Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Harry Potter And The Order of The Phoenix 3

Mungkin kali berikutnya ... kalau ada kali berikutnya .... Cho akan sedikit lebih

gembira. Dia seharusnya mengajaknya keluar; Cho mungkin telah mengharapkannya

dan sekarang benar-benar marah kepadanya ... atau apakah dia sedang berbaring di

ranjang, masih menangisi Cedric? Dia tidak tahu harus berpikir apa. Penjelasan

Hermione membuat semuanya tampak lebih rumit bukannya lebih mudah dimengerti.

Itulah yang seharusnya mereka ajarkan kepada kami di sini, pikirnya, sambil

berbalik ke samping, bagaimana cara kerja otak anak perempuan ... lagipula akan

lebih berguna daripada Ramalan ...

Neville mendengus dalam tidurnya. Seekor burung hantu beruhu di suatu tempat di

luar pandangan.

Harry bermimpi dia kembali berada di ruangan DA. Cho sedang menuduhnya

memikat dia ke sana dengan alasan-alasan palsu; katanya dia menjanjikannya seratus

lima puluh Kartu Cokelat Kodok kalau dia muncul. Harry protes ... Cho berteriak,

'Cedric memberiku banyak Kartu Cokelat Kodok, lihat!' Dan dia menarik keluar

segenggam penuh Kartu dari bagian dalam jubahnya dan melemparkannya ke udara.

Lalu dia berubah menjadi Hermione, yang berkata, 'Kamu memang berjanji

kepadanya, kau tahu, Harry ... kukira sebaiknya kamu memberinya sesuatu yang lain

sebagai pengganti ... bagaimana kalau Fireboltmu?' Dan Harry protes bahwa dia tidak

bisa memberi Cho Fireboltnya, karena Umbridge menahannya, dan lagipula semua

hal itu menggelikan, dia cuma datang ke ruangan DA untuk memasang beberapa bola

hiasan Natal yang berbentuk seperti kepala Dobby ...

Lalu mimpi itu berubah ...

Tubuhnya terasa licin, bertenaga dan luwes. Dia sedang meluncur di antara batangbatang

logam mengkilat, menyeberangi batu yang dingin dan gelap ... dia rata dengan

lantai, meluncur pada perutnya ... tempat itu gelap, tetapi dia bisa melihat bendabenda

di sekitarnya berkilauan dalam warna-warna aneh dan bergetar ... dia

memalingkan kepalanya ... pada pandangan pertama koridor itu kosong ... tetapi tidak

... seorang lelaki sedang duduk di lantai di depan, dagunya turun ke dadanya, garis

bentuk tubuhnya bersinar dalam gelap ...

Harry menjulurkan lidahnya ... dia merasakan bau lelaki itu di udara ... dia hidup

tetapi mengantuk ... duduk di depan sebuah pintu di ujung koridor itu ...

Harry ingin menggigit lelaki itu ... tapi dia harus menguasai dorongan itu ... dia

punya pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan ...

Tetapi lelaki itu bergerak ... sebuah Jubah perak jatuh dari kakinya ketika dia

melompat bangkit; dan Harry melihat garis bentuk tubuhnya yang bergerak-gerak dan

kabur menjulang tinggi di atasnya, melihat sebuah tongkat ditarik dari sebuah ikat

pinggang ... dia tidak punya pilihan ... dia menaikkan tubuh dari lantai dan menyerang

sekali, dua kali, tiga kali, menghujamkan taring-taringnya dalam-dalam ke daging

lelaki itu, merasakan tulang iganya remuk di bawah rahangnya, merasakan semburan

darah yang hangat ...

Lelaki itu sedang berteriak kesakitan ... lalu dia terdiam ... dia merosot ke belakang

pada dinding ... darah memercik ke lantai ...

Keningnya sakit sekali ... sakit seperti akan meledak ...

'Harry! HARRY!'

Dia membuka matanya. Setiap inci tubuhnya tertutup keringat sedingin es;

sepreinya terpelintir di sekelilingnya seperti jaket pengikat, dia merasa seolah-olah

besi pengorek api yang panas sekali sedang dilekatkan ke keningnya.

'Harry!'

Ron sedang berdiri di atasnya terlihat benar-benar ketakutan. Ada lebih banyak

figur di kaki ranjang Harry. Dia mencengkeram kepalanya dengan tangan; rasa sakit

itu membutakannya ... dia bergulung ke kanan dan muntah ke tepi kasur.

'Dia benar-benar sakit,' kata sebuah suara takut. 'Apakah kita harus memanggil

seseorang?'

'Harry! Harry!'

Dia harus memberitahu Ron, sangat penting bahwa dia memberitahunya ... sambil

menghirup udara banyak-banyak, Harry mendorong dirinya sendiri bangkit di tempat

tidur, memaksa dirinya tidak muntah lagi, rasa sakit itu setengah membutakannya.

'Ayahmu,' dia terengah-engah, dadanya turun-naik. 'Ayahmu ... diserang ...'

'Apa?' kata Ron tidak mengerti.

'Ayahmu! Dia digigit, serius, ada darah di mana-mana ...'

'Aku akan mencari bantuan,' kata suara takut yang sama, dan Harry mendengar

langkah-langkah kaki keluar dari kamar asrama.

'Harry, sobat,' kata Ron tidak yakin, 'kau ... kau cuma bermimpi ...'

'Tidak!' kata Harry dengan marah; penting bahwa Ron mengerti.

'Itu bukan mimpi ... bukan mimpi biasa ... aku ada di sana, aku melihatnya ... aku

melakukannya ...'

Dia bisa mendengar Seamus dan Dean bergumam tetapi tidak peduli. Rasa sakit di

keningnya agak berkurang, walaupun dia masih berkeringat dan gemetaran hebat. Dia

muntah lagi dan Ron melompat mundur menjauh.

'Harry, kau tidak sehat,' katanya bergetar. 'Neville sudah pergi mencari bantuan.'

'Aku baik-baik saja!' Harry tersedak, menyeka mulutnya pada piyamanya dan

gemetaran tak terkendali. 'Tak ada yang salah denganku, ayahmu yang harus kau

khawatirkan -- kita perlu mencari tahu di mana dia -- dia berdarah hebat -- aku -- itu

seekor ular besar.'

Dia mencoba keluar dari tempat tidur tetapi Ron mendorongnya kembali; Dean dan

Seamus masih berbisik-bisik di suatu tempat di dekat situ. Apakah satu menit berlalu

atau sepuluh menit, Harry tidak tahu; dia hanya duduk di sana gemetaran, merasakan

sakit yang pelan-pelan surut dari bekas lukanya ... lalu ada langkah-langkah kaki

bergegas menaiki tangga dan dia mendengar suara Neville lagi.

'Sebelah sini, Profesor.'

Profesor McGonagall datang dengan bergegas ke dalam kamar asrama itu

mengenakan jubah panjang kotak-kotaknya, kacamatanya bertengger miring di batang

hidung kurusnya.

'Ada apa, Potter? Di mana yang sakit?'

Dia belum pernah begitu senang berjumpa dengannya; yang dia butuhkan sekarang

adalah seorang anggota Order of Phoenix, bukan seseorang yang mencerewetinya dan

meresepkan ramuan-ramuan tak berguna.

'Ayah Ron,' katanya sambil duduk lagi. 'Dia diserang seekor ular dan masalahnya

serius, aku melihatnya terjadi.'

'Apa maksudmu, kau melihatnya terjadi?' kata Profesor McGonagall, alisnya yang

gelap bertaut.

'Aku tidak tahu ... aku sedang tidur dan kemudian aku ada di sana ...'

'Maksudmu kau memimpikan ini?'

'Tidak!' kata Harry dengan marah; tak adakah dari mereka yang akan mengerti?

'Awalnya aku sedang bermimpi tentang sesuatu yang benar-benar berbeda, sesuatu

yang bodoh ... dan lalu ini memotongnya. Itu nyata, aku tidak membayangkannya. Mr

Weasley sedang tertidur di atas lantai dan dia diserang oleh seekor ular raksasa, ada

banyak darah, dia jatuh, seseorang harus mencari tahu di mana dia ...'

Profesor McGonagall sedang menatapnya melalui kacamatanya yang miring

seolah-olah ngeri akan apa yang sedang dilihatnya.

'Aku tidak sedang berbohong dan aku tidak gila!' Harry memberitahunya, suaranya

meninggi menjadi teriakan. 'Kuberitahu Anda, aku melihatnya terjadi!'

'Aku percaya padamu, Potter,' kata Profesor McGonagall pendek. 'Kenakan jubah

panjangmu -- kita akan menemui Kepala Sekolah.'

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH DUA --

Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka Sihir

Harry sangat lega dia menanggapinya dengan serius sehingga dia tidak ragu-ragu,

tetapi langsung melompat dari tempat tidur, menarik jubah longgarnya dan

menekankan kacamatanya kembali ke hidungnya.

'Weasley, kamu harus ikut juga,' kata Profesor McGonagall.

Mereka mengikuti Profesor McGonagall melewati figur-figur diam dari Neville,

Dean dan Seamus, keluar asrama, menuruni tangga-tangga spiral ke dalam ruang

duduk, melalui lubang potret dan menyusuri koridor Nyonya Gemuk yang diterangi

bulan. Harry merasa seakan-akan kepanikan di dalam dirinya dapat meluap setiap

waktu; dia ingin berlari, berteriak kepada Dumbledore; Mr Weasley sedang

mengalami pendarahan sementara mereka berjalan dengan tenangnya, dan bagaimana

jika taring-taring itu (Harry mencoba keras untuk tidak berpikir 'taring-taringku')

beracun? Mereka melewati Mrs Norris, yang mengalihkan matanya yang seperti

lampu ke arah mereka dan mendesis pelan, tetapi Profesor McGonagall berkata,

'Shoo!' Mrs Norris menyelinap pergi ke dalam bayangan, dan dalam beberapa menit

mereka telah mencapai gargoyle batu yang menjaga pintu masuk ke kantor

Dumbledore.

'Kumbang Berdesing,' kata Profesor McGonagall.

Gargoyle itu menjadi hidup dan melompat ke samping; dinding di belakangnya

terbelah menjadi dua dan menyingkapkan tangga spiral yang terus berputar ke atas

seperti sebuah eskalator spiral. Ketiganya melangkah ke atas tangga bergerak; dinding

menutup di belakang mereka dengan suara gedebuk dan mereka bergerak ke atas

dalam lingkaran rapat sampai mereka mencapai dinding kayu ek yang terpelitur halus

dengan pengetuk kuningan yang berbentuk seekor griffin.

Walaupun sudah lewat tengah malam ada suara-suara yang datang dari dalam

ruangan, sejumlah banyak celotehan. Kedengarannya seakan-akan Dumbledore

sedang menjamu sedikitnya selusin orang.

Profesor McGonagall mengetuk tiga kali dengan pengetuk griffin itu dan suarasuara

mendadak berhenti seakan-akan seseorang telah mematikan saklarnya. Pintu

terbuka sendiri dan Profesor McGonagall menuntun Harry dan Ron ke dalam.

Ruangan itu setengah gelap; instrumen-instrumen perak aneh yang terletak di atas

meja-meja diam dan tidak bergerak bukannya bergolak dan mengeluarkan embusan

asap seperti yang biasa mereka lakukan; potret-potret para kepala sekolah terdahulu

yang menutupi dinding-dinding sedang mendengkur dalam bingkai mereka. Di balik

pintu, seekor butung berwarna merah dan emas seukuran angsa tertidur pada tempat

bertenggernya dengan kepala di bawah sayap.

'Oh, ternyata Anda, Profesor McGonagall ... dan ... ah.'

Dumbledore sedang duduk di atas sebuah kursi bersandaran tinggi di belakang

meja tulisnya; dia mencondongkan badannya ke depan ke dalam cahaya lilin yang

menerangi kertas-kertas yang terbentang di hadapannya. Dia mengenakan jubah

longgar berwarna ungu dan emas yang penuh bordiran di atas baju tidur seputih salju,

tetapi kelihatan belum mengantuk, mata biru cerahnya yang tajam menatap Profesor

McGonagall.

'Profesor Dumbledore, Potter mengalami, ... well, mimpi buruk,' kata Profesor

McGonagall. 'Katanya ...'

'Itu bukan mimpi buruk,' kata Harry cepat.

Profesor McGonagall berpaling menatapnya, sedikit merengut.

'Baiklah, Potter, ceritakan kepada Kepala Sekolah mengenainya.'

'Aku ... well, aku sedang tidur ...' kata Harry dan, bahkan dalam ketakutan dan

keputus-asaannya untuk membuat Dumbledore mengerti, dia merasa sedikit dongkol

bahwa Kepala Sekolah tidak melihat kepadanya, tetapi memeriksa jari-jarinya yang

dikaitkan. 'Tapi itu bukan mimpi biasa ... itu benar-benar terjadi ... aku lihat

kejadiannya ...' Dia mengambil napas dalam-dalam, 'Ayah Ron -- Mr Weasley -- telah

diserang oleh ular raksasa.'

Kata-kata itu sepertinya bergaung di udara setelah dikatakan, kedengaran sedikit

konyol, bahkan lucu. Ada jeda di mana Dumbledore menyandar ke belakang dan

menatap langit-langit sambil merenung. Ron melihat dari Harry ke Dumbledore,

wajahnya putih dan kelihatan terguncang.

'Bagaimana kamu melihat hal ini?' Dumbledore bertanya dengan pelan, masih tidak

melihat ke arah Harry.

'Well ... Aku tidak tahu,' kata Harry, agak marah -- apa pentingnya itu? 'Di dalam

kepalaku, kurasa --'

'Kamu salah mengerti,' kata Dumbledore, masih dalam nada tenang yang sama.

'Maksudku ... dapatkah kau ingat -- er -- di maan posisimu selagi kamu menyaksikan

serangan ini terjadi? Apakah kamu mungkin berdiri di samping korban, atau melihat

ke bawah pada adegan itu dari atas?'

Ini adalah pertanyaan yang sangat aneh sehingga Harry terkesiap pada

Dumbledore; hampir seakan-akan dia tahu ...

'Akulah ularnya,' dia berkata. 'Aku melihat semuanya dari sudut pandang si ular.'

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat, lalu Dumbledore, sekarang melihat

kepada Ron yang masih berwajah pucat, bertanya dalam suara yang lebih tajam,

'Apakah Arthur terluka parah?'

'Ya,' kata Harry dengan sungguh-sungguh -- mengapa mereka semua sangat lambat

mengerti, apakah mereka tidak sadar berapa banyak darah yang mengucur jika taringtaring

sepanjang itu menusuk tubuh mereka? Dan mengapa Dumbledore tidak

menunjukkan sopan-santun dengan melihat ke arahnya?

Tetapi Dumbledore berdiri, demikian cepatnya sampai Harry terlompat, dan

berbicara kepada salah satu potret tua yang tergantung sangat dekat ke langit-langit.

'Everard?' dia berkata dengan tajam. 'Dan kamu juga, Dilys!'

Seorang penyihir pria berwajah pucat dengan poni hitam pendek dan seorang

penyihir wanita tua dengan ikat-ikal panjang keperakan dalam bingkai di sampingnya,

keduanya tampak sedang tertidur lelap, membuka mata mereka dengan segera.

'Kalian mendengarkan?' kata Dumbledore.

Si penyihir pria mengangguk; yang wanita berkata, 'Tentu saja.'

'Lelaki itu berambut merah dan berkacamata,' kata Dumbledore. 'Everard, kamu

harus menyalakan tanda bahaya, pastikan dia ditemukan oleh orang-orang yang tepat -

-'

Keduanya mengangguk dan berpindah ke samping keluar dari bingkai mereka,

tetapi bukannya muncul di lukiasn-lukisan tetangganya (seperti yang biasa terjadi di

Hogwarts) tidak satupun muncul kembali. Salah satu bingkai sekarang tidak bingkai

apapun kecuali gorden gelap di latar belakang, bingkai yang satunya lagi sebuah kursi

berlengan yang indah. Harry memperhatikan bahwa banyak dari kepala sekolah

lainnya di dinding, walaupun mendengkur dan meneteskan liur dengan sangat

meyakinkan, terus mengintip ke arahnya dari bawah kelopak mata mereka, dan dia

tiba-tiba mengerti siapa yang sedang berbicara ketika mereka mengetuk pintu.

'Everard dan Dilys adalah dua di antara Kepala Hogwarts yang paling ternama,'

Dumbledore berkata, sekarang berjalan mengitari Harry, Ron dan Profesor

McGonagall untuk mendekati burung indah yang sedang tidur di tempat

bertenggernya di samping pintu. 'Kemashyuran mereka sedemikian rupa sehingga

keduanya memiliki potret yang bergantung di institusi-institusi sihir penting lainnya.

Karena mereka bebas berpindah antar potret mereka sendiri, mereka dapat

memberitahu kita apa yang mungkin terjadi di tempat lain ...'

'Tetapi Mr Weasley dapat berada di mana saja!' kata Harry.

'Silahkan duduk, kalian bertiga,' kata Dumbledore, seakan-akan Harry tidak

berbicara sama sekali, 'Everard dan Dilys mungkin tidak akan kembali dalam

beberapa menit. Profesor McGonagall, jika Anda bersedia mendatangkan kursi-kursi

tambahan.'

Profesor McGonagall menarik tongkatnya keluar dari jubah longgarnya dan

melambaikannya; tiga kursi muncul di udara, dengan sandaran tegak dan terbuat dari

kayu, sama sekali lain dengan kursi berlengan nyaman dengan kain cita yang disihir

Dumbledore di acara dengar pendapat Harry. Harry duduk, memandangi Dumbledore

dari balik bahunya. Dumbledore sekarang sedang mengelus kepala Fawkes yang

berbulu halus keemasan dengan satu jari. Burung phoenix itu terbangun dengan

segera. Dia merentangkan kepalanya yang indah tinggi-tinggi dan memandangi

Dumbledore melalui mata gelap yang cemerlang.

'Kami akan butuh,' Dumbledore berkata sangat pelan kepada burung itu, 'sebuah

peringatan.'

Ada kilasan api dan burung phoenix itu pergi.

Dumbledore sekarang berjalan ke salah satu instrumen perak yang mudh pecah

yang kegunaannya belum pernah diketahui Harry, membawanya ke meja tulisnya,

duduk menghadap mereka lagi dan mengetuknya dengan pelan menggunakan ujung

tongkatnya.

Instrumen itu seketika menjadi hidup dengan bunyi denting yang berirama.

Gumpalan kekil asap hijau muncul dari tabung perak yang amat kecil di puncaknya.

Dumbledore memperhatikan asap itu dengan seksama, alisnya mengerut. Setelah

beberapa detik, gumpalan-gumpalan kecil tersebut menjadi aliran asap yang kuat yang

menebal dan bergelung di udara ... kepala seekor ular tumbuh di ujungnya, membuka

mulut lebar-lebar. Harry mengira-ngira apakan instrumen tersebut membenarkan

ceritanya: dia melihat dengan tidak sabar kepada Dumbledore untuk mencari tandatanda

bahwa dirinya benar, tetapi Dumbledore tidak melihat ke atas.

'Tentu saja, tentu saja,' gumam Dumbledore tampaknya kepada diri sendiri, masih

memandangi aliran asap tanpa tanda-tanda keterkejutan sama sekali. 'Tetapi

intisarinya terbagi?'

Harry sama sekali tidak mengerti arti pertanyaan itu. Akan tetapi, ular berasap itu

membelah diri seketika menjadi dua ekor ular, keduanya bergelung dan bergoyang

seperti ombak di udara yang gelap. Dengan pandangan puas yang suram, Dumbledore

mengetuk instrumen itu sekali lagi dengan tongkatnya: bunyi denting semakin pelan

dan menghilang dan ular berasap memudar, menjadi kabut yang tidak berbentuk dan

menghilang.

Dumbledore mengembalikan instrumen tersebut ke atas meja kecil berkaki

panjangnya. Harry melihat banyak dari kepala sekolah lama dalam potret-potret

mereka mengikuti dia dengan mata mereka, lalu, menyadari bahwa Harry sedang

mengamati mereka, cepat-cepat berpura-pura tidut lagi. Harry ingin bertanya apa

kegunaan instrumen perak aneh itu, tetapi sebelum dia dapat melakukannya, ada

teriakan dari bagian atas dinding di sebelah kanan mereka; penyihir yang disebut

Everard telah muncul kembali ke dalam potretnya, sedikit terengah-engah.

'Dumbledore!'

'Ada berita apa?' kata Dumbledore segera.

'Aku berteriak sampai seseorang datang sambil berlari,' kata si penyihir, yang

sedang mengelap alisnya pada tirai di belakangnya, 'berkata kudengar sesuatu

bergerak di lantai bawah -- mereka tidak yakin apakah harus percaya padaku tetapi

turun juga untuk mengecek -- kamu 'kan tahu tidak ada potret di bawah sana untuk

menyaksikannya. Namun demikian, mereka membawanya ke atas beberapa menit

kemudian. Dia tidak tampak baik, dia penuh darah, aku berlari ke potret Elfrida Cragg

untuk mendapatkan pandangan yang utuh sewaktu mereka pergi --'

'Bagus,' kata Dumbledore sementara Ron membuat gerakan menggelepar. 'Kurasa

Dilys pasti telah melihatnya tiba, lalu --'

Dan sejenak kemudian, penyihir wanita berikal keperakan itu juga telah muncul

kembali ke dalam lukisannya, dia terhenyak, batuk-batuk, ke dalam kursi

berlengannya dan berkata, 'Ya, mereka telah membawanya ke St Mungo, Dumbledore

... mereka membawanya melewati potretku ... dia tampak parah ...'

'Terima kasih,' kata Dumbledore. Dia memandang ke sekitar ke arah Profesor

McGonagall.

'Minerva, aku perlu kamu pergi dan membangunkan anak-anak Weasley yang lain.'

'Tentu saja ...'

Profesor McGonagall bangkit dan bergerak cepat menuju pintu. Harry

melayangkan pandangan ke samping kepada Ron, yang terlihat ketakutan.

'Dan Dumbledore -- bagaimana dengan Molly?' kata Profesor McGonagall,

berhenti sejenak di pintu.

'Itu adalah tugas Fawkes ketika dia selesai berjaga-jaga terhadap siapapun yang

mendekat,' kata Dumbledore. 'Tetapi dia mungkin sudah tahu ... jamnya yang ulung

itu ...'

Harry tahu Dumbledore sedang membicarakan jam yang memberitahu, bukan

waktu, tetapi keberadaan dan kondisi berbagai anggota keluarga Weasley, dan dengan

kepedihan tiba-tiba dia berpikir bahwa jarum Mr Weasley pastilah, bahkan sekarang,

menunjuk ke bahaya maut. Tetapi hari sudah sangat malam. Mrs Weasley mungkin

sudah tertidur, tidak memperhatikan jam itu. Harry merasa dingin sewaktu dia

mengingat Boggart Mrs Weasley yang berubah menjadi tubuh tidak bernyawa Mr

Weasley, kacamatanya miring, darah bercucuran di wajahnya ... tetapi Mr Weasley

tidak akan mati ... dia tidak mungkin ...

Dumbledore sekarang menggeledah sebuah lemari di belakang Harry dan Ron. Dia

keluar dari lemari itu sambil membawa sebuah ketel tua yang telah menghitam, yang

diletakkannya dengan hati-hati dia atas meja tulisnya. Dia menaikkan tongkatnya dan

bergumam, 'Portus!' Sejenak ketel itu bergetar, mengeluarkan cahaya biru yang aneh;

lalu bergetar diam, masih sehitam dulu.

Dumbledore berjalan ke potret lainnya, kali ini seorang peyihir pria berwajah

cerdas dengan janggut runcing, yang telah dilukis mengenakan warna-warna Slytherin

hijau dan perak dan tampaknya sedang tertidur begitu lelapnya sehingga dia tidak bisa

mendengar suara Dumbledore sewaktu mencoba membangunkannya.

'Phineas. Phineas.'

Subyek potret-potret yang berbaris di ruangan itu tidak lagi berpura-pura tidur;

mereka bergeser-geser dalam bingkai mereka, supaya melihat apa yang sedang terjadi

dengan baik. Ketika penyihir berwajah cerdas itu terus berpura-pura tertidur, beberapa

dari mereka meneriakkan namanya juga.

'Phineas! Phineas! PHINEAS!'

Dia tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi; dia memberi sentakan yang dibuat-buat

dan membuka matanya lebar-lebar.

'Apakah ada yang memanggil?'

'Aku perlu kamu mengunjungi potretmu yang satu lagi, Phineas,' kata Dumbledore.

'Aku punya pesan lain.'

'Mengunjungi potretku yang lain?' kata Phineas dengan suara nyaring,

mengeluarkan kuap panjang yang palsu (matanya jelalatan ke seluruh ruangan dan

berfokus pada Harry). 'Oh, tidak, Dumbledore, aku terlalu lelah malam ini.'

Sesuatu mengenai suara Phineas terasa akrab bagi Harry, di mana pernah

didengarnya? Tetapi sebelum dia sempat berpikir, potret-potret pada dinding-dinding

yang mengelilingi mengeluarkan serangan protes.

'Ketidakpatuhan, sir!' raung seorang penyihir gemuk berhidung merah, sambil

memamerkan kepalan tangannya. 'Kelalaian melakukan tugas!'

'Kita terikat kehormatan untuk memberi jasa kepada Kepala Sekolah Hogwarts

yang sekarang!' teriak seorang penyihir tua yang tampak rapuh yang dikenali Harry

sebagai pendahulu Dumbledore, Armando Dippet. 'Seharusnya kamu malu, Phineas!'

'Haruskah aku membujuknya, Dumbledore?' panggil seorang penyihir wanita

bermata jelalatan, mengangkat sebuah tongkat yang ketebalannya tidak biasa yang

mirip cambuk dari kayu birch.

'Oh, baiklah,' kata penyihir yang dipanggil Phineas, menatap tongkat itu dengan

pengertian, 'walaupun dia mungkin telah menghancurkan lukisanku sekarang, dia

telah membuang sebagian besar anggota keluarga --'

'Sirius tahu betul untuk tidak menghancurkan potretmu,' kata Dumbledore, dan

Harry segera menyadari di mana dia telah mendengar suara Phineas sebelumnya:

muncul dari bingkai yang tampak kosong di dalam kamar tidurnya di Grimmauld

Place. 'Kamu harus memberi pesan bahwa Arthur Weasley telah terluka parah dan

bahwa istri, anak-anaknya dan Harry Potter akan segera tiba di rumahnya. Mengerti?'

'Arthur Weasley, terluka, istri dan anak-anak dan Harry Potter akan menginap,'

ulang Phineas dengan suara bosan. 'Ya, ya ... baiklah ...'

Dia menukik ke bingkai potret dan menghilang dari pandangan pada saat yang

sama dengan terbukanya kembali pintu ruang kerja tersebut. Fred, George dan Ginny

diantarkan ke dalam oleh Profesor McGonagall, ketiganya tampak acak-acakan dan

terguncang, masih dalam pakaian tidur mereka.

'Harry -- apa yang terjadi?' tanya Ginny, yang terlihat ketakutan. 'Profesor

McGonagall bilang kamu melilhat Dad terluka --'

'Ayah kalian telah terluka selama dia bekerja bagi Order of the Phoenix,' kata

Dumbledore, sebelum Harry dapat berbicara. 'Dia telah dibawa ke Rumah Sakit St

Mungo untuk Penyakit dan Luka Sihir. Aku akan mengirim kalian kembali ke rumah

Sirius, yang jauh lebih dekat ke rumah sakit daripada The Burrow. Kalian akan

bertemu ibu kalian di sana.'

'Bagaimana caranya kami pergi?' tanya Fred, terlihat gemetar. 'Bubuk Floo?'

'Bukan,' kata Dumbledore, 'Bubuk Floo tidak aman saat ini, Jaringannya sedang

diawasi. Kalian akan menggunakan Portkey.' Dia menunjuk ketel tua yang tergeletak

di atas meja tulisnya. 'Kita hanya sedang menunggu Phineas Nigellus melapor

kembali ... Aku ingin meyakinkan bahwa semuanya aman sebelum mengirim kalian --

'

Ada kilatan api di tengah kantor, meninggalkan sehelai bulu keemasan yang

melayang dengan lembut ke lantai.

'Itu peringatan Fawkes,' kata Dumbledore, menangkap jatuhnya bulu itu. 'Profesor

Umbridge pasti telah tahu kalian tidak berada di tempat tidur kalian ... Minerva,

pergilah dan cegat dia -- buatlah cerita apa saja --'

Profesor McGonagall telah pergi bersama kibasan tartan.

'Katanya dia akan senang,' kata sebuah suara bosan di belakang Dumbledore;

penyihir yang dipanggil Phineas telah muncul kembali di depan panji Slytherinnya.

'Cicit piutku selalu punya selera yang aneh dalam memilih tamu rumah.'

'Kalau begitu, kemarilah,' Dumbledore berkata kepada Harry dan para Weasley.

'Dan cepatlah, sebelum yang lain bergabung dengan kita.'

Harry dan yang lainnya berkumpul di sekeliling meja tulis Dumbledore.

'Kalian semua sudah pernah menggunakan Portkey sebelumnya?' tanya

Dumbledore, dan mereka mengangguk, masing-masing menggapai untuk menyentuh

sebagian ketel menghitam itu. 'Bagus. Pada hitungan ketiga, ... satu ... dua ...'

Kejadiannya sepersekian detik: pada jeda yang sangat singkat sebelum Dumbledore

berkata 'tiga', Harry melihat ke atas kepadanya -- mereka sangat dekat -- dan

pandangan biru jernih Dumbledore berpindah dari Portkey ke wajah Harry.

Seketika, bekas luka Harry terbakar panas sekali, seakan-akan luka lama yang telah

terbuka lagi -- dan tanpa diperintah, tanpa diminta, tetapi dengan sangat kuat, di

dalam diri Harry timbul kebencian yang sangat kuat, sehingga untuk sejenak, dia

merasa dia tidak menginginkan apapun daripada menyerang -- menggigit --

membenamkan taring-taringnya ke dalam lelaki di hadapannya --

'... tiga. '

Harry merasakan sentakan kuat di balik pusarnya, tanah menghilang dari balik

kakinya, tangannya terpancang pada ketel itu; dia terbentur yang lainnya ketika

mereka semua mempercepat ke dalam pusaran warna dan deru angin, ketel itu

menarik mereka maju ... sampai kakinya menghantam tanah, dan di suatu tempat yang

dekat sebuah suara berkata:

'Balik lagi, anak bandel darah-pengkhianat. Benarkan ayah mereka sekarat?'

'KELUAR!' raung suara kedua.

Harry berjuang berdiri dan melihat sekeliling; mereka telah tiba di dapur bawah

tanah yang suram di nomor dua belas, Grimmauld Place. Satu-satunya sumber cahaya

adalah api dan sebuah lilin yang bergoyang-goyang, yang menerangi sisa-sisa dari

makan malam sendirian. Kreacher sedang menghilang lewat pintu ke aula, melihat

balik kepada mereka dengan dengki sementara dia menyentak naik kain cawatnya;

Sirius sedang menyuruh mereka bergegas, tampak cemas. Dia tidak bercukur dan

masih mengenakan baju sehari-hari; ada juga sedikit bau minuman apak seperti

Mundungus pada dirinya.

'Apa yang terjadi?' dia berkata, merentangkan satu tangan untuk membantu Ginny

naik. 'Phineas Nigellus bilang Arthur terluka parah --'

'Tanya Harry,' kata Fred.

'Yeah, aku sendiri ingin mendengarnya,' kata George.

Si kembar dan Ginny sedang menatapnya. Langkah-langkah kaki Kreacher telah

terhenti di tangga di luar.

'Begini --' Harry mulai; ini bahkan lebih buruk daripada memberitahu McGonagall

dan Dumbledore. 'Aku mendapatkan -- semacam -- penglihatan ..'

Dan dia memberitahu mereka semua yang telah dia lihat, walaupun dia mmengubah

cerita itu sehingga kedengarannya seakan-akan dia telah menyaksikan dari samping

ketika ular itu menyerang, bukannya dari belakang mata ular itu sendiri. Ron, yang

masih sangaat putih, memandangnya sekilas, tetapi tidak berbicara. Ketika Harry

telah selesai, Fred, George dan Ginny terus menatapnya sejenak. Harry tidak tahu

apakah dia hanya membayangkan atau tidak, tetapi dia merasa ada sesuatu yang

menuduh dalam pandangan mereka. Well, jika mereka akan menyalahkan dia hanya

karena melihat penyerangan itu, dia senang dia tidak memberitahu mereka bahwa dia

telah berada di dalam ular itu pada saat itu.

'Apakah Mum ada di sini?' kata Fred, menoleh kepada Sirius.

'Dia mungkin bahkan belum tahu apa yang terjadi,' kata Sirius. 'Yang penting

adalah mengeluarkan kalian sebelum Umbridge dapat turut campur. Kukira

Dumbledore sedang memberitahu Molly sekarang.'

'Kami harus pergi ke St Mungo,' kata Ginny mendesak. Dia melihat sekeliling

kepada kakak-kakaknya; mereka tentu saja masih mengenakan piama mereka. 'Sirius,

dapatkah kamu meminjamkan kami mantel atau apapun?'

'Tunggu dulu, kalian tidak bisa menyerbu St Mungo begitu saja!' kata Sirius.

'Tentu kami bisa pergi ke St Mungo kalau kami mau,' kata Fred, dengan ekspresi

keras kepala. 'Dia ayah kami!'

'Dan bagaimana kalian akan menjelaskan cara kalian tahu bahwa Arthur diserang

bahkan sebelum pihak rumah sakit memberitahu istrinya?'

'Apa pentingnya itu?' kata George penuh semangat.

'Itu penting karena kita tidak ingin menarik perhatian pada kenyataan bahwa Harry

mengalami penglihatan mengenai hal-hal yang terjadi ratusan mil jauhnya!' kata

Sirius dengan marah. 'Tahukah kalian apa yang bisa dibuat Kementerian Sihir dengan

informasi itu?'

Fred dan George kelihatan seakan-akan mereka sama sekali tidak peduli apa yang

bisa dibuat Kementerian dengan apapun juga. Ron masih berwajah kelabu dan tidak

bersuara.

Ginny berkata, 'Orang lain dapat saja memberitahu kami ... kami bisa saja

mendengarnya dari tempat lain selain Harry.'

'Seperti siapa?' kata Sirius tidak sabaran. 'Dengar, ayah kalian terluka ketika

bertugas demi Order. Keadaannya sudah cukup mencurigakan tanpa anak-anaknya

mengetahui kejadian itu beberapa detik setelah terjadinya. Kalian dapat sungguhsungguh

membahayakan Order.'

'Kami tidak peduli mengenai Order bodoh itu!' teriak Fred.

'Yang sedang kita bicarakan adalah ayah kami yang sedang sekarat!' pekik George.

'Ayah kalian tahu apa yang dimasukinya dan dia tidak akan berterima kasih kepada

kalian karena mengacaukan hal-hal untuk Order!' kata Sirius, sama marahnya.

'Beginilah keadaanya -- ada hal-hal yang pantas diperjuangkan hingga mati!'

'Mudah bagimu bicara, diam di sini saja!' teriak Fred. 'Aku tidak melihatmu

meresikokan lehermu!'

Sedikit warna yang tertinggal di wajah Sirius terkuras darinya. Sejenak dia tampak

seolah-olah ingin memukul Fred, tetapi ketika dia berbicara, suaranya tenang.

'Aku tahu ini sulit, tetapi kita semua harus bertindak seolah-olah kita belum tahu

apa-apa. Kita harus diam di sini, setidaknya sampai kita mendengar kabar dari ibu

kalian, setuju?'

Fred dan George masih tampak memberontak. Namun Ginny mengambil beberapa

langkah ke kursi terdekat dan menghempaskan diri ke atasnya. Harry melihat kepada

Ron, yang membuat gerakan aneh antara mengangguk dan mengangkat bahu, dan

mereka juga duduk. Si kembar membelalak pada Sirius satu menit lagi, lalu

mengambil tempat duduk di kedua sisi Ginny.

'Begitulah yang benar,' kata Sirius membesarkan hati, 'ayolah, mari semua ... mari

semua minum dulu selagi kita menunggu. Accio Butterbeer!'

Dia mengangkat tongkatnya sewaktu berbicara dan setengah lusin botol terbang

menuju mereka dari ruang penyimpanan, meluncur di atas meja, menghamburkan

sisa-sisa makanan Sirius, dan berhenti dengan rapi di depan mereka berenam. Mereka

semua minum, dan selama beberapa waktu satu-satunya suara yang ada adalah derak

api dapur dan hantaman lembut botol-botol mereka ke meja.

Harry hanya minum agar punya sesuatu untuk dilakukan dengan tangan-tangannya.

Perutnya penuh dengan rasa bersalah yang panas menggelembung. Mereka tidak akan

berada di sini kalau bukan karena dia; mereka semua pasti sedang tertidur di tempat

tidur. Dan tidaklah baik memberitahu dirinya sendiri bahwa dengan mengumumkan

bahaya dia telah menjamin bahwa Mr Weasley ditemukan, karena ada juga urusan

yang tidak bisa dihindari bahwa dialah yang telah menyerang Mr Weasley dari awal.

Jangan bodoh, kamu tidak punya taring, dia memberitahu dirinya sendiri, mencoba

untuk tetap tenang, walaupun tangan pada botol Butterbeernya bergetar, kamu sedang

berbaring di tempat tidur, kamu tidak sedang menyerang siapapun.

Tapi kalau begitu, apa yang baru saja terjadi di kantor Dumbledore? Dia bertanya

pada dirinya sendiri. Aku merasa seolah aku ingin menyerang Dumbledore juga ...

Dia meletakkan botol sedikit lebih keras daripada yang dimaksudkannya, dan botol

itu tumpah ke atas meja. Tidak seorangpun memperhatikan. Lalu seberkas api di

udara menerangi piring-piring kotor di depan mereka dan, ketika mereka

mengeluarkan jeritan karena terguncang, segulung perkamen jatuh dengan bunyi

keras ke atas meja, diikuti dengan sehelai bulu ekor phoenix keemasan.

'Fawkes!' kata Sirius seketika, sambil menyambar perkamen itu. 'Itu bukan tulisan

Dumbledore -- pastilah pesan dari ibu kalian -- ini --'

Dia menyorongkan surat itu ke tangan George, yang merobeknya hingga terbuka

dan membaca keras-keras: 'Dad masih hidup. Aku sedang menuju St Mungo

sekarang. Tetap di tempat kalian berada. Aku akan mengirimkan kabar secepat aku

bisa. Mum'

George melihat ke sekeliling meja.

'Masih hidup ...' dia berkata pelan-pelan. 'Tapi itu membuatnya kedengaran ...'

Dia tidak perlu menyelesaikan kalimat itu. Bagi Harry, kedengarannya juga seakanakan

Mr Weasley sedang melayang-layang di suatu tempat antara hidup dan mati.

Masih luar biasa pucat, Ron menatap ke balik surat ibunya seolah-olah surat itu bisa

mengutarakan kata-kata penghiburan kepadanya. Fred menarik perkamen itu dari

tangan George dan membacakannya pada dirinya sendiri, lalu memandang ke Harry,

yang merasa tangannya bergetar pada botol Butterbeernya lagi dan menggenggamnya

lebih erat untuk mencegah getaran itu.

Kalau Harry pernah duduk melewati malam yang lebih panjang dari yang ini, dia

tidak bisa mengingatnya. Sirius menyarankan sekali, tanpa keyakinan asli, bahwa

mereka semua pergi tidur, tetapi tampang jijik keluarga Weasley sudah cukup sebagai

jawaban. Mereka kebanyakan duduk diam di sekitar meja, sambil mengamati sumbu

lilin terbenam semakin rendah dan berubah menjadi cairan lilin, terkadang

mengangkat botol ke bibir mereka, berbicara hanya untuk mengecek waktu, untuk

bertanya-tanya dengan keras apa yang sedang terjadi, dan untuk meyakinkan satu

sama lain bahwa kalau ada kabar buruk, mereka akan langsung tahu, karena Mrs

Weasley pastilah sudah sejak lama sampai di St Mungo.

Fred tertidur, kepalanya terguling ke samping ke atas bahunya. Ginny menggerlung

seperti seekor kucing di atas kursinya, tetapi matanya terbuka; Harry bisa melihat

matanya memantulkan cahaya api. Ron sedang duduk dengan kepala di tangannya,

apakah terbangun atau tertidur tidak mungkin diketahui. Harry dan Sirius seringkali

saling berpandangan, sebagai pengacau dalam kesedihan keluarga, sambil menunggu

... menunggu ...

Pada pukul sepuluh lewat lima pagi menurut jam tangan Ron, pintu dapur terayun

membuka dan Mrs Weasley memasuki dapur. Dia sangat pucat, tetapi ketika mereka

semua berpaling melihatnya, Fred, Ron dan Harry setengah berdiri dari kursi mereka,

dia memberikan senyum lesu.

'Dia akan baik-baik saja,' katanya, suaranya lemah karena capek. 'Dia sedang tidur.

Kita semua bisa pergi dan menjenguknya nanti; dia akan izin dari kerja pagi ini.'

Fred jatuh kembali ke kursinya dengan tangan menutupi wajahnya. George dan

Ginny bangkit, berjalan cepat ke ibu mereka dan memeluknya. Ron mengeluarkan

tawa yang sangat bergetar dan menghabiskan sisa Butterbeernya dalam sekali teguk.

'Sarapan!' kata Sirius keras-keras dan dengan gembira, sambil melompat berdiri. 'Di

mana peri-rumah sialan itu? Kreacher! KREACHER!'

Tetapi Kreacher tidak menjawab panggilan itu.

'Oh, kalau begitu, lupakan dia,' omel Sirius, sambil menghitung orang-orang di

depannya. 'Jadi, sarapan pagi untuk -- kulihat dulu -- tujuh ... daging asin dan telur,

kukira, dan teh, dan roti panggang --'

Harry bergegas ke kompor untuk membantu. Dia tidak ingin mengganggu

kebahagiaan keluarga Weasley dan dia takut akan saat ketika Mrs Weasley

memintanya menceritakan kembali penglihatannya. Akan tetapi, dia baru mengambil

piring-piring dari lemari ketika Mrs Weasley mengangkatnya dari tangannya dan

menarik dia ke dalam pelukannya.

'Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau bukan karena kamu, Harry,' dia berkata

dengan suara teredam. 'Mereka mungkin tidak akan menemukan Arthur selama

beberapa jam, dan saat itu pasti sudah terlambat, tapi berkat dirimu dia masih hidup

dan Dumbledore bisa memikirkan cerita pengalih yang bagus tentang Arthur berada

di tempat itu, kau tidak tahu masalah apa yang dapat diperolehnya kalau tidak begitu,

lihat saja Sturgis yang malang ...'

Harry hampir tidak bisa menerima rasa terima kasihnya, tetapi untung saja dia

segera melepaskan dirinya untuk berpaling kepada Sirius dan berterima kasih

kepadanya karena menjaga anak-anaknya melewati malam itu. Sirius berkata dia

sangat senang bisa membantu, dan berharap mereka semua akan tinggal dengannya

selama Mr Weasley berada di rumah sakit.

'Oh, Sirius, aku sangat berterima kasih ... mereka mengira dia akan berada di sana

selama beberapa waktu dan pastilah menyenangkan berada lebih dekat ... tentu saja,

itu berarti kami akan berada di sini selama Natal.'

'Semakin banyak semakin riang!' kata Sirius dengan ketulusan yang tampak jelas

sehingga Mrs Weasley tersenyum kepadanya, mengenakan sebuah celemek dan mulai

membantu membuat sarapan.

'Sirius,' Harry bergumam, tidak dapat menahannya lebih lama lagi. 'Boleh aku

bicara sebentar? Er -- sekarang?'

Dia berjalan ke dalam ruang penyimpanan yang gelap dan Sirius mengikuti. Tanpa

pembukaan, Harry memberitahu ayah angkatnya setiap detil dari penglihatan yang

dialaminya, termasuk fakta bahwa dia sendiri yang telah menjadi ular yang

menyerang Mr Weasley.

Ketika dia berhenti sejenak untuk mengambil napas, Sirius berkata, 'Apakah kamu

memberitahukan Dumbledore hal ini?'

'Ya,' kata Harry tidak sabar, 'tapi dia tidak memberitahuku apa artinya itu. Well, dia

tidak memberitahuku apa-apa lagi.'

'Aku yakin dia pasti akan memberitahumu kalau itu sesuatu yang perlu

dikhawatirkan,' kata Sirius dengan mantap.

'Tapi bukan itu saja,' kata Harry, dengan suara yang hanya sedikit di atas bisikan.

'Sirius, aku ... kukira aku akan jadi gila. Tadi di kantor Dumbledore, persis sebelum

kami mengambil Portkey ... selama beberapa detik di sana aku berpikir aku seekor

ular, aku merasa seperti seekor -- bekas lukaku sangat sakit ketika aku melihat kepada

Dumbledore -- Sirius, aku ingin menyerangnya.'

Dia hanya bisa melihat sepotong wajah Sirius; sisanya berada dalam kegelapan.

'Itu pasti lanjutan dari penglihatan tadi, itu saja,' kata Sirius. 'Kamu masih

memikirkan mimpi atau apapun itu dan --'

'Bukan itu,' kata Harry sambil menggelengkan kepalanya, 'rasanya seperti sesuatu

bangkit dalam diriku, seperti ada seekor ular di dalam diriku.'

'Kamu butuh tidur,' kata Sirius dengan tegas. 'Kamu akan sarapan pagi, lalu naik ke

atas ke tempat tidur, dan setelah makan siang kamu bisa pergi dan menjenguk Arthur

dengan yang lain. Kamu sedang terguncang, Harry; kamu menyalahkan dirimu untuk

sesuatu yang hanya kausaksikan, dan beruntunglah kau menyaksikannya atau Arthur

mungkin sudah mati. Berhentilah khawatir.'

Dia menepuk pundak Harry dan meninggalkan ruang penyimpanan, meninggalkan

Harry berdiri sendiri dalam kegelapan.

*

Semua orang kecuali Harry menghabiskan sisa pagi itu dengan tidur. Dia naik ke

kamar tidur yang telah dipakai bersama olehnya dan Ron selama beberapa minggu

dalam musim panas, tetapi sementara Ron merangkak ke tempat tidur dan tertidur

dalam beberapa menit, Harry duduk berpakaian lengkap, membungkuk pada batang

logam kepala tempat tidur yang dingin, dengan sengaja menjaga dirinya dalam

keadaan tidak nyamam, bertekad untuk tidak tertidur, takut bahwa dia mungkin

berubah menjadi ular lagi dalam tidurnya dan terbangun menemukan bahwa dia telah

menyerang Ron, atau merayap di rumah itu mengejar salah satu dari yang lain ...

Ketika Ron terbangun, Harry berpura-pura telah menikmati tidur sejenak yang

menyegarkan juga. Koper-koper mereka tiba dari Hogwarts ketika mereka sedang

makan siang, sehingga mereka bisa berpakaian sebagai Muggle untuk perjalanan ke St

Mungo. Semua orang kecuali Harry senang tidak karuan dan cerewet ketika mereka

mengganti jubah mereka ke dalam celana jins dan baju kaus. Ketika Tonks dan Mad-

Eye muncul untuk mengawal mereka menyeberangi London, mereka menyambut

dengan riang gembira, sambil menertawakan topi bowler yang sedang dikenakan

Mad-Eye pada sudut yang menyembunyikan mata sihirnya dan meyakinkan dia,

dengan sebenarnya, bahwa Tonks, yang rambutnya pendek dan berwarna merah muda

menyala lagi, akan menarik lebih sedikit perhatian di Kereta Bawah Tanah.

Tonks sangat tertarik dengan penglihatan Harry mengenai penyerangan Mr

Weasley, sesuatu yang Harry sama sekali tidak berminat membahas.

'Tidak ada darah Penglihat dalam keluargamu, 'kan?' dia bertanya dengan penuh

rasa ingin tahu, ketika mereka duduk bersebelahan dalam kereta api yang sedang

berderak menuju jantung kota.

'Tidak,' kata Harry, memikirkan Profesor Trelawney dan merasa terhina.

'Tidak,' kata Tonks sambil merenung, 'tidak, kukira itu bukan ramalan yang

sebenarnya yang kau lakukan itu, benar 'kan? Maksudku, kau tidak melihat masa

depan, kau melihat masa sekarang ... aneh, bukan? Walau berguna ...'

Harry tidak menjawab; untung saja, mereka keluar di pemberhentian berikutnya,

sebuah stasiun di pusat kota London, dan dalam kesibukan meninggalkan kereta api

dia bisa membuat Fred dan George berada di antara dirinya dan Tonks, yang sedang

memimpin jalan. Mereka semua mengikutinya menaiki eskalator, Moody sambil

berdebam di belakang kelompok, topinya miring dengan sudut rendah dan satu tangan

berbonggol tersangkut di antara kancing-kancing mantelnya, memegang tongkatnya.

Harry mengira dia merasakan mata tersembunyi menatap lekat kepadanya. Berusaha

menghindari pertanyaan lagi mengenai mimpinya, dia bertanya kepada Mad-Eye di

mana St Mungo tersembunyi.

'Tidak jauh dari sini,' gerutu Moody ketika mereka melangkah keluar ke udara

musim dingin di jalan lebar yang diapit toko-toko dan dipenuhi orang-orang yang

belanja untuk Natal. Dia mendorong Harry sedikit ke depannya dan tertatih persis di

belakang; Harry tahu matanya sedang bergulir ke segala arah di bawah topi miring itu.

'Tidak mudah menemukan lokasi yang bagus untuk sebuah rumah sakit. Tidak ada

tempat di Diagon Alley yang cukup besar dan kami tidak bisa mendirikannya di

bawah tanah seperti Kementerian -- tidak sehat. Akhirnya mereka berhasil

mendapatkan sebuah bangunan di sini. Secara teori, penyihir yang sakit bisa datang

dan pergi dan cukup berbaur dengan kerumunan.'

Dia meraih bahu Harry untuk mencegah mereka dipisahkan oleh serombongan

pembelanja yang jelas hanya ingin masuk ke dalam sebuah toko di dekat situ yang

penuh dengan peralatan listrik.

'Ini dia,' kata Moody sejenak kemudian.

Mereka telah tiba di luar sebuah department store besar, kuno, merah bata yang

dinamakan Purge & Dowse Ltd. Tempat itu memiliki hawa kumuh dan menyedihkan;

pajangan di jendela terdiri atas bebrapa boneka retak dengan rambut palsu miring,

berdiri sembarangan dan memperagakan mode yang sedikitnya sepuluh tahun

ketinggalan zaman. Tanda-tanda besar pada pintu-pintu yang penuh debu bertuliskan:

'Ditutup untuk Pembaruan'. Harry jelas-jelas mendengar seorang wanita bertubuh

besar dengan tas-tas belanja plastik berkata kepada temannya ketika mereka lewat,

'Tidak pernah buka, tempat itu ...'

'Benar,' kata Tonks sambil memberi isyarat kepada mereka ke sebuah jendela yang

tidak memperlihatkan apa-apa kecuali sebuah boneka wanita yang sangat jelek. Bulu

mata palsu boneka itu sudah hampir jatuh dan dia sedang memperagakan sebuah baju

luar nilon berwarna hijau. 'Semua siap?'

Mereka mengangguk, berkumpul di dekatnya. Moody memmberi Harry dorongan

lagi di antara tulang bahunya untuk mendesaknya maju dan Tonks bersandar dekat ke

kaca, sambil melihat kepada boneka yang sangat jelek itu, napasnya menguap ke

kaca. 'Pakabar,' katanya, 'kami ke sini untuk menjenguk Arthur Weasley.'

Harry berpikir betapa tidak masuk akalnya Tonks mengharapkan boneka itu

mendengarnya berbicara begitu pelan melalui sehelai kaca, dengan bus-bus yang

menderu lewat di belakangnya dan semua keributan jalan yang penuh pembelanja.

Lalu dia mengingatkan dirinya bahwa lagipula boneka tidak bisa mendengar. Detik

berikutnya, mulutnya terbuka karena terguncang ketika boneka itu memberi anggukan

kecil dan memberi isyarat dengan jarinya, dan Tonks telah meraih Ginny dan Mrs

Weasley di siku, melangkah tepat melalui kaca dan menghilang.

Fred, George dan Ron melangkah mengikuti mereka. Harry melihat sekeliling ke

kerumunan yang berdesak-desakan; tak seorangpun dari mereka terlihat melirik ke

pajangan-pajangan jendela sejelek yang di Purge & Dowse Ltd; tidak juga mereka

tampak memperhatikan bahwa enam orang baru saja melebur ke udara di depan

mereka.

'Ayo,' geram Moody, sambil memberi Harry tusukan lain di punggung, dan

bersama mereka melangkah maju melalui apa yang terasa seperti sehelai air sejuk,

muncul agak hangat dan kering di sisi lain.

Tidak ada tanda boneka jelek itu atau ruang tempat dia berdiri. Mereka berada di

tempat yang mirip daerah penerimaan yang sesak di mana barisan penyihir wanita dan

pria duduk di atas kursi-kursi kayu yang reyot, beberapa terlihat benar-benar normal

dan sedang membaca dengan teliti salinan Witch Weekly yang sudah basi, yang

lainnya memperlihatkan keanehan yang mengerikan seperti belalai gajah atau tangan

tambahan yang melekat pada dada mereka. Ruangan itu hampir sama bisingnya

dengan jalan di luar, karena banyak pasien yang membuat bunyi-bunyi sangat aneh:

seorang penyihir wanita di tengah barisan depan, yang sedang mengipasi dirinya

sendiri dengan bersemangat dengan sebuah salinan Daily Prophet, terus mengeluarkan

siulan melengking tinggi selagi uap keluar dari mulutnya; seorang penyihir tua yang

tampak kotor di sudut bergemerincing seperti lonceng setiap kali dia berpindah dan,

dengan setiap gemerincing, kepalanya bergetar dengan mengerikan sehingga dia harus

memegang dirinya sendiri di telinga untuk membuatnya tenang.

Para penyihir wanita dan pria dalam jubah hijau limau sedang berjalan ke depan

dan belakang barisan, sambil menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan membuat

catatan-catatan pada papan jepit seperti kepunyaan Umbridge. Harry memperhatikan

lambang yang dibordir pada dada mereka: sebuah tongkat dan tulang yang

disilangkan.

'Apakah mereka dokter?' dia bertanya kepada Ron dengan pelan.

'Dokter?' kata Ron, sambil terlihat terkejut. 'Muggle gila yang memotong-motong

orang? Bukan, mereka Penyembuh.'

'Sebelah sini!' seru Mrs Weasley, melampaui gemerincing baru penyihir di sudut,

dan mereka mengikutinya ke antrian di depan seorang penyihir wanita pirang agak

gemuk yang duduk di meja bertanda Keterangan. Dinding di belakangnya ditutupi

dengan maklumat dan poster yang berisikan hal-hal seperti: KUALI YANG BERSIH

MENCEGAH RAMUAN BERUBAH MENJADI RACUN dan PENAWAR RACUN

ADALAH RACUN KECUALI DISETUJUI OLEH PENYEMBUH BERSYARAT.

Ada juga potret seorang penyihir wanita dengan rambut ikal kecil keperakan yang

panjang yang diberi label:

Dilys Derwent

Penyembuh St Mungo 1722-1741

Kepala Sekolah Sihir Hogwarts 1741-1768

Dilys sedang mengamati rombongan Weasley lekat-lekat seakan-akan sedang

menghitung jumlah mereka; ketika Harry menatap matanya dia memberi kedipan

kecil, berjalan ke samping keluar dari potretnya dan menghilang.

Sementara itu, di depan antrian, seorang penyihir pria muda sedang

memperlihatkan tarian cepat di tempat dan mencoba, di antara pekikan kesakitan,

untuk menjelaskan kesulitannya kepada penyihir wanita di belakang meja.

'Masalahnya ini -- aduh -- sepatu-sepatu yang diberikan saudara saya -- ow --

mereka memakan -- ADUH -- kaki saya -- lihat, pasti ada sejenis -- AARGH --

kutukan pada mereka dan aku tak dapat -- AAAAARGH -- melepaskan mereka.' Dia

melompat dari satu kaki ke yang lain seolah-olah sedang menari di atas bara panas.

'Sepatu-sepatu itu tidak mencegahmu membaca, benar 'kan?' kata penyihir wanita

pirang itu dengan jengkel menunjuk ke sebuah papan tanda besar di sebelah kiri

mejanya. 'Anda mau Cedera Akibat Mantera, lantai empat. Seperti yang terpampang

di pedoman lantai. Berikutnya!'

Selagi penyihir pria itu terpincang-pincang dan berjingkrak ke samping, rombongan

Weasley maju ke depan beberapa langkah dan Harry membaca pedoman lantainya:

KECELAKAAN ARTIFAK

................................................................................. Lantai dasar

Ledakan kuali, tongkat menyerang balik, tabrakan sapu, dll.

CEDERA AKIBAT MAKHLUK

........................................................................ Lantai satu

Gigitan, sengatan, luka bakar, tusukan duri, dll.

KUMAN SIHIR

..................................................................................................... Lantai dua

Penyakit-penyakit menular, mis. cacar naga, sakit menghilang, scrofungulus, dll.

KERACUNAN RAMUAN DAN TANAMAN

................................................... Lantai tiga

Ruam-ruam, muntah, cekikikan tidak terkendali, dll.

CEDERA AKIBAT MANTERA

......................................................................... Lantai empat

Kutukan tidak terangkat, guna-guna, penggunaan mantera yang tidak tepat, dsb.

RUANG TEH PENGUNJUNG / TOKO RUMAH SAKIT

............................. Lantai lima

JIKA ANDA TIDAK YAKIN KE MANA ANDA HARUS PERGI, TIDAK MAMP

U

BERBICARA NORMAL ATAU TIDAK

MAMPU MENGINGAT MENGAPA ANDA

BERADA DI SINI, PENYIHIR PENYAMBUT KAMI AKAN MEMBANTU DEN

GAN

SENANG HATI.

Seorang penyihir pria yang sangat tua dan bungkuk dengan sebuah terompet

pendengar telah bergerak ke depan antrian sekarang. 'Aku ke sini untuk menjenguk

Broderick Bode!' dia berkata dengan bunyi mencicit.

'Bangsal empat puluh sembilan, tapi kutakut Anda membuang waktu Anda,' kata

penyihir wanita itu sambil menyuruh pergi. 'Dia benar-benar kebingungan, Anda tahu

-- masih mengira dirinya sebuah poci teh. Berikutnya!'

Seorang penyihir pria bertampang terganggu sedang memegang putri kecilnya

dengan erat di bagian mata kaki sementara putrinya mengepak-ngepak di sekitar

kepalanya menggunakan sayap berburu yang amat besar yang telah tumbuh dari balik

bajunya.

'Lantai empat,' kata penyihir wanita itu, dengan suara bosan, tanpa bertanya, dan

lelaki itu menghilang ke pintu ganda di samping meja, sambil memegang putrinya

seperti sebuah balon yang bentuknya aneh. 'Berikutnya!'

Mrs Weasley maju ke meja.

'Halo,' katanya, 'suamiku, Arthur Weasley, seharusnya dipindahkan ke bangsal

yang lain pagi ini, dapatkah Anda memberitahu kami --?'

'Arthur Weasley?' kata penyihir wanita itu, sambil menggerakkan jarinya menuruni

daftar panjang di hadapannya. 'Ya, lantai satu, pintu kedua dari kanan, Bangsal Dai

Llewellyn.'

'Terima kasih,' kata Mrs Weasley. 'Ayo, kalian semua.'

Mereka mengikutinya melalui pintu ganda dan menyusuri koridor sempit, yang

dibarisi dengan lebih banyak lagi potret Penyembuh terkenal dan diterangi dengan

gelembung-gelembung kristal yang penuh dengan lilin yang melayang di langit-langit,

terlihat seperti bola sabun raksasa. Lebih banyak lagi penyihir wanita dan pria

berjubah hijau limau berjalan keluar masuk pintu-pintu yang mereka lewati; gas

kuning berbau busuk berhembus ke gang ketika mereka melewati salah satu pintu,

dan beberapa waktu sekali mereka mendengar ratapan dari jauh. Mereka menaiki

sejumlah anak tangga dan memasuki koridor Cedera Akibat Makhluk, di mana pintu

kedua dari kanan bertuliskan: Bangsal Dai Llewellyn 'Berbahaya': Gigitan Serius. Di

bawahnya ada sebuah kartu dalam pegangan kuningan di mana tertulis dengan tulisan

tangan: Penyembuh yang Memimpin: Hippocrates Smethwyck. Penyembuh Magang:

Augustus Pye.

'Kami akan menunggu di luar, Molly,' Tonks berkata. 'Arthur tidak akan mau

terlalu banyak pengunjung seketika ... harusnya keluarga dulu.'

Mad-Eye menggeramkan persetujuannya atas ide ini dan menyandarkan

punggungnya terhadap dinding koridor, mata sihirnya berputar ke segala arah. Harry

juga mundur, tetapi Mrs Weasley menjulurkan sebuah tangan dan mendorongnya

melalui pintu, sambil berkata, 'Jangan tolol, Harry, Arthur ingin berterima kasih

kepadamu.'

Bangsal itu kecil dan agak suram, karena satu-satunya jendela yang ada sempit dan

terletak tinggi pada dinding yang menghadap pintu. Sebagian besar cahaya datang

dari lebih banyak gelembung kristal bersinar yang mengelompok di bagian tengah

langit-langit. Dinding-dindingnya diberi panel kayu ek dan ada sebuah potret seorang

penyihir pria yang bertampang agak kejam di dinding, diberi judul: Urquhart

Rackharrow, 1612-1697, Pencipta Kutukan Pengeluaran-Usus.

Hanya ada tiga pasien. Mr Weasley menempati tempat tidur di ujung bangsal di

samping jendela kecil itu. Harry senang dan lega melihat bahwa dia duduk bersandar

pada beberapa bantal dan sedang membaca Daily Prophet dengan sinar matahari

terpencil yang jatuh ke atas tempat tidurnya. Dia melihat ke atas ketika mereka

berjalan menujunya dan, melihat siapa yang datangm tersenyum.

'Halo!' dia memanggil, sambil melempar Prophet ke samping. 'Bill baru saja pergi,

Molly, harus kembali bekerja, tapi dia bilang dia akan mampir ke tempatmu nanti.'

'Bagaimana keadaanmu, Arthur?' tanya Mrs Weasley, sambil membungkuk untuk

mencium pipinya dan memandang cemas ke wajahnya. 'Kamu masih kelihatan sedikit

pucat.'

'Aku merasa sangat baik,' kata Mr Weasley dengan cerah, sambil mengulurkan

lengannya yang sehat untuk memberi Ginny pelukan. 'Kalau saja mereka bisa

melepaskan perban itu, aku akan sehat untuk pulang.'

'Mengapa mereka tidak bisa melepaskannya, Dad?' tanya Fred.

'Well, aku mulai berdarah gila-gilaan setiap kali mereka mencobanya,' kata Mr

Weasley dengan ceria, sambil meraih tongkatnya, yang terletak di lemari samping

tempat tidur, dan melambaikannya sehingga enam kursi tambahan muncul di sisi

tempat tidurnya untuk diduduki mereka semua. 'Kelihatannya ada sejenis racun yang

tidak biasa pada taring ular itu yang membuat luka tetap membuka. Namun mereka

yakin mereka akan menemukan penawarnya; mereka bilang mereka sudah pernah

merawat kasus yang lebih parah dariku, dan sementara itu aku hanya perlu terus

meminum Ramuan Penambah Darah setiap jam. Tapi orang di sana itu,' katanya,

sambil menurunkan suaranya dan mengangguk ke tempat tidur di seberang di mana

berbaring seorang lelaki yang tampak hijau dan sakit dan sedang menatap langitlangit.

'Digigit oleh manusia serigala, pria malang. Tidak ada obatnya sama sekali.'

'Manusia serigala?' bisik Mrs Weasley tampak khawatir. 'Apakah dia aman di

bangsal umum? Tidakkah seharusnya dia di kamar pribadi?'

'Masih dua minggu lagi baru bulan penuh,' Mr Weasley mengingatkannya dengan

pelan. 'Mereka telah berbincang-bincang dengannya pagi ini, para Penyembuh, kau

tahu, mencoba meyakinkannya bahwa dia akan bisa menjalani hidup yang hampir

normal. Kubilang padanya -- tanpa menyebut nama, tentu saja -- tapi aku bilang aku

kenal seorang manusia serigala secara pribadi, lelaki yang sangat baik, yang merasa

kondisinya muda diatasi.'

'Apa katanya?' tanya George.

'Bilang dia akan memberiku gigitan lain kalau aku tidak menutup mulut,' kata Mr

Weasley dengan sedih. 'Dan wanita di sana itu,' dia menunjuk ke satu-satunya tempat

tidur lain yang terisi, yang tepat di samping pintu, 'tak mau memberitahu para

Penyembuh apa yang menggigitnya, yang membuat kami semua mengira pastilah

sesuatu yang ditanganinya secara ilegal. Apapun itu, dia mengambil sepotong besar

daging dari kakinya, baunya sangat mengerikan waktu mereka membuka

pembalutnya.'

'Jadi, apakah Dad akan memberitahu kami apa yang terjadi?' tanya Fred sambil

menarik kursinya lebih dekat ke tempat tidur.

'Well, bukankah kamu sudah tahu?' kata Mr Weasley dengan senyum berarti

kepada Harry. 'Sangat simpel -- aku melalui hari yang amat melelahkan, tertidur, ada

yang menyelinap dan menggigitku.'

'Apakah ada di Prophet, mengenai penyeranganmu?' tanya Fred sambil menunjuk

surat kabar yang telah ditaruh Mr Weasley ke samping.

'Tidak, tentu saja tidak,' kata Mr Weasley dengan senyum agak getir, 'Kementerian

tidak akan mau semua orang mengetahui ular besar kotor menyerang --'

'Arthur!' Mrs Weasley memperingatkan dia.

'-- menyerang -- er -- aku,' Mr Weasley berkata terburu-buru, walaupun Harry

cukup yakin itu bukan yang ingin dikatakannya.

'Jadi di mana Dad sewaktu terjadinya?' tanya George.

'Itu urusanku,' kata Mr Weasley, walau dengan senyum kecil. Dia merenggut Daily

Prophet, menggoyangkannya membuka lagi dan berkata, 'Aku baru saja membaca

tentang penangkapan Willy Widdershins ketika kalian tiba. Kau tahu Willy berada di

balik semua toilet muntah pada musim panas lalu? Salah satu kutukannya menyerang

balik, toilet itu meledak dan mereka menemukannya berbaring tidak sadar dalam

reruntuhan tertutupi dari kepala hingga kaki dalam --'

'Ketika Dad berkata Dad sedang "bertugas",' Fred menyela dengan suara rendah,

'apa yang sedang Dad lakukan?'

'Kau dengar ayahmu,' bisik Mrs Weasley, 'kita tidak akan membahas ini di sini!

Teruskan tentang Willy Widdershins, Arthur.'

'Well, jangan tanya padaku bagaiman, tetapi dia benar-benar lolos dari tuntutan

toilet itu,' kata Mr Weasley dengan suram. 'Aku hanya bisa menganggap emas

berpindah tangan --'

'Dad sedang menjaganya, bukan?' kata George dengan pelan. 'Senjata itu? Benda

yang dikejar Kau-Tahu-Siapa?'

'George, diamlah!' sambar Mrs Weasley.

'Lagipula,' kata Mr Weasley dengan suara terangkat, 'kali ini Willy tertangkap

menjual kenop pintu menggigit kepada Muggle dan aku tidak mengira dia akan bisa

menggeliatkan diri keluar dari ini karena, menurut artikel ini, dua orang Muggle telah

kehilangan jari dan sekarang sedang di St Mungo untuk penumbuhan tulang kembali

dan modifikasi memori darurat. Pikirkan saja, Muggle di St Mungo! Aku ingin tahu di

bangsal mana mereka?'

Dan dia memandang dengan semangat ke sekitar seakan-akan berharap melihat

papan penunjuk.

'Tidakkah kau bilang Kau-Tahu-Siapa punya ular, Harry?' tanya Fred, sambil

melihat kepada ayahnya untuk mencari reaksi. 'Yang besar? Kau melihatnya pada

malam dia kembali, bukankah begitu?'

'Sudah cukup,' kata Mrs Weasley dengan marah. 'Mad-Eye dan Tonks ada di luar,

Arthur, mereka ingin datang dan menjengukmu. Dan kalian semua bisa menunggu di

luar,' dia menambahkan kepada anak-anaknya dan Harry. 'Kalian bisa datang dan

mengucapkan selamat tinggal setelah itu. Pergilah.'

Mereka beramai-ramai kembali ke koridor. Mad-Eye dan Tonks masuk dan

menutup pintu bangsal di belakang mereka. Fred mengangkat alisnya.

'Baik,' dia berkata dengan dingin, sambil menggeledah kantongnya, 'begitu saja.

Tidak usah memberitahu kami apa-apa.'

'Mencari ini?' kata George, sambil memegang apa yang tampak seperti benang

kusut berwarna daging.

'Kau membaca pikiranku,' kata Fred sambil menyeringai. 'Mari lihat apakah St

Mungo meletakkan Mantera Tidak Tertembus pada dinding bangsalnya, yuk?'

Dia dan George menguraikan benang itu dan memisahkan lima Telinga Yang-

Dapat-Diperpanjang dari satu sama lain. Fred dan George menyerahkannya ke

sekeliling. Harry ragu-ragu untuk mengambil satu.

'Ayolah, Harry, ambillah! Kau telah menyelamatkan nyawa Dad. Kalau ada yang

punya hak untuk mengupingnya, kaulah orangnya.'

Menyeringai walaupun sudah mencoba menahannya, Harry mengambil ujung

benang itu dan memasukkannya ke dalam telinganya seperti yang telah dilakukan si

kembar.

'OK, maju!' Fred berbisik.

Benang-benang berwarna daging itu menggeliat seperti cacing kurus panjang dan

merayap ke bawah pintu. Mulanya, Harry tidak bisa mendengar apa-apa, lalu dia

terlompat ketika dia mendengar Tonks berbisik sejelas jika dia berdiri tepat di

sampingnya.

'... mereka menggeledah seluruh daerah itu tetapi tidak bisa menemukan ular itu di

manapun. Kelihatannya telah menghilang setelah menyerangmu, Arthur .. tapi Kau-

Tahu-Siapa tidak mungkin berharap seekor ular bisa masuk, 'kan?'

'Kurasa dia mengirimnya sebagai pengintai,' geram Moody, 'karena tidak beruntung

sejauh ini, benar 'kan?' Tidak, kurasa dia sedang mencoba mendapat gambaran yang

lebih jelas akan apa yang sedang dihadapinya dan kalau Arthur tidak berada di sana

binatang itu mungkin punya lebih banyak waktu untuk melihat-lihat. Jadi, Potter

bilang dia menyaksikan semuanya terjadi?'

'Ya,' kata Mrs Weasley. Dia terdengar agak gelisah. 'Kau tahu, Dumbledore

sepertinya hampir sudah menunggu-nunggu Harry melihat sesuatu seperti ini.'

'Yeah, well,' kata Moody, 'ada sesuatu yang aneh mengenai bocah Potter ini, kita

semua tahu itu.'

'Dumbledore terlihat cemas mengenai Harry ketika aku berbicara dengannya pagi

ini,' bisik Mrs Weasley.

'Tentu saja dia cemas,' geram Moody. 'Anak itu melihat hal-hal dari dalam ular

Kau-Tahu-Siapa. Jelas Potter tidak menyadari apa artinya itu, tapi kalau Kau-Tahu-

Siapa merasukinya --'

Harry menarik Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan keluar dari telinganya sendiri,

jantungnya memukul-mukul amat cepat dan panas menjalar naik ke wajahnya. Dia

melihat sekeliling kepada yang lain. Mereka semua sedang menatapnya, benangbenang

itu masih menjulur dari telinga mereka, semua mendadak tampak ketakutan.

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH TIGA --

Natal di Bangsal Tertutup

Apakah ini sebabnya mengapa Dumbledore tidak mau lagi menatap mata Harry?

Apakah dia menduga akan melihat Voldemort menatap dari matanya, takut, mungkin,

bahwa warna hijau cemerlangnya mungkin berubah mendadak menjadi merah tua,

dengan anak mata bercelah seperti kucing? Harry ingat bagaimana wajah Voldemort

yang mirip ular pernah sekali keluar dari balik kepala Profesor Quirrel dan menarikan

jari-jarinya ke balik kepalanya sendiri, bertanya-tanya seperti apa rasanya kalau

Voldemort meledak keluar dari tengkoraknya.

Dia merasa kotor, terkontaminasi, seakan-akan dia sedang membawa kuman

mematikan, tak berharga untuk duduk di Kereta Bawah Tanah kembali dari rumah

sakit dengan orang-orang bersih, tak bersalah yang pikiran dan tubuhnya bebas dari

noda Voldemort ... dia bukan hanya telah melihat ular itu, dia telah menjadi ular itu,

dia tahu itu sekarang ...

Sebuah pikiran yang benar-benar mengerikan timbul pada dirinya pada saat itu,

sebuah ingatan yang muncul ke permukaan pikirannya, yang membuat bagian dalam

tubuhnya menggeliat seperti ular.

Apa yang sedang dia kejar, selain para pengikut?

Benda yang hanya bisa dia peroleh secara sembunyi-sembunyi ... seperti sebuah

senjata. Sesuatu yang tidak dimilikinya dulu.

Akulah senjatanya, Harry berpikir, dan rasanya seolah-olah racun sedang mengalir

melalui nadinya, membuatnya kedinginan, menyebabkannya berkeringat selagi dia

berayun bersama kereta api melalui terowongan gelap. Akulah yang sedang

Voldemort coba gunakan, itulah sebabnya mereka menempatkan pengawal di

sekitarku ke manapun aku pergi, bukan untuk perlindunganku, untuk perlindungan

orang-orang lain, hanya saja itu tidak bekerja, mereka tidak bisa membuat seseorang

mengawasiku sepanjang waktu di Hogwarts ... Aku memang menyerang Mr Weasley

tadi malam, itu aku. Voldemort membuatku melakukannya dan dia mungkin berada di

dalam tubuhku, sedang mendengarkan pikiran-pikiranku saat ini --

'Apakah kamu baik-baik saja, Harry, sayang?' bisik Mrs Weasley sambil

mencondongkan badan melewati Ginny untuk berbicara kepadanya selagi kereta

berderak melalui terowongan yang gelap. 'Kamu tidak terlihat sehat. Apakah kamu

merasa sakit?'

Mereka semua sedang mengamatinya. Dia menggelengkan kepalanya dengan kasar

dan menatap ke sebuah iklan asuransi rumah.

'Harry, sayang, apakah kamu yakin kamu baik-baik saja?' kata Mrs Weasley dengan

suara kuatir, sementara mereka berjalan mengitari petak rumput tak terawat di tengahtengah

Grimmauld Place. 'Kau tampak pucat sekali ... apakah kamu yakin kamu tidur

pagi ini? Kamu naik ke atas ke ranjang sekarang juga dan kamu bisa tidur beberapa

jam sebelum makan malam, oke?'

Dia mengangguk; di sini ada alasan siap-pakai untuk tidak berbicara dengan yang

lain, yang persis apa yang diinginkannya, sehingga ketika dia membuka pintu depan

dia langsung bergegas melewati tempat payung kaki troll, menaiki tangga dan masuk

ke dalam kamar tidurnya dan Ron.

Di sini, dia mulai berjalan bolak-balik, melewati kedua ranjang dan bingkai foto

kosog Phineas Nigellus, otaknya sesak dan menggelegak dengan pertanyaan dan

bahkan lebih penuh lagi akan gagasan-gagasan mengerikan.

Bagaimana dia menjadi seekor ular? Mungkin dia seoang Animagus ... tidak, dia

tidak mungkin, dia pasti tahu ... mungkin Voldemort seorang Animagus ... ya, pikir

Harry, itu akan cocok, dia akan berubah menjadi seekor ular tentu saja ... dan saat dia

merasuki diriku, saat itu kami berdua berubah ... itu masih belum menjelaskan

bagaimana aku sampai ke London dan kembali ke ranjangku dalam waktu sekitar lima

menit ... tapi Voldemort hampir merupakan penyihir terkuat di dunia, selain

Dumbledore, mungkin tidak masalah baginya sama sekali untuk memindahkan orangorang

seperti itu.

Dan kemudian, dengan tikaman rasa panik yang mengerikan, dia berpikir, tapi ini

gila -- kalau Voldemort sedang merasukiku sekarang, aku sedang memberinya

pandangan berharga ke dalam Markas Besar Order of Phoenix saat ini juga! Dia akan

tahu siapa yang berada dalam Order dan di maan Sirius berada ... dan aku sudah

mendengar banyak hal yang seharusnya tak kudengar, semua yang telah diberitahukan

Sirius kepadaku pada malam pertama aku berada di sini ...

Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan: dia akan harus langsung meninggalkan

Grimmauld Place. Dia bisa menghabiskan Natal di Hogwarts tanpa yang lainnya,

yang akan menjaga mereka tetap aman selama liburan setidaknya ... tapi tidak, itu

tidak akan berhasil, masih ada banyak orang di Hogwarts untuk dibidik dan dilukai.

Bagaimana kalau Seamus, Dean atau Neville kali berikutnya? Dia berhenti berjalan

dan berdiri menatap bingkai kosong Phineas Nigellus. Suatu sensasi kelam timbul di

dasar perutnya. Dia tidak punya alternatif: dia akan harus kembali ke Privet Drive,

memisahkan dirinya sendiri sepenuhnya dari para penyihir lain.

Well, kalau dia harus melakukannya, pikirnya, tak ada gunanya berlama-lama.

Mencoba sebisanya untuk tidak memikirkan bagaimana keluarga Dursley akan

bereaksi ketika mereka menemukannya di ambang pintu mereka enam bulan lebih

awal dari yang mereka harapkan, dia berjalan ke kopernya, membanting tutupnya dan

menguncinya, lalu memandang sekilas ke sekelilingnya dengan otomatis untuk

mencari Hedwig sebelum teringat bahwa dia masih di Hogwarts -- well, kandangnya

akan menjadi satu hal yang tak perlu dibawa -- dia meraih salah satu ujung kopernya

dan telah menyeretnya setengah jalan menuju pintu ketika sebuah suara menyindir

berkata, 'Melarikan diri, bukan begitu?'

Dia memandang berkeliling. Phineas Nigellus telah muncul di kanvas potretnya

dan sedang mencondongkan badan pada bingkainya, sambil mengamati Harry dengan

ekspresi geli di wajahnya.

'Bukan melarikan diri, bukan,' kata Harry singkat, sambil menyeret kopernya

beberapa kaki lagi menyeberangi ruangan.

'Kukira,' kata Phineas Nigellus sambil membelai janggut runcingnya, 'bahwa untuk

berada di Asrama Gryffindor kau seharusnya berani! Tampaknya bagiku seolah-olah

kau akan lebih baik di asramaku. Kami para Slytherin berani, ya, tapi tidak bodoh.

Misalnya, kalau diberi pilihan, kami akan selalu memilih menyelamatkan hidup kami

sendiri.'

'Bukan hidupku yang sedang kuselamatkan,' kata Harry ringkas, sambil menyentak

koper itu melalui sepotong karpet termakan ngengat yang tidak rata tepat di depan

pintu.

'Oh, aku mengerti,' kata Phineas Nigellus, masih membelai janggutnya, 'ini bukan

pelarian secara pengecut -- kau sedang bersikap mulia.'

Harry mengabaikannya. Tangannya berada di kenop pintu ketika Phineas Nigellus

berkata dengan malas, 'Aku punya pesan untukmu dari Albus Dumbledore.'

Harry berputar.

'Apa itu?'

'"Tetaplah di tempatmu."'

'Aku belum bergerak!' kata Harry, tangannya masih di kenop pintu. 'Jadi apa

pesannya?'

'Aku baru saja memberikannya kepadamu, tolol,' kata Phineas Nigellus dengan

lancar. 'Dumbledore bilang, "Tetaplah di tempatmu."'

'Kenapa?' kata Harry dengan tidak sabar sambil menjatuhkan ujung kopernya.

'Kenapa dia ingin aku tinggal? Apa lagi yang dikatakannya?'

'Tak ada apapun,' kata Phineas Nigellus, sambil mengangkat alis hitam tipis seolaholah

dia mendapati Harry kurang ajar.

Amarah Harry naik ke permukaan seperti seekor ular yang membumbung dari

rumput panjang. Dia letih sekali, dia sangat bingung, dia telah mengalami teror,

kelegaan, lalu teror lagi dalam dua belas jam terakhir ini, dan masih saja Dumbledore

tidak mau berbicara kepadanya!

'Jadi begitu saja, bukan?' dia berkata keras-keras. '"Tetaplah di tempatmu"! Hanya

itu jugalah yang bisa dikatakan semua orang kepadaku setelah aku diserang oleh

Dementor-Dementor itu! Jangan ke mana-mana sementara para orang dewasa

menyelesaikannya, Harry! Walaupun kami takkan repot-repot memberitahumu apaapa,

karena otakmu yang kecil mungkin takkan bisa mengatasinya!'

'Kau tahu,' kata Phineas Nigellus, bahkan lebih keras daripada Harry, 'inilah

persisnya kenapa aku benci menjadi seorang guru! Para orang muda begitu yakin

bahwa mereka sepenuhnya benar tentang segala hal. Tidakkah pernah terpikir olehmu,

anak manja sombong yang malang, bahwa mungkin ada alasan bagus kenapa Kepala

Sekolah Hogwarts tidak mempercayakan setiap detil kecil dari rencana-rencananya

kepadamu? Pernahkah kau berhenti sejenak, selagi merasa diperlakukan tidak adil,

untuk memperhatikan bahwa mengikuti perintah-perintah Dumbledore belum pernah

menuntunmu ke bahaya? Tidak. Tidak, seperti semua orang muda, kau sangat yakin

bahwa kau seorang yang merasa dan berpikir, kau seorang yang mengenali bahaya,

kau seorang satu-satunya yang cukup pintar untuk menyadari apa yang mungkin

sedang direncanakan Pangeran Kegelapan --'

'Kalau begitu, dia sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan denganku?'

kata Harry dengan cepat.

'Apa aku bilang begitu?' kata Phineas Nigellus, sambil memeriksa sarung tangan

suteranya dengan malas-malasan. 'Sekarang, kalau kau bisa memaafkanku, aku punya

hal-hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada mendengarkan remaja mengeluh ...

selamat siang untukmu.'

Dan dia berjalan ke tepi bingkainya dan keluar dari pandangan.

'Baik, pergilah kalau begitu!' Harry berteriak kepada bingkai kosong itu. 'Dan

beritahu Dumbledore terima kasih tanpa alasan!'

Kanvas kosong itu tetap diam. Sambil mengomel, Harry menyeret kopernya

kembali ke kaki ranjangnya, lalu melemparkan dirinya sendiri dengan muka duluan ke

seprei termakan ngengat, matanya tertutup, tubuhnya berat dan sakit.

Dia merasa seolah-olah dia telah melakukan perjalanan selama bermil-mil ...

tampaknya tidak mungkin bahwa kurang dari dua puluh empat jam yang lalu Cho

Chang telah mendekatinya di bawah mistletoe ... dia begitu capek ... dia takut untuk

tidur ... tapi dia tidak tahu berapa lama dia bisa melawannya ... Dumbledore telah

menyuruhnya untuk tinggal ... itu pasti berarti dia boleh tidur ... tapi dia takut ...

bagaimana kalau terjadi lagi?

Dia terbenam ke dalam bayang-bayang ...

Seakan-akan sebuah film dalam kepalanya telah menunggu dimulai. Dia sedang

berjalan di sebuah koridor sepi menuju sebuah pintu hitam sederhana, melalui

dinding-dinding batu yang kasar, obor-obor, dan sebuah ambang pintu terbuka

menuju serangkaian anak-anak tangga yang mengarah ke bawah di sebelah kiri ...

Dia mencapai pintu hitam itu tetapi tidak bisa membukanya ... dia berdiri

menatapnya, putus asa ingin masuk ... sesuatu yang diinginkannya dengan sepenuh

hati ada di baliknya ... sesuatu yang berharga melampaui mimpi-mimpinya ... kalau

saja bekas lukanya bisa berhenti menusuk-nusuk ... dengan begitu dia akan bisa

berpikir lebih jernih ...

'Harry,' kata suara Ron, dari tempat yang jauh, 'Mum bilang makan malam sudah

siap, tapi dia akan menyisakan sesuatu untukmu kalau kau mau tetap di tempat tidur.'

Harry membuka matanya, tetapi Ron telah meninggalkan ruangan itu.

Dia tidak mau sendirian bersamaku, Harry berpikir. Tidak setelah dia mendengar

apa yang telah dikatakan Moody.

Dia merasa tak seorangpun dari mereka akan mau dia di sana lagi, sekarang setelah

mereka tahu apa yang ada dalam dirinya.

Dia tidak akan turun untuk makan malam,. dia tidak akan memaksakan

kehadirannya pada mereka. Dia berpaling ke sisi yang lain dan, setelah beberapa saat,

kembali tidur. Dia bangun lama kemudian, pagi-pagi sekali, isi tubuhnya sakit karena

lapar dan Ron sedang mendengkur di ranjang sebelah. Sambil memicingkan mata ke

sekitar kamar, dia melihat garis-garis tubuh Phineas Nigellus berdiri lagi di potretnya

dan terpikir oleh Harry bahwa Dumbledore mungkin telah mengirim Phineas Nigellus

untuk mengawasinya, kalau-kalau dia menyerang orang lain.

Perasaan tidak bersih itu semakin kuat. Dia setengah berharap dia tidak mematuhi

Dumbledore ... kalau ini kehidupan yang akan dialaminya di Grimmauld Place dari

sekarang, mungkin dia lebih baik di Privet Drive.

*

Semua orang lain menghabiskan pagi berikutnya memasang hiasan Natal. Harry tidak

bisa mengingat Sirius pernah berada dalam suasana hati yang demikian bagus; dia

bahkan menyanyikan lagu-lagu Natal, tampaknya senang dia mendapat teman

melewati Natal. Harry bisa mendengar suaranya menggema naik melalui lantai di

ruang duduk yang dingin di mana dia sedang duduk sendirian, mengamati langit

semakin putih di luar jendela, salju yang mengancam, sepanjang waktu merasakan

kesenangan kejam bahwa dia sedang memberikan kesempatan kepada yang lainnya

untuk terus membicarakannya, yang pasti sedang mereka lakukan. Ketika dia

mendengar Mrs Weasley memanggil namanya dengan lembut di tangga sekitar waktu

makan siang, dia mundur ke atas lagi dan mengabaikannya.

Sekitar pukul enam malam bel pintu berbunyi dan Mrs Black mulai menjerit lagi.

Mengasumsikan bahwa Mundungus atau beberapa anggota Order yang lain telah

datang berkunjung, Harry hanya membuat dirinya lebih nyaman di dinding kamar

Buckbeak tempat dia sedang bersembunyi, berusaha mengabaikan bagaimana

laparnya dia selagi dia memberi makan Hippogriff itu dengan tikus-tikus mati.

Membuatnya sedikit terguncang ketika seseorang menggedor-gedor pintu dengan

keras beberapa menit kemudian.

'Aku tahu kau di dalam sana,' kata suara Hermione. 'Maukah kau keluar? Aku ingin

berbicara kepadamu.'

'Apa yang sedang kau lakukan di sini?' Harry bertanya kepadanya, sambil menarik

pintu hingga terbuka sementara Buckbeak melanjutkan cakarannya pada lantai yang

dilapis jerami untuk mencari potongan-potongan tikus yang mungkin telah

dijatuhkannya. 'Kukira kau sedang berski dengan ayah dan ibumu?'

'Well, sejujurnya, ski bukan keahlianku,' kata Hermione. 'Jadi, aku datang ke sini

untuk Natalan.' Ada salju di rambutnya dan wajahnya merah jambu karena

kedinginan. 'Tapi jangan beritahu Ron. Kubilang padanya ski sangat menyenangkan

karena dia terus tertawa. Mum dan Dad sedikit kecewa, tapi kuberitahu mereka bahwa

semua orang yang serius tentang ujian tinggal di Hogwarts untuk belajar. Mereka mau

aku dapat nilai bagus, mereka akan mengerti. Ngomong-ngomong,' dia berkata

dengan cepat, 'mari pergi ke kamar tidurmu, ibu Ron sudah menyalakan api di sana

dan dia sudah mengirimkan roti isi.'

Harry mengikutinya kembali ke lantai dua. Ketika dia memasuki kamar tidur itu,

dia agak terkejut melihat Ron dan Ginny sedang menunggu mereka, sambil duduk di

tempat tidur Ron.

'Aku datang naik Bus Ksatria,' kata Hermione dengan ringan, sambil melepaskan

jaketnya sebelum Harry bisa berbicara. 'Dumbledore memberitahuku apa yang terjadi

pagi-pagi sekali, tapi aku harus menunggu semester berakhir secara resmi sebelum

berangkat. Umbridge sudah marah besar karena kalian semua menghilang tepat di

bawah hidungnya, walaupun Dumbledore memberitahunya Mr Weasley ada di St

Mungo dan dia sudah memberi kalian semua izin untuk menjenguk. Jadi ...'

Dia duduk di samping Ginny, dan kedua gadis itu dan Ron semua memandang

Harry.

'Bagaimana perasaanmu?' tanya Hermione.

'Baik,' kata Harry kaku.

'Oh, jangan bohong, Harry,' dia berkata dengan tidak sabar. 'Ron dan Ginny bilang

kau sudah bersembunyi dari semua orang sejak kalian kembali dari St Mungo.'

'Mereka bilang begitu, bukan?' kata Harry sambil melotot kepada Ron dan Ginny.

Ron melihat ke bawah pada kakinya tetapi Ginny tampaknya tidak merasa malu.

'Well, kau memang begitu!' dia berkata. 'Dan kau tak mau memandang satupun dari

kami!'

'Kalian semua yang tak mau memandangku!' kata Harry dengan marah.

'Mungkin kalian bergantian memandang, dan terus tak melihat satu sama lain,'

saran Hermione, sudut mulutnya berkedut.

'Sangat lucu,' sambar Harry sambil berpaling.

'Oh, berhenti merasa salah dimengerti,' kata Hermione dengan tajam. 'Lihat, yang

lain sudah memberitahuku apa yang kalian dengar tadi malam pada Telinga Yang-

Dapat-Dipanjangkan --'

'Yeah?' geram Harry, tangannya berada dalam-dalam di kantongnya selagi dia

mengamati salju yang sekarang turun dengan lebat di luar. 'Semua sudah berbicara

tentang aku, bukan begitu? Well, aku sudah terbiasa.'

'Kami ingin berbicara denganmu, Harry,' kata Ginny, 'tapi karena kau sudah

bersembunyi sejak kita kembali --'

'Aku tak butuh siapapun berbicara kepadaku,' kata Harry, yang merasa semakin

terluka.

'Well, kau agak bodoh,' kata Ginny dengan marah, 'mengingat kau tak kenal

siapapun kecuali aku yang pernah dirasuki oleh Kau-Tahu-Siapa, dan aku bisa

memberitahumu bagaimana rasanya.'

Harry terdiam sementara pengaruh kata-kata ini menghantamnya. Lalu dia

berputar.

'Aku lupa,' dia berkata.

'Beruntungnya kau,' kata Ginny dengan dingin.

'Maafkan aku,' Harry berkata, dan dia bersungguh-sungguh. 'Jadi ... jadi, kalau

begitu, apakah menurutmu aku dirasuki?'

'Well, bisakah kau ingat semua hal yang pernah kau lakukan?' Ginny bertanya.

'Apakah ada periode-periode kosong di mana kau tidak tahu apa yang telah kau

perbuat?'

Harry memutar otaknya.

'Tidak,' dia berkata.

'Kalau begitu Kau-Tahu-Siapa tidak pernah merasukimu,' kata Ginny dengan

sederhana. 'Waktu dia melakukannya padaku, aku tak bisa ingat apa yang telah

kulakukan selama berjam-jam pada sekali waktu. Aku akan menemukan diriku sendiri

di suatu tempat dan tidak tahu bagaimana aku sampai di sana.'

Harry hampir tidak berani mempercayainya, namun walau begitu hatinya semakin

ringan.

'Akan tetapi, mimpi yang kudapatkan tentang ayahmu dan ular itu --'

'Harry, kau sudah pernah mendapatkan mimpi-mimpi ini sebelumnya,' Hermione

berkata. 'Kau mendapatkan kilasan-kilasan tentang apa yang sedang diperbuat

Voldemort tahun lalu.'

'Itu berbeda,' kata Harry sambil menggelengkan kepalanya. 'Aku ada di dalam ular

itu. Sepertinya akulah ular itu ... bagaimana kalau Voldemort dengan suatu cara

memindahkanku ke London --?'

'Suatu hari,' kata Hermione, terdengar benar-benar putus asa, 'kau akan membaca

Sejarah Hogwarts, dan mungkin itu akan mengingatkanmu bahwa kau tak bisa ber-

Apparate atau ber-Disapparate di dalam Hogwarts. Bahkan Voldemort tidak bisa

membuat kau terbang begitu saja keluar dari kamar asramamu, Harry.'

'Kau tidak meninggalkan tempat tidurmu, sobat,' kata Ron. 'Aku melihatmu tidak

tenang dalam tidurmu selama setidaknya satu menit sebelum kami bisa

membangunkanmu.'

Harry mulai berjalan bolak-balik di kamar itu lagi, sambil berpikir. Apa yang

mereka semua katakan bukan hanya menenangkan, itu masuk akal ... tanpa benarbenar

berpikir, dia mengambil sebuah roti isi dari piring di atas tempat tidur dan

menjejalkannya dengan lapar ke dalam mulutnya.

Ternyata aku bukan senjatanya, pikir Harry. Hatinya menggembung dengan

kebahagiaan dan kelegaan, dan dia merasa ingin ikut serta ketika mereka mendengar

Sirius berderap melewati pintu mereka menuju kamar Buckbeak, sambil menyanyikan

'Tuhan Selamatkan Engkau, Hippogriff Gembira' sekeras-kerasnya.

*

Bagaimana mungkin dia bermimpi kembali ke Privet Drive untuk Natalan?

Kegembiraan Sirius mendapati rumahnya penuh lagi, dan terutama mendapatkan

Harry kembali, menjalar. Dia tidak lagi tuan rumah cemberut di musim panas,

sekarang dia tampak bertekad bahwa semua orang harus bersenang-senang sebesar,

kalau tidak lebih lebih dari yang akan mereka alami di Hogwarts, dan dia bekerja

tanpa lelah di hari-hari menjelang Hari Natal, membersihkan dan mendekorasi dengan

bantuan mereka, sehingga pada saat mereka semua pergi tidur pada Malam Natal

rumah itu hampir tidak bisa dikenali. Tempat-tempat lilin ternoda tak lagi bergantung

dengan sarang laba-laba melainkan dengan kalung tanaman holly dan pita-pita emas

dan perak; salju sihir berkilauan bertumpuk-tumpuk di atas karpet-karpet tipis; sebuah

pohon Natal besar, yang didapat oleh Mundungus dan dihiasi dengan peri-peri hidup,

menghalangi pohon keluarga Sirius dari pandangan, dan bahkan kepala-kepala peri

yang disumpal di aula mengenakan topi dan janggut Bapa Natal.

Harry terbangun di pagi Natal untuk menemukan setumpuk hadiah di kaki tempat

tidurnya dan Ron sudah setengah jalan membuka miliknya sendiri, tumpukan yang

lumayan besar.

'Tangkapan yang bagus tahun ini,' dia memberitahu Harry melalui tumpukan kertas.

'Trims atas Kompas Sapunya, bagus sekali; mengalahkan Hermione -- dia memberiku

sebuah perencana peer --'

Harry memilah-milah hadiahnya dan menemukan sebuah dengan tulisan tangan

Hermione di atasnya. Dia juga telah memberinya sebuah buku yang menyerupai diari

kecuali bahwa setiap kali dia membuka sebuah halaman buku itu berkata keras-keras

hal-hal seperti: 'Kerjakan hari ini atau kau akan bayar di kemudian waktu!'

Sirius dan Lupin memberi Harry satu set buku bagus berjudul Sihir Pertahanan

Praktis dan Kegunaannya Melawan Ilmu Hitam, yang memiliki ilustrasi berwarna

yang hebat dan bergerak-gerak mengenai semua kontra-kutukan dan guna-guna yang

digambarkannya. Harry membalik-balik volume pertama dengan bersemangat; dia

bisa melihat buku itu akan sangat berguna bagi rencana-rencananya untuk DA. Hagrid

telah mengirimkan sebuah dompet coklat berbulu yang memiliki taring, yang kiranya

seharusnya merupakan alat anti pencurian, tetapi sayangnya mencegah Harry

menempatkan uang ke dalamnya tanpa mengakibatkan jari-jarinya terkoyak. Hadiah

Tonks adalah sebuah model Firebolt kecil yang bisa bekerja, yang Harry amati

terbang mengitari kamar, sambil berharap dia masih memiliki versi ukuran penuhnya;

Ron memberinya sebuah kotak besar Kacang Segala Rasa, Mr dan Mrs Weasley

sweater rajutan tangan yang biasa dan beberapa pai daging, dan Dobby sebuah lukisan

yang sangat mengerikan yang Harry duga telah dilukis peri itu sendiri. Dia baru saja

membaliknya untuk melihat apakah terlihat lebih baik dengan cara itu ketika, dengan

suara lecutan keras, Fred dan George ber-Apparate di kaki ranjangnya.

'Selamat Natal,' kata George. 'Jangan turun ke bawah dulu.'

'Kenapa tidak?' kata Ron.

'Mum sedang menangis lagi,' kata Fred dengan berat. 'Percy mengirimkan kembali

sweater Natalnya.'

'Tanpa pesan,' tambah George. 'Belum bertanya bagaimana keadaan Dad atau

menjenguknya atau apapun.'

'Kami coba menghiburnya,' kata Fred sambil berpindah mengitari tempat tidur

untuk memandangi potret Harry. 'Bilang padanya Percy bukan apa-apa selain

setumpuk besar kotoran tikus.'

'tak berhasil,' kata George sambil makan sebuah Cokelat Kodok. 'Jadi Lupin ambil

alih. Kurasa, sebaiknya biarkan dia menghiburnya sebelum kita turun untuk sarapan.'

'Ngomong-ngomong, seharusnya itu apa?' tanya Fred sambil memicingkan mata

pada lukisan Dobby. 'Tampaknya seperti seekor siamang dengan dua mata hitam.'

'Itu Harry!' kata George sambil menunjuk ke bagian belakang gambar itu, 'katanya

begitu di belakang!'

'Mirip sekali,' kata Fred sambil menyeringai. Harry melemparkan diari peernya

yang baru kepadanya; benda itu mengenai dinding di seberang dan jatuh ke lantai di

mana dia berkata dengan gembira: 'Kalau kau sudah membubuhkan titik pada "i" dan

garis pada "t" maka kau boleh melakukan apapun yang kau suka!"

Mereka bangkit dan berpakaian. Mereka bisa mendengar berbagai penghuni rumah

saling berseru "Selamat Natal" kepada satu sama lain. Di perjalanan ke bawah mereka

bertemu Hermione.

'Trims atas bukunya, Harry,' dia berkata dengan gembira. 'Aku sudah

menginginkan Teori Baru Numerologi itu lama sekali! Dan parfumnya benar-benar

tidak biasa, Ron.'

'Tak masalah,' kata Ron. 'Ngomong-ngomong, untuk siapa itu?' dia menambahkan

sambil mengangguk pada hadiah yang terbungkus rapi yang sedang dibawa

Hermione.

'Kreacher,' kata Hermione dengan ceria.

'Sebaiknya bukan pakaian!' Ron memperingatkannya. 'Kau tahu apa yang dikatakan

Sirius: Kreacher tahu terlalu banyak, kita tidak bisa membebaskannya!'

'Bukan pakaian,' kata Hermione, 'walaupun kalau aku bisa aku tentu akan

memberinya sesuatu untuk dipakai selain kain rombengan kotor itu. Bukan, ini

selimut perca, kukira akan mencerahkan kamar tidurnya.'

'Kamar tidur apa?' kata Harry sambil menurunkan suaranya menjadi bisikan selagi

mereka melewati potret ibu Sirius.

'Well, Sirius bilang tak begitu mirip kamar tidur , lebih seperti sarang,' kata

Hermione. 'Tampaknya dia tidur di bawah ketel uap di dalam lemari itu di dapur.'

Mrs Weasley adalah satu-satunya orang yang berada di ruang bawah tanah ketika

mereka tiba di sana. Dia sedang berdiri di depan kompor dan terdengar seolah-olah

dia sedang flu berat ketika dia menyalami mereka 'Selamat Natal', dan mereka semua

mengalihkan mata mereka.

'Jadi, ini kamar tidur Kreacher?' kata Ron sambil berjalan ke sebuah pintu kumal di

sudut seberang lemari penyimpanan. Harry belum pernah melihatnya dibuka.

'Ya,' kata Hermione, sekarang terdengar sedikit gugup. 'Er ... kukira kita sebaiknya

mengetuk.'

Ron mengetuk pintu itu dengan buku-buku jarinya tetapi tidak ada jawaban.

'Dia pasti sedang menyelinap di atas,' dia berkata, dan tanpa ribut-ribut lagi

menarik pintu hingga terbuka. 'Urgh!'

Harry mengintip ke dalam. Sebagian besar dari lemari itu terambil oleh sebuah

ketel uap yang sangat besar dan kuno, tetapi di ruang di bawah pipa-pipa Kreacher

telah membuat sesuatu yang tampak seperti sarang bagi dirinya sendiri. Campuran

berbagai kain rombengan dan selimut tua yang bau ditumpuk di lantai dan lekuk kecil

di tengahnya memperlihatkan tempat Kreacher bergelung untuk tidur setiap malam.

Di sana-sini di antara benda-benda ada remah-remah roti basi dan potongan-potongan

keju berjamur. Di sudut jauh berkilau benda-benda kecil dan koin-koin yang Harry

tebak telah diselamatkan Kreacher, seperti burung pencuri, dari pembersihan rumah

oleh Sirius, dan dia juga berhasil mengambil foto keluarga berbingkai perak yang

telah dibuang Sirius pada musim panas. Kaca mereka mungkin pecah, tapi orangorang

kecil hitam putih di dalamnya memandangnya dengan angkuh, termasuk -- dia

merasakan entakan kecil di perutnya -- wanita berkelopak mata tebal yang berkulit

gelap yang pengadilannya telah dia saksikan dalam Pensieve Dumbledore: Bellatrix

Lestrange. Tampaknya, fotonya adalah kesukaan Kreacher; dia telah

menempatkannya di depan semua yang lain dan telah memperbaiki kacanya dengan

canggung menggunakan Spellotape.

'Kukira aku hanya akan meninggalkan hadiahnya di sini,' kata Hermione, sambil

meletakkan paket itu dengan rapi di tengah turunan di kain-kain dan selimut

rombengan itu dan menutup pintu pelan-pelan. 'Dia akan menemukannya nanti, itu

bagus.'

'Kalau dipikir-pikir,' kata Sirius, sambil muncul dari lemari penyimpanan sambil

membawa seekor kalkun besar selagi mereka menutup pintu lemari itu, 'apa

sebenarnya ada yang melihat Kreacher akhir-akhir ini?'

'Aku belum melihatnya sejak malam kami kembali ke sini,' kata Harry. 'Kau sedang

menyuruhnya keluar dari dapur.'

'Yeah ...' kata Sirius sambil merengut. 'Kau tahu, kukira itu terakhir kalinya aku

melihatnya juga ... dia pasti sedang bersembunyi di atas di suatu tempat.'

'Dia tidak mungkin pergi, bukan?' kata Harry. 'Maksudku, waktu kau bilang

"keluar", mungkin dia berpikir maksudmu keluar dari rumah?'

'Tidak, tidak, peri-rumah tidak bisa pergi kecuali mereka diberi pakaian. Mereka

terikat pada rumah keluarga,' kata Sirius.

'Mereka bisa meninggalkan rumah kalau mereka benar-benar mau,' Harry

membantahnya. 'Dobby melakukannya, dia meninggalkan rumah keluarga Malfoy

untuk memberiku peringatan dua tahun yang lalu. Dia harus menghukum dirinya

sendiri setelahnya, tapi tetap saja dia berhasil.'

Sirius tampak sedikit bingung sejenak, lalu berkata, 'Aku akan mencarinya nanti,

kuduga aku akan menemukannya di atas sedang menangisi kesalahan ibuku atau

sesuatu. Tentu saja, dia mungki telah merangkak ke dalam lemari pengering dan mati

... tapi aku tidak boleh mengharap tinggi-tinggi.'

Fred, George dan Ron tertawa; namun Hermione tampak mencela.

Setelah mereka makan siang Natal, keluarga Weasley, Harry dan Hermione

merencanakan untuk menjenguk Mr Weasley lagi, ditemani oleh Mad-Eye dan Lupin.

Mundungus muncul tepat waktu untuk puding Natal, setelah berhasil 'meminjam'

sebuah mobil untuk kesempatanitu, karena Kereta Bawah Tanah tidak jalan pada Hari

Natal. Maobil itu, yang Harry ragu telah diambil seizin pemiliknya, telah diperbesar

dengan mantera seperti dulu Ford Anglia lama keluarga Weasley. Walaupun besarnya

di bagian luar normal, sepuluh orang beserta Mundungus yang menyetir bisa masuk

ke dalamnya dengan nyaman. Mrs Weasley bimbang sebelum masuk ke dalam --

Harry tahu ketidaksetujuannya pada Mundungus bertarung dengan ketidaksukaannya

untuk bepergian tanpa sihir -- tapi, akhirnya, udara dinign di luar dan permohonan

anak-anaknya menang, dan dia masuk ke tempat duduk belakang di antara Fred dan

Bill dengan anggun.

Perjalanan ke St Mungo sangat cepat karena sangat sedikit lalu lintas di jalan-jalan.

Aliran kecil para penyihir wanita dan pria sedang berjalan pelan-pelan di jalan yang

selain itu sepi untuk mengunjungi rumah sakit. Harry dan yang lainnya keluar dari

mobil, dan Mundungus menyetir mengitari sudut untuk menunggu mereka. Mereka

berjalan dengan biasa menuju jendela tempat boneka berbaju nilon hijau itu berdiri,

lalu, satu per satu, melangkah melalui kaca.

Area penerimaan tampak bersuasana pesta menyenangkan: bola-bola kristal yang

menerangi St Mungo telah diberi warna merah dan emas sehingga menjadi bola hiasa

Natal raksasa berkilauan; daun-daun holly bergantungan di setiap ambang pintul dan

pohon-pohon Natal putih bersinar tertutup tetes air beku dan salju sihir berkilauan di

setiap sudut, masing-masing diberi bintang emas berkilat di puncaknya. Tempat itu

tidak begitu padat seperti kali terakhir mereka di sana, walaupun setengah jalan

menyusuri ruangan itu Harry menemukan dirinya terdorong ke samping oleh seorang

penyihir wanita dengan jeruk tersumbat di lubang hidungnya.

'Percekcokan keluarga, eh?' penyihir wanita di belakang meja tersenyum

menyeringai. 'Kau yang ketiga yang kutemui hari ini ... Kerusakan Akibat Mantera,

lantai keempat.'

Mereka menemukan Mr Weasley bersandar di tempat tidurnya dengan sisa-sisa

makan malam kalkunnya di sebuah nampan di pangkuannya dan ekspresi yang agak

malu-malu di wajahnya.

'Semuanya baik-baik saja, Arthur?' tanya Mrs Weasley, setelah mereka semua

memberi salam pada Mr Weasley dan menyerahkan hadiah-hadiah mereka.

'Bai, baik,' kata Mr Weasley, sedikit terlalu bersungguh-sungguh. 'Kalian -- er --

belum bertemu Penyembuh Smethwyck, bukan?'

'Belum,' kata Mrs Weasley dengan curiga, 'Kenapa?'

'Tidak apa-apa, tidak apa-apa,' kata Mr Weasley dengan ringan, sambil mulai

membuka bungkusan tumpukan hadiahnya. 'Well, semua orang senang? Apa yang

kalian semua dapatkan untuk Natal? Oh, Harry -- ini benar-benar menakjubkan!'

Karena dia baru saja membuka hadiah Harry berupa kawat sekering dan obeng.

Mrs Weasley tidak tampak benar-benar puas dengan jawaban Mr Weasley. Selagi

suaminya mencondongkan badan untuk menjabat tangan Harry, dia mengintip perban

di bawah baju tidurnya.

'Arthur,'dia berkata, dengan nada tajam dalam suaranya seperti perangkap tikus,

'perbanmu sudah diganti. Kenapa kau ganti perbanmu sehari lebih awal, Arthur?

Mereka bilang padaku tidak perlu diganti sampai besok.'

'Apa?' kata Mr Weasley, tampak agak takut dan menarik selimut lebih tinggi ke

dadanya. 'Tidak, tidak -- bukan apa-apa -- '

Dia terlihat mengerut di bawah tatapan menusuk Mrs Weasley.

'Well, jangan jadi kacau sekarang, Molly, tapi Augustus Pye punya gagasan ... dia

Penyembuh Magang, kau tahu, anak muda menyenangkan dan sangat tertarik dalam

... um ... obat-obat pelengkap ... maksudku, beberapa dari pengobatan Muggle tua ini

... well, disebut jahitan, Molly, dan berhasil sangat baik pada -- pada luka-luka

Muggle --'

Mrs Weasley mengeluarkan suara tidak menyenangkan antara jeritan dan geraman.

Lupin berjalan pergi dari ranjang dan ke arah manusia serigala itu, yang tidak

mendapat pengunjung dan sedang memandang agak prihatin ke kerumunan di sekitar

Mr Weasley; Bill menggumamkan sesuatu tentang minum secangkir the dan Fred dan

George melompat bangkit untuk menemaninya, sambil menyeringai.

'Apakah kau bermaksud memberitahuku,' kata Mrs Weasley, suaranya semakin

keras dengan setiap kata dan tampaknya tidak sadar bahwa pengunjung yang

bersamanya sedang giat mencari perlindungan, 'bahwa kau telah bermain-main

dengan pengobatan Muggle?'

'Bukan bermain-main, Molly, sayang,' kata Mr Weasley memohon, 'hanya -- hanya

sesuatu yang Pye dan aku kira akan kami coba -- cuma, sayangnya -- well, dengan

jenis luka seperti ini -- tampaknya tidak berhasil sebaik yang kami harapkan --'

'Artinya?'

'Well... well, aku tak tahu apakah kau tahu apa -- apa itu jahitan?'

'Kedengarannya seolah-olah kau mencoba menjahit kulitnya kembali,' kata Mrs

Weasley dengan dengus tawa tidak senang, 'tapi bahkan kau, Arthur, tidak akan

sebodoh itu--'

'Aku juga ingin secangkir the,' kata Harry sambil melompat bangkit.

Hermione, Ron dan Ginny hampir berlari kecil ke pintu bersamanya. Selagi pintu

itu berayun menutup di belakang mereka, mereka mendengar Mrs Weasley menjerit,

'APA MAKSUDMU, ITU GAGASAN UMUMNYA?'

'Ciri khas Dad,' kata Ginny sambil menggelengkan kepalanya selagi mereka

berjalan di koridor. 'Jahitan ... kutanya kalian ...'

'Well, kau tahu, jahitan berhasil pada luka-luka non-sihir,' kata Hermione dengan

adil. 'Kurasa sesuatu dalam bisa ular itu melarutkannya atau sesuatu. Aku ingin tahu

di mana ruang minum the?'

'Lantai kelima,' kata Harry teringat pada papan penunjuk di atas meja penyihir

penyambut.

Mereka berjalan menyusuri koridor, melalui serangkaian pintu ganda dan

menemukan tangga reyot yang dihiasi dengan lebih banyak lagi potret para

Penyembuh yang tampak kejam. Selagi mereka menaikinya, berbagai Penyembuh itu

memanggil mereka, mendiagnosakan keluhan-keluhan aneh dan menyarankan obatobat

mengerikan. Ron benar-benar terhina ketika seorang penyihir pria abad

pertengahan berseru bahwa dia jelas-jelas terkena spattergroit yang parah.

'Dan apa itu?' dia bertanya dengan marah, sementara si Penyembuh mengejarnya

melalui enam potret lagi, sambil mendorong pada penghuninya menyingkir.

'Itu adalah penyakit kulit yang paling menyedihkan, tuan muda, yang akan

menyebabkan Anda bermuka bopen dan bahkan lebih mengerikan daripada sekarang -

-'

'Perhatikan siapa yang kau sebut mengerikan!' kata Ron, telinganya memerah.

'--satu-satunya penyembuhnya adalah dengan mengambil hati katak, mengikatnya

erat-erat di tenggorokanmu, berdiri telanjang saat bulan penuh di dalam satu tong

mata belut --'

'Aku tidak kena spattergroit!'

'Tapi noda-noda tak sedap dipandang di wajah Anda, tuan muda --'

'Itu bintik-bintik!' kata Ron marah besar. 'Sekarang kembali ke gambarmu dan

tinggalkan aku sendiri!'

Dia berpaling kepada yang lainnya, yang semuanya sedang bertekad memasang

muka biasa.

'Lantai berapa ini?'

'Kukira yang kelima,' kata Hermione.

'Bukan, yang keempat,' kata Harry, 'satu lagi --'

Tetapi selagi dia mendarat ke puncak tangga dia berhenti mendadak, sambil

menatap ke jendela kecil yang terdapat pada pintu ganda yang menandakan awal

sebuah koridor yang diberi tanda CEDERA AKIBAT MANTERA. Seorang lelaki

sedang mengintip kepada mereka semua dengan hidungnya tertekan pada kaca. Dia

memiliki rambut pirang bergelombang, mata biru cerah dan sebuah senyum lebar

yang hampa yang memperlihatkan gigi-gigi putih menyilaukan.

'Astaga!' kata Ron, juga menatap lelaki itu.

'Oh, Tuhan,' kata Hermione tiba-tiba, terdengar terengah-engah. 'Profesor

Lockhart!'

Bekas guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam mereka mendorong pintu-pintu itu

hingga terbuka dan bergerak ke arah mereka, mengenakan sebuah jubah longgar

panjang berwarna lila.

'Well, halo yang di sana!' dia berkata. 'Kurasa kalian akan mau tanda tanganku,

bukan?'

'Belum banyak berubah, bukan?' Harry bergumam kepada Ginny, yang

menyeringai.

'Er -- bagaimana keadaan Anda, Profesor?' kata Ron, terdengar sedikit bersalah.

Tongkat Ron yang rusaklah yang telah mencederai ingatan Profesor Lockhart dengan

begitu parahnya sehingga dia sampai ke St Mungo, walaupun karena Lockhart telah

berusaha untuk menghapus ingatan Harry dan Ron secara permanen pada saat itu, rasa

simpati Harry terbatas.

'Aku sangat sehat, terima kasih!' kata Lockhart dengan gembira, sambil menarik

sebuah pena bulu merak yang agak kumal dari kantongnya. 'Sekarang, berapa banyak

tanda tangan yang kalian inginkan? Aku bisa menulis huruf kursif sekarang, kalian

tahu!'

'Er -- kami tak mau apapun saat ini, trims,' kata Ron sambil mengangkat alisnya

kepada Harry, yang bertanya, 'Profesor, apakah Anda boleh berkeliaran di koridor?

Bukankah seharusnya Anda berada di dalam sebuah bangsal?'

Senyum memudar lambat-lambat dari wajah Lockhart. Selama beberapa saat dia

memandang Harry lekat-lekat, lalu dia berkata, 'Bukankah kita pernah bertemu?'

'Er ... yeah, memang,' kata Harry. 'Anda dulu mengajar kami di Hogwarts, ingat?'

'Mengajar?' ulang Lockhart, terlihat agak tidak tenang. 'Aku? Benarkah?'

Dan kemudian senyum itu muncul kembali ke wajahnya begitu mendadaknya

sehingga agak menakutkan.

'Mengajari kalian semua yang kalian tahu, kurasa begitu? Well, kalau begitu,

bagaimana dengan tanda tangan itu? Haruskah kita bilang sekitar selusin, dengan

begitu kalian bisa memberikannya kepada semua teman kecil kalian dan tak

seorangpun akan ketinggalan!'

Tetapi saat itu sebuah kepala terulur dari sebuah pintu di ujung jauh dari koridor itu

dan sebuah suara berkata, 'Gilderoy, kau anak nakal, ke mana kau pergi?'

Seorang Penyembuh yang tampak keibuan yang mengenakan sebuah rangkaian

bunga dari kertas perak di rambutnya datang bergegas menyusuri koridor, sambil

tersenyum hangat kepada Harry dan yang lainnya.

'Oh, Gilderoy, kau punya pengunjung! Betapa bagusnya, dan di Hari Natal juga!

Tahukah kalian, dia tak pernah mendapat mengunjung, anak malang, dan aku tak bisa

mengira kenapa, dia begitu manis, bukan?'

'Kami sedang melakukan tanda tangan!' Gilderoy memberitahu Penyembuh itu

dengan senyum berkilau lagi. 'Mereka mau banyak, tidak mau terima penolakan! Aku

hanya berharap kami punya cukup foto!'

'Dengarkan dia,' kata si Penyembuh sambil memegang lengan Lockhart dan

tersenyum sayang kepadanya seolah-olah dia anak berusia dua tahun yang terlalu

cepat dewasa. 'Dia agak terkenal beberapa tahun yang lalu; kami sangat berharap

bahwa kegemarannya memberi tanda tangan adalah suatu tanda bahwa ingatannya

mungkin mulai kembali. Maukah kalian melangkah ke sini? Dia ada dalam bangsal

tertutup, kalian tahu, dia pasti telah meyelinap keluar sewaktu aku membawa masuk

hadiah-hadiah Natal, pintu biasanya dikunci ... bukannya dia berbahaya! Tapi,' dia

menurunkan suaranya menjadi bisikan, 'dia agak berbahaya bagi dirinya sendiri,

berkati dia ... tak tahu siapa dia, kalian paham, berkeliaran dan tak ingat bagaimana

kembali ... baik sekalil kalian datang untuk menemuinya.'

'Er,' kata Ron sambil memberi isyarat tanpa guna pada lantai di atas, 'sebenarnya,

kami Cuma -- er --'

Tetapi si Penyembuh sedang tersenyum penuh pengharapan kepada mereka, dan

gumaman lemah Ron 'akan minum secangkir teh' menghilang. Mereka saling

berpandangan tak berdaya lalu mengikuti Lockhart dan Penyembuhnya menyusuri

koridor.

'Kita jangan tinggal lama-lama,' Ron berkata pelan.

Penyembuh itu menunjukkan tongkatnya pada pintu Bangsal Janus Thickey dan

bergumam, 'Alohomora.' Pintu berayun terbuka dan dia memimpin jalan ke dalam,

sambil memegang lengan Gilderoy dengan mantap sampai dia menempatkannya ke

sebuah kursi berlengan di samping tempat tidurnya.

'Ini bangsal penghuni jangka panjang kami,' dia memberitahu Harry, Ron,

Hermione dan Ginny dengan suara rendah. 'Untuk kerusakan akibat mantera yang

permanen, kalian tahu. Tentu saja, dengan jimat dan guna-guna dan ramuan-ramuan

penyembuh yang intensif serta sedikit keberuntungan, kami bisa menghasilkan sedikit

perbaikan. Gilderoy tampaknya mulai kembali pada dirinya sendiri; dan kami telah

melihat perbaikan nyata pada Mr Bode, dia tampaknya mulai mendapatkan

kemampuan berbicafra dengan sangat baik, walaupun dia belum berbicara dengan

bahasa yang kami kenali. Well, aku harus menyelesaikan pembagian hadiah-hadiah

Natal, aku akan meninggalkan kalian semua untuk berbincang-bincang.'

Harry memandang berkeliling. Bangsal itu memiliki tanda-tanda tak salah lagi

merupakan rumah permanen bagi para penghuninya. Mereka memiliki lebih banyak

barang-barang pribadi di sekitar tempat tidur mereka daripada di bangsal Mr Weasley;

dinding-dinding di sekitar ujung tempat tidur Gilderoy, contohnya, dilapisi dengan

gambar-gambar dirinya sendiri, semuanya tersenyum memamerkan gigi dan

melambai-lambai kepada para pendatang baru itu. Dia telah menandatangani banyak

foto itu untuk dirinya sendiri dalam tulisan tangan kekanak-kanakan yang terputusputus.

Saat dia telah ditempatkan ke kursinya oleh si Penyembuh, Gilderoy menarik

setumpuk baru foto kepada dirinya sendiri, meraih sebuah pena bulu dan mulai

menandatangani mereka semua dengan tergesa-gesa.

'Kau bisa meletakkannya ke dalam amplop-amplop,' dia berkata kepada Ginny,

sambil melemparkan gambar-gambar bertanda tangan itu ke pangkuannya satu per

satu setelah dia selesai. 'Aku tidak terlupakan, kalian tahu, tidak, aku masih menerima

banyak surat penggemar ... Gladys Gudgeon menulis surat tiap minggu ... Aku hanya

berharap aku tahu kenapa.' Dia berhenti sejenak, tampak agak bingung, lalu

tersenyum lagi dan kembali menandatangani dengan tenaga baru. 'Kurasa cuma

ketampananku ...'

Seeorang penyihir pria berkulit pucat dan tampak murung yang berbaring di tempat

tidur di seberang sedang menatap langit-langit; dia sedang berkomat-kamit pada

dirinya sendiri dan tampak tidak sadar akan apapun di sekitarnya. Dua ranjang

berikutnya adalah seorang wanita yang seluruh kepalanya tertutup bulu; Harry ingat

sesuatu yang serupa terjadi pada Hermione di tahun kedua mereka, walaupun

untungnya kerusakan itu, dalam kasusnya, tidak permanen. Di ujung terjauh bangsal

itu tirai-tirai berbunga-bunga telah ditarik mengelilingi dua ranjang untuk memberi

para penghuninya dan pengunjung-pengunjung mereka sedikit privasi.

'Ini dia, Agnes,' kata si Penyembuh dengan ceria kepada wanita berwajah berbulu

itu, sambil menyerahkan kepadanya setumpuk kecil hadiah Natal. 'Lihat, kamu belum

terlupakan, bukan? Dan anak lelakimu mengirim seekor burung hantu untuk

mengatakan dia akan berkunjung malam ini, jadi itu bagus, bukan?'

Agnes mengeluarkan beberapa gonggongan keras.

'Dan lihat, Broderick, kau telah dikirimi sebuah tanaman pot dan sebuah kalender

indah bergambar seekor Hippogriff menawan yang berbeda tiap bulannya; mereka

akan mencerahkan suasana, bukan?' kata si Penyembuh, sambil berjalan menuju pria

yang berkomat-kamit itu, menempatkan sebuah tanaman yang agak jelek yang

memiliki tentakel-tentakel panjang berayun ke atas lemari di sisi tempat tidur dan

memasang kalender ke dinding dengan tongkatnya. 'Dan -- oh, Mrs Longbottom,

Anda sudah akan pergi?'

Kepala Harry berputar. Tirai-tirai telah ditarik dari kedua ranjang di ujung bangsal

dan dua orang pengunjung sedang berjalan menyusuri gang di antara ranjang-ranjang:

seorang penyihir wanita tua yang tampak mengerikan yang mengenakan sebuah gaun

hijau panjang, sebuah mantel bulu musang termakan ngengat dan sebuah topi yang

dihiasi dengan apa yang tak salah lagi seekor burung nazar yang disumpal dan,

mengekor di belakangnya terlihat benar-benar tertekan -- Neville.

Dengan serbuan pengertian mendadak, Harry sadar siapa orang-orang di ranjang

ujung itu. Dia memandang berkeliling dengan liar untuk mencari cara-cara

mengalihkan perhatian yang lainnya sehingga Neville bisa meninggalkan bangsal itu

tanpa diperhatikan dan tanpa ditanyai, tapi Ron juga telah melihat ke atas ketika

mendengar nama 'Longbottom', dan sebelum Harry bisa menghentikannya dia telah

berseru, 'Neville!'

Neville terlompat dan gemetaran seolah-olah sebuah peluru hampir saja

mengenainya.

'Ini kami, Neville!' kata Ron dengan ceria, sambil bangkit. 'Sudahkah kau lihat --?

Lockhart ada di sini! Siapa yang kau kunjungi?'

'Teman-temanmu, Neville, sayang?' kata nenek Neville dengan sangat ramah,

sambil memandangi mereka semua.

Neville terlihat seolah-olah dia lebih suka berada di manapun di dunia kecuali di

sini. Suatu rona ungu menjalar di wajahnya yang bundar dan dia tidak mengadakan

kontak mata dengan satupun dari mereka.

'Ah, ya,' kata neneknya, sambil memandang Harry dengan seksama dan

mengulurkan tangan keriput yang mirip cakar kepadanya untuk bersalaman. 'Ya, ya,

aku tahu siapa kau, tentu saja. Neville sangat memujimu.'

'Er -- trims,' kata Harry sambil bersalaman. Neville tidak memandangnya, tapi

mengamati kakinya sendiri, rona wajahnya semakin dalam sementara itu.

'Dan kalian berdua jelas keluarga Weasley,' Mrs Longbottom melanjutkan, sambil

mengulurkan tangannya dengan khidmat kepada Ron dan Ginny bergantian. 'Ya, aku

kenal orang tua kalian -- tidak kenal baik, tentunya -- tapi orang-orang yang baik,

orang-oang yang baik ... dan kau pasti Hermione Granger?'

Hermione tampak agak terkejut bahwa Mrs Longbottom tahu namanya, tapi tetap

bersalaman bagaimanapun.

'Ya, Neville sudah menceritakan kepadaku semua tentang dirimu. Membantunya

keluar dari beberapa kesulitan, bukan begitu? Dia anak yang baik,' katanya sambil

memberi pandangan tajam menilai lewat hidungnya yang agak kurus kepada Neville,

'tapi dia tidak punya bakat ayahnya, aku kuatir mengatakannya.' Dan dia

menyentakkan kepalanya ke arah dua ranjang di ujung bangsal itu, sehingga burung

nazar isian di topinya bergetar mengkhawatirkan.

'Apa?' kata Ron, terlihat heran. (Harry ingin menginjak kaki Ron, tapi hal seperti

itu jauh lebih sulit dilakukan tanpa diperhatikan kalau kau memakai celana jins

bukannya jubah.) 'Apakah ayahmu yang di ujung situ, Neville?'

'Apa ini?' kata Mrs Longbottom dengan tajam. 'Apakah kau belum memberitahu

teman-temanmu mengenai orang tuamu, Neville?'

Neville mengambil napas dalam-dalam, memandang ke langit-langit dan

menggelengkan kepalanya. Harry tak bisa ingat pernah merasa lebih prihatin kepada

siapapun, tapi dia tak bisa memikirkan cara apapun untuk membantu Neville keluar

dari situaasi itu.

'Well, tidak perlu merasa malu!' kata Mrs Longbottom dengan marah. 'Kau

seharusnya bangga, Neville, bangga! Mereka tidak melepaskan kesehatan dan

kewarasan mereka sehingga anak lelaki mereka satu-satunya malu terhadap mereka,

kau tahu!'

'Aku tidak malu,' kata Neville dengan sangat lemah, masih memandang ke

manapun kecuali kepada Harry dan yang lainnya. Ron sekarang sedang berdiri di

ujung jarinya untuk melihat ke penghuni kedua tempat tidur itu.

'Well, kau menunjukkannya dengan cara yang aneh!' kata Mrs Longbottom. 'Anak

lelakiku dan istrinya,' dia berkata, sambil berpaling dengan angkuh kepada Harry,

Ron, Hermione dan Ginny, 'disiksa hingga gila oleh para pengikut Kau-Tahu-Siapa.'

Hermione dan Ginny keduanya menekupkan tangan mereka di atas mulut. Ron

berhenti menjulurkan lehernya untuk memandang sepintas lalu orang tua Neville dan

tampak malu.

'Mereka Auror, kalian tahu, dan sangat dihormati dalam komunitas penyihir,' Mrs

Longbottom melanjutkan. 'Sangat berbakat, keduanya. Aku -- ya, Alice sayang, ada

apa?'

Ibu Neville telah datang sambil berjalan miring di bangsal itu mengenakan baju

tidurnya. Dia tak lagi memiliki wajah bulat yang tampak bahagia yang dilihat Harry di

foto tua Moody tentang Order of Phoenix yang asli. Wajahnya kurus dan lemah

sekarang, matanya tampak terlalu besar dan rambutnya, yang telah berubah menjadi

putih, bergelung-gelung kecil dan tampak mati. Dia tampaknya tidak mau berbicara,

atau mungkin dia tidak bisa, tetapi dia membuat gerakan malu-malu kepada Neville,

sambil memegang sesuatu di tangannya yang terulur.

'Lagi?' kata Mrs Longbottom, terdengar agak letih. 'Baiklah, Alice sayang, baiklah -

- Neville, ambillah, apapun itu.'

Tetapi Neville sudah menjulurkan tangannya, ke mana ibunya menjatuhkan sebuah

pembungkus kosong Permen Karet Tiup Terbaik Drooble.

'Sangat bagus, sayang,' kata nenek Neville dengan suara ceria palsu, sambil

menepuk-nepuk bahu ibunya.

Tetapi Neville berkata pelan, 'Trims, Mum.'

Ibunya berjalan pergi tertatih-tatih, kembali ke ujung bangsal, sambil bersenandung

kepada dirinya sendiri. Neville memandang berkeliling kepada yang lain, ekspresinya

menantang, seolah-olah menantang mereka untuk tertawa, tapi Harry berpikir dia

belum pernah menemukan apapun yang lebih tidak lucu dalam hidupnya.

Tetapi ketika mereka pergi, Harry yakin dia melihat Neville menyelipkan

pembungkus permen itu ke dalam kantongnya.

Pintu menutup di belakang mereka.

'Aku tak pernah tahu,' kata Hermione, yang tampak berkaca-kaca.

'Aku juga tidak,' kata Ron agak serak.

'Aku juga,' bisik Ginny.

Mereka semua memandang Harry.

'Aku tahu,' dia berkata dengan murung. 'Dumbledore memberitahuku tetapi aku

berjanji aku tidak akan memberitahu siapapun ... itulah yang menyebabkan Bellatrix

Lestrange dikirim ke Azkaban, menggunakan Kutukan Cruciatus pada orang tua

Neville sampai mereka hilang ingatan.'

'Bellatrix Lestrange melakukan itu?' bisik Hermione, terkejut. 'Wanita yang fotonya

ditaruh Kreacher di sarangnya?'

Ada keheningan lama, yang dipecahkan oleh suara marah Lockhart.

'Lihat, aku tidak belajar menulis huruf kursif untuk disia-siakan, kalian tahu!'

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH EMPAT --

Occlumency

Kreacher, ternyata, bersembunyi di loteng. Sirius berkata dia menemukannya di atas

sana, tertutup debu, tak diragukan lagi sedang mencari lebih banyak barang

peninggalan keluarga Black untuk disembunyikan di lemarinya. Walaupun Sirius

kelihatannya puas dengan cerita ini, Harry merasa tidak tenang. Kreacher tampak

berada dalam suasana hati yang lebih baik, gumaman getirnya telah sedikit reda dan

dia menuruti perintah-perintah dengan lebih patuh daripada biasanya, walaupun sekali

atau dua kali Harry memergoki peri-rumah itu sedang menatapnya lekat-lekat, tetapi

selalu berpaling dengan cepat kapanpun dia melihat bahwa Harry memperhatikan.

Harry tidak menyebutkan kecurigaan samarnya kepada Sirius, yang keceriaannya

sedang menguap dengan cepat sekarang setelah Natal usai. Sementara hari

keberangkatan mereka kembali ke Hogwarts semakin dekat, dia menjadi semakin

mudah terkena apa yang disebut Mrs Weasley 'serangan kecemberutan', di mana dia

akan menjadi pendiam dan galak, sering menarik diri ke kamar Buckbeak selama

berjam-jam pada sekali waktu. Kemurungannya merembes ke seluruh rumah, lewat

bagian bawah ambang pintu seperti gas berbahaya, sehingga mereka semua tertular.

Harry tidak ingin meninggalkan Sirius lagi dengan hanya Kreacher sebagai teman;

bahkan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak menanti-nantikan kembali

ke Hogwarts. Kembali ke sekolah akan berarti menempatkan dirinya sendiri sekali

lagi di bawah kezaliman Dolores Umbridge, yang tak diragukan berhasil memaksakan

selusin dekrit lagi dalam ketidakhadiran mereka; tidak ada Quidditch untuk dinantikan

sekarang setelah dia dilarang bermain; ada kemungkinan besar bahwa beban

pekerjaan rumah mereka akan meningkat sementara ujian semakin mendekat; dan

Dumbledore tetap sejauh dulu. Bahkan, kalau bukan karena DA, Harry berpikir dia

mungkin telah memohon kepada Sirius untuk mengizinkannya meninggalkan

Hogwarts dan tetap di Grimmauld Place.

Lalu, di hari terakhir liburan, sesuatu terjadi yang membuat Harry benar-benar

ngeri akan kembalinya ke sekolah.

'Harry, sayang,' kata Mrs Weasley sambil menjulurkn kepalanya ke dalam

kamarnya dan Ron, di mana mereka berdua sedang bermain catur penyihir ditonton

oleh Hermione, Ginny dan Crookshanks, 'bisakah kau turun ke dapur? Profesor Snape

ingin berbicara denganmumu.'

Harry tidak segera menyadari apa yang telah dia katakan; salah satu bentengnya

sedang berada dalam pergumulan hebat dengan sebuah pion Ron dan dia sedang

menyemangatinya dengan antusias.

'Lumatkan dia -- lumatkan dia, dia cuma sebuah pion, kau idiot. Sori, Mrs Weasley,

apa yang Anda katakan?'

'Profesor Snape, sayang. Di dapur. Dia mau bicara.'

Mulut Harry terbuka karena ngeri. Dia memandang berkeliling kepada Ron,

Hermione dan Ginny, yang semuanya sedang memandangnya kembali sambil

menganga. Crookshanks, yang telah Hermione tahan dengan susah payah selama

seperempat jam terakhir ini, melompat dengan gembira ke atas papan dan membuat

bidak-bidak berlarian mencari perlindungan, sambil memekik sekeras-kerasnya.

'Snape?' kata Harry dengan hampa.

'Profesor Snape, sayang,' kata Mrs Weasley mencela. 'Sekarang ayolah, cepat, dia

bilang dia tidak bisa tinggal lama-lama.'

'Apa yang dia mau denganmu?' kata Ron, terlihat bingung ketika Mrs Weasley

pergi dari kamar itu. 'Kau tidak melakukan apapun, 'kan?'

'Tidak!' kata Harry tidak senang, sambil memutar otaknya untuk memikirkan apa

yang mungkin telah dilakukannya yang akan membuat Snape mengejarnya ke

Grimmauld Place. Apakah peer terakhirnya mungkin mendapatkan sebuah T?

Satu atau dua menit kemudian, dia mendorong pintu dapur hingga terbuka untuk

mendapati Sirius dan Snape keduanya duduk di meja dapur panjang, saling melotot ke

seberangnya. Keheningan antara mereka sarat akan ketidaksukaan bersama. Sepucuk

surat tergeletak terbuka di meja di depan Sirius.

'Er,' kata Harry, untuk mengumumkan kehadirannya.

Snape memandangnya, wajahnya terbingkai di antara tirai rambut hitam

berminyak.

'Duduk, Potter.'

'Kau tahu,' kata Sirius dengan keras, sambil bersandar pada kaki belakang kursinya

dan berbicara kepada langit-langit, 'Kukira aku lebih suka kalau kau tidak

memberikan perintah di sini, Snape. Ini rumahku, kau tahu.'

Rona jelek meliputi wajah pucat Snape. Harry duduk di sebuah kursi di samping

Sirius, menhadapi Snape di seberang meja.

'Aku seharusnya menemuimu sendirian, Potter,' kata Snape, seringai mengejek

yang sudah lazim melengkungkan mulutnya, 'tetapi Black --'

'Aku ayah angkatnya,' kata Sirius, lebih keras dari sebelumnya.

'Aku di sini atas perintah Dumbledore,' kata Snape, yang suaranya, sebaliknya,

semakin pelan, 'tapi bagaimanapun tinggallah, Black, aku tahu kau suka merasa ...

terlibat.'

'Apa artinya itu?' kata Sirius sambil membiarkan kursinya jatuh kembali ke atas

empat kaki dengan suara bantingan keras.

'Hanya bahwa aku yakin kau pasti merasa -- ah -- frustrasi karena fakta bahwa kau

tak bisa melakukan sesuatu yang berguna,' Snape memberikan tekanan lembut pada

kata, 'untuk Order.'

Giliran Sirius yang merona. Bibir Snape melengkung dalam kemenangan selagi dia

berpaling kepada Harry.

'Kepala Sekolah telah mengirimku untuk memberitahumu, Potter, bahwa adalah

keinginannya bagimu untuk mempelajari Occlumency semester ini.'

'Mempelajari apa?' kata Harry dengan hampa.

Seringai mengejek Snape menjadi semakin jelas.

'Occlumency, Potter. Pertahanan sihir pikiran terhadap penetrasi dari luar. Cabang

sihir yang tidak dikenal, tetapi sangat berguna.'

Jantung Harry mulai memompa dengan sangat cepat. Pertahanan terhadap penetrasi

dari luar. Tetapi dia tidak dirasuki, mereka semua menyetujui itu ...

'Kenapa aku harus mempelajari Occlu -- ini?' dia berkata tanpa pikir.

'Karena Kepala Sekolah mengira itu ide yang bagus,' kata Snape dengan halus. 'Kau

akan menerima pelajaran privat sekali seminggu, tetapi kau tidak akan memberitahu

siapapun apa yang sedang kau lakukan, terutama Dolores Umbridge. Kau mengerti?'

'Ya,' kata Harry. 'Siapa yang akan mengajari saya?'

Snape mengangkat alisnya.

'Aku,' dia berkata.

Harry merasakan sensasi mengerikan bahwa isi tubuhnya sedang meleleh.

Pelajaran tambahan dengan Snape -- apa yang telah dilakukannya sehingga pantas

mendapatkan ini? Dia memandang Sirius dengan cepat untuk mencari dukungan.

'Kenapa Dumbledore tidak bisa mengajari Harry?' tanya Sirius dengan agresif.

'Kenapa kau?'

'Kurasa karena hak istimewa seorang kepala sekolah untuk mendelegasikan tugastugas

yang kurang menyenangkan,' kata Snape dengan licin. 'Kuyakinkan kau aku

tidak memohon pekerjaan ini.' Dia bangkit. 'Aku akan menantimu pada pukul enam

Senin malam, Potter. Kantorku. Kalau ada yang tanya, kau sedang mengambil

pelajaran perbaikan Ramuan. Tak seorangpun yang pernah melihatmu dalam kelasku

akan mengingkari kau butuh perbaikan.'

Dia berpaling untuk pergi, mantel bepergiannya yang hitam berombak di

belakangnya.

'Tunggu sebentar,' kata Sirius sambil duduk lebih tegak di kursinya.

Snape berpaling untuk menghadapi mereka, sambil tersenyum mencemooh.

'Aku agak terburu-buru, Black. Tidak seperti kamu, aku tidak punya waktu luang

tak terbatas.'

'Kalau begitu, aku akan langsung ke pokok permasalahannya,' kata Sirius sambil

berdiri. Dia agak lebih tinggi daripada Snape yang, Harry perhatikan, mengepalkan

tinjunya di kantong mantelnya pada apa yang Harry yakin merupakan pegangan

tongkatnya. 'Kalau kudengar kau menggunakan pelajaran-pelajaran Occlumency ini

untuk memberi Harry kesulitan, kau akan berhadapan denganku.'

'Betapa menyentuhnya,' Snape tersenyum menyeringai. 'Tetapi tentunya kau sudah

memperhatikan bahwa Potter sangat mirip ayahnya?'

'Ya, memang,' kata Sirius dengan bangga.

'Well kalau begitu, kau akan tahu dia begitu arogan sehingga kritik hanya akan

memantul darinya,' Snape dengan halus.

Sirius mendorong kursinya dengan kasar ke samping dan berjalan mengitari meja

ke arah Snape, sambil menarik tongkatnya selagi dia jalan. Snape mengeluarkan

tongkatnya sendiri. Mereka sedang berhadap-hadapan, Sirius tampak pucat karena

marah, Snape sedang melakukan perhitungna, matanya beralih dari ujung tongkat

Sirius ke wajahnya.

'Sirius!' kata Harry keras-keras, tetapi Sirius tampaknya tidak mendengar dia.

'Kuperingatkan kau, Snivellus,' kata Sirius, wajahnya tidak sampai satu kaki dari

wajah Snape, 'Aku tidak peduli kalau Dumbledore mengira kau sudah tobat, aku lebih

tahu --'

'Oh, tapi kenapa kau tidak memberitahunya begitu?' bisik Snape. 'Atau apakah kau

takut dia mungkin tidak menganggap serius nasehat dari seorang lelaki yang telah

bersembunyi di dalam rumah ibunya selama enam bulan?'

'Beritahu aku, bagaimana keadaan Lucius Malfoy akhir-akhir ini? Kuduga dia

senang anjing piaraannya bekerja di Hogwarts, bukan?'

'Berbicara tentang anjing,' kata Snape dengan lembut, 'tahukah kau bahwa Lucius

Malfoy mengenalimu terakhir kali kau mempertaruhkan pesiar kecil ke luar? Gagasan

yang pintar, Black, membuat dirimu terlihat di atas sebuah peron stasiun yang aman ...

memberimu alasan sekuat besi untuk tidak meninggalkan lubang persembunyianmu di

masa mendatang, bukan?'

Sirius mengangkat tongkatnya.

'TIDAK!' Harry berteriak, sambil melompati meja dan mencoba berada di antara

mereka. 'Sirius, jangan!'

'Apakah kau menyebutku pengecut?' raung Sirius, mencoba mendorong Harry,

tetapi Harry tidak mau bergeming.

'Ya, kurasa begitu,' kata Snape.

'Harry -- menyingkirlah!' bentak Sirius, sambil mendorongnya ke samping dengan

tangannya yang bebas.

Pintu dapur terbuka dan seluruh keluarga Weasley, ditambah Hermione, masuk,

semuanya terlihat sangat gembira, dengan Mr Weasley berjalan dengan bangga di

tengah-tengah mereka berpakaian piyama garis-garis yang ditutupi dengan jas hujan.

'Sembuh!' dia mengumumkan dengan ceria kepada dapur secara keseluruhan.

'Sepenuhnya sembuh!'

Dia dan semua anggota keluarga Weasley lainnya membeku di ambang pintu,

menatap ke adegan di depan mereka, yang juga terhenti di tengah-tengah, baik Sirius

maupun Snape sedang memandang pintu dengan tongkat mereka saling menunjuk

wajah satu sama lain dan Harry tidak bergerak di antara mereka, sebuah tangan

direntangkan ke masing-masing orang, mencoba memaksa mereka berpisah.

'Jenggot Merlin,' kata Mr Weasley, senyum memudar dari wajahnya, 'apa yang

sedang terjadi di sini?'

Sirius dan Snape menurunkan tongkat mereka. Harry memandang dari yang satu ke

yang lain. Masing-masing mengenakan ekspresi sangat jijik, namun masuknya begitu

banyak saksi yang tidak terduga tampaknya telah menyadarkan mereka. Snape

mengantongi tongkatnya, berpaling dan berjalan kembali menyeberangi dapur,

melewati keluarga Weasley tanpa komentar. Di pintu dia memandang balik.

'Pukul enam, Senin malam, Potter.'

Dan dia pergi. Sirius melotot di belakangnya, tongkatnya di sampingnya.

'Apa yang sudah terjadi?' tanya Mr Weasley lagi.

'Tidak apa-apa, Arthur,' kata Sirius, yang sedang bernapas dengan berat seolah-olah

dia baru saja berlari jarak jauh. 'Cuma perbincangan kecil yang ramah antara dua

teman sekolah lama.' Dengan apa yang tampak seperti usaha berat, dia tersenyum.

'Jadi ... kau sembuh? Itu kabar yang sangat bagus, benar-benar hebat.'

'Ya, bukan begitu?' kata Mrs Weasley sambil menuntun suaminya maju ke sebuah

kursi. 'Penyembuh Smethwyck melakukan sihirnya akhirnya, menemukan sebuah

penawar racun atas apapun yang ular itu punya di taringnya, dan Arthur sudah jera

mencoba-coba obat Muggle, bukan begitu, sayang?' dia menambahkan, agak

mengancam.

'Ya, Molly, sayang,' kata Mr Weasley tanpa perlawanan.

Makan malam ini seharusnya ceria, dengan Mr Weasley kembali di antara mereka.

Harry bisa tahu Sirius sedang berusaha membuatnya demikian, tetapi ketika ayah

angkatnya tidak sedang memaksa diirnya sendiri untuk tertawa keras-keras pada

lelucon-lelucon Fred dan George atau menawari semua orang makanan lagi, wajahnya

kembali ke ekspresi murung dan memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Harry

dipisahkan darinya oleh Mundungus dan Mad-Eye, yang mampir untuk memberi Mr

Weasley selamat. Dia ingin berbicara kepada Sirius, untuk memberitahunya dia

seharusnya tidak mendengarkan sepatah katapun yang dikatakan Snape, bahwa Snape

sedang menghasutnya dengan sengaja dan bahwa yang lainnya tidak menganggap

Sirius seorang pengecut karena melakukan seperti yang disuruh Dumbledore dan

tinggal di Grimmauld Place. Tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk

melakukannya, dan, sambil memandang tampang jelek di wajah Sirius, Harry

terkadang bertanya-tanya apakah dia akan berani menyebutnya kalaupun dia memiliki

kesempatan. Alih-alih, dia memberitahu Ron dan Hermione dengan suara rendah

tentang harus mengambil pelajaran-pelajaran Occlumency dengan Snape.

'Dumbledore mau kamu berhenti mendapatkan mimpi-mimpi tentang Voldemort

itu,' kata Hermione seketika. 'Well, kamu tidak akan menyesal tidak mendapatkannya

lagi, bukan?'

'Pelajaran tambahan dengan Snape?' kata Ron, terdengar kaget. 'Aku lebih suka

dapat mimpi buruk!'

Mereka harus kembali ke Hogwarts naik Bus Ksatria hari berikutnya, dikawal

sekali lagi oleh Tonks dan Lupin, yang keduanya sedang makan pagi di dapur ketika

Harry, Ron dan Hermione turun pagi berikutnya. Orang-orang dewasa tampaknya

sedang mengadakan percakapan bisik-bisik ketika Harry membuka pintu; mereka

semua memandang berkeliling dengan buru-buru dan terdiam.

Setelah makan pagi tergesa-gesa, mereka semua mengenakan jaket dan scarf

melawan pagi Januari yang dingin kelabu. Harry memiliki perasaan tertarik yang

tidak menyenangkan di dadanya; dia tidak mau mengatakan selamat tinggal kepada

Sirius. Dia memiliki perasaan buruk tentang perpisahan ini; dia tidak tahu kapan

mereka akan bertemu satu sama lain lagi dan dia merasa berkewajiban mengatakan

sesuatu kepada Sirius untuk menghentikannya melakukan apapun yang bodoh --

Harry kuatir bahwa tuduhan kepengecutan Snape telah menusuk Sirius begitu hebat

sehingga sekarang dia bahkan mungkin merencanakan beberapa perjalanan gila-gilaan

keluar dari Grimmauld Place. Namun, sebelum dia bisa memikirkan apa yang harus

dikatakan, Sirius telah memberinya isyarat untuk datang ke sampingnya.

'Aku mau kau bawa ini,' dia berkata pelan, sambil menyodorkan sebuah paket yang

dibungkus sekenanya yang kurang lebih seukuran sebuah buku tulis ke dalam tangan

Harry.

'Apa itu?' Harry bertanya.

'Suatu cara memberitahuku kalau Snape sedang menyulitkanmu. Tidak, jangan

buka di sini!' kata Sirius, dengan pandangan waspada kepada Mrs Weasley, yang

sedang mencoba membujuk si kembar untuk mengenakan sarung tangan rajutan

tangan. 'Aku ragu Molly akan menyetujui -- tapi aku mau kau menggunakannya kalau

kau perlu aku, oke?'

'OK,' kata Harry sambil menyimpan paket itu di kantong bagian dalam jaketnya,

tetapi dia tahu dia tidak akan pernah menggunakan apapun itu. Bukan dia, Harry,

yang akan memikat Sirius keluar dari tempat keselamatannya, tak peduli betapa

buruknya Snape memperlakukan dia dalam kelas-kelas Occlumency mereka yang

akan datang.

'Kalau begitu, ayo pergi,' kata Sirius sambil menepuk bahu Harry dan tersenyum

suram, dan sebelum Harry bisa mengatakan hal lai, mereka sedang menuju lantai atas,

berhenti di depan pintu depan yang penuh rantai dan terkunci, dikelilingi oleh

keluarga Weasley.

'Selamat tinggal, Harry, jaga dirimu,' kata Mrs Weasley sambil memeluknya.

'Sampai jumpa, Harry, dan hati-hati dengan ular!' kata Mr Weasley dengan riang,

sambil menjabat tangannya.

'Benar -- yeah,' kata Harry dengan pikiran kacau; ini kesempatan terakhirnya untuk

memberitahu Sirius agar berhati-hati; dia berpaling, memandang ke wajah ayah

angkatnya dan membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi sebelum dia bisa

melakukannya Sirius sedang memberinya pelukan satu lengan yang singkat dan

berkata dengan kasar, 'Jaga dirimu, Harry.' Saat berikutnya, Harry mendapati dirinya

dilangsir ke luar ke udara musim dingin yang sedingin es, bersama Tonks (hari ini

menyamar sebagai seorang wanita jangkung dengan rambut kelabu) yang sedang

mengejarnya menuruni undakan.

Pintu nomor dua belas terbanting menutup di belakang mereka. Mereka mengikuti

Lupin menuruni anak-anak tangga depan. Ketika dia mencapai trotoar, Harry

memandang berkeliling. Nomor dua belas sedang mengerut dengan cepat sementara

rumah-rumah di kedua sisinya merentang ke samping, menjepitnya hingga keluar dari

pandangan. Satu kedipan kemudian, ia sudah hilang.

'Ayolah, semakin cepat kita naik bus semakin baik,' kata Tonks, dan Harry mengira

ada kegugupan dalam pandangan sekilas yang dilemparkannya ke sekitar alun-alun.

Lupin mengulurkan lengan kanannya.

BANG.

Sebuah bus bertingkat tiga yang sangat ungu muncul dari udara kosong di depan

mereka, hampir mengenai tiang lampu terdekat, yang melompat mundur menghindar.

Seorang pemuda kurus, berjerawat, bertelinga besar yang mengenakan seragam

ungu melompat turun ke trotoar dan berkata, 'Selamat datang ke --'

'Ya, ya, kami tahu, terima kasih,' kata Tonks dengan cepat. 'Naik, naik, ke atas --'

Dan dia mendorong Harry maju ke tangga, melewati kondektur, yang membelalak

kepada Harry ketika dia lewat.

'Itu 'Arry --!'

'Kalau kau meneriakkan namanya aku akan mengutuknya menjadi pingsan,' gumam

Tonks mengancam, sekarang melangsir Ginny dan Hermione ke depan.

'Aku selalu ingin naik benda ini,' kata Ron dengan gembira sambil bergabung

dengan Harry di atas bus dan memandang sekeliling.

Terakhir kali Harry bepergian dengan Bus Ksatria adalah sewaktu malam hari dan

ketiga tingkatnya penuh dengan ranjang-ranjang berangka kuningan. Sekarang, pagipagi

sekali, bus itu dijejali dengan beragam kursi-kursi yang tidak serasi yang

dikelompokkan dengan sembarangan di sekitar jendela-jendela. Beberapa di antara

kursi-kursi ini tampaknya telah jatuh ketika bus berhenti mendadak den Grimmauld

Place; beberapa orang penyihir wanita dan pria masih sedang bangkit, sambil

menggerutu dan tas belanjaan seseorang telah meluncur di bus itu: campuran tak

menyenangkan dari telur kodok, kecoak dan krim kenari berceceran di mana-mana di

atas lantai.

'Tampaknya kita harus berpisah,' kata Tonks dengan cepat sambil memandang

berkeliling mencari kursi-kursi kosong. 'Fred, George dan Ginny, kalau kalian ambil

kursi-kursi itu di belakang ... Remus bisa tinggal bersama kalian.'

Dia, Harry, Ron dan Hermione meneruskan ke tingkat yang paling atas, di mana

ada dua kursi yang tidak terpakai di bagian paling depan dan dua di belakang. Stan

Shunpike, si kondektur, mengikuti Harry dan Ron dengan bersemangat ke belakang.

Kepala-kepala berpaling ketika Harry lewat dan, ketika dia duduk, dia melihat semua

wajah-wajah itu berkibas kembali ke depan lagi.

Ketika Harry dan Ron menyerahkan kepada Stan masing-masing sebelas Sickle,

bus itu berangkat lagi, sambil berayun mengerikan. Bus berderu di sekitar Grimmauld

Place, naik-turun trotoar, lalu, dengan bunyi BANG hebat lagi, mereka semua

terdorong ke belakang; kursi Ron berguling dan Pigwidgeon, yang berada di

pangkuannya, keluar dari kandangnya dan terbang sambil mencicit dengan liar ke

bagian depan bus di mana dia berkibar turun ke bahu Hermione. Harry, yang telah

menghindari jatuh dengan meraih siku-siku tempat lilin, memandang keluar dari

jendela: mereka sekarang ngebut di apa yang tampak seperti jalan tol.

'Persis di luar Birmingham,' kata Stan dengan gembira, menjawab pertanyaan Harry

yang tidak ditanyakan sementara Ron berjuang bangkit dari lantai. 'Kalau begitu, kau

baik, 'Arry? Aku lihat namamu di koran sering sekali selama musim panas, tapi bukan

hal yang sangat baik. Kubilang pada Ern, kubilang, dia tidak tampak seperti orang

sinting waktu kita jumpa dia, tidak bisa tahu, bukan?'

Dia menyerahkan tiket kepada mereka dan terus menatap Harry dengan terpesona.

Tampaknya, Stan tidak peduli betapa sintingnya seseorang, kalau mereka cukup

terkenal untuk berada di koran. Bus Ksatria berayun menakutkan, melewati sebarisan

mobil. Ketika melihat ke bagian depan bus, Harry melihat Hermione menutupi

matanya dengan tangan, Pigwidgeon sedang berayun dengan gembira di bahunya.

BANG.

Kursi-kursi meluncur mundur lagi selagi Bus Ksatria melompat dari jalan tol

Birmingham ke sebuah jalan perdesaan tenang yang penuh belokan-belokan tajam.

Pagar tanaman di kedua sisi jalan melompat menyingkir ketika mereka berpapasan.

Dari sini mereka pindah ke sebuah jalan besar di tengah sebuah kota kecil yang sibuk,

lallu ke sebuah jembatan di atas jalan yang dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi, lalu ke

sebuah jalan berangin kencang di antara apartemen-apartemen tinggi, setiap kali

dengan bunyi BANG yang keras.

'Aku berubah pikiran,' gumam Ron sambil bangkit dari lantai untuk keenam

kalinya, 'aku tidak akan pernah mau benda ini lagi.'

'Dengar, pemberhentian 'Ogwarts setelah ini,' kata Stan dengan ceria sambil

berayun menuju mereka. 'Wanita tukang perintah di depan yang naik bersama kalian,

dia memberi kami tip kecil untuk memindahkan kalian ke depan antrian. Kami hanya

akan menurunkan Madam Marsh dulu --' ada suara muntah dari bawah, diikuti dengan

bunyi percikan mengerikan '-- dia tidak merasa sehat.'

Beberapa menit kemudian, Bus Ksatria mendecit berhenti di luar sebuah bar kecil,

yang menyingkir untuk menghindari tubrukan. Mereka bisa mendengar Stan

mengantarkan Madam Marsh yang tak beruntung itu keluar dari bus dan gumam

kelegaan teman-teman penumpangnya di tingkat dua. Bus itu bergerak lagi,

menambah kecepatan, sampai --

BANG.

Mereka sedang melalui Hogsmeade yang bersalju. Harry melihat sekilas Hog's

Head di jalan samping, papan penanda yang bergambar kepala babi hutan yang

terpotong berderit dalam angin musim dingin. Butir-butir salju mengenai jendela

besar di bagian depan bus. Akhirnya mereka berhenti di luar gerbang-gerbang

Hogwarts.

Lupin dan Tonks membantu mereka keluar dari bus bersama barang-barang bawaan

mereka, lalu turun untuk mengatakan selamat tinggal. Harry memandang sekilas ke

ketiga tingkat Bus Ksatria dan melihat semua penumpangnya menatapi mereka,

hidung-hidung rata pada jendela-jendela.

'Kalian akan aman begitu kalian berada di halaman sekolah,' kata Tonks, sambil

memandang berkeliling dengan waspada ke jalan yang sepi. 'Semoga semester kalian

menyenangkan, OK?'

'Jaga diri kalian,' kata Lupin sambil menyalami mereka semua dan meraih Harry

paling akhir. 'Dan dengar ...' dia merendahkan suaranya sementara yang lain saling

mengucapkan selamat tinggal saat terakhir dengan Tonks, 'Harry, aku tahu kamu tidak

suka Snape, tapi dia Occlumens yang hebat dan kami semua -- termasuk Sirius -- mau

kamu belajar melindungi dirimu sendiri, jadi kerja keraslah, oke?'

'Yeah, baiklah,' kata Harry dengan berat sambil memandang wajah Lupin yang

berkerut sebelum waktunya. 'Kalau begitu, sampai jumpa.'

Mereka berenam berjuang menyusuri jalan kereta licin menuju kastil, sambil

menyeret koper-koper mereka. Hermione sudah berbicara tentang merajut beberapa

topi peri sebelum waktu tidur. Harry memandang sekilas ke belakang ketika mereka

mencapai pintu-pintu depan dari kayu ek; tetapi Bus Ksatria sudah pergi dan dia

setengah berharap, mengingat apa yang akan datang malam berikutnya, bahwa dia

masih di atasnya.

*

Harry menghabiskan sebagian besar waktunya keesokan harinya merasa takut pada

malam harinya. Pelajaran Ramuan ganda di pagi harinya tidak menghilangkan

kengeriannya, karena Snape sama tidak menyenangkannya seperti sebelumnya.

Suasana hatinya semakin merosot akibat para anggota DA yang terus-menerus

menghampirinya di koridor-koridor antara jam pelajaran, bertanya penuh harap

apakah akan ada pertemuan malam itu.

'Akan kuberitahu kalian dengan cara biasa kapan yang berikutnya,' Harry berkata

berulang-ulang, 'tapi aku tidak bisa melakukannya malam ini, aku harus menghadiri --

er -- perbaikan Ramuan.'

'Kau mengambil perbaikan Ramuan!' tanya Zacharias Smith dengan congkak,

setelah memojokkan Harry di Aula Depan setelah makan siang. Demi Tuhan, kau

pasti mengerikan. Snape biasanya tidak memberikan pelajaran tambahan, bukan?'

Ketika Smith berjalan pergi dengan gaya ringan yang menjengkelkan, Ron melotot

kepadanya.

'Haruskah kukutuk dia? Aku masih bisa mengenainya dari sini,' dia berkata sambil

mengangkat tongkatnya dan membidik di antara tulang bahu Smith.

'Lupakan,' kata Harry dengan muram. 'Itu yang akan dipikirkan semua orang,

bukan? Bahwa aku benar-benar bod--'

'Hai, Harry,' kata sebuah suara di belakangnya. Dia berpaling dan mendapati Cho

berdiri di sana.

'Oh,' kata Harry sementara perutnya terlompat dengan tidak menyenangkan. 'Hai.'

'Kami akan ada di perpustakaan, Harry,' kata Hermione dengan tegas selagi dia

menyambar Ron di atas siku dan menyeretnya pergi menuju tangga pualam.

'Natalmu menyenangkan?' tanya Cho.

'Yeah, tidak buruk,' kata Harry.

'Punyaku agak tenang,' kata Cho. Untuk alasan tertentu, dia tampak agak malu.

'Erm ... ada perjalanan Hogsmeade lainnya bulan depan, apakah kau melihat

pengumumannya?'

'Apa? Oh, tidak, aku belum memeriksa papan pengumuman sejak aku kembali.'

'Ya, pada Hari Valentine ...'

'Benar,' kata Harry sambil bertanya-tanya kenapa dia memberitahunya hal ini.

'Well, kurasa kau mau --?'

'Hanya kalau kau juga mau,' dia berkata dengan bersemangat.

Harry menatapnya. Dia tadi akan berkata,'Kurasa kau mau tahu kapan pertemuan

DA berikutnya?' tetapi tanggapannya tampaknya tidak sesuai.

'Aku -- er --' dia berkata.

'Oh, tidak apa-apa kalau kau tidak mau,' Cho berkata, terlihat malu. 'Jangan kuatir.

Aku -- sampai jumpa lagi.'

Dia berjalan pergi. Harry berdiri menatapnya, otaknya bekerja gila-gilaan. Lalu

sesuatu menjadi jelas.

'Cho! Hei -- CHO!'

Dia berlari mengejarnya, mendapatinya setengah jalan menaiki tangga pualam itu.

'Er -- apakah kau mau pergi ke Hogsmeade bersamaku di Hari Valentine?'

'Oooh, ya!' dia berkata, merona merah padam dan tersenyum kepadanya.

'Baiklah ... well ... kalau begitu itu sudah beres,' kata Harry, dan merasa bahwa hari

itu ternyata tidak akan merugikan sepenuhnya, dia bahkan melambung ketika menuju

perpustakaan untuk menjemput Ron dan Hermione sebelum pelajaran-pelajaran sore

mereka.

Namun, pada pukul enam malam itu, bahkan semangat karena telah berhasil

mengajak Cho Chang pergi tidak bisa meringankan perasaan mengerikan yang terus

menguat bersama setiap langkah yang diambil Harry menuju kantor Snape.

Dia berhenti sejenak di luar pintu ketika dia sampai, berharap dia berada di hampir

semua tempat yang lain, lalu, sambil mengambil napas dalam-dalam, dia mengetuk

pintu dan masuk.

Ruangan penuh bayang-bayang itu dibarisi dengan rak-rak yang berisikan ratusan

toples kaca yang menampung potongan-potongan berlendir binatang-binatang dan

tanaman-tanaman yagn tercelup di dalam berbagai ramuan berwarna. Di salah satu

sudut berdiri lemari penuh bahan ramuan yang pernah Snape tuduh Harry -- bukan

tanpa alasan -- rampok. Namun, perhatian Harry tertarik kepada meja tulis, di maan

sebuah baskom batu dangkal yang diukir dengan rune-rune dan simbol-simbol

tergeletak dalam genangan cahaya lilin. Harry mengenalinya dengan seketika -- itu

Pensieve Dumbledore. Bertanya-tanya mengapa benda itu ada di sana, dia terlompat

ketika suara dingin Snape datang dari balik bayang-bayang.

'Tutup pintu di belakangmu, Potter.'

Harry melakukan yang disuruhnya, dengan perasaan mengerikan bahwa dia sedang

memenjarakan dirinya sendiri. Ketika dia berpaling kembali, Snape telah berpindah

ke tempat terang dan sedang menunjuk diam-diam ke kursi di seberang meja tulisnya.

Harry duduk dan begitu pula Snape, mata hitamnya yang dingin terpaku tanpa

berkedip kepada Harry, ketidaksukaan tertanam dalam setiap garis di wajahnya.

'Well, Potter, kau tahu kenapa kau di sini,' dia berkata. 'Kepala Sekolah telah

memintaku mengajarimu Occlumency. Aku hanya bisa berharap bahwa kau terbukti

lebih cakap pada pelajaran itu daripada pada Ramuan.'

'Benar,' kata Harry singkat.

'Ini mungkin bukan kelas biasa, Potter,' kata Snape, matanya menyipit dengan

dengki, 'tetapi aku masih gurumu dan karena itu kau akan memanggilku "sir" atau

"Profesor" sepanjang waktu.'

'Ya ... sir,' kata Harry.

Snape terus mengamatinya melalui mata yang disipitkan selama beberapa saat, lalu

berkata, 'Sekarang, Occlumency. Seperti yang kuberitahukan kepadamu di dapur ayah

angkatmu tercinta, cabang ilmu sihir ini menyegel pikiran terhadap gangguan dan

pengaruh sihir.'

'Dan kenapa Profesor Dumbledore mengira aku membutuhkannya, sir?' kata Harry,

memandang langsung ke mata Snape dan bertanya-tanya apakah Snape akan

menjawab.

Snape memandang balik kepadanya sejenak dan lalu berkata dengan menghina,

'Tentunya bahkan kaupun sudah bisa memahami itu sekarang, Potter? Pangeran

Kegelapan memiliki keahlian tinggi dalam Legilimency --'

'Apa itu? Sir?'

'Itu adalah kemampuan untuk mengeluarkan perasaan dan ingatan dari pikiran

orang lain --'

'Dia bisa membaca pikiran?' kata Harry cepat-cepat, ketakutan terbesarnya telah

dibenarkan.

'Kau tidak mengerti kepelikan ungkapan, Potter,' kata Snape, matanya yang gelap

berkilauan. 'Kau tidak mengerti perbedaan halus. Itu adalah salah satu kekuranganmu

yang menjadikanmu pembuat ramuan yang patut disesali.'

Snape berhenti sejenak, tampaknya menyesapi kesenangan menghina Harry,

sebelum melanjutkan.

'Hanya Muggle yang berbicara tentang "membaca pikiran". Pikiran bukan sebuah

buku, untuk dibuka sekehendak hati dan diperiksa sesukanya. Pemikiran tidak diukir

di bagian dalam tengkorak, untuk dibaca dengan teliti oleh penyerbu. Pikiran adalah

sesuatu yang rumit dan memiliki banyak lapisan, Potter -- atau setidaknya,

kebanyakan pikiran begitu.' Dia tersenyum mencemooh. 'Namun, benar bahwa

mereka yang telah menguasai Legilimency mampu, di bawah kondisi tertentu,

menyelidiki ke dalam pikiran para korban mereka dan menginterpretasikan penemuan

mereka dengan tepat. Contohnya, Pangeran Kegelapan hampir selalu tahu ketika

seseorang sedang berbohong kepadanya. Hanya mereka yang ahli dalam Occlumency

yang mampu menutup perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan mereka yang

menyangkal kebohongan itu, dan dengan demikian bisa mengucapkan dusta di

hadapannya tanpa diketahui.'

Apapun yang dikatakan Snape, Legilimency terdengar seperti membaca pikiran

kepada Harry, dan dia tidak suka yang didengarnya sama sekali.

'Jadi, dia bisa tahu apa yang sedang kita pikirkan sekarang? Sir?'

'Pangeran Kegelapan berada dalam jarak yang cukup jauh dan dinding-dinding

serta halaman Hogwarts dijaga oleh banyak mantera dan jimat kuno untuk menjamin

keselamatan fisik dan mental mereka yang tinggal di dalamnya,' kata Snape. 'Waktu

dan ruang penting dalam sihir, Potter. Kontak mata sering diperlukan sekali untuk

Legilimency.'

'Well, kalau begitu, kenapa aku harus mempelajari Occlumency?'

Snape memandangi Harry, sambil menelusuri mulutnya dengan satu jari yang

panjang dan kurus.

'Peraturan biasa tampaknya tidak berlaku bagimu, Potter. Kutukan yang gagal

membunuhmu tampaknya telah menempa semacam hubungan antara kamu dengan

Pangeran Kegelapan. Bukti menyatakan bahwa pada saat-saat, ketika pikirannya

paling santai dan mudah diserang -- saat kau tertidur, contohnya -- kau berbagi pikiran

dan emosi Pangeran Kegelapan. Kepala Sekolah berpikir tidak bijaksana untuk

diteruskan. Beliau ingin aku mengajarimu bagaimana menutup pikiranmu pada

Pangeran Kegelapan.'

Jantung Harry berdebar cepat lagi. Tak satupun dari ini masuk akal.

'Tetapi kenapa Profesor Dumbledore mau menghentikannya?' dia bertanya

mendadak. 'Aku tidak begitu suka, tapi berguna, bukan? Maksudku ... aku melihat

ular itu menyerang Mr Weasley dan kalau tidak, Profesor Dumbledore tidak akan bisa

menyelamatkannya, bukan? Sir?'

Snape menatap Harry beberapa saat, masih menelusuri mulutnya dengan jarinya.

Ketika dia berbicara lagi, dilakukannya lambat-lambat dan berhati-hati, seolah-olah

dia menimbang setiap kata.

'Tampaknya Pangeran Kegelapan belum menyadari hubungan antara dirimu dan

dirinya sampai akhir-akhir ini. Sampai sekarang tampaknya bahwa kau telah

mengalami emosinya, dan berbagi pikirannya, tanpa dia tahu. Namun, penglihatan

yang kau dapatkan tak lama sebelum Natal --'

'Tentang ular dan Mr Weasley?'

'Jangan sela aku, Potter,' kata Snape dengan suara berbahaya. 'Seperti yang sedang

kukatakan, penglihatan yang kau dapatkan tak lama sebelum Natal menggambarkan

serangan yang begitu kuat pada pikiran-pikiran Pangeran Kegelapan --'

'Aku melihat ke dalam kepala ular itu, bukan dia!'

'Kupikir aku baru saja menyuruhmu untuk tidak menyelaku, Potter?'

Tetapi Harry tidak peduli kalau Snape marah; setidaknya dia tampaknya mulai

mencapai dasar masalah ini; dia telah maju di kursinya sehingga, tanpa sadar, dia

sedang bertengger di bagian paling tepi, tegang seolah-olah sedang bersiap untuk lari.

'Bagaimana bisa aku melihat melalui mata ular itu kalau pikiran Voldemort yang

kumasuki?'

'Jangan sebut nama Pangeran Kegelapan!' ludah Snape.

Ada keheningan tidak menyenangkan. Mereka melotot kepada satu samal lain

melewati Pensieve.

'Profesor Dumbledore menyebut namanya,' kata Harry pelan.

'Dumbledore adalah seorang penyihir yang sangat kuat,' Snape bergumam.

'Walaupun beliau mungkin merasa cukup aman untuk menggunakan nama itu ... kitakita

yang lain ...' Dia menggosok lengan bawah kirinya, tampaknya dengan tidak

sadar, di titik di mana Harry tahu Tanda Kegelapan terbakar ke kulitnya.

'Aku hanya ingin tahu,' Harry mulai lagi, memaksa suaranya kembali ke nada

sopan, 'kenapa --'

'Kau sepertinya telah mengunjungi pikiran ular itu karena di sanalah Pangeran

Kegelapan berada pada saat tertentu itu,' geram Snape. 'Dia sedang merasuki ular itu

pada saat itu dan dengan begitu kau bermimpi kau ada di dalamnya juga.'

'Dan Vol -- dia -- sadar aku ada di sana?'

'Tampaknya begitu,' kata Snape dengan dingin.

'Bagaimana Anda tahu?' kata Harry mendesak. 'Apakah ini cuma dugaan Profesor

Dumbledore, atau --?'

'Kusuruh kau,' kata Snape, kaku di kursinya, matanya menyipit,' untuk

memanggilku "sir".'

'Ya, sir,' kata Harry tidak sabaran, 'tapi bagaimana Anda tahu --?'

'Cukup bahwa kami tahu,' kata Snape menekan. 'Poin pentingnya adalah bahwa

Pangeran Kegelapan sekarang sadar bahwa kau mendapatkan akses kepada pikiran

dan perasaannya. Dia juga menarik kesimpulan bahwa proses itu mungkin sekali

bekerja berlawanan arah; yakni, dia sadar bahwa dia mungkin bisa memasuki pikiran

dan perasaanmu sebagai balasannya --'

'Dan dia mungkin mencoba membuatku melakukan hal-hal?' tanya Harry. 'Sir?' dia

menambahkan dengan buru-buru.

'Mungkin,' kata Snape, terdengar dingin dan tidak peduli. 'Yang membawa kita

kembali ke Occlumency.'

Snape menarik keluar tongkatnya dari sebuah kantong di bagian dalam jubahnya

dan Harry tegang di kursinya, tetapi Snape hanya mengangkat tongkat itu ke

pelipisnya dan menempatkan ujungnya ke akar-akar berminyak rambutnya. Saat dia

melepaskannya, beberapa zat keperakan keluar, merentang dari pelipisnya seperti

benang halus yang tebal, yang putus ketika dia menarik tongkat itu menjauh dan jatuh

dengan anggun ke dalam Pensieve, di mana benda itu berputar putih keperakan, bukan

gas maupun cairan. Dua kali lagi, Snape mengangkat tongkatnya ke pelipisnya dan

menempatkan zat keperakan itu ke dalam baskom batu itu, lalu, tanpa menawarkan

penjelasan apapun tentang perilakunay, dia mengangkat Pensieve itu dengan hati-hati,

menyimpannya ke sebuah rak menyingkir dari hadapan mereka dan kembali

menghadapi Harry dengan tongkatnya dipegang siap sedia.

'Berdiri dan keluarkan tongkatmu, Potter.'

Harry bangkit, merasa gugup. Mereka saling berhadapan dengan meja tulis itu di

antara mereka.

'Kau boleh menggunakan tongkatmu untuk berusaha melucuti senjataku, atau

mempertahankan dirimu dengan cara apapun yang bisa kau pikirkan,' kata Snape.

'Apa yang akan Anda lakukan?' Harry bertanya, sambil memandang tongkat Snape

dengan gelisah.

'Aku akan mencoba masuk ke dalam pikiranmu,' kata Snape dengan lembut. 'Kita

akan melihat seberapa baik kau bertahan. Aku telah diberitahu bahwa kau sudah

memperlihatkan bakat melawan Kutukan Imperius. Kau akan mendapati bahwa

kekuatan yang serupa dibutuhkan untuk ini ... kuatkan dirimu, sekarang. Legilimens!'

Snape telah menyerang sebelum Harry siap, sebelum dia bahkan mulai memanggil

kekuatan bertahan apapun. Kantor itu berdengung di depan matanya dan menghilang;

gambar demi gambar berpacu di pikirannya seperti sebuah film yang berkelap-kelip

begitu hidup sehingga membutakannya dari sekelilingnya.

Dia berumur lima tahun, sedang menyaksikan Dudley mengendarai sepeda baru

berwarna merah, dan hatinya penuh dengan kecemburuan ... dia berumur sembilan

tahun, dan Ripper si bulldog sedang mengejarnya naik ke sebuah pohon dan keluarga

Dursley sedang tertawa di bawah di halaman ... dia sedang duduk di bawah Topi

Seleksi, dan topi itu sedang memberitahunya dia akan berhasil di Slytherin ...

Hermione sedang berbaring di sayap rumah sakit, wajahnya tertutup bulu hitam tebal

... seratus Dementor menuju ke arahnya di samping danau yang gelap ... Cho Chang

sedang mendekatinya di bawah mistletoe ...

Tidak, kata sebuah suara di dalam kepala Harry, selagi memori Cho semakin

mendekat, kau tidak akan menyaksikan itu, kau tidak akan menyaksikan itu, itu

pribadi --

Dia merasakan sakit menusuk di lututnya. Kantor Snape telah kembali ke

penglihatannya dan dia menyadari bahwa dia telah jatuh ke lantai; salah satu lututnya

terbentuk kaki meja tulis Snape dengan menyakitkan. Dia memandang kepada Snape,

yang telah menurunkan tongkatnya dan sedang menggosok pergelangan tangannya.

Ada bekas lecutan besar di sana, seperti bekas terbakar.

'Apakah kau bermaksud menghasilkan Guna-Guna Penyengat?' tanya Snape

dengan dingin.

'Tidak,' kata Harry dengan getir, sambil bangkit dari lantai.

'Kukira begitu,' kata Snape sambil mengamatinya dengan seksama. 'Kau

membiarkan aku masuk terlalu jauh. Kau kehilangan kendali.'

'Apakah Anda melihat semua yang kulihat?' Harry bertanya, tidak yakin apakah dia

ingin mendengar jawabannya.

'Kilasan-kilasan,' kata Snape, bibirnya melengkung. 'Milik siapa anjing itu?'

'Bibiku Marge,' Harry bergumam, sambil membenci Snape.

'Well, untuk percobaan pertama itu tidak terlalu buruk,' kata Snape sambil

mengangkat tongkatnya sekali lagi. 'Kau berhasil menghentikanku pada akhirnya,

walaupun kau menghabiskan waktu dan energi dengan berteriak. Kau harus tetap

fokus. Tolak aku dengan otakmu dan kau tidak akan perlu terpaksa menggunakan

tongkatmu.'

'Aku sedang berusaha,' kata Harry dengan marah, 'tapi kau tidak memberitahuku

bagaimana caranya!'

'Tata krama, Potter,' kata Snape dengan berbahaya. 'Sekarang, aku mau kau

menutup matamu.'

Harry memberinya pandangan tidak senang sebelum melakukan apa yang disuruh.

Dia tidak suka gagasan berdiri di sana dengan mata tertutup sementara Snape

menghadapinya, sambil membawa sebuah tongkat.

'Bersihkan pikiranmu, Potter,' kata suara dingin Snape. 'Lepaskan semua emosi ...'

Tetapi kemarahan Harry kepada Snape terus menderu melewati nadinya seperti

bisa. Lepaskan kemarahannya? Dia bisa melakukannya semudah melepaskan kakinya

...

'Kau tidak melakukannya, Potter ... kau perlu lebih banyak disiplin daripada ini ...

fokus, sekarang ...'

Harry mencoba mengosongkan pikirannya, mencoba tidak berpikir, atau

mengingat, atau merasakan ...

'Ayo coba lagi ... pada hitungan ketiga ... satu -- dua -- tiga -- Legilimens!'

Seekor naga hitam besar sedang berdiri dengan kaki belakangnya di depannya ...

ayah dan ibunya sedang melambai kepadanya dari sebuah cermin sihir ... Cedric

Diggory sedang terbaring di atas tanah dengan mata hampa menatapnya ...

'TIDAAAAAAAK!'

Harry berlutut lagi, wajahnya terbenam dalam tangannya, otaknya berpacu seolaholah

seseorang telah mencoba menariknya dari tengkoraknya.

'Bangun!' kata Snape dengan tajam. 'Bangun! Kau tidak berusaha, kau tidak

mencoba. Kau membiarkan aku memasuki memori-memori yang kau takuti,

menyerahkan senjata kepadaku!'

Harry berdiri lagi, jantungnya berdebar dengan liar seolah-olah dia benar-benar

baru melihat Cedric mati di pekuburan itu. Snape tampak lebih pucat daripada biasa,

dan lebih marah, walaupun tidak semarah Harry.

'Aku -- sedang -- berusaha,' dia berkata melalui gigi-gigi yang dikertakkan.

'Kusuruh kau mengosongkan dirimu dari emosi!'

'Yeah? Well, kudapati itu sulit dilakukan saat ini,' Harry menggeram.

'Kalau begitu kau akan mendapati dirimu sebagai mangsa mudah untuk Pangeran

Kegelapan!' kata Snape dengan kejam. 'Orang-orang bodoh yang mengenakan hati

mereka dengan bangga di lengan baju mreeka, yang tidak bisa mengendalikan emosi

mereka, yang berkubang dalam ingatan-ingatan menyedihkan dan membiarkan diri

mereka dihasut dengan mudah -- orang-orang lemah, dengan kata lain -- mereka tidak

punya peluang melawan kekuasaannya! Dia akan memasuki pikiranmu dengan begitu

mudahnya, Potter!'

'Aku tidak lemah,' kata Harry dengan suara rendah, kemarahan sekarang terpompa

dalam dirinya sehingga dia mengira dia mungkin menyerang Snape dalam beberapa

saat.

'Kalau begitu buktikan! Kuasai dirimu!' ludah Snape. 'Kendalikan amarahmu,

disiplinkan pikiranmu! Kita akan coba lagi! Sedia, sekarang! Legilimens!'

Dia sedang mengamati Paman Vernon memaku kotak surat hingga tertutup ...

seratus Demetor melayang menyeberangi danau di halaman sekolah ke arahnya ... dia

sedang berlari menyusuri sebuah lorong tanpa jendela bersama Mr Weasley ... mereka

semakin dekat dengan pintu hitam polos di ujung koridor itu ... Harry menduga akan

melewatinya ... tetapi Mr Weasley menuntunnya ke kiri, menuruni serangkaian anak

tangga batu ...

'AKU TAHU! AKU TAHU!'

Dia bertumpu pada kaki dan tangannya lagi di lantai kantor Snape, bekas lukanya

menusuk-nusuk tidak menyenangkan, tetapi suara yang baru saja keluar dari mulutnya

penuh kemenangan. Dia mendorong dirinya bangkit lagi untuk mendapati Snape

sedang menatapnya, tongkatnya terangkat. Tampaknya seolah-olah, kali ini, Snape

telah mengangkat mantera itu sebelum Harry bahkan mencoba melawan.

'Kalau begitu apa yang terjadi, Potter?' dia bertanya sambil memandang Harry

dengan sungguh-sungguh.

'Aku melihat -- aku ingat,' Harry terengah-engah. 'Aku baru saja menyadari ...'

'Menyadari apa?' tanya Snape dengan tajam.

Harry tidak menjawab seketika; dia masih merasakan saat kesadaran yang

mengaburkan sementara dia menggosok keningnya ...

Dia telah bermimpi tentang sebuah koridor tak berjendela yang berakhir pada

sebuah pintu terkunci selama berbulan-bulan, tanpa sekalipun menyadari bahwa

tempat itu nyata. Sekarang, melihat memori itu lagi, dia tahu bahwa selama ini dia

telah memimpikan koridor yang dilaluinya bersama Mr Weasley pada tanggal dua

belas Agustus selagi mereka bergegas ke ruang sidang di Kementerian; koridor yang

mengarah ke Departemen Misteri dan Mr Weasley ada di sana pada malam dia

diserang oleh ular Voldemort.

Dia memandang Snape.

'Apa yang ada di Departemen Mister?'

'Apa katamu?' Snape bertanya pelan dan Harry melihat, dengan kepuasan

mendalam, bahwa Snape terkesima.

'Kubilang, apa yang ada di Departemen Misteri, sir?' Harry berkata.

'Dan kenapa,' kata Snape lambat-lambat, 'kau menanyakan hal semacam ini?'

'Karena,' kata Harry sambil mengamati wajah Snape dengan seksama, 'koridor itu

yang baru saja kulihat -- aku telah memimpikannya selama berbulan-bulan -- aku baru

saja mengenaliknyaa -- koridor itu mengarah ke Departemen Misteri ... dan kukira

Voldemort mau sesuatu dari --'

'Sudah kubilang padamu jangan sebut nama Pangeran Kegelapan!'

Mereka saling melotot. Bekar luka Harry membara lagi, tetapi dia tidak peduli.

Snape tampak gelisah; tetapi ketika dia berbicara lagi dia terdengar seolah-olah

sedang mencoba tampak tenang dan tidak kuatir.

'Ada banyak hal di Departemen Misteri, Potter, sedikit yang bisa kau mengerti dan

tak satupun yang berkaitan denganmu. Apakah perkataanku jelas?'

'Ya,' Harry berkata, masih menggosok-gosok bekas lukanya yang menusuk-nusuk,

yang semakin menyakitkan.

'Aku mau kau kembali ke sini waktu yang sama hari Rabu. Saat itu kita akan

meneruskan kerja.'

'Baik,' kata Harry. Dia putus asa ingin keluar dari kantor Snape dan menemukan

Ron dan Hermione.

'Kau harus menyingkirkan dari pikiranmu semua emosi setiap malam sebelum

tidur; mengosongkannya, membuatnya hampa dan tenang, kau mengerti?'

'Ya,' kata Harry, yang hampir tidak mendengarkan.

'Dan kuperingatkan, Potter ... aku akan tahu kalau kau tidak berlatih.'

'Benar,' Harry bergumam. Dia memungut tas sekolahnya, mengayunkannya lewat

bahunya dan bergegas menuju pintu kantor. Ketika dia membukanya, dia memandang

sekilas kepada Snape, yang memalingkan punggungnya kepada Harry dan sedang

mengumpulkan pikiran-pikirannya sendiri keluar dari Pensieve dengan ujung

tongkatnya dan meletakkan kembali dengan hati-hati ke dalam kepalanya sendiri.

Harry pergi tanpa sepatah katapun, menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya,

bekas lukanya masih berdenyut menyakitkan.

Harry menemukan Ron dan Hermione di perpustakaan, di mana mereka sedang

mengerjalkan tumpukan terbaru pekerjaan rumah dari Umbridge. Murid-murid yang

lain, hampir semuanya kelas lima, duduk di meja-meja yang diterangi lampu di dekat

sana, dengan hidung dekat ke buku, pena bulu mencoret-coret dengan tergesa-gesa,

sementara langit di luar jendela-jendela semakin hitam. Satu-satunya suara lain adalah

decit ringan salah satu suara Madam Pince, selagi penjaga perpustakaan itu berjalan di

gang-gang dengan mengancam, bernapas pada leher-leher mereka yang menyentuh

buku-bukunya yang berharga.

Harry merasa gemetaran; bekas lukanya masih sakit, dia merasa hampir seperti

demam.

Ketika dia duduk di seberang Ron dan Hermione, dia melihat pantulan dirinya di

jendela seberang; dia sangat putih dan bekas lukanya tampaknya lebih jelas daripada

biasa.

'Bagaimana?' Hermione berbisik, dan kemudian, tampak kuatir. 'Apakah kau baikbaik

saja, Harry?'

'Yeah ... baik ... aku tak tahu,' kata Harry tidak sabaran, sambil mengerenyit ketika

rasa sakit menusuk bekas lukanya lagi. 'Dengar ... aku baru saja menyadari sesuatu.'

Dan dia memberitahu mereka apa yang baru saja dia lihat dan tarik kesimpulan.

'Jadi ... jadi kau sedang mengatakan ...' bisik Ron, selagi Madam Pince lewat,

sambil mencicit sedikit, 'bawa senjata itu -- benda yang sedang dikejar Kau-Tahu-

Siapa -- ada di dalam Kementerian Sihir?'

'Di Departemen Misteri, pasti di sana,' Harry berbisik. 'Aku melihat pintu itu ketika

ayahmu membawaku turun ke ruang sidang untuk dengar pendapatku dan pastilah itu

pintu yang sama dengan yang sedang dikawalnya ketika ular itu menggigitnya'

Hermione mengeluarkan napas panjang lambat-lambat.

'Tentu saja,' dia berkata dengan berbisik.

'Tentu saja apa?' kata Ron agak tidak sabaran.

'Ron, pikirkanlah ... Sturgis Podmore sedang mencoba melalui sebuah pintu di

Kementerian Sihir ... pastilah yang satu itu, terlalu banyak kebetulan!'

'Bagaimana bisa Sturgis mencoba mendobrak masuk kalau dia ada di pihak kita?'

kata Ron.

'Well, aku tidak tahu,' Hermione mengakui. 'Itu sedikit aneh ...'

'Jadi apa yang ada di Departemen Misteri?' Harry bertanya kepada Ron. 'Apakah

ayahmu pernah menyebut apapun tentang itu?'

'Aku tahu mereka menyebut orang-orang yang bekerja di sana "Yang-Tak-Boleh-

Disebut",' kata Ron sambil merengut. 'Karena tak seorangpun tampaknya benar-benar

tahu apa yang mereka kerjakan -- tempat yang aneh untuk menyimpan senjata.'

'Tidak aneh sama sekali, masuk akal sekali,' kata Hermione. 'Kuduga pastilah

sesuatu yang rahasia besar yang sedang dikembangkan Kementerian ... Harry, apakah

kau yakin kau baik-baik saja?'

Karena Harry baru saja menggosokkan kedua tangannya di atas keningnya seolaholah

mencoba menyetrikanya.

'Yeah ... baik ... ' dia berkata sambil menurunkan tangannya yang masih bergetar.

'Aku hanya merasa sedikit ... aku tidak terlalu suka Occlumency.'

'Kurasa semua orang akan merasa gemetaran kalau pikiran mereka diserang terusmenerus,'

kata Hermoine bersimpati. 'Lihat, mari kembali ke ruang duduk, kita akan

sedikit lebih nyaman di sana.'

Tetapi ruang duduk padat dan penuh pekik tawa dan kegembiraan; Fred dan George

sedang mendemonstrasikan barang dagangan terbaru toko lelucon mereka.

'Topi Tanpa-Kepala!' teriak George, sementara Fred melambaikan sebuah topi

runcing yang dihiasi dengan bulu halus merah jambu kepada murid-murid yang

sedang menyaksikan. 'Masing-masing dua Galleon, amati Fred, sekarang!'

Fred memakaikan topi ke kepalanya sambil tersenyum. Selama sedetik dia hanya

tampak agak bodoh; lalu topi maupun kepalanya hilang.

Beberapa anak perempuan menjerit, tetapi semua orang yang lainnya tertawa

bergemuruh.

'Dan lepas lagi!' teriak George, dan tangan Fred meraba-raba sejenak di apa yang

tampak seperti udara kosong di atas bahunya; lalu kepalanya muncul lagi ketika dia

melepaskan topi berbulu merah jambu itu.

'Kalau begitu bagaimana cara kerja topi-topi itu?' kata Hermione, teralihkan dari

pekerjaan rumahnya dan mengamati Fred dan George dengan seksama. 'Maksudku,

jelas itu semacam Mantera Kasat Mata, tapi agak pintar bisa memperluas bidang kasat

matanya melebihi batas-batas benda yang disihir ... walaupun kubayangkan mantera

itu tidak akan bertahan lama.'

Harry tidak menjawab; dia merasa tidak enak badan.

'Aku akan mengerjakan ini besok,' dia bergumam sambil mendorong buku-buku

yang baru dikeluarkannya dari tasnya kembali ke dalam.

'Well, tulis di dalam perencana peermu kalau begitu!' kata Hermione mendorong.

'Agar kau tidak lupa!'

Harry dan Ron saling berpandangan ketika dia meraih ke dalam tasnya,

mengeluarkan perencana itu dan membukanya dengan coba-coba.

'Jangan biarkan sampai kemudian, kau si nomor dua!' caci buku itu selagi Harry

menuliskan pekerjaan rumah Umbridge. Hermione tersenyum kepada buku itu.

'Kukira aku akan pergi tidur,' kata Harry sambil menjejalkan perencana peer itu

kembali ke dalam tasnya dan membuat catatan batin untuk menjatuhkannya ke dalam

api pada kesempatan pertama yang didapatkannya.

Dia berjalan menyeberangi ruang duduk, mengelak dari George, yang mencoba

memakaikan sebuah Topi Tanpa-Kepala kepadanya, dan mencapai tangga batu yang

tenang dan sejuk menuju kamar asrama anak-anak laki-laki. Dia merasa mual lagi,

seperti yang dirasakannya pada malam dia mendapatkan penglihatan tentang ular itu,

tetapi berpikir bahwa kalau saja dia bisa berbaring sebentar dia akan baik-baik saja.

Dia membuka pintu kamar asramanya dan sudah masuk selangkah ketika dia

merasakan sakit yang begitu hebat sehingga dia mengira seseorang pasti mengiris

puncak kepalanya. Dia tidak tahu di mana dia, apakah dia sedang berdiri atau

berbaring, dia bahkan tidak tahu namanya sendiri.

Tawa maniak berdengung di telinganya ... dia lebih gembira daripada yang

dialaminya selama waktu yang amat panjang ... kegirangan, luar biasa bahagia,

kemenangan ... suatu hal yang sangat bagus, sangat bagus telah terjadi ...

'Harry? HARRY!'

Seseorang telah memukulnya di sekitar wajah. Tawa tidak waras itu disela dengan

jeritan kesakitan. Kebahagiaan merembes keluar darinya, tetapi tawa itu berlanjut ...

Dia membuka matanya dan, ketika berbuat demikian, dia menjadi sadar bahwa

tawa liar itu keluar dari mulutnya sendiri. Saat dia menyadari ini, tawa itu hilang;

Harry terbaring terengah-engah di atas lantai, menatap langit-langit, bekas luka di

keningnya berdenyut mengerikan. Ron sedang membungkuk di atasnya, terlihat

sangat kuatir.

'Apa yang terjadi?' dia berkata.

'Aku ... tak tahu ...' Harry terengah-engah, sambil duduk lagi. 'Dia benar-benar

senang ... benar-benar senang ...'

'Kau-Tahu-Siapa?'

'Sesuatu yang bagus terjadi,' gumam Harry. Dia gemetaran hebat seperti yang

terjadi setelah melihat ular itu menyerang Mr Weasley dan merasa sangat mual.

'Sesuatu yang telah dia harapkan.'

Kata-kata itu datang, seperti dulu di ruang ganti Gryffindor, seolah-olah seorang

asing sedang mengucapkannya melalui mulut Harry, tetapi dia tahu kata-kata itu

benar. Dia mengambil napas dalam-dalam, memaksa dirinya untuk tidak muntah pada

Ron. Dia sangat senang Dean dan Seamus tidak ada di sini untuk menonton kali ini.

'Hermione menyuruhku datang dan memeriksamu,' kata Ron dengan suara rendah,

sambil membantu Harry bangkit. 'Dia bilang pertahananmu akan rendah saat ini,

setelah Snape bermain-main dengan pikiranmu ... tetap saja, kurasa akan membantu

dalam jangka panjang, bukan?' Dia memandang Harry dengan ragu selagi

membantunya menuju tempat tidurnya. Harry mengangguk tanpa keyakinan dan

merosot kembali ke bantalnya, sakit di sekujur tubuhnya akibat jatuh ke lantai begitu

seringnya malam itu, bekas lukanya masih membara menyakitkan. Dia tidak bisa

tidak merasa bahwa usaha pertamanya pada Occlumency telah melemahkan

pertahanan pikirannya bukannya menguatkannya, dan dia bertanya-tanya, dengan

perasaan gentar yang besar, apa yang telah terjadi yang membuat Lord Voldemort

merasa paling bahagia dalam empat belas tahun ini.

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH LIMA --

Kumbang di Teluk

Pertanyaan Harry terjawab pagi berikutnya. Ketika Daily Prophet Hermione tiba dia

melicinkannya, memandangnya halaman depan sejenak dan mengeluarkan pekik yang

mengakibatkan semua orang di dekatnya menatapnya.

'Apa?' kata Harry dan Ron bersama-sama.

Sebagai jawaban dia membentangkan surat kabar itu di atas meja di depan mereka

dan menunjuk ke sepuluh foto hitam-putih yang mengisi keseluruhan halaman depan,

sembilan memperlihatkan wajah-wajah penyihir pria dan yang kesepuluh, wajah

seorang penyihir wanita. Beberapa orang di foto-foto itu sedang tersenyum

mencemooh diam-diam; yang lainnya sedang mengetuk-ngetukkan jari-jari mereka

pada bingkai foto mereka, tampak kurang ajar. Tiap-tiap gambar diberi judul dengan

nama dan kejahatan yang menyebabkan orang itu dikirim ke Azkaban.

Antonin Dolohov, tulisan di bawah seorang penyihir pria dengan wajah panjang,

pucat, berlekuk yang sedang tersenyum mengejek kepada Harry, dihukum karena

pembunuhan brutal atas Gideon dan Fabian Prewett.

Algernon Rookwood, judul di bawah seorang lelaki berwajah bopeng dengan

rambut berminyak yang sedang bersandar pada tepi gambarnya, tampak bosan,

dihukum karena membocorkan rahasia-rahasia Kementerian Sihir kepada Dia-YangNamanya-

Tidak-Boleh-Disebut.

Tetapi mata Harry tertarik pada gambar penyihir wanita itu. Wajahnya telah

melompat kepadanya begitu dia melihat halaman itu. Dia memiliki rambut gelap

panjang yang tampak tidak rapi dan terurai di gambar itu, walaupun Harry pernah

melihatnya licin, tebal dan berkilau. Dia melotot kepadanya melalui mata yang

berkelopak tebal, sebuah senyum arogan dan menghina bermain di sekitar mulutnya

yang tipis. Seperti Sirius, dia mempertahankan sisa-sisa tampang yang sangat

menawan, tetapi sesuatu -- mungkin Azkaban -- telah mengambil sebagian besar

kecantikannya.

Bellatrix Lestrange, dihukum karena penyiksaan dan membuat cacat permanen

pada Frank dan Alice Longbottom.

Hermione menyikut Harry dan menunjuk pada kepala berita di atas gambar-gambar

itu, yang Harry, yang sedang berkonsentrasi pada Bellatrix, belum baca.

PELARIAN MASSAL DARI AZKABAN

KEMENTERIAN KUATIR BLACK SEDANG 'MENGUMPULKAN'

PARA PELAHAP MAUT LAMA

'Black?' kata Harry keras-keras. 'Bukan --?'

'Shhh!' bisik Hermione dengan putus asa. 'Jangan begitu keras -- baca saja!'

Kementerian Sihir mengumumkan kemarin malam bahwa telah terjadi pelarian

massal dari Azkaban.

Berbicara kepada para reporter di kantor pribadinya, Cornelius Fudge, Menteri

Sihir, membenarkan bahwa

sepuluh tahanan pengamanan-tinggi lolos dini hari kemarin dan bahwa dia telah

memberitahu Perdana Menteri

Muggle mengenai sifat berbahaya dari orang-orang ini.

'Kami mendapati diri kami, sayang sekali, berada dalam posisi yang sama

dengan yang kami alami dua setengah

tahun yang lalu ketika si pembunuh Sirius Black lolos,' kata Fudge tadi malam.

'Kami mengira kedua pelarian itu

berhubungan. Pelolosan dengan besaran ini memberi kesan adanya bantuan dari

luar, dan kita harus ingat bahwa

Black, sebagai orang pertama yang pernah melarikan diri dari Azkaban, ideal bila

ditempatkan untuk membantu

yang lainnya mengikuti jejak langkahnya. Kami mengira mungkin sekali orangorang

ini, yang termasuk saudara

sepupu Black, Bellatrix Lestrange, telah berkumpul di sekitar Black sebagai

pemimpin mereka. Namun, kami

sedang melakukan semua yang kami bisa untuk menangkap para kriminal ini, dan

kami mohon kepada komunitas

sihir untuk tetap waspada dan siap siaga. Dengan alasan apapun tak seorangpun

dari orang-orang ini boleh

didekati.'

'Itu dia, Harry,' kata Ron, terlihat terperanjat. 'Itulah sebabnya dia senang kemarin

malam.'

'Aku tidak percaya ini,' geram Harry, 'Fudge menyalahkan pelarian itu pada Sirius?'

'Pilihan apa lagi yang dia punya?' kata Hermione dengan getir. 'Dia tidak bisa

mengatakan, "Maaf, semuanya, Dumbledore sudah memperingatkanku ini mungkin

terjadi, para penjaga Azkaban sudah bergabung dengan Lord Voldemort" -- berhenti

merengek, Ron -- " dan sekarang para pendukung terburuk Voldemort juga sudah

lolos." Maksudku, dia sudah menghabiskan enam bulan penuh memberitahu semua

orang kau dan Dumbledore adalah pembohong, bukan begitu?

Hermione membuka surat kabar itu dan mulai membaca laporan di bagian dalam

sementara Harry memandang berkeliling Aula Besar. Dia tidak bisa mengerti

mengapa teman-temannya tidak tampak takut atau setidaknya sedang membahas

berita mengerikan di halaman depan, tetapi sangat sedikit dari mereka berlangganan

surat kabar setiap hari seperti Hermione. Di sanalah mereka semua, berbincangbincang

mengenai pekerjaan rumah dan Quidditch dan siapa tahu sampah apa lagi,

ketika di luar dinding-dinding ini sepuluh Pelahap Maut lagi telah meningkatkan

jumlah pendukung Voldemort.

Dia memandang sekilas ke meja guru. Ada cerita berbeda di sana. Dumbledore dan

Profesor McGonagall sedang terbenam dalam percakapan, keduanya tampak sangat

muram. Profesor Sprout menyandarkan Prophet pada sebuah botol saus tomat dan

sedang membaca halaman depan dengan konsentrasi sehingga dia tidak

memperhatikan tetesan ringan kuning telur ke pangkuannya dari sendoknya yang

diam. Sementara itu, di ujung jauh meja itu, Profesor Umbridge sedang makan

semangkuk bubur. Sekali ini mata kataknya yang menggembung tidak menyapu Aula

Besar mencari-cari murid-murid yang berbuat salah. Dia merengut selagi dia menelan

makanannya dan beberapa waktu sekali dia memberi pandangan dengki ke bagian

meja di mana Dumbledore dan McGonagall sedang berbicara dengan sangat

bersungguh-sungguh.

'Ya ampun --' kata Hermione bertanya-tanya, masih menatap surat kabar itu.

'Sekarang apa?' kata Harry dengan cepat, dia merasa gelisah.

'Ini ... mengerikan,' kata Hermione, tampak terguncang. Dia melipat kembali

halaman sepuluh surat kabar itu dan menyerahkannya kepada Harry dan Ron.

KEMATIAN TRAGIS PEKERJA KEMENTERIAN SIHIR Rumah Sakit St.

Mungo menjanjikan penyelidikan penuh tadi malam setelah pekerja Kementerian

Sihir Broderick Bode, 49, ditemukan tewas di tempat tidurnya, tercekik sebuah

tanaman pot. Para Penyembuh yang dipanggil ke tempat kejadian tidak mampu

menghidupkan kembali Mr Bode, yang telah terluka dalam sebuah kecelakaan di

tempat kerja beberapa minggu sebelum kematiannya.

Penyembuh Miriam Strout, yang bertanggung jawab atas bangsal Mr Bode pada

saat kejadian, telah diskors dengan gaji penuh dan tidak bersedia memberi komentar,

tetapi seorang penyihir juru bicara di rumah sakit berkata dalam sebuah pernyataan.

'St Mungo menyesal atas kematian Mr Bode sedalam-dalamnya, yang kesehatannya

telah membaik dengan mantap sebelum kecelakaan tragis ini.

'Kami memiliki garis pedoman yang tegas mengenai hiasan-hiasan yang diizinkan

dalam bangsal-bangsal kami tetapi tampaknya Penyembuh Strout, yang sedang sibuk

dalam periode Natal, mengabaikan bahaya-bahaya tanaman di meja sisi tempat tidur

Mr Bode. Sementara daya bicara dan pergerakannya membaik, Penyembuh Strout

mendorong Mr Bode untuk menjaga tanaman itu sendiri, tanpa menyadari bahwa itu

bukan Flitterbloom tak bersalah, melainkan cangkokan Jerat Setan yang, ketika

disentuh oleh Mr Bode yang sedang dalam masa penyembuhan, mencekiknya dengan

seketika.

'St Mungo masih belum mampu menjelaskan kehadiran tanaman itu di bangsal dan

meminta penyihir wanita atau pria manapun yang memiliki informasi untuk maju ke

depan.'

'Bode ...' kata Ron. 'Bode. Mengingatkan pada sesuatu ...'

'Kita melihatnya,' Hermione berbisik. 'Di St Mungo, ingat? Dia ada di tempat tidur

di seberang Lockhart, cuma berbaring di sana, menatap langit-langit. Dan kita melihat

Jerat Setan itu tiba. Dia -- si Penyembuh -- berkata itu adalah sebuah hadiah Natal.'

Harry mengingat kembali cerita itu. Suatu perasaan ngeri timbul seperti empedu

dalam tenggorokannya.

'Bagaimana kita bisa tidak mengenali Jerat Setan? Kita sudah pernah melihatnya

sebelumnya ... kita bisa saja menghentikan ini terjadi.'

'Siapa yang menduga Jerat Setan akan muncul di sebuah rumah sakit menyamar

sebagai sebuah tanaman pot?' kata Ron dengan tajam. 'Itu bukan salah kita, siapapun

yang mengirimnya kepada lelaki itulah yang patut disalahkan! Mereka pasti benarbenar

tolol, mengapa mereka tidak memeriksa apa yang mereka beli?'

'Oh, ayolah, Ron!' kata Hermione dengan bergetar. 'Kukira tak seorangpun bisa

menaruh Jerat Setan di dalam sebuah pot dan tidak sadar dia mencoba membunuh

siapapun yang menyentuhnya? Ini -- ini pembunuhan ... sebuah pembunuhan yang

pintar, juga ... kalau tanaman itu dikirim tanpa nama pengirim, bagaimana bisa ada

yang menemukan siapa yang melakukannya?'

Harry tidak sedang memikirkan Jerat Setan. Dia sedang mengingat menggunakan

lift turun ke tingkat sembilan Kementerian di hari dengar pendapaptnya dan pria

berwajah pucat yang masuk di tingkat Atrium.

'Aku bertemu Bode,' dia berkata lambat-lambat. 'Aku melihatnya di Kementerian

dengan ayahmu.'

Mulut Ron terbuka.

'Aku pernah mendengar Dad berbicara mengenainya di rumah! Dia seorang Yang-

Tak-Boleh-Disebut -- dia bekerja di Departemen Misteri!'

Mereka saling berpandangan satu sama lain sejenak, lalu Hermione menarik surat

kabar itu kembali kepadanya, menutupnya, melotot sejenak pada gambar-gambar

sepuluh Pelahap Maut yang lolos di bagian depan, lalu melompat bangkit.

'Mau ke mana kau?' kata Ron, kaget.

'Mengirim surat,' kata Hermione sambil mengayunkan tasnya ke bahunya. 'Well,

aku tidak tahu apakah ... tapi pantas dicoba ... dan aku satu-satunya yang bisa.'

'Aku benci kalau dia melakukan itu,' gerutu Ron, selagi dia dan Harry bangkit dari

meja dan berjalan lebih lambat keluar dari Aula Besar. 'Apakah akan membunuhnya

kalau memberitahu kita apa yang sedang dia rencanakan sekali saja? Dia cuma butuh

sekitar sepuluh detik lagi -- hei, Hagrid!'

Hagrid sedang berdiri di samping pintu-pintu ke Aula Depan, menunggu

sekerumun anak-anak Ravenclaw untuk lewat. Dia masih memar berat seperti pada

hari kepulangannya dari misinya kepada para raksasa dan ada luka sayat baru tepat di

batang hidungnya.

'Baik-baik saja, kalian berdua?' dia berkata, mencoba tersenyum tetapi hanya

berhasil mengeluarkan semacam ringis kesakitan.

'Apakah kau baik-baik saja, Hagrid?' tanya Harry, sambl mengikutinya selagi dia

berjalan di belakang anak-anak Ravenclaw.

'Baik, baik,' kata Hagrid dengan sikap ringan dibuat-buat yang lemah; dia

melambaikan sebuah tangan dan hampir saja membuat Profesor Vector yang tampak

ketakutan, yang sedang lewat, mengalami geger otak. 'Cuma sibuk, kalian tahu, hal

biasa -- pelajaran-pelajaran 'tuk disiapkan -- sejumlah salamander kena pembusukan

sisik -- dan aku dalam masa percobaan,' dia berkomat-kamit.

'Kau dalam masa percobaan?' kata Ron dengan sangat keras, sehingga banyak

murid yang sedang lewat melihat berkeliling dengan rasa ingin tahu. 'Sori --

maksudku -- kau dalam masa percobaan?' dia berbisik.

'Yeah,' kata Hagrid. 'Tak lebih dari yang kuharapkan, sejujurnya. Kalian mungkin

tak sadar, tapi inspeksi itu tidak berjalan terlalu baik, kalian tahu ... ngomongngomong,'

dia menghela napas dalam-dalam. 'Sebaiknya pergi menggosok sedikit

bubuk cabe lagi pada salamander-salamander itu atau ekor mereka akan lepas nanti.

Sampai jumpa, Harry ... Ron ...'

Dia berjalan pergi dengan susah payah, keluar dari pintu depan dan menuruni

undakan-undakan batu ke halaman sekolah yang lembab. Harry mengamatinya pergi,

bertanya-tanya berapa banyak kabar buruk lagi yang tahan diterimanya.

*

Fakta bahwa Hagrid sekarang dalam masa percobaan menjadi pengetahuan umum

dalam sekolah selama beberapa hari beriktunya, tetapi yang membuat Harry marah,

hampir tak seorangpun tampak terganggu atas kabar itu; bahkan, beberapa orang,

Draco Malfoy menonjol di antara mereka, tampak sungguh-sungguh gembira.

Tentang kematian mengerikan seorang pegawai Departemen Misteri yang tidak

dikenal di St Mungo, Harry, Ron dan Hermione tampaknya merupakan satu-satunya

orang yang tahu atau peduli. Hanya ada satu topik percakapan di koridor-koridor

sekarang: kesepuluh Pelahap Maut yang lolos, yang ceritanya akhirnya merembes ke

seluruh sekolah dari beberapa orang yang membaca surat kabar. Rumor-rumor

beterbangan bahwa beberapa dari narapidana itu telah terlihat di Hogsmeade, bahwa

mereka sedang bersembunyi di Shrieking Shack dan bahwa mereka akan masuk ke

dalam Hogwarts, seperti yang pernah dilakukan Sirius Black.

Mereka yang berasal dari keluarga penyihir telah tumbuh besar mendengar namanama

para Pelahap Maut ini disebut dengan ketakutan yang hampir sebesar dengan

nama Voldemort; kejahatan yang telah mereka lakukan selama hari-hari kekuasaan

penuh teror Voldemort sudah melegenda. Ada kerabat-kerabat dari korban-korban

mereka di antara murid-murid Hogwarts, yang sekarang mendapati diri mereka obyek

ketenaran yang agak mengerikan yang tidak diinginkan selagi mereka berjalan di

koridor-koridor: Susan Bones, yang paman, bibi dan sepupu-sepupunya semua

meninggal di tangan salah satu dari yang sepuluh itu, berkata dengan sengsara selama

Herbologi bahwa dia sekarang punya gagasan bagus bagaimana rasanya menjadi

Harry.

'Dan aku tidak tahu bagaimana kau bisa tahan -- mengerikan,' dia berkata terus

terang sambil menjatuhkan jauh terlalu banyak kotoran naga pada nampan benih

Buncis-Pekiknya, menyebabkan mereka menggeliat dan mencicit tidak nyaman.

Benar Harry adalah subyek gumaman dan penunjukan baru di koridor-koridor

akhir-akhir ini, tapi dia mengira dia mendeteksi sedikit perbedaan dalam nada suara

orang-orang yang berbisik-bisik. Mereka terdengar ingin tahu bukannya bermusuhan

sekarang, dan sekali atau dua kali dia yakin dia mendengar potongan percakapan yang

menyarankan bahwa para pembicaranya tidak puas dengan versi Prophet tentang

bagaimana dan mengapa sepuluh Pelahap Maut berhasil lolos dari benteng Azkaban.

Dalam kebingungan dan ketakutan mereka, orang-orang yang ragu ini sekarang

kelihatannya beralih ke satu-satunya penjelasan lain yang tersedia bagi mereka: yang

telah diuraikan Harry dan Dumbledore dengan terperinci sejak tahun lalu.

Bukan hanya suasana hati para murid yang telah berubah. Sekarang cukup umum

menjumpai dua atau tiga guru sedang bercakap-cakap dengan bisikan rendah dan

penting di koridor-koridor, yang memutuskan percakapan mereka saat mereka melihat

para murid sedang mendekat.

'Mereka jelas tidak bisa berbicara dengan bebas lagi di ruang guru,' kata Hermione

dengan suara rendah, ketika dia, Harry dan Ron melewati Profesor McGonagall,

Flitwick dan Sprout yang berkerumun bersama di luar ruang kelas Jimat dan Guna-

Guna suatu hari. 'Tidak dengan Umbridge di sana.'

'Menurutmu mereka tahu sesuatu yang baru?' kata Ron sambil memandang ke

belakang lewat bahunya kepada ketiga guru itu.

'Kalau mereka tahu, kita tidak akan mendengarnya, bukan?' kata Harry dengan

marah. 'Tidak setelah Dekrit ... nomor berapa kita sekarang?' Karena pengumuman

baru sudah muncul di papan pengumuman asrama pagi setelah berita pelarian

Azkaban itu:

DENGAN PERINTAH PENYELIDIK TINGGI HOGWARTS

Para guru dengan ini dilarang memberikan murid-murid informasi apapun yang

tidak berhubungan dengan

pelajaran yang mereka ajarkan.

Hal di atas sesuai dengan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Enam.

Tertanda: Dolores Jane Umbridge, Penyelidik Tinggi.

Dekrit terakhir ini telah menjadi subyek sejumlah besar lelucon di antara muridmurid.

Lee Jordan telah menunjukkan kepada Umbridge bahwa sesuai ketentuan

peraturan baru itu dia tidak diizinkan menyuruh Fred dan George berhenti bermainmain

dengan Buncis Meledak di belakang kelas.

'Buncis Meledak tidak berhubungan dengan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam,

Profesor! Itu bukan informasi yang berhubungan dengan mata pelajaran Anda!'

Kali berikutnya Harry melihat Lee, punggung tangannya berdarah agak parah.

Harry merekomendasikan intisari Murtlap.

Harry telah mengira pelarian dari Azkaban mungkin membuat Umbridge sedikit

rendah hati, bahwa dia mungkin merasa malu pada bencana yang terjadi tepat di

bawah hidung Fudgenya yang tercinta. Namun, kelihatannya, hanya memperhebat

hasrat membaranya untuk membuat semua aspek kehidupan di Hogwarts berada di

bawah kendali pribadinya. Dia tampak bertekad setidaknya mencapai satu pemecatan

sebelum waktu yang lama, dan satu-satunya pertanyaan adalah apakah Profesor

Trelawney atau Hagrid yang akan pergi duluan.

Setiap pelajaran Ramalan dan Pemeliharaan Satwa Gaib sekarang dilaksanakan

dengan kehadiran Umbridge dan papan jepitnya. Dia mengintai di dekat api di dalam

ruangan menara yang berparfum hebat itu, menyela percakapan-percakapan Profesor

Trelawney yang semakin histeris dengan pertanyaan-pertanyaan sulit mengenai

ornithomancy dan heptomology, bersikeras agar dia meramalkan jawaban-jawaban

para murid sebelum mereka memberikannya dan menuntut agar dia memperlihatkan

keahliannya pada bola kristal, daun-daun teh dan batu-batu rune secara bergantian.

Harry mengira Profesor Trelawney mungkin segera gila akibat tekanan itu. Beberapa

kali dia melewatinya di koridor-koridor -- yang dengan sendirinya kejadian tidak

biasa karena dia biasanya tetap di ruangan menaranya -- sedang bergumam dengan

liar kepada dirinya sendiri, menggoyang-goyangkan pergelangan tangannya dan

melemparkan pandangan-pandangan ketakutan dari balik bahunya, dan sementara itu

mengeluarkan bau sherry masak yang kuat. Kalau dia tidak begitu kuatir tentang

Hagrid, dia akan merasa prihatin bagi Trelawney -- tetapi kalau salah satu dari mereka

akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka, hanya ada satu pilihan bagi Harry mengenai

siapa yang harus tinggal.

Sayangnya, Harry tak bisa melihat bahwa Harry memperlihatkan penampilan yang

lebih baik daripada Trelawney. Walaupun dia tampaknya mengikuti nasihat Hermione

dan belum memperlihatkan kepada mereka apapun yang lebih menakutkan daripada

seekor Crup -- seekor makhluk yang tidak bisa dikenali dari seekor anjing terrier Jack

Russell kecuali dari ekornya yang bercabang -- sejak sebelum Natal, dia juga

kelihatannya sudah kehilangan keberaniannya. Dia kacau dan gelisah selama

pelajaran, kehilangan alur cerita tentang apa yang sedang dikatakannya kepada kelas,

menjawab pertanyaan dengan salah, dan sepanjang waktu memandang sekilas pada

Umbridge dengan cemas. Dia juga lebih menjauh dengan Harry, Ron dan Hermione

daripada sebelumnya, dan telah melarang mereka dengan tegas untuk

mengunjunginya setelah gelap.

'Kalau dia memergoki kalian, leher kita yang dipertaruhkan,' dia memberitahu

mereka dengan datar, dan tanpa hasrat untuk melakukan apapun yang mungkin

membahayakan pekerjaannya lebih lanjut mereka berhenti berjalan ke pondoknya di

malam hari.

Tampaknya bagi Harry bahwa Umbridge dengan terus-menerus mencabutnya dari

semua hal yang membuat hidupnya di Hogwarts pantas dijalani: kunjungankunjungan

ke rumah Hagrid, surat-surat dari Sirius, Fireboltnya dan Quidditch. Dia

membalaskan dendamnya dengan satu-satunya cara yang dia bisa -- dengan

menggandakan usahanya bagi DA.

Harry senang melihat bahwa mereka semua, bahkan Zacharias Smith, telah terpacu

untuk bekerja lebih keras daripada sebelumnya dengan berita bahwa sepuluh Pelahap

Maut lagi sekarang berkeliaran, tetapi tak seorangpun yang mengalami perbaikan

lebih nyata daripada Neville. Berita bahwa para penyerang orang tuanya lolos telah

menempa perubahan yang aneh dan bahkan sedikit menakutkan pada dirinya. Dia

belum sekalipun menyebut perjumpaannya dengan Harry, Ron dan Hermione di

bangsal tertutup di St Mungo dan, mengikuti teladannya, mereka juga diam mengenai

hal itu. Dia juga belum mengatakan apa-apa tentang lolosnya Bellatrix dan temanteman

penyiksanya. Bahkan, Neville hampir tidak berbicara lagi selama pertemuanpertemuan

DA, tetapi bekerja tanpa lelah pada setiap kutukan dan kontra-kutukan

baru yang telah Harry ajarkan kepada mereka, wajahnya yang bundar tegang karena

konsentrasi, kelihatan tidak peduli dengan luka-luka atau kecelakaan dan bekerja

lebih keras daripada siapapun yang lain di ruangan itu. Dia sekarang membaik begitu

cepatnya sehingga sangat mengerikan dan ketika Harry mengajari mereka Mantera

Pelindung -- suatu cara untuk menangkis kutukan-kutukan kecil sehingga memantul

kepada penyerangnya -- hanya Hermione yang menguasai mantera itu lebih cepat

daripada Neville.

Harry akan memberikan banyak untuk bisa membuat kemajuan pada Occlumency

seperti yang dibuat Neville pada pertemuan-pertemuan DA. Sesi-sesi Harry dengan

Snape, yang mulanya sudah cukup buruk, tidak membaik. Sebaliknya Harry merasa

dia semakin buruk dengan tiap pelajaran.

Sebelum dia mulai mempelajari Occlumency, bekas lukanya pedih kadang-kadang,

biasanya pada malam hari, atau mengikuti salah satu kilasan aneh pikiran atau

suasana hati Voldemort yang dialaminya kadang-kadang. Namun, sekarang ini, bekas

lukanya hampir tidak pernah berhenti sakit, dan dia sering merasakan kemarahan atau

keriangan mendadak yang tidak berhubungan dengan apa yang sedang terjadi pada

dirinya pada saat itu, yang selalu diikuti dengan denyut yang sangat menyakitkan dari

bekas lukanya. Dia mendapat kesan mengerikan bahwa dia berubah pelan-pelan

menjadi semacam antena yang menerima fluktuasi kecil dalam suasana hati

Voldemort, dan dia yakin dia bisa menelusuri peningkatan sensitifitas ini dengan

tegas dari pelajaran Occlumency pertamanya dengan Snape. Terlebih lagi, dia

sekarang bermimpi tentang berjalan menyusuri koridor menuju pintu masuk ke

Departemen Misteri hampir setiap hari, mimpi-mimpi yang selalu memuncak pada

dirinya berdiri penuh rasa ingin di depan pintu hitam polos itu.

'Mungkin sedikit mirip penyakit,' kata Hermione, terlihat kuatir ketika Harry curhat

kepadanya dan Ron. 'Demam atau sesuatu. Harus memburuk dulu sebelum membaik.'

'Pelajaran dengan Snape membuatnya semakin buruk,' kata Harry dengan datar.

'Aku mulai muak dengan bekas lukaku yang sakit dan aku mulai bosan dengan

berjalan menyusuri koridor itu setiap malam.' Dia menggosok keningnya dengan

marah. 'Aku hanya berharap pintu itu akan terbuka, aku muak berdiri menatapnya --'

'Itu tidak lucu,' kata Hermione dengan tajam. 'Dumbledore tidak ingin kau

mendapatkan mimpi-mimpi tentang koridor itu sama sekali, atau dia tidak akan

meminta Snape mengajarimu Occlumency. Kau hanya harus bekerja sedikit lebih

keras dalam pelajaranmu.'

'Aku sedang melakukannya!' kata Harry terluka hatinya. 'Kau coba suatu waktu --

Snape mencoba masuk ke dalam kepalamu -- bukan hal yang patut ditertawakan, kau

tahu!'

'Mungkin ...' kata Ron lambat-lambat.

'Mungkin apa?' kata Hermione, agak membentak.

'Mungkin bukan salah Harry dia tidak bisa menutup pikirannya,' kata Ron dengan

suram.

'Apa maksudmu?' kata Hermione.

'Well, mungkin Snape tidak benar-benar mencoba membantu Harry ...'

Harry dan Hermione menatapnya. Ron memandang dengan suram dan penuh arti

dari yang satu ke yang lain.

'Mungkin,' dia berkata lagi, dengan suara yang lebih rendah, 'dia sebenarnya sedang

berusaha membuka pikiran Harry sedikit lebih lebar ... membuatnya lebih mudah

untuk Kau-Tahu-Siapa --'

'Diam, Ron,' katak Hermione dengan marah. 'Berapa kali kau sudah mencurigai

Snape, dan kapan kau pernah benar? Dumbledore mempercayai dia, dia bekerja untuk

Order, itu seharusnya sudah cukup.'

'Dia dulu seorang Pelahap Maut,' kata Ron dengan keras kepala. 'Dan kita belum

pernah melihat bukti bahwa dia benar-benar berpindah sisi.'

'Dumbledore mempercayai dia,' Hermione mengulangi. 'Dan kalau kita tidak bisa

mempercayai Dumbledore, kita tidak bisa percaya siapapun.'

*

Dengan begitu banyak untuk dikhawatirkan dan begitu banyak untuk dilakukan --

sejumlah mengejutkan pekerjaan rumah yang sering menahan anak-anak kelas lima

tetap bekerja sampai lewat tenagh malam, sesi-sesi DA rahasia dan kelas-kelas teratur

dengan Snape -- Januari tampaknya berlalu begitu cepat. Sebelum Harry sadar,

Februari sudah tiba, membawa bersamanya cuaca yang lebih basah dan lebih hangat

dan prospek kunjungan Hogsmeade kedua tahun itu. Harry punya sangat sedikit

waktu senggang untuk bercakap-cakap dengan Cho sejak mereka setuju mengunjungi

desa itu bersama-sama, tetapi mendadak mendapati dirinya menghadapi satu Hari

Valentine penuh untuk dihabiskan bersamanya.

Di pagi tanggal empat belas itu dia berpakaian dengan hati-hati. Dia dan Ron tiba

di makan pagi tepat waktu untuk kedatangan pos burung hantu. Hedwig tidak ada di

sana -- bukannya Harry mengharapkan dia -- tetapi Hermione sedang menyentak

sebuah surat dari paruh seekor burung hantu cokelat yang tidak dikenal ketika mereka

duduk.

'Dan sudah waktunya! Kalau tidak datang hari ini ...' dia berkata, merobek amplop

dengan bersemangat dan menarik keluar sepotong kecil perkamen. Matanya bergegas

dari kiri ke kanan selagi dia membaca pesan itu dan ekspresi senang membentang di

wajahnya.

'Dengar, Harry,' dia berkata sambil memandangnya, 'ini benar-benar penting.

Apakah kaupikir kau bisa menemuiku di Three Broomsticks sekitar tengah hari?'

'Well ... aku tak tahu,' kata Harry tidak yakin. 'Cho mungkin mengharapkan aku

menghabiskan satu hari penuh bersamanya. Kami tidak pernah membicarakan apa

yang akan kami lakukan.'

'Well, bawa dia bersamamu kalau harus,' kata Hermione mendesak. 'Tapi maukah

kau datang?'

'Well ... baiklah, tapi mengapa?'

'Aku tidak punya waktu untuk memberitahu kalian, aku harus menjawab ini cepatcepat.'

Dan dia bergegas keluar dari Aula Besar, surat itu tergenggam di satu tangan dan

sepotong roti panggang di tangan lainnya.

'Kau ikut?' Harry bertanya kepada Ron, tetapi dia menggelengkan kepalanya,

tampak muram.

'Aku tidak bisa pergi ke Hogsmeade sama sekali; Angelina mau latihan sehari

penuh. Kayak itu bisa membantu; kami tim terburuk yang pernah kulihat. Kau harus

melihat Sloper dan Kirke, mereka menyedihkan, bahkan lebih buruk daripada aku.'

Dia menghela napas dalam-dalam. 'Aku tak tahu kenapa Angelina tidak mau

membiarkan aku mengundurkan diri saja.'

'Itu karena kau bagus ketika kondisimu baik, itulah sebabnya,' kata Harry dengan

kesal.

Dia merasa sangat sulit bersimpati pada penderitaan Ron, sementara dirinya sendiri

akan memberikan hampir apapun untuk bermain di pertandingan mendatang melawan

Hufflepuff. Ron tampaknya memperhatikan nada suara Harry, karena dia tidak

menyebut Quidditch lagi selama makan siang, dan ada sedikit kebekuan dalam cara

mereka berpamitan kepada satu sama lain beberapa saat kemudian. Ron pergi ke

lapangan Quidditch dan Harry, setelah mencoba meratakan rambutnya sementara

menatap bayangannya di punggung sebuah sendok teh, berjalan sendirian ke Aula

Depan untuk menemui Cho, merasa sangat gelisah dan bertanya-tanya apa yang akan

mereka perbincangkan.

Dia sedang menunggunya agak ke samping dari pintu-pintu depan dari kayu ek,

terlihat sangat cantik dengan rambutnya diikat ke belakang membentuk ekor kuda.

Kaki Harry tampaknya terlalu besar bagi badannya selagi dia berjalan ke arahnya dan

dia mendadak teringat akan lengannya dan bagaimana bodohnya lengan-lengan itu

terlihat berayun-ayun di sisi tubuhnya.

'Hai,' kata Cho agak terengah-engah.

'Hai,' kata Harry.

Mereka saling bertatapan selama beberapa saat, lalu Harry berkata, 'Well -- er --

kalau begitu, kita pergi?'

'Oh -- ya ...'

Mereka bergabung dengan antrian orang-orang yang sedang ditandai oleh Filch,

terkadang saling bertatapan satu sama lain dan menyengir dengan segan, tetapi tidak

berbicara kepada satu sama lain. Harry lega ketika mereka mencapai udara segar,

mendapati lebih mudah untuk berjalan bersama dalam keheningan daripada cuma

berdiri di tempat terlihat canggung. Hari itu segar, berangin sepoi-sepoi dan ketika

mereka melewati stadiun Quidditch Harry melihat Ron dan Ginny sekilas sedang

meluncur di atas tribun dan merasakan kepedihan mengerikan bahwa dia tidak ada di

atas sana bersama mereka.

'Kau benar-benar merindukannya, bukan?' kata Cho.

Dia memandang berkeliling dan melihatnya sedang mengamatinya.

'Yeah,' kata Harry sambil menghela napas. 'Memang.'

'Ingat pertama kali kita bermain melawan satu sama lain, di tahun ketiga?' dia

bertanya kepadanya.

'Yeah,' kata Harry sambil nyengir. 'Kau terus menghadangku.'

'Dan Wood menyuruhmu tidak usah jadi pria sejati dan jatuhkan aku dari sapuku

kalau kau harus,' kata Cho sambil tersenyum mengenang. 'Kudengar dia diterima oleh

Pride of Portree, benarkah itu?'

'Bukan, Puddlemere United; aku melihatnya di Piala Quidditch tahun lalu.'

'Oh, aku melihatmu di sana juga, ingat? Kita ada di tempat berkemah yang sama.

Benar-benar bagus, bukan?'

Subyek Piala Dunia Quidditch membawa mereka sepanjang jalan kereta dan keluar

melalui gerbang. Harry hampir tidak bisa percaya betapa mudahnya berbicara

dengannya -- tidak lebih sulit, kenyataannya, daripada berbicara dengan Ron dan

Hermione -- dan dia baru saja mulai merasa percaya diri dan riang ketika sekelompok

besar anak-anak perempuan Slytherion melewati mereka, termasuk Pansy Parkinson.

'Potter dan Chang!' pekik Pansy, diikuti kikik menghina. 'Urgh, Chang, aku tidak

setuju dengan seleramu ... setidaknya Diggory tampan!'

Anak-anak perempuan itu bergegas, sambil berbicara dan menjerit dengan banyak

pandangan sekilas yang berlebihan kepada Harry dan Cho, meninggalkan keheningan

akibat malu di belakang mereka. Harry tidak bisa memikirkan hal lain untuk

dikatakan tentang Quidditch, dan Cho, sedikit merona, sedang mengamati kakinya.

'Jadi ... ke mana kau mau pergi?' Harry bertanya ketika mereka memasuki

Hogsmeade. High Street penuh dengan murid-murid yang berjalan ke sana ke mari,

mengintip ke dalam toko-toko dan bermain-main bersama di trotoar.

'Oh ... aku tidak keberatan,' kata Cho sambil mengangkat bahu. 'Um ... apakah kita

melihat-lihat di toko-toko saja atau apapun?'

Mereka berjalan menuju Dervish and Banges. Sebuah poster besar telah

ditempelkan di jendela dan beberapa penduduk Hogsmeade sedang memandanginya.

Mereka bergeser ke samping ketika Harry dan Cho mendekat dan Harry mendapati

dirinya menatap sekali lagi pada gambat-gambar sepuluh Pelahap Maut yang lolos itu.

Poster itu, 'Dengan Perintah Menteri Sihir,' menawarkan imbalan seribu Galleon

kepada penyihir wanita atau pria manapun yang memiliki informasi yang menuntun

pada ditangkapnya kembali salah satu dari para narapidana dalam gambar.

'Aneh, bukan,' kata Cho dengan suara rendah sambil menatap foto-foto para

Pelahap Maut, 'ingat ketiak Sirius Black itu lolos, dan ada Dementor di seluruh

Hogsmeade mencarinya? Dan sekarang sepuluh Pelahap Maut berkeliaran dan tak ada

Dementor di manapun ...'

'Yeah,' kata Harry, sambil mengalihkan matanya dari wajah Bellatrix Lestrange

untuk memandang sekilas ke ujung-ujung High Street. 'Yeah, itu aneh.'

Dia tidak menyesali tak ada Dementor di sekitar sana, tetapi sekarang setelah

dipikirkannya, ketidakhadiran mereka sangat berarti. Mereka tidak hanya telah

membiarkan para Pelahap Maut lolos, mereka tidak repot-repot mencari mereka ...

seolah-olah mereka benar-benar di luar kendali Kementerian sekarang.

Kesepuluh Pelahap Maut sedang menatap dari setiap jendela toko yang dilewatinya

dan Cho. Ketika mereka lewat Scrivenshaft sudah mulai hujan; tetes-tetes air yang

dingin dan berat terus mengenai wajah Harry dan belakang lehernya.

'Um ... apakah kau mau minum kopi?' kata Cho ingin tahu, ketika hujan mulai turun

semakin deras.

'Yeah, baiklah,' kata Harry sambil memandang ke sekitarnya. 'Di mana?'

'Oh, ada tempat yang benar-benar bagus persis di atas sini; belum pernahkah kau ke

Madam Puddifoot?' dia berkata dengan cerah, sambil menuntunnya ke jalan samping

dan ke dalam sebuah kedai teh kecil yang belum pernah diperhatikan Harry

sebelumnya. Itu adalah tempat yang sesak dan penuh uap di mana semua hal

kelihatannya dihiasi dengan jumbai-jumbai atau pita. Harry mendapatkan ingatan tak

menyenangkan akan kantor Umbridge.

'Manis, bukan?' kata Cho dengan gembira.

'Er ... yeah,' kata Harry tidak jujur.

'Lihat, dia menghiasnya untuk Hari Valentine!' kata Cho sambil menunjuk sejumlah

anak kecil bersayap yang berwarna keemasan yang sedang melayang-layang di atas

setiap meja bundar kecil, terkadang melemparkan konfeti merah jambu ke atas para

pengguna meja.

'Aaah ...'

Mereka duduk di meja terakhir yang tersisa, yang berada di samping jendela buram.

Roger Davis, Kapten Quidditch Ravenclaw, sedang duduk sekitar satu setengah kaki

jauhnya bersama seorang gadis pirang yang cantik. Mereka sedang berpegangan

tangan. Pemandangan itu membuat Harry merasa tidak nyaman, khususnya ketika,

sambil memandang berkeliling di kedai teh itu, dia melihat tempat itu penuh dengan

pasangan-pasangan, semuanya sedang berpegangan tangan. Mungkin Cho akan

mengharapkannya untuk memegang tangannya.

'Apa yang bisa kuambilkan untuk kalian, sayangku?' kata Madam Puddifoot,

seorang wanita yang sangat gemuk dengan sanggul hitam berkilat, sambil menyelinap

di antara meja mereka dan meja Roger Davies dengan penuh kesulitan.

'Tolong dua kopi,' kata Cho.

Dalam waktu yang dibutuhkan kopi mereka untuk sampai, Roger Davies dan

pacarnya sudah mulai berciuman melewati mangkuk gula mereka. Harry berharap

mereka tidak melakukannya; dia merasa Davies sedang menciptakan standar dan Cho

akan segera berharap dia ikut berlomba. Dia merasa wajahnya memanas dan mencoba

menatap ke luar jendela, tetapi jendela itu begitu buram sehingga dia tidak bisa

melihat jalan di luar. Untuk menunda waktu ketika dia harus memandang Cho, dia

memandang langit-langit seolah-olah memeriksa catnya dan menerima segenggam

konfeti di wajahnya dari anak kecil bersayap mereka yang melayang-layang.

Setelah beberapa menit menyakitkan lagi, Cho menyebut Umbridge. Harry

menyambar subyek itu dengan lega dan mereka melewatkan beberapa saat

menyenangkan menjelek-jelekkan dia, tetapi subyek itu sudah dibahas begitu

mendalam selama pertemuan-pertemuan DA sehingga tidak bertahan lama.

Keheningan timbul lagi. Harry sangat sadar akan suara-suara menyedot yang datang

dari meja di samping pintu dan memandang ke sekitarnya dengan liar untuk mencari

sesuatu yang lain untuk dikatakan.

'Er ... dengar, apakah kau mau datang bersamaku ke Three Broomsticks pada saat

makan siang? Aku akan menemui Hermione Granger di sana.'

Cho mengangkat alisnya.

'Kau akan menemui Hermione Granger? Hari ini?'

'Yeah. Well, dia minta aku, jadi kukira akan kulakukan. Apakah kau mau datang

bersamaku? Dia bilang tidak masalah kalau kau ikut.'

'Oh ... well ... baik sekali dia.'

Tetapi Cho tidak terdengar seolah-olah dia berpikir itu baik sama sekali.

Sebaliknya, nada suaranya dingin dan mendadak dia terlihat agak menakutkan.

Beberapa menit lagi berlalu dalam keheningan total, Harry minum kopinya begitu

cepat sehingga dia akan segera perlu secangkir lagi. Di sebelah mereka, Roger Davies

dan pacarnya kelihatannya tertempel bersama di bibir.

Tangan Cho sedang tergeletak di atas meja di samping kopinya dan Harry

merasakan tekanan memuncak untuk memegangnya. Lakukan saja, dia memberitahu

dirinya sendiri, ketika campuran rasa panik dan bersemangat menggelora di dalam

dadanya, ulurkan dan raih saja. Menakjubkan, betapa lebih sulitnya mengulurkan

lengannya dua belas inci untuk menyentuhnya daripada untuk menyambar sebuah

Snitch yang sedang ngebut dari udara ...

Tetapi persis ketika dia menggerakkan tangannya ke depan, Cho memindahkan

tangannya dari meja. Dia sekarang sedang mengamati Roger Davies mencium

pacarnya dengan ekspresi agak tertarik.

'Dia mengajakku keluar, kau tahu,' dia berkata dengan suara pelan. 'Beberapa

minggu yang lalu. Roger. Namun, aku menolaknya.'

Harry, yang telah meraih mangkuk gula sebagai alasan untuk pergerakan mendadak

ke seberang meja, tidak bisa memikirkan kenapa dia memberitahunya hal ini. Kalau

dia berharap dia sedang duduk di meja sebelah sedang dicium dengan sepenuh hati

oleh Roger Davies, kenapa dia setuju keluar bersama Harry?

Dia tidak berkata apa-apa. Anak kecil bersayap mereka melemparkan segenggam

konfeti lagi ke atas mereka; beberapa mendarat di sisa-sisa kopi dingin yang baru

akan diminum Harry.

'Aku datang ke sini bersama Cedric tahun lalu,' kata Cho.

Dalam waktu sekitar satu detik yang dibutuhkannya untuk memahami apa yang

telah dikatakannya, isi tubuh Harry telah menjadi sedingin es. Dia tidak bisa percaya

Cho mau membicarakan tentang Cedric sekarang, sementara pasangan-pasangan yang

sedang berciuman mengelilingi mereka dan sebuah anak kecil bersayap melayang di

atas kepala mereka.

Suara Cho agak lebih tinggi ketika dia berbicara lagi.

'Aku sudah ingin bertanya kepadamu sejak lama sekali ... apakah Cedric -- apakah

dia -- menyebutku sama sekali sebelum dia mati?'

Ini adalah subyek paling akhir di dunia ini yang ingin dibahas Harry, dan dia paling

tidak ingin membahasnya dengan Cho.

'Well -- tidak --,' dia berkata pelan. 'Tidak -- tidak ada waktu baginya untuk

mengatakan apapun. Erm ... jadi ... apakah kau ... apakah kau menonton banyak

Quidditch sewaktu liburan? Kau mendukung Tornado, benar 'kan?'

Suaranya terdengar pura-pura ceria dan riang. Yang membuatnya ngeri, dia melihat

bahwa mata Cho penuh air mata lagi, seperti saat setelah pertemuan terakhir DA

sebelum Natal.

'Lihat,' dia berkata dengan putus asa, sambil mencondongkan badan sehingga orang

lain tidak ada yang bisa mencuri dengar, 'mari kita tidak membicarakan tentang

Cedric sekarang ... mari bicara tentang sesuatu yang lain.'

Tetapi ini, tampaknya, adalah hal yang salah untuk dikatakan.

'Kukira,' dia berkata, air mata bercucuran ke meja, 'kukira kau akan m-m-mengerti!

Aku perlu bicara tentang itu! Tentunya kau p-perlu bicara tentang itu j-juga!

Maksudku, kau melihatnya terjadi, b-bukan?'

Semua hal menjadi salah seperti mimpi buruk, pacar Roger Davies bahkan sudah

melepaskan dirinya untuk memandang Cho yang sedang menangis.

'Well -- aku sudah membicarakannya,' Harry berkata dalam bisikan, 'kepada Ron

dan Hermione, tapi --'

'Oh, kau mau bicara dengan Hermione Granger!' dia berkata dengan nyaring,

wajahnya sekarang berkilau karena air mata. Beberapa pasangan lain yang sedang

berciuman berpisah untuk memandangi mereka. 'Tapi kau tidak mau bicara denganku!

M-mungkin paling baik kalau kita ... bayar saja dan kau pergi menemui Hermione GGranger,

seperti yang jelas sekali kau mau!'

Harry menatapnya, benar-benar bingung, selagi dia meraih sebuah serbet

berjumbai-jumbai dan menyeka wajahnya dengan itu.

'Cho?' dia berkata dengan lemah, sambil berharap Roger mau menyambar pacarnya

dan mulai menciuminya lagi untuk menghentikan gadis itu membelalak kepadanya

dan Cho.

'Ayolah, pergi!' dia berkata, sekarang menangis ke dalam serbet. 'Aku tidak tahu

kenapa kau mengajakku keluar sejak awal kalau kau akan membuat janji bertemu

gadis-gadis lain persis setelah aku ... berapa banyak yang akan kau temui setelah

Hermione?'

'Bukan seperti itu!' kata Harry, dan dia begitu lega akhirnya mengerti mengapa Cho

marah sehingga dia tertawa, yang disadarinya sepersekian detik terlambat juga sebuah

kesalahan.

Cho bangkit. Seluruh kedai teh itu diam dan semua orang sedang mengamati

mereka sekarang.

'Sampai jumpa lagi, Harry,' dia berkata dengan dramatis, dan sambil tersedu sedikit

dia berlari ke pintu, merenggutnya terbuka dan bergegas pergi di dalam hujan lebat.

'Cho!' Harry memanggilnya, tetapi pintu sudah berayun tertutup di belakangnya

dengan gemerincing merdu.

Ada keheningan total di dalam kedai teh itu. Semua mata menatap Harry. Dia

melemparkan sebuah Galleon ke meja, menggoyangkan konfeti merah jambu dari

rambutnya, dan mengikuti Cho keluar pintu.

Sekarang sedang turun hujan lebar dan Cho tidak terlihat di manapun. Dia hanya

tidak mengerti apa yang telah terjadi; setengah jam yang lalu mereka baik-baik saja.

'Wanita!' dia bergumam dengan marah, berjalan sambil memercikkan air di jalan

yang tersiram hujan itu dengan tangannya berada di kantongnya. 'Lagipula, untuk apa

dia mau berbincang-bincang tentang Cedric? Kenapa dia selalu mau menyeret sebuah

subyek yang membuatnya bertingkah seperti pipa air manusia?'

Dia berbelok ke kanan dan mulai berlari, dan dalam beberapa menit dia sedang

berbelok ke ambang pintu Three Broomsticks. Dia tahu dia terlalu awal untuk

menemui Hermione, tetapi dia berpikir mungkin sekali akan ada seseorang di sini

dengan siapa dia bisa menghabiskan waktu antaranya. Dia menggoyangkan rambut

basahnya keluar dari matanya dan memandang berkeliling. Hagrid sedang duduk

sendirian di sebuah sudut, terlihat murung.

'Hai, Hagrid!' dia berkata, ketika dia telah menyelinap melalui meja-meja yang

berjejalan dan menarik sebuah kursi ke sampingnya.

Hagrid terlompat dan memandang ke bawah kepada Harry seolah-olah dia hampir

tidak mengenalinya. Harry melihat bahwa dia sekarang punya dua luka potong baru di

wajahnya dan beberapa memar baru.

'Oh, kau, Harry,' kata Hagrid. 'Kau baik-baik saja?'

'Yeah, aku baik,' bohong Harry; tetapi, di sebelah Hagrid yang babak-belur dan

tampak muram ini, dia merasa dia tidak punya banyak yang dikeluhkan. 'Er -- apakah

kau baik-baik saja?'

'Aku?' kata Hagrid. 'Oh yeah, aku hebat, Harry, hebat.'

Dia memandang ke dalam cangkir besarnya yang terbuat dari timah campuran,

yang seukuran sebuah ember besar, dan menghela napas. Harry tidak tahu harus

berkata apa kepadanya. Mereka duduk bersebelahan dalam diam selama beberapa

saat. Lalu Hagrid berkata dengan tiba-tiba, 'Dalam kapal yang sama, kau dan aku,

bukan, 'Arry?'

'Er --' kata Harry.

'Yeah ... aku sudah bilang sebelumnya ... sama-sama orang luar, serupa,' kata

Hagrid sambil mengangguk dengan bijaksana. 'Dan sama-sama yatim piatu. Yeah ...

sama-sama yatim piatu.'

Dia minum seteguk besar dari cangkir besarnya.

'Buat perubahan, punya keluarga yang pantas,' dia berkata. 'Ayahku pantas. Dan ibu

dan ayahmu pantas. Kalau mereka masih hidup, hidup akan berbeda, eh?'

'Yeah ... kurasa,' kata Harry dengan berhati-hati. Hagrid tampaknya berada dalam

suasana hati yang sangat aneh.

'Keluarga,' kata Hagrid dengan murung. 'Apapun yang kau katakan, darah itu

penting ...'

Dan dia menyeka aliran kecil yang keluar dari matanya.

'Hagrid,' kata Harry, tak mampu menghentikan dirinya sendiri, 'di mana kamu

mendapatkan semua luka ini?'

'Eh?' kata Hagrid, tampak terkejut. 'Luka apa?'

'Semua itu!' kata Harry sambil menunjuk pada wajah Hagrid.

'Oh ... itu cuma benjol dan memar biasa, Harry,' kata Hagrid mengelak, 'aku punya

pekerjaan kasar.'

Dia menghabiskan isi cangkir besarnya, meletakkannya kembali dan bangkit.

'Sampai jumpa, Harry ... jaga dirimu.'

Dan dia berjalan dengan susah payah keluar dari bar itu tampak sedih, dan

menghilang ke hujan yang sangat deras. Harry mengamatinya pergi, merasa sengsara.

Hagrid tidak gembira dan dia sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi dia

kelihatannya bertekad untuk tidak menerima bantuan. Apa yang sedang terjadi?

Tetapi sebelum Harry bisa memikirkannya lebih lanjut, dia mendengar sebuah suara

memanggil namanya.

'Harry! Harry, sebelah sini!'

Hermoine sedang melambai kepadanya dari sisi lain ruangan itu. Dia bangkit dan

berjalan ke arahnya melalui bar yang sesak itu. Dia masih beberapa meja jauhnya

ketika dia menyadari bahwa Hermione tidak sendirian. Dia sedang duduk di sebuah

meja dengan pasangan teman minum yang paling tidak mungkin dalam bayangannya:

Luna Lovegood dan tak lain dari Rita Skeeter, mantan jurnalis di Daily Prophet dan

salah satu dari orang yang paling tidak disukai Hermine di dunia.

'Kau datang lebih awal!' kata Hermione, sambil berpindah untuk memberinya ruang

untuk duduk. 'Kukira kau bersama Cho, aku tidak menduga kau akan datang

setidaknya untuk satu jam lagi!'

'Cho?' kata Rita seketika, sambil berputar di tempat duduknya untuk menatap Harry

lekat-lekat. 'Seorang gadis?'

Dia menyambar tas tangan kulit buayanya dan meraba-raba di dalamnya.

'Bukan urusanmu kalau Harry bersama seratus gadis,' Hermione memberitahu Rita

dengan dingin. 'Jadi kau bisa menyimpan itu sekarang juga.'

Rita baru akan mengeluarkan sebuah pena bulu hijau asam dari tasnya. Terlihat

seolah-olah dia telah dipaksa menelan Getah-Bau, dia membanting tasnya hingga

tertutup lagi.

'Apa yang sedang kalian rencanakan?' Harry bertanya sambil duduk dan menatap

dari Rita ke Luna ke Hermione.

'Nona Sempurna Kecil baru saja akan memberitahuku sewaktu kau sampai,' kata

Rita, sambil minum seteguk besar minumannya. 'Kurasa aku diperbolehkan berbicara

kepadanya, bukan?' dia menyerang Hermione.

'Ya, kurasa begitu,' kata Hermione dengan dingin.

Pengangguran tidak cocok untuk Rita. Rambut yang dulunya ditata dengan

keriting-keriting rumit sekarang tergantung lemas dan tidak terawat di sekeliling

wajahnya. Cat merah tua pada kukunya yang dua inci mengelupas dan ada sejumlah

permata palsu yang hilang dari kacamata bersayapnya. Dia minum seteguk besar

minumannya lagi dan berkata dari sudut mulutnya, 'Gadis yang cantik, bukan, Harry?'

'Satu kata lagi tentang kehidupan cinta Harry dan tawarannya batal dan itu sebuah

janji,' kata Hermione dengan kesal.

'Tawaran apa?' kata Rita sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.

'Kau belum menyebutkan sebuah tawaran, Nona Sopan Santun, kau cuma

menyuruhku muncul. Oh, suatu hari ini ...' Dia mengambil napas dalam-dalam dengan

rasa jijik.

'Ya, ya, suatu hari ini kau akan menulis lebih banyak cerita mengerikan mengenai

Harry dan aku,' kata Hermione tidak peduli. 'Temukan orang yang peduli, bisakah?'

'Mereka sudah menerbitkan banyak cerita mengerikan tentang Harry tahun ini tanpa

bantuanku,' kata Rita sambil memberinya pandangan menyamping dari puncak

gelasnya dan menambahkan dengan bisikan kasar, 'Bagaimana perasaanmu akibatnya,

Harry? Dikhianati? Bingung? Tak dimengerti?'

'Dia merasa marah, tentu saja,' kata Hermione dengan suara keras yang jelas.

'Karena dia memberitahu Menteri Sihir yang sebenarnya dan Menteri terlalu idiot

untuk mempercayai dia.'

'Jadi kau benar-benar bertahan pada cerita itu, bukan, bahwa Dia-Yang-Namanya-

Tidak-Boleh-Disebut kembali?' kata Rita sambil merendahkan gelasnya dan

memberikan Harry tatapan menusuk sementara jarinya berkeliaran dengan penuh

keinginan ke gesper tas buayanya. 'Kau mendukung semua sampah yang telah

diceritakan Dumbledore kepada semua orang tentang kembalinya Kau-Tahu-Siapa

dan kau menjadi saksi tunggalnya?'

'Aku bukan saksi tunggal,' bentak Harry. 'Juga ada sekitar selusin Pelahap Maut di

sana. Mau nama-nama mereka?'

'Aku akan senang sekali,' kata Rita, sekarang meraba-raba ke dalam tasnya sekali

lagi dan menatapnya seolah-olah Harry hal terindah di dunia yang pernah dilihatnya.

'Sebuah judul berita berani yang besar: "Potter Menuduh ..." Judul kecil, "Harry Potter

Mengungkapkan Nama-Nama Para Pelahap Maut yang Masih Berada di Antara Kita".

Dan kemudian, di bawah sebuah gambarmu yang besar dan bagus, "Remaja terganggu

yang selamat dari serangan Anda-Tahu-Siapa, Harry Potter, 15, menyebabkan

kemarahan besar kemarin dengan menuduh para anggota komunitas sihir yang

dihormati dan terkemuka sebagai Pelahap Maut ..."'

Pena Bulu Kutip-Cepat telah berada di tangannya dan setengah jalan ke mulutnya

ketika ekspresi gembira di wajahnya hilang.

'Tetapi tentu saja,' dia berkata sambil merendahkan pena bulu itu dan memandang

Hermione dengan tajam, 'Nona Sempurna Kecil tidak akan mau cerita itu di luar sana,

bukan?'

'Kenyataannya,' kata Hermione dengan manis, 'itulah persisnya apa yang

diinginkan Nona Sempurna Kecil.'

Rita menatapnya. Begitu juga Harry. Luna, di sisi lain, bernyanyi 'Weasley adalah

Raja kami' sambil melamun dengan suara rendah dan mengaduk minumannya dengan

bawang koktil di atas sebuah lidi.

'Kau mau aku melaporkan apa yang dikatakannya tentang Dia-Yang-Namanya-

Tidak-Boleh-Disebut?' Rita bertanya kepada Hermione dengan suara berbisik.

'Ya, memang,' kata Hermione. 'Cerita sebenarnya. Semua fakta. Persis seperti yang

diceritakan Harry. Dia akan memberimu semua detil, dia akan memberitahumu namanama

para Pelahap Maut yang belum dikenali yang dilihatnya di sana, dia akan

memberitahumu seperti apa tampang Voldemort sekarang -- oh, kuasai dirimu,' dia

menambahkan dengan merendahkan, sambil melemparkan serbet ke seberang meja,

karena, ketika mendengar nama Voldemort, Rita terlompat begitu parah sehingga dia

menumpahkan setengah gelas Whisky-Apinya pada dirinya sendiri.

Rita mengeringkan bagian depan jas hujannya yang kotor, masih menatap

Hermione. Lalu dia berkata dengan terang-terangan, 'Prophet tidak akan mau

mencetaknya. Kalau-kalau kau belum memperhatikan, tak seorangpun mempercayai

cerita omong kosongnya. Semua orang mengira dia berkhayal. Sekarang, kalau kau

membiarkan aku menulis cerita dari sudut itu --'

'Kami tidak perlu cerita lain mengenai bagaimana Harry sudah gila!' kata Hermione

dengan marah. 'Kami sudah punya banyak, terima kasih! Aku mau dia diberikan

kesempatan untuk menceritakan yang sebenarnya!'

'Tidak ada pasar untuk cerita seperti itu,' kata Rita dengan dingin.

'Maksudmu Prophet tidak mau mencetaknya karena Fudge tidak mengizinkan

mereka,' kata Hermione dengan kesal.

Rita memberi Hermione pandangan dalam-dalam yang lama. Lalu, sambil

mencondongkan badan menyeberangi meja ke arahnya, dia berkata dengan nada

praktis, 'Baiklah, Fudge sedang mengandalkan Prophet, tetapi sama saja. Mereka

tidak akan mencetak sebuah cerita yang memperlihatkan Harry dalam cahaya bagus.

Tak seorangpun mau membacanya. Itu melawan suasana hati publik. Pelarian

Azkaban terakhir ini telah membuat orang-orang cukup kuatir. Orang-orang cuma

tidak mau percaya Kau-Tahu-Siapa kembali.'

'Jadi Daily Prophet ada untuk memberitahu orang-orang apa yang ingin mereka

dengar, begitu?' kata Hermione dengan tajam.

Rita duduk tegak lagi, alisnya terangkat, dan menghabiskan minuman Whisky-

Apinya.

'Prophet ada untuk menjual dirinya sendiri, kau gadis bodoh,' dia berkata dengan

dingin.

'Ayahku berpikir itu suratkabar yang mengerikan,' kata Luna, masuk ke dalam

percakapan itu tanpa terduga. Sambil mengisap bawang koktilnya, dia memandang

Rita dengan matanya yang besar, menonjol dan agak sinting. 'Dia menerbitkan ceritacerita

penting yang dikiranya perlu diketahui publik. Dia tidak peduli tentang

menghasilkan uang.'

Rita memandang Luna dengan menghina.

'Kutebak ayahmu menjalankan beberapa suratkabar desa kecil yang bodoh?' dia

berkata. 'Mungkin, Dua Puluh Lima Cara untuk Bergaul dengan Para Muggle dan

tanggal-tanggal Obral Bawa dan Terbang berikutnya?'

'Bukan,' kata Luna sambil mencelupkan bawangnya kembali ke Gillywaternya, 'dia

editor The Quibbler.'

Rita mendengus begitu keras sehingga orang-orang di meja yang berdekatan

memandang berkeliling dengan gelisah.

'"Cerita menarik yang dikiranya perlu diketahui publik", eh?' dia berkata dengan

menghina. 'Aku bisa memupuki kebunku dengan isi sampah itu.'

'Well, ini peluangmu untuk menaikkan nadanya sedikit, bukan?' kata Hermione

dengan menyenangkan. 'Luna bilang ayahnya sangat senang menerima wawancara

Harry. Itulah yang akan menerbitkannya.'

Rita menatap mereka berdua sejenak, lalu mengeluarkan batuk-batuk tawa yang

keras.

'The Quibbler!' dia berkata sambil terkekeh. 'Kau kira orang-orang akan

menganggapnya serius kalau dia diterbitkan dalam The Quibbler?'

'Beberapa orang tidak,' kata Hermione dengan suara datar. 'Tetap versi Daily

Prophet tentang pelarian Azkaban memiliki beberapa lubang menganga. Kukira

banyak orang akan bertanya-tanya apakah tidak ada penjelasan yang lebih baik

tentang apa yang terjadi, dan apakah tersedia cerita alternatif, bahkan kalau

diterbitkan dalam sebuah --' dia memandang sekilas ke samping kepada Luna, 'dalam

sebuah -- well, sebuah majalah yang tidak biasa -- kukira mereka mungkin ingin

sekali membacanya.'

Rita tidak mengatakan apapun selama beberapa saat, tetapi memandangi Hermione

dengan licik, kepalanya sedikit ke satu sisi.

'Baiklah, anggap saja sejenak aku akan melakukannya,' dia berkata dengan kasar.

'Bayaran seperti apa yang akan kudapatkan?'

'Kukira Daddy tidak benar-benar membayar orang-orang untuk menulis bagi

majalah,' kata Luna sambil melamun. 'Mereka melakukannya karena itu kehormatan

dan, tentu saja, untuk melihat nama mereka tercetak.'

Rita Skeeter tampak seolah-olah rasa Getah Bau begitu kuat dalam mulutnya lagi

ketika dia memberondong Hermione.

'Aku harus melakukan ini secara gratis?'

'Well, ya,' kata Hermione dengan tenang sambil minum seteguk. 'Kalau tidak,

seperti yang kau tahu betul, aku akan memberitahu pihak yang berkuasa bahwa kau

seorang Animagus tak terdaftar. Tentu saja, Prophet mungkin memberinya cukup

banyak untuk cerita orang dalam mengenai hidup di Azkaban.'

Rita tampak seolah-olah dia tidak ingin apapun lebih dari menyambar payung

kertas yang menjulur dari minuman Hermione dan menyodokkannya ke hidungnya.

'Kukira aku tak punya pilihan, bukan?' kata Rita, suaranya sedikit bergetar. Dia

membuka tas buayanya sekali lagi, mengeluarkan sepotong perkamen, dan

mengangkat Pena Bulu Kutip-Cepatnya.

'Daddy akan senang,' kata Luna dengan ceria. Sebuah otot berkedut di rahang Rita.

'OK, Harry?' kata Hermione sambil berpaling kepadanya. 'Siap memberitahu publik

kebenarannya?'

'Kurasa begitu,' kata Harry sambil mengamati Rita menyeimbangkan Pena Bulu

Kutip-Cepat bersiap sedia di atas perkamen di antara mereka.

'Mulai tanya, kalau begitu, Rita,' kata Hermione dengan tenang sambil mengambil

sebuah ceri dari dasar gelasnya.

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH ENAM --

Yang Terlihat dan Yang Tak Ter-Ramalkan

Luna berkata dengan samar bahwa dia tidak tahu seberapa cepat wawancara Rita

dengan Harry akan muncul di The Quibbler, bahwa ayahnya sedang mengharapkan

sebuah artikel panjang yang bagus tentang penampakan Snorckack Tanduk-Kisut

baru-baru ini, '-- dan tentu saja, itu akan menjadi sebuah cerita yang sangat penting,

jadi Harry mungkin harus menunggu untuk edisi berikutnya,' kata Luna.

Harry tidak mendapati berbicara mengenai malam ketika Voldemort kembali

merupakan pengalaman yang mudah. Rita telah menekannya untuk semua detil kecil

dan dia telah memberikannya semua yang bisa diingatnya, tahu bahwa ini peluang

besarnya untuk memberitahu dunia yang sebenarnya. Dia bertanya-tanya bagaimana

orang-orang akan bereaksi kepada cerita itu. Dia menduga itu akan membenarkan

pandangan banyak orang bahwa dia sepenuhnya tidak waras, bukan hanya karena

ceritanya akan tampil berdampingan dengan sampah mengenai Snorkack Tanduk-

Kisut. Tetapi pelarian Bellatrix dan teman-teman Pelahap Mautnya telah memberi

Harry hasrat membara untuk melakukan sesuatu, berhasil ataupun tidak ...

'Tak sabar melihat apa pendapat Umbridge tentang kau cerita ke publik,' kata Dean,

terdengar terpesona saat makan malam pada Senin malam. Seamus sedang

menyendok sejumlah besar ayam dan pai daging di sisi Dean yang satu lagi, tetapi

Harry tahu dia sedang mendengarkan.

'Itu hal yang tepat untuk dilakukan, Harry,' kata Neville, yang sedang duduk di

seberangnya. Dia agak pucat, tetapi meneruskan dengan suara rendah, 'Pastilah ... sulit

... membicarakannya ... bukan?'

'Yeah,' gumam Harry, 'tapi orang-orang harus tahu apa yang bisa dilakukan

Voldemort, bukan?'

'Itu benar,' kata Neville sambil mengangguk, 'dan para Pelahap Mautnya juga ...

orang-orang harus tahu ...'

Neville membiarkan kalimatnya tergantung dan kembali ke kentang bakarnya.

Seamus memandang ke atas, tetapi ketika dia menatap mata Harry dia memandang

kembali cepat-cepat ke piringnya lagi. Setelah beberapa saat, Dean, Seamus dan

Neville berangkat ke ruang duduk, meninggalkan Harry dan Hermione di meja

menunggu Ron, yang belum makan malam karena latihan Quidditch.

Cho Chang berjalan ke dalam Aula bersama temannya Marietta. Perut Harry

bergerak mendadak tidak menyenangkan, tetapi Cho tidak memandang ke meja

Gryffindor, dan duduk dengan punggung menghadapnya.

'Oh, aku lupa bertanya kepadamu,' kata Hermione dengan ceria, sambil memandang

sekilas ke meja Ravenclaw, 'apa yang terjadi pada kencanmu dengan Cho? Kenapa

kau kembali begitu cepat?'

'Er ... well, itu ...' kata Harry sambil menarik sepiring remah berempah ke arahnya

dan mengambil tambahan makanan, 'benar-benar gagal, karena kau menyebutnya.'

Dan dia memberitahunya apa yang terjadi di kedai teh Madam Puddifoot.

'... jadi kemudian,' dia menyelesaikan beberapa menit kemudian, ketika potongan

remah terakhir menghilang, 'dia melompat bangkit, benar, dan berkata, "Sampai

jumpa lagi, Harry," dan berlari keluar dari tempat itu!' Dia meletakkan sendoknay dan

memandang Hermione. 'Maksudku, apa artinya itu? Apa yang sedang terjadi?'

Hermione memandang sekilas ke bagian belakang kepala Cho dan menghela napas.

'Oh, Harry,' dia berkata dengan sedih. 'Well, aku minta maaf, tapi kau agak tidak

bijaksana.'

'Aku, tidak bijaksana?' kata Harry, marah. 'Satu menit kami baik-baik saja, menit

berikutnya dia memberitahuku bahwa Roger Davies mengajaknya keluar dan

bagaimana dia dulu pergi menciumi Cedric di kedai teh bodoh itu -- bagaimana

seharusnya perasaanku tentang itu?'

'Well, kau paham,' kata Hermione, dengan suasana sabar seseorang yang sedang

menjelaskan bahwa satu ditambah satu sama dengan dua kepada seorang balita yang

terlalu emosional, 'kau seharusnya tidak memberitahunya bahwa kau mau

menjumpaiku di tengah-tengah kencan kalian.'

'Tapi, tapi,' repet Harry, 'tapi -- kau menyuruhku menjumpaimu pukul dua belas

dan membawanya ikut serta, bagaimana aku melakukan itu tanpa memberitahunya?'

'Kau seharusnya memberitahu dia dengan cara berbeda,' kata Hermione, masih

dengan suasana sabar yang menjengkelkan itu. 'Kau seharusnya berkata benar-benar

menyebalkan, tapi aku memaksamu berjanji untuk mendatangi Three Broomsticks,

dan kau sebenarnya tidak mau pergi, kau lebih suka menghabiskan sepanjang hari

bersamanya, tapi sayangnya kau berpikir kau benar-benar harus menemuiku dan

apakah dia bersedia ikut bersamamu dan semoga saja kalian bisa menyingkir

secepatnya. Dan mungkin ide bagus juga menyebutkan betapa jeleknya menurutmu

aku ini,' Hermione menambahkan sebagai renungan akhir.

'Tapi aku tidak menganggapmu jelek,' kata Harry, merasa geli.

Hermione tertawa.

'Harry kau lebih parah daripada Ron ... well, tidak, tidak begitu,' dia menghela

napas, selagi Ron sendiri datang bersusah payah ke Aula belepotan lumpur dan

tampak galak. 'Lihat -- kau membuat Cho marah sewaktu kau bilang kau akan

menemuiku, jadi dia mencoba membuatmu cemburu. Itu caranya mencari tahu

seberapa banyak kau menyukainya.'

'Itukah yang sedang dilakukannya?' kata Harry, ketika Ron merosot ke bangku di

seberang mereka dan menarik semua piring di dalam jangkauannya ke arahnya. 'Well,

bukankah akan lebih mudah kalau dia tanya aku saja apakah aku lebih menyukainya

daripada kamu?'

'Anak-anak perempuan tidak sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu,'

kata Hermione.

'Well, mereka seharusnya begitu!' kata Harry penuh tenaga. 'Dengan begitu aku

bisa memberitahunya aku suka dia, dan dia tidak akan perlu membuat dirinya

terkenang lagi tentang meninggalnya Cedric!'

'Aku tidak mengatakan apa yang dilakukannya bijaksana,' kata Hermione, selagi

Ginny bergabung dengan mereka, sama berlumpurnya dengan Ron dan tampak sama

tidak puasnya. 'Aku hanya mencoba membuatmu paham bagaimana perasaannya pada

saat itu.'

'Kau seharusnya menulis sebuah buku,' Ron memberitahu Hermione selagi dia

memotong kentangnya, 'menerjemahkan hal-hal gila yang dilakukan anak-anak

perempuan sehingga anak-anak laki-laki bisa memahami mereka.'

'Yeah,' kata Harry dengan kuat, sambil memandang ke meja Ravenclaw. Cho baru

saja bangkit, dan, masih tidak memandangnya, dia meninggalkan Aula Besar. Merasa

agak tertekan, dia memandang kembali kepada Ron dan Ginny. 'Jadi, bagaimana

latihan Quidditchnya?'

'Mimpi buruk,' kata Ron dengan suara masam.

'Oh, ayolah,' kata Hermione sambil memandang Ginny, 'Aku yakin tidak se--'

'Ya, memang,' kata Ginny. 'Mengerikan. Angelina hampir menangis pada akhirnya.'

Ron dan Ginny keduanya pergi mandi setelah makan malam; Harry dan Hermione

kembali ke ruang duduk Gryffindor yang sibuk dan tumpukan pekerjaan rumah

mereka yang biasa. Harry telah berjuang dengan sebuah peta bintang baru untuk

Astronomi selama setengah jam ketika Fred dan George muncul.

'Ron dan Ginny tidak di sini?' tanya Fred sambil melihat sekeliling ketika dia

menarik sebuah kursi, dan ketika Harry menggelengkan kepalanya, dia berkata,

'Bagus. Kami menonton latihan mereka. Mereka akan dibantai. Mereka sepenuhnya

sampah tanpa kita.'

'Ayolah, Ginny tidak buruk,' kata George dengan adil sambil duduk di samping

Fred. 'Sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana dia jadi sebagus itu, mengingat kita tidak

pernah membiarkan dia bermain bersama kita.'

'Dia mendobrak gudang sapu kalian di kebun sejak umur enam tahun dan

bergantian menggunakan sapu-sapu kalian waktu kalian tidak melihat,' kata Hermione

dari balik tumpukan buku-buku Rune Kunonya.

'Oh,' kata George, terlihat agak terkesan. 'Well -- itu menjelaskannya.'

'Apakah Ron sudah menyelamatkan sebuah gol?' tanya Hermione sambil mengintip

dari atas Hieroglyph dan Logogram Sihir.

'Well, dia bisa melakukannya kalau dia mengira tak seorangpun sedang

mengawasinya,' kata Fred sambil menggulirkan matanya. 'Jadi yang harus kita

lakukan hanyalah meminta kerumunan untuk memalingkan punggung mereka dan

saling berbincang-bincang setiap kali Quaffle naik ke ujungnya pada hari Sabtu.'

Dia bangkit lagi dan bergerak dengan resah ke jendela, menatap keluar ke halaman

sekolah yang gelap.

'Kalian tahu, Quidditch hampir merupakan satu-satunya yang membuat tempat ini

patut ditinggali.'

Hermione memberinya pandangan keras.

'Kalian akan menghadapi ujian-ujian kalian!'

'Sudah kubilang padamu, kami tidak cerewet tentang NEWT,' kata Fred. 'Kotak

Makanan Pembolos sudah siap edar, kami menemukan cara menyingkirkan bisulbisul

itu, cuma sedikit intisari Murtlap menyembuhkannya, Lee memberi kami

gagasan itu.'

George menguap lebar-lebar dan memandang keluar dengan sedih ke langit malam

yang berawan.

'Aku tak tahu apakah aku bahkan ingin menonton pertandingan ini. Kalau

Zacharias Smith mengalahkan kita aku mungkin harus bunuh diri.'

'Bunuh dia, lebih mungkin,' kata Fred dengan tegas.

'Itulah masalahnya dengan Quidditch,' kata Hermione melamun, sekali lagi

membungkuk di atas terjemahan Runenya, 'menciptakan semua perasaan buruk dan

ketegangan antar asrama.'

Dia memandang ke atas untuk mencari salinan Daftar Suku Kata Spellman-nya,

dan mellihat Fred, George dan Harry semuanya menatapnya dengan ekspresi

campuran jijik dan tidak percaya di wajah mereka.

'Well, memang!' dia berkata tidak sabaran. 'Itu cuma sebuah olahraga, bukan?'

'Hermione,' kata Harry sambil menggelengkan kepalanya, 'kamu pandai dalam

masalah perasaan dan hal-hal, tetapi kamu hanya tidak paham tentang Quidditch.'

'Mungkin tidak,' dia berkata dengan muram, sambil kembali ke terjemahannya, 'tapi

setidaknya kebahagiaanku tidak tergantung pada kemampuan menjaga gawang Ron.'

Dan walaupun Harry lebih suka melompat dari Menara Astronomi daripada

mengakui itu kepadanya, pada saat dia telah menonton pertandingan Sabtu berikutnya

dia akan memberikan Galleon sebanyak apapun agar tidak peduli tentang Quidditch

juga.

Hal terbaik yang bisa kau katakan tentang pertandingan itu adalah bahwa

pertandingan itu pendek; para penonton Gryffindor cuma harus menahan dua puluh

dua detik penderitaan. Sulit mengatakan apa hal terburuknya: Harry mengira itu

pertarungan yang amat ketat antara kegagalan Ron yang keempatbelas untuk

menyelamatkan gawang, Sloper yang tidak mengenai Bludger tetapi menghantam

Angelina di mulut dengan tongkatnya, dan Kirke yang menjerit dan jatuh ke belakang

dari sapunya ketika Zacharias Smith meluncur ke arahnya sambil membawa Quaffle.

Keajaibannya adalah bahwa Gryffindor hanya kalah sepuluh poin: Ginny berhasil

menyambar Snitch tepat di bawah hidung Seeker Hufflepuff Summerby, sehingga

skor akhir adalah dua ratus empat puluh lawan dua ratus tiga puluh.

'Tangkapan bagus,' Harry memberitahu Ginny sewaktu kembali ke ruang duduk, di

mana suasananya menyerupai sebuah pemakaman yang amat muram.

'Aku beruntung,' dia mengangkat bahu. 'Itu bukan Snitch yang sangat cepat dan

Summerby kena flu, dia bersin dan menutup matanya pada saat yang salah.

Ngomong-ngomong, begitu kau kembali ke tim --'

'Ginny, aku kena larangan seumur hidup.'

'Kau dilarang selama Umbridge ada di sekolah,' Ginny mengoreksi dia. 'Ada

perbedaan. Ngomong-ngomong, begitu kau balik, kukira aku akan ikut uji coba untuk

Chaser. Angelina dan Alicia akan pergi tahun depan dan lagipula aku lebih suka

mencetak gol daripada mencari Snitch.'

Harry memandang kepada Ron, yang masih membungkuk di sebuah sudut, sambil

menatap lututnya, sebotol Butterbeer tergenggam di tangannya.

'Angelina masih tidak mau membiarkan dia mengundurkan diri,' Ginny berkata,

seolah-olah membaca pikiran Harry. 'Dia bilang dia tahu Ron punya kemampuan di

dalam dirinya.'

Harry menyukai Angelina karena keyakinan yang ditunjukkannya kepada Ron,

tetapi pada saat yang sama berpikir akan lebih baik hati kalau membiarkannya

meninggalkan tim. Ron telah meninggalkan lapangan mendengar nyanyian bersama

menggelegar 'Weasley adalah Raja kami' dinyanyikan dengan semangat besar oleh

anak-anak Slytherin, yang sekarang difavoritkan memenangkan Piala Quidditch.

Fred dan George berjalan ke sini.

'Aku tidak sampai hati mengoloknya,' kata Fred sambil memandang ke figur Ron

yang kisut. 'Camkan ... ketika dia tidak menangkap yang keempat belas --'

Dia membuat gerakan-gerakan liar dengan lengannya seolah-olah melakukan

kayuhan anjing tegak lurus.

'-- well, aku akan simpan untuk pesta-pesta, eh?'

Ron menyeret dirinya ke tempat tidur tidak lama setelah ini. Demi menghargai

perasaannya, Harry menunggu sebentar sebelum naik ke kamar asrama sendiri,

sehingga Ron bisa pura-pura tidur kalau dia mau. Memang benar, ketika Harry

akhirnya memasuki kamar Ron sedang mendengkur sedikit terlalu keras untuk masuk

akal.

Harry naik ke ranjang sambil memikirkan pertandingan itu. Sangat

memfrustrasikan menonton dari pinggir. Dia sangat terkesan pada penampilan Ginny

tetapi dia tahu kalau dia bermain dia akan bisa menangkap Snitch lebih cepat ... ada

saat di mana Snitch berkibaran di dekat mata kaki Kirke; kalau Ginny tidak bimbang,

dia mungkin bisa menghasilkan kemenangan bagi Gryffindor.

Umbridge telah duduk beberapa baris di bawah Harry dan Hermione. Sekali atau

dua kali dia berpaling sambil berjongkok di tempat duduknya untuk memandangnya,

mulut kataknya yang lebar merentang membentuk apa yang Harry pikir senyum

gembira. Ingatan itu membuatnya merasa panas karena marah sementara dia

berbaring di sana dalam kegelapan. Namun, setelah beberapa menit, dia ingat bahwa

dia seharusnya mengosongkan pikirannya dari semua emosi sebelum dia tidur, seperti

yang terus diperintahkan Snape pada akhir setiap pelajaran Occlumencynya.

Dia mencoba selama satu atau dua saat, tetapi memikirkan Snape di atas ingatannya

pada Umbridge hanya meningkatkan rasa ketidaksenangannya dan dia mendapati

dirinya sendiri malah berfokus pada seberapa besar dia membenci mereka berdua.

Lambat laun, dengkuran Ron menghilang, digantikan dengan suara napas dalam dan

lambat. Butuh Harry waktu lebih lama untuk tertidur; tubuhnya letih, tetapi butuh

otaknya waktu yang lama untuk beristirahat.

Dia bermimpi bahwa Neville dan Profesor Sprout sedang berdansa waltz mengitari

Ruang Kebutuhan sementara Profesor McGonagall memainkan alat musik bagpipe.

Dia mengamati mereka dengan gembira selama beberapa saat, lalu memutuskan untuk

pergi mencari anggota-anggota DA yang lain.

Tetapi ketika dia meninggalkan ruangan itu dia mendapati dirinya menghadapi,

bukan permadani dinding Barnabas si Bodoh, melainkan sebuah obor yang menyala

dalam penopangnya di tembok batu. Dia memalingkan kepalanya lambat-lambat ke

kiri. Di sana, di ujung jauh dari lorong tak berjendela itu, ada sebuah pintu hitam

polos.

Dia berjalan ke arahnya dengan perasaan bersemangat yang semakin memuncak.

Dia mendapatkan perasaan teraneh bahwa kali ini dia akhirnya akan beruntung, dan

menemukan cara membukanya ... dia berjarak beberapa kaki darinya, dan melihat

dengan lompatan kegembiraan bahwa ada celah berkilauan cahaya biru redup di sisi

kanan ... pintu itu terbuka sedikit ... dia merentangkan tangannya untuk

mendorongnya lebar-lebar dan --

Ron mengeluarkan dengkur asli yang keras dan parau dan Harry terbangun

mendadak dengan tangan kanan terulur di depannya dalam kegelapan, untuk

membuka pintu yang ratusan mil jauhnya. Dia membiarkannya jatuh dengan perasaan

campuran kecewa dan merasa bersalah. Dia tahu dia seharusnya tidak melihat pintu

itu, tetapi pada saat yang sama begitu termakan rasa ingin tahu tentang apa yang ada

di baliknya sehingga dia tidak bisa tidak merasa jengkel pada Ron ... kalau saja dia

bisa menyimpan dengkurannya satu menit lagi.

*

Mereka memasuki Aula Besar untuk sarapan pada saat yang persis sama dengan

pos burung hantu pada Senin pagi. Hermione bukan satu-satunya orang yang

bersemangat menunggu Daily Prophet-nya untuk mendapatkan lebih banyak berita

mengenai para Pelahap Maut yang lepas, yang, walaupun banyak laporan

penampakan, masih belum tertangkap. Dia memberikan burung hantu pengantar

sebuah Knut dan membuka lipatan surat kabar itu dengan bersemangat sementara

Harry minum jus jeruk; karena dia hanya menerima sebuah catatan selama satu tahun

penuh, dia yakin, ketika burung hantu pertama mendarat dengan bunyi gedebuk di

hadapannya, bahwa burung itu membuat kesalahan.

'Siapa yang kaucari?' dia bertanya kepada burung itu, sambil memindahkan jus

jeruknya dengan lesu dari bawah paruhnya dan mencondongkan badan ke depan

untuk melihat nama dan alamat penerima:

Harry Potter Aula Besar Sekolah Hogwarts

Sambil merengut, dia bergerak akan mengambil surat itu dari burung hantu itu,

tetapi sebelum dia bisa melakukannya, tiga, empat, lima burung hantu lagi berkibaran

turun ke sampingnya dan sedang berebut posisi, menginjak mentega dan menjatuhkan

garam selagi masing-masing mencoba memberinya surat mereka duluan.

'Apa yang sedang terjadi?'' Ron bertanya dengan heran, sementara seluruh meja

Gryffindor mencondongkan badan ke depan untuk menonton dan tujuh burung hantu

lagi mendarat di antara yang pertama, sambil memekik, beruhu dan mengepakkan

sayap mereka.

'Harry!' kata Hermione terengah-engah, sambil membenamkan tangannya ke

kumpulan bulu itu dan menarik keluar seekor burung hantu pekik yang membawa

sebuah paket panjang berbentuk tabung. 'Kukira aku tahu apa artinya ini -- buka yang

satu ini terlebih dahulu!'

Harry merobek pembungkuk cokelatnya. Bergelung keluar sebuah salinan edisi

Maret The Quibbler yang tergulung erat. Dia membuka gulungannya untuk melihat

wajahnya sendiri menyeringai malu-malu kepadanya dari halaman depan. Dalam

huruf-huruf besar merah membentang di gambar ini adalah kata-kata:

BERBICARA TERUS-TERANG AKHIRNYA

KEBENARAN MENGENAI DIA-YANG-NAMANYA-TIDAK-BOLEH-DISEBUT

DAN MALAM AKU MELIHATNYA KEMBALI

'Bagus, bukan?' kata Luna yang telah datang ke meja Gryffindor dan sekarang

memaksakan dirinya ke bangku di antara Fred dan Ron. 'Keluarnya kemarin, aku

minta Dad mengirimkanmu sebuah salinan gratis. Kuduga semua ini,' dia

melambaikan sebelah tangan ke kumpulan burung hantu yang masih meraba-raba di

meja di hadapan Harry, 'adalah surat-surat dari para pembaca.'

'Itulah yang kupikir,' kata Hermione dengan bersemangat. 'Harry, apakah kau

keberatan kalau kami --?'

'Silakan saja,' kata Harry, merasa agak geli.

Ron dan Hermione mulai merobek amplop-amplop.

'Yang satu ini dari seorang cowok yang mengira kau sinting,' kata Ron sambil

memandang sekilas ke suratnya. 'Ah well ...'

'Wanita ini merekomendasikanmu mencoba kursus bagus Mantera Guncangan di St

Mungo,' kata Hermione, terlihat kecewa dan lesu dalam sedetik.

'Yang satu ini tampak OK,' kata Harry lambat-lambat, sambil membaca sekilas

sepucuk surat panjang dari seorang penyihir wanita di Paisley. 'Hei, dia bilang dia

percaya padaku!'

'Yang satu ini tak bisa memutuskan,' kata Fred, yang telah bergabung dalam

pembukaan surat dengan antusias. 'Bilang kau tidak terlihat sebagai orang gila, tapi

dia sebenarnya tidak mau percaya Kau-Tahu-Siapa sudah kembali jadi dia tidak tahu

harus berpikir apa sekarang. Astaga, betapa pemborosan perkamen.'

'Di sini satu lagi yang berhasil kau yakinkan, Harry!' kata Hermione dengan

bersemangat. 'Setelah membaca versi ceritamu, aku terpaksa mengambil kesimpulan

bahwa Daily Prophet telah memperlakukanmu dengan sangat tidak adil ... walaupun

aku tidak ingin berpikir bahwa Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut telah

kembali, aku terpaksa menerima bahwa kau sedang mengatakan yang sebenarnya ...

Oh, ini bagus sekali!'

'Satu lagi yang berpikir kau menggonggong,' kata Ron sambil melemparkan sebuah

surat yang tergumpal lewat bahunya, '... tapi yang satu ini bilang kau sudah

mengubahnya dan dia sekarang menganggapmu pahlawan sejati -- dia memasukan

sebuah foto juga -- wow!'

'Apa yang sedang berlangsung di sini?' kata sebuah suara seperti anak perempuan

yang manisnya palsu.

Harry memandang ke atas dengan tangan penuh amplop. Profesor Umbridge

sedang berdiri di belakang Fred dan Luna, mata kataknya yang menonjol mengamati

kekacauan yang dibuat burung-burung hantu dan surat-surat di atas meja di hadapan

Harry. Di belakangnya dia melihat banyak murid sedang mengamati mereka lekatlekat.

'Kenapa kamu mendapatkan semua surat ini, Mr Potter?' dia bertanya lambatlambat.

'Apakah itu kejahatan sekarang?' kata Fred dengan keras. 'Mendapat surat?'

'Hati-hati, Mr Weasley, atau aku akan menempatkanmu dalam detensi,' kata

Umbridge. 'Well, Mr Potter?'

Harry bimbang, tapi dia tidak melihat bagaimana dia bisa mendiamkan apa yang

telah dia lakukan; jelas cuma masalah waktu sebelum sebuah salinan The Quibbler

menarik perhatian Umbridge.

'Orang-orang menulis kepadaku karena aku memberi wawancara,' kata Harry.

'Tentang apa yang terjadi kepadaku Juni lalu.'

Untuk alasan tertentu dia memandang sekilas ke meja guru ketika dia mengatakan

ini. Harry mendapatkan perasaan teraneh bahwa Dumbledore telah mengamatinya

sedetik sebelumnya, tetapi ketiak dia memandang ke Kepala Sekolah dia tampak

asyik dalam percakapan dengan Profesor Flitwick.

'Wawancara?' ulang Umbridge, suaranya semakin lemah dan tinggi daripada

sebelumnya. 'Apa maksudmu?'

'Maksudku seorang reporter menanyai aku pertanyaan-pertanyaan dan aku

menjawabnya,' kata Harry. 'Ini --'

Dan dia melemparkan salinan The Quibbler itu kepadanya. Umbridge

menangkapnya dan menatap ke sampulnya. Wajahnya yang pucat dan kendur berubah

menjadi ungu jelek.

'Kapan kamu melakukan ini?' dia bertanya, suaranya bergetar sedikit.

'Akhir pekan Hogsmeade yang lalu,' kata Harry.

Umbridge memandangnya, menyala karena marah, majalah itu bergetar dalam jarijarinya

yang pendek gemuk.

'Tidak akan ada perjalanan ke Hogsmeade lagi bagimu, Mr Potter,' dia berbisik.

'Betapa beraninya kau ... bagaimana kamu bisa ...' Dia mengambil napas dalamdalam.

'Aku sudah mencoba berulang-ulang untuk mengajarimu tidak berkata bohong.

Pesan itu, tampaknya, masih belum tertanam. Lima puluh poin dari Gryffindor dan

seminggu detensi lagi.'

Dia berjalan pergi sambil menggenggam The Quibbler ke dadanya, mata banyak

murid mengikutinya.

Pada tengah pagi tanda-tanda besar telah dipasang di seluruh sekolah, tidak hanya

di papan-papan pengumuman, tetapi juga di koridor-koridor dan ruang-ruang kelas.

ATAS PERINTAH PENYELIDIK TINGGI HOGWARTS

Murid-murid yang kedapatan memiliki majalah The Quibbler akan dikeluarkan.

Yang di atas sesuai dengan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Tujuh.

Tertanda: Dolores Jane Umbridge, Penyelidik Tinggi

Untuk alasan tertentu, setiap kali Hermione melihat salah satu tanda ini dia

tersenyum senang.

'Apa tepatnya yang membuat kau begitu senang?' Harry bertanya kepadanya.

'Oh, Harry, tidakkah kau paham?' Hermione berkata. 'Kalau dia bisa melakukan

satu hal untuk menjamin bahwa semua orang di sekolah ini akan membaca

wawancaramu, itu adalah melarangnya!'

Dan tampaknya Hermione sangat benar. Di akhir hari itu, walaupun Harry belum

melihat lebih dari secuil The Quibbler di manapun di sekolah, seluruh tempat itu

tampaknya mengutip wawancara itu kepada satu sama lain. Harry mendengar mereka

berbisik mengenainya ketika mereka antri di luar ruang kelas, membahasnya selama

makan siang dan di akhir pelajaran, sementara Hermione bahkan melaporkan bahwa

setiap pengguna kamar-kamar kecil di toilet anak perempuan telah membicarakannya

ketika dia masuk ke sana sebelum Rune Kuno.

'Lalu mereka melihatku, dan tentu saja mereka tahu aku kenal kamu, jadi mereka

memberondongku dengan pertanyaan,' Hermione memberitahu Harry, matanya

bersinar-sinar, 'dan Harry, kukira mereka percaya padamu, aku benar-benar mengira

begitu, kukira kau akhirnya membuat mereka yakin!'

Sementara itu, Profesor Umbridge berkeliaran di sekolah, menghentikan muridmurid

secara acak dan menuntut mereka membalik buku-buku dan kantong mereka.

Harry tahu dia sedang mencari salinan-salinan The Quibbler, tapi murid-murid

beberapa langkah di depannya. Halaman-halaman yang berisikan wawancara Harry

telah disihir untuk menyerupai kutipan dari buku teks kalau siapapun kecuali mereka

sendiri membacanya, atau dihapus secara sihir menjadi kosong sampai mereka mau

membacanya lagi. Segera saja tampaknya setiap orang di sekolah sudah membacanya.

Guru-guru tentu saja dilarang menyebut wawancara itu oleh Dekrit Pendidikan

Nomor Dua Puluh enam, tetapi mereka tetap saja menemukan cara-cara

menyampaikan perasaan mereka tentang itu. Profesor Sprout menghadiahkan

Gryffindor dua puluh poin ketika Harry menyerahkan kepadanya sebuah kaleng

penyiram air; seorang Profesor Flitwick yang tersenyum menekankan sekotak gula

tikus yang mencicit kepadanya di akhir Jimat dan Guna-Guna, berkata, 'Shh!' dan

bergegas pergi, dan Profesor Trelawney tersedu-sedan selama Ramalan dan

mengumumkan kepada kelas yang terkejut, dan Umbridge yang sangat tidak setuju,

bahwa Harry tidak akan menderita kematian dini sama sekali, melainkan akan hidup

sampai umur panjang, menjadi Menteri Sihir dan memiliki dua belas anak.

Tetapi yang membuat Harry paling bahagia adalah Cho yang mengejarnya ketika

dia sedang bergegas menuju Transfigurasi keesokan harinya. Sebelum dia tahu apa

yang terjadi, tangan mereka sudah bergandengan dan dia sedang berbisik ke

telinganya, 'Aku benar-benar, benar-benar menyesal. Wawancara itu begitu berani ...

membuatku menangis.'

Dia menyesal mendengar Cho bahkan meneteskan lebih banyak air mata

karenanya, tetapi sangat senang mereka saling berbicara lagi, dan bahkan lebih senang

ketika dia memberinya ciuman cepat di pipinya dan bergegas pergi lagi. Dan tak bisa

dipercaya, begitu dia sampai di luar Transfigurasi sesuatu yang sama baiknya terjadi:

Seamus keluar dari antrian untuk menghadapinya.

'Aku cuma mau bilang,' dia bergumam sambil memicingkan mata pada lutut kiri

Harry, 'Aku percaya padamu. Dan aku sudah mengirimkan sebuah salinan majalah itu

kepada ibuku.'

Kalau ada yang lain yang dibutuhkan untuk melengkapi kebahagiaan Harry, itu

adalah reaksi yang didapatkannya dari Malfoy, Crabbe dan Goyle. Dia melihat

mereka dengan kepala berdekatan sore itu di perpustakaan; mereka bersama seorang

anak lelaki yang tampak kurus tinggi yang Hermione bisikkan bernama Theodore

Nott. Mereka memandang kepada Harry ketika dia melihat-lihat rak-rak mencari buku

yang dibutuhkannya untuk Penghilangan Sebagian: Goyle menggertakkan buku-buku

jarinya dengan mengancam dan Malfoy membisikkan sesuatu yang tidak diragukan

bersifat jahat kepada Goyle. Harry tahu benar kenapa mereka bertingkah seperti ini:

dia telah menyebut semua ayah mereka sebagai Pelahap Maut.

'Dan bagian terbaiknya,' bisik Hermione dengan gembira, ketika mereka

meninggalkan perpustakaan, 'adalah mereka tidak bisa membantahmu, karena mereka

tidak bisa mengakui mereka telah membaca artikel itu!'

Sebagai puncaknya, Luna memberitahunya sewaktu makan malam bahwa tidak ada

edisi The Quibbler yang pernah terjual lebih cepat.

'Dad mencetak ulang!' dia memberitahu Harry, matanya membelalak dengan

bersemangat. 'Dia tidak bisa mempercayainya, dia bilang orang-orang tampaknya

lebih tertarik dengan ini daripada dengan Snorckack Tanduk-Kisut!'

Harry menjadi pahlawan di ruang duduk Gryffindor malam itu. Dengan berani,

Fred dan George menempatkan Mantera Pembesar ke sampul depan The Quibbler dan

menggantunkannya di dinding, sehingga kepala raksasa Harry memandang ke bawah

ke kegiatan mereka, terkadang mengatakan hal-hal seperti

'KEMENTERIAN ADALAH ORANG-ORANG BODOH' dan

'MAKAN KOTORAN, UMBRIDGE' dengan suara menggelegar. Hermione tidak

menganggap ini lucu; dia bilang mengganggu konsentrasinya, dan dia akhirnya pergi

tidur lebih awal karena kesal. Harry harus mengakui bahwa poster itu tidak lucu lagi

setelah satu atau dua jam, terutama ketika mantera bicaranya mulai hilang, sehingga

dia hanya meneriakkan kata-kata tidak berkaitan seperti 'KOTORAN' dan

'UMBRIDGE' pada interval-interval yang lebih sering dengan suara yang semakin

meninggi. Kenyataannya, itu mulai membuat kepalanya sakit dan bekas lukanya

mulai menusuk-nusuk tidak menyenangkan lagi. Yang membuat banyak orang yang

sedang duduk di sekitar, yang memintanya mengulangi kembali wawancaranya untuk

kesekian puluh kalinya, mengeluh kecewa, dia mengumumkan bahwa dia juga butuh

istirahat awal.

Kamar asrama kosong ketika dia sampai di sana. Dia menyandarkan keningnya

sejenak di kaca jendela yang sejuk di samping tempat tidurnya; rasanya nyaman pada

bekas lukanya. Lalu dia berganti pakaian dan naik ke tempat tidur, sambil berharap

sakit kepalanya pergi. Dia juga merasa sedikit mual. Dia berguling ke samping,

menutup matanya, dan jatuh tertidur hampir seketika ...

Dia sedang berdiri di sebuah ruangan gelap bertirai yang diterangi sebuah tempat

lilin bercabang. Tangannya tergenggam ke punggung sebuah kursi di depannya.

Tangan itu berjari-jari panjang dan putih seakan-akan belum melihat sinar matahari

selama bertahun-tahun dan tampak seperti laba-laba pucat besar di beludru gelap kursi

itu.

Di balik kursi, dalam genangan cahaya yang sampai ke lantai di samping lilin-lilin

itu, berlutut seorang lelaki berjubah hitam.

'Aku telah diberi nasehat jelek, tampaknya,' kata Harry, dengan suara tinggi dan

dingin yang bergetar dengan kemarahan.

'Tuan, saya memohon pengampunan Anda,' lelaki yang sedang berlutut di lantai itu

berteriak dengan parau. Bagian belakang kepalanya berkilauan dalam cahaya lilin.

Dia kelihatannya sedang gemetaran.

'Aku tidak menyalahkanmu, Rookwood,' kata Harry dengan suara dingin, kejam

itu.

Dia melepaskan pegangannya dari kursi dan berjalan mengitarinya, mendekati

lelaki yang sedang gemetar ketakutan di lantai, sampai di berdiri tepat di hadapannya

dalam kegelapan, memandang ke bawh dari ketinggian yang jauh melebih biasanya.

'Kau yakin dengan fakta-faktamu, Rookwood?' tanya Harry.

'Ya, Tuanku, ya ... Lagi--lagipula aku dulu bekerja di Departemen itu ...'

'Avery memberitahuku Bode akan bisa mengambilnya.'

'Bode takkan pernah mengambilnya, Tuan ... Bode pasti akan tahu dia tidak bisa ...

tak diragukan lagi, itulah sebabnya dia melawan begitu keras terhadap Kutukan

Imperius Malfoy ...'

'Berdiri, Rookwood,' bisik Harry.

Lelaki yang sedang berlutut itu hampir jatuh dalam ketergesaannya menurut.

Wajahnya bopeng; bekas luka itu tampak dalam cahaya lilin. Dia terus bongkok

sedikit ketika berdiri, seolah-olah setengah membungkuk, dan dia memandang wajah

Harry dengan ngeri.

'Kau sudah melakukan sesuatu yang bagus dengan memberitahuku hal ini,' kata

Harry. 'Baiklah ... aku sudah menghabiskan berbulan-bulan pada rencana-rencana tak

berhasil, tampaknya ... tapi tidak masalah ... kita mulai lagi, dari sekarang. Kau

mendapatkan rasa terima kasih Lord Voldemort, Rookwood ...'

'Tuanku ... ya, Tuanku,' Rookwood terengah-engah, suaranya serak karena lega.

'Aku akan butuh bantuanmu. Aku akan butuh semua informasi yang bisa kau

berikan kepadaku.'

'Tentu saja, Tuanku, tentu saja ... apapun ...'

'Baiklah ... kau boleh pergi. Suruh Avery menghadapku.'

Rookwood bergegas mundur, sambil membungkuk, dan menghilang melalui

sebuah pintu.

Ditinggalkan sendirian di ruangan gelap itu, Harry berpaling ke dinding. Sebuah

cermin retak, ternoda usia bergantung di dinding dalam bayangan. Harry bergerak ke

arahnya. Bayangannya semakin besar dan jelas dalam kegelapan ... sebuah wajah

yang lebih putih daripada tengkorak ... mata besar dengan celah untuk anak mata ...

'TIDAAAAAAAAAK!'

'Apa?' jerit sebuah suara di dekatnya.

Harry memukul-mukul ke sekitarnya dengan hebat, menjadi terkait ke kelambu dan

jatuh dari tempat tidurnya. Selama beberapa detik dia tidak tahu di mana dia berada,

dia yakin dia akan melihat wajah putih mirip tengkorak itu menatapnya dari balik

kegelapan lagi, lalu sangat dekat dengannya suara Ron berkata, 'Bisakah kau berhenti

bertingkah seperti maniak agar aku bisa mengeluarkanmu dari sini!'

Ron merenggut kelambu hingga terpisah dan Harry menatap kepadanya dalam

cahaya bulan, berbaring telentang pada punggungnya, bekas lukanya membara

menyakitkan. Ron terlihat seakan-akan dia baru saja bersiap-siap untuk tidur; satu

lengan keluar dari jubahnya.

'Apakah seseorang diserang lagi?' tanya Ron sambil menarik Harry bangkit dengan

kasar. 'Apakah Dad? Apakah ular itu?'

'Tidak -- semua orang baik-baik saja --' Harry terengah-engah, keningnya terasa

seolah-olah terbakar. 'Well ... Avery tidak ... dia sedang dalam masalah ... dia

memberinya informasi yang salah ... Voldemort benar-benar marah.'

Harry mengerang dan merosot, sambil gemetaran, ke atas ranjangnya, sambil

menggosok bekas lukanya.

'Tapi Rookwood akan membantunya sekarang ... dia sudah berada di jalan yang

benar lagi ...'

'Apa yang sedang kau bicarakan?' kata Ron, terdengar takut. 'Apakah maksudmu ...

apakah kau baru saja melihat Kau-Tahu-Siapa?'

'Aku menjadi Kau-Tahu-Siapa,' kata Harry, dan dia merentangkan tangannya dalam

kegelapan dan mengangkatnya ke wajahnya, untuk memeriksa bahwa tangan itu tidak

lagi putih seperti mayat dan berjari-jari panjang. 'Dia bersama Rookwood, dia salah

satu Pelahap Maut yang lolos dari Azkaban, ingat? Rookwood baru saja

memberitahunya Bode tidak akan bisa melakukannya.'

'Melakukan apa?'

'Mengambil sesuatu ... dia bilang Bode pasti tahu dia tidak akan bisa melakukannya

... Bode di bawah Kutukan Imperius ... kupikir katanya ayah Malfoy yang

menempatkan kutukan itu kepadanya.'

'Bode disihir untuk mengambil sesuatau?' Ron berkata. 'Tapi -- Harry, itu pastilah --

'

'Senjata itum' Harry menyelesaikan kalimat itu baginya. 'Aku tahu.'

Pintu kamar asrama terbuka, Dean dan Seamus masuk. Harry mengayunkan

kakinya kembali ke tempat tidur. Dia tidak ingin terlihat seolah-olah sesuatu yang

aneh baru saja terjadi, mengingat Seamus baru saja berhenti berpikir Harry seorang

yang sinting.

'Apakah kau mengatakan,' gumam Ron sambil menempatkan kepalanya dekat ke

kepala Harry sambil berpura-pura minum air dari kendi di meja sisi tempat tidurnya,

'bahwa kau menjadi Kau-Tahu-Siapa?'

'Yeah,' kata Harry pelan.

Ron minum seteguk besar air yang tidak perlu; Harry melihatnya tumpah dari

dagunya ke dadanya.

'Harry,' dia berkata, selagi Dean dan Seamus bergerak ke sana ke mari dengan

bising, menarik lepas jubah mereka dan berbincang-bincang, 'kamu harus

memberitahu --'

'Aku tidak harus memberitahu siapapun,' kata Harry singkat. 'Aku tidak akan

melihatnya sama sekali kalau aku bisa melakukan Occlumency. Aku seharusnya

belajar menutup hal-hal ini. Itulah yang mereka inginkan.'

'Mereka' maksudnya Dumbledore. Dia naik kembali ke ranjangnya dan berguling

ke samping dengan punggung menghadap Ron dan setelah beberapa saat dia

mendengar kasur Ron berderak ketika dia juga berbaring. Bekas luka Harry mulai

membara; dia menggigit bantalnya keras-keras untuk menghentikan dirinya

mengeluarkan suara. Di suatu tempat, dia tahu, Avery sedang dihukum.

*

Harry dan Ron menunggu sampai waktu istirahat keesokan harinya untuk

memberitahu Hermione apa persisnya yang telah terjadi; mereka ingin memastikan

mereka tidak terdengar yang lain. Sambil berdiri di sudut mereka yang biasa di

halaman yang sejuk dan berangin itu, Harry memberitahunya semua detil mimpi itu

yang bisa diingatnya. Ketika dia selesai, Hermione tidak berkata apa-apa sama sekali

selama beberapa saat, tetapi menatap dengan semacam intensitas menyakitkan kepada

Fred dan George, yang keduanya tidak berkepala dan sedang menjual topi-topi sihir

mereka dari balik jubah mereka di sisi lain halaman.

'Jadi itulah sebabnya mereka membunuhnya,' dia berkata pelan, sambil menarik

pandangannya dari Fred dan George akhirnya. 'Saat Bode mencoba mencuri senjata

ini, sesuatu yang aneh terjadi padanya. Kukira pasti ada mantera-mantera pertahanan

padanya, atau di sekitarnya, untuk menghentikan orang-orang menyentuhnya. Itulah

sebabnya dia berada di St Mungo, otaknya jadi aneh dan dia tidak bisa berbicara. Tapi

ingat apa yang diberitahu Penyembuh itu kepada kita? Dia sedang pulih. Dan mereka

tidak bisa mengambil resiko dia semakin sehat, bukan begitu? Maksudku, guncangan

dari apapun yagn terjadi ketika dia menyentuh senjata itu mungkin mengangkat

Kutukan Imperiusnya. Begitu dia mendapatkan kembali suaranya, dia akan

menjelaskan apa yang sedang dilakukannya, bukan? Mereka akan tahu dia dikirim

untuk mencuri senjata itu. Tentu saja, mudah bagi Lucius Malfoy menempatkan

kutukan kepadanya. Tak pernah keluar dari Kementerian, dia itu?'

'Dia bahkan berkeliaran hari itu ketika aku menghadiri dengar pendapatku,' kata

Harry. 'Di -- tunggu dulu ...' dia berkata lambat-lambat. 'Dia ada di koridor

Departemen Misteri hari itu! Ayahmu bilang dia mungkin sedang mencoba

menyelinap turun dan mencari tahu apa yang terjadi di dengar pendapatku, tapi

bagaimana kalau --'

'Sturgis!' Hermione menarik napas cepat, terlihat seperti disambar petir.

'Maaf?' kata Ron, tampak bingung.

'Sturgis Podmore --' kata Hermione terengah-engah, 'ditangkap karena mencoba

melewati sebuah pintu! Lucius Malfoy pasti mendapatkan dia juga! Aku bertaruh dia

melakukannya pada hari kau melihatnya di sana, Harry. Sturgis memiliki Jubah Gaib

Moody, benar 'kan? Jadi, bagaimana kalau dia sedang berdiri berjaga-jaga di samping

pintu itu, tidak tampak oleh mata, dan Malfoy mendengarnya bergerak -- atau

menebak ada seseorang di sana -- atau hanya melakukan Kutukan Imperius untuk

berjaga-jaga kalau-kalau ada pengawal di sana? Jadi, ketika Sturgis memiliki

kesempatan berikutnya -- mungkin saat gilirannya tugas jaga lagi -- dia mencoba

masuk ke Departemen itu untuk mencuri senjata itu bagi Voldemort -- Ron, diamlah -

- tapi dia tertangkap dan dikirim ke Azkaban ...'

Dia memandang Harry.

'Dan sekarang Rookwood sudah memberitahu Voldemort bagaimana mendapatkan

senjata itu?'

'Aku tidak mendengar semua percakapannya, tapi kedengarannya seprti itu,' kata

Harry. 'Rookwood dulu bekerja di sana ... mungkin Voldemort akan mengirim

Rookwood untuk melakukannya?'

Hermione mengangguk, tampaknya masih terbenam dalam pikirannya. Lalu, agak

mendadak, dia berkata, 'Tapi kau seharusnya tidak melihat ini semua, Harry.'

'Apa?' dia berkata, terkejut.

'Kau seharusnya mempelajari sekarang bagaimana menutup pikiranmu terhadap

hal-hal semacam ini,' kata Hermione, mendadak tegas.

'Aku tahu,' kata Harry. 'Tapi --'

'Well, kukira kita harus mencoba melupakan apa yang kaulihat,' kata Hermione

dengan tegas. 'Dan kau seharusnya memberi lebih banyak usaha pada Occlumencymu

dari sekarang.'

Harry begitu marah kepadanya sehingga dia tidak berbicara kepadanya sepanjang

hari itu, yang terbukti merupakan hari yang buruk.Saat orang-orang tidak sedang

membicarakan para Pelahap Maut yang lolos di koridor-koridor, mereka

menertawakan penampilan bukan main Gryffindor dalam pertandingan melawan

Hufflepuff; anak-anak Slytherin menyanyikan 'Weasley adalah Raja kami' begitu

kerasnya dan seringnya sehingga pada saat senja hari Filch telah melarangnya di

koridor-koridor hanya karena kesal.

Minggu itu tidak membaik selagi berjalan terus. Harry menerima dua lagi 'D' dalam

Ramuan; dia masih gelisah bahwa Hagrid mungkin dipecat; dan dia masih tidak bisa

menghentikan dirinya memikirkan mimpi di mana dia menjadi Voldemort --

walaupun dia tidak mengungkitnya lagi dengan Ron dan Hermione; dia tidak ingin

dimarahi lagi oleh Hermione. Dia sangat berharap bahwa dia bisa berbicara kepada

Sirius mengenainya, tetapi itu tidak mungkin, jadi dia mencoba mendorong masalah

itu ke bagian belakang pikirannya.

Sayangnya, bagian belakang pikirannya tidak lagi merupakan tempat aman seperti

dulu.

'Bangun, Potter.'

Beberapa minggu setelah mimpinya tentang Rookwood, Harry bisa ditemui, lagilagi,

berlutut di lantai kantor Snape, mencoba menjernihkan kepalanya. Dia baru saja

dipaksa, lagi-lagi, mengulangi rentetan ingatan-ingatan sangat awal yang tidak pernah

disadarinya masih dimilikinya, sebagian besar berkaitan dengan penghinaan yang

diakibatkan Dudley dan kelompoknya kepadanya di sekolah dasar.

'Ingatan terakhir itu,' kata Snape. 'Apa itu?'

'Aku tidak tahu,' kata Harry sambil bangkit dengan letih. Dia mendapati semakin

sulit menguraikan ingatan-ingatan terpisah dari serbuan gambar dan suara yang terus

dipanggil Snape. 'Maksud Anda di mana sepupuku mencoba membuatku berdiri di

toilet?'

'Tidak,' kata Snape lembut. 'Maksudku seorang lelaki yang sedang berlutut di

tengah sebuah ruangan yang digelapkan ...'

'Itu ... bukan apa-apa,' kata Harry.

Mata gelap Snape menusuk ke dalam mata Harry. Teringat apa yang dikatakan

Snape tentang kontak mata penting untuk Legilimency, Harry berkedip dan melihat ke

arah lain.

'Bagaimana lelaki itu dan ruangan itu masuk ke kepalamu, Potter?' kata Snape.

'Itu --' kata Harry, melihat ke segala tempat kecuali kepada Snape, 'itu -- cuma

mimpi yang kudapat.'

'Mimpi?' ulang Snape.

Ada jeda di mana Harry menatap terpaku ke sebuah kodok mati besar yang tertahan

dalam setoples cairan ungu.

'Kamu tahu kenapa kita ada di sini, bukan, Potter?' kata Snape dengan suara rendah

berbahaya. 'Kau tahu kenapa aku menghabiskan malam-malamku untuk pekerjaan

membosankan ini?'

'Ya,' kata Harry kaku.

'Ingatkan aku kenapa kita ada di sini, Potter.'

'Supaya aku bisa mempelajari Occlumency,' kata Harry, sekarang melotot kepada

seekor belut mati.

'Tepat, Potter. Dan walaupun otakmu mungkin dangkal --' Harry memandang balik

kepada Snape, sambil membencinya, '-- kukira setelah dua bulan pelajaran kau

mungkin membuat sedikit kemajuan. Berapa banyak mimpi lain tentang Pangeran

Kegelapan yang kau dapatkan?'

'Cuma yang satu itu,' bohong Harry.

'Mungkin,' kata Snape, matanya yang gelap dan dingin menyipit sedikit, 'mungkin

kamu sebenarnya menikmati mendapatkan penglihatan-penglihatan dan mimpi-mimpi

ini, Potter. Mungkin membuatmu merasa istimewa -- penting?'

'Tidak, tidak begitu,' kata Harry, rahangnya menegang dan jari-jarinya

mencengkeram pegangan tongkatnya erat-erat.

'Begitupun sama saja, Potter,' kata Snape dengan dingin, 'karena kamu tidak

istimewa ataupun penting, dan bukan urusanmu mencari tahu apa yang sedang

dikatakan Pangeran Kegelapan kepada para Pelahap Mautnya.'

'Bukan -- itu pekerjaan Anda, bukan?' Harry memberondongnya.

Dia tidak bermaksud mengatakannya; itu meledak keluar darinya dalam

amarahnya. Selama waktu yang lama mereka saling bertatapan, Harry yakin dia sudah

terlalu jauh. Tapi ada ekspresi aneh, hampir seperti puas di wajah Snape saat dia

menjawab.

'Ya, Potter,' dia berkata, matanya berkilat-kilat. 'Itu pekerjaanku. Sekarang, kalau

kau siap, kita akan mulai lagi.'

Dia mengangkat tongkatnya. 'Satu -- dua -- tiga -- Legilimens!'

Seratus Dementor menukik ke arah Harry menyeberangi danau di halaman sekolah

... dia menegangkan wajahnya berkonsentrasi ... mereka semakin mendekat ... dia bisa

melihat lubang-lubang hitam di bawah kerudung mereka ... tapi dia juga bisa melihat

Snape berdiri di depannya, matanya terpaku ke wajah Harry, bergumam dengan suara

rendah ... dan entah bagaimana, Snape semakin jelas, dan Dementor-Dementor itu

semakin pudar ...

Harry mengangkat tongkatnya sendiri.

'Protego!'

Snape terhuyung-huyung -- tongkatnya terbang ke atas, menjauh dari Harry -- dan

tiba-tiba pikiran Harry penuh dengan ingatan-ingatan yang bukan miliknya: seorang

lelaki berhidung bengkok sedang berteriak kepada seorang wanita yang gemetar

ketakutan, sementara seorang anak lelaki kecil berambut gelap menangis di sudut ...

seorang remaja berambut berminyak duduk sendirian di sebuah kamar tidur yang

gelap, menunjuk tongkatnya ke langit-langit, menembak jatuh lalat-lalat ... seorang

gadis tertawa ketika seorang anak laki-laki kurus mencoba menaiki sebuah sapu yang

melawan.

'CUKUP!'

Harry merasa seolahh-olah dia telah didorong keras-keras di dada, dia terhuyunghuyung

beberapa langkah mundur, mengenai beberapa rak yang menutupi dinding

Snape dan mendengar sesuatu retak. Snape sedikit gemetar, dan wajahnya sangat

putih.

Bagian belakang jubah Harry lembab. Salah satu toples di belakangnya telah pecah

ketika dia jatuh menimpanya, benda berlendir yang diawetkan di dalamnya berputar

dalam ramuannya yang semakin surut.

'Reparo,' desis Snape, dan seketika toples itu tersegel lagi dengan sendirinya. 'Well,

Potter ... itu jelas perbaikan ...' Sambil agak terengah-engah, Snape meluruskan

Pensieve di mana dia menyimpan lagi beberapa pikirannya sebelum mulai pelajaran,

hampir seolah-olah dia sedang memeriksa mereka masih ada di sana. 'Aku tidak ingat

menyuruhmu menggunakan Mantera Pelindung ... tapi tidak diragukan lagi itu efektif

...'

Harry tidak berbicara, dia merasa bahwa mengatakan apapun bisa berbahaya. Dia

yakin dia baru saja masuk ke ingatan Snape, bahwa dia baru saja melihat adeganadegan

dari masa kecil Snape. Mengerikan berpikir bahwa anak kecil yang menangis

itu ketika dia menyaksikan orang tuanya berteriak sebenarnya berdiri di depannya

dengan kebencian sedemikian rupa di matanya.

'Ayo coba lagi,' kata Snape.

Harry merasakan getaran rasa takut, dia akan membayar untuk apa yang baru

terjadi, dia yakin itu. Mereka pindah kembali ke posisi dengan meja tulis di antara

mereka, Harry merasa dia akan mendapati jauh lebih sulit mengosongkan pikirannya

kali ini.

'Pada hitungan ketiga, kalau begitu,' kata Snape sambil mengangkat tongkatnya

sekali lagi. 'Satu -- dua --'

Harry tidak punya waktu untuk mempersiapkan diri dan mencoba mengosongkan

pikirannya sebelum Snape berteriak, 'Legilimens!'

Dia meluncur cepat menyusuri koridor menuju Departemen Misteri, melewati

dinding-dinding batu kosong, melewati obor-obor -- pintu hitam polos itu semakin

besar; dia bergerak begitu cepat sehingga dia akan bertubrukan dengan pintu itu, dia

berjarak beberapa kaki darinya dan dia bisa melihat celah cahaya biru redup itu --

Pintu terayun membuka! Dia melewatinya akhirnya, di dalamnya sebuah ruangan

melingkar yang berdinidng hitam dan berlantai hitam, diterangi dengan lilin-lilin

berapi biru, dan ada lebih banyak pintu di sekelilingnya -- dia perlu meneruskan --

tapi pintu mana yang harus diambilnya --?

'POTTER!'

Harry membuka matanya. Dia berbaring pada punggungnya lagi tanpa ingatan

sampai di sana; dia juga terengah-engah seolah-olah dia benar-benar telah berlari

sepanjang koridor Departemen Misteri, benar-benar berlari cepat melewati pintu

hitam itu dan menemukan ruangan melingkar itu.

'Jelaskan!' kata Snape, yang berdiri di atasnya, tampak marah.

'Aku .. tak tahu apa yang terjadi,' kata Harry sejujurnya, sambil berdiri. Ada benjol

di bagian belakang kepalanya dari tempat dia menghantam tanah dan dia merasa

demam. 'Aku belum pernah melihat itu sebelumnya. Maksudku, sudah kuberitahu

Anda, aku pernah bermimpi tentang pintu itu ... tapi belum pernah terbuka

sebelumnya.'

'Kau tidak bekerja cukup keras!'

Untuk alasan tertentu, Snape tampak bahkan lebih marah daripada dua menit yang

lalu, ketika Harry telah melihat ke dalam ingatan gurunya.

'Kau malas dan ceroboh, Potter, tidak heran bahwa Pangeran Kegelapan --'

'Bisakah Anda memberitahuku sesuatu, sir?' kata Harry sambil membara lagi.

'Kenapa Anda memanggil Voldemort Pangeran Kegelapan? Aku hanya pernah

mendengar para Pelahap Maut memanggilnya begitu.'

Snape membuka mulutnya untuk membentak -- dan seorang wanita menjerit dari

suatu tempat di luar ruangan itu.

Kepala Snape tersentak ke atas; dia sedang menatap langit-langit.

'Apa --?' dia bergumam.

Harry bisa mendengar keributan teredam yang datang dari apa yang dipikirnya

mungkin Aula Depan. Snape memandang kepadanya sambil merengut.

'Apakah kau melihat apapun yang tidak biasa ketika menuju ke bawah sini, Potter?'

Harry menggelengkan kepalanya. Di suatu tempat di atas mereka, wanita itu

menjerit lagi. Snape berjalan ke pintu kantornya, tongkatnya masih dipegang siap

siaga, dan keluar dari pandangan. Harry bimbang sejenak, lalu mengikuti.

Jeritan itu memang datang dari Aula Depan; semakin keras ketika Harry berlari

menuju undakan-undakan batu yang naik ke atas dari ruang bawah tanah. Ketika dia

mencapai puncaknya dia mendapati Aula Depan penuh sesak; murid-murid telah

datang membanjiri keluar dari Aula Besar, di mana makan malam masih berlangsung,

untuk melihat apa yang sedang terjadi; yang lainnya menjejalkan diri mereka ke

tangga pualam. Harry mendorong ke depan melewati sekumpulan anak-anak Slytherin

yang tinggi dan melihat bahwa para penonton telah membentuk lingkaran besar,

beberapa di antaranya tampak terguncang, yang lainnya bahkan ketakutan. Profesor

McGonagall tepat di seberang Harry di sisi lain Aula; dia tampak seolah-olah apa

yang sedang disaksikannya membuatnya sedikit mual.

Profesor Trelawney sedang berdiri di tengah Aula Depan dengan tongkatnya di satu

tangan dan sebuah botol sherry kosong di tangan lainnya, tampaknya benar-benar

sinting. Rambutnya menjulur di ujungnya, kacamatanya miring sehingga satu mata

lebih diperbesar daripada yang lain; syal dan scarfnya yang tak terjumlah mengekor

serampangan dari bahunya, memberi kesan bahwa dia mulai tidak waras. Dua koper

besar tergeletak di lantai di sebelahnya, salah satunya terbalik; tampak sekali seolaholah

koper itu telah dilemparkan menuruni tangga setelah dia. Profesor Trelawney

sedang menatap, tampaknya ketakutan, pada sesuatu yang tak bisa dilihat Harry tapi

tampaknya berdiri di kaki tangga.

'Tidak!' dia berteriak. 'TIDAK! Ini tidak mungkin terjadi ... tidak mungkin ... aku

menolak menerimanya!'

'Anda tidak menyadari ini akan terjadi?' kata sebuah suara seperti anak perempuan,

terdengar geli tak berperasaan, dan Harry, sambil pindah sedikit ke kanan, melihat

bahwa penglihatan mengerikan Trelawney tak lain dari Profesor Umbridge.

'Walaupun Anda tidak mampu meramalkan bahkan cuaca besok, Anda tentunya telah

sadar bahwa penampilan menyedihkan Anda selama inspeksi-inspeksiku, dan

kurangnya perbaikan, akan membuat tak bisa dihindari bahwa Anda dipecat?'

'Kau -- t-tidak bisa!' lolong Profesor Trelawney, air mata mengalir menuruni

wajahnya dari balik lensanya yang besar, 'kau t-tidak bisa memecatku! Aku sudah bberada

di sini enam belas tahun! H-Hogwarts adalah r-rumahku!'

'Dulu rumahmu,' kata Profesor Umbridge, dan Harry jijik melihat kesenangan

merentang wajahnya yang mirip katak selagi dia mengamati Profesor Trelawney

merosot, sambil tersedu-sedu tidak terkendali, ke atas salah satu kopernya, 'sampai

sejam yang lalu, ketika Menteri Sihir menandatangani balasan Perintah Pemecatanmu.

Sekarang berbaik hatilah enyahkan dirimu dari Aula ini. Anda membuat kami malu.'

Tetapi dia berdiri dan mengamati, dengan ekspresi menikmati yang bahagia, ketika

Profesor Trelawney menggigil dan mengerang, berayun maju mundur di kopernya

dalam serangan kesedihan yang hebat. Harry mendengar sedu-sedan teredam di

sebelah kirinya dan memandang ke sekeliling. Lavender dan Parvati keduanya sedang

menangis diam-diam, lengan mereka saling melingkari satu sama lain. Lalu dia

mendengar langkah-langkah kaki. Profesor McGonagall telah menjauh dari para

penonton, berjalan langsung ke arah Profesor Trelawney dan menepuk-nepuk

punggungnya dengan tegas selagi menarik sebuah saputangan besar dari dalam

jubahnya.

'Sudah, sudah, Sybill ... tenanglah ... tiup hidungmu pada ini ... tidak seburuk yang

kau kira, sekarang ... kamu tidak akan harus meninggalkan Hogwarts ...'

'Oh benarkah, Profesor McGonagall?' kata Umbridge dengan suara mematikan,

sambi mundur beberapa langkah. 'Dan kekuasaan Anda untuk pernyataan itu adalah

...?'

'Itu adalah kekuasaanku,' kata sebuah suara dalam.

Pintu-pintu depan dari kayu ek telah terayun membuka. Para murid di sampingnya

berlari menyingkir ketika Dumbledore muncul di pintu masuk. Apa yang telah

dilakukannya di halaman sekolah Harry tidak bisa membayangkannya, tetapi ada

sesuatu yang mengesankan tentang penampakannya di ambang pintu dalam malam

berkabut yang aneh. Meninggalkan pintu terbuka lebar dia berjalan maju melalui

lingkaran penonton ke arah Profesor Trelawney, yang penuh air mata dan gemetaran,

di atas kopernya, Profesor McGonagall di sampingnya.

'Anda, Profesor Dumbledore?' kata Umbridge dengan tawa kecil yang tidak

menyenangkan. 'Aku takut Anda tidak mengerti kedudukannya. Aku punya di sini --'

dia menarik sebuah gulungan perkamen dari dalam jubahnya '-- sebuah Perintah

Pemecatan yang ditandatangani oleh diriku sendiri dan Menteri Sihir. Di bawah

ketentuan-ketentuan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Tiga, Penyelidik Tinggi

Hogwarts memiliki kekuasaan untuk menginspeksi, menempatkan masa percobaan

dan memecat guru manapun yang beliau -- maksudnya, aku -- rasa tidak berkinerja

sesuai standar yang diperlukan oleh Kementerian Sihir. Aku telah memutuskan bahwa

Profesor Trelawney tidak cukup baik. Aku telah memberhentikannya.'

Demi keterkejutan besar Harry, Dumbledore terus tersenyum. Dia memandang

kepada Profesor Trelawney, yang masih tersedu-sedu dan batuk-batuk di atas

kopernya, dan berkata, 'Anda sangat benar, tentu saja, Profesor Umbridge. Sebagai

Penyelidik Tinggi Anda memiliki semua hak untuk memberhentikan guru-guruku.

Akan tetapi, Anda tidak memiliki kekuasaan untuk mengusir mereka dari kastil. Aku

takut,' dia melanjutkan, dengan membungkuk kecil yang sopan, 'bahwa kekuasaan

melakukan itu masih ada pada Kepala Sekolah, dan harapanku adalah bahwa Profesor

Trelawney terus tinggal di Hogwarts.'

Mendengar ini, Profesor Trelawney mengeluarkan tawa kecil liar di mana sedusedannya

hampir tidak tersembunyi.

'Tidak -- tidak, aku akan p--pergi, Dumbledore! Aku ak--akan -- meninggalkan

Hogwarts dan -- mencari peruntunganku di tempat lain --'

'Tidak,' kata Dumbledore dengan tajam. 'Adalah harapanku bahwa kau tetap

tinggal, Sybill.'

Dia berpaling kepada Profesor McGonagall.

'Bisakah kuminta Anda menemani Sybill kembali ke atas, Profesor McGonagall?'

'Tentu saja,' kata McGonagall. 'Berdirilah, Sybill ...'

Profesor Sprout bergegas maju keluar dari kerumunan dan memegang lengan

Profesor Trelawney yang satunya lagi. Bersama-sama, mereka menuntunnya melewati

Umbridge dan menaiki tangga pualam. Profesor Flitwick berlari-lari kecil mengikuti

mereka, tongkatnya diulurkan didepannya; dia mencicit 'Locomotor koper!' dan

barang-barang bawaan Profesor Trelawney naik ke udara dan menaiki tangga

mengikutinya, Profesor Flitiwick berada di belakang.

Profesor Umbridge sedang berdiri tak bergerak, sambil menatap Dumbledore, yang

terus tersenyum ramah.

'Dan apa,' dia berkata, dengan bisikan yang terdengar di seluruh Aula Depan, 'yang

akan Anda lakukan dengannya setelah aku menunjuk seorang guru Ramalan yang

baru yang perlu tempat tinggalnya?'

'Oh, itu tidak akan menjadi masalah,' kata Dumbledore dengan menyenangkan.

'Anda paham, aku sudah menemukan seorang guru Ramalan yang baru untuk kita,

dan dia lebih suka tempat tinggal di lantai dasar.'

'Anda menemukan --?' kata Umbridge melengking. 'Anda menemukan? Bolehkah

kuingatkan Anda, Dumbledore, bahwa di bawah Dekrit Pendirikan Nomor Dua Puluh

Dua --'

'Kementerian memiliki hak untuk menunjuk kandidat yang sesuai hanya -- dan

hanya jika -- Kepala Sekolah tidak mampu menemukan seorang,' kata Dumbledore.

'Dan aku senang mengatakan bahwa pada kesempatan ini aku telah berhasil. Bolehkah

kuperkenalkan kalian?'

Dia berpaling untuk menghadap pintu-pintu depan, yang sedang dialiri kabut

malam. Harry mendengar kuku-kuku binatang. Ada gumaman terguncang di sekitar

Aula dan mereka yang terdekat dengan pintu buru-buru pindah lebih jauh lagi ke

belakang, beberapa di antara mereka tersandung dalam ketergesaan mereka membuka

jalan untuk si pendatang baru.

Melalui kabut datang sebuah wajah yang pernah dilihat Harry sekali sebelumnya di

malam gelap berbahaya di dalam Hutan Terlarang: rambut pirang putih dan mata biru

mengejutkan; kepala dan badan seorang pria disatukan ke tubuh seekor kuda.

'Ini Firenze,' kata Dumbledore dengan gembira kepada Umbridge yang seperti

tersambar petir. 'Kukira Anda akan mendapati dia cocok.'

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH TUJUH --

Centaur dan si Pengadu

'Aku bertaruh sekarang kamu berharap kamu belum melepaskan Ramalan, bukan,

Hermione?' tanya Parvati sambil tersenyum mengejek.

Saat itu waktu makan pagi, dua hari setelah pemecatan Profesor Trelwaney, dan

Parvati sedang melentikkan bulu matanya di sekeliling tongkatnya dan memeriksa

hasilnya pada punggung sendoknya. Mereka akan mengikuti pelajaran pertama

mereka dengan Firenze pagi itu.

'Tidak juga,' kata Hermione tidak acuh, yang sedang membaca Daily Prophet. 'Aku

tak pernah benar-benar suka kuda.'

Dia membalik satu halaman surat kabar itu dan membaca sepintas isinya.

'Dia bukan kuda, dia centaur!' kata Lavender, terdengar terguncang.

'Centaur yang tampan ...' Parvati menghela napas.

'Bagaimanapun, dia masih punya empat kaki,' kata Hermione dengan tenang.

Ngomong-ngomong kukira kalian berdua merasa terganggu karena Trelawney sudah

pergi?'

'Memang!' Lavender meyakinkan dia. 'Kami naik ke kantornya untuk menemuinya,

kami membawakannya beberapa bunga bakung -- bukan yang berbunyi seperti yang

dimiliki Sprout, yang indah.'

'Bagaimana dia?' tanya Harry.

'Tidak begitu baik, wanita malang,' kata Lavender penuh simpati. 'Dia sedang

menangis dan berkata dia lebih suka meninggalkan kastil untuk selamanya daripada

tinggal di sini tempat Umbridge berada, dan aku tidak menyalahkannya, Umbridge

bersikap mengerikan kepadanya, bukan?'

'Aku punya perasaan Umbridge baru saja mulai bersikap mengerikan,' kata

Hermione dengan muram.

'Tidak mungkin,' kata Ron, yang sedang makan sepiring besar telur dan daging

asin. 'Dia tidak bisa lebih buruk daripada yang sudah-sudah.'

'Kau camkan kata-kataku, dia akan mau balas dendam pada Dumbledore karena

menunjuk seorang guru baru tanpa berunding dengannya,' kata Hermione sambil

menutup surat kabarnya. 'Terutama setengah manusia lagi. Kau lihat tampang di

wajahnya ketika dia melihat Firenze.'

Setelah makan pagi Hermione berangkat ke kelas Arithmancy-nya sementara Harry

dan Ron mengikuti Parvati dan Lavender ke Aula Depan, menuju Ramalan.

'Apa kita tidak akan naik ke Menara Utara?' tanya Ron, tampak bingung, selagi

Parcati melewati tangga pualam.

Parvati memandangnya dengan menghina lewat bahunya.

'Bagaimana kau mengharapkan Firenze menaiki tangga itu? Kita di ruang kelas

sebelas sekarang, ada di papan pengumuman kemarin.'

Ruang kelas sebelas ada di lantai dasar di koridor yang berawal dari Aula Depan

pada sisi di seberang Aula Besar. Harry tahu itu salah satu dari ruang-ruang kelas

yang tidak pernah digunakan secara teratur, dan karena itu memiliki rasa sedikit tak

terpelihara dari sebuah lemari atau ruang penyimpanan. Ketika dia memasukinya di

belakang Ron, dan mendapati dirinya berada di tengah sebuah tanah terbuka di tengah

hutan, dia tertegun sejenak.

'Apa --?'

Lantai ruang kelas itu telah menjadi berlumut seperti musim semi dan pohon-pohon

tumbuh di atasnya; ranting-ranting berdaunnya berkibasan di langit-langit dan

jendela-jendela, sehingga ruangan itu penuh dengan berkas-berkas miring cahaya

hijau lembut berbayang-bayang. Murid-murid yang sudah tiba sedang duduk di lantai

bertanah dengan punggung mereka bersandar pada batang pohon atau batu besar,

lengan-lengan dibelitkan sekitar lutut mereka atau dilipat rapat di dada mereka, dan

semuanya terlihat agak gugup. Di tengah-tengah tempat terbuka itu, di mana tidak ada

pohon, berdiri Firenze.

'Harry Potter,' dia berkata sambil mengulurkan sebuah tangan ketika Harry masuk.

'Er -- hai,' kata Harry sambil bersalaman dengan centaur itu, yang mengamatinya

tanpa berkedip melalui mata biru mengherankan itu tetapi tidak tersenyum. 'Er --

senang berjumpa dengan Anda.'

'Dan kamu,' kata centaur itu sambil mencondongkan kepala pirang putihnya. 'Sudah

diramalkan bahwa kita akan bertemu lagi.'

Harry memperhatikan bahwa ada bayangan memar berbentuk tapal kuda di dada

Firenze. Ketika dia berpaling untuk bergabung dengan sisa kelas yang lainnya di

lantai, dia melihat bahwa mereka semuanya memandangnya dengan kagum,

tampaknya sangat terkesan bahwa dia berbincang-bincang dengan Firenze, yang

sepertinya mereka anggap menakutkan.

Ketika pintu tertutup dan murid terakhir telah duduk di sebuah tunggul pohon di

samping keranjang sampah, Firenze memberi isyarat ke sekeliling ruangan.

'Profesor Dumbledore telah berbaik hati menata ruang kelas ini untuk kita,' kata

Firenze, ketika semua orang sudah tenang, 'dengan meniru habitat alamiku. Aku akan

lebih suka mengajar kalian di Hutan Terlarang yang adalah -- sampai Senin --

rumahku ... tetapi itu tidak lagi mungkin.'

'Tolong -- er -- sir --' kata Parvati dengan terengah-engah, sambil mengangkat

tangannya, '-- kenapa tidak? Kami pernah ke sana dengan Hagrid, kami tidak takut!'

'Bukan pertanyaan tentang keberanian kalian,' kata Firenze, 'melainkan

kedudukanku. Aku tidak bisa kembali ke Hutan. Kawananku sudah membuangku.'

'Kawanan?' kata Lavender dengan suara bingung, dan Harry tahu dia sedang

berpikir tentang sapi-sapi. 'Apa -- oh!'

Pemahaman tampak di wajahnya. 'Ada lebih banyak lagi dari kaummu!,' dia

berkata, tercengang.

'Apakah Hagrid membiakkan kalian, seperti Thestral?' tanya Dean dengan

bersemangat.

Firenze memalingkan kepalanya lambat-lambat untuk menghadap Dean, yang

tampaknya menyadari seketika bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang sangat

menyinggung.

'Aku tidak bermaksud -- maksudku -- maaf,' dia menyelesaikan dengan suara

berbisik.'

'Centaur bukan pelayan atau mainan manusia,' kata Firenze pelan-pelan. Ada jeda,

lalu Parvati mengangkat tangannya lagi.

'Tolong, sir ... kenapa para centaur yang lain membuang Anda?'

'Karena aku setuju bekerja untuk Profesor Dumbledore,' kata Firenze. 'Mereka

memandang ini sebagai pengkhianatan kaum kami.'

Harry ingat bagaimana, hampir empat tahun yang lalu, centaur Bane berteriak

kepada Firenze karena mengizinkan Harry menaiki punggungnya demi keselamatan;

dia telah memanggilnya 'bagal biasa'. Dia bertanya-tanya apakah Bane yang telah

menendang Firenze di dada.

'Mari kita mulai,' kata Firenze. Dia melambaikan ekor panjangnya, mengangkat

tangannya ke kanopi berdaun di atas kepala, lalu menurunkannya pelan-pelan, dan

selagi dia berbuat demikian, cahaya di ruangan itu mengecil, sehingga mereka

sekarang kelihatannya sedang duduk di suatu tempat terbuka di hutan dalam cahaya

temaram, dan bintang-bintang bermunculan di langit-langit. Ada bunyi oooh dan

helaan napas dan Ron berkata dengan jelas, 'Astaga!'

'Berbaring di lantai,' kata Firenze dengan suara tenangnya, 'dan amati langit. Di sini

tertulis, untuk mereka yang bisa melihatnya, peruntungan dari ras-ras kita.'

Harry merentangkan badannya dan memandang ke atas ke langit-langit. Sebuah

bintang merah berkelap-kelip berkedip kepadanya dari atas.

'Aku tahu bahwa kalian telah mempelajari nama-nama planet dan bulan-bulan

mereka dalam Astronomi,' kata suara tenang Firenze, 'dan bahwa kalian telah

memetakan pergerakan bintang-bintang di langit. Para centaur telah menyingkap

misteri pergerakan-pergerakan ini selama berabad-abad. Penemuan-penemuan kami

mengajarkan kami bahwa masa depan bisa dilihat sekilas pada langit di atas kita --'

'Profesor Trelawney melakukan astrologi dengan kami!' kata Parvati dengan

bersemangat, sambil mengangkat tangannya di depannya sehingga terulur di udara

selagi dia berbaring. 'Mars menyebabkan kecelakaan dan luka bakar dan hal-hal

seperti itu, dan saat dia membuat sudut pada Saturnus, seperti sekarang --' dia menarik

sudut kanan di udara di atasnya '-- itu artinya orang-orang harus ekstra hati-hati

sewaktu menangani benda-benda yang panas --'

'Itu,' kata Firenze dengan tenang, 'adalah omong kosong manusia.'

Tangan Parvati jatuh lunglai ke sampingnya.

'Luka-luka sepele, kecelakaan-kecelakaan kecil manusia,' kata Firenze selagi

kukunya berdebam di lantai berlumut itu. 'Ini tidak lebih berarti daripada pergerakan

semut bagi alam semesta yang luas, dan tidak dipengaruhi oleh gerak-gerik planet.'

'Profesor Trelawney --' mulai Parvati, dengan suara terluka dan tidak senang.

'-- adalah seorang manusia,' kata Firenze dengan sederhana. 'Dan oleh karena itu

terhalang pandangannya dan terbelenggu oleh batasan-batasan kaum kalian.'

Harry memalingkan kepalanya sedikit untuk memandang Parvati. Dia tampak

sangat tersinggung, seperti juga beberapa orang yang di sekitarnya.

'Sybill Trelawney mungkin Melihat, aku tidak tahu,' terus Firenze, dan Harry

mendengar kibasan ekornya lagi selagi dia berjalan ke sana ke mari di hadapan

mereka, 'tetapi dia membuang waktunya, sebagian besar, pada omong kosong yang

menyanjung diri sendiri yang manusia sebut meramal keberuntungan. Namun, aku

berada di sini untuk menjelaskan kebijaksanaan para centaur, yang tidak bersifat

pribadi dan tidak memihak. Kami mengamati langit untuk mencari pasang-surutnya

kejahatan atau perubahan yang terkadang tertanda di sana. Mungkin butuh waktu

sepuluh tahun untuk meyakini apa yang sedang kami lihat.'

Firenze menunjuk ke bintang merah yang tepat di atas Harry.

'Pada dekade-dekade terdahulu, tanda-tandanya adalah bahwa kaum penyihir

sedang melalui sesuatu yang tidak lebih dari ketenangan singkat di antara dua perang.

Mars, pembawa peperangan, bersinar cemerlang di atas kita, memberi kesan bahwa

pertarungan itu pasti akan segera pecah lagi. Seberapa cepat, para centaur mungkin

berusaha meramalkan dengan membakar rempah-rempah dan daun-daun tertentu,

dengan pengamatan asap dan api ...'

Itu adalah pelajaran paling tidak biasa yang pernah dihadiri Harry. Mereka memang

membakar daun sage dan mallowsweet di sana di lantai ruang kelas, dan Firenze

menyuruh mereka untuk mencari bentuk-bentuk dan simbol-simbol tertentu asap yang

berbau tajam itu, tetapi dia tampaknya sama sekali tidak peduli tak satupun dari

mereka bisa melihat tanda-tanda yang dia lukiskan, sambil memberitahu mereka

bahwa manusia hampir tidak pernah pandai dalam hal ini, bahwa butuh waktu

bertahun-tahun bagi centaur untuk menjadi kompeten, dan menyelesaikan dengan

memberitahu mereka bahwa, lagipula, menempatkan terlalu banyak kepercayaan pada

hal-hal seperti ini bodoh, karena bahkan para centaur terkadang membacanya dengan

salah. Dia tidak seperti guru manusia manapun yang pernah dimiliki Harry.

Prioritasnya sepertinya bukan mengajari mereka apa yang diketahuinya, tetapi lebih

pada menekankan kepada mereka bahwa tak sesuatupun, bahkan tidak juga

pengetahuan para centaur, yang bebas dari kesalahan.

' Dia tidak pasti pada apapun, bukan?' kata Ron dengan suara rendah, selagi mereka

memadamkan api mallowsweet mereka. 'Maksudku, aku bisa terima beberapa detil

lagi tentang perang ini yang akan kita hadapi, bukan begitu?'

Bel berdering tepat di luar pintu ruang kelas dan semua orang terlompat; Harry

telah sepenuhnya lupa mereka masih di dalam kastil, dan sangat yakin bahwa dia

benar-benar berada di Hutan. Kelas itu berbaris keluar, tampak sedikit bingung.

Harry dan Ron baru akan mengikuti mereka ketika Firenze berseru, 'Harry Potter,

tolong, sepatah kata.'

Harry berpaling. Centaur itu maju sedikit ke arahnya. Ron bimbang.

'Kamu boleh tinggal,' Firenze memberitahunya. 'Tapi tolong tutup pintunya.' Ron

buru-buru mematuhi.

'Harry Potter, kamu teman Hagrid, bukan?' kata si centaur.

'Ya,' kata Harry.

'Kalau begitu berikan peringatan dariku kepadanya. Usahanya tidak berhasil. Dia

lebih baik meninggalkannya.'

'Usahanya tidak berhasil?' Harry mengulangi dengan hampa.

'Dan dia lebih baik meninggalkannya,' kata Firenze sambil mengangguk. 'Aku mau

memperingatkan Hagrid sendiri, tetapi aku terbuang -- tidak bijaksana bagiku pergi

terlalu dekat Hutan sekarang -- Hagrid sudah punya cukup masalah, tanpa pertarungan

centaur.'

'Tapi -- apa yang sedang Hagrid coba lakukan?' kata Harry dengan gugup.

Firenze mengamati Harry dengan tenang.

'Hagrid baru-baru ini berjasa besar kepadaku,' kata Firenze, 'dan dia telah

mendapatkan rasa hormatku sejak lama karena kepedulian yang diperlihatkannya

kepada semua makhluk hidup. Aku tidak akan membocorkan rahasianya. Tetapi dia

harus disadarkan. Usahanya tidak berhasil. Beritahu dia, Harry Potter. Selamat siang

untukmu.'

*

Kebahagiaan yang telah dirasakan Harry akibat wawancara The Quibbler itu telah

lama menguap. Sementara Maret yang membosankan mengabur menjadi April yang

berangin kencang, hidupnya sepertinya telah menjadi serangkaian kekuatiran dan

masalah lagi.

Umbridge terus menghadiri pelajaran-pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib, sehingga

sangat sulit untuk menghantarkan peringatan Firenze kepada Hagrid. Akhirnya, Harry

berhasil dengan berpura-pura dia kehilangan salinan Hewan-Hewan Menakjubkan dan

Di Mana Menemukan Mereka, dan kembali lagi sehabis kelas suatu hari. Ketika dia

mengulangi kata-kata Firenze, Hagrid menatapnya sejenak melalui matanya yang

menggembung dan menghitam, tampaknya terpana. Lalu dia tampak menguasai diri.

'Pria baik, Firenze,' dia berkata dengan kasar, 'tapi dia tak tahu apa yang sedang

dibicarakannya tentang ini. Usahanya baik-baik saja.'

'Hagrid, apa yang sedang kau rencanakan?' tanya Harry dengan serius. 'Karena kau

harus berhati-hati, Umbridge sudah memecat Trelawney dan, kalau kau tanya aku, dia

akan jalan terus. Kalau kau melakukan apapun yang seharusnya tidak kau lakukan,

kau akan --'

'Ada hal-hal yang lebih penting daripada pertahankan pekerjaan,' kata Hagrid,

walaupun tangannya bergetar sedikit ketika dia mengatakan ini dan sebaskom penuh

kotoran Knarl jatuh ke lantai. 'Jangan kuatir tentang aku, Harry, pergi saja sekarang,

begitu anak yang baik.'

Harry tidak punya pilihan kecuali meninggalkan Hagrid menyapu kotoran di

lantainya, tetapi dia merasa sangat putus asa ketika dia berjalan kembali ke kastil

dengan susah payah.

Sementara itu, seperti yang terus-menerus diingatkan semua guru dan Hermione,

OWl semakin mendekat. Semua anak kelas lima menderita stres sampai tingkat

tertentu, tetapi Hannah Abbot menjadi yang pertama yang menerima Minuman

Penenang dari Madam Pomfrey setelah dia mendadak menangis selama Herbologi

dan tersedu-sedu bahwa dia terlalu bodoh untuk ikut ujian dan mau meninggalkan

sekolah sekarang.

Kalau bukan karena pelajaran-pelajaran DA, Harry berpikir dia pasti akan sangat

tidak bahagia. Dia kadang-kadang merasa dia hidup demi jam-jam yang

dihabiskannya di Ruang Kebutuhkan, bekerja keras tetapi sepenuhnya bersenangsenang

pada saat yang sama, menggembung dengan rasa bangga ketika dia

memandang berkeliling kepada teman-teman anggota DAnya dan melihat seberapa

jauh mereka telah berhasil. Memang, Harry terkadang bertanya-tanya bagaimana

Umbridge akan bereaksi saat semua anggota DA menerima 'Outstanding' dalam OWL

Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam mereka.

Mereka akhirnya mulai melakukan Patronus, yang sangat ingin dilatih semua

orang, walaupun, seperti yang terus diingatkan Harry pada mereka, menghasilkan

Patronus di tengah ruang kelas yang terang benderang saat mereka tidak berada di

bawah ancaman berbeda dari menghasilkannya ketika berhadapan dengan sesuatu

seperti Dementor.

'Oh, jangan merusak kesenangan,' kata Cho dengan ceria, sambil mengamati

Patronusnya yang berbentuk angsa keperakan membumbung di sekeliling Ruang

Kebutuhan selama pelajaran terakhir mereka sebelum Paskah. 'Mereka begitu cantik!'

'Mereka tidak seharusnya cantik, mereka seharusnya melindungimu,' kata Harry

dengan sabar. 'Apa yang benar-benar kita butuhkan adalah Boggart atau sesuatu;

begitulah caraku belajar, aku harus menyihir Patronus sementara Boggart itu berpurapura

menjadi Dementoe --'

'Tapi itu akan benar-benar menakutkan!' kata Lavender, yang sedang

menembakkan kepulan asap keperakan dari ujung tongkatnya. 'Dan aku masih -- tidak

bisa -- melakukannya!' dia menambahkan dengan marah.

Neville juga mengalami kesulitan. Wajahnya tegang karena konsentrasi, tetapi

hanya gumpalan asap keperakan yang lemah yang keluar dari ujung tongkatnya.

'Kau harus memikirkan sesuatu yang menyenangkan,' Harry mengingatkannya.

'Aku sedang mencoba,' kata Neville dengan sengsara, yang sedang berusaha

demikian keras sehingga wajahnya yang bundar bahkan berkilat karena keringat.

'Harry, kukira aku bisa!' teriak Seamus, yang telah dibawa ke pertemuan DA

pertamanya oleh Dean. 'Lihat -- ah -- sudah hilang ... tapi itu jelas sesuatu yang

berbulu, Harry!'

Patronus Hermione, berang-berang perak berkilau, sedang melompat-lompat di

sekelilingnya.

'Mereka agak bagus, bukan?' dia berkata sambil memandanginya dengan sayang.

Pintu Ruang Kebutuhan membuka, dan menutup. Harry berpaling untuk melihat

siapa yang masuk, tetapi tampaknya tidak ada siapapun di sana. Beberapa saat

kemudian barulah dia sadar bahwa orang-orang di dekat pintu telah terdiam. Hal

berikutnya yang dia tahu, sesuatu sedang menyentak jubahnya di suatu tempat dekat

lutut. Dia memandang ke bawah dan melihat, yang membuatnya sangat heran, Dobby

si per-rumah sedang memandangnya dari bawah delapan topi wolnya yang biasa.

'Hai, Dobby!' dia berkata. 'Apa yang sedang -- Ada apa?'

Mata peri itu melebar karena ngeri dan dia sedang gemetaran. Para anggota DA

yang terdekat dengan Harry telah terdiam; semua orang di ruangan itu sedang

mengawasi Dobby. Beberapa Patronus yang telah berhasil disihir orang-orang

mengabur menjadi kabut perak, meninggalkan ruangan itu terlihat lebih gelap

daripada sebelumnya.

'Harry Potter, sir ...' cicit peri itu, gemetaran dari kepala ke kaki, 'Harry Potter, sir ...

Dobby telah datang untuk memperingatkan Anda ... tetapi para peri-rumah sudah

diperingatkan jangan memberitahu ...'

Dia berlari dengan kepala duluan ke dinding. Harry, yang telah mengalami

beberapa kebiasaan Dobby menghukum diri sendiri, bergerak meraihnya, tetapi

Dobby hanya memantul dari batu, tertahan oleh delapan topinya. Hermione dan

beberapa anak perempuan lain mengeluarkan pekik ketakutan dan simpati.

'Apa yang terjadi, Dobby?' Harry bertanya sambil meraih lengan kecil peri itu dan

memegangnya menjauh dari apapun yang mungkin dicarinya untuk melukai dirinya

sendiri.

'Harry Potter ... wanita itu ... wanita itu ...'

Dobby memukul dirinya sendiri keras-keras di hidung dengan kepalan tangannya

yang bebas. Harry meraih itu juga.

'Siapa "wanita itu?', Dobby?'

Tetapi dia berpikir dia tahu; tentu hanya ada satu "wanita" yang bisa

mengakibatkan ketakutan seperti itu pada Dobby? Peri itu memandangnya, agak

juling, dan menggerakkan mulutnya tanpa suara.

'Umbridge?' tanya Harry, terkejut.

Dobby mengangguk, lalu mencoba menghantamkan kepalanya ke lutut Harry.

Harry memegang dengan jarak selengan.

'Kenapa dengan dia? Dobby -- dia belum tahu tentang ini -- tentang kami -- tentang

DA?'

Dia membaca jawabannya di wajah panik peri itu. Tangannya dipegang erat-erat

oleh Harry, peri itu mencoba menendang dirinya sendiri dan jatuh ke lantai.

'Apakah dia akan datang?' Harry bertanya pelan.

Dobby mengeluarkan lolongan, dan mulai menghantamkan kakinya yang telanjang

keras-keras ke lantai.

'Ya, Harry Potter, ya!'

Harry meluruskan diri dan memandang berkeliling kepada orang-orang yang tidak

bergerak dan ketakutan yang sedang memandangi peri yang memberontak itu.

'APA YANG SEDANG KALIAN TUNGGU?' Harry berteriak. 'LARI!'

Mereka semua berlari menuju pintu keluar seketika, membentuk kerumunan di

pintu, lalu orang-orang lewat dengan cepat. Harry bisa mendengar mereka berlari

cepat menyusuri koridor-koridor dan berharap mereka cukup sadar untuk tidak

mencoba pergi sepanjang jalan ke asrama mereka. Waktu itu baru pukul sembilan

kurang sepuluh; kalau saja mereka mengungsi ke perpustakaan atau Kandang Burung

Hantu, yang keduanya lebih dekat --

'Harry, ayolah!' jerit Hermione dari tengah kumpulan orang yang sekarang sedang

berjuang keluar.

Dia menarik Dobby, yang masih mencoba membuat dirinya sendiri luka parah, dan

lari bersama peri itu di lengannya untuk bergabung ke bagian belakang antrian.

'Dobby -- ini perintah -- turun kembali ke dapur bersama para peri lain dan, kalau

dia bertanya kepadamu apakah kau memperingatkan aku, bohong dan bilang tidak!'

kata Harry. 'Dan kularang kau melukai dirimu sendiri!' dia menambahkan sambil

menjatuhkan peri itu ketika dia akhirnya sampai di ambang pintu dan membanting

pintu di belakangnya.

'Terima kasih, Harry Potter!' cicit Dobby, dan dia berlari pergi. Harry memandang

sekilas ke kiri dan ke kanan, yang lainnya semua sedang bergerak begitu cepat

sehingga dia hanya melihat kilasan-kilasan tumit yang berlarian di kedua ujung

koridor itu sebelum mereka menghilang; dia mulai berlari ke kanan; ada kamar mandi

anak laki-laki di depan, dia bisa berpura-pura dia ada di sana sepanjang waktu kalau

saja dia bisa mencapainya --

'AAARGH!'

Sesuatu mengenainya di sekitar mata kaki dan dia jatuh dengan menakjubkan,

tergelincir sejauh enam kaki sebelum berhenti. Seseorang di belakangnya sedang

tertawa. Dia berguling dan melihat Malfoy tersembunyi di sebuah relung di bawah

vas jelek berbentuk naga.

'Kutukan Menjegal, Potter!' dia berkata. 'Hei Profesor -- PROFESOR! Aku dapat

satu!'

Umbridge datang terburu-buru mengitari sudut yang jauh, terangah-engah tetapi

tersenyum senang.

'Itu dia!' dia berkata kegirangan ketika melihat Harry di atas lantai. 'Bagus sekali,

Draco, bagus sekali, oh, sangat bagus -- lima puluh poin untuk Slytherin! Aku akan

membawanya dari sini ... berdiri, Potter!'

Harry bangkit, sambil melotot kepada mereka berdua. Dia belum pernah melihat

Umbridge tampak begitu senang. Umbridge meraih lengannya dengan genggaman

seperti catok dan berpaling, sambil tersenyum lebar, kepada Malfoy.

'Kau pergilah dan lihat apakah kau bisa mengumpulkan lebih banyak lagi dari

mereka, Draco,' dia berkata. 'Beritahu yang lain untuk mencari di perpustakaan --

siapapun yang kehabisan napas -- periksa kamar mandi, Miss Parkinson bisa

memeriksa kamar mandi anak perempuan -- pergilah -- dan kau,' dia menambahkan

dengan suaranya yang paling lembut, paling berbahaya, ketika Malfoy berjalan pergi,

'kau bisa ikut bersamaku ke kantor Kepala Sekolah, Potter.'

Mereka sampai ke gargoyle batu itu dalam beberapa menit. Harry bertanya-tanya

berapa banyak lagi yang telah tertangkap. Dia memikirkan Ron -- Mrs Weasley akan

membunuhnya -- dan bagaimana perasaan Hermione kalau dia dikeluarkan sebelum

dia bisa mengambil OWLnya. Dan itu pertemuan pertama Neville ... dan Neville

sudah semakin bagus ...

'Kumbang Berdesing,' nyanyi Umbridge; gargoyle batu itu melompat ke samping,

tembok di belakangnya terbelah membuka, dan mereka menaiki tangga batu bergerak.

Mereka sampai di pintu terpelitur dengan pengetuk pintu griffin, tetapi Umbridge

tidak repot-repot mengetuk, dia berjalan langsung ke dalam, masih memegang Harry

erat-erat.

Kantor itu penuh orang. Dumbledore sedang duduk di balik meja tulisnya,

ekspresinya tenang, ujung jari-jarinya yang panjang bersatu. Profesor McGonagall

berdiri kaku di sampingnya, wajahnya sangat tegang. Cornelius Fudge, Menteri Sihir,

sedang berayun-ayun ke depan dan ke belakang pada jari kakinya di samping api,

tampaknya sangat senang dengan keadaan itu; Kingsley Shacklebolt dan seorang

penyihir pria yang tampak kuat dengan rambut liat sangat pendek yang tidak dikenali

Harry, ditempatkan pada kedua sisi pintu seperti pengawal, dan bentuk berkacamata

dan berbintik-bintik Percy Weasley menunggu dengan bersemangat di samping

tembok, sebuah pena bulu dan segulung perkamen berat di tangannya, tampaknya siap

sedia untuk mencatat.

Potret-potret para kepala sekolah pria dan wanita yang lama tidak pura-pura tidur

malam ini. Mereka semua waspada dan serius, mengamati apa yang sedang terjadi di

bawah mereka. Ketika Harry masuk, beberapa melintas ke bingkai tetangganya dan

berbisik penting ke telinga tetangganya.

Harry membebaskan dirinya dari cengkeraman Umbridge ketika pintu terayun

menutup di belakang mereka. Cornelius Fudge sedang melotot kepadanya dengan

semacam kepuasan keji di wajahnya.

'Well,' dia berkata. 'Well, well, well ...'

Harry menjawab dengan pandangan tidak suka terhebat yang bisa dikerahkannya.

Jantungnya berdebar gila-gilaan di dalam tubuhnya, tetapi otaknya anehnya tenang

dan jernih.

'Dia sedang menuju kembali ke Menara Gryffindor,' kata Umbridge. Ada semangat

tidak pantas dalam suaranya, rasa senang tak berperasaan seperti yang Harry dengar

selagi dia menyaksikan Profesor Trelawney luruh akibat penderitaan di Aula Depan.

'Bocah Malfoy itu menyudutkannya.'

'Benarkah?' kata Fudge penuh penghargaan. 'Aku harus ingat untuk memberitahu

Lucius. Well, Potter ... kuduga kau tahu kenapa kau ada di sini?'

Harry benar-benar bermaksud untuk menanggapi dengan sebuah 'ya' menantang;

mulutnya sudah terbuka dan kata itu setengah terbentuk ketika dia melihat wajah

Dumbledore. Dumbledore tidak sedang memandang langsung kepada Harry --

matanya terpaku ke sebuah titik tepat melewati bahunya -- tetapi selagi Harry

menatapnya, dia menggelengkan kepalanya sepersekian inci ke tiap sisi.

Harry berganti arah di tengah kata.

'Ye--tidak.'

'Maaf?' kata Fudge.

'Tidak,' kata Harry dengan tegas.

'Kau tidak tahu kenapa kau ada di sini?'

'Tidak,' kata Harry.

Fudge memandang dengan ragu dari Harry ke Profesor Umbridge. Harry

mengambil kesempatan dari ketidak perhatiannya sementara itu untuk mencuri

pandang lagi cepat-cepat kepada Dumbledore, yang memberi karpet anggukan

terkecil dan sedikit kedipan.

'Jadi kau tidak punya gagasan,' kata Fudge, dengan suara yang jelas sarat dengan

sindiran, 'kenapa Profesor Umbridge membawamu ke kantor ini? Kau tidak sadar

bahwa kau telah melanggar peraturan sekolah?'

'Peraturan sekolah?' kata Harry. 'Tidak.'

'Atau Dekrit Kementerian?' ganti Fudge dengan marah.

'Tidak setahuku,' kata Harry dengan lunak.

Jantungnya masih berdebar sangat cepat. Hampir cukup berharga menceritakan

kebohongan-kebohongan ini untuk menyaksikan tekanan darah Fudge meningkat,

tetapi dia tidak bisa melihat bagaimana dia akan lolos; kalai seseorang telah mengisiki

Umbridge tentang DA dengan begitu dia, si pemimpin, sama saja mengepaki

kopernya sekarang juga.

'Jadi, merupakan kabar baru bagimu, bukan,' kata Fudge, suaranya sekarang penuh

amarah, 'bahwa sebuah organisasi murid yang ilegal telah ditemukan di dalam sekolah

ini?'

'Ya, benar,' kata Harry, sambil menampilkan tampang terkejut tak bersalah yang

tidak meyakinkan di wajahnya.

'Kukira, Menteri,' kata Umbridge dengan licin dari sampingnya, 'kita akan

membuat kemajuan yang lebih baik kalau aku menjemput informan kita.'

'Ya, ya, lakukanlah,' kata Fudge sambil mengangguk, dan dia memandang dengan

dengki kepada Dumbledore ketika Umbridge meninggalkan ruangan itu. 'Tak ada

yang melebihi seorang saksi yang bagus, bukan, Dumbledore?'

'Tidak sama sekali, Cornelius,' kata Dumbledore dengan murung, sambil

mencondongkan kepalanya.

Ada penantian beberapa menit, sementara tak seorangpun saling memandang, lalu

Harry mendengar pintu membuka di belakangnya. Umbridge bergerak melewatinya

ke dalam ruangan, sambil memegang bahu teman Cho yang berambut keriting,

Marietta, yang sedang menyembunyikan wajahnya dengan tangannya.

'Jangan takut, sayang, jangan takut,' kata Profesor Umbridge dengan lembut sambil

menepuk punggungnya, 'tidak apa-apa sekarang. Kau sudah melakukan hal yang

benar. Menteri sangat senang kepadamu. Dia akan memberitahu ibumu betapa anak

yang baik kau ini.'

'Ibu Marietta, Menteri,' dia menambahkan sambil memandang Fudge, 'adalah

Madam Edgecombe dari Departemen Transportasi Sihir, kantor Jaringan Floo -- dia

telah membantu kami mengawasi api-api Hogwarts, Anda tahu.'

'Sangat bagus! Sangat bagus!' kata Fudge sepenuh hati. 'Anak seperti ibunya, eh?

Well, ayolah sekarang, sayang, lihat ke atas, jangan malu, ayo dengar apa yang kau --

gargoyle berderap!'

Ketika Marietta mengangkat kepalanya, Fudge melompat mundur karena

terguncang, hampir mendarat di api. Dia mengutuk, dan menginjak tepi jubahnya

yang mulia berasap. Marietta meratap dan menarik leher jubahnya hingga ke matanya,

tetapi tidak sebelum semua orang melihat bahwa wajahnya menjadi jelek mengerikan

karena serangkaian bisul ungu yang letaknya berdekatan yang telah membentang

melewati hidung dan pipinya untuk membentuk kata 'PENGADU'.

'Jangan pedulikan bintik-bintik itu sekarang, sayang,' kata Umbridge tidak sabaran,

'jauhkan saja jubahmu dari mulutmu dan beritahu Menteri --'

Tapi Marietta mengeluarkan ratapan teredam lagi dan menggelengkan kepalanya

dengan hebat.

'Oh, baiklah, kau gadis bodoh, aku yang akan memberitahunya,' sambar Umbridge.

Dia memasang senyum memuakkannya kembali ke wajahnya dan berkata, 'Well,

Menteri, Miss Edgecombe di sini datang ke kantorku tidak lama setelah makan malam

pada malam ini dan memberitahuku dia punya sesuatu untuk diberitahukan kepadaku.

Dia berkata bahwa kalau aku pergi ke sebuah ruangan rahasia di lantai ketujuh, yang

kadang-kadang dikenal sebagai Ruang Kebutuhan, aku akan menemukan sesuatu

yang menguntungkanku. Aku menanyainya sedikit lebih lanjut dan dia mengakui

bahwa ada semacam pertemuan di sana.Sayangnya, pada titik ini guna-guna ini,' dia

melambai dengan tidak sabar ke wajah Marietta yang tersembunyi, 'bekerja dan ketika

melihat wajahnya di cerminku anak perempuan ini menjadi terlalu tertekan untuk

memberitahuku lebih banyak lagi.'

'Well, sekarang,' kata Fudge sambil menatap Marietta dengan apa yang jelas

dibayangkannya tampang baik hati dan kebapakan, 'kamu sangat berani, sauang,

datang memberitahu Profesor Umbridge. 'Kau melakukan hal yang tepat. 'Sekarang,

maukah kau memberitahuku apa yang terjadi pada pertemuan ini? Apa tujuannya?

Siapa yang ada di sana?'

Tetapi Marietta tidak mau berbicara; dia hanya menggelengkan kepalanya lagi,

matanya terbelalak dan ketakutan.

'Tidakkah kita punya kontra-kutukan untuk ini?' Fudge bertanya kepada Umbridge

dengan tidak sabar, sambil memberi isyarat ke wajah Marietta. 'Sehingga dia bisa

berbicara dengan bebas?'

'Saya belum berhasil menemukannya,' Umbridge mengakui sambil enggan, dan

Harry merasakan gelombang rasa bangga atas kemampuan mengutuk Hermione. 'Tapi

tidak masalah kalau dia tidak mau berbicara, aku bisa mengambil alih ceritanya dari

sini.'

'Anda akan ingat, Menteri, bahwa saya mengirimkan sebuah laporan kepada Anda

di bulan Oktober bahwa Potter telah bertemu dengan sejumlah teman sekolahnya di

Hog's Head di Hogsmeade --'

'Dan bukti apa yang kau punya tentang itu?' sela Profesor McGonagall.

'Aku punya kesaksian dari Willy Widdershins, Minerva, yang kebetulan berada di

bar itu pada saat itu. Dia memakai perban tebal, memang benar, tetapi

pendengarannya tidak terganggu,' kata Umbridge puas diri. 'Dia mendengar setiap

patah kata yang diucapkan Potter dan bergegas langsung ke sekolah untuk melapor

kepadaku --'

'Oh, jadi itulah sebabnya dia tidak diadili karena menyebabkan semua toilet muntah

itu!' kata Profesor McGonagall sambil mengangkat alisnya. 'Pemahaman yang amat

menarik ke dalam sistem keadilan kita!'

'Korupsi terang-terangan!' raung potret penyihir pria gemuk berhidung merah di

tembok di belakang meja tulis Dumbledore. 'Kementerian tidak membuat kesepakatan

dengan kriminal kelas teri di masaku, tidak tuan, tidak!'

'Terima kasih, Fortescue, itu sudah cukup,' kata Dumbledore dengan lembut.

'Tujuan pertemuan Potter dengan murid-murid ini,' lanjut Profesor Umbridge,

'adalah untuk membujuk mereka bergabung dengan sebuah perkumpulan ilegal, yang

sasarannya adalah untuk mempelajari mantera-mantera dan kutukan-kutukan yang

telah Kementerian putuskan tidak pantas untuk usia sekolah --'

'Kukira kau akan mendapati bahwa kau salah di sana, Dolores,' kata Dumbledore

pelan, sambil memandangnya melewati kacamata setengah bulannya yang bertengger

di tengah hidungnya yang bengkok.

Harry menatapnya. Dia tidak mengerti bagaimana Dumbledore akan

meloloskannya dari yang satu ini; kalau Willy Widdershins memang mendengar

setiap patah kata yang diucapkannya di Hog's Head tidak ada cara untuk berkelit.

'Oho!' kata Fudge sambil berayun-ayun pada bola kakinya lagi. 'Ya, ayo dengar

cerita omong kosong terakhir yang diciptakan untuk menarik Potter keluar dari

masalah! Teruskan, kalau begitu, Dumbledore, teruskan -- Willy Widdershins

berbohong, bukan? Atau kembar identik Potter yang berada di Hog's Head hari itu?

Atau ada penjelasan sederhana yang biasa yang melibatkan pengembalian waktu,

orang mati yang kembali hidup dan sejumlah Dementor tidak tampak?'

Percy Weasley tertawa sepenuh hati.

'Oh, sangat bagus, Menteri, sangat bagus!'

Harry bisa saja menendangnya. Lalu dia melihat, yang membuatnya heran, bahwa

Dumbledore juga sedang tersenyum lembut.

'Cornelius, aku tidak membantah -- dan begitu juga, aku yakin, Harry -- bahwa dia

berada di Hog's Head pada hari itu, atau bahwa dia sedang mencoba merekrut muridmurid

ke perkumpulan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Aku hanya menunjukkan

bahwa Dolores salah dalam mengesankan bahwa perkumpulan seperti itu, pada saat

itu, ilegal. Kalau Anda ingat, Dekrit Kementerian yang melarang semua perkumpulan

murid-murid tidak berlaku sampai dua hari setelah pertemuan Hogsmeade Harry, jadi

dia tidak melanggar peraturan apapun sama sekali di Hog's Head.'

Percy terlihat seolah-olah dia telah terhantam di wajah oleh sesuatu yang berat.

Fudge tetap tak bergerak di tengah ayunannya, mulutnya terbuka.

Umbridge pulih terlebih dahulu.

'Itu semua sangat bagus, Kepala Sekolah,' dia berkata sambil tersenyum manis,

'tetapi kita semua sekarang hampir enam bulan dari saat pengenalan Dekrit

Pendidikan Nomor Dua Puluh Empat. Kalau pertemuan pertama tidak ilegal, semua

yang terjadi sejak itu pasti ilegal.'

'Well,' kata Dumbledore sambil mengamatinya dengan ketertarikan sopan lewat

puncak jari-jarinya yang saling bertaut, 'tentu saja akan begitu, kalau mereka memang

meneruskan setelah Dekrit itu berlaku. Apakah Anda punya bukti apapun bahwa

pertemuan semacam ini berlanjut?'

Ketika Dumbledore berbicara, Harry mendengar bunyi gemerisik di belakangnya

dan mengira Kingsley membisikkan sesuatu. Dia juga bisa bersumpah bahwa dia

merasakan sesuatu bersentuhan dengan sisi tubuhnya, sesuatu yang lembut seperti

aliran udara atau sayap burung, tetapi ketika memandang ke bawah dia tidak melihat

apapun di sana.

'Bukti?' ulang Umbridge, dengan senyum mirip katak yang mengerikan itu.

'Tidakkah Anda mendengarkan, Dumbledore? Menurutmu kenapa Miss Edgecombe

ada di sini?'

'Oh, bisakah dia memberitahu kita tentang pertemuan selama enam bulan?' kata

Dumbledore sambil mengangkat kepalanya. 'Aku mendapat kesan bahwa dia hanya

melaporkan sebuah pertemuan malam ini.'

'Miss Edgecombe,' kata Umbridge seketika,' beritahu kami berapa lama pertemuanpertemuan

ini telah berlangsung, sayang. Kau bisa hanya mengangguk atau

menggelengkan kepalamu. Aku yakin itu tidak akan membuat bintik-bintiknya

semakin parah. Apakah sudah berlangsung secara teratur selama enam bulan terakhir

ini?'

Harry merasakan jungkir balik yang mengerikan di perutnya. Ini dia, mereka sudah

mengenai bukti tak terbantah yang tidak akan bisa dikesampingkan bahkan oleh

Dumbledore.

'Anggukkan atau gelengkan kepalamu saja, sayang,' Umbridge berkata membujuk

kepada Marietta, 'ayolah, sekarang, itu tidak akan mengaktifkan kembali kutukannya.'

Semua orang di ruangan itu sedang memandangi bagian atas wajah Marietta. Hanya

matanya yang tampak dari antara jubah yang ditarik ke atas dan poninya yang

keriting. Mungkin tipuan cahaya api, tapi matanya anehnya terlihat hampa. Dan

kemudian -- yang membuat Harry benar-benar heran -- Marietta menggelengkan

kepalanya.

Umbridge memandang cepat-cepat kepada Fudge, lalu kembali kepada Marietta.

'Kukira kau tidak mengerti pertanyaannya, bukan, sayang? Aku bertanya apakah

kau telah menghadiri pertemuan-pertemuanini selama enam bulan terakhir ini? Benar,

bukan?'

Lagi-lagi, Marietta menggelengkan kepalanya.

'Apa maksudmu dengan menggelengkan kepalamu, sayang?' kata Umbridge dengan

suara marah.

'Aku akan berpikir maksudnya sangat jelas,' kata Profesor McGonagall dengan

kasar, 'tidak ada pertemuan rahasia selama enam bulan terakhir ini. Apakah itu benar,

Miss Edgecombe?'

Marietta mengangguk.

'Tapi ada pertemuan malam ini!' kata Umbridge dengan marah. 'Ada pertemua,

Miss Edgecombe, kau memberitahuku mengenainya, di Ruang Kebutuhkan! Dan

Potter adalah pemimpinnya, bukan, Potter mengaturnya, Potter -- kenapa kau

menggelengkan kepalamu, nak?'

'Well, biasanya kalau seseorang menggelengkan kepala mereka,' kata McGonagall

dengan dingin, 'itu artinya "tidak". Jadi kecuali Miss Edgecombe sedang

menggunakan semacam bahasa isyarat yang belum dikenal manusia --'

Profesor Umbridge meraih Marietta, menariknya untuk menghadapinya dan mulai

mengguncangkannya dengan sangat keras. Sepersekian detik kemudian Dumbledore

bangkit, tongkatnya terangkat; Kingsley bergerak maju dan Umbridge melompat

mundur dari Marietta, sambil melambaikan tangannya di udara seolah-olah terbakar.

'Aku tidak bisa mengizinkanmu menganiaya murid-muridku, Dolores,' kata

Dumbledore dan, untuk pertama kalinya, dia tampak marah.

'Anda harus menenangkan diri Anda, Madam Umbridge,' kata Kingsley dengan

suaranya yang dalam dan lambat-lambat. 'Anda tidak mau kena masalah sekarang.'

'Tidak,' kata Umbridge terengah-engah, sambil memandang ke atas ke figur

menjulang Kingsley. 'Maksudku, ya -- kau benar, Shacklebolt -- aku -- aku lupa diri.'

Marietta sedang berdiri tepat di mana Umbridge melepaskannya. Dia tampak tidak

bingung oleh serangan mendadak Umbridge, ataupun lega karena dilepaskan; dia

masih mencengkeram jubahnya hingga ke matanya yang anehnya hampa dan sedang

menatap tepat di hadapannya.

Suatu kecurigaan mendadak, yang dihubungkan dengan bisikan Kingsley dan

benda yang dirasakannya melewatinya, timbul di pikiran Harry.

'Dolores,' kata Fudge, dengan suasana mencoba membereskan sesuatu untuk

seterusnya, 'pertemuan malam ini -- yang kita tahu jelas-jelas terjadi --'

'Ya,' kata Umbridge sambil menguasai dirinya, 'ya ... well, Miss Edgecombe

mengisikiku dan aku maju seketika ke lantai tujuh, ditemani oleh murid-murid

tepercaya tertentu, untuk menangkap basah mereka yang berada di pertemuan itu.

Namun, kelihatannya mereka sudah diberitahu terlebih dahulu akan kedatanganku,

karena ketika kami mencapai lantai tujuh mereka sedang berlarian ke segala arah.

Namun, tidak masalah. Aku punya semua nama mereka di sini, Miss Parkinson berlari

ke Ruang Kebutuhan untuk melihat apakah mereka meninggalkan sesuatu. Kami

perlu bukti dan ruangan itu menyediakan.'

Dan yang membuat Harry ngeri, dia menarik keluar dari kantongnya daftar namanama

yang dipasang di dinding Ruang Kebutuhan dan menyerahkannya kepada

Fudge.

'Saat aku melihat nama Potter di daftar itu, aku tahu apa yang sedang kita hadapi,'

dia berkata dengan lembut.

'Bagus sekali,' kata Fudge, senyum membentang di wajahnya, 'bagus sekali,

Dolores. Dan ... sambar geledek ...'

Dia memandang Dumbledore, yang masih berdiri di samping Marietta, tongkatnya

terpegang kendur di tangannya.

'Lihat dengan apa mereka namai diri mereka?' kata Fudge pelan. 'Dumbledore's

Army.'

Dumbledore mengulurkan tangan dan mengambil potongan perkamen itu dari

Fudge. Dia memandang judul yang ditulis oleh Hermione berbulan-bulan sebelumnya

dan sejenak tampak tidak mampu berbicara. Lalu sambil memandang ke atas, dia

tersenyum.

'Well, permainan sudah usai,' dia berkata dengan sederhana. 'Apakah kamu mau

pengakuan tertulis dariku, Cornelius -- atau apakah sebuah pernyataan di depan saksisaksi

ini sudah memadai?'

Harry melihat McGonagall dan Kingsley saling berpandangan. Ada ketakutan di

wajah keduanya. Dia tidka mengerti apa yang sedang terjadi, dan tampaknya Fudge

juga begitu.

'Pernyataan?' kata Fudge lambat-lambat. 'Apa -- aku tidak --?'

'Dumbledore's Army -- Tentara Dumbledore, Cornelius,' kata Dumbledore, masih

tersenyum sementara dia melambaikan daftar nama-nama itu di depan wajah Fudge.

'Bukan Tentara Potter. Tentara Dumbledore.'

'Tapi -- tapi --'

Pemahaman berkobar mendadak di wajah Fudge. Dia mundur selangkah dengan

ngeri, menjerit, dan melompat keluar dari api lagi.

'Kamu?' dia berbisik, menginjak jubahnya yang menyala lagi.

'Itu benar,' kata Dumbledore dengan menyenangkan.

'Kau mengatur ini?'

'Memang,' kata Dumbledore.

'Kau merekrut murid-murid ini untuk -- untuk jadi tentaramu?'

'Malam ini seharusnya menjadi pertemuan pertama,' kata Dumbledore sambil

mengangguk. 'Hanya untuk melihat apakah mereka akan tertarik bergabung

denganku. Aku lihat sekarang bahwa merupakan suatu kesalahan mengundang Miss

Edgecombe, tentu saja.'

Marietta mengangguk. Fudge memandang darinya ke Dumbledore, dadanya

menggembung.

'Kalau begitu kau memang membuat rencana melawanku!' dia berteriak.

'Itu benar,' kata Dumbledore dengan ceria.

'TIDAK!' teriak Harry.

Kingsley memberinya pandangan memperingatkan sekilas, McGonagall

membelalakkan matanya mengancam, tetapi mendadak Harry sadar apa yang akan

dilakukan Dumbledore, dan dia tidak bisa membiarkannya terjadi.

'Tidak -- Profesor Dumbledore --!'

'Diamlah, Harry, atau aku takut kau harus meninggalkan kantorku,' kata

Dumbledore dengan tenang.

'Ya, diam, Potter!' bentak Fudge, yang masih melotot kepada Dumbledore dengan

semacam kesenangan yang mengerikan. 'Well, well, well -- aku datang ke sini malam

ini berharap untuk mengeluarkan Potter dan alih-alih --'

'Alih-alih kau bisa menangkapku,' kata Dumbledore sambil tersenyum. 'Seperti

kehilangan satu Knut dan menemukan sebuah Galleon, bukan?'

'Weasley!' teriak Fudge, sekarang nyata-nyata gemetar karena senang, 'Weasley,

sudahkah kau menuliskannya semua, semua yang dikatakannya, pengakuannya, sudah

kau dapatkan?'

'Ya, sir, kukira begitu, sir!' kata Percy dengan bersemangat, yang hidungnya

terkena muncratan tinta dari kecepatan mencatatnya.

'Bagian mengenai bagaimana dia mencoba membangun tentara melawan

Kementerian, bagaimana dia bekerja untuk menggoyahkanku?'

'Ya, sir, aku sudah dapat, ya!' kata Percy, sambil memeriksa catatannya dengan

gembira.

'Sangat bagus, kalau begitu,' kata Fudge, sekarang berseri-seri karena senang,

'perbanyak catatanmu, Weasley, dan kirimkan sebuah salinan ke Daily Prophet

seketika. Kalau kita mengirim seekor burung hantu cepat kita seharusnya bisa masuk

edisi pagi!' Percy berlari dari ruangan ke ruangan, membanting pintu di belakangnya,

dan Fudge berpaling kembali kepada Dumbledore. 'Anda sekarang akan dikawal

kembali ke Kementerian, di mana Anda akan dituntut secara formal, lalu dikirim ke

Azkaban untuk menanti persidangan!'

'Ah,' kata Dumbledore dengan lembut, 'ya. Ya, kukira kita mungkin mengenai

rintangan kecil itu.

'Rintangan?' kata Fudge, suaranya masih bergetar dengan kegembiraan. 'Aku tidak

melihat ada rintangan, Dumbledore!'

'Well,' kata Dumbledore dengan nada minta maaf, 'aku takut aku melihatnya.'

'Oh, benarkah?'

'Well -- hanya saja kau tampaknya bekerja di bawah khayalan bahwa aku akan --

apa ungkapannya? -- ikut dengan tenang. Aku takut aku tidak akan ikut dengan tenang

sama sekali, Cornelius. Aku sama sekali tidak punya niat dikirim ke Azkaban. Aku

bisa meloloskan diri, tentu saja -- tapi betapa itu pemborosan waktu, dan terus terang,

aku bisa memikirkan segudang hal yang lebih suka kulakukan.'

Wajah Umbridge menjadi semakin memerah; dia terlihat seolah-olah sedang

dipenuhi air mendidih. Fudge menatap Dumbledore dengan ekspresi sangat tolol di

wajahnya, seolah-olah dia baru saja dibuat tertegun oleh hantaman tiba-tiba dan tidak

mempercayai itu terjadi. Dia mengeluarkan suara tercekik kecil, lalu memandang

berkeliling kepada Kingsley dan lelaki berambut pendek kelabu itu, yang satu-satunya

dari semua orang di ruangan itu yang tetap diam sampai sejauh ini. Yang terakhir

memberi Fudge anggukan meyakinkan dan bergerak maju sedikit, menjauh dari

dinding. Harry melihat tangannya bergerak, hampir sepintas lalu, menuju kantongnya.

'Jangan bodoh, Dawlish,' kata Dumbledore dengan baik hati. 'Aku yakin kau

seorang Auror yang baik -- aku tampaknya teringat bahwa kau mendapat

"Outstanding" dalam semua NEWTmu -- tapi kalau kau berusaha untuk -- er --

membawaku dengan paksa, aku akan harus melukaimu.'

Lelaki yang dipanggil Dawlish berkedip agak bodoh. Dia memandang Fudge lagi,

tetapi kali ini tampaknya mengharapkan sebuah petunjuk tentang apa yang dilakukan

berikutnya.

'Jadi,' ejek Fudge, sambil memulihkan dirinya, 'kamu berniat melawan Dawlish,

Shacklebolt, Dolores dan diriku sendiri seorang diri, bukan begitu, Dumbledore?'

'Jenggot Merlin, tidak,' kata Dumbledore sambil tersenyum, 'tidak kecuali Anda

cukup bodoh untuk memaksaku melakukannya.'

'Dia tidak akan seorang diri!' kata Profesor McGonagall keras-keras, sambil

membenamkan tangannya ke dalam jubahnya.

'Oh ya, Minerva!' kata Dumbledore dengan tajam. 'Hogwarts membutuhkanmu!'

'Sudah cukup dengan sampah ini!' kata Fudge sambil menarik keluar tongkatnya

sendiri. 'Dawlish! Shacklebolt! Bawa dia!'

Secercah cahaya perak menyala di ruangan itu; ada bunyi letusan seperti tembakan

dan lantai bergetar; sebuah tangan menarik leher Harry dan memaksanya turun ke

lantai ketika berkas perak kedua menyala; beberapa potret menjerit, Fawkes memekik

dan awan debu memenuhi udara. Terbatuk-batuk dalam debu itu, Harry melihat

sebuah figur gelap jatuh ke lantai dengan bunyi debam di depannya; ada jeritan dan

bunyi gedebuk dan seseorang berteriak, 'Tidak!'; lalu ada suara kaca pecah, langkahlangkah

kaki bergumul dengan hebat, sebuah erangan ... dan hening.

Harry berjuang untuk melihat siapa yang setengah mencekiknya dan melihat

Profesor McGonagall meringkuk di sampingnya; dia telah memaksa baik Harry

maupun Marietta keluar dari bahaya. Debu masih melayang turun dengan lembut di

udara ke atas mereka. Sambil terengah-engah sedikit, Harry melihat sebuah figur yang

sangat tinggi bergerak ke arah mereka.

'Apakah kalian baik-baik saja?' Dumbledore bertanya.

'Ya!' kata Profesor McGonagall, sambil bangkit dan menyeret Harry dan Marietta

bersamanya.

Debu sudah mulai menghilang. Kehancuran di kantor itu timbul ke dalam

pandangan: meja Dumbledore telah terbalik, semua meja berkaki panjang telah

terguling ke lantai; instrumen-instrumen peraknya berkeping-keping. Fudge,

Umbridge, Kingsley dan Dawlish terbaring tidak bergerak di lantai. Fawkes si

phoenix membumbung membentuk lingkaran lebar di atas mereka, sambil menyanyi

dengan lembut.

'Sayangnya, aku harus mengguna-gunai Kingsley juga, atau akan terlihat sangat

mencurigakan,' kata Dumbledore dengan suara rendah.'Dia luar biasa cepat mengerti,

mengubah ingatan Miss Edgecombe seperti itu ketika semua orang sedang melihat ke

arah yang lain -- sampaikan terima kasih kepadanya, bisakah kamu, Minerva?'

'Sekarang, mereka semua akan terbangun sangat segera dan paling baik kalau

mereka tidak tahu bahwa kita punya waktu untuk berkomunikasi -- kalian harus

bertindak seolah-olah belum ada waktu yang berlalu, seolah-olah mereka hanya

terhantam ke lantai, mereka tidak akan ingat --'

'Ke mana kau akan pergi, Dumbledore?' bisik Profesor McGonagall. 'Grimmauld

Place?'

'Oh tidak,' kata Dumbledore dengan senyum muram, 'Aku tidak akan pergi

bersembunyi. Fudge segera akan berharap dia tidak pernah mengeluarkanku dari

Hogwarts, aku berjanji kepadamu.'

'Profesor Dumbledore ...' Harry mulai.

Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu: betapa menyesalnya dia

bahwa dia memulai DA sejak awal dan menyebabkan semua masalah ini, atau betapa

buruknya perasaannya karena Dumbledore akan pergi untuk menyelamatkannya dari

pengeluaran? Tetapi Dumbledore menyelanya sebelum dia bisa mengatakan sepatah

katapun lagi.

'Dengarkan aku, Harry,' dia berkata dengan mendesak. 'Kamu harus mempelajari

Occlumency sekeras yang kamu bisa, apakah kamu mengerti? Lakukan semua yang

disuruh Profesor Snape dan berlatihlah secara khusus setiap malam sebelum tidur

sehingga kamu bisa menutup pikiranmu dari mimpi-mimpi buruk -- kamu akan

mengerti sebabnya segera, tapi kamu harus berjanji kepadaku --'

Lelaki yang dipanggil Dawlish bergerak. Dumbledore meraih pergelangan tangann

Harry.

'Ingat -- tutup pikiranmu --'

Tetapi selagi jari-jari Dumbledore menutup pada kulit Harry, rasa sakit menusuk ke

bekas luka di keningnya dan dia merasakan kembali keinginan mengerikan seperti

ular untuk menyerang Dumbledore, untuk menggigitnya, untuk melukainya --

'-- kamu akan mengerti,' bisik Dumbledore.

Fawkes mengitari kantor itu dan menukik rendah ke atasnya. Dumbledore

melepaskan Harry, mengangkat tangannya dan mencengkeram ekor keemasan

panjang phoenix itu. Ada kilatan api dan mereka berdua sudah hilang.

'Di mana dia?' teriak Fudge, sambil mendorong dirinya sendiri bangkit dari lantai.

'Di mana dia?'

'Aku tidak tahu!' teriak Kingsley, juga melompat bangkit.

'Well, dia tidak mungkin ber-Disapparate!' jerit Umbridge. 'Kau tidak bisa

melakukannya dari dalam sekolah ini --'

'Tangga!' jerit Dawlish, dan dia menghempaskan dirinya ke pintu, merenggutnya

hingga terbuka dan menghilang, diikuti dari dekat oleh Kingsley dan Umbridge.

Fudge bimbang, lalu bangkit pelan-pelan, sambil menyeka debu dari bagian depan

tubuhnya. Ada keheningan panjang dan menyakitkan.

'Well, Minerva,' kata Fudge dengan kejam, sambil meluruskan lengan bajunya yang

robek, 'aku takut ini akhir dari temanmu Dumbledore.'

'Kau kira begitu, bukan?' kata Profesor McGonagall dengan menghina.

Fudge tampaknya tidak mendengarnya. Dia sedang memandang berkeliling pada

kantor yang pecah belah itu. Beberapa potret mendesis kepadanya; satu aatu dua

bahkan membuat isyarat tangan tidak sopan.

'Kau sebaiknya membawa yang dua itu ke tempat tidur,' kata Fudge sambil

memandang kembali ke Profesor McGonagall dengan anggukan membubarkan

kepada Harry dan Marietta.

Profesor McGonagall tidak berkata apa-apa, tetapi membawa Harry dan Marietta

ke pintu. Selagi pintu itu berayun menutup di belakang mereka, Harry mendengar

suara Phineas Nigellus.

'Anda tahu, Menteri, aku tidak sependapat dengan Dumbledore dalam banyak hal ...

tapi Anda tidak bisa menyangkal dia memiliki gaya ...'

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH DELAPAN --

Memori Terburuk Snape

ATAS PERINTAH MENTERI SIHIR

Dolores Jane Umbridge (Penyelidik Tinggi) telah menggantikan

Albus Dumbledore sebagai Kepala Sekolah Sihir Hogwarts.

Yang di atas sesuai edngan Dekrti Pendidikan Nomor Dua Puluh Delapan.

Tertanda: Cornelius Oswald Fudge, Menteri Sihir

Pengumuman itu telah dipasang di seluruh sekolah dalam semalam, tetapi tidak

menjelaskan bagaimana setiap orang di sekolah tampaknya tahu bahwa Dumbledore

telah mengatasi dua Auror, Penyelidik Tinggi, Menteri Sihir dan Asisten Juniornya

untuk meloloskan diri. Tak peduli ke manapun Harry pergi di dalam kastil, topik

pembicaraan tunggal adalah pelarian Dumbledore, dan walaupun beberapa detil

mungkin telah menjadi miring dalam penceritaan ulang (Harry tidak sengaja

mendengar seorang anak perempuan kelas dua meyakinkan yang lain bahwa Fudge

sekarang sedang terbaring di St Mungo dengan labu sebagai kepalanya) mengejutkan

betapa akuratnya sisa informasi mereka. Semua orang tahu, contohnya, bahwa Harry

dan Marietta adalah satu-satunya murid yang menyaksikan adegan di kantor

Dumbledore dan, karena Marietta sekarang ada di sayap rumah sakit, Harry

mendapati dirinya diserbu dengan permintaan untuk memberi keterangan langsung.

'Dumbledore akan kembali sebelum waktu yang lama,' kata Ernie Macmillan

dengan yakin pada perjalanan kembali dari Herbologi, setelah mendengarkan dengan

seksama pada cerita Harry. 'Mereka tidak bisa menyingkirkannya di tahun kedua kita

dan mereka tidak akan bisa melakukannya kali ini. Rahib Gemuk memberitahuku --'

dia merendahkan suaranya seperti bersekongkol, sehingga Harry, Ron dan Hermione

harus mencondongkan badan lebih dekat untuk mendengarnya '-- bahwa Umbridge

mencoba kembali ke kantornya kemarin malam setelah mereka menggeledah kastil

dan halaman sekolah mencarinya. Tak bisa melewati gargoyle. Kantor Kepala sudah

menyegel sendiri melawannya.' Ernie tersenyum menyeringai. 'Tampaknya, dia marah

besar.'

'Oh, kuduga dia benar-benar mengkhayalkan dirinya duduk di atas sana di kantor

Kepala,' kata Hermione dengan keji, ketika mereka berjalan menaiki undakanundakan

batu ke dalam Aula Depan. 'Berkuasa atas semua guru yang lain, si bodoh

yang sombong, gila kekuasaan --'

'Sekarang, apakah kau benar-benar mau menyelesaikan kalimat itu, Granger?'

Draco malfoy telah menyelinap dari balik pintu, diikuti dari dekat oleh Crabbe dan

Goyle. Wajahnya yang pucat dan runcing berseri-seri dengan kedengkian.

'Kutakut aku harus mengurangi beberapa poin dari Gryffindor dan Hufflepuff,' dia

berkata dengan suara dipanjang-panjangkan.

'Cuma para guru yang bisa mengurangi poin dari asrama, Malfoy,' kata Ernie

seketika.

'Yeah, kami prefek juga, ingat?' bentak Ron.

'Aku tahu prefek tidak bisa mengurangi poin, Raja Weasel (Musang),' ejek Malfoy.

Crabbe dan Goyle terkikik-kikik. 'Tapi anggota-anggota Regu Penyelidik --'

'Apa?' kata Hermione dengan tajam.

'Regu Penyelidik, Granger,' kata Malfoy sambil menunjuk ke sebuah 'I' perak kecil

di jubahnya persis di bawah lencana prefeknya. 'Sekumpulan murid-murid terpilih

yang bersikap mendukung Menteri Sihir, dipilih sendiri oleh Profesor Umbridge.

Ngomong-ngomong, anggota-anggota Regu Penyelidik punya kekuasaan untuk

mengurangi poin ... jadi, Granger, aku akan ambil lima darimu karena bersikap kasar

tentang Kepala Sekolah kita yang baru. Macmillan, lima karena membantahku. Lima

karena aku tidak suka kamu, Potter. Weasley, kemejamu tidak dimasukkan, jadi aku

akan ambil lima lagi untuk itu. Oh yeah, aku lupa, kau seorang Darah-Lumpur,

Granger, jadi potong sepuluh karena itu.'

Ron menarik keluar tongkatnya, tetapi Hermione mendorongnya sambil berbisik,

'Jangan!'

'Gerakan bijaksana, Granger,' bisik Malfoy. 'Kepala Sekolah Baru, masa-masa baru

... baik-baiklah sekarang, Potty ... Raja Weasel ...'

Sambil tertawa sepenuh hati, dia berjalan pergi bersama Crabbe dan Goyle.

'Dia menggertak,' kata Ernie, tampak terkejut. 'Dia tidak bisa diizinkan mengurangi

poin ... itu menggelikan ... akan sepenuhnya merusak sistem prefek.'

Tetapi Harry, Ron dan Hermione telah berpaling dengan otomatis ke jam-jam pasir

raksasa yang ditempatkan di relung dinding di belakang mereka, yang mencatat poinpoin

asrama. Gryffindor dan Ravenclaw saling kejar-kejaran memimpin pada pagi

hari itu. Bahkan selagi mereka mengamati, batu-batu terbang ke atas, mengurangi

jumlah di bagian yang lebih rendah. Kenyataannya, satu-satunya jam pasir yang

tampaknya tidak berubah adalah milik Slytherin yang berisi zamrud.

'Sudah memperhatikannya, bukan?' kata suara Fred.

Dia dan George baru saja menuruni tangga pualam dan bergabung dengan Harry,

Ron, Hermione dan Ernie di depan jam-jam pasir.

'Malfoy baru mengurangi kami semua sekitar lima puluh poin,' kata Harry dengan

marah, ketika mereka melihat beberapa batu lagi terbang ke atas dari jam pasir

Gryffindor.

'Yeah, Montague mencoba mengerjai kami waktu istirahat,' kata George.

'Apa maksudmu "mencoba"?' kata Ron dengan cepat.

'Dia tak pernah bisa mengeluarkan semua perkataanya,' kata Fred, ' karena fakta

bahwa kami memaksanya dengan kepala duluan ke dalam Lemari Penghilang di lantai

satu.'

Hermione tampak sangat terguncang.

'Tapi kalian akan dapat masalah besar!'

'Tidak sampai Montague muncul kembali, dan itu mungkin butuh waktu

berminggu-minggu, aku tak tahu ke mana kami mengirimnya,' kata Fred dengan

tenang. 'Lagipula ... kami sudah memutuskan kami tak peduli lagi kena masalah.'

'Pernahkah kalian peduli?' tanya Hermione.

'Tentu saja,' kata George. 'Belum pernah dikeluarkan, bukan?'

'Kami selalu tahu di mana menarik batasnya,' kata Fred.

'Kami mungkin lewat sedikit kadang-kadang,' kata George.

'Tapi kami selalu berhenti saat hampir menyebabkan kekacauan benar-benar,' kata

Fred.

'Tapi sekarang?' kata Ron coba-coba.

'Well, sekarang --' kata George.

'-- dengan perginya Dumbledore --' kata Fred.

'-- menurut kami sedikit kekacauan --' kata George.

'-- persis yang patut diterima Kepala Sekolah baru kita tersayang,' kata Fred.

'Kalian tidak boleh!' bisik Hermione. 'Kalian benar-benar tidak boleh! Dia akan

senang punya alasan untuk mengeluarkan kalian!'

'Kau tidak mengerti, bukan, Hermione?' kata Fred sambil tersenyum kepadanya.

'Kami tidak peduli lagi tentang tetap di sekolah. Kami akan berjalan keluar sekarang

juga kalau kami tidak bertekad melakukan bagian kami untuk Dumbledore terlebih

dahulu. Jadi, ngomong-ngomong,' dia memeriksa jam tangannya, 'tahap satu baru

akan dimulai. Aku akan masuk ke Aula Besar untuk makan siang, kalau aku jadi

kalian, dengan begitu, para guru akan melihat bahwa kalian tidak mungkin ada

kaitannya dengan itu.'

'Ada kaitan dengan apa?' kata Hermione dengan cemas.

'Kau akan lihat,' kata George. 'Bergegaslah sekarang.'

Fred dan George berpaling pergi dan menghilang ke kerumunan besar yang sedang

menuruni tangga menuju makan siang. Tampak sangat bingung, Ernie

menggumamkan sesuatu tentang pekerjaan rumah Transfigurasi yang belum selesai

dan bergegas pergi.

'Kukira kita harus pergi dari sini, kalian tahu,' kata Hermione dengan gugup. 'Untuk

jaga-jaga.'

'Yeah, baiklah,' kata Ron, dan mereka bertiga bergerak menuju pintu-pintu Aula

Besar, tetapi Harry belum lagi melihat langit-langit siang itu yang dilintasi awan-awan

putih ketika seseorang menepuk bahunya dan, sambil berpaling, dia mendapati dirinya

hampir bersentuhan hidung dengan Filch, si penjaga sekolah. Dia buru-buru mundur

beberapa langkah; Filch paling baik dipandang dari kejauhan.

'Kepala Sekolah ingin menemuimu, Potter,' dia mengerling.

'Aku tidak melakukannya,' kata Harry dengan bodoh, sambil memikirkan apapun

yang sedang direncanakan Fred dan George. Rahang Filch bergoyang karena tawa

diam-diam.

'Kesadaran berbuat salah, eh?' dia mendesah. 'Ikut aku.'

Harry memandang balik kepada Ron dan Hermione, yang keduanya tampak kuatir.

Dia mengangkat bahu, dan mengikuti Filch kembali ke Aula Depan, melawan arus

masuk murid-murid yang lapar.

Filch kelihatannya berada dalam suasana hati yang sangat baik; dia bersenandung

dengan suara rendah selagi mereka menaiki tangga pualam. Ketika mereka mencapai

puncak tangga pertama dia berkata, 'Keadaan sedang berubah di sekitar sini, Potter.'

'Sudah kuperhatikan,' kata Harry dengan dingin.

'Benar ... aku sudah memberitahu Dumbledore selama bertahun-tahun dia terlalu

lunak dengan kalian semua,' kata Filch, sambil terkekeh keji. 'Kalian mahkluk buas

kecil yang kotor takkan pernah menjatuhkan Peluru Bau kalau kalian tahu aku punya

kekuasaan untuk mencambuk kalian sampai lecet, bukan begitu? Tak seorangpun

akan berpikir tentang melemparkan Frisbee Bertaring di koridor kalau aku bisa

menggantung kalian pada mata kaki di kantorku, bukan? Tapi saat Dekrit Pendidikan

Nomor Dua Puluh Sembilan masuk, Potter, aku akan diizinkan melakukan semua itu

... dan dia sudah meminta Menteri menandatangani perintah pengusiran Peeves ... oh,

keadaan akan sangat berbeda di sekitar sini dengan dia yang memimpin.

Umbridge tampaknya telah berbuat apa saja untuk menarik Filch ke sisinya, Harry

berpikir, dan yang terburuk adalah bahwa dia mungkin akan terbukti sebagai senjata

penting; pengetahuannya tentang jalan-jalan rahasia sekolah itu dan tempat-tempat

persembunyian mungkin hanya kalah oleh si kembar Weasley.

'Di sinilah kita,' dia berkata, sambil melirik kepada Harry ketika dia mengetuk tiga

kali ke pintu Profesor Umbridge dan mendorongnya membuka. 'Bocah Potter

menemui Anda, Ma'am.'

Kantor Umbridge, begitu akrab bagi Harry dari banyak detensinya, sama seperti

biasa kecuali balok kayu besar yang tergeletak di depan meja tulisnya di mana hurufhuruf

keemasan mengeja kata : KEPALA SEKOLAH. Juga, Fireboltnya dan Sapu

Bersih Fred dan George, yang dilihatnya dengan perih, dirantai dan digembok ke

sebuah pasak besi kokoh di dinding di belakang meja tulis.

Umbridge sedang duduk di belakang meja, sibuk mencorat-coret pada beberapa

perkamen merah jambunya, tetapi dia memandang ke atas dan tersenyum lebar saat

mereka masuk.

'Terima kasih, Argus,' dia berkata dengan manis.

'Tidak sama sekali, Ma'am, tidak sama sekali,' kata Filch sambil membungkuk

serendah yang diperbolehkan rematiknya, dan keluar dengan berjalan mundur.

'Duduk,' kata Umbridge dengan kasar, sambil menunjuk ke sebuah kursi. Harry

duduk. Dia terus mencorat-coret beberapa saat. Harry mengamati beberapa anak

kucing jelek itu melompat-lompat mengitari plakat-plakat di atas kepalanya, bertanyatanya

kengerian apa yang disimpannya untuk dirinya.

'Well, sekarang,' dia berkata akhirnya, sambil meletakkan pena bulunya dan

mengamatinya dengan puas diri, seperti seekor katak yang baru akan menelan seekor

lalat yang mengandung banyak air. 'Apa yang ingin kamu minum?'

'Apa?' kata Harry, sangat yakin dia salah dengar.

'Minum, Mr Potter,' dia berkata, masih tersenyum semakin lebar. Teh? Kopi? Jus

labu?'

Ketika dia menyebut setiap minuman itu, dia melambaikan tongkatnya yang

pendek, dan secangkir atau segelas minuman itu muncul di atas meja tulisnya.

'Tak ada, terima kasih,' kata Harry.

'Aku ingin kamu minum bersamaku,' dia berkata, suaranya menjadi manis

berbahaya. 'Pilih satu.'

'Baik ... teh kalau begitu,' kata Harry sambil mengangkat bahu.

Dia bangkit dan membuat pertunjukan hebat dengan menambahkan susu sambil

memunggunginya. Dia lalu buru-buru mengitari meja membawanya, sambil

tersenyum dengan cara manis yang menyeramkan.

'Ini,' dia berkata sambil menyerahkannya. 'Minum sebelum jadi dingin, mau 'kan?

Well, sekarang, Mr Potter ... kukira kita harus berbincang-bincang sebentar, setelah

kejadian menyedihkan kemarin malam.'

Harry tidak berkata apa-apa. Umbridge duduk kembali ke kursinya dan menunggu.

Ketika beberapa saat yang panjang telah berlalu dalam keheningan, dia berkata

dengan riang, 'Kamu tidak minum!'

Harry mengangkat cangkir ke bibirnya dan kemudian, sama mendadaknya,

merendahkannya. Salah satu anak kucing mengerikan di belakang Umbridge memiliki

mata biru bundar persis seperti mata sihir Mad-Eye Moody dan baru saja terpikir oleh

Harry apa yang akan dikatakan Mad-Eye kalau dia mendengar Harry minum apapun

yang ditawarkan musuh yang sudah dikenalnya.

'Ada apa?' kata Umbridge, yang masih mengamatinya dengan seksama. 'Apakah

kamu mau gula?'

'Tidak,' kata Harry.

Dia mengangkat cangkir itu ke bibirnya lagi dan pura-pura meneguk, walaupun

menjaga mulutnya tertutup rapat. Senyum Umbridge melebar.

'Bagus,' dia berbisik. 'Sangat bagus. Kalau begitu sekarang ...' Dia mencondongkan

badan ke depan sedikit. 'Di mana Albus Dumbledore?'

'Tak punya gambaran,' kata Harry cepat.

'Minumlah, minumlah,' dia berkata, masih tersenyum. 'Sekarang, Mr Potter, kita

jangan bermain kekanak-kanakan. Aku tahu bahwa kau tahu ke mana dia pergi. Kamu

dan Dumbledore sudah berkomplot bersama sejak awal. Pertimbangkan

kedudukanmu, Mr Potter ...'

'Aku tidak tahu di mana dia,' Harry mengulangi.

Dia pura-pura minum lagi. Umbridge sedang mengamatinya lekat-lekat.

'Baiklah,' dia berkata, walaupun dia tampak tidak senang. 'Kalau begitu, kau akan

berbaik hati memberitahuku tentang keberadaan Sirius Black.'

Perut Harry jungkir balik dan tangannya yang sedang memegang cangkir teh

bergetar sehingga cangkir itu berderak dalam piringnya. Dia memiringkan cangkir ke

mulutnya dengan bibir ditekan rapat, sehingga sejumlah cairan panas itu menetes

turun ke jubahnya.

'Aku tidak tahu,' dia berkata, sedikit terlalu cepat.

'Mr Potter,' kata Umbridge, 'izinkan aku mengingatkanmu bahwa aku yang hampir

menangkap kriminal Black itu di api Gryffindor di bulan Oktober. Aku tahu benar

kamulah yang sedang ditemuinya dan kalau aku punya buktia apapun tak satupun dari

kalian masih berkeliaran hari ini, aku berjanji padamu. Kuulangi, Mr Potter ... di

mana Sirius Black?'

'Tak punya gambaran,' kata Harry keras-keras. 'Tak punya petunjuk.'

Mereka saling berpandangan begitu lama sehingga Harry merasa matanya berair.

Lalu Umbridge bangkit.

'Baiklah, Mr Potter, aku akan percaya kata-katamu kali ini, tapi kuperingatkan:

kekuatan Kementerian ada di belakangku. Semua saluran komunikasi ke dalam dan ke

luar sekolah ini sedang diawasi. Alat Pengatur Jaringan Floo sedang mengawasi

semua api di Hogwarts -- kecuali apiku sendiri, tentu saja. Regu Penyelidikku

membuka dan membaca semua pos burung hantu yang masuk dan keluar kastil. Dan

Mr Filch mengamati semua jalan rahasia di dalam dan luar kastil. Kalau aku

menemukan secuil bukti ...'

BOOM!'

Lantai kantor itu bergetar, Umbridge bergeser ke samping sambil mencengkeram

meja tulisnya untuk mendapat dukungan, dan tampak terguncang.

'Apa yang --?'

Dia sedang menatap ke pintu. Harry mengambil kesempatan itu untuk

mengosongkan cangkir tehnya yang hampir penuh ke vas bunga kering terdekat. Dia

bisa mendengar orang-orang berlarian dan menjerit beberapa lantai di bawah.

'Kembali ke makan siangmu, Potter!' teriak Umbridge sambil mengangkat

tongkatnya dan bergegas keluar dari kantor. Harry memberinya permulaan beberapa

detik, lalu bergegas mengikutinya untuk melihat apa sumber semua kegaduhan itu.

Tidak sulit ditemukan. Satu lantai di bawah, terjadi kekacauan hebat. Seseorang

(dan Harry punya ide cerdas siapa) telah menyalakan apa yang tampak seperti sekotak

besar kembang api sihir.

Naga-naga yang terbuat seluruhnya dari bunga-bunga api hijau dan emas

membumbung ke sana ke mari di koridor-koridor, mengeluarkan letusan-letusan api

keras dan bunyi keras ketika mereka lewat; kembang api Catherine wheel merah

jambu terang berdiameter lima kaki berdesing membahayakan di udara seperti begitu

banyak piring terbang; roket-roket berekor panjang dari bintang-bintang perak

cemerlang memantul ke dinding-dinding; bunga-bunga api menuliskan kata-kata

sumpah serapah di tengah udara dengan sendirinya; petasan-petasan meledak seperti

ranjau ke manapun Harry memandang, dan bukannya terbakar sampai habis,

menghilang dari pandangan atau mendesis berhenti, keajaiban pembuatan kembang

ini tampaknya menambah energi dan momentum semakin lama ditontonnya.

Filch dan Umbridge sedang berdiri, tampaknya terpaku dalam kengerian, di tengah

tangga. Selagi Harry menonton, salah satu Catherine wheel yang lebih besar

kelihatannya memutuskan yang dibutuhkannya adalah lebih banyak ruang untuk

manuver; dia berputar ke arash Umbridge dan Filch dengan bunyi 'wheeeeeeeeee'

menyeramkan. Mereka berdua menjerit ketakutan dan menunduk, dan kembang api

itu membumbung lurus keluar dari jendela di belakang mereka dan menyeberangi

halaman sekolah. Sementara itu, beberapa naga dan seekor kelelawar ungu besar yang

mengeluarkan asap dengan tidak menyenangkan mengambil peluang dari pintu yang

terbuka di ujung koridor dan lolos ke lantai kedua.

'Cepat, Filch, cepat!' pekik Umbridge, 'mereka akan ada di seluruh sekolah kecuali

kita melakukan sesuatu -- Stupefy!'

Seberkas sinar merah meluncur keluar dari ujung tongkatnya dan mengenai salah

satu roket itu. Bukannya membeku di udara, roket itu meledak dengan kekuatan

sedemikian ruap sehingga melubangi sebuah lukisan seorang penyihir wanita yang

tampak basah di tengah sebuah padang; dia lari tepat pada waktunya, muncul kembali

beberapa detik kemudian ke dalam lukisan berikutnya, di mana sejumlah penyihir pria

yang sedang bermain kartu berdiri terburu-buru untuk memberinya tempat.

'Jangan Bekukan mereka, Filch!' teriak Umbridge dengan marah, seolah-olah itu

sihiran Filch.

'Anda benar, Kepala Sekolah!' desah Filch, yang sebagai seorang Squib tidak lebih

mungkin Membekukan kembang api itu daripada menelannya. Dia bergegas ke lemari

terdekat, menarik keluar sebuah sapu dan mulai memukul kembang api di udara,

dalam beberapa detik kepala sapu itu menyala.

Harry sudah melihat cukup banyak; sambil tertawa, dia menunduk rendah, berlari

ke sebuah pintu yang dia tahu tersembunyi di belakang sebuah permadani dinding

agak jauh di koridor itu dan menyelinap melaluinya untuk mendapati Fred dan George

bersembunyi tepat di belakangnya, mendengarkan jeritan-jeritan dan suara bergetar

Umbridge dan Filch dengan tawa tertahan.

'Mengesankan,' Harry berkata pelan, sambil menyeringai. 'Sangat mengesankan ...

kalian akan membuat Dr Filibuster bangkrut, tidak masalah ...'

'Semoga,' bisik George sambil menyeka air mata tawa dari wajahnya. 'Oh, kuharap

dia mencoba Menghilangkan mereka selanjutnya ... mereka akan berlipat sepuluh kali

setiap kali kau coba.'

Kembang api itu terus menyala dan menyebar ke seluruh sekolah sore itu.

Walaupun menyebabkan banyak gangguan, terutama petasan-petasan itu, guru-guru

yang lain tampaknya tidak terlalu keberatan.

'Sayang, sayang,' kata Profesor McGonagall dengan sengit, ketika salah satu naga

membumbung di sekitar ruang kelasnya, mengeluarkan bunyi keras dan

menghembuskan nyala api. 'Miss Brown, maukah kamu berlari kepada Kepala

Sekolah dan memberitahu beliau bahwa kita punya kembang api yang lolos di

ruangan kelas kita?'

Hasilnya adalah Profesor Umbridge menghabiskan sore pertamanya sebagai Kepala

Sekolah berlarian di seluruh sekolah menjawab panggilan-panggilan dari guru-guru

yang lain, yang tak seorangpun tampaknya bisa mengenyahkan kembang api dari

ruangan mereka tanpa dia. Saat bel akhir berbunyi dan mereka menuju Menara

Gryffindor dengan tas-tas mereka, Harry melihat, dengan kepuasan mendalam,

Umbridge yang kusut dan hitam akibat jelaga berjalan terhuyung-huyung dengan

wajah berkeringat dari ruang kelas Profesor Flitwick.

'Terima kasih banyak, Profesor!' kata Profesor Flitwick dengan suara kecil

mencicitnya. 'Aku bisa saja mengenyahkan bunga-bunga api itu sendiri, tentu saja,

tapi aku tidak yakin aku memiliki kuasanya atau tidak.'

Sambil tersenyum, dia menutup pintu ruang kelasnya di hadapannya.

Fred dan George menjadi pahlawan malam itu di ruang duduk Gryffindor. Bahkan

Hermione berjuang melalui kerumunan yang bersemangat untuk menyelamati

mereka.

'Kembang api itu sangat bagus,' dia berkata memuji.

'Trims,' kata George, terlihat terkejut sekaligus senang. 'Api-Gila Desing-Keras

Weasley. Satu-satunya masalah adalah, kami menggunakan seluruh stok kami, kami

harus mulai dari awal lagi sekarang.'

'Namun setimpal,' kata Fred, yang sedang menerima pesanan dari anak-anak

Gryffindor yang menuntut dengan ramai. 'Kalau kamu mau menambahkan namamu

ke daftar tunggu, Hermione, lima Galleon untuk kotak Kobaran Dasar dan dua puluh

untuk yang mewah ...'

Hermione kembali ke meja tempat Harry dan Ron duduk menatapi tas-tas sekolah

mereka seolah-olah berharap pekerjaan rumah mereka akan melompat keluar dan

mulai bekerja sendiri.

'Oh, kenapa kita tidak libur semalam?' kata Hermione dengan ceria, ketika sebuah

roket Weasley berekor perak meluncur melewati jendela. 'Lagipula, libur Paskah

mulai pada hari Jumat, kita akan punya banyak waktu saat itu ...'

'Apakah kau merasa baik-baik saja?' Ron bertanya sambil menatapnya dengan tidak

percaya.

'Sekarang setelah kau sebut,' kata Hermione dengan gembira, 'tahukah kamu ... aku

kira aku sedang merasa agak ... memberontak.'

Harry masih bisa mendengar letusan dari jauh petasan-petasan yang lolos ketika dia

dan Ron pergi tidur sejam kemudian; dan ketika dia melepaskan pakaian sebuah

bunga api melayang melewati menara itu, masih mengeja kata 'JUGA' dengan pasti.

Dia naik ke tempat tidur sambil menguap. Dengan kacamata dilepas, kembang api

yang terkadang melewati jendela telah menjadi buram, tampak seperti awan yang

berkilau, indah dan misterius di langit yang hitam. Dia berpaling ke samping,

bertanya-tanya bagaimana perasaan Umbridge tentang hari pertamanya dalam

pekerjaan Dumbledore, dan bagaimana Fudge akan bereaksi saat dia mendengar

bahwa sekolah itu telah menghabiskan sebagian besar hari dalam keadaan kacau

sekali. Sambil tersenyum kepada dirinya sendiri, Harry menutup matanya ...

Desing dan letusan kembang api yang lolos di halaman sekolah tampaknya semakin

jauh ... atau mungkin dia hanya menjauh dari mereka ...

Dia telah jatuh tepat di koridor yang menuju ke Departemen Misteri. Dia semakin

cepat ke pintu hitam polos itu ... biarkan terbuka ... biarkan terbuka ...

Pintu itu terbuka. Dia berada di dalam ruangan melingkar yang dibarisi dengan

pintu-pintu ... dia menyeberanginya, menempatkan tangannya pada sebuah pintu yang

identik dan mengayunkannya ke dalam ...

Sekarang dia berada di sebuah ruangan persegi panjang yang penuh dengan bunyi

klik mekanis yang aneh. Ada berkas-berkas cahaya yang menari-nari di dinding tetapi

dia tidak berhenti untuk menyelidiki ... dia harus terus ...

Ada pintu di ujung yang jauh ... pintu itu juga terbuka dengan sentuhannya ...

Dan sekarang dia berada di sebuah ruangan bercahaya suram dan lebar seperti

sebuah gereja, penuh dengan berbaris-baris rak yang menjulang, masing-masing sarat

akan bola-bola kaca kecil berdebu ... sekarang jantung Harry berdebar cepat karena

kegembiraan ... dia tahu ke mana harus pergi ... dia lari ke depan, tetapi langkahlangkah

kakinya tidak menimbulkan suara dalam ruangan besar yang sepi itu ...

Ada sesuatu dalam ruangan ini yang sangat, sangat dia inginkan ...

Sesuatu yang diinginkannya ... atau yang diinginkan orang lain ...

Bekas lukanya sakit ...

BANG!

Harry terbangun segera, bingung dan marah. Kamar asrama yang gelap itu penuh

dengan suara tawa.

'Keren!' kata Seamus, yang berbayang-bayang di jendela. 'Kukira salah satu

Catherine wheel mengenai roket dan sepertinya mereka bersatu, datang dan lihatlah!'

Harry mendengar Ron dan Dean keluar dari tempat tidur untuk mendapatkan

pandangan yang lebih baik. Dia berbaring tak bergerak sementara rasa sakit di bekas

luka mereda dan kekecewaan melandanya. Dia merasa seolah-olah hadiah yang

sangat menakjubkan telah dirampas darinya pada saat-saat paling akhir ... dia sudah

begitu dekat waktu itu.

Babi-babi kecil merah jambu berkilauan dan bersayap perak sekarang

membumbung melewati jendela-jendela Menara Gryffindor. Harry berbaring dan

mendengarkan sorak-sorai senang anak-anak Gryffindor di kamar asrama di bawah

mereka. Perutnya menyentak memualkan ketika dia ingat dia harus ikut Occlumency

malam berikutnya.

*

Harry menghabiskan keesokan harinya ketakutan apa yang akan dikatakan Snape

kalau dia tahu seberapa jauh ke dalam Departemen Misteri yang telah dimasuki Harry

selama mimpi terakhirnya. Dengan dorongan rasa bersalah dia menyadari kalau dia

belum berlatih Occlumency sekalipun sejak pelajaran terakhir mereka: ada terlalu

banyak yang terjadi sejak kepergian Dumbledore; dia yakin dia tidak akan bisa

mengosongkan kepalanya walaupun kalau dicobanya. Namun, dia ragu apakah Snape

akan menerima alasan itu.

Dia mencoba latihan kecil saat terakhir ketika kelas berlangsung pada hari itu,

tetapi tidak ada gunanya. Hermione terus bertanya kepadanya apa yang salah

kapanpun dia terdiam sambil berusaha menyingkirkan semua pikiran dan emosi dari

dirinya dan, lagipula, saat terakhir untuk mengosongkan otaknya bukanlah ketika

guru-guru sedang menanyakan pertanyaan-pertanyaan mengulang kepada kelas.

Pasrah untuk yang terburuk, dia berangkat ke kantor Snape setelah makan malam.

Namun, saat tengah menyeberangi Aula Depan, Cho bergegas mendatanginya.

'Sebelah sini,' kata Harry, senang mendapatkan alasan untuk menunda

pertemuannya dengan Snape, dan memberi isyarat kepadanya untuk menyeberangi ke

sudut Aula Depan tempat jam-jam pasir berada. Jam Gryffindor sekarang hampir

kosong. 'Apakah kau baik-baik saja? Umbridge belum bertanya-tanya tentang DA

kepadamu, bukan?'

'Oh, tidak,' kata Cho buru-buru. 'Tidak, hanya saja ... well, aku cuma mau bilang ...

Harry, aku tak pernah mimpi Marietta akan mengadu ...'

'Yeah, well,' kata Harry dengan suasana hati tidak tentu. Dia memang merasa Cho

bisa saja memilih teman-temannya dengan sedikit lebih berhati-hati; merupakan

penghiburan kecil bahwa yang terakhir didengarnya, Marietta masih di sayap rumah

sakit dan Madam Pomfrey belum bisa membuat perbaikan sedikitpun pada

jerawatnya.

'Dia sebenarnya orang yang menyenangkan,' kata Cho. 'Dia cuma membuat

kesalahan --'

Harry memandangnya dengan tidak percaya.

'Seorang yang menyenangkan yang membuat kesalahan? Dia mengkhianati kita

semua, termasuk kamu!'

'Well ... kita semua lolos, bukan?' kata Cho memohon. 'Kau tahu, ibunya bekerja di

Kementerian, benar-benar sulit baginya --'

'Ayah Ron bekerja di Kementerian juga!' Harry berkata dengan marah. 'Dan kalaukalau

kau belum memperhatikan, dia tidak punya kata pengadu tertulis di wajahnya --'

'Itu tipuan Hermione Granger yang benar-benar mengerikan,' kata Cho dengan

garang. 'Dia seharusnya memberitahu kami dia sudah memberi kutukan pada daftar

itu --'

'Kukira itu ide yang sangat cemerlang,' kata Harry dengan dingin. Cho merona dan

matanya semakin terang.

'Oh ya, aku lupa -- tentu saja, itu ide Hermione tersayang --'

'Jangan mulai menangis lagi,' kata Harry memperingatkan.

'Aku tidak akan!' dia berteriak.

'Yeah ... well ... bagus,' dia berkata. 'Aku sudah punya cukup masalah saat ini.'

'Pergi urus masalahmu kalau begitu!' Cho berkata dengan marah sambil berbalik

dan pergi.

Sambil mengomel, Harry menuruni tangga ke ruang bawah tanah Snape dan,

walaupun dia tahu dari pengalaman betapa jauh lebih mudahnya bagi Snape untuk

memasuki pikirannya kalau dia tiba dengan marah dan benci, dia tidak berhasil tidak

memikirkan beberapa hal lagi yang seharusnya dikatakannya kepada Cho tentang

temannya Marietta sebelum mencapai pintu ruang bawah tanah itu.

'Kamu terlambat, Potter,' kata Snape dengan dingin, ketika Harry menutup pintu di

belakangnya.

Snape sedang berdiri memunggungi Harry, memindahkan, seperti biasa, pikiranpikiran

tertentunya dan menempatkan dengan hati-hati di dalam Pensieve

Dumbledore. Dia menjatuhkan untaian perak terakhir ke dalam baskom batu itu dan

berpaling menghadap Harry.

'Jadi,' dia berkata. 'Apakah kau sudah berlatih?'

'Ya,' Harry berbohong, sambil memandang dengan waspada ke salah satu kaki meja

tulis Snape.

'Well, kita akan segera tahu, bukan?' kata Snape dengan licin. 'Keluarkan tongkat,

Potter.'

Harry pindah ke posisi biasanya, menghadap Snape dengan meja tulis di antara

mereka. Jantungnya berdebar cepat dengan kemarahan kepada Cho dan kecemasan

seberapa banyak yang akan didapatkan Snape dari pikirannya.

'Pada hitungan ketiga, kalau begitu,' kata Snape dengan malas 'Satu -- dua --'

Pintu kantor Snape terbanting membuka dan Draco Malfoy bergegas masuk.

'Profesor Snape, sir -- oh -- sori --'

Malfoy sedang melihat pada Snape dan Harry dengan terkejut.

'Tidak apa-apa, Draco,' kata Snape sambil menurunkan tongkatnya. 'Potter ada di

sini untuk pelajaran perbaikan Ramuan.'

Harry belum melihat Malfoy begitu berseri-seri sejak Umbridge muncul untuk

menginspeksi Hagrid.

'Aku tidak tahu,' dia berkata sambil mengerling kepada Harry, yang tahu wajahnya

membara. Dia akan memberikan banyak hal untuk bisa meneriakkan yang sebenarnya

kepada Malfoy -- atau, lebih baik lagi, untuk menghantamnya dengan sebuah kutukan

yang bagus.

'Well, Draco, ada apa?' tanya Snape.

'Profesor Umbridge, sir -- beliau butuh bantuan Anda,' kata Malfoy.

'Mereka menemukan Montague, sir, dia muncul terjejal ke dalam sebuah toilet di

lantai empat.'

'Bagaimana dia masuk ke sana?' tuntut Snape.

'Saya tidak tahu, sir, dia agak bingung.'

'Baiklah, baiklah. Potter,' kata Snape, 'kita akan melanjutkan pelajaran ini besok

malam.'

Dia berpaling dan berjalan pergi dari kantornya, Malfoy berkata tanpa bersuara,

'Pelajaran perbaikan Ramuan?' kepada Harry di balik punggung Snape sebelum

mengikutinya.

Dengan menggelegak, Harry menyimpan kembali tongkatnya ke bagian dalam

jubahnya dan bergerak akan meninggalkan ruangan. Setidaknya dia punya dua puluh

empat jam lagi untuk berlatih; dia tahu dia seharusnya merasa berterima kasih untuk

kelolosan yang nyaris itu, walaupun sulit bahwa datangnya dengan pengorbanan yaitu

Malfoy menceritakan ke seluruh sekolah bahwa dia perlu pelajaran perbaikan

Ramuan.

Dia sampai ke pintu kantor ketika dia melihatnya: seberkas cahaya bergetar yang

menari-nari di ambang pintu. Dia berhenti, dan berdiri menatapnya, teringat akan

sesuatu ... lalu dia ingat: cahaya yang agak mirip dengan inilah yang dilihatnya dalam

mimpinya kemarin malam, cahaya di ruangan kedua yang dilewatinya dalam

perjalanannya di Departemen Misteri.

Dia berpaling. Cahaya itu berasal dari Pensieve yang terletak di atas meja tulis

Snape. Isi seputih mutiaranya surut dan berputar di dalam. Pikiran-pikiran Snape ...

hal-hal yang tak diinginkannya dilihat Harry kalau dia mendobrak pertahanan Snape

secara tidak sengaaja ...

Harry memandangi Pensieve itu, keingintahuan menggembung di dalam dirinya ...

apa yang begitu ingin disembunyikan Snape dari Harry?

Cahaya keperakan itu bergetar di dinding ... Harry maju dua langkah ke meja,

sambil berpikir keras. Mungkinkah informasi tentang Departemen Misteri yang

diputuskan Snape untuk ditahan darinya?

Harry memandang lewat bahunya, jantungnya sekarang berdebar lebih keras dan

lebih cepat dari sebelumnya. Berapa lama yang dibutuhkan Snape untuk melepaskan

Montague dari toilet itu? Apakah dia akan datang langsung ke kantornya setelah itu,

atau menemani Montague ke sayap rumah sakit? Tentunya yang terakhir ... Montague

adalah Kapten tim Quidditch Slytherin, Snape akan mau memastikan dia baik-baik

saja.

Harry berjalan beberapa kaki lagi ke Pensieve dan berdiri di atasnya, memandang

ke dalamnya. Dia bimbang, mendengarkan, lalu mengeluarkan tongkatnya lagi.

Kantor dan koridor di belakangnya sepenuhnya hening. Dia memberi isi Pensieve

tusukan kecil dengan ujung tongkatnya.

Benda keperakan di dalamnya mulai berputar sangat cepat. Harry mencondongkan

badan ke depan ke atasnya dan melihat benda itu sudah menjadi bening. Dia, sekali

lagi, sedang melihat ke dalam sebuah ruangan seolah-olah melalui sebuah jendela

melingkar di langit-langit ... nyatanya, kecuali dia sangat salah, dia sedang

memandang ke dalam Aula Besar.

Napasnya bahkan berkabut di permukaan pikiran Snape ... otaknya sepertinya

berada di ruang terlupakan ... gila kalau dia melakukan hal yang dia sangat tergoda

melakukannya ... dia gemetaran ... Snape bisa kembali setiap saat ... tetapi Harry

memikirkan kemarahan Cho, atau wajah mengejek Malfoy, dan keberanian sembrono

menyambarnya.

Dia menarik napas dalam, dan mencemplungkan wajahnya ke permukaan pikiran

Snape. Seketika, lantai itu bergerak mendadak, menjatuhkan Harry kepala duluan ke

dalam Pensieve ...

Dia jatuh melalui kegelapan dingin, berputar-putar dengan hebat ketika

berlangsung, dan kemudian --

Dia sedang berdiri di tengah Aula Besar, tetapi keempat meja asrama hilang. Alihalih,

ada lebih dari seratus meja yang lebih kecil, semuanya menghadap ke arah yang

sama, di masing-masing meja duduk seorang murid, kepala terbungkuk rendah,

menulis di atas sebuah gulungan perkamen. Satu-satunya suaran adalah gesekan pena

bulu dan gemerisik kadang-kadang saat seseorang menyesuaikan perkamennya. Jelas

itu saat ujian.

Matahari bersinar melalui jendela-jendela tinggi ke kepala-kepala terbungkuk itu,

yang berkilau coklat dan tembaga dan keemasan dalam sinar yang terang. Harry

memandang sekeliling dengan hati-hati. Snape pasti ada di sini di suatu tempat ... ini

ingatannya ...

Dan di sanalah dia, di sebuah meja tepat di belakang Harry. Harry menatap. Snape

remaja memiliki tampang kurus, pucat, seperti sebuah tanaman yang disimpan di

tempat gelap. Rambutnya lemas dan berminyak dan terkulai ke meja, hidungnya yang

bengkok hampir mencapai setengah inci dari permukaan perkamen selagi dia menulis.

Harry bergerak berkeliling ke belakang Snape dan membaca judul kertas ujian itu:

PERTAHANAN TERHADAP ILMU HITAM --

ORDINARY WIZARDING LEVEL.

Jadi Snape pasti berumur lima belas atau enam belas, sekitar umur Harry sendiri.

Tangannya melayang ke perkame; dia telah menulis setidaknya satu kaki lebih banyak

daripada tetangga terdekatnya, dan walau begitu tulisannya sangat kecil dan terjejal.

'Lima menit lagi!'

Suara itu membuat Harry terlompat. Sambil berpaling, dia melihat puncak kepala

Profesor Flitwick bergerak di antara meja-meja agak jauh sedikit. Profesor Flitwick

sedang berjalan melewati seorang anak laki-laki dengan rambut hitam tidak rapi ...

rambut hitam yang sangat tidak rapi ...

Harry bergerak begitu cepat sehingga, kalau dia berwujud padat, dia akan membuat

meja-meja melayang. Alih-alih, dia tampaknya meluncur, seperti mimpi,

menyeberangi dua gang dan menyusuri gang ketiga. Bagian belakang kepala anak

laki-laki berambut hitam itu semakin dekat dan ... dia sedang meluruskan diri

sekarang, meletakkan pena bulunya, menarik gulungan perkamennya ke arahnya

untuk membaca ulang apa yang telah ditulisnya.

Harry berhenti di depan meja dan memandang kepada ayahnya yang berumur lima

belas tahun.

Kegembiraan meledak di dasar perutnya: seolah-olah dia sedang memandangi

dirinya sendiri kecuali dengan kesalahan yang disengaja. Mata James coklat,

hidungnya sedikit lebih panjang daripada hidung Harry dan tidak ada bekas luka di

keningnya, tetapi mereka memiliki wajah kurus yang sama, mulut yang sama, alis

yang sama; rambut James berdiri di bagian belakang persis seperti rambut Harry,

tangannya bisa saja jadi tangan Harry dan Harry bisa tahu bahwa, saat James berdiri,

mereka hanya selisih satu inci pada tinggi masing-masing.

James menguap lebar dan memberantakkan rambutnya, membuatnya lebih kacau

dari sebelumnya. Lalu, dengan pandangan sekilas kepada Profesor Fltiwick, dia

berpaling di tempat duduknya dan menyeringai kepada seorang anak laki-laki yagn

duduk empat kursi di belakangnya.

Dengan guncangan kegembiraan lain, Harry melihat Sirius mengacungkan jempol

kepada James. Sirius sedang bermalas-malas di kursinya dengan seenaknya,

memiringkannya ke belakang pada kedua kakinya. Dia sangat tampan; rambutnya

yang hitam jatuh ke matanya dengan keluwesan biasa yang tidak akan bisa dicapai

James maupun Harry, dan seorang anak perempuan yang duduk di belakangnya

sedang memandangnya dengan penuh harap, walaupun tampaknya dia tidak

memperhatikan. Dan dua tempat duduk dari gadis ini -- perut Harry menggeliat

menyenangkan lagi -- adalah Remus Lupin. Dia tampak agak pucat dan lesu (apakah

bulan purnama mendekat?) dan asyik dengan ujian: ketika dia membaca ulang

jawaban-jawabannya, dia menggaruk dagunay dengan ujung pena bulunya, sambil

merengut sedikit.

Jadi itu berarti Wormtail pasti juga di suatu tempat di sekitar sini ... dan benar juga,

Harry melihatnya dalam beberapa detik: seorang anak laki-laki kecil berambut tikut

dengan hidung mendongak. Wormtail tampak cemas; dia sedang mengunyak kuku

tangannya, menatap kertasnya, menggores tanah dengan jari kakinya. Beberapa waktu

sekali dia menatap sekilas penuh harap ke kertas tetangganya. Harry memandang

Wormtail sejenak, lalu kembali kepada James, yang sekarang sedang menggambargambar

ke potongan perkamen sisanya. Dia telah menggambar sebuah Snitch dan

sekarang sedang menjiplak huruf-huruf 'L.E.' Apa artinya itu?

'Mohon letakkan pena bulu!' cicit Profesor Flitwick. 'Itu artinya kamu juga,

Stebbins! Tolong tetap duduk selagi aku mengumpulkan perkamen kalian! Accio!'

Lebih dari seratus gulungan perkamen meluncur ke udara dan ke dalam lengan

Profesor Flitwick yang dibentangkan, menjatuhkannya ke belakang. Beberapa orang

tertawa. Sejumlah murid di meja depan bangkit, memegang Profesor Flitwick di

bawah siku dan mengangkatnya berdiri lagi.

'Terima kasih ... terima kasih,' Profesor Flitwick terengah-engah. 'Baiklah,

semuanya, kalian boleh pergi!'

Harry memandang kepada ayahnya, yang telah buru-buru mencoret 'L.E.' yang

telah ditulisnya, melompat bangkit, menjejalkan pena bulu dan kertas ujiannya ke

dalam tasnya, yang diayunkannya ke punggungnya, dan berdiri menunggu Sirius

bergabung dengannya.

Harry memandang berkeliling dan melihat sekilas Snape agak jauh sedikit,

berpindah di antara meja-meja menuju pintu ke Aula Depan, masih asyik dengan

kertas ujiannya sendiri. Berbahu bundar tetapi kurus, dia berjalan dengan cara gugup

yang mengingatkan pada laba-laba, dan rambutnya yang berminyak menutupi

wajahnya.

Sekelompok gadis-gadis yang sedang mengobrol memisahkan Snape dari James,

Sirus dan Lupin, dan dengan menempatkan dirinya di tengah mereka, Harry berhasil

menjaga Snape dalam pandangan sementara menegangkan telinganya untuk

menangkap suara-suara James dan teman-temannya.

'Apakah kau suka pertanyaan nomor sepuluh, Moony?' tanya Sirius ketika mereka

muncul ke Aula Depan.

'Suka sekali,' kata Lupin cepat. 'Berikan lima tanda untuk mengenali manusia

serigala. Pertanyaan yang bagus sekali.'

'Apakah menurutmu kamu berhasil mendapatkan semua tanda itu?' kata James

dengan nada perhatian pura-pura.

'Kukira begitu,' kata Lupin dengan serius, selagi mereka bergabung dengan

kerumunan yang berdesak-desakan di sekitar pintu-pintu depan bersemangat untuk

keluar ke halaman sekolah yang disinari matahari. 'Satu: dia sedang duduk di atas

kursiku. Dua: dia sedang memakai pakaianku. Tiga: namanya Remus Lupin.

Wormtail satu-satunya yang tidak tertawa.

'Aku dapat bentuk moncongnya, anak matanya dan ekor yang berjumbai,' dia

berkata dengan cemas, 'tapi aku tidak bisa memikirkan apa lagi --'

'Seberapa pandirnya kamu, Wormtail?' kata James dengan tidak sabar. 'Kamu

berlarian dengan seekor manusia serigala sekali sebulan --'

'Rendahkan suara kalian,' pinta Lupin.

Harry memandang dengan cemas ke belakangnya lagi. Snape tetap berada di dekat,

masih terbenam dalam pertanyaan-pertanyaan ujiannya -- tetapi ini memori Snape dan

Harry yakin bahwa kalau Snape memilih untuk berkeliaran ke arah lain sekali berada

di luar pada halaman sekolah, dia, Harry, tidak akan bisa mengikuti James lagi. Akan

tetapi, demi kelegaan hebatnya, Snape mengikuti, masih membaca dengan rajin kertas

ujian dan tampaknya tidak punya gambaran tetap ke mana dia pergi. Dengan menjaga

jarak sedikit di depannya, Harry berhasil mempertahankan pengamatan seksama

terhadap James dan yang lainnya.

'Well, kukira kertas itu mudah sekali,' dia mendengar Sirius berkata. 'Aku akan

terkejut kalau aku tidak mendapatkan "Outstanding" setidaknya.'

'Aku juga,' kata James. Dia meletakkan tangannya ke dalam kantongnya dan

mengeluarkan sebuah Golden Snitch yang meronta-ronta.

'Dari mana kau dapat itu?'

'Curi,' kata James dengan biasa. Dia mulai bermain-main dengan Snitch itu,

membiarkannya terbang sejauh satu kaki sebelum meraihnya lagi; refleksnya sangat

baik. Wormtail menyaksikannya dengan kagum.

Mereka berhenti di naungan pohon beech yang sama di tepi danau tempat Harry,

Ron dan Hermione suatu ketika menghabiskan hari Minggu sambil menyelesaikan

pekerjaan rumah mereka, dan melemparkan diri ke atas rumput. Harry memandang

lewat bahunya lagi dan melihat, demi kegembiraannya, bahwa Snape telah menempati

rumput di bayangan padat serumpun semak-semak. Dia terbenam dalam kertas OWL

itu seperti sebelumnya, yang membuat Harry bebas duduk di rumput di antara pohon

dan semak-semak dan mengamati empat orang di bawah pohon. Sinar matahari

menyilaukan di permukaan danau yang tenang, yang di pinggirannya duduk

sekelompok gadis-gadis yang sedang tertawa, dengan sepatu dan kaus kaki yang

dilepaskan, sedang menyejukkan kaki mereka di air.

Lupin telah menarik keluar sebuah buku dan sedang membaca. Sirius memandang

ke sekitar kepada murid-murid yang sedang ramai di rumput, tampak agak congkak

dan bosan, tetapi sangat tampan. James masih bermain-main dengan Snitch itu,

membiarkannya meluncur semakin jauh, hampir lolos tetapi selalu menangkapnya

pada detik terakhir. Wormtail sedang mengamatinya dengan mulut terbuka. Setiap

kali James membuat penangkapan yang susah, Wormtail menarik napas cepat dan

berterpuk tangan. Setelah lima menit begini, Harry bertanya-tanya kenapa James tidak

menyuruh Wormtail untuk menguasai dirinya sendiri, tetapi James tampaknya

menikmati perhatian itu. Harry memperhatikan bahwa ayahnya punya kebiasaan

memberantakkan rambutnya seolah-olahnya mencegahnya jadi terlalu rapi, dan dia

juga terus memandangi gadis-gadis di tepi air.

'Simpan itu, bisakah,' kata Sirius akhirnya, ketika James membuat penangkapan

akhir dan Wormtail bersorak, 'sebelum Wormtail ngompol karena senang.'

Wormtail sedikit merona merah jambu, tetapi James nyengir.

'Kalau itu mengganggumu,' dia berkata, sambil menjejalkan Snitch kembali ke

kantongnya. Harry mendapat kesan jelas bahwa Sirius adalah satu-satunya orang yang

membuat James mau berhenti pamer.

'Aku bosan,' kata Sirius. 'Kuharap bulan purnama.'

'Kau bisa saja,' kata Lupin dengan murung dari balik bukunya. 'Kita masih punya

Transfigurasi, kalau kau bosan kau bisa mengujiku. Ini ...' dan dia mengulurkan

bukunya.

Tetapi Sirius mendengus. 'Aku tidak perlu melihat sampah itu, aku tahu semuanya.'

'Ini akan membuatmu bersemangat, Padfoot,' kata James pelan. 'Lihat siapa itu ...'

Kepala Sirius berpaling. Dia menjadi sangat diam, seperti seekor anjing yang telah

mencium bau seekor kelinci.

'Bagus sekali,' dia berkata dengan pelan. 'Snivellus.'

Harry berpaling untuk melihat apa yang sedang dipandangai Sirius.

Snape berdiri lagi, dan sedang menyimpan kertas OWL ke dalam tasnya. Ketika dia

meninggalkan bayang-bayang dari semak-semak dan berjalan menyeberangi rumput,

Sirius dan James berdiri.

Lupin dan Wormtail tetap duduk. Lupin masih memandangi bukunya, walaupun

matanya tidak bergerak dan sebuah garis cemberut samar timbul di antara alisnya;

Wormtail sedang memandang dari Sirius dan James kepada Snape dengan tampang

penantian teramat sangat di wajahnya.

'Baik-baik saja, Snivellus?' kata James keras-keras.

Snape bereaksi begitu cepat seolah-olah dia telah mengharapkan serangan: sambil

menjatuhkan tasnya, dia membenamkan tangannya ke dalam jubahnya dan tongkatnya

setengah di udara saat James berteriak, 'Expelliarmus!'

Tongkat Snape terbang empat meter ke udara dan jatuh dengan bunyi gedebuk kecil

ke rumput di belakangnya. Sirius mengeluarkan tawa menyalak.

'Impedimenta!' dia berkata, sambil menunjuk tongkatnya kepada Snape, yang

terjatuh saat hendak menuju tongkatnya sendiri yang jatuh.

Murid-murid di sekitar telah berpaling untuk menonton. Beberapa di antara mereka

bangkit dan mendekat. Sebagian tampak gelisah, yang lainnya terhibur.

Snape terbaring terengah-engah di tanah. James dan Sirius maju ke arahnya,

tongkat dinaikkan, James sambil memandang sekilas lewat bahunya kepada gadisgadis

di pinggir air ketika dia pergi. Wormtail sekarang bangkit, menonton dengan

lapar, menyamping mengitari Lupin untuk mendapatkan pandangan yang lebih bagus.

'Bagaimana ujiannya, Snivelly?' kata James.

'Aku mengawasinya, hidungnya mengenai perkamen,' kata Sirius dengan keji.

'Akan ada noda-noda minyak di atasnya, mereka tidak akan bisa membaca sepatah

katapun.'

Beberapa orang tertawa; Snape jelas tidak populer. Wormtail terkikik melengking.

Snape mencoba bangkit, tetapi guna-guna itu masih menguasainya; dia berjuang,

seolah-olah terikat tali yang tak tampak.

'Kau -- tunggu,' dia terengah-engah, sambil menatap James dengan ekspresi

kebencian murni, 'kau -- tunggu!'

'Tunggu apa?' kata Sirius dengan tenang. 'Apa yang akan kau lakukan, Snivelly,

menyeka hidung pada kami?'

Snape mengeluarkan sejumlah campuran sumpah serapah dan guna-guna, tetapi

dengan tongkatnya sepuluh kaki jauhnya tidak ada yang terjadi.

'Cuci mulutmu,' kata James dengan dingin. 'Scorugify!'

Gelembung-gelembung sabun merah jambu mengalir keluar dari mulut Snape

seketika; buihnya menutupi bibirnya, membuatnya tak bisa bicara, mencekiknya --

'Tinggalkan dia SENDIRI!'

James dan Sirius memandang berkeliling. Tangan James yang bebas segera

melompat ke rambutnya.

Itu adalah salah satu gadis dari tepi danau. Dia memiliki rambut merah gelap yang

tebal yang jatuh ke bahunya, dan mata berbentuk almond berwarna hijau cemerlang --

mata Harry.

Ibu Harry.

'Baik-baik saja, Evans?' kata James, dan nada suaranya mendadak menyenangkan,

lebih dalam, lebih dewasa.

'Tinggalkan dia sendiri,' Lily mengulangi. Dia sedang memandang James dengan

setiap tanda ketidaksukaan yang hebat. 'Apa yang sudah dilakukannya kepadamu?'

'Well,' kata James, tampaknya tidak tergesa-gesa sampai ke intinya, 'lebih kepada

fakta bahwa dia ada, kalau kau tahu apa yang kumaksud ...'

Banyak murid-murid di sekitar tertawa, termasuk Sirius dan Wormtail, tetapi

Lupin, tampaknya masih asyik dengan bukunya, tidak tertawa, dan tidak juga Lily.

'Kau kira kau lucu,' dia berkata dengan dingin. 'Tapi kau hanya kain rombengan

arogan dan penggertak, Potter. Tinggalkan dia sendiri.'

'Akan kulakukan kalau kau keluar bersamaku, Evans,' kata James cepat. 'Ayolah ...

keluar denganku dan aku tidak akan menggunakan tongkat pada Snivelly tua lagi.'

Di belakangnya, Kutukan Perintang sudah mulai hilang. Snape mulai meraih

tongkatnya yang jatuh, sambil meludahkan buih-buih sabun ketika dia merangkak.

'Aku tidak akan keluar denganmu kalau pilihannya antara kamu dan cumi-cumi

raksasa,' kata Lily.

'Sial, Prongs,' kata Sirius cepat, dan berpaling kembali kepada Snape. 'OI!'

Tetapi terlambat; Snape telah mengarahkan tongkatnya lurus kepada James; ada

kilasan cahaya dan sebuah luka menganga timbul di samping wajah Snape,

memercikkan darah ke jubahnya. James berputar: kilasan cahaya kedua beberapa saat

kemudian, Snape sedang bergantungan terbalik di udara, jubahnya jatuh ke kepalanya

memperlihatkan kaki-kaki kurus dan pucat, serta sepasang celana dalam yang mulai

kelabu.

Banyak orang di kerumunan kecil itu bersorak; Sirius, James dan Wormtail tertawa

bergemuruh.

Lily, yang ekspresi marahnya telah berkedut sebentar seolah-olah dia akan

tersenyum, berkata, 'Turunkan dia!'

'Tentu saja,' kata James dan dia menyentakkan tongkatnya ke atas; Snape jatuh

menjadi tumpukan kisut di atas tanah. Sambli membebaskan dirinya sendiri dari

jubahnya dia bangkit dengan cepat, dengan tongkat di atas, tetapi Sirius berkata,

'Petrificus Totalus!' dan Snape terjungkal lagi, sekaku papan.

'TINGGALKAN DIA SENDIRI!' Lily berteriak. Dia mengeluarkan tongkatnya

sendiri sekarang. James dan Sirius memandang tongkat itu dengan waspada.

'Ah, Evans, jangan buat aku mengguna-gunai kamu,' kata James dengan

bersemangat.

'Kalau begitu, lepaskan kutukan darinya!'

James menghela napas dalam-dalam, lalu berpaling kepada Snape dan

menggumamkan kontra-kutukannya.

'Itu dia,' dia berkat, ketika Snape berjuang bangkit. 'Kamu beruntung Evans ada di

sini, Snivellus --'

'Aku tidak butuh bantuak dari Darah-Lumpur kotor sepertinya!'

Lily berkedip.

'Baik,' dia berkata dengan tenang. 'Aku tidak akan mengganggumu lagi di

kemudian hari. Dan aku akan mencuci celanamu kalau aku jadi kau, Snivellus.'

'Minta maaf pada Evans!' James meraung kepada Snape, tongkatnya menunjuk

mengancam kepadanya.

'Aku tidak mau kau membuatnya minta maaf,' Lily berteriak, memberondong

James. 'Kau sama buruknya dengan dia.'

'Apa?' pekik James. 'Aku TIDAK AKAN PERNAH memanggilmu seorang -- kautahu-

apa!'

'Memberantakkan rambutmu karena kau kira terlihat keren tampak seperti kamu

baru saja turun dari sapumu, pamer dengan Snitch bodoh itu, berjalan di koridor dan

mengguna-gunai siapa saja yang menjengkelkanmu hanya karena kamu bisa -- aku

terkejut sapumu bisa naik dari tanah dengan kepala besarmu di atasnya. Kamu

membuatku MUAK.'

Dia berpaling dan bergegas pergi.

'Evans!' James berteriak kepadanya. 'Hei, EVANS!'

Tetapi dia tidak memandang balik.

'Ada apa dengannya?' kata James, sambil mencoba dan gagal terlihat seolah-olah

itu hanya pertanyaan asal-asalan yang tidak penting baginya.

'Kalau kubaca yang tersirat, aku akan bilang dia mengira kau agak congkak, sobat,'

kata Sirius.

'Benar,' kata James, yang sekarang tampak marah, 'benar --'

Ada kilasan cahaya lain, dan Snape sekali lagi bergantung terbalik di udara.

'Siapa yang mau melihatku melepaskan celanan Snivelly?'

Tetapi apakah James benar-benar melepaskan celana Snivelly, Harry tak pernah

tahu. Sebuah tangan telah mengetat di lengan atasnya, menutup dengan cengkeraman

seperti jepit. Sambil mengerenyit, Harry memandang berkeliling untuk melihat siapa

yang memegangnya, dan melihat, dengan getaran kengerian, seorang Snape dewasa

berdiri tepat di sampingnya, pucat karena marah.

'Bersenang-senang?'

Harry merasakan dirinya terangkat ke udara; siang musim panas itu menguap di

sekitarnya; dia sedang melayang naik melalui kegelapan sedingin es, tangan Snape

masih erat di lengan atasnya. Lalu, dengan perasaan menukik seolah-olah dia telah

dibalikkan dengan kepala di bawah di udara, kakinya mengenai lantai batu ruang

bawah tanah Snape dan dia berdiri lagi di samping Pensieve di atas meja tulis Snape

di dalam ruang kerja berbayang-bayang guru Ramuan yang sekarang.

'Jadi --' kata Snape sambil mencengkeram lengan Harry begitu eratnya sehingga

tangan Harry mulai terasa mati rasa. 'Jadi ... kamu bersenang-senang, Potter?'

'T--tidak,' kata Harry sambil mencoba membebaskan lengannya.

Menakutkan. Bibir Snape gemetaran, wajahnya putih, giginya tampak jelas.

'Pria menawan, ayahmu, bukan begitu?' kata Snape sambil mengguncang Harry

begitu kerasnya sehingga kacamatanya meluncur turun di hidungnya.

'Aku -- tidak --'

Snape melemparkan Harry menjauh dengan segala kekuatannya. Harry jatuh

dengan keras ke lantai ruang bawah tanah itu.

'Kamu tidak akan mengulangi apa yang kau lihat kepada siapapun!' Snape

berteriak.

'Tidak,' kata Harry, sambil bangkit sejauh mungkin dari Snape. 'Tidak, tentu saja

aku --'

'Keluar, keluar, aku tidak mau melihatmu di kantor ini lagi!'

Dan ketika Harry bergegas menuju pintu, setoples kecoak mati meledak di atas

kepalanya. Dia merenggut pintu hingga terbuka dan berlari cepat menyusuri koridor,

hanya berhentik ketika dia telah menempatkan tiga lantai di antara dirinya dan Snape.

Di sana dia bersandar pada dinidng, terengah-engah, dan mengosok lengannya yang

memar.

Dia tidak berhasrat sama sekali untuk kembali ke Menara Gryffindor begitu cepat,

atau untuk memberitahu Ron dan Hermione apa yang baru dilihatnya. Apa yang

membuat Harry merasa begitu ngeri dan tidak senang bukanlah diteriaki atau

dilempari toples-toples; dia tahu bagaimana rasanya dipermalukan di tengah lingkaran

penonton, tahu persis bagaimana perasaan Snape ketika ayahnya mengejeknya, dan

menilai dari apa yang baru dilihatnya, ayahnya dulu sama sombongnya seperti yang

selalu diberitahu Snape kepadanya.

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB DUA PULUH SEMBILAN --

Bimbingan Karir

'Tapi kenapa kamu tidak ikut pelajaran Occlumency lagi?' tanya Hermione sambil

merengut.

'Sudah kubilang padamu,' Harry bergumam. 'Snape menganggap aku bisa

meneruskan sendiri sekarang setelah aku paham dasar-dasarnya.'

'Jadi kamu sudah berhenti mendapatkan mimpi-mimpi aneh?' kata Hermione

dengan skeptis.

'Kurang lebih,' kata Harry tanpa memandangnya.

'Well, kukira Snape seharusnya tidak berhenti sampai kamu sepenuhnya yakin

kamu bisa mengendalikan mimpi-mimpi itu!' kata Hermione dengan marah. 'Harry,

kukira kau harus pergi menemuinya kembali dan meminta --'

'Tidak,' kata Harry penuh tenaga. 'Hentikan saja, Hermione, OK?'

Saat itu adalah hari pertama liburan Paskah dan Hermione, seperti kebiasaannya,

telah menghabiskan sebagian besar waktu itu menggambar jadwal mengulang

pelajaran bagi mereka bertiga. Harry dan Ron membiarkannya melakukan itu; lebih

mudah daripada berdebat dengannya dan, siapa tahu, jadwal itu mungkin berguna.

Ron kaget sewaktu mendapati hanya enam minggu lagi hingga ujian mereka.

'Bagaimana itu bisa mengguncangmu?' Hermione menuntut, selagi dia mengetuk

setiap petak kecil pada jadwal Ron dengan tongkatnya sehingga menyala dengan

warna berbeda-beda menurut mata pelajarannya.

'Aku tak tahu,' kata Ron, 'ada banyak yang terjadi.'

'Well, ini dia,' dia berkata sambil menyerahkan jadwalnya kepadanya, 'kalau kau

mengikuti itu seharusnya kamu baik-baik saja.'

Ron memandangnya dengan murung, tetapi kemudian menjadi cerah.

'Kau memberiku satu malam libur setiap minggu!'

'Itu untuk latihan Quidditch,' kata Hermiona.

Senyum itu memudar dari wajah Ron.

'Apa gunanya?' dia berkata dengan hampa. 'Kita punya peluang memenangkan

Piala Quidditch tahun ini sebesar peluang Dad untuk jadi Menteri Sihir.'

Hermione tidak berkata apa-apa; diai sedang memandang Harry, yang sedang

menatap dinding di seberang ruang duduk dengan hampa sementara Crookshanks

mencakar tangannya, mencoba mendapatkan garukan di telinga.

'Ada apa, Harry?'

'Apa?' dia berkata cepat. 'Tidak ada apa-apa.'

Dia meraih salinan Teori Sihir Pertahanannya dan pura-pura mencari sesuatu di

indeks. Crookshanks menyerah kepadanya dan menyelinap ke bawah kursi Hermione.

'Aku bertemu Cho tadi,' kata Hermione coba-coba. 'Dia juga tampak benar-benar

merana ... apakah kalian berdua bersiteru lagi?'

'Ap-- oh, yeah, memang,' kata Harry sambil meraih alasan itu dengan berterima

kasih.

'Tentang apa?'

'Temannya yang pengadu, Marietta,' kata Harry.

'Yeah, well, aku tidak menyalahkanmu!' kata Ron dengan marah, sambil

meletakkan jadwal mengulang pelajarannya. 'Kalau bukan karena dia ...'

Ron mengomel panjang lebar tentang Marietta Edgecombe, yang Harry dapati

membantu; yang harus dia lakukan hanyalah tampak marah, mengangguk dan berkata

'Yeah' dan 'Itu benar' setiap kali Ron menarik napas, meninggalkan pikirannya bebas

untuk diam, bahkan lebih menyengsarakan, pada apa yang telah dilihatnya di

Pensieve.

Dia merasa seakan-akan memori itu sedang memakannya dari dalam. Dia sudah

begitu pasti orang tuanya adalah orang-orang yang menakjubkan sehingga dia tidak

pernah mengalami kesulitan sedikitpun untuk tidak mempercayai fitnah yang dibuat

Snape pada karakter ayahnya. Bukankah orang-orang seperti Hagrid dan Sirius

memberitahu Harry betapa menakjubkannya ayahnya dulu? (Yeah, well, lihat seperti

apa Sirius sendiri, kata sebuah suara mengomel di dalam kepala Harry ... dia sama

buruknya, bukan?) Ya, dia pernah sekali tak sengaja mendengar Profesor McGonagall

berkata bahwa ayahnya dan Sirius adalah pembuat keonaran di sekolah, tetapi dia

menggambarkan mereka sebagai pendahulu si kembar Weasley, dan Harry tidak bisa

membayangkan Fred dan George menggantung seseorang terbalik demi kesenangan

... tidak kecuali mereka benar-benar membenci orang itu ... mungkin Malfoy, atau

seseorang yang benar-benar pantas mendapatkannya ...

Harry mencoba berargumen bahwa Snape pantas mendapatkan apa yang

dideritanya di tangan James; tetapi bukankah Lily bertanya, 'Apa yang sudah

dilakukannya kepadamu?' Dan bukankah James menjawab, 'Lebih kepada fakta

bahwa dia ada, kalau kau tahu apa yang kumaksud.' Bukankah James memulainya

hanya karena Sirius bilang dia bosan? Harry ingat Lupin bilang di Grimmauld Place

dulu bahwa Dumbledore menjadikannya prefek dengan harapan bahwa dia akan bisa

melaksanakan sedikit kendali atas James dan Sirius ... tetapi di dalam Pensieve, dia

duduk di sana dan membiarkan semuanya terjadi ...

Harry terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Lily telah campur tangan; ibunya

dulu baik. Namun, ingatan atas tampang di wajahnya ketika dia berteriak kepada

James mengganggunya sebanyak yang lainnya; dia jelas-jelas membenci James, dan

Harry sama sekali tidak mengerti bagaimana mereka bisa menikah akhirnya. Sekali

atau dua kali dia bahkan bertanya-tanya apakah James memaksanya menikah ...

Selama hampir lima tahun pikiran tentang ayahnya menjadi sumber penghiburan,

inspirasi. Kapanpun seseorang memberitahunya bahwa dia mirip James, dia berseriseri

dengan rasa bangga di dalam. Dan sekarang ... sekarang dia merasa dingin dan

sengsara memikirkannya.

Udara semakin berangin, lebih cerah dan lebih hangat ketika liburan Paskah lewat,

tetapi Harry, bersama anak-anak kelas lima dan tujuh lainnya, terperangkap di dalam,

mengulang pelajaran, berjalan tak tentu arah dari dan ke perpustakaan. Harry berpurapura

suasana hatinya yang buruk tak punya sebab lain kecuali ujian yang semakin

mendekat, dan karena teman-teman Gryffindornya juga muak belajar, alasannya tidak

diragukan.

'Harry, aku sedang bicara kepadamu, bisakah kau dengar aku?'

'Hah?'

Dia memandang berkeliling. Ginny Weasley, tampak sangat keanginan, telah

bergabung dengannya di meja perpustakaan tempat dia duduk sendirian. Saat itu

Minggu malam: Hermione telah kembali ke Menara Gryffindor untuk mengulang

Rune Kuno, dan Ron latihan Quidditch.

'Oh, hai,' kata Harry sambil menarik buku-bukunya ke arahnya. 'Kenapa kamu tidak

latihan?'

'Sudah berakhir,' kata Ginny. 'Ron harus membawa Jack Sloper ke sayap rumah

sakit.'

'Kenapa?'

'Well, kami tidak yakin, tapi kami pikir dia menghantam dirinya sendiri dengan

tongkatnya.' Dia menghela napas berat. 'Ngomong-ngomong ... sebuah paket baru saja

tiba, baru lewat proses penyaringan Umbridge yang baru.'

Dia mengangkat sebuah kotak yang terbungkus kertas coklat ke atas meja; jelas

sudah dibuka pembungkusnya dan dibungkus kembali dengan sembarangan. Ada

catatan tertulis di atasnya dengan tinta merah, terbaca: Telah Diinspeksi dan Melalui

Penyelidik Tinggi Hogwarts.

'Telur Paskah dari Mum,' kata Ginny. 'Ini satu untukmu ... ini dia.'

Dia menyerahkan sebuah telur cokelat yang bagus yang dihiasi dengan Snitch-

Snitch kecil beku dan, menurut paketnya, mengandung sekantong Kumbang

Berdesing. Harry memandangnya sejenak, lalu, demi kengeriannya, merasakan

sebuah gumpalan naik ke tenggorokannya.

'Apakah kamu baik-baik saja, Harry?' Ginny bertanya pelan.

'Yeah, baik,' kata Harry dengan kasar. Gumpalan di tenggorokannya terasa sakit.

Dia tidak mengerti mengapa sebutir telur Paskah membuatnya merasa begini.

'Kamu tampaknya benar-benar murung akhir-akhir ini,' Ginny bersikeras. 'Kau

tahu, aku yakin kalau saja kamu bicara kepada Cho ...'

'Aku bukan ingin bicara dengan Cho,' kata Harry kasar.

'Kalau begitu, siapa?' tanya Ginny sambil mengamatinya dengan seksama.

'Aku ...'

Dia memandang sekeliling untuk memastikan tak seorangpun sedang

mendengarkan. Madam Pince berada beberapa rak jauhnya, sedang mencap setumpuk

buku untuk Hannah Abbott yang tampak kalut.

'Aku berharap aku bisa bicara dengan Sirius,' dia bergumam. 'Tapi aku tahu aku tak

bisa.'

Ginny terus mengamatinya sambil berpikir. Lebih untuk memberi dirinya sesuatu

untuk dilakukan daripada karena dia ingin, Harry membuka bungkusan telur

Paskahnya, memecah sepotong besar dan meletakkannya ke dalam mulutnya.

'Well,' kata Ginny lambat-lambat, makan sepotong telur juga, 'kalau kau benarbenar

ingin bicara dengan Sirius, kukira kita bisa memikirkan suatu cara untuk

melakukannya.'

'Ayolah,' kata Harry dengan hampa, 'Dengan Umbridge mengawasi api dan

membaca semua surat kita?'

'Masalahnya tentang tumbuh bersama Fred dan George,' kata Ginny sambil

berpikir, 'adalah kamu sepertinya mulai berpikir apapun mungkin kalau kamu punya

cukup keberanian.'

Harry memandangnya. Mungkin pengaruh cokelat -- Lupin selalu menasehati

makan sedikit setelah perjumpaan dengan Dementor -- atau hanya karena dia akhirnya

mengatakan keras-keras harapan yang telah membara di dalam dirinya selama

seminggu, tetapi dia merasa sedikit lebih memiliki harapan.

'MENURUT KALIAN APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?'

'Oh sial,' bisik Ginny sambil melompat bangkit. 'Aku lupa --' Madam Pince sedang

menukik kepada mereka, wajahnya yang keriput berubah bentuk karena marah.

'Cokelat di perpustakaan!' dia menjerit. 'Keluar -- keluar -- KELUAR!' Dan sambil

melambaikan tongkatnya, dia menyebabkan buku-buku, tas dan botol tinta Harry

mengejarnya dan Ginny dari perpustakaan, memukul mereka berulang-ulang di kepala

saat mereka lari.

*

Seolah-olah ingin menggarisbawahi pentingnya ujian-ujian mereka yang akan datang,

setumpuk pamflet, brosur dan pengumuman mengenai berbagai karir penyihir tampak

di meja-meja di Menara Gryffindor tak lama sebelum akhir liburan, bersama

pengumuman lain di papan, yang terbaca:

Semua murid-murid kelas lima diharuskan menghadiri pertemuan singkat dengan

Para Kepala Asrama mereka selama minggu pertama semester musim panas untuk

membahas

karir masa depan mereka. Waktu perjanjian perseorangan di daftar berikut.

Harry memandang ke daftar itu dan mendapati bahwa dia diharapkan berada di

kantor Profesor McGonagall pada pukul dua tiga puluh pada hari Senin, yang berarti

bolos sebagian besar dari pelajaran Ramalan. Dia dan anak-anak kelas lima lainnya

menghabiskan sebagian akhir minggu terakhir dari liburan Paskah membaca semua

informasi karir yang telah ditinggalkan di sana untuk mereka baca dengan teliti.

'Well, aku tidak suka Menyembuhkan,' kata Ron pada malam terakhir liburan. Dia

terbenam dalam sebuah brosur yang memiliki lambang tulang dan tongkat yang

disilangkan dari St Mungo di depannya. 'Katanya di sini kamu perlu setidaknya "E"

pada tingkat NEWT dalam Ramuan, Herbologi, Transfigurasi, Jimat dan Guna-Guna

dan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Maksudku ... astaga ... tak ingin banyak, bukan

begitu?'

'Well, itu pekerjaan yang menuntut tanggung jawab besar, bukan?' kata Hermione

dengan melamun.

Dia sedang membaca dengan rajin sebuah brosur merah jambu terang dan jingga

yang berjudul,

'JADI MENURUTMU KAMU INGIN BEKERJA DALAM HUBUNGAN MUGGLE

?'

'Kamu tampaknya tidak butuh banyak kecakapan untuk berhubungann dengan para

Muggle; yang mereka inginkan hanyalah sebuah OWL dalam Telaah Muggle: Yang

jauh lebih penting adalah antusiasme, kesabaran dan sifat suka kesenangan Anda!'

'Kamu perlu lebih dari sifat suka kesenangan untuk berhubungan dengan pamanku,'

kata Harry dengan muram. 'Tahu kapan untuk menunduk, lebih tepatnya.' Dia tengah

membaca sebuah pamflet tentang perbankan penyihir. 'Dengarkan ini: Apakah Anda

sedang mencari sebuah karir menantang yang melibatkan perjalanan, petualangan dan

bonus harta karun dalam jumlah besar yang berhubungan dengan bahaya? Kalau

begitu pertimbangan kedudukan dengan Bank Penyihir Gringotts, yang sekarang

sedang merekrut para Pehilang Kutukan untuk kesempatan-kesempatan menggetarkan

di luar negeri ... Namun, mereka mau Arithmancy; kamu bisa melakukannya,

Hermione!'

'Aku tidak terlalu suka perbankan,' kata Hermione dengan samar, sekarang

terbenam dalam:

'APAKAH KAMU PUNYA APA YANG DIBUTUHKAN UNTUK MELATIH TRO

LL KEAMANAN?'

'Hei,' kata sebuah suara di telinga Harry. Dia memandang ke sekitar, Fred dan

George telah datang untuk bergabung dengan mereka. 'Ginny sudah bilang kepada

kami tentang kamu,' kata Fred sambil merentangkan kakinya ke atas meja di depan

mereka dan menyebabkan beberapa buklet tentang karir dengan Kementerian Sihir

meluncur ke lantai. 'Dia bilang kamu perlu bicara dengan Sirius?'

'Apa?' kata Hermione dengan tajam, menghentikan gerakannya yang tengah

memungut

'BUATLAH LETUPAN DI DEPARTEMEN KECELAKAAN DAN BENCANA SIH

IR'.

'Yeah ...' kata Harry, mencoba terdengar biasa, 'yeah, kukira aku ingin --'

'Jangan bersikap menggelikan begitu,' kata Hermione sambil meluruskan diri dan

memandangnya seolah-olah dia tidak percaya yang dilihatnya. 'Dengan Umbridge

meraba-raba di dalam api dan menggeledak semua burung hantu?'

'Well, kami pikir kami bisa menemukan cara melewati itu,' kata George sambil

merentangkan badan dan tersenyum. 'Masalah sederhana tentang membuat

pengalihan. Sekarang, kalian mungkin sudah memperhatikan bahwa kami agak tenang

di garis depan keonaran selama liburan Paskah?'

'Apa gunanya, kami bertanya kepada diri sendiri, mengganggu waktu senangsenang?'

terus Fred. 'Tak ada gunanya sama sekali, kami jawab sendiri. Dan tentu

saja, kami juga akan mengacaukan pengulangan pelajaran orang-orang, yang

merupakan hal terakhir yang ingin kami lakukan.'

Dia memberi Hermione anggukan kecil pura-pura suci. Hermione tampak agak

terkejut akan perhatian ini.

'Tetapi bisnis seperti biasa mulai besok,' Fred meneruskan dengan cepat. 'Dan kalau

kami akan menyebabkan sedikit keributan, kenapa tidak melakukannya sehingga

Harry bisa berbincang-bincang dengan Sirius?'

'Ya, tapi tetap saja,' kata Hermione, dengan suasana menjelaskan sesuatu yang

sangat sederhana kepada seseorang yang sangat bodoh, 'kalaupun kalian memang

membuat pengalihan, bagaimana Harry akan berbicara kepadanya?'

'Kantor Umbridge,' kata Harry pelan.

Dia telah memikirkan tentangnya selama dua minggu dan tidak bisa mendapatkan

alternatif lain. Umbridge sendiri telah memberitahunya bahwa satu-satunya api yang

tidak sedang dijaga adalah apinya sendiri.

'Apakah -- kamu -- gila?' kata Hermione dengan suara berbisik.

Ron telah merendahkan brosurnya tentang pekerjaan-pekerjaan dalam Perdagangan

Jamur Olahan dan sedang menonton percakapan itu dengan waspada.

'Kukira tidak,' kata Harry sambil mengangkat bahu.

'Dan bagaimana kamu akan pergi ke sana sejak awal?'

Harry siap untuk pertanyaan ini.

'Pisau Sirius,' katanya.

'Maaf?'

'Dua Natal sebelumnya Sirius memberiku sebuah pisau yang akan membuka kunci

apapun,' kata Harry. 'Jadi kalaupun dia menyihir pintu supaya Alohomora tidak bisa

bekerja, yang kuyakin sudah dilakukannya --'

'Bagaimana pendapatmu tentang ini?' Hermione menuntut kepada Ron, dan Harry

mau tak mau teringat Mrs Weasley yang memohon kepada suaminya saat makan

malam pertama Harry di Grimmauld Place.

'Aku tak tahu,' kata Ron, tampak gelisah diminta memberi pendapat. 'Kalau Harry

mau melakukannya, terserah dia, bukan?'

'Bicara seperti teman sejati dan seorang Weasley,' kata Fred sambil menepuk

punggun Ron keras-keras. 'Baik, kalau begitu. Kami berpikir akan melakukannya

besok, persis setelah pelajaran, karena seharusnya mengakibatkan dampak maksimum

kalau semua orang ada di koridor-koridor -- Harry, kami akan melakukannya di suatu

tempat di sayap timur, menariknya menjauh dari kantornya sendiri -- kurasa kita

seharusnya bisa menjamin kamu, apa, dua puluh menit?' dia berkata sambil

memandang George.

'Mudah,' kata George.

'Pengalihan seperti apa?' tanya Ron.

'Kamu akan lihat, dik,' kata Fred, ketika dia dan George bangkit lagi. 'Setidaknya,

kamu akan kalau kamu berjalan ke koridor Gregory si Penjilat sekitar jam lima

besok.'

*

Harry bangun sangat pagi keesokan harinya, merasa hampir secemas pagi dengar

pendapatnya di Kementerian Sihir. Bukan hanya prospek tentang mendobrak masuk

ke dalam kantor Umbridge dan menggunakan apinya untuk berbicara kepada Sirius

yang membuatnya merasa gugup, walaupun itu jelas sudah cukup buruk; hari ini juga

kebetulan pertama kalinya Harry akan berada di dekat Snape sejak Snape

mengusirnya dari kantornya.

Setelah berbaring di tempat tidur sejenak sambil memikirkan hari yang akan

dihadapi, Harry bangkit dengan sangat pelan dan bergerak menyeberang ke jendela di

samping tempat tidur Neville. Tepat di hadapannya, Harry bisa melihat pohon beech

menjulang yang di bawahnya ayahnya pernah sekali menyiksa Snape. Dia tidak yakin

apa yang mungkin dikatakan Sirius kepadanya yang akan menebus apa yang telah

dilihatnya di dalam Pensiece, tetapi dia putus asa untuk mendengar keterangan Sirius

sendiri tentang apa yang telah terjadi, untuk mengetahui faktor-faktor yang

meringankan yang mungkin ada, alasan apapun untuk semua perilaku ayahnya ...

Sesuatu meraih perhatian Harry: pergerakan di tepi Hutan Terlarang. Harry

memicingkan mata ke sinar matahari dan melihat Hagrid muncul dari antara

pepohonan. Dia tampak pincang. Selagi Harry menyaksikan, Hagrid terhuyunghuyung

ke pintu kabinnya dan menghilang ke dalamnya. Harry mengamati kabin itu

selama beberapa menit. Hagrid tidak muncul lagi, tetapi asap bergelung dari cerobong

asap, jadi Hagrid tidak mungkin terluka begitu parah yang membuatnya tidak mampu

membuat api.

Harry berpaling dari jendela, menuju kembali ke kopernya dan mulai berpakaian.

Dengan prospek mendobrak masuk ke dalam kantor Umbridge di depannya, Harry

tidak pernah mengharapkan hari itu menjadi hari yang tenang, tetapi dia belum

mempertimbangkan usaha Hermione yang hampir terus-menerus untuk membujuknya

tidak melakukan apa yang direncanakannya pada pukul lima. Untuk pertama kalinya,

Hermione setidaknya sama tidak perhatiannya kepada Profesor Binns dalam Sejarah

Sihir seperti Harry dan Ron, menjaga aliran peringatan berbisik-bisik yang Harry coba

sangat keras untuk abaikan.

'... dan kalau dia menangkapmu di sana, selain dikeluarkan, dia akan bisa menebak

kamu telah berbicara kepada Snuffles dan kali ini kuduga dia akan memaksamu

minum Veritaserum dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya ...'

'Hermione,' kata Ron dengan suara rendah dan marah, 'apakah kau akan berhenti

menyuruh Harry membatalkannya dan mendengarkan Binns, atau apakah aku harus

membuat catatan sendiri?'

'Kamu mencatat sekali-kali, tidak akan membunuhmu!'

Pada saat mereka mencapai ruang bawah tanah, baik Harry maupun Ron tidak

berbicara kepada Hermione. Tanpa dihalangi, dia mengambil kesempatan dari

diamnya mereka untuk terus memberi peringatan mengerikan, semuanya diucapkan

dengan berbisik dalam desis penuh semangat yang membuat Seamus menghabiskan

lima menit penuh memeriksa kualinya mencari kebocoran.

Sementara itu, Snape tampaknya telah memutuskan untuk bertingkah seolah-olah

Harry tidak tampak. Harry, tentu saja, sudah sangat kenal taktik ini, karena itu salah

satu kesukaan Paman Vernon, dan secara keseluruhan berterima kasih dia tidak

menderita sesuatu yang lebih buruk. Nyatanya, dibandingkan dengan apa yang

biasanya harus ditahannya dari Snape dalam bentuk ejekan dan kata-kata menghina,

dia mendapati pendekatan baru ini semacam perbaikan, dan senang mendapati bahwa

saat ditinggalkan sendiri, dia bisa membuat Minuman Penyegar dengan sangat mudah.

Di akhir pelajaran dia menyendok sedikit ramuan itu ke dalam sebuah tabung,

menyumbatnya dengan gabus dan membawanya ke meja Snape untuk dinilai, sambil

merasa bahwa dia akhirnya mungkin mendapatkan setidaknya sebuah 'E'.

Dia baru saja berpaling ketika dia mendengar suara bantingan. Malfoy tertawa

senang. Harry berpaling. Contoh ramuannya tergeletak berkeping-keping di atas lantai

dan Snape sedang mengamatinya dengan pandangan senang.

'Whoops,' dia berkata dengan lembut. 'Angka nol lagi, kalau begitu, Potter.'

Harry terlalu marah untuk berbicara. Dia berjalan kembali ke kualinya, bermaksud

mengisi tabung lain dan memaksa Snape menilainya, tetapi demi kengeriannya

melihat bahwa sisa isinya sudah menghilang.

'Maafkan aku!' kata Hermione, dengan tangan menutupi mulutnya. 'Aku benarbenar

minta maaf, Harry. Kukira kamu sudah selesai, jadi kubersihkan!'

Harry tidak bisa memaksa dirinya menjawab. Saat bel berdering, dia bergegas

keluar dari ruang bawah tanah tanpa pandangan sekilas ke belakang, dan memastikan

dia menemukan tempat duduk di antara Neville dan Seamus saat makan siang

sehingga Hermione tidak bisa mulai mengomel kepadanya tentang menggunakan

kantor Umbridge.

Dia berada dalam suasana hati yang begitu buruk pada saat dia sampai ke Ramalan

sehingga dia lupa sama sekali pada perjanjian karirnya dengan Profesor McGonagall,

hanya teringat saat Ron bertanya kepadanya kenapa dia tidak berada di kantornya. Dia

bergegas kembali ke atas dan tiba kehabisan napas, hanya beberapa menit terlambat.

'Maaf, Profesor,' dia terengah-engah, selagi menutup pintu.'Saya lupa.'

'Tak masalah, Potter,' katanya dengan cepat, tetapi ketika dia berbicara, seseorang

lain mendengus di sudut. Harry memandang sekeliling.

Profesor Umbridge sedang duduk di sana, sebuah papan jepit ada di atas lututnya,

sebuah pita kecil berjumbai-jumbai mengitari lehernya dan senyum kecil mengerikan

di wajahnya.

'Duduklah, Potter,' kata Profesor McGonagall dengan pendek. Tangannya bergetar

sedikit ketika dia mengocok banyak pamflet yang mengotori mejanya.

Harry duduk memunggungi Umbridge dan berbuat sebisanya untuk berpura-pura

dia tidak bisa mendengar gesekan pena bulunya ke papan jepit.

'Well, Potter, pertemuan ini adalah untuk membicarakan gagasan-gagasan karir

apapun yang mungkin kamu miliki, dan untuk membantumu memutuskan pelajaran

mana yang harus kamu lanjutkan di tahun keenam dan ketujuh,' kata Profesor

McGonagall. 'Apakah kamu sudah punya pemikiran apapun tentang apa yang ingin

kamu lakukan setelah meninggalkan Hogwarts?'

'Er --' kata Harry.

Dia mendapati suara gesekan dari belakangnya sangat mengganggu.

'Ya?' Profesor McGonagall mendesak Harry.

'Well, aku berpikir tentang, mungkin, menjadi seorang Auror,' Harry bergumam.

'Kamu perlu nilai-nilai tertinggi untuk itu,' kata Profesor McGonagall sambil

mengeluarkan sebuah brosur gelap kecil dari bawah tumpukan di meja tulisnya dan

membukanya. 'Aku lihat mereka minta minimal lima NEWT, dan tak satupun nilai di

bawah "Exceeds Expectations" (Melebihi Harapan". Lalu kamu diharuskan melalui

serangkaian uji karakter dan bakat di Kantor Auror. Itu jalur karir yang sulit, Potter,

mereka hanya mengambil yang terbaik. Kenyataannya, kukira tak seorangpun

mengambilnya tiga tahun terakhir ini.'

Pada saat ini, Profesor Umbridge batuk kecil sekali, seolah-olah dia sedang

mencoba melihat seberapa pelan dia bisa melakukannya. Profesor McGonagall

mengabaikannya.

'Kurasa kamu pasti mau tahu mata pelajaran apa yang harus kamu ambil?' dia

melanjutkan sambil berbicara sedikit lebih keras dari sebelumnya.

'Ya,' kata Harry. 'Kurasa Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam?'

'Tentu saja,' kata Profesor McGonagall singkat. 'Aku juga akan menyarankan --'

Profesor Umbridge batuk lagi, sedikit lebih terdengar kali ini. Profesor McGonagall

menutup matanya sebentar, membukanya lagi, dan meneruskan seolah-olah tidak ada

yang terjadi.

'Aku juga akan menyarankan Transfigurasi, karena para Auror sering perlu meng-

Ubah atau meng-Ubah-Balik dalam pekerjaan mereka. Dan aku harus

memberitahumu sekarang, Potter, bahwa aku tidak menerima murid-murid ke dalam

kelas NEWTku kecuali mereka meraih "Exceeds Expectations" atau lebih tinggi di

Ordinary Wizarding Level. Aku akan bilang rata-ratamu adalah "Acceptable" pada

saat ini, jadi kamu perlu bekerja keras sebelum ujian agar punya peluang untuk

melanjutkan. Lalu kamu harus mengikuti Jimat dan Guna-Guna, selalu berguna, dan

Ramuan. Ya, Potter, Ramuan,' dia menambahkan, dengan kerjab senyum terkecil.

'Racun dan penawar racun adalah mata pelajaran penting bagi Auror. Dan aku harus

memberitahumu bahwa Profesor Snape sepenuhnya menolak menerima murid yang

mendapat apapun selain "Outstanding" dalam OWL mereka, jadi --'

Profesor Umbridge mengeluarkan batuk paling nyatanya.

'Bisakah kutawarkan obat batuk kepada Anda, Dolores?' Profesor McGonagall

bertanya dengan kaku, tanpa memandang Profesor Umbridge.

'Oh, tidak, terima kasih banyak,' kata Umbridge dengan tawa simpul yang sangat

dibenci Harry. 'Aku hanya ingin tahu apakah aku bisa menyela sedikit saja, Minerva.'

'Aku berani bilang Anda dapati Anda bisa,' kata Profesor McGonagall melalui gigigigi

yang digertakkan.

'Aku hanya bertanya-tanya apakah Mr Potter punya watak yang sesuai untuk

seorang Auror?' kata Profesor Umbridge dengan manis.

'Begitukah?' kata Profesor McGonagall dengan sombong. 'Well, Potter,' dia

meneruskan, seolah-olah tidak ada gangguan, 'kalau kamu serius dengan ambisi ini,

aku akan menasehati kamu untuk berkonsentrasi keras membuat Transfigurasi dan

Ramuanmu memenuhi syarat. Aku lihat Profesor Flitwick telah memberimu nilai

antara "Acceptable" dan "Exceeds Expectations" selama dua tahun terakhir, jadi

kemampuan Manteramu tampaknya memuaskan. Mengenai Pertahanan Terhadap

Ilmu Hitam, nilai-nilaimu secara umum tinggi, Profesor Lupin secara khusus berpikir

kamu -- apakah Anda yakin Anda tidak mau obat batuk, Dolores?'

'Oh, tidak perlu, terima kasih, Minerva,' Profesor Umbridge tersenyum simpul,

walaupun dia baru saja terbatuk-batuk paling keras. 'Aku hanya prihatin bahwa Anda

belum mendapatkan nilai-nilai terakhir Harry dalam Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam

di hadapan Anda. Aku sangat yakin aku sudah menyelipkan sebuah catatan.'

'Apa, benda ini?' kata Profesor McGonagall dengan nada berubah, ketika dia

menarik sehelai perkamen merah jambu dari antara halaman-halaman di folder Harry.

Dia memandangnya sekilas, alisnya sedikit terangkat, lalu meletakkannya kembali ke

dalam folder tanpa komentar.

'Ya, seperti yang kukatakan, Potter, Profesor Lupin berpikir kamu memperlihatkan

bakat yang jelas untuk mata pelajaran itu, dan terang saja untuk seorang Auror --'

'Tidakkah Anda memahami catatanku, Minerva?' tanya Profesor Umbridge dengan

nada semanis madu, lupa untuk batuk.

'Tentu saja aku paham,' kata Profesor McGonagall, gigi-giginya digertakkan begitu

erat sehingga kata-kata yang keluar sedikit teredam.

'Well, kalau begitu, aku bingung ... kutakut aku kurang mengerti bagaimana Anda

bisa memberi Mr Potter harapan palsu bahwa --'

'Harapan palsu?' ulang Profesor McGonagall, masih menolak memandang Profesor

Umbridge. 'Dia telah mencapai nilai-nilai tinggi di dalam semua ujian Pertahanan

Terhadap Ilmu Hitamnya --'

'Aku benar-benar menyesal harus membantah Anda, Minerva, tetapi seperti yang

akan Anda lihat dari catatan saya, Harry mendapatkan hasil-hasil yang sangat buruk

dalam kelasnya bersamaku --'

'Aku seharusnya membuat maksudku lebih jelas,' kata Profesor McGonagall,

akhirnya berpaling untuk memandang Umbridge langsung ke matanya. 'Dia telah

mencapai nilai-nilai tinggi di dalam semua ujian Pertahanan Terhadap Ilmu Hitamnya

yang disusun oleh guru yang kompeten.'

Senyum Profesor Umbridge menghilang sama mendadaknya seperti bola lampu

yang pecah. Dia duduk kembali ke kursinya, membalik satu halaman di papan

jepitnya dan mulai mencoret-coret dengan sangat cepat, matanya yang menonjol

bergulir dari sisi ke sisi. Profesor McGonagall berpaling kembali kepada Harry,

lubang hidungnya yang tipis mengembang, matanya membara.

'Ada pertanyaan, Potter?'

'Ya,' kata Harry. 'Seperti apa uji karakter dan bakat yang dilakukan Kementerian,

kalau seseorang mendapatkan cukup NEWT?'

'Well, kamu akan perlu memperlihatkan kemampuan bereaksi dengan baik terhadap

tekanan dan seterusnya,' kata Profesor McGonagall, 'ketahanan dan dedikasi, karena

latihan Auror butuh tiga tahun lagi, tanpa menyebut keahlian yang sangat tinggi

dalam Pertahanan praktis. Artinay banyak belajar lagi bahkan setelah kamu

meninggalkan sekolah, jadi kecuali kamu siap untuk --'

'Aku kira kamu juga akan mendapati,' kata Umbridge, suaranya sangat dingin

sekarang, 'bahwa Kementerian melihat ke dalam catatan mereka yang melamar untuk

menjadi Auror. Catatan kriminal mereka.'

'-- kecuali kamu siap mengikuti lebih banyak ujian lagi setelah Hogwarts, kamu

seharusnya benar-benar melihat ke yang lainnya --'

'Yang berarti bahwa bocah ini punya peluang menjadi seorang Auror sebanyak

peluang Dumbledore kembali ke seolah ini.'

'Kesempatan yang sangat bagus, kalau begitu,' kata Professor McGonagall.

'Potter punya catatan kriminal,' kata Umbridge keras-keras.

'Potter telah dibebaskan dari semua tuduhan,' kata McGonagall, bahkan lebih keras.

Profesor Umbridge berdiri. Dia begitu pendek sehingga ini tidak membuat banyak

perbedaan, tetapi tingkah lakunya yang cerewet dan tersenyum simpul telah

digantikan dengan kemarahan keras yang membuat wajahnya yang lebar dan kendur

tampak menyeramkan dengan aneh.

'Potter tidak punya peluang apapun untuk menjadi Auror!'

Profesor McGonagall bangkit juga, dan dalam kasusnya gerakannya lebih

mengesankan; dia menjulang tinggi pada Profesor Umbridge.

'Potter,' dia berkata dengan nada nyaring, 'Aku akan membantumu menjadi seorang

Auror walaupun kalau itu hal terakhir yang kulakukan! Kalau aku harus melatihmu

setiap malam, aku akan memastikan kamu mencapai hasil yang diperlukan!'

'Menteri Sihir tidak akan pernah mempekerjakan Harry Potter!' kata Umbridge,

suaranya meningkat dengan marah.

'Mungkin sudah ada Menteri Sihir yang baru pada saat Potter siap bergabung!'

teriak Profesor McGonagall.

'Aha!' jerit Profesor Umbridge, sambil menunjuk sebuah jari gemuk pendek kepada

McGonagall. 'Ya! Ya, ya, ya! Tentu saja! Itulah yang Anda inginkan, bukan, Minerva

McGonagall? Anda ingin Cornelius Fudge digantikan oleh Albus Dumbledore! Anda

pikir Anda akan berada di tempatku, bukan: Menteri Muda Senior untuk Menteri Sihir

dan Kepala Sekolah!'

'Anda mengoceh,' kata Profesor McGonagall, dengan sangat menghina. 'Potter, itu

akhir konsultasi karir kita.'

Harry mengayunkan tasnya melewati bahunya dan bergegas keluar dari ruangan,

tidak berani memandang Profesor Umbridge. Dia bisa mendengarnya dan Profesor

McGonagall terus berteriak satu sama lain sepanjang jalan kembali di koridor.

Profesor Umbridge masih bernapas seolah-olah dia baru saja lomba lari saat dia

berjalan ke dalam pelajaraan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam mereka sore itu.

'Aku harap kamu sudah berpikir lebih baik tentang apa yang sedang kamu

rencanakan, Harry,' Hermione berbisik, saat mereka telah membuka buku mereka ke

'Bab Tiga Puluh Empat, Tanpa Pembalasan Dendam dan Negosiasi'. 'Umbridge

kelihatannya sudah berada dalam suasana hati yang benar-benar buruk ...'

Beberapa waktu sekali Umbridge melayangkan pandangan tajam kepada Harry,

yang tetap menundukkan kepalanya, menatap ke Teori Sihir Pertahanan, matanya

tidak fokus, sambil berpikir ...

Dia bisa membayangkan reaksi Profesor McGonagall kalau dia tertangkap mencuri

masuk ke dalam kantor Profesor Umbridge hanya beberapa jam setelah dia

menjaminya ... tidak ada yang menghentikannya untuk kembali saja ke Menara

Gryffindor dan berharap bahwa di suatu masa selama liburan musim panas berikutnya

dia akan punya peluang untuk bertanya kepada Sirius tentang adegan yang telah

disaksikannya di dalam Pensieve ... tak ada, kecuali bahwa pikiran mengambil

langkah bijaksana ini membuatnya merasa seolah-olah sebuah beban timah telah jatuh

ke dalam perutnya ... dan lalu ada masalah Fred dan George, yang pengalihannya

sudah direncanakan, tanpa menyebut pisau yang telah diberikan Sirius kepadanya,

yang sekarang berada di dalam tas sekolahnya bersama dengan Jubah Gaib tua

ayahnya.

Tetapi faktanya tetap bahwa kalau dia tertangkap ...

'Dumbledore mengorbankan dirinya sendiri untuk mempertahankan kamu di

sekolah, Harry!' bisik Hermione, sambil mengangkat bukunya untuk

menyembunyikan wajahnya dari Umbridge. 'Dan kalau kamu diusir hari ini semuanya

akan sia-sia!'

Dia bisa membatalkan rencana itu dan hanya belajar hidup dengan memori tentang

apa yang telah dilakukan ayahnya di suatu hari musim panas lebih dari dua puluh

tahun yang lalu ...

Dan kemudian dia ingat Sirius di dalam api di atas dalam ruang duduk Gryffindor

...

Kau lebih tidak mirip ayahmu dari yang kukira ... resiko yang akan membuatnya

menyenangkan bagi James ...

Tetapi apakah dia ingin menjadi mirip ayahnya lagi?

'Harry, jangan lakukan, tolong jangan lakukan!' Hermione berkata dengan nada

menderita ketika bel berdering di akhir pelajaran.

Dia tidak menjawab, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ron tampaknya bertekad untuk tidak memberikan pendapatnya maupun

nasehatnya; dia tidak mau memandang Harry, walaupun saat Hermione membuka

mulutnya untuk mencoba membujuk Harry lagi, dia berkata dengan suara rendah,

'Hentikan, OK? Dia bisa memutuskan sendiri.'

Jantung Harry berdebar sangat keras ketika dia meninggalkan ruangan kelas. Dia

tengah berada di koridor di luar ketika dia mendengar suara pengalihan yang tidak

salah lagi meledak di kejauhan. Ada jeritan dan pekik bergema dari suatu tempat di

atas mereka, orang-orang yang sedang keluar dari ruang-ruang kelas di sekitar Harry

berhenti di tempat dan memandang ke atas ke langit-langit dengan takut --

Umbridge menghambur keluar dari ruang kelasnya secepat kaki pendeknya bisa

membawanya. Sambil menarik keluar tongkatnya, dia bergegas ke arah berlawanan:

sekarang atau tidak sama sekali.

'Harry -- tolong!' Hermione memohon dengan lemah.

Tetapi dia telah memutuskan; sambil mengangkat tasnya lebih kokoh ke bahunya,

dia mulai berlari, melewati murid-murid yang sekarang bergegas ke arah berlawanan

untuk melihat tentang apa semua keributan di sayap timur.

Harry mencapai koridor ke kantor Umbridge dan mendapatinya sepi. Sambil berlari

di belakang sebuah baju zirah besar yang ketopongnya berderit berputar untuk

mengamatinya, dia menarik tasnya membuka, meraih pisau Sirius dan mengenakan

Jubah Gaib. Dia lalu berjalan lambat-lambat dan hati-hati keluar dari balik baju zirah

itu dan menyusuri koridor sampai dia mencapai pintu Umbridge.

Dia memasukkan bilah pisau sihir itu ke dalam celah di sekitar pintu dan

menggerakkannya dengan lembut ke atas dan ke bawah, lalu menariknya. Ada bunyi

klik kecil dan pintu berayun terbuka. Dia menunduk masuk ke dalam kantor itu,

menutup pintunya cepat-cepat di belakangnya dan memandang berkeliling.

Tak ada yang bergerak kecuali anak-anak kucing mengerikan yang masih

berkeliaran di plakat-plakat di dinding di tas sapu-sapu yang disita.

Harry melepaskan Jubahnya dan, sambil berjalan ke perapian, menemukan apa

yang sedang dicarinya dalam beberapa detik: sebuah kotak kecil yang mengandung

bubuk Floo yang berkilauan.

Dia meringkuk di depan jerji kosong, tangannya gemetaran. Dia belum pernah

melakukan ini sebelumnya, walaupun dia pikir dia tahu bagaimana kerjanya. Sambil

mengulurkan kepalanya ke dalam perapian, dia mengambil sejumput besar bubuk itu

dan menjatuhkannya ke atas batang-batang kayu yang ditumpuk rapi di bawahnya.

Batang-batang kayu itu meledak seketika menjadi nyala api zamrud.

'Nomor duabelas, Grimmauld Place!' Harry berkata dengan keras dan jelas.

Itu adalah salah satu sensasi paling aneh yang pernah dialaminya. Dia pernah

bepergian dengan bubuk Floo sebelumnya, tentu saja, tetapi saat itu seluruh tubuhnya

yang berputar-putar di dalam nyala api melalui jaringan perapian penyihir yang

terentang di negara itu. Kali ini, lututnya tetap kokoh di atas lantai dingin kantor

Umbridge, dan hanya kepalanya yang menderu cepat di api zamrud itu ...

Dan kemudian, sama mendadaknya seperti dimulainya, perputaran itu berhenti.

Merasa agak mual dan seakan-akan dia memakai selendang yang amat panas di

sekitar kepalanya, Harry membuka matanya untuk mendapati bahwa dia sedang

memandang keluar dari perapian dapur pada meja kayu panjang, tempat seorang

lelaki duduk membaca sepotong perkamen dengan tekun.

'Sirius?'

Lelaki itu terlompat dan memandang berkeliling. Bukan Sirius, melainkan Lupin.

'Harry!'' dia berkata, tampak sangat terguncang. 'Apa yang sedang kamu -- apa yang

terjadi, apakah semuanya baik-baik saja?'

'Yeah,' kata Harry. 'Aku hanya ingin tahu -- maksudku, aku hanya ingin --

berbincang-bincang dengan Sirius.'

'Aku akan memanggilnya,' kata Lupin sambil bangkit, masih tampak bingung, 'dia

naik ke atas untuk mencari Kreacher, tampaknya dia bersembunyi di loteng lagi ...'

Dan Harry melihat Lupin bergegas keluar dari dapur. Sekarang dia ditinggalkan

dengan tidak ada yang bisa dilihat kecuali kaki kursi dan meja. Dia bertanya-tanya

kenapa Sirius belum pernah menyebutkan betapa sangat tidak nyamannya berbicara

dari api; lututnya sudah berkeberatan dengan menyakitkan pada kontak yang lama

dengan lantai batu keras Umbridge.

Lupin kembali dengan Sirius di belakangnya beberapa saat kemudian.

'Ada apa?' kata Sirius dengan mendesak, sambil meyapukan rambut gelap

panjangnya keluar dari matanya dan turun ke depan api, sehingga dia dan Harry sama

tinggi. Lupin berlutut juga, tampak sangat prihatin. 'Apakah kamu baik-baik saja?

Apakah kamu butuh bantuan?'

'Tidak,' kata Harry, 'tidak seperti itu ... aku cuma mau bicara ... tentang ayahku.'

Mereka saling bertukar pandangan sangat terkejut, tetapi Harry tidak punya waktu

untuk merasa canggung atau malu; lututnya semakin sakit setiap detiknya dan dia

menduga lima menit sudah berlalu dari permulaan pengalihan itu; George cuma

menjamin dia dua puluh menit. Karena itu dia segera terbenam ke dalam cerita

tentang apa yang telah dilihatnya di dalam Pensieve.

Ketika dia sudah selesai, baik Sirius maupun Lupin tidak berbicara selama

beberapa saat. Lalu Lupin berkata dengan pelan, 'Aku tidak ingin kamu menilai

ayahmu dari apa yang kamu lihat di sana, Harry. Dia baru berumur lima belas --'

'Aku lima belas tahun!' kata Harry dengan panas.

'Lihat, Harry,' kata Sirius menentramkan, 'James dan Sirius saling benci dari saat

mereka memandang satu sama lain, cuma salah satu hal seperti itu, kamu bisa

mengerti itu, bukan? Kukira James adalah segala yang ingin Snape inginkan -- dia

populer, dia pandai dalam Quidditch -- bagus dalam hampir semua hal. Dan Snape

hanya orang aneh yang sangat gemar Ilmu Hitam, dan James -- apapun yang lain yang

mungkin tampak bagimu, Harry -- selalu membenci Ilmu Hitam.'

'Yeah,' kata Harry, 'tapi dia menyerang Snape tanpa alasan yang baik, hanya karena

-- well, hanya karena kau bilang kamu bosan,' dia menyelesaikan, dengan sedikit nada

minta maaf dalam suaranya.

'Aku tidak bangga tentang itu,' kata Sirius cepat-cepat.

Lupin memandang ke samping kepada Sirius, lalu berkata, 'Lihat, Harry, apa yang

harus kamu mengerti adalah bahwa ayahmu dan Sirius adalah yang terbaik di sekolah

apapun yang mereka kerjakan -- semua orang menganggap mereka sangat keren --

kalau mereka kadang-kadang agak terbawa --'

'Kalau kami kadang-kadang jadi bajingan kecil yang arogan, maksudmu,' kata

Sirius.

Lupin tersenyum.

'Dia terus memberantakkan rambutnya,' kata Harry dengan suara sedih.

Sirius dan Lupin tertawa.

'Aku lupa dia dulu melakukan itu,' kata Sirius penuh kasih sayang.

'Apakah dia bermain-main dengan Snitch?' kata Lupin dengan bersemangat.

'Yeah,' kata Harry sambil mengamati dengan tak mengerti ketika Sirius dan Lupin

tersenyum mengenang. 'Well ... kukira dia agak idiot.'

'Tentu saja dia agak idiot!' kata Sirius menguatkan, 'kami semua idiot! Well --

Moony tidak begitu,' dia berkata dengan adil, sambil memandang Lupin.

Tetapi Lupin menggelengkan kepalanya. 'Pernahkah aku menyuruh kalian

membiarkan Snape?' dia berkata. 'Pernahkah aku punya keberanian memberitahu

kalian aku berpikir kalian keterlaluan?'

'Yeah, well,' kata Sirius, 'kamu membuat kami terkadang merasa malu pada diri

kami sendiri ... itu sesuatu ...'

'Dan,' kata Harry dengan keras kepala, bertekad untuk mengatakan semua hal yang

berada dalam pikirannya sekarang setelah dia di sini, 'dia terus memandangi gadisgadis

di tepi danau, berharap mereka mengamatinya!'

'Oh, well, dia selalu bertingkah bodoh kapanpun Lily ada di dekat,' kata Sirius

sambil mengangkat bahu, 'dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri pamer

kapanpun berada di dekatnya.'

'Bagaimana dia bisa menikahinya?' Harry bertanya dengan sengsara. 'Dia

membencinya!'

'Tidak, tidak begitu,' kata Sirius.

'Dia mulai keluar dengannya di tahun ketujuh,' kata Lupin.

'Setelah James mengempiskan kepalanya sedikit,' kata Sirius.

'Dan berhenti mengguna-gunai orang cuma demi kesenangan,' kata Lupin.

'Bahkan Snape?' kata Harry.

'Well,' kata Lupin lambat-lambat, 'Snape itu kasus khusus. Maksudku, dia tidak

pernah ketinggalkan kesempatan untuk mengutuk James jadi kamu tidak benar-benar

bisa mengharap James menerima itu begitu saja, bukan?'

'Dan ibuku menerima hal itu?'

'Sejujurnya, dia tidak tahu terlalu banyak tentang hal itu,' kata Sirius. 'Maksudku,

James tidak membawa Snape pada kencan-kencan bersamanya dan mengutuknya di

depan dia, bukan?'

Sirius merengut kepada Harry, yang masih tampak tidak yakin.

'Lihat,' dia berkata, 'ayahmu adalah teman terbaik yang pernah kumiliki dan dia

orang yang baik. Banyak orang menjadi idiot pada usia lima belas. Dia tumbuh

meninggalkannya.'

'Yeah, OK,' kata Harry dengan berat. 'Aku hanya tidak pernah mengira aku akan

merasa prihatin kepada Snape.'

'Sekarang setelah kamu sebut,' kata Lupin, dengan lekuk lemah di antara alisnya,

'bagaimana Snape bereaksi saat dia mendapati kamu melihat semua ini?'

'Dia memberitahuku dia tidak akan pernah mengajariku Occlumency lagi,' kata

Harry tidak peduli, 'seperti itu sebuah kekecewaan be--'

'Dia APA?' teriak Sirius, mengakibatkan Harry terlompat dan menghirup semulut

penuh abu.

'Apakah kamu serius, Harry?' kata Lupin cepat-cepat. 'Dia berhenti memberikan

kamu pelajaran?'

'Yeah,' kata Harry, terkejut pada apa yang dianggapnya reaksi berlebihan. 'Tapi

tidak apa-apa, aku tidak peduli, agak melegakan seju--'

'Aku akan pergi ke sana untuk berbicara kepada Snape!' kata Sirius penuh tenaga,

dan dia benar-benar akan berdiri, tetapi Lupin merenggutnya turun lagi.

'Kalau ada yang akan memberitahu Snape itu adalah aku!' dia berkata dengan tegas.

'Tapi Harry, pertama-tama, kamu harus kembali kepada Snape dan memberitahunya

bahwa dengan alasan apapun dia tidak boleh berhenti memberikan pelajaran

kepadamu -- saat Dumbledore dengar --'

'Aku tidak bisa menyuruhnya seperti itu, dia akan membunuhku!' kata Harry, marah

besar. 'Kalian tidak melihatnya saat kami keluar dari Pensieve --'

'Harry, tidak ada yang begitu penting seperti kamu mempelajari Occlumency!' kata

Lupin dengan keras. 'Apakah kamu paham? Tidak ada!'

'OK, OK,' kata Harry, sepenuhnya tidak sabar, tanpa menyebut jengkel. 'Aku akan

... aku akan mencoba mengatakan sesuatu kepadanya ... tetapi tidak akan --'

Dia terdiam. Dia bisa mendengar langkah-langkah kaki di kejauhan.

'Apakah itu Kreacher yang turun?'

'Bukan,' kata Sirius sambil memandang sekilas ke belakangnya. 'Pastilah seseorang

dari ujungmu.'

Jantung Harry melompati beberapa detakan.

'Aku sebaiknya pergi!' dia berkata terburu-buru dan menarik kepalanya ke belakang

keluar dari api Grimmauld Place. Selama beberapa saat kepalanya tampaknya

berputar di atas bahunya, lalu dia mendapati dirinya berlutut di depan api Umbridge

dan mengawasi nyala api zamrud itu berkelap-kelip dan mati.

'Cepat, cepat!' dia mendengar sebuah suara mendesah bergumam tepat di luar pintu

kantor. 'Ah, dia meninggalkannya terbuka --'

Harry menukik mengambil Jubah Gaib dan baru berhasil menariknya menutupi

dirinya sendiri ketika Filch mendadak masuk ke dalam kantor. Dia tampak benarbenar

senang tentang sesuatu dan sedang berbicara kepada dirinya sendiri dengan

terburu-buru selagi dia menyeberangi ruangan, menarik sebuah lagi di meja tulis

Umbridge dan mulai menggeledah kertas-kertas di dalamnya.

'Persetujuan untuk Mencambuk ... Persetujuan untuk Mencambuk ... aku bisa

melakukannya akhirnya ... mereka patut mendapatkannya selama bertahun-tahun ...'

Dia menarik keluar sepotong perkamen, menciumnya, lalu berjalan dengan cepat

kembali keluar dari pintu, sambil mencengkeramnya ke dadanya.

Harry melompat bangkit dan, memastikan dia membawa tasnya dan bahwa Jubah

Gaib sepenuhnya menutupi dia, dia merenggut membuka pintu kantor itu dan

bergegas keluar dari kantor mengikuti Filch, yang sedang berjalan terpincang-pincang

lebih cepat dari yang pernah dilihat Harry.

Satu lantai di bawah kantor Umbridge, Harry berpikir sudah aman untuk menjadi

tampak lagi. Dia menarik lepas Jubah itu, menjejalkannya ke dalam tasnya dan

bergegas terus. Ada banyak teriakan dan pergerakan yang datang dari Aula Depan.

Dia berlari menuruni tangga pualam dan mendapati apa yang tampak seperti sebagian

besar isi sekolah berkumpul di sana.

Persis seperti malam saat Trelawney dipecat. Murid-murid sedang berdiri mengitari

dinding-dinding dalam lingkaran besar (beberapa di antara mereka, Harry perhatikan,

tertutup dalam zat yang tampak sangat mirip dengan Getah Bau); guru-guru dan

hantu-hantu juga ada dalam kerumunan itu. Yang tampak menonjol di antara para

penonton adalah para anggota Regu Penyelidik, yang semuanya tampak luar biasa

puas diri, dan Peeves, yang sedang melayang di atas kepala, memandang ke bawah

kepada Fred dan George yang berdiri di tengah lantai dengan tampang tak salah lagi

dua orang yang baru saja tersudutkan.

'Jadi!' kata Umbridge penuh kemenangan. Harry menyadari dia sedang berdiri

hanya beberapa anak tangga di depannya, sekali lagi memandang ke mangsanya. 'Jadi

-- kalian pikir lucu mengubah koridor sekolah menjadi rawa-rawa, begitu?'

'Cukup lucu, yeah,' kata Fred sambil memandang ke atas kepadanya tanpa tanda

ketakutan terkecilpun.

Filch menyikut mencari jalan lebih mendekat kepada Umbridge, hampir menangis

karena bahagia.

'Aku sudah dapat formulir itu, Kepala Sekolah,' dia berkata dengan parau, sambil

melambaikan potongan perkamen yang baru dilihat Harry diambilnya dari meja

tulisnya. 'Aku sudah dapat formulir itu dan aku punya cemeti yang sedang sedang

menunggu ... oh, biarkan aku melakukannya sekarang ...'

'Sangat bagus, Argus,' dia berkata. 'Kalian berdua,' dia melanjutkan sambil

memandang kepada Fred dan George, 'akan belajar apa yang terjadi kepada para

pembuat keonaran di sekolahku.'

'Kau tahu apa?' kata Fred. 'Kukira tidak.'

Dia berpaling kepada saudara kembarnya.

'George,' kata Fred, 'kukira kita sudah terlalu tua untuk pendidikan penuh waktu.'

'Yeah, aku sendiri merasa begitu,' kata George dengan ringan.

'Waktunya menguji bakat kita di dunia nyata, bagaimana menurutmu?' tanya Fred.

'Tentu saja,' kata George.

Dan sebelum Umbridge bisa mengucapkan sepatah kata, mereka mengangkat

tongkat mereka dan berkata bersamaan.

'Accio sapu!'

Harry mendengar suara benturan keras di suatu tempat di kejauhan. Sambil

memandang ke sebelah kirinya, dia menunduk tepat waktu. Sapu Fred dan George,

salah satunya masih diekori rantai berat dan pasak besi yang Umbridge pasangkan ke

dinding, sedang meluncur cepat di koridor menuju para pemilik mereka; sapu-sapu itu

belok kiri, melintas menuruni tangga dan berhenti tepat di depan si kembar, rantainya

bergemerincing dengan keras di atas lantai batu.

'Kami tidak akan berjumpa Anda lagi,' Fred memberitahu Profesor Umbridge,

sambil mengayunkan kakinya melewati sapunya.

'Yeah, tak usah repot terus berhubungan,' kata George sambil menaiki sapunya

sendiri.

Fred memandang berkeliling kepada murid-murid yang berkumpul, kepada

kerumunan yang diam dan menonton dengan seksama.

'Kalau ada yang ingin membeli Rawa-Rawa Portabel, seperti yang diperlihatkan di

atas, datang ke Diagon Alley nomor sembilan puluh tiga -- Weasley's Wizarding

Wheezes,' dia berkata dengan suara keras. 'Toko baru kami!'

'Diskon khusus untuk murid-murid Hogwarts yang bersumpah mereka akan

menggunakan produk-produk kami untuk menyingkirkan kelelawar tua ini,' tambah

George sambil menunjuk kepada Profesor Umbridge.

'HENTIKAN MEREKA,' pekik Umbridge, tetapi terlambat. Ketika Regu

Penyelidik mendekat, Fred dan George lepas landas dari lantai, meluncur lima belas

kaki ke udara, pasak besi itu berayun berbahaya di bawah. Fred memandang ke

seberang aula kepada hantu jail yang sedang melayang setingkat dengannya di atas

kerumunan.

'Berikan kepadanya neraka dari kami, Peeves.'

Dan Peeves, yang Harry belum pernah lihat menerima perintah dari seorang murid

sebelumnya, menyapukan topinya yang berlonceng dari kepalanya dan bangkit untuk

memberi hormat selagi Fred dan George berputar menerima tepuk tangan bergemuruh

dari murid-murid di bawah dan ngebut keluar dari pintu-pintu depan yang terbuka ke

matahari terbenam yang agung.

HARRY POTTER

and the Order of the Phoenix

-- BAB TIGA PULUH --

Grawp

Cerita terbangnya Fred dan George ke kebebasan diceritakan kembali begitu

seringnya selama beberapa hari berikutnya sehingga Harry bisa tahu itu segera

menjadi bahan untuk legenda Hogwarts: di dalam seminggu, bahkan mereka yang

menjadi saksi mata setengah yakin mereka telah melihat si kembar menukik

melepaskan bom kepada Umbridge dari atas sapu mereka dan melemparinya dengan

Bom Kotoran sebelum meluncur keluar dari pintu-pintu. Segera setelah kepergian

mereka ada gelombang besar perbincangan tentang meniru mereka. Harry sering

mendengar murid-murid mengatakan hal-hal seperti, 'Jujur saja suatu hari aku ingin

melompat ke sapuku dan meninggalkan tempat ini,' atau, 'Satu pelajaran seperti itu

lagi dan aku mungkin melakukan Weasley.'

Fred dan George telah memastikan tak seorangpun akan melupakan mereka terlalu

segera. Untuk satu hal, mereka tidak meninggalkan instruksi bagaimana

menghilangkan rawa-rawa yang sekarang memenuhi koridor di lantai lima di sayap

timur. Umbridge dan Filch telah diamati mencoba cara-cara berbeda

menghilangkannya tetapi tak berhasil. Akhirnya daerah itu diberi tali dan Filch,

sambil menggertakkan gigi-giginya dengan marah, diberi tugas menyeberangkan

murid-murid ke ruang-ruang kelas mereka. Harry yakin bahwa guru-guru seperti

McGonagall atau Flitwick bisa saja menghilangkan rawa-rawa itu dalam sekejab

tetapi, seperti kasus Api-Gila Desing-Keras Fred dan George, mereka tampaknya

lebih suka menyaksikan Umbridge berjuang.

Lalu ada dua lubang besar berbentuk sapu di pintu kantor Umbridge, tempat Sapu

Bersih Fred dan George menghantamnya untuk bergabung kembali dengan tuan

mereka. Filch memasang sebuah pintu baru dan memindahkan Firebolt Harry ke

ruang bawah tanah di mana, menurut rumor, Umbridge menempatkan satu troll

keamanan yang bersenjata untuk menjaganya. Akan tetapi, masalahnya jauh dari

selesai.

Terinspirasi oleh teladan Fred dan George, sejumlah besar murid sekarang

berlomba-lomba mendapatkan posisi Ketua-Pembuat-Keonaran yang baru kosong.

Walaupun ada pintu baru, seseorang berhasil menyelinapkan seekor Niffler

bermoncong berbulu ke dalam kantor Umbridge, yang segera merobek-robek tempat

itu dalam pencariannya atas benda-benda bersinar, melompat ke atas Umbridge pada

saat dia masuk dan mencoba menggerogoti cincin-cincin dari jari-jarinya yang gemuk

pendek. Bom Kotoran dan Peluru Baru dijatuhkan begitu seringnya di koridor-koridor

sehingga menjadi gaya baru bagi murid-murid untuk melakukan Mantera Kepala

Gelembung pada diri mereka sendiri sebelum meniggalkan pelajaran, yang menjamin

mereka memiliki pasokan udara segar, walaupun memberi mereka semua penampilan

aneh seperti mengenakan mangkok ikan mas terbalik di atas kepala mereka.

Filch berpatroli di koridor-koridor dengan sebuah cemeti kuda siap di tangannya,

putus asa untuk menangkap pembuat kesalahan, tetapi masalahnya adalah sekarang

ada terlalu banyak sehingga dia tidak pernah tahu harus berpaling ke mana. Regu

Penyelidik mencoba membantunya, tetapi hal-hal aneh terus terjadi kepada para

anggotanya. Warrington dari tim Quidditch Slytherin melapor ke sayap rumah sakit

dengan keluhan kulit mengerikan yang membuatnya terlihat seolah-olah dia dilapisi

dengan serpih jagung; Pansy Parkinson, demi kesenangan Hermione, ketinggalan

semua pelajarannya pada hari berikutnya karena dia tumbuh tanduk.

Sementara itu, menjadi jelas berapa banyak Kotak Makanan Pembolos yang

berhasil dijual Fred dan George sebelum meninggalkan Hogwarts. Umbridge cuma

perlumemasuki ruang kelasnya agar murid-murid yang berkumpul di sana pingsan,

muntah, mengalami demam berbahaya atau mengeluarkan darah dari kedua lubang

hidung. Sambil berteriak karena marah dan frustrasi, dia mencoba menelusuri gejalagejala

misterius itu sampai ke sumbernya, tetapi murid-murid memberitahunya

dengan keras kepala bahwa mereka menderita 'Umbridge-itis'. Setelah memasukkan

empat kelas berturut-turut ke dalam detensi dan gagal menemukan rahasia mereka, dia

terpaksa menyerah dan membiarkan murid-murid yang berdarah, pingsan, berkeringat

dan muntah meninggalkan kelasnya dalam kumpulan-kumpulan.

Tetapi bahkan para pemakai Kotak Makanan tidak bisa bersaing dengan tuan

kekacauan, Peeves, yang tampaknya telah mengambil kata-kata perpisahan Fred jauh

di dalam hati. Sambil terkekeh gila, dia membumbung di sekolah, membalikkan mejameja,

keluar dari papan-papan tulis, menjatuhkan patung-patung dan vas-vas; dua kali

dia mengunci Mrs Norris di dalam sebuah baju zirah, dari mana dia diselamatkan,

sambil melolong keras-keras, oleh penjaga sekolah yang marah besar. Peeves

membanting lentera-lentera dan memadamkan lilin-lilin, melempar-lemparkan oborobor

menyala di atas kepala murid-murid yang menjerit, menyebabkan gundukan

perkamen yang ditumpuk rapi jatuh ke dalam api atau keluar dari jendela; membanjiri

lantai kedua saat dia menarik lepas semua keran di kamar mandi, menjatuhkan

sekantong tarantula di tengah Aula Besar pada waktu makan pagi dan, kapanpun dia

ingin beristirahat, menghabiskan waktu berjam-jam melayang-layang mengikuti

Umbridge dan meleletkan lidah keras-keras setiap kali dia berbicara.

Tak seorangpun dari staf kecuali Filch yang kelihatan menyibukkan diri

membantunya. Bahkan, seminggu setelah kepergian Fred dan George Harry

menyaksikan Profesor McGonagall berjalan tepat melewati Peeves, yang sedang

bertekad mengendurkan sebuah kandil kristal, dan bisa bersumpah dia mendengarnya

memberitahu hantu jail itu dari sudut mulutnya, 'Lepasnya dari sisi yang lain.'

Untuk mengakhiri masalah, Montague masih belum sembuh dari persinggahannya

di toilet; dia tetap bingung dan kehilangan arah dan orang tuanya terlihat suatu Selasa

pagi berjalan ke jalan kereta depan sekolah, tampak sangat marah.

'Haruskah kita bilang sesuatu?' kata Hermione dengan suara kuatir, sambil

menekankan pipinya pada jendela Jimat dan Guna-Guna sehingga dia bisa melihat Mr

dan Mrs Montague berjalan cepat-cepat ke dalam. 'Tentang apa yang terjadi

kepadanya? Kalau-kalau bisa membantuk Madam Pomfrey menyembuhkannya?'

'Tentu saja tidak, dia akan sembuh,' kata Ron tidak peduli.

'Lagipula, semakin banyak masalah bagi Umbridge, bukan?' kata Harry dengan

suara puas.

Dia dan Ron mengetuk cangkir-cangkir teh yang seharusnya mereka sihir dengan

tongkat mereka. Cangkir Harry tumbuh empat kaki yang sangat pendek yang tidak

bisa mencapai meja dan menggeliat tanpa guna di tengah udara. Cangkir Ron tumbuh

empat kaki panjang yang sangat kurus yang mengangkat cangkir itu dari meja dengan

kesulitan besar, bergetar selama beberapa detik, lalu melipat, menyebabkan cangkir

itu retak menjadi dua.

'Reparo,' kata Hermione cepat, memperbaiki cangkir Ron dengan satu lambaian

tongkatnya. 'Itu semua sangat baik, tapi bagaimana kalau Montague cedera

permanen?'

'Siapa yang peduli?' kata Ron dengan kesal, sementara cangkir tehnya berdiri

seperti mabuk lagi, bergetar keras di bagian lutut. 'Montague seharusnya tidak

mencoba mengambil semua poin itu dari Gryffindor, bukan? Kalau kamu mau

menguatirkan seseorang, Hermione, kuatirkan aku!'

'Kamu?' dia berkata, sambil menangkap cangkir tehnya ketika benda itu berlari-lari

dengan gembira menyeberangi meja dengan empat kaki kecil yang kokoh dan berpola

dedalu, serta menempatkannya kembali ke hadapannya. 'Kenapa aku harus

mengkhawatirkan kamu?'

'Saat surat Mum yang berikutnya akhirnya lewati proses penyaringan Umbridge,'

kata Ron dengan getir, sekarang memegang cangkirnya sementara kaki-kaki rapuh

cangkir itu mencoba menyokong beratnya dengan lemah, 'Aku akan berada dalam

masalah besar. Aku tidak akan terkejut kalau dia mengirim Howler lagi.'

'Tapi --'

'Akan jadi salahku Fred dan George pergi, kau tunggu saja,' kata Ron dengan

murung. 'Dia akan bilang aku seharusnya mencegah mereka pergi, aku seharusnya

menangkap ujung sapu mereka dan bergantung atau apapun ... yeah, akan jadi

salahku.'

'Well, kalau dia memang mengatakannya itu sangat tidak adil, kamu tidak bisa

melakukan apapun! Tapi aku yakin dia tidak akan berbuat begitu, maksudku, kalau

benar mereka sudah punya toko di Diagon Alley, mereka pasti sudah merencanakan

ini sejak lama.'

'Yeah, tapi itu hal lain, bagaimana mereka bisa punya toko?' kata Ron, sambil

menghantam cangkirnya begitu keras dengan tongkatnya sehingga kaki-kakinya

roboh lagi dan cangkir itu tergeletak sambil berkedut di depannya. 'Agak

mencurigakan, bukan? Mereka akan butuh banyak Galleon agar bisa membiayai sewa

sebuah tempat di Diagon Alley. Dia akan mau tahu apa yang telah mereka lakukan,

agar memiliki emas semacam itu.'

'Well, ya, itu terpikir olehku juga,' kata Hermione, sambil membiarkan cangkir

tehnya berlari kecil dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil yang rapi mengitari

cangkir Harry, yang kaki-kaki kecil gemuk pendeknya masih tidak mampu

menyentuh permukaan meja, 'Aku sudah bertanya-tanya apakah Mundungus

membujuk mereka untuk menjual barang-barang curian atau sesuatu yang buruk.'

'Dia tidak melakukannya,' kata Harry.

'Bagaimana kamu tahu?' kata Ron dan Hermione bersamaan.

'Karena --' Harry bimbang, tetapi saat pengakuan akhirnya sudah tiba. Tak ada

kebaikan yang bisa didapat dengan berdiam diri kalau itu berarti siapapun mencurigai

bahwa Fred dan George adalah kriminal. 'Karena mereka dapat emas itu dari aku. Aku

memberikan kepada mereka hasil kemenangan Triwizardku Juni lalu.'

Ada keheningan akibat guncangan, lalu cangkir teh Hermione berlari kecil tepat ke

tepi meja dan terbanting ke atas lantai.

'Oh, Harry, kau tidak melakukannya!' dia berkata.

'Ya, memang,' kata Harry memberontak. 'Dan aku juga tidak menyesalinya. Aku

tidak butuh emas itu dan mereka akan pandai menjalankan sebuah toko lelucon.'

'Tapi ini bagus sekali!' kata Ron, terlihat tergetar. 'Semua salahmu, Harry -- Mum

tidak bisa menyalahkanku sama sekali! Bolehkah kuberitahu dia?'

'Yeah, kurasa sebaiknya begitu,' kata Harry dengan hampa, 'terutama kalau dia

mengira mereka menerima kuali-kuali curian atau sesuatu.'

Hermione tidak berkata apa-apa selama sisa pelajaran itu, tetapi Harry punya

kecurigaan cerdas bahwa pertahanan dirinya akan retak sebelum waktu yang lama.

Jelas saja, begitu mereka meninggalkan kastil untuk istirahat dan sedang berdiri di

sinar matahari bulan Mei yang lemah, dia memandang Harry dengan mata berkacakaca

dan membuka mulutnya dengan hawa penuh tekad.

Harry menyelanya sebelum dia bahkan mulai.

'Tidak ada gunanya mengomeli aku, sudah terjadi,' dia berkata dengan tegas. 'Fred

dan George sudah dapat emasnya -- menghabiskan banyak bagiannya juga, dari

kedengarannya -- dan aku tidak bisa mengambilnya kembali dari mereka dan aku

tidak mau. Jadi simpan napasmu, Hermione.

'Aku tidak akan mengatakan apa-apa tentang Fred dan George!' dia berkata dengan

suara terluka.

Ron mendengus tidak percaya dan Hermione memandangnya dengan sangat tidak

senang.

'Tidak, memang tidak!' dia berkata dengan marah. 'Nyatanya, aku akan bertanya

kepada Harry kapan dia akan kembali menemui Snape dan meminta pelajaran

Occlumency lagi!'

Hati Harry merosot. Setelah mereka membahas habis kepergian dramatis Fred dan

George, yang diakui makan waktu berjam-jam, Ron dan Hermione ingin mendengar

kabar dari Sirius. Karena Harry tidak menceritakan kepada mereka alasan dia ingin

berbicara kepada Sirius dari awalnya, sulit memikirkan apa yang harus diceritakan

kepada mereka; akhirnya dia berkata, dengan sejujurnya, bahwa Sirius ingin Harry

meneruskan pelajaran-pelajaran Occlumency lagi. Dia telah menyesali ini sejak saat

itu; Hermione tidak mau membiarkan subyek itu dan terus kembali kepadanya pada

saat yang paling tidak diharapkan Harry.

'Kamu tidak bisa memberitahuku kamu sudah berhenti mendapatkan mimpi-mimpi

aneh,' Hermione berkata sekarang, 'karena Ron bilang kepadaku kamu bergumam

dalam tidurmu lagi tadi malam.'

Harry memberi Ron pandangan marah. Ron punya rasa hormat untuk terlihat malu

pada dirinya sendiri.

'Kau cuma bergumam sedikit,' dia komat-kamit dengan nada minta maaf. 'Sesuatu

tentang "sedikit lagi".'

'Aku mimpi aku sedang menonton kalian main Quidditch,' Harry berbohong dengan

kejam. 'Aku sedang mencoba membuatmu merentangkan tangan sedikit lebih jauh

lagi untuk meraih Quaffle.'

Telinga Ron menjadi merah. Harry merasakan semacam kesenangan balas dendam;

tentu saja dia tidak memimpikan sesuatu semacam itu.

Tadi malam, dia sekali lagi melakukan perjalanan di koridor Departemen Misteri.

Dia telah melalui ruangan melingkar itu, lalu ruangan yang penuh bunyi klik dan

lampu menari-nari, sampai dia mendapati dirinya sendiri lagi-lagi berada di dalam

ruangan besar yang penuh dengan rak-rak yang di atasnya terletak bola-bola kaca

berdebu.

Dia telah bergegas terus menuju baris sembilan puluh tujuh, belok kiri dan berlari

menyusurinya ... mungkin saat itu dia berbicara keras-keras ... sedikit lagi ... karena

dia merasa dirinya yang sadar berjuang untuk bangun ... dan sebelum dia mencapai

ujung barisan, dia mendapati dirinya sendiri berbaring di tempat tidur lagi,

memandang ke atas ke kanopi tiang empatnya.

'Kamu memang berusaha menghalangi pikiranmu, bukan?' kata Hermione, sambil

memandang Harry dengan mata bermanik-manik. 'Kamu terus melakukan

Occlumencymu?'

'Tentu saja,' kata Harry, mencoba terdengar seolah-olah pertanyaan ini menghina,

tetapi tidak memandang matanya. Sebenarnya dia sangat ingin tahu tentang apa yang

tersembunyi di ruangan yang penuh dengan bola-bola berdebu itu, sehingga dia ingin

sekali mimpi-mimpi itu berlanjut.

Masalahnya adalah kurang dari sebulan lagi ujian tiba dan setiap waktu luang

dicurahkan untuk mengulang pelajaran, pikirannya sepertinya begitu jenuh akan

informasi saat dia pergi tidur sehingga dia mendapati sangat sulit untuk tidur sama

sekali; dan saat tertidur, otaknya yang bekerja terlalu keras menghadiahkannya

kebanyakan waktu dengan mimpi-mimpi bodoh tentang ujian. Dia juga mencurigai

bahwa bagian itu dari pikirannya -- bagian yang sering berbicara dengan suara

Hermione -- sekarang merasa bersalah berkeliaran di koridor yang berakhir pada pintu

hitam itu, dan mencoba membangunkannya sebelum dia bisa mencapai akhir

perjalanan.

'Kau tahu,' kata Ron, yang telinganya masih merah menyala, 'kalau Montague tidak

sembuh sebelum Slytherin main dengan Hufflepuff, kita mungkin punya peluang

memenangkan Piala.'

'Yeah, kurasa begitu,' kata Harry, senang dengan perubahan subyek.

'Maksudku, kita sudah menang sekali, kalah sekali -- kalau Slytherin kalah dari

Hufflepuff Sabtu besok --'

'Yeah, itu benar,' kata Harry, tidak tahu lagi apa yang sedang disetujuinya. Cho

Chang baru saja berjalan menyeberangi halaman, bertekad tidak memandangnya.

*

Pertandingan akhir musim Quidditch, Gryffindor lawan Ravenclaw, akan

berlangsung pada akhir pekan terakhir di bulan Mei. Walaupun Slytherin telah

dikalahkan dengan selisih angka sedikit oleh Hufflepuff pada pertandingan terakhir

mereka, anak-anak Gryffindor tidak berani mengharapkan kemenangan, terutama

karena (walaupun tentu saja tak seorangpun mengatakannya kepadanya) catatan

penyelamatan gol Ron yang bukan main. Namun, dia tampaknya telah menemukan

optimisme baru.

'Maksudku, aku tidak bisa lebih parah lagi, bukan?' dia memberitahu Harry dan

Hermione dengan murung lewat makan pagi di pagi hari pertandingan itu. 'Tak ada

ruginya, bukan?'

'Kau tahu,' kata Hermione, ketika dia dan Harry berjalan ke lapangan beberapa

waktu kemudian di tengah kerumunan yang sangat bersemangat, 'kukira Ron mungkin

lebih baik tanpa Fred dan George di sekitarnya. Mereka tidak pernah benar-benar

memberinya banyak kepercayaan diri.'

Luna Lovegood menyusul mereka dengan apa yang tampak seperti seekor elang

hidup bertengger di atas kepalanya.

'Oh, ampun, aku lupa!' kata Hermione sambil mengamati elang itu mengepakngepakkan

sayapnya selagi Luna berjalan dengan tenang melewati sekumpulan anakanak

Slytherin yang terkekeh-kekeh dan menunjuk-nunjuk. 'Cho akan main, bukan?'

Harry, yang belum melupakan ini, hanya menggerutu setuju.

Mereka menemukan tempat duduk di barisan paling atas tribun-tribun itu. Hari itu

cerah dan menyenangkan, Ron tidak bisa mengharapkan yang lebih baik, dan Harry

mendapati dirinya sendiri berharap walaupun hanya ada kemungkinan kecil bahwa

Ron tidak akan memberikan anak-anak Slytherin alasan untuk bernyanyi 'Weasley

adalah Raja kami' lagi.

Lee Jordan, yang sangat kehilangan semangat sejak Fred dan George pergi, sedang

memberi komentar seperti biasa. Ketika tim-tim itu meluncur keluar ke lapangan dia

menyebut para pemain dengan semangat yang kurang dari biasanya.

'... Bradley ... Davies ... Chang,' katanya, dan Harry merasakan perutnya

melakukan, tidak seperti salto ke belakang, lebih mirip gerakan lemah tiba-tiba saat

Cho berjalan keluar ke lapangan, rambut hitamnya yang berkilau berkibas dalam

angin sepoi-sepoi. Dia tidak yakin lagi apa yang dia inginkan terjadi, kecuali bahwa

dia tidak bisa tahan lebih banyak pertengkaran lagi. Bahkan melihatnya berbincangbincang

dengan asyik kepada Roger Davies ketika mereka bersiap-siap menaiki sapu

mereka hanya mengakibatkan sedikit kecemburuan baginya.

'Dan mereka berangkat!' kata Lee. 'Dan Davies segera mengambil Quaffle, Kapten

Ravenclaw Davies dengan Quaffle, dia mengelak dari Johnson, dia mengelak dari

Bell, dia juga mengelak dari Spinnet ... dia langsung menuju gawang! Dia akan

menembak -- dan -- dan --' Lee menyumpah-nyumpah dengan sangat keras. 'Dan dia

mencetak nilai.'

Harry dan Hermione mengerang dengan anak-anak Gryffindor yang lain. Bisa

diramalkan, mengerikannya, anak-anak Slytherin di sisi lain tribun itu mulai

bernyanyi:

'Weasley tak bisa menyelamatkan apapun. Dia tak bisa memblokir sebuah gawang

...'

'Harry,' kata sebuah suara parau di telinga Harry. 'Hermione ...'

Harry memandang berkeliling dan melihat wajah besar berjenggot Hagrid muncul

di antara tempat-tempat duduk. Tampaknya, dia telah menyelinap di sepanjang

barisan di belakang, karena anak-anak kelas satu dan kelas dua yang baru saja

dilewatinya memiliki tampang kusut dan gepeng. Untuk alasan-alasan tertentu,

Hagrid membungkuk rendah seolah-olah khawatir tidak ingin terlihat, walaupun dia

masih setidaknya empat kaki lebih tinggi daripada semua orang yang lainnya.

'Dengar,' dia berbisik, 'bisakah kalian ikut bersamaku? Sekarang? Selagi semua

orang menonton pertandingan?'

'Er ... tak bisakah menunggu, Hagrid?' tanya Harry. 'Sampai pertandingan usai?'

'Tidak,' kata Hagrid. 'Tidak, Harry, harus sekarang ... selagi semua orang melihat ke

arah yang lain ... tolong?'

Hidung Hagrid meneteskan darah dengan lembut. Kedua matanya menghitam.

Harry belum pernah melihatnya sedekat ini sejak dia kembali ke sekolah; dia tampak

benar-benar sedih.

'Tentu,' kata Harry seketika, 'tentu kami akan ikut.'

Dia dan Hermione berjalan menyamping di barisan tempat duduk mereka,

menyebabkan banyak gerutuan di antara murid-murid yang harus berdiri untuk

mereka. Orang-orang di baris Hagrid tidak mengeluh, hanya mencoba membuat diri

mereka sekecil mungkin.

'Aku hargai ini, kalian berdua, benar-benar kuhargai,' kata Hagrid ketika mereka

mencapai tangga. Dia terus memandang berkeliling dengan gugup ketika mereka

turun ke halaman di bawah. 'Aku cuma harap dia tidak perhatikan kita pergi.'

'Maksudmu Umbridge?' kata Harry. 'Tidak akan, dia punya seluruh Regu

Penyelidik duduk bersamanya, tidakkah kau lihat? Dia pasti menduga akan ada

masalah di pertandingan.'

'Yeah, well, sedikit masalah tidak akan merugikan,' kata Hagrid, sambil berhenti

sejenak untuk mengintip ke sekitar tepi tribun untuk memastikan bentangan halaman

di antara tempat itu dan kabinnya sepi. 'Beri kita lebih banyak waktu.'

'Ada apa, Hagrid?' kata Hermione, sambil memandang ke atas kepadanya dengan

ekspresi kuatir di wajahnya selagi mereka bergegas menyeberangi rumput menuju tepi

Hutan Terlarang.

'Kalian -- kalian akan lihat bentar lagi,' kata Hagrid, sambil memandang lewat

bahunya ketika gemuruh besar timbul dari tribun di belakang mereka. 'Hei -- apakah

seseorang baru saja mencetak nilai?'

'Pastilah Ravenclaw,' kata Harry dengan berat.

'Bagus ... bagus ...' kata Hagrid tanpa perhatian. 'Itu bagus ...'

Mereka harus berlari-lari kecil untuk mengikutinya ketika dia berjalan

menyeberangi halaman, sambil memandang berkeliling dengan setiap langkahnya.

Saat mereka mencapai kabinnya, Hermione berbelok dengan otomatis ke kiri menuju

pintu depan. Namun, Hagrid berjalan lurus melewatinya ke dalam bayang-bayang

pepohonan di bagian paling tepi Hutan, tempat dia memungut sebuah busur silang

yang tersandar ke sebuah pohon. Saat dia menyadari mereka tidak lagi bersamanya,

dia berpaling.

'Kita akan masuk ke sini,' katanya sambil menggoyangkan kepalanya yang

berewokan ke belakang.

'Ke dalam Hutan?' kata Hermione, bingung.

'Yeah,' kata Hagrid. 'Ayolah sekarang, cepat, sebelum kita terlihat!'

Harry dan Hermione saling berpandangan, lalu menunduk ke naungan pepohonan

di belakang Hagrid, yang sudah berjalan menjauh dari mereka ke dalam tempat gelap

yang hijau, busur silangnya di lengannya. Harry dan Hermione berlari untuk

mengejarnya.

'Hagrid, kenapa kamu bersenjata?' kata Harry.

'Cuma jaga-jaga,' kata Hagrid sambil mengangkat bahunya yang besar.

'Kamu tidak membawa busur silangmu hari ketika kamu memperlihatkan Thestral

kepada kami,' kata Hermione takut-takut.

'Tidak, well, kita tidak pergi begitu jauh ke dalam waktu itu,' kata Hagrid. 'Dan

lagipula, itu sebelum Firenze meninggalkan Hutan, bukan?'

'Kenapa kepergian Firenze membuat perbedaan?' tanya Hermione ingin tahu.

'Kar'na centaur-centaur lain marah kepadaku, itu sebabnya,' kata Hagrid pelan,

sambil memandang sekilas ke sekitar. 'Mereka dulu -- well, kau tak bisa sebut mereka

ramah -- tapi kita baik-baik saja. Tak suka bergaul, tapi selalu muncul kalau aku mau

bicara. Tidak lagi.'

Dia menghela napas dalam-dalam.

'Firenze bilang mereka marah karena dia pergi bekerja untuk Dumbledore,' Harry

berkata, sambil tersandung sebuah akar yang menonjol karena dia sibuk mengamati

raut muka Hagrid.

'Yeah,' kata Hagrid dengan berat. 'Well, marah tidak cocok. Benar-benar ngamuk.

Kalau aku tidak ikut campur, mereka pasti sudah tendang Firenze sampai mati --'

'Mereka menyerang dia?' kata Hermione, terdengar terguncang.

'Yep,' kata Hagrid kasar, sambil memaksakan jalan melalui beberapa ranting yang

tergantung rendah. 'Setengah kawanannya di atasnya.'

'Dan kamu menghentikannya?' kata Harry, terkejut dan terkesan. 'Sendirian?'

'Tentu saja, tak bisa diam dan menonton mereka bunuh dia, bukan?' kata Hagrid.

'Beruntung aku sedang lewat, benar-benar ... dan aku pikir Firenze mungkin ingat itu

sebelum dia mulai mengirimi aku peringatan bodoh!' dia menambahkan dengan panas

dan tak terduga.

Harry dan Hermione saling berpandangan, terkejut, tetapi Hagrid yang sedang

merengut, tidak bicara panjang lebar.

'Ngomong-ngomong,' katanya, sambil bernapas sedikit lebih berat daripada biasa,

'sejak saat itu para centaur yang lain marah besar kepadaku, dan masalahnya adalah

mereka punya banyak pengaruh di dalam Hutan ... makhluk terpintar di sini.'

'Dan itukah sebabnya kita di sini, Hagrid?' tanya Hermione. 'Para centaur?'

'Ah, tidak,' kata Hagrid sambil menggelengkan kepalanya tak karuan, 'tidak, bukan

mereka. Well, tentu saja, mereka bisa memperumit masalah, yeah ... tapi kalian akan

lihat apa yang kumaksud sebentar lagi.'

Dengan nota yang tak bisa dimengerti ini dia terdiam dan maju ke depan sedikit,

mengambil satu langkah setiap tiga langkah mereka, sehingga mereka mengalami

kesulitan besar mengikutinya.

Jalan setapak semakin ditumbuhi rumput-rumput dan pohon-pohon tumbuh begitu

berdekatan ketika mereka berjalan semakin jauh ke dalam Hutan sehingga tempat itu

gelap seperti senja hari. Mereka segera sudah jauh melewati tempat terbuka tempat

Hagrid memperlihatkan Thestral kepada mereka, tetapi Harry tidak merasakan tidak

tenang sampai Hagrid melangkah tanpa terduga ke luar jalan setapak dan mulai pergi

melewati pohon-pohon menuju jantung Hutan yang gelap.

'Hagrid!" kata Harry, sambil berjuang melalui duri-duri yang terkait rapat, yang

telah Hagrid langkahi dengan mudah, dan ingat dengan jelas apa yang terjadi

kepadanya pada kesempatan lain dia melangkah keluar dari jalan setapak Hutan. 'Ke

mana kita akan pergi?'

'Dikit lagi,' kata Hagrid melewati bahunya. 'Ayo, Harry ... kita harus terus bersama

sekarang.'

Merupakan perjuangan berat untuk mengikuti Hagrid, dengan ranting-ranting dan

semak belukar penuh duri yang Harry lewati dengan mudah seolah-olah itu sarang

laba-laba, tetapi merobek jubah Harry dan Hermione, sering menjerat mereka dengan

begitu parah sehingga mereka harus berhenti beberapa menit untuk membebaskan diri

sendiri. Lengan dan kaki Harry segera tertutup dengan luka sayat dan luka gores kecil.

Mereka begitu dalam di Hutan sekarang sehingga kadang-kadang Harry hanya bisa

melihat Hagrid di kegelapan sebagai bentuk gelap besar di depannya. Suara apapun

sepertinya mengancam dalam keheningan teredam itu. Patahnya ranting menggema

keras dan desir pergerakan terkecil, walaupun mungkin dibuat oleh seekor burung

pipit yang tidak bersalah, menyebabkan Harry mengintip ke kegelapan mencari

pelakunya. Terpikir olehnya bahwa dia belum pernah sampai sejauh ini ke dalam

Hutan tanpa bertemu sejenis makhluk; ketidakhadiran mereka dianggapnya agak

kurang menyenangkan.

'Hagrid, bolehkah kami menyalakan tongkat kami?' kata Hermione pelan.

'Er ... baiklah,' Hagrid berbisik kembali. 'Nyatanya --'

Dia berhenti tiba-tiba dan berpaling: Hermione berjalan tepat kepadanya dan

terhantam jatuh ke belakang. Harry menangkapnya tepat sebelum dia mengenai dasar

Hutan.

'Mungkin kita sebaiknya berhenti sejenak, jadi aku bisa ... memberi keterangan

kepada kalian,' kata Hagrid. 'Sebelum kita pergi ke sana.'

'Bagus!' kata Hermione, ketika Harry membantunya berdiri kembali. Mereka

berdua bergumam 'Lumos!' dan ujung-ujung tongkat mereka menyala. Wajah Hagrid

melayang dalam kegelapan dengan cahaya dua sinar yang berkelap-kelip dan Harry

melihat lagi bahwa dia tampak gugup dan sedih.

'Benar,' kata Hagrid. 'Well ... lihat ... masalahnya adalah ...'

Dia mengambil napas dalam-dalam.

'Well, ada peluang bagus aku akan dipecat setiap saat,' dia berkata.

Harry dan Hermione saling berpandangan satu sama lain, lalu kembali kepadanya.

'Tapi kamu sudah bertahan selama ini --' Hermione berkata mencoba-coba. 'Apa

yang membuatmu mengira --'

'Umbridge menganggap aku yang meletakkan Niffler itu di kantornya.'

'Dan benarkah?' kata Harry, sebelum dia bisa menghentikan dirinya sendiri.

'Tidak, tentu saja bukan!' kata Hagrid tidak senang. 'Cuma sesuatu yang

berhubungan dengan satwa gaib dan dia pikir ada kaitannya denganku. Kalian tahu

dia sudah mencari-cari kesempatan menyingkirkanku sejak aku kembali. Aku tidak

mau pergi, tentu saja, tapi kalau bukan karena ... well ... keadaan khusus yang akan

kujelaskan kepada kalian, aku akan pergi sekarang juga, sebelum dia punya peluang

melakukannya di depan seluruh sekolah, seperti yang dilakukannya dengan

Trelawney.'


Baca Kelanjutannya...

0 Response to "Harry Potter And The Order of The Phoenix 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified