 tahun lalu itulah waktu ia
mendapat nisbat menjadi calon Wishmaster tepat di bawah...
Mata Saravine menumbuk pada pohon besar.
Sang pohon besar. Pohon yang daunnya berubah menjadi merah di kala senja,
mengikuti warna matahari. Pohon Alfillatis solais. Pohon yang menurut legenda rela
membuang apa saja demi cintanya, sang matahari. Pohon yang legendanya
menggetarkan kelas pendahulu Darkmaster dan Wishmaster.
Pohon yang letaknya tunggal di tengah bukit hijau memberi kesan tersendiri sejak
dulu pada Saravine. Ia membandingkannya dengan Menara Pertobatan di Lovisolistia.
Menara itu adalah bangunan pertahanan terluar dari pagar kota tersebut. Kedua-duanya
megah, tinggi lagi besar dengan cerita latar belakang yang menggugah. Bedanya, pohon
satu ini memiliki sebuah rahasia tersembunyi selain legendanya. Rahasia lain itulah
yang membuatnya merasa gerah memakai nama Wishmaster dalam desa ini.
“Mengapa kau bawa aku kembali lagi ke sini?”
“Habis seingatku dari dulu tempat ini selalu bisa membuatmu tersenyum.” Jawab
Allen polos.
Bendung emosi Saravine retak.
“Aku sudah berubah! Aku bukan lagi anak kecil! Kau bahkan sudah melihatku
seperti ini! Kau... apa kau sadar posisimu dan posisiku sekarang? Apa kau sadar
kelasmu dan kelasku sekarang?! Kau sadar apa yang ditentukan atasmu dan diriku?!”
Gusar! Intonasi gusar Saravine semakin meninggi dalam tiap kalimat yang
tumpah. Ia membuang mukanya, ia tak berani melihat wajah Allen. Ia takut pria itu
akan berwajah kecewa.
Saravine terdiam, ia menggigit bibirnya. Ia sekali lagi merasa melakukan
kesalahan tololnya seperti saat masih kecil.
Saravine memberanikan dirinya untuk melirik. Ia tetap saja ingin tahu apa
ekspresi yang tertuang pada wajah pria di hadapannya.
Allen tersenyum lepas.
Lemparan ingatan membawa Saravine kembali ke masa setelah ia mencakar
pelipis Allen. Benar, inilah yang dilakukan oleh Allen waktu itu. Tersenyum pada
Saravine seolah pelipisnya yang terluka itu hanya digigit serangga. Mungkin remeh
bagi orang lain tapi senyum itulah yang membuat Saravine percaya dan merasa nyaman
berada di dekat Allen.
“Biarpun manusia berubah, selalu ada hal yang tak pernah berubah.” Ujar Allen
membuat bias memori lama Saravine menghilang.
“Apa itu?”
Allen nyengir.
“Kamu pasti sudah tahu jawabannya kok.” ia menowel hidung Saravine “Kan
kamu yang mengajarkan itu padaku. Aku yakin kamu tidak lupa.” Saravine tidak lupa
tapi ia tak tahu jawabannya. Dan sebelum ia sempat memutar otaknya lagi-lagi Allen
sudah keburu menarik tangan Saravine.
Allen mendorong bagian akar yang terkubur oleh semak ringan Fyul yang
terjerat oleh akar pohon dan terkuaklah sebuah jalan rahasia. Mereka berdua
memasukinya. Benar, jalan menuju gua rahasia inilah rahasia pohon Alfillatis.
Saravine ingat, tempat inilah tempat di mana ia bisa pertama kali tertawa lepas
dan merasakan kenyamanan bersama Allen. Ia masih ingat tempat ini menjadi tempat
bermain mereka berdua. Dulunya tempat ini adalah surga mereka berdua.
Mereka berdua pernah bertanya pada kakek Greul tentang gua rahasia itu dan
mengetahui bahwa ruang rahasia itu dulu pernah digunakan oleh leluhur Darkwish
semasa dikepung oleh pasukan Unferno. Hanya saja, Karena itulah mereka tahu bahwa
ruang rahasia itu ternyata memang bukan ruang khusus mereka berdua. Dan mereka
tahu hal lain akan Darkmaster dan hubungannya dengan Wishmaster.
Lumut remang Cristhl menyisir lorong. Lumut remang ini adalah hasil olahan
perut ulat Tolddo dengan kelembaban fisik lingkungan sekitarnya. Warna lumut remang
ini beragam antara biru, merah, kuning, atau putih perak yang menjadi penunjuk jalan
begitu percabangan muncul menjadi labirin.
“Kamu masih ingat jalan ke ruangan itu? Tempat ini kayaknya berubah banyak
semenjak 5 tahun lalu.”
“Masih. Jalan menuju tempat itu takkan pernah hilang dari ingatanku.”
Allen memandangi Saravine. Saravine jengah lagi dipandangi seperti itu.
Untunglah roman remang merah lumut Cristhl menutupinya.
“Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?”
“Berarti kamu juga masih ingat jelas tentangku dong?”
“Kau mau mengujiku?” Saravine memulai tugasnya sebagai seorang penunjuk
jalan peringkat wahid. Saravine berbelok mengikuti remang putih “Apa perlu kusebar
semua aib-mu?”
Allen tertawa. Ia terdiam sebentar berusaha menghilangkan senyumnya sebelum
melanjutkan pertanyaannya “Berarti ... kamu juga masih ingat 5 tahun yang lalu waktu
banjir besar?”
Saravine terdiam “...Tidak.” Ia melanjutkan lagi saat berbelok masuk ke remang
biru gelap “Terlalu banyak yang kuingat 5 tahun yang lalu.”
Allen tertawa kering “Haha iya juga. Aku juga sudah lupa banyak hal kok.”
kekecewaan tak dapat bersembunyi di balik senyum lugas Allen. Saravine pun
merasakannya tapi mereka tak mau meributkannya.
Keheningan menyeruak di antara mereka. Hanya semilir dingin angin yang
menemani sampai mereka tiba di sebuah jalan buntu yang dipenuhi lumut remang biru
dan merah. Saravine menekan lumut merah yang berada di antara lumut biru. Pintu pun
terbuka. Terang cahaya menyapu mata mereka.
Cahaya bola api yang mengapung di setiap pojok ruangan membuat mereka
melihat pemandangan dalam ruangan. Ruangan itu memiliki sebuah lukisan dinding
yang besar dengan gambar dua simbol: Dark dan Wish yang dulunya menggambarkan
bahwa dua kelas ini berasal dari satu pohon silsilah: Darkwish. Simbol Dark berwujud
seperti Busur besar dengan corak akar yang mengikatnya dalam sebuah Octagon besar.
Simbol Dark inilah yang menjadi cikal bakal simbol Radiata et Radial Hexa sigma Ein
dari Darkmaster. Sedangkan simbol Wish berwujud seperti persilangan tiga jalan
berwarna putih yang tegak lurus. Jalan putih utama mengarah keatas dan bercabang ke
kanan. Cabang yang kanan terputus dari jalur besar utama. Citra ini menandakan
kemampuan besar Keinginan yang mampu memilih diantara dua pilihan dan
membuatnya merobek batasan. Di antara kedua simbol itu tergambar sesosok manusia
yang menengadahkan kepala dan tangan berusaha menggapai dua simbol itu.
Saravine mematung memandangi dua simbol itu. Pandangan matanya kembali
dipenuhi berbagai perasaan yang saling berkecamuk. Dua simbol itu tak pernah bersatu,
hanya satu sosok saja yang memisahkan keduanya: manusia. Manusia bisa memilih dan
bisa mendapatkan keduanya. Manusia memiliki dua tangan. Satu menggapai Wish dan
satu menggapai Dark. Tapi bagi Saravine, simbol itu artinya keduanya takkan pernah
bersatu... Takkan Pernah Bersatu karena keduanya berdiri pada masing-masing sisi.
Sama seperti Darkwish yang akhirnya berpisah menjadi Darkmaster dan Wishmaster.
Tidak ada simbol Dark dan Wish bersatu. Bukti itu lebih dari cukup untuk Saravine...
cukup untuk membuatnya merenung berharap.
Lagi-lagi Allen mendapati gadis ini melamun. Saat itu terjadi, ia selalu punya cara
untuk membangunkan Saravine.
“ULAR!!”
“WAAAH!” Saravine terjengkit kaget “Mana!? Mana!?” Otomatis ia memeluk
Allen sembari matanya terus mencari sosok ular yang ditunjuk Allen. Sebagai
Wishmaster tenyata ia kurang cepat membaca keinginan spontan Allen ini.
“Ular-ularan~” Allen nyengir dan menunjuk Ulat Tolddo yang gemuk. Ulat ini
memang besar, ukurannya saja bisa mencapai sepersepuluh tombak dengan panjang
seperdelapan tombak.
Saravine kesal setengah mati dikerjai seperti itu “Dasar Tuyul Pikun!” ucapnya
tanpa sadar.
Saravine terkejut. Bibirnya meluncurkan kalimat itu begitu saja tanpa bisa
dikontrol. Ia sedari tadi berusaha menahan dirinya untuk tidak akrab dengan masa
lalunya. Perasaan ditekan, agar kering dengan masa lalu dan siap berpisah dengan
tenang. Ternyata ia masih naif. Keinginannya kalah kuat dengan masa lalu.
Allen tersenyum. Lembut. Begitu lembut. Senyum yang takkan pernah
ditunjukkan pada perempuan manapun bahkan siapapun. Senyum yang mampu
meluluhkan Saravine.
Allen merengkuh Saravine.
“Akhirnya kamu memanggil julukanku... kupikir kamu lupa… kalau memang
kamu lupa… aku takkan bosan untuk membuatmu ingat... aku pikir kamu tidak lagi
menyukaiku setelah 5 tahun berlalu... sedikit banyak aku tadi frustasi melihatmu
menjauh dariku seperti kamu meninggalkanku 5 tahun yang lalu. Kamu kayak
menganggapku jadi orang lain… kayak cuma sekedar teman… tapi sekarang aku
tenang.” Rengkuhan Allen mengeras “Aku tenang.” Ulangnya lagi.
Allen membenamkan kepala Saravine ke dadanya. Allen yang biasanya ribut dan
cerewet itu sekarang diam khidmat. Kecemasannya memang tertutup oleh lonjakan
cerianya. Hanya saat diamlah angin lembut ini mampu berbisik kegundahannya.
Saravine tercekat dalam diamnya. Dan kali ini diamnya adalah sebuah
penerimaan. Ia bersyukur nama Mutia disandangnya. Ia bersyukur nama tersebut justru
mampu membuatnya mendengar debar jantung Allen.
Allen mencium rambut Saravine. Ada rindu tak terucap yang mengalun begitu
saja. Tindakan yang sedari tadi ditahan oleh Allen akhirnya lepas begitu saja. Begitu
juga dengan Saravine. Ia mencengkram erat baju Allen, tangannya seolah tak mau lepas
dari dada pria itu. Apa yang ia cemaskan justru terjadi; Allen masih memiliki rasa
terhadapnya. Bahkan rasa itu lebih nyata dari yang pernah diingatnya.
Bagi Saravine, momen ini adalah buah terlarang yang tak bisa dienyahkannya. Ia
melirik dan menggapai scarf putih itu, menggapai Plakat Platinum Hitam. Kerlip hitam
kelam Plakat itu menyinari bola mata Saravine. Ia tahu... ada batasan dalam berharap...
ia tahu... ada hal yang tak bisa diubah. Tapi Saravine berharap ada satu hal saja yang
bisa diubah dengan menyentuh plakat hitam itu. Dan ia rela bila harus terluka
karenanya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Eh... kakek Greul?!”
Mendengar nama itu disebut Allen, Saravine langsung melepaskan pelukan Allen
dan mendorongnya menjauh. Ia tak dapat lagi menyembunyikan wajahnya yang
memerah. Saravine buru-buru merapikan sikapnya dan menghormat pada kakek itu.
Sekali lagi keping kenangan masa lalu kembali ditenggelamkan.
“Salam hormat Saravine Mutia pada kakek Greul Fouwl.”
Greul Fouwl adalah kakek yang masih terlihat segar bugar di umurnya yang ke
70. Ia seolah tidak memiliki kapur dalam tulang-tulangnya. Hanya kumis dan janggut
putih panjang selehernya yang memberi tahu bahwa pengalaman dan umur sudah
menghampirinya. Ia juga bermata tajam bagai elang dan memiliki corak mata yang
sama dengan Allen. Tidak, corak mata mirip tapi terdapat kesan tebal pada ruas
matanya. Hidungnya juga mancung bahkan lebih mancung dari Allen dan menyerupai
paruh burung. Rambut Greul juga ikal bergelombang dan beberapa helai jatuh menutupi
kening dan matanya. Mereka berdua sekilas mirip tapi tidak.
Ia memakai overall panjang berwarna kuning yang dipadukan dengan boot ungu.
Tabrakan warna yang mengerikan terutama bagi warga Exemptio yang menyukai warna
hijau. Di keningnya tergantung kacamata Pyrrier Blacksmith untuk melindungi percikan
elemen api. Di saku kiri celananya tergantung palu tempa. Sebuah identitas Blacksmith
benua Sol, sayang tanpa cap apapun di palu tersebut.6
Kakek Greul berjalan melewati Saravine dan lurus menuju Allen. Ia berhenti di
depan Allen dan menatap lurus pada sang pemuda. Saravine tetap tak bergerak dari
posisinya.
PLAK!
Sebuah tamparan menerpa pipi kiri Allen. Denyut merah membekas di pipi Allen
tapi pemuda ini justru tersenyum, senyum yang aneh. Sang kakek lantas terkekeh dan
bertanya dengan tajam.
“Kau~ apa pembelaanmu?”
Allen bersiul tanpa dosa “Tidak ada yang harus kubela di sini.”
Saravine masih menghormat dan berujar “Kakek Greul…”
“Aku sedang berbicara pada Darkmaster!” hardiknya keras pada Saravine
Saravine menggigit bibir. Ia menahan dirinya untuk tidak ikut campur dalam
urusan mereka. Lagi-lagi ia terhalang oleh batasan yang pernah dibentuk oleh janji para
pendahulunya.
“Kau tentu tahu batasan antara Dark dan Wish.”
“Tahu dan aku bertanggung jawab penuh atas itu.” Allen tersenyum tenang.
Greul menghela napasnya. Tangannya bergetar keras. Saravine menelan
ludahnya. Ia tak mau membayangkan apa yang akan terjadi pada Allen. Kakek Greul
adalah mantan Darkmaster yang juga dapat memberi tahu masalah ini pada Darkmaster
lain.
“Kau PAYAH!”
Greul menjitak Allen. Keras! Suaranya nyaring memantul dalam ruangan itu.
Allen bahkan langsung rubuh nyaris pingsan saking kerasnya jitakan itu.
Saravine terkejut. Sekarang gilirannya yang lupa dengan tabiat kakek satu ini.
“Seharusnya kau pilih tempat yang lebih bagus lagi! Kau! Masa kau pilih tempat
sepi begini! Mana bunga-nya? Mana MAWARNYA?”
“Kalau ada Mawarnya pasti jidatku tambah benjol.” Erang Allen. “Nanti yang ada
Sara kabur.”
“Itu salahmu bukan mawarnya.” Balas sang kakek.
“Yee, yang jitak kan kakek kok bisa kakek tidak disalahkan?!”
“Kau bilang kau yang akan bertanggung jawab. Pegang janjimu.”
Allen merengut kesal. Ia tak membantah lagi. Bukan karena kalah debat tapi
karena melihat Greul sudah menyiapkan kepalan tangannya.
Tanpa disadari mulut Saravine meliuk senyum lalu cekikikan bergema dalam gua
kecil ini. Pemandangan adu mulut ini membuatnya mengenang hal-hal menyenangkan
di desa ini.
“Naah akhirnya cekikikan juga! Horeee!!” Allen melonjak senang.
Saravine menyerah. Saat menyamar menjadi pangeran, ia selalu dihibur oleh
pelawak-pelawak kerajaan yang jago melucu tapi tidak satupun dari mereka yang
mampu menjebol emosi terdalamnya. Memang tidak ada yang mampu menggantikan
kenangan bersama orang-orang terdekat. Merekalah oase dari hati yang telah tertutup.
6 Artinya ia tidak diakui karena tidak mengikuti ujian Blacksmith di Central Hyddrick.

Chapter 3
Dark Assembly dan Kekuatan Keinginan
Benjol merah sebesar bacang menghias kening Allen. Ia mengaduh kesakitan saat
Saravine mengoleskan balsem Minteal penyembuh luka luar.
Ketiga insan ini sudah berada di salah satu kamar rumah Kakek Greul. Kamar ini
dulunya adalah milik Allen. Nyata karena tidak terlalu banyak ‘kreasi’ aneh yang
menyempal. Kamar ini menjadi jembatan penghubung menuju dua ruang lain: tangga
ke atas dan dapur.
Tata ruang rumah ini memang aneh. Tiap kamar dibatasi oleh sekat-sekat kayu
yang justru bertindak menjadi labirin. Jalan-jalan setapak antar ruang disesaki oleh
‘kreasi’ sang tuan rumah yang jelas membuat siapapun harus berjalan mindik-mindik
dan waspada... yah terkadang ada pula pecahan ‘kreasi’ yang dapat ‘meledak’ bila
terinjak. Jelas ‘kreasi’ tersebut bukan perabot yang layak dimiliki siapapun.
“Dasar Kakek, jitakannya masih saja nomor satu! Sayang banget Jitakannya tidak
berguna untuk berkreasi.” cibir Allen.
“Aku mempunyai inspirasi baru untuk kreasi di jidatmu.” timpal kakek Greul
meniupkan napas pada kepalan.
Allen justru menjulurkan lidahnya pada kakek Greul. Kalau tidak ada Saravine
yang melerai mereka berdua maka bisa saja kamar ini akan rontok akibat kejar- kejaran
mereka berdua... dan entah ‘ledakan’ macam apa yang akan terjadi nanti.
“Nah kebetulan Saravine ada di sini, aku ingin sekali mencicipi teh buatanmu.”
Ujar Greul setelah tak mampu lagi mengejar Allen yang bersembunyi di balik Saravine.
“Saravine dengan senang hati akan membuatkan teh kesukaan kakek.” Saravine
melirik Allen.
Sadar akan isyarat, Allen mengucek-ucek bajunya sampai sisi terdalam. Kantung
coklat diambil, dirogoh dan... diputarbalikkan sambil ditepuk-tepuk. Tak ada satu helai
daun teh yang keluar.
“Astaga teh Gratios-nya sudah habis! Tunggu sebentar! Aku akan mengambilnya
lagi!” Allen melesat pergi meninggalkan mereka, melewati jendela kamarnya. Dalam
sekejap ia sudah menjadi titik di kejauhan.
Sekarang hanya tinggal kakek Greul dan Saravine saja. Saravine memberanikan
diri memulai pembicaraan.
“Apa kakek tidak masalah?” Saravine mengambil lukisan kecil di atas meja.
Saravine memandangi lukisan yang berisi tiga wajah. Kakek Greul, Allen yang sedang
tersenyum lebar, dan Saravine yang berwajah kecut. Sontak wajahnya kembali sendu
layu terhantam memori masa lalu. Kakek Greul menebak inti pembicaraan ini, ia duduk
di kursi besar dan menghadapkannya pada Saravine.
“Maksudmu? Tentang apa yang kau lakukan dengan Allen barusan atau tentang
keberadaanmu di sini?” kekeh Greul menegaskan kembali maksud Saravine.
Saravine meletakkan kembali lukisan “Apa kakek tidak akan melaporkannya pada
Dark Assembly? Aku dan dia yang sekarang sudah terbentur pada aturan ketat… tidak
seperti 5 tahun yang lalu. Tidak sebelum Allen menjadi Darkmaster.”
“Untuk apa? Aku sudah bukan Darkmaster lagi jadi urusanku sudah habis dengan
mereka.”
“Tapi...”
Greul memajukan tubuhnya, memotong ucapan Saravine “Justru aku yang harus
bertanya padamu. Kau telah menjejakkan kakimu di sini, Kau tahu jelas sekali
Wishmaster tidak diperkenankan menginjak tanah suci ini. Apa kau hendak menentang
aturan yang dibuat oleh leluhurmu terhadap Darkmaster?”
Saravine terdiam. Ia menunduk dan menggeleng lemah “Aku tak berani.”
Greul memundurkan badannya. Keletihan seolah menghinggapinya. “Berarti
gagal ya...” bisiknya tak terdengar oleh Saravine.
“Tapi...” Saravine menatap pada sang kakek. Sebuah kilat keinginan bermain di
matanya saat berujar “Aku berharap kalau aturan itu bisa diubah.”
“Jawaban yang bagus. Kau pantas mendapat peringkat 15 di seantero Benua
Sol.”
Saravine heran darimana Greul bisa tahu peringkatnya. Sebelum mulutnya sempat
berujar lebih lanjut, kekehan Greul menghentikannya.
“Tapi tindakanmu tidak mencerminkan apa yang kau inginkan.”
Kelu. Saravine membiarkan saja kata-kata itu menghujamnya pasti. Ia terpaksa
menerima tanpa membalas. Berbagai ‘seharusnya’ berkelebat dalam relung
keinginannya.
Greul bagi Saravine adalah penyerang emosi terbaik. Entah sudah berapa banyak
ia harus merengut karena tajamnya perkataan kakek mantan Darkmaster ini. Hanya
Allen saja yaang betah berkelakar dengan kakek aneh ini.
“Lalu... apa kau bertemu kembali dengan ibumu di Scutleiss?” lanjut Greul.
Saravine tambah bungkam. Beratnya masalah itu hanya dia yang tahu. Dan
baginya, masalah satu itu tetap akan menjadi rahasia pribadi. Allen saja tidak
diberitahunya apalagi kakek Greul.
Greul terkekeh. “Kau lebih memilih bungkam. Aku jadi malas mengusikmu lagi.
Sekarang hal terbaik yang bisa kakek tua ini lakukan hanyalah mengucapkan selamat
datang kembali padamu.”
Saravine tersenyum datar. Ia cukup tahu setidaknya kedatangannya di desa ini
tidak membuatnya benar-benar terasing dan terusir... sebagai Wishmaster.
“Aku pulang!”
Allen datang dengan tampang babak belur. Dua tiga memar mentereng manis di
wajahnya. Siapa oknum yang mampu membuat Allen seperti ini?
“Akhirnya dapat juga! Dasar Nenek Grendel! Pelitnya minta ampun!”
Nenek Grendel... kenang Saravine.
Ia masih ingat pengalaman masa kecilnya saat mengunjungi nenek Grendel,
nenek penjaga teh Gratios, dengan Allen di waktu kecil. Mereka berdua benar-benar
dibuat takut oleh wujud nenek tua itu. Wajahnya seram dan nyaris tak lagi berbentuk
‘manusia’ apalagi di kala malam. Ranting-ranting pohon besar melilit seluruh tubuhnya.
Lebih tepat dikatakan bila Nenek Grendel adalah sebuah pohon besar berwajah
manusia. Dulu mereka berpikir nenek itu takkan bisa bergerak cepat untuk menahan
pencuri cilik. Dan pengalaman mereka mengajarkan bahwa teh Gratios memang tidak
gratis. Kali itulah pertama kali ia ditinggalkan oleh Allen yang lari terbirit-birit. Pecut
ringan sulur ranting pohon besar itu lebih cepat dari mata berkedip dan itulah yang
membuat Allen jeri.
Di luar urusan teh Gratios, nenek Grendel sangat ramah. Saravine masih
mengingat bagaimana nenek Grendel menceritakan masa mudanya dan pengalaman
cintanya di masa lalu yang tidak kesampaian. Saravine kagum akan pengorbanan nenek
itu. Demi urusan yang lebih penting, ia merelakan cintanya dan menjadi penjaga teh
Gratios. Mungkin untuk selamanya. Sebuah Kekuatan Keinginan yang indah bagi
Saravine. Sekaligus ironis...
Selesai cerita itu, ia justru makin tak dapat melupakan Allen. Ia masih ingat
bagaimana Allen membawa ranting melengkung dan berkata untuk tidak menyentuh
dirinya... sambil gemetar ketakutan. Tentu saja, nenek Grendel menanggapinya dengan
pecutan ringan penuh kasih sayang. Dan setelahnya, bahkan sampai sekarang, Allen
selalu harus berjuang untuk mampu mendapatkan beberapa helai daun teh itu.
Aroma harum teh Gratios mengisi ruangan. Pekat sumpek kamar ini berubah
sedikit lebih menenangkan. Dan rongrongan manja Allen yang tak sabar sudah
terdengar. Hidung pria ini mampu mengenali kapan teh ini berbaur sampai klimaks.
Hanya saja ia tak sadar akan bakat itu.
Adukan teh telah selesai. Saravine mengantarnya ke hadapan kakek Greul. Kala
itu Saravine melihat melalui jendela, rona matahari telah merunduk turun. Ia tersentak.
Ekspresi wajahnya kali ini benar-benar cemas. Tanpa berkata apa-apa ia menghambur
ke pintu depan. Allen yang menenggak teh langsung berlari mencegatnya.
“Hei, mau kemana?”
“Aku harus pulang bila tidak nanti permaisuri bisa cemas.”
“Yaah~ padahal baru saja kita mau minum-minum. Sara tidak asyik nih…”
Saravine mencoba mengeser Allen tanpa berkata-kata. Allen justru diam
menghadang. Ekspresi wajahnya berubah mendung.
“Allen…” pinta Saravine lirih. Jemarinya mengeser Allen. Tanpa perlu dorongan
Kekuatan Keinginan, Allen bergeser.
Saravine berhenti di depan pintu. Ia menoleh pada Allen. Ada sekelumit kata-kata
yang hendak diucapkannya tapi ia memilih menggantinya dengan kalimat lain.
“Kau tentu tahu apa yang terjadi kalau aku membunuh harapan Matreisha begitu
saja. Baginya dan bagiku...” Saravine menelan ludah. Ia sendiri takut untuk menyebut
kata-kata selanjutnya. Mimik muka Allen berubah kecewa. Ia membuang muka dan
pura-pura meminum teh miliknya.
“Ya ya... aku tahu apa yang bisa terjadi pada kalian para Wishmaster. Pulanglah
daripada nanti kenapa-kenapa.” ujar Allen, separuh mengusir.
Saravine tahu... andai Allen tidak diberi mainan maka pemuda satu ini bisa
ngambek. Ia pun tahu, dari kumpulan peristiwa barusan, Allen akan selalu
mengunjunginya tak peduli situasi dan kondisi. Dan itu akan menjadi masalah!
“Kalau kau mau… Bagaimana kalau kita bertemu lagi di turnamen Grand besok?
Saat jam istirahat dekat pintu selatan Coliseum Matheoust.”
Allen tersenyum lebar menatap tak percaya pada Saravine “Wow! Ajakan
kencan! Asyik! Tumben-tumbenan Sara agresif begini!”
“Anggap saja balas jasa karena telah membuatku tersenyum hari ini.” Saravine
tersenyum “Tapi kumohon padamu... jangan terlalu sering mengunjungiku setelahnya.
Aku tak mau merepotkanmu. Tugas Darkmaster pastilah berat.” pinta Saravine lirih.
“Seminggu empat kali boleh kan?” tanya Allen. Saravine diam “Tiga kali? Dua
kali! atau Seminggu sekali deh!! Aku bisa gila kalau tidak boleh melihatmu lagi setelah
ini. Kalau kamu memang benar-benar tidak bisa, paling tidak sebulan sekali! Aku coba
sabar deh!”
“Lihat saja nanti.” senyum lemah Saravine menutup percakapan.
Saravine membuka pintu.
“Hey, biar kuantar.”
“Tak perlu. Apa kau lupa siapa aku ini?”
“Wishmaster...”
Selepas kata itu terlontar tahu-tahu saja gadis itu sudah melesat jauh
meninggalkan suara dentum kecil. Sekali tolakan saja sudah mencapai 2 kali jarak
lompat Allen. Dalam sekedipan mata saja Saravine sudah tak terlihat lagi.
“Wah! Jauh lebih kencang dari Area level 3 angin. Sara memang seram~”
Greul menyeruput teh yang dihidangkan Saravine. Matanya memandang
punggung Allen yang terus melihat kearah perginya Saravine.
“Allen, apa kau memberitahu dia tentang misimu?”
Allen menoleh dan memberikan isyarat kancing mulut. Dark Secret. Greul
terkekeh melihatnya.
“Bagus. Kau tidak lupa... dan malam ini?”
“Aku tahu kek... malam ini malam ke 17, Dark Assembly akan hadir.” Allen
membuka jendela kamarnya, memandangi matahari yang perlahan turun.
“Malam penentuan... sedari dulu aku sangat tak suka dengan namanya.” ujar
Greul muak.
Allen tersenyum kecut saja mendengar kalimat ini. Ia diajarkan patuh pada Dark
Nature oleh Greul tapi hanya tiap malam penentuanlah ia selalu mendengar rutuk kesal
Greul.
Ia pernah bertanya, sekali, dan yang didapatnya adalah jitakan. Paling keras.
Tanpa kasih sayang. Ekspresi Greul kala itu membuatnya nyaris terkencing ketakutan.
Dan pengalaman itu cukup sekali dialaminya.
“Malam ini istirahat lah di sini. Kasur milikmu akan jamuran kalau tak pernah
dipakai.” Ujar Greul sembari keluar dari kamar meninggalkan segelas cangkir kosong.
Siang hari itu berlalu begitu saja. Tergantikan seketika oleh lembayung senja
yang mulai mengintip. Pantulan sinar mentari membuat permukaan teh milik Saravine
berkilau.
Di lain tempat, Istana Erune. Saravine baru saja sampai di depan aula besar
Rasthu, aula besar seukuran 10 x 10 tombak untuk menerima tamu. Ia sudah ditunggu
oleh permaisuri yang tak dapat menyembunyikan pucat wajahnya. Di tangan kiri sang
permaisuri tergenggam erat pecut yang berlumur darah. Korbannya tak hanya perabotan
aula. Lantai marmer-putih turut termerahkan.
Di sekelilingnya, terlihat para dayang dan R-knight yang berwajah lebam. Hanya
Arche saja yang tak lebam dan hanya dirinyalah yang berada dekat permaisuri. Ia
berulang kali mencoba menenangkan permaisuri dengan suara lembut tapi tak digubris.
Permaisuri Vex masih terlihat muda di umurnya yang lebih dari kepala 4. Gaun
hitam kelamnya kontras bersaing dengan warna kulitnya yang pucat. Pucat kulitnya
bertambah jadi dengan ekspresi wajahnya yang pucat namun dipenuhi amarah.
Rambutnya yang ikal mengembang tak memperlihatkan uban selembar pun. Warnanya
hitam dan terlihat sehat, panjang tertutup oleh selembar kerudung putih tembus
pandang. Bola mata itu bening biru dengan kerlip yang memikat.
Di luar dari kemudaannya. Permaisuri ini mudah sekali meledak. Sudah berapa
dayang dan para abdi dalam yang merelakan tubuh mereka didera oleh pukulan-pukulan
frustasi sang permaisuri. Hari ini masih termasuk di kategori ‘kecil’ bila dibanding
dengan 3 tahun yang lalu.
“Kemana saja kamu!? Bunda cemas menantimu sedari tadi!” permaisuri
membuang pecutnya. Roman lega menyinari muka para dayang.
“Maafkan Ananda, bunda. Ananda tadi keluar untuk menikmati angin segar di
luar kerajaan sampai Ananda lupa ada janji dengan bunda~” Saravine menundukkan
muka dan mengais-ngais lantai dengan kakinya.
“Tanpa melewati pintu gerbang?”
Saravine menunjukkan baju yang sudah soak. “Ananda melompati pagar~”
Tak percaya, itu jelas. Mana mungkin pangeran yang kemayu seperti ini mampu
melakukannya. Pasti ada oknum lain yang membantunya. Mata permaisuri mulai
melirik kiri kanan membuat para dayang bergidik ngeri.
“Bunda boleh tidak percaya pada Ananda tapi bukankah Ananda sudah kembali
sekarang~” ujar Saravine ditambah senyum manis.
Sang permaisuri menghambur dan memeluk Saravine.
“Jangan lakukan itu lagi! Ananda Jangan pergi lagi dari bunda! Bunda tak mau
lagi mendengar ada berita bohong tentang kamu. Bunda tak mau lagi melepas kamu!”
Air mata sang permaisuri tak dapat terbendung lagi.
Saravine terdiam sebentar. Pilu mendengar ucapan dari Permaisuri itu. Ia
berharap kalau kata itu adalah untuk dirinya sendiri dan bukan untuk sang pangeran. Ia
rindu pelukan hangat dari seorang ibu. Tapi, walau begitu, ia menerima identitasnya
sebagai Wishmaster dan memeluk sang permaisuri. Bukan sebagai dirinya...
Malam harinya, bintang-bintang bersinar terang pada langit yang gelap. Bulan
sedang memantulkan cahayanya yang lembut. Malam indah bagi desa Exemptio yang
jauh dari hingar bingar perkotaan. Bunyi Jangkrik halaman bersimfoni bersama deru
ringan air sungai yang jernih. Desa Exemptio menjadi pendengar setianya. Tak ada
gelak tawa di malam hari, yang ada hanyalah kesunyian yang syahdu.
Allen memandang bulan purnama yang menguning dari kamarnya. Ia berbisik
menghitung waktu yang berlalu semenjak matahari terbenam. Jelajah pikirannya
mencari pertanda yang akan muncul. Ia menunggu, sampai sang bulan menampilkan
sekilap kerlip hitam.
Awan gelap membubung di atas rumah kakek Greul. Kakek Greul yang
melihatnya berkata.
“Sudah dimulai... Dark Assembly.”
Allen merebahkan dirinya di kasur. Ia berbisik kecil pada plakat hitam “Dark
Verdict”. Ia terlelap, tepat di saat sebuah titik air hendak turun menerpa mukanya.
Allen merasakan kesadaran dirinya terlempar kedalam kegelapan. Ia terombangambing
sejenak sebelum akhirnya mendarat dengan berlutut. Allen berdiri. Ia
menunggu matanya menerima kegelapan mutlak ini. Setelah terbiasa barulah ia
melangkah.
Kakinya seolah menapak lantai keras tapi, bagai melangkah di air, setiap
langkahnya menimbulkan riak yang terus bergulung menjauh. Ia tak perlu tahu ke mana
ia melangkah. Yang ia tahu, ia mendengar perintah dalam batinnya.
Setelah beberapa langkah Allen berhenti. Dari bawah kakinya muncul bayangan
putih. Ia berujar lantang
“Nomor 7, Dark Wind, Allen Inverson memberi salam pada Dark Nature.”
Serentak 6 bayangan putih bermunculan dari bayangan Allen. Bayangan itu
memanjang menuju 6 arah mengitari Allen di tengah. Salah satu dari bayangan itu
berkata
“Giliranmu, wahai Allen, sang kebebasan.”
“Dark Wind Allen akan memulai pembacaan bukti atas terdakwa.”
Cahaya ruangan menaungi Allen di tengah. Allen mengangkat Plakat Platinum
Hitamnya dan mulai bercuap.
Ke enam bayangan itu mendengarkan semua tuturan dari Allen. Allen juga
memberikan sebuah gambaran melalui Plakat Platinum Hitamnya tentang bukti yang ia
sodorkan. Dalam Dark Assembly, wajah dan figur terdakwa disamarkan dengan
bayangan hitam. Tentunya agar Darkmaster lainya memberikan pendapat berdasarkan
perilaku terdakwa dan bukan karena orangnya. Allen memperdengarkan pula suara
Saravine. Siapa yang menjadi targetnya?
“...Dan dengan itu, Allen memberi voting untuk penggelapan level satu.”
Plakat Platinum Hitam milik Allen berdenging dan bersinar putih terang. Allen
menutup matanya. Keputusan mereka telah masuk dalam Plakat Platinum Hitam dan
benak Allen.
Allen tersenyum kecut “Terima kasih atas jawaban yang kakak semua berikan.”
Setelahnya barulah 6 bayangan itu secara bergantian melakukan hal yang
dilakukan oleh Allen. Mereka membacakan ‘bukti’ dan Allen memberikan voting
melalui Plakat Platinum Hitamnya. Setelah mereka semua selesai membacakan dan
diberi keputusan, semua bayangan melesak masuk dan menghilang. Begitupun Allen.
Perlahan kesadarannya tertarik ke ambal batas dunia nyata.
Allen membuka matanya. Air yang terjatuh dari langit-langit menjadi bumbu
penyadar. Ia memandangi bulan yang separuhnya tertutup awan. Waktu tak berdetak
saat Dark Assembly terjadi tapi kelelahan fisik menimpa layaknya bekerja 6 jam.
Kakek Greul mendatangi Allen dan menawarkan secangkir teh Gratios dingin.
Allen menerimanya tapi lidahnya terlalu kecut saat ini untuk sekedar menikmati teh
favoritnya. Ia hanya menyisip satu kali dan meletakkan gelas penuh itu di sampingnya.
Ia dapat merasakan adanya firasat buruk dari keputusan yang telah dijatuhkan Dark
Nature pada sang terdakwa.
“Apa keputusannya?” tanya Greul.
“Level dua.”
“Atas alasan?”
“Katanya sih ada kemungkinan terdakwa sulit diperbaiki meski ingatan diatur.”
Greul terkekeh mengerti. Ia tak tahu siapa terdakwa milik Allen tapi ia tahu alasan itu.
“Apa kau siap kalau nanti akan berhadapan dengan Wishmaster?”
Allen terdiam sebentar sebelum akhirnya nyengir senang “Pasti siap. Kuasa Dark
Nature takkan bisa dihentikan oleh keinginan semata. Kecuali bila Keinginan itu
direstui olehNya.”
Greul menyeringai puas mendengar jawaban cucu semata wayangnya ini.
Di lain tempat, Kota Scutleiss. Malam hari di kota ini justru ramai dipenuhi oleh
gelak tawa dan hingar bingar malam. Warna merah muda dari prisma menara
melengkung di barat laut menyala terang-redup. Lampu-lampu yang tinggi dinyalakan
sepanjang jalan utama. Cahaya dari Pyramite, rayap api berbentuk limas segi empat,
menjadi sumber utama cahaya lampu ini. Logam Idium yang mereka makan diolah
menjadi energi untuk menyalakan ekor mereka. Nuansa hangat layaknya siang hari
hadir tanpa harus membayar mahal.
Lain kota Scutleiss, lain kerajaan Erune. Kerajaan ini sama seperti desa
Exemptio. Hening di malam hari. Hanya kemilau menara Lunarc saja yang boleh
berbicara.
Di kerajaan Erune, di salah satu menara tinggi di lantai lima sayap utama,
Saravine duduk di kursi Evallift. Tatapan matanya jauh melanglang pada mengarah ke
desa Exemptio. Ia asyik senyum-senyum sendiri sembari memeluk boneka kayu
berkulit jerami. Boneka itu memakai sebuah bandana putih bertuliskan “PIKUN”.
Saravine memandangi boneka itu dan kemudian mencium kening sang boneka. Lama,
seolah pedang waktu tak pernah bertengger di lehernya.
Mendadak ekspresi wajah Saravine berubah. Ia meletakkan boneka itu di lantai.
Perlahan ia berdiri dan bersiaga. Ia merasakan sesuatu; penyusup. Dentingnya lemah
tapi memiliki aksen aneh. Saravine tidak panik. Ia berjalan dengan tenang dan
mengambil Fleuret yang tergantung di dinding. Fleuret itu bergetar ringan seolah
hendak bergerak tapi berhenti setelah ditiup lembut oleh Saravine. Ia kembali berjalan
ke tengah ruangan. Saravine sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini sejak
menyamar menjadi pangeran. Kurang lebih sudah 20 penyusup yang ditumbangkannya
selama 2 tahun. Separuh di antaranya mata-mata dan semua rata-rata berkeinginan
buruk terhadapnya. Boneka Raffith besar selalu menjadi saksi korban keakuratan
Rapier Saravine.
Ia menyilangkan Rapier itu di depan wajahnya. Ia menutup kelopak matanya.
Kekuatan Keinginannya diperkuat, ia membuat seakan ruangan ini menjadi bagian
dirinya dan memang itulah kelebihan seorang Wishmaster. Apapun yang diinginkannya
bisa berpengaruh pada dirinya sendiri dan juga sesuatu yang bersinggungan dengannya.
Lapisan-demi-lapisan ruang dirobeknya dalam relung imajiner keinginan. Ia tahu siapa
penyusupnya, tidak! Ia tahu di mana penyusup itu berada!
Saravine mendongak. Dari langit-langit mendadak muncul sebuah tombak hitam.
Saravine mengelak. Tombak itu lurus menembus langit-langit dan lantai tanpa
merusaknya.
Saravine mengeraskan genggaman Rapiernya. Ia berharap Rapier ini mampu
menembus materi. Keseluruhan lenganya menjawab keinginan itu. Legam hitam
merambah dari bahu turun sampai kepalan tangan. Legam hitam yang cemerlang bak
batu Obsidian. Satu tarikan napas terhentak untuk memulai Botta Dritta.
Tapi serangan lain muncul! Tombak lain mengancam! Saravine mengelak kirikanan
dengan langkah pendek. Dan tombak itu silih berganti menusuk Saravine.
Ketepatan langkah Saravine luar biasa! Semua serangan tombak dielakkan dengan
selisih 1 ruas jari saja.
Saravine memperkecil langkahnya membuat jarak tusukan antar tombak semakin
mengecil. Dan saat jarak antar tombak selisih 1 jengkal, Saravine memutar pergelangan
tangan. Ricasso Fleuret milik Saravine menepis tombak kanan dan membuatnya
bertabrakan dengan tombak kiri.
Kesempatan!
Saravine melesat dengan menjejak-menanjak tombak. Gravitasi bergeser dan
berpusat pada kakinya. Botta Dritta... ah tidak... Lunga dikerahkannya. Kaki depannya
menyentak maju, didorong oleh kaki belakang, tubuh direndahkan dan tangan yang
memegang Fleuret ditusukkan sampai maksimal. Lunga dari Saravine menembus
langit-langit dan juga tidak merusaknya.
BLUK!
Flueret itu menabrak benda halus. Saravine melepas napasnya. Ia merenggangkan
Kekuatan Keinginanya dan menarik Fleuret dari langit-langit. Tidak ada bekas darah.
Saravine melepas jejak kakinya dari tombak, melayang turun, lalu menapak lembut
dengan satu kaki.
“Master Adam, kumohon keluarlah.”
Dari balik langit-langit, tanpa merusaknya, turun seorang kakek-kakek.
Tangannya… tangannya ternyata adalah tombak itu. Kurang dari sedetik, tangan itu
kembali menjadi tangan biasa. Inilah Vristinus Adam, salah satu master dari
Wishmaster di region ini. Ia dikenal juga sebagai Wishmaster pengubah tubuh. Ia masih
sama seperti saat 5 tahun lalu. Tidak terlihat berubah sedikitpun kecuali bahwa
sekarang pakaiannya tidak lagi basah.
“Aku senang kau bisa langsung mengenaliku.”
Saravine menancapkan Fleuretnya tegak lurus di tanah. Ia pun berlutut dan
menghaturkan hormat
“Hanya Master yang keberadaannya tak bisa kurasakan dari radius lima tombak
lagipula… serangan keinginan barusan juga membuatku sadar siapa lawanku.”
“Bangkitlah!”
Ujar Adam membuat Saravine kembali berdiri
“Aku senang sekali melihat kau sudah mampu mengatur keinginan sampai
menguasai lokasi.” Nada puas jelas sekali terdengar, tak perlu lagi mendengar adanya
Denting Keinginan.
Saravine terdiam. Ia memberanikan dirinya bertanya
“… Mengapa Master Adam kesini?”
“Apa tak boleh bila seorang guru mengunjungi muridnya? Lagipula, apa seorang
Matreisha tak boleh mengunjungi Wishmasternya”
Saravine mengaktifkan Ikatan Keinginan dan melihat benang biru tersimpul pada
jari manis guru dan dirinya. Benang biru itu mengerlipkan cahaya lemah. Dibalik
cahaya itu Saravine merasakan adanya Denting Keinginan dari sang Matreisha-nya.
“Aku rasa Master takkan muncul begitu saja tanpa tujuan.”
“Kau memang selalu tajam bagai ilalang.” Adam berdehem. Wajahnya menjadi
serius “Muridku, aku merasakan Denting Keinginan aneh darimu saat melintasi
daerahmu. Denting Keinginan ini tidak sama dengan takut atau getar
ketidakmampuan... aku tidak mampu menebaknya secara keseluruhan karena Denting
itu saling menumpuk. Dan aku tahu kau mampu menutupi keinginanmu dengan cepat.
Hanya saja... tetap saja gurumu ini khawatir dengan percikan Keinginan yang sekilas
tersebut.”
Saravine diam. Kemampuan Adam mengenali Denting Keinginan terlalu kuat. Ia
pernah diberitahu dari seorang seniornya bahwa kakek ini mampu mengenali Denting
Keinginan seseorang dari jarak sejauh 50 tombak. Sangat jarang ada yang bisa menipu
Adam. “Apa kau berniat menyimpang dari Matreisha-mu?” tembak Adam.
Saravine menggeleng. Selain mampu menyembunyikan Denting Keinginannya,
Saravine juga tidak akan menyemburkan isi hatinya dengan seketika.
“Aku takkan membuang keinginan orang yang menginginkanku… lagipula…”
Saravine berjalan menuju pinggir jendela. Matanya memandang lurus menuju
arah desa Exemptio yang telah lama ditinggalkanya. Setitik kebisuan sempat membius
mulut Saravine untuk berkata-kata.
Saravine memandang kembali pada Adam.
“Aku tak mungkin membuang apa yang telah kudapat dengan susah payah dan
juga...” Saravine menghormat “Aku takkan melupakan jasa Master yang telah rela
mencarikannya untukku. Karena itu… walau 7 Darkmaster menghadang pun, aku
takkan mundur!”
“Itu baru muridku.” ujar Adam puas. “Kurasa aku tak perlu cemas lagi. Dengan
ini aku bisa kembali lagi pencarian kebenaran.” Adam pun kembali bertolak ke langitlangit
dan menghilang dari ruangan. Saravine memandangi langit-langit. Bibirnya basah
mengucap hitungan waktu yang telah dilewati Adam. Ia mengestimasikan jarak tempuh
dan kecepatan jelajah Adam.
Setelah yakin Adam telah menjauh, Saravine mendekati dan duduk di sebelah
boneka kayu-nya. Matanya berubah sedih. Ia seolah tak mampu lagi meraih boneka
kayu berkulit jerami itu meski jarak mereka hanya terpisah satu lengan.
“Tapi aku tak tahu…bila hanya satu Darkmaster saja yang datang.” desahnya.
Saravine beruntung. Denting keinginannya tak terbaca oleh Adam kala itu. Tidak,
Adam bukannya tidak membaca denting keinginan Saravine dan tidak mengetahuinya.
Adam tahu jelas. Dan karenanya ia mengubah tujuannya dalam gelap malam.
Desa Exemptio, rumah kakek Greul. Suasana senyap memenuhi lantai dasar.
Allen pun tidur di kamarnya dengan perut terbuka. Sesekali keringat sebesar jagung dan
igauan mengiringi tidurnya. Posisinya berganti-ganti tanpa ada yang bertahan lebih dari
sepeminum teh. Orang biasa akan menyatakan tidur Allen tak pulas tapi dalam
kenyataannya itulah tidur pulas Allen. Sekalinya Allen tidur, ia akan mengacuhkan
segala macam suara dan gangguan. Gempa dan kebakaran takkan mengganggunya,
apalagi bila hanya sekedar orang yang melintas masuk di depan pagar.
Benar, sosok ini melewati pintu depan bagai hantu. Pagar Mawar tak bereaksi
padahal salam tak terucap. Sosok ini melintas begitu saja di samping Allen. Sosok itu
berjalan terus ke lantai 2. Pintu besar langsung menghadangnya sehabis anak tangga
terakhir habis. Sosok ini hanya menyentuhkan tangannya dan tahu-tahu saja pintu besi
itu ditembusnya perlahan.
Ruang di balik pintu besi adalah ruang kerja Greul. Semua yang berada dalam
ruang ini harus memakai pelindung suara Muthos bila tidak ingin kupingnya rusak oleh
gaung dentang besi yang memantul pada dinding besi. Tenang saja, suara gemuruh ini
takkan terdengar keluar mengingat segel Sumbat Suara terpampang pada setiap pojok
ruangan. Greul berada di sana, membelakangi pintu. Sepercik api sesekali terlempar
dari logam yang terhantam. Percikan itu menyala dan menyibak semua wujud materi
dalam bayangan. Tapi sama sekali tak menyibak sosok yang mengendap-endap
mendekati Greul.
Greul menghentikan gerakannya. Tiada lagi suara berisik terdengar, tiada lagi
percik api terlontar.
“Aku tahu kau ada di sana. Kau tak perlu menyembunyikan kehadiran dengan
Kekuatan Keinginan. Kedatanganmu sudah dirasakan oleh pagar mawar.”
“Malam Greul.” ujar sang sosok.
“Malam Vristin.”
“Bukankah bagi Wishmaster sepertimu akan berbahaya bila terus berhubungan
dengan Darkmaster?”
“Kau mengejek dengan kalimat yang kupakai dahulu.” dengus sang sosok yang
tak lain adalah Vristinus Adam.
“Tapi aku ini mantan Darkmaster, jadi bagimu pasti tak akan masalah bukan?”
Adam tertawa kecil mendengarnya. Suara jentikan terdengar. Tak berapa lama
sebuah nyala api berkobar dari tengah ruangan. Sekilas terlihat seperti sebuah tabung
kaca. Nyala api itu menebal menjadi bola api berwarna putih terang. Dengan bantuan
cahaya, nyata tampak bahwa ‘kehancuran’ di lantai dasar hanyalah secuil dari gunung
es.
Greul membalikkan badannya. Kacamata Pyrrier-nya dilepas. Pertanda ia lebih
serius pada masalah yang akan diutarakan.
“Kupikir kau sudah tambah bijaksana… ternyata tidak juga.” Komentar Adam
sembari mengambil sebuah besi yang bentuknya tak jelas antara penjepit dan gunting.
“Bijaksana. Bila itu yang kau cari, seharusnya aku sudah mengusirmu sedari tadi.
Apa yang kulakukan saat ini adalah kebodohan.”
“Apa orang bodoh bisa merancang sesuatu yang melewati batas Keinginan?”
“Kreasiku tak kenal tempat dan waktu.” Jawab Greul terkekeh.
“Kau benar. Bahkan sampai kau merancang kreasi yang tak pernah kusangka
akan berjalan dalam rel yang benar.” ujar Adam meletakkan kembali besi itu pada
tempatnya dengan hati-hati. Ia pernah punya pengalaman pahit akibat sembarang
meletakkan ‘kreasi’ Greul.
“Maksudmu?”
“Kalau kau berpura-pura bodoh lagi maka aku akan menghapus ingatan-nya saat
ini juga dan memboikot rencana gilamu. Kau pasti tahu mengapa aku nekat datang ke
sini.”
“Aku tahu. Terakhir kau memberitahuku ia sudah bertemu dengan ibunya dan
sekarang berita baik atau buruk yang mau kau ceritakan?”
Adam berdehem. Ia tersenyum.
“Bagus sekali. Aku benar-benar tak menyangka bahwa memisahkan mereka
berdua akan mampu membuat kristal keinginan semakin mengeras. Padahal
sepengalamanku yang ada justru meluntur.”
“Dia berbeda. Garis keturunannya semua berdarah hangat. Aku pernah
mengatakannya padamu.”
“Benar, benar. Dan apakah kau yakin ‘Ia’ akan mampu melaksanakannya sesuai
dengan rencanamu? Kalau soal keinginan dan kenekatan aku tahu calonmu takkan
kalah.” suara Adam dipelankan. “Meski ia juga memiliki lawan kuat.”
“Khasmu sekali, terlalu khawatiran terhadap masalah.” Greul menyeringai
“Sekali ia berjanji maka ia tidak akan melepaskannya. Ia sama sepertiku yang memiliki
jiwa Blacksmith. Kau pasti sudah merasakan Keinginannya saat melintas daerah
pengawasanmu. Siapapun atau apapun tidak dapat menghalanginya kecuali Dark Nature
sendiri.”
“Aku tahu itu dan kau benar! Tapi… kali ini aku berpikir ulang. Bukankah akan
lebih baik bila keduanya berada dalam satu kubu? Tidak berlawanan seperti saat ini.
Aku punya firasat buruk akan terjadi sesuatu pada mereka.”
“Lawan? Apa bagimu kedua hal tersebut berlawanan?”
“Jangan mengalihkan permasalahan. Aku butuh jawaban darimu. Mantan
Darkmaster.” Tekan Adam.
“Tapi itulah jawabanku, Wishmaster. Sama seperti pertama kali kuutarakan kreasi
ini padamu… dan kau menyetujuinya.” Greul terkekeh sebelum melanjutkan “Aku tak
pernah menganggap dua kubu saling berlawanan. Tidak semenjak bertemu dengannya.”
Greul menoleh ke kanan. Jauh, jauh menembus tembok. Semburat memori masa lalu
terpantul sejenak dalam mata tua itu. Sejenak sebelum menghilang di balik ucapan
Greul. “Dan bila mereka tidak bisa bersatu tanpa harus dikontraskan… maka kreasi ini
tidak akan sempurna. Bila tidak paham keindahan maka tidak akan ada mawar indah.”
Greul mengembangkan tangannya. Bayangan yang bermain di belakangnya
mencitrakan dirinya sebagai dalang penuh kuasa.
Adam menghela napas.
“Sekarang kutanya sekali lagi padamu apa kau benar-benar berpikir bahwa Dark
Nature bisa diperdaya seperti ini hanya dengan keinginan? Apakah kau tidak khawatir
kalau ‘Ia’ suatu saat akan ditentang oleh kelasnya sendiri... Seperti dirimu dulu?”
“Bukankah kalian sendiri yang meyakini bahwa tak semua keinginan manusia
bisa diatur oleh Dark Nature?” jawab Greul acuh.
“Tapi tetap saja... bagiku sangat aneh saat semuanya berjalan benar sesuai
keinginanmu. Bahkan sepertinya Dark Nature pun seakan... Astaga!” Adam
menghentikan ucapannya. Ia membelalakkan mata begitu mengetahui apa arti
kalimatnya sendiri.
“Bukankah dulu pernah kubilang. Sekali kau mengenal Dark Nature, kau bisa saja
mengenal seperti apa dirinya bertindak dalam alam ini. Akupun yakin, rencana
menjalankan keputusan ini pun sebenarnya adalah rencana besar-Nya terhadap
Darkmaster. Aku tidak segila yang kau duga, Vristin.”
Adam terdiam sejenak
“...Kau mungkin benar. Seharusnya aku yang gila karena mempercayai
rencanamu.”
Greul terkekeh senang.
“Sekarang yang harus dijaga adalah perasaan mereka berdua. Perkara
pertentangan itu masalah mudah. Ia adalah Angin lembut yang dapat diterima semua
golongan termasuk Tanah. Aku yakin tidak akan ada pertumpahan darah. Tidak seperti
40 tahun yang lalu.”
Greul kembali memasang kacamatanya. Ia kembali membalikkan badan. Api
dalam ruangan sontak padam.
“Panggil aku bila mereka berdua dalam masalah.” ujar Adam yang tahu-tahu saja
melesat menembus langit-langit.
Greul menutup percakapan itu dengan satu dentang palu. Sebuah senyum puas
tergambar di wajahnya saat percikan api mewarna ruangan.
Chapter 4
Penggelapan dan Penghukuman
Pagi harinya, di luar kerajaan Erune. Sebuah perhelatan besar hendak
dilaksanakan besar-besaran: Turnamen Grand. Turnamen besar ini dilaksanakan di
Coliseum Matheoust. Pasar-pasar segera tercipta dan suasana meriah langsung merebak
meski lentera Pyramite belum padam. Tidak ada aktivitas dari kereta kuda besar
maupun kereta pembawa barang. Semua aktivitas kerja dihentikan sementara.
Turnamen ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat kerajaan ini.
Di mana Allen? Saat ini dia berdiri di bawah naungan pohon Alfillatis solais. Ia
tersenyum menatap matahari pagi yang masih menunjukkan kesegarannya. Ia
memegang Paraluna, golok besar yang melengkung lebih dari setengah lingkaran.
Ensiklopedi Senjata benua Sol pernah mencantumkan senjata ini sebagai salah satu
senjata yang memiliki tingkat penggunaan rumit. Bukan pada mekanismenya,
melainkan pada kemungkinan besar senjata itu mampu melukai diri sendiri. Sayangnya
ensiklopedi tersebut tak memasukkan nama Darkmaster sebagai kelas yang spesifik
menguasainya.
Paraluna Allen dihadapkan pada matahari. Kilaunya mengisi udara pagi. Angin
berhembus dan menggulung lembut, tidak terbelah dan seolah bermain bersama senjata
tajam itu.
Paraluna Darkmaster angin “Sylphind Rhyme” adalah Paraluna yang mampu
membuat para angin bermain dan bernyanyi bagai seruling bambu. Paraluna miliknya
tajam dan ketajamannya itu yang disukai sang angin. Gerak mereka semakin cepat saat
bersinggungan dengan Paraluna. Empat lubang angin yang terpatok di tengah-tengah
Paraluna membuat sang angin semakin nyaring bersuara gembira melewati terowongan
angin mini.
Allen mengibaskan Paraluna itu dengan gerakan pelan. Angin yang bergelung itu
berubah mengganas, mengangkat rerumputan dan semak Fyul lalu menerbangkanya
tinggi ke cabang pohon Alfillatis. Pusaran kecil terpusat pada Paraluna, membuat
rerumputan itu kembali berputar sekali lagi sebelum Allen meletakkannya kembali ke
tanah.
Darkmaster adalah salah satu di antara kelas yang melestarikan lingkungan.
Angin yang bermain itu kembali pergi menjauh dengan lembut. Rerumputan turut
tertanam pada tempatnya seolah tak pernah tercabut.
Allen membuang napas. Pemanasan paginya sudah selesai. Greul berdiri
menyender ke pohon, melipat tanganya dan sedari tadi memperhatikan Allen.
“Apa kau yakin dengan caramu kali ini?” tanya Greul.
“Aku tak pernah ingat kalau kakek itu pencemas seperti ini. Seingatku, kakek
Adam yang suka cemas.”
“Aku tak tahu apa yang ada dipikiranmu. Terkadang kupikir kau ini pintar tapi
terkadang kulihat kau justru bodoh. Darkmaster lainnya tidak akan tinggal diam dengan
cara yang akan kau lakukan.”
“Aku cuma tahu kalau cara ini akan berhasil. Itu saja.”
“Dasar angin, tak dapat ditebak. Kau memang mewarisi darah Inverson.” Greul
melempar pandangannya keluar desa, ke ufuk di mana Lovisolistia berada “Asal kau
tak mati saja kalau tidak aku yang akan repot mencari penggantimu di desa ini.”
Allen nyengir “Tak akan. Aku pasti pulang, paling tidak dalam keadaan setengah
hidup. Kan aku sudah diajarkan oleh kakek untuk kabur. Itu juga kalau Dark Nature
mengizinkan.”
Kokok ayam jantan menyemai, matahari pagi mulai menampakkan rona
kemuning yang sedikit menyengat. Bagi Darkmaster, ini adalah waktu yang tepat untuk
melangkah pergi. Greul membalikkan badan dan berkata “Berangkatlah, kuasa Dark
Nature akan membuktikan kebenaran pilihanmu.”
Allen tak berkata apa-apa dalam cengirannya. Ia hanya memandangi punggung
kakek Greul yang berjalan menjauh.
Allen memasukkan kembali Paraluna itu ke dalam Plakat Platinum Hitamnya.
Paraluna itu tersedot masuk begitu saja. Bila dibutuhkan maka mereka bisa saja
menarik Paraluna itu kembali dari plakat.
Berangkatlah Allen menuju Lovisolistia. Langkahnya pasti dalam setiap lesatan
angin level 3-nya.
Memasuki kota Lovisolistia termasuk perkara mudah di saat event besar ini.
Penjagaan memang ditingkatkan, tapi dengan alasan mengikuti turnamen maka
semuanya menjadi mudah.
Allen masuk melalui pintu gerbang barat. Ia memandang acuh-tak-acuh pada
salah satu situs bersejarah lain kota ini dari kejauhan. Paviliun Costasol. Tempat di
mana bel besar Grand Penumbrae berada. Bel yang terbuat dari Aurum murni ini hanya
sekali saja berdentang saat siang hari. Suara bel ini terdengar sampai seluruh pelosok
kota bahkan menempus sumbat kuping Muthos. Dentang bel itu bagai orkestra simfoni
bagi penduduk (terutama mereka yang bekerja di pertambangan). Bel ini menjadi
pertanda waktu istirahat selama beberapa menit layaknya bulan menutup matahari. Tapi
bagi Allen, apa yang ia lihat tak lebih hanyalah sebuah bel megah yang terlihat
ponggah-menyilaukan.
Sesampainya di depan Coliseum, ia mencari tempat bersembunyi di balik lorong
dekat kakus umum. Ia mengubah dandanannya. Scarf putih yang biasa dipakainya
diganti dengan sorban dan penutup muka hitam. Hanya matanya saja yang diperlihatkan
dan itupun juga sudah diberi pelapis hitam kantung mata. Dengan sedikit kosmetik,
wajah jenaka Allen dapat berubah menjadi sangar.
Sebelum keluar dari persembunyiannya, ia melakukan ritual kecil. Ia berlutut dan
menengadahkan tangannya ke atas. Ia berbisik lembut.
“Kuasa Dark Nature. Restuilah tindakan abdimu dalam bertugas. Berikan pada
kami makna harapan alam. Buatlah roda sejarah berputar untuk keseimbangan.
Gelapkan mereka yang terlalu terang dan terangkan mereka yang terlalu gelap.”
Sehabis mengucap itu Allen mengecup Plakat Platinum Hitam dan kembali
menarik Paraluna. Setelahnya, Plakat itu disembunyikan di balik baju.
Allen berjalan tegap bersandingkan Paraluna. Ia memasuki gelanggang turnamen
dan akan melakukan sesuatu takkan terpikirkan oleh 6 Darkmaster lainnya:
Menampakkan diri di depan umum sebagai peserta turnamen.
Coliseum Matheoust adalah Ampitheater berbentuk bundar dengan lima sisi yang
menonjol keluar. Atapnya terbuka membiarkan sinar matahari menyapa lingkar tengah
arena Coliseum. Dindingnya terbentuk dari bebatuan yang dilekat dengan esens telur
Adhechick. Meski tua, dinding bebatuan Coliseum ini mampu menahan gempuran
zaman. Coliseum Matheoust memiliki lorong-lorong panjang dan sempit. Susunan
jalannya cukup berputar-putar layaknya spiral, meski hanya sekedar sampai ke tribun
utama.
Istana Erune dibangun tak jauh dari Coliseum Matheoust. Hal ini diyakini mampu
memberikan perlindungan yang sama seperti sejarah Matheoust. Untuk perhelatan
akbar ini telah dibuat mekanisme jembatan penyambung khusus berlapis Argentum
dengan istana Erune.
Dari sinilah permaisuri Vex berjalan menuju podium besar Rest in Suncrest di
bagian utara. Para rakyat mengeleu-elukan sang permaisuri yang berjalan dengan
tenang lagi anggun di atas karpet merah. Sang permaisuri menebar lima kelopak bunga
lima warna untuk menghormati pahlawan yang gugur mempertahankan Coliseum ini
dalam setiap langkahnya. Ia berhenti setelah tiba di depan kursi bertahta Rubidium;
Kristal merah perlambang kerajaan Scutleiss.
“Marilah untuk sejenak kita mengheningkan cipta untuk mengenang arwah para
pahlawan yang telah gugur memperjuangkan sejarah kita saat ini.” sang permaisuri
mengatupkan tangannya dan memberi doa.
Suasana khidmat mengisi seisi Coliseum Matheoust. Seluruh mata tertutup. Bibir
terus melapatkan sajak-sajak penghormatan pada para pahlawan. Hanya burung-burung
di angkasa yang bersuara dengan kepakan sayap atau kicau riang mereka.
“Selesai.” ujar permaisuri Vex.
Arche Efeether, komandan R-Knight termuda, datang dari arah belakang
permaisuri. Ia membawa sebuah bantal berbulu angsa. Diatasnya terdapat sebuah
tongkat hitam. Panjangnya tak lebih dari segenggam tangan. Tinta emas tercetak pada
delapan sisi tongkat. Cahaya matahari yang terang makin memperlihatkan dasar
kekelaman warna tongkat itu dan makin memperjelas aksara bertuliskan “Grand
Emblem”. Arche mengajukan tongkat itu pada sang permaisuri. Sang permaisuri
menerimanya dan mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi dengan tangan kanannya. Ia
memberikan waktu bagi para hadirin untuk mengenali benda yang berada di tanganya.
Kasak-kusuk bertebaran. Beberapa mengenali dan beberapa tidak. Sadap
informasi dari berbagai percakapan menyimpulkan bahwa tongkat hitam itu adalah
kunci segala hal baik itu peti harta karun berjebakan sampai pintu berpengaman. Benda
yang pastinya dicari penjahat atau pencuri.
“Segel pembuka Matilda ini akan menjadi hadiah utama bagi mereka yang telah
berjuang mencari kehormatan dalam turnamen ini!” dekrit Arche menjadi juru bicara
permaisuri. Khalayak bergemuruh takjub mendengarnya.
Tongkat itu dikembalikan lagi oleh permaisuri Vex. Ia menutup prosesi dengan
mengangkat kedua tangannya seolah membendung sang surya. Kilau menara Lunarc
sontak memancarkan 7 spektrum cahaya ditambah kilau putih. Segenap gegap gempita
bersambut bersamaan dengan bunyi terompet besar yang dibunyikan serentak. Riuhnya
seakan mampu menenggelamkan Coliseum ini.
Kontestan yang berada di ruang tunggu sempat merinding juga melihat langitlangit
ruang bergetar.
Ruang tunggu Coliseum Matheoust besar. 500 petarung lebih - mayoritas laki-laki
– bukanlah sebuah beban. Bau keringat dan suara-suara kasar mengisi ruangan itu.
Allen malas berlama-lama disini, ia lebih baik berada di atap dan mendengarkan siulan
angin bersama para burung. Selagi ia hendak melangkah, matanya menumbuk pada satu
sosok.
Perempuan. Sosoknya bagai dewi di tengah siluman-siluman, raksasa-raksasa,
rubah-rubah, atau serigala-serigala yang berwujudkan manusia. Kulit hitamnya berkilat
bersih mengundang decak kagum apalagi harum tubuhnya seakan meminta penghuni di
sana tuk menggoda. Lihat saja pandangan penuh nafsu dari para pejantan di
sekelilingnya. Perempuan itu dengan sopan menolak semua basa-basi penuh tipu daya
dari para rubah atau mengancam raksasa-raksasa tanpa otak dengan kecepatan
Rapiernya.
Perempuan itu memakai helm putih perak yang menutupi seluruh muka kecuali
mata dan bibir merahnya yang tipis dan basah. Ia memakai baju besi tipis berwarna
putih yang terlihat begitu ringan. Zirah besi itu hanya menutupi bagian dada dan sedikit
bagian perut, tidak pada punggung. Sebagai gantinya dua helai sutra putih menjadi
sayap mantel yang melindungi punggung dengan simpul bunga.
Tanpa disangka mata mereka berdua bertatapan. Allen merasakan nuansa aneh
apalagi saat matanya menumbuk pada dua buah Rapier tebal di pinggang perempuan
itu. Sarung Rapier yang buntung separuh menggambar bentuk utuh pedang itu. Sekilas
terlihat seperti Flamberge karena panjang dan besarnya. Liuk ularnya dan pointe yang
tumpul sempat melintas di mata Allen. Dua buah, dan panjang... tidak banyak
perempuan yang mampu menyandang dua buah Rapier sejenis dan sebesar itu di
pinggang mereka.
Allen menyangkal hal yang pertama kali dipikirkannya. Rapier toh bisa dipakai
tak hanya oleh Wishmaster saja. Senjata itu diperuntukkan untuk duel dalam kota,
formal ataupun informal. Lagipula… badannya yang tinggi, warna kulit yang hitam,
dan liuk-liku tubuhnya jelas bukan milik Wishmaster yang dikenalnya. Tapi
Wishmaster bisa mengubah bentuk tubuh...
Aagh! Kepala Allen seakan hendak pecah memikirkan kemungkinan yang
terlintas dikepalanya. Berpikir memang bukan pekerjaan utamanya sebagai sang angin.
Perempuan itu menghaturkan salam dengan kedua tangan terkepal di depan.
Lamunan Allen terputus dan sontak ia memalingkan muka. Bukan apa-apa, saat ini ia
sedang menyamar dan baginya tidak mungkin untuk mengajak kenalan. Jelas tidak lucu
baginya, karakter seram justru mesem-mesem. Ia cukup beruntung namanya dipanggil
maju dalam tawuran 32 petarung.
Tawuran itu bagi Allen hanyalah seperti makan keripik Sanjai. Renyah pedas
tapi tak mengenyangkan. Ia bahkan tak berkeringat setelah membuat pingsan 31
lawannya. Seisi Coliseum bersorak sorai melihat kemenangan gemilang ini. Allen
belagak tak peduli dan ia berjalan kembali menuju ruang tunggu.
Ia kembali berpapasan dengan perempuan misterius itu. Sebuah senyum kembali
terulas dari bibir tipis itu. Momen itu memang singkat tapi cukup menggetarkan hati
Allen. Belum lagi, baginya aroma gadis itu seakan menembus hidung dan kepalanya.
Penasaran benar-benar menghujam otaknya. Ia hanya tahu, melalui PEMBAWA
ACARA, bahwa nama perempuan misterius itu adalah Anti Lunae… sang anti bulan
sabit. Dan sekarang Allen tak dapat melepaskan pandangannya dari punggung berzirah
putih itu.
Allen bahkan menonton pertandingannya dari atap Coliseum. Ia ditemani bulubulu
burung merak yang bertebaran tak tentu arah di atas atap colisem. KUAT! Itulah
komentar dari PEMBAWA ACARA yang turut meluapkan semangat penonton. Lagilagi
31 petarung telah dijatuhkan, masing-masing dengan satu tusukan bersih pada dada
kiri. Tidak ada yang mati, Debole Rapier itu tumpul dan didesain untuk memberi shock
besar pada organ dalam lawan, membuatnya pingsan. Anti Lunae menghaturkan
hormat pada penonton dan kembali masuk ke ruang tunggu.
“Senyum itu rasanya familiar… bau anginnya juga… tapi siapa?!”Allen
mengerutkan keningnya... satu detik, tiga detik sampai akhirnya di detik kesepuluh
Allen menepuk kepalanya.
“Aaaagh~! Kenapa sih sifat pelupa-ku ini kambuh di saat begini?!” ia mengerang
sejadi-jadinya, melepas stress yang menumpuk akibat tidak ‘bisa’ tertawa dalam
penyamaran ini. Bagi yang mendengar, mereka menyangka orang gila yang mengerang
itu sedang mengutuk. Dan bagi mereka, bukanlah peristiwa yang mengenakkan hati.
Suara bel dari Paviliun Costasol terdengar merdu. Pertanda matahari telah
memasuki tahta tertingginya: tengah hari. Pertanda istirahat bagi Kerajaan Erune.
Sebagian hadirin keluar dari Coliseum. Termasuk Allen. Ia turun dari atap dan melepas
dandanan misteriusnya dengan gembira. Ia punya janji yang telah ditunggu-tunggunya.
Allen celingkukan kiri-kanan. Ia mencari sosok pria yang akan ditemuinya… atau
lebih tepatnya sosok perempuan-yang-menyamar-jadi-pria. Ia sudah berputar-putar 15
menit dekat pintu gerbang tapi masih saja belum menemukan sosok itu.
Sebuah tepukan halus menerpa pundaknya. Allen menengok... dan terpana.
Saravine sudah kembali pada tubuh aslinya: gadis berwajah sendu berrambut panjang.
Kulit kuning langsatnya terlihat cerah molek. Sangat sesuai dengan warna kulit
perempuan di kota ini pada umumnya. Ia tak kalah ‘bercahaya’ dengan Anti Lunae,
tidak... bagi Allen; Saravine terlalu menawan untuk dilewatkan!
Saravine mengenakan baju putih bersih dengan rok tipis. Dilengkapi celana
panjang sutra putih. Semuanya tanpa perhiasan. Poni kirinya dikepang dan jatuh tepat di
samping pipinya. Parfum khas rempah-rempah alam tercium semerbak. Kalau ia tak
membawa Fleuret mungkin preman pasar budak sudah berniat menculiknya. Tapi
mungkin pula Fleuret itu telah ‘berbicara’ banyak dengan preman pasar budak.
Allen bersiul “Astaga, kamu terlihat cantik sekali hari ini. Terlalu banyak yang
berubah!” mata Allen mulai nakal memperhatikan Saravine dari atas sampai ke bawah.
Saravine bersemu “Di... diam!”
Allen justru semakin asyik menggoda Saravine sampai akhirnya ‘Keinginan’
Saravine turun tangan. Kali ini Allen harus merasakan enaknya ubin kota Lovisolistia.
Mereka berdua berjalan menikmati suasana kota yang disulap menjadi festival.
Berbagai permainan bersebaran dalam kota misalnya permainan “taplak meja”, “gobak
sodor”, bahkan sampai “Petak umpet” satu kota.
Mereka berdua berjalan beriringan. Kali ini tidak ada halangan angin di antara
mereka. Tangan mereka bertaut erat. Allen yang biasanya ramai dan berisik lebih
banyak diam dan bermuka jengah. Ia sama sekali tak percaya Saravine bisa menjadi
begitu mengagumkan.
Saravine pun hari ini banyak tersenyum. Saat melihat senyum itu Allen mendadak
teringat seseorang.
“Sara, ini mungkin pertanyaan aneh... tapi apa kamu punya saudari kembar?”
Saravine membuang mukanya.
“Hey, jangan marah atau cemburu dulu dong. Aku ini tadi melihat ada perempuan
yang bau anginnya mirip denganmu.” Saravine menjauh. Wajahnya berubah seperti
bertemu dengan orang jorok yang harus dijauhi.
“Bau angin?”
“Bu... bukan itu maksudku! Tapi ia terlihat sama sepertimu... yah Cuma dia
sedikit lebih seksi, lebih cantik, lebih... errr...”
Saravine memandang lekat-lekat Allen. Keringat dingin Allen langsung
mengucur.
“Tapi dia bukan tipeku kok.” kilah Allen.
“Yang kau maksud itu Anti Lunae bukan?”
“Iya! DIA! Aku merasa seperti mengenalnya! Gerakannya familiar! Tapi pikunku
kambuh lagi! Makanya aku coba tanya padamu.” ujar Allen bersemangat.
“Bukannya kau tak pernah lupa kalau urusan perempuan?” desah Saravine.
Allen mati kutu mendapat jawaban seperti itu.
Ganti Saravine bertanya
“Omong-omong senjata si Harken mirip sekali dengan Paraluna, senjata kalian.”
sekarang giliran wajah tak senang Allen berkilat.
“Halah! Palingan bentuk doang, mana ada orang yang bisa menggunakan
Paraluna sebaik kami. Lagipula… Harken itu yang mana ya?”
Inilah salah satu keuntungan menjadi pelupa. Setidaknya ia bisa beralasan begitu
bila menyamar dan pura-pura tak tahu. Saravine pun menjelaskan dengan detil segala
hal tentang Harken sang pria misterius yang tak lain adalah Allen sendiri. Jelas Allen
tak tertarik dan menguap mendengarnya.
“Kamu cemburu?” tanya Saravine.
“Apa perlu aku berbohong dan bilang tidak? Apalagi di saat kamu sudah begitu
dekat denganku.” Allen mendekatkan wajahnya pada Saravine. Ia menyibak rambut
gadis itu.
“Gombal.” Desis Saravine lemah. Ia terbuai oleh jemari-jemari Allen yang terus
menari di kepalanya. Tubuhnya bergetar menahan jerit senang yang tak mampu ia
ucapkan dalam diamnya. Pandanganya pun jatuh, berharap situasi ini bukan mimpi.
Dan Allen menyadarkannya dengan jemari yang mengangkat dagunya. Pandangan
Saravine lekat menempel pada sang Angin di hadapannya. Tanpa malu-malu bulir-bulir
kenangan perekat mulai bertindak. Bagai magnet, wajah keduanya semakin mendekat.
Terompet-terompet kembali berbunyi pertanda turnamen Grand akan kembali
dimulai.
Saravine dan Allen sontak menyadari dunia mereka berpijak. Saravine dan Allen
saling berpandangan. Khalayak sekeliling mereka memperhatikan opera sabun Allen
dan Saravine. Merah muka mereka berdua tak dapat disembunyikan.
“A... Aku harus pergi. Waktuku sudah habis.” Tangan Saravine menepis lepas
tangan Allen. Bingkai-bingkai kenangan kembali tertutup tatkala Saravine berlari
meninggalkan Allen.
“Sehabis turnamen kutunggu kamu lagi di pintu gerbang kota.” teriak Allen.
“Aku tak janji.” jawab Saravine yang terdengar langsung di kepala Allen.
Bayangan punggung Saravine lenyap diiringi lambaian tangan Allen. Keramaian
kota ini justru menggempur Allen yang terasing dalam kesendirian. Allen sejenak
terdiam, matanya menatap pada podium besar di atas Coliseum.
“Andai aku bisa mengurangi level Penggelapan. Yah, mudah-mudahan
penggelapan nanti tidak sampai membuat Sara repot. Ah tidak, aku yakin Dark Nature
justru akan memberikan kebebasan bagi Sara.”
Dan ia pun kembali lagi melangkah menuju Coliseum. Ia tak menyimpan
keraguan, ia mengemban tanggung jawabnya sebagai Darkmaster dan sebagai seorang
pria.
Turnamen dimulai lagi. Allen sebagai petarung misterius melangkah maju terus
melewati semi final tanpa hambatan. Begitupun dengan Anti Lunae, sang perempuan
misterius itu.
“FINAL! Takdir mempertemukan Harken dan Anti-Lunae! Dua orang yang
sama-sama misterius. Satu hitam satu putih! Manakah yang lebih kuat di antara dua
warna murni ini?! Kita akan segera mengetahuinya!!” Jerit bersemangat itulah yang
dilontarkan oleh sang PEMBAWA ACARA begitu keduanya muncul di pintu
gelanggang yang saling berseberangan.
“Dari Barat! Gadis misterius bagai malaikat! Rapier tumpulnya tak kenal ampun!
Amalgrahm Xigurth juara tahun lalu pun tumbang oleh cahaya putihnya! Mari kita
sambut Antii~~~ LUNAEE!!”
“Dari Timur! Pria berbaju HITAM! Kemisteriusannya mampu menggetarkan
jiwa! Vreish Tellope sang Petir Biru ditelan oleh kegelapan senjatanya! Kita beri
sambutan pada Harken!!
Dua orang ini masuk ke gelanggang dengan tenang. Komentator berusaha
meminta satu dua patah kata tapi diacuhkan oleh mereka berdua. Tampaknya mereka
berdua sudah saling berniat untuk menghantam. Paraluna dari Harken alias Allen
dengan Rapier dari Anti Lunae sudah saling bersilang dalam kuda-kuda mereka berdua.
Pertarungan dimulai setelah isyarat dibunyikan. Keduanya langsung melesat dan
beradu senjata. Suara senjata beradu memekakkan telinga yang mendengar. Medio dari
Rapier beradu dengan Umbrae Arc dari Paraluna Sylphind Rhyme. Liuk ular dari
Rapier Anti Lunae memberi getar tak enak bagi Allen. Friksi itu membuat angin
memekik kesakitan layaknya tergigit ular. Begitu titik beradu bergeser sampai Ricasso
barulah mereka saling menarik senjata dan mundur. Uji kekuatan baru saja selesai.
Mereka imbang.
“Senjata yang lucu sekali. Di mana aku bisa membelinya?” senyum manis sang
gadis berkiblat mengejek.
Allen diam tak menjawab. Mulutnya gatal sekali ingin bercanda tapi ia ingat
kalau dirinya sedang menjalankan tugas. Salah, ia tak boleh lupa kalau ia membawa
nama Dark Nature saat ini.
Allen memainkan Paralunanya. Sebagai sebuah senjata, Paraluna memang tidak
bisa digunakan sembarang, andai salah mengayun maka diri sendiri justru akan menjadi
korban. Sama halnya dengan kuasa Dark Nature dan keinginan, bila tidak digunakan
dengan benar maka akan menyerang balik diri sendiri. Ia harus menggerakkannya
dengan alur identitasnya, alur elemennya, dalam jalur rotasi tersendiri.
Allen meliuk, sebagai sang angin, ia memainkan Paraluna bagai menari. Cepat,
tajam, selalu berputar, dan langkahnya sedikit sekali bersinggungan dengan bumi. Desir
siulan angin selalu terbawa dalam geraknya. Paraluna angin tidak pernah ditebaskan. Ia
bergerak harmonis bersama tubuh dengan pingang sebagai pusatnya. Paralunanya
sesekali saja digunakan untuk menepis serangan. Selebihnya tentu gerakan yang
mengancam sang lawan.
Di lain sisi, Anti Lunae justru bergerak berketerbalikan dari Allen. Serangannya
lurus, mengincar daerah-daerah vital terutama dada kiri tanpa ampun. Gerakan kakinya
selalu menyentuh dan menyeret sang bumi. Pointe Rapiernya seolah tak pernah lelah
menghentikan ruang bernapas lega.
Arena pertarungan bertabur debu-debu dan angin. Sesekali percikan api hasil
beradunya dua senjata. Kecepatan mereka berdua nyaris tak dapat diikuti mata normal.
Hanya riuh gemuruh sorak sorai penonton saja yang bisa mengejar kecepatan mereka.
Allen merasa mengenali sosok ini. Ia tahu tusukan Rapier itu. Diam tapi ganas.
Kecepatannya yang merobek udara seolah tak menggesek angin. Tajam. Cara
melangkah... pemindahan poros berat sampai cara menepis difokuskan pada tingkat 1
dan 2 saja. Gerakan dasar memang tapi tepisan itu efektif membuang sang angin dari
Paraluna Sylphind Rhyme. Kuda-kuda Terza yang dipakainya sama persis dengan yang
pernah diajarkan Saravine pada Allen. Kuda-kuda paling alami dari teknik Rapier.
Tapi… ia tak habis pikir siapa orang yang berada di balik topeng itu.
Allen lengah. Sebuah tusukan lurus hampir merobek perutnya. Ia limbung dan
nyaris terjatuh. Di saat itu Anti kembali melayangkan tusukan. Mau tak mau Allen
melakukan hal yang tak ingin dilakukannya dalam turnamen ini.
“Kekuatan level 5, Angin.” Bisiknya.
Tangan Allen bergerak seolah ditampar oleh angin. Tamparan itu ikut merotasi
tubuh Allen. Sabetan berdesing dan menghantam Rapier milik Anti. Rapier itu
terpelanting jauh dan hancur berkeping-keping seolah dimangsa angin. Anti tertegun di
tempat. Pandangannya teralihkan pada Rapier cadangan. Allen tak menyia-nyiakan
kesempatan ini! Sebelum sang gadis sempat mencabut Rapier lainnya, Allen
menjatuhkan dan menguncinya dengan Paraluna. Jarak tubuh mereka hanya bersisa
setengah lengan.
Mereka bertatapan sejenak. Waktu seolah berhenti bagi mereka berdua. Dan
waktu kembali berdetak tatkala Anti tersenyum manis.
“Aku menyerah.” Ucapnya singkat.
Tepuk tangan bergemuruh dalam seisi Coliseum. Mereka bersorak merayakan
lahirnya sang juara baru. Allen berdiri dengan enggan. Matanya tak lepas dari Anti
yang masih rebah di lantai.
“Kali ini aku yang kalah.”
Allen terdiam, separuh pucat. Dari raut matanya jelas ia merasa keterikatan
memori dengan Anti. Ucapan barusan membangkitkan kembali kenangannya bersama
seseorang.
Anti menyodorkan tangan. Allen spontan menerimanya dan mengangkat sang
gadis untuk berdiri. Sebuah tindakan sportif. Sontak Allen merasa melakukan
kesalahan, samarannya bisa terbongkar begitu saja. Allen terus memandangi sang gadis.
Logikanya berdenyut dua kemungkinan. Dan ia berharap ia salah.
“Kau ingin aku membuka topengku?”
Baru saja ia berharap seperti itu dan sang gadis sudah mengetahuinya. Ia jelas
tahu apa kelas gadis ini: Wishmaster. Tapi… itu tidak berarti bahwa dugaan keduanya
benar. Jumlah Wishmaster sangat banyak dan tersebar merata di setiap region. Belum
lagi mayoritas Wishmaster adalah perempuan.
Sang gadis membuka helmnya. Allen mengenali dengan pasti wajah itu:
SARAVINE MUTIA!
Pembawa acara dan peserta yang lain langsung heboh karena mereka melihat
wajah cantik Saravine (berkulit hitam). Saravine menawarkan tangannya pada Allen.
Khalayak langsung saja saling berbisik satu sama lain; biasalah… gossip, menerka
hubungan mereka berdua atau membuat kemungkinan-kemungkinan roman lain.
“Kau juga tak perlu berpura-pura lagi Allen, aku sudah mengenalimu semenjak
pertama kali kita bertemu.”
Allen menepuk mukanya dan menggelosorkan tanganya sampai membuat
kosmetik wajah luntur. Percuma saja samarannya selama ini. Ia pun menerima jabat
tangan itu.
Allen berbisik “Setidaknya yang lain tidak tahu.”
“Mengapa kau melakukan hal ini? Kau tak butuh pembuka segel Matilda bukan?
Bagaimana dengan aturan Darkmaster...?”
Allen menyipitkan mata “Kamu kan bisa membaca keinginanku.”
Allen menepis tangan Saravine. Terus terang saja sikap Allen barusan
menimbulkan tanda tanya besar. Saravine belum pernah melihat Allen yang ketus
seperti itu, bukan... Denting Keinginannya justru menyiratkan kegusaran. Mau tak mau
kecemasan mulai mengetuk sanubari gadis ini.
Pengumuman pemenang telah dikumandangkan, permaisuri selaku pemimpin
acara langsung meminta mereka berdua menaiki podium untuk penganugerahan gelar
juara. Tangga Podium itu dipasangi puluhan bahkan ratusan jimat Dim7. Pada kursi
singgasana sang permaisuri bahkan terpajang sebuah Ward8. Belum lagi, di dekat
permaisuri selalu hadir R-Knight. Tambah pula, Arche sang komandan selatan ikut
berjaga dengan tombaknya. Boleh dikata, proteksi terhadap podium ini sangat besar
(dan memang harus begitu)... tapi bagi Allen bukanlah itu masalahnya.
Terus terang, bagi Allen, keberadaan Saravine amat mengganggunya. Ia jeri pada
kelas yang disandangnya: Wishmaster. Selain itu adanya fakta bahwa Saravine
mengetahui (nyaris semua) serba-serbi Darkmaster membuat Allen tak bisa
sembarangan. Keberadaan Saravine saat ini bisa menjadi radar keinginan yang dapat
mencegah apa yang hendak Allen lakukan.
Allen memandangi podium, pandangan matanya bertabrakan dengan Arche.
Genggaman tangan Allen mengeras, sebisa mungkin ia mengatur napas. Saravine
menyadari hal ini. Denyut kekhawatiran menyergapnya di saat itu juga. Ia
memaksimalkan deteksi keinginannya.
Nama Anti Lunae dipanggil. Saravine alias Anti Lunae maju ke hadapan
permaisuri Velicious Vex. Sang permaisuri termenung sejenak saat bertatap muka
dengan Saravine. Saravine mau tak mau ikut membuang pandangan matanya ke
samping. Bibir putih pucat sang Permasuri seakan hendak berkata-kata tapi kembali
terkekang. Mata sang permaisuri menutup sejenak sebelum akhirnya ia melakukan
kembali tugasnya.
Sang permaisuri menganugrahkan sebuah piagam kecil pertanda juara ke dua.
Sebelum Anti turun sang permaisuri tersenyum padanya dan berkata
“Dinda mirip dengan anak perempuanku yang hilang, bila ia masih ada mungkin
ia sudah berdiri menggantikanku di sini...”
7 Dim adalah salah satu jenis mantra milik Penyembuh Benua Sol. Efek mantra ini adalah meredam
segala jenis serangan Fisik dan efeknya.
8 Pelindung dari serangan Mental dari para Mentalist. Ward memiliki tingkatan tersendiri yang bisa
dilihat dari susunan baris dan kata-kata yang tertera. Kurang lebih terdapat 4 tingkatan Ward:
Thi. Pelindung 1 baris yang hanya bisa menahan 1 jenis elemen dari seorang Mentalist (rata-rata) yang
telah memegang elemen tingkat 2
Thi-Thei. Pelindung 2 baris yang mampu menahan 2 jenis elemen dari seorang Mentalist (rata-rata)
yang telah memegang elemen tingkat 2
Thi-Ad-Din. Pelindung 3 baris yang mampu menahan 4 jenis elemen dari seorang Mentalist (rata-rata)
yang telah memegang elemen tingkat 2
Pallas-Fi-Ad-din. Pelindung 4 baris yang mampu menahan 4 jenis elemen dari seorang Mentalist (ratarata)
yang telah memegang elemen tingkat 3
Sang permaisuri tanpa sadar menitikkan air mata.
“Ah tidak... Dinda harus menganggapnya sebagai pujian. Walau mirip, dinda
bukanlah dia.” Lanjutnya berusaha kembali datar. Wajah pucat yang sempat
menghangat itu kembali tenggelam dalam dingin.
Saravine tertegun mendengarnya. Ia tak dapat menyembunyikan getar suaranya
saat berucap
“Terima kasih.”
Saravine turun dengan langkah berat. Di tengah tangga ia berhenti sebentar dan
menengokkan wajahnya… sekilas. Sebagai Wishmaster, ia tahu kekuatan harapan dan
keinginan tapi ia tahu juga ada hal-hal tertentu yang tak bisa ia miliki hanya dengan
berharap.
Allen mau tak mau bertanya-tanya pula. Mengapa wajah sendu gadis itu semakin
sedih? Ada apa dengan permaisuri Velicious Vex? Wajah Saravine baru berubah seperti
semula tatkala mereka sudah kembali sejajar berdampingan. Allen ingin bertanya tapi
sebuah suara menghentikan niatnya.
Nama Harken alias Allen dipanggil. Ia naik ke tangga dan maju kehadapan sang
permaisuri. Sang permaisuri memberinya Segel pembuka Matilda: Grand Emblem.
Allen memandangi tongkat hitam itu, baginya benda ini tak lebih hanyalah hiasan
mungil, dan bukanlah tujuan akhirnya.
“Aku akan senang sekali bila bisa melihat wajah dibalik topengmu itu,
rakyatku.” Pinta sang permaisuri yang penasaran melihat kilau mata Allen.
“Tentu.” jawab Allen singkat.
Allen mengebas sorbannya dengan satu gerakan ringan. Gerakan itu membuka
separuh wajahnya dan memperlihatkan Plakat Platinum Hitamnya. Saravine langsung
tahu, apa arti dari plakat hitam yang tergantung terjuntai dan terangkat kedepan bibir
Allen.
“Allen!!” Saravine mencabut Rapiernya.
Melihat gelagat tak beres itu, Arche langsung mengangkat tombaknya dan
menudingkannya ke hadapan Saravine yang kalap. R-Knight infantry yang berada di
sekeliling podium langsung mengepung Saravine. Sang komandan R-Knight termuda
itu memberi perintah dengan suara menggelegar.
“Nona, turunkan senjata anda di hadapan permaisuri! Kami minta nona sadar
etika!”
“Arche! Jaga Permaisuri!!”
Permaisuri melihat adanya keributan di tangga bawah sana. Perhatiannya tak lagi
terpusat pada Allen.
“Jaga ucapanmu Rakyat! Di sekeliling Permaisuri sudah tertanam Ward yang
bahkan Mentalist bertitel empat saja tak bisa menembusnya!” tegur Arche keras.
Merasa tak mendapat tanggapan, Saravine mengubah sosoknya menjadi sang
pangeran.
“Ini perintah dari Velicious Ananda Ravnell! Lindungi ibunda permaisuri!”
Permaisuri terkesiap. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia
merasa geledek mendung siang menyambar dirinya. Suaranya tercekat.
Arche lantas berteriak keras, suaranya menggerendeng penuh dengan kebencian.
“DUKUN GILA! R-Knight Infantry!! R-VERSE!!”
Dalam satu komando seluruh R-Knight yang mengepung Saravine langsung
mengeluarkan salah satu kemampuan utama mereka. Kepingan zirah dari masingmasing
R-knight melesat menuju Rapier empunya masing-masing, menjadikan panjang
dan atau tebal senjata yang mereka pegang bertambah hingga dua kali lipat. Pelindung
mereka saat ini hanya seragam ketentaraan warna putih mereka saja.
Begitu pula dengan Arche yang mengubah senjatanya menjadi tombak 5 baris
dengan buluh merak pada batang tombak. Tombak itu sekarang terlihat seperti ekor
merak yang mengembang penuh. Warna tombak itu silih berganti dari spektrum merah
menuju biru. Dengan R-Verse, senjata yang terimbuhi tidak mendapat penambahan
berat. R-Verse telah mendistribusi berat itu sesuai dengan letak zirah pelapisnya
berasal.
Di saat keributan itulah Allen menarik plakat hitamnya dan mengacungkannya ke
depan wajah sang permaisuri yang pucat membeku. Ia menggerakkannya searah jarum
jam dan berkata
“Semoga harapan dari Dark Nature jatuh atasmu!”
Asap hitam membubung keluar dari kening sang permaisuri dan masuk kedalam
Plakat Platinum Hitam. Bahkan Ward pun tak mampu mengantisipasi atau menahan
gerakan ini. Hanya lenguhan singkat yang terujar dari mulut sang permaisuri. Arche dan
R-Knight lain mengalihkan pandangannya pada situasi yang terjadi dibelakang mereka.
Mereka sangat tak menyangka bahwa pelindung daya elemental dan fisik yang berada
di sekeliling permaisuri tidak berguna.
Hanya Arche saja yang bisa bereaksi cepat. Ia melompati tangga. Urat tangannya
berkedut keras, mempersiapkan tusukan lurus. Tapi ia terhadang oleh aktifnya Ward.
Daya dorong luar biasa membuatnya tak bisa mendekat lebih dari satu setengah
tombak. Mau tak mau ia melepas serangan dari jarak seadanya. Tusukan tombaknya
meleset jauh! Allen sudah terlanjur melesat kabur dengan bertolak pada salah satu tiang
besar podium tersebut.
“Minggir!”
Saravine mengibas kerumunan dengan satu gerakan. Barisan R-Knight terlempar
akibat Dorongan Keinginannya. Ia membuang Rapiernya ke tanah. Suara denting
lembutnya beradu cepat dengan detak jantung Saravine yang berlari.
Formasi jimat terbentuk mengantisipasi jerit Keinginan Saravine. Letupanletupan
mungil dari formasi jimat menggores dan membakar kulit sang gadis. Tapi
semua tak berguna di hadapan Kekuatan Keinginan Saravine.
Keinginan saling melapisi keinginan lain dan mulai tertindih satu sama lain.
Sementara waktu hanya menyisakan satu tempat untuk satu detik. Gores luka pasti
tertancap bagi mereka yang tertanam oleh tajamnya keinginan yang kuat. Dan begitu
keinginan tercabut... rongga nyawa menjadi taruhannya.
Saravine menahan jatuhnya tubuh permaisuri. Wajah sang permaisuri pucat dan
hampir tak terdengar adanya rintih napas. Tubuh itu dingin. Denting Keinginan dari
tubuh sang permaisuri seolah tersedot habis.
“Mengapa…?”
Saravine memeluk tubuh yang tak lagi terdengar Denting Keinginannya itu.
Waktu sang permaisuri berhenti, hanya ringkih ruang tubuhnya saja yang tergetar oleh
resonansi Saravine. Saravine menggeram lalu menyesak, tanpa suara, tertahan.
Pelukannya semakin kencang mengiringi datangnya awan hitam besar yang melaju
deras menyelimuti kota Lovisolistia.
“Mengapa ini yang harus terjadi...?” desis Saravine lirih.
Chapter 5
Broken Wishes
Allen berlari melompati atap rumah satu persatu, sesekali bersalto di udara.
Matanya melirik sejenak pada awan yang mulai melunturkan rintik-rintik cintanya pada
bumi. Ia melemparkan sorban hitam dan penutup mukanya. Sorban itu jatuh ke tanah
dan perlahan terbakar tanpa sisa, tidak mengebulkan asap dan juga tidak padam oleh
hujan. Kuasa Dark Nature telah membakarnya.
Kabur dari podium itu mungkin perkara mudah. Tapi untuk meloloskan diri dari
jerat sinar Menara Pertobatan cukup menjadi aksi yang menegangkan. Merah, biru,
ungu, dan berbagai larik sinar mengarah pada Allen. Sang Angin satu ini justru
kegirangan setiap kali memantul di udara untuk mengelak dari setiap ‘serangan’ sinar
multi warna. Sinar itu tak merusak bangunan tapi bagi yang kebetulan tersinari maka
mereka harus bersujud di tanah dan menangis meminta ampun.
Desir angin terdengar di belakangnya. Ia menoleh dan menyadari adanya gerakan
cepat yang mengejarnya sampai dekat pintu gerbang. Allen mengenali siapa sosok itu.
Saravine.
Gerak cepat Saravine tak luput dari incaran menara Pertobatan. Satu larik sinar
hitam mengarah pada Saravine. Tahu apa yang dilakukannya? Ia menebas-mantulkan
sinar itu ke langit. Tepat menembus awan hitam. Awan terbelah memberi cahaya putih
pada bumi bersama dengan rintik hujan.
“Wow!”
Allen berdecak melihatnya. Jarak di antara mereka hanya terpisah beberapa
tombak saja. Dan beberapa tombak pula dari pintu gerbang barat kota.
Allen mendarat dan melumpuhkan dua orang R-knight yang menjaga gerbang
hanya dengan dua gerakan singkat. Kontrol Menara Pertobatan dibungkam dengan satu
hantaman angin berkekuatan 5. Ia berhenti dan mengalihkan perhatiannya pada
Saravine yang mendarat lima langkah dari tempatnya berdiri.
Saravine menundukkan wajahnya. Ia maju satu langkah. Rintik hujan yang masih
malu menyampaikan sang cinta mulai meluruhkan seluruh jiwa raganya pada sang
kekasih. Saravine dan Allen terguyur derasnya cinta sang hujan.
“Syukurlah kamu datang Sara, aku takut kalau ternyata hubunganmu dengan sang
keinginan terlalu kuat.” Allen berjalan maju selangkah, hendak berlari.
Saravine mengangkat Rapiernya, menghadang gerakan maju Allen. Flamberge
basah memisahkan kedua insan ini. Bibir Saravine bergetar. Dinginnya sang hujan
kalah tajam dengan dingin nada suara Saravine pada Allen.
“Apa yang kau lakukan pada permaisuri?!”
“Sara, tenang… aku hanya melakukan penggelapan level 2! Permaisuri tidak
mati, cuma jadi tidak waras saja. Lagipula, Matreisha-mu bukan permaisuri kan?”
Saravine mengangkat muka “Aku tak mau tahu berapa levelnya! Kembalikan
permaisuri! Sadarkan dia!”
”Itu tak mungkin... keputusan Dark Nature adalah mutlak. Aku hanya pelaksana
saja. Aku juga tak tahu kapan terdakwa akan sembuh.”
”Aku tak peduli... kembalikan!”
Allen terhenyak mendengar histerisnya Saravine. ”Permaisuri... tidak
berhubungan dengan Matreisha-mu kan?” tanya Allen hati-hati.
Saravine terdiam sejenak. Suaranya sesak saat harus mengucapkan kalimat
permohonan ini
“Kembalikan... ibundaku!”
Allen tergugu di tempat. Hujan petir yang terjadi di tempat ini sekali lagi
berbicara seolah mengulang sejarah. Saravine dan Allen berpisah dulu juga kala hujan,
dengan ibu Saravine sebagai sebuah alasan. Akankah alasan dan situasi ini terulang
kembali?
“...Ibumu...?” tanya Allen.
Saravine tak menjawab, ia justru melesat cepat dan mengayunkan Rapier-nya
pada Allen. Allen menangkap Flamberge Saravine dengan tangan kirinya. Darah
mengalir. Tetesan darah semakin deras membanjiri bumi tatkala Allen mengeraskan
genggamannya. Wajah yang biasanya penuh senyum itu berubah perih kecut. Ia
mungkin berharap sinar dari menara pertobatan akan menghantamnya saat ini.
“Kenapa kamu tak bilang? Kenapa kamu tak cerita padaku!?”
Saravine tak menjawab. Allen menderitkan giginya. Perih ekspresi sakit Saravine
membuat hatinya semakin berontak.
“Kenapa kamu selalu diam kalau merasa sakit! Buat apa aku ada di sisimu?!
Jawab Sara!”
Derasnya air hujan membaurkan riak kecil di pelupuk mata gadis itu.
Kesenduannya berubah menjadi keringkihan seolah keinginan dirinya telah habis begitu
saja.
Saravine menunduk “Aku takut...” isaknya pelan “Aku takut kalau targetmu
adalah ibunda! Aku takut mengatakannya, aku takut memintamu... aku takut... aku takut
kau mendengarku dan akhirnya kau menentang perintah... bahkan perintah Dark Nature
sendiri. Kau sedari dulu selalu begitu… karena itu aku tak mau… aku juga tak mau
kalau kau harus lumpuh dan menggagalkan janjimu padaku!”
“Jadi kamu masih ingat janjiku padamu…? Kenapa kamu bilang waktu itu tak
ingat!?”
Saravine membuang muka dan menutup mulutnya. Nama belakangnya, Mutia,
yang menjadi sifatnya untuk diam seolah jebol begitu saja saat emosinya bercampur. Ia
berusaha mengelak, ia berusaha kembali pada identitas namanya.
“… Aku tak ingat…”
“Sara.” Allen menggenggam tangan Saravine “Jawablah! aku tahu kamu ingat!
Kamu tak pernah lupa akan apapun!”
Saravine kembali bungkam. Bibirnya mengatup rapat sampai mengucurkan darah.
Ia berharap mampu lepas dari pertanyaan Allen. Saat itulah sebuah pelukan dari Allen
mencengkram Saravine baik hati maupun fisiknya. Sesak bagi Saravine.
“Aku bilang aku tak ingat!!” Saravine memberontak, menggeliat tapi tetap tak
dilepaskan oleh Allen. Keinginan Saravine bahkan tak mampu mendobrak rengkuhan
Allen. Ia menjerit pasrah
“Iya aku mengingatnya! Aku selama ini menunggumu! Aku selalu
memikirkanmu! Tapi aku tak tak tahu isi janjimu! Aku…”
Mendadak ucapan Saravine terhenti, bola matanya membesar, membeliak pada
Allen. Allen tertegun merasakan getaran tubuh Saravine. Ia melepas pelukan itu dan
menyaksikan… sebuah hukuman yang terjadi hanya atas seorang Wishmaster
Tubuh Saravine mengeluarkan asap, otot-otot tubuhnya seakan ikut berontak dan
memperlihatkan kedutan-kedutan kasar begitu pula dengan wajah Saravine. Beberapa
kali ia berganti rupa menjadi Pangeran, Saravine, sosok Saravine kecil dan orang lain.
Air matanya berubah menjadi darah. Kulit tubuhnya turut berubah dari hitam lalu putih
dan terus berulang-ulang.
“Ja... jangan-jangan...B… Broken Wishes…” Allen menggeretakkan gigi. Hal
yang ia sangat tak inginkan justru terjadi di depan matanya.
“SIAL!!” maki Allen.
Allen menyambar sang gadis dan langsung melesat. Tujuannya hanya satu:
desa Exemptio!
“Area level 5, Angin!!”
Udara menangis tatkala Allen berlari diterbangkan angin. Sang udara seolah
terbelah dan memberi jalan bagi Allen. Hanya air hujan saja yang tidak memberi
kasihan dan terus menerpa kulit Allen. Rasa sakitnya menusuk kulit dan perihnya
menembus jantung.
Saravine masih bergetar. Tangannya terangkat ringan dan mengusap pipi Allen. Ia
tersenyum. Sang petir berkumandang dari balik gemuruh sang awan. Membuat sang air
semakin ketakutan dan memaksa dirinya memberi wajah keji cintanya. Lirih suara
Saravine menyayat tatkala petir tak lagi berkumandang
“Sara!”
“Petir... aku benci petir... karena dialah aku merana...” igau Saravine dalam
pandangan mata yang nanar “Karena dialah aku tak mau mengingat janjimu... karena
dialah ucapanmu terpotong. Karena dialah aku tak tahu apa janji yang kau ucapkan…”
pucat layu tangan Saravine mengusap wajah Allen.
“Kalau aku tahu kamu tak mendengarkannya aku akan mengucapkannya padamu
berapa kalipun sampai kamu mendengar dan mengingatnya.”
Saravine menempelkan tangannya di bibir Allen. Ia berujar lirih “Bisikkan
padaku...”
Allen mendekatkan bibirnya pada telinga Saravine. Kali ini tiada petir yang
menyambar saat kalimat itu hendak diucapkan kembali.
“Kalau nanti kita ketemu lagi~”
Sejenak tenggorokan Allen tercekat. Mukanya memerah bak udang rebus. Ia
mengambil jarak. Ia hendak mengutarakan semuanya dengan jelas.
“Aku ingin menjadikanmu…”
Saravine membungkam kalimat itu dengan sebuah ciuman lembut di mulut.
Saravine telah membaca apa keinginan hati Allen. Allen terpana beku, alunan larinya
sontak kaku. Ia seolah tergantung di udara tanpa seutas tali menahan dan tanpa jaring
menanti di bawah.
Saravine melepas kecupannya dan memandangi wajah Allen penuh makna.
“Itulah keinginan dan jawaban terakhirku... bukan sebagai Wishmaster...”
Ciuman perpisahan... dingin. Keinginan Saravine yang dipenuhi keputusasaan.
Keinginan yang tak kuasa terpenuhi selama buhul janji leluhur masih mengikat.
“Sara...”
Allen mencoba tersenyum. Mencoba mengacuhkan tajamnya bulir hujan,
mencoba mengacuhkan fakta hawa kehidupan Saravine mulai memudar, dan mencoba
mengacuhkan firasat jelek yang bernaung dalam hatinya.
Tangan Saravine jatuh melentak. Matanya kembali menutup lembut. Irama
napasnya terdengar satu dua... sesak lalu satu dua lagi. Setelah itu Saravine sama sekali
tak bergerak. Manusia mana yang rela melihat kekasih hatinya melentakkan tangan
menutup mata tak lagi menjawab meski senyum menghias wajah.
Jantung Allen seolah berhenti berdenyut sesaat. Bila ia juga seorang Wishmaster
maka bisa saja ia terkena Broken Wishes. Allen menggeretakkan giginya, ia ingin sekali
berteriak! Tapi ia tahu... lebih baik bertindak daripada berteriak! Dan debar detak
jantung Allen meningkat, melebihi apa yang seharusnya ia jaga. Ia menepis Plakat
Platinum Hitamnya dengan keras –sampai jerat tali memerahkan lehernya- dan bertitah
“Area level 15, waktu 3 menit, ANGIN!”
Ruang sontak merapat. Bagai kertas yang dilipat, udara terus tertekan,
fatamorgana waktu tercipta. Detik berikutnya, dentumlah yang terdengar. Allen
menambah kecepatan geraknya membuat udara tak lagi menangis, melainkan remuk.
Begitupun hati Allen yang teriris sembilu perih melihat Saravine seperti itu.
Broken Wish. Peristiwa hancurnya keinginan seorang Wishmaster. Derita utama
bagi mereka yang telah mengacaukan nadi keinginan mereka. Keinginan yang hancur
menjadikan semua keinginan saling bertumpuk, campur aduk dan melebur menjadi
satu, meniadakan esensi tunggal sang pemilik. Identitas korbannya tak lagi dapat diurai.
Buruknya, peristiwa ini dapat menyebabkan kematian.
Desa Exemptio. Dentum angin terdengar dan mengganggu sekitar. Penduduk
sekitarpun tak bisa melakukan apa-apa. Bagi mereka dentum itu terdengar seperti petir
yang bisa diacuhkan karena datang bersama dengan hujan. Dentum angin itu
membentuk sosok dan tiba di depan rumah kakek Greul diiringi asap tipis.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Allen. Ia tiba di sana dengan mata yang
memerah. Kepanikan melanda otaknya dan menumpulkan semua sopan santun.
“Kakek Greul!”
Allen mendobrak pagar besi mawar. Sistem keamanan aktif. Terali pagar besi
mawar melecutkan duri-duri tiada henti. Mau tak mau ia menghindar dari serbuan
ratusan duri-duri tajam. Kekesalan menyakitinya, Allen tak peduli lagi dengan kreasi
sistem pertahanan yang dibanggakan oleh Kakek Greul. Tanpa harus menggerakkan
seujung jari, ia berteriak
“Kekuatan level 2, area level 5, Angin!!”
Angin kencang memuntir semua duri dan mementalkannya ke segala arah.
Rumah kakek Greul bolong-bolong. Sang tuan rumah terusik dan keluar
“Apa kau tak pernah diajarkan untuk memberi salam!?”
“Kakek Greul...” wajah pucat Allen menjelaskan segalanya bagi Greul. Greul tak
dapat menyembunyikan rupa pucatnya. Ia hanya mengekeh tersendat.
“Mengapa harus ini yang terjadi?”
Allen membawa Saravine masuk dan membaringkannya di ranjang Allen. Tubuh
yang sudah basah kuyup itu makin pucat. Allen semakin miris tatkala mendengar napas
gadis itu sudah nyaris tak terdengar. Panas tubuh Saravine pun semakin lenyap
sementara rupa fisiknya makin tak jelas.
Greul menekan kening Saravine.
“Ternyata benar... Broken Wishes... aku tak bisa melakukan apa pun.” Greul
hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Katanya kakek pernah mengobati Wishmaster yang terkena Broken Wishes?
Pasti kakek masih ingat bagaimana caranya kan?!”
“Aku gagal. Cerita itu bohong.”
Allen terpana. Lututnya mulai lemas. Giginya bergemeretak, mencoba mencari
solusi secepat yang ia bisa tapi percuma.
“Apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?” Greul memandang Allen. Sebuah
romansa masa lalu melintas di kepala Greul. Pahit. Jelas terasa pahit di mata kakek
nyentrik dan aneh ini.
“Kayaknya tidak. Entah kakek tidak pernah cerita atau aku lupa.”
“Aku memang belum cerita. Walau gagal, Wishmaster satu itu masih hidup dan
kau mengenalnya.” Allen kembali melihat secercah harapan.
“Siapa? Siapa yang kakek maksud?”
Greul terkekeh pilu “Grendel.”
“Jangan-jangan...” Allen membayangkan Saravine menjadi sama seperti nenek
Grendel.
“Benar. Kegagalanku membuat dia menjadi seperti boneka dan harus membuang
keinginan, harapan, atau impian bahkan wujud fisiknya…” Greul menghela napas,
membuang muka, dan membuang semua pahit mulutnya sebelum menekan Allen
dengan pertanyaan “Apa kau ingin Saravine menjadi seperti itu? Apa kau mau hidup
Saravine tiap hari harus bergantung pada efek penenang teh Gratios?”
“Aku tidak mau itu… tapi…Aku lebih baik melihat sejarah hancur daripada
melihatnya menderita. Pasti ada cara lain untuk menyembuhkan Sara!”
“Meski Dark Nature akan menentangmu?”
Allen mengangguk penuh keyakinan. Melihatnya, Greul menyeringai.
“Kau takkan bisa pulang kembali dalam keadaan sama setelah mendengar ini.”
Greul Fouwl menceritakan sebuah rahasia yang baginya tabu untuk diceritakan. Ia
tahu, cerita ini berbahaya, tidak hanya akan mendapat pertentangan dengan satu kelas
saja, ia akan mengusik sejarah yang telah lama tertidur. Sejarah yang membuat dirinya
harus pensiun sebagai Darkmaster angin. Dan sekarang… cerita ini diwariskan sekali
lagi pada sang angin.
Chapter 6
Dark Junction dan Perkumpulan
Dentum ruang terdengar tak jauh dari formasi pohon Matara. Allen. Resolusi
telah berakar di hatinya. Cerita Greul yang ia dengar tidak menakutinya. Apapun
resikonya, ia tak mau mundur. Tidak bila berkaitan dengan Saravine.
Hujan deras mengiringi lesatan tubuh Allen. Berat, tekanan dari sang hujan begitu
berat tapi hujan baginya bukanlah sebuah halangan. Hujan memiliki arti lain bagi para
Darkmaster. Hujan adalah waktu paling tepat bagi Allen untuk memulai satu bagian
dari cerita Greul.
Dan Allen menemukan lokasi terbaik. Lokasi yang mencolok. Pohon Mati
pnumbeium. Pohon pembatas jalan menuju lembah Librea dan tiga tempat lainnya ini
sengaja dipilih oleh Allen karena pohon ini kontras dengan sekelilingnya. Sebagai
sebuah pohon setinggi 1 ¾ tombak, Pnumbeium seolah tak memiliki kehidupan.
Keriput, terlihat ringkih, pucat dan tidak memiliki daun tapi justru pohon inilah yang
menghilangkan polusi-polusi tanah. Ia adalah pohon penyuci yang harus berkorban
demi sekelilingnya. Ia adalah pohon yang dibenci oleh makhluk sekelilingnya karena
baunya yang tak sedap.
Allen berdiri di puncak pohon. Ia menatap pada sang awan yang memberikan
hujan deras. Penyucian. Itulah makna hujan bagi Dark Nature. Hujan pulalah pertanda
takdir yang berubah dan bersiklus kembali.
Ia mengarahkan Plakat Platinum Hitamnya pada sang awan. Ia menutup matanya
dan membisikkan “Dark Junction.”
Seberkas sinar perak tertembak dari plakat hitam itu. Cahaya mentari terkuak
menyirami tubuh Allen dari awan yang tersibak. Allen merentangkan tangannya
menyambut sang cahaya mentari yang terpisah dengan air hujan yang deras.
Selebihnya ia hanya bisa menunggu dan kala itulah terdengar derap becek sepatu
besi yang bergerak mendekatinya. Dirundung penasaran, Allen menengokkan muka.
Dan setelah melihat para pemiliknya, ia menepuk jidat sendiri.
“Waduh… kenapa justru mereka yang datang secepat ini sih?”
Suara sepatu besi itu tak lain adalah pasukan Infantry R-knight dari istana Erune.
Prajurit terdepan dari pasukan itu jelas Arche. Mereka datang lengkap dengan R-Verse
mereka. Walau tanpa alat bantu, mereka mampu menempuh jarak 45.000 tombak tanpa
peluh sedikitpun.
“Ternyata benar kalau itu ulahmu… Darkmaster.” ujar Arche.
“Darimana kamu tahu aku ada di sini?”
Arche menunjuk scarf putih Allen “Bulu itulah yang memberitahuku.”
Allen melirik ke scarf putihnya. Ia melihat sehelai bulu merak yang terbang
ringan melambai menuju Arche, sang empunya.
“Wah hebat. Kapan ditaruhnya itu? Kok bisa tidak terasa ya?”
Arche membelai bulu “Bukan hanya kelasmu saja yang bisa mengendalikan
angin.”
Arche menepiskan bulu itu. Bagai tertembak, bulu itu menegang kencang dan
melesat menuju Allen. Allen hanya diam saja membiarkan peluru bulu itu menggores
pipinya. Darah mengucur dari bekas luka kecil itu.
“Salam kenal. Aku, Arche Efeether, atas nama Permaisuri Vex, datang untuk
membawamu kembali ke Lovisolistia.”
“Wah, salam kenalmu lucu juga. Aku baru tahu kalau R-Knight punya acara bikin
luka saat berkenalan. Beda jauh sama L-Knight ya.” Jawab Allen.
Arche menyunggingkan senyum. Terlihat meremehkan tapi tidak. Sikap Allen
yang sangat santai memberi kesan kepercayaan diri yang luar biasa. Dan Arche tertarik,
untuk tahu batas kepercayaan diri Allen.
Selagi mereka berbicara, barisan R-Knight bergerak mengepung Allen. Ilalangilalang
yang berada di tanah terinjak mati tanpa sempat berteriak. Para R-Knight itu
membentuk formasi lima baris berselang seling dengan tombak dan pedang terhunus
pada Allen.
“Kau sudah terkepung oleh formasi Efeether. Menyerahlah saat ini juga!”
Perintah Arche.
Formasi Efeether atau formasi bulu merak atau formasi pedang bersayap. Formasi
yang berbentuk wajik pipih bolong-bolong. Dalam satu baris maksimal terdapat tujuh
orang dalam jarak renggang -diimbuhi R-Verse yang panjang. Formasi gerak cepat khas
Sayap selatan. Serangan yang datang bagai angin ribut dipenuhi desing-desing dengan
irama tak beraturan. Formasi ini sangat cocok sebagai formasi penyergap yang
mengincar sisi samping. Ringan bagai bulu dan tajam bagai pedang. Itulah motto
formasi ini.
Allen memandang sekeliling
“Kalau begini sih aku bisa jadi perkedel.” Allen nyengir senang dan menaikkan
alisnya berkali-kali.
“Kau sudah mengetahui konsekuensinya. Sekarang kuharap kau mau ikut kami
ke Lune Justicia untuk menebus dosamu.”
“Wah apa dosaku?” Allen jongkok dan memamerkan kupingnya.
Arche mengibaskan tangan. Kesalnya memuncak menggantikan penasaran.
“Jangan pura-pura bodoh!” ia menunjuk Allen dengan kasar “Kau telah
melecehkan permaisuri! Dosamu tak terampuni!!”
“Kayaknya kita beda pendapat.” Allen menggeleng-gelengkan kepalanya dan
mengangkat bahunya “Buat kami, penggelapan itu tugas mulia bukan dosa-dosaan.”
Urat Arche menyeruak. Komando terlontar dari mulutnya!
“R-Knight! Perrapat barisan kalian! Dengungkan makna kehormatan kalian demi
Keadilan!! Getarkan R-Verse dalam sanubari kalian! Dan Jadikan darah pendosa
sebagai tinta kemenangan!!”
Dalam satu irama para R-knight itu saling melemparkan teriakan perang yang
megah, kuat sekaligus syahdu. Bumi bergetar akan derap semangat teriakan. Barisan Rknight
semakin mendekatkan diri pada Allen.
Allen menutup pelupuk mata kemudian berujar
“Aku tak suka kekerasan tapi aku juga tak mau beranjak dari sini. Jadi…”
Allen memegang Plakat Platinum Hitam yang terganjal di scarf putihnya. Ia
mengangkat plakat itu kehadapannya. Bibirnya lembut berbisik pada Plakat
“Area level 10, kekuatan level 1, waktu… 3 jam, Angin.”
Sehabis mengucapkan itu angin berpusar di sekeliling tubuh Allen dan meluas
menekan R-Knight. Matanya yang menutup pun membuka, menatap tajam pada
kumpulan R-Knight yang mengepungnya.
Allen membuka telapak tangannya dan menggeserkannya pada kepungan di
kirinya. Angin bergulung menghantam kepungan tersebut membuat mereka tergeser 3
langkah kebelakang. Formasi mereka rusak sejenak.
Sekarang Allen beralih ke kanan, telapak tangannya membuka dan mengarah ke
atas. Barisan di kanan tergulung oleh puting beliung dan terangkat ½ tombak sebelum
terjatuh.
“Atas nama Darkmaster nomor 7, Allen Inverson, aku memohon kesediaan kalian
untuk pergi dari tanah ini!”
Ini pertama kalinya Allen berujar tanpa canda. Ia serius.
“Kau terlalu meremehkan barisan R-Knight.” ujar Arche. Dan benar, nyali RKnight
tidak akan surut hanya oleh serangan seperti itu.
Allen berbisik “Area level 8, Kekuatan… level 2, Angin.”
Allen mengangkat dua tangannya tepat pada barisan dihadapannya
Naik 1 tingkat… apakah akan berdampak kecil atau…
Barisan tengah terlontar tiga tombak ke belakang!
“Jangan paksa aku menaikkan 1 level lagi.” ancam Allen.
Ancaman seperti itu justru mengulik hasrat R-Knight.
“SERANG!!” komando Arche terdengar dari balik derasnya hujan.
Barisan kanan menyerbu. Mereka melompat dan hendak mengayunkan senjata
yang telah diimbuhi oleh R-Verse.
“Area level 8, kekuatan level 4, waktu 1 jam, Angin.”
Angin puting beliung langsung saja memporak porandakan barisan kanan dan
membuat mereka terpelanting kocar kacir.
“Area level 7, kekuatan level 5, Angin.”
Tangan kanan Allen terangkat membuat rumput tercerabut paksa akibat tekanan
angin yang menyentak. Kali ini bukan lagi angin topan, melainkan tekanan udara yang
amat menyengat. Luka yang tercetak bukan lagi hanya luka luar, luka dalam pun
bersarang. Satu dua badan yang lemah mulai tumbang. Pingsan.
“Kuucapkan sekali lagi! MUNDUR!!”
Teriakan keras itu mengguncang nyali kepungan R-knight. Barisan mereka mulai
mundur teratur. Bukan, mereka memberi ruang gerak bagi seseorang. Arche. Ia siap
menyerang dengan R-Verse.
Serangan angin puting beliung berulang kali dielakkan oleh Arche. Ia sama sekali
tak terganggu oleh bulir air hujan. Justru, bulir itulah yang memberi tahu gerak tak
teratur dentum angin milik Allen.
Langkah kaki Arche sampai satu tombak di depan pohon Mati pnumbeium. Ia
menyabetkan tombaknya. Sabetan tanpa suara tombak merak beradu dengan gemuruh
sang guntur. Allen mengelak ke udara membuat tombak merobek sang pohon.
Allen mengayun tubuhnya di udara. Jarak antara dirinya dan Arche hanya tersisa
satu tombak. Arche tidak menebaskan senjatanya, ia justru membiarkan Allen mendarat
begitu saja. Mereka berdua saling bertatapan diiringi rubuhnya pohon Mati.
“Aku sepertinya ingat pernah mendengar gosip soal merak putih, si merak angin.
Katanya Merak itu mampu menantang angin dan sombong. Kusangka itu monster,
tahunya orang.” Ujar Allen separuh bercanda separuh memuji.
“Apalah artinya julukan.” Arche melepas sarung tangan putihnya “Cabut
senjatamu! Kita Duel!” Arche melempar sarung tangan mengarah ke dada Allen.
Allen menangkap sarung tangan itu sebelum menyentuh dadanya. Simbolisasi
bahwa ia telah menolak duel itu – Allen tidak tahu (tentunya).
“Hadiahnya bagus. Sayang sekali, kali ini aku tak mengijinkan diriku untuk
memakainya.” Allen mencengkram erat sarung tangan “Tapi rasanya bolehlah kita
bermain lempar-lemparan angin.” sarung tangan itu dilempar balik.
Sarung tangan putih mendarat lembut di dada Arche. Sarung tangan luruh dan
sebelum menyentuh tanah ia sempat menyaksikan kedua belah pihak beraksi-reaksi.
Dalam jarak pendek dua individu saling melontarkan serangan. Tombak merak 5 baris
dan lentakan dua tangan beradu cepat. Angin terpusat di antara mereka, bermain dan
merobek apapun yang berada di sekeliling tanpa ampun. Air hujan yang turun ikut
mencelat menjadi duri-duri tajam.
Keduanya sama-sama terhempas mundur. Jarak mereka langsung terbentang
sejauh 5 tombak.
“Angin yang lembut.” puji Arche sembari mengusap bekas luka gores di
punggung tangannya.
“Wah kasar sekali anginmu.” ujar Allen yang terus-menerus mengibaskan
kepalan tangan yang memerah memar.
Selepas perkataan itu mereka kembali saling berkelebat. Dua orang bertitel angin
ini seakan membuat area pertarungan bagai mata taifun atau sesekali berubah menjadi
sejuk halus. Tak ada yang berani mendekat, baik karena sayang nyawa atau karena
mematuhi aturan hukum duel.
Gemuruh sang guntur perlahan menghilang di balik awan. Hujan pun perlahan
larut menjadi rintik-rintik ringan. Keduanya turut menyaksikan dua jenis angin saling
beradu.
Allen melepas serangan bertubi-tubi tapi tak satupun yang dapat sekedar
mencolek tubuh yang sudah tak berzirah itu. Alih-alih sambaran tombak berkali-kali
hendak menggores hidung Allen. Mau tak mau ia harus menaikkan standar
serangannya.
“Area level 2, Kekuatan level 6, ANGIN!”
Semburat angin menggulung memuntir rintik hujan menjadi pisau-pisau tajam.
Di lain pihak Arche justru melempar bulu-bulu merak yang tergantung pada
tombaknya. Bulu-bulu itu turut hanyut dalam puntiran sang angin tapi ia mampu
membelokkan laju deras sang angin. Tetap saja, semburat itu terlalu deras, Rintik hujan
akhirnya menambah luka-luka kecil pada tubuh Arche. Sadar bahaya, Arche harus
menghindar. Sebuah lompatan panjang menjauhkan Arche dari derasnya semburat
angin Allen.
Arche mempersiapkan satu serangan terkuatnya tapi alangkah kagetnya ia tatkala
tak menemukan lawannya. Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tahu jawaban
lenyapnya Allen. Arche menengadah ke atas dan benar saja, ia menemukan Allen di
sana. Hanya saja Allen sudah menang 1 langkah...
“Area level 2, Kekuatan level 8, ANGIN!”
Tak ada waktu untuk menghindar! Arche memasang pertahanan. Ia
mengembalikan R-Versenya menjadi zirah. Tak ada satu dentum atau gerakan terlontar
setelah ucapan itu. Arche merasa ditipu, apalagi saat melihat senyum nakal Allen. Ia
mengerahkan kembali R-Versenya. Tangannya bergerak hendak melancarkan serangan
terkuatnya.
“BUST~”
Sebuah getaran mendadak menghujam Arche, menghentikan gerakannya. Ia
merasa sekujur tubuhnya ditusuk oleh pedang tak terlihat. Sontak darah segar meluncur
begitu saja dari mulutnya. Lutut Arche mau tak mau menghujam tanah.
Allen berputar di udara dan mendarat tiga langkah dari Arche.
“Menyerahlah, permainan sudah berakhir.”
Arche terdiam. Ia menundukkan wajahnya. Napasnya terengah-engah. Ia
menganalisis kondisi dirinya dengan tenang
“Angin yang menembus dan mengguncang dari dalam. Hh… aku tak menyangka
angin bisa memiliki sifat ini.” Desis Arche.
“Kalau angin tak bisa menembus dan mengguncang pasti takkan ada kehidupan di
dunia ini. Lagipula gara-gara itulah makanya ada masuk angin…” cengiran Allen
memutus penjelasan.
“Benar…” Arche memang terengah tapi genggamanya pada tombak justru
diperkeras “...tapi kau lupa satu hal…”
“BUSTER MANA!”
Tanpa diduga tiba-tiba Arche menebaskan tombaknya. Satu larik gelombang
besar biru terhempas.
Allen lengah dan hanya sempat bereaksi seadanya. Bahu kanannya tertembus. Ia
terpuntir satu langkah dan mendarat dengan tangan kirinya. Rumput-rumput basah
menjadi peredam gesekannya dengan tanah. Bahunya memang tidak putus tapi Allen
tahu apa dampak dari serangan ini. Tangan kanan itu langsung berubah pucat. Mati rasa
mulai menjalar dari bahu sampai ujung jari.
“Bukan hanya kelas kalian saja yang mampu memberi daya serang tembus dan
mengguncang.”
Arche bangkit berdiri kembali. Luka dalamnya seolah hilang begitu saja. Ia
meludah darah kotor dan menyeka bekas darah di sudut bibirnya.
“Wah kok masih bisa berdiri? Kamu pakai trik apa?” di tengah situasi pelik
begini Allen justru tambah bercanda.
“Apa kau lupa julukanku? Aku adalah Merak Putih sang Penantang Angin. Luka
dari angin adalah sarapan sehari-hariku.”
“Yaah, memang banyak yang hanya tahu memanfaatkan angin tanpa mengerti
perasaanya.”
Arche menudingkan tombaknya. Kesal “Kau pikir kau juga mengerti angin!? Kau
hanya tahu mempermainkan angin saja!”
Arche menerjang. R-verse diaktifkan dan BUSTER MANA kembali dirapal.
Allen hanya tersenyum saja tak berusaha menggerakkan seujung jarinya. Ia siap dengan
rencana cadangan.
“Area tingkat 4, kekuatan tingkat 2, API!!”.
Kobaran api menjentik bersamaan dengan teriakan itu. Api tersebut menjalar
bagai hidup dan memisahkan Allen dan Arche yang sedang bertarung. Rerumputan
yang basah tidak menjadi halangan kimiawi bagi munculnya elemen destruktif ini. Api
yang sesungguhnya takkan padam hanya dengan guyuran air hujan. Allen sontak
senang. Ia kenal dengan api jenis ini. Api Dark Nature.
Sosok berbaju merah darah dengan Paraluna bercabang tiga menghalangi Allen
dan Arche. Nyala api membuat mereka bisa mengenali sosok ini. Seorang pria
berrambut riap-riapan dengan mata hitam yang penuh nyala hasrat. Dalam gelap dan
mendungnya hujan pun mata itu seakan mampu membara dan melumerkan nyali yang
ada di sekitarnya. Ia cocok menyandang nama Darkmaster api, sang Hasrat bernomor 6.
“Kakak~” Allen terdiam... ia mengerutkan alis “Err… siapa ya?” bisiknya
berupaya mengembalikan ingatan.
Ia berjalan menuju Allen. Setiap langkahnya yang tak berterompah menimbulkan
jejak api. Pria itu tinggi, ia terlihat bagai pilar api raksasa setara Arche di mata Allen.
Bajunya terbuka dan memperlihatkan dadanya yang dipenuhi oleh dua buah bekas luka
besar bersilang. Lengannya pun tak mau kalah memperlihatkan banyak codet dan juga
luka bakar. Scarf merah darahnya membawa bau gosong yang mampu membuyarkan
segarnya hujan. Setelah melihat sosok ini dari dekat, barulah Allen menyadari siapa
nama penolongnya barusan.
“Kakak Implosi!! Iya, kakak Implosi Magnum!”
Implosi justru mencuatkan urat kepalanya. KESAL!
“Heh pelupa! Kau tahu apa yang telah kau perbuat?”
Suara Implosi terdengar garang dan kasar. Nada suaranya terdengar seperti orang
yang selalu ingin mencari ribut dengan siapa saja. Implosi sangat aktif bergerak, urat
tubuhnya selalu membuat eksagerasi ucapan.
“Tahu.” jawab Allen singkat
Implosi menjenggut baju Allen. Wajah Allen didekatkan sampai berjarak satu
kepal tangan “Kau tahu kau telah mengganggu pekerjaanku?!”
Allen menatap mata Implosi yang dipenuhi urat-urat kemerahan. Ia nyengir santai
sebelum berkata
“Tahu.”
Implosi menggeretakkan giginya. Dari matanya jelas sekali ia gregetan dan ingin
sekali mencekik pingsan Allen dengan tanganya sendiri.
Arche melihat peluang dan ia hendak mengangkat tombak meraknya. Saat itulah
sebuah suara lain menghentikan gerakannya.
“Area tingkat 2, kekuatan tingkat 2, Air.” mendadak semburan air meledak dua
langkah dari tempat Arche berdiri. Arche jeri juga melihat derasnya semburan itu, ia
mundur satu langkah. Setelah semburan mereda barulah terlihat sosok dibaliknya.
Perempuan, sosok itu adalah perempuan berambut putih pendek mengembang.
Tingginya kurang sejengkal dan tiga jari dari tinggi Allen. Kulit wajahnya putih cerah
setara dengan warna rambutnya. Mata hitamnya teduh dan lurus dalam memandang.
Ia memakai gaun putih pendek dengan lengan panjang berrenda. Celana sutra
putih sepanjang lutut dengan sepatu mungil kecil berwarna biru. Pada pinggang
tergantung helai kain besar berrenda yang selalu tergerai tertiup angin meski hujan.
Wajahnya terlihat lembut. Kulitnya mulus terrawat dan terlihat sehat pada umur
yang sudah menyentuh 30. Citranya bagaikan malaikat yang tak cocok bersanding
dengan Implosi. Lebih tepat bila dikatakan ia sama sekali tak terlihat sebagai
Darkmaster. Andai ia tak membawa Paraluna biru muda yang melengkung sampai ¾
lingkaran, ia bisa disangka sebagai seorang Penyembuh atau seorang penari.
Setiap Paraluna memiliki keunikan-keunikan sendiri. Begitupun dengan Paraluna
gadis ini. Selain lengkungan yang panjang, Paraluna satu ini tidak tajam. Pada dua
ujungnya tergantung dua buah manik-manik Aquamarine yang terikat oleh sutra halus.
Tak ada bekas benturan atau lecet dari manic-manik tersebut. Selain itu gagangnya
terletak di tengah-tengah. Karenanya poros gerak juga berbeda.
Scarf gadis itu berjumlah dua buah dan ujungnya terlihat bergerak ke sana-kemari
seolah hidup. Scarf basah itu mengelilingi leher dan sesekali memulas bibir tipisnya.
Bibir tersebut selalu merah tersaput hawa kehidupan yang terpancar dari Scarf.
“Kakak Anne~!”
Allen nyengir pada Implosi.
Implosi ngedumel kesal melihat Allen yang langsung ingat nama Anne.
Anne tersenyum menghadap Arche “Bisakah tuan sedikit bersabar? Kami sedang
berbicara dengan junior kami.” ia pun membungkukkan badannya, menghormat pada
Arche.
Anne Eaumi, sang Kehidupan, Darkmaster nomor dua dan satu-satunya
perempuan di antara 7 Darkmaster. Kesopanan dan tutur bahasanya yang lembut bagai
oase di padang pasir. Ucapan sopan itulah yang menghentikan niat Arche untuk
kembali menerjang.
“Cih dasar Anne, mengapa tidak kau biarkan saja dia agar aku bisa
memanggangnya di tempat?!” Implosi berkata sambil menjentik-jentikkan jarinya yang
memercikan api.
“Kalau tentang itu… Anne memandang sekeliling “Kurasa saudara kita yang lain
juga ingin melakukan hal serupa.”
Arche terhenyak. Ia tak menyadari kehadiran empat sosok lain yang berbaju
hitam layaknya Allen. Masing-masing dari mereka membawa Paraluna dan Scarf
khusus mereka sendiri.
Darkmaster besi membawa Paraluna berwarna abu-abu. Bentuknya patah-patah
seperti segi enam dibelah dua. Pada salah satu ujungnya bergantung rantai hitam
dengan bandul besi berbentuk kubus warna putih.
Darkmaster kayu membawa membawa sebuah Paraluna yang menyerupai cambuk
akar berduri yang melengkung. Pada ujung cambuk tersambung sebuah tali tipis dari
jejaring tumbuhan Lillyandrath yang mengikat jiwa. Paraluna ini terlihat sebagai busur.
Darkmaster Awan membawa Paraluna yang berbentuk seperti cakar bersambung.
Paraluna ini dapat mengeluarkan cakar lain seperti sebuah sisir garu besar. Bagian
tajamnya terlihat berbayang, sesekali transparan, sesekali lenyap. Paraluna ini seolah
menjadi pembatas antar dimensi material.
Darkmaster Tanah membawa Paraluna terbesar yang berbentuk seperti Perisai
besar berwarna coklat gelap. Bila diperhatikan lekat-lekat maka bahan dasar Paraluna
itu tak lain adalah tanah lempung.
Allen tambah senang. Akhirnya apa yang ditunggunya sudah tiba. Dark
Junctionnya didengar oleh Dark Nature.
“Terimakasih kakak-kakak sudah mau datang.”
Allen memberikan salam dengan memutar plakat hitamnya diudara. Semua
membalas, kecuali satu orang:
Visia Wis sang Darkmaster Pohon, Darkmaster nomor tiga, yang membawa nama
kebijaksanaan ini melihat sekelilingnya. Ia tidak membalas salam dari Allen.
“Wahai Allen, mengapa pohon itu bisa hancur?” tanyanya. Allen menelan
ludahnya sembari berusaha tidak bertemu pandang dengan pertapa satu ini.
“Wahai Allen, ketakutan takkan menyelesaikan masalah. Apakah bagimu aku ini
tak mengetahui apa yang kau lakukan pada alam? Apa kau berpikir, wahai Allen, aku
tidak mendengar jerit tangis rumput?”
Darkmaster pohon memiliki keistimewaan mampu mendengar suara alam. Saking
dekatnya dengan alam, baju hitam milik Visia pun ditumbuhi jaring laba-laba dan
lumut-lumut. Scarfnya terbuat dari ranting-ranting lentur yang bersarangkan serangga.
Begitupun rambutnya yang hitam lagi bergelombang panjang terlihat tak terurus. Satu
dua ranting-ranting kecil menyembul dari balik rambut itu.
Meski begitu, wajah Visia adalah wajah tercerah dan seolah paling bersinar di
antara semua Darkmaster lain. Ia selalu menutup kedua mata dan tersenyum pada
siapapun. Di antara semuanya, dialah yang paling terlihat tak memiliki aura
permusuhan. Semua masalah baginya bisa dipecahkan dengan diplomasi dan
kebijaksanaan kata-kata.
“I... iya kakak Visia... aku mengaku salah. Tadi aku terlalu asyik bermain.”
“Mengaku salah adalah awal dari perputaran kebijaksanaan, wahai Allen.
Pengakuan itulah titik bermulanya kebangkitan setelah kehancuran. Sama seperti bibit
alam yang tertanam.”
Selepas berkata, Visia mengangkat Paralunanya. Ia menarik salah satu duri dari
Paraluna. Duri itu memanjang menjadi sebuah bilah hijau yang berulir. Visia menarik
tali jejaring Lillyandrath dan menyambungkannya pada ujung lain. Paraluna itu
dijadikan busur. Bilah berulir dijadikan amunisi. Target Visia: bangkai pohon Mati
pnumbeium.
“Kekuatan tingkat 2, kebijaksanaan Bowvine Whisp menegakkan, Kayu.”
Panah bilah duri itu terlepas dan menancap tepat di bangkai pohon Pnumbeium.
Bilah panah itu mengeluarkan jejaring coklat dan merekatkan kembali pohon yang
terbelah dua itu. Elemen simbol kebijaksanaan pun kembali tegak seperti sedia kala.
Begitupun dengan rerumputan yang mendadak kembali segar. Kayu takkan mati begitu
cepat layaknya kebijaksanaan yang tak pernah hancur.
Visiapun membalas salam Allen juga. Senyuman bahagia Visia berkibas
bersamaan dengan dengus marah seseorang.
“Cih! cepat beritahukan urusanmu kepada kami! Aku terpaksa harus berlari
bersama petir dari benua Luna.” maki Implosi.
Salah satu dari Darkmaster angkat bicara dan memotong acara ngedumel Implosi.
“Sebelum itu selesaikan dulu urusanmu. Darkmaster tidak mengadakan
pertemuan dimana rakyat biasa berdiri.” Suara ini bernada sinis dan memerintah. Allen
mengenali suara ini.
“Aiih…” Allen terdiam sebentar, memegang kening, mencoba mengingat nama
“Kakak Rex… bisakah kakak sekedar memberikan kelonggaran aturan pada juniormu
yang pelupa ini?”
Rex menggeleng tegas.
“Aku tak terima kalau kau merusak aturan Dark Nature, biarpun kau adalah
angin, sang kebebasan.” Lanjutnya.
Litosu Rex, Darkmaster Tanah, Darkmaster yang paling gempal dan pendek.
Matanya lurus tajam dengan garis mata yang kecil menyipit. Rambutnya hitam berbelah
tengah dan tersisir rapih. Scarf putihnya kaku seperti batu dan selalu menjatuhkan pasirpasir.
Di antara Darkmaster lain, dialah satu-satunya yang mengenakan mantel coklat
selain scarf putih.
Darkmaster bernomor 4 yang ketat pada aturan ini mengangkat Paralunanya:
Shield. Ia mengarahkannya pada Allen pertanda ketidaksukaan. Nama lain dari
Paraluna miliknya adalah ‘Lex’ yang berarti hukum. Sebagai tanah, dialah yang
menjaga hukum dengan sesamanya.
Bila Rex menggeleng itu artinya tidak ada kompromi lagi. Kekerasan dan
kekeraskepalaan tanah memang tertambat dalam hati sang Darkmaster ini. Allen
mengalah. Ia mengalihkan perhatiannya pada Arche yang masih berdiri menunggu. Ia
melompat pendek menuju lawan duelnya itu.
Sesampainya di hadapan Arche, Allen menggaruk-garuk kepalanya mencari
alasan yang terlindung bersama kutu-kutu rambut.
“Maaf yah Arche, bisakah kita selesaikan urusan ini di lain waktu?”
“Tidak bisa! Kau harus kubawa ke Lune Justicia saat ini juga!”
Arche mengacungkan tombaknya ke depan hidung Allen.
“Aiyyaah~~ kalau begitu bisakah kau menunggu sampai urusanku selesai?” kilah
Allen selagi menggeser tombak merak yang mengancam hidung mancungnya.
“Bila kau berjanji untuk tidak kabur dan memegang teguh janji layaknya
Blacksmith.”
“Pasti. Itu mottoku dalam berjanji!”
Rex menghentakkan Paraluna-nya ke tanah. Gempa kecil mengguncang tempat
berpijak Allen “Apa maksud ucapanmu itu? Kau adalah Darkmaster! Janjimu hanya
untuk Dark Nature bukan untuk manusia!”
Allen hanya cengengesan acuh-tak-acuh.
“Atau... urusanmu kali ini berkaitan dengan...” potong Anne agak berhati-hati. Ia
melihat nuansa kelam di balik sikap Allen.
“Seorang Wishmaster...” jawab Allen lirih dalam cengiran pilu.
Anne tersentak “Saravine?” Tanya Anne lirih dan reaksi diam Allen adalah
jawaban absolut atas kebenaran pertanyaanya. Arche mengerenyitkan keningnya
mendengar nama itu disebut.
Implosi langsung berceloteh “Alaaah~! Untuk apa sih kau pikirkan si pemurung
dan pendiam itu!?”
Anne merentangkan tangan menutup bibir Implosi. Anne tahu, ada hal-hal
tertentu yang akan mengusik kesenangan Allen.
“Kakak Implosi, aku tak segan menarik Paralunaku kalau ia dihina.”
“Artinya kau menggunakan Paraluna selain demi kepentingan Dark Nature?”
tanya Rex. Nada tak enak menggelosor dari sang tanah.
“Maaf kakak Rex, tapi aku memang mengundang kalian semua ke sini untuk
meminta pertolongan kalian demi dia.”
“Pertolongan apa?” Anne mendekat dengan cemas “Apa yang terjadi pada
Saravine?”
Allen mengambil napas. Ia hendak mengatakan hal yang berat pada mereka.
“Aku ingin meminta petunjuk Plakat Platinum Hitam soal segel khusus ‘Grand
Matilda’. Di dalamnya ada sesuatu yang kucari.”
Visia terhenyak. Kedua mata yang biasanya tertutup langsung terbuka penuh.
Mata coklatnya yang terang langsung terisi kabut misteri. Terompah kayunya
membasuh bumi saat mendekati Allen tuk bertanya.
“Apa yang kau inginkan, wahai Allen, dengan benda terkutuk karya Wishmaster
itu!?”
Tanpa diduga Arche angkat bicara “Apa boleh kutahu juga? Benda yang kau cari
di segel itu pasti tak sembarangan.”
Rex menahan dirinya untuk tak menghardik Arche yang seenaknya saja ikut
dalam pembicaraan mereka. Visia tahu wajah tak senang Rex.
“Wahai Allen, ini bukan tempat yang baik. Banyak mata memandang, banyak
kuping mendengar, dan banyak mulut tak terjaga. Alangkah baiknya bila kita pindah
dari tempat ini.”
“Oke.” Allen menarik Plakat Platinum Hitam dengan tangan kirinya. Anne
menyadari ketidakwajaran Allen menarik Paraluna. Kulit yang memucat turut
menyimpulkan kondisi Allen.
“Sebelum itu, biar kusembuhkan dulu separuh nyawamu yang hilang.”
Anne memutar Paralunanya: Aqua Thyme. Plakat Platinum Hitamnya terangkat
melayang kedepan wajahnya. Ia berbisik dan mengecup lembut pada Plakat Platinum
Hitam “Kekuatan tingkat 2, kuasa Aqua Thyme menyembuhkan, Air”.
Sebuah gelembung biru terbentuk dari sisa ¼ lengkungan paraluna biru muda itu.
Gelembung itu meresap masuk ke tangan Allen. Roman pucat tangan kanan Allen
perlahan menghilang.
“Yeehaaa!!” Allen menjerit senang. Ia menggoyang-goyangkan, memutar-mutar,
dan memelintir tangan sendiri “Kakak Anne memang yang terbaik!”
Allen langsung berlari dan memeluk Anne. Anne hanya tertawa saja dipeluk
seperti itu. Ia bahkan mengusap rambut acak-acakan Allen dan merapihkannya dengan
lembut. Satu tatapan tak suka meluncur lagi dari Implosi.
“Silakan, wahai Allen, antarkan kami pergi dengan anginmu.” Ujar Visia
“Oke. Transport Angin akan segera tersedia.”
Allen mengeluarkan Sylphind Rhyme.
“Area level 8, kuasa Sylphind Rhyme menari bersama siulan, Angin.”
Ke 7 Darkmaster melayang ringan bagai diangkat sang angin. Semua R-Knight
terpana. Mereka pernah melihat atraksi terbang para Mentalist Angin bertitel SSS9 tapi
belum pernah melihat ada yang bisa terbang tanpa memakai alat bantu. Allen
menghadapkan wajahnya pada Arche -nyengir.
“Tenang saja.” Allen memberi jempol pada Arche “Aku pasti akan kembali
setelah urusanku selesai.”
Angin berdentum! Dalam sekejap para Darkmaster itu menghilang dari
pandangan R-Knight yang mengepung. Hanya suara siulan yang melengking saja yang
menjadi jejak arah mereka pergi. Arche hanya berdecak ringan sembari menggelenggelengkan
kepalanya.
“Jadi dari tadi dia masih menyimpan angin seperti ini… mengerikan.”
Arche mengalihkan perhatiannya pada barisan R-Knightnya yang mulai berbisikbisik.
Ia membandingkan secara kasar kemampuan tempur pasukannya dengan para
Darkmaster. Satu Allen saja sudah merepotkan, entah bagaimana bila ditambah dengan
enam lain. Andai saja terjadi pertikaian, Arche yakin persentase kemenanganya kecil,
kecuali bila 3 komandan R-Knight lain bersamanya.
Senyum Arche meliuk. Ia menemukan sesuatu yang menarik dari peristiwa
barusan. Tanpa segan lagi Arche memberi perintah.
“Barisan R-Knight! Rawat mereka yang terluka, persiapkan diri kalian untuk
kembali ke Kerajaan!”
Sementara itu Arche mengerahkan Kultur R yang menjadikan mereka mencapai
tempat ini tanpa lelah yang berarti.
“R-Anima.”
9 Setiap Mentalist memiliki huruf dibelakang nama dan marga mereka. Ini artinya bahwa mereka
menguasai elemental tertentu. Terdapat 4 huruf dalam title elemental ini. tiap huruf mewakili satu
elemen. Maksimal huruf yang bisa dimiliki hanya 4 dengan pembatasan pada 3 strata elemen yang
sama.
S berarti Sylph yang berelemen Angin
F berarti Fuoco yang berelemen Api
T berarti Titan yang berelemen Tanah
E berarti Eau yang berelemen Air
Seluruh zirah Arche terpecah menyebar lalu menyatu kembali di hadapan Arche.
Sewujud burung Merak bersayap putih bermata merah hadir. Merak itu menaikkan
ekornya, memperlihatkan 7 warna pelangi yang silih berganti. Pada punggungnya
terhampar sadel besar yang bening. Kakinya yang besar dengan cakar yang tajam
berkali-kali mengais tanah berharap segera menapak angin. Sangurdi beningnya
tertempelkan emblem merah darah. Tidak terdengar satu lirih suara saat Merak itu
membuka paruhnya yang terbebat tali kekang. Sekedar getar udarapun tak tampak. Bagi
Arche, gerakan paruh itu memiliki kata-kata dibaliknya.
Arche menaiki sang merak. Tali kekang sang merak diambilnya sembari berujar
pada barisan R-knight.
“Kuperintahkan kalian untuk kembali. Serahkan laporan hari ini pada komandan
Marie Fangabell dari utara. Gunakan Telik Sandi tercepat!” perintah Arche pada
ajudannya.
Sebelum ada pertanyaan meluncur dari ajudannya, Arche sudah keburu memacu
Merak putihnya. Ia berlari menuju arah yang berlawanan dengan kerajaan Erune.
Tatapan Arche melanglang buana. Jauh ke depan. Garis-garis pemandangan yang
kabur tak lagi digubrisnya. Hanya satu yang menjadi pikirannya.
“Piy! Kau lihat yang tadi bukan?!”
Piy, sang merak menengadah dengan pongah. Piy Lochk, sang merak putih tidak
mengeluarkan suara sama sekali.
“Kau benar. Nama itulah orang yang kita cari. Akhirnya ia muncul juga setelah
lama mengasingkan diri. Dan kita harus cepat! DIA tak boleh tahu hal ini!”
Piy menjawabnya dengan gerak larinya yang bertambah kencang. Rintik hujan
tak lagi mengganggu. Sang hujan juga akan bertanya hendak kemanakah dan apa yang
akan dilakukan oleh angin satu ini?
Chapter 7
Dark Inquiry dan Janji Tanah
800.000 tombak dari Lovisolistia. Di sebuah lembah bernama Maltayr, lembah
yang sunyi dan senyap. Bagi beberapa orang, kesunyian tempat ini mengundang bulu
kuduk tuk merinding apalagi bila senja telah datang bertamu. Tapi bagi 7 Darkmaster,
tempat ini justru paling tepat untuk berkumpul.
Matahari senja menyeruak dari balik relung pohon-pohon tinggi. Semburat merah
itu seakan penasaran dan menunggu untuk tidak tenggelam sebelum waktunya. Hutan
perawan yang masih basah ini turut meminta tutur cerita dimulai.
“Silakan, wahai Allen, ceritakan masalahmu tentang Segel Grand Matilda itu.
Benda apakah, wahai Allen, yang kau cari di dalamnya?” Ujar Visia memulai wacana.
Suara tarikan napas Allen dapat terdengar di lembah ini. Beratnya masalah segera
terlontar dari mulut Darkmaster termuda ini.
“Benda yang kucari adalah Dark Grail. Dan katanya Dark Grail itu ada di tempat
bersegel Grand Matilda.”
Perhatian langsung tertuju pada Visia. Jelas para Darkmaster ini tak tahu benda
apa yang dibicarakan.
“Dark Grail... kunci Keinginan alam dan kegelapan. Benda karya leluhur
DarkWish terdahulu. Benda pemisah Dark dan Wish... mengapa kau ingin benda
berbahaya itu?”
“Aku ingin menyembuhkan Sara.”
“Jangan katakan bahwa Saravine terkena Broken Wish.” Tanya Anne pelan.
Kecemasan Anne terjawab hanya dengan anggukan lemah Allen. Wajah lembut
gadis ini memucat bersama Allen.
Sayang, kecemasan mereka berdua tak dapat menggoyahkan sang Tanah.
“Aku takkan membantu! Plakat Platinum Hitam tidak boleh digunakan untuk
urusan di luar tugas Dark Nature!” tegas Rex.
“Aku mohon kakak Rex! Aku tak tahu harus mulai mencari dari mana dan waktu
Sara tidak banyak!” pinta Allen dalam nada tinggi.
“Aku tak peduli! Aturan adalah aturan dan harus dilaksanakan! Lagipula untuk
apa kau membantu para Wishmaster!? Urusan mereka adalah urusan mereka! Dan kita
adalah kita! Leluhur sudah menerapkan janji pasti pada mereka!”
“Tapi kakak! Dia jadi begitu karena ulahku!”
“Itu adalah masalahmu! Selesaikan tanpa harus membawa Paraluna dan
Darkmaster ke dalamnya. Kau bebas bertindak asal tidak melanggar aturan
Darkmaster.”
“Kalau begitu... kalau aku bukan Darkmaster, aku bisa meminta pada kakak?”
Implosi sontak meledak. Ia menuding Allen “HEH! Tarik ucapanmu barusan!
Aku tak suka mendengar lolongan anjing pecundang macam itu!”
“Ucapanmu barusan, wahai Allen, tidaklah baik. Kau terasuk oleh jiwa kekanakkanakan
yang ingin mendapat ilusi hasil seketika.” bahkan Visia juga angkat bicara.
Allen memandang sekelilingnya. Tidak ada yang mendukung tindakannya. Ia
tahu Fey Armia, sang Darkmaster Besi bernomor lima, tidak akan ikut campur dalam
debat. Fey tak peduli pada hal selain tugas. Ia adalah satu-satunya Darkmaster yang
diberikan tugas lima kali lebih banyak dibanding Darkmaster lain. Lima besi putih yang
menempel di balik scarfnya menjadi tanda. Saat ini hanya dua besi saja yang tegak
menghitam pertanda baru dua target yang digelapkannya.
Fey Armia adalah Darkmaster yang bisa diibaratkan... seperti orang mabuk. Mata
miliknya tidak memperlihatkan ketertarikan. Bahkan ia seolah tidak memiliki binar
mata. Pose unggulannya adalah menumpu lengan dengan telapak tangan. Setelah itu ia
terkadang doyong ke kiri lalu ke kanan. Walau doyong, sepertinya ia takkan goyang
oleh hembusan angin Allen.
Awan? Algojo satu ini tak pernah berbicara karena memang mulut dan matanya
tersegel. Itulah kutukan atau kekhususan yang berlaku bagi mereka yang dinisbatkan
sebagai Awan. Rambut hitamnya menjadi cadar bagi matanya yang telah memutih. Tak
hanya itu, scarf abu-abu miliknya juga digunakan untuk menutup mulut sampai hidung.
Sebagai ganti kekurangan tersebut, mereka bisa ‘melihat’ dan merasakan hal-hal yang
berada di luar kontrol manusia bahkan di luar kontrol materi dan element. Ia hanya bisa
berbicara saat Dark Assembly berlangsung dan dari situlah mereka tahu siapa nama
Darkmaster misterius bernomor 1 ini: Damien Ark.
Kedua Darkmaster ini ditambah Rex adalah yang terkenal paling hebat dalam
urusan tak bergeming. Rex tak akan bergeming dalam hal aturan, Fey takkan bergeming
kecuali hal itu menarik perhatiannya, dan Ark...? si awan misterius ini memang
memiliki sifat tidak senang bergerak. Ia hanya akan berdiam memandang dan baru akan
bergerak bila dihembus angin.
Sebelum Allen mencoba peruntungannya dalam bujuk membujuk, Anne terlebih
dahulu menyentuh pundaknya dan berkata
“Kau tak perlu berkata seperti itu. Aku akan membantumu.”
Anne mengangkat plakat hitamnya yang tergantung di pinggangnya. Ia
mengecupnya lembut dan membisikkan “Dark Inquiry.”.
Seberkas sinar hitam tertembak ke tanah membuat sebuah air berwarna hitam. Air
itu tidak beriak tapi juga tidak memperlihatkan kedalaman. Anne memandang
sekelilingnya yang terkejut, keheranan, atau bahkan berwajah tak senang.
Allen langsung berjingkrak senang. Kesempatan ini tak disia-siakannya. Ia
mengangkat identitas Darkmasternya dan membisikkan kata-kata yang sama. Air hitam
itu perlahan bergerak, menimbulkan riak-riak kecil yang bermain. Angin dan Air telah
bersinergi. Sekeping gambar terlukis buram di sela-sela riak air.
“Aku tahu, kalau hanya kita berdua saja memang tidak maksimal tapi lebih baik
daripada tidak. Apa kau bisa menebak lokasi tempat itu?” tanya Anne.
“Anne… Apa kau tahu hal yang baru saja kau lakukan itu?” Suara Rex
menggerendeng menyaksikan ulah Anne.
“Aku tahu. Aku sedang membantu juniorku untuk menolong sebuah nyawa.
Bukankah Darkmaster tidak mengijinkan adanya pencabutan nyawa kecuali atas seijin
kuasa Dark Nature?”
“Aku tetap tak setuju! Plakat Platinum Hitam bukan untuk tujuan pribadi!”
ketegasan suara Rex mengundang gemuruh takut sang bumi. Tapi dua insan Darkmaster
ini tak gentar menghadapinya. Keyakinan penuh telah mengunggah hati mereka.
Guruh-gemuruh perdebatan hendak dimulai. Bila sang Tanah tidak melihat
sebuah peristiwa niscaya ia pasti akan memulai ancaman bumi. Ya, ia melihat Awan
menepiskan Plakat Platinum Hitamnya. Tak ada bisikan, hanya sinar hitam saja yang
berbicara. Air hitam kembali beriak. Kedalamannya bertambah oleh gelapnya mendung
sang awan.
Para Darkmaster mau tak mau terkejut atas tindakan sang Awan satu ini. Ark
yang dikenal tak memiliki ketertarikan khusus pada masalah apapun kali ini justru
bergerak duluan.
Tiga lawan empat... tidak, tiga lawan satu dan tiga. Angin, Awan, dan Air dengan
Tanah dengan Api, Besi, dan Pohon. Tiga elemen yang berdekatan sudah saling
menempel sementara yang lain terpencar.
“Apa kalian juga ingin membantu mereka? Kalian harus ingat bahwa aturan harus
ditegakkan!” kecam Rex pada tiga orang lainnya.
Fey masih bungkam tapi matanya terpantek pada bayangan yang tercetak di air
tersebut. Tangannya tergantung di dagu tanda ia sedang berpikir. Sesekali matanya
bergeser pada Ark, Allen dan Anne.
Visia angkat bicara terlebih dahulu.
“Maaf, wahai Rex, aku tak bermaksud melanggar aturan tapi berbuat kebajikan
juga adalah salah satu aturan dalam Darkmaster. Tak ada salahnya melupakan perihal
masa lalu demi sebuah budi. Lagipula, nyawa yang akan ditolong tak lagi asing bagimu,
wahai Rex.”
Visia mengambil Plakat Platinum Hitam dan mengarahkanya pada air hitam.
Seberkas sinar hitam meluncur membentuk sebuah pohon besar yang mengapung di
atas air. Akar pohon itu menembus air dan membuat permukaan danau bertambah
terang. Udara sejuk terhampar dan tercium. Dedaunan sang pohon bergoyang tertiup
angin.
Kerincing Rantai terdengar. Rex yang tadinya hendak beradu argumen dengan
Visia memalingkan mukanya. Ia tahu jelas siapa yang hendak mengeluarkan Plakat
Platinum Hitam pribadinya.
“Aku penasaran.”
Ujar Fey singkat. Cukup sebagai alasan. Dan memang begitulah dirinya. Aksi
bertindak lebih cepat daripada bicara.
Dentang besi terdengar. Air hitam itu memperlihatkan gejolak aneh. Dari
dalamnya terlihat sebuah besi pipih yang terjerat akar sang pohon. Besi itu bergetargetar
seolah ingin melakukan sesuatu.
“Fey...” Rex jelas geram sekali. Lumpur-lumpur tanah yang lembek terpisah dari
air dan terangkat sampai betisnya. Fey, seperti biasanya, cuek dan mengalihkan
pandangan pada Visia.
“Dark Grail itu seperti apa?”
“Wahai Fey, substansi Dark Grail tak ada dalam ingatan para pendahulu. Mereka
hanya tahu benda itu berbahaya. Menurut hematku, wahai Fey, ingatan tentang benda
itu disegel oleh para pendahulu. Mereka hanya menyisakan pernyataan bahwa benda itu
ada. Aku merasa, wahai Fey, ingatan itu disegel sebagai bentuk kewaspadaan sekaligus
ancaman pada Darkmaster lainnya.”
“Makin penasaran,” Fey kembali menaruh tangan di dagu “Hei Api, giliranmu.”
“Kau juga berani melanggar aturan, heh Implosi?” tanya Rex dalam gemuruh
geramnya. Implosi menjentik-jentikan jarinya. Ia menyeringai sebelum berkata
“Heh! Capek-capek datang kesini hanya untuk mencari barang tak berguna!”
Meski Implosi meracau kasar begitu tetap saja ia mengeluarkan plakat hitamnya.
Ia menghentakkanya dengan kasar menuju sang air hitam dan berteriak “Dark Inquiry!”
Matahari tercetak di atas awan. Sinarnya yang terik membuat kolam tersebut
terang, walau dasarnya belum terlihat. Pantulan cahayanya mencitrakan sebuah tempat.
Sang Pohon mulai menggerakkan akarnya dengan lembut tapi terhalang oleh sang air.
Air mulai merambah keatas menuju sang awan membuat sang air hitam perlahan
menyurut. Rintik air hitam mulai turun perlahan.
“Rex, tak bisakah kau sekedar bersedekah pada juniormu?” tanya Anne dengan
lembut.
“Tidak! Aku bilang tidak ya jelas tidak!”
“Kakak Rex. Aku hanya butuh waktu satu kali Dark Assembly. Aku akan
menerima semua kesalahan kalian semua yang membantuku hari ini.” ujar Allen. Ia
serius. Visia menyadari ini dan mendekati Allen.
“Tak maukah kau, wahai Allen, untuk mempertimbangkan kembali apa yang
telah kau ucapkan barusan?” bujuk sang pertapa ini.
“Tidak, keputusanku sudah bulat... bahkan bila ‘penggelapan’ dijatuhkan atasku
pun akan kuterima.” Visia menatap pilu, ia tahu peristiwa lama akan terulang kembali.
Keyakinan di mata Allen terlihat bagai batu kokoh dan tak tergoyahkan. Sementara itu
Rex terhenyak. Ia tahu beratnya kata itu. Seorang Darkmaster yang digelapkan sama
saja sudah terbuang.
“Kau yang dijuluki sang kebebasan mengapa mengikat dirimu hanya demi
seorang gadis? Apa yang telah ia lakukan padamu? Apa yang membuatmu berani
menentang aturan Dark Nature?” Rex mau tak mau terkulik untuk bertanya.
Allen menggaruk-garuk kepalanya “Kalau kukatakan pasti lucu, soalnya sejak
pertama kali bertemu, entah kenapa Sara sudah berhasil mengikatku... dan
menjatuhkanku.” Allen terdiam sejenak. ia tersenyum lembut mengenang Saravine
“Dan juga Sara mengubahku... ia mengajarkan padaku hal yang tak bisa kulupakan
sampai sekarang. Satu-satunya hal yang tak bisa kuubah dan tak ingin kuubah telah
diberikan olehnya.”
Visia tersenyum lembut, ia tahu apa yang dimaksud, ia tahu alasan yang sama
juga digunakan pada peristiwa terdahulu. Pengalaman pula yang mengajarkannya untuk
tidak menentangnya. Ia percaya kali ini tidak ada masalah berarti.
Anne juga mengerti, ia menitikkan air mata bahagia. Mendengarnya berkali-kali
dari Allen tetap saja membuatnya terenyuh.
“Jadi sudah sedari dulu aku berkali-kali jatuh karena dia. Itu alasanku.” Canda
Allen.
Fey meletakkan tangannya di dagu. Ia sepertinya berusaha menebak apa arti
ucapan barusan. Ia pun bertanya tanpa basa-basi pada Allen
“Mananya yang lucu. Jelaskan padaku.”
“Kakak tak usah banyak berpikir. Bukan tugas kakak untuk berpikir kok.” ujar
Allen diiringi tawa ringan dan cengiran.
Fey bengong. Roman serius para Darkmaster menghilang tanpa sembunyisembunyi
melihat ini. Suara-suara menahan tawa terdengar tapi redam remnya tak
cukup kala melihat wajah Fey makin tak mengerti. “Aku mengerti. Pasti kau jatuh
dengan mengenaskan.” Tembak Fey “Tunggu. Pasti jatuh dengan memalukan.” Ralat
Fey lagi. Lurus dan blak-blakan. “Atau kau dijatuhkan sambil diikat. Tapi mananya
yang lucu?”
Akhirnya tawa pun terdengar jelas; sebagian berupa kikik geli saja. Tentu saja
Implosi-lah yang bersemangat sekali tertawa. Dan tawa pun menular, Rex juga tak
dapat menyembunyikan mimik gelinya. Ia sadar, berdehem, dan kembali serius.
“Kau ini!” Ujar Rex kesal “Jawabanmu tidak memuaskan!” tapi di akhir
kalimatnya ia justru tersenyum. “Tak usah kau pedulikan bocah kasmaran ini, Fey.”
Senyum Rex sama saja dengan sebuah persetujuan terselubung. Mereka tahu,
sekeras-kerasnya Rex tetap saja ia memiliki hati manusia. Meski begitu, ia tak pernah
memainkan aturan dan rela mati demi tegaknya aturan layaknya Bumi. Tawanya kali ini
berarti ia telah menemukan sebuah cara membantu Allen yang tidak melanggar aturan.
Kakinya menghentak bumi membuat sebuah bola tanah muncul sejajar dada Rex.
Bola tanah itu terlihat memiliki guratan-guratan seperti terisikan oleh kristalkristal
yang terbalut pula oleh lempung dan juga tulang. Bagi Darkmaster Tanah, bola
ini berisikan seluruh aturan Darkmaster. Dan sebagai ciri khas, Bola ini juga hanya
mampu dibaca oleh Darkmaster Tanah. Bola itu terus berrevolusi sampai akhirnya
berhenti di depan dada Rex.
Mulailah ia berujar sebagai penegak hukum Darkmaster.
“Menurut aturan Rex Nature pasal 165 ayat 2, terdapat pengecualian pengadaan
Dark Inquiry yang seharusnya khusus demi Dark Nature. Pasal itu menyatakan bahwa
‘Dark Inquiry akan diijinkan bila pencetus Dark Inquiry berani mengikat janji dengan
‘Lex’, menerima konsekuensinya, dan harus mendapat dukungan lima dari tujuh
Darkmaster’.” ujar Rex sembari menenggelamkan bola tanah itu lagi. Allen melonjak
senang mendengarnya.
“Jangan salah kira, aku sebenarnya tidak suka melakukan ini. Wishmaster dan
Darkmaster tak boleh berhubungan… tapi sayangnya, seperti yang kukatakan barusan.
Aturan ternyata memberi keringanan padamu. Kau beruntung.” Tambah Rex. Ia
berdehem saat melihat Allen sudah berjingkrak-jingkrak. Sebelum Visia angkat bicara,
Allen sudah terlebih dahulu berhenti bertingkah. Rex kembali melanjutkan
“Kau telah mendapat dukungan lima dari tujuh dan mengatakan siap menerima
konsekuensi. Hal yang kau janjikan adalah pengambilan semua konsekuensi dan
penyelesaian masalah dalam waktu yang ditentukan. Aku yakin kau sudah
mempertimbangkan resiko mengikat janji dengan ‘Lex’. Tak ada janji yang bisa lepas
dari ‘Lex’ karena Hukum Dark Nature takkan bisa lepas dari urat nadimu. Kau tak
boleh lupa itu.”
Allen mengangguk mengerti.
“Sekarang... Apa kau siap untuk diberikan ikatan dengan ‘Lex’?”
“Kapanpun kakak siap, aku siap.” Jawab Allen tegas.
Rex mengayunkan Paralunanya menghantam tanah.
“Waktu Dark Assembly, atas kuasa ‘Shield’ dan ‘Lex’ sang penyeimbang,
Bumi.” Bebatuan mendadak menempel ke sekujur tubuh Allen. Suara desis tercekik
terdengar dari balik mulut Allen.
“Janjimu telah terikat bersama sang bumi. Bila kau melanggarnya maka kuasa
Dark Nature akan mengharamkan jasadmu atas tanah.”
Bebatuan rontok satu persatu dan kembali lagi ke tempat ia bermula.
“Sesuai janjiku.” ujar Rex sembari mencabut Plakat Platinum Hitam dari
sabuknya. Dark Inquiry pun diucapkan.
Tanah dari dasar bumi terangkat naik sampai ke menyentuh besi pipih itu.
bersamaan dengan itu pula, sang besi mulai bergerak. Menulis dan menulis dengan tinta
air hitam. Gambar yang tadinya tak jelas makin memperlihatkan kontur yang dikenal.
Sebuah gua besar dengan gerbang bertuliskan ShiWark Deity. Di sekelilingnya pohonpohon
merah menjadi latar belakang pemandangan.
Dark Inquiry telah selesai dilakukan. Air hitam telah terkuras habis dan
pemandangan tergambar di udara. Berputar pelan memberikan pandangan penuh atas
lingkungan.
“Itu di mana? Aku belum pernah melihat gua kayak begitu. Sampai harus dijaga
pakai gerbang besar segala.” Komentar Allen diiring kerut alis. Mereka semua saling
melihat. Visia juga geleng-geleng kepala. Ia yang dikenal sebagai pemilik semua
ingatan dan kebijaksanaan kayu pun bungkam.
“Gunung Farangi!” sebuah suara menyentak tiba-tiba.
Mereka semua menoleh pada sang suara. Dari balik pepohonan muncul sebuah
sosok. Seorang pria menaiki merak putih. Siapa lagi kalau bukan Arche. Ia datang
menunggangi Piy.
Hukum dilanggar maka sang penegak berbicara lantang.
“Orang luar… kau harus digelapkan.” Rex mengibaskan tangan. “ARK!!”
Awan alias Ark bergerak cepat. Dalam sekejap saja ia telah sampai di hadapan
Piy. Piy reflex mengangkat kakinya berusaha mencakar Ark. Sayang, sebagai awan tak
berbentuk, Ark tak bisa dipukul oleh benda fisik begitu saja. Serangan Piy menembus
Ark layaknya menghantam bayangan. Awan sebagai pembentuk bayangan mampu
membuat fatamorgana cahaya.
Ark menyabetkan Paraluna-nya: Blitzclaw. Materi keras Piy dilewati tanpa ada
satu derit logam beradu. Tapi jangan lupa, awan adalah pembawa makhluk paling liar:
Petir. Arus listrik yang begitu deras merambat pada Piy dan Arche.
Arche terjatuh dari tunggangannya bersamaan dengan lenyapnya Piy menjadi
zirahnya kembali. Arche pingsan seketika. Ark hendak melakukan serangan
terakhirnya. Blitzclawnya mengeluarkan cakar ketiga dan sudah siap untuk merobek
materi Arche.
Ark menghentikan gerakannya. Blitzclawnya terhadang oleh materi lain. Allen. Ia
merintangi jalur Paraluna Ark. Cakar awan itu nyaris saja menembus nadi leher Allen.
“Hentikan, kakak Ark! Ia sudah tak melawan lagi.”
“Allen benar… Ark, aku melihat sedari tadi tuan ini tak memperlihatkan inisiatif
melawan.” Tambah Anne menengahi.
“Allen, aku masih bisa menemukan pasal pengampunan untuk urusanmu tapi
tidak terhadap kasus ini!” Rex menekan Allen dengan guruh kata-katanya. Allen sama
sekali tak menyingkir. Sikapnya jelas menantang Rex.
Mata Rex menyipit. Ia memberi titah jelas!
“Ark! Gelapkan dia!”
Ark, sebagai algojo meminggirkan Allen. Blitzclawnya kembali terangkat. Kali
ini Paraluna Anne menghadang gerak Ark. Bila sang Kehidupan menghadang artinya
masalah ini dianggap pelik olehnya. Mau tak mau Ark bergeming juga oleh tindakan
Anne.
“Ark… kumohon bersabarlah sebentar.”
Anne kemudian beralih pada Rex.
“Rex, sepertinya tuan ini tahu di mana lokasi Grand Matilda! Tak bisakah kau
membiarkannya saja sekedar memberitahu lokasi tepatnya?”
“Tidak! Pelaksanaan hukum yang tertunda akan menyebabkan tertundanya
keadilan!”
“Kakak Rex, bukankah aku sudah mengatakan akan menanggung semua akibat
dari tindakanku?” tambah Allen menimpali Anne.
“Kau... Kau tahu arti kata-katamu? Pelimpahan kesalahan fatal seperti ini dapat
mengancam entitas kehidupanmu. Masalah Dark Inquiry mungkin masih ada
keringanan tapi…Kau...” Rex menghentikan ceramahnya. Ia dapat menerka jawaban
Allen dari sikap dan tatapan mata sang Angin: YAKIN.
Rex menggeleng-gelengkan. Kesalnya sampai ke ubun-ubun.
“Kadang kupikir kau ini keras kepala seperti diriku. Terserah kau saja. aku sudah
memperingatkanmu. Dengan ini berarti kau akan menerima dosa turunan saat Dark
Assembly.” Rex mendengus.
Mendengar ‘restu’ Rex, Anne langsung mengaktifkan Plakatnya. Ia mencium
Plakat Platinum Hitam dan melakukan proses penyembuhan sama seperti yang
dilakukannya pada Allen.
“Aku pergi dulu. Aku sudah tak perlu lagi memperingatkanmu akan batas waktu
untuk menyelesaikan masalahmu. Dan jangan pernah menyesali tindakanmu, Allen.”
Ujar Rex.
Allen tersenyum mendengarnya.
“Kakak Rex boleh tenang. Aku takkan melepas janjiku meskipun tidak diikat oleh
‘Lex’.” Rex berbalik tanpa banyak bicara. Ia mengangkat tangannya dan menghujam
bumi dengan tinjunya.
Rengkahan tanah menerkam dan membuatnya hilang terkubur
tanah.
“Aku juga pamit dulu, wahai Allen, masih ada kebijaksanaan yang harus ditunda
untuk sementara waktu.” ujar Visia.
Visia berjalan tenang menuju sebuah pohon. Pohon di hadapannya membuka
ibarat kacang dikupas kulitnya. Visia melangkah masuk dan ditelan pohon. Keheningan
tercipta.
Fey menengok ke kiri lalu kanan “Sepi.” Komentarnya pendek.
Fey menepuk tanah dan menyisir daun yang berada didekatnya. Tanah terangkat
menjadi sebuah gumpalan panjang dan daun itu memanjang seperti bubur kenyal
Loodle. Dengan kedua tanganya, ia memadatkan gumpalan. Ia membuat sebuah
pelontar yang berbentuk seperti busur panjang tanpa senar. Sebuah kursi besi yang
kokoh menjadi ornamen di atas busur. Fey menaiki kursi tersebut.
“Aku kembali ke Utara. Hey, Angin. Kau harus cerita nanti.”
Sehabis itu tahu-tahu saja Fey melenting terlempar oleh busur aneh itu. Setelah
kerlip Fey terlihat jauh mengangkasa, busur aneh itu hancur begitu saja.
Ark dan Implosi? Herannya mereka masih di tempat ini. Entah ada urusan apa.
Ark hanya diam saja sementara sedari tadi Implosi terlihat gelisah. Mulutnya komatkamit
tanpa suara. Tatapannya lurus merangsek pada Arche yang sedang diobati oleh
Anne.
Arche membuka matanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah
Anne. Wajah lembut itu terlihat berkilau tertimpa mentari senja di balik pepohonan.
Mulut Arche yang masih kelu kaku tanpa sadar berujar
“Selamat sore.”
Siapa yang menyangka kalimat pertama Arche adalah salam seperti itu. Sebuah
senyum kecil terulas di bibir Anne.
“Selamat sore juga tuan.”
Allen masuk dari sudut mata Arche, membuat Arche sejenak kehilangan sosok
Anne.
“Wah Arche, sepertinya kamu kurang kerjaan juga sampai mengejarku ke sini.”
Arche beringsut. Badannya masih gemetar akibat sengat petir.
“Setidaknya aku harus menjaga agar kau tidak kabur begitu saja.”
“Kamu curigaan sekali sih. Aku kan sudah janji.”
“Janji angin itu harus selalu diikat agar ia tidak lupa.”
Allen menepuk kepala.
“Kamu benar! Aku lupa kalau aku pelupa.”
Anne mengerti sekarang mengapa Allen berani berjanji seperti itu. Bila ia lupa,
sama artinya dengan ia (nyaris) tidak berjanji dan itu artinya ia tidak memberikan janji
mutlak pada selain kuasa Dark Nature. Tapi memang alasan seperti itu dibolehkan?
Bukankah bagaimanapun juga janji adalah ikatan yang tak sembarangan?
Di lain pihak tiba-tiba saja Ark menempelkan Paraluna-nya di leher Allen. Semua
mata memandang tak percaya
“Kakak Ark…” desis Allen.
Keheningan mendadak membungkam mereka. Mereka tentu saja tak tahu apa
yang hendak dilakukan oleh si bisu dan buta satu ini.
Chapter 8
Aliansi dan Inisiasi
Cakar-cakar tajam Paraluna Ark mengancam leher Allen. Kilau biru-putih
melintasi Umbrae Arc, bagian tajam dari Paraluna. Sengat-sengat listrik menggelitik
nadi Allen.
“Ark? Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Anne.
Ark hanya menggeser kepalanya sedikit.
“Tenang saja kakak Ark, aku tak lupa pada aturan. Lagipula ‘Lex’ sudah
ditetapkan padaku, mana bisa aku kabur darinya. Dan masa kakak tidak tahu kalau aku
ini bercanda. Aku tidak pernah lupa janji yang pernah kuucapkan kok.” Ujar Allen
diiringi cengiran. Angin, yang terdekat setelah awan, diberi kuasa oleh Dark Nature
untuk mengerti arti tindakan si-tanpa-bentuk-tanpa-suara ini.
Anne menghela napas lega saat Ark menarik Blitzclawnya. Pandangan matanya
tak lepas dari Paraluna petir milik Ark. Ia menelan ludah saat kilau putih-biru berkilat
pada Umbrae Arc Blitzclaw.
Ark kembali mematung. Keberadaanya sekali lagi bagai lenyap tak terhiraukan.
Dan Allen selaku angin sekali lagi bergerak. Langkahnya yang lincah mengitari Arche.
Ia mengambil semua perhatian dari khalayak.
“Oh iya Arche… memangnya kamu benar tahu di mana gua yang barusan itu?”
“Aku yakin sekali gua itu berada di Gunung Farangi berbatasan yang dengan
Amarantie Aumerthis.”
“Berarti satu setengah maha tombak10 dari sini.” Ujar Anne.
“Enteng. Dengan area level 5 bisa sampai dalam waktu satu hari. Aku berangkat
sekarang.” Allen mengambil ancang-ancang tolakan.
“Sayang sekali, hanya aku yang tahu di mana letak gua itu. Tanpa aku, kau akan
tersesat.” Cegah Arche.
“Kalau begitu ngapain berlama-lama, ayo ikut berangkat!” Allen mulai berlarilari
di tempat.
“Allen, aku tahu kau terburu-buru tapi tidakkah kau lihat tuan ini masih terkena
getar jiwa petir?” ujar Anne.
“Nona… aku berterima kasih atas kebaikanmu tapi…” Arche beringsut dan
berdiri “Luka seperti ini sudah sering kualami saat bertugas.”
Arche berdiri tegak. Getar tubuhnya masih bersisa tapi ketegarannya
mengenyahkan segala ketidakmampuan yang bersisa. Kharismanya sebagai Angin yang
keras dan penantang angin menopang dirinya untuk tak bermanja di tempat.
“Allen, Aku akan mengantar dan menjagamu ke gua itu dengan satu syarat.” Ujar
Arche. “Apapun akan kulakukan untuk mengembalikan Sara.”
Implosi merangsek maju. Tatapannya memancang lurus pada Allen. Kobaran
matanya panas.
10 Satu maha tombak sama dengan 1.000.000 tombak
“HEH! Tak perlu lagi kau membuat janji-janji dengan mereka! Yang penting Kau
sudah tahu di mana gua itu berada bukan? Cukup kau buka saja mulut pesolek satu ini!”
“Sayang sekali tuan. Tapi gua itu berada dalam jurisdiksi pemerintahan kami
juga. Lagipula, juniormu akan membutuhkanku di sana untuk beberapa hal jadi terserah
kalian saja bila memang tidak mau.” Arche tersenyum, meremehkan.
“Apa tuan mengancam kami?” tanya Anne.
“Tidak, aku hanya mengajukan pilihan.”
“OK, aku akan mengikat janji lagi denganmu. Katakan apa syaratnya?” jawab
Allen yang mulai bosan menunggu. “Ah iya, mohon kakak semua tidak mengganggu.”
Gigi Implosi berderit mendengar ucapan Allen ini. Alis di keningnya menekuk 60
derajat. Mulutnya berkali-kali mendesiskan kalimat-kalimat makian.
Arche memandang sekeliling. Mata tak-suka Implosi membuatnya gerah “Kurasa
aku tak bisa mengatakannya di sini. Ikut aku.”
Allen dan Arche melangkah pergi.
“HEH!!” Implosi hendak mencegah.
“Implosi, biarkan saja. Hargailah pilihan juniormu. Tidakkah kau lihat hasrat di
mata Allen? Ia sedang berharap untuk dapat menyelamatkan sebuah nyawa.” Cegah
Anne.
Implosi menggeretakkan gigi “Anne, biar bagaimanapun juga aku tak suka bila
ada orang luar masuk dalam urusan Kita!” Ujarnya sembari menghentakkan kaki.
Kobaran api terpercik dari terompahnya, membakar rerumputan dan tanah.
Anne tertawa geli. Ia mengetukkan kakinya pada tanah. Api yang berkobar di
sekelilingnya padam. “Bukankah ini urusan pribadi Allen? Sejak kapan kau
menganggapnya menjadi urusanmu juga? Kau memang kakak yang perhatian.” ujarnya
setelah rerumputan kembali hidup seolah tak pernah terbakar.
Implosi membuang mukanya. Jelas sekali ia terjebak oleh ucapannya sendiri
“Bu… bukan itu maksudku,” Implosi menghadapkan muka “Maksudku… aku tak
suka orang LUAR ikut campur dalam urusan…”
Implosi menghentikan ucapannya. Ia tersudut oleh tatapan manis dan senyum
Anne di hadapannya. Ia tahu cara menatap itu, Ia tahu cara menggoda Anne. Muka pria
bercodet ini mulai memerah pasti. Tak tahan, Implosi mengucek-ucek rambut kasarnya.
“AAGH iya-iya! Aku mengerti!! AKU MEMANG INGIN MEMBANTU Si
PIKUN SATU ITU, PUAS?” ia melipat tangan dan membuang muka. Senja merah
memang curang. Ia bisa menutupi roman merah seseorang yang sedang malu habishabisan.
Anne yang pendek berjinjit untuk mengusap rambut tegak riap-riapan Implosi.
Bola mata Anne lembut menatap Implosi.
“Aku jadi tenang karena memiliki junior perhatian sepertimu.”
Implosi menepis tangan Anne dan berbalik. Tanpa mengucapkan selamat tinggal,
ia melesat diiringi jejak api yang membara di udara. Anne lagi-lagi hanya tersenyum
geli saja melihat ulah juniornya itu. Ia tahu pasti Api akan kembali lagi setelah bara
dirinya kembali normal.
Di saat itulah Allen dan Arche kembali. Allen berjalan menengadah dan sesekali
menunduk. Ia berpikir keras dan mencoba mencari jawaban dari langit dan tanah. Jelas
ia tak mendapatkannya. Penat, ia melihat sekeliling.
“Loh… kakak Implosi kemana?”
Anne tersenyum “Kakakmu sedang mengejar matahari senja.”
“Kabur karena malu?” celetuk Arche.
“Aku tak menyangka kalau tuan mengerti maksud ucapanku. Ah maaf, aku lupa
kalau tuan ini seorang R-Knight terpelajar. Reputasi tuan terkenal sampai Hyddrick
Timur karena tuan pernah menyelesaikan ujian Mentalist tingkat 2 tanpa guru. Dan
sampai sekarang rumor kehebatan tuan masih terdengar karena tuan menolak gelarnya.
Banyak sekali yang iri pada tuan dan banyak pula yang menyayangkan bakat tuan.”
Ujar Anne.
“Aku salut nona mengenalku begitu rupa. Tapi otakku tak ada separuhnya
Lordess Maria Fangabell.” Arche membungkukkan sedikit badannya dan tersenyum
lembut. Anne membalasnya juga dengan sebuah senyum lembut. Ia membungkuk
sedikit lebih rendah dari Arche.
“Kurasa tuan terlalu merendah. Aku tahu kalau Lordess Maria juga ingin
memiliki beberapa sifat tuan.”
Basa-basi di antara keduanya membuat Allen sulit untuk masuk dalam
percakapan mereka. Aristokratik, diplomatik dan segala tik-tak-tik bukanlah gaya
bicara Allen. Ia jelas tak mengerti tata karma bangsawan yang ditampilkan mereka
berdua.
“Erm… kalian berdua sudah selesai?”
Arche kembali mengalihkan perhatian pada Allen.
“Jadi… apa tanggapanmu atas syarat yang kuberikan?”
“Tapi kamu tidak bermaksud macam-macam kan?”
Arche tertawa “Kuyakin curiga bukanlah sifat Anginmu. Tenang. Bukankah
sudah kubilang kalau yang kuinginkan hanyalah informasi saja.”
“Kamu juga takkan merebutnya kan?”
“Tergantung. Kalau kau tak bisa menjaganya dengan baik, bisa saja akan
kurebut.”
Allen jelas-jelas melihat senyum percaya diri Arche. Arche tampan, terpelajar,
pintar, gagah, kuat, dan termasyur. Bukan tidak mungkin ia merebut sesuatu dengan
mudah, apalagi bila yang direbut berhubungan dengan kata: perempuan. Allen hanya
tahu satu respon saja.
“Eergh… ah ya sudahlah aku setuju saja! Aku malas lama-lama di sini.” dan ia
tahu lanjutan katanya “Yang pasti aku tahu kau tak mungkin bisa merebutnya dariku.”
Cengiran Allen menghapus senyum percaya diri Arche.
“Percaya dirimu cukup tinggi, Allen.”
Cukuplah percakapan terhenti. Kali ini kaki mereka hendak bergerak
menyongsong mata angin yang dimaksud.
“TUNGGU DULU!”
Warna gelap lembah Maltayr sontak tergantikan oleh cerah semangat api. Siapa
lagi kalau bukan Implosi yang berteriak. Ia datang lagi dengan membawa api dalam
jejak langkahnya. Api itu tidak membakar alam seolah hanya menempel pada apapun
yang terlewati olehnya. Sayang, jejak api itu terlihat tak bersahabat.
“Aku tidak setuju. Aku ingin menguji orang luar satu ini!”
“Namaku Arche bukan orang luar!” jawab Arche kesal.
“HEH! Terserah aku mau memanggilmu apa. SEKARA~”
Tahu-tahu saja sarung tangan putih Arche mendarat kasar di wajah Implosi.
Setitik darah menetes dari sudut bibir Implosi.
“Aku tahu apa yang kau inginkan. Angkat senjatamu sekarang! Akan kubuktikan
bahwa aku lebih dari cukup untuk menjaga junior kalian!” tekan Arche “Allen, kuharap
kau bisa menunggu sebentar.”
“Yah asalkan kamu janji untuk tidak kabur saja.” jawab Allen diringi ledekan
lidah.
“Janjiku lebih tebal dari janji seorang Blacksmith!”
Arche mencabut bulu-bulu Merak di punggungnya dan menyatukannya dengan
gerakan yang lincah. Tiupan angin keras memuntir udara saat Tombak Merak tercipta.
panjang tombak ini setara dengan tinggi tubuh Arche dan bentuknya menyerupai
sehelai bulu ekor Merak. Corak mata palsu dengan kombinasi warna indah bertengger
di tengah penampang mata tombak. Sekilas memang indah, tapi memiliki aura ancaman
yang bisa membuat para predator mundur.
“Hooo!” Implosi menatap angkuh. Ia menepis darah dari sudut bibirnya. Ia
menjentikkan jemarinya membuat percikan api sebesar kepalan tangan. Api itu
digerakkannya menuju Plakat Platinum Hitam “Aku suka hasrat bicaramu tapi tetap
saja,” dari api tersebutlah tercetak Paraluna Api. Dengan satu sentakan keras, Implosi
mencabut dan menyebutkan Paralunanya “Aghnuscorhn-ku akan membakar habis
hasrat itu!!”
Nyala api Paraluna ini membuat terang lembah kala senja layaknya terik siang
hari.
Aghnuscorhn, Paraluna Api, Paraluna bercabang tiga yang memiliki corak merah.
Begitu dicabut, udara sontak memanas, emosi sekitar pun memuncak. Paraluna ini
memiliki banyak gurat merah gelap dengan karat-karat terang pada sisi luar, sisi
tajamnya. Memiliki sifat haus darah dan termasuk kategori berbahaya. Api hasrat yang
menyala pada cabang teratas Paraluna ini merupakan pertanda terbakarnya semangat…
dan juga pertanda tingkat bahaya Aghnuscorhn.
“Implosi!” jerit Anne berusaha mencegah. Sebagai air, Ia tahu benar dampak dari
keluarnya Aghnuscorhn.
“Kau diam saja Anne! Tak bisakah kau melihat bara di mata kami berdua? Panas
badan ini sudah tak dapat dibendung lagi oleh air darimu!” Implosi menggeretakkan
kepalan tangan dalam pengucapan.
“Tampaknya itu benar nona.” Timpal Arche. Ia menggetarkan Tombak Merak
“R-VERSE!!”
R-Verse telah diaktifkan, tombak Merak berubah rupa menjadi tombak 5 baris.
Tanpa banyak bicara mereka berdua menggerakkan senjata mereka. Desing angin
beradu dengan gurat panas nyala api. Percikan api terlempar ke seluruh penjuru setiap
kali senjata mereka berdua beradu. Dan bau asap mengundang ketakutan penghuni
lembah Maltayr. Pertarungan dua insan, dua senjata telah dimulai.
Tiap Paraluna boleh dikata memiliki cara pakai yang berbeda. Memang, poros
tubuh tetap berputar tapi arus elemen yang dibawa tiap senjata memungkinkan variasivariasi
unik. Aghnuscorhn tak lepas dari itu. Tiga cabang dari bilah utama dapat
digunakan untuk menahan dan menjerat senjata lawan. Tombak 5 baris Arche pun tak
luput darinya. Semakin beradu, semakin kuat daya api yang terpancar. Semakin beradu,
semakin rusak senjata lawan bagai ditempa kembali menjadi wujud asalnya: dari logam
menjadi logam. Tombak 5 Baris Arche masih selamat karena imbuh R-Verse
melindungi inti senjata.
Bertubinya benturan senjata menaikkan tensi emosi. Satu makian kesal terlontar
dari Arche… dan saat itulah Implosi memutar tubuhnya, mendekat bagai gangsing dan
menghujamkan sikutnya. Andai mata Arche tak awas, serangan ini pasti masuk dengan
telak. Ia pun selamat akibat melepas satu baris tombaknya untuk menahan sikutan keras
Implosi. Lepas sikutan, datang sabetan Aghnuscorhn. Arche kembali harus mengelak
mengambil jarak tapi tetap merasakan desir panas yang membakar rambutnya. Paraluna
satu ini membuatnya jeri… tidak, justru membuatnya makin tertantang!
Aghnuscorhn adalah Paraluna terpendek karena itulah penggunanya seringkali
terlibat adu fisik. Jangan tanya bekas luka yang didera Implosi. Bekas luka itu adalah
hadiah dari hasrat-hasrat lawannya. Dan baginya, bekas luka itu adalah kehormatan.
Begitupun dengan saat ia berhadapan dengan Arche. Sikut dan kepalanya bermain
menghantam Arche tapi begitupun dengan lutut dan kaki Arche. Hasrat liar mereka
berdua melukiskan tinta darah pada tubuh lawan mereka.
“Kalian berdua! Hentikan! Jangan bertarung di sini!” Jerit Anne
“Percuma deh kakak Anne. Aghnuscorhn kan kalau tidak salah bisa membuat
darah jadi panas. Apalagi kalau yang digembosnya angin juga.” Ujar Allen sembari
menghindari percikan api yang loncat.
Anne tahu hal itu tapi ia tak bisa membuat banyak pilihan. Ia nekat masuk dalam
pertempuran mereka berdua. Lagi-lagi, apa daya sang kehidupan saat dua insan
bertarung bukan demi nyawa tapi demi harga diri. Anne terlempar keluar dari arena
pertempuran saat peraduan keras dua senjata mengoyak ruang. Kasarnya angin panas
membuat Anne, bahkan Allen, bergeser dari lokasinya. Kebuntuan terjadi saat kedua
senjata ini menempel. Tombak 5 baris mendesiskan angin panas penuh hasrat.
Aghnuscorhn menjawabnya dengan memunculkan mata api pada cabang tengahnya.
Panas api makin menguat. Warna api mulai memutih.
Arche jeri juga dengan panasnya. Ia dapat melihat keringat sebutir jagung
menguap sebelum sampai tanah. Ia melepas kontak senjata dan mundur mengatur jarak.
Implosi di lain sisi justru memburunya dengan penuh nafsu. Tarian Paralunanya
semakin cepat, semakin tak teratur, semakin tak dapat ditebak. Tambah lagi, lontaran
api Aghnuscorhn semakin mengganas seolah berusaha melalap sekelilingnya dalam
setiap lingkar-tebasan.
”MAU KABUR HEH?! TERNYATA MEMANG HASRATMU HANYA
SEBESAR BIJI KENCUR!”
Arche pun menjawab tantangan itu dengan kembali beradu senjata. Api hasrat
telah membuat mereka tak lagi berpikir soal darah dan nyawa. Urusan kehidupan
memang bukan urusan Api. Tapi melihat kehidupan terancam, elemen yang
bertanggung jawab terhadapnya pasti bergerak.
“O’ow…” Allen berkomentar memandangi punggung Anne yang turun naik
dengan irama perlahan. Allen mundur satu langkah, ia tahu akan ada bahaya.
“Area tingkat 4, kekuatan tingkat 3, AIR!”
Denting halus suara lembut menekan udara. Sontak hujan maha deras menghujam
arena pertempuran. Kedua sosok yang panas bertempur ini pun akhirnya kuyup
terguyur. Tubuh mereka berdua sembuh tak menyisakan luka begitupun Api yang
berkobar dari Aghnuscorhn padam begitu saja. Semangat yang tergembos menguap
begitu cepat.
Anne berjalan dengan langkah lebar menuju Implosi. Implosi tahu cara
melangkah itu, Implosi langsung pucat 7 keliling.
PLAK!!
Tamparan Anne menerpa pipi Implosi. Gadis itu mengambil napas dalam-dalam
sebelum bersuara.
“Pikirkan apa yang kau lakukan! Kau hampir saja membunuh makhluk-makhluk
di sekelilingmu! Kalau Kau Ini Darkmaster Seharusnya Kau Tahu Etika Bertarung!”
Suara Anne melembut tapi di dalamnya terdengar kharisma yang menekan. Implosi
tahu satu hal: Anne Marah! Ia tidak menggelegar kala marah, tidak senyaring
tamparannya pula. Bagi Darkmaster lain, Anne yang marah jauh lebih seram daripada
Rex.
Implosi memegang pipinya “Ba… baik kak Anne…”
Dan hasil akhirnya mampu membuat Implosi mengkerut seperti anak ayam. Ia
tahu membantah justru akan membuat dirinya diguyur kembali. Belum lagi ceramah
panjang akan terus menantinya tiada ujung. Ia pernah mengalaminya dan tak mau
mengulangi peristiwa tidak-tidur-tiga-malam karena dinasehati oleh sang Air satu ini.
Sehabis memadamkan hasrat Implosi, Anne beralih pada Arche.
“Anda juga tuan, kekanak-kanakan sekali anda ini! Menantang orang juga harus
lihat tempat dan situasi!”
Arche jelas tak menyangka kalau gadis lembut ini justru dapat marah seperti itu.
“Agar ini tak terjadi lagi,” Anne mengalihkan pandangan pada Allen “Aku akan
ikut.”
Implosi bagai terguyur air. Ia sama sekali tak menyangka ada hasrat Api yang
bermain di mata Air. Lebih tepatnya, ia tak menyangka Anne akan berkata seperti itu.
Rupanya efek Aghnuscorhn terlalu kuat…
Sebagai pembawa nama Hasrat, seharusnya Implosi spontan berteriak tapi
nyatanya...
“Yeeeah! Kakak Anne ikut. Asyik!”
Justru Allen yang spontan bereaksi. Implosi memilih bungkam. Ia tak mau
menggubris Anne yang sedang kesal. Air yang terevaporasi dapat meledak bila percikan
api salah menerpa.
Melihat lonjakan ceria Allen, tekanan suara Anne mulai mereda.
“Lagipula kalian pasti membutuhkan seorang Penyembuh dalam perjalanan
nanti.”
Tanpa diduga, Arche tertawa. R-Verse-nya buyar begitu saja menjadi bulu Merak
seiring dengan padamnya niat untuk berduel.
“Aku menyerah pada anda nona. Nona memang luar biasa. Aku kagum, anda bisa
mengendalikan nafsu dua orang pria hanya dengan satu tindakan.”
Arche berlutut dan menengadahkan kepalanya pada Anne “Saat ini aku yakin
keberadaan anda dalam kelompok akan sangat bermakna sekali.”
Anne tersenyum menjawab “Setidaknya aku akan menjadi bulan di tengah air.”
Arche memandang sekeliling “Ah anda benar sekali nona. Aku tak menyadari
kalau memang anda satu-satunya yang berbeda di antara kami.”
“Mulai lagi… bahasa milik berdua saja. Sampai kapan mau begini? Ayo
berangkat deh.” ujar Allen tak senang. Ia harus berpikir untuk menerjemahkan kalimat
Arche barusan.
Anne mendelik pada Implosi “Implosi, kuharap kau tidak mengacau lagi dengan
alasan ingin menguji atau segala macamnya.”
“HEH! Ya sudahlah, toh hasratnya kurasa tak buruk-buruk amat kalau sekedar
menjaga si pikun.”
“Kakak Implosi tidak sekalian ikut saja? Makin ramai makin seru kan?” tanya
Allen.
“HEH! Kau lupa Air dan Api tak boleh bercampur? Dasar Pikun!” ujar Implosi
sembari mengepalkan tangannya pada Allen “Lagipula aku takkan tahan dengan
pesolek penunjuk jalan kalian! Hasrat secuilnya pasti membuatku naik darah!”
Anne menengahi sebelum terjadi pertengkaran kedua “Baik, kurasa kami bisa
pamit.” Ia memandang sekeliling “Ark?”
Tanpa dinyana, Ark telah menghilang. Ia datang tanpa suara, bergerak tanpa
suara, dan pulang juga tak ditemani suara.
“Kakak Ark sudah pergi habis kakak Anne marah tadi. Kakak Ark juga titip
pesan untuk hati-hati di jalan.” ujar Allen.
“HUH~ aku tak suka melakukan ini juga tapi,” Implosi memutar Plakat Platinum
Hitamnya. Ia membuang muka sebelum berkata “Semoga Hasrat Dark Nature selalu
menyinari kalian!”
Seperti sebelumnya, Implosi kembali mengejar matahari senja. Ia pergi dengan
jejak api yang kali ini terlihat lebih bersahabat.
“Nah ayo berangkat! Sara tidak bisa menunggu lama-lama.” ujar Allen yang
terlebih dahulu melangkahkan kakinya. Akhir senja menuntun kepergian mereka.
Gelapnya malam mulai merongrong tapi secercah sinar harapan justru hadir bagi
mereka.
Hilangnya matahari membuat sosok bayangan semakin kuat mengental. Dari
baliknya pulalah, sosok lain bersembunyi mengawasi mereka bertiga.
Chapter 9
Petir, Air, dan Perjalanan
Hujan deras kembali mengguyur malam. Lembah Maltayr yang semula sepi jali
menjadi seram rusuh. Makhluk-makhluk aneh mulai muncul. Lolongan dan teriakan
menggasak ketenangan lembah Maltayr. Lolongan itu tak memperlihatkan kesan
bersahabat. Dan semakin dekat terdengar semakin terasa meresahkan, menyayat,
sampai pada titik dapat membuat pendengarnya gila. Begitulah kodratnya teriakan para
Were-Mud; para manusia-lumpur yang terkutuk.
Allen, Anne, dan Arche sempat merasakan keroyokan para Were-Mud di tengah
perjalanan. Jumlah lawan yang tanpa habisnya membuat mereka kesulitan. Luka-luka
yang lama mengering membuat tiga orang ini mundur sementara. Mereka berlindung di
dalam gua yang dirasa cukup aman.
Gua itu lembab dengan langit-langit setinggi tiga tombak. Aromanya yang dingin
seakan menambah ngilu beku sang hujan di setiap sudut tulang. Tetesan-tetesan air
sesekali merembes dari sela-sela lumut hijau yang bisu. Tanah dan batu yang sudah
becek turut menambah kesuraman gua itu. Mereka berdiam di pojok gua yang berada
jauh di dalam dan juga terhalang oleh tiang stalagtit besar. Tapi jaraknya cukup pula
bagi mereka untuk melongok ke luar.
Anne menyalakan api dari Plakat Platinum Hitamnya. Sinarnya yang pendek
hanya mencapai radius 5 langkah dari posisi mereka dan tertutup oleh tiang stalagtit.
Agar orang luar tak merasa kontras cahaya, Allen juga memberikan nyala api yang
digantung di atas pohon dekat mulut gua. Selain itu, kedua Darikmaster ini sama-sama
berdoa dan menggunakan Sumbat Suara agar suara mereka tak terdengar ke luar.
“Bosan…” keluh Allen. Ia duduk melipat lutut, bergoyang ke kiri dan kanan.
“Bersabarlah.” ujar Anne sembari mengusap rambut Allen “Setelah malam ini
kita akan melanjutkan kembali perjalanan.” tambahnya. Anne kemudian mengalihkan
perhatian pada Arche “Luka anda masih sakit tuan?”
Tangan kanan Arche dibalut perban. Rona merah darah merembes dari kain putih,
melingkari perban dan berlekuk jejak geligi.
“Sudah tidak apa-apa.” Arche memandangi lengan kanannya “Aku sama sekali
tak menyangka kalau Were-Mud bisa mempunyai gigi setajam pedang. Aku terlalu
meremehkan mereka hanya karena mereka terbuat dari lumpur.” Kesal dan kecewa.
Terlihat sekali dari genggaman tangan kanan Arche yang dikeraskan.
“Tuan,” cegah Anne, ia memegang tangan Arche. Pandangan penuh perhatian
Anne terpaku hanya pada Arche “Anda jangan menggerakkan tangan anda dulu bila
ingin luka ini tersambung kembali.”
Arche tersenyum “Baik. Nasihat Penyembuh setara dengan satu nyawa.”
Allen memandangi mereka berdua. Sedari tadi tangan Anne tak lepas dari Arche.
Begitupun Arche juga tak menjauhkannya.
“Ehem… dunia milik berdua… aku iri.” celetuk Allen “Padahal aku juga lecetlecet.”
Allen pun menjauh dan duduk di pojokan. Merangkul lututnya sendiri dan
misah-misuh. Melihat ini, Anne melepaskan tangannya, tidak terkejut, tidak pula gagapgugup.
Ekspresi wajahnya juga tidak banyak berubah, ia tetap lembut.
“Jangan iri Allen, aku tak bermaksud melupakanmu kok. Lagipula, aku hanya
khawatir tangan tuan ini kembali lepas akibat ulahnya sendiri.”
Anne mengecup Plakat Platinum Hitamnya. Ia kembali berbisik. Luka-luka Allen
menutup perlahan. Ia beralih pada Arche.
“Nona, kurasa anda tak perlu lagi menguras tenaga anda untuk menyumbat darah
ini.” cegah Arche, tangan kekar itu menangkap jemari lembut Anne
Anne tertawa geli mendengarnya.
“Tuan, tahukah anda bahwa kekuatan Plakat Platinum Hitam tidak ada batasnya.
Bahkan untuk menggunakannya pun tidak membutuhkan satu basis Mana11” Anne
menurunkan tangannya, sedikit menepis tangan Arche.
“Itu tak mungkin. Tak ada energi yang abadi di dunia ini!” sergah Arche.
“Tuan Arche, seperti yang telah anda ketahui, tata kehidupan di benua Sol ini
digerakkan oleh kepercayaan atau keyakinan yang dihembuskan melalui kata-kata atau
mantra. Para Mentalist menyebutnya sebagai Fathia dan umumnya mereka
memisahkannya menjadi Mana dan Fana. Walau pada akhirnya setiap kelompok dan
kelas punya istilah-istilah sendiri dalam merumuskan Fathia mereka. Paladin dengan
Din mereka, R-Knight dengan kultur R, kaum Barbar utara dengan Animisma Tribal
mereka dan masih banyak lagi. Dan Fathia inilah yang memiliki unsur keabadian.”
“Apa anda bermaksud mengatakan bahwa dari asal kata Fathia terdapat
pemahaman adanya energi abadi di dunia ini?”
“Benar, tuan Arche.”
“Menarik. Secara Etimologi, Fathia sendiri berarti ‘yakin’, ‘pertama’, dan ‘dasar’
dan bila diberi awalan ‘Ol’ akan menjadi ‘penaklukan’. Aku ingin tahu bagaimana nona
bisa beranggapan bahwa dari kata inilah keabadian ditemukan.”
“Bukankah tuan sudah menjawabnya sendiri? Aku yakin tuan sebenarnya sedang
mengujiku.”
Arche tak menyangka lawan bicaranya itu memahami gelagatnya. Menarik.
Baginya gadis ini menarik.
“Anggaplah aku ini bodoh, nona Anne.” darahnya berdesir halus saat berujar. Ia
menunggu jawaban. Dan ia ingin jawaban tersebut memuaskan dahaga penasarannya.
“Kata dasar Fathia itu sendiri saling berkaitan satu sama lain. Yang menjadi dasar
dari segala adalah yakin. Kita mengakui bahwa ’dasar’ itulah awal. Dan setelah diberi
akhiran ia justru berubah arti menjadi penaklukan. Dan bagi penduduk benua Sol,
penaklukan adalah sebuah ‘akhir’ atau jawaban dari sebuah batas yang tak mungkin lagi
bisa ditempuh. Artinya, dalam Fathia sudah diberi batas awal dan akhir dan tentu segala
yang berada di dalamnya terliputi karena penaklukan membutuhkan energi. Jadi
keyakinan itu sendiri menjadi kekuatan yang menaungi awal dan akhir.”
“Dan karenanya semua terjawab dalam sistem Fathia? Tapi dari yang kudengar,
kalian menafikan ‘Keinginan’. Padahal jelas ‘Keinginan’ eksis dalam manusia. Dan bila
Keyakinan itu sendiri adalah kekuatan maka dengan tidak meyakini artinya peniadaan
eksistensinya bukan? Artinya tidak ada awal dan akhir.” Balas Arche
11 Satuan energi yang dibutuhkan untuk menggunakan mantra atau kemampuan lain. Mana diartikan
sebagai energi yang berasal dari kehidupan. Kehidupan disini menurut para Peneliti benua Sol lebih
menganggap Mana adalah energi permulaan atau energi untuk memulai karena Mana selalu ada dalam
setiap makhluk baik hidup maupun mati. Hanya saja, daya energi ini lebih terasa pada makhluk hidup.
Percakapan panas mereka membuat darah Arche mengalir deras. Yang berujung
pada terbukanya kembali luka di tangan itu. Anne menjawab sembari menyembuhkan
lengan Arche.
“Bukankah itu senada dengan meyakini sesuatu itu takkan habis?Asalkan anda
percaya maka anda tahu bahwa itu abadi. Ia bisa berbentuk Keinginan atau hal lain.
Lagipula setiap energi pada akhirnya akan bersiklus menjadi energi lain. Sama halnya
dengan elemen yang selalu bergerak, menyatu dan berubah. Mungkin inilah yang
menyebabkan siapapun mengatakan bahwa energi itu habis. Tapi dunia ini hanyalah
sebuah kefanaan dalam keabadiannya karena esensi abadi yang sesungguhnya tidaklah
dimengerti manusia. Karenanya, percaya bahwa sesuatu adalah abadi akan membuat
kefanaan itu seakan hilang. Dan percaya itu sendiri adalah sebuah siklus.”
“Retorika menarik. Berarti energi abadi tersebut hanya berlaku bagi kalian saja,
para Darkmaster?”
“Tuan bisa berkata begitu tapi bukan berarti tuan tidak bisa mempercayainya.
Bila kita mencari pada dasarnya banyak hal yang tak rusak oleh waktu maupun daya.
Dan di mata kita, inilah abadi. Bukankah itu sama dengan mempercayai sesuatu abadi
dan menjadikannya abadi dalam lingkup Fathia?”
“Nona benar. Artinya memang sedari awal tidak ada yang luput dari Fathia. Baik
percaya maupun tidak, pada dasarnya eksistensinya tetap ada. Mungkin lebih tepat
dikatakan beberapa yang tak percaya karena tak mampu melihat atau dibutakan.”
Arche tersenyum senang
“Aku terkagum akan kebijaksanaan anda nona. Ucapan nona serasa ucapan
seorang Mentalist yang memahami dunia.”
Anne tersenyum “Itu bukanlah kata-kataku. Kakak Visia yang mengajarkannya.
Aku ini hanyalah Air yang mudah tercampur dan memiliki batasan. Apalah artinya
pengetahuanku ini bila dibanding tuan yang telah mendapat gelar tanpa bantuan guru.”
Anne boleh saja berkata bahwa ‘bukan dunia mereka’ tapi Allen yang terus
memperhatikan tetap berkata lain. Ia terkikik bagai mendapatkan mainan baru.
Dari balik derasnya hujan terdengar lengking kesepian para Were Mud. Makhlukmakhluk
terkutuk setengah manusia itu masih mencari teman untuk menemani bentuk
dan takdirnya. Wujud mereka adalah hasil perbuatan mereka sendiri yang
mempermainkan kata kehidupan dan keabadian.
Menyangka bahwa nyawa manusia bisa dipertahankan dengan kerasnya materi,
padahal kenyataannya tidak. Manusia tetaplah berawal dari lumpur dan berakhir
menjadi lumpur pula. Hanya air saja yang perlahan terus diserap untuk
mempertahankan wujud kemanusiaan itu.
Tapi bumi pun sudah tak mau lagi menyerap air dari tubuh mereka. Karena itulah
mereka merasa sakit saat air menyapa tubuh mereka. Mereka menjawab cinta sang
hujan dengan kebencian. Merekalah salah satu bukti nyata dari pelanggaran siklus.
Anne mematikan cahaya api lembut miliknya. Tiga orang itu memperhatikan
bagaimana para Were-Mud itu masih terus menangis saat melewati gua itu. Mereka tak
lagi memiliki rasa penasaran akan gua dan tak lagi memiliki keingintahuan akan apiyang-
tak-padam-oleh-air yang tergantung di atas pohon. Mereka menjauh begitu saja
meratapi nasib yang mereka ciptakan sendiri. Anne menyalakan kembali api lembutnya.
Wajahnya mulai sendu saat menatap punggung para Were-Mud. Rintihan mereka di
balik hujan membuat hatinya terguncang lemah. Ia menatap angkasa, satu-dua kali
kilatan kecil muncul di balik awan. Ia terdiam sejenak, membiarkan rasa tak berdaya
menghantamnya. Ia merenung, membiarkan sanubari hatinya berkata dan mencari
petunjuk. Tapi perenungannya terhapus oleh keluhan angin yang berada di dekatnya.
“Fuuh kalau begini caranya berapa lama kita akan sampai. Padahal aku bisa saja
menggunakan area level 5 untuk sampai ke sana tapi…” seloroh Allen sembari melirik
Arche.“
Allen… itu tak sopan.” Anne menasihati dengan sedikit menurunkan alisnya.
“Aku tahu. Luka ini memang kelengahanku dan karenanya kita tak bisa
melanjutkan perjalanan dengan benar. Tapi, tak ada gunanya juga kita sampai di sana
lebih cepat.” jawab Arche
“Apakah tuan mengatakan ada sesuatu yang akan menghambat? Seperti segel
misalnya.” tanya Anne
“Nona cepat tangkap. Benar, Gua yang kalian lihat waktu itu memiliki
mekanisme segel yang rumit. Segel yang pertama adalah segel waktu.
Sepengetahuanku, gua itu hanya akan terbuka pada malam ke 20 dari kalender Sinodik
Bulan saja. Sayangnya, aku tak mengerti mengapa.”
Allen dan Anne saling berpandangan. Mereka tahu apa yang dimaksud dengan
tanggalan tersebut.
“Kakak Anne… apa namanya itu… aku lupa.”
“Baris Penadah Bulan. Segel baris satu Darkmaster. Segel yang hanya terbuka
saat bulan mencapai titik balik terkuat fase awal penghabisan atau mudahnya, saat
klimaks bulan purna purnama. Aku tak menyangka gua itu memiliki segel itu dan juga
segel Grand Matilda.”
“Segel Grand Matilda sendiri adalah segel keduanya. Kami mengikuti penamaan
yang pernah diberikan seseorang padanya. Dan memang, segel itu sama misteriusnya
seperti segel atau gembok Matilda yang hanya bisa dibuka oleh pembuka tertentu
padahal Mentalist benua Sol telah setuju bahwa Segel pembuka Matilda adalah segala
kunci pembuka pintu maupun jebakan apapun. Oleh karena itulah, kami R-Knight
Scutleiss hanya mengetahui sebatas ini saja karena sampai sekarang segel itu tak pernah
berhasil kami buka.”
“Dark dan Wish. Mungkin ada kaitannya dengan sejarah masa lalu Darkmaster
dan Wishmaster. Apa dalam gua itu masih ada segel lain?”
“Mungkin saja Permaisuri Vex tahu karena beliaulah pemilik segala rahasia
kerajaan Erune,” Arche mendelik pada Allen “Yang telah kau SIRAP sampai beliau
LINGLUNG.”
Allen menepuk kepalanya “Dududuuh…ini makanya aku menyarankan
penggelapan level satu saja. Kalau dibuat lupa minimal kan masih bisa ditanyai hal-hal
lain.”
Arche mafhum mendengarnya tapi untuk saat ini bukan masalah ini yang ingin
diutarakannya.
“Dan perlu kuingatkan, Grand Emblem, salah satu dari 11 Segel pembuka
Matilda yang diberikan oleh permaisuri akan dibutuhkan untuk membuka gerbang
pertama.”
“Ooh, kalau soal itu sih aku sudah tahu dari kakek Greul. Makanya tongkat tak
jelas itu kubawa.” ujar Allen senang dan menunjukkan tongkat Grand Emblem.
Mata Arche membulat mendengarnya. Antusiasme langsung melejit dari
lidahnya… bukan karena Grand Emblem.
“Greul? Maksudmu Greul Fouwl sang Darkmaster?”
“Wah aku baru tahu kalau kakek Greul terkenal.” kelakar Allen.
“Entah takdir atau tidak, Greul Fouwl dulu pernah membantu keluarga kami 40
tahun yang lalu. Dan karenanya keluarga kami juga sangat ingin membalas budi pada
kakek Greul.”
Arche mendadak berlutut di hadapan Allen.
“Tak kusangka ternyata aku, Arche Efeether dari keluarga Feather, akan
mendapat kesempatan membalas budi ini.”
“Walah… kita kan sama–sama teman perjalanan. Tidak usahlah pakai acara balas
budi segala.”
Anne menyentuh bibirnya dengan telunjuk. Ia mencoba merunut apa yang terjadi
40 tahun lalu.
“Kasus itu… 40 tahun lalu setahuku ada kasus yang membuat kakekmu dipecat
akibat berhubungan dengan rakyat biasa dan menihilkan janjinya pada Dark Nature.
Aku mendengar dari Rex dan kak Visia bahwa kakek Greul juga sempat berhubungan
dengan seorang Wishmaster dan karenanya digugat habis-habisan oleh kedua kubu.
Sayang sekali aku tak tahu bagaimana detilnya.” Ujarnya.
“Aku tahu, aku tahu! Wishmasternya itu nenek Grendel di kebun teh Gratios”
teriak Allen. Tak dinyana Arche membelalakkan matanya. Ia tertarik pada topik
Grendel dan kebun teh Gratios ini dan mulai membicarakannya dengan Allen. Anne
pun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Seorang Wishmaster ternyata ada di
desa Exemptio? Andai berita ini diketahui oleh Rex maka alamat keributan akan terjadi
akibat ikatan perjanjian leluhur. Anne bungkam saja memperhatikan Allen yang terus
bercuap-cuap pada Arche. Tapi, meski begitu, toh ia juga mendiamkan keberadaan
Saravine yang juga menjadi Wishmaster. Entah apa pertimbangannya…
“Kembali pada topik utama. Andai kita bisa pergi lebih cepatpun juga akan lebih
berbahaya.” ujar Arche mengembalikan jalur pembicaraan pada relnya.
“Eh, mengapa?” tanya Allen.
“Bukankah sudah kubilang barusan kalau Gunung Farangi adalah salah satu
daerah perbatasan antara Scutleiss dan Central Hyddrick yang sedang dalam stagnasi
diplomasi pasca agresi. Segala macam atribut yang dianggap berbahaya bisa saja
diserang atau paling tidak akan menerima interogasi. Dan itu berbahaya bagimu,
Allen!”
“Berarti harus terbang lebih tinggi dari awan.” Allen memperagakan angin di
atas awan.
“Itu juga tak bisa. Telik Sandi dari Scutleiss akan menembak jatuh kita dengan
busur sisir mereka. Lagipula, daerah udara dalam teritori itu dikendalikan oleh Afvati
Raita, Mentalist bertitel SSS dan F dari Hyddrick.”
Anne bergetar dan berucap lirih “Petir…”
“Nona benar… berada dekat awan setali tiga uang dengan minta dipanggang.”
“Jalur air tak mungkin. Aku tak bisa membawa kalian menyelam jalur Air terlalu
lama. Jalur darat?” tanya Anne.
Arche mengambil satu bulu Merak dari punggungnya dan mulai menulis di tanah
“Untuk menuju gunung Farangi kita harus melewati tiga kota dulu. Grtright lalu
Schwertvalle dan terakhir Amarantie Aumerthis. Kota pertama dan kedua tidak ada
masalah tapi kota terakhir ini…”
“Kota pertama dan kedua tidak masalah kan? Berarti bisa dilewati begitu saja
kan?” tanya Allen
“Benar, tapi berlama-lama dalam kota ketiga juga dapat menjadi masalah.”
“Aku menduga tuan hendak berkata bahwa kota Amarantie Aumerthis dijadikan
basis komando Kerajaan Scutleiss yang sedang bersitegang dengan Hyddrick.” tebak
Anne.
“Nona benar lagi. Berlama-lama dalam kota yang rawan seperti itu bukanlah
pilihan baik mengingat misi utama kita adalah Gunung Farangi. Akan lebih baik
menghindari kontak mata dengan prajurit Scutleiss. Bukannya aku ingin meremehkan
kalian tapi berhadapan dengan R-Knight dan Telik Sandi Erune dalam lokasi mereka
sama saja bunuh diri dan itu sudah dibuktikan dengan kegagalan berkali-kali agresi
pasukan Central Hyddrick,” Arche melirik Allen sebelum melanjutkan
“Terutama untukmu. Kau harus tahu bahwa Telik Sandi Scutleiss masuk jajaran
10 besar terbaik benua Sol. Mau menyamar seperti apapun kau pasti bisa dikenali di
sana apabila lukisan wajahmu tercetak di perkamen Rosetta.”
“Uugh… itu makanya aku benci Telik Sandi. Curigaannya reseh banget.” celetuk
Allen dengan pipi yang dikembungkan.
“Jadi saran tuan adalah untuk menikmati perjalanan saja dan baru menginjak
gunung Farangi tanggal 20 siang hari?” tanya Anne.
“Aku tidak setuju! Sara tidak bisa menunggu lebih lama! Apa memang tidak ada
cara lain seperti ngumpet di mana begitu?” keluh Allen.
“Dengar baik-baik Allen…” Ujar Arche dalam nada penuh tekanan
“Keberhasilan dari sebuah misi bergantung pada individu yang mengembannya. Akan
percuma saja bila kita mampu mencapai lokasi lebih cepat tapi berakhir dengan
tertangkap atau lebih buruk… kematian.”
“Tapi itu kan kalau ketahuan.” erang Allen.
“Kau yakin bisa bersembunyi selama sehari di daerah rawan? Dengan resiko
sekalinya tertangkap akan kehilangan kesempatan untuk masuk ke Gunung Farangi.
Aku yakin kau tidak mau menunggu sebulan lagi. Dan, menunggu di gunung Farangi
sendiri bukan opsi yang bagus. Kota dan daerah gunung itu memiliki monster yang
seram. Dan aku yakin kau bukan tipe yang suka bertarung dan membunuh jadi pastinya
kau tidak ingin terpaksa menggunakan kekerasan.”
Allen manyun mendengarnya. “Cuma bisa masuk tanggal 20.”
Tiba-tiba saja sebuah hal terlontar dari mulut Allen “Kakak Anne… itu artinya
kita punya waktu 2 hari lagi. Bukannya kemarin baru saja…” Allen melirik Arche
sejenak. Ia memainkan tanganya dan berpantomim menggambarkan Dark Assembly.
Arche hanya mengerutkan alisnya memperhatikan kode rahasia-rahasiaan mereka
berdua.
“Berarti… kita punya waktu dua hari… ah tidak, dua malam. Segel Baris
Penadah Bulan hanya bisa dibuka juga pada jam-jam tertentu setelah bulan purna
purnama tanggal 20 hendak berganti rupa. ”
“Tengah malam.” Arche menambahkan.
“Kira-kira Sara bisa menunggu tidak ya…” keluh Allen.
Tambah lagi satu masalah. Semakin lama halangan untuk mendapatkan Dark
Grail semakin terbentang luas. Halangan segel dan waktu. Suasana muram melanda
Allen.
“Tapi setidaknya… kita bisa sampai di sana dalam 1 hari. Setelah malam ini
lewat kita bisa melanjutkan perjalanan sampai dekat kota Amaranthie Aumerthis atau di
antara dua kota barusan… betul tidak tuan Arche?” ujar Anne
“Kurasa nona benar. Apabila siang hari kita sudah sampai maka sore harinya
dapat dimanfaatkan untuk menyusupkan Allen dan melewati penjagaan Amaranthie.”
Allen tersenyum senang. Artinya, satu-satunya yang harus ia lakukan hanyalah
menunggu malam ini lewat.
Menunggu… bukanlah kelebihan Allen. Angin yang selalu bergoyang ke kiri dan
kanan ini sudah mulai menunjukkan kebosanannya. Ia tak betah tinggal lama-lama
dalam ruangan yang sempit tanpa melakukan apapun kecuali memandangi luka Arche
yang masih belum mengering. Tampaknya benar bahwa taring para Were-Mud mampu
menolak masuknya daya hidup. Pandanganya beralih keluar. Ia melihat para Were Mud
di seberang sana masih saja meratap bersama hujan. Tiba-tiba saja pikiran nakal Allen
berkelebat.
“Eh, kakak Anne… sekarang sedang hujan kan?”
“Iya,” Anne memperhatikan bola mata Allen yang semakin berbinar
“Tampaknya aku tahu apa yang ada dipikiranmu…” lanjut Anne setelah melirik
Arche sekilas.
“Yah yah?” Allen mendekati Anne “Ayo lakukan dong kakak,” Allen mengusapusap
pipi Anne dengan pipinya “Mumpung sekalian kita kesulitan gara-gara si Lumpurlumpuran
itu.”
Anne kembali melirik Arche. Dan kali ini mata mereka bertatapan, jengah. Ia
langsung melempar pandangan matanya kembali pada Allen.
“Tapi aku malu…” bisiknya lirih.
“Ah kakak, anggap saja Arche itu aku. Kan sama-sama angin ini. Yah-yah kakak
Darkmaster Air, kakak tercantik, kakak terbaik, dan terkuat.”
Wajah Anne kembali memerah. Ia menundukkan mukanya dalam malu. Sinar
lembut dari api kecil itu membuat roman merah mukanya tergambar jelas, tidak seperti
kala senja. Melihat roman baru gadis itu, mau tak mau Arche tergelitik untuk bertanya.
Rahasia apa yang mampu membuat gadis ini melayu lembut merona seperti ini.
“Boleh kutahu apa yang hendak kau minta pada nona Anne?” selidik Arche pada
Allen.
“Wah kamu belum tahu ya? Kakak Anne ini…”
Anne tiba-tiba membekap mulut Allen.
“Bu… bukan apa-apa… tak usah tuan pikirkan.”
Allen melirik pada Anne yang gelagapan. Matanya menyipit senang. Ia menggigit
tangan Anne. Pekikan halus memantul dalam gua itu. Allen langsung mengerahkan
kemampuan nomor wahidnya: KABUR. Ia langsung berlindung dibalik Arche.
“Kalau kakak tidak mau nanti kuceritakan pada Arche yah. Sama saja kan
hasilnya tapi… kalau kuceritakan…” mendadak senyum jahil Allen melayang “Pasti
ada bumbu-bumbu di dalamnya.”
“Dasar jahil!” jerit Anne panik.
Arche hanya memperhatikan saja, bagaimana rupa gadis itu sekali lagi
bersinkronisasi dengan Allen yang jahil. Arche merasa bahwa Anne dapat menjadi
wadah yang terus mengikuti kemana bentuk dan arah digerakkan. Menjadi
penyeimbang dalam suasana.
“Bila diijinkan aku akan sangat senang mengetahui apa yang ingin nona
lakukan.” pinta Arche.
Anne terdiam sejenak. Ia menggembungkan pipinya dan memandang keluar.
Memang hujan semakin deras dan Were-mud pun semakin merana karenanya. Teriakan
mereka semakin melengking, semakin menyakitkan. Gembung pipi Anne perlahan
melenyap tergantikan oleh raut emosi biru.
Mata Anne perlahan menitikkan air mata. Ia tak tahan dengan raungan berat
menyayat itu. Sebagai sang air, ia dapat merasakan resonansi getar jiwa para makhluk
yang berada di sekelilingnya. Air mengerti kepedihan dan kesenangan yang berada
disekelilingnya meski tidak sehebat Wishmaster yang mengerti keinginan. Air, selalu
dikuasai oleh emosi. Dan wadah yang dimiliki Anne adalah kelembutan.
“Baiklah akan kulakukan.” ucap Anne.
“Asyiik!” Allen jejingkrakan senang.
“Memang seharusnya kulakukan sedari tadi… tak sepantasnya aku bersenangsenang
saat terdapat nyawa yang sedang merintih…” lanjut Anne dalam nada lirih.
“Maksud kakak?” Allen melihat keluar. Melihat apa yang diperhatikan Anne.
Were-Mud, eksistensi manusia-yang-bukan-manusia.
“Astaga!”
Allen kembali memandangi wajah Anne “Kakak Anne mau serius?”
Anne berdiri, itulah jawabannya. Ia berjalan menuju mulut gua. Ia melepas dua
scarf putihnya, melilitnya di antara kedua bahu, melewati tengkuknya. Plakat Platinum
Hitam terekspos jelas, tergantung oleh seutas tali dari manik-manik Lumie pada leher
Anne. Manik-manik itu berwarna sama dengan emosi pemiliknya saat ini; biru.
Satu Sumbat Suara ditarik oleh Anne. Langkahnya mulai terdengar keluar. Para
Were-Mud mulai berdatangan mendekat. Teriakan-teriakan para Were-Mud mulai
merasuk telinga, merasuk batin dan mulai menyayat kewarasan. Tapi Anne sudah lebih
dulu siap dengan hal yang membatalkannya.
Anne menarik dan meletakkan Paraluna Aqua Thyme sejajar dengan
pinggangnya. Matanya menutup. Ia mendengarkan dengan seksama deru hujan di balik
teriakan. Paraluna-nya mulai menebar aroma air bersih. Segar, menyejukkan dan
menghapus bias lelah pada siapapun yang menciumnya. Lengking teriakan yang masih
menembus benar-benar tenggelam dalam syahdu ketenangan.
“Arche, Jangan sekali-kali kamu memejamkan mata. Apa yang kuminta tadi tak
selangka apa yang akan dilakukan oleh kakak Anne sekarang.” Bisik Allen pada Arche.
Tanpa disuruh pun Arche takkan menutup matanya. Ia penasaran, benar-benar
penasaran dengan apa yang akan gadis itu lakukan. Bola matanya tak lepas satu kalipun
dari punggung gadis itu. Tak selembar kedip mengganggu matanya.
Anne bergerak, ia melangkah ringan, memutar dirinya bersama dengan Paraluna.
Ia meloncat keluar dari gua –separuh melayang. Tubuhnya membelah derasnya hujan.
Ia berhenti sebentar, tiga langkah dari mulut gua. Mata lembut itu menatap jatuhnya
hujan yang mendera. Runtuhan air dari langit bersentuhan dengan kulitnya, bajunya,
tubuhnya dan dengan matanya. Titik air mata turut hadir mengikuti runtuhnya air dari
awan menuju tanah.
Anne mengangkat satu tangannya. Ia terdiam khusyuk. Tangan itu perlahan turun
dan membasuh mukanya, turun ke dada dan diam. Keheningan menerpa, meluas,
membuat sang hujan menyuarakan kebisuannya dalam rintik yang makin deras.
Anne kembali melangkah. Sebuah lingkaran kecil tercipta dari gerak sepatu
mungil birunya yang mulai basah oleh coklat tanah. Ia berputar, terus dalam lingkaran
kecil lalu besar. Rambut pendeknya mengembang terbawa lingkar geraknya.
Setiap gerakannya menimbulkan suara yang jelas. Were Mud mulai terpancing.
Tapi Anne tak berhenti. Ia menengadah, diam, berputar, dan mengangkat Paralunanya.
Bagai dewi air, Anne membuat arus air seolah menyatu hanya pada dirinya. Bagai
bidadari, ia mempesona makhluk apapun. Mereka tertegun menyaksikan keindahan itu.
Bahkan Were Mud tak lagi merasakan sakit derita dari air. Mereka menitikkan air mata
dari lubang kesepian yang telah lama mereka tinggalkan. Sepi air mata itu pun bahkan
menggugah Allen dan Arche. Mereka turut meneteskan air mata walau sekedar
menyaksikannya.
“Tarian Air, sang kehidupan… tarian penyuci nyawa.” ujar Allen.
“ … Indah.” ujar Arche terpana.
Arche tak mengerjapkan mata. Ia melihat sosok basah Anne terus menari, terus
berpindah tempat dengan anggunnya. Selendangnya berkibar hidup. Basah air hujan
sama sekali tak mengganggu lambaian halus dan mengundang dari selendang. Kilau
putih gaun sang gadis asri terpadu dengan kulit putihnya. Tiada keringat, hanya air mata
yang berbaur dengan lunturnya air hujan. Pada saat itulah riak air terbentuk di udara
dari lingkaran-lingkaran tarian Anne. Riak itu meluas dengan lembut bagai ombak
halus. Terus meluas, menjadikan kubah air transparan yang mencakupi Anne dan Were-
Mud di dalamnya.
Jarak Anne dan Were-Mud semakin memendek. Gerak pengidolaan, terkadang
kasar lagi mengancam datang dari Were-Mud. Dan Anne meliuk mulus di antara cakar
dan rengkuhan Were-Mud. Gemulainya bagai Dewi yang yakin tidak akan menyentuh
satupun esensi pemujanya. Satu yang pasti, mereka seolah terhisap oleh gerak tari Anne
-secara sukarela. Dalam hitungan satu sampai sepuluh mereka telah konstan bergerak
memutari Anne dan menjadikannya sebagai pusat akhir tujuan.
Arche tak luput dari pesona ini. Bibir Arche mulai kering tak sempat terusap oleh
sang air dan ia tahu, ia membutuhkannya. Ia berdiri, hendak mendekat pada sosok
malaikat air di luar sana. Saat kaki kanannya melaju dan menyentuh bumi saat itulah
sebuah goncangan menghentikannya! Arche menoleh. Ia tak mengerti mengapa Allen
merangkulnya.
“Jangan ke sana! Apa kamu mau mati!?”
Arche terhenyak. Mati? Apa maksudnya? Bukankah ia ingin memperhatikan sang
dewi. Ia tidak berharap melihat kematian. Ia tidak sedang melihat kematian. Ia tidak
menuju kematian. Arche tak peduli. Ia kembali melangkah mendekat, memberikan
seluruh curahan pikiran dan tenaga tuk melihat dan memuja sang dewi dari dekat.
Langkah Arche menyeret tanah. Becek basah tanah gua tak lagi diperdulikan. Ia
hanya butuh satu langkah lagi untuk mencapai tirai gua. Bila ia membukanya maka ia
akan melihat sosok itu lebih dekat. Ia tak ingin kalah oleh Were Mud yang sudah
merubung nyaris menghilangkan sosok Anne dari pandangannya.
Saat itulah Anne menghentikan gerakannya. Semua riak dengan cepat kembali
tertarik pada pusatnya dan…
BUM!!
Aroma keras meledak bagai Tsunami yang menyapu Were Mud. Mereka diam tak
bergerak. Suara suci seolah membekukan gerak mereka. Mereka menangis, sekali lagi
mereka menangis… tapi tangisan mereka terdengar bahagia. Seolah terselamatkan dan
terangkat menuju wilayah suci lain. Terlepas dari beban kutukan yang mengikat jiwa
mereka. Wujud mereka perlahan runtuh layaknya pasir yang meluruh tanpa air. Dan
pasir itu pun larut bersama tanah, terbawa pergi membantu siklus hidup yang lain.
“Hampir saja kamu menjadi seperti mereka.” Allen menghela napas lega. Ia
merasa sehabis menarik gajah Phonic yang bermassa 100 kati.
Arche mendesis.
“…Dewi kematian.”
Untuk pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti ini di hadapannya. Daya
serang massif yang hanya menghilangkan nyawa sementara membiarkan alam segar
bugar. Tak hanya itu, esensi musuh pun lenyap.
Inilah sebabnya mengapa Darkmaster Air dijuluki Darkmaster terkuat. Tarian Air,
atau Tarian Siklus adalah tarian yang mampu membawa roh manapun menemui
Penciptanya.
“Tarian kematian…” desis Arche sekali lagi.
“Bukan… itu tarian kehidupan.” Jawab Allen.
“Tapi apa kau tak melihatnya? Dia mematikan nyawa mereka!”
“Aku tak mengerti… tapi kalau tak salah kata kakak Anne… kehidupan dan
kematian itu hanyalah sebuah siklus saja terus…” Allen menggaruk kepala, memutar
bola mata dan akhirnya menepuk tangannya dengan O besar di mulut “Dengan adanya
kematian berarti alur kehidupan lain akan masuk… iya kalau tidak salah begitu. Ini juga
yang tadi kalian bicarakan kan? Soal siklus-siklus dan Fathia-Fathia tadi.”
Arche memandang takjub pada Anne. Ia tak menyangka kalau di balik
kelembutan air tersimpan sebuah makna lain. Ia ingin menghampiri gadis itu dan
bertanya lebih lanjut. Tapi sekali lagi Allen mencegah.
“Tunggu sebentar, tarian ini masih belum selesai. Kalau tidak salah ada bagian
penutupnya.”
Benar, sekali lagi Anne bergerak. Kali ini Paralunanya dimasukkan, dan ia
bergerak dalam keluwesan tubuh setara dengan penari istana. Senyum tulus sekali lagi
terbetik pada bibir basah itu. Anne menengadahkan tangannya dan terdiam…
gumpalan-gumpalan hujan berkumpul pada kedua tangan Anne dan dibelai dengan
lembut. Ia bagai seorang dewi yang menggendong bayi.
Gerakan Anne terhenti saat melihat bilur terang di balik awan mendung.
BLAR!!
Sebuah petir mengguncang dan merobek angkasa. Langit patah lalu kembali utuh
lagi, tapi tidak bagi Anne. Bola matanya mengecil. Tubuhnya bergetar keras. Air yang
digendongnya buyar begitu saja.
BLAR!!
Petir lain menghujam, membelah dan membakar pohon besar tepat tiga langkah
dari Anne. Pohon itu terbelah rubuh hendak menimpa Anne. Mata lembut Anne hanya
bisa membelalak diiringi getar tubuhnya yang makin hebat.
“Kakak Anne~!” dalam keterkejutan, Allen menarik Plakat Platinum Hitam.
Arche melesat cepat mendahului Allen. Ia sudah lebih dahulu menerjang hujan
dan menarik tombaknya!
“R-Verse!”
Arche tidak menyabet, ia justru menggunakan Tombak 5 barisnya untuk menahan
gelondongan pohon itu. Sebuah erangan tertahan meluncur dari mulut Arche kala
gelondongan itu menindihnya. Darah terpercik dari tangan kanannya, membasahi
mukanya dan Anne yang terlindung.
“Kekuatan level 5, Area level 5, ANGIN!”
Allen menerbangkan gelondongan itu ke udara. Lalu bagai dikelilingi angin
tajam, gelondongan besar itu terbabat menjadi serpihan-serpihan halus.
Arche memandangi Anne yang masih gemetaran. Mata gadis itu seolah terlempar
ke masa lalunya. Arche memeriksa denyut nadi sang gadis. Kacau! Ia yakin ada sesuatu
yang menyebabkan gadis ini kejang seperti ini. Ia melihat ke udara, awan-awan besar
hitam masih memperlihatkan kilatan-kilatan putih. Setiap kali petir berkumandang, saat
itulah Anne kejang-kejang.
“Phobia...Asterra phobia…” bisik Arche mengenali gejala fisik Anne.
Masalah tak hanya selesai di situ saja. Sang petir seolah tak senang dengan apa
yang terjadi. Patahan-patahan semakin cepat bermunculan. Perlahan mengintai di balik
awan. Satu demi satu tembakan petir menghias angkasa dan sesekali menghantam
pohon di sekitar mereka.
“Waduuh~ aku tidak bisa membelokkan tembakan petir.” keluh Allen.
Allen benar, sekuat-kuatnya angin tetap takkan bisa membelokkan petir. Setahu
Allen hanya ada tiga orang Darkmaster saja yang bisa berurusan dengan petir. Yang
pertama adalah Fey Armia, yang kedua adalah Litosu Rex, dan yang ketiga adalah Ark.
Tapi mereka bertiga sedang tidak ada di sini…
BLEDAR!
Tepat di saat itulah sebuah petir lain berkumandang! Warnanya tidak cerah
melainkan gelap dan bersumber dari bumi. Allen tertawa senang, ia tahu jelas petir apa
barusan.
“Dark Fracture!”
Sosok berbaju hitam melompat ke ranting di atas mereka. Arche sempat bersiaga
tapi ia juga mengenali sosok yang berdiri tegak di atas ranting pohon itu.
“Kakak Ark~!” teriak Allen senang.
Benar, Damien Ark alias Dark Cloud, Darkmaster bernomor 1. Scarf hitam
panjang tanpa bentuknya terkibas oleh angin kencang dan air hujan yang deras. Arah
wajahnya menantang pasti pada sang awan liar di atas sana. Ia pun menarik Blitzclaw
keluar dari Plakat Platinum Hitam dan menggenggamnya di tangan kanan. Apa yang
hendak ia lakukan?
Guntur semakin nyaring berbunyi. Pekik garangnya menakuti seisi hutan Maltayr
di balik hujan yang menangis.
“Kakak Ark? Kok kakak bisa di sini?” teriak Allen.
Ark diam tak menjawab. Ia menepis Plakat Platinum Hitamnya. Tanpa suara,
tanpa perintah, sengatan listrik berwarna hitam meluncur dari Plakat itu menuju sang
awan. Ukurannya besar dan menyilaukan mata.
Patahan lain tertembak dari awan liar. Arahnya tepat pada Ark yang bertengger di
atas pohon. Tidak, bukan mengarah tepat tapi memang diarahkan. Blitzclaw milik Ark
memang ditujukan untuk menjadi sasaran dan juga penghisap tenaga petir. Sekali lagi
Plakat itu ditepiskan. Sebuah petir hitam dengan ukuran dua kali lipatnya tertembak
pada sang awan. Sebuah rongga kecil menyeruak dari balik mendung. Ark menoleh dan
mengibaskan kepalanya
“Oke!” ucap Allen.
Allen menarik Sylphind Rhyme
“Area level 2! Kekuatan level 3! ANGIN!”
Paraluna itu dikibaskan bahkan ditambah puntiran badan Allen. Taifun seukuran
1 tombak menderu deras menghujam naik menuju awan. Ark, tanpa diduga meloncat ke
inti taifun tersebut dan terbawa naik menuju ruang awan.
Petir-petir hitam dan petir liar saling bersahut-sahutan. Berbunyi silih berganti.
Terangnya semakin jelas terlihat diiringi suara yang datang terlambat. Keduanya
terlihat saling berperang bagai dewa-dewa dalam mite kuno benua Sol.
Hening… awan mendung perlahan menghilang. Menyisakan rintik hujan yang
bersenandung lebih cerah. Sosok hitam meluncur turun dari awan.
“Area level 5, kuasa Sylphind Rhyme menari bersama siulan, Angin.” mantra
Allen terlontar dan angin berhembus lembut menuju Ark.
Bagai menabrak awan empuk, Ark mendarat dan tergantung di udara. Angin itu
lalu membawanya lembut menuju mereka. Dan kala itu, Allen melihat kondisi Anne.
Ia berujar
“Astaga! Aku lupa kalau kakak Anne takut petir! Seharusnya tadi aku tak
memintanya untuk menari...”
Tanpa diduga Arche melayangkan sebuah pukulan… yang tak dihindari oleh
Allen. Pukulan itu menerpa wajah Allen dan membuat bibirnya pecah. Arche juga
terkena imbasnya. Ia langsung mengerang, darah mengucur dari luka di tangannya. Tapi
luka tidak menghentikannya untuk menghardik Allen.
“Lupa!? Jangan-jangan SEBENARNYA kau tak pernah peduli pada keadaan
sekelilingmu! Apa kau lupa keegoisanmu itu hampir saja melayangkan nyawa temanmu
sendiri?”
Ark mengacungkan Blitzclaw pada Arche. Ia tak suka dengan apa yang dilakukan
Arche. Tapi sebelum ancaman itu tercapai, tangan Allen sudah terlebih dahulu
menghentikannya.
“Maaf… kamu benar…Arche.”
Allen yang biasanya banyak bicara terdiam setelahnya. Ia bungkam. Sama seperti
Ark.
“Kita harus membawa dia ke tempat yang aman dan mengobatinya.” Desis Arche.
Allen tak protes. Matanya mengikuti Arche yang menyerahkan tubuh Anne pada Ark.
“Kita harus bergegas ke kota Grtright.” Arche mengembalikan R-Versenya dan
kembali memanggil R-Anima. Pecahan-pecahan zirahnya melayang membentuk Merak
putih Piy.
Piy yang baru saja terbentuk memandang sekeliling. Ia mengangkat paruh dan
cakarnya. Ekornya merangsek naik dan ia merendahkan badannya. Mata merah itu
menatap tajam pada satu sosok: Ark.
“PIY!”
Piy terkejut. Ia sama sekali tak pernah mendengar majikannya membentak dirinya
begitu rupa.
“Tahanlah emosimu... kita harus segera bergegas pergi dari sini.” ujar Arche
melembut. Ia terlihat menyesal sekali setelah membentak Piy begitu rupa.
“Aku membutuhkan tenagamu, Piy.” Lanjutnya dalam nada lembut. Ia membelai
Piy dan membuatnya kembali kalem.
Setelah Piy membusungkan dadanya, pertanda tenang, barulah Arche menaiki
Merak tunggangannya itu.
“Arche, kamu bawalah kakak Anne.”
Arche mengalihkan pandangannya pada Allen. Sedikit tak percaya akan kalimat
Allen.
“Dalam hujan begini bakal bahaya buat kakak Anne kalau dekat-dekat awan.”
tambah Allen.
Ark pun setuju. Ia mendekati Arche. Piy kembali hendak mengganas melihat
mantan penyerangnya ini hanya berjarak ½ tombak. Cakar Piy mulai merangsek-meski
tak bisa menyentuh Ark sama sekali. Satu belaian pada tengkuk Piy untungnya mampu
meredam gerakan cakar beringasan itu.
Ark meletakkan tubuh Anne di atas tubuh Piy. Piy sebenarnya, sama seperti kursi
Evallift, gerah diduduki tubuh selain majikannya... perempuan lagi. Bawaannya ingin
berontak dan melempar Anne dari punggungnya, saat ini juga.
“Piy, kumohon padamu... nona ini butuh kecepatan lari-mu yang tak tertandingi.”
bisik Arche di telinga Piy. Piy yang tadinya berangasan kembali kalem lagi. Ia
mendongak, kembali membusungkan dadanya.
“Kami duluan... Area level 5, Angin.”
Angin berdesir pelan dan memantulkan tubuh Allen di udara. Ark juga tahu-tahu
saja menghilang bagai bayangan.
Piy yang melihat kecepatan Area level 5 langsung mendengus. Cakarnya mengais
tanah. Tertantang.
“Keluarkan saja seluruh kemampuanmu sekarang. Aku yakin kau pasti menang!”
ujar Arche percaya diri. Piy pun menjawabnya begitu rupa. Ia melesat mengoyak tanah,
menembus angin.

0 Response to "In The Name Of Broken Wishes"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified