Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

In The Name Of Broken Wishes 2

Chapter 10
Informasi dan Pengetahuan
Grtright, kota yang berada sekitar 129.000 tombak dari kota Scutleiss ini tak bisa
dibilang istimewa. Tidak memiliki bahan tambang, sumber daya alam standar, dan
panorama tidak terlalu elok. Tapi di kota inilah justru etos kerja masyarakatnya terjaga.
Kota Grtright lebih dikenal sebagai kota para Penyembuh. Etika profesional
mereka terjaga dan menjadi simbol terdepan para penyembuh di negara Scutleiss. Entah
sudah beberapa kali seminar antar penyembuh dari berbagai negara diadakan di kota
ini. Imperium (Central) Hyddrick sebagai pusat jurisdiksi mengakui kota ini dengan
memberikan ijin ujian menjadi penyembuh di kota satu ini.
Sebagai sebuah kota, Grtright tidak memiliki pagar tinggi. Mereka memang tidak
menyukai adanya batasan... terutama dalam membantu orang lain. Sejauh mata
memandang dari arah jalan raya berkarpet rumput, itulah kota Grtright. Sejauh hidung
mencium bau rempah-rempah dan obat-obatan, itulah kota Grtright.
Empat orang + satu hewan (jejadian) tiba di kota ini tepat pada malam hari yang
cerah. Dua dari mereka: Allen dan Ark tidak terlihat kelelahan dan hanya diam
menunggu saja. Sang hewan -yang paling terlihat lelah- terus mencakar-cakar tanah.
Satu yang jelas: mereka semua basah kuyup. Sisa hujan yang menghembus mereka
belum terhapus.
“Shussh Piy, jangan marah lagi. Kalah itu biasa.” bisik Arche menenangkan Piy.
Ucapan sang majikan tampaknya tak mampu meredam gejolak Piy.
Arche turun dari pelana Piy. Ia membopong Anne dan mengembalikan Piy yang
sedang kesal menjadi zirahnya.
“Kita cari penginapan.” ujar Arche sembari menyerahkan Anne pada Ark.
“Kamu yang tahu tempat ini lebih baik. Kami terbiasa tidur di jalan jadi yah kami
akan mengikutimu saja.” ujar Allen. Wajah Allen masih kusut. Walau langit sudah
cerah tapi mendung justru datang menggeser kejenakaannya. Ia tak lagi melihat
pemandangan kota ini sebagai suatu penyegaran. Angin tak lagi bertiup di sekeliling
Allen bahkan rumput-rumput pun seolah menjauhinya.
Tapi…
Memang, bila dilihat sejenak, pemandangan kota ini sangat monoton. Tak ada
sarana permainan yang menarik ataupun situs-situs yang indah dan bersejarah. Kioskios
ramuan dan praktek para Penyembuh bertebaran di hampir setiap sudut kota. Tak
jarang, praktek Penyembuh dipadukan dengan penginapan. Karpet rumput yang
menjadi jalan raya mungkin hanyalah satu-satunya keunikan kota ini dari segi fisik.
Terawat memang, tapi tidak banyak pula yang bisa dilihat dari rerumputan.
Penerangan di kota ini diserahkan pada lentera Pyramite bercahaya kuning yang
tersebar rata tiap 3 tombak. Radius cahaya lentera ini paling terlihat dalam radius 4
tombak dan karenanya saling bersinggungan dengan tetangganya. Dalam tiap
persinggungan cahaya itulah pintu depan rumah atau bangunan (biasanya) berada.
Arche memasuki sebuah penginapan bernama Benelovent. Penginapan yang
paling mencolok karena di depannya berdiri sebuah lampu besar yang memberi
temaram cahaya hijau lembut. Sebagai sebuah bangunan, penginapan ini unik karena
tidak memiliki kebun belakang. Sudah menjadi suatu ‘keharusan’ tersendiri bagi
bangunan di kota ini untuk selalu memiliki kebun belakang; tentunya agar suplai daundaunan,
sayur-sayuran, dan atau rempah-rempah cukup terjaga.
Walau cukup besar, penginapan ini ternyata tidak terlalu ramai. Memiliki dua
lantai, fasilitas ruang makan, dan juga kakus yang bersih. Aroma eksotis bunga-bunga
Lille lilly putih dari Scutleiss timur mengisi ruang depan. Lantai penginapan yang
terbuat dari kayu sesekali berbunyi reyot tapi tetap bersih. Hanya saja, langkah kaki
Arche yang basah membuat lantai penginapan ini tak lagi bersih.
Arche sepertinya sudah mengenali tempat ini dengan baik. Ia langsung menyapa
resepsionis. Dialog transaksi berlangsung singkat tanpa tawar menawar.
Ia memberikan uang 1900 Rupia dan menyewa satu kamar besar dengan 4 kasur
di lantai 2. Kamar mewah yang selalu digunakan oleh petualang kaya raya. Arche
menerima kunci kamar dan langsung melesat menuju tangga.
Mereka berempat naik menuju lantai dua. Lorong seluas 1 ½ tombak menanti
mereka. Pelitur-pelitur kayu Yvolnir armatrapi yang harum tak lagi dipedulikan Arche.
Matanya menelisik tiap nomor pintu. Langkahnya tergopoh-gopoh dengan roman muka
cemas.
Kesopanan Arche lenyap tatkala menemukan kamar yang dipesannya. Kunci
dimasukkan dan Ia membuka pintu tidak dengan tangannya, kakinya yang bertindak.
Untuk kali ini ia tidak peduli.
Kasur itu berdebu. Bukan pembaringan yang tepat bagi pesakitan. Ia
mendudukkan Anne di kursi kayu. Tangannya bergerak menjamah kasur dengan kasar.
Arche membuka selimut coklat dan merapikan kasur itu dengan cekatan. Bantal
putih kasur ditepuknya berkali-kali membuat debu beterbangan. Dalam sekali kibasan
tangan debu tersebut terkumpul jadi satu dan tertembak keluar jendela. Harumnya
kamar yang membawa nuansa tenang tetap tak mampu membuat uratnya regang
sedikitpun.
Ark membaringkan Anne dengan hati-hati layaknya membaringkan seorang putri
kerajaan. Badan yang lemah itu ditutup dengan selimut. Bibir Anne membiru, entah
karena kedinginan atau karena efek Phobia yang dideritanya. Kulitnya memucat
-hampir sama dengan warna rambutnya yang putih.
Arche membuka lemari pakaian dan mengambil dua helai baju putih beserta
jubah tidur.
“Aku keluar sebentar... kumohon kalian mengganti baju nona Anne. Badannya
basah kuyup semenjak awal perjalanan. Aku khawatir ia akan jatuh sakit karenanya.”
Arche bergegas keluar dari kamar. Ia menutup pintu dengan perlahan.
Sesampainya di luar, ia menarik napas panjang dan mencengkram keningnya yang
mulai memanas. Ia juga menyadari bahwa tubuhnya basah. Ia mengambil sehelai bulu
meraknya dan mulai membasuh tubuhnya yang basah. Ia mengangkat tangan dan
menepis bulu itu. Segulung angin keras menerjang dan memercikkan semua air dari
zirah Arche. Masih basah memang tapi setidaknya cukup untuk mencegah masuk angin.
Tapi justru karena ulah Arche-lah dinding penginapan menjadi kotor. Ia melempar bulu
Meraknya yang basah ke luar jendela dan membiarkan saja bulu itu melayang-layang
membawa sisa debu dan air.
Sinar terang mendadak menembus sela-sela pintu. Arche spontan bersiaga dan
membuka pintu dengan keras. Di dalam, Ia melihat Ark sedang mengarahkan Plakatnya
pada Anne.
Senyum lega tergambar tatkala baju Anne sudah berganti. Tidak, tidak berganti
tapi baju putih Anne kering tatkala ia masuk. Hanya sepasang Scarf milik Annelah yang
tetap basah. Satu sosok luput dari pengamatan tajamnya.
“Allen?”
Allen sudah tak di sana. Arche memandangi Ark lama. Ia tak tahu harus berbuat
apa terhadap Darkmaster satu ini. Di satu sisi, mereka teman seperjalanan tapi di sisi
lain ia tak tahu apapun dari Ark selain bisu dan butanya itu.
“Kalau tidak salah, nama tuan... Ark?”
Ark mengangguk.
“Bisakah aku minta tolong pada tuan untuk menjaga nona Anne? Aku akan
mencari Allen.”
Ark menunjuk ke atas.
“Allen di atas?”
Ark mengangguk. Ia pun berjalan menuju Arche. Ia memberikan tepukan di bahu
kanan Arche diiringi gelengan kepala sebanyak tiga kali. Arche tak mengerti dan
sayangnya Ark tak mampu menjelaskan juga.
Arche bergegas. Ia keluar dari jendela dan memanjat ke atas atap. Didapatinya
Allen sedang duduk di puncak atap, membelakanginya.
“Aku tak pernah berkeinginan punya sifat pelupa.” Seloroh Allen tiba-tiba. Ia
sepertinya tahu Arche mendekatinya.
“Sifat ini... membuatku tak bisa langsung mengenali Sara. Membuatku teledor
akan tabiat kakak-kakak yang lain, bahkan sampai kakak Anne juga kulupakan. Aku
takut... suatu saat aku akan lupa pada janjiku...” lanjutnya dalam lirih.
Arche terdiam dua langkah di samping Allen. Ia menyimak apa saja yang Allen
katakan tanpa komentar.
Allen mengambil Plakat Platinum Hitamnya. Ia membaliknya. Di balik plakat itu
terdapat berbagai guratan.
“Aku menulis banyak hal di sini... agar tidak lupa pada Sara tapi tempat ini terlalu
kecil... tidak ada tempat lagi bagiku untuk menulis tentang kakak yang lain bahkan
tentang kakek.”
Allen berulang kali membolak-balik Plakat itu dengan wajah masam.
“Hey Arche, apa kamu akan menyalahkan sesuatu yang kamu sendiri tidak bisa
mengambil keinginan diatasnya? Sifatku ini adalah hadiah dari Dark Nature. Aku hanya
bisa berusaha untuk selaras dengan sifatku... bila tidak bisa artinya aku sedang
membohongi diriku sendiri.”
Arche memandangi langit malam kota Grtright. Tidak seperti langit kota Scutleiss
yang selalu berawan, langit kota ini bersih. Bintang-bintang yang berkilauan di angkasa
sana dapat menjadi kerlip penyegar pikiran.
“Aku tidak setuju itu. Manusia bisa mengubah segalanya dengan keinginannya.”
jawab Arche. Allen hanya tertawa kecil saja mendengarnya. Ucapan itu seringkali
didengungkan para Wishmaster, begitupun oleh Saravine.
“Tapi aku juga tahu, tak semua manusia mampu mengingat banyak hal. Andai kau
membawa catatan yang lebih besar sekalipun, tak mungkin bisa kau buka dalam waktu
singkat...” lanjutnya “Tapi sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berkeinginan
untuk menjadi lebih baik... walau hanya mengubah 1 hal kecil saja.”
“Lantas bagaimana caranya biar bisa mengingat lebih baik?”
“Para Mentalist di Hyddrick juga pernah membahas masalah ini. Mereka akhirnya
menemukan metode yang disebut Jaring Ingatan. Caranya mudah, cukup hubunghubungkan
saja semua hal dengan sesuatu yang pasti kau ingat. Misalnya Permaisuri
Vex dengan anaknya akan menjadi sejarah masa lalu Scutleiss dan berakhir pada
hubungan dua bersaudara Velicious.”
“Mmm... biar kucoba... Arche... Sara. Arche yang serius mirip Sara. Arche kalau
marah sama seramnya seperti Sara.”
Bagi Allen, kalimat itu memang tak bermaksud mengejek sedangkan bagi Arche
kalimat itu diartikan sebagai sebuah sindiran yang halus.
Arche menghela napas. Ia ikut berjongkok di samping Allen. Kepalan tangannya
menutup roman penyesalannya.
“Kurasa memang aku agak keterlaluan... entah mengapa aku tak bisa mengontrol
emosiku saat melihat nona Anne tersungkur seperti tadi. Bahkan untuk sejenak aku bisa
mengabaikan luka tanganku dan juga sopan santunku.”
Mata Allen membulat memandangi Arche. Topik baru yang menarik langsung
membuat Allen bertanya
“Kamu... tadi bilang apa?”
“Aku bilang aku tak bisa mengontrol emosiku saat melihat nona Anne tersungkur
seperti tadi.”
“Kamu serius mengucapkan itu?”
“Tentu saja, memangnya ada yang salah dengan kalimatku barusan?”
“Errr... kalian para R-Knight diajarkan untuk seperti itukah? Seingat-ku... kelas
pelindung dari Hyddrick...agggh aku lupa namanya! ...memang diajarkan untuk berkata
seperti itu terhadap teman mereka. Tunggu- tunggu biar coba kuingat Sara... ”
“Allen, aku semakin tak mengerti arah pembicaraanmu. Apa yang hendak kau
katakan? Tak usah berbelit-belit!”
Allen berdehem sejenak. Mata polosnya memandangi Arche dengan lekat.
“Apa kamu suka sama kakak Anne?”
Arche menyipitkan matanya “Dari mana asumsi aneh itu?” Arche
menyunggingkan bibirnya mengejek pertanyaan Allen barusan.
“Dari ucapanmu barusan. Buat kami, apa yang kamu ucapkan barusan itu
pertanda suka terhadap sesuatu. Aku juga begitu, aku bisa ngamuk kalau Sara kenapakenapa.”
Arche tertawa kecil, sunggingan senyumnya berubah menjadi senyum lepas.
“Haha perbedaan kita dalam hal itu cukup telak juga. Kalimat barusan itu kurasa
tak berarti apa-apa. Setidaknya tidak bagiku.” Ujarnya sembari berdiri.
“Oh begitu?”
Sedikit kekecewaan menyambangi Allen.
Arche melangkah turun.
“Hey turunlah! Kau harus menebus kesalahanmu dengan menjaga nona Anne.
Seburuk-buruknya pelupa tidak akan lari dari kesalahan sendiri.”
“Biarpun aku jago kabur tapi tidak lari dari tanggung jawab kok.”
Allen bersalto pendek turun melewati Arche dan menendangkan kakinya pada
udara. Ia mendarat tepat di lantai kamar mereka. Sementara itu Arche justru masih
berada di atas atap.
Arche memandang sekelilingnya. Mata tajamnya melihat gerakan-gerakan
misterius tiga sampai lima orang. Pergerakan aneh, terlalu natural lebih tepatnya, yang
berulang-ulang. Mereka secara periodik berputar-putar di depan penginapan.
Assassin12? Tidak... gerakan mereka ’terlalu’ normal sampai dapat diacuhkan.
Dan itu bukanlah ciri Assassin yang benar-benar tak terdeteksi dan langsung pada
sasaran. Arche tahu, jelas sekali, pemilik gerakan-gerakan misterius tersebut. Dengan
tenang ia turun perlahan. Dalam kepalanya sudah terpatri rencana. Cara menghadapi
mereka tidak dengan konfrontasi langsung.
“Allen, aku turun kebawah sebentar. Jagalah nona Anne dengan baik.”
“Ucapanmu itu seperti orang yang takkan pulang kembali saja.” jawab Allen,
nyengir.
Arche tersenyum dan membalas.
“Hanya cari angin saja dipermasalahkan.”
Arche keluar dari kamar dan turun ke ruang depan. Ia melihat sekelilingnya.
Malam yang makin gelap hanya menyisakan dua orang pria sedang berbincang-bincang
di sudut ruangan. Mereka terlihat cukup tua. Janggut mereka yang lebat cukup menjadi
bukti kedewasaan.
Percakapan mereka terdengar sangat sederhana. Hanya curahan hidup saja. Tapi
bagi Arche, yang pernah mempelajari Kriptolinguistik dari Telik Sandi, percakapan itu
jelas merupakan sebuah pesan.
Arche tahu jelas, apa topik mereka sebenarnya. Ia mendatangi mereka berdua.
“Malam paman-paman, bolehkah aku ikut dalam pembicaraan kalian?”
Di lain tempat, lantai dua hotel tersebut, Allen mengerutkan alis tak percaya pada
Ark. “Kakak, Apa maksudnya Arche tak dapat dipercaya?”
Ark mengibaskan tangannya. Rambut hitam yang menutup matanya tersibak,
memperlihatkan mata putihnya.
“Getaran suaranya menyiratkan ada yang ia sembunyikan? Aduh kakak,
bukankah semua orang memang menyimpan keinginan-keinginan sendiri?”
Ark mengetuk lantai dengan kakinya membuat Allen mendengus manyun.
12 Kelas atau etnis pembunuh misterius dari Benua Sol. Terkenal akan kemampuan membunuh mereka
yang tak terdeteksi. Dalam Jurisdiksi Benua Sol, Assassin adalah kelompok yang dianggap berbahaya
dan tindakan rasional-agresif-antisipatif diijinkan bila bertemu muka secara langsung. Satu hal yang
sulit dilakukan adalah identifikasi Assassin, hanya segelintir Telik Sandi saja yang mampu mengenali
mereka.
“Iya iya, aku tidak akan bicara seperti Wishmaster lagi. Dan ini kulakukan
sekalian karena kakak ingin bukti.”
Pintu kamar dibuka. Allen berbisik pada Plakat Platinum Hitamnya.
“Atas nama Dark Nature, Akar yang berlinang dalam kebijaksanaan, Kayu.”
Sebuah biji seukuran kelingking menyembul dari Plakat Platinum Hitam Allen.
Allen menabur biji itu ketanah. Kayu bertemu kayu. Biji itu hidup mengeliat menjadi
jerat akar-akar serabut yang tembus ke langit-langit lantai bawah. Tepat di atas Arche
dan para paman-paman yang sedang asyik berdiskusi.
Allen dan Ark menggenggam jerat akar serabut. Mereka berkonsentrasi
membiarkan kebijaksanaan mengalir begitu saja. Gambaran kejadian di lantai bawah
datang menghampiri benak.
“Jadi paman-paman mengatakan bahwa Scutleiss tidak dapat hidup tentram?
Astaga paman, coba saja paman bertemu dengan Lordess Maria Fangabell, pasti
beliau akan tahu bahwa masalah itu sudah siap ditangani dalam pikirannya.”
“Kau ini seperti tahu saja masalah Scutleiss.”
“Yah, namanya saja anak muda. Bila Infomasi tidak dipegang dengan benar
maka justru masalah yang akan dihadapi. Benar tidak?”
Tawa terbahak-bahak membahana di lantai bawah.
“Bicaramu bisa saja anak muda. Mungkin seharusnya kamu saja yang pergi ke
Lordess Maria.”
“Ah, apalah artinya diriku ini bila dibanding dengan paman-paman yang lebih
tahu.”
“Tapi bila kuperhatikan… Zirah merak dengan helm dan bulu merak di
punggung. Anda ini tuan Arche Efeether bukan? Pasti anda yang lebih punya
kesempatan dari kami yang hanya penduduk biasa.”
Arche tertawa kecil.
“Oh, jadi anda tuan Arche Efeether? Ckckck sangat tak disangka ternyata
komandan R-Knight Scutleiss Selatan yang tersohor bisa bersantai-santai di sini.”
“Bila tak bisa bersantai maka masalah akan selalu datang, benar begitu paman?
Bahkan Ratu Vex pun tak luput darinya.”
Mereka terus bercakap-cakap sampai akhirnya Arche memutuskan untuk
mengakhirinya.
“Paman-paman, aku undur diri dulu. Ada temanku yang sedang sakit dan harus
dirawat. Terimakasih atas percakapan malam ini.” Arche pun undur diri dengan
membungkuk ringan.
Allen menepis Plakat Platinum Hitam. Akar-akar serabut kebijaksanaan
menyerpih mengotori tanah. Allen mengangkat bahunya pada Ark.
“Lihatkan kakak Ark? Arche tidak melakukan apapun yang mencurigakan.”
Ark memalingkan mukanya dan berjalan menuju jendela. Ia memandangi pamanpaman
yang baru saja keluar dari hotel. Ia tak bergeming dari sana sampai membuat
Allen kesal.
“Memangnya seyakin apa kakak Ark kalau Arche mencurigakan? Dia toh
membantu kita sampai sini dan berusaha menjaga kakak Anne.”
Ark terdiam dan kali ini tak ada dialog berlangsung. Artinya, Ark benar-benar tak
memiliki jawaban sama sekali. Ia tak memiliki bukti faktual dan hanya berbasis pada
kejutan intuisi.
Pintu diketuk pelan. Allen membukanya dan mendapati Arche berdiri dengan
muka cemas.
“Bagaimana keadaan nona Anne?” tanya Arche begitu memasuki kamar.
“Yah seperti yang sudah kamu lihat. Kami juga tak bisa berbuat banyak dengan
kekuatan kami. Hanya kakak Anne sajalah yang mampu menyembuhkan dengan Air
miliknya.” ujar Allen.
“Kalian tenang saja. Aku sudah memanggil Penyembuh terbaik di kota ini, ia
akan datang sebentar lagi.”
“Kapan kamu memanggilnya? Memang bisa secepat itu memanggil orang?”
Tanya Allen polos. Arche hanya memberikan senyum tipis penuh kemenangan.
“Kau akan tahu.” jawabnya singkat.
Pintu diketuk keras. Arche pun membukakan pintu. Sang pengetuk berkacak
pinggang di hadapan Arche. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan.
“Kau ini, bisa tidak sih meminta dengan membawa batang hidung bukan batang
bulu seperti ini? Apa memang begini cara R-Knight Scutleiss meminta pada
Penyembuh?”
Ujar sang penyembuh sambil mengibas-ngibaskan bulu merak yang basah. Arche
hanya tertawa getir saja mendengarnya.
Di sisi lain, Allen mulai merinding membayangkan bagaimana Arche mampu
menerbangkan bulu itu dan mendaratkannya tepat di lokasi yang diinginkan. Janganjangan
sedari tadi Arche sudah menempelkan banyak bulu di kuduk Allen.
Sang penyembuh ini pendek (sekitar ½ tombak lebih sedikit), berwajah kaku dan
berjanggut putih tanpa kumis. Ia tua, cukup tua dan kira-kira sebanding dengan Greul.
Hanya saja, penyembuh ini terlihat lebih bungkuk dengan keriput-keriput yang jelas
menggambarkan degenerasi kehidupan dalam tubuhnya. Sebuah kacamata bulat
menjadi pemanis wajahnya yang terkesan kaku dan berkerut. Ia memakai jubah putih
beremblem sayap putih yang membungkus hati - jubah kehormatan Penyembuh. Di
baliknya baju hitam yang kaku menjadi pemurung dan pengelam mantel tersebut. Baju
hitam itu bersinkronisasi dengan tas hitam besar sebesar separuh tubuh yang
ditentengnya.
“Maaf Paman Irium Illa tapi saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan
bagiku untuk bertamu dan bersopan santun.”
“Ooh kali ini kau benar.” Irium menyingkirkan Arche dan langsung melangkah
menuju Anne. Ia menarik sebuah kursi kayu Yvolnir berwarna coklat cerah kemudian
duduk. Ia mengambil dan memakai sarung tangan putih dari tas hitamnya. Emblem tiga
warna: biru, hijau, dan putih tersemat pada punggung sarung tangan tersebut.
Irium meletakkan tangannya di kening Anne. Terdiam sebentar lalu membuka
kelopak mata Anne. Telunjuk kirinya diputar satu lingkaran. Pendar biru muncul dari
ujung jemari. Dibantu cahaya, ia melihat pupil mata pasiennya. Kiri dan kanan. Selepas
itu, ia mengambil pergelangan tangan Anne dan menekan nadinya. Ia kemudian
memandangi pergelangan tangan Anne yang memucat sampai ke siku. Ia melihat garis
hitam memanjang sampai lengan atas. Ia sampai pada sebuah kesimpulan.
“Complicatie Pharamethra… Asterra Phobia... gejala Trauma Fana... dan...
Anesthesi Ripis.”
“Apa artinya itu semua?” tanya Allen yang membulatkan matanya mendengar
istilah aneh itu.
“Komplikasi gejala pada fisik dan parameter tubuh karena tekanan spiritual dan
emosional. Nona ini mempunyai ketakutan berlebihan pada petir yang akhirnya
membuat luka Fana13. Akibat dari luka dari Fana akan menyebabkan pembiusan tubuh
sampai akhirnya tubuh masuk dalam kondisi Ripis.”
“Artinya? Aku semakin tak mengerti.” ujar Allen memiringkan kepalanya.
“Bahasa mudahnya,” Irium terdiam sebentar dan menatap Allen dengan khidmat
“Remuk dari dalam.”
Mereka semua tercengang. Irium melanjutkan penjelasannya dan menunjuk
lengan Anne.
“Kalian lihat bilur hitam ini? Bentuknya panjang sampai ke lengan atas bukan?
Ini adalah salah satu efek dari Trauma Fana. Disebut juga Fissure Fana karena
bentuknya memanjang menyerupai retak nadi bumi. Bila retak ini mencapai jantung
maka pasien akan mati.”
“Bagaimana caranya agar nona ini bisa sembuh?”
Irium membelalakkan matanya sejenak mendapati Arche yang tahu-tahu saja
memotong ucapanya. Matanya menajam saat berujar
“Apa nona ini begitu penting bagimu?”
“Keberadaan nona Anne akan sangat dibutuhkan dalam perjalanan kami nanti.
Aku khawatir bila terjadi apa-apa dengannya maka perjalanan kami akan tersendat.”
jawab Arche tegas.
Roman tak percaya terpampang jelas dari paman ini. Allen terlihat cekikikan dan
menyikut Ark di sampingnya. Ark justru mengetukkan kakinya di lantai. Allen pun
kembali bermuka masam.
Irium mengambil sebuah buku besar berwarna Biru muda dari tasnya. Judul
Jayva Midicea14 tercetak dengan huruf besar menonjol pada bagian tengahnya. Irium
mengucapkan kata “Ripis” dan buku itu membuka halaman dengan sendirinya.
Anehnya, halaman itu kosong. Irium menyapu kedua alisnya dengan jari telunjuk dan
ibu jari tangan kanan. Selepasnya pupil mata Irium bercahaya biru muda dan bayanganbayangan
tulisan terpantul di bola matanya. Ia mulai membaca isinya dengan khidmat.
Buku ditutup dan mulailah Irium berkata.
“Untuk menyembuhkan nona ini cukup mudah. Kalian hanya tinggal mencari saja
daun Friete air, menumbuknya sampai halus dan meminumkannya dengan tiga cangkir
air murni.”
Mereka bertiga senang mendengarnya. Syaratnya mudah.
13 Adalah lawan dari Mana yang artinya energi penghancuran atau energi akhir. Fana bersifat destruktif
dan merusak. Menurut beberapa Penyembuh Benua Sol, efek Fana yang terkontrol dapat digunakan
untuk meredam beberapa gejala fisik yang rusak tapi bila berlebihan dapat mengakibatkan kematian.
Fana merusak dari dalam dan menyerang sudut hati yang lemah (secara mental). Secara biologis, Fana
merusak limfa dan sistem kekebalan tubuh secara aktif sebelum akhirnya menciutkan beberapa titik
jalan darah dan membuat penyumbatan yang berakhir pada pembusukan tersegmentasi.
14 Arti: Obat-Obat nomor Wahid. Buku ini adalah buku Wajib seorang Penyembuh yang telah
mendapat lisensi. Buku ini akan mencatat semua ramuan yang telah dibuat oleh pemiliknya termasuk
juga mencatat dosis dan hasilnya (otomatis tercatat). Buku ini hanya khusus milik satu orang dan tak
dapat diwariskan. Untungnya, isinya dapat dicatat ulang di buku biasa.
“Yang susahnya… daun itu sudah langka. Vegetasi terakhirnya ada di gunung
Efitia. Sekitar 40.000 tombak dari sini.”
“Gunung Efitia... Dekat dengan kota Schwertvalle.” desis Arche. Ia tersenyum.
“Artinya kita bisa langsung melanjutkan perjalanan.”
“Kamu yakin mau melanjutkan perjalanan di malam hari seperti ini? Kalau aku
dan kakak Ark sih tak masalah. Tapi apa hewan milikmu itu mau melanjutkan
perjalanan di malam hari?” tanya Allen
Arche terdiam. Allen ada benarnya. Mata merah Piy sebenarnya tak terlalu baik
untuk melihat di malam hari.
“Kalian harus mencari daun Friete air secepatnya. Nona ini tidak dapat bertahan
sampai besok. Untuk saat ini aku akan memberi pengobatan jangka pendek dulu untuk
menahan percepatan Ripis. Mungkin sekitar dua tiga kali Heal Balm dan Dim. Bila
tidak, nona ini tak dapat bertahan sampai 20.000 tombak bahkan dengan kecepatan Piy
yang kau banggakan itu.” ujar Irium sembari meletakkan Jayva Midicea kembali ke tas
hitamnya.
“...Baik paman Irium Illa.” jawab Arche.
“Dan jangan memintaku untuk ikut. Aku bukan lagi Penyembuh Militer. Aku
lebih suka mengajar orang yang lurus saja dibanding menghajar seseorang yang merasa
dirinya lurus.” Nada Irium terdengar ketus. Arche hanya sumringah mengalah saja.
Pemandangan ini tentu tak biasa bagi orang yang mengenal Arche.
Irium mengencangkan sarung tangan putihnya. Perhatianya terpusat pasti pada
Anne, pasiennya saat ini. Semua diam khidmat. Allen dan Arche menahan napasnya
menunggu apa yang hendak dilakukan oleh sang Penyembuh.
Irium mengambil napas lalu mengangkat tangan kanannya dan berujar
“Straight O alliance of light
Stray the Fellow of Blight
Stretch the Darkness with Light”
Tangan kanan itu berpendar putih dan menimbulkan daya silau yang cukup
membuat Allen dan Arche menutup mata mereka. Irium berujar pelan
“Dim!”
Dan tangan itu diletakkan diatas kepala Anne. Seolah diserap, cahaya itu perlahan
masuk dari kening. Allen dan yang lain dapat melihat sinar tersebut mengalir dalam
nadi Anne. Sinar itu terus merasuk dan membuat alur hitam di lengan Anne perlahan
mundur.
Saat itulah Irium kembali beraksi
“Calmness of the deep ocean
Balm the soul with your utmost real
Chirp the body until clean”
Sajak dari Mantra terujar “Heal Balm”
Cahaya biru dan hijau menyelimuti tangan Irium. Selagi begitu, Irium menyentuh
lengan Anne. Kembali Jalur hitam di lengan Anne tertekan mundur. Irium
mengulanginya sampai tiga kali sampai akhirnya jalur hitam itu hanya tersisa menjadi
sebuah titik.
Irium tak berhenti, ia mengerahkan Dim sekali lagi dan membuat sebuah
lingkaran empat sisi pada titik hitam tersebut. Lalu sekali lagi, sebuah lingkaran empat
sisi telah mengepung titik hitam tersebut. Dua buah lingkaran itu membentuk lingkar
baris yang bersudut delapan.
Napas Anne yang tadinya tersenggal terlihat mulai normal. Wajahnya yang
kesakitan dan pucat berubah. Ia sekarang terlihat seperti putri tidur.
“Kurasa cukup. Dengan ini kurang lebih nona ini dapat bertahan menempuh jarak
100.000 tombak atau sampai satu hari perjalanan. Dalam waktu tersebut, kalian harus
mampu meminumkan air perasan daun Friete air pada nona ini.”
Irium menyeka peluhnya. Ia melepas sarung tangan putihnya dan memasukkanya
dalam tas.
“Tak kusangka menyegel Ripis kali ini begitu melelahkan. Nona ini pasti
memiliki resistensi elemen yang besar, bila tidak seharusnya Dim masuk dengan
mudah.”
“Terimakasih atas usaha anda paman Irium Illa.” Arche menghaturkan
terimakasih sembari membungkukkan badan pada Irium yang sudah berdiri dan
berjalan menuju pintu. Irium mengacuhkan begitu saja salam hormat Arche.
“Wow! Paman hebat! Kekuatan menyembuhkan paman sepertinya setara dengan
kakak Anne.”
Irium menghentikan langkahnya dan menyipitkan matanya pada Allen.
Tampaknya Allen telah menyinggung kebanggaan seorang penyembuh
“SETARA? Anak muda, tak ada yang tak bisa kusembuhkan di dunia ini.”
Allen membelalakkan mata dan berbinar-binar mendengar ini.
“Benarkah? Apakah paman juga bisa menyembuhkan...”
Mendadak Ark menutup mulut Allen dengan tangannya. Ia menggerakkan
kepalanya sedikit ke kiri dengan alis yang sedikit berkerut. Allen terdiam kecewa,
cahaya matanya meredup sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
“Penyakit apa yang hendak kau katakan hei anak muda?”
“Bu... bukan apa-apa. Kurasa untuk yang satu ini paman tak perlu turun tangan.”
raut muka Allen sebenarnya berharap ia bisa mengatakannya tapi kalimat-kalimat yang
dilontarkan Ark membuatnya terpaksa bungkam.
“Ah... tunggu dulu, aku baru ingat... ada tiga penyakit yang tak bisa
kusembuhkan. Yang pertama adalah Undeadifikasi atau perubahan menjadi Undead
Murni dan yang kedua adalah kematian mutlak dan yang ketiga... Broken Wishes.
Penyakit aneh dari para Wishmaster. Sehebat-hebatnya Penyembuh tetaplah bukan
pemilik kehidupan. Masih banyak misteri yang harus dikupas di dunia ini.” Lanjut
Irium.
Allen pun kuyu. Ia menyangka mendapat secercah harapan tapi justru mendapat
kecewa. Tapi setidaknya, ia tahu bahwa Penyembuh pun tak mampu melenyapkan
Broken Wishes.
Menyadari Allen tak lagi bertanya, Irium tak jua bertanya lebih lanjut. Ia
membuka pintu dan hendak menyudahi pertemuan singkat ini. Saat tubuhnya sudah
berada di perbatasan keluar-masuk, Irium berhenti sebentar dan memandangi Allen.
“Tapi meski begitu... kurasa setiap hal selalu ada pemecahanya. Bahkan terhadap
penyakit yang tak dapat kusembuhkan. Jangan putus asa meski aku sudah melangkah
keluar dari sini.”
Allen nyengir mendapati motivasi seperti itu.
Arche mengantar Irium sampai keluar. Begitu pintu tertutup, sang paman berbisik
pada Arche.
“Arche, kau tak perlu lagi bermain Kriptografi atau Kriptolingusitik pada
orangtua sepertiku. Apa yang sebenarnya hendak kau rencanakan dengan kesembuhan
nona itu?”
Arche hanya tersenyum tipis.
“Aku tidak merencanakan apapun, Paman Irium.”
“Mulutmu memang selalu manis dan penuh alasan-alasan rahasia. Mungkin itu
sebabnya anakku tertarik padamu…” Irium mengambil bulu Merak yang diberikan
Arche. Ia mengusapnya, membuat bulu Merak tersebut layu perlahan. Matanya
menyalak tajam pada Arche saat ia melanjutkan kalimatnya “Andai dulu ia tahu betapa
berbisanya kepalamu itu. Sayang sekarang ia sudah tak bisa lagi melihat kebejatanmu.”
“… Terima kasih atas pujian paman.”
Irium tahu-tahu saja merapal mantra penyembuhan. Cahaya biru dan hijau
menyelimuti tangan Irium dan berpindah menuju lengan kanan Arche. Luka yang masih
tersisa di tangan Arche merapat mengering dan tak lagi mengeluarkan darah.
“Dengan ini tak ada lagi hutangku padamu. Lain kali kau harus siap dengan
tagihan biaya pengobatan.” ujar Irium sembari melangkah menuju tangga. Ia
membuang bulu Merak yang sudah hancur.
Irium menengokkan muka. Sambil berwajah ogah-ogahan, ia berujar
“Nasihat terakhirku untuk nona itu, jauhkan dia dari suara petir dan semacamnya
dan bila ia mulai membuka mata jangan membuatnya melihat kilatan. Sedangkan
untukmu... aku masih belum bisa memaafkan apa yang kau lakukan tiga tahun lalu
terhadap Iris.”
“Tapi waktu itu Iris...”
“Cukup! Aku tak mau dengar mulut manismu itu! Kita berdua sudah sama-sama
saling mengerti tugas dan batasan masing-masing! Kau R-Knight yang patriotik dan
bertugas menjaga kestabilan Erune, Aku Penyembuh yang menjaga kesejahteraan dan
kesehatan, sementara Anakku… anakku Iris hanyalah Telik Sandi biasa!” Bisik Irium
keras. Ia mengeraskan genggaman tangannya. Giginya bergemeretak menahan ingatan
masa lalu sementara mata menyalang tegas. Hatinya berperang dengan etika
profesionalismenya sendiri. Pasien adalah pasien dan harus diobati... terlepas apakah
pasien itu memiliki kesalahan padanya.
Irium pergi dengan membuang kesalnya pada dinding. Arche memandangi
punggung tua itu dengan mata yang pedih. Suara lantai kayu mengiringi langkah Irium
sampai akhirnya lenyap di tangga.
Arche menarik napas panjang. Ia kembali masuk dengan wajah tenang. Pikiran
Arche tak lagi bercabang setelah melihat Allen dan Ark yang berdiri menjaga Anne.
“Jadi kamu sudah siap untuk berangkat? Kayaknya malam ini kita tidak ada
istirahat-istirahatan.” ucap Allen sembari menggoyangkan telunjuknya ke kiri dan
kanan. Arche mengangguk lurus.
Arche melirik ke luar jendela lalu kembali pada Anne yang tergolek lemah.
“Allen, aku akan menunggu di luar. Aku harus menyiapkan bekal untuk
perjalanan kita nanti. Lagipula tak pantas bagiku untuk berlama-lama sekamar dengan
gadis yang belum kunikahi.”
“Kalau begitu nikahi saja, mudah bukan?” Ujar Allen tertawa riang.
“Dengan kondisi yang tak bisa mengucap Janji seperti itu? Allen, Bercandapun
ada batasnya. Lagipula, saat ini ada misi yang lebih penting.”
“Terserah kamu saja. Tapi kesempatan ini jarang ada.” cengiran setan cilik Allen
kembali muncul.
Tahu-tahu saja Ark menjitak kepala Allen. Allen meringis ngilu mendapat
perlakuan seperti itu.
“Iya iya, aku bercanda kok kakak Ark. Tak akan kuulangi lagi.”
Candaan itu tak lagi dipikirkan oleh Arche, bahkan, ia sudah keluar dari ruangan.
Arche terduduk lesu tepat di depan pintu kamar. Tidak seperti biasanya. Lelah
menghantui matanya. Punggungnya menekan pasti pada dinding. Ia menelisik kembali
bekas luka yang telah mengering pada lengannya. Matanya menyipit lemah
memandangi luka yang tak lagi sakit.
“Suka ya?” desisnya.
Arche tersenyum geli saja dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ironi tampak
sedang menghantui kepalanya.
“Iris… Aku harap kau puas setelah melihatku tersiksa seperti ini…” desahnya
letih. Nama itu selalu muncul saat hatinya terguncang oleh satu kata yang dulu sering
diucapkannya.
“Ingat Arche, kau sedang bertugas... kau sedang bertugas. Kesampingkan
perasaan, dahulukan logika seperti apa yang dulu kau lakukan.” ulangnya berkali-kali
berusaha menepis ingatan masa lalunya. Ia beruntung, suara lain menghapus ingatan
tersebut. Langkah kaki. Menapak tangga tak jauh dari tempat Arche duduk.
Arche menengok dan memberi senyum pada sosok yang berdiri tak jauh darinya.
Pengelana bercaping. Jubah ungunya basah kuyup sampai meneteskan air di
tangga.
“Selamat malam.” ujar Arche “Tuan tidak kehilangan rumah bukan?” ujarnya lagi
sembari mengeluarkan sebuah bulu Merak dari balik bajunya. “Atau memang tuan lebih
suka berkelana seperti bulu Merak ini?”
Melihat bulu Merak, sang sosok membuka caping hitamnya begitupun juga
dengan jubahnya.
Sang sosok berpakaian hitam, bercadar dan memakai dua buah sisir besar
melengkung yang saling bersilang di sanggul rambut. Ia mengeluarkan sebuah
perkamen coklat, Perkamen Rosetta, tanpa berkata-kata dan menyerahkanya pada
Arche sembari lewat. Begitupun Arche yang memberikan bulu Merak tersebut pada
sosok tersebut.
Telik Sandi... kelas pencari/pencuri dan pengirim informasi di Benua Sol.
Keberadaan mereka nyaris tak terdeteksi karena kemampuan membaur mereka yang
baik. Hanya dalam keadaan tertentu saja mereka akan melepas samaran dan memakai
baju kebanggaan mereka. Wajah mereka tentu saja tertutup oleh cadar ataupun penutup
wajah. Nyaris tak ada yang tahu identitas seorang Telik Sandi bahkan keluarga mereka
sendiri.
“Rumahku ada di mana-mana, hanya kali ini saja mampir di Scutleiss.” ujar sang
Telik Sandi. Arche pun hanya tersenyum saja sebelum mendapati sang Telik Sandi
menghilang dalam lorong.
Arche membuka perkamen Rosetta, melontarkannya ke udara, dan membaca
isinya. Kekesalan sempat terbetik saat membaca kalimat awal surat itu. Tapi seiring
kalimat demi kalimat terbaca makin seriuslah wajah Arche.
Selesai. Arche menggulung kembali Perkamen Rosetta dan menepisnya. Dalam
sekejap saja perkamen itu terbakar. Perlahan kilau api memakan kertas. Sisa kertas
menunjukkan sebuah nama “Saravine Mutia”. Nama yang membuat wajah tampan
Arche menyimpulkan sebuah senyum. Senyum yang misterius. Senyum yang tak
terekam oleh akar kebijaksanaan.
Chapter 11
Batas Keinginan dan Perjanjian
Malam semakin larut. Daya keinginan tiap makhluk mulai menyurut. Kelelahan
datang menghantui. Begitupun dalam penginapan di Grtright. Hanya beberapa pasang
mata saja yang tetap terjaga. Allen, Arche, dan Ark bersiap-siap selagi sebagian besar
jiwa di kota ini beristirahat. Merekalah yang memiliki tujuan jelas. Pergi dari kota itu
secepatnya. Dan tanpa membuat keributan, kelompok ini bertolak menuju jalur
Schwertvalle. Mereka bergegas dalam kecepatan terbaiknya menembus gelap malam.
Mereka berharap tidak ada hal-hal aneh yang terjadi pada Anne dalam perjalanan.
Di lain tempat, Desa Exemptio. Rumah Mawar, Rumah Greul Fouwl. Rumah
yang tak lagi indah itu dirubungi dengan hawa suram. Pemilik rumah ini lebih merasa
situasi lain lebih pelik dari sekedar hilangnya keindahan mawar.
Aroma masalah terasa pekat saat pintu depan dibuka. Tuan rumah Greul meminta
tamunya masuk. Wajah tua Greul terlihat makin kaku kejang terutama saat
mengucapkan
“Vristin, aku butuh bantuanmu…”
Sang tamu: Vristinus Adam mengikuti langkah tuan rumah. Ia dapat merasakan
sesuatu yang janggal dalam Denting Keinginan Greul.
“Aku merasakan getar keinginan yang aneh dari tubuhmu. Apa masalah ini
sedemikian beratnya untuk kau utarakan sekarang?”
“Lebih baik kau lihat sendiri penyebab aku memanggilmu.” Ucap Greul saat
mereka sampai di dalam ruangan Allen.
Dan…
Greul memperlihatkan Saravine yang tertidur. Tapi dibalik lelapnya sang gadis itu
terdapat lekuk perubahan otot tubuh Saravine ditambah perubahan warna kulit dari
cerah kuning langsat ke hitam lalu kembali ke putih dan terus bersiklus tiada henti.
Adam terhenyak melihat asap tipis yang menjadi kabut kabur. Tak hanya itu, Denting
Keinginan Saravine terdengar halus tapi kusut seperti tikus tersudut. Pantas saja Adam
tak merasa kehadiran Saravine di situ.
“Astaga... Broken Wishes...”
Tangan kekar Adam tak dapat menghentikan getar otot tubuhnya sendiri. Ia
sebagai Wishmaster tak dapat menyembunyikan keterkejutanya ataupun mengontrol
anggota tubuhnya. Wajah miliknya sempat berubah menjadi berkerut dan lebih tua.
Guncangan batin ini nyaris saja membuat fisik Adam kembali pada kondisi sebenarnya.
“Mengapa muridku bisa seperti ini?”
Greul mendengus.
“Mungkin kesalahan yang sama dengan masa lalu-ku...” jawab Greul membuang
muka. “Padahal kupikir rencana itu bisa berjalan mulus bila urusan Saravine dengan
ibunya telah selesai.” Dengus Greul kembali acuh.
“Denting keinginanmu masih bergetar keras... Greul... apa lagi yang hendak kau
utarakan? Gema yang nyaring ini nyaris membuatku ingin menjadikanmu Matreishaku.”
Greul menyeringai mendengarnya. Kalimat itu telah ditunggunya.
“Aku memintamu hari ini, sebagai Wishmaster, untuk mengantarkan Saravine
pada dia. Hanya dialah yang mampu menenangkan Broken Wishes untuk sementara
waktu.”
“Dia?” Adam dapat menebak separuh Denting Keinginan itu, denting keras ini
hanya terjadi saat nama seseorang disebutkan.
Greul mengedikkan kepalanya menunjuk sebuah lokasi. Adam menenggokkan
mukanya. Ia meraba Denting Keinginan yang berada dalam lokasi yang ditunjuk.
“Grendel?”
Greul tersenyum kecut. Ia tak suka bila Adam bertanya seperti itu. Ia merasa
terpojok. Dan ia tahu, Adam memang bermaksud memojokkannya. Dan kalimat yang
diucapkan Adam kali ini membuktikan kebenaran deduksinya
“Mengapa tidak kau saja yang mengantarkannya padanya?”
“Kau sudah tahu alasanya. Aku tak berhak lagi bertemu dengannya. Dia
menganggapku sudah mati dan begitupun perjanjianku dengannya.”
“Karena masalah itukah? Karena kau pernah berjanji pada Dark Nature untuk
tidak lagi berjumpa dengannya... Apa itu yang mau kau sebut pengorbanan dan cinta?”
“Janji bagiku sudah menjadi ikatan yang tak bisa dilepas. Aku boleh lupa akan
hal lain tapi tidak untuk janji.”
“Meski kau bukan lagi seorang Darkmaster.” sindir Adam.
Greul menyeringai dan terkekeh. Angin kembali menjauhinya saat ia tertawa.
“Dia saja mengorbankan segalanya demi sebuah janji, demi Keinginan seseorang.
Mengapa aku tidak?”
Adam tak mau berkata banyak. Hubungan Grendel dan Greul adalah satu masalah
yang kompleks. Hubungan mereka berdualah yang menjadi rantai dan juga jaring segala
yang terjadi sampai saat ini. Keengganan dan juga alasan Greul pun dimengertinya…
tanpa harus menerka lagi Denting Keinginan kakek tua satu ini.
“Baiklah aku mengerti... kurasa Grendel juga pasti sudah merasa ini ulahmu tapi
tenanglah, aku takkan memberitahunya apapun tentang keterlibatanmu.”
Adam mengangkat tubuh Saravine. Tubuh Saravine saat ini bagai sebuah gunung
kokoh yang beratnya tak dapat dihitung. Keinginan Saravine telah mengkristalkan
fisiknya sendiri. Adam harus memaksimalkan keinginan untuk membawa gadis itu
pergi. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Adam tahu jelas, keinginan Saravine terlalu besar. Tapi yang membuat Adam
kagum adalah kemampuan Saravine untuk membendung semua keinginan itu. Para
Wishmaster lain, termasuk dirinya pun, tak pernah dapat meraba mutlak Denting
Keinginan gadis itu. Andai mereka melihat kondisi Saravine sekarang.
Adam membuka pintu dengan menginjak lantai. Wishtransfer, kemampuan
Wishmaster untuk memberikan fungsi organ ke organ lain yang berdekatan secara
fungsional. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh pada Greul. Ada denting keras lain
darinya. Adam benar, Greul bertanya
“Vristin... Apakah keinginan bisa membelokan takdir dan cinta yang diberi oleh
Dark Nature?”
Vristin terdiam sebentar. Sangat tak biasa baginya mendengar Greul bertanya
seperti ini.
“Sebagai Wishmaster aku akan berkata bisa.”
“Aku mengharapkan hal itu sebagai jawaban saat ini.” ujar Greul datar. Tanpa
ekspresi. Mantan Darkmaster satu ini pun berbalik memunggunginya, seolah mengusir
dengan halus.
Adam terdiam. Ia tahu wajah Greul terlalu banyak berbohong. Wajah yang sulit
dipercaya. Wajah angin yang lain. Hanya dalam dirinya saja lah yang akan berkata
jujur. Gema keinginan dan teriakan dalam hati itu terus beresonansi dalam kepala
Vristin. Memang... teriakan angin tak pernah didengar jelas meski mereka berteriak
setiap saat.
Adam berkelebat pergi tanpa banyak cakap lagi. Sebuah topik terus berkelebat
dalam tiap lesatanya menuju perkebunan teh Gratios. Ia merasa kedua orang tersebut,
Greul dan Allen, mengalami takdir yang sama. Dipermainkan oleh keinginan... dan juga
oleh Dark Nature. Oleh Broken Wish dan perjanjian. Satu hal yang belum sama oleh
mereka adalah... akhir. Akhir dari cerita mereka.
Takdir dan keinginan…
Adam bisa saja berujar mampu membelokkan takdir tapi ia sendiri tahu kekuatan
Darkmaster yang disokong Dark Nature. Ia pernah melihat bahwa daya dan keinginan
kuat sekalipun harus hancur diterjang takdir. Dan ia tahu… orang yang akan ditemuinya
itulah yang telah mengemban derita seteru dua hal itu.
Kebun teh Gratios. Terletak jauh di jurang lembah Librea. Sekitar 300 tombak
dari rumah Mawar Greul. Kebun teh yang aneh, mengingat ia bisa tumbuh di jurang
lembah dan bukan pegunungan. Luasnya tidak seberapa dengan pemandangan yang asri
lagi indah. Tapi, malam hari menyembunyikan itu semua dalam selubung gelap pekat.
Perkebunan ini tak pernah dikunjungi oleh penduduk desa Exemptio. Mereka takut pada
penjaga daerah ini; sang Pohon Hidup.
Pohon Hidup terletak di tengah perkebunan dan menjulang tinggi bagai gunung.
Pohon besar ini berdaun rimbun dengan batang yang keras lagi kuat. Sulur-sulur yang
berakar di cabang seolah menjadi jemari yang menyambuk tanah begitu angin bergerak.
Lembut tapi memiliki kesan tak suka diganggu.
Satu langkah saja siapapun masuk maka sulur itulah yang bergerak. Lembut tapi
pasti, melentak dan memecut udara. Suaranya keras bak merobek angin. Begitupun saat
Adam menyentuh daerah itu.
Adam tahu bagaimana mengakali situasi ini. Ia mengerahkan daya keinginan
dalam untai lembut. Sebuah suara denging halus tergetar dan sulur-sulur pun merunduk.
Wi-song: kemampuan Wishmaster untuk menggetarkan frekuensi tubuh mereka dan
merambatkannya melalui udara. Bagi lawan, efek Wi-song akan membuat metabolisme
mereka melambat, bagi kawan akan membuat ketenangan, sedangkan apa yang
dilakukan oleh Adam saat ini tak lebih menjadi kunci pertemuan.
Kakinya sampai di hadapan pohon besar. Adam mengucapkan salam pada sang
pohon besar. Suaranya dilemahlembutkan
“Lama tak berjumpa, Grendel Amiville... Kakak seperguruanmu datang
berkunjung.”
Pohon besar itu berbalik dengan pelan. Perlahan tapi pasti, sebuah wajah manusia
mulai tersibak. Wajah itu berada tepat di tengah batang pohon. Dua buah cabang besar
bernaung diatas wajah tersebut membuatnya persis seperti tangan yang menggantung.
Sulur-sulur yang berasal dari cabang-cabang kecil seolah menjadi jari-jari yang dapat
bergerak cepat. Sesekali sulur itu terbawa angin malam, sesekali bergerak
menentangnya termotori keinginan.
Inilah Grendel Amiville. Dikenal pula oleh Allen dan Saravine sebagai nenek
Grendel: penjaga kebun teh Gratios.
Wajah dalam pohon bergaris mata sayu. Kesenduan seakan mengikatnya dalam
batang pohon. Jejak-jejak rambut ikal lebat tergambar. Hidung yang kecil dan mungil.
Rahang wajah itu terlihat bulat dengan bibir yang memiliki senyum panjang namun
manis. Aroma pepohonan mengikuti kemana sulur-sulur tanaman rambat bergerak.
Bagi yang menyadari, beberapa aspek wajah Grendel menyerupai Saravine.
“Maaf aku memilih waktu yang tidak tepat untuk mengunjungimu.”
Grendel mengayunkan sulurnya. Ia tersenyum lembut pada Adam. Bibirnya
bergerak tapi tak ada selirih suarapun terlontar. Begitulah tubuhnya sudah mengikuti
jejak pohon, suaranya sudah menjadi milik alam.
“Malam ini aku datang untuk memintamu…”
Adam terdiam sejenak. Ia mencoba mengatur kata-katanya sebisa mungkin tidak
menyakiti hati lawan bicaranya. Adam tahu, keinginannya bisa saja mengatur agar
suara yang dilontarkannya memberi kesan nyaman tapi tetap saja inti beritanya akan
dicerna oleh lawan bicaranya.
“Menyembuhkan… ah tidak, menahan reaksi Broken Wishes dari muridku ini.”
Adam memperlihatkan Saravine. Ia tak lagi berkata-kata setelahnya. Cemas
benar-benar mengisi ruang napas Adam. Ia hanya mampu menunggu reaksi Grendel.
Tubuh Saravine dililit dan ditarik oleh Grendel. Grendel menatap Saravine…
lama sekali. Air matanya menetes, pilu. Sulur tubuhnya terus memecut tanah. Ia
gelisah. Daun-daun tubuhnya mulai berguguran setiap titik air mata yang terurai dari
matanya. Adam ingin membuang mukanya melihat ekspresi sedih Grendel tapi ia tahu,
ia hanya bisa menatap lurus, mempertanggungjawabkan semuanya sebagai Wishmaster.
“Aku tahu Grendel… aku tahu… maafkan aku… andai saja aku bisa
mencegahnya pasti akan kulakukan.”
Grendel terisak dan getar batang tubuhnya mulai mengguncang bumi.
“Tapi kumohon bersabarlah... Dia akan selamat.”
Seluruh sulur-sulur Grendel menghantam tanah dengan keras. Menggetarkan
perkebunan dan merontokkan sebagian dedaunan pohon teh di sekelilingnya. Adam
merasakan Denting Keinginan yang berbahaya. Ia benar! Grendel menyerangnya!
Adam terpaksa mengelak bila tak ingin tamparan-penuh-keinginan itu menggasaknya.
“Tenanglah Adik! Dia takkan menjadi seperti dirimu... dia tak harus berkorban.”
Sulur Grendel terlanjur bergerak menjawab. Cambukanya semakin cepat merobek
udara.
“Adik! Ada jalan lain baginya untuk selamat selain mengikuti jalan hidupmu!”
PLAK!!
Adam tertampar keras. Ia terlempar mencelat ke udara dan mendarat dengan keras
di atas dahan-dahan teh Gratios.
Grendel terdiam membisu. Sulur-sulurnya bergetar keras. Ekspresinya terlihat
pucat dan kembali air mata mengucur.
Sulur itu merayap mendekati badan Adam yang tak bergerak. Menyentuh sekali
lalu menariknya dalam takut. Tiba-tiba saja Adam terbangun.
Adam beringsut. Ia menepis darah di mulutnya dan membetulkan letak rahangnya
yang patah terhantam.
“Terimakasih adik sudah mau menahan tenaga terhadap kakak seperguruanmu
ini.”
Adam berdehem
“Grendel, kau tentu masih mengingat Greul.”
Begitu kata Greul diucapkan, batang tubuh pohon itu bergetar. Senang, sedih,
kecewa, takut, dan marah bercampur menjadi satu membawa memori masa lalu bagi
Grendel.
“Aku tahu, mengingatkanmu pada Greul akan membuatmu perasaanmu campur
aduk apalagi bagimu ia sudah mati.”
Grendel menyentuhkan sulurnya pada lengan Adam. Apapun yang membawa
nama Greul membuat Grendel penasaran.
“Tidak, yang ingin kukatakan bukanlah tentang Greul melainkan apa yang dulu ia
lakukan agar ia bisa membuatmu tetap hidup tanpa harus menjadi seperti...”
Kali ini Adam membuang mukanya. Ia mendengar dengan jelas apa yang
diucapkan oleh Grendel dan baginya melihat Grendel yang sekarang tak lebih pedih
dari kenyataan yang diucap oleh Grendel. Ia makin pedih karena Grendel
mengucapkannya seolah hal itu ‘biasa’ dan ‘tak usah dipikirkan’.
“Benar... ia mencari Dark Grail, seorang diri dan seperti yang kau ketahui... ia
‘mati’ dalam perjalanan. Ia sudah digantikan oleh Allen sekarang. Dan sekarang, Allen
juga melakukan apa yang Greul lakukan.”
Adam membelai lembut sulur yang bergetar keras itu. Kutukan memori masa lalu
membuat Grendel tak mampu menahan derasnya laju air mata. Bibir yang tertoreh di
batang pohon itu terus bergerak-gerak dalam irama cepat.
“Tenanglah adikku, saat ini aku takkan membiarkan akhir yang sama. Demi ini
aku sengaja tak menerima Keinginan siapapun.”
Grendel mulai tenang. Air matanya tak lagi turun dan ia mulai lagi bertanya
seputar kehidupan di sekelilingnya.
“Anakmu? Vex masih baik-baik saja. Setidaknya itulah yang kudengar saat
melintas di sekitar Erune.”
“Vex masih menunggu Saravine yang terpaksa kuungsikan akibat diincar
oleh’Dia’. Kau tahu aku takkan mau menyebut namanya andai pun Matreisha-ku
meminta. Anak keduanya, Ananda Ravnell tak luput dari incaran suruhannya. Kau
sudah tahu bagaimana ceritaku tentang cara ‘Dia’ bertindak... sampai akhirnya aku
meminta Saravine untuk menjadi Ravnell dalam waktu yang tidak ditentukan. Aku
terpaksa melakukanya, bila tidak Vex akan sangat terpukul bila tahu salah satu anaknya
tewas oleh mereka. Walau kutahu... cara ini berbahaya juga untuk Saravine.”
“Ya... rupanya kau menyadarinya... memang kupikir itulah cara termudah untuk
membuat mereka bertemu tanpa harus mengekspos keberadaan Saravine. Aku tahu apa
yang kulakukan ini kejam dan terburu-buru.”
“Tidak... aku tak mengatakannya pada Vex. Hanya pada Saravine saja. Aku
hanya berpikir suatu saat akan datang masa dimana Vex menyadarinya. Anakmu sama
denganmu, sensitif, dan mudah sekali terluka. Tapi... aku khawatir ia telah
menyadarinya... bila tidak, ia pasti takkan menerima begitu saja Ravnell palsu hadir.
Hanya saja, aku tak tahu kapan ia menyadarinya... mudah-mudahan bukan saat pertama
kali berjumpa.”
“Penyebab Broken Wishes-nya Saravine? Aku tak tahu... Allen... tak menjelaskan
apapun padaku. Keinginan anak itu besar sekali sampai membuatku ingin menjadikanya
Matreisha-ku tapi kutahu, Keinginan-nya hanyalah agar Saravine kembali sehat dan
karenanya aku membawa cucumu kesini.”
Adam tersenyum. Senyum panjangnya menjadi tabir dari Denting Keinginanya.
Getar tubuhnya tak mencerminkan kecemasan begitupun dengan bola matanya yang
tertutup. Kalimat yang memanjang dan semakin menjauh dari topik. Adam berbohong.
Dan itu dirasakan oleh Grendel.
“Maaf... kumohon kau tak mendesakku lagi tentang masalah penyebabnya... aku
hanya meminta kesediaanmu untuk...”
Grendel tersenyum memotong ucapan Adam. Adampun tersenyum
mendengarnya. Ia tahu Grendel setuju untuk membantu.
Tubuh Saravine yang terlilit diangkat menuju dedaunan yang rimbun. Perlahan
dedaunan kembali membungkus Saravine. Setelah daun, kembali sulur itu menutupinya.
Terus sampai akhirnya Saravine tergulung menjadi bola sulur- dedaunan berdiameter 2
tombak. Pada ubun-ubun bola itu tercetak sebuah corong besar menghadap bawah.
Bola yang terbungkus itu mengembung sebagian. Sesekali di kiri, sesekali di
kanan. Bagai ditusuk-tusuk dari dalam. Satu bagian dari bola itu tak dapat menahannya
dan remuk terlepas.
Asap menguap dari sela-sela kulit bola yang terkelupas. Warnanya merah,
menyala dalam gelap membuat pohon besar seolah berdarah.
Grendel memetik dedaunan Gratios, meremasnya sampai menitikkan air. Ia
mengucurkan air itu melalui corong. Perlahan tapi pasti gejolak bola dedaunan itu
terredam. Teh penenang Gratios telah melakukan tugasnya.
“Terimakasih adik. Kuharap dengan ini Broken Wishes Saravine bisa tertahan.
Tapi, kumohon padamu... jangan terlalu memforsir dirimu. Kau juga harus menjaga
kesehatan.”
Sulur Grendel menyentuh Adam sekali lagi. Bibir Grendel bergerak-gerak pelan.
Adam mendengar dengan seksama. Ia menutup matanya dan tersenyum lembut dan
membelai sulur Grendel.
“Kau sebagai Wishmaster tentu tahu jawabannya. Pasti kita semua akan berkata
bisa pada semua hal termasuk membelokkan cinta dan takdir. Keinginanlah yang
menggerakkan semua materi dalam dunia ini.”
Adam mulai menyanyikan sebuah sajak
Disaat kau tahu sejarah bergerak
Dapatkah kau menghentikannya?
Disaat kau tahu takdir berbicara
Dapatkah kau membungkamnya?
Disaat kau tahu Takdir dan sejarah diam
Dapatkah kau tahu kau yang mendiamkanya?
Disaat Keinginan dan Kuasa bertabrakan
Dapatkah kau tahu siapa pemenangnya?
Kami sebagai Pembawa Keinginan akan berkata bisa
Kami mengenal diri kami
Alam hanyalah sebagai media
Grendel tak memperlihatkan perubahan wajah. Ia tak menggerakkan sulur
tubuhnya sezarah pun. Tapi bagi Adam, getar senang sudah cukup baginya untuk tahu
jawaban Grendel.
Langkah Adam menguat, menandakan keyakinan. Keyakinan memperkuat
keinginan. Dan Adam yakin... ia akan mengakhiri segalanya dengan baik. Ia melesat
meninggalkan kebun teh Gratios.
Chapter 12
Maria dan Ketetapan Perjanjian
Rute Efitia, 20.000 tombak dari Grtright. Rute Efitia, Rute 1000 lentera. Salah
satu rute terpendek menuju Schwertvalle karena memotong hutan Efitia. Rute ini
sebenarnya sangat ramai dipadati pada siang hari. Kereta-kereta dagang melintas
simpang siur tanpa henti. Hanya tengah malam saja mereka tak berani menjamah
daerah ini. Rumor perampok dan begal jalan malam hari cukup memutus nyali
pedagang. 1000 Lentera Pyramite yang dipancangkan di sepanjang jalan tak cukup
memberi penerangan lebih untuk hutan.
Kesunyian rute sekali waktu ini ternodai. Bulan purnama yang memasuki fase
sempurna terakhirnya mau tak mau terganggu oleh manusia-manusia yang bergerak
mendobrak angin.
“Hey! Jangan ngajak main sekarang dong!! Kami kan Cuma sekedar melintas saja
di depan kalian!”
Teriakan tak suka meluncur begitu saja dari mulut Allen. Dia-lah salah satu di
antara sosok manusia yang berkelebat.
Allen melompat dan berlari di udara dengan kecepatan tinggi. Ia melewati barisbaris
lentera Pyramite. Sesekali mendarat di lentera sesekali menolak udara.
Allen menengok ke belakang. Ia dikejar! Allen sebenarnya suka kejar-kejaran tapi
yang membuat Allen kesal adalah ia seperti dikerjai oleh mereka. Pengejarnya ini selalu
menyiapkan jebakan di setiap titik Allen bergerak. Ruas-ruas bambu, ledakan lentera
Pyramite bahkan sampai hujan panah menghuni tempat Allen menapak. Entah itu di
semak-semak pinggir jalan bahkan sampai kubangan lumpur. Yah, belum lagi barisan
pengejar sesungguhnya di belakang mereka. Kepulan debu yang terlihat di malam hari
saja cukup membuat jeri.
Serangan gelap juga menjadi variasi jebakan. Sekali sergap memang hanya duatiga
orang saja tapi efek kejut dan serangan mereka tak main-main: kampak yang
merobek udara, tombak yang mengincar titik Vital, sampai pada pedang panjang yang
mengancam.
“Siapa sih mereka ini?!”
Tanya Allen sekali lagi pada Arche, yang sedang menaiki Piy, di sampingnya. Piy
dan Arche pun sepertinya kesulitan menghindari serangan kejutan pengejar mereka ini.
Komandan Sayap Selatan ini beruntung karena ia bisa tahu jebakan fisik yang
direncanakan terhadapnya tapi menghadapi serangan gelap bukanlah perkara mudah.
Tangan kirinya mendekap Anne agar tak jatuh, tangan kanan memegang kendali. Ia
hanya mampu membalas –dengan kaki- sebisanya. Giginya bergemeretak kesal
berusaha menghindar sekaligus menjawab pertanyaan Allen. Ia sendiri ingin tahu siapa
pengejar-pengejar misterius ini.
Dalam remang cahaya lentera, Arche mendeduksi identitas lawan mereka. Zirahzirah
mereka terlihat kokoh dan kuat. Senjata-senjata 1 tangan ditambah perisai di
tangan kiri. Perisai yang tidak terlalu besar. Helm mereka terhiaskan hewan-hewan
besar... Anima! Ia dapat kelas mereka. Pandangannya berganti dalam tiap perdetik,
menilik identitas lain secara spesifik.
“Hyddrick R-Knight! Lihat Insignia mereka!”
Allen salut. Remang tidak membuat pandangan mata Arche buram. Ia sendiri
tidak menyadari adanya emblem khusus di dada pengejar mereka.
“Adduh mana kakak Ark sedang tidak ada lagi! Kalau kakak Ark ada kita bisa
kabur dengan mudah!” Keluh Allen.
Ark dipanggil mendadak oleh Rex. Menurut Ark, Rex memanggilnya untuk
urusan Penggelapan dan karenanya ia wajib hadir. Hubungan Petir dan Tanah memang
aneh, keduanya bernaung di tempat yang berbeda namun harus saling melengkapi. Tak
ada tempat bagi siapapun untuk kabur bila Tanah dan Udara telah terpegang. Air? Petir
akan menyambarnya bila perlu.
“Sial!! apa sih yang dilakukan Telik Sandi kota Amarantie? Barisan sebesar ini
bisa sampai lolos masuk teritori Scutleiss!”
Lain Allen lain Arche. Tiap orang punya keluhan sendiri-sendiri.
“Allen, bawa nona Anne!”
Allen langsung saja duduk di Piy. Merak sombong ini hampir saja mengamuk
tatkala kaki Allen menyentuhnya. Untunglah ia kembali kalem setelah prosesi
penyerahan Anne terselesaikan. Piy merundukkan badan dan menambah kecepatannya.
Arche memberikan isyarat agar Allen masuk hutan lebih dalam. Allen mengerti
dan langsung melesat, menghilang masuk dalam kegelapan hutan Efitia. Setelah jarak
pengejar dan Arche agak jauh, ia langsung menghentikan laju Piy dan melompat turun.
Di udara ia melesat-gantungkan satu bulu merak. Setelahnya, tubuh kekar ini berdiri
menghadang. Matanya lurus pada barisan yang mengejar mereka.
“R-Verse!!”
Piy berhamburan menjadi Zirah yang langsung mengimbuh Tombak Arche.
Tombak lima baris ekor Merak kembali hadir dan siap mengulung lawan. Cengkraman
Arche diperkeras. Sinar biru lembut mewarnai tombak 5 barisnya. Ia siap dengan jurus
andalannya.
“BUSTER MANA!!”
Barisan yang mengejar mereka menyilangkan perisai mereka. Semua zirah yang
ada dalam tubuh mereka berpindah mengimbuh perisai yang mereka bawa. Di
sekeliling perisai tersebut terhimpun ratusan segi enam yang mengapung melindungi
perisai sekaligus membuat ukuran perisai seolah membesar.
BUSTER MANA menghantam telak! Tapi para pengejar tak bergeming jauh dari
posisinya. Arche yang melihat ini tampaknya menyadari satu hal.
“R-Shield...” Tapi ia memprioritaskan gerak ketimbang berpikir!
Arche mengangkat tangan kananya ke udara.
Arche tersenyum saat melihat bulu yang dilemparnya melayang di atas kepala
para pengejarnya.
“Efee There Sight!” teriaknya bersamaan dengan turunnya tangan kiri ke bawah.
Bulu merak yang melayang di udara mendadak memecah mengganda. Pandangan
para pengejar mereka sontak tertutup oleh badai bulu merak. Dalam waktu singkat ini
Arche langsung tancap gas mengikuti jejak Allen yang masih terus dikerubungi
pengejar mereka.
Bagi Arche, terutama bagi Allen, persiapan pengejar mereka cukup menyebalkan.
Kunang-kunang boneka yang tertempel di helm mereka melayang menuju Allen dan
membuat kerlip-kerlip pemberi tahu dimana Allen berada. Biar ditepis seperti apapun
juga tetap saja Kunang-Kunang Boneka tak mau lepas. Allen saat ini sudah seperti
lentera-hijau berjalan yang terus dikepung.
Allen mulai resah, ia akhirnya melawan juga. Berkali-kali ia melepas Angin
berkekuatan 5 tapi sepertinya angin tersebut tak mampu menjatuhkan lawan-lawan kali
ini dengan telak.
“Wow! Mereka jauh lebih badak dari barisanmu!” puji-ledek Allen saat melihat
kedatangan Arche –yang juga diikuti Kunang-Kunang Boneka.
Pengejar mereka memang lelet tapi kemampuan R yang dipakai mereka; R-Shield
mampu meredam nyaris semua serangan Allen. Perisai yang telah terimbuh Kultur R ini
seakan menjadi gunung penghalang angin.
“Tak ada angin yang lebih lembut lagi?”
Ledek-puji Arche
“Area level 2, Kekuatan level 6, Angin.” ujar Allen dalam cengirannya.
Taifun kecil terbentuk dari tangan Allen. Taifun itu melaju deras menuju tiap
target. Daya dorong dan hancurnya jauh berbeda dari sebelumnya. Perisai-perisai lawan
mulai terlontar dan beberapa diantara mereka terbang menembus pepohonan.
Arche bersiul. Lawan duelnya dahulu ini sangat pantas dijadikan kawan. Iapun
tak mau kalah, ia menelan pil FaithaFill untuk menaikkan daya konsentrasi dan
keyakinannya. Konversi R-Verse + peningkatan konsentrasi dan keyakinan = penguatan
BUSTER MANA! Sekali tangan Arche mengibas tak ayal para R-Knight pengepung
melayang mati rasa.
Mereka semakin jauh menembus hutan. Pengejar mereka pun sepertinya tak
begitu kukuh mengejar tapi bagi Arche, justru hal itu mencurigakan. Dalam gelap, mata
Arche yang awas mencoba menyelidiki posisi mereka. Ia melihat sekeliling. 3... 4... 8
orang diatas pohon. 5 di kiri dan kanan! FORMASI! Mereka terjebak!
“Allen! Berhenti! Ini Jebakan Prisma Angin!”
Telat!
Allen mendadak berhenti menggantung di udara. Ia terjerat benang-benang halus.
“Hey Hey! Ini jadi tidak lucu nih! Aku sedang membawa kakak Anne! Jangan
gantung aku seperti ini!”
“Area Level 5, Kekuatan level 3, Angin!”
Benang-benang halus terkoyak kesana kemari memecut udara. Daya angin itu
cukup keras bahkan sampai membuat Kunang-Kunang Boneka lepas dari badan Allen.
Kala itulah pohon-pohon yang berada di sekeliling Allen bergerak hendak meniban.
Arche bergerak cepat memotong semua pohon hendak menghujam pusat: Allen.
Sayang, begitu Arche selesai, tanah berpijak mereka runtuh. Puluhan pasang
tombak yang berasal dari tanah menyentak. Allen merespon cepat, ia menangkap
tangan Arche dan menendang udara, kabur. Sebelum napas mereka lepas, sebuah jaring
besar menimpa mereka. Mereka bertiga jatuh dan tombak yang berada di tanah melaju
deras mengejar. Kilau tajam mata tombak sebentar lagi akan merobek kulit mereka
bertiga. Tapi lagi-lagi gerakan mereka terhenti di udara. Kembali benang-benang halus
menahan jatuh mereka dalam bentuk segi delapan bertumpuk enam.
“Adaw! Nyaris saja tewas.” keluh Allen
Keduanya mencoba membebaskan diri tapi jaring itu tidak membiarkannya.
Semakin bergerak semakin erat mereka terikat. Allen mulai frustasi, ia hendak
melontarkan level angin yang lebih tinggi. Saat ia hendak mengucap kalimat tahu-tahu
saja sebuah jarum menancap di tengkuk Allen. Pingsan.
Di lain sisi, Arche hanya menggigit giginya. Bulu Meraknya lebih pada tipe tusuk
dibanding tebas. Dan gerakan meronta Allen justru membuat mereka tambah terjerat.
Baginya, jalan untuk lepas dari jaring ini telah hilang.
Tertangkap...
“Prisma Jebakan Angin... lalu Kumparan penangkap Delapan sisi... Telik Sandi...
Trappers... dan R-Knight.” desis Arche. Otaknya mulai berpikir keras siapa pelaku yang
bisa menyatukan tiga kelas ini dalam satu kesatuan gerak yang terkoordinir rapih.
Suara bergemerasakan terdengar dan Arche waspada. Cahaya hijau Kunangkunang
boneka mulai bermunculan. Pengepung mereka mulai menunjukkan diri.
Telik Sandi... mereka muncul dengan seragam hitam-hitam mereka. Cadar
menutup mulut, dua sisir besar yang bersilang di rambut yang bersanggul, dan kantung
kulit berisikan perkamen-perkamen Rosetta adalah identitas utama mereka. Sisir besar
yang dipegang mereka disatukan menjadi busur kecil yang mengarah pada Arche.
Bilah-bilah sisir itulah yang menjadi panah yang mengancam.
R-Knight dengan emblem Hyddrick. Mereka membawa perisai yang telah
terkonversi oleh R-Shield. Wajah hewan Anima pada perisai mereka adalah hewanhewan
besar: Banteng Urean, Gajah Phonic, sampai Kuda Niel. Anima hewan-hewan
besar herbivora? Ciri khas Anima R-Knight besar tidak seharusnya dimiliki oleh
Hyddrick. Anima mereka pada umumnya hewan-hewan darat bertaring.
Trappers... memangnya unit ini bisa diterima Hyddrick? Tukang iseng nomor
satu, penjebak, pengkhianat yang terbuang ini tak seharusnya berada dalam barisan.
Sebagai kaum penipu ulung, mereka sangat menyukai warna yang necis: ungu. Bagi
Arche warna unit-unit Trappers adalah warna yang palsu dan secara kenyataan memang
cocok dengan mereka. Joran pancing panjang lagi lentur adalah senjata utama mereka.
Satu nasihat yang selalu diingat Arche: Jangan tertipu oleh tampilan mereka yang
mirip dengan pemancing! Topi jerami yang mereka pakai menyimpan jebakan dan
kantung bumbung umpan mereka justru menjadi selongsong amunisi terkenal mereka:
Panah DeDetik. Panah itu akan membakar dan meledakkan korban mereka dengan
kuasa elemen Api melalui benang yang telah dilumuri minyak peledak. Sekarang
panah itulah yang mengarah tepat pada Arche. Joran pancing yang melengkung lentur
itulah yang menjadi busur.
Dentum langkah menggetarkan bumi membuat Arche kembali meyakini apa yang
ia simpulkan. Keyakinannya menguat tatkala pohon-pohon di sekeliling arah datangnya
suara terlihat menyingkir memberi jalan. Pancaran sinar hijau yang datang dari arah
getaran akhirnya menguak kemisteriusan pemilik langkah.
Kura-kura besar berwarna hijau muncul dari balik pepohonan. Arche lantas
meregangkan kewaspadaannya. Tidak, lebih tepat disebut... ‘pasrah’
“Lordess Maria... seharusnya saya tahu ini perbuatan anda.”
Lordess Maria Fangabell. Komandan R-Knight Scutleiss Utara. Komandan
Strategis dan pembentuk Formasi Kerajaan Erune. Lordess Maria masih lajang di
umurnya yang sudah kepala 5. Ia terkenal dengan julukan nona Hijau karena selalu
menyukai warna hijau. Mulai dari baju sampai R-Animanya pun berwarna hijau.
Setidaknya ia tidak benar-benar menjadi manusia hijau... rambut panjang lurus, ikat
pinggang, sepatu bot dan dan dua buah Cross Bow hitamnya menjadi penggelap hijau.
Dalam gelap malam dan hutan, hitam menjadi warna yang menyembunyikan identitas.
Wajah Maria Fangabell termasuk dalam kategori cantik. Ia memiliki rupa dan
garis wajah keras dengan alis dan bulu mata yang panjang meruncing. Bola matanya
hijau dan senada dengan warna cahaya remang Kunang-Kunang Boneka. Senyum
Maria terlihat seperti sebuah senyum mengejek, sudut bibir atasnya selalu terangkat dan
ia memandang selalu dengan sebelah mata. Roman keangkuhan sekaligus keanggunan
dari seorang perempuan perbatasan Gunung Teoterrateis.
Lordess Maria terkenal dengan keragaman termasuk kontroversi pasukannya. Ia
mencampurkan dua kubu berseberangan: R-Knight dari basis Penjaga Tahta Kerajaan,
Telik Sandi dan Trappers dari kubu Jalan Kegelapan. Keberadaan yang paling dianggap
mengganggu tentunya adalah Trappers yang memiliki kultur pembohong. Tapi di
bawah komandonya, pasukan ini menjadi kekuatan tempur yang tersohor.
Lordess Maria duduk bersenderkan cangkang Kura-Kura yang terbelah tegak.
Cangkang itu menjadi sebuah kursi yang melindungi punggung Maria. Majikannya
sendiri duduk dengan santai. Dua buah Cross Bow miliknya disenderkan begitu saja di
bawah kakinya. Gaya anggunnya itu cocok terpadu dengan gaya bicaranya yang khas.
“Masih dangkal Arche, Masih dangkal. Daya Analisismu masih saja lamban. Bila
Kualitasmu terus seperti ini bukan tidak mungkin Pedang Lawan bersarang di
jantungmu. Langkahmu Yang memutuskan untuk masuk hutan Terbaca Jelas. Bahkan
Dirimu tak sempat menyadari siasat Jumlah Pasukan. Dirimu Lupa akan kemampuan RKnight
Scutleiss yang elite. Daya Identifikasimu bahkan terlalu tumpul untuk
mengenali pola jebakan dan Pasukan Penjebak. Padahal Angka kelahiranmu berada
pada bulan ke Dua. Tak Seharusnya identifikasimu dipenuhi Bolong. Kontradiksimu
kali ini Luar Biasa.” ujar Maria sembari memainkan dan mencium rambut panjangnya.
“Nona Maria, Kumohon anda mau mempercepat analisa kesalahan saya.” potong
Arche. Maria tersenyum tipis. Ia menyandarkan kepala pada punggung tangannya. Mata
hijaunya menilik Arche dari atas sampai bawah. Sosok yang tak berdaya itu menjadi
pemandangan yang memuaskan komandan ini.
“Benar-Benar Terburu-buru sekali. Detak Jantungmu lebih cepat dari ritme
biasanya. Napas Terhembus dua jengkal Lebih Panjang. Keringat Bercucuran dan pupil
mata yang mengecil. Sudut Wajah kaku menahan Emosi. Tulang Pipi dan alis berkerut.
Tangan Mengepal keras. Bulu Kuduk meremang. Ketenanganmu Telah hilang.
Pergerakan Halus tapi mengancam. Kepala Itu pasti sedang Memikirkan Waktu yang
diburu. Oh Dan Dapat Terlihat Dirimu menebar bulu Merakmu. Peningkatan Penjagaan
yang Luar biasa, Sayang Binasa.”
“Kami ada urusan penting.” jawab Arche pendek. Matanya melirik pada Allen
dan kembali pada Anne. Maria melirik pada Allen yang tak lepas membopong Anne.
“Partner Perjalananmu lumayan juga. Refleknya Mampu membawa dirinya
menghindar dari Bahaya Instan.” Maria menunjuk salah satu R-Knight untuk
mendekatkan obor Pyramite pada Allen dan Anne.
“Nona Maria, anda telah membaca laporan yang kukirim bukan?” ujar Arche. Ia
sebisa mungkin mengalihkan perhatian Maria dari Allen. Ia tahu, komandan satu ini
memiliki rasa curiga yang luar biasa. Sangat mungkin sekali akan ada masalah dalam
pertemuan mendadak ini.
“Bukankah nona...”
“Anne... Eaumi?” potong Maria.
Maria mendadak berdiri dari kursinya. Sesuatu hal yang tidak lazim. Mata
hijaunya membeliak senang. Ia kenal Anne?
“Turunkan Anne Eaumi sekarang!” perintahnya langsung. Para Telik Sandi dan
Trappers mematuhinya. Anne diturunkan sementara Allen dibiarkan saja tergantung;
dilihat mukanya saja tidak.
Sekarang giliran Arche yang tidak mengerti. Keberadaannya bahkan seperti
diacuhkan oleh Maria. Padahal dirinya sudah siap untuk dipermainkan oleh Komandan
R-Knight satu ini.
Maria turun dari kura-kura hijaunya. Lagi-lagi, Sesuatu yang tak lazim kecuali
dalam perang atau pertemuan formal. Ia berjalan pelan menuju Anne. Didapatinya
Anne sedang terengah-engah dalam lelapnya. Maria menengokkan mukanya pada
Arche.
“Apa Pertanggungjawabanmu?”
Arche tertegun mendengar pertanyaan ini.
“Ma... maksud Nona?”
“Reputasimu Di kota sebagai Perontok Perempuan sangat terkenal. Hanya Saja
Kali Ini Kakimu Menyandung Batu Besar.”
“Tidak begitu nona Maria. Justru hal ini telah saya laporkan. Nona Anne-lah yang
saat ini harus dirawat dan dijaga.”
Maria menjentikkan jarinya. Seorang Telik Sandi menyerahkan sebuah perkamen
Rosetta pada Maria. Maria membukanya dengan senyum kemenangan.
“Dear Lordess Maria. Saya, Arche Efeether menyatakan sedang menjaga jantung
hati yang hilang. Keberadaannya yang tak berwujud saat ini membuat hatiku gelisah.
Kudengar ia takkan sembuh kecuali dengan cinta yang murni. Dan Cinta, hanya datang
pada perbatasan gunung penuh darah. Saya khawatir waktu tidak berpihak dan ruang
menjadi lawan sejati. Demikianlah curahan hati saya pribadi. Mohon tanggapan
Lordess.”
Maria berdecak dan menutup perkamen itu dengan tegas. Suara kertas yang nyaris
robek menggodam hati. Ia memutar perkamen dan menunjukkan sisi pojok perkamen.
Sisa-sisa goresan tinta Arche yang meleber menunjukkan aksara yang menjadi saksi.
“Anne atau Dia yang dijanjikan?”
“...Dia yang dijanjikan...” jawab Arche -berusaha setegas mungkin.
“Lalu Mengapa Anne Eaumi ada bersamamu, Efeether? Ingat, Kriptografi tak
boleh ambigu bagi Penerima. Satu Kalimat satu Makna satu Tujuan.”
Bagi siapapun yang melihat, jelas terasa bahwa Arche diperlakukan seperti anakanak.
Angin yang keras ini pun manggut-manggut saja. Maria menaikkan telunjuknya
meminta sang kura-kura mendekat. Setelah berjarak sekitar dua tombak, Ia berujar
lembut “R-Verse.”
Kura-kura tunggangannya meledak berhamburan tanpa suara. Pecahan-pecahan
tubuh kura-kura-yang-tak-lain adalah R-Anima ini mencelatkan Dua buah Cross Bow
hitam milik Maria.
Dua buah Cross Bow hitam terlempar menuju Maria. Di tengah udara, Cross Bow
hitam itu menjadi satu dengan pecahan zirah. Laras, busur yang lebih panjang, dan
dengan ketebalan yang tak main-main. Warna hijau bercampur dengan hitam dengan
moncong Kura-Kura yang terbuka lebar. Pelatuk berada dibagian bawah yang besarnya
saja mencapai ukuran tangan. Maria menangkapnya. Tanah di sekitar kaki Maria
bergolak ringan.
“Countess De Terra.” Desis Arche mengenali Cross Bow besar itu. Cross Bow itu
memiliki beberapa julukan seperti Grand Ballistae karena daya tembusnya yang setara
dengan menara pertahanan. Cross Bow ini juga dijuluki Penggentar Jera karena efek
lainya yang mengerikan.
Cross Bow itu diangkat dan ditodongkan pada Arche. Laras itu telah terisi Paku
bumi yang panjangnya saja nyaris sepanjang tubuh Allen. Arche yang masih tergantung
hanya bisa menelan ludah menunggu kehendak Lordess satu ini.
“Macam-Macam Dengan Anne Eaumi…” dan hanya senyum saja setelahnya.
Arche mengerti jelas apa arti kalimat Maria. Skak mat. Kurang lebih itulah artinya.
Arche pernah melihat sendiri bagaimana paku itu menghujam lawan. Sesuai namanya,
Countess De Terra: Bangsawan (perempuan) Bumi, yang tertembak akan membatu
separuh badan. Bila tak mati maka sang korban akan terpasung dalam tanah dan siap
menunggu ajal.
“Bila Memang Gunung Farangi menjadi tujuan, Mengapa Harus berbelok menuju
Gunung Efitia? Karena Anne Sakit atau Karena pelarian?” ternyata Lordess Maria telah
mengetahui status Allen atau setidaknya begitu.
“Yang pertama.” jawab Arche.
“Friete air, Aqua pint, Minteal rejuve, Thi-less, Alfillatis muton, atau Vita glaive.
Mana Di Antara obat tersebut yang dibutuhkan Anne?”
“Friete air.”
“Fissure Fana.” ujar Maria. Ia mendengus. “Tunggulah di Schwertvalle. Daun Itu
akan Sampai di depan penginapanmu besok pagi.” Lordess Maria menurunkan bidikan
Countess De Terra.
“Tapi Lordess Maria! Saya juga ingin mencari daun itu!”
Maria menyipitkan mata. Ia berputar mengelilingi Arche yang masih tergantung.
Cross Bow besarnya disandang begitu saja di pundak seolah bukan benda berat.
“Dia Atau Anne?” tekan Maria.
“Menjaga nona Anne saat ini menjadi kewajibanku. Aku jugalah penyebab
dirinya menjadi sakit seperti ini dan karenanya aku yang harus bertanggung jawab.
Janjiku dengan Permaisuri Vex tidak akan batal dengan menjaga nona Anne.”
Mata Arche berkilat terpantulkan cahaya Kunang-Kunang Boneka.
Maria menghela napas. Satu hal yang tak biasa ia lakukan. Ia berujar
“Mudah-mudahan Vex Tidak salah menjadikanmu komandan Selatan. Hatimu
Masih mudah tergetar oleh pesona. Padahal Dirimu masih menyimpan kenangan
dengan yang dahulu. Tapi Dirimu tak dapat dipersalahkan bila menyukai Anne.”
“Kuharap nona Maria tidak salah paham akan situasi kami ini.”
Maria memandang langit yang dipenuhi bintang-bintang. Waktu... ia tahu ia tak
punya banyak waktu. Kekhawatiranya mungkin saja suatu saat terbukti dan ia tahu akan
sangat susah mengubah Angin yang keras.
“Sudahlah, Bawa saja dua R-Knight dan dua Telik Sandi. Kelompok Kecil lebih
cocok untuk menjelajah Gunung Efitia. Berjanjilah Akan kesembuhan Anne.”
“Nona Maria... bolehkah saya tahu mengapa nona begitu perhatian terhadap nona
Anne?” Maria tersenyum. Sebuah senyum lembut bagi perempuan utara. Tak ada garis
mengejek dan sombong. Matanya menyipit, menampilkan ekspresi senang tapi sedih
mendengar pertanyaan itu.
“Alexander.” ujarnya singkat.
“Anak angkat Nona?”
Maria diam dalam senyumnya sebelum berkata
“Anne pernah menolong Alexander. Karenanya Anne Pernah kutunangkan
dengan Alexander. Anne Tak menolak. Sayang, Alexander gugur dalam Pertempuran di
Puncak Gunung Teoterrateis. Anne Menghilang setelah itu. Sekali waktu Keinginan dan
Harapan tak semanis yang dikira. Begitupun Perjanjian.” hambar namun tetap
memperlihatkan ketegaran hati; itulah yang tergurat dalam senyum Maria. Tapi di balik
senyum itu terlihat pahit tersimpan.
“Saya mengerti...” timpal Arche dalam senyum pahit. Maria mengayunkan
lengannya. Semua tombak-tombak jebakan dari tanah kembali ke tanah dan semua
jaring penahan terputus membuat Arche + Allen jatuh rebah di tanah. Tanpa daya.
Maria berkata.
“Pergilah Sekarang. Tengah dan Timur tak boleh tahu Utara tak dalam
posisinya.”
“Saya mengerti. Saya mohon anda berhati-hati dalam perjalanan terutama saat
berkendara Callabadoust.”
“Bukan Urusanmu komandan cilik.”
Maria mengambil sebuah bola kecil seukuran jari telunjuk dari balik sabuknya. Ia
melemparnya pada Arche. Arche menangkap, ia memandanginya. Pahamlah ia maksud
dari pemberian bola tersebut.
“Peraturan Pertama bertahan hidup saat Bepergian: Jangan Mencolok.”
Arche hanya bisa tertawa kecil (dalam hati). Memangnya membawa kura-kura
besar sebagai tunggangan tidak mencolok?
Tapi ia tahu, di balik kalimat itu terdapat makna lain yang harus diwaspadai.
“Abell, Sletch, Uwe dan Pjo. Temani Komandan Cilik mencari Friete air. Dalam
1 x 24 jam Laporan Sudah harus Sampai di Benteng Teio. Fyu, Guardio, dan Hans
bawa Anne dan teman pelariannya ke penginapan Jantung Pedang di Schwertvalle. Jaga
Anne dengan seluruh kemampuan sampai Bantuan datang.”
Dua Telik Sandi dan dua R-Knight menjadi partner baru Arche. Sedangkan satu
Telik Sandi dan dua R-Knight menjadi penjaga Allen dan Anne. Mereka semua
menganguk mengerti dan patuh mengikuti perintah komandan mereka.
Setelahnya Maria memanggil Callabadoust, Kura-Kura R-Anima-nya. Ia
mengendarainya pergi dalam kecepatan setengah kecepatan Piy berlari. Pepohonan
yang berada dalam jalur jalanya bergeser menyingkir membuat jalan lurus langsung
keluar hutan. Hentakan kaki Kura-kura itu hampir tak terasa bagi Arche. Hanya saja,
apa yang Maria katakan barusan mengingatkannya akan beban berat tugas yang
menanti.
Chapter 13
Schwertvalle dan Romansa Pedang
Gugusan Pagar Pedang.
Itulah nama lain dari Gerbang kota Schwertvalle. Kota ini memiliki pagar dari
pedang-pedang yang tertancap di tanah. Pedang satu tangan, Broadsword, Rapier,
sampai pisau menjadi pagar tak beraturan kota ini. Debu, pasir, dan gersang menjadi
ciri khas pemandangan kedua. Rasanya dalam sekali pandang, tempat ini bisa
memancing amarah dengan cepat… apalagi bila terik berada di puncak kekuasaanya.
Jujur, tempat ini kurang baik bagi anak-anak di bawah 7 tahun.
Tapi di luar itu, Schwertvalle terkenal pula dengan museum pedangnya. Museum
pedang kota ini hanya bisa dibandingkan dengan kelengkapan Museum Senjata distrik
17 kota Hyddrick. Selain Museum Pedang, kota ini juga terkenal dengan banyaknya
perkumpulan-perkumpulan tentara bayaran. Populasi kelas-kelas Militer Fisik dan juga
Mental berbaur dengan penduduk sipil. Beberapa tahun belakangan ini aktivitas
perkumpulan-perkumpulan makin menguat mengingat tercetus rumor kemungkinan
berkobarnya perang besar dalam perbatasan Amarantie. Dan tentu saja, Warkop-warkop
dan kedai-kedai tak jarang dijadikan tempat bertukar informasi.
Pagi buta. Ayam jantan masih belum berkokok. Sinar mentari masih merah malumalu
menyapa sudut kamar penginapan bernama SchwertHrath. Di sinilah Allen duduk
tertidur di kursi kayu reyot. Kantung matanya sembab. Ia menghadap Anne yang
terbaring lemah di ranjang kayu yang telah lapuk. Di kiri dan kanan Allen terdapat dua
orang R-Knight. Satu diantara mereka duduk tidur menyender dinding. Sementara satu
lagi berdiri menatap Anne tak bergeming. Telik Sandi yang menyertai mereka berjaga
di bawah dan menyamar menjadi pemabuk.
Penginapan ini tak seperti penginapan Grtright. Lantai kayunya terlihat rapuh dan
tak terawat. Selimut yang sudah menguning kotor. Lemari tempat gelas dan bejana air
yang peliturnya tak lagi mengkilat. Ditambah ranjang kayu yang tak memberi
kenyamanan saking tipisnya bulu-bulu dalam kasur. Jendela kamar langsung mengarah
pada matahari membuat mata penghuni tak lagi nyaman kala istirahat siang hari.
Tambah lagi, jendela itu tak punya kusen. Jendela itu nyaris seperti lubang besar
menuju dunia luar. Tapi menurut para R-Knight, tempat inilah yang tak menyolok.
Mungkin… tapi satu hal yang pasti: kurang baik bagi orang yang sakit.
Keringat Anne mulai mengalir deras. Garis-garis Fissure Fana mulai merambat
cepat menuju bahu sang gadis. Hanya satu orang saja yang mampu menahan efek ini:
Allen.
Allen bangun tersentak akibat dibangunkan secara paksa. Jitakan di atas
kepalanya, yang disarankannya sendiri, membuatnya misah misuh setelah membuka
mata.
“Hah? Astaga! Terjadi lagi? Adduh paman kemarin tidak ada... mana Penyembuh
di sini payah semua. Masa kakak Anne disuruh makan obat anu-ini-itu seenaknya saja.
Aku juga tak bisa menyembuhkan sebaik kakak Anne.” keluh Allen sembari
mengarahkan Plakatnya pada tangan kanan Anne. Mata sembab itu membelalak sejenak
berusaha mencari nyawa yang masih belum utuh masuk ke sang empu tubuh.
“Atas nama Dark Nature, Nyawa yang tersembuhkan, Air.”
Gelembung-gelembung air muncul dari Plakat Platinum Hitam dan memercik
tangan kanan Anne.
“Maafkan ketidakmampuan kami.” ujar R-Knight yang masih bangun.
“Aih, tak usah dipikirkan. Kalau tidak ada Paman-paman aku pasti tidak bisa
menjaga kakak Anne. Bisa-bisa nanti kakak Anne pergi jauh.” Allen berusaha nyengir
sembari masih mengarahkan plakatnya pada tangan kanan Anne. Fissure Fana mulai
terdorong mundur dan perlahan mulai kembali pada dua baris segel Dim yang mulai
memudar. Setelah masuk, barulah garis-garis Fissure Fana berhenti bergerak.
“Kayaknya makin lama makin cepat saja. Arche kemana ya? Takutnya nanti
kakak Anne kenapa-kenapa...”
Allen semakin cemas. Makin ia melihat Anne yang terbaring tak berdaya semakin
ia melihat image Saravine saat terkena Broken Wishes. Dan ia tahu, semua terjadi
karena ulahnya. Allen teringat ucapan Saravine yang kira-kira berbunyi “Sebuah
keinginan bodoh saja bisa merengut kehidupan.” Tapi, ia bersumpah demi Kuasa Dark
Nature, ia tak berkeinginan hal ini terjadi sama sekali.
Pintu kamar mendadak terbuka dengan keras. R-Knight di samping Allen
bersiaga dan yang terlelap sontak terbangun.
“Akhirnya datang juga!” teriak Allen senang melihat sosok yang memasuki
kamar.
Arche yang datang. Ia terlihat lelah dan bila dilihat, tak hanya lelah saja. Tubuh
itu nyaris babak belur. Bekas-bekas luka kecil yang masih belum mengering bertengger
nyaris di mana saja. Helm R-Knightnya berantakan dengan ranting-ranting kayu
menyelip. Belum lagi, wajah tampan Arche yang berlumur lumpur.
Ia datang bersama dengan empat orang pengawalnya. Mereka jauh berbeda.
Mereka datang dengan wajah rapih dan seolah tak terganggu.
“Arche... ada apa dengan penampilanmu?” tanya Allen yang takjub melihat
kontras kedua pihak “Apa memang dandanan ini sedang populer?”
“Jangan tanya sekarang.” Arche benar-benar terganggu dan tak mau diusik.
Empat orang dibelakang Arche juga memberi isyarat ‘jangan ditanya’. Bahkan ada
ekspresi ‘awas leher bisa hilang’ dari salah satu Telik Sandi.
Arche mengambil sebuah gelas panjang dari lemari yang berada dekat Allen. Ia
mengambil kantung kulit coklat yang tergantung di pinggangnya. Dua helai daun
berwarna biru muda dikeluarkannya. Daun itu diletakkan pada bejana dengan
penyaring. Tanpa basa-basi ia menekannya dengan gagang pisau.
Arche mengerjakanya dengan sepenuh hati bahkan ia tak terganggu dengan sinar
mentari pagi yang mulai menyilaukan pandangan mata. Tidak pula terganggu oleh
kokok Ayam jantan. Setitik dua titik air mulai terlihat menggenangi bejana penyaring.
Arche mengambil gelas dan menyeduh air tersebut dengan air hangat.
“Tolong angkat badan kakakmu sedikit.” pintanya sesudah menyeduh air perasan
tersebut.
Allen mengangkat badan Anne. Arche menjepit hidung Anne dan menenggakkan
air ramuan itu pada Anne.
“Waduh! Apa memang harus begitu cara minumnya?”
Arche tak menjawab dan membuat Anne menengak habis seluruh gelas. Anne
terbatuk-batuk setelahnya.
“Wah! Berefek! Tapi aku tak mau kalau harus minum obat seperti itu.”
“Tapi itulah cara yang dilakukan bila pasien pingsan.” Ujar salah satu R-Knight.
Allen ber “OOO” besar. Ia belajar hal baru.
Allen kembali menidurkan Anne. Mereka menunggu reaksi obat.
Tangan Anne bergoyang, bergetar, lalu tahu-tahu saja Garis hitam Fissure Fana
merayap cepat menuju bahu.
“AH!!” jerit Allen. Peristiwa yang tak diinginkanya terjadi!
“Atas nama Dark Nature, Nyawa yang tersembuhkan, Air!”
Gelembung air mengarah pada tangan kanan Anne tapi hasilnya tak sama seperti
sebelumnya. Bahkan kali ini berefek terbalik. Kecepatan merambat Fissure Fana
bertambah. Allen jelas panik. Ia membatalkan perintah Plakat Platinum Hitamnya.
Telat.
Fissure Fana telah mencapai dada dan leher Anne. Tubuh lunglai itu mendadak
terguncang hingga melengkung. Darah hitam termuntahkan dari mulut Anne. Lalu
bagai bulu yang lembut, tubuh Anne kembali tergolek di kasur. Garis-garis Fissure Fana
perlahan menghilang begitupun dengan denyut napas Anne.
“Astaga! Kenapa ini? Arche... kamu tidak salah memberi obat bukan?” jerit Allen
dalam kepanikan.
“Tidak... Tidak mungkin...” Arche tak hanya terkejut. Ia bahkan sudah kehabisan
kata-kata begitu melihat reaksi terbalik ramuan barusan.
“Ini pasti gara-gara kamu meminumkanya dengan cara begitu! Kakak Anne pasti
tak bisa bernapas!”
Arche terdiam. Ia memandangi tubuh yang tergolek lemah itu. Matanya berharap
ia salah. Tidak... matanya tidak salah. Tidak ada getar sedikitpun dari tubuh Anne. Ia
berharap nadinya tidak panik. Allen justru tambah misah-misuh dan makin jadi
menyalahkan Arche.
Mau tak mau para R-Knight menahan Allen agar tidak macam-macam. Allen
berontak. Seringainya tak lagi memperlihatkan nada main-main. Angin lembut lagi
panas mulai memasuki jendela dan berputar di sekeliling Allen.
“Tunggu!” tegur Arche. Ia membelalakkan mata. Kali ini ia benar-benar berharap
matanya kembali salah...
Tidak! Matanya tidak salah! Kelebat senang menegur Arche.
“Obatnya berhasil! Lihat Allen! Napas nona Anne membaik!”
Perhatian dialihkan pada Anne. Benar, gadis itu mulai menggeliat. Bibirnya mulai
memperlihatkan rona kehidupan, dari biru menjadi merah. Kulit juga mulai cerah.
Mereka hanya butuh satu bukti lagi bahwa Anne benar-benar sadar.
Anne mengerjap sejenak sebelum membuka mata, membiasakan diri dengan
cahaya yang menyilaukan. Setelah terbiasa, didapatinya Allen yang berdiri
memandanginya dengan cemas, R-knight dan Telik Sandi serta Arche...
“Selamat sore.” ujar Anne.
Arche tertegun. Bola matanya membulat dalam senyum simpulnya.
“Ini sudah pagi nona Anne.”
Anne tersenyum geli.
“Bukankah itu yang tuan Arche katakan padaku saat pertama kali membuka
mata?”
Arche tak percaya respon pertama gadis itu adalah perkenalan pertama (atau
kedua) mereka. Allen hanya nyengir geli saja. Ingin rasanya ia berkomentar tapi tak jadi
karena banyak mata memandang.
Anne mencoba menggerakkan tubuhnya.
“Ah, nona jangan banyak bergerak dulu. Tubuh nona sedang dalam masa
pemulihan.”
Anne memandang sekelilingnya. Wajah-wajah mereka terlihat lelah dengan mata
yang berharap tak lagi ada masalah.
“Rupanya aku telah merepotkan kalian. Mohon maaf karena kecerobohanku
perjalanan kita jadi tertunda.”
“Tidak masalah kok kakak Anne.” jawab Allen sambil menepuk dada.
Anne menggerakkan jarinya. Pucat wajahnya masih membayang dan jemarinya
seolah tak mau dikontrol. Ia mengambil Plakat Platinum Hitam. Cahaya biru lembut
memancar saat jemari Anne berusaha menarik keluar sesuatu dari pertengahan plakat
tersebut.
“Biar kubantu.” ujar Allen yang dengan cekatan menarik tangan Anne. Ia tahu
apa yang hendak Anne lakukan. Dari Plakat itulah keluar Paraluna Anne. Paraluna
Aqua Thyme menindih tubuhnya. Anne terengah-engah menahan berat Aqua Thyme.
“Astaga! Nona Anne!” Arche hendak mengangkat Paraluna tersebut. Paraluna
tersebut mencair dan tak dapat tergenggam.
“Hanya kami saja yang bisa menggenggam Paraluna... tuan Arche.”
Anne menarik napas panjang sebelum mengucapkan
“Kekuatan tingkat 4, kuasa Aqua Thyme menyembuhkan, Air.”
Paraluna Aqua Thyme memancarkan sinar biru lembut. Tak hanya itu, Aqua
Thyme pun mendentingkan lagu yang nyaman didengar. Semua yang berada dalam
ruangan merasa energinya kembali pulih. Wajah lelah hilang berganti kebugaran...
kecuali Allen yang justru tertidur.
Anne bangkit duduk. Ia meregangkan seluruh tubuhnya. Arche dan yang lain
hanya bisa terbengong saja melihat Anne yang kembali bugar seperti sedia kala.
Bahkan gadis itu sudah mampu turun dari kasurnya dan berdiri tegak. Anne melangkah
menuju jendela. Pandanganya lurus menghadap matahari, lalu jatuh ke bumi dan
menutup rapat. Tanganya yang memegang Paraluna terpaut rapat di depan dada.
Paraluna menghadap bumi dan kembali mendentingkan gelombang yang menenangkan.
“Wahai Dark Nature, Maafkan hambamu ini yang tak menghadapmu selama
beberapa waktu.”
Dan Anne tak bergeming. Mulutnya terus meluncurkan kata-kata dalam bisikan.
Tak ada yang tahu apa yang tertera didalamnya. Untuk beberapa lama para khalayak
hanya bisa menunggu dan melihat apa yang Anne lakukan.
Anne berbalik. Ia telah selesai melakukan ritualnya dan memasukkan kembali
Paraluna dalam Plakat Platinum Hitam. Bibirnya memberi liuk senyum dan tubuhnya
membungkuk hormat pada para khalayak
“Terima kasih banyak atas kehadiran kalian di sini. Yang telah menjaga dan
merawatku dengan baik. Bila diijinkan, suatu saat aku akan membalas kebaikan kalian.”
“Kami diutus atas perintah Lordess Maria. Tugas kami menjaga nona Anne
Eaumi sampai komandan Arche datang.”
“Ah kalau begitu aku mohon tuan-tuan mau menyampaikan terimakasihku yang
sebesar-besarnya dan maaf karena telah merepotkanya. Suatu saat Anne Eaumi ini akan
membalas budi ini.”
“Baik. Kami undur diri dulu nona Anne. Kami harus menyerahkan laporan kami
pada Lordess Maria.”
Para R-Knight dan Telik Sandi Lordess Maria pamit. Tugas mereka sudah selesai.
Dalam sekejap jumlah penghuni kamar terbabat.
Sekarang hanya tinggal Anne, Arche dan Allen. Allen tertidur pulas di atas kursi.
Dengkurnya memantul jelas dalam ruangan begitupun grasak-grusuknya. Allen terjatuh
dari kursi dan masih belum bangun. Anne dan Arche lantas saling pandang.
“Kurasa Allen kelelahan. Ia memang tak bisa mengatur jam tidurnya dengan
baik.”
Anne mengusap rambut Allen dan hendak membopongnya naik ke ranjang.
Melihat itu, Arche berinisiatif mengangkat kaki Allen dan bersama-sama mengangkat
badan Allen ke kasur sembari berujar
“Allen mencemaskanmu dan kurasa itu membuatnya kurang tidur semenjak
kemarin.”
“Dan bukankah tuan juga begitu?” jawab Anne sembari menyelimuti Allen.
Arche tertawa “Aku tidak lagi lelah setelah melihat nona sembuh.”
“Aku tak menyangka kehidupanku mampu membuat orang lain lebih hidup.” ujar
Anne.
“Nona yang sudah menyelamatkanku sudah membuat hidupku lebih hidup.”
Arche menatap penuh makna pada Anne. Anne tersenyum sejenak dan
membuang pandangannya kembali ke Allen.
“Sekarang kita yang harus menunggu Allen untuk bangun.”
“Mengapa tidak dibangunkan sekarang saja? Bukankah ia juga telah menerima
efek dari penyegaranmu barusan?” tanya Arche.
“Bukan begitu, tuan Arche. Allen yang baru terbangun atau yang tidurnya
terganggu jauh lebih berbahaya dari Naga cilik. Walaupun ia tidur dalam keadaan
segar.”
“Mengapa?”
“R-a-h-a-s-i-a.” Anne menutup mulutnya dengan jari telunjuk dan mengedipkan
sebelah mata.
“Lalu? Apa yang tuan Arche hendak lakukan?”
“Menemani nona di sini.” jawab Arche lembut.
“Aku mengerti. Bagaimana bila kita pergi keluar saja. Kurasa Allen juga tak
mengharap ada suara di sampingnya saat ini. Ada baiknya kita biarkan ia istirahat.
Kepalanya pasti penuh dengan masalah Saravine.” Anne mengusap lembut rambut
Allen membuat sang Angin satu ini mengigau kesenangan. Di lain sisi, Anne mendapati
Arche yang tertegun mendengar kalimatnya.
“Ah... aku tak sadar diri. Mungkin bagi anda, aku perempuan agresif. Tak layak
bagiku untuk mengajak tuan pergi keluar. Mohon dimaafkan.”
“Nona Anne tak perlu merasa kaku begitu. Akupun pada awalnya ingin mengajak
nona keluar dari ruangan ini. Aku akan sangat terhormat bila nona mempercayaiku
untuk menjadi pramuwisata.”
“Panggil saja Anne, tuan Arche. Anda tak perlu bersikap formal. Lagipula, anda
telah menyelamatkan nyawaku.”
“Kalau begitu Anne, aku harap kau mau memanggilku Arche dan buang semua
basa-basi kita ini.”
“Baik Arche. Jadi sekarang hendak kemana kita?”
Sebuah suara mendahului Arche
Kruuuu~K!
Anne tertawa kecil mendengar suara cacing perut Arche. Arche hanya bisa diam
seribu bahasa.
“Kurasa....”
Kruuuuu~K!!
Sekarang giliran Anne yang dibungkam suara cacing perutnya. Ia tersenyum geli
dalam wajah merah merona.
“Kurasa kita sudah tahu tujuan selanjutnya.” ujar Arche dan Anne bersamaan.
Mereka berdua kembali tertawa mendengar kekompakan kali ini.
Arche dan Anne keluar dari penginapan. Kali ini Arche tidak lagi memakai
zirahnya. Ia pergi dengan baju putih dan rompi lengan panjang berwarna hitam. Ia
mengambil topi bundar sebagai penahan surya. Untuk kali ini ia tidak membawa sehelai
bulu merak pun bersamanya. Keduanya sama-sama terlihat seperti warga normal yang
sedang berpelancong. Walau bagi penduduk biasa, mereka berdua tetap saja mencolok;
setidaknya wajah mereka bersih dan tidak terlihat tertempa oleh pedang, perang, dan
atau darah. Sedikit banyak ada yang mencurigai mereka sebagai petualang tangguh atau
kelinci di antara para singa… yang wajib diwaspadai.
Pandangan mata tajam dari sekeliling tak membuat Anne maupun Arche jeri
ataupun kaku tegang. Mereka justru mengacuhkannya dan memilih untuk makan di
sebuah kedai pinggir jalan tak jauh dari penginapan. Tentunya setelah membandingkan
sanitasi kedai-kedai dan warkop-warkop sekeliling.
Arche makan dengan lahap. Ia tak segan-segan memesan 2 porsi tambahan
Srinais kuning lengkap dengan lalapan. Anne di lain sisi hanya memesan air dan
setengah porsi bubur Loodle merah yang kental lagi kenyal. Anne diam-diam
memperhatikan Arche yang makan dengan lahap. Tanpa disadari ia senyum-senyum
sendiri.
“Anne...” tunjuk Arche membuat Anne tersentak.
“Ada apa Arche?”
Arche hanya menunjuk wajah Anne. Anne meraba-raba wajahnya tapi tak
menemukan apa-apa. Memangnya apa yang salah dengan wajahnya? Tangan Arche
bergerak, menuju sudut bibir Anne, memberi jawaban. Ia mengusap bibir itu dengan
lembut.
“Ada yang menempel.”
Wajah Anne memerah... dan semakin memerah saat Arche menjilat sisa bubur
yang baru saja menempel di sudut bibir Anne. Kilau warna bubur Loodle terbanting
oleh rona wajah Anne… dan semakin kentara tatkala Arche berkata
“Manis,” komentar Arche sembari terus menatap Anne. “Aku baru tahu bubur
Loodle bisa semanis ini.” tambah Arche.
Ditatap langsung oleh mata tajam seperti itu membuat muka Anne panas. Ia
mencoba bersikap tenang dan kembali menikmati bubur miliknya. Arche tak berbicara
lagi dan kembali berkonsentrasi dengan makanan miliknya.
Angin panas Schwertvalle adalah teman terbaik bagi perut yang lapar. Semua
makanan pesanan tandas tanpa bersisa.
Selepas makan, mereka kembali berputar-putar mengelilingi kota. Anak-anak di
kota ini sebagian besar sudah mengenal senjata semasa kecil. Permainan sehari-hari
mereka tak jauh dari perang-perangan. Anne yang melihat hanya bisa tersenyum miris
saja. Mengapa anak-anak seperti mereka justru menganggap pedang dan perang adalah
sebuah peristiwa yang menyenangkan?
Langkah kaki mereka berdua akhirnya sampai pada tempat di mana pusat
pariwisata Schwertvalle berada. Pusat di mana segala budaya kota ini berakar.
Museum Pedang. Situs yang memberikan pengetahuan dan informasi tentang
pedang-pedang yang telah menempa sejarah. Gedung besar berwarna putih pucat ini
menjadi tempat tujuan ‘wisata’ Arche dan Anne.
Lobi museum itu dipenuhi oleh pedang-pedang pendek yang terkurung dalam
etalase-etalase bening yang berputar. Jimat Ward dan Dim tak terhitung jumlahnya
menempel di dinding. Pada dinding museum pulalah tergambar lukisan-lukisan yang
menggambarkan pemilik pedang. Sederet kalimat atau puisi mengisi lembar kertas di
bawah lukisan.
Arche dan Anne berada di wilayah kedua. Wilayah Akhir Legenda Pedang
Hyddrick Barat. Di sini hanya ada sebuah pedang. Pedang itu tertancap di atas sebuah
peti mati hitam besar dari besi. Pada bagian tengah peti itu tertuliskan: “Di sini
Beristirahat Pahlawan Perang Hyddrick Barat: Arlesse Adamante. Dengan Pedang
Panjangnya Ia Menjadi Pilar Terakhir”. Kalimat tersebut menjadi ajang penghormatan
besar bagi pemilik pedang. Pedang itu sendiri memiliki panjang yang sangat tidak
normal. Ukurannya mencapai 1 ½ tombak. Konon bila R-Verse diimbuhkan maka total
panjang pedang ini mencapai 4 tombak. Sebuah kartu bergambar dari Sejarawan
menampilkan pedang itu dipegang hanya dengan 1 tangan. Perhatian mereka kembali
teralih pada pedang yang menancap di peti mati hitam. Mata pedang itu berkilau walau
satu –dua karat bertengger. Sebuah lubang besar berlapis kaca pada langit-langit
memberikan cahaya yang terus menyirami kuburan itu dengan penghormatan. Aroma
harum membanjiri saraf penciuman kedua insan ini. Mereka tahu bahwa wangi harum
ini adalah bukti bahwa sang pahlawan adalah martir yang suci.
Arche mulai menjelaskan serba-serbi sejarah yang diketahuinya.
“Kota Schwertvalle ini merupakan tempat kelahiran Arlesse Adamante. Pedang
panjang yang kau lihat itulah kuburannya. Langsreitschwert... atau Pedang PANJANG
begitulah kurang lebih namanya. Pedang dan orang ini sangat berkaitan erat pula
dengan sejarah terbentuknya negara Scutleiss.”
Arche menengokkan wajahnya pada Anne.
“Anne, kau pasti tahu sedikit tentang sejarah kerajaan Erune bukan?”
“Aku tahu Arche. Kerajaan Erune dan negara Scutleiss sebenarnya adalah
Hyddrick Barat yang memerdekakan diri melalui pemberontakan Lunicid sekitar 40
tahun yang lalu.”
“Bukan pemberontakan nona tapi Pembebasan.” Potong Arche tegas.
“Pembebasan itu dikobarkan oleh Velicious bersaudara: Grief dan yang mulia
Drakhmann.” Lanjut Anne.
“Benar. Keluarga Feather juga turut berperan di dalamnya. Salah satu jendral
yang dilawan adalah Arlesse dan sampai sekarang dirinya sangat dihormati oleh
penduduk Scutleiss. Banyak sekali fakta-fakta menarik tentang Pembebasan Lunicid.
Menurut cerita sejarah terdapat dua kubu yang dikatakan berseberangan juga saling
membantu. Satu mengatasnamakan Dark Nature dan satu lagi mengatasnamakan
keinginan.”
Anne tak dapat menyembunyikan kejut pada wajahnya.
“Darkmaster dan Wishmaster?”
Arche mengangguk.
“Dalam kurun waktu yang lama Greul Fouwl sebagai Darkmaster datang dan
berkali-kali memberikan bantuan pada keluarga kami dan untuk Pembebasan Lunicid.
Grendel Amiville dan Autumn Flurry adalah Wishmaster dari kedua bersaudara itu.
Grendel beraliansi pada yang mulia Drakhmann dan Flurry pada Grief.”
Anne terdiam sejenak. Ia tahu Darkmaster tak diijinkan mencampuri sejarah
manusia kecuali atas ijin Dark Nature. Ia sekarang mengerti mengapa Greul dipecat dari
posisinya.
“Adakah hubunganya dengan siapa-yang-harus-kita-hindari?”
“Kau memang tajam Anne. Memang inilah tujuanku mengajakmu ke sini. Sejarah
Erune dan Scutleiss nantilah yang akan menguak siapa orang tersebut.” Arche menarik
tangan Anne dan membimbingnya menuju lokasi lain. Anne tak menolaknya dan ia
membiarkan tangan kekar itu membawanya pergi.
Mereka melanjutkan perjalanan dari ruang kedua menuju bangsal barat. Barat:
sejarah Scutleiss, Utara: Bangsal Golok, Timur: Bangsal 6 Jalur Aliansi, dan Selatan:
Lobi. Lorong menuju sejarah Scutleiss sendiri menyediakan lukisan-lukisan cat air
berceritakan sejarah Erune.
Lukisan pertama menampilkan pertempuran di Erune. Kobaran api di luar
benteng menjadi pemandangan utama. Sedangkan fokus utama adalah dua orang yang
berdiri di atas menara pertobatan dan memegang satu panji yang sama. Sebuah panji
berlambangkan Hyddrick terrobek. Sebuah pedang besar lagi panjang berada di bawah
menara pertobatan.
“Pembebasan itu berakhir sukses. Negara Scutleiss dengan sistem pemerintahan
kerajaan berdiri tiga hari setelahnya. Tapi terdapat perselisihan diantara kedua
pencetusnya.” Arche mendengus sejenak “Masalah tahta... Mereka berdua saling ngotot
mendapat jabatan sebagai orang nomor satu.” Ketidaksukaan Arche dirasakan Anne
dalam genggaman tangan Arche.
“Aku mendengar mereka berduel... dan membuat korban dari kedua belah pihak.”
ujar Anne dengan nada lirih.
“Berperang lebih tepatnya.” Arche meralat.
Arche beralih pada lukisan ke dua. Kali ini sebuah panji besar menjadi latar. Dua
tangan yang memegang panji ditambah sepasang pedang yang saling beradu menjadi
pengisi bagian tengah. Ratus-ribu warna-warna kecil perlambang pasukan berdiri di
belakang masing-masing tangan.
“Mereka berdua seimbang. Jumlah pendukung dan pasukan mereka pun
seimbang. Selama 3 bulan berturut-turut mereka bertempur sampai akhirnya Flurry
meninggal. Dan setelah meninggalnya Flurry-lah mereka berdua sadar akan
konsekuensi persengketaan yang mereka kobarkan. Karenanya mereka membuat sebuah
perjanjian. Siapapun yang pertama kali memiliki seorang anak akan menjadi pemilik
tahta tunggal. Pihak yang kalah akan menjadi garis keturunan yang menjaga pemilik
tahta.”
“Yang Mulia Drakhmann lah yang menjadi pemilik tahta.” Simpul Anne yang
melihat keterangan di bawah lukisan.
“Benar. Yang mulia Drakhmann memiliki seorang anak dari Wishmasternya.
Grendel Amiville. Dari beliaulah lahir permaisuri Velicious Vex... tapi tidak banyak
yang tahu mengenai masalah ini karena Grendel menghilang tak lama setelah
melahirkan Permaisuri Vex walau kerajaan mengatakan beliau meninggal. Sampai hari
kematian yang mulia Drakhmann pun tidak ada yang menjadi permaisuri
mendampinginya.”
“Arche, Apa bagimu tidak masalah menceritakan ini kepadaku? Bukankah ini
adalah sejarah rahasia kerajaan?”
“Ini adalah pilihanku dan aku tahu, apa yang akan kuceritakan akan berhubungan
erat dengan perjalanan kita nantinya. Mungkin setelahnya kau akan mengerti mengapa
aku mau melakukan perjalanan ini.”
Lukisan terakhir menggambarkan sebuah cawan perak yang di atasnya terdapat
bayi bertahtakan mahkota. Di bawah cawan itu terdapat dua pasang tangan besar yang
menyokong dan mengangkat cawan mengarah menuju langit.
“Sesuai perjanjian, keturunan Grief menjaga keturunan Drakhmann. Tapi
belakangan ini dikabarkan bahwa ada usaha untuk mengambil tahta.” Arche terdiam
sebentar. Roman kesedihan dan penyesalan menyapu matanya.
“Dan korban pertamanya adalah pangeran Ananda Ravnell.” Arche kembali
terdiam.
“Bagaimana kau tahu beliau menjadi korban?” tanya Anne, pelan dan berhatihati.
“Tiga tahun yang lalu, pangeran sempat menghilang dan timbul desas-desus
kematiannya. Tapi tiba-tiba saja pangeran Ravnell muncul walau dirinya sedikit
berubah. Kami tentu saja mengadakan penyelidikan tetapi Telik Sandi kami
menyatakan beliau memang asli.”
Arche menggerendeng. Urat lehernya menggembung dengan wajah yang
memerah.
“Tapi fakta bahwa ada seseorang yang menjadi pangeran Ravnell saat turnamen
Grand memperkuat keyakinan tiap kesatuan bahwa pangeran sudah meninggal...
mungkin dari tiga tahun yang lalu... bila mengingat ini rasanya aku ingin sekali
mencekik pembunuhnya dengan tanganku sendiri!”
Anne mengusap punggung Arche dengan lembut. Usapan yang mampu membuat
kemarahan Arche mereda.
“Janganlah kau terbawa dendam. Biar bagaimanapun juga jalan kehidupan
pangeran telah ditentukan oleh Dark Nature.”
“Anne, aku mungkin tak suka dengan pernyataanmu barusan. Aku percaya bahwa
pembunuhan itu seharusnya bisa dicegah... ANDAI AKU ADA DI SANA WAKTU
ITU!” bisikan Arche terlalu keras. Bahkan angin keras seolah meloncat dari sekujur
kulit Arche.
Anne menyentuh bibir Arche dengan jari telunjuknya, sekali lagi membungkam
kemarahan Arche. Hanya dengan gelengan kepala dan tatapan lemah lembut. Memang
kemarahan harus dilawan dengan kelembutan.
“Tapi Arche... bila waktu itu pangeran tak digantikan oleh siapapun itu, kurasa
pihak keturunan Grief dapat mengambil kesempatan dan menaiki tahta apabila
permaisuri Vex meninggal karena hubungan darah dengan yang mulia Drakhmann. Bila
melihat kondisi Permaisuri saat tahu berita itu mungkin juga mereka bisa langsung
mengganti permaisuri. Agresi yang beliau cetuskan telah membuat kecemasan rakyat
dan dapat dijadikan alasan pemberontakan.”
“Kau benar, Anne. Bila saja waktu itu mereka menggunakan momentum tersebut
maka saat ini Erune mungkin sudah berganti kepemimpinan. Mungkin seharusnya aku
sedikit bersyukur pula ada penggantinya waktu itu. Walaupun itu adalah seorang
dukun... Ah maksudku Wishmaster.”
Anne mulai tergelitik mendengar kata Wishmaster. Berbagai pertanyaan mulai
tersibak dalam benaknya terutama terkait dengan Saravine dan Allen sendiri.
“Untunglah walau saat ini permaisuri sedang linglung, tali pemerintahan masih
bisa dipegang oleh Konsili Darurat. Aku tak menginginkan adanya pertumpahan darah
yang sia-sia karena masalah tahta. Dan saat ini posisiku yang berada di sini tak boleh
diketahui oleh kubu Grief.”
“Arche... bila boleh kutebak. Orang yang anda maksud lebih baik tak usah
ditemui adalah tuan Velicious Emeth, anak dari Velicious Grief?” Anne melepas
genggaman tangan Arche.
“Kau benar... selain dari posisiku dan ketegangan kedua kubu ini, ada alasan lain
mengapa kita tak boleh berjumpa dengannya.Velicious Emeth adalah komandan RKnight
Central. Setiap kesatuan mata angin R-Knight dari Scutleiss memiliki atribut
nama. Selatan, Angin yang cepat. Kesatuan di bawah komandoku adalah kesatuan
penyergap cepat. Utara, Bumi yang Menahan. Kesatuan Lordess Maria Fangabell yang
menjebak dan menahan. Timur dan Barat memiliki keunggulan tersendiri. Sedangkan
Velicious Emeth adalah orang yang memegang 4 keunggulan itu dalam pasukanya. Bila
gerakanku terbaca olehnya maka ia bisa saja menjustifikasi tindakan agresi pada tahta
Permaisuri.”
“Aku mengerti akan peta perpolitikan kalian... bagi kami Darkmaster, masalah
keduniawian dan kekuasaan bukanlah pikiran kami. Yang menjadi pikiranku adalah
bagaimana hal ini menjadi masalah dalam perjalanan kita?”
Arche melihat sekeliling dan memberikan telunjuk di bibir. Satu dua pengunjung
nyaris saja mendengar percakapan mereka. Arche kembali menggandeng tangan Anne
dan mengajaknya masuk lebih dalam lagi.
Mereka sampai di bangsal Scutleiss. Pada bangsal inilah terdapat pedang-pedang
bersejarah milik pahlawan Hyddrick Barat sampai era Scutleiss. Bangsal ini terlihat sepi
pengunjung. Jendela-jendela besar yang terbuka tetap saja tak dapat mengundang
siapapun tuk berkunjung.
“Bila kondisi permaisuri tak kunjung berubah maka besar kemungkinan Velicious
Emeth akan mengambil alih karena biar bagaimanapun Konsili Darurat hanya punya
kuasa maksimal selama satu bulan. Dan kurasa ia sedang menunggu momen tepat ini,”
ujar Arche sembari menunjuk pada dua buah Pedang besar bertuliskan ‘Draconi Furo
Muertia’. Pedang yang kanan besarnya setara atau lebih besar dari Claymore.
Warnanya merah menguning seperti mentari siang bolong. Dan pedang yang kanan
lebih menyerupai Rapier tebal, berkisar antar Estoc dan Tuck. Warnanya biru
lembayung, seperti langit menjelang malam. Pedang ini bersisik. Pada kertas penjelasan
dibawahnya bertuliskan ‘Pedang kembar Velicious Drakhmann dan Velicious Grief.
Pedang yang kekuatannya bertambah seiring dengan bertambahnya kepercayaan
masing-masing pengguna terhadap pemilik lain.’
“Ironis bukan? Perseteruan yang terjadi sekarang justru menodai eksistensi
pedang ini.” komentar Arche sebelum mengungkapkan rahasia lain.
“Tapi kubu Grief belum tahu satu hal.”
“Anak pertama Permaisuri Vex masih hidup. Anak hasil perkawinan Permaisuri
Vex dan Yang Mulia Aryarancak Nggeni: Mutia.”
“Mutia?”
Firasat Anne tak enak tatkala menyebut nama itu.
“Saravine Mutia.” tegas Arche sekali lagi “Nama Saravine Mutia adalah bentuk
aksara Frunic yang diejawantahkan oleh Patih-patih kerajaan Erune. Nama formal
beliau adalah Velicious Almyre Dinn.”
Kali ini Anne bungkam. Wajahnya memucat.
“Saravine… calon pewaris tahta kerajaan Erune?”
“Benar. Dan itulah sebabnya mengapa beliau sewaktu kecil diasingkan. Nama itu
juga sengaja diberikan agar beliau bisa aman dalam pengasingan. Aku sempat
mendengar bahwa kalian semua mengenalnya. Artinya putri Saravine sampai sekarang
masih hidup dan tahta kerajaan Erune masih bisa disandang oleh keturunan Drakhmann.
Dan kudengar Allen berusaha menyembuhkannya. Ini berarti misiku sangat tepat untuk
membantu stabilitas Erune dan membuatnya menjadi penerus permaisuri Vex.”
“Dan… Saravine diasingkan demi keamanan dirinya dari percobaan
pembunuhan?”
Arche mengangguk tegas.
Dugaan Anne benar. Bibirnya kelu, ia tak suka dengan apa yang ia dengar ini.
Logikanya mulai tersambung pada keberadaan Allen dan Arche yang awalnya berada di
Erune. Keterlibatan Arche pasti dikarenakan adanya masalah pada Permaisuri dan
Broken Wishesnya Saravine pasti terlibat pula dengan keberadaan Allen dan
Permaisuri. Ia tak berani menebak kelanjutannya. Pikirannya justru membayang pada
masa lalu Saravine...
Bibir Anne mulai mengucap... pedih.
“Saravine cukup menderita semasa kecilnya... anak itu sangat pendiam sekali saat
berada bersama kami. Ia selalu murung dan tak bisa digubris... kecuali oleh Allen.”
Anne berhenti sebentar.
Dagu Anne terangkat, memandang Arche dengan tatapan menusuk.
“Dan sekarang kau berkata bahwa dirinya sangat dibutuhkan demi Erune?”
dingin... kalimat Anne kali ini dingin sekali, bahkan cahaya mentari dari luar jendela
tak mampu mengalahkan dinginya kalimat Anne.
“Benar sekali.” jawab Arche tegas. Angin dingin baginya tak berpengaruh. Tapi
ia tahu, dinginnya Anne bahkan menembus tangan mereka yang bertautan. Tapi Arche
tak mau melepaskannya. Tidak, dingin ini takkan menggoyahkannya!
“Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan Saravine? Bertahun-tahun dia
habiskan seorang diri karena ulah politik kekuasaan kalian! Dan sekarang kalian ingin
menjadikannya penerus tanpa melihat dirinya? Saravine bukanlah barang yang bisa
kalian campakkan lalu dipungut kembali seolah tidak ada apa-apa...” Cengkraman Anne
mengeras. Kukunya yang tidak tajam menembus kulit ari tangan Arche.
“Dia harus dan akan menjadi pengganti! Itu adalah sebuah ketetapan baginya!”
Arche menjawab keras. Tangan kekar itu pun makin mempererat genggamannya –tanpa
upaya melukai.
“Karena ia memiliki darah permaisuri Vex atau karena kalian tak ingin Emeth
yang menjadi Penerus?”
“Dua-duanya.”
Genggaman tangan Anne melemah. Raut kecewa mulai menyambangi wajah
lembutnya. Ia bertanya dalam nada datar
“Artinya suatu saat kalian akan membuatnya menikahi orang lain yang mungkin
saja ia tak suka? Membuatnya kembali diam dan pura-pura mencintai seseorang hanya
karena demi orang banyak?”
Arche terdiam. Tapi sorot matanya memberikan keteguhan dan kekerasan angin.
Tapi di balik itu, melalui genggaman tangan Arche, Anne tahu adanya goncangan di
hati pria itu. Mata lembut Anne berlalu menatap tanah. Sinar kehidupan di matanya
meredup seolah terrenggut begitu saja.
Anne melepas genggaman tangannya pada Arche.
“Aku kecewa pada anda. Tak kusangka anda ingin mengambil keuntungan atas
Saravine.” ujarnya.
Ia memberikan punggung pada Arche. Langkah kakinya pun semakin
menjauhkan dirinya dari pria tersebut.
“Apa kau pikir aku suka akan keputusan itu? Aku juga seharusnya tak punya hak
untuk menentukan hidup putri Saravine!”
Ucapan Arche menghentikan langkah Anne.
“Tapi aku sendiri terlibat dalam urusan itu. Aku bahkan turut berjanji di
dalamnya! Bagaimana mungkin aku bisa menentangnya?”
“Bagaimana?” potong Anne.
“Bagaimana kau bisa terlibat... Arche?” tanya Anne sembari membalikkan
badannya menghadap Arche.
“Aku dan yang mulia putri Saravine...” Arche terdiam sejenak. Bibirnya kelu.
“Ola Arche~”
Tahu-tahu saja percakapan mereka terputus oleh Allen yang telah bertengger di
jendela.
“Asyik ya, jalan-jalan sama kakak Anne... kok tidak ajak-ajak?” tanya Allen
sembari memiringkan kepalanya.
Anne justru maju menjawab
“Allen... tidak sopan masuk melalui jendela. Bukankah ada pintu depan?”
“Loh bukankah jendela adalah pintu masuknya udara? Sama-sama ada pintunya
kan?”
Jawab Allen polos.
“Bagaimana kau menemukan kami?” tanya Arche.
“Pakai ini.” ujar Allen sembari mengembangkan tangannya menghadap Arche.
Segulung angin muncul membuat sebilah bulu terbang dari belakang rambut Arche.
Cara yang digunakan Arche ditiru mentah-mentah. Allen nyengir senang saja melihat
keterkejutan Arche. Bulu itu terbang dan akhirnya melayang lemah keluar tebawa oleh
angin lembut.
“Terus... tadi kakak Anne dan Arche bicara apa saja? Kenapa tidak dilanjutkan?”
tanya Allen yang sudah turun dari jendela. Langkahnya riang berketerbalikan dengan
wajah muram-suram Arche dan Anne.
“Bukan apa-apa kok, Allen.” jawab Anne sembari tersenyum tipis. Ia mengangkat
Plakat Platinum Hitamnya dan berbisik. Sebuah tetes air membasahi punggung tangan
Arche, menyembuhkan luka cakar barusan. Setelahnya, Anne berbalik dan berjalan
menuju wilayah kedua: Makam Arlesse Adamante.
“Ayo Allen, kita lebih baik siap-siap berangkat.” Ajak Anne, yang berlalu begitu
saja meninggalkan mereka.
Melihat ini Allen mendekati Arche dan berbisik
“Hey, kamu melakukan apa sampai kakak Anne jadi begitu?”
“Kurasa aku membuatnya kecewa.”
“He? Jarang sekali kakak Anne sampai kecewa pada orang. Tapi susah deh kalau
kakak Anne menganggap kamu mengecewakan, soalnya pasti kakak Anne tidak akan
menggubrismu lagi. Memang apa sih yang kamu bicarakan?”
Arche melihat kerlip-kerlip senang di mata Allen. Ia mendapati kesan dirinya
sedang menjadi mainan baru Allen.
“Kamu penasaran sekali ya?” komentar Arche pendek memutus percakapan.
Chapter 14
Anne dan Saravine
Rute persawahan Aadmantisya. Rute di mana sejauh mata memandang hanyalah
persawahan yang menguning. Bulir-bulir padi yang telah matang merunduk ditemani
angin yang berbisik, membuat harmoni alam seakan bernyanyi dengan indahnya. Lagulagu
rakyat yang ditembangkan petani menjadi pemanis pemandangan dan telinga.
Ikan-ikan Minna sativa berenang dalam genangan sawah yang basah. Ikan panjang,
kecil, lagi lincah ini bekerja sama dalam harmoni untuk saling menyuburkan diri
bersama padi-padi.
Jalan pada rute ini hanya selebar 3 tombak dan terkadang dihalangi oleh Kerbau
Pembajak yang menggunakan Kuku Bumi untuk menggerus tanah. Pada jalan inilah
Allen, Arche, dan Anne berjalan dengan santai. Mereka merencanakan perjalanan
sehari semalam untuk mencapai Amaranthie Aumerthis. Tak ada batasan kecepatan
bagi mereka karena kota itu sebenarnya bisa dicapai hanya dalam waktu yang singkat.
Perjalanan ini tak lebih dari sekedar upaya menghabiskan waktu saja.
Arche menyarankan agar mereka semua menyamar. Ia tak lagi memakai zirahnya
dan bersikukuh tak menceritakan dimana ia menyimpannya. Allen dan Anne justru tak
mengganti penampilan mereka. Tapi toh, penampilan kumal Allen dan rapih bersih
Anne tak terlalu diperhatikan oleh para petani di rute ini. Hiruk pikuk politik dan militer
tenggelam dalam ikhlasnya mereka berkontribusi pada negara.
Angin tropis yang hangat sesekali terendus hidung dan dirasakan kulit. Matahari
tanggal 20 yang sepenggalahan naik menjadi pertanda mereka akan segera tiba di
Amaranthie bila tak ada halangan. Dan memang tak ada halangan apapun dalam
perjalanan kali ini… kecuali oleh bisunya Anne selama sehari semalam sampai
sekarang.
“Ooh ayolah Arche, kasih tahu dong apa yang kamu dan kakak Anne bicarakan.”
pinta Allen mengiba-iba.
“Rupanya kau ini sekalinya penasaran tak bisa lepas.” Arche menghela napas.
Sedari tadi Allen terus saja menempel Arche bahkan sesekali menarik-narik bajunya.
“Kami berbicara tentang Saravine.” ujar Arche.
“Ooh iya, kamu memang mau tahu tentang Sara ya. Dan aaaah iya!! Aku berjanji
untuk memberi tahu info apa saja tentang Sara padamu.” Allen menepuk tanganya
sendiri.
“Jadi apa yang mau kamu tahu? Mudah-mudahan saja aku tidak lupa.” lanjut
Allen.
“Dia lahir di mana?”
“Aku tak tahu. yang kutahu dia datang ke desa Exemptio kalau tidak salah...
sekitar 10 tahun lalu. Waktu itu dia dititipkan pada kakek Greul oleh kakek Adam. Tapi
yah, itu juga tidak lama sih soalnya Tetua besar kalau tidak salah minta Sara turun saja
ke bawah dan menjadi penghuni desa.”
“Artinya dia tidak lahir di desa itu. Lalu apa kira-kira kau tahu siapa ibu dan
ayahnya?”
“Walah itu juga yang tidak kutahu. Yang kutahu sih Sara selalu ingin berjumpa
dengan ibunya. Tapi yaaah aku juga tak tahu siapa ibunya. Paling jauh... eh eh tunggutunggu
Sara pernah menyebutkan soal ibunya... itu... ”
Allen memutar matanya mencoba mengingat-ingat.
“Apakah ibunya adalah permaisuri Vex?”
“Wah iya! Iya! Dia bilang begitu kemarin!”
Arche senang mendengar jawaban ini. Setidaknya ia tahu bahwa Saravine yang
dimaksud adalah orang yang sama. Tapi ada satu hal lagi yang mengusik Arche.
“Kemarin?”
Allen memijit keningnya dengan kedua jari telunjuk kiri kanannya.
“Iya, waktu turnamen di kota kalian itu! dia menyamar jadi siapa yah... itu...
Sara… seksi… iyah si itu, Anti-Lunae.”
Sedari tadi Anne hanya berdiam saja membiarkan dua pria itu berbicara tentang
Saravine. Pikirannya melanglang buana menuju tempat lain... dan waktu lain. Ia
membuang konsentrasinya pada masa kala Saravine berada.
8 tahun lalu. Desa Exemptio. Anne baru saja pulang dari tugas penggelapannya.
Di hari itu ia melihat sosok gadis kecil yang selalu menundukkan wajahnya. Ia
menggenggam boneka kayu berkulit jerami. Sayu mata gadis itu membuat hati Anne
miris kala itu. Mata itu tak hanya bercorak sayu tapi di dalamnya terasa kepahitan
hidup.
Hati Anne tertusuk melihat mata itu.
Anne menyapa gadis itu terlebih dahulu tapi respon yang didapat hanyalah sekilas
pandang mata. Tidak percaya, takut, dan semacamnya bergumul menjadi satu. Miris,
hati Anne semakin miris.
Ia mencoba sekali lagi dan kali ini sang gadis justru kabur. Darkmaster lainnya
meledek gadis itu karena dianggap mengacuhkan Anne. Anne membelanya karena ia
tahu, dalam diri gadis itu pasti ada luka hati yang tak main-main.
“Sara~”
Dan gadis itu menengok. Ia menengok pada sang suara: Allen. Allen yang kala itu
bukanlah seorang Darkmaster.
Gadis itu berlari mendekati Allen. Suram sayu mata gadis itu hilang berganti
ceria. Anne dapat merasa gadis itu menemukan sandaran hati. Di umur yang kecil
mereka sudah seperti sepasang kekasih dan hal itu sempat membuat Anne iri. Sebagai
Air yang membawa kehidupan, Anne memang perasa, ia berkali-kali merasakan jatuh
cinta dan berkali-kali harus menelan pahitnya patah hati. “Semua demi Dark Nature”
adalah kalimat yang selalu menemaninya saat air mata bisu membasahi hatinya.
8 tahun yang lalu itu pula. Anne lah yang pertama kali mengetahui adanya pakta
Wishmaster antara Saravine dan Adam. Ia mengingat dialog Adam dan dirinya saat
pertama kali berjumpa kala sore hari di saat daun pohon Alfillatis berubah merah jingga
mengikuti senja.
“Tuan Wishmaster, aku berharap tuan mengerti posisi tuan saat ini. Keberadaan
tuan membuat janji antar leluhur menjadi sia-sia.” Anne mendekati mereka dengan
lembut. Tapi Saravine dapat merasakan nafasnya semakin memendek, tekanan cara
berjalan Anne berbeda. Lemah lembut tapi mengancam kaku. Scarf hidup berelemen air
dari Anne bergerak liar seolah mendesiskan kutukan.
“Aku mengerti hal itu, bahkan aku juga berkali-kali berpikir mengapa aku mau
melakukan hal ini di tempat suci kalian,” ujar Adam. “Tapi apa yang kulakukan ini
suatu saat akan dibutuhkan oleh Saravine.” Lanjutnya dalam nada yang semakin tegas.
“Aku tak percaya. Apa anda hendak membuatnya terusir dari desa ini? Apa anda
tak mampu melihat mata anak itu?”
Anne berhenti sejenak.
“... Dan kuharap anda tidak mencoba teknik Keinginan anda padaku. Dark Nature
tidak ingin anda bertindak macam-macam padaku.”
Adam semakin merasa tak enak. Darkmaster satu ini bahkan tak terpengaruh oleh
Wi-song miliknya. Adam sebagai Wishmaster nomor satu pun harus mengakui
Darkmaster satu ini. Walau Wi-song dirinya tak bisa dibanggakan tapi ia tahu tak
banyak dari mereka yang akan tahan oleh kelembutan Wi-song. Adam semakin serba
salah tatkala scarf Anne mulai bergerak memperlihatkan Plakat Platinum Hitam
miliknya. Adam hanya bisa tersenyum tipis sembari mengeluarkan keringat dingin.
Apakah memang ia harus menempuh jalur kekerasan?
“Kakak Anne...”
Saravine, Saravine yang pendiam itu berbicara. Ia berdiri di hadapan Adam dan
Anne. Tubuh mungil itu gemetar saat berhadapan dengan Anne. Tapi di balik gemetar
tergetar ketegaran.
“Kakak Anne, kumohon pada kakak...” Saravine tersengguk, ia berusaha untuk
mengeluarkan seluruh keberaniannya.
“...Untuk membiarkan kakek Adam ada di sini.”
“Saravine! Apa kau mengerti, bila kau menerima pakta menjadi Wishmaster
artinya kau tak bisa lagi menemui Allen? Kau harus dikeluarkan dari desa ini.” Anne
tak suka dengan apa yang ia katakan. Baginya merusak sebuah cinta sama saja merusak
dirinya. Tapi perjanjian leluhur harus dijaga dan ia tahu itu.
Saravine hanya mengangguk lemah.
“Kau... pasti membuat Allen kecewa dan sedih.” ujar Anne lemah.
“Maafkan aku nona, tapi dengan dirinya menjadi Wishmaster, ia dapat melakukan
apa yang suatu saat ia harus lakukan.”
“...Saravine... boleh kutahu apa yang kau harapkan dengan menjadi Wishmaster?”
tanya Anne
“Aku... ingin berjumpa kembali dengan ibundaku.” jawab Saravine lirih.
Ketakutan kembali menguasai Saravine membuatnya tak mampu lagi bertatapan dengan
Anne.
“Aku mengerti.” Anne tersenyum, lembut tapi pedih. Tanpa sadar air mata
meluncur begitu saja dari pelupuk mata Anne. “Ah... maafkan aku.” ujar Anne yang
terbata-bata dan mengusap habis air mata. Ia tahu ia harus mengambil sebuah keputusan
pahit.
“Tapi... aku hanya berharap satu hal... saat kalian melakukan latihan kalian...
lakukanlah di luar desa... setidaknya kalian tidak melanggar perjanjian leluhur.”
Anne mengambil Plakat Platinum Hitamnya. Ia berbisik
“Area tingkat 15, waktu 5 menit, Air.”
Awan-awan di atas mereka mendadak menghitam. Perlahan rintik hujan mulai
turun. Saravine mulai ketakutan lagi.
“Dibawah hujan yang menyucikan...”
Apa yang Anne lakukan saat itu bukanlah apa yang ia inginkan. Hatinya terus
berdegup kencang dan kontradiksi tercipta.
“Aku, Anne Eaumi... Walau tak menerima keberadaan Wishmaster... berharap
adanya penyucian... penyucian jiwa dan kehidupan...” Anne mengengadahkan tangan
dan wajahnya pada cinta hujan yang mulai tumpah pada bumi dan diri mereka. Matanya
menutup, ia tak berani menerima cinta hujan.
“Kumohon, selesaikan pakta kalian di bawah hujan ini.” penyucian... bagi
Darkmaster juga dapat berarti sebuah pengembalian atau pengakuan dosa.
Anne dapat mendengar kalimat demi kalimat pakta Wishmaster. Hatinya perih
tatkala melihat Saravine menerimanya dengan tersenyum. Ia menggigit bibirnya. Ia
membuat pedih dan dinginya darah menjadi pembius dan penyangkal penyesalan dalam
hatinya...
Anne menggelungkan kedua Scarfnya. Paraluna diangkat setinggi dada. Plakat
Platinum Hitamnya perlahan terangkat setinggi bibirnya. Anne mengucap... batasan
yang seharusnya dijaga sebagai sang kehidupan.
“Kekuatan tingkat 6, Air.”
Adam tersentak mendengar kalimat itu. Sontak ia maju ke depan melindungi
Saravine. Denting Keinginan Anne terdengar jelas dalam raungan hujan.
“Kau... bukankah dengan hujanmu hendak menyucikan kami?”
Anne menitikkan air mata.
“Benar...” Anne menunduk. Tapi jejak langkahnya semakin pasti mendekati
Adam. Riak langkah mengikuti jejaknya. Jejak Air Anne menggumpal, menyatu dan
perlahan terangkat ke udara. Di balik punggung Anne terbentang ombak setinggi dua
tombak yang siap menerkam Adam dan Saravine.
Adam memukul tanah. Dengan cepat tanah itu berubah menjadi kubah setinggi 3
tombak yang melindungi Adam dan Saravine. Deburan ombak besar itu merontokkan
pertahanan tanah Adam. Di lain sisi, Anne terlihat tidak basah sama sekali. Dirinya
terlindung oleh gelembung air besar.
Adam mengangkat tanganya. Rintik-rintik hujan perlahan terkumpul di tangannya
membentuk bola air berdiameter 4 tombak.
“Keinginan dan Dark Nature...” desah Anne. Matanya menatap lurus pada bola
air di tangan Adam. Adam mendorong bola air itu lurus menuju Anne.
“Dengan keinginan kalian bisa membentuk ciptaan Dark Nature...” Anne tak
bergeming dan bola itu pecah berhamburan begitu saja menghantam gelembung air
“Tapi ingatlah... Dark Naturelah yang menciptakan.”
Sekarang giliran Anne yang mengedik. Air-air di hadapannya menggumpal dan
membentuk bola air berdiameter 4 tombak... tanpa disentuh sedikitpun. Adam meringis
melihatnya.
Bola air itu dilayangkan menuju Adam. Pelan.
“Tapi tanpa keinginan, manusia takkan bergerak.” ujar Adam di tengah deru deras
hujan.
Bola air itu pun pecah berhamburan. Transformasi terjadi, rintik-rintik kecil air
itu berubah menjadi taring-taring tajam. Lesatannya cepat. Adam mengibaskan
mantelnya, menjadikannya seluas 2 x 2 tombak dan setebal besi.
“Salah, semua hal sudah diatur oleh Dark Nature... dan manusia hanya
menjalankannya.”
Mantel milik Adam berkarat. Dan bolong layaknya digerogoti asam. Adam yang
terlindung hanya tersenyum miris saja. Pelipis dan tangannya berdarah. Saravine yang
terlindung oleh Adam hanya bisa terdiam ketakutan. Anne melangkah mendekati
mereka. Aroma kematian berhembus mencengkram tengkuk Adam dan Saravine.
“Ooh tapi buktinya aku masih bisa bertahan sampai saat ini. Apa Dark Nature
memang mengijinkanku hidup?”
langkah Anne berhenti mendengar ujaran Adam
“Mungkin... tapi takkan lama.” jawab Anne
“Lalu apa sekarang kau yang dipenuhi keinginan pribadi mampu menentukan
kematianku?”
Tanya Adam singkat. Dan Anne benar-benar bungkam. Adam mengeraskan
ototnya. Luka lenganya menutup seketika. Tangan kanan Adam berubah warna menjadi
hitam. Jari-jari Adam merapat dan membentuk sebuah mata tombak hitam.
“Wishenchant.” desis Anne.
“Seperti yang sudah kuduga... Darkmaster Air dan Petir-lah yang banyak
mengenali kemampuan Wishmaster... karena kalian sering sekali menumbangkan
kami.”
Anne tak menjawab. Kakinya menolak tanah dengan lembut. Ia berputar ringan.
Paralunanya berputar mengikuti gerak tubuhnya. Air hujan berkumpul menjadi satu,
membuat pusaran dengan Anne sebagai pusat. Sebuah cambuk air terbentuk dari
gumpalan air.
Tali temali air yang terus berputar. Sesekali memecut dan bergerak liar. Paraluna
Anne yang bergerak memutar menjadi pembawa air yang tak diketahui ke mana
geraknya.
Di lain pihak, keras, kasar dalam satu gerak lurus adalah pilihan utama pembawa
Keinginan. Tangan Adam adalah perwakilan keinginan. Wishmaster-tanpa-Rapier ini
memperlihatkan kemampuannya dalam bertahan dan menyerang. Tidak ada gerakan
sia-sia baik elakan, tepisan, maupun tusukan. Satu tusukan, satu keinginan begitupun
juga satu elakan, satu keinginan. Ia tidak bercabang dan selalu tajam.
Gaung, dering elemen saling baku hantam, dan juga derasnya hujan berpadu satu.
Keduanya terus beradu sampai mereka berpindah lokasi. Dari bukit di mana Alfillatis
berada menjadi lembah mendekati pintu keluar desa; barisan formasi pohon Matara.
Satu pihak terlihat mulai kepayahan.
Adam menjauh. Napas kakek tua ini mulai satu-dua karena terganggu oleh
derasnya hujan. Ia harus mengalokasikan beberapa porsi Kekuatan Keinginannya untuk
mendapatkan udara segar dan melindungi Saravine. Sementara Anne justru tegar
berdiri. Cambuk air miliknya perlahan meresap masuk dalam scarf kembarnya. Warna
scarf itu mulai membiru laut, terlihat tegang dan sepertinya semakin mengganas.
Anne memejamkan matanya.
“Hari ini akan kuusir Wishmaster dari tanah Exemptio. Kalian yang telah
membuang Dark Nature tak boleh berada di tanah suci ini.”
“Jadi ini yang kau maksud harus berlatih di luar.” Desis Adam “Bila kami keluar
maka semua akan selesai, begitu bukan?”
Anne diam begitupun scarf kembarnya. Keduanya kaku tegang menghadap
Adam. Sadarlah ia bahwa tidak ada lagi jalan mundur. Ia melihat mata Anne sudah
berubah. Bola mata Anne berubah biru gelap. Kelam dan dalam.
“Sepertinya nama Kehidupan sudah berganti menjadi Kematian. Aku akan sangat
tak suka bila ‘keluar’ bagimu berarti ‘mati’.”
Benar. Anne pun menyadari kondisinya waktu itu. Ia melihat Adam dan Saravine
yang sudah terengah-engah. Sayang, di saat nama Kehidupan berganti Kematian, Anne
sudah tak memiliki lagi kontrol penuh atas tubuhnya. Ia hanya menjadi penonton saja...
dan sebagai penonton dan ‘pelaku’ dialah yang akhirnya harus menangis saat terakhir.
Rintik air hujan yang perlahan turun. Bulir-bulir air hujan jatuh semakin besar
tatkala menyentuh pepohonan. Disanalah air berjumpa dengan kawan-kawanya dan
jatuh bersama menuju bumi, menuju tempat bernaungnya kehidupan yang terikat oleh
hukum. Dan bagi mereka yang telah menyentuh bumi, mereka akan sadar adanya
aturan yang tak bisa dilanggar.
Scarf kembar Anne melesat cepat bagai ular, masing-masing mengikat tangan
Adam dan dengan gerakan tajam langsung menancap bersilang di lutut Adam. Adam
jatuh berlutut, ia tak bisa membaca serangan tanpa keinginan tersebut. Anne menyentak
maju. Gerakanya pelan sekali seolah menari di udara.
Adam, sebagai Wishmaster nomor satu, hanya bisa tertegun melihat gerakan
pelan Anne. Awan hitam yang berada di udara, yang menjadi punggung halaman Anne
seolah dijadikan busur kematian dalam lukisan hidup Adam. Anne sang kematian, dapat
melihat lukisan kematian yang tercetak di atas bola mata Adam. Hutan, dan awan yang
gelap dengan sedikit rona cahaya pada angkasa.
Paraluna Anne mengalir lembut. Arahnya langsung menuju leher. Dalam waktu
yang amat singkat, Anne harus menutup matanya. Tidak, Anne sang kematian takkan
menutup mata saat melihat kematian. Baginya tak sopan bila mata tertutup kala
kematian melintas.
BLAR!!
Sebuah petir menghantam pohon di samping Anne. Kilat itu memutihkan semua
pandangan yang telah gelap. Dalam sekejap Anne sang kehidupan kembali tertarik
keluar. Ia tertegun mematung, tak mengerti mengapa dirinya kembali keluar. Paraluna
miliknya berhenti. Saat pergantian itulah petir lain menghujam... dan tepat padanya.
Anne langsung tak sadarkan diri. Ia hanya ingat, tiba-tiba saja ia terbangun
dengan Saravine berada di sampingnya. Wajah gadis itu cemas. Saravine berkata
“Kakak Anne tidak apa-apa?”
Lenguhan pelan menjadi jawaban Anne.
“Kakak Anne tersambar petir.” lanjut Saravine.
Anne memandang sekelilingnya. Ia berada di bawah naungan Daun Payung Besar
yang dipegang Saravine. Adam berada tak jauh darinya. Kakek satu ini duduk bersila
dengan mata terpejam. Hujan masih belum berhenti dan menyiram tubuh Adam dengan
pasti.
“Kau beruntung Saravine mau merawatmu. Gadis kecil itulah yang menggunakan
Kekuatan Keinginannya untuk mengobatimu dan menyadarkanmu. Bila tidak, maka
kuyakin Dark Assembly harus mencari Darkmaster Air yang baru.” ujar Adam.
“Mengapa kau... menolongku Saravine?” tanya Anne lirih.
Saravine terdiam. Ia makin erat mencengkram bonekanya. Bibirnya perlahan
mengucap.
“Kakak Anne... adalah kakak yang paling disayang Allen. Bila kakak meninggal
maka Allen akan bersedih.”
Anne terdiam. Filosofi emosi dan kehidupan miliknya yang telah lama menemani
hidupnya justru diingatkan kembali oleh Saravine. Hangat hati mencairkan kelu wajah
dan tubuhnya.
“Terima kasih Saravine… terimakasih.” ujar Anne dalam linangan air mata yang
tertutup oleh hujan.
Tak berapa lama setelahnyalah Anne baru menyadari, ketakutannya terhadap Petir
tak lebih adalah sebuah kutukan karena ia mencoba membunuh di luar kuasa Dark
Nature. Dan ia tahu, kutukan itu takkan hilang selama ia hidup.
“Kakak Anne?”
Sebuah sapuan tangan di depan wajah Anne membuat Anne tersadar akan
lamunan panjangnya. Suara yang dikenalnya, suara yang telah berubah. Suara Allen
“Ya, ada apa Allen?”
Allen mengerenyitkan kening.
“Tumben kakak Anne bengong, kakak tidak ketularan kakak Fey kan?”
“Allen...”
“Ya, kenapa kakak Anne?”
Anne terdiam memandangi Allen.
“Ah tidak...” jawab Anne tersenyum. Allen garuk-garuk kepala. Baginya ajaib
sekali Anne bisa seperti ini.
“Kakak benar tidak ketularan kakak Fey kan? Atau jangan-jangan kakak masih
sakit yah?” Allen menekan kening Anne.
“Tidak panas. Tidak juga stress.”
“Allen... bolehkah aku minta waktu sedikit?” bisik Anne menggeser Allen. Allen
mengangkat bahunya dan nyengir
“Kenapa tidak?”
“Ada apa dengan Anne?” Arche memperlambat geraknya.
“Tidak apa-apa kok Arche, paling kakak Anne hanya membayangkan kamu saja.”
canda Allen pada Arche. Ia pun melesat kembali ke samping Arche.
Arche hanya menyunggingkan senyum tipis saja. Ia tahu Anne tak mau
melihatnya barang sedetikpun. Arche hanya terlihat dalam sudut bola mata Anne yang
lebih banyak menerawang pada sekitarnya.
Anne melihat sungai yang bening terhubung pada pematang sawah. Arus air yang
bening dibelokkan oleh bebatuan menjadi jalur irigasi. Jejak batu apung yang berada
sedikit lebih tinggi dari persawahan mengingatkan Anne akan desa Exemptio. Dirinya
kembali terlempar pada masa lalu. Setelah semua kericuhan selesai, Anne melakukan
satu hal:
Melaporkan pada Allen. Ia kembali mengingat percakapan mereka.
Senja. Di salah satu pojok aliran sungai. Allen sedang menangkapi ikan sendirian
tanpa Saravine.
“He? Sara mau menjadi Wishmaster?”
Anne dapat melihat kilap kaget di wajah Allen. Ia tadinya tak mau menceritakan
hal ini tapi ia tahu suatu saat ia harus memberitahukan agar Allen tidak sakit hati.
“Bagus dong!” Anne kaget! Tiba-tiba saja Allen berdiri, membuat para ikan
kabur karena kaget. Bola mata Allen cerah, ia tidak berbohong.
“Kalau Saravine jadi Wishmaster artinya kau yang jadi Darkmaster tidak boleh
berhubungan lagi dengannya.” tegur Anne
“Kata siapa?”
“Leluhur. DarkWish yang berpisah sudah berjanji untuk tidak saling mencampuri
urusan masing-masing dan juga tidak berhubungan lagi kecuali bila persilangan
Keinginan dan Dark Nature bertemu. Karena inilah Darkmaster dan Wishmaster tak
boleh saling berhubungan.”
“Lalu? Itu kan Janji mereka. Bukan janjiku.”
“Tapi leluhur berkata demikian! Dan itu artinya berpengaruh pada kita semua.”
“Tapi apa Dark Nature bilang begitu? Seingatku sih tidak.” jawaban polos Allen
kecil menohok Anne. Ia tak pernah berpikir seperti itu. Bertanya pun tidak. Ia
memahaminya sebagai sebuah kepastian.
Selebihnya ia mendengar Allen berkoar-koar tentang kehebatan Saravine. Ia
masih mengingat binar-binar polos mata itu. Anne tak mengerti, mengapa Allen tak
cemas sekalipun akan Saravine. Percakapan itu menjadi memori terakhir. Anne kembali
mendengar koar-koar Allen dalam realitas nyata saat ini.
“Arche, kamu tahu tidak! Saravine itu kuat sekali waktu kecil! Aku tak pernah
sekalipun bisa mengalahkannya! Gerakanya cepat sekali dan tahu-tahu saja dadaku
sudah memar.”
Arche manggut-manggur mendengarnya.
“Waktu itu dia pasti pakai trik! Masa tahu-tahu bisa hilang dari hadapanku!”
Allen terus saja mengoceh pada Arche tentang Saravine seolah topik tentang
dirinya tak pernah habis.
Tapi Allen tak tahu...
Anne berulang kali menyebutkan kalimat itu dalam hatinya
‘Dirinya telah membuat Saravine semakin menjauh dan semakin menderita.’
Sekali lagi... karena sebuah perjanjian antara leluhur. Dan masa lalu kembali
membanjiri kesadaran Anne.
Rumah Tetua besar. Rumah yang paling besar dan memiliki banyak jembatan
menuju rumah lain. Ruang ini juga memiliki ruang pertemuan besar yang di dalamnya
terdapat keluarga Tetua besar.
Ruang pertemuan memiliki sebuah tiang kayu besar yang terletak di tengah
ruangan. Tiang itu berwarna merah. Jendela-jendela besar membawa angin untuk
masuk. Sebuah batu cekung dijadikan tempat berbaring bagi Tetua besar. Langit-langit
yang tinggi dan juga sebuah pencidukan air di belakang batu cekung. Pada tiap pojok
ruangan terdapat empat obor api besar. Bagi Darkmaster, ruangan ini telah memiliki
segala perwakilan elemen yang mereka miliki.
Di kala itu Anne bersimpuh. Satu hal yang sangat tidak biasa dilihat. Semua
penghuni rumah boleh terdiam.
“Aku datang hari ini atas sebuah permintaan yang mungkin terdengar mustahil.”
Tetua besar desa Exemptio haruslah berumur diatas 50 tahun. Beliau harus
mengerti seluruh peraturan, tata krama dan tahu sejarah Darkmaster dan Wishmaster.
Bila beliau meninggal maka pemilihan Tetua besar baru akan dilaksanakan kembali.
Tetua besar telah berumur 72 tahun. Kedatanganya saja harus dibopong oleh
keluarganya. Ia sakit kala itu. Umur telah menggerogoti tubuh dan pertahanan
tubuhnya. Hanya demi mendatangi Anne-lah ia terpaksa harus keluar dari
pembaringannya.
Tetua besar berkulit pucat, sebagian memang karena sakitnya. Beberapa bagian
kulitnya mengelupas membuat bintik-bintik pigmen warna kulit. Keriput kulitnya
terlihat sangat ringkih, seolah dengan satu usapan lembut saja akan membuatnya
rontok. Salah satu mata Tetua sudah susah melihat. Ia hampir saja tak mengenali Anne
yang bersimpuh 7 langkah darinya. Tangannya kurus, menyisakan hampir kulit dan
tulang saja. Bagi siapapun yang melihat, kakek ini seakan sudah menjadi mayat hidup
berbaju putih yang tinggal menunggu ajal. Lalat-lalat kecil sesekali mengitari tubuh.
Wajar saja, kemisik tak dapat digunakan untuk menutupi bau kematian.
“Aku meminta agar Saravine Mutia dipindahkan menuju Rumah Terpojok.”
Anne datang nyaris tanpa basa-basi. Ia hanya bertanya kabar pada saat
perjumpaan saja dan langsung saja menohok tujuan kedatanganya.
Sang Tetua terbatuk-batuk mendengar ucapan Anne.
“Mengapa kau yang sebagai Air justru ingin... *uhuk* ketidakbahagiaan?”
“Aku tak punya alasan khusus. Bahkan mungkin Dark Nature pun tidak
mengijinkan diriku meminta hal ini... tapi... aku tahu... aku tahu ini haruslah
kulakukan!”
“Adakah *uhuk* alasan selain Dark Nature?”
“Perjanjian dengan leluhur... bila itu bisa dijadikan alasan... dan juga alasan
pribadi.”
Walaupun Tetua besar hanya memiliki satu mata saja tapi kharisma yang
dipancarkan dari tatapan mata itu menyamai Darkmaster Tanah sebagai penjaga hukum.
“Aku tak bisa memberi kuasa itu... *uhuk* Gadis yang kau maksud adalah tamu
desa ini dan ia harus dihormati.... *uhuk* Ia pun tak melakukan tindakan yang
mencoreng aturan dan Dark Nature.”
“Aku mohon pada anda Tetua, aku hanya akan memohon sekali ini saja, sebagai
Darkmaster dan juga sebagai cucumu.”
“Kau telah menyalahi wewenang yang kau miliki *uhuk*... Anne, cucuku.”
Mendengar nama kecilnya dipanggil, Anne tak kuasa menumpahkan emosinya.
“Kakek Rivette... apa kakek tahu bagaimana perasaanku saat aku meminta ini?
Apa kakek tahu apa yang kutahu? Aku tak mungkin dapat menutup mataku selamanya,
aku tak bisa menutup bibirku rapat-rapat selama hidup apalagi bila aku bertemu
dengannya. Aku ingin agar rahasia ini menjadi kepedihanku semata.” Anne histeris.
Kelembutan dan ketenangannya hilang begitu saja. Tergantikan oleh kerapuhan. Mata
Anne mulai berlinang air mata. Iapun menutup mukanya. Sesenggukan.
“Hukum... *uhuk* tak boleh bergetar karena air mata. Cucuku *uhuk* berikanlah
sebuah kenyataan jelas padaku.” Tetua besar tetap tak bergeser dari keputusannya.
“Wishmaster.” desis Anne tiba-tiba.
Tetua besar terbatuk-batuk mendengarnya. Bagi penduduk desa, kata
‘Wishmaster’ menjadi sebuah kata yang tabu untuk diucapkan. Legenda dan Mite desa
ini telah mengajarkan kekecewaan yang besar pada Wishmaster, pengkhianatan dan
juga penodaan atas Dark Nature. Tetua besar memberikan isyarat tangan untuk
membuat semua yang hadir dalam ruangan pergi. Dan pengungkapan masalah inilah
yang kelak membawa pada Saravine dan Anne yang sekarang.
“Kakak Anne melamun lagi ya?”
Ucapan Allen kembali memutus ingatan masa lalu Anne. Tapi ia senang
karenanya. Setidaknya ia tak harus mengingat kembali bagaimana awal ia menceritakan
dan juga bagaimana penderitaan Saravine di Rumah Terpojok. Walaupun begitu, pada
waktu itulah Anne merasakan rasa sakitnya memberikan hukuman dengan mengabaikan
kata hati.
“Padahal sedang ada Arche di sini nih tapi kakak malah bengong.” Allen nyengir
senang meledek Anne. Anne justru tersenyum
“Maaf Allen.”
“He, maaf untuk apa? Seharusnya kakak Anne minta maaf pada Arche dong.
Bukan padaku. Kasihan Arche tuh dari tadi tidak bisa bicara dengan kakak.”
Tidak, Anne memang benar. Ia seharusnya minta maaf pada Allen sedari dulu.
Perasaan bersalahnya tak kunjung hilang meski ia sudah berdoa berkali-kali pada Dark
Nature. Dan sekarang, apa yang ia lakukan adalah salah satu usaha penebusan dosanya.
Bila tidak bisa membuat masa lalu Saravine bahagia maka saat inilah ia harus
membantunya. Dan ia tahu, kali ini Dark Nature tidak akan membuatnya tersiksa.
Iapun masih mengingat dengan jelas, demi melupakan rasa bersalahnya, ia
mendekati Saravine dan terus berusaha membuatnya bahagia... meski saat itu Saravine
berada dalam Rumah Terpojok. Ia selalu membela Saravine dan Allen. Anne
memandangi wajahnya di air. Ia melihat dua wajah yang dimilikinya... kehidupan dan
kematian. Ia yang mengungkapkan fakta Saravine adalah Wishmaster tapi ia pulalah
yang menyembunyikannya dari mayoritas penduduk Exemptio, termasuk dari
Darkmaster lain. Ia berusaha membuat Saravine bahagia tapi di sisi lain ia jugalah yang
membuat Saravine merana dalam Rumah Terpojok. Dirinya… munafik. Kotor.
Pembohong. Itulah kata-kata yang sering didengungkan bila mengingat Saravine dan
Allen. Tidak ada yang tahu hal ini selain dirinya. Di balik senyumnya yang lembut juga
tersimpan fakta yang menyakitkan hatinya.
“Wah! Kita sudah sampai kakak Anne! Lihat-lihat, itu kotanya!”
Allen melompat-loncat tatkala melihat pagar hitam besar kota Amarantie
Aumerthis. Ia langsung saja menghambur berlari tanpa peduli Arche yang sudah
geleng-geleng kepala. Bagi Anne, kota ini akan menjadi sarana pemaafan baginya. Bagi
Anne, Broken Wishes Saravine adalah kesempatan penebusan dosa.
Chapter 15
Amarantie dan Aumerthis
Amarantie Aumerthis. Kota perbatasan. Terkenal sebagai kota kembar. Kota ini
dibagi menjadi dua sektor yang sesuai dengan namanya: Amarantie dan Aumerthis.
Amarantie adalah sektor sipil di mana kehidupan sehari-hari tampak normal-normal
saja meski Kesatuan R-Knight dan Penyembuh tampak berpatroli dalam kota.
Aumerthis di lain sisi, berada sangat dekat dengan perbatasan. Sektor inilah
sarang militer Scutleiss. Dinding-dinding batu tinggi dan menara-menara pertobatan
menjaga bagian kota ini. Di sektor inilah didirikan Benteng terkenal: Benteng
Aumerthis. Benteng yang kelak menjadi situs bersejarah nasional Scutleiss.
Tanah di kota kembar ini tak bisa dibilang subur. Banyak bekas ledakan element,
dan hasil perang. Tanah liat dan pasir-pasir lebih banyak menghiasi lantai kota. Sedikit
banyak ada pula gedung-gedung yang rusak. Tapi sepertinya itu tak masalah bagi
penduduk. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Dan tentunya, kota ini
jelas tak banyak mendapat pelancong kecuali bagi para maniak perang.
Rumah-rumah di kota kembar ini banyak menggunakan bebatuan kokoh dengan
genteng yang tebal. Atap rumah-rumah juga dilindungi oleh payung-payung hitam
besar dari logam: Parasol. Bila siang hari, serapan warna hitam payung tersebut seakan
mampu menaikkkan titik didih emosi rakyat. Meski sebenarnya, payung-payung itulah
yang melindungi mereka dari serangan elemen dan juga panas matahari.
Allen dan kawan-kawan sampai di kota ini saat matahari mulai tergelincir. Terik
mentari membuat keringat mereka bergulir. Kota ini panas... itu kenyataan. Wajar bila
sedikit yang suka tinggal di sini.
“Kita cari penginapan sekarang. Kurang lebih kita harus mempersiapkan barangbarang
untuk bertahan hidup. Setelah sore nanti kita akan melanjutkan perjalanan
menuju Gunung Farangi di utara kota ini.”
Arche menunjuk sebuah gunung besar di utara kota. Warna dasar gunung itu
merah, seperti warna api. Tinggi menjulang, sedikit lagi menembus awan. Kabut tebal
mengelilingi gunung itu memancarkan bias warna merah.
“Aku pergi dulu yaa~!” tahu-tahu saja Allen melesat kabur meninggalkan mereka
berdua.
“Hey! Jangan berpencar!!” Teriak Arche. Telat. Allen sudah kabur menyusup di
balik keramaian.
“Dia justru lepas kendali di sini. Padahal tempat ini paling bahaya.”
“Tuan Arche boleh tenang. Allen takkan menimbulkan keributan.” Ucap Anne
lurus – minim nada lembut.
Tahu-tahu saja terdengar teriakan keras dan mereka melihat Allen yang kabur ke
atap salah satu rumah. Tak hanya itu, Allen meledek kerumunan pemuda-pemuda
berbadan besar di bawah. Kerumunan itu bergerak mengejar saat Allen meloncat dari
atap-ke-atap. Bayangan Allen pun lenyap dari pandangan mata Arche dan Anne.
“Setidaknya begitu yang kutahu.” ujar Anne lirih. Ia pun membalikkan badan.
Mendadak ia berhenti lalu memandang ke belakang. Arche menggenggam tangannya,
erat.
“Ada hal yang harus kubicarakan denganmu, Anne.”
Anne tak melepas genggaman itu. Ia menutup mata dan menjawab
“Baik... tuan Arche.” Arche miris mendengar kata ‘tuan’ disebutkan kembali.
Jarak di antara mereka kembali terbentang.
Di lain tempat, Allen nyengir senang. Ia berlari di atas atap dan melompati
Parasol atap dengan wajah yang cerah. Ia memang senang bermain kejar-kejaran tapi ia
punya rencana lain. Ia ingin agar Arche dan Anne dibiarkan berdua saja. Agar suasana
panas kota ini tambah panas oleh mereka.
Inginnya lagi sih, ia diijinkan melakukan lompatan jauh dengan Plakat Platinum
Hitam. Sayang Arche sudah keburu melarangnya. Sebagai kebebasan ia sangat tergoda
sekali untuk melanggarnya tapi ia mengurungkan niatnya tatkala tahu Saravine yang
dipertaruhkan. Allen pun kebetulan ingat Arche mewantinya sekali lagi tentang
‘monster’ yang ada di kota ini. Justru karena itulah Allen makin penasaran. Ia
melompat ke bangunan dengan cerobong pembakaran elemen api yang paling
menjulang.
Mata Allen menatap ke utara. Gunung Farangi. Cengiran senang, puas dan
semangat. Sebentar lagi ia bisa mendapatkan cara agar Saravine sembuh. Begitu ia
memandang ke bawah...
Kawanan pemuda berbadan besar masih mengejar Allen...
“Wah wah... banyak Arche di sini.” ujar Allen sembari menggaruk-garuk
kepalanya. Ia melihat mereka sampai datang membawa tangga untuk mengejar Allen.
Ia turun dari cerobong dan kembali berlari-lari di atas atap. Ia melesat jauh lebih
cepat dengan berbisik pada Plakat Platinum Hitam. Area level 2 Angin menjadi teman
tolakannya. Setidaknya ia tidak membuat lompatan ‘terlalu’ jauh dengan bantuan Plakat
Platinum Hitam.
...
Tapi sepertinya jumlah pengejarnya makin banyak. Senang-senang bagi Allen
juga ada batasnya. Ia tak mau nantinya Arche misah-misuh apalagi ada Anne.
Keduanya sama-sama gemar menasihati orang. Dan itu kurang disukai Allen.
Maka ia lebih memilih opsi yang jelas lebih disukainya. Ia turun di lorong-lorong
yang cukup gelap. Dan mulai berlari di bawah. Pasir-pasir halus yang terlontar dari
kakinya membuatnya semakin bersemangat menjalankan rencananya.
“DIA DI SANA!! KEJAAR!!” Allen berlari makin kencang diteriaki seperti itu.
Ia berbelok cepat pada lorong lain. Jalan buntu di hadapanya. Sebuah dinding kayu
yang tinggi dengan kawat-kawat berduri menghalanginya. Allen nyengir, justru ini yang
ditunggunya!
Allen memutar badannya dan menunggu kehadiran pengejarnya. Begitu melihat
mereka, Allen nyengir. Begitu mereka melihat Allen, mereka menyeringai. Bagi
mereka, Allen terdesak. Bagi Allen, ini justru akhir pengejaran. Para pengejar bergerak
hendak merangsek. Saat itu Plakat Platinum Hitam disentak. Bisik halus Allen bertitah
padanya.
“Waktu bermain habis. Sekarang saatnya untuk~ Area level 4, Kekuatan level 2,
Angin.” selepasnya Allen mengarahkan tanganya pada tanah.
BUM!!
Tanah meledak memantulkan debu-debu pasir ke udara. Sejenak pandangan para
pengejar tertutup. Saat itu terdengar ledakan lain. Dan sebuah benda bertolak ke udara
dalam gerakan cepat.
Debu-debu berhamburan. Dinding di hadapan pengejar bolong seukuran tubuh
manusia. Tempat itu tak punya tempat bersembunyi. Tak ada sampah-sampah, tak ada
sudut mati.
“Dia kabur!! Kejar!!”
Beberapa di antara mereka tentu berpikir: Allen kabur melalui dinding yang
bolong. Tapi, ada yang berpikir Allen kabur melalui atap lagi. Dan begitulah kubu itu
terpencar dua. Satu lurus sementara satu lagi memutar mencari Allen di atap-atap.
Tempat itu langsung sepi. Tahu-tahu saja tanah di tempat Allen berdiri
bergoyang-goyang. Sebuah tangan muncul dari dalam tanah. Tangan itu bergerak-gerak
mencari dasar tanah dan dengan satu dorongan kuat mengangkat tubuh yang terlindung
dalam tanah. Siapa lagi kalau bukan Allen.
Ia melepeh-lepeh pasir yang menempel manja di bibir.
“Untung saja aku pernah dipendam di tanah sama kakak Rex.” ujar Allen selagi
menepis-nepis bekas tanah di bajunya. “Yah, bagusnya mereka tidak lagi mengejar.”
“DIA ADA DI SINI!!”
Baru saja Allen berpikir begitu, tahu-tahu saja dia kembali dikepung. Dan kali ini
dari dua arah. Allen menggaruk-garuk kepala melihat ini. Tipuan yang sama tak bisa
mempan untuk kedua kalinya. Secara pribadi sih dia cukup siap menghadapi mereka
tapi...
Lawannya ini bukan unit militer, bukan pula mereka yang belajar bela diri. Sipil
pula. Bisa-bisa nanti Allen justru diadukan pada patroli R-Knight setempat. Berurusan
dengan Arche saja sudah bikin malas bagaimana bila ditambah dengan R-Knight lain?
Insting kaburnya mulai berkedip-kedip.
“TUNGGU SEBENTAR!!”
Kejutan lain datang. Kali ini dari atas. Sebuah sosok meluncur turun dan
mendarat di antara Allen dan pengepungnya. Bukan pendaratan yang baik. Sosok itu
terlihat susah payah berdiri di atas kakinya yang gemetaran.
Sosok ini memakai caping coklat yang menutup mata sampai pertengahan
hidungnya. Rambutnya yang hitam panjang menjuntai ke bawah dari perlindungan
caping. Ia memakai jubah panjang berwarna putih dengan corak 4 warna: merah, biru,
hijau, dan hitam. Baju dan pakaiannya... pria. Setidaknya ia tidak memakai rok dan juga
bagian dadanya tidak menonjol. Cara sosok ini tersenyum sangat mirip dengan Allen.
Nyengir. Hanya saja, keriput-keriput wajahnya mengesankan wajah ini menyeringai.
Setelah beberapa saat ia bisa menguasai dirinya dan berdiri dengan tegap
ditopang tongkat kayu panjang. Tongkat itu memiiki surai panjang yang kaku tegang
dan terbuat dari kawat-kawat tipis. Panjang tongkat itu mencapai dua tombak kurang.
Bagi Allen tongkat itu terlihat seperti sapu ijuk besar. Allen merasa sosok ini seolah
seperti Rex. Ada kharisma tersendiri dalam sosok ‘aneh’ ini.
Apa yang orang ini hendak lakukan? Ia menyeringai. Sapunya dihantamkan keras
ke tanah bersamaan dengan teriakan kerasnya
“Marilah kita hentikan perselisihan ini!”
Sejenak hening… ucapan seperti ini… hanya mampu membuat angin berdesir
saja. Allen saja terpana. Ia sebenarnya berharap sosok ini akan melakukan atraksi
menakjubkan tapi ternyata…
“He…Heh tukang sapu! Tahu apa kamu! Bocah ini telah membuat keributan
tahu, dia wajib diajar tata krama!” pengejar Allen kembali menggertak setelah sadar
mereka terbengong melihat aksi aneh ini.
“Memang apa yang kau lakukan anak muda? Aku melihatmu sedari tadi berlarilari
di atap rumah saja. Jangan-jangan kau merusak payung rumah mereka.”
Allen menggeleng “Aku hanya tak sengaja menubruk mereka kok lalu orang itu,”
tunjuk Allen pada salah satu dari mereka “Berteriak-teriak aneh dan mau tak mau aku
kabur.”
“Lah mengapa kabur kalau begitu? Kamu bisa disangka Maling kalau kabur tibatiba
begitu tahu!” ujar sang paman bercaping mencibirkan mulutnya.
Allen diam sejenak. Lorong sempit seperti ini memang bukanlah tempat
merenung yang baik. Meski begitu, rasanya masalah mudah seperti ini tidak
membutuhkan kontemplasi yang berlebihan. Allen menepuk tangannya
“Paman benar! Seharusnya tadi aku minta maaf pada mereka dan tanya kenapa
mereka marah. Ini masalah sepele yah.”
Sepertinya telat. Memangnya siapa yang tidak capek menguber-uber orang yang
larinya cepat dan sekonyong-konyong mengatakan semuanya sepele. Beberapa tidak
sabar dan mulai mengerutkan alis-alis sebal.
“Yaah tapi kalau dilihat juga sih... memang sepertinya mereka ingin melepas
stress.”
“Paman tahu dari mana?”
“Tuh yang mereka bawa.” tunjuk paman itu.
Allen melihat pengejarnya membawa golok dan juga tongkat-tongkat besi yang
diketuk-ketukkan.
“Apa memang pelepas stress di kota ini golok-golokan kayak begitu?”
Ucapan Allen barusan justru membuat emosi pengejarnya makin naik. Bila ada
yang menyentuh sembarangan maka alamat emosi meledak.
“Nah teman-teman bisakah kalian bersabar? Anak ini tidak bermaksud buruk kok.
Tolong taruh golok-golokan itu ya.”
“KAMU PASTI KOMPLOTANYA JUGA!” dan tahu-tahu mereka menyerang.
Rupanya picu peledak justru ditekan oleh paman bercaping. Allen pun tak luput dari
sasaran. Bila kepala tak lagi dingin memang inilah yang terjadi.
“Waduh. Memangnya ada komplotan penubruk ya?” tanya Allen.
“Kalau komplotan pemabuk aku tahu.” Timpal paman bercaping.
Keduanya mengelak dengan santai setelah saling melempar cengiran.
“Teman-teman. Kalau kalian menyerang berarti aku boleh membela diri bukan?”
canda sang paman bercaping. Sembari begitu sapunya mengayun. Ia melucuti semua
senjata senjata penyerang hanya dengan lingkaran-lingkaran kecil putaran tongkatnya.
Hanya dengan sekali sentak saja semua senjata mereka terlempar menancap pada
dinding tak jauh dari mereka.
Allen berdecak-decak kagum.
“Waw, paman hebat sekali! Aku tidak bisa melihat apa yang baru saja paman
lakukan.”
Para penyerang mereka kaget. Nyali mereka lenyap begitu saja. Dan jadilah
peristiwa ‘wajar’ bagi mereka yang kalah.
“Kamuu~! Peristiwa ini akan kulaporkan pada Patroli R-Knight!”
“Laporkan sajalah. Paling-paling memang itu kemampuan orang yang kalah.”
Paman bercaping itu justru makin jadi meledek. Tapi memang benar mereka
kabur semua sambil memaki-maki. “Hoo, masih bisa teriak-teriak. Bagus itu, stressnya
tersalurkan.” Tambah paman bercaping.
“Tapi paman, kota ini kayaknya banyak stressnya ya?”
Sang paman tersenyum. Cengiran lebarnya berubah menjadi simpul ironi.
“Yaah kau benar sekali anak muda. Ini juga karena mereka berada dalam
perbatasan daerah perang. Mereka bisa saja kehilangan segalanya saat Hyddrick
menyerbu. Apa kau bisa lihat kota ini sebenarnya begitu indah?” Ia mendengus tatkala
mengalihkan perhatian pada Gunung Farangi nun jauh di sana. “Sayang saja tidak ada
yang bisa banyak tertawa dan bersenang-senang walaupun hanya sekedar melihat-lihat
pemandangan saja. Aku ingin sekali bisa membuat tawa muncul lagi di kota ini
walaupun harus menggunakan cara apapun.”
“Aku tak mengerti mengenai masalah beginian tapi yah kalau memang tidak bisa
bersenang-senang dan tidak ada yang tertawa pasti tidak seru.” sang paman tertawa juga
mendengar ucapan Allen.
“Kau benar sekali. Hidup tanpa tawa pasti hambar!” ia menepuk punggung Allen
dengan semangat. Tawanya berkumandang jelas dalam lorong. Pantulan suara itu
membuat Allen teringat akan suatu hal.
“Ah iya paman, katanya di kota ini ada monster seram ya?”
Paman bercaping itu mendekatkan mukanya pada Allen. Saking dekatnya, Allen
dapat merasakan dengus napas keras sang paman.
“Monster seram?! Siapa yang bilang begitu?”
“Temanku, dia bilang jangan berlama-lama di kota ini karena ada monster
seram.”
“Monster seram... monster seram. Hewan buas banyak, ada Serventioust, salah
satu ular berbisa yang baunya busuk, Pumid Feline, ini kucing gunung yang senang
mengubur diri dalam tanah, dan yang paling berbahaya... Arachnophibos si laba-laba
pembuat Phobia tapi kalau monster setahuku tidak ada. Daerah ini aman dari kuasa
Pihak Hati Kejam dan golongannya. Dulu ada Kaum Pawn of Rotten tapi mereka sudah
diusir ke Jurang Kematian. Lagipula kota ini sekarang sudah dijaga oleh R-Knightnya
Erune! TAK MUNGKIN monster mampu macam-macam di sini!”
“Berarti Arche salah ya?” gumam Allen
“Arche?”
“Iya, temanku bernama Arche. Dia katanya tahu banyak soal tempat ini.”
Paman bercaping itu melepas O besar sembari mengusap-usap dagunya. Mata di
balik caping itu diam-diam menelisik sosok Allen. Sapu yang dipegangnya diketukketukan
ke bahunya.
“Namamu siapa anak muda? Aku ingin mengajakmu bergabung dengan kesatuan
R-Knight. Kebetulan aku punya jaringan di sana. Aku melihat Struktur tubuhmu sangat
bagus dan terlatih. Aku yakin kau jauh lebih baik dari tentara-tentara bayaran asal jadi.
Bagaimana?” paman bercaping itu mengacungkan sapu tepat ke depan hidung Allen.
“Aku tidak tertarik dengan tawaran paman tapi yah kalau nama sih Allen, Allen
Inverson.” Allen menolak sambil menggeser sapu dari depan hidungnya
“Yakin tidak mau? Gaji di sana lumayan dan kuyakin dengan kemampuanmu kau
bisa mencapai posisi letnan dengan cepat. Pikirkan baik-baik deh. Banyak sekali yang
mencoba menjadi R-Knight Erune tapi tak semuanya bisa. Bahkan ada yang harus
menyogok. Kali ini kau dapat rekomendasi kok justru tidak mau?”
Allen merasa seperti berhadapan dengan pedagang tak kenal menyerah. Bahkan,
paman bercaping ini kembali mendekatinya dan menyorongkan sapu ke depan
hidungnya lalu memutar-mutarnya di depan hidung mancung Allen.
“Kalau kau mengejar pengetahuan, R-Knight Scutleiss juga menyediakan
perpustakaan 24 jam. Dan kalau kau jadi R-Knight... semua perempuan pasti
memandang ‘wah’. Maka tidak ada ruginya bila masuk.” Allen perlahan mundur tapi
paman bercaping ini justru makin gencar menodong. Insting kabur Allen mulai
menyala-nyala. Mata Allen berputar-putar mencari pengalih perhatian. Tong sampah?
Pagar? Pasir? Tidak bisa! Ia butuh sesuatu yang lebih besar!
Sebuah sosok mendarat tak jauh dari mereka. Allen mengambil napas lega,
setidaknya sosok ini mampu membut ocehan panjang paman bercaping ini berhenti
sejenak. Tapi yang datang justru...
“Aeh Arche.” Allen nyengir kuda. Ia mundur perlahan-lahan menuju ujung
lorong. Ia menemukan oleh Pengalih perhatian yang (sebenarnya) bagus tapi dapat
mengejar juga.
“Apa yang kau lakukan tadi? Mengapa mereka mengejar-ngejarmu?” dan Arche
juga sama saja seperti paman bercaping. Ia makin mendekati dan menekan Allen.
Keluar mulut Harimau masuk mulut Buaya.
“Ooh, rupanya Arche Efeether, komandan Sayap Selatan.”
Arche menengok, sosok yang tadinya tak terlalu diperhatikanya itu ternyata
mengenalnya.
“Ada apa sampai kau pergi ke perbatasan seperti ini? Bagaimana dengan tugas
menjaga Erune?” tambah Paman itu
“Siapa anda?” Tanya Arche mengerenyitkan alis. Kewaspadaannya meningkat.
“Wah-wah rupanya sudah lama tidak berjumpa membuatmu lupa ya? Padahal
dulu kau adalah didikan terbaikku.” Ujar paman itu sembari membuka capingnya.
Warna mata paman itu biru terang dan terlihat memiliki aura kehidupan yang
berlimpah. Di wajahnya terdapat dua buah codet melintang mengikuti arus pipi,
masing-masing satu di tiap pipi. Bekas-bekas cukuran jenggot menghias wajahnya.
Beberapa helai rambut paman itu dipilin melingkar layaknya mahkota.
“Sekarang ingat?”
Arche membungkuk hormat.
“Komandan Central... Velicious Emeth. Salam saya pada anda.”
“Aih-aih tak usah pakai salam seperti itu. Kau tahu aku paling tak suka segala tata
krama bodoh. Yang penting tujuan tercapai, buang-buang waktu saja pakai bungkukbungkuk
seperti itu. Plus, posisimu dan posisiku setara.” Emeth mengibas-ngibaskan
tangan mengusir tindakan Arche. Ia berhenti sejenak seolah menyadari sesuatu,
menyipitkan mata, dan mulai memegang dagunya. Ia menunjuk Arche sambil
berpangku tangan.
“Kalau kau ada di sini, siapa yang menjaga Permaisuri? Di sini aku, Gouph, dan
Elena sudah lebih dari cukup.”
“Konsili sudah memberi penjagaan sebagaimana mestinya.”
Emeth menyeret kakinya pada pasir dan memutari Arche. Bola mata Arche
mengikuti kemana gerakan komandan satu ini.
“Ooh begitu? Kudengar permaisuri terkena penyakit jiwa mendadak karena ulah
seseorang. Kupikir karena kau gagal menjaga permaisuri sehingga konsili mengutusmu
untuk bertukar tempat denganku.” canda Emeth. “Aku sih senang-senang saja karena di
sini cukup melelahkan. Lagipula pandangan mataku tidak sebaik dirimu. Terkadang
sulit bagiku melihat kebenaran yang jauh di depan sana. Maklumlah sudah tua.” ia
mengangkat capingnya dan memutar-mutarnya di udara. Langkahnya berhenti tepat di
hadapan Arche, tiga langkah darinya.
Tahu-tahu saja Emeth sudah berdiri di belakang Arche. Telunjuknya menempel
tepat di nadi leher Arche dan jempol di ruas tulang punggung. Caping yang baru saja
diputar Emeth terjatuh ditanah.
“Iya kan?” ujar Emeth. Arche bergidik, ia tak bisa melihat gerakan itu. Lagipula
tekanan jari Emeth tak sembarang punya. Pasokan udara Arche seakan dipotong
setengahnya. Andai ia berniat jahat, Arche sudah melayang ke akhirat kurang dari
sekedipan mata.
“Wah paman cepat sekali! Aku hanya bisa melihat paman melangkah dua kali
saja tahu tahu sudah sampai di belakang Arche.”
“Wah wah kau bisa melihatnya ya? Aku benar-benar sudah tambah tua rupanya.”
canda Emeth. Mereka berdua pun tertawa bersamaan. Tekanan jari Emeth dilepas
membuat napas Arche kembali normal.
“Hey Arche, ajaklah temanmu ini masuk ke dalam kesatuan. Kecil-kecil dia
sudah punya potensi besar. Sayang sekali kalau nantinya dia diculik oleh Hyddrick.”
“Aku juga menginginkanya maka dari itu dia kubuntuti sampai sekarang.” ujar
Arche berusaha tenang sebisa mungkin. Emeth menggoyangkan kepalanya. Ia melipat
kedua tangan dan berujar
“Komandan Sayap Selatan bahkan membuntuti rakyat sipil seperti ini.
Pilihanmu pasti tak sembarang karena... matamu tak pernah berbohong kan?”
Intonasi Emeth terkadang ditekankan pada kata tertentu dan itu membuat Arche
tersenyum. Tantangan... bagi Arche kalimat itu memiliki arti tantangan.
“Tentu saja.” Jawabnya tegas.
“Aku senang mendengarnya. Bagaimana kalau kalian semua kuundang ke dalam
benteng Aumerthis? Di sana kita bisa berbincang-bincang lebih banyak dan tentunya...”
Emeth melirik Allen. “Aku bisa lebih leluasa memintamu untuk masuk dalam kesatuan
dan Kau juga bisa bermain-main di sana. Hitung-hitung melihat fasilitas khusus RKnight.”
“Kalau ada mainan sih boleh-boleh saja tapi...” Allen melirik Arche.
“Ikut saja, lagipula kita tak akan menemukan tempat beristirahat yang lebih baik
selain markas R-knight.”
“Bukan itu, Arche... Memang kalian berdua mau memaksaku jadi R-Knight?”
Arche mengedipkan sebelah mata “Bukankah sudah kukatakan kalau urusanku
dan urusanmu belum selesai?” Allen bengong sejenak. Ia mengerutkan alis, mencoba
untuk mengerti apa maksud Arche. Biarpun sudah berpikir keras tetap saja yang ia tahu
bahwa Arche punya janji denganya. Ia tak tahu Arche tak menginginkan kecurigaan
datang dari Emeth. Tapi beruntunglah reaksi tak-sadar-bahaya Allen sangat natural.
“Terus nantinya kakak Anne bagaimana? Masa mau ditinggal begitu saja?”
“Anne? Anne siapa?” Emeth tergerak mendengarnya. “Aku juga punya kenalan
seorang wanita bernama Anne. Dia cantik, lembut, dan kuat. Aku masih mencarinya
sampai sekarang tapi tak pernah bertemu. Aaaah~ darah mudaku kembali tergerak bila
mengingatnya.” Emeth mendekap kedua tanganya dengan muka yang tersipu-sipu.
Arche bergidik. Ia sangat berharap Anne yang dimaksud Emeth bukanlah Anne yang
mereka bawa. Ia tahu tabiat komandan satu ini. Dan ia tahu tabiat itu jugalah yang
membuat Lordess Maria Fangabell membenci komandan ini.
Baru saja Allen bertanya, Anne sudah muncul dari balik lorong menuju jalan
raya. Mata hitam Anne beradu pandang dengan mata biru cerah Emeth. Senyum besar
perlahan menembang dari bibir Emeth.
“Astagaaa~ Anne Eaumi?”
Anne tersenyum. Ia membungkukkan badan dan menghormat pada Emeth.
“Lama tak berjumpa tuan Emeth. Sudah tiga tahun berlalu semenjak terakhir kita
bertemu. Apa tuan baik-baik saja?”
“Ah kau masih saja berbasa-basi seperti itu di depanku. Aku selalu baik-baik saja
asal tidak ada kerupuk-kerupuk Hyddrick yang mengganggu setiap aku istirahat.”
Emeth menunjukkan otot tangannya yang masih kekar di usia yang setara dengan
Lordess Maria.
Arche mengerenyitkan alisnya. Anne dan Emeth saling kenal? Arche mulai tak
habis pikir mengapa Anne, Emeth, dan Lordess Maria sepertinya saling terikat. Ia tak
mau berpikir bahwa jangan-jangan Permaisuri Vex juga kenal dengan Anne. Sebuah
kebetulan yang sulit dicerna Arche.
“Wah-wah Arche, kau hebat sekali rupanya. Aku tak menyangka kau bisa
membawa pahlawan bayangan negara Scutleiss”
Arche membulatkan matanya. Apanya yang pahlawan bayangan?
Emeth dapat melihat roman ketidaktahuan Arche. Ia terkekeh senang.
“Oh jadi kau tidak tahu? Anne inilah yang telah membantu Erune melenyapkan
pengkhianat Scutleiss nomor satu: Alexander Fangabell, anak angkat dari si Maria
komandan Utara.”
“Tak mungkin...” desis Arche
“Wajar bila kau tidak tahu, Alexander cukup pintar untuk mengecoh siapapun
juga. Hanya saja, dia tidak beruntung, Maria dan aku mengetahui pengkhianatanya.
Anak itu mencoba menjual rahasia negara Scutleiss dan bahkan mencoba menjual
tambang dekat perbatasan Teoterrateis. Karena itulah, Maria tak menangis saat
pemakamanya. Lagipula, kematian seorang pengkhianat tak pantas ditangisi.”
Anne terdiam. Ia menunduk sayu dan membuang mukanya tatkala Arche menoleh
padanya. Cerita Emeth masih diteruskan.
“Tapi berita kematian pengkhianat itu tak diumumkan,” dengus Emeth “Maria
masih memiliki rasa kasihan padanya dan hanya menyebarkan berita bahwa terkutuk
satu itu mati dalam perang. Akhir yang terlalu bagus bagi seorang pengkhianat.”
“Mengapa anda tahu?” tanya Arche
“Hey jangan curiga seperti itu. Aku sendiri diberitahu oleh Maria. Ia bahkan
memintaku untuk menghabisi Alexander. Aku yakin sekeras-kerasnya Maria tetap saja
ia tak mampu menghukum orang terdekatnya itu.”
Emeth terus saja bercerita
“Dan oh iya, pada waktu itu kau bahkan belum seberapanya Alexander. Anak itu
kuat sekali. Bahkan ia bisa selamat dari kejaranku.”
...
Emeth terus saja berbicara. Semangat yang dilontarkanya seakan membuat sosok
ini seperti anak muda yang penuh idealisme. Binar mata itu sama seperti Allen saat
bercerita, penuh dengan antuasiasme.
...
Dan Emeth masih berbicara... kali ini topiknya tentang bagaimana ia bisa
menjebak Alexander untuk bercerita. Allen mulai mengetuk-ngetukkan kakinya. Tanpa
sadar mulutnya menguap membuat Emeth sadar akan tindakannya.
“Aduh. Kebiasaan burukku kambuh. Terlalu banyak omong juga tidak baik. Ayo,
ikut denganku ke benteng Aumerthis. Di sana setidaknya kaki tidak pegal karena berdiri
seperti ini.” Ujar Emeth mengajak mereka pergi dari lorong remang itu.
Dalam perjalanan menuju benteng Aumerthis. Emeth menjadi pramuwisata dan
menjelaskan tentang kota yang baru saja menerima serangan dari barisan Mentalist
Hyddrick di bawah komando Afvati Raita. Berulang kali Emeth memaki kesal pada
Afvati yang tak kenal kasihan pada penduduk sipil.
“Tapi aku yakin sekali, ia melakukan hal itu karena frustasi tak bisa menjatuhkan
Aumerthis padahal sudah tiga tahun berlalu. Jadi ia menggunakan moral rakyat sebagai
tameng. Kalau rakyat sudah tidak tahan dengan kondisi perang bisa dipastikan kami
akan kesulitan logistik.” Emeth tertawa seolah situasinya bukan problem besar. “Tapi
tenang saja, kita juga punya senjata rahasia khusus temuan Gouph untuk mereka.”
“Tuan Emeth masih saja blak-blakan. Tuan tidak khawatir kalau nantinya kami
akan membelot?” tanya Anne dengan senyum
“Apa sih yang tidak buat kalian? Lagipula ada Arche mengikuti kalian, dia pasti
tahu kalian bisa dipercaya. Apalagi Arche ini kan sudah berlatih menjadi Telik Sandi...
bukan begitu Arche?” Arche melihat senyum tipis Emeth. Kode? Ancaman atau apa?
“Tuan Emeth bahkan membongkar rahasiaku. Sekarang aku tak punya kartu AS
lagi di hadapan mereka.” keluh Arche.
Emeth tertawa keras “Kau kan bisa mengelak, tidak usah diakui begitu saja.”
“Mana bisa saya mengelak bila komandan Emeth yang berbicara.”
“Ah, mulai lagi deh pakai tameng sopan santun R-Knight. Apa perlu lidahmu
kusikat dengan Brusol ini?” ujar Emeth sembari mengacung-acungkan sapunya ke
depan muka Arche.
Mereka menyadari satu tabiat lagi dari Emeth ini: TAK MAU KALAH.
Mereka sampai di depan benteng Aumerthis. Benteng ini besar, berwarna
keemasan, simetris dan tegak menjulang. Dindingnya saja lima tombak lebih tinggi
dibanding dinding Kota Scutleiss. Menara Pertobatan benteng ini berjumlah dua kali
lebih banyak. Salah satu Menara Pertobatan yang paling tinggi terletak di tengah
benteng dengan warna kuning yang mencolok. Banyak yang mengatakan bahwa
Benteng Aumerthis adalah Benteng Matahari karena gambaran sekilas Menara
Pertobatan yang menyilaukan kala siang hari. Bentuk benteng ini dipercayakan pada
Gouph Decrement, komandan R-Knight Timur yang juga dikenal sebagai Inventor.
Dialah teknokrat utama dari R-Knight Scutleiss. Payung-payung atap itulah hasil
ciptaannya. Beliau pulalah yang menyarankan tentang peletakan benteng Aumerthis.
Tapi...Peletakan benteng ini cukup aneh. Biasanya, benteng kota akan meliputi
seluruh kota dan menjaga dari gempuran luar tapi pada benteng Aumerthis, benteng ini
seolah menjadi Istana kecil yang berdiri di depan menjaga kota. Bila hendak disebut
istana juga, maka letaknya sangat tak terlindung dan boleh dikata justru menjadi
tameng. Emeth mengatakan bahwa peletakannya disengaja untuk memancing serangan
lawan yang jujur. Istilahnya mengajak duel antar kombatan tanpa harus membahayakan
lokasi rakyat sipil. Tapi dalam perang, ia juga tahu ada pihak-pihak yang tidak peduli
dengan aturan yang adil seperti Afvati Raita. Bagi yang menyadari pula, benteng ini
memiliki dua buah menara tinggi yang mirip limas segi enam terbalik, entah untuk apa.
Gerbang benteng yang berwarna perak dengan pola ukiran tiga mata terlihat
kokoh menjulang dengan tinggi tiga tombak. Gerbang benteng dari dalam kota ini
menjorok ke luar seperti sebuah segitiga besar. Jalan besar menuju benteng dipenuhi
akar-akar tanaman rambat selain dipenuhi oleh bunga-bunga indah. Allen dan Anne tak
kuasa untuk menghentikan langkahnya sejenak memandangi tanaman-tanaman yang
menghias jalan menuju benteng. Terutama akar-akar tanaman serabut yang sepertinya
bisa digunakan untuk obat-obatan. Sedikit filosofi kota Grtright sepertinya diterapkan di
benteng ini.
Penjaga benteng sigap waspada. Mereka bersiaga begitu melihat seseorang dari
kejauhan. Hanya dengan satu lambaian sapu dari Emeth maka dengan mudah pintu
gerbang benteng dibuka.
Situasi sebenarnya dalam benteng Aumerthis terlihat seperti istana Erune. Ada
dayang-dayang yang berjalan dengan gemulai. R-Knight yang berpatroli dilengkapi
Rapier mereka. Hanya saja benteng ini lebih memiliki fungsi perang saja. Latihan
tanding dan duel antar R-Knight lebih banyak terlihat dibanding pejabat administratif.
Bukan tidak mungkin bila eksterior meniru karena keduanya berasal dari insinyur yang
sama.
Ternyata interior benteng ini pun meniru istana Erune. Aula Rasthu, lokasi
kamar-kamar sampai pada dekorasi ruang makan. Arche pernah datang ke dalam
benteng ini tiga tahun yang lalu tapi dekorasinya tidak seperti ini.
“Haha kamu pasti pangling melihat benteng ini, Arche. Kamu pasti heran
mengapa begitu familiar sekali dengan Istana Erune.”
Itulah pertanyaan besar Arche yang ingin sekali diutarakannya.
“Aku ingin agar semua personel di sini merasa seperti di Erune. Begitu berada
dalam istana ini maka mereka akan berpikir untuk ingat kampung halaman. Dan
andaikan perang terjadi, mereka takkan rela Istana ini dihancurkan.”
“Aku tidak mengerti sih, tapi kalau rumah kita akan dihancurkan aku pasti sedih
dan mungkin marah.” Seloroh Allen.
“YA! Seperti itulah yang kumaksud!” tunjuk Emeth. Ia kemudian mempersilakan
mereka untuk duduk dalam ruang makan dengan meja yang panjang. Satu hal yang
berbeda antara Erune dan benteng ini adalah: dalam ruang makan ini juga terdapat RKnight
lain yang bukan pengawal elit. Mereka makan dengan tenang dan bahkan
menyapa Emeth tanpa embel-embel hormat.
“Jangan Heran!” Emeth mengacungkan jempolnya “Kami di sini sudah seperti
saudara. Makan satu meja justru lebih asyik dibanding harus melihat piring dan sendok
saja.”
“Memang sudah menjadi ciri khas anda tuan Emeth,” puji Anne “Anda ingin agar
semua prajurit memiliki kesetaraan.” Emeth tertawa keras dan membenarkanya berkalikali.
“Tapi tentunya tanpa melupakan jalur komando.” canda Emeth menambahkan
kalimat Anne.
Emeth menepuk tangannya keras-keras dan memancing perhatian semua orang
“Hey! kalian semua, hari ini kita mendapat tamu! Anne, Allen, dan Arche! Tiga
A besar! Karena itu hari ini semua KUTRAKTIR!”
Semua yang berada di ruangan bersorak senang. Arche nginyem saja. Suasana ini
jauh berbeda dengan Erune yang tenang. Hampir saja kerusuhan terjadi, beruntunglah
R-Knight tidak mengijinkan diri mereka untuk meminum alkohol.
“Ayo-ayo sekalian saja kita buat pesta hari ini!” seru Emeth. Tanpa segan-segan
beberapa dari mereka mengambil alat musik tiup dan mulai memainkan nada-nada
pesta.
“Ayo Arche! jangan pasang tampang serius terus! Ikutlah senang-senang di sini!”
Emeth terbawa ritme pesta. Allen turut menyemangati. Arche menggelenggelengkan
kepalanya. Kemana etik R-Knight yang mulia? Mengapa kesatuan R-Knight
jadi seperti kaum barbar begini? Ia memang sudah paham tabiat Emeth tapi tetap saja
tak bisa setuju akan sikap Emeth satu ini. Tapi, ditentang juga percuma. Bantahannya
pasti luar biasa absurd. Ia lelah berargumen dengan pemimpin keras kepala. Harus ada
orang yang mampu mengendalikan keliaran komandan satu ini. tapi siapa?
Arche melirik satu orang lagi yang seharusnya tak terpengaruh tapi... orang itu
justru larut pula. Anne. Ia tersenyum sambil sesekali meneguk Zingibeer, minuman
turunan Jahe yang dipakai untuk menstabilkan suhu badan, ia terlihat menikmati pesta
itu walau tak banyak bergerak. Arche kembali geleng-geleng kepala. Sekarang siapa
lagi yang bisa menghentikan pesta tidak jelas ini?
Di saat itulah seseorang berteriak dengan suara melengking.
“Aaa~ komandan Emeeeee~th!!”
Akibat suara itu, keheningan terjadi. Semua mata memandang sumber suara.
Sosok itu perempuan berkacamata. Ia mendatangi Emeth dengan tergopoh-gopoh.
Rapier panjang yang tergantung di pinggangnya terseret-seret karena tak sesuai dengan
tubuh pendek pembawanya. Tinggi perempuan ini sejengkal lebih pendek dari Anne
dengan figur tubuh yang kurus ramping persis anak-anak.
Ia terlihat masih muda dan kira-kira berumur setara dengan Allen. Ia memakai
zirah putih ramping dan ringan -seperti baju rantai- dengan sebuah kantung terletak di
bagian perut. Pada kantung itu terletak sebuah buku besar bersampul pink. Zirah
celananya terlihat seperti payung terbuka dengan renda bermotif bunga-bunga.
Emeth cemberut melihat kedatangan gadis satu ini.
“Rupanya kamu… Elena.” Cibirnya pada Elena.
“Bagian Logistik sudah kesulitan mengatur pangan kok komandan justru asyikasyik
pesta? Komandan lupa yah nasihatku?” Elena menggembungkan mulutnya
“Tenang saja, hari ini spesial karena kita ada tamu istimewa.”
“Alasan. Kemarin komandan juga bilang begitu!”
Emeth memutar bola matanya ke langit-langit dan bersiul pendek
“Oh begitu ya? Sial, aku harus cari alasan lain. Tapi kesampingkan itu dulu
sekarang. Kukenalkan kau dengan tamuku.”
“Ini Allen,” Tunjuk Emeth “Dia kandidat R-Knight baru di sini. Allen, ini Elena
Rozencraft. Staff logistik Erune dan wakil komandan Central. Yah, sayang sekali
Gouph sedang sakit, kalau tidak kalian pasti akan kukenalkan dengan R-Knight paling
jenius dalam cipta-mencipta.”
“Ola Elena, salam kenal, aku Allen Inverson. Jangan percaya omongan paman ini
ya. Aku diculik ke sini.” Allen nyengir dan melambaikan tanganya. Elena tidak
menyodorkan tangan dan justru melirik kesal pada Emeth.
“Aku mengundangnya kok. Tidak menculik.” jawab Emeth sambil bersiul dan
mengorek kotoran telinganya. Emeth cuek saja dan melanjutkan “Dan ini... Anne
Eaumi.” Elena mengikuti ayunan tangan Emeth.
“Aaa~ nona Anne Eaumi ya?” mata biru Elena berbinar-binar. “Aku dengar dari
komandan Emeth katanya nona sangat kuat, baik hati, lembut, dan ideal sekali sebagai
istri.” Anne tersenyum dan menjawab
“Aku tidak seperti itu yang nona Elena bayangkan, aku hanya manusia biasa.”
Anne merendah dan membungkukkan tubuhnya. Elena terkejut dan melongokkan
kepalanya ke kiri dan kanan “Aaa~ nona Anne tak perlu menunduk seperti itu.” Emeth
diacuhkan begitu saja oleh Elena. Mereka berdua mulai bercakap-cakap sampai
akhirnya Emeth harus menepuk bahu Elena untuk menarik perhatian wakil
komandannya itu.
“Ehem! Dan ini Arche Efeether,” Senyum licik senang berkibar di mulut Emeth
“Siapa yang dulu merengek-rengek mau bertemu dengannya?”
Elena melonjak-lonjak senang “Komandan Arche? Komandan Arche Efeether
dari Sayap Selatan?” Elena berteriak-teriak “Aaa~ Aaa~ komandan Emeth, ini bukan
mimpi kan?” Emeth mencubit pipi mungil Elena membuat gadis mungil itu meringis
kesakitan. Begitu sadar ini bukan mimpi, Elena langsung memeluk lengan Emeth dan
bergelayutan manja.
Allen nyeletuk pada Arche.
“Umurnya berapa?”
“Kudengar masih 19 tahun.” bisik Arche “Kau tertarik padanya? Kurasa kau
cocok dengannya. Kalian akan membuat anak yang sehat dan ceria.” goda Arche
Allen diam saja dan memandangi Elena. Tak biasanya Allen mengerutkan alis.
Tidak, Allen sedari tadi justru memandangi Rapier maha panjang Elena.
“Untuk menghormati komandan Arche yang telah capek-capek datang kesini~
kita PESTA PORA!!”
“UwoooGH~ Ini yang kusuka darimu! Kamu memang cepat tanggap!” tukas
Emeth cepat. Dan pesta kembali dimulai. Arche kembali menggelengkan kepalanya. Ia
tak habis pikir dengan pola pikir orang-orang yang berada di benteng ini. Apalagi Elena
sebagai staff logistik justru akhirnya memprovokasi pesta. Tambah pula... ia menyanyi
dengan suara yang agak sumbang.
Allen, yang seharusnya sangat senang dengan senang-senang, justru terus
mengerutkan alis. Mau tak mau Arche bertanya.
“Ada yang salah dengan Elena?”
“Hmmm....” Allen menjatuhkan kepalanya ke kanan-kiri-atas-bawah “Sepertinya
ada sesuatu yang mengganjal darinya... tapi apa ya? Aku lupa…”
Elena tiba-tiba berhenti. Ia teringat tujuan awalnya. Kembali dengan langkah
menyeret ia mendekati Emeth.
“Oh iya komandan Emeth, dua tamu dari jauh sudah datang sedari tadi. Mereka
menunggu di replika Aula Rasthu.”
“Yah, suruh mereka menunggu saja. Bilang saja aku lagi ada panggilan alam.”
“Aku sudah memberi alasan itu pada mereka tiga puluh menit yang lalu~” jawab
Elena. Emeth bengong. Elena tersenyum penuh kemenangan.
“Astaga! Bisa-bisa mereka menjuluki-ku Jendral Sembelit bila aku terlalu lama di
sini. Elena, antarkan tamu istimewa kita ke kamar mereka masing-masing. Ingat ya,
satu orang satu kamar.”
Emeth pun undur diri lagi tanpa basa-basi. Langkahnya tergopoh-gopoh.
Siapapun yang melihat tidak akan menyangka beliaulah komandan Benteng ini.
Sepeninggal Emeth, pesta dibubarkan oleh Elena -secara paksa!
Elena mengantar para tamu menuju bangsal barat. Sepanjang perjalanan Elena
selalu mengamit lengan Arche. Arche sebenarnya enggan lengannya dipeluk begitu
rupa. Ia tak ingin ada respon buruk dari seseorang -yang sepertinya tak peduli. Anne
dan Allen yang berjalan di belakang mereka hanya bisa mendengar tawa cekikikan
Elena. Allen masih saja mengamati Rapier maha panjang itu. Jejak dan suaranya yang
menggores tanah sangat khas. Sementara Anne lebih banyak melihat ke arah matahari
di luar jendela besar yang mulai berubah menuju senja.
“Sudah hampir senja.” cetus Anne tiba-tiba.
“Eh iya,” Jawab Allen yang baru saja putus lamunan “Berarti sebentar lagi kita
pergi lagi ya.”
“Aaa~ jadi kalian tidak lama di sini? Sayang sekali.” keluh Elena cemberut.
“Kami sedang ada urusan.” jawab Anne dan Arche berbarengan. Mereka berdua
akhirnya saling berpandangan. Anne membuang mukanya lebih dahulu.
“Aaa~ Maafkan aku nona Anne... aku bersalah karena telah merebut Arche-mu.”
Elena membekap kupingnya sendiri. Anne menengok
“Arche siapa?!” jawabnya agak keras. Allen kaget. Sangat tak biasa sekali Anne
menjawab seperti itu.
Elena terdiam, tanpa sadar air mata menitik dan tahu-tahu saja ia menangis.
“Maaf telah bersuara keras. Tapi kau salah paham nona Elena, tidak ada apa-apa
antara aku dan tuan Arche.” ujar Anne. Ia mendekati Elena dan mengusap kepalanya. Ia
membenamkan kepala Elena dalam pelukanya.
Justru tangis Elena makin jadi.
“Maa~f habisnya denting keinginan nona Anne sedih sekali~ aku tak mau
mendengarnya lagi~” tangis Elena mulai menghilang. Tapi Anne dan Allen diam seribu
bahasa. Denting keinginan? Mereka sudah tahu siapa pemilik konsep itu: Wishmaster!
“Wow! Kamu Wishmaster ya?” tembak Allen langsung.
Elena mengangguk dan mengusap air matanya. Ia mengangguk dalam
sesenggukan. Anne di lain sisi, merasa miris. Sosok Elena yang menangis
mengingatkanya akan Saravine.
“Berarti kamu kenal Sara dong?” sosor Allen. Arche tak dapat mencegah ucapan
Allen. Ia sangat tak menyangka sekali akan ke-ember-bocor-an mulut Allen.
“Hah? Siapa itu? Banyak sekali nama Sara di Wishmaster Embassy. Dia
peringkat berapa?” tanya Elena. Arche agak lega mendengar ketidaktahuan Elena
“Wah, aku mana tahu. Aku hanya tahu nama lengkapnya Saravine Mutia”
“Aaa~” Elena berteriak kaget. Ia mengambil buku pink dari kantung zirahnya. Ia
membuka halaman dengan buru-buru.
“Peringkat 15 satu benua, Saravine Mutia ya? Kau kenal dia?”
“Iya.” Allen nyengir senang mendengar ini.
“Tidak, dia tidak kenal!” elak Arche. Ia menyikut lengan Allen. Arche langsung
saja berbisik dan membuat keruh muka Allen.
“Yang mana yang benar?” tanya Elena “Kebetulan kami juga mencari dia.
Soalnya nona Saravine adalah anak hilang dari Permaisuri Vex. Komandan Emeth
selalu mencari Saravine semenjak nona besar itu menghilang 10 tahun yang lalu.
Peringkat-peringkat besar Wishmaster susah dicari keberadaanya dan hanya bisa
mengambil keinginan yang kuat sekali~”
“Dan berapa peringkatmu?” tanya Anne.
“Kecil... Aaa~ nona Anne... jangan kencangkan suara denting keinginanmu~
telingaku sakit!” teriak Elena.
“Nona Anne tidak suka dengan Wishmaster ya? Kenapa setiap kali aku menyebut
kata itu, nona selalu mengeluarkan denting yang kencang sekali. Seperti waspada,
kesal, atau tidak suka?”
Anne tersenyum “Mungkin karena masa lalu-ku yang pedih dengan seorang
Wishmaster.” jawab Anne dengan lembut. Ia mengusap kepala Elena. “Kau tentu tahu
rasanya memiliki keinginan yang kuat tapi tak bisa menggapainya.” Tambahnya.
Anne melirik sekilas pada Arche sebelum akhirnya kembali lagi pada Elena
“Iya, karena itulah kami ada. Wishmaster hidup untuk mengabulkan keinginan
seseorang. Sayang sekali yah, andai saja aku tidak punya Matreisha aku pasti menerima
keinginan nona Anne.” ujar Elena.
“Nona Elena, boleh kutahu keinginan siapa yang harus kau penuhi?” tanya Arche.
“Wah itu Rahasia. Darkmaster yang jahat saja harus merahasiakan tugasnya jadi
Wishmaster juga harus begitu~!” Arche melirik Allen dan Anne. Darkmaster yang
jahat? Kalau mengingat apa yang dilakukan Allen jelas ia akan mengatakan mereka
memang jahat.
“Aaa~ sakittt~ nona Anne jangan mendentingkan keinginan lagii~ sakiiit~” Elena
pun menjauh dari Anne. Ia berlindung di balik Arche.
“Nona Anne juga tidak suka dengan Darkmaster ya?” Anne hanya tersenyum
tipis... pedih. Emosinya terlalu cepat membaur dalam udara.
“Nah kalau tuan Arche mau bertanya apa? Denting keinginan tuan berputar-putar
dalam ritme yang lucu... tung-ting-tung~tung~ begitu.” baru saja Arche merasa ingin
bertanya tahu-tahu saja sudah diselak begitu rupa.
“Bagaimana kau tahu nona Saravine menghilang? Patih-patih besar kerajaan
Erune memberitakan beliau telah meninggal.”
“Jaringan informasi tuan Emeth dan juga nama nona Saravine yang ada di
Wishmaster Embassy. Sebenarnya sih tuan Emeth hanya menduga-duga saja kalau putri
Saravine masih hidup dan hendak menanyai pemilik nama itu. Tuan Emeth tidak
percaya begitu saja berita dari patih-patih apalagi ia tidak melihat langsung.” Arche
sekali lagi mencegah Allen untuk berbicara. Kaki Allen mulai mengetuk-ngetuk lantai
dengan cepat.
“Dan tuan ini... Allen ya? Apa yang tuan ingin ucapkan? Ritme tuan sudah
berbunyi cepat begitu seperti ting-ting-ting-ting!” ujar Elena sambil mengayunkan
kedua tangan lagaknya menabuh drum.
“Arche melarangku bicara.” cibir Allen.
Kalimat itu membuat Elena makin penasran. Ia makin merapat hendak bertanya.
Langkah itu dicegah oleh ucapan sopan lagi lembut Anne.
“Nona Elena... apa bisa kami pergi sekarang juga? Kami tak ingin membebani
kalian lebih lama lagi. Lagipula bukankah anda berkata bahwa logistik kalian sedang
bermasalah. Bila ditambah tiga perut lagi artinya kami sudah mengambil jatah orang
lain.”
“Uuu~ tapi setidaknya istirahat saja dalam kamar dulu. Aku tidak mau dianggap
mengabaikan perintah oleh komandan Emeth.” Ujar Elena murung.
“Yah, kurasa tidak masalah kan Arche, kakak Anne? Kita sudah berjalan lama
dari tadi, sekali-sekali ingin selonjor boleh dong.” seloroh Allen.
“Kita juga sedang tidak terburu-buru.” tukas Arche.
Anne mengembalikan pandangan pada Elena yang terlihat memelas.
“Bila tidak merepotkan kurasa tidak ada salahnya.” Akhirnya Anne setuju.
Mereka kembali berjalan menuju bangsal barat. Kali ini Elena tidak lagi
mengamit lengan Arche. Ia bahkan berjalan sejajar dengan Allen dan Anne. Sepertinya
sih, ia masih tergelitik mendengar Denting Keinginan Allen yang saling bertumpuk,
antara bertanya dan bicara. Berulang kali ia mencoba bertanya pada Allen tapi selalu
saja diberi alasan “Tidak boleh bicara oleh Arche”.
Mereka sampai di bangsal barat. Kurang lebih mereka sampai di ruangan bundar
dengan tujuh pintu berwarna merah. Elena terdiam sebentar
“Tuan Allen di sana.” ujar Elena menunjuk pintu paling jauh dari tempat mereka
berdiri. “Tadinya sih aku ingin tuan Arche dan nona Anne satu kamar tapi kata
komandan Emeth harus dipisah. Jadi... tuan Arche di seberang kamar tuan Allen dan
nona Anne di situ.” Elena menunjukkan sebuah pintu yang berjarak dua pintu dari Allen
dan Arche.
“Jangan kesal ya tuan Arche, aku tahu tuan ingin bersama nona Anne kok.” wajah
Arche merah padam. Baginya Wishmaster satu ini reseh sekali, seenaknya saja
menebak keinginan seseorang dan mengumumkannya.
Elena undur diri. Sekarang mereka bertiga berdiri di depan pintu masing-masing.
“Aku duluan masuk ya. Ingin selonjor di dalam.” Sebelum Allen menutup
pintunya ia nyengir pada Arche dan Anne “Silakan ngobrol berdua.”
Keheningan tercipta. Dua insan saling pandang dan bisu. Ruang tanpa jendela ini
seakan mencekik mereka. Akhirnya Anne yang bergerak lebih dahulu.
“Aku ingin istirahat, tuan Arche.”
Arche menghadang pintu Anne dengan kakinya. Ia tak peduli akan wajah Anne
yang kaget.
“Aku ingin berbicara denganmu... Anne.”
“Tuan... apa anda sadar di mana anda berpijak? Anda sedang mencoba memasuki
kamar perempuan tanpa ijin. Apa itu sikap seorang R-Knight?” ujar Anne pelan dan
lirih.
Arche tak berkata apa-apa. Ia membiarkan dirinya berada di tengah situasi ini.
“Aku mengerti…” Anne pun membuka pintu dan melangkah keluar. “Apa yang
ingin tuan bicarakan?”
“Anne... apa kau masih merasa kecewa denganku? Apakah alasan yang kuberikan
padamu kurang kuat?”
“Alasanmu kuat dan itu membuatku semakin sadar akan posisimu dan Saravine
tapi alasan itu akan membuat Allen beringas.”
“Mengapa?”
“Tidakkah tuan Arche melihat apa yang Allen lakukan demi Saravine? Apa yang
akan dia pikirkan begitu tahu sebuah kenyataan lain harus dihadapinya saat Saravine
sembuh?”
“Aku mengerti... Allen jatuh cinta pada Saravine...”Arche terdiam sebentar.
“Tapi Anne... kau tahu...” Arche menggerakkan jemarinya. Tangan yang keras itu
menyentuh pipi Anne. “Aku lebih suka menghabiskan waktu di sini bersamamu...
walau hanya sedetik.” Arche menatap Anne penuh makna. Anne pun menyambut
tangan Arche. Ia menutup matanya membiarkan tangan Arche mengusap wajahnya.
Lembut. Dari pelipis menuju pipi.
“Aku tak boleh berharap banyak padamu Arche,” ujar Anne. Ia pun menjauhkan
tangan pria itu. Arche kembali hendak memegang tangan Anne “Maaf.” ujar Anne
pendek lagi lirih saat menepis jemari Arche.
Anne meninggalkan Arche sendirian. Kali ini pintu itu tak ditahan oleh Arche.
Derit pintu itu terayun lemah dan menutup perlahan. Menyisakan hanya Arche sendiri
saja.
“Keputusan yang tidak baik Arche... Keputusan yang tidak baik.” ulangnya sekali
lagi berusaha memaki dirinya yang telah bersikap bodoh.
Arche memasuki kamarnya. Ia tak mau terlihat lunglai meski rasanya godam
menghantam hatinya dengan telak. Ia berulang kali mengingatkan dirinya akan
“Misi-misi-misi dan hari yang dijanjikan.”
Arche menutup pintu kamar dan duduk di kasur. Ia tak peduli pada kamar yang
berbentuk seperti bagian dari lingkaran dan tanpa jendela. Ia tak peduli dengan cat
warna putih dan lantai batunya. Ia hanya ingin agar misi kali ini selesai tanpa ada
banyak halangan. Tapi ia sadar, ada yang salah. Ia duduk dan mulai mendeduksi
beberapa hal yang baginya mencurigakan. Kewaspadaanya mulai bangkit saat Elena
menyatakan dirinya Wishmaster. Ia sedikitnya mengetahui bahwa ada ikatan khusus
antara Wishmaster dan Matreisha mereka. Dan ikatan itu, baginya, bisa sama dengan
ikatan arus informasi. Sama seperti kalimat mencurigakan Elena sebelumnya. Bisa saja
segala ini sudah disiapkan sebagai jebakan… tapi apa mungkin? Tidak… hal itu
mungkin-mungkin saja, dalam politik tidak ada kawan dan lawan sejati.
Arche merebahkan badan dan mulai berpikir kembali rencana selanjutnya. Tapi
ketika Arche melihat kelangit-langit, ia menyadari kejanggalan ruangan ini. Ruangan
ini memiliki empat buah Ward terpampang di setiap sudut langit-langit, artinya delapan
di setiap pojok ruangan. Dan di langit-langit tercetak simbol Hexagram. Otak Arche
merespon instan.
“Perangkap!!”
Arche melesat menuju pintu kamar untuk keluar.
Sayang ia telat, pintu tak lagi bisa dibuka. Langit-langit perlahan turun kebawah
dan mencoba menggencet Arche. Pengalaman membuat reaksi bertindak cepat, salah
satu Ward dicabut paksa. Langit-langit berhenti bergerak. Arche memandang sekeliling,
tetap saja tidak ada jalan keluar. Prinsip dasar bagi orang yang terperangkap adalah
“Jangan merasa lega setelah satu masalah selesai.”
Ia mengitari ruangan itu. Pintu tak bisa dibuka biarpun dengan tenaga kasar.
Arche mencabut semua Ward dalam ruangan. Pintu kamar berubah menjadi dinding
besi. Jalan keluar benar-benar tertutup.
Arche tersenyum. Kasur dalam ruangan itu perlahan bergerak turun. Sebuah
lubang besar mulai terlihat. Dasarnya tak terlihat karena tak adanya cahaya.
“Perangkap di mana pun harus menciptakan ikatan menuju perangkap lain.”
Cetusnya mengutip perkataan Trapper. Arche menarik keluar sebuah bola berwarna
biru dari sabuknya. Bola itu dilemparnya ke udara
“Orb.”
Bola itu memancarkan cahaya putih terang dan lima larik sinar biru mengarah ke
lima bagian tubuh Arche. Sinar itu berubah menjadi zirah Arche dan terpasang
menempel begitu saja. Bola biru itu kemudian kembali ke sabuk Arche. Arche menarik
bulu merak dan memunculkan tombaknya.
“Sayang sekali komandan Emeth, aku takkan segan-segan menghancurkan semua
perangkapmu.” ujar Arche sebelum turun menuju lubang besar.
Di lain tempat, diwaktu yang sama saat Arche terperangkap. Allen yang sedang
beristirahat tentu saja mengalami hal yang serupa. Tanpa basa-basi ia mengeluarkan
“Kekuatan level 6, Angin!”
Awalnya ia mencoba menghantam langit-langit. Tapi angin melawan tanah?
Getar angin hanya mampu mendorong tanah, tak mampu menghancurkannya.
“Area level 2, Kekuatan level 6, Angin!”
Allen meningkatkan Area tapi tak berpengaruh banyak. Langit-langit hanya
tergores sedikit saja. Meski begitu, deras lajunya tertahan.
“Area level 3, Kekuatan level 6, Angin!”
Sapuan angin menghantam sekeliling, menerbangkan kasur dan merobek semua
Ward. Langit-langit berhenti bergerak. Sedetik, dua detik sampai tiga detik Allen
menunggu dan langit-langit itu tak kunjung bergerak lagi. Allen cukup beruntung. Ia
nyaris saja menjadi perkedel. Allen menghela napas lega walau tetap siaga. Ia melihat
sekeliling dan menyadari kamar ini tertutup rapat tanpa jalan keluar.
“Kamar ini ajaib sekali sih. Mana di sini tidak ada jendela... sumpek.” keluh
Allen. Ia merebahkan badan di lantai. Ia menarik baju dan mengipas-ngipas dadanya
yang mulai berkeringat.
“Bagaimana dengan kakak Anne dan Arche ya? Mudah-mudahan mereka tidak
apa-apa.”
Kejutan lain menanti Allen saat lantai yang ditiduri Allen turun.
“Waduh... kemana lagi ini?” Allen nyengir. Disaat seperti ini ia justru senang
“Paman Emeth benar, benteng ini punya banyak mainan.”
Bagaimana dengan Anne?
Hanya Anne saja yang tidak terkena jebakan. Entah karena jebakan itu tak
berpengaruh pada perempuan atau memang tidak diaktifkan. Anne hanya merebahkan
dirinya di kasur dan memejamkan matanya. Ia tak mau memikirkan apa yang Arche
sampaikan saat mereka tiba di Amarantie ... tentang hubungan Arche dan Saravine.
Tapi, semakin tak dipikirkan semakin ia gelisah. Akhirnya ia melangkah keluar
dan berjalan menuju pintu kamar Arche. Ia berhenti sebentar, mengangkat tangannya
dan menjatuhkanya lagi sampai akhirnya ia berkeputusan untuk mengetuk pintu kamar
Arche.
Dua ketukan. Tiga ketukan dan masih belum ada jawaban. Anne memberanikan
diri membuka pintu. Tapi pintu itu tak bergerak sejentik pun.
“Aaa~ nona Anne. Komandan Emeth memanggil anda.”
Elena datang tergopoh-gopoh. Ia terlihat kepayahan saat berlari karena sarung
Rapiernya menyeret tanah. Ia terpaksa harus berkali-kali mengangkat sarung itu sampai
setinggi dadanya.
“Kumohon nona Anne mau ikut denganku ke Aula Rasthu.”
Anne melihat dua pintu. Kamar Allen dan Arche.
“Tuan Arche dan Allen katanya sudah di sana duluan.” ujar Elena mendahului
menjawab.
Anne mengikuti Elena menuju Aula Rasthu. Di sana ia berjumpa dengan dua
orang... yang secara kebetulan sekali dikenalnya. Saat empat mata bertatapan, mereka
tahu hal-hal yang tak boleh mereka lakukan.
Emeth selaku tuan rumah mengenalkannya dengan mereka. Wajah Emeth yang
ceria kali ini serius. Wibawanya terpancar jelas. Ia tak membawa Brusol, sapu panjang,
miliknya dan hal itu membuat dirinya tak lagi dipandang sebagai tukang sapu.
“Anne, kenalkan ini Rex, Litosu Rex. Orang inilah yang akan menjadi salah satu
penasihat utama dalam pembentukan hukum baru di Erune.”
Anne tersenyum lembut dan menghaturkan hormat pada Rex. Sosok Rex di
hadapan mereka terlihat sangat necis. Pakaiannya putih bersih formal. Scarf putih masih
menggulung lehernya.
“Litosu, ini Anne, Anne Eaumi. Gadis inilah yang telah membuat pengkhianat
Scutleiss mati.”
Rex membalas senyum Anne.
“Dan ini adalah Damien Ark. Pengawal dari Litosu. Kemampuan tempurnya
sangat hebat padahal dia bisu dan buta.”
Ark juga tak jauh berbeda. Ia tampil sedikit lebih rapih. Setidaknya ia menutup
mata dan bibirnya yang terjahit dengan kain hitam. Rambutnya juga disisir rapih ke
belakang. Baju Ark yang biasanya kotor hitam penuh lumpur juga berganti biru
cemerlang. Hanya scarf abu-abunya saja yang tidak diganti.
“Dan Sekarang, aku ingin menunjukkan pada kalian, tamu-tamu istimewaku,
sebuah pertunjukan.”
Emeth membawa mereka ke belakang Aula Rasthu. Ia menekan sebuah batu bata.
Sebuah lorong kecil yang mampu dimuati tiga orang berdampingan terkuak. Dalam
lorong itu terlihat tangga melingkar turun dengan sedikit penerangan Pyramite kuning.
Emeth berjalan di depan, diikuti Anne lalu Rex dan ditutup oleh Ark dan Elena.
“Nona Anne, pikirkanlah sekali lagi tawaranku yang dulu itu. Aku sudah
mengatakan bahwa ada resimen khusus wanita dengan R-Anima dan Sagita Shift di
Scutleiss Barat. Kau pasti bisa menjadi sinar terang bagi resimen itu.” tawar Emeth
pada Anne. Anne menolak halus.
Selama dalam perjalanan turun, Emeth selalu saja berbicara. Setidaknya sebuah
cara untuk mengusir kebosanan menuruni tangga yang sepertinya tak berujung.
Akhirnya mereka sampai pada sebuah ruangan.
“Apa yang akan kalian lihat ini adalah salah satu bentuk hukuman yang akan
diadakan di Lune Justicia. Aku yakin apa yang kau lihat nanti dapat menjadi
pertimbanganmu, Litosu, tentang apa yang kau sebut sebagai hukum pembalasan dan
keadilan.”
Ruangan yang dimaksud adalah sebuah ruangan dengan kaca tembus pandang di
lantainya. Luasnya cukup besar dan hampir mampu memuat satu resimen di dalamnya.
Di balik kaca tembus pandang itu terpampang jelas sebuah arena dengan dinding besar.
Emeth mengajak mereka menuju podium dalam ruangan. Podium itu berisikan sepuluh
buah kursi dan seutas tali menggantung di langit-langit. Emeth mempersilakan para
tamunya untuk duduk. Ia menepuk-nepuk tangannya.
Dua buah lubang besar terkuak dari dinding arena. Satu sosok keluar, itu Arche.
Ia memandang sekeliling dan menyadari adanya sosok yang keluar dari seberangnya.
Itu Allen.
“Allen dan Arche? Tuan Emeth apa maksudnya ini?”
“Anne... kau perlu tahu bahwa Allen adalah tertuduh utama yang membuat
permaisuri Vex sakit keras. Telik Sandi kerajaan telah memberi kabar padaku dua hari
yang lalu sebelum bertemu denganmu.” Emeth serius, wajahnya sama sekali tak
memperlihatkan roman canda. Iapun memperlihatkan sebuah perkamen Rosetta dengan
wajah Allen tercetak. Jadi sedari tadi ia sudah tahu Allen bersalah dan berpura-pura
ramah padanya.
“Dan Arche... Info terbaru menyatakan ia desersi dari kesatuanya. Ia sama sekali
tidak memiliki ijin dari Konsili untuk kemari. Ada pihak yang menduga dialah antek
Allen dalam membuat permaisuri sakit!” Wajah Emeth menegang “Kesalahan mereka
berdua harus dibuktikan!”
“Ooh, lalu dengan cara apa kau akan membuat mereka mengaku?” tanya Rex
sembari menyipitkan matanya. Emeth menyeringai.
“Dengan ini!”
Emeth menarik tali panjang.
Dinding arena membuka. Dari balik dinding itu keluar 8 raksasa-raksasa besar.
Kepala mereka besar dengan rambut yang menjingkrak tegak. Kepalan tangan mereka
tiga kali lebih besar daripada kepala mereka. Badan mereka membungkuk untuk
menyimbangkan berat tangan mereka. Mereka berteriak-teriak dan memukul tanah
berkali-kali saat melihat Arche dan Allen.
“Gothrigas.” Ujar Rex mengenali makhluk tersebut.
Gothrigas yang mengepung mereka tak membawa gada. Meski tanpa gada,
Gothrigas tetaplah bukan mainan. Anne terkesiap melihatnya, ia menunggu reaksi Rex.
“Aku baru dengar mereka memiliki kemampuan untuk menginterogasi orang.”
sindir Rex.
“Ckck Litosu, aku tidak sedang menginterogasi mereka tapi menghukum mereka
langsung saat ini.”
Rex mengerutkan alis tak suka.“Bagaimana dengan pembuktianya?”
“Bukti akan keluar sendiri saat mereka di sana. Lagipula, tema utama dari
penghukuman ini adalah membuat para terhukum dilihat oleh banyak mata.”
“Tuan Emeth... apa cara penghukuman ini tidak kejam?” tanya Anne lirih.
“Tidak. Pertama, siapapun yang kebetulan mati atau terluka di sini sama saja.
Gothrigas sebagai golongan Hati Kejam memang harus dimusnahkan. Kedua, aku yakin
sekali, penghukuman ini dapat membuat pengakuan. Tapi ini akan kulakukan nanti.
Ketiga, ini adalah tontonan yang tepat untuk melepas stress. Aku ingin sekali
membudidayakan kembali Coliseum Matheoust dan membuat Ampitheater itu kembali
menjadi pusat budaya dan hiburan.”
Jawaban terakhir Emeth memang dirasa kurang pantas tapi itulah yang dirasakan
Emeth. “Situasi kota Amarantie-lah yang membuatku mendesain penghukuman seperti
ini. Bagi mereka saat ini melihat penjahat terhukum akan membuat dendam mereka
terbalas setidaknya secara tidak langsung.”.
Di bawah sana, Arche dan Allen bertempur melawan Gothrigas. Satu hantaman
mereka pada lantai saja membuat dentuman ledakan yang tidak main-main. Kekuatan
level 6 Allen hanya mampu mendorong mereka tiga langkah. Tebasan R-Verse Arche
menggores tak begitu dalam. Yang ada, serangan-serangan mereka membuat para
Gothrigas gerah marah.
Di sela-sela itu Allen bertanya
“Arche... ini yang kau bilang dengan monster seram ya?”
“Bukan ini yang kumaksud tapi ada yang seperti inipun sama saja.”
Emeth mengambil sebuah pelantang
“Arche Efeether dan Allen Inverson. Kalian adalah terhukum dengan dakwaan
berat. Apa kalian mau mengakui kesalahan kalian? Letakkanlah senjata kalian bila
merasa tak bersalah.”
“Arche, kita jangan melawan lagi. Kita kan tidak bersalah.”
Allen benar-benar berniat melepas perlawananya. Ia membiarkan Gothrigas itu
mendekatinya. Tangan besar raksasa besar itu mengayun deras mengincar kepala Allen.
Saat genting itulah tombak lima warna Arche melesat dan melemparkan tangan
Gothrigas penyerang.
“Jangan bercanda! Justru itu yang dia mau. Kita ujung-ujungnya akan mati juga
di tangan Gothrigas ini. Apapun hasilnya kita akan mati!”
Allen manyun mendengarnya. Mau tak mau Allen kembali bertempur dan
membuat Emeth mengultimatum kedua kalinya
“Kalian masih melawan, artinya kalian menolak tuntutan atas kalian. Apa kalian
masih tak mau mengakui kesalahan kalian? Akuilah dan semuanya akan lebih mudah!”
“Ooh kurasa aku mengerti maksudmu Emeth, kau membuat dualisme kebenaran
dan jawaban. Bila orang itu memilih tak melawan dan menyatakan dirinya tak bersalah
maka ia akan mati oleh Gothrigas. Atau mudahnya ia mati sebagai terhukum. Andai ia
terus melawan maka ia secara tak langsung mengakui dirinya bersalah. Dan mereka
terpaksa mengaku sampai akhirnya mati oleh Gothrigas sebagai hukuman.”
“Seratus untukmu Litosu. Dengan metode ini kita bisa merampingkan interogasi
dan juga penghukuman.”
“Tapi bagaimana bila mereka ternyata selamat dari sini? Mereka berdua bukan
petarung sembarangan. Dalam sekejap saja mereka sudah mampu mengimbangi
Gothrigas.”
“Itu skenario kedua. Kau lihat di sana?” Emeth menunjuk sebuah tombol hitam di
belakang mereka “Tombol itu akan kutekan begitu mereka selamat. Kabut asap Ferrow
akan keluar dan membuat mereka merasakan ketakutan terdalam mereka. Fisik
mungkin mereka bisa kuat tapi mental belum tentu. Dan andai mereka selamat maka
mereka harus kembali melawan para Gothrigas lain lagi. Suatu saat mereka akan
sampai pada batas dan mengaku. Pada saat itulah hukuman langsung jatuh atas
mereka.”
Allen dan Arche selesai menumbangkan lawan mereka semua. Tidak ada keringat
menetes sedikit pun dari tubuh mereka. Melihat ini, Emeth berjalan menuju tombol
hitam.
“Repetisi fisik-mental. Tidak buruk tapi...” ujar Rex.
Bakal ucapan Rex terpotong oleh teriakan keras dari Elena.
“AAAA~!!! Nona Anne~!! Hentikaaaa~n! Jangan Dentingkan Keinginanmu~!!”
Anne menangis. Tubuhnya gemetar, giginya bergemeletukkan, scarf kembarnya
bergerak liar. Kursi yang didudukinya dicengkram erat. Ia tak bisa membayangkan
lebih lama lagi apa yang akan dilakukan Emeth pada dua orang di bawah sana.
“Tuan Emeth! Tolong hentikan hukuman ini! Ini terlalu kejam dan tak
berperikemanusiaan!” Wajah Anne merona merah, ia berusaha sekali menahan
kesedihan dan juga kemarahannya.
“Tuan tidak dapat membuktikan salah-tidaknya seseorang dengan ancaman
seperti ini!”
“Kami membutuhkan pengakuan dan penghukuman. Perkara kebenaran itu
urusan lain. Siapapun akan senang melihat tersangka mangaku lalu mati atau mati
karena mencoba melawan pihak Hati Kejam.” Jawaban Emeth ini membuat mata Anne
berubah gelap. Respon tubuhnya membuat rima Denting Keinginan yang jelas.
“Aa~!” Elena tanpa sadar menarik Rapiernya. Rapier -Fleuret- itu panjang
berwarna hijau dan terbuat kayu. Jaring-jaring ilalang liar mawar berputar memilin
Rapier itu dari Ricasso, Forte, sampai Debole . Duri-duri mawar mengacung keras saat
bunga mawar di pointe mekar memerah- pertanda siap tempur. Denting Anne yang
sekejap itu telah menarik lepas insting Wishmasternya.
“Elena! Sarungkan Senjatamu!” teriakan Emeth bergema. Elena menggeleng. Ia
sendiri bergetar ketakutan dan perhatiannya hanya terpusat pada Anne.
“Anne, aku akan sedih sekali bila ternyata kau juga adalah salah satu antek
pembuat sakit permaisuri. Aku tak habis pikir mengapa kau bisa ada bersama mereka.”
Sirat kesedihan menggambar wajah Emeth tapi bagi Elena, Denting Keinginan Emeth
lebih terasa seperti kemarahan yang tertahan. Ia tahu jawaban Anne akan menentukan
picu ledak emosi Emeth.
Mendadak ruang itu berubah gelap. Terdengar suara kaca pecah, gemuruh besar,
dan sosok berkelebat. Empat suara saling tindih menindih.
Ketika ruang terang kembali. Allen berdiri di sana, bersama Arche. Mereka tidak
sekedar berdiri saja. Arche menyekap Anne dan menempelkan bulu meraknya pada
nadi leher Anne. Tak jauh dari mereka tergeletak Gothrigas yang pingsan.
“Kalau kalian berani bergerak sedikit saja maka nona Anne ini akan mati.”
Sedangkan Allen menempelkan lengannya pada Rex.
“Sama juga!” Ujar Allen. Allen tak bisa memberi ancaman yang lebih baik.
Emeth berdecak. Sebuah jawaban terhadap masalah Anne terungkap karena
peristiwa ini.
“Ckckck sekarang menyandera orang. Kesalahanmu makin banyak saja Arche.
Lagipula, apa kau pikir kau bisa membunuh seorang wanita?”
“Kau lupa Komandan Emeth... aku pernah membunuh perempuan yang kucintai.
Mudah saja bagiku membuat nona Anne mati karena alasan yang sama tapi ingatlah
satu hal… Apa yang kulakukan sekarang tak lebih karena ulah anda sendiri.”
“Aaa~Mereka serius komandan!” ujar Elena. “Denting keinginan mereka
berbunyi tang-tang-tang-tang!”
“Sekarang Mundur! Bila tidak ingin nyawa nona Anne hilang!”
Emeth tersenyum kaku. Ia sedang tak membawa Brusolnya, sebuah kesialan yang
menyebalkan baginya. Biasanya sapu hilang, wibawa datang tapi kali ini sapu hilang,
wibawa hilang. Ia direndahkan oleh Arche dan Allen yang bisa menyandera tamunya
tepat di depan matanya.
Arche, Allen, Anne, dan Rex berjalan mindik-mindik menuju tangga. Begitu
sampai di mulut tangga. Rex bertanya
“Bagaimana denganku? Apa kau juga akan membunuhku?” Tanya Rex pada
Allen.
“Eh, sepertinya tak usah sih.” Allen langsung mendorong Rex. Saat itulah dua
sosok bergerak. Ark dan Emeth. Emeth seharusnya lebih cepat tapi Ark lebih dahulu
mengambil start dan berada di hadapan Allen.
Sekelebat cahaya hitam menyambar. Berbarengan dengan Allen yang mendorong
tangannya. Ledakan kecil terjadi. Langit-langit tangga runtuh dan menutup jalan keluar.
Ark mundur kembali pada Rex.
“Astaga... sekarang justru kita yang terkurung di sini. Metode penghukumanmu
ini kurang efektif, Emeth.”
Ejekan Rex mengena telak. Emeth hanya bisa geram saja. Tepat saat itulah
Gothrigas tersebut terbangun. Sebelum matanya sempat melihat dunia secara utuh, saat
itulah kepalan Emeth menghantam perut besar sang raksasa. Pingsan. Hanya dalam
sekali pukul.
“Hanya kesalahan kecil. Lain kali kaca itu harus ditebalkan saja... dan jangan
sekali-sekali meninggalkan Sapu saat bepergian. Takkan ada yang pernah tahu kapan
masalah harus dibersihkan.” Gerutu pria tua ini sembari terus mengepalkan tangannya.
Ini kekalahan pertamanya dari Arche.
Di lain tempat, rute menuju Gunung Farangi: Rute jalan langit. Rute yang
dipenuhi oleh biru laut batu kristal Umium yang berkilau di sisi jalan. Kilau warna biru
langit yang tercerahkan oleh mentari senja menjadi kerlip penyilau pandangan.
Pepohonan terjerat cahaya mentari merah menggores warna alam dalam warna alami.
Sayang pemandangan itu tak dapat dinikmati lama-lama. Ketiga insan ini, Arche, Allen,
dan Anne, sedang berpacu bersama angin, melarikan diri dari benteng Aumerthis.
“Aku tidak menyangka lho kalau kakak Ark dan Rex ada di sana. Kalau kakak
Ark tidak bilang cara kaburnya mungkin kita bakal jadi dendeng.”
“Kak Rex juga membantu kita untuk keluar. Nanti kita harus berterimakasih
padanya.” Tambah Anne.
“Pantas saja aku heran mengapa Allen bisa punya analisis akurat seperti itu.
ternyata ada yang membisiki.” komentar Arche dalam senyumnya
Mereka saling berpandangan dan mulai terkikik geli. Entah kenapa setelah bisa
keluar dari benteng mereka justru tertawa lepas.
Tanpa membuang waktu mereka melesat menuju gunung Farangi. Arche
menawarkan Piy sebagai tunggangan pada Anne tapi Anne menolak dan memilih
berjalan kaki saja. Tentu saja Arche mendesaknya berkali-kali sampai akhirnya Anne
menyerah. Ia beralasan kelelahan akan membuat pergerakan menjadi turun dan
kelelahan Piy tidak berpengaruh pada Arche sama sekali.
Allen menengok ke belakang. Sebarisan pasukan mengejar mereka dengan RAnima.
Pasukan ini tidaklah berzirah putih melainkan berzirah merah menyala. Warna
merah mereka menjadi pelukis kepalsuan yang terpadu dalam rute biru langit. R-Anima
mereka merupakan hewan-hewan berrantai makanan tertinggi. Singa, Elang, dan
Beruang bahkan Hiu. Meski R-Anima hewan-hewan buas, senjata utama mereka justru
tipe Rapier- Flamberge. Ketebalan dan bentuk tiap Flamberge boleh berbeda tapi
ketajaman pedang berliuk ular itu tetap mengancam. Arche pernah berada dalam
pasukan ini.
Kecepatan para R-Knight ini tidak kalah dengan Area level 4 angin. Jarak mereka
menipis dengan cepat. Allen melihat kecepatan Arche dan dirinya. Arche sedikit lebih
lambat dari Allen. Allen berbalik dan berhenti.
“Arche! pergilah duluan! Aku akan menahan mereka di sini!”
“Tapi mereka itu Pasukan Central Elite! Pasukan Karnivora Zirah Merah!
Kemampuan mereka tak sembarangan!”
“Tak usah khawatir. Aku pasti bisa mengejar kalian.” Allen memberi jempolnya.
Ia menytempelkan segel janji pada Arche.
Debur debu R-Anima mengisi mata Allen. Jumlah pasukan itu kecil. Maksimal
hanya 40 orang. Allen mengangkat tanganya “Wah, padahal aku tidak suka kekerasan...
tapi terpaksa nih.”
dan berbisik pada Plakat Platinum Hitam.
“Area level 3, Kekuatan Level 6, Angin!”
Segulung angin ribut melesat dari kedua tangan Allen. Allen tak segan. Sayang,
lawan kali ini bukan sembarangan. Dalam satu hentak teriakan, R-Anima mereka
membawa penunggangnya menjauhi ruas angin Allen. Respon elakan yang luar biasa.
Jarak mereka bersisa kurang dari 20 tombak. Derap langkah R-Anima dan deru
gerak mereka semakin mendekati Allen. Flamberge panjang mereka, yang disambung
dengan sarung pedang, ditargetkan lurus pada Allen dalam detik-detik singkat. Mereka
membentuk formasi mata panah. Allen justru nyengir.
“Area level 4, Kekuatan level 7... Angin.”
Rambut riap-riapan Allen terangkat oleh angin. Wajahnya terlihat menderita oleh
daya tekan angin. Dari kedua tangannya terkumpul pusaran-pusaran angin lembut.
Allen mengangkat tanganya dan membentangkannya. Angin ribut terlontar keluar dari
tanah. Menggasak kiri dan kanan membuat barisan elite ini kocar-kacir pontang-panting
terbang bagai anai-anai. Tiang angin terpancang menuju langit. Awan-awan tersingkir
membuat mentari senja semakin terlihat jelas.
Di kejauhan sana, Arche yang sempat menengok hanya bisa berdecak. Angin
sebesar itu hanya bisa dikeluarkan oleh Mentalist bertitel SSS. Sekuat apa sebenarnya
para Darkmaster?
“Tuan Arche tenang saja, Allen pasti bisa menyusul kita.”
“Bukan itu yang menjadi pikiranku. Anne, Pegang erat-erat!”
Arche mengambil lengan Anne dan menuntunnya memeluk lebih erat. Ia
memandang lurus. Matanya yang awas melihat jauh ke depan.
“Piy! Sprint!” Piy mengerti dan merendahkan tubuhnya. Ekor meraknya juga ikut
merunduk menyeimbangkan tubuh. Bagai peluru, laju Piy meningkat dua kali lipat.
Anne dapat melihat pemandangan di depan mereka berubah kabur. Bila ia tak memeluk
Arche erat-erat dan merunduk bisa saja ia terlempar terhantam angin.
Arche benar, tak lama kemudian mereka melihat pos perbatasan. Para penjaga
melihat tapi tak sempat berreaksi. Mereka hanya sempat melihat Piy mendobrak pagar
perbatasan dan merasakan debu langkah cakar kaki Piy.
Keheningan melanda setelahnya. Piy tak lagi merendahkan badannya. Ia
menengadahkan kepalanya, puas dan bangga. Berkali-kali paruhnya bergerak tanpa
suara.
“Iya, aku tahu... waktu itu kau kalah karena tak boleh berlari seperti tadi.” Arche
mengelus kepala Piy dan mengembalikannya menjadi zirah. Mereka sudah berada di
kaki gunung Farangi dan jauh dari pos perbatasan. Lebih tepatnya, mereka mengambil
jalur memutar dan masuk kembali ke dalam daerah Scutleiss. Mereka menerobos
melewati pagar lain yang tidak dijaga. Arche beralasan ingin membuat kesan pelarian
perbatasan.
Arche melangkah masuk menuju daerah dengan pepohonan Pinusaku berbuah
merah dan pepohonan Akairn berbatang merah. Ia mengulurkan tangan untuk menuntun
Anne. Sayang, Anne kembali menolak. Mereka masuk agak dalam dan membuat
persembunyian di bawah pepohonan Pinusaku yang meranggas merah saat senja.
Warna dasar Pinusaku dan Akairn yang memerah inilah penyebab gunung ini terlihat
merah dari kejauhan seolah terbakar oleh api. Arche melempar bulu-bulu meraknya ke
udara. Mata palsu bulu merak yang terpencar menjadi pengganti mata Arche.
“Sekarang kita tinggal menunggu Allen. Dia pasti bisa menemukan kita dengan
cara yang dia dapat dariku.”
Mereka berdua kembali diam. Anne yang biasanya mampu beradaptasi dengan
siapapun justru hanya menyentuh dedaunan merah dan ilalang di sekitarnya. Suasana
keduanya tak bisa dibilang baik.
“Sejak kapan kau kenal Emeth?” tanya Arche tiba-tiba.
Lamunan Anne terputus. Ia terlihat berusaha mengendalikan dirinya.
“Itu cerita lama tuan Arche. Cerita yang sudah tak ingin lagi kuingat.”
“Oh tapi aku sangat tertarik, terutama tentang kisahmu dengan Alexander
Fangabell.”
Anne mendesah. Anne menundukkan wajah. Ia terdiam lama sekali sampai
hampir membuat Arche hendak mengulang pertanyaan. Anne menengadahkan wajah
dan berkata
“Tapi aku ingin kita bertukar cerita... Arche, ceritakan sesuatu yang kau anggap
setimpal dengan ceritaku.”
“Aku janji.” Ujar Arche. Merekapun menunggu Allen sambil bertukar cerita.
Mereka yakin... Allen akan tiba tanpa diduga-duga.
Chapter 16
Saravine dan Ingatan
Allen berlari sembari mencengkram lengan kananya. Lengan itu mengucurkan
darah dan terlihat nyaris putus. Allen meringis, bukan karena sakit tapi karena
menyesali ketidakmampuan dirinya. Jujur saja, ia mampu mengimbangi Arche dan
mampu membuat pasukan elit Karnivora Merah kocar kacir tapi... Allen baru mengerti
siapa dan apa yang dijuluki monster oleh Arche waktu itu. Satu yang harus
diingatnya… Naga memang menakutkan!
Senja itu bagi Allen memang terhitung sial. Ia memang berhasil melarikan diri
dari benteng Aumerthis dan mampu menghadang pasukan elit Karnivora Merah tapi
akhirnya ia berhadapan dengan monster yang mengerikan. Monster yang melukainya
dan sekarang mengejarnya. Satu-satunya keberuntungan yang dimilikinya adalah
tangan kirinya yang masih tersambung sempurna.
Allen merapatkan punggungnya pada batu merah besar. Cetak warna batu yang
serupa darah itu membuat figurnya terlihat seolah bersimbah darah dari atas ke bawah.
Napas Allen tersenggal, ia kehilangan banyak darah. Dalam sadarnya, ia mengambil
Plakat Platinum Hitam dan mengutarakan doa untuk menyembuhkan-seadanya luka di
lenganya. Jerat-jerat kulit dan darah terbentuk setelah terbilas air dari Plakat Platinum
Hitam. Regenerasi terjadi perlahan, lengan yang nyaris putus berkohesi dan perlahan
layaknya besi lumer tercampur dan terikat satu sama lain. Allen menghela napas lega.
Lututnya mulai luruh dan ia pun jatuh terduduk. Pandangannya mulai kabur. Matahari
senja terlihat seperti semburat merah berbayang.
Di kala senja itulah Allen teringat akan Saravine. Ia berharap Saravine masih
dapat bersabar menunggu.
Di lain tempat, Desa Exemptio. Perkebunan teh Gratios. Pada salah satu cabang
utama pohon besar Grendel Amiville. Terdengar degup jantung sebuah sosok yang
terbungkus dalam bola daun besar.
Grendel bergerak merespon. Ia dapat merasakan adanya Denting Keinginan yang
sangat lemah. Ia memasukkan perasan air teh Gratios melalui corong di ubun-ubun
bola.
Benar, Saravine mendentingkan keinginan. Daya hidup dalam dirinya belum
habis saat Broken Wishes terjadi. Kristal keinginannya yang besar membuatnya selamat
akan Broken Wishes. Saravine masih bisa memiliki keinginan walau saat ini sangat
lemah dan harus dipertahankan.
Dalam Denting Keinginan itulah, Saravine kembali pada masa lalunya. Ia
kembali pada masa hari perpisahan dengan ibunya. Ia ingat dengan jelas, sebuah
tamparan melanda pipinya. Ia sudah merasakan asinnya darah bercampur air mata di
umur 10 tahun.
“Jangan merengek! Pokoknya ibunda tak ingin melihatmu di sini! Pergilah
dengan paman Adam!”
“Ibunda...”
Vex kembali menamparnya. Kali ini di pipi sebaliknya. Bibir Saravine kembali
pecah tapi Saravine tidak lagi menangis. Melihat ini Vex berjalan menjauhinya. Dingin.
Hanya punggung yang diberikan pada anak sulungnya. Saravine kecil terisak dalam
tangis bisunya. Sebisa mungkin ia berusaha agar suaranya tak terdengar oleh sang
ibunda. Ia hanya mampu membanting keluhannya pada boneka jerami yang dipeluknya
erat. Ia tak berani melirik ibunya berjalan menuju tirai besar. Tatapan polos lagi
sedihnya berbenturan dengan sosok yang berlutut menunggu ibunya di dekat tirai. Ia
mengenali sosok itu sebagai kakek Adam.
Permaisuri Vex meminta Adam bangun. Adam berdiri. Sejenak ia berbicara
dengan Vex, dalam lapat yang tak terdengar. Saravine sempat melihat Adam memberi
senyum lembut padanya. Sekejap memang, karena Adam dan Vex berjalan masuk
terlindung tirai.
Sekarang tinggallah Saravine kecil sendiri. Tubuh mungilnya tak mampu
bergerak sekedar untuk mencari tahu. Ia diam dalam sedih. Sampai sebuah suara
menyapa telinganya.
“Kembalilah bila dia telah siap...” Saravine kecil dapat mendengar bisikan ibunya
pada Adam. “Aku... aku telah menyiapkan pendamping tepat baginya... aku tak ingin
dia sedih... kumohon padamu paman Adam... jagalah Saravine… jagalah …”
Saravine kecil celinguk kiri-kanan. Ia merasa mendengar bisikan itu langsung dari
mulut ibunya. Siapa yang membuatnya bisa melakukan hal itu? Dalam penasaran, ia
berjalan mencoba melongok tirai yang menutup dua sosok itu. Hanya sosok Adam yang
bisa dilihatnya. Dan ia melihat Adam tersenyum padanya sembari menggerakkan
telunjuk membuat arah. Saravine yang cerdas mengerti maksud dari Adam. Ia kembali
ke tempatnya dan menutup mata. Membiarkan isi percakapan tertuang dalam
ingatannya.
“Tamparanku padanya... hanyalah agar ia tahu rasa sakit... tapi paman Adam...
akulah yang paling merasa sakit. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita? Aku
rela... bila ia datang kepadaku lagi dengan dendam... aku rela bila ia menamparku
seratus, tidak seribu kali... aku berhak atas itu paman Adam tapi aku tak ingin ia
menderita…”
Saravine kecil tahu, Adam sengaja memperdengarkan suara bisikan ibunya.
Saravine kecil tahu Adam tak ingin ada dendam. Dan ia tahu, Adam tak ingin Saravine
berkata apa-apa. Tangis Saravine berhenti kala itu. Ia mengusap ulir air mata yang
sempat jatuh, menarik napas panjang, dan kembali mencoba berdiri tegar.
Tak lama Saravine melihat sesosok laki-laki datang mendekati tirai besar. Lakilaki
itu lebih besar dari Saravine dan tampan. Ia masuk ke dalamnya setelah menyapa
Saravine. Saravine mengenal laki-laki ini. Permaisuri memanggilnya
“Arche.”
“Paman Adam, inilah calon pendamping Saravine... Arche Efeether dari marga
Feather. Kau pasti mengenal ayah angkatnya, Aghza Eir Feather.”
Ia tidak ‘diijinkan’ mendengar percakapan selanjutnya. Yang ia lihat, Adam
berdebat dengan ibunya. Dan keduanya sama-sama terlihat saling bersikukuh dengan
pendapat masing-masing.
Saravine kecil, walau cerdas, tak mengerti maksud sebenarnya dari
‘pendamping’. Ia hanya diam patuh saat Arche dikenalkan padanya. Saat ia berumur 15
tahunlah ia baru mengerti. Itupun setelah Adam memberi tahunya melalui candaan
karena melihatnya terlalu sering bersama Allen.
Ia bahkan tak lagi mengucapkan selamat tinggal pada hari itu. Saravine diculik
malam hari oleh Adam; sesuai rencana. Dalam waktu yang amat singkat, mereka telah
meninggalkan kerajaan Erune. Saravine hanya dapat melihat kerlip menara Lunarc yang
perlahan menghilang menjauh. Satu-satunya kenangan yang dibawanya adalah boneka
Jerami buatan ibunya.
Tak sampai sepeminum teh, mereka sampai di desa Exemptio. Malam itu terasa
sangat panjang bagi Saravine. Ia melihat Adam melangkah masuk di formasi Matara
dan menghafalnya dengan sekali lihat.
Desa Exemptio baginya sangat menakutkan, apalagi di malam hari. Cahaya
lentera tidak memenuhi seluruh tempat dan tidak ada aktivitas di malam hari. Desa itu
terlihat seperti ‘kota mati’. Tapi Saravine lega karena ternyata mereka tidak masuk
dalam desa Exemptio. Mereka langsung menuju rumah kakek Greul. Setidaknya rumah
itu memiliki penerangan yang lebih baik walau hanya dua pasang lentera Pyramite
merah.
Bagi Saravine, baik rumah kakek Greul maupun pemiliknya terlihat sangat aneh.
Rumah Greul tak memiliki tata ruang yang baik. Belum lagi selera berpakaian Greul
menyakiti mata. Salam perkenalan dengan Greul berlangsung singkat. Saravine
merasakan atmosfer yang tidak enak dari Greul. Kakek ini terlihat sulit didekati dan
bahkan rasanya terkesan tidak ramah. Tapi kesan itu berubah sedikit tatkala ia melihat
Greul bercanda dengan Adam dan dirinya. Tanpa basa-basi selanjutnya Saravine
dikenalkan pada…
Allen Inverson.
....
Yang sedang tertidur. Gaya tidur Allen sangat lasak. Selimut berserakan, dengan
pose yang sangat aduhai menampilkan pusarnya. Liur dan ingus mengalir menjadi
sungai dan tinta kasur.
Kesan pertama Saravine kecil: Jorok!
“ALLEN!”
Greul membalikkan kasur Allen. Suara bergedebrukan terdengar jelas. Saravine
terkesiap. “Biarkan saja. Memang begitu cara Greul membangunkanya.” Suara Adam
terngiang di kepalanya. Tatapan kagum dan polos seorang Saravine kecil melesat
menuju Adam “Suatu saat kau akan belajar.” ujar Adam dalam senyum.
Allen melenguh dan merangkak keluar dari balik ranjang yang tertelungkup.
Tapi sebentar kemudian tak lagi bergerak. Saravine takut jangan-jangan anak
laki-laki dihadapannya ini tak lagi bernyawa.
“Masih pura-pura.” Greul tertawa-tawa menyiapkan hukuman. Kepalan
tangannya dihembus keras.
Tahu-tahu Allen bergerak. Ia bangun dan duduk. Matanya terpicing separuh
layaknya orang mabuk dengan badan yang bergoyang kiri-kanan. Mata hitam Allen
menumbuk Saravine. Seketika itu juga lidah jujur Allen berkomentar.
“Cantiknya. Ada bidadari turun dari langit.”
Saravine jengah. Cantik? Tak pernah ada anak sebaya yang pernah mengatakan
dirinya begitu.
“Allen, ini Saravine Mutia, tamu yang waktu itu kakek bilang.”
Allen hanya memberi “Ha?”
“Saravine, ini Allen Inverson, dia seumuran denganmu. Aku ingin kalian bisa
akrab.” Saravine kecil maju mendekat, mengulurkan tangan untuk berkenalan. Setidaknya
ia ingin menghapus kesan jorok di matanya pada Allen kecil. Allen menangkap tangan
itu dan tahu-tahu saja menarik Saravine.
Allen mengecup pipi Saravine.
Saravine terdiam kaku. Tangannya tergantung dalam pose memeluk Allen.
Mereka berdua terdiam. Wajah Allen menggelosor sampai akhirnya terjatuh di pundak
Saravine. Dengkur Allen kembali terdengar.
Saravine jengah, benar-benar merah bak udang rebus. Ia menjerit keras
mendorong Allen dengan kasar. Suara bergedebam terdengar jelas tapi tidur Allen sama
sekali tak terganggu.
“Wah wah dasar Allen nakal.” ujar Greul menjitak kepala Allen. Allen lagi-lagi
tak terbangun padahal memar merah mentereng di keningnya.
Bagi Saravine kecil, kesan kedua yang didapatnya: NAKAL! NAKAL!
NAKAL!! Ia langsung berlindung di balik Adam dan melihat Allen dengan pandangan
sebal. Tambah lagi, kecupan itu meninggalkan jejak liur yang nyata. Saravine merasa
seperti mangsa yang baru saja dijilat oleh predator. Ia hampir menangis.
Malam itu Saravine tak bisa tidur. Ia berulang kali membilas pipinya tapi tetap
saja sensasi ciuman itu menempel bahkan menghantuinya kala tidur. Adam pun
menyanyikan lagu Nina-bobo pada Saravine yang diimbuhi Wi-song. Lembut Denting
Keinginan itu membuat Saravine terlelap walau ia merasa nada lagu tersebut aneh.
Pagi harinya. Saravine terbangun agak siang. Ia dapat merasakan matanya
sembab. Di saat ia berkeliling dalam rumah Greul, ia hampir saja tersasar. Ia beruntung,
bila tidak ingin dibilang sial, bertemu dengan Allen. Mereka bertemu mata... dan
berpandangan lama sekali. Wajah Saravine merengut.
“Eh ada anak cantik!” komentar Allen pertama kali.
“Kakek Greul! Ada Anak cantik di sini!”
Tak ada balasan dari Greul.
“Hey, Namamu siapa? Aku Allen, Allen Inverson.” Allen mengulurkan tanganya
pada Saravine. Saravine mendekatinya dan langsung saja melakukan hal yang sedari
tadi malam ingin ia lakukan.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Allen.
“A... Apa salahku?”
Saravine diam. Mata kecilnya mulai menitikkan air mata. Allenlah penyebab
daftar mimpi buruk Saravine bertambah.
“Eh... Eh, kok nangis? Apa salahku? Kasih tahu dong.” Allen panik.
Dan Saravine kembali diam. Ia makin keras memeluk boneka jeraminya. Ia
menatap mata Allen dengan kesal. Allen, yang ditatap secara judes seperti itu, mundur
selangkah. “Aiya... apa salahku? Jangan lihat aku kayak begitu. Seram tahu.”
Saravine beruntung Adam datang dan membawanya pergi. Ia juga tak mau
berlama-lama di tempat itu bersama begundal nakal.
Tak lama, Greul turun dari lantai atas. Mereka sarapan pagi saat matahari mulai
naik. Jangan tanya bagaimana rupa Saravine saat semeja dengan Allen. Yang pasti
Allen tak berani melihat Saravine.
Setelah makan, Allen diharuskan latihan. Walau awalnya Saravine tak ingin
melihat tapi akhirnya ia ikut juga dan menonton. Ia merasa senjata yang dipegang
Allen, ranting yang melengkung separuh, sangat aneh dan tidak cocok dipakai
bertarung. Komentar pendek Saravine menyinggung Allen dan jadilah Saravine
ditantang.
Di sinilah Allen pertama kali kalah. Saravine hanya butuh 1 serangan telak di
dada kiri untuk menjatuhkan Allen. Lebih tepatnya membuat Allen pingsan dan sempat
disangka mati akibat jantungnya tak berdegub dalam sedetik-dua detik. Bila Adam tidak
membangunkan dengan Kekuatan Keinginan bukan tidak mungkin waktu itu Saravine
menghentikan napas Allen selamanya. Saravine masih dapat mengingat bagaimana
mata Allen membulat tak percaya saat dirinya terbangun. Allen menantang sekali lagi...
dan kalah... sekali lagi... sampai akhirnya ia menyerah setelah ditegur oleh Greul.
“Kamu kuat sekali ya. Boleh tahu namamu?” tanya Allen.
“Tidak kesal kukalahkan?” tanya Saravine pendek.
“Kesal sih tapi memang kenyataanya kamu kuat jadi harus kuakui.” Allen
nyengir. Bagi Saravine cengiran Allen terlihat sangat lucu. Ia hampir saja terkikik geli
saat melihat taring kecil Allen menyembul.
“Saravine... Saravine Mutia.” Saravine kecil mengulurkan tangan
Allen mengambil uluran tangan Saravine “Allen... Allen Inverson.”
“Namamu ribet, kamu kupanggil Sara saja ya? Biar gampang kuingat. Nama
kalau panjang-panjang bisa bikin pusing.”
Sembarangan... tapi boleh juga sih. Setidaknya di hari itu ia mendapat kesan lain
Allen: Ksatria. Saravine kecil memang kuat, tak ada yang bisa mengalahkannya di
perguruan pedang Kerajaan. Tapi yang ia sering dengar bukanlah kelapangan dada saat
lawanya kalah melainkan ejekan-ejekan. Banyak yang beralasan jenis kelamin
Saravinelah penyebab mereka kalah.
Selesai latihan, giliran Allen yang mengajaknya jalan-jalan ke desa Exemptio.
Langkah Allen cepat dan lebar sehingga membuat Allen selalu di depan Saravine.
Saravine harus mempercepat ritme langkahnya bila tak ingin ketinggalan. Tapi di
tengah perjalanan Allen melambat dan berjalan satu baris dengan Saravine.
Satu hal yang Saravine suka dari Allen adalah ia selalu mengajak bicara. Dan tiap
ucapan Allen selalu mengundang jawaban dari Saravine. Ia memiliki kesan lain pada
Allen: pintar memuji, menggoda, dan perhatian. Memiliki teman bicara seperti ini
membuat perjalanan menuju lembah mangkuk menjadi tak terasa. Belum lagi mereka
disuguhi pemandangan alam yang asri. Pantulan-pantulan cahaya dari air sungai yang
mengalir jernih membuat segar mata. Bebatuan-bebatuan apung menjadi labirin dan
tempat bermain sendiri yang apik. Hewan-hewan pengerat yang imut dan pemalu
menjadi topik tambahan dan teman bermain baru. Bagi Saravine, siang hari di tempat
ini sangatlah indah. Tanpa disadari mereka sampai di desa Exemptio.
Saat berjumpa dengan teman-teman Allen di pinggir sungai, Saravine bungkam.
Ia bahkan tak bisa berkenalan dengan satupun dari mereka. Saravine dicibir.
Kemurungan melanda Saravine. Ia mual dan ingin pulang saja.
Tiba-tiba Allen bereaksi. Ia menarik Saravine dan membawanya kabur dari
tempat itu. Ia dibawa menuju bukit Pohon Alfillatis berada. Di sini pulalah ia sempat
melukai pelipis Allen. Tapi senyum Allen menenangkannya. Allen pun menyuguhkan
sesuatu yang membuat Saravine terpana. Baru kali ini ia melihat alam begitu indah.
Mentari pagi yang menampilkan prisma cahayanya. Hijau rumput yang gemulai
dimainkan angin. Semak Fyul yang terbang, sesekali manja menempel di badan.
Dengan pohon besar berdaun kuning sebagai tokoh utamanya. Desa Exemptio terlihat
begitu kecil dan serasa bisa digenggam.
Selagi Saravine terpana itulah Allen tiba-tiba menyematkan sebuah kalung bunga
di rambut Saravine.
“Naah~ ini jauh lebih cocok untuk Sara.”
Saravine menyentuh bunga di atas kepalanya. Ia mencoba mengambil bunga
tanpa merusaknya. Kalung bunga itu teruntai dengan bagus walau tak beraturan. Tiga
warna hijau, merah, dan kuning berselang-seling. Saravine tersenyum.
“Waah~ Sara sangaat cocok tersenyum. Kamu jadi cantiiik sekali.”
Allen nyengir dan memberikan dua jempolnya. Saravine semakin jengah. Ia
menyembunyikan wajahnya di balik untaian kalung bunga. Allen justru semakin asyik
menggoda. Bagi Allen, inilah kemenangan pertamanya karena berhasil membuat gadis
sayu itu tersenyum cerah. Saat itu, Saravine senang dan ia melakukan hal yang sangat
tak disangkanya.
Saravine mengecup pipi Allen.
“Balasan tadi malam.” ujar Saravine kecil.
“Ta... tadi malam?” Allen mengusap pipinya dalam keterpanaan. Satu pipi
ditampar satu pipi lagi dicium, neraka dan surga bersebelahan. Allen dibuat merah
menjelaga. Biar bagaimanapun akhirnya Saravine yang menang atas Allen.
Saravine tak dapat tidur malam itu. Pertama, ia memikirkan apa yang baru saja ia
lakukan pada Allen. Ia berulang kali tersenyum senang. Kedua, kalaupun ia sudah tak
lagi memikirkannya, Allen justru melenguh senang dalam tidurnya. Dan paginya
mereka berdua sama-sama terbangun siang.
Kepingan kristal kenangan itu memadat dan memudar perlahan. Ingatan Saravine
kecil beralih sekitar dua tahun setelah kedatanganya pertama kali. Sehari setelah ia
berkonfrontasi dengan Anne Eaumi, Darkmaster Air. Setelah hari itu ia mengetahui
kekuatan sejati seorang Darkmaster. Ia membayangkan bagaimana seramnya Allen bila
menjadi Darkmaster.
Saravine dipanggil ke rumah Tetua besar. Ia terlihat seperti seorang terhukum di
mata semua penghuni rumah itu. Begitu Tetua besar tiba, semua dibubarkan. Hanya
satu pertanyaan yang diucapkan Tetua Besar.
“Apa kau berlatih menjadi Wishmaster?”
Saravine mengangguk. Ia merasa tak perlu menutupinya.
“Kau adalah tamu desa ini... tapi *uhuK* ketahuilah bahwa Wishmaster tak
diterima di desa ini. Bila kau bersikeras menjadi Wishmaster maka kami harus
mengusirmu.”
Keputusan Tetua besar tak lagi mengagetkan Saravine.
Saravine teringat akan ibunya. Ia bisa saja keluar dari desa ini dan tak kembali
lagi tapi ia ingat pada Allen. Bila ia keluar, artinya ia tak bisa lagi melihat Allen.
“Tapi... bila kau *uhuk* ingin tinggal disini maka kau harus tinggal di Rumah
Terpojok.”
Tetua besar menjelaskan seperti apa Rumah Terpojok. Singkat kata, rumah itu
adalah salah satu rumah yang tidak layak dijauhi dan dijadikan tempat penghukuman
bagi penduduk desa.
“Aku ingin tinggal di sini.” jawab Saravine tegas.
Tetua besar terkejut. Saravine menjawab tanpa ragu-ragu meski sebelumnya
sudah diberitahu seperti apa Rumah Terpojok itu. Sang kakek itu boleh jadi heran. Ia
tak tahu apakah kepolosan, kebodohan, atau kenaifan pikiran bocahlah yang membuat
mulut mungil Saravine berujar seperti itu. Tak semua orang dewasa mampu berkata
seyakin itu. Ia hanya tahu, Dark Nature-lah yang membuat Saravine yakin.
Saravine sendiri yakin jawabanya benar. Ia tak boleh keluar dari desa ini. Ibunya
pasti tak ingin Saravine keluar dari desa tanpa persiapan. Saravine tahu ia harus
meredam rindunya. Dan ia tak mau membuat ibunya cemas dengan tangisan atau jerit
takutnya.
Rumah Terpojok, bukan nama yang bagus dan enak didengar. Semak Fyul saja
enggan mendekatinya dan berpindah setelah menyentuh tiang rumah itu. Sarang labalaba
juga tidak ada di sana. Secara fisik, pintu rumah mungil ini terlihat hampir remuk.
Tiang-tiangnya sudah terlihat keropos dan sama sekali tidak diberi pelapis wewangian.
Yang ada justru bau yang cukup menusuk hidung. Tak ada jalur jembatan menuju
rumah ini. Aura jelek seakan menimpa atap rumah dan mengusir mereka yang mencoba
mendekati.
“Sara!”
Saravine menoleh pada Allen yang berlari mendekatinya.
“Jangan dekat-dekat dengan rumah itu. Kamu bisa-bisa...” Allen memperagakan
leher tercekik pada Saravine.
“Tapi mulai malam ini aku akan tinggal di sini.”
Allen tercengang. “Bohong?!”
“Kau pasti sudah mendengar aku ini Wishmaster dari kakak Anne.”
Saravine menunduk setelah mengucapkan kalimat ini. Ia tahu Allen akan
menjauhinya. Tapi ia ingin berharap minimal Allen masih bisa nyengir kepadanya
“Iya... aku dengar dari kakak Anne. Jadi rupanya itu benar...” jawab Allen.
Saravine mengangguk. Ia berharap Allen tidak kabur saat itu juga.
“Lalu kenapa? Bukankah justru bagus kalau kamu jadi Wishmaster?” Allen justru
nyengir lebar. Itulah cengiran paling lebar yang pernah Saravine lihat selama Allen
masih kecil. Bola mata Allen berbinar senang dan bagi Saravine... binar mata Allen
sangat indah.
“Dengan begitu kamu semakin kuat lagi kan? Dan aku jadi semakin bersemangat
mengejarmu!”
“Kau... tidak membenciku?”
“Hah? Membencimu? Untuk apa? Aku justru tidak suka pada orang yang
memasukkanmu ke sini cuma gara-gara kamu Wishmaster. Kayak kurang kerjaan saja.”
Cibir Allen.
Saravine merasakan kehangatan. Kata-kata Allen itu saja sudah cukup menjadi
dorongan baginya.
Tapi tidak bagi penduduk. Berita menyebar dari mulut ke mulut. Mereka
berkumpul menyaksikan Saravine yang berdiri di depan Rumah Terpojok. Dalam
sekejap pandangan tak peduli penduduk menjadi pandangan tak suka lagi menusuk.
Saravine bergidik. Allen memeluknya.
“Jangan gemetar dong, Sara. Cuek saja. Masih banyak yang suka kamu kok.”
“Siapa?” tanya Saravine polos.
“Aku. Aku suka-suka-suka kamu!”
Jawab Allen dengan muka polos penuh cengiran. Saravine diam dalam senang.
Entah berapa lama ia tak mendengar ada orang yang menyukainya. Dulu, ia sering
mendengar ibunya mengucap kalimat itu... walau sembari marah-marah. Tapi,
mendengar siapapun mengucap kalimat ‘suka’ biarpun dalam intonasi marah, sedih,
ataupun gembira selalu membawa energi positif.
Saravine tak lagi peduli tatapan sekitarnya. Justru saat itulah Anne datang.
“Kumohon kalian tidak memandang seperti itu pada Saravine. Biar
bagaimanapun, Saravine adalah tamu desa ini. Lagipula, hukuman ini tidak
membuatnya harus dikucilkan secara nyata.”
Penduduk mulai berbisik-bisik. Saravine tahu Anne-lah yang memberi tahu status
‘Wishmaster’nya pada Tetua Besar.
“Terima kasih kakak Anne tapi Saravine tidak mau membuat repot kakak Anne.”
“Tapi...” ujar Anne.
Saravine memotong dengan senyumnya. Senyum pertamanya pada Anne.
Senyum penerimaan dan senyum terima kasih. Saravine kecil hanya bersyukur bahwa
ada orang lain yang mau menjaganya. Anne yang dirundung rasa tak tega mengucapkan
kalimat
“Aku berjanji padamu... aku takkan membuatmu sedih untuk yang kedua
kalinya.” Ujar Anne pada Saravine. Allen garuk-garuk kepala, tak mengerti tapi senang
dengan ucapan Anne.
Saravine melangkah menuju Rumah Terpojok. Ia menggeser pintu yang sudah
reyot. Di hadapan Saravine hanya terlihat satu ruangan. Kosong dan hampa, hanya ada
dinding kayu dan satu tiang utama. Langit-langitnya hitam kelam bahkan tak ada sarang
laba-laba di sana. Tidak ada Jendela dan cahaya masuk hanya melalui sela-sela atap
yang renggang.
Saravine menarik napasnya sebelum melangkah masuk.
“Wah suramnya!” suara di sebelahnya membuat Saravine terkesiap. Ia tak jadi
melangkah. Justru Allen, pemilik suara itu, yang masuk lebih dahulu. Saravine tak
percaya dengan apa yang dilakukan Allen.
“Kayaknya asyik juga main di sini. Betul tidak Sara?”
Tindakan Allen membuat kisruh sekitarnya. Kasak-kusuk langsung bertebaran.
Anne berdiam di antara posisi mengerti-tak mengerti dan cegah-tidak mencegah.
Saravine ingin mencegah, ia tentunya tak ingin pandangan penduduk pada Allen
berubah... tapi keinginannya dihentikan oleh ucapan Allen.
“Malam ini aku akan menemanimu tidur di sini. Aku tidak mau membuatmu
menangis sendirian.”
“Bo... bohong? Kapan aku menangis?”
Allen mengorek kupingnya. Dan bertampang cuek.
“Kau yang mengigau dalam tidurmu! Dasar Tuyul Pikun!” itulah kali pertama
Saravine menggunakan kata Tuyul Pikun pada Allen. Kali pertama ia tak menyangka
Allen mendengarkan keluh kesahnya saat tidur.
“Tuyul Pikun? Nama yang bagus tuh! Biar nanti malam tuyul ini
menghantuimu!” Allen mendekati Saravine dan berputar-putar mengelilingi Saravine
“Allen, ini bukan main-main!” sergah Anne yang cemas. Siapapun yang
memasuki Rumah Terpojok sudah mendapatkan cap ‘TERBUANG dan TERHUKUM’.
Kau bisa dibenci semua penduduk.” lanjut Anne lirih.
“Biarin!” jawab Allen cuek. “Sekalian saja aku dibenci, toh kakek Greul dan
Saravine sudah dibenci!” jawaban polos anak kecil berumur 10 tahun ini mengejutkan
Anne. Polos, pedas, dan kekanak-kanakan sekali.
Jangankan Anne, Saravine sendiri tak percaya dengan apa yang Allen ucapkan
barusan. Saravine menengok pada Anne. Ia berharap Anne memiliki solusi. Tapi Anne
justru diam. Ia tak melakukan apapun sampai malam tiba... dan itu mengecewakan
Saravine.
Malam itu jadilah Allen mengikuti Saravine. Mereka berdua memasuki Rumah
Terpojok. Pada malam itulah mereka sadar, mengapa rumah itu disebut Rumah
Terpojok. Ruangan rumah itu gelap, suara seolah ditelan. Udara terasa sangat pekat
membuat mereka susah bernapas. Allen dan Saravine kecil ketakutan. Mereka
berpelukan. Bukan hanya gelap yang meremangkan bulu kuduk mereka. Mereka hanya
bisa mengkerut di pojok ruangan.
Walau gelap, mereka dapat melihat gambar-gambar seram melintas dekat mereka.
Awalnya mereka menyangka gambar itu tak menakutkan. Setelah Allen mencoba
menyentuh satu gambar barulah mereka sadar bahaya yang terkandung. Allen tersengat
dan merasakan ketakutan terdalamnya. Saravine tak tahu apa tapi ia tahu Allen hanya
berucap
“Jangan lagi... Jangan lagi...” dan Saravine tahu Allen mengkeret ketakutan di
sampingnya. Saravine yang cerdas tahu untuk tidak menyentuh gambar seram itu. Tapi
telat... Saravine merasakan gambar itu melesak masuk ke badannya. Saravine kaku
mengejang.
Dalam pikirannya ia dapat melihat... ibunya meninggal... Allen juga. Ia berada
dalam kegelapan sendirian. Tak dapat melihat apa-apa. Sampai akhirnya suara ibunya
muncul
“ANAK NAKAL! KARENA KAMULAH IBU MATI!”
Dan Allen...
“SARA JELEK! GARA-GARA KAMU AKU JADI BEGINI!!”
Dan mereka berdua muncul bersamaan... berlumuran darah. Saravine kecil
tertegun. Tak lama di sekelilingnya muncul kilau-kilau putih. Mereka mendekat dan
mengepung Saravine.
“SEMUA SALAHMU! SEMUA SALAHMU!” kalimat itu terus menerus
berulang-ulang. Salah satu dari kilau itu menggoreskan sebuah luka pada lengan
Saravine.
Saravine tersadar. Tapi ia dapat merasakan sakit pada lengan dan juga hatinya.
Siksa mental barusan membuatnya nyaris tak bisa berkata-kata. Lain dengan Allen yang
justru semakin banyak ngelantur tak jelas. Saravine memeluk Allen dan
menenangkanya, mereka berdua saling menenangkan dan berusaha tidur.
Di malam itu Allen kecil tak dapat tidur. Berulang kali ia menutup matanya tapi
tetap saja gambar-gambar seram itu melintas. Mereka tak mau tersentuh dan karenanya
harus terbangun. Tak tahan, Allen meraung-raung. Saravine juga takut dan ingin
berteriak tapi teriakan Allen telah menggantikanya.
Tapi Allen tak menyerah, walau ia tak bisa tidur malam dan pagi harinya stress
berat. Ia tetap menemani Saravine setiap malam. Hal itu terus berlangsung setiap hari
sampai hari perpisahan mereka. Allen tak pernah lelah menemani Saravine. Allen
jugalah yang selalu bisa membuat Saravine tersenyum di pagi hari. Dan pemandangan
dari pohon Alfillatis solais dan markas rahasia adalah salah satu di antara kesenangankesenangan
yang tak terganggu oleh mimpi-mimpi buruk.
Satu yang Saravine sadari... adalah adanya perubahan temperamen Allen saat
tidur. Allen memang lasak dan suka mengigau di waktu malam tapi sekarang Allen
selalu tidur dengan wajah berkerut. Ia selalu berkeringat saat tidur dan terbangun selalu
dalam lemas. Salah satu kebebasan dalam hidupnya dirampas oleh bayang ketakutan
mimpi buruk.
Saravine juga berubah... ia belajar menyimpan keinginan dan mengkristalkanya.
Siapa sangka bahwa teh penenang Gratios adalah kunci utama pelajaran menyimpan
keinginan. Dengan begitu, semua ketakutan dan harapan yang dialami Saravine tiap
malam disimpan. Paginya ia bisa memilih untuk menerima efek ketakutan tersebut
dalam separuh kekuatan aslinya. Dengan begitu ia bisa menyimpan tenaga agar tak
lelah setelah derita mental selesai. Saravine beruntung karena dengan kristal keinginan
itulah Saravine tak menerima seluruh efek Broken Wishes.
Kepingan kenangan beralih pada kepergian Saravine dari desa. Ia kembali
merasakan sesaknya kehilangan Allen. Ia kembali dipaksa menerima kesendirian
selama 2 tahun. Tapi tak pernah selama itu hatinya berpindah dan ia berharap yang
sama untuk Allen.
Pada masa dua tahun inilah ia berusaha keras meningkatkan kemampuan dirinya
dengan mengabdi pada Matreisha. Ia ‘bekerja’ dengan rajin dan tanpa disadari dalam 6
bulan ia telah mencapai posisi 20 besar satu daerah. Kekuatan keinginannya tanpa
disadari semakin bertambah padahal ia hanya membantu melakukan keinginankeinginan
kecil. Dalam waktu satu tahun ia mendapat posisi 30 besar se-Benua Sol.
‘Pekerjaan-pekerjaan’ yang dapat diambilnya semakin sedikit karena ia tak lagi bisa
merasakan manfaat dari denting keinginan yang kecil. Ia mengambil keinginan besar
dan satu pelajaran yang ia ambil adalah: keinginan yang besar sebenarnya tak lebih dari
keinginan-keinginan kecil yang terakumulasi.
Begitu dua tahun tercapai ia telah mendapat posisi 13 besar se-benua. Dan
hebatnya, ia tak pernah satu kalipun berkonfrontasi dengan Darkmaster. Ia benar-benar
menjadi ilalang yang bisa diacuhkan para Darkmaster.
Minggu ketiga hari terakhir, bulan ke empat, Saat itulah ia kembali bertemu
dengan gurunya, Adam. Kala itu mereka bertemu di malam hari yang cerah tanpa awan.
“Saravine, muridku, aku telah mendengar sepak terjangmu dalam 2 tahun terakhir
ini. Tanpa kusadari kau telah berkembang begitu pesat.”
Saravine tersenyum dan menghaturkan terima kasih.
“Sekarang kurasa sudah saatnya kau kembali pada ibumu.”
Saravine tak dapat menahan kegembiraannya. Ia nyaris saja memeluk gurunya
bila tak mendengar lanjutannya.
“Tapi sebagai Ravnell.”
Beratnya nama Mutia menhimpit hati Saravine kala ini.
“Ketahuilah Saravine... adikmu, Ananda Ravnell baru saja dibunuh oleh
seseorang. Ia meninggal dekat benteng Aumerthis.”
Ananda Ravnell? Saravine tak lupa adik semata wayangnya itu. Adik kecilnya
yang selalu saja berlari pada ibu untuk mengadu. Adik kecil yang membuat dirinya
selalu ada dalam posisi bersalah. Adik kecil yang manja dan lemah. Saravine tidak
membencinya, bahkan ia menyayanginya. Air matanya tumpah begitu mendengar berita
itu. Ia bertanya-tanya bagaimana Ravnell meninggal. Adam menunda jawabannya dan
berjanji akan membawanya ke lokasi meninggalnya Ravnell.
“Jadi karena itulah aku memintamu untuk menjadi Ravnell.” Ujar Adam setelah
menceritakan alasan Saravine harus menjadi Ravnell.
Saravine yang sudah mengenal keinginan, mulai bertanya-tanya. Andai ia dulu
adalah Wishmaster, mampukah ia mengubah kenyataan bahwa dirinyalah yang diusir?
“Kau dipilih karena permaisuri tak ingin terjadi apa-apa padamu.” Ucap Adam
saat mendengar jeritan Denting Keinginan Saravine.
“Bohong. Ibunda hanya ingin agar Ravnell yang menaiki tahta. Aku dijauhkan
hanya agar bukan anak pertama perempuan yang naik tahta tapi anak laki-laki
pertama!”
“Saravine…”
“Master tak perlu menenangkanku dengan Wi-song... aku yang selama ini diam
selalu memikirkan mengapa aku yang dipilih dan bukan Ravnell?”
“Permaisuri lebih percaya padamu. Ia tahu kau lebih kuat dibanding Ravnell yang
manja.”
“Tidak... ibunda ingin tahu... siapa yang akan selamat. Aku yang dilepas sendiri
atau Ravnell yang dilindungi.”
Saravine menitikkan air mata. Sesak, ia tak pernah mengeluarkan unek-unek
hatinya seperti ini kecuali pada Allen. Ia selalu berlatih dalam diam dan patuh pada
Adam. Hanya kali inilah ia merasa punya hak untuk berbicara.
“Separuhnya benar…” Ujar Adam dalam senyum miris. Denting Keinginan
Adam terdengar seperti “kekhawatiranku terbukti”. Dan itu cukup mengecewakan
baginya.
Saravine memandang angkasa. Ia melihat langit yang luas yang tersilaukan
cahaya bulan. Awan mulai menutupi separuh bulan. Angin malam yang dingin menerpa
tubuh dan mantel putih Wishmasternya. Hatinya kembali terkabut oleh masalah yang
sedari dulu menghantuinya.
“Andai semuanya benar sekalipun...”
Ujar Saravine. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berhenti sejenak
“Saravine... kumohon padamu jangan membenci ibumu karena masalah ini.”
“Aku tidak membencinya.” Potong Saravine dalam getar suaranya, sebisa
mungkin tuk tabah. “Aku masih mengingat suara ibunda yang sedih karena harus
mengusirku… lagipula,” Saravine berhenti sebentar. Ia menelan ludahnya sekali
sebelum berujar dalam nada Wi-Song yang lemah. Ia berusaha sekali lagi membendung
emosinya dalam nada suara tenang.
“Aku… menyadari apa keinginan ibunda dari namaku... ibunda ingin agar aku
diam, kuat, dan tabah seperti ilalang yang biarpun terinjak akan segera bangkit!
Seharusnya aku berterimakasih,” suara Saravine perlahan menanjak begitu emosi
hatinya kembali hendak jebol.
“Tapi aku tidak dapat membuang rasa sakit ini dari hatiku begitu saja... aku tidak
ingin mendapat arti lain dari ilalang... yang terlupakan dan dapat ditindas begitu saja!
Tiap hari aku selalu khawatir apakah ibunda akan melupakanku… apakah Allen akan
melupakanku… apakah… yang mengenalku tak lagi mengakui eksistensiku.”
Saravine terdiam sejenak. Denting Keinginannya naik turun dalam irama yang
cepat.
“Tidakkah aku boleh berharap, sekali saja, untuk bertemu ibunda tanpa harus
menyamar? Aku ingin mendengar dari mulut ibunda sendiri alasan mengapa aku yang
dipilih untuk… menjalani hal ini.”
Adam menggeleng.
“Kau sudah tahu apa bahaya yang menanti dalam namamu. Belum waktunya
bagimu untuk menunjukkan diri.”
“Sampai kapan?”
Adam tak bisa menjawab. Saravine juga tak dapat meraba denting keinginan
Adam.
“Tapi… bolehkah aku mengetahui sendiri apa yang ibunda inginkan dariku, dari
seorang Saravine Mutia?”
“Kau sudah memiliki kunci untuk mengetahuinya sendiri. Aku sudah
mengajarkanya padamu dan sekarang itu adalah kuasamu sendiri untuk
menggunaannya.” Ujar Adam.
Saravine kembali menelan ludah. Pernyataan barusan artinya ia harus
mempersiapkan hatinya akan kemungkinan terburuk yang ada. Ia cemas tapi juga tak
dapat menutupi debar kegembiraan yang siap menantinya.
“Siapa Matreisha...”
Tanya Saravine tersendat. “Siapa Matreisha untukku?”
“Tidakkah kau merasakannya sendiri?”
Saravine tak percaya. Denting keinginan yang keras menghujam hati dan
telinganya.
“Master?”
“Tak ada keinginanku yang lebih besar selain mempertemukan kalian berdua
kembali... walau kau harus menyamar.”
“Baik.” Saravine membungkukkan badan. Ia mengembangkan kedua tangan dan
menengadah pada Adam. Bibirnya mengalunkan kalimat
“Your wish is my command.”
Saravine menegakkan badan. Ia melihat sebuah benang biru terhubung antara diri
dan gurunya. Sayu matanya semakin membias gelap saat melihat ikatan itu.
“Saravine... jangan lagi kau mendentingkan keinginan yang pedih seperti ini.
Gurumu yang sudah tua ini tak mau telinganya pecah.”
Saravine memberi senyum tipis.
“Nah ini lebih baik... eh...?” Adam mengerutkan alisnya.
Saravine menggonta-ganti denting keinginannya. Naik-turun, Pelan-keras silih
berganti dari sendu menjadi senang dan sebaliknya... sampai akhirnya hening. Lalu
irama senang terdengar sangat keras sampai Adam nyaris terjengkang.
“Kau... yang benar saja... kau sedari tadi menipu gurumu? Sejak kapan kau bisa
menggonta-ganti Denting Keinginan? Jangan-jangan sedari tadi kau senang!?” Adam
membelalakkan mata tak percaya.
Saravine mengedipkan mata. Setidaknya ia belajar sedikit cara mengerjai orang
dari Allen. Dan korban pertama adalah gurunya sendiri… walau tak seluruhnya
bercanda. Benar... ia belajar memanipulasi Denting Keinginan sebagai upaya membuat
gurunya menebak-nebak keinginan aslinya. Penyamaran ini, ia yakin, suatu saat akan
sangat dibutuhkan.
Keping kenangan perlahan memudar. Dari satu keping berganti menjadi keping
lain. Kali ini adalah momen pertemuan Saravine dengan Vex.
Saravine tak dapat melupakan bagaimana wajah pucat Vex yang terkejut. Ia tak
dapat melupakan bagaimana permaisuri yang diagungkan penduduk Scutleiss itu
mengeringkan air mata dan menghambur padanya. Ia tak dapat melupakan bagaimana
wajah pucat itu berubah merah dan kembali beringsut dalam tangis.
Sejenak Saravine termanggu. Kegamangan, kegembiraan, dan ketakutan
bercampur baur dalam detik-detik berharga tersebut. Ia bahkan mampu mendengar
debar jantungnya sendiri dan mengetahui betapa tubuhnya tak dapat berhenti gemetar.
Ia ingin meluapkan kegembiraan ini tapi untuk apa dan untuk siapa?
Ia merasakan pelukan tajamnya rengkuhan ibunya sendiri. Keras, menyengat, dan
sedikit menyakitkan tapi di baliknya ia dapat merasakan kehangatan dalam kecemasan.
Di saat pelukan terlepas, Saravine tersadar. Ia telah melakukan dua butir kealpaan fatal:
ia lupa perannya sebagai Ravnell – dan Ravnell pasti takkan segan-segan bermanja pada
ibundanya sendiri. Kedua, ia lupa membaca Denting Keinginan ibunya. Momentum
penting ini tak mungkin dapat diraih ulang begitu saja kecuali melalui pertanyaan
langsung. Dan Saravine tahu, ia tidak bisa menanyakannya sekarang. Tidak di saat
semua mata R-Knight dan Patih mencurigainya. Ia butuh waktu… dan ia tahu momen
tersebut baru muncul saat ia berhasil meyakinkan keberadaan Ravnell benar-benar
eksis.
Rencana Saravine cukup matang. Ia mendapat pengakuan penuh sebagai Ravnell.
Boleh dikata tak ada yang mencurigainya, kecuali satu orang R-Knight: Arche Efeether.
Dia yang selalu menjaga permaisuri membuatnya tak bisa menemukan waktu tepat
untuk bertanya tentang eksistensi Saravine. Belum lagi penjagaan mata Merak Arche
terkadang mengganggu privasinya, cukuplah ia merasa beruntung untuk sadar apa yang
Arche inginkan.
Ia hampir mendapat momen bagus, hampir. Bila saja Allen tidak datang
menggasak ruang tidur Ravnell, mungkin ia sudah berhasil mendapat waktu berbicara
dengan ibundanya –dan kali ini serius. Tapi hanya dalam waktu singkat itu pulalah
Saravine melupakan pertanyaan itu dan memilih bersama Allen. Saravine sadar
kebodohannya tapi ia tidak menyesal. Ia tak mau menyesal. Ia lebih memilih jalan
bodoh untuk mencoba menanyakan eksistensinya. Dan ia cukup sukses… sampai Allen
mengubahnya menjadi mimpi buruk.
Keping keinginan itu pecah begitu saja, pertanda berakhirnya memori yang begitu
singkat. Denting keinginan Saravine kembali tenggelam tertidur, begitupun pemiliknya.
Teh Gratios sekali lagi membuatnya terlelap tenang.
Di lain tempat, di kaki gunung Farangi.
Allen masih terpojok di dinding bebatuan merah. Kali ini kedua lengannya
terluka dan mengucurkan darah. Bola mata hitam Allen mulai nanar. Nafasnya satu dua
akibat kehilangan darah. Ia hanya bisa menyender tak berkutik dalam kondisi skak mat.
Ia mengira sudah berhasil mengecoh monster yang mengejarnya. Padahal dalam
kenyataanya ia tak pernah bisa lari darinya. Dan kali ini, kedua lenganya menjadi
tumbal serangan sang monster.
Allen bertatapan mata dengan sang Monster. Ia nyengir.
“Ternyata paman luar biasa kuat ya.” komentar Allen pada sang monster.
Sang monster menyeringai. Codet di pipinya tertarik ke atas saat berkata.
“Tentu saja. Apa kau pikir aku mendapat posisi komandan Central melalui lehaleha?”
Allen tertawa kecil mendengar ucapan sang monster… yang tak lain adalah
Emeth.
Emeth berdiri tegak di sana dengan sapu besar berijuk tegang. Tiap ijuk terlihat
seperti sebuah pedang tajam. Imbuh R-verse membuat pangkal sapu memiliki moncong
naga bertaring. Ukuran dan panjang tombak mengganda. Sapu itu berubah menjadi
sebuah tombak ratus pedang berwarna hitam legam. Tombak itu juga mampu meliukliuk
seperti makhluk hidup. Gagang tombak yang panjang itu melingkari bagian atas
tubuh Emeth yang tegak layaknya Ular membelit mangsa. Separuh lengan kanan Emeth
tertelan berganti hitam kelam perwujudan naga.
Tombak besar itu mengancam leher Allen. Moncong naga itu bahkan
menghembuskan napas dingin.
“Wah wah... apa Dark Nature sedang tidak ingin memberiku kebebasan?”
Chapter 17
Terjerat dan Terbebaskan
Senja menjelang malam, kaki bukit Gunung Farangi. Kelompok pengejar dan
dikejar akhirnya bertemu.
“Hey Arche, benarkan aku menyusul kalian.”
“Benar sekali... tapi kurasa kau tak perlu membawa teman perjalanan sebanyak
ini.”
Keluh Arche pendek lagi kesal. Kondisi mereka berbalik. Sekarang Emeth dan
kawan-kawan ganti menyandera Allen. Dan sekarang Arche menemui mereka, seorang
diri.
Allen diikat oleh jejaring mawar. Satu gerakan kecil oleh Allen akan membuat
goresan kecil. Kedua tangan Allen yang terluka diberi perawatan seadanya. Setidaknya
cukup agar pria ini tidak mati kehabisan darah.
Arche mengamati sekeliling sekali lagi. Emeth masih memegang Brusolnya.
Warna Brusol itu tak lagi hitam melainkan biru gelap. Elena menghunus Fleuret-nya.
Ark dan Rex serta barisan pasukan Elite yang tersisa hanya diam mengamati.
Arche mengangkat tangan, menyerah. Semua kartu AS-nya habis. Ia tahu, ia tak
mungkin menang melawan monster-monster di hadapannya seorang diri. Tidak, Arche
tidak mungkin menyerah begitu saja.
“Keputusan yang bagus.” ujar Emeth. “Sekarang antar kami ke tempat di mana
kau menyekap Anne.”
Arche mengantar mereka menuju tempat persembunyiannya. Sesampainya di
sana, Anne langsung berdiri. Ia jelas cemas melihat Allen yang terikat dan terluka
parah.
“Allen?!”
“Ah, Syukurlah Anne baik-baik saja.” ujar Emeth melihat Anne yang sama sekali
tak terluka. Terikat pun tidak. “Tak kusangka kau cukup baik hati juga.”
“Nona Anne adalah penyembuh yang harus dihormati. Bukankah begitu,
komandan Emeth? Lagipula sandera yang terbaik adalah yang masih hidup.” ujar Arche
sembari melirik Allen. Emeth menyeringai membenarkan.
“Tuan Emeth, bolehkah aku menyembuhkan lengan Allen?” tanya Anne. Emeth
berpikir sejenak dan menatap Elena. “Tidak apa-apa komandan Emeth.” ujar Elena
Emeth menjatuhkan Allen. Anne berlari mendekati Allen dan duduk di
sebelahnya. Elena dengan Fleuret maha panjangnya mengawasi Allen dan Anne.
Dengan sembunyi-sembunyi Anne mengeluarkan Plakat Platinum Hitamnya dan
berbisik. Sebuah air lembut meluncur dan membasahi lengan Allen. Selagi Allen
disembuhkan, Emeth menginterogasi Arche.
“Nah, sekarang ceritakan apa yang hendak kalian lakukan di sini? Aku yakin
kalian tidak sedang berpelancong ke Amarantie tanpa sebab bahkan sampai melakukan
strategi kabur palsu. Ada yang kalian cari di Amaranthie. Aku yakin itu.”
Allen menengokkan wajahnya pada Arche. Bila Arche menyuruh diam maka ia
akan diam. Arche memandang sekeliling, ia menghitung berapa pasang kuping yang
mendengarkanya.
“Kami mencari Saravine Mutia.” ujar Arche pendek. Allen langsung bingung.
Bukannya tadi bilang ‘tak boleh cerita’?
Bagi beberapa orang, nama itu sangat penting. Emeth bergeming dan Elena
berteriak tak percaya.
“Lanjutkan ceritamu.”
Emeth menggerakkan tombaknya sedikit dan tahu-tahu saja lutut Arche tergores.
“Dan aku tak ingin mendengar kebohongan.” Arche hanya menyunggingkan senyum
meringis. Bukan luka besar.
“Ikutlah dengan kami ke gua ShiWark. Akan kuceritakan dalam perjalanan.”
Arche membalikkan badan dan berjalan menaiki bukit. Luka di lutut itu tak
mempengaruhi cara berjalanya sama sekali. Ia masih tetap tegak dan tegar. Tak ada
roman kesakitan muncul sama sekali muncul dari wajah tampan Arche. Ia mulai
bercerita tentang Saravine.
“Hey, Arche... sebenarnya apa sih yang ada di kepalamu? Katanya kalau cerita
nanti Sara diapa-apain.” potong Allen sewot. Justru itulah reaksi yang ditunggu Arche.
Ia cuek saja membiarkan Allen terus bertanya-tanya sementara ia terus berceloteh
tentang Saravine. Angin segar senja gunung Farangi ditemani sedikit kabut membuat
Emeth dan Elena waspada. Terdapat kemungkinan Arche akan memanfaatkan kabut ini
untuk kabur. Belum lagi di sekeliling mereka terdapat banyak pohon dan semak lebat.
Sangat mudah sekali untuk bersembunyi setelah melarikan diri.
Mereka sampai di depan gua ShiWark tanpa satu kali pun Arche berusaha kabur.
Cerita Arche kebetulan diakhiri juga. Beberapa detil dihilangkan seperti misalnya
‘kepergian mereka adalah untuk mengobati Saravine’. Arche juga sama sekali tak
menceritakan tentang Anti-Lunae dan juga Broken Wishes Saravine. Allen mulai
meraba-raba mengapa Arche tidak mengatakan masalah ini. Ia juga mencoba berpikir
mengapa Arche tak mencoba kabur sedikitpun. Sayang otaknya sudah keburu meledak
sebelum berhasil mendapat jawaban.
Tulisan ShiWark Deity terpahat pada mulut gua. Tinggi gua itu kurang lebih 4
tombak dengan lebar 4 tombak. Gua yang cukup tinggi dengan dinding gua yang
terlihat rapih membentuk persegi. Sekitar 10 langkah ke dalam terdapat sebuah gerbang
besar dengan pola ukiran 3 mata di setiap sudut. Pada bagian tengah gerbang terdapat
sebuah lubang seukuran dua jari... mirip lubang kunci.
“Apa yang kau rencanakan?” tuding Emeth. Arche hanya tersenyum. Emeth pun
ikut tersenyum... nyengir. Tiba-tiba satu pukulan keras Emeth menghantam wajah
Arche. Arche terlontar dan menghantam dinding gua. Sudut bibirnya mengucurkan
darah. Ia beringsut perlahan dan berdiri tegak.
“Aku memang mencari Saravine Mutia di sini.” jawab Arche sekali lagi sembari
menepis darah dari sudut bibirnya.
Baik Elena dan Anne tahu, itu bukan jawaban yang memuaskan Emeth.
“Jelaskan!”
“Selama ini komandan pasti tahu bahwa mencari seseorang bukanlah perkara
mudah. Meski mengerahkan banyak Telik Sandi akan sangat percuma bila tak satupun
jejak Saravine ditemukan. Saat jejak Saravine ditemukan, ia sudah menjadi sosok yang
sulit dicari: Wishmaster berperingkat 15 besar dalam 1 benua. Nona Elena sendiri sudah
mengakui sulit mencari Wishmaster berperingkat tinggi. Belum lagi Wishmaster
mampu mengubah fisik mereka.” Elena mengangguk dan membenarkan
“Lalu apa hubungannya dengan kepergianmu ke gua ini?”
“Di dalam gua ini terdapat jawaban bagi masalah Wishmaster... dan Darkmaster.”
Elena tersentak mendengar kata Darkmaster diucapkan.
“Omong kosong! Gua ShiWark hanyalah sebuah situs bersejarah milik Scutleiss
yang memiliki banyak segel.”
“Bukankah itu yang menarik... komandan Emeth? Apa yang berada di seberang
segel pastilah benda yang tak sembarang.”
“Teori yang menarik tapi apa kau pikir kau bisa membukanya?” Emeth memutarmutar
ujung tombaknya di depan wajah Arche “Bahkan Mentalist dengan 4 titel saja tak
bisa mengurai segel dalam gua itu. Maksimal yang mereka ketahui adalah segel waktu.
Kau juga tahu itu karena kau yang kutugaskan meneliti.”
Arche tertawa pendek “Aku memang yakin pasti komandan Emeth pernah
mencoba mengurainya selama komandan menjaga daerah ini. Permaisuri hanya pernah
berkata bahwa benda yang berada di dalamnya adalah sesuatu yang berada di luar
komprehensi akal dan mental.”
“Dan bukan tidak mungkin sesuatu atau seseorang bisa bersembunyi di dalam
segel yang tak bisa dikomprehensi. Kemungkinan besar pula jawaban yang komandan
cari telah lama berada di dalamnya.”
“Cukup memungkinkan.” Tegas Emeth. “Tapi bagaimana caranya seseorang bisa
mendahului kemampuan Mentalist tingkat tinggi.”
“Mudah. Bukan seorang Mentalist atau kelas standar yang membuatnya.
Tentunya deduksi yang tersisa akan jatuh pada kelas-kelas tersembunyi seperti Assassin
atau Banishyardh. Sayang, kita sama sekali tak pernah terlibat pembicaraan dengan dua
kelas tersebut.”
“Kelas tersembunyi yang kau maksud Telik Sandi?”
“Telik Sandi memang adalah salah satu kelas tersembunyi…tapi jangan lupakan
fakta bahwa sejarah Scutleiss sendiri pernah didukung oleh satu kelas tersembunyi
lain.”
Ark, Rex, dan Anne menelan ludahnya. Pembicaraan Arche sepertinya mulai
merembet ke arah-arah yang tak mereka duga. Hanya Allen saja yang makin bengong.
“Darkmaster.” Desis Emeth mendeduksi.
“Tepat. Segel itu adalah buatan Darkmaster dan tentunya yang bisa membukanya
hanya Darkmaster.”
Emeth mendengus.
“Lagi-lagi teori yang menarik. Daya analisismu boleh saja mantap Arche tapi kau
kira mencari Darkmaster, kelas legenda itu mudah?”
“Kenyataanya memang mudah...”
Anne menelan ludahnya. Elena berjengkit waspada. Ia merasakan Denting
Keinginan Anne meluap-luap dalam batas yang membuat bulu kuduknya meremang.
Irama yang ia dengar bagaikan genderang dan derap langkah prajurit dalam perang;
Tumpang tindih dalam ritme maha cepat.
“Komandan pasti bertanya-tanya mengapa aku mengikuti warga sipil bukan?”
tanya Arche balik. Emeth mendelik. Arche melanjutkan “Komandan juga pasti akan
mengerti mengapa warga sipil itu menolak ajakan masuk kesatuan R-Knight padahal
berpotensi.” Emeth mengalihkan matanya pada Allen.
“Apa buktinya?”
“Allen.” Arche memanggil Allen.
“Eh? Kenapa Arche?”
“Kau bisa mengeluarkan Senjatamu bukan?”
“Bisa kok, cuma tak boleh kupakai saja.” Jawab Allen polos.
Allen, yang luka tangannya telah sembuh, hendak menarik Paraluna dari
Plakatnya. Ia terlihat kerepotan untuk mencapai scarfnya karena dirinya masih terikat
jejaring mawar. Sinar terang muncul dari balik scarf Allen. Seiring tangan itu bergerak
menarik, semakin jelas pula bentuk Paraluna.
Tapi sebelum Allen selesai menarik Paraluna tahu tahu saja Anne menghantam
rahang Allen. Pukulan itu sangat keras sampai-sampai Allen pingsan di tempat.
Paralunanya buyar seketika. Kepalan tangan Anne lecet berdarah. Tubuh gadis
itubergetar. Ia tak berkata apa-apa, hanya wajahnya yang memucat.
Elena ketakutan. Bulir-bulir keringat Elena mengucur deras. Bagi Wishmaster
yang bisa mendengar Denting Keinginan, irama dari Anne sangat mengerikan.
“Memang luar biasa ‘pahlawan dalam bayangan’ Scutleiss. Aku saja tak mampu
membuat Allen pingsan. Sekarang kalian pasti tahu mengapa aku tak bisa mengikat
nona Anne sebagai sandera bukan?” Arche bertepuk tangan. Anne, di lain sisi, mengigit
bibirnya.
“Tapi kurasa itu wajar. Nona Anne memiliki ketidaksukaan terhadap Darkmaster.
Dan sebagai info tambahan, Alexander Fangabell ternyata tak lain juga seorang
Darkmaster.” lanjut Arche. Anne tersentak.
“Tuan Arche!”
“Nona Elena!” potong Arche sebelum Anne menyanggahnya “Anda sendiri sudah
mendengar denting keinginan nona Anne. Bagaimana pendapat nona?”
Elena tergugu. Ia melihat semua khalayak di sana. Beberapa dari mereka mungkin
tidak akan percaya ucapannya.
“Benar... nona Anne memiliki denting keinginan yang menyakitkan saat
Wishmaster atau Darkmaster diucapkan.”
Arche kembali berargumen sebelum Elena sempat mengutarakan keraguanya.
“Tapi... sekarang Darkmaster kita ini pingsan oleh nona Anne. Jadi lebih baik kita
tunggu dia sampai bangun.”
Emeth menyipitkan matanya, menyeringai. ia menggeser tombaknya sedikit,
membuat barisan Elite Karnivora Merah merapat dan bersiaga.
“Oh, tenang saja komandan. Aku tidak bermaksud mengulur waktu.”
“Kalau begitu bangunkan dia!” ujar Rex mengedikkan kepala pada Allen. “Aku
tak suka membuang waktu untuk urusan kalian lebih lama.”
Arche sekarang melihat bahwa Rex bukanlah sebagai bala bantuan, melainkan
sebuah batu di antara gerigi kecil yang telah ia buat. Rex bisa saja membantu Allen tapi
bisa juga sebaliknya. Dan Arche tahu, Rex pasti memiliki rencana sendiri terhadap
mereka.
“Tuan adalah tamu komandan Emeth bukan? Untuk apa tuan ikut dalam
perseteruan ini?”
“Anda ini memang bodoh atau terlalu pintar? Tak bisakah anda melihat
keberadaan kami di sini sebagai saksi kejahatan anda.”
Arche tertawa mendengarnya. “Aku sangat terkesan sekali dengan tuduhan anda,
tuan.”
“Menyandera, menyulik, desersi bahkan berkomplot dengan penjahat. Anda boleh
tenang tuan tertuduh, banyak saksi yang akan membuat nyawa anda disucikan di
Justicia.” tegas Rex sekali lagi “Oh, dan belum lagi mengarang-ngarang cerita tentang
Darkmaster sebagai upaya untuk melarikan diri.” Rex menoleh pada Elena “Nona
Wishmaster kita satu ini pasti dapat merasakan adanya ancang-ancang kabur dari
kriminal kita ini bukan?”
Elena mengangguk lemah. Kembali Rex mengucapkan “Kalau begitu bangunkan
saja dia dan suruh dia membuktikan statusnya saat ini. Kita akan buktikan apa anda
akan menambah hukuman anda atau tetap dengan daftar yang ditetapkan.” Mata Rex
menyipit senang.
“Litosu benar, bangunkan anak itu! Bila benar dia adalah kunci untuk mencari Si
Anak Hilang maka ia harus menunjukkan jalanya.” tegas Emeth.
“Sayang, aku tak berani. Darkmaster memiliki sifat buas bila dibangunkan secara
paksa,” kilah Arche lagi “Benar begitu bukan, nona Anne?”
Anne terdiam... ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk berkata
jujur atau mengikuti ucapan Arche yang memiliki sedikit kebohongan. Bila boleh
dikata, memang benar Allen akan menjadi ‘liar’ bila dibangunkan paksa. Allen juga
adalah Darkmaster tapi tak semua Darkmaster sama seperti Allen.
“Aku tak tahu... mungkin saja begitu...” jawaban Anne 50-50. Ia masih tak tahu
sudut mana yang ia pilih. Ia sendiri tak habis pikir, apakah ucapan ini sebenarnya
direstui oleh Dark Nature atau memang hanya murni keinginan pribadinya.
“Kalau begitu, biar aku saja yang membangunkannya. Sebuas-buasnya dia takkan
bisa menandingiku.” Emeth maju kedepan.
Arche tersenyum. Brusol tak lagi diarahkan padanya. Jemari tangannya mulai
mendesirkan angin keras. Elena berjengkit waspada.
“Biar aku saja, tuan Emeth.”
Justru Anne yang mengajukan diri. Emeth tertegun, ia menengok pada Arche
seolah mencari penyangkalan bahwa Anne berbicara seperti itu. Tapi begitupun Arche.
Tanpa menunggu persetujuan Emeth maupun Arche, Anne mendekati Allen dan
membungkuk. Ia mencondongkan wajahnya mendekati wajah Allen. Arche dan Emeth
mulai gelisah. Emeth melirik pada Elena. Elena justru tak dapat berkata apa-apa. Ia juga
gelisah ber’aah-uuh’ saja.
Mata Anne menutup dan semakin mendekat pada bibir Allen. Urat tak suka
Emeth mulai keluar... begitupun Arche. Elena mulai berjingkat-jingkat mundur... ia
jelas mendengar Denting Keinginan yang tak beres di antara keduanya.
“Nona Anne...” tegur Arche mendahului Emeth. Anne menghentikan gerakannya.
“Apa yang hendak anda lakukan? Bukankah kau tidak suka pada Darkmaster?”
tanya Emeth. Leher mereka berdua menegang dan mulai melancarkan aura tak suka
level 1 pada Allen.
Anne justru tersenyum dan dengan gerakan cepat ia menyium kening Allen. Dua
orang, Arche dan Emeth, langsung memberi aura TAK SUKA level 9 pada Allen.
“Bangunlah Allen.” bisik Anne lembut.
Sikap Anne barusan seolah menantang ucapan Arche.
“Kuyakin dengan begini Allen tidak akan menjadi buas setelah dibangunkan.”
Anne menatap lurus pada Arche. Kekecewaan yang tergambar di mata hitam
Anne menjadi peran ambigu bagi yang melihatnya. Ia menghela napas panjang lalu
mengucapkan
“Lagipula, akulah yang telah menjatuhkannya jadi aku pulalah yang bertanggung
jawab membangunkanya.”
Allen terbangun. Ia mengerjapkan mata. “Oh, halo kakak Anne.” diberikan pada
Anne saat ia sudah mengenali jelas siapa yang duduk di sampingnya. Saat Allen hendak
menyapa Arche justru ia dijitak dengan keras oleh Arche. Allen sempat mendengar
kalimat “Bocah beruntung” dari gumaman Arche. Allen hanya bisa meringis tak
mengerti pada Arche. Ia hanya tahu jitakan Arche barusan setara dengan jitakan kakek
Greul... dan jitakan itu menyadarkanya dari igauan bangun tidurnya.
“Kalau dibangunkan dengan cara begitu aku juga mau.” komentar Emeth. Dan ia
pun merebahkan diri di tanah. Khalayak hening. Orang tua satu ini... entah hendak
melucu atau apa sih?
Tiba-tiba Elena bergerak cepat dan berdiri menghadang Arche. Fleuret kayu
Elena terhunus pada Arche. Suasana langsung berubah tegang.
“Komandan Arche... kumohon jangan macam-macam. Aku sempat mendengar
irama ting-tang-tung-tang dari tuan... komandan Arche ingin menyerang komandan
Emeth tadi ya?”
“Haha sayang sekali Arche, di sampingku ada radar kecil yang tak sembarang
orang punya. Jangan harap kau bisa macam-macam denganku.” ujar Emeth sembari
bangun. Ia mengusap kepala Elena sembari berujar “Kecepatan reaksi Elena membaca
bahaya jauh lebih cepat dari anjing pengendus sekalipun.”
Arche menyunggingkan senyum. Tidak membenarkan tapi tidak menyangkal.
Elena makin was-was. Sayang, was-was Elena itulah yang ditunggu-tunggu oleh Arche.
“Mari kita masuk. Bukankah sekarang sang Darkmaster kita sudah bangun?”
tawar Arche.
“Apa kau lupa untuk masuk kita membutuhkan Grand Emblem? Gerbang ini
ditutup oleh segel Matilda.” tegur Emeth. Ia mengetuk kepala Arche dengan
tombaknya.
“Oh kebetulan sekali. Allen adalah salah satu dari pemilik Grand Emblem. Dia
baru saja menang di turnamen tahunan negara.”
“Turnamen tahunan?” Selidik Rex.
“Benar tidak Allen?”
Allen mengangguk sembari mengusap-usap benjol di kepalanya.
“Aku heran mengapa bocah satu ini bisa patuh padamu? Jangan-jangan kalian
sedang merencanakan sesuatu.” tuduh Emeth sembari mengacungkan kembali
Brusolnya didepan hidung Allen.
“Dia punya hutang janji kepadaku. Ia akan mengikutiku sampai janjinya selesai.”
Emeth melirik pada Elena. Elena hanya memberi satu anggukan lemah. “Sangat
nyaman sekali. Kau bisa membuat Darkmaster patuh padamu.” komentar Emeth.
“Komandan juga sama. Anda bisa membuat Wishmaster patuh.”
Keduanya kompak saling memberi senyum sombong, tak mau kalah.
Arche meminta Allen mengeluarkan Grand Emblem. Piagam kecil itu
dimasukkan pada sebuah lubang kunci kecil. Gerbang gua itu terbuka dengan suara
bergemuruh diiringi decit yang aneh.
Cahaya-cahaya remang berwarna merah, biru atau putih menghias dinding dan
menerangi lorong gua yang penuh dengan lumut Cristhl. Remang lumut Cristhl ini
membuat Allen merasa seperti berada di jalan rahasia pohon Alfillatis solais. Hanya
saja, pada jalan rahasia pohon Alfillatis solais tidak terdapat akar-akar pohon Akairn
dan Pinusaku yang menembus langit-langit gua. Tanah yang lembek dengan aroma air
yang segar, gua ini sepertinya dilewati oleh nadi air.
“Nah sekarang tunjukkan jalannya.”
“Dengan senang hati.” ujar Arche.
Arche berjalan di depan. Diikuti Emeth, Elena, dan Anne. Allen, Ark, dan Rex
berjalan 1 langkah di belakang mereka dan diikuti pasukan elite lain. Pasukan ini tak
pernah bicara sepatah kata pun selama perjalanan. Lain dengan Emeth yang dengan
santainya justru makin cerewet. Allen yang juga cerewet justru akhirnya menjadi teman
ngobrol Emeth. Tak jarang keduanya tertawa bersama-sama. Andai tidak ada masalah
ini mungkin saja mereka berdua akan menjadi sahabat baik.
Dalam perjalanan, sesekali Elena bersikap tegang dan berteriak-teriak sendiri. Ia
selalu beralasan bahwa Arche berniat menyerang Emeth tapi toh pada akhirnya hanya
dibalas dengan senyum Arche. Emeth menepuk kepala Elena untuk menenangkan gadis
itu. Bagi Elena, Denting Keinginan Arche yang berganti-ganti amat menyebalkan.
Mereka sampai di dekat sebuah jurang dengan sungai dekat sebuah pertigaan.
Suara derasnya air sungai dan Denting Keinginan Arche yang bergonta-ganti membuat
kepala Elena pusing. Elena yang tak kuat lagi misah-misuh akhirnya berkomentar
“Komandan Arche senang mengerjaiku ya? Komandan sama saja seperti
komandan Emeth.”
Arche bersiul. “Asyik bukan bisa mendeteksi keinginan seseorang? Kurasa
sekali-sekali kau harus mencicipi bingungnya mendeteksi orang berkeinginan aneh
sepertiku.” Elena langsung cemberut. Berketerbalikan dengan Arche yang puas.
Allen yang memperhatikan mereka justru tak mengerti
“Arche, sekarang kamu naksir Elena ya?” tanya Allen polos.
“Tebak!” jawab Arche pendek. Tiba-tiba Elena Tersipu “Aaa~ komandan Arche
bisa saja. Jangan begitu dong ah~” sehabis malu-malu-mau tiba-tiba Elena kembali
waspada “Komandan Arche~!” Fleuret Elena sekarang kembali terhunus pada Arche.
Elena terus memandangi Arche. Ia sama sekali tak melihat ada gerakan mencurigakan
dari Arche. Arche hanya menggerak-gerakan jarinya saja dalam keremangan membuat
gestur meledek.
“Tapi Capek Komandan Emeth~!”
Tahu-tahu saja Elena berteriak seperti itu. Hening. Elena kemudian menutup
mulutnya. Ia langsung pucat, ia memandangi khalayak di sana satu persatu. Pucatnya
bertambah saat melihat senyum sinis Arche. Elena tahu ia telah membuka rahasia di
hadapan Arche; Komandan dengan kemampuan Telik Sandi + R-Knight ini. Hanya
Allen saja yang tidak kaget. Ia sudah pernah mendengar ini dari Saravine walau tak
tahu apa gunanya.
“Ternyata benar inilah cara kalian berkomunikasi. Pantas saja kalian bisa kompak
memberi perangkap dan bertukar informasi dengan cepat. Kalau caranya seperti ini
Perkamen Bisikan tidak akan laku.” komentar Arche.
“Wah- wah ternyata sudah ketahuan ya? Apa mau dikata.” ujar Emeth sembari
mengorek kupingnya. “Toh tahu itu saja tidak akan mengubah fakta kau berniat kabur.
Dan tetap tidak mengubah fakta Elena menjadi pengawas keinginanmu.” ujar Emeth
santai tapi Brusol miliknya mulai buas mendesis dan menghembus tanah. Warna Brusol
berubah menjadi coklat.
“Benar sekali.”
Sehabis ucapan ini, Elena merenggangkan kuda-kudanya. Ia tak melihat Arche
menaikkan tangan dan memainkan jemarinya.
“Ah iya, nona Elena, apa menurutmu kebebasan angin bisa dideteksi?”
Tanya Arche tiba-tiba.
“Aaa~?”
Baru saja menjawab seperti itu tahu tahu saja mereka sudah dikepung oleh
puluhan bulu merak. Emeth langsung tahu apa arti bulu merak yang mengepung
mereka. Ia hendak berreaksi.
“Telat... komandan Emeth.” ujar Arche.
“Efee There Sight!”
Teriakan Arche diiringi gerak tangannya menebas kebawah membuat bulu-bulu
merak yang mengepung mereka mendadak memecah mengganda. Badai bulu merak
menutupi pandangan semua, menghilangkan keberadaan Arche sekaligus memisahkan
mereka semua.
“Epee Prism!” tambah Arche sembari mengayunkan tanganya.
Bulu-bulu merak di sekitar Arche berubah menjadi Rapier-Rapier kecil dan
berputar bagai taifun kecil mengelilingi mereka. Bagi Emeth dan Elena, ini bukanlah
masalah besar bila dipakai untuk menyerang. Mereka tahu, kemampuan Arche satu ini
tak lebih dari perangkap sementara. Sekali mereka mengibas maka lenyaplah semua
bulu-bulu merak dan ilusi Arche. Masalahnya...
Arche memakai ini untuk kabur...
Mereka mendengar suara benda tercebur air. Anne dan Allen sudah tak ada lagi di
tempat. Tiga persimpangan.
Kemanakah Arche pergi?
Emeth justru tersenyum senang. Ia melirik Elena. Ia tak perlu menebak kemana
Arche pergi.
“Mereka menceburkan diri komandan Emeth.”
Mungkinkah Arche tak sadar akan kemampuan Wishmaster untuk melacak
keinginan dalam radius tertentu?
Elena benar. Allen, Arche dan Anne sedang berenang mengikuti arah arus yang
semakin lama justru semakin dalam menuju gua. Allen yang masih terikat harus megapmegap
berenang. Melihat ini, Anne mengeluarkan Paralunanya: Aqua Thyme
“Atas nama Air, Aqua Thyme, aku meminta kemurahan kehidupan pada dunia.”
Ucapan Anne tidak terganggu sama sekali oleh laju arus air. Sebuah gelembung
air kecil meluncur dari sisa ¼ lengkung Aqua Thyme dan membungkus mereka semua.
Ombang-ambing arus air tak lagi mempengaruhi mereka.
“Arche, sekarang kita harus ke mana?” tanya Anne saat melihat dua percabangan
besar.
“Kiri.” ucap Arche. Anne menggeser tangannya ke kiri membuat gelembunggelembung
kompak bergerak ke kiri. Arche menjadi ‘pramuwisata’ kelompok kecil
mereka sementara Anne menjadi supir penggerak... Allen? Penumpang pertama
perjalanan mereka berdua ini hanya bisa cekikikan di belakang melihat kekompakan
mereka berdua.
Arche sesekali melempar bulu Merak. Entah untuk apa. Jemarinya tegas memilih
jalur lemparan. Kadang satu di antara pertigaan, kadang tidak sama sekali, kadang
justru tiga jalur dipilihnya.
Mereka naik kembali saat Arche melihat ada batu besar berbentuk mangkuk
hitam besar diantara 3 persimpangan lain. Gelembung Air lenyap selang 3 detik mereka
tak lagi berada di air. Tubuh mereka juga tidak basah sama sekali.
Langit-langit gua dipenuhi lumut putih terang. Bukan remang. Terangnya
menjadikan langit-langit bagai disinari bulan purnama.
“Kita berhenti sebentar disini. Aku minta waktu sebentar untuk mengawasi
gerak-gerik mereka.” Arche menjauh dari mereka. Ia membutuhkan konsentrasi
matang.
Anne memanfaatkan waktu untuk melepas jejaring mawar yang mengikat Allen.
Jejaring itu melayu lembut tatkala tangan Anne menyentuhnya. Mata Allen berbinarbinar
dalam kekaguman. Ia sedari tadi berusaha melepasnya tapi justru makin terikat.
“Wow, tangan kakak Anne hebat. Sekali sentuh saja langsung lepas.”
“Tak semua hal bisa dipecahkan dengan kekerasan.” ujar Anne lembut.
Setelahnya ia terdiam dalam luruh layu mata lembutnya “Maafkan aku Allen... maafkan
aku karena telah memukulmu tadi.”
“Aiya, tak masalah ah... Itu... tangan kakak Anne... obati dong. Serem
melihatnya...lagipula aku takut ada yang misah-misuh nanti.” ujar Allen dalam
lirikannya pada Arche. Anne mengabulkannya, walau sebenarnya ia ingin agar luka
tersebut menjadi pengingat.
...
Allen mulai tak betah.
“Lama ya?”
Sebagai angin, sebagai kebebasan, Allen memilih untuk berputar-putar dalam
ruangan. Sesekali melontarkan diri ke langit-langit dan bergantung di sana layaknya
Kelelawar. Saat mulai begah maka ia akan pindah ke lokasi lain.
Lain Allen, lain Anne. Gadis itu memilih untuk diam merenung memandangi air.
Citra dirinya beriak sejenak, membuat senyum kecut pada wajah lembutnya. Ia tak
tahan lagi terhadap duri yang menusuk hatinya. Langkah pendeknya bergeser tanpa
suara, menuju Arche. Ia punya masalah yang harus diungkapkanya pada Arche.
Ia memandangi Arche yang menutup mata dan berkonsentrasi. Pria di
hadapannya itu mengerenyitkan dahi dan menelurkan peluh-peluh keringat. Anne
mengurungkan niat untuk mengusiknya. Hal terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah
memberi kesembuhan dan dukungan. Ia mendekat dan menempelkan tangannya di lutut
Arche yang terluka. Bisikan halus Anne membuat tangan putih itu berpendar biru.
Saat itulah Arche menangkap jemari tangan Anne yang mencoba
menyembuhkannya. Dengan mata tertutup, ia membawa tangan itu ke depan
hidungnya. Arche menghirup aroma segar jemari Anne. Sehirup-dua hirup sampai
akhirnya Anne menarik tanganya perlahan. Keengganan Anne untuk mengganggu
akhirnya terhapus. Bibir basahnya berujar.
“Arche... aku kurang setuju terhadap kebohongan yang kau katakan pada tuan
Emeth.”
Konsentrasi Arche pecah oleh ucapan Anne. Ia membuka mata, sedikit terganggu,
dan menjawab
“Manipulasi Informasi adalah santapan sehari-hari seorang Telik Sandi. Mereka
yang tidak tahu metode verifikasi dengan baik akan dipusingkan oleh kebenaran.”
“Tapi kau kejam sekali... Alexander sudah meninggal. Tidak seharusnya namanya
dicoreng oleh kebohongan.”
Dan jawaban inilah yang paling tak ingin Arche dengar dari Anne.
“Kebohongan dan Kebenaran hanyalah masalah pembuktian saja! Bagi mereka
yang tak bisa membuktikan maka perkataanku itulah yang menjadi kebenaran! Dan
mereka tidak akan mampu mendapat jawaban sebenarnya dari orang yang telah
meinggal.” jawab Arche ketus.
“Kebohongan bukanlah kebenaran dan Alexander bukanlah Darkmaster... itulah
kebenaran.”
Mau tak mau, Arche terganggu oleh ekspresi kecewa Anne. Entah berapa kali ia
melihat Anne kecewa atas hal yang ia utarakan.
“Kau sendiri juga sama saja, kau menyimpan kenyataan bahwa kau juga seorang
Darkmaster di hadapan mereka. Bukankah itu adalah sebuah kebohongan?”
“Aku akan berkata jujur bila mereka bertanya.”
Arche tak percaya. Romannya berubah kelam sejenak menyadari hal lain akan
ucapan Anne.
“Benar... Kau benar. Secara logika tak mungkin mereka dapat percaya kau adalah
Darkmaster. Penampilanmu sama sekali tak mencerminkan kelasmu. Anggaplah diriku
salah dalam bertindak.”
Dan Arche kembali pada ritualnya. Ia kembali mengintai melalui ‘mata’ bulu
Meraknya. Kembali Anne bertanya.
“Aku tak mengerti dirimu Arche... saat kau menumbalkan Allen kau telah
membuat diriku dalam posisi tak suka pada Wishmaster dan Darkmaster. Kau bahkan
membuat alasan Alexander adalah Darkmaster... untuk apa?”
“Untuk melindungi identitasmu...” jawab Arche tegas tanpa membuka matanya.
“Apa karena aku Darkmaster lantas kau perlu membuat sebuah kebohongan untuk
menutupinya?”
Kali ini, Arche harus menjawab sepenuh hatinya. Nada suara Anne
menggelosorkan tekanan yang tak ia suka.
“Mengapa kau menanyakan hal itu? Sudah jelas agar Emeth dan Elena tidak
memberi perhatian lebih padamu. Kau pikir Emeth bisa percaya lagi setelah tahu dirimu
Darkmaster? Hubunganmu dengannya sudah baik. Apa kau juga ingin mereka
membencimu?”
Anne menggigit bibirnya. Ia tahu kalimat pedas itu ditujukan untuk
melindunginya. Tapi ia tetap tak suka, baginya terdapat batasan nyata dalam masalah
ini.
“Bila begitu, jangan berbohong sedari awal. Ketidakjujuran hanya akan membuat
Dark Nature marah. Aku yakin, tuan Emeth tidak akan begitu saja marah bila aku
mengakuinya.”
Arche menepuk kepalanya. Jawaban Anne sangat mengganggunya “Apa yang
kau tutupi itulah kebohongan! Dan bagi mereka itulah kebenaran! Walau kau berdalih
tidak berbohong juga tetap saja akhirnya kau akan dilihat sebagai pembohong. Aku
yakin mereka mulai curiga saat kau membangunkan Allen tadi.” Anne terdiam,
menunduk. Ia menimang-nimang masalah dalam kepalanya yang sedari tadi dilihatnya
pada diri Arche.
“Apa kau marah karena aku mencium kening Allen?”
“Tidak Relevan!” jawab Arche pendek.
Allen mendengar pembicaraan mereka berdua. Awalnya ia ingin menganggu tapi
ia mengurungkan niatnya. Ia tak mau mengganggu percakapan serius mereka sampai
dua (atau tiga) kali. Ia pura-pura saja asyik memandangi lumut dan mencoba untuk
mengalihkan perhatianya dari percakapan mereka.
“Aku mengerti tentang statusmu sebagai Darkmaster dan aku bisa mengerti
reaksi dan sikapmu terhadap tugas... tapi tidak perasaanmu... kau terlalu peduli perasaan
orang lain.” tekan Arche “Aku harus memutar otakku agar dirimu sebisa mungkin tidak
terlibat dalam masalah kami berdua.”
“Ini bukan lagi masalah kau dan Allen saja... ini sudah menjadi masalah ‘kita’.
Semenjak aku ikut kalian, aku sudah siap menanggung semua yang akan terjadi.”
“Tidak! Aku takkan membiarkan kau kena getah atas ulah kami berdua. Aku dan
Allen sudah buruk di depan mata Emeth. Biarlah ia nanti menilaiku pembohong, toh
pada akhirnya kau akan dianggap sebagai korban.”
Anne terdiam mendengar jawaban Arche.
“Aku tak bisa setuju terhadap pengorbananmu dan juga pada kebohonganmu.
Lagipula... dengan perkataanmu barusan, aku menjadi dibingungkan akan kebenaran
perkataanmu tentang semua hal.”
“Itu Keinginanmu untuk percaya atau tidak kepadaku.”
“Aku percaya padamu. Aku percaya pada tujuanmu,” jawab Anne lurus “Tapi aku
tidak suka caramu dalam mencapai tujuanmu.” Anne tersenyum “Maaf bila telah
menyinggungmu. Apabila kau punya keluhan terhadapku mohon diutarakan saja.”
Arche hanya menghela napas. Ia tak punya komplain lain.
Perhatian Arche kembali pada pindai bulu Meraknya. Ia memejamkan mata,
gambaran-gambaran lingkungan yang terpindai olehnya berkelebat satu demi satu.
Arche mengedikkan alis dan tersenyum senang. Reaksi spontan atas hasil yang ia
dapatkan.
“Kita sudah aman. Elena ternyata hanya mampu memindai sampai jarak 20
tombak. Mereka mungkin berpikir aku tak tahu Wishmaster bisa memindai keberadaan
tapi mereka salah. Dan mereka sudah salah menempuh jalan. Sekarang saatnya kita
bergerak.” Ujar Arche menutup pembicaraan
Kembali Arche menebar bulu Meraknya. Satu di depan pintu masuk. Satu lagi
justru dilesatkan jauh pada cabang lain.
“Ikuti Aku!”
Arche melesat cepat memasuki jalan yang diberi bulu merak. Allen dan Anne
bergerak mengikuti.
“Arche, sedari tadi aku heran. Buat apa sih kamu taruh bulu merak itu? Penunjuk
jalan buat mereka?”
“Aku melakukanya agar mereka bingung.”
“Maksudnya?”
“Kalau ada dua jalan tanpa keanehan pasti siapapun mudah memilih karena tahu
tidak ada resiko apapun tapi bila di antara dua jalan ada satu yang aneh maka otomatis
mereka akan berpikir sejenak.”
“Terus kenapa kita justru lewat yang ada bulu meraknya?”
“Dalam kepalamu pasti kau berpikir bulu merak adalah penunjuk jalan tapi
bagaimana dengan orang lain? Bisa jadi mereka akan berpikir bahwa bulu Merak adalah
pertanda jebakan yang kupasang.”
“Ooh... terus kenapa kau lempar satu bulu merak ke cabang lain?”
“Itu menjadi sebuah pemanis perjalanan mereka. Aku hanya menambahkan
sebuah kemungkinan saja bahwa pilihan mereka bisa jadi benar. Bohong, aku
memancing mereka menuju tempat yang salah. Labirin ini sebenarnya mirip sarang
lebah yang berbentuk hexagonal hanya saja percabangannya tidak langsung berbuah 6.
Bila kau perhatikan, setiap cabang membentuk tiga jalan yang sebenarnya saling
bersambung.” ujar Arche. Allen bengong, satu-satunya ucapan apresiasi yang bisa ia
ujarkan hanyalah
“Wah keren ya. Berarti mereka bisa dibikin pusing cuma gara-gara bulu Merak
asal lempar saja.”
“Sekuat-kuatnya manusia pasti akan bimbang pada dua buah pilihan.”
“Dan Dark Nature lah yang akan membimbing pada jalan yang lurus.” jawab
Allen senang. Arche tersenyum dan mencoba mengerti.
“Tapi tetap saja semua itu bisa menjadi bumerang,” balas Anne. “Kebohongan
adalah keinginan yang penuh cela dan pada akhirnya akan menjadi duri tajam bagi
pihak yang dibohongi.” Arche membenarkan (dalam hatinya). Bisa saja apa yang ia
lakukan justru mempercepat pertemuan. Iapun tahu logika terbalik ini sebenarnya bisa
menjadi petunjuk utama keberadaan mereka.
Tak sampai teh mendingin, mereka tiba di depan sebuah gerbang batu besar
berwarna hitam. Pada bagian atas gerbang tersebut tercetak sebuah emblem busur besar
dengan tiga titik kecil di sisi kiri, tiga di kanan dan 1 lingkaran besar di atas busur
besar.
“Lambang ini...” desis Anne. Ia mengusap gerbang menepis lambang busur yang
sudah lapuk termakan usia. “Radiata et Radial Hexa sigma Ein... Gerbang inilah Segel
Baris Penadah Bulan.”
Arche menyiapkan bulu-bulu meraknya.
“Tampaknya aku salah menghitung waktu. Sekarang kita harus menunggu dan
berputar-putar agar tidak bertemu lagi dengan kelompok komandan Emeth.”
Sayang, Arche salah.
Gerbang itu tiba-tiba saja terbuka. Derit suaranya begitu dalam. Arche tak habis
pikir. Ia kembali menghitung waktu dengan jemarinya. Mungkinkah mereka beruntung
datang pada saat yang tepat?
Saat melihat tetangganya, ia menyaksikan...
Anne dan Allen terduduk mencengkram tanah dengan keras. Berbagai denging
keras menyambar kepala mereka kala gerbang terbuka.
“Apa yang terjadi?!” teriak Arche yang tak merasakan apa-apa.
Allen berteriak! Ia bisa jadi gila karena suara yang didengarnya. Bulir darah
meluncur dari sudut bibir dan hidungnya. Allen terengah-engah. Napasnya memendek
satu dua. Plakat Platinum Hitam melayang ke depan bibirnya.
“Area level 5... Kekuatan level 5...” desis Allen dalam separuh sadarnya.
“ANGIN!!” teriak Allen.
DUAR!!
Angin meledak keras.
Arche nyaris saja menghantam tembok. Reaksi mencabut dan menancapkan
tombaknya di tanah membuat ia tak terhempas jauh. Sayang ia membayar cukup mahal.
Beberapa bagian dari zirahnya retak termakan angin. Beberapa helai rambutnya
terpotong. Dinding gua ShiWark bergetar keras dan mulai menyerpihkan debu-debu
dan pasir panas. Anne tak jauh berbeda dengan Allen, ia terlihat nyaris tak mampu lagi
menahan dirinya.
“Area tingkat 5... kekuatan tingkat 5...” kali ini giliran Anne.
“...Air...” desis Anne lemah. Tubuh Anne mendadak lunglai seolah semua
tenaganya terhempas keluar. Begitupun dengan Allen... lalu, bagaimana efek ucapan
Anne?
Setetes demi setetes air merembes melalui langit-langit gua, melalui tanah dan
dinding-dinding gua. Semakin lama debitnya semakin besar, dari menetes jadi
mengucur. Arche menunggu apa yang akan terjadi. Ia tahu, Anne sama sekali tak
pernah menggunakan kekuatan tingkat 5 selama bersama mereka. Arche berani
bertaruh, pastilah tingkat itu amat berbahaya.
Dalam waktu singkat, air-air di sekeliling mereka naik sampai setinggi lutut.
Sementara di sana, Anne dan Allen masih saja terlihat dalam kondisi tak sadar. Mereka
bahkan sudah mengapung. Arche mengambil inisiatif lebih dahulu. Ia mengembalikan
tombaknya menjadi bulu merak. Ia melesat dan menyambar tubuh Anne dan Arche.
Tanpa ba bi bu, ia langsung saja melewati gerbang.
Arche mendengar suara riak air yang aneh. Air yang sudah sampai selutut mereka
mendadak tergulung ke belakang. Ia menengok, dan menyadari... air yang berada di
belakang mereka mendadak menggumpal. Gumpalan itu menjadi makhluk hidup
menyerupai jelly yang menyerap air-air yang berada di sekelilingnya. Makin lama
makin besar. Tak hanya itu, saat air sudah yang disedot sudah habis, gumpalan besar itu
bergerak mengejar Arche yang berlari.
Gumpalan itu lambat. Arche dapat mengecohnya dalam beberapa tarikan napas.
Arche menghela napas. Ia tersenyum karena tahu gumpalan tersebut dapat
menghambat Emeth dan rombonganya.
Arche menghentikan larinya setelah merasa cukup jauh dari gumpalan. Ia melihat
sekeliling dan kembali menyebarkan bulu-bulu merak sebagai pengawas. Arche
merebahkan Allen dan Anne setelah merasa benar-benar aman. Arche tahu, ia harus
membangunkan mereka agar perjalanan lebih mudah. Membawa dua tubuh + mengatur
bulu merak pengawas miliknya sangat menguras energi.
Arche memandangi lekat-lekat Anne yang sedang terlelap. Arche... sebagai
seorang R-Knight yang diajarkan sopan santun, mengendap-endap dan mendekati
Anne. Ia mendekatkan wajahnya pada Anne. Arche berhenti sebentar, pergolakan batin
membuatnya ragu akan tindakannya. Bila ia mengambil kesempatan ini maka ia telah
mencoreng nama R-Knight tapi dihadapanya kini Anne sedang terlelap. Ia juga tidak
bisa disalahkan bila membangunkan dengan cara (bodoh) yang akan ia lakukan.
“Bangunlah Anne.” bisik Arche.
Ia mengurungkan niat awalnya dan hanya melakukan hal yang ia rasa pantas.
Bukan, Arche sendiri sepertinya mengingat hal yang menyebalkan. Anne mengerjapkan
mata dan menyadari Arche yang berada di depanya.
“Arche?”
Anne melihat wajah serius Arche. Wajah yang ditunjukkan Arche saat bercerita
tentang masa lalunya dengan anak gadis paman Irium Illa.
“…Apa kau memikirkan tentang cinta masa lalu-mu?”
Anne mengulurkan jemarinya dan menyentuh dagu Arche. Simpati yang
ditunjukkan Anne membuat wajah Arche semakin serius.
“Maaf.” ujar Arche. Entah untuk apa.
“Hayoo~ apa yang tadi mau kamu lakukan sama kakak Anne? Pakai minta maaf
segala.”
“Memangnya tadi apa yang hendak kau lakukan, Arche?” tanya Anne
“Bu... bukan apa-apa. Kurasa Allen hanya salah lihat saja. Kau baru bangun tidur
bukan? bisa saja matamu salah.” Arche mengelak tanpa mengubah intonasi suaranya.
Datar... dan justru mencurigakan bagi Anne...
“Allen, tolong ceritakan padaku.”
“Wah tadi itu Arche mau mencium kakak Anne loh.” tanpa ba-bi-bu ala ember
bocor Allen membeberkan maksud hati Arche… dan benar-benar ditambah bumbu.
“Benar begitu tuan Arche?”
Ranjau darat terinjak. Kekecewaan mulai terlihat dari ekspresi Anne.
“Tapi tidak jadi. Arche akhirnya hanya bisik-bisik saja tuh di kuping kakak
Anne.” Anne tertegun “Syukurlah kalau begitu... kupikir Arche sama saja dengan yang
lain.” Keputusan Arche rupanya benar. Hampir saja ia (tambah) merusak hubungannya
dengan Anne.
“Jadi setelah ini kita harus kemana? Aku sudah tak sabar ingin lihat senyum Sara
lagi.” Allen mulai berlari-lari ditempat.
“Hanya tinggal 100 tombak lagi dari sini. Di persimpangan di depan kita akan
belok ke kiri dan sampai pada pintu dengan segel terakhir. Segel Grand Matilda.”
Jawab Arche.
“Wow, kamu hafal sekali ya. Seperti Sara saja.”
“Jaring Ingatan Allen, Jaring Ingatan.”
“Terus siapa yang jadi orang yang selalu kamu ingat?” seloroh Allen.
“Masa laluku.” Jawab Arche datar. Romannya berubah kelam akibat jawaban itu.
Anne menyadarinya dan meminta Allen untuk tidak bertanya lebih lanjut. Perjalanan ini
semakin lama semakin menggurat memori yang telah lama melukai Arche. Diam,
akhirnya menjadi teman perjalanan.
Mereka sampai di depan gerbang putih yang terbuat dari kayu. Lapuk sama sekali
tidak tercetak pada gerbang tersebut meski berada dalam kelembaban yang cukup
tinggi. Pada bagian kiri dari gerbang terdapat sebuah cekungan mirip lubang kunci.
Arche mencoba mendorong bahkan menebas dengan R-Verse tapi gerbang ini
sama sekali tak bergeming. Lecet saja tidak.
“Tidak lecet. Inilah Segel Grand Matilda. Lalu? Sekarang bagaimana kita
membukanya?” tanya Arche pada Allen.
“Hah?” Allen membulatkan mata mendengarnya. Ganti Arche yang berkeringat
dingin.
“Allen... bukankah kau ke sini karena telah tahu cara membukanya?”
“Errr... aku lupa... kayaknya kakek Greul pernah bilang dulu.”
“Jaring Ingatan Allen, coba ingat dengan Jaring Ingatan!” desak Arche.
“Sara...jitakan kakek Greul... segel-segelan... Dark Nature...”
Allen terus saja bergumam. Sebenarnya seberapa panjang ia menggambar Jaring
Ingatan dalam kepalanya? Arche kembali memutar otaknya.
“Kurasa kunci gerbang ini berkaitan dengan seluruh atribut kalian sebagai
Darkmaster. Sampai saat ini tidak ada yang bisa membuka gerbang ini walau
menggunakan metode merusak segel. Besar kemungkinan, senjata kalianlah sebenarnya
kunci utama gerbang ini. Mengingat kalian sendiri tak pernah tahu keberadaan gua ini
dan juga bahwa kalian tak boleh menggunakan senjata kalian sembarangan.”
Anne sedikit menyangsikan itu. “Sayangnya tak ada bukti kuat yang mengarah
kesana. Bisa saja dibutuhkan kekuatan seorang Wishmaster.” Arche membenarkan juga.
Ia hanya punya asumsi saja.
“AH AKU INGAT!! Kata kakek Greul segel itu cuma bisa dibuka oleh Paraluna!
Kakek Greul bilang, kalau tidak salah ingat ya, Segel ini dibuat supaya cuma
Darkmaster saja yang bisa masuk.”
Anne dan Arche saling pandang “Analisismu jitu sekali. Darkmaster dan
Paraluna.” puji Anne.
Anne memperhatikan bentuk lubang kunci. Cekungannya tidak melesak lurus
melainkan melengkung menembus sisi dalam ke atas.
“Kalau melihat segel di sini... sepertinya agak sulit melakukannya dengan
Paraluna. Bentuk kunci ini seperti lingkaran yang tidak utuh” mendadak Anne terdiam.
Ia memandangi Allen. Roman wajahnya senang bagai menciduk harapan
“Allen, kau bisa melakukan Luna Lunga bukan?”
“Bisa banget! Itu teknik yang selalu kuasah untuk membuat Sara kaget. Tapi
memangnya aku boleh memakai Sylphind Rhyme sekarang?”
Anne mengangguk. Allen mengeluarkan Paraluna dengan ringan hati
“Luna Lunga? Apa itu?” tanya Arche.
“Salah satu teknik tingkat tinggi menggunakan Paraluna. Putaran Paraluna justru
digunakan untuk menusuk. Aku tidak bisa melakukan teknik itu.”
Arche memperhatikan struktur Paraluna. Dari bentuk dan cara memegang,
memang akan sulit bagi penggunanya untuk menusukkan senjata melengkung itu.
Apalagi Paraluna Anne yang hanya menyisakan ¼ lengkung lingkaran.
“Aku mulai ya. Tolong jangan ganggu lintasanku.” Ujar Allen sembari mundur
beberapa langkah.
Allen mengambil kuda-kuda. Ia merendahkan tubuhnya dan melesat lurus hampir
menyeret tanah. Paraluna Sylphind Rhyme bersiul kencang. Udara terbelah membawa
siluet Kalajengking dalam alur tujuannya. Dalam sekejap mata, jarak tersisa ½ tombak,
Allen berputar deras memposisikan Paraluna di bawah dan saat itulah tangan Allen
yang memegang Paraluna didorong kebelakang bersamaan dengan satu teriakan keras.
Paraluna Sylphind Rhyme menyentak dan menusuk cekungan dari bawah ke atas.
KLIK!
Paraluna Sylphind Rhyme masuk tepat ke dalam lubang kunci. Allen yang
terbaring langsung melakukan salto ringan sembari mencabut Paraluna yang tertanam.
Gerbang besar itu hancur menyerpih begitu saja. Di hadapan mereka terbentang
kembali lorong gua yang panjang dipenuhi lumut-lumut terang. Entah apalagi yang
akan menanti mereka di depan sana.
Chapter 18
Dark Nature dan Kekuatan Keinginan
“Jalan buntu?” Tanya Anne setelah mereka melangkah sekitar 100 tombak dari
gerbang.
“Pasti ada mekanisme rahasia di sekitar tempat ini. Tak mungkin akhir dari
gerbang bersegel Matilda hanya lumut-lumut yang berkumpul seperti ini.” jawab Arche
sangsi. Ia mulai memeriksa kembali jalan yang telah dilalui.
Arche yang ahli perangkap memandang sekeliling. Ia tak melihat adanya
keanehan dalam jalan ini. Tak ada lambang ataupun pertanda perangkap yang dipasang.
Ia justru melihat Allen yang berulang kali memandang lumut-lumut multiwarna dan
ulat-ulat Tolddo. Arche memandang sekeliling...
Tiap dinding selalu memiliki tiga warna yang saling berdekatan kecuali lumutlumut
merah yang mengumpul di dekat Allen. Tapi bukan berarti akan ada sesuatu di
sana.
“Nah iya di sini!”
Allen berteriak senang dan menyibak lumut merah yang memiliki area paling
luas. Pada dinding itu telihat sebuah batu yang bentuknya aneh. Batu itu terlihat seperti
sebuah piring besar berwarna merah gelap.
“Batu yang aneh.” komentar Anne. Allen di lain sisi menggaruk kepalanya. batu
ini belum pernah dilihatnya.
Mereka mencoba menekan, menggeser, dan memutar batu tapi tak ada apapun
yang terjadi. Arche mencoba menghantam dengan tinjunya. Sekali lagi, batu itu tak
bergeming bahkan satu jejak debu seakan tak pernah luruh darinya.
“Batu ini... sepertinya ia memiliki mekanisme yang sama seperti gerbang Grand
Matilda.” ujar Arche. Ia mengambil bulu Meraknya dan menyiapkan Tombak. R-Verse.
Tombak 5 baris siap mengancam materi.
“BUSTER MANA!”
Getaran keras menghujam dinding gua. Beberapa akar serabut lumut-lumut
tercabut paksa. Area ledakan penghancur Mana tersebut membuat dinding remuk akan
tetapi batu itu sama sekali tak tertoreh.
“Ternyata benar. Batu ini sepertinya memiliki kekekalan yang sama dengan
gerbang dengan segel Grand Matilda. Semua tindakan biasa tidak akan membuatnya
bergeming.” ujar Arche.
“Terus kalau begitu bagaimana dong? Apa harus melakukan Luna Lunga lagi?”
jemari Allen siap menarik Paraluna.
“Kurasa tak bisa Allen. Tidak ada cekungan khusus senjata kalian... Tapi kurasa
cara membukanya pasti melibatkan kalian, para Darkmaster.”
“Mengapa kau bisa bilang begitu, Arche?” tanya Anne
“Paraluna adalah senjata dari kalian bukan? Bila eksistensi kalianlah yang bisa
membuka Grand Matilda maka aku rasa satu bagian penting dari Darkmaster harus
digunakan di sini untuk mengaktifkan batu aneh ini.”
Allen menatap batu tersebut lalu mengambil Plakat Platinum Hitamnya
“Plakat ini... jangan-jangan bisa dipakai?”
Masalahnya bagaimana? Batu aneh itu tak memiliki ornamen apapun yang bisa
diteliti. Mentalist-mentalist peneliti segel akan bergembira ria menemukan batu aneh
ini. Sayang, bagi kelompok Allen, batu ini jadi sandungan mental besar.
Iseng, Allen mengarahkan Plakatnya pada batu aneh tersebut.
“Semoga harapan dari Dark Nature jatuh atasmu!”
Ujar Allen.
“Allen! Bercanda juga ada batasnya! Jangan memainkan doa Dark Nature
seenakmu.” suara manis Anne menekan Allen. Allen mundur satu langkah. Ia mulai
merasa Anne marah padanya.
Tanpa diduga tiba-tiba saja jalan buntu tersebut terbuka. Di hadapan mereka
terbentang jalan besar seukuran 7 x 7 tombak. Udara dalam jalan ini sangat berbeda.
Hangat, tidak lembab. Dinding tembok dipenuhi aksara-aksara Frunic yang berpendar
biru. Cahaya ruangan tidak lagi dimandatkan pada lumut terang.
Anne terbelalak. Boleh dikata ia tak percaya bahwa doa Dark Nature tersebut
justru menjadi kunci penting dalam gua ini. Dalam kepalanya berputar berbagai
pertanyaan dan juga jawaban sementara.
“Allen... dari mana kau tahu bila batu aneh itu tersembunyi di balik lumut?” tanya
Anne.
“Kayaknya jalan sekitar sini mirip sama jalan yang pernah kulewati.”
“Di mana?” tanya Arche dan Anne bersamaan. Sejenak mereka berdua kembali
saling melirik dan kembali membuang muka bersamaan.
“Err... itu... jalan rahasia di bawah pohon yang berubah warna itu loh, di Desa
Exemptio.”
“Alfillatis solais... ada jalan rahasia di bawahnya?” gumam Anne sekali lagi. ia
menekan bibir dengan jarinya. Berbagai pertanyaan yang berputar dalam kepalanya
mulai terjawab. Di lain sisi, Allen menggaruk-garuk kepalanya. Yah, sekali lagi, tempat
rahasia Allen dan Saravine dibeberkan.
“Pantas saja... kurasa karena itulah mirip.” ujar Anne tiba-tiba
“Maksud kakak?”
“Kau tahu mite pohon Alfillatis solais?”
“Tidak... tidak ingat.”
“Menurut mite, Pohon itulah yang menjadi simbol pemisah Dark dan Wish. Saat
itu Darkwish Kayu datang pada pewaris dari kerajaan Unferno atas nama Dark Nature
dan Keinginan. Ia seharusnya menggelapkan pewaris kerajaan setelah membantunya.
Tapi tanpa disadari ia jatuh cinta. Kebijaksanaan Kayu yang dimilikinya patah.” Anne
berhenti sebentar. Matanya menunduk sayu sebelum berpindah sedetik pada Arche dan
kembali lagi pada tanah.
“Beliau yang memilih cinta di atas tugas Dark Nature akhirnya membuat pilihan
untuk melindungi pewaris kerajaan Unferno dengan mengorbankan diri menjadi pohon
besar yang selalu mengikuti warna matahari... warna cintanya.”
“Aku tak bisa mengatakan ia bodoh... tapi apa yang ia lakukan pasti menimbulkan
efek tak sembarang.” komentar Arche
Anne mengangguk membenarkan.
“Keinginan pribadinya inilah yang membuat Darkwish dijadikan target dan
diserang. Akibatnya, beberapa Darkwish yang tersisa mengangkat kembali isu ‘tak
mungkin bersatunya Keinginan dan Dark Nature’. Dan dari sinilah awal berpisahnya
Darkwish menjadi Darkmaster dan Wishmaster. Kami membawa nama Dark Nature
sedangkan Wishmaster membawa Kekuatan Keinginan. Ada kemungkinan jalan ini
dibuat saat masih bersatunya Keinginan dan Dark Nature.”
“Aku tak mengerti, hanya karena masalah seperti itu saja kalian berpisah?”
“Pertikaian itu telah lama, Arche. Kekuatan Keinginan yang dikendarai manusia
dan kuasa alam Dark Nature. Bagaimana kita bisa tahu apakah manusia yang
berkeinginan sebenarnya selaras dengan kuasa alam? Apakah manusia yang bergerak
dengan kuasa alam boleh berkeinginan? Pertanyaan seperti inilah yang memisahkan
mereka.”
“Maaf bila aku menyela, tapi bagiku itu aneh. Bukankah semua manusia memiliki
keinginan?
“Keinginan pribadi tak boleh menentang kuasa alam. Biar bagaimanapun juga
segala sesuatu sudah digariskan oleh kuasa alam. Semakin kuat seseorang
menentangnya, semakin kuat pula kuasa alam akan mencegahnya”
Jawaban Anne satu ini membuat Arche mengerutkan alis.
“Lalu bagaimana dengan jodohmu?” tembaknya
“Maksudmu?”
Suasana berubah sedikit tegang. Allen yang melihat perdebatan dua orang ini
agak mundur sedikit memberi ruang tanya jawab. Tapi, Allen justru nyengir-nyengir
senang. Rasanya ia akan melihat sesuatu yang mengasyikkan.
“Bagaimana kau bisa tahu jodohmu bila kau tak berkeinginan mencarinya?
Bagaimana kau bisa tahu kebahagiaanmu bila kau tak berkeinginan mencarinya?
Seperti apa yang sedang kulakukan sekarang. Keinginan pribadiku lah yang
membawaku pada tempat ini.”
“Bagi kami cukup hanya Dark Nature.”
Arche memendekkan jarak di antara mereka. Arche dan Anne hanya terpisah
jarak setengah lengan. Jarak yang dapat dimanfaatkan Arche untuk merengkuh Anne.
“Tak mungkin kau tak punya keinginan pribadi. Kau juga manusia. Dalam dirimu
pasti terdapat kebimbangan dan juga hasrat.”
“Dark Nature-lah yang nantinya akan memberi arus kehidupanku... kebimbangan,
bagi kami akan sendirinya terselesaikan saat Dark Nature membimbing.”
“Lalu, bagaimana dengan Allen? Aku sempat mendengar juga kalau perbuatanya
sama sekali tidak diijinkan oleh Dark Nature kalian.”
Anne diam sejenak. Ia tersenyum.
“Aku yakin, apa yang Allen lakukan juga sebenarnya sudah digariskan oleh Dark
Nature.”
“Artinya keinginan pribadi Allen akhirnya adalah hasil campur tangan Dark
Nature? Apa memang Dark Nature mampu membuat Allen tiba-tiba acuh pada masalah
Saravine? Apa bagimu perasaan manusia... ah tidak dirimu sendiri juga hasil campur
tangan Dark Nature? Saat kau menangis, saat tertawa, bahkan saat... jatuh cinta?” Arche
terus memberondong Anne dengan pertanyaan. Intonasinya semakin menekan tapi yang
ditekan justru menjawab.
“Ya.” jawab Anne singkat. “Darkmaster adalah abdi Dark Nature. Hidup demi
Dark Nature dan bertindak atas nama Dark Nature. Aku percaya bahwa semua hal
dikendalikan olehnya, baik fisik maupun gaib.”
“Begitu... bila memang kau percaya bahwa semua hal dikendalikan Dark Nature
termasuk perasaan dan keinginan manusia, berarti saat ini aku ‘telah dikendalikan’
untuk ‘jatuh cinta’ padamu.”
Arche tak lagi menyembunyikan kalimatnya. Inilah kebenaran yang
disimpannya. Allen yang ikut mendengar juga shock. Bagaimana dengan Anne?
“Ya.” singkat, padat, jelas ditambah keyakinan mutlak.
Tahu apa yang dilakukan Arche? ia merengkuh Anne, mengangkat dagunya dan
mencium bibirnya... tanpa ada persetujuan dari Anne.
“Aku melakukan hal itupun... karena Dark Nature ‘menginginkan’ku begitu?”
“Ya.” singkat, padat, jelas, keyakinan mutlak ditambah mata yang berkaca-kaca.
Ia mendorong Arche menjauh. 1 ½ tombak menjadi jarak yang menghalangi mereka.
“Bagi kami... cukup hanya Dark Nature.” Tambahnya dengan suara bergetar. Ia
membuang mata itu dari Arche dan beringsut menjauh. Arche menutup diskusi ini
dengan helaan napas panjang. Ia tahu tak mungkin lagi mendapat jawaban yang ia
harapkan. Ia berandai... bila Anne bukanlah Darkmaster. Tidak, ia ingin agar Anne
bukanlah Darkmaster.
Sepanjang perjalanan, jangan tanya jarak Arche dan Anne. Mereka benar-benar
terpisah jauh dan tak mau mendekat. Tak ada percakapan di antara mereka. Semua
pembicaraan selalu diarahkan pada Allen... yang kebetulan berada di tengah dan
memang suka bercakap-cakap. Mereka berdua sebenarnya kompak dalam menjelaskan,
terutama tentang Aksara Frunic.
“Tahukah kau Allen, Aksara Frunic ini artinya ‘Jalan dimana Keinginan dan Dark
Nature akan bertemu’.” Ujar Anne
“Ooh, kalau Sara dengar bisa seru nih.”
“Tak hanya itu, aksara-aksara ini juga memberitahu bahwa keduanya saling
bersatu sejak jaman dulu. Berarti keinginan sebenarnya sudah diakui dan tidak dapat
lepas satu sama lain. Dan dapat dikatakan keinginan adalah sumber awalnya.” seloroh
Arche.“
Tapi disini juga dikatakan ‘Keinginan yang direstui Dark Nature tak dapat
dicegah’. Berarti Dark Nature-lah yang lebih menentukan pada akhirnya.” sanggah
Anne.
Dan terus saja keduanya berdebat panjang lebar melalui Allen. Topik utamanya
lagi-lagi tentang Keinginan dan Dark Nature. Allen akhirnya gerah sendiri.
“Kenapa kakak Anne dan Arche membuatku jadi seperti perkamen bisikan saja
sih? Padahal kan bisa langsung ngobrol berdua. Atau gara-gara aku di tengah ya?”
Allen menyingkir ke sisi Anne. Membuat Anne berada di tengah.
“Arche pasti ingin posisi ini sedari tadi.” ujar Allen diiringi cengiran nakal. Salah
besar Allen... mereka justru makin bungkam.
“Kok kakak Anne dan Arche malah jadi Sara sih? Tadi bisa ngomong banyak kok
sekarang malah diam-diaman begitu?”
Mereka tak menyangkal tapi tak mengiyakan dalam diam. Allen nyengir. Ia
terbiasa menghadapi Sara yang lebih pendiam dan ia tahu bagaimana cara
mengubahnya. Mengajak bicara tak mempan maka aksi berbicara. Ia mendorong Anne
ke arah Arche. Anne menjerit pelan dan ditangkap oleh Arche. Arche memeluknya.
Debar jantung keduanya dapat saling terdengar saking dekatnya fisik mereka.
“Tuh, Keinginan yang direstui Dark Nature.” Canda Allen. “Kalau Dark Nature
tidak merestui, pasti jatuhnya kakak Anne tidak ke Arche. Terus kalau Dark Nature
tidak merestui, Arche pasti tidak bisa menangkap kakak Anne. Dan Arche yang lagi
stress tidak akan punya keinginan memeluk kakak Anne.” tambah Allen. Ia memainkan
jarinya “Terus, kalau Dark Nature tidak merestui dari awal, pasti bukan aku yang ada di
sini. Bisa jadi kakak Ark atau malah kakak Rex. Daaan~ aku ini punya keinginan
sendiri sama kalian~” Allen mengedipkan matanya. Jengah muka Anne lenyap
tergantikan kelu kelam. Ia membuang muka dan menjawab lirih
“Itu mustahil.”
“Tidak ada yang mustahil! Kalau Dark Nature memang mengijinkan! Bukannya
itu juga alasan kita berdoa? Minta ijin kan? Biar Keinginan kita direstui! Kakak Anne
sendiri juga yang bilang soal ini di Fathia-Fathia kemarin-kemarin itu! Aku lupa soal
apa tapi pokoknya aku percaya Dark Nature akan membalas doaku!” balas Allen. Anne
balik memandang Allen dengan mata terbelalak. “Jadi… bukan tidak mungkin kalian
berdua… hehe.” Allen mesem-mesem dan memutari mereka berdua. “Sampai kapan
mau pelukan?”
Arche terkesiap. Ia silap dalam larut penjelasan Allen. Sengat debar jantung Anne
juga membuatnya terbius. Ia lupa tata kramanya dan saat sadar ia mendorong Anne,
pelan dan enggan.
“Maaf…” Arche menelan ludahnya sebelum menambahkan “…Anne.” ada
selarik kata yang hampir saja diucapkannya sebagai seorang pria terpelajar dan sopan.
Tapi ia justru memilih kata hatinya untuk terus mempertahankan apa yang ada, meski
dalam samar. Logikanya sadar, ia masih punya harapan walau tipis dan ia tidak mau
membuang hal itu hanya karena sebuah kata depan.
“Aih, tidak usah malu-malu dong.” Goda Allen lagi. Ia sukses membuat mainan
barunya ini terombang-ambing dalam anginnya.
“Kita sudah sampai.”
Potong Arche. Mungkin dalam hati, keduanya bersyukur tak lagi digoda oleh
Allen… atau mungkin tidak?
Mereka sampai di depan pintu kayu. Kali ini tanpa satu lubang kunci. Handelnya
kecil. Sebuah aksara Frunic bertuliskan ‘Dark Grail’ tersemat di tengah pintu. Pintu ini
terlihat bersahabat, tak seperti gerbang-gerbang besar yang telah mereka lewati.
“Yay! Kayaknya sudah sampai di ujung jalan nih!” teriak Allen senang.
“Kalian siap? Kalau kalian ingin pulang sekaranglah saatnya.” ucap Arche
sebelum membuka pintu.
“Haha bercanda kamu, sudah sampai sini kok malah mau balik. Sara sudah
menungguku.”
Arche memandang Anne. Bola mata gadis itu tak lagi berada dalam kegamangan.
Emosi dirinya menguap setelah topik pembicaraan terpotong.
“Aku tidak mau menyerah... tidak di saat Akhir.” jawab Anne tegas
“Dan kau sendiri Arche?” tanya Anne setelahnya.
“Aku punya urusan mutlak di sini. Biarpun mati aku tak berkeinginan mundur
sekalipun.”
Handel pintu ditekan. Pintu perlahan terbuka. Cahaya terang menyilaukan mata
mereka. Selama dua-tiga detik mereka membiasakan diri akan berlimpahnya cahaya
yang masuk.
Matahari mini. Bola cahaya itulah yang pertama kali mereka lihat saat memasuki
ruangan itu. Terang cahaya putihnya membuat lentera Pyramite paling terang sekalipun
hanya terasa seperti debu berbanding batu. Cahaya itu tidak panas, justru hangat.
Dinding batu yang berkilau biru bergantikan putih terang. Tak ada lagi aksara Frunic
yang bisa terlihat darinya. Ruangan ini terlihat sedikit lebih luas, setidaknya dua kali
dari ukuran lorong masuk dengan langit-langit setinggi empat tombak.
Bola cahaya itu perlahan turun mendekati tanah. Cahayanya perlahan meredup.
Tapi saat itulah, ketiga orang ini merasakan daya hisap yang luar biasa keras. Mereka
harus berusaha keras hanya untuk mempertahankan diri mereka agar tak tersedot dari
lokasi mereka. Bola itu perlahan mengkerut, menghitam lalu tiba-tiba saja
mengeluarkan cahaya sangat terang. Linang air mata sejenak menguasai mereka. Pedih
cahaya itu menusuk padahal tidak ada panas darinya. Setelah sepeminum teh, barulah
terang di balik kelopak mata mereka mereda. Arche dululah yang pertama kali
membuka mata.
Saat Arche membuka mata, sesosok makhluk telah menunggu mereka. Ia
bertangan empat. Sepasang transparan dan terlihat seperti tentakel dan sepasang lagi
terlihat keras seperti kristal berwarna hitam. Ia memiliki 4 wajah yang yang berada di
depan, belakang, kiri dan kanan. Dua hitam dan dua putih. Mata makhluk yang tertutup
itu perlahan terbuka. Ruasnya hitam dengan bola mata putih. Gurat urat merah mewarna
mata. Dua pasang taring, atas dan bawah menyembul dari barisan gigi makhluk
tersebut. Ia mengenakan dua pasang scarf dan juga sebuah mantel sayap yang
terhubung pada tanganya. Layaknya, ia mengimpersona-kan Wishmaster dan
Darkmaster... tanpa Rapier dan juga Plakat Platinum Hitam.
Arche yang waspada langsung mengaktifkan R-Verse. Begitupun Allen saat
sudah terbiasa dengan pendar cahaya aksara Frunic yang normal. Ia mengangkat
Plakatnya. Mereka merasakan nuansa tak beres dari makhluk setinggi 1 tombak 2
jengkal ini.
“Ini monster yang kamu bilang kan? Kalau bukan, aku diam saja nih.”
“Ini Jelas sekali monster! Meski bukan ini yang kumaksud. Aku belum pernah
melihat ada makhluk seperti ini dalam Ensiklopedi Bestiary Benua Sol!”
“Aku merasakan hawa permusuhan... makhluk itu sepertinya terganggu akan
kehadiran kita.” tambah Anne, Scarf basah miliknya mulai bergerak liar. Emosi
lingkungan seolah memintanya bergerak mengingatkan empunya.
Selagi pikiran mereka berkutat, pintu masuk mereka mendadak tertutup oleh
selaput ungu. Arche sigap memeriksa. Tapi sebelum tanganya sempat menggapai,
selaput itu terlebih dahulu menolak dengan daya tak terlihat.
“Bagus sekali… kita tak bisa keluar.” Desis Arche. Ia memandang sekeliling. Tak
ada handel atau mekanisme untuk membuka pintu itu. Jejak perangkap saja tak ada.
Jelas jawaban ada di... “Mau tak mau kita harus meminta empunya untuk membuka.”
Makhluk itu mendadak menembakkan besi-besi tajam. Seranganya tidaklah cepat
tapi mampu memaksa Arche mengelak. Wajar, besi-besi tajam itu membesar dan
memecah ke berbagai penjuru.
“Dan tampaknya harus dengan sedikit paksaan.” Tambah Arche.
“Belakangan ini kok rasanya harus selalu pakai kekerasan ya?” keluh Allen.
Makhluk itu melemparkan kotak-kotak kecil seukuran kepalan tangan dari balik
jubah Wishmasternya. Satu transparan dan satu hitam. Kotak-kotak kecil itu berderak
dan perlahan bertransformasi menjadi sebuah boneka setinggi ½ tombak. Kotak
transparan menghasilkan boneka hitam dan yang hitam menjadi boneka transparan.
Boneka transparan terlihat seperti boneka yang terjaring. Gurat-gurat hijau yang
panjang tak putus menghias tubuh mereka. Mata boneka ini kuning tajam dengan gurat
lingkar luar mata bak kucing. Jemarinya bagai tak bertulang, lemas dan menekuk tanpa
kurva. Begitupun tubuh mereka. Hanya satu ruas garis hijau saja yang terlihat menjadi
tulang punggung boneka ini.
Sedangkan boneka-boneka hitam terlihat memiliki wajah seperti wajah
perempuan bermata hijau terang. ‘Urat-urat’ putih sesekali menonjol dari balik kulit.
Boneka itu terlihat memiliki berratus-ratus sendi. Tiap gerakan membuat sendi
berderak. Kulit hitamnya bening layaknya Obsidian. Tapi identitas kulit boneka ini
masih misterius dan untuk saat ini nama boneka kristal hitam sepertinya layak
diterapkan pada mereka.
Kedua boneka ini botak. Mereka berjalan layaknya bayi belajar berjalan; kikuk
dan sulit menjaga keseimbangan. Tapi, satu hal yang pasti... jalur jalan mereka terpaku
pada Allen dan kawan-kawan. Bagaimana dengan makhluk bertangan empat yang
mengeluarkanya?
Makhluk bertangan empat itu mengebulkan kabut tipis. Kabut yang
dihembuskannya perlahan menebal membuat bola pelindung. Makhluk bertangan empat
itu terangkat dari tanah dan perlahan menggelinding mengikuti rotasi mundur bola
pelindung.
“Dia mau Kabur! R-VERSE!”
Arche melesat hendak mencegah. Tombak 5 barisnya siap menggulung. Ia
melompati barisan boneka-boneka aneh bahkan menjadikannya sebagai pijakan demi
mendaratkan sebuah tebasan. Ia tidak menyadari bahwa tombak itu sudah retak. Satu
tebasan itulah nyawa terakhir tombak Arche. Tombak itu patah terpelanting dan
menancap di dinding gua. Aksara-aksara Frunic yang terang justru menjadi pemuram
patahan tombak 5 baris. Arche mundur seketika. Ia menggeretakkan gigi, kesal akibat
patahnya tombak semata wayangnya itu.
Sekarang ia justru terkepung oleh boneka-boneka makhluk tersebut. Ia
membuyarkan tombaknya dan menggunakan mode tempur ke duanya. Bulu merak yang
masih tersisa dicabut dari punggungnya. Ia memakai zirahnya dan tidak lagi
mengaktifkan R-Verse. Zirah yang sudah remuk redam dimana-mana tak dapat
mengimbuh senjata dengan baik dan benar.
Arche melempar bulu-bulu meraknya. Ia mengincar titik rawan yang bisa ia
pikirkan. Sayang semua usahanya nihil. Bulu-bulu merak yang tegang kaku itu bahkan
tak bisa menggores boneka kristal hitam yang kaku. Yang transparan memang
tertembus tapi langsung tenggelam seperti berada di air. Arche menggeretakkan giginya
-lagi. Ia tahu boneka-boneka ini pasti punya kelemahan meski hanya setitik debu saja.
“Kakak Anne! Mereka tidak punya nyawa kan?”
Anne mengangguk membenarkan. “Berarti bisa main-main!” ujar Allen.
Allen mengembangkan tangannya. Hantaman angin tingkat 5 mampu memukul
remuk boneka-boneka kristal hitam... tapi layaknya Undead, boneka-boneka itu
terbangun kembali meski tubuh sudah separuh hancur. Ia meningkatkan kekuatan angin
tapi efeknya tak jauh beda. Bahkan kepala yang sudah rengkah separuh saja masih bisa
menggeliat.
“Gila! Kebal apa Kebal ini?!”
Yang lebih menyebalkan lagi, Boneka-boneka ini mampu ‘memakan’ serpihan
badan teman mereka dan membesarkan badan mereka. Tindakan pemangsaan ini
membuat rupa mereka tambah jelek. Komposisi ‘nutrisi’ berjonjot dan berpindah ke
sembarang tempat. Skala boleh membesar tapi komposisi mereka berantakan dan tidak
seimbang. Beginilah hasil akhir pemangsa sesama.
...
Ralat: mereka boleh pincang dan limbung tapi daya hantam meningkat terlalu
tajam. Apa ketidakseimbangan justru menciptakan daya hancur?
Bagaimana dengan Anne? Anne mengecup Plakat Platinum Hitamnya.
Keengganannya turun tangan tergantikan saat melihat Allen dan Arche berjuang
banting tulang. Area tingkat 3, Kekuatan tingkat 4 dikerahkan. Air merembes dari
berbagai sudut ruang. Gumpalan demi gumpalan tercipta. Menebal, menggeliat dan
bergerak layaknya hidup.
“Dark Water, lindungilah kehidupan kami dengan arus jiwamu.” perintah Anne.
Gumpalan itu berriak dan memecah menjadi tiga. Figurnya menjadi perisai peredam
serangan fisik sekaligus pencengkram gerakan lawan.
Anne sendiri melontarkan tubuhnya bersama Paraluna dan mendorong bonekaboneka
kristal hitam dengan cepat. Anne Eaumi... Darkmaster terkuat... bukanlah
omong kosong. Gerakan Anne minim tapi efektif. Boneka-boneka itu, termasuk yang
besar, tak satupun mampu menyentuh Anne. Kaki Anne yang bergerak dalam lingkaran
kecil menjadi sumbu hindar sekaligus sumbu serang bila Paraluna digunakan. Saat
menghindar, saat itulah serangan masuk layaknya air bah.
Tapi...
Serangan kuat mereka tak berdaya di hadapan boneka transparan. Tak ada ruang
luka yang tercetak dalam serangan Anne dan Allen. Boneka transparan, di lain sisi,
justru mampu membuat Allen kelimpungan. Allen lengah... satu serangan menembus
lengan Allen. Tak ada sakit fisik terasa layaknya sifatnya yang transparan. Hanya saja
Allen yang paling merasakan derita di alam etherial. Mati rasa... Tak hanya itu,
bayangan-bayangan seram Rumah Terpojok ikut pula menghantuinya. Jemari tanganya
berderak. Keinginannya berubah drastis.
Sylphind Rhyme disimpan. Kemampuan lain dari Plakat Platinum Hitam
diaktifkan. Asap hitam membubung dari Plakat Platinum Hitam dan merasuki kepala
Allen.
“Pembalikan kuasa Dark Nature?” tanya Anne pada Allen. Allen yang biasanya
akan menjawab dengan riang justru bungkam. Anne mulai merasakan firasat buruk.
Allen memuntahkan darah kotor tapi ia kembali mengutarakan kalimat yang sama. Kali
ini siluet silang berwarna hitam menyumpal mulutnya.
“Racun... Thi-ed... dua buah keberuntungan buruk... Allen apa yang ingin kau
lakukan?”
Allen kembali mendesiskan perintahnya pada Plakat Platinum Hitam. Ia masih
belum mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan apa yang ia inginkan akan mengubah
identitas elemennya.
“Zzzzz.”
dengkur Allen terdengar keras.
...
Otak Arche berputar keras. Apa maksud Allen?
Justru Anne yang cemas. Ia mencengkram Plakat Platinum Hitamnya lebih keras.
Ia membatalkan doanya. Langkahnya yang tenang tergantikan oleh gangsing kerasterburu-
buru. Ia berputar menjadi perisai Allen. Daya pentalannya menjadi dua-tiga kali
lipat. Banyak yang bahkan bersujud di bawah kakinya akibat daya putar keras Anne.
Dua tiga kali ia masih berhasil menepis serangan lawan tapi tetap saja ia tak mampu
menghadapi derasnya badai serangan segala penjuru. Satu serangan bocor mengarah
deras pada Allen.
Bahu Allen terhantam! Ia terbang melayang menuju tembok. Bahu kanannya
bergeser: patah. Dinding yang keras alamat membuat kepala Allen yang akan patah.
Tapi, pada detik yang singkat, Allen memutar badannya dan menjejak dinding. Ia
meredam daya lontaran dengan kelenturan lenting tubuhnya. Angin keras terhembus
dari peraduan kaki dan dinding. Dinding itu tak cacat sama sekali seolah kaki Allen tak
pernah menjejak disana.
Allen menapak lembut di tanah. Ia menengadahkan wajah. Urat matanya merah.
Ia terengah-engah dengan alis yang tertekuk. Bibirnya mengkerut dan tergigit akibat
geramannya. Urat tangan Allen mencuat keluar. Gemeretak kepalan tangan Allen
memantul dalam ruangan. Siluet lembut angin tak lagi terpancar dari Allen.
Arche yakin 99% bahwa Allen satu ini pasti berbahaya. Dan ia hanya
membutuhkan konfirmasi untuk membuang keraguannya.
“Anne... kau pernah bilang bahwa Allen yang terganggu tidurnya bisa lebih
berbahaya dari naga cilik bukan?”
Anne menjawab dengan “Area tingkat 3, Kekuatan tingkat 2, Air.”
Sebuah rintik air terbentuk muncul dari atas kepala Allen. Air itu memercik
kepalanya dan membasahi wajah Allen. Terus turun dan mengobati semua lukanya.
Tapi Allen tak bergeming. Canda yang biasanya ia keluarkan tenggelam begitu saja.
Arche tahu, jawaban Anne barusan membuktikan bahaya yang dimiliki Allen.
Allen menghindari serangan boneka-boneka kristal hitam dan bertolak menuju
langit-langit. Ia mendarat terbalik dan tetap menempel di sana. Allen mengedikkan
kepala. Tatapan dingin melesat dari mata Allen. Bulu kuduk Arche meremang. Ia
merasakan ancaman predator Alpha –ancaman tak kenal lawan dan kawan.
Allen membalikkan badan. Ia mengambil nafas panjang.
“Kekuatan level 10, Angin.”
Tidak terlihat deru angin sama sekali atau lebih tepatnya... angin lenyap dari
relung indra perasa.
“Apa yang ia lakukan?” tanya Arche.
“Tarian Angin...” desis Anne dalam gemetar.
Allen melompat. Gerakannya pelan. Berputar... satu kali dua kali. Boneka kristal
hitam menjawab dengan sambaran tangannya. Telapak tangan Allen bergerak lembut
menyambut. Keduanya beradu. Ringan menyentuh, perlahan menyesak dan... terbelah.
Begitulah nasib materi keras boneka kristal hitam.
Sebuah siulan tipis bagai ketel uap terdengar lirih saat telapak tangan itu
mengembang merobek esensi boneka kristal tanpa ampun.
“Tarian terlarang dari Angin... siulan... perobek.” Anne memalingkan mukanya.
Titik air mata mengalir tanpa bisa dicegah. Pilu dirinya melihat Allen seperti itu. Ia
seperti menyaksikan dirinya yang melepas segel diri... segel pengubah makna elemen
yang terkait pada nama mereka.
Allen terus bergerak, menari dalam lonjakan lincah dan pelan. Dalam setiap
gerakan,bagai gangsing, selalu ada yang terputus... terlempar dan teriris. Allen menjadi
taifun tajam.
Arche kembali tak percaya. Selama ini ia tahu R-Verse, menurut mitos, adalah
salah satu di antara pengimbuh materi terkuat. Tapi, ia tak mampu menggores sang
lawan. Apa yang dilihatnya, yang dilakukan oleh Allen membuatnya sangat terpukul.
Tangan kosong justru jauh lebih kuat dari segala imbuh materi... Tidak... pasti ada
mekanisme lain yang hanya membuat jenis kekuatan tertentu bisa berpengaruh.
Buktinya, serangan Allen biarpun sudah mengerikan begitu rupa tetap saja tak mampu
menebas-putus boneka transparan.
“Arche... kita harus pergi dari sini secepatnya... jangan sampai terlihat olehnya.”
Arche tak ambil pusing. Ia melangkah mundur. Kekuatan Allen saat ini lebih
tepat disebut menakutkan. Mereka berdua berlari menuju pintu keluar.
“Atas nama angin, Slyphind, aku memperluas kuasa siulan Dark Nature pada
dunia.” Desis Allen.
Anne membalikkan badannya.
“ALLEN!! Jangan lakukan lebih dari ini!! HENTIKAN! Jangan kau rusak lagi
segel kebebasan milikmu!” suara Anne tercekat. Gadis lembut yang tenang ini bahkan
histeris mendengar Allen mengucapkan itu.
“Apa yang ia lakukan?” tanya Arche.
Mendadak Arche merasa pasokan udara dalam dirinya menghilang. Ia berkali-kali
mencoba menarik napas tapi tak terbetik satupun kesegaran. Ia tercekik. Anne tak jauh
berbeda. Wajah gadis itu sama pucat dengan dirinya. Tidak, gadis itu terlihat jauh lebih
menderita.
Anne tahu bahaya dari tarian terlarang ini. Wajahnya mulai membiru kehabisan
udara akibat tercekik angin dan juga tertekan perasaannya sendiri. Bibirnya hendak
mengucapkan kalimat tapi telat. Ia kehabisan udara. Kebebasan angin telah berubah
menjadi penjara.
Anne tumbang. Arche hendak berteriak tapi suaranya tak mampu keluar. Gerak
Arche ikut terhenti. Udara seolah menebal baginya; mengunci gerak dan pita suaranya.
Ia bagai dikurung oleh dinding udara. Ini ulah Allen? Arche sangat tak menyangka
bahwa angin bisa begini mengerikan. Julukan dirinya sebagai Merak Putih sang
Penantang Angin tak lebih dari kesombongan belaka. Jemari Arche bergetar. Dalam
segenap napas yang masih ada ia berniat melempar satu bulu merak yang masih tersisa
ditanganya. Ia ingin menghentikan ulah sumber penjara ini.
Satu bulu Merak terlempar tapi berhenti di tengah-tengah udara, dua jengkal dari
jemari Arche. Perlahan bulu itu jatuh lunglai. Napas Arche mulai habis dan ia hanya
bisa melihat Allen dengan wajah penuh penyesalan. Dan sekarang... tak ada yang
mampu menghentikan Allen.
Allen melanjutkan kalimatnya.
“Atas nama Dark Wind, aku...”
Ucapan itu terputus oleh sebuah lecutan bayangan hitam yang membelah udara.
Itu Ark. Ia datang dan menebaskan Paralunanya pada Allen. Allen tersengat
lemas. Tubuh lunglai itu ditangkap dan dijauhkan dari marabahaya. Ark juga membawa
Anne dan Arche dalam dua kali lompatan. Memang, awan sangat terpengaruh oleh
angin tapi justru keberadaanya tanpa angin pun sangat kokoh di langit.
Ark sampai di hadapan sekelompok orang: Emeth dan kelompoknya. Mereka
berdiri menjaga pintu kayu. Baru kali ini, Arche sangat bersyukur Emeth dan
kelompoknya datang.
“Kau beruntung Arche, kalau tadi tak ada yang memberitahu arah ke sini
barangkali kau sudah menjadi ampas bumi.” ledek Emeth dalam seringai amarah. Iapun
mengalihkan perhatiannya pada boneka-boneka hitam dan transparan.
“Hooo... jadi ini jebakan lain yang ada dalam Segel. Cukup menarik. Darah
mudaku berdesir melihatnya apalagi setelah berputar-putar tak tahu juntrungan seperti
tadi. Sedikit olahraga bisa mengusir kekesalan ini.”
Emeth maju. Brusol miliknya berubah warna menjadi merah darah. Tanah yang
lembut memanas begitupun udara. Warna merah seakan lapar melahap udara. Pendar
biru aksara Frunic seolah tertelan. Emeth menyeringai. Moncong naga Brusol mendesis.
Pedang-pedang kecil berganti menjadi taring-taring api yang melingkari rongga
kerongkongan Naga merah. Napas api menyembur keluar dan juga bola-bola cahaya
berwarna merah. Bola itu mengapung seperti kunang-kunang. Bergerak dalam jalur
yang tak tetap dan sesekali berdenyut seolah bernapas. Desis napas Emeth juga
menandakan dirinya hendak beraksi. Mendadak sebuah tangan menghentikan napas
penuh nafsu Emeth.
Elena. Gadis mungil itu merintangi Emeth dan boneka-boneka. Ia berdiri tegar
sembari menghunuskan Fleuret-nya. Melihat ini, aura merah Emeth lenyap perlahan.
“Komandan mundur dulu~ Boneka ini adalah makhluk keinginan dengan bintang
5 tingkat di atasku. Biar sesama pembawa keinginan saja yang saling berduel.” Ujar
Elena maju mendekati lawannya sembari membuka kuda-kuda Terza.
“Ooh berarti boneka itu berperingkat 4? Siapa sangka boneka saja bisa punya
keinginan sekuat itu.” Komentar Rex.
“Elena berperingkat 9?” tanya Arche.
“Kecil bukan? Sayang sekali memang. Tadinya aku ingin agar si nomor satu saja
yang menjadi Wishmasterku tapi ia berkali-kali menolak dengan ketus.” ujar Emeth.
Elena mengambil buku pink dari zirahnya. Ia membukanya sambil tetap
mengacungkan Fleuretnya pada kepungan boneka. Serangan datang. Ia mengelak tanpa
melihat. Tepisannya luar biasa kuat, hanya dengan satu Debole saja boneka Kristal
hitam yang besar itu nyaris terhempas. Kecepatan menghindarnya setara Allen. Sayang,
langkahnya cenderung terlalu lebar. Satu dua serangan mulai terlihat menggores
zirahnya saat ia terkepung barisan lawan.
Melihat Elena terdesak, Emeth tak lagi menunggu. Ia mengomando pasukan elit
untuk membantu. Tapi kejadian yang sama terulang. R-Verse mereka tak berguna di
hadapan boneka-boneka ini. Patah, bila menghadapi yang hitam dan menembus bila
menghadapi yang transparan. Mereka yang terhantam boneka transparan mendadak
diam membisu seolah tak lagi bersemangat. Parahnya, ada beberapa di antara mereka
yang justru bunuh diri. Nasib yang terdiam tak bersemangat tak jauh beda, mereka
akhirnya menjadi korban pukulan boneka kristal hitam dan tewas seketika.
Darah tercecer di lantai gua. Nasib pasukan Karnivora Merah justru termerahkan
oleh darah mereka sendiri. Hanya satu saja dari mereka yang tersisa. Semua terjadi
begitu cepat. Di luar kuasa Emeth dan Elena.
Elena berteriak keras “Aaa~!!” ia memasukkan buku pinknya kembali sembari
memerintah satu-satunya R-Knight yang tersisa “Mundur dulu~!” ia mengambil napas
dan mengucapkan
“R-Verse~!!”
Fleuret panjang itu terimbuh zirah-zirah Elena. Fleuret itu berubah menjadi
payung putih dengan renda-renda. Payung itu terlilit oleh jaring-jaring tangkai mawar
dan pada pucuknya mekar sebuah bunga mawar merah. Bilah Fleuret tetap dari kayu.
Elena melakukan ini karena merasakan bahaya lain... Emeth.
Kemarahan menguasai diri komandan central ini. Sudut bibirnya berdarah dan
lidahnya berkali-kali menyebut satu persatu nama anggota pasukan Karnivora
Merahnya. Nafasnya terlihat membara terselubungi dendam. Saat titik didihnya
mencapai tingkat tertinggi, ia membentak
“KURANG AJAR!! BERANI-BERANINYA MEMBUNUH TEMANTEMANKU!!”
Wajah Emeth terlihat seperti iblis angkara. Jalinan rambutnya yang
terpilin rapih terlontar. Brusol miliknya menyala merah terang. Siapapun akan mundur
melihat Emeth seperti ini.
“ELENA!”
Bola-bola api yang berada di sekeliling tubuh Emeth membengkak dua kali lipat;
jumlah maupun ukuran.
“Hearyousol...” Emeth mengangkat tangannya. Bola-bola cahaya berkumpul
menjadi satu di depan moncong naga. Terangnya mampu menyilaukan mata dan
panasnya serasa membakar kulit. Emeth menyunggingkan senyum... penuh kebencian...
dan hasrat membunuh. Suara Emeth menjadi lebih berat.
“...Friata Fir.”
Tangan Emeth terlempar. Kakinya terhempas mundur selangkah dari tempatnya
berpijak. Garis merah lurus merobek udara. Semua yang berada di hadapan lewat
tertembus. Bagaimana dengan Elena?
Elena membuka payungnya menghadap Emeth dan berada di tengah gelombang
panas. Payung miliknya terbakar. Tapi api yang berada pada atap payung berubah
kembali menjadi bola merah yang menari. Elena memutar tubuh dan payungnya. Ia
berubah menjadi gangsing kecil yang membakar dengan larik merah panjang.
Boneka-boneka transparan yang berada dalam lintasan hangus menjadi abu.
Arche berdecak ngeri. Kombinasi mereka berdua sangat mengerikan. Mayat-mayat RKnight
elite yang terkapar pun terbakar lenyap.
“Semoga dendam kalian terbalaskan oleh Api jiwa ini.” ujar Emeth
Bagi Emeth ini lebih baik daripada membusuk tak kenal bumi.
Bagaimana dengan boneka kristal hitam? Mereka tak bergeming dan hanya
mengepulkan asap. Warna mereka sempat memerah tapi tak lama kembali menghitam.
“Aaa~ boneka-boneka ini seram sekali~!”
Emeth menggeretakkan gigi. Darahnya kembali naik ke ubun-ubun.
Elena menihilkan R-Verse. Zirah miliknya tak lagi putih tapi sudah berubah
menjadi merah. Fleuret miliknya mengepulkan asap tipis. Jaring-jaring tangkai mawar
yang mengikat Rapier itu menggeliat.
“Komandan lain kali jangan marah seperti itu lagi~! Kasihan Roots Ward jadi
kepanasan begini.”
“Mereka harus merasakan beratnya sebuah dendam!” Emeth maju selangkah.
Brusol miliknya masih berwarna merah dan kembali menelurkan bola-bola api.
“Lagipula katamu ini urusanmu tapi nyatanya kau gagal. Apa memang hanya seperti itu
saja kemampuan Wishmaster?!” Emeth mendelik membuat Elena mengkeret ketakutan.
Beginilah Emeth. Ia dikenal sebagai ‘Emeth si 4 wajah’. Ia dikenal dengan emosi
yang selalu berubah-ubah yang bahkan turut mengubah gaya bicara dan bertempurnya.
Brusol miliknya lah yang menjadi pertanda emosi yang menghuninya.
“Litosu, mundurlah dulu! Aku tak mau lagi melihat ada temanku yang tumbang
oleh begundal brengsek ini!”
Tanpa perlu diperintah ataupun diminta, Rex sudah terlebih dahulu menjauh dari
mereka. Ia berdiri di samping Ark yang diam-diam menyadarkan Allen dan Anne.
Elena kembali membuka bukunya. Ia mencoba membaca kembali di tengahtengah
pertempuran.
“Aaa~ ketemu-ketemu!”
Ujarnya senang “Nama Boneka ini adalah MarrieOMary dan Nett! Mereka dibagi
dua~! Yang Transparan pengguna Keinginan dan satu lagi...” Elena tak mau
mengucapkanya
“APA ELENA!? KATAKAN SAJA KERAS-KERAS TAK USAH LAGI
BERBISIK!!”
Elena mengkeret. Kemarahan Emeth sudah sampai ke titik mendidih.
“Nanti saja komandan~” Elena kembali bergerak menuju boneka-boneka kristal
hitam.
Botta dritta dalam Botta de-Tempo-tusukan lurus saat musuh lengah. Elena
menambahkan Dorongan Keinginan dan membuat boneka-boneka kristal hitam
terlontar menghantam dinding gua. Retak besar menceplak dinding. Jejaring mawar
berakar pada titik tusukan di dada dan membelit korban. Tapi, tanpa usaha keras,
Boneka-boneka itu memutuskan jejaring mawar dan kembali bergerak seolah tak terjadi
apa-apa.
“Percuma... boneka itu tak bisa hancur oleh serangan biasa ataupun Wishmaster.”
ujar Arche.
“Aku tak peduli omong-kosongmu lagi Arche!” maki Emeth. Ia menembakkan
bola cahaya merah dari Brusolnya. Boneka-boneka kristal hitam itu hanya terlempar
pendek. Di lain sisi, ledakan dari bola cahaya merah itu membuat langit-langit
meruntuhkan sedikit serpihanya.
“Emeth, jangan sembarang menembak bila kau tidak mau terkubur di sini.”
Gerutu Rex sinis. Sayang, ucapan ini juga tak mampu membuat kepala Emeth dingin.
“Komandan Emeth pakai Transformasi Air saja~” ujar Elena menggaungkan Wi-
Song.
“Kau memintaku tenang disaat seperti ini? JANGAN HARAP!! DARAH
DIBAYAR DARAH!”
Bola cahaya merah dari Emeth semakin membesar pertanda amarahnya yang
makin memuncak. Wi-Song Wishmaster bahkan tak mempan.
“Sial, kita tak punya air lagi di sini.” ujar Rex. Ia mengelus scarf putihnya. Plakat
Platinum Hitam mulai tersembul. Ia bersiap menggunakan prinsip “tak ada rotan, akar
pun jadi” yang diartikan olehnya tak ada air, tanah pun jadi.
“Area tingkat 2, Kekuatan tingkat 2, Air.”
Gumpalan air menghantam kepala Emeth. Ia memaki-maki dan mencari siapa
orang iseng yang mengguyurnya begitu rupa. Saat itulah ia melihat Anne sudah berdiri,
dekat Ark dan Rex. Anne dan Allen sudah bangun. Keduanya siap dengan Paraluna
masing-masing.
“Aaa~ itu Paraluna~ nona Anne ternyata Darkmaster juga~”
“Sudah tak ada lagi yang perlu kusembunyikan di sini... lawan kali ini harus kita
kalahkan bersama-sama.”
“Iya. Kita berdua tidak bisa melawan yang transparan tadi tapi boneka hitamhitam
itu sih tidak masalah.” Ucap Allen.
“Bila diijinkan, kami akan membutuhkan bantuan tuan Emeth. Kami harap tuan
rela menggunakan Transformasi Air untuk menghadapi boneka-boneka ini.”
Kalimat Anne yang menenangkan langsung membuat kepala Emeth dingin.
Brusol miliknya mulai berubah warna kembali menjadi coklat gelap: normal. Wi-song
yang sedari tadi Elena kerahkan tak mampu meredam amarah Emeth tapi ucapan dari
Anne saja justru mampu meredam... tidak adil. Elena cemberut dan membuang
mukanya.
“Aku memang tak dapat menolak keinginanmu… Anne.” ujar Emeth. Moncong
naga dari Brusol menutup. Ijuk-ijuk pedang yang berpencar perlahan merapat
membentuk satu kesatuan. Satu buah pedang besar menjadi pucuk utama Brusol. Inilah
Transformasi Air Brusol.
“Seeryousol... Mizolance.”
Pedang besar Brusol terbungkus oleh sinar biru lembut.
Arche juga tak mau kalah. Ia kembali berdiri dan mengaktifkan R-Verse. Tombak
5 barisnya terlihat somplak. Tapi ia justru terlihat lebih gagah dengan tombak itu. Aura
tubuhnya terlihat lebih bersemangat. Ia tahu ada secercah harapan saat Allen dan Anne
bangun.
“Ooh... akhirnya aku bisa kembali melihat Merak Putih Sang Penantang Angin
kembali beraksi. Mata itu sudah lama sekali tak kulihat. Bukan mata pecundang seperti
tadi.” komentar Emeth tenang. Arche menjawab dengan senyum simpul.
Kedua R-Knight itu telah bersemangat dan sekarang semangat itu harus di imbuh
lagi.
“Maafkan aku... atas nama Dark Water, Aku Anne Eaumi meminta daya
kehidupan terhubung pada jiwa yang berdendang, Aqua Thyme.”
Rex menggeretakkan gigi. Ia mencengkram lengan bajunya keras-keras
mendengar rapalan doa Anne. Gumpalan-gumpalan air meluncur perlahan dari Aqua
Thyme. Aroma-aroma lembut terpancar deras. Gumpalan itu mengarah pada senjata
Arche, Allen, Emeth, dan bahkan seorang prajurit yang tersisa. Tak hanya itu, mereka
merasakan adanya daya hidup dalam senjata mereka. Seolah tiap detik senjata itu
berdenyut.
“Aku juga! atas nama Dark Wind, Aku Allen Inverson meminta harapan
kebebasan bermain pada jiwa yang menari, Sylphind Rhyme.”
Angin lembut berpilin pada tiap senjata yang dipegang. Siulan angin terdengar
setiap kali senjata itu bergerak sejengkal. Ruas-ruas materi dalam senjata yang terimbuh
layaknya diringankan.
“Dengan air Dark Nature kalian bisa menghantam esensi boneka kristal hitam
itu.” Ujar Anne.
“Kalau anginku pasti bisa membelah semuanya deh.” Tambah Allen. ”Tolong
diurus ya. Kami tidak diijinkan bergerak bila sudah menggunakan doa ini.”
Emeth mencobanya. Satu tusukan dilakukan. Boneka kristal hitam itu tertembus
lalu hancur menyerpih tak lagi menyatu. Emeth tersenyum. Jumlah boneka kristal hitam
dalam ruang itu: 4 buah. Tanpa perlu dikomando lagi, mereka yang diberi kekuatan
Dark Nature tersebut menyerang. Hanya Elena saja yang tidak merasakan manfaat dari
kedua Paraluna tersebut. Ketidakadilan sekali lagi menerpanya.
Tak sampai sehirupan napas, semua boneka yang ada telah menyerpih. Serpihan
itu perlahan mengumpul kembali, membuat semua pasang mata kembali waspada. Abu
dari boneka transparan pun juga ikut terbawa angin dan menyatu. Dari kumpulan
bagian-bagian itulah terbentuk sebuah pintu gerbang besar berwarna hitam kehijauhijauan
seukuran tiga tombak. Abu dari boneka transparan berubah menjadi aksara
Frunic yang berpendar.
Allen tak sabar dan langsung mendekati pintu tersebut. ia meninggalkan
rombongan. Ia berusaha membuka dan mendorong pintu. Apa dikata, pintu tersebut tak
bergeser seujung kuku.
“Menarik. Tempat ini sungguh menarik.” Ujar Emeth sembari mengusap
dagunya. Brusol miliknya berubah warna menjadi coklat gelap.
“Gencatan senjata?” tawar Emeth pada Arche “Kau pasti tahu kekuatan yang
terpecah belah tidak akan membuatmu pergi kemana-mana. Kami punya Wishmaster
dan kalian punya Darkmaster. Digabungkan, kita pasti bisa menghadapi semua jebakan
setelah ini.”
“Tanya mereka juga.” Balas Arche.
“Aku sih tidak masalah yang penting bisa cepat ketemu Sara.” Jawab Allen.
“Baik kalau begitu. Untuk sementara kita beraliansi.” ujar Emeth
“Tuan Emeth tidak menanyakan pendapatku?” tanya Anne.
Emeth menggaruk-garuk jenggotnya dan menatap Anne dari sudut matanya
“Apa karena aku menyembunyikan fakta bahwa aku Darkmaster?” tanya Anne
lirih. “Aku minta maaf. Andai tuan Emeth bertanya pasti akan kujawab dengan jujur.
Tapi percayalah aku tidak bermaksud menipu…”
“Benar seperti itu?” cibir Emeth.
“Apa tuan Emeth meragukanku?” jawab Anne dalam senyum. Emeth berdecak
kesal dan membalikkan badannya.
“Aku sudah siap akan konsekuensi ini. Apabila tuan Emeth tidak percaya padaku
lagi… bagaimana aku bisa mengembalikan kepercayaan tuan?” ujar Anne.
Emeth berbalik dalam rupa riang tapi sebelum Emeth sempat mengucapkan
sepatah kata, Elena terlebih dahulu memotong.
“Bukan begitu nona Anne, Komandan Emeth sengaja tidak tanya karena yakin
nona Anne akan setuju.” jawab Elena. Emeth mengedikkan alis pada Elena. “Kadang
aku ingin membungkam mulut ember bocormu itu. Untung kau staf logistik, kalau intel
pasti rahasia negara selalu bocor.”
Elena menggembungkan pipinya, kesal setengah mati diledek begitu oleh Emeth.
Untuk membalasnya, ia membocorkan informasi yang cukup mengejutkan.
“Lagipula~ kalau komandan Arche setuju, nona Anne pasti ikut~”
Anne terpaku diam “Tuh~ nona Anne malu kan~” Kalimat Elena lanjut
menyentak Anne.
Sekarang Arche merasa Wishmaster satu ini tidak sereseh yang ia duga.
“Ternyata kau juga memiliki keinginan.” komentar Arche pada Anne.
“Hey Hey, kalian ini bicara apa sih? Mana mungkin Anne suka sama Arche.
Sudah jelas Anne hanya tertarik padaku. Betul tidak, Anne?”
“Betul tuan Emeth.” jawab Anne diiringi senyum. Ia pun berjalan ke sebelah
Emeth. Arche memberi isyarat diam pada Elena. Elena setuju dan membiarkan Emeth
memimpin di depan... bersama Anne. Emeth dan Anne berbisik-bisik sendiri diiringi
canda tawa ringan. Elena lantas mendengar Denting Keinginan yang keras dari Arche...
rasanya akan segera ada ledakan angin.
“Menyebalkan! Kekuatan level 6, tingkat 2, Angin!”
Teriakan Allen menggema. Spontan semua ingat pada pintu besar. Mereka
melihat Allen berkali-kali menghentakkan tanganya, menembakkan gelombang angin
dahsyat yang sama sekali tidak berefek pada pintu.
“Ujian Dark Grail.” Desis Anne membaca aksara yang tertera pada bagian tengah
pintu tersebut. Ia membaca baris-baris selanjutnya.
”Kekuatan dan Keinginan diuji.
Aksara perpaduan menjadi kunci
Menuju jalan sulit kembali.”
”Bila sudah bertemu
Akan sulit berpisah
Semoga Restu bersamamu
Duhai kawan yang resah”
Kali ini Allen mencoba Paralunanya, gagal. Doa, gagal. Ia mulai frustasi. Pintu
ini benar-benar membuat urat sabarnya nyaris putus. Ia hendak melepaskan larangan.
Untunglah Anne mampu mendinginkan kepalanya sebelum Allen benar-benar menjadi
bodoh. Ia mundur dan memberi kesempatan pada yang lain.
Emeth, yang percaya diri akan kekuatannya, mencoba mendorong. Nihil.
Mizolance menusuk dingin. Tertahan. Cakar hitam menebas cepat. Tak ada gores cacat.
Kesal, Friata Fir meledak. Jejak panas tak terasa sama sekali. Emeth habis akal. Ia
menengok pada Arche dan memberi isyarat “giliranmu.”
Arche menekan dagunya. Semua cara yang ia coba gagal. Mendorong dari depan,
menggeser, mencoba merusak dengan fisik dan elemen, memutari, memanjat, mencari
tombol rahasia sampai berteriak-teriak. Tidak, Ia tidak menyerah. Ia masih punya solusi
lain tapi ia yakin akan ditentang. Ia tahu itu dari tatapan mata Rex. Satu-satunya yang
tersisa hanyalah menerka arti baris canto yang tertera di tengah pintu tersebut.
Selagi mereka pusing menerka, semua kembali mencoba satu persatu. Kecuali
prajurit elit yang tersisa. Sampai akhirnya hanya Elena yang belum mencoba. Entah
kenapa ia merasa ragu. Ia melihat Darkmaster, Emeth, dan Arche gagal. Baginya,
mereka bertiga adalah kulminasi mistis, kekuatan, dan analisis. Apa yang ia bisa
lakukan bila ketiganya tak mampu?
Elena menggeleng, ia menampar pipinya, berusaha mengembalikan kepercayaan
dirinya sebelum mencoba mendorong. Kekuatan Keinginan dikerahkan. Siapa sangka,
pintu itu terbuka.
“Ee~ bisa?”
Semua terkejut, belum habis mereka berpikir tentang teka-teki justru jawaban
sudah hadir. Allen yang pertama kali meloncat gembira “Akhirnya!! Terimakasih
banyak ya Elena!!” ia menyalami Elena dan melesat masuk tanpa basa-basi. Emeth
mengikutinya. Arche tak sempat mencegah apalagi mewanti. Ia menderitkan gigi dan
mengomandoi yang lain agar masuk. Hal terbaik yang mereka bisa lakukan hanyalah
bersiap akan kemungkinan terburuk.
Chapter 19
Dark Grail dan Pertempuran
Kelompok Allen sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu luas. Hamparan putih
yang luas sampai titik horizon. Langit, bukan langit-langit, menjadi atap. Tanpa
matahari. Hanya saja setiap beberapa waktu tertentu terang dan gelap silih berganti
biarpun tidak ada sumber cahaya dalam ruang ini. Bayangan mereka tidak tampak di
bawah kaki. Ruang ini seolah menantang aturan alam tentang cahaya dan kegelapan.
Para R-Knight takjub melihat ruangan ini. Emeth sendiri bahkan berkomentar bila
cahaya ruangan ini bisa diatur maka Scutleiss pasti tidak akan kesulitan penerangan.
Darkmaster hanya sedikit terpana. Suasana familiar merasuk batin mereka. Sedikit
banyak, mereka merasa ruang ini seperti Dark Assembly mereka. Bedanya, cahaya
ruangan Dark Assembly hanyalah gelap. Lantai ruang yang mereka injak saat ini juga
tidak berriak. Tapi mereka sadar, tiap langkah mereka dalam ruangan ini terasa seperti
antara menjejak-dan-tidak... setidaknya begitulah komentar Allen.
Tanpa banyak mencari, mereka kembali bertemu dengan makhluk bertangan
empat. Ia tak lagi membuat medan pelindung. Wajar saja, ia sudah berada di tempat
yang ‘berbahaya’: berada di atas kepala sebuah boneka raksasa setinggi 10 tombak.
Rantai-rantai besar mengikat boneka. Sekali lihat saja, benda ini memang seharusnya
dikerangkeng. Boneka ini menjadi kristal-kelam saat terang dan menjadi transparanmenyala
seiring dengan hilangnya cahaya. Makhluk bertangan empat itu masuk ke
dalam kepala boneka. Seperti yang diduga, makhluk itu menjadi kepala boneka dan
menggerakkanya.
Di kepala mereka berdenging suara... makhluk itu berbicara?
“Ini... Dark Grail? Leluhur dulu ternyata isengnya tidak ketulungan juga ya
sampai bikin yang kayak begini segala. Kalau kakek Greul dan kakek Fey lihat pasti
bakal komentar banyak nih.” komentar Allen.
Komentar Allen dibalas oleh suara yang merasuki kepala setiap insan.
“Ternyata benar... inilah Dark Grail.” ujar Anne dalam ketakjuban.
“Aku tidak suka mendengar nada bicaranya... arogan sekali.” decak Emeth.
“Dia bilang hendak membunuh kita semua. Bagaimana ini Emeth?” cibir Rex.
“Jawabannya sudah pasti bukan?” jawab Arche. Tombak lima barisnya
mengeluarkan sinar biru. Ia siap dengan BUSTER MANA.
“Enak saja diminta mati! Sara sudah di depan mata!” teriak Allen. Inisiatif
pertama terhempas. Tangan besar boneka kristal hitam itu menghantam tanah. Meleset
jauh. Semua khalayak berpisah akibat ledakan pukulan barusan. Suara siulan dengan
nada tinggi menghias udara. Siulan ini... siulan Sylphind Rhyme... tapi
Di mana Allen?
Allen berdiri di atas kepalan tangan boneka. Sylphind Rhyme bergetar keras
menyeleraskan kebebasan miliknya. Begitu kakinya tak lagi menjejak tanah, suara
siulan Sylphind Rhyme berdenging menusuk telinga. Allen meliuk-liuk dalam lingkar
kecil mengores lengan raksasa boneka. Satu liukan satu luka, satu luka satu siulan.
Umbrae Arc dari Sylphind Rhyme tak putus beradu fisik. Ia bergerak bagai spiral yang
berrrotasi naik dari lengan menuju kepala.
Bagai anak panah, ia mencecar terus dan hampir menyambangi kepala boneka.
Langkahnya terhenti oleh hantaman nekat sang boneka pada lenganya sendiri. Allen
harus melesat menjauh, sembari sesekali menapak udara menghindari serangan sinar
yang mencuat dari mata boneka. Sinar dari boneka itu memang terlihat tak destruktif
tapi Allen tak mau ambil resiko.
“Area level 3, Kekuatan Level 7, Angin!”
Ujarnya sebelum mendarat di tanah. Tangan Allen mengembang. Taifun keras
menghujam lutut boneka. Boneka itu bergetar. Kembali Allen melesat menuju sisi
sebaliknya. Ia dan Paraluna Sylphind Rhyme menjadi gangsing tajam yang menggores
betis boneka. Sesekali terlihat di kanan tapi dalam sekejap sudah berpindah lokasi.
“Itulah Allen yang sesungguhnya. Darkmaster tercepat.” ujar Anne.
“Nyebelin! Kok tidak jatuh-jatuh juga sih!” erang Allen.
“Tapi juga orang kedua yang paling tidak sabar.” Tambah Anne.
Saat itulah ruangan itu menjadi gelap. Boneka raksasa itu berubah menjadi
transparan-menyala. Serangan-serangan Allen terserap masuk begitu saja. Allen jeri
juga tapi ia tak mau mundur.
“Sekarang giliran Wishmaster ya~!” tebak Elena riang. Gilirannya maju.
Fleuret Roots Ward Elena menghantam kaki boneka tersebut. Jejaring mawar
yang berakar dari titik tusukan tidak juga dapat mengikat kaki boneka makhluk
tersebut.
“Aaa~ kok tidak roboh-roboh sih~” ...dan sepertinya sifat yang agak sama dengan
Allen.
Arche diam memperhatikan. Pola boneka itu bergerak dan serba-serbi lainnya.
“Jadi begitu...”
“Apa yang kau dapat heh, Arche?” tanya Emeth.
“Boneka itu sangat primitif sekali. Ia tidak bisa memprediksi dan membaca alur
serangan. Ia hanya menyerang pada titik di mana ia diserang. Seharusnya ini adalah
tugas mudah tapi... Boneka ini juga memiliki daya regenerasi. Belum lagi hanya
kekuatan dari Wishmaster atau Darkmaster lah yang bisa melukainya.”
“Kasihan sekali Wishmaster itu harus mencoba membuka kembali luka lama.
Apalagi dia hanya sendirian.” komentar Rex pedas.
Ruangan kembali terang dan boneka raksasa itu kembali menjadi hitam sekeras
intan. Elena yang terkesiap tak mampu menghadang sambaran hantaman boneka
raksasa. Elena beruntung ia sempat menggunakan Forte untuk menghadang dan
mencoba menepisnya. Sayang, Keinginannya kalah kuat. Kacamata Elena remuk
terbawa angin hantaman tersebut. Sekarang ia tahu bagaimana rasanya nyamuk yang
dipukul di udara. Untunglah Ark bergerak dan menahan deras laju Elena. Bayangan
awan juga ternyata tak mampu menelan derasnya laju Elena. Jadilah Ark menerima
sakit pada punggungnya.
“Oke, sekarang giliranku dan kakak Anne! Eh, kalian juga~” Allen bergerak lebih
dahulu. Anne justru tak bergerak dari tempatnya. Ia fokus menatap Ark dan Elena yang
masyuk saling bertatapan. Pandangan matanya lalu bergeser pada satu-satunya pasukan
Elite R-Knight yang masih tersisa. Ia merasakan nuansa familiar saat melihat gerakgerik
R-Knight tersebut –yang juga mengamati Ark dan Elena.
“Kakak Anne!”
Teriakan Allen menyadarkan Anne akan situasi mereka saat ini.
“Eit, kau tak usah maju! Penyembuh seharusnya berada di belakang saja.”
Emeth mendahului gerakan Anne. Brusol miliknya kembali berubah warna
menjadi biru gelap. Tak mau kalah, Arche juga ikut maju. Mereka berdua bergerak
mengepung boneka Raksasa. Mereka kembali diberkahi oleh kuasa Dark Nature
melalui Allen.
“Anne, bantulah kami dengan kemampuan Darkmastermu.” pinta Arche. Anne
mengamininya dan berdoa tapi fokus perhatianya kembali pada Elena yang lelah. Ia
melihat Rex mendatangi Elena, entah apa yang akan dilakukannya?
“Tugasmu berat. Setelah ini kau harus bersiap-siap lagi menghadapi boneka
jangkung itu. Jangan sampai usaha mereka sia-sia karena kau lambat.” ujar Rex pada
Elena, sinis.
“Ke... kenapa tuan Rex bisa bilang sekejam itu sih~?” titik air mulai membayang
di mata Elena. Gadis mungil itu bergetar. Sakit di tubuhnya tak sembarang. Rusuk dan
lengan kanannya retak. Anne pasti akan mengobati dan menyemangati Elena... bila ia
tidak teringat perjanjian leluhur.
“Jangan menangis sekarang. Cahaya ruangan ini mulai hilang. Giliranmu hampir
tiba.” tegas Rex sekali lagi. Elena beringsut menjauh dari Ark. Sambil mengaduh-aduh
ia berusaha berdiri tegak.
“Wishmaster hidup dari keinginan yang kuat...” ujar Elena sebelum mengusap air
matanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya akan kekuatan sejati sebagai Wishmaster. Ia
memfokuskan Keinginan pada matanya agar tidak lagi buram melihat dunia. Rasa sakit
lengannya diabaikan. Ia pun menambahkan
“R-Verse~!” saat cahaya mulai perlahan menghilang. Fleuret Elena terimbuh
kembali menjadi payung. Ia meloncat tinggi dan membuka payungnya. Ia terapungapung
di udara. Sesekali berusaha menghindar dari serangan boneka raksasa. Angin
serangan membuat badan mungilnya terombang-ambing bagai bulu. Apa yang
sebenarnya hendak ia lakukan?
“Komandan Emeth~! Tolong Bantu aku~”
“Jangan bercanda! Kau tak akan bisa menahan Friata Fir dengan R-Verse
setengah jadi seperti itu!”
Emeth berteriak keras. Ia telah mendengar jawaban Elena. Brusol berubah warna;
merah darah. Bola-bola cahaya bermunculan dan memusat pada moncong naga Brusol.
Emeth berteriak menjawab keinginan Elena.
“Hearyousol... Friata FIR!!”
Desing merah mewarnai gelap. Terangnya membuat warna transparan-menyala
boneka raksasa seolah hilang. Payung Elena diarahkan sejajar garis serang Friata Fir.
Sekali lagi, sinar merah menembus payung Elena begitupun boneka raksasa yang
terguncang. Daya gempurnya mampu membuat boneka setinggi 10 tombak ini
terdorong satu langkah... untuk pertama kalinya.
“Aaaa~!!!” teriakan Elena terdengar dibalik bola cahaya merah menempel pada
payungnya. Imbuh-imbuh R-Verse menyerpih satu-persatu. Lenganya bergetar keras.
Kekuatan Keinginannya beradu dengan daya kultur R dari R-Knight.
“Elena!” Emeth pun tak dapat menahan kekhawatirannya.
“Iyaa~H!” sebuah puntiran keras dari Elena membuat kobaran api yang
menggeliat. Mencoba membakar boneka raksasa… sayang tak kesampaian. Kobaran
api mengibas lewat sejengkal saja dari target. Hanya selangkah mundur itu saja sudah
membuat perubahan besar.
Elena terjatuh tak berdaya. Sia-sialah semua usahanya. Keinginanya seolah
lenyap habis. Ia pasrah, membiarkan dirinya melayang luruh menunggu hantaman
tangan besar sang boneka. Kembali sebuah sosok menyelamatkan Elena. Bukan, bukan
Ark, melainkan satu-satunya prajurit Elite R-Knight yang masih tersisa. Gerakan itu
bahkan lebih cepat dari Allen. Prajurit ini mendarat di lengan sang boneka. Sebuah
hantaman datang tapi prajurit ini justru hanya mengibaskan tangannya membuat materi
dan materi beradu keras. Tangan sang boneka terpental. Khalayak tercengang. Prajurit
ini turun dengan ringan tepat di atas jempol kaki boneka. Tapi ringan bukan berarti
lemah. Jempol sang boneka melesak ke dalam tanah tatkala kaki sang prajurit menapak.
Siapa prajurit ini?
“Elena... Elena... wajar saja peringkatmu masih 9 sedari dulu. Kau tidak murni
menjalankan Kekuatan Keinginan.” prajurit itu bersuara setelah meletakkan kakinya di
tanah. Elena dan Allen mengenali suara itu.
“Eee~ suara itu? Kakek Guru?”
“Kakek Adam!” ujar Allen senang. Wajah bertulang rahang tinggi itu... benar! Itu
Vristinus Adam! Salam perjumpaan itu berlangsung singkat. Sang boneka, yang marah,
mengembangkan tanganya dan menyambar vertikal.
Adam menghindari serangan boneka raksasa. Angin dan pecahan lantai terkoyak
terbang saat telapak raksasa itu menghantam lantai. Adam menghindari semuanya
dengan maneuver ringan bagai pengendali angin. Ia sebisa mungkin menepis semua
pecahan tanah dengan tangan kirinya.
Cahaya ruang yang perlahan terang membuat sambaran serangan boneka raksasa
menjadi lebih ganas. Kali ini, Adam benar-benar hendak digencet oleh kedua tangan. Ia
mengerahkan Kekuatan Keinginannya dalam tingkat tertinggi. Tubuhnya menghitam
dan menerima himpitan itu dengan tangan kiri dan kaki kanannya. Tapi ia sadar, ia tak
mungkin selamanya bertahan. Ia harus dibantu.
“Area level 3, kuasa Sylphind Rhyme menari bersama siulan, Angin.”
Dalam detik nyaris itulah Allen menyelamatkan Adam dan juga Elena. Angin
lembut menggeser mereka menjauh dari boneka raksasa.
“ALLEN!” Rex langsung menggerendeng marah. Ia bisa mentolerir penggunaan
Paraluna untuk orang lain tapi kali ini ia tak bisa lagi menutup matanya terhadap ulah
Allen. Paraluna untuk menyelamatkan Wishmaster? Allen cuek saja, ia justru kembali
melesat menuju boneka raksasa. Di lain sisi, Emeth mulai curiga. Hardikan itu terlihat
seperti hardikan orang yang sudah saling kenal. Walau cahaya terang sudah kembali,
Emeth justru mendatangi Adam dan Elena.
Elena terduduk lemas. Zirahnya benar-benar lenyap tak berbekas. Ia sangat
bersyukur sekali nyawanya tak hilang.
“Terimakasih kau telah menyelamatkan nyawa Elena, salah satu prajurit
kebanggaanku... paman Adam.”
Adam membuka helmnya dan menunjukkan roman tak suka pada Emeth. Zirah
merah yang dipakainya perlahan terurai bergantikan mantel dan baju putih kebangsaan
Wishmaster.
“Aku sebenarnya sangat tak suka sekali harus membantumu bertarung... Emeth.
Bila mengingat apa yang kau lakukan pada Ravnell tiga tahun lalu.”
“Apa yang kau bicarakan? Kau menuduhku? Apa buktinya?”
“Kurasa kau harus menjalani sendiri metode penghukumanmu yang baru itu...
komandan Emeth.” jawab Adam dingin.
“Wishmaster nomor satu juga datang rupanya. Tidak sekalian saja kau bawa satu
kompi lagi ke sini?” sindir Rex
“Lama tak berjumpa... Rex dan Ark.” Rex memberi sungging mulut tak suka.
“Ooh, kurasa tak perlu lagi kukenalkan kalian dengan kerabat jauhku ini.”
Komentar Emeth. Adam melengos cuek. Ia mendatangi Anne.
“Lama tidak berjumpa nona Anne. Aku belum sempat berterimakasih sewaktu
nona menahan diri tidak menghabisi kami waktu itu.”
“Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Seharusnya kami yang bersyukur sekarang
karena anda datang hari ini. Hidup anda telah menyelamatkan hidup kami.” jawab Anne
sembari membungkuk. Sekarang Emeth tambah heran lagi, Adam juga kenal Anne?
“Kakak Anne~! Tolong Arche!”
Jerit Allen. Arche terlempar dan mendarat tak jauh dari mereka. Lengan kanannya
patah. Anne bergegas hendak mengobati Arche. Sepasang mata Adam mengamati
kejadian di hadapannya itu.
“Denting Keinginanmu indah sekali, Anne.”
Anne tersentak diam “Iya kan kakek guru, nona Anne selalu saja mendentingkan
irama yang indah kalau berduaan dengan komandan Arche. Bunyinya manis~”
Anne tak menjawab apapun. Arche pun hanya memandangi wajah lembut Anne
yang menyembuhkannya. Andai ia bisa membaca keinginan Anne...
Di lain sisi, Anne tiba-tiba pucat. Ia menatap lengan Arche yang hendak
disembuhkannya.
“Tak mungkin... Air Penyembuh Dark Nature tidak mempan?”
Lengan yang patah itu masih mengalirkan darah, tulang Arche menembus kulit.
“Tak usah lagi kau coba sembuhkan. Tanganku masih ada satu, aku masih bisa
bertarung.” Arche menelan pil hitam Ironicium untuk menahan rasa sakit seadanya. Ia
beringsut dalam satu tarikan napas. Keringatnya mengucur. Ia berusaha sebisa mungkin
tegar. Saat ia sudah berdiri tegak tiba-tiba saja Anne menarik Arche sampai
terjengkang. Tarikan tangan lembut itu mampu menumbangkan Arche?
“Tanganmu memang dua tapi nyawamu satu. Sekarang kumohon duduk dulu...
Arche.” pinta Anne lirih. “Bertarung tak harus maju ke depan bukan? Bantulah mereka
dengan analisismu.” Arche diam lalu mengangguk. Ia tak bisa menantang kalimat
Anne.
Cahaya perlahan kembali menghilang. Sekarang giliran Wishmaster untuk
bertindak. Tapi kedua Wishmaster itu justru tidak menyerang dan hanya berdialog.
“Elena, bolehkah kuminta kembali Roots Ward-ku?”
“Aaa~ dengan senang hati kakek guru Adam~”
“Oh, pantas saja aku merasa familiar. Rapier itu ternyata milik kakek Adam toh.”
Komentar Allen saat Elena menyerahkan Roots Ward beserta sarungnya pada empunya.
Adam mengelus Fleuret itu sebelum berbisik lembut.
“Lama tak berjumpa RootsWard.” ia mengecup Rapier itu seolah berjumpa
kembali dengan kekasih lama. Adam menyambungkan pommel Rapier dengan
sarungnya. Roots Ward di tangan Adam terlihat seperti sebuah tombak ramping dan
panjang seukuran 1 ½ tombak. Tambah lagi, tangan Adam yang memegang Rapier itu
berubah menghitam. Roots Ward menjawabnya pula dengan menanamkan akar pada
lengan, menjadikan porosnya lebih kuat dan stabil.
“Tunggu saja di sini.” Ujar Adam pada Elena.
Adam mengerahkan kemampuannya. Dalam satu lompatan ia telah mencapai
kepala boneka. Tak tanggung-tanggung, ia menusukkan Rapiernya. Tembus dalam.
Boneka itu nyaris terjengkang akibat Dorongan Keinginan yang mengerikan. Tambah
lagi, tangan Adam memanjang bagai tombak lurus. Jejaring Mawar yang terbentuk
lebih tebal dan kuat dari Elena. Boneka raksasa itupun harus membuka paksa dengan
tangannya sendiri. Adam mengeraskan Kekuatan Keinginannya. Kakinya menapak
udara. Ia mengambil napas penuh dan saat itulah Botta Dritta menerjang, menembus
dan membuat kembali Jejaring Mawar lain. Tapi kali ini, tak hanya jejaring mawar.
Duri-duri mawar turut hadir menembus dari dalam kulit.
“Wow! Kakek Adam kuat sekali ya? Kakek Greul tidak pernah bilang. Ini sih,
Lebih seram dari Sara!” decak Allen kagum.
“Uuu~ kakek guru Vristinus Adam masih nomor satu karena ia tak pernah
membawa Rapier dalam perjalanannya. Badannya saja sudah bisa dijadikan senjata...
tapi dengar-dengar dulunya kakek guru Adam itu sangat lihai berpedang.” Tambah
Elena.
“Itu tepat sekali Wishmaster cilik. Tak ada yang bisa mengalahkanku dalam
berpedang kecuali satu orang Darkmaster.” Adam melirik dan memberi senyum pada
Allen “Untung saja anak didikannya selalu kalah oleh anak didikku.” Ujarnya selagi
terus menusuk boneka raksasa.
“Kemarin aku menang lawan Sara!” jawab Allen sewot. Ia bisa langsung ngeuh
arti kalimat Adam barusan. Wishmaster yang bersangkutan hanya tersenyum geli saja
melihat reaksi Allen. Sampai senyumnya terhapus oleh peristiwa lain.
Cahaya ruang telah kembali terang. Sekarang giliran Allen melesat bersama
Emeth. Dan gempuran dua sosok ini memberi perlukaan yang tidak main-main.
Boneka besar itu somplak kiri-kanan akibat serangan bergantian Darkmaster dan
Wishmaster. Saat cahaya ruangan kembali gelap, seharusnya Adam kembali melesat.
Tapi yang ada, ia justru tertegun.
“Tak mungkin eskalasi keinginan ini...” desisnya. Matanya membelalak. Elena
tak jauh berbeda. Mereka berdua merasakan Denting Keinginan yang mengalir bagai air
bah. Iramanya semakin kencang sampai hendak memecah gendang telinga Emeth dan
Elena.
“Aaa~ ini Wish-Comes-True!!” teriak Elena.
Mendadak ruangan kembali terang. Allen reflek melesat.
“Jangan! ALLEN!” cegah Adam.
Telat! Allen tak menyadari bahwa ruangan menjadi terang karena boneka itu
memendarkan cahaya. Gelombang ledakan terhempas dari boneka raksasa. Adam dan
Elena membentangkan tangan membentuk perisai Keinginan: WiShield. Adam
mengembangkan jubahnya dan membuat tembok besi seukuran 5 x 5 tombak. Rex, Ark,
Emeth, dan Anne terlindung di baliknya. Sementara Elena mengembangkan perisai
akar-akar kayu yang membungkus dinding besi. Allen yang paling dekat terhempas
menghantam dinding, ia tak masuk dalam lingkar perlindungan.
“Allen!” jerit Anne.
“Jangan kesana! Wish-Comes-True tidak akan membunuh secara langsung!”
cegah Adam. Anne menggigit bibirnya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah
memanggil gumpalan air berkekuatan tingkat 5 untuk menghisap Allen dan mengurangi
tekanan yang diterima Allen.
Anne pun menambahkan gelembung pada tiap insan sebagai pelindung tambahan.
Derasnya tekanan hampir saja meremukkan tubuh Allen. Bila tidak ada gumpalan air
yang menelan dan melindunginya, mungkin ia sudah menjadi satu dengan bumi. Meski
begitu, ia benar-benar tak tahan mendengar jerit kesakitan Allen. hatinya tercabik-cabik
oleh ketidakberdayaannya menghadapi siksaan batin ini.
Di lain sisi, Elena yang sudah kelelahan mulai tak bisa lagi mengakselerasi
Keinginannya.
“Aa~! Aku tak kuat lagii~”
Perisai Keinginan Elena remuk. Akar-akar kayu yang membungkus dinding besi
rontok. Elena terlempar keluar dari perlindungan perisai. Ia masuk dalam tekanan
Wish-Comes-True.
“Elena!” konsentrasi Adam nyaris buyar. Tembok besinya mulai retak-retak.
Angin yang menyesakkan dada mulai menerpa mereka. Keselamatan mereka saat ini
berada di ujung tanduk.
Rex menggeretakkan giginya.
Mendadak enam buah pilar batu muncul mengelilingi mereka. Emeth bersiaga.
Enam buah pilar batu menyerpihkan tanah dan pasir-pasir. Perlahan pasir-pasir itu
menyatu menjadi kubah. Jauh lebih besar dibanding perisai besi Adam!
Begitulah, mereka semua terlindung di balik kegelapan tanah.
“Puh, Angin seperti itu takkan bisa meruntuhkan tanah.” komentar Rex.
“Ini ulahmu, Rex?” tanya Emeth.
“Anggap saja begitu.”
Adam mahfum tapi ia tahu betul daya gedor Wish-Comes-True. Ia memutuskan
melakukan sesuatu yang dibenci oleh pihaknya sendiri..
“Aku takkan berterimakasih atas tindakanmu. Tanah tak harus dibungkus oleh
logam.” Decak Rex dari balik kegelapan.
“Aku juga tak butuh terima kasihmu. Aku hanya khawatir Allen tak bisa terobati
dengan baik.” Balas Adam.
Sebuah api kecil menyala dan mengapung di tengah-tengah mereka. Yang
menjadi perhatian utama adalah korban dari hempasan yang luar biasa.
Allen melenguh. Derasnya tekanan hampir saja meremukan seluruh tulang Allen.
Ia kejang-kejang menahan sakit. Tanganya berkali-kali berontak, kakinya menendangnendang
tak henti-henti. Pandangan matanya ketakutan dan melihat jauh ke ufuk
horizon. Bibirnya berbusa saat meracaukan kalimat.
“Jangan lagi... jangan lagi...”
Ia sangat membutuhkan pertolongan. Dan Adamlah yang pertama kali bergerak
menuju Allen. Ia mengulurkan tangan mengusap rusuk dan kening Allen.
“Tenanglah Allen... tenang...”
Allen meresponnya dengan:
“Aaa~ Tidak~ hiiiy~ Ampun~!!” jeritan…
Elena juga tak jauh beda. Hanya saja, ia lebih terlihat seperti menggigil.
“Elena? Hey, ada apa denganmu?” Emeth menggoyang-goyangkan tubuh Elena
berusaha untuk menyadarkannya.
“Ia terkena Efek Wish-Comes-True... ia akan merasakan Keinginan terburuk yang
pernah ia pikirkan.” Adam menerangkan.
“Semacam serangan mental seperti efek ketakutan kabut Ferrow?” tanya Arche.
“Kurang lebih begitu dan jurus ini akan terus menekan fisik dan mental sampai
batas waktu yang tidak ditentukan. Dan karena itulah... efek dari Wish-Comes-True
akan memancing gejala Fana lain. Saat ini aku rasa aku bisa memancing keluar sedikit
keinginan terburuknya... tapi setelahnya Allen sendiri yang harus berjuang untuk
sadar.”
Adam menancapkan Rapiernya di samping kepala Allen. Kedua tangannya
menghitam keras. Tangan kanan Adam menunjuk dada Allen dan dalam satu kali
gerakan menorehkan luka panjang dari dada menuju perut. Tangan kirinya menekan
luka tersebut. Tidak ada darah yang menetes, melainkan serpihan-serpihan besi hitam
yang meluber. Tangan kiri Adam diangkat. Bagaikan magnet, serpihan besi-besi hitam
itu mengikuti gerak tangan kiri Adam. Tubuh Allen juga ikut melengkung seolah ditarik
kuasa tak terlihat. Setelah semua besi hitam terkumpul di udara barulah Adam
menghantamkan tangan kirinya ke tanah. Besi-besi hitam itu turut ikut menghujam
tanah dan lenyap tanpa sisa. Hening sejenak sebelum akhirnya Adam menghela napas
lega. Keringatnya bercucuran. Tapi ia puas, Allen tak lagi menjerit ketakutan.
“Menolong Darkmaster, eh? Tak kusangka kau sebaik ini.” sindir Rex
“Oh, tenang saja. Pernah ada Darkmaster baik pula yang menyelamatkan
Wishmaster.” Balas Adam sembari melirik Anne. “Dan akan ada satu Darkmaster lain
yang akan menyembuhkan Wishmaster. Semuanya akan impas.” Sambungnya lagi.
Emeth menelikungkan alisnya mendengar percakapan Rex dan Adam.
Di lain sisi, Anne menelan ludahnya. Ia memandang Plakat Platinum Hitamnya.
Lalu berpindah pada lengan Arche yang patah dan Allen yang terbaring. Ada
kekecewaan bermain di matanya... ternyata tak semua bisa disembuhkan. Adam melihat
ekspresi wajah dan mendengar Denting Keinginan Anne.
“Tenang saja Anne... daya penyembuhan Air Dark Nature tetap nomor satu...
hanya saja kali ini racunnya berupa keinginan dari manusia itu sendiri.” jawab Adam.
Anne tersenyum kelu. Wi-Song Adam cukup menenangkan hatinya walau sejenak.
“Ah~” Elena tersentak dan terbangun. Detik berikutnya ia langsung
memuntahkan keping-keping hitam yang tajam. Lega, Ia menyeka peluh yang
membanjiri wajah mungilnya. “Untung saja aku bisa lepas.”
“Hanya Wishmaster saja yang bisa lepas darinya tanpa bantuan siapapun... Kelas
lain yang terkena akan sulit untuk keluar dari jerat Keinginan.” Tambah Adam.
“Sepertinya jurus aneh kalian itu sudah selesai dilancarkan. Tidak ada lagi
getaran pada kubah tanah.” Balas Rex tiba-tiba.
Allen tersadar. Ia celingukan kiri-kanan dan menyeka peluhnya. Begitu ia melihat
Adam dan sekelilingnya, barulah ia bisa nyengir lega.
“Untung hanya mimpi.” Desah Allen.
“Untung kau sadar, kalau tidak, aku takkan membuka kubah ini.” balas Rex
sembari menghantamkan kepalannya ke tanah.
Kubah tanah perlahan tenggelam kembali. Mereka sudah sembuh... begitupun
dengan lawan mereka. Boneka raksasa tak lagi terluka. Geram, wajar saja, usaha
mereka terbuang sia-sia. Di lain sisi, justru luka-luka dari kelompok mereka makin
bertambah.
Cahaya ruangan kembali terang. Darkmaster hendak bergerak tapi menyurutkan
niat mereka. Kristal-kristal hitam boneka raksasa perlahan meleleh. Membuat guratgurat
merah menyala. Keringat dingin Rex justru mengucur. Ia tak ingin membenarkan
apa yang ia pikirkan saat ini.
Boneka raksasa itu menelurkan sebuah titik api kecil dari mulutnya. Warnanya
hitam pekat. Panasnya terasa menusuk kulit meski dari jarak 15 tombak. Cahaya ruang
seakan bengkok. Keringat seketika menetes turun bagai banjir. Stamina dengan cepat
terkuras bahkan sampai nyaris menghilangkan kesadaran.
“Apa itu? Api? Sekecil itu?” Emeth menyunggingkan senyum meremehkan
dalam separuh lelah kepanasan. Ia menyiapkan Hearyousol. Bola-bola cahaya merah
Emeth siap diadu dengan titik api hitam sang boneka.
“Eee~ tunggu dulu komandan Emeth... Api itu hitam? Memang ada api hitam?”
Elena mencoba mengambil buku pinknya. Matanya mulai berkunang-kunang karena
panas dan membuatnya tak bisa mencari dengan benar. Dan memang, buku yang
dibawanya tak memberi informasi apapun. Sejarah api hitam hanya dikenal oleh
sebagian kalangan.
“Pyrogenesis...” desis Anne pucat.
“API TERLARANG DARK NATURE!” Jerit Allen panik. Ia yang pelupa justru
tahu api itu. Api kecil itu ditiupkan pada mereka. Gerak api kecil itu lambat bagai siput
merayap. Tapi panasnya yang dihantarkannya serasa neraka duniawi.
Anne langsung saja menarik Plakat Platinum Hitamnya
“Area tingkat 10, kekuatan tingkat 5, waktu 3 menit, Air!”
Gelembung air kecil membungkus rapat api hitam. Baru sedetik saja air itu sudah
mendidih dan nyaris menguap seluruhnya. Meski begitu, air itu telah membuat suhu
ruangan kembali normal. Bila gelembung itu lenyap maka panas api akan kembali
menerpa mereka. Allen tak tinggal diam.
“Area level 10, Kekuatan level 8, waktu 1 menit, ANGIN!”
Air yang sudah hampir menguap mendadak kembali disatukan oleh gelombang
angin yang mendera dari tubuh Allen. Ledakannya begitu keras sampai hampir
menerbangkan segala materi dan menangkapnya lagi setelah berputar memantul. Angin
seolah bekerja keras membawa kembali butiran-butiran air yang menguap,
mendinginkannya, dan memintanya kembali bersatu menjadi gelembung air. Allen
berteriak keras, urat tubuhnya juga seakan meminta majikannya bekerja ekstra keras.
Tanpa di duga, Ark dan Rex juga menarik Paralunanya.
“Ada ada saja!! Area tingkat 10, kekuatan tingkat 5, waktu 5 menit, TANAH!”
Tanah-tanah mendekat bagai magnet menuju api yang telah terbungkus air. Bagai
terikat hukum, gelembung air membuat tanah menjadi lumpur liat dan perlahan
membentuk patung batu. Dan begitu patung batu itu setengah jadi.... Ark telah melesat
tuk menghancurkannya dengan petir dari Blitzclawnya. Blitzclaw membelahnya halus
seperti membelah tahu. Percikan air yang menggumpal tergabung dengan tanah
terlontar dan mendarat di tanah. Pecahan itu menggeliat-geliat sebelum akhirnya tak
lagi bergerak.
Anne menitikkan air mata.
“Maaf... maaf maaf…” ujarnya berulang kali sampai ia harus menutup mukanya
dengan kedua belah tangan dan terisak.
“Dia terpaksa membuat kami jadi kejam...Ampunilah kami Dark Nature.” geram
Allen. Ia sangat terganggu sekali oleh apa yang baru saja dilakukannya.
“Boneka satu ini benar-benar bermain dengan Hukum Alam rupanya...” gigi Rex
berderit, sesuatu yang amat jarang dilakukannya: marah.
“Jangan-jangan... tadi kalian melakukan Alkimia Transmutasi...” tanya Arche. Ia
mencurigai sesuatu dari patung batu tersebut.
“Tak usah kau katakan! Kami terpaksa melakukannya! Kau pikir kami akan
membuat peristiwa penghancuran benua terulang lagi? Cukup satu saja Mentalist
bertitel 4 yang memisahkan dunia ini menjadi tiga benua! Dan kami terpaksa
menentang Dark Nature dengan apa yang hendak kami lakukan tersebut... biarpun
belumlah menjadi ½ dari apa yang seharusnya terjadi.” Rex tak lagi segan mengangkat
Paralunanya dan menghantamnya ke Bumi.
“Jangan pikir kau bisa kabur dari hukum tanah! Aku, Darkmaster bernomor
empat, Litosu Rex akan mengikat kembali dirimu pada hakikat hukummu!”
Ruangan kembali gelap. Adam kembali melesat menghantam boneka raksasa itu
dengan Fleuret Roots Ward. Sekali lagi, baginya serangan-serangan fisik boneka ini
tidaklah membuatnya berkeringat. Ia justru masih sempat bercakap-cakap.
“Aku tak menyangka kau juga akan turun tangan Rex.” ujar Adam. “Makhluk
campuran Kuasa Dark Nature dan Kekuatan Keinginan ini kuyakin sangat
mengganggumu bukan?”
“Tak perlu kau katakan itu... aku yakin kau juga sama kesalnya dengan diriku saat
ini. Dan jangan kira aku melanggar perjanjian leluhur karenanya, kita tidak
bekerjasama!”
Adam tersenyum mendengarnya. Ia melihat Ark juga masih menggenggam
Blitzclaw di tanganya. Bantuan dua orang ini lebih berarti dari 10 kompi pasukan.
“Menarik sekali... empat Darkmaster ada di sini.” komentar Emeth. Ada nada
ketidaksukaan mendesis sewaktu Emeth melihat Rex dengan Paralunanya.
Ruangan kembali terang. Berarti Darkmasterlah yang harus beraksi.
“Diam dan perhatikan!” perintah Rex pada Emeth.
Rex menghentakkan Paralunanya ke tanah.
“Area tingkat 2, kekuatan tingkat 4, Tanah!”
Sebuah duri tanah melesat dan menusuk-tembus kaki boneka raksasa. Ia
terhuyung. Ark melesat, tubuhnya berbayang dan berpencar menjadi 7. Masing-masing
mencakar satu titik garis: ubun-ubun, hidung, dagu, leher, dada, ulu hati, dan... daerah
vital lain!
Boneka raksasa itu tersengat dan kejang-kejang. Allen tidak menyia-nyiakan
kesempatan ini dan menghantam dengan
“Area level 4, Kekuatan level 6, ANGIN!”
Hantaman keras menghujam dada boneka raksasa. Ia limbung sejenak dan kali
ini, Emeth yang memberi pukulan terakhir. Tusukan tombaknya pada dada boneka
mendorong lebih jauh. Brusol milik Emeth tiba-tiba berubah warna.
“Hearyusol!” Merah! Warna darah dan warna kemarahan. “Friata Fir!!” Titik-titik
kemarahan Emeth berubah menjadi bola cahaya terang, berkumpul dan meledak. Asap
tipis mengepul dari bekas tusukan.
Boneka raksasa itu pun tumbang. Tanpa basa-basi, semua yang menyerang
langsung kembali menggebrak. Tapi, dua di antara Darkmaster yang ahli pertempuran
jarak dekat mendadak menghentikan gerak mereka. Cahaya ruang kembali berubah.
Adam yang gantian melesat. Boneka itu tanpa diduga bisa dengan cepat berdiri.
Hanya dalam beberapa tarikan napas saja, cahaya ruangan mulai berganti, tapi
Adam yang terlalu asyik menyerang tak lagi peduli. Pada saat itulah boneka raksasa itu
mulai mengangkat pertahanan.
Arche yang sedari tadi memperhatikan akhirnya berbicara
“Anne... kurasa aku mulai mengerti lagi pola boneka raksasa ini... saat terang ia
hanya bisa diserang oleh kekuatan Dark Nature kalian karena saat itu Kekuatan
Keinginan akan disegel begitupun sebaliknya. Kurasa ini ada hubungannya dengan
cahaya ruangan ini.”
“Itu aku juga tahu.” cibir Emeth.
“Tapi... aku rasa saat pergantian cahaya itulah saat ia paling lemah...”
“Darimana asumsi itu?”
“Saat transisi itulah lukanya lebih banyak berregenerasi dan saat itulah ia justru
protektif terhadap serangan. Kurasa ia seperti takut terhadap bersatunya terang dan
gelap.”
“Saat terang dan gelap bersatu... tak mungkin... apa itu artinya Kekuatan
Keinginan dan Dark Nature bersatu?” tanya Anne.
“Kuyakin itulah yang dimaksud sebagai ‘aksara perpaduan menjadi kunci’.”
Tambah Arche.
“Kemungkinan Jawaban yang bagus. Aku suka itu, artinya kita tidak lagi
memilih-milih saat menyerang.” jawab Adam.
Adam melesat meski cahaya ruangan berganti terang. Ia mendaratkan tusukan
pada boneka yang sudah menjadi sekeras intan. Sayang ikatan Mawar seolah tak mau
tumbuh pada materi sekeras boneka raksasa.
“Kurasa bukan asumsi yang valid...” ujar Arche.
“Tidak! Kau benar, Arche!” Anne mendadak melesat pula membawa
Paralunanya. Ia memutar bak gangsing dan membantu Allen.
Apa yang dikatakan Arche benar. Boneka itu sangat defensif terhadap serangan
saat pergantian cahaya. Apalagi, Anne akhirnya juga turun tangan. Penambahan satu
penyerang memberi hasil signifikan. Untuk kedua kalinya boneka raksasa ini terjatuh.
Boneka raksasa tak lagi berbentuk bagus. Seluruh tubuhnya dipenuhi bekas-bekas
luka. Kemenangan ada di depan mata.
“Sedikit lagi...”
Boneka tersebut melakukan sebuah gerakan. Setitik air bening muncul diatas
kepalanya.
“Tak mungkin!” jerit Anne. Ia sebagai Darkmaster Air tak mungkin tak
mengenali percikan air yang baru saja membasuh lawan mereka. Ia benar…
Boneka itu kembali pulih seperti sedia kala.
“Melawan Undead atau yang kebal-kebal sama saja... Menyebalkan.” Seringai
Emeth. “Tapi mereka sansak yang Menyenangkan!”
Emeth yang tak mau kalah makin ganas menghantam lawan.
“Benar. Tapi kalau begini tidak ada habis-habisnya.” ujar Adam. Ia mengalihkan
perhatian pada Elena yang lemas dan Arche yang masih terluka. Sudah dua pejuang
yang gugur tak bisa bertempur dalam waktu singkat. Allen memang terlihat masih segar
tapi ia terlihat bosan dan enek bertempur. Emeth berusaha keras menyembunyikan
senggal napasnya. Umur mulai memakan fisiknya. Sisanya: Ark dan Rex.
“Jangan harap!” tegur Rex keras mendengar saran Adam yang bergaung di
kepalanya. Mendengar ini, Adam melesat mendekati Allen dan bertanya langsung.
“Allen! Kau bisa menggunakan Rapier?”
“Bisa! Sara pernah mengajariku.”
Adam tersenyum mendengarnya. Sekali lagi ia memandang Rex dan Ark. Rex
menggerendeng pendek.
“Sekali ini saja!” bentak Rex.
Gelap mulai merasuki kembali. Sekarang seharusnya giliran Adam yang maju.
Tapi ia justru memasukkan Rapier kembali ke sarungnya. Ia menunggu Allen sampai di
sampingnya.
“Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan.” ujar Adam sembari menyerahkan
Roots Ward.
“Hah?” jawab Allen bengong.
“Rapier itu kudesain agar mampu mengikat Paraluna... tadinya aku ingin
mengalahkan Greul dengannya tapi... ternyata keinginanku itu telah disetir begitu rupa
oleh Dark Nature agar suatu saat bisa berguna seperti sekarang. Kau dan Saravine-lah
yang menyadarkanku bagaimana keinginanku terhadap Roots Ward akan mencapai
sebuah tujuan... yang telah lama diidamkan Greul.”
Allen yang bodoh seharusnya pusing berpikir tapi ia justru memperlihatkan
roman tak percaya. Sebelum ia sempat bertanya, Adam sudah melesat tinggi
“Kakek Adam...” bisik Allen lirih “Jangan-jangan…”
Kedua tangan Adam berubah menjadi tombak besar. Seluruh kulit Adam pun
perlahan menghitam. Ia menerjang lurus pada lawan setinggi 10 tombak ini. Serangan
boneka transparan tak lagi berpengaruh padanya. Ia menepisnya seolah membuang
sampah. Dan lesatannya tak lagi terhalangi. Ia hinggap di atas kepala boneka besar.
“Kakek Adam.” bola mata jenaka Allen mengecil. Ia tak melihat ada canda dan
baginya, ini juga bukan candaan. Genggamannya pada Rapier dikeraskan. Ia melihat
Adam menghujamkan kedua belah tanganya pada kepala boneka. Tangan itu melesak
lurus.
“Keinginan yang kuat dapat menentang Dark Nature...” Ujar Adam. Ia
mengerang, urat-urat putih mencuat layaknya boneka MarryOMary. Tubuhnya perlahan
menyesak masuk dan hendak menyatu. Kalimat ’Bila sudah bertemu, akan sulit
berpisah.’ menjadi penggambaran tepat keduanya.
“Kakek Adam!” teriak Allen. Suara Adam terngiang lembut di kepala Allen. Ia
yang hendak mencegah justru dicegah. Instruksi Adam mengalir, meminta Allen untuk
melakukan apa yang ia inginkan. Allen melepas sarung, menggabungkannya dengan
pommel; membuatnya dua kali lebih panjang. Setelahnya Allen menyandingkan
Sylphind Rhyme dengan Roots Ward. Jarring-jaring tangkai Mawar mengikat Sylphind
Rhyme seolah ilalang memberitahu letak kekasihnya, sang angin. Dan saat kedunya
bersatu, mereka tak terpisahkan. Entitas baru terbentuk.
Gagang yang panjang. Pelindung Tangan Rapier menjadi landasan lengkung
Paraluna. Jejaring mawar membuat duri-duri pada bilah Rapier. Kuncup Mawar putih
mekar pada pucuk tajam Rapier.
“Namamu… Sylphind Fleuret?” desis Allen. Ia mendengar suara lain bergaung
dalam benaknya.
“DarkWish?” desis Rex dalam keterpanaan.
“Atas nama Sylphind Fleuret, aku... Allen Inverson... meminta harapan Dark
Nature untuk bersatu dengan… Keinginan.” ujar Allen dalam separuh-sadarnya. Doa
satu itu membuat semua Darkmaster tersentak. Apa artinya ini? Sayang, mereka tak
sempat bertanya. Allen sudah keburu melesat, siluet Kalajengking membelah udara.
Titik-titik air mencetak lintasan Allen. Ia sendiri terkejut. Ia yang diberi kebebasan
harus merasakan dirinya dikendalikan oleh kuasa lain. “Tidak….” desisnya lirih. Ia
akan sangat tak suka dengan Keinginan yang terngiang –dan tak dapat dicegah- di
kepalanya.
“Atas nama Dark Nature, Janji yang terikat, Tanah.”
Dentum Paraluna ‘Lex’ terdengar keras. Perlahan tapi pasti, boneka raksasa itu
membatu mulai dari kaki sampai kepala. Allen dan Adam saling berhadapan. Dalam
waktu yang singkat mereka bertatapan mata. Adam dapat melihat air mata Allen. Kilas
memorinya seolah membawanya saat melihat Saravine kecil yang menangis saat
dibawa lari dari Erune.
“Bukan... keinginan yang kuat pada akhirnya akan direstui oleh Dark Nature...”
bisik Adam lembut. Itulah jawaban akhir dari keresahannya.
“TIDAAK~!!” jerit Allen tak kuasa menahan gerak tangannya sendiri.
Dark Nature dan Kekuatan Keinginan bersatu dalam senjata. Fisik senjata milik
Kekuatan Keinginan dan tenaga milik Dark Nature. Semua itu tersambut dalam satu
gerakan: Luna Lunga… tidak, Botta Dritta yang mengarah lurus lagi tajam. Sylphind
Fleuret menembus dada Adam.
Pucuk bunga Mawar tertanam, tertembus termerahkan oleh darah. Kelopakkelopaknya
berguguran pertanda gugurnya cinta. Jaring-jaring tangkai mawar beserta
durinya bertindak lebih kejam. Kulit Adam diikat. Jalur darahnya diisi oleh serabutserabut
tipis tangkai Mawar. Serabut itu terus menjalar menyeluruh pada boneka
raksasa. Adam mutlak mengikat dirinya dengan boneka, menjadikan rasa sakitnya sama
dengan materi yang ia ikat.
Jangan tanya sakit Adam... ia hanya bisa meringis membius dirinya dengan
Kekuatan Keinginan. Jangan tanya sakit Allen. Ia mati-matian menahan derita dengan
menderitkan gigi. Matanya berkabut dan iapun membuang mukanya. Melihat Adam
yang tersiksa jauh lebih menyakitkan...
Sylphind Fleuret membawa dua nama: Angin dan Rumput. Saat Rumput telah
menancap maka angin akan bergerak. Rumput memberi jalur kemana angin bergerak.
Dan begitulah, lengkungan Paraluna bergeser menembus dada Adam. Lurus tanpa
halangan seolah hanya rumput saja yang menjadi bukti adanya angin.
Lengkung Paraluna mencapai pucuk Pointe. Bunga Mawar yang termerahkan
mutlak lenyap tergantikan lengkung sabit. Kekuatan Keinginan dan Dark Nature
mencapai titik kulminasi. Sylphind Fleuret ditarik cepat, lagi-lagi seolah menembus
materi begitu saja. Jaring-jaring tangkai mawar yang mengikat Adam terurai. Desir
angin terdengar dari tubuh Adam. Tiada darah terbetik dari tubuh Adam setelahnya.
Angin telah membawa darah bersama kekasihnya, sang rumput.
Senyum lepas Adam menghias udara. Ia membentangkan tangannya menantang
langit tanpa batas. Puas. Ia puas. Ia menikmati serpihan-serpihan boneka yang perlahan
meluruh bersamanya. Ia telah menepati janjinya pada Grendel biarpun ia tak dapat
hidup untuk menyaksikannya. Ia perlahan menutup matanya, perlahan membiarkan
dingin meresapi kulitnya. Perlahan membiarkan sakit mendera punggungnya...
“Atas nama Air, Aqua Thyme, aku meminta kemurahan kehidupan pada dunia.”
Titik-titik air yang segar membuat mata Adam terbuka sejenak. Dalam nanar ia
melihat Anne menitikkan air mata di sampingnya. Begitupun Allen dan Elena yang
sesenggukan.
“Anda tidak boleh mati dulu. Aku yakin Dark Nature tidak akan
mengijinkannya... lagipula... Saravine pasti bersedih.” Isak Anne.
Adam tersenyum puas. Pemandangan yang diinginkan Greul lebih dahulu dilihat
olehnya.
“Dengan begini... aku yakin...” ujar Adam terbata-bata. Bibirnya mulai putih
memucat. Air Dark Nature tak mempan untuk membawanya kembali pada kehidupan.
“Ada hal yang tak bisa diutak-atik oleh keinginan... dan aku akan merasakannya...”
tambahnya.
“Tapi aku puas... aku dapat melampaui Greul untuk pertama kalinya...” Adam
tertawa lirih. Ia berganti menatap Allen. “Allen... kumohon padamu... jagalah
Saravine... jagalah muridku... jagalah buah cinta Grendel... dan biarkan aku membawa
satu kebohongan... sampai akhir...”
Hening.
Adam menutup matanya. Dan tak lagi terbuka meskipun Air Dark Nature terus
mengguyurnya. Anne terisak. Ia membatalkan perintahnya dan hanya bisa menutup
wajah dengan kedua tangannya. Untuk pertama kalinya ia menangisi seorang
Wishmaster. Elena tak jauh berbeda. Ia menangis sejadi-jadinya.
Allen meraung. Ia membanting Sylphind Fleuret, membuat Rapier dan Paraluna
kembali terpisah.
“Aku tidak suka ini!! Kenapa sih orang sebaik Kakek Adam harus mati!
Kenapa?! Kenapa!?”
Rex menepuk pundak Allen.
“Begitulah hukum Dark Nature Allen. Kepastiannya tak dapat diubah oleh
Kekuatan Keinginan semata.”
Allen mengucek-ucek matanya dan mencoba untuk tegar. Ia memungut kembali
dua senjata itu dan memasukkanya pada sarung masing-masing. Roots Ward diserahkan
kembali pada Elena. Ia tak butuh kata-kata lagi. Ia tahu senjata ini akan lebih baik
dipegang oleh Elena daripada dirinya. Mengingat Sylpind Fleuret dan kejadian barusan
membuat dirinya kesal dan marah.
“Semoga kau tenang di alam sana... paman Adam.” Emeth menundukkan
wajahnya. Ia terdiam khidmat dan melantunkan sajak kepahlawanan dalam bisiknya.
Anne memeluk Elena dan menenangkannya. Bisikan demi bisikan Anne membuat isak
tangis Elena mereda perlahan. Hanya Ark dan Arche saja yang sama-sama terdiam.
Entah apa yang ada dalam kepala mereka.
“Anggaplah ini sebagai penghormatan atas kepahlawananmu... Wishmaster.”
Rex menghentakkan kaki. Bumi terkuak membuat sebuah jurang kecil dan
menjatuhkan tubuh Adam.
“Biarlah jasadmu terus dikenang bumi dan semoga pembebasan atas hukum
membuat jiwamu terbasuh dalam siklus alam.” Rex memimpin doa yang diikuti oleh
Darkmaster lain. Tangan mereka menengadah dan membasuh muka selepas doa. Rex
menghentakkan kaki sekali lagi. Tanah tertutup mengubur Adam.
Perhatian mereka tersita oleh perkara kematian. Tak ada yang menyadari
runtuhan boneka raksasa menyisakan sebuah cawan terang. Langkah kaki mereka
bergeser pelan. Ada yang iseng menarik mereka? Tidak! Cawan itulah yang menarik
mereka. Ia menciptakan distorsi ruang. Kejadian itu terlalu cepat bahkan tak sempat
membuat teriakan meluncur.
Mereka semua terlempar dan terapung di sebuah ruangan lain. Kali ini hanyalah
sebuah kehampaan. Ruangan itu- lebih tepat disebut dimensi -Tiada atas, bawah, kiri,
maupun kanan. Hanya cawan terang itulah yang berada di pusat. Cahaya ruangan masih
silih berganti antara gelap-terang yang membuat kewaspadaan kembali terbetik.
Sebuah suara menggema dalam ruangan.
“aKuLaH DaRK GRaiL... PeMBaWa KeiNGiNaN YaNG DiBeRKaHi oLeH
DaRK NaTuRe.”
“Wah ternyata benar.” Allen berkomentar.
“aKu MeWaKiLi PeMBeNTuKKu MeNGaTaKan SeLaMaT KePaDa KaLiaN
YaNG LuLuS uJiaN. aKu DiBeNTuK SeBaGai PeNGaWaS KeNYaTaaN aNTaRa
KeiNGiNaN DaN DaRK NaTuRe. aKu MeNYaKsiKaN BaHWa PeMiLiK
KeiNGiNaN DaN PeNCiNTa DaRK NaTuRe TiDaK LaGi BeRTiKai.”
Plakat Platinum para Darkmaster berdenging lembut. Pancaran cahaya putih
membuat gelap warna ruang ini terhapus.
“Ternyata benar, ada yang berharap bahwa keinginan dan Dark Nature kembali
bersatu lagi.” Ujar Anne sembari melirik Allen. Allen adalah perwujudan dari persatuan
yang dipertentangkan; Keinginan dan Dark Nature. Ia mengerti keduanya dan tidak
ragu untuk memilih. Ia tidak mendua. Ia menetapkan pilihan bahwa Keinginan dan
Dark Nature bisa disatukan.
Anne mencengkram dadanya. Scarf birunya diangkat sedikit menutupi mulutnya
yang bergetar. Menyadari kenyataan ini membuat keyakinannya bergetar. Ia sampai
tidak menyadari cawan Dark Grail itu masih berceloteh
“DaN SeBaGai BaLaS PeNGoRBaNaN, PeMBeNTuKKu TeLaH MeMBeRiKu
SeBuaH KuaSa BeRKaiTaN DeNGaN MaSaLaH KeiNGiNaN DaN DaRK NaTuRe.
KaTaKaNLaH, WaHai PeMiLiK KeiNGiNaN DaN PeNCiNTa DaRK NaTuRe,
KeiNGiNaN yaNG TeLaH Kau PeNDaM!?”
“Aku ingin Sara disembuhkan dari Broken Wishesnya.” tembak Allen secepat
peluru. Tanpa perlu berpikir bahkan tanpa ada kecurigaan satupun.
Emeth tak dapat menyembunyikan kejut pada wajahnya. Alisnya berkerut dan
genggaman Brusolnya diperkeras.
Hening sejenak.
“KeiNGiNaNMu SeSuai DeNGaN KeKuaTaN KeiNGiNaN DaN KuaSa DaRK
NaTuRe...” cawan itu memancarkan sinar terang yang menyilaukan “TeRKaBuL.”
jawab cawan tersebut. Ruang kembali diwarnai terang dan gelap silih berganti. Sebuah
lukisan muncul di antara mereka. Gambar dalam lukisan itu terlihat bergerak patahpatah.
Gambar itu memperlihatkan bola dedaunan yang terbungkus sulur-sulur
pepohonan. Bola dedaunan itu hampir layu dan sudah berwarna coklat gelap. Bola
tersebut perlahan merekah. Dari dalamnya muncul sebuah tangan. Allen yang melihat
langsung mengembangkan senyum lebar dan semakin lebar saat melihat Saravine
menggeliat berdiri dari bola dedaunan. Kegembiraanya meluap sampai membuatnya
loncat tinggi. Ia terbang tak terpengaruh gravitasi.
“HOREEE~!! Sara sudah Sembuh!” gema teriakan Allen terdengar seantero
dimensi.
Selesai urusan itu, Dark Grail pecah berhamburan. Meninggalkan mereka semua
sendirian.
“Yay! Akhirnya tinggal bertemu Sara saja” Allen berteriak kegirangan dan
berenang dalam alam bebas.
“Lalu bagaimana cara kita keluar?” tanya Arche. Allen yang sedang berenang
berhenti di udara. Dagunya turun. Benar... bagaimana cara mereka keluar?
...Dimensi aneh itu tak mengalami perubahan apa pun. Mereka tak bisa keluar.
“Lalu...?” Anne menengok pada Allen.
“Lalu~?” Elena menengok pada Allen.
“Jangan lihat aku!”
“Kakekmu tak pernah memberi tahu apapun tentang cara keluar dari ruang ini?”
tanya Arche. Allen menggeleng.
Kesuraman melanda mereka. Mereka ganti memandangi Arche, sebagai orang
yang memiliki daya analisis, seharusnya ia memiliki solusi.
“Ada Jalan masuk berarti ada jalan keluar. Sayang tidak ada petunjuk di mana
pintunya berada. Ada dua opsi. Kita bisa mencarinya saat ini juga, dengan resiko
tersasar dan tak bisa kembali atau memakai opsi kedua…Menunggu. Deduksi itulah
yang tersisa berdasarkan pengalaman di tempat ini.
“Aduh, masa harus menunggu sih? Berapa lama lagi? Waktuku jadi tidak banyak
untuk Sara dong. Aku mencari deh!”
Allen ngeloyor pergi berputar-putar dalam dimensi.
“Jadi Saravine tidak ada di sini? Kau menipuku lagi rupanya.” Brusol Emeth
mulai berubah merah “Aku tadi melihat Saravine keluar dari bola daun-daun tidak jelas
dan pemandangan sekelilingnya tidak seperti tempat aneh ini.”
“Tidak tuan Emeth, Arche tidak menipu tuan... dia hanya menyembunyikan fakta
bahwa Saravine terkena Broken Wishes dan kita kesini untuk menyembuhkannya.” ujar
Anne menenangkan Emeth.
Wajah Emeth kecewa “Pantas saja.”
“Aaa~ Broken Wishes? Bukankah itu artinya...” Elena menengokkan wajahnya
pada Emeth. Emeth mengangguk. Sekali lagi terjadi percakapan rahasia di antara
mereka.
“Tak bisa keluar dan tak bisa bertemu Sara...” keluh Allen yang mulai enek
berputar-putar tak jelas.
“Tak bisa kembali ke Aumerthis... tak bisa mengawasi kota kalau-kalau kerupukkerupuk
Hyddrick iseng bertamu... ada lagi kekurangan yang kita miliki?” sambung
Emeth.
“Kita tak tahu berapa lama ini akan berlangsung.” jawab Arche. Ia mengalihkan
perhatiannya menuju Allen yang mulai manyun.
“Bersabarlah Allen, aku tahu kau paling tak bisa bersabar.”
“Aih yah sudahlah. Aku coba santai saja deh.”
Apa mau dikata, Allen benar-benar manyun. Sebuah topik melintas begitu saja di
kepala Allen. Ia berenang mendekati Anne dan berbisik
“Kakak Anne... kalau kita terkurung di sini... nanti bagaimana kakak bisa
melakukan pengawasan pada target?”
“Kurasa itu tak perlu kau pusingkan Allen.” jawab Anne lirih. Allen memang tak
bisa menebak dengan benar tapi garis pandang Anne yang sesaat bergerak memberi
petunjuk sekilas pada Allen. Ia memonyongkan bibir + mengerutkan alis tak suka.
“Jangan bilang... tidak mungkin kan?”
“Dark Nature memang selalu memberikan terdakwa yang tepat bagiku.” senyum
Anne miris. Ia menebak dengan pasti pertanyaan Allen. Wajah Allen mengkerut tak
suka.
“Tidak lucu! Kakak Anne benar-benar tidak lucu, tidak seru! Kakak Anne
bohong!”
Anne diam sejenak “Semua Demi Dark Nature Allen... semua demi Dark
Nature.”
Jawabnya lembut. Ia pun mengusap lembut rambut Allen dan memeluknya. Allen
dapat merasakan emosi Anne mengalir begitu saja dalam getar rengkuhan kakak
tersayangnya. Sejenak ia juga mengerti arti senyum miris Anne. Allen tak suka... ia tak
suka memaknai emosi milik Anne saat ini. Ia melepas pelukan Anne dan cemberut. Ia
diam.
“Allen sendiri? Bagaimana dengan targetmu?” tanya Anne berusaha kembali
mencairkan suasana dengan Allen.
“Aku? Aku tidak ada target bulan ini.” jawab Allen polos.
“Aneh.”sanggah Rex tiba-tiba. Ternyata ia juga memiliki kuping yang tajam. Ia
mendatangi mereka berdua dan menuding Allen “Jangan menipuku Allen, sekarang
bukanlah tahun ketiga. Tidak ada dua bulan yang sama.”
“Tapi beneran kok. Biasanya kan ada muka target kita habis Dark Assembly
berakhir kan? Kemarin itu beneran aku tidak melihatnya sama sekali. Sudah begitu,
sampai hari ini juga masih sama.”
“Jangan coba-coba berbohong, Dark Nature mencatat semua tindakanmu.”
“Sebebas-bebasnya Angin tidak akan bohong kakak Rex. Masa tidak percaya
sih?”
Rex menatap Anne dan Ark. Mereka hanya bisa memberikan gelengan kepala
tanda tak mengerti. “Aneh…” Desis Rex sekali lagi. Ia mencoba mencari aturan
Darkmaster yang membahas tentang itu tapi ia tidak menemukannya sama sekali. Kasus
ini membuatnya diam dan pusing.
“Allen... bila memang kau tidak punya terdakwa... lalu apa yang akan kau
lakukan sampai waktu Dark Assembly?” tanya Anne
“Bersama Sara dong! Kapan lagi punya waktu libur seperti ini... tapi yah kalau
kita bisa keluar. Mudah-mudahan saja keinginanku ini dijawab oleh Dark Nature.”
Allen nyengir senang.
Anne tersenyum mendengarnya. Ia terdiam sejenak dan berdesis “Keinginan dan
Dark Nature ya...”
“Hah? Kakak Anne bilang apa tadi?”
“Tidak apa-apa.” iapun tersenyum lembut pada Allen dan kemudian menolehkan
wajahnya pada Arche sejenak.
Allen kembali berenang, menghabiskan waktu sebisanya. Sampai tiba-tiba ia
menemukan sesuatu yang baginya menarik.
“Loh... loh... kok ada lubang di sini?” ujar Allen. Ia melihat sebuah lubang kecil
seukuran jari telunjuk dan makin lama makin membesar sampai setengah tombak.
Arche langsung menyeruak menggeser Allen. Ia menjulurkan tangan menembus
lubang. Arche terhenyak. Ia merasakan udara yang berbeda. Sebagai penganalis, dia
jugalah yang langsung mencoba keluar dari lubang tersebut. Ia memandangi sekeliling.
Ruangan ini...
“Benar! Ini jalan keluarnya!”
Arche muncul di ruangan di mana mereka melawan boneka raksasa. Mendengar
ucapan itu semua keluar buru-buru. Elena berada paling belakang. Cahaya dimensi
perlahan berganti dan saat itulah lubang itu perlahan mengecil.
“Aaa~ kok lubangnya mengecil?” Tangan mungilnya berusaha merangkak keluar
secepat mungkin. Baru sampai setengah badan lubang itu hampir menggencetnya. Elena
terpeleset. Pergelangan kakinya terkilir. Tubuh mungilnya terjepit. Kekuatan
Keinginannya telah habis sampai ia tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit.
Jeritannya terpantul keras dalam ruangan. Apakah akan muncul lagi korban setelah
Adam?
Sebuah tangan menarik Elena. Dua tangan lagi menahan lubang tersebut. Itu Ark.
Ia membelah tanganya menjadi 3. Tubuh mungil Elena tertarik keluar dan jatuh
menimpa Ark.
“Tuan Ark~” Elena tak percaya. Dua kali ia diselamatkan oleh Ark. “Kok
Darkmaster menyelamatkan Wishmaster?” tanyanya dalam rona merah. Ark hanya
diam, seperti biasa. Elena, sebagai Wishmaster ternyata tak dapat membaca Denting
Keinginan Ark. Kabut awan ternyata juga merubungi selisik keinginan Ark. Dan hanya
Allen sebagai angin saja yang mampu membacanya.
“Kata kakak Ark, tidak ada hubungannya dengan Darkmaster dan Wishmaster.”
Rex mendelik tak suka. “Bercanda kok. Kakak Ark bilang...” ucapan Allen tahutahu
tergantung.
“Bau angin ini...” sengatan-sengatan listrik bagai menyambar Allen dari kaki
sampai kepala. Kakinya mulai bergeser, tertarik oleh bau angin yang menyambar
hidungnya.
Allen lantas berlari meninggalkan khalayak. Ia berlari menuju pintu. Dirundung
penasaran, semua mengikuti jejak Allen. Angin dari Allen menggerakkan khalayak
menuju peristiwa baru.
Chapter 20
Pembenaran dan Kebenaran
Scarf putih Allen berkibar mengikuti langkah cepatnya. Ia meninggalkan
khalayak hanya dalam sekedipan mata. Jejaknya hanya terlihat dari tergesa-gesanya
pintu yang terbuka. Lorong aksara Frunic dilewatinya. Gema langkahnya terdengar
jelas. Ia terengah, bukan karena kecapaian tapi karena ia ingin lebih cepat lagi.
Senyumnya makin lebar, makin senang tatkala angin semakin jelas membawa
kehadiran yang ditunggunya. Sebuah bayangan yang memanjang di balik tikungan
makin membuat mata Allen berbinar.
“Sara~!”
Bayangan di balik tikungan bergoyang. Hening sesaat. Bayangan itu bergerak
pelan menyambut suara Allen. Suara tapak kaki lantas terdengar dengan ritme yang
semakin cepat. Allen juga makin tak sabar. Seluruh sistem tubuhnya menjawab dengan
langkah yang semakin cepat dan semakin lebar.
Sesosok perempuan muncul dari balik tikungan. Mata sayu sendu itu... bibir yang
merekah basah... rambut yang ikal panjang sebahu... benar itu...
“Sara~!” Allen sangat senang melihat sosok yang datang menjemputnya. Mereka
berdua berpelukan erat tanpa sadar waktu. Allen mengecup pipi dan kening Saravine
membuat rindu lenyap terhapus. Dunia sudah menjadi milik mereka berdua, sampai
mereka tidak sadar bahwa mereka sedang diperhatikan oleh khalayak.
“Dia memang mirip dengan Vex dan Aryarancak.” komentar Emeth. Elena
senang dan memperhatikan jari manisnya terus menerus.
“Komandan Arche kenapa bersiaga?” tanya Elena polos melihat Arche yang tibatiba
merintangi Emeth dan Saravine.
“Tidak apa-apa, Arche.”
Saravine mengeser Arche.
“Selamat siang paman Emeth.” Saravine sama sekali tak memberi senyum. Wajah
sayunya hanya diam menatap Emeth.
“Kita jadi kikuk begini. Padahal sewaktu kecil kau biasa bermanja padaku.” ujar
Emeth menggaruk-garuk dagunya dan memberi senyum kikuk. Ia memandang langitlangit
gua. “10 tahun sudah berlalu rupanya. Saat itu kau menghilang dari kerajaan. Dan
sialnya, 3 tahun lalu Ravnell juga dikatakan meninggal dunia... untunglah Ravnell
pulang kembali dalam keadaan utuh. Setidaknya Vex tidak lagi sedih. Dan sekarang,
aku senang melihatmu kembali. Dengan begitu, kalian sekeluarga bisa berkumpul
kembali.”
Emeth kembali tertawa -kering.
“Komandan Emeth,” potong Arche. “Aku selama ini selalu bertanya-tanya
apakah benar komandan ada kaitannya dengan hilangnya Ravnell 3 tahun yang lalu.”
Tawa Emeth makin kikuk. Ia bertanya dengan canda
“Kau ini sama saja seperti si Wishmaster nomor satu itu. Mengapa aku yang
harus selalu dituduh?”
“Komandan adalah orang pertama yang dijadikan tersangka.”
Kali ini Emeth membelakkan mata.
“Atas dasar?”
“Komandan pernah mengatakan ingin mengambil alih pemerintahan Scutleiss 10
tahun yang lalu.” Brusol Emeth memerah setelah ia mendengar kalimat Arche.
“Aku melakukan itu? Astaga! Tak kusangka justru kau yang percaya rumor
sampah seperti itu! Aku ini keturunan Grief yang bersumpah akan melindungi
keturunan Drakhmann! Mana mungkin aku berani melakukan tindakan pecundang
seperti itu! Lebih baik seribu kali bagiku membuat rakyat Scutleiss bahagia dan tentram
daripada duduk di kursi dingin dan sepi!”
“Aku yakin alasan putri Saravine dikeluarkan dari Istana juga karena khawatir
komandan akan mengeksekusinya.” Tambah Arche tanpa mempedulikan omongan
Emeth. Alis pria setengah baya itu menekuk tajam. Satu dua bola merah menyembul
dari Brusolnya.
“Apa kau pikir Vex itu manusia picik?! Aku yakin dia tidak akan berpikir
serendah itu terhadapku! Lagipula, kalau memang itu yang dipikirkan Vex, seharusnya
si manja Ravnell juga diasingkan!” kumandang suara Emeth semakin menekan udara.
Tapi Arche tetap tak bergeming. Emeth menghela napasnya, melenyapkan bola merah
Brusol, dan mencoba tenang sebelum menambahkan
“Arche, kau pikir siapa yang mengajarimu prinsip janji R-Knight haruslah lebih
tebal dari Blacksmith? Janji R-knight Scutleiss bukanlah barang pasang tempel seperti
kultur R! Aku, Velicious Emeth, telah bersumpah harus melindungi Vex! Dan karena
itulah aku sendiri yang mengusulkan untuk menjaga Amaranthie Aumerthis. Kau pikir
apa yang akan terjadi bila Amaranthie diambil, hah?”
“Kecurigaanku ini diperkuat dengan kenyataan bahwa komandan berniat
mengganti hukum di Scutleiss bersama dengan tuan Darkmaster yang ada di sana.”
Arche menunjuk Rex dengan tenang. Ia melanjutkan “Dan interior benteng komandan
yang dirombak menjadi Istana Erune juga dapat dijadikan bukti motivasi komandan.”
Emeth menggerendeng.
“Kupikir mata tajammu itu berguna, ternyata tak lebih dari hiasan belaka. Apakah
mengganti sebuah aturan dan benteng saja sudah dianggap sebagai sebuah kudeta?
Dengar Arche, kesabaranku ada batasnya untuk menghadapi ketololan tak berguna
seperti ini.”
“Kemarahan komandan semakin membuktikan bahwa komandan
menyembunyikan sesuatu.”
“Bahkan kau mengunakan pola pikir Maria untuk menyudutkanku!” Emeth
menahan diri, ia mengambil napas dan mencoba tenang. Alih-alih suaranya kembali
menggerendeng “Kuberitahu sekali lagi, Aku sama sekali tidak terlibat dalam hilangnya
Ravnell 3 tahun yang lalu. Saat itu aku lengah dan tak sempat melindungi anak manja
itu. Kau sendiri tahu saat itu Freedo Crata melakukan agresi kecil pada Scutleiss. Di
tengah hiruk-pikuk itu justru aku juga mengirim tim kecil untuk mencarinya tapi tak
menemukanya. Kekasihmu, si Irium Iris juga ikut dalam tim yang kuutus.”
Arche justru tersenyum mendengar ini.
“Bisa saja komandan menggunakan serangan Freedo Crata sebagai pengalih
perhatian.” Emeth terdiam. Ia menyeringai, sebuah celah kecil muncul dalam alasanalasan
Arche.
“Berarti sebenarnya kau tak punya bukti. Arche, tuduhanmu hanyalah omong
kosong belaka.”
“Kayaknya adu mulut mereka takkan selesai sampai pagi nih.” Allen menguap.
Pembicaraan ini membosankan. Hanya Saravine saja yang terus memperhatikan.
“Kakek Adam menunjukkan padaku lokasi Ravnell terbunuh.” Potong Saravine.
Semua mata berpindah pada gadis ini.
“Tubuhnya tidak menunjukkan perlukaan luar karenanya beliau menduga
Assassin telah membunuhnya. Tapi saat melihat tubuhnya, aku yakin luka itu adalah
hasil BUSTER MANA R-Knight dan karenanya kakek Adam langsung mencurigai
paman. Kemungkinan besar kakek Adam bercerita pada ibunda. Lalu beritanya sampai
pada Arche.”
“Tunggu dulu? Terbunuh? Bukankah Ravnell kembali ke Erune?” tanya Emeth
dalam polah tak mengerti.
“Laporan Telik Sandi menyatakan beliau sebagai asli tapi ternyata putri Saravine
Mutia-lah yang menggantikan pangeran Ravnell. Aku juga baru mengetahui kenyataan
itu baru-baru ini. Mendengar pengakuan putri Saravine sekaranglah aku yakin 3 tahun
yang lalu pangeran Ravnell telah terbunuh.”
“Lalu kau menuduhku? Sekali lagi kukatakan kau tak punya bukti kuat Arche.
aku punya banyak saksi yang bisa membuktikan kehadiranku.” tatapan mata Emeth
menantang Arche. Emosi mereka memuncak bahkan memanaskan suasana sekeliling.
Tak perlu Aghnuscorhn lagi untuk menyulut emosi.
“Area tingkat 2, kekuatan tingkat 2, Air.”
Dua buah gumpalan air jatuh di atas kepala dua orang yang sudah siap saling
memangsa. Jelas itu perbuatan Anne. Ia turut masuk dalam percakapan mereka berdua.
“Kumohon kalian berdua bisa sadar diri. Masalah ini tidak akan selesai hanya
dengan adu mulut saja. Mungkin ada baiknya kita menyambangi kuburan yang
dimaksud.”
“Wah iya tuh, daripada terus-terusan begini. Kamu juga setuju kan Sara?” ujar
Allen senang. Setidaknya ia tidak harus melihat debat kusir sampai pagi.
Saravine membenarkan. Ia membawa mereka keluar dari gunung. Perbatasan
gunung Farangi dilewati. Jalan yang mereka tuju semakin lama semakin gelap padahal
hari masih siang. Warna pepohonan Akairn merah mulai terlihat menggelap, layaknya
darah kotor. Corak-corak tanah yang tidak lagi hidup mewarnai perjalanan mereka.
Aroma busuk mulai terasa pekat menusuk hidung. Ular Serventioust makin banyak
terlihat, nyatanya memang inilah habitat mereka: daerah dengan banyak bangkai.
“Tempat ini... Dekat sekali dengan Jurang Kematian. Jangan bilang kuburannya
dekat dengan... ” komentar Emeth
“Ravnell ada di bawah sini.” tunjuk Saravine dari atas tebing.
“Dekat.” tegas Emeth tak suka. Ia melongok ke bawah. Jurang itu gelap dan
seolah tidak memiliki daya kehidupan, lumut saja sampai tak mau menempel padahal
kelembabannya cukup terasa. Vegetasinya benar-benar kering dan sangat kontras sekali
dengan keseluruhan gunung Farangi.
Mereka turun ke bawah. Udara makin pengap dan berbau busuk. Elena dan Allen
misah-misuh tak tahan baunya. Mereka berdua memilih untuk kembali ke atas saja dan
menunggu. Herannya Ark juga meminta untuk tidak ikut dan memilih bersama Allen
dan Elena. Anne dan Rex diminta ikut sebagai saksi. Emeth sebagai pihak yang
tertuduh sebenarnya juga tak tahan dengan baunya tapi ia lebih khawatir pada situasi
sekelilingnya. Bisa saja kaum Undead menyerang mereka. Berapa kali ia terlihat
waspada sampai membuat Brusolnya mendesis keras. Ia makin sebal karena cahaya
matahari semakin minim. Hanya Arche saja yang tenang berjalan di tempat ini. Ia telah
menebar bulu Meraknya sebagai pindai lingkungan.
Setelah berjalan selama 15 menit sampailah mereka pada sebuah lokasi. Sinar
matahari, herannya, menembus tempat ini. Pada tanah yang tidak lagi suci ini kembali
ditemukan daya kehidupan paling alot: rumput dan semak. Rumput itu bahkan lembab
dan basah seolah embun masih segar menetes darinya. Kekaguman tersirat dari wajah
yang hadir. Mereka tak menyangka bahwa di tempat sekotor ini ternyata masih ada
keindahan yang alami. Saravine menyibak semak-semak dan sampai pada sebuah
lapangan terbuka. Hijau dan segar menyapu mata mereka. Tidak ada lagi istilah kotor di
tempat ini.
Saravine menunjuk sebuah gundukan.
“Di sinilah Ravnell beristirahat selamanya.”
Gundukan tersebut telah dipenuhi oleh ilalang dan rerumputan. Sebuah pasak
yang ditumbuhi jerat-jerat Mawar menjadi penanda khusus. Bunga cinta itu dipenuhi
hawa kehidupan dan menjadi pencerah nuansa kelam dari Jurang Kematian.
“Benar-benar tempat yang tidak baik untuk meninggal. Pembunuh Ravnell
pastilah tak berkeprimanusiaan. Berani-beraninya mereka menempatkannya jauh dari
pusat kehidupan. Walau tempat ini indah tapi…” Emeth menitikkan air mata tanpa
disadarinya. Brusol miliknya perlahan berubah memutih. Ruas-ruas pedang Brusol
menggeliat-geliat lemah gemulai. Emeth menyadari emosinya dan mengendalikan diri.
Saravine diam, mata sayunya melirik pada Arche dan Emeth. Sebelum akhirnya mata
sayu itu kembali menyapu bumi. Ia mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh
siapapun selain Wishmaster.
“Mengapa ada dua kuburan?” tanya Anne tiba-tiba.
“Kakek Adam mengatakan bahawa ada korban lain. Perempuan.”
“Ooh... apa kau mengenali siapa korban itu? Bisa jadi itulah kunci utama
kesalahpahaman ini.” Erang Emeth.
Saravine menggeleng.
“Apa ada ciri-ciri lain yang spesifik tentang gadis itu?” tanya Arche. Saravine
terdiam sebentar memandangi Arche dengan mata sayunya. Mata biru pucat Saravine
menutup saat ia berujar.
“Dia memakai emblem Freedo Crata. Berbaju hitam, membawa dua buah sisir
besar tapi juga membawa Jayva Midicea.”
“Telik Sandi yang mengambil lisensi Penyembuh? Cih, memang ciri khas Freedo
Crata.” maki Emeth. “Pantas saja mereka berani melewati Jurang Kematian. Daerah ini
secara geografis memang tembus sampai daerah luar kota Amaranthie. Mengapa aku
tak pernah memikirkan kemungkinan itu!”
Arche hendak berbicara
“Arche dan paman Emeth, bisakah kalian tidak lagi melanjutkan aksi saling tuduh
kalian? Saat ini Erune sedang dalam krisis pemerintahan dan aku yakin Erune sangat
membutuhkan bantuan kalian berdua dalam menyelesaikan masalah.” potong Saravine.
Ia mencegah tindakan Arche karena tahu akan ada kemungkinan perang mulut lagi di
antara keduanya.
“Dengan senang hati, putri Mutia.” jawab Arche.
“Mengapa tidak? Asal jangan ada yang mengusik saja.” Emeth mendelik pada
Arche “Hey, lain kali kalau mau menuduh, bawa bukti yang kuat. Aku jadi benar-benar
kecewa padamu tahu. Percuma saja aku melatihmu di bawah komando pasukan
Karnivora Zirah Merah.” Brusol Emeth kembali mendesis. Hawa tak enak
menyambangi mereka.
Rex membentangkan tangan, sesaat menarik perhatian semua. Matanya yang
menyipit memperlihatkan roman tak senang. Ia mendelik pada sekelilingnya.
“Aku merasakan firasat buruk.” ujar Rex. “Ada yang mendatangi tempat ini... tapi
tidak memiliki hawa kehidupan.” tambah Anne lembut tenang. Tapi di balik itu, Aqua
Thyme siap di depan dada.
“Dan keinginan.” potong Saravine. Ia mencabut Flambergenya. Dengan kekuatan
keinginan, Saravine menghitam-keraskan tanganya.
Makhluk-makhluk yang mendatangi mereka layak disebut mayat. Bagian-bagian
tubuh mereka membusuk dan sesekali terlihat nyaris copot. Belatung-belatung hinggap
berusaha mengkorosikan sisa kehidupan tapi justru tak berdaya. Salah satu anggota
tubuh mereka terlihat lebih besar dari yang lain. Terkadang besarnya bagian tubuh
tersebut seolah terlihat menjadi senjata. Sebut saja ruas tulang lengan yang lebih besar,
kaki sebesar gajah, dan bahkan ruas tulang rusuk yang memanjang menembus dada.
“Pawn of Rotten. Penguntit ini rupanya tergoda daya kehidupan melimpah.” desis
Rex. Ia justru tersenyum meremehkan. Sikap siaganya dibuang begitu saja ke tanah. Ia
membuang senyumnya pada “Anne.”
“Tentu, Rex.” Anne berjalan lembut menuju mereka. Pawn of Rotten pun
menyambut langkah Anne dengan jalan pelan mereka. Rintihan-rintihan kecemburuan
pada hawa kehidupan terlontar dari mulut mereka. Mereka tak bisa disebut bernyawa…
hanya nafsu mereka yang masih menggantung di tubuh.
“Hey, hey Anne... berbahaya tahu menghadapi mereka sendirian.” Emeth bersiap
dengan transformasi Brusolnya. Brusol miliknya memutih-perak, lembar-lembar ruas
pedang yang lemah gemulai bagai lidah naga siap mencacak lawan.
“Tenang saja Emeth. Anne paling cocok untuk tugas ini. Menghadapi yang
bernyawa dan mantan bernyawa adalah keahlian khusus namanya.” Tegas Rex sebelum
Anne memulai aksinya.
Sepatu mungil Anne berputar. Riak riak air bermunculan dalam tiap langkah.
Begitupun dirinya yang bagai air berriak. Aqua Thyme-nya menggores kulit busuk
lawan dalam tiap putaran-hindarnya. Bau busuk mayat menghampar udara. Belatungbelatung
berceceran dan menggeliat meregang ajal begitu menyentuh jejak air Anne.
Tanpa disadari, air sudah menggenangi area pertempuran. Tak ada Pawn of Rotten yang
kakinya tidak basah menginjak air. Anne berdiri di kejauhan dan memandangi mereka
dengan lembut. Ia tersenyum sembari mengecup Plakat Platinum Hitamnya
“Area tingkat 4, Air.” bisiknya
Perlahan air yang berada di tanah merayap naik tubuh para Pawn of Rotten.
Mereka berteriak dan meraung layaknya kesakitan. Satu hal yang sangat tidak biasa
sekali pada kaum Undead. Hanya dalam sedetik setelahnya lah, para Pawn of Rotten
rubuh tak bergerak lagi di tanah. Tak ada aroma kebusukan, hanya kesturi wangi yang
menyegarkan.
“He... Hebat... Tarian yang indah tapi mampu menyucikan.” desis Emeth. Tarian
inilah yang seharusnya dikerahkan Anne saat di lembah Maltayr. Hanya saja ia
menggantinya dengan tarian yang lebih suci daripada apa yang ia lakukan saat ini.
Anne memandangi tubuh-tubuh kaum Undead.
“Ternyata memang ada batasan yang kumiliki...” desis Anne lirih... tak terdengar.
Arche melempar bulu-bulu Meraknya ke udara.
“Kurasa ada baiknya kita pergi dari sini.” ujar Arche. “Mereka bisa datang kapan
saja.”
Semua setuju. Hanya satu saja yang tidak.
“Aku tetap di sini.”
“Apa maksudmu Anne? Tempat ini berbahaya!” Emeth menarik tangan Anne.
Anne menepis tangan itu dengan lembut.
“Maaf tuan Emeth tapi... hatiku gelisah melihat mereka yang tak sempat
disucikan. Biarlah aku disini mendoakan mereka. Aku pasti akan menyusul kalian
semua.”
“Kakak Anne...” Saravine berujar lirih. Ia memandang Rex sebelum akhirnya
berujar “Semoga Kekuatan Keinginan kakak yang kuat direstui oleh Dark Nature.”
Rex boleh saja terkejut. Seorang Wishmaster mengatakan hal yang tabu bagi
kaum mereka sendiri.
“Insaf heh?” sindir Rex sinis. “Anne. Semoga kuasa hukum Dark Nature
menguatkan makna kehidupanmu.” Saravine mengerti, Rex berniat menghapus
perkataannya barusan. Ia mendiamkannya saja. Saravine sudah tahu apa yang hendak
dilakukan Anne… Denting Keinginannya terdengar sangat keras dan bergemuruh bagi
Saravine.
Anne menghaturkan hormat dengan melambaikan Plakat Platinum Hitamnya
pada mereka. Senyum lembut yang dihantarkannya membuat kecemasan beberapa
pihak terhapuskan. Khalayakpun bergegas meninggalkan Anne. Semua mata
memandang lurus pada tujuan berikutnya, hanya Arche saja yang masih menoleh ke
belakang. Mata mereka berdua bertemu. Anne sekali lagi tersenyum lembut padanya,
senyum manis... senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun.
Selepas ditinggal, Anne mengecup Plakat Platinum Hitamnya. Ia berbisik
“Kekuatan tingkat 10, waktu 3 menit, Air.”
Bola mata Anne berubah menjadi biru gelap. Nama kehidupan yang
disandangnya berubah. Tangannya melentak halus. Semua bangkai Pawn of Rotten
yang berada disekelilingnya perlahan mencair. Semua unsur penciptaan makhluk yang
telah membusuk ini buyar bersatu kembali dengan tanah.
“Semoga Dark Nature mengampuni jiwa kalian dan semoga kesaksian kalian
menjadi pelajaran bagi yang masih hidup.”
Anne mengalihkan pandangannya pada dua buah gundukan kuburan. Saat bola
matanya masih biru kelam, ia berujar
“Maaf.”
Rombongan Saravine kembali ke atas. Mereka mendapati Allen, Ark, dan Elena
justru sedang asyik bercakap-cakap. Elena tertawa riang mendengar celotehan Allen
dan terlihat memukuli lengan Allen dan juga Ark.
“Ehem.” Saravine berdehem. “Aaa~?” Elena kaget.
“Maaf ya nona Saravine... aku tak bermaksud membuatmu cemburu.”
Saravine merangkul lengan Allen.
“Wah wah bikin iri saja.” Komentar Emeth. Ia tersenyum lebar, senang
“Tampaknya aku akan segera dipanggil kakek.”
Tapi kesenangan satu orang bisa jadi angkara murka bagi yang lain.
“ALLEN!”
Teriakan Rex membahana. Tanah bergetar keras.
“Apa kau lupa perjanjian leluhur? Kami sudah membantumu untuk
menyelamatkan Wishmaster dan itu sudah cukup! Lepaskan ikatanmu dengan
Wishmaster itu sekarang juga.”
“Tidak mau.”
Jawab Allen ketus sembari mengeluarkan lidah. Sikap itulah yang justru
memancing reaksi keras Rex. “Apa yang kau lakukan ini akan membuat hukumanmu
semakin berat! Lepaskan ikatanmu sekarang juga dan kami akan menganggap semua
yang kami lihat sekarang tak pernah ada!”
“Hey, hey Rex. Aku tak suka mendengar kalimatmu itu. Apa kau tak bisa senang
melihat mereka berdua?” Emeth menghadang Rex. Brusol miliknya mendesis liar.
“Jangan ikut campur urusan kami, orang luar!”
Emeth menyeringai. “Kau tahu, aku akan dengan senang hati menjaga hubungan
mereka berdua. Kau harus ingat, akulah penjaga keturunan Drakhmann. Sekali saja kau
berani mengusik kebahagiaanya maka aku takkan segan-segan menghabisimu tak
peduli hukum akan berkata apa.” ancaman Emeth tak main-main. Brusol miliknya
berubah merah darah. Bola-bola cahaya mulai bermunculan disekeliling tubuh Emeth.
“Kau hendak menisbikan Hukum, heh?”
Pasir-pasir Scarf Rex berguguran deras. Suasana semakin memanas. Dua orang
yang sama-sama kepala batu ini dapat saja melontarkan aksi kapan saja. Provokasi
sedikit saja sudah cukup dianggap sebagai agresi. Pendingin kepala sedang tidak ada di
sini... entah siapa lagi yang bisa mencegah.
Garis mata Rex tertutup rapat. Emeth mengeraskan genggaman tangannya.
Serangan? Rex rubuh ke tanah... Serangankah? Rex tak lagi bergeming… sudah pasti
bukan serangan.
“Eeh? Kakak Ark?”
Ark memberikan isyarat tutup mulut.
“Wah, terimakasih banyak kakak Ark.”
Ark mengangkat tubuh gempal Rex. Tanpa berkata apa-apa ia pergi menyisakan
hanya desir angin. Keheningan tercipta... ternyata bukan hanya air saja yang mampu
mendinginkan kepala...
“Aaa~!” teriak Elena tiba-tiba. “Keinginan komandan Emeth sudah tercapai~
akhirnyaa~”
Mereka semua dapat melihat benang biru yang tersambung di jari manis Elena
dan Emeth bersinar. Inilah yang terjadi saat Keinginan sang Matreisha tercapai.
“Aa~ cahayanya indah dan besar.” Elena bersemu merah. Benang biru dari jari
Emeth terlepas. Untaian benang itu melayang ringan dan menyusup ke dada Elena.
Elena tertawa kecil, ia merasa digelitik oleh untaian benang biru. Benang biru itu terus
masuk sampai akhirnya menghilang lenyap.
“Senangnya~ akhirnya komandan Emeth bisa bertemu lagi dengan nona Saravine
dan~ nona Saravine kembali percaya pada komandan~” Elena menjelaskannya dengan
ceria. Tapi keceriaanya berganti muram.
“Artinya... aku tak bisa lagi ada di samping komandan Emeth ya~”
Saravine dapat mendengar Denting Keinginan Elena: kecewa. Ia juga mendengar
Denting Keinginan Allen, ada nuansa senang-senang tak sabar dalam denting keinginan
Allen seolah-olah ia akan melihat hal yang menyenangkan.
Emeth memandangi Elena lekat-lekat.
“Ada benarnya.” Jawab Emeth pendek. Elena lesu mendengarnya. Ia berbalik dan
melangkah enggan. “Selamat tinggal komandan Emeth.”
“Kau pikir Keinginanku hanya secuil itu saja?” tanya Emeth. Elena berbalik
badan.
“Siapa bilang aku akan melepas Wishmaster logistik-ku ini? Dengar baik-baik
keinginanku!”
Denting keinginan Emeth bergema.
“Aaa~” wajah Elena kembali ceria. Ia langsung berlari dan menghambur
memeluk lengan Emeth.
“Aku suka komandaan~”
“Chieeh~ akhirnya diucapkan juga!” goda Allen.
Elena bersemu merah. Ia gelagapan dan berusaha menepis semua perkataan yang
baru saja ia ucapkan. Tapi Allen justru tambah menggoda. Saravine juga turut
memberikan selamat.
Prosesi penerimaan Matreisha dimulai. Elena mengucapkan janji untuk
menyelesaikan keinginan Emeth.
“Kok kayak pernikahan saja yah?” celetuk Allen di tengah-tengah prosesi. Tepat
di saat Elena sedang menundukkan pandangan dan membentangkan tangan.
“Aaa~ Allen jangan ngomong begitu!”
“Kurasa tak ada salahnya keinginan seperti itu juga.” Celetuk Emeth.
“Eee?”
Wajah Elena bersemu merah dan benar-benar habis terbakar. Sampai akhirnya
sebuah Denting Keinginan membuatnya cemberut.
“Aaa~ komandan meledek ya~”
Emeth mengusap-usap kepala Elena. Ungkapan kasih sayang yang jarang sekali
Emeth berikan pada Elena.
“Komandan Emeth!”
Sosok Prajurit R-Knight perbatasan datang.
“Kami mengejar nona ini tapi akhirnya justru menemukan komandan. Kami amat
bersyukur.”
“Memangnya ada apa? Terburu-buru sekali.”
“Komandan sudah menghilang selama 25 hari!” Emeth terbelalak “Kami mengira
ko-” dan ia segera memutus perkataan si prajurit
“APA KATAMU? 25 Hari!? Laporkan keadaan kota Sekarang juga!”
“Ah Baik... kondisi tenang sampai hari ke 15. Pada hari ke 16 komandan
menghilang, Mentalist Afvati Raita datang mengepung benteng. Kami mencoba
bertahan sebisa mungkin tapi...”
“Kalian Kalah? Cih, dasar si pemarah dan tak sabaran itu! akan kuperlihatkan
bahwa R-Knight Scutleiss bukanlah sembarang Unit di benua Sol!”
“Ti... tidak komandan Emeth. Mentalist Afvati Raita dan pasukan Archer-nya
justru mundur oleh satu orang.”
“He? Oleh siapa?”
“Seorang pemuda. Kami tak bisa melihatnya dengan jelas tapi ia tinggi,
membawa golok melengkung dan kami seolah bisa melihat panasnya api dari tubuhnya.
Bahkan sepertinya setiap kali ia melangkah selalu ada jejak api.”
“Hooo pemuda yang luar biasa. Berarti dia pahlawan negara. Apakah kalian
berhasil menjamunya dengan baik?”
“Pemuda itu lenyap tertelan api saat Afvati Raita mundur. Setelahnya, kondisi
aman dan stabil sampai hari ini.”
Allen mengenal siapa yang dimaksud. Mulutnya gatal ingin berujar tapi ia ingat
akan aturan Darkmaster tentang identitas dan terdakwa yang diberikan pada mereka.
“Tapi kondisi Aumerthis pasti masih belum stabil akibat serangan. Akan kubuat
Mentalist sadis itu bertekuk lutut menangis-nangis di hadapanku. Elena, kita kembali
sekarang juga.” Emeth menyeringai. Brusol miliknya berubah hitam.
“Baik Komandan. Wakil komandan logistikmu akan segera menyiapkan serangan
balik untuk mereka~”
Ujar Elena senang. Sebelum bertolak, Emeth mengucapkan
“Saravine, jaga dirimu baik-baik. Serahkan saja keamanan Scutleiss timur
padaku.” Ia mengusap lembut kepala Saravine. “Allen, awas kalau kau membuat
keponakanku ini menangis. Akan kubuat kau merasakan lagi Brusol Hitam.” Allen
nyengir. Kepalanya juga diusap, hanya saja lebih keras dan terkesan mengacak rambut.
“Dan Arche... jaga Saravine baik-baik. Urusan tuduhanmu itu akan kita selesaikan saat
Scutleiss sudah tenang.” Tak ada usapan rambut, justru tatapan tajam.
Kembali satu persatu menghilang dari kelompok. Hanya Allen, Saravine dan
Arche saja yang berada di sana.
“Elena pasti sedang berbahagia sekarang.”
“Benar. Denting Keinginannya terdengar sangat senang.”
“Eh, Sara... aku bisa jadi Matreisha-mu tidak?”
“Aku tahu apa yang ada di kepalamu. Tapi maaf, saat ini aku sedang memiliki
Matreisha...” Saravine memandangi jari manisnya. Tidak ada benang biru di sana...
“Tak mungkin... kakek Adam...”
“Beliau sudah meninggal.” ujar Arche.
“Maaf Sara... itu benar dan akulah yang membunuhnya...”
Saravine tak percaya dengan apa yang baru saja Allen katakan. Ia mencengkram
lengan Allen, berharap Allen kan memberikan candaan seperti biasanya. Yang ia dapati
adalah Allen yang memandangnya dengan mata basah. Ia menceritakan bagaimana
pengorbanan Adam saat pertarungan.
“…Aku mengerti...” Saravine menitikkan air mata. “Mengapa? Dua orang
menjadi korban karena Broken Wishesku.” desisnya lirih. Ia menenggelamkan
kepalanya di dada Allen “Mereka orang-orang baik...”
Allen memberikan kehangatan pelukan pada Saravine. Eratnya pelukan Allen
membawa kecemasan. Ia tak mau sejarah terulang lagi. Broken Wish Saravine bukanlah
sembarang hukuman bagi Allen. Kecemasannya berujung pada ketakutannya akan
kehilangan satu orang lagi. Ia berusaha menepisnya dan mengajukan pertanyaan.
“Aah, bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja?”
Saravine tak menolak. Langkah kakinya bergerak menuruti keinginan Allen. Saat
itulah Arche berdiri menghadang langkah mereka. Ia berlutut dan memberi hormat pada
Saravine.
“Hey, Arche, kamu mau apa? Jangan berlutut di sini dong.” canda Allen. Tapi
canda itu lenyap saat Arche mengutarakan maksudnya.
“Putri Saravine Mutia. Hamba, Arche Efeether, datang atas amanat permaisuri
Vex untuk meminangmu menjadi pengantin hamba.”
Jangan tanya wajah Allen saat mendengarnya…
“Apa katamu Arche? Hey, ini tidak lucu tahu…” sesungging senyum kikuk
mencoba hadir di wajah Allen yang sayangnya segera terhapus begitu Arche masih
terus berlutut tak bergeming. Allen kembali tertawa kikuk dan masih mencoba
berkelakar. Sayang, ucapan Arche setelahnya memutus segala nafsu bercanda Allen.
“Seperti yang kubilang bukan... saat kebenaran diketahui, hubunganmu akan
memburuk... tapi sekali lagi kutegaskan, ini adalah janjiku pada permaisuri dan Aku
Akan Menepatinya.”
“Aku tak terima! Aku juga berjanji pada Sara!”
“Kalau begitu... kita lihat saja, janji siapa yang lebih tebal!”
Arche melepas zirahnya. Begitupun juga Helmnya. Ia meletakkanya di tanah.
Arche menarik keluar dua bulu meraknya. Ia melengkungkanya dan membuat sebuah
busur. Desir angin terdengar kencang. Arche tidak mengeluarkan tombak Meraknya
melainkan sebuah busur Merak yang kecil. Sekilas, terlihat seperti replika busur sisir
milik Telik Sandi.
Arche tak melempar sarung tangan. Ia tak memiliki lagi alat untuk melakukan
formalitas etika duel. Yang ia lepaskan hanyalah tatapan tajam dan sebuah syarat.
“Kalau aku menang, kau tak boleh komplain lagi atas urusan ini!” sergah Arche
sembari melempar bulu Merak ke udara.
“Kalau aku menang, menjauhlah dari Saravine!”
Dan jalan kekerasan, entah mengapa, selalu digunakan... terlepas suka atau tidak.
“Putri Saravine, kumohon kesedian putri untuk menjadi juri.” Saravine diminta
menjadi saksi tanpa meminta persetujuan. Ia hanya diam saja menyaksikan dua pria ini
memasang kuda-kuda.
Allen memulai terlebih dahulu.
“Area level 3, Kekuatan level 5, Angin!”
Arche menghindari serangan angin itu tanpa perlu banyak bergerak. Ia sudah
membaca pola gerak angin dari Allen.
“Ini lagi, aku sudah mengetahui jurus anginmu ini.”
Arche melesat. Ia berakselerasi dengan percepatan dua kali lipat. Ia
memendekkan jarak dengan cepat. Tapi Allen juga tidak kalah cepat. Ia justru
melempar angin dari jarak dekat. Arche mengelak dalam jarak setipis rambut dan
menembakkan panah bulu Merak ke tanah. Allen menghindar, panah bulu Merak itu
mampu melontarkan tanah dan debu ke udara. Panah-panah lain melesat dari baliknya.
Allen yang sudah konsentrasi bertarung tak lagi kaget. Ia justru balas mengeluarkan
“Area level 5, Kekuatan level 4, Angin!”
Angin meledakkan tanah. Bebatuan melesat menerjang segala arah. Arche di lain
sisi, kembali mengelakan semua bebatuan dan kerikil yang melesat menujunya. Selesai?
Belum! Allen tiba-tiba menyeruak dari dalam tanah. Telapak Tangannya mengembang.
Matanya tajam. Ia benar-benar hendak menumbangkan Arche
PLAK!
Arche menepis tangan Allen dengan busur kecilnya. Keringat dingin hampir saja
meluncur dari pelipis Arche. Tapi, lagi-lagi ia lupa Allen masih punya mulut.
“Area level 6, Kekuatan level 5, Angin” bisik Allen dan Arche mendengarnya
dengan pasti.
Angin keras terlontar dari sekeliling tubuh Allen. Arche sempat melompat tapi
tetap saja badai angin yang baru saja Allen lontarkan merobek sebagian baju dan
kulitnya. Ia masih sempat menembakkan sebuah bulu Merak. Yang sayangnya kembali
meleset menghantam tanah. Tapi Arche justru tersenyum
“Kau memang kuat sekali... apalagi kalau tampangmu sudah serius begitu.”
Allen tak lagi memiliki rupa canda.
“Area level 2, Kekuatan level 6, Angin.”
Sekali lagi Allen mengibas tangan. Membuat segulung angin topan menerjang
menuju Arche. Tapi siapa yang menyangka bulu yang menancap di tanah menjadi
pembelok arah angin Allen. Terkejut, kali ini bulu Merak Archelah yang menggores
pelipis Allen.
“Yang itu sudah pernah kulihat.” ujar Arche disela senggal napasnya.
“Begitu?” akhirnya Allen nyengir. Ia berhenti. Kuda-kudanya berubah menjadi
santai “Capek juga bertampang sangar.” Allen memukul-mukul tengkuknya. Dua tiga
tembakan dilepas Arche saat Allen berhenti bergerak. Dengan santainya Allen
menghindar bahkan menambahkan
“Yah kita lakukan sedikit santai saja yah, Arche.” ujar Allen tersenyum.
“Kekuatan level 8, Angin.” Hanya dengan sedikit lentakan tangan saja angin
kembali bermain nakal di sekeliling Allen. Tidak menyebar pada alam, hanya manja
pada Allen. Allen memandang langit dengan senyum lepas. Ia melangkahkan kakinya
ringan menuju Arche. Roman percaya diri menghias wajahnya.
“Jangan-jangan...” desis Arche. Tampaknya ia mengingat kembali momen saat
Allen menggunakan tarian terlarangnya. Allen tahu-tahu saja menghilang. Ia tiba di
hadapan Arche. Cengirannya membuat Arche sejenak terperangah. Terkejut = kalah.
Itulah sebuah hukum dalam pertarungan. Allen menepuk dada Arche
“Daaah~” ledek Allen.
Ledakan angin kecil mengguncang tubuh Arche. Ia bagai merasakan seluruh
tubuhnya diperas mulai dari kepala sampai kaki. Lutut Arche langsung lemas. Ia jatuh
terduduk. Napasnya memendek dalam sekejap.
“Menyerahlah Arche, Aku tak mau bermain lebih lama lagi denganmu.”
“Hhh... Allen, Allen... bukankah sudah kubilang padamu... Kau pasti kalah kali
ini.”
Arche menungkupkan telapak tangannya.
Sebuah bulu Merak tersembul dari scarf Allen. Bulu itu mengaku-kejang dan
menusuk tengkuk Allen. Syaraf pusatnya ditotok. Sekarang ganti Allen yang rubuh
“Aku sudah mengatakan padamu... kalau kau tak menjaganya dengan baik, bisa
saja akan kurebut.”
Arche berdiri tegak kembali.
Allen mengerang. Tangannya bergetar menggapai kaki Arche.
“Belum selesai… Kekuatan level…”
Arche bereaksi cepat, ia melempar bulu Merak yang menyengat tepat di
punggung Allen. Lenguhan pendek menyertainya. Arche yakin bahwa serangan kali ini
menyudahi pertarungan.
“Kekua…tan…”
Tangan Allen masih menggenggam erat kaki Arche. Arche mencegah kalimat itu
dengan melempar bulu ketiga. Menembus dalam bahkan membuat darah seolah meletus
dari punggung Allen. Allen berteriak tertahan tanpa melepaskan cengkramannya pada
kaki Arche. Dan lagi, Allen masih mencoba untuk bangkit. Mulutnya berdesis lemah.
Arche mulai jeri juga melihat ini.
Arche menyiapkan bulu keempatnya tapi sebelum jemarinya sempat melontar,
sebuah benda dingin dan tajam menyentuh kulit lehernya. Perlahan ia melirik.
Saravine berdiri di samping, menempelkan Flamberge-nya tepat di leher Arche.
Jangan tanya diamnya Saravine. Siapapun tak perlu cukup pintar untuk tahu kalau
Saravine jauh lebih menyeramkan dari Setan.
Arche merasakan tekanan aneh menggeliat dari Flamberge Saravine. Seolah ada
benda hidup yang menjalar dan menggeliat memasuki kulit lehernya. Ia benar, tiba-tiba
saja lehernya menggelembung dan meledakkan duri-duri kecil. Tidak mengenai
pembuluh darah tapi tetap saja nyeri menyertai.
“Jatuhkan!” desis Saravine. Arche patuh. Bulu Meraknya dilepas begitu saja.
“Dengan ini artinya tuan putri sudah mengakui kekalahan Allen.”
Saravine tersentak, Rapiernya ditusukkan lebih dalam. Geliat duri-duri kecil
semakin liar dan bergerak menuju kepala Arche.
Arche terdiam. Ia tahu, kalimat atau tindakan yang salah dapat berujung pada
kematian. “Apa tuan putri tak melihat bahwa pertarungan belum selesai? Ini adalah
pertarungan antara dua pria yang saling memegang janji.”
Tekanan Flamberge Saravine berkurang. Merasa mendapat angin, Arche
menambah lagi kalimatnya.
“Kalau aku mati di sini, Allen selamanya akan bersalah karena menjadi orang
yang tidak menepati janji… bahwa pemenang duel ini…”
“Cukup…” desis Saravine lirih.
Saravine menyarungkan Flamberge-nya. Wajahnya muram menyadari kesalahan
yang sudah ia lakukan. Gelap mata membuat segalanya kacau.
Arche mengambil napas lega. Tapi tak berapa lama ia muntah darah. Pertarungan
barusan membuatnya terluka parah. Kali ini tidak ada Anne dan karenanya ia menelan
sebuah pil hitam -pahit.
Di satu sisi, Bola mata Saravine yang terpancang menembus mata Arche. Indra
pendengarnya menelisik tiap Denting Keinginan yang terujar dari Arche. Percayalah,
Saravine masih mencari celah. Dan Arche cukup tahu, ia mengacak Denting
Keinginannya.
“Kumohon putri Mutia jangan marah dulu. Percayalah, hamba tak berniat buruk
padanya. Hamba juga ingin membawa Allen bersama kita ke Erune.”
“Kau hanya membuat alasan saja agar kau bisa membawaku kembali ke Erune.”
“Hamba tak berani.” Arche berlutut.
“Tanpa kau lakukan itu pun aku pasti akan ikut ke Erune.”
“Maafkan Hamba yang telah salah duga. Hamba mengira putri akan lari bersama
Allen setelah berjumpa kembali.”
Saravine bungkam. Kemungkinan itu memang mutlak ada. Hanya saja, dalam
benak Saravine terdapat masalah lain pula yang harus diselesaikan di Erune... dengan
atau tanpa Allen.
Arche menyiapkan Piy. Zirah Arche yang rusak turut merusak bentuk Piy.
Beberapa bagian bulu ekornya somplak. Piy tak lagi dapat membanggakan keindahan
fisiknya. Dan begitulah, ia merendah di hadapan Saravine dan nyatanya sempat
membuat majikannya sendiri terheran-heran.
“Silakan naik tuan putri Saravine.” tawar Arche.
Saravine menolak dengan satu gelengan. Ia justru menggendong Allen dan
meninggalkan Arche.
“Tampaknya aku dibenci oleh tuan putri Saravine... bukan begitu Piy?”
Piy mendongakkan dadanya. Ia tertantang melihat kecepatan lesatan Saravine.
Di lain tempat, kebun teh Gratios. Kebun ini tidak lagi hijau. Daun-daun teh
sudah habis rontok begitupun juga dengan pohon hidup yang tak lagi memiliki daun.
Wajah pada pohon tak akan lagi membuka mata untuk selamanya. Di hadapan sang
wajah, berdiri pria... kakek tua. Greul Fouwl.
“Grendel... setiap manusia takkan lepas dari Dark Nature. Aku pernah berkata
begitu padamu tapi kau selalu membantahnya dengan Keinginanmu.”
“Sekarang kau yang mendahuluiku menemui Dark Nature padahal dulu kau yang
paling menentangnya. Pembenaranmu akhirnya kalah oleh Kebenaran yang tak
terelakkan.”
Jemari tangan Greul mengusap pipi Grendel. Setitik air mata menetes dari mata
yang telah menutup. Perlahan turun dan membasahi jemari Greul. Greul memandangi
jemarinya yang basah. Ia tersenyum. Dihirupnya air mata itu dan penuh haru dan
syahdu.
“Kuanggap air matamu sebagai ongkos melihat kreasi terakhirku, kreasi
Keinginanku. Kalau kau melihatnya, kau pasti akan mentertawaiku seperti biasa.” Greul
mengembangkan tangan seolah membuka layar pertunjukan terakhir. Ia merasa
mendengar tepuk tangan Grendel di balik matanya yang menutup. Tapi dinginnya angin
kembali membawanya pada kenyataan. Ia terkekeh pelan lalu semakin cepat “Tapi kau
sudah tidak bisa melihatnya. Tak bisa lagi melihat pembenaranku…” ia menurunkan
kembangan tangan meski begitu tirai pertunjukan tidaklah tertutup. Sang Sutradara
bergerak untuk mengakhiri segala sandiwara. Kebun teh Gratios ditinggalkan. Dalam
tiap langkah terbawa derasnya keinginan...Entah keinginan apa yang tersemat dalam
hatinya.
Chapter 21
Tirai dan Pembebasan
Begitulah, saat senja merangkak, Saravine dan Allen telah tiba di kota Scutleiss.
Arche datang terlambat. Piy miliknya lari compang-camping dan kalah telak oleh
kecepatan Saravine. Piy hanya mampu menundukkan kepala di bawah pintu gerbang
kota. Menara-menara pertobatan menyapa mereka. Pemandangan kota Scutleiss yang
biasa ditemui kembali memasuki mata.
Panji-panji dan perkamen Rosetta untuk perhelatan sudah diturunkan. Aktivitas
berjalan seperti biasa. Allen sudah tersadar tapi tusukan Bulu Merak membuat dirinya
tak bisa bergerak. Syarafnya dibebaskan oleh Saravine. Walaupun kesal setengah mati
pada Arche tapi Allen tetap mengajak Arche mengobrol. Ia masih bisa nyengir walau
sesekali berkerut saat masalah ‘janji’ terujar.
“Kau telah setuju untuk tidak campur tangan dalam masalah janjiku dengan
permaisuri Vex bukan?”
“Iya iya, tapi mudah-mudahan saja nanti ada yang campur tangan sama janjimu
itu biar kamu tahu rasa.”
Arche mendengus “Aku yakin tidak ada yang bisa mengganggu lagi janji itu.”
“Termasuk aku?” tanya Saravine.
“Hamba yakin tuan putri takkan menolaknya. Ini adalah permintaan dari
permaisuri sendiri. Dan seingatku, putri juga telah diberitahu ini.”
“Benar.” Saravine menutup matanya. Ingatan memang tidak bisa menipunya.
“Tapi aku tak bisa menolak sewaktu kecil.” tambah Saravine tegas.
“Benar. Tapi hamba yakin tuan putri tidak akan menolaknya karena tuan putri
juga mengerti dan menghormati ikatan perjanjian antar pihak yang dapat mempengaruhi
turunanya juga.”
Saravine terdiam sejenak. “Kau mengacu pada perjanjian leluhur Wishmaster dan
Darkmaster?”
“Hamba tak berani.” Arche membungkukkan badan dan menyilangkan tangan
kiri di bahu kanan.
Saravine membaca Denting Keinginan Arche. Reaksi sopan itulah yang justru
menunjukkan ia telah berhasil memojokkan Saravine dengan telak.
“Memangnya yang begituan bisa berpengaruh?” tanya Allen.
Arche menjawab “Tentu saja bisa. Seorang warga negara saja harus patuh pada
aturan yang diberikan negara terlepas dari mau atau tidaknya ia. Begitupun pada
perjanjian antar pihak. Dengan kata lain, perjanjian dapat diwariskan.”
“Tapi... aku berpikir agak lucu nih, kan Sara tidak bisa menyetujui tapi tetap
dibolehkan. Artinya kalau ibunya Sara mau menjual Sara ke pasar budak bisa-bisa saja
dong.”
Arche terdiam sejenak. Pertanyaan barusan cukup menohok “…Benar.”
“Mananya yang kebebasan kalau begitu? Bagiku Perjanjian itu harus sama-sama
saling setuju. Kalau ada satu yang tidak setuju namanya bukan perjanjian.”
Saravine terperangah, bisa jadi jawaban polos Allen itulah yang dapat
menyelesaikan masalahnya... meski memang secara sepihak. Dan jawaban sepihak
bukanlah solusi yang tepat 100% bagi Saravine. Benak Saravine berputar dan tanpa
disadari mereka telah tiba di depan gerbang istana Erune. Mereka disambut oleh
beberapa R-Knight yang curiga.
“Komandan Arche?” tanya salah satu penjaga
“Bukankah komandan sudah desersi?”
Arche menepuk kepalanya “Rupanya ajudan satu itu tak bisa diberi amanat.”
keluhnya. Untunglah penjelasan dan keberadaan Arche sudah cukup menjadi kartu pas
masuk bagi Saravine dan Allen.
Saravine dibawa menuju Aula Rasthu. Arche memanggil para Patih yang sedang
rapat darurat. Tak berapa lama 7 Patih besar yang mengurus kesejahteraan Scutleiss
datang. Mereka semua cukup tua dan bisa dikatakan lebih senior dibanding permaisuri
Vex. Tiap-tiap Patih memakai jubah perak yang bersulamkan batu mulia. Tiap warna
batu mulia melambangkan masalah yang diurus oleh mereka. Mulai dari Berlian, Emas,
Topaz, Emerald, Sapphire, Giok, sampai Onyx. Tak ada dari mereka yang memakai
batu mulia beridentitas merah.
Tiga dari 7 terhenyak saat memandang Saravine untuk pertama kalinya. Dua dari
7 berbisik-bisik saat mendengar nama Saravine Mutia diucapkan. Tapi kecurigaan
masih mendenting dalam relung mereka.
“Bila benar anak ini adalah anak hilang permaisuri Vex. Maka seharusnya ia
membawa barang bukti.” tanya salah satu patih.
Saravine menunjukkan boneka jeraminya. Ia membuka rongga dada boneka itu.
Di baliknya terdapat kristal merah Rubidium yang telah tersematkan sebuah aksara
Frunic: Almyre Dinn. Sekarang semua Patih terkesiap. Rubidium itu adalah emblem
khusus kerajaan Erune.
“Rubidium itu... Rubidium itu adalah memento khusus dari Velicious Vex
terhadap anak perempuan pertama: Almyre Dinn.”
Serentak semua Patih menghaturkan hormat. Beberapa di antaranya mencucurkan
air mata saking senangnya. Satu persatu mereka mendekat dan mencium tangan
Saravine, menunjukan penghormatan mereka. Saravine tak bisa menolak karena ini
adalah aturan Patih istana untuk menunjukkan loyalitas penuh. Ia hanya bisa tersenyum
seadanya dan membangunkan mereka yang kembali berlutut.
“Bisakah aku bertemu dengan ibunda?” tanya Saravine.
Para Patih dengan senang hati menunjukkan jalan menuju sayap utara Istana.
“Aku undur diri dulu, putri Mutia. Akan kubawa Allen beristirahat di tempat
yang pantas.” ujar Arche.
Saravine tiba di ruang tidur permaisuri Vex. Ia dapat melihat kondisi permaisuri
yang membuat hatinya pedih. Ranjang indah bertabur perak dan Rubidium justru
menjadi ironi keadaan permaisuri. Kemegahan dan kemewahan lenyap tak berguna saat
sakit menerpa. Tubuh itu tergolek lemah, pucat hanya ditemani oleh dayang-dayang
dan Patih setia.
Saravine meminta waktu untuk berdua saja dengan ibunya. Dayang-dayang dan
patih meninggalkan mereka berdua.
Dinding tak bersuara, begitupun kursi dan juga langit-langit. Hanya temaram
lembayung prisma menara Lunarc berusaha yang menjadi pencerah suasana.
Saravine bersimpuh di samping ranjang. Ia menggenggam tangan Permaisuri.
“Bunda... adindamu, Almyre Dinn, sudah tiba di hadapanmu.”
Vex tak membuka mata.
“Bunda... kumohon bukalah matamu... adindamu ini ingin bercakap-cakap
dengan bunda sekali lagi. Kali ini… kali ini adindamu…” suara Saravine tercekat..
Pedih. Matanya mulai pedas berbayang. Ia pun menutup mata, berupaya menekan
sakitnya dalam gelap. Retak dalam hatinya tak dapat terbendung oleh Kekuatan
Keinginannya. Kelenjar air mata Saravine menjawab dengan tulusnya air mata. Ia
membenamkan kepala di bawah lindungan tangan pucat Vex.
“Memang aneh bukan?”
Saravine tersentak. Siapa yang bisa masuk tanpa disadarinya? Tidak ada denting
keinginan, tidak ada aroma bahkan sepertinya angin menjauh. Sosok ini... sangat
berbeda dari Allen yang dicintai angin. Jantung Saravine berdegub keras... bila sosok
ini adalah Assassin maka ia tahu, ia pasti tewas di sini. Saravine bersiap mencabut
Flamberge dari pinggangnya untuk memberi perlawanan.
“Level 2... seharusnya terdakwa menjadi gila... tapi ada kalanya pula terdakwa
menjadi sakit karena tekanan jiwa yang terlalu kuat.”
Kalimat itu... membuat Saravine mendongak. Ia mendapati sosok tua yang duduk
di jendela. Saravine benar, angin tidak bermain di sekitar pria ini. Arus angin yang
kencang seolah melewatinya saja bahkan tidak sekalipun menggubris helai rambut
sosok ini.
“Kakek Greul?”
Greul turun dari jendela. Ia melangkah mendekati permaisuri Vex.
“Mirip sekali dengan Grendel.”
Greul hendak menyentuh pipi permaisuri. Ia mengurungkan niatnya. Ia sadar ada
hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hubungannya dengan Grendel.
Lagipula, mata Saravine yang waspada membuatnya sadar situasi.
“Tak ada penyesalan terbesar bagiku sebelum menyadari bahwa aku terlambat
memilih Grendel. Drakhmann beruntung bisa mendapatkan Mawar secantik Grendel.”
ujarnya dalam senyum mengejek dan terkekeh -kecewa tentu saja. “Kau mungkin sudah
mengetahui apa kesan dan kebencian Grendel padaku. Kau dilindungi olehnya dan
bersamanya saat ia berpulang kembali.”
“Nenek tak pernah sekalipun membenci kakek Greul. Itulah yang dipesankannya
padaku.”
Dan inilah pertama kalinya Saravine melihat roman sedih Greul.
“Andai, Dark Nature memberi kesempatan kedua… mungkin aku bisa
menciptakan kreasi yang lebih indah.” ia terkekeh sejenak ”Tapi tak pernah ada kata
andai bagiku. Yang terjadi sudah terjadi.”
Mata itu menyipit memandangi Vex.
“Vex… kesabaran dan kasih sayangnya mirip dengan Grendel… tapi saat
marah…” Greul menyunggingkan senyum -dan tidak terkekeh. Saravine mendengar
Denting Keinginan kakek satu ini. Ia diam saja, ada hal tertentu yang tak mau
digubrisnya walau berkaitan dengan ibunya sendiri. Ia hanya tahu, Denting Keinginan
Greul terasa menusuk saat mengucap kata marah barusan.
“Kakek Greul... kenapa kakek datang ke sini?”
“Ada hal yang harus kuselesaikan di sini.”
“Kakek bisa menyembuhkan ibunda?” seloroh Saravine dalam sentaknya. Ia
merasa sebuah Denting Keinginan halus yang aneh dari Greul.
“Tidak. Penggelapan dari Dark Nature hanya bisa disembuhkan oleh kuasa Dark
Nature sendiri. Darkmaster tidak bisa ikut campur.”
Greul memandangi tubuh lunglai permasuri Vex. Roman penyesalan bermain di
matanya tapi ia segera beralih pada tujuan sebenarnya.
“Bisakah kau memanggil salah seorang dari marga Feather?” ucap Greul.
Saravine hendak beranjak “Aku lupa. Tak sepantasnya aku meminta pada salah satu
pewaris tahta kerajaan Erune.” Cegahnya sebelum Saravine menekuk lutut.
“Kakek Greul tak perlu segan.”
Saravine berdiri. Tapi saat itu Greul sudah tak lagi berada di tempat. Datang tanpa
suara, pulang pun tanpa suara. Ia nyaris seperti awan. Saravine hanya bisa menghela
napas, untuk sesaat ia ingin Greul memiliki solusi. Sayang, tak semua keinginan bisa
terkabul.
Saravine keluar dari ruang tidur permaisuri. Ia disambut Patih-patih dan dayang.
Setelah saling memberi salam, Patih-patih menyatakan maksud mereka.
“Beliau terus seperti itu meski Penyembuh dari berbagai penjuru Scutleiss datang.
Kami dari konsili darurat khawatir akan ada pergolakan politik bila kondisi ini tak
berubah. Karena itu, putri Saravine... kami mohon pada anda untuk naik tahta
menggantikan permaisuri.”
Saravine menghela napas. Masalah yang tak ingin dihadapinya justru
menghadang.
“Bisakah paman-paman menunda keputusan itu? Hatiku masih belum siap. Kalau
diijinkan, aku ingin menunggu sampai ibunda sembuh.”
“Kami mohon putri juga memberi tengat waktu. Dengan begitu kami dapat
menyiapkan prosesi bila ternyata permaisuri tak kunjung sadar.”
Saravine tak suka mendengarnya. Kalimat dan denting yang diutarakan terdengar
negatif baginya. Tapi beginilah politik, suka tak suka harus diterima.
“Bagaimana bila bulan depan?”
Semua patih saling memandang. Mereka tak menyangka Saravine akan menunda
selama itu.
“Kami mohon tuan putri… anda telah menghilang begitu lama dan permaisuri
telah lama tak kunjung sadar. Kami khawatir akan adanya pergolakan bila masalah
pewarisan ini tak cepat dituntaskan. Janganlah anda menunda terlalu lama.”
“Sebarkanlah berita bahwa putri Almyre Dinn telah ditemukan. Buatlah surat
pada semua komandan yang bertugas untuk meminta perpanjangan pemerintahan
konsili darurat. Aku akan ikut membubuhkan stempel darahku dalam surat itu sebagai
bukti. Aku yakin, komandan Emeth, nona Maria, Arche, komandan Llillyanna, dan juga
komandan Gouph akan mengaklamasikan kewenangan konsili darurat untuk sementara
waktu.”
Para patih mengembangkan senyum mendengar solusi Saravine.
“Dengan senang hati, putri Saravine.”
Para Patih mengajukan undur diri. Sebelum mereka beranjak, Saravine
menanyakan perihal Allen.
Saravine bagai mendapat guntur di siang hari. Ia tak percaya dengan apa yang
didengarnya. Ia undur diri melewati jendela. Ia tahu lokasi yang ditujunya bukan tempat
yang baik.
Penjara Lune Justicia kota Lovisolistia.
Terletak di timur dan berada tak jauh dari pertambangan Perak dan Adamantium.
Penghuni Penjara mengatakan lebih baik dihukum bekerja paksa daripada mendekam di
penjara ini. Mereka tidak mendapatkan sama sekali ketenangan kecuali malam. Alunan
musik logam yang ritmikal mampu menghipnotis jiwa dan menaikkan kadar stress
tubuh kala siang. Dan tanpa sumbat kuping Muthos, siksa mental menjadi suasana khas
penjara ini.
Penjara pada malam hari sangatlah sepi. Tak banyak pujian berdendang meski
bulan terlihat dari langit-langit kaca penjara ini. Canda-tawa bahkan obrolan kotor juga
tidak mengisi ruang-ruang maupun lorong-lorong. Penghuninya lebih banyak
meringkuk di bawah selimut bermandikan remang hijau cahaya Kunang-Kunang
Boneka. Mereka perlu istirahat sebelum bersiap menghadapi serbuan dentang tambang
yang menyesakkan telinga dan menggodam jantung.
Penjara Lovisolistia masih memiliki belas kasihan. Penjara ini membuat aliran air
tepat di depan jeruji besi tiap sel. Mereka juga memberikan penciduk air. Setidaknya,
penghuni penjara tidak akan mati kehausan. Meski begitu, tak ada yang berani
menyentuh air itu kala siang hari, selain telah dimasak oleh matahari, air itu juga telah
tercemar oleh kerasnya harmoni pertambangan. Rasio penyuci air hanya menjadi
penyegar kala malam hari... tapi bagi para tahanan veteran, aliran air ini justru adalah
salah satu sumber bau busuk penjara selain bau badan tahanan.
Di salah satu sudut penjara. Allen meringkuk di balik jeruji besi. Entah sudah
berapa gaya duduk yang dicobanya untuk mengusir rasa bosan. Entah sudah berapa kali
pula ia menghitung bisul bulan. Hening senyap malam hari justru membunuhnya pelanpelan.
Sudah pengap dan lembab ditambah pula dengan bau. Kombinasi ini cukup
untuk membuat Allen tambah malas.
Hidung Allen tersengat. Saraf lemasnya padam mendadak. Ia berjengkit dengan
mata terbelalak.
“Bau angin ini...”
“Allen!” gema teriakan nun jauh di sana membuat mata Allen semakin bercahaya.
Allen merasakannya.
“Sara!”
Suara langkah kaki terdengar makin jelas.
“Allen!”
Silang saling panggil inilah yang kembali mempertemukan mereka. Meski kali ini
kondisinya terpisah oleh sebuah jeruji. Tapi bagi Saravine, jeruji bukanlah penghalang.
Tangan mereka yang bertautan adalah bukti pertama dan yang kedua... Saravine bisa
menembus jeruji dengan Kekuatan Keinginannya.
Wajah jenaka Allen kembali bersinar. Semua kebosananya lenyap menguap saat
Saravine duduk di sampingnya.
“Aiyaa~ aku senang kamu mau mengunjungiku.”
“Maaf. Aku tak tahu kalau ternyata Arche membawamu ke sini.”
“Aah, iya si Arche kurang ajar itu. Dia bilang katanya aku harus
bertanggungjawab terhadap sakitnya permaisuri.” Allen cemberut misah-misuh. Begitu
melihat wajah sendu Saravine ia menyadari sesuatu.
“Eh maaf... aku lupa permaisuri itu ibumu.”
“Aku juga masih marah padamu tentang itu tapi yang berlalu biarlah berlalu.
Sekarang aku harus mencari cara bagaimana membangunkan ibuku.”
Allen bengong memandangi Saravine.
“Sara... kamu berubah ya. Kayaknya jadi tidak terlalu terbebani sama masa lalu.”
Saravine mendesah ringan.
“Mungkin begitu.”
Saravine menarik sebuah kantung kecil berwarna biru dari balik ikat
pinggangnya. Ia mengeluarkan sebuah tiga helai daun teh.
“Ini adalah kenang-kenangan terakhir nenek Grendel... tidak ada lagi kebun teh
Gratios.”
Allen bertanya-tanya tentang kebun teh itu. Saravine menjelaskannya sesingkat
mungkin. Ia menghela napas setelahnya, memandangi teh Gratios itu membawanya
sejenak kembali ke masa lalu.
“Kali ini aku yang membawa teh Gratios... mudah-mudahan saja bukan sebuah
pertanda yang buruk.”
“Hus... keinginan yang sepele bisa terkabul kan?” Allen nyengir.
“Sejak kapan kau bisa ingat sampai seperti itu?”
“Kalau soal kamu sih aku selalu ingat kok.”
“Gombal.” Saravine mencubit lengan Allen. Cubitan manja memang tapi dengan
sedikit Kekuatan Keinginan maka sakitnya bisa sangat menyebalkan. Lihatlah wajah
Allen yang nyengir-nyengir ngilu menahan sakit.
“Mengapa kau tak keluar? Perlindungan seperti ini tidak berguna terhadap
kekuatan Dark Nature bukan?” tanya Saravine di sela pembicaraan mereka.
Allen menunjukkan scarfnya. Tali yang menghubungkan Plakat Platinum
Hitamnya telah putus. Saravine terheran.
“Plakatmu diambil oleh siapa?”
“Yah itu tak usah dipikirkan deh. Yang penting sekarang aku dan kamu bisa
bersama-sama lagi kan?”
Saravine tersenyum, meski sedikit kecut.
“Benar.” Ujarnya.
“Aku iri melihat kalian berdua.” sebuah suara lembut menyapa mereka.
“Kakak Anne?”
Anne mendatangi mereka dan memandang dari balik jeruji penjara. Mata lembut
itu menatap pilu pada mereka. Dunia mereka terpisah jauh. Satu terkurung tapi dapat
merasakan kebebasan bersama sementara satu dapat berjalan bebas tapi terkungkung.
“Allen... kau yang membawa nama kebebasan justru sekarang terkungkung dalam
penjara seperti ini... maaf. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Loh, siapa bilang aku terpenjara. Asal hati ini senang aku tidak merasakan
penjara. Di sini aku masih bebas. Apalagi ada Sara di sampingku.”
“Allen, Allen... entah apa yang akan Rex katakan bila melihat kalian berdua
sekarang.”
“Tenang saja kakak Anne... Wishmaster yang sudah terkena Broken Wishes
tidak lagi dianggap sebagai Wishmaster.”
“Wah sama dong, Darkmaster yang tidak punya Plakat Platinum Hitam juga sama
saja dengan orang biasa.”
“Maksudmu Allen?”
“Plakat itu diambil sama kakek Greul. Katanya mau diamankan.”
Anne terhenyak.
“Tak mungkin… Plakat Platinum Hitam memiliki mekanisme pertahanan agar
tak dapat direbut oleh siapapun. Plakat Platinum Hitam hanya bisa dilepas oleh
pemiliknya saja.”
“Entah deh, buktinya kakek Greul bisa. Tapi kakek juga pakai benda aneh sih,
semacam penjepit tapi tipis dan ada rambutnya. Mungkin kreasi barunya yang tumben
berhasil.”
“Apa kakek Greul memberitahu alasannya mengambil Plakatmu?”
“Tidak tuh. Mungkin dijaga untuk persiapan Dark Assembly.”
Anne mengerenyitkan alis dan menekan bibirnya “Tanggal berapa sekarang?”
“Menurut kalender matahari sekarang tanggal 23 sedangkan menurut kalender
bulan sekarang tanggal 16.” jawab Saravine.
“Tuh benar kan, besok Dark Assembly.” Allen cengar-cengir “Berarti besok aku
akan dihukum. Untung saja Plakat Platinum Hitam sudah di tangan kakek Greul. Entah
besok aku akan dihukum apa.”
“Allen!” Anne tak suka melihat cengiran Allen. Ia tahu akan ada pihak lain yang
sakit hati lagi mendengarnya.
“Allen akan dihukum… mengapa?” Pupil mata Saravine mengecil saat bertanya.
Fokusnya terpusat pada Allen yang memasang wajah tanpa dosa. Denting Keinginan
pria ini pun santai saja. Saravine beralih pada Anne. Denting Keinginan Anne, di lain
sisi terdengar sedih. Allen mengisyaratkan Anne untuk diam saja. Tapi Anne berpikir
lain.
“Aku sebenarnya tak ingin menceritakan ini…” Anne menelan ludah. “Allen
sebenarnya telah berjanji untuk menerima hukuman saat Dark Assembly.”
“Karena?” tanya Saravine makin gencar.
“Menyelamatkanmu dari Broken Wishes.”
Saravine terpekur. Bibirnya digigit keras. Ia tak bersuara dan terus menunduk.
Tanpa sadar jemari tangannya mencengkram lengan kanan Allen. Allen, di lain sisi
mendiamkannya. Ia tahu, apa keinginan Saravine... dan ia tahu ia tak bisa bersaksi yang
lebih baik sesuai keinginan gadis itu. Darah Allen turut menetes dari jejak jari Saravine;
darah yang menjadi saksi bisu. Ketiadaan suara dalam penjara menambah suramnya
kesedihan yang tak terucap. Kesedihan ini butuh didobrak... harus.
“Sara, itu tak usah dipikirkan deh. Paling-paling aku dicopot dari jabatan
Darkmaster.” Komentar Allen. Sayang jawabannya salah. Saravine menengok pada
Allen. Ia menitikkan air mata. Ia tak percaya dengan sikap santai yang diberikan Allen.
Bahkan Allen justru merahasiakan hal besar itu darinya.
“Bisa-bisanya kau bilang begitu! Bagaimana kalau ternyata kau diminta mati?”
Anne menelan ludah sekali lagi saat mendengarnya. Ia dapat merasakan emosi
Saravine yang terpendam meluap begitu saja.
“Ah iya juga…” dan jawaban bodoh Allenlah yang menjebol emosi itu keluar.
“Dasar Tuyul pikun!” Saravine menyesak “Jadi buat apa aku diselamatkan bila
ternyata orang yang kucintai akhirnya harus menggantikanku! Aku sudah tak punya
siapa-siapa! Kakek Adam sudah tiada, ibunda sakit keras! Dan sekarang... aku harus
siap kehilangan dirimu?!” Saravine menggeleng “Aku tak tahu... aku tak tahu apa aku
masih kuat lagi menerimanya...”
Allen menggaruk kepalanya. Jujur ia juga cemas apabila rahasia ini diketahui
Saravine tapi ia tak pernah berpikir ataupun berkeinginan bahwa segalanya akan
menjadi serumit ini. Dan yang lebih dicemaskan lagi... ia khawatir Saravine akan
terkena Broken Wishes lagi.
“Sabar Sara... Sabar.” Bujuk Allen. Tangan kirinya yang masih bebas digunakan
untuk mengusap pelan rambut kekasihnya. Isak tangis Saravine mereda tapi
cengkramannya mengeras. Allen tahu... Saravine butuh penjelasan.
“Maaf, kalau saja aku bisa membicarakanya denganmu pasti akan kulakukan,
Sara. Tapi mau dibilang apa, aku sudah terlanjur panik dan tak berpikir benar. Satusatunya
alasan agar aku bisa diterima oleh mereka adalah membuat janji seperti itu.”
“Dark Nature... mengapa kau harus memberi ujian sekejam ini padaku.” desis
Saravine. Allen mengusap air mata yang membasuh pipi Saravine. Allen mengambil
napas panjang sebelum kembali menjelaskan pada kekasihnya itu.
“Sara... ini jalan yang kupilih sendiri. Tenang saja, aku yakin Dark Nature selalu
memberikan yang terbaik bagi siapapun. Hanya kadang-kadang kita saja yang tidak siap
dengannya.”
Anne tersenyum. Ironi perkataan Allen itu dirasakannya dengan telak.
“Ah, tapi kalau untuk masalah Arche lain yah. Aku tak suka kalau tahu-tahu saja
dia bilang ‘aku berjanji pada permaisuri harus menikahimu’. Mendengarnya bikin kesal
saja.” ujar Allen membeo suara Arche. Mendengar ini, Saravine mulai melonggarkan
cengkramannya pada Allen. Ketenangan hatinya mulai kembali.
“Kalau ternyata Dark Nature menginginkan Arche menjadi pasangan Saravine...
apa kau akan terima?” tanya Anne tiba-tiba.
“Err... Bagaimana yah…”
Allen memejamkan mata dan mengerutkan kening. Ia benar-benar menguras isi
otak dan hatinya.
“Yang pasti... Aku tak mau itu terjadi! Kalau bisa aku akan membawa kabur Sara
sekarang juga.”
“Bagaimana bila ternyata besok Dark Assembly mengharuskanmu mati? Artinya
Saravine dan Arche harus bersatu. Bisa jadi inilah yang direncanakan oleh Dark Nature.
Takdir mereka berdua bisa saja tercipta karena Broken Wishesnya Saravine.”
Saat itulah Saravine berdiri. Telunjuknya mengacung tajam pada Anne.
“Mengapa kakak Anne berkata seperti itu? Apa kakak Anne mengutuk hubungan
kami?” derai air mata meluncur tak tertahan dari Saravine. Bibir merah itu bergetar
keras “Aku tidak ingin itu terjadi! Aku tidak cinta Arche! Walau bumi dibalik juga aku
tidak akan terima!”
“Aku boleh mati tapi aku takkan terima! Aku akan mengutuk Arche agar ia tidak
bisa menepati janji lagi!” tambah Allen.
“Aku yang takkan membiarkanmu mati!” Desis Saravine tajam pada Allen. Dan
Allen tahu kesungguhan hati Saravine. Ia menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya.
Allen mengusap rambut kekasihnya dan berulang kali menyebut tenang dengan lembut
dan cengiran. Air mata Saravine tumpah membasahi baju Allen. Sesak tangisnya mulai
tertahan dan mereda. Di saat itulah Anne tersenyum lembut.
“Itulah jawaban yang ingin kudengar. Saravine... maukah kau membantuku?”
Saravine yang sudah mulai tenang mencoba memahami kalimat Anne.
“Aku tak bisa mengetahui apa yang sebenarnya Dark Nature inginkan tapi sedikit
demi sedikit aku sadar apa yang akan terjadi bila semua berjalan lancar.” tambah Anne
sekali lagi. Ucapan ini justru makin membuat Saravine bingung. “Dan untuk itu, aku
butuh bantuanmu Saravine. Aku butuh kesaksianmu.” Anne menolehkan kepalanya ke
barat. Saravine mengikuti gerakan mata Anne yang menuju satu titik. Begitupun dengan
benda yang tersembul dari balik jemari Anne. Seutas Akar serabut. Mengertilah
Saravine apa yang diminta oleh Anne.
Kamar Arche. Salah satu di antara bangsal yang terletak jauh di sayap barat
istana. Kamar komandan tidaklah indah. Justru tumpukan-tumpukan laporan dan
statistik memenuhi kamar. Dinding dipenuhi oleh perkamen-perkamen Rosetta
berisikan informasi-informasi yang tertata rapih. Ranjang berselimut putih, sebuah meja
kerja lengkap dengan lampu Pyramite. Arche tenggelam dalam laporan-laporan yang
telah mengunung di mejanya. Beberapa mengapung di udara sebagai bahan referensi.
Itulah hasil menghilangnya selama hampir sebulan.
Pena bulu Merak Arche luwes menari di atas kertas. Mata tajam Arche menelisik
tiap jengkal laporan dengan teliti. Sesekali satu dua kesalahan ditemukannya. Ia bekerja
cepat. Referensi perkamen hanya bertugas sementara dalam kendalinya. Dari udara, ke
meja lalu diganti dengan referensi perkamen lain. Ini juga yang menjadi alasan ia bisa
mendapat promosi cepat dalam kesatuan.
Pintu diketuk, Arche hanya mempersilakan masuk pengunjung kamarnya.
Arche yang bermata tajam, memperhatikan dari sudut matanya.
“Apakah aku mengganggumu?” suara lembut itu membuatnya tahu bahwa Anne
yang datang bertamu. Mengetahui yang datang adalah gadis idamannya, ia berdiri dan
berkata
“Tentu saja tidak. Sebentar lagi tugasku ini selesai, Anne. Mohon bersabar
sebentar. Silakan cari tempat duduk. Dan maaf berantakan. Aku tak biasa menerima
tamu saat kerja.”
Anne masuk ke kamar. Pintu kamar yang terbuka ditutupnya. Sejenak ia
memandangi Arche yang kembali tenggelam dalam tugas-tugasnya. Roman
kekecewaan membasuh mukanya. Kalimat-kalimat berat akan segera terujar dari mulut
gadis ini.
“Aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi 3 tahun yang lalu.”
“Apa maksudmu, Anne?” jawab Arche acuh tak acuh.
“Gadis itu, Irium Iris adalah pengkhianat Scutleiss bukan? Dia adalah mata-mata
kiriman Freedo Crata yang diberi misi menculik Ravnell sebagai sandera. Dia
mengambil kesempatan saat Freedo Crata melanggar batas negara dengan agresi
mereka.”
Pena Arche terus bergerak menimpali diamnya Arche. Tak lama pria ini berujar
“Teruskan, aku ingin mendengar hipotesismu.”
“Ravnell dijadikan sandera agar Freedo Crata punya daya dalam negosiasi
perebutan tambang. Atau mungkin tadinya Ravnell hendak dibujuk agar permaisuri
mau bernegosiasi dengan opsi yang lebih menguntungkan Freedo Crata.”
“Lalu?”
“Tapi di tengah jalan Iris tertangkap... olehmu. Kau yang mampu mengawasi
dengan bulu Merakmu dari angkasa dengan mudah menemukan mereka di Jurang
Kematian.”
“Lalu?”
“Kau membunuh mereka.”
Pena Arche berhenti sejenak. Tinta yang digoresnya meleber. Ia mengambil
perkamen lain dan kembali menggores tinta.
“Bagaimana caranya?”
“BUSTER MANA-mu tanpa sengaja membunuh mereka.” Anne berhenti
sebentar mengambil napas. “Kekecewaan terhadap pengkhianatan Iris membuatmu
ingin menghukumnya di tempat. Kau mengarahkan BUSTER MANA padanya tanpa
peduli perasaan cintamu.”
Anne kembali berhenti sejenak. Ia menunggu reaksi Arche yang tetap fokus pada
pekerjaannya.
“Tapi... saat itu ternyata Ravnell melindungi Iris. Satu hal yang tak pernah kau
sangka. Mereka meninggal karenanya.”
Kali ini jejak pena Arche mulai tak teratur. Anne pun melanjutkan
“Atas rasa bersalahmu... kau menyembunyikan hal ini. Kau hanya menyatakan
bahwa kekasihmu sebagai pengkhianat yang telah menjual informasi negara. Dan kau
mengatakan telah mengeksekusinya di tempat sebagai upaya bela diri. Kau beralibi lagi
bahwa tubuh kekasihmu habis dimakan Pawn of Rotten. Tapi tak pernah Ravnell kau
sebutkan bersama denganya.”
Sepenggal cerita telah usai. Tapi Anne belum selesai.
“Karena inilah, Kau mampu menuduh tuan Emeth sebagai pelakunya hanya
karena ucapannya 10 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang tak ada yang tahu karena
tak ada yang berani mengunjungi Jurang Kematian. Aku rasa, Adam sebenarnya
merasakan hilangnya Denting Keinginan Ravnell dan bergegas menuju lokasi tapi yang
ia temukan hanyalah tubuh Ravnell dan Iris yang ternoda oleh BUSTER MANA. Ia
hanya mampu menyalahkan Emeth.”
Arche menghentikan pekerjaannya. Ia berganti menatap lawan bicaranya. Ia
melipat tanganya dengan seringai di wajah.
“Bila aku menuduh tanpa bukti, maka begitu pun juga dengan dirimu.”
“Kau pernah melihat apa yang pernah kami lakukan sebagai Darkmaster. Kau
juga tahu nama lain dari Air bagi Darkmaster. Air membawa nama ‘kehidupan’ dan
juga ‘kematian’.”
“Memangnya kau mampu menghidupkan manusia?”
“Tidak. Seorang manusia tidak bisa menciptakan manusia lain. Apalagi
menciptakannya dari ketiadaan. Yang mampu kulakukan hanyalah ini.”
Anne melangkah mendekati Arche. Lampu Pyramite yang berada di atas meja
memperlihatkan mata Anne yang berubah dari hitam menjadi biru kelam. Tatapan mata
itu seolah menembus selisik batin Arche. Ruas-ruas ruang dan waktu mendadak
mengganti pandangan matanya.
Ia melihat dirinya sendiri dan Ravnell dalam jurang kematian. Ia mendengar
suaranya sendiri, bahkan suara hatinya dalam pandangan mata yang ia lihat. Pemilik
tubuh itu berdebat dengan dirinya. Ia berada dalam tubuh Iris… itulah deduksi yang ia
tahu.
Ia merasakan sendiri lidahnya bergerak mengatakan apa yang bergaung dalam
pikirannya
“Aku tahu aku tak punya kesempatan! Aku tahu kau ditunangkan! Jadi apa aku
salah?! Apa aku salah bila aku melakukan ini? Apa aku salah bila ingin melarikan diri
denganmu dari Negara ini. Arche sayang, kita berdua bisa hidup bahagia di luar
sana.”
“Diam! Apa yang kau lakukan ini dapat kusebut pengkhianatan! Kau bahkan
berani menculik pangeran! Apa kau pikir aku akan mendengar ucapan dari
pengkhianat sepertimu?!”
Arche juga dapat merasakan perihnya hati tertusuk saat kalimat itu terucap.
Keputusasaan, ketakutan, dan kesedihan bercampur aduk. Ia dapat merasakan air mata
mengalir melewati pipinya. Dingin… ia bahkan dapat merasakan jemarinya seolah tak
lagi memiliki panas. Jantungnya takut untuk berdenyut, ia lebih memilih mati daripada
harus melihat wajah lawan bicaranya – dirinya sendiri yang berwajah masam.
“Kau salah paham Arche~. Aku sendiri yang minta ikut kakak Iris kok~ aku tidak
suka pertikaian panjang ini. Kalau memang Freedo Crata bisa membuat ibunda
berpikir sejenak tentang keindahan kota Lovisolistia, aku tidak masalah kalau harus
diculik berkali-kali. Lagipula~ kalau boleh, aku ingin menjadi Pagar Bagus di
pernikahan kalian nanti~”
Ia merasakan kalimat dari pangeran Ravnell seolah menjadi penyelamatnya. Ia
berharap lawan bicaranya mengerti. Tindakan yang ia lakukan ini semata-mata demi
kekasihnya. Tak lebih.
“Hamba mohon pangeran tidak ikut campur. Pengkhianat ini telah melakukan
hal yang tak termaafkan!”
Ia melihat tombak Merak mendenguskan angin keras.
“Apanya yang tak termaafkan…”
Suaranya melirih. Benih-benih kebencian merebak dalam campur aduk emosinya.
Kemarahan timbul tanpa malu-malu dalam rasa kecewa.
“Kau hanya tak mau kehilangan kesempatan saja untuk mendapat tahta! Kau
ingin dipandang oleh keluarga angkatmu! Aku tahu itu yang ada dalam kepalamu!!
Kau berusaha mendapat pengakuan dari mereka!” ia melihat wajah lawan bicaranya
mengeras. Tapi kemarahan telah membutakannya. Ia tak lagi peduli apakah yang
diajaknya bicara saat ini adalah kekasih hatinya atau tidak. Yah, Arche merasakan apa
yang Iris rasakan. “Dan kau tak mau bersamaku karena aku tak bisa memberimu apa
yang kau inginkan! Dasar gila kekuasaan!”
Dan… Arche tahu akhir perdebatan itu. Ia melihat tombak 5 Baris teracung tinggi
ke udara. BUSTER MANA dikerahkan, larik sinar biru melaju deras ke arahnya. Iris
tak bergerak sejengkalpun, ia dapat melihat pandangan mata gadis itu berkabut dan saat
itulah sebuah tubuh merintangi jalur BUSTER MANA. Arche dapat merasakan apa
yang Iris rasakan… termasuk rasa sakit (dan kelu) dari BUSTER MANA. Titik air mata
memburamkan pandangannya, remang lentera kehidupan miliknya perlahan padam.
Dan yang ia lihat terakhir kali hanyalah lawan bicaranya yang bersimpuh dalam takut di
samping tubuh pangeran. Ia mendengar suara hatinya untuk terakhir kalinya. “Arche…
kuharap kau tersiksa karena ini… aku tak rela… aku tak rela!”
Dan gelap padamlah lentera kehidupan.
Keringat dingin menjalari Arche. Ia mencengkram dadanya dan mendengarkan
dengan seksama degup jantung yang sempat sakit tak terkira. Hampir saja ia
menyangka dirinya sudah tak lagi di dunia. Pengalaman barusan terasa nyata.
“Arche, kau sudah tidak dapat mengelak lagi.”
“Kuakui… kuakui ini yang terjadi tapi bukti ini bukanlah bukti fisik. Tidak ada
yang dapat menjustifikasinya di Lune Justicia.” ujar Arche dalam debar napas tak
menentu.
“Aku sudah menduga kau akan berkata seperti ini. Aku hanya memintamu untuk
jujur saja pada orang-orang yang telah kau bohongi. Saat ini aku juga tak punya kuasa
apapun untuk memaksamu bahkan untuk menggunakan bukti ini untuk mendesakmu.
Yang ingin kuberitahu hanyalah bahwa semua hal walau ditutupi suatu saat akan
terkuak. Itulah kuasa aturan Dark Nature. Dan pada saatnya nanti, kaulah yang paling
akan menderita...” Anne membuang pandangan matanya dalam lirih suaranya.
Cengkraman batin sejenak menguasai tubuhnya. Tapi secepat ludah tertelan pulalah
perasaan itu lenyap tergantikan kesadaran tugas sebagai Darkmaster.
“Terimakasih atas waktumu... tuan Arche.” Anne membungkuk sopan dan
mundur perlahan. Ia membuka pintu kamar, berhenti sebentar dan kembali memandangi
Arche. “Selamat atas apa perjanjian nikah tuan dengan Saravine.”
Kalimat itu menjadi penutup perjumpaan malam mereka. Pintu tertutup halus.
Sekelebat halus tatapan kecewa Anne menjadi penambah keruhnya malam. Wajah
kecewa, hipotesis, dan reaksi barusan membuat pena bulu Merak Arche patah berderak.
“Perempuan... masalah muncul dengannya, tanpanya muncul masalah.”
“Kau benar... marga Feather”
“Siapa itu?”
Saat Arche berbalik, ia merasakan dingin di tengkuknya. Siapa yang bisa
bergerak secepat itu? Kecepatanya jauh melebihi Emeth. Tiupan napas di tengkuk
Arche benar-benar membuat nyalinya ciut. Ia merasakan tekanan yang sangat luar biasa
bahkan sampai membuatnya ingin lari dari tempatnya. Tapi ia tak bisa. Ia merasakan
sensasi angin yang memenjarakan geraknya. Sang sosok mengenalkan diri.
“Namaku Greul Fouwl. Mantan Darkmaster saat pemberontakan Lunicid 40
tahun lalu.”
“Greul Fouwl… Kakeknya Allen?”
Sang sosok terdiam sejenak.
“Jadi kau sudah bertemu dengan Allen. Berarti tak perlu ada keterangan lebih
banyak.”
Arche berlutut. Ia tak berani menoleh kebelakang.
“Atas nama marga Feather, aku Arche Efeether, anak angkat dari Aghza Eir
Feather mengajukan hormat pada penyelamat marga kami; tuan Greul Fouwl.”
“Aku tak perlu hormat seperti itu. Aku datang untuk menagih janji marga Feather
padaku.”
“Aku, sebagai marga Feather, akan menepati janji membantu apapun yang
diinginkan tuan Greul Fouwl.”
Greul terkekeh mendengarnya. Entah apa yang hendak diinginkan oleh kakek satu
ini...
Di lain tempat, penjara Lune Justicia. Langkah riak Anne memenuhi relung sepi
penjara. Bau segarnya air menggantikan bau-bau tak enak. Satu orang penghuni yang
terbangun berteriak saat melihat Anne berjalan di atas air. Satu teriakan sudah cukup
tuk membangunkan segenap penghuni. Keramaian sejenak mengisi penjara. Mereka
mencari sosok Anne tapi apalah daya ternyata sosok itu sudah tak ada. Dan dimulailah
beredarnya kisah misteri “Wanita Air”.
Sudut penjara Allen. Anne muncul dari aliran lembut air. Baju gadis itu sama
sekali tak basah, hanya scarfnya saja yang segar terbetik air. Ia tersenyum pada
Saravine yang memegang Akar Kebijaksanaan. Salah satu alat investigasi Darkmaster
itu perlahan layu pertanda tugasnya telah berakhir.
“Terimakasih atas bantuanmu Saravine. Akar Kebijaksanaan tidak mampu
mencapai tempat sejauh itu tanpa bantuanmu.”
“…Ternyata benar dugaanku.” Desis Saravine tipis.
“Kok Sara boleh melihatnya? Apa tidak masalah buat kakak nanti?”
Anne menepiskan gelembung kecil ke wajah Allen. Gelembung itu pecah di
depan wajah Allen membuat Allen terkejut-kejut akan sikap Anne.
“Aku belajar ini darimu Allen. Tenang saja, aku mengambil tanggung jawab
penuh atas tindakanku.” Anne tersenyum ceria dan penuh canda “Saravine, aku yakin
kau tahu apa yang bisa kau lakukan dengan pengetahuan itu.” Lanjut Anne.
Saravine mengangguk. Dalam wajah sendunya terbayang beberapa tindakan yang
bisa ia lakukan pada Arche.
“Sara... wajahmu jadi mengerikan... kumohon jangan tertawa seperti kakek Greul
ya.”
Langkah terburu-buru terdengar dari seberang lorong panjang. Dua Orang RKnight
datang. Derap langkah mereka menyentak penghuni penjara. Mata yang
mengenali R-Knight pegawai penjara itu langsung mendesak jeruji dan berteriak-teriak
“Bawa saja aku ke Menara Pertobatan sekarang juga!!”. Kekecewaan dan keputusaan
menghias wajah para tahanan begitu kedua R-Knight itu mengacuhkan lolongan penuh
iba mereka.
Kedua R-Knight berhenti di depan sel Allen. Dua orang itu sempat heran
mengapa ada orang lain di sekitar sel. Bagaimana mereka bisa melewati penjagaan ketat
di pintu gerbang?
“Nona! Jam besuk tahanan sudah habis! Harap nona keluar dari daerah berbahaya
ini sekarang juga.”
Dan mereka lebih kaget lagi saat melihat Saravine di dalam sel.
“HEY! Siapa bilang boleh membawa perempuan masuk sel?!”
Saravine berdiri. Ia melangkah menuju jeruji dan menembusnya dengan Kekuatan
Keinginan. Sejenak dua R-Knight itu merinding. Mengapa Ward tidak berpengaruh
pada sosok ini? Bila mereka tidak mengingat adanya tugas dan juga teguran “Silakan
lakukan tugas-tugas anda.” dari Anne mungkin saja mereka sudah mundur walaupun
dua orang gadis cantik berdiri di depan mata.
Salah satu R-Knight berdehem.
“Tahanan nomor 4113N, Allen Inverson, atas perintah Arche Efeether melalui
Kepala Sipir Penjara dengan ini anda dinyatakan keluar dari penjara. Pelaksanaan
hukuman ditunda sebulan. Demikianlah keputusan ini ditandatangani oleh komandan
sayap selatan, Arche Efeether.”
“EH?” Allen tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Tak kusangka ternyata Arche bertindak begini cepat. Julukan penyergap tercepat
memang cocok untuknya.” Komentar Anne kagum.
Jeruji sel dibuka dengan memasukkan emblem Erune. Allen keluar dengan
langkah ceria. R-Knight lain memberikan sebuah perkamen coklat pada Allen.
“Surat dari komandan Arche.”
Selepas menjalankan kewajiban, mereka pulang tergopoh-gopoh.
Allen membuka surat itu.
“Allen Inverson, dengan surat ini aku menyatakan permintaan maaf atas
tindakanku. Ketahuilah penahananmu di penjara tidak kumaksudkan untuk
menghinamu. Ini adalah bagian dari janjimu padaku. Ingatlah bahwa kau harus
bertanggung jawab atas tindakanmu pada permaisuri.
Tapi aku juga sadar kau juga telah menyelamatkan pewaris tahta kerajaan Erune
dan karenanya tak pantas pula bagiku menahanmu lebih lama. Lagipula, angin tak boleh
dikurung. Salam, Arche Efeether.”
“Pendapatku mengenai Arche berubah lagi nih.” canda Allen.
“Tapi tetap saja aku tak setuju dia mau menikahi Sara.” Tambahnya.
Saravine menggenggam lengan Allen.
“Bagaimana bila kita kabur saja? Aku sudah muak dengan segala masalah
kekuasaan ini. Begitu banyak pihak menderita karenanya.”
“Sara... pria boleh kabur kapan saja tapi tidak boleh lari dari tanggungjawab dan
janji. Itulah yang diajarkan kakek Greul.”
“Lagipula... Kabur kemanapun akan percuma karena besok sudah Dark
Assembly.”
Saravine melepas lengan Allen dalam kekecewaan.
“Masih ada waktu 1 hari. Kalian bisa memanfaatkan waktu yang tersisa sebaikbaiknya.”
Ucap Anne. “Begitupun juga denganku.” tambahnya lirih.
“Yah kayaknya benar. Daripada memble di sini mending kita jalan-jalan saja!”
Allen melirik pada Anne. “Kakak Anne mau ikut? Makin ramai makin asyik.”
Anne melirik Saravine.
“Aku tak ingin menjadi lalat pengganggu.”
Saravine melirik Allen. Pria nakal di sampingnya ini nyengir balik dan berkata
“Ayo Sara.” Sambil menarik tangan Saravine. Selalu saja Allen yang membawa
pergi Saravine. Mereka berdua menembus remang-remang lorong penjara dan keluar
menuju kebebasan.
“Kau salah Allen... bukan hanya pria saja yang tak boleh lari dari tanggung
jawab... semua manusia tak boleh dan takkan bisa lari dari tanggung jawab.”
Desah Anne dalam sepinya remang penjara. Ia memandang dari balik jeruji
langit-langit penjara. Bulan purnama tanggal 16 menampakkan keindahannya,
mempengaruhi mistis gravitasi pada separuh bumi. Plakat Platinum Hitamnya dikecup.
Di bawah cahaya bulan, Plakat Platinum Hitam memantulkan kilatan cahaya yang lebih
terang. Anne sekali lagi berujar
“Kekuatan Keinginan dan Dark Nature... memang hakikatnya kalian bersatu.”
Matanya memandang aliran air dalam penjara
“Area tingkat 6, Air.”
Titik-titik debu terangkat dari air membuat keruhnya terganti bening. Segarnya
aroma air mengantikan bau tak enak yang memenuhi penjuru lorong penjara. Anne pun
mencelupkan kakinya pada aliran air dan tenggelam di dalamnya. Malam makin larut
menyisakan hanya 1 hari menuju berkumpulnya penghukuman.
Hutan Akairn merah. Burung-burung Yuta berdecit tak suka saat dua orang insan
duduk pada dahan di samping sarang mereka. Saravine dan Allen tertidur saling
bersandarkan tubuh pasanganya. Tangan mereka bertautan dan sama sekali tak
terpisahkan oleh decit berisik Burung Yuta. Hanya senyum bahagia saja yang menjadi
penghias tidur mereka.
Pagi hari, suasana kota Scutleiss seperti biasanya. Kereta-kereta kuda berlapis
perak megah melenggang di tengah jalan. Kereta pembawa barang di atas rel sudah
beroperasi selepas biru Prisma di utara kota mulai cerah menyinari Scutleiss. Suasana
hangat inilah yang membangunkan kedua insan ini. Mereka pun memutuskan untuk
mengelilingi kota sebagai sarapan pagi.
Barat kota, tempat di mana beradanya Paviliun Costasol. Paviliun maha megah ini
terpusat oleh sebuah Bel besar: Grand Penumbrae. Allen dan Saravine tak puas-puasnya
memandangi maha karya masa lalu itu. Bel Grand Penumbrae belumlah berdentang di
pagi hari, tapi memandangnya dari dekat cukup untuk menyadarkan mereka bahwa
keajaiban dalam dunia ini masih banyak. Situs pariwisata satu ini memang luput dari
perhatian kala kencan pertama mereka terjadi. Kesan keagungan yang terpancar darinya
membuat mereka memilih untuk sarapan tak jauh dari Bel besar ini.
Menjelang siang, Coliseum Matheoust menjadi pilihan mereka. Daerah pusat
yang juga bersatu dengan utara ini dipilih karena jam pariwisata hanya dibuka sampai
siang hari. Mereka berjalan-jalan ditemani pemandu yang menceritakan legenda
kemegahan bangunan yang tak lekang oleh peperangan dan jaman. Arena yang berada
di tengah bangunan membangun kembali romansa kenangan mereka. Mereka keluar
dari barisan dan melesat menuju atap Coliseum. Panas matahari yang menyengat justru
membuat nuansa kencan mereka berdua tambah menyenangkan. Allen makin blingsatan
mengeluarkan candaan pada Saravine. Peluh-peluh sebesar jagung tak dipedulikan lagi
oleh mereka sampai akhirnya matahari hampir mencapai puncak dan Prisma di timur
menyalakan warna hijau lembut dedaunan.
Siang harinya mereka melewati timur kota. Wilayah yang tak pernah dikunjungi
Saravine selama siang hari. Mereka tertawa karena suara lantang sekalipun lenyap
tergantikan oleh dentang pertambangan. Tapi suara bel Grand Penumbrae sejenak
membungkam semuanya dalam dentang syahdu. Selama beberapa menit energi mereka
terisi kembali. Sadarlah mereka bahwa suara adalah sebuah energi dan anugrah alam
yang tiada kira.
Sore harinya, mereka memutuskan untuk merapat di dekat sungai Neul.
Di selatan, dekat dengan aliran sungai Neul, adalah gudang penyimpanan
makanan. Ikan-ikan perairan tawar menjadi komoditas utama yang bisa didapat dari
sungai ini. Arus sungai Neul yang tenang membuat pantulan cahaya matahari terlihat
menyilaukan. Pemancing lokal maupun pelancong dapat duduk menghabiskan waktu
ditemani dengan joran dan payung-payung peneduh. Daerah ini cukup dipadati manusia
kala siang sampai sore. Sementara malam mampu melukiskan cahaya bulan pada
permukaan sungai yang bening.
Mereka mendapati sungai itu ramai ditempati. Dan kebetulan sekali saat itu
sedang ada lomba memancing. Tak ayal Allen langsung menantang Saravine
memancing. Lagi-lagi, Dark Nature belum memberikan kemenangan atas Allen pada
Saravine. Kekuatan Keinginan Saravine mutlak mengubah joran pancingan itu menjadi
‘mesin’ pencari mangsa terbaik.
Tanpa di duga senja telah datang. Semua keceriaan lenyap tenggelam bersama
dengan tenggelamnya matahari. Mereka telah menikmati waktu sampai titik terakhir.
Bila waktu tak dapat diperpanjang maka kenikmatan dan kesenangan hiduplah yang
seharusnya diperpanjang. Tapi... luka hati selalu muncul saat perpisahan hendak
berbicara. Saravine menitikkan air mata kala melihat senja. Antara sedih, senang dan
juga kecewa.
“Jadi ingat waktu kita pertama kali bertemu... kamu juga menangis kan? Jangan
ya... sampai sekarang aku tak tahu harus berbuat apa kalau kamu menangis.”
“Tidak... itu bukan pertama kali kita bertemu... kau memang lupa.. dasar Tuyul
Pikun.”
“Aku memang pikun tapi Arche kemarin mengajariku cara biar tidak mudah lupa.
Dia bilang pakai cara… tunggu Sara, Sara…” Allen memijit keningnya dan terus
mengerutkan alis. “Sara… Sara yang cantik… Sara…”
Tanpa diduga Saravine membungkam Allen dengan kecupan cepat di pipi. Sang
pria jenaka ini terdiam dalam wajah merah padam. Nafasnya direm mendadak.
“Sudah ingat?”
“Jaring Ingatan!” jerit Allen senang. Napasnya mendengus cepat dan ia memeluk
manja pada Saravine. Cengkrama mereka berdua terhenti sejenak saat bulan purnama
mulai terlihat dari balik awan. Allen mulai terlihat sumringah dan mulai menghitung
mundur waktu. Saat baginya akan segera tiba…
“Eh iya... Sara, aku juga tak tahu apakah aku akan masuk Dark Assembly atau
tidak. Soalnya Plakat Platinum Hitam tak kubawa. Jangan-jangan Plakat itu jadi kunci
masuknya.” Saravine memandangi scarf Allen. Keberadaan plakat yang tak lagi di
tempatnya itu membuat hati Saravine sedikit lega.
“Tapi kalau aku tak bisa masuk artinya aku tak bisa membela diri.” canda Allen.
“Kenapa ya kakek Greul mengambil Plakatku?”
“Entah. Tapi aku yakin kakek Greul tidak berniat buruk padamu.”
“Pasti begitu sih.” Allen tersenyum ceria walau penasaran masih merubung
kepalanya.
Saravine berwajah kelam.
“Andai saja aku tahu waktu kita begitu sempit… andai aku tahu perjumpaan kita
hanya sebentar… mungkin aku sudah bersamamu lebih lama.”
Allen melihat kesenduan Saravine makin mendalam. Ia membenamkan kepala
Saravine ke dadanya.
“Ini semua sudah digariskan oleh Dark Nature dan bukankah keinginan kita
hanya menjalankannya.”
“Bahasamu aneh.” Komentar Saravine. Ia membenamkan kepalanya makin
dalam. Kekhawatirannya menyengat tatkala ia mendengar desah napas dan bisikan
Allen. Ia mencengkram baju Allen, sedikit mencakar dadanya dan berharap pria ini
tidak pergi atau sekedar tidak lagi mengingatkannya akan bisikan-bisikan waktu mereka
yang semakin habis. Sayang, lidah Allen tetap tak bergeming berucap. Dan waktu
mereka tiba. Bulan purnama mutlak terlihat tanpa terganggu awan.
“Dark Verdict.”
Dan Allen terlelap.
Gelap.
Allen masuk dalam Dark Assembly tapi ia merasakan keanehan. Langkahnya
yang menimbulkan riak seolah bertumpuk tiga.
“Nomor 7, Dark Wind, Allen Inverson memberi salam pada Dark Nature.”
Delapan buah bayangan muncul dari bayangan Allen membuatnya tersegel di
tengah. Siapa dua lagi?
“Greul Fouwl, Dark Wind, memberi salam pada Dark Nature.”
Allen tersentak. Kakek Greul bisa masuk Dark Assembly?
“Di... di mana ini?”
“Suara itu... tak mungkin! Sara?! Kok kamu juga bisa ikut masuk?” jerit Allen.
Enam bayangan lain juga tak urung kaget. Mereka melihat adanya tiga bayangan
yang muncul dari bayangan sang Angin. Greul Fouwl, Saravine Mutia, dan Allen
Inverson bertumpuk menjadi satu. Entitas apa yang dibawa oleh Angin kali ini?
“Sebelum kalian memulai, ijinkan aku menyatakan satu hal sebagai pembawa
Plakat Platinum Hitam Dark Wind.”
Suara Greul terdengar... diiringi kekehan khasnya.
“Greul Fouwl. Keberadaanmu di sini sebenarnya sudah mencemari Dark
Assembly. Jangan kira Kau yang sudah diputus keluar oleh Dark Nature dapat masuk
lagi bertelanjang kaki.” Rex menghujam dengan kata-kata kerasnya.
“Bacalah hukum Dark Nature sebelum mengusirku.”
Rex terdiam sebentar. Bayangan miliknya terlihat gelisah sebelum mengucapkan
kalimat
“Baiklah, dalam pasal 80 ayat 1. Terdapat aturan pemegang Plakat Platinum
Hitam selain Darkmaster dapat memasuki Dark Assembly. Ayat 2 menyatakan,
pemegang Plakat Platinum Hitam dapat mengajukan sebuah permohonan terhadap
sebuah masalah terkait dengan Darkmaster. Ayat 3 menyatakan permohonan tersebut
tidaklah boleh berhubungan dengan keputusan Dark Nature.”
Rex berdecak kesal “Masalah kecil apa yang hendak kau utarakan?”
“Aku ingin agar Janji ‘Lex’ Allen dipindahkan padaku.”
Rex tercengang.
“Apa maksudmu?!”
“Jangan pura-pura. Aku yakin Allen terkena janji ‘Lex’ dan aku ingin agar janji
itu dipindahkan padaku.”
“Asumsi menarik,” decak Rex.
“Aku yakin. Tidak berasumsi. Karena aku tidak memberitahu keberadaan gunung
Farangi pada Allen. Pasti bocah pikun itu meminta Dark Inquiry pada kalian.”
“Jadi kau tahu keberadaan Gunung itu dan Dark Grail? Mengapa tidak langsung
saja kau ceritakan pada Allen?” sela Rex dalam nada kesal. Greul terkekeh. Siapapun
yang mendengarnya turut merasakan naiknya bulu kuduk, terkecuali Visia.
“Janji. Aku melakukannya karena janjiku pada si Pemadam Cilik, Fyria.”
“Apa yang kau maksud, wahai Greul, adalah Darkmaster Api yang dulu
meninggal di tanganmu?” tanya Visia.
Greul terkekeh sementara para hadirin menunggu jawaban dari mantan
Darkmaster angin ini. Mereka hanya melihat bayangan Greul mengangkat bahunya.
“Perkara hukuman pelanggaran lain kuserahkan pada putusan Dark Assembly.
Dan pelanggaranku telah terganjar dengan telak. Tak usahlah hal lama diungkit
kembali.”
Kalimat elakan Greul ini menutup percakapan. Rex tak puas, dan ingin mencari
tahu lebih jauh tapi dicegah oleh gelengan kepala Visia. Rex beralih pada topik lain.
“Kau masih terkena janji ‘Lex’ terhadap masalahmu dahulu. Kau juga sebagai
mantan Darkmaster juga tahu Dark Nature tidak memperkenankan dua janji atas sebuah
masalah.”
“Ternyata kau tidak setegas Darkmaster tanah sebelummu. Vulkan tidak akan
memperingatkan hal semanis ini pada calon pelanggar.”
Rex mendengus “Aku dan dia berbeda. Cukup itu saja yang kau tahu. Bagiku
lebih baik mencegah daripada mengobati luka. Dan aku paling tidak suka mendengar
‘penyesalan’. Camkan itu baik-baik.”
“Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan. Dan sekarang kutagih janji itu
pada kalian.”
“Walau tahu kau akan mati? Dengan senang hati, mantan Darkmaster Angin.”
Allen tak menyangka hukuman mati akan menanti Greul.
“Jangan Kakek Greul!”
“Allen! Akulah yang memberitahumu tentang Dark Grail dan aku pulalah yang
harus menanggung akibatnya. Kau harus ingat apa yang pernah kuajarkan padamu!
Tanggung jawab dan akibat adalah milik orang yang memulai segalanya!”
“Tapi kakek…”
“Allen!”
Allen mengerang menimpali tapi kembali dibentak. Ia selalu kalah adu mulut
dengan Greul yang sudah mendesak begitu rupa.
“Mengapa kau melakukan ini, wahai Greul?” Visia membuka suara.
“Tak ada alasan khusus kak Visia. Aku hanya melakukan apa yang kupikir benar.
Sama seperti dulu bukan? Aku mencari Dark Grail sendirian. Aku menikmati
petualanganku dan bahkan menikmati pengucilanku seorang diri.”
“Tak bisakah kali ini aku, wahai Greul, mencegahnya?”
“Kak Visia sudah tahu bagaimana Anginku. Penjara kosong. Karenanya tak ada
hal yang tak bisa kutembus. Pelanggaran adalah hal biasa bagiku. Asal bukan janji aku
pasti mampu melanggarnya. Sama seperti saat ini dan terakhir kali aku melanggar batas
saat keluar dari desa Exemptio.” Greul terkekeh puas sebelum melanjutkan “Itulah
makna ‘kebebasan’ Anginku. Kebijaksanaan kak Visia sekalipun tak mampu
membuatku tergetar. Aku ini bodoh seperti Allen. yang kutahu hanyalah Dark Nature
saja yang mampu menghentikanku.”
Lengkap sudah alasan Rex untuk mengeluarkan Paralunanya. Dentum ‘Lex’ sama
sekali tak terhadang oleh gelapnya Dark Assembly. Riak merah gelap menyebar dari
bayangan tempat Rex bernaung. Riak itu melengkung tertahan pada bayangan Greul
dan perlahan merambat, mewarnai bayangan Greul. Dari kaki perlahan naik menuju
kepala. Waktu untuk berpisah semakin dekat.
“Kakek Greul!” kali ini Allen kembali bersuara.
“Allen, jaga nyawamu baik-baik. Kebebasan yang kau dapat adalah hasil
perjuanganmu melawan Broken Wishes. Kau masih bisa menjadi Darkmaster dan
menepati janjimu pada Saravine seperti yang kau ceritakan dulu.”
“... Kakek Greul.” Saravine lirih bersuara.
“Saravine, jaga baik-baik Allen. Kalau dia mulai pikun, jitak saja kepalanya. Aku
yakin otaknya akan lancar.” Greul terkekeh sejenak “Apa yang kuidamkan dahulu kala
sudah tercapai saat melihat kalian berdua. Jangan sampai kalian berpisah.”
“Kamilah yang takkan menyetujui hubungan Allen dan Wishmaster.” potong
Rex. Merah gelap telah mengisi penuh bayangan Greul. Greul terkekeh senang.
“Itu pertanda kalian sayang padanya. Kalian tak perlu belagak keras pada Allen.
Dan aku tak perlu belas kasihan kalian. Aku siap menerima semuanya. Aku yakin
permintaanku ini tidak bertentangan dengan kehendak Dark Nature.”
“Jiwamu akan membusuk di tanah karena memilih kematian.” dengus Rex.
“Salah besar.” Greul menyeringai puas “Menolong Allen adalah kreasi terbaikku.
Nah lakukan saja sekarang!”
Rex berdecak kesal.
“Atas kuasa Shield dan ‘Lex’, aku Litosu Rex, meminta pemindahan perjanjian
Lex.”
Deru coklat tanah membungkus bayangan Greul.
“Atas kuasa Shield dan ‘Lex’, waktu perjanjian Bumi telah tiba.”
Bongkah bebatuan hancur berkeping-keping. Begitupun bayang-bayang tubuh
Greul.
“Selamat tinggal Allen dan Saravine. Aku pulang... Gren... Del.”
Sebuah kerlip hitam muncul dari serpihan bayangan Greul. Kerlip itu mengarah
langsung pada scarf Allen. Plakat Platinum Hitam sudah kembali lagi pada pemilik
aslinya. Tangis Allen meledak.
“Padahal aku tak ingin ada korban lain. Kenapa kakek mau-maunya
mempertahankan statusku sebagai Darkmaster.”
Allen berkali-kali memukul tanah yang tidak terlihat. Ia tak mampu membendung
emosinya sendiri.
“Kakek Greul juga sama sepertiku... beliau punya keinginan yang kuat untuk
mengingkari perjanjian leluhur.” Simpul Saravine mencoba mengerti. Andai fisiknya
benar berada di samping Allen, pastilah ia menenangkannya langsung. Tapi kali ini,
yang Saravine bisa lakukan hanyalah berbisik lembut pada Allen dengan Kekuatan
Keinginannya. Darkmaster lain tak bergeming, mereka tak mau mencemari ruang ini
dengan hal-hal selain apa yang harus dibicarakan. Tidak, lebih tepatnya mereka tak tahu
apa yang harus mereka katakan terhadap Allen… terkecuali Anne yang tahu bahwa
memang Saravine-lah yang mampu menenangkan Allen.
Setelah Allen tenang, barulah masalah sesungguhnya diangkat. Sang tanah mulai
angkat bicara.
“Dan sekarang... kita akan memulai kembali dari pembacaan bukti.” Ujar Rex
“Silakan, wahai Allen, sang Kebebasan.” ujar Visia
“Aku... tidak punya terdakwa.” Visia, Fey dan Implosi terkejut mendengar ucapan
Allen. “Aneh!” ucap mereka bersamaan.
“HEH! Kau mau coba mangkir dari tugasmu? Alasanmu tidak bagus sekali!”
maki Implosi. Bayangan putih perak Implosi sesekali memperlihatkan siluet percikan
api. “Bilang saja kau tak bisa melakukannya. Kalau mau pikun, lihat-lihat waktu dong!
Sekarang bukan bulan empat dan empat ½.”
“Pasti bohong.” ujar Fey kaku.
“Tidak...” ujar Visia “Fenomena ini pernah terjadi, wahai Allen, jauh di masa
lalu. Jauh saat DarkWish masih bersatu, wahai Allen, sebagai sebuah persatuan kuat.
Kala itu, wahai Allen, Darkmaster pohonlah yang mendapatkan fenomena ini sebelum
akhirnya ia mendapat terdakwa pewaris tahta kerajaan Unferno. Aku tak menyangka,
wahai semuanya, sebagai Darkmaster pohon akan mendapat kembali kesempatan untuk
mengutarakan cerita ini.”
“Kak Visia, apakah ada hubungannya masalah Allen dengan Broken Wishes
Saravine.” Tanya Anne.
“Aku tak mampu menjawab itu, wahai Anne . Rencana Dark Nature, wahai Anne,
adalah milik-Nya semata.”
“Kalau begitu... bagaimana bila kukatakan Allen adalah cikal bakal Darkwish
yang baru.” ujar Anne.
Semua mana bisa percaya, terkecuali Visia dan...
“Mungkin saja.” jawab Rex “Walau aku sendiri tak suka mengatakan ini tapi
Allen memang pernah menggunakan Paraluna DarkWish.”
“Bolehkah kutahu, wahai Rex, bagaimana bisa Allen memegang Paraluna
DarkWish?”
Rex dan Anne bergantian bercerita. Di sela-sela itu pula kadang Ark
menambahkan. Ia tak segan untuk berbicara karena kebisuan dan kebutaannya
terbebaskan hanya pada momen ini.
“Jadi Paraluna digabungkan dengan Rapier.” ujar Fey “Mengapa aku tak pernah
berpikir sampai ke sana ya?”
Visia ikut berpetuah.
“Tahukah kau, wahai Allen, Darkmasterlah yang tetap mempertahankan nama
Paraluna? Paraluna adalah sebuah kesatuan garis dan lengkungan, wahai Allen, yang
membawa Kekuatan Keinginan dan Dark Nature. Dua simbol utama ini terpecah
menjadi dua semenjak Wishmaster memisahkan diri. Garis lurus yang berarti Keinginan
dialihwujudkan menjadi Rapier, pedang tipis, lurus, dan tajam. Bagi mereka Rapier
sendiri adalah simbol pemberontakan, kemandirian, dan kebebasan dari Dark Nature.
Mereka memilih pedang tipis yang mampu menembus apapun... sebuah simbol
kerapuhan tapi memiliki kekuatan di balik tipisnya. Sementara Darkmaster, wahai
Allen, tetap mempertahankan nama Paraluna sebagaimana adanya meski tidak lagi pada
hakikat wujud fisiknya”.
“Kalau begitu aku bukan Darkmaster lagi dong?” tanya Allen.
“Mungkin.” jawab Visia “Adalah sebuah fakta, wahai Allen, Paraluna yang
sesungguhnya telah pernah kau gunakan. Adalah kepastian saat ini namamu menjadi
bagian dari Darkwish, bukan Darkmaster.”
“Tidak.” balas Anne. “Aku yakin Allen masih Darkmaster dan masih menjadi
bagian dari kita. Ia masih berada di sini.”
Rex mendentumkan ‘Lex’. Pertanda akhirnya diskusi.
“Baik-baik kurasa cukup sudah pembicaraan kita tentang masa lalu dan Allen.
Memang karena ada masa lalulah kita bisa berada disini menatap dan berjalan menuju
masa depan tapi... kalau kita hanya diam saja takkan ada masa depan yang berarti.”
“Ucapan itu adalah milik Wishmaster.” sela Saravine, yang terlupakan, dan yang
juga masuk dalam Dark Assembly. Bila Allen masih dianggap sebagai Darkmaster,
lantas Saravine yang Wishmaster disebut apa? Ia juga tak membawa Plakat Platinum
Hitam.
“Sekarang giliranmu, wahai Anne, sang kehidupan.” Visia mengucap kalimat
pembebasan atas relung pikiran semua khalayak. Mereka tak boleh melupakan tujuan
kedatangan mereka kesini terlepas dari kejanggalan yang dimiliki Saravine.
Anne menceritakan terdakwa yang diberikan padanya. Bagaimana reaksinya, cara
bergerak, bahkan sampai cara berargumentasi. Suara Allen juga terdengar di sana.
Allen berkali-kali menggerendeng... yang dianggap mengganggu jalannya
persidangan. Dentum ‘Lex’ sudah dua kali diarahkan pada Allen. Hukuman siap
menanti Allen bila ia terus mengganggu jalannya persidangan.
“Dengan ini, Anne meminta voting untuk penggelapan level dua.”
“Kakak ANNE! Kenapa harus level dua? Kenapa?”
“Semua demi Dark Nature... Allen.” jawab Anne. Suaranya terdengar tenang tapi
Allen jelas tak terima, ia mengetahui siapa terdakwa Anne.
“Itu Arche kan? Apa kakak tak ingat kalau Ache pernah menyelamatkan kakak?”
“Allen!” Dentum ‘Lex’ terdengar tiga kali “Sudah tiga kali kau diperingatkan.
Mengganggu jalannya persidangan sangat tak diijinkan. Bahkan kali ini kau mmebuka
identitas terdakwa. Hak votingmu kucabut untuk terdakwa milik Anne!”
Allen misah-misuh. Tapi setelahnya ia tak lagi bisa misah-misuh. ‘Lex’ mengunci
mulutnya… secara literal.
Darkmaster lain mengangkat Plakat Platinum Hitamnya. Sinar putih terang
bersatu dengan putih perak bayangan Anne.
“Terimakasih atas jawaban yang kalian semua berikan.”
Setelahnya giliran Ark. Dengan luwesnya ia berbicara tentang terdakwa. Ia
mengatakan bahwa terdakwanya bagai Mawar yang memiliki emosi merah merona
pada matahari. Sekali lagi Allen berteriak kaget menerka terdakwa Ark.
“Jadi waktu itu kakak Ark dan Rex bukan tertangkap?”
Rex mengetuk-ngetukkan jarinya. Bayangan Rex terlihat sangat mengancam
dengan ‘Lex’ di tanganya.
“Maaf kakak Ark.”
Dan lagi-lagi Allen dibungkam oleh ‘Lex’.
Sekali waktu ini saja Allen boleh terperangah, dan tak boleh memvoting tiga
kasus: Ark, Rex, Anne. Jangan sampai keempat kalinya ia kehilangan hak. Tapi
mulutnya tak bisa kompromi saat mendapat kaget keempat kalinya: kali ini saat Visia
bercerita. Tapi bukan hanya dirinya saja yang terheran-heran. Darkmaster lain benarbenar
tak habis pikir melihat terdakwa Visia.
“Kok... memang terdakwanya bisa begitu?” sergah Allen yang tak tahan.
“Jangan tanya padaku, wahai Allen, kebijaksanaan Dark Nature kali ini meluas.
Tapi aku yakin, apa yang diinginkan Dark Nature adalah demi kebaikan alam.”
“Pantas saja aku sempat melihat Akar Kebijaksanaan waktu itu... terus
hukumannya bagaimana dong? Lagipula kalau dipikir-pikir kok semua target kakakkakak
entah kenapa berhubungan dengan Broken Wishnya Sara ya.”
“Allen!” Rex menegur sekali lagi. “Jangan sampai hakmu dicabut sekali lagi!”
“Seharusnya kau belajar dari Saravine cara menahan mulutmu.” tambah Anne.
Allen manyun mendengarnya. Ia tak berminat ngeyel lebih lanjut dan memilih
untuk melanjutkan voting terdakwa Visia.
Apakah akan ada kaget yang ke lima atau ke enam kalinya? Kali ini Implosi
memberitahukan tentang targetnya. Dengan penuh hasrat membara ia menyatakan
bahwa terdakwanya kali ini
“TINGKAT 4! Sadistis seperti ini bisa mempercepat kehancuran! AKU TELAH
MENGUJI HASRATNYA DAN TAK SUKA MELIHATNYA.” Allen boleh kaget,
pengajuan tingkat 4 langsung oleh Darkmaster pengawas terdakwa jarang terjadi. Allen
terakhir mendengar tingkat 4 diajukan dua tahun lalu oleh Anne. Dan alasan yang
diberikan Anne sangatlah kuat.
“Kalian telah melihat bagaimana ia dengan kejamnya membunuhi rakyat tak
berdosa!!” tambah Implosi memprovokasi.
“Janganlah terbawa dendam, wahai Implosi, saat mengutarakan permohonan
hukuman. Membawa perasaan telanjang begitu rupa akan menghasilkan penilaian yang
tidak objektif.”
“Tidak Objektif bagaimana kak Visia?! Agresi adalah Agresi tapi hasrat tak boleh
mencemari mereka yang tidak terlibat dan tak bisa membalas! Kalau kak Visia
mendengar jeritan korban si begundal satu ini pasti kak Visia takkan segan minta
Tingkat 4! SEKALI LAGI! AKU MENGAJUKAN PENGGELAPAN TINGKAT 4!”
jemari tangan Implosi mulai menjentikkan api, tanda ketidaksabarannya mulai
memercik menunggu voting. Ia tertawa keras saat melihat sinar putih terang pada Plakat
Platinum Hitamnya.
Hanya Fey saja yang tidak memberi kejutan... ia menjelaskan tentang
terdakwanya secara cepat, ringkas lagi padat. Mereka hanya tahu bahwa:
Target pertama: pesakitan tapi memiliki kemampuan menciptakan barang
berbahaya dan diberi penggelapan tingkat 1.
Target kedua: Mantan Penyembuh Negara yang telah pensiun dan memiliki
dendam pada seseorang dari Erune. Ada kemungkinan akan berkhianat pada negaranya
sendiri. Diberi penggelapan tingkat 2.
Target ketiga: seorang Komandan Perang Perempuan yang memiliki daya analisis
hebat. Diberi pengelapan tingkat 1.
Target keempat: Patih kerajaan yang tampaknya memiliki rahasia berbahaya.
Diberi penggelapan tingkat 1.
Target kelima: seorang wakil komandan yang tampaknya kurang bisa diberi
amanat. Diberi penggelapan tingkat 3.
Begitulah laporan dari Fey. Pendek dan singkat memang... tapi membosankan.
Entah sudah berapa kali Allen menguap.
“Dengan ini total Allen menguap adalah 365 kali.” ujar Fey. Allen nyengirnyengir
saja mendengarnya. Allen menguap sekali lagi “Biar pas jadi kabisat.”
candanya.
“Sudah selesai?” tanya Fey lagi. Ia yang memiliki target paling banyak harus
mulai start lebih dahulu.
“Belum selesai.” putus Rex. “Masih ada satu masalah lagi.”
Bayangan Perak Rex mendentumkan ‘Lex’. Bebatuan merambat dari bayangan
Rex menuju Allen. Tubuh Allen kaku kejang. Suaranya dibungkam, tubuhnya mati
rasa, semua indra tubuhnya dikunci total kecuali telinganya.
“Senja ini juga kita akan memutuskan penggelapan pada Allen, Dark Wind
nomor 7.”
Dari penggelap menjadi terdakwa. Allen yang tak mengerti apa-apa hanya bisa
melenguh-lenguh saja.
“Aku mengajukan empat dakwaan. Pertama: Permintaan Dark Inquiry yang tidak
berkaitan terhadap tugas pengelapan. Kedua: Kebodohan karena membiarkan Plakat
Platinum Hitam dicuri. Ketiga: membantu Wishmaster. Keempat: Menduakan Paraluna
dengan eksistensi lain. Kelima: memunculkan diri di hadapan publik saat
menggelapkan. Saat ini ia sama saja dengan seorang terdakwa. Dengan ini aku
meminta agar status Darkmaster Allen dicabut dan ia diberikan hukuman tertinggi bagi
Darkmaster.”
“Apa-apaan kalian?!” suara tinggi dan histeris. Jelas bukan suara Anne. Semua
bayangan Darkmaster menoleh. Mereka sekali lagi melupakan keberadaan Saravine
sebagai bayangan ganda Allen.
“Aku tidak mengerti bagian dari Dark Assembly yang mengatasnamakan Dark
Nature. Kalian menghukum berdasarkan penilaian kalian. Bukankah itu artinya sama
saja kalian yang menetapkan keinginan kalian terhadap seseorang?” Saravine benarbenar
tak bisa tenang.
“Omong Kosong! Kami menilai berdasarkan fakta yang diberikan dan kami tidak
bisa menutupi fakta terdakwa kami.” Balas Rex.
“Tapi intinya... kalianlah yang akan menentukan hukuman bagi mereka. Andai
pembunuh sadis telah terbukti bersalah pun bisa saja kalian ringankan hukumannya!”
“Hmmph. Dasar Wishmaster, justru karena itulah kami bertujuh harus
dikumpulkan. 7 kepala akan berpikir berbeda.”
“Artinya ada 7 Dark Nature?” pertanyaan Saravine ini mengguncang Darkmaster
lain.
“Mungkin, Wahai Nona, anda telah salah paham dengan sistem kami. 7 dari kami
adalah wakil dari Dark Nature. Tiap keputusan kami bila disatukan, itulah keputusan
Dark Nature. Lagipula, terdakwa yang diberikan adalah mereka yang dikhawatirkan
akan memberi kerusakan. Anak kecil sekalipun,wahai nona, bisa saja menggulirkan
kebijaksanaan yang merusak dunia. Kuharap dengan ini, wahai nona, anda bisa
mengerti.” jawab Visia.
“Andai... kalian semua setuju... bahwa pembunuh hanya dibuat lupa... apa itu
artinya kalian memberi ampunan pada mereka.” suara gadis ini bergetar keras.
“Sekali lagi anda salah paham, wahai nona, apapun keputusan yang diberikan
adalah sebuah hukuman. Siapapun, wahai nona, akan merasa tersiksa kala ingatan
mereka ditiadakan atau sebaliknya. Tak berarti bahwa hanya mereka yang dihukum
mati, wahai nona, adalah mereka yang terhukum. Bisa jadi, wahai nona, kematian
adalah pembebasan bagi terdakwa.”
Saravine bungkam. Ucapan Visia barusan membuatnya berpikir keras.
Keringatnya bergulir dan ia hampir saja meneteskan air mata. Ia tak mau
membayangkan Allen harus menerima hukuman terkeras.
“Aku… aku tak tahu bagaimana harus bertindak saat ini… aku bisa saja
melawan kalian semua di sini tapi aku tahu… itu bukanlah pilihan yang baik… kalian
semua akan menganggap Wishmaster adalah pembangkang setia Dark Nature padahal
apa yang akan kulakukan adalah demi Darkmaster juga… karena itu…”
Saravine tahu, ia tak punya kartu AS lain. Ia mengetahui pola pikir para
Darkmaster. Ia tahu Keinginan bagi mereka bukanlah pengetuk tindakan. Tapi ia harus
berusaha, sebagai pembawa Keinginan ia hanya tahu bahwa kepasrahan juga adalah
sebuah usaha.
Maka Saravine memilih berusaha mengetuk hati Takdir. Tanpa ijin, takdir tak
mungkin bertindak. Tanpa usaha, takdir takkan mempercepat.
“Tak bisakah kalian berbaik hati padanya…”
Terbaik yang bisa ia pikirkan hanyalah berlutut, menelungkupkan kedua tangan
dan hendak merendahkan wajahnya.
“Sebagai Wishmaster... aku memohon pada kalian...”
Sebuah suara mencegahnya.
“Saravine... kau tahu aku punya janji padamu...”
Suara lembut dan tenang itu... Anne? Tidak ada yang tahu Anne memiliki janji
pada Saravine. Tidak, tidak ada yang bisa percaya bahwa Anne juga mengikat janji...
bahkan kali ini pada seorang Wishmaster.
“Aku takkan membuatmu sedih... itulah janjiku padamu dan hari ini aku akan
menepatinya.”
“Apa maksudmu? Tidak akan membuat sedih? Emosi Wishmaster adalah urusan
mereka sendiri.” Erang Rex.
Anne mengacuhkan kalimat itu. Ia berujar
“Rex, mohon periksalah hukum Darkmaster, apa seorang Darkmaster dapat
menerima separuh bagian dari hukuman yang diberikan pada Darkmaster lain?”
Rex memegang kepalanya. Dentum ‘Lex’ terdengar sekali lagi.
“Kau... bagaimana mungkin kau…” ucapannya kelu, entah hukum apa yang telah
dilihatnya sampai membuat ia tergugu begitu rupa.
“Benar... saudara-saudaraku yang kucintai... aku berterimakasih atas kehadiran
kalian...”
“Anne! kau tak perlu melakukan ini!” potong Rex.
“Rex, aku pun tak dapat menepis bahwa saat ini aku lebih mendahulukan
keinginan, padahal aku adalah Darkmaster... dan karenanya ini adalah satu-satunya
keinginanku yang egois.”
“Tapi...” Rex tergugu. Ia tak mau melanjutkan kalimat pedasnya pada Anne.
“Kuakui... saat bersama Allen... aku tahu keinginan dan Dark Nature ternyata
benar tak dapat dipisahkan... Dark Nature hanya memberi tujuan akhir tapi manusia
dengan keinginanlah yang menentukan arahnya. Kita pasti mati tapi cara mati akan
berbeda. Kita hidup tapi pilihan hidup kita berragam.”
Kebijaksanaan ini bahkan membuat Visia terdiam. Ia hanya memberikan tepuk
tangan singkat tanpa peduli reaksi Darkmaster lain.
“Kebijaksanaanmu adalah pilihanmu, wahai Anne, dan Kebijaksanaan juga
mempunyai kebebasan. Jalankanlah apa yang ingin kau lakukan, wahai Anne, dan
semoga Kebijaksanaan Dark Nature-lah yang kelak akan membimbingmu kembali.”
“Terimakasih kakak Visia... untuk mempersingkat... aku, Anne Eaumi, Dark
Water nomor 2, dengan ini menyatakan akan menanggung separuh hukuman Allen.
Dan sebagai konsekuensinya, aku rela melepas statusku... sebagai Darkmaster.”
“APAAA?!” Implosilah yang langsung berteriak tak suka. “APA-APAAN KAU
ANNE!?”
Anne menambahkan
“Lagipula bukankah kalian akan menghukum orang yang mencetuskan Dark
Inquiry pertama kali? Bila benar maka seharusnya kalian menghukumku karena akulah
yang pertama kali bertanya atas keinginan pribadi Allen dan aku pulalah yang
menginisiasi Dark Inquiry. Dan itu artinya, hukuman terhadap Allen seharusnya
diringankan karena bukan dialah yang berinisiasi, dia hanya mengajukan permohonan
dan diberi janji oleh ‘Lex’.”
Lontaran memori mereka kembali ke lembah Maltayr. Kebenaran adalah fakta
yang tak bisa dipungkiri dan ingatan menjadi salah satu penentunya. Walau pahit tapi
begitulah rasa kebenaran.
“Dan, aku juga turut bersalah karena telah membantu Wishmaster. Ark dan Rex
menjadi saksi atas ini.”
“Kau benar.” Keluh Rex setelah memeriksa aturan yang ada. “Tak kusangka
ternyata kau memiliki pemikiran sampai sejauh itu, Anne.” Rex berdecak “Tak
kusangka aku bisa lupa akan adanya hukum ini. Dan herannya, justru kau yang
mengingatnya padahal kau berurusan dengan kehidupan. Sangat tak lucu sekali, eh…
kau mengambil hukuman atas pencetusan Dark Inquiry untuk mengurangi hukuman
Allen dan kemudian membagi dua hukuman tersebut denganmu.”
“Kau boleh mengatakan bahwa aku belajar sedikit dari Allen dan Arche.”
Rex tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia menarik bola hukum dari tanah,
mendekatkannya pada dada kiri. Kata-demi-kata berisikan hukuman mengalir lancar
darinya.
“Karena itu, sesuai aturan Rex Nature pasal 115 ayat 1 dan 2. Darkmaster yang
meminta Dark Inquiry atas keinginan pribadi akan dikenakan hukuman sesuai dengan
keputusan Dark Assembly, akan tetapi bila pencetus pertama bukanlah sang peminta
maka timbal hukuman tak dapat diberikan pada sang peminta. Oleh karena itu hukuman
untuk Allen akan dikurangi sampai tingkat 3 yang di bagi 2. Artinya, kalian berdua
akan merasakan sakit yang diberikan oleh Dark Nature”
Saravine masih tak terima.
“Tapi... karena 3 dibagi 2 menimbulkan angka ganjil maka keduanya
mendapatkan hukuman tingkat 1. Terhukum akan dibuat lupa terhadap beberapa
masalah oleh Dark Nature,” tambah Rex “Begitulah yang tertera dalam Rex Nature
pasal 117.”
Lupa? Saravine (mungkin) menerima hukuman ini.
“Pelaksanaan hukuman akan dilaksanakan setelah Anne menyelesaikan
penggelapannya.” Dentum ’Lex’ memutus perkara.
Visia berbisik pada Rex “Kau sendiri, wahai Rex, tak dapat menyembunyikan
fakta bahwa kau juga tak ingin mereka terluka bukan?”
“Hukum adalah hukum. Aku hanyalah pelaksana.”
Visia kembali berbisik “Aku senang, wahai Rex, engkaulah yang menjadi hakim
bagi kami.” Rex hanya mendengus saja mendengarnya.
’Lex’ didentumkan pertanda bubarnya Dark Assembly. Kesadaran fisik kembali
pada setiap pemiliknya. Allen membuka mata dan menyadari Saravine masih terlelap di
sampingnya. Ia mengusap pipi Saravine. Sang gadis membuka mata dan menjawab
dengan senyum.
“Terimakasih ya Sara.”
“Aku hanya mengatakan apa yang ingin kukatakan.” Saravine merapat pada
Allen, tak membiarkan dinginya malam mulai merajam mereka.
“Sara, kita cari kakek Greul dulu yuk. Hatiku tak tenang kalau tak bisa
menguburkan kakek Greul.”
Saravine setuju.
Malam itu dipakai oleh mereka untuk mencari kakek Greul. Daerah selatan
mereka susuri. Saravine dengan Kekuatan Keinginan dan Allen dengan Dark Nature.
Mereka berdua bahu membahu mencari sosok yang tak berkeinginan. Sungai Neul
mulai kehilangan beberapa pemancingnya. Pada malam hari sungai Neul diisi oleh
penjaga kelestarian sungai. Mereka memungut sampah-sampah dari pemancing tapi tak
satupun yang menemukan Greul.
Scutleiss malam hari masih menggeliatkan kehidupannya sementara dua insan ini
mencari kematian dalam setiap pelosok kota. Penunjuk waktu semakin merah,
warnanya yang kontras dengan biru gelap langit seolah mampu memancarkan hasrat tuk
terus bekerja.
Daerah timur yang sangat berisik di siang hari berubah sunyi syahdu. Para pekerja
tambang tidak lagi mendentangkan perkakas kerja. Penjara keheningan justru
menyelimuti bagian timur kota Scutleiss. Dalam keheningan ini Saravine dan Allen
juga menemukan kenihilan. Kakek Greul tidak berada di daerah ini.
Pusat, Colisuem Matheoust juga bisu. Bangunan yang tak terlalu tinggi ini tak
bisa memberi cakrawala pandangan pada malam hari. Ketenangannya membuat
bangunan ini seakan makam perjuangan yang kelam... Saravine dan Allen lagi-lagi
saling geleng kepala tak menemukan sosok yang mereka cari.
Bel Grand Penumbrae... mereka sebenarnya berpikir tak mungkin kakek Greul
ada di sini. Usaha adalah pendamping doa, dibanding berdiam diri lebih baik mencari
diiringi doa. Itulah yang akhirnya mereka lakukan. Bel ini, walau megah dan mampu
mendentangkan suara menuju berbagai penjuru, tak dapat menjadi penunjuk keberadaan
satu manusia saja.
Satu-satunya yang tersisa adalah kerajaan Erune... tapi di manakah tempat yang
sangat mungkin untuk menemukan keberadaan angin yang telah dibenci?
Saravine tiba-tiba mendapat jawaban. Ia mengajak Allen melesat menuju pintu
masuk utama kerajaan. Mereka melewati aula Rasthu dan terus menuju utara. Kamar
tidur permaisuri.
Mereka benar... Greul terduduk di pojok kamar, di bawah jendela. Ia tersenyum
saat duduk. Tangannya menggenggam sepucuk perkamen putih. Allen mendekati
dengan wajah pilu. Pikiranya kusut. Kakek yang disayanginya telah tak bernyawa. Ia
menyentuh tubuh itu. Reaksi penolakan terjadi, tubuh Greul mendadak meluruh
menyerpih bagai pasir.
“Ah ah... tidak... jangan... jangan!” Allen berusaha menyatukan kembali serpihan
tapi daya luruhnya tak dapat dihentikan. Tangan, kaki, sampai akhirnya kepala menjadi
pasir hitam.
“Kakek Greul... Kakek... ”Allen menggigit bibirnya. Darah menetes dari bibir
yang pedih menahan sedih itu. Allen yang ceria tak dapat menutupi kesedihannya
dengan cengiran. Titik-titik air mata bercucuran tanpa bisa dikontrol. Air mata dan
darah tak dapat bercampur dengan pasir tubuh Greul. Hanya perpisahan fisik saja yang
diizinkan dan setelahnya pasir-pasir itu terbawa oleh angin menuju alam...
Saravine memeluk Allen. Ia dapat merasakan guncangan hati Allen. Denting
Keinginannya sangat menusuk hati Saravine. Ia pun menyanyikan bait-bait lagu yang
diajarkan pada setiap Wishmaster
Di saat kau tahu sejarah bergerak
Dapatkah kau menghentikannya?
Di saat kau tahu takdir berbicara
Dapatkah kau membungkamnya?
Di saat kau tahu Takdir dan sejarah diam
Dapatkah kau tahu kau yang mendiamkanya?
Di saat Keinginan dan Kuasa bertabrakan
Dapatkah kau tahu siapa pemenangnya?
Allen tergerak, lagu itu juga diajarkan pada Darkmaster. Ia juga mulai bernyanyi
dalam nada lirih, melengkapi bait-bait Saravine.
Di saat Derita menjadi Cerita
Dapatkah kau tahu akhirnya?
Di saat Cinta menjadi pertentangan
Dapatkah kau menggapainya?
Di saat Hati menjadi Beku
Dapatkah kau menemukan jawaban?
Allen berhenti. Lagu itu membuatnya mengingat kakek Greul. Dan sekarang
Saravine yang melanjutkan bait lagu itu.
Kami sebagai Pembawa Keinginan akan berkata bisa
Kami mengenal diri kami
Alam hanyalah sebagai media
Allen membalasnya
Kami sebagai pencinta Dark Nature
Kesenangan dan Kesedihan kembali padanya
Hidup bukanlah keinginan belaka
Sejenak mereka saling pandang. Meski sebenarnya lagu tersebut saling
mengutarakan kehebatan masing-masing tapi di baliknya terdapat pujian bagi masingmasing
pihak. Kesedihan Allen mereda. Ia mulai membaca sepucuk perkamen ‘wasiat’
Greul.
“Allen, saat kau membaca surat ini aku sudah tak bisa lagi menjitak kepalamu.
Aku sudah menemukan kreasi terakhirku dalam keinginan yang egois. Aku sudah
merencanakan hal ini semenjak perpisahanku dengan Grendel. Penyatuan kembali Dark
dan Wish.
Darkmaster dan Wishmaster hakikatnya saling bersatu seperti mawar dan
tangkainya. Tangkainya adalah Dark Nature dan bunganya adalah Keinginan.
Keinginan yang kuat dapat mengubah nasib tapi bukan takdir. Tak ada yang dapat lari
dari takdir, terutama kematian. Bila sudah datang saatnya maka pemilik keinginan
sekalipun tak bisa lari darinya.
Allen... mungkin kau telah lama bertanya-tanya di mana orangtuamu. Aku selalu
berkata, orang tuamu meninggal semenjak kecil. Dan itulah dosa terbesarku selain
mengacuhkan Dark Nature.
Orangtuamu masih hidup di Freedo Crata. Scarf milikmu yang kuberikan sebagai
hadiah kelayakan Darkmaster adalah bukti identitasmu. Kau dulu pernah bertanya
mengapa tidak mendapat Scarf Element seperti saudaramu yang lain dan aku
menjawabnya dengan jitakan. Sekarang jitakan itulah yang harus kau ingat.
Aku menculikmu dari kerajaan Freedo Crata sewaktu kau masih berumur 5 tahun.
Aku masih mengingat kau takut padaku. Masih teringat di benakku kau berkata “Jangan
lagi... jangan lagi.” Dan kau lupa akan ingatan itu kecuali saat tidur. Bila mengingatnya
aku tahu ada yang harus kukatakan padamu sebelum kau membaca surat ini...
“Maaf.”
Tapi kurasa sudah telat. Kau lebih tahu sifatku dibanding semua Darkmaster lain.
Kreasi tak kenal penyesalan.
Aku juga seharusnya berkata seperti itu pada Saravine. Aku dan Adam sengaja
merancang agar kalian berdua bisa bertemu. Dan berjodoh. Kami sama-sama cemas
apakah cinta bisa tumbuh di hati kalian. Pola pikir kami memang bersebrangan tapi
kami sadar bahwa tujuan akhirnya sama. Dan itulah yang membuat kami
melakukannya. Kami berdua senang ternyata perasaan kalian berdua saling berbalas.
Kali ini kreasiku berhasil mendapat restu mutlak Dark Nature.
Dan Allen... hidup bersamamu sangat menyenangkan. Ini pasti terdengar aneh
tapi begitulah. Kaulah kreasi terbaik dari Angin Dark Nature. Keberadaanmu
menyelamatkan kewarasanku. Kau membawa kehangatan sesuai dengan nama marga
yang kau sandang. Untuk itu, aku berterimakasih.
Untuk Saravine. Dalam surat ini Vristinus menitip pesan untuk meminta maaf
padamu. Dialah yang menyarankan permaisuri untuk melepasmu keluar. Tentu dengan
sedikit memutar fakta tentang Emeth. Aku tak pernah menyangka ia ternyata bisa cukup
licik juga mengatur alasan. Tapi akibatnya, ia sendiri merasa bersalah setiap kali
melihatmu. Itu juga yang menyebabkanya sangat memanjakanmu. Vristinus pernah
berkata, ia lebih baik dibenci olehmu daripada kau membenci ibumu.
Ah, aku sudah terlalu banyak meminta maaf. Ini bukanlah sifatku tapi aku sadar,
setidaknya saat aku tiada, aku tidak lagi memiliki utang kata-kata yang sulit kuucap ini.
P. S1: Kreasikanlah anak yang sehat bersama Saravine.
P. S2: Kuberi satu jitakan lagi agar kau tidak mudah lupa.”
Allen menutup surat. Titik air mata membasahi tinta kertas.
“Dasar kakek Greul. Sama saja kayak kakek Adam. Seenaknya saja bilang
macam-macam terus mati. Jadi orang tua kok tega benar.” derai Air mata Allen tak
tertahan tapi dibalik itu cengiran Allen sudah kembali.
“Kakek Greul dan Adam memang sama-sama jahat. Mereka menjodohkan kita
berdua tapi tak mau melihatnya. Mana mungkin kita bisa membenci mak comblang
kita.” ujar Saravine dalam mata yang ikut berderai.
“Allen...”
Saravine mendekatkan wajahnya pada Allen.
“Sembunyi!”
Saravine mendorong Allen kedalam lemari pakaian dengan Dorongan Keinginan.
Ia pun ikut ke dalam setelahnya. Lagi-lagi Allen misah-misuh akibat paksaan Saravine
tapi benak nakalnya justru melanglang buana kemana-mana, memikirkan alasan
Saravine ‘mojok’ di tempat sempit lagi gelap. Saravine memberi telunjuknya di bibir
Allen. Ia tahu pria ini akan bertanya.
Tak lama seorang dayang berbaju putih membuka pintu.
“Cuma ada satu dayang masuk saja kan? Kenapa kita harus sembunyi seperti ini
sih?” tapi suara Allen terdengar sangat kecil bahkan bisa diacuhkan oleh Angin.
Kekuatan Keinginan Saravine sudah terlebih dahulu membungkam Allen.
Dayang itu melirik sekeliling. Allen waspada, tapi kali ini jari tengah Saravine
menusuk rusuk Allen untuk mencegahnya bicara.
Dayang itu membuka samarannya...
“Eh kakak Anne? Mau apa kakak Anne di sini?” Allen memperhatikan Saravine.
Ia sadar, bila memang dayang tadi ingin bertindak jahat, Saravine pasti sudah bertindak
lebih dahulu.
Anne melangkah mendekati permaisuri.
“Eh eh... kakak Anne mau ngapain itu?” tanya Allen. Pertanyaan itu jelas tak
mungkin dijawab oleh Saravine. Ia tak tahu apa isi hati Anne sebenarnya.
Anne duduk di samping bantal permaisuri.
“Permaisuri Vex.”ujarnya.
Ia mengusap wajah permaisuri.
“Kumohon bangunlah. Kesadaranmu akan membuat Saravine bahagia...
begitupun juga dengan Allen. Tuduhan padanya akan hilang.”
Anne mengeluarkan Plakat Platinum Hitamnya. Ia memandanginya
“Ini bukanlah keinginanku... ini adalah keinginan yang diberikan oleh Dark
Nature. Aku hanyalah pelaksana.”
Tangan kanan Anne menekan kening permaisuri. Tangan kiri memegang Plakat
Platinum Hitam. Plakat itu dikecupnya. “Kekuatan tingkat 4, Air.”
Gelembung gelembung air bermunculan di sekitar tubuh Anne. Perlahan
gelembung itu mengarah dan menyelubungi kepala permaisuri. Debu-debu berwarna
hitam mengisi gelembung itu. Gelembung pecah melemparkan debu hitam ke sekeliling
ruangan.
“Ternyata memang tak bisa...apa memang hidupku sudah tak lagi murni untuk
Dark Nature?”
Anne mengangkat telapak tangannya dari kening permaisuri Vex. Gelembunggelembung
yang menyerap debu-debu hitam pecah satu persatu. Ia menatap tangannya.
Tangan yang kecil tapi berusaha menyelamatkan sebuah eksistensi. Anne berdiri. Ia
telah mendapatkan hasil dari renungannya.
“Tidak... aku yakin inilah yang diinginkan oleh Dark Nature... tidak semua tapi
sebagian...” desisnya
“Semoga jiwa-mu direstui oleh Dark Nature.” Ujar Anne.
Saat itulah pintu ruangan permaisuri terbuka. Arche datang dengan terengahengah.
Ia datang hanya membawa pena miliknya. Ia menatap tak percaya pada Anne.
“Nona Anne, apa yang hendak nona lakukan pada permaisuri?”
Nada bicara Arche mengeras. Ia yang sebagai penjaga keamanan permaisuri telah
menebar bulu merak sebagai pemindai... dan ia menemukan Anne sedang ‘mengobati’
permaisuri. Kelengahan-kelengahan terdahulunya disadari saat ia tahu Saravine
menyamar menjadi Ravnell. Begitupun peristiwa penyusupan Allen membuatnya sadar
bahwa ia tidak memberi penjagaan maksimal pada keturunan kerajaan. Dan karenanya,
Arche tak mau lagi kecolongan.
Anne diam tak menjawab
“Nona Anne, aku tahu nona adalah salah satu penyembuh tingkat tinggi. Tapi
Nona tidak bisa begitu saja berada di sini.” Tangan Arche menegangkan uratnya saat
melihat Anne tetap tak menggubrisnya. Ia menderitkan giginya, berusaha membanting
perasaannya sendiri dan mengimbuh logikanya dengan ‘pekerjaan’ dan tanggung jawab.
Anne memperlihatkan roman pilu lagi kecewa. Ia mendesah.
“Arche Efeether...” ucap Anne.
Saravine yang berada dalam lemari dapat mendengar Denting Keinginan yang
deras. Denting Keinginan Anne meluap deras dengan irama yang sama... seperti
penggelapan Allen. Saravine benar, Plakat Platinum Hitam telah mengapung di depan
bibir Anne. Arche pun melihatnya, ia tersentak.... sayang doa Anne lebih dulu
terrapalkan.
“Semoga ingatan kehidupan dari Dark Nature jatuh atasmu.”
Asap hitam membubung dari kening Arche. Dalam separuh ketidaksadarannya
Arche hanya sempat melenguh
“Kutukan…”
Pintu lemari terbuka. Allen mematung antara percaya dan tak percaya.
“...Ternyata benar.” ujar Allen lirih
Anne tak terkejut. Ia membalikkan badannya dengan tenang.
“Kau sudah tahu jawabannya Allen. Aku tak perlu berkata apa-apa lagi.”
“Tapi apa kakak tidak sedih? Kakak Anne terlihat sangat cocok dengan Arche.”
“Aku bukanlah sang kebebasan... Allen, aku adalah sang kehidupan.”
“Apa sang kehidupan tidak boleh bahagia?”
“Kebahagiaan bukanlah ukuran yang bisa seenaknya kutentukan.”
“Tapi bisa dirasakan... dan hanya kita sendirilah yang tahu seperti apa
kebahagiaan kita.” ujar Saravine. Anne menghela napas mendengarnya. Ia melangkah
mendekati jendela balkon. Pandangannya menerawang. Siluet kenangan melintas rona
mata birunya. Jendela balkon dibukanya. Angin lembab merasuk dalam kamar. Hanya
selintas senyum tipis yang diberi Anne saat menjawab
“Mungkin kau benar, Saravine.” Denting Keinginan Anne terdengar lembut,
selembut langkahnya menuju pagar balkon. Air yang menggenang dan mengalir turun
ke bawah menyaput kaki Anne.
Allen mencoba mengejar ke balkon. Ia tahu nuansa hati Anne.
“Kakak Anne... berapa level penggelapan untuk Arche?”
Pagar Air muncul dari bawah kaki Anne menghalangi langkah Allen.
“Bila kuberitahu, kau mungkin akan marah padaku lagi.” Jawabnya lembut.
Roman ekspresinya tak terlihat dari balik pagar tapi Allen tahu jelas bahwa perasaan
Anne sebenarnya berkecamuk.
“Tapi...”
“Allen, ijinkan aku iri pada kalian berdua. Aku tak diijinkan mendapat hal yang
bisa kalian raih tapi aku tahu ada hal yang bisa kuberi untuk itu.”
Saravine terdiam, begitupun Allen. “Terimakasih atas perhatian kalian.” Selepas
kalimat itu, pagar air buyar begitu saja. Hanya tersisa genangan air yang terus mengalir.
Jendela kembali tertutup rapat memperlihatkan kilat guntur di balik mendung awan nun
jauh di sana pertanda dimulainya gemuruh sejarah.
Chapter 22
Hukuman dan Kebebasan
Malam itu semua Darkmaster bergerak.
Visia berdiri di atas puncak tertinggi benteng Aumerthis. Tanganya menengadah
pada langit. Ia sangat tak menyangka bahwa yang harus digelapkannya bukanlah
manusia melainkan buatanya: Benteng Aumerthis.
“Semoga kebijaksanaan Dark Nature jatuh atasmu”
Benteng Aumerthis disegel oleh Visia. Benteng yang terbuat dari emas ini
disucikan dan diikat oleh bumi. Akar-akar tanaman merambati dinding, dedaunan, dan
semak-semak menutup cahaya. Benteng ini ditelan oleh kebijaksanaan kayu. Belum
waktunya bagi emas untuk menguasai bumi.
10.000 tombak dari benteng Aumerthis, dua pasukan besar saling berhadapan.
Obor-obor besar yang membawa nyala api menyalakkan nyali setiap pihak. Tanah
perbatasan yang hijau terusik oleh sepatu-sepatu besi yang membentuk barisan.
Satu membawa bendera Scutleiss berwarna biru gelap dengan simbol tiga mata.
Rapier-Rapier panjang tersandang di pinggang para R-Knight menunggu kultur R untuk
dilepaskan. Baris depan pasukan ini hanya tinggal menungu terompet perang
disalakkan. Bagian tengah barisan diisi oleh Telik Sandi yang siap dengan busur sisir
mereka. Pakaian hitam-hitam mereka telah membuat gelap malam semakin
menyembunyikan entitas pencari informasi nomor wahid di Benua Sol ini. Baris
belakang, Penyembuh-Penyembuh khusus militer mempersiapkan rapalan mantra
mereka untuk memperkuat barisan.
Sedangkan di seberang sana, bendera perak Hyddrick seakan silau menerangi
rerumputan. R-Knight dengan helm-helm karnivora siap mencabut tombak dan pedang
besar mereka. Barisan ini terpecah menjadi dua: Kavaleri R-Knight dengan R-Anima
mereka dan Infanteri R-Knight berimbuh R-Verse. Di belakang mereka telah siap
barisan Mentalist dengan berbagai corak warna turban dan elemen. Bibir mereka
mengucap larik demi larik mantra. Baris belakang diisi oleh barisan Archer15. Busur
mereka yang besar telah siap dengan mata panah berbagai bentuk.
Barisan Hyddrick jauh lebih besar tapi bukan berarti keberanian Baris Scuitleiss
menciut. Barisan Scutleiss yang dipimpin Velicious Emeth tidak akan surut hanya
dengan jumlah. Emeth dan Elena berdiri berdampingan sebagai komandan dan
wakilnya. Mereka telah siap untuk perang terbuka dan segala kejutan di dalamnya.
Jejak api menghias barisan Hyddrick. Kejutan? Mungkinkah lawan telah siap
dengan Mentalist mereka? Bukan! Ledakan api itu bukanlah milik salah satu dari
Mentalist Hyddrick. Ledakan-ledakan kecil mengobrak-abrik barisan besar itu. Petir-
15 Etimologi kata berasal dari Arch (yang tertinggi) dan subjek. Archer bisa dikategorikan sebagai
pemanah pada umumnya tapi ideologi mereka yang mengincar dan mencintai Arch membuat mereka
menolak nama pemanah. Beberapa sejarawan benua Sol berargumen lain; Etimologi nama Archer
berasal dari Arc (lengkungan) yang diartikan sebagai busur yang selalu mereka bawa.
petir meraung dari angkasa menghujam tanah. Manakah yang menang: Ledakan
ataukah Petir?
Suasana berubah hening. Barisan besar Hyddrick perlahan mundur teratur. Emeth
yang melihat dari kejauhan hanya bisa berdecak kagum saja. Laporan Telik Sandi justru
membuatnya tambah kaget. Seorang pemuda telah menumbangkan Afvati Raita hanya
dengan sebuah ucapan
“Semoga hasrat Dark Nature jatuh atasmu.”
Telik Sandi melaporkan bahwa Afvati terbakar sendiri oleh api miliknya.
Mendengar ini, Emeth juga menginstruksikan mundur teratur dan membuat perkemahan
tak jauh dari lokasi.
Emeth beristirahat di tendanya. Ia ngobrol berdua dengan Elena.
“Siapa sangka ternyata Darkmaster ikut campur dalam perang kali ini. Aku jadi
mengerti mengapa ayah bilang jangan sampai membuat Darkmaster mengamuk.
Sendirian masuk ke tengah barisan seperti itu memang tindakan heroik.”
“Huh apa sih komandan Emeth? Wishmaster juga sama seremnya kalau serius!”
“Tapi kau bisa seperti itu tidak?” celetuk Emeth.
“Uuu~”
Emeth tertawa melihat Elena cemberut.
“Kemenangan besar, eh Emeth?” suara Rex hadir dalam ruangan. Sosok gempal
itu hadir di mulut tenda, bersama Ark. Tepuk tangan Rex menyapa mereka berdua.
Bagaimana cara dia melewati penjagaan?
“Hoo, jadi kau juga datang untuk memberi selamat padaku. Aku lebih senang
mendengar kalau kau mau beraliansi dengan kami.”
“Sayang sekali aku datang bukan untuk itu.”
Plakat Platinum Hitam terangkat ke depan bibir Rex dan Ark. Elena merasakan
adanya Denting Keinginan yang berbahaya. Ia menarik Roots Ward dalam refleksnya.
Brusol Emeth ikut mendesis merasakan bahaya mengancam.
“Semoga Hukum Dark Nature jatuh atasmu”
Telat!
Asap hitam membubung dari kening Emeth. Ia rubuh tanpa sempat melenguh.
“Apa yang kau lakukan pada komandan?” Elena berteriak keras dan menyerang
Rex. Sebelum tusukannya sempat sampai, ia terlebih dahulu tertegun. Keningnya juga
mengeluarkan asap hitam. Ia hanya sempat menoleh, menyaksikan Ark dengan Plakat
Platinum Hitam yang melayang. Tanpa sadar air matanya menetes, layaknya dikhianati.
Ia pun rubuh, rupanya Kekuatan Keinginan tak mampu menangkal Dark Nature. Awan
hitam Ark datang untuk menghalangi Mawar melirik pada Matahari.
“Ayo kita pergi, Ark” ajak Rex. Ia membalikkan badan. Rex menghantam tanah
dengan tinjunya, membuat tanah menggasak dan menimbunnya. Ia lenyap tanpa banyak
berkata-kata. Bagaimana dengan Ark? Ia mendekati tubuh Elena. Jemari Ark menyapu
titik air mata Elena. Ia mendekatkan telunjuknya yang bertitikkan air mata Elena,
menghirupnya lama, sebelum akhirnya mengusap rambut Elena berkali-kali. Sudut bibir
yang terjahit itu memberi senyum lembut.
Pasukan yang mendengar teriakan Elena menghambur menuju lokasi. Yang
mereka dapati dalam tenda hanyalah komandan dan wakil mereka yang telah rebah tak
berdaya.
Bagaimana dengan Fey? Ia mendatangi sebuah rumah besar. Ia disambut dengan
hangat oleh penghuni rumah. Mereka senang karena Fey datang menjenguk. Yah, target
Fey memang seorang pesakitan. Ia diantar menemui terdakwanya: Gouph Decrement.
Kakek tua itu hanya bisa menggerakkan kepalanya. Seluruh anggota tubuhnya
telah lumpuh.
“Aku datang untuk menggelapkanmu.” ujar Fey tanpa basa-basi.
“Sudah kuduga. Tak biasanya ada orang yang terlalu peduli dengan pesakitan tua
sepertiku kecuali mereka yang punya urusan.” Gouph berdehem dan tersenyum senang.
“Tapi tak kuduga kalau yang selalu menjengukku justru Darkmaster.” Bola matanya
bergerak menatap langit-langit kamar yang sempit kemudian beralih lagi pada Fey.
“Sudah lama sekali aku tak melihat kaum kalian. Boleh kutahu, mengapa aku
yang menjadi target kalian?”
“Senjata rahasia Fana Craft.” Jawab Fey.
Gouph menghela napasnya.
“Meriam keparat itu rupanya. Aku juga menyesal telah menciptakanya. Kalau
memang itu penyebabnya aku akan terima hukuman dari kalian. Sebelum kau
menghukumku, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”
“Asal bukan untuk membunuh.”
“Aku ingin hukumanku disaksikan oleh keluargaku. Bisakah kau
mengabulkannya.”
Fey berpikir sejenak. Kasus identitas Allen yang terbuka di depan umum
menghampiri kepalanya. Dan ia punya jawaban tersendiri berdasar kasus tersebut.
“Tak masalah.”
Gouph memanggil keluarganya. Keluarga Gouph terdiri dari dua orang anak
gadis, istri, dan satu orang dayang. Ia memang menikah di usia tua akibat terlalu larut
dalam cipta-mencipta. Ia meminta mereka untuk menyaksikan penggelapan. Plakat
Platinum Hitam terangkat ke depan bibir Fey. Gemerincing rantai yang tersambung
pada Plakat Platinum Hitam sang besi mengundang kengerian tersendiri.
“Anak-anakku... lihatlah dengan baik. Setiap Ciptaan pasti akan diminta
pertanggungjawabanya... setiap pembenaran pada akhirnya akan menghadapi
kebenaran. Entah pembenaran menciptakan kebenaran atau hancur di hadapan
kebenaran. Kali ini hukuman datang untukku yang telah menciptakan benda
penghancur.”
Setelah melihat anggukan Gouph, Fey mengucapkan baris doanya
“Semoga Ikatan Ciptaan Dark Nature jatuh atasmu”
Asap hitam, entah penyesalan, pencerahan, atau apapun itu membubung keluar
dari kening Gouph. Ia menutup mata dengan tenang.
“Papa~!” teriak gadis yang paling kecil.
“Kau, apa yang kau lakukan pada Papa?!” tanya sang kakak. Gadis berrambut
merah ini mencengkram scarf Fey. Mata kucingnya menatap penuh amarah pada Fey.
“Dia hanya beristirahat.”
Desah napas Gouph terdengar pelan. Ia masih hidup.
“Dark Nature tidak akan sembarang mengambil nyawa.” Jawab Fey singkat
sembari melepas cengkraman sang gadis. Ia pun melengoskan sang gadis ke samping
membuatnya tersurut ke pojok.
“Kau! Suatu saat perlakuanmu pada papa akan kubalas!”
“Terimakasih.” Jawab Fey.
Fey undur diri. Langkahnya sama sekali tak bisa dihentikan oleh siapapun dalam
ruangan itu. Hanya satu hal yang mengganggu pikirannya selepas ia meninggalkan
pagar rumah Gouph.
“Dark Grail seperti apa ya?”
Pertanyaan itu tak pernah terjawab olehnya.
Pagi hari muncul begitu cepat. Matahari tersembunyi oleh gelapnya awan-awan.
Sebuah kerlip putih menembus awan mendung. 6 Darkmaster yang melihat langsung
mendatangi tempat ditembakkannya sinar tersebut. Sinar dari Anne.
Anne memutar Plakat Platinum Hitamnya pada masing-masing anggota yang
hadir. Satu persatu mereka semua membalas. Beberapa yang datang sudah mengerti
alasan Anne memanggil tapi beberapa tak mengerti.
“HEH! Anne! Ada apa sih sampai harus memanggil segala? Apa kau juga mau
meminta Dark Inquiry.” meski meledek tapi Implosilah yang paling cepat
menyingkapkan Plakat Platinum Hitamnya
“Aku datang untuk meminta hari pembalasan. Bukankah hukuman untukku akan
diberikan bila aku sudah menggelapkan targetku?”
Anne berhenti sebentar.
“Dan juga untuk meminta kesediaan pada Ark untuk menghapus statusku sebagai
Darkmaster.”
Implosi seharusnya berteriak. Tapi ia justru diam. Ia tenang? Tidak mungkin.
Implosi tidaklah tenang. Tiang-tiang Api meledak di sekelilingnya membuat Allen yang
kebetulan berada di dekatnya harus menjauh bila tidak ingin kepanasan.
“Hasrat yang mengerikan, heh. Sama kerasnya seperti si sadis Afvati.”
“Aku telah mengatakan hal ini di Dark Assembly. Dan keputusanku final.”
“Kami tidak mengatakan setuju atas pengunduran dirimu.” putus Rex “Aku ingin
mendengar alasan utamamu. Mengapa kau ingin keluar dari jalur Dark Nature?”
“Aku tidak keluar dari jalur Dark Nature. Aku yakin ada jalan lain yang lebih
cocok untukku mengabdi pada Dark Nature selain menjadi Darkmaster.”
“Kau punya ketidakpuasan terhadap sistem Darkmaster?” selidik Rex sekali lagi.
“Tidak ada. Sistem ini bagiku sudah sempurna. Hanya aku saja yang telah lama
tidak mampu bertahan dalam tugas yang diberikan Dark Nature. Kumohon kesediaan
kalian untuk mengerti.”
Allen yang biasanya cerewet dan bawel sama sekali tidak membuka mulut.
Apakah ia tercemar virus Saravine? Ataukah ia merasa tak nyaman dengan rintik hujan
yang mulai turun? Ark mendekati Allen dan menepuk pundaknya, sekali lagi tak ada
reaksi dari Allen.
Mendadak sebuah sosok mendarat dekat Anne.
“Maaf aku telat. Aku mencari Sara tadi tapi tak ketemu.” mendadak kebisuan
menimpa. Semua mata beralih pada sosok ‘Allen’ satu lagi. Ada dua Allen?
“Tak perlu lagi, wahai nona, untuk bersandiwara. Tidak ada yang dapat lolos,
wahai nona, dari ‘mata’ Ark.”
Allen palsu mengibas tanganya. Sosoknya berubah menjadi Saravine Mutia. Baju
hitam yang dikenakanya berubah putih berlengan panjang. Mantel pendek putihnya
berkibar halus.
“Eh? Sara? Kenapa kamu ke sini?”
“Aku ingin menggantikanmu menerima hukuman.”
Allen menggaruk-garuk kepala “Wah, itu tidak mungkin.”
“Ucapan Allen, wahai nona, adalah benar adanya. Hukuman Darkmaster hanya
bisa diberikan pada orang yang dimaksud. Walau seseorang mengubah dirinya menjadi
semirip apapun tetap saja tidak mampu membuat hukuman terimbuh padanya.”
Suara rintik hujan yang makin deras membuat Anne berusaha mempercepat
prosesi. Ia menatap Allen. Pengalaman dan perjalananya dengan Allen membuatnya
ingin membuktikan sesuatu.
“Allen, kumohon kau mau mengeluarkan Paraluna-mu.”
“Boleh-boleh saja sih tapi buat apa kakak Anne?”
“Kumohon.” Ujar Anne lembut. Allen mengangkat bahunya- mau tak mau. Ia
jarang sekali mendengar Anne memohon seperti ini. Tangan Allen menarik keluar
Paraluna tapi alangkah kagetnya ia saat melihat Paraluna yang dicabutnya tidak
melengkung tapi perpaduan diantaranya.
“Kok Sylphind Fleuret yang keluar? Padahal Rapier Elena sudah kukembalikan.”
Anne tersenyum. Ia benar.
“Paraluna Darkwish!” desis Rex.
“Jadi itu Paraluna Darkwish.” Komentar Fey dalam ketakjuban.
“Ternyata benar. Allen telah menjadi Darkmaster jaman dahulu.” Simpul Anne.
Saravine juga tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia tak dapat
membayangkan bagaimana Allen menggunakan senjata itu. Tapi, ia merasa ada momen
familiar saat melihat Sylphind Fleuret. Ia seolah melihat Kekuatan Keinginan bernaung
pada Paraluna itu.
Sylphind Fleuret mengeluarkan hawa yang sejuk. Angin yang bermain di antara
Paraluna membawa bau rumput yang segar. Siulannya berubah, tidak lagi melengking
tinggi tapi berirama. Angin dalam Paraluna seolah telah dilengkapi oleh rerumputan dan
juga mawar pada pucuknya. Saat Paraluna dimasukkan, angin kembali menjadi udara.
“Oh iya, hari ini kumpul-kumpul karena apa? Kebetulan semua kumpul artinya
aku bisa meminta hukumanku hari ini kan.”
“Kita dikumpulkan oleh Anne untuk menyaksikan pemberian hukuman atas
dirinya dan Allen.” beo Rex. Jujur saja ia kurang suka dengan apa yang ia dapatkan hari
ini. Tapi, sebagai sang Hukum adalah tugasnya untuk menegakkan hukum.
Saravine tak bisa tenang. Dengus napas dan matanya liar berpindah-pindah.
Tangan gadis itu sesekali berkedut di dekat Rapiernya. Rona hitam merambat dari
ujung jari lalu kembali menghilang. Keinginan Saravine berontak liar. Dan Allen sadar
itu. Oleh karenanya, Allen menenangkannya dengan satu kecupan di kening.
“Tenang saja Sara. Yakinlah pada Dark Nature.” Ujarnya lembut. Saravine pun
merelakan Allen berjalan menuju penghukuman.
Allen dan Anne berdiri di tengah-tengah lingkaran. Ark sebagai Algojo memilih
Allen sebagai terhukum pertama. Ia menepiskan Plakat Platinum Hitamnya. Petir hitam
kecil seukuran jari telunjuk menyambar Allen. Jerit kesakitan berkumandang. Saravine
yang melihat ini tak dapat menahan kecemasannya. Ia ingin menghambur menuju Allen
tapi dicegah oleh Visia.
Allen terduduk lemas. Tak bergerak. Kecemasan Saravine memuncak, ia bisa saja
mendorong Visia. Sang pertapa tahu itu. Ia mendorong lembut Saravine menuju Allen.
“Silakan bawa dia, wahai nona, ia telah dibuat lupa atas sebuah urusan yang
diberikan Dark Nature. Mungkin ia melupakanmu, mungkin tidak. Berdoalah.”
Saravine terpana. Siapa yang menyangka bahwa pertapa itu mengijinkannya
untuk membawa Allen. Sebuah anggukan penuh rasa terimakasih dihaturkannya. Tapi
sang pertapa membalas hanya dengan senyum simpul. Senyum netral. Tapi Denting
Keinginan berkata lain. Dan Saravine tahu apa yang tak diutarakan dalam senyum itu.
Ia tahu, tindakannya berbalas sesuatu yang baik. Tanpa menunggu reaksi dari
sekelilingnya, Saravine menggendong Allen pergi dari tempat itu.
Mata hitam teduh Anne memperhatikan punggung Saravine yang menjauh. Pilu
biru menghias dan menggelap senada dengan awan mendung yang datang mencinta.
Apa yang ia inginkan mungkin tak dapat ia lihat. Ia tahu itu. Tapi kepuasan telah
mengganjar hatinya.
Hujan runtuh mendera bumi. Derasnya cinta sang hujan seolah menjadi tabir
keinginan Anne. Tabir keinginan yang telah terbaca oleh Saravine sedari awal bertemu.
“Sekarang giliranku.”
Satu tarikan keras dari Ark memutus Plakat Platinum Hitam dari tali manikmanik
Lumie. Anne menutup matanya, menanti hukuman.
Ark menepiskan Plakat Platinum Hitam miliknya. Petir hitam menyambar Anne.
Tak ada jerit. Hanya Plakat Platinum Hitam dan Scarf elemen air miliknya yang
perlahan meluruh dan lenyap.
Anne terduduk lemas. Ia tak bergerak. Pingsankah Anne?
“Kita tinggalkan dia di sini. Ia bukanlah lagi menjadi bagian Darkmaster. Dalam
dua hari lagi kita akan mendapat wahyu di mana sang Air yang baru.” Ujar Rex.
Mereka pun meninggalkan Anne... kecuali Implosi. Mata membaranya menatap tak
henti pada Anne. Kakinya terus saja mengetuk-ngetuk tanah. Tak sabar. Ia memandang
angkasa yang baginya rewel menangis.
Kecemasan mengguratnya. Ia mengambil daun–daun dan membuat payung untuk
Anne. Giginya sedari tadi berderak menahan kekesalan akibat hujan. Anne bukanlah
Darkmaster lagi, tubuhnya tidak lagi dicintai air. Ia bisa jatuh sakit karenanya. Inilah
yang tak ingin dilihat Implosi. Kecemasanya bertambah kala awan mendung
memperlihatkan kilau-kilau putih. Kesabaranya berbuah, akhirnya ia melihat geliat
tubuh Anne. Perlahan mata gadis itu merekah.
Tatapan mata mereka bertabrakan.
“Implosi?”
Anne melihat ke kiri dan kanan “Mengapa aku bisa ada di sini?”
“Seingatku aku masih berada di Desa Exemptio tapi mengapa... sekarang ada di
sini. Implosi, kau tahu apa yang terjadi?”
Implosi mendadak merangsek dan memeluk Anne.
“Anne Eaumi... MAUKAH KAU MENIKAHIKU!?” kalimat itu membungkam
udara dalam kesunyian. Urat-urat wajah Implosi seakan hendak meledak saat
mengucapkannya. Jangan tanya merahnya muka pria bongsor ini. Langit mendadak
pecah terbelah oleh retak putih. Anne memalingkan muka dan termenung. Implosi tahu
Asterra Phobia Anne dan karenanya ia mengencangkan pelukannya: berusaha menutupi
Anne agar tidak melihat petir.
Petir lain menyambar. Kali ini Implosi tak dapat lagi menyembunyikan kilau
putih perak itu. Tapi Anne sepertinya tidak masalah. Ia melepas pelukan Implosi dan
berdiri dengan tenang. Senyum lembutnya menghias saat menjawab.
“Maaf Implosi tapi aku tak bisa. Bagiku kau sudah kuanggap adik.”
BLAR! Getar petir itu menjadi pemanis guncangan hati Implosi. Jangan tanya
pedihnya ditolak... pasti sakit.
Anne tahu rasa sakit itu. Ia berjinjit dan mengusap kepala Implosi, berusaha
menenangkannya. Implosi, meski sangat kecewa sekali, tetap pantang mundur.
“Apa yang harus kulakukan agar kau mau denganku?!”
Implosi mencengkram tangan Anne dan menatap penuh harap. Dan pagi hari itu
berakhir dengan desakan tanpa henti dari Implosi pada Anne. Sayang usahanya tidak
dijawab oleh Anne. Implosi masih harus berjuang keras mendapat hati pujaannya.
Di lain tempat, Desa Exemptio, siang hari di samping pohon Alfillatis solais.
Warna kuning daun pohon yang mengikuti matahari membuat Saravine seolah mengerti
perasaan DarkWish kayu saat itu. Baginya mengikuti matahari hatinya jauh lebih berarti
dari dunia. Pandangannya berpindah pada Allen yang tertidur di pangkuannya. Hatinya
berkecamuk ketakutan tiada kira. Baginya hukuman tingkat 1 Darkmaster; penghapusan
ingatan, bisa saja berarti peniadaan semua kenangan mereka. Allen yang lupa ingatan
mungkin tidak akan kembali lagi padanya. Jemarinya bergetar saat mengusap rambut
Allen. Baginya, saat ini adalah momen yang kontradiktif. Ia ingin Allen bangun tapi ia
takut Allen lupa dirinya. Jemari Saravine menari di pipi Allen. Hal terbaik, bila tidak
kejam, adalah berharap Allen terus terlelap seperti ini sehingga ia bisa terus
menyentuhnya.
Tidak! Saravine mengenyahkan keinginan jelek itu dari otaknya. Ia membisikkan
kembali arti nama dirinya. Sara yang berarti seribu dan Vine yang berarti daun dan
Mutia yang berarti pencinta diam. Ia tahu, diamnya adalah usaha untuk tetap hidup.
Untuk menerima apa yang akan terjadi... tapi ia tak lupa, bahwa nama itu telah terimbuh
oleh Wishmaster. Ia takkan pasrah menerima... ia akan berjuang untuk mengganti apa
yang salah dengan keinginannya.
Benar. Resolusi kecil bergaung dalam benak gadis ini. Bila Allen lupa dirinya, ia
akan menyembuhkan Allen. Tanpa ia sadari, jemarinya mencengkram erat. Rambut
Allen terjambak dan membuat Angin ini terusik. Lenguhan pendek terlontar dari
mulutnya. Ia akan segera bangun.
Saravine kebat-kebit. Allen bisa terbangun hanya oleh sentuhan seperti ini?
bukankah gempa dan hantaman keras saja belum tentu bisa membangunkannya?
Allen membuka mata. Ia mengerjap-ngerjap sejenak. Mengalihkan pandangannya
pada Saravine yang terdiam berkaca-kaca. Saravine menunggu... menunggu dengan
debar cemas.
Allen nyengir. Tahu apa yang pertama kali diucapkannya saat melihat Saravine?
“Selamat pagi Sara.”
Allen menyentuh dagu Saravine. Senyum senang tergambar pada wajah Saravine.
Ia memeluk Allen dengan lega. Beribu syukur terucap. Dan Allen, yang tak mengerti
mengapa Saravine begitu melankolis, balas memeluk. Tangis bahagia tak pelak
meledak.
Epilogue
Tiga bulan setelahnya
Kota Lovisolistia. Perhelatan besar dilaksanakan. Panji-panji besar Scutleiss
terlihat berdampingan dengan panji-panji bergambarkan dua bilah pisau melengkung
dan bersilang. Hiruk pikuk dan kegembiraan terlihat tumpah di luar Istana. Mereka
merayakan hari besar yang telah lama mereka tunggu.
Istana Erune tak jauh berbeda. Kesibukan melanda. Para dayang dan abdi istana
bolak-balik menyiapkan dekorasi akan perhelatan. Hanya satu daerah yang terlihat tidak
ramai: Halaman dalam Istana Erune. Di tengah halaman tersebutlah berdiri dua insan
yang saling mengacungkan senjata kayu. Satu melengkung setengah lingkaran dan satu
lurus.
Mereka bergerak serempak. Satu tusukan kontra satu sabetan. Dan satu sosok
mencelat terjerembab.
“Aduduuh kenapa kalah melulu sih dari kamu?” keluh yang kalah. Allen. Pedang
kayu melengkung miliknya tergeletak begitu saja di tanah. Allen berdiri dan menepis
debu di bajunya.
“Gawat deh kalau baju ini sampai kotor.”
Allen saat ini memakai sebuah baju putih dengan mantel hitam beremblem
Negara Freedo Crata. Emblem Buku bertahtakan dua bilah pisau melengkung dan
bersilang itu sedikit kotor terkena debu –yang tak dapat dienyahkan Allen. Saravine
tersenyum. Rapier miliknya disarungkan. Ia mendekati Allen dan meniup debu-debu itu
terbang dari baju Allen. Setelahnya, ia berbisik lembut pada Allen
“Kau pernah menang dariku kok.”
“Hah, Kapan?”
“Kau pasti tak ingat… dan bagiku itu lebih baik.” Saravine mengecup pipi Allen
“Supaya Tuyul pikunku ini terus di sampingku.”
“Kan sudah kubilang, aku boleh lupa apapun asal jangan dirimu” ujar Allen.
“Tapi aku lupa kapan ini kuucapkan. Sebentar coba kuingat dulu... Sara... cantik...”
Allen terus bergumam mencoba mencari Jaring Ingatan yang tepat. Sayang,
jaringnya makin lama makin panjang dan melantur tak jelas. Lanturannya luntur tatkala
seseorang datang melapor.
Arche Efeether. Ia datang dengan seragam putih-putih bertopi hitam. Pada bagian
dadanya tersemat sebuah mawar merah. Sebuah Rapier menggantung di pinggangnya,
bukan bulu-bulu merak. Mantel bersulamkan tinta perak dikibaskannya saat bertemu
pandang dengan Saravine.
“Putri Saravine, Upacara pengucapan ikrar sudah siap.”
Arche berlutut di depan Saravine. Matanya beralih pada Allen yang terlihat kucel.
“Dan… astaga… kenapa pengantin pria ada di sini? Kau bisa buat takdir buruk!
Astaga!! Bajumu juga kotor! Apa-apaan sih ini?”
“Hehehe tidak apa-apa ah, Arche. Yang bisa buat takdir buruk bukan baju dan
ketemu pengantin.”
Arche menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku heran mengapa pewaris tahta Freedo Crata bisa lupa pada aturan seperti ini.
Bukankah negara kalian sangat ketat terhadap aturan-aturan dogmatis?”
Allen hanya nyengir-nyengir senang saja.
Tiga bulan yang lalu Allen mencoba pergi ke Freedo Crata bersama Saravine. Di
sana ia mendapat sambutan yang hangat, padahal hanya menunjukkan scarf putihnya
saja. Para Patih kerajaan Freedo Crata menyatakan bahwa Scarf yang dibawa Allen
adalah scarf khusus kerajaan. Scarf itu kebal elemen dan tak akan hancur hanya oleh
bencana-bencana biasa. Dan Scarf itu hanya bisa dililitkan pada tubuh pemilik aslinya –
layaknya kursi Evallift. Lebih lagi, scarf itu membuktikan sebuah hal berkaitan dengan
kerajaan Freedo Crata.
Status Allen berubah drastis dari bukan-siapa-siapa menjadi pewaris tahta Freedo
Crata. Dan memang namanya tidak berubah, Allen tetaplah Allen. Begitu pun dengan
marganya: Inverson.
“Aku adalah aku.” jawab Allen sembari mereka diantar menuju ruang perhelatan.
“Freedo Crata tidak bisa sembarang mengikatku begitu saja soalnya hanya satu yang
bisa menjatuhkan dan mengikatku selain Dark Nature.” Tambah Allen sembari melirik
Saravine.
“Bila Allen patuh pada aturan maka aku takkan ada di sini.” ujar Saravine.
“Eh, masa sih? Memangnya aku pernah melakukan apa sampai kamu bisa bilang
begitu?”
Saravine memberi senyum dan membiarkan imajinasi Allen bermain.
“Jadi terpikir... entah mengapa sepertinya aku merasa pernah bertualang bersama
anda, pangeran Allen. Aku juga tak terkejut dengan kelas Darkmaster pangeran.” Ujar
Arche. “Eh, aku juga merasa begitu. Makanya kok tahu-tahu saja sudah seperti ngobrol
dengan teman dekat.”
“Kurasa itu karena pangeran mudah bergaul dan tidak mementingkan status. Dan
aku salut karena pangeranlah yang pertama kali mendeklarasikan perjanjian damai
dengan kami.”
Allen nyengir lebar. “Berantem lama-lama bisa bikin enek. Enakan main
bersama.” Jawabnya polos.
Begitulah, keberadaan Allen membawa dampak bagi perundingan damai kedua
Negara. Tidak ada lagi gencatan senjata. Dan kedua pewaris Negara akan disatukan
dalam event besar kota Lovisolistia.
“Omong-omong juga, pangeran sudah melihat Penyembuh yang membangunkan
permaisuri?”
Allen nyengir “Sudah dong, kakak Anne itu teman kita waktu di Desa Exemptio.
Kakak Anne itu kakak tercantik, terbaik dan terkuat... ups tercantik dan terbaik saja
kalau untuk sekarang.”
“Ucapan Pangeran membuatku semakin ingin berjumpa dengannya.”
“Nanti paling kamu ketemu saat pesta dansa. Pasti kamu langsung kepincut deh.”
Begitulah, mereka bertiga sampai di Aula Rasthu. Berbagai rangkaian bunga
besar bertuliskan “Selamat Atas Pernikahan Allen Inverson dan Velicious Almyre
Dinn” berjejer memenuhi ruangan. Benar, di hari ini Allen dan Saravine
melangsungkan pernikahan. Ikatan mereka berdua mengakhiri perseteruan Freedo Crata
dan Scutleiss. Allen tetap menjadi Darkmaster dan begitupun Saravine dengan
Wishmasternya.
Dengan status sebagai pewaris tahta Freedo Crata, Seharusnya Allen tidak bisa
mengawasi terdakwanya... tapi ia bisa mendapatkan simpati dan berhasil diberi
kebebasan. Lagipula, ia tak harus menjadi raja saat ini. Pertama, pemegang kekuasaan
Freedo Crata masih hidup dan kedua, Saravine juga bukanlah pemegang sah kekuasaan
saat ini.
Mereka berdua duduk di depan pelaminan. Empat orang saksi beserta wali duduk
di samping Allen dan Saravine. Wali Allen: Rue Inverson. Sedangkan Saravine:
Velicious Vex. Para saksi: Velicious Emeth, Elena Rozencraft, Arche Efeether dan
Maria Fangabell. Di antara keempat saksi ini sudah tidak terdapat lagi kecurigaan.
Mereka saling bercakap-cakap tentang apa saja.
Pengucapan sumpah dilakukan dengan bantuan dari penghulu.
“Allen Inverson, Anak dari Rue Inverson, apa kau menerima nikahnya Almyre
Dinn, anak dari Velicious Vex?”
Penghulu memberi kesempatan pertama untuk Allen.
“Aku terima nikahnya Sara ... eeeh... Saravine... ah, aku lupa!”
Dan pengucapan janji harus diulang sampai empat kali karena lidah Allen yang
masih sering terpeleset menyebut nama. Hanya Saravine saja yang fasih mengucapkan
janji. Setelah pengucapan janji kedua mempelai diminta untuk memberi hormat pada
kedua orang tua dan mertua. Saravine duduk bersimpuh dan meletakkan kedua
tangannya di pangkal lutut ibunya.
“Ibunda... adindamu berterimakasih atas segala kasih sayang yang telah bunda
berikan pada dinda.”
Titik air mata bahagia tak dapat disembunyikan oleh wajah pucat sang permaisuri.
Keharuan menderanya. Ia memeluk putri hilangnya ini cukup lama, menumpahkan
emosinya tanpa mempedulikan penghulu yang sudah gerah menunggu. Allen pun
bersimpuh di hadapan sang permaisuri. Sang permaisuri memberi sebuah nasihat.
“Ingatlah tamparanku waktu itu sebelum kau berani menyakiti anakku.”
Allen hanya nyengir-nyengir saja. “Pasti bunda. Mana berani aku membuat Sara
menangis.”
Rue Inverson mendapat giliran setelahnya. Ia memberikan doa pada mereka
berdua. Doa yang sama: doa agar kedua pasangan hidup bahagia dan menciptakan
keluarga yang dipenuhi berkah.
Upacara adat pengucapan ikrar berlangsung selama satu jam lebih. Saksi mulai
tidak betah karena Allen yang selalu saja membuat masalah. Mereka bisa bernapas lega
begitu pesta dansa dimulai.
Arche yang luwes bercengkrama dengan para tamu. Sesekali tentu saja ia bertukar
informasi dengan mereka. Di saat itulah Arche menemukan sesosok gadis yang
menarik perhatiannya. Wajah gadis yang lembut ditambah gaun biru yang lebar. Gadis
itu memancarkan aura elegan yang membuat pria lain tak berani mendekatinya untuk
mengajaknya berdansa. Tentu saja, itu juga tak lepas karena di sampingnya ada
Penyembuh senior yang pendek dan mengancam para pria ini. Hanya Arche saja yang
berani mendekati. Ia mengucapkan salam sapa pada sang Penyembuh. Setelah keduanya
bertukar salam, sang Penyembuh justru permisi keluar, memberi kesempatan pada
Arche untuk mengulurkan tangan pada sang gadis
“Maukah nona berpasangan denganku? Aku melihat nona sedari tadi tak
berdansa.”
“Dengan senang hati tuan…”
“Arche... Arche Efeether.”
“Anne… Anne Eaumi.”
Mereka berdua saling tersenyum, saling pandang. Mereka tak sadar kalau musik
telah mengalun. Kikuk, mereka berdua hampir saja saling menginjak kaki masingmasing.
“Mengapa rasanya aku pernah mengenal anda… Anne?”
“Mungkin saja tuan pernah menjadi pasienku.”
“Dan apakah Penyembuh boleh berkencan dengan pasiennya?” Arche melempar
senyum menggoda.
“Hal itu tak tercantum dalam kode Etik.”
“Berarti…”
“Berarti?” Anne tersenyum balik.
“Berarti Tidak Boleh!” tiba-tiba saja sosok tinggi meradang. Implosi! Ia
menyeruak di tengah-tengah Anne dan Arche, memotong ikatan tangan mereka.
Perdebatan keras nyaris terjadi. Bila saja Anne tidak hadir disana dan turun tangan,
mungkin akan ada pertarungan Implosi vs Arche babak dua. Implosi, Raksasa penuh
codet yang sedang berpakaian rapih ini memang hanya mau pada Anne.
Setelah menenangkan Implosi, Anne pamit pergi. Tapi sebelum berbalik, ia
berbisik tanpa suara. Arche yang membaca gerak bibir Anne langsung tersenyum penuh
kemenangan.
Allen hanya nyengir-nyengir senang saja melihat peristiwa itu. Saravine pun
begitu, ia merasa semua telah mendapatkan kebahagiaan setelah mengalami masa
susah. Pesta pun larut sampai malam. Canda tawa perlahan mulai lenyap tatkala satu
persatu tamu pulang.
Saravine dan Allen menghilang dari pesta. Keributan tentu saja terjadi. Tapi
sepucuk surat yang menyatakan ‘mereka pergi’ membuat reda ketegangan yang ada.
Desa Exemptio.
Matahari sore telah menghamparkan merahnya pada bumi ini. Aktivitas mulai
surut dan penduduk desa mulai kembali ke rumah untuk beristirahat dan bercengkrama
dengan keluarga. Dua orang, justru bertindak sebaliknya.
Saravine dan Allen berziarah ke perkebunan teh Gratios yang meranggas layu.
Pohon besar Grendel sudah mengering. Mereka berlutut di bawah sang pohon. Sebotol
air rendaman 7 bunga disiramkan pada akar pohon besar. Doa dipanjatkan untuk arwaharwah
ketiga orang tua yang membesarkan mereka.
“Kakek Greul, Nenek Grendel, dan Paman Adam. Terima kasih atas segala kasih
sayang dan kebaikan kalian bertiga. Saravine dan Allen tidak akan berada di sini bila
tanpa campur tangan kalian.”
Sebuah pucuk teh kecil terlihat di tanah. Saravine terpana. Pucuk teh itu terikat
oleh tangkai mawar merah dan terlindung oleh akar-akar pepohonan besar yang telah
layu. Tanpa sadar air mata Saravine berlinang.
“Peninggalan terakhir mereka.” Ucapnya pada Allen.
“Ternyata pada akhirnya mereka kembali dikumpulkan menjadi satu.” Tambah
Allen menyetujui.
“Bisa jadi ini pesan terakhir mereka.” Timpal Saravine sembari memeluk lengan
Allen. Ia menyandarkan dirinya di lengan kokoh Allen.
“Maksudmu?” tanya Allen polos.
Saravine mencubit lengan Allen. Ia pun berujar lirih dalam rona merah
“Mau berapa anak?”
Allen membalas dengan cengiran senang “Yang penting bisa meramaikan istana.”
Dan begitulah, angin berhembus gembira di atas rumput-rumput Fyul yang manja
beterbangan di udara. Alam turut memberi selamat atas kebahagiaan dua insan ini.
The End

0 Response to "In The Name Of Broken Wishes 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified