Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Harry Potter And The Goblet Of Fire 4

Koran itu, membaca cepat beberapa halaman

pertamanya, berkata, "Ha! Dia belum dengar tentang

Crouch!” kemudian bergabung dengan Ron dan Harry

membaca apa yang dikatakan Sirius tentang kejadian

misterius dua malam sebelumnya.

699

"Siapa dia, menguliahi aku soal melanggar batas?”

kata Harry agak jengkel, seraya melipat surat Sirius dan

memasukkannya ke dalam jubahnya. "Setelah semua hal

yang dilakukannya waktu sekolah!”

"Dia mencemaskanmu!” kata Hermione tajam. "Sama

seperti Moody dan Hagrid! Jadi, dengarkan mereka!”

"Tak ada yang mencoba menyerangku sepanjang

tahun ini,” kata Harry. "Tak ada yang melakukan apa-apa

terhadapku…”

"Kecuali memasukkan namamu ke dalam Piala Api,”

kata Hermione. "Dan mereka pasti punya alasan

melakukan itu, Harry. Snuffles benar. Mungkin mereka

menunggu waktu yang tepat. Mungkin dalam tugas

ketiga inilah mereka akan menyerangmu.”

700

"Dengar,” kata Harry tak sabar, "kita andaikan saja

Snuffles benar, dan ada yang membuat pingsan Krum

untuk menculik Crouch. Nah, mereka mestinya ada di

balik pepohonan di dekat kami, kan? Tetapi mereka

menunggu sampai aku menyingkir sebelum bertindak,

kan? Jadi kelihatannya aku bukan sasaran mereka, kan?”

"Mereka tak bisa membuatnya tampak seperti

kecelakaan kalau membunuhmu di hutan!” kata

Hermione. "Tapi kalau kau meninggal dalam pelaksanaan

tugas…”

"Mereka tidak peduli waktu menyerang Krum, kan?”

kata Harry. "Kenapa mereka tidak menghabisiku

sekalian? Mereka kan bisa membuat seakan aku dan

Krum berduel atau apa.”

"Harry, aku juga tidak mengerti,” kata Hermione putus

asa. "Aku Cuma tahu banyak hal aneh yang sedang

terjadi, dan aku tak suka itu… Moody benar… Sirius

benar… kau harus berlatih untuk tugas ketigamu, segera.

Dan pastikan kau membalas Sirius dan berjanji

kepadanya kau tidak akan menyelinap sendiri lagi.”

Halaman Hogwarts tak pernah tampak begitu

menggiurkan kalau Harry harus tinggal di dalam. Selama

beberapa hari berikutnya dia melewatkan semua waktu

senggangnya kalau tidak di perpustakaan bersama

Hermione dan Ron, membaca-baca tentang kutukan, ya

di dalam kelas yang kosong. Mereka menyelinap ke

ruang kosong itu untuk berlatih. Harry berkonsentrasi

menguasai mantra bius, yang belum pernah

digunakannya. Repotnya, melatih mantra itu memerlukan

pengorbanan khusus dari Ron dan Hermione.

701

"Apa kita tidak bisa menculik Mrs. Norris?” Ron

menyarankan pada saat makan siang hari senin ketika

dia berbaring telentang di ruang kelas Mantra, setelah

dipingsankan dan disadarkan oleh Harry lima kali

berturut-turut. "Ayo kita pingsankan dia sebentar. Atau

kau bisa menggunakan Dobby, Harry. Aku berani

bertaruh dia bersedia melakukan apa saja untuk

membantumu. Bukannya aku mengeluh atau apa” – dia

bangun dengan hati-hati – "tapi badanku sakit semua…”

"Habis kau tidak pernah jatuh ke bantal sih!” kata

Hermione tak sabar, mengatur kembali tumpukan bantal

yang mereka gunakan untuk Mantra Usir, yang

ditinggalkan Flitwick dalam lemari. "Coba jatuh ke

belakang.”

"Kalau pingsan, mana bisa memilih sasaran,

Hermione!” kata Ron sewot. "Coba saja sekarang gentian

kau yang pingsan.”

"Kurasa Harry sudah menguasainya sekarang,” kata

Hermione buru-buru. "Dan kita tak perlu mencemaskan

Mantra Pelepas Senjata, karena dia sudah lama

menguasainya… Kurasa kita harus mulai berlatih

beberapa sihir lain malam ini.”

Dia menunduk membaca daftar yang telah mereka

buat di perpustakaan.

"Aku suka yang ini,” katanya, "Sihir Perintang. Bisa

melambatkan apa saja yang menyerangmu, Harry. Kita

mulai dengan itu.”

Bel berdering. Mereka buru-buru memasukkan kembali

bantal-bantal ke dalam lemari Flitwick dan meninggalkan

kelas.

702

"Sampai ketemu makan malam nanti!” kata Hermione,

dan dia pergi ikut Arithmancy, sementara Harry dan Ron

menuju Menara Utara untuk ramalan. Leret-leret lebar

cahaya matahari keemasan yang menyilaukan jatuh di

koridor dari jendela-jendela tinggi. Biru langit di luar

sangat cerah sehingga seperti dilapis porselen.

"Pasti panas sekali di kelas Trelawney. Dia tak pernah

memadamkan apinya,” kata Ron, ketika mereka menaiki

tangga perak dan pintu tingkap.

Dia betul. Ruang remang-remang itu bukan main

panasnya. Bau harum dari perapian lebih tajam

daripadanya. Kelapa Harry pusing saat dia berjalan ke

salah satu jendela bergorden. Ketika Profesor Trelawney

memandang ke arah lain, melepas syalnya yang melibat

lampu, Harry membuka jendelanya kira-kira dua

setengah senti dan duduk di kursi berlengannya. Angina

sepoi berembus melintasi wajahnya, nyaman sekali.

"Anak-anak,” kata Profesor Trelawney, duduk di kursi

berlengannya yang bersayap di depan kelas dan

memandang mereka semua dengan matanya yang

tampak besar aneh di balik kacamatanya, "kita hamper

menyelesaikan pelajaran kita tentang ramalan

berdasarkan posisi planet-planet. Hari ini kita punya

kesempatan bagus sekali untuk mempelajari pengaruhpengaruh

Mars, karena Mars letaknya sangat menarik

saat ini. Coba kalian semua lihat ke sini, aku akan

meredupkan cahaya…”

Dia melambaikan tongkat sihirnya dan semua lampu

padam. Satu-satunya penerangan tinggal perapian

sekarang. Professor Trelawney membungkuk dan

mengangkat, dari bawah kursinya, model mini system

703

tata surya, di dalam bola kaca. Indah sekali, masingmasing

bulan berpendar di tempatnya mengelilingi

kesembilan planet dan matahari yang bersinar terang,

semuanya melayang di udara di dalam kaca. Harry

memandang bermalas-malasan ketika Profesor

Trelawney mulai menunjukkan sudut memesona yang

dibentuk Mars terhadap Neptunus. Asap yang harum

menyapunya dan angina sepoi yang masuk dari jendela

menyapu wajahnya. Dia bisa mendengar serangga

berdegung pelan di balik gorden. Pelupuk matanya mulai

menutup…

Dia duduk di punggung burung hantu elang, terbang

mengarungi angkasa biru menuju rumah tua yang penuh

dirambati sulur, yang terletak tinggi di sisi bukit. Mereka

terbang makin lama makin rendah, angin terasa nyaman

menerpa wajah Harry, sampai mereka tiba di jendela

gelap yang kacanya pecah di loteng rumah dan masuk.

Sekarang mereka terbang sepanjang lorong remangremang,

menuju kamar di ujung… mereka melewati

pintu, memasuki kamar gelap yang semua jendelanya

ditutup papan…

Harry turun dari punggung si burung hantu… dia

mengawasi, sekarang, saat si burung terbang ke

seberang ruangan, ke kursi yang memunggunginya… Ada

dua sosok gelap di lantai di sebelah kursi itu… duaduanya

bergerak…

Yang satu adalah ular besar sekali… satunya lagi

seorang laki-laki… laki-laki pendek, botak, dengan mata

berair dan hidung runcing… dia mendesah dan terisak di

karpet di depan perapian…

704

"Kau beruntung, Wormtail,” kata suara dingin

melengking dari kedalaman kursi tempat si burung baru

saja hinggap. "Kau sungguh sangat beruntung.

Kesalahan besarmu tidak merusak segalanya. Dia mati.”

"Yang mulia!” isak laki-laki di lantai. "Yang Mulia,

saya… saya sangat senang… dan sangat menyesal…”

"Nagini,” kata suara dingin itu, "kau tidak beruntung.

Aku tidak jadi memberikan Wormtail untuk kau santap…

tapi taka pa, taka pa… masih ada Harry Potter…”

Ular itu mendesis. Harry bisa melihat lidahnya

menjulur-julur.

"Nah, Wormtail,” kata suara dingin itu, "mungkin kau

perlu sekali lagi sedikit diingatkan kenapa aku tidak bisa

mentolerir kesalahan lain darimu…”

"Yang Mulia… jangan… saya mohon…”

Ujung tongkat sihir muncul dari balik punggung kursi,

menunjuk kea rah Wormtail. "Crucio!” kata suara dingin

itu.

Wormtail menjerit, menjerit seakan semua saraf dalam

tubuhnya terbakar. Jeritannya memenuhi telinga Harry

sementara bekas luka di dahinya sakit sekali seperti

terbakar, dia juga berteriak… Voldemort akan

mendengarnya, akan tahu dia ada dia sana…

"Harry! Harry!”

Harry membuka matanya. Dia terbaring di lantai kelas.

Professor Trelawney dengan tangan menutupi wajahnya.

Bekas lukanya masih terasa sakit sekali sampai matanya

berair. Sakitnya sungguh-sungguh. Seluruh kelas berdiri

705

mengerumuninya, dan Ron berlutut di sebelahnya,

tampak ngeri.

"Kau baik-baik saja?” katanya.

"Tentu saja tidak!” kata Profesor Trelawney, tampak

sangat bergairah. Matanya yang besar menatap Harry

tajam-tajam. "Apa yang kau alami, Potter? Pertanda?

Penampakan? Apa yang kau lihat?”

"Tidak ada,” Harry berbohong. Dia duduk. Dia bisa

merasa tubuhnya gemetar. Dia tak bisa menahan diri

untuk tidak memandang berkeliling, ke dalam

keremangan di belakangnya. Suara Voldemort tadi

kedengarannya dekat sekali…

"Kau tadi memegangi bekas lukamu!” kata Profesor

Trelawney. "Kau berguling-guling di lantai, memegangi

bekas lukamu! Ayolah, Potter, aku sudah berpengalaman

dalam hal-hal seperti ini!”

Harry menengadah menatapnya.

"Saya perlu ke rumah sakit, saya rasa,” katanya.

"Kepala saya pusing sekali.”

"Nak, kau jelas terstimulasi oleh vibrasi pertenungan

yang luar biasa di dalam kelasku!” kata Profesor

Trelawney. "Kalau kau pergi sekarang, kau mungkin

kehilangan kesempatan untuk melihat lebih jauh

daripada yang pernah…”

"Saya tidak ingin melihat apapun selain obat pusing,”

kata Harry.

Dia berdiri. Teman-temannya mundur. Mereka semua

tampak bingung dan ngeri.

706

"Sampai nanti,” Harry bergumam kepada Ron, lalu dia

mengangkat tasnya dan menuju pintu tingkap,

mengabaikan Profesor Trelawney yang tampaknya

frustasi sekali, seakan kesenangan besarnya baru saja

dirampas.

Setiba di kaki tangga, Harry tidak menuju ke rumah

sakit. Dia tak bermaksud ke sana sama sekali. Sirius

sudah memberitahunya apa yang harus dilakukan jika

bekas lukanya sakit lagi, dan Harry akan mematuhi

nasihatnya. Dia akan langsung ke kantor Dumbledore.

Dia berjalan menyusur koridor, memikirkan apa yang

telah dilihatnya dalam mimpinya… sama jelasnya dengan

yang pernah membuatnya terbangun di Privet Drive… Dia

mengulangi semua detailnya dalam pikirannya, berusaha

memastikan dia bisa mengingatnya… Dia telah

mendengar Voldemort menuduh Wormtail membuat

kesalahan besar… tetapi burung hantu telah membawa

kabar baik, kesalahan itu telah diperbaiki, ada yang telah

mati. Maka Wormtail tidak jadi diumpankan kepada si

ular… dia, Harry, yang akan diumpankan sebagai

gantinya…

Harry telah melewati gargoyle batu yang menjaga

pintu masuk ke kantor Dumbledore tanpa

memperhatikannya. Dia mengejap, memandang

berkeliling, menyadari apa yang telah dilakukannya, dan

berjalan balik, berhenti di depan gargoyle. Kemudian dia

ingat dia tidak tahu kata kuncinya.

"Permen jeruk?” ujarnya coba-coba.

Si gargoyle tidak bergerak.

707

"Oke,” kata Harry memandangnya. "Tetes mutiara.

Er… Tongkat Loli Pedas. Kumbang berdesing. Permen

karet tiup paling hebat Drooble. Kacang segala rasa

Bertie Bott… oh tidak, dia tidak menyukai permenpermen

itu, kan?... Oh, buka saja kenapa sih?” katanya

marah. "Aku betul-betul perlu ketemu dia, penting

sekali.”

Si gargoyle tetap bergeming.

Harry menendangnya, tak mendapatkan hasil apa pun

kecuali jempol kakinya jadi sakit sekali.

"Coklat kodok!” dia berteriak marah, berdiri di atas

satu kaki. "Pena Bulu Gula! Kerumunan Kecoak!”

Si gargoyle tiba-tiba hidup dan melompat menepi.

Harry mengejap.

"Kerumunan Kecoak?” katanya, terpana. "Padahal aku

Cuma bergurau lho…”

Dia bergegas melewati celah di dinding dan

melangkah ke kaki tangga batu spiral, yang bergerak

perlahan ke atas sementara pintu menutup di

belakangnya, membawanya ke pintu ek berpelitur

dengan pengetuk dari kekuningan.

Dia bisa mendengar suara-suara dari dalam kantor.

Dia melangkah dari tangga yang bergerak dan ragu-ragu,

mendengarkan.

"Dumbledore, aku tak melihat hubungannya, sama

sekali tidak!” terdengar suara menteri sihir, Cornelius

Fudge. "Ludo mengatakan orang seperti Bertha gampang

sekali tersesat. Aku setuju mestinya kita sudah

menemukan dia sekarang, tetapi kita toh tidak

708

mendapatkan bukti-bukti permainan kotor, Dumbledore,

sama sekali tidak. Tetapi kalau lenyapnya dia dihubunghubungkan

dengan lenyapnya Barty Crouch…”

"Dan menurut anda apa yang terjadi pada Barty

Crouch, Pak Menteri?” terdengar suara menggeram

Moody.

"Aku melihat dua kemungkinan, Alastor,” kata Fudge.

"Yang pertama, Crouch akhirnya ambruk – ini mungkin

sekali, aku yakin kalian setuju, mengingat riwayat

pribadinya – hilang akal, dan pergi ke suatu tempat…”

"Perginya cepat sekali, kalau begitu, Cornelius,” kata

Dumbledore kalem.

"Atau kalau tidak… yah…” Fudge kedengarannya malu.

"Aku tak akan melontarkan tuduhan sampai sesudah aku

melihat di mana dia ditemukan, tetapi menurutmu tak

jauh dari kereta Beauxbatons? Dumbledore, kau tahu

perempuan seperti apa dia?”

"Aku menganggapnya kepala sekolah yang sangat

andal – dan penari yang hebat,” kata Dumbledore

tenang.

"Dumbledore, akui saja,” kata Fudge. "Apakah

menurutmu kau tidak melindunginya demi hagrid? Tidak

semua dari mereka berbahaya… kalau kau bisa

menganggap Hagrid tak berbahaya, dengan

kegemarannya akan monster…”

"Aku tidak mencurigai Madame Maxime maupun

Hagrid,” kata Dumbledore, sama kalemnya. "Kurasa

kaulah yang berprasangka, Cornelius.”

"Bisakah kita mengakhiri diskusi ini?” geram Moody.

709

"Ya, ya, mari kita ke tempat itu kalau begitu,” kata

Fudge tak sabar.

"Tidak, bukan karena itu,” kata Moody. "Hanya saja

Potter ingin bicara denganmu, Dumbledore. Dia ada di

depan pintu.”

30. Pensieve

Pintu kantor terbuka.

"Halo, Potter,” sapa Moody. "Masulah.”

Harry melangkah masuk. Dia pernah berada dalam

kantor Dumbledore sekali sebelum ini. Kantor ini berupa

ruangan bundar yang sangat indah. Di dinding berderet

para mantan kepala sekolah Hogwarts, semuanya sedang

tidur nyenyak, dada mereka naik turun dengan lembut.

710

Cornelius Fudge berdiri di sebelah meja Dumbledore,

memakai mantel bergarisnya yang biasa dan memegangi

topinya yang berwarna hijau lemon.

"Harry!” sapa Fudge riang, menyongsongnya. "Apa

kabar?”

"Baik,” Harry berbohong.

"Kami baru saja membicarakan tentang malam ketika

Mr. Crouch muncuk di halaman sekolah ini,” kata Fudge.

"Kau kan yang menemukannya?”

"Ya,” kata Harry. Kemudian, merasa tak ada gunanya

berpura-pura dia tidak mendengar apa yang mereka

bicarakan, dia menambahkan, "Tetapi saya tidak melihat

Madame Maxime sama sekali, dan dia akan sulit

menyembunyikan diri, kan?”

Dumbledore tersenyum kepada Harry di belakang

punggung Fudge, matanya berkilau.

"Ya, sudahlah,” kata Fudge, tampak malu, "kami baru

saja akan berjalan-jalan sebentar di luar, Harry,

maafkan… mungkin kau sebaiknya kembali ke kelasmu…”

"Saya ingin bicara dengan anda, Profesoe,” kata Harry

buru-buru, memandang Dumbledore, yang balas

menatapnya penuh selidik.

"Tunggu di sini, Harry,” katanya. "Pemeriksaan

lapangan yang akan kami lakukan tidak lama.”

Mereka berjalan beriringan, tanpa bicara melewatinya

dan menutup pintu. Setelah kira-kira semenit, Harry

mendengar bunyi tak-tok kaki kayu Moody semakin

samara di koridor di bawah. Dia memandang berkeliling.

711

"Halo, Fawkes,” katanya.

Fawkes, burung phoenix Profesor Dumbledore, berdiri

di tempat hinggapnya yang keemasan di samping pintu.

Seukuran angsa, dengan bulu indah berwarna merah dan

emas, dia mengibaskan ekornya yang panjang dan

mengedip ramah kepada Harry.

Harry duduk di kursi di depan meja Dumbledore.

Selama beberapa menit dia mengawasi para mantan

kepala sekolah, pria dan wanita, tidur dalam pigura

mereka, memikirkan apa yang baru saja di dengarnya,

dan meraba bekas lukanya. Bekas luka itu sekarang tidak

sakit lagi.

Dia merasa jauh lebih tenang setelah berada dalam

kantor Dumbledore, tahu tak lama lagi dia akan

menceritakan mimpinya kepadanya. Harry menengadah

memandang dinding di belakang meja. Topi seleksi yang

compang camping dan bertambal terletak di atas rak.

Kotak kaca di sebelah topi itu berisi pedang perak megah

yang bertatahkan batu mirah sampai ke pangkal

pegangannya. Harry mengenalinya sebagai pedang yang

ditariknya keluar dari Topi Seleksi pada tahun keduanya.

Pedang itu dulu milik Godric Gryffindor, pendiri asrama

Harry. Harry sedang memandang pedang itu, mengingat

bagaimana pedang itu membantunya saat dia mengira

sudah tak ada harapan lagi, ketika terlihat olehnya

secerah cahaya keperakan, menari-nari dan berpendar di

kotak kaca. Dia menoleh mencari sumber cahaya itu dan

melihat cahaya putih keperakan bersinar cemerlang dari

dalam lemari hitam di belakangnya. Pintu lemari itu tidak

tertutup rapat. Harry ragu-ragu, mengerling Fawkes,

712

kemudian bangkit, berjalan menyeberang ruangan, dan

membuka pintu lemari.

Baskom batu dangkal terletak dalam lemari itu,

tepinya dihiasi pahatan aneh: rune dan symbol-simbol

yang tidak dikenali Harry. Cahaya keperakan itu berasal

dari isi baskom. Harry belum pernah melihat benda

seperti itu. Dia tak bisa mengatakan apakah itu benda

cair atau gas. Isi baskom itu berwarna perak putih

cemerlang, dan bergerak tak hentinya. Permukaanya

bergelombang kecil seperti air yang diterpa angina, dan

kemudian, seperti awan, menyibak dan bergulung halus.

Kelihatannya seperti cahaya yang terbuat dari cairan –

atau seperti angin yang dipadatkan – Harry tak bisa

memutuskan.

Dia ingin menyentuhnya, agar tahu bagaimana

rasanya, tetapi pengalamannya yang hanpir empat tahun

di dunia sihir memberitahunya bahwa mencelupkan

jarinya ke dalam mangkuk yang penuh berisi zat yang

tak dikenal sungguh hal yang sangat bodoh. Karena itu

dia mencabut tongkat sihirnya dari balik jubahnya,

memandang gugup ke sekeliling ruangan, kembali

memandang isi baskom, dan mencelupkan tongkatnya.

Permukaan zat keperakan di dalam baskom mulai

berputar sangat cepat.

Harry membungkuk lebih rendah, kepalanya masuk ke

dalam lemari. Zat keperakan itu sekarang telah menjadi

transparan, seperti kaca. Harry memandangnya,

mengharap akan melihat dasar baskom batu – tetapi

yang dilihatnya ternyata ruang besar di bawah

permukaan zat misterius itu. Rasanya dia memandang ke

dalam ruangan itu melalui jendela bulat di langit-langit.

713

Penerangan di dalam ruangan itu redup. Harry berpikir

ruangan itu mungkin malah di bawah tanah, karena tak

ada jendelanya. Yang ada hanya obor-obor di tancapan,

seperti obor-obor yang menerangi dinding Hogwarts.

Menurunkan wajahnya sampai hidungnya Cuma berjarak

beberapa senti dari zat yang seperti kaca itu, Harry

melihat berderet-deret penyihir pria dan wanita duduk

mengelilingi seputar dinding, di atas bangku yang

semakin ke belakang semakin tinggi. Sebuah kursi

kosong terletak persis di tengah ruangan. Ada sesuatu

pada kursi itu yang memberi Harry perasaan tidak

menyenangkan. Rantai membelit lengan kursi, seakan

orang yang duduk di atasnya biasanya diikat ke lengan

kursi itu.

Di manakah tempat ini? Jelas ini bukan Hogwarts.

Belum pernah dia melihat ruangan seperti ini di kastil.

Lagipula, orang-orang dalam ruangan misterius di dasar

baskom adalah orang-orang dewasa, dan Harry tahu

jumlah guru di Hogwarts tak sampai setengah jumlah

orang-orang itu. Mereka tampaknya sedang menunggu

sesuatu, meskipun Harry hanya bisa melihat puncak topitopi

mereka. Semua wajah menghadap ke satu arah, dan

tak seorang pun yang saling bicara.

Karena baskomnya bundar, sedangkan ruangan yang

diamatinya persegi, Harry tak bisa melihat apa yang

terjadi di sudut-sudutnya. Harry semakin mendekat,

menelengkan kepalanya, berusaha melihat…

Ujung hidungnya menyentuh zat aneh yang tembus

pandang itu.

714

Kantor Dumbledore mendadak terjungkir – Harry

terlempar ke depan dan terjungkal dengan kepala lebih

dulu ke dalam zat di dasar baskom itu…

Tetapi kepalanya tidak menyentuh dasar batunya. Dia

terjatuh menembus sesuatu yang sedingin es dan kelam.

Rasanya seperti tersedot ke dalam pusaran air yang

gelap…

Dan tiba-tiba saja Harry sudah duduk di atas bangku

di ujung ruangan di dalam baskom, bangku yang

menjulang jauh di atas yang lain. Dia menengadah

memandang langit-langit batu yang tinggi, mengharap

melihat jendela bundar dari mana tadi dia melongok ke

bawah, tetapi tak ada apa-apa di atas kecuali batu padat

yang gelap.

Bernapas keras dan cepat, Harry memandang ke

sekelilingnya. Tak satupun dari para penyihir pria dan

wanita itu (dan jumlah mereka paling sedikit dua ratus)

yang memandangnya. Tak satupun yang tampaknya

menyadari bahwa seorang anak laki-laki berusia empat

belas tahun baru saja terjatuh dari langit-langit di tengah

mereka. Harry menoleh kepada penyihir pria di

sebelahnya dan memekik keras saking kagetnya.

Pekikannya berkumandang ke seluruh ruangan yang

sunyi.

Dia duduk persis di sebelah Albus Dumbledore.

"Profesor!” Harry berkata dalam bisikan tercekat.

"Maaf… saya tak bermaksud… saya tadi Cuma melihat

baskom dalam lemari anda… saya… di mana kita?”

Namun Dumbledore tidak bergerak maupun berbicara.

Dia sama sekali tidak mengacuhkan Harry. Seperti semua

715

penyihir lain di bangku-bangku itu, dia menatap sudut

ruangan yang terjauh, yang ada pintunya.

Harry tercenggang memandang Dumbledore,

kemudian memandang para penyihir lain yang menatap

dalam diam, kemudian kembali ke Dumbledore. Dan

kemudian dia paham…

Sebelum ini, pernah sekali Harry berada di tempat

yang tak seorang pun yang bisa melihat atau

mendengarnya. Waktu itu dia terjatuh menembus

halaman buku harian yang tersihir, masuk ke dalam

memori orang lain… dan kalau dia tak keliru, sesuatu

yang semacam itu kini terjadi lagi…

Harry mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu, dan

kemudian melambaikannya dengan bersemangat di

depan wajah Dumbledore. Dumbledore tidak berkedip

atau menoleh memandang Harry. Dia bahkan sama

sekali tak bergerak. Dan itu, bagi Harry, membereskan

persoalan. Dia berada di dalam memori, dan ini bukan

Dumbledore yang sekarang ini. Tetapi ini tentu belum

terlalu lama… Dumbledore yang duduk di sebelahnya

rambutnya sudah keperakan, persis seperti Dumbledore

yang sekarang. Tetapi tempat apa ini? Apa yang

ditunggu semua penyihir ini?

Harry memandang berkeliling lebih teliti. Ruangan ini,

seperti yang telah diduganya sewaktu memandang dari

atas, hamper dipastikan berada di bawah tanah. Suasana

di tempat itu suram dan menakutkan. Tak ada lukisan di

dinding, tak ada dekorasi sama sekali, hanya ada

berderet-deret bangku ini, makin ke belakang makin

tinggi, mengelilingi ruangan, semua diatur sedemikian

716

rupa supaya mereka bisa melihat jelas kursi yang

pegangannya dililit rantai.

Sebelum Harry bisa mengambil kesimpulan tentang

ruangan tempat mereka berada ini, didengarnya langkahlangkah

kaki. Pintu di sudut terbuka dan tiga orang

masuk – atau tepatnya satu orang laki-laki, diapit dua

dementor.

Organ-organ tubuh Harry menjadi dingin. Dementordementor

itu – makhluk tinggi berkerudung, yang

wajahnya tersembunyi – melayang pelan menuju kursi di

tengah ruangan, masing-masing mencengkeram satu

lengan orang itu dengan tangan mereka yang mati dan

tampak membusuk. Laki-laki diantara mereka tampaknya

akan pingsan, dan Harry tidak menyalahkannya… dia

tahu dementor tidak dapat menyentuhnya di dalam

memori, tetapi dia ingat sekali kemampuan mereka. Para

penyihir yang mengamati sedikit ketakutan saat kedua

dementor mendudukkan laki-laki itu di kursi berlantai dan

melayang keluar ruangan. Pintu mengayun menutup di

belakang mereka.

Harry menunduk memandang laki-laki yang sekarang

duduk di kursi dan melihat bahwa dia ternyata Karkaroff.

Tak seperti Dumbledore, Karkaroff tampak jauh lebih

muda. Rambut dan jenggot kambingnya hitam. Dia tidak

memakai jubah beludru halus, melainkan jubah

compang-camping.dia gemetar. Sementara Harry

mengawasi, rantai-rantai di lengan kursi mendadak

berpendar keemasan dan merayap naik ke lengan

Karkaroff, mengikatnya.

717

"Igor Karkaroff,” kata suara kasar di sebelah kiri Harry.

Harry berpaling dan melihat Mr. Crouch di tengah bangku

di sebelahnya. Rambut Crouch hitam, wajahnya tak

banyak kerutnya, dia tampak sehat dan waspada. "Kau di

bawa ke sini dari Azkaban untuk menyampaikan buktibukti

kepada kementerian Sihir. Kau mengatakan kalau

kau punya informasi penting untuk kami.”

Karkaroff menegakkan diri sebisa mungkin, terikat erat

di kursnya.

"Betul, Sir,” katanya, dan kendatipun suaranya sangat

ketakutan, Harry masih bisa mendengar nada bermanismanis

yang dikenalnya. "Saya ingin berguna untuk

kementerian. Saya ingin membantu… saya tahu

kementerian sedang berusaha menggulung sisa-sisa

pendukung pangeran kegelapan. Saya ingin membantu

sebisa saya…”

Terdengar gumaman di seluruh bangku. Beberapa

penyihir mengawasi Karkaroff dengan tertarik, beberapa

lainnya dengan ketidakpercayaan yang kentara.

Kemudian Harry mendengar, suara geram yang

dikenalnya berkata, "Sampah.”

Harry membungkuk agar bisa melihat melewati

Dumbledore. Mad-Eye Moody duduk di situ – hanya saja

penampilannya jelas berbeda. Dia tak punya mata gaib.

Kedua matanya normal. Kedua mata itu menatap

Karkaroff, dan dua-duanya menyipit dalam kebencian

yang sangat.

"Crouch akan melepaskannya,” Moody berbisik pelan

kepada Dumbledore. "Dia sudah membuat kesepakatan

dengannya. Perlu enam bulan bagiku untuk melacaknya

718

dan Crouch akan melepasnya kalau dia punya cukup

banyak informasi. Kita dengarkan saja informasinya,

menurutku, dan kirim kembali dia kepada para

dementor.”

Dumbledore mengeluarkan dengus tak setuju dari

hidungnya yang pajang dan bengkok.

"Ah, aku lupa… kau tak suka dementor kan, Albus?”

kata Moody tersenyum sinis.

"Tidak,” jawab Dumbledore tenang. "Aku tak suka

mereka. Sudah lama aku mengira kementerian keliru

bekerja sama dengan makhluk seperti itu.”

"Tetapi untuk sampah masyarakat macam ini…,” kata

Moody pelan.

"Katamu kau punya nama-nama untuk kami,

Karkaroff,” kata Mr. Crouch. "Coba sebutkan.”

"Anda harus paham,” kata Karkaroff buru-buru,

"bahwa Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut selalu

beroperasi dengat sangat rahasia… Dia lebih suka kalau

kami – maksud saya, para pendukungnya – dan saya

menyesal sekarang, sangat menyesal, bahwa saya

pernah menjadi salah satu dari mereka…”

"Ayo teruskan,” cemooh Moody.

"… kami tak pernah tahu nama semua teman kami…

Hanya dia sendiri yang tahu persis siapa saja kami…”

"Sikap yang bijaksana, kan, karena bisa mencegah

orang seperti kau, Karkaroff, menyerahkan mereka

semua,” gumam Moody.

719

"Tetapi kau bilang kau punya beberapa nama untuk

kami?” kata Mr. Crouch.

"Be… betul,” kata Karkaroff menahan napas. "Dan ini

nama-nama pendukung yang penting. Orang yang saya

lihat dengan mata saya sendiri melakukan perintahnya.

Saya memberikan informasi ini sebagai tanda bahwa

saya benar-benar meninggalkannya, dan saya dipenuhi

penyesalan yang begitu mendalam sehingga saya nyaris

tak bisa…”

"Dan siapa saja nama itu?” tukas Mr. crouch tajam.

Karkaroff menarik napas dalam-dalam.

"Ada Antonin Dolohov,” katanya. "Saya… saya

melihatnya menyiksa Muggle tak terhitung banyaknya

dan… dan mereka yang tidak mendukung Pangeran

Kegelapan.”

"Dan membantunya,” gumam Moody.

"Kami sudah menahan Dolohov,” kata Crouch. "Dia

ditangkap tak lama setelah kau.”

"Begitu?” kata Karkaroff, matanya melebar. "Saya…

saya senang mendengarnya.”

Tetapi dia tidak tampak senang. Harry bisa melihat

bahwa berita ini merupakan pukulan berat baginya. Salah

satu namanya tak berguna.

"Ada yang lain?” Tanya Crouch dingin.

"Ya, ada… Rosier,” kata Karkaroff buru-buru. "Evan

Rosier.”

720

"Rosier sudah mati,” kata Crouch. "Dia ditangkap tak

lama sesudah kau juga. Dia lebih suka melawan daripada

ikut dengan patuh dan terbunuh dalam perkelahian.”

"Membawa sebagian mukaku, tapi,” bisik Moody di

sebelah kanan Harry. Harry memandangnya sekali lagi,

dan melihatnya menunjuk hidungnya yang gerowong

kepada Dumbledore.

"Memang… memang pantas diterima Rosier!” kata

Karkaroff, nadanya benar-benar panic sekarang. Harry

bisa melihat bahwa dia mulai khawatir bahwa tak satu

pun informasinya berguna bagi kementerian. Mata

Karkaroff melayang ke pintu sudut. Di belakang pintu itu

para dementor tak diragukan lagi masih berdiri

menunggu.

"Ada lagi?” kata Crouch.

"Ya!” kata Karkaroff. "Ada… Travers – dia membantu

membunuh keluarga Mckinnon! Mulciber – spesialisasinya

kutukan Imperius, memaksa banyak orang untuk

melakukan hal-hal mengerikan! Rookwood, dia matamata

dan menyampaikan informasi berguna kepada Dia-

Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut dari dalam

kementerian!”

Kali ini Karkaroff beruntung. Para penyihir yang lain

saling berbisik.

"Rookwood?” kata Mr. Crouch, mengangguk kepada

penyihir wanita yang duduk di depannya, yang mulai

menulis di atas secarik perkamennya. "Augustus

Rookwood dari Departemen Misteri?”

721

"Betul,” kata Karkaroff bersemangat. "Saya rasa dia

menggunakan jaringan para penyihir yang ditempatkan

secara strategis, baik di dalam maupun di luar

kementerian, untuk mengumpulkan informasi…”

"Tetapi Travers dan Mulciber kami sudah tahu,” kata

Mr. Crouch. "Baiklah, Karkaroff, kalau sudah semua, kau

akan dikembalikan ke Azkaban sementara kami

memutuskan…”

"Belum!” jerit Karkaroff, tampak putus asa. "Tunggu,

masih ada lagi!”

Dia tampak berkeringat di bawah cahaya obor.

Kulitnya yang putih kontras sekali dengan rambut dan

jenggotnya yang hitam.

"Snape!” dia berteriak. "Severus Snape!”

"Snape sudah dinyatakan bersih oleh siding ini,” kata

Crouch dingin. "Albus Dumbledore telah menjaminnya.”

"Tidak!” teriak Karkaroff, bergerak sampai rantai yang

mengikatnya ke kursi meregang. "Saya berani pastikan!

Severus Snape pelahap maut!”

Dumbledore telah berdiri. "Saya sudah memberikan

bukti-bukti untuk masalah ini,” katanya tenang. "Severus

Snape memang dulunya pelahap maut. Meskipun

demikian, dia bergabung ke pihak kita sebelum kejatuhan

Lord Voldemort dan menjadi mata-mata untuk kita,

dengan resiko yang sangat besar. Sekarang dia bukan

lagi pelahap maut.”

Harry berpaling untuk melihat Mad-Eye Moody. Di

belakang punggung Dumbledore, wajahnya dipenuhi

keraguan.

722

"Baiklah, Karkaroff,” kata Crouch dingin, "kau telah

membantu. Aku akan meninjau kembali kasusmu. Kau

sementara ini akan kembali ke Azkaban…”

Suara Mr. Crouch menjadi sayup-sayup. Harry

memandang berkeliling. Ruang bawah tanah itu

membuyar seakan terbuat dari asap. Segalanya

memudar. Dia hanya bisa melihat tubuhnya sendiri –

segala yang lain hanyalah pusaran kegelapan…

Dan kemudian ruang bawah tanah muncul lagi. Harry

duduk di bangku yang lain, masih di bangku yang paling

tinggi, tetapi sekarang di sebelah kiri Mr. Crouch.

Atmosfernya cukup berbeda: rileks, bahkan

menyenangkan. Para penyihir pria dan wanita di

sepanjang dinding saling mengobrol, seakan mereka

sedang menonton pertandingan olahraga. Seorang

penyihir wanita di tengah deretan bangku menarik

perhatian Harry. Rambutnya pirang pendek, memakai

jubah merah keunguan, dan mengisap ujung pena bulu

berwarna hijau cuka. Dia, tak salah lagi, Rita Skeeter

yang masih muda. Harry memandang berkeliling.

Dumbledore duduk di sebelahnya lagi, memakai jubah

berbeda. Mr. Crouch tampak lebih lelah dan lebih galak,

lebih kurus dan cekung… Harry paham. Itu memori yang

lain, hari yang lain… pengadilan yang lain.

Pintu di sudut terbuka dan Ludo Bagman masuk.

Tetapi ini bukan Ludo Bagman yang kekuatannya

mulai mundur, tetapi Ludo Bagman yang sedang dalam

puncak kejayaannya sebagai pemain Quidditch.

Hidungnya belum patah. Dia jangkung, tegap dan

berotot. Bagman tampak gugup ketika duduk di kursi

berantai, tetapi rantai itu tidak mengikatnya seperti

723

Karkaroff, dan Bagman, mungkin mendapat semangat

dari ini, mengerling para penyihir yang hadir, melambai

kepada dua diantaranya, dan tersenyum sedikit.

"Ludo Bagman, kau dibawa ke sini ke hadapan Dewan

Hukum Sihir sehubungan dengan tuduhan yang berkaitan

dengan aktivitas pelahap maut,” kata Mr. Crouch. "Kami

telah mendengar bukti-bukti yang memberatkanmu, dan

sebentar lagi akan mengambil keputusan. Apakah kau

masih mau menyampaikan sesuatu sebelum keputusan

dijatuhkan?”

Harry tak bisa mempercayai telinganya. Ludo Bagman,

pelahap Maut?

"Hanya,” kata Bagman, tersenyum canggung, "yah…

saya tahu saya telah bertindak sedikit bodoh…”

Satu dua penyihir di bangku yang mengelilingnya

tersenyum ramah. Perasaan Mr. Crouch tampaknya tidak

sama dengan mereka. Dia menunduk menatap Bagman

dengan sangat galak dan benci.

"Betul sekali yang kau katakan, Nak,” ada yang

bergumam kering kepada Dumbledore di belakang Harry.

Harry menoleh dan melihat Moody duduk di sana lagi.

"Kalau aku tak tahu sejak dulu dia memang goblok, aku

akan bilang beberapa bludger yang menghantamnya

telah merusak otaknya secara permanent…”

"Ludovic Bagman, kau tertangkap menyampaikan

informasi kepada para pendukung Lord Voldemort,” kata

Mr. Crouch. "Untuk ini, aku mengusulkan penahanan di

Azkaban yang berlangsung tak kurang dari…”

724

Tetapi ada teriakan marah dari bangku-bangku di

sekitarnya. Beberapa penyihir di sekeliling dinding berdiri,

menggelengkan kepala, dan bahkan menggoyangkan

tinju mereka, kepada Mr. Crouch.

"Tetapi sudah saya katakana, saya tak tahu!” seru

Bagman sungguh-sungguh mengatasi celoteh hadarin,

mata birunya yang bundar melebar. "Sama sekali tak

tahu! Rookwood teman ayah saya… tak pernah saya

duga dia bekerja untuk anda-tahu-siapa! Saya piker saya

mengumpulkan informasinya untuk pihak kami! Dan

Rookwood berkali-kali mengatakan akan memberi saya

pekerjaan di kementerian nantinya… kalau karier saya di

Quidditch sudah berakhir, anda tahu… maksud saya,

saya tak bisa dihantam Bludger terus sepanjang sisa

hidup saya, kan?”

Hadirin terkekeh.

"Kami akan mengadakan voting,” kata Mr. Crouch

dingin. Dia menoleh ke sisi kanan ruang bawah tanah.

"Para juri yang menyetujui penahanan… silakan angkat

tangan…”

Harry memandang ke arah kanan. Tak seorang pun

mengangkat tangan. Banyak para penyihir yang duduk

mengelilingi dinding mulai bertepuk tangan. Seorang juri

perempuan berdiri.

"Ya?” bentak Crouch.

"Kami hanya ingin memberi selamat pada Mr. Bagman

atas permainannya yang bagus untuk Inggris dalam

pertandingan Quidditch melawan Turki hari sabtu lalu,”

kata si penyihir wanita terengah.

725

Mr. crouch tampak berang. Ruang bawah tanah

dipenuhi gemuruh tepuk tangan sekarang. Bagman

bangkit dan membungkuk, tersenyum.

"Memalukan,” Mr. Crouch menggerutu kea rah

Dumbledore seraya duduk, sementara Bagman keluar

meninggalkan ruangan. "Rookwood memberinya

pekerjaan… Hari Ludo Bagman bergabung dengan kami

sungguh akan menjadi menyedihkan bagi kementerian…”

Dan ruangan itu memundar lagi. Setelah muncul

kembali, Harry memandang berkeliling. Dia dan

Dumbledore masih duduk di sebelah Mr. Crouch, tetapi

atmosfernya sungguh sangat berbeda. Kesenyapan

ruangan hanya dipecahkan oleh isak seorang penyihir

wanita yang penampilannya rapuh dan lemah, di tempat

duduk di sebelah Mr. Crouch. Dia menutupkan sapu

tangan ke mulutnya dengan tangan gemetar. Harry

memandang Mr. Crouch. Dia tampak lebih kurus dan

pucat daripada sebelumnya. Otot di keningnya berkedut.

"Bawa mereka masuk,” katanya, dan suaranya

bergaung di seluruh ruangan yang sunyi.

Pintu di sudut terbuka lagi. Enam dementor masuk kali

ini, mengapit empat orang. Harry melihat para penyihir

dalam ruangan menoleh memandang Mr. Crouch.

Beberapa diantaranya saling bisik.

Para dementor menempatkan masing-masing tawanan

di empat kursi berantai yang sekarang berdiri di tengah

ruangan. Seorang laki-laki gemuk yang menatap Crouch

dengan pandangan kosong, seorang laki-laki lebih kurus

dan tampak gelisah, yang matanya memandang liar ke

sekeliling ruangan, perempuan dengan rambut lebat

726

berwarna gelap dan mata berpelupuk tebal yang duduk

di kursi berantai seakan kursi itu singgasana, dan

seorang pemuda akhir belasan tahu, yang tampak sangat

ketakutan. Dia gemetar, rambutnya yang sewarna jerami

jatuh berantakan di wajahnya, kulitnya yang berbintik

pucat seputih susu. Penyihir wanita rapuh di sebelah

Crouch mulai berguncang ke depan dan ke belakang di

tempat duduknya, merintih dalam sapu tangannya.

Crouch berdiri. Dia menunduk memandang keempat

penyihir di depannya, dan wajahnya dipenuhi kebencian

luar biasa.

"Kalian dibawa ke hadapan Dewan Hukum Sihir ini,”

katanya jelas, "agar kami bisa mengadili kalian, untuk

tindak criminal begitu mengerikan…”

"Ayah,” kata si anak berambut warna jerami. "Ayah…

mohon…”

"… sehingga jarang sekali kami dengar dalam

persidangan ini,” kata Crouch, bicara lebih keras,

menenggelamkan suara anaknya. "Kami sudah

mendengar bukti-bukti yang memberatkan kalian. Kalian

berempat dituduh menangkap auror – Frank Longbottom

– dan menyerangnya dengan kutukan Cruciatus, karena

menganggap dia mengetahui keberadaan tuan kalian

yang dalam pengasingan, Dia Yang Namanya Tak Boleh

Disebut…”

"Ayah, saya tidak!” jerit si anak yang terantai di

bawah. "Saya tidak. Saya bersumpah, ayah, jangan kirim

kembali saya kepada para Dementor…”

"Selanjutnya kalian juga dituduh,” raung Mr. Crouch,

"melancarkan kutukan Cruciatus kepada istri Frank

727

Longbottom, ketika Frank tidak mau memberikan

informasi kepada kalian. Kalian merencanakan membuat

Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut kembali berkuasa

dan meneruskan hidup penuh kekejaman yang

kemungkinan telah kalian jalani sewaktu dia masih

berkuasa. Sekarang aku bertanya kepada para juri…”

"Ibu!” jerit si pemuda, dan si penyihir wanita kecil di

sebelah Crouch mulai terisak, berguncang ke depan dank

e belakang. "Ibu, hentikan dia, ibu, aku tidak

melakukannya, bukan aku!”

"Aku sekarang minta para juri,” teriak Mr. Crouch,

"untuk mengangkat tangan kalau mereka percaya,

seperti halnya aku, bahwa tindak criminal ini layak

menerima hukuman seumur hidup di Azkaban!”

Serentak, para penyihir sepanjang dinding kanan

ruang bawah tanah mengangkat tangan. Para penyihir

lainnya mulai bertepuk seperti yang mereka lakukan

terhadap Bagman, wajah-wajah mereka penuh

kemenangan ganas. Pemuda itu mulai menjerit-jerit.

"Jangan! Ibu, jangan! Aku tidak melakukannya, aku

tidak melakukannya, aku tidak tahu! Jangan kirim aku ke

sana, jangan biarkan dia kirim aku ke sana!”

Para dementor melayang kembali ke ruangan. Ketiga

kawan si pemuda bangkit dari tempat duduk mereka. Si

wanita dengan pelupuk tebal mendongak menatap

Crouch dan berseru, "Pangeran Kegelapan akan bangkit

lagi, Crouch! Lempar kami ke Azkaban ; kami akan

menunggu! Dia akan bangkit lagi dan akan dating

membebaskan kami. Dia akan memberi kami

penghargaan lebih daripada kepada pendukungnya yang

728

lain! Hanya kami yang setia! Hanya kami yang berusaha

mencarinya!”

Tetapi si pemuda berusaha memberontak dari para

dementor, kendatipun Harry bisa melihat kekuatan sedot

mereka yang dingin mulai mempengaruhinya. Para

hadirin bersorak mencemooh, beberapa diantaranya

berdiri, sementara si penyihir wanita berpelupuk tebal

meninggalkan ruangan, dan si pemuda terus

memberontak.

"Aku anakmu!” dia berteriak kepada Crouch. "Aku

anakmu!”

"Kau bukan anakku!” gerung Mr. Crouch, matanya

mendadak mendelik. "Aku tak punya anak!”

Penyihir kecil di sebelahnya memekik kaget dan

terpuruk di kursinya. Dia pingsan. Crouch tampaknya

tidak menyadarinya.

"Bawa mereka pergi!” Crouch meraung kepada para

dementor, ludahnya berhamburan dari mulutnya. "Bawa

mereka pergi, dan biarkan mereka membusuk di sana!”

"Ayah! Ayah, aku tidak terlibat! Tidak! Tidak! Ayah,

tolong!”

"Kurasa, Harry, sudah waktunya kembali ke kantorku,”

terdengar suara pelan di telinga Harry.

Harry kaget. Dia berpaling. Kemudian dia memandang

ke sisinya yang lain.

Ada Albus Dumbledore duduk di sebelah kananya,

mengawasi anak Crouch dibawa pergi para dementor –

729

dan ada Albus Dumbledore di sebelah kirinya, sedang

menatapnya.

"Ayo,” ajak Dumbledore di sebelah kirinya, dan

diletakkannya tangannya di siku Harry. Harry merasa

dirinya terangkat ke udara, ruang bawah tanah

menghilang di sekelilingnya. Sesaat yang ada hanya

kegelapan, dan kemudian dia merasa seakan sedang

jungkir balik dalam gerakan pelan, mendadak mendarat

tegak dalam benderang di kantor Dumbledore yang

dipenuhi sinar matahari. Baskom batu berkilauan dalam

lemari di depannya, dan Albus Dumbledore berdiri di

sampingnya.

"Profesor,” Harry terperangah. "Saya tahu seharusnya

saya tidak… saya tidak bermaksud… pintu lemari terbuka

dan…”

"Aku mengerti,” kata Dumbledore. Dia mengangkat

baskom itu, membawanya ke mejanya, menaruhnya di

atas permukaannya yang berkilap, dan duduk di kursi di

belakangnya. Dia memberi isyarat agar Harry duduk di

seberangnya.

Harry menurut, memandang baskom batu. Isinya telah

kembali ke keadaan semula, putih keperakan, berpusar

dan beriak di bawah tatapannya.

"Apa ini?” Tanya Harry gemetar.

"Ini? Ini namanya Pensieve,” kata Dumbledore.

"Kadang-kadang aku merasa, dan aku yakin kau tahu

perasaan ini, bahwa terlalu banyak pikiran dan memori

yang berdesakan dalam benakku.”

730

"Er,” kata Harry, yang tak bisa sejujurnya mengatakan

bahwa dia pernah merasa seperti itu.

"Pada saat-saat seperti itu,” kata Dumbledore,

menunjuk baskom batu, "aku menggunakan Pensieve.

Kita tinggal menyedot pikiran yang berlebihan dari benak

kita, menuangnya ke dalam baskom, dan mengamatinya

saat kita senggang. Menjadi lebih mudah melihat polapola

dan hubungan, kau mengerti, kalau pikiran itu ada

dalam bentuk ini.”

"Menurut anda… zat itu pikiran anda?” kata Harry,

menatap zat putih yang berpusar dalam baskom.

"Tentu,” kata Dumbledore. "Mari kutunjukkan

kepadamu.”

Dumbledore menarik keluar tongkat sihirnya dari

dalam jubahnya dan menyentuhkan ujungnya ke

rambutnya yang keperakan, dekat pelipisnya. Ketika

dijauhkannya tongkat itu, tampak ada rambut yang

menempel – tetapi kemudian Harry melihat bahwa

ternyata itu helai berkilau zat aneh putih keperakan yang

memenuhi Pensieve. Dumbledore menambahkan pikiran

baru ini ke dalam baskom, dan Harry, terkesima, melihat

wajahnya sendiri berenang mengelilingi permukaan

baskom. Dumbledore meletakkan kedua tangannya yang

panjang di kedua sisi pensieve, dan memutarnya, seperti

pencari emas yang sedang mendulang emas… dan Harry

melihat wajahnya berubah dengan mulus menjadi wajah

Snape, yang membuka mulut dan berbicara kepada

langit-langit, suaranya agak bergaung.

"Muncul lagi… milik Karkaroff juga… lebih kuat dan

lebih jelas daripada sebelumnya…”

731

"Koneksi yang bisa kubuat sendiri tanpa bantuan,”

Dumbledore menghela napas, "tapi sudahlah.” Lewat

atas kacamata bulan separonya dia menatap Harry, yang

ternganga memandang wajah Snape, yang masih

berpusar di sekeliling baskom. "Aku sedang

menggunakan pensieve ketika Fudge tiba dan aku

mengembalikannya dengan terburu-buru. Rupanya aku

tidak menutup pintunya dengan rapat. Tentu saja itu

akan menarik perhatianmu.”

"Maaf,” gumam Harry.

Dumbledore menggelengkan kepalanya.

"Keingintahuan bukan dosa,” katanya. "Tetapi kita harus

berhati-hati dengan keingintahuan kita… ya, betul…”

Mengernyit sedikit, dia menusuk pikiran di dalam

baskom dengan ujung tongkat sihirnya. Segera saja ada

sosok yang muncul dari dalamnya, anak perempuan

gemuk cemberut kira-kira berusia enam belas tahun,

yang mulai berputar pelan, dengan kaki masih di dalam

baskom. Dia sama sekali tak mengacuhkan Harry

maupun Profesor Dumbledore. Ketika berbicara,

suaranya menggema, seperti Snape, seakan suaranya

berasal dari dasar baskom batu. "Dia menyihir saya,

Profesor Dumbledore, padahal saya hanya

menggodanya, Sir, saya katakana saya melihatnya

mencium Florence di belakang rumah kaca hari kamis

lalu…”

"Tetapi kenapa, Bertha,” kata Dumbledore sedih,

memandang anak perempuan yang sekarang berputar

dalam diam, "kenapa kau harus membuntutinya?”

732

"Bertha?” bisik Harry, memandang gadis itu. "Apakah

itu… Bertha Jorkins?”

"Ya,” kata Dumbledore, menusuk pikiran dalam

baskomnya lagi. Bertha tenggelam lagi ke dalamnya, dan

isi panic kembali keperakan dan buram tak tembus

cahaya. "Itu Bertha seperti yang kuingat waktu sekolah.”

Cahaya keperakan pensieve menyinari wajah

Dumbledore, dan tiba-tiba Harry menyadari, betapa tua

tampaknya dia. Dia tahu, tentu saja, bahwa Dumbledore

memang sudah berusia lanjut, tetapi dia tak pernah

menganggap Dumbledore sebagai orang tua.

"Nah, Harry,” kata Dumbledore tenang. "Sebelum

tersesat dalam pikiranku, kau ingin memberitahu aku

sesuatu.”

"Ya,” kata Harry. "Profesor… saya tadi di kelas

Ramalan, dan… er… saya tertidur.”

Dia ragu-ragu, bertanya dalam hati kalau-kalau akan

ditegur, tetapi Dumbledore hanya mengatakan, "Bisa

dimengerti. Teruskan.”

"Saya bermimpi,” kata Harry. "Mimpi tentang Lord

Voldemort. Dia sedang menyiksa Wormtail… anda tahu

siapa Wormtail…”

"Aku tahu,” kata Dumbledore segera. "Silakan

teruskan.”

"Voldemort menerima surat dari burung hantu. Dia

mengatakan bahwa kesalahan Wormtail telah diperbaiki.

Dia mengatakan ada yang meninggal. Kemudian dia

berkata, Wormtail tidak akan diumpankan kepada ular –

ada ular di sebelah kursinya. Dia mengatakan… dia

733

mengatakan, sebagai gantinya, dia akan mengumpankan

saya pada ular itu. Kemudian dia melakukan Kutukan

Cruciatus kepada Wormtail… dan bekas luka saya sakit,”

kata Harry. "Sakit sekali, sampai membuat saya

terbangun.”

Dumbledore hanya menatapnya.

"Er… hanya itu,” kata Harry.

"Begitu,” kata Dumbledore pelan. "Begitu. Nah,

apakah lukamu pernah sakit dalam tahun ini, selain

waktu membuatmu terbangun musim panas lalu?”

"Tidak, saya… bagaimana anda tahu itu membuat

saya terbangun musim panas lalu?”

"Kau bukan satu-satunya yang bersurat menyurat

dengan Sirius,” kata Dumbledore. "Aku juga

berhubungan dengannya sejak dia meninggalkan

Hogwarts tahun lalu. Akulah yang menyarankan gua di

sisi gunung sebagai tempat tinggal teraman baginya.”

Dumbledore bangkit dan berjalan mondar mandir di

belakang mejanya. Sekali-sekali dia menempelkan ujung

tongkat sihirnya ke pelipisnya, menyedot pikiran

keperakan berkilau yang lain, dan menambahkannya ke

dalam pensieve. Pikiran-pikiran di dalam baskom mulai

berpusar begitu cepat sehingga tak ada yang bisa

ditangkap jelas oleh Harry; hanya sekadar pusaran

warna.

"Profesor?” tanyanya pelan, setelah beberapa menit

berlalu.

Dumbledore berhenti mondar mandir dan memandang

Harry.

734

"Maaf,” katanya pelan. Dia duduk lagi di belakang

mejanya.

"Tahukah… tahukah anda kenapa bekas luka saya

sakit?”

Dumbledore memandang tajam Harry sesaat, dan

kemudian berkata, "Aku punya teori, tak lebih dari itu…

Aku percaya bekas lukamu sakit jika Lord Voldemort

berada di dekatmu, dan jika dia sedang merasakan

kebencian yang amat sangat.”

"Tetapi… kenapa?”

"Karena kau dan dia dihubungkan oleh kutukan yang

gagal itu,” kata Dumbledore. "Itu bukan bekas luka

biasa.”

"Jadi menurut anda… mimpi itu… benar-benar

terjadi?”

"Bisa jadi,” kata Dumbledore. "Aku akan mengatakan…

mungkin sekali. Harry… apakah kau melihat Voldemort?”

"Tidak,” kata Harry. "Hanya punggung kursinya.

Tetapi… tak ada yang bisa dilihat kan? Maksud saya, dia

tidak memiliki tubuh kan? Tetapi… tetapi kalau begitu

bagaimana dia bisa memegang tongkatnya?” kata Harry

lambat-lambat.

"Ya bagaimana?” gumam Dumbledore. "Bagaimana

gerangan…”

Baik Dumbledore maupun Harry sesaat tak ada yang

bicara. Dumbledore memandang ke seberang ruangan,

dan sekali-sekali menyentuhkan ujung tongkatnya ke

735

pelipisnya dan menambahkan pikiran perak berkilat lain

ke dalam zat yang menggelegak di dalam pensieve.

"Profesor,” kata Harry akhirnya, "apakah menurut

anda dia bertambah kuat?”

"Voldemort?” kata Dumbledore, memandang Harry

dari atas Pensieve. Pandangannya tajam dank has,

seperti biasanya dia memandang Harry dalam

kesempatan-kesempatan lain, dan selalu membuat Harry

merasa seakan Dumbledore bisa menembusnya dengan

cara yang bahkan tak bisa dilakukan mata gaib Moody.

"Sekali lagi, Harry, aku hanya bisa memberimu

kecurigaanku.”

Dumbledore menghela napas lagi, dan dia tampak

lebih tua dan lebih lelah daripada biasanya.

"Tahun-tahun menanjaknya kekuasaan Voldemort

dulu, selalu ditandai dengan menghilangnya orang-orang.

Bertha Jorkins telah menghilang tanpa jejak di tempat

yang diketahui sebagai tempat keberadaan Voldemort

yang terakhir. Mr. Crouch juga telah menghilang… di

dalam kompleks sekolah ini. Dan ada satu lagi, yang

sayangnya tak dianggap penting oleh kementerian,

karena yang menghilang ini muggle. Namanya Frank

Bryce, dia tinggal di dusun tempat ayah Voldemort

dibesarkan, dan tak ada yang melihatnya sejak agustus

tahun lalu. Kau tahu, aku membaca Koran-koran muggle,

tidak seperti kebanyakan temanku dari kementerian.”

Dumbledore memandang Harry dengan amat serius.

"Hilangnya tiga orang ini bagiku tampaknya

berhubungan. Kementerian tidak setuju… seperti yang

736

mungkin telah kau dengar, selagi menunggu di depan

kantorku.”

Harry mengangguk. Mereka berdua terdiam lagi.

Sekali-sekali Dumbleodre mengeluarkan pikirannya. Harry

merasa seharusnya dia pergi, tetapi keingintahuannya

membuatnya bertahan di kursi.

"Profesor?” katanya lgi.

"Ya, Harry?” kata Dumbledore.

"Er… bolehkah saya bertanya tentang… pengadailan

yang saya hadiri… di dalam pensieve?”

"Boleh,” kata Dumbledore berat. "Aku sering sekali

menghadiri pengadilan, tetapi beberapa pengadilan

muncul lagi di kepalaku, dengan lebih jelas dibanding

yang lain… terutama sekarang…”

"Anda tahu… anda tahu pengadilan sewaktu anda

menemukan saya? Yang ada anak Crouchnya? Apakah…

apakah yang mereka bicarakan orang tua Neville?”

Dumbledore menatap Harry dengan pandangan sangat

tajam. "Tak pernahkah Nivelle memberitahumu kenapa

dia dibesarkan oleh neneknya?” katanya.

Harry menggeleng, menyesali diri, bagaimana

mungkin dia tidak menanyakan ini kepada Neville,

selama empat tahun mengenalnya.

"Ya, yang mereka bicarakan orang tua Neville,” kata

Dumbledore. "Ayahnya, Frank, adalah auror, seperti

Profesor Moody. Dia dan istrinya disiksa agar mau

memberi informasi tentang keberadaan Voldemort

737

setelah dia kehilangan kekuasaannya, seperti yang kau

dengar.”

"Jadi mereka meninggal?” Tanya Harry pelan.

"Tidak,” kata Dumbledore, suaranya penuh kegetiran

yang belum pernah didengar Harry. "Mereka gila. Mereka

berdua ada di St. Mungu, rumah sakit untuk penyakit dan

luka-luka sihir. Kurasa Neville mengunjungi mereka,

bersama neneknya, selama liburan, mereka tidak

mengenalnya.”

Harry duduk terpaku, ngeri. Dia tak pernah tahu… tak

pernah, dalam empat tahu, peduli untuk mencari tahu…

Suami istri Longbottom sangat popular,” kata

Dumbledore. "serangan terhadap mereka terjadi setelah

jatuhnya Voldemort, saat semua orang mengira mereka

sudah aman. Serangan itu menimbulkan gelombang

kemarahan sedemikian hebat yang tak pernah dilihat

sebelumnya. Kementerian mendapat tekanan besar

untuk menangkap pelakunya. Sayangnya, bukti dari

suami istri Longbottom – mengingat kondisi mereka – tak

bisa diandalkan.”

"Kalau begitu anak Mr. Crouch mungkin tidak terlibat?”

kata Harry perlahan.

Dumbledore menggelengkan kepala. "Soal itu, aku tak

tahu.”

Harry duduk diam lagi, menatap isi pensieve berpusar.

Ada dua pertanyaan lagi yang ingin sekali

ditanyakannya… tetapi keduanya menyangkut kesalahan

orang yang masih hidup…

"Er,” katanya, "Mr. Bagman…”

738

"… tak pernah dituduh terlibat kegiatan hitam sejak

saat itu,” kata Dumbledore tenang.

"Baik,” kata Harry buru-buru, memandang isi pensieve

lagi, yang berpusar lebih pelan sekarang, sejak

Dumbledore berhenti menambahkan pikirannya. "Dan…

er…”

Tetapi pensieve tampaknya mengajukan

pertanyaannya untuknya. Wajah Snape sekali lagi

berenang di permukaannya. Dumbledore mengerling ke

dalam pensieve, kemudian menatap Harry.

"Profesor Snape pun tidak,” katanya.

Harry memandang ke dalam mata biru cerah

Dumbledore, dan hal yang sesungguhnya ingin

ditanyakannya meluncur dari mulutnya sebelum bisa

dicegahnya.

"Apa yang membuat anda berpikir dia benar-benar

telah berhenti mendukung Voldmeort, Profesor?”

Dumbledore balas menatap Harry selama beberapa

detik, kemudian berkata, "Itu, Harry, adalah urusan

antara aku dan Profesor Snape.”

Harry tahu wawancara sudah selesai. Dumbledore

tidak tampak marah, tetapi ada finalitas dalam nadanya

yang memberitahu Harry sudah waktunya dia pergi.

Harry bangkit, begitu pula Dumbledore.

"Harry,” katanya ketika Harry sudah tiba di pintu.

"Tolong jangan bicara tentang orang tua Neville kepada

siapa pun. Dia berhak memberitahu yang lain, kalau dia

sudah siap.”

739

"Baik, Profesor,” kata Harry, berbalik untuk pergi.

"Dan…”

Harry menoleh lagi. Dumbledore berdiri di depan

pensieve, wajahnya yang diterangi dari bawah oleh

pendar-pendar cahaya keperakan, tampak lebih tua

daripada biasanya. Dia memandang Harry beberapa saat,

kemudian berkata, "Semoga sukses dengan tugas

ketigamu.”

31. Tugas Ketiga

"Menurut Dumbledore, Kau Tahu Siapa juga

bertambah kuat lagi?” Ron berbisik.

Semua yang telah dilihat Harry dalam pensieve,

hamper semua yang telah dikatakan dan ditunjukkan

Dumbledore kepadanya sesudahnya, telah diceritakannya

kepada Ron dan Hermione – dan, tentu saja, Sirius.

Harry langsung mengirim burung hantu kepada Sirius

740

begitu dia meninggalkan kantor Dumbledore. Harry, Ron

dan Hermione duduk sampai larut malam lagi di ruang

rekreasi malam itu, mendiskusikan hal itu sampai kepala

Harry pusing, sampai dia mengerti apa yang

dimaksudkan Dumbledore tentang kepala yang penuh

pikiran sehingga akan lega rasanya jika bisa disedot.

Ron memandang perapian. Harry melihat Ron bergidik

sedikit, meskipun malam itu hangat.

"Dan dia mempercayai Snape?” kata Ron. "Dia

sungguh-sungguh mempercayai Snape, meskipun dia

tahu Snape pelahap maut?”

"Ya,” kata Harry.

Hermione tidak berbicara selama sepuluh menit. Dia

duduk dengan tangan di dahinya, menatap lututnya.

Menurut Harry, Hermione perlu juga menggunakan

pensieve.

"Rita Skeeter,” dia akhirnya bergumam.

"Bagaimana mungkin kau mencemaskan dia

sekarang?” kata Ron, luar biasa heran.

"Aku tidak mencemaskan dia,” Hermione berkata pada

lututnya. "Aku Cuma berpikir… ingat apa yang

dikatakannya padaku di Three Broomsticks? ‘Aku tahu

banyak hal tentang Ludo Bagman yang akan membuat

rambutmu keriting.’ Ini yang dimaksudkannya, kan? Dia

yang menulis berita tentang pengadilannya, dia tahu

Bagman telah memberikan informasi kepada pelahap

maut. Dan Winky juga, ingat… ‘Ludo Bagman penyihir

jahat.’ Mr. Crouch pasti marah besar Ludo lolos dari

hukuman, dia pasti membicarakannya di rumah.”

741

"Yeah, tetapi Bagman tidak memberikan informasi itu

dengan sengaja, kan?”

Hermione mengangkat bahu.

"Dan Fudge berpendapat Madame Maxime yang

menyerang Crouch?” Ron berkata, berpaling memandang

Harry lagi.

"Yeah,” kata Harry, "tetapi dia bilang begitu karena

Crouch menghilang dekat kereta Beauxbatons.”

"Kita tak pernah memperhitungkan dia kan?” kata Ron

lambat-lambat.”Padahal jelas dia punya darah raksasa,

dan dia tak mau mengakuinya…”

"Tentu saja tak mau,” kata Hermione tajam,

mendongak. "Lihat saja apa yang terjadi pada Hagrid

waktu Rita Skeeter berhasil tahu tentang ibunya. Lihat

saja Fudge, langsung menyimpulkan Madame Maxime

bersalah, hanya karena dia separo raksasa. Siapa yang

perlu prasangka macam itu? Aku sendiri mungkin akan

bilang tulangku besar kalau aku tahu apa yang akan

kudapat jika mengatakan yang sebenarnya.”

Hermione memandang arlojinya. "Kita belum latihan!”

katanya, tampak kaget. "Rencananya kita akan berlatih

sihir Perintang! Kita benar-benar harus berlatih besok!

Ayo, Harry, kau perlu tidur.”

Harry dan Ron pelan-pelan naik ke kamar mereka.

Saat memakai piyamanya, Harry memandang ke tempat

tidur Neville. Memenuhi janjinya kepada Dumbledore, dia

tidak memberitahu Ron dan Hermione tentang orang tua

Neville. Setelah membuka kacamata dan naik ke tempat

tidurnya, Harry membayangkan bagaimana rasanya

742

memiliki orang tua yang masih hidup tetapi tak bisa

mengenalnya. Dia sering mendapat simpati dari orangorang

asing karena dia yatim piatu, tetapi sementara

mendengarkan dengkur Neville, dia berpikir Neville lebih

layak mendapatkannya daripada dirinya. Berbaring dalam

gelap, Harry merasakan kemarahan terhadap orangorang

yang menyiksa Mr. dan Mrs. Longbottom… Dia

teringat sorak cemooh hadirin ketika putra Crouch dan

kawan-kawannya diseret keluar oleh para dementor… Dia

mengerti bagaimana perasaan mereka… Kemudian dia

teringat wajah seputih susu pemuda yang menjerit-jerit

dan menyadari dengan kaget bahwa pemuda itu telah

meninggal setahun kemudian…

Voldemort, piker Harry, memandang langit-langit

kelambunya dalam kegelapan, semuanya gara-gara

Voldemort… Dialah yang menyebabkan keluargakeluarga

ini tercerai berai, yang telah menghancurkan

semua kehidupan mereka…

Ron dan Hermione mestinya belajar untuk

menghadapi ujian mereka, yang akan berakhir pada hari

tugas ketiga dilaksanakan, tetapi mereka melewatkan

sebagian besar waktu mereka membantu Harry

menyiapkan diri.

"Jangan khawatir,” kata Hermione pendek ketika Harry

mengingatkan mereka dan berkata dia tak keberatan

berlatih sendiri sebentar, "paling tidak kami dapat angka

tertinggi di kelas pertahanan terhadap ilmu hitam. Kita

tak akan pernah mempelajari sihir-sihir ini di kelas.”

"Latihan yang bagus untuk nanti kalau kita jadi auror,”

kata Ron bersemangat, berusaha meluncurkan sihir

perintang pada kumbang yang berdengung masuk ke

743

dalam ruangan dan membuat kumbang itu berhenti di

tengah udara.

Suasana di kastil ketika memasuki bulan juni menjadi

bergairah dan tegang lagi. Semua anak menunggununggu

tugas ketiga, yang akan dilangsungkan seminggu

sebelum akhir tahun ajaran. Harry melatih berbagai sihir

setiap ada kesempatan. Dia merasa lebih percaya diri

menghadapi tugas ini disbanding dua tugas sebelumnya.

Kendatipun tugas ini pasti sulit dan berbahaya, Moody

benar: Harry telah berhasil melewati makhluk-makhluk

mengerikan dan berbagai rintangan sihir, dan kali ini dia

telah diperingatkan sebelumnya, dia punya kesempatan

mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Bosan selalu bertemu Harry, Hermione dan Ron setiap

kali memasuki kelas mana saja di seluruh sekolah,

Profesor McGonagall memberi mereka izin untuk

menggunakan kelas Transfigurasi yang kosong pada saat

makan siang. Harry segera saja sudah menguasai Sihir

Perintang, mantra untuk memperlambat dan merintangi

penyerang; Mantra Reduktor, yang memungkinkan dia

menyingkirkan benda-benda padat darinya; dan mantra

empat penjuru, penemuan Hermione yang sangat

berguna, yang bisa membuat tongkat sihirnya menunjuk

kea rah utara, dengan demikian dia bisa mengecek

apakah dia berjalan kea rah yang benar di dalam maze.

Tetapi dia masih kesulitan melakukan mantra pelindung.

Mantra ini bisa membentenginya dengan tembok tak

kelihatan di sekelilingnya yang bisa menangkis kutukankutukan

ringan. Hermione berhasil menghancurkan

tembok itu dengan sihir kaki jeli yang tepat sasaran, dan

Harry tertatih-tatih mengelilingi ruangan selama sepuluh

744

menit sesudahnya, sampai Hermione menemukan sihir

penangkalnya.

"Tapi kemajuanmu benar-benar hebat,” kata Hermione

menyemangati, menunduk membaca daftarnya, dan

diantara sihir ini pasti berguna.”

"Sini, lihat,” kata Ron, yang berdiri di bawah jendela.

Dia memandang ke halaman di bawah. "Ngapain si

Malfoy?”

Harry dan Hermione ikut melihat. Malfoy, Crabbe, dan

Goyle berdiri dalam bayangan pohon di bawah. Crabbed

an Goyle tampaknya berjaga, keduanya menyeringai.

Malfoy menangkupkan tangan ke mulutnya dan bicara ke

dalam tangannya.

"Sepertinya dia memakai walkie talkie,” kata Harry

penasaran.

"Tak mungkin,” kata Hermione. "Sudah kubilang, alatalat

semacam itu tidak akan berfungsi di sekitar

Hogwarts. Ayo, Harry,” dia menambahkan tegas, berbalik

dari jendela dan berjalan ke tengah ruangan, "kita coba

mantra pelindung lagi.”

Sirius mengirim burung hantu setiap hari sekarang.

Seperti halnya Hermione, dia rupanya berkonsentrasi

agar Harry berhasil melewati tugas terakhir sebelum

mereka menangangi hal lain. Dia memperingatkan Harry

dalam semua suratnya bahwa apapun yang mungkin

terjadi di dinding Hogwarts bukan tanggung jawab Harry,

juga di luar kekuasaan Harry untuk mempengaruhinya.

Kalau Voldemort benar-benar bertambah kuat lagi, dia

menulis, prioritasku adalah memastikan keselamatanmu.

745

Dia tak bisa berharap menyentuhmu selama kau di

bawah perlindungan Dumbledore, tetapi tetap saja,

jangan ambil resiko. Berkonsentrasilah untuk bisa

melewati maze dengan selamat, dan setelah itu baru kita

mengalihkan perhatian untuk hal-hal lain.

Ketegangan Harry meningkat ketika tanggal dua puluh

empat juni semakin dekat, tetapi tidak separah

ketegangan yang dirasakannya menjelang tugas pertama

dan keduanya. Soalnya, dia yakin kali ini dia telah

berusaha sekuat tenaga untuk menyiapkan diri

menghadapi tugas ini. Lagipula, ini tugas terakhirnya,

dan tak peduli seberapa baik atau buruknya nanti

penampilannya, turnamen akhirnya akan usai, dan itu

merupakan kelegaan besar.

Acara sarapan di meja Gryffindor pada hari

pelaksanaan tugas ketiga sungguh seru. Burung-burung

hantu pos bermunculan, membawakan kartu semoga

sukses untuk Harry dari Sirius. Hanya secarik perkamen,

dilipat dan di bagian depannya ada cap cakar Lumpur,

tetapi Harry menghargainya. Burung hantu pekik dating

membawakan Daily Prophet Hermione seperti biasanya.

Dia membuka lipatan korannya, mengerling halaman

pertamanya, dan jus labu kuning di mulutnya tersembur

membasahi Koran itu.

"Kenapa?” Tanya Harry dan Ron bersamaan, heran

menatapnya.

"Tidak apa-apa,” kata Hermione buru-buru, berusaha

menyingkirkan korannya dari pandangan, tetapi Ron

menyambarnya. Dia membaca kepala beritanya dan

berkata, "No way. Tidak hari ini. Dasar sapi tua.”

746

"Apa?” Tanya Harry. "Rita Skeeter lagi?”

"Tidak,” kata Ron, dan seperti Hermione, dia berusaha

menyingkirkan Koran itu.

"Tentang aku, kan?” ujar Harry.

"Tidak,” kata Ron, dengan suara yang sama sekali

tidak meyakinkan.

Tetapi sebelum Harry meminta melihat Koran itu,

Draco Malfoy berteriak dari meja Slytherin di seberang

aula.

"Hei, Potter! Bagaimana kepalamu? Kau taka pa-apa?

Yakin kau tak akan mengamuk kepada kami?”

Malfoy juga memegang Daily Prophet. Anak-anak

Slytherin di meja itu terkikik dan berbalik di tempat

duduk mereka ingin melihat reaksi Harry.

"Coba kulihat,” Harry berkata kepada Ron. "Berikan

padaku.”

Sangat enggan, Ron menyerahkan Koran itu. Harry

membaliknya dan langsung berhadapan dengan fotonya

sendiri, di bawah kepala berita besar:

HARRY POTTER "TERGANGGU DAN

BERBAHAYA”

Anak yang mengalahkan Dia Yang Namanya Tak Boleh

Disebut tidak stabil dan mungkin berbahaya, demikian

tulis Rita Skeeter, Koresponden Khusus. Bukti-bukti

mengagetkan baru-baru ini diketahui tentang sikap aneh

Harry Potter, yang membuat kita meragukan apakah dia

layak ikut bertanding dalam kompetisi yang berat seperti

747

turnamen Triwizard, atau bahkan untuk bersekolah di

Hogwarts.

Potter, Daily Prophet bisa membeberkan secara

ekslusif, dari waktu ke waktu pingsan di sekolah, dan

sering didengar mengeluhkan rasa sakit yang menyerang

bekas luka di dahinya (peninggalan kutukan Anda Tahu

Siapa untuk membunuhnya). Hari senin lalu, ketika

tengah mengikuti pelajaran ramalan, reporter Daily

Prophet anda menyaksikan Potter berlari meninggalkan

kelas, menyatakan bekas lukanya sakit sekali sehingga

dia tak bisa terus ikut belajar.

Ada kemungkinan, kata ahli-ahli top di St. Mungo

Rumah Sakit untuk penyakit dan luka-luka sihir, bahwa

otak Potter rusak akibat serangan yang dilancarkan Anda

Tahu Siapa, dan pernyataannya bahwa bekas lukanya

masih sakit merupakan ekspresi kebingungannya di

bawah sadar.

"Bisa saja dia Cuma berpura-pura,” kata seorang

spesialis. "Ini bisa jadi Cuma dalih agar dia mendapat

perhatian.”

Kendatipun demikian, Daily Prophet berhasil mengorek

fakta mencemaskan yang oleh Albus Dumbledore, kepala

sekolah Hogwarts, selama ini disembunyikan rapat-rapat

dari public sihir.

"Potter bisa Parseltongue,” Draco Malfoy, murid kelas

empat, membeberkan. "Ada banyak serangan kepada

murid-murid dua tahun lalu, dan banyak anak mengira

Potter di belakang semua ini setelah mereka

menyaksikannya meledak marah di klub duel dan

melepas ular kepada seorang anak. Tetapi semua ini

748

ditutup-tutupi. Dia juga berkawan dengan manusia

serigala dan raksasa. Kami berpendapat dia akan

melakukan apa saja untuk mendapatkan sedikit

kekuasaan.”

Parselmouth, kemampuan berbicara dengan ular,

sudah sejak lama dianggap ilmu hitam. Sesungguhnya

Parselmouth paling terkenal dalam zaman kita ini tak lain

dan tak bukan adalah Anda Tahu Siapa sendiri. Seorang

anggota Liga Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang tak

mau disebut namanya, menyatakan bahwa dia akan

menganggap penyihir siapapun yang bisa bicara

Parseltongue "layak diselidiki. Secara pribadi, saya akan

curiga sekali pada siapa pun yang bisa bicara dengan

ular, karena ular seringkali digunakan dalam ilmu hitam

yang paling mengerikan, dan menurut sejarah

diasosialisasikan dengan pembuat kejahatan.” Demikian

juga, "siapa saja yang berteman dengan makhlukmakhluk

mengerikan seperti manusia serigala dan

raksasa pastilah menyukai kekejaman.”

Albus Dumbledore seharusnya mempertimbangkan,

baikkah anak seperti ini diizinkan bertanding dalam

Turnamen Triwizard. Beberapa mengkhawatirkan, Potter

akan menggunakan ilmu hitam dalam keputusasaannya

untuk memenangkan turnamen, yang tugas ketiganya

akan dilangsungkan sore ini.”

"Melebih-lebihkan aku sedikit, ya?” kata Harry enteng,

melipat kembali korannya.

Di meja Slytherin, Malfoy, Crabbed an Goyle

menertawakannya, mengetuk-ngetuk kepala mereka

dengan jari, mengeriut-ngeriutkan wajah dengan liar,

dan menjulur-julurkan lidah mereka seperti ular.

749

"Bagaimana dia bisa tahu bekas lukamu sakit waktu

pelajaran ramalan?” kata Ron. "Dia tak ada di sana, tak

mungkin dia bisa mendengar…”

"Jendelanya terbuka,” kata Harry. "Aku membukanya

supaya bisa bernapas.”

"Kau ada di puncak menara utara!” kata Hermione.

"Suaramu tak mungkin terbawa sampai ke tanah!”

"Nah, kau kan seharusnya melakukan riset metode

penyadapan secara sihir!” komentar Harry. "Coba dong

jelaskan bagaimana dia melakukannya.”

"Aku sedang berusaha!” kata Hermione. "Tetapi aku…

tetapi…”

Ekspresi ganjil, seperti melamun, mendadak menyaput

wajah Hermione. Perlahan dia mengangkat tangan dan

menyisiri rambut dengan jarinya.

"Kau taka pa-apa?” Tanya Ron, mengernyit

memandangnya.

"Tidak,” kata Hermione menahan napas. Dia menyisir

rambut dengan jarinya lagi, dan kemudian mengangkat

tangan ke depan mulutnya, seakan sedang bicara ke

walkie talkie yang tak kelihatan. Harry dan Ron saling

pandang.

"Aku puny aide,” kata Hermione, pandangannya

menerawang jauh. "Kurasa aku tahu… karena dengan

begitu tak seorangpun bisa melihat… bahkan Moody pun

tidak… dan dia akan bisa ke ambang jendela… tetapi dia

tak boleh… dia jelas tak boleh… kurasa rahasianya sudah

ketahuan! Beri aku dua menit di perpustakaan – untuk

memastikannya!”

750

Bicara begitu, Hermione menyambar tas sekolahnya

dan berlari meninggalkan aula besar.

"Oi,” Ron memanggilnya. "Kita ujian sejarah sihir

sepuluh menit lagi. Astaga,” katanya, berpaling kembali

ke Harry, "dia pasti benci sekali si Skeeter itu sampai

mau mengambil resiko telat dating ke ujian. Apa yang

akan kaulakukan di kelas Binns – membaca lagi?”

Sebagai juara Triwizard, Harry dibebaskan dari

mengikuti ujian akhir tahun ajaran, dan sejauh ini dia

duduk di belakang dalam setiap ujian, mencari-cari sihir

baru untuk tugas ketiga.

"Kurasa begitu,” kata Harry kepada Ron. Tetapi saat

itu Profesor McGonagall mendatanginya di meja

Gryffindor.

"Potter, para juara berkumpul di ruang di sebelah aula

setelah sarapan,” katanya.

"Tetapi tugasnya baru malam ini!” kata Harry, tak

sengaja menumpahkan telur orak ariknya ke bagian

depan jubahnya. Harry mengira dia salah mengingat

waktunya.

"Aku tahu, Potter,” kata Profesor McGonagall.

"Keluarga para juara diundang untuk menonton tugas

terakhir. Ini hanya kesempatan bagimu untuk

menyambut mereka.”

Dia pergi. Harry melongo memandangnya.

"Dia tidak mengharap keluarga Dursley akan muncul,

kan?” katanya bingung kepada Ron.

751

"Entahlah,” kata Ron. "Harry, aku sebaiknya bergegas,

sudah hamper telat ke ujian Binns nih. Sampai nanti.”

Harry menyelesaikan sarapannya di aula besar yang

semakin kosong. Dia melihat Fleur Delacour bangkit dari

meja Ravenclaw dan bergabung dengan Cedric ketika

Cedric menyeberang ke ruang sebelah dan

memasukinya. Krum berjalan membungkuk mengikuti

jejak mereka tak lama kemudian. Harry tetap tinggal di

tempatnya. Dia tak ingin ke ruangan itu. Dia tak punya

keluarga – keluarga yang mau dating untuk

menontonnya mempertaruhkan hidupnya, paling tidak.

Tetapi ketika dia bangkit, berpikir dia sebaiknya ke

perpustakaan dan membaca-baca tentang sihir lagi, pintu

ruangan sebelah terbuka, dan Cedric menjulurkan

kepalanya.

"Harry, ayo, mereka menunggumu!”

Benar-benar bingung, Harry bangkit. Mana mungkin

keluarga Dursley ada di sini? Dia menyeberangi aula dan

membuka pintu ruangan.

Cedric dan orang tuanya tepat di dekat pintu. Viktor

Krum di salah satu sudut, mengobrol dengan ibu dan

ayahnya yang berambut gelap dalam bahasa Bulgaria

yang cepat. Dia mewarisi hidung bengkok ayahnya. Di

sisi lain ruangan, Fleur sedang mengoceh dalam bahasa

Perancis kepada ibunya. Adik Fleur, Gabrielle,

memegangi tangan ibunya. Dia melambai kepada Harry,

yang membalas melambai, tersenyum. Kemudian dia

melihat Mrs. Weasley dan Bill berdiri di dekat perapian,

tersenyum kepadanya.

752

"Kejutan!” kata Mrs. Weasley riang, ketika Harry

tersenyum lebar dan berjalan kea rah mereka. "Kamu

dating mau menontonmu, Harry!” Dia menunduk

mengecup pipi Harry.

"Kau baik-baik saja?” kata Bill, nyengir kepada Harry

dan menjabat tangannya. "Charlie sebetulnya mau

dating, tapi dia tak bisa cuti. Dia cerita kau hebat sekali

waktu melawan si naga ekor berduri.”

Fleur Delacour, Harry memperhatikan, mengawasi Bill

dengan penuh perhatian lewat atas bahu ibunya. Jelas

bagi Harry dia sama sekali tak keberatan pada rambut

panjang Bill ataupun anting-anting besar dengan taring

sebagai gantungannya.

"Kalian baik sekali,” Harry bergumam kepada Mrs.

Weasley. "Tadi kupikir… keluarga Dursley…”

"Hmm,” kata Mrs. Weasley, mengerucutkan bibirnya.

Dia selalu menahan diri mengkritik keluarga Dursley di

depan Harry, tetapi matanya berkilat setiap kali nama

mereka disebut.

"Senang sekali kembali ke sini,” kata Bill, memandang

berkeliling ruangan (Violet, teman si Nyonya Gemuk,

mengedip kepadanya dari dalam piguranya). "Sudah lima

tahun tidak melihat tempat ini. Apa lukisan kesatria gila

itu masih ada? Sir Cadogan?”

"Oh yeah,” kata Harry, yang pernah ketemu Sir

Cadogan tahun sebelumnya.

"Dan si Nyonya Gemuk?” Tanya Bill.

753

"Dia sudah ada waktu aku bersekolah di sini,” kata

Mrs. Weasley. "Dia mendampratku habis suatu malam

ketika aku pulang bersama pukul empat pagi…”

"Ngapain Mum di luar asrama sampai pukul empat

pagi?” Tanya Bill, keheranan memandang ibunya.

Mrs. Weasley nyengir, matanya berkilauan.

"Ayahmu dan aku jalan-jalan malam,” katanya. "Dia

tertangkap Apollyon Pringle – dia penjaga sekolah waktu

itu – masih ada bekasnya pada ayahmu.”

"Mau mengantar kami berkeliling, Harry?” kata Bill.

"Yeah, baiklah,” kata Harry, dan mereka berjalan me

pintu menuju Aula Besar. Ketika mereka melewati Amos

Diggory, dia menoleh.

"Nah, ini dia,” katanya, memandang Harry dari atas

bawah. "Pasti kau tidak sesombong dulu lagi setelah

Cedric mengejar angkamu, kan?”

"Apa?” kata Harry.

"Jangan pedulikan dia,” kata Cedric dengan suara

rendah kepada Harry, mengernyit kepada ayahnya. "Dia

marah terus sejak munculnya artikel Rita Skeeter tentang

Turnamen Triwizard – tahu, kan, waktu dia menulis

Cuma kau juara Hogwarts-nya.”

"Dia tidak mengoreksinya kan?” kata Amos Diggory

cukup keras untuk didengar Harry ketika dia melangkah

keluar pintu bersama Mrs. Weasley dan Bill. "Tunjukkan

kepadanya, Ced. Kau pernah mengalahkan dia sekali

kan?”

754

"Rita Skeeter memang tukang bikin masalah, Amos!”

kata Mrs. Weasley marah. "Mestinya kau tahu itu, kau

kan bekerja di kementerian!”

Tampaknya Mr. Diggory akan mengatakan sesuatu

dengan marah, tetapi istrinya memegang lengannya, dan

Mr. Diggory hanya memegang bahu lalu berpaling.

Harry menikmati pagi yang sangat menyenangkan,

berjalan di lapangan bermandi sinar mentari bersama Bill

dan Mrs. Weasley, menunjukkan kereta Beauxbatons dan

kapal Durmstrang kepada mereka. Mrs. Weasley tertarik

sekali kepada dedalu raksasa, yang ditanam setelah dia

meninggalkan sekolah, dan mengenang berlama-lama

pengawas binatang liar sebelum Hagrid, seorang laki-laki

bernama Ogg.

"Bagaimana kabar Percy?” Harry bertanya ketika

mereka berjalan mengelilingi rumah-rumah kaca.

"Tidak baik,” kata Bill.

"Dia sedang bingung sekali,” kata Mrs. Weasley

merendahkan suaranya dan memandang ke sekitarnya.

"Kementerian ingin menyembunyikan lenyapnya Mr.

Crouch, tetapi Percy berkali-kali diinterogasi soal instruksi

yang selama ini dikirim Mr. Crouch kepadanya. Mereka

rupanya berpendapat ada kemungkinan pesan-pesan itu

tidak ditulis olehnya sendiri. Percy belakangan ini stress

berat. Mereka tidak mengizinkannya menggantikan Mr.

Crouch sebagai juri kelima malam ini. Cornelius Fudge

yang akan menggantikannya.”

Mereka kembali ke kastil untuk makan siang.

755

"Mum… Bill!” kata Ron, tercengang, ketika dia

bergabung ke meja Gryffindor. "Kenapa kalian ada di

sini?”

"Mau menonton Harry melaksanakan tugas

terakhirnya!” kata Mrs. Weasley cerah. "Harus kuakui,

asyik sekali-sekali tidak memasak. Bagaimana ujianmu?”

"Oh… oke,” kata Ron. "Aku tak bisa ingat semua nama

goblin pemberontak, jadi beberapa kukarang saja sendiri.

Tidak apa-apa,” katanya, seraya mengambil bubur

Cornwall, sementara Mrs. Weasley memandangnya galak,

"nama-namanya seperti Bodrod si Berewok dan Urg si

Jorok, tidak susah kok.”

Fred, George dan Ginny duduk bersama mereka juga,

dan Harry senang sekali. Rasanya seakan dia kembali ke

The Burrow. Dia telah lupa mencemaskan tugas nanti

malam, dan waktu Hermione muncul, ketika mereka

sudah separo jalan makan, dia baru saja ingat bahwa

Hermione tadi puny aide tentang Rita Skeeter.

"Apakah kau mau memberitahu kami…”

Hermione menggeleng memperingatkan dan

mengerling Mrs. Weasley.

"Halo, Hermione,” kata Mrs. Weasley, jauh lebih kaku

daripada biasanya.

"Halo,” kata Hermione, senyumnya menjadi ragu-ragu

karena ekspresi dingin di wajah Mrs. Weasley.

Harry memandang mereka berdua, kemudian berkata,

"Mrs. Weasley, anda tidak percaya omong kosong yang

ditulis Rita Skeeter di Witch Weekly, kan? Karena

Hermione bukan pacar saya.”

756

"Oh!” kata Mrs. Weasley. "Tidak… tentu saja aku tidak

percaya!”

Tetapi dia menjadi jauh lebih hangat terhadap

Hermione setelah itu.

Harry, Bill dan Mrs. Weasley melewatkan sore itu

dengan berjalan-jalan mengelilingi kastil, dan kemudian

kembali ke aula besar untuk pesta makan malam. Ludo

Bagman dan Cornelius Fudge telah bergabung di meja

guru sekarang. Bagman tampak ceria, tetapi Cornelius

Fudge, yang duduk di sebelah Madame Maxime, tampak

galak dan tidak bicara. Madame Maxime berkonsentrasi

ke piringnya, dan matanya tampak merah. Hagrid

berulang-ulang mengerling kepadanya dari seberang

meja.

Ada lebih banyak jenis makanan daripada biasanya,

tetapi Harry, yang mulai merasa gelisah sekarang tidak

makan banyak. Sementara langit-langit sihir di atas mulai

berubah warna dari biru ke ungu gelap, Dumbledore

bangkit di meja guru dan aula besar menjadi sunyi.

"Para ibu bapak, anak-anak, lima menit lagi saya akan

meminta kalian menuju ke lapangan Quidditch untuk

menyaksikan tugas ketiga dan terakhir Turnamen

Triwizard. Para juara dipersilakan mengikuti Mr. Bagman

untuk ke stadion sekarang.”

Harry berdiri. Anak-anak Gryffindor bertepuk

untuknya. Keluarga Weasley dan Hermione semua

mengucapkan semoga sukses. Harry meninggalkan aula

besar bersama Cedric, Fleur dan Viktor.

757

"Kau baik-baik saja, Harry?” Bagman menanyainya

ketika mereka menuruni undakan menuju ke

halamannya. "Mantap?”

"Saya baik-baik saja,” kata Harry. Ada benarnya juga

sih. Dia memang gelisah, tetapi ketika, sambil berjalan,

mengingat-ingat semua sihir dan mantra uang telah

dilatihnya, dan ternyata ingat semuanya, dia merasa

lebih baik.

Mereka berjalan ke lapangan Quidditch, yang sekarang

sama sekali tak bisa dikenali. Pagar tanaman setinggi

enam meter mengelilinginya. Ada lubang di depan

mereka, pintu masuk ke maze. Lorong-lorong di

dalamnya tampak gelap dan membuat bulu roma berdiri.

Lima menit kemudian, tempat duduk penonton mulai

terisi. Udara dipenuhi suara-suara bergairah dan

gemuruh langkah kaki ketika ratusan pelajar menuju ke

tempat duduk mereka. Langit berwarna biru tua cerah

sekarang, dan bintang-bintang mulai bermunculan.

Hagrid, Profesor Moody, Profesor McGonagall, dan

Profesor Flitwick memasuki stadion dan mendekati

Bagman dan para juara. Mereka memakai bintang besar

merah yang menyala pada topi mereka, semuanya,

kecuali Hagrid, yang memakai bintangnya di bagian

belakang rompi bulu tikus mondoknya.

"Kami akan berpatroli di luar maze,” kata Profesor

McGonagall kepada para juara. "Jika kalian mendapat

kesulitan dan ingin diselamatkan, kirim bunga api merah

ke udara, dan salah astu dari kami akan dating

menolong. Kalian mengerti?”

Para juara mengangguk.

758

"Jalankan tugas kalian, kalau begitu!” kata Bagman

cerah kepada keempat petugas patroli.

"Semoga sukses, Harry,” bisik hagrid, dan keempatnya

berjalan ke empat jurusan yang berbeda, untuk berjaga

di sekeliling maze. Bagman sekarang mengarahkan

tongkat ke lehernya, bergumam, "Sonorus,” dan

suaranya yang diperkeras secara sihir bergaung di

seluruh stadion.

"Para ibu bapak, dan hadirin sekalian, tugas ketiga

dan terakhir Turnamen Triwizard akan segera dimulai!

Saya akan mengingatkan bagaimana posisi nilai saat ini!

Seri di tempat pertama, masing-masing dengan jumlah

angka delapan puluh lima – Mr. Cedric Diggory dan Mr.

Harry Potter, keduanya dari sekolah sihir Hogwarts!”

sorak dan tepuk tangan yang membahana membuat

burung-burung dari Hutan Terlarang beterbangan ke

langit yang mulai gelap. "Di tempat kedua, dengan angka

delapan puluh – Mr. Viktor Krum, dari Institut

Durmstrang!” tepuk tangan lagi. "Dan di tempat ketiga –

Miss Fleur Delacour, dari Akedemi Beauxbatons!”

Harry bisa melihat Mrs. Weasley, Bill, Ron dan

Hermione bertepuk tangan untuk Fleur dengan sopan, di

tempat duduk tengah. Dia melambai kepada mereka, dan

mereka membalas melambai, tersenyum kepadanya.

"Jadi… setelah tiupan peluitku, Harry dan Cedric!” kata

Bagman. "Tiga… dua… satu…”

Dia meniup pendek peluitnya sekali, dan Harry serta

Cedric bergegas memasuki maze.

Pagar tanaman yang tinggi membuat baying-bayang

gelap di jalan setapak, dan, entah apakah karena

759

pagarnya sangat tebal dan tinggi atau karena pagar itu

telah disihir, suara-suara dari para penonton di sekeliling

mereka langsung tak terdengar begitu mereka memasuki

maze. Harry merasa hamper seperti di dalam air lagi. Dia

mencabut tongkat sihirnya, bergumam, "Lumos,” dan

mendengar Cedric melakukan yang sama di belakangnya.

Setelah kira-kira lima puluh meter, mereka tiba di jalan

bercabang. Mereka saling pandang.

"Sampai ketemu,” kata Harry, dan dia berjalan ke kiri

sementara Cedric mengambil jalan ke kanan.

Mereka mendengar peluit Bagman untuk kedua

kalinya. Krum telah memasuki maze. Harry mempercepat

langkahnya. Jalan yang dipilihnya tampaknya kosong. Dia

berbelok ke kanan, dan bergegas maju, memegangi

tongkat tinggi di atas kepalanya, berusaha melihat

sejauh mungkin. Tetap saja tak ada yang terlihat.

Peluit Bagman berbunyi di kejauhan untuk ketiga

kalinya. Semua juara sekarang sudah berada di dalam.

Harry berkali-kali menengok ke belakangnya. Perasaan

bahwa ada yang mengawasi melandanya. Maze

bertambah gelap menit demi menit, sementara langit di

atas menggelap menjadi biru tua. Dia tiba di jalan

bercabang yang kedua.

"Arahkan aku,” dia berbisik kepada tongkat sihirnya,

memeganginya mendatar, menempel di telapak

tangannya.

Tongkat itu segera berputar sekali dan menunjuk kea

rah kanannya, ke pagar yang rapat. Itu utara dan Harry

tahu dia perlu ke barat laut untuk mencapai pusat maze.

760

Yang terbaik yang bisa dilakukannya adalah mengambil

jalan ke kiri dan ke kanan lagi secepat mungkin.

Jalan di depannya juga kosong, dan ketika Harry tiba

di tikungan ke kanan dan mengambilnya, sekali lagi dia

lihat jalannya tanpa hambatan. Harry tak tahu kenapa,

tetapi ketiadaan rintangan ini membuatnya cemas.

Bukannya mestinya dia sudah ketemu seseatu? Rasanya

seakan maze memancingnya ke dalam rasa aman yang

menipu. Kemudian didengarnya gerakan di belakangnya.

Dia mengangkat tongkatnya, siap menyerang, tetapi

cahayanya ternyata jatuh ke Cedric, yang baru saja

bergegas muncul dari jalan setapak di sebelah kanan.

Cedric tampak terguncang sekali. Lengan jubahnya

berasap.

"Skrewt Ujung Meletup Hagrid!” dia mendesis. "Besarbesar

sekali… aku baru saja berhasil lolos!”

Cedric menggelengkan kepala dan menghilang lagi ke

jalan setapak lainnya. Ingin mengambil jarak sejauh

mungkin dengan Skrewt, Harry bergegas lagi. Kemudian,

ketika berbelok di sudut, dia melihat… Dementor

menyerang ke arahnya. Dengan tinggi lebih dari tiga

setengah meter, wajahnya tersembunyi di balik

kerudungnya, tangannya yang bersisik dan membusuk

terjulur ke depan, dementor itu maju, memilih jalan

dalam kebutaannya, menuju Harry. Harry bisa

mendengar napasnya yang berderak. Rasa dingin basah

menerpanya, tetapi dia tahu apa yang harus

dilakukannya…

Dia mencari peristiwa yang paling membahagiakan,

berkonsentrasi sepenuhnya membayangkan dia berhasil

keluar dari maze dan merayakannya bersama Ron dan

761

Hermione, mengangkat tongkatnya, dan berseru

"Expecto Patronum!”

Seekor rusa jantan perak muncul dari ujung tongkat

Harry dan berlari kea rah si dementor, yang jatuh

terjengkang, terserimpet tepi jubahnya sendiri… Harry

belum pernah melihat dementor jatuh.

"Tunggu!” teriaknya, maju mengikuti Patronus

peraknya. Kau Boggart! Riddikulus!”

Terdengar lecutan keras, dan si pengubah bentuk

meletup menjadi kepulan asap. Si rusa perak perlahan

menghilang dari pandangan. Harry ingin sekali rusa itu

tinggal, dia perlu teman… tetapi dia maju terus, secepat

mungkin dan sebisa mungkin tanpa membuat suara,

mendengarkan dengan tajam, tongkatnya sekali lagi

terangkat tinggi.

Kiri… kanan… kiri lagi…. Dua kali dia menemui jalan

buntu. Dia menggunakan mantra empat penjuru lagi dan

ternyata dia terlalu ke timur. Dia berbalik, berbelok ke

kanan, dan melihat kabut ganjil keemasan melayang di

depannya.

Harry pelan-pelan mendekatinya, mengarahkan

cahaya tongkat ke kabut itu. Kelihatannya semacam hasil

sihiran. Dia bertanya-tanya dalam hati, bisakah dia

menyingkirkannya.

"Reducto!” katanya.

Mantranya meluncur menembus kabut, namun kabut

itu tetap utuh. Harry sadar dia seharusnya tahu, mantra

reduktor hanyalah untuk benda padat. Apa yang akan

762

terjadi kalau dia berjalan menembus kabut? Layakkah

dicoba, atau haruskah dia mundur?

Dia masih ragu-ragu ketika terdengar jeritan memecah

keheningan.

"Fleur?” Harry berteriak.

Sunyi. Dia memandang ke sekitarnya. Apa yang terjadi

kepadanya? Teriakannya terdengar dating dari depan.

Harry menarik napas dalam dan berlari menembus kabut

sihir itu.

Dunia jadi terbalik. Harry tergantung dari tanah,

rambutnya berdiri, kacamatanya merosot ke hidungnya,

nyaris terjatuh ke langit tanpa dasar. Harry

mencengkeram kacamatanya dan menempelkannya ke

ujung hidungnya dan menggantung di sana, ketakutan.

Rasanya kakinya menempel ke rerumputan, yang

sekarang menjadi langit-langit. Di bawahnya, langit gelap

bertabur bintang terbentang tanpa batas. Dia merasa

seakan kalau dia menggerakan salah satu kakinya, dia

akan terjatuh dari lantai.

Pikirkan, katanya kepada diri sendiri, sementara

semua darahnya mengalir ke kepala, pikirkan…

Tapi tak satupun mantra yang telah dilatihnya didesain

untuk menghadapi langit dan bumi yang tiba-tiba

terbalik. Beranikah dia memindahkan kakinya? Dia bisa

mendengar darah bertalu-talu di telinganya. Dia punya

dua pilihan – mencoba bergerak, atau mengirim bunga

api merah, dan diselamatkan serta didiskualifikasi dari

pertandingan.

763

Harry memenjamkan mata, agar dia tak melihat

angkasa kosong di bawahnya, dan menarik kaki

kanannya sekuat tenaga dari langit-langit berumput.

Mendadak saja dunia lurus lagi. Harry jatuh terduduk

di tanah padat yang menyenangkan. Sesaat dia lemas

saking shock-nya. Dia menarik napas dalam-dalam untuk

menenangkan diri, kemudian bangkit lagi dan berlari

maju, menoleh memandang kabut emas yang berkelip

naïf kepadanya dalam cahaya bulan.

Dia berhenti di ujung jalan bercabang dan

memandang berkeliling mencari-cari Fleur. Dia yakin

Fleur-lah yang tadi berteriak. Apa yang dia jumpai?

Apakah dia baik-baik saja? Tak ada tanda-tanda bunga

api merah – apakah itu berarti dia bisa melepaskan diri

dari kesulitan, atau apakah kesulitannya begitu besar

sehingga dia tak bisa mencabut tongkat sihirnya? Harry

mengambil jalan ke kanan dengan perasaan yang

semakin tak enak… pada saat bersamaan mau tak mau

dia berpikir, satu juara telah jatuh…

Piala itu berada di dekat-dekat situ, dan

kedengarannya Fleur sudah tak ikut bertanding. Harry

sudah sejauh ini, kan? Bagaimana jika dia berhasil

menang? Sekilas, dan untuk pertama kalinya sejak dia

menjadi juara, Harry melihat lagi bayangan dirinya,

mengangkat Piala Triwizard di depan seluruh sekolah…

Dia tak bertemu apapun selama sepuluh menit, tetapi

berkali-kali menemui jalan buntu. Dua kali dia berbelok

ke jalan keliru yang sama. Akhirnya dia menemukan rute

baru dan mulai berlari kecil sepanjang jalan itu, cahaya

tongkatnya hilang timbul dan berdistorsi di dinding

764

pagar. Kemudian dia membelok di tikungan lain dan

berhadapan dengan Skrewt Ujung Meletup.

Cedric benar – Skrewt itu besar sekali. Dengan

panjang tiga meter, skrewt itu mirip sekali kalajengking

raksasa. Sengatnya yang panjang melingkar di

punggungnya. Kulit cangkangnya yang tebal berkilap

tertimpa cahaya tongkat Harry yang diacungkan ke

arahnya.

"Stupefy!”

Mantra ini mengenai kulitnya dan memantul. Harry

menunduk tepat pada waktunya, tetapi bisa membaui

rambut yang hangus. Mantra yang membalik tadi telah

mengenai ujung rambutnya. Si Skrewt mengeluarkan

semburan api dari ujungnya dan berlari ke arahnya.

"Impedimenta!” teriak Harry. Mantra ini mengenai

skrewt lagi dan kembali memantul. Harry terhuyung ke

belakang beberapa langkah dan terjatuh.

"IMPEDIMENTA!”

Skrewt itu tinggal beberapa senti darinya ketika

membeku – Harry berhasil mengenai bagian bawah

tubuhnya yang tak tertutup cangkang. Terengah, Harry

memaksa diri menjauh darinya dan berlari, kencang, kea

rah berlawanan – sihir perintang ini tak permanent. Si

skrewt akan bisa menggunakan kakinya lagi setiap saat.

Dia mengambil jalan ke kiri dan tiba di jalan buntu,

kanan, jalan buntu juga, memaksanya berhenti, dia

melakukan mantra empat penjuru lagi, mundur, dan

memilih jalan setapak yang akan membawanya ke barat

laut.

765

Harry sudah berlarian di jalan baru ini selama

beberapa menit ketika dia mendengar sesuatu di jalan

yang sejajar dengan jalan pilihannya, yang membuatnya

berhenti.

"Apa yang kau lakukan?” terdengar teriakan Cedric.

"Menurutmu sedang apa kau?”

Dan kemudian Harry mendengar suara Krum.

"Crucio!”

Keheningan mendadak dipenuhi jeritan-jeritan Cedric.

Ngeri, Harry mulai berlari, berusaha mencari jalan ke

tempat Cedric. Ketika tak ada yang muncul, dia mencoba

mantra Reduktor lagi. Tak begitu efektif, tetapi berhasil

membuat lubang kecil dip agar, ke dalam mana Harry

menjejalkan kakinya, menendang-nendang semak

berduri lebat dan ranting-ranting sampai akhirnya

terbentuk lubang cukup besar. Harry menyeruak masuk

melewatinya, membuat jubahnya robek dan memandang

ke kiri, dia menlihat Cedric menggelepar dan menggeliatgeliat

di tanah, Krum berdiri di sebelahnya.

Harry berhenti dan mengacungkan tongkatnya kea rah

Krum, tepat ketika Krum mendongak. Krum berbalik dan

lari.

"Stupefy!” teriak Harry.

Kutukan itu mengenai punggung Krum. Dia berhenti

mendadak, jatuh terjerembap, dan berbaring

menelungkup di rerumputan. Harry berlari mendekati

Cedric, yang sudah berhenti berkelojotan dan terbaring

tersengal, tangannya menutupi wajahnya.

766

"Kau tak apa-apa?” tanya Harry keras, menarik lengan

Cedric.

"Yeah,” sengal Cedric. "Yeah… aku tak percaya… dia

mengendap-endap di belakangku… aku mendengarnya.

Aku menoleh, dan ternyata tongkat sihirnya sudah

teracung kepadaku…”

Cedric berdiri. Dia masih gemetar. Dia dan Harry

menunduk melihat Krum.

"Aku tak percaya… kupikir dia baik,” Harry berkata,

menatap Krum.

"Aku juga,” kata Cedric.

"Apakah kau tadi melihat Fleur berteriak?” tanya

Harry.

"Yeah,” kata Cedric. "Menurutmu Krum menyerangnya

juga?”

"Aku tak tahu,” kata Harry pelan.

"Kita tinggalkan dia di sini?” gumam Cedric.

"Tidak,” kata Harry. "Kurasa kita harus mengirim

bunga api merah. Akan ada yang datang

mengambilnya… kalau tidak, jangan-jangan nanti dia

dimakan Skrewt.”

"Pantas baginya,” gumam Cedric, tetapi dia toh

mengangkat tangannya dan mengirim semburan bunga

api merah ke angkasa, yang melayang tinggi di atas

Krum, menandai tempatnya tergeletak.

Harry dan Cedric berdiri dalam kegelapan,

memandang ke sekeliling mereka. Kemudian Cedric

berkata, "Kurasa… sebaiknya kita jalan lagi…”

767

"Apa?” kata Harry. "Oh… yeah… betul…”

Saat yang canggung. Dia dan Cedric sekejap tadi

dipersatukan oleh Krum – sekarang fakta bahwa mereka

bersaing teringat oleh Harry. Keduanya berjalan

sepanjang jalan gelap tanpa bicara, kemudian Harry

menikung ke kiri dan Cedric ke kanan. Langkah-langkah

kaki Cedric segera tak terdengar lagi.

Harry maju, terus memakai mantra empat penjurnya,

memastikan dia bergerak ke arah yang benar. Sekarang

tinggal dia dan Cedric. Keinginannya untuk mencapai

piala lebih dulu berkobar lebih kuat daripada

sebelumnya, tetapi dia nyaris tak percaya melihat apa

yang baru saja dilakukan Krum. Menggunakan Kutukan

Tak Termaafkan pada sesama rekan berarti hukuman

seumur hidup di Azkaban, itu yang dikatakan Moody

kepada mereka. Krum tentunya tidak menginginkan piala

Triwizard sampai separah itu… Harry bergegas.

Berkali-kali dia bertemu jalan buntu lagi, tetapi

kegelapan yang semakin pekat membuatnya merasa

yakin dia semakin dekat dengan pusat maze. Kemudian,

ketika menyusuri jalan panjang lurus, dia melihat

gerakan lagi, dan cahaya tongkatnya mengenai makhluk

luar biasa, makhluk yang hanya pernah dia lihat

gambarnya, di dalam buku Monster tentang Monster.

Makhluk itu sphinx. Tubuhnya adalah tubuh singa

yang eksta besar ; dengan cakar berkuku tajam dan ekor

besar kekuningan yang ujungnya berupa sejumput

rambut coklat. Tetapi kepalanya adalah kepala

perempuan. Dia mengarahkan matanya yang panjang

berbentuk buah badam pada Harry sementara Harry

mendekat. Harry mengangkat tangannya, ragu-ragu.

768

Sphinx itu tidak mendekam siap menerkam, melainkan

berjalan dari sisi ke sisi, menghalangi jalan Harry.

Kemudian dia berbicara, dengan suara dalam dan parau.

"Kau sudah dekat sekali dengan sasaranmu. Jalan

yang paling cepat adalah melewatiku.”

"Jadi… jadi, maukah kau menepi?” kata Harry, sudah

tahu apa jawabannya.

"Tidak,” jawabnya, masih terus mondar-mandir.

"Tidak, kecuali kau bisa menjawab teka-tekiku.

Jawabannya kata dalam bahasa Inggris. Jika terjawab

pada tebakan pertama – kuizinkan kau lewat. Kalau

jawabanmu salah- kuserang kau. Tetap diam – kuizinkan

kau pergi dariku tanpa cedera.”

Hari Harry mencelos. Hermione-lah yang jago tekateki,

bukan dia. Dia menimbang kesempatannya. Kalau

teka-tekinya terlalu sulit, dia bisa diam saja,

meninggalkan sphinx tanpa cedera, dan berusaha

mencari jalan alternative ke pusat maze.

"Oke,” katanya. "Bolehkah aku mendengar tekatekinya?”

Si Sphinx duduk di atas kaki belakangnya, dan mulai

berdeklamasi:

"Awalnya pikirkan orang yang hidup dalam

penyamaran,

Yang melakukan segalanya secara rahasia

Dan mengucapkan hanya kebohongan.

Berikutnya, katakana padaku apa yang di dapat di

ujung tekad.

769

Ada di awal dendam dan di akhir abad?

Dan akhirnya berikan padaku bunyi yang sering

terdengar

Selama mencari kata yang sulit ditemukan.

Sekarang rangkai ketiganya, dan jawablah segera,

Makhluk apa yang kau paling segan menciumnya?”

Harry ternganga menatapnya.

"Boleh kudengar sekali lagi… lebih lambat?” tanyanya

ragu.

Dia mengedip, tersenyum, dan mengulang puisi itu.

"Semua petunjuk mengarah pada makhluk yang aku

segan menciumnya?” Tanya Harry.

Dia hanya tersenyum misterius. Harry menganggap itu

sebagai "ya”. Harry memutar otak. Banyak binatang yang

tak ingin diciumnya. Yang langsung muncul dalam

benaknya adalah Skrewt Ujung Meletup, tetapi sesuatu

memberitahunya itu bukan jawabannya. Dia berusaha

merangkai petunjuknya.

"Orang dalam penyamaran,” Harry bergumam,

memandang si Sphinx, "yang berbohong… er… itu –

penipu. Bukan, bukan itu tebakanku. Er… mata-mata –

spy? Nanti aku balik lagi… bisakah kauberikan lagi

petunjuk berikutnya?”

Dia mengulang baris-baris berikutnya.

"Yang didapat di ujung tekad?” Harry mengulang.

"Er… tak tahu… ada di awal dendam… bolehkah

bolehkah aku dengar yang paling akhir lagi?”

770

Dia mengucapkan empat baris terakhir.

"Bunyi yang sering terdengar selama mencari kata

yang sulit ditemukan,” kata Harry. "Er… itu… er… tunggu

– ‘er’! er kan bunyi!”

Si Sphinx tersenyum kepadanya.

"Spy… er… spy… er…,” kata Harry, berjalan mondarmandir.

"Makhluk yang aku tak ingin menciumnya…

spider! Labah-labah!”

Si Sphinx tersenyum lebih lebar. Dia bangkit,

meregangkan kaki depannya, dan kemudian menyisih

agar Harry bisa lewat.

"Trims!” kata Harry, dan kagum akan

kecemerlangannya, dia buru-buru lewat.

Dia pasti sudah dekat sekarang, pasti… tongkatnya

menunjukkan dia berada di jalur yang benar, asal dia

tidak bertemu sesuatu yang mengerikan, dia punya

kesempatan…

Harry berlari sekarang. Dia harus memilih jalan di

depan. "Arahkan aku!” dia berbisik lagi kepada

tongkatnya, dan tongkat itu berputar dan menunjuk ke

jalan yang ke kanan. Dia berlari ke kanan dan melihat

cahaya di depan.

Piala Triwizard berkilau di atas podium kira-kira

seratus meter di depannya. Mendadak ada sosok gelap

meluncur cepat sekali ke jalan di depannya.

Cedric akan sampai di sana lebih dulu. Cedric berlari

secepat kilat kea rah piala dan Harry tahu dia tak akan

771

bisa mengejarnya. Cedric jauh lebih jangkung, kakinya

jauh lebih panjang…

Kemudian Harry melihat sesuatu yang besar di atas

pagar di sebelah kirinya, bergerak cepat sepanjang jalan

bersilang dengan jalannya. Makhluk itu bergerak cepat

sekali sehingga Cedric pasti akan bertabrakan

dengannya, dan Cedric, yang matanya tertuju ke piala,

tidak melihatnya…

"Cedric!” Harry berteriak. "Sebelah kirimu!”

Cedric menoleh tepat pada waktunya untuk melompat

melewati makhluk itu dan menghindari bertabrakan

dengannya, tetapi dalam ketergesaannya, dia terjatuh.

Harry melihat tongkat Cedric terbang dari tangannya

sementara si labah-labah raksasa melangkah ke jalan

setapak dan mulai mendekati Cedric.

"Stupefy!” Harry berteriak, dan mantranya mengenai

tubuh si labah-labah yang besar, hitam dan berbulu,

tetapi efeknya seperti dia melemparnya dengan batu

saja. Si labah-labah tersentak, menggerumut membalik,

dan malah berlari menuju Harry.

"Stupefy! Impedimenta! Stupefy!”

Tetapi tak ada gunanya – entah karena si labah-labah

terlalu besar atau terlampau sakti, tapi mantra-mantra itu

malah membuatnya semakin galak. Sekejap Harry

melihat delapan mata hitam yang berkilap dan capit

setajam silet sebelum si labah-labah menerkamnya.

Harry diangkat ke udara dengan kaki depannya,

memberontak sekuat tenaga. Dicobanya menendangnya,

kakinya mengenai capitnya dan sesaat kemudian kakinya

772

sakit bukan buatan. Dia bisa mendengar Cedric

menjeritkan, "Stupefy!” juga, tetapi mantranya sama saja

tak bergunanya dengan mantra Harry. Harry mengangkat

tongkatnya ketika si labah-labah membuka capitnya

sekali lagi dan berteriak, "Expelliarmus!”

Berhasil – mantra pelepas senjata ini membuat si

labah-labah menjatuhkannya, tetapi itu berarti Harry

terjatuh dari ketinggian lebih dari tiga setengah meter

pada kakinya yang sudah luka. Dia roboh. Tanpa

berhenti untuk berpikir, dia mengarah ke atas, ke bagian

bawah perut si labah-labah, seperti yang telah

dilakukannya kepada Skrewt, dan berteriak, "Stupefy!”

Bersamaan dengannya, Cedric juga meneriakkan mantra

yang sama.

Dua mantra yang diluncurkan bersamaan berhasil

melakukan apa yang tak bisa dilakukan satu mantra:

labah-labah itu terguling miring, merobohkan pagar yang

ditabraknya, dan memenuhi jalan dengan kaki-kaki

berbulu.

"Harry!” didengarnya Cedric berseru. "Kau tak apaapa?

Kau kejatuhan labah-labah?”

"Tidak,” Harry balas berteriak, tersengal. Dia

menunduk memandang kakinya. Darah mengucur deras.

Dia bisa melihat semacam lender kental seperti lem dari

capit si labah-labah di jubahnya yang robek. Dia

berusaha bangkit, tetapi kakinya gemetar hebat dan

menolak menopang berat tubuhnya. Dia bersandar ke

pagar, terengah kehabisan napas, dan memandang ke

sekitarnya.

773

Cedric berdiri kira-kira semester dari Piala Triwizard

yang berkilauan di belakangnya.

"Ambillah,” kata Harry terengah kepada Cedric. "Ayo,

ambillah. Kau sudah di sana.”

Tetapi Cedric tidak bergerak. Dia hanya berdiri saja,

memandang Harry. Kemudian dia berbalik untuk

memandang piala. Harry melihat ekspresi kerinduan di

wajahnya yang tertimpa cahaya keemasannya. Cedric

menoleh memandang Harry lagi, yang sekarang

berpegangan pada pagar untuk menyangga tubuhnya.

Cedric menarik napas dalam-dalam.

"Kau saja yang ambil. Kau layak menang. Dua kali kau

menyelamatkan hidupku di sini.”

"Bukan begitu aturan mainnya.” Kata Harry. Dia

merasa marah. Kakinya sakit sekali. Seluruh tubuhnya

sakit akibat usahanya melemparkan si labah-labah, dan

setelah semua susah payah ini, Cedric telah

mengalahkannya, sama seperti dia mengalahkan Harry

sewaktu mengajak Cho ke pesta dansa. "Yang lebih dulu

tiba di piala-lah yang mendapatkan angka. Dan itu kau.

Kuberitahu kau, aku tak akan memenangkan lomba lari

dengan kaki ini.”

Cedric mendekat beberapa langkah ke labah-labah

yang pingsan, menjauhi piala, menggeleng.

"Tidak,” katanya.

"Berhentilah bersikap mulia,” kata Harry jengkel.

"Ambil saja, kemudian kita bisa keluar dari sini.”

Cedric mengawasi Harry yang memantapkan diri,

berpegang erat-erat ke pagar.

774

"Kau memberitahu aku soal naga,” kata Cedric. "Aku

pasti sudah gagal dalam tugas pertama kalau kau tidak

memberitahuku apa yang harus kita hadapi.”

"Aku juga diberitahu soal itu,” tukas Harry, berusaha

menyeka kakinya yang berdarah dengan jubahnya. "Kau

membantuku dengan telur… kit impas.”

"Aku dibantu soal telur itu,” kata Cedric.

"Kita masih tetap impas,” kata Harry, mengetes

kakinya dengan hati-hati sekali. Kakinya gemetar hebat

ketika dipakai menapak. Pergelangan kakinya terkilir

ketika labah-labah itu menjatuhkannya.

"Kau seharusnya mendapat angka lebih banyak dalam

tugas kedua,” Cedric berkeras. "Kau bertahan di bawah

untuk menyelamatkan semua sandera. Mestinya

kulakukan itu.”

"Aku sendiri yang tolol, menganggap serius nyanyian

itu!” kata Harry getir. "Sudah, ambil saja piala itu!”

"Tidak,” kata Cedric.

Dia melangkahi kaki-kaki labah-labah yang semrawut

untuk bergabung dengan Harry, yang keheranan

menatapnya. Cedric serius. Dia menjauh dari kemuliaan

yang tak pernah dimiliki Asrama Hufflepuff selama

berabad-abad.

"Ayo!” kata Cedric. Tampaknya dia mengerahkan

seluruh ketetapan hatinya, tetapi wajahnya mantap,

lengannya terlipat, dia tampaknya sudah bertekad bulat.

Harry memandang Cedric dan piala bergantian.

Sejenak dia melihat dirinya keluar dari maze, memegang

775

piala. Dia melihat dirinya mengangkat piala Triwizard,

mendengar teriakan penonton, melihat wajah Cho

bersinar penuh kekaguman, lebih jelas daripada yang

pernah dilihatnya sebelumnya… dan kemudian bayangan

ini memudar, dan dia kembali mendapati dirinya

memandang wajah Cedric yang keras kepala dalam

keremangan.

"Berdua kalau begitu,” kata Harry.

"Apa?”

"Kita akan mengambilnya pada saat bersamaan. Toh

masih kemenangan Hogwarts. Kita menang seri.”

Cedric menatap Harry. Dia membuka lipatan

lengannya.

"Kau… kau yakin?”

"Yeah,” kata Harry. "Yeah… kita telah saling Bantu,

kan? Kita berdua sampai di sini. Ayo kita ambil samasama.”

Sejenak Cedric tampaknya tak bisa mempercayai

telinganya, kemudian dia nyengir lebar.

"Baiklah,” katanya. "Sini.”

Dia memegang lengan Harry di bawah bahunya dan

membantu Harry yang berjalan tertimpang-timpang

menuju podium tempat piala itu berdiri. Setibanya di

sana, keduanya mengulurkan tangan ke masing-masing

pegangan piala yang berkilauan.

"Pada hitungan ketiga, ya?” kata Harry. "Satu… dua…

tiga…”

776

Saat itu Harry merasakan entakan di belakang

pusarnya, kakinya terangkat dari tanah. Dia tak bisa

melepas tangannya yang memegangi Piala Triwizard.

Piala itu menariknya menembus lolongan angina dan

pusaran warna, dengan Cedric di sampingnya.

32. Daging, darah dan Tulang

Harry merasa kakinya menghantam tanah. Kakinya

yang luka tak kuat, dan dia jatuh terjerembap.

Tangannya akhirnya melepas piala Triwizard. Dia

mengangkat kepala.

"Di mana kita?” tanyanya.

Cedric menggelengkan kepala. Dia bangkit, menarik

Harry berdiri, dan mereka memandang berkeliling.

Mereka telah jauh meninggalkan kompleks Hogwarts.

Mereka jelas telah pergi berkilo-kilometer – mungkin

bahkan beratus-ratus kilo – karena bahkan pegunungan

777

yang mengitari kastil sudah tak ada. Mereka berdiri di

kuburan gelap terlantar berumput tinggi. Siluet gereja

kecil tampak di belakang pohon cemara besar di sebelah

kanan mereka. Di sebelah kiri tampak bukit menjulang.

Harry samar-samar melihat siluet rumah tua yang indah

di sisi bukit.

Cedric menunduk memandang Piala Triwizard dan

kemudian ganti menatap Harry.

"Apakah ada yang memberitahumu bahwa piala ini

Portkey?” dia bertanya.

"Tidak,” kata Harry. Dia memandang ke sekeliling

pemakaman. Suasana begitu senyap dan agak

mengerikan. "Apakah ini bagian dari tugas?”

"Aku tak tahu,” kata Cedric. Kedengarannya dia sedikit

gugup. "Kita siapkan tongkat?”

"Yeah,” kata Harry, senang Cedric yang memberikan

usul itu dan bukan dia.

Mereka menarik keluar tongkat sihir mereka. Harry

masih memandang ke sekelilingnya. Sekali lagi dia punya

perasaan aneh bahwa mereka diawasi.

"Ada yang datang,” katanya tiba-tiba.

Menyipitkan mata dengan tegang menembus

kegelapan, mereka memandang sosok itu mendekat,

berjalan mantap kea rah mereka diantara makammakam.

Harry tak bisa melihat wajahnya, tetapi dari

caranya berjalan dan posisi tangannya, dia bisa menerka

orang itu membawa sesuatu. Siapapun dia, orang itu

pendek, dan memakai mantel bertudung kepala yang

dipakai untuk menyamarkan wajahnya. Dan – beberapa

778

langkah lebih dekat, jarak diantara mereka semakin kecil

– Harry melihat bahwa benda yang digendongnya seperti

bayi… atau apakah itu Cuma buntalan jubah?

Harry menurunkan tongkatnya sedikit dan mengerling

Cedric. Cedric melempar pandangan bertanya. Mereka

berdua berpaling lagi untuk mengawasi sosok yang

semakin mendekat.

Sosok itu berhenti di sebelah nisan tinggi dari pualam,

hanya kira-kira dua meter dari tempat mereka. Selama

sedetik, Harry dan Cedric, dan sosok pendek itu hanya

saling pandang.

Dan kemudian, tanpa peringatan apapun, bekas luka

Harry mendadak luar biasa sakitnya. Penderitaan seperti

itu seumur hidup belum pernah dirasakannya. Tongkat

terlepas dari jari-jarinya ketika dia menutupkan

tangannya ke wajahnya, lututnya tertekuk. Dia roboh ke

tanah dan sama sekali tak bisa melihat apa-apa.

Kepalanya serasa mau pecah.

Dari kejauhan, di atas kepalanya, dia mendengar

suara dingin melengking tinggi berkata, "Bunuh

temannya!”

Bunyi deru disusul suara kedua, yang berciut

menyuarakan kata-kata ke dalam kegelapan malam,

"Avada Kedavra!”

Sambaran cahaya hijau menyilaukan menembus

pelupuk mata Harry dan dia mendengar sesuatu yang

berat jatuh ke tanah di sebelahnya. Rasa sakit di bekas

lukanya sedemikian hebatnya sampai dia muntahmuntah,

dan kemudian rasa sakitnya mereda. Ngeri pada

779

apa yang dilihatnya, dia membuka matanya yang terasa

tersengat.

Cedric tergeletak terlentang di sebelahnya. Dia sudah

meninggal.

Selama sedetik yang serasa seabad, Harry menatap

wajah Cedric, menatap mata abu-abunya yang terbuka,

kosong dan tanpa ekspresi seperti jendela rumah kosong,

menatap mulutnya yang separo terbuka, yang tampak

agak keheranan. Dan kemudian. Sebelum otak Harry bisa

menerima apa yang dilihatnya, sebelum dia bisa

merasakan apapun selain kebas dan tidak percaya, dia

merasa dirinya ditarik bangun.

Laki-laki pendek bermantel telah meletakkan

bawaannya, menyalakan tongkat sihirnya, dan menarik

Harry ke nisan pualam. Harry melihat nama pada nisan

itu bergoyang tertimpa cahaya tongkat sebelum dia

dipaksa berbalik dan diempaskan ke nisan itu.

TOM RIDDLE

Si laki-laki bermantel menyihir tali dan mengikat Harry

erat-erat, dari leher sampai ke mata kaki, dan diikatkan

ke nisan itu. Harry bisa mendengar napas pendekpendek

dan cepat dari kedalaman kerudungnya. Dia

memberontak dan laki-laki itu menamparnya –

menamparnya dengan tangan yang jarinya hilang satu.

Dan Harry menyadari siapa yang ada di bawah kerudung

itu. Dia Wormtail.

"Kau!” sengalnya.

Tetapi Wormtail, yang telah selesai menyihir talinya,

tidak menjawab. Dia sibuk memeriksa kekencangan

780

talinya, jari-jarinya gemetar tak terkendali, meraba-raba

ikatannya. Setelah yakin Harry sudah terikat erat ke

nisan sehingga tak bisa bergerak sesentipun, Wormtail

menarik keluar kain hitam dari dalam mantelnya dan

menjejalkannya dengan kasar ke dalam mulut Harry.

Kemudian, tanpa bicara sepatah katapun dia berbalik dan

bergegas pergi. Harry tak bisa bersuara maupun melihat

ke mana perginya Wormtail. Dia tak bisa menolehkan

kepala untuk melihat lebih jauh dari nisan, dia hanya bisa

melihat apa yang ada di depannya.

Tubuh Cedric terbaring kira-kira enam meter dari

tempatnya. Tak jauh dari Cedric, berkilauan tertimpa

cahaya bintang, tergeletak Piala Triwizard. Tongkat Harry

di tanah di dekat kaki Cedric. Buntelan jubah yang dikira

Harry sesosok bayi ada di dekatnya, di kaki makam.

Buntelan itu tampaknya bergerak-gerak gelisah. Harry

memandangnya, dan bekas lukanya tersengat sakit lagi…

dan dia mendadak tahu bahwa dia tak ingin melihat apa

yang ada dalam jubah itu… dia tak ingin buntelan itu

dibuka.

Dia mendengar bunyi di kakinya. Dia menunduk dan

melihat seekor ular besar melata di rerumputan,

mengelilingi nisan tempatnya terikat. Napas Wormtail

yang cepat dan berderik terdengar semakin keras.

Kedengarannya dia menyeret sesuatu yang berat.

Kemudian dia berada dalam jaran pandang Harry lagi,

dan Harry melihatnya mendorong kuali batu ke kaki

makam. Kuali itu penuh sesuatu yang tampaknya seperti

air – Harry bisa melihatnya bergolak – dan kuali itu lebih

besar daripada semua kuali yang pernah digunakan

781

Harry. Kuali batu besar yang cukup untuk memuat orang

dewasa duduk di dalamnya.

Makhluk dalam buntelan jubah bergerak-gerak terusmenerus,

seakan berusaha membebaskan diri. Sekarang

Wormtail sedang sibuk di dasar kuali dengan tongkatnya.

Mendadak api berderak-derak menyala di bawahnya. Si

ular besar merayap pergi ke dalam kegelapan.

Cairan di dalam kuali tampaknya cepat sekali panas.

Permukaannya tak hanya mulai menggelegak, tetapi juga

menyemburkan bunga api, seakan sedang terbakar. Asap

menebal, menyamarkan sosok Wormtail yang sedang

mengurus api. Gerakan-gerakan di bawah menjadi

semakin gelisah. Dan Harry mendengar suara dingin

melengking itu lagi.

"Cepat!”

Seluruh permukaan air sudah menyala dengan

percikan bunga api sekarang. Seakan bertaburan berlian.

"Sudah siap, Tuan.”

"Sekarang…,” kata suara dingin itu.

Wormtail membuka buntelan di tanah,

memperlihatkan apa yang ada di dalamnya, dan Harry

mengeluarkan jeritan yang tertahan gumpalan kain yang

menyumpal mulutnya.

Seakan Wormtail telah membalik batu dan

menunjukkan sesuatu yang jelek, berlendir, dan buta –

tetapi lebih buruk daripada itu, seratus kali lebih buruk.

Benda yang tadi digendong Wormtail berbentuk anak

yang bungku, tetapi bagi Harry sosok itu tidak kelihatan

seperti anak manusia. Dia tak berambut, tapi bersisik,

782

berkulit hitam kemerahan seperti daging mentah. Tangan

dan kakinya kurus dan lemah, dan wajahnya – tak ada

anak yang berwajah seperti itu – datar dan seperti ular,

dengan mata merah berkilauan.

Makhluk itu tampaknya nyaris tak berdaya. Dia

mengulurkan lengannya yang kurus, melingkarkannya ke

sekeliling leher Wormtail, dan Wormtail mengangkatnya.

Saat itu tudungnya merosot ke belakang, dan Harry

melihat rasa jijik di wajah Wormtail yang lemah dan

pucat dalam cahaya api ketika dia menggendong

makhluk itu ke bibir kuali. Sekejap, Harry melihat wajah

datar jahat itu diterangi bunga api yang menari-nari di

permukaan ramuan. Dan kemudian Wormtail

menurunkan makhluk itu ke dalam kuali. Terdengar

desisan, dan makhluk itu menghilang di bawah

permukaannya. Harry mendengar tubuhnya yang lemah

jatuh ke dasar kuali dengan bunyi duk lemah.

Biarkan dia tenggelam. Harry membatin, bekas

lukanya membara nyaris tak tertahankan, tolong…

biarkan dia tenggelam…

Wormtail bicara. Suaranya bergetar, dia tampaknya

sangat ketakutan. Dia mengangkat tongkatnya,

memenjamkan mata, dan berbicara kepada kegelapan

malam. "Tulang sang ayah, diberikan tanpa sadar, kau

akan menghidupkan putramu!”

Permukaan makan di kaki Harry membuka. Ngeri

Harry mengawasi titik-titik debu halu terbang ke atas

mematuhi perintah Wormtail dan terjatuh pelan ke dalam

kuali. Permukaan berlian cairannya merekah dan

mendesis, mengirim percikan bunga api ke segala

783

jurusan, dan berubah menjadi cairan biru yang tampak

beracun.

Dan sekarang Wormtail meratap. Dia menarik belati

perak panjang, tipis berkilauan dari dalam mantelnya.

Dia terisak ketakutan. "Daging… si abdi… di-diberikan

dengan sukarela… kau akan… menghidupkan kembali…

tuanmu…”

Dia menjatuhkan tangan kanannya di depannya –

tangan yang jarinya putus. Dia mencengkeram belatinya

erat-erat di tangan kiri dan menyabetkannya ke atas.

Harry menyadari apa yang akan dilakukan Wormtail

sedetik sebelum terjadi – dia memenjamkan mata

serapat mungkin, tetapi dia tidak dapat memblokir jeritan

yang merobek keheningan malam, yang membuat Harry

merasa dia juga ditusuk belati. Dia mendengar sesuatu

terjatuh ke tanah, mendengar desah napas kesakitan

Wormtail, kemudian bunyi ceburan yang memualkan,

ketika sesuatu dijatuhkan ke dalam kuali. Harry tak tahan

melihatnya… tetapi ramuan telah berubah menjadi merah

menyala, cahayanya menembus pelupuk mata Harry

yang tertutup…

Wormtail mendesah dan mendesis kesakitan. Setelah

merasakan napas Wormtail yang kesakitan di wajahnya,

barulah Harry menyadari Wormtail tepat di depannya.

"D-darah musuh… diambil dengan paksa… kau akan…

kau akan membangkitkan kembali lawanmu.”

Harry tak bisa melakukan apa-apa untuk

mencegahnya, dia diikat terlalu erat… Menyipitkan mata,

memberontak tak berdaya hendak melepaskan tali yang

mengikatnya, dia melihat belati perak yang berkilap

784

gemetar di tangan Wormtail yang tinggal satu. Harry

merasakan ujung belati menusuk lipatan lengan yang

robek. Wormtail, masih terengah kesakitan, meraba-raba

dalam sakunya mencari tabung kaca dan memeganginya

di bawah luka Harry, sehingga setetes darah masuk ke

dalamnya.

Wormtail terhuyung kembali ke kuali, membawa darah

Harry. Dituangkannya ke dalamnya. Cairan di dalamnya

langsung berubah warna menjadi putih menyilaukan.

Wormtail, selesai melaksanakan tugasnya, berlutut di sisi

kuali, kemudian roboh miring dan terbaring di tanah,

menyangga sisa lengannya yang berdarah, terengah dan

terisak.

Isi kuali mendidih, mengirim percikan bunga apinya

yang bagai berlian ke segala jurusan, begitu terang

menyilaukan sehingga membuat segala yang lain

menjadi hitam pekat. Tak ada yang terjadi…

Biarkan dia mati tenggelam, bati Harry, biarkan

gagal…

Dan kemudian mendadak saja, percikan bunga api

padam. Sebagai gantinya asap putih tebal mengepul dari

dalam kuali, menutupi segala sesuatu di depan Harry,

sehingga dia tak bisa melihat Wormtail ataupun Cedric

atau apapun, kecuali asap yang menggantung di udara…

Sudah gagal, pikirnya… dia sudah tenggelam… tolong…

tolong biarkan dia mati…

Tetapi kemudian, dari dalam kabut di depannya, dia

melihat, dengan kengerian yang luar biasa, siluet

seorang laki-laki, jangkung dan sekurus kerangka,

muncul perlahan dari dalam kuali.

785

"Pakaikan jubahku,” kata suara dingin melengking dari

balik uap, dan Wormtail, terisak dan merintih, masih

menggendong tangannya yang putus, merayap untuk

memungut jubah hitam dari tanah, bangkit, dan menarik

jubah itu dengan satu tangan satu melewati kepala

tuannya.

Laki-laki kurus itu melangkah keluar dari kuali,

menatap Harry… dan Harry balas menatap wajah yang

telah menghantui mimpinya selama tiga tahun. Lebih

putih daripada tengkorak, dengan mata lebar, pucat, dan

merah, dan hidung yang sama ratanya dengan hidung

ular, dengan dua celah sebagai lubang hidungnya…

Lord Voldemort telah bangkit kembali.

33. Pelahap Maut

Voldemort berpaling dari Harry dan mulai mengamati

tubuhnya sendiri. Tangannya seperti labah-labah besar

kurus. Jari-jarinya yang putih panjang membelai dadanya

sendiri, lengannya, wajahnya. Matanya yang merah,

yang pupilnya seperti celah sempit, seperti pupil mata

786

kucing, berkilau lebih terang menembus kegelapan. Dia

mengangkat tangannya dan melenturkan jarijarinya,

ekspresinya penuh kegembiraan. Dia sama sekali

tidak mengacuhkan Wormtail, yang tergeletak

menggeliat kesakitan dan berdarah di tanah, ataupun si

ular besar, yang telah muncul lagi dan kembali mengitari

Harry, mendesis-desis. Voldemort menyelipkan salah satu

tangan yang berjari panjang tak wajar ke dalam saku

yang dalam dan menarik keluar tongkat sihir. Dia

membelai tongkatnya dengan lembut juga, kemudian

mengangkatnya dan mengacungkannya ke arah

Wormtail, yang langsung terangkat dari tanah dan

terlempar menabrak nisan tempat Harry terikat. Dia

terjatuh ke kaki nisan dan terbaring di sana, terpuruk

dan menangis. Voldemort mengarahkan matanya yang

merah kepada Harry dan tertawa. Tawanya melengking,

dingin dan tanpa kegembiraan.

Jubah Wormtail berkilat basah kena darah sekarang.

Dia membungkus lengannya yang terpotong dengan

jubahnya.

"Yang Mulia…,” katanya tersedak, "Yang Mulia… Anda

berjanji… Anda sudah berjanji…”

"Ulurkan lenganmu,” kata Voldemort malas-malasan.

"Oh, Tuan… terima kasih, Tuan…”

Dia menjulurkan potongan lengannya yang berdarah,

tetapi Voldemort tertawa lagi.

"Lengan satunya, Wormtail.”

"Tuan, tolong jangan… tolong…”

787

Voldemort membungkuk dan menarik lengan kiri

Wormtail. Dia mendorong lengan jubah Wormtail sampai

melewati sikunya, dan Harry melihat sesuatu pada

kulitnya di sana. Sesuatu seperti tato merah yang jelas –

tengkorak dengan ular terjulur dari mulutnya – gambar

yang muncul di angkasa pada Piala Dunia Quidditch:

Tanda Kegelapan. Voldemort menelitinya dengan cermat,

mengabaikan tangis Wormtail yang tak terkontrol.

"Sudah muncul lagi,” katanya perlahan, "mereka

semua akan melihatnya… dan sekarang, kita akan

melihat… sekarang kita akan tahu…”

Dia menekankan jari telunjuknya yang panjang ke

tanda di lengan Wormtail.

Bekas luka di dahi Harry menyengat tajam sakit sekali,

dan Wormtail melolong keras. Voldemort menyingkirkan

jarinya dari tanda di lengan Wormtail, dan Harry melihat

bahwa tanda itu kini telah berubah hitam pekat.

Dengan wajah dihiasi kepuasan yang sadis, Voldemort

menegakkan diri, mendongak dan memandang

berkeliling makam yang gelap.

"Berapa yang akan cukup berani untuk kembali ketika

mereka merasakannya?” dia berbisik, mata merahnya

yang berkilat-kilat menatap bintang-bintang. "Dan berapa

yang akan cukup tolol untuk tetap menyingkir?”

Dia mulai mondar-mandir di depan Harry dan

Wormtail, matanya terus menyapu makam. Setelah kirakira

semenit, dia menunduk memandang Harry lagi,

senyum sadis terpampang di wajahnya yang seperti ular.

788

"Kau berdiri, Harry Potter, di atas sisa jenezah

ayahku,” dia mendesis pelan. "Muggle yang tolol…

sangat mirip ibumu. Tetapi mereka berdua berguna, kan?

Ibumu meninggal karena membelamu… dan aku

membunuh ayahku, dan lihat betapa bergunanya dia

ternyata, dalam kematiannya…”

Voldemort tertawa lagi. Dia berjalan hilir-mudik,

memandang ke sekelilingnya, dan ularnya terus

melingkar-lingkar di rerumputan.

"Kau lihat rumah di sisi bukit itu, Potter? Ayahku dulu

tinggal di sana. Ibuku, penyihir yang tinggal di dusun ini,

jatuh cinta kepadanya. Tetapi ayahku meninggalkannya

ketika ibuku memberitahunya siapa dia sebetulnya…

Ayahku tak suka sihir…”

"Dia meninggalkan ibuku dan kembali ke orang tuanya

yang Muggle bahkan sebelum aku lahir, Potter, dan ibuku

meninggal sewaktu melahirkan aku, meninggalkanku

untuk dibesarkan di rumah yatim piatu milik Muggle…

tetapi aku bersumpah untuk menemukan ayahku… aku

membalas dendam kepadanya, si tolol yang memberikan

namanya kepadaku… Tom Riddle…”

Masih saja dia mondar-mandir, mata merahnya

berpindah dari satu makam ke makam yang lain.

"Dengarkan aku, menceritakan kisah keluargaku…,”

katanya pelan, "aku jadi sentimental… Tapi, lihat, Harry!

Keluargaku yang sebenarnya kembali…”

Keheningan mendadak dipecahkan oleh kibasan jubah.

Diantara makam-makam, di belakang pohon cemara, di

semua tempat remang-remang, penyihir-penyihir ber-

Apparate. Semuanya berkerudung dan bertopeng. Dan

789

satu demi satu, mereka maju… perlahan, hati-hati,

seakan mereka hamper tak mempercayai mata mereka.

Voldemort berdiri diam, menunggu mereka. Kemudian

salah satu pelahap maut jatuh berlutu, merangkak

mendekati Voldemort, dan mencium ujung jubahnya.

"Tuan… Tuan…,” dia bergumam.

Para pelahap maut di belakangnya melakukan hal

yang sama. Masing-masing mendekati Voldemort dengan

berjalan sambil berlutut dan mencium ujung jubahnya,

sebelum mundur lagi dan berdiri, membentuk lingkaran

dalam diam, mengelilingi makam Tom Riddle, Harry,

Voldemort, dan gundukan terisak dan mengejang yang

tak lain adalah Wormtail. Mereka meninggalkan celahcelah

di lingkaran itu, seakan masih menunggu

kedatangan lebih banyak orang. Namun Voldemort

rupanya tidak mengharapkannya. Dia memandang

berkeliling wajah-wajah berkerudung itu, dan meskipun

tak ada angina, bunyi berkeresak terdengar di sekeliling

lingkaran, seakan lingkaran itu bergidik.

"Selamat dating, para Pelahap Maut,” kata Voldemort

tenang. "Tiga belas tahun… tiga belas tahun sejak kita

bertemu terakhir kalinya. Tetapi kalian memenuhi

panggilanku seakan kejadiannya baru kemarin… Kita

masih bersatu di bawah Tanda Kegelapan, kalau begitu!

Atau, masihkah?”

Dia memasang wajah mengerikan dan mengendus

lagi, lubang hidungnya yang hanya berupa celah sempir

melebar.

"Aku mencium rasa bersalah,” katanya. "Ada bau

kesalahan di udara.”

790

Sekali lagi lingkaran itu bergidik, seakan semua

anggota ingin mundur, tetapi tidak berani.

"Aku melihat kalian semua, selamat dan sehat, dengan

kekuatan penuh – kalian muncul dengan segera! – dan

aku bertanya kepada diri sendiri… kenapa rombongan

penyihir ini tidak pernah datang menolong tuan mereka,

kepada siapa mereka telah bersumpah setia seumur

hidup?”

Tak seorangpun bicara. Tak seorangpun bergerak,

kecuali Wormtail, yang tergeletak di tanah, masih

menangisi lengannya yang berdarah.

"Dan kujawab sendiri,” bisik Voldemort, "mereka pasti

mengira aku sudah hancur, aku sudah kalah. Mereka

menyelinap kembali ke antara musuh-musuhku, dan

menyatakan diri tak bersalah, tak tahu apa-apa, atau

karena kena sihir…”

"Dan kemudian aku bertanya kepada diri sendiri,

tetapi bagaimana mereka bisa percaya bahwa aku tidak

akan bangkit lagi? Mereka, yang tahu langkah-langkah

yang dulu telah kuambil, untuk melindungi diriku dari

kematian? Mereka, yang sudah melihat bukti-bukti

kehebatan kekuasaanku pada masa aku lebih berkuasa

daripada penyihir manapun?”

"Dan kujawab sendiri, mungkin mereka percaya masih

ada kekuasaan yang lebih besar, yang bisa menundukkan

bahkan Lord Voldemort… mungkin mereka kini

bersumpah setia kepada penyihir lain… mungkin pembela

kaum lemah, Darah Lumpur dan Muggle, Albus

Dumbledore?”

791

Saat nama Dumbledore disebut, para penyihir di

lingkaran bergerak, dan beberapa bergumam dan

menggeleng. Voldemort mengabaikan mereka.

"Sungguh mengecewakan bagiku… aku menyatakan

diriku kecewa…”

Salah satu dari orang-orang itu mendadak melempar

diri ke depan. Gemetar dari kepala sampai kaki, dia

terkapar di kaki Voldemort.

"Tuan!” jeritnya. "Tuan, maafkan aku! Maafkan kami

semua!”

Voldemort mulai tertawa. Dia mengangkat tongkat

sihirnya. "Crucio!”

Si pelahap maut di tanah menggelepar dan menjerit.

Harry yakin jeritannya terdengar ke rumah-rumah di

sekitar situ… Biarlah polisi datang, dia membatin putus

asa… siapa saja… apa saja… datanglah…

Voldemort mengangkat tongkat sihirnya. Si pelahap

maut yang tersiksa terkapar di tanah, terengah sesak

napas.

"Bangun, Avery,” kata Voldemort pelan. "Bangun. Kau

minta dimaasfkan? Aku tidak memaafkan. Aku tidak

melupakan. Tiga belas tahun… aku ingin pembayaran

selama tiga belas tahun sebelum memaafkanmu. Si

Wormtail ini telah membayar sebagian utangnya, ya kan,

Wormtail?”

Dia memandang Wormtail, yang masih terus terisak.

792

"Kau kembali kepadaku, bukan karena setia, tetapi

karena ketakutan terhadap teman-teman lamamu. Kau

layak menderita kesakitan ini. Kau tahu itu, kan?”

"Ya, Tuan,” ratap Wormtail, "tolong, Tuan… tolong…”

"Tetapi kau telah membantuku kembali ke tubuhku,”

kata Voldemort dingin, memandang Wormtail yang

terisak di tanah. "Kendatipun kau tak berharga dan

pengkhianat, kau membantuku… dan Lord Voldemort

membalas mereka yang membantunya…”

Voldemort mengangkat tongkat sihirnya lagi dan

memutar-mutarnya di udara. Sesuatu seperti perak

meleleh muncul dari tongkat dan menggantung

berkilauan di angkasa. Sesuatu tak berbentuk, tetapi

kemudian menggeliat dan membentuk tiruan tangan

manusia yang berkilauan, secemerlang cahaya bulan.

Replika tangan itu meluncur turun dan menempelkan diri

di pergelangan tangan Wormtail yang berdarah.

Sedu-sedan Wormtail mendadak berhenti. Bernapas

keras dan putus-putus, dia mengangkat tangannya dan

menatapnya tak percaya. Tangan perak itu sekarang

menempel mulus di pergelangannya, seakan dia

memakai sarung tangan berkilauan. Dia melenturkan jarijari

peraknya, kemudian dengan gemetar memungut

ranting kecil dari tanah dan meremasnya sampai menjadi

bubuk.

"Yang Mulia,” bisiknya. "Tuan… ini bagus sekali…

terima kasih… terima kasih…”

Dia beringsut maju pada lututnya dan mencium ujung

jubah Voldemort.

793

"Semoga kesetiaanmu tak akan pernah goyah lagi,

Wormtail,” kata Voldemort.

"Tidak, Yang Mulia… tak akan pernah, Yang Mulia…”

Wormtail berdiri dan mengambil tempat di lingkaran,

menatap tangan barunya yang kuat, wajahnya berkilauan

bersimbah air mata. Voldemort sekarang mendekati

orang di sebelah kanan Wormtail.

"Lucius, temanku yang licin,” dia berbisik, berhenti di

depannya. "Aku diberitahu bahwa kau belum

meninggalkan cara-cara lama, meskipun ke hadapan

dunia kau menampilkan wajah terhormat. Kau masih siap

memimpin dalam acara penyiksaan Muggle, kan? Tetapi

kau tak pernah berusaha mencariku, Lucius…

Perbuatanmu dalam Piala Dunia Quidditch

menyenangkan memang… tetapi apakah tak sebaiknya

energimu digunakan untuk menemukan dan membantu

tuanmu?”

"Yang Mulia, saya selalu waspada,” terdengar jawaban

sigap Lucius Malfoy dari bawah kerudung. "Jika ada

isyarat dari anda, ada bisikan tentang di mana

keberadaan anda, saya akan langsung berada di sisi

anda, tak ada yang bisa mencegah saya…”

"Tetapi kau melarikan diri dari Tanda-ku, ketika ada

pelahap maut yang setia melepasnya ke angkasa musim

panas lalu,” kata Voldemort malas-malasan, dan Mr.

Malfoy mendadak berhenti bicara. "Ya, aku tahu tentang

semua itu, Lucius… Kau telah mengecewakan aku… aku

mengharap pelayanan yang lebih setia di masa depan.”

"Tentu saja, Yang Mulia, tentu saja… Anda penuh

belas kasihan, terima kasih…”

794

Voldemort bergerak lagi, dan berhenti, memandang

celah – cukup besar untuk dua orang – yang

memisahkan Malfoy dari orang berikutnya.

"Suami istri Lestrange seharusnya berdiri di sini,” kata

Voldemort pelan. "Tetapi mereka dikubur di Azkaban.

Mereka setia. Mereka memilih ke Azkaban daripada

menyangkalku… Kalau Azkaban berhasil dijebol, suami

istri Lestrange akan diberi kehormatan di luar impian

mereka. Para dementor akan bergabung dengan kita…

mereka sekutu alami kita… kita akan memanggil kembali

para raksasa yang dikucilkan… semua pelayanku yang

setia akan dikembalikan kepadaku, juga sepasukan

makhluk yang ditakuti oleh semua…’

Dia berjalan terus. Beberapa pelahap maut dilewatinya

tanpa bicara, tetapi dia berhenti di depan beberapa yang

lain, dan bicara kepada mereka.

"Macnair… membinasakan binatang-binatang

berbahaya untuk kementerian sihir sekarang, begitu yang

diceritakan Wormtail? Kau akan mendapatkan korban

yang lebih baik dari itu tak lama lagi, Macnair. Lord

Voldemort akan menyediakannya untukmua…”

"Terima kasih, Tuan… terima kasih,” gumam Macnair.

"Dan inilah,” Voldemort bergerak ke dua sosok

berkerudung yang paling besar. "Crabbe… kau akan

berbuat lebih baik kali ini, kan, Crabbe? Dan kau, Goyle?”

Mereka membungkuk dengan canggung, bergumam

patuh.

"Ya, Tuan…”

"Lebih baik, Tuan…’

795

"Kau juga, Nott,” kata Voldemort pelan saat melewati

sosok bungkuk di dalam bayangan Mr. Goyle.

"Yang Mulia, saya serahkan diri saya kepada anda,

saya abdi anda yang paling setia…”

"Cukup,” kata Voldemort.

Dia telah tiba di celah yang paling lebar, dan dia

berdiri mengawasi dengan matanya yang merah.

Pandangannya kosong, seakan dia bisa melihat orangorang

berdiri di sana.

"Dan di sini ada enam pelahap maut yang berkurang…

tiga meninggal dalam melayaniku. Satu terlalu pengecut

untuk kembali… dia akan membayar. Satu, kurasa telah

meninggalkanku untuk selamanya… dia akan dibunuh,

tentu saja… dan satu, yang tetap menjadi abdiku yang

paling setia dan yang telah kembali melayaniku.”

Para pelahap maut bergerak, dan Harry melihat mata

meraka saling kerling di balik topeng mereka.

"Dia di Hogwarts, abdiku yang setia, dan berkat

usahanyalah teman kecil kita tiba di sini malam ini…”

"Ya,” kata Voldemort, seringai menghiasi mulutnya

yang tak berbibir ketika mata-mata di sekeliling lingkaran

tertuju kea rah Harry. "Harry Potter telah berbaik hati

bergabung dengan kita untuk pesta kelahiranku kembali.

Kita bisa mengatakan dia tamu kehormatanku.”

Sunyi. Kemudian pelahap maut di sebelah kanan

Wormtail maju, dan suara Lucius Malfoy berbicara dari

balik topeng.

796

"Tuan, kami ingin sekali tahu… kami memohon anda

menceritakan kepada kami… bagaimana anda berhasil

melakukan… keajaiban ini… bagaimana anda berhasil

kembali kepada kami…”

"Ah, ceritanya sungguh luar biasa, Lucius,” ujar

Voldemort. "Dan cerita ini diawali – dan diakhiri – oleh

teman kecilku ini.”

Dia berjalan santai untuk berdiri di samping Harry,

sehingga mata seluruh lingkaran memandang mereka

berdua. Si ular terus melingkar-lingkar.

"Kalian tahu, tentu saja, bahwa mereka menyebut

anak ini penyebab kejatuhanku?” Voldemort berkata

pelan, matanya yang merah memandang Harry. Bekas

luka Harry mulai membara sakit sekali sehingga dia

nyaris menjerit kesakitan. "Kalian semua tahu bahwa

pada malam aku kehilangan kekuasaan dan tubuhku, aku

mencoba membunuhnya. Ibunya mati dalam usahanya

menyelamatkannya – dan tanpa sengaja memberi dia

perlindungan yang kuakui tak kuperhitungkan

sebelumnya… aku tak bisa menyentuh anak ini.”

Voldemort mengangkat salah satu jari putihnya yang

panjang dan menjulurkannya sangat dekat ke pipi Harry.

"Ibunya meninggalkan bekas-bekas pengorbannya…

Ini sihir kuno, aku seharusnya ingat itu. Aku bodoh

mengabaikannya… tapi sudahlah. Aku bisa

menyentuhnya sekarang.”

Harry merasa ujung dingin jari panjang putih itu

menyentuhnya, dan merasa kepalanya akan pecah

saking sakitnya.

797

Voldemort tertawa pelan di telinganya, kemudian

menyingkirkan jarinya dan meneruskan ceritanya kepada

para pelahap maut. "Aku salah perhitungan, kawankawan,

kuakui itu. Kutukanku ditangkis oleh

pengorbanan bodoh wanita itu, dan berbalik

menghantamku. Aah… kesakitan yang luar biasa, kawankawan;

tak ada yang bisa menyiapkanku untuk itu. Aku

tercabik dari tubuhku, aku lebih rendah dari arwah, lebih

rendah dari hantu yang paling hina… tetapi aku masih

hidup. Sebagai apa, bahkan aku sendiri pun tak tahu…

aku, yang telah menapaki jalan menuju keabadian lebih

jauh daripada siapapun. Kalian tahu cita-citaku…

mengalahkan kematian. Dan kini, aku telah diuji, dan

tampaknya satu atau lebih percobaanku berhasil…

karena aku tidak terbunuh, meskipun seharusnya

kutukan itu sudah membunuhku. Meskipun demikian, aku

sama tak berdayanya dengan makhluk hidup yang paling

lemah, dan tanpa sarana untuk bisa menolong diriku

sendiri… karena aku tak punya tubuh, dan semua mantra

yang mungkin bisa membantuku memerlukan

penggunaan tongkat sihir…”

"Aku ingat hanya memaksa diriku, tanpa tidur, tanpa

kenal lelah, detik demi detik, untuk tetap hidup… aku

bermukim di tempat yang jauh, di hutan, dan

menunggu… Tentunya salah satu Pelahap Maut-ku yang

setia akan berusaha mencariku… salah satu dari mereka

akan datang dan melakukan sihir yang tak bisa

kulakukan, mengembalikanku ke tubuhku… tetapi sia-sia

saja aku menunggu…”

798

Gigilan kembali melanda para pelahap maut yang

mendengarkan. Voldemort membiarkan keheningan

membelit mengerikan sebelum meneruskan.

"Hanya tinggal satu kemampuan yang kumiliki. Aku

bisa menguasai tubuh makhluk lain. Tetapi aku tak

berani pergi ke tempat yang banyak orangnya, karena

aku tahu para auror masih berkeliaran di luar negeri

mencariku. Aku kadang-kadang menempati tubuh

binatang – ular tentu saja, karena ular binatanga

favoritku – tetapi berada di dalam tubuh ular tak lebih

baik daripada sebagai roh, karena tubuh mereka tak bisa

digunakan untuk melakukan sihir… dan penguasaanku

atas tubuh mereka membuat hidup mereka lebih singkat.

Tak satupun diantara mereka bertahan lama…”

"Kemudian… empat tahun lalu… sarana untuk

kembalinya ku tampaknya sudah terjamin. Seorang

penyihir pria – muda, bodoh dan mudah ditipu – bertemu

denganku saat dia mengeluyur di hutan yang telah

kujadikan rumahku. Oh, dia tampaknya kesempatan yang

telah lama kuimpikan… karena dia guru di sekolah

Dumbledore… dia mudah dibelokkan menuruti

kehendakku… dia membawaku kembali ke Negara ini,

dan setelah lewat beberapa waktu, aku menguasi

tubuhnya, untuk mengawasinya dari dekat saat dia

melaksanakan perintah-perintahku. Tetapi rencanaku

gagal. Aku tak berhasil mencuri Batu Bertuah. Hidup

abadiku tak jadi terjamin. Aku digagalkan… digagalkan,

sekali lagi, oleh Harry Potter…”

Hening lagi. Tak ada yang bergerak, bahkan daundaun

di pohon cemara pun tidak. Para pelahap maut

799

bergeming, mata-mata yang berkilat di dalam topeng

mereka tertuju ke Voldemort, dan pada Harry.

"Abdiku mati pada waktu aku meninggalkan tubuhnya,

dan aku kembali selemah sebelumnya,” Voldemort

melanjutkan. "Aku kembali ke tempat persembunyianku

yang jauh, dan aku tak akan berpura-pura kepada kalian,

kuakui waktu itu aku takut tak akan pernah lagi

memperoleh kembali kekuasaanku… Ya, saat itu mungkin

saatku yang tergelap… aku tak bisa berharap akan

bertemu penyihir lain untuk kukuasai… dan aku saat itu

juga sudah melepas harapan bahwa salah satu dari

pelahap mautku peduli apa yang terjadi padaku…”

Satu dua penyihir bertopeng di lingkaran bergerak

salah tingkah, tetapi Voldemort tidak memedulikan

mereka.

"Dan kemudian, bahkan belum genap setahun lalu,

ketika aku nyaris melepas harapan, terjadilah akhirnya…

seorang abdi kembali kepadaku. Wormtail yang telah

memalsukan kematiannya sendiri untuk menghindari

pengadilan, dipaksa keluar dari persembunyiannya oleh

mereka yang pernah dianggapnya sebagai sahabat, dan

dia memutuskan untuk kembali kepada tuannya. Dia

mencariku di Negara yang sudah lama didesas-desuskan

sebagai tempatku berada… dibantu, tentu saja, oleh

tikus-tikus besar yang ditemuinya sepanjang jalan.

Wormtail ini punya pertalian ganjil dengan tikus-tikus.

Betul, kan, Wormtail? Teman-teman kecilnya yang kotor

memberitahunya, ada tempat, jauh di dalam hutan

Albania, yang mereka hindari. Di tempat itu binatangbinatang

kecil seperti mereke menemui ajal oleh

bayangan gelap yang menguasai mereka…

800

"Tetapi perjalanan kembalinya kepadaku tidaklah

mulus. Betul, kan, Wormtail? Karena, suatu malam ketika

kelaparan, di tepi hutan tempat dia berharap bisa

menemukanku, dengan bodoh dia berhenti di sebuah

losmen untuk makan… dan siapa yang ditemuinya di

sana, kalau bukan Bertha Jorkins, pegawai kementerian

sihir?”

"Sekarang lihat bagaimana takdir berpihak kepada

Lord Voldemort. Pertemuan itu bisa berarti tamatnya

riwayat Wormtail, juga tamatnya harapan terakhirku

untuk regenerasi. Tetapi Wormtail – memperlihatkan

kecerdikan yang tak pernah kuharapkan darinya –

meyakinkan Bertha untuk menemaninya jalan-jalan

malam. Dia menyergap Bertha… membawanya

kepadaku. Dan Bertha Jorkins, yang sebetulnya bisa

menghancurkan segalanya, ternyata malah menjadi

hadiah di luar impianku yang paling liar sekalipun…

karena – dengan sedikit bujukan – dia menjadi sumber

informasi yang luar biasa.”

"Dia memberitahuku bahwa Turnamen Triwizard akan

diselenggarakan di Hogwarts tahun ini. Dia

memberitahuku bahwa dia kenal pelahap maut yang

dengan sukarela akan membantuku, kalau saja aku bisa

mengontaknya. Dia memberitahuku banyak hal… tetapi

sarana yang kugunakan untuk mematahkan Jampi

Memori yang dikenakan kepadanya juga kuat sekali, dan

ketika aku sudah memeras semua informasi yang

berguna darinya, pikiran dan tubuhnya telah rusak berat,

tak mungkin diperbaiki lagi. Dia telah digunakan sesuai

tujuan. Tubuhnya tak bisa kupakai. Kusingkirkan dia.”

801

Voldemort menyunggingkan senyumnya yang

mengerikan, mata merahnya hampa dan tanpa belas

kasihan.

"Tubuh Wormtail, tentunya, tidak bisa kugunakan,

karena semua sudah menganggapnya meninggal, dan

akan menarik terlalu banyak perhatian kalau sampai ada

yang melihat. Tetapi, dia abdi yang kubutuhkan dan

meskipun dia penyihir tolol, Wormtail bisa mengikuti

instruksi yang kuberikan kepadanya, yang akan

mengembalikanku ke tubuh elementerku yang masih

lemah dan belum sempurna, tubuh yang bisa kutempati

selama menunggu bahan-bahan pokok untuk kelahiranku

kembali yang sesungguhnya… satu dua mantra

temuanku sendiri… sedikit bantuan dari Nagini-ku yang

tersayang,” mata Voldemort menatap ular yang tak

hentinya melingkar-lingkar, "ramuan yang dibuat dari

darah Unicorn dan bisa ular yang disediakan Nagini… aku

segera kembali ke bentuk hampir manusia, dan cukup

kuat untuk bepergian.”

"Tak ada lagi harapan untuk mencuri Batu Bertuah,

karena aku tahu Dumbledore pasti sudah mengatur agar

batu itu dihancurkan. Tetapi aku bersedia menjalani

hidup fana lagi, sebelum mengejar keabadian. Kupasang

targetku lebih rendah… aku bersedia memiliki tubuhku

yang lama lagi, dan kekuatanku yang lama.”

"Aku tahu bahwa untuk mencapai ini – ramuan yang

menghidupkanku malam ini adalah sedikit Sihir Hitam

kuno – aku akan memerlukan tiga bahan utama. Nah,

salah satunya sudah di tangan, ya kan, Wormtail? Daging

yang diberikan oleh seorang abdi…”

802

"Tulang ayahku, tentunya berarti bahwa kami harus

datang ke sini, ke tempatnya di makamkan. Tetapi darah

musuh… Kalau menurut Wormtail, dia akan memintaku

menggunakan penyihir siapa saja, betul, kan, Wormtail?

Penyihir siapa saja yang pernah membenciku… karena

masih banyak penyihir yang membenciku. Tetapi aku

tahu siapa yang harus kugunakan, jika aku mau bangkit

lagi, lebih berkuasa daripada ketika aku jatuh. Aku

menginginkan darah Harry Potter. Aku menginginkan

darah orang yang telah meruntuhkan kekuasaanku tiga

belas tahun yang lalu… karena perlindungan dari ibunya

masih ada, akan memasuki nadi-nadiku juga…”

"Tetapi bagaimana bisa mendatangi Harry Potter?

Karena dia dilindungi bahkan lebih ketat daripada yang

kurasa disadarinya, dilindungi dengan cara-cara yang

sudah lama diciptakan Dumbledore, ketika tugas

mengatur masa depan anak ini jatuh ke pundaknya.

Dumbledore menggunakan sihir kuno, yang memastikan

anak ini terlindungi selama dia tinggal bersama

saudaranya. Bahkan aku pun tak bisa menyentuhnya di

sana… Kemudian, tentu saja, ada Piala Dunia Quidditch…

kupikir perlindungannya lebih lemah di sana, jauh dari

saudaranya dan Dumbledore, tetapi aku belum cukup

kuat untuk melakukan usaha penculikan di tengah begitu

banyak penyihir petugas Kementerian. Dan seandainya

anak ini sudah kembali ke Hogwarts. Di sana dia akan

berada dalam perlindungan si tolol pencinta Muggle

berhidung bengkok dari pagi sampai malam. Jadi,

bagaimana aku bisa mengambilnya?”

"Nah… dengan memanfaatkan informasi Bertha

Jorkins tentu saja. Gunakan salah satu pelahap mautku

803

yang setia, pasang di di Hogwarts, untuk memastikan

nama anak ini dimasukkan dalam Piala Api. Gunakan

Pelahap maut-ku untuk memastikan bahwa anak ini

memenangkan turnamen – bahwa dia menyentuh Piala

Triwizard lebih dulu – piala yang sudah diubah oleh

pelahap mautku menjadi Portkey, yang akan

membawanya ke sini, jauh dari jangkauan bantuan dan

perlindungan Dumbledore, dan jatuh ke dalam pelukanku

yang sudah menanti. Dan inilah dia… anak yang kalian

semua percaya telah menjadi penyebab kejatuhanku…”

Voldemort bergerak maju perlahan dan berbalik

menghadapi Harry. Dia mengangkat tongkat sihirnya.

"Crucio!”

Belum pernah Harry merasakan kesakitan seperti itu.

Tulang-tulangnya serasa terbakar. Kepalanya jelas

terbelah di sepanjang bekas lukanya, matanya berputarputar

liar di kepalanya ; dia ingin ini berakhir… ingin

pingsan… ingin mati…

Dan kemudian rasa sakit itu lenyap. Dia terkulai lemas

di tali yang mengikatnya ke nisan ayah Voldemort,

menatap mata merah terang itu melalui semacam kabut.

Keheningan malam pecah oleh derail tawa para pelahap

maut.

"Kalian sudah menyaksikan, kurasa, betapa bodohnya

mengira anak ini bisa lebih kuat dariku,” kata Voldemort.

"Tetapi aku tak mau ada kekeliruan dalam benak

siapapun. Harry Potter lolos dariku semata-mata karena

keberuntungan dan kebetulan saja. Dan aku sekarang

akan membuktikan kekuasaanku dengan membunuhnya,

di sini dan sekarang juga, di depan kalian semua, ketika

tak ada Dumbledore yang membantunya, dan tak ada ibu

804

yang akan meninggal demi dirinya. Aku akan

memberinya kesempatan. Dia akan diizinkan melawan,

supaya kalian nanti tak ragu lagi, siapa diantara kami

yang lebih kuat. Sebentar lagi, Nagini,” dia berbisik, dan

si ular melata pergi melewati rerumputan tempat para

pelahap maut berdiri menunggu.

"Sekarang lepaskan ikatannya, Wormtail, dan berikan

kembali tongkat sihirnya.”

34. Priori Incantatem

Wormtail mendekati Harry, yang berusaha

menemukan kakinya, untuk menopang berat tubuhnya

sebelum ikatannya dilepas. Wormtail mengangkat tangan

peraknya yang baru, menarik gumpalan kain yang

menyumpal mulut Harry, dan kemudian, dengan satu

sabetan, memutuskan tali yang mengikat Harry ke nisan.

Sepersekian detik, mungkin, terbersit di benak Harry

untuk lari, tetapi kakinya yang luka gemetar di bawah

tubuhnya saat dia berdiri di atas makan yang ditumbuhi

805

rumput liar tinggi, sementara para pelahap maut

mendekat, membentuk lingaran yang lebih kecil

mengitari dirinya dan Voldemort, sehingga celah-celah

kosong tempat para pelahap maut yang tak hadir

sekarang terisi. Wormtail meninggalkan lingkaran menuju

ke tempat tubuh Cedric terbaring dan kembali dengan

tongkat sihir Harry, yang diulurkannya ke tangan Harry

tanpa memandangnya. Kemudian Wormtail kembali ke

tempatnya di lingkaran para pelahap maut yang

menonton.

"Kau sudah diajari bagaimana berduel, Harry Potter?”

Tanya Voldemort tenang, mata merahnya berkilat dalam

kegelapan.

Mendengar kata-kata ini Harry teringat, seakan dari

hidupnya yang lalu, Klub Duel di Hogwarts yang pernah

diikutinya sebentar dua tahun lalu… Yang dipelajarinya

hanyalah Mantra Pelucutan Senjata, "Expelliarmus”… dan

apa gunanya melucuti Voldemort dari tongkat sihirnya,

itupun kalau dia bisa, sementara dia dikelilingi paling

tidak tiga puluh pelahap maut? Harry belum pernah

mempelajari sesuatu yang menyiapkannya untuk

menghadapi duel ini. Dia tahu dia menghadapi hal yang

selalu diperingatkan Moody… Kutukan Avada Kedavra

yang tak bisa diblokir – dan Voldemort benar – tak ada

ibunya yang bersedia mati untuknya kali ini… Dia tak

terlindungi…

"Kita membungkuk saling menghormati, Harry,” kata

Voldemort, membungkuk sedikit, tetapi wajhnya yang

seperti ular masih menghadap Harry. "Ayo, sopan santun

harus dijalankan… Dumbledore pasti ingin kau bersikap

sopan… Membungkuklah untuk kematianmu, Harry…”

806

Para pelahap maut tertawa lagi. Mulut tanpa bibir

Voldemort tersenyum. Harry tidak membungkuk. Dia tak

akan membiarkan Voldemort mempermainkannya

sebelum membunuhnya… dia tak akan memberinya

kepuasan itu…

"Membungkuk, kataku,” ujar Voldemort, mengangkat

tongkat sihirnya – dan Harry merasakan tulang

punggungnya melengkung seakan ada tangan besar tak

kelihatan yang tanpa belas kasihan memaksanya

membungkuk, dan para pelahap maut tertawa lebih

keras lagi…

"Bagus sekali,” kata Voldemort pelan, dan ketika dia

mengangkat tongkatnya, tekanan di punggung Harry ikut

terangkat. "Dan sekarang hadapi aku, seperti laki-laki…

dengan punggung lurus dan kebanggaan, seperti cara

ayahmu mati…”

"Dan sekarang… kita duel…’

Voldemort mengangkat tongkat lagi, dan sebelum

Harry bisa melakukan apa-apa untuk melindungi diri,

sebelum dia bahkan bisa bergerak, dia telah terhantam

lagi oleh kutukan Cruciatus. Sakitnya luar biasa, begitu

menyeluruh, sehingga dia tak tahu lagi di mana dia

berada… Pisau-pisau putih tajam menusuk setiap senti

kulitnya, kepalanya akan meledak saking sakitnya, dia

menjerit. Seumur hidup belum pernah dia menjerit

sekeras ini…

Dan kemudian rasa sakitnya berhenti. Harry berguling

dan berusaha berdiri. Dia menggigil tak terkendali,

seperti Wormtail ketika tangannya baru ditebas. Dia

terhuyung ke pinggir, menabrak dinding pelahap maut

807

yang menonton, dan mereka mendorongnya kea rah

Voldemort lagi.

"Berhenti sebentar,” kata Voldemort, cuping

hidungnya yang hanya berupa celah melebar bergairah.

"Istirahat sebentar… Sakit, kan, Harry? Kau tak ingin aku

melakukannya lagi kepadamu, kan?”

Harry tidak menjawab. Dia akan mati seperti Cedric,

mata tanpa belas kasihan itu telah memberitahunya… dia

akan mati dan tak ada yang bisa diperbuatnya… tetapi

dia tak mau dipermainkan. Dia tak akan mau mematuhi

Voldemort… dia tak akan memohon…

"Kutanya kau, apakah kau mau aku melakukan itu

lagi?” kata Voldemort pelan. "Jawab aku! Imperio!”

Dan Harry merasa, untuk ketiga kalinya dalam

hidupnya, sensasi semua pikirannya telah disapu dari

otaknya… Ah, betapa membahagiakan, tak perlu berpikir,

rasanya dia melayang, bermimpi… jawab saja "tidak” …

katakana "tidak”… jawab saja "tidak”…

Aku tak mau, kata suara yang lebih kuat, dari

belakang kepalanya, aku tak mau menjawab…

Jawab saja "tidak”…

Tidak mau, aku tak mau mengatakannya…

Jawab saja "tidak”…

"TIDAK MAU!”

Dan kata-kata ini terlontar dari mulut Harry, bergaung

di makam, dan suasana seperti mimpi mendadak

terangkat, seakan dia diguyur angina dingin – rasa sakit

yang ditinggalkan kutukan Cruciatus kembali melanda

808

tubuhnya – kembali pula dia menyadari di mana dia

berada, dan apa yang sedang dihadapinya.

"Kau tidak mau menjawab?” kata Voldemort pelan,

dan para pelahap maut kini tak lagi tertawa. "Kau tak

mau mengatakan tidak? Harry, kepatuhan adalah nilai

yang harus kuajarkan kepadamu sebelum kau mati…

Mungkin sedikit dosis kesakitan lagi?”

Voldemort mengangkat tongkat sihirnya, tetapi kali ini

Harry sudah siap. Dengan refleks yang terbentuk berkat

latihan Quidditch-nya, dia melempar tubuhnya miring ke

tanah. Harry berguling ke balik nisan pualam ayah

Voldemort dan mendengar nisan itu retak ketika kutukan

itu menghantamnya.

"Kita tidak sedang main petak umpet, Harry,” kata

suara dingin Voldemort pelan, makin dekat, sementara

para pelahap maut tertawa. "Kau tak bisa sembunyi

dariku. Apa ini berarti kau sudah capek berduel

denganku? Apakah ini berarti kau lebih suka aku

mengakhirinya sekarang, Harry? Keluarlah, harry…

keluarlah dan bermainlah, kemudian… kematianmu akan

berlangsung cepat… mungkin malah tidak sakit… aku tal

tahu… aku belum pernah mati…”

Harry meringkuk di belakang nisan dan tahu ajalnya

telah tiba. Tak ada harapan… tak ada bantuan. Dan

ketika dia mendengar Voldemort datang semakin dekat,

dia hanya tahu satu hal, dan hal itu melampaui ketakutan

ataupun akal sehat: Dia tak mau mati meringkuk di sini

seperti anak yang bermain petak umpet. Dia tak mau

mati berlutut di kaki Voldemort… dia akan mati berdiri

gagah seperti ayahnya, dan dia tak mau mati tanpa

809

membela diri, walaupun tak ada cara mempertahankan

diri…

Sebelum Voldemort memunculkan wajahnya yang

seperti ular dari balik nisan, Harry berdiri… dia

memegang tongkat sihirnya erat-erat, mengacungkannya

ke depan, dan melempar dirinya ke depan nisan,

menghadapi Voldemort.

Voldemort sudah siap. Ketika Harry meneriakkan,

"Expelliarmus!” Voldemort berseru, "Avada Kedavra!”

Sinar hijau memancar dari tongkat Voldemort,

bersamaan dengan pancaran sinar merah dari tongkat

Harry – kedua cahaya itu bertemu di tengah udara – dan

mendadak tongkat Harry bergetar, seakan dialiri arus

listrik. Tangannya mencengkeram erat-erat. Dia tak akan

bisa melepasnya, kalaupun ingin – dan cahaya kecil

menghubungkan kedua tongkat itu, tidak merah dan

tidak hijau, melainkan cemerlang keemasan. Harry, yang

menelusuri cahaya itu dengan pandangannya yang

keheranan, melihat bahwa jari-jari putih Voldemort juga

mencengkeram tongkatnya yang berguncang dan

bergetar.

Dan kemudian – tak ada yang bisa menyiapkan Harry

untuk ini – kakinya terangkat dari tanah. Dia dan

Voldemort diangkat ke udara, tongkat mereka masih

dihubungkan oleh benang emas yang berpendar-pendar.

Mereka melayang menjauh dari nisan ayah Voldemort

dan mendarat di petak tanah kosong yang tak

bermakam… Para pelahap maut berteriak-teriak, mereka

meminta petunjuk dari Voldemort. Mereka semakin

dekat, kembali membentuk lingkaran mengelilingi Harry

dan Voldemort, si ular melata diantara kaki-kaki mereka,

810

beberapa diantara mereka sudah mencabut tongkat sihir

mereka…

Benang emas yang menghubungkan Harry dan

Voldemort memecah: meskipun masih ada benang emas

yang menghubungkan kedua tongkat, seribu berkas

cahaya lain melengkung tinggi di atas Harry dan

Voldemort, bersilangan di sekitar mereka, sampai mereka

berdua tertutup jarring emas berbentuk kubah, sangkar

cahaya. Para pelahap maut mengitari kubah itu seperti

serigala-serigala liar, seruan-seruan mereka kini

terendam aneh…

"Jangan lakukan apa-apa!” Voldemort berteriak

kepada para pelahap maut, dan Harry melihat matanya

yang merah melebar keheranan melihat apa yang terjadi,

melihatnya berkutat hendak memutuskan benang cahaya

yang masih menghubungkan tongkatnya dengan tongkat

Harry. Harry memegangi tongkatnya semakin erat

dengan kedua tangannya, dan benang emas itu bertahan

tidak putus. "Jangan lakukan apa-apa kalu tidak

kuperintahkan!” Voldemort berteriak kepada para

pelahap maut.

Dan kemudian suara gain yang amat merdu

memenuhi udara… datangnya dari semua benang yang

terajut menjadi jarring yang bergetar di sekeliling Harry

dan Voldemort. Suara itu dikenali Harry, meskipun dia

hanya pernah mendengarnya sekali sepanjang hidupnya:

nyanyian phoenix.

Itu suara harapan bagi Harry… suara paling indah dan

paling disambutnya dalam hidupnya… Dia merasa seakan

nyanyian itu ada di dalam dirinya, bukan hanya di

sekelilingnya… Itu lagu yang mengingatkannya kepada

811

Dumbledore, dan seakan seorang teman sedang berbisik

di telinganya…

Jangan putuskan hubungan.

Aku tahu, Harry memberitahu musik itu, aku tahu aku

tak boleh memutuskannya… tetapi baru saja dia

membatin demikian, hal itu menjadi jauh lebih sulit

dilaksanakan. Tongkatnya mulai bergetar jauh lebih

hebat daripada sebelumnya… dan sekarang benang

antara dia dan Voldemort ikut berubah… manik-manik

besar cahaya meluncur naik turun pada benang yang

menghubungkan kedua tongkat – Harry merasakan

tongkatnya bergetar dalam pegangannya dan manikmanik

cahaya itu mulai meluncur pelan dan mantap ke

arahnya… Arah gerakan cahaya sekarang menuju dirinya,

menjauhi Voldemort, dan dia merasakan tongkatnya

bergetar marah…

Semakin dekat manik-manik cahaya itu bergerak ke

ujung tongkat Harry, kayu dalam genggamannya menjadi

panas sekali, sampai Harry takut tongkat itu akan

menyala. Semakin dekat manik-manik cahayanya,

semakin kuat getaran tongkat Harry. Dia yakin

tongkatnya tak akan bertahan jika bersentuhan dengan

manik-manik cahaya itu. Rasanya tongkatnya sudah siap

hancur dalam genggaman jari-jarinya…

Harry berkonsentrasi menggunakan semua partikel

otaknya untuk memaksa manik-manik kembali ke arah

Voldemort, telinganya dipenuhi nyanyian phoenix,

matanya berang, terpaku… dan pelan, sangat pelan,

manik-manik itu bergetar dan berhenti, lalu dengan sama

pelannya, mulai bergerak ke arah berlawanan… dan

sekarang giliran tongkat Voldemort yang bergetar ekstra

812

kuat… Voldemort tampak tercengang dan hampir

ketakutan…

Sebutir manik-manik cahaya bergetar hanya beberapa

senti dari ujung tongkat Voldemort. Harry tak mengerti

kenapa dia melakukan itu, tak tahu apa hasilnya… tetapi

dia sekarang berkonsentrasi sepenuh-penuhnya untuk

memaksa manik-manik itu meluncur ke tongkat

Voldemort… dan pelan… sangat pelan… manik-manik itu

bergerak sepanjang benang emas… sejenak bergetar…

dan kemudian menyentuh ujung tongkat Voldemort…

Mendadak saja tongkat Voldemort mengeluarkan

gaung jeritan kesakitan… kemudian – mata merah

Voldemort melebar karena syok – asap tebal berbentuk

tangan terbang dari ujung tongkatnya dan lenyap…

hantu tangan Wormtail… lebih banyak lagi teriakan

kesakitan… dan kemudian sesuatu yang jauh lebih besar

mulai berkembang di ujung tongkat Voldemort. Sesuatu

yang besar abu-abu, seakan terbuat dari asap yang

paling padat dan paling tebal… Mula-mula kepala…

sekarang dada dan lengan… bagian atas tubuh Cedric

Diggory…

Seandainya Harry melepas tongkat saking kagetnya,

itulah saatnya, tetapi naluri membuatnya tetap

memegang tongkatnya erat-erat, agar benang emas

cahayanya tidak putus, meskipun sosok hantu abu-abu

tebal Cedric Diggory (apakah itu hantu? Kelihatannya

padat sekali) muncul seluruhnya dari ujung tongkat

Voldemort, seakan dia meloloskan diri dari terowongan

amat sempit… dan bayangan Cedric ini berdiri, menatap

benang cahaya, dan berbicara.

"Bertahanlah, Harry,” katanya.

813

Suaranya terdengar dari jauh dan bergaung. Harry

memandang Voldemort… mata merahnya yang lebar

masih shock… seperti halnya Harry, dia tak mengira ini

akan terjadi… dan, sangat sayup-sayup, Harry

mendengar jerit ketakutan para pelahap maut yang

berkeliaran di luar kubah emas…

Lebih banyak jeritan kesakitan dari dalam tongkat…

dan kemudian ada lagi yang keluar dari ujungnya…

bayangan padat kepala kedua, yang dengan cepat diikuti

lengan dan dada… seorang laki-laki tua yang hanya

pernah dilihat Harry dalam mimpi sekarang mendorong

dirinya keluar dari ujung tongkat, persis seperti

Cedric…dan hantunya, atau bayangannya, atau entah

apanya, terjatuh di sebelah Cedric, lalu mengawasi Harry

dan Voldemort, dan jarring emas, dan kedua tongkat

yang menyatu, dengan agak keheranan, bertumpu pada

tongkatnya…

"Jadi dia memang benar penyihir?” kata si laki-laki tua,

matanya menatap Voldemort. "Dia membunuhku…

Lawan dia, Nak…”

Tetapi sudah ada kepala lain yang muncul… dan

kepala ini, abu-abu seperti patung berasap, adalah

kepala perempuan… Harry, yang kedua lengannya

gemetar sekarang sementara dia berusaha memegangi

tongkat sihirnya supaya mantap, melihat perempuan itu

terjatuh ke tanah dan berdiri seperti yang lain,

memandang keheranan…

Bayangan Bertha Jorkins memandang pertempuran di

hadapannya dengan mata terbelalak.

814

"Jangan lepaskan!” teriaknya, dan suaranya bergaung

seperti Cedric, seakan dari tempat yang sangat jauh.

"Jangan biarkan dia menangkapmu, Harry… jangan

lepaskan!”

Dia dan kedua sosok bayangan lainnya mulai berjalan

berkeliling dinding bagian dalam kubah emas, sementara

para pelahap maut berkeliling di luarnya… dan korbankorban

Voldemort yang telah mati berbisik sementara

mereka mengitari kedua orang yang sedang berduel,

membisikkan kata-kata yang menyemangati Harry, dan

mendesiskan kata-kata – yang tak bisa didengar Harry –

kepada Voldemort.

Dan sekarang kepala lain sedang muncul dari ujung

tongkat sihir Voldemort… dan Harry tahu ketika

melihatnya siapa yang akan muncul… dia tahu, seakan

dia telah mengharapkannya sejak saat Cedric muncul

dari tongkat… tahu, karena wanita yang muncul adalah

orang yang malam ini jauh lebih banyak dia pikirkan

disbanding malam-malam lainnya…

Bayangan asap seorang wanita muda berambut

panjang terjatuh di tanah seperti halnya Bertha, bangkit

berdiri dan memandangnya… dan Harry, lengannya

bergetar hebat sekarang, balas memandang wajah

samara ibunya.

"Ayahmu segera datang…” katanya pelan. "Dia ingin

melihatmu… semuanya akan baik… bertahanlah…”

Dan dia muncul… mula-mula kepalanya, kemudian

tubuhnya… jangkung dengan rambut berantakan seperti

Harry, sosok remang-remang berbentuk asap James

Potter muncul dari ujung tongkat Voldemort, terjatuh ke

815

tanah, dan bangkit berdiri seperti istrinya. Dia berjalan

mendekati Harry, memandangnya, dan dia berbicara

dengan suara bergaung yang seakan datang dari

kejauhan seperti yang lain, tetapi pelan, sehingga

Voldemort, yang wajahnya sangat ketakutan sekarang

sementara korban-korbannya berjalan mengelilinginya,

tak bisa mendengar…

"Saat hubungannya terputus, kami hanya akan tinggal

sebentar… tetapi kami akan memberimu waktu… kau

harus ke Portkey, Portkey itu akan membawamu kembali

ke Hogwarts… kau mengerti, Harry?”

"Ya,” Harry tersengal, berusaha sekuat tenaga

sekarang untuk tetap memegang tongkatnya, yang

menggelincir licin di bawah jari-jarinya.

"Harry…,” bisik sosok Cedric, "maukah kau membawa

pulang tubuhku? Bawalah pulang tubuhku kepada orang

tuaku…”

"Baik,” kata Harry, wajahnya mengernyit dalam

usahanya tetap memegangi tongkatnya.

"Lakukan sekarang,” bisik suara ayahnya, "bersiaplah

untuk berlari… lakukan sekarang…”

"SEKARANG!” Harry berteriak. Dia toh tak bisa

bertahan lebih lama lagi – dia menyentakkan tongkatnya

ke atas dengan sekuat tenaga, dan benang emas itu

putus, sangkar cahaya lenyap, nyanyian phoenix reda –

tetapi sosok-sosok bayangan korban Voldemort tidak

menghilang – mereka mengepung Voldemort, melindungi

Harry dari tatapannya…

816

Dan Harry berlari secepat kilat, menabrak dua pelahap

maut sampai jatuh ketika melewati merea. Dia berzig-zag

di belakang nisan-nisan, merasakan kutukan mereka

mengejarnya, mendengar kutukan-kutukan itu

menghantam nisan – dia menghindari kutukan dan

makam, meluncur menuju tubuh Cedric, tak lagi

menyadari rasa sakit di kakinya, seluruh tubuh dan

jiwanya berkonsentrasi pada apa yang harus

dilakukannya…

"Pingsankan dia!” dia mendengar Voldemort berteriak.

Tiga meter dari tubuh Cedric, Harry melesat ke

belakang patung pualam malaikat untuk menghindari

luncuran sinar merah dan melihat ujung sayap malaikat

itu hancur ketika kutukan itu mengenainya.

Mencengkeram tongkatnya lebih erat, dia berlari keluar

dari balik si malaikat…

"Impedimenta!” dia meraung, mengacungkan

tongkatnya asal saja ke balik bahunya, ke arah para

pelahap maut yang mengejarnya.

Mendengar jeritan terendam, Harry berpikir dia telah

menghentikan paling tidak satu diantaranya, tetapi tak

ada waktu untuk berhenti dan melihat. Harry melompati

piala dan menunduk ketika mendengar sambaran tongkat

di belakangnya. Lebih banyak lagi luncuran cahaya

menyambar di atas kepalanya saat dia jatuh,

menjulurkan tangan untuk meraih lengan Cedric…

"Minggir! Aku akan membunuhnya! Dia milikku!” jerit

Voldemort.

Tangan Harry sudah memegang pergelangan Cedric.

Sebuah nisan memisahkannya dari Voldemort, tetapi

817

Cedric terlalu berat untuk dibawa dam pialanya berada di

luar jangkauan…

Mata merah Voldemort menyala dalam kegelapan.

Harry melihat mulutnya melengkung tersenyum,

melihatnya mengangkat tongkat sihirnya.

"Accio!” Harry berteriak, mengacungkan tongkat

sihirnya ke Piala Triwizard.

Piala itu terangkat ke udara dan melayang ke arahnya.

Harry menangkap pegangannya…

Dia mendengar raung murka Voldemort, pada saat

bersamaan dia merasakan entakan di belakang pusarnya

yang berarti Portkey telah bekerja – membawanya pergi

dalam pusaran angin dan warna, dengan Cedric

bersamanya… Mereka pulang…

35. Veritaserum

Harry merasa dirinya terempas ke tanah. Wajahnya

melekat di rerumputan, bau rumput memenuhi

818

hidungnya. Dia memejamkan mata ketika Portkey

membawanya pergi, dan dia tetap memejamkannya

sekarang. Dia tidak bergerak. Semua napas rasanya telah

disentakkan keluar darinya; kepalanya berputar-putar

begitu hebatnya sehingga dia merasa seakan tanah di

bawahnya berayun-ayun seperti geladak kapal. Untuk

memantapkan diri, dia mengeratkan pegangannya pada

dua benda yang masih dicengkeramnya: pegangan piala

Triwizard yang dingin dan halus, dan tubuh Cedric. Dia

merasa akan meluncur ke dalam kegelapan yang sudah

berkumpul di tepi-tepi otaknya jika dia melepas salah

satu dari mereka. Shock dan kelelahan membuatnya

tetap terbaring di rerumputan, menghirup bau rumput,

menunggu… menunggu ada yang melakukan sesuatu…

menunggu sesuatu terjadi… dan sementara itu, bekas

luka di dahinya serasa membara…

Gemuruh suara menulikan dan membingungkannya.

Dari mana-mana terdengar suara, langkah-langkah kaki,

jeritan… Dia tetap tinggal di tempatnya, wajahnya

mengernyit mendengar suara- suara itu, seakan itu

mimpi buruk yang akan berlalu…

Kemudian sepasang tangan menyambarnya kasar dan

membalikkannya.

"Harry! Harry!”

Dia membuka mata.

Dia membuka langit berbintang, dan Albus

Dumbledore membungkuk di atasnya. Baying-bayang

kerumunan orang-orang mengitari mereka, semakin

merapat. Harry merasa tanah di bawah kepalanya

bergetar karena langkah-langkah mereka.

819

Dia telah kembali ke tepi maze. Dia bisa melihat

tempat-tempat duduk yang menjulang di tribune, sosoksosok

yang bergerak di dalamnya, bintang-bintang di

atas.

Harry melepas piala, tetapi dia memeluk Cedric lebih

erat lagi. Dia mengangkat tangannya yang bebas dan

menyambar pergelangan Dumbledore, sementara wajah

Dumbledore kadang jelas kadang samara.

"Dia kembali,” Harry berbisik. "Dia kembali.

Voldemort.”

"Ada apa ini? Apa yang terjadi?”

Wajah Cornelius Fudge muncul terbalik di atas Harry,

pucat, ngeri.

"Ya Tuhan… Diggory!” dia berbisik. "Dumbledore… dia

mati!”

Ucapannya diulang, baying sosok-sosok yang

mengerumuni mereka membisikkannya kepada sosok di

sekitar mereka… dan kemudian yang lain

meneriakkannya – menjeritkannya – ke dalam kegelapan

malam… "Dia mati!” "Dia mati!” "Cedric Diggory! Mati!”

"Harry, lepaskan dia,” dia mendengar suara Fudge

berkata, dan dia merasakan jari-jari berusaha

melepasnya dari tubuh Cedric yang lemas, tetapi Harry

tidak melepasnya. Kemudian wajah Dumbledore, yang

masih samara-samar dan berkabut, datang lebih dekat.

"Harry, kau tak bisa menolongnya sekarang. Sudah

berakhir. Lepaskan.”

820

"Dia ingin aku membawanya pulang,” Harry

bergumam – rasanya penting menjelaskan ini. "Dia ingin

aku membawanya pulang kepada orang tuanya…”

"Betul, Harry… lepaskan dia, sekarang…”

Dumbledore menunduk, dan dengan kekuatan luar

biasa untuk seorang laki-laki yang begitu tua dan kurus,

mengangkat Hary dari tanah dan menegakkannya. Harry

terhuyung. Kepalanya berdenyut-denyut. Kakinya yang

luka tak bisa lagi menopang tubuhnya. Kerumunan di

sekitar mereka saling desak, berebut mau lebih dekat,

mendesaknya… "Apa yang terjadi?” "Kenapa dia?”

"Diggory mati!”

"Dia perlu ke rumah sakit!” Fudge berkata keras. "Dia

sakit, dia luka. Dumbledore, orang tua Diggory, mereka

di sini, di tempat duduk penonton…”

"Biar kuantar Harry, Dumbledore, biar kuantar dia…”

"Jangan, aku lebih suka…”

"Dumbleodre, Amos Diggory berlari… dia ke sini…

Menurutmu apakah tidak sebaiknya kauberitahu dia –

sebelum dia melihat…?”

"Harry, tunggu di sini…”

Anak-anak perempuan menjerit, terisak histeris…

Pemandangan itu berkelip aneh di depan mata Harry…

"Tak apa-apa, Nak, ada aku… ayo… ke rumah sakit…”

"Dumbledore bilang tunggu,” kata Harry tak jelas,

denyut di bekas lukanya membuat dia merasa akan

muntah. Pemandangannya lebih buram daripada tadi.

"Kau harus berbaring… Ayo…”

821

Seseorang yang lebih besar dan lebih kuat

daripadanya setengah menariknya, setengah

memondongnya melewati kerumunan yang ketakutan.

Harry mendengar orang-orang terpekik kaget, menjerit,

dan berteriak, ketika laki-laki yang menopangnya

menyeruak diantara mereka, membawanya kembali ke

kastil. Menyeberangi lapangan rumput, melewati danau

dan kapal Durmstrang. Harry tak mendengar apa-apa

kecuali napas berat laki-laki yang membantunya berjalan.

"Apa yang terjadi, Harry?” laki-laki itu bertanya

akhirnya, ketika mengangkat Harry menaiki undakan

batu. Tok. Tok. Tok. Ternyata Mad-Eye Moody.

"Piala ternyata Portkey,” kata Harry ketika mereka

menyeberangi aula depan. "Membawa saya dan Cedric

ke pemakaman… dan Voldemort di sana… Lord

Voldemort…”

Tok. Tok. Tok. Menaiki tangga pualam…

"Pangeran kegelapan di sana? Apa yang terjadi

kemudian?”

"Membunuh Cedric… mereka membunuh Cedric…”

"Dan kemudian?”

Tok. Tok. Tok. Menyusuri koridor…

"Membuat ramuan… mendapatkan lagi tubuhnya…”

"Pangeran kegelapan mendapatkan lagi tubuhnya? Dia

sudah kembali?”

"Dan para pelahap maut datang… dan kemudian kami

berduel…”

"Kau berduel dengan pangeran kegelapan?”

822

"Berhasil lolos… tongkat saya… aneh… saya melihat

ibu dan ayah saya… mereka muncul dari tongkatnya…”

"Masuk sini, Harry… masuk sini, dan duduklah… Kau

akan baik-baik saja sekarang… minumlah ini…”

Harry mendengar kunci diputar pada lubangnya dan

merasa cangkir diulurkan ke tangannya.

"Minumlah… kau akan merasa lebih baik… ayo, Harry,

aku perlu tahu apa persisnya yang terjadi…”

Moody menolong menuangkan cairan dalam cangkir

ke tenggorokan Harry. Harry terbatuk. Rasa panas

merica membakar tenggorokannya. Kantor Moody

tampak lebih jelas, begitu juga Moody sendiri… Dia

tampak sepucat Fudge, dan kedua matanya terpancang

tak berkedip pada wajah Harry.

"Voldemort sudah kembali, Harry? Kau yakin dia sudah

kembali? Bagaimana dia melakukannya?”

"Dia mengambil sesuatu dari makam ayahnya, dan

dari Wormtail, dan dari saya,” kata Harry. Kepalanya

terasa lebih jernih, bekas lukanya tidak sesakit tadi. Dia

sekarang bisa melihat wajah Moody dengan jelas,

meskipun kantor itu gelap. Dia masih bisa mendengar

jeritan dan teriakan dari lapangan Quidditch yang jauh.

"Apa yang diambil pangeran kegelapan darimu?”

Tanya Moody.

"Darah,” kata Harry, mengangkat lengannya. Lengan

jubahnya koyak di tempat belati Wormtail merobeknya.

Moody melepas napasnya dalam desisan rendah,

panjang. "Dan para pelahap maut? Mereka kembali?”

823

"Ya,” kata Harry. "Banyak…”

"Bagaimana dia memperlakukan mereka?” Tanya

Moody pelan. "Apakah dia memaafkan mereka?”

Tetapi Harry tiba-tiba ingat. Dia seharusnya

memberitahu Dumbledore, dia seharusnya langsung

mengatakannya…

"Ada pelahap maut di Hogwarts! Ada pelahap maut di

sini – dia memasukkan nama saya ke dalam piala api, dia

memastikan saya lolos sampai akhir…”

Harry berusaha berdiri, tetapi Moody mendorongnya

agar duduk lagi.

"Aku tahu siapa pelahap maut-nya,” katanya tenang.

"Karkaroff?” Tanya Harry liar. "Di mana dia? Apakah

anda sudah menangkapnya? Apakah dia sudah

dikurung?”

"Karkaroff?” ujar Moody tertawa ganjil. "Karkaroff

kabur malam ini, ketika dia merasa Tanda Kegelapan

membakar lengannya. Dia telah mengkhianati terlalu

banyak pendukung setia Pangeran Kegelapan, mana

berani dia bertemu mereka… tetapi aku ragu dia bisa lari

jauh. Pangeran kegelapan punya cara-cara untuk

melacak musuh-musuhnya.”

"Karkaroff lolos? Dia kabur? Tetapi kalau begitu… dia

tidak memasukkan nama saya ke dalam piala?”

"Tidak,” kata Moody perlahan. "Tidak, bukan dia. Aku

yang melakukannya.”

Harry mendengar, tetapi tidak percaya.

824

"Tidak,” katanya. "Anda tidak melakukannya… tak

mungkin…”

"Percayalah, aku melakukannya,” kata Moody, dan

mata gaibnya berputar dan terpancang ke pintu, dan

Harry tahu dia memastikan tak ada orang di luar. Pada

saat bersamaan, Moody mencabut tongkat sihirnya dan

mengacungkannya kea rah Harry.

"Dia memaafkan mereka, kalau begitu?” katanya.

"Para pelahap maut yang sudah bebas? Yang berhasil

lolos dari Azkaban?”

"Apa?” kata Harry.

Dia memandang tongkat yang diacungkan Moody ke

arahnya. Ini lelucon buruk, pasti.

"Kutanya kau,” kata Moody pelan, "apakah dia

memaafkan sampah-sampah yang tak pernah

mencarinya? Para pengkhianat pengecut yang bahkan

tak berani masuk Azkaban demi dia? Sampah tak setia,

tak berguna, yang cukup berani melompat-lompat di

balik topeng di Piala Dunia Quidditch, tetapi kabur

melihat Tanda Kegelapan yang kutembakkan ke langit?”

"Anda yang menembaknya… Apa yang anda

bicarakan…?”

"Sudah kukatakan kepadamu, Harry… sudah

kukatakan kepadamu. Kalau ada satu hal yang sangat

kubenci, itu adalah pelahap maut yang bebas. Mereka

berpaling dari tuanku saat dia paling membutuhkan

mereka. Aku mengharapkan dia membunuh mereka. Aku

mengharapkan dia menyiksa mereka. Katakan kepadaku

dia menyiksa mereka, Harry…” Wajah Moody mendadak

825

menyala dengan senyum gila. "Katakan dia memberitahu

mereka bahwa aku, aku sendiri yang tetap setia… siap

mengambil resiko apapun untuk menyerahkan

kepadanya satu-satunya yang diinginkannya lebih dari

segalanya… yaitu dirimu.”

"Tidak… tak mungkin… tak mungkin anda…”

"Siapa yang memasukkan namamu dalam Piala Api,

dengan menggunakan nama sekolah lain? Aku. Siapa

yang menakut-nakuti semua orang yang kupikir mungkin

akan mencoba mencelakaimu atau mencegahmu

memenangkan turnamen? Aku. Siapa yang mengisiki

Hagrid agar menunjukkan naga-naga itu kepadamu? Aku.

Siapa yang membantumu menyadari satu-satunya cara

kau bisa mengalahkan naga? Aku.”

Mata gaib Moody sekarang telah meninggalkan pintu.

Ganti menatap Harry. Mulutnya mencong menyeringai

lebih lebar daripada biasanya.

"Tidak mudah, Harry, membimbingmu melewati tugastugas

ini tanpa menimbulkan kecurigaan. Aku harus

menggunakan segala kelicikan yang kupunyai, agar

tanganku tak terlacak dalam kesuksesanmu. Dumbledore

akan sangat curiga jika kau melakukan segalanya dengan

terlalu mudah. Asal kau bisa masuk maze itu, syukursyukur

lebih dulu dari yang lain – aku tahu, aku akan

punya kesempatan menyingkirkan juara-juara lain dan

membuat jalanmu mulus. Tetapi aku juga harus

menghadapi kebodohanmu. Tugas kedua… itulah saat

aku paling takut kita akan gagal. Aku memantaumu

terus, Potter. Aku tahu kau tak berhasil memecahkan

teka-teki telurmu, jadi aku harus memberimu petunjuk

lain…”

826

"Bukan anda,” tukas Harry parau. "Cedric yang

memberi saya petunjuk…”

"Siapa yang memberitahu Cedric untuk membukanya

di dalam air? Aku. Aku yakin dia akan meneruskan

informasi ini kepadamu. Orang yang tahu sopan santun

gampang sekali dimanipulasi, Potter. Aku yakin Cedric

pasti ingin membalas budimu karena kau

memberitahunya soal naga, dan ternyata memang

demikian. Tetapi meskipun begitu, Potter, meskipun

begitu, kau tampaknya akan gagal. Aku mengawasi

sepanjang waktu… berjam-jam di perpustakaan.

Tidakkah kau sadari bahwa buku yang kaubutuhkan

selama ini ada di kamarmu? Kutanam di sana jauh-jauh

sebelumnya. Kuberikan kepada si Longbottom itu, kau

tidak ingat? Tanaman Air Gaib Mediterania dan

Khasiatnya. Buku itu akan memberitahu segala yang

perlu kau ketahui tentang Gillyweed. Aku mengharapkan

kau akan minta bantuan siapa saja. Longbottom akan

langsung memberitahumu dalam sekejap. Tetapi kau

tidak Tanya… kau tidak Tanya… Kau punya

kesombongan dan ketidaktergantungan yang bisa

menghancurkan segalanya.”

"Jadi apa yang bisa kulakukan? Menyuapimu informasi

dari sumber naïf lain. Kau memberitahuku di pesta dansa

bahwa peri rumah bernama Dobby memberimu hadiah

Natal. Kupanggil peri itu ke ruang guru untuk mengambil

jubah-jubah yang perlu dicuci. Kubuat percakapan keras

dengan Profesor McGonagall tentang para sandera yang

telah dibawa, dan apakah Potter akan berpikir untuk

menggunakan Gillyweed. Dan teman kecilmu langsung

827

lari ke kantor Snape dan kemudian bergegas

mencarimu…”

Tongkat sihir Moody masih terarah tepat ke jantung

Harry. Di atas bahunya, sosok-sosok berkabut bergerak

di Cermin Musuh di dinding. "Kau lama sekali di dalam

danau, Potter, kupikir kau sudah tenggelam. Tetapi

untunglah Dumbledore menganggap ketololanmu itu

sebagai perbuatan mulia dan memberimu nilai tinggi

untuk itu. Aku bernapas lagi.”

"Kau melewati maze lebih gampang dari yang

seharusnya malam ini, tentu saja,” kata Moody. "Aku

berpatroli mengitarnya, bisa melihat menembus

pagarnya, bisa menyingkirkan banyak rintangan yang

menghadangmu. Aku membuat pingsan Fleur Delacour

waktu dia lewat. Kuserang Krum dengan kutukan

Imperius, supaya dia menghabisi Diggory dan membuat

jalanmu menuju piala tak terhalang.”

Harry memandang Moody tak percaya. Dia tak

mengerti bagaimana bisa begini… teman Dumbledore,

auror terkenal… orang yang telah menangkap banyak

sekali pelahap maut… tak masuk akal… sama sekali tak

masuk akal…

Sosok-sosok kabut dalam Cermin Musuh semakin

tajam, semakin jelas. Harry bisa melihat sosok tiga orang

di atas bahu Moody, bergerak makin lama makin dekat.

Tetapi Moody tidak melihat mereka. Mata gaibnya

menatap Harry.

"Pangeran Kegelapan tidak berhasil membunuhmu,

Potter, padahal dia ingin sekali membunuhmu,” bisik

Moody. "Bayangkan bagaimana dia akan memberiku

828

penghargaan kalau dia tahu aku telah melakukannya

untuknya. Kuberikan kau kepadanya – hal yang paling

dibutuhkannya untuk bangkit kembali – dan kemudian

kubunuh kau untuknya. Aku akan diberi kehormatan jauh

melebihi semua pelahap maut lainnya. Aku akan menjadi

pendukungnya yang paling disayanginya, paling dekat

dengannya… lebih dekat daripada seorang anak…”

Mata normal Moody melotot, mata gaibnya terpaku

pada Harry. Pintu terkunci, dan Harry tahu dia tak akan

sempat mencabut tongkat sihirnya…

"Pangeran Kegelapan dan aku,” kata Moody, dan dia

tampak gila sepenuhnya sekarang, menjulang di depan

Harry, meliriknya, "banyak persamaannya. Kami berdua,

misalnya, sama-sama punya ayah yang sangat

mengecewakan… benar-benar sangat mengecewakan.

Kami berdua menderita penghinaan, Harry, karena diberi

nama sama dengan ayah kami. Dan kami berdua

mendapat kesenangan… kesenangan besar… membunuh

ayah kami untuk menjamin kebangkitan kembali

Pemerintahan Sihir Hitam!”

"Anda gila,” kata Harry – dia tak bisa menahan diri…

"Anda gila!”

"Gila, ya?” kata Moody, suaranya meninggi tak

terkendali. "Kita lihat saja nanti! Kita lihat siapa yang gila,

setelah Pangeran Kegelapan kembali, denganku di

sisinya! Dia kembali, Harry Potter, kau tidak

mengalahkannya – dan sekarang – aku

mengalahkanmu!”

829

Moody mengangkat tongkat sihirnya, dia membuka

mulut. Harry memasukkan tangannya sendiri ke dalam

jubahnya…

"Stupefy!” ada kilatan cahaya merah menyilaukan dan

dengan bunyi debam keras. Pintu kantor Moody meledak

menjadi serpihan…

Moody terbanting ke lantai. Harry, masih memandang

tempat di mana tadi wajah Moody berada, melihat Albus

Dumbledore. Profesor Snape, dan Profesor McGonagall

membalas memandangnya dari Cermin Musuh. Dia

berbalik dan melihat ketiganya berdiri di ambang pintu,

Dumbledore paling depan, tongkat sihirnya teracung.

Pada saat itu, untuk pertama kalinya Harry memahami

sepenuhnya kenapa orang mengatakan Dumbledore

adalah satu-satunya penyihir yang ditakuti Voldemort.

Tampangnya saat memandang Mad-Eye Moody yang

tergeletak pingsan lebih mengerikan daripada yang bisa

dibayangkan Harry. Tak ada senyum ramah di wajahnya,

tak ada kedip pada mata di balik kacamatanya. Yang ada

hanyalah kemarahan dingin di semua gurat di wajah tua

itu, kekuatan besar terpancar dari Dumbledore, seakan

dia memancarkan panas yang membara.

Dia melangkah masuk ke dalam kantor, meletakkan

satu kaki di bawah tubuh pingsan Moody, dan

menendang membaliknya, supaya wajahnya kelihatan.

Snape mengikutinya, memandang ke dalam Cermin

Musuh, di mana wajahnya sendiri masih tampak,

memandang ke dalam ruangan. Profesor McGonagall

langsung menghampiri Harry.

830

"Ayo, Potter,” dia berbisik. Bibirnya yang tipis bergetar

seakan dia mau menangis. "Ayo… ke rumah sakit…”

"Tidak,” kata Dumbledore tajam.

"Dumbledore, dia harus ke rumah sakit… lihat dia…

sudah cukup yang dialaminya malam ini…”

"Dia akan tinggal, Minerva, karena dia perlu

memahami,” kata Dumbledore pendek. "pemahaman

adalah langkah pertama untuk penerimaan, dan hanya

dengan penerimaan bisa ada penyembuhan. Dia perlu

tahu siapa yang telah membuatnya menderita cobaan

berat malam ini, dan kenapa.”

"Moody,” kata Harry. Dia masih tak bisa percaya.

"Bagaimana mungkin bisa Moody?”

"Ini bukan alastor Moody,” kata Dumbledore tenang.

"Kau belum pernah mengenal Alastor Moody, Moody

yang asli tidak akan menyingkirkanmu dari pandanganku

setelah apa yang terjadi malam ini. Begitu dia

membawamu pergi, aku tahu – dan aku

membuntutinya.”

Dumbledore membungkuk di atas tubuh lemas Moody

dan memasukkan tangan ke dalam jubahnya. Dia

menarik keluar tempat minum yang biasa dibawa Moody

di pahanya dan satu set kunci dalam lingkaran. Kemudian

dia berpaling kepada Profesor McGonagall dan Snape.

"Severus, tolong ambilkan Ramuan Kebenaran yang

paling kuat yang kau miliki, dan kemudian pergilah ke

dapur dan jemput peri rumah bernama Winky, bawalah

kemari. Minerva, tolong ke pondok Hagrid. Kau akan

menemukan anjing besar hitam duduk di kebun labu

831

kuning. Bawalah anjing itu ke kantorku, katakana

kepadanya aku akan bersamanya sebentar lagi,

kemudian kembalilah ke sini.”

Kalaupun Snape atau McGonagall menganggap

perintah ini aneh, mereka menyembunyikan kebingungan

mereka. Keduanya langsung berbalik dan meninggalkan

kantor. Dumbledore berjalan ke peti yang punya tujuh

kunci, memasukkan kunci pertama ke lubangnya dan

membukanya. Peti itu berisi tumpukan buku-buku

mantra. Dumbledore menutup peti, memasukkan kunci

kedua ke dalam lubangnya dan membuka lagi peti itu.

Buku-buku mantra telah lenyap, kali ini isinya berbagai

Teropong Curiga yang sudah rusak, beberapa perkamen

dan pena bulu, dan sesuatu yang tampak seperti Jubah

Gaib keperakan. Harry mengawasi, sangat keheranan,

ketika Dumbledore memasukkan kunci ketiga, keempat,

kelima dan keenam dalam lubang masing-masing, setiap

kali membuka kembali peti, yang setiap kali

memperlihatkan isi yang berbeda. Kemudian dia

memasukkan kunci ketujuh ke dalam lubangnya,

membuka tutup peti, dan Harry memekik kaget.

Dia memandang ke semacam lubang, ruang bawah

tanah, dan di lantai kira-kira tiga meter di bawah,

tampaknya tidur nyenyak, kurus dan kelaparan,

tergeletak Mad-eye Moody yang asli. Kaki kayunya tak

ada, rongga mata yang seharusnya berisi mata gaib

tampak kosong di bawah pelupuknya, dan di sana-sini

rambutnya yang beruban tampak dipotong sembarangan.

Harry terkesima, bergantian memandang Moody yang

tidur di dalam peti dan Moody yang pingsan di lantai

kantornya.

832

Dumbledore memanjat masuk peti, dan menjatuhkan

diri ke lantai di sebelah Moody yang tidur. Dia

membungkuk di atasnya.

"Pingsan – dikontrol oleh Kutukan Imperius – sangat

lemah,” katanya. "Tentu saja, mereka perlu menjaganya

agar dia tetap hidup. Harry, lemparkan mantel si penipu

– dia kedinginan. Madam Promfey harus merawatnya,

tetapi keadaannya tidak kritis.”

Harry melakukan seperti yang diperintahkan.

Dumbledore menyelimuti Moody dengan mantel itu,

menyelipkan tepinya ke bawah tubuhnya, dan memanjat

naik keluar dari peti lagi. Kemudian dia memungut botol

air di atas meja, membuka tepinya, dan menuang isinya.

Cairan kental lengket tercurah ke lantai kantor.

"Ramuan Polijus, Harry,” kata Dumbledore. "Kau lihat

betapa sederhananya, dan betapa briliannya. Karena

Moody tak pernah minum kecuali dari botol minumnya

sendiri, kebiasaannya ini sangat terkenal. Si penipu tentu

saja memerlukan keberadaan Moody didekatnya, supaya

dia bisa terus membuat ramuannya. Kaulihat

rambutnya…” Dumbledore memandang Moody yang di

dalam peti. "Si penipu telah memotongnya sepanjang

tahu, lihat, kan, rambutnya tidak rata? Tetapi kurasa,

dalam kehebohan malam ini, Moody palsu kita lupa

meminumnya sesering yang seharusnya… setiap jam…

Kita lihat saja.”

Dumbledore menarik kursi di belakang meja dan

duduk di atasnya. Matanya terpaku pada si Moody yang

pingsan di lantai. Harry ikut memandangnya. Menit demi

menit berlalu dalam keheningan…

833

Kemudian, di depan mata Harry, wajah laki-laki di

lantai mulai berubah. Bekas-bekas lukanya mulai

menghilang, kulitnya menjadi halus. Hidungnya yang

semula gerowong menjadi utuh dan mengecil. Rambut

panjangnya yang beruban menyusut ke kulit kepalanya

dan berubah menjadi sewarna jerami. Mendadak, dengan

bunyi kelotak keras, kaki kayunya terlepas jatuh

sementara kaki normal tumbuh sebagai gantinya.

Berikutnya, bola mata gaib terlontar dari wajah laki-laki

itu digantikan oleh mata normal. Bola mata itu

menggelinding di lantai dan terus berputar memandang

ke segala arah.

Harry melihat seorang laki-laki terbaring di depannya,

berkulit pucat, sedikit berbintik-bintik, dengan rambut

pendek pirang. Harry tahu siapa dia. Dia pernah

melihatnya dalam pensieve Dumbledore, pernah

melihatnya dibawa pergi dari pengadilan oleh para

dementor, berusaha meyakinkan Mr. Crouch bahwa dia

tak bersalah… tetapi sekaranga sudah ada garis-garis di

sekitar matanya dan dia tampak jauh lebih tua…

Terdengar langkah-langkah bergegas di koridor di luar

kantor. Snape telah kembali bersama Winky. Professor

McGonagall di belakang mereka.

"Crouch!” celetuk Snape, langsung berhenti di ambang

pintu. "Barty Crouch!”

"Astaga,” kata Profesor McGonagall, juga berhenti dan

memandang laki-laki di lantai.

Kotor, berantakan, Winky mengintip dari balik kaki

Snape. Mulutnya terbuka lebar dan dia mengeluarkan

834

jeritan menusuk. "Tuan Barty, Tuan Barty, apa yang

Tuan lakukan di sini?”

Dia melempar dirinya ke dada si pria muda. "Anda

membunuhnya! Anda membunuhnya! Anda membunuh

anak Tuan!”

"Dia Cuma pingsan Winky,” kata Dumbledore. "Tolong

minggir dulu. Severus, kau bawa ramuannya?”

Snape menyerahkan botol kecil berisi cairan sangat

bening kepada Dumbledore: Veritaserum yang pernah

dipakainya mengancam Harry di kelas. Dumbledore

bangkit, membungkuk di atas pria itu di lantai, dan

menariknya duduk bersandar ke dinding di bawah Cermin

Musuh, di dalam mana bayangan Dumbledore, Snape

dan McGonagall masih memandang mereka semua.

Winky tetap berlutut, gemetaran, tangannya menutupi

wajahnya. Dumbledore membuka paksa mulut si pria dan

menuang tiga tetes Veritaserum ke dalamnya. Kemudian

dia mengacungkan tongkat sihirnya ke dada si pria dan

berkata, "Enervate.”

Putra Barty Crouch membuka mata. Wajahnya kendur,

pandangannya tidak terfokus. Dumbleodore berlutut di

depannya, sehingga wajah mereka sejajar.

"Bisakah kau mendengarku?” Dumbledore bertanya

tenang.

Mata si pria berkejap.

"Ya,” dia bergumam.

"Aku ingin kau menceritakan kepada kami,” kata

Dumbledore pelan, "bagaimana kau bisa berada di sini.

Bagaimana kau kabur dari Azkaban?”

835

Crouch bergidik, menarik napas dalam-dalam,

kemudian mulai bicara dengan suara datar tanpa

ekspresi. "Ibuku menyelamatkanku. Ibuku tahu dia sudah

hampir mati. Dia membujuk ayahku untuk

membebaskanku sebagai permohonan terakhirnya.

Ayahku mencintainya. Tak pernah dia mencintaiku

seperti dia mencintai ibuku. Dia mengabulkan permintaan

itu. Mereka datang mengunjungiku. Mereka memberiku

ramuan polijus yang berisi sehelai rambut ibuku. Sedang

ibuku meminum ramuan polijus yang mengandung

sehelai rambutku. Kami berganti penampilan.”

Winky menggelengkan kepala, gemetar. "Jangan

bicara apa-apa lagi, Tuan Barty, jangan bilang apa-apa

lagi, kau membuat ayahmu dalam kesulitan!”

Tetapi Crouch menarik napas lebih dalam lagi dan

meneruskan bicara dalam suara datar yang sama, "Para

dementor buta. Mereka merasakan satu orang sehat dan

satu orang yang hampir mati memasuki Azkaban. Mereka

merasakan satu orang sehat dan satu orang yang hampir

mati keluar lagi dari penjara itu. Ayahku

menyelundupkanku keluar, menyamar sebagai ibuku,

untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada napi yang

mengawasi dari balik pintu mereka.

"Ibuku meninggal tak lama kemudian di Azkaban. Dia

berhati-hati selalu meminum ramuan polijus sampai akhir

hayatnya. Semua orang mengira itu aku.”

Pelupuk mata pria itu berkejap.

"Dan apa yang dilakukan ayahmu denganmu, setelah

dia membawamu pulang?” Tanya Dumbledore pelan.

836

"Bersandiwara ibuku meninggal. Pemakaman pribadi,

tanpa dihadiri siapapun. Makam itu kosong. Peri rumah

merawatku sampai aku sehat kembali. Kemudian aku

harus disembunyikan. Aku harus dikontrol. Ayahku harus

menggunakan beberapa mantra untuk menaklukkanku.

Saat kekuatanku pulih, aku hanya berpikir untuk mencari

tuanku… kembali melayaninya.”

"Bagaimana ayahmu menaklukkanmu?” Tanya

Dumbledore.

"Kutukan Imperius,” kata Crouch. "Aku dibawah

control ayahku. Aku dipaksa memakai Jubah Gaib siang

dan malam. Aku selalu bersama peri rumah. Dia penjaga

dan perawatku. Dia kasihan kepadaku. Dia membujuk

ayahku agar kadang-kadang memberiku kelonggaran.

Sebagai imbalan untuk sikapku yang baik.”

"Tuan Barty, Tuan Barty,” isak Winky dari balik

tangannya. "Kau tak boleh memberitahu mereka, kita

nanti repot…”

"Apakah ada yang tahu kau masih hidup?” kata

Dumbledore pelan. "Apakah ada yang tahu selain

ayahmu dan peri rumah kalian?”

"Ya,” kata Crouch, pelupuknya mengejap lagi.

"Pegawai wanita di kantor ayahku. Bertha Jorkins. Dia

datang ke rumah membawa surat-surat untuk

ditandatangani ayahku. Ayah tidak di rumah. Winky

mempersilakannya masuk dan kembali ke dapur,

kepadaku. Tetapi bertha Jorkins mendengar Winky bicara

kepadaku. Dia datang untuk menyelidiki. Dia mendengar

cukup banyak untuk bisa menebak siapa yang

bersembunyi di balik jubah gaib. Ayahku pulang. Bertha

837

bertanya padanya. Ayah menggunakan Jampi Memori

yang sangat kuat untuk membuatnya melupakan apa

yang telah dikatakannya. Terlalu kuat. Ayah mengatakan

jampi itu merusak memorinya secara permanent.”

"Kenapa dia ikut campur urusan pribadi tuanku?” isak

Winky. "Kenapa dia tidak membiarkan saja kami?”

"Ceritakan padaku tentang Piala Dunia Quidditch,”

kata Dumbledore.

"Winky yang membujuk ayahku,” kata Crouch dengan

suara monoton yang sama. "Dia menghabisakan

berbulan-bulan membujuknya. Izinkan dia pergi,

katanya. Dia akan memakai jubah gaibnya. Dia bisa

menonton. Biarkan dia menghirup udara segar sekali ini.

Dia bilang pasti itu yang diinginkan ibuku. Dia berkata

kepada ayahku, bahwa ibuku meninggal untuk

membebaskanku. Dia tidak membebaskanku untuk hidup

terkurung. Akhirnya ayahku setuju.”

"Rencananya matang sekali. Ayahku membawaku dan

Winky ke Boks Utama lama sebelum pertandingan

dimulai. Winky akan bilang dia menyediakan tempat

untuk ayahku. Aku akan duduk di sana, tak kelihatan.

Kalau semua sudah pergi, kami akan keluar. Winky akan

tampak sendirian. Tak seorangpun akan tahu.”

"Tetapi Winky tidak tahu aku sudah semakin kuat. Aku

sudah mulai melawan Kutukan Imperius ayahku. Ada

saat-saat ketika aku nyaris menjadi diriku lagi. Ada saatsaat

singkat ketika aku di luar controlnya. Itu terjadi di

sana, di Boks Utama. Rasanya seperti terbangun dari

tidur amat nyenyak. Kudapati diriku di depan umum, di

tengah pertandingan, dan aku melihat, di depanku,

838

tongkat sihir mencuat dari kantung seorang anak lakilaki.

Aku tidak diizinkan punya tongkat sejak sebelum

masuk Azkaban. Kucuri tongkat itu. Winky tidak tahu.

Winky takut ketinggian. Dia menutupi wajahnya.”

"Tuan Barty, kau anak nakal!” bisik Winky, air mata

menetes dari celah-celah jarinya.

"Jadi kau mengambil tongkat itu,” kata Dumbledore,

"dan apa yang kaulakukan dengannya?”

"Kami kembali ke tenda,” kata Crouch. "Kemudian

kami mendengar mereka. Kami mendengar para pelahap

maut. Mereka yang belum pernah masuk Azkaban.

Mereka yang belum pernah menderita demi tuanku.

Mereka berpaling darinya. Mereka tidak pernah terkurung

seperti halnya aku. Mereka bebas untuk mencarinya,

tetapi mereka tidak mencarinya. Mereka malah Cuma

mempermainkan Muggle. Suara-suara mereka

membangunkanku. Sudah bertahun-tahun pikiranku tidak

sejernih ini. Aku marah. Aku punya tongkat sihir. Aku

ingin menyerang mereka karena ketidaksetiaan mereka

terhadap tuanku. Ayahku telah meninggalkan tenda. Dia

pergi membebaskan para Muggle. Winky takut melihatku

begitu marah. Menggunakan sihirnya sendiri untuk

mengikatku kepadanya. Dia menariku dari tenda,

menarikku ke dalam hutan, menjauhi para pelahap maut.

Kucoba menahannya. Aku ingin kembali ke perkemahan.

Aku ingin menunjukkan kepada para pelahap maut itu

apa artinya kesetiaan kepada Pangeran Kegelapan, dan

menghukum mereka karena tak punya kesetiaan itu.

Kugunakan tongkat curian itu untuk mengirimkan Tanda

Kegelapan ke angkasa.”

839

"Penyihir-penyihir dari kementerian tiba. Mereka

melancarkan mantra bius ke mana-mana. Salah satu

mantra itu menembus pepohonan tempat aku dan Winky

berdiri. Ikatan yang menyatukan kami putus. Kami

berdua pingsan.”

"Ketika Winky ditemukan, ayahku tahu aku pasti ada

di dekatnya. Dia mencari diantara semak-semak tempat

Winky ditemukan dan merasakan aku terbaring di sana.

Dia menunggu sampai pegawai kementerian yang lain

sudah meninggalkan hutan. Dia kembali menggunakan

kutukan imperius kepadaku dan membawaku pulang. Dia

memecat Winky. Winky telah mengecewakannya. Dia

telah membiarkan aku mencuri tongkat sihir. Dia nyaris

membuat aku lari.”

Winky meratap putus asa.

"Sekarang tinggal ayah dan aku, hanya berdua di

rumah. Dan kemudian… kemudian…” kepala Crouch

berputar di lehernya, dan seringai sinting menghiasi

wajahnya. "Tuanku datang mencariku.”

"Dia tiba di rumah kami suatu larut malam dalam

gendongan abdinya, Wormtail. Tuanku berhasil tahu aku

masih hidup. Dia telah menangkap Bertha Jorkins di

Albania. Dia telah menyiksanya. Banyak yang dikatakan

Bertha kepadanya. Dia memberitahunya bahwa si auror

tua, Moody, akan mengajar di Hogwarts. Dia menyiksa

Bertha sampai berhasil mematahkan Jampi Memori yang

dikenakan ayahku kepadanya. Bertha menceritakan

bahwa aku telah kabur dari Azkaban. Dia bercerita

bahwa ayahku mengurungku untuk mencegahku mencari

tuanku. Jadi tuanku tahu bahwa aku masih abdinya yang

setia – mungkin yang paling setia. Tuanku menyusun

840

rencana, berdasarkan informasi yang diberikan Bertha

kepadanya. Dia membutuhkan aku. Dia tiba di rumah

kami hampir tengah malam. Ayahku yang membukakan

pintu.”

Senyum di wajah Crouch semakin lebar, seakan

mengenang kembali peristiwa paling indah dalam

hidupnya. Mata coklat Winky yang ketakutan tampak dari

celah-celah jarinya. Winky tampaknya terlalu ngeri untuk

bicara.

"Kejadiannya cepat sekali. Ayahku diserang dengan

kutukan imperius oleh tuanku. Sekarang ganti ayahkulah

yang terpenjara, terkontrol. Tuanku memaksanya bekerja

seperti biasa, beraksi seakan tak ada yang tak beres. Dan

aku dibebaskan. Aku terbangun. Aku menjadi diriku

sendiri lagi, hidup lagi, setelah bertahun-tahun tidak

hidup.”

"Dan apa yang Lord Voldemort minta kau lakukan?”

Tanya Dumbledore.

"Dia menanyaiku apakah aku siap mengambil resiko

apapun untuknya. Aku siap. Itu impianku, ambisiku yang

terbesar, untuk melayaninya, untuk membuktikan

kesetiaanku kepadanya. Dia bilang dia perlu

menempatkan abdi yang setia di Hogwarts. Abdi yang

akan membimbing Harry Potter melewati Turnamen

Triwizard tanpa terdeteksi. Abdi yang akan mengawasi

Harry Potter. Memastikan dia mencapai Piala Triwizard.

Mengubah piala itu menjadi Portkey, yang akan

membawa orang pertama yang menyentuhnya kepada

tuanku. Tetapi pertama-tama…”

841

"Kau memerlukan alastor Moody,” kata Dumbledore.

Mata birunya menyala-nyala, walaupun suaranya tetap

tenang.

"Wormtail dan aku yang melakukannya. Kami telah

menyediakan ramuan polijus sebelumnya. Kami pergi ke

rumahnya. Moody melawan. Terjadi keributan. Kami

berhasil menaklukkannya tepat waktu. Memaksanya

masuk ke dalam kompartemen peti ajaibnya sendiri.

Mengambil sedikit rambutnya dan menambahkannya ke

ramuan. Aku meminumnya. Aku menjadi kembaran

Moody. Kuambil kaki dan matanya. Aku siap menghadapi

Arthur Weasley ketika dia tiba untuk menangani si

Muggle yang mendengar keributan. Kubuat tempattempat

sampah beterbangan di halaman. Kukatakan

kepada Arthur Weasley kudengar pengacau itu di

halaman, mengobrak-abrik tempat sampah. Kemudian

kukemasi pakaian Moody dan detector ilmu hitamnya,

kumasukkan dalam peti bersama Moody, dan aku

berangkat ke Hogwarts. Kubiarkan dia tetap hidup, di

bawah kutukan imperius. Aku ingin bisa menanyainya.

Mengetahui masa lalunya, mempelajari kebiasaankebiasaannya,

supaya aku bisa membodohi semua orang,

bahkan termasuk Dumbledore. Aku juga membutuhkan

rambutnya untuk membuat ramuan polijus. Bahan-bahan

lainnya mudah. Aku mencuri kulit Boomslang dari ruang

bawah tanah. Ketika guru ramuan menemukan aku

dalam kantornya, kukatakan aku diperintahkan untuk

menggeledahnya.”

"Dan apa yang terjadi pada Wormtail setelah kau

menyerang Moody?” kata Dumbledore.

842

"Wormtail pulang untuk mengurus tuanku, di rumah

ayahku, dan untuk mengawasi ayahku.”

"Tetapi ayahku kabur,” kata Dumbledore.

"Ya, setelah beberapa waktu dia mulai melawan

kutukan imperius, seperti halnya aku. Ada saat ketika dia

tahu apa yang terjadi. Tuanku memutuskan tak lagi

aman jika ayahku meninggalkan rumah. Dia

memaksanya mengirim surat kepada kementerian. Dia

menyuruhnya menulis bahwa dia sakit. Tetapi Wormtail

melalaikan tugasnya. Pengawasannya tidak cukup ketat.

Ayahku lari. Tuanku menduga dia pergi ke Hogwarts.

Ayahku akan memberitahu Dumbledore segalanya. Dia

akan mengakui bahwa dia telah menyelundupkan aku

keluar dari Azkaban.”

"Tuanku memberiku kabar tentang kaburnya ayahku.

Dia menyuruhku menghentikannya, bagaimanapun

caranya. Maka aku menunggu dan menjaga. Aku

menggunakan peta yang kuambil dari Harry Potter. Peta

yang nyaris mengacaukan segalanya.”

"Peta?” kata Dumbledore cepat. "Peta apa ini?”

"Peta Hogwarts milik Potter. Potter melihatku di peta

itu. Potter melihatku mencuri bahan untuk ramuan polijus

dari kantor Snape pada suatu malam. Dia mengira aku

ayahku. Nama kami sama. Kuambil peta itu dari Potter

malam itu. Kukatakan padanya ayahku membenci

penyihir hitam. Potter mengira ayahku sedang mengincar

Snape.”

"Selama seminggu aku menunggu ayahku tiba di

Hogwarts. Akhirnya, suatu malam, peta menunjukkan

ayahku memasuki kompleks sekolah. Kupakai jubah

843

gaibku dan aku keluar untuk menemuinya. Dia sedang

berjalan di tepi hutan. Kemudian Potter datang, bersama

Krum. Aku menunggu. Aku tak bisa melukai Potter.

Tuanku membutuhkannya. Potter berlari untuk

memanggil Dumbledore. Kupingsankan Krum. Kubunuh

ayahku.”

"Tidaaak!” lolong Winky. "Tuan Barty, Tuan Barty, apa

yang kaulakukan?”

"Kau membunuh ayahmu,” Dumbledore berkata,

dengan suara pelan yang sama. "Apa yang kaulakukan

dengan tubuhnya?”

"Kubawa ke hutan. Kututupi dengan jubah gaib. Aku

membawa peta. Kulihat Potter berlari ke dalam kastil. Dia

bertemu Snape. Dumbledore mendatangi mereka. Kulihat

Potter membawa Dumbledore keluar kastil. Aku keluar

dari hutan, memutar di belakang mereka, menemui

mereka. Kukatakan kepada Dumbledore, Snape yang

memberitahuku harus ke tempat itu.”

"Dumbledore menyuruhku mencari ayahku. Aku

kembali ke tempat tubuh ayahku. Mengawasi peta.

Ketika semua orang sudah pergi, aku mentransfigurasi

tubuh ayahku. Dia menjadi sepotong tulang… kukubur di

tanah yang baru digali di depan pondok Hagrid. Aku

memakai jubah gaib waktu melakukannya.”

Sunyi senyap sekarang, yang terdengar hanyalah isak

Winky. Kemudian Dumbledore berkata, "Dan malam

ini…”

"Aku menawarkan diri membawa Piala Triwizard ke

maze sebelum makan malam,” bisik Barty Crouch.

"Mengubahnya menjadi Portkey. Rencana tuanku

844

berhasil. Dia telah kembali berkuasa dan aku diberi

kehormatan melampaui impian seorang penyihir.”

Senyum sinting menghiasi wajahnya sekali lagi, dan

kepalanya terkulai ke bahunya sementara Winky meratap

dan terisak di sisinya.

36. Berpisah Jalan

Dumbledore bangkit. Dia memandang Barty sejenak

dengan jijik. Kemudian dia mengangkat tongkat sihirnya

sekali lagi dan tali meluncur keluar dari tongkat itu. Tali

itu membelit tubuh Barty Crouch, mengikatnya erat-erat.

Dumbledore berpaling kepada Profesor McGonagall.

"Minerva, bisakah aku memintamu untuk berjaga di

sini sementara aku membawa Harry ke atas?”

"Tentu saja,” kata Profesor McGonagall. Dia tampak

agak mual, seakan baru saja menyaksikan orang

muntah-muntah. Kendatipun demikian, ketika mencabut

tongkat sihirnya dan mengacungkannya kepada Barty

Crouch, tangannya cukup mantap.

845

"Severus,” Dumbledore menoleh kepada Snape,

"tolong minta Madam Promfey datang ke sini. Kita perlu

membawa alastor Moody ke rumah sakit. Kemudian

pergilah ke lapangan, carilah Cornelius Fudge dan

bawalah dia ke kantor ini. Dia tak diragukan lagi ingin

menanyai Crouch sendiri. Katakana padanya aku akan

berada di rumah sakit setengah jam lagi kalau dia

memerlukan aku.”

Snape mengangguk tanpa kata dan bergegas keluar

ruangan.

"Harry!” Dumbledore berkata lembut.

Harry bangkit dan terhuyung lagi. Rasa sakit di

kakinya, yang tidak dirasakannya selama dia

mendengarkan penuturan Crouch, sekarang kembali

menyerangnya sepenuhnya. Dia juga menyadari bahwa

dia gemetar. Dumbledore memegang lengannya dan

membimbingnya ke koridor gelap.

"Aku ingin kau ke kantorku dulu, Harry,” katanya

pelan ketika mereka menyusuri koridor. "Sirius

menunggu kita di sana.”

Harry mengangguk. Dia seperti mati rasa dan berada

dalam dunia khayal, tetapi dia tidak peduli, dia bahkan

senang. Dia tak ingin memikirkan apapun yang telah

terjadi sejak dia pertama kali menyentuh Piala Triwizard.

Dia tak ingin memeriksa memorinya, segar dan tajam

seperti foto, yang tak hentinya berkelebat dalam

benaknya. Mad-Eye Moody, dalam peti. Wormtail,

terpuruk di tanah, menyangga lengannya yang

terpotong. Voldemort muncul dari kuali yang berasap.

846

Cedric… meninggal… Cedric, meminta dipulangkan

kepada orang tuanya.

"Profesor,” Harry bergumam, "di mana Mr. dan Mrs.

Diggory?”

"Mereka bersama Profesor Sprout,” kata Dumbledore.

Suaranya, yang sangat tenang selama menginterogasi

Barty Crouch, bergetar sedikit untuk pertama kalinya.

"Dia kepala asrama Cedric, dan mengenal Cedric dengan

baik.”

Mereka telah tiba di gargoyle batu. Dumbledore

menyebutkan kata kuncinya. Si gargoyle melompat

minggir dan dia dan Harry menaiki tangga spiral yang

bergerak menuju ke pintu ek. Dumbledore

mendorongnya terbuka. Sirius berdiri di sana. Wajahnya

pucat, kurus kering, dan cekung seperti ketika dia baru

kabur dari Azkaban. Dengan satu gerakan gesit, dia

menyeberangi ruangan.

"Harry, kau tak apa-apa? Aku sudah tahu – aku tahu

sesuatu seperti itu – apa yang terjadi?”

Tangannya gemetar ketika membantu Harry duduk di

kursi di depan meja.

"Apa yang terjadi?” Tanyanya lebih mendesak.

Dumbledore mulai menceritakan kepada Sirius semua

yang telah dikatakan Barty Crouch. Harry hanya separo

mendengarkan. Dia lelah sekali sampai semua tulang

dalam tubuhnya terasa sakit. Tak ada yang lebih

diinginkannya selain duduk saja di sana, tanpa diganggu,

selama berjam-jam, sampai dia tertidur dan tak perlu

berpikir atau merasa lagi.

847

Terdengar kepakan sayap pelan. Fawkes si phoenix

turun dari tempat hinggapnya, terbang menyeberangi

ruangan, dan hinggap di lutut Harry.

"Lo, Fawkes,” kata Harry pelan. Dia membelai bulu

merah dan emas si phoenix yang indah. Fawkes

mengedip, dengan damai memandangnya. Nyaman

rasanya merasakan kehangatan berat di tubuhnya.

Dumbledore berhenti bicara. Dia duduk di depan

Harry, di belakang mejanya. Dia memandang Harry, yang

menghindari tatapannya. Dumbledore akan

menanyainya. Dia akan membuat Harry mengenang lagi

segalanya.

"Aku perlu tahu apa yang terjadi setelah kau

menyentuh Portkey di maze, Harry,” kata Dumbledore.

"Kita bisa menunda ini sampai besok pagi, kan,

Dumbledore?” kata Sirius tegas. Dia telah meletakkan

tangan di bahu Harry. "Biarkan dia tidur. Biarkan dia

istirahat.”

Harry merasa sangat berterima kasih kepada Sirius,

tetapi Dumbledore mengabaikan kata-kata Sirius. Dia

membungkuk ke dekat Harry. Dengan mata enggan,

Harry mengangkat kepala dan memandang mata biru itu.

"JIka kupikir aku bisa membantumu,” kata

Dumbledore lembut, "dengan membuatmu tidur nyenyak

dan mengizinkanmu menunda saat kau harus memikirkan

apa yang terjadi malam ini, aku akan melakukannya.

Tetapi aku tahu lebih baik. Mengebaskan rasa sakit untuk

sementara, akan membuatnya bertambah sakit saat tiba

waktunya kau harus merasakannya. Kau telah

memperlihatkan keberanian jauh melebihi yang

848

kuharapkan darimu. Kuminta kau memperlihatkan

keberanianmu sekali lagi. Kuminta kau menceritakan

kepada kami apa yang terjadi.”

Si phoenix mengeluarkan nada lembut bergetar aneh.

Nada itu bergetar di udara, dan Harry merasa seakan

setetes cairan panas telah mengalir di tenggorokannya,

turun ke perutnya, menghangatkannya, menguatkannya.

Dia menarik napas dalam-dalam dan mulai bercerita.

Saat dia berbicara, gambaran segalanya yang telah

terjadi malam itu serasa muncul di depan matanya. Dia

melihat permukaan berkilauan ramuan yang telah

menghidupkan kembali Voldemort. Dia melihat para

pelahap maut ber-Apparate diantara makam-makam di

sekeliling mereka. Dia melihat tubuh Cedric, tergeletak di

tanah di sebelah piala.

Sekali dua kali, Sirius mengeluarkan suara seakan mau

berbicara, tangannya masih memegang bahu Harry eraterat,

tetapi Dumbledore mengangkat tangan

mencegahnya, dan Harry senang, sebab begitu dia mulai,

lebih mudah terus bercerita daripada berhenti di tengah

jalan. Bahkan melegakan. Dia merasa seakan sesuatu

yang beracun sedang dikeluarkan dari tubuhnya. Dia

mengerahkan seluruh tekad agar bisa terus berbicara,

tetapi dia merasa bahwa begitu dia selesai, dia akan

meras lebih baik.

Meskipun demikian, ketika Harry bercerita tentang

Wormtail yang menusuk lengannya dengan belati, Sirius

mengeluarkan seruan berapi-api dan Dumbledore berdiri

begitu mendadak sampai Harry kaget. Dumbledore

mengitari meja dan menyuruh Harry mengulurkan

849

lengannya. Harry menunjukkan kepada mereka robekan

di lengan jubahnya dan luka di bawahnya.

"Dia berkata darah saya akan membuatnye lebih kuat

dibanding kalau dia menggunakan darah orang lain,”

Harry memberitahu Dumbledore. "Dia bilang

perlindungan yang – yang ditinggalkan ibu saya di tubuh

saya – akan dimilikinya juga. Dan dia betul – dia bisa

menyentuh saya tanpa kesakitan, dia menyentuh pipi

saya.”

Sekejap Harry merasa seperti melihat kilat

kemenangan dalam mata Dumbledore. Tetapi detik

berikutnya, Harry yakin dia hanya membayangkannya,

karena ketika Dumbledore telah kembali ke kursinya di

balik meja, dia tampak sama tua dan lelahnya seperti

yang biasa dilihat Harry.

"Baiklah,” katanya, duduk lagi. "Voldemort telah

mengatasi hambatan itu. Harry, tolong lanjutkan.”

Harry meneruskan. Dia menjelaskan bagaimana

Voldemort muncul dari kuali dan menyampaikan kepada

mereka semua yang bisa diingatnya dari pidato

Voldemort kepada para pelahap maut. Kemudian dia

bercerita bagaimana Voldemort melepaskan ikatannya,

mengembalikan tongkat sihirnya, dan bersiap untuk duel.

Namun ketika sampai di bagian ketika benang emas

cahaya menghubungkan tongkatnya dan tongkat

Voldemort, dia merasa kerongkongannya tersumbat. Dia

berusaha terus bicara, tetapi kenangan akan apa yang

keluar dari tongkat Voldemort melanda benaknya. Dia

bisa melihat Cedric muncul, si laki-laki tua, Bertha

Jorkins… ibunya… ayahnya…

850

Dia senang ketika Sirius memecah keheningan.

"Tongkat kalian berhubungan?” katanya, memandang

Harry, kemudian beralih ke Dumbledore. "Kenapa?”

Harry memandang Dumbledore lagi, yang wajahnya

sekarang tampak tertarik.

"Priori Incantatem,” dia bergumam.

Matanya menatap mata Harry, dan seakan ada sorot

pengertian tak tampak yang menghubungkan mereka.

"Efek Mantra Balik?” kata Sirius tajam.

"Persis,” kata Dumbledore. "Tongkat Harry dan

Voldemort memiliki inti yang sama. Masing-masing berisi

bulu dari ekor burung yang sama. Burung phoenix ini

sesungguhnya,” dia menambahkan, dan menunjuk ke

burung berbulu merah dan emas, yang hinggap damai di

lutut Harry.

"Bulu tongkat saya berasal dari Fawkes?” Harry

bertanya, keheranan.

"Ya,” kata Dumbledore. "Mr. Ollivander menulis surat,

memberitahuku kau telah membeli tongkat yang kedua,

begitu kau meninggalkan tokonya empat tahun lalu.”

"Jadi apa yang terjadi jika tongkat bertemu

pasangannya?” Tanya Sirius.

"Mereka tidak berfungsi normal jika saling lawan,” kata

Dumbledore. "Tetapi, jika pemilik kedua tongkat itu

memaksa tongkat mereka untuk bertempur… efek yang

sangat langka akan terjadi. Salah satu dari tongkat itu

akan memaksa tongkat lainnya untuk memuntahkan

mantra-mantra yang telah dilakukannya – secara

851

terbalik. Yang paling akhir lebih dulu… dan kemudian

yang sebelumnya…”

Dia memandang Harry penuh Tanya, dan Harry

mengangguk.

"Itu berarti,” kata Dumbledore perlahan, matanya

memandang wajah Harry, "bahwa semacam sosok Cedric

pasti muncul.”

Harry mengangguk lagi.

"Diggory hidup lagi?” Tanya Sirius tajam.

"Tak ada mantra yang bisa menghidupkan yang telah

mati,” kata Dumbledore berat. "Yang terjadi pastilah

hanya semacam gaung terbalik. Bayangan Cedric yang

hidup akan muncul dari tongkat… apakah aku betul,

Harry?”

"Dia berbicara kepada saya,” kata Harry. Dia

mendadak gemetar lagi. "Han… hantu Cedric atau entah

apanya, berbicara.”

"Gaung,” kata Dumbledore, "yang memiliki sosok dan

karakter Cedric. Aku menebak sosok semacam itu muncul

juga… korban-korban tongkat Voldemort yang

sebelumnya…”

"Seorang laki-laki tua,” kata Harry, lehernya masih

sakit. "Bertha Jorkins. Dan…”

"Orang tuamu?” kata Dumbledore pelan.

"Ya,” kata Harry.

Pegangan Sirius di bahu Harry sekarang kencang

sekali sampai terasa sakit.

852

"Pembunuhan-pembunuhan terakhir yang dilakukan

tongkat itu,” kata Dumbledore mengangguk. "Dengan

urutan terbalik. Lebih banyak lagi akan muncul, tentu

saja, kalau kau mempertahankan hubungan tongkat

kalian. Baiklah, Harry, gaung-gaung ini, bayanganbayangan

ini… apa yang mereka lakukan?”

Harry menjelaskan bagaimana sosok-sosok yang telah

muncul dari tongkat mengitari tepi jarring emas,

bagaimana Voldemort tampaknya takut kepada mereka,

bagaimana bayangan ayah Harry memberitahunya apa

yang harus dilakukannya, bagaimana bayangan Cedric

mengajukan permohonan terakhirnya.

Sampai di situ, Harry tak bisa meneruskan. Dia

berpaling memandang Sirius dan melihat dia menutupi

wajahnya.

Harry mendadak sadar bahwa Fawkes telah

meninggalkan lututnya. Burung phoenix itu terbang ke

lantai. Dia meletakkan kepalanya yang cantik di kaki

Harry yang luka, dan air mata yang besar-besar bergulir

dari matanya, jatuh ke luka yang disebabkan oleh labahlabah.

Rasa sakitnya lenyap. Kulitnya sembuh. Kakinya

sehat lagi.

"Akan kukatakn lagi,” kata Dumbledore sementara si

phoenix terbang ke atas dan bertengger lagi di tempat

hinggapnya di sebelah pintu. "Kau telah memperlihatkan

keberanian jauh melampaui yang kuharapkan darimu

malam ini, Harry. Kau telah memperlihatkan keberanian

yang sama seperti yang diperlihatkan mereka yang mati

melawan Voldemort ketika dia di puncak kekuasaannya.

Kau telah menyangga beban penyihir dewasa dan

ternyata berhasil melakukannya – dan kau sekarang

853

telah memberi kami semua yang berhak kami harapkan.

Kau akan ikut bersamaku ke rumah sakit. Aku tak ingin

kau kembali ke kamarmu malam ini. Ramuan penidur,

dan kedamaian… Sirius, kau ingin tinggal bersamanya?”

Sirius mengangguk dan berdiri. Dia berubah wujud

menjadi anjing hitam besar lagi dan berjalan bersama

Harry dan Dumbledore meninggalkan ruangan,

menemani mereka menuruni tangga menuju rumah sakit.

Ketika Dumbledore mendorong pintu terbuka, Harry

melihat Mrs. Weasley, Bill, Ron dan Hermione

mengerumuni Madam Pomfrey yang tampak cemas.

Mereka rupanya menuntut ingin tahu di mana Harry dan

apa yang terjadi padanya. Semuanya langsung berbalik

ketika Harry, Dumbledore, dan si anjing hitam masuk,

dan Mrs. Weasley menjerit tertahan, "Harry! Oh Harry!”

Dia bergegas mendekatinya, tetapi Dumbledore maju

diantara mereka.

"Molly,” katanya, mengangkat tangan, "tolong

dengarkan aku sebentar. Harry telah mengalami cobaan

berat malam ini. Dia baru saja harus menceritakannya

padaku. Yang diperlukannya sekarang adalah tidur, dan

kedamaian, serta ketenangan. Jika dia menginginkan

kalian semua tinggal bersamanya,” dia menambahkan,

memandang berkeliling kepada Ron, Hermione dan Bill

juga, "kalian boleh tinggal. Tetapi aku tak ingin menanyai

dia sampai dia siap menjawab, dan jelas bukan malam

ini.”

Mrs. Weasley mengangguk. Dia sangat pucat. Dia

memandang Ron, Hermione dan Bill, seakan mereka

854

bising, dan mendesis, "Kalian dengar? Dia memerlukan

ketenangan!”

"Kepala sekolah,” kata Madam Pomfrey, memandang

si anjing besar yang adalah Sirius, "boleh saya Tanya

apa…?”

"Anjing ini akan tinggal bersama Harry untuk

sementara waktu,” kata Dumbledore sederhana.

"Kujamin, dia sangat terlatih. Harry – aku akan

menunggu sampai kau ke tempat tidur.”

Rasa terima kasih Harry kepada Dumbledore tak

terkatakan karena dia telah meminta yang lain agar

jangan menanyainya. Bukannya dia tak ingin mereka di

sana, tetapi jika harus menjelaskan segalanya sekali lagi,

memikirkan dia harus mengalaminya sekali lagi, dia tak

tahan.

"Aku akan kembali menengokmu segera setelah

bertemu Fudge, Harry,” kata Dumbledore. "Aku ingin kau

tetap tinggal di sini besok pagi sampai aku sudah bicara

kepada seluruh sekolah.” Dia pergi.

Ketika Madam Pomfrey membawa Harry ke tempat

tidur terdekat, terlihat olehnya Moody yang asli terbaring

tak bergerak di tempat tidur di ujung kamar. Kaki kayu

dan mata gaibnya tergeletak di atas meja di sebelah

tempat tidur.

"Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Harry.

"Dia akan sembuh,” kata Madam Pomfrey,

memberikan piyama kepada Harry dan menarik tirai di

sekeliling tempat tidurnya. Harry melepas jubahnya,

memakai piyamanya, dan naik ke tempat tidur. Ron,

855

Hermione, Bill, Mrs. Weasley dan si anjing hitam datang

ke balik tirai dan duduk di kursi-kursi di kanan kirinya.

Ron dan Hermione memandangnya dengan hati-hati,

seakan takut kepadanya.

"Aku tak apa-apa,” katanya kepada mereka. "Hanya

lelah.”

Air mata Mrs. Weasley merebak ketika dia merapikan

penutup tempat tidur Harry, yang sebetulnya tak perlu

dilakukannya.

Madam Pomfrey, yang tadi bergegas ke kantornya,

kembali membawa botol kecil berisi ramuan ungu dan

piala.

"Kau perlu meminum ini sampai habis, Harry,”

katanya. "Ini ramuan untuk tidur tanpa mimpi.”

Harry mengambil pialanya dan meminum beberapa

teguk. Dia langsung merasa mengantuk. Segala di

sekitarnya menjadi kabur. Lampu-lampu di bangsal

rumah sakit tampaknya mengedip ramah kepadanya,

menembus tirai di sekeliling tempat tidurnya. Tubuhnya

serasa tenggelam semakin dalam ke kasur bulu. Sebelum

menghabiskan ramuannya, sebelum bisa berkata sepatah

pun lagi, rasa lelahnya membawanya ke tidur pulas.

Harry terbangun, sangat hangat, sangat mengantuk,

sehingga dia tidak membuka mata, ingin tidur lagi.

Kamarnya masih berpenerangan remang-remang. Dia

yakin hari masih malam dan dia punya perasaan dia

belum begitu lama tidur.

Kemudian dia mendengar bisik-bisik di sekelilingnya.

"Mereka akan membuatnya bangun kalau tidak diam!”

856

"Ngapain sih mereka teriak-teriak? Tak mungkin ada

kejadian lain, kan?”

Harry membuka mata. Semuanya tampak buram. Ada

yang telah mencopot kacamatanya. Dia bisa melihat

sosok remang-remang Mrs. Weasley dan Bill di

sebelahnya. Mrs. Weasley sedang berdiri.

"Itu suara Fudge,” Mrs. Weasley berbisik. "Dan itu

suara Minerva McGonagall, kan? Tetapi apa yang mereka

pertengkarkan?”

Sekarang Harry bisa mendengar mereka juga. Orangorang

yang berteriak-teriak dan berlari menuju rumah

sakit.

"Sangat disayangkan, tetapi apa boleh buat,

Minerva…” kata Cornelius Fudge keras.

"Anda seharusnya tidak membawanya ke dalam

kastil,” terial Profesor McGonagall. "Kalau Dumbledore

sampai tahu…”

Harry mendengar pintu rumah sakit menjeblak

terbuka. Tanpa ada yang memperhatikan, karena orangorang

di sekeliling tempat tidurnya semua memandang

ke pintu ketika Bill menyibakkan tirai, Harry duduk dan

memakai kembali kacamatanya.

Fudge memasuki bangsal. Professor McGonagall dan

Snape di belakangnya.

"Di mana Dumbledore?” Fudge bertanya galak kepada

Mrs. Weasley.

857

"Dia tidak di sini,” kata Mrs. Weasley berang. "Ini

bangsal rumah sakit, pak menteri, tidakkah lebih baik

kalau anda…”

Tetapi pintu terbuka, dan Dumbledore menghambur

masuk.

"Ada apa?” Tanya Dumbledore tajam, memandang

Fudge dan Profesor McGonagall bergantian. "Kenapa

kalian mengganggu orang-orang ini? Minerva, aku heran

padamu – kuminta kau menjaga Barty Crouch…”

"Tak perlu lagi menjaganya, Dumbledore,” dia

menggeram. "Gara-gara pak menteri ini!”

Harry belum pernah melihat Profesor McGonagall

kehilangan kendali seperti ini. Pipinya merah padam, dan

kedua tangannya terkepal. Tubuhnya gemetar saking

marahnya.

"Ketika kami memberitahu Mr. Fudge bahwa kita telah

menangkap pelahap maut yang bertanggung jawab

untuk kejadian malam ini,” kata Snape, dalam suara

rendah, "dia rupanya menganggap keselamatan dirinya

dalam bahaya. Dia memaksa memanggil dementor untuk

menemaninya ke dalam kastil. Dia membawa demetor itu

ke dalam kantor tempat Barty Crouch…”

"Sudah kukatakan kau tak akan setuju, Dumbledore!”

Profesor McGonagall menggerutu. "Kukatakan padanya

kau tak akan mengizinkan dementor menginjakkan kaki

di dalam kastil, tetapi…”

"Profesorku yang baik!” raung Fudge, yang belum

pernah tampak semarah ini, "sebagai menteri sihir, aku

berhak memutuskan apakah aku mau membawa

858

pelindung ketika mewawancara criminal yang mungkin

berbaha…”

Tetapi suara Profesor McGongall menenggelamkan

suara Fudge.

"Begitu si… makhluk itu memasuki ruangan,” dia

menjerit, menunjuk Fudge, seluruh tubuhnya gemetar,

"dia membungkuk di atas Crouch dan… dan …”

Harry merasa perutnya dingin sementara Profesor

McGonagall berusaha mencari kata-kata untuk

mendeskripsikan apa yang terjadi. Harry tak perlu

menunggunya menyelesaikan kalimatnya. Dia tahu pasti

apa yang telah dilakukan si dementor. Dia telah

memberikan kecupan fatalnya kepada Barty Crouch. Dia

telah menyedot jiwa Crouch dengan mulutnya. Kini

Crouch lebih parah daripada mati.

"Apa ruginya!” gertak Fudge. "Dia toh bertanggung

jawab untuk beberapa kematian!”

"Tetapi dia tak dapat memberikan kesaksian,

Cornelius,” kata Dumbledore. Dia memandang tajam

Fudge, seakan baru melihatnya dengan jelas untuk

pertama kalinya. "Dia tak dapat memberikan kesaksian

tentang kenapa dia membunuh orang-orang itu.”

"Kenapa dia membunuh mereka? Sudah jelas, kan?”

bentak Fudge. "Dia orang gila! Dari apa yang diceritakan

Minerva dan Snape kepadaku, rupanya dia menganggap

dia melakukan itu atas perintah Kau Tahu Siapa!”

"Lord Voldemort memang memberinya perintah,

Cornelius,” kata Dumbledore. "Kematian orang-orang itu

semata-mata bagian dari rencananya untuk

859

mengembalikan kekuasaan Lord Voldemort. Rencana itu

sukses. Voldemort sudah kembali ke tubuhnya.”

Fudge tampak seakan baru saja kena pukulan petinju

kelas berat di wajahnya. Bengong dan mengedip-ngedip,

dia balas memandang Dumbledore seakan dia tak bisa

mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Dia

tergagap, masih terbelalak menatap Dumbledore.

"Kau Tahu Siapa… kembali? Tak masuk akal. Jangan

macam-macam, Dumbledore…”

"Seperti yang pasti telah diceritakan Severus

kepadamu,” kata Dumbledore, "kami mendengar Barty

Crouch mengaku. Di bawah pengaruh Veritaserum, dia

menceritakan kepada kami bagaimana dia diselundupkan

keluar dari Azkaban dan bagaimana Voldemort – setelah

mendengar tentang dirinya dari Bertha Jorkins – datang

untuk membebaskannya dari ayahnya dan

memanfaatkan dirinya untuk menangkap Harry.

Rencananya berhasil. Crouch telah membantu Voldemort

kembali.”

"Pikirkan lagi, Dumbledore,” kata Fudge, dan Harry

tercengang melihat senyum samara di wajahnya, "kau…

masa kau serius bahwa, Kau Tahu Siapa… kembali? Coba

pikirkan… Crouch mungkin percaya dia bertindak atas

perintah Kau Tahu Siapa… tetapi mempercayai kata-kata

orang gila seperti itu, Dumbledore…”

"Ketika Harry menyentuh Piala Triwizard malam ini, dia

langsung di bawa ke tempat Voldemort,” kata

Dumbledore mantap. "Dia menyaksikan kelahiran kembali

Voldemort. Aku akan menjelaskan segalanya kepadamu

kalau kau berkenan ke kantorku.”

860

Dumbledore menoleh mengerling Harry dan melihat

bahwa dia sudah bangun, tetapi menggelengkan kepala

dan berkata, "Sayang aku tidak mengizinkanmu

menanyai Harry malam ini.”

Fudge masih tersenyum aneh. Dia juga mengerling

Harry, kemudian kembali memandang Dumbledore, dan

berkata, "Kau… er… mempercayai kata-kata Harry soal

ini, Dumbledore?”

Hening sejenak, kemudian keheningan ini dipecahkan

oleh geraman Sirius. Bulu-bulunya berdiri dan dia

menyeringai galak kepada Fudge.

"Tentu saja aku mempercayai Harry,” kata

Dumbledore. Matanya menyala-nyala sekarang. "Aku

mendengar pengakuan Crouch, dan aku mendengar

cerita Harry tentang apa yang terjadi setelah dia

menyentuh Piala Triwizard. Kedua cerita itu masuk akal.

Kedua cerita itu menjelaskan segalanya yang terjadi

sejak Bertha Jorkins menghilang musim panas lalu.”

Senyum ganjil masih menghias wajah Fudge. Sekali

lagi dia mengerling Harry sebelum menjawab.

"Kau percaya bahwa Lord Voldemort telah kembali

berdasarkan kata-kata seorang pembunuh gila dan anak

yang… yah…”

Fudge melempar pandang pada Harry lagi, dan Harry

tiba-tiba paham.

"Anda rupanya membaca artikel-artikel Rita Skeeter,

Mr. Fudge,” katanya tenang.

861

Ron, Hermione, Mrs. Weasley dan Bill semua terlonjak.

Tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa Harry

terbangun.

Wajah Fudge merona merah, tetapi kemudian tampak

menantang dank eras kepala.

"Lalu kenapa kalau aku baca?” katanya, memandang

Dumbledore. "Dengan begitu aku jadi tahu bahwa kau

menyembunyikan beberapa fakta tentang anak ini.

Parselmouth, eh? Dan bersikap aneh di segala tempat…”

"Kau tentunya mengacu pada rasa sakit yang

dirasakan Harry pada bekas lukanya?” kata Dumbledore

dingin.

"Kalau begitu, kau mengakui bahwa dia mengalami

rasa sakit itu?” sambar Fudge cepat. "Sakit kepala?

Mimpi buruk? Mungkin… halusinasi?”

"Dengarkan aku, Cornelius,” kata Dumbledore, maju

selangkah ke arah Fudge, dan sekali lagi, dia tampak

memancarkan kekuatan yang dirasakan Harry setelah

Dumbledore membuat Crouch pingsan. "Harry sama

warasnya seperti kau dan aku. Luka di dahinya itu tidak

membuat otaknya kacau. Aku percaya bekas luka itu

sakit jika Lord Voldemort berada di dekatnya atau sedang

sangat bernafsu membunuh.”

Fudge sudah mundur separo langkah dari

Dumbledore, tetapi keras kepalanya tak berkurang.

"Maafkan aku, Dumbledore, tetapi aku belum pernah

dengar bekas luka kutukan bisa jadi bel alarm…”

"Dengar, saya melihat Voldemort kembali!” Harry

berteriak. Dia berusaha turun dari tempat tidur, tetapi

862

Mrs. Weasley mencegahnya. "Saya melihat para pelahap

maut! Saya bisa memberikan nama-nama mereka kepada

anda! Lucius Malfoy…”

Snape mendadak bergerak, tetapi ketika Harry

memandangnya, mata Snape kembali melayang ke arah

Fudge.

"Malfoy sudah dinyatakan bersih!” Fudge, jelas-jelas

merasa terhina. "Keluarga tua yang sangat terhormat –

banyak memberikan sumbangan untuk maksud-maksud

baik…”

"Macnair!” Harry melanjutkan.

"Juga dinyatakan bersih! Sekarang bekerja untuk

kementerian!”

"Avery… Nott… Crabbe… Goyle…”

"Kau Cuma mengulang nama-nama yang dibebaskan

dari tuduhan sebagai pelahap maut tiga belas tahun

lalu!” kata Fudge berang. "Kau bisa menemukan namanama

itu di arsip lama mana saja tentang pengadilan

mereka! Astaga, Dumbledore… anak ini juga pernah

cerita sinting pada akhir tahun ajaran lalu… bualannya

makin menjadi-jadi, dank au masih mempercayainya…

anak itu bisa bicara kepada ular, Dumbledore, dan kau

masih beranggapan dia bisa dipercaya?”

"Dasar bodoh!” sembur Profesor McGonagall. "Cedric

Diggory! Mr. Crouch! Kematian mereka bukan pekerjaan

sembarang orang gila!”

"Aku tidak melihat bukti yang sebaliknya!” teriak

Fudge, sekarang mengimbangi kemarahan Profesor

McGonagall, wajahnya berwarna ungu. "Tampaknya

863

kalian semua sudah bertekad akan mulai menimbulkan

rasa panic yang akan merusak semua kestabilan yang

telah kita bangun selama tiga belas tahun terakhir ini!”

Harry tak bisa mempercayai apa yang didengarnya.

Selama ini dia menganggap Fudge orang yang baik,

sedikit keras, sedikit sombong, tetapi pada dasarnya baik

hati. Tetapi kini penyihir pendek murka yang berdiri di

hadapannya, sama sekali menolak menerima gangguan

dalam dunianya yang nyaman dan teratur – menolak

mempercayai bahwa Voldemort telah bangkit.

"Voldemort sudah kembali,” Dumbledore mengulangi.

"Jika kau menerima fakta ini, Fudge, dan mengambil

tindakan yang diperlukan, kita mungkin masih bisa

menyelamatkan situasi. Langkah pertama dan paling

utama adalah membebaskan Azkaban dari control para

dementor…”

"Gila!” teriak Fudge lagi. "Menyingkirkan para

dementor? Aku akan ditendang dari kantor karena

menyarankan itu! Separo dari kita hanya merasa aman di

tempat tidur di malam hari karena kita tahu para

dementor berjaga di Azkaban.”

"Dan separo lainnya tidur kurang nyenyak di tempat

tidur kami, Cornelius, karena tahu bahwa kau telah

menempatkan para pendukung Voldemort yang paling

berbahaya dalam tangan makhluk-makhluk yang akan

langsung bergabung dengannya begitu dia memintanya!”

kata Dumbledore. "Mereka tidak akan tetap setia

kepadamu, Fudge! Voldemort bisa menawari mereka

kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan

kekuasaan dan kenikmatan, lebih daripada yang bisa kau

tawarkan! Dengan para dementor di belakangnya, dan

864

para pendukungnya yang lama kembali kepadanya, kau

akan sulit mencegahnya mendapatkan kembali

kekuasaan seperti yang dimilikinya tiga belas tahun lalu!”

Fudge membuka dan menutup mulutnya seakan tak

ada kata-kata yang bisa mengekspresikan

kemurkaannya.

"Langkah kedua yang harus kau ambil – dan segera,”

Dumbledore menekankan, "adalah mengirim utusan

kepada para raksasa!”

"Utusan kepada raksasa?” Fudge memekik,

menemukan kembali lidahnya. "Kegilaan macam apa ini?”

"Ulurkan tangan persahabatan, sekarang, sebelum

terlambat,” kata Dumbledore. "Kalau tidak, Voldemort

akan membujuk mereka, seperti sebelumnya, untuk

menunjukkan bahwa hanya dia sendiri diantara para

penyihir yang akan memberi mereka hak dan

kemerdekaan!”

"Kau… tak mungkin kau serius!” pekik Fudge,

menggelengkan kepala dan mundur lebih jauh dari

Dumbledore. "Kalau komunitas sihir mendengar bahwa

aku mendekati para raksasa – orang membenci mereka,

Dumbledore – habislah karierku…”

"Kau dibutakan,” kata Dumbledore, suaranya meninggi

sekarang, aura kekuasaan lebih jelas mengitarinya,

matanya sekali lagi menyala-nyala, "oleh kecintaan

terhadap kedudukannya, Cornelius! Selama ini kau

menilai terlalu tinggi apa yang disebut kemurnian darah!

Kau gagal mengenali bahwa yang penting bukanlah

sebagai apa orang dilahirkan, melainkan menjadi apa dia!

Dementormu baru saja mengahncurkan satu-satunya

865

anggota yang tersisa dari keluarga berdarah murni yang

sudah tak terhitung usianya. Dan lihatlah apa yang dipilih

orang itu sebagai jalan hidupnya! Kuberitahu kau

sekarang – ambillah langkah-langkah yang kusarankan,

dan kau akan diingat, baik di dalam maupun di luar

kantor, sebagai salah satu menteri sihir yang paling

pemberani dan paling hebat yang pernah kami kenal.

Kalau kau tak mau bertindak – sejarah akan

mengenangmu sebagai orang yang menepi dan memberi

Voldemort kesempatan kedua untuk menghancurkan

dunia yang selama ini telah kita coba bangun kembali.”

"Sinting,” bisik Fudge, masih terus melangkah mundur.

"Gila…”

Dan kemudian hening. Madam Pomfrey berdiri

membeku di kaki tempat tidur Harry, tangannya

menekap mulut. Mrs. Weasley masih berdiri di sebelah

Harry, dengan tangan di bahu Harry, untuk

mencegahnya bangun. Bill, Ron, dan Hermione terbelalak

memandang Fudge.

"Jika tekadmu untuk menutup mata akan

membawamu sejauh ini, Cornelius,” kata Dumbledore,

"sudah tiba saatnya kita berpisah jalan. Silakan bertindak

sesuai dengan yang kau anggap benar. Dan aku… aku

akan bertindak sesuai dengan kuanggap benar.”

Suara Dumbledore sama sekali tak bernada

mengancam, hanya sekadar penyataan, tetapi Fudge

meremang, seakan Dumbledore mendatanginya dengan

tongkat sihir terangkat.

866

"Dengar, Dumbledore,” katanya, menggoyangkan jari

dengan mengancam. "Aku selama ini memberi

kebebasan kepadamu. Aku sangat menghormatimu.

Mungkin aku tidak sepakat dengan beberapa

keputusanmu, tetapi aku diam saja. Tak banyak yang

akan membiarkanmu mempekerjakan manusia serigala,

atau mempertahankan Hagrid, atau mengajarkan

pelajaran tertentu kepada murid-muridmu tanpa acuan

kepada kementerian. Tetapi kalau kau hendak

menentangku…”

"Satu-satunya yang akan kutentang,” kata

Dumbledore, "adalah Lord Voldemort. Jika kau

melawannya, Cornelius, kita tetap berada di pihak yang

sama.”

Rupanya Fudge tak bisa menemukan jawaban untuk

ini. Dia bergoyang ke depan dan ke belakang di atas kaki

kecilnya selama beberapa saat dan memutar-mutar

topinya di tangannya. Akhirnya dia berkata, dengan nada

memohon dalam suaranya, "Dia tak mungkin kembali,

Dumbledore, tak mungkin…”

Snape maju, melewati Dumbledore, seraya menarik

lengan kiri jubahnya ke atas. Dia menjulurkan bagian

dalam lengannya dan memperlihatkannya kepada Fudge,

yang langsung melompat mundur.

"Ini,” kata Snape kasar. "Ini. Tanda Kegelapan. Sudah

tidak sejelas satu jam yang lalu, ketika tanda ini terbakar

kehitaman, tetapi kau masih bisa melihatnya. Semua

pelahap maut memiliki tanda ini yang dibakarkan ke

lengannya oleh Pangeran Kegelapan. Ini cara untuk

saling mengenali, dan caranya untuk memanggil kami

kepadanya. Jika dia menyentuh tanda pelahap maut

867

siapa saja, kami diharuskan ber-Disapparate, dan ber-

Apparate saat itu juga di sebelahnya. Tanda ini sudah

semakin jelas sepanjang tahun ini. Yang di lengan

Karkaroff juga. Kenapa menurutmu Karkaroff kabur

malam ini? Kami berdua merasa tanda ini terbakar. Kami

berdua tahu dia sudah kembali. Karkaroff takut akan

pembalasan Pangeran Kegelapan. Dia mengkianati terlalu

banyak rekan sesame Pelahap Maut-nya, dia tak yakin

bisa diterima kembali mereka.”

Fudge mundur, menjauhi Snape. Dia menggeleng.

Tampaknya dia tidak menggubris kata-kata Snape. Dia

menatap jijik pada tanda buruk di lengan Snape,

kemudian mendongak memandang Dumbledore dan

berbisik, "Aku tak tahu apa yang sedang kau mainkan

bersama stafmu, Dumbledore, tetapi aku sudah cukup

mendengarnya. Tak ada lagi yang mau kutambahkan.

Akan kuhubungi kau besok, Dumbledore, untuk

merundingkan penyelenggarakan sekolah ini. Aku harus

kembali ke kementerian.”

Ketika sudah hampir tiba di pintu, dia berhenti. Dia

berbalik, masuk ke kamar lagi, dan berhenti di sisi

tempat tidur Harry.

"Hadiahmu,” katanya singkat, mengeluarkan

sekantung besar emas dari sakunya dan menjatuhkannya

ke meja di samping tempat tidur Harry. "Seribu Galleon.

Seharusnya ada upacara penyerahan, tetapi dalam

situasi begini…”

Dia menjejalkan topinya ke kepala dan berjalan keluar

kamar, membanting pintu di belakangnya. Begitu dia

sudah pergi, Dumbledore berpaling kepada rombongan di

sekeliling tempat tidur Harry.

868

"Banyak yang harus dikerjakan,” katanya. "Molly…

benarkah dugaanku bahwa aku bisa mengandalkan kau

dan Arthur?”

"Tentu saja,” kata Mrs. Weasley. Wajahnya pucat pasi

sampai ke bibirnya, tetapi dia tampak mantap. "Kami

tahu orang macam apa Fudge ini. Kecintaan Arthur

terhadap Muggle-lah yang membuatnya bertahan di

kementerian selama bertahun-tahun ini. Fudge

menganggapnya kurang punya kebanggaan sihir.”

"Kalau begitu aku perlu mengirim pesan kepada

Arthur,” kata Dumbledore. "Semua yang bisa diandalkan

untuk mempercayai kenyataan ini harus segera

diberitahu, dan Arthur berada di tempat strategis untuk

mengontak orang-orang kementerian yang tidak

berpandangan sedangkal Cornelius.”

"Saya akan menemui Dad,” kata Bill seraya berdiri.

"Saya berangkat sekarang.”

"Bagus sekali,” kata Dumbledore. "Beritahu dia apa

yang telah terjadi. Beritahu dia aku akan segera

menghubunginya. Meskipun demikian, dia perlu

bertindak hati-hati. Kalau sampai Fudge beranggapan

aku ikut campur di kementerian…”

"Serahkan kepada saya,” kata Bill.

Bill menepuk bahu Harry, mengecup pipi ibunya,

memakai mantelnya, dan bergegas meninggalkan kamar.

"Minerva,” kata Dumbledore, berpaling kepada

Profesor McGonagall, "Aku mau bertemu Hagrid di

kantorku sesegera mungki. Juga – kalau dia bersedia

datang – Madame Maxime.”

869

Professor McGonagall mengangguk dan pergi tanpa

mengucapkan sepatah kata pun.

"Poopy,” Dumbledore berkata kepada Madam

Pomfrey, "tolong pergi ke kantor Profesor Moody. Di sana

kurasa kau akan menemukan peri rumah bernama Winky

yang sedang terpukul sekali. Lakukan apa yang kau bisa

untuknya, dan bawa dia kembali ke dapur. Kurasa Dobby

akan merawat dia.”

"Ba… baiklah,” kata Madam Pomfrey, tampak terkejut,

dan dia juga pergi.

Dumbledore memastikan pintu telah tertutup dan

langkah-langkah Madam Pomfrey sudah tak terdengar,

sebelum dia bicara lagi.

"Dan sekarang,” katanya, "sudah tiba saatnya dua

orang diantara kita saling mengenal apa adanya. Sirius…

kalau kau berkenan kembali ke wujudmu semula.”

Si anjing hitam besar mendongak memandang

Dumbledore, kemudian, dalam sekejap, berubah menjadi

manusia.

Mrs. Weasley menjerit dan melompat mundur dari

tempat tidur.

"Sirius Black!” pekiknya, seraya menunjuk Sirius.

"Mum, diam!” teriak Ron. "Tidak apa-apa!”

Snape tidak berteriak ataupun melompat mundur,

tetapi ekspresi wajahnya adalah campuran antara murka

dan ngeri.

870

"Dia!” katanya geram, menatap Sirius, yang wajahnya

memperlihatkan ketidaksenangan yang sama. "Sedang

apa dia di sini?”

"Dia ada di sini atas undanganku,” kata Dumbledore,

memandang mereka bergantian, "sama seperti kau,

Severus. Aku mempercayai kalian berdua. Sudah

waktunya kalian berdua menyingkirkan perbedaanperbedaan

lama kalian dan saling mempercayai.”

Harry menganggap yang diminta Dumbledore nyaris

keajaiban. Sirius dan Snape saling pandang dengan

sangat jijik.

"Aku bersedia menerima, untuk sementara ini,” kata

Dumbledore, ada nada sedikit tak sabar dalam suaranya,

"kebencian yang tidak terang-terangan diperlihatkan.

Kalian berdua akan berjabat tangan. Kalian berada di

pihak yang sama sekarang. Waktunya singkat dan kalau

kita – yang tahu apa yang sebenarnya terjadi – tidak

bersatu, tak ada harapan lagi untuk kita semua.”

Sangat perlahan – tetapi masih saling mendelik seakan

masing-masing mengharapkan yang terburuk untuk yang

lain – Sirius dan Snape bergerak saling mendekat dan

berjabat tangan. Lalu cepat-cepat melepasnya.

"Cukup untuk permulaan,” kata Dumbledore,

melangkah di antara mereka lagi. "Sekarang aku punya

tugas untuk masing-masing kalian. Sikap Fudge,

meskipun bukan tak terduga, mengubah segalanya.

Sirius, aku perlu menyuruhmu segera berangkat. Kau

harus memperingatkan Remus Lupin, Arabella Figg,

Mundungus Flecther – kelompok yang dulu.

871

Bersembunyilah di tempat Lupin untuk sementara. Aku

akan mengontakmu di sana.”

"Tapi…,” kata Harry.

Dia ingin Sirius tinggal. Dia tidak ingin mengucapka

selamat tinggal lagi begitu cepat.

"Kau akan segera bertemu aku lagi, Harry,” kata

Sirius, menoleh kepadanya. "Aku berjanji. Tetapi aku

harus melakukan yang aku bisa, kau mengerti, kan?”

"Yeah,” kata Harry. "Yeah… tentu aku mengerti.”

Sirius menggenggam tangannya sekejap, mengangguk

kepada Dumbledore, berubah lagi menjadi anjing hitam,

dan berlari ke pintu, yang pegangannya diputarnya

dengan kaki depannya. Kemudian dia pergi.

”Severus,” kata Dumbledore, berpaling kepada Snape,

"kau tahu apa yang harus kuminta kau lakukan. Kalau

kau bersedia… kalau kau siap…”

"Aku siap,” kata Snape.

Snape tampak sedikit lebih pucat daripada biasanya,

dan matanya yang hitam dingin berkilat ganjil.

"Kalau begitu, semoga berhasil,” kata Dumbledore,

dan dia mengawasi, dengan keprihatinan di wajahnya,

selagi Snape menyusul Sirius tanpa bicara.

Beberapa menit kemudian, baru Dumbledore bicara

lagi.

"Aku harus turun,” katanya akhirnya. "Aku harus

menemui orang tua Cedric. Harry… habiskan sisa

ramuanmu. Aku akan menemui kalian semua nanti.”

872

Harry terenyak ke bantal lagi setelah Dumbledore

lenyap. Hermione, Ron dan Mrs. Weasley semua

memandangnya. Sampai lama tak ada yang bicara.

"Kau harus menghabiskan sisa ramuanmu, Harry,” ujar

Mrs. Weasley akhirnya. Tangannya mendorong kantong

uang emas di meja ketika dia mencari botol dan piala

ramuan. "Tidurlah yang nyenyak. Cobalah memikirkan

sesuatu yang lain sebentar… pikirkan apa yang akan kau

beli dengan uang kemenanganmu!”

"Aku tidak mau uang itu,” kata Harry dengan suara

tanpa ekspresi. "Ambil saja. Siapa saja boleh ambil. Aku

seharusnya tidak memenangkannya. Mestinya itu milik

Cedric.”

Dia sudah berkali-kali mencegah kejadian itu kembali

dalam ingatannya, sejak dia keluar dari maze, tetapi hal

itu kini mengancam menguasainya. Harry bisa merasakan

perasaan terbakar dan menusuk-nusuk di bagian dalam

ujung-ujung matanya. Dia mengejap dan memandang

langit-langit.

"Bukan salahmu, Harry,” bisik Mrs. Weasley.

"Saya yang memintanya mengambil piala bersama

saya,” kata Harry.

Sekarang rasa terbakar itu ada di tenggorokannya

juga. Dia sangat berharap Ron jangan memandangnya

terus.

Mrs. Weasley meletakkan ramuan di atas meja,

membungkuk, dan merengkuk Harry ke dalam

pelukannya. Harry tak ingat pernah dipeluk seperti ini,

seakan oleh ibunya sendiri. Beban segala yang telah

873

dilihatnya malam ini rasanya jatuh menimpanya

sepenuhnya selagi Mrs. Weasley memeluknya. Wajah

ibunya, suara ayahnya, Cedric, tergeletak mati di tanah:

semuanya mulai berpusar dalam kepalanya sampai dia

tak tahan lagi, sampai dia mengernyitkan wajahnya

menentang lolongan penderitaan yang berkutat hendak

keluar dari dahinya.

Terdengar hantaman keras, dan Mrs. Weasley dan

Harry memisahkan diri. Hermione sedang berdiri di dekat

jendela. Tangannya menggenggam erat sesuatu.

"Sori,” bisiknya.

"Ramuanmu, Harry,” kata Mrs. Weasley cepat-cepat,

menyeka mata dengan punggung tangannya.

Harry meminumnya dalam satu tegukan. Efeknya

langsung terasa. Gelombang kantuk yang akan

membawanya dalam tidur nyenyak tanpa mimpi

menyapunya. Dia terjatuh ke bantalnya dan tak

memikirkan apa-apa lagi.

37. Awal Mula

874

Ketika mengenangnya lagi, bahkan setelah lewat

sebulan, ternyata Harry Cuma ingat sedikit-sedikit apa

yang terjadi di hari-hari berikutnya. seakan dia telah

mengalami terlalu banyak sehingga tak bisa menerima

lebih banyak lagi. Kenangan yang diingatnya sangat

menyakitkan. Yang paling buruk, barangkali, adalah

pertemuan dengan orang tua Cedric yang berlangsung

keesokan paginya.

Mereka tidak mempersalahkannya atas apa yang

terjadi. Sebaliknya malah, mereka berdua berterima

kasih kepadanya karena telah mengembalikan jenazah

Cedric kepada mereka. Mr. Diggory terisak hampir

sepanjang pertemuan. Kesedihan Mrs. Diggory rupanya

telah melampau batas air mata.

"Dia hanya menderita sedikit sekali, kalau begitu,”

kata Mrs. Diggory setelah Harry menceritakan bagaimana

Cedric meninggal. "Dan lagi pula, Amos… dia meninggal

setelah memenangkan turnamen. Pastilah dia sangat

bahagia.”

Saat mereka bangkit, Mrs. Diggory menunduk

memandang Harry dan berkata, "Jagalah dirimu baik-baik

sekarang.”

Harry menyambar kantong emas di meja di sebelah

tempat tidurnya.

"Ambillah ini,” dia bergumam kepada ibu Cedric.

"Seharusnya ini menjadi milik Cedric, dia sampai lebih

dulu. Ambillah…”

Tetapi Mrs. Diggory menjauh darinya.

875

"Oh tidak, itu milikmu, Nak. Aku tak bisa… kau saja

yang menyimpannya.”

Harry kembali ke menara Gryffindor keesokan

malamnya. Dari apa yang diceritakan Hermione dan Ron,

Dumbledore telah berbicara kepada seluruh sekolah pagi

itu sewaktu sarapan. Dia hanya meminta agar mereka

tidak mengganggu Harry, agar jangan ada yang

mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau mendesaknya

menceritakan apa yang terjadi di maze. Sebagian besar

anak-anak, Harry memperhatikan, menyingkir darinya di

koridor, menghindari tatapannya. Beberapa berbisik-bisik

di balik tangan ketika dia lewat. Harry menduga banyak

diantara mereka telah mempercayai artikel Rita Skeeter

tentang betapa terganggunya dia dan mungkin betapa

sangat berbahayanya dia. Mungkin mereka membuat

teori sendiri tentang bagaimana Cedric meninggal.

Ternyata Harry tidak begitu peduli. Dia paling senang jika

sedang bersama Ron dan Hermione dan mereka bicara

tentang hal-hal lain, atau membiarkannya duduk diam

sendiri sementara mereka berdua main catur. Dia merasa

seakan mereka bertiga telah mencapai tingkat

pemahaman yang tak perlu mereka utarakan dalam katakata,

bahwa mereka masing-masing menunggu adanya

petunjuk, adanya kabar, tentang apa yang terjadi di luar

Hogwarts – dan bahwa tidak ada gunanya berspekulasi

tentang apa yang akan terjadi sebelum ada kepastian.

Sekali-kalinya mereka menyinggung topic ini adalah

ketika Ron memberitahu Harry tentang pertemuan Mrs.

Weasley dengan Dumbledore sebelum ibunya pulang.

"Mum bertanya apakah kau boleh langsung ke rumah

kami musim panas ini,” katanya. "Tetapi Dumbledore

876

ingin kau pulang ke rumah keluarga Dusley dulu,

sebentar, paling tidak.”

"Kenapa?” Tanya Harry.

"Katanya Dumbledore punya alasan,” kata Ron,

menggelengkan kepala tak paham. "Kurasa kita harus

mempercayainya, kan?”

Satu-satunya orang lain, selain Ron dan Hermione

dengan siapa Harry merasa bisa berbicara, adalah

Hagrid. Karena sudah tak ada lagi guru Pertahanan

Terhadap Ilmu Hitam, mereka bebas dalam pelajaran

tersebut. Mereka menggunakan jam bebas kamis sore

untuk mengunjungi Hagrid di pondoknya. Hari itu

matahari bersinar cerah. Fang melompat ke pintu yang

terbuka ketika mereka datang, menggonggong dan

menggoyang ekornya dengan seru.

"Siapa itu?” seru Hagrid, datang ke pintu. "Harry!”

Dia keluar menemui mereka, menarik Harry dalam

pelukan satu tangan, mengacak rambutnya, dan berkata,

"Senang ketemu kau, Nak. Senang ketemu kau.”

Mereka melihat dua cangkir sebesar ember di depan

perapian ketika mereka memasuki pondok Hagrid.

"Tadi minum the dengan Olympe,” kata Hagrid. "Dia

baru saja pergi.”

"Siapa?” Tanya Ron penasaran.

"Madame Maxiem, tentu saja,” kata Hagrid.

"Kalian berdua baikan, ya?” kata Ron.

"Tahu apa maksudmu,” kata Hagrid ringan,

mengambil lebih banyak cangkir dari lemari. Setelah

877

membuat the dan menawari mereka sepiring kue, dia

bersandar di kursinya dan mengamati Harry dengan teliti

dengan mata kumbang hitamnya.

"Kau baik-baik saja?” tanyanya parau.

"Yeah,” kata Harry.

"Tidak, kau tidak baik-baik saja,” kata Hagrid. "Tentu

saja tidak. Tapi nantiny kau akan baik-baik saja.”

Harry tidak berkata apa-apa.

"Sudah tahu dia kembali,” kata Hagrid, dan Harry,

Ron, dan Hermione memandangnya kaget. "Sudah tahu

selama bertahun-tahun, Harry. Tahu dia di luar sana,

tunggu waktu. Pasti terjadi. Nah, sekarang sudah terjadi,

dan kita harus terima. Kita akan lawan dia. Mungkin bisa

stop dia sebelum dia kuat. Itu rencana Dumbledore,

paling tidak. Orang besar, Dumbledore. Asal kita masih

punya dia, aku tak terlalu cemas.”

Hagrid mengangkat alisnya yang lebat melihat

ekspresi tak percaya di wajah mereka.

"Tak ada gunanya Cuma duduk cemas memikirkan hal

itu,” katanya. "Apa yang akan terjadi pasti terjadi, dan

kita akan songsong kalau datang. Dumbledore cerita

padaku apa yang kau lakukan, Harry.”

Dada Hagrid membungsung bangga saat dia

memandang Harry.

"Yang kau lakukan itu sama seperti yang dilakukan

ayahmu, dan tak bisa beri kau pujian lebih tinggi dari

itu.”

878

Harry balas tersenyum. Itu pertama kalinya dia

tersenyum setelah berhari-hari ini. "Kau disuruh apa oleh

Dumbledore, Hagrid?” dia bertanya. "Dia menyuruh

Profesor McGonagall untuk memintamu dan Madame

Maxime menemuinya… malam itu.”

"Punya tugas kecil untukku musim panas nanti,” kata

Hagrid. "Rahasia, tapi. Aku tak boleh bicara tentang ini,

bahkan kepada kalian sekalipun. Olympe – kalian harus

panggil dia Madame Maxime – mungkin akan pergi

bersamaku. Kurasa dia mau. Kurasa aku sudah berhasil

bujuk dia.”

"Apa ada hubungannya dengan Voldemort?”

Hagrid berjengit mendengar nama itu.

"Mungkin,” katanya mengelak. "Nah… siapa yang mau

ikut aku kunjungi Skrewt terakhir? Aku Cuma bergurau…

bergurau!” dia buru-buru menambahkan, melihat

tampang mereka.

Harry mengepak kopernya denga berat hati pada

malam sebelum kepulangannya ke Privet Drive. Dia ngeri

membayangkan pesta perpisahan, yang biasanya

merupakan ajang penghargaan, ketika pemenang juara

antar asrama diumumkan. Sejak meninggalkan rumah

sakit, dia menghindar berada di aula besar kalau aula itu

penuh, dia lebih suka makan pada saat aula itu sudah

hampir kosong untuk menghindari tatapan temantemannya.

Ketika dia, Ron dan Hermione memasuki aula, mereka

langsung melihat dekorasinya tidak seperti biasa. Aula

besar biasanya didekorasi dengan warna asrama

pemenang pada acara pesta perpisahan. Tetapi malam

879

ini, dinding di belakang meja guru ditutp tirai hitam.

Harry langsung tahu bahwa tirai itu ada di sana sebagai

penghormatan untuk Cedric.

Mad-Eye Moody yang asli ada di meja guru sekarang,

kaki kayu dan mata gaibnya kembali berada di

tempatnya. Dia luar biasa gugup, terlonjak setiap kali ada

yang mengajaknya bicara. Harry tidak menyalahkannya.

Ketakutan Moody akan serangan pastilah semakin besar

denga penyekapannya selama sepuluh bulan dalam

petinya sendiri. Kursi Profesor Karkaroff kosong. Harry

bertanya-tanya dalam hati, saat dia duduk bersama

anak-anak Gryffindor lainnya, di mana Karkaroff

sekarang, dan apakah Voldemort sudah berhasil

menangkapnya.

Madame Maxima masih ada. Dia duduk di sebelah

Hagrid. Mereka berdua mengobrol pelan. Agak jauh dari

mereka duduk Snape, di sebelah Profesor McGongall.

Matanya sejenak memandang Harry ketika Harry

memandangnya. Ekspresinya susah ditebak. Dia tampak

sama masam dan tidak menyenangkannya seperti

biasanya. Harry terus mengawasinya, lama setelah Snape

berpaling.

Apa yang telah dilakukan Snape, atas perintah

Dumbledore, pada malam Voldemort kembali? Dan

kenapa… kenapa… Dumbledore begitu yakin bahwa

Snape benar-benar berada di pihak mereka? Dulu dia

mata-mata mereka. Dumbledore sendiri yang

mengatakan dalam pensieve. Snape telah berbalik

menjadi mata-mata yang menentang Voldemort, "dengan

resiko pribadi yang amat besar.” Itukah lagi

pekerjaannya sekarang? Apakah dia sudah mengontak

880

para pelahap maut, mungkin? Berpura-pura bahwa dia

tak pernah betul-betul menyeberang ke pihak

Dumbledore, bahwa dia, sama seperti Voldemort sendiri,

sekadar menunggu waktu?

Renungan Harry diakhiri oleh Profesor Dumbledore,

yang berdiri di meja guru. Aula besar, yang memang

lebih sepi disbanding suasana pesta Perpisahan biasanya,

menjadi sunyi senyap.

"Akhir,” kata Dumbledore, mengedarkan pandang

kepada mereka semua, "tahun ajaran yang lain.”

Dai berhenti sejenak, dan pandangannya jatuh ke

meja Hufflepuff. Meja mereka adalah meja yang paling

muram sebelum Dumbledore berdiri, dan wajah-wajah

mereka masih yang paling sedih dan paling pucat di aula

itu.

"Banyak sekali yang ingin kusampaikan kepada kalian

semua malam ini,” kata Dumbledore, "tetapi pertamatama

aku harus menyatakan kehilangan orang yang

sangat baik, yang seharusnya duduk di sini,” dia

memberi isyarat ke meja Hufflepuff, "menikmati pesta ini

bersama kita. Kuminta kalian semua berdiri, silakan, dan

bersulang untuk Cedric Diggory.”

Mereka mematuhinya, semuanya. Kursi-kursi berderit

ketika mereka berdiri, dan mengangkat gelas, dan

berseru bersama , dalam suara keras, rendah,

menggemuruh, "Cedric Diggory.”

Sekilas Harry melihat Cho diantara teman-temannya.

Air matanya bercucuran. Harry menunduk memandang

meja ketika mereka semua sudah duduk lagi.

881

"Cedric adalah anak yang menunjukkan banyak

kualitas yang merupakan karakteristik Hufflepuff,”

Dumbledore melanjutkan. "Dia teman yang baik, dan

setia, pekerja keras, dia menghargai permainan yang

jujur. Kematiannya telah mempengaruhi kalian semua,

apakah kalian kenal baik dengannya atau tidak. Karena

itu, kurasa kalian berhak untuk mengetahui bagaimana

persisnya kematiannya terjadi.”

Harry mengangkat kepala dan menatap Dumbledore.

"Cedric Diggory dibunuh oleh Lord Voldemort.”

Bisikan-bisikan panic menyapu aula besar. Anak-anak

memandang Dumbledore tak percaya, dengan ngeri.

Dumbledore tampak sangat tenang sementara

menunggu mereka diam.

"Kementerian sihir,” Dumbledore melanjutkan, "tidak

setuju aku menyampaikan hal ini kepada kalian. Mungkin

juga beberapa orang tua kalian terkejut sekali aku

memberitahukan hal ini – entah karena mereka tidak

percaya Lord Voldemort telah kembali atau karena

mereka beranggapan aku seharusnya merahasiakan ini,

mengingat kalian masih terlalu muda. Meskipun demikian

aku percaya, bahwa kebenaran lebih baik daripada

kebohongan, dan bahwa segala usaha untuk berpurapura

bahwa Cedric meninggal karena kecelakaan, atau

semacam kekeliruan yang dilakukan olehnya sendiri,

merupakan penghinaan bagi kenangan akan dirinya.”

Terpana dan ketakutan, semua wajah di Aula Besar

menghadap Dumbledore sekarang… atau hampir semua

wajah. Di meja Slytherin, Harry melihat Draco

menggumankan sesuatu kepada Crabbed an Goyle. Harry

882

merasakan gelombang kemarahan yang membara dan

memualkan melanda perutnya. Dia memaksa diri

memandang Dumbledore lagi.

"Ada satu orang lagi yang harus disebut dalam

kaitannya dengan kematian Cedric,” Dumbledore

melanjutkan. "Yang kubicarakan ini tentu saja adalah

Harry Potter.”

Seakan ada riak menyapu aula ketika kepala-kepala

menoleh pada harry, sebelum kembali memandang

Dumbledore.

"Harry Potter berhasil lolos dari Lord Voldemort,” kata

Dumbledore. "dia mempertaruhkan nyawanya sendiri

untuk mengembalikan jenazah Cedric ke Hogwarts. Dia

menunjukkan, dalam segala hal, keberanian yang hanya

diperlihatkan sedikit penyihir dalam menghadapi Lord

Voldemort, dan untuk ini, aku menghormatinya.”

Dumbledore menoleh takzim kepada Harry dan

mengangkat pialanya sekali lagi. Hampir semua hadirin

mengikutinya. Mereka menggumamkan namanya, seperti

waktu menggumamkan nama Cedric, dan minum

untuknya. Tapi dari celah-celah diantara anak-anak yang

berdiri, Harry melihat Malfoy, Crabbed an Goyle, dan

banyak anak-anak Slytherin lain bertahan menantang di

tempat duduk mereka, piala mereka tak tersentuh.

Dumbledore, yang tidak memiliki mata gaib, tidak

melihatnya.

Ketika semua sudah duduk di tempat masing-masing,

Dumbledore melanjutkan, "Tujuan Turnamen adalah

membina dan meningkatkan saling pengertian di dunia

sihir. Mengingat apa yang telah terjadi – kembalinya Lord

883

Voldemort – hubungan semacam ini lebih penting

daripada sebelumnya.”

Dumbledore memandang dari Madame Maxime dan

Hagrid ke Fleur Delacour dan teman-teman

Beauxbatonsnya, ke Viktor Krum dan murid-murid

Durmstrang di meja Slytherin. Krum, Harry melihat,

tampak waspada, nyaris takut, seakan dia mengharap

Dumbledore akan mengatakan sesuatu yang kasar.

"Semua tamu dalam aula ini,” kata Dumbledore, dan

matanya bertahan memandang murid-murid Durmstrang,

"akan disambut dengan senang hati setiap saat, jika

mereka ingin kembali. Kukatakan kepada kalian semua,

sekali lagi – sehubungan dengan kembalinya Lord

Voldemort, kita hanya bisa kuat kalau bersatu. Seperti

kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

"Kemampuan Lord Voldemort untuk menyebarkan

pepecahan dan permusuhan sangat besar. Kita hanya

bisa melawannya dengan memperlihatkan ikatan

persahabatan dan saling percaya yang sama kuatnya.

Perbedaan kebiasaan dan bahasa tak ada artinya jika

tujuan kita sama dan hati kita terbuka.”

A”ku menduga – dan aku sungguh berharap dugaanku

ini keliru – bahwa kita semua menghadapi masa yang

gelap dan sulit. Beberapa diantara kalian di dalam aula

ini sudah mengalami penderitaan langsung di tangan

Lord Voldemort. Banyak keluarga kalian yang sudah

dicerai berai dan dihancurkannya. Seminggu yang lalu,

seorang rekan kita diambil dari tengah-tengah kita.”

"Ingatlah Cedric. Ingatlah, jika tiba waktunya kalian

harus memilih antara mana yang benar dan yang salah,

884

ingatlah apa yang terjadi pada seorang anak yang hebat,

dan baik, dan pemberani, hanya karena dia berada di

jalan yang dilalui Lord Voldemort. Ingatlah Cedric

Diggory.”

Koper harry sudah selesai dipak. Hedwig sudah

kembali berada dalam sangkarnya di atas koper itu.

Harry, Ron dan Hermione berada di aula depan bersama

anak-anak kelas empat lainnya, menunggu kereta yang

akan membawa mereka ke stasiun Hogsmede. Harry itu

hari yang cerah di musim panas. Harry menduga Privet

Drive pastilah panas dan tumbuhannya rimbun, petakpetak

bunganya penuh bunga warna-warni, ketika dia

tiba di sana malam itu.

"Arry!”

Harry menoleh. Fleur Delacour sedang bergegas

menaiki undakan batu. Di belakangnya, jauh di halaman,

Harry bisa melihat Hagrid membantu Madame Maxime

memadang kendali pada dua dari kuda-kuda raksasa.

Kereta Beauxbatons siap berangkat.

"Kita akan bertemu lagi, kuharap,” kata Fleur ketika

tiba di dekat Harry, mengulurkan tangannya. "Aku

berharap bisa bekerja di sini, untuk memperbaiki bahasa

Inggrisku.”

"Sudah bagus sekali,” kata Ron dengan suara seperti

tersekat. Fleur tersenyum kepadanya. Hermione

merengut.

"Selamat tinggal, Arry,” kata Fleur, berbalik untuk

pergi. "Senang sekali bisa berkenalan denganmu!”

885

Mau tak mau semangat Harry terangkat sedikit melihat

Fleur bergegas menyeberangi lapangan rumput menuju

Madame Maxime, rambutnya yang pirang berkilauan

tertimpa cahaya matahari.

"Bagaimana caranya anak-anak Durmstrang pulang,

ya?” kata Ron. "Menurut kalian apakah mereka bisa

mengemudi kapal itu tanpa Karkaroff?”

"Karkaroff tidak mengemudi,” kata suara keras. "Dia

tinggal dalam kabinnya dan membiarkan kami yang

bekerja,” Krum telah datang untuk mengucapkan selamat

tinggal kepada Hermione. "Boleh aku bicara?” Tanya

Krum kepadanya.

"Oh… ya… baiklah,” kata Hermione, tampak agak

bingung, dan mengikuti Krum menyeruak diantara anakanak

dan menghilang dari pandangan.

"Jangan lama-lama!” Ron berteriak keras kepada

Hermione. "Keretanya sebentar lagi datang!”

Meskipun demikian, dia membiarkan Harry yang

menunggu kereta, dan melewatkan beberapa menit

berikutnya dengan menjulurkan leher di atas kerumunan

anak-anak, berusaha melihat apa yang dilakukan Krum

dan Hermione. Mereka kembali tak lama kemudian. Ron

memandang Hermione tajam, tetapi wajah Hermione

tenang-tenang saja.

"Aku suka Diggory,” kata Krum tiba-tiba kepada Harry.

"Dia selalu sopan kepadaku. Meskipun aku dari

Durmstrang… dengan Karkaroff,” dia menambahkan

sambil merengut.

886

"Apakah kalian sudah mendapat kepala sekolah baru?”

Tanya Harry.

Krum mengangkat bahu. Dia mengulurkan tangan

seperti Fleur, menjabat tangan Harry, kemudian Ron.

Ron tampak seakan dia sedang mengalami pergolakan

batin yang menyakitkan. Krum sudah berjalan pergi

ketika Ron tiba-tiba berseru, "Boleh aku minta tanda

tanganmu?”

Hermione berpaling, tersenyum kepada kereta-kereta

tanpa kuda yang sekarang menggelinding menuju

mereka di jalan kereta, sementara Krum, tampak terkejut

tapi senang, menandatangani secarik perkamen untuk

Ron.

Cuaca tak mungkin lebih berbeda antara perjalanan

pulang mereka ke King’s Cross dengan perjalanan ke

Hogwarts bulan September lalu. Langit sama sekali tak

berawan. Harry, Ron dan Hermione berhasil

mendapatkan satu kompartemen untuk mereka sendiri.

Pigwidgeon sekali lagi bersembunyi di bawah jubah pesta

Ron untuk menghentikannya beruhu-uhu terus. Hedwig

tertidur, kepalanya disembunyikan di sayapnya, dan

Crookshanks bergulung di tempat duduk kosong seperti

bantal besar berbulu jingga. Harry, Ron dan Hermione

mengobrol lebih banyak dan lebih bebas daripada

seminggu belakangan ini, sementara kereta meluncur

membawa mereka ke selatan. Harry merasa seakan

pidato Dumbledore di Pesta Perpisahan telah

membebaskannya. Sudah berkurang sakitnya

membicarakan apa yang terjadi sekarang. Mereka

memutus pembicaraan tentang tindakan apa yang

mungkin diambil Dumbledore saat ini, untuk

887

menghentikan Voldemort, hanya ketika troli makan siang

tiba.

Ketika Hermione kembali dari trolo dan memasukkan

uangnya ke dalam tasnya kembali, dia mengeluarkan

Daily Prophet yang dibawanya.

Harry memandang Koran itu, tak yakin apakah dia

benar-benar ingin tahu apa yang dikatakan di dalamnya,

tetapi Hermione, melihat wajah Harry, berkata tenang,

"Tak ada apa-apa di situ. Kau bolah baca sendiri, tapi tak

ada apa-apa. Aku sudah mengeceknya setiap hari. Hanya

berita kecil sehari setelah pelaksanaan tugas ketiga,

mengatakan kau memenangkan turnamen. Mereka

bahkan tidak menyebutkan Cedric. Sama sekali tak ada

berita tentang itu. Kalau kalian Tanya aku, menurutku

Fudge memaksa mereka diam.”

"Dia tak akan bisa menyuruh Rita diam,” kata Harry.

"Tidak untuk cerita seperti ini.”

"Oh, Rita tidak menulis apa-apa sejak tugas ketiga,”

kata Hermione dengan nada terpaksa yang ganjil.

"Malah,” dia menambahkan, suaranya sekarang agak

bergetar, "Rita Skeeter tidak akan menulis apa-apa untuk

sementara ini. Tidak, kecuali dia mau aku membuka

rahasianya.”

"Apa yang kau bicarakan?” kata Ron.

"Aku berhasil tahu bagaimana dia mendengarkan

percakapan-percakapan pribadi saat dia seharusnya tidak

boleh masuk ke kompleks sekolah,” kata Hermione buruburu.

888

Harry mendapat kesan bahwa Hermione sudah ingin

sekali memceritakan hal ini kepada mereka selama

berhari-hari, tetapi dia telah menahan diri mengingat

adanya kejadian-kejadian lain.

"Bagaimana caranya?” Tanya Harry segera.

"Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Ron,

memandangnya heran.

"Sebenarnya kau yang memberiku ide, Harry,”

katanya.

"Aku?” Tanya Harry bingung. "Bagaimana?”

"Penyadapan,” kata Hermione riang.

"Tetapi katamu alatnya tidak berfungsi…”

"Oh, bukan penyadapan secara elektronis,” kata

Hermione. "Bukan… Rita Skeeter” – suara Hermione

bergetar dengan kemenangan – "adalah animagus tak

terdaftar. Dia bisa berubah….”

Hermione mengeluarkan stoples kaca kecil tertutup

dari dalam tasnya.

"… menjadi kumbang.”

"Yang benar,” kata Ron. "Kau tidak… dia tidak…”

"Oh ya, dia bisa berubah,” kata Hermione riang,

mengacung-acungkan stoples itu kepada mereka.

Di dalamnya ada beberapa ranting dan daun-daun,

dan seekor kumbang besar gemuk.

"Mana mungkin… kau main-main..,” Ron berbisik,

mengangkat stoples itu ke matanya.

889

"Aku tidak main-main,” kata Hermione berseri-seri,

"kutangkap dia di ambang jendela rumah sakit. Lihatlah

dengan teliti, dan kau akan melihat tanda di sekeliling

sungutnya persis seperti kacamata jelek yang

dipakainya.”

Harry melihat dan ternyata Hermione benar. Dia juga

ingat sesuatu.

"Ada kumbang di patung pada malam kita mendengar

Hagrid memberitahu Madame Maxime tentang ibunya.”

"Persis,” kata Hermione. "Dan Viktor Krum menarik

seekor kumbang dari rambutku setelah kami berbicara di

tepi danau. Dan kecuali aku sangat keliru, Rita hinggap di

ambang jendela kelas Ramalan pada hari bekas lukamu

sakit. Dia beterbangan ke mana-mana, memburu berita

selama setahun ini.”

"Waktu kita melihat Malfoy di bawah pohon itu…,”

kata Ron perlahan.

"Dia sedang berbicara kepada Rita, di tangannya,”

kata Hermione. "Malfoy tahu, tentu saja. Dengan cara

begitulah Rita bisa mendapatkan wawancara-wawancara

yang menyenangkan dengan anak-anak Slytherin.

Mereka tidak akan peduli bahwa Rita melakukan sesuatu

yang melanggar hukum, asal mereka bisa memberinya

bahan tidak menyenangkan tentang kita dan Hagrid.”

Hermione mengambil kembali stoples kaca itu dari Ron

dan tersenyum kepada si kumbang, yang berdengung

marah menempel di kaca.

"Kukatakan padanya, aku akan melepasnya setelah

kita tiba di London,” kata Hermione. "Aku sudah menyihir

890

stoples ini dengan Mantra Antipecah, jadi dia tak bisa

bertransformasi. Dan sudah kukatakan kepadanya dia

harus menyimpan pena bulunya untuk dirinya sendiri

selama setahun penuh. Kita lihat apakah dia bisa

menghentikan kebiasaannya menulis kebohongan

mengerikan tentang orang-orang.”

Tersenyum cerah, Hermione memasukkan kembali

stoples kumbang itu ke dalam orang-orang.”

Pintu kompartemen menggeser terbuka.

"Pintar sekali, Granger,” kata Draco Malfoy.

Crabbe dan Goyle berdiri di belakangnya. Ketiganya

tampak lebih berpuas diri, lebih sombong, dan lebih

mengancam daripada yang pernah Harry lihat.

"Jadi,” kata Malfoy lambat-lambat, maju sedikit ke

dalam kompartemen dan perlahan memandang mereka

bertiga, seringai menghiasi bibirnya. "Kau menangkap

reporter yang malang, dan Potter jadi favorit Dumbledore

lagi. Hebat.”

Seringainya makin lebar. Crabbe dan Goyle mengerling

jahat.

"Berusaha tidak memikirkannya, rupanya?” kata

Malfoy, memandang mereka bertiga. "Berusaha berpurapura

itu tidak terjadi?”

"Keluar,” kata Harry.

Belum pernah dia berada sedekat ini dengan Malfoy

sejak dia melihat Malfoy berbisik-bisik kepada Crabbed

an Goyle ketika Dumbledore sedang berpidato tentang

891

Cedric. Telinganya serasa berdering. Tangannya

mencengkeram tongkat sihirnya di balik jubah.

"Kau telah memilih pihak yang kalah, Potter! Sudah

kuperingatkan kau! Kuberitahu kau bahwa kau harus

lebih berhati-hati memilih teman, ingat? Waktu kita

bertemu di kereta api, hari pertama di Hogwarts? Sudah

kukatakan jangan bergaul dengan kaum hina dina

macam ini!” Dia mengedikkan kepala kepada Ron dan

Hermione. "Sudah terlambat sekarang, Potter! Mereka

yang akan pergi lebih dulu, sekarang setelah Pangeran

Kegelapan kembali! Darah Lumpur dan pencinta Muggle

yang paling dulu! Yah… nomor dua… karena Diggory

yang per…”

Seakan ada yang meledakkan sekotak petasan di

kompartemen. Dibutakan oleh silaunya kilatan mantra

yang meluncur dari segala jurusan, tuli oleh rentetan

ledakan, Harry mengejap dan memandang ke lantai.

Malfoy, Crabbed an Goyle bergeletakan pingsan di

pintu. Dia, Ron da Hermione berdiri, ketiganya telah

menggunakan mantra berbeda. Lagipula bukan hanya

mereka bertiga yang menyerang.

"Kami ingin tahu mau apa mereka,” kata Fred tanpa

berbelit-belit, menginjak Goyle dan masuk ke

kompartemen. Tongkat sihirnya di tangan. Begitu juga

George, yang berhati-hati agar menginjak Malfoy saat

masuk mengikuti Fred.

"Efek yang menarik,” kata George, menunduk

memandang Crabbe. "Siapa yang menggunakan mantra

Furnunculus?”

"Aku,” kata Harry.

892

"Aneh,” kata George ringan. "Aku memakai kaki jeli.

Kelihatannya dua mantra itu tak boleh digabung. Seluruh

wajahnya jadi ditumbuhi tentakel kecil-kecil begitu. Yuk,

kita singkirkan dari sini, bikin dekor jadi jelek saja.”

Ron, Harry dan George menendang, menggelinding,

dan mendorong Malfoy, Crabbe dan Goyle yang pingsan

– masing-masing tampak parah akibat campuran mantra

sihir yang mengenai mereka – ke koridor, kemudian

kembali ke kompartemen dan menutup pintunya.

"Ada yang mau main kartu?” Tanya Fred,

mengeluarkan sekotak kartu.

Mereka sudah separo jalan memainkan ronde kelima

ketika Harry memutuskan untuk menanyai mereka.

"Kalian mau memberitahu kami?” katanya kepada

George. "Siapa yang kalian peras?”

"Oh,” kata George suram. "Itu.”

"Tidak usah,” kata Fred, menggeleng tak sabar. "Tidak

penting kok. Sekarang, paling tidak.”

"Kami sudah menyerah,” kata George, mengangkat

bahu.

Tetapi Harry, Ron dan Hermione terus saja bertanya,

dan akhirnya Fred berkata, "Baiklah, baiklah, kalau kalian

memang ingin tahu… Ludo Bagman.”

"Bagman?” kata Harry tajam. "Apakah maksudmu dia

terlibat dalam…”

"Tidak,” kata George muram. "Bukan hal macam itu.

Dia tolol. Otaknya tak cukup cerdas.”

"Kalau begitu, apa?” Tanya Ron.

893

Fred ragu-ragu, kemudian berkata, "Kalian ingat kami

taruhan dengannya waktu Piala Dunia Quidditch? Bahwa

Irlandia akan menang, tetapi Krum akan menangkap

Snitch?”

"Yeah,” kata Harry dan Ron lambat-lambat.

"Nah, si tolol itu membayar kami dengan emas

Leprechaun yang dikumpulkannya dari mascot-maskot

Irlandia.”

"Jadi?”

"Jadi,” kata Fred tak sabar, "emas itu lenyap, kan?

Paginya, sudah lenyap semua?”

"Tapi… itu pasti tak disengaja, kan?” kata Hermione.

George tertawa sangat getir.

"Yeah, mulanya kami pikir begitu. Kami piker, kalau

kami menulis kepadanya, dan memberitahukan

kekeliruannya, dia akan membayar ulang. Tetapi ternyata

tidak. Dia tidak mengacuhkan surat kami. Kami terus

berusaha bicara kepadanya soal itu di Hogwarts, tetapi

dia selalu mencari alasan untuk menghindari kami.”

"Pada akhirnya dia jadi menyebalkan,” kata Fred. "Dia

bilang kami terlalu muda untuk berjudi, dan dia tak mau

memberi apa-apa kepada kami.”

"Maka kami meminta kembali uang kami,” kata George

berang.

"Dia menolak!” kata Hermione kaget.

"Tepat sekali,” kata Fred.

"Tapi itu seluruh tabungan kalian,” kata Ron.

894

"Itulah,” kata George. "Tentu saja kami akhirnya tahu

apa yang terjadi. Ayah Lee Jordan juga kesulitan

mendapatkan uang dari Bagman. Rupanya dia dalam

kesulitan besar dengan para goblin. Meminjam banyak

uang emas dari mereka. Serombongan goblin

menyudutkannya di hutan seusai Piala Dunia dan

mengambil semua uang emas yang dibawanya, dan

masih saja itu tidak cukup untuk menutup semua

utangnya. Mereka mengikutinya sampai ke Hogwarts

untuk mengawasinya. Dia telah kehilangan semua

uangnya karena berjudi. Sepeser pun dia tak punya. Dan

tahukah kalian bagaimana si idiot itu mencoba membayat

utangnya pada para goblin?”

"Bagaimana?” Tanya Harry.

"Dia bertaruh soal kau, sobat,” kata Fred. "Taruhan

besar bahwa kau akan memenangkan turnamen.

Bertaruh dengan para goblin.”

"Jadi, itulah sebabnya dia berusaha terus membantuku

agar menang!” kata Harry. "Nah… aku memang menang

kan? Jadi dia bisa membayar kembali uang emas kalian!”

"Tidak,” kata George, menggeleng. "Para goblin

bermain sama kotornya dengannya. Mereka mengatakan

kau seri dengan Diggory, dan taruhan Bagman adalah

kau menang total. Jadi Bagman terpaksa harus kabur.

Dia memang langsung kabur seusai tugas ketiga.”

George menghela napas dalam-dalam dan mulai

mengocok katu lagi.

Sisa perjalanan berlangsung cukup menyenangkan.

Malah Harry berharap perjalanan itu bisa berlangsung

sepanjang musim panas, dan dia tak usah tida di King’s

895

Cross… tetapi seperti telah dipelajarinya dengan cara tak

enak tahun itu, waktu tidak akan melambat jika ada

sesuatu yang tak menyenangkan di depan, dan segera

saja Hogwarts Express telah memasuki peron sembilan

tiga perempat. Kesemrawutan dan kebisingan yang biasa

memenuhi koridor-koridor ketika anak-anak mulai turun.

Ron dan Hermione susah payah melewati Malfoy, Crabbe

dan Goyle, membawa koper mereka. Tetapi Harry tinggal

di belakang.

"Fred… George… tunggu sebentar.”

Si kembar berbalik. Harry membuka kopernya dan

mengeluarkan hadiah Triwizard-nya.

"Ambillah,” katanya, dan diulurkannya kantong itu ke

tangan George.

"Apa?” kata Fred, tenganga keheranan.

"Ambillah,” Harry mengulang dengan tegas. "Aku tak

mau uang ini.”

"Kau gila,” kata George, berusaha mendorongnya

kembali ke Harry.

"Tidak, aku tidak gila,” kata Harry. "Kalian ambillah,

dan mulailah berinvestasi. Ini untuk toko lelucon.”

"Dia gila,” kata Fred dengan suara takjub.

"Dengar,” kata Harry tegas. "Kalau kalian tidak mau

mengambilnya, akan kubuang. Aku tidak

menginginkannya dan aku tidak membutuhkannya.

Tetapi aku perlu tertawa. Kita semua perlu tertawa.

Kurasa kita akan memerlukan tertawa lebih banyak

daripada biasanya tak lama lagi.”

896

"Harry,” kata George lemah, menimbang-nimbang

kantong uang di tangannya, "ada seribu Galleon di dalam

kantong ini.”

"Yeah,” kata Harry, nyengir. "Bayangkan, berapa

banyak Krim Kenari tuh.”

Si kembar menatapnya.

"Hanya saja jangan beritahu ibu kalian darimana

kalian mendapatkannya… meskipun sekarang dia

mungkin tak lagi ingin kalian bekerja di kementerian,

kalau dipikir-pikir…”

"Harry,” Fred baru mulai, Harry sudah mencabut

tongkat sihirnya.

"Dengar,” kata datar, "ambil, kalau tidak kusihir kau.

Aku sudah menguasai beberapa sihir bagus sekarang.

Aku Cuma minta tolong satu hal, oke? Belikan Ron

beberapa jubah pesta, dan katakana itu dari kalian.”

Harry meninggalkan kompartemen sebelum mereka

bisa mengatakan sepatah kata pun lagi, melangkahi

Malfoy, Crabbed an Goyle yang masih tergeletak di

lantai, tubuh mereka penuh berbagai tanda kena sihir.

Paman Vernon sudah menunggu di balik palang

rintangan. Mrs. Weasley berada di dekatnya. Dia

memeluk Harry sangat erat ketika melihatnya, dan

berbisik di telinganya, "Kurasa Dumbledore akan

mengizinkan kau datang ke rumah kami menjelang akhir

musim panas, Harry. Tulislah surat, Harry.”

"Sampai ketemu, Harry,” kata Ron, menepuk

punggungnya.

897

"Bye, Harry!” kata Hermione, dan dia melakukan

sesuatu yang belum pernah dilakukannya – mengecup

pipi Harry.

"Harry… terima kasih,” George bergumam, sementara

Fred mengangguk bersemangat di sebelahnya.

Harry mengedip kepada mereka, berbalik mengikuti

Paman Vernon dan mengikutinya tanpa bicara keluar

stasiun. Tak ada gunanya cemas sekarang, katanya pada

diri sendiri, ketika dia masuk ke tempat duduk belakang

mobil keluarga Dursley.

Seperti kata Hagrid, apa yang akan terjadi, pasti

terjadi… dan dia harus menghadapinya.

TAMAT

0 Response to "Harry Potter And The Goblet Of Fire 4"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified