Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Harry Potter And The Prisioner Of Azkaban 3

16. Ramalan Profesor Trelawney

KEGEMBIRAAN Harry karena berhasil memenang-kan Piala Quidditch berlangsung kira-kira seminggu. Bahkan cuaca seperti ikut merayakan kemenangan ini. Menjelang bulan Juni, langit bersih tak berawan dan hawa menjadi panas serta pengap. Yang ingin dilakukan anak-anak hanyalah berjalan- jalan di hala-man dan duduk-duduk di atas rumput sambil mem-bawa beberapa liter jus labu kuning, mungkin bermain Gobstone dengan santai atau menonton cumi-cumi raksasa mengambang mencari hawa di tengah danau.

Tetapi mereka tak bisa melakukannya. Ujian hampir tiba, dan alih-alih bermalas-malasan di luar, anak-anak terpaksa tinggal di dalam kastil, berusaha memaksa otak mereka untuk berkonsentrasi, sementara aroma musim panas yang menggiurkan masuk melalui jendela. Bahkan Fred dan George Weasley tampak belajar. Mereka sebentar lagi akan ujian OWL—Ordinary Wizarding Levels atau Level Sihir Umum. Percy mem-persiapkan diri untuk menghadapi NEWT. Newt me-mang semacam kadal air. Tetapi dalam hal ini NEWT adalah Nastily Exhausting Wizarding Tests atau Ujian Sihir yang Luar Biasa Melelahkan, kualifikasi tertinggi yang ditawarkan Hogwarts. Karena Percy ingin masuk ke Kementerian Sihir, dia perlu mendapat nilai-nilai top. Dia menjadi cepat marah dan memberikan hukuman berat kepada siapa saja yang mengganggu ketenangan ruang rekreasi di sore hari. Satu-satunya orang yang lebih tegang dari Percy adalah Hermione.

Harry dan Ron sudah menyerah, tak pernah ber-tanya lagi bagaimana Hermione bisa ikut beberapa mata pelajaran dalam waktu yang bersamaan, tetapi mereka tak tahan lagi ketika melihat jadwal ujian yang telah dibuat Hermione sendiri. Deret pertama berbunyi:

Senin

09.00: Arithmancy

09.00: Transfigurasi

Makan siang

13.00: Jimat dan guna-guna

13.00: Rune Kuno

"Hermione?" Ron berkata hati-hati, karena Hermione cenderung meledak jika diganggu hari-hari ini. "Eh— apakah kau yakin kau menyalin jadwal ini dengan benar?"

"Apa?" sentak Hermione, seraya mengambil jadwal-nya dan mengamatinya. "Ya, tentu saja."

"Apakah ada gunanya bertanya bagaimana kau bisa ikut dua ujian pada saat yang bersamaan?" tanya Harry.

"Tidak," tukas Hermione pendek. "Apakah kalian melihat buku Numerologi dan Gramatika-ku?"

"Oh, yeah, aku meminjamnya untuk bacaan sebelum tidur,"

kata Ron, tetapi amat pelan. Hermione mulai menggeser-geser tumpukan perkamen di atas mejanya, mencari-cari buku itu. Saat itu terdengar gesekan di jendela, lalu Hedwig terbang masuk, paruhnya meng-gigit surat erat-erat.

"Dari Hagrid," kata Harry, merobek sampulnya. "Banding Buckbeak—sudah ditentukan tanggal enam."

"Itu hari terakhir ujian kita," kata Hermione, masih mencari-cari buku Arithmancy-nya.

"Dan mereka akan datang ke sini untuk melakukan-nya," kata Harry, masih membaca suratnya. "Seorang petugas dari Kementerian Sihir dan—dan algojo."

Hermione mendongak kaget.

"Mereka membawa algojo untuk naik banding! Itu kan sepertinya mereka sudah mengambil keputusan!"

"Ya," kata Harry perlahan.

"Tidak bisa!" gerung Ron. "Aku sudah melewatkan berabad-abad membaca bahan-bahan untuk naik banding-nya. Mereka tak bisa mengabaikannya begitu saja!"

Tetapi Harry punya dugaan mengerikan bahwa Komite Pemunahan Satwa Berbahaya sudah meng-ambil keputusan, dipengaruhi oleh Mr Malfoy. Draco, yang tampak jelas lesu sejak kemenangan Gryffindor dalam final Quidditch, beberapa hari kemudian sudah pongah lagi. Dari komentar-komentar mencemooh yang didengar Harry, Malfoy yakin Buckbeak akan dibunuh, dan Malfoy kelihatan senang sekali dialah penyebabnya. Hanya dengan susah payah Harry ber-hasil menahan diri tidak meniru Hermione memukul Malfoy dalam kesempatan-kesempatan ini. Dan yang paling parah dari semuanya, mereka tak punya waktu maupun kesempatan untuk menengok Hagrid, karena peraturan pengamanan baru yang ketat masih tetap diberlakukan, dan Harry tak berani mengambil Jubah Gaib-nya dari bawah si nenek sihir bermata satu.

Minggu ujian mulai dan keheningan tak wajar me-nyelimuti kastil. Murid-murid kelas tiga keluar dari Transfigurasi pada jam makan siang hari Senin dengan lemas dan wajah pucat, membandingkan hasil dan mengeluhkan sulitnya tugas yang diberikan kepada mereka, yang mencakup mengubah teko teh menjadi kura-kura. Hermione membuat teman-temannya jengkel dengan meributkan bagaimana kura-kuranya tampak lebih menyerupai penyu air, padahal yang lain jauh lebih parah dari itu.

"Punyaku ekornya masih cerat teko. Mengerikan sekali..."

"Apakah kura-kura bisa mengeluarkan asap kalau bernapas?"

"Punggungnya masih bergambar pohon dedalu. Me-nurutmu apakah nilaiku akan dikurangi karena ini?"

Kemudian, setelah makan siang yang terburu-buru, mereka kembali ke atas lagi untuk ujian Jimat dan Guna-guna. Hermione benar. Profesor Flitwick menguji mereka dengan Jampi Jenaka. Hermione melakukan-nya secara berlebihan, karena dia tegang. Akibatnya Ron, yang menjadi partnernya, tertawa histeris tak henti-hentinya dan harus dibawa ke kelas kosong untuk menenangkan diri dan baru sejam kemudian dia sendiri bisa melakukan Jampi Jenaka-nya. Seusai makan malam, anak-anak bergegas kembali ke ruang rekreasi masing-masing, bukan untuk bersantai, me-lainkan untuk mulai belajar Pemeliharaan Satwa Gaib, Ramuan, dan Astronomi.

Hagrid memberikan ujian Pemeliharaan Satwa Gaib dengan pikiran tidak berkonsentrasi keesokan paginya. Pikirannya sama sekali tidak pada ujian itu. Dia menyediakan satu bak besar penuh Cacing Flobber segar, dan memberitahu murid- muridnya bahwa untuk bisa lulus, Cacing Flobber mereka harus masih hidup setelah lewat satu jam. Karena Cacing Flobber tumbuh paling subur kalau dibiarkan saja, ini ujian paling mudah yang mereka hadapi, dan juga memberi Harry,

Ron, dan Hermione banyak kesempatan untuk bicara dengan Hagrid.

"Beaky agak stres," kata Hagrid kepada mereka, membungkuk rendah berpura-pura memeriksa apakah Cacing Flobber Harry masih hidup. "Terlalu lama dikurung. Tapi... kita akan tahu lusa—bagaimana nasibnya."

Mereka ujian Ramuan sore itu, yang merupakan bencana besar. Bagaimanapun Harry berusaha, dia tak bisa membuat Larutan Linglung-nya mengental, dan Snape, yang berdiri mengawasi dengan sikap puas dan senang, menuliskan sesuatu yang mencuriga-kan seperti angka nol sebelum dia pergi.

Kemudian tibalah saat ujian Astronomi di tengah malam, di atas menara yang paling tinggi. Dalam ujian Sejarah Sihir pada hari Rabu pagi, Harry menuliskan segala sesuatu yang pernah diceritakan Florean Fortescue kepadanya tentang perburuan para penyihir di abad pertengahan, sementara dalam hati ingin sekali rasanya makan es krim kelapa-kacang Fortescue di dalam kelas yang gerah itu. Rabu sore berarti Herbologi, dalam rumah-rumah kaca di bawah siraman cahaya matahari yang panas membara, kemudian kembali ke ruang rekreasi sekali lagi, dengan tengkuk mereka panas terbakar sinar matahari, membayangkan betapa asyiknya besok malam, ketika semua ini sudah berlalu.

Ujian kedua sebelum yang terakhir, pada hari Kamis pagi, adalah Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Profesor Lupin telah menyiapkan ujian paling luar biasa bagi mereka; berbagai rintangan di udara ter-buka. Mereka harus berjalan mengarungi kolam dalam yang berisi Grindylow, melewati lubang-lubang berisi Red Cap, berjalan dengan susah payah menyeberangi rawa, mengabaikan petunjuk menyesatkan dari Hinkypunk, kemudian memasuki peti tua besar untuk berhadapan dengan Boggart baru.

"Bagus sekali, Harry," gumam Lupin ketika Harry memanjat turun dari dalam peti, nyengir. "Sepuluh."

Berseri-seri karena keberhasilannya, Harry tinggal untuk menonton Ron dan Hermione. Ujian Ron ber-jalan baik sekali sampai dia berhadapan dengan Hinkypunk, yang berhasil membuatnya bingung sehingga dia terbenam sampai sebatas pinggang dalam lumpur rawa. Hermione melakukan segalanya dengan sempurna sampai dia memasuki peti berisi Boggart. Kira-kira semenit setelah berada dalam peti, dia menghambur keluar, berteriak-teriak.

"Hermione!" kata Lupin, terperanjat. "Ada apa?" "P-p- profesor McGonagall!" kata Hermione ter-sendat. "Dia bilang semua ujianku tidak lulus!"

Perlu beberapa waktu untuk menenangkan Hermione. Ketika akhirnya dia sudah bisa menguasai diri, Hermione, Harry, dan Ron kembali ke kastil. Ron masih ingin tertawa kalau ingat Boggart Hermione, tetapi pertengkaran di antara mereka dihindarkan oleh pemandangan yang menyambut mereka ketika mereka tiba di undakan paling atas.

Cornelius Fudge, sedikit berkeringat dalam jubah bergarisnya, berdiri di sana memandang ke halaman. Dia kaget melihat Harry.

"Halo, Harry!" katanya. "Sedang ujian, kan? Hampir selesai?"

"Ya," jawab Harry. Hermione dan Ron yang tidak selevel bicara dengan Pak Menteri, dengan canggung mondar-mandir menunggu di belakang Harry.

"Hari yang indah," kata Fudge, memandang danau.

"Sayang... sayang..." Dia menghela napas dalam-dalam dan menunduk memandang Harry.

"Aku di sini untuk tugas yang tidak menyenangkan, Harry. Komite Pemunahan Satwa Berbahaya memerlu-kan saksi untuk pembantaian Hippogriff gila. Meng-ingat aku perlu mengunjungi Hogwarts untuk mengecek perkembangan masalah Black, aku diminta menjadi saksi."

"Apakah itu berarti bandingnya sudah selesai?" Ron maju menyela. "Belum, belum, bandingnya dijadwalkan sore ini," kata Fudge, memandang Ron dengan ingin tahu.

"Kalau begitu Anda belum tentu harus menyaksikan pembantaian!" ujar Ron tegas. "Siapa tahu Hippogriff itu bebas!"

Sebelum Fudge bisa menjawab, dua penyihir muncul dari pintu kastil di belakangnya. Salah satunya sudah tua sekali sehingga tampak merenta di depan mata mereka. Satunya lagi tinggi tegap, dengan kumis hitam tipis. Harry menyimpulkan mereka petugas-petugas Komite Pemunahan Satwa Berbahaya, karena penyihir yang sudah tua renta memandang ke arah pondok Hagrid dan berkata dengan suara lemah,

"Wah, wah, aku sudah terlalu tua untuk urusan begini... pukul dua, kan, Fudge?"

Si laki-laki berkumis hitam mengelus sesuatu di pinggangnya. Harry memandang ke arah itu dan melihat ibu jari laki-laki itu mengelus mata kapak yang tajam berkilau. Ron membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi Hermione menyikut rusuk-nya dengan keras dan mengedikkan kepalanya ke arah Aula Depan.

"Kenapa kau menyetopku?" kata Ron gusar, ketika mereka memasuki Aula Besar untuk makan siang. "Apakah kau melihat mereka? Mereka bahkan sudah menyiapkan kapak! Keadilan harus ditegakkan!"

"Ron, ayahmu bekerja di Kementerian. Kau tak bisa mengatakan hal-hal seperti itu kepada bosnya!" kata Hermione, tetapi Hermione sendiri tampak sangat cemas.

"Asal Hagrid bisa tenang kali ini, dan meng-ajukan pembelaannya dengan benar, tak mungkin mereka membantai Buckbeak..."

Tetapi Harry bisa melihat Hermione tidak sepenuh-nya yakin pada apa yang dikatakannya. Di sekeliling mereka, anak- anak mengobrol dengan bergairah seraya menyantap makan siang mereka, dengan riang me-nunggu saat akhir ujian sore itu. Tetapi Harry, Ron, dan Hermione, yang sangat mencemaskan Hagrid dan Buckbeak, tak bisa ikut senang.

Ujian terakhir Harry dan Ron adalah Ramalan, sedangkan ujian terakhir Hermione adalah Telaah Muggle. Mereka menaiki tangga pualam bersama-sama. Hermione meninggalkan mereka di lantai satu, sementara Harry dan Ron naik terus sampai ke lantai tujuh. Sebagian besar teman mereka sedang duduk di tangga spiral yang menuju ke kelas Profesor Trelawney, berusaha mengulang pelajaran pada menit-menit terakhir.

"Dia menguji kita sendiri-sendiri," Neville memberi-tahu ketika Ron dan Harry duduk di sebelahnya. Buku Menyingkap Kabut Masa Depan terbuka di pangkuan Neville pada halaman yang mengupas tentang membaca bola kristal. "Apakah kalian pernah melihat sesuatu di dalam bola kristal?" dia menanyai mereka dengan muram.

"Tidak," jawab Ron enteng. Dia berulang-ulang me-nengok arlojinya. Harry tahu Ron menunggu waktu naik banding Buckbeak dimulai.

Antrean anak-anak di depan kelas lambat sekali bertambah pendek. Setiap kali ada anak yang me-

nuruni tangga perak, semua temannya berdesis, "Dia tanya apa? Gampang tidak?"

Tetapi mereka semua menolak menjawab.

"Dia bilang bola kristal mengatakan padanya bahwa kalau aku memberitahu kalian, aku akan mengalami musibah mengerikan!" cicit Neville ketika dia me-nuruni tangga menuju Harry dan Ron, yang sekarang sudah sampai di kaki tangga.

"Bagus sekali," dengus Ron. "Tahu tidak, aku mulai berpikir bahwa benar juga pendapat Hermione tentang dirinya," (Ron mengacungkan ibu jarinya ke pintu tingkap di atas) "dia tukang tipu."

"Yeah," kata Harry, memandang arlojinya sendiri. Sekarang sudah pukul dua. "Cepat sedikit kenapa sih..."

Parvati menuruni tangga dengan wajah bangga ber-seri- seri.

"Dia bilang aku punya bakat jadi peramal sejati," katanya kepada Harry dan Ron. "Banyak sekali yang kulihat... nah, semoga sukses!"

Dia bergegas menuruni tangga spiral bergabung dengan Lavender.

"Ronald Weasley!" panggil suara sayup-sayup dari atas kepala mereka. Ron menyeringai kepada Harry, lalu menaiki tangga perak dan menghilang dari pan-dangan. Sekarang tinggal Harry satu-satunya yang belum maju ujian. Dia duduk di lantai bersandar ke dinding, mendengarkan lalat yang berdengung di jendela yang terkena cahaya matahari, pikirannya me-layang menyeberangi halaman ke tempat Hagrid.

Akhirnya, setelah kira-kira dua puluh menit, kaki Ron yang besar muncul di tangga.

"Bagairnana?" Harry menanyainya seraya bangkit.

"Omong kosong," kata Ron. "Aku tidak melihat apa-apa, jadi kukarang-karang saja. Tapi kelihatannya dia tidak yakin..."

"Sampai ketemu di ruang rekreasi," gumam Harry, ketika terdengar suara Profesor Trelawney memanggil-nya, "Harry Potter!"

Ruang menara lebih panas dari biasanya. Gorden-gorden tertutup, api di perapian menyala, dan bau memusingkan yang biasa membuat Harry terbatuk ketika dia melewati kerumunan kursi dan meja me-nuju ke tempat Profesor Trelawney duduk menunggu-. nya menghadapi bola kristal besar.

"Selamat siang, Nak," sapanya lembut. "Silakan pandang bola kristal ini... tidak usah buru-buru... kemudian katakan padaku apa yang kaulihat di da-lamnya..."

Harry menunduk di atas bola kristal itu dan me-mandangnya, memandang setajam mungkin, meng-harap bola itu menunjukkan padanya hal lain selain kabut putih yang melayang-layang, tetapi tak ada yang terjadi.

"Bagairnana?" Profesor Trelawney memancingnya dengan halus. "Apa yang kaulihat?"

Panasnya ruangan tak tertahankan dan hidungnya pedas gara-gara asap beraroma yang menguar dari perapian di sebelah mereka. Harry teringat apa yang dikatakan Ron, dan memutuskan untuk berbohong.

"Eh...," kata Harry, "sosok gelap... um..."

"Seperti apa sosok itu?" bisik Profesor Trelawney. "Coba pikirkan..."

Harry memutar otak dan terpikir olehnya Buckbeak.

"Hippogriff," katanya tegas.

"Wah!" bisik Profesor Trelawney, menulis dengan bersemangat di perkamen yang bertengger di atas lututnya.

"Nak, kau mungkin bisa melihat hasil akhir sengketa Hagrid yang malang dengan Kementerian Sihir! Lihat dengan teliti... apakah si Hippogriff ke-lihatannya... masih ada kepalanya?"

"Masih," jawab Harry tegas.

"Kau yakin?" Profesor Trelawney mendesaknya. "Apakah kau yakin betul, Nak? Kau tidak melihat Hippogriff itu menggeletak di tanah, mungkin, dan ada sosok samar mengangkat kapak di belakangnya?"

"Tidak!" kata Harry, mulai merasa agak mual.

"Tak ada darah? Tak ada Hagrid yang menangis?"

"Tidak!" kata Harry lagi, sudah ingin sekali me-ninggalkan kelas dan udara yang panas itu. "Hippogriff itu kelihatannya baik-baik saja, dia—ter-bang pergi..."

Profesor Trelawney menghela napas.

"Yah, Nak, kurasa cukup sekian... agak mengecewa-kan... tetapi aku yakin kau telah berusaha sebaik mungkin."

Lega, Harry bangkit, mengambil tasnya dan berbalik untuk pergi, tetapi kemudian terdengar suara parau keras bicara di belakangnya.

"Malam ini akan terjadi."

Harry langsung berputar. Profesor Trelawney telah kaku di kursi berlengannya, matanya menerawang dan mulutnya ternganga.

"M-maaf, apa kata Anda?"

Tetapi Profesor Trelawney tampaknya tidak men-dengarnya. Bola matanya mulai terbalik. Harry panik. Profesor Trelawney seperti sedang mengalami se-macam serangan jantung atau entah apa. Harry ragu-ragu, sedang mempertimbangkan apakah sebaiknya dia berlari ke rumah sakit—ketika Profesor Trelawney bicara lagi, dengan suara parau yang sama, yang lain sekali dari suaranya sendiri.

"Pangeran Kegelapan terbaring sendirian tanpa teman, ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. Abdinya telah di-rantai selama dua betas tahun ini. Malam ini, sebelum tengah malam, si abdi akan bebas dan bergabung lagi dengan tuannya. Pangeran Kegelapan akan bangkit berjaya kembali dengan bantuan abdinya, lebih berkuasa dan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Malam ini... sebelum tengah malam... si abdi akan bebas... untuk bergabung lagi dengan... tuannya..." Kepala Profesor Trelawney terkulai ke dadanya. Dia mengeluarkan suara seperti dengkur, kemudian mendadak kepalanya tegak kembali.

"Maaf, Nak," katanya seperti melamun. "Panas sekali... aku tertidur sesaat..."

Harry berdiri terbelalak.

"Ada apa, Nak?"

"Anda—Anda baru saja memberitahu saya bahwa— Pangeran Kegelapan akan berjaya kembali... bahwa abdinya akan bergabung lagi dengannya..."

Profesor Trelawney kelihatan kaget sekali.

"Pangeran Kegelapan? Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut? Nak, itu bukan sesuatu yang boleh dianggap lucu... berjaya kembali, astaga..."

"Tetapi Anda sendiri yang baru saja mengatakannya! Anda bilang Pangeran Kegelapan..."

"Kurasa kau juga tertidur, Nak!" kata Profesor Trelawney.

"Aku jelas tak akan meramalkan sesuatu yang tak masuk akal seperti itu!"

Harry menuruni tangga perak dan tangga spiral, bertanya- tanya dalam hati... apakah yang baru saja didengarnya tadi benar-benar ramalan? Ataukah itu hanyalah ide Profesor Trelawney untuk mengakhiri ujiannya dengan penuh kesan?

Lima menit kemudian dia sudah berlari melewati satpam troll di depan jalan masuk ke Menara Gryffindor, kata-kata Profesor Trelawney masih ter-ngiang di telinganya. Anak-anak berpapasan dengan-nya, menuju ke arah yang berlawanan, tertawa-tawa dan bergurau, menuju ke halaman dan kebebasan yang sudah lama ditunggu. Saat Harry tiba di lubang lukisan dan memasuki ruang rekreasi, ruang itu sudah nyaris kosong. Tetapi di salah satu sudutnya, duduk Ron dan Hermione.

"Profesor Trelawney," Harry tersengal, "baru saja memberitahuku..."

Dia berhenti mendadak melihat wajah mereka.

"Buckbeak kalah," kata Ron lesu. "Hagrid baru saja mengirim ini."

Surat Hagrid kering kali ini, tak ada air mata yang tercucur, tetapi tangannya rupanya bergetar keras saat menulisnya, sehingga suratnya nyaris tak bisa dibaca.

--+++--

Banding kalah. Mereka akan penggal dia setelah matahari terbenam. Tak ada yang bisa kalian lakukan. Aku tak mau kalian saksikan itu.

Hagrid

--+++--

"Kita harus ke sana," kata Harry segera. "Dia tak boleh duduk sendirian, menunggu kedatangan algojo!"

"Tetapi, setelah matahari terbenam," kata Ron yang menerawang ke luar jendela dengan pandangan ko-song.

"Kita tak akan diizinkan... apalagi kau, Harry..."

Harry membenamkan kepala ke dalam tangannya, berpikir.

"Kalau saja Jubah Gaib ada pada kita..."

"Di mana jubah itu?" tanya Hermione.

Harry bercerita bagaimana dia meninggalkannya di lorong di bawah patung nenek sihir bermata satu.

"...kalau Snape melihatku berada dekat-dekat patung itu, habis deh aku," dia menyelesaikan cerita-nya.

"Betul," kata Hermione, bangkit. "Kalau dia melihat-mu... bagaimana tadi cara membuka punuk si nenek sihir?"

"Ke—ketuk saja dan bilang, 'Dissendium'," kata Harry.

"Tapi..."

Hermione tidak menunggu Harry menyelesaikan kalimatnya. Dia menyeberangi ruangan, mendorong lukisan si Nyonya Gemuk sampai terbuka, dan lenyap dari pandangan.

"Dia tidak pergi mengambilnya, kan?" kata Ron, masih memandang ke arah Hermione pergi.

Ternyata Hermione mengambilnya. Dia muncul lagi seperempat jam kemudian dengan jubah keperakan itu terlipat tersembunyi di balik jubahnya.

"Hermione, aku tak mengerti kau kerasukan apa belakangan ini!" kata Ron, tercengang. "Mula-mula kau menampar Malfoy, kemudian begitu saja me-ninggalkan kelas Profesor Trelawney..."

Hermione tampak agak tersanjung.

Mereka turun untuk makan malam bersama yang lain, tetapi tidak kembali ke Menara Gryffindor se-sudahnya. Harry sudah menyembunyikan Jubah Gaib di balik jubahnya. Dia harus menyilangkan tangan di depan dada untuk menyamarkan bagian depan jubah-nya yang menggelembung. Mereka bersembunyi dalam ruangan kosong di seberang Aula Depan, men-dengarkan, sampai mereka yakin aula sudah sepi. Mereka mendengar dua anak terakhir bergegas menye-berangi aula dan pintu yang terbanting. Hermione menjulurkan kepala dari pintu.

"Oke," dia berbisik, "tak ada orang lagi—pakai jubahnya..."

Berjalan sangat rapat agar tak ada yang melihat, mereka berjingkat menyeberangi aula di bawah lindungan Jubah Gaib, kemudian menuruni undakan batu dan melangkah ke halaman. Matahari sudah terbenam di balik Hutan Terlarang, menyepuh keemas-an dahan-dahan pepohonan yang paling atas.

Mereka tiba di pondok Hagrid dan mengetuknya.

Semenit kemudian baru Hagrid membuka pintu. Hagrid memandang berkeliling mencari-cari tamunya, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.

"Ini kami," desis Harry. "Kami memakai Jubah Gaib. Biarkan kami masuk supaya bisa melepasnya."

"Seharusnya kalian tidak datang!" bisik Hagrid, tetapi dia melangkah mundur, dan mereka bertiga masuk. Hagrid cepat- cepat menutup pintu dan Harry menarik terbuka Jubah Gaib- nya.

Hagrid tidak menangis, dia pun tidak menghambur memeluk mereka. Dia tampak seperti orang yang tak tahu di mana dia berada atau apa yang harus dilaku-kannya. Ketidakberdayaan ini lebih mengenaskan daripada air mata.

"Mau teh?" dia menawari. Tangannya yang besar gemetar ketika menjangkau ketel. "Di mana Buckbeak, Hagrid?" tanya Hermione ragu-ragu.

"Aku—kubawa keluar," kata Hagrid. Susu bercecer-an di atas meja ketika Hagrid menuangnya ke dalam teko. "Dia kutambatkan di kebun labuku. Kupikir dia harus lihat pohon- pohon dan—dan hirup udara segar—sebelum..."

Tangan Hagrid bergetar begitu kerasnya sehingga teko susu terlepas dari pegangannya dan pecah ber-keping-keping di lantai.

"Biar aku saja, Hagrid," kata Hermione cepat-cepat. Dia bergegas mendekati Hagrid dan membersihkan lantai.

"Masih ada satu lagi di dalam lemari," kata Hagrid, seraya duduk dan menyeka dahi dengan lengan jubah-nya. Harry mengerling Ron, yang balas memandang-nya tak berdaya.

"Apa tak ada yang bisa dilakukan, Hagrid?" tanya Harry penasaran, duduk di sebelah Hagrid. "Dumbledore..."

"Dia sudah coba," kata Hagrid. "Dia tak punya kekuasaan untuk tolak Komite. Dia sudah beritahu mereka Buckbeak tak apa-apa, tapi mereka takut... kalian tahu seperti apa Lucius Malfoy... ancam me-reka, kukira... dan si algojo, Macnair, dia teman lama Malfoy... tapi prosesnya akan cepat... dan aku akan temani dia..."

Hagrid menelan ludah. Pandangannya berpindah-pindah cepat mengelilingi ruangan, seakan mencari seserpih harapan atau penghiburan.

"Dumbledore akan datang sementara... sementara itu dilaksanakan. Tulis padaku pagi ini. Bilang dia mau—mau bersamaku. Orang hebat, Dumbledore..."

Hermione, yang sedang mencari-cari teko di dalam lemari Hagrid, terisak, tapi buru-buru ditahannya. Dia bangkit dengan teko baru di tangannya, menahan jatuhnya air matanya.

"Kami juga akan menemanimu, Hagrid," katanya, tetapi Hagrid menggelengkan kepalanya yang be-rambut lebat.

"Kalian harus kembali ke kastil. Aku sudah bilang, aku tak mau kalian lihat. Dan kalian harusnya tak boleh ke sini... kalau sampai ketahuan Fudge atau Dumbledore, Harry, kau akan repot."

Air mata sekarang membanjiri wajah Hermione, tetapi dia menyembunyikannya dari Hagrid, me-nyibukkan diri membuat teh. Kemudian, ketika meng-ambil botol susu untuk menuang isinya ke dalam teko, dia memekik.

"Ron! Astaga—mana mungkin—ini Scabbers!"

Ron terpana memandangnya.

"Kau bicara apa?"

Hermione membawa teko susu itu ke meja dan membaliknya. Dengan cicit panik dan geragapan ber-usaha masuk lagi ke dalam teko, Scabbers si tikus meluncur jatuh ke atas meja.

"Scabbers!" kata Ron bengong. "Scabbers, ngapain kau di sini?"

Ron menangkap tikus yang memberontak itu dan mengangkatnya ke arah lampu. Scabbers kelihatannya merana sekali. Dia lebih kurus dari sebelumnya, bulu-nya banyak yang rontok, meninggalkan petak-petak botak lebar, dan dia meronta liar di tangan Ron, seakan panik mau melepaskan diri.

"Jangan takut, Scabbers!" kata Ron. "Tak ada kucing! Tak ada yang akan melukaimu di sini!"

Hagrid mendadak bangkit, matanya terpaku ke jendela. Wajahnya yang biasanya kemerahan kini se-pucat perkamen.

Harry, Ron, dan Hermione berbalik. Serombongan laki-laki sedang menuruni undakan kastil di kejauhan. Di depan tampak Albus Dumbledore, jenggot perak-nya berkilau tertimpa sinar mentari yang tersisa. Di sebelahnya berjalan Cornelius Fudge. Di belakang mereka si anggota Komite yang tua dan lemah dan si algojo, Macnair.

"Kalian harus pergi," kata Hagrid. Sekujur tubuhnya gemetar.

"Mereka tak boleh temukan kalian di sini... pergilah, sekarang..." Ron menjejalkan Scabbers ke dalam sakunya dan Hermione memungut Jubah Gaib.

"Kuantar kalian keluar lewat pintu belakang," kata Hagrid.

Mereka mengikutinya ke pintu yang membuka ke halaman belakang pondok. Harry merasa sedang ber-mimpi, lebih-lebih lagi ketika dia melihat Buckbeak beberapa meter di kejauhan, tertambat di pohon di belakang kebun labu kuning Hagrid. Buckbeak tam-paknya tahu sesuatu sedang berlangsung. Dia me-nolehkan kepalanya yang tajam ke kanan dan ke kiri, dan kakinya mengais-ngais tanah dengan cemas.

"Tak apa-apa, Beaky," kata Hagrid lembut.

"Tak apa-apa..." Hagrid menoleh memandang Harry, Ron, dan Hermione. "Ayo," katanya.

"Pergilah."

Tetapi mereka tidak bergerak.

"Hagrid, kami tak bisa..."

"Kami akan menceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi..."

"Mereka tak boleh membunuhnya..."

"Pergilah!" kata Hagrid tegas. "Keadaan sudah cukup buruk tanpa kalian juga dapat kesulitan!"

Mereka tak punya pilihan. Sementara Hermione mengerudungkan Jubah Gaib ke atas Harry dan Ron, mereka mendengar suara-suara di depan pondok. Hagrid memandang ke tempat mereka baru saja menghilang.

"Cepat pergi," katanya parau. "Jangan dengarkan..."

Dan dia melangkah kembali ke dalam pondoknya ketika terdengar ketukan di pintu depan.

Perlahan, seakan dalam keadaan trans mengerikan, Harry, Ron, dan Hermione mengitari pondok Hagrid. Setiba di bagian depan, mereka mendengar pintu depan terbanting menutup.

"Ayo, cepat," bisik Hermione. "Aku tak tahan, aku tak tega..."

Mereka berjalan menaiki padang rumput landai menuju kastil. Matahari menggelincir turun dengan cepat sekarang. Langit sudah berubah warna menjadi keabuan bernuansa ungu, tetapi di arah barat masih ada sinar kemerahan.

Ron mendadak berhenti.

"Oh, Ron, ayolah," desak Hermione.

"Si Scabbers—dia tak mau—diam..."

Ron membungkuk, berusaha menahan Scabbers di dalam sakunya, tetapi si tikus mengamuk, mencicit-cicit seperti gila, menggeliat dan menggapai, berusaha menggigit tangan Ron.

"Scabbers, ini aku, idiot, ini Ron," desis Ron. Mereka mendengar pintu membuka di belakang mereka dan suara- suara laki-laki.

"Oh, Ron, ayo jalan, mereka akan melaksanakan-nya!"

desah Hermione.

"Oke—Scabbers, diam dulu..."

Mereka berjalan lagi. Harry, seperti Hermione, ber-usaha tidak mendengarkan gumam-gumam di bela-kang mereka. Ron berhenti lagi.

"Aku tak bisa memeganginya—Scabbers, diam, se-mua akan mendengar kita..."

Si tikus mencicit-cicit liar, tetapi tidak cukup keras untuk mengatasi suara-suara yang terdengar dari arah kebun belakang Hagrid. Terdengar suara-suara laki-laki, hening, dan kemudian, tanpa terduga, siutan ayunan dan hantaman kapak.

Hermione langsung terhuyung lemas.

"Mereka sudah melakukannya!" dia berbisik kepada Harry.

"Aku—aku—tak percaya—mereka membunuh-nya!"

17. Kucing, Tikus, Dan Anjing

PIKIRAN Harry mendadak kosong saking shock-nya. Mereka bertiga berdiri, terpaku ketakutan di bawah Jubah Gaib. Sisa-sisa terakhir cahaya matahari yang terbenam kemerahan menimpa halaman be-rumput yang sudah mulai remang-remang. Kemudian di belakang mereka, mereka mendengar lolongan liar.

"Hagrid," Harry bergumam. Tanpa memikirkan apa yang dilakukannya, Harry berbalik, tetapi Ron dan Hermione menyambar lengannya.

"Tidak boleh," kata Ron, yang pucat pasi. "Akan makin menyulitkannya kalau mereka tahu kita tadi menengoknya..."

Napas Hermione pendek-pendek dan tak teratur.

"Bagaimana—mungkin—mereka—begitu tega?" katanya terisak. "Bagaimana mungkin?"

"Ayo, kita terus," ajak Ron, yang giginya bergeme-letuk. Mereka meneruskan berjalan menuju kastil, perlahan agar tetap tersembunyi di bawah Jubah Gaib. Cahaya sore memudar dengan cepat sekarang. Saat mereka tiba di halaman terbuka, kegelapan telah menyelimuti me-reka.

"Scabbers, diam dong," desis Ron, menekankan tangan ke dadanya. Tikusnya meronta-ronta liar sekali. Ron mendadak berhenti, berusaha menjejalkan Scabbers lebih dalam ke dalam sakunya. "Kenapa sih kau, tikus tolol? Diam—OUCH! Dia menggigitku!"

"Ron, diam!" bisik Hermione tegang. "Fudge bisa tiba di sini sebentar lagi..."

"Dia tak—mau—diam..."

Scabbers tampaknya sangat ketakutan. Dia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari pegangan Ron.

"Kenapa sih dia?"

Tetapi Harry baru saja melihat—mengendap-endap ke arah mereka, tubuhnya merapat ke tanah, mata kuningnya berkilau mengerikan dalam kegelapan— Crookshanks. Apakah kucing itu bisa melihat mereka, atau hanya mengikuti cicitan Scabbers, Harry tak tahu. "Crookshanks!" Hermione mendesah. "Jangan, pergi sana, Crookshanks! Pergi!"

Tetapi kucing itu semakin dekat...

"Scabbers—JANGAN!"

Terlambat—tikus itu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman jari-jari Ron, jatuh ke tanah, dan kabur. Crookshanks melompat mengejarnya, dan sebelum Harry atau Hermione bisa mencegahnya, Ron sudah keluar dari Jubah Gaib dan berlari ke dalam kegelapan.

"Ron!" ratap Hermione.

Dia dan Harry saling pandang, kemudian berlari mengejar Ron. Sulit berlari cepat di bawah Jubah Gaib, maka mereka menurunkannya dan jubah itu berkibar di belakang mereka seperti bendera. Mereka bisa mendengar derap kaki Ron di depan, dan teriak-an-teriakannya mengusir Crookshanks.

"Minggir—jauh-jauh dari dia—Scabbers, sini..." Terdengar bunyi debam.

"Kena! Minggir, kucing bau..."

Harry dan Hermione nyaris jatuh menabrak Ron. Mereka berhenti tepat di depannya. Dia tertelungkup di tanah, tetapi Scabbers sudah berada di sakunya lagi, kedua tangannya memegangi gundukan yang gemetar itu.

"Ron—ayo—kembali ke bawah jubah..." Hermione tersengal. "Dumbledore—Pak Menteri—mereka se-bentar lagi tiba di sini..."

Tetapi sebelum mereka bisa menutupi tubuh mereka lagi, sebelum mereka bahkan bisa menarik napas, mereka mendengar entakan kaki besar binatang. Ada yang berlari mendekati mereka dari dalam kegelap-an—anjing besar hitam pekat, bermata pucat.

Harry menjangkau tongkatnya, tetapi terlambat—si anjing melompat tinggi dan kaki depannya meng-hantam dada Harry. Harry jatuh terjengkang ditimpa gundukan bulu. Dia bisa merasakan napasnya yang panas, melihat gigi-giginya yang sepanjang dua se-tengah senti...

Tetapi dorongan kekuatan lompatannya membuat si anjing terguling dari tubuhnya. Dengan perasaan melayang, seakan rusuknya patah, Harry berusaha bangun. Dia bisa mendengar si anjing menggeram ketika dia berputar, siap menyerang lagi. Ron sudah berdiri. Ketika anjing itu melompat lagi ke arah mereka, dia mendorong Harry minggir, se-hingga moncong si anjing malah mencaplok lengan Ron yang terjulur. Harry menerjangnya dan berhasil mencabut segenggam bulunya, tetapi anjing itu me-nyeret Ron dengan mudah seakan Ron cuma boneka kain saja....

Kemudian, entah dari mana datangnya, ada yang memukul muka Harry keras sekali dan dia jatuh lagi. Didengarnya Hermione menjerit kesakitan dan terjatuh juga. Harry meraba- raba mencari tongkatnya, me-ngejap-ngejap mengeluarkan darah dari matanya...

"Lumos!" bisiknya.

Cahaya-tongkat memperlihatkan batang pohon besar. Rupanya mereka telah mengejar Scabbers sam-pai ke dekat Dedalu Perkasa, dan dahan-dahan pohon itu berderak-derak seakan kena tiupan angin kencang, menghantam ke sana kemari, mencegah mereka agar tidak datang semakin dekat.

Dan, di pangkal batang pohon itu, tampak si anjing, menyeret Ron ke dalam lubang besar di antara akar-akarnya— Ron memberontak sekuat tenaga, tetapi ke-pala dan dadanya terseret menghilang dari pandang-an...

"Ron!" Harry berteriak, berusaha mengikuti, tetapi ada dahan besar memukulnya kuat-kuat dan dia ter-lempar ke belakang lagi.

Yang bisa mereka lihat sekarang hanyalah satu kaki Ron, yang dikaitkannya di akar pohon dalam usahanya menghentikan si anjing menariknya lebih jauh ke dalam tanah. Kemudian terdengar derak me-ngerikan seperti letusan senapan; kaki Ron patah, dan detik berikutnya, kakinya pun telah menghilang dari pandangan.

"Harry—kita harus cari bantuan..."

"Tidak! Anjing itu cukup besar untuk memakannya. Kita tak punya waktu..."

"Kita tak mungkin bisa masuk tanpa bantuan..."

Ada dahan lain yang menyapu ke bawah menghantam mereka, ranting-rantingnya mengepal seperti buku-buku jari.

"Kalau anjing itu bisa masuk, kita juga bisa," kata Harry tersengal, melesat ke sana kemari, berusaha mencari terobosan di antara dahan-dahan yang me-mukul-mukul galak, tetapi dia tak bisa mendekat sesenti pun ke akar pohon itu tanpa melewati batas-pukul dahan-dahannya.

"Oh, tolong, tolong," Hermione berbisik panik, me-lonjak- lonjak bingung di tempatnya berdiri, "tolong-lah..."

Crookshanks melesat ke depan. Dia menyelinap di antara dahan-dahan yang menyerangnya seperti ular dan meletakkan kaki depannya pada tonjolan di dahan.

Mendadak, seakan berubah jadi marmer, pohon itu berhenti bergerak. Tak sehelai daun pun bergoyang atau bergetar.

"Crookshanks!" Hermione berbisik bingung. Seka-rang dia mencengkeram lengan Harry keras sekali, sampai sakit.

"Bagaimana dia bisa tahu...?"

"Dia berteman dengan anjing itu," kata Harry muram. "Aku pernah melihat mereka bersama-sama. Ayolah—dan keluarkan tongkatmu..."

Dalam sekejap mereka sudah tiba di pohon, tetapi sebelum mereka mencapai lubang di antara akarnya, Crookshanks telah meluncur masuk seraya mengentak-kan ekor sikat-botolnya. Harry menyusulnya, dia me-rangkak maju, dengan kepala lebih dulu, dan me-luncur menuruni tebing tanah landai ke dasar te-rowongan yang sangat rendah. Crookshanks sudah agak jauh di depan, matanya berkilau terkena cahaya dari tongkat Harry Sesaat kemudian, Hermione me-luncur turun di sebelahnya.

"Di mana Ron?" dia berbisik ketakutan.

"Ke arah sini," kata Harry, membungkuk rendah, mengikuti Crookshanks.

"Di mana terowongan ini berakhir?" tanya Hermione terengah di belakangnya.

"Aku tak tahu... ada gambarnya sih di Peta Pe-rampok, tetapi Fred dan George bilang tak ada yang pernah masuk ke dalamnya. Gambarnya sampai ke tepi peta, tapi kelihatannya berakhir di Hogsmeade..."

Mereka bergerak secepat mereka bisa, membungkuk sampai tubuh keduanya nyaris terlipat dua. Di depan mereka, ekor Crookshanks naik-turun hilang-hilang timbul. Terowongan itu panjang, paling tidak rasanya sepanjang terowongan yang menuju Honeydukes. Yang bisa dipikirkan Harry hanyalah Ron dan apa yang mungkin sedang dilakukan anjing raksasa itu kepada-nya... Harry tersengal, dadanya terasa sakit saat dia menarik napas, berlari sambil membungkuk...

Dan kemudian terowongan itu mulai menanjak, sesaat kemudian berbelok, dan Crookshanks lenyap. Sebagai gantinya Harry bisa melihat sepetak cahaya dari lubang kecil. Harry dan Hermione berhenti, tersengal kehabisan napas, merayap maju. Keduanya mengangkat tongkat untuk melihat apa yang ada di depan mereka.

Rupanya ruangan. Ruangan yang sangat berantakan dan berdebu. Kertas dindingnya mengelupas, lantainya penuh bercak noda, semua perabotnya hancur, seakan ada yang memukulinya. Semua jendelanya ditutup papan.

Harry mengerling Hermione, yang tampak sangat ketakutan, tetapi mengangguk.

Harry mengangkat dirinya keluar dari lubang, me-mandang berkeliling. Ruangan itu kosong, tetapi pintu di sebelah kanannya terbuka, menuju lorong remang-remang. Hermione mendadak mencengkeram Harry lagi. Matanya yang terbelalak liar memandang jendela-jendela yang tertutup papan.

"Harry," dia berbisik, "kurasa kita berada di Shriek-ing Shack."

Harry memandang berkeliling. Pandangannya jatuh ke kursi kayu di dekatnya. Potongan-potongan besar sudah lepas dari kursi itu, salah satu kakinya bahkan patah total.

"Hantu tidak melakukan ini," katanya lambat-lambat.

Saat itu terdengar derak dari atas. Ada yang ber-gerak di atas. Keduanya mendongak memandang langit-langit. Cengkeraman Hermione pada lengannya begitu kencang, sampai jari-jari Harry terasa kebas hilang rasa. Dia mengangkat alis ke arah Hermione. Hermione mengangguk lagi dan melepaskan cengke-ramannya.

Sepelan mungkin, mereka merayap menuju lorong dan menaiki tangga yang sudah rusak. Segalanya dilapisi debu tebal, kecuali lantainya. Di lantai tampak jalur lebar bekas sesuatu yang diseret ke atas.

Mereka tiba di bordes gelap.

"Nox," mereka berbisik bersamaan, dan cahaya di ujung tongkat mereka padam. Hanya satu pintu yang sedikit terbuka. Selagi merayap mendekati pintu itu, mereka mendengar gerakan-gerakan dari baliknya, erangan pelan, dan kemudian dengkur kucing yang dalam dan keras. Mereka bertukar pandangan terakhir, anggukan terakhir.

Dengan tongkat terpegang erat di depannya, Harry menendang pintu sampai terbuka lebar.

Crookshanks mendekam di atas tempat tidur besar dan megah dengan kelambu berdebu, mendengkur keras ketika melihat mereka. Di lantai di sebelah tempat tidur itu, Ron mencengkeram kakinya yang mencuat dalam posisi aneh.

Harry dan Hermione berlari mendekatinya.

"Ron—kau tak apa-apa?"

"Di mana anjingnya?"

"Bukan anjing," Ron meratap. Giginya mengertak menahan sakit. "Harry, ini jebakan..."

"Apa..."

"Dia anjingnya... dia Animagus..."

Ron menatap melewati bahu Harry. Harry berputar.

Dengan bunyi keras laki-laki di dalam keremangan menutup pintu di belakang mereka.

Rambut yang kotor awut-awutan menggantung sampai ke sikunya. Kalau tak ada mata yang berkilau dari dalam rongganya yang dalam dan gelap, dia bisa dikira mayat. Kulitnya yang pucat tertarik begitu ketat di atas tulang wajahnya, sehingga tampak seperti tengkorak. Dia menyeringai sehingga tampaklah gigi-giginya yang kuning. Laki-laki itu Sirius Black.

"Expelliarmus!" katanya parau, mengacungkan tong-kat Ron ke arah mereka.

Tongkat Harry dan Hermione meluncur ke atas terlepas dari tangan mereka, dan Black menangkap-nya. Kemudian dia maju selangkah. Matanya tertancap pada Harry.

"Aku sudah menduga kau akan datang menolong temanmu," katanya parau. Suaranya terdengar seperti sudah lama tak digunakan. "Ayahmu akan melakukan hal yang sama kepadaku. Kau pemberani, tidak lari mengadu kepada guru. Aku berterima kasih... ini akan membuat segalanya lebih mudah..."

Celaan terhadap ayahnya bergaung di telinga Harry seakan Black meneriakkannya. Kebencian menggelegak membuncah di dada Harry tak meninggalkan tempat untuk rasa takut. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia berharap tongkatnya berada kembali dalam geng-gamannya, bukan untuk mempertahankan diri, me-lainkan untuk menyerang... untuk membunuh. Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, Harry maju, tetapi ada gerakan mendadak di kanan-kirinya dan dua pasang tangan menyambar dan menahannya. "Jangan, Harry," Hermione mendesah dalam bisikan panik. Tetapi Ron bicara kepada Black.

"Jika kau mau membunuh Harry kau harus mem-bunuh kami juga!" katanya garang, meskipun upaya-nya untuk berdiri membuatnya bertambah pucat, dan dia agak terhuyung ketika berbicara.

Sesuatu melintas di mata cekung Black. "Berbaringlah,"

katanya pelan kepada Ron. "Nanti kakimu bertambah parah."

"Apakah kau mendengarku?" kata Ron lemah, meskipun dia bergayut menahan sakit pada Harry agar tetap bisa berdiri.

"Kau harus membunuh kami bertiga!"

"Hanya akan ada satu pembunuhan malam ini," kata Black, dan seringainya bertambah lebar.

"Kenapa begitu?" bentak Harry, berusaha mem-bebaskan diri dari pegangan Ron dan Hermione. "Ter-akhir kali melakukan pembunuhan kau tidak peduli, kan? Kau tak peduli membunuh semua Muggle itu untuk bisa menyerang Pettigrew... Apa yang terjadi? Kau jadi lembek di Azkaban?"

"Harry!" Hermione merengek. "Diamlah!"

"DIA MEMBUNUH IBU DAN AYAHKU!" Harry meraung, dan dengan sekuat tenaga dia berhasil lepas dari Hermione dan Ron dan menerjang Black...

Dia telah melupakan soal sihir—dia lupa bahwa dia kecil dan kurus dan baru berusia tiga belas tahun, sementara Black jangkung, laki-laki dewasa. Yang Harry tahu hanyalah, dia ingin melukai Black separah mungkin dan dia tak peduli jika untuk itu dia sendiri juga harus luka parah...

Mungkin saking shock-nya melihat Harry bertindak sebodoh itu, Black tidak mengangkat tongkatnya pada waktunya. Salah satu tangan Harry mencengkeram pergelangan tangan Black yang diam tak bergerak, menjauhkan ujung-ujung tongkat darinya. Buku-buku jari tangan Harry yang satu lagi menghantam sisi kepala Black dan mereka berdua jatuh ke belakang, menabrak dinding...

Hermione menjerit, Ron berteriak, ada kilat me-nyilaukan ketika tongkat-tongkat di tangan Black me-luncurkan semburan bunga api yang cuma beberapa senti saja dari wajah Harry. Harry merasakan lengan kurus di bawah cengkeramannya memberontak kuat-kuat, tetapi Harry bertahan, sementara tangan satunya memukul-mukul bagian mana saja tubuh Black yang bisa dicapainya.

Tetapi tangan Black yang bebas telah menemukan leher Harry... "Jangan," dia mendesis. "Aku sudah menunggu terlalu lama..." Jari-jarinya mencengkeram, Harry tersedak, kaca-matanya miring.

Kemudian mendadak dilihatnya kaki Hermione me-nyapu. Black melepas Harry sambil menggerutu ke-sakitan. Ron telah melempar dirinya ke tangan Black yang memegang tongkat dan Harry mendengar bunyi berkelontangan...

Harry berkutat melepaskan diri dari tumpukan tubuh-tubuh yang malang-melintang itu dan melihat tongkatnya sendiri berguling di lantai. Dia melempar diri ke depan untuk menangkapnya, tetapi...

"Argh!"

Crookshanks telah menggabungkan diri dalam ke-hebohan ini. Sepasang kaki depannya tertancap dalam di lengan Harry. Harry berhasil melontarkannya, na-mun Crookshanks sekarang berlari ke arah tongkat Harry...

"JANGAN!" teriak Harry, menendang Crookshanks, membuat kucing itu melompat ke tepi, mendesis-desis. Harry menyambar tongkatnya dan berbalik...

"Minggir!" teriaknya kepada Ron dan Hermione.

Mereka tak perlu disuruh dua kali. Hermione, ter-sengal kehabisan napas, bibirnya berdarah, terhuyung ke tepi, sambil menyambar tongkatnya sendiri dan tongkat Ron. Ron merangkak ke tempat tidur dan roboh di atasnya, terengah- engah, wajahnya yang putih pucat sekarang bersemu kehijauan, kedua ta-ngannya mencengkeram kakinya yang patah.

Black tertelentang di depan dinding. Dadanya yang kurus naik-turun cepat ketika dia melihat Harry pelan-pelan berjalan mendekat, tongkatnya mengacung tepat ke jantung Black.

"Mau membunuhku, Harry?" dia berbisik.

Harry berhenti tepat di depannya, tongkatnya masih tertuju ke dada Black, menunduk memandangnya. Mata kiri Black lebam kehitaman dan hidungnya berdarah.

"Kau membunuh orangtuaku," kata Harry, suaranya agak bergetar, tetapi tangan yang memegang tongkat-nya mantap. Black memandangnya dengan matanya yang ce-kung.

"Aku tidak menyangkalnya," katanya pelan. "Tetapi jika kau tahu seluruh ceritanya..."

"Seluruh ceritanya?" Harry mengulangi, dentum-dentum kemarahan memenuhi telinganya. "Kau men-jual mereka kepada Voldemort, cuma itu yang aku perlu tahu!"

"Kau harus mendengarkan aku," kata Black, dan ada nada mendesak dalam suaranya sekarang. "Kau akan menyesal jika tidak... kau tak mengerti..."

"Aku mengerti lebih banyak daripada yang kau-kira," kata Harry, dan suaranya semakin bergetar. "Kau tak pernah mendengarnya, kan? Ibuku... men-coba mencegah Voldemort membunuhku... dan kau penyebabnya... kau yang menyebabkannya..."

Sebelum keduanya bisa mengucapkan sepatah kata lagi, sesuatu berwarna jingga melesat melewati Harry. Crookshanks melompat ke atas dada Black, dan men-dekam di sana, tepat di atas jantung Black. Black mengejap dan memandang kucing itu.

"Turun," gumamnya, berusaha mendorong Crookshanks dari dadanya.

Tetapi Crookshanks mencengkeramkan kuku-kuku-nya ke jubah Black dan tak mau bergerak. Dia me-nolehkan wajahnya yang jelek dan gepeng kepada Harry dan mendongak menatapnya dengan matanya yang kuning besar. Di sebelah kanannya, Hermione mengisak parau.

Harry menunduk menatap Black dan Crookshanks, semakin erat menggenggam tongkatnya. Jadi apa sa-lahnya kalau dia membunuh kucing itu juga? Kucing itu bersekutu dengan Black... kalau dia siap mati, berusaha melindungi Black, itu bukan urusan Harry... kalau Black berusaha menyelamatkannya, itu hanya membuktikan bahwa dia lebih memedulikan kucing itu daripada orangtua Harry....

Harry mengangkat tongkatnya. Sekaranglah saatnya. Sekaranglah saat membalas kematian ibu dan ayahnya. Dia akan membunuh Black. Dia harus membunuh Black. Ini kesempatannya...

Detik demi detik berlalu, dan Harry masih saja berdiri membeku, dengan tongkat terangkat, Black menatapnya, dengan Crookshanks di atas dadanya. Napas Ron yang tersengal terdengar, tak jauh dari tempat tidur. Hermione diam tak bersuara.

Dan kemudian terdengar bunyi lain... Langkah-langkah teredam melintasi lantai—ada yang bergerak di bawah.

"KAMI DI ATAS SINI!" Hermione mendadak ber-teriak.

"KAMI DI ATAS SINI—SIRIUS BLACK— CEPAT!"

Black membuat gerakan mendadak yang nyaris membuat Crookshanks terlempar. Harry mengejang memegang tongkatnya—Lakukan sekarang! kata suara dalam kepalanya— tetapi langkah-langkah itu meng-gemuruh menaiki tangga dan Harry tetap saja belum melakukannya.

Pintu berdebam terbuka diiringi semburan bunga api merah dan Harry berputar tepat ketika Profesor Lupin menyerbu masuk ke dalam ruangan, wajahnya pucat tak berdarah, tongkatnya terangkat, siap. Mata-nya sekilas menatap Ron yang terbaring di lantai, menatap Hermione yang gemetar ketakutan di dekat pintu, menatap Harry yang berdiri dengan tongkat teracung di atas Black, dan kemudian menatap Black sendiri, yang rebah dan berdarah di kaki Harry.

"Expelliarmus!" Lupin berteriak.

Sekali lagi tongkat Harry melayang lepas dari ta-ngannya, begitu juga kedua tongkat lainnya yang dipegang Hermione. Lupin menangkap ketiganya de-ngan tangkas, kemudian berjalan masuk, menatap Black, dengan Crookshanks yang masih mendekam di atas dada melindunginya.

Harry berdiri di sana, mendadak merasa hampa. Dia tidak melakukannya. Nyalinya tak cukup kuat. Black akan diserahkan kembali kepada para Dementor.

Kemudian Lupin bicara, dengan suara yang ganjil, suara yang bergetar menahan emosi. "Di manakah dia, Sirius?"

Harry dengan cepat memandang Lupin. Dia tak mengerti apa yang dimaksud Lupin. Siapa yang di-bicarakan Lupin? Dia menoleh kembali memandang Black.

Wajah Black tanpa ekspresi. Selama beberapa detik, dia sama sekali tak bergerak. Kemudian, dengan sa-ngat perlahan, dia mengangkat tangannya yang ko-song, dan menunjuk lurus-lurus ke arah Ron. Ter-cengang, Harry mengerling Ron, yang tampak bi-ngung.

"Tapi, kalau begitu...," Lupin bergumam, menatap Black tajam-tajam seakan berusaha membaca pikiran-nya, "kenapa selama ini dia tak memperlihatkan diri? Kecuali..." Mata Lupin tiba-tiba melebar, seakan dia melihat sesuatu melampaui Black, sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain, "kecuali dialah orangnya... kecuali kalian berdua bertukar tempat... tanpa mem-beritahu aku?"

Sangat perlahan, matanya yang cekung tak pernah meninggalkan wajah Lupin, Black mengangguk. "Profesor Lupin," Harry menyela dengan keras, "apa yang...?"

Tetapi dia tak pernah menyelesaikan pertanyaannya, karena yang dilihatnya membuat kata-katanya macet tersumbat di kerongkongannya. Lupin menurunkan tongkatnya. Saat berikutnya dia telah berjalan men-datangi Black, menyambar tangannya, menariknya ber-diri sehingga Crookshanks terjatuh ke lantai, dan memeluknya seperti memeluk kakaknya sendiri.

Hati Harry mencelos.

"AKU TAK PERCAYA!" teriak Hermione.

Lupin melepas Black dan menoleh kepada Hermione. Hermione sudah bangkit dari lantai, dan menunjuk Lupin, matanya liar. "Anda—Anda..."

"Hermione..."

"...Anda dan dia!"

"Hermione, tenanglah..."

"Saya tidak mengatakan kepada siapa pun!" jerit Hermione.

"Selama ini saya melindungi Anda..." "Hermione, tolong dengarkan aku!" teriak Lupin. "Aku bisa menjelaskan..."

Harry bisa merasakan rubuhnya gemetar, bukan karena ketakutan melainkan karena gelombang baru kemarahan.

"Saya mempercayai Anda," dia berteriak kepada Lupin, suaranya bergetar di luar kendali, "dan selama ini Anda ternyata temannya!"

"Kau keliru," kata Lupin. "Selama dua belas tahun ini aku bukan teman Sirius, tetapi sekarang aku temannya... biar kujelaskan..."

"TIDAK!" jerit Hermione. "Harry, jangan percaya dia, dia telah membantu Black memasuki kastil, dia juga menginginkan kau mati—dia manusia serigala!"

Keheningan yang menyusul serasa berdering. Mata semua orang sekarang tertuju kepada Lupin, yang tampak luar biasa tenang, meskipun agak pucat.

"Tidak seperti standarmu yang biasa, Hermione," katanya.

"Hanya betul satu dari tiga, sayang sekali. Aku tidak membantu Sirius memasuki kastil dan aku jelas tidak menginginkan Harry mati..." Ada ekspresi ganjil melintas di wajahnya. "Tetapi aku tidak akan membantah bahwa aku manusia serigala."

Ron berusaha sekuat tenaga untuk bangkit lagi, tetapi terjatuh kembali sambil merintih kesakitan. Lu-pin bergerak ke arahnya, tampak cemas, tetapi Ron membentak tersengal,

"Jangan dekat-dekat aku, manusia serigala!"

Lupin langsung berhenti. Kemudian dia memaksa-kan diri menoleh kepada Hermione dan bertanya, "Sudah berapa lama kau tahu?"

"Lama sekali," bisik Hermione. "Sejak saya menulis karangan tugas dari Profesor Snape..."

"Dia akan senang sekali," kata Lupin dingin. "Dia menyuruh kalian membuat karangan itu, berharap akan ada yang rrienyadari apa makna gejala-gejala yang kualami. Pernahkah kau mengecek peta bulan dan menyadari bahwa aku selalu sakit pada malam bulan purnama? Atau apakah kau menyadari bahwa Boggart berubah menjadi bulan saat melihatku?"

"Dua-duanya ya," kata Hermione pelan. Lupin memaksakan tawa. "Untuk anak seumurmu, kau penyihir terpandai yang pernah kutemui, Hermione."

"Tidak," Hermione berbisik. "Kalau saya lebih pan-dai sedikit, seharusnya saya memberitahu semua orang Anda ini sebetulnya apa."

"Tetapi mereka sudah tahu," kata Lupin. "Paling tidak para guru tahu."

"Dumbledore mempekerjakan Anda padahal dia tahu Anda manusia serigala?" tanya Ron kaget. "Apa dia gila?"

"Beberapa dari para guru juga beranggapan begitu," kata Lupin. "Dia harus bekerja keras meyakinkan beberapa guru bahwa aku bisa dipercaya..."

"DAN DIA KELIRU!" Harry berteriak. "ANDA SELAMA INI TELAH MEMBANTUNYA!" dia me-nunjuk ke arah Black, yang telah berjalan ke tempat tidur dan duduk di atasnya, wajahnya tersembunyi di balik satu tangannya yang gemetar. Crookshanks melompat ke sebelahnya dan naik ke pangkuannya, mendengkur. Ron beringsut menjauhi keduanya, me-nyeret kakinya.

"Aku tidak membantu Sirius," kata Lupin. "Kalau kalian memberiku kesempatan, aku akan menjelaskan. Ini..."

Dia memisahkan tongkat-tongkat Harry, Ron, dan Hermione, dan melemparkan masing-masing ke pemiliknya. Harry menangkap tongkatnya, terpe-rangah.

"Nah," kata Lupin, menyelipkan tongkatnya sendiri ke balik ikat pinggangnya. "Kalian bersenjata, kami tidak. Sekarang, maukah kalian mendengarkan?"

Harry tak tahu harus bagaimana. Apakah ini jebak-an?

"Kalau Anda tidak membantunya," katanya dengan pandangan marah kepada Black, "bagaimana Anda tahu dia ada di sini?"

"Dari peta," kata Lupin. "Peta Perampok. Aku se-dang di kantorku mengamatinya..."

"Anda tahu bagaimana menggunakannya?" tanya Harry curiga.

"Tentu saja aku tahu bagaimana menggunakannya," kata Lupin, melambaikan tangannya dengan tak sabar. "Aku ikut membuatnya. Aku Moony—itulah julukan yang diberikan sahabat-sahabatku waktu aku masih sekolah."

"Anda ikut membu...?"

"Yang paling penting adalah, aku sedang meng-amatinya dengan cermat sore ini, karena aku menduga bahwa kau, Ron, dan Hermione mungkin akan men-coba menyelinap keluar dari kastil untuk mengunjungi Hagrid sebelum Hippogriff-nya dipenggal. Dan aku benar, kan?"

Lupin kini berjalan hilir-mudik, memandang mereka. Debu mengepul di kakinya. "Kau boleh saja memakai Jubah Gaib ayahmu, Harry..."

"Bagaimana Anda bisa tahu tentang jubah itu?"

"Sudah sering sekali aku melihat James menghilang di bawah jubah itu...," kata Lupin, melambaikan tangannya dengan tak sabar lagi. "Masalahnya adalah, meskipun kalian memakai Jubah Gaib, kalian tetap muncul di Peta Perampok. Aku melihat kalian menye-berangi halaman dan memasuki pondok Hagrid. Dua puluh menit kemudian, kalian meninggalkan Hagrid, dan berjalan kembali ke kastil. Tetapi saat itu ada orang lain yang menemani kalian."

"Apa?" tanya Harry. "Tidak ada yang menemani kami!"

"Aku tak mempercayai mataku," kata Lupin, masih berjalan hilir-mudik dan mengabaikan interupsi Harry. "Kupikir peta itu mestinya tidak beres. Mana mungkin dia bisa berada bersama kalian?"

"Tak ada orang lain bersama kami!" bantah Harry.

"Dan kemudian aku melihat bintik lain, bergerak cepat ke arah kalian, berlabel Sirius Black... Aku melihatnya bertabrakan denganmu, aku melihat ketika dia menyeret dua di antara kalian ke Dedalu Perkasa..."

"Seorang di antara kami!" kata Ron berang.

"Tidak, Ron," kata Lupin. "Dua dari kalian."

Dia sudah berhenti mondar-mandir, matanya ber-gerak menatap Ron. "Bolehkah aku melihat tikusmu?" katanya tenang.

"Apa?" kata Ron. "Apa urusan Scabbers dengan semua ini?"

"Segalanya," kata Lupin. "Boleh aku melihatnya?"

Ron sangsi, kemudian memasukkan tangan ke da-lam jubahnya. Scabbers muncul, meronta-ronta liar.

Ron harus menyambar ekornya yang panjang dan gundul untuk mencegahnya kabur. Crookshanks ber-diri di atas pangkuan Black dan mendesis-desis pelan.

Lupin mendekat ke arah Ron. Dia menahan napas ketika memandang Scabbers lekat-lekat.

"Apa?" kata Ron lagi, memegangi Scabbers ke dekat tubuhnya, tampak ketakutan. "Apa urusan tikusku dengan semua ini?"

"Itu bukan tikus," mendadak Sirius Black berkata parau.

"Apa maksudmu—tentu saja dia tikus..."

"Bukan, dia bukan tikus," kata Lupin pelan. "Dia penyihir."

"Animagus," kata Black, "yang bernama Peter Pettigrew."

18. Moony, Wormtail, Padfoot, Dan Prongs

PERLU beberapa detik untuk mencerna pernyataan yang tak masuk akal ini. Kemudian Ron menyuarakan apa yang ada dalam pikiran Harry.

"Kalian berdua sinting."

"Tak masuk akal," kata Hermione lemah.

"Peter Pettigrew sudah meninggal," kata Harry. "Dia membunuhnya dua belas tahun yang lalu!" Harry menunjuk Black, yang wajahnya berkeriut mengejang.

"Mauku begitu," Black menggeram, gigi-giginya yang kuning menyeringai, "tetapi si kecil Peter Pettigrew mengungguliku... meskipun demikian, kali ini tidak akan terulang lagi!"

Dan Crookshanks terlempar ke lantai ketika Black menerkam Scabbers. Ron memekik kesakitan ketika kakinya yang patah tertimpa tubuh Black.

"Sirius, JANGAN!" Lupin berteriak, seraya menerjang ke depan dan menarik Black. "TUNGGU! Kau tak bisa melakukannya begitu saja—mereka perlu mengerti— kita harus menjelaskan..."

"Kita bisa menjelaskan sesudahnya!" geram Black, berusaha melepaskan diri dari Lupin, satu tangannya masih menggapai-gapai udara berusaha menjangkau Scabbers, yang menjerit-jerit seperti anak babi, men-cakar-cakar muka dan leher Ron dalam usahanya meloloskan diri.

"Mereka—berhak—mengetahui—segalanya!" Lupin tersengal, masih berusaha menahan Black. "Selama ini dia menjadi binatang peliharaan Ron! Ada bagian-bagian yang bahkan aku sendiri tak mengerti! Dan Harry—kau harus membeberkan kejadian yang se-benarnya kepada Harry, Sirius!"

Black berhenti memberontak, meskipun matanya yang cekung masih tertancap pada Scabbers, yang tercengkeram erat di tangan Ron yang berdarah-darah kena cakaran dan gigitannya.

"Baiklah," kata Black tanpa melepas pandangannya dari tikus itu. "Ceritakan kepada mereka, terserah padamu. Asal cepat, Remus. Aku ingin melakukan pembunuhan yang selama ini dituduhkan kepadaku dan membuatku dipenjara..."

"Kalian berdua gila," kata Ron gemetar, memandang Harry dan Hermione minta dukungan. "Aku sudah cukup mendengar semua ini. Aku mau pergi."

Dia berusaha bangun bertumpu pada kakinya yang sehat, tetapi Lupin mengangkat tongkatnya lagi, meng-arahkannya kepada Scabbers.

"Kau akan mendengarkan aku, Ron," katanya te-nang.

"Pegangi saja Peter erat-erat sementara kau mendengarkan."

"DIA BUKAN PETER, DIA SCABBERS!" teriak Ron, berusaha menjejalkan kembali tikus itu ke dalam saku depannya, tetapi Scabbers meronta terlalu keras. Ron terhuyung nyaris jatuh, dan Harry mendorongnya kembali ke tempat tidur. Kemudian, tanpa mengacuh-kan Black, Harry menoleh kepada Lupin.

"Ada saksi-saksi yang melihat Pettigrew mati," kata-nya.

"Orang-orang satu jalanan penuh..."

"Mereka tidak melihat apa yang mereka pikir me-reka lihat!" kata Black galak, masih mengawasi Scabbers yang meronta-ronta di tangan Ron.

"Semua orang mengira Sirius membunuh Peter," kata Lupin, mengangguk. "Aku sendiri tadinya me-ngira begitu— sampai aku melihat peta malam ini. Karena Peta Perampok tak pernah berbohong... Peter masih hidup. Ron sedang memeganginya, Harry."

Harry menunduk memandang Ron, dan ketika mata mereka bertatapan, mereka berdua sama-sama sepakat, Black dan Lupin sudah sinting. Cerita mereka sama sekali tak masuk akal. Bagaimana mungkin Scabbers itu Peter Pettigrew? Rupanya Azkaban, akhirnya, membuat Black kehilangan akal sehatnya—tetapi ke-napa Lupin mau saja bersandiwara bersamanya?

Kemudian Hermione bicara, dengan suara gemetar yang dipaksakan agar tenang, seakan berusaha me-maksa Profesor Lupin agar bicara masuk akal.

"Tetapi, Profesor Lupin... Scabbers tak mungkin Peter Pettigrew... mana bisa, Anda tahu itu tak mung-kin..."

"Kenapa tak mungkin?" kata Lupin kalem, seakan mereka di dalam kelas, dan Hermione baru saja me-nemukan masalah dalam percobaan mereka dengan Grindylow.

"Karena... karena orang akan tahu kalau Peter Pettigrew Animagus. Kami belajar Animagi dengan Profesor McGonagall.

Dan saya membacanya ketika membuat PR—Kementerian Sihir memantau dan men-catat para penyihir yang bisa berubah menjadi bina-tang. Ada daftarnya yang menjelaskan menjadi bina-tang apa mereka, bagaimana ciri-cirinya, dan macam-macam lagi... dan waktu mencari keterangan tentang Profesor McGonagall, saya baca hanya ada tujuh Animagi dalam abad ini, dan nama Pettigrew tidak ada dalam daftar itu..."

Dalam hati Harry baru saja mengagumi kerja keras Hermione dalam mengerjakan PR, ketika Lupin ter--awa.

"Betul lagi, Hermione!" katanya. "Tetapi Kementeri-an Sihir tak pernah tahu bahwa ada tiga Animagi tak terdaftar yang dulu berkeliaran di Hogwarts."

"Kalau kau mau cerita kepada mereka, ayo cepat, Remus," geram Black, yang masih mengawasi segala upaya putus asa Scabbers. "Aku sudah menunggu selama dua belas tahun, aku tak mau menunggu lebih lama lagi."

"Baiklah... tapi kau harus membantuku, Sirius," kata Lupin.

"Aku hanya tahu bagaimana mulainya..."

Lupin berhenti. Terdengar bunyi keras di belakang mereka. Pintu kamar terbuka sendiri. Mereka berlima menatapnya. Kemudian Lupin berjalan mendekati pintu dan melongok ke bordes.

"Tak ada orang..."

"Tempat ini ada hantunya!" kata Ron.

"Tidak ada," kata Lupin, masih memandang pintu dengan bingung. "Shrieking Shack tak pernah ber-hantu... jeritan- jeritan dan lolongan-lolongan yang biasa didengar penduduk itu adalah jeritan dan lolonganku."

Dia menyibakkan rambutnya yang beruban dari matanya, berpikir sejenak, kemudian berkata, "Dari sinilah segalanya berawal—saat aku berubah menjadi manusia serigala. Semua ini tak akan terjadi kalau aku tidak sampai tergigit... dan kalau aku tidak begitu tolol..."

Dia tampak waras dan lelah. Ron mau menyela, tetapi Hermione berkata, "Ssh!" Dia menatap Lupin dengan amat sungguh-sungguh.

"Aku masih kecil sekali ketika aku digigit. Orang-tuaku mencoba segalanya, tetapi waktu itu belum ada obatnya. Ramuan yang selama ini dibuat Profesor Snape untukku adalah penemuan baru. Ramuan itu membuatku aman. Asal aku meminumnya seminggu sebelum malam purnama, pikiranku tetap pikiran manusia selama aku berubah menjadi manusia seri-gala... aku bisa berbaring melingkar di kantorku, serigala yang sama sekali tak berbahaya, menunggu saatnya bulan memudar lagi.

"Sebelum Ramuan Kutukan-Serigala ditemukan, se-kali sebulan aku menjadi monster mengerikan.

Rasanya tak mungkin aku akan bisa masuk Hogwarts. Para orangtua pasti tak mau anaknya bergaul dengan-ku.

"Tetapi kemudian Dumbledore menjadi kepala se-kolah, dan dia bersimpati kepadaku. Dia mengatakan, asal kami berhati-hati, tak ada alasan aku tak bisa sekolah..." Lupin menghela napas, dan memandang Harry lurus-lurus. "Aku pernah mengatakan padamu beberapa bulan lalu bahwa Dedalu Perkasa ditanam pada tahun aku masuk Hogwarts. Yang benar adalah pohon itu ditanam karena aku masuk Hogwarts. Rumah ini..." Lupin memandang ke sekitarnya de-ngan muram, "...terowongan yang menuju ke sini— semuanya dibangun untuk kugunakan. Sekali sebulan, aku diselundupkan dari dalam kastil, dibawa ke tem-pat ini, untuk bertransformasi menjadi manusia seri-gala. Pohon itu ditanam di mulut gua untuk men-cegah jangan sampai ada orang bertemu denganku selagi aku berubah jadi serigala."

Harry tak bisa menerka ke mana arah cerita ini, tetapi dia mendengarkan dengan penuh perhatian. Satu-satunya suara lain selain suara Lupin adalah cicit ketakutan Scabbers.

"Transformasiku di masa itu sangat—mengerikan. Menyakitkan sekali berubah menjadi manusia serigala. Aku dipisahkan dari manusia supaya tak bisa meng-gigit mereka, maka sebagai gantinya aku menggigit dan mencakar diriku sendiri. Penduduk desa men-dengar bunyi bising dan jeritan- jeritan itu dan mengira mereka mendengar hantu mengerikan. Dumbledore mengipasi desas-desus ini... bahkan sekarang, setelah rumah ini sunyi selama bertahun-tahun, penduduk desa tidak berani mendekatinya...

"Tetapi, kecuali saat sedang bertransformasi, aku jauh lebih berbahagia daripada yang pernah kualami. Untuk pertama kalinya, aku punya teman, tiga teman baik. Sirius Black... Peter Pettigrew... dan, tentu saja, ayahmu, Harry—James Potter.

"Nah, ketiga sahabatku ini mau tak mau memper-hatikan bahwa aku menghilang sebulan sekali. Aku mengarang bermacam alasan. Di antaranya, kukatakan bahwa ibuku sakit, dan bahwa aku harus pulang menengoknya... aku takut mereka akan meninggalkan-ku begitu tahu aku manusia serigala. Tetapi mereka, seperti kau, Hermione, akhirnya berhasil mengetahui yang sebenarnya...

"Dan mereka sama sekali tak meninggalkanku. Sebaliknya malah, mereka melakukan sesuatu yang tak sekadar membuat masa transformasiku bisa ter-tahankan olehku, melainkan juga menjadi masa-masa paling menyenangkan dalam hidupku. Mereka men-jadi Animagi."

"Ayahku juga?" tanya Harry sangat heran.

"Ya," kata Lupin. "Perlu waktu tiga tahun bagi mereka untuk memeeahkan bagaimana caranya. Ayah-mu dan Sirius ini murid paling pandai di seluruh sekolah, dan untunglah begitu, sebab transformasi Animagus bisa salah kaprah—salah satu alasan kenapa Kementerian memantau terus mereka yang berusaha melakukannya. Peter memerlukan banyak bantuan dari James dan Sirius. Akhirnya, waktu kami kelas lima, mereka berhasil melakukannya. Mereka masing-masing bisa berubah menjadi binatang yang berbeda kapan saja mereka mau."

"Tetapi bagaimana itu membantu Anda?" tanya Hermione bingung.

"Mereka tak bisa menemaniku sebagai manusia, jadi mereka menemaniku sebagai binatang," kata Lu-pin. "Manusia serigala hanya berbahaya bagi manusia. Mereka menyelinap keluar dari kastil sebulan sekali di bawah kerudungan Jubah Gaib James. Mereka bertransformasi... Peter, yang paling kecil, bisa me-nyelinap di bawah dahan-dahan Dedalu yang me-nyerang dan menekan tonjolan yang membuat pohon-nya tak bergerak. Kemudian mereka bertiga akan menuruni terowongan dan menemaniku. Di bawah pengaruh mereka, keganasanku berkurang. Tubuhku masih serigala, tetapi pikiranku makin tak seperti serigala selama aku bersama mereka."

"Cepatlah, Remus," geram Black, yang masih meng-awasi Scabbers dengan ekspresi wajah lapar mengeri-kan.

"Aku hampir selesai, Sirius, hampir... nah, berbagai kemungkinan menyenangkan sekarang terbuka bagi kami, setelah kami berempat bisa bertransformasi. Tak lama kemudian kami meninggalkan Shrieking Shack dan berkeliaran di halaman sekolah dan desa di malam hari. Sirius dan James bertransformasi men-jadi binatang besar-besar, sehingga mereka bisa me-ngontrol manusia serigala. Aku tak yakin ada murid Hogwarts lain yang lebih tahu dari kami tentang seluk- beluk Hogwarts dan Hogsmeade... Dan begitu-lah maka kami membuat Peta Perampok, dan mencantumkan nama-nama julukan kami. Sirius adalah Padfoot. Peter adalah Wormtail. James adalah Prongs."

"Binatang apa...?" Harry ingin bertanya, tetapi Hermione memotongnya.

"Itu masih berbahaya! Berkeliaran di malam hari dengan manusia serigala! Bagaimana kalau Anda ber-hasil melepaskan diri dari mereka lalu menggigit manusia?"

"Pikiran itu sampai sekarang masih menghantuiku," kata Lupin berat. "Dan memang sudah sering nyaris terjadi. Semuanya membuat kami tertawa sesudahnya. Kami masih muda, tidak berpikir panjang—terbuai oleh kepandaian kami.

"Aku tentu saja kadang-kadang merasa bersalah karena menyalahgunakan kepercayaan Dumbledore... dia menerimaku di Hogwarts, sementara kepala se-kolah lain tak akan ada yang mau, dan dia sama sekali tak tahu aku melanggar peraturan yang telah dibuatnya untuk keamananku sendiri dan keamanan orang-orang lain. Dia tak pernah tahu aku telah mem-buat tiga temanku menjadi Animagi secara ilegal. Tetapi aku selalu berhasil menyingkirkan perasaan bersalahku setiap kali kami duduk merencanakan petualangan kami untuk bulan berikutnya. Dan aku belum berubah..."

Wajah Lupin mengeras, dan suaranya terdengar jijik terhadap dirinya sendiri. "Selama setahun ini, aku berperang batin, apakah sebaiknya aku memberi-tahu Dumbledore bahwa Sirius itu Animagus. Tetapi aku tidak melakukannya. Kenapa? Karena aku terlalu pengecut. Itu akan berarti aku mengkhianati keper-cayaannya sewaktu aku bersekolah di sini, mengakui bahwa aku melibatkan teman-temanku... padahal ke-percayaan Dumbledore berarti segalanya bagiku. Dia menerimaku di Hogwarts sewaktu aku masih kecil, dan dia memberiku pekerjaan, ketika aku dikucilkan oleh semua orang setelah aku dewasa, tak bisa men-dapatkan pekerjaan karena keadaanku. Maka kuyakin-kan diriku bahwa Sirius memasuki kastil mengguna-kan ilmu hitam yang dipelajarinya dari Voldemort, bahwa fakta dia Animagus tak ada hubungannya dengan itu... jadi, pendapat Snape tentangku selama ini ada benarnya juga."

"Snape?" tanya Black kasar, mengalihkan pandang-annya dari Scabbers untuk pertama kalinya dan men-dongak menatap Lupin. "Apa hubungan Snape dengan ini?"

"Dia di sini, Sirius," kata Lupin berat. "Dia juga mengajar di Hogwarts." Lupin menatap Harry, Ron, dan Hermione.

"Profesor Snape bersekolah bersama kami. Dia ber-usaha keras menentang penunjukanku sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Sepanjang tahun ini dia memberitahu Dumbledore aku tak bisa diper-caya. Dia punya alasan untuk itu... soalnya, Sirius pernah mempermainkannya sampai nyaris membuat-nya mati, dan aku terlibat..."

Black membuat suara mencemooh.

"Tahu rasa dia," seringainya. "Mengendap-endap, ingin tahu apa yang kita lakukan... berharap bisa membuat kita dikeluarkan..."

"Severus sangat ingin tahu ke mana aku pergi setiap bulan," Lupin memberitahu Harry, Ron, dan Hermione. "Kami di tahun yang sama, dan kami— eh—tidak begitu saling menyukai. Dia terutama sangat tidak suka pada James, iri pada bakat James di lapangan Quidditch... pendeknya, Snape pernah me-lihatku menyeberangi halaman suatu malam ketika Madam Pomfrey mengantarku ke Dedalu Perkasa untuk bertransformasi. Sirius berpendapat akan—eh— lucu kalau memberitahu Snape bahwa yang perlu dilakukannya hanyalah mendorong tonjolan di pohon dengan tongkat panjang, dan dia akan bisa mem-buntutiku. Yah, tentu saja Snape mencobanya—kalau dia bisa tiba di rumah ini, dia akan bertemu manusia serigala dewasa—tetapi ayahmu, yang mendengar apa yang telah dilakukan Sirius, mengejarnya dan me-nariknya mundur, dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri... Meskipun demikian Snape sudah sempat melihatku sekilas di ujung terowongan. Dumbledore melarangnya memberitahu siapa pun, tetapi sejak saat itu dia tahu aku ini apa..."

"Jadi itulah sebabnya Snape tidak menyukai Anda," kata Harry lambat-lambat, "karena dia mengira Anda ikut mempermainkannya?"

"Betul," cemooh suara dingin dari dinding di bela-kang Lupin.

Severus Snape menarik lepas Jubah Gaib, tongkat-nya tertuju lurus ke arah Lupin.

19. Abdi Lord Voldemort

Hermione memekik. Black melompat bangun. Harry terlonjak seakan dia tersetrum listrik bermuatan besar.

Kutemukan ini di dasar pohon Dedalu Perkasa, kata Snape, melempar Jubah Gaib, berhati-hati agar tongkatnya tetap terarah ke dada Lupin. Kalian mungkin penasaran, bagaimana aku tahu kalian ada di sini? katanya, matanya berkilat-kilat. Aku baru saja dari kantormu, Lupin. Kau lupa mengambil ramu-anmu malam ini, jadi kubawakan sepiala penuh. Untunglah untung bagiku, maksudku. Di atas mejamu terhampar peta. Sekali lihat saja aku sudah tahu semua yang perlu kuketahui. Kulihat kau berlari sepanjang lorong ini dan menghilang dari pandangan.

Severus, kata Lupin, tetapi Snape tidak memedulikannya.

Sudah berkali-kali kuberitahu Kepala Sekolah bahwa kau membantu menyelundupkan teman lamamu Black ke dalam kastil, Lupin, dan inilah buktinya. Bahkan aku pun tidak pernah mimpi kau akan punya nyali menggunakan tempat lama ini sebagai tempat persembunyianmu…”

Severus, kau keliru, kata Lupin mendesak. Kau belum mendengar seluruhnya—aku bisa menjelaskan— Sirius berada di sini bukan untuk membunuh Harry…”

Tambah dua lagi untuk menghuni Azkaban malam ini, kata Snape, matanya sekarang berkilat-kilat mengerikan. Aku tertarik sekali melihat bagaimana reaksi Dumbledore melihat semua ini dia yakin kau tak berbahaya. Menurutnya Lupin manusia serigala jinak…”

Bodohnya kau, kata Lupin pelan. Apakah sakit hati seorang anak di masa lalu merupakan alasan yang cukup untuk memasukkan kembali orang yang tak bersalah ke dalam Azkaban?

DUARR! Tali-tali tipis seperti ular menyembur dari ujung tongkat Snape dan membelit mulut, pergelangan tangan, serta kaki Lupin. Lupin kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai, tak mampu bergerak. Dengan raung kemarahan, Black melangkah siap menerjang Snape, tetapi Snape mengacungkan tongkatnya tepat di antara kedua mata Black.

Beri aku alasan, bisiknya. Beri aku alasan untuk melakukannya, dan aku bersumpah akan kulakukan.

Black langsung berhenti. Tak bisa dikatakan wajah siapa yang lebih memperlihatkan kebencian.

Harry berdiri terkesima, tak tahu harus bagaimana atau siapa yang harus dipercaya. Dia mengerling Ron dan Hermione. Ron tampak sama bingungnya seperti dia, masih berkutat memegangi Scabbers yang meronta-ronta. Meskipun demikian, Hermione dengan ragu-ragu maju selangkah mendekati Snape dan berkata, dengan napas tertahan,

Profesor Snape—tak— tak ada salahnya, kan, mendengarkan apa yang akan mereka katakan?

Miss Granger, kau sudah akan diskors dari sekolah ini, bentak Snape. Kau, Potter, dan Weasley meninggalkan halaman sekolah, berkumpul dengan pembunuh dan manusia serigala. Untuk sekali saja dalam hidupmu, tahan lidahmu.

Tapi kalau—kalau ada kekeliruan…”

DIAM, ANAK BODOH! teriak Snape, mendadak tampak seperti orang gila. JANGAN BICARA HAL YANG TIDAK KAUKETAHUI! Beberapa bunga api memercik dari ujung tongkatnya, yang masih tertuju ke wajah Black. Hermione diam.

Pembalasan sungguh manis rasanya, Snape mendesah ke wajah Black. Betapa aku mengharapkan akulah orangnya yang akan menangkapmu…”

Kau teperdaya lagi, Severus, gertak Black. Asal anak itu membawa tikusnya ke kastil…’ dia mengedik-kan kepala ke arah Ron, “…aku akan ikut tanpa memberontak…”

Ke kastil? kata Snape licik. Kurasa kita tak perlu pergi sejauh itu. Yang harus kulakukan hanyalah memanggil Dementor begitu kita keluar dari lubang Dedalu. Mereka akan senang sekali melihatmu, Black saking senangnya mereka akan memberimu kecupan, kurasa…”

Sisa warna yang tinggal sedikit di wajah Black kini menghilang sama sekali.

Kau—kau harus mendengarkan aku, katanya parau.

‘’Tikus itu—lihat tikus itu…”

Tetapi ada kilatan mengerikan di mata Snape yang tak pernah dilihat Harry sebelumnya. Dia tampaknya tak bisa diajak kompromi.

Ayo, kalian semua, katanya. Dia menjentikkan jarinya, dan ujung tali-tali yang membelit Lupin melayang ke tangannya. Aku akan menarik manusia serigala ini. Mungkin Dementor akan mengecupnya juga…”

Sebelum sadar apa yang dilakukannya, Harry menyeberangi kamar dalam tiga langkah, dan memblokir pintu.

Minggir, Potter, kau sudah dalam kesulitan besar, gertak Snape. Kalau aku tak berada di sini untuk menyelamatkan nyawamu…”

Profesor Lupin punya kesempatan membunuh saya kira- kira seratus kali tahun ini, kata Harry. Saya sering sekali sendirian bersamanya, mendapat pelajaran pertahanan terhadap Dementor. Jika dia memang membantu Black, kenapa dia tidak membunuh saya waktu itu?

Jangan tanya aku bagaimana cara kerja pikiran manusia serigala, desis Snape. Minggir, Potter.

ANDA KELEWATAN! teriak Harry. HANYA KARENA MEREKA MEMPERMAINKAN ANDA WAKTU SEKOLAH DULU, ANDA SEKARANG TAK MAU MENDENGARKAN…”

DIAM! AKU TAK MAU KAU BICARA PADAKU SEPERTI ITU! jerit Snape, tampak lebih murka dari sebelumnya. Sama seperti ayahmu, Potter! Aku baru saja menyelamatkan batang lehermu, seharusnya kau berlutut berterima kasih kepadaku! Tahu rasa kau kalau dia tadi membunuhmu! Kau akan mati seperti ayahmu. Kau terlalu angkuh untuk percaya bahwa pendapatmu tentang Black bisa keliru—sekarang minggir, kalau tidak kusingkirkan kau. MINGGIR, POTTER!

Dalam sedetik Harry mengambil keputusan. Sebelum Snape sempat maju satu langkah mendekatinya, dia sudah mengangkat tongkatnya.

Expelliarmus! serunya—hanya saja dia bukan satu- satunya yang berseru. Terdengar ledakan yang membuat pintu bergetar pada engsel-engselnya. Snape terangkat dan terbanting ke dinding, kemudian merosot ke lantai, darah menetes-netes dari bawah rambutnya. Dia pingsan.

Harry memandang berkeliling. Baik Ron maupun Hermione berusaha melucuti senjata Snape pada saat yang bersamaan. Tongkat Snape melesat dalam leng-kungan tinggi dan mendarat di tempat tidur di sebelah Crookshanks.

Seharusnya kau tidak melakukan itu, kata Black, memandang Harry. Seharusnya kauserahkan padaku…”

Harry menghindari mata Black. Dia tidak yakin, bahkan sekarang, bahwa dia telah melakukan hal yang benar.

Kita menyerang guru kita menyerang guru, Hermione meratap, memandang Snape yang tak bergerak dengan mata ketakutan. Oh, kita akan kena hukuman berat…”

Lupin berkutat berusaha melepaskan ikatannya. Black cepat-cepat membungkuk dan membebaskannya. Lupin berdiri, menggosok-gosok lengannya, di tempat tali tadi mengirisnya.

Terima kasih, Harry, katanya.

Saya tetap tidak bilang saya mempercayai Anda, balas Harry.

Kalau begitu sudah waktunya kami memberimu bukti,

kata Black. Kau, Nak, berikan Peter padaku, sekarang.

Ron mencengkeram Scabbers erat-erat dan mendekapnya di dadanya.

Sudahlah, katanya lemah. Apakah kau mau bilang kau kabur dari Azkaban hanya untuk menangkap Scabbers? Maksudku…” Dia mendongak, menatap Harry dan Hermione, minta dukungan. Oke, seandainya Pettigrew memang bisa berubah jadi tikus—ada berjuta-juta tikus—bagaimana dia bisa tahu tikus mana yang dikejarnya kalau dia dikurung di Azkaban?

Tahu tidak, Sirius, itu pertanyaan yang masuk akal, kata Lupin, menoleh pada Black dan sedikit mengerutkan dahi.

Bagaimana kau bisa tahu dia ada di mana?

Black memasukkan salah satu tangannya yang seperti cakar ke dalam jubahnya dan mengeluarkan secarik kertas kusut yang kemudian diratakannya dan diperlihatkannya kepada yang lain.

Ternyata itu foto Ron dan keluarganya yang muncul di Daily Prophet musim panas yang lalu, dan di atas bahu Ron, tampaklah Scabbers.

Dari mana kau mendapatkan ini? Lupin menanyai Black, terperangah.

Fudge, kata Black. Ketika dia datang inspeksi ke Azkaban tahun lalu, dia memberikan korannya kepadaku. Dan Peter ada di halaman depan di bahu anak ini aku langsung mengenalinya berapa kali sudah aku melihatnya bertransformasi? Dan teks foto ini mengatakan anak ini akan kembali ke Hogwarts ke tempat Harry berada…”

Ya Tuhan, kata Lupin pelan, menatap Scabbers dan foto itu bergantian. Kaki depannya…”

Kenapa kaki depannya? tantang Ron.

Satu jarinya tak ada, kata Black.

Tentu saja, desah Lupin. Begitu sederhana begitu brilian Dia memotongnya sendiri?

Tepat sebelum dia bertransformasi, kata Black. Waktu aku menyudutkannya, dia berteriak agar semua orang di jalan itu mendengar aku telah mengkhianati Lily dan James. Kemudian, sebelum aku sempat menyerangnya dengan kutukan, dia meledakkan jalanan dengan tongkat di belakang punggungnya, membunuh semua orang yang berada dalam jarak enam meter darinya—dan kabur ke gorong-gorong bergabung dengan tikus-tikus lain…”

Bukankah kau pernah mendengar, Ron? kata Lupin.

Bahwa potongan tubuh terbesar Peter yang berhasil ditemukan hanyalah jarinya.

Scabbers bisa saja berkelahi dengan tikus lain atau entah kenapa! Dia sudah bersama keluarga kami lama sekali, kan…”

Dua belas tahun, kata Lupin. Tak pernahkah kau mempertanyakan bagaimana dia bisa hidup begitu lama?

Kami—kami memeliharanya dengan baik! kata Ron.

Tapi sekarang ini kelihatannya tak begitu baik, kan? kata Lupin. Kurasa berat badannya turun sejak dia mendengar Sirius lolos…”

Dia takut pada kucing gila itu! kata Ron, mengangguk ke arah Crookshanks, yang masih mendengkur di atas tempat tidur.

Tetapi itu tidak benar, pikir Harry tiba-tiba Scabbers sudah tampak sakit bahkan sebelum dia bertemu Crookshanks sejak Ron pulang dari Mesir sejak Black lolos.

Kucing ini tidak gila, kata Black serak. Dia mengulurkan tangannya yang kurus dan membelai kepala Crookshanks yang berbulu lebat. Dia kucing paling pandai yang pernah kutemui. Dia langsung mengenali siapa Peter begitu melihatnya. Dan ketika bertemu aku, dia tahu aku bukan anjing. Perlu beberapa waktu sebelum dia mempercayaiku. Akhirnya aku berhasil mengkomunikasikan apa yang kucari, dan selama ini dia telah membantuku…”

Apa maksudmu? desah Hermione.

Dia berusaha membawa Peter kepadaku, tetapi tak berhasil maka dia mencurikan kata-kata kunci untuk masuk ke Menara Gryffindor bagiku. Setahuku dia mengambilnya dari meja di samping tempat tidur seorang anak laki-laki…”

Otak Harry terasa memberat dibebani apa yang didengarnya. Tak masuk akal meskipun demikian

Tetapi Peter tahu apa yang sedang berlangsung dan dia kabur kucing ini—Crookshanks, begitu kau memanggilnya?— memberitahuku Peter telah meninggalkan bercak-bercak darah di seprai kurasa dia menggigit dirinya sendiri yah, dia pernah berpura-pura mati dan berhasil…”

Kata-kata ini menyentakkan Harry, menyadarkannya.

Dan kenapa dia harus pura-pura mati? katanya berang.

Karena dia tahu kau akan membunuhnya seperti kau membunuh orangtuaku!

Tidak, kata Lupin. Harry…”

Dan sekarang kau datang untuk menghabisinya!

Ya, memang betul, kata Black, dengan pandangan mengerikan ke arah Scabbers.

Kalau begitu seharusnya aku membiarkan Snape menangkapmu! teriak Harry.

Harry, kata Lupin buru-buru, tidakkah kau paham? Selama ini kita mengira Sirius mengkhianati orangtuamu, dan Peter mengejarnya—tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kebalikannya, tidakkah kau paham? Peter mengkhianati ibu dan ayahmu—Sirius mengejar Peter…”

ITU TIDAK BENAR! Harry menjerit. DIA PENJAGA- RAHASIA ORANGTUAKU! DIA SENDIRI YANG BILANG SEBELUM ANDA DATANG, DIA BILANG DIA MEMBUNUH MEREKA!

Harry menunjuk Black, yang perlahan menggelengkan kepala

nya. Mata yang cekung itu mendadak berkaca-kaca.

Harry aku sama saja dengan membunuh mereka/ katanya parau. Aku membujuk Lily dan James untuk berganti memilih Peter pada saat terakhir, membujuk mereka agar menggunakannya sebagai Penjaga-Rahasia mereka, dan bukan diriku akulah yang harus disalahkan, aku tahu pada malam mereka meninggal, aku sudah mengatur akan mengecek Peter, meyakinkan dia masih selamat, tetapi ketika aku tiba di tempat persembunyiannya, dia sudah tak ada. Tetapi tak ada tanda-tanda perlawanan. Rasanya ada yang tidak beres. Aku takut. Aku langsung ke rumah orangtuamu. Dan ketika aku melihat rumah mereka, hancur, dan tubuh mereka—aku sadar apa yang telah dilakukan Peter. Dan apa yang telah kulakukan.

Suaranya tersendat. Dia memalingkan wajah.

Cukup, kata Lupin, dan ada ketajaman dalam suaranya yang tak pernah didengar Harry sebelumnya. Hanya ada satu cara pasti untuk membuktikan apa yang telah terjadi. Ron, berikan padaku tikus itu.

Apa yang akan Anda lakukan padanya jika saya berikan dia kepada Anda? Ron bertanya kepada Lupin dengan tegang.

Memaksanya untuk memperlihatkan dirinya yang asli, kata Lupin. Kalau dia benar-benar tikus, yang akan kulakukan tidak akan mencederainya.

Ron sangsi, kemudian akhirnya mengulurkan Scabbers! Lupin mengambilnya. Scabbers mulai menjerit-jerit tanpa henti, meronta dan menggeliat, matanya yang mungil melotot ketakutan di kepalanya. Siap, Sirius? tanya Lupin.

Black sudah mengambil tongkat Snape dari tempat tidur. Dia mendekati Lupin dan tikus yang meronta-ronta itu, dan matanya yang basah tiba-tiba tampak menyala-nyala di wajahnya.

Bersama-sama? tanyanya pelan.

Kurasa begitu, kata Lupin, memegangi Scabbers erat-erat dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya memegang tongkatnya. Pada hitungan ketiga. Satu—dua—TIGA!

Kilatan cahaya biru-putih meluncur dari kedua tongkat. Sesaat Scabbers membeku di udara, lalu sosoknya yang kecil hitam menggeliat liar—Ron menjerit—tikus itu jatuh ke lantai. Ada kilatan cahaya lagi, dan kemudian

Mereka seakan mengawasi film pertumbuhan pohon yang dipercepat. Sebuah kepala mendadak mencuat dari lantai, tangan dan kaki bermunculan. Saat berikutnya, seorang laki- laki berdiri di tempat tadi Scabbers berada, meremas-remas tangannya dengan ketakutan. Crookshanks mendesis-desis dan menggeram-geram di tempat tidur, bulu di punggungnya berdiri.

Laki-laki itu sangat pendek, tak lebih tinggi dari Harry dan Hermione. Rambutnya yang tipis tak berwarna berantakan dan bagian atas kepalanya botak. Tubuhnya kisut, mengesankan orang yang tadinya gemuk kemudian berat badannya menyusut dalam waktu singkat. Kulitnya tampak kotor, seperti bulu Scabbers, dan sesuatu yang memberi kesan tikus masih tertinggal di hidungnya yang runcing, matanya yang sangat kecil dan berair. Dia memandang berkeliling kepada mereka semua, napasnya cepat dan pendek-pendek. Harry melihat matanya melesat ke pintu dan kembali berpaling pada mereka lagi.

Ah, halo, Peter, kata Lupin ramah, seakan tikus yang menjelma menjadi sahabat lama merupakan hal biasa yang sudah sering dialaminya. Lama tak bersua.

S-Sirius R-Remus…” Bahkan suara Pettigrew pun mencicit. Sekali lagi matanya melayang ke pintu. Temanku teman-teman lamaku…”

Lengan Black terangkat, tetapi Lupin menyambar pergelangan tangannya, memberinya pandangan memperingatkan, kemudian menoleh lagi ke arah Pettigrew, suaranya ringan dan biasa.

Kami tadi ngobrol, Peter, tentang apa yang terjadi pada malam Lily dan James meninggal. Mungkin kau tidak mendengar beberapa hal penting karena sibuk mencicit-cicit di tempat tidur itu…”

Remus, desah Pettigrew, dan Harry bisa melihat butir- butir keringat bermunculan di wajahnya yang pucat, kau tidak percaya dia, kan Dia mencoba membunuhku, Remus…”

Begitulah yang kami dengar, kata Lupin lebih dingin. Aku ingin menjernihkan satu-dua hal kecil denganmu, Peter, kalau kau berse…”

Dia datang untuk mencoba membunuhku lagi! mendadak Pettigrew memekik, menunjuk Black, dan Harry melihat bahwa dia menggunakan jari tengahnya, karena telunjuknya tak ada.

Dia membunuh Lily dan James, dan sekarang dia mau membunuhku juga kau harus membantuku, Remus…”

Wajah Black tampak lebih menyerupai tengkorak daripada sebelumnya ketika dia memandang Pettigrew dengan matanya yang dalam.

Tak ada yang akan membunuhmu sampai kita sudah membereskan beberapa hal, kata Lupin.

Membereskan beberapa hal? pekik Pettigrew, sekali lagi dia memandang berkeliling dengan liar, matanya melayang ke jendela-jendela yang bertutup papan, dan kemudian ke satu- satunya pintu lagi. Aku tahu dia datang mengejarku! Aku tahu dia akan kembali! Aku sudah menunggu saat ini selama dua belas tahun!

Kau tahu Sirius akan kabur dari Azkaban? tanya Lupin, keningnya berkerut. Padahal tak seorang pun pernah melakukannya sebelumnya?

Dia punya ilmu hitam yang hanya bisa kita impikan! Pettigrew berteriak nyaring. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa kabur dari sana? Kurasa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut mengajarinya beberapa trik!

Black tertawa, tawa mengerikan tanpa nada kegembiraan yang memenuhi seluruh ruangan.

Voldemort, mengajariku beberapa trik? katanya.

Pettigrew berjengit seakan Black telah melecutnya dengan cemeti.

Kenapa? Takut mendengar nama mantan tuanmu? kata Black. Aku tak menyalahkanmu, Peter. Para pengikutnya yang lain tak begitu senang denganmu, kan?

Tak tahu—apa maksudmu, Sirius, gumam Pettigrew, napasnya lebih cepat dari sebelumnya. Seluruh wajahnya berkilat oleh keringat sekarang.

Kau bukan bersembunyi dariku selama dua belas tahun ini, kata Black. Kau bersembunyi dari para mantan pendukung Voldemort. Banyak yang kudengar di Azkaban, Peter mereka semua mengira kau sudah mati, kalau tidak kau harus bertanggung jawab kepada mereka aku mendengar mereka meneriakkan segala macam hal dalam tidur mereka. Kedengarannya mereka berpendapat si pengkhianat mengkhianati mereka. Voldemort datang ke rumah keluarga Potter berdasarkan informasimu dan Voldemort menerima kejatuhannya di sana. Dan tidak semua pendukung Voldemort berakhir di Azkaban, kan? Masih banyak yang bebas di luar sini, menunggu waktu, berpura-pura mereka sudah menyadari kesalahan mereka Kalau sampai mereka dengar kau masih hidup, Peter…”

Tak mengerti apa yang kaubicarakan, kata Pettigrew lagi, lebih nyaring dari sebelumnya. Dia menyeka wajahnya dengan lengannya dan mendongak menatap Lupin. Kau tidak mempercayai kegilaan ini, kan, Remus…”

Harus kuakui, Peter, sulit bagiku memahami kenapa orang tak bersalah mau melewatkan dua belas tahun sebagai tikus, kata Lupin datar.

Tak bersalah, tapi ketakutan! pekik Pettigrew. Kalau para pendukung Voldemort mengejarku, itu karena aku memasukkan salah satu orang terbaik mereka ke Azkaban—si mata-mata, Sirius Black!

Wajah Black mengerut.

Beraninya kau menuduhku, dia menggeram, mendadak kedengaran seperti anjing berukuran beruang, seperti wujud jelmaannya. Aku, mata-mata Voldemort? Kapan aku pernah mengendap-endap mendekati orang-orang yang lebih kuat dan lebih berkuasa dariku? Tetapi kau, Peter—aku tak bisa mengerti, kenapa aku tidak melihatmu sebagai mata-mata dari awal. Kau selalu suka teman-teman yang bertubuh besar, yang bisa menjagamu, kan? Dulunya kami aku dan Remus dan James…”

Pettigrew menyeka wajahnya lagi. Dia nyaris sesak napas.

Aku, mata-mata pasti kau sinting tak pernah entah kenapa kau bisa mengatakan hal seperti…”

Lily dan James menunjukmu sebagai Penjaga-Rahar sia hanya karena aku yang menyarankannya, Black mendesis, begitu sengitnya sehingga Pettigrew melangkah mundur.

Kupikir itu rencana sempurna tipuan Voldemort jelas akan mengejarku, tak pernah terbayangkan dia akan menggunakan orang lemah tak berbakat seperti kau pasti itu jadi saat paling istimewa dalam hidupmu, memberitahu Voldemort kau bisa menyerahkan keluarga Potter kepadanya.

Pettigrew bergumam sendiri dengan bingung. Harry menangkap kata-kata seperti tak masuk akal dan gila, tetapi mau tak mau dia lebih memperhatikan wajah Pettigrew yang pucat pasi, dan bagaimana matanya tak hentinya melayang ke jendela dan pintu.

Profesor Lupin? kata Hermione takut-takut. Boleh—boleh saya menanyakan sesuatu?

Tentu, Hermione, kata Lupin sopan.

Begini—Scabbers—maksud saya—orang ini—dia sudah tidur di kamar Harry selama tiga tahun. Kalau dia bekerja untuk Anda-Tahu-Siapa, kenapa dia tak pernah mencoba mencederai Harry sebelum ini?

Nah! kata Pettigrew nyaring, menunjuk Hermione dengan tangannya yang cacat. Terima kasih! Kau lihat, Remus? Aku tak pernah melukai selembar pun rambut Harry! Kenapa tidak?

Kuberitahu kenapa, kata Black. Karena kau tak pernah melakukan sesuatu untuk orang lain kalau kau tak bisa melihat apa manfaatnya bagimu. Voldemort sudah bersembunyi selama dua belas tahun. Mereka bilang dia setengah-mati. Kau tak akan mau melakukan pembunuhan di depan hidung Albus Dumbledore, untuk penyihir yang sudah jatuh dan kehilangan segenap kekuasaannya, kan? Kau menginginkan kepastian dia penyihir paling hebat di dunia, sebelum kau kembali padanya, kan? Kalau tidak, kenapa kau memilih keluarga penyihir sebagai majikanmu? Mau pasang kuping cari berita, kan, Peter? Siapa tahu mantan pelindungmu kuat kembali, dan kau aman bergabung lagi dengannya.

Pettigrew membuka mulut dan menutupnya beberapa kali. Tampaknya dia telah kehilangan kemampuan bicaranya.

Eh—Mr Black—Sirius? kata Hermione takut-takut.

Black terlonjak disapa begitu dan ternganga menatap Hermione, seakan diajak bicara dengan sopan adalah sesuatu yang sudah lama dilupakannya.

Kalau Anda tidak keberatan saya ingin bertanya, bagaimana—bagaimana Anda kabur dari Azkaban, kalau Anda tidak menggunakan Sihir Hitam?

Terima kasih! kata Pettigrew tersengal, mengangguk- angguk kalut kepada Hermione. Tepat! Persis yang akan ku…”

Tetapi Lupin menyuruhnya diam dengan pandangannya. Black mengernyit sedikit kepada Hermione, namun bukan karena dia jengkel. Tampaknya dia sedang mempertimbangkan jawabannya.

Aku tak tahu bagaimana melakukannya, katanya lambat- lambat. Kurasa satu-satunya alasan aku tak pernah kehilangan ingatan adalah karena aku tahu aku tak bersalah. Itu bukan pikiran yang menyenangkan, maka Dementor- dementor tak bisa menyedotnya darikutetapi itu membuatku waras dan mengetahui siapa aku membantuku tetap mempertahankan kekuatanku sehingga ketika segalanya menjadi tak tertahankan aku bisa bertransformasi dalam selku menjadi anjing. Dementor tidak dapat melihat, tahukah kalian…” Dia menelan ludah. Mereka mendatangi orang-orang dengan cara merasakan emosi mereka mereka bisa merasakan bahwa perasaanku kurang— kurang manusiawi, kurang kompleks sewaktu aku jadi anjing tetapi tentu saja mereka mengira bahwa aku sedikit demi sedikit kehilangan ingatan seperti yang lain di sana, maka mereka tidak curiga. Tetapi aku lemah, sangat lemah, dan aku tak punya harapan mengusir mereka dariku tanpa tongkat

Tetapi kemudian aku melihat Peter di foto itu aku sadar dia ada di Hogwarts bersama Harry di tempat yang tepat, siap melancarkan aksinya, jika ada kisikan yang mencapai telinganya bahwa Pihak Hitam sedang mengumpulkan kekuatan lagi…”

Pettigrew menggelengkan kepalanya, mulutnya berbicara tanpa suara, membelalak menatap Black sepanjang waktu seakan terhipnotis.

“…siap menyerang begitu dia yakin punya sekutu untuk menyerahkan satu-satunya Potter yang tersisa kepada mereka. Kalau dia menyerahkan Harry kepada mereka, siapa yang berani mengatakan dia telah mmengkhianati Lord Voldemort? Dia akan diterima kembali dengan segala kehormatan

Jadi, kalian lihat, aku harus melakukan sesuatu. Aku satu- satunya yang tahu Peter masih hidup…”

Harry teringat apa yang diceritakan Mr Weasley kepada Mrs Weasley. Para penjaga mengatakan dia mengigau dalam tidurnya kata-katanya sama Dia di Hogwarts.’”

Rasanya seperti ada yang menyalakan api dalam kepalaku, dan para Dementor tidak dapat memadamkannya itu bukan perasaan bahagia itu obsesi tetapi itu memberiku kekuatan, membuat pikiranku jernih. Maka, suatu malam, ketika mereka membuka pintu selku untuk memasukkan makanan, aku menyelinap melewati mereka sebagai anjing jauh lebih sulit bagi mereka untuk merasakan emosi binatang, sehingga mereka bingung aku kurus, sangat kurus cukup kurus untuk lolos lewat jeruji aku berenang sebagai anjing kembali ke tanah daratan aku berjalan ke utara dan menyelinap ke kompleks Hogwarts sebagai anjing aku tinggal di hutan sejak saat itu, kecuali waktu aku datang untuk menonton Quidditch, :entu saja kau terbang sehebat ayahmu, Harry…”

Dia memandang Harry, yang tidak memalingkan wajahnya.

Percayalah, kata Black parau. Percayalah, aku tak pernah mengkhianati James dan Lily. Lebih baik aku mati daripada mengkhianati mereka.

Dan akhirnya, Harry mempercayainya. Lehernya tersekat sehingga tak bisa bicara, Harry mengangguk.

Tidak!

Pettigrew berlutut seakan anggukan Harry adalah vonis kematiannya. Dia beringsut maju pada lututnya, menyembah-

nyembah, kedua tangannya mengatup di depan dada seakan berdoa.

Sirius—ini aku ini Peter temanmu kau tak akan…” Black menendangnya dan Pettigrew mundur.

Sudah ada banyak kotoran di jubahku tanpa kau menyentuhnya, kata Black.

Remus! Pettigrew mencicit, sekarang berganti menoleh pada Lupin, menggeliat memohon-mohon. Kau tidak mempercayainya, kan Bukankah Sirius akan memberitahumu jika mereka mengubah rencana?

Tidak kalau dia mengira akulah mata-matanya, Peter, kata Lupin. Dugaanku, itulah sebabnya kau tidak memberitahuku, Sirius? katanya sambil lalu di atas kepala Pettigrew.

Maafkan aku, Remus, kata Black.

Tak apa-apa, Padfoot, Sobat, kata Lupin, yang sekarang menggulung lengan jubahnya. Dan maukah kau memaafkan aku juga karena mengira kaulah mata-matanya?

Tentu saja/ kata Black, dan sekilas senyum membayang di wajahnya yang cekung kurus-kering. Dia juga mulai menggulung lengan jubahnya. Kita bunuh dia bersama- sama?

Ya, kurasa begitu, kata Lupin muram.

Kalian tak mungkin kalian tak akan, Pettigrew tergagap. Dan dengan panik dia berbalik menghadap Ron.

Ron bukankah aku selama ini teman yang baik binatang peliharaan yang baik? Kau tak akan membiarkan mereka membunuhku, Ron, iya, kan kau di pihakku, kan? Tetapi Ron memandang Pettigrew dengan amat jijik.

Kuizinkan kau tidur di tempat tidurkul katanya.

Anak baik tuan yang baik…” Pettigrew merangkak mendekati Ron, kau tak akan membiarkan mereka membunuhku aku tikusmu aku binatang peliharaan yang baik…”

Kalau sebagai tikus kau lebih baik daripada sebagai manusia, itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, Peter, kata Black kasar. Ron, yang semakin pucat karena kesakitan, merenggutkan kakinya yang patah dari jangkauan Pettigrew. Pettigrew berputar pada lututnya, terhuyung maju dan meraih ujung jubah Hermione.

Anak manis anak pintar kau—kau tak akan membiarkan mereka membunuhku tolonglah aku…”

Hermione menarik jubahnya dari cengkeraman Pettigrew dan mundur ke dinding, ketakutan.

Pettigrew berlutut, gemetar tak terkendali, dan menolehkan kepalanya pelan-pelan ke arah Harry.

Harry Harry kau persis seperti ayahmu persis seperti dia…”

BERANINYA KAU BICARA PADA HARRY? raung Black.

BERANINYA KAU MENGHADAPINYA? BERANINYA KAU BICARA TENTANG JAMES DI DEPANNYA?

Harry, bisik Pettigrew, menggeserkan lututnya ke arahnya, tangannya terulur. Harry, James tak akan menginginkan aku dibunuh James pasti akan mengerti, Harry dia akan berbelas kasihan kepadaku…”

Baik Black maupun Lupin melangkah maju, mencengkeram bahu Pettigrew dan melemparkannya kembali ke lantai. Pettigrew duduk di. lantai, gemetar ketakutan, menatap mereka.

Kau menjual Lily dan James kepada Voldemort, kata Black, yang juga gemetar. Apakah kau menyangkalnya?

Air mata Pettigrew bercucuran. Sungguh mengerikan memandangnya. Dia tampak seperti bayi besar botak, gemetar ketakutan di lantai.

Sirius, Sirius, apa lagi yang bisa kulakukan? Pangeran Kegelapan kau tak tahu dia punya senjata-senjata yang tak bisa kaubayangkan aku takut sekali, Sirius, aku tak pernah pemberani seperti kau dan Remus dan Jarr es. Aku tak bermaksud begitu Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut memaksaku…”

JANGAN BOHONG! bentak Black. KAU SUDAH MEMBERIKAN INFORMASI KEPADANYA SELAMA SETAHUN SEBELUM LILY DAN JAMES MENINGGAL! KAU MATA-MATANYA!

Dia dia berkuasa di mana-mana! sengal Pettigrew. A—

apa keuntungannya menolak dia?

Apa keuntungannya melawan penyihir paling jahat yang pernah ada? kata Black, wajahnya murka mengerikan.

Hanya nyawa orang-orang tak berdosa, Peter!

Kau tak mengerti! rengek Pettigrew. Dia akan membunuhku, Sirius!

KALAU BEGITU KAU SEHARUSNYA MATI! gerung Black.

MATI DARIPADA MENGKHIANATI SAHABAT-SAHABATMU, SEPERTI YANG DULU PASTI AKAN KAMI LAKUKAN DEMI DIRIMU!

Black dan Lupin berdiri berimpitan bahu, tongkat mereka terangkat.

Kau seharusnya menyadari, kata Lupin tenang. Jika Voldemort tidak membunuhmu, kami yang akan membunuhmu. Selamat tinggal, Peter.

Hermione menutupi wajahnya dengan tangan dan berbalik menghadap tembok.

JANGAN! Harry memekik. Dia berlari ke depan, menempatkan diri di depan Pettigrew, menghadapi kedua tongkat. Kalian tak boleh membunuhnya, katanya terengah.

Tak boleh.

Black dan Lupin terperangah.

Harry, orang hina inilah yang membuatmu tak punya orangtua, kata Black. Orang busuk ini akan dengan senang hati melihatmu mati juga. Kau tadi mendengarnya sendiri. Kulitnya yang bau baginya jauh lebih berharga daripada seluruh keluargamu.

Aku tahu/ Harry tersengal, Kita akan membawanya ke kastil. Kita akan menyerahkannya kepada para Dementor. Biar dia dibawa ke Azkaban hanya saja jangan membunuhnya.

Harry! kata Pettigrew terperangah. Dan dia melingkarkan lengannya ke sekeliling lutut Harry. Kau— terima kasih—ini melebihi daripada yang layak kuterima—terima kasih…”

Lepaskan aku, bentak Harry, mengibaskan tangan Pettigrew dari lututnya dengan jijik. Aku tidak melakukan ini untukmu. Kulakukan ini karena kurasa ayahku tak ingin sahabat-sahabatnya menjadi pembunuh—gara-gara kau.

Tak ada yang bergerak ataupun bersuara kecuali Pettigrew, yang napasnya tersengal-sengal sementara dia mencengkeram dadanya. Black dan Lupin berpandangan. Kemudian, dengan gerakan bersamaan, mereka menurunkan tongkat.

Kau satu-satunya yang punya hak untuk memutuskan, Harry, kata Black. Tetapi pikirkan pikirkan apa yang telah dilakukannya…”

Biar dia dibawa ke Azkaban, Harry mengulangi. Kalau ada yang pantas berada di tempat itu, dialah orangnya. Pettigrew masih tersengal-sengal di belakangnya.

Baiklah, kata Lupin. Minggirlah, Harry. Harry ragu-ragu.

Aku akan mengikatnya, kata Lupin. Itu saja, aku bersumpah.

Harry menyingkir. Tali-tali meluncur dari tongkat Lupin kali ini, dan saat berikutnya, Pettigrew sudah menggeliat-geliat di lantai, terikat dan mulutnya tersumbat.

Tapi kalau kau bertransformasi, Peter, gertak Black, tongkatnya terarah ke Pettigrew juga, kami akan membunuhmu. Kau setuju, Harry?

Harry menunduk menatap sosok memelas di lantai dan mengangguk, supaya Pettigrew bisa melihatnya.

Baik, kata Lupin, kembali tenang tanpa emosi. Ron, aku tak bisa membetulkan tulang sebaik Madam Pomfrey, jadi kurasa paling baik jika kita belat kakimu sampai kami bisa membawamu ke rumah sakit.

Dia bergegas mendatangi Ron, membungkuk, mengetuk kaki Ron dengan tongkatnya dan bergumam, Ferula. Perban bergulung membebat kaki Ron, mengikatnya kuat-kuat ke papan belat. Lupin membantunya berdiri. Ron menapakkan kakinya dengan hati-hati sekali dan tidak mengernyit.

Rasanya lebih baik, katanya. Terima kasih.

Bagaimana dengan Profesor Snape? tanya Hermione dengan suara kecil, seraya memandang tubuh Snape yang menelungkup.

Dia tidak apa-apa, kata Lupin, menunduk di atas Snape dan memeriksa nadinya. Kalian hanya agak— antusias berlebihan. Masih pingsan. Eh—mungkin sebaiknya kita tidak menyadarkannya sampai kita sudah aman tiba kembali di kastil. Kita bisa membawanya seperti ini.

Dia bergumam, Mobilicorpus. Seakan tali-tali tak kelihatan diikatkan ke pergelangan tangan, leher dan lutut Snape, dia ditarik sampai posisinya berdiri, kepalanya masih terkulai—tak menyenangkan dilihat— seperti boneka yang aneh sekali. Dia tergantung beberapa senti di atas lantai, kakinya yang lemas terjuntai. Lupin memungut Jubah Gaib dan menyimpannya di dalam saku jubahnya.

Dan dua di antara kita harus dirantai ke sini, kata Black, mendorong Pettigrew dengan jari kakinya. Untuk berjaga- jaga saja.

Biar aku saja, kata Lupin.

Dan saya, kata Ron tegas seraya maju terpincang- pincang.

Black menyihir belenggu berat dari udara kosong. Segera saja Peter Pettigrew tegak lagi, lengan kirinya erbelenggu ke lengan kanan Lupin, lengan kanannya terbelenggu ke lengan kiri Ron. Wajah Ron penuh tekad. Rupanya pengungkapan identitas Scabbers yang sebenarnya dianggapnya sebagai penghinaan pribadi. Crookshanks melompat ringan dari tempat tidur dan memimpin keluar kamar, ekor sikat-botolnya teracung tinggi dengan gagah.

20. Kecupan Dementor

Harry belum pernah menjadi bagian dari rombongan yang seajaib ini. Crookshanks memimpin di depan menuruni tangga. Lupin, Pettigrew, dan Ron berikutnya, seperti peserta lomba jalan-enam-kaki. Kemudian menyusul Profesor Snape, melayang mengerikan, jari-jari kakinya menyenggol masing- masing anak tangga ketika dia turun, diangkat oleh tongkatnya sendiri, yang diacungkan ke arahnya oleh Sirius. Harry dan Hermione yang paling belakang.

Kembali ke dalam terowongan ternyata sulit. Lupin, Pettigrew, dan Ron harus miring agar bisa masuk. Lupin masih menjaga Pettigrew dengan tongkatnya. Harry bisa melihat mereka maju dengan canggung dalam satu deretan. Crookshanks masih memimpin. Harry menyusul sesudah Sirius, yang masih membuat Snape melayang di depan mereka. Kepala Snape yang terkulai berkali-kali membentur atap terowongan yang rendah. Harry mendapat kesan Sirius sama sekali tidak berusaha mencegahnya.

"Kau tahu apa artinya ini?" tiba-tiba Sirius berkata kepada Harry, sementara mereka maju dengan lambat di dalam terowongan. "Menyerahkan Pettigrew?"

"Kau bebas," kata Harry.

"Ya...," kata Sirius. "Tetapi aku juga—aku tak tahu apakah ada yang pernah memberitahumu—aku walimu."

"Yeah, aku tahu itu," kata Harry.

"Orangtuamu menunjukku sebagai walimu," kata Sirius kaku. "Jika terjadi sesuatu pada mereka..."

Harry menunggu. Apakah yang dimaksudkan Sirius sama seperti yang diduganya?

"Aku akan maklum, tentu saja, kalau kau ingin tetap tinggal bersama paman dan bibimu," kata Sirius. "Tetapi... y ah... pikirkanlah. Begitu namaku sudah dibersihkan... kalau kau menginginkan... rumah lain..."

Semacam ledakan terjadi di perut Harry.

"Apa—tinggal bersamamu?" katanya, kepalanya tak sengaja membentur sepotong karang yang menonjol dari langit-langit. "Meninggalkan keluarga Dursley?"

"Tentu saja, sudah kuduga - kau tak akan mau," kata Sirius cepat-cepat. "Aku maklum, cuma kupikir aku..."

"Kau gila?" kata Harry, suaranya sama paraunya dengan Sirius. "Tentu saja aku ingin meninggalkan keluarga Dursley! Apakah kau punya rumah? Kapan aku bisa pindah?"

Sirius mendadak berbalik untuk memandang Harry.

Kepala Snape menggesek langit-langit terowongan, tetapi tampaknya Sirius tak peduli.

"Kau mau?" katanya. "Sungguh?"

"Yeah, mau sekali!" kata Harry. Wajah cekung-pucat Sirius dihiasi senyum, senyum cerah pertama yang dilihat Harry. Senyum itu membawa perubahan yang mengejutkan, seakan orang yang sepuluh tahun lebih muda keluar menembus topeng kaku yang menutupi wajahnya. Sesaat, dia bisa dikenali sebagai orang yang tertawa pada perkawinan orangtua Harry.

Mereka tidak bicara lagi sampai tiba di ujung terowongan. Crookshanks melesat lebih dulu. Jelas dia sudah menekankan kaki depannya ke tonjolan di batang pohon, karena Lupin, Pettigrew, dan Ron memanjat keluar tanpa disambut bunyi pukulan dahan-dahan galak.

Sirius membiarkan Snape keluar dari lubang dulu, kemudian menepi agar Harry dan Hermione bisa lewat. Akhirnya, semuanya sudah keluar.

Halaman kastil sekarang gelap gulita, satu-satunya penerangan hanyalah berasal dari jendela-jendela kastil di kejauhan. Tanpa kata, mereka bergerak. Napas Pettigrew masih mendesah-desah dan kadang-kadang dia merengek. Pikiran Harry berdengung. Dia akan meninggalkan keluarga Dursley. Dia akan tinggal bersama Sirius Black, sahabat karib orangtuanya... dia merasa melayang... Apa yang akan terjadi kalau dia memberitahu keluarga Dursley dia akan tinggal bersama narapidana yang pernah mereka lihat di televisi!

"Jangan sampai salah langkah, Peter," kata Lupin mengancam, di depannya. Tongkatnya masih mengacung miring ke arah dada Pettigrew.

Tanpa bicara mereka menyeberangi lapangan rumput, cahaya-cahaya dari kastil perlahan membesar. Snape masih melayang dengan ganjil di depan Sirius. Dagunya terantuk- antuk pada dadanya. Dan kemudian...

Awan menepi. Mendadak tampak bayang-bayang samar di tanah. Rombongan mereka bermandikan cahaya bulan.

Snape bertabrakan dengan Lupin, Pettigrew, dan Ron, yang mendadak berhenti. Sirius terpaku. Dia merentangkan tangan, menghentikan Harry dan Hermione.

Harry bisa melihat siluet Lupin. Lupin tampak tegang. Kemudian tangan dan kakinya mulai gemetar.

"Oh, ya ampun...!" pekik Hermione. "Dia tidak minum Ramuan-nya malam ini! Dia tidak aman!"

"Lari," Sirius berbisik. "Lari! Sekarang!"

Tetapi Harry tak dapat lari. Ron terikat pada Pettigrew dan Lupin. Harry melompat maju, tetapi Sirius merengkuh dadanya dan menariknya mundur.

"Serahkan padaku—LARI!"

Terdengar geraman mengerikan. Kepala Lupin mulai memanjang. Begitu juga tubuhnya. Bahunya melengkung. Bulu-bulu tampak jelas bermunculan di wajah dan tangannya, yang sekarang sudah berubah menjadi kaki bercakar. Bulu- bulu Crookshanks berdiri lagi, dia mundur...

Sementara si manusia serigala mendompak, me-ngatup- ngatupkan rahangnya dengan keras, Sirius menghilang dari sisi Harry. Dia telah bertransformasi. Anjing besar laksana beruang melompat maju. Saat si serigala merenggutkan diri dari belenggu yang mengikatnya, si anjing menyambar lehernya dan menyeretnya mundur, menjauh dari Ron dan Pettigrew. Mereka berkutat, saling gigit, saling robek...

Harry berdiri terpukau, terkesima menyaksikan pemandangan itu, segenap perhatiannya terserap oleh pertempuran itu, sehingga tidak memperhatikan sekitarnya. Jeritan Hermione-lah yang menyadarkannya. ..

Pettigrew telah membungkuk, menyambar tongkat yang dijatuhkan Lupin. Ron yang tak bisa berdiri tegak dengan kakinya yang terbebat, roboh. Terdengar letusan, semburan cahaya—dan Ron terbaring tak bergerak. Letusan lain lagi— Crookshanks terpental ke udara dan jatuh terpuruk di tanah.

"Expelliarmus!" teriak Harry, mengacungkan tongkatnya sendiri ke arah Pettigrew. Tongkat Lupin meluncur tinggi ke udara dan lenyap dari pandangan. "Tetap di tempatmu!" teriak Harry, berlari maju.

Terlambat. Pettigrew sudah bertransformasi. Harry melihat ekornya yang gundul mengibas lolos dari belenggu di tangan Ron yang terjulur, dan mendengar bunyi berkeresak terburu- buru menerobos rerumputan.

Terdengar lolongan dan geraman. Harry menoleh dan melihat si serigala kabur, berlari ke arah hutan...

"Sirius, dia kabur, Pettigrew bertransformasi!" teriak Harry. Sirius berdarah-darah, ada torehan-torehan menganga di moncong dan punggungnya, tetapi mendengar teriakan Harry dia merayap bangun lagi, dan sekejap saja, derap kakinya menjadi sayup-sayup kemudian menghilang ketika dia berlari menjauh.

Harry dan Hermione berlari mendekati Ron.

"Apa yang dilakukannya kepada Ron?" Hermione berbisik. Mata Ron hanya setengah-terpejam, mulutnya terbuka. Jelas dia hidup, mereka bisa mendengarnya bernapas, tetapi Ron tampaknya tidak mengenali mereka.

"Entahlah."

Harry memandang berkeliling dengan putus asa. Black dan Lupin dua-duanya sudah pergi... tak ada lagi yang menemani mereka selain Snape, yang masih melayang pingsan. *

"Sebaiknya kita bawa mereka ke kastil dan mem-beritahu seseorang," kata Harry, menyibakkan rambut dari matanya, berusaha berpikir jernih. "Ayo..."

Tetapi, dari dalam kegelapan, mereka mendengar dengking anjing yang kesakitan....

"Sirius," gumam Harry, memandang ke dalam kegelapan. Sesaat dia sangsi, tetapi tak ada yang bisa mereka lakukan untuk Ron saat itu, dan kedengarannya, Black sedang dalam kesulitan...

Harry berlari, Hermione di belakangnya. Dengking-an itu rasanya datang dari arah danau. Mereka menuju arah bunyi itu, dan Harry yang berlari kencang, merasakan hawa dingin tanpa menyadari apa artinya...

Dengkingan anjing mendadak berhenti. Setiba di tepi danau, mereka baru tahu kenapa—Sirius telah kembali menjadi manusia. Dia meringkuk di tanah, tangannya menutupi kepalanya.

"Jangaaan," rintihnya, "Jangaaan... kumohon jangan..."

Dan kemudian Harry melihatnya. Dementor, paling sedikit berjumlah seratus, melayang dalam gerombolan sosok gelap dari tepi danau ke arah mereka. Harry berbalik, rasa dingin yang sudah dikenalnya menembus tubuhnya, kabut mengaburkan pandangannya. Lebih banyak lagi Dementor bermunculan dari kegelapan dari segala sisi, mengepung mereka...

"Hermione, pikirkan sesuatu yang menyenangkan!" teriak Harry, mengangkat tongkatnya, mengejap-ngejap dengan jengkel berusaha menjernihkan pandangannya, menggoyangkan kepala berusaha melenyapkan jeritan sayup- sayup yang mulai terdengar...

Aku akan tinggal dengan waliku. Aku akan meninggalkan keluarga Dursley.

Dia memaksa diri memikirkan Sirius, hanya Sirius, dan mulai melantunkan mantranya, "Expecto patronum! Expecto patronum!"

Black bergidik, berguling dan berbaring tak bergerak di tanah, pucat bagai mayat.

Dia tak apa-apa. Aku akan tinggal bersamanya.

"Expecto patronum! Hermione, tolong aku! Expecto patronum!"

"Expecto..." Hermione berbisik, "expecto... expecto..." Tetapi dia tak bisa melakukannya. Para Dementor semakin dekat, tak lebih dari tiga meter dari mereka. Dementor- dementor itu membentuk dinding kokoh mengelilingi Harry dan Hermione...

"EXPECTO PATRONUM!" Harry berteriak, berusaha menyumbat jeritan-jeritan dari telinganya. "EXPECTO PATRONUM!"

Asap tipis keperakan muncul dari ujung tongkatnya dan mengambang seperti kabut di depannya. Pada saat bersamaan, Harry merasa Hermione merosot pingsan di sebelahnya. Dia sendirian... sama sekali sendirian...

"Expecto... expecto patronum..."

Harry merasakan lututnya membentur rerumputan yang dingin. Kabut menyelubungi matanya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha mengingat-ingat—Sirius tidak bersalah—tidak bersalah—kami akan baik-baik saja—aku akan tinggal bersamanya...

"Expecto patronum!" katanya lagi.

Dari cahaya redup Patronus-nya yang tak berbentuk, dia melihat sesosok Dementor berhenti, sangat dekat dengannya. Dementor itu tidak bisa berjalan menembus kabut perak yang diciptakan Harry. Tangan busuk berlendir terjulur keluar dari bawah jubahnya. Tangan itu membuat gerakan seakan menyingkirkan Patronus.

"Jangan—jangan...' Harry tersengal. "Dia tak bersalah... expecto... expecto patronum..."

Harry bisa merasakan para Dementor mengawasinya, mendengar napas mereka yang berderik-derik seperti angin jahat di sekelilingnya. Dementor yang paling dekat tampaknya menimbang-nimbang untuk menjadikan Harry korbannya.

Kemudian dia mengangkat kedua tangan busuknya—dan menurunkan kerudungnya.

Di mana seharusnya ada mata, hanya ada kulit tipis abu- abu berkeropeng, merentang di atas rongga kosong. Tetapi ada mulut, lubang menganga tak ber-bentuk, menyedot udara dengan bunyi derik kematian.

Kengerian yang luar biasa membuat Harry lumpuh, tak bisa bergerak ataupun bicara. Patronus-nya berkelip lalu padam.

Kabut putih membutakannya. Dia harus berjuang... expecto patronum... dia tak dapat melihat... dan di kejauhan, dia mendengar jeritan yang sudah dikenalnya... expecto patronum... dia meraba-raba di dalam kabut mencari Sirius, dan menemukan lengannya... mereka tak akan mengambil Sirius...

Tetapi sepasang tangan kuat yang basah tiba-tiba mengalungkan diri di leher Harry. Tangan itu memaksa menengadahkan wajahnya... Harry bisa merasakan napasnya... Dementor itu akan membinasa-kannya lebih dulu... dia bisa merasakan napasnya yang busuk... ibunya menjerit di telinganya... itu akan menjadi jeritan terakhir yang didengarnya...

Dan kemudian, menembus kabut yang menenggelamkannya, dia mengira dia melihat cahaya keperakan, makin lama makin cemerlang... dia merasa jatuh di rerumputan...

Tertelungkup, terlalu lemah untuk bergerak, mual dan gemetar, Harry membuka matanya. Cahaya yang menyilaukan menerangi rerumputan di sekitar Harry... Jeritan-jeritan telah berhenti, hawa dingin mulai menyingkir...

Ada yang menahan para Dementor... mengelilingi Harry dan Sirius dan Hermione... bunyi derik dan sedotan para Dementor makin sayup-sayup. Mereka pergi... udara hangat lagi...

Dengan sisa-sisa tenaganya, Harry mengangkat kepalanya beberapa senti dan melihat seekor binatang di tengah cahaya, berlari menuju danau. Dengan mata kabur kena keringat, Harry berusaha menyimpulkan binatang apa itu... binatang itu bercahaya seperti unicorn. Berusaha keras untuk tetap sadar, Harry melihatnya berhenti ketika tiba di tepi seberang. Sekejap, Harry melihat dalam terang cahayanya, ada orang yang menyambutnya... orang itu mengangkat tangan membelai si binatang... orang itu serasa dikenalnya... tapi tak mungkin...

Harry tak mengerti. Dia tak bisa berpikir lagi. Dia merasakan sisa kekuatannya meninggalkannya, dan kepalanya membentur tanah ketika dia pingsan.

21. Rahasia Hermione

Mengerikan... sangat mengerikan... sungguh keajaiban tak satu pun dari mereka mati... tak pernah dengar yang seperti ini... untung benar kau ada di sana, Snape..."

"Terima kasih, Pak Menteri."

"Order of Merlin, Kelas Kedua, kurasa. Kelas Pertama kalau bisa kuatur dengan kelicikan!"

"Terima kasih banyak, Pak Menteri."

"Lukamu parah juga.-.. kerjaan Black, ya?"

"Sebetulnya, Potter, Weasley, dan Granger, Pak Menteri..."

"Masa!"

"Black telah menyihir mereka, saya langsung menyadarinya. Mantra Confundus, kalau dilihat dari tingkah mereka. Mereka rupanya berpikir ada kemungkinan Black tak bersalah. Mereka tak bisa dipersalahkan. Meskipun demikian, campur tangan mereka bisa saja memberi kesempatan Black lolos... jelas mereka mengira bisa menangkap Black dengan bertiga saja. Mereka sudah terlalu sering dibiarkan sebelum ini... saya khawatir itu membuat mereka menilai tinggi diri mereka sendiri... dan tentu saja Potter selalu diberi banyak sekali kelonggaran oleh Kepala Sekolah..."

"Ah, Snape... Harry Potter, kau tahu sendiri... kita semua jadi sedikit lunak kalau berhadapan dengan dia."

"Tetapi—baikkah baginya kalau diberi begitu banyak perlakuan khusus? Saya sendiri berusaha memperlakukannya seperti murid-murid lainnya. Dan murid-murid lain akan diskors—paling tidak—karena membawa teman-temannya ke dalam bahaya besar seperti itu. Bayangkan, Pak Menteri: melanggar semua peraturan sekolah—padahal segala hal dilakukan untuk melindunginya—meninggalkan sekolah, malam hari, bergaul dengan manusia serigala dan pembunuh—dan saya punya alasan untuk percaya dia selama ini mengunjungi Hogsmeade secara ilegal juga..."

"Wah, wah... kita lihat nanti, Snape, kita lihat nanti... anak itu jelas telah bertindak bodoh..."

Harry berbaring dengan mata terpejam rapat. Dia merasa sangat pusing. Kata-kata yang didengarnya serasa merambat pelan sekali dari telinga ke otaknya, sehingga sulit untuk dipahami. Kakinya terasa seberat timah, pelupuk matanya terlalu berat untuk dibuka... dia ingin berbaring di sini, di tempat tidur yang nyaman ini, untuk selamanya...

"Yang paling membuatku heran adalah sikap para Dementor... kau sungguh tak tahu kenapa mereka mundur, Snape?"

"Tidak, Pak Menteri. Saat saya sadar, mereka sudah kembali menuju posisi masing-masing di jalan masuk..."

"Luar biasa. Meskipun demikian Black, dan Harry, dan anak perempuan itu..."

"Semua pingsan waktu saya tiba di tempat mereka. Saya ikat dan sumbat mulut Black, tentu saja. Saya menyihir tandu- tandu dan langsung membawa mereka semua ke kastil."

Berhenti sejenak. Otak Harry rasanya bergerak sedikit lebih cepat, dan dengan begitu, Harry merasakan sensasi tak nyaman di dasar perutnya...

Dia membuka mata.

Segalanya agak samar. Ada yang telah mencopot kacamatanya. Dia berbaring dalam sal rumah sakit yang gelap. Di ujung sal, dia bisa melihat Madam Pomfrey yang memunggunginya, membungkuk di atas tempat tidur. Harry menajamkan mata. Rambut merah Ron tampak di bawah lengan Madam Pomfrey.

Harry menggerakkan kepalanya di atas bantal. Di tempat tidur di sebelah kanannya berbaring Hermione. Cahaya bulan jatuh di tempat tidurnya. Matanya juga terbuka. Dia tampak ketakutan, dan ketika dilihatnya Harry sudah bangun juga, dia menempelkan jari di bibirnya, kemudian menunjuk ke pintu kamar. Pintu itu terbuka sedikit, dan suara Cornelius Fudge dan Snape menembus melalui celahnya dari koridor di luar.

Madam Pomfrey sekarang mendatangi tempat tidur Harry dengan langkah-langkah gesit. Harry menoleh memandangnya. Dia membawa cokelat paling besar yang pernah dilihat Harry seumur hidupnya. Kelihat-an-nya seperti bongkahan batu besar.

"Ah, kau sudah bangun!" katanya. Diletakkannya cokelat yang dibawanya di atas meja tempat tidur Harry dan mulai dipecahkannya dengan palu kecil.

"Bagaimana Ron?" tanya Harry dan Hermione bersamaan.

"Dia akan hidup," kata Madam Pomfrey suram. "Sedangkan kalian berdua, kalian akan tinggal di sini sampai menurutku— Potter, apa yang kaulakukan?"

Harry duduk, memakai kacamatanya, dan memungut tongkatnya.

"Aku harus bertemu Kepala Sekolah," katanya.

"Potter," kata Madam Pomfrey menenangkannya, "jangan khawatir. Mereka berhasil menangkap Black. Dia dikurung di atas. Para Dementor akan memberikan Kecupan saat-saat ini..."

"APA?"

Harry melompat turun dari tempat tidur. Hermione juga. Tetapi teriakannya telah terdengar di koridor di luar. Detik berikutnya, Cornelius Fudge dan Snape memasuki sal.

"Harry, Harry, ada apa?" tanya Fudge, tampak gelisah.

"Kau seharusnya di tempat tidur—apa dia sudah makan cokelat?" dia menanyai Madam Pomfrey dengan cemas.

"Pak Menteri, dengar!" kata Harry. "Sirius Black tidak bersalah! Peter Pettigrew memalsukan kematian-nya sendiri! Kami melihatnya malam ini! Anda tak boleh membiarkan para Dementor melakukan Kecupan pada Sirius, dia..."

Tetapi Fudge menggelengkan kepalanya dengan bibir sedikit tersenyum.

"Harry, Harry, kau bingung sekali. Kau baru saja mengalami peristiwa mengerikan, berbaringlah lagi, segalanya sudah dapat kami atasi..."

"TIDAK!" Harry berteriak. "KALIAN MENANGKAP ORANG YANG SALAH!"

"Pak Menteri, tolong dengarkan," kata Hermione, dia telah bergegas ke sisi Harry dan menatap wajah Fudge dengan pandangan memohon. "Saya juga melihatnya. Dia tikus Ron, dia Animagus, Pettigrew, maksud saya, dan..."

"Anda lihat, kan, Pak Menteri?" kata Snape. "Keduanya kena sihir... Black menyihir mereka dengan amat sukses..."

"KAMI TIDAK KENA SIHIR!" Harry meraung.

"Pak Menteri! Profesor!" tegur Madam Pomfrey berang.

"Saya harus memaksa Anda pergi. Potter pasien saya, dan dia tak boleh dibuat stres!"

"Saya tidak stres, saya sedang berusaha memberi-tahu mereka apa yang terjadi!" kata Harry gusar. "Kalau saja mereka mau mendengarkan..."

Tetapi Madam Pomfrey mendadak menjejalkan sepotong besar cokelat ke dalam mulut Harry. Harry tersedak, dan Madam Pomfrey menggunakan kesempatan ini untuk menariknya kembali ke tempat tidur.

"Nah, Pak Menteri, maaf, anak-anak ini perlu dirawat. Silakan pergi..."

Pintu terbuka lagi. Dumbledore-lah yang datang. Harry menelan cokelat di mulutnya dengan sudah payah, dan bangun lagi.

"Profesor Dumbledore, Sirius Black..."

"Astaga!" kata Madam Pomfrey histeris. "Ini rumah sakit atau bukan? Kepala Sekolah, terpaksa saya..."

"Maafkan aku, Poppy, tetapi aku perlu bicara sebentar dengan Mr Potter dan Miss Granger," kata Dumbledore tenang. "Aku baru saja bicara dengan Sirius Black..."

"Saya rasa dia menceritakan dongeng yang sama seperti yang ditanamkannya di benak Potter?" cibir Snape. "Tentang tikus dan bahwa Pettigrew masih hidup..."

"Begitu memang cerita Black," kata Dumbledore, menatap Snape tajam-tajam dari atas kacamata bulan-separonya.

"Dan apakah kesaksian saya tidak dianggap?" kata Snape sengit. "Peter Pettigrew tidak ada di Shrieking Shack, dan saya juga tidak melihatnya di halaman."

"Itu karena Anda pingsan, Profesor!" kata Hermione bersemangat. "Anda datang terlambat sehingga tidak mendengar..."

. "Miss Granger, TUTUP MULUT!"

"Wah, Snape," kata Fudge kaget, "nona ini sedang bingung, kita harus maklum..."

"Aku ingin bicara dengan Harry dan Hermione sendirian," kata Dumbledore tiba-tiba. "Cornelius, Severus, Poppy—tolong tinggalkan kami."

"Kepala Sekolah!" protes Madam Pomfrey. "Mereka perlu dirawat, mereka perlu istirahat..."

"Ini tak bisa menunggu," kata Dumbledore. "Terpaksa harus kulakukan."

Madam Pomfrey mengerucutkan bibirnya dan melangkah menuju kantornya di ujung sal, seraya membanting pintu di belakangnya. Fudge melihat jam saku emas besar yang tergantung dari rompinya.

"Dementor-dementor mestinya sekarang sudah datang," katanya. "Aku akan menemui mereka. Dumbledore, aku akan menemuimu di atas."

Fudge menyeberangi ruangan, membuka pintu dan menunggu Snape, tetapi Snape tidak bergerak.

"Anda tentunya tidak begitu saja percaya pada cerita Black?" bisik Snape, matanya terpancang pada wajah Dumbledore.

"Aku ingin bicara dengan Harry dan Hermione bertiga saja," Dumbledore mengulangi.

Snape maju selangkah mendekati Dumbledore.

"Sirius Black telah memperlihatkan bahwa dia bisa melakukan pembunuhan pada usia enam belas tahun,"

desahnya, "Anda belum melupakan itu, kan, Kepala Sekolah? Anda belum melupakan bahwa dia pernah mencoba membunuMw?"

"Ingatanku masih baik, Severus," kata Dumbledore tenang. Snape berputar pada tumitnya dan melangkah ke pintu yang masih dipegangi Fudge. Pintu itu menutup di belakang mereka dan Dumbledore berpaling kepada Harry dan Hermione. Mereka berdua bicara pada saat bersamaan.

"Profesor, Black tidak bohong—kami melihat Pettigrew..."

"...dia kabur ketika Profesor Lupin berubah menjadi serigala..." "...dia tikus..."

"...kaki depan Pettigrew, maksud saya jarinya, dia memotongnya..."

"...Pettigrew-lah yang menyerang Ron, bukan Sirius..." Tetapi Dumbledore mengangkat tangan untuk membendung banjir penjelasan itu.

"Sekarang giliran kalianlah untuk mendengarkan, dan kumohon kalian tidak menyelaku, karena waktunya sempit sekali," katanya serius. "Tak ada setitik pun bukti untuk mendukung cerita Black, kecuali kata-kata kalian—dan perkataan dua penyihir berusia tiga belas tahun tidak akan meyakinkan siapa pun. Saksi mata satu jalan penuh bersumpah mereka melihat Sirius membunuh Pettigrew. Aku sendiri dulu memberi kesaksian kepada Kementerian bahwa Sirius-lah Penjaga-Rahasia keluarga Potter."

"Profesor Lupin bisa memberitahu Anda...," kata Harry, tak bisa menahan diri.

"Profesor Lupin saat ini berada jauh di tengah hutan, tak bisa memberitahukan apa pun kepada siapa pun. Pada saat dia berubah menjadi manusia lagi, sudah terlambat, nasib Sirius sudah lebih parah daripada mati. Bisa kutambahkan bahwa manusia serigala sangat tidak dipercaya oleh sebagian besar kaum kita sehingga kesaksian Lupin akan berarti sedikit sekali—dan fakta bahwa dia dan Sirius sahabat lama..."

"Tapi..."

"Dengarkan akur Harry. Sudah sangat terlambat, kau mengerti? Kau harus menyadari bahwa versi Profesor Snape tentang kejadian-kejadian ini jauh lebih meyakinkan daripada versi kalian."

"Dia membenci Sirius," kata Hermione putus asa. "Hanya karena lelucon konyol yang dilakukan Sirius terhadapnya..."

"Sirius tidak bersikap seperti orang yang tak bersalah. Penyerangan terhadap si Nyonya Gemuk— memasuki Menara Gryffindor dengan membawa pisau—tanpa Pettigrew, hidup atau mati, kita tak punya kesempatan untuk membalikkan vonis terhadap Sirius."

"Tetapi Anda mempercayai kami."

"Ya, aku percaya," kata Dumbledore serius. "Tetapi aku tak punya kekuasaan untuk membuat orang lain melihat yang sebenarnya, atau untuk mengesampingkan Menteri Sihir..."

Harry menatap wajah muram itu dan merasa seakan lantai di bawahnya membuka menelannya. Dia sudah terbiasa beranggapan Dumbledore bisa menyelesaikan segalanya. Dia telah berharap Dumbledore bisa men-ciptakan solusi ajaib. Tetapi ternyata... harapan terakhir mereka telah lenyap.

"Yang kita perlukan," kata Dumbledore perlahan, dan matanya yang biru-terang berpindah dari Harry ke Hermione,

"adalah lebih banyak waktu."

"Tapi...," mendadak Hermione berhenti. Dan kemudian matanya menjadi sangat bulat. "OH!"

"Sekarang dengarkan baik-baik," kata Dumbledore, bicara amat pelan dan amat jelas. "Sirius dikurung dalam kantor Profesor Flitwick di lantai tujuh. Jendela ketiga belas dari sebelah kanan Menara Barat. Jika semua berjalan lancar, kalian akan bisa menyelamatkan lebih dari satu nyawa tak bersalah malam ini. Tetapi kalian berdua ingat ini. Kalian tak boleh terlihat. Miss Granger, kau tahu peraturannya—kau tahu apa taruhannya... jangan... sampai... kalian... kelihatan."

Harry sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan. Dumbledore sudah berbalik dan menoleh kepada mereka ketika mencapai pintu.

"Aku akan mengunci kalian berdua. Sekarang...," dia melihat arlojinya, "lima menit sebelum tengah malam. Miss Granger, tiga kali putaran sudah cukup. Semoga berhasil."

"Semoga berhasil?" Harry mengulangi, ketika pintu menutup di belakang Dumbledore. "Tiga putaran? Ngomong apa sih dia? Apa yang harus kita lakukan?"

Tetapi Hermione sibuk merogoh leher jubahnya, menarik dari bawahnya rantai emas yang sangat halus dan sangat panjang.

"Harry, sini," katanya mendesak. "Cepat!"

Harry mendatanginya, dengan amat bingung. Hermione mengulurkan rantainya. Harry melihat jam pasir kecil mungil berkilauan tergantung di rantai itu.

"Sini..."

Hermione telah mengalungkan rantai itu ke leher Harry juga.

"Siap?" katanya menahan napas.

"Apa yang kita lakukan?" tanya Harry, bingung bukan main. Hermione memutar jam pasir itu tiga kali.

Kegelapan menyusut. Harry merasa dia sedang terbang mundur, cepat sekali. Bayangan samar warna dan bentuk-

bentuk melesat melewatinya, telinganya berdentum-dentum. Dia mencoba berteriak, tetapi tak bisa mendengar suaranya sendiri...

Dan kemudian dia merasakan lantai keras di bawah kakinya, dan segalanya terlihat jelas lagi...

Dia sedang berdiri bersisian dengan Hermione di Aula Depan yang kosong dan sederet sinar matahari keemasan jatuh di lantai cornblock di depan pintu depan yang terbuka. Harry memandang Hermione dengan bingung. Rantai jam pasir itu serasa mengiris lehernya.

"Hermione, apa...?"

"Ke sini!" Hermione menyambar lengan Harry dan menariknya menyeberangi aula, menuju ke pintu lemari sapu. Dibukanya pintu, didorongnya Harry ke tengah ember-ember dan pel, dia sendiri ikut masuk, lalu membanting pintu di belakang mereka.

"Apa—bagaimana—Hermione, apa yang terjadi?"

"Kita telah mundur," Hermione berbisik, mengangkat rantai dari leher Harry dalam kegelapan. "Mundur tiga jam..."

Harry mencari kakinya dan mencubitnya keras-keras. Sakit sekali, jadi tak mungkin dia mimpi ajaib.

"Tapi..."

"Shh! Dengar! Ada yang datang! Kurasa—kurasa mungkin itu kita!"

Hermione menempelkan telinganya ke pintu lemari. .

"Langkah-langkah menyeberangi aula... ya, kurasa itu kita, mau pergi ke pondok Hagrid."

"Apakah maksudmu," bisik Harry, "bahwa kita di sini di dalam lemari ini, sekaligus kita juga berada di luar sana?"

"Ya," kata Hermione, telinganya masih menempel di pintu lemari. "Aku yakin itu kita. Kedengarannya tak lebih dari tiga orang... dan kita berjalan pelan-pelan karena kita di bawah selubung Jubah Gaib..."

Hermione berhenti, masih mendengarkan dengan teliti.

"Kita sedang menuruni undakan depan..."

Hermione duduk di atas ember yang terbalik, tampak sangat cemas. Harry menginginkan jawaban untuk beberapa pertanyaan.

"Dari mana kaudapat jam pasir itu?"

"Ini namanya Pembalik-Waktu," bisik Hermione, "dan aku mendapatkannya dari Profesor McGonagall pada hari pertama kita kembali ke sini. Aku menggunakannya sepanjang tahun ini untuk mengikuti semua pelajaranku. Profesor McGonagall memintaku bersumpah untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun. Dia harus menulis bermacam-macam surat kepada Kementerian Sihir supaya aku bisa mendapatkan jam ini. Dia harus mengatakan kepada mereka bahwa aku murid teladan, dan bahwa aku tidak akan pernah menggunakannya untuk hal lain kecuali , pelajaranku... aku selama ini memutarnya untuk kembali ke waktu sebelumnya, begitulah caranya aku bisa mengikuti beberapa pelajaran pada waktu yang sasama. Tapi...

"Harry, aku tak mengerti apa yang diinginkan Dumbledore. Dia ingin kita melakukan apa? Kenapa dia menyuruh kita mundur tiga jam? Bagaimana ini bisa membantu Sirius?"

Harry memandang wajah Hermione yang remang-remang.

"Pasti ada sesuatu yang terjadi sekitar saat ini yang dia ingin kita ubah/' katanya perlahan. "Apa yang terjadi? Kita berjalan ke pondok Hagrid tiga jam yang lalu.,."

"Sekarang ini tiga/jam yang lalu, dan kita sedang berjalan ke pondok Hagrid," kata Hermione. "Kita baru saja mendengar kita pergi..."

Harry mengernyit. Dia mengerahkan seluruh otaknya untuk berkonsentrasi.

"Dumbledore tadi bilang—kita bisa menyelamatkan lebih dari satu nyawa tak bersalah..." Dan tiba-tiba saja dia paham.

"Hermione, kita akan menyelamatkan Buckbeak!"

"Tapi—bagaimana itu bisa membantu Sirius?"

"Dumbledore mengatakan—dia tadi memberitahu kita di mana jendelanya—jendela kantor Flitwick! Tempat mereka mengurung Sirius! Kita harus menerbangkan Buckbeak ke jendela itu dan menyelamatkan Sirius! Sirius bisa kabur dengan naik Buckbeak— mereka bisa kabur bersama-sama!"

Di bawah cahaya remang-remang, Harry melihat kengerian di wajah Hermione.

"Kalau kita berhasil melakukannya tanpa dilihat orang, itu akan merupakan keajaiban!"

"Yah, kita harus mencoba, kan?" kata Harry. Dia bangkit dan menempelkan telinganya ke pintu.

"Kedengarannya tak ada orang... ayo, kita pergi..."

Harry mendorong pintu lemari sampai terbuka. Aula Depan kosong. Secepat dan sepelan mungkin, mereka keluar dari lemari dan bergegas menuruni undakan. Bayang-bayang sudah mulai memanjang, puncak-puncak pepohonan di Hutan Terlarang sekali lagi bersalut emas berkilau.

"Kalau ada yang melihat ke luar dari jendela.../' kata Hermione tercekik, seraya menatap kastil di belakang mereka.

"Kita lari saja," kata Harry mantap. "Langsung ke Hutan Terlarang, oke? Kita harus sembunyi di belakang pohon atau apa, dan berjaga..."

"Oke, tapi kita memutar melewati rumah-rumah kaca!" kata Hermione menahan napas. "Jangan sampai kita terlihat dari pintu depan Hagrid, kalau tidak kita bertiga akan melihat kita! Sekarang pastilah kita sudah hampir tiba di pondok Hagrid!"

Masih memikirkan apa yang dimaksud Hermione, Harry berlari, Hermione di belakangnya. Mereka melesat menyeberangi kebun sayur menuju ke rumah-rumah kaca, berhenti sejenak di belakangnya, kemudian berlari lagi, secepat mungkin, mengitari Dedalu Perkasa, melesat ke dalam lindungan Hutan Terlarang....

Aman dalam keremangan pepohonan, Harry ber-balik. Beberapa detik kemudian Hermione tiba di sebelahnya, terengah-engah.

"Baik," katanya tersengal, "kita harus mengendap-endap ke pondok Hagrid. Jangan sampai kelihatan, Harry..."

Mereka menyelinap diam-diam di antara pepohonan, berusaha berada di tepi hutan. Kemudian, ketika pintu depan pondok Hagrid sudah kelihatan, mereka mendengar ketukan. Cepat-cepat mereka bergerak ke balik batang pohon ek besar dan mengintip dari kanan-kirinya. Hagrid telah muncul di ambang pintunya, gemetar dan pucat, memandang berkeliling untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Dan Harry mendengar suaranya sendiri.

"Ini kami. Kami memakai Jubah Gaib. Biarkan kami masuk agar kami bisa melepasnya."

"Seharusnya kalian tidak datang!" bisik Hagrid. Dia mundur, kemudian cepat-cepat menutup kembali pintu pondoknya.

"Ini hal paling ganjil yang pernah kita lakukan," kata Harry terpana.

"Ayo, bergerak lagi," bisik Hermione. "Kita perlu lebih dekat dengan Buckbeak!"

Mereka menyelinap di antara pepohonan sampai mereka melihat si Hippogriff yang gelisah, tertambat pada pagar kebun labu Hagrid.

"Sekarang?" Harry berbisik.

"Tidak!" kata Hermione. "Kalau kita mencurinya sekarang, Komite akan menyangka Hagrid membebaskannya! Kita harus menunggu sampai mereka melihatnya tertambat di luar!"

"Itu berarti kita hanya punya waktu sekitar enam puluh detik," kata Harry. Ini rasanya mulai mustahil.

Saat itu terdengar bunyi porselen pecah dari dalam pondok Hagrid.

"Itu Hagrid memecahkan teko susu,"bisik Hermione.

"Sebentar lagi aku akan menemukan Scabbers..."

Benar saja, beberapa menit kemudian mereka mendengar pekik terkejut Hermione.

"Hermione," kata Harry tiba-tiba, "bagaimana kalau kita—

kita masuk saja dan menangkap Pettigrew..."

"Tidak!" kata Hermione dalam bisikan ngeri. "Tidakkah kau mengerti? Kita melanggar salah satu hukum sihir yang paling penting! Tak seorang pun boleh mengubah waktu, tak seorang pun! Kau sudah dengar Dumbledore, kalau kita sampai kelihatan..."

"Kita cuma akan dilihat oleh kita sendiri dan Hagrid!"

"Harry, menurutmu apa yang akan kaulakukan kalau kau melihat dirimu tiba-tiba masuk ke dalam pondok Hagrid?" kata Hermione.

"Aku akan—aku akan mengira aku sudah gila," kata Harry,

"atau aku akan mengira ada Sihir Hitam sedang berlangsung..."

"Persis! Kau tidak akan mengerti, kau mungkin malah akan menyerang dirimu sendiri! Tidakkah kau mengerti? Profesor McGonagall menceritakan hal-hal sangat mengerikan yang terjadi ketika penyihir main-main dengan waktu... banyak di antara mereka berakhir dengan membunuh masa lalu atau masa depan mereka sendiri secara tak sengaja!"

"Oke!" kata Harry. "Itu cuma ide saja, kupikir..."

Tetapi Hermione menyodoknya, dan menunjuk ke arah kastil. Harry menggerakkan kepalanya beberapa senti agar bisa melihat lebih jelas pintu depan kastil di kejauhan. Dumbledore, Fudge, anggota Komite yang tua, dan^ Macnair si algojo sedang menuruni undakan.

"Sebentar lagi kita keluar!" desah Hermione.

Benar saja, sesaat kemudian pintu belakang pondok Hagrid terbuka, dan Harry melihat dirinya, Ron, dan Hermione berjalan keluar bersama Hagrid. Sungguh sensasi paling ganjil yang pernah dirasakannya seumur hidup, berdiri di balik pohon dan memandang dirinya sendiri berada di kebun labu.

"Tak apa-apa, Beaky, tak apa-apa...," kata Hagrid kepada Buckbeak. Kemudian dia menoleh kepada Harry, Ron, dan Hermione. "Ayo. Pergilah."

"Hagrid, kami tak bisa..."

"Kami akan menceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi..."

"Mereka tak boleh membunuhnya..."

"Pergilah! Keadaan sudah cukup buruk tanpa kalian juga dapat kesulitan!"

Harry mengawasi Hermione yang di kebun labu menyelubungkan Jubah Gaib ke atas dirinya dan Ron.

"Cepat pergi. Jangan dengarkan..."

Terdengar ketukan di pintu depan Hagrid. Rombongan algojo sudah tiba. Hagrid berbalik dan masuk kembali ke dalam pondoknya, membiarkan pintu belakang sedikit terbuka. Harry melihat rerumputan rebah di sekeliling pondok dan mendengar tiga pasang kaki menjauh. Dia, Ron, dan Hermione telah pergi... tetapi Harry dan Hermione yang bersembunyi di antara pepohonan sekarang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam pondok dari celah di pintu belakang.

"Di mana binatang itu?" terdengar suara dingin Macnair.

"Di—di luar," jawab Hagrid parau. Harry menarik kepalanya dari pandangan ketika wajah Macnair muncul di jendela Hagrid, memandang Buckbeak. Kemudian mereka mendengar suara Fudge.

"Kami—eh—harus membacakan pengumuman resmi pelaksanaan hukuman ini, Hagrid. Aku akan cepat. Dan kemudian kau dan Macnair harus menandatanganinya. Macnair, kau juga harus mendengarkan, ini prosedur..."

Wajah Macnair menghilang dari balik jendela. Kalau tidak sekarang tak akan ada kesempatan lagi.

"Tunggu di sini," bisik Harry kepada Hermione. "Akan kulakukan."

Begitu suara Fudge terdengar lagi, Harry melesat dari balik pohon, melompati pagar kebun labu, dan mendekati Buckbeak.

Komite Pemunahan Satwa Berbahaya telah memutuskan bahwa Hippogriff yang bernama Buckbeak, selanjutnya akan disebut Terhukum, akan dieksekusi pada tanggal enam Juni setelah matahari terbenam..."

Berhati-hati agar tidak berkedip, Harry menatap mata Jingga galak Buckbeak sekali lagi, dan membungkuk. Buckbeak melipat lututnya yang bersisik, kemudian berdiri tegak lagi. Harry mulai melepaskan tali yang menambatkan Buckbeak ke pagar.

"...diputuskan untuk dieksekusi dengan dipenggal kepalanya, akan dilaksanakan oleh algojo yang ditunjuk oleh Komite, Walden Macnair..."

"Ayo, Buckbeak," gumam Harry, "ayo, kami akan menolongmu. Pelan-pelan... pelan-pelan..."

"...dengan saksi di bawah ini. Hagrid, kau tanda tangan di sini..'

Harry menarik tali itu sekuat tenaga, tetapi Buckbeak menancapkan kaki depannya kuat-kuat.

"Nah, ayo, segera kita bereskan," kata suara kering anggota Komite dari dalam pondok Hagrid. "Hagrid, mungkin lebih baik kalau kau tinggal di dalam saja..."

"Tidak, aku—aku mau sama dia... aku tak ingin dia sendirian..."

Terdengar langkah-langkah kaki dari dalam pondok.

"Buckbeak, jalan!" desis Harry.

Harry menarik lebih keras tali yang melingkari leher Buckbeak. Si Hippogriff mulai berjalan, mengepakkan sayapnya dengan jengkel. Mereka masih tiga meter dari tepi hutan, masih tampak jelas dari pintu belakang Hagrid.

"Tunggu sebentar, Macnair," terdengar suara Dumbledore.

"Kau juga harus tanda tangan." Langkah-langkah kaki berhenti. Harry menghela tali Buckbeak. Si Hippogriff mengatupkan paruhnya dan berjalan sedikit lebih cepat.

Wajah pucat Hermione muncul dari balik sebatang pohon.

"Harry, cepat!" mulutnya berkata tanpa suara.

Harry masih mendengar suara Dumbledore bicara dari dalam pondok. Harry menarik tali sekali lagi. Buckbeak dengan enggan berderap cepat. Mereka telah tiba di pepohonan....

"Cepat! Cepat!" rintih Hermione, melesat dari balik pohon, ikut menarik tali, untuk membuat Buckbeak bergerak lebih cepat. Harry menoleh ke belakang.

Mereka sekarang sudah terhalang dari pandangan. Mereka sama sekali tak bisa melihat kebun Hagrid.

"Berhenti!" Harry berbisik kepada Hermione. "Mereka bisa mendengar kita..."

Pintu belakang pondok Hagrid terbuka dengan bunyi keras. Harry, Hermione, dan Buckbeak berdiri diam. Bahkan si Hippogriff tampaknya ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.

Hening... kemudian...

"Di mana dia?" kata suara kering anggota Komite. "Di mana binatang itu?"

"Tadi ditambatkan di sini!" kata si algojo berang. "Aku melihatnya! Di sini ini!"

"Sungguh aneh," kata Dumbledore. Ada nada geli dalam suaranya.

"Beaky!" panggil Hagrid parau.

Terdengar bunyi desir dan dentum kapak. Rupanya si algojo mengayunkan kapaknya ke pagar saking marahnya. Dan kemudian terdengar lolongan, dan kali ini mereka bisa mendengar ucapan Hagrid di antara isaknya.

"Pergi! Pergi! Si paruh kecil telah pergil Pasti dia tarik talinya sampai lepas! Beaky, kau anak pintar!"

Buckbeak mulai meregang talinya, berusaha kembali pada Hagrid. Harry. dan Hermione mengetatkan pegangan mereka dan menancapkan tumit ke tanah untuk menahannya...

"Ada yang melepas talinya!" kata si algojo geram. "Kita harus memeriksa kebun, Hutan Terlarang..." "Macnair, kalau Buckbeak benar-benar telah dicuri, apakah kau mengira pencurinya akan membawanya pergi dengan berjalan kaki?" kata Dumbledore, masih terdengar geli. "Cari di angkasa,

kalau kau mau... Hagrid, aku ingin minum secangkir teh. Atau segelas besar brandy."

"Ten—tentu, Profesor," kata Hagrid, yang kedengarannya lemas saking senangnya. "Masuklah, masuklah..."

Harry dan Hermione mendengarkan dengan waspada. Mereka mendengar langkah-langkah kaki, makian pelan si algojo, bantingan pintu, dan kemudian hening lagi.

"Sekarang bagaimana?" bisik Harry, memandang berkeliling.

"Kita harus sembunyi di sini," kata Hermione, yang tampak sangat terguncang. "Kita perlu menunggu sampai mereka kembali ke kastil. Kemudian kita menunggu sampai aman untuk menerbangkan Buckbeak ke jendela Sirius. Dia baru akan ada di sana dua jam lagi... oh, ini akan sulit sekali..."

Hermione menoleh dengan cemas, memandang ke dalam hutan yang gelap. Matahari sudah mulai terbenam.

"Kita harus pindah," kata Harry, berpikir keras. "Kita harus bisa melihat Dedalu Perkasa, kalau tidak kita tak akan tahu apa yang sedang terjadi."

"Oke," kata Hermione, memegang tali Buckbeak dengan lebih erat. "Tapi kita jangan sampai kelihatan, Harry, ingat..."

Mereka bergerak menyusur tepi hutan, sementara kegelapan turun menyelimuti mereka, sampai mereka tersembunyi di balik gerombolan pepohonan dari mana mereka bisa melihat Dedalu Perkasa.

"Itu Ron!" kata Harry tiba-tiba.

Ada sosok gelap yang melompat ke rerumputan dan teriakannya bergaung membelah udara malam yang sepi.

"Jangan dekat-dekat dia—pergi—Scabbers, sini..."

Dan kemudian mereka melihat dua sosok lain muncul begitu saja. Harry melihat dirinya dan Hermione mengejar Ron. Kemudian dia melihat Ron menukik.

"Kena kaul Pergi kau, kucing bau..."

"Itu Sirius!" kata Harry. Sosok besar anjing itu melompat dari akar-akar Dedalu. Mereka melihatnya menabrak Harry sampai jatuh, kemudian menyambar Ron...

"Tampak lebih mengerikan dari sini, ya?" kata Harry, mengawasi si anjing menyeret Ron ke akar Dedalu. "Ouch— lihat, aku baru saja dihajar pohon itu—kau juga—ini sungguh aneh..."

Dedalu Perkasa berderak-derak dan melecut-lecutkan dahan-dahannya yang rendah. Mereka bisa melihat mereka sendiri berlarian ke sana kemari, berusaha mencapai batang pohon. Dan kemudian pohon itu diam.

"Itu Crookshanks yang menekan tonjolan," kata Hermione.

"Dan kita maju...," gumam Harry. "Kita masuk."

Begitu mereka lenyap, pohon itu mulai bergerak lagi. Beberapa detik kemudian, mereka mendengar langkah- langkah yang cukup dekat. Dumbledore,

Macnair, Fudge, dan si tua anggota Komite berjalan kembali ke kastil.

"Tepat sehabis kita menghilang ke dalam lorong!" kata Hermione. "Kalau saja Dumbledore ikut masuk bersama kita..."

"Macnair dan Fudge akan ikut juga," kata Harry getir. "Aku berani taruhan apa saja, Fudge akan menyuruh Macnair membunuh Sirius di tempat..."

Mereka mengawasi keempat laki-laki itu menaiki undakan kastil dan lenyap dari pandangan. Selama beberapa menit halaman depan kastil kosong. Kemudian...

"Ini dia Lupin datang!" kata Harry, ketika mereka melihat ada sosok lain bergegas menuruni undakan lalu berlari menuju Dedalu Perkasa. Harry mendongak menatap langit. Awan sepenuhnya menutupi bulan.

Mereka mengawasi Lupin menyambar sepotong dahan patah dari tanah dan menekan tonjolan di batang pohon. Pohon berhenti melawan, dan Lupin juga menghilang ke dalam lubang di akarnya.

"Kalau saja dia menyambar Jubah Gaib," kata Harry. "Jubah itu tergeletak begitu saja di sana..."

Harry menoleh kepada Hermione.

"Kalau aku berlari keluar sekarang dan mengambilnya, Snape tak akan bisa mengambilnya dan..."

"Harry, kita tak boleh kelihatan"

"Bagaimana kau bisa tahan?" Harry bertanya tajam kepada Hermione. "Cuma berdiri di sini dan menyaksikan semuanya terjadi?" Dia ragu-ragu. "Aku akan mengambil jubah itu."

"Harry, janganl"

Hermione menyambar bagian belakang jubah Harry, tepat pada waktunya. Saat itu mereka mendengar nyanyian. Hagrid berjalan ke kastil, bernyanyi sekeras suaranya, langkahnya sedikit oleng. Tangannya mengayun-ayunkan botol besar.

"Lihat?" bisik Hermione. "Lihat apa yang akan terjadi? Kita tak boleh kelihatan! Jangan, Buckbeak!"

Si Hippogriff dengan liar berusaha melepaskan diri untuk mendekati Hagrid. Harry ikut menyambar talinya, berusaha sekuat tenaga menahan Buckbeak. Mereka melihat Hagrid terhuyung-huyung menuju kastil. Dia menghilang. Buckbeak berhenti berjuang untuk melepaskan diri. Kemalanya menunduk sedih.

Tak sampai dua menit kemudian, pintu kastil terbuka lagi, dan Snape menerobos keluar, berlari menuju Dedalu Perkasa. Tinju Harry mengepal sementara mereka melihat Snape berhenti di dekat pohon, memandang berkeliling. Dia menyambar Jubah Gaib dan mengangkatnya.

"Lepaskan tangan kotormu dari jubah itu' bentak Harry dalam bisikan.

"Shhh!"

Snape menyambar dahan yang tadi digunakan Lupin untuk membekukan pohon, menekan tonjolannya, dan menghilang dari pandangan begitu dia memakai Jubah Gaib.

"Jadi begitulah," kata Hermione. "Kita semua di bawah sana... dan sekarang kita tinggal menunggu sampai kita naik lagi..."

Hermione mengambil ujung tali Buckbeak dan mengikatkannya erat-erat di sekeliling pohon terdekat, kemudian duduk di tanah kering, memeluk lutut.

"Harry, ada yang tidak kumengerti... kenapa Dementor- dementor tidak menangkap Sirius? Aku ingat mereka datang, dan kemudian kupikir aku pingsan... ada banyak sekali Dementor..."

Harry ikut duduk. Dia menjelaskan apa yang telah dilihatnya, betapa ketika Dementor terdekat telah menunduk, mendekatkan mulutnya ke mulut Harry, ada makhluk perak besar berderap menyeberangi danau dan memaksa para Dementor mundur.

"Tapi apa itu?"

"Cuma ada satu kemungkinan, yang bisa membuat Dementor pergi," kata Harry. "Patronus yang sebenarnya. Yang kuat."

"Tapi siapa yang menyihirnya?"

Harry tidak berkata apa-apa. Dia teringat pada orang yang dilihatnya di seberang danau. Menurut pendapatnya dia tahu siapa orang itu... tapi bagaimana itu mungkin?

"Apakah kau tidak melihat seperti apa dia?" tanya Hermione bersemangat "Apakah dia salah satu dari guru kita?"

"Bukan," kata Harry. "Dia bukan guru."

"Tapi pasti dia penyihir yang hebat sekali, sampai bisa mengusir semua Dementor... kalau Patronus itu berkilau begitu terang, apakah sinarnya tidak me-neranginya? Tak bisakah kau melihat...?"

"Yeah, aku melihatnya," kata Harry perlahan. "Tetapi... mungkin aku membayangkannya... aku tidak berpikir dengan jernih... aku langsung pingsan sesudahnya..."

"Menurutmu siapa dia?"

"Kurasa..." Harry menelan ludah, karena tahu betapa ganjilnya apa yang akan dikatakannya ini. "Kurasa dia ayahku."

Harry mengerling Hermione dan melihat mulutnya ternganga lebar sekarang. Hermione memandangnya dengan campuran perasaan cemas dan kasihan.

"Harry, ayahmu—yah—sudah meninggal," katanya pelan.

"Aku tahu," kata Harry cepat. "Menurutmu kau melihat hantunya?" "Aku tak tahu... tidak... dia tampak solid..." "Tapi, kalau begitu..."

"Mungkin itu cuma khayalanku," kata Harry. "Tapi... dari apa yang bisa kulihat... dia kelihatan seperti ayahku... aku kan punya foto-fotonya..."

Hermione masih memandangnya, seakan mencemaskan kewarasannya.

"Aku tahu kedengarannya sinting," kata Harry datar. Dia menoleh memandang Buckbeak, yang masih mematuk-matuk tanah, rupanya mencari cacing. Tetapi Harry tidak benar- benar memandang Buckbeak.

Dia memikirkan ayahnya, dan ketiga sahabatnya... Moony, Wormtail, Padfoot, dan Prongs.... Apakah keempatnya berkeliaran di halaman sekolah malam ini? Wormtail mendadak muncul kembali malam ini ketika semua orang mengira dia sudah mati—tak adakah kemungkinan ayahnya melakukan hal yang sama? Apakah yang dilihatnya di seberang danau hanya khayalannya saja? Sosok itu terlalu jauh untuk bisa dilihat dengan jelas... meskipun demikian Harry merasa yakin, sesaat, sebelum kehilangan kesadarannya....

Dedaunan di atas mereka berkeresek pelan tertiup angin. Bulan hilang-hilang timbul di balik awan-awan yang berarak. Hermione duduk menghadap ke Dedalu Perkasa, menunggu.

Dan akhirnya, setelah lebih dari satu jam...

"Ini kita datang!" Hermione berbisik.

Dia dan Harry bangkit. Buckbeak mengangkat kepalanya. Mereka melihat Lupin, Ron, dan Pettigrew dengan canggung keluar dari lubang di akar pohon. Kemudian muncul Snape yang pingsan, melayang dengan ganjil di atas. Berikutnya muncul Black, dan yang terakhir adalah Harry dan Hermione. Mereka semua berjalan ke arah kastil.

Jantung Harry mulai berdetak sangat cepat. Dia mendongak ke langit. Setiap saat sekarang, awan itu akan menyingkir dan bulan akan muncul...

"Harry," Hermione bergumam, seakan dia tahu persis apa yang dipikirkan Harry, "kita tak boleh berbuat apa pun. Kita tak boleh terlihat. Tak ada yang bisa kita lakukan..."

"Jadi kita akan membiarkan Pettigrew lolos sekali lagi...,"

kata Harry pelan.

"Bagaimana kau bisa berharap menemukan tikus dalam gelap?" tukas Hermione. "Tak ada yang bisa kita lakukan! Kita kembali untuk membantu Sirius. Kita tak boleh melakukan yang lain!"

"Baiklah!"

Bulan muncul dari balik awan. Mereka melihat sosok-sosok kecil di padang rumput berhenti. Kemudian mereka melihat gerakan.

"Itu Lupin," Hermione berbisik. "Dia sedang bertransformasi ..."

"Hermione!" kata Harry tiba-tiba. "Kita harus pergi!"

"Tidak boleh, kan sudah berkali-kali kubilang..."

"Bukan untuk mencampuri! Tapi Lupin akan berlari ke dalam hutan, tepat ke tempat kita!" Hermione terperangah.

"Cepat!" rintihnya, bergegas melepas ikatan Buckbeak.

"Cepat! Ke mana kita pergi? Di mana kita bisa bersembunyi? Para Dementor akan muncul setiap saat..."

"Kembali ke pondok Hagrid!" kata Harry. "Pondok itu sekarang kosong—ayo!"

Mereka berlari secepat mungkin, Buckbeak mengikuti di belakang mereka. Mereka bisa mendengar manusia serigala melolong di belakang mereka...

Pondok itu sudah kelihatan. Harry melesat ke pintu, menariknya terbuka, dan Hermione dan Buckbeak meluncur melewatinya. Harry ikut menerobos masuk menyusul mereka dan mengunci pintu. Fang si anjing besar menyalak keras.

"Shhh, Fang, ini kami!" kata Hermione, bergegas mendekatinya dan menggaruk belakang telinganya untuk menenangkannya. "Nyaris saja!" katanya kepada Harry.

"Yeah..."

Harry memandang ke luar jendela. Jauh lebih sulit melihat apa yang sedang terjadi dari sini. Buckbeak tampaknya senang sekali berada kembali di dalam pondok Hagrid. Dia berbaring di depan perapian, melipat sayapnya dengan puas, dan kelihatannya siap tidur.

"Kurasa lebih baik aku keluar lagi, Hermione," kata Harry perlahan. "Aku tak bisa melihat apa yang sedang terjadi—kita tak akan tahu kapan saatnya..."

Hermione mendongak. Ekspresinya curiga.

"Aku tak akan ikut campur," kata Harry buru-buru. "Tapi kalau kita tidak melihat apa yang terjadi, bagaimana kita bisa tahu kapan saatnya kita harus membebaskan Sirius?"

"Baiklah kalau begitu... aku akan menunggu di sini dengan Buckbeak... tapi, Harry, hati-hatilah—ada manusia serigala di luar sana—dan para Dementor..."

Harry melangkah keluar lagi dan menyelinap mengitari pondok. Dia bisa mendengar dengkingan di kejauhan. Itu berarti para Dementor sedang mengepung Sirius... dia dan Hermione akan berlari mendatanginya setiap saat...

Harry memandang ke arah danau, jantungnya berdegup kencang. Siapa pun yang mengirim Patronus akan muncul setiap saat.

Selama sepersekian detik dia berdiri ragu-ragu di depan pintu Hagrid. Kau tak boleh kelihatan. Tetapi dia tak ingin kelihatan. Dia ingin dia yang melihat... dia harus tahu...

Dan datanglah para Dementor. Mereka bermunculan dari dalam kegelapan dari segala jurusan, melayang mengelilingi tepi danau... mereka bergerak menjauh dari tempat Harry berdiri, menuju ke tepi seberang... dia tak perlu berada di dekat mereka...

Harry mulai berlari. Tak ada pikiran lain dalam kepalanya selain ayahnya... apakah memang dia... apakah betul-betul dia... dia harus tahu... dia harus menemukan jawabnya...

Danau semakin dekat, tetapi tak tampak tanda-tanda ada orang. Di tepi seberang Harry bisa melihat sinar samar keperakan—itu Patronus ciptaannya...

Semak-semak tumbuh di tepi air. Harry bersembunyi di baliknya, menatap putus asa dari antara dedaunannya. Di tepi seberang, cahaya samar keperakan mendadak padam. Dengan bergairah bercampur ngeri Harry menunggu—setiap saat sekarang...

"Ayo!" gumamnya, seraya memandang berkeliling. "Di mana kau? Dad, ayo..."

Tetapi tak ada yang datang. Harry mengangkat kepalanya untuk melihat lingkaran Dementor di tepi seberang. Salah satunya sedang menurunkan kerudungnya. Sudah waktunya si penyelamat muncul— tetapi kali ini tak ada yang membantu... Dan kemudian bagai disambar petir Harry paham. Dia tidak melihat ayahnya—dia melihat dirinya sendiri.

Harry melompat keluar dari balik semak dan mencabut tongkatnya.

"EXPECTO PATRONUM!" dia berteriak.

Dan dari ujung tongkatnya melesat keluar, bukan kabut tak berbentuk, melainkan binatang keperakan yang berkilau menyilaukan. Harry menyipitkan mata, berusaha melihat binatang apa itu. Kelihatannya seperti kuda. Binatang itu berderap menjauh darinya, menyeberangi permukaan danau yang gelap. Harry melihatnya menundukkan kepala dan menerjang kerumunan Dementor... sekarang binatang itu berlarian mengelilingi sosok-sosok hitam di tanah, dan para Dementor mundur, menyebar, masuk dalam kegelapan... mereka pergi.

Patronus itu berbalik. Dia berlari kembali ke arah Harry, menyeberangi permukaan air yang tenang. Dia bukan kuda. Bukan pula unicorn. Dia rusa jantan. Tubuhnya bercahaya seperti bulan di atas... dia kembali kepada Harry....

Rusa itu berhenti di tepi danau. Kakinya tidak meninggalkan bekas di tanah yang lunak, sementara dia memandang Harry dengan matanya yang besar keperakan. Perlahan, dia menundukkan kepalanya yang bertanduk. Dan Harry sadar...

"Prongs," bisiknya.

Tetapi saat ujung-ujung jari Harry yang gemetar terjulur ke arahnya, makhluk itu lenyap.

Harry berdiri terpukau, tangannya masih terjulur. Kemudian hatinya mencelos ketika mendengar derap kaki binatang di belakangnya—dia berputar dan melihat Hermione berlari ke arahnya, menarik Buckbeak di belakangnya.

'Apa yang kaulakukan?" tanyanya galak. "Kau bilang kau cuma mau melihat!"

"Aku baru saja menyelamatkan hidup kita...," kata Harry.

"Ke sini... ke belakang semak ini—akan kujelaskan."

Hermione mendengarkan apa yang baru saja terjadi dengan mulut ternganga lagi. "Apakah ada yang melihatmu?"

"Ya, apa kau tidak mendengarkan? Aku melihatku, tapi semula kukira itu ayahku! Tidak apa-apa!"

"Harry, aku tak percaya—kau menyihir Patronus yang mengusir semua Dementor! Itu sihir tingkat sangat tinggi..."

"Aku tahu aku bisa melakukannya kali ini," kata Harry,

"karena aku sudah melakukannya... Apa itu masuk akal?"

"Aku tak tahu—Harry, lihat Snape!"

Bersama-sama mereka mengawasi dari balik semak di tepi seberang. Snape sudah sadar. Dia menyihir tandu-tandu dan mengangkat tubuh-tubuh lemas Harry, Hermione, dan Black ke atasnya. Tandu keempat, tak diragukan lagi berisi Ron, sudah melayang di sisinya. Kemudian, dengan memegangi tongkat di depannya, dia menggerakkan tandu-tandu itu ke arah kastil.

"Baik, sudah hampir tiba waktunya," kata Hermione tegang, melihat arlojinya. "Kita punya waktu sekitar empat puluh lima menit sampai Dumbledore mengunci pintu sal rumah sakit. Kita harus menyelamatkan Sirius dan kembali ke dalam sal sebelum ada yang menyadari bahwa kita tak ada di sana...." Mereka menunggu, memandang awan-awan yang bergerak dan dipantulkan air danau, sementara semak di sebelah mereka bergemeresik ditiup angin. Buckbeak yang merasa bosan mengorek-ngorek cacing lagi.

"Menurutmu, apa dia sudah ada di atas sana?" kata Harry, melihat arlojinya. Dia menengadah, menatap kastil dan mulai menghitung jendela ke arah kanan Menara Barat.

"Lihat!' Hermione berbisik. "Siapa itu? Ada yang keluar dari kastil!"

Harry memandang menembus kegelapan. Laki-laki itu bergegas menuju salah satu jalan keluar. Ada yang berkilat di ikat pinggangnya.

"Macnair!" kata Harry. "Si algojo! Dia pergi menjemput para Dementor! Sekaranglah waktunya, Hermione..."

Hermione meletakkan tangannya di punggung Buckbeak dan Harry membantu mendorongnya ke atas. Kemudian dia meletakkan kakinya di salah satu cabang rendah semak dan memanjat ke depan Hermione. Dia melingkarkan kembali tali Buckbeak ke lehernya dan mengikatkannya ke sisi leher satunya seperti tali kekang.

"Siap?" bisiknya kepada Hermione. "Sebaiknya kau berpegangan padaku..."

Harry menekan sisi tubuh Buckbeak dengan tumitnya. Buckbeak melesat tinggi ke angkasa gelap. Harry mengapit panggulnya dengan lututnya, merasakan sayap Buckbeak yang besar mengepak dengan kuat di bawah mereka. Hermione memeluk pinggang Harry erat-erat. Harry bisa mendengarnya bergumam, "Oh, tidak—aku tak suka ini—oh, aku benar-benar tak suka..."

Harry mendesak Buckbeak maju. Mereka terbang tanpa suara menuju lantai atas kastil... Harry menarik tali di sisi kiri, dan Buckbeak berbelok. Harry berusaha menghitung jendela- jendela yang dilintasinya...

"Whoa!" katanya, menarik tali ke belakang sekuat tenaga. Buckbeak melambat dan akhirnya berhenti melaju, hanya naik-turun beberapa meter saat dia mengepakkan sayap agar tetap melayang.

"Dia di dalam sana!" kata Harry, melihat Sirius ketika mereka sedang terangkat di sebelah jendela. Harry menjulurkan tangan, dan ketika sayap Buckbeak menurun, dia bisa mengetuk kacanya keras-keras.

Black mendongal;. Harry melihat mulutnya ternganga. Black melompat berdiri dari kursinya, bergegas ke jendela, dan mencoba membukanya, tetapi jendela itu terkunci.

"Mundur!" seru Hermione kepadanya, dan dia mengeluarkan tongkatnya sambil masih mencengkeram bagian belakang jubah Harry dengan tangan kirinya.

"Alohomora!"

Jendela berdebam terbuka.

"Bagaimana—bagaimana...T' kata Black lemas, memandang si Hippogriff.

"Ayo naik—tak ada waktu lagi," kata Harry, memegangi kedua sisi l

eher licin Buckbeak untuk menenangkannya. "Kau harus keluar dari situ—Dementor-dementor akan segera datang. Macnair sudah pergi menjemput mereka."

Black meletakkan tandan ke dua sisi ambang jendela dan menjulurkan kepala dan bahunya ke luar. Untung dia kurus sekali. Dalam waktu beberapa detik saja dia sudah berhasil mengalungkan satu kakinya ke atas punggung Buckbeak^ dan mengangkat dirinya ke atas si Hippogriff, di belakang Hermione.

"Oke, Buckbeak, naik!" kata Harry, menggoyang talinya.

"Naik ke menara—ayo!"

Si Hippogriff mengepakkan sayapnya yang kuat keras-keras dan mereka meluncur ke atas lagi, sampai setinggi puncak Menara Barat. Buckbeak mendarat dengan bunyi berderak- derak di landasan menara dan Harry serta Hermione segera meluncur turun dari punggungnya.

"Sirius, kau sebaiknya segera pergi, cepat," kata Harry terengah. "Mereka akan tiba di kantor Flitwick setiap saat, mereka akan tahu kau sudah pergi."

Buckbeak mencakar-cakar lantai, mengedik-ngedik-kan kepalanya yang tajam.

"Apa yang terjadi dengan anak yang satunya? Ron?" tanya Sirius cemas.

"Dia akan sembuh—dia masih pingsan, tetapi Madam Pomfrey mengatakan dia akan bisa menyembuhkannya. Cepat—pergilah!"

Tetapi Black masih menunduk menatap Harry.

"Bagaimana aku bisa berterima kasih..."

"PERGILAH!" Harry dan Hermione berteriak bersamaan. Black memutar Buckbeak, menghadap angkasa yang terbuka.

"Kita akan bertemu lagi," katanya. "Kau—betul-betul anak ayahmu, Harry..."

Black menekan sisi tubuh Buckbeak dengan tumitnya. Harry dan Hermione melompat mundur saat sayap raksasa itu mengepak ke atas sekali lagi... si Hippogriff melesat ke angkasa... dia dan penunggangnya makin lama makin kecil sementara Harry menatap mereka... kemudian ada awan bergerak menutupi bulan... mereka lenyap.

22. Pos Burung Hantu Lagi

“HARRY!"

Hermione menarik-narik lengan jubah Harry, seraya memandang arlojinya. "Kita punya waktu persis sepuluh menit untuk turun kembali ke sal rumah sakit tanpa dilihat orang— sebelum Dumbledore mengunci pintu..."

"Oke," kata Harry, dengan berat hati mengalihkan pandangan dari angkasa, "ayo, kita turun..."

Mereka menyelinap melalui pintu menara di belakang mereka dan menuruni tangga batu spiral. Setiba di bawah, mereka mendengar suara-suara. Mereka merapatkan diri ke dinding dan mendengarkan. Kedengarannya seperti Fudge dan Snape. Mereka berjalan cepat menyusuri koridor di kaki tangga.

"...hanya berharap Dumbledore tidak bikin susah/' kata Snape. "Kecupan akan langsung dilaksanakan?"

"Begitu Macnair kembali dengan para Dementor. Urusan Black ini sangat memalukan. Tak bisa kukatakan betapa aku sudah ingin sekali memberitahu Daily Prophet bahwa akhirnya kita berhasil menangkapnya... pasti nanti mereka ingin mewawancaraimu, Snape... dan begitu si Harry sudah waras lagi, kurasa dia ingin memberitahu Prophet bagaimana persisnya kau menyelamatkannya...."

Harry mengertakkan gigi. Sekilas dilihatnya seringai Snape saat dia dan Fudge melewati tempat persembunyiannya bersama Hermione. Langkah-langkah mereka semakin menjauh. Harry dan Hermione menunggu beberapa saat lagi untuk memastikan mereka benar-benar telah pergi, kemudian mulai berlari ke arah yang berlawanan. Menuruni satu tangga, kemudian tangga lain, menyusuri koridor—kemudian mereka mendengar suara terkekeh di depan mereka.

"Peevesl" gumam Harry, menyambar pergelangan tangan Hermione. "Masuk sini!"

Mereka berlari ke dalam kelas kosong di sebelah kiri mereka tepat pada waktunya. Peeves kelihatannya melayang naik-turun koridor dengan semangat tinggi, tertawa terbahak- bahak.

"Oh, dia menyebalkan," bisik Hermione, dengan telinga menempel di pintu. "Taruhan, dia pasti gembira karena para Dementor akan menghabisi Sirius..." Hermione mengecek arlojinya. "Tiga menit, Harry!"

Mereka menunggu sampai suara riang Peeves sayup-sayup di kejauhan, kemudian menyelinap keluar dan berlari lagi.

"Hermione—apa yang akan terjadi—kalau kita tidak kembali dalam kamar sebelum Dumbledore mengunci pintu?" Harry tersengal.

"Aku tak mau memikirkannya!' keluh Hermione, mengecek arlojinya lagi. "Satu menit!"

Mereka sudah tiba di ujung koridor yang merupakan jalan masuk ke sal rumah sakit. "Oke—aku bisa mendengar Dumbledore," kata Hermione tegang. "Ayo, Harry!"

Mereka merayap menyusuri koridor. Pintu terbuka. Punggung Dumbledore tampak.

"Aku akan mengunci kalian berdua," mereka mendengarnya berkata. "Sekarang... lima menit sebelum tengah malam. Miss Granger, tiga kali putaran sudah cukup. Semoga berhasil."

Dumbledore keluar dari kamar, menutup pintu, dan mencabut tongkatnya untuk menguncinya secara sihir. Dengan panik Harry dan Hermione berlari mendekatinya. Dumbledore mendongak, dan senyum lebar merekah di bawah kumis panjangnya yang keperakan. "Bagaimana?" tanyanya pelan.

"Kami berhasil melakukannya!" kata Harry kehabisan napas. "Sirius sudah pergi, menunggang Buckbeak..."

Dumbledore tersenyum kepada mereka.

"Bagus sekali. Kurasa...," dia mendengarkan dengan teliti suara apa pun yang datang dari dalam sal rumah sakit. "Ya, kurasa kalian sudah pergi juga. Masuklah—akan kukunci kalian..."

Harry dan Hermione menyelinap ke dalam sal. Ruangan itu kosong. Hanya ada Ron, yang masih terbaring tak bergerak di tempat tidur di ujung. Saal kunci berbunyi klik di belakang mereka, Harry dai» Hermione naik ke tempat tidur masing- masing Hermione menyelipkan Pembalik-Waktu ke bawah jubahnya. Saat berikutnya, Madam Pomfrey keluar lagi dari kantornya dan datang mendekat.

"Apa Kepala Sekolah sudah pergi? Apa aku sudah boleh merawat pasienku sekarang?"

Madam Pomfrey sedang uring-uringan. Harry dan Hermione berpendapat paling baik menerima cokelat pemberiannya dengan diam-diam. Madam Pomfrey berdiri menunggui mereka, memastikan mereka memakannya. Tetapi Harry nyaris tak bisa menelan. Dia dan Hermione menanti, mendengarkan, saraf mereka tegang... Dan kemudian, saat keduanya mengambil potongan cokelat keempat dari Madam Pomfrey, mereka mendengar raung kemarahan di kejauhan bergaung dari suatu tempat di atas mereka... "Apa itu?" tanya Madam Pomfrey kaget. Sekarang mereka bisa mendengar suara-suara marah, makin lama makin keras. Madam Pomfrey menatap pintu.

"Astaga—mereka akan membangunkan semua orang! Mereka pikir apa yang mereka lakukan?"

Harry berusaha mendengar apa yang dikatakan suara-suara itu. Mereka semakin dekat...

"Dia pastilah ber-Disapparate, Severus. Seharusnya ada orang yang menjaganya di ruangan. Kalau kabar ini sampai bocor..."

"DIA TIDAK BER-DISAPPARATE!" Snape meraung, sekarang sudah dekat sekali. "KAU TIDAK BISA BER-APPARATE ATAU DISAPPARATE DI DALAM KASTIL INI! INI—PASTI—ADA— HUBUNGANNYA— DENGAN—SI—POTTER!"

"Severus—yang masuk akallah—Harry sejak tadi dikunci..." BLAK!

Pintu sal rumah sakit berdebam terbuka.

Fudge, Snape, dan Dumbledore masuk. Hanya Dumbledore yang tampak tenang. Dia malah kelihatan senang. Fudge kelihatan marah. Tetapi Snape murka luar biasa.

"NGAKU SAJA, POTTER!" bentaknya. "APA YANG KAULAKUKAN?"

"Profesor Snape!" pekik Madam Pomfrey. "Kuasai dirimu."

"Snape, bersikaplah yang masuk akal," kata Fudge. "Pintu ini tadi dikunci, kita baru saja melihat..."

"MEREKA MEMBANTUNYA KABUR, AKU TAHU!" lolong Snape, menunjuk Harry dan Hermione. Wajahnya merah padam, ludah berhamburan dari mulutnya.

"Tenang!" bentak Fudge. "Kau bicara omong kosong!"

"ANDA TIDAK TAHU POTTER!" jerit Snape. "DIA YANG MELAKUKANNYA, AKU TAHU DIA MELAKUKANNYA..." -

"Cukup, Severus," kata Dumbledore tenang. "Pikirkan apa yang kaukatakan. Pintu ini terkunci sejak aku meninggalkannya sepuluh menit yang lalu. Madam Pomfrey, apakah kedua anak ini meninggalkan tempat tidur mereka?"

"Tentu saja tidak!" kata Madam Pomfrey jengktl "Aku bersama mereka sejak Anda pergi!"

"Nah, kau dengar, kan, Severus," kata Dumbledo kalem.

"Kecuali kau bermaksud mengatakan Mau dan Hermione bisa berada di dua tempat pada saat yang bersamaan, kurasa tak ada faedahnya kita mengganggu mereka lebih jauh lagi."

Snape berdiri berang, bergantian memandang Fudge, yang tampaknya sangat shock melihat tingkahnya dan Dumbledore, yang matanya berkilauan di balik kacamatanya. Snape berputar cepat, jubahnya berdesu di belakangnya, dan dengan marah meninggalkan kamar.

"Kelihatannya mengalami guncangan jiwa," kali Fudge, memandang punggungnya. "Aku akan berbali hati memantaunya kalau aku jadi kau, Dumbledore."

"Oh, bukan guncangan jiwa," kata Dumbledore tenang.

"Dia cuma menderita kekecewaan yang parah sekali."

"Dia bukan satu-satunya yang kecewa!" Fudge mengembuskan napas. "Daily Prophet akan senang sekali mendengarnya! Kita bisa menangkap Black dan dia berhasil lolos dari antara jari-jari kita lagi! Kalau lolosnya Hippogriff itu sampai bocor, habis aku jadi bahan tertawaan! Yah... sebaiknya aku segera pulau; memberitahu Kementerian..."

"Dan para Dementor?" tanya Dumbledore. "Mereka akan dipindahkan dari sekolah, kan?"

"Oh, ya, mereka harus pergi," kata Fudge, tanpa sadar menyisir rambut dengan jari-jarinya. "Tak pernah mimpi mereka akan berusaha melakukan Kecupan pada anak yang tak bersalah... sama sekali kehilangan kontrol... Tidak, aku akan mengirimkan mereka kembali ke Azkaban malam ini. Mungkin kita perlu memikirkan memakai naga untuk menjaga pintu masuk sekolah..”

“Hagrid akan senang,” kata Dumbledore, sekilas tersenyum kepada Harry dan Hermione. Begitu dia dan Fudge meninggalkan kamar, Madam Pomfrey bergegas ke pintu dan menguncinya lagi. Sambil bergumam marah-marah sendiri, dia kembali berjalan ke kantornya.

Terdengar rintihan pelan dari ujung sal. Ron sudah sadar. Mereka bisa melihatnya duduk, menggosok-gosok kepalanya, memandang berkeliling.

“Apa—apa yang terjadi?” keluhnya. “Harry? Kenapa kita di sini? Di mana Sirius? Di mana Lupin? Ada apa sebetulnya?”

Harry dan Hermione saling pandang.

“Kau saja yang menjelaskan,” kata Harry, seraya mengambil cokelat lagi.

Ketika Harry, Ron, dan Hermione meninggalkan rumah sakit esok siangnya, kastil nyaris kosong. Hari panas terik dan ujian sudah usai, sehingga semua menggunakan kesempatan ini untuk mengunjungi Hogsmeade. Meskipun demikian, baik Ron maupun Hermione tak ingin pergi. Maka mereka dan Harry berjalan-jalan saja di halaman, masih membicarakan peristiwa luar biasa malam sebelumnya dan bertanya-tanya di mana gerangan Sirius dan Buckbeak sekarang.

Duduk di tepi danau, menonton cumi-cumi raksasa melambai-lambaikan sungutnya dengan malas di atas permukaan air, pikiran Harry melayang ketika dia memandang ke tepi seberang. Rusa itu berlari ke arahnya dari tempat itu semalam...

Ada bayang-bayang menjatuhi mereka dan saat menengadah, mereka melihat Hagrid yang bermata merah, menyeka wajahnya yang berkeringat dengan salah satu saputangannya yang sebesar taplak meja. Wajahnya berseri- seri memandang mereka.

"Aku tahu harusnya aku tak boleh senang, sesudah apa yang terjadi semalam," katanya. "Maksudku, Black kabur lagi, dan segalanya—-tapi coba tebak!"

"Apa?" kata mereka, berpura-pura penasaran.

"Beaky! Dia lolos! Dia bebas! Aku rayakan semalam suntuk!"

"Bagus sekali!" kata Hermione, melempar pandangan menegur ke arah Ron, karena kelihatannya Ron mau tertawa.

"Yeah... pasti aku ikat dia tidak betul," kata Hagrid, memandang padang rumput dengan gembira. "Tapi aku cemas pagi ini... siapa tahu dia bertemu Profesor Lupin di jalan, tapi Profesor Lupin bilang dia tidak makan apa-apa semalam..."

"Apa?" tanya Harry buru-buru.

"Astaga, kau belum dengar?" tanya Hagrid, senyumnya memudar sedikit. Dia merendahkan suaranya, meskipun tak tampak ada orang. "Eh—Snape beritahu semua anak Slytherin tadi pagi... kukira semua orang sudah tahu sekarang... Profesor Lupin itu manusia serigala, tahu. Dan dia berkeliaran semalam. Dia sedang berkemas sekarang, tentu saja."

"Pia berkemas?" tanya Harry kaget. "Kenapa?"

"Mau pergi, kan?" kata Hagrid, heran kenapa Harry bertanya. "Undurkan diri pagi-pagi tadi. Bilang dia tidak mau ambil risiko kejadian seperti semalam terjadi lagi."

Harry buru-buru berdiri.

"Aku akan menemuinya," katanya kepada Ron dan Hermione.

"Tapi kalau dia sudah mengundurkan diri..."

"...rasanya tak ada yang-bisa kita lakukan..."

"Aku tak peduli. Aku tetap ingin menemuinya. Nanti aku kembali ke sini."

Pintu kantor Lupin terbuka. Dia sudah mengepak sebagian besar barang-barangnya. Tangki kosong Grindylow berdiri di sebelah koper bututnya, yang terbuka dan hampir penuh. Lupin sedang menunduk memandang sesuatu di atas mejanya, dan baru menengadah ketika Harry mengetuk pintu.

"Aku melihatmu datang," kata Lupin, tersenyum. Dia menunjuk perkamen yang tadi dipandangnya. Ternyata perkamen itu Peta Perampok.

"Saya baru bertemu Hagrid," kata Harry. "Dan dia mengatakan Anda mengundurkan diri. Tidak betul, kan?"

"Sayangnya betul, Harry," kata Lupin. Dia mulai membuka laci-laci mejanya dan mengeluarkan isinya.

"Kenapa?" tanya Harry. "Kementerian Sihir tidak menuduh Anda membantu Sirius, kan?"

Lupin berjalan ke pintu dan menutupnya di belakang Harry.

"Tidak. Profesor Dumbledore berhasil meyakinkan Fudge bahwa aku mencoba menyelamatkan kalian." Dia menghela napas. "Itu pukulan terakhir bagi Severus. Kurasa kehilangan Order of Merlin sudah merupakan pukulan berat baginya. Jadi dia—eh—tak sengaja kelepasan bicara mengatakan bahwa aku manusia serigala pagi ini waktu sarapan."

"Anda tidak pergi hanya karena itu!" kata Harry. Lupin tersenyum masam.

"Pada jam begini besok, burung-burung hantu akan berdatangan dari para orangtua—mereka tak mau anak mereka diajar serigala, Harry. Dan sesudah peristiwa semalam, aku bisa memahami keberatan mereka. Aku bisa menggigit siapa saja di antara kalian... itu tak boleh terjadi lagi."

"Anda guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam paling baik yang pernah kami punyai!" kata Harry. "Jangan pergi!"

Lupin menggelengkan kepala dan tidak mengatakan apa- apa. Dia terus mengosongkan lacinya. Kemudian, ketika Harry sedang berusaha memikirkan alasan yang baik untuk menahannya, Lupin berkata, "Dari apa yang diceritakan Kepala Sekolah kepadaku pagi tadi, kau menyelamatkan banyak jiwa semalam, Harry. Kalau ada yang kubanggakan, itu adalah betapa banyak yang telah kaupelajari. Ceritakan padaku tentang Patronus-mu."

"Bagaimana Anda tahu itu?" tanya Harry, perhatiannya teralih.

"Apa lagi yang bisa mengusir Dementor?"

Harry menceritakan pada Lupin apa yang terjadi. Setelah selesai, Lupin tersenyum lagi.

"Ya, ayahmu selalu menjadi rusa jantan setiap kali dia bertransformasi" katanya. "Kau menebak dengan benar... itulah sebabnya kami menyebutnya Prongs."

Lupin melemparkan beberapa bukunya yang terakhir ke dalam koper, menutup lacinya, dan ber-balik menghadapi Harry.

"Ini—kubawa ini dari Shrieking Shack semalam," katanya, seraya menyerahkan Jubah Gaib kepada Harry. "Dan..." dia ragu-ragu, kemudian mengulurkan Peta Perampok juga. "Aku bukan lagi gurumu, jadi aku tak merasa bersalah mengembalikan ini kepadamu juga. Ini tak ada gunanya bagiku, dan aku yakin, banyak gunanya bagimu, Ron, dan Hermione.'"

Harry menerima peta itu dan nyengir.

"Anda pernah mengatakan kepada saya bahwa Moony, Wormtail, Padfoot, dan Prongs pastilah ingin memikat saya untuk meninggalkan sekolah... Anda katakan mereka pastilah menganggap hal itu lucu."

"Dan memang begitu," kata Lupin, sekarang membungkuk untuk menutup kopernya. "Aku tak ragu mengatakan bahwa James akan kecewa sekali kalau anaknya tidak pernah menemukan salah satu lorong rahasia yang menuju ke luar kastil ini."

Terdengar ketukan di pintu. Harry buru-buru menjejalkan Peta Perampok dan Jubah Gaib ke dalam sakunya.

Profesor Dumbledore-lah yang datang. Dia tak tampak terkejut melihat Harry di sana.

"Keretamu sudah menunggu di gerbang, Remus," katanya.

"Terima kasih, Kepala Sekolah."

Lupin mengangkat koper tuanya dan tangki kosong Grindylow.

"'Nah—selamat tinggal, Harry," katanya, tersenyum. "Aku senang sekali bisa mengajarmu. Aku yakin kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Kepala Sekolah, tak usah mengantar saya ke gerbang. Saya bisa sendiri...."

Harry mendapat kesan Lupin ingin pergi secepat mungkin.

"Selamat jalan, kalau begitu, Remus," kata Dumbledore tenang. Lupin menggeser tangki Grindylow-nya sedikit agar dia dan Dumbledore bisa berjabat tangan. Kemudian, dengan anggukan terakhir kepada Harry, dan senyum sekilas, Lupin meninggalkan kantornya.

Harry duduk di kursi Lupin, menatap lantai dengan sedih. Dia mendengar pintu tertutup dan mendongak. Dumbledore masih ada.

"Kenapa begitu sedih, Harry?" katanya lembut. "Seharusnya kau sangat bangga akan dirimu setelah peristiwa semalam."

"Tak ada bedanya," kata Harry getir. "Pettigrew berhasil lolos."

"Tak ada bedanya?" kata Dumbledore serius. "Besar sekali bedanya, Harry. Kau menyelamatkan orang tak bersalah dari nasib mengerikan."

Mengerikan. Sesuatu berpusar dalam benak Harry. Lebih besar dan lebih mengerikan daripada sebelumnya... ramalan Profesor Trelawney!

"Profesor Dumbledore—kemarin, sewaktu saya ujian Ramalan, Profesor Trelawney menjadi sangat—sangat aneh."

"Begitu?" kata Dumbledore. "Eh—lebih aneh daripada biasanya, maksudmu?"

"Ya... suaranya menjadi dalam dan bola matanya berputar dan dia berkata... dia berkata abdi Voldemort akan berangkat untuk bergabung dengannya sebelum tengah malam... katanya abdinya akan membantunya kembali berkuasa." Harry memandang Dumbledore. "Dan kemudian dia kembali normal lagi, dan dia tak ingat sama sekali apa yang sudah dikatakannya. Apakah—apakah dia membuat ramalan yang sebenarnya?"

Dumbledore tampaknya sedikit terkesan.

"Tahukah kau, Harry, kurasa begitu," katanya seraya berpikir-pikir. "Siapa sangka? Berarti dia telah membuat dua ramalan yang sebenarnya. Aku harus menawarkan kenaikan gaji kepadanya..."

"Tetapi...," Harry memandangnya, terperanjat. Bagaimana mungkin Dumbledore menerimanya setenang ini?

"Tetapi—saya mencegah Sirius dan Profesor Lupin membunuh Pettigrew! Jadi, salah sayalah jika Voldemort kembali berkuasa!"

"Bukan salahmu," kata Dumbledore serius. "Tidakkah pengalamanmu dengan Pembalik-Waktu mengajarimu sesuatu, Harry? Konsekuensi tindakan kita selalu begitu rumit, begitu beragam, sehingga meramalkan masa depan sungguh sangat sulit... Profesor Trelawney adalah bukti hidup semua ini. Kau melakukan hal yang sangat mulia, dengan menyelamatkan hidup Pettigrew."

"Tetapi kalau dia membantu Voldemort kembali berkuasa..."

"Pettigrew berutang nyawa padamu. Kau telah mengirim kepada Voldemort pembantu yang berutang padamu. Kalau ada penyihir menyelamatkan hidup penyihir lainnya, tercipta hubungan khusus di antara mereka... dan aku akan keliru sekali jika Voldemort ingin abdi-abdinya berutang budi pada Harry Potter."

"Saya tak mau punya hubungan dengan Pettigrew!" kata Harry. "Dia mengkhianati orangtua saya!"

"Ini keajaiban dalam bentuk yang paling dalam, paling tak bisa dipahami, Harry. Tetapi percayalah padaku... saatnya akan tiba ketika kau akan senang sekali telah menyelamatkan nyawa Pettigrew."

Harry tak bisa membayangkan kapan saat itu. Dumbledore rupanya tahu apa yang dipikirkan Harry.

"Aku sangat mengenal ayahmu, baik sewaktu di Hogwarts maupun sesudahnya, Harry," katanya lembut. "Dia juga pasti akan menyelamatkan Pettigrew, aku yakin."

Harry mendongak menatapnya. Dumbledore tidak akan tertawa—dia bisa menceritakannya kepada Dumbledore...

"Semalam... saya kira ayah sayalah yang menyihir Patronus. Maksud saya, ketika saya melihat diri saya di seberang danau... saya kira saya melihatnya."

"Kesalahan yang dengan mudah dibuat," kata Dumbledore pelan. "Kurasa kau sudah bosan mendengarnya, tapi kau memang luar biasa mirip James. Kecuali matamu... kau memiliki mata ibumu."

Harry menggelengkan kepala.

"Sungguh bodoh, mengira itu dirinya," gumamnya. "Maksud saya, saya tahu dia sudah meninggal."

"Kaupikir orang-orang yang kita cintai, yang meninggal, benar-benar meninggalkan kita? Menurutmu tidakkah kita malah mengingatnya dengan lebih jelas daripada kapan pun, waktu kita dalam kesulitan besar? Ayahmu hidup dalam dirimu, Harry, dan menunjukkan dirinya paling jelas waktu kau membutuhkannya. Kalau tidak, bagaimana kau bisa membuat Patronus yang khusus itu? Prongs berlarian lagi semalam."

Perlu beberapa saat bagi Harry untuk memahami apa yang dikatakan Dumbledore.

"Sirius menceritakan kepadaku bagaimana mereka menjadi Animagi semalam," kata Dumbledore, tersenyum. "Pencapaian yang luar biasa—lebih-lebih lagi mereka berhasil menyembunyikannya dariku. Dan kemudian aku teringat bentuk Patronus-mu yang sangat unik, ketika dia menerjang Mr Malfoy dalam pertandingan Quidditch-mu melawan Ravenclaw. Jadi, kau memang melihat ayahmu semalam, Harry... kau menemukannya di dalam dirimu."

Dan Dumbledore meninggalkan kantor Lupin, meninggalkan Harry dengan pikirannya yang sangat bingung.

Tak seorang pun di Hogwarts tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam Sirius, Buckbeak, dan Pettigrew menghilang, kecuali Harry, Ron, Hermione, dan Profesor Dumbledore. Menjelang akhir semester, Harry mendengar berbagai teori berbeda tentang apa yang terjadi, tapi tak satu pun yang mendekati yang sebenarnya.

Malfoy berang sekali Buckbeak kabur. Dia yakin Hagrid telah menemukan cara untuk menyelundupkan Buckbeak agar selamat, dan sangat marah bahwa dia dan ayahnya telah diperdaya oleh seorang pengawas binatang liar. Sementara itu, banyak yang ingin dikatakan Percy Weasley tentang lolosnya Sirius.

"Kalau aku berhasil masuk ke Kementerian, aku akan mengajukan banyak usul tentang Pelaksanaan Undang- undang Sihir!" katanya kepada satu-satunya orang, yang mau mendengarkannya—pacarnya, Penelope.

Meskipun cuaca cerah, meskipun suasana gembira, meskipun dia tahu mereka telah berhasil melakukan sesuatu yang nyaris tak mungkin dengan membantu membebaskan Sirius, belum pernah Harry menyongsong akhir tahun ajaran selesu ini.

Dia jelas bukan satu-satunya yang menyesali ke-pergian Profesor Lupin. Seluruh murid Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, yang sekelas dengan Harry, sedih Profesor Lupin mengundurkan diri.

"Kira-kira tahun depan kita dapat guru macam apa, ya?"

kata Seamus Finnigan muram.

"Mungkin vampir," Dean Thomas mengusulkan penuh harap.

Bukan hanya kepergian Profesor Lupin yang memberatkan pikiran Harry. Dia mau tak mau banyak memikirkan ramalan Profesor Trelawney. Dia terus-menerus bertanya-tanya dalam hati, di mana gerangan Pettigrew sekarang, apakah dia sudah mencari perlindungan pada Voldemort. Tetapi yang paling menurunkan semangat Harry adalah bahwa dia harus kembali ke keluarga Dursley. Selama kira-kira setengah jam malam itu, setengah jam yang sangat menyenangkan, dia sudah yakin dia akan tinggal bersama Sirius mulai saat itu... sahabat karib orangtuanya... itu akan merupakan hal terbaik jika dia tak dapat memperoleh kembali ayahnya. Dan sementara tak adanya kabar tentang Sirius jelas berarti kabar baik, karena itu berarti dia telah berhasil bersembunyi, Harry mau tak mau merasa merana kalau memikirkan rumah yang seharusnya dimilikinya, dan kenyataan bahwa sekarang itu tak mungkin.

Hasil ujian diumumkan pada hari terakhir semester. Harry, Ron, dan Hermione lulus semua mata pelajaran. Harry heran dia berhasil lulus Ramuan. Dia punya kecurigaan besar Dumbledore telah turun tangan untuk mencegah Snape tidak meluluskannya dengan sengaja. Sikap Snape terhadap Harry selama seminggu terakhir ini sungguh mencemaskan. Harry tak mengira kebencian Snape terhadapnya bisa lebih besar lagi, tetapi kenyataannya begitu. Sudut bibirnya yang tipis berkedut sangat tidak menyenangkan setiap kali dia memandang Harry, dan dia tak hentinya menekuk-nekuk buku-buku jarinya, seakan sudah gatal ingin menempelkannya di sekeliling leher Harry.

Percy berhasil mendapatkan angka top untuk NEWT-nya. Fred dan George masing-masing berhasil mendapatkan beberapa angka OWL. Asrama Gryffindor sementara itu, berkat penampilan spektakuler di ajang Piala Quidditch, telah memenangkan Piala Asrama untuk ketiga kalinya selama tiga tahun berturut-turut.

Itu berarti bahwa pesta akhir-tahun-ajaran diselenggarakan di tengah dekorasi berwarna merah dan emas, dan bahwa meja Gryffindor adalah meja yang paling ramai, karena semua anak bersuka ria merayakannya. Bahkan Harry berhasil melupakan tentang perjalanan pulang ke rumah keluarga Dursley hari berikutnya sementara dia makan, minum, ngobrol, dan tertawa bersama teman-temannya.

Ketika Hogwarts Express meninggalkan stasiun pagi berikutnya, Hermione memberi berita mengejutkan kepada Harry dan Ron.

"Aku menemui Profesor McGonagall pagi ini, sebelum sarapan. Aku sudah memutuskan untuk melepas Telaah Muggle."

"Tapi kau lulus dengan nilai tiga ratus dua puluh persen!"

kata Ron.

"Aku tahu," Hermione menghela napas, "tapi aku tak tahan lagi menjalani tahun seperti ini. Pembalik-Waktu itu membuatku gila. Sudah kukembalikan. Tanpa Telaah Muggle dan Ramalan, aku akan bisa punya daftar pelajaran normal lagi."

"Aku masih tak percaya kau tidak menceritakan kepada kami soal Pembalik-Waktu itu," kata Ron menggerutu. "Kami ini kan sahabatmu."

"Aku sudah berjanji tidak akan memberitahu siapa pun," kata Hermione keras. Dia menoleh memandang Harry, yang sedang mengawasi Hogwarts menghilang dari pandangan di balik gunung. Dua bulan penuh sebelum dia bisa melihatnya lagi....

"Oh, bergembiralah, Harry!" kata Hermione sedih.

"Aku tak apa-apa' kata Harry cepat-cepat. "Cuma memikirkan liburan."

"Yeah. Aku juga memikirkannya," kata Ron. "Harry, kau harus datang dan menginap di rumah kami. Aku akan bilang Mum dan Dad, kemudian menghubungimu. Aku sudah bisa pakai fellyton sekarang..."

"Telepon, Ron," kata Hermione. "Buset, kau seharusnya mengambil Telaah Muggle tahun depan...."

Ron tidak mengacuhkannya.

"Musim panas ini ada Piala Dunia Quidditch! Bagaimana, Harry? Datang dan menginaplah, dan kita nonton bersama- sama! Dad biasanya bisa dapat karcis dari kantor."

Ajakan ini sangat menyenangkan Harry.

"Yeah... kurasa keluarga Dursley akan senang melepasku pergi... terutama sesudah apa yang kulakukan terhadap Bibi Marge...."

Merasa jauh lebih senang, Harry ikut Ron dan Hermione bermain kartu, dan ketika penyihir dengan troli jualan datang, dia membeli makan siang dalam porsi besar, walaupun tanpa cokelat.

Tetapi baru menjelang sore hari hal yang membuatnya benar-benar bahagia muncul...

"Harry," kata Hermione tiba-tiba, memandang melewati bahu Harry. "Apa itu di luar jendelamu?"

Harry menoleh untuk melihat ke luar. Sesuatu yang sangat kecil berwarna abu-abu naik-turun hilang-hilang timbul di balik kaca jendela. Harry berdiri agar bisa melihat lebih jelas. Ternyata itu burung hantu kecil mungil, membawa surat yang terlalu besar untuknya. Burung hantu ini kecil sekali, sehingga dia berkali-kali terjatuh di udara, terombang-ambing ke sana kemari dalam desingan udara kereta api. Harry cepat-cepat menurunkan jendelanya, menjulurkan tangannya, dan menangkapnya. Rasanya seperti Snitch yang berbulu sangat lebat. Dengan hati-hati dibawanya burung itu ke dalam. Burung hantu itu menjatuhkan suratnya di tempat duduk Harry dan mulai terbang berputar-putar dalam kompartemen mereka, rupanya sangat puas dan senang telah berhasil menjalankan tugasnya. Hedwig mengatupkan paruhnya dengan anggun, seakan mencela. Crookshanks duduk tegak di tempatnya, mengikuti si burung hantu dengan matanya yang kuning besar. Ron, memperhatikan pandangan Crookshanks, menangkap si burung hantu untuk menyelamatkannya.

Harry memungut suratnya. Surat itu dialamatkan kepadanya. Dirobeknya amplopnya dan dia berteriak, "Dari Sirius!"

"Apa?" kata Ron dan Hermione bersemangat. "Baca keras- keras!"

Dear Harry,

Kuharap surat ini kauterima sebelum kau tiba di rumah paman dan bibimu. Aku tak tahu apakah mereka terbiasa dengan pos burung hantu.

Buckbeak dan aku dalam persembunyian. Aku tak akan memberitahumu di mana, siapa tahu surat ini jatuh ke tangan orang yang salah. Aku agak meragukan kemampuan si burung hantu, tetapi dia yang terbaik yang bisa kutemukan, dan dia kelihatannya bersemangat sekali mendapat tugas ini.

Kurasa para Dementor masih mencariku, tapi jangan harap mereka bisa menemukanku di sini. Aku merencanakan akan membiarkan beberapa Muggle melihatku tak lama lagi, jauh dari Hogwarts, supaya pengamanan di kastil bisa ditiadakan.

Ada yang tak sempat kusampaikan kepadamu dalam pertemuan singkat kita. Akulah yang mengirim Firebolt kepadamu...

"Ha!" kata Hermione penuh kemenangan! "Betul, kan! Aku sudah bilang sapu itu dari dia!"

"Ya, tapi dia tidak menyihirnya, kan?" kata Ron. "Ouch!"

Si burung hantu kecil mungil, sekarang beruhu-uhu riang di tangan Ron, telah mematuk salah satu jarinya sebagai tanda sayang.

Crookshanks yang membawa pesananku ke Kantor Burung Hantu. Aku menggunakan namamu, tetapi meminta mereka untuk mengambil uangnya dari lemari besi Gringotts nomor tujuh ratus sebelas—lemari besiku. Anggaplah sapu itu sebagai hadiah ulang tahun selama tiga belas tahun dari walimu.

Aku juga mau minta maaf karena kupikir telah membuatmu ketakutan, pada malam kau meninggalkan rumah pamanmu tahun lalu. Aku waktu itu cuma berharap bisa melihatmu sekilas sebelum memulai perjalananku ke utara, tetapi kurasa melihatku membuatmu kaget.

Aku melampirkan sesuatu yang lain untukmu, yang kurasa akan membuat tahun berikutnya di Hogwarts lebih menyenangkan bagimu.

Kalau kau memerlukanku, kirim saja berita. Burung hantumu akan menemukanku.

Aku akan segera menulis lagi. Sirius.

Dengan penuh semangat Harry menengok ke dalam amplop. Ada secarik perkamen lain di dalamnya. Harry membacanya cepat-cepat dan mendadak merasa hangat dan puas seakan dia baru saja meminum sebotol Butterbeer dalam satu tegukan.

Saya, Sirius Black, wali Harry, dengan ini memberinya izin untuk mengunjungi Hogsmeade pada akhir minggu.

"Ini sudah cukup bagi Dumbledore!" kata Harry senang. Dia melihat kembali surat Sirius. "Tunggu, ada tambahannya..."

Kupikir Ron mungkin mau memelihara burung hantu ini, karena salahkulah dia tak lagi punya tikus.

Mata Ron melebar. Si burung hantu kecil mungil masih beruhu-uhu bersemangat.

"Memeliharanya?" katanya sangsi. Dia mengawasi si burung hantu tajam-tajam sesaat, kemudian, betapa herannya Harry dan Hermione, dia mengulurkannya untuk diendus Crookshanks.

"Bagaimana menurutmu?" Ron menanyai si kucing. "Apa burung hantu asli?"

Crookshanks mendengkur.

"Itu jawaban yang cukup bagiku," kata Ron senang. "Dia milikku."

Harry membaca surat Sirius berulang kali sepanjang sisa perjalanan ke Stasiun King's Cross. Surat itu masih dipeganginya erat-erat ketika dia, Ron, dan Hermione melangkah melewati palang rintangan di peron sembilan tiga perempat. Harry langsung melihat Paman Vernon. Dia berdiri di tempat yang cukup jauh dari Mr dan Mrs Weasley, memandang mereka dengan curiga, dan ketika Mrs Weasley memeluk Harry sebagai sambutan selamat datang, kecurigaan terburuknya terhadap mereka terbukti.

"Aku akan meneleponmu tentang Piala Dunia!" i Ron berteriak di belakang Harry, setelah Harry mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan Hermione, kemudian mendorong troli yang membawa kopernya dan sangkar Hedwig ke arah Paman Vernon, yang menyambutnya dengan gayanya yang biasa.

"Apa itu?" gertaknya, memandang amplop yang masih dipegangi Harry. "Kalau itu formulir lain untuk ditandatangani, jangan harap..."

"Bukan," kata Harry riang. "Ini surat dari waliku."

"Wali?" tanya Paman Vernon gugup. "Kau tak punya wali!"

"Punya saja," kata Harry cerah. "Dia sahabat karib ayah dan ibuku. Dia pembunuh terpidana, tapi berhasil kabur dari penjara sihir dan sedang dalam pelarian. Tapi dia senang berhubungan terus denganku... ingin tahu kabarku... mengecek apakah aku senang...."

Dan seraya nyengir lebar melihat kengerian di wajah Paman Vernon, Harry berjalan ke pintu keluar stasiun. Hedwig merepet di depannya, menyongsong musim panas yang tampaknya akan jauh lebih menyenangkan daripada tahun sebelumnya.

TAMAT

0 Response to "Harry Potter And The Prisioner Of Azkaban 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified