HOME

Friday, July 6, 2012

Harry Potter And The Prisioner Of Azkaban 1http://www.blogger.com/img/blank.gif

Harry Potter And The Prisioner Of Azkaban

J.K. Rowling

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

1. Pos Burung Hantu

HARRY POTTER adalah anak yang sangat istimewa dalam banyak hal. Misalnya saja, dia paling benci liburan musim panas dibanding waktu-waktu lainnya. Contoh lain lagi, dia ingin sekali mengerjakan PR-nya, tetapi dia terpaksa mengerjakannya pada larut malam secara sembunyi- sembunyi. Dan dia kebetulan juga penyihir.

Saat itu sudah hampir tengah malam, dan dia sedang berbaring telungkup di tempat tidurnya, selimutnya ditarik sampai menutupi kepalanya seperti tenda, satu tangannya memegang senter dan sebuah buku besar bersampul kulit (Sejarah Sihir, oleh Bathilda Bagshot) bersandar terbuka pada bantal. Harry menggerakkan ujung pena bulu-elangnya menyusuri halaman, me-ngernyit sementara dia mencari sesuatu yang bisa membantunya dalam menulis karangannya,

"Pembakar-an Para Penyihir di Abad Keempat Belas Sama Sekali Tak Ada Artinya—jelaskan".

Pena bulunya berhenti di atas paragraf yang ke-lihatannya cocok. Harry mendorong kacamatanya yang bundar ke atas hidungnya, menggerakkan senternya lebih dekat ke buku dan membaca:

Orang-orang non-sihir (lebih dikenal sebagai Muggle) terutama takut akan sihir pada abad pertengahan, tetapi tidak begitu menyadarinya. Pada kesempatan yang jarang terjadi, ketika me-reka menangkap penyihir wanita atau pria, pem-bakaran penyihir soma sekali tak ada efeknya. Si penyihir yang bersangkutan akan mengucapkan Mantra Pembeku- Lidah-Api dan kemudian ber-pura-pura berteriak-teriak kesakitan, sementara me-reka sebetulnya menikmati perasaan nyaman se-perti digelitik. Wendelin si Aneh malah sangat menikmati dibakar, sehingga dia membiarkan diri-nya ditangkap tak kurang dari empat puluh tujuh kali dalam berbagai penyamaran.

Harry menggigit pena bulunya dan tangannya me-nyusup ke bawah bantal mengambil botol tintanya dan segulung perkamen. Pelan-pelan dan sangat hati-hati dia membuka botol tinta, mencelupkan penanya ke dalamnya dan mulai menulis, berhenti sekali-sekali untuk mendengarkan, karena kalau salah satu anggota keluarga Dursley mendengar gesekan penanya saat mereka sedang berjalan ke kamar mandi, Harry mung-kin akan dikurung di lemari bawah tangga selama sisa musim panas ini.

Keluarga Dursley yang tinggal di Privet Drive nomor empat- lah penyebab Harry tidak pernah bisa menikmati liburan musim panasnya. Hanya Paman Vernon, Bibi Petunia, dan anak mereka, Dudley-lah keluarga Harry yang masih hidup. Mereka Muggle dan sikap mereka terhadap penyihir sarha seperti sikap orang-orang di abad pertengahan. Orangtua Harry yang sudah meninggal, keduanya penyihir, tak pernah disebut di bawah atap keluarga Dursley Selama bertahun- tahun, Bibi Petunia dan Paman Vernon berharap bahwa jika mereka menindas Harry sekeras mungkin, mereka akan bisa melenyapkan kekuatan sihir Harry. Betapa marahnya mereka karena mereka gagal, dan sekarang hidup dalam ketakutan kalau-kalau sampai ada yang tahu bahwa Harry telah melewatkan dua tahun terakhir ini di Sekolah Sihir Hogwarts.

Yang bisa dilakukan keluarga Dursley paling-paling hanyalah mengunci kitab mantra, tongkat, panci, dan sapu Harry dalam lemari pada awal musim panas, dan melarangnya bicara dengan tetangga.

Perpisahan dengan kitab mantranya jadi persoalan besar untuk Harry, karena guru-gurunya di Hogwarts memberi banyak tugas untuk diselesaikan selama liburan. Salah satu tugasnya adalah membuat karangan yang sangat tidak menyenangkan mengenai Ramuan Pengerut, untuk guru yang paling tidak di-sukai Harry, yakni Profesor Snape, yang akan senang sekali punya alasan untuk memberi Harry detensi selama sebulan. Itulah sebabnya Harry menggunakan kesempatannya dalam minggu pertama liburannya. Sementara Paman Vernon, Bibi Petunia, dan Dudley berada di halaman depan untuk mengagumi mobil kantor Paman Vernon yang baru (mereka memuji keras-keras supaya semua orang di jalan itu bisa mendengarnya), Harry merayap turun, membuka gembok lemari di bawah tangga, menyambar bebe-rapa bukunya, dan menyembunyikannya di dalam kamarnya. Asal dia tidak meninggalkan bercak tinta di seprai, keluarga Dursley tak perlu tahu bahwa dia mempelajari sihir di malam hari.

Harry menjaga benar agar tidak timbul masalah dengan bibi dan pamannya saat ini, karena mereka sudah marah kepadanya, gara-gara dia menerima te-lepon dari teman sesama penyihir seminggu setelah liburan dimulai.

Ron Weasley, salah satu sahabat Harry di Hogwarts, berasal dari keluarga sihir murni—seluruh keluarganya penyihir. Ini berarti dia tahu banyak hal yang tidak diketahui Harry tetapi belum pernah menggunakan telepon. Celakanya, Paman Vernon-lah yang menerima teleponnya.

"Vernon Dursley di sini." Harry yang kebetulan berada di ruangan saat itu, ngeri mendengar suara Ron menjawab.

"HALO? HALO? BISAKAH ANDA MENDENGAR SAYA? SAYA—INGIN—BICARA—DENGAN— HARRY—POTTER!"

Ron berteriak keras sekali sampai Paman Vernon terlonjak dan memegang gagang telepon seperempat meter dari telinganya, memandangnya dengan cam-puran berang dan kaget.

"SIAPA INI?" Paman Vernon menggerung ke arah corong bicara. "SIAPA KAU?"

"RON—WEASLEY!" Ron balas berteriak, seakan dia dan Paman Vernon bicara dari ujung-ujung lapangan sepak bola yang berlawanan. "SAYA—TEMAN— HARRY—DARI— SEKOLAH—"

Mata kecil Paman Vernon memandang Harry yang terpaku di tempat.

"TIDAK ADA YANG NAMANYA HARRY POTTER DI SINI!" teriaknya, sekarang memegang gagang tele-pon jauh-jauh sejangkauan lengan, seakan takut tele-pon itu bisa meledak.

"AKU TAK TAHU SEKOLAH APA YANG KAUMAKSUD! JANGAN MENG-HUBUNGIKU LAGI! JANGAN BERANI-BERANI MENDATANGI KELUARGAKU!"

Lalu dilemparkannya gagang telepon itu kembali ke pesawatnya, seakan menjatuhkan labah-labah beracun. Kemarahan yang menyusul merupakan salah satu yang terburuk yang dialami Harry.

"BERANI-BERANINYA KAU MEMBERIKAN NOMOR INI KE ORANG-ORANG... ORANG-ORANG SEPERTI KAU!" Paman Vernon meraung, menyembur Harry dengan ludahnya.

Ron rupanya menyadari bahwa dia telah menyulit-kan Harry, karena dia tidak menelepon lagi. Sahabat Harry yang satu lagi, sama-sama dari Hogwarts, Hermione Granger, juga tidak menghubunginya. Harry menduga Ron telah memperingatkan Hermione agar tidak menelepon. Sayang sekali, karena Hermione, murid terpandai di kelas Harry, yang orangtuanya Muggle, tahu betul bagaimana menggunakan telepon, dan mungkin akan berhati-hati dengan tidak mengata-kan bahwa dia bersekolah di Hogwarts.

Maka Harry tidak menerima kabar dari kawan-kawan penyihirnya selama lima minggu, dan musim panas ini berlangsung hampir sama buruknya dengan tahun lalu. Hanya ada satu perbaikan sangat kecil: setelah bersumpah dia tidak akan menggunakannya untuk mengirim surat kepada teman- temannya, Harry diizinkan melepas burung hantunya, Hedwig, di malam hari. Paman Vernon akhirnya menyerah karena kebisingan yang dibuat Hedwig jika dia dikurung di sangkarnya sepanjang waktu.

Harry selesai menulis tentang Wendelin si Aneh dan berhenti untuk mendengarkan lagi. Keheningan dalam rumah yang gelap itu hanya dipecahkan oleh dengkur sepupunya yang supergendut, Dudley di kejauhan. Hari pastilah sudah amat larut. Mata Harry sudah berat kelelahan. Mungkin dia akan menyelesai-kan karangannya besok malam....

Dia menutup kembali botol tintanya, menarik sa-rung bantal tua dari bawah tempat tidurnya, me-masukkan senter, Sejarah Sihir, karangannya, pena, dan botol tinta ke dalamnya dan menyembunyikan semuanya itu di balik papan lepas di bawah tempat tidurnya. Kemudian dia bangkit, menggeliat, dan me-lihat jarum beker menyala-dalam-gelap yang ada di meja di sebelah tempat tidurnya.

Sudah pukul satu pagi. Harry tersentak. Tanpa disadarinya, dia telah berusia tiga belas tahun, selama satu jam penuh.

Satu hal istimewa lain tentang Harry adalah, dia tak pernah menunggu-nunggu datangnya hari ulang tahunnya. Dia belum pernah menerima kartu ulang tahun seumur hidupnya. Keluarga Dursley mengabai-kan dua ulang tahunnya yang terakhir dan dia tak punya alasan menduga mereka akan ingat kali ini. Harry menyeberangi kamarnya yang gelap, me-lewati sangkar Hedwig yang besar dan kosong, menuju jendela yang terbuka. Dia bersandar di ambang jendela, udara malam yang dingin terasa nyaman di wajahnya setelah begitu lama mendekam di bawah selimut. Hedwig sudah dua malam tidak pulang. Harry tidak mencemaskannya—dia sudah pernah pergi selama ini—tetapi dia berharap Hedwig segera kembali. Hedwig-lah satu-satunya makhluk hidup di rumah ini yang tidak berjengit melihatnya.

Harry, meskipun masih termasuk agak kecil dan kurus untuk anak seumurnya, telah bertambah tinggi beberapa senti sejak tahun lalu. Meskipun demikian, rambutnya yang hitam legam masih sama saja seperti dulu: bandel, selalu berantakan lagi, apa pun yang Harry lakukan terhadapnya. Mata di balik kacamata-nya hijau cemerlang, dan di dahinya, tampak jelas di antara rambutnya, terlihat bekas luka berbentuk sambaran kilat.

Dari semua hal luar biasa tentang Harry, bekas luka inilah yang paling istimewa. Bekas luka ini bukan kenang-kenangan dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan orangtua Harry, seperti yang selama ini dikatakan keluarga Dursley, karena Lily dan James Potter tidak meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Mereka dibunuh, dibunuh oleh penyihir hitam yang paling ditakuti selama seratus tahun bela-kangan ini, Lord Voldemort. Harry berhasil selamat dari serangan yang sama, dengan hanya meninggalkan bekas luka di dahinya, ketika kutukan Voldemort, alih-alih membunuhnya, malah berbalik menyerang si pengutuk sendiri. Nyaris binasa, Voldemort melari-kan diri....

Tetapi Harry telah dua kali berhadapan dengannya sejak dia bersekolah di Hogwarts. Mengenang per-temuannya yang terakhir dengan Voldemort, Harry harus mengakui dia beruntung bisa mencapai ulang tahunnya yang ketiga belas.

Dia menatap langit berbintang mencari-cari Hedwig, yang mungkin meluncur kembali kepadanya dengan bangkai tikus menjuntai dari paruhnya, mengharap pujian. Pandangannya menerawang memandang atap-atap, baru beberapa detik kemudian Harry menyadari apa yang dilihatnya.

Seperti siluet dilatarbelakangi bulan keemasan, dan semakin lama semakin besar, ada makhluk besar yang miring aneh, dan dia mengepakkan sayapnya menuju Harry. Harry berdiri bergeming, memandang makhluk itu menukik makin lama makin rendah. Sejenak Harry ragu-ragu, tangannya sudah me-megang gerendel jendela, berpikir-pikir apakah se-baiknya menutupnya saja, tetapi kemudian makhluk ganjil itu melayang melewati salah satu lampu jalan di Privet Drive, dan Harry, menyadari apa itu, lang-sung melompat minggir.

Tiga burung hantu terbang melayang masuk melalui jendela, dua di antaranya memegangi burung hantu ketiga, yang kelihatannya pingsan. Mereka mendarat dengan bunyi pluk pelan di atas tempat tidur Harry, dan burung hantu ketiga, yang besar dan berbulu abu-abu, terguling lalu tergeletak tak bergerak. Ada bungkusan besar terikat di kakinya.

Harry langsung mengenali burung hantu yang ping-san itu—namanya Errol, dan dia milik keluarga Weasley. Buru-buru Harry berlari ke tempat tidur, membuka ikatan tali di kaki Errol, mengambil bung-kusannya, dan kemudian membawa Errol ke sangkar Hedwig. Errol membuka sebelah mata yang muram, mengucapkan uhu lemah satu kali sebagai ucapan terima kasih, dan mulai meneguk air.

Harry berbalik menghadapi dua burung hantu lain-nya. Salah satunya, burung hantu betina besar berbulu seputih salju, adalah Hedwig-nya. Dia juga membawa bungkusan dan kelihatan puas sekali dengan dirinya sendiri. Dia mematuk Harry dengan sayang ketika Harry melepas bebannya,

kemudian terbang menyebe-rang ruangan, bergabung dengan Errol.

Harry tidak mengenali burung hantu ketiga, yang tampan berbulu kecokelatan, tetapi dia langsung tahu dari mana datangnya burung ini, karena selain mem-bawa bungkusan ketiga, burung ini juga membawa surat yang ada lambang Hogwarts-nya. Ketika Harry sudah mengambil kiriman yang dibawanya, si burung hantu menyisiri bulunya dengan lagak sok penting, merentangkan sayap, dan terbang keluar lewat jendela menembus kegelapan malam.

Harry duduk di tempat tidurnya, meraih bungkusan yang dibawa Errol, merobek kertas cokelat pembung-kusnya, dan menemukan hadiah terbungkus kertas emas, serta kartu ulang tahun pertama yang diterima-nya seumur hidupnya. Dua helai kertas terjatuh— sepucuk surat dan guntingan surat kabar. Guntingan surat kabar itu jelas berasal dari koran sihir, Daily Prophet, karena orang-orang dalam foto hitam-putih itu bergerak-gerak. Harry memungut gun-tingan surat kabar itu,

meratakannya, dan membaca:

KARYAWAN KEMENTERI AN SI HI R MEREBUT HADI AH UTAMA

Arthur Weasley, Kepala Kantor Penyalahgunaan Barang- barang Muggle di Kementerian Sihir, berhasil memenangkan Hadiah Utama Undian Tahunan Gal-leon Daily Prophet. Mr Weasley yang gembira memberitahu Daily Prophet, "Kami akan menggunakan uang emas ini untuk melewatkan liburan musim panas di Mesir. Putra sulung kami, Bill, bekerja di sana sebagai penangkal kutukan di Bank Sihir Gringotts."

Keluarga Weasley akan melewatkan sebulan di Mesir, kembali pada awal tahun ajaran baru di Hogwarts. Lima anak keluarga Weasley masih bersekolah di sana.

Harry meneliti foto yang bergerak-gerak itu, dan seringai lebar menghiasi wajahnya ketika dia melihat kesembilan anggota keluarga Weasley melambai-lambai kepadanya dengan penuh semangat, berdiri di depan piramida. Mrs Weasley yang gemuk pendek, Mr Weasley yang jangkung dan agak botak, enam anak laki-laki, dan satu anak perempuan, semua (meskipun tidak kelihatan di foto hitam-putih) be-rambut merah manyala. Ron berada tepat di tengah, jangkung kurus, dengan tikus piaraannya, Scabbers, bertengger di bahunya dan tangannya merangkul adik perempuannya, Ginny Harry berpendapat, tak ada orang lain yang lebih layak memenangkan setumpuk besar uang emas dari-pada keluarga Weasley, yang sangat baik hati dan luar biasa miskin. Dia memungut surat Ron dan membuka lipatannya.

Dear Harry, Selamat ulang tahun! Aku minta maaf soal telepon itu. Kuharap si Muggle tidak memarahimu. Aku tanya Dad, dan dia bilang mungkin seharusnya aku tidak ber-teriak. Asyik sekali di Mesir. Bill membawa kami ber-keliling makam-makam dan kau tak akan percaya kutukan-kutukan yang dilontarkan penyihir-penyihir Mesir kuno kepada mereka. Mum tidak mengizinkan Ginny masuk ke makam terakhir. Banyak kerangka Muggle bertebaran di situ. Muggle-muggle ini rupanya menerobos masuk, lalu kena kutuk, sehingga tumbuh kepala-kepala tambahan dan macam-macam lagi.

Aku tak bisa percaya waktu Dad memenangkan Undian Daily Prophet. Tujuh ratus Galleon!

Sebagian besar uang itu sudah habis untuk libur-an ini, tetapi sisanya masih bisa untuk membeli tongkat baru untukku untuk tahun ajaran baru.

Harry ingat betul peristiwa yang membuat tongkat lama Ron patah. Terjadinya ketika mobil yang di-terbangkan mereka berdua ke Hogwarts menabrak pohon di halaman sekolah.

Kami akan pulang kira-kira seminggu sebelum masuk sekolah dan kami akan ke London untuk membeli tongkatku dan buku-buku baru kami. Ada kemungkinan bertemu kau di sana?

Jangan biarkan Muggle melarangmu! Cobalah datang ke London,

RON

NB: Percy Ketua Murid. Dia menerima surat pemberitahuannya minggu lalu.

Harry memandang foto itu lagi. Percy, yang naik ke kelas tujuh, kelas terakhir di Hogwarts, kelihatan puas sekali. Lencana Ketua Murid-nya disematkan di topi fez yang bertengger gaya di atas rambutnya yang rapi, kacamatanya yang bergagang tanduk berkilau tertimpa sinar matahari Mesir.

Harry sekarang ganti memungut hadiahnya dan membukanya. Di dalamnya ada teropong miniatur yang puncaknya bisa berputar. Ada surat lain dari Ron di bawah hadiah itu.

Harry—ini Teropong-Curiga Saku. Kalau ada orang yang tak bisa dipercaya di dekat-dekat kita, Teropong-Curiga ini akan menyala dan berputar. Kata Bill ini cuma alat tipuan yang dijual sebagai suvenir untuk turis-turis penyihir dan tak bisa diandalkan, soalnya Teropong-Curiga ini menyala terus waktu kami makan malam kemarin. Tapi Bill tidak tahu sih, Fred dan George memasukkan beberapa ekor kumbang ke dalam supnya.

Sampai nanti—

Harry meletakkan Teropong-Curiga Saku di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Teropong itu berdiri diam, memantulkan jarum beker Harry yang menyala. Selama beberapa saat Harry memandangnya dengan senang, kemudian mengambil bungkusan yang dibawa Hedwig.

Di dalam bungkusan ini juga ada hadiah terbungkus kertas kado, kartu, dan surat, dari Hermione.

Dear Harry,

Ron menulis kepadaku dan bercerita tentang teleponnya yang diterima Paman Vernon. Aku benar-benar berharap kau tak apa-apa.

Aku sedang berlibur di Prancis saat ini dan aku tak tahu bagaimana aku akan mengirimkan ini kepadamu—bagaimana kalau mereka membuka-nya di pabean?—topi kemudian Hedwig muncul! Kurasa dia ingin memastikan kau mendapat se-suatu untuk ulang tahunmu kali ini. Aku mem-belikanmu hadiah dengan pesanan lewat-burung-hantu. Ada iklannya di Daily Prophet (aku langganan, senang sekali bisa tahu apa yang terjadi di dunia sihir). Kau sudah lihat foto Ron dan keluarganya seminggu yang lalu? Pasti ba-nyak sekali yang dipelajarinya, aku benar-benar iri—para penyihir Mesir kuno benar-benar me-nakjubkan.

Di sini ada juga sejarah lokal tentang dunia sihir. Aku sudah menulis ulang seluruh karangan-ku untuk Sejarah Sihir dengan memasukkan bebe-rapa hal yang kudapat di sini. Kuharap karangan-ku tidak kepanjangan, sudah dua gulung perka-men lebih panjang daripada yang diminta Profesor Binns.

Ron bilang dia akan berada di London pada minggu terakhir liburan. Kau bisa ke sana? Apa-kah bibi dan pamanmu akan mengizinkanmu? Kalau tidak, kita ketemu di Hogwarts Express tanggal 1 September nanti, ya.

Salam sayang,

Hermione

NB: Ron bilang Percy sekarang Ketua Murid. Pasti Percy senang sekali. Ron kelihatannya tidak begitu senang.

Harry tertawa lagi saat dia menaruh surat Hermione dan memungut hadiahnya. Berat sekali. Karena kenal betul Hermione, Harry yakin isinya buku besar penuh mantra- mantra sulit—tapi ternyata bukan. Jantungnya berdegup kencang ketika dia merobek kertas kadonya dan melihat kotak kulit hitam mengilap dengan huruf-huruf perak tercetak di atasnya: Peralatan Perawatan Sapu.

"Wow, Hermione!" bisik Harry, membuka kancing tarik kotak itu untuk melihat isinya.

Ada sebotol besar Cairan Penggosok Pegangan merek Fleetwood, Gunting Perapi Ranting-Sapu dari perak, kompas kuningan kecil untuk dipasang pada sapu jika akan bepergian jauh, dan Buku Panduan untuk Merawat Sendiri Sapumu.

Selain sahabat-sahabatnya, yang paling dirindukan Harry adalah Quidditch, olahraga paling populer di dunia sihir— sangat berbahaya, sangat menarik, dan dimainkan di atas sapu terbang. Harry kebetulan pemain Quidditch yang sangat andal. Dia anak pa-ling muda seabad ini yang terpilih untuk memperkuat tim Quidditch asrama Hogwarts. Salah satu harta Harry yang paling berharga baginya adalah sapu balapnya, Nimbus Dua Ribu.

Harry meletakkan kembali kotak kulit itu dan mengambil bungkusan terakhir. Dia langsung me-ngenali tulisan berantakan di atas kertas cokelat itu: ini kiriman dari Hagrid, pengawas binatang liar di Hogwarts. Dirobeknya lapisan kertas yang paling atas dan tampak sekilas sesuatu seperti kulit hijau, tetapi sebelum dia bisa membuka seluruhnya, bungkusan itu bergetar aneh, dan entah apa yang ada di dalam-nya, mengatup dengan bunyi keras—seakan punya rahang.

Harry ketakutan. Dia tahu Hagrid tidak akan mengi-riminya sesuatu yang berbahaya dengan sengaja, tetapi pandangan Hagrid tentang hal-hal yang berbahaya tak sama dengan pandangan orang normal. Hagrid pernah bersahabat dengan labah-labah raksasa, mem-beli anjing galak berkepala-tiga dari orang-orang yang ditemuinya di rumah minum, dan menyelundupkan telur naga ilegal ke dalam pondoknya.

Harry menyodok-nyodok bungkusan itu dengan gugup. Isinya mengatup dengan bunyi keras lagi. Harry meraih lampu di meja di sebelah tempat tidur-nya, memegangnya erat-erat dengan satu tangannya, dan mengangkatnya ke atas kepala, siap memukul. Kemudian dia menyentakkan sisa kertas bungkus de-ngan tangan satunya dan menariknya.

Dan jatuhlah—sebuah buku. Harry masih sempat melihat sampulnya yang keren berwarna hijau, dihiasi judul emas besar: Buku Monster tentang Monster, se-belum buku ini berguling berdiri dengan sisinya di bagian bawah, lalu merayap menyamping sepanjang tempat tidur seperti kepiting ajaib.

"Uh, oh," Harry bergumam.

Si buku terjatuh dari tempat tidur dengan bunyi berdebam dan bergerak cepat menyeberangi ruangan. Harry diam-diam mengikutinya. Buku itu bersembunyi di tempat gelap di bawah mejanya. Seraya berdoa semoga keluarga Dursley masih tidur nyenyak, Harry berlutut dan mengulurkan tangan ke bawah meja.

"Ouch!"

Si buku mengatup keras menjepit tangannya, dan kemudian bergerak melewatinya, masih merayap dengan sampulnya. Harry berbalik panik, melempar tubuhnya ke depan dan berhasil menindih buku itu. Paman Vernon mendengkur keras di kamar sebelah.

Hedwig dan Errol .menonton dengan penuh minat ketika Harry memiting buku yang memberontak da-lam dekapannya, bergegas ke lemari berlacinya, me-narik keluar ikat pinggang, yang dipasangnya erat-erat di sekeliling buku. Si Buku Monster bergetar marah, tetapi dia tak bisa lagi melangkah dan me-ngatup, maka Harry melemparkannya ke tempat tidur dan meraih kartu Hagrid.

--+++++--

Dear Haryy dan Ron,

Bagaimana kalau kalian minum teh denganku sore ini sekitar pukul enam? Aku akan jemput kalian di kastil. TUNGGU AKU DI AULA DEPAN. KALIAN TIDAK BOLEH KELUAN SENDIRI

Salam,

Hagrid

--+++++--

Harry merasa aneh sekali bahwa Hagrid menganggap buku yang bisa menggigit akan berguna untuknya, tetapi dia meletakkan kartu Hagrid di sebelah kartu-kartu Ron dan Hermione, nyengir lebih lebar lagi dari sebelumnya. Sekarang tinggal surat dari Hogwarts yang belum dibuka.

Harry melihat surat itu lebih tebal dari biasanya. la membuka amplopnya, menarik keluar lembar perkamen yang pertama dari dalamnya dan membaca:

Mr Potter yang terhormat,

Kami beritahukan bahwa tahun ajaran baru akan dimulai pada tanggal satu September. Hogwarts Express akan berangkat dari Stasiun King's Cross, peron sembilan tiga perempat, pada pukul sebelas.

Murid-murid kelas tiga diizinkan mengunjungi Desa Hogsmeade pada akhir-akhir pekan tertentu. Mohon formulir perizinan terlampir ini diserahkan kepada orangtua atau walimu untuk ditanda-tangani.

Daftar buku untuk kelas tiga terlampir. Hormat saya,

Profesor M. McGonagall

Wakil Kepala Sekolah Harry menarik keluar formulir perizinan ke Hogsmeade dan menatapnya, tak lagi nyengir. Akan menyenangkan sekali mengunjungi Hogsmeade pada akhir pekan. Harry tahu Hogsmeade adalah desa yang sepenuhnya desa sihir dan dia belum pernah sekali pun ke sana. Tetapi bagaimana cara membujuk Paman Vernon dan Bibi Petunia agar mau menandatangani formulir itu?

Harry memandang bekernya. Sudah pukul dua dini hari. Harry memutuskan nanti saja dirinya mencemaskan formulir Hogsmeade, sewaktu bangun tidur. la kem-bali ke tempat tidurnya dan mencoret satu lagi hari di daftar yang dibuatnya sendiri, menghitung hari yang tersisa sebelum dia kembali ke Hogwarts. Ke-mudian dia melepas kacamatanya dan berbaring, matanya terbuka, menatap tiga kartu ulang tahunnya.

Walaupun dia sangat istimewa, pada saat itu perasa-an Harry Potter sama seperti orang-orang lain: senang, untuk pertama kali dalam hidupnya, bahwa hari ini hari ulang tahunnya.

2. Kesalahan Besar Bibi Marge

HARRY turun untuk sarapan keesokan harinya dan mendapati ketiga Dursley sudah duduk mengelilingi meja dapur. Mereka menonton televisi baru, hadiah selamat- datang-berliburan-musim-panas untuk Dudley, yang belakangan ini selalu mengeluhkan keras-keras jarak jauh yang harus ditempuhnya antara lemari es dan televisi di ruang keluarga. Dudley telah melewat-kan sebagian besar musim panas di dapur, mata babinya yang kecil terpaku ke layar dan kelima dagu-nya berguncang-guncang sementara dia makan tiada hentinya.

Harry duduk di antara Dudley dan Paman Vernon, seorang pria besar-gemuk, dengan leher sangat pendek dan kumis sangat tebal. Jangankan mengucapkan se-lamat ulang tahun kepada Harry, tak seorang pun dari mereka bertiga menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka menyadari Harry masuk ke dapur. Tetapi Harry sudah sangat terbiasa dengan hal ini, sehingga dia tidak peduli. Dia mengambil roti panggang dan menengadah menatap pembaca berita di televisi, yang sudah separo jalan membacakan laporan tentang nara-pidana yang kabur.

"...masyarakat diperingatkan bahwa Black mem-bawa senjata dan sangat berbahaya. Telah disediakan saluran telepon khusus, dan siapa yang melihat Black, harus segera melaporkannya."

"Tak perlu menjelaskan kepada kita dia orang tak berguna," dengus Paman Vernon, memandang si nara-pidana dari atas korannya. "Lihat saja keadaannya, kotor sekali! Lihat rambutnya!"

Dia melirik sinis pada Harry. Rambut Harry yang berantakan selama ini selalu sangat menjengkelkan Paman Vernon. Dibandingkan dengan laki-laki di layar televisi, dengan wajahnya yang kurus kering dan cekung dikelilingi rambut kusut-masai sepanjang siku, Harry merasa amat sangat rapi.

Si pembaca berita muncul lagi. "Kementerian Pertanian dan Perikanan hari ini akan mengumumkan..."

"Tunggu!" teriak Paman Vernon, mendelik marah pada si pembaca berita. "Kau tidak memberitahu kami si maniak itu kabur dari mana! Apa gunanya? Orang gila itu bisa muncul dari jalanan saat ini juga!"

Bibi Petunia, yang kurus dan berwajah-kuda, lang-sung memutar tubuh dan memandang tajam ke luar jendela dapur. Harry tahu Bibi Petunia akan senang sekali kalau bisa jadi orang yang menelepon nomor saluran khusus yang disediakan. Dia perempuan pa-ling ingin tahu sedunia dan melewatkan sebagian besar waktunya untuk memata-matai tetangga-tetangganya yang membosankan dan patuh-hukum.

"Kapan mereka akan belajar," kata Paman Vernon, menggebrak meja dengan kepalan tangannya yang ungu besar, "bahwa satu-satunya cara menangani orang-orang semacam itu adalah dengan meng-gantungnya?"

"Betul sekali," timpal Bibi Petunia, yang masih me-nyipitkan mata, memandang menembus sulur buncis tetangga sebelah.

Paman Vernon menyeruput habis tehnya, meman-dang arlojinya, lalu menambahkan, "Lebih baik aku segera berangkat, Petunia. Kereta Marge tiba pukul sepuluh."

Harry, yang pikirannya sedang di loteng bersama Peralatan Perawatan Sapu-nya, kembali jatuh ke bumi dengan perasaan tak enak.

"Bibi Marge?" celetuknya. "D-dia tidak ke sini, kan?"

Bibi Marge adalah kakak Paman Vernon. Meskipun dia tak punya hubungan darah dengan Harry (yang ibunya adalah adik Bibi Petunia), Harry dipaksa memanggilnya "Bibi" seumur hidupnya. Bibi Marge tinggal di daerah pedesaan, dalam rumah dengan halaman luas, tempat dia membiakkan bulldog. Dia jarang menginap di Privet Drive, karena tak tega me-ninggalkan anjing-anjingnya yang berharga, tetapi masing- masing kunjungannya masih terpeta jelas di benak Harry.

Dalam pesta ulang tahun Dudley yang kelima, Bibi Marge memukul tulang kering Harry dengan tongkat-nya supaya Harry tidak mengalahkan Dudley dalam permainan adu-diam. Beberapa bulan kemudian, Bibi Marge muncul di Hari Natal dengan hadiah robot yang diprogram komputer untuk Dudley dan sekaleng biskuit anjing untuk Harry. Dalam kunjungannya yang terakhir, setahun sebelum Harry masuk Hogwarts, Harry tak sengaja menginjak kaki anjing kesayang-annya. Ripper mengejar Harry ke halaman, sampai Harry memanjat pohon dan Bibi Marge menolak me-manggil anjingnya sampai lewat tengah malam. Kalau mengingat kejadian ini, Dudley masih tertawa sampai keluar air mata.

"Marge akan menginap di sini seminggu," gertak Paman Vernon, "dan sementara kita membicarakan hal ini," dia mengacungkan jarinya yang gemuk dengan nada mengancam ke arah Harry, "kita harus meluruskan beberapa hal sebelum aku pergi menjemputnya."

Dudley mencibir dan mengalihkan pandang dari televisi. Menonton Harry diancam dan dimarahi Paman Vernon adalah jenis hiburan favorit Dudley.

"Pertama," gerung Paman Vernon, "jaga lidahmu kalau kau bicara dengan Marge." "Baiklah," kata Harry getir, "asal dia juga menjaga lidahnya kalau bicara kepadaku."

"Kedua," kata Paman Vernon, seakan dia tidak mendengar jawaban Harry, "karena Marge sama sekali tak tahu tentang keabnormalanmu, aku tak ingin ada kejadian aneh—apa pun selama dia di sini. Jaga ting-kahmu, mengerti?"

"Baik, asal dia juga menjaga tingkahnya," kata Harry dengan gigi mengertak.

"Dan ketiga," kata Paman Vernon, mata kecilnya yang kejam sekarang cuma berupa garis di wajahnya yang ungu,

"kami telah memberitahu Marge kau dikirim ke Pusat Penampungan Anak-Anak Kriminal yang Tak Bisa Disembuhkan St Brutus."

"Apa?" pekik Harry.

"Dan kau harus mendukung cerita itu, Nak, kalau tidak... awas," ancam Paman Vernon. Harry duduk diam, wajahnya pucat, berang sekali, memandang Paman Vernon, nyaris tak percaya. Bibi Marge akan datang berkunjung selama seminggu— ini hadiah ulang tahun terburuk yang pernah diberi-kan keluarga Dursley kepadanya, bahkan lebih buruk daripada sepasang kaus kaki butut Paman Vernon yang dulu itu. "Nah, Petunia," kata Paman Vernon, dengan berat bangkit berdiri, "aku berangkat ke stasiun sekarang. Mau ikut, Dudders?"

"Tidak," jawab Dudley, yang perhatiannya kembali ke televisi, setelah Paman Vernon selesai mengancam Harry.

"Duddy harus keren untuk menyambut bibinya," kata Bibi Petunia, merapikan rambut Dudley yang tebal pirang.

"Mummy sudah membelikannya dasi kupu-kupu baru." Paman Vernon menepuk bahu gemuk Dudley.

"Sampai nanti, kalau begitu," katanya, lalu mening-galkan dapur. Harry, yang selama itu duduk seperti sedang hilang kesadaran, mendadak mendapat ide. Meninggalkan roti panggangnya, dia cepat-cepat bangkit dan meng-ikuti Paman Vernon ke pintu depan. Paman Vernon sedang memakai mantel bepergian-nya. "Aku tidak mengajakmu," gertaknya, ketika dia me-noleh dan melihat Harry memandangnya.

"Aku juga tak mau ikut," kata Harry dingin. "Aku ingin tanya sesuatu pada Paman."

Paman Vernon memandangnya dengan curiga.

"Murid-murid kelas tiga di Hog—di sekolahku, di-izinkan mengunjungi desa dari waktu ke waktu," kata Harry.

"Jadi?" tukas Paman Vernon, mengambil kunci mo-bilnya dari kaitan di dekat pinru.

"Formulirnya perlu ditandatangani Paman," kata Harry buru-buru.

"Kenapa aku harus tanda tangan?" cibir Paman Vernon.

"Yah," kata Harry, hati-hati memilih kata-katanya, "susah kan, berpura-pura pada Bibi Marge aku dititip-kan di St... apa tadi..."

"Pusat Penampungan Anak-Anak Kriminal yang Tak Bisa Disembuhkan St Brutus!" gerung Paman Vernon, dan Harry senang mendengar ada kepanikan dalam suara Paman Vernon.

"Betul," kata Harry, dengan kalem mendongak me-mandang wajah lebar dan ungu Paman Vernon. "Namanya panjang dan susah diingat. Aku harus meyakinkan, kan? Bagaimana kalau aku keceplosan?"

"Kau ini rupanya mau dihajar, ya?" raung Paman Vernon, mendekati Harry dengan tinju teracung. Tetapi Harry tetap bertahan.

"Menghajarku tidak membuat Bibi Marge melupa-kan apa yang bisa kuceritakan kepadanya," katanya tegas.

Paman Vernon berhenti, tinjunya masih teracung, wajahnya ungu-kecokelatan, tampak mengerikan sekali.

"Tetapi kalau Paman menandatangani formulir per-izinanku," Harry cepat-cepat meneruskan, "aku ber-sumpah aku akan berpura-pura bersekolah di tempat itu, dan aku akan bertingkah sepergi Mug—seperti anak normal." Harry bisa melihat Paman Vernon mempertim-bangkannya, meskipun giginya menyeringai dan ada nadi yang berdenyut di pelipisnya.

"Baik," geramnya akhirnya. "Aku akan memonitor tingkahmu selama kunjungan Marge. Kalau sampai akhir waktu kunjungannya kau bersikap sopan dan bertahan dengan cerita itu, aku akan menandatangani formulir keparatmu."

Paman Vernon berputar, menarik terbuka pintu depan, dan membantingnya keras-keras sampai salah satu kaca kecil di bagian atasnya terjatuh.

Harry tidak kembali ke dapur. Dia kembali ke atas, ke kamarnya. Kalau dia harus bersikap seperti Muggle yang sesungguhnya, lebih baik mulai dari sekarang. Perlahan dan dengan sedih, dikumpulkannya semua hadiah dan kartu ulang tahunnya dan disembunyikan-nya di bawah papan lepas bersama PR-nya. Kemudian dia mendatangi sangkar Hedwig. Errol kelihatannya sudah pulih. Dia dan Hedwig sedang tidur, kepala mereka tersembunyi di bawah sayap. Harry menghela napas, kemudian menjawil membangunkan keduanya.

"Hedwig," katanya murung, "kau harus jauh-jauh dari sini selama seminggu. Pergilah bersama Errol, Ron akan merawatmu. Aku akan menulis surat padanya, menjelaskan. Dan jangan memandangku begitu"—mata besar Hedwig yang kekuningan menatap Harry dengan pandangan mencela, "ini bukan salahku. Ini satu-satunya cara agar aku bisa diizinkan mengunjungi Hogsmeade bersama Ron dan Hermione."

Sepuluh menit kemudian, Errol dan Hedwig (de-ngan surat Ron terikat di kakinya) terbang keluar jendela dan lenyap dari pandangan. Harry, sekarang merasa merana sekali, menyingkirkan sangkar kosong ke dalam lemari pakaiannya. Tetapi Harry tak bisa murung berlama-lama. Sekejap kemudian Bibi Petunia sudah berteriak menyuruh Harry turun dan bersiap-siap untuk menyambut tamu mereka.

"Lakukan sesuatu dengan rambutmu!" bentak Bibi Petunia ketika Harry sudah tiba di bawah.

Harry tak merasa perlu mengusahakan agar rambut-nya rata menempel ke kepalanya. Bibi Marge senang mengkritiknya, sehingga semakin berantakan dia, se-makin senang Bibi Marge.

Segera saja terdengar derak kerikil di luar ketika mobil Paman Vernon masuk kembali ke halaman, kemudian bantingan pintu mobil, dan langkah-langkah di jalan setapak menuju rumah.

"Buka pintunya!" desis Bibi Petunia kepada Harry. Dengan muram dan enggan, Harry membuka pintu.

Bibi Marge berdiri di beranda. Dia mirip sekali dengan Paman Vernon: besar, gemuk, dan berwajah ungu, dia bahkan berkumis, walaupun tidak selebat kumis Paman Vernon. Satu tangannya memegang koper besar, dan tangan yang lain memegang bull-dog tua yang galak.

"Di mana Dudders-ku?" raung Bibi Marge. "Di mana keponakan tersayangku?"

Dudley berjalan lambat-lambat, karena keberatan badan, menyeberangi ruang depan, rambutnya yang pirang menempel rata ke kepalanya yang besar, dasi kupu-kupu mengintip dari bawah dagunya yang berlapis-lapis. Bibi Marge menyodokkan kopernya yang besar ke perut Harry, membuatnya nyaris terjengkang, menyambar Dudley dalam satu pelukan erat dengan satu tangan dan mengecup pipinya keras-keras.

Harry tahu betul Dudley mau dipeluk-peluk Bibi Marge hanya karena dibayar mahal, dan betul saja, ketika pelukan dilepas, tangan gemuk Dudley meng-genggam selembar uang dua puluh pound yang masih baru.

"Petunia!" teriak Bibi Marge, berjalan melewati Harry seakan Harry cuma tiang kaitan topi. Bibi Marge dan Bibi Petunia saling kecup, atau tepatnya, Bibi Marge membenturkan rahangnya yang besar ke pipi kurus Bibi Petunia.

Paman Vernon sekarang masuk, tersenyum senang sambil menutup pintu. "Teh, Marge?" dia menawari. "Dan untuk Ripper apa?"

"Ripper boleh minum teh dari tatakan cangkirku," kata Bibi Marge, sambil mereka semua berjalan ke dapur, meninggalkan Harry sendirian di ruang depan dengan koper Bibi Marge. Tetapi Harry tidak me-ngeluh. Alasan apa pun agar bisa tidak bersama Bibi Marge baik untuknya. Maka dia dengan susah payah mulai membawa koper itu ke atas ke kamar tamu, sengaja berlama-lama.

Ketika dia kembali ke dapur, Bibi Marge sudah disuguhi teh dan kue buah, dan Ripper sedang men-jilat-jilat minumannya dengan bising di sudut. Harry melihat Bibi Petunia berjengit sedikit ketika cipratan teh dan liur anjing itu menodai lantainya yang bersih. Bibi Petunia membenci binatang.

"Siapa yang merawat anjing-anjing yang lain, Marge?"

tanya Paman Vernon.

"Oh, aku minta Kolonel Fubster mengurus mereka," suara keras Bibi Marge membahana. "Dia sudah pen-siun sekarang, baik baginya kalau ada yang dilakukan. Tapi aku tak tega meninggalkan si Ripper. Kasihan. Dia merana kalau kutinggalkan."

Ripper mulai menggeram lagi ketika Harry duduk. Ini mengarahkan perhatian Bibi Marge kepada Harry untuk pertama kalinya.

"Jadi," katanya, "kau masih di sini, ya?"

"Ya," kata Harry.

"Jangan ngomong 'ya' dengan nada tak tahu terima kasih begitu," Bibi Marge menggeram. "Vernon dan Petunia baik sekali mau membesarkanmu. Aku mana mau. Kau pasti langsung kukirim ke panti asuhan, kalau ditinggalkan di depan pintuku."

Harry sudah ingin sekali bilang dia lebih suka tinggal di panti asuhan daripada dengan keluarga Dursley, tetapi teringat formulir Hogsmeade, dia me-nahan diri. Dia memaksa diri tersenyum.

"Jangan menyeringai padaku!" bentak Bibi Marge.

"Rupanya kau belum berubah sejak terakhir kali aku melihatmu. Kukira sekolah akan membuat kelakuan-mu sedikit lebih baik." Dia meneguk tehnya banyak-banyak, menyeka kumisnya dan berkata, "Kaumasuk-kan ke mana dia, Vernon?"

"St Brutus," jawab Paman Vernon segera. "Institusi paling baik untuk kasus-kasus yang sudah tak ada harapan."

"Begitu," kata Bibi Marge. "Apakah mereka meng-gunakan tongkat di St Brutus?" tanyanya keras ke seberang meja.

"Eh..." Paman Vernon mengangguk singkat di belakang punggung Bibi Marge.

"Ya," kata Harry. Kemudian, untuk lebih meyakin-kan, dia menambahkan, "Sepanjang waktu."

"Bagus sekali," kata Bibi Marge. "Aku tak setuju dengan pendapat yang melarang memukul anak yang pantas dipukul. Hajar sampai kapok, itulah yang diperlukan dalam sembilan puluh sembilan dari se-ratus kasus. Apa kau sering dipukul?"

"Oh, yeah," kata Harry, "sering sekali." Bibi Marge menyipitkan mata.

"Aku masih tetap tak suka cara ngomongmu," kata-nya.

"Kalau kau bisa ngomong begitu santai soal kau dipukuli, jelas mereka tidak cukup keras memukuli-mu. Petunia, aku akan menulis surat kalau jadi kau. Bikin jelas bahwa kau menyetujui penggunaan ke-kerasan dalam kasus anak ini."

Mungkin Paman Vernon khawatir Harry akan me-lupakan kesepakatan mereka, karena mendadak dia membelokkan pembicaraan.

"Dengar berita pagi ini, Marge? Bagaimana dengan tawanan yang lepas itu, eh?"

Sementara Bibi Marge mulai merasa tinggal di rumah sendiri, Harry merindukan hidup di rumah nomor empat tanpa Bibi Marge. Paman Vernon dan Bibi Petunia biasanya mendorong Harry untuk jauh-jauh dari mereka, yang dilakukan Harry dengan senang hati. Bibi Marge, sebaliknya, menginginkan Harry di bawah pengawasannya sepanjang waktu, supaya dia bisa meneriakkan saran-saran untuk perbaikannya. Dia suka membandingkan Harry dengan Dudley, dan senang sekali membelikan Dudley hadiah mahal- mahal seraya mendelik memandang Harry, seakan menan-tangnya untuk bertanya kenapa dia tidak mendapat hadiah juga. Bibi Marge juga tak henti-hentinya me-lontarkan pendapat-pendapat negatif tentang apa yang membuat Harry menjadi anak yang begitu tidak memuaskan.

"Jangan menyalahkan dirimu kenapa anak ini jadi begini, Vernon," katanya sewaktu makan siang pada hari ketiga.

"Kalau ada yang busuk di dalam, tak ada yang bisa kita lakukan."

Harry berusaha berkonsentrasi pada makanannya, tetapi tangannya gemetar dan wajahnya mulai membara saking marahnya. Ingat formulir, dia mengingat-kan dirinya. Pikirkan tentang Hogsmeade. Jangan bilang apa-apa. Jangan bangun...

Bibi Marge meraih gelas anggurnya.

"Itu salah satu prinsip dasar soal keturunan," kata-nya.

"Kau bisa melihatnya setiap kali pada anjing. Kalau ada yang tidak beres dengan induknya, anaknya juga tidak beres..."

Saat itu, gelas anggur yang dipegang Bibi Marge meledak pecah. Serpihan-serpihan gelas beterbangan ke segala arah dan Bibi Marge merepet dan mengejap, wajahnya yang besar kemerahan basah kuyup.

"Marge!" jerit Bibi Petunia. "Marge, kau tak apa-apa?"

"Jangan khawatir," ujar Bibi Marge, menyeka wajah-nya dengan serbet. "Pasti aku terlalu keras memegang-nya. Beberapa hari yang lalu di rumah Kolonel Fubster juga begitu. Tak perlu ribut, Petunia, peganganku memang kuat sekali...." Tetapi baik Bibi Petunia maupun Paman Vernon memandang Harry dengan curiga, maka Harry me-mutuskan lebih baik dia tidak usah makan puding dan kabur dari meja secepat dia bisa.

Di luar dapur, Harry bersandar ke dinding, menarik napas dalam-dalam. Sudah lama sekali dia tidak ke-hilangan kendali dan membuat sesuatu meledak. Ja-ngan sampai hal seperti itu terjadi lagi. Formulir Hogsmeade bukan satu-satunya yang jadi taruhan— kalau terjadi lagi, Harry akan berurusan dengan Ke-menterian Sihir.

Harry masih di bawah umur dan menurut undang-undang sihir, dia dilarang menggunakan sihir di luar sekolah. Riwayat masa lalunya juga tidak bisa dibilang bersih. Baru musim panas lalu dia mendapat peringat-an resmi yang jelas-jelas mengatakan bahwa jika Ke-menterian mendengar ada sihir lagi di Privet Drive, Harry akan dikeluarkan dari Hogwarts.

Didengarnya keluarga Dursley meninggalkan meja dan Harry buru-buru menyingkir ke atas.

Harry melewatkan tiga hari berikutnya dengan me-maksa diri memikirkan Buku Panduan untuk Merawat Sendiri Sapumu setiap kali Bibi Marge mengomelinya. Ini berhasil, meskipun rupanya pandangannya jadi kosong menerawang, karena Bibi Marge mulai me-nyuarakan pendapat bahwa Harry menderita lemah mental.

Akhirnya, setelah lama ditunggu, tibalah malam terakhir Bibi Marge di rumah itu. Bibi Petunia me-masak makan malam yang "wah" dan Paman Vernon membuka beberapa botol anggur. Mereka menikmati sup dan ikan salem tanpa satu kali pun menyebut kesalahan Harry. Saat makan pai lemon, Paman Vernon membuat mereka semua bosan dengan ber-cerita panjang-lebar tentang Grunnings, perusahaan bornya. Kemudian Bibi Petunia membuat kopi dan Paman Vernon mengeluarkan sebotol brandy.

"Kau tergoda, Marge?" Bibi Marge sudah minum agak terlalu banyak anggur. Mukanya yang besar sudah sangat merah. "Sedikit saja kalau begitu," katanya terkekeh. "Se-dikit lagi... tambah lagi sedikit... nah, begitu."

Dudley sedang makan potongan painya yang ke-empat. Bibi Petunia menyeruput kopi dengan ke-lingking mencuat. Harry sebetulnya ingin menghilang ke dalam kamarnya, tetapi mata kecil Paman Vernon menatapnya marah dan dia tahu dia harus ikut duduk di situ sampai acara makan malam berakhir.

"Aah," kata Bibi Marge, mendecakkan bibir dan meletakkan gelas brandy-nya yang sudah kosong. "Makan malamnya enak sekali, Petunia. Biasanya aku cuma menggoreng sesuatu untuk makan malam, dengan dua belas anjing yang harus diurus..." Dia bersendawa keras dan membelai perutnya yang besar. "Maaf saja, tapi aku suka melihat anak yang berukuran sehat," dia meneruskan, mengedip kepada Dudley. "Kau akan jadi laki-laki berukuran-layak, Dudders, seperti ayahmu. Ya, aku mau brandy sedikit lagi, Vernon....

"Kalau anak yang satu ini..."

Dia mengedikkan kepala ke arah Harry, yang lang-sung merasa perutnya kencang. Buku Panduan, pikir-nya cepat- cepat.

"Yang ini mukanya kejam dan kerdil. Anjing juga ada yang begitu. Tahun lalu Kolonel Fubster kusuruh menenggelamkan satu anjing macam itu. Anjing jembel. Lemah. Turunan kelas rendah."

Harry berusaha mengingat halaman dua belas buku-nya: Mantra untuk Menyembuhkan Sapu yang Malas Berbalik.

"Asalnya dari darah, seperti yang kukatakan ke-marin dulu. Darah buruk pasti kelihatan. Bukannya aku menjelek-jelekkan keluargamu, Petunia,"—dia mengelus tangan kurus Bibi Petunia dengan tangan-nya sendiri yang seperti sekop, "tapi adikmu telur yang busuk. Mereka selalu ada dalam keluarga- ke-luarga terbaik. Kemudian dia kabur dengan orang kelas rendah tak berguna, dan ini hasilnya di depan kita."

Harry menatap piringnya, dering aneh memenuhi telinganya. Pegang sapumu erat-erat pada ujungnya, pikir-nya. Tetapi dia tak bisa ingat apa kelanjutannya. Suara Bibi Marge seakan menusuk masuk ke dalam dirinya seperti bor Paman Vernon.

"Si Potter ini," kata Bibi Marge keras-keras, me-nyambar botol brandy dan menuang lagi ke dalam gelasnya, dan ke atas taplak meja, "kalian tidak per-nah cerita padaku apa kerjanya?"

Paman Vernon dan Bibi Petunia tampak tegang sekali. Dudley bahkan mendongak dari painya, me-longo menatap orangtuanya.

"Dia—tidak bekerja," kata Paman Vernon, setengah melirik Harry. "Tak punya pekerjaan."

"Seperti yang kuduga!" kata Bibi Marge, meneguk brandy- nya banyak-banyak dan menyeka dagu dengan lengan bajunya. "Pemalas, pengangguran, yang tak bisa apa-apa..."

"Bukan," kata Harry tiba-tiba. Meja langsung sunyi senyap. Sekujur tubuh Harry gemetar. Belum pernah dia semarah itu.

"TAMBAH BRANDY-NYA!" teriak Paman Vernon, yang sudah pucat pasi. Dia mengosongkan botol brandy ke gelas Bibi Marge. "Kau," dia menggertak Harry. "Pergi tidur sana..."

"Jangan, Vernon," Bibi Marge cegukan, mengacung-kan tangan mencegah, matanya yang kecil merah menatap Harry.

"Ayo, terus, Nak, terus. Bangga akan orangtuamu, ya? Mereka mati dalam kecelakaan mo-bil. Mabuk kukira..."

"Mereka tidak meninggal dalam kecelakaan mobil!" kata Harry, yang sudah berdiri.

"Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil, pem-bohong kecil, dan meninggalkanmu untuk jadi beban saudara mereka yang terhormat dan rajin bekerja!" teriak Bibi Marge, menggelembung saking marahnya. "Kau anak kurang ajar tak tahu terima kasih, yang..."

Tetapi mendadak Bibi Marge berhenti bicara. Sejenak dia seperti kehabisan kata-kata. Kelihatannya dia menggelembung karena kemarahan yang tak bisa di-keluarkan—tetapi dia menggelembung terus. Wajahnya yang besar merah menjadi semakin besar, mata kecil-nya yang merah menjadi menonjol, dan mulutnya tertarik begitu kencang sampai tak bisa bicara. Detik berikutnya, beberapa kancing terlempar lepas dari jaket tweed-nya dan melenting dari dinding—dia menggelembung seperti balon raksasa, perutnya mem-besar sampai ikat pinggangnya lepas, masing-masing jarinya melembung sampai sebesar sosis....

"MARGE!" teriak Paman Vernon dan Bibi Petunia bersamaan, ketika seluruh tubuh Bibi Marge mulai terangkat dari kursinya menuju langit-langit. Dia sudah bulat sekali sekarang, seperti pelampung besar dengan mata babi, dan tangan serta kakinya mencuat aneh sementara dia melayang ke atas, bersuara seperti orang ayan. Ripper berlari masuk, menggonggong liar ribut sekali.

"TIDAAAAAAAK!"

Paman Vernon menyambar salah satu kaki Bibi Marge dan mencoba menariknya ke bawah, tetapi dia sendiri malah nyaris ikut terangkat. Detik berikut-nya, Ripper sudah melompat menggigit kaki Paman Vernon.

Harry kabur dari ruang makan sebelum ada yang bisa mencegahnya, menuju lemari di bawah tangga. Pintu lemari terbuka secara gaib ketika Harry tiba di depannya. Dalam sekejap saja dia sudah menarik kopernya ke pintu depan. Dia berlari ke atas dan melempar diri ke bawah tempat tidurnya, menarik papan yang lepas dan menyambar sarung bantal berisi buku-buku dan hadiah ulang tahunnya. Harry keluar dari kolong tempat tidur, menyambar sangkar kosong Hedwig, dan kembali berlari menuruni tangga menuju kopernya, tepat ketika Paman Vernon muncul dari ruang makan, kaki celananya robek dan berdarah.

"KEMBALI KE SINI!" raungnya. "KEMBALI DAN SEMBUHKAN MARGE!"

Tetapi kemarahan luar biasa menguasai Harry. Dia menendang kopernya sampai terbuka, menarik keluar tongkatnya, dan mengacungkannya kepada Paman Vernon.

"Dia pantas menerimanya," kata Harry, napasnya tersengal.

"Dia pantas begitu. Paman jangan dekat-dekat aku." Tangannya meraba ke belakang, mencari gerendel pintu.

"Aku mau pergi," kata Harry. "Aku sudah tak ta-han."

Dan saat berikutnya, dia sudah berada di jalan yang gelap dan sepi, menarik kopernya yang berat, menenteng sangkar Hedwig.

3. Bus Ksatria

HARRY sudah melewati beberapa jalan sebelum akhirnya dia terpuruk di atas tembok rendah di Mag-nolia Crescent, terengah-engah kelelahan menyeret kopernya. Dia duduk diam, kemarahan masih meme-nuhi dirinya, mendengarkan jantungnya yang ber-degup kencang.

Tetapi setelah sepuluh menit di jalan yang gelap, emosi baru menguasainya: panik. Dari sudut mana pun dia memandangnya, belum pernah dia dalam kesulitan sebesar ini. Dia terdampar, sendirian, di dunia Muggle yang gelap, tak tahu mau ke mana. Dan yang paling parah, dia baru saja menyihir, yang berarti sudah hampir pasti dia akan dikeluarkan dari Hogwarts. Dia jelas telah melanggar Dekrit Pembatas-an bagi Penyihir di Bawah Umur, dia heran petugas Kementerian Sihir belum muncul untuk menangkap-nya di situ. Harry bergidik dan memandang sepanjang jalan Magnolia Crescent. Apa yang akan terjadi padanya? Akankah dia ditangkap, atau hanya sekadar dicampak-kan dari dunia sihir? Dia teringat Ron dan Hermione, dan hatinya semakin berat. Harry yakin bahwa, kriminal atau bukan, Ron dan Hermione pasti bersedia mem-bantunya sekarang, tetapi mereka berdua ada di luar negeri, dan karena Hedwig tak ada, dia tak bisa menghubungi mereka.

Harry juga tak punya uang Muggle. Ada sedikit emas sihir di dalam kantong uang di dasar kopernya, tetapi sisa harta peninggalan orangtuanya tersimpan di ruangan besi di Bank Sihir Gringotts di London. Dia tak akan sanggup menyeret kopernya sampai ke London. Kecuali...

Dia menunduk menatap tongkatnya, yang masih dipeganginya. Kalau dia sudah dikeluarkan (jantungnya sekarang berdegup kencang menyakitkan), sedikit sihir lagi tak apa-apa. Dia punya Jubah Gaib yang diwarisi-nya dari ayahnya—bagaimana kalau dia menyihir kopernya, membuatnya seringan bulu, mengikatkannya ke sapunya, mengerudungi tubuhnya dengan Jubah Gaib, dan terbang ke London? Dengan begitu dia bisa mengambil sisa uangnya di ruangan besi dan... memulai hidupnya sebagai orang yang terbuang. Masa depan yang mengerikan, tetapi dia tidak bisa duduk di tembok ini berlama-lama, kalau tidak dia harus men-jelaskan kepada polisi Muggle kenapa dia berkeliaran di tengah malam buta membawa koper penuh buku sihir dan sapu.

Harry membuka kopernya lagi dan mendorong isi-nya ke pinggir, mencari Jubah Gaib-nya—tetapi se-belum berhasil menemukannya, mendadak dia me-negakkan diri, sekali lagi melihat berkeliling.

Tadi tengkuknya merinding aneh, membuatnya me-rasa sedang diawasi, tetapi jalan itu kosong, dan tak ada lampu yang menyala di salah satu rumah-rumah besar itu.

Dia membungkuk di atas kopernya lagi, tetapi sekali lagi langsung bangun, tangannya mencengkeram tong-katnya. Dia merasakan, bukannya mendengar: ada orang atau sesuatu yang berdiri di celah sempit di ajitara garasi dan pagar di belakangnya. Harry me-nyipit memandang gang gelap itu.

Kalau saja benda itu bergerak, dia akan tahu apakah itu cuma kucing atau—makhluk lain.

"Lumos," gumam Harry dan ada cahaya muncul di ujung tongkatnya, membuatnya silau. Diangkatnya tongkatnya tinggi-tinggi di atas kepala, dan dinding-kerikil rumah nomor dua mendadak bercahaya, pintu garasinya berkilau, dan di antaranya, Harry melihat, cukup jelas, garis bentuk makhluk yang besar sekali, dengan mata lebar berkilat-kilat.

Harry melangkah mundur. Kakinya menabrak kopernya dan dia terhuyung. Tongkatnya melayang ketika dia menjulurkan tangan berusaha menahan jatuhnya, dan tubuhnya mendarat, keras, di selokan.

Terdengar bunyi DUAR keras dan Harry meng-angkat tangan menutupi matanya dari cahaya me-nyilaukan yang mendadak muncul....

Sambil berteriak dia berguling naik lagi di trotoar, tepat pada waktunya. Sedetik kemudian, sepasang ban dan lampu luar biasa besar berdecit berhenti tepat di tempatnya tergeletak tadi. Ketika mendongak, Harry melihat ban dan lampu itu milik bus ungu cerah bertingkat tiga yang muncul begitu saja entah dari mana. Huruf-huruf emas di kaca depannya ber-bunyi The Knight Bus—Bus Ksatria.

Sejenak Harry mengira jangan-jangan dia jadi sinting gara- gara jatuh tadi. Kemudian seorang kondektur memakai seragam ungu melompat turun dari bus dan mulai berteriak- teriak.

"Selamat datang di Bus Ksatria, transportasi darurat untuk para penyihir yang tersesat. Julurkan saja tangan-pemegang- tongkatmu, naiklah ke atas, dan kami bisa membawamu ke mana saja kau ingin pergi. Namaku Stan Shunpike, dan akulah kondekturmu malam ini..."

Si kondektur mendadak berhenti. Dia baru saja melihat Harry yang masih duduk di trotoar. Harry menyambar tongkatnya dan terhuyung bangkit. Se-telah dekat, dilihatnya Stan Shunpike hanya beberapa tahun lebih tua darinya, delapan atau sembilan belas tahun paling banyak, dengan telinga lebar mencuat dan beberapa jerawat.

"Ngapain kau di bawah situ?" tanya Stan, mening-galkan gayanya yang profesional.

"Jatuh," kata Harry.

"Kenapa pakai jatuh segala?" Stan terkikik.

"Memangnya aku sengaja?" kata Harry, jengkel. Salah satu lutut celana jinsnya robek, dan tangan yang dipakainya menahan jatuhnya berdarah. Dia mendadak ingat kenapa dia sampai jatuh, dan buru-buru berbalik memandang gang di antara garasi dan pagar. Lampu depan bus menyinarinya terang bende-rang, dan gang itu kosong.

"Lihat apa sih?" tanya Stan.

"Ada binatang besar dan hitam," jawab Harry, me-nunjuk tak jelas ke arah gang. "Seperti anjing... tapi besar sekali..."

Dia berbalik memandang Stan, yang mulutnya se-dikit melongo. Dengan perasaan tak enak, Harry me-lihat mata Stan bergerak ke bekas luka di dahinya.

"Apa itu di kepalamu?" tanya Stan tiba-tiba.

"Tidak apa-apa," jawab Harry buru-buru, menutupi bekas lukanya dengan rambut. Kalau Kementerian Sihir sedang mencarinya, dia tak mau membuat me-reka begitu gampang menemukannya.

"Siapa namamu?" Stan memaksa.

"Neville Longbottom," kata Harry, menyebut nama pertama yang muncul dalam kepalanya. "Jadi—jadi bus ini," dia cepat- cepat meneruskan, berharap meng-alihkan perhatian Stan,

"kaubilang tadi pergi ke mana saja?"

"Yep," kata Stan bangga, "ke mana pun kau mau, asal di darat. Kalau bawah air sih, nyerah. Ayo," katanya, tampak curiga lagi, "kau memang memanggil kami, kan? Mengulurkan tangan-pemegang-tongkatmu, kan?"

"Ya," kata Harry buru-buru. "Berapa sih ongkos ke London?"

"Sebelas Sickle," kata Stan, "tapi kalau bayar empat belas kau dapat cokelat panas, dan kalau lima belas dapat botol-air- panas dan sikat gigi dengan warna pilihanmu sendiri."

Harry mencari-cari lagi di dalam kopernya, me-ngeluarkan kantong uangnya dan menjejalkan beberapa perak ke tangan Stan. Dia dan Stan kemudi-an mengangkat kopernya, dengan sangkar Hedwig di atasnya, menaiki tangga bus.

Tak ada tempat duduk. Alih-alih tempat duduk, setengah lusin tempat tidur kuningan berderet di sebelah jendela bertirai. Lilin-lilin menyala di atas rak di sebelah masing- masing tempat tidur, menyinari dinding bus yang berlapis papan. Seorang penyihir laki-laki tua memakai topi tidur di bagian belakang bus mengigau, "Jangan sekarang, terima kasih, aku sedang membuat acar siput," dan ia pun berguling dalam tidurnya.

"Kau di sini," bisik Stan, mendorong koper Harry ke bawah tempat tidur persis di belakang sopir, yang duduk di kursi berlengan di depan kemudi. "Ini sopir kita, Ernie Prang. Ini Neville Longbottom, Ern."

Ernie Prang, penyihir tua berkacamata sangat tebal, mengangguk kepada Harry. Dengan gugup Harry me-ratakan poninya lagi dan duduk di atas tempat tidurnya.

"Cabut, Ern," kata Stan, sambil duduk di kursi berlengan di sebelah kursi Ernie.

Terdengar bunyi DUAR keras sekali lagi, dan saat berikutnya Harry sudah tergeletak di atas tempat tidurnya,

terlempar ke belakang saking cepatnya Bus Ksatria meluncur. Duduk lagi, Harry memandang ke luar jendela yang gelap dan melihat bahwa mereka sekarang meluncur di jalan yang sama sekali lain. Stan mengawasi wajah Harry yang keheranan dengan senang.

"Tadi kami di sini sebelum kau memanggil kami," katanya.

"Kita di mana, Ern? Suatu tempat di Wales?"

"Ya," kata Ernie.

"Kenapa Muggle tidak mendengar bus ini?" tanya Harry "Mereka!" kata Stan menghina. "Tidak mendengar-kan dengan benar, kan? Tidak melihat dengan benar juga. Tak pernah memperhatikan apa-apa."

"Lebih baik bangunkan Madam Marsh, Stan," kata Ern.

"Sebentar lagi kita sampai di Abergavenny."

Stan melewati tempat tidur Harry dan menghilang menaiki tangga kayu sempit. Harry masih memandang ke luar jendela, merasa makin lama makin gugup. Ernie kelihatannya tidak menguasai kegunaan roda kemudi. Bus Ksatria berkali-kali naik ke trotoar, tetapi tidak menabrak apa-apa. Deretan lampu jalanan, boks surat, dan tempat sampah melompat menghindar ketika bus mendekat, dan kembali ke posisi masing-masing setelah bus lewat.

Stan turun lagi, diikuti penyihir wanita pucat agak kehijauan yang terbungkus mantel bepergian.

"Nah, sudah sampai, Madam Marsh," kata Stan riang, ketika Ern menginjak rem dan tempat-tempat tidur meluncur tiga puluh senti ke depan. Madam Marsh menempelkan saputangan ke mulutnya dan terhuyung menuruni tangga bus. Stan melemparkan tasnya ke bawah, lalu menyentakkan pintu bus hingga menutup. Terdengar bunyi DUAR keras lagi, dan bus meluncur menuruni jalan sempit di desa, pohon-pohon berlompatan menghindarinya.

Harry tak akan bisa tidur, bahkan seandainya dia sedang naik bus yang tidak terus meletus DUAR DUAR dan melompat seratus lima puluh kilo setiap kali bergerak sekalipun. Perutnya melilit ketika dia kembali memikirkan apa yang akan terjadi padanya, dan apakah keluarga Dursley sudah berhasil me-nurunkan Bibi Marge dari langit-langit.

Stan telah membuka Daily Prophet dan sekarang sedang membaca dengan lidah di antara giginya. Foto besar laki-laki berwajah cekung dengan rambut panjang kusut-masai mengedip pelan kepada Harry dari halaman depan. Harry rasanya pernah melihatnya.

"Orang itu!" celetuk Harry sejenak melupakan kesulitannya.

"Dia muncul di berita Muggle!" Stan membalik halaman depan lagi dan terkekeh. "Sirius Black," katanya, mengangguk.

"Tentu saja dia muncul di berita Muggle, Neville. Ke mana saja kau?"

Stan tertawa sok tahu melihat wajah bengong Harry, mengambil halaman depan koran, dan menyerahkan-nya kepadanya.

"Kau harus lebih sering baca koran, Neville." Harry mendekatkan koran ke lilin dan membaca:

BLACK MASIH BERKELIARAN Sirius Black, mungkin narapidana paling terkenal yang pernah ditahan di benteng Azkaban, masih belum berhasil ditangkap, Kementerian Sihir meng-konfirmasikan hari ini.

"Kami melakukan apa saja yang kami bisa untuk menangkap kembali Black," kata Menteri Sihir,

Cornelius Fudge, pagi ini, "dan kami minta masya-rakat penyihir retap tenang."

Fudge dikritik oleh beberapa anggota Federasi Penyihir Internasional karena telah memberitahu Perdana Menteri Muggle tentang krisis ini.

"Saya terpaksa, kan," kata Fudge yang jengkel. "Black gila. Dia berbahaya bagi siapa saja yang bertemu dengannya, penyihir ataupun Muggle. Saya mendapat jaminan Perdana Menteri bahwa dia tidak akan mengungkap identitas Black yang sebenarnya kepada siapa pun. Dan kita hadapi saja kenyataan ini—siapa yang percaya seandainya dia mengungkap-nyar Sementara para Muggle diberitahu bahwa Black membawa senapan (semacam tongkat logam yang digunakan Muggle untuk saling bunuh), masya-rakat penyihir ketakutan akan terjadi pembunuhan besar-besaran seperti dua belas tahun lalu, ketika Black membunuh tiga belas orang dengan satu kutukan.

Harry memandang mata Sirius Black yang dilingkari bayangan hitam, satu-satunya bagian di muka cekung itu yang kelihatan hidup. Harry belum pernah melihat vampir, tetapi sudah pernah melihat foto-fotonya da-lam pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, dan Black, dengan kulitnya yang pucat seperti lilin, kelihat-an seperti vampir.

"Tampangnya mengerikan, ya?" kata Stan, yang mengawasi Harry membaca.

"Dia membunuh tiga belas orang?" tanya Harry menyerahkan kembali halaman koran itu kepada Stan.

"Dengan satu kutukan!"

"Yep," kata Stan. "Di depan banyak orang. Siang hari bolong. Bikin heboh besar, iya kan, Ern?"

"Ya," kata Ernie suram.

Stan berputar di kursinya, tangannya memegang punggung kursi, agar bisa memandang Harry lebih jelas.

"Black pendukung utama Kau-Tahu-Siapa," katanya.

"Apa, Voldemort?" kata Harry tanpa berpikir.

Bahkan jerawat Stan ikut pucat. Ern menyentak roda kemudi begitu kerasnya, sehingga seluruh rumah pertanian harus melompat minggir untuk menghindari bus itu.

"Kau gila?" pekik Stan. "Ngapain sebut-sebut nama-nya?"

"Sori," kata Harry buru-buru. "Sori, aku—aku lupa..."

"Lupa!" kata Stan lemas. "Astaga, jantungku nyaris copot..." "Jadi—jadi Black pendukung Kau-Tahu-Siapa?" tanya Harry dengan nada minta maaf.

"Yeah," kata Stan, masih mengusap-usap dadanya. "Yeah, betul. Dekat sekali dengan Kau-Tahu-Siapa, katanya... tapi, waktu si kecil 'Arry Potter mengalah-kan Kau-Tahu-Siapa"— Harry dengan gugup merata-kan poninya lagi—"semua pendukung Kau-Tahu-Si-apa dilacak, iya kan, Ern? Sebagian besar dari mereka tahu, semuanya sudah berakhir dengan lenyapnya Kau-Tahu-Siapa, dan mereka diam-diam menyerahkan diri. Tapi Sirius Black tidak. Kudengar dia ber-anggapan akan jadi orang kedua begitu Kau-Tahu-Siapa berkuasa.

"Yang jelas, mereka menyudutkan Black di tengah jalan penuh Muggle dan Black mencabut keluar tong-katnya dan menghancurkan seluruh jalan. Satu pe-nyihir jadi korban, begitu juga selusin Muggle yang ada di situ. Mengerikan, eh? Dan kau tahu apa yang dilakukan Black sesudahnya?" Stan meneruskan dalam bisikan dramatis.

"Apa?" tanya Harry.

"Tertawa," kata Stan. "Berdiri saja di sana dan ter-tawa. Dan ketika bala bantuan dari Kementerian Sihir datang, dia patuh saja pergi bersama mereka, masih tertawa terbahak- bahak. Karena dia gila, iya kan, Ern? Dia gila, kan?"

"Kalau dia belum gila waktu dibawa ke Azkaban, dia pasti sudah gila sekarang," kata Ern dengan gaya bicaranya yang lambat. "Aku lebih baik bunuh diri daripada ke tempat itu. Tapi, ganjaran yang pantas untuk Black... setelah apa yang dilakukannya..."

"Mereka susah payah menutupi peristiwa itu, iya kan, Ern?" kata Stan. "Jalan diledakkan dan begitu banyak Muggle yang mati. Mereka bilang apa yang terjadi, Ern?"

"Ledakan gas," gerutu Ern.

"Dan sekarang dia kabur," kata Stan, mengamati foto wajah Black yang kurus kering dan cekung. "Belum pernah ada yang berhasil kabur dari Azkaban, iya kan, Ern? Heran sekali bagaimana dia bisa kabur. Mengerikan, ya? Tapi kurasa dia tak punya banyak kesempatan, para pengawal Azkaban akan segera me-nangkapnya lagi, eh, Ern?"

Ernie tiba-tiba bergidik.

"Bicara soal lain saja, Stan. Para pengawal Azkaban itu membuatku ngeri."

Stan meletakkan korannya dengan enggan dan Harry bersandar ke jendela Bus Ksatria, merasa lebih terpukul dari sebelumnya. Di luar kemauannya, dia membayangkan apa yang mungkin diceritakan Stan kepada para penumpang bus beberapa malam men-datang: "Sudah dengar tentang 'Arry Potter? Dia menggelembungkan bibinya. Dia naik Bus Ksatria ini, iya kan, Ern? Dia mencoba melarikan diri...."

Harry telah melanggar undang-undang sihir seperti halnya Sirius Black. Apakah menggelembungkan Bibi Marge kesalahan yang cukup besar untuk mengirim-nya ke Azkaban? Harry tak tahu apa-apa tentang penjara sihir ini, meskipun semua orang yang pernah didengarnya bicara tentang Azkaban, membicarakan-nya dengan nada ngeri yang sama. Hagrid—si peng-awas binatang liar Hogwarts—melewatkan dua bulan di sana tahun lalu. Harry tak bisa melupakan ke-ngerian di wajah Hagrid ketika dia diberitahu akan dikirim ke Azkaban, padahal Hagrid salah satu orang paling berani yang dikenal Harry.

Bus Ksatria meluncur menembus kegelapan malam, membuat semak belukar, telepon umum, dan pepo-honan serabutan menyingkir. Dan Harry berbaring, gelisah dan merana, di tempat tidurnya yang berkasur isi-bulu. Setelah lewat beberapa saat, Stan ingat bahwa Harry telah membayar untuk cokelat panas, tetapi saat menuangnya, cokelat tumpah ke atas bantal Harry karena bus bergerak mendadak dari Anglesea ke Ab-erdeen. Satu demi satu, penyihir pria dan wanita dalam baju tidur dan sandal turun dari tingkat atas untuk meninggalkan bus. Mereka semua kelihatan senang sudah sampai.

Akhirnya penumpang yang tersisa hanya Harry sendirian.

"Nah, Neville," kata Stan, menepukkan tangannya,

"Londonnya di mana?"

"Diagon Alley," kata Harry.

"Baik," kata Stan, "pegangan erat-erat..." DUAR!

Mereka menderu sepanjang Charing Cross Road. Harry duduk dan melihat bangunan-bangunan dan bangku-bangku mengerut menghindari Bus Ksatria. Langit sudah agak terang. Dia akan berbaring satu-dua jam, pergi ke Gringotts begitu bank ini buka, kemudian pergi—ke mana, dia tidak tahu.

Ern menginjak rem dan Bus Ksatria berhenti men-decit di depan tempat minum kecil kumuh, Leaky Cauldron. Di belakang tempat minum itulah jalan masuk ajaib ke Diagon Alley.

"Terima kasih," kata Harry kepada Ern.

Dia melompat turun dan membantu Stan menurun-kan kopernya dan sangkar Hedwig ke trotoar. "Nah," kata Harry,

"selamat tinggal!" Tetapi Stan tidak mengacuhkannya. Masih berdiri di pintu bus, dia terbelalak menatap pintu masuk Leaky Cauldron yang remang-remang.

"Akhirnya kau datang, Harry," terdengar suara.

Sebelum Harry bisa berbalik, dia merasa ada ta-ngan memegang bahunya. Pada saat bersamaan, Stan berteriak,

"Astaga! Ern, sini! Sini!"

Harry mendongak menatap si pemilik tangan di bahunya dan merasa seember air mengguyur perut-nya—rupanya dia mendatangi Cornelius Fudge, si Menteri Sihir sendiri.

Stan melompat ke trotoar di sebelah mereka.

"Anda memanggil Neville apa, Pak Menteri?"

Fudge, laki-laki pendek gemuk memakai mantel bergaris- garis, tampak kedinginan dan kelelahan. "Neville?" dia mengulang, mengernyit. "Ini Harry Potter."

"Aku tahu!" Stan berteriak girang. "Ern! Ern! Tebak siapa Neville, Ern! Dia Hrry Potter! Aku bisa lihat bekas lukanya!"

"Ya," kata Fudge tak sabar. "Aku senang Bus Ksatria mengangkut Harry, tapi aku perlu masuk Leaky Caul-dron sekarang..."

Fudge menambah tekanan di bahu Harry, dan Harry digiring masuk ke tempat minum itu. Sesosok tubuh bungkuk membawa lentera muncul di pintu di bela-kang bar. Dia Tom, si pemilik tempat minum yang sudah sangat tua dan ompong.

"Anda berhasil menemukannya, Pak Menteri!" kata Tom.

"Anda memerlukan sesuatu? Bir? Brandy?"

"Mungkin sepoci teh," kata Fudge, yang masih belum melepaskan Harry. Terdengar bunyi berkeresak dan tersengal- sengal keras di belakang mereka. Stan dan Ern muncul, membawa koper Harry serta sangkar Hedwig, dan memandang berkeliling dengan bergairah.

"Kenapa kau tidak bilang kau ini siapa, eh, Neville?" kata Stan, tersenyum kepada Harry, semen-tara wajah Ernie yang seperti burung hantu mengintip ingin tahu dari balik bahu Stan.

"Dan ruang pribadi, tolong, Tom," kata Fudge tegas.

"Bye," kata Harry muram kepada Stan dan Ern, ketika Tom memberi isyarat kepada Fudge ke arah lorong di belakang bar.

"Bye, Neville!" seru Stan.

Fudge membawa Harry menyusuri lorong sempit, mengikuti lentera Tom, dan kemudian masuk ke da-lam ruangan kecil. Tom menjentikkan jari-jarinya, api berkobar menyala di perapian, dan Tom membungkuk minta diri lalu meninggalkan ruangan.

"Duduklah, Harry," kata Fudge menunjuk kursi di dekat perapian.

Harry duduk, merasa lengannya merinding, walau-pun apinya hangat. Fudge membuka mantel bergaris-nya dan melemparkannya ke pinggir, kemudian me-narik ke atas celana hijau-botolnya dan duduk di hadapan Harry.

"Aku Cornelius Fudge, Harry. Menteri Sihir."

Harry sudah tahu, tentu. Dia pernah melihat Fudge sekali sebelum ini, tetapi karena waktu itu Harry memakai Jubah Gaib ayahnya, Fudge tidak boleh tahu.

Tom si pemilik tempat minum muncul lagi, mema-kai celemek di atas baju tidurnya dan membawa senampan teh dan kue. Diletakkannya nampan itu di atas meja di antara Fudge dan Harry, lalu dia me-ninggalkan ruangan, menutup pintu di belakangnya.

"Nah, Harry," kata Fudge, menuang teh, "kau mem-buat kami semua kalang kabut, tak ada salahnya kuberitahu. Kabur dari rumah bibi dan pamanmu seperti itu! Aku sudah mengira... tapi kau selamat, itu yang penting."

Fudge mengolesi kue dengan mentega dan men-dorong piringnya ke arah Harry.

"Makan, Harry, kau kelihatan lelah sekali. Nah... Kau akan senang mendengar kami telah membereskan urusan penggelembungan Miss Marjorie Dursley. Dua anggota Departemen Pembalikan Sihir Tak-Sengaja dikirim ke Privet Drive beberapa jam yang lalu. Miss Dursley sudah dikempiskan dan ingatannya sudah dimodifikasi. Dia tak ingat sama sekali kejadian itu. Begitulah, jadi tak apa-apa."

Fudge tersenyum kepada Harry dari atas tepi cang-kir tehnya, seperti paman yang memandang keponak-an kesayangannya. Harry, yang tidak bisa memper-cayai telinganya, membuka mulut untuk bicara, tapi tak bisa memikirkan apa yang mau dikatakan, jadi menutupnya lagi.

"Ah, kau mencemaskan reaksi bibi dan pamanmu?" kata Fudge. "Yah, aku tidak menyangkal mereka ma-rah besar, Harry, tetapi mereka bersedia menerimamu lagi musim panas yang akan datang, asal kau tinggal di Hogwarts selama liburan Natal dan Paskah."

Harry membuka sumbat lehernya.

"Saya selalu tinggal di Hogwarts selama liburan Natal dan Paskah," katanya, "dan saya tak mau lagi kembali ke Privet Drive."

"Tunggu, tunggu, aku yakin kau akan berpendapat lain kalau sudah tenang nanti," kata Fudge dengan nada cemas.

"Bagaimanapun juga mereka keluargamu, dan aku yakin kalian saling menyayangi—er—jauh dalam lubuk hati."

Tak terpikir oleh Harry untuk mengoreksi Fudge. Dia masih menunggu apa yang akan terjadi padanya sekarang.

"Jadi yang tinggal dilakukan," kata Fudge, sekarang mengolesi kuenya yang kedua, "adalah memutuskan di mana kau akan melewatkan sisa dua minggu liburanmu. Kusarankan kau menginap di salah satu kamar di sini, di Leaky Cauldron dan..."

"Tunggu," sela Harry, "bagaimana dengan hukuman saya?" Fudge mengejapkan mata.

"Hukuman?"

"Saya melanggar hukum!" kata Harry. "Dekrit Pem-batasan bagi Penyihir di Bawah Umur!"

"Oh, Nak, kami tidak akan menghukummu untuk urusan kecil seperti itu!" seru Fudge, melambaikan kuenya dengan tak sabar. "Itu kan tak sengaja! Kami tidak mengirim orang ke Azkaban hanya karena menggelembungkan bibi mereka!"

Tetapi ini sama sekali tidak cocok dengan yang sudah terjadi di masa lalu antara Harry dan Kemen-terian Sihir.

"Tahun lalu, saya mendapat peringatan resmi hanya karena ada peri-rumah membanting puding di rumah paman saya!" kata Harry, mengernyitkan kening. "Kementerian Sihir mengatakan saya akan dikeluarkan dari Hogwarts kalau terjadi sihir lagi di sana!"

Kecuali mata Harry mengelabuinya, Fudge men-dadak kelihatan salah tingkah.

"Situasi berubah, Harry... kami harus memper-hitungkan... dalam keadaan sekarang... tentunya kau tidak ingin dikeluarkan?"

"Tentu saja tidak," kata Harry.

"Nah, kalau begitu, buat apa diributkan?" Fudge tertawa ringan. "Ayo, makan kuenya, Harry, sementara aku mengecek apakah Tom punya kamar untukmu."

Fudge meninggalkan ruangan dan Harry meman-dang punggungnya. Ada sesuatu yang aneh sekali sedang berlangsung. Kenapa Fudge menunggunya di Leaky Cauldron, kalau bukan mau menghukumnya untuk apa yang telah dilakukannya? Dan sekarang setelah Harry pikir-pikir, tentunya tidak biasa bagi Menteri Sihir sendiri melibatkan diri dalam urusan penyihir di bawah umur?

Fudge muncul lagi, ditemani Tom si pemilik rumah minum.

"Kamar sebelas kosong, Harry," kata Fudge. "Kurasa kau akan sangat nyaman di sini. Hanya ada satu hal, dan aku yakin kau akan mengerti: aku tak ingin kau berkeliaran di London-nya Muggle, oke? Jalan-jalan di Diagon Alley saja. Dan kau harus sudah pulang sebelum gelap setiap malam. Tentu kau mengerti. Tom akan menjagamu untukku."

"Oke," kata Harry lambat-lambat, "tetapi ke-napa...?"

"Kami tak ingin kehilangan kau lagi, kan?" kata Fudge terbahak. "Tidak, tidak... lebih baik kami tahu kau di mana... maksudku..."

Fudge berdeham keras dan memungut mantel ber-garisnya.

"Nah, aku pulang dulu, masih banyak pekerjaan."

"Apakah Anda sudah mendapat titik terang soal Black?" tanya Harry. Jari-jari Fudge tergelincir lepas dari kancing perak mantelnya.

"Apa? Oh, kau sudah dengar—wah, belum, tapi cuma soal waktu saja. Para pengawal Azkaban belum pernah gagal... dan mereka belum pernah semarah ini."

Fudge bergidik sedikit.

"Jadi, aku minta diri dulu."

Dia mengulurkan tangan dan Harry, saat menjabat-nya, mendadak mendapat ide. "Eh—Pak Menteri? Boleh saya tanya sesuatu?"

"Tentu saja," Fudge tersenyum. "Murid-murid kelas tiga di Hogwarts diizinkan mengunjungi Hogsmeade dari waktu ke waktu, tetapi bibi dan paman saya tidak menandatangani formulir perizinannya. Apakah Anda bisa menandatangani-nya?"

Fudge kelihatan salah tingkah.

"Ah," katanya. "Tidak. Tidak, maaf sekali, Harry, tetapi karena aku bukan orangtua ataupun walimu..."

"Tetapi Anda Menteri Sihir," kata Harry berse-mangat. "Jika Anda memberi saya izin..."

"Tidak, maaf, Harry, tapi peraturan adalah per-aturan," kata Fudge tegas. "Mungkin kau akan bisa mengunjungi Hogsmeade tahun depan. Menurutku, malah lebih baik kalau kau tidak ke Hogsmeade... ya... nah, aku pergi sekarang. Nikmati sisa liburanmu di sini, Harry."

Setelah tersenyum sekali lagi dan menjabat tangan Harry, Fudge meninggalkan ruangan. Tom sekarang bergerak maju, tersenyum kepada Harry.

"Silakan ikut aku, Mr Potter," katanya. "Aku sudah membawa barang-barangmu ke atas...."

Harry mengikuti Tom menaiki tangga kayu keren menuju pintu bertempel angka sebelas dari kuningan. Tom membuka pintu itu.

Di dalam ada tempat tidur yang kelihatannya nya-man, perabot dari kayu ek yang dipelitur mengilap, perapian yang menyala cerah, dan bertengger di atas lemari pakaian...

"Hedwig!" Harry terpekik.

Burung hantu berbulu seputih salju itu membuat bunyi klik dengan paruhnya dan terbang turun ke lengan Harry.

"Burung hantumu cerdik sekali," Tom terkekeh. "Muncul kira-kira lima menit sesudah kau datang. Kalau ada yang kaubutuhkan, Mr Potter, jangan ragu-ragu memintanya."

Tom membungkuk sekali lagi dan pergi.

Harry duduk di tempat tidurnya lama sekali, me-renung sambil membelai-belai Hedwig. Langit di luar jendela berubah cepat dari biru tua bagai beledu menjadi abu-abu dingin keperakan, dan kemudian, perlahan-lahan, kemerahan bersemburat emas. Harry nyaris tak percaya bahwa dia baru meninggalkan Privet Drive beberapa jam yang lalu, bahwa dia tidak dikeluarkan, dan bahwa dia sekarang akan menjalani dua minggu tanpa keluarga Dursley.

"Malam yang aneh sekali, Hedwig," dia menguap. Lalu, bahkan tanpa melepas kacamatanya, dia me-rebahkan kepala di atas bantal dan langsung tertidur.

4. Leaky Cauldron

PERLU beberapa hari bagi Harry untuk membiasakan diri dengan kebebasannya yang aneh. Belum pernah dia bisa bangun kapan saja dia suka atau makan apa pun yang diinginkannya. Dia bahkan bisa pergi ke mana pun dia mau, asal saja masih di Diagon Alley dan karena jalan panjang dari batu ini dipenuhi toko-toko sihir paling menakjubkan di seluruh dunia, Harry sama sekali tak punya keinginan untuk melanggar janjinya kepada Fudge dan memasuki dunia Muggle lagi.

Harry sarapan setiap pagi di Leaky Cauldron. Dia senang mengawasi tamu-tamu lainnya: penyihir-penyihir wanita tua dari pedesaan, yang akan ber-belanja seharian; penyihir- penyihir bertampang-ter-hormat mendiskusikan artikel terakhir di Transfigura-tion Today—Transfigurasi Hari Ini; penyihir- penyihir ber-tampang-liar; kurcaci bersuara serak, dan sekali bah-kan nenek sihir mencurigakan yang memesan sepiring hati mentah dari balik balaclava—topi rajutan wol tebal yang menutupi kepala dan lehernya.

Sesudah sarapan Harry ke halaman belakang, me-ngeluarkan tongkatnya, mengeruk batu bata ketiga dari kiri di atas tempat sampah, dan mundur saat gerbang lengkung menuju Diagon Alley membuka di tembok.

Harry melewatkan hari-hari musim panas yang pan-jang dengan melihat-lihat toko dan makan di bawah payung warna- warni di luar kafe-kafe, tempat para pengunjung saling memamerkan belanjaannya ("ini lunaskop—tak perlu lagi susah payah mempelajari peta bulan, lihat?") atau mendiskusikan kasus Sirius Black ("aku tidak akan membiarkan anak-anakku ke-luar sendiri, sampai dia dikembalikan ke Azkaban."). Harry tak perlu lagi mengerjakan PR di bawah selimut dengan penerangan senter. Sekarang dia bisa duduk di bawah cahaya terang matahari di depan toko es krim Florean Fortescue, menyelesaikan semua tugas mengarangnya dengan kadang-kadang dibantu Florean Fortescue sendiri, yang selain tahu banyak tentang pembakaran penyihir di abad pertengahan, memberi Harry es krim gratis setengah jam sekali.

Sesudah Harry mengisi kembali kantong uangnya dengan Galleon emas, Sickle perak, dan Knut pe-runggu dari lemari besinya di Gringotts, dia perlu menahan diri untuk tidak menghabiskan uangnya sekaligus. Berkali-kali dia mengingatkan diri bahwa dia masih harus lima tahun lagi di Hogwarts, dan bagaimana rasanya kalau harus minta uang dari ke-luarga Dursley untuk membeli buku-buku mantra. Itu dilakukannya untuk mencegah dirinya membeli satu set Gobstones emas yang bagus sekali (per-mainan sihir dengan batu-batu emas mirip kelereng, dan batu-batu itu menyemprotkan cairan bau ke wajah pemain lawan setiap kali dia kehilangan satu angka). Harry juga sangat tergoda oleh galaksi yang bisa bergerak dalam bola kaca besar, yang berarti dia tak perlu lagi ikut pelajaran Astronomi. Tetapi barang yang paling menggoda dan nyaris merontok-kan tekad Harry muncul di toko favoritnya, Peralatan Quidditch Berkualitas, seminggu setelah dia tiba di Leaky Cauldron.

Penasaran apa yang sedang dikerubungi pengun-jung di toko itu, Harry masuk dan menyelip di antara para penyihir yang bergairah sampai dia bisa melihat podium yang baru didirikan. Di atas podium itu dipajang sapu paling hebat yang pernah dilihatnya seumur hidupnya.

"Baru keluar... masih contoh...," seorang penyihir berahang persegi memberitahu temannya.

"Itu sapu paling cepat di dunia ya, Dad?" kata seorang anak laki-laki yang lebih kecil dari Harry, yang menggelayut di lengan ayahnya.

"Regu Internasional Irlandia baru saja memesan tujuh sapu cantik ini," pemilik toko memberitahu kerumunan pengunjung.

"Dan sapu ini favorit untuk Piala Dunia!"

Seorang penyihir wanita tinggi besar di depan Harry bergeser dan Harry bisa membaca tulisan di sebelah sapu:

FIREBOLT-KILATAN-API

Sapu balap yang dibuat berdasarkan teknologi paling canggih ini tangkainya terbuat dari kayu ash pilihan, dicat dengan bahan khusus yang sekeras intan, dan dinomori dengan nomor registrasi tersendiri yang ditulis tangan. Ranting-ranting birch untuk ekornya masing-masing diseleksi dan diruncingkan sampai tak lagi mempunyai hambatan udara, membuat keseimbangan dan presisi firebolf ini tak tertandingi. Firebolt ini bisa digas dari 0-225 kilometer per jam dalam waktu sepuluh detik dan memiliki sistem rem sihir yang tak bisa rusak. Harga diberitahukan kepada penanya.

Harga diberitahukan kepada penanya... Harry tak ingin memikirkan berapa banyak emas harga sapu itu. Seumur hidupnya belum pernah dia mengingin-kan sesuatu sampai seperti itu—tetapi dia belum per-nah kalah dalam pertandingan Quidditch dengan naik Nimbus Dua Ribu-nya,

dan apa gunanya mengosong-kan lemari besinya di Gringotts untuk membeli Firebolt, kalau dia sudah punya sapu yang bagus sekali? Harry tidak menanyakan harganya, tetapi dia kembali ke toko itu, hampir setiap hari, hanya untuk memandang Firebolt.

Tapi ada barang-barang yang harus dibeli Harry. Dia pergi ke toko bahan ramuan untuk melengkapi bahan-bahan ramuannya, dan karena jubah-jubah seragamnya sudah kependekan, baik panjangnya maupun lengan-nya, dia mengunjungi toko Jubah untuk Segala Kesempatan Kreasi Madam Malkin, dan membeli beberapa jubah baru. Yang paling penting, dia harus membeli buku-buku baru, termasuk untuk dua mata pelajaran barunya, Pemeliharaan Satwa Gaib dan Ramalan.

Harry mendapat kejutan ketika dia melongok ke etalase toko buku. Alih-alih mendisplai buku-buku mantra setebal batu bata dengan huruf-huruf emas, di balik kaca etalase ada kandang besi besar berisi kira-kira seratus eksemplar Buku Monster tentang Mon-ster. Halaman-halaman yang robek beterbangan selagi buku-buku itu saling berkelahi, bergulat saling me-ngunci, dan mengatup-ngatup dengan galak.

Harry mengeluarkan daftar buku dari sakunya dan membacanya untuk pertama kali. Buku Monster tentang Monster terdaftar sebagai buku untuk pelajaran Peme-liharaan Satwa Gaib. Sekarang Harry mengerti kenapa Hagrid bilang buku itu akan berguna. Dia merasa lega. Selama ini dia bertanya-tanya dalam hati apakah Hagrid memerlukan bantuan untuk memelihara bina-tang mengerikan yang baru. Saat Harry memasuki Flourish and Blotts, manajer toko buku bergegas menyongsongnya. "Hogwarts?" tanyanya langsung. "Mau beli buku barumu?"

"Ya," kata Harry. "Saya memerlukan..."

"Minggir," kata si manajer tak sabar, mendorong Harry. Dia mengeluarkan sepasang sarung tangan sangat tebal, mengambil tongkat besar berbonggol, dan berjalan ke arah pintu kandang Buku Monster.

"Tunggu," kata Harry buru-buru, "saya sudah pu-nya buku itu."

"Sudah?" Kelegaan luar biasa meliputi wajah si manajer.

"Syukurlah. Aku sudah digigit lima kali sepagian ini..."

Bunyi robekan keras memenuhi udara. Dua Buku Monster menyambar buku ketiga dan menariknya sam-pai jebol.

"Stop! Stop!" teriak si manajer, menyodok-nyodok-kan tongkatnya melalui jeruji kandang dan memisah-kan ketiga buku itu. "Aku tak akan mau menjualnya lagi, tak akan pernah! Heboh sekali! Kukira kami telah mengalami yang terburuk ketika kami membeli dua ratus eksemplar Buku Tak- Kasatmata tentang Ketak-kasatmataan—harganya mahal sekali dan sampai seka-rang kami tak bisa menemukannya... Nah, apa ada lagi yang bisa kubantu?"

"Ya," kata Harry, membaca daftarnya. "Saya perlu Menyingkap Kabut Masa Depan karangan Cassandra Vablatsky."

"Ah, mau mulai pelajaran Ramalan, ya?" kata si manajer seraya membuka sarung tangannya dan mem-bawa Harry ke bagian belakang toko. Di bagian bela-kang itu ada sudut khusus untuk buku-buku ramalan. Ada meja kecil dengan tumpukan buku dengan judul-judul seperti Meramalkan yang Tak Dapat Diramalkan: Mengisolasi Diri dari Kekagetan dan Bola Pecah: Ketika Nasib Baik Berubah Menjadi Nasib Buruk.

"Ini dia," kata si manajer yang telah menaiki bangku bertangga dan menurunkan buku tebal bersampul hitam.

"Menyingkap Kabut Masa Depan. Buku panduan yang bagus sekali untuk semua metode dasar ramalan— membaca garis tangan, bola kristal, isi perut burung..."

Tetapi Harry tidak mendengarkan. Tak sengaja ter-pandang olehnya sebuah buku yang dipajang di antara buku-buku lain di atas meja kecil, Tanda-Tanda Kematian: Apa yang Harus Anda Lakukan Jika Tahu yang Terburuk akan Terjadi.

"Oh, aku tak akan mau membaca itu kalau aku jadi kau,"

kata manajer toko yang melihat apa yang dipandang Harry.

"Kau akan melihat tanda-tanda ke-matian di mana-mana, cukup membuat orang ke-takutan sampai mati."

Tetapi Harry tetap menatap sampul depan buku itu. Sampul itu menampilkan gambar anjing hitam sebesar beruang, dengan mata berkilat. Aneh sekali, rasanya gambar itu tak asing....

Si manajer menyerahkan buku Menyingkap Kabut Masa Depan ke tangan Harry.

"Ada lagi yang lain?" tanyanya.

"Ya," kata Harry, mengalihkan pandangannya dari si anjing dan dengan bingung membaca daftarnya. "Eh—saya perlu Transfigurasi Tingkat Menengah dan Kitab Mantra Standar, Tingkat Tiga."

Harry meninggalkan Flourish and Blotts sepuluh me-nit kemudian dengan mengepit buku-buku barunya, dan berjalan pulang ke Leaky Cauldron, nyaris tidak memperhatikan jalan dan menabrak beberapa orang.

Dia menaiki tangga ke kamarnya, masuk, dan me-naruh buku-bukunya di atas tempat tidur. Sudah ada yang merapikan kamarnya. Jendela-jendelanya terbuka dan sinar matahari menyorot masuk. Harry bisa men-dengar bus-bus menderu lewat di jalan Muggle yang tak kelihatan di belakangnya, dan suara orang-orang yang lewat tak kelihatan di bawah di Diagon Alley. Dia melihat tampangnya sendiri di cermin di atas wastafel.

"Tak mungkin itu pertanda kematian," katanya me-nantang kepada bayangannya. "Aku panik waktu me-lihatnya di Magnolia Crescent. Mungkin dia cuma anjing yang tersesat...." Secara otomatis dia mengangkat tangan dan men-coba meratakan rambutnya. "Percuma saja, pasti berantakan lagi,"

kata cermin-nya dengan suara berdesis.

Hari demi hari berlalu. Setiap kali keluar, Harry mulai mencari-cari Ron dan Hermione. Banyak mu-rid Hogwarts yang sudah muncul di Diagon Alley sekarang, karena sebentar lagi sudah masuk sekolah. Harry bertemu Seamus Finnigan dan Dean Thomas, sesama teman asrama di Gryffindor, di toko Peralatan Quidditch Berkualitas. Mereka berdua juga mengagumi Firebolt. Harry juga bertemu Neville Longbottom yang asli, seorang anak laki-laki pelupa bermuka bundar, di depan Flourish and Blotts. Harry tidak menyapanya. Neville rupanya kehilangan daftar bukunya dan se-dang ditegur oleh neneknya yang kelihatan galak. Harry berharap nenek Neville tidak akan pernah tahu dia menyamar jadi Neville ketika sedang melarikan diri dari Kementerian Sihir.

Harry terbangun pada hari terakhir liburan, berpikir bahwa paling tidak dia akan bertemu Ron dan Hermione besok pagi, di Hogwarts Express. Dia bangun, berpakaian, pergi melihat Firebolt untuk terakhir kali-nya, dan sedang berpikir-pikir enaknya makan siang di mana, ketika ada yang meneriakkan namanya dan dia berpaling.

"Harry! HARRY!"

Kedua sahabatnya. Mereka duduk di luar toko es krim Florean Fortescue. Bintik-bintik di wajah Ron tampak jelas sekali, sedang kulit Hermione sangat cokelat. Keduanya melambai-lambai penuh semangat ke arahnya.

"Akhirnya!" kata Ron, nyengir kepada Harry ketika Harry ikut duduk. "Kami ke Leaky Cauldron, tapi mereka bilang kau sudah pergi, dan kami ke Flourish and Blotts, dan Madam Malkin, dan..."

"Aku sudah beli semua keperluan sekolahku ming-gu lalu," Harry menjelaskan. "Dan bagaimana kau tahu aku tinggal di Leaky Cauldron?"

"Dad," kata Ron singkat.

Mr Weasley, yang bekerja di Kementerian Sihir, tentu saja telah mendengar seluruh kisah tentang apa yang terjadi pada Bibi Marge.

"Apakah kau benar-benar telah menggelembungkan bibimu, Harry?" tanya Hermione sangat serius.

"Aku tidak sengaja," kata Harry, sementara Ron terbahak- bahak. "Aku—kehilangan kendali."

"Tidak lucu, Ron," kata Hermione tajam. "Terus terang saja, aku heran Harry tidak dikeluarkan."

"Aku juga heran," Harry mengaku. "Lupakan soal dikeluarkan. Kukira aku akan ditangkap." Dia me-mandang Ron. "Ayahmu tidak tahu kenapa Fudge membebaskariku, kan?"

"Mungkin karena kau adalah kau, kan?" jawab Ron, masih tertawa-tawa. "Harry Potter yang terkenal. Aku tak berani membayangkan apa yang akan di-lakukan Kementerian Sihir padaku kalau aku yang menggelembungkan bibiku, meskipun mereka harus menggaliku dulu, soalnya Mum akan membunuhku duluan. Tapi kau bisa tanya Dad sendiri nanti malam. Kami juga menginap di Leaky Cauldron malam ini! Jadi kau bisa berangkat ke King's Cross bersama kami besok. Hermione juga menginap di sana!"

Hermione mengangguk, wajahnya berseri-seri. "Mum dan Dad mengantarku ke sana pagi ini dengan semua keperluan Hogwarts-ku."

"Bagus sekali!" kata Harry senang. "Jadi, kalian sudah membeli semua buku dan keperluan lain?"

"Lihat ini," kata Ron, menarik keluar kotak panjang tipis dari dalam tas dan membukanya. "Tongkat baru. Tiga puluh lima senti, dedalu, de-ngan sehelai bulu ekor unicorn. Dan kami sudah membeli semua buku..." Dia menunjuk tas besar di bawah kursinya. "Bagaimana dengan Buku Monster, eh? Pelayan toko nyaris menangis waktu kami bi-lang mau beli dua."

"Apa itu, Hermione?" Harry bertanya, menunjuk tidak hanya satu, melainkan tiga tas besar mengge-lembung penuh isi di atas kursi di sebelah Hermione.

"Aku kan mengambil lebih banyak pelajaran baru daripada kalian berdua," kata Hermione. "Itu buku-bukuku untuk Arithmancy, Pemeliharaan Satwa Gaib, Ramalan, Telaah Rune Kuno, Telaah Muggle..."

"Buat apa kau ikut Telaah Muggle?" kata Ron, memutar- mutar bola mata kepada Harry. "Kau kan kelahiran-Muggle! Ayah dan ibumu Muggle! Kau sudah tahu segalanya tentang Muggle!" "Tapi kan akan menarik sekali mempelajarinya dari sudut pandang penyihir," kata Hermione bergairah.

"Apa kau berencana makan dan tidur tahun ini, Hermione?" tanya Harry, sementara Ron terkikik-kikik. Hermione tidak mengacuhkan mereka.

"Aku masih punya sepuluh Galleon," katanya, me-meriksa dompetnya. "Ulang tahunku bulan Septem-ber, dan Mum dan Dad memberiku uang untuk mem-beli sendiri hadiah ulang tahunku lebih awal."

"Bagaimana kalau buku yang bagus?" kata Ron tanpa dosa.

"Tidak, kurasa tidak," kata Hermione tenang. "Aku kepingin sekali punya burung hantu. Maksudku, Harry punya Hedwig dan kau punya Errol..."

"Tidak," kata Ron. "Errol itu burung hantu keluarga. Yang aku punya hanyalah Scabbers." Dia menarik keluar tikus peliharaannya dari dalam sakunya. "Dan aku akan memeriksakan dia," Ron menambahkan se-raya meletakkan Scabbers di atas meja di depan me-reka. "Kurasa Mesir tidak cocok untuknya."

Scabbers tampak lebih kurus dari biasanya, dan kumisnya jelas menjuntai.

"Ada toko satwa gaib di seberang situ," kata Harry, yang sekarang sudah hafal betul Diagon Alley. "Siapa tahu mereka punya obat untuk Scabbers, dan Hermione bisa membeli burung hantunya."

Maka mereka membayar es krim dan menyeberang jalan ke Magical Menagerie.

Sempit sekali di dalam. Setiap senti dinding tertutup sangkar. Toko itu bau dan bising sekali, karena semua penghuni kandang berkuak, mencicit, mengoceh, atau mendesis. Penyihir wanita penjaga toko di belakang meja pajang sedang menasihati seorang penyihir pria tentang bagaimana memelihara kadal air berkepala-dua, maka Harry, Ron, dan Hermione menunggu, sambil melihat-lihat sangkar- sangkar.

Sepasang kodok besar ungu duduk, asyik melahap bangkai lalat. Seekor kura-kura raksasa dengan punggung bertatahkan permata duduk berkilau dekat jendela. Siput-siput jingga beracun merayap pelan di dinding tangki kaca mereka, dan seekor kelinci putih gemuk berkali-kali berubah menjadi topi sutra dan kembali ke sosok kelinci lagi dengan bunyi plop keras. Lalu ada juga kucing dengan segala warna, satu kandang penuh burung gagak cerewet, sekeranjang bola-bulu berwarna aneh yang bersenandung keras, dan di atas meja pajang ada kandang besar penuh tikus-tikus hitam berkilau yang beberapa di antaranya sedang bermain semacam lompat tali dengan meng-gunakan ekor mereka yang licin tak berbulu.

Penyihir pembeli kadal air berkepala-dua pulang, dan Ron mendekati meja pajang.

"Saya mau memeriksakan tikus saya," kata Ron kepada si penjaga toko. "Dia lesu terus sejak pulang dari Mesir."

"Taruh di atas meja pajang ini," kata si penyihir wanita seraya mengeluarkan kacamata hitam berat dari dalam sakunya.

Ron mengeluarkan Scabbers dari dalam sakunya dan menaruhnya di sebelah kandang yang berisi teman-temannya sesama tikus, yang berhenti bermain lompat-ekor dan berlarian ke jeruji kawat agar bisa melihat lebih jelas.

Seperti segala hal lainnya yang dimiliki Ron, Scabbers si tikus juga diwarisinya (dulunya milik kakaknya, Percy) dan sudah agak kusam. Disanding-kan dengan tikus-tikus berkilau di dalam kandang, Scabbers kelihatan sangat menyedihkan.

"Hm," kata si penyihir, mengangkat Scabbers. "Berapa umur tikus ini?"

"Saya tak tahu," kata Ron. "Sudah tua. Dulunya dia milik kakak saya."

"Apa kehebatannya?" tanya si penyihir, memeriksa Scabbers dengan teliti.

"Eh...," kata Ron. Kenyataannya Scabbers tak pernah menunjukkan tanda-tanda kehebatan apa pun. Mata si penyihir berpindah dari telinga kiri Scabbers yang robek ke kaki depannya, yang satu jarinya hilang, dan dia berdecak keras-keras.

"Tikus ini sudah mengalami kejadian hebat," komentarnya.

"Dia sudah seperti ini ketika Percy memberikannya kepada saya," kata Ron membela diri.

"Tikus biasa atau tikus kebun seperti ini tidak bisa diharapkan hidup lebih lama dari tiga tahunan," kata si penyihir. "Kalau kau mencari sesuatu yang lebih tahan lama, kau mungkin akan menyukai ini..."

Dia menunjuk tikus-tikus hitam di kandang, yang langsung main lompat-ekor lagi. Ron bergumam, "Sok pamer."

"Yah, kalau kau tidak mau pengganti, kau bisa mencoba Tonik Tikus ini," kata si penyihir, meraih ke bawah meja pajangan dan mengeluarkan botol kecil merah.

"Oke," kata Ron. "Berapa—OUCH!"

Ron membungkuk kesakitan ketika sesuatu yang besar berwarna jingga meluncur dari atas kandang yang paling tinggi, mendarat di kepalanya, kemudian berputar dan mendesis-desis liar ke arah Scabbers.

"JANGAN, CROOKSHANKS, JANGAN!" teriak si penyihir, tetapi Scabbers lolos dari tangannya seperti sabun yang licin, mendarat dengan keempat kakinya di lantai, dan kabur ke pintu.

"Scabbers!" teriak Ron, berlari keluar toko untuk mengejarnya. Harry menyusul.

Perlu sepuluh menit bagi mereka untuk menemukan Scabbers, yang menyembunyikan diri di bawah tempat sampah di depan toko Peralatan Quidditch Berkualitas. Ron memasukkan kembali tikus yang gemetar itu ke dalam sakunya, lalu bangkit, memijat-mijat kepalanya.

"Makhluk apa tadi?"

"Kalau bukan kucing yang besar sekali, ya harimau kecil,"

kata Harry.

"Di mana Hermione?"

"Mungkin sedang membeli burung hantunya!" Mereka melewati jalan yang penuh sesak, kembali ke Magical Menagerie. Setiba mereka di sana, Hermione keluar, tetapi tidak membawa burung hantu. Tangan-nya memeluk erat kucing jingga itu.

"Kau membeli monster itu?" tanya Ron, ternganga.

"Dia keren, ya?" kata Hermione, berseri-seri.

Itu soal selera, pikir Harry. Bulu si kucing yang berwarna jingga memang tebal dan halus, tetapi kakinya agak bengkok—pantas saja namanya Crookshanks, si tulang kering bengkok—dan mukanya kelihatan galak dan gepeng aneh, seakan dia baru menabrak tembok. Sekarang, setelah Scabbers tidak kelihatan, kucing itu mendengkur puas dalam pelukan Hermione.

"Hermione, binatang itu nyaris menguliti kepalaku!" kata Ron. "Dia kan tidak sengaja, iya kan, Crookshanks?" kata Hermione.

"Lalu bagaimana Scabbers?" kata Ron, menunjuk tonjolan di saku dadanya. "Dia perlu istirahat dan santai! Bagaimana dia bisa istirahat dan santai kalau ada makhluk itu?"

"Aku jadi ingat, Tonik Tikus-mu ketinggalan," kata Hermione, menjejalkan botol merah kecil itu ke tangan Ron.

"Dan jangan khawatir, Crookshanks akan tidur di kamarku dan Scabbers di kamarmu. Apa masalahnya? Kasihan Crookshanks. Si penyihir tadi bilang dia sudah di toko lama sekali, tak ada yang mau mem-belinya."

"Kenapa, ya?" kata Ron sinis sambil mereka berjalan ke Leaky Cauldron. Mereka menemukan Mr Weasley di dalam rumah minum itu, sedang membaca Daily Prophet. "Harry!" katanya, mendongak seraya tersenyum. "Apa kabar?"

"Baik, terima kasih," kata Harry, ketika dia, Ron, dan Hermione mendatangi Mr Weasley dengan semua belanjaan mereka.

Mr Weasley meletakkan korannya dan Harry me-lihat foto Sirius Black, yang sekarang sudah dikenal-nya, memandangnya.

"Mereka belum berhasil menangkapnya?" tanyanya.

"Belum," kata Mr Weasley tampak muram sekali. "Mereka menghentikan kami semua dari pekerjaan rutin di Kementerian untuk mencarinya, tapi sejauh ini belum berhasil."

"Apakah kita akan mendapat hadiah kalau berhasil menangkapnya?" tanya Ron. "Asyik sekali kalau dapat uang lagi..."

"Jangan konyol, Ron," kata Mr Weasley yang se-telah diawasi lebih teliti tampak sangat lelah. "Black tidak akan ditangkap oleh anak tiga belas tahun. Para pengawal Azkaban- lah yang akan menangkap-nya, lihat saja nanti."

Saat itu Mrs Weasley masuk, dengan banyak sekali belanjaan dan diikuti si kembar Fred dan George, yang akan memasuki tahun kelima di Hogwarts, si Ketua Murid yang baru terpilih, Percy, serta anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarga Weasley, Ginny.

Ginny yang sejak dulu sangat terkesan akan Harry, tampak lebih malu dari biasanya ketika melihatnya. Mungkin karena Harry telah menyelamatkan nyawa-nya dalam semester terakhir mereka di Hogwarts tahun ajaran lalu. Wajahnya langsung merah padam dan dia menggumamkan "halo" tanpa memandang Harry. Percy, sebaliknya, mengulurkan tangan dengan resmi seakan dia dan Harry belum pernah bertemu dan berkata, "Harry. Senang sekali bertemu dengan-mu."

"Halo, Percy," kata Harry, berusaha menahan tawa.

"Kuharap kau baik-baik saja?" kata Percy sok, men-jabat tangan Harry. Rasanya seperti diperkenalkan kepada wali kota.

"Baik, terima kasih..."

"Harry!" kata Fred, menyikut Percy agar minggir dan membungkuk dalam-dalam. "Senang sekali ketemu kau, Bung..."

"Luar biasa sekali," kata George, mendorong Fred dan ganti menyambar tangan Harry. "Benar-benar ke-hormatan."

Percy mencibir.

"Sudah cukup," kata Mrs Weasley.

"Mum!" kata Fred, seakan dia baru saja melihat ibunya, dan menyambar tangannya juga. "Sungguh menggembirakan bertemu Ibu..."

"Kubilang, cukup," kata Mrs Weasley, menaruh belanjaannya di kursi kosong. "Halo, Harry. Kurasa kau sudah mendengar kabar gembira kami?" Dia menunjuk lencana perak baru di dada Percy. "Ketua Murid kedua dalam keluarga!" katanya bangga.

"Dan terakhir," gumam Fred dalam bisikan.

"Itu tidak kuragukan," kata Mrs Weasley, mendadak mengernyit. "Kulihat kalian berdua tidak terpilih men-jadi Prefek."

"Buat apa kami kepingin jadi Prefek?" kata George, kelihatan jijik. "Segala kegembiraan hidup akan hilang."

Ginny terkikik.

"Beri contoh yang baik pada adikmu!" gertak Mrs Weasley.

"Ginny punya kakak-kakak lain yang bisa memberi-nya contoh, Bu," kata Percy angkuh. "Aku mau ganti pakaian untuk makan malam...."

Dia menghilang dan George menghela napas. "Kami mencoba mengurungnya di dalam piramida," dia memberitahu Harry. "Tapi ketahuan Mum."

Makan malam berlangsung sangat menyenangkan. Tom si pemilik penginapan menyatukan tiga meja di ruang tamu dan ketujuh Weasley, Harry serta Hermione menikmati makan malam yang menyenangkan yang disajikan dalam lima tahapan.

"Bagaimana kita ke King's Cross besok, Dad?" tanya Fred, sementara mereka menikmati puding cokelat yang lezat.

"Kementerian menyediakan dua mobil," kata Mrs Weasley. Semua mendongak memandangnya.

"Kenapa?" tanya Percy ingin tahu.

"Tentu karena kau, Perce," kata George serius. "Dan akan ada bendera-bendera kecil di atap mobil, dengan huruf-huruf KM..."

"... singkatan Kepala Melembung," kata Fred. Semua, kecuali Percy dan Mrs Weasley, mendengus ke dalam puding masing-masing. "Kenapa Kementerian menyediakan mobil, Yah?" Percy bertanya lagi, dengan nada resmi.

"Yah, kita kan tidak punya mobil lagi," kata Mr Weasley,

"dan karena aku bekerja di sana, mereka membantuku..." Suaranya biasa saja, tetapi Harry melihat telinga Mr Weasley berubah merah, persis seperti telinga Ron kalau dia sedang stres.

"Untunglah," kata Mrs Weasley cepat. "Sadarkah kalian berapa banyak barang-barang kalian? Pasti me-narik perhatian kalau kita naik kereta bawah tanah Muggle... Kalian semua sudah berkemas, kan?"

"Ron belum memasukkan barang-barangnya yang baru dibeli ke dalam kopernya," keluh Percy. "Semua-nya berantakan di tempat tidurku."

"Lebih baik kau berkemas sekarang, Ron, karena kita tak punya banyak waktu besok pagi," kata Mrs Weasley dari ujung meja. Ron memandang Percy dengan jengkel.

Setelah makan malam semua merasa kenyang dan mengantuk. Satu per satu mereka naik ke kamar masing- masing untuk memeriksa barang-barang yang akan dibawa esok pagi. Kamar Ron dan Percy ber-sebelahan dengan kamar Harry. Harry baru saja me-nutup dan mengunci kopernya ketika dia mendengar suara-suara marah menembus dinding, dan pergi ke sebelah untuk mengetahui apa yang terjadi.

Pintu kamar nomor dua belas terbuka sedikit dan Percy sedang berteriak-teriak. "Tadi di sini, di meja di sebelah tempat tidur. Kulepas untuk digosok..."

"Aku tidak menyentuhnya, tahu!" Ron balas membentak.

"Ada apa?" tanya Harry.

"Lencana Ketua Murid-ku hilang," kata Percy, berbalik menghadapi Harry.

"Begitu juga Tonik Tikus Scabbers," kata Ron, melempar barang-barang dari dalam kopernya untuk mencari tonik itu.

"Mungkin ketinggalan di bawah..."

"Kau tak boleh ke mana-mana sampai kautemukan lencanaku!" raung Percy.

"Biar aku yang mengambilkan tonik Scabbers. Aku sudah selesai beres-beres," Harry berkata kepada Ron, dan dia turun.

Harry sudah setengah jalan di lorong yang menuju ruang makan di bawah, yang sekarang sudah sangat gelap, ketika dia mendengar sepasang suara marah lain datang dari ruang tamu. Sesaat kemudian dia mengenalinya sebagai suara Mr dan Mrs Weasley. Harry ragu-ragu, dia tak ingin mereka tahu dia telah mendengar mereka bertengkar. Tetapi kemudian dia mendengar namanya disebut. Harry berhenti, kemudi-an bergerak mendekati pintu ruang tamu.

"...tak masuk akal tidak boleh memberitahu dia," kata Mr Weasley panas. "Harry berhak tahu. Aku sudah memberitahu Fudge, tapi dia berkeras mau memperlakukan Harry seperti anak-anak. Dia sudah tiga belas tahun dan..."

"Arthur, kalau tahu yang sebenarnya, Harry akan ketakutan!" kata Mrs Weasley nyaring. "Apa kau benar-benar ingin Harry kembali ke sekolah dengan dihantui ketakutan? Astaga, dia bahagia kalau tak tahu!"

"Aku tak ingin membuatnya menderita, aku ingin dia waspada!" balas Mr Weasley. "Kau kan tahu se-perti apa Harry dan Ron, berkeliaran ke mana-mana berdua saja—mereka sudah masuk Hutan Terlarang dua kali! Tetapi Harry tak boleh begitu tahun ini! Kalau aku memikirkan apa yang bisa terjadi padanya pada malam dia melarikan diri dari rumah! Jika tidak diangkut Bus Ksatria, aku berani bertaruh dia pasti sudah mati sebelum Kementerian menemukan-nya."

"Tetapi dia tidak mati, dia baik-baik saja, jadi apa gunanya..."

"Molly mereka bilang Sirius Black gila, mungkin juga benar, tetapi dia cukup pintar untuk bisa kabur dari Azkaban, padahal itu kan diandaikan tak mung-kin terjadi. Sudah tiga minggu, dan tak seorang pun pernah melihat batang hidungnya, dan aku tak peduli apa yang terus-menerus dikatakan Fudge kepada Daily Prophet. Kemungkinan menangkap Black masih sama jauhnya dengan menciptakan tongkat yang bisa me-nyihir sendiri. Satu-satunya yang kita tahu betul adalah siapa yang jadi sasaran Black..."

"Tetapi Harry akan aman di Hogwarts."

"Kita menganggap Azkaban aman sekali. Kalau Black bisa kabur dari Azkaban, dia bisa menerobos masuk Hogwarts."

"Tapi tak ada yang benar-benar yakin sasaran Black adalah Harry..." Terdengar bunyi duk keras, dan Harry yakin Mr Weasley telah menggebrak meja dengan tinjunya.

"Molly, berapa kali harus kukatakan kepadamu? Mereka tidak melaporkannya ke media karena Fudge ingin menutupinya. Tetapi Fudge ke Azkaban pada malam Black kabur. Para pengawal memberitahu Fudge bahwa Black sudah beberapa waktu bicara dalam tidurnya. Kata-katanya selalu sama: 'Dia di Hogwarts... dia di Hogwarts.' Black itu gila, Molly, dan dia menginginkan Harry mati. Kalau kau tanya pendapatku, Black mengira membunuh Harry akan membuat Kau-Tahu-Siapa kembali berkuasa. Black ke-hilangan segalanya pada malam Harry menghentikan Kau-Tahu-Siapa, dan dia punya waktu dua belas ta-hun sendirian di Azkaban untuk memikirkan ini..."

Sunyi sesaat. Harry bersandar makin rapat ke pintu, ingin sekali mendengar lebih banyak lagi.

"Yah, Arthur, kau harus melakukan yang menurut-mu benar. Tetapi kau melupakan Albus Dumbledore. Kurasa tak ada yang bisa mencelakakan Harry di Hogwarts kalau Dumbledore kepala sekolahnya. Dia tahu tentang semua ini, kan?"

"Tentu saja dia tahu. Kami harus menanyainya apakah dia keberatan para pengawal Azkaban berjaga di sekitar pintu masuk ke halaman sekolah. Dia tidak senang, tetapi dia setuju."

"Tidak senang? Kenapa dia tidak senang, kalau mereka di sana untuk menangkap Black?"

"Dumbledore tidak menyukai pengawal-pengawal Azkaban," kata Mr Weasley berat. "Aku juga tidak, sebetulnya... tapi kalau kita berurusan dengan pe-nyihir seperti Black, kadang-kadang kita harus meng-gabungkan kekuatan dengan pihak-pihak yang se-betulnya lebih suka kita hindari."

"Kalau mereka menyelamatkan Harry..."

"...kalau begitu aku tidak akan bicara buruk lagi tentang mereka," kata Mr Weasley lelah. "Sudah malam, Molly, sebaiknya kita naik..."

Harry mendengar kursi-kursi digeser. Sepelan mungkin, dia bergegas ke ruang makan. Pintu ruang tamu terbuka dan beberapa saat kemudian langkah-langkah yang terdengar memberitahunya Mr dan Mrs Weasley sedang menaiki tangga. Botol Tonik Tikus itu tergeletak di bawah meja tempat mereka duduk tadi. Harry menunggu sampai didengarnya pintu kamar Mr dan Mrs Weasley ter-tutup, baru dia naik lagi membawa botol tonik.

Fred dan George meringkuk dalam bayang-bayang kegelapan di bordes, berguncang menahan tawa sementara mereka mendengarkan Percy meng-obrak-abrik kamarnya dalam usahanya mencari len-cananya.

"Kami yang ambil," Fred berbisik kepada Harry. "Kami perbaiki."

Lencana itu sekarang berbunyi Kakatua Murid.

Harry memaksa diri tertawa, pergi menyerahkan Tonik Tikus kepada Ron, kemudian masuk ke kamar-nya dan berbaring di tempat tidur.

Jadi Sirius Black mengejarnya. Itu menjelaskan se-galanya. Fudge bersikap lunak terhadapnya karena amat lega melihatnya masih hidup. Dia menyuruh Harry berjanji tidak meninggalkan Diagon Alley, karena di Diagon Alley ada banyak penyihir yang menjaganya. Dan dia mengirim dua mobil Kementeri-an Sihir untuk membawa mereka semua ke stasiun besok, supaya keluarga Weasley bisa menjaga Harry sampai dia berada di dalam kereta api.

Harry berbaring mendengarkan teriakan-teriakan teredam dari kamar sebelah dan heran sendiri ke-napa dia tidak menjadi lebih takut. Sirius Black telah membunuh tiga belas orang dengan sekali kutuk. Mr dan Mrs Weasley jelas mengira Harry akan panik kalau dia tahu kenyataan ini. Tetapi Harry setuju sepenuhnya dengan pendapat Mrs Weasley bahwa tempat teraman di dunia adalah tempat di mana Albus Dumbledore berada. Bukankah orang selalu berkata Dumbledore adalah satu-satunya or-ang yang ditakuti Lord Voldemort? Tentunya Black, sebagai tangan kanan Voldemort, sama takutnya kepada Dumbledore?

Lagi pula masih ada para pengawal Azkaban yang dibicarakan semua orang. Mereka kelihatannya mem-buat banyak orang ketakutan, dan jika mereka di-tempatkan di sekeliling sekolah, kemungkinan Black bisa memasuki sekolah tampaknya kecil sekali.

Tidak, setelah semuanya dipertimbangkan, hal yang paling mengganggu Harry adalah fakta bahwa ke-mungkinannya untuk mengunjungi Hogsmeade seka-rang tak ada sama sekali. Tak seorang pun ingin Harry meninggalkan kastil yang aman sampai Black tertangkap. Bahkan, Harry curiga segala gerak-gerik-nya akan dipantau dengan teliti sampai bahaya telah lewat.

Dia mencibir kepada langit-langit yang gelap. Apa mereka pikir dia tidak bisa menjaga diri? Dia sudah berhasil selamat dari Lord Voldemort tiga kali, dia toh tidak sama sekali tak berguna....

Tak terelakkan, sosok binatang dalam keremangan Magnolia Crescent melintas di benaknya. Apa yang harus kaulakukan jika tahu yang terburuk akan terjadi....

"Aku tak mau dibunuh," kata Harry keras-keras. "Semangat yang bagus, Nak," kata cerminnya me-ngantuk.

5. Dementor

TOM membangunkan Harry keesokan paginya dengan senyum ompongnya yang biasa dan secangkir teh. Harry berganti pakaian dan sedang membujuk Hedwig yang tidak puas untuk masuk kembali ke sangkarnya, ketika Ron menerobos masuk sambil me-narik baju kaus tebal melewati kepalanya. la kelihatan jengkel. ,

"Lebih cepat kita naik ke kereta api lebih baik," katanya.

"Paling tidak aku bisa jauh-jauh dari Percy di Hogwarts. Sekarang dia menuduhku meneteskan teh ke foto Penelope Clearwater. Tahu kan," Ron menye-ringai, "pacarnya. Cewek itu menyembunyikan wajah-nya di bawah pigura foto karena hidungnya basah..."

"Ada yang mau kuberitahukan padamu," Harry memulai, tetapi mereka disela oleh Fred dan George, yang datang untuk memberi selamat pada Ron karena berhasil membuat Percy marah lagi.

Mereka turun untuk sarapan. Mr Weasley sedang membaca halaman depan koran Daily Prophet dengan dahi berkerut dan Mrs Weasley sedang bercerita kepada Ginny dan Hermione tentang Ramuan Cinta yang dibuatnya waktu dia masih gadis dulu. Ketiga-nya cekikikan.

"Tadi kau mau bilang apa?" Ron menanyai Harry, ketika mereka sudah duduk.

"Nanti saja," gumam Harry melihat Percy datang.

Harry tak punya kesempatan bicara baik kepada Ron ataupun Hermione dalam hiruk-pikuk menjelang keberangkatan. Mereka terlalu sibuk menggotong koper-koper mereka menuruni tangga-tangga sempit Leaky Cauldron dan menumpuknya di dekat pintu, sementara Hedwig dan Hermes, burung hantu Percy yang berteriak-teriak, bertengger di atas koper-koper itu di dalam sangkar mereka. Sebuah keranjang anyaman kecil berdiri di sebelah tumpukan koper, mendesis- desis keras.

"Tidak apa-apa, Crookshanks," bujuk Hermione dari lubang- lubang anyaman. "Nanti kau kukeluarkan kalau sudah di kereta."

"Tidak boleh," gertak Ron. "Kasihan si Scabbers, kan?"

Ron menunjuk dadanya. Gelembung besar di situ menunjukkan bahwa Scabbers bergulung di dalam sakunya.

Mr Weasley yang berada di luar menunggu mobil Kementerian Sihir, menjulurkan kepalanya ke dalam.

"Mobilnya sudah datang," katanya. "Harry, ayo."

Mr Weasley mengantar Harry menyeberangi trotoar menuju mobil yang di depan. Ada dua mobil kuno hijau tua, masing- masing dikemudikan penyihir miste-rius berseragam hijau zamrud.

"Masuk, Harry," kata Mr Weasley sambil me-mandang ke kanan-kiri jalan yang ramai.

Harry masuk ke tempat duduk belakang dan tak lama kemudian disusul Hermione, Ron, dan... Percy! Ini jelas membuat Ron sebal sekali.

Perjalanan ke King's Cross biasa-biasa saja di-banding dengan perjalanan Harry waktu naik Bus Ksatria. Mobil Kementerian Sihir ini kelihatannya se-perti mobil biasa, meskipun Harry memperhatikan kedua mobil ini bisa menyelip melewati celah-celah yang jelas tak akan bisa dilalui mobil kantor Paman Vernon. Mereka tiba di stasiun dua puluh menit sebelum kereta berangkat. Sopir-sopir Kementerian mengambil troli, menurunkan koper-koper mereka, menyentuh topi untuk memberi hormat kepada Mr Weasley, dan pergi. Secara ajaib mobil mereka berhasil melompat sampai ke paling depan antrean tak ber-gerak yang sedang menunggu lampu hijau.

Mr Weasley menempel Harry terus sampai mereka memasuki stasiun.

"Baiklah," katanya memandang berkeliling. "Kita masuk dua-dua, karena rombongan kita banyak. Aku masuk duluan dengan Harry."

Mr Weasley berjalan ke arah palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh, mendorong troli Harry dan kelihatan tertarik sekali pada InterCity 125 yang baru saja memasuki peron sembilan. Dengan pandang-an penuh arti kepada Harry, dia bersandar santai ke palang rintangan. Harry menirunya. Berikutnya, mereka sudah menemous logam kokoh itu dan tiba di peron sembilan tiga perempat, dan mendongak .melihat Hogwarts Express, kereta api uap merah-tua, mengepul-ngepulkan asap ke peron yang dipenuhi para penyihir yang mengantar anak-anak mereka.

Percy dan Ginny tiba-tiba muncul di belakang Harry. Mereka tersengal-sengal, rupanya menembus palang dengan berlari.

"Ah, itu Penelope!" kata Percy, merapikan rambut-nya dan wajahnya memerah lagi. Ginny bertatapan dengan Harry dan keduanya berpaling untuk me-nyembunyikan tawa mereka ketika Percy mendekati seorang gadis berambut ikal panjang. Percy berjalan seraya membusungkan dada, sehingga si gadis tak mungkin tidak melihat lencananya yang mengilap.

Setelah sisa keluarga Weasley dan Hermione ber-gabung, Harry dan Mr Weasley berjalan di depan menuju ujung kereta, melewati gerbong-gerbong yang penuh sesak, sampai tiba di gerbong yang kelihatan-nya kosong. Mereka menaikkan koper- koper, menaruh Hedwig dan Crookshanks di atas rak barang, kemudi-an kembali ke luar untuk mengucapkan selamat ting-gal kepada Mr dan Mrs Weasley.

Mrs Weasley mencium semua anaknya, kemudian Hermione, dan akhirnya Harry. Harry malu, tetapi sebetulnya senang, ketika Mrs Weasley menambahinya dengan pelukan.

"Hati-hati ya, Harry," katanya ketika dia menegak-kan diri lagi, matanya berkaca-kaca. Kemudian dia membuka tasnya yang besar sekali dan berkata, "Aku sudah membuatkan sandwich untuk kalian semua. Ini, Ron... bukan, isinya bukan kornet daging... Fred? Di mana Fred? Ini, Nak..."

"Harry" kata Mr Weasley pelan, "ke sini sebentar."

Dia mengedikkan kepala ke arah pilar, dan Harry mengikutinya ke belakang pilar, meninggalkan yang lain yang sedang mengerumuni Mrs Weasley.

"Ada yang harus kusampaikan kepadamu sebelum kau berangkat," kata Mr Weasley tegang. "Tak apa-apa, Mr Weasley," kata Harry. "Saya sudah tahu."

"Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?"

"Saya—eh—saya mendengar Anda dan Mrs Weasley bicara tadi malam. Tak sengaja," Harry menambahkan cepat-cepat.

"Maaf..." "Itu bukan cara yang akan kupilih untuk mem-buatmu tahu," kata Mr Weasley, kelihatan cemas.

"Tidak apa-apa—betul, tidak apa-apa. Dengan begini, Anda tidak melanggar janji Anda kepada Fudge dan saya tahu apa yang sedang berlangsung."

"Harry, kau pasti takut sekali..."

"Tidak," kata Harry jujur. "Betul," dia menambah-kan, karena Mr Weasley kelihatan tidak percaya. "Saya bukannya mau sok jadi pahlawan, tetapi Sirius Black tak mungkin lebih mengerikan dari Voldemort, kan?"

Mr Weasley berjengit mendengar nama itu, tetapi berusaha mengabaikannya.

"Harry, aku tahu kau, yah, lebih kuat daripada yang dikira Fudge, dan aku senang sekali kau tidak takut, tapi..."

"Arthur!" panggil Mrs Weasley, yang sekarang menggiring anak-anak yang lain ke kereta. "Arthur, sedang apa kau? Keretanya sudah mau berangkat!"

"Kami datang, Molly!" kata Mr Weasley tetapi dia berpaling kembali pada Harry dan bicara lagi dengan suara yang lebih pelan dan mendesak, "Dengar, aku ingin kau berjanji..."

"...bahwa saya akan jadi anak yang baik dan tinggal di dalam kastil?" tanya Harry muram.

"Tidak hanya itu," kata Mr Weasley, yang kelihatan lebih serius daripada yang pernah dilihat Harry. "Harry, bersumpahlah padaku kau tidak akan mencari Black."

Harry terbeliak. "Apa?" Terdengar peluit keras. Para petugas berjalan se-panjang kereta, menutup semua pintu.

"Berjanjilah, Harry," kata Mr Weasley, bicara lebih cepat lagi,

"bahwa apa pun yang terjadi..."

"Untuk apa saya mencari orang yang saya tahu akan membunuh saya?" tanya Harry tak mengerti. "Bersumpahlah padaku bahwa apa pun yang mungkin kau dengar..."

"Arthur, cepat!" teriak Mrs Weasley.

Asap meliuk dari atas kereta. Kereta sudah mulai bergerak. Harry berlari ke pintu gerbong. Ron mem-bukanya dan mundur agar Harry bisa masuk. Mereka menjulurkan kepala dari jendela dan melambaikan tangan kepada Mr dan Mrs Weasley sampai kereta api berbelok di tikungan dan mereka tak kelihatan lagi.

"Aku perlu bicara dengan kalian berdua," Harry bergumam kepada Ron dan Hermione sementara kereta meluncur semakin cepat.

"Pergi jauh-jauh, Ginny," kata Ron.

"Oh, sopan sekali," kata Ginny tersinggung, lalu pergi. Harry, Ron, dan Hermione menyusuri koridor, mencari kompartemen kosong, tetapi semuanya penuh, kecuali satu di ujung gerbong.

Kompartemen ini hanya berisi satu orang, laki-iaki yang tidur nyenyak di sisi jendela. Harry, Ron, dan Hermione ragu- ragu di ambang pintu. Hogwarts Ex-press biasanya khusus untuk anak-anak dan mereka belum pernah melihat orang dewasa di kereta, kecuali penyihir yang mendorong troli makanan.

Orang asing ini memakai jubah sihir yang sudah sangat usang dan ditisik di beberapa tempat. Tampak-nya dia sakit dan lelah. Meskipun masih muda, ram-butnya yang cokelat- muda sudah ditumbuhi uban di sana-sini.

"Menurutmu siapa dia?" desis Ron, ketika mereka duduk dan menutup kembali pintu. Mereka memilih tempat duduk sejauh mungkin dari jendela.

"Profesor R.J. Lupin," bisik Hermione segera.

"Dari mana kau tahu?"

"Ada di kopernya," jawab Hermione, menunjuk rak barang di atas kepala si laki-laki. Di rak itu ada koper kecil butut diikat dengan tali yang ikatannya rapi. Nama Profesor R.J. Lupin tertera di salah satu sudutnya dengan huruf-huruf yang sudah mulai me-ngelupas.

"Ngajar apa, ya?" tanya Ron, mengernyit memandang profil Profesor Lupin yang pucat.

"Jelas, kan," bisik Hermione. "Cuma ada satu lowongan. Pertahanan terhadap Ilmu Hitam."

Harry, Ron, dan Hermione sudah pernah diajar oleh dua guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Ke-duanya hanya bertahan selama setahun. Ada desas-desus bahwa pekerjaan itu membawa sial.

"Yah, mudah-mudahan saja dia memang sanggup," kata Ron ragu-ragu. "Kelihatannya satu kutukan saja bisa menghabisinya. Ngomong-ngomong...," dia ber-paling pada Harry, "apa sih yang mau kaubicarakan dengan kami?"

Harry menjelaskan tentang pertengkaran Mr dan Mrs Weasley dan peringatan yang baru saja diberikan Mr Weasley kepadanya. Setelah Harry selesai bercerita, Ron termangu- mangu, sedangkan Hermione menekap mulut dengan kedua tangannya. Akhirnya Hermione menurunkan tangannya untuk berkata, "Sirius Black kabur dari penjara untuk menangkapmu? Oh, Harry... kau harus sangat, sangat hati- hati. Jangan cari masa-lah, Harry."

"Aku tak pernah cari masalah," kata Harry sakit hati.

"Masalah-lah yang biasanya menemukan aku."

"Memangnya Harry begitu tolol, mencari orang gila yang mau membunuhnya?" kata Ron gemetar.

Mereka menerima berita ini dengan lebih terpukul daripada dugaan Harry. Baik Ron maupun Hermione kelihatannya jauh lebih takut pada Black dibanding Harry sendiri.

"Tak ada yang tahu bagaimana dia bisa lolos dari Azkaban," kata Ron gelisah. "Tak ada yang pernah kabur sebelumnya. Dan dia juga napi kelas top."

"Tapi mereka akan bisa menangkapnya, kan?" kata Hermione penasaran. "Maksudku, mereka juga me-minta semua Muggle ikut mencarinya..."

"Bunyi apa itu?" kata Ron tiba-tiba. Terdengar suitan samar entah dari mana. Mereka mencari-cari di seluruh kompartemen.

"Datangnya dari dalam kopermu, Harry," kata Ron, berdiri dan menjulurkan tangan ke atas rak barang. Sesaat kemudian dia telah menarik Teropong-Curiga Saku dari antara jubah- jubah Harry Teropong-Curiga itu berputar sangat cepat di atas telapak tangan Ron, dan berpendar-pendar terang.

"Apakah itu Teropong-Curiga?" tanya Hermione ingin tahu, berdiri agar bisa melihat lebih jelas.

"Yeah... tapi, ini yang murah sekali," kata Ron. "Dia langsung berbunyi waktu aku mengikatkannya ke kaki Errol untuk dikirimkan pada Harry. Mungkin rusak."

"Apa waktu itu kau melakukan sesuatu yang men-curigakan?" tanya Hermione galak.

"Tidak! Yah... aku sebetulnya tidak boleh meng-gunakan Errol. Kau tahu, kan, dia tidak kuat lagi menempuh perjalanan panjang... tapi bagaimana lagi aku bisa mengirimkan hadiah Harry kepadanya?"

"Masukkan lagi ke koper," Harry menyarankan, ketika si Teropong-Curiga bersuit melengking. "Kalau tidak nanti dia bangun."

Harry mengangguk ke arah Profesor Lupin. Ron menjejalkan Teropong-Curiga itu ke dalam sepasang kaus kaki jelek dan usang bekas Paman Vernon yang meredam bunyinya, lalu menutup koper.

"Kita bisa memeriksakannya di Hogsmeade," kata Ron, seraya duduk lagi. "Toko Dervish and Banges menjual barang- barang seperti itu, peralatan-peralatan dan barang-barang gaib. Fred yang cerita padaku."

"Apakah kau tahu banyak tentang Hogsmeade?" tanya Hermione penuh minat. "Menurut yang kubaca itu satu- satunya permukiman non-Muggle di seluruh Inggris..."

"Iya sih, kelihatannya begitu," kata Ron sambil lalu. "Tetapi bukan itu yang membuatku ingin ke sana. Aku cuma ingin ke Honeydukes!"

"Apa itu?" tanya Hermione.

"Toko permen," jawab Ron, menerawang. "Segala macam permen ada... Pepper Imps—Merica Setan, yang membuat mulutmu berasap, dan bola cokelat besar berisi krim stroberi, dan loli pena bulu luar biasa yang bisa kauisap di kelas sementara kelihatannya kau sedang memikirkan apa yang akan kautulis ber-ikutnya..."

"Tetapi Hogsmeade tempat yang sangat menarik, kan?" Hermione mendesak penasaran. "Dalam Situs-situs Sejarah Sihir disebutkan losmen di situ adalah markas besar untuk pemberontakan goblin tahun 1612, dan Shrieking Shack— Gubuk Menjerit—katanya ba-ngunan yang paling banyak hantunya di Inggris..."

"...dan permen besar-besar yang akan membuatmu terangkat beberapa senti dari tanah saat kau meng-isapnya," kata Ron, yang jelas tak mendengarkan sepatah kata pun yang diucapkan Hermione.

Hermione berpaling pada Harry. "Asyik ya, kita boleh keluar dari sekolah dan jalan-jalan di Hogsmeade." "Mestinya," kata Harry muram. "Kau harus cerita padaku kalau sudah ke sana nanti."

"Apa maksudmu?" kata Ron.

"Aku tak bisa pergi. Paman dan bibiku tidak me-nandatangani formulir perizinanku dan Fudge juga tak mau."

Ron tampak ngeri.

"Kau tak boleh pergi? Tapi—no way—McGonagall atau entah siapa akan memberimu izin..." Harry tertawa hampa. Profesor McGonagall, kepala asrama Gryffindor, orangnya sangat berdisiplin. "...atau kita bisa tanya Fred dan George, mereka tahu semua lorong rahasia di kastil..."

"Ron!" kata Hermione tajam. "Kurasa Harry tak boleh sembunyi-sembunyi meninggalkan kastil selama Black masih berkeliaran..."

"Yeah, kurasa begitulah yang akan dikatakan McGonagall kalau aku minta izin," timpal Harry getir.

"Tapi kalau kita bersamanya," kata Ron bersemangat kepada Hermione, "Black tak akan berani..."

"Oh, Ron, jangan bicara omong kosong," sela Hermione tajam. "Black sudah membunuh banyak orang di tengah jalan ramai, dan kaupikir dia akan ragu-ragu menyerang Harry hanya karena ada kita?"

Sambil bicara Hermione membuka kait keranjang Crookshanks.

"Jangan keluarkan dia!" kata Ron, tapi terlambat. Crookshanks melompat ringan dari dalam keranjang-nya, menggeliat, menguap, dan meloncat ke pangkuan Ron.

Gundukan di saku Ron gemetar dan Ron men-dorong si kucing dengan jengkel.

"Pergi!"

"Ron, jangan!" kata Hermione marah.

Ron baru mau membalas, ketika Profesor Lupin bergerak. Mereka mengawasinya dengan cemas, tetapi dia cuma menolehkan kepalanya ke arah lain, mulut-nya sedikit terbuka, dan tidur terus.

Hogwarts Express meluncur mantap ke arah utara. Pemandangan di luar menjadi semakin liar dan gelap sementara awan-awan di atas menebal. Anak-anak berkejaran melewati pintu kompartemen mereka. Crookshanks sekarang mendekam di atas tempat duduk kosong, wajahnya yang gepeng menghadap Ron, matanya yang hijau mengawasi saku atas Ron.

Pukul satu si penyihir wanita gemuk dengan troli makanan tiba di pintu kompartemen.

"Kita bangunkan atau tidak?" Ron bertanya cang-gung, mengangguk ke arah Profesor Lupin. "Kelihat-annya dia perlu makan."

Hermione hati-hati mendekati Profesor Lupin.

"Eh—Profesor?" katanya. "Maaf—Profesor?" Dia tidak bergerak.

"Jangan khawatir, Nak," kata si penyihir seraya menyerahkan setumpuk besar kue kepada Harry. "Kalau dia lapar waktu bangun nanti, aku ada di depan dengan masinis."

"Dia tidur, kan?" kata Ron pelan, setelah si penyihir menutup pintu kompartemen mereka. "Maksudku— dia tidak mati, kan?"

"Tidak, tidak, dia masih bernapas," bisik Hermione, mengambil kue yang ditawarkan Harry.

Profesor Lupin mungkin bukan teman seperjalanan yang baik, tetapi kehadirannya di kompartemen me-reka ada gunanya. Lewat tengah hari, ketika hujan mulai turun, menyamarkan perbukitan yang ter-hampar di luar jendela, mereka mendengar langkah-langkah kaki di koridor lagi, dan tiga orang yang paling tidak mereka sukai muncul di pintu: Draco Malfoy diapit kroninya, Vincent Crabbe dan Gregory Goyle.

Draco Malfoy dan Harry sudah bermusuhan sejak mereka bertemu dalam perjalanan kereta api pertama mereka ke Hogwarts. Malfoy yang berwajah pucat, runcing dan sinis, adalah penghuni asrama Slytherin. Dia bermain sebagai Seeker di tim Quiddtich Slytherin, posisi yang sama seperti yang dimainkan Harry di tim Gryffindor. Crabbe dan Goyle tampaknya hadir di dunia untuk melaksanakan segala perintah Malfoy. Mereka berdua besar berotot. Crabbe lebih tinggi, dengan rambut berpotongan batok dan leher sangat tebal. Goyle berambut pendek kaku dan lengannya panjang berbulu seperti lengan gorila.

"Wah, lihat, siapa itu," kata Malfoy dengan suaranya yang seperti orang malas, membuka pintu kompar-temen mereka.

"Potty and the Weasel." Itu ejekan tentu, sebab potty berarti pispot, sedangkan weasel adalah binatang sejenis musang.

Crabbe dan Goyle terkekeh macam troll.

"Kudengar ayahmu akhirnya berhasil dapat emas musim panas ini, Weasley," kata Malfoy. "Apa ibumu mati saking kagetnya?"

Ron berdiri cepat sekali, menyenggol keranjang Crookshanks sampai jatuh ke lantai. Profesor Lupin mendengus.

"Siapa itu?" tanya Malfoy, otomatis melangkah mundur begitu melihat Lupin.

"Guru baru," kata Harry, yang sudah bangkit juga, siapa tahu dia perlu menahan Ron. "Apa katamu, Malfoy?"

Mata pucat Malfoy menyipit. Dia tak begitu bodoh sehingga mau berkelahi di depan hidung guru. "Ayo," gumamnya kecewa kepada Crabbe dan Goyle, dan mereka menghilang. Harry dan Ron duduk lagi. Ron menggosok-gosok buku-buku jarinya.

"Aku tak mau diam saja dikata-katai Malfoy tahun ini," katanya berang. "Betul. Kalau dia sekali lagi menghina keluargaku, akan kupegang kepalanya dan..."

Ron memperagakan gerakan bengis di tengah udara.

"Ron," desis Hermione, menunjuk Profesor Lupin, "hati- hati..."

Tetapi Profesor Lupin masih tidur nyenyak.

Hujan semakin lebat sementara kereta meluncur semakin ke utara. Jendela sekarang berwarna abu-abu berkilau dan perlahan berubah gelap sampai lampu-lampu menyala di sepanjang koridor dan di atas rak barang. Kereta berderit, hujan bergemuruh, angin menderu, tapi tetap saja Profesor Lupin tidur.

"Kita pasti hampir sampai," kata Ron, mencondong-kan tubuhnya ke depan untuk melihat, melewati Pro-fesor Lupin, ke jendela yang sekarang sudah hitam pekat.

Bibirnya belum lagi menutup ketika kereta mulai melambat.

"Bagus," kata Ron, bangkit dan berjalan hati-hati melewati Profesor Lupin untuk mencoba melihat ke luar. "Aku sudah lapar, aku ingin ikut pesta..."

"Tak mungkin kita sudah sampai," kata Hermione, memeriksa arlojinya.

"Lalu kenapa berhenti?"

Kereta api semakin lama semakin lambat. Setelah bunyi piston mereda, angin dan hujan terdengar se-makin keras menimpa jendela.

Harry yang duduk paling dekat pintu, bangkit untuk melihat ke koridor. Di sepanjang gerbong, kepala-kepala bermunculan ingin tahu dari dalam kompartemen.

Kereta api berhenti diiringi entakan dan suara ge-debuk dan kelontangan di kejauhan yang memberi-tahu mereka bahwa koper dan barang-barang bawaan berjatuhan dari raknya. Kemudian, tanpa peringatan, semua lampu padam dan mereka tenggelam dalam kegelapan total.

"Ada apa sih?" terdengar suara Ron di belakang Harry.

"Ouch!" pekik Hermione. "Ron, itu kakiku!" Harry meraba-raba kembali ke kursinya.

"Apa keretanya rusak?"

"Entah..."

Terdengar bunyi decit, dan Harry melihat sosok gelap Ron melap sepetak kaca jendela dan mengintip ke luar. "Ada yang bergerak di luar," kata Ron. "Kayaknya ada orang-orang yang naik ke kereta..." Pintu kompartemen mendadak terbuka dan ada yang menjatuhi kaki Harry sampai sakit.

"Sori! Apa kau tahu ada apa? Ouch! Sori..."

"Halo, Neville," kata Harry, meraba-raba dalam gelap dan mengangkat Neville pada jubahnya.

"Harry? Kaukah itu? Ada apa sih?"

"Entahlah! Duduklah..." Terdengar desis keras dan jerit kesakitan. Neville rupanya menduduki Crookshanks.

"Aku mau tanya masinis ada apa," terdengar suara Hermione. Harry merasa Hermione melewatinya, mendengar pintu menggeser terbuka lagi, kemudian bunyi gedebuk dan dua pekik kesakitan.

"Siapa itu?"

"Siapa itu?"

"Ginny?"

"Hermione?"

"Ngapain kau?"

"Aku mencari Ron..."

"Masuk dan duduklah..."

"Jangan di sini!" kata Harry buru-buru.

"Aku di sini!" "Aduh!" seru Neville.

"Diam!" mendadak terdengar suara serak.

Profesor Lupin akhirnya terbangun. Harry bisa men-dengar gerakan-gerakan di sudutnya. Tak seorang pun bicara.

Terdengar bunyi derik pelan dan ada cahaya ber-goyang yang memenuhi kompartemen. Profesor Lu-pin memegangi segenggam nyala api. Api itu me-nyinari wajahnya yang pucat lelah, tetapi matanya tampak siap dan waspada.

"Tetap di tempat masing-masing," katanya dengan suara serak yang sama, dan perlahan dia bangkit dengan tangan yang menggenggam api terulur di depannya.

Tetapi pintu menggeser terbuka sebelum Lupin mencapainya.

Berdiri di ambang pintu, diterangi oleh nyala api yang bergoyang di tangan Lupin, ada sosok berjubah yang menjulang sampai ke langit-langit kereta. Wajah-nya sama sekali tersembunyi di bawah kerudung kepalanya. Mata Harry menyusur ke bawah dan yang dilihatnya membuat perutnya kejang. Ada tangan yang terjulur dari dalam jubah dan tangan itu mengilap, abu-abu, kelihatannya berlendir dan berkeropeng, seperti sesuatu yang mati dan telah membusuk dalam air....

Tangan itu cuma tampak sekejap. Seakan makhluk di bawah jubah itu merasakan pandangan Harry, tangan itu mendadak ditarik ke dalam lipatan kain hitam jubahnya.

Dan kemudian, sosok di, bawah kerudung, entah apa itu, menarik napas pelan berkeretak, seakan dia mencoba mengisap lebih dari sekadar udara dari sekelilingnya.

Rasa dingin menusuk menyapu mereka semua. Harry merasa napasnya sendiri tertahan di dadanya. Rasa dingin itu menembus kulitnya. Memasuki dada-nya, memasuki jantungnya...

Mata Harry seolah membalik ke dalam kepalanya. Dia tak bisa melihat. Dia tenggelam dalam rasa dingin. Terdengar deru dalam telinganya, seperti deru air. Dia ditarik ke bawah, deru air semakin keras...

Dan kemudian, dari kejauhan, dia mendengar jeritan. Jerit mengerikan, ketakutan, dan penuh per-mohonan. Harry ingin membantu orang itu, dia ber-usaha menggerakkan tangannya, tetapi tak bisa... kabut putih tebal melayang-layang menyelubunginya, di dalam tubuhnya...

"Harry! Harry! Kau tak apa-apa?"

Ada yang menampar-nampar pipinya.

"A-apa?"

Harry membuka matanya. Ada lentera-lentera di atasnya, dan lantai bergetar—Hogwarts Express sudah bergerak lagi dan lampu juga sudah menyala. Rupa-nya dia merosot dari kursinya ke lantai. Ron dan Hermione berlutut di sebelahnya, dan di atas mereka, dia bisa melihat Neville dan Profesor Lupin meng-awasi. Harry merasa sangat mual. Waktu dia meng-angkat tangan untuk memakai lagi kacamatanya, dia merasa wajahnya bersimbah keringat dingin.

Ron dan Hermione mengangkatnya kembali ke tem-pat duduknya.

"Kau tak apa-apa?" tanya Ron cemas.

"Yeah," kata Harry, cepat-cepat memandang ke pintu. Makhluk berkerudung tadi sudah lenyap. "Apa yang terjadi? Di mana makhluk—makhluk itu? Siapa yang menjerit?"

"Tak ada yang menjerit," kata Ron, semakin cemas.

Harry memandang berkeliling kompartemen yang terang. Ginny dan Neville balas memandangnya. Ke-duanya pucat pasi.

"Tetapi aku mendengar jeritan..."

Bunyi keletak keras membuat mereka semua ter-lonjak. Profesor Lupin sedang mematah-matahkan sebatang cokelat besar.

"Ini," katanya kepada Harry, mengulurkan potongan yang besar sekali. "Makanlah. Akan membantu." Harry mengambil cokelat itu tetapi tidak memakan-nya.

"Tadi itu apa?" dia bertanya kepada Lupin.

"Dementor," kata Lupin, yang sekarang membagi-kan cokelat kepada semua anak. "Salah satu Dementor Azkaban."

Semua terbelalak menatapnya. Profesor Lupin me-remas bungkus cokelat dan memasukkannya ke dalam sakunya.

"Makan," dia mengulang. "Akan membantu. Aku perlu bicara dengan masinis, maaf..."

Dia berjalan melewati Harry dan lenyap ke koridor.

"Kau yakin kau tak apa-apa, Harry?" tanya Hermione, menatap Harry dengan cemas.

"Aku tak mengerti... apa yang terjadi?" kata Harry menyeka lebih banyak keringat dari wajahnya.

"Si—si Dementor—berdiri di sana dan memandang berkeliling (maksudku, kupikir dia memandang ber-keliling, aku tak bisa melihat matanya)—dan kau— kau..."

"Kukira kau tiba-tiba sakit ayan atau apa," kata Ron yang masih tampak ketakutan. "Kau mendadak kaku dan jatuh dari tempat dudukmu dan mulai kejang-kejang..."

"Dan Profesor Lupin melangkahimu, berjalan men-dekati si Dementor, dan mencabut tongkatnya," kata Hermione. "Dan dia berkata, 'Tak seorang pun dari kami menyembunyikan Sirius Black di balik jubah kami. Pergi.' Tetapi si Dementor tidak bergerak, jadi Lupin menggumamkan sesuatu, dan sesuatu yang keperakan meluncur dari tongkatnya, mengenai si Dementor, lalu si Dementor berbalik dan seperti me-layang pergi..."

"Mengerikan sekali," kata Neville, suaranya lebih melengking daripada biasanya. "Apakah kalian me-rasakan hawa jadi dingin sekali ketika dia datang?"

"Aku merasa aneh," kata Ron, menggerakkan bahu-nya dengan tak nyaman. "Sepertinya aku tak akan pernah gembira lagi..."

Ginny, yang meringkuk di sudut, kelihatan sama merananya seperti yang dirasakan Harry, terisak kecil. Hermione mendekatinya dan memeluknya.

"Tetapi apakah kalian tidak ada yang—jatuh dari tempat duduk?" tanya Harry canggung.

"Tidak," kata Ron, memandang Harry dengan cemas lagi.

"Tapi Ginny gemetar hebat sekali..."

Harry tidak mengerti. Dia merasa lemah dan geme-tar, seakan baru sembuh dari flu berat. Dia juga mulai merasa malu. Kenapa dia sampai pingsan be-gitu, padahal yang lain tidak?

Profesor Lupin sudah kembali. Dia berhenti sebentar sebelum masuk, memandang berkeliling, dan berkata seraya tersenyum kecil, "Aku tidak meracuni cokelat-nya lho..."

Harry menggigit cokelatnya dan heran sekali ketika merasakan kehangatan mendadak merayap sampai ke ujung- ujung jarinya.

"Kita akan tiba di Hogwarts sepuluh menit lagi," kata Profesor Lupin. "Kau tak apa-apa, Harry?" Harry tidak bertanya bagaimana Profesor Lupin bisa tahu namanya.

"Tidak," dia bergumam, malu.

Mereka tidak banyak bicara selama sisa perjalanan. Akhirnya kereta berhenti di stasiun Hogsmeade, dan anak- anak berdesakan turun. Burung-burung hantu beruhu-uhu keras, kucing-kucing mengeong, dan katak piaraan Neville berkuak keras dari bawah topinya. Dingin sekali di peron kecil mungil itu. Hujan meng-guyur seperti jarum-jarum es.

"Anak-anak kelas satu ke sini!" terdengar suara yang sudah mereka kenal. Harry, Ron, dan Hermione menoleh dan melihat sosok raksasa Hagrid di ujung peron, menggapai memanggil anak-anak kelas satu yang ketakutan. Hagrid akan mengantar mereka da-lam perjalanan tradisional menyeberangi danau.

"Baik-baik saja, kalian bertiga?" Hagrid berteriak di atas kepala anak-anak. Mereka melambai kepadanya, tetapi tidak punya kesempatan bicara dengannya, karena mereka terbawa kerumunan anak-anak di sekitar mereka menjauh dari peron. Harry, Ron, dan Hermione mengikuti murid-murid yang lain keluar ke jalan tanah yang kasar. Di jalan itu paling tidak seratus kereta menunggu anak-anak yang tersisa. Masing- masing di-tarik, menurut dugaan Harry, oleh kuda yang tak kelihatan, karena ketika mereka sudah naik dan me-nutup pintunya, keretanya langsung berjalan beriringan sendiri, saling bentur dan berguncang.

Kereta itu samar-samar berbau jamur dan jerami. Harry sudah merasa lebih enak setelah makan cokelat, tetapi masih lemah. Ron dan Hermione tak henti-hentinya meliriknya, seakan ketakutan dia akan ping-san lagi.

Ketika kereta mendekati sepasang gerbang besi yang kokoh, diapit oleh pilar batu yang di atasnya ada babi hutan bersayap, Harry melihat dua Dementor tinggi besar berkerudung, berdiri di kanan-kiri ger-bang. Gelombang rasa dingin tak nyaman siap meng-gulungnya lagi. Harry bersandar kembali ke tempat duduknya yang empuk dan memejamkan matanya sampai mereka sudah melewati gerbang. Kereta me-luncur semakin cepat ketika melewati jalan panjang landai menuju kastil. Hermione menjulurkan kepala dari jendela kecil mungil, memandang menara-menara yang semakin mendekat. Akhirnya kereta berguncang lalu berhenti, Hermione dan Ron turun.

Ketika Harry turun, terdengar suara senang di telinganya.

"Kau pingsan, Potter? Apakah yang dikatakan Longbottom benar? Kau betul-betul pingsan?"

Malfoy menyodok melewati Hermione untuk mem-blokir Harry sehingga tidak bisa menaiki undakan kastil. Wajahnya berseri-seri dan matanya yang pucat berkilat jahat.

"Minggir, Malfoy," kata Ron, yang rahangnya ter-katup rapat.

"Apa kau pingsan juga, Weasley?" kata Malfoy keras-keras.

"Apa Dementor yang mengerikan itu membuatmu ketakutan juga, Weasley?"

"Ada masalah?" terdengar suara lunak. Profesor Lupin baru saja turun dari kereta berikutnya.

Malfoy memandang Profesor Lupin dengan meng-hina. Dia sudah melihat tambalan di jubahnya dan kopernya yang butut. Dengan sedikit sinis dia men-jawab, "Oh, tidak—eh— Profesor," kemudian menye-ringai kepada Crabbe dan Goyle, dan mengajak me-reka menaiki undakan masuk ke dalam kastil.

Hermione menyodok punggung Ron agar bergegas, dan mereka bertiga bergabung dengan kerumunan anak-anak yang memenuhi undakan, memasuki pintu ek besar, ke dalam Aula Depan yang besar, yang diterangi obor-obor menyala. Di dalam aula itu ada tangga pualam yang menuju lantai atas.

Pintu menuju Aula Besar terbuka di sebelah kanan. Harry mengikuti anak-anak menuju pintu itu, tetapi baru saja sekilas melihat langit-langit sihirnya, yang malam ini gelap berawan, ada suara memanggil, "Pot-ter! Granger! Aku ingin bertemu kalian berdua!"

Harry dan Hermione berbalik, keheranan. Profesor McGonagall, guru Transfigurasi dan kepala asrama Gryffindor, memanggil mereka dari atas kepala anak-anak. Dia guru wanita bertampang galak, dengan rambut digelung ketat, matanya yang tajam memakai kacamata persegi. Harry mendekatinya, menyeruak di antara anak-anak. Perasaannya tak enak. Profesor McGonagall selalu membuat dia merasa telah melaku-kan sesuatu yang salah.

"Tak perlu secemas itu. Aku cuma mau bicara sedikit di kantorku," katanya kepada mereka. "Kau terus saja, Weasley" Ron mengawasi Profesor McGonagall membawa Harry dan Hermione menjauh dari kerumunan anak-anak yang ramai berceloteh. Mereka menyeberangi Aula Depan, menaiki tangga pualam dan menyusur koridor.

Begitu memasuki kantornya, ruangan kecil dengan api besar yang hangat dan nyaman, Profesor McGonagall memberi isyarat agar Harry dan Hermione duduk. Dia sendiri duduk di belakang mejanya dan tiba-tiba saja berkata, "Profesor Lupin mengirim burung hantu untuk memberitahukan bahwa kau sakit di kereta api, Potter."

Sebelum Harry sempat menjawab, terdengar ketuk-an di pintu dan Madam Pomfrey, matron rumah sakit, masuk.

Harry merasa wajahnya memerah. Bahwa dia tadi pingsan, atau entah apa, sudah memalukan. Apalagi ditambah semua orang jadi repot begini.

"Saya tak apa-apa," katanya. "Saya tidak perlu apa-apa..."

"Oh, kau rupanya?" kata Madam Pomfrey, mengabaikan ucapan Harry dan membungkuk untuk memeriksanya. "Apa kau baru saja melakukan sesuatu yang berbahaya lagi?"

"Gara-gara Dementor, Poppy," kata Profesor McGonagall. Mereka bertukar pandang suram dan Madam Pomfrey berdecak mencela.

"Memasang Dementor di sekitar sekolah," gumam-nya, mendorong rambut hitam Harry ke belakang dan meraba dahinya. "Dia bukan orang pertama yang pingsan. Ya, dia berkeringat. Sungguh mengerikan, Dementor, dan efeknya pada orang-orang yang rapuh..."

"Saya tidak rapuh!" kata Harry jengkel.

"Tentu saja tidak," sambil lalu Madam Pomfrey berkata, seraya memeriksa nadi Harry.

"Apa yang diperlukannya?" tanya Profesor McGonagall ringkas. "Istirahat di tempat tidur? Apa perlu dia malam ini menginap di rumah sakit?"

"Saya tidak apa-apa!" kata Harry melompat bangun. Membayangkan apa yang akan dikatakan Draco Malfoy kalau dia ke rumah sakit sungguh merupakan siksaan.

"Dia harus makan cokelat, paling tidak," kata Madam Pomfrey, yang sekarang berusaha memeriksa mata Harry.

"Saya sudah makan cokelat," kata Harry. "Diberi Profesor Lupin. Dia membagikannya kepada kami semua."

"Oh ya?" kata Madam Pomfrey senang. "Jadi, akhir-nya kita mendapat guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang tahu obat-obatnya."

"Kau yakin kau tidak apa-apa, Potter?" tanya Profesor McGonagall tajam.

"Ya," kata Harry.

"Baiklah, kalau begitu. Silakan tunggu di luar se-mentara aku bicara sebentar dengan Miss Granger soal jadwal pelajarannya, kemudian kita bisa pergi ke pesta bersama- sama."

Harry keluar ke koridor bersama Madam Pomfrey, yang seraya bergumam sendiri langsung kembali ke rumah sakit di salah satu sayap kastil. Harry cuma menunggu beberapa menit. Hermione keluar dengan tampang gembira sekali, diikuti oleh Profesor McGonagall, dan mereka bertiga kembali menuruni tangga pualam menuju Aula Besar.

Rasanya seakan memasuki lautan topi hitam. Masing- masing meja panjang asrama dipenuhi anak-anak, wajah mereka berkilau diterangi nyala seribu lilin, yang melayang- layang di atas meja di tengah udara. Profesor Flitwick, seorang penyihir pria kecil dengan rambut beruban, menenteng sebuah topi tua dan kursi berkaki-empat keluar aula.

"Oh," kata Hermione pelan, "kita ketinggalan acara Seleksi!"

Murid-murid baru Hogwarts diseleksi masuk asrama mana dengan cara memakai Topi Seleksi, yang meneriakkan asrama mana yang paling cocok untuk mereka (Gryffindor, Ravenclaw, Hufflepuff, atau Slytherin). Profesor McGonagall berjalan ke tempat duduknya di meja guru, sedangkan Harry dan Hermione berjalan ke jurusan yang berlawanan, se-pelan mungkin, menuju meja Gryffindor. Anak-anak menengok memandang mereka, sementara mereka ber-jalan di bagian belakang aula, dan beberapa di antara mereka menunjuk- nunjuk Harry. Apakah kisah tentang dirinya yang pingsan di depan Dementor sudah ber-edar begitu cepatnya?

Harry dan Hermione duduk mengapit Ron, yang sudah menyediakan tempat untuk mereka. "Kenapa sih kalian dipanggil?" gumam Ron kepada Harry.

Harry mulai menjelaskan dengan berbisik, tetapi saat itu Kepala Sekolah berdiri untuk berpidato, maka Harry berhenti. Profesor Dumbledore, meskipun usianya sudah sa-ngat lanjut, kesannya sangat enerjik. Rambut dan jenggotnya yang keperakan panjangnya lebih dari satu meter. Dia memakai kacamata berbentuk bulan-separo dan hidungnya sangat bengkok. Dia sering dideskripsikan sebagai penyihir terbesar zaman ini, tetapi bukan karena itu Harry menghormatinya. Se-perti semua orang lain, Harry tak bisa tidak memper-cayai Albus Dumbledore, dan ketika Harry me-mandangnya tersenyum kepada murid-muridnya, dia merasa benar-benar tenang untuk pertama kalinya sejak Dementor memasuki kompartemen kereta api.

"Selamat datang!" kata Dumbledore, nyala lilin me-mantul berkilau pada jenggotnya. "Selamat datang untuk tahun ajaran baru lagi di Hogwarts! Ada bebe-rapa hal yang akan kusampaikan kepada kalian se-mua, dan karena salah satunya sangat serius, kurasa lebih baik ini kusampaikan dulu sebelum kalian di-bingungkan oleh santapan pesta yang lezat-lezat..." Dumbledore berdeham dan melanjutkan, "Seperti sudah kalian semua ketahui setelah pemeriksaan di Hogwarts Express, sekolah kita sekarang ini sedang jadi tuan rumah untuk beberapa Dementor Azkaban, yang ada di sini untuk urusan Kementerian Sihir."

Dia berhenti sejenak dan Harry teringat apa yang dikatakan Mr Weasley tentang Dumbledore yang tidak senang para Dementor berjaga di sekolah.

"Mereka ditempatkan di semua pintu masuk ke halaman sekolah," Dumbledore melanjutkan, "dan se-mentara mereka bersama kita, harus kutekankan bahwa tak seorang pun diizinkan meninggalkan sekolah tanpa izin. Dementor tak bisa dibodohi dengan tipuan atau samaran—atau bahkan Jubah Gaib," dia menambahkan dengan lunak. Harry dan Ron saling lirik. "Dementor tidak bisa memahami permohonan atau permintaan maaf. Karena itu aku memperingatkan kalian semua, jangan memberi mereka alasan untuk mencelakai kalian. Aku mengandalkan para Prefek, dan Ketua Murid Laki- Laki dan Perempuan yang baru, untuk memastikan tak ada anak yang melanggar peraturan sehingga bisa jadi korban Dementor."

Percy, yang duduk beberapa kursi dari Harry, mem-busungkan dada lagi dan memandang berkeliling dengan lagak penting. Dumbledore berhenti lagi. Dia memandang ke seluruh aula dengan serius, dan tak seorang pun bergerak ataupun membuat suara.

"Sekarang berita yang menyenangkan," dia me-neruskan.

"Aku gembira sekali menerima dua guru baru di sekolah kita tahun ini.

"Yang pertama, Profesor Lupin, yang telah berbaik hati berkenan mengisi posisi guru Pertahanan ter-hadap Ilmu Hitam."

Di sana-sini terdengar tepukan yang kurang antu-sias. Hanya mereka yang berada dalam satu kompar-temen bersama Profesor Lupin yang bertepuk keras, Harry di antaranya. Profesor Lupin tampak kumal di antara para guru yang memakai jubah mereka yang paling bagus.

"Lihat si Snape!" Ron mendesis di telinga Harry.

Profesor Snape, guru Ramuan, memandang ke se-berang meja ke arah Profesor Lupin. Sudah jadi rahasia umum bahwa Snape menginginkan posisi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, tetapi bahkan Harry, yang membenci Snape, kaget melihat ekspresi di wajah Snape yang kurus dan pucat. Itu lebih dari sekadar marah, itu ekspresi jijik. Harry kenal betul ekspresi itu, karena begitulah ekspresi Snape setiap kali me-mandang Harry.

"Sedangkan guru baru kedua," Dumbledore me-lanjutkan setelah sambutan yang biasa-biasa saja untuk Profesor Lupin mereda, "dengan berat hati kusampai-kan kepada kalian bahwa Profesor Kettleburn, guru Pemeliharaan Satwa Gaib, pensiun akhir tahun ajaran lalu agar bisa menikmati waktu lebih lama dengan kaki dan tangannya. Meskipun demikian, aku senang sekali mengumumkan bahwa kedudukannya akan di-gantikan oleh, tak lain dan tak bukan, Rubeus Hagrid kita, yang telah setuju menjadi pengajar sebagai tambahan tugas- tugasnya sebagai pengawas binatang liar."

Harry, Ron, dan Hermione saling pandang, ter-perangah. Kemudian mereka ikut bertepuk. Tepukan gemuruh sekali, terutama di meja Gryffindor. Harry membungkuk ke depan untuk melihat Hagrid, yang wajahnya merah padam dan menunduk memandang tangannya yang besar, senyum lebarnya tersembunyi di balik berewok hitamnya yang awut- awutan.

"Mestinya kita tahu!" teriak Ron, menggebrak meja. "Siapa lagi yang akan menyuruh kita memakai buku yang menggigit?"

Harry, Ron, dan Hermione yang terakhir berhenti bertepuk, dan ketika Profesor Dumbledore bicara lagi, mereka melihat Hagrid menyeka matanya dengan taplak meja.

"Nah, kurasa semua yang penting sudah kusampai-kan,"

kata Dumbledore. "Ayo, kita mulai pesta!"

Piring-piring dan piala-piala emas di depan mereka mendadak dipenuhi makanan dan minuman. Harry, mendadak lapar sekali, mengambil segala yang bisa diraihnya dan mulai makan.

Pestanya menyenangkan sekali. Aula dipenuhi obrolan, tawa, dan dentang-denting pisau dan garpu. Meskipun demikian, Harry, Ron, dan Hermione ingin pesta segera selesai, agar mereka bisa bicara dengan Hagrid. Mereka tahu, diangkat jadi guru sangat berarti bagi Hagrid. Hagrid penyihir yang belum lulus. Dia dikeluarkan dari Hogwarts dalam tahun ketiganya, gara-gara kejahatan yang tidak dilakukannya. Harry, Ron, dan Hermione-lah yang membersihkan nama Hagrid tahun ajaran lalu.

Akhirnya, ketika serpih-serpih kue tar labu kuning sudah meleleh dari piring-piring emas, Dumbledore berkata bahwa sudah tiba saatnya bagi mereka semua untuk tidur, dan mereka mendapat kesempatan bicara dengan Hagrid.

"Selamat, Hagrid!" seru Hermione, ketika mereka tiba di meja guru.

"Berkat kalian bertiga," kata Hagrid, menyeka wajahnya yang berkilat dengan serbetnya sambil menatap mereka. "Tak bisa percaya itu... orang hebat, Dumbledore... langsung datang temui aku di pondok setelah Profesor Kettleburn bilang sudah cukup lelah mengajar... ini yang sudah lama kuinginkan..."

Dikuasai emosinya, dia membenamkan wajah di serbetnya, dan Profesor McGonagall meminta mereka meninggalkannya.

Harry, Ron, dan Hermione bergabung dengan anak-anak Gryffindor yang memenuhi tangga pualam, dan, sangat lelah sekarang, menyusuri koridor-koridor, me-naiki beberapa tangga lagi, sampai ke jalan masuk ke Menara Gryffindor yang tersembunyi. Lukisan besar seorang nyonya gemuk bergaun merah jambu me-nanyai mereka, "Kata kunci?"

"Sebentar, sebentar!" Percy berteriak dari belakang kerumunan. "Kata kunci barunya adalah Fortuna Ma-jor!"

"Oh, tidak," kata Neville Longbottom sedih. Dia selalu kesulitan mengingat kata kunci.

Melewati lubang lukisan dan menyeberangi ruang rekreasi, anak-anak perempuan dan laki-laki berpisah menuju tangga ke kamar masing-masing. Harry me-naiki tangga spiral tanpa berpikir apa-apa, kecuali betapa senangnya dia kembali di Hogwarts. Mereka tiba di kamar asrama mereka yang bundar dengan lima tempat tidur besar dan Harry—memandang ber-keliling—merasa dia berada di rumah... akhirnya.

6. Cakar Dan Daun Teh

WAKTU Harry, Ron, dan Hermione memasuki Aula Besar untuk sarapan keesokan paginya, yang pertama mereka lihat adalah Draco Malfoy, yang kelihatannya sedang menghibur segerombolan besar anak-anak Slytherin dengan cerita amat lucu. Saat mereka lewat, Malfoy berpura-pura pingsan dengan lagak konyol sekali dan terdengar ledakan tawa.

"Jangan pedulikan dia," kata Hermione, yang berada tepat di belakang Harry. "Abaikan saja, tidak layak diladeni..."

"Hei, Potter!" teriak Pansy Parkinson, cewek Slytherin dengan wajah seperti anjing pesek. "Potter! Dementor datang, Potter! Wuuuuuuuu!"

Harry duduk di meja Gryffindor, di sebelah George Weasley "Daftar pelajaran anak-anak kelas tiga yang baru," kata George, membagikannya. "Kenapa kau, Harry?"

"Malfoy," kata Ron, duduk di sisi lain George, dan mendelik ke meja Slytherin. George mendongak tepat ketika Malfoy sedang ber-pura-pura pingsan ketakutan lagi.

"Si brengsek itu," katanya kalem. "Dia tidak segagah itu semalam ketika Dementor datang ke gerbong kereta kami. Dia kabur ke kompartemen kita, kan, Fred?"

"Nyaris terkencing-kencing," kata Fred, mengerling meremehkan ke arah Malfoy "Aku sendiri tak begitu senang," kata George. "Me-ngerikan sekali, Dementor-dementor itu..."

"Rasanya seperti membekukan bagian dalam tubuh kita, ya?" kata Fred.

"Tapi kalian tidak pingsan, kan?" kata Harry pelan.

"Lupakan saja, Harry," kata George membesarkan hati Harry. "Dad pernah harus ke Azkaban sekali, ingat, Fred? Dan dia bilang itu tempat paling mengeri-kan yang pernah dikunjunginya. Dia pulang dalam keadaan lemah dan gemetaran... Para Dementor itu mengisap kebahagiaan dari tempat-tempat di mana mereka berada. Sebagian besar napi di sana jadi gila."

"Kita lihat saja nanti, sesenang apa Malfoy setelah pertandingan Quidditch pertama kita," kata Fred. "Gryffindor lawan Slytherin, pertandingan pertama tahun ajaran ini, ingat?"

Sekali-kalinya Harry dan Malfoy berhadapan dalam pertandingan Quidditch, Malfoy kalah total. Merasa sedikit lebih gembira, Harry mengambil sosis dan tomat goreng.

Hermione memeriksa daftar pelajaran barunya.

"Oh, bagus, kita memulai beberapa pelajaran baru hari ini,"

katanya senang.

"Hermione," kata Ron, mengernyit ketika dia me-natap melalui bahu Hermione, "mereka keliru menyu-sun daftar pelajaranmu. Lihat—mereka mendaftarmu ikut sepuluh pelajaran sehari. Mana cukup waktunya."

"Bisa kuatur. Sudah kurundingkan dengan Profesor McGonagall."

"Tapi coba lihat," kata Ron, tertawa, "lihat pagi ini? Pukul sembilan, Ramalan. Dan di bawahnya, pukul sembilan, Telaah Muggle. Dan..." Ron membungkuk mendekat, tidak percaya.

"Lihat—di bawahnya lagi, Arithmancy, pukul sembilan. Maksudku, aku tahu kau pintar, Hermione, tapi mana ada sih orang yang sepintar itu. Bagaimana mungkin kau bisa berada di tiga kelas pada saat bersamaan?"

"Jangan ngaco," kata Hermione pendek. "Tentu saja aku tak akan berada di tiga kelas pada saat bersama-an."

"Nah, kalau begitu..."

"Ambilkan selai," kata Hermione.

"Tapi..."

"Oh, Ron, apa sih urusannya denganmu kalau jad-walku sedikit padat?" tukas Hermione. "Kan sudah kubilang, aku sudah merundingkannya dengan Profesor McGonagall."

Saat itu Hagrid memasuki Aula Besar. Dia memakai jubah tikus mondoknya yang panjang dan tak sadar mengayun- ayunkan bangkai kuskus di salah satu tangannya yang besar.

"Baik semuanya?" katanya bersemangat, berhenti dalam perjalanannya ke meja guru. "Kalian ikut pelajaranku yang pertama! Habis makan siang! Sudah bangun sejak pukul lima siapkan segalanya... mudah-mudahan oke... aku, guru... wah..."

Dia nyengrr lebar kepada mereka dan berjalan menuju meja guru, masih mengayun-ayunkan kuskusnya. "Apa ya kira-kira yang disiapkannya?" tanya Ron, suaranya agak cemas.

Aula mulai kosong ketika anak-anak pergi ke kelas pelajaran pertama mereka. Ron memeriksa daftar pe-lajarannya.

"Sebaiknya kita berangkat sekarang, lihat, Ramalan di puncak Menara Utara. Perlu sepuluh menit untuk sampai ke sana."

Mereka buru-buru menyelesaikan sarapan, meng-ucapkan selamat tinggal kepada Fred dan George, dan berjalan ke pintu aula. Ketika mereka melewati meja Slytherin, Malfoy sekali lagi pura-pura pingsan. Gelak tawa mengikuti Harry sampai ke Aula Depan. Perjalanan dalam kastil menuju Menara Utara adalah perjalanan panjang. Dua tahun di Hogwarts belum mengajarkan mereka segalanya tentang kastil, dan mereka belum pernah ke Menara Utara.

"Pasti—ada—jalan—pintas," Ron tersengal, ketika mereka menaiki tangga panjang ketujuh dan keluar di bordes yang tak dikenal. Yang ada di tempat itu hanyalah lukisan besar hamparan rumput yang ter-gantung di dinding batu.

"Kurasa ke sini," kata Hermione, memandang lo-rong kosong di sebelah kanannya.

"Tak mungkin," kata Ron. "Itu selatan. Lihat, kau bisa melihat danau sedikit dari jendela..."

Harry mengamati lukisan itu. Seekor kuda poni gemuk abu- abu baru saja muncul dan merumput dengan acuh tak acuh. Harry sudah terbiasa melihat tokoh-tokoh dalam lukisan di Hogwarts bergerak dan meninggalkan pigura mereka untuk saling me-ngunjungi, tetapi dia selalu senang memandang lukisan-lukisan itu. Sesaat kemudian, seorang ksatria gemuk pendek memakai baju zirah datang berke-lontangan menyusul kudanya. Dari noda-noda rumput di lutut logamnya, rupanya dia baru saja jatuh.

"Aha!" teriaknya ketika melihat Harry, Ron, dan Hermione.

"Bandit-bandit macam apa ini yang masuk ke tanah pribadiku tanpa izin! Mau mencemoohku karena jatuh? Cabut pedangmu, brengsek!"

Mereka mengawasi dengan tercengang ketika si ksatria mencabut pedang dari sarungnya dan meng-acung- acungkannya dengan garang, melonjak-lonjak gusar. Tetapi pedang itu terlalu panjang baginya. Satu ayunan liar membuatnya terjungkal dan jatuh mencium rumput.

"Kau tak apa-apa?" tanya Harry, mendekat ke lukisan.

"Mundur kau orang sombong sok tahu! Mundur kau bajingan!"

Si ksatria meraih pedangnya lagi untuk bertumpu bangun. Tetapi mata pedangnya terbenam dalam di tanah, dan meskipun dia menarik sekuat tenaga; dia tak bisa mencabutnya. Akhirnya terpaksa dia meng-geletak lagi di rumput dan mendorong tudung ketopongnya ke atas untuk menyeka wajahnya yang berkeringat.

"Dengar," kata Harry mengambil kesempatan selagi si ksatria sedang kelelahan. "Kami sedang mencari Menara Utara. Kau tidak tahu jalannya, kan?"

"Pencarian!" Kemarahan si ksatria mendadak sirna. Dia bangkit dengan bunyi berkelontangan dan berseru, "Ayo ikut aku, sahabat-sahabat, dan kita akan men-capai sasaran kita, atau kalau tidak kita tewas dengan gagah berani dalam tugas!"

Dia menarik pedangnya sekali lagi dengan sia-sia, mencoba dan gagal menaiki kuda poninya yang ge-muk, dan berteriak,

"Jalan kaki kalau begitu, Nyonya dan Tuan-tuan yang terhormat! Ayo! Ayo!"

Dan dia berlari, berkelontangan bising, menuju ke arah kiri pigura, lalu lenyap.

Mereka bergegas mengejarnya sepanjang koridor, mengikuti bunyi kelontangan baju zirahnya. Dari wak-tu ke waktu mereka melihatnya berlari melewati lukisan di depan.

"Tabahkan hati kalian, yang terburuk akan terjadi!" pekik si ksatria, dan mereka melihatnya muncul kem-bali di depan serombongan wanita yang memakai gaun mengembang. Para wanita yang lukisannya ter-gantung di dinding tangga spiral sempit itu kaget.

Tersengal-sengal keras, Harry, Ron, dan Hermione menaiki tangga spiral yang berputar-putar, makin lama makin pusing, sampai akhirnya mereka mendengar gumam suara-suara di atas mereka. Tahulah mereka bahwa mereka telah tiba di kelas yang dicari.

"Selamat tinggal!" seru si ksatria, memunculkan kepalanya dari lukisan beberapa rahib bertampang seram. "Selamat tinggal, teman-teman seperjuangan! Jika suatu kali nanti kalian memerlukan hati yang baik dan otot kawat, panggillah Sir Cadogan!"

"Yeah, kami akan memanggilmu," gumam Ron, saat si ksatria menghilang, "kalau kami perlu orang sinting."

Mereka mendaki beberapa anak tangga terakhir dan muncul di bordes kecil. Sebagian besar anak-anak sudah berkumpul di situ. Tak ada pintu satu pun di bordes ini. Ron menyenggol Harry dan me-nunjuk langit-langit. Tampak pintu tingkap bundar bertempel plakat kuningan.

"Sybill Trelawney, guru Ramalan," Harry membaca.

"Bagaimana kita bisa naik ke situ?"

Seakan menjawab pertanyaannya, pintu tingkap itu mendadak terbuka, dan sebuah tangga keperakan me-luncur turun tepat di depan kaki Harry. Semua lang-sung diam.

"Silakan," kata Ron, nyengir. Maka Harry menaiki tangga itu paling dulu.

Dia tiba di kelas paling aneh yang pernah dilihat-nya. Malah, ruang itu sama sekali tidak kelihatan seperti kelas. Lebih cocok dikatakan campuran antara loteng penyimpan barang dengan tempat minum teh kuno. Paling tidak dua puluh meja bundar kecil ber-desakan dalam ruangan itu, semuanya dikelilingi oleh kursi berlengan dan puf—kursi bundar empuk. Di atas masing-masing meja ada lampu dengan cahaya merah remang-remang. Gorden-gorden jendela semua tertutup, dan semua lampu dikerudungi syal merah tua. Ruangan itu panas dan pengap, dan perapiannya yang menyala di bawah rak pajangan yang penuh, menguarkan bau harum tajam yang membuat pusing, sementara apinya memanasi ceret tembaga besar. Rak-rak yang mengelilingi dinding melingkar dipenuhi bulu-bulu berdebu, puntung-puntung lilin, berpak-pak kartu kumal, bola- bola kristal keperakan yang tak terhitung banyaknya, dan berderet-deret cangkir teh.

Ron muncul di sebelah Harry ketika anak-anak lain berkumpul di sekeliling mereka, semua bicara dengan berbisik.

"Di mana dia?" kata Ron. Mendadak terdengar suara dari dalam keremangan, suara lembut sayup-sayup seakan terselubung kabut. "Selamat datang," katanya. "Senang sekali melihat kalian di dunia nyata akhirnya."

Kesan pertama Harry adalah seperti melihat se-rangga besar berkilauan. Profesor Trelawney bergerak ke dalam lingkaran cahaya perapian, dan mereka melihat wanita yang sangat kurus, kacamatanya yang lebar memperbesar matanya sampai beberapa kali ukuran normal. Dia memakai selendang tipis berkelap-kelip. Rantai-rantai dan kalung-kalung yang banyak sekali bergantungan di lehernya yang panjang dan kurus, dan lengan serta tangannya dihiasi bermacam gelang dan cincin.

"Duduklah, anak-anakku, duduklah," katanya, dan mereka semua duduk dengan canggung di atas kursi berlengan atau puf. Harry, Ron, dan Hermione duduk mengelilingi meja bundar yang sama.

"Selamat datang di kelas Ramalan," kata Profesor Trelawney, yang duduk di kursi berlengan di depan perapian.

"Namaku Profesor Trelawney. Kalian mung-kin belum pernah melihatku. Menurutku terlalu sering turun ke hiruk-pikuknya sekolah akan meredupkan Mata Batinku."

Tak seorang pun berkomentar atas pernyataan yang luar biasa ini. Profesor Trelawney dengan halus me-rapikan selendangnya dan meneruskan, "Jadi kalian telah memilih mempelajari Ramalan, ilmu yang pa-ling sulit dari semua seni sihir. Aku hams memper-ingatkan kalian dari awal bahwa jika kalian tidak memiliki Penglihatan, hanya sedikit sekali yang bisa kuajarkan kepada kalian. Buku-buku hanya bisa meng-ajari kalian sedikit sekali di bidang ini..." Mendengar ucapannya ini, baik Harry maupun Ron melirik Hermione sambil nyengir. Hermione sendiri kelihatan tercengang mendengar bahwa buku tidak akan banyak membantu dalam pelajaran ini.

"Banyak penyihir wanita dan pria, meskipun berbakat di area ledakan keras dan bau-bauan dan menghilang mendadak, tak sanggup menembus misteri masa depan yang terselubung." Profesor Trelawney melanjutkan, matanya yang besar berkilauan berpindah-pindah dari wajah cemas yang satu ke wajah cemas yang lain. "Ini Bakat yang dianugerahkan hanya kepada sedikit orang. Kau, Nak," katanya mendadak kepada Neville, yang nyaris terjungkal dari kursi bundarnya,

"apakah nenekmu baik-baik saja?"

"Saya rasa begitu," kata Neville dengan suara ge-metar.

"Aku tak akan seyakin itu kalau aku jadi kau, Nak," kata Pofesor Trelawney, cahaya perapian me-mantul dari anting- anting zamrudnya yang panjang. Neville menelan ludah. Profesor Trelawney melanjut-kan dengan tenang, "Kita akan mempelajari metode dasar Ramalan tahun ini. Semester pertama untuk mempelajari cara membaca daun teh. Semester be-rikutnya kita akan maju ke rajah tangan. Ngomong-ngomong, Nak," ujarnya mendadak ke Parvati Patil,

"hati-hati terhadap laki-laki berambut merah."

Parvati kaget memandang Ron, yang persis di bela-kangnya, dan menggeser kursinya menjauh.

"Dalam semester musim panas," Profesor Trelawney melanjutkan, "kita maju lagi ke bola kristal—tapi itu kalau kita sudah menyelesaikan pertanda-api. Sayang-nya, kelas kita akan terganggu di bulan Februari oleh wabah flu berat. Aku sendiri akan kehilangan suara. Dan menjelang Paskah, salah satu dari kita akan meninggalkan kita selamanya."

Keheningan yang sangat menegangkan menyusul pengumuman ini, tetapi Profesor Trelawney kelihatan-nya tidak menyadarinya.

"Nak," katanya kepada Lavender Brown, yang duduk paling dekat dengannya dan mengerut di kursinya, "to-long ambilkan teko teh perak yang paling besar itu."

Lavender, tampak lega, berdiri, mengambil teko besar sekali dari rak dan menaruhnya di atas meja di depan Profesor Trelawney.

"Terima kasih, Nak. Ngomong-ngomong, hal yang sangat kautakutkan—akan terjadi pada hari Jumat, tanggal enam belas Oktober."

Lavender gemetar.

"Sekarang aku ingin kalian berpasangan. Ambil cangkir dari rak, datanglah kepadaku dan aku akan mengisinya. Kemudian duduk dan minumlah; minum sampai tinggal ampasnya yang tersisa. Putar ampas itu di dalam cangkir tiga kali dengan tangan kiri, kemudian balik cangkirnya di atas tatakannya, tunggu sampai tetes terakhir tehnya menitik, kemudian beri-kan cangkirnya pada pasanganmu untuk dibaca. Kalian akan menafsirkan pola yang tampak berdasar-kan halaman lima dan enam buku Menyingkap Kabut Masa Depan. Aku akan berkeliling di antara kalian dan memberi instruksi. Oh, dan kau, Nak...," dia menangkap lengan Neville ketika Neville bangun, "setelah memecahkan cangkir pertamamu, maukah kau memilih yang motifnya biru? Aku suka sekali yang merah jambu."

Benar saja, baru saja Neville tiba di rak cangkir, terdengar denting porselen yang pecah. Profesor Trelawney bergerak gesit mendekatinya, membawa pengki dan sikat, dan berkata,

"Yang biru saja, Nak, kalau kau tak keberatan... terima kasih...."

Ketika cangkir Harry dan Ron sudah diisi, mereka kembali ke meja dan mencoba meminum teh panas itu cepat-cepat. Mereka memutar endapan daun teh-nya seperti yang diinstruksikan Profesor Trelawney, kemudian meniriskannya dan saling bertukar cangkir.

"Nah," kata Ron ketika mereka berdua membuka buku mereka pada halaman lima dan enam. "Apa yang kaulihat di cangkirku?"

"Daun basah cokelat," kata Harry. Asap tebal wangi di dalam ruangan itu membuatnya mengantuk dan merasa bodoh.

"Lapangkan pikiran kalian, anak-anak, dan biarkan mata kalian melihat, melampaui hal-hal duniawi!" seru Profesor- Trelawney menembus keremangan.

Harry berusaha menguasai diri.

"Baik, yang ada di cangkirmu semacam salib go-yah...,"

katanya, sambil memeriksa Menyingkap Kabut Masa Depan.

"Itu berarti kau akan mengalami 'cobaan dan penderitaan'— sori saja—tapi yang itu bisa di-anggap matahari. Tunggu... itu berarti 'kebahagiaan besar'... jadi kau akan menderita, tapi sangat baha-gia..."

"Mata Batinmu perlu diperiksa, menurutku," kata Ron, dan mereka berdua harus menahan tawa ketika Profesor Trelawney memandang ke arah mereka.

"Giliranku..." Ron menatap ke dalam cangkir Harry, dahinya mengernyit. "Ada yang seperti topi pemain boling," katanya.

"Mungkin kau akan bekerja di Ke-menterian Sihir..." Ron memutar cangkir Harry.

"Tapi kalau dari arah sini lebih mirip buah ek... apa artinya?" Dia membaca buku Menyingkap Kabut Masa Depan- nya. "'Rezeki nomplok, emas yang tak disangka-sangka.' Bagus sekali, kau bisa meminjamiku sebagian. Dan di sini," dia memutar cangkir itu lagi, "ada yang mirip binatang. Yeah, kalau itu kepalanya... kelihatannya seperti kuda nil... bukan, biri-biri..."

Profesor Trelawney berputar ketika Harry men-dengus tertawa. "Coba kulihat, Nak," katanya dengan nada mencela kepada Ron, seraya bergegas mendekat dan merebut cangkir itu darinya. Semua anak langsung diam untuk menonton.

Profesor Trelawney mengamati dasar cangkir, me-mutar- mutarnya berlawanan arah dengan jarum jam.

"Elang... Nak, kau punya musuh mematikan."

"Tapi semua orang tahu itu," kata Hermione dalam bisikan keras. Profesor Trelawney memandangnya. "Memang betul," kata Hermione. "Semua orang tahu tentang Harry dan Anda- Tahu-Siapa."

Harry dan Ron menatap Hermione heran bercampur kagum. Mereka belum pernah mendengar Hermione bicara seperti itu kepada seorang guru. Profesor Trelawney memilih tidak menjawab. Dia kembali mengarahkan matanya yang besar ke dalam cangkir Harry dan memutarnya lagi.

"Pentungan... serangan. Astaga, astaga, ini bukan cangkir yang menyenangkan..."

"Saya kira itu topi pemain boling," kata Ron malu.

"Tengkorak... bahaya menghadang, Nak..."

Semua terpaku menatap Profesor Trelawney, yang memutar cangkir itu untuk terakhir kalinya, terpe-rangah, dan kemudian menjerit.

Terdengar denting porselen pecah lagi. Neville me-mecahkan cangkirnya yang kedua. Profesor Trelawney terenyak di sebuah kursi berlengan, tangannya yang berkilauan memegangi dadanya, tepat di atas jantung-nya, matanya terpejam.

"Anakku... kasihan betul kau—tidak—lebih baik tidak kukatakan—tidak—jangan tanya aku..."

"Apa, Profesor?" tanya Dean Thomas segera. Semua anak sudah bangkit berdiri, dan perlahan mereka mengerumuni meja Harry dan Ron, mendekat ke kursi Profesor Trelawney supaya bisa melihat jelas cangkir Harry.

"Nak," mata besar Profesor Trelawney membuka secara dramatis, "di cangkirmu ada Grim."

"Ada apa?" tanya Harry heran, karena grim berarti suram atau seram.

Harry bisa melihat dia bukan satu-satunya yang tidak mengerti. Dean Thomas mengangkat bahu ke-padanya dan Lavender Brown tampak bingung, tetapi hampir semua anak lainnya menekap mulut mereka dengan ngeri.

"Grim, Nak, Grim!" seru Profesor Trelawney, yang kelihatannya shock melihat Harry tidak mengerti. "Anjing hantu raksasa yang menghantui kuburan di halaman gereja! Anakku, itu pertanda—pertanda pa-ling buruk—datangnya kematian!"

Hati Harry mencelos. Anjing di sampul buku Tanda-tanda Kematian di Flourish and Blotts—anjing di ke-remangan Magnolia Crescent.... Lavender Brown me-nekap mulutnya juga. Semua anak memandang Harry; semuanya, kecuali Hermione, yang berdiri dan ber-jalan ke belakang kursi Profesor Trelawney.

"Menurut saya itu tidak seperti Grim," katanya tegas. Profesor Trelawney menatap Hermione dengan ke-tidaksukaan yang semakin memuncak.

"Maafkan kalau aku terus terang, Nak, tapi aku merasakan hanya ada sedikit sekali aura di sekelilingmu. Daya penerimaan yang kecil sekali terhadap resonansi masa depan." Seamus Finnigan memiringkan kepala dari kanan ke kiri.

"Kelihatannya seperti Grim kalau kau melihatnya begini," katanya, dengan mata nyaris terpejam, "tapi lebih mirip keledai dari arah sini," katanya, miring ke kiri.

"Apakah kalian semua sudah selesai memutuskan aku akan mati atau tidak?!" kata Harry, mengejutkan bahkan dirinya sendiri. Sekarang tak ada yang berani memandangnya.

"Kurasa pelajaran kita hari ini cukup sekian saja," kata Profesor Trelawney dengan suara sangat sayup. "Ya... bereskan barang-barang kalian."

Tanpa bicara anak-anak mengembalikan cangkir-cangkir mereka kepada Profesor Trelawney, memasuk-kan kembali buku-buku mereka ke dalam tas, dan menutup tas. Bahkan Ron pun menghindari tatapan Harry.

"Sampai bertemu lagi," kata Profesor Trelawney lemah,

"mudah-mudahan kalian beruntung. Oh, dan kau, Nak..." dia menunjuk Neville, "kau akan ter-lambat pelajaran berikutnya, jadi belajar yang rajin supaya tidak ketinggalan."

Harry, Ron, dan Hermione menuruni tangga Profesor Trelawney dan tangga menara yang berputar-putar tanpa bicara, kemudian berangkat ke pelajaran Trans-figurasi Profesor McGonagall. Lama sekali mereka baru berhasil menemukan kelasnya, sehingga meskipun me-ninggalkan kelas Ramalan lebih awal, mereka tiba di kelas Transfigurasi tepat pada waktunya.

Harry memilih tempat duduk di deretan paling belakang. Dia merasa duduk diterangi lampu sorot terang benderang. Anak-anak yang lain tak henti-hentinya mencuri pandang ke arahnya, seakan dia bisa mati mendadak. Harry nyaris tidak mendengar penjelasan Profesor McGonagall kepada mereka ten-tang Animagi (para penyihir yang bisa berubah menjadi binatang kapan saja mereka mau), dan bah-kan tidak mengawasi ketika Profesor McGonagall mengubah diri di depan mata mereka semua menjadi seekor kucing betina dengan tanda seperti bentuk kacamata mengelilingi matanya.

"Astaga, kenapa sih kalian hari ini?" tanya Profesor McGonagall, berubah menjadi dirinya lagi dengan bunyi plop pelan, dan memandang mereka semua. "Walaupun bagiku tak apa-apa, tapi ini pertama kali-nya transformasiku tidak mendapat aplaus."

Kepala semua anak menoleh menghadap Harry lagi, tetapi tak ada yang bicara. Kemudian Hermione mengangkat tangan.

"Maaf, Profesor, kami baru saja ikut pelajaran Ramalan untuk pertama kalinya, dan kami membaca daun-daun teh, dan..."

"Ah, tentu saja," kata Profesor McGonagall, men-dadak mengernyit. "Tak perlu kaujelaskan lebih pan-jang lagi, Miss Granger. Beritahu aku, siapa di antara kalian yang akan mati tahun ini?"

Semua ternganga memandangnya.

"Saya," kata Harry akhirnya.

"Ah, begitu," kata Profesor McGonagall, menatap tajam Harry dengan mata manik-maniknya. "Kalau begitu kau perlu tahu, Potter, bahwa Sybill Trelawney telah meramalkan-

kematian satu murid setiap tahun sejak dia tiba di sekolah ini. Tak seorang pun dari mereka ada yang sudah mati. Melihat pertanda ke-matian adalah cara favoritnya untuk menyambut mu-rid-murid baru. Aku sebetulnya tak pernah menjelek-jelekkan kolegaku..." Profesor McGonagall berhenti, dan mereka melihat cuping hidungnya telah menjadi putih. Dia meneruskan, dengan lebih tenang, "Ramal-an adalah salah satu cabang sihir yang paling tidak tepat. Aku tak akan menyembunyikan kepada kalian bahwa aku kurang percaya pada Ramalan. Peramal sejati sangat jarang, dan Profesor Trelawney..."

Dia berhenti lagi, kemudian berkata tanpa berbelit-belit,

"Kau tampak sehat sekali bagiku,' Potter, jadi maaf saja kalau kau tidak kubebaskan dari PR hari ini. Jangan khawatir, kalau kau mati, kau tak perlu menyerahkan PR-mu."

Hermione tertawa. Harry merasa sedikit lebih enak. Susah untuk takut pada sejumput daun teh saat dia berada jauh dari kelas Profesor Trelawney yang di-terangi lampu merah remang-remang dan dipenuhi bau wangi memusingkan. Meskipun demikian, tidak semua anak berhasil diyakinkan. Ron masih tampak cemas dan Lavender berbisik, "Tapi bagaimana dengan cangkir Neville?"

Setelah pelajaran Transfigurasi usai, mereka ber-gabung dengan anak-anak yang berduyun-duyun ke Aula Besar untuk makan siang.

"Ron, bergembiralah," kata Hermione, mendorong semangkuk kaldu ke arah Ron. "Kau sudah dengar apa yang dikatakan Profesor McGonagall."

Ron menyendok kaldu ke dalam piringnya dan mengangkat garpunya, tetapi belum juga makan.

"Harry," katanya dalam suara rendah dan serius, "kau tidak melihat anjing hitam di suatu tempat akhir-akhir ini, kan?"

"Aku lihat," kata Harry. "Aku melihatnya pada malam meninggalkan rumah keluarga Dursley"

Garpu Ron jatuh berdenting.

"Mungkin anjing kesasar," kata Hermione kalem. Ron memandangnya seakan Hermione sudah gila.

"Hermione, kalau Harry sudah melihat Grim, itu— itu buruk," katanya. "Pa—pamanku Bilius melihat Grim—dan dia meninggal dua puluh empat jam ke-mudian!"

"Itu kebetulan," kata Hermione ringan, seraya me-nuang jus labu kuning.

"Kau tidak mengerti apa yang kauomongkan!" kata Ron, mulai marah. "Grim membuat sebagian besar penyihir ketakutan setengah mati!"

"Nah, itu dia," sambar Hermione dengan nada menang.

"Mereka melihat Grim dan mati ketakutan. Grim itu bukan pertanda, melainkan penyebab ke-matian! Dan Harry masih bersama kita karena dia tidak cukup bodoh sehingga setelah melihat Grim lalu berpikir, Baik, lebih baik aku meninggalkan dunia fana ini sekarang."

Ron membuka mulut lagi, tapi tak ada suara yang keluar. Hermione sendiri dengan tenang membuka tasnya, mengeluarkan buku Arithmancy-nya, lalu me-nyandarkannya terbuka pada teko jus.

"Menurutku Ramalan sangat tidak jelas," katanya, mencari- cari halaman tertentu. "Terlalu banyak me-nebak-nebak."

"Tak ada yang tak jelas soal Grim di cangkir itu!" kata Ron panas. "Kau tidak seyakin ini waktu memberitahu Harry itu biri-biri," kata Hermione dingin.

"Profesor Trelawney bilang kau tidak memiliki aura yang tepat! Kau tak suka karena kau tidak nomor satu!"

Ron telah membuat Hermione tersinggung. Hermione membanting buku Arithmancy-nya ke meja, keras sekali sehingga serpih-serpih daging dan wortel beter-bangan ke mana-mana.

"Kalau supaya pintar di pelajaran Ramalan berarti aku harus berpura-pura melihat pertanda kematian di sejumput daun teh, aku tak yakin aku mau mem-pelajarinya lebih jauh lagi! Pelajaran itu sampah di-banding Arithmancy-ku!"

Hermione menyambar tasnya dan pergi. Ron mengernyit memandangnya.

"Dia ngomong apa sih?" katanya kepada Harry. "Dia kan belum ikut pelajaran Arithmancy."

Harry senang bisa keluar kastil sesudah makan siang. Kemarin hujan, tetapi hari ini cerah. Langit bersih, abu-abu pucat, dan rumput segar dan basah ketika mereka berjalan untuk ikut pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib mereka yang pertama.

Ron dan Hermione tidak saling tegur. Harry berjalan diam bersama mereka ketika mereka melewati padang rumput yang melandai menuju ke pondok Hagrid di tepi Hutan Terlarang. Baru ketika melihat tiga pung-gung-yang-amat-dikenal di depan mereka, Harry sadar bahwa mereka akan mengikuti pelajaran ini bersama anak-anak Slytherin. Malfoy bicara bersemangat ke-pada Crabbe-dan Goyle, yang terkekeh. Harry cukup yakin apa yang mereka bicarakan.

Hagrid berdiri menunggu murid-muridnya di pintu pondoknya. Dia memakai mantel tikus mondoknya. Fang, anjing besar pemburu babi hutannya, di dekat-nya. Hagrid kelihatannya sudah tak sabar.

"Ayo, ayo, kita mulai!" serunya ketika anak-anak sudah dekat. "Ada kejutan buat kalian hari ini! Pela-jaran istimewa! Semua sudah kumpul? Baik, ikuti aku!"

Sesaat Harry ngeri, mengira Hagrid akan membawa mereka ke dalam Hutan Terlarang. Harry sudah cukup mendapat pengalaman mengerikan di hutan itu untuk seumur hidup. Tetapi ternyata Hagrid berjalan men-jauh dari tepi pepohonan, dan lima menit kemudian, mereka tiba di semacam tempat merumput. Tak ada apa-apa di situ.

"Semua berkumpul dekat pagar di sini!" Hagrid memanggil.

"Bagus—jangan sampai kalian tidak lihat. Nah, yang pertama harus kalian lakukan adalah buka buku kalian..."

"Bagaimana caranya?" tanya Draco Malfoy dingin.

"Eh?" kata Hagrid.

"Bagaimana caranya kami membuka buku kami?" Malfoy mengulangi. Dia mengeluarkan Buku Monster tentang Monster miliknya, yang sudah diikat erat de-ngan seutas tali. Anak- anak yang lain juga mengeluar-kan buku masing-masing. Beberapa, seperti Harry, mengikatnya dengan ikat pinggang; ada yang men-jejalkannya ke dalam tas sempit atau menjepitnya dengan jepitan besar.

"Apa—-apa tak ada yang bisa buka buku kalian?" tanya Hagrid, tampak kecewa sekali. Anak-anak semua menggeleng.

"Kalian harus belai dia," kata Hagrid, seakan hal ini sudah sangat jelas. "Lihat..."

Dia mengambil buku Hermione dan mengoyak Spellotape yang membebatnya. Buku itu mencoba menggigitnya, tetapi Hagrid membelai punggungnya dengan satu jarinya yang besar. Si buku bergidik, kemudian membuka dan menggeletak diam di tangan-nya.

"Oh, bodoh benar kita semua!" cemooh Malfoy. "Kita mestinya membelainya! Kenapa tak terpikir, ya!" "Ku...kupikir buku ini lucu," kata Hagrid bimbang kepada Hermione.

"Oh, lucu sekali!" kata Malfoy. "Sungguh jenaka, memberi kami buku yang mencoba menggigit tangan kami sampai copot!"

"Diam Malfoy," kata Harry tegas. Hagrid tampak terpukul dan Harry menginginkan pelajaran pertama Hagrid ini sukses.

"Baiklah," kata Hagrid, yang kelihatannya kehilang-an pegangan, "jadi... jadi kalian sudah punya buku dan... dan... sekarang kalian butuh Satwa Gaib. Yeah, jadi aku akan ambil sekarang. Tunggu...."

Hagrid meninggalkan mereka, menghilang ke dalam hutan.

"Buset, tempat ini parah benar," kata Malfoy keras-keras.

"Si tolol itu mengajar. Ayahku akan pingsan kalau kuberitahu..."

"Diam, Malfoy," Harry mengulangi.

"Hati-hati, Potter, ada Dementor di belakangmu..."

"Ooooooooh!" pekik Lavender Brown, menunjuk ke depan. Selusin makhluk paling ajaib yang pernah dilihat Harry berjalan ke arah mereka. Tubuh bagian bela-kang, kaki belakang, dan ekor mereka adalah tubuh, kaki, dan ekor kuda. Tetapi bagian depannya memiliki sayap, kepala dan cakar seperti elang raksasa, dengan paruh tajam dan kejam berwarna baja dan mata ber-warna jingga cerah. Cakar kaki depannya sepanjang lima belas senti dan tampak mematikan. Masing-masing binatang itu memakai kalung kulit tebal di sekeliling leher mereka, yang dikaitkan pada rantai panjang, dan ujung semua rantai ini dipegang oleh tangan besar Hagrid, yang masuk ke padang rumput di belakang binatang-

binatang itu.

"Ayo, maju!" serunya, mengguncang rantai-rantai-nya dan mendesak makhluk-makhluk itu ke arah pagar, tempat anak- anak berdiri. Semua mundur se-dikit ketika Hagrid tiba di depan mereka dan me-nambatkan makhluk-makhluk itu di pagar.

"Hippogriff!" seru Hagrid gembira, melambaikan tangan ke arah binatang-binatang itu. "Cantik, kan, mereka?"

Harry bisa melihat apa yang dimaksud Hagrid. Setelah kekagetan awal melihat makhluk setengah-kuda setengah- elang teratasi, kau mulai mengagumi bulu si Hippogriff yang berkilat, yang berubah mulus dari bulu burung ke bulu kuda, masing-masing ber-beda warna. Abu-abu gelap, -perunggu, putih-kelabu agak merah jambu, cokelat berkilat, dan hitam legam.

"Nah," kata Hagrid, menggosok-gosokkan kedua tangannya, wajahnya berseri-seri, "kalian maju sedikit..."

Tak seorang pun mau maju. Meskipun demikian, Harry, Ron, dan Hermione, mendekati pagar dengan hati-hati.

"Nah, hal pertama yang kalian perlu tahu tentang Hippogriff adalah mereka angkuh," kata Hagrid. "Gam-pang tersinggung, Hippogriff-hippogriff ini. Jangan pernah hina Hippogriff, karena dia bisa habisi kalian."

Malfoy, Crabbe, dan Goyle tidak mendengarkan. Mereka bicara bisik-bisik dan Harry punya perasaan tak enak mereka sedang merundingkan bagaimana sebaiknya mengacaukan pelajaran ini.

"Kalian harus selalu tunggu sampai si Hippogriff bergerak lebih dulu," Hagrid meneruskan. "Itu berarti sopan. Kalian berjalan ke arahnya, dan membungkuk, lalu kalian tunggu. Kalau dia balas membungkuk, berarti kalian diizinkan sentuh dia. Kalau dia tidak membungkuk, cepat-cepat kalian pergi, karena kalau kena cakarnya itu sakit sekali.

"Baik, siapa yang mau coba lebih dulu?"

Sebagai jawaban, sebagian besar anak-anak malah mundur. Bahkan Harry, Ron, dan Hermione pun was-was.

Hippogriff-hippogriff itu mengangkat kepala dan mengepakkan sayap kuat mereka. Mereka tampaknya tak suka ditambatkan seperti itu.

"Tak ada yang mau?" tanya Hagrid dengan pan-dangan memohon.

"Aku akan coba," kata Harry.

Terdengar helaan napas di belakangnya dan baik Lavender maupun Parvati berbisik, "Oooh, jangan, Harry, ingat daun tehmu!" Harry mengabaikan mereka. Dia memanjat pagar padang rumput.

"Bagus, Harry!" seru Hagrid. "Baiklah—kita lihat bagaimana kau berkenalan dengan Buckbeak." Buckbeak berarti paruh mencuat.

Hagrid melepas salah satu rantai, menarik Hippo-griff abu- abu menjauh dari yang lain dan melepas kalung kulitnya. Anak-anak lain di balik pagar me-nahan napas. Mata Malfoy menyipit jahat.

"Santai saja, Harry," kata Hagrid pelan. "Kau sudah kontak mata, sekarang usahakan jangan kedip— Hippogriff tidak percaya padamu kalau kau kedip terlalu banyak..."

Mata Harry langsung berair, tetapi dia tidak ber-kedip. Buckbeak telah menolehkan kepalanya yang besar dan tajam dan sekarang memandang Harry dengan satu mata jingganya yang galak.

"Betul," kata Hagrid. "Betul begitu, Harry... seka-rang membungkuk..."

Harry tak ingin menampakkan tengkuknya kepada Buckbeak, tetapi dia melakukan yang diperintahkan Hagrid. Dia membungkuk singkat, kemudian men-dongak.

Si Hippogriff masih memandangnya dengan galak. Dia tidak bergerak.

"Ah," kata Hagrid cemas. "Baiklah—mundur seka-rang, Harry, pelan-pelan saja..."

Tetapi kemudian, betapa terkejutnya Harry, si Hippogriff tiba-tiba menekuk lututnya yang bersisik dan merendah. Tak diragukan lagi, itu caranya mem-bungkuk.

"Bagus sekali, Harry!" kata Hagrid, senang sekali. "Bagus—

kau boleh menyentuhnya! Elus paruhnya, ayo!"

Walaupun Harry merasa upah yang lebih baik adalah diizinkan mundur, dia toh bergerak pelan mendekati si Hippogriff dan mengulurkan tangannya. Dia mengelus-elus paruhnya beberapa kali dan si Hippogriff meme-jamkan matanya dengan santai, seakan menikmatinya.

Anak-anak bertepuk tangan meriah, semua kecuali Malfoy, Crabbe, dan Goyle, yang kelihatan sangat kecewa.

"Baiklah, Harry," kata Hagrid. "Kurasa dia mungkin izinkan kau naik dia!"

Ini sudah melampaui yang diperkirakan Harry. Dia sudah terbiasa naik sapu, tetapi dia tak yakin naik Hippogriff sama dengan naik sapu.

"Kau naik ke situ, persis di belakang sendi sayap," kata Hagrid, "dan hati-hati jangan sampai kaucabut bulunya, dia tidak akan suka..."

Harry meletakkan kakinya di atas sayap Buckbeak dan memanjat ke atas punggungnya. Buckbeak berdiri. Harry tak yakin harus pegangan di mana. Segala sesuatu di depannya tertutup bulu.

"Ayo, terbang!" seru Hagrid, menepuk paha bela-kang si Hippogriff.

Tanpa peringatan, sayap selebar lebih dari tiga se-tengah meter merentang di kanan-kiri Harry. Harry masih sempat memeluk leher si Hippogriff sebelum makhluk itu meluncur ke atas. Sama sekali tidak seperti naik sapu, dan Harry tahu mana yang lebih dia sukai. Sayap si Hippogriff mengepak- ngepak di kanan-kirinya—membuat Harry tak nyaman—setiap kali menyentuh bagian bawah kakinya dan mem-buatnya merasa akan dilontarkan. Bulu yang berkilat itu licin dan susah dipegang, dan Harry tidak berani mencengkeram lebih keras lagi. Alih-alih gerakan mulus Nimbus Dua Ribu, Harry merasa berayun ke depan dan ke belakang ketika kedua kaki belakang si Hippogriff naik dan turun seirama sayapnya.

Buckbeak menerbangkannya mengelilingi padang rumput itu, kemudian menukik kembali ke tanah. Ini bagian yang ditakutkan Harry. Dia mencondongkan tubuhnya ke belakang ketika leher yang licin itu me-rendah. Harry merasa dia akan meluncur jatuh melewati paruh tajamnya, kemudian dia merasakan Hippogriff itu mendarat mantap ketika keempat kaki yang ber-lainan itu menyentuh tanah, dan Harry hanya sempat berpegangan agar tidak jatuh dan duduk tegak lagi.

"Bagus sekali, Harry!" teriak Hagrid, sementara semua anak, kecuali Malfoy, Crabbe, dan Goyle, ber-sorak riuh. "Oke, siapa lagi mau coba?"

Menjadi lebih berani setelah melihat keberhasilan Harry, anak-anak memanjat hati-hati memasuki padang rumput. Hagrid melepas tambatan Hippogriff satu demi satu, dan segera saja anak-anak mem-bungkuk dengan cemas di berbagai tempat di padang rumput. Neville berkali-kali lari mundur dari Hippo-griff-nya, yang tampaknya tak mau menekuk lututnya. Ron dan Hermione berlatih dengan Hippogriff cokelat, sementara Harry menonton.

Malfoy, Crabbe, dan Goyle mengambil alih Buck-beak. Dia telah membungkuk kepada Malfoy, yang sekarang mengelus paruhnya dengan sikap menghina.

"Ini gampang sekali," kata Malfoy melecehkan, cukup keras sehingga Harry bisa mendengarnya. "Aku sudah tahu pasti gampang, kalau Potter bisa me-lakukannya... taruhan, kau tidak berbahaya sama sekali, kan?" katanya kepada si Hippogriff. "Iya kan, makhluk jelek kasar?"

Secepat kilat cakar baja itu menyambar. Malfoy menjerit nyaring dan saat berikutnya, Hagrid bersusah payah memaksa Buckbeak memakai kalung lehernya lagi, sementara Buckbeak berusaha menyerang Malfoy yang tergeletak di rumput, darah merembes melebar di jubahnya.

"Aku hampir mati!" jerit Malfoy, sementara teman-temannya panik. "Aku hampir mati, lihat aku! Dia membunuhku!"

"Kau tidak akan mati!" kata Hagrid yang sudah pucat pasi.

"Tolong ada yang bantu aku—harus bawa dia pergi dari sini..." Hermione berlari membuka pagar, sementara Hagrid mengangkat Malfoy dengan mudah. Saat mereka me-lewatinya, Harry melihat torehan panjang dan dalam di lengan Malfoy. Darahnya memercik ke rerumputan dan Hagrid berlari menggendongnya menaiki padang landai menuju kastil. Sangat terguncang, kelas Pemeliharaan Satwa Gaib mengikuti dengan berjalan. Anak-anak Slytherin ber-teriak-

teriak mengata-ngatai Hagrid.

"Dia harus langsung dipecat!" kata Pansy Parkinson, yang bercucuran air mata.

"Salah Malfoy sendiri!" tukas Dean Thomas. Crabbe dan Goyle menegangkan otot-otot mereka dengan mengancam. Mereka semua menaiki undakan memasuki Aula Depan yang kosong.

"Aku akan melihat apakah dia tidak apa-apa!" kata Pansy dan mereka semua mengawasinya menaiki tangga pualam. Anak-anak Slytherin, yang masih menggerutu menyalahkan Hagrid, menuju ke ruang rekreasi mereka di bawah tanah. Harry, Ron, dan Hermione naik ke Menara Gryffindor.

"Menurutmu apakah dia akan sembuh?" tanya Hermione gugup.

"Tentu saja. Madam Pomfrey bisa menyembuhkan luka dalam sekejap," kata Harry. Harry pernah meng-alami luka- luka yang lebih parah dan disembuhkan secara ajaib oleh matron rumah sakit itu.

"Sungguh sial ada kejadian seperti itu di pelajaran pertama Hagrid, ya," kata Ron cemas. "Gara-gara Malfoy, semua jadi kacau...."

Mereka termasuk yang pertama sampai di Aula Besar untuk makan malam, berharap melihat Hagrid, tetapi dia tak ada.

"Mereka tidak akan memecatnya, kan?" tanya Hermione khawatir, tidak menyentuh daging bistik-nya.

"Sebaiknya tidak," kata Ron, yang juga malas ma-kan.

Harry mengawasi meja Slytherin. Serombongan besar anak-anak berkerumun, kasak-kusuk. Harry yakin mereka mengarang versi mereka sendiri tentang bagaimana Malfoy sampai terluka.

"Yah, kau tak bisa bilang ini bukan hari pertama yang seru," kata Ron muram.

Mereka naik ke ruang rekreasi Gryffindor yang padat setelah makan malam dan mencoba mengerja-kan PR yang diberikan Profesor McGonagall, tetapi ketiganya berulang- ulang berhenti dan memandang ke luar jendela menara.

"Jendela Hagrid terang," kata Harry tiba-tiba. Ron melihat arlojinya.

"Kalau kita bergegas, kita bisa menemuinya, se-karang belum terlalu malam..."

"Aku tak tahu," kata Hermione pelan, dan Harry melihat Hermione mengerlingnya.

"Aku boleh berjalan di halaman," katanya tegas. "Sirius Black belum melewati para Dementor yang berjaga di luar, kan?"

Maka setelah membereskan buku-buku dan alat tulis mereka, ketiganya memanjat keluar lubang lukis-an. Mereka lega tidak bertemu siapa pun dalam perjalanan ke pintu depan, soalnya mereka tak begitu yakin apakah sebetulnya mereka boleh keluar.

Rumput masih basah dan kelihatan hampir hitam dalam temaram senja. Setiba di pondok Hagrid, mereka mengetuk, dan terdengar suara menggeram, "Masuk."

Hagrid sedang duduk, ia mengenakan kemeja biasa tanpa jas di belakang meja kayunya yang tergosok mengilap. Anjing besarnya, Fang, membaringkan kepala di atas pangkuannya. Sekali lihat saja mereka langsung tahu Hagrid sudah minum terlalu banyak. Ada cangkir tinggi hampir sebesar ember di depannya, dan tampak-nya dia kesulitan melihat mereka dengan jelas.

"Ini rekor," katanya sedih, ketika sudah mengenali mereka.

"Rasanya belum pernah mereka punya guru yang cuma bertahan sehari."

"Kau tidak dipecat, kan, Hagrid!" kata Hermione kaget.

"Belum," kata Hagrid merana, meneguk banyak-banyak isi cangkir yang entah apa. "Tapi tinggal soal waktu saja, kan, sesudah Malfoy..."

"Bagaimana dia?" tanya Ron setelah mereka semua duduk.

"Lukanya tidak parah, kan?"

"Madam Pomfrey obati dia sebaik-baiknya," kata Hagrid muram, "tapi Malfoy bilang lengannya masih sakit... diperban... erang-erang..."

"Dia cuma pura-pura," kata Harry segera. "Madam Pomfrey bisa mengobati apa saja. Dia menumbuhkan kembali setengah tulang-tulangku tahun lalu. Dasar Malfoy, menggunakan kesempatan dalam kesempitan."

"Dewan Sekolah sudah diberitahu, tentu," kata Hagrid merana. "Mereka salahkan aku, mulai dengan sesuatu yang terlalu besar. Mestinya Hippogriff untuk belakangan... mulai dengan Cacing Flobber atau apa... kupikir akan jadi pelajaran pertama yang seru... se-mua salahku..."

"Itu salah Malfoy, Hagrid!" kata Hermione berse-mangat.

"Kami saksinya," kata Harry. "Kau sudah bilang Hippogriff menyerang kalau dihina. Salah Malfoy sendiri kalau dia tidak mendengarkan. Kami akan menceritakan kepada Dumbledore apa yang sebenar-nya terjadi."

"Ya, jangan khawatir, Hagrid, kami akan men-dukungmu,"

kata Ron.

Air mata bergulir dari sudut-sudut mata-kumbang Hagrid yang berkerut. Dia meraih Harry dan Ron dan memeluk mereka erat sekali.

"Kau sudah minum terlalu banyak, Hagrid," kata Hermione tegas. Diangkatnya cangkir dari atas meja dan dibawanya keluar untuk dibuang isinya.

"Ah, mungkin dia benar," kata Hagrid, melepas Harry dan Ron. Keduanya langsung terhuyung mun-dur, seraya menggosok-gosok rusuk mereka. Hagrid bangkit dari kursinya dan keluar dengan limbung menyusul Hermione. Mereka mendengar bunyi cebur-an keras.

"Ngapain dia?" tanya Harry cemas, ketika Hermione masuk kembali membawa cangkir kosong. "Memasukkan kepalanya ke tong air," kata Hermione, menyimpan cangkir itu. Hagrid masuk, rambut dan jenggot panjangnya basah kuyup, menyeka air dari matanya.

"Sekarang lebih enak," katanya, menggoyangkan kepalanya seperti anjing, membuat mereka semua basah kecipratan.

"Kalian baik sekali datang tengok aku, aku sungguh..."

Hagrid mendadak berhenti, menatap Harry, seakan baru sadar Harry ada di situ.

"KAU INI NGAPAIN DI SINI, EH?" teriaknya, begitu tiba-tiba sampai mereka terlonjak tiga puluh senti dari lantai. "KAU TIDAK BOLEH JALAN-JALAN SESUDAH GELAP, HARRY! DAN KALIAN BERDUA! KENAPA KALIAN DIAMKAN SAJA!"

Hagrid melangkah mendekati Harry, mencengkeram lengannya, dan menariknya ke pintu.

"Ayo!" kata Hagrid berang. "Kuantar kalian kembali ke sekolah, dan jangan pernah datang temui aku sesudah gelap lagi. Aku tak cukup berharga!"

8. Kaburnya Si Nyonya Gemuk

DALAM waktu singkat Pertahanan terhadap Ilmu Hitam menjadi pelajaran favorit bagi semua anak. Hanya Draco Malfoy dan geng Slytherin-nya yang bicara buruk tentang Profesor Lupin.

"Lihat jubahnya," bisik Malfoy keras-keras kalau Profesor Lupin lewat. "Caranya berpakaian seperti peri-rumah kami." Tetapi anak-anak lain tak peduli dan tak keberatan jubah Profesor Lupin lusuh dan bertambal. Pelajaran-pelajarannya yang berikut sama menariknya dengan yang pertama. Setelah Boggart, mereka belajar tentang Red Cap—Topi Merah, makhluk jahat seperti goblin yang bersembunyi di tempat- tempat pertumpahan darah, di ruang-ruang bawah tanah kastil dan lubang-lubang di medan perang, menunggu kesempatan memukul orang-orang yang tersesat dengan gada. Dari Red Cap mereka maju ke Kappa, penghuni-air mengerikan yang tampangnya seperti monyet ber-sisik, dengan tangan berselaput seperti kaki bebek, gatal ingin mencekik siapa saja yang tanpa sengaja mengarungi kolamnya.

Harry hanya berharap, dia bisa sesenang itu dalam pelajaran-pelajarannya yang lain. Yang paling parah pelajaran Ramuan. Suasana hati Snape belakangan ini maunya membalas dendam, dan semua tahu pasti sebabnya. Kisah tentang si Boggart yang tampil dalam sosok Snape, dan cara Neville mendandaninya dengan gaun neneknya, menyebar cepat sekali di sekolah. Snape tidak menganggapnya lucu. Matanya berkilat berbahaya setiap kali nama Profesor Lupin disebut, dan dia mendera Neville lebih berat dari sebelumnya. Harry juga takut melewatkan jam-jam pelajaran di ruang menara Profesor Trelawney yang sumpek, me-nafsirkan bentuk-bentuk dan simbol-simbol miring. Harry berusaha mengabaikan bagaimana mata besar Profesor Trelawney digenangi air mata setiap kali memandangnya. Harry tak bisa menyukai Profesor Trelawney, meskipun sebagian besar anak bersikap hormat nyaris memuja guru Ramalan ini. Parvati Patil dan Lavender Brown punya kebiasaan baru me-nyambangi ruang menara Profesor Trelawney saat makan siang dan selalu kembali dengan tampang superior menyebalkan, seakan mereka tahu hal-hal yang tidak diketahui anak-anak lain. Mereka juga mulai merendahkan suara setiap kali bicara dengan Harry, seakan Harry sudah akan meninggal.

Tak seorang pun benar-benar menyukai Pemelihara-an Satwa Gaib, yang, setelah pelajaran pertama yang superseru, berubah menjadi sangat membosankan. Hagrid kelihatannya sudah kehilangan percaya diri. Sekarang setiap kali pelajaran, mereka menghabiskan waktu mempelajari bagaimana memelihara Cacing Flobber, makhluk hidup yang paling membosankan.

"Buat apa kita peduli bagaimana memelihara cacing itu?" kata Ron, setelah melewatkan satu jam men-jejalkan cacahan selada ke dalam tenggorokan licin Cacing Flobber.

Meskipun demikian, pada awal Oktober, Harry pu-nya kesibukan lain. Kesibukan yang sangat menye-nangkan sehingga bisa mengimbangi pelajaran-pelajaran lain yang kurang memuaskan. Musim per-tandingan Quidditch sudah dekat, dan Oliver Wood, kapten tim Gryffindor, mengadakan rapat pada suatu Kamis malam untuk mendiskusikan taktik meng-hadapi musim pertandingan baru ini.

Ada tujuh orang di dalam satu tim Quidditch: tiga Chaser, yang bertugas mencetak gol dengan memasuk-kan Quaffle (bola merah seukuran bola sepak) ke dalam salah satu dari ketiga lingkaran di atas setiap tiang setinggi lima belas meter di ujung lapangan; dua Beater, yang dipersenjatai dengan pemukul berat untuk menangkis Bludger (dua bola berat hitam yang berdesing ke segala jurusan menyerang para pemain); Keeper, yang menjaga ketiga tiang gawang, dan Seeker, yang tugasnya paling berat, yaitu menangkap Golden Snitch, bola kecil mungil bersayap seukuran buah kenari yang jika berhasil ditangkap akan mengakhiri pertandingan dan tim si Seeker yang menangkapnya memperoleh angka tambahan seratus lima puluh.

Oliver Wood adalah pemuda gagah berusia tujuh belas tahun, sekarang berada di kelas tujuh, tahun terakhirnya di Hogwarts. Suaranya mengandung nada putus asa ketika dia bicara kepada enam anggota timnya di kamar ganti yang dingin, di ujung lapangan Quidditch yang sudah mulai gelap.

"Ini kesempatan terakhir kita—kesempatan terakhir-ku— untuk memenangkan Piala Quidditch," katanya, sambil berjalan mondar-mandir di depan mereka. Aku akan meninggalkan Hogwarts pada akhir tahun ini. Aku tak akan pernah punya kesempatan lain.

"Gryffindor sudah tujuh tahun tak pernah menang. Oke, memang kita selama ini sial terus—ada yang luka—kemudian turnamen dibatalkan tahun lalu..." Wood menelan ludah, seakan kenangan itu masih membuat tenggorokannya serasa terganjal tangis. "Tetapi kita juga tahu tim kita adalah tim- yang-paling-baik-dan-paling-kuat-di-sekolah,"katanya, meninju telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya, matanya kembali berkilat menggila.

"Kita punya tiga Chaser hebat."

Wood menunjuk Alicia Spinnet, Angelina Johnson, dan Katie Bell.

"Kita punya dua Beater yang tak terkalahkan."

"Jangan begitu, Oliver, kau membuat kami malu," kata Fred dan George Weasley bersamaan, berpura-pura malu.

"Dan kita punya Seeker yang belum pernah gagal memenangkan pertandingan buat kita!" Wood menerus-kan, menatap Harry antara geram dan bangga. "Dan aku," dia menambahkan, seakan baru terpikirkan.

"Kami juga berpikir kau hebat, Oliver," kata George.

"Keeper super," kata Fred.

"Yang kumaksudkan adalah," Wood meneruskan, kembali mondar-mandir, "nama kitalah yang seharus-nya tertera di piala Quidditch itu selama dua tahun terakhir ini. Sejak Harry bergabung dengan tim kita, kupikir piala itu pasti jadi milik kita. Tetapi sampai sekarang belum, dan tahun ini kesempatan terakhir kita untuk akhirnya melihat nama kita di piala itu..." Wood bicara dengan begitu sedih, sehingga bahkan Fred dan George kelihatan bersimpati.

"Oliver, tahun ini tahun kita," kata Fred.

"Kita akan berhasil, Oliver!" kata Angelina.

"Pasti," kata Harry.

Penuh tekad, tim Gryffindor mulai berlatih, tiga kali seminggu. Udara semakin dingin dan sering hujan, malam- malam menjadi lebih gelap. Tetapi lumpur, angin, ataupun hujan sebanyak apa pun tak bisa memudarkan bayangan menyenangkan dalam benak Harry, saat akhirnya mereka berhasil meme-nangkan piala Quidditch perak yang besar itu. Suatu malam, ketika Harry kembali ke ruang rekre-asi Gryffindor sehabis latihan, kedinginan dan kaku, tapi senang dengan jalannya latihan, anak-anak sedang bicara dengan seru.

"Ada apa?" dia menanyai Ron dan Hermione, yang duduk di dua kursi terbaik di sebelah perapian dan menyelesaikan beberapa peta bintang untuk Astro-nomi.

"Akhir minggu Hogsmeade pertama," kata Ron, menunjuk pengumuman yang tertempel di papan pengumuman tua yang sudah bocel-bocel. "Akhir Oktober. Hallowe'en."

"Bagus," kata Fred, yang menyusul Harry masuk lewat lubang lukisan. "Aku perlu ke Zonko. Peluru Bau-ku hampir habis."

Harry mengenyakkan diri di kursi di sebelah Ron, semangatnya yang tinggi langsung surut. Hermione tampaknya bisa membaca pikiran Harry.

"Harry, aku yakin lain kali kau bisa pergi," katanya. "Mereka pasti bisa menangkap Black tak lama lagi, sudah ada orang yang melihatnya sekali."

"Black tak akan begitu bodoh mencoba melakukan sesuatu di Hogsmeade," kata Ron. "Coba tanya McGonagall apakah kau boleh pergi kali ini, Harry. Kesempatan berikutnya mungkin masih lama sekali..."

"Ron!" tegur Hermione. "Harry kan harus tinggal di sekolah..."

"Mana bisa dia jadi satu-satunya anak kelas tiga yang tidak pergi," kata Ron. "Tanya McGonagall dulu, Harry..."

"Yeah, aku akan tanya," kata Harry, mengambil keputusan.

Hermione membuka mulut untuk menentang, tetapi saat itu Crookshanks melompat ringan ke atas pangkuannya. Bangkai labah-labah besar terjuntai dari mulutnya.

"Apa dia harus memakannya di depan kita?" cibir Ron.

"Crookshanks pintar, apa kau menangkap labah-labah itu sendiri?" tanya Hermione.

Crookshanks dengan santai mengunyah labah-labah itu, mata kuningnya menatap Ron dengan kurang ajar.

"Jaga agar dia tetap di situ," kata Ron jengkel, kembali menghadapi peta bintangnya. "Scabbers tidur di dalam tasku." Harry menguap. Dia sudah ingin tidur, tetapi masih harus menyelesaikan peta bintangnya. Dia menarik tasnya, mengeluarkan perkamen, tinta, dan pena bulu, lalu mulai bekerja.

"Kau boleh menyalin punyaku, kalau mau," kata Ron, menamai bintang terakhirnya dengan banyak hiasan dan mendorong petanya ke arah Harry.

Hermione, yang tidak setuju contoh-mencontoh, me-ngerutkan bibir, tapi tidak mengatakan apa-apa. Crookshanks masih memandang Ron tanpa kedip, mengibaskan ujung ekornya yang berbulu lebat. Ke-mudian, tanpa terduga, dia menyerang.

"OYYY!" Ron berteriak, menyambar tasnya, ketika Crookshanks membenamkan empat set cakar tajam ke tas itu, dan mulai mencakar-cakar dengan liar. "PERGI, KUCING GOBLOK!"

Ron mencoba menarik tasnya dari Crookshanks, tetapi kucing itu bertahan, mendesis-desis dan men-cakar-cakar.

"Ron, jangan lukai dia!" jerit Hermione. Semua anak sekarang menonton. Ron mengayunkan tasnya berputar-

putar, Crookshanks masih bertahan me-nempel, dan Scabbers melayang, terlontar keluar...

"TANGKAP KUCING ITU!" teriak Ron, ketika Crookshanks melepaskan diri dari tas, melompat ke atas meja, dan mengejar Scabbers yang ketakutan.

George Weasley menyergap Crookshanks tetapi luput. Scabbers melesat menerobos dua puluh pasang kaki dan meluncur ke bawah lemari laci tua. Crookshanks berhenti, mendekam dengan kakinya yang bengkok dan mulai meraih- raih marah dengan kaki depannya.

Ron dan Hermione bergegas mendatangi. Hermione menyambar Crookshanks pada perutnya dan meng-gendongnya pergi. Ron menelungkup dan dengan susah payah menarik keluar Scabbers pada ekornya.

"Lihat nih!" katanya berang kepada Hermione, menggoyangkan Scabbers di depannya. "Dia cuma tinggal kulit dan tulang! Jauhkan kucingmu dari dia!"

"Crookshanks tidak mengerti perbuatannya itu salah!" kata Hermione, suaranya bergetar. "Semua kucing mengejar tikus, Ron!"

"Ada yang aneh dengan kucing itu!" kata Ron, yang berusaha membujuk Scabbers yang memberontak panik agar mau masuk ke dalam sakunya. "Dia mendengar aku bilang Scabbers ada di dalam tasku!"

"Oh, omong kosong," kata Hermione tidak sabar.

"Crookshanks bisa mengendusnya, Ron, kalau tidak mana mungkin dia..."

"Kucing itu benci sekali pada Scabbers!" kata Ron, tidak memedulikan kerumunan anak-anak yang mulai terkikik geli.

"Scabbers yang lebih dulu ada di sini, dan dia sakit!"

Ron meninggalkan ruang rekreasi dan lenyap me-naiki tangga menuju kamar anak laki-laki.

Ron masih marah pada Hermione esok harinya. Dia nyaris tak bicara kepada Hermione sepanjang pelajaran Herbologi, meskipun dia, Harry, dan Hermione me-nangani Puffapod— sejenis kacang polong—yang sama.

"Bagaimana Scabbers?" Hermione bertanya takut-takut, sementara mereka memetik kacang polong ge-muk merah jambu dari tanaman-tanaman itu, me-ngupasnya, dan memasukkan kacang-kacang polong-nya yang berkilauan ke dalam ember kayu.

"Dia sembunyi di kaki tempat tidurku, gemetaran," kata Ron berang, lemparannya ke ember luput dan kacangnya bertebaran di lantai rumah kaca.

"Hati-hati, Weasley, hati-hati!" teriak Profesor Sprout, ketika kacang-kacang itu mekar menjadi bunga di depan mata mereka.

Berikutnya pelajaran Transfigurasi. Harry, yang sudah bertekad akan bertanya kepada Profesor McGonagall seusai pelajaran, apakah dia boleh pergi ke Hogsmeade bersama teman-temannya, bergabung dengan antrean di depan kelasnya, mencoba memutus-kan bagaimana sebaiknya dia mendesak Profesor McGonagall nanti.

Lavender Brown sedang menangis. Parvati meme-luknya dan menjelaskan sesuatu kepada Seamus Finnigan dan Dean Thomas, yang mendengarkan de-ngan amat serius.

"Ada apa, Lavender?" tanya Hermione cemas, ke-tika dia, Harry, dan Ron mendekat. "Dia mendapat surat dari rumah pagi ini," Parvati berbisik. "Kelincinya, Binky. Mati dibunuh rubah." "Oh," kata Hermione. "Aku ikut berduka cita, Lav-ender."

"Mestinya aku sudah tahu!" kata Lavender tragis. "Kau tahu tanggal berapa hari ini?"

"Eh..."

"Enam belas Oktober! 'Hal yang sangat kautakut-kan, akan terjadi tanggal enam belas Oktober!' Ingat? Dia betul, dia betul!"

Seluruh kelas mengerumuni Lavender sekarang. Seamus menggelengkan kepala dengan serius. Hermione ragu-ragu, kemudian berkata, "Kau—kau takut Binky akan dibunuh rubah?"

"Tidak harus rubah," kata Lavender, mendongak menatap Hermione dengan air mata berlinang, "tapi jelas aku takut dia mati, kan?"

"Oh," kata Hermione. Dia berhenti lagi. Lalu...

"Apakah Binky sudah tua?"

"T-tidak!" isak Lavender. "D-dia masih bayi!"

Parvati mengeratkan pelukannya di bahu Laven-der. "Tapi, kalau begitu, kenapa kau takut dia mati?" tanya Hermione.

Parvati mendelik memandangnya.

"Kita pikir secara logis saja deh," kata Hermione, berbalik menghadapi anak-anak. "Maksudku, Binky tidak mati hari ini, kan. Lavender baru menerima kabarnya hari ini...," Lavender melolong keras "...dan dia tak mungkin sudah takut Binky mati, karena kabar ini merupakan kejutan baginya..."

"Jangan pedulikan Hermione, Lavender," kata Ron keras,

"baginya binatang piaraan orang lain tidak banyak artinya." Profesor McGonagall membuka pintu kelas pada saat itu. Untunglah, karena Ron dan Hermione sudah saling membelalak, siap tempur. Dan ketika memasuki kelas, mereka duduk di kanan-kiri Harry dan tidak saling bicara-sampai pelajaran usai.

Harry masih belum memutuskan apa yang akan dikatakannya kepada Profesor McGonagall ketika bel berbunyi pada akhir pelajaran, tetapi ternyata Profesor McGonagall sendiri yang mengangkat topik Hogsmeade.

"Tunggu sebentar!" panggilnya, ketika anak-anak sudah akan keluar. "Karena kalian semua di asramaku, kalian harus menyerahkan formulir perizinan untuk mengunjungi Hogsmeade kepadaku sebelum Hallowe'en. Tak ada formulir, tak boleh ke desa itu, jadi jangan lupa!"

Neville mengangkat tangan. "Maaf, Profesor, saya—saya rasa formulir saya hi-lang..."

"Nenekmu mengirimkan formulirmu langsung kepadaku, Longbottom," kata Profesor McGonagall. "Rupanya dia berpikir lebih aman begitu. Nah, hanya itu, kalian boleh pergi."

"Tanya dia sekarang," desis Ron kepada Harry.

"Oh, tapi...," Hermione mau melarang, namun...

"Ayo, Harry," kata Ron keras kepala.

Harry menunggu sampai semua anak lain sudah pergi, kemudian mendatangi meja Profesor McGonagall dengan gugup.

"Ya, Potter?"

Harry menarik napas dalam-dalam.

"Profesor, bibi dan paman saya—eh, lupa menanda-tangani formulir saya," katanya.

Profesor McGonagall memandangnya lewat atas kacamata perseginya, tetapi tidak berkata apa-apa. "Jadi—eh, apakah tidak apa-apa—maksud saya, apa-kah boleh saya—saya pergi ke Hogsmeade?" Profesor McGonagall menunduk dan mulai mem-bereskan kertas-kertas di atas mejanya.

"Sayang sekali tidak, Potter," katanya. "Kau sudah dengar apa yang kukatakan tadi. Tak ada formulir, tak boleh ke desa. Begitu peraturannya."

"Tapi—Profesor, bibi dan paman saya—Anda tahu, mereka Muggle, mereka tidak paham tentang—tentang Hogwarts dan macam-macam hal lain," kata Harry, sementara Ron menyemangatinya dengan mengangguk-angguk keras. "Kalau Anda mengizinkan saya pergi..."

"Tapi aku tidak mengizinkan," kata Profesor McGonagall, berdiri dan memasukkan tumpukan kertas-nya dengan rapi ke dalam laci. "Formulir itu jelas menyebutkan bahwa orangtua atau wali-lah yang harus memberi izin." Dia menoleh memandang Harry, dengan ekspresi aneh di wajahnya. Rasa kasihankah itu? "Maaf, Potter, tapi itu keputusan terakhirku. Sebaiknya kau bergegas, kalau tak mau terlambat pelajaran berikut-nya."

Tak ada yang bisa dilakukan. Ron mengatai-ngatai Profesor McGonagall, membuat Hermione sangat sebal. Hermione menampakkan ekspresi "lebih-baik-begini" yang membuat Ron semakin marah, dan Harry terpaksa menahan perasaan mendengar semua anak di kelasnya menggebu-gebu membicarakan apa yang mula-mula akan mereka lakukan begitu mereka tiba di Hogsmeade.

"Masih ada pesta," kata Ron, berusaha menyenangkan Harry. "Ingat, kan, pesta Hallowe'en, malamnya."

"Yeah," kata Harry, muram, "bagus."

Pesta Hallowe'en selalu asyik, tetapi akan lebih asyik lagi kalau dia datang ke pesta itu setelah seharian di Hogsmeade bersama semua temannya. Apa pun yang diucapkan teman- temannya tak ada yang membuatnya merasa senang karena akan ditinggalkan sendirian. Dean Thomas, yang lihai menggunakan pena bulu, menawarkan diri untuk memalsu tanda tangan Paman Vernon di formulir, namun karena Harry telah mengata-kan kepada Profesor McGonagall bahwa formulirnya belum ditandatangani, tawaran ini tak ada gunanya. Ron setengah-hati menyarankan Jubah Gaib, tapi Hermione langsung memprotes usul ini, dengan meng-ingatkan Ron bahwa Dumbledore telah memberitahu mereka bahwa Dementor bisa melihat menembus Jubah Gaib. Percy-lah yang mengucapkan kata-kata yang mungkin paling sedikit bisa membantu.

"Mereka membesar-besarkan tentang Hogsmeade. Percaya deh, Harry, Hogsmeade tidak sehebat itu," katanya serius.

"Memang sih toko permennya oke juga, tapi Zonko's Joke Shop—yang menjual barang-barang lelucon—sebetulnya berbahaya, dan ya, Shriek-ing Shack—Gubuk Jerit—layak dikunjungi, tapi, Harry, selain itu, kau tidak rugi apa-apa."

Pada pagi hari Hallowe'en, Harry bangun bersama yang lain dan turun untuk sarapan dengan perasaan amat tertekan, meskipun dia berusaha bersikap wajar.

"Nanti kami bawakan banyak permen dari Honeydukes,"

kata Hermione, yang kasihan sekali pada Harry.

"Yeah, banyak sekali," kata Ron. Dia dan Hermione akhirnya melupakan perseteruan mereka tentang Crookshanks ketika sama-sama menghadapi kekecewa-an Harry.

"Jangan mengkhawatirkan aku," kata Harry dengan suara yang diharapkannya tak peduli. "Sampai ketemu di pesta. Selamat bersenang-senang."

Harry mengantar mereka sampai ke Aula Depan. Filch, si penjaga sekolah, berjaga di belakang pintu, mencocokkan nama-nama pada daftar panjang, meng-awasi setiap wajah dengan curiga, dan memastikan tak ada yang menyelundupkan anak yang seharusnya tak boleh pergi.

"Tinggal di rumah, Potter?" teriak Malfoy, yang berdiri dalam antrean bersama Crabbe dan Goyle. "Takut melewati Dementor?"

Harry tidak mengacuhkannya dan sendirian menaiki tangga pualam, menyusuri koridor-koridor sepi, dan kembali ke Menara Gryffindor.

"Kata kunci?" kata si Nyonya Gemuk, yang ter-sentak dari tidur-ayamnya.

"Fortuna Major," kata Harry tanpa gairah.

Lukisan mengayun terbuka dan Harry memanjat lubangnya memasuki ruang rekreasi. Ruang itu di-penuhi anak-anak kelas satu dan dua yang ramai mengobrol dan beberapa anak dari kelas lebih tinggi yang rupanya sudah terlalu sering mengunjungi Hogsmeade, sehingga daya tariknya telah berkurang.

"Harry! Harry! Hai, Harry!"

Colin Creevey-lah yang memanggilnya, anak kelas dua yang sangat mengagumi Harry dan tak pernah melewatkan kesempatan bicara dengannya.

"Kau tidak ke Hogsmeade, Harry? Kenapa tidak? Hei...," Colin memandang teman-temannya dengan bergairah, "kau boleh ke sini dan duduk bersama kami, kalau kau mau, Harry!"

"Eh—tidak, terima kasih, Colin," kata Harry, yang sedang tak ingin dikelilingi banyak orang yang me-mandang bekas luka di dahinya dengan penasaran. "Aku—aku harus ke perpustakaan, ada tugas yang harus kuselesaikan."

Setelah itu, tak ada pilihan lain baginya kecuali berbalik dan keluar lewat lubang lukisan lagi.

"Buat apa membangunkanku kalau begitu?" si Nyonya Gemuk meneriaki Harry yang berjalan men-jauh.

Harry berjalan lesu ke perpustakaan, tetapi setengah jalan dia berubah pikiran. Dia sedang malas bekerja. Dia berbalik dan langsung berhadapan dengan Filch, yang rupanya baru melepas rombongan terakhir yang akan mengunjungi Hogsmeade.

"Sedang apa kau?" gertak Filch curiga.

"Tidak sedang apa-apa," kata Harry jujur.

"Tidak sedang apa-apa!" sembur Filch, rahangnya bergetar tidak menyenangkan. "Bohong! Mengendap-endap sendirian! Kenapa kau tidak di Hogsmeade membeli Peluru Bau dan Bubuk Sendawa dan Cacing Desing seperti teman-temanmu lainnya yang menye-balkan?"

Harry mengangkat bahu.

"Kembali ke ruang rekreasi! Kau seharusnya ada di sana!" bentak Filch, dan dia melotot sampai Harry sudah lenyap dari pandangan.

Tetapi Harry tidak kembali ke ruang rekreasi, dia menaiki tangga sambil berpikir-pikir akan ke kandang burung hantu untuk menengok Hedwig. Dia sedang berjalan menyusuri koridor ketika terdengar suara dari salah satu ruangan,

"Harry?"

Harry berbalik untuk melihat siapa yang bicara dan melihat Profesor Lupin, yang melongok dari pintu kantornya.

"Sedang apa kau?" tanya Lupin, dengan nada yang sangat berbeda dari Filch. "Di mana Ron dan Hermione?"

"Hogsmeade," kata Harry, dengan suara yang di-usahakannya sebiasa mungkin.

"Ah," kata Lupin. Dia merenung menatap Harry sesaat.

"Bagaimana kalau kau mampir dulu ke kan-torku? Aku baru saja menerima kiriman Grindylow untuk pelajaran kita berikutnya."

"Kiriman apa?" tanya Harry.

Dia mengikuti Lupin memasuki kantornya. Di sudut berdiri tangki air besar. Tampak makhluk hijau pucat dengan tanduk runcing menempelkan wajah ke kaca tangki sambil mengerut- ngerutkan wajahnya itu dan melemaskan jari-jarinya yang panjang dan kurus.

"Setan air," kata Lupin, seraya menatap si Grindylow. "Kita tak akan mendapat banyak kesulitan dengan dia, dibanding dengan Kappa. Triknya adalah melepas cengkeramannya. Kaulihat, kan, jari-jarinya yang luar biasa panjang? Kuat, tapi rapuh, gampang patah."

Si Grindylow menyeringai memamerkan giginya yang hijau, lalu membenamkan diri dalam libatan ganggang di sudut.

"Mau teh?" Lupin menawari, memandang berke-liling mencari teko tehnya. "Aku baru mau membuat teh."

"Baiklah," kata Harry canggung. Lupin mengetuk teko dengan tongkatnya dan kepul-an asap mendadak muncul dari ceratnya.

"Duduklah," kata Lupin, seraya membuka tutup kaleng berdebu. "Aku cuma punya teh celup—tapi kurasa kau sudah muak dengan daun-daun teh?"

Harry menatapnya. Mata Lupin bersinar. "Bagaimana Anda bisa tahu tentang itu?" tanya Harry.

"Profesor McGonagall yang memberitahuku," kata Lupin, mengangsurkan cangkir teh yang sudah gompal kepada Harry.

"Kau tidak cemas, kan?"

"Tidak," jawab Harry.

Sesaat dia berpikir akan memberitahu Lupin tentang anjing yang dilihatnya di Magnolia Crescent, tetapi akhirnya membatalkannya. Dia tak ingin Lupin meng-anggapnya pengecut, apalagi karena Lupin sudah ber-anggapan dia tak bisa menghadapi Boggart.

Pikiran Harry rupanya tercermin di wajahnya, ka-rena Lupin bertanya, "Ada yang membuatmu cemas, Harry?"

"Tidak," Harry berbohong. Dia menghirup tehnya sedikit dan mengawasi si Grindylow yang mengacung-acungkan tinju kepadanya. "Ya," katanya tiba-tiba sambil menaruh cangkir tehnya di atas meja Lupin. "Anda ingat hari kita melawan Boggart?"

"Ya," kata Lupin lambat-lambat.

"Kenapa Anda tidak memberi saya kesempatan me-lawannya?" Harry mendadak bertanya.

Lupin mengangkat alisnya. "Menurutku sudah jelas, kan, Harry" jawabnya, kedengarannya heran.

Harry yang mengira Lupin akan membantah tuduh-annya, tercengang. "Kenapa?" tanyanya lagi.

"Yah," kata Lupin, mengernyit sedikit, "aku men-duga jika si Boggart berhadapan denganmu, dia akan berubah bentuk menjadi Lord Voldemort."

Harry terbelalak. Bukan hanya dia sama sekali tak mengira jawabannya begini, tetapi juga karena Lupin telah menyebut nama Voldemort. Satu-satunya orang yang pernah didengar Harry mengucapkan nama ini (kecuali dia sendiri) adalah Profesor Dumbledore.

"Rupanya aku keliru," kata Lupin, masih menger-nyit memandang Harry. "Waktu itu aku beranggapan tidak baik jika Voldemort menjelma di ruang guru. Kubayangkan anak- anak akan panik."

"Memang awalnya yang terpikir oleh saya adalah Voldemort," kata Harry jujur. "Tetapi kemudian saya— saya teringat Dementor."

"Begitu," kata Lupin, berpikir-pikir. "Wah, wah... aku terkesan." Dia tersenyum kecil melihat keheranan di wajah Harry "Itu menandakan bahwa yang paling kautakuti adalah— ketakutan itu sendiri. Sangat bijak-sana, Harry." Harry tak tahu harus mengatakan apa atas komentar ini, maka dia menghirup tehnya lagi.

"Jadi selama ini kau berpikir aku menganggapmu tidak cukup mampu melawan Boggart?" tanya Lupin tajam.

"Yah... begitulah," kata Harry. Mendadak dia me-rasa jauh lebih berbahagia. "Profesor Lupin, Anda tahu Dementor itu..."

Perkataannya terpotong oleh ketukan di pintu.

"Masuk," seru Lupin.

Pintu terbuka, dan Snape masuk. Dia membawa piala yang masih mengepulkan asap, dan langsung berhenti ketika melihat Harry mata hitamnya me-nyipit.

"Ah, Severus," kata Lupin, tersenyum.

"Terima kasih banyak. Bisakah kautinggalkan di meja ini?" Snape meletakkan piala berasap itu di meja, mata-nya menatap Harry dan Lupin bergantian.

"Aku baru menunjukkan Grindylow-ku kepada Harry," kata Lupin ramah, sambil menunjuk tangki.

"Menarik sekali," kata Snape, tanpa memandang tanki. "Ini harus langsung diminum, Lupin."

"Ya, ya, sebentar lagi," kata Lupin.

"Aku membuat sepanci penuh," Snape melanjutkan. "Kalau kau perlu lagi."

"Besok mungkin aku harus minum lagi. Terima kasih banyak, Severus."

"Sama-sama," kata Snape, tetapi tatapannya tak disukai Harry. Snape mundur meninggalkan ruangan, tanpa senyum dan waspada. Harry memandang piala itu dengan penasaran. Lu-pin tersenyum.

"Profesor Snape telah berbaik hati membuatkan ramuan untukku," katanya. "Aku tak begitu pandai merebus ramuan dan ramuan yang ini rumit sekali." Dia mengangkat piala dan mengendusnya. "Sayang, gula membuatnya tak berguna," dia menambahkan, meminumnya seteguk dan bergidik.

"Kenapa...?" Harry bertanya. Lupin menatapnya dan menjawab pertanyaannya yang tak selesai.

"Belakangan ini aku merasa kurang sehat," katanya.

"Ramuan ini satu-satunya yang bisa membantu. Aku beruntung sekali bekerja di sini dan berkawan dengan Snape. Tak banyak penyihir yang mampu membuat ramuan ini."

Profesor Lupin minum seteguk lagi dan Harry ingin sekali menepis piala itu dari tangannya. "Profesor Snape sangat tertarik pada Ilmu Hitam," celetuk Harry. "Oh ya?" kata Lupin, tampaknya cuma tertarik sedi-kit, sementara dia meminum ramuannya seteguk lagi.

"Ada yang bilang...," Harry ragu-ragu, kemudian meneruskan dengan nekat, "ada yang bilang dia akan melakukan apa saja untuk bisa menjadi guru Pertahan-an terhadap Ilmu Hitam."

Lupin menghabiskan isi pialanya dan mengerutkan wajahnya.

"Menjijikkan," komentarnya. "Nah, Harry aku harus kembali bekerja. Kita ketemu lagi di pesta nanti."

"Baiklah," kata Harry, menaruh cangkir tehnya yang kosong. Piala kosong itu masih berasap.

"Nah, ini semuanya," kata Ron. "Kami bawa sebanyak kami bisa."

Permen berwarna-warni cemerlang dituang ke pangkuan Harry. Saat itu senja hari, dan Ron serta Hermione baru saja muncul di ruang rekreasi. Wajah mereka kemerahan diterpa angin dingin dan kelihatan-nya bahagia sekali.

"Trims," kata Harry, memungut sebungkus kecil permen Merica Setan yang berwarna hitam. "Seperti apa Hogsmeade? Ke mana saja kalian?"

Kalau dari ceritanya, rupanya mereka ke mana-mana. Dervish and Banges, toko peralatan sihir, Zonko's joke Shop, dan ke tempat minum Three Broomsticks— Tiga Sapu—untuk minum secangkir Butterbeer panas berbuih, dan masih ke banyak tempat lagi.

"Kantor posnya, Harry! Kira-kira dua ratus burung hantu, semua duduk di rak-rak, semuanya memakai kode warna, tergantung maumu, berapa lama suratmu harus tiba di tempat tujuan!"

"Honeydukes jual permen baru. Mereka membagi-kan gratis untuk icip-icip, ini masih ada sedikit, li-hat..."

"Kami mengira kami melihat gergasi, betul, ada segala macam makhluk di Three Broomsticks..." "Sayang kami tak bisa membawakan Butterbeer, betul-betul menghangatkan badan..."

"Kau tadi ngapain?" tanya Hermione ingin tahu. "Bikin PR?"

"Tidak," jawab Harry. "Lupin mengajakku minum teh di kantornya, dan kemudian Snape datang..." Dia menceritakan segalanya tentang piala berasap.

Mulut Ron ternganga. "Lupin meminumnya?" tanyanya terperangah. "Apa dia gila?"

Hermione melihat arlojinya.

"Lebih baik kita turun sekarang, lima menit lagi pesta mulai..." Mereka bergegas keluar melewati lubang lukisan, masih membicarakan Snape.

"Tapi kalau dia—kau tahu—kalau dia mencoba— meracuni Lupin—dia tak akan melakukannya di depan Harry."

"Yeah, mungkin," kata Harry, ketika mereka tiba di Aula Depan, lalu menyeberang ke Aula Besar. Aula itu didekorasi dengan ratusan labu kuning berisi lilin-lilin menyala, awan- awan yang terdiri atas kelelawar-kelelawar hidup yang beterbangan dan pita-pita jingga manyala, yang melayang- layang melintang di langit-langit mendung seperti ular air berwarna cemerlang.

Makanannya enak sekali. Bahkan Hermione dan Ron, yang sudah kekenyangan makan permen Honey-dukes, tak cukup hanya sekali mengambil semua jenis makanan yang tersaji. Harry berulang-ulang me-ngerling meja guru. Profesor Lupin tampak ceria dan sehat. Dia sedang bicara menggebu-gebu kepada Profesor Flitwick, guru Jimat dan Guna-guna yang bertubuh mungil. Harry mengalihkan pandangannya ke tempat Snape duduk. Apakah dia cuma mem-bayangkannya atau benarkah mata Snape terarah kepada Lupin lebih sering dari sewajarnya?

Pesta diakhiri dengan hiburan yang ditampilkan oleh para hantu Hogwarts. Mereka bermunculan dari dinding dan meja- meja, lalu melakukan formasi mela-yang. Nick si Kepala- Nyaris-Putus, si hantu Gryffindor, mendapat sambutan meriah ketika mem-peragakan pemenggalan kepalanya sendiri yang gagal.

Malam itu sangat menyenangkan, sehingga keriang-an Harry bahkan tidak tercemar oleh Malfoy, yang berteriak dari seberang ruangan ketika mereka semua meninggalkan aula,

"Para Dementor kirim salam hangat, Potter!"

Harry, Ron, dan Hermione bersama anak-anak Gryffindor lain menyusuri jalan yang sama menuju ke Menara Gryffindor. Tetapi ketika mereka tiba di koridor yang di ujungnya ada lukisan si Nyonya Gemuk, tempat itu sudah penuh sesak dengan anak-anak.

"Kenapa tak ada yang masuk?" tanya Ron penasar-an. Harry menyipitkan mata, memandang melewati kepala anak- anak. Lukisan itu kelihatannya tertutup.

"Minggir, minggir, beri aku jalan," terdengar suara Percy, dan dia menerobos kerumunan dengan lagak penting.

"Kenapa macet? Masa tak ada yang ingat kata kuncinya—

maaf, aku Ketua Murid..."

Kemudian, keheningan melanda, merambat dari anak-anak yang di depan, sehingga seluruh koridor sunyi menegangkan. Mereka mendengar Percy berkata, dengan suara yang mendadak tajam, "Panggil Profesor Dumbledore. Cepat!"

Semua kepala menoleh. Mereka yang berdiri di belakang berjingkat.

"Ada apa?" tanya Ginny, yang baru saja tiba.

Saat berikutnya, Profesor Dumbledore tiba, bergegas menuju lukisan. Anak-anak Gryffindor berimpitan untuk memberinya jalan, dan Harry, Ron, dan Hermione bergerak mendekat untuk melihat ada apa.

"Ya ampun...!" seru Hermione, mencengkeram le-ngan Harry.

Si Nyonya Gemuk sudah menghilang dari lukisan-nya, yang telah disayat-sayat begitu kejam, sehingga irisan kanvasnya bertebaran di lantai; robekan-robekan besar telah direnggutkan sampai lepas dari piguranya.

Dumbledore memandang lukisan yang telah dirusak itu, dan ketika berbalik dengan muram, dia melihat Profesor McGonagall, Lupin, dan Snape bergegas men-datanginya.

"Kita harus mencarinya," kata Dumbledore. "Profesor McGonagall, tolong cepat temui Mr Filch dan minta dia memeriksa semua lukisan di kastil untuk mencari si Nyonya Gemuk."

"Kalian beruntung kalau bisa menemukannya!" kata suara terkekeh.

Peeves si hantu jail melayang naik-turun di atas ke-rumunan dan tampak riang gembira seperti biasanya jika ada musibah atau ketakutan.

"Apa maksudmu, Peeves?" tanya Dumbledore tenang, dan cengiran Peeves berkurang sedikit. Dia tak berani mempermainkan Dumbledore. Maka dia ganti berkata dengan suara licin, yang tak lebih baik dari kekehnya.

"Malu, Yang Mulia. Dia tak mau dilihat orang.

Berantakan sekali. Aku melihatnya berlari menyebe-rangi pemandangan alam di lantai empat, Sir, me-nyelinap-nyelinap di balik pepohonan. Menangis ter-sedu-sedu," kata Peeves riang. "Kasihan," dia me-nambahkan, tapi tak meyakinkan.

"Apakah dia bilang siapa yang melakukannya?" tanya Dumbledore pelan.

"Oh ya, Profesor-Kepala," kata Peeves, dengan gaya seakan memeluk sebuah bom besar. "Dia marah sekali ketika si Nyonya Gemuk tidak mengizinkannya ma-suk." Peeves jungkir-balik dan nyengir kepada Dumbledore dari antara kakinya sendiri. "Galak benar si Sirius Black itu."

Baca Kelanjutannya...

Harry Potter And The Prisioner Of Azkaban

J.K. Rowling

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

1. Pos Burung Hantu

HARRY POTTER adalah anak yang sangat istimewa dalam banyak hal. Misalnya saja, dia paling benci liburan musim panas dibanding waktu-waktu lainnya. Contoh lain lagi, dia ingin sekali mengerjakan PR-nya, tetapi dia terpaksa mengerjakannya pada larut malam secara sembunyi- sembunyi. Dan dia kebetulan juga penyihir.

Saat itu sudah hampir tengah malam, dan dia sedang berbaring telungkup di tempat tidurnya, selimutnya ditarik sampai menutupi kepalanya seperti tenda, satu tangannya memegang senter dan sebuah buku besar bersampul kulit (Sejarah Sihir, oleh Bathilda Bagshot) bersandar terbuka pada bantal. Harry menggerakkan ujung pena bulu-elangnya menyusuri halaman, me-ngernyit sementara dia mencari sesuatu yang bisa membantunya dalam menulis karangannya,

"Pembakar-an Para Penyihir di Abad Keempat Belas Sama Sekali Tak Ada Artinya—jelaskan".

Pena bulunya berhenti di atas paragraf yang ke-lihatannya cocok. Harry mendorong kacamatanya yang bundar ke atas hidungnya, menggerakkan senternya lebih dekat ke buku dan membaca:

Orang-orang non-sihir (lebih dikenal sebagai Muggle) terutama takut akan sihir pada abad pertengahan, tetapi tidak begitu menyadarinya. Pada kesempatan yang jarang terjadi, ketika me-reka menangkap penyihir wanita atau pria, pem-bakaran penyihir soma sekali tak ada efeknya. Si penyihir yang bersangkutan akan mengucapkan Mantra Pembeku- Lidah-Api dan kemudian ber-pura-pura berteriak-teriak kesakitan, sementara me-reka sebetulnya menikmati perasaan nyaman se-perti digelitik. Wendelin si Aneh malah sangat menikmati dibakar, sehingga dia membiarkan diri-nya ditangkap tak kurang dari empat puluh tujuh kali dalam berbagai penyamaran.

Harry menggigit pena bulunya dan tangannya me-nyusup ke bawah bantal mengambil botol tintanya dan segulung perkamen. Pelan-pelan dan sangat hati-hati dia membuka botol tinta, mencelupkan penanya ke dalamnya dan mulai menulis, berhenti sekali-sekali untuk mendengarkan, karena kalau salah satu anggota keluarga Dursley mendengar gesekan penanya saat mereka sedang berjalan ke kamar mandi, Harry mung-kin akan dikurung di lemari bawah tangga selama sisa musim panas ini.

Keluarga Dursley yang tinggal di Privet Drive nomor empat- lah penyebab Harry tidak pernah bisa menikmati liburan musim panasnya. Hanya Paman Vernon, Bibi Petunia, dan anak mereka, Dudley-lah keluarga Harry yang masih hidup. Mereka Muggle dan sikap mereka terhadap penyihir sarha seperti sikap orang-orang di abad pertengahan. Orangtua Harry yang sudah meninggal, keduanya penyihir, tak pernah disebut di bawah atap keluarga Dursley Selama bertahun- tahun, Bibi Petunia dan Paman Vernon berharap bahwa jika mereka menindas Harry sekeras mungkin, mereka akan bisa melenyapkan kekuatan sihir Harry. Betapa marahnya mereka karena mereka gagal, dan sekarang hidup dalam ketakutan kalau-kalau sampai ada yang tahu bahwa Harry telah melewatkan dua tahun terakhir ini di Sekolah Sihir Hogwarts.

Yang bisa dilakukan keluarga Dursley paling-paling hanyalah mengunci kitab mantra, tongkat, panci, dan sapu Harry dalam lemari pada awal musim panas, dan melarangnya bicara dengan tetangga.

Perpisahan dengan kitab mantranya jadi persoalan besar untuk Harry, karena guru-gurunya di Hogwarts memberi banyak tugas untuk diselesaikan selama liburan. Salah satu tugasnya adalah membuat karangan yang sangat tidak menyenangkan mengenai Ramuan Pengerut, untuk guru yang paling tidak di-sukai Harry, yakni Profesor Snape, yang akan senang sekali punya alasan untuk memberi Harry detensi selama sebulan. Itulah sebabnya Harry menggunakan kesempatannya dalam minggu pertama liburannya. Sementara Paman Vernon, Bibi Petunia, dan Dudley berada di halaman depan untuk mengagumi mobil kantor Paman Vernon yang baru (mereka memuji keras-keras supaya semua orang di jalan itu bisa mendengarnya), Harry merayap turun, membuka gembok lemari di bawah tangga, menyambar bebe-rapa bukunya, dan menyembunyikannya di dalam kamarnya. Asal dia tidak meninggalkan bercak tinta di seprai, keluarga Dursley tak perlu tahu bahwa dia mempelajari sihir di malam hari.

Harry menjaga benar agar tidak timbul masalah dengan bibi dan pamannya saat ini, karena mereka sudah marah kepadanya, gara-gara dia menerima te-lepon dari teman sesama penyihir seminggu setelah liburan dimulai.

Ron Weasley, salah satu sahabat Harry di Hogwarts, berasal dari keluarga sihir murni—seluruh keluarganya penyihir. Ini berarti dia tahu banyak hal yang tidak diketahui Harry tetapi belum pernah menggunakan telepon. Celakanya, Paman Vernon-lah yang menerima teleponnya.

"Vernon Dursley di sini." Harry yang kebetulan berada di ruangan saat itu, ngeri mendengar suara Ron menjawab.

"HALO? HALO? BISAKAH ANDA MENDENGAR SAYA? SAYA—INGIN—BICARA—DENGAN— HARRY—POTTER!"

Ron berteriak keras sekali sampai Paman Vernon terlonjak dan memegang gagang telepon seperempat meter dari telinganya, memandangnya dengan cam-puran berang dan kaget.

"SIAPA INI?" Paman Vernon menggerung ke arah corong bicara. "SIAPA KAU?"

"RON—WEASLEY!" Ron balas berteriak, seakan dia dan Paman Vernon bicara dari ujung-ujung lapangan sepak bola yang berlawanan. "SAYA—TEMAN— HARRY—DARI— SEKOLAH—"

Mata kecil Paman Vernon memandang Harry yang terpaku di tempat.

"TIDAK ADA YANG NAMANYA HARRY POTTER DI SINI!" teriaknya, sekarang memegang gagang tele-pon jauh-jauh sejangkauan lengan, seakan takut tele-pon itu bisa meledak.

"AKU TAK TAHU SEKOLAH APA YANG KAUMAKSUD! JANGAN MENG-HUBUNGIKU LAGI! JANGAN BERANI-BERANI MENDATANGI KELUARGAKU!"

Lalu dilemparkannya gagang telepon itu kembali ke pesawatnya, seakan menjatuhkan labah-labah beracun. Kemarahan yang menyusul merupakan salah satu yang terburuk yang dialami Harry.

"BERANI-BERANINYA KAU MEMBERIKAN NOMOR INI KE ORANG-ORANG... ORANG-ORANG SEPERTI KAU!" Paman Vernon meraung, menyembur Harry dengan ludahnya.

Ron rupanya menyadari bahwa dia telah menyulit-kan Harry, karena dia tidak menelepon lagi. Sahabat Harry yang satu lagi, sama-sama dari Hogwarts, Hermione Granger, juga tidak menghubunginya. Harry menduga Ron telah memperingatkan Hermione agar tidak menelepon. Sayang sekali, karena Hermione, murid terpandai di kelas Harry, yang orangtuanya Muggle, tahu betul bagaimana menggunakan telepon, dan mungkin akan berhati-hati dengan tidak mengata-kan bahwa dia bersekolah di Hogwarts.

Maka Harry tidak menerima kabar dari kawan-kawan penyihirnya selama lima minggu, dan musim panas ini berlangsung hampir sama buruknya dengan tahun lalu. Hanya ada satu perbaikan sangat kecil: setelah bersumpah dia tidak akan menggunakannya untuk mengirim surat kepada teman- temannya, Harry diizinkan melepas burung hantunya, Hedwig, di malam hari. Paman Vernon akhirnya menyerah karena kebisingan yang dibuat Hedwig jika dia dikurung di sangkarnya sepanjang waktu.

Harry selesai menulis tentang Wendelin si Aneh dan berhenti untuk mendengarkan lagi. Keheningan dalam rumah yang gelap itu hanya dipecahkan oleh dengkur sepupunya yang supergendut, Dudley di kejauhan. Hari pastilah sudah amat larut. Mata Harry sudah berat kelelahan. Mungkin dia akan menyelesai-kan karangannya besok malam....

Dia menutup kembali botol tintanya, menarik sa-rung bantal tua dari bawah tempat tidurnya, me-masukkan senter, Sejarah Sihir, karangannya, pena, dan botol tinta ke dalamnya dan menyembunyikan semuanya itu di balik papan lepas di bawah tempat tidurnya. Kemudian dia bangkit, menggeliat, dan me-lihat jarum beker menyala-dalam-gelap yang ada di meja di sebelah tempat tidurnya.

Sudah pukul satu pagi. Harry tersentak. Tanpa disadarinya, dia telah berusia tiga belas tahun, selama satu jam penuh.

Satu hal istimewa lain tentang Harry adalah, dia tak pernah menunggu-nunggu datangnya hari ulang tahunnya. Dia belum pernah menerima kartu ulang tahun seumur hidupnya. Keluarga Dursley mengabai-kan dua ulang tahunnya yang terakhir dan dia tak punya alasan menduga mereka akan ingat kali ini. Harry menyeberangi kamarnya yang gelap, me-lewati sangkar Hedwig yang besar dan kosong, menuju jendela yang terbuka. Dia bersandar di ambang jendela, udara malam yang dingin terasa nyaman di wajahnya setelah begitu lama mendekam di bawah selimut. Hedwig sudah dua malam tidak pulang. Harry tidak mencemaskannya—dia sudah pernah pergi selama ini—tetapi dia berharap Hedwig segera kembali. Hedwig-lah satu-satunya makhluk hidup di rumah ini yang tidak berjengit melihatnya.

Harry, meskipun masih termasuk agak kecil dan kurus untuk anak seumurnya, telah bertambah tinggi beberapa senti sejak tahun lalu. Meskipun demikian, rambutnya yang hitam legam masih sama saja seperti dulu: bandel, selalu berantakan lagi, apa pun yang Harry lakukan terhadapnya. Mata di balik kacamata-nya hijau cemerlang, dan di dahinya, tampak jelas di antara rambutnya, terlihat bekas luka berbentuk sambaran kilat.

Dari semua hal luar biasa tentang Harry, bekas luka inilah yang paling istimewa. Bekas luka ini bukan kenang-kenangan dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan orangtua Harry, seperti yang selama ini dikatakan keluarga Dursley, karena Lily dan James Potter tidak meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Mereka dibunuh, dibunuh oleh penyihir hitam yang paling ditakuti selama seratus tahun bela-kangan ini, Lord Voldemort. Harry berhasil selamat dari serangan yang sama, dengan hanya meninggalkan bekas luka di dahinya, ketika kutukan Voldemort, alih-alih membunuhnya, malah berbalik menyerang si pengutuk sendiri. Nyaris binasa, Voldemort melari-kan diri....

Tetapi Harry telah dua kali berhadapan dengannya sejak dia bersekolah di Hogwarts. Mengenang per-temuannya yang terakhir dengan Voldemort, Harry harus mengakui dia beruntung bisa mencapai ulang tahunnya yang ketiga belas.

Dia menatap langit berbintang mencari-cari Hedwig, yang mungkin meluncur kembali kepadanya dengan bangkai tikus menjuntai dari paruhnya, mengharap pujian. Pandangannya menerawang memandang atap-atap, baru beberapa detik kemudian Harry menyadari apa yang dilihatnya.

Seperti siluet dilatarbelakangi bulan keemasan, dan semakin lama semakin besar, ada makhluk besar yang miring aneh, dan dia mengepakkan sayapnya menuju Harry. Harry berdiri bergeming, memandang makhluk itu menukik makin lama makin rendah. Sejenak Harry ragu-ragu, tangannya sudah me-megang gerendel jendela, berpikir-pikir apakah se-baiknya menutupnya saja, tetapi kemudian makhluk ganjil itu melayang melewati salah satu lampu jalan di Privet Drive, dan Harry, menyadari apa itu, lang-sung melompat minggir.

Tiga burung hantu terbang melayang masuk melalui jendela, dua di antaranya memegangi burung hantu ketiga, yang kelihatannya pingsan. Mereka mendarat dengan bunyi pluk pelan di atas tempat tidur Harry, dan burung hantu ketiga, yang besar dan berbulu abu-abu, terguling lalu tergeletak tak bergerak. Ada bungkusan besar terikat di kakinya.

Harry langsung mengenali burung hantu yang ping-san itu—namanya Errol, dan dia milik keluarga Weasley. Buru-buru Harry berlari ke tempat tidur, membuka ikatan tali di kaki Errol, mengambil bung-kusannya, dan kemudian membawa Errol ke sangkar Hedwig. Errol membuka sebelah mata yang muram, mengucapkan uhu lemah satu kali sebagai ucapan terima kasih, dan mulai meneguk air.

Harry berbalik menghadapi dua burung hantu lain-nya. Salah satunya, burung hantu betina besar berbulu seputih salju, adalah Hedwig-nya. Dia juga membawa bungkusan dan kelihatan puas sekali dengan dirinya sendiri. Dia mematuk Harry dengan sayang ketika Harry melepas bebannya,

kemudian terbang menyebe-rang ruangan, bergabung dengan Errol.

Harry tidak mengenali burung hantu ketiga, yang tampan berbulu kecokelatan, tetapi dia langsung tahu dari mana datangnya burung ini, karena selain mem-bawa bungkusan ketiga, burung ini juga membawa surat yang ada lambang Hogwarts-nya. Ketika Harry sudah mengambil kiriman yang dibawanya, si burung hantu menyisiri bulunya dengan lagak sok penting, merentangkan sayap, dan terbang keluar lewat jendela menembus kegelapan malam.

Harry duduk di tempat tidurnya, meraih bungkusan yang dibawa Errol, merobek kertas cokelat pembung-kusnya, dan menemukan hadiah terbungkus kertas emas, serta kartu ulang tahun pertama yang diterima-nya seumur hidupnya. Dua helai kertas terjatuh— sepucuk surat dan guntingan surat kabar. Guntingan surat kabar itu jelas berasal dari koran sihir, Daily Prophet, karena orang-orang dalam foto hitam-putih itu bergerak-gerak. Harry memungut gun-tingan surat kabar itu,

meratakannya, dan membaca:

KARYAWAN KEMENTERI AN SI HI R MEREBUT HADI AH UTAMA

Arthur Weasley, Kepala Kantor Penyalahgunaan Barang- barang Muggle di Kementerian Sihir, berhasil memenangkan Hadiah Utama Undian Tahunan Gal-leon Daily Prophet. Mr Weasley yang gembira memberitahu Daily Prophet, "Kami akan menggunakan uang emas ini untuk melewatkan liburan musim panas di Mesir. Putra sulung kami, Bill, bekerja di sana sebagai penangkal kutukan di Bank Sihir Gringotts."

Keluarga Weasley akan melewatkan sebulan di Mesir, kembali pada awal tahun ajaran baru di Hogwarts. Lima anak keluarga Weasley masih bersekolah di sana.

Harry meneliti foto yang bergerak-gerak itu, dan seringai lebar menghiasi wajahnya ketika dia melihat kesembilan anggota keluarga Weasley melambai-lambai kepadanya dengan penuh semangat, berdiri di depan piramida. Mrs Weasley yang gemuk pendek, Mr Weasley yang jangkung dan agak botak, enam anak laki-laki, dan satu anak perempuan, semua (meskipun tidak kelihatan di foto hitam-putih) be-rambut merah manyala. Ron berada tepat di tengah, jangkung kurus, dengan tikus piaraannya, Scabbers, bertengger di bahunya dan tangannya merangkul adik perempuannya, Ginny Harry berpendapat, tak ada orang lain yang lebih layak memenangkan setumpuk besar uang emas dari-pada keluarga Weasley, yang sangat baik hati dan luar biasa miskin. Dia memungut surat Ron dan membuka lipatannya.

Dear Harry, Selamat ulang tahun! Aku minta maaf soal telepon itu. Kuharap si Muggle tidak memarahimu. Aku tanya Dad, dan dia bilang mungkin seharusnya aku tidak ber-teriak. Asyik sekali di Mesir. Bill membawa kami ber-keliling makam-makam dan kau tak akan percaya kutukan-kutukan yang dilontarkan penyihir-penyihir Mesir kuno kepada mereka. Mum tidak mengizinkan Ginny masuk ke makam terakhir. Banyak kerangka Muggle bertebaran di situ. Muggle-muggle ini rupanya menerobos masuk, lalu kena kutuk, sehingga tumbuh kepala-kepala tambahan dan macam-macam lagi.

Aku tak bisa percaya waktu Dad memenangkan Undian Daily Prophet. Tujuh ratus Galleon!

Sebagian besar uang itu sudah habis untuk libur-an ini, tetapi sisanya masih bisa untuk membeli tongkat baru untukku untuk tahun ajaran baru.

Harry ingat betul peristiwa yang membuat tongkat lama Ron patah. Terjadinya ketika mobil yang di-terbangkan mereka berdua ke Hogwarts menabrak pohon di halaman sekolah.

Kami akan pulang kira-kira seminggu sebelum masuk sekolah dan kami akan ke London untuk membeli tongkatku dan buku-buku baru kami. Ada kemungkinan bertemu kau di sana?

Jangan biarkan Muggle melarangmu! Cobalah datang ke London,

RON

NB: Percy Ketua Murid. Dia menerima surat pemberitahuannya minggu lalu.

Harry memandang foto itu lagi. Percy, yang naik ke kelas tujuh, kelas terakhir di Hogwarts, kelihatan puas sekali. Lencana Ketua Murid-nya disematkan di topi fez yang bertengger gaya di atas rambutnya yang rapi, kacamatanya yang bergagang tanduk berkilau tertimpa sinar matahari Mesir.

Harry sekarang ganti memungut hadiahnya dan membukanya. Di dalamnya ada teropong miniatur yang puncaknya bisa berputar. Ada surat lain dari Ron di bawah hadiah itu.

Harry—ini Teropong-Curiga Saku. Kalau ada orang yang tak bisa dipercaya di dekat-dekat kita, Teropong-Curiga ini akan menyala dan berputar. Kata Bill ini cuma alat tipuan yang dijual sebagai suvenir untuk turis-turis penyihir dan tak bisa diandalkan, soalnya Teropong-Curiga ini menyala terus waktu kami makan malam kemarin. Tapi Bill tidak tahu sih, Fred dan George memasukkan beberapa ekor kumbang ke dalam supnya.

Sampai nanti—

Harry meletakkan Teropong-Curiga Saku di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Teropong itu berdiri diam, memantulkan jarum beker Harry yang menyala. Selama beberapa saat Harry memandangnya dengan senang, kemudian mengambil bungkusan yang dibawa Hedwig.

Di dalam bungkusan ini juga ada hadiah terbungkus kertas kado, kartu, dan surat, dari Hermione.

Dear Harry,

Ron menulis kepadaku dan bercerita tentang teleponnya yang diterima Paman Vernon. Aku benar-benar berharap kau tak apa-apa.

Aku sedang berlibur di Prancis saat ini dan aku tak tahu bagaimana aku akan mengirimkan ini kepadamu—bagaimana kalau mereka membuka-nya di pabean?—topi kemudian Hedwig muncul! Kurasa dia ingin memastikan kau mendapat se-suatu untuk ulang tahunmu kali ini. Aku mem-belikanmu hadiah dengan pesanan lewat-burung-hantu. Ada iklannya di Daily Prophet (aku langganan, senang sekali bisa tahu apa yang terjadi di dunia sihir). Kau sudah lihat foto Ron dan keluarganya seminggu yang lalu? Pasti ba-nyak sekali yang dipelajarinya, aku benar-benar iri—para penyihir Mesir kuno benar-benar me-nakjubkan.

Di sini ada juga sejarah lokal tentang dunia sihir. Aku sudah menulis ulang seluruh karangan-ku untuk Sejarah Sihir dengan memasukkan bebe-rapa hal yang kudapat di sini. Kuharap karangan-ku tidak kepanjangan, sudah dua gulung perka-men lebih panjang daripada yang diminta Profesor Binns.

Ron bilang dia akan berada di London pada minggu terakhir liburan. Kau bisa ke sana? Apa-kah bibi dan pamanmu akan mengizinkanmu? Kalau tidak, kita ketemu di Hogwarts Express tanggal 1 September nanti, ya.

Salam sayang,

Hermione

NB: Ron bilang Percy sekarang Ketua Murid. Pasti Percy senang sekali. Ron kelihatannya tidak begitu senang.

Harry tertawa lagi saat dia menaruh surat Hermione dan memungut hadiahnya. Berat sekali. Karena kenal betul Hermione, Harry yakin isinya buku besar penuh mantra- mantra sulit—tapi ternyata bukan. Jantungnya berdegup kencang ketika dia merobek kertas kadonya dan melihat kotak kulit hitam mengilap dengan huruf-huruf perak tercetak di atasnya: Peralatan Perawatan Sapu.

"Wow, Hermione!" bisik Harry, membuka kancing tarik kotak itu untuk melihat isinya.

Ada sebotol besar Cairan Penggosok Pegangan merek Fleetwood, Gunting Perapi Ranting-Sapu dari perak, kompas kuningan kecil untuk dipasang pada sapu jika akan bepergian jauh, dan Buku Panduan untuk Merawat Sendiri Sapumu.

Selain sahabat-sahabatnya, yang paling dirindukan Harry adalah Quidditch, olahraga paling populer di dunia sihir— sangat berbahaya, sangat menarik, dan dimainkan di atas sapu terbang. Harry kebetulan pemain Quidditch yang sangat andal. Dia anak pa-ling muda seabad ini yang terpilih untuk memperkuat tim Quidditch asrama Hogwarts. Salah satu harta Harry yang paling berharga baginya adalah sapu balapnya, Nimbus Dua Ribu.

Harry meletakkan kembali kotak kulit itu dan mengambil bungkusan terakhir. Dia langsung me-ngenali tulisan berantakan di atas kertas cokelat itu: ini kiriman dari Hagrid, pengawas binatang liar di Hogwarts. Dirobeknya lapisan kertas yang paling atas dan tampak sekilas sesuatu seperti kulit hijau, tetapi sebelum dia bisa membuka seluruhnya, bungkusan itu bergetar aneh, dan entah apa yang ada di dalam-nya, mengatup dengan bunyi keras—seakan punya rahang.

Harry ketakutan. Dia tahu Hagrid tidak akan mengi-riminya sesuatu yang berbahaya dengan sengaja, tetapi pandangan Hagrid tentang hal-hal yang berbahaya tak sama dengan pandangan orang normal. Hagrid pernah bersahabat dengan labah-labah raksasa, mem-beli anjing galak berkepala-tiga dari orang-orang yang ditemuinya di rumah minum, dan menyelundupkan telur naga ilegal ke dalam pondoknya.

Harry menyodok-nyodok bungkusan itu dengan gugup. Isinya mengatup dengan bunyi keras lagi. Harry meraih lampu di meja di sebelah tempat tidur-nya, memegangnya erat-erat dengan satu tangannya, dan mengangkatnya ke atas kepala, siap memukul. Kemudian dia menyentakkan sisa kertas bungkus de-ngan tangan satunya dan menariknya.

Dan jatuhlah—sebuah buku. Harry masih sempat melihat sampulnya yang keren berwarna hijau, dihiasi judul emas besar: Buku Monster tentang Monster, se-belum buku ini berguling berdiri dengan sisinya di bagian bawah, lalu merayap menyamping sepanjang tempat tidur seperti kepiting ajaib.

"Uh, oh," Harry bergumam.

Si buku terjatuh dari tempat tidur dengan bunyi berdebam dan bergerak cepat menyeberangi ruangan. Harry diam-diam mengikutinya. Buku itu bersembunyi di tempat gelap di bawah mejanya. Seraya berdoa semoga keluarga Dursley masih tidur nyenyak, Harry berlutut dan mengulurkan tangan ke bawah meja.

"Ouch!"

Si buku mengatup keras menjepit tangannya, dan kemudian bergerak melewatinya, masih merayap dengan sampulnya. Harry berbalik panik, melempar tubuhnya ke depan dan berhasil menindih buku itu. Paman Vernon mendengkur keras di kamar sebelah.

Hedwig dan Errol .menonton dengan penuh minat ketika Harry memiting buku yang memberontak da-lam dekapannya, bergegas ke lemari berlacinya, me-narik keluar ikat pinggang, yang dipasangnya erat-erat di sekeliling buku. Si Buku Monster bergetar marah, tetapi dia tak bisa lagi melangkah dan me-ngatup, maka Harry melemparkannya ke tempat tidur dan meraih kartu Hagrid.

--+++++--

Dear Haryy dan Ron,

Bagaimana kalau kalian minum teh denganku sore ini sekitar pukul enam? Aku akan jemput kalian di kastil. TUNGGU AKU DI AULA DEPAN. KALIAN TIDAK BOLEH KELUAN SENDIRI

Salam,

Hagrid

--+++++--

Harry merasa aneh sekali bahwa Hagrid menganggap buku yang bisa menggigit akan berguna untuknya, tetapi dia meletakkan kartu Hagrid di sebelah kartu-kartu Ron dan Hermione, nyengir lebih lebar lagi dari sebelumnya. Sekarang tinggal surat dari Hogwarts yang belum dibuka.

Harry melihat surat itu lebih tebal dari biasanya. la membuka amplopnya, menarik keluar lembar perkamen yang pertama dari dalamnya dan membaca:

Mr Potter yang terhormat,

Kami beritahukan bahwa tahun ajaran baru akan dimulai pada tanggal satu September. Hogwarts Express akan berangkat dari Stasiun King's Cross, peron sembilan tiga perempat, pada pukul sebelas.

Murid-murid kelas tiga diizinkan mengunjungi Desa Hogsmeade pada akhir-akhir pekan tertentu. Mohon formulir perizinan terlampir ini diserahkan kepada orangtua atau walimu untuk ditanda-tangani.

Daftar buku untuk kelas tiga terlampir. Hormat saya,

Profesor M. McGonagall

Wakil Kepala Sekolah Harry menarik keluar formulir perizinan ke Hogsmeade dan menatapnya, tak lagi nyengir. Akan menyenangkan sekali mengunjungi Hogsmeade pada akhir pekan. Harry tahu Hogsmeade adalah desa yang sepenuhnya desa sihir dan dia belum pernah sekali pun ke sana. Tetapi bagaimana cara membujuk Paman Vernon dan Bibi Petunia agar mau menandatangani formulir itu?

Harry memandang bekernya. Sudah pukul dua dini hari. Harry memutuskan nanti saja dirinya mencemaskan formulir Hogsmeade, sewaktu bangun tidur. la kem-bali ke tempat tidurnya dan mencoret satu lagi hari di daftar yang dibuatnya sendiri, menghitung hari yang tersisa sebelum dia kembali ke Hogwarts. Ke-mudian dia melepas kacamatanya dan berbaring, matanya terbuka, menatap tiga kartu ulang tahunnya.

Walaupun dia sangat istimewa, pada saat itu perasa-an Harry Potter sama seperti orang-orang lain: senang, untuk pertama kali dalam hidupnya, bahwa hari ini hari ulang tahunnya.

2. Kesalahan Besar Bibi Marge

HARRY turun untuk sarapan keesokan harinya dan mendapati ketiga Dursley sudah duduk mengelilingi meja dapur. Mereka menonton televisi baru, hadiah selamat- datang-berliburan-musim-panas untuk Dudley, yang belakangan ini selalu mengeluhkan keras-keras jarak jauh yang harus ditempuhnya antara lemari es dan televisi di ruang keluarga. Dudley telah melewat-kan sebagian besar musim panas di dapur, mata babinya yang kecil terpaku ke layar dan kelima dagu-nya berguncang-guncang sementara dia makan tiada hentinya.

Harry duduk di antara Dudley dan Paman Vernon, seorang pria besar-gemuk, dengan leher sangat pendek dan kumis sangat tebal. Jangankan mengucapkan se-lamat ulang tahun kepada Harry, tak seorang pun dari mereka bertiga menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka menyadari Harry masuk ke dapur. Tetapi Harry sudah sangat terbiasa dengan hal ini, sehingga dia tidak peduli. Dia mengambil roti panggang dan menengadah menatap pembaca berita di televisi, yang sudah separo jalan membacakan laporan tentang nara-pidana yang kabur.

"...masyarakat diperingatkan bahwa Black mem-bawa senjata dan sangat berbahaya. Telah disediakan saluran telepon khusus, dan siapa yang melihat Black, harus segera melaporkannya."

"Tak perlu menjelaskan kepada kita dia orang tak berguna," dengus Paman Vernon, memandang si nara-pidana dari atas korannya. "Lihat saja keadaannya, kotor sekali! Lihat rambutnya!"

Dia melirik sinis pada Harry. Rambut Harry yang berantakan selama ini selalu sangat menjengkelkan Paman Vernon. Dibandingkan dengan laki-laki di layar televisi, dengan wajahnya yang kurus kering dan cekung dikelilingi rambut kusut-masai sepanjang siku, Harry merasa amat sangat rapi.

Si pembaca berita muncul lagi. "Kementerian Pertanian dan Perikanan hari ini akan mengumumkan..."

"Tunggu!" teriak Paman Vernon, mendelik marah pada si pembaca berita. "Kau tidak memberitahu kami si maniak itu kabur dari mana! Apa gunanya? Orang gila itu bisa muncul dari jalanan saat ini juga!"

Bibi Petunia, yang kurus dan berwajah-kuda, lang-sung memutar tubuh dan memandang tajam ke luar jendela dapur. Harry tahu Bibi Petunia akan senang sekali kalau bisa jadi orang yang menelepon nomor saluran khusus yang disediakan. Dia perempuan pa-ling ingin tahu sedunia dan melewatkan sebagian besar waktunya untuk memata-matai tetangga-tetangganya yang membosankan dan patuh-hukum.

"Kapan mereka akan belajar," kata Paman Vernon, menggebrak meja dengan kepalan tangannya yang ungu besar, "bahwa satu-satunya cara menangani orang-orang semacam itu adalah dengan meng-gantungnya?"

"Betul sekali," timpal Bibi Petunia, yang masih me-nyipitkan mata, memandang menembus sulur buncis tetangga sebelah.

Paman Vernon menyeruput habis tehnya, meman-dang arlojinya, lalu menambahkan, "Lebih baik aku segera berangkat, Petunia. Kereta Marge tiba pukul sepuluh."

Harry, yang pikirannya sedang di loteng bersama Peralatan Perawatan Sapu-nya, kembali jatuh ke bumi dengan perasaan tak enak.

"Bibi Marge?" celetuknya. "D-dia tidak ke sini, kan?"

Bibi Marge adalah kakak Paman Vernon. Meskipun dia tak punya hubungan darah dengan Harry (yang ibunya adalah adik Bibi Petunia), Harry dipaksa memanggilnya "Bibi" seumur hidupnya. Bibi Marge tinggal di daerah pedesaan, dalam rumah dengan halaman luas, tempat dia membiakkan bulldog. Dia jarang menginap di Privet Drive, karena tak tega me-ninggalkan anjing-anjingnya yang berharga, tetapi masing- masing kunjungannya masih terpeta jelas di benak Harry.

Dalam pesta ulang tahun Dudley yang kelima, Bibi Marge memukul tulang kering Harry dengan tongkat-nya supaya Harry tidak mengalahkan Dudley dalam permainan adu-diam. Beberapa bulan kemudian, Bibi Marge muncul di Hari Natal dengan hadiah robot yang diprogram komputer untuk Dudley dan sekaleng biskuit anjing untuk Harry. Dalam kunjungannya yang terakhir, setahun sebelum Harry masuk Hogwarts, Harry tak sengaja menginjak kaki anjing kesayang-annya. Ripper mengejar Harry ke halaman, sampai Harry memanjat pohon dan Bibi Marge menolak me-manggil anjingnya sampai lewat tengah malam. Kalau mengingat kejadian ini, Dudley masih tertawa sampai keluar air mata.

"Marge akan menginap di sini seminggu," gertak Paman Vernon, "dan sementara kita membicarakan hal ini," dia mengacungkan jarinya yang gemuk dengan nada mengancam ke arah Harry, "kita harus meluruskan beberapa hal sebelum aku pergi menjemputnya."

Dudley mencibir dan mengalihkan pandang dari televisi. Menonton Harry diancam dan dimarahi Paman Vernon adalah jenis hiburan favorit Dudley.

"Pertama," gerung Paman Vernon, "jaga lidahmu kalau kau bicara dengan Marge." "Baiklah," kata Harry getir, "asal dia juga menjaga lidahnya kalau bicara kepadaku."

"Kedua," kata Paman Vernon, seakan dia tidak mendengar jawaban Harry, "karena Marge sama sekali tak tahu tentang keabnormalanmu, aku tak ingin ada kejadian aneh—apa pun selama dia di sini. Jaga ting-kahmu, mengerti?"

"Baik, asal dia juga menjaga tingkahnya," kata Harry dengan gigi mengertak.

"Dan ketiga," kata Paman Vernon, mata kecilnya yang kejam sekarang cuma berupa garis di wajahnya yang ungu,

"kami telah memberitahu Marge kau dikirim ke Pusat Penampungan Anak-Anak Kriminal yang Tak Bisa Disembuhkan St Brutus."

"Apa?" pekik Harry.

"Dan kau harus mendukung cerita itu, Nak, kalau tidak... awas," ancam Paman Vernon. Harry duduk diam, wajahnya pucat, berang sekali, memandang Paman Vernon, nyaris tak percaya. Bibi Marge akan datang berkunjung selama seminggu— ini hadiah ulang tahun terburuk yang pernah diberi-kan keluarga Dursley kepadanya, bahkan lebih buruk daripada sepasang kaus kaki butut Paman Vernon yang dulu itu. "Nah, Petunia," kata Paman Vernon, dengan berat bangkit berdiri, "aku berangkat ke stasiun sekarang. Mau ikut, Dudders?"

"Tidak," jawab Dudley, yang perhatiannya kembali ke televisi, setelah Paman Vernon selesai mengancam Harry.

"Duddy harus keren untuk menyambut bibinya," kata Bibi Petunia, merapikan rambut Dudley yang tebal pirang.

"Mummy sudah membelikannya dasi kupu-kupu baru." Paman Vernon menepuk bahu gemuk Dudley.

"Sampai nanti, kalau begitu," katanya, lalu mening-galkan dapur. Harry, yang selama itu duduk seperti sedang hilang kesadaran, mendadak mendapat ide. Meninggalkan roti panggangnya, dia cepat-cepat bangkit dan meng-ikuti Paman Vernon ke pintu depan. Paman Vernon sedang memakai mantel bepergian-nya. "Aku tidak mengajakmu," gertaknya, ketika dia me-noleh dan melihat Harry memandangnya.

"Aku juga tak mau ikut," kata Harry dingin. "Aku ingin tanya sesuatu pada Paman."

Paman Vernon memandangnya dengan curiga.

"Murid-murid kelas tiga di Hog—di sekolahku, di-izinkan mengunjungi desa dari waktu ke waktu," kata Harry.

"Jadi?" tukas Paman Vernon, mengambil kunci mo-bilnya dari kaitan di dekat pinru.

"Formulirnya perlu ditandatangani Paman," kata Harry buru-buru.

"Kenapa aku harus tanda tangan?" cibir Paman Vernon.

"Yah," kata Harry, hati-hati memilih kata-katanya, "susah kan, berpura-pura pada Bibi Marge aku dititip-kan di St... apa tadi..."

"Pusat Penampungan Anak-Anak Kriminal yang Tak Bisa Disembuhkan St Brutus!" gerung Paman Vernon, dan Harry senang mendengar ada kepanikan dalam suara Paman Vernon.

"Betul," kata Harry, dengan kalem mendongak me-mandang wajah lebar dan ungu Paman Vernon. "Namanya panjang dan susah diingat. Aku harus meyakinkan, kan? Bagaimana kalau aku keceplosan?"

"Kau ini rupanya mau dihajar, ya?" raung Paman Vernon, mendekati Harry dengan tinju teracung. Tetapi Harry tetap bertahan.

"Menghajarku tidak membuat Bibi Marge melupa-kan apa yang bisa kuceritakan kepadanya," katanya tegas.

Paman Vernon berhenti, tinjunya masih teracung, wajahnya ungu-kecokelatan, tampak mengerikan sekali.

"Tetapi kalau Paman menandatangani formulir per-izinanku," Harry cepat-cepat meneruskan, "aku ber-sumpah aku akan berpura-pura bersekolah di tempat itu, dan aku akan bertingkah sepergi Mug—seperti anak normal." Harry bisa melihat Paman Vernon mempertim-bangkannya, meskipun giginya menyeringai dan ada nadi yang berdenyut di pelipisnya.

"Baik," geramnya akhirnya. "Aku akan memonitor tingkahmu selama kunjungan Marge. Kalau sampai akhir waktu kunjungannya kau bersikap sopan dan bertahan dengan cerita itu, aku akan menandatangani formulir keparatmu."

Paman Vernon berputar, menarik terbuka pintu depan, dan membantingnya keras-keras sampai salah satu kaca kecil di bagian atasnya terjatuh.

Harry tidak kembali ke dapur. Dia kembali ke atas, ke kamarnya. Kalau dia harus bersikap seperti Muggle yang sesungguhnya, lebih baik mulai dari sekarang. Perlahan dan dengan sedih, dikumpulkannya semua hadiah dan kartu ulang tahunnya dan disembunyikan-nya di bawah papan lepas bersama PR-nya. Kemudian dia mendatangi sangkar Hedwig. Errol kelihatannya sudah pulih. Dia dan Hedwig sedang tidur, kepala mereka tersembunyi di bawah sayap. Harry menghela napas, kemudian menjawil membangunkan keduanya.

"Hedwig," katanya murung, "kau harus jauh-jauh dari sini selama seminggu. Pergilah bersama Errol, Ron akan merawatmu. Aku akan menulis surat padanya, menjelaskan. Dan jangan memandangku begitu"—mata besar Hedwig yang kekuningan menatap Harry dengan pandangan mencela, "ini bukan salahku. Ini satu-satunya cara agar aku bisa diizinkan mengunjungi Hogsmeade bersama Ron dan Hermione."

Sepuluh menit kemudian, Errol dan Hedwig (de-ngan surat Ron terikat di kakinya) terbang keluar jendela dan lenyap dari pandangan. Harry, sekarang merasa merana sekali, menyingkirkan sangkar kosong ke dalam lemari pakaiannya. Tetapi Harry tak bisa murung berlama-lama. Sekejap kemudian Bibi Petunia sudah berteriak menyuruh Harry turun dan bersiap-siap untuk menyambut tamu mereka.

"Lakukan sesuatu dengan rambutmu!" bentak Bibi Petunia ketika Harry sudah tiba di bawah.

Harry tak merasa perlu mengusahakan agar rambut-nya rata menempel ke kepalanya. Bibi Marge senang mengkritiknya, sehingga semakin berantakan dia, se-makin senang Bibi Marge.

Segera saja terdengar derak kerikil di luar ketika mobil Paman Vernon masuk kembali ke halaman, kemudian bantingan pintu mobil, dan langkah-langkah di jalan setapak menuju rumah.

"Buka pintunya!" desis Bibi Petunia kepada Harry. Dengan muram dan enggan, Harry membuka pintu.

Bibi Marge berdiri di beranda. Dia mirip sekali dengan Paman Vernon: besar, gemuk, dan berwajah ungu, dia bahkan berkumis, walaupun tidak selebat kumis Paman Vernon. Satu tangannya memegang koper besar, dan tangan yang lain memegang bull-dog tua yang galak.

"Di mana Dudders-ku?" raung Bibi Marge. "Di mana keponakan tersayangku?"

Dudley berjalan lambat-lambat, karena keberatan badan, menyeberangi ruang depan, rambutnya yang pirang menempel rata ke kepalanya yang besar, dasi kupu-kupu mengintip dari bawah dagunya yang berlapis-lapis. Bibi Marge menyodokkan kopernya yang besar ke perut Harry, membuatnya nyaris terjengkang, menyambar Dudley dalam satu pelukan erat dengan satu tangan dan mengecup pipinya keras-keras.

Harry tahu betul Dudley mau dipeluk-peluk Bibi Marge hanya karena dibayar mahal, dan betul saja, ketika pelukan dilepas, tangan gemuk Dudley meng-genggam selembar uang dua puluh pound yang masih baru.

"Petunia!" teriak Bibi Marge, berjalan melewati Harry seakan Harry cuma tiang kaitan topi. Bibi Marge dan Bibi Petunia saling kecup, atau tepatnya, Bibi Marge membenturkan rahangnya yang besar ke pipi kurus Bibi Petunia.

Paman Vernon sekarang masuk, tersenyum senang sambil menutup pintu. "Teh, Marge?" dia menawari. "Dan untuk Ripper apa?"

"Ripper boleh minum teh dari tatakan cangkirku," kata Bibi Marge, sambil mereka semua berjalan ke dapur, meninggalkan Harry sendirian di ruang depan dengan koper Bibi Marge. Tetapi Harry tidak me-ngeluh. Alasan apa pun agar bisa tidak bersama Bibi Marge baik untuknya. Maka dia dengan susah payah mulai membawa koper itu ke atas ke kamar tamu, sengaja berlama-lama.

Ketika dia kembali ke dapur, Bibi Marge sudah disuguhi teh dan kue buah, dan Ripper sedang men-jilat-jilat minumannya dengan bising di sudut. Harry melihat Bibi Petunia berjengit sedikit ketika cipratan teh dan liur anjing itu menodai lantainya yang bersih. Bibi Petunia membenci binatang.

"Siapa yang merawat anjing-anjing yang lain, Marge?"

tanya Paman Vernon.

"Oh, aku minta Kolonel Fubster mengurus mereka," suara keras Bibi Marge membahana. "Dia sudah pen-siun sekarang, baik baginya kalau ada yang dilakukan. Tapi aku tak tega meninggalkan si Ripper. Kasihan. Dia merana kalau kutinggalkan."

Ripper mulai menggeram lagi ketika Harry duduk. Ini mengarahkan perhatian Bibi Marge kepada Harry untuk pertama kalinya.

"Jadi," katanya, "kau masih di sini, ya?"

"Ya," kata Harry.

"Jangan ngomong 'ya' dengan nada tak tahu terima kasih begitu," Bibi Marge menggeram. "Vernon dan Petunia baik sekali mau membesarkanmu. Aku mana mau. Kau pasti langsung kukirim ke panti asuhan, kalau ditinggalkan di depan pintuku."

Harry sudah ingin sekali bilang dia lebih suka tinggal di panti asuhan daripada dengan keluarga Dursley, tetapi teringat formulir Hogsmeade, dia me-nahan diri. Dia memaksa diri tersenyum.

"Jangan menyeringai padaku!" bentak Bibi Marge.

"Rupanya kau belum berubah sejak terakhir kali aku melihatmu. Kukira sekolah akan membuat kelakuan-mu sedikit lebih baik." Dia meneguk tehnya banyak-banyak, menyeka kumisnya dan berkata, "Kaumasuk-kan ke mana dia, Vernon?"

"St Brutus," jawab Paman Vernon segera. "Institusi paling baik untuk kasus-kasus yang sudah tak ada harapan."

"Begitu," kata Bibi Marge. "Apakah mereka meng-gunakan tongkat di St Brutus?" tanyanya keras ke seberang meja.

"Eh..." Paman Vernon mengangguk singkat di belakang punggung Bibi Marge.

"Ya," kata Harry. Kemudian, untuk lebih meyakin-kan, dia menambahkan, "Sepanjang waktu."

"Bagus sekali," kata Bibi Marge. "Aku tak setuju dengan pendapat yang melarang memukul anak yang pantas dipukul. Hajar sampai kapok, itulah yang diperlukan dalam sembilan puluh sembilan dari se-ratus kasus. Apa kau sering dipukul?"

"Oh, yeah," kata Harry, "sering sekali." Bibi Marge menyipitkan mata.

"Aku masih tetap tak suka cara ngomongmu," kata-nya.

"Kalau kau bisa ngomong begitu santai soal kau dipukuli, jelas mereka tidak cukup keras memukuli-mu. Petunia, aku akan menulis surat kalau jadi kau. Bikin jelas bahwa kau menyetujui penggunaan ke-kerasan dalam kasus anak ini."

Mungkin Paman Vernon khawatir Harry akan me-lupakan kesepakatan mereka, karena mendadak dia membelokkan pembicaraan.

"Dengar berita pagi ini, Marge? Bagaimana dengan tawanan yang lepas itu, eh?"

Sementara Bibi Marge mulai merasa tinggal di rumah sendiri, Harry merindukan hidup di rumah nomor empat tanpa Bibi Marge. Paman Vernon dan Bibi Petunia biasanya mendorong Harry untuk jauh-jauh dari mereka, yang dilakukan Harry dengan senang hati. Bibi Marge, sebaliknya, menginginkan Harry di bawah pengawasannya sepanjang waktu, supaya dia bisa meneriakkan saran-saran untuk perbaikannya. Dia suka membandingkan Harry dengan Dudley, dan senang sekali membelikan Dudley hadiah mahal- mahal seraya mendelik memandang Harry, seakan menan-tangnya untuk bertanya kenapa dia tidak mendapat hadiah juga. Bibi Marge juga tak henti-hentinya me-lontarkan pendapat-pendapat negatif tentang apa yang membuat Harry menjadi anak yang begitu tidak memuaskan.

"Jangan menyalahkan dirimu kenapa anak ini jadi begini, Vernon," katanya sewaktu makan siang pada hari ketiga.

"Kalau ada yang busuk di dalam, tak ada yang bisa kita lakukan."

Harry berusaha berkonsentrasi pada makanannya, tetapi tangannya gemetar dan wajahnya mulai membara saking marahnya. Ingat formulir, dia mengingat-kan dirinya. Pikirkan tentang Hogsmeade. Jangan bilang apa-apa. Jangan bangun...

Bibi Marge meraih gelas anggurnya.

"Itu salah satu prinsip dasar soal keturunan," kata-nya.

"Kau bisa melihatnya setiap kali pada anjing. Kalau ada yang tidak beres dengan induknya, anaknya juga tidak beres..."

Saat itu, gelas anggur yang dipegang Bibi Marge meledak pecah. Serpihan-serpihan gelas beterbangan ke segala arah dan Bibi Marge merepet dan mengejap, wajahnya yang besar kemerahan basah kuyup.

"Marge!" jerit Bibi Petunia. "Marge, kau tak apa-apa?"

"Jangan khawatir," ujar Bibi Marge, menyeka wajah-nya dengan serbet. "Pasti aku terlalu keras memegang-nya. Beberapa hari yang lalu di rumah Kolonel Fubster juga begitu. Tak perlu ribut, Petunia, peganganku memang kuat sekali...." Tetapi baik Bibi Petunia maupun Paman Vernon memandang Harry dengan curiga, maka Harry me-mutuskan lebih baik dia tidak usah makan puding dan kabur dari meja secepat dia bisa.

Di luar dapur, Harry bersandar ke dinding, menarik napas dalam-dalam. Sudah lama sekali dia tidak ke-hilangan kendali dan membuat sesuatu meledak. Ja-ngan sampai hal seperti itu terjadi lagi. Formulir Hogsmeade bukan satu-satunya yang jadi taruhan— kalau terjadi lagi, Harry akan berurusan dengan Ke-menterian Sihir.

Harry masih di bawah umur dan menurut undang-undang sihir, dia dilarang menggunakan sihir di luar sekolah. Riwayat masa lalunya juga tidak bisa dibilang bersih. Baru musim panas lalu dia mendapat peringat-an resmi yang jelas-jelas mengatakan bahwa jika Ke-menterian mendengar ada sihir lagi di Privet Drive, Harry akan dikeluarkan dari Hogwarts.

Didengarnya keluarga Dursley meninggalkan meja dan Harry buru-buru menyingkir ke atas.

Harry melewatkan tiga hari berikutnya dengan me-maksa diri memikirkan Buku Panduan untuk Merawat Sendiri Sapumu setiap kali Bibi Marge mengomelinya. Ini berhasil, meskipun rupanya pandangannya jadi kosong menerawang, karena Bibi Marge mulai me-nyuarakan pendapat bahwa Harry menderita lemah mental.

Akhirnya, setelah lama ditunggu, tibalah malam terakhir Bibi Marge di rumah itu. Bibi Petunia me-masak makan malam yang "wah" dan Paman Vernon membuka beberapa botol anggur. Mereka menikmati sup dan ikan salem tanpa satu kali pun menyebut kesalahan Harry. Saat makan pai lemon, Paman Vernon membuat mereka semua bosan dengan ber-cerita panjang-lebar tentang Grunnings, perusahaan bornya. Kemudian Bibi Petunia membuat kopi dan Paman Vernon mengeluarkan sebotol brandy.

"Kau tergoda, Marge?" Bibi Marge sudah minum agak terlalu banyak anggur. Mukanya yang besar sudah sangat merah. "Sedikit saja kalau begitu," katanya terkekeh. "Se-dikit lagi... tambah lagi sedikit... nah, begitu."

Dudley sedang makan potongan painya yang ke-empat. Bibi Petunia menyeruput kopi dengan ke-lingking mencuat. Harry sebetulnya ingin menghilang ke dalam kamarnya, tetapi mata kecil Paman Vernon menatapnya marah dan dia tahu dia harus ikut duduk di situ sampai acara makan malam berakhir.

"Aah," kata Bibi Marge, mendecakkan bibir dan meletakkan gelas brandy-nya yang sudah kosong. "Makan malamnya enak sekali, Petunia. Biasanya aku cuma menggoreng sesuatu untuk makan malam, dengan dua belas anjing yang harus diurus..." Dia bersendawa keras dan membelai perutnya yang besar. "Maaf saja, tapi aku suka melihat anak yang berukuran sehat," dia meneruskan, mengedip kepada Dudley. "Kau akan jadi laki-laki berukuran-layak, Dudders, seperti ayahmu. Ya, aku mau brandy sedikit lagi, Vernon....

"Kalau anak yang satu ini..."

Dia mengedikkan kepala ke arah Harry, yang lang-sung merasa perutnya kencang. Buku Panduan, pikir-nya cepat- cepat.

"Yang ini mukanya kejam dan kerdil. Anjing juga ada yang begitu. Tahun lalu Kolonel Fubster kusuruh menenggelamkan satu anjing macam itu. Anjing jembel. Lemah. Turunan kelas rendah."

Harry berusaha mengingat halaman dua belas buku-nya: Mantra untuk Menyembuhkan Sapu yang Malas Berbalik.

"Asalnya dari darah, seperti yang kukatakan ke-marin dulu. Darah buruk pasti kelihatan. Bukannya aku menjelek-jelekkan keluargamu, Petunia,"—dia mengelus tangan kurus Bibi Petunia dengan tangan-nya sendiri yang seperti sekop, "tapi adikmu telur yang busuk. Mereka selalu ada dalam keluarga- ke-luarga terbaik. Kemudian dia kabur dengan orang kelas rendah tak berguna, dan ini hasilnya di depan kita."

Harry menatap piringnya, dering aneh memenuhi telinganya. Pegang sapumu erat-erat pada ujungnya, pikir-nya. Tetapi dia tak bisa ingat apa kelanjutannya. Suara Bibi Marge seakan menusuk masuk ke dalam dirinya seperti bor Paman Vernon.

"Si Potter ini," kata Bibi Marge keras-keras, me-nyambar botol brandy dan menuang lagi ke dalam gelasnya, dan ke atas taplak meja, "kalian tidak per-nah cerita padaku apa kerjanya?"

Paman Vernon dan Bibi Petunia tampak tegang sekali. Dudley bahkan mendongak dari painya, me-longo menatap orangtuanya.

"Dia—tidak bekerja," kata Paman Vernon, setengah melirik Harry. "Tak punya pekerjaan."

"Seperti yang kuduga!" kata Bibi Marge, meneguk brandy- nya banyak-banyak dan menyeka dagu dengan lengan bajunya. "Pemalas, pengangguran, yang tak bisa apa-apa..."

"Bukan," kata Harry tiba-tiba. Meja langsung sunyi senyap. Sekujur tubuh Harry gemetar. Belum pernah dia semarah itu.

"TAMBAH BRANDY-NYA!" teriak Paman Vernon, yang sudah pucat pasi. Dia mengosongkan botol brandy ke gelas Bibi Marge. "Kau," dia menggertak Harry. "Pergi tidur sana..."

"Jangan, Vernon," Bibi Marge cegukan, mengacung-kan tangan mencegah, matanya yang kecil merah menatap Harry.

"Ayo, terus, Nak, terus. Bangga akan orangtuamu, ya? Mereka mati dalam kecelakaan mo-bil. Mabuk kukira..."

"Mereka tidak meninggal dalam kecelakaan mobil!" kata Harry, yang sudah berdiri.

"Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil, pem-bohong kecil, dan meninggalkanmu untuk jadi beban saudara mereka yang terhormat dan rajin bekerja!" teriak Bibi Marge, menggelembung saking marahnya. "Kau anak kurang ajar tak tahu terima kasih, yang..."

Tetapi mendadak Bibi Marge berhenti bicara. Sejenak dia seperti kehabisan kata-kata. Kelihatannya dia menggelembung karena kemarahan yang tak bisa di-keluarkan—tetapi dia menggelembung terus. Wajahnya yang besar merah menjadi semakin besar, mata kecil-nya yang merah menjadi menonjol, dan mulutnya tertarik begitu kencang sampai tak bisa bicara. Detik berikutnya, beberapa kancing terlempar lepas dari jaket tweed-nya dan melenting dari dinding—dia menggelembung seperti balon raksasa, perutnya mem-besar sampai ikat pinggangnya lepas, masing-masing jarinya melembung sampai sebesar sosis....

"MARGE!" teriak Paman Vernon dan Bibi Petunia bersamaan, ketika seluruh tubuh Bibi Marge mulai terangkat dari kursinya menuju langit-langit. Dia sudah bulat sekali sekarang, seperti pelampung besar dengan mata babi, dan tangan serta kakinya mencuat aneh sementara dia melayang ke atas, bersuara seperti orang ayan. Ripper berlari masuk, menggonggong liar ribut sekali.

"TIDAAAAAAAK!"

Paman Vernon menyambar salah satu kaki Bibi Marge dan mencoba menariknya ke bawah, tetapi dia sendiri malah nyaris ikut terangkat. Detik berikut-nya, Ripper sudah melompat menggigit kaki Paman Vernon.

Harry kabur dari ruang makan sebelum ada yang bisa mencegahnya, menuju lemari di bawah tangga. Pintu lemari terbuka secara gaib ketika Harry tiba di depannya. Dalam sekejap saja dia sudah menarik kopernya ke pintu depan. Dia berlari ke atas dan melempar diri ke bawah tempat tidurnya, menarik papan yang lepas dan menyambar sarung bantal berisi buku-buku dan hadiah ulang tahunnya. Harry keluar dari kolong tempat tidur, menyambar sangkar kosong Hedwig, dan kembali berlari menuruni tangga menuju kopernya, tepat ketika Paman Vernon muncul dari ruang makan, kaki celananya robek dan berdarah.

"KEMBALI KE SINI!" raungnya. "KEMBALI DAN SEMBUHKAN MARGE!"

Tetapi kemarahan luar biasa menguasai Harry. Dia menendang kopernya sampai terbuka, menarik keluar tongkatnya, dan mengacungkannya kepada Paman Vernon.

"Dia pantas menerimanya," kata Harry, napasnya tersengal.

"Dia pantas begitu. Paman jangan dekat-dekat aku." Tangannya meraba ke belakang, mencari gerendel pintu.

"Aku mau pergi," kata Harry. "Aku sudah tak ta-han."

Dan saat berikutnya, dia sudah berada di jalan yang gelap dan sepi, menarik kopernya yang berat, menenteng sangkar Hedwig.

3. Bus Ksatria

HARRY sudah melewati beberapa jalan sebelum akhirnya dia terpuruk di atas tembok rendah di Mag-nolia Crescent, terengah-engah kelelahan menyeret kopernya. Dia duduk diam, kemarahan masih meme-nuhi dirinya, mendengarkan jantungnya yang ber-degup kencang.

Tetapi setelah sepuluh menit di jalan yang gelap, emosi baru menguasainya: panik. Dari sudut mana pun dia memandangnya, belum pernah dia dalam kesulitan sebesar ini. Dia terdampar, sendirian, di dunia Muggle yang gelap, tak tahu mau ke mana. Dan yang paling parah, dia baru saja menyihir, yang berarti sudah hampir pasti dia akan dikeluarkan dari Hogwarts. Dia jelas telah melanggar Dekrit Pembatas-an bagi Penyihir di Bawah Umur, dia heran petugas Kementerian Sihir belum muncul untuk menangkap-nya di situ. Harry bergidik dan memandang sepanjang jalan Magnolia Crescent. Apa yang akan terjadi padanya? Akankah dia ditangkap, atau hanya sekadar dicampak-kan dari dunia sihir? Dia teringat Ron dan Hermione, dan hatinya semakin berat. Harry yakin bahwa, kriminal atau bukan, Ron dan Hermione pasti bersedia mem-bantunya sekarang, tetapi mereka berdua ada di luar negeri, dan karena Hedwig tak ada, dia tak bisa menghubungi mereka.

Harry juga tak punya uang Muggle. Ada sedikit emas sihir di dalam kantong uang di dasar kopernya, tetapi sisa harta peninggalan orangtuanya tersimpan di ruangan besi di Bank Sihir Gringotts di London. Dia tak akan sanggup menyeret kopernya sampai ke London. Kecuali...

Dia menunduk menatap tongkatnya, yang masih dipeganginya. Kalau dia sudah dikeluarkan (jantungnya sekarang berdegup kencang menyakitkan), sedikit sihir lagi tak apa-apa. Dia punya Jubah Gaib yang diwarisi-nya dari ayahnya—bagaimana kalau dia menyihir kopernya, membuatnya seringan bulu, mengikatkannya ke sapunya, mengerudungi tubuhnya dengan Jubah Gaib, dan terbang ke London? Dengan begitu dia bisa mengambil sisa uangnya di ruangan besi dan... memulai hidupnya sebagai orang yang terbuang. Masa depan yang mengerikan, tetapi dia tidak bisa duduk di tembok ini berlama-lama, kalau tidak dia harus men-jelaskan kepada polisi Muggle kenapa dia berkeliaran di tengah malam buta membawa koper penuh buku sihir dan sapu.

Harry membuka kopernya lagi dan mendorong isi-nya ke pinggir, mencari Jubah Gaib-nya—tetapi se-belum berhasil menemukannya, mendadak dia me-negakkan diri, sekali lagi melihat berkeliling.

Tadi tengkuknya merinding aneh, membuatnya me-rasa sedang diawasi, tetapi jalan itu kosong, dan tak ada lampu yang menyala di salah satu rumah-rumah besar itu.

Dia membungkuk di atas kopernya lagi, tetapi sekali lagi langsung bangun, tangannya mencengkeram tong-katnya. Dia merasakan, bukannya mendengar: ada orang atau sesuatu yang berdiri di celah sempit di ajitara garasi dan pagar di belakangnya. Harry me-nyipit memandang gang gelap itu.

Kalau saja benda itu bergerak, dia akan tahu apakah itu cuma kucing atau—makhluk lain.

"Lumos," gumam Harry dan ada cahaya muncul di ujung tongkatnya, membuatnya silau. Diangkatnya tongkatnya tinggi-tinggi di atas kepala, dan dinding-kerikil rumah nomor dua mendadak bercahaya, pintu garasinya berkilau, dan di antaranya, Harry melihat, cukup jelas, garis bentuk makhluk yang besar sekali, dengan mata lebar berkilat-kilat.

Harry melangkah mundur. Kakinya menabrak kopernya dan dia terhuyung. Tongkatnya melayang ketika dia menjulurkan tangan berusaha menahan jatuhnya, dan tubuhnya mendarat, keras, di selokan.

Terdengar bunyi DUAR keras dan Harry meng-angkat tangan menutupi matanya dari cahaya me-nyilaukan yang mendadak muncul....

Sambil berteriak dia berguling naik lagi di trotoar, tepat pada waktunya. Sedetik kemudian, sepasang ban dan lampu luar biasa besar berdecit berhenti tepat di tempatnya tergeletak tadi. Ketika mendongak, Harry melihat ban dan lampu itu milik bus ungu cerah bertingkat tiga yang muncul begitu saja entah dari mana. Huruf-huruf emas di kaca depannya ber-bunyi The Knight Bus—Bus Ksatria.

Sejenak Harry mengira jangan-jangan dia jadi sinting gara- gara jatuh tadi. Kemudian seorang kondektur memakai seragam ungu melompat turun dari bus dan mulai berteriak- teriak.

"Selamat datang di Bus Ksatria, transportasi darurat untuk para penyihir yang tersesat. Julurkan saja tangan-pemegang- tongkatmu, naiklah ke atas, dan kami bisa membawamu ke mana saja kau ingin pergi. Namaku Stan Shunpike, dan akulah kondekturmu malam ini..."

Si kondektur mendadak berhenti. Dia baru saja melihat Harry yang masih duduk di trotoar. Harry menyambar tongkatnya dan terhuyung bangkit. Se-telah dekat, dilihatnya Stan Shunpike hanya beberapa tahun lebih tua darinya, delapan atau sembilan belas tahun paling banyak, dengan telinga lebar mencuat dan beberapa jerawat.

"Ngapain kau di bawah situ?" tanya Stan, mening-galkan gayanya yang profesional.

"Jatuh," kata Harry.

"Kenapa pakai jatuh segala?" Stan terkikik.

"Memangnya aku sengaja?" kata Harry, jengkel. Salah satu lutut celana jinsnya robek, dan tangan yang dipakainya menahan jatuhnya berdarah. Dia mendadak ingat kenapa dia sampai jatuh, dan buru-buru berbalik memandang gang di antara garasi dan pagar. Lampu depan bus menyinarinya terang bende-rang, dan gang itu kosong.

"Lihat apa sih?" tanya Stan.

"Ada binatang besar dan hitam," jawab Harry, me-nunjuk tak jelas ke arah gang. "Seperti anjing... tapi besar sekali..."

Dia berbalik memandang Stan, yang mulutnya se-dikit melongo. Dengan perasaan tak enak, Harry me-lihat mata Stan bergerak ke bekas luka di dahinya.

"Apa itu di kepalamu?" tanya Stan tiba-tiba.

"Tidak apa-apa," jawab Harry buru-buru, menutupi bekas lukanya dengan rambut. Kalau Kementerian Sihir sedang mencarinya, dia tak mau membuat me-reka begitu gampang menemukannya.

"Siapa namamu?" Stan memaksa.

"Neville Longbottom," kata Harry, menyebut nama pertama yang muncul dalam kepalanya. "Jadi—jadi bus ini," dia cepat- cepat meneruskan, berharap meng-alihkan perhatian Stan,

"kaubilang tadi pergi ke mana saja?"

"Yep," kata Stan bangga, "ke mana pun kau mau, asal di darat. Kalau bawah air sih, nyerah. Ayo," katanya, tampak curiga lagi, "kau memang memanggil kami, kan? Mengulurkan tangan-pemegang-tongkatmu, kan?"

"Ya," kata Harry buru-buru. "Berapa sih ongkos ke London?"

"Sebelas Sickle," kata Stan, "tapi kalau bayar empat belas kau dapat cokelat panas, dan kalau lima belas dapat botol-air- panas dan sikat gigi dengan warna pilihanmu sendiri."

Harry mencari-cari lagi di dalam kopernya, me-ngeluarkan kantong uangnya dan menjejalkan beberapa perak ke tangan Stan. Dia dan Stan kemudi-an mengangkat kopernya, dengan sangkar Hedwig di atasnya, menaiki tangga bus.

Tak ada tempat duduk. Alih-alih tempat duduk, setengah lusin tempat tidur kuningan berderet di sebelah jendela bertirai. Lilin-lilin menyala di atas rak di sebelah masing- masing tempat tidur, menyinari dinding bus yang berlapis papan. Seorang penyihir laki-laki tua memakai topi tidur di bagian belakang bus mengigau, "Jangan sekarang, terima kasih, aku sedang membuat acar siput," dan ia pun berguling dalam tidurnya.

"Kau di sini," bisik Stan, mendorong koper Harry ke bawah tempat tidur persis di belakang sopir, yang duduk di kursi berlengan di depan kemudi. "Ini sopir kita, Ernie Prang. Ini Neville Longbottom, Ern."

Ernie Prang, penyihir tua berkacamata sangat tebal, mengangguk kepada Harry. Dengan gugup Harry me-ratakan poninya lagi dan duduk di atas tempat tidurnya.

"Cabut, Ern," kata Stan, sambil duduk di kursi berlengan di sebelah kursi Ernie.

Terdengar bunyi DUAR keras sekali lagi, dan saat berikutnya Harry sudah tergeletak di atas tempat tidurnya,

terlempar ke belakang saking cepatnya Bus Ksatria meluncur. Duduk lagi, Harry memandang ke luar jendela yang gelap dan melihat bahwa mereka sekarang meluncur di jalan yang sama sekali lain. Stan mengawasi wajah Harry yang keheranan dengan senang.

"Tadi kami di sini sebelum kau memanggil kami," katanya.

"Kita di mana, Ern? Suatu tempat di Wales?"

"Ya," kata Ernie.

"Kenapa Muggle tidak mendengar bus ini?" tanya Harry "Mereka!" kata Stan menghina. "Tidak mendengar-kan dengan benar, kan? Tidak melihat dengan benar juga. Tak pernah memperhatikan apa-apa."

"Lebih baik bangunkan Madam Marsh, Stan," kata Ern.

"Sebentar lagi kita sampai di Abergavenny."

Stan melewati tempat tidur Harry dan menghilang menaiki tangga kayu sempit. Harry masih memandang ke luar jendela, merasa makin lama makin gugup. Ernie kelihatannya tidak menguasai kegunaan roda kemudi. Bus Ksatria berkali-kali naik ke trotoar, tetapi tidak menabrak apa-apa. Deretan lampu jalanan, boks surat, dan tempat sampah melompat menghindar ketika bus mendekat, dan kembali ke posisi masing-masing setelah bus lewat.

Stan turun lagi, diikuti penyihir wanita pucat agak kehijauan yang terbungkus mantel bepergian.

"Nah, sudah sampai, Madam Marsh," kata Stan riang, ketika Ern menginjak rem dan tempat-tempat tidur meluncur tiga puluh senti ke depan. Madam Marsh menempelkan saputangan ke mulutnya dan terhuyung menuruni tangga bus. Stan melemparkan tasnya ke bawah, lalu menyentakkan pintu bus hingga menutup. Terdengar bunyi DUAR keras lagi, dan bus meluncur menuruni jalan sempit di desa, pohon-pohon berlompatan menghindarinya.

Harry tak akan bisa tidur, bahkan seandainya dia sedang naik bus yang tidak terus meletus DUAR DUAR dan melompat seratus lima puluh kilo setiap kali bergerak sekalipun. Perutnya melilit ketika dia kembali memikirkan apa yang akan terjadi padanya, dan apakah keluarga Dursley sudah berhasil me-nurunkan Bibi Marge dari langit-langit.

Stan telah membuka Daily Prophet dan sekarang sedang membaca dengan lidah di antara giginya. Foto besar laki-laki berwajah cekung dengan rambut panjang kusut-masai mengedip pelan kepada Harry dari halaman depan. Harry rasanya pernah melihatnya.

"Orang itu!" celetuk Harry sejenak melupakan kesulitannya.

"Dia muncul di berita Muggle!" Stan membalik halaman depan lagi dan terkekeh. "Sirius Black," katanya, mengangguk.

"Tentu saja dia muncul di berita Muggle, Neville. Ke mana saja kau?"

Stan tertawa sok tahu melihat wajah bengong Harry, mengambil halaman depan koran, dan menyerahkan-nya kepadanya.

"Kau harus lebih sering baca koran, Neville." Harry mendekatkan koran ke lilin dan membaca:

BLACK MASIH BERKELIARAN Sirius Black, mungkin narapidana paling terkenal yang pernah ditahan di benteng Azkaban, masih belum berhasil ditangkap, Kementerian Sihir meng-konfirmasikan hari ini.

"Kami melakukan apa saja yang kami bisa untuk menangkap kembali Black," kata Menteri Sihir,

Cornelius Fudge, pagi ini, "dan kami minta masya-rakat penyihir retap tenang."

Fudge dikritik oleh beberapa anggota Federasi Penyihir Internasional karena telah memberitahu Perdana Menteri Muggle tentang krisis ini.

"Saya terpaksa, kan," kata Fudge yang jengkel. "Black gila. Dia berbahaya bagi siapa saja yang bertemu dengannya, penyihir ataupun Muggle. Saya mendapat jaminan Perdana Menteri bahwa dia tidak akan mengungkap identitas Black yang sebenarnya kepada siapa pun. Dan kita hadapi saja kenyataan ini—siapa yang percaya seandainya dia mengungkap-nyar Sementara para Muggle diberitahu bahwa Black membawa senapan (semacam tongkat logam yang digunakan Muggle untuk saling bunuh), masya-rakat penyihir ketakutan akan terjadi pembunuhan besar-besaran seperti dua belas tahun lalu, ketika Black membunuh tiga belas orang dengan satu kutukan.

Harry memandang mata Sirius Black yang dilingkari bayangan hitam, satu-satunya bagian di muka cekung itu yang kelihatan hidup. Harry belum pernah melihat vampir, tetapi sudah pernah melihat foto-fotonya da-lam pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, dan Black, dengan kulitnya yang pucat seperti lilin, kelihat-an seperti vampir.

"Tampangnya mengerikan, ya?" kata Stan, yang mengawasi Harry membaca.

"Dia membunuh tiga belas orang?" tanya Harry menyerahkan kembali halaman koran itu kepada Stan.

"Dengan satu kutukan!"

"Yep," kata Stan. "Di depan banyak orang. Siang hari bolong. Bikin heboh besar, iya kan, Ern?"

"Ya," kata Ernie suram.

Stan berputar di kursinya, tangannya memegang punggung kursi, agar bisa memandang Harry lebih jelas.

"Black pendukung utama Kau-Tahu-Siapa," katanya.

"Apa, Voldemort?" kata Harry tanpa berpikir.

Bahkan jerawat Stan ikut pucat. Ern menyentak roda kemudi begitu kerasnya, sehingga seluruh rumah pertanian harus melompat minggir untuk menghindari bus itu.

"Kau gila?" pekik Stan. "Ngapain sebut-sebut nama-nya?"

"Sori," kata Harry buru-buru. "Sori, aku—aku lupa..."

"Lupa!" kata Stan lemas. "Astaga, jantungku nyaris copot..." "Jadi—jadi Black pendukung Kau-Tahu-Siapa?" tanya Harry dengan nada minta maaf.

"Yeah," kata Stan, masih mengusap-usap dadanya. "Yeah, betul. Dekat sekali dengan Kau-Tahu-Siapa, katanya... tapi, waktu si kecil 'Arry Potter mengalah-kan Kau-Tahu-Siapa"— Harry dengan gugup merata-kan poninya lagi—"semua pendukung Kau-Tahu-Si-apa dilacak, iya kan, Ern? Sebagian besar dari mereka tahu, semuanya sudah berakhir dengan lenyapnya Kau-Tahu-Siapa, dan mereka diam-diam menyerahkan diri. Tapi Sirius Black tidak. Kudengar dia ber-anggapan akan jadi orang kedua begitu Kau-Tahu-Siapa berkuasa.

"Yang jelas, mereka menyudutkan Black di tengah jalan penuh Muggle dan Black mencabut keluar tong-katnya dan menghancurkan seluruh jalan. Satu pe-nyihir jadi korban, begitu juga selusin Muggle yang ada di situ. Mengerikan, eh? Dan kau tahu apa yang dilakukan Black sesudahnya?" Stan meneruskan dalam bisikan dramatis.

"Apa?" tanya Harry.

"Tertawa," kata Stan. "Berdiri saja di sana dan ter-tawa. Dan ketika bala bantuan dari Kementerian Sihir datang, dia patuh saja pergi bersama mereka, masih tertawa terbahak- bahak. Karena dia gila, iya kan, Ern? Dia gila, kan?"

"Kalau dia belum gila waktu dibawa ke Azkaban, dia pasti sudah gila sekarang," kata Ern dengan gaya bicaranya yang lambat. "Aku lebih baik bunuh diri daripada ke tempat itu. Tapi, ganjaran yang pantas untuk Black... setelah apa yang dilakukannya..."

"Mereka susah payah menutupi peristiwa itu, iya kan, Ern?" kata Stan. "Jalan diledakkan dan begitu banyak Muggle yang mati. Mereka bilang apa yang terjadi, Ern?"

"Ledakan gas," gerutu Ern.

"Dan sekarang dia kabur," kata Stan, mengamati foto wajah Black yang kurus kering dan cekung. "Belum pernah ada yang berhasil kabur dari Azkaban, iya kan, Ern? Heran sekali bagaimana dia bisa kabur. Mengerikan, ya? Tapi kurasa dia tak punya banyak kesempatan, para pengawal Azkaban akan segera me-nangkapnya lagi, eh, Ern?"

Ernie tiba-tiba bergidik.

"Bicara soal lain saja, Stan. Para pengawal Azkaban itu membuatku ngeri."

Stan meletakkan korannya dengan enggan dan Harry bersandar ke jendela Bus Ksatria, merasa lebih terpukul dari sebelumnya. Di luar kemauannya, dia membayangkan apa yang mungkin diceritakan Stan kepada para penumpang bus beberapa malam men-datang: "Sudah dengar tentang 'Arry Potter? Dia menggelembungkan bibinya. Dia naik Bus Ksatria ini, iya kan, Ern? Dia mencoba melarikan diri...."

Harry telah melanggar undang-undang sihir seperti halnya Sirius Black. Apakah menggelembungkan Bibi Marge kesalahan yang cukup besar untuk mengirim-nya ke Azkaban? Harry tak tahu apa-apa tentang penjara sihir ini, meskipun semua orang yang pernah didengarnya bicara tentang Azkaban, membicarakan-nya dengan nada ngeri yang sama. Hagrid—si peng-awas binatang liar Hogwarts—melewatkan dua bulan di sana tahun lalu. Harry tak bisa melupakan ke-ngerian di wajah Hagrid ketika dia diberitahu akan dikirim ke Azkaban, padahal Hagrid salah satu orang paling berani yang dikenal Harry.

Bus Ksatria meluncur menembus kegelapan malam, membuat semak belukar, telepon umum, dan pepo-honan serabutan menyingkir. Dan Harry berbaring, gelisah dan merana, di tempat tidurnya yang berkasur isi-bulu. Setelah lewat beberapa saat, Stan ingat bahwa Harry telah membayar untuk cokelat panas, tetapi saat menuangnya, cokelat tumpah ke atas bantal Harry karena bus bergerak mendadak dari Anglesea ke Ab-erdeen. Satu demi satu, penyihir pria dan wanita dalam baju tidur dan sandal turun dari tingkat atas untuk meninggalkan bus. Mereka semua kelihatan senang sudah sampai.

Akhirnya penumpang yang tersisa hanya Harry sendirian.

"Nah, Neville," kata Stan, menepukkan tangannya,

"Londonnya di mana?"

"Diagon Alley," kata Harry.

"Baik," kata Stan, "pegangan erat-erat..." DUAR!

Mereka menderu sepanjang Charing Cross Road. Harry duduk dan melihat bangunan-bangunan dan bangku-bangku mengerut menghindari Bus Ksatria. Langit sudah agak terang. Dia akan berbaring satu-dua jam, pergi ke Gringotts begitu bank ini buka, kemudian pergi—ke mana, dia tidak tahu.

Ern menginjak rem dan Bus Ksatria berhenti men-decit di depan tempat minum kecil kumuh, Leaky Cauldron. Di belakang tempat minum itulah jalan masuk ajaib ke Diagon Alley.

"Terima kasih," kata Harry kepada Ern.

Dia melompat turun dan membantu Stan menurun-kan kopernya dan sangkar Hedwig ke trotoar. "Nah," kata Harry,

"selamat tinggal!" Tetapi Stan tidak mengacuhkannya. Masih berdiri di pintu bus, dia terbelalak menatap pintu masuk Leaky Cauldron yang remang-remang.

"Akhirnya kau datang, Harry," terdengar suara.

Sebelum Harry bisa berbalik, dia merasa ada ta-ngan memegang bahunya. Pada saat bersamaan, Stan berteriak,

"Astaga! Ern, sini! Sini!"

Harry mendongak menatap si pemilik tangan di bahunya dan merasa seember air mengguyur perut-nya—rupanya dia mendatangi Cornelius Fudge, si Menteri Sihir sendiri.

Stan melompat ke trotoar di sebelah mereka.

"Anda memanggil Neville apa, Pak Menteri?"

Fudge, laki-laki pendek gemuk memakai mantel bergaris- garis, tampak kedinginan dan kelelahan. "Neville?" dia mengulang, mengernyit. "Ini Harry Potter."

"Aku tahu!" Stan berteriak girang. "Ern! Ern! Tebak siapa Neville, Ern! Dia Hrry Potter! Aku bisa lihat bekas lukanya!"

"Ya," kata Fudge tak sabar. "Aku senang Bus Ksatria mengangkut Harry, tapi aku perlu masuk Leaky Caul-dron sekarang..."

Fudge menambah tekanan di bahu Harry, dan Harry digiring masuk ke tempat minum itu. Sesosok tubuh bungkuk membawa lentera muncul di pintu di bela-kang bar. Dia Tom, si pemilik tempat minum yang sudah sangat tua dan ompong.

"Anda berhasil menemukannya, Pak Menteri!" kata Tom.

"Anda memerlukan sesuatu? Bir? Brandy?"

"Mungkin sepoci teh," kata Fudge, yang masih belum melepaskan Harry. Terdengar bunyi berkeresak dan tersengal- sengal keras di belakang mereka. Stan dan Ern muncul, membawa koper Harry serta sangkar Hedwig, dan memandang berkeliling dengan bergairah.

"Kenapa kau tidak bilang kau ini siapa, eh, Neville?" kata Stan, tersenyum kepada Harry, semen-tara wajah Ernie yang seperti burung hantu mengintip ingin tahu dari balik bahu Stan.

"Dan ruang pribadi, tolong, Tom," kata Fudge tegas.

"Bye," kata Harry muram kepada Stan dan Ern, ketika Tom memberi isyarat kepada Fudge ke arah lorong di belakang bar.

"Bye, Neville!" seru Stan.

Fudge membawa Harry menyusuri lorong sempit, mengikuti lentera Tom, dan kemudian masuk ke da-lam ruangan kecil. Tom menjentikkan jari-jarinya, api berkobar menyala di perapian, dan Tom membungkuk minta diri lalu meninggalkan ruangan.

"Duduklah, Harry," kata Fudge menunjuk kursi di dekat perapian.

Harry duduk, merasa lengannya merinding, walau-pun apinya hangat. Fudge membuka mantel bergaris-nya dan melemparkannya ke pinggir, kemudian me-narik ke atas celana hijau-botolnya dan duduk di hadapan Harry.

"Aku Cornelius Fudge, Harry. Menteri Sihir."

Harry sudah tahu, tentu. Dia pernah melihat Fudge sekali sebelum ini, tetapi karena waktu itu Harry memakai Jubah Gaib ayahnya, Fudge tidak boleh tahu.

Tom si pemilik tempat minum muncul lagi, mema-kai celemek di atas baju tidurnya dan membawa senampan teh dan kue. Diletakkannya nampan itu di atas meja di antara Fudge dan Harry, lalu dia me-ninggalkan ruangan, menutup pintu di belakangnya.

"Nah, Harry," kata Fudge, menuang teh, "kau mem-buat kami semua kalang kabut, tak ada salahnya kuberitahu. Kabur dari rumah bibi dan pamanmu seperti itu! Aku sudah mengira... tapi kau selamat, itu yang penting."

Fudge mengolesi kue dengan mentega dan men-dorong piringnya ke arah Harry.

"Makan, Harry, kau kelihatan lelah sekali. Nah... Kau akan senang mendengar kami telah membereskan urusan penggelembungan Miss Marjorie Dursley. Dua anggota Departemen Pembalikan Sihir Tak-Sengaja dikirim ke Privet Drive beberapa jam yang lalu. Miss Dursley sudah dikempiskan dan ingatannya sudah dimodifikasi. Dia tak ingat sama sekali kejadian itu. Begitulah, jadi tak apa-apa."

Fudge tersenyum kepada Harry dari atas tepi cang-kir tehnya, seperti paman yang memandang keponak-an kesayangannya. Harry, yang tidak bisa memper-cayai telinganya, membuka mulut untuk bicara, tapi tak bisa memikirkan apa yang mau dikatakan, jadi menutupnya lagi.

"Ah, kau mencemaskan reaksi bibi dan pamanmu?" kata Fudge. "Yah, aku tidak menyangkal mereka ma-rah besar, Harry, tetapi mereka bersedia menerimamu lagi musim panas yang akan datang, asal kau tinggal di Hogwarts selama liburan Natal dan Paskah."

Harry membuka sumbat lehernya.

"Saya selalu tinggal di Hogwarts selama liburan Natal dan Paskah," katanya, "dan saya tak mau lagi kembali ke Privet Drive."

"Tunggu, tunggu, aku yakin kau akan berpendapat lain kalau sudah tenang nanti," kata Fudge dengan nada cemas.

"Bagaimanapun juga mereka keluargamu, dan aku yakin kalian saling menyayangi—er—jauh dalam lubuk hati."

Tak terpikir oleh Harry untuk mengoreksi Fudge. Dia masih menunggu apa yang akan terjadi padanya sekarang.

"Jadi yang tinggal dilakukan," kata Fudge, sekarang mengolesi kuenya yang kedua, "adalah memutuskan di mana kau akan melewatkan sisa dua minggu liburanmu. Kusarankan kau menginap di salah satu kamar di sini, di Leaky Cauldron dan..."

"Tunggu," sela Harry, "bagaimana dengan hukuman saya?" Fudge mengejapkan mata.

"Hukuman?"

"Saya melanggar hukum!" kata Harry. "Dekrit Pem-batasan bagi Penyihir di Bawah Umur!"

"Oh, Nak, kami tidak akan menghukummu untuk urusan kecil seperti itu!" seru Fudge, melambaikan kuenya dengan tak sabar. "Itu kan tak sengaja! Kami tidak mengirim orang ke Azkaban hanya karena menggelembungkan bibi mereka!"

Tetapi ini sama sekali tidak cocok dengan yang sudah terjadi di masa lalu antara Harry dan Kemen-terian Sihir.

"Tahun lalu, saya mendapat peringatan resmi hanya karena ada peri-rumah membanting puding di rumah paman saya!" kata Harry, mengernyitkan kening. "Kementerian Sihir mengatakan saya akan dikeluarkan dari Hogwarts kalau terjadi sihir lagi di sana!"

Kecuali mata Harry mengelabuinya, Fudge men-dadak kelihatan salah tingkah.

"Situasi berubah, Harry... kami harus memper-hitungkan... dalam keadaan sekarang... tentunya kau tidak ingin dikeluarkan?"

"Tentu saja tidak," kata Harry.

"Nah, kalau begitu, buat apa diributkan?" Fudge tertawa ringan. "Ayo, makan kuenya, Harry, sementara aku mengecek apakah Tom punya kamar untukmu."

Fudge meninggalkan ruangan dan Harry meman-dang punggungnya. Ada sesuatu yang aneh sekali sedang berlangsung. Kenapa Fudge menunggunya di Leaky Cauldron, kalau bukan mau menghukumnya untuk apa yang telah dilakukannya? Dan sekarang setelah Harry pikir-pikir, tentunya tidak biasa bagi Menteri Sihir sendiri melibatkan diri dalam urusan penyihir di bawah umur?

Fudge muncul lagi, ditemani Tom si pemilik rumah minum.

"Kamar sebelas kosong, Harry," kata Fudge. "Kurasa kau akan sangat nyaman di sini. Hanya ada satu hal, dan aku yakin kau akan mengerti: aku tak ingin kau berkeliaran di London-nya Muggle, oke? Jalan-jalan di Diagon Alley saja. Dan kau harus sudah pulang sebelum gelap setiap malam. Tentu kau mengerti. Tom akan menjagamu untukku."

"Oke," kata Harry lambat-lambat, "tetapi ke-napa...?"

"Kami tak ingin kehilangan kau lagi, kan?" kata Fudge terbahak. "Tidak, tidak... lebih baik kami tahu kau di mana... maksudku..."

Fudge berdeham keras dan memungut mantel ber-garisnya.

"Nah, aku pulang dulu, masih banyak pekerjaan."

"Apakah Anda sudah mendapat titik terang soal Black?" tanya Harry. Jari-jari Fudge tergelincir lepas dari kancing perak mantelnya.

"Apa? Oh, kau sudah dengar—wah, belum, tapi cuma soal waktu saja. Para pengawal Azkaban belum pernah gagal... dan mereka belum pernah semarah ini."

Fudge bergidik sedikit.

"Jadi, aku minta diri dulu."

Dia mengulurkan tangan dan Harry, saat menjabat-nya, mendadak mendapat ide. "Eh—Pak Menteri? Boleh saya tanya sesuatu?"

"Tentu saja," Fudge tersenyum. "Murid-murid kelas tiga di Hogwarts diizinkan mengunjungi Hogsmeade dari waktu ke waktu, tetapi bibi dan paman saya tidak menandatangani formulir perizinannya. Apakah Anda bisa menandatangani-nya?"

Fudge kelihatan salah tingkah.

"Ah," katanya. "Tidak. Tidak, maaf sekali, Harry, tetapi karena aku bukan orangtua ataupun walimu..."

"Tetapi Anda Menteri Sihir," kata Harry berse-mangat. "Jika Anda memberi saya izin..."

"Tidak, maaf, Harry, tapi peraturan adalah per-aturan," kata Fudge tegas. "Mungkin kau akan bisa mengunjungi Hogsmeade tahun depan. Menurutku, malah lebih baik kalau kau tidak ke Hogsmeade... ya... nah, aku pergi sekarang. Nikmati sisa liburanmu di sini, Harry."

Setelah tersenyum sekali lagi dan menjabat tangan Harry, Fudge meninggalkan ruangan. Tom sekarang bergerak maju, tersenyum kepada Harry.

"Silakan ikut aku, Mr Potter," katanya. "Aku sudah membawa barang-barangmu ke atas...."

Harry mengikuti Tom menaiki tangga kayu keren menuju pintu bertempel angka sebelas dari kuningan. Tom membuka pintu itu.

Di dalam ada tempat tidur yang kelihatannya nya-man, perabot dari kayu ek yang dipelitur mengilap, perapian yang menyala cerah, dan bertengger di atas lemari pakaian...

"Hedwig!" Harry terpekik.

Burung hantu berbulu seputih salju itu membuat bunyi klik dengan paruhnya dan terbang turun ke lengan Harry.

"Burung hantumu cerdik sekali," Tom terkekeh. "Muncul kira-kira lima menit sesudah kau datang. Kalau ada yang kaubutuhkan, Mr Potter, jangan ragu-ragu memintanya."

Tom membungkuk sekali lagi dan pergi.

Harry duduk di tempat tidurnya lama sekali, me-renung sambil membelai-belai Hedwig. Langit di luar jendela berubah cepat dari biru tua bagai beledu menjadi abu-abu dingin keperakan, dan kemudian, perlahan-lahan, kemerahan bersemburat emas. Harry nyaris tak percaya bahwa dia baru meninggalkan Privet Drive beberapa jam yang lalu, bahwa dia tidak dikeluarkan, dan bahwa dia sekarang akan menjalani dua minggu tanpa keluarga Dursley.

"Malam yang aneh sekali, Hedwig," dia menguap. Lalu, bahkan tanpa melepas kacamatanya, dia me-rebahkan kepala di atas bantal dan langsung tertidur.

4. Leaky Cauldron

PERLU beberapa hari bagi Harry untuk membiasakan diri dengan kebebasannya yang aneh. Belum pernah dia bisa bangun kapan saja dia suka atau makan apa pun yang diinginkannya. Dia bahkan bisa pergi ke mana pun dia mau, asal saja masih di Diagon Alley dan karena jalan panjang dari batu ini dipenuhi toko-toko sihir paling menakjubkan di seluruh dunia, Harry sama sekali tak punya keinginan untuk melanggar janjinya kepada Fudge dan memasuki dunia Muggle lagi.

Harry sarapan setiap pagi di Leaky Cauldron. Dia senang mengawasi tamu-tamu lainnya: penyihir-penyihir wanita tua dari pedesaan, yang akan ber-belanja seharian; penyihir- penyihir bertampang-ter-hormat mendiskusikan artikel terakhir di Transfigura-tion Today—Transfigurasi Hari Ini; penyihir- penyihir ber-tampang-liar; kurcaci bersuara serak, dan sekali bah-kan nenek sihir mencurigakan yang memesan sepiring hati mentah dari balik balaclava—topi rajutan wol tebal yang menutupi kepala dan lehernya.

Sesudah sarapan Harry ke halaman belakang, me-ngeluarkan tongkatnya, mengeruk batu bata ketiga dari kiri di atas tempat sampah, dan mundur saat gerbang lengkung menuju Diagon Alley membuka di tembok.

Harry melewatkan hari-hari musim panas yang pan-jang dengan melihat-lihat toko dan makan di bawah payung warna- warni di luar kafe-kafe, tempat para pengunjung saling memamerkan belanjaannya ("ini lunaskop—tak perlu lagi susah payah mempelajari peta bulan, lihat?") atau mendiskusikan kasus Sirius Black ("aku tidak akan membiarkan anak-anakku ke-luar sendiri, sampai dia dikembalikan ke Azkaban."). Harry tak perlu lagi mengerjakan PR di bawah selimut dengan penerangan senter. Sekarang dia bisa duduk di bawah cahaya terang matahari di depan toko es krim Florean Fortescue, menyelesaikan semua tugas mengarangnya dengan kadang-kadang dibantu Florean Fortescue sendiri, yang selain tahu banyak tentang pembakaran penyihir di abad pertengahan, memberi Harry es krim gratis setengah jam sekali.

Sesudah Harry mengisi kembali kantong uangnya dengan Galleon emas, Sickle perak, dan Knut pe-runggu dari lemari besinya di Gringotts, dia perlu menahan diri untuk tidak menghabiskan uangnya sekaligus. Berkali-kali dia mengingatkan diri bahwa dia masih harus lima tahun lagi di Hogwarts, dan bagaimana rasanya kalau harus minta uang dari ke-luarga Dursley untuk membeli buku-buku mantra. Itu dilakukannya untuk mencegah dirinya membeli satu set Gobstones emas yang bagus sekali (per-mainan sihir dengan batu-batu emas mirip kelereng, dan batu-batu itu menyemprotkan cairan bau ke wajah pemain lawan setiap kali dia kehilangan satu angka). Harry juga sangat tergoda oleh galaksi yang bisa bergerak dalam bola kaca besar, yang berarti dia tak perlu lagi ikut pelajaran Astronomi. Tetapi barang yang paling menggoda dan nyaris merontok-kan tekad Harry muncul di toko favoritnya, Peralatan Quidditch Berkualitas, seminggu setelah dia tiba di Leaky Cauldron.

Penasaran apa yang sedang dikerubungi pengun-jung di toko itu, Harry masuk dan menyelip di antara para penyihir yang bergairah sampai dia bisa melihat podium yang baru didirikan. Di atas podium itu dipajang sapu paling hebat yang pernah dilihatnya seumur hidupnya.

"Baru keluar... masih contoh...," seorang penyihir berahang persegi memberitahu temannya.

"Itu sapu paling cepat di dunia ya, Dad?" kata seorang anak laki-laki yang lebih kecil dari Harry, yang menggelayut di lengan ayahnya.

"Regu Internasional Irlandia baru saja memesan tujuh sapu cantik ini," pemilik toko memberitahu kerumunan pengunjung.

"Dan sapu ini favorit untuk Piala Dunia!"

Seorang penyihir wanita tinggi besar di depan Harry bergeser dan Harry bisa membaca tulisan di sebelah sapu:

FIREBOLT-KILATAN-API

Sapu balap yang dibuat berdasarkan teknologi paling canggih ini tangkainya terbuat dari kayu ash pilihan, dicat dengan bahan khusus yang sekeras intan, dan dinomori dengan nomor registrasi tersendiri yang ditulis tangan. Ranting-ranting birch untuk ekornya masing-masing diseleksi dan diruncingkan sampai tak lagi mempunyai hambatan udara, membuat keseimbangan dan presisi firebolf ini tak tertandingi. Firebolt ini bisa digas dari 0-225 kilometer per jam dalam waktu sepuluh detik dan memiliki sistem rem sihir yang tak bisa rusak. Harga diberitahukan kepada penanya.

Harga diberitahukan kepada penanya... Harry tak ingin memikirkan berapa banyak emas harga sapu itu. Seumur hidupnya belum pernah dia mengingin-kan sesuatu sampai seperti itu—tetapi dia belum per-nah kalah dalam pertandingan Quidditch dengan naik Nimbus Dua Ribu-nya,

dan apa gunanya mengosong-kan lemari besinya di Gringotts untuk membeli Firebolt, kalau dia sudah punya sapu yang bagus sekali? Harry tidak menanyakan harganya, tetapi dia kembali ke toko itu, hampir setiap hari, hanya untuk memandang Firebolt.

Tapi ada barang-barang yang harus dibeli Harry. Dia pergi ke toko bahan ramuan untuk melengkapi bahan-bahan ramuannya, dan karena jubah-jubah seragamnya sudah kependekan, baik panjangnya maupun lengan-nya, dia mengunjungi toko Jubah untuk Segala Kesempatan Kreasi Madam Malkin, dan membeli beberapa jubah baru. Yang paling penting, dia harus membeli buku-buku baru, termasuk untuk dua mata pelajaran barunya, Pemeliharaan Satwa Gaib dan Ramalan.

Harry mendapat kejutan ketika dia melongok ke etalase toko buku. Alih-alih mendisplai buku-buku mantra setebal batu bata dengan huruf-huruf emas, di balik kaca etalase ada kandang besi besar berisi kira-kira seratus eksemplar Buku Monster tentang Mon-ster. Halaman-halaman yang robek beterbangan selagi buku-buku itu saling berkelahi, bergulat saling me-ngunci, dan mengatup-ngatup dengan galak.

Harry mengeluarkan daftar buku dari sakunya dan membacanya untuk pertama kali. Buku Monster tentang Monster terdaftar sebagai buku untuk pelajaran Peme-liharaan Satwa Gaib. Sekarang Harry mengerti kenapa Hagrid bilang buku itu akan berguna. Dia merasa lega. Selama ini dia bertanya-tanya dalam hati apakah Hagrid memerlukan bantuan untuk memelihara bina-tang mengerikan yang baru. Saat Harry memasuki Flourish and Blotts, manajer toko buku bergegas menyongsongnya. "Hogwarts?" tanyanya langsung. "Mau beli buku barumu?"

"Ya," kata Harry. "Saya memerlukan..."

"Minggir," kata si manajer tak sabar, mendorong Harry. Dia mengeluarkan sepasang sarung tangan sangat tebal, mengambil tongkat besar berbonggol, dan berjalan ke arah pintu kandang Buku Monster.

"Tunggu," kata Harry buru-buru, "saya sudah pu-nya buku itu."

"Sudah?" Kelegaan luar biasa meliputi wajah si manajer.

"Syukurlah. Aku sudah digigit lima kali sepagian ini..."

Bunyi robekan keras memenuhi udara. Dua Buku Monster menyambar buku ketiga dan menariknya sam-pai jebol.

"Stop! Stop!" teriak si manajer, menyodok-nyodok-kan tongkatnya melalui jeruji kandang dan memisah-kan ketiga buku itu. "Aku tak akan mau menjualnya lagi, tak akan pernah! Heboh sekali! Kukira kami telah mengalami yang terburuk ketika kami membeli dua ratus eksemplar Buku Tak- Kasatmata tentang Ketak-kasatmataan—harganya mahal sekali dan sampai seka-rang kami tak bisa menemukannya... Nah, apa ada lagi yang bisa kubantu?"

"Ya," kata Harry, membaca daftarnya. "Saya perlu Menyingkap Kabut Masa Depan karangan Cassandra Vablatsky."

"Ah, mau mulai pelajaran Ramalan, ya?" kata si manajer seraya membuka sarung tangannya dan mem-bawa Harry ke bagian belakang toko. Di bagian bela-kang itu ada sudut khusus untuk buku-buku ramalan. Ada meja kecil dengan tumpukan buku dengan judul-judul seperti Meramalkan yang Tak Dapat Diramalkan: Mengisolasi Diri dari Kekagetan dan Bola Pecah: Ketika Nasib Baik Berubah Menjadi Nasib Buruk.

"Ini dia," kata si manajer yang telah menaiki bangku bertangga dan menurunkan buku tebal bersampul hitam.

"Menyingkap Kabut Masa Depan. Buku panduan yang bagus sekali untuk semua metode dasar ramalan— membaca garis tangan, bola kristal, isi perut burung..."

Tetapi Harry tidak mendengarkan. Tak sengaja ter-pandang olehnya sebuah buku yang dipajang di antara buku-buku lain di atas meja kecil, Tanda-Tanda Kematian: Apa yang Harus Anda Lakukan Jika Tahu yang Terburuk akan Terjadi.

"Oh, aku tak akan mau membaca itu kalau aku jadi kau,"

kata manajer toko yang melihat apa yang dipandang Harry.

"Kau akan melihat tanda-tanda ke-matian di mana-mana, cukup membuat orang ke-takutan sampai mati."

Tetapi Harry tetap menatap sampul depan buku itu. Sampul itu menampilkan gambar anjing hitam sebesar beruang, dengan mata berkilat. Aneh sekali, rasanya gambar itu tak asing....

Si manajer menyerahkan buku Menyingkap Kabut Masa Depan ke tangan Harry.

"Ada lagi yang lain?" tanyanya.

"Ya," kata Harry, mengalihkan pandangannya dari si anjing dan dengan bingung membaca daftarnya. "Eh—saya perlu Transfigurasi Tingkat Menengah dan Kitab Mantra Standar, Tingkat Tiga."

Harry meninggalkan Flourish and Blotts sepuluh me-nit kemudian dengan mengepit buku-buku barunya, dan berjalan pulang ke Leaky Cauldron, nyaris tidak memperhatikan jalan dan menabrak beberapa orang.

Dia menaiki tangga ke kamarnya, masuk, dan me-naruh buku-bukunya di atas tempat tidur. Sudah ada yang merapikan kamarnya. Jendela-jendelanya terbuka dan sinar matahari menyorot masuk. Harry bisa men-dengar bus-bus menderu lewat di jalan Muggle yang tak kelihatan di belakangnya, dan suara orang-orang yang lewat tak kelihatan di bawah di Diagon Alley. Dia melihat tampangnya sendiri di cermin di atas wastafel.

"Tak mungkin itu pertanda kematian," katanya me-nantang kepada bayangannya. "Aku panik waktu me-lihatnya di Magnolia Crescent. Mungkin dia cuma anjing yang tersesat...." Secara otomatis dia mengangkat tangan dan men-coba meratakan rambutnya. "Percuma saja, pasti berantakan lagi,"

kata cermin-nya dengan suara berdesis.

Hari demi hari berlalu. Setiap kali keluar, Harry mulai mencari-cari Ron dan Hermione. Banyak mu-rid Hogwarts yang sudah muncul di Diagon Alley sekarang, karena sebentar lagi sudah masuk sekolah. Harry bertemu Seamus Finnigan dan Dean Thomas, sesama teman asrama di Gryffindor, di toko Peralatan Quidditch Berkualitas. Mereka berdua juga mengagumi Firebolt. Harry juga bertemu Neville Longbottom yang asli, seorang anak laki-laki pelupa bermuka bundar, di depan Flourish and Blotts. Harry tidak menyapanya. Neville rupanya kehilangan daftar bukunya dan se-dang ditegur oleh neneknya yang kelihatan galak. Harry berharap nenek Neville tidak akan pernah tahu dia menyamar jadi Neville ketika sedang melarikan diri dari Kementerian Sihir.

Harry terbangun pada hari terakhir liburan, berpikir bahwa paling tidak dia akan bertemu Ron dan Hermione besok pagi, di Hogwarts Express. Dia bangun, berpakaian, pergi melihat Firebolt untuk terakhir kali-nya, dan sedang berpikir-pikir enaknya makan siang di mana, ketika ada yang meneriakkan namanya dan dia berpaling.

"Harry! HARRY!"

Kedua sahabatnya. Mereka duduk di luar toko es krim Florean Fortescue. Bintik-bintik di wajah Ron tampak jelas sekali, sedang kulit Hermione sangat cokelat. Keduanya melambai-lambai penuh semangat ke arahnya.

"Akhirnya!" kata Ron, nyengir kepada Harry ketika Harry ikut duduk. "Kami ke Leaky Cauldron, tapi mereka bilang kau sudah pergi, dan kami ke Flourish and Blotts, dan Madam Malkin, dan..."

"Aku sudah beli semua keperluan sekolahku ming-gu lalu," Harry menjelaskan. "Dan bagaimana kau tahu aku tinggal di Leaky Cauldron?"

"Dad," kata Ron singkat.

Mr Weasley, yang bekerja di Kementerian Sihir, tentu saja telah mendengar seluruh kisah tentang apa yang terjadi pada Bibi Marge.

"Apakah kau benar-benar telah menggelembungkan bibimu, Harry?" tanya Hermione sangat serius.

"Aku tidak sengaja," kata Harry, sementara Ron terbahak- bahak. "Aku—kehilangan kendali."

"Tidak lucu, Ron," kata Hermione tajam. "Terus terang saja, aku heran Harry tidak dikeluarkan."

"Aku juga heran," Harry mengaku. "Lupakan soal dikeluarkan. Kukira aku akan ditangkap." Dia me-mandang Ron. "Ayahmu tidak tahu kenapa Fudge membebaskariku, kan?"

"Mungkin karena kau adalah kau, kan?" jawab Ron, masih tertawa-tawa. "Harry Potter yang terkenal. Aku tak berani membayangkan apa yang akan di-lakukan Kementerian Sihir padaku kalau aku yang menggelembungkan bibiku, meskipun mereka harus menggaliku dulu, soalnya Mum akan membunuhku duluan. Tapi kau bisa tanya Dad sendiri nanti malam. Kami juga menginap di Leaky Cauldron malam ini! Jadi kau bisa berangkat ke King's Cross bersama kami besok. Hermione juga menginap di sana!"

Hermione mengangguk, wajahnya berseri-seri. "Mum dan Dad mengantarku ke sana pagi ini dengan semua keperluan Hogwarts-ku."

"Bagus sekali!" kata Harry senang. "Jadi, kalian sudah membeli semua buku dan keperluan lain?"

"Lihat ini," kata Ron, menarik keluar kotak panjang tipis dari dalam tas dan membukanya. "Tongkat baru. Tiga puluh lima senti, dedalu, de-ngan sehelai bulu ekor unicorn. Dan kami sudah membeli semua buku..." Dia menunjuk tas besar di bawah kursinya. "Bagaimana dengan Buku Monster, eh? Pelayan toko nyaris menangis waktu kami bi-lang mau beli dua."

"Apa itu, Hermione?" Harry bertanya, menunjuk tidak hanya satu, melainkan tiga tas besar mengge-lembung penuh isi di atas kursi di sebelah Hermione.

"Aku kan mengambil lebih banyak pelajaran baru daripada kalian berdua," kata Hermione. "Itu buku-bukuku untuk Arithmancy, Pemeliharaan Satwa Gaib, Ramalan, Telaah Rune Kuno, Telaah Muggle..."

"Buat apa kau ikut Telaah Muggle?" kata Ron, memutar- mutar bola mata kepada Harry. "Kau kan kelahiran-Muggle! Ayah dan ibumu Muggle! Kau sudah tahu segalanya tentang Muggle!" "Tapi kan akan menarik sekali mempelajarinya dari sudut pandang penyihir," kata Hermione bergairah.

"Apa kau berencana makan dan tidur tahun ini, Hermione?" tanya Harry, sementara Ron terkikik-kikik. Hermione tidak mengacuhkan mereka.

"Aku masih punya sepuluh Galleon," katanya, me-meriksa dompetnya. "Ulang tahunku bulan Septem-ber, dan Mum dan Dad memberiku uang untuk mem-beli sendiri hadiah ulang tahunku lebih awal."

"Bagaimana kalau buku yang bagus?" kata Ron tanpa dosa.

"Tidak, kurasa tidak," kata Hermione tenang. "Aku kepingin sekali punya burung hantu. Maksudku, Harry punya Hedwig dan kau punya Errol..."

"Tidak," kata Ron. "Errol itu burung hantu keluarga. Yang aku punya hanyalah Scabbers." Dia menarik keluar tikus peliharaannya dari dalam sakunya. "Dan aku akan memeriksakan dia," Ron menambahkan se-raya meletakkan Scabbers di atas meja di depan me-reka. "Kurasa Mesir tidak cocok untuknya."

Scabbers tampak lebih kurus dari biasanya, dan kumisnya jelas menjuntai.

"Ada toko satwa gaib di seberang situ," kata Harry, yang sekarang sudah hafal betul Diagon Alley. "Siapa tahu mereka punya obat untuk Scabbers, dan Hermione bisa membeli burung hantunya."

Maka mereka membayar es krim dan menyeberang jalan ke Magical Menagerie.

Sempit sekali di dalam. Setiap senti dinding tertutup sangkar. Toko itu bau dan bising sekali, karena semua penghuni kandang berkuak, mencicit, mengoceh, atau mendesis. Penyihir wanita penjaga toko di belakang meja pajang sedang menasihati seorang penyihir pria tentang bagaimana memelihara kadal air berkepala-dua, maka Harry, Ron, dan Hermione menunggu, sambil melihat-lihat sangkar- sangkar.

Sepasang kodok besar ungu duduk, asyik melahap bangkai lalat. Seekor kura-kura raksasa dengan punggung bertatahkan permata duduk berkilau dekat jendela. Siput-siput jingga beracun merayap pelan di dinding tangki kaca mereka, dan seekor kelinci putih gemuk berkali-kali berubah menjadi topi sutra dan kembali ke sosok kelinci lagi dengan bunyi plop keras. Lalu ada juga kucing dengan segala warna, satu kandang penuh burung gagak cerewet, sekeranjang bola-bulu berwarna aneh yang bersenandung keras, dan di atas meja pajang ada kandang besar penuh tikus-tikus hitam berkilau yang beberapa di antaranya sedang bermain semacam lompat tali dengan meng-gunakan ekor mereka yang licin tak berbulu.

Penyihir pembeli kadal air berkepala-dua pulang, dan Ron mendekati meja pajang.

"Saya mau memeriksakan tikus saya," kata Ron kepada si penjaga toko. "Dia lesu terus sejak pulang dari Mesir."

"Taruh di atas meja pajang ini," kata si penyihir wanita seraya mengeluarkan kacamata hitam berat dari dalam sakunya.

Ron mengeluarkan Scabbers dari dalam sakunya dan menaruhnya di sebelah kandang yang berisi teman-temannya sesama tikus, yang berhenti bermain lompat-ekor dan berlarian ke jeruji kawat agar bisa melihat lebih jelas.

Seperti segala hal lainnya yang dimiliki Ron, Scabbers si tikus juga diwarisinya (dulunya milik kakaknya, Percy) dan sudah agak kusam. Disanding-kan dengan tikus-tikus berkilau di dalam kandang, Scabbers kelihatan sangat menyedihkan.

"Hm," kata si penyihir, mengangkat Scabbers. "Berapa umur tikus ini?"

"Saya tak tahu," kata Ron. "Sudah tua. Dulunya dia milik kakak saya."

"Apa kehebatannya?" tanya si penyihir, memeriksa Scabbers dengan teliti.

"Eh...," kata Ron. Kenyataannya Scabbers tak pernah menunjukkan tanda-tanda kehebatan apa pun. Mata si penyihir berpindah dari telinga kiri Scabbers yang robek ke kaki depannya, yang satu jarinya hilang, dan dia berdecak keras-keras.

"Tikus ini sudah mengalami kejadian hebat," komentarnya.

"Dia sudah seperti ini ketika Percy memberikannya kepada saya," kata Ron membela diri.

"Tikus biasa atau tikus kebun seperti ini tidak bisa diharapkan hidup lebih lama dari tiga tahunan," kata si penyihir. "Kalau kau mencari sesuatu yang lebih tahan lama, kau mungkin akan menyukai ini..."

Dia menunjuk tikus-tikus hitam di kandang, yang langsung main lompat-ekor lagi. Ron bergumam, "Sok pamer."

"Yah, kalau kau tidak mau pengganti, kau bisa mencoba Tonik Tikus ini," kata si penyihir, meraih ke bawah meja pajangan dan mengeluarkan botol kecil merah.

"Oke," kata Ron. "Berapa—OUCH!"

Ron membungkuk kesakitan ketika sesuatu yang besar berwarna jingga meluncur dari atas kandang yang paling tinggi, mendarat di kepalanya, kemudian berputar dan mendesis-desis liar ke arah Scabbers.

"JANGAN, CROOKSHANKS, JANGAN!" teriak si penyihir, tetapi Scabbers lolos dari tangannya seperti sabun yang licin, mendarat dengan keempat kakinya di lantai, dan kabur ke pintu.

"Scabbers!" teriak Ron, berlari keluar toko untuk mengejarnya. Harry menyusul.

Perlu sepuluh menit bagi mereka untuk menemukan Scabbers, yang menyembunyikan diri di bawah tempat sampah di depan toko Peralatan Quidditch Berkualitas. Ron memasukkan kembali tikus yang gemetar itu ke dalam sakunya, lalu bangkit, memijat-mijat kepalanya.

"Makhluk apa tadi?"

"Kalau bukan kucing yang besar sekali, ya harimau kecil,"

kata Harry.

"Di mana Hermione?"

"Mungkin sedang membeli burung hantunya!" Mereka melewati jalan yang penuh sesak, kembali ke Magical Menagerie. Setiba mereka di sana, Hermione keluar, tetapi tidak membawa burung hantu. Tangan-nya memeluk erat kucing jingga itu.

"Kau membeli monster itu?" tanya Ron, ternganga.

"Dia keren, ya?" kata Hermione, berseri-seri.

Itu soal selera, pikir Harry. Bulu si kucing yang berwarna jingga memang tebal dan halus, tetapi kakinya agak bengkok—pantas saja namanya Crookshanks, si tulang kering bengkok—dan mukanya kelihatan galak dan gepeng aneh, seakan dia baru menabrak tembok. Sekarang, setelah Scabbers tidak kelihatan, kucing itu mendengkur puas dalam pelukan Hermione.

"Hermione, binatang itu nyaris menguliti kepalaku!" kata Ron. "Dia kan tidak sengaja, iya kan, Crookshanks?" kata Hermione.

"Lalu bagaimana Scabbers?" kata Ron, menunjuk tonjolan di saku dadanya. "Dia perlu istirahat dan santai! Bagaimana dia bisa istirahat dan santai kalau ada makhluk itu?"

"Aku jadi ingat, Tonik Tikus-mu ketinggalan," kata Hermione, menjejalkan botol merah kecil itu ke tangan Ron.

"Dan jangan khawatir, Crookshanks akan tidur di kamarku dan Scabbers di kamarmu. Apa masalahnya? Kasihan Crookshanks. Si penyihir tadi bilang dia sudah di toko lama sekali, tak ada yang mau mem-belinya."

"Kenapa, ya?" kata Ron sinis sambil mereka berjalan ke Leaky Cauldron. Mereka menemukan Mr Weasley di dalam rumah minum itu, sedang membaca Daily Prophet. "Harry!" katanya, mendongak seraya tersenyum. "Apa kabar?"

"Baik, terima kasih," kata Harry, ketika dia, Ron, dan Hermione mendatangi Mr Weasley dengan semua belanjaan mereka.

Mr Weasley meletakkan korannya dan Harry me-lihat foto Sirius Black, yang sekarang sudah dikenal-nya, memandangnya.

"Mereka belum berhasil menangkapnya?" tanyanya.

"Belum," kata Mr Weasley tampak muram sekali. "Mereka menghentikan kami semua dari pekerjaan rutin di Kementerian untuk mencarinya, tapi sejauh ini belum berhasil."

"Apakah kita akan mendapat hadiah kalau berhasil menangkapnya?" tanya Ron. "Asyik sekali kalau dapat uang lagi..."

"Jangan konyol, Ron," kata Mr Weasley yang se-telah diawasi lebih teliti tampak sangat lelah. "Black tidak akan ditangkap oleh anak tiga belas tahun. Para pengawal Azkaban- lah yang akan menangkap-nya, lihat saja nanti."

Saat itu Mrs Weasley masuk, dengan banyak sekali belanjaan dan diikuti si kembar Fred dan George, yang akan memasuki tahun kelima di Hogwarts, si Ketua Murid yang baru terpilih, Percy, serta anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarga Weasley, Ginny.

Ginny yang sejak dulu sangat terkesan akan Harry, tampak lebih malu dari biasanya ketika melihatnya. Mungkin karena Harry telah menyelamatkan nyawa-nya dalam semester terakhir mereka di Hogwarts tahun ajaran lalu. Wajahnya langsung merah padam dan dia menggumamkan "halo" tanpa memandang Harry. Percy, sebaliknya, mengulurkan tangan dengan resmi seakan dia dan Harry belum pernah bertemu dan berkata, "Harry. Senang sekali bertemu dengan-mu."

"Halo, Percy," kata Harry, berusaha menahan tawa.

"Kuharap kau baik-baik saja?" kata Percy sok, men-jabat tangan Harry. Rasanya seperti diperkenalkan kepada wali kota.

"Baik, terima kasih..."

"Harry!" kata Fred, menyikut Percy agar minggir dan membungkuk dalam-dalam. "Senang sekali ketemu kau, Bung..."

"Luar biasa sekali," kata George, mendorong Fred dan ganti menyambar tangan Harry. "Benar-benar ke-hormatan."

Percy mencibir.

"Sudah cukup," kata Mrs Weasley.

"Mum!" kata Fred, seakan dia baru saja melihat ibunya, dan menyambar tangannya juga. "Sungguh menggembirakan bertemu Ibu..."

"Kubilang, cukup," kata Mrs Weasley, menaruh belanjaannya di kursi kosong. "Halo, Harry. Kurasa kau sudah mendengar kabar gembira kami?" Dia menunjuk lencana perak baru di dada Percy. "Ketua Murid kedua dalam keluarga!" katanya bangga.

"Dan terakhir," gumam Fred dalam bisikan.

"Itu tidak kuragukan," kata Mrs Weasley, mendadak mengernyit. "Kulihat kalian berdua tidak terpilih men-jadi Prefek."

"Buat apa kami kepingin jadi Prefek?" kata George, kelihatan jijik. "Segala kegembiraan hidup akan hilang."

Ginny terkikik.

"Beri contoh yang baik pada adikmu!" gertak Mrs Weasley.

"Ginny punya kakak-kakak lain yang bisa memberi-nya contoh, Bu," kata Percy angkuh. "Aku mau ganti pakaian untuk makan malam...."

Dia menghilang dan George menghela napas. "Kami mencoba mengurungnya di dalam piramida," dia memberitahu Harry. "Tapi ketahuan Mum."

Makan malam berlangsung sangat menyenangkan. Tom si pemilik penginapan menyatukan tiga meja di ruang tamu dan ketujuh Weasley, Harry serta Hermione menikmati makan malam yang menyenangkan yang disajikan dalam lima tahapan.

"Bagaimana kita ke King's Cross besok, Dad?" tanya Fred, sementara mereka menikmati puding cokelat yang lezat.

"Kementerian menyediakan dua mobil," kata Mrs Weasley. Semua mendongak memandangnya.

"Kenapa?" tanya Percy ingin tahu.

"Tentu karena kau, Perce," kata George serius. "Dan akan ada bendera-bendera kecil di atap mobil, dengan huruf-huruf KM..."

"... singkatan Kepala Melembung," kata Fred. Semua, kecuali Percy dan Mrs Weasley, mendengus ke dalam puding masing-masing. "Kenapa Kementerian menyediakan mobil, Yah?" Percy bertanya lagi, dengan nada resmi.

"Yah, kita kan tidak punya mobil lagi," kata Mr Weasley,

"dan karena aku bekerja di sana, mereka membantuku..." Suaranya biasa saja, tetapi Harry melihat telinga Mr Weasley berubah merah, persis seperti telinga Ron kalau dia sedang stres.

"Untunglah," kata Mrs Weasley cepat. "Sadarkah kalian berapa banyak barang-barang kalian? Pasti me-narik perhatian kalau kita naik kereta bawah tanah Muggle... Kalian semua sudah berkemas, kan?"

"Ron belum memasukkan barang-barangnya yang baru dibeli ke dalam kopernya," keluh Percy. "Semua-nya berantakan di tempat tidurku."

"Lebih baik kau berkemas sekarang, Ron, karena kita tak punya banyak waktu besok pagi," kata Mrs Weasley dari ujung meja. Ron memandang Percy dengan jengkel.

Setelah makan malam semua merasa kenyang dan mengantuk. Satu per satu mereka naik ke kamar masing- masing untuk memeriksa barang-barang yang akan dibawa esok pagi. Kamar Ron dan Percy ber-sebelahan dengan kamar Harry. Harry baru saja me-nutup dan mengunci kopernya ketika dia mendengar suara-suara marah menembus dinding, dan pergi ke sebelah untuk mengetahui apa yang terjadi.

Pintu kamar nomor dua belas terbuka sedikit dan Percy sedang berteriak-teriak. "Tadi di sini, di meja di sebelah tempat tidur. Kulepas untuk digosok..."

"Aku tidak menyentuhnya, tahu!" Ron balas membentak.

"Ada apa?" tanya Harry.

"Lencana Ketua Murid-ku hilang," kata Percy, berbalik menghadapi Harry.

"Begitu juga Tonik Tikus Scabbers," kata Ron, melempar barang-barang dari dalam kopernya untuk mencari tonik itu.

"Mungkin ketinggalan di bawah..."

"Kau tak boleh ke mana-mana sampai kautemukan lencanaku!" raung Percy.

"Biar aku yang mengambilkan tonik Scabbers. Aku sudah selesai beres-beres," Harry berkata kepada Ron, dan dia turun.

Harry sudah setengah jalan di lorong yang menuju ruang makan di bawah, yang sekarang sudah sangat gelap, ketika dia mendengar sepasang suara marah lain datang dari ruang tamu. Sesaat kemudian dia mengenalinya sebagai suara Mr dan Mrs Weasley. Harry ragu-ragu, dia tak ingin mereka tahu dia telah mendengar mereka bertengkar. Tetapi kemudian dia mendengar namanya disebut. Harry berhenti, kemudi-an bergerak mendekati pintu ruang tamu.

"...tak masuk akal tidak boleh memberitahu dia," kata Mr Weasley panas. "Harry berhak tahu. Aku sudah memberitahu Fudge, tapi dia berkeras mau memperlakukan Harry seperti anak-anak. Dia sudah tiga belas tahun dan..."

"Arthur, kalau tahu yang sebenarnya, Harry akan ketakutan!" kata Mrs Weasley nyaring. "Apa kau benar-benar ingin Harry kembali ke sekolah dengan dihantui ketakutan? Astaga, dia bahagia kalau tak tahu!"

"Aku tak ingin membuatnya menderita, aku ingin dia waspada!" balas Mr Weasley. "Kau kan tahu se-perti apa Harry dan Ron, berkeliaran ke mana-mana berdua saja—mereka sudah masuk Hutan Terlarang dua kali! Tetapi Harry tak boleh begitu tahun ini! Kalau aku memikirkan apa yang bisa terjadi padanya pada malam dia melarikan diri dari rumah! Jika tidak diangkut Bus Ksatria, aku berani bertaruh dia pasti sudah mati sebelum Kementerian menemukan-nya."

"Tetapi dia tidak mati, dia baik-baik saja, jadi apa gunanya..."

"Molly mereka bilang Sirius Black gila, mungkin juga benar, tetapi dia cukup pintar untuk bisa kabur dari Azkaban, padahal itu kan diandaikan tak mung-kin terjadi. Sudah tiga minggu, dan tak seorang pun pernah melihat batang hidungnya, dan aku tak peduli apa yang terus-menerus dikatakan Fudge kepada Daily Prophet. Kemungkinan menangkap Black masih sama jauhnya dengan menciptakan tongkat yang bisa me-nyihir sendiri. Satu-satunya yang kita tahu betul adalah siapa yang jadi sasaran Black..."

"Tetapi Harry akan aman di Hogwarts."

"Kita menganggap Azkaban aman sekali. Kalau Black bisa kabur dari Azkaban, dia bisa menerobos masuk Hogwarts."

"Tapi tak ada yang benar-benar yakin sasaran Black adalah Harry..." Terdengar bunyi duk keras, dan Harry yakin Mr Weasley telah menggebrak meja dengan tinjunya.

"Molly, berapa kali harus kukatakan kepadamu? Mereka tidak melaporkannya ke media karena Fudge ingin menutupinya. Tetapi Fudge ke Azkaban pada malam Black kabur. Para pengawal memberitahu Fudge bahwa Black sudah beberapa waktu bicara dalam tidurnya. Kata-katanya selalu sama: 'Dia di Hogwarts... dia di Hogwarts.' Black itu gila, Molly, dan dia menginginkan Harry mati. Kalau kau tanya pendapatku, Black mengira membunuh Harry akan membuat Kau-Tahu-Siapa kembali berkuasa. Black ke-hilangan segalanya pada malam Harry menghentikan Kau-Tahu-Siapa, dan dia punya waktu dua belas ta-hun sendirian di Azkaban untuk memikirkan ini..."

Sunyi sesaat. Harry bersandar makin rapat ke pintu, ingin sekali mendengar lebih banyak lagi.

"Yah, Arthur, kau harus melakukan yang menurut-mu benar. Tetapi kau melupakan Albus Dumbledore. Kurasa tak ada yang bisa mencelakakan Harry di Hogwarts kalau Dumbledore kepala sekolahnya. Dia tahu tentang semua ini, kan?"

"Tentu saja dia tahu. Kami harus menanyainya apakah dia keberatan para pengawal Azkaban berjaga di sekitar pintu masuk ke halaman sekolah. Dia tidak senang, tetapi dia setuju."

"Tidak senang? Kenapa dia tidak senang, kalau mereka di sana untuk menangkap Black?"

"Dumbledore tidak menyukai pengawal-pengawal Azkaban," kata Mr Weasley berat. "Aku juga tidak, sebetulnya... tapi kalau kita berurusan dengan pe-nyihir seperti Black, kadang-kadang kita harus meng-gabungkan kekuatan dengan pihak-pihak yang se-betulnya lebih suka kita hindari."

"Kalau mereka menyelamatkan Harry..."

"...kalau begitu aku tidak akan bicara buruk lagi tentang mereka," kata Mr Weasley lelah. "Sudah malam, Molly, sebaiknya kita naik..."

Harry mendengar kursi-kursi digeser. Sepelan mungkin, dia bergegas ke ruang makan. Pintu ruang tamu terbuka dan beberapa saat kemudian langkah-langkah yang terdengar memberitahunya Mr dan Mrs Weasley sedang menaiki tangga. Botol Tonik Tikus itu tergeletak di bawah meja tempat mereka duduk tadi. Harry menunggu sampai didengarnya pintu kamar Mr dan Mrs Weasley ter-tutup, baru dia naik lagi membawa botol tonik.

Fred dan George meringkuk dalam bayang-bayang kegelapan di bordes, berguncang menahan tawa sementara mereka mendengarkan Percy meng-obrak-abrik kamarnya dalam usahanya mencari len-cananya.

"Kami yang ambil," Fred berbisik kepada Harry. "Kami perbaiki."

Lencana itu sekarang berbunyi Kakatua Murid.

Harry memaksa diri tertawa, pergi menyerahkan Tonik Tikus kepada Ron, kemudian masuk ke kamar-nya dan berbaring di tempat tidur.

Jadi Sirius Black mengejarnya. Itu menjelaskan se-galanya. Fudge bersikap lunak terhadapnya karena amat lega melihatnya masih hidup. Dia menyuruh Harry berjanji tidak meninggalkan Diagon Alley, karena di Diagon Alley ada banyak penyihir yang menjaganya. Dan dia mengirim dua mobil Kementeri-an Sihir untuk membawa mereka semua ke stasiun besok, supaya keluarga Weasley bisa menjaga Harry sampai dia berada di dalam kereta api.

Harry berbaring mendengarkan teriakan-teriakan teredam dari kamar sebelah dan heran sendiri ke-napa dia tidak menjadi lebih takut. Sirius Black telah membunuh tiga belas orang dengan sekali kutuk. Mr dan Mrs Weasley jelas mengira Harry akan panik kalau dia tahu kenyataan ini. Tetapi Harry setuju sepenuhnya dengan pendapat Mrs Weasley bahwa tempat teraman di dunia adalah tempat di mana Albus Dumbledore berada. Bukankah orang selalu berkata Dumbledore adalah satu-satunya or-ang yang ditakuti Lord Voldemort? Tentunya Black, sebagai tangan kanan Voldemort, sama takutnya kepada Dumbledore?

Lagi pula masih ada para pengawal Azkaban yang dibicarakan semua orang. Mereka kelihatannya mem-buat banyak orang ketakutan, dan jika mereka di-tempatkan di sekeliling sekolah, kemungkinan Black bisa memasuki sekolah tampaknya kecil sekali.

Tidak, setelah semuanya dipertimbangkan, hal yang paling mengganggu Harry adalah fakta bahwa ke-mungkinannya untuk mengunjungi Hogsmeade seka-rang tak ada sama sekali. Tak seorang pun ingin Harry meninggalkan kastil yang aman sampai Black tertangkap. Bahkan, Harry curiga segala gerak-gerik-nya akan dipantau dengan teliti sampai bahaya telah lewat.

Dia mencibir kepada langit-langit yang gelap. Apa mereka pikir dia tidak bisa menjaga diri? Dia sudah berhasil selamat dari Lord Voldemort tiga kali, dia toh tidak sama sekali tak berguna....

Tak terelakkan, sosok binatang dalam keremangan Magnolia Crescent melintas di benaknya. Apa yang harus kaulakukan jika tahu yang terburuk akan terjadi....

"Aku tak mau dibunuh," kata Harry keras-keras. "Semangat yang bagus, Nak," kata cerminnya me-ngantuk.

5. Dementor

TOM membangunkan Harry keesokan paginya dengan senyum ompongnya yang biasa dan secangkir teh. Harry berganti pakaian dan sedang membujuk Hedwig yang tidak puas untuk masuk kembali ke sangkarnya, ketika Ron menerobos masuk sambil me-narik baju kaus tebal melewati kepalanya. la kelihatan jengkel. ,

"Lebih cepat kita naik ke kereta api lebih baik," katanya.

"Paling tidak aku bisa jauh-jauh dari Percy di Hogwarts. Sekarang dia menuduhku meneteskan teh ke foto Penelope Clearwater. Tahu kan," Ron menye-ringai, "pacarnya. Cewek itu menyembunyikan wajah-nya di bawah pigura foto karena hidungnya basah..."

"Ada yang mau kuberitahukan padamu," Harry memulai, tetapi mereka disela oleh Fred dan George, yang datang untuk memberi selamat pada Ron karena berhasil membuat Percy marah lagi.

Mereka turun untuk sarapan. Mr Weasley sedang membaca halaman depan koran Daily Prophet dengan dahi berkerut dan Mrs Weasley sedang bercerita kepada Ginny dan Hermione tentang Ramuan Cinta yang dibuatnya waktu dia masih gadis dulu. Ketiga-nya cekikikan.

"Tadi kau mau bilang apa?" Ron menanyai Harry, ketika mereka sudah duduk.

"Nanti saja," gumam Harry melihat Percy datang.

Harry tak punya kesempatan bicara baik kepada Ron ataupun Hermione dalam hiruk-pikuk menjelang keberangkatan. Mereka terlalu sibuk menggotong koper-koper mereka menuruni tangga-tangga sempit Leaky Cauldron dan menumpuknya di dekat pintu, sementara Hedwig dan Hermes, burung hantu Percy yang berteriak-teriak, bertengger di atas koper-koper itu di dalam sangkar mereka. Sebuah keranjang anyaman kecil berdiri di sebelah tumpukan koper, mendesis- desis keras.

"Tidak apa-apa, Crookshanks," bujuk Hermione dari lubang- lubang anyaman. "Nanti kau kukeluarkan kalau sudah di kereta."

"Tidak boleh," gertak Ron. "Kasihan si Scabbers, kan?"

Ron menunjuk dadanya. Gelembung besar di situ menunjukkan bahwa Scabbers bergulung di dalam sakunya.

Mr Weasley yang berada di luar menunggu mobil Kementerian Sihir, menjulurkan kepalanya ke dalam.

"Mobilnya sudah datang," katanya. "Harry, ayo."

Mr Weasley mengantar Harry menyeberangi trotoar menuju mobil yang di depan. Ada dua mobil kuno hijau tua, masing- masing dikemudikan penyihir miste-rius berseragam hijau zamrud.

"Masuk, Harry," kata Mr Weasley sambil me-mandang ke kanan-kiri jalan yang ramai.

Harry masuk ke tempat duduk belakang dan tak lama kemudian disusul Hermione, Ron, dan... Percy! Ini jelas membuat Ron sebal sekali.

Perjalanan ke King's Cross biasa-biasa saja di-banding dengan perjalanan Harry waktu naik Bus Ksatria. Mobil Kementerian Sihir ini kelihatannya se-perti mobil biasa, meskipun Harry memperhatikan kedua mobil ini bisa menyelip melewati celah-celah yang jelas tak akan bisa dilalui mobil kantor Paman Vernon. Mereka tiba di stasiun dua puluh menit sebelum kereta berangkat. Sopir-sopir Kementerian mengambil troli, menurunkan koper-koper mereka, menyentuh topi untuk memberi hormat kepada Mr Weasley, dan pergi. Secara ajaib mobil mereka berhasil melompat sampai ke paling depan antrean tak ber-gerak yang sedang menunggu lampu hijau.

Mr Weasley menempel Harry terus sampai mereka memasuki stasiun.

"Baiklah," katanya memandang berkeliling. "Kita masuk dua-dua, karena rombongan kita banyak. Aku masuk duluan dengan Harry."

Mr Weasley berjalan ke arah palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh, mendorong troli Harry dan kelihatan tertarik sekali pada InterCity 125 yang baru saja memasuki peron sembilan. Dengan pandang-an penuh arti kepada Harry, dia bersandar santai ke palang rintangan. Harry menirunya. Berikutnya, mereka sudah menemous logam kokoh itu dan tiba di peron sembilan tiga perempat, dan mendongak .melihat Hogwarts Express, kereta api uap merah-tua, mengepul-ngepulkan asap ke peron yang dipenuhi para penyihir yang mengantar anak-anak mereka.

Percy dan Ginny tiba-tiba muncul di belakang Harry. Mereka tersengal-sengal, rupanya menembus palang dengan berlari.

"Ah, itu Penelope!" kata Percy, merapikan rambut-nya dan wajahnya memerah lagi. Ginny bertatapan dengan Harry dan keduanya berpaling untuk me-nyembunyikan tawa mereka ketika Percy mendekati seorang gadis berambut ikal panjang. Percy berjalan seraya membusungkan dada, sehingga si gadis tak mungkin tidak melihat lencananya yang mengilap.

Setelah sisa keluarga Weasley dan Hermione ber-gabung, Harry dan Mr Weasley berjalan di depan menuju ujung kereta, melewati gerbong-gerbong yang penuh sesak, sampai tiba di gerbong yang kelihatan-nya kosong. Mereka menaikkan koper- koper, menaruh Hedwig dan Crookshanks di atas rak barang, kemudi-an kembali ke luar untuk mengucapkan selamat ting-gal kepada Mr dan Mrs Weasley.

Mrs Weasley mencium semua anaknya, kemudian Hermione, dan akhirnya Harry. Harry malu, tetapi sebetulnya senang, ketika Mrs Weasley menambahinya dengan pelukan.

"Hati-hati ya, Harry," katanya ketika dia menegak-kan diri lagi, matanya berkaca-kaca. Kemudian dia membuka tasnya yang besar sekali dan berkata, "Aku sudah membuatkan sandwich untuk kalian semua. Ini, Ron... bukan, isinya bukan kornet daging... Fred? Di mana Fred? Ini, Nak..."

"Harry" kata Mr Weasley pelan, "ke sini sebentar."

Dia mengedikkan kepala ke arah pilar, dan Harry mengikutinya ke belakang pilar, meninggalkan yang lain yang sedang mengerumuni Mrs Weasley.

"Ada yang harus kusampaikan kepadamu sebelum kau berangkat," kata Mr Weasley tegang. "Tak apa-apa, Mr Weasley," kata Harry. "Saya sudah tahu."

"Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?"

"Saya—eh—saya mendengar Anda dan Mrs Weasley bicara tadi malam. Tak sengaja," Harry menambahkan cepat-cepat.

"Maaf..." "Itu bukan cara yang akan kupilih untuk mem-buatmu tahu," kata Mr Weasley, kelihatan cemas.

"Tidak apa-apa—betul, tidak apa-apa. Dengan begini, Anda tidak melanggar janji Anda kepada Fudge dan saya tahu apa yang sedang berlangsung."

"Harry, kau pasti takut sekali..."

"Tidak," kata Harry jujur. "Betul," dia menambah-kan, karena Mr Weasley kelihatan tidak percaya. "Saya bukannya mau sok jadi pahlawan, tetapi Sirius Black tak mungkin lebih mengerikan dari Voldemort, kan?"

Mr Weasley berjengit mendengar nama itu, tetapi berusaha mengabaikannya.

"Harry, aku tahu kau, yah, lebih kuat daripada yang dikira Fudge, dan aku senang sekali kau tidak takut, tapi..."

"Arthur!" panggil Mrs Weasley, yang sekarang menggiring anak-anak yang lain ke kereta. "Arthur, sedang apa kau? Keretanya sudah mau berangkat!"

"Kami datang, Molly!" kata Mr Weasley tetapi dia berpaling kembali pada Harry dan bicara lagi dengan suara yang lebih pelan dan mendesak, "Dengar, aku ingin kau berjanji..."

"...bahwa saya akan jadi anak yang baik dan tinggal di dalam kastil?" tanya Harry muram.

"Tidak hanya itu," kata Mr Weasley, yang kelihatan lebih serius daripada yang pernah dilihat Harry. "Harry, bersumpahlah padaku kau tidak akan mencari Black."

Harry terbeliak. "Apa?" Terdengar peluit keras. Para petugas berjalan se-panjang kereta, menutup semua pintu.

"Berjanjilah, Harry," kata Mr Weasley, bicara lebih cepat lagi,

"bahwa apa pun yang terjadi..."

"Untuk apa saya mencari orang yang saya tahu akan membunuh saya?" tanya Harry tak mengerti. "Bersumpahlah padaku bahwa apa pun yang mungkin kau dengar..."

"Arthur, cepat!" teriak Mrs Weasley.

Asap meliuk dari atas kereta. Kereta sudah mulai bergerak. Harry berlari ke pintu gerbong. Ron mem-bukanya dan mundur agar Harry bisa masuk. Mereka menjulurkan kepala dari jendela dan melambaikan tangan kepada Mr dan Mrs Weasley sampai kereta api berbelok di tikungan dan mereka tak kelihatan lagi.

"Aku perlu bicara dengan kalian berdua," Harry bergumam kepada Ron dan Hermione sementara kereta meluncur semakin cepat.

"Pergi jauh-jauh, Ginny," kata Ron.

"Oh, sopan sekali," kata Ginny tersinggung, lalu pergi. Harry, Ron, dan Hermione menyusuri koridor, mencari kompartemen kosong, tetapi semuanya penuh, kecuali satu di ujung gerbong.

Kompartemen ini hanya berisi satu orang, laki-iaki yang tidur nyenyak di sisi jendela. Harry, Ron, dan Hermione ragu- ragu di ambang pintu. Hogwarts Ex-press biasanya khusus untuk anak-anak dan mereka belum pernah melihat orang dewasa di kereta, kecuali penyihir yang mendorong troli makanan.

Orang asing ini memakai jubah sihir yang sudah sangat usang dan ditisik di beberapa tempat. Tampak-nya dia sakit dan lelah. Meskipun masih muda, ram-butnya yang cokelat- muda sudah ditumbuhi uban di sana-sini.

"Menurutmu siapa dia?" desis Ron, ketika mereka duduk dan menutup kembali pintu. Mereka memilih tempat duduk sejauh mungkin dari jendela.

"Profesor R.J. Lupin," bisik Hermione segera.

"Dari mana kau tahu?"

"Ada di kopernya," jawab Hermione, menunjuk rak barang di atas kepala si laki-laki. Di rak itu ada koper kecil butut diikat dengan tali yang ikatannya rapi. Nama Profesor R.J. Lupin tertera di salah satu sudutnya dengan huruf-huruf yang sudah mulai me-ngelupas.

"Ngajar apa, ya?" tanya Ron, mengernyit memandang profil Profesor Lupin yang pucat.

"Jelas, kan," bisik Hermione. "Cuma ada satu lowongan. Pertahanan terhadap Ilmu Hitam."

Harry, Ron, dan Hermione sudah pernah diajar oleh dua guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Ke-duanya hanya bertahan selama setahun. Ada desas-desus bahwa pekerjaan itu membawa sial.

"Yah, mudah-mudahan saja dia memang sanggup," kata Ron ragu-ragu. "Kelihatannya satu kutukan saja bisa menghabisinya. Ngomong-ngomong...," dia ber-paling pada Harry, "apa sih yang mau kaubicarakan dengan kami?"

Harry menjelaskan tentang pertengkaran Mr dan Mrs Weasley dan peringatan yang baru saja diberikan Mr Weasley kepadanya. Setelah Harry selesai bercerita, Ron termangu- mangu, sedangkan Hermione menekap mulut dengan kedua tangannya. Akhirnya Hermione menurunkan tangannya untuk berkata, "Sirius Black kabur dari penjara untuk menangkapmu? Oh, Harry... kau harus sangat, sangat hati- hati. Jangan cari masa-lah, Harry."

"Aku tak pernah cari masalah," kata Harry sakit hati.

"Masalah-lah yang biasanya menemukan aku."

"Memangnya Harry begitu tolol, mencari orang gila yang mau membunuhnya?" kata Ron gemetar.

Mereka menerima berita ini dengan lebih terpukul daripada dugaan Harry. Baik Ron maupun Hermione kelihatannya jauh lebih takut pada Black dibanding Harry sendiri.

"Tak ada yang tahu bagaimana dia bisa lolos dari Azkaban," kata Ron gelisah. "Tak ada yang pernah kabur sebelumnya. Dan dia juga napi kelas top."

"Tapi mereka akan bisa menangkapnya, kan?" kata Hermione penasaran. "Maksudku, mereka juga me-minta semua Muggle ikut mencarinya..."

"Bunyi apa itu?" kata Ron tiba-tiba. Terdengar suitan samar entah dari mana. Mereka mencari-cari di seluruh kompartemen.

"Datangnya dari dalam kopermu, Harry," kata Ron, berdiri dan menjulurkan tangan ke atas rak barang. Sesaat kemudian dia telah menarik Teropong-Curiga Saku dari antara jubah- jubah Harry Teropong-Curiga itu berputar sangat cepat di atas telapak tangan Ron, dan berpendar-pendar terang.

"Apakah itu Teropong-Curiga?" tanya Hermione ingin tahu, berdiri agar bisa melihat lebih jelas.

"Yeah... tapi, ini yang murah sekali," kata Ron. "Dia langsung berbunyi waktu aku mengikatkannya ke kaki Errol untuk dikirimkan pada Harry. Mungkin rusak."

"Apa waktu itu kau melakukan sesuatu yang men-curigakan?" tanya Hermione galak.

"Tidak! Yah... aku sebetulnya tidak boleh meng-gunakan Errol. Kau tahu, kan, dia tidak kuat lagi menempuh perjalanan panjang... tapi bagaimana lagi aku bisa mengirimkan hadiah Harry kepadanya?"

"Masukkan lagi ke koper," Harry menyarankan, ketika si Teropong-Curiga bersuit melengking. "Kalau tidak nanti dia bangun."

Harry mengangguk ke arah Profesor Lupin. Ron menjejalkan Teropong-Curiga itu ke dalam sepasang kaus kaki jelek dan usang bekas Paman Vernon yang meredam bunyinya, lalu menutup koper.

"Kita bisa memeriksakannya di Hogsmeade," kata Ron, seraya duduk lagi. "Toko Dervish and Banges menjual barang- barang seperti itu, peralatan-peralatan dan barang-barang gaib. Fred yang cerita padaku."

"Apakah kau tahu banyak tentang Hogsmeade?" tanya Hermione penuh minat. "Menurut yang kubaca itu satu- satunya permukiman non-Muggle di seluruh Inggris..."

"Iya sih, kelihatannya begitu," kata Ron sambil lalu. "Tetapi bukan itu yang membuatku ingin ke sana. Aku cuma ingin ke Honeydukes!"

"Apa itu?" tanya Hermione.

"Toko permen," jawab Ron, menerawang. "Segala macam permen ada... Pepper Imps—Merica Setan, yang membuat mulutmu berasap, dan bola cokelat besar berisi krim stroberi, dan loli pena bulu luar biasa yang bisa kauisap di kelas sementara kelihatannya kau sedang memikirkan apa yang akan kautulis ber-ikutnya..."

"Tetapi Hogsmeade tempat yang sangat menarik, kan?" Hermione mendesak penasaran. "Dalam Situs-situs Sejarah Sihir disebutkan losmen di situ adalah markas besar untuk pemberontakan goblin tahun 1612, dan Shrieking Shack— Gubuk Menjerit—katanya ba-ngunan yang paling banyak hantunya di Inggris..."

"...dan permen besar-besar yang akan membuatmu terangkat beberapa senti dari tanah saat kau meng-isapnya," kata Ron, yang jelas tak mendengarkan sepatah kata pun yang diucapkan Hermione.

Hermione berpaling pada Harry. "Asyik ya, kita boleh keluar dari sekolah dan jalan-jalan di Hogsmeade." "Mestinya," kata Harry muram. "Kau harus cerita padaku kalau sudah ke sana nanti."

"Apa maksudmu?" kata Ron.

"Aku tak bisa pergi. Paman dan bibiku tidak me-nandatangani formulir perizinanku dan Fudge juga tak mau."

Ron tampak ngeri.

"Kau tak boleh pergi? Tapi—no way—McGonagall atau entah siapa akan memberimu izin..." Harry tertawa hampa. Profesor McGonagall, kepala asrama Gryffindor, orangnya sangat berdisiplin. "...atau kita bisa tanya Fred dan George, mereka tahu semua lorong rahasia di kastil..."

"Ron!" kata Hermione tajam. "Kurasa Harry tak boleh sembunyi-sembunyi meninggalkan kastil selama Black masih berkeliaran..."

"Yeah, kurasa begitulah yang akan dikatakan McGonagall kalau aku minta izin," timpal Harry getir.

"Tapi kalau kita bersamanya," kata Ron bersemangat kepada Hermione, "Black tak akan berani..."

"Oh, Ron, jangan bicara omong kosong," sela Hermione tajam. "Black sudah membunuh banyak orang di tengah jalan ramai, dan kaupikir dia akan ragu-ragu menyerang Harry hanya karena ada kita?"

Sambil bicara Hermione membuka kait keranjang Crookshanks.

"Jangan keluarkan dia!" kata Ron, tapi terlambat. Crookshanks melompat ringan dari dalam keranjang-nya, menggeliat, menguap, dan meloncat ke pangkuan Ron.

Gundukan di saku Ron gemetar dan Ron men-dorong si kucing dengan jengkel.

"Pergi!"

"Ron, jangan!" kata Hermione marah.

Ron baru mau membalas, ketika Profesor Lupin bergerak. Mereka mengawasinya dengan cemas, tetapi dia cuma menolehkan kepalanya ke arah lain, mulut-nya sedikit terbuka, dan tidur terus.

Hogwarts Express meluncur mantap ke arah utara. Pemandangan di luar menjadi semakin liar dan gelap sementara awan-awan di atas menebal. Anak-anak berkejaran melewati pintu kompartemen mereka. Crookshanks sekarang mendekam di atas tempat duduk kosong, wajahnya yang gepeng menghadap Ron, matanya yang hijau mengawasi saku atas Ron.

Pukul satu si penyihir wanita gemuk dengan troli makanan tiba di pintu kompartemen.

"Kita bangunkan atau tidak?" Ron bertanya cang-gung, mengangguk ke arah Profesor Lupin. "Kelihat-annya dia perlu makan."

Hermione hati-hati mendekati Profesor Lupin.

"Eh—Profesor?" katanya. "Maaf—Profesor?" Dia tidak bergerak.

"Jangan khawatir, Nak," kata si penyihir seraya menyerahkan setumpuk besar kue kepada Harry. "Kalau dia lapar waktu bangun nanti, aku ada di depan dengan masinis."

"Dia tidur, kan?" kata Ron pelan, setelah si penyihir menutup pintu kompartemen mereka. "Maksudku— dia tidak mati, kan?"

"Tidak, tidak, dia masih bernapas," bisik Hermione, mengambil kue yang ditawarkan Harry.

Profesor Lupin mungkin bukan teman seperjalanan yang baik, tetapi kehadirannya di kompartemen me-reka ada gunanya. Lewat tengah hari, ketika hujan mulai turun, menyamarkan perbukitan yang ter-hampar di luar jendela, mereka mendengar langkah-langkah kaki di koridor lagi, dan tiga orang yang paling tidak mereka sukai muncul di pintu: Draco Malfoy diapit kroninya, Vincent Crabbe dan Gregory Goyle.

Draco Malfoy dan Harry sudah bermusuhan sejak mereka bertemu dalam perjalanan kereta api pertama mereka ke Hogwarts. Malfoy yang berwajah pucat, runcing dan sinis, adalah penghuni asrama Slytherin. Dia bermain sebagai Seeker di tim Quiddtich Slytherin, posisi yang sama seperti yang dimainkan Harry di tim Gryffindor. Crabbe dan Goyle tampaknya hadir di dunia untuk melaksanakan segala perintah Malfoy. Mereka berdua besar berotot. Crabbe lebih tinggi, dengan rambut berpotongan batok dan leher sangat tebal. Goyle berambut pendek kaku dan lengannya panjang berbulu seperti lengan gorila.

"Wah, lihat, siapa itu," kata Malfoy dengan suaranya yang seperti orang malas, membuka pintu kompar-temen mereka.

"Potty and the Weasel." Itu ejekan tentu, sebab potty berarti pispot, sedangkan weasel adalah binatang sejenis musang.

Crabbe dan Goyle terkekeh macam troll.

"Kudengar ayahmu akhirnya berhasil dapat emas musim panas ini, Weasley," kata Malfoy. "Apa ibumu mati saking kagetnya?"

Ron berdiri cepat sekali, menyenggol keranjang Crookshanks sampai jatuh ke lantai. Profesor Lupin mendengus.

"Siapa itu?" tanya Malfoy, otomatis melangkah mundur begitu melihat Lupin.

"Guru baru," kata Harry, yang sudah bangkit juga, siapa tahu dia perlu menahan Ron. "Apa katamu, Malfoy?"

Mata pucat Malfoy menyipit. Dia tak begitu bodoh sehingga mau berkelahi di depan hidung guru. "Ayo," gumamnya kecewa kepada Crabbe dan Goyle, dan mereka menghilang. Harry dan Ron duduk lagi. Ron menggosok-gosok buku-buku jarinya.

"Aku tak mau diam saja dikata-katai Malfoy tahun ini," katanya berang. "Betul. Kalau dia sekali lagi menghina keluargaku, akan kupegang kepalanya dan..."

Ron memperagakan gerakan bengis di tengah udara.

"Ron," desis Hermione, menunjuk Profesor Lupin, "hati- hati..."

Tetapi Profesor Lupin masih tidur nyenyak.

Hujan semakin lebat sementara kereta meluncur semakin ke utara. Jendela sekarang berwarna abu-abu berkilau dan perlahan berubah gelap sampai lampu-lampu menyala di sepanjang koridor dan di atas rak barang. Kereta berderit, hujan bergemuruh, angin menderu, tapi tetap saja Profesor Lupin tidur.

"Kita pasti hampir sampai," kata Ron, mencondong-kan tubuhnya ke depan untuk melihat, melewati Pro-fesor Lupin, ke jendela yang sekarang sudah hitam pekat.

Bibirnya belum lagi menutup ketika kereta mulai melambat.

"Bagus," kata Ron, bangkit dan berjalan hati-hati melewati Profesor Lupin untuk mencoba melihat ke luar. "Aku sudah lapar, aku ingin ikut pesta..."

"Tak mungkin kita sudah sampai," kata Hermione, memeriksa arlojinya.

"Lalu kenapa berhenti?"

Kereta api semakin lama semakin lambat. Setelah bunyi piston mereda, angin dan hujan terdengar se-makin keras menimpa jendela.

Harry yang duduk paling dekat pintu, bangkit untuk melihat ke koridor. Di sepanjang gerbong, kepala-kepala bermunculan ingin tahu dari dalam kompartemen.

Kereta api berhenti diiringi entakan dan suara ge-debuk dan kelontangan di kejauhan yang memberi-tahu mereka bahwa koper dan barang-barang bawaan berjatuhan dari raknya. Kemudian, tanpa peringatan, semua lampu padam dan mereka tenggelam dalam kegelapan total.

"Ada apa sih?" terdengar suara Ron di belakang Harry.

"Ouch!" pekik Hermione. "Ron, itu kakiku!" Harry meraba-raba kembali ke kursinya.

"Apa keretanya rusak?"

"Entah..."

Terdengar bunyi decit, dan Harry melihat sosok gelap Ron melap sepetak kaca jendela dan mengintip ke luar. "Ada yang bergerak di luar," kata Ron. "Kayaknya ada orang-orang yang naik ke kereta..." Pintu kompartemen mendadak terbuka dan ada yang menjatuhi kaki Harry sampai sakit.

"Sori! Apa kau tahu ada apa? Ouch! Sori..."

"Halo, Neville," kata Harry, meraba-raba dalam gelap dan mengangkat Neville pada jubahnya.

"Harry? Kaukah itu? Ada apa sih?"

"Entahlah! Duduklah..." Terdengar desis keras dan jerit kesakitan. Neville rupanya menduduki Crookshanks.

"Aku mau tanya masinis ada apa," terdengar suara Hermione. Harry merasa Hermione melewatinya, mendengar pintu menggeser terbuka lagi, kemudian bunyi gedebuk dan dua pekik kesakitan.

"Siapa itu?"

"Siapa itu?"

"Ginny?"

"Hermione?"

"Ngapain kau?"

"Aku mencari Ron..."

"Masuk dan duduklah..."

"Jangan di sini!" kata Harry buru-buru.

"Aku di sini!" "Aduh!" seru Neville.

"Diam!" mendadak terdengar suara serak.

Profesor Lupin akhirnya terbangun. Harry bisa men-dengar gerakan-gerakan di sudutnya. Tak seorang pun bicara.

Terdengar bunyi derik pelan dan ada cahaya ber-goyang yang memenuhi kompartemen. Profesor Lu-pin memegangi segenggam nyala api. Api itu me-nyinari wajahnya yang pucat lelah, tetapi matanya tampak siap dan waspada.

"Tetap di tempat masing-masing," katanya dengan suara serak yang sama, dan perlahan dia bangkit dengan tangan yang menggenggam api terulur di depannya.

Tetapi pintu menggeser terbuka sebelum Lupin mencapainya.

Berdiri di ambang pintu, diterangi oleh nyala api yang bergoyang di tangan Lupin, ada sosok berjubah yang menjulang sampai ke langit-langit kereta. Wajah-nya sama sekali tersembunyi di bawah kerudung kepalanya. Mata Harry menyusur ke bawah dan yang dilihatnya membuat perutnya kejang. Ada tangan yang terjulur dari dalam jubah dan tangan itu mengilap, abu-abu, kelihatannya berlendir dan berkeropeng, seperti sesuatu yang mati dan telah membusuk dalam air....

Tangan itu cuma tampak sekejap. Seakan makhluk di bawah jubah itu merasakan pandangan Harry, tangan itu mendadak ditarik ke dalam lipatan kain hitam jubahnya.

Dan kemudian, sosok di, bawah kerudung, entah apa itu, menarik napas pelan berkeretak, seakan dia mencoba mengisap lebih dari sekadar udara dari sekelilingnya.

Rasa dingin menusuk menyapu mereka semua. Harry merasa napasnya sendiri tertahan di dadanya. Rasa dingin itu menembus kulitnya. Memasuki dada-nya, memasuki jantungnya...

Mata Harry seolah membalik ke dalam kepalanya. Dia tak bisa melihat. Dia tenggelam dalam rasa dingin. Terdengar deru dalam telinganya, seperti deru air. Dia ditarik ke bawah, deru air semakin keras...

Dan kemudian, dari kejauhan, dia mendengar jeritan. Jerit mengerikan, ketakutan, dan penuh per-mohonan. Harry ingin membantu orang itu, dia ber-usaha menggerakkan tangannya, tetapi tak bisa... kabut putih tebal melayang-layang menyelubunginya, di dalam tubuhnya...

"Harry! Harry! Kau tak apa-apa?"

Ada yang menampar-nampar pipinya.

"A-apa?"

Harry membuka matanya. Ada lentera-lentera di atasnya, dan lantai bergetar—Hogwarts Express sudah bergerak lagi dan lampu juga sudah menyala. Rupa-nya dia merosot dari kursinya ke lantai. Ron dan Hermione berlutut di sebelahnya, dan di atas mereka, dia bisa melihat Neville dan Profesor Lupin meng-awasi. Harry merasa sangat mual. Waktu dia meng-angkat tangan untuk memakai lagi kacamatanya, dia merasa wajahnya bersimbah keringat dingin.

Ron dan Hermione mengangkatnya kembali ke tem-pat duduknya.

"Kau tak apa-apa?" tanya Ron cemas.

"Yeah," kata Harry, cepat-cepat memandang ke pintu. Makhluk berkerudung tadi sudah lenyap. "Apa yang terjadi? Di mana makhluk—makhluk itu? Siapa yang menjerit?"

"Tak ada yang menjerit," kata Ron, semakin cemas.

Harry memandang berkeliling kompartemen yang terang. Ginny dan Neville balas memandangnya. Ke-duanya pucat pasi.

"Tetapi aku mendengar jeritan..."

Bunyi keletak keras membuat mereka semua ter-lonjak. Profesor Lupin sedang mematah-matahkan sebatang cokelat besar.

"Ini," katanya kepada Harry, mengulurkan potongan yang besar sekali. "Makanlah. Akan membantu." Harry mengambil cokelat itu tetapi tidak memakan-nya.

"Tadi itu apa?" dia bertanya kepada Lupin.

"Dementor," kata Lupin, yang sekarang membagi-kan cokelat kepada semua anak. "Salah satu Dementor Azkaban."

Semua terbelalak menatapnya. Profesor Lupin me-remas bungkus cokelat dan memasukkannya ke dalam sakunya.

"Makan," dia mengulang. "Akan membantu. Aku perlu bicara dengan masinis, maaf..."

Dia berjalan melewati Harry dan lenyap ke koridor.

"Kau yakin kau tak apa-apa, Harry?" tanya Hermione, menatap Harry dengan cemas.

"Aku tak mengerti... apa yang terjadi?" kata Harry menyeka lebih banyak keringat dari wajahnya.

"Si—si Dementor—berdiri di sana dan memandang berkeliling (maksudku, kupikir dia memandang ber-keliling, aku tak bisa melihat matanya)—dan kau— kau..."

"Kukira kau tiba-tiba sakit ayan atau apa," kata Ron yang masih tampak ketakutan. "Kau mendadak kaku dan jatuh dari tempat dudukmu dan mulai kejang-kejang..."

"Dan Profesor Lupin melangkahimu, berjalan men-dekati si Dementor, dan mencabut tongkatnya," kata Hermione. "Dan dia berkata, 'Tak seorang pun dari kami menyembunyikan Sirius Black di balik jubah kami. Pergi.' Tetapi si Dementor tidak bergerak, jadi Lupin menggumamkan sesuatu, dan sesuatu yang keperakan meluncur dari tongkatnya, mengenai si Dementor, lalu si Dementor berbalik dan seperti me-layang pergi..."

"Mengerikan sekali," kata Neville, suaranya lebih melengking daripada biasanya. "Apakah kalian me-rasakan hawa jadi dingin sekali ketika dia datang?"

"Aku merasa aneh," kata Ron, menggerakkan bahu-nya dengan tak nyaman. "Sepertinya aku tak akan pernah gembira lagi..."

Ginny, yang meringkuk di sudut, kelihatan sama merananya seperti yang dirasakan Harry, terisak kecil. Hermione mendekatinya dan memeluknya.

"Tetapi apakah kalian tidak ada yang—jatuh dari tempat duduk?" tanya Harry canggung.

"Tidak," kata Ron,