Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Emak

Daoed Yoesoef


Bab 1. EMAK, BAPAK, DAN KAMI

Kami, anak-anak emak, memandangnya sebagai jiwa
rumah tangga. Kami tak berani membayangkan
bagaimana jadinya hidup tanpa emak, walaupun dia
sendiri sering mengatakan bahwa bapaklah yang
membanting tulang menjadi pencari nafkah utama bagi
seluruh keluarga.
Bagi kami sakit bukan merupakan hal yang ditakuti
berkat keberadaan emak. Hal itu bahkan menjadi
peristiwa yang menggembirakan karena anak yang sakit
boleh tidur bersama emak, dikdoni. Walaupun dalam
keadaan sehat kami masing-masing sudah cukup
mendapatkan kasih sayangnya, selama terbaring di dekat
emak sewaktu sakit itulah kami benar-benar menikmati
kehangatan belaian jiwa emak. Bila penyakit yang
diderita si sakit tidak terlalu menular atau yang sakit
sudah menjelang sembuh, semua anak diajak emak tidur
bersamanya. Bapak lalu pindah tidur di ruang tengah.
Sambil menyuapi kami satu per satu, emak menceritakan
beberapa hikayat, dongeng atau riwayat berbagai nabi
dan rasul. Setelah selesai makan adakalanya emak
memetik kecapi sambil melantunkan aneka senandung.
Kalau sudah begitu bapak biasanya datang bergabung,
duduk di seberang emak, sambil sesekali memperbaiki
letak selimut kami.
Kalau anak yang sakit boleh tidur dekat emak, anak
termuda, si bungsu, ditempatkan langsung di sebelah
kirinya bila sedang makan bersama. Dengan demikian
emak kalau perlu mudah menyuapinya. Makan bersama
ini pada umumnya teijadi di malam hari, sesudah
sembahyang isya, karena di pagi dan siang hari setiap
orang punya jadwalnya sendiri sesuai dengan

kesibukannya masing-masing. Kami makan di ruang
tengah, duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar
pandan, membentuk semacam lingkaran yang
mengelilingi makanan. Di lingkaran ini bapak berada di
sebelah kanan emak dan di samping bapak duduk anak
tertua. Kak Nani. Setelah Kak Nani kawin, tempatnya ini
digantikan oleh kakak kedua, Kak Mami. Lalu duduklah
kakak ketiga, Kak Ani dan kemudian aku, yang dengan
sendirinya berada langsung di dekat emak. Setelah adik
Soelaiman lahir, tempatku ini, sesuai dengan kebiasaan,
diambil alih olehnya karena dialah yang kini merupakan si
bungsu.
Biasanya makan malam ini diawali dengan ucapan
“bismillahir roh man nir rohim” yang meluncur secara
bersamaan dari mulut emak dan bapak. Lalu hampir
bersamaan pula emak menyendokkan nasi ke piring
bapak dan bapak meletakkan di piring emak ikan
terbesar yang ada dalam hidangan. Kemudian bapak
mengisi piring anak-anak dengan nasi, dimulai dari piring
kakak tertua yang duduk di sebelahnya dan berakhir di
piring si bungsu. Sementara itu emak sibuk mencuil-cuil
ikan yang tadi diletakkan bapak di piringnya dan
membagi-bagi cuilan itu ke piring anak-anak, dimulai dari
piring anak terkecil dan berakhir di piring bapak.
Biasanya ada tersisa daging ikan yang sama di piring
emak. Sesudah “upacara” awal ini kami bebas mengambil
sendiri lauk-pauk yang sesuai dengan pilihan selera kami
masing-masing. Perbuatan emak dan bapak yang
mengawali keceriaan makan malam keluarga ini menjadi
kenangan abadi dalam hidupku. Meskipun “upacara” itu
terjadi setiap malam, ia tetap kutunggu dan tetap
mengesankan.

Hal lain lagi yang sangat mengokohkan nilai-niiai
kekeluargaan yang permanen di hatiku adalah kebiasaan
emak dan bapak duduk-duduk di serambi depan setelah
usai makan malam. Kalau orang lain biasanya di jam-jam
begini pada pergi bersilaturahmi ke rumah tetangga atau
kenalan. Maka itu kadang-kadang ada saja tamu yang
datang ke rumah untuk sekadar mengobrol hingga larut
malam. Bila sedang tidak ada tamu dan kakak-kakakku di
saat yang sama sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah
yang diharuskan oleh sekolah di kamar mereka hingga
tak ada lagi temanku bercanda, aku sering berpura-pura
mencari sesuatu ke serambi depan. Emak mungkin
mengetahui bahwa aku sedang kesepian dan cepat
memanggilku untuk mendekat. Lalu kalau tidak duduk di
pangkuan emak biasanya aku duduk di pangkuan bapak.
Emak menanyakan apa-apa yang kulakukan tadi siang,
siapa-siapa yang menjadi teman bermain atau ingin
menjadi apa kalau sudah besar kelak. Kalau bapak pada
umumnya diam saja, hanya tangannya yang sesekali
membelai-belai rambutku. Melihat perbuatan bapak ini,
emak seringkah berkomentar bahwa rambutku hitam dan
lebat seperti rambut bapak. Dan pada suatu malam emak
pernah melanjutkan komentarnya itu dengan
mengatakan bahwa rambutku sudah agak panjang,
sudah waktunya untuk dicukur kembali. Kurasa ucapan
emak ini sebenarnya lebih banyak ditujukan kepada
bapak.
Bapak memang bisa menangkap kehendak emak ini.
Maka keesokan harinya dia menuntunku pergi ke rumah
penghulu kampung karena dialah, Uak Haji Mohammad
Noer, yang biasanya mencukur rambutku dua bulan
sekali. Hal ini memang merupakan suatu keistimewaan,

kalaupun bukan suatu kehormatan, mengingat tak ada
anak selain aku yang rambutnya dicukur oleh Uak Haji.
Dia dan warga kampung kiranya menaruh respek atas
budi pekerti bapak. Bapak tidak banyak bicara dan tidak
pernah berusaha mencari simpati banyak orang dengan
rangkaian kata-kata yang muluk-muluk. Namun dia bisa
dipercaya, ucapannya dapat dipegang dan tak pernah
mungkir akan janjinya. Tambahan lagi, orang-orang
sekampung percaya bahwa dia mempunyai ilmu
persilatan. Bapak tidak pernah menceritakan
kemampuannya tersebut kepada anak-anaknya. Para
tetanggalah yang membisikkannya ke telingaku.
Bahkan penghulu sendiri pemah bercerita, sambil
mencukur rambutku, betapa bapak dapat merobohkan
lawan-lawannya dari jarak jauh tanpa saling
bersinggungan. Hal itu terjadi ketika dia dan bapak
pulang dari perkampungan orang-orang Karo sehabis
membeli seekor kerbau. Hewan ini akan disembelih dan
dagingnya digulai untuk santapan orang sekampung
menjelang masuk bulan suci Ramadhan. Hari sudah larut
senja, jalan sangat sepi, sudah tak ada lagi bis dan truk
yang lalu lalang dari dan ke Berastagi. Tiba-tiba
berlompatan dari hutan di kanan-kiri jalan empat orang
bersenjatakan parang terhunus menghadang kereta
lembu mereka. Bapak melompat, menurut Uak Haji,
bagai kilat dari kereta dan langsung menggerakkan
kedua tangannya bagai menepis serangan. Keempat
penyamun tersebut itu terpelanting. Ada yang badannya
sampai membentur batang pohon dan memantul ke
tanah bagai bola. Ada yang terjerembab dan tak berkutik
lagi. Ada yang bisa bangkit namun berjalan terhuyunghuyung
sambil meraba-raba laksana orang buta. Yang

seorang lagi sempat lari tunggang-langgang masuk ke
hutan. Orang ini sengaja tidak dicederai oleh bapak agar
bisa menasihati dan menyadarkan para penyamun
lainnya.
Karena takut bertanya langsung kepada bapak, aku
memberanikan diri untuk menanyakannya kepada emak.
“Ah… ya… ya, Bapakmu dahulu banyak bepergian ke
kampung dan negeri lain,” kata emak dengan nada
biasa-biasa saja. “Mungkin di salah satu peijalanan itu dia
berhasil membela diri dengan merobohkan lawannya.”
“Bapak berhasil berkat keampuhan tenaga dalamnya,
bukan?” tukasku.
“Itu kan dugaan orang belaka. Orang cenderung
membesar-besarkan sesuatu yang tidak dimiliki dan ingin
sekait memilikinya.”
“Tapi Mak, Uak Penghulu sendiri yang bercerita
kepada saya,” kataku bersikeras. “Uak Haji Mohammad
Noer, Mak”
Emak termenung sejenak bagai hendak mengingat
sesuatu. Tangannya menarik tanganku supaya lebih
mendekat Kemudian sambil menatapku dengan sinar
matanya yang lembut berkata, “Ya, cerita tentang
pembegalan di daerah Titi Rantai itu, bukan?” Aku
mengangguk.
“Begini kejadian yang sebenarnya,” emak mencubit
sayang pipiku berkali-kali; tak terasa sakit, malah getaran
kasih sayangnya menjalar ke seluruh tubuhku. “Menurut
pengakuan Bapakmu, Tuhanlah yang ketika itu
melindungi dia dan Uak Haji. Tuhan selalu berpihak
kepada yang benar.” Aku diam saja.

“Nanti kalau kau sudah dewasa,” kata emak
selanjutnya, “kau harus selalu mohon ridho Allah bila
hendak ber-buat sesuatu, lebih-lebih kalau perbuatan itu
akan melibatkan nasib orang-orang lain, teman atau
lawan.” Aku tetap bungkam dalam pelukannya.
“Ya, nak, Allah selalu melindungi yang tidak bersalah,
senantiasa berpihak pada yang benar. Namun kita sendiri
harus berusaha, menyiapkan diri untuk mampu
menghadapi segala kemungkinan, tidak gampang
menyerah begitu saja.”
Kemampuan lain dari bapak yang menakjubkan
banyak orang adalah menemukan kandungan air di
dalam tanah. Bapak sering diminta bantuannya untuk
menetapkan tempat penggalian sumur dan permintaan
ini datang juga dari kampung-kampung lain di luar kota
Medan. Dia sendiri tidak melakukan penggalian itu,
hanya menetapkan tempat penggalian dan kemudian
mengawasinya sampai selesai, yaitu sampai sumur itu
berair. Aku pemah diajak melihat dia memimpin
penggalian sumur di salah satu kampung di kota Tebing
Tinggi. Dia bersedia membantu penggalian dengan
syarat berupa keharusan si pemilik sumur untuk memberi
bantuan air kepada orang-orang yang memerlukan akibat
musim kemarau yang berkepanjangan. Dia bahkan tidak
meminta bayaran apa-apa untuk jasanya kepada orangorang
sekampung atau bila sumur yang digalinya itu
dimaksudkan sebagai sumur bersama bagi seluruh
kampung.
Menurut cerita ada orang yang kemudian melanggar
janji dan karena itu sumur pribadinya tiba-tiba mengering
begitu saja. Orang ini datang menyembah-nyembah
bapak memohon pengampunan. Bapak katanya hanya

menjawab agar orang tersebut meminta maaf kepada
alam yang mengandung air tersebut Sumur orang ini
tidak pemah berair lagi kecuali di musim hujan, itu pun
berwarna keruh dan berbau anyir.
Keahlian lain lagi dari bapak adalah dalam membuat
mebel. Benda-benda dari kayu ini, selain untuk keperluan
sendiri, baru dibuatnya atas pesanan. Kerja sehari-hari
bapak adalah menjalankan perusahaan susu lembu yang
dimilikinya, termasuk mengurus lembu-lembu perahan
yang dikandangkan tersendiri jauh terpisah dari rumah.
Demi kelancaran usahanya ini bapak menggaji seorang
Keling bernama Bager sementara anak gadisnya, si
Amisha, bekerja membantu emak di rumah. Kemudian
bapak berladang bersama-sama emak dan mereka
berdua kadang-kadang ke hutan berduaan untuk mencari
kayu bakar atau ramban apa saja yang diperlukan.
Kami, anak-anak, tak tahu persis bagaimana dahulu
emak sampai beijodoh dengan bapak. Emak adalah
seorang yang ramah, murah senyum, lemah lembut,
cekatan, me-nyeni dan berkemauan keras, berani
melawan arus. Dia berparas elok, berbadan tinggi
semampai, berambut ikal dan panjang, berkulit bersih.
Kalau hendak pergi dengan bapak menghadiri perhelatan
perkawinan, emak biasanya makan sirih lebih dahulu
hingga kalau dia tersenyum bibirnya kelihatan, bak kata
pepatah, bagai delima merekah. Keelokan wajah dan
kebersihan kulit emak diperoleh berkat kata Makcik Lela,
sewaktu muda dahulu dia rajin membasuh tubuhnya,
terutama di bagian wajah, dengan susu segar.
Belakangan ini dia kelihatannya sudah semakin
mengurangi perawatan tubuh seperti itu. Kalau keija di
ladang sudah jauh berkurang, biasanya sesudah dipanen,

dia masih meminta si Amisha menyediakan sebaskom
susu segar di kamar mandi. Tidak jarang dia berada di
situ membasuh tubuhnya selama kira-kira setengah hari
penuh.
Kalau bapak berbadan atletis dan ayunan langkahnya
terkesan ringan, bagai tak menyentuh tanah bila beijalan,
nyaris tak bersuara. Orangnya pendiam dengan sorot
mata yang tajam, rajin bekerja, jarang tersenyum apalagi
tertawa terbahak-bahak. Bapak di masa remajanya sudah
banyak mengembara, karena sudah sebatang kara sejak
kecil, ke beberapa penjuru Tanah Air dan ke Malaya. Di
negeri ini dia pernah tinggal di Penang dan Klang,
menetap agak lama di Johor mengurus peternakan
Sultan.
Melalui sikap masing-masing sehari-hari emak dan
bapak kelihatannya sangat berusaha saling melengkapi,
begitu rukun dan cocok bagai ruas bertemu buku.
Mereka tidak pernah menyembunyikan rasa hormat dan
kasih sayang mereka terhadap satu sama lain, baik di
dalam maupun di luar rumah. Yang kami ketahui dengan
pasti, karena memang benar-benar terasa, adalah usaha
mereka untuk memberikan kami rasa tenteram dan
kepastian, bebas dan rasa khawatir dan waswas
terhadap keadaan yang tak menentu.
Masih kuingat satu kejadian pada suatu malam hujan
lebat yang berangin badai. Allah, alangkah kencangnya
angin itu. Rumah sampai bergoyang, tiang-tiangnya berderak-
derik. Kadang-kadang atapnya menggelepar
seperti akan tercabik-cabik bertebaran. Di luar malam
hitam pekat, dahan-dahan pohon menggemuruh
berbenturan. Kami semua ketakutan dan menjadi
gelisah. Emak rupanya melihat hal ini. Sehabis makan

kami tak diharuskan membasuh piring mangkuk yang
kotor, cukup dikembalikan ke dapur saja. Digelarnya tikar
pandan halus di ruang tengah tempat bapak biasa
sembahyang dan berdoa. Bapak dimintanya mengaji dan
kami semua disuruhnya tidur berdesakan di dekat bapak.
Dengan penuh kasih sayang kami diselimut-kannya
berlapis-lapis. Di luar hujan semakin deras, angin kian
menderu, guruh dan petir sambar-menyambar, alam
bagai mengamuk. Tiba-tiba kami dengar bunyi, “Krak …
‘krak … buuummm…” Kami tersentak, lalu duduk sambil
saling berpandangan. Bapak menghentikan pengajiannya
sejenak.
Tentu ada pohon yang tumbang,” katanya. “Tapi tak
apa-apa …jauh dari sini …jauh dari perumahan
penduduk.”
Bapak meminta kami tidur kembali dan setelah
menepuk-nepuk tubuh kami satu per satu, dia
melanjutkan bacaan Kitab Sucinya. Kami merasa aman
kembali, hangat dan tenteram, begitu mendengar alunan
suara bapak membaca Al Qurart dan melihat emak duduk
di sampingnya dengan wajah yang tenang, amat anggun.
Kami tertidur nyenyak sekali dan keesokan harinya kami
bangun seperti biasa, lupa kejadian yang menakutkan
kemarin malam. Ternyata memang ada sepohon kayu
yang tumbang di ujung kampung. Batangnya melintang
di jalan raya yang memisahkan kampung dengan hutan.
Aku berkakak tiga orang, yang tertua bernama Nani.
Seingatku wajah dan penampilannya mirip sekali dengan
emak, kata orang, bagai pinang dibelah dua. Kalau
mereka berada berdekatan orang bisa saja menganggap
mereka sebagai kakak beradik. Emak dan bapak biasa
saling memanggil dengan menyebut suku kedua dari

nama kakak tertua ini. “Nik, kayu bakar tinggal sedikit,”
kata emak, misalnya, kepada bapak untuk mengingatkan
supaya dia ke hutan mencari kayu. “Nik, kalau ke kedai
tolong belikan saya kacang asin,” kata bapak pada emak,
misalnya, agar dibelikan jajan kegemarannya tersebut
Karena kecantikannya, para perempuan sekampung
menyebut Kak Nani “si Molek”. Tidak sedikit pemuda
yang jatuh hati kepada kakak tertua ini, di antaranya,
seorang pemuda bangsawan. Emak menolak lamaran
keluarga bangsawan ini. “Bagaimana mungkin saya nanti
harus menyembah pada menantu, pada kedua orang
tuanya dan kelak pada cucu saya,” kata emak. Tang
harus kita sembah hanyalah Tuhan.” Aku masih kecil
ketika Kak Nani kawin dengan pemuda pilihannya sendiri
dan lalu diboyong suaminya tinggal di rumah mereka
sendiri.
Kakakku yang kedua adalah Soemarni dan yang
ketiga, langsung di atas aku, bernama Mari ani. Lain
halnya dengan Kak Nani, Kak Mami dan Kak Ani
merupakan teman-temanku bermain sehari-hari. Mereka
sangat memanjakan aku, bahkan cenderung menjadikan
aku sebagai boneka hidup. Perlakuan ini adakalanya
menjengkelkan. Karena mereka bisa menjahit dan
menyulam, mereka seringkali membuatkan aku celana
monyet baru dengan saku bersulam, yang kadangkadang
menjadi bahan gunjingan di kalangan temanteman
seumur sepermainan. Padahal aku ingin selalu
tampil biasa-biasa saja, sama dengan anak-anak
kampung tersebut
“Biarkan saja anak-anak itu berolok-olok,” kata kakakkakakku
itu. “Mereka berbuat begitu karena sebenarnya

iri hati. Mereka tak mempunyai kakak yang becus
menjahit dan menyulam.”
Kakak-kakakku kerapkali membelikan songkok baru
dari uang tabungan mereka sendiri, hasil penjualan
bunga dan sayur yang mereka tanam di halaman. Maka
bertumpuklah di kamarku songkok-songkok beludru
berbagai warna: hitam, bini tua, bini muda, hijau, coklat
dan, yang paling tak kusenangi karena sangat mencolok,
kuning, oranye serta merah. Ada yang polos dan ada
pula yang bertempelkan kain berbordir fantastis. Mereka
pemah pula menghadiahkan topi tarbus atau “kopiah
turki” kepadaku, berwarna merah ati ayam dan berkuncir
bagai buntut kuda. Aku tak pemah mau memakai topi
tarbus ini di luar rumah karena kuanggap lucu, bagai topi
badut Topi ini menjadi populer berkat penampilan
penyanyi Abdoul Wahab yang berduet dengan penyanyi
Oum Kalsoum dalam film Mesir yang sangat digemari
publik di daerahku. Biasanya songkok dan topi yang
betul-betul tak pemah kusentuh atau mereka anggap
sudah tidak lagi ala mode dan baju serta celana
monyetku yang lama tetapi masih layak pakai, mereka
bawa ke rumah-rumah penampungan anak-anak yatim
piatu, begitu pula dengan kain dan baju mereka sendiri.
Satu waktu datang dari Betawi rombongan Tonil Dardanella.
Pada salah satu pementasan cerita yang mereka
bawakan dan kami tonton beijudul Sinjo Kemajoran.
Sinjo ini diumpamakan seorang Indo bernama Leo Ten
Brink. Dari awal hingga akhir pementasan, tokoh sentral
ini memakai sebuah baret di kepalanya. Karena
bentuknya yang bundar pipih miring ke bawah dengan
sebuah buntut pendek kecil di tengah-tengahnya, topi ini
dianggap umum sebagai pencerminan krisis ekonomi

yang sedang berlaku, jadi “topi meleset” dari “zaman
melesett Maka baret ini cepat menjadi topinya anak-anak
muda kota ketika itu. Dan kakak-kakakku tak mau
ketinggalan membelikan satu untuk aku. Kalau yang ini
senang aku memakainya.
“Ah, tak di emaklah topi seperti itu,” kata emak
mencibir. “Apa-apaan meniru laki-laki Indo Kemajoran
seperti itu. Orangnya banyak omong, hilir mudik tak
menentu.”
“Bukan orangnya Mak yang kami tiru, tapi topinya
yang memang kocak.” Kak Mami membela pilihannya.
“Kata orang topi seperti ini biasa dipakai oleh laki-laki
dan perempuan di Paris. Coba Mak lihat!” Lalu kedua
kakakku bergantian memperagakan pemakaian baret
Harus kuakui bahwa mereka kelihatan manis sekali
dengan baret miring di atas rambut hitam lebat yang
dikepang dua, menggelantung ke bawah mengapit leher
yang jenjang. “Nah sekarang giliran emak memakainya,”
ajak Kak Mami. “Ayolah Mak, mari dicoba. Ecek-eceknya
kita berada di kota Paris.”
“Mak, ini bukan ecek-ecek lagi,” sambung Kak Ani.
“Sekarang ini kita sudah berada di Paris. ‘Kan Medan
sudah disebut-sebut sebagai Parijs van Sumatra. Ayo
Mak, cobalah baret ini.”
Emak bangkit dari tempat duduknya dan segera
memakai baret di kepalanya. Rambutnya yang juga
mengikal mayang dibiarkannya tergerai sampai ke
pinggangnya. Dia lalu melenggang-lenggok seperti yang
tadi diperagakan oleh kedua kakakku. Kami bertepuk
tangan kegirangan melihat hal ini. Emak kelihatan tak
kalah manis daripada kakak, apalagi kalau dia betul-betul

bersolek. Ketika tiba giliranku memakai baret, bapak
muncul di ambang pintu.
“Ada apa sorak-sorai gemuruh ini,” tanyanya ingin
tahu.
“Lihat Pak, si Daoed saya belikan topi baru,” kata Kak
Mami. “Namanya baret”
“Oh, seperti yang dipakai oleh pemain tonil itu,”
komentar bapak. “Nanti bolehlah bapak pinjam untuk
dipakai ke kandang lembu.”
“Ah, sampai hati Bapak bilang begitu,” protes Kak
Mami seperti merajuk. Padahal dia tahu ucapan bapak
tadi hanya untuk main-main saja. “Ini bukan topi
sembarangan Pak! Masak mau dipakai ke kandang.”
“Sudahlah. Ini bapak ganti uangmu ala kadarnya,”
kata bapak sambil menyerahkan tiga talen kepada kakak.
“Biarkan si Daoed memakai baret itu. Pantas dan gagah
kelihatannya.”
“Anak siapa dulu?!” kata emak menggoda bapak.
“Bin Mohammad Joesoef” Bagai dalam paduan suara
kakak-kakak dan aku bersuara serentak.
Bapak tersenyum belaka dan pergi meninggalkan kami
Setelah bapak menghilang, dengan baret tetap
bertengger di kepala, aku ajak kedua kakakku berdialog
dengan logat Betawi meniru apa yang dipentaskan oleh
Tonil Dardanella. Logat ini kedengarannya lucu. Emak
bisa tergelak-gelak mendengar ucapan-ucapan ala Betawi
kami. Kalau semua orang di Betawi berbicara dengan
logat seperti ini, pikirku di dalam hati, alangkah kocaknya
kehidupan di Ibu Kota Hindia Belanda ini

Setelah adikku lahir, aku agak terbebas dari perhatian
kedua kakakku. Kini si bungsu inilah yang menjadi bulanbulanan
kasih sayang mereka. Aku pun ikut-ikut
memanjakannya. Bentuk badannya memang
menggemaskan, berwajah bundar, berkulit bersih, murah
senyum dan tidak cengeng. Kami semua bisa merasakan
dan membenarkan kalau emak sangat menyayangi Dik
Soelaiman. Bukan karena dia merupakan anak bungsu,
tetapi terutama karena dia lahir di saat keadaan ekonomi
keluarga kami sedang menurun mengikuti kemelesetan
keadaan ekonomi daerah Deli. Walaupun keadaan
sandang pangan kami tetap berjalan seperti biasa, tetapi
emak tahu betul bahwa Dik Soelaiman tidak akan
mengalami layanan seorang pembantu rumah seperti
yang dahulu pernah kami rasakan, tidak akan melihat
lembu-lembu sendiri di kandangnya karena telah terjual.
Aku sendiri dapat juga membayangkan kalau adikku ini
tidak akan bisa merasakan betapa nikmatnya duduk di
punggung lembu jantan, seperti yang berkali-kali aku
alami, ketika menggiring semua lembu bapak ke sungai
untuk dimandikan.
Kalau hujan kebetulan tidak berbareng dengan angin
keras dan halilintar, emak sesekali membolehkan kami
berhujan-hujan di halaman. Begitu kami lari
berhamburan ke luar rumah, emak masuk ke dapur
menanak nasi dan memasak air panas guna
menghangatkan air mandi kami nanti. Biasanya emak
menyiapkan makanan cepat, seperti kuluban lengkap
dengan iris-irisan telur rebus serta teri, kerupuk dan
emping, di samping gorengan ikan jambal. Emak
menempatkan nasi hangat di dalam sebuah baskom
besar dan di atas nasi ini, dengan beralaskan daun

pisang, ditempatkannya kuluban yang serba lengkap tadi.
Bila dianggapnya kami sudah cukup lama berbasah
kuyup, dia menyetop kami berhujan-hujan dan menyuruh
kami mandi dengan air hangat yang sudah disiapkannya.
Setelah berpakaian kami duduk mengitari baskom
makanan dan mulailah kami “makan kongsi”, yaitu
makan bersama dari baskom yang satu ini, yang
memang selalu kami tunggu-tunggu karena cara makan
begini betul-betul meriah. Sesudah perut kenyang, emak
menyuruh kami tidur beramai-ramai di bawah selimut
yang hangat di ruang tengah. Emak menunggui kami
sampai semua tertidur nyenyak sambil memetik kecapi
atau memainkan harmonium. Lagu yang
didendangkannya kian lama kian sayup kami dengar di
sela-sela desir angin dan bunyi rintikan hujan. Kami tidak
memimpikan peri, bidadari atau dewi. Buat apa semua
itu karena kami sudah memiliki emak, yang kasih
sayangnya memang kami rasakan di saat melek, di saat
tidur, di saat sakit di saat sehat kapan saja, sepanjang
waktu.

Bab 2
EMAK DAN PAMAN
Paman Soelaiman, yang biasa kami panggil Pakcik
Leman, sekali-kali bertandang ke rumah. Walaupun
masih sama-sama sekampung, tempat kediamannya
terpisah jauh dari rumah kami. Kadang-kadang dia
datang bersama istrinya, Makcik Zoebaidah. Kalau paman
bepergian ke luar kota, bibi menginap di rumah kami

atau, adakalanya, aku menemani dia di kediamannya
sampai paman kembali. Karena mereka sendiri tidak
punya anak kamilah yang mereka manjakan. Kalau
datang, sendiri-sendiri atau berdua, ada saja buah
tangan yang dibawa untuk kesenangan kami.
Pada suatu hari Minggu mereka sudah bertandang
pagi sekali. Kedua kakakku memperoleh boneka dan aku
menerima sebuah truk mainan, di samping coklat dan
bonbon aneka warna untuk semua. Kami bersorak-sorak
kegirangan. Emak bergegas ke luar rumah mengeluelukan
mereka. “Aih, aih, sudah lama nian kalian tak
muncul,” katanya sambil memeluk bibi Tatut sejak
kemarin burung-burung prenjak ramai berkicau. Kau
kelihatan sehat Bedah?! Kau, Leman, bagaimana?”
“Alhamdulillah Kak,” jawab paman. “Saya akhir-akhir ini
banyak kesibukan …”
“Dan kerapkali pulang larut malam,” tukas bibi. “Bang
Leman semakin banyak melibatkan diri dalam
pergerakan. Sekarang semakin sering diadakan
vergadering* di rumah. Terus terang saya khawatir Kak.
Firasat saya makin lama makin tak enak saja.” Dia
memegang erat lengan emak seperti mengadu, tetapi
matanya melirik ke suaminya.
Sebelum paman sempat buka mulut bapak telah
mendekat. “Ada tamu jauh rupanya.” Bapak menyalami
mereka dengan mesra. “Untung kalian cepat datang.
Kalau tidak pulut3 bisa saya habiskan sendiri. Cuma
gorengan pisang yang tak bersisa.”
“Ah, gampang itu,” sambung emak. “Biar saya goreng
lagi sebentar. Malah jadinya enak dimakan selagi hangat”

Sebelum emak melangkah balik ke dapur bibi
menyerahkan kepadanya dua keranjang buah tangan
yang mereka bawa. “Tadi sehabis subuh Bang Leman
pergi sendiri ke kampung Labuhan mencari kepala ikan.”
katanya.
“Sepagi itu benar?”, tanya emak.
“Ya Kak,” jawab paman. Di saat itu ikan-ikan pasti
masih segar karena baru turun dari perahu. Lagi pula
harganya tentu murah karena dibeli langsung dari
nelayannya. Biar saya jinjing sendiri keranjang-keranjang
itu ke dapur. Agak berat karena ada pula kepiting, udang
benggala dan sedikit kepah di dalamnya.”
“Paham saya sudah,” kata emak dengan penuh
senyum. “Kau tentu merindukan gulai kepala ikan
bukan?”
“Begitulah,” paman mengangguk manja. “Saya ingin
makan enak siang ini.”
“Sesudah letih vergadering siang dan malam,” sindir
bibi.
“Bereslah itu,” sambut emak. “Kan ada si Bedah yang
akan membantu. Sekarang mari kita sarapan pulut dulu,
ada yang putih ada yang hitam. Baunya harum karena
baru dituai. Dua hari yang lalu saya beli masing-masing
sesumpit dari inang-inang. Pisang tanduknya dari pohon
sendiri di halaman, manis-manis gurih.”
“Aih sedaaap,” paman menggesekkan kedua telapak
tangannya. “Kau lihat Bedah, kita beruntung ke sini pagipagi
… langkah kanan.”

“Ah, malulah saya. Baru sampai sudah cari sarapan,”
kelakar bibi sambil mencubit emak.
Paman Soelaiman adalah saudara sepupu emak. Dia
boleh dikatakan seorang otodidak. Setelah tamat Sekolah
Dasar Melayu dia mengambil berbagai kursus di Tan’s
Com-mercial Class yang berlokasi di Louisestraat Mulamula
ditempuhnya sekaligus pelajaran boekhoudert4 A
dan B, handelsrekenen5 dan bahasa Belanda. Sesudah
lulus dengan baik dilanjutkannya dengan belajar bahasa
Inggris. Guna melancarkan berbahasa Inggris ini dia lalu
khusus mencari kerja di Singapura selama setahun.
Setelah kembali ke Medan dia melamar kerja di AVROS
(Algemenc Verenig-ing van Rubberondernemingen ter
Oostkust van Sumatra). Mula-mula kedudukannya
sebagai kerani biasa, kemudian naik menjadi boekhouder
dan akhirnya meningkat lagi ke posisi adjunct
hoofdboekhouder, suatu posisi yang tinggi sekali bagi
seorang inlander6 ketika itu. Sementara itu dia masih
belajar terus, di antaranya bahasa China, dan banyak
membaca. Lemari bukunya di rumah diisi dengan banyak
buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris.
Keintelektualan dan ketekunannya bekerja ini rupanya
sangat dihargai oleh orang-orang Belanda yang menjadi
teman keijanya sehari-hari, termasuk Meneer Van
Pieterse, direktur tertinggi di kantornya, dan Mr. Kirby,
seorang staf berkebangsaan Australia yang mewakili
kepentingan perkebunan karet Anglo-American di
AVROS. Karena itu dia mulai sering diajak tournce7 ke
kebun-kebun karet yang ada di seluruh Keresidenan
Sumatera Timur. Kabarnya Tan’s Commercial Class,
tempat dia dulu belajar, telah meminta kesediaannya
untuk menjadi pengajar dengan honor yang tinggi di sore

hari. Namun dia menolak karena dia sudah memikirkan
suatu kerja besar yang akan dilakukannya, yang pasti
jauh lebih berharga bagi dirinya daripada kerja membagibagi
pengetahuan dan pengalaman kepada orang-orang
lain. Kerja besar ini adalah membangkitkan batang
terendam, menggugah kesadaran rakyat untuk bergerak
memperbaiki nasibnya melalui perjuangan melawan
penindasan dan penjajahan, pajuangan kemerdekaan
Tanah Air dan Bangsa.
Rupanya tournee-tournee (berarti kunjungan kerja
dalam rangka pelaksanaan tugas) tersebut telah
membuka mata, pikiran dan hati paman terhadap
kenyataan pahit dan penderitaan yang dialami oleh kulikuli
perkebunan yang umumnya didatangkan dari Jawa.
Mereka telah diperas, dieksploitasi dengan imbalan yang
jauh dari setimpal, jauh di bawah standar kemanusiaan.
Mereka juga telah dijebak agar terus terperangkap di
neraka kerja kontrak perkebunan. Berhubung setiap
tahun ada saja kuli-kuli yang habis masa kontraknya dan
karena itu bebas untuk pulang kembali ke Jawa, maka di
setiap akhir tahun kebun-kebun ini mengadakan
semacam pasar malam di mana permainan judilah yang
menjadi atraksi utama. Padahal di luar daerah
perkebunan gubernemen dengan tegas melarang setiap
bentuk peijudian. Karena ingin bisa membawa uang yang
lebih banyak ke kampung halamannya atau sekadar
bersenang-senang setelah bertahun-tahun membanting
tulang, mereka lalu berjudi. Pada umumnya lebih banyak
yang kalah daripada yang menang. Seluruh tabungan
uang yang jumlahnya memang tak banyak habis ludes di
meja judi. Maka demi hidup kuli yang kalah itu
memperpanjang kontrak untuk diperas kembali oleh

sistem keija perkebunan. Di masa ini pula banyak terjadi
kehancuran rumah tangga para kuli. Istri-istri minta cerai
atau pergi meninggalkan rumah mereka begitu saja
karena jengkel dan kecewa atas perbuatan suami yang
lupa diri itu. Dalam keadaan begini anak-anak mereka
terserah pada nasib masing-masing; yang laki-laki masuk
barisan kuli kontrak baru dan yang perempuan
bergabung pada kelompok pelacur.
Paman dengan sembunyi-sembunyi mulai giat
mewawancarai kuli-kuli dari kebun-kebun yang
dikunjunginya. Dia berusaha sungguh-sungguh
mempelajari “poenale saneties”, yaitu aturan-aturan
hukum yang sangat tidak manusiawi bagi kuli-kuli
kontrak yang membangkang atau melarikan diri. Dia
coba mendapatkan dokumen dan laporan tentang insiden
kerja yang selama ini dirahasiakan oleh arsip-arsip kantor
perkebunan. Dia giat membaca novel dan cerita yang
bertemakan suasana hidup dan keija di perkebunan,
seperti yang ditulis oleh H.M. Szkeiy-Lulofe, dan yang
mengenai kehidupan feodalistis dan kolonialistis, seperti
yang dituturkan oleh E. Douwes Dekker dengan nama
samaran Multatuli atau Sentot.
Dia kaji benar-benar pidato dan tulisan dari para
pemimpin nasional terkemuka, seperti Ir. Soekarno dan
Drs. Mohammad Hatta. Dia ikuti terus perkembangan
gerakan kemerdekaan yang ada di Jawa. Dia pun tak
lupa mengadakan kontak-kontak pribadi dengan
beberapa tokoh nasionalis yang ada di Medan, terutama
yang ada di Perguruan Kebangsaan Taman Siswa. Dia
makin sering mengundang orang-orang untuk berapat di
rumahnya. Sementara itu dia terus mendalami ajaranajaran
agama Islam pada ulama yang merupakan guru

dan teman karib bapak, yaitu Syekh Haji Mohammad
Zen. Sama halnya dengan bapak, dia bergabung pada
Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keagamaan yang
dominan di kampung kami.
Emak dan bapak sangat menghargai keterpelajaran
paman. Walaupun dia lebih muda daripada mereka,
mereka tak segan-segan bertanya kepadanya mengenai
apa saja yang mereka ingin ketahui. Kadang-kadang
tanpa diminta dia datang menceritakan kepada mereka
berita-berita aktual yang dianggapnya perlu mereka
ketahui Berita-berita ini diperoleh paman dari surat kabar
lokal berbahasa Melayu dan Belanda dan dari berbagai
majalah dari Jawa. Paman pernah membawa beberapa
temannya ke rumah dan memperkenalkan mereka
kepada bapak dan emak sebagai orang-orang pergerakan
dari Jawa. Orang tuaku sangat terkesan dengan
pengetahuan mereka tentang peijuang-an rakyat di
berbagai daerah negeri kita. Menurut cerita emak kepada
kami setelah tamu-tamu itu pulang, mereka tidak hanya
dapat menguraikan dengan jelas sebab-sebab dan
jalannya perlawanan rakyat di Aceh, tetapi juga yang
teijadi di Minangkabau, di Banten, di Jawa, di Sulawesi,
Maluku dan daerah-daerah lainnya dan betapa liciknya
tipuan-tipuan Belanda hingga dapat mengalahkan kita.
Belanda menjalankan siasat memecah-belah dan adu
domba dengan bantuan para penjilat dan pengkhianat
yang tidak jarang berupa penguasa dan/atau bangsawan
pribumi setempat
Aku dengar sendiri paman pernah berkata kepada
emak dan bapak bahwa Belanda tidak dapat kita
kalahkan dengan pencak silat atau kekuatan tenaga
dalam. Belanda selalu mampu mengalahkan kita bukan

karena jeralah manusianya jauh lebih banyak daripada
kita, tetapi karena ilmu pengetahuannya jauh lebih tinggi
daripada kita. Maka kalau kita mau merebut kembali
kemerdekaan kita dari Belanda, dan memang harus kita
rebut kembali, kita harus bisa lebih dahulu menguasai
ilmu pengetahuan paling sedikitnya sebanyak dan
setinggi yang dimiliki oleh Belanda. “Jadi anak-anak
Abang dan Kakak, terutama si Daoed ini,” katanya,
“harus diusahakan bisa sekolah setinggi mungkin. Jangan
seperti saya hanya sekolah di bawah pohon pisang.*
Suruh dia menguasai ilmu pengetahuan Barat sebanyakbanyaknya!”
“Kemenakanmu ini ‘kan sudah mulai bersekolah,” kata
emak.
“Itu tak cukup Kak. Si Daoed harus diusahakan masuk
ke sekolah Belanda, karena sekolah ini ada lanjutannya.
Tidak berhenti sampai lima tahun saja seperti nasib
Sekolah Melayu.
“Apa mungkin dia bisa pindah ke sekolah Belanda itu?”
tanya bapak.
“Dahulu tidak, sekarang pun tidak,” jawab paman.
“Tapi kabarnya tahun depan akan dibuka sebuah Schakel
School yang memungkinkan anak-anak tamatan Sekolah
Dasar Melayu untuk beralih ke HIS. Saya yakin si Daoed
cukup cerdas untuk bisa diterima dan berhasil. Kalau
Abang dan Kakak tak berkeberatan saya bersedia
mengajarinya bahasa Belanda. Bahkan saya sudah siap
untuk memulainya besok.”
Mungkin karena dia sendiri tidak punya anak, paman
sangat berminat untuk menuntun kami maju di bidang
pendidikan. Paman tak pernah lupa membubuhkan

penanggalan Masehi dengan huruf Latin pada catatan
hari kelahiran kami yang ditulis bapak menurut
penanggalan Islam dalam huruf Arab. Begitu besarnya
penghargaan orang tuaku pada paman hingga ketika
adikku lahir, mereka menamakannya menurut nama
Pakcik, yaitu Soelaiman.
Pada suatu hari, paman mengajakku ke gedung
tempat berkantor dan berapat dua organisasi
kepemudaan, yaitu Jong Sumatranen Bond (JBS) dan
Jong /slamieten Bond (JIB). Di situ dia berpidato di mana
dengan lancar diutarakannya jumlah karet yang diangkut
ke luar negeri oleh semua perkebunan asing yang
beroperasi di daerah ini dari waktu ke waktu.
Kelihatannya dia hafal di luar kepala statistik dari semua
jenis hasil pertanian dan pertambangan yang dikuras
oleh penjajah Belanda dan sekutu-sekutunya dari Tanah
Air selama bertahun-tahun. Dengan merujuk pada
ucapan-ucapan Soekarno dan Hatta dia membahas
kecurangan dan kelaliman dari kolonialisme di seluruh
dunia.
Sejak itu paman menganjurkan aku sering “bermainmain”
ke gedung tersebut Dengan perkataan “bermainmain”
tersebut kurasa dia tahu persis bahwa aku masih
terlalu muda untuk dapat memahami sepenuhnya apaapa
yang diucapkan dan diperdebatkan oleh orang-orang
dewasa di gedung ini. Semua pembicaraan di situ
dilakukan dalam bahasa Melayu, diselang-seling dengan
bahasa Belanda dan kutipan-kutipan dari Al Quran dan
Hadits dalam bahasa Arab. Di salah satu pertemuan
khusus ada dibacakan petikan dari tulisan, pantun, sajak
serta gurindam dari para tokoh dan pujangga dari pulau
Sumatera, yang disebut sebagai Andalas, het eiland der

toekomst. Karya Bung Hatta, pejuang idolanya, termasuk
dalam salah satu yang dibacakan dengan penuh respek.
Paman pernah sekali memboncengkan aku raun-raun
di daerah pemukiman Belanda yang bersih, sejuk dan
nyaman. Ada tiga jalan di situ yang namanya dia minta
supaya kuperhatikan sungguh-sungguh karena, katanya,
berasal dari jeritan nurani seorang intelektual Belanda
dan merujuk pada penderitaan rakyat kita, khususnya
yang ada di Banten. Ketiga jalan itu adalah “Max
Havelaarlaan”, “Saidjaweg”, dan ”Adindaweg”. Semua
nama orang yang dijadikan nama jalan-jalan tersebut,
menurut paman, tercantum dalam sebuah kisah, sebuah
drama kemanusiaan, yang ditulis oleh Eduard Douwes
Dekker. Orang Belanda yang satu ini memakai nama
samaran Multatuli, sebuah kata Latin yang berarti “aku
sudah sangat menderita”. Adakalanya dia memakai nama
Jawa, “Sentot”, sebagai samaran. Kisah tersebut,
berjudul Max Havelaar ofde koffie-veilingen der
Nederlandsche Handelmaatschappij menarik karena, di
satu pihak, ia membeberkan kerakusan, pemerasan dan
kesewenang-wenangan penguasa dan pedagang Belanda
dengan dibantu oleh pembesar-pembesar pribumi yang
gila pangkat dan gila harta dan, di lain pihak, ia
mengungkapkan kesedihan, kemelaratan dan
penderitaan rakyat yang diperas, miskin dan dibiarkan
bodoh, tercermin dalam jalannya nasib Saidja dan
Adinda, dua sejoli dari satu desa di Kabupaten Lebak.
Kemudian sambil duduk-duduk di “Oranjeplein”
dengan makan kacang goreng dan minum eskrim, paman
menganjurkan aku untuk mulai melatih dan
membiasakan menulis. Pilihlah setiap kata menurut
makna yang dikandungnya dan kemudian susun kataTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kata itu menjadi kalimat hidup yang bertutur kepada
kegelapan dan ketidakpedulian. Tunggulah gemanya. Bila
bergaung, betapapun lemah suaranya, kirim lagi kalimatkalimat
lain hingga terangkum menjadi kisah yang
mengandung pesan tertentu bagi nurani manusia.
Jadikan tulisanmu itu sebagai cara kau melihat, cara kau
berpikir dan merasakan, cara kau hidup, cara kau
memposisikan kemanusiaanmu. Dan siapakah yang bisa
mengubah, bahkan memupus pandanganmu, meredam
pikiranmu, melenyapkan pesanmu, mematikan
nuranimu? Tak ada seorang pun, tandas paman. Kau bisa
mati tetapi tulisanmu tidak.
“Lihat saja,” katanya, “buah pikiran dan isi hati
Multatuli. Ia pasti tidak enak buat penguasa Belanda
karena kebenaran memang pahit bagi yang bersalah.
Tetapi ia tetap hidup dan ternyata bergema di nurani
seorang atau beberapa orang Belanda yang ada di
pemerintahan kota ini. Kalau tidak bagaimana mungkin
nama-nama ciptaan Multatuli itu bisa dijadikan nama
jalan-jalan yang ada di daerah hunian Belanda ini?”
Dan demi melancarkan kegiatan tulis-menulis ini
paman menganjurkan aku mengikuti kursus mengetik
sepuluh jari, tien vingers blind sijsteem, di Tan’s
Commercial Class”. Sebab dengan mengetik, menurut
paman, perekaman buah pikiran dapat dilakukan sama
cepatnya dengan gerak pikiran dalam menelurkan buah
tersebut.
Pada tahun 1934 Belanda melakukan penangkapan
besar-besaran. Paman termasuk yang ditangkap dan
sebagian besar buku-bukunya disita oleh polisi. Rumah
orang tua turut digeledah oleh parket10 dan bapak
sempat ditahan beberapa hari. Namun Pakcik Soelaiman

tidak pernah dilepaskan dari tahanan dan lalu, sama
halnya dengan Bung Hatta, dibuang ke Boven Digoel di
pulau Papoea. Ketika dia diberangkatkan ke pengasingan
dari pelabuhan Belawan, kami sekeluarga dan hampir
semua warga kampung diizinkan melihatnya dari jauh.
Selain paman, dari kampung kami turut dibuang teman
karib dan seperjuangannya selama ini, yaitu Uak Talib,
putra tertua dari Syekh Mohammad Zen. Para tahanan
yang dibuang ke Digoel itu rupanya di-bolehkan
membawa istri dan anak mereka masing-masing. Dari
kejauhan, di balik pagar besi pembatas, kami saksikan
mereka begitu ke luar dari gerbong kereta api, dibariskan
dengan tangan diborgol dan kaki dirantai, kecuali
perempuan dan anak-anak, menuju kapal. Mereka
diawasi oleh polisi dengan senapan dan kelewang
terhunus.
Aku lihat paman berjalan tegak dengan mata menatap
lurus ke depan, gagah nian, seperti seorang hulubalang
yang sedang memimpin barisan. Sebaliknya bibi berjalan
dengan kepala tertunduk. Melihat hal itu terngiang
kembali di telingaku ucapan Makcik Bedah kepada emak
tentang firasatnya yang lama-lama makin tak enak saja.
Gemerincing bunyi rantai para tahanan yang bagi
pendengaranku sangat menyayat hati, di telinga emak
dan bapak rupanya diterima bagai bunyi yang
menggeramkan. Gigi bapak menggemeretak dan kedua
tangannya terkepal.
“Kompeni jahanam,” bisik bapak.
Kulihat emak memegang erat-erat lengan bapak agar
dia tidak tergerak untuk melompati pagar pembatas dan
menyerbu ke depan. Aku yakin emak tahu bahwa bapak
tak akan pemah bisa melupakan betapa “serdaduTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
serdadu kompeni” membunuh seluruh keluarga dan
orang-orang sekampungnya semasa perang sabil di
Aceh. Karena persenjataan yang jauh dari sempurna dan
serba tidak lengkap, mereka terus terdesak semakin jauh
ke dalam rimba, setiap langkah mundur menyisakan
semakin sedikit jumlah orang dewasa, hingga akhirnya
tinggal nenek-nenek tua dan anak-anak yang luka,
termasuk bapak:
Setelah diasingkan selama empat tahun lebih di Tanah
Merah itu, paman dibebaskan dan pulang kembali ke
Medan. Badannya kurus kering, mengandung benih
penyakit malaria, dengan kulit gelap karena hangus
terbakar terik matahari Keadaan fisik bibi tidak lebih baik
daripada suaminya. Dari seorang yang periang dia
menjadi seorang yang sangat pendiam, lebih senang
menyendiri di rumah daripada bergaul. Usaha emak
menghiburnya sia-sia belaka. Ketika itu aku sudah berada
di kelas akhir HIS dan sudah dapat memahami
sepenuhnya sebab-sebab kebencian serta dendam
kesumat terhadap Belanda yang tecermin di mata Pakcik
Leman yang tetap bersinar berapi-api.
Waktu aku berhasil diterima di sekolah MULO dan
berhasil lulus kursus mengetik dengan sepuluh jari,
paman pemah mengingatkan bahwa aku lahir di minggu
yang sama serta bulan yang sama dengan tanggal
kelahiran Drs. Mohammad Hatta. Maka sudah
sewajarnya, menurut dia, kalau aku meneladani karakter
pemimpin besar ini dan mempelajari dengan saksama
buah pikirannya. Dia pun bertiarap semoga aku kelak
dapat bertemu dan berkenalan dengan tokoh peijuangan
nasional yang sangat dikaguminya.

Harapannya itu, yang perwujudannya tak berani kumimpikan
sebelumnya, dikabulkan Tuhan setelah aku
melanjutkan pelajaran ke Pulau Jawa. Mula-mula teijadi
pada tahun 1947 di Yogyakarta, di mana aku
berkesempatan bertemu sekaligus dengan ketiga Bung
Besar, yaitu Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Kami berempat
berdiskusi tentang seni lukis. Lalu perkenalan dan kontak
intelektual yang intensif antara Bung Hatta dan aku
terjalin sejak awal tahun 1955, diawali oleh suatu krisis
moneter di mana dia dan aku berbeda pendapat tentang
cara pemecahannya. Berkali-kali aku diajaknya turut
dalam rombongannya meninjau perkembangan
perkoperasian di Jawa Tengah dan Jawa Barat
Setelah hampir sepuluh tahun tidak ada kontak
pribadi, Bung Hatta dan aku bertemu lagi dan makan
siang bersama di Paris pada tahun 1970. Yang terakhir
aku diundang ke rumahnya pada tahun 1973, beberapa
hari setelah aku kembali ke Jakarta setelah
menyelesaikan studi di Sorbonne, untuk berdiskusi
tentang masalah pendidikan bersama-sama Wakil
Presiden Sri Sultan Hamengku Bu-wono IX. Ya,
pendidikan, suatu tema yang dahulu sangat diperhatikan
paman demi kemajuan kakak-kakakku, adikku dan aku
sendiri. Sayangnya perkenalan dan pergaulanku dengan
Bung Hatta tidak dapat kukabarkan kepada Pakcik Leman
sebagai berita yang pasti sangat menggembirakannya
karena dia telah pergi untuk selama-lamanya, pulang ke
rahmatullah. Selesai sudah janji bakti paman, saudara
sepupu emak.
Allah beijanji akan mengajarkan manusia apa yang
tidak diketahuinya sedangkan Rasulullah mengingatkan
supaya manusia memakai ilmu untuk mengatasi masalah

keduniaan serta demi mencapai kebahagiaan dunia dan
akhirat Maka dengan mengacu pada semua petunjuk ini
paman tak pernah bosan mendorong aku agar terus
berusaha mengetahui hal-hal yang tidak kuketahui
melalui studi keilmuan. Namun aku, menurut emak, tidak
boleh berhenti, berpuas diri, sampai di situ saja. Sebab di
samping usaha memperoleh pengetahuan seharusnya
ada upaya menyempurnakan berpengetahuan itu sendiri.
Dan penyempurnaan ini baru diperoleh setelah aku bisa
memikirkan apa yang sebenarnya kupelajari sesudah
mengetahui hal tersebut Dan inilah yang persis dilakukan
oleh paman, begitu kesan emak, tanpa banyak cingcong
semasa hidupnya.

Bab 3
EMAK DAN HUTAN
Tempat tinggal kami di kota Medan disebut Kampung
Darat. Letaknya berbatasan dengan hutan. Garis pemisah
antara kampung ini dengan hutan adalah sebuah jalan
lurus, yang merupakan jalan terakhir di sebelah barat
kota. Ujungnya yang satu dibatasi oleh jalan ke Langkat
dan terus ke Aceh sedangkan di ujungnya yang lain
melintang jalan ke dataran tinggi Karo dan terus ke
Tapanuli. Inilah barangkali yang menyebabkan
Gemecnte. Medan menamakannya Achterweg. Sejalur
pohon-pohon jati berjejer di sepanjang jalan ini dan
kedua jalan raya yang mengarah ke luar kota tersebut,
bagai pagar alam yang melindungi hutan.

Tak ada penduduk yang gegabah menebang pohonpohon
jati yang tumbuh teratur itu. Yang berani kami
lakukan hanyalah memetik daun-daunnya yang lebar
guna dipakai sebagai pembungkus atau alas makanan.
Untuk masuk ke hutan kami terpaksa melintasi jalur
pohon jati yang selebar kira-kira 30 meter. Dan
memasuki hutan yang berada di belakangnya seperti
tidak dilarang. Hutan ini sudah merupakan bagian dari
hidup kami sehari-hari. Di situ kami meramu bahanbahan
yang diperlukan untuk kehidupan, dari mulai
sayur-mayur, umbi dan buah tertentu, akar-akar
penyembuh, tanaman bunga, hingga kayu bangunan dan
kayu bakar.
Emak dan bapak mulai mengajakku turut serta ke
hutan ketika aku berusia hampir lima tahun. Selama
peijalanan pergi dan pulang mula-mula emak diminta
oleh bapak berjalan di depan, aku di tengah dan dia di
belakang. Dengan begitu bapak di setiap saat dapat
mengamati keadaan dengan teliti, karena dialah yang
tertinggi di antara kami bertiga, tanpa kehilangan
pandangannya pada emak dan aku. Posisinya itu
dimaksudkan pula untuk melindungi emak dan aku dari
serangan binatang buas, terutama harimau. Menurut
cerita raja hutan ini biasa menyerang mangsanya dari
belakang atau samping.
Setahun kemudian, ketika bapak menganggap aku
cukup “dewasa” dan, karenanya, bisa diandalkan untuk
melindungi emak, urut-urutan berjalan lalu diubah: aku
yang di depan dengan memegang sebuah tongkat kayu,
emak di tengah dan bapak tetap di belakang dengan
parang terhunus di tangan. Beginilah kiranya cara bapak
mendidikku untuk selalu berusaha melindungi kaum

lemah pada umumnya, emak dan kakak-kakakku pada
khususnya. Tanpa uraian panjang lebar dari bapak, pada
dasarnya dia memang seorang pendiam, sudah dapat
kurasakan didikan untuk bertanggung jawab ini.
Dengan iring-iringan seperti ini, dalam peijalanan
pulang pada suatu hari, aku dikejutkan oleh desis
lompatan bapak ke depan, lalu melesat ke udara setelah
merebut tongkat yang kupegang dan
menghantamkannya ke badan seekor ular yang
menggelantung dari dahan sebatang pohon yang bakal
kami lewati. Karena hantaman itu badan ular tadi
terpental ke samping hingga membentur keras sepohon
kayu. Sorot mata bapak yang tajam rupanya sudah
dapat melihat dari jauh gerakan ular yang bersiapsiap
menyambar atau melilit kepalaku dari atas.
Hantaman tongkat bapak serta benturan badan ular ke
pohon yang begitu keras telah menimbulkan suara yang
sungguh dahsyat di tengah-tengah keheningan hutan di
senja hari. Burung dan kelelawar beterbangan kian
kemari karena dikejutkan oleh suara tadi sambil
mengeluarkan beragam bunyi yang melengking,
menambah seramnya suasana yang sudah mencekam.
Bapak tetap tegak, tenang dan membisu beberapa saat,
namun telinganya seperti hendak menangkap dan
menjaring suara dan bunyi yang mencurigakan. Akhirnya
dia berkata, “Selesai sudah… Mari kita bergegas pulang,
jangan sampai kemalaman di hutan.”
“Apa tak sebaiknya bapak periksa dulu keadaan ular
itu?”, tanya emak.
“Saya kira tidak perlu,” jawab bapak. “Ia sudah tidak
berkutik lagi.”

“Bisa saja ia belum benar-benar mati, Nik?!” bisik
emak. “Masih berbahaya buat orang-orang lain.”
“Mungkin begitu. Namun saya kira ia sudah sekarat,”
bapak berusaha menenteramkan emak. “Sebaiknya kita
biarkan begitu. Tak baik menghabisi lawan yang sudah
tidak berdaya, kecuali kalau terpaksa dalam masalah
hidup atau mati. Lagi pula ia sudah mendapatkan
pelajarannya. Jangan coba-coba memangsa manusia,
apalagi yang tidak berniat mengusik.”
Karena melihat aku masih gemetar, bapak mengeluselus
kepalaku. “Kaget ya?” tanyanya dengan lembut.
“Saya … saya takut,” kataku hampir berbisik. “Bapak
… emak, tidak takut?” aku bertanya perlahan-lahan
dengan menundukkan kepala.
Bapak dan emak tidak segera menjawab. Setelah
sejenak emak membungkukkan badannya mencium
ubun-ubunku dan lalu bercangkung di depanku. “Nak,
bapak tentu takut juga, demikian pula emak,” katanya
dengan penuh kasih sayang. “Setiap orang mengenal
takut kalau sedang di dalam hutan. Namun yang disebut
keberanian adalah melakukan apa yang harus dilakukan
walaupun sedang takut. Dan inilah yang tadi dilakukan
bapak, selaku jantan, dengan tepat sekali dan persis
pada waktunya.”
Dua hari kemudian kampung kami dibuat gempar oleh
cerita dua pencari kayu bakar. Mereka menemukan
bangkai ular sawah sepanjang hampir tiga depa,
tergeletak tak jauh dari jalan setapak yang biasa dilalui
orang-orang ketika masuk dan keluar hutan. Menurut
mereka kepala ular itu remuk dan sebuah matanya copot
dari tempurung kepala binatang ini, bagai habis dipalu

berkali-kali. Ular itu kemudian mereka kuliti dan kulit itu
dijual ke pengrajin tas dan sepatu. Cerita ini diulangulang
oleh para warga kampung, tua dan muda,
terutama anak-anak, selama beberapa hari di surau, di
tepian, di tempat-tempat umum. Aku tersenyum saja
setiap kali mendengar cerita itu, demikian pula emak.
Aku merasa beruntung dapat kesempatan menyaksikan
sendiri ketangkasan bapak melindungi diri,
menyelamatkan emak dan aku, di saat berada di hutan.
Satu ketika kami bertiga memasuki hutan lebih jauh ke
dalam daripada biasanya. Kami terus beijalan dan
berjalan hingga jalan setapak yang kami tempuh
bercabang. Cabang jalan ini pasti jarang sekali dilewati
orang karena kelihatan samar-samar sekali. Namun emak
memintaku membelokkan langkah ke cabang ini.
Mungkin karena menyadari aku belum pernah
menempuh jalan yang satu ini, emak lalu menetapkan
dirinya jalan di depan, aku di tengah dan bapak tetap di
belakang. Emak melanjutkan perjalanan tanpa ragu-ragu
walaupun jalan setapak ini tetap tak jelas, bahkan di
sana-sini lenyap ditutupi semak belukar. Dengan parang
panjangnya emak membabat penutup jalan itu.
Selama perjalanan ini emak dan bapak tak banyak bicara,
sementara perasaanku membisikkan bahwa hutan yang
kami tempuh ini semakin lebat dan semakin gelap. Di
saat itulah bapak mengingatkan bahwa kami mulai
memasuki daerah monyet di mana tumbuh aneka ragam
pohon buah-buahan. Bila tidak diganggu binatang ini
tidak akan membahayakan. Berkat sinar matahari yang
sesekali mampu menembus kelebatan dedaunan, aku
memang bisa melihat semakin banyak keberadaan pohon
buah-buahan itu, seperti durian, binjai, nangka biasa dan

nangka babi, cempedak, rambe, nam-nam, mangga dan
manggis. Dari kegemaran dan cara monyet-monyet
memakan manggis hutan ini emak menduga bahwa buah
ini tidak hanya mengandung khasiat makanan tetapi juga
khasiat pengobatan.
Akhirnya, setelah menempuh daerah gelap yang
menyeramkan kami sampai di daerah terang yang
melegakan. Sesudah aku merasa terkurung dalam
keadaan tertutup yang mencekam, aku merasa direnggut
ke dalam mang terbuka yang sepi menakjubkan. Sebuah
rawa yang cukup luas terhampar jelas di depan mata
beratapkan langit bim jernih. Di sela-sela awan yang
berarak beberapa ekor elang melayang-layang. Kalau
saja kelak-kelik burung-burung itu, yang sayup-sayup
sampai ke telinga dari ketinggian, disambut dari bawah
oleh alunan seruling bambu …
Sebagai cekungan yang terendam air sepanjang
tahun, rawa ini merupakan lahan yang subur bagi
pertumbuhan kangkung dan genjer serta tumbuhan air
lainnya, yang selalu siap untuk dipetik sebanyak yang
kami inginkan. Di rawa ini juga terdapat ikan-ikan lele,
gabus, sepat dan belut, selain katak-katak yang sesekali
berbunyi memecahkan kesepian. Di tepi rawa tumbuh
aneka ragam suplir di celah-celah bebatuan, teratai dan
bunga-bunga liar lain dengan berbagai warna.
Sedangkan di cabang pohon-pohon yang memagari rawa
bergelantungan anggrek hutan, di antaranya anggrek
merpati, kecil mungil putih dan berbau harum bila
sedang mekar. Kalau bukan karena memikirkan waktu
yang terus merayap sesuai dengan kodratnya, orang
pasti ingin menikmati sepuas-puasnya keindahan alam
terbuka di tengah-tengah kehebatan hutan ini.

“Sedang melamun ya?” tanya emak ketika dilihatnya
aku terpukau oleh kehebatan panorama ini.
“Indah sekali Mak, indah sekali,” jawabku. “Seperti
ada yang menatanya.”
“Pasti ada yang menatanya. Nak, walaupun yang kau
kagumi ini kelihatannya terbentuk begitu saja, ia adalah
suatu lukisan alam, sebuah ciptaan Tuhan, terjadi atas
ke-hendak-Nya. Seperti yang termaktub di bagian akhir
surat Yaasiin—Innamaa amruhuu idza arooda syay’an
ayyaquula lahuu kun fayakuun.”
“Tak saya sangka akhirnya akan menemukan tempat
yang seindah dan sesenyap ini di tengah-tengah
kebuasan hutan. Sudah menimbulkan rindu di hati
sebelum awak meninggalkannya.”
“Sayang sekali tidak semua orang melihatnya seperti
itu. Yang mengherankan memang bukanlah apa-apa
yang mereka lihat tetapi betapa berbeda-beda mereka
melihatnya.”
“Terus terang saya tadi ragu-ragu ketika emak
melangkah ke cabang jalan setapak yang samar-samar
itu. Pasti jarang sekali dilewati orang.”
“Dalam menjalani hidup ini, Nak, adakalanya kau akan
sampai di jalan yang bercabang atau bersimpang. Bila
demikian, jangan ragu-ragu memilih cabang atau
simpang jalan yang kelihatannya kurang atau jarang
ditempuh orang.”
“Bagaimana kalau nanti kita tersesat?” tanyaku.
“Kalau kita tersesat bukan berarti kita akan hilang dalam
perjalanan,” jawab emak. “Maka jangan ragu-ragu
mengambil jalan yang tidak umum. Hasilnya bisa cukup

memuaskan … contohnya lihat apa yang kau alami
sekarang. Setelah orang-orang melihat hasil ini, lamalama
mereka akan mengikuti langkahmu dan jalan ini lalu
menjadi jalan orang banyak. Tapi kau tetap yang
memulai, yang merintis. Ini berlaku baik dalam arti
harfiah maupun secara kiasan.”
“Saya jadi ingin berada di tempat ini, berkemah
misalnya, bila malam bulan purnama,” kataku. “Pasti luar
biasa indah pemandangannya bagai dalam dongeng.”
Menurut emak mungkin bisa begitu tetapi di dalam
dongeng tidak ada nyamuk. Sedangkan rawa ini pasti
merupakan sarang nyamuk. Di samping ini isi rawa
tersebut justru mengharuskan orang ekstra hati-hati
karena binatang-binatang air yang ada di situ merupakan
santapan yang sangat digemari oleh ular. Lagi pula rawa
ini tentunya merupakan tempat berbagai jenis binatang
minum, seperti kijang, babi hutan, kancil dan lain-lain.
Dan semua hewan ini pasti menarik perhatian harimau.
Di dekat-dekat rawa terdapat pula aneka ragam pohon
pisang dan tumbuhan seperti terong, ubi jalar dan ubi
kayu, labu, kacang panjang, rimbang dan bayam. Emak
tidak percaya bahwa semua ini tumbuh begitu saja
secara alami. Tumbuhan tersebut bukan merupakan
tumbuhan liar yang gampang hidup dengan sendirinya,
jadi ia pasti hasil tanaman orang. Maka itu emak tidak
mau mengusiknya, walaupun kami lihat ada pisang yang
sampai membusuk di pohonnya atau terong yang sudah
mengering, lebih pantas dijadikan bibit daripada disayur
atau dilalap.
Aku usulkan kepada emak agar dipetik saja apa-apa
yang diperlukan, harganya ditetapkan sesuai dengan

harga di kedai, uangnya dimasukkan ke botol, lalu
disumbat dengan gabus dan kemudian digantung di
pohon terong. Emak tidak sepakat karena botol berisi
uang itu bisa saja diambil orang-orang lain yang tidak
berhak, yang datang juga ke sini untuk ramban. Akhirnya
diputuskan agar botol itu diisi saja dengan surat yang
menanyakan alamat si penanam. Ternyata tak ada
seorang pun yang telah menjamah botol itu karena
setelah berkali-kali mengunjungi tempat ini dan botol
bersurat itu kami buka, surat yang kutulis itu tetap ada
tanpa balasan sekalimat pun.
Sesudah adikku lahir emak dan bapak mengajakku ke
bagian yang lain lagi dari hutan yang sering kami jelajahi
ini. Di situ emak menanam beberapa pohon kemiri kecil
yang selama ini dibibitkannya dalam pot-pot bunga di
halaman rumah.
“Untuk apa, Mak?” tanyaku keheranan.
“Dalam hidup ini kita memerlukan buah dari pohon
yang tak gampang tumbuh dan lama sekali baru
berbuah, seperti kemiri ini,” jawabnya dengan tenang.
“Kemiri yang kita makan sekarang bukan hasil tanaman
kita atau orang-orang yang sebaya emak dan bapak.
Untung ada orang lain yang dahulu mau menanamnya,
walaupun dia, kita dan setiap orang, sadar bahwa
perkembangan usia kurang memungkinkan si penanam
dapat menikmati jerih payahnya sendiri selagi dia masih
hidup. Kecuali kalau yang menanam itu masih bayi,
sedangkan seorang bayi mustahil dapat melakukan itu.
Jadi emak dan bapak menanam kemiri kecil ini sebagai
tanda terima kasih kepada orang yang dahulu telah
menanamnya untuk kita dan agar kau dan anak-anakmu
kelak tidak kekurangan buah kemiri.”

Lalu emak menceritakan bahwa setiap kali dia habis
melahirkan anak, dia pergi ke hutan ini untuk menanam
kemiri dengan diantar oleh bapak dan tanaman ini
disebarnya di tempat-tempat yang berbeda. Hari ini dia
menanam atas nama adikku. Empat tahun yang lalu dia
menanam atas namaku. Lima tahun sebelum itu atas
nama kakakku dan demikian seterusnya. Menurut emak
hutan menyimpan bahan-bahan yang diperlukan oleh
manusia untuk hidup. Maka itu ia harus dipelihara bagi
anak cucu. Membantu memelihara hutan juga tidak
terlalu sulit. Untuk menanam kemiri ini, misalnya, kita
tidak perlu menjadi dewa atau orang pintar. Kita hanya
memerlukan niat, kemauan, ingatan pada anak cucu dan
sebuah cangkul atau sekop.
“Binatang saja, dengan caranya sendiri, ikut menjaga
kelangsungan hidup pohon-pohon di hutan ini,” kata
emak menutup uraiannya. “Musang, misalnya,
menyebarluaskan penanaman pohon enau melalui
kotoran yang dibuangnya. Demikian pula burung,
kelelawar, bahkan angin dan hujan. Nah, kalau binatang
saja sudah berbuat begitu, mengapa kita tidak. Hutan
adalah suatu karunia Tuhan yang harus kita syukuri. Jadi
merupakan kewajiban kita untuk menjaga dan
memeliharanya demi anak cucu. Sedangkan kita,
makhluk manusia, adalah wakil Tuhan di bumi.”
Setelah berusia hampir sepuluh tahun orang tua
memperbolehkan aku pergi sendirian ke hutan. Jauh-jauh
hari sebelumnya emak mengingatkan bahwa kalau sudah
berada di dalam hutan, aku bukan lagi merupakan
pencari kayu tetapi seorang pemberani Tak ubahnya
dengan seorang pengail yang tercebur ke dalam air. Di
saat itu dia bukan lagi pengail tetapi seharusnya

perenang. Maka itu kalau bertemu harimau, kata bapak,
jangan gugup. Tatap saja matanya dengan tajam,
setajam sorotan mata harimau itu dalam menatap kita.
Lama-kelamaan, setelah binatang buas itu berputarputar,
kalau ia kita tatap terus tanpa berkedip, ia pasti
akan menyingkir. Kalau tersesat, panjat saja pohon
setinggi mungkin untuk mendapatkan pandangan
menyeluruh yang lebih luas. Kalau ada kepulan asap,
insya Allah, ada orang atau ladang. Atau cari batang air,
emak menimpali, ikuti alirannya ke hilir. Di satu tempat ia
pasti bergabung dengan aliran yang lebih besar dan
demikian seterusnya. Biasanya ada saja manusia yang
hidup di tepi batang air, di pinggir anak sungai, di tepian
sungai besar.
“Jangan khawatir Mak, Pak,” kataku meyakinkan
mereka. “Di kepanduan saya sudah diajarkan berbagai
cara mencari jejak dan jalan, disebut tracking.”
Aku bangga sekali dan dengan perasaan berbungabunga,
percaya diri, kumasuki hutan yang berbagai
sudutnya telah lama kukenal. Biasanya yang kubawa
pulang bukan hanya kayu bakar tetapi juga sayur-mayur
atau buah-buahan atau bunga-bunga aneh yang belum
ada di halaman rumah kami. Aku kemudian menemukan
satu tempat yang ideal di sebuah sungai kecil yang
dinamakan Sungai Putih oleh penduduk. Dinamakan
begitu karena airnya begitu jernih sampai ikan-ikan kecil
yang ada di situ, sebesar-besar teri, jelas kelihatan
berenang kian kemari. Sungai ini penuh dengan batu,
besar kecil, hingga air yang mengalir di celah-celahnya
bergemericik merdu. Bagian yang kuanggap ideal dari
sungai kecil ini aku korek agak dalam hingga badan bisa
berendam, bagai bathtub dewasa ini, sambil tiduran

dengan kepala diletakkan di atas batu. Tidak jauh dari
situ, di ketinggian tebing sungai, tumbuh sebatang pohon
buni yang sering ramai dengan kicauan burung.
Sejak itu setiap kali aku ke hutan, di hari Jumat
sesudah sembahyang atau hari Minggu, atau hari libur
sekolah, kubawa buku. Aku kumpulkan dahulu kayu
bakar atau apa saja yang bisa dibawa pulang, sesudah
itu aku berendam di air Sungai Putih yang sejuk, sambil
membaca dan mendengarkan desiran daun-daun yang
ditiup angin dan kicauan burung-burung di pohon buni.
Sesekali kaki dan badan terasa geli karena dicicipi oleh
ikan-ikan kecil. Angin yang bertiup sepoi-sepoi basah
menambah sedapnya bekal yang dibawakan emak, di
tengah-tengah suasana alam yang tenang dan tenteram.
Aku mulai menyukai alam terbuka ini. Tiada atap kecuali
langit tanpa dinding kecuali pohon-pohon.
Emak pernah mengatakan bahwa dalam menanggapi
hutan kita jangan mengabaikan pohon-pohon yang
membentuknya. Dia menyenangi pohon-pohon, baik
yang berada di dalam hutan maupun yang tumbuh di
sepanjang sungai, yang beijajar di tepi jalan, yang
tumbuh di halaman, pokoknya semua pohon, karena
tetumbuhan ini kelihatannya yang lebih bersekutu
dengan jalan hidup yang harus ditempuhnya ketimbang
yang dilakukan oleh benda-benda hidup lainnya. Cabang
dan rantingnya bisa berbeda dalam bentuk dan ukuran,
tetapi semua itu, di bagian mana pun ia berada, tetap
merupakan pohon itu sendiri. Kita bisa mendapatkan
pohon yang sama dari setekannya sendiri. Kita pun bisa
menanam pohon dari cangkokannya guna memperoleh
buah yang sama ketimbang menumbuhkannya dari biji
buahnya. Semua ucapan dan pandangan emak tentang

pohon bermunculan kembali dalam ingatanku ketika aku
mempelajari filosofi di Sorbonne.
Betapa tidak. Adalah Hegel yang menyatakan bahwa
setiap cabang adalah sebuah pohon-cftague branche est
un arbre. Di halaman-halaman dari bab-bab uraian
filosofis, ada diketemukan pohon yang ditransformasikan
menjadi model klasifikasi keilmuan. Setelah
didisinkarnasi, diredusir menjadi kerangka struktural dan
bukan lagi vegetal, pohon logis atau genealogis ini lalu
memiliki perkembangan sejarahnya sendiri yang cukup
panjang Aristoteles yang memperkenalkannya, lalu
disistematisir oleh Porphyre dan Theodulfe, di abad IX,
membuatnya menjadi citra organisasi ilmu pengetahuan.
Descartes berusaha di tahun 1647 memperbarui
perbandingan figuratif tersebut dalam suatu teks yang
kemudian menjadi terkenal, berbunyi: Dengan demikian
seluruh filosofi bagaikan sebuah pohon, yang akarakarnya
adalah metafisika, batangnya merupakan fisika
dan cabang-cabangnya yang ke luar dari batang ini
adalah semua ilmu pengetahuan lain yang dapat
diredusir menjadi tiga hal pokok, yaitu mekanika,
kedokteran dan moral-Aiwsi toute la philosophie est
comme un arbre, dont les racincs sont la metaphysique,
le trone est la phy-sique et les branches qui sortent de ce
trone sont toutes les autres seiences qui se reduisent d
trois prineipales, h savoir la mecanique, la medecine et la
morale. Akhirnya, Darwin menyempurnakan skema ini
dengan gagasan pohon evolusi, pembagian spesies
dalam cabang-cabang dan ranting-ranting.
Maka betapa aku tidak teringat emak. Di sini bertemu
pandangan intuitive emak dengan visi reflective para
filosof. Pohon vegetal yang riil menjadi pohon kehidupan

yang abstrak. Pohon hidup menjadi sebagaimana filosofi
berpikir. Sama halnya dengan filosofi, pohon punya
kemampuan melipatgandakan unsur-unsur yang
heterogen sambil tetap mempertahankan koherensi dari
pluralitas tersebut. Mengingat tumbuhan ini pada
umumnya hidup lebih lama daripada manusia, ia bisa
beijasa sebagai saksi yang mengaitkan satu generasi
dengan generasi lainnya. Untuk menghidupkan peran
transmisi memoar dari pohon ini suatu upaya yang
sederhana sudah memadai, seperti yang dilakukan emak
dengan pohon kemirinya. Dan peran transmisi tersebut
jelas dilakukan pula oleh buku. Bukankah buku
merupakan “anak” dari pohon, sebagaimana terlihat dari
namanya, yaitu “buku”, “book”,”boek” ”buch” “bouquin”
yang berasal dari kata “busca”, yang berarti “bois” atau
“hutan”.

BAB 4
EMAK DAN PENATAAN HALAMAN
Sebagai orang yang berasal dari keluarga petani, yang
lahir dan dibesarkan di lingkungan pertanian, emak
kelihatannya memperlakukan alam sebagai suatu realitas
spiritual. Tidak hanya tumbuhan dan tanaman yang
merupakan sebuah mukjizat di mana tecermin
keberadaan unsur hayati, tetapi tanah, air, langit,
matahari, bulan dan bintang memancarkan pula
kandungan dari daya kehidupan yang sama. Sedangkan
halaman yang ditata menjadi kebun dan taman dapat
menangkap manifestasi kekuasaan-kekuasaan elementer
ilahiah tersebut dan menahannya di dalam dan sekitar

rumah. “Mengingat Allah dan agama kita sangat
memujikan kedamaian dan kekhusyukan,” kata emak,
“halaman yang asri merupakan bagian yang hakiki dari
rumah orang muslim.”
Halaman rumah kami relatif luas. Sebagian dari sisi
depannya serta samping kanan dan kiri rumah dibiarkan
terbuka oleh emak, berupa tanah saja, tak berumput,
tidak ditanami apa-apa. Selain dimaksudkan sebagai
jalan ke dan dari rumah, halaman berpermukaan tanah
tok ini dipakai sebagai tempat kami bermain-main apa
saja bila cuaca baik. Bahkan kalau sedang hujan kami
mandi air guyuran hujan sambil berkejar-kejaran di
pelataran ini. Ia digunakan pula sebagai lahan tempat
menjemur apa saja, dari mulai kasur dan bantal hingga
hasil panenan ladang. Bila sedang terang bulan emak
menggelar tikar pandan di situ dan kami duduk beramairamai
di atasnya menikmati kesejukan dan keindahan
malam.
Halaman di belakang rumah penuh dengan pohon
buah-buahan, seperti mangga, kueni, nangka, rambe,
rambutan, jambu air dan jambu biji, nam-nam, jeruk bali,
melinjo belimbing, kelapa, kapuk dan berbagai jenis
pisang. Sebagian dari pohon-pohon ini, terutama yang
benar-benar menahun, bukan hasil tanaman sendiri
tetapi bawaan pekarangan yang masih berupa hutan
ketika dulu dibeli bapak dan emak. Di pohon-pohon itu
emak sekarang menempatkan anggrek yang diperoleh
dari hutan. Ada anggrek merpati, berwarna putih jemih
dan wangi bila sedang berkembang. Bila angin
berhembus aroma kewangiannya tersebar ke seluruh
halaman. Ada lagi anggrek berwarna kecoklat-eoklatan,
yang anak-anak emak menamakannya “anggrek emak”

karena kalau sedang berkembang bunganya menjuntai,
mirip rambut emak yang ikal bak mayang mengurai
Pepohonan yang dahan-dahannya beranggrek ini
menimbulkan citra perhutanan. “Hutan kecil” ini kami
manfaatkan pula untuk sarana main sembunyisembunyian.
Sisa halaman yang tidak dibiarkan terbuka dan tidak
ditumbuhi pohon-pohon besar, baik di depan maupun di
kanan-kiri rumah, yang luasnya cukup lumayan, ada
yang dibagi-bagi oleh emak kepada kami di samping
bagian yang diurusnya sendiri. Setiap anak kebagian satu
kapling yang tidak boleh ditanami dengan pohon yang
menahun. Pohon sejenis ini harus ditanam bersamasama
kelompoknya di belakang rumah, di bilangan hutan
kecil. Setiap kapling diperuntukkan bagi tanaman bunga
serta sayuran dan kami bebas untuk menanam bunga
atau sayur-mayur apa saja.
“Bunga dan tanaman memang merupakan kehadiran
membisu,” kata emak, “namun semua ini menghidupi,
nyehatkan, pancaindra kita.”
Kak Marni dan Kak Ani lebih banyak menanam bunga
daripada sayuran di kaplingnya masing-masing. Baik
penataan kapling yang mereka buat maupun jenis bunga
yang mereka tanam tidak sama, namun efek keseluruhan
dari perbedaan-perbedaan itu berupa suatu penampilan
dari kemajemukan alam yang amat menawan, persis
dengan yang diharapkan emak.
Kalau adikku lebih banyak menanam aneka ragam
sayur ketimbang aneka ragam bunga di kaplingnya
sendiri. Berbagai jenis sayur ada di kebunnya ini, seperti
kubis, seledri, bayam, bawang, terong, labu, sawi ladang,

kacang panjang, koro. Sayur-mayur ini lalu dibeli emak
untuk makanan sehari-hari. Dik Leman kelihatan bangga
dan puas sekali kalau emak mengatakan kepada bapak
bahwa sayuran yang dihidangkan di saat makan malam
bersama berasal dari kebunnya. Mula-mula adikku ingin
menanam hanya satu jenis bunga, yaitu bunga matahari.
Mungkin dia sangat terpesona oleh bentuk, ukuran dan
warnanya yang memang sangat cemerlang, sanggup
mendominasi lingkungannya. “Nak. besar tidak dengan
sendirinya berarti lebih baik atau terbaik.” komentar
emak. “Demikian pula, bunga matahari tidak selalu lebih
baik daripada kembang melati.” Walaupun begitu emak
membiarkan adik membuat pilihannya sendiri.
Karena aku tidak tertarik pada kegiatan bercocok
tanam, bahkan cenderung jijik bila tangan harus
menyentuh pupuk kandang, kapling bagianku kuberikan
kepada adik. Berhubung kapling tambahan ini dipakainya
sebagal H pemeliharaan ayam, kapling ini ditetapkan
emak di lakang rumah, di wilayah hutan kecil. Aku
menbftK memagari kapling ini agar ayam-ayam
peliharaan berkeliaran. Setiap ekor ayam dia berikan
nama dan hal ini menimbulkan masalah tersendiri buat
dia dan emak. Dia tidak mau memakan daging ayamnya
sendiri. Maka kalau lebaran ayam-ayamnya ini pasti tidak
bisa disembelih. Emak terpaksa menjual ayam-ayam
yang sehat dan gemuk dari Dik Leman dan uang hasil
penjualan tersebut dipakai untuk membeli ayam-ayam
lain guna dijadikan lauk sebagai pelengkap ketupat, yang
belum tentu sebaik ayam-ayam peliharaan adikku.
Selain senang pada tanaman, Dik Leman memang
senang pula pada binatang. Dia memelihara berbagai
macam burung, termasuk puyuh, yang dijeratnya sendiri

di hutan. Pernah dia memelihara kelinci dan marmut
tetapi kemudian dilepaskannya ke hutan. Binatangbinatang
ini bisa membuat lubang di bawah pagar,
“menggangsir” kata orang, dan melalui lubang ini
menyelusup ke kapling emak dan kakak untuk melalap
tanaman-tanaman yang ada di situ.
Kapling emak dan bapak jauh lebih luas daripada
setiap kapling kami. Di situ emak tidak hanya menanam
bunga dan sayuran tetapi juga tumbuhan obat-obat
tradisional. Selain berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya sendiri sejak kecil, jenis-jenis tumbuhan
berkhasiat pengobatan ini diketahui emak dari banyak
bertanya kepada beberapa perempuan Keling dan Babah
Sin Ko Han yang dikenalnya. Babah Sin malah memberi
petunjuk bagaimana cara mengeringkan dan menyimpan
tumbuh-tumbuhan itu supaya awet dan tidak jamuran.
Emak juga menanam delima karena daunnya kadangkadang
dipakai sebagai ramuan obat tertentu dan pacar
yang daunnya dipakai untuk berinai.
Sayur-mayur tertentu tidak ditanam emak di dalam
kapling tetapi di sepanjang pagar yang mengelilingi
rumah agar tidak merusak pemandangan, seperti katu,
ubi kayu. mangkuk dan teri, yang khusus dipelihara demi
daunnya.
Bila dipetik terus-menerus untuk dimasak daun-daun
tersebut semakin lama menjadi semakin lemas. Daun
katuk untuk sayur bening, daun ubi untuk sayur
bersantan kelapa mutfag daun teri untuk campuran
keluban dan daun mangkudu untuk penyedap gulai otak.
Emak menanam lebih banyak bunga mawar dihalaman
nya daripada yang dilakukan oleh kedua kakakku. Bukan

karena mereka kurang menyukai ratu bunga ini, mereka
bahkan sangat menginginkannya, tetapi pemeliharaan lin
nga yang satu ini rupanya tidak begitu sederhana. B&ro
juga mengurus koleksi tanaman suplir dari bapak yang
didapat dari hutan. Bapak dengan telaten mencari dan
memilihnya satu per satu hingga terkumpul suplir dari
yang berdaun terkecil sampai yang berdaun terbesar
adalah bapak pula yang dengan teratur memberikan
pupuk kandang pada semua tanaman yang ada di
halaman semua merata.
Alhasil, berkat jerih payah emak, bapak dan kakakkakak
serta adikku, terciptalah di halaman rumah kami
tidak hanya sebuah kebun bunga dan sayuran, tetapi
lebih daripada itu sebuah taman yang indah, penuh
dengan aneka ragam bunga dengan aneka ragam warna
dan aneka ragam aroma kewangian. “Baik di pekarangan
maupun di halaman, segala sesuatu menjadi mungkin,”
kata emak. “Di situ kita dapat sekehendak hati
mempolakan ciptaan, berupa kebun atau taman, bermain
dengan musim, cahaya, tetumbuhan, dedaunan,
perbungaan dan harapan.”
Walaupun aku sendiri tidak menanam apa-apa, aku
membantu menyiapkan dan memasang pasak bagi
batang batang bunga yang masih terlalu kurus atau
lemah adar dapat tegak sendiri. Aku menolong
memangkas cabang atau ranting tumbuhan agar menjadi
seimbang lihatan artistik. Aku membuatkan kandang
ayam untuk adikku dan ikut membuat rak susun bagi
koleksi suplir bapak. “Bagus itu, bagus”, kata emak
setelah melihat hasil keijaku. “Kerja tangan dan kerja
otak dibuat untuk saling melengkapi, bukan untuk saling
meniadakan.”

Dengan segala senang hati aku menyirami secukupnya
semua tanaman yang ada. Tak ada seorang pun yang
meminta atau menyuruhku berbuat begitu. Aku bangga
menjadi bagian yang aktif dari kreasi kolektif keluargaku
ini. Di sudut mana pun aku berdiri, dapat kunikmati
keindahan pemandangan dan keheningan suasana
halaman rumah kami. Penetrasi timbal-balik antara
taman dan rumah, berkat penataan halaman, terjadi
karena keinginan emak menyatukan dengan mesra
kehidupan sehari-hari dengan alam. Alam diwakili oleh
pohon-pohon besar di “hutan kecil” dari halaman, karena
pohon-pohon menahun ini, menurut emak, berpartisipasi
dalam keabadian dunia. Sedangkan kehidupan seharihari
diwakili oleh tanaman semak, baik yang berbunga
maupun yang berdaun indah, yang dalam dirinya
melambangkan kefanaan. Dan yang menjembatani alam
dan kehidupan sehari-hari ini adalah rumah, tempat
kediaman.
Semua tanaman yang melambangkan kefanaan ini
ternyata melelahkan juga. Betapa tidak. Sayuran yang
sudah dipanen perlu segera diganti. Pohon-pohon bunga
yang kering, layu atau mati menuntut peremajaan.
Semua ini pasti membutuhkan kerja. “Kita seperti
didorong untuk selalu mengulang,” keluh Kak Mami,”
selalu mulai dari awal kembali.”
“Marni… Mami, rahasia dari hidup yang mengasyikkan
dan kehidupan yang kaya dengan pengalaman adalah
menjalani lebih banyak awal daripada akhir,” kata emak.
“Dan salah satu unsur dari rangkaian awal ini adalah
perbuatan mencipta.”
“Mencipta?” ulang kakakku.

“Ya, mencipta,” ditegaskan kembali oleh emak. cipta
pada asasnya adalah perbuatan Tuhan, tetapi kan
merupakan urusan-Nya semata-mata. Manusia tidak
dilarang melakukan hal yang sama. Bukankah para
pujangga dan seniman sehari-hari Orang-orang awam
seperti kita-kita ini bisa juga mencipta kalau tahu
bagaimana caranya. Untuk menanam setangkai
cangkokan, misalnya, kita tidak perlu merasa menjadi
Tuhan atau menjadi pujangga. Yang kita perlukan
hanyalah cangkul atau sekop atau cetok.”
“Tapi Mak, yang saya bayangkan adalah pembuatan
taman, jadi tidak sesederhana menanam cangkokan.”
“Bagus sekali kalau kau menyadari hal itu, Nak. Berarti
kesadaranmu ini merupakan suatu awal yang sudah
berada dalam perspektif penciptaan. Jangan lupa bahwg
sebuah kebun atau taman adalah sebuah ciptaan
mamrafl Maka ia harus lebih dahulu dipikirkan,
dikehendaki supaya terwujud, pendek kata,
direncanakan. Sebab menciptakan sebuah kebun, apalagi
taman, berarti, mencari-cari sebuah dunia yang lebih
baik. Dalam usaha kita menyempuraafcgi alam kita
dituntun oleh suatu gambaran surgawi. hasil usaha ini
nanti berupa sebuah taman bunga firdausi atau sekedar
sebuah kebun sayur, ia selalu didasarkan atas harapan
akan suatu masa depan yang berjaya. Haraku akan masa
depan inilah yang menjiwai semua pertamanan. Sebuah
kebun atau taman yang tidak terus-menerus diciptakan
oleh pikiran, perasaan dan tangan nusia, dari musim ke
musim, akan terhukum mati. Setelah, beberapa waktu
yang tinggal hanya kenangan.”
Nyonya Belanda yang pernah ditolong emak ketika ;
tergelincir jatuh di muka toko Seng Hap, Mevrouw JanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
sen, adalah orang bule pertama yang mengagumi
tanaman halaman kami. Dia kemudian menjadi pembeli
tetap bunga dan tanaman berbunga yang ada. Kalau
datang ia dapat duduk yang paling disukainya adalah
tangga serambi depan. Ini adalah suatu pilihan yang
tepat sekali. Dengan duduk di anak tangga teratas, mata
bebas terlepas ke semua penjuru, pemandangan dan
suasana yang mengasyikkan kalbu bisa dinikmati, lebihlebih
bila ada kicauan burung dan kupu-kupu yang
beterbangan kian kemari. Tidak jarang dia datang
membawa satu-dua orang temannya, yang lalu menjadi
pelanggan tetap dari bunga-bunga emak.
Pernah dia datang dengan seorang nyonya, yang
setelah diperkenalkan, meminta bantuan emak
menyemarak-kan pesta di rumahnya dengan jalan
menyusun bunga di jambangan-jambangan dan sekalian
mengatur letaknya di berbagai ruangan. Untuk keperluan
itu emak mendatangi rumah sang nyonya di Manggalaan,
melihat-lihat ruangan yang akan dipakai untuk berpesta
serta keadaan halaman rumah. Pada hari yang telah
ditentukan sebuah mobil datang menjemput emak. Dia
pergi dengan membawa bunga-bunga dan dedaunan
segar yang baru dipetik. Kedua kakakku dimintanya
menyusul sepulang dari sekolah untuk membantu. Aku
dipesan emak datang menjemput di sekitar jam setengah
lima sore dengan sado. Ketika aku datang emak dan
kakak-kakakku baru saja selesai dengan pekera jaannya.
Nyonya rumah sebenarnya berniat mengantarkan kami
pulang dengan mobilnya, tetapi emak memutuskan
pulang dengan bersado saja. Dalam peijalanan pulang
kami lewat Kampung Keling untuk membeli mi rebus
‘Bang Tong, gado-gado Nek Inem, aneka roti dan

penganan kegemaran kami dan bapak. Kreasi dan
tatanan emak ternyata sangat memuaskan tuan dan
nyonya rumah. Puji-pujian datang juga dari para
tamunya di malam Minggu itu. Belakangan kami dengar
bahwa tuan yang berpesta itu adalah direktur dari De
Javasche Bank.
Keberhasilan emak dengan tanaman bunganya
menarik perhatian Uak Haji Muala, seorang pedagang
bunga. Sepulang dari Mekah dia tidak kembali ke
kampung hala nya di Betawi tetapi memilih untuk
bermukim di’ kami. Letak rumahnya agak jauh dari
rumah kami. mannya luas dan seluruh permukaannya
ditanami denc bunga, terutama bunga mawar yang
sangat digetiEH^^K keluarga-keluarga Belanda. Mungkin
karena tidak dipupuk atau disiram secukupnya, bungabunga
mawarnya tidak menjadi sebesar dan sesegar
mawar emak, padahal dulu emak membeli bibitnya dari
dia. Dia mengusulkan kepada emak, separuh membujuk,
agar emak menanam bungfc mawar saja sebanyak
mungkin. Dia akan menjamin pemasarannya, emak tak
perlu bersusah-payah untuk itu. Terima kasih atas
perhatian Bang Haji,” kata emak dengan lembut. “Kalau
ada orang datang ke sini untuk membeli bunga, memang
saya jual. Tetapi bunga-bungar ini saya tanam bukan
dengan maksud memperdagangkannya. Bila saya sedang
risau atau tak enak badan, saya melangkah ke dalam
kebun dan taman saya. Di saat itu saya segera
bersentuhan dengan lingkungan dan suasana; yang lebih
luas, luas sekali. Coba lihat. Pohon rambutan itu berasal
dari Langkat, pohon jeruk dari Aceh, tomat dan kubis
dari Karo. Berbagai bunga yang bibitnya dahulu saya beli
dari Bang Haji dan didatangkan dari Betawi, masin,

Manado, Singapura dan Penang, ternyata menurut
nyonya-nyonya Belanda yang pernah kemari terdapat
pula di negeri-negeri lain yang jauh dari sini. Bunga
alamandliH itu, misalnya, yang Bang Haji datangkan dari
Jawa, adat juga di daerah Amerika Selatan. Demikian
pula bunga ma? tahari yang sangat disenangi si Leman.
Bunga ini beserta jagung yang di sebelahnya bahkan
sudah ada di daerah itu sejak 2000 tahun sebelum
Masehi. Bunga nyonya-makan sirih ada di Afrika. Bunga
merak yang saya perai hutan dekat kita ini rupanya
tumbuh juga di hutan-Madagaskar. Sementara bunga
sungsang dapat ditanam di seluruh Asia. Bunga mawar
ada pula di Negeri Belanda. Bahkan salah satu kota di
negeri itu dinamakan Lembah Mawar atau Rozendal.
Burung layang-layang yang sedang sibuk menyambarnyambar
serangga itu, menurut Nyonya Jansen, ada di
seluruh negeri kita. Burung-burung prenjak yang lagi
ramai berkicau itu, menurut si Bager, banyak juga
beterbangan di udara kota Madras, tempat kelahirannya
di Keling sana. Nah, Bang Haji, di luar ambang pintu
rumah saya, kebun dan taman ini, melalui sayuran dan
bunga yang tumbuh di situ, menghadirkan dunia di
halaman rumah. Batas-batasnya berada sama jauh dan
dalamnya dengan pemahaman saya sendiri.”
Jadi buat emak pertamanan di halamanan rumah kami
adalah, avant tout, tempat berkontemplasi, keheningan,
ketenangan, bernafaskan nilai-nilai ilahiah dan
kemanusiaan. Ia meluas hingga menyentuh kedalaman
dari diri, dari dunia kerohanian dan kebendaan.
Setelah aku beranjak dewasa aku berkesempatan
menyaksikan sendiri taman-kebun yang ada di Perancis,
Belanda, Inggris, Jepang dan Korea Sealtan. Kini aku

hidup sehari-hari di tengah-tengah taman kebun yang
diciptakan oleh istriku di halaman rumah kami, dengan
keindahannya sendiri yang khas, menampilkan citra
keheningan dan ketenteraman bagi siapa pun yang
berada di dalamnya. Di sini ada “hutan kecil” berupa
pohon buah-buahan, di antaranya pohon buni, ada
dedaunan serta bunga serba warna dan aneka ragam
anggrek dari seluruh Indonesia dan berbagai negara di
dunia. Ada kupu-kupu, ada capung, ada bajing dan
burung yang bebas beterbangan dan bersarang – hingga
anakku pernah mengulang nyanyian yang pernah
dipelajarinya di Ecole Maternelle di Paris, berbunyi “…
dans lejardin de ma mere oii tous les oiscaux y font leur
nids” di kebun ibuku di mana semua burung membuat
sarangnya.
Ada karya-karya seni yang menggambarkan,
menyairkan dan mendendangkan keindahan taman
kebun. Mengingat seni kontemporer sangat menjauhi
representasi plastis, sastra dan lukisannya lebih
menyukai abstraksi ketimbang realisme, aku pikir kebun
halaman dalam dirii$p| merupakan mediator, yang
menguji berdasarkan realitas konsep masing-masing
seniman tentang keindahan.
Dan realitas keindahan ini telah ditampilkan, dahulu
oleh emakku dan kini oleh ibu anakku, di halaman
rumah.

BAB 5
EMAK DAN RUMAH SAKIT

Sewaktu kakak tertua akan melahirkan anaknya yang
pertama, dia kelihatan takut dan sangat gelisah. Kak
Nani bertingkah laku demikian karena suaminya
menghendaki dia melahirkan di rumah sakit. Sebagai
orang sekolahan abang ipar tentu lebih mempercayai
dokter ketimbang dukun beranak.
Kak Nani sebenarnya bukan takut pada dokter dan
rumah sakit. Di kalangan anak-anak di kampung
memang beredar cerita bahwa orang yang dibawa ke
rumah sakit pasti akan “dipotong-potong” oleh dokter.
Yang ditakutkan Kak Nani pasti bukan kebenaran cerita
anak-anak ini. Yang ditakutinya adalah bayangan bahwa
dia nanti akan tinggal sendirian di ruangan rumah sakit.
Bagaimana nanti kalau malam hari dia perlu bantuan.
Memang katanya ada perawat yang beijaga siang dan
malam, tetapi orang-orang itu pasti bukan kenalannya
selama ini. Jadi apakah mereka akan membantunya
dengan ikhlas dan senang hati? Dengan penuh
pengertian dan kasih sayang?
Emak dapat segera menangkap hal-hal yang membuat
Kak Nani takut dan gelisah itu. Rasa takut pada
kesendirian itu adalah bawaan kakak sejak kecil. Dia
masih bayi ketika orang tuaku pindah dari Kampung
Kubur ke Kampung Darat. Waktu itu kota Medan meluas
ke arah barat, ke daerah yang masih berhutan. Sebagai
sebuah pemukiman yang baru dibuka, kampung ini betulbetul
berupa dan bersuasana hutan. Pada waktu asar
sudah mulai gelap karena pohon-pohon yang tinggi dan
berdaun lebat masih tumbuh rapat. Di malam hari babibabi
hutan masih terdengar berkeliaran di kolong rumah.
Sungguh tidak mengenakkan bagi pengalaman seorang
anak kecil, bagi orang yang sedang sendirian. Maka

emak membujuk menantunya agar membolehkan
persalinan yang pertama bagi isterinya ini dilakukan di
rumah saja. Dia akan dibantu oleh Nek Siti yang sudah
berpengalaman, sebagai dukun beranak yang pernah
membantu emak melahirkan semua anaknya, termasuk
Kak Nani. Lagi pula emak dapat menungguinya siang dan
malam terus-menerus dengan kasih sayang seorang ibu.
“Emak tak usah khawatir,” kata abang ipar. “Sampai
sekarang belum pernah ada berita bahwa perempuan
yang melahirkan di rumah sakit terlantar, menderita atau
celaka.”
“Ya, memang tak perlu dirisaukan Kak,” sambung Pakcik
Leman menenteramkan emak, “Dokter dan perawat di
rumah sakit tentunya sudah berpengalaman juga dalam
membantu perempuan bersalin. Lagi pula mereka ini
sudah diuji lebih dahulu pengetahuan dan kecakapannya
sebelum diizinkan bekerja.”
“Saya bukan meragukan kepintaran dokter dan
perawat di bidangnya masing-masing,” kata emak.
“Mereka sudah disekolahkan untuk itu. Tapi dokter itu
‘kan belum pernah melahirkan anak. Kalian pun tidak.
Saya sudah berkali-kali Saya tahu benar bagaimana
bingungnya pikiran, bagaimana galaunya perasaan, kalau
harus berada sendirian dalam menghadapi cobaan Tuhan
yang satu ini. Sedangkan si Nani sejak kecil selalu takut
berada sendirian.”
Karena abang ipar dan paman diam saja, emak
melanjutkan, ” … maka di saat-saat seperti itulah terasa
benar perlunya ada kepastian tentang keberadaan
seseorang bila diperlukan, siang dan malam. Lebih-lebih
lagi bagi yang bersalin untuk pertama kalinya.”

Abang ipar tetap pada pendiriannya. Ketika ada berita
bahwa Kak Nani sudah melahirkan, kami semua bergegas
berangkat ke rumah sakit. Karena belum 12 jam, begitu
bunyi peraturannya, tidak semua pengunjung boleh
masuk, hanya suami dan orang tua, itu pun sangat
dibatasi waktunya. Dan benar seperti yang dikhawatirkan
emak, dia pun tidak boleh menunggui Kak Nani
sepanjang hari, lebih-lebih di malam hari.
“Saya kan emaknya zuster, emak kandungnya,” bujuk
emak berhati-hati. “Dan ini adalah persalinan anak saya
yang pertama kalinya!”
“Mak, peraturan yang menetapkan semua itu, bukan
kami-kami ini,” jawab para perawat. “Kami hanya pelak-.:
sana pekerjaan sesuai dengan peraturan.”
Karena penasaran emak-lalu pergi sendiri menghadap
dr. Pimgadi. Kami tak tahu apa-apa yang persis
dibicarakan! nya dengan dokter ini, tetapi kulihat
wajahnya ceria sekali di saat kembali ke tempat kami
menunggu. “Beres,” katanya dengan nada gembira.
“Emak boleh menunggu si Nani setiap malam, mulai
malam ini, selama dia dirawat di sini. Sudah saya duga
dokter Jawa ini penuh pengertian, berperikemanusiaan
tinggi.”
Maka setiap sore sehabis asar emak pergi ke rumah
sakit dengan membawa makanan kesukaan kakak,
menginap dan pulang ke rumah kembali di sekitar jam
delapan keesokan paginya. Ruangan yang dikhususkan
untuk perempuan yang baru bersalin tidak seluas
ruangan-ruangan pasien lainnya. Alangkah segar rasanya
di dalam ruangan ini. Jendelanya besar-besar sehingga
suasana terang-benderang.

Udara senantiasa bertukar hingga lapang dada
bernapas. Ruangan ini tidak penuh, hanya diisi oleh
empat orang, termasuk kakak. Masih ada beberapa
tempat tidur yang kosong. Bersalin di rumah sakit
memang belum umum ketika itu.
Di kalangan penghuni ruangan bersalin ini emak cepat
dikasihi oleh setiap orang. Emak memperlakukan setiap
pasien seperti terhadap anak atau keluarganya sendi-
Bukan Kak Nani saja yang mendapatkan perhatiannya.
Siapa pun yang mengeluh di malam hari pasti dihiburnya
dengan penuh kasih sayang. Adakalanya emak
menghibur dengan nyanyian yang dapat didengar oleh
semua pasien. Para perawat juga menyayangi emak,
lebih-lebih hoofd-zuster Bertha Tampoebolon karena
emak berusaha belajar dari mereka tentang seluk-beluk
perawatan medis bagi perempuan-perempuan yang baru
bersalin dan makanan yang sehat bagi para bayi. Kalau
jam bezoek sore hari sudah habis dan para pengunjung
sudah pulang semua, emak segera menyapu dan
mengepel lantai ruangan.
“Emak tak perlu berbuat begitu,” cegah Zuster Bertha.
“Ruangan-ruangan yang lain pun cukup dibersihkan
sekali sehari, kalau pagi saja.”
“Ah, tak apalah,” kata emak. “Kalau bersih ‘kan sedap
di mata dan enak di hati. Lagi pula lebih sehat, bukan?!”
Kak Nani diizinkan pulang setelah tinggal sepuluh hari
di rumah sakit. Dengan diantar oleh zuster Bertha kami
beramai-ramai menemui dr. Pimgadi di kantornya untuk
mengucapkan terima kasih. Emak menggendong cucunya
yang pertama dan dengan bangga menunjukkannya
kepada dokter. Dokter Pirngadi membelai-belai kening

dan pipi si kecil sambil memberikan beberapa petunjuk
tentang perawatan dan makanan bayi yang baik menurut
ilmu kesehatan. Setelah menjabat tangan emak agak
lama dia memberikan sejumlah uang kepada emak.
“Saya mendapat laporan dari Zuster Bertha bahwa setiap
sore Emak membersihkan ruangan pasien setelah jam
bezoek selesai,” katanya lembut “Maka sudah
sepantasnya rumah sakit memberikan imbalan terhadap
perbuatan Emak ini.”
“Ah, tak usahlah dokter,” tampik emak dengan halus.
“Saya ‘kan bukan pegawai di sini,” katanya merendah.
“Tapi Emak sudah bekeija baik sekali, persis sesuai
dengan ajaran kesehatan.”
“Terus terang, dokter, saya menyapu dan mengepel
itu demi kesehatan anak saya sendiri, bukan untuk
membantu atau menyenangkan rumah sakit.”
“Saya dengar Emak juga telah membantu dan
menghibur semua pasien yang ada di ruang bersalin.
Bahkan dengan nyanyian merdu dan pantun yang
khidmat. Mereka semua merasa senang dan bahagia
bagai berada di rumah sendiri. Seorang di antaranya,
yang pulang kemarin, mengatakan sendiri hal ini kepada
saya. Dia mengira Emak bekerja di rumah sakit ini.”
“Syukurlah kalau begitu, dokter. Namun sejujurnya,
tujuan awal saya turut berjaga malam di ruangan pasien
adalah membahagiakan si Nani saja. Saya selalu merasa
bahagia dengan membuat anak-anak saya bahagia dan
tidak dihantui oleh ketakutan. Kemudian terpikir oleh
saya mengapa tidak sekalian membahagiakan pasienpasien
lain. Bukankah mereka boleh dikatakan senasib
dengan anak saya ini?! Jadi sebenarnya saya sudah

memperoleh imbalan untuk kerja saya di sini, yaitu
dengan membuat semakin banyak orang bahagia,
kebahagiaan saya sendiri menjadi semakin besar. Karena
itu sayalah yang ingin mengucapkan terima kasih kepada
rumah sakit, kepada dokter sendiri dan kepada semua
perawat. Lagi pula perawatan dan pelayanan di sini baik
sekali.”
“Artinya, kalau begitu, bila Emak ditakdirkan Tuhan
hamil lagi, Emak bersedia melahirkan anak di sini?”
“Ah, tidaklah, dokter,” emak tersipu-sipu.
“Mengapa tidak?! Emak kelihatannya masih muda,
seperti kakak si Nani saja, bukan seperti ibunya.”
Aku pikir dr. Pirngadi tidak bersenda-gurau. Dia pun’
melihat juga rupanya betapa wajah serta penampilan
kakak dan emak bagai pinang dibelah dua. Lagi pula
emak memang kelihatan selalu lebih muda dari umurnya,
lebih-lebih kalau sedang gembira.
“Atau perawatan di sini sebenarnya belum sebaik
seperti yang Emak bayangkan,” pancing dr. Pirngadi.
‘Tidak dokter, bukan karena itu. Perawatan di sini
sudah baik.”
“Lalu karena apa? Kalau boleh saya tahu … agar bisa
saya koreksi … demi perbaikan mutu pelayanan rumah
sakit”
“… Karena… ya, karena saya tak punya Emak lagi
yang bisa diajak menemani saya di sini bila malam hari.”
Dokter Pirngadi tertawa terbahak-bahak mendengar
jawaban emak ini. Demikian pula Zuster Bertha.
Demikian pula semua orang yang kebetulan ada di

kantor. Dokter sendiri yang lalu membukakan pintu
kantornya ketika kami permisi pulang. Karena aku yang
terakhir keluar, Zuster Bertha membungkuk untuk
berbisik ke telingaku, “Emata&l memang hebat!”
Sejak itu perawat yang ramah ini kadang-kadang
bertandang ke rumah. Dia memberitahu emak berbagai
macam obat dan alat yang bisa dibeli bebas di apotek
untuk menanggulangi berbagai macam penyakit ringan
seperti demam, pilek, batuk, diare, kudis dan lain-lain,
yang sebagian sudah diketahui emak dari pakcik. Dia
juga mengajarkan emak bagaimana caranya memberikan
pertolongan pertama bagi aneka kecelakaan sebelum
dibawa secepatnya ke dokter atau rumah sakit.
Sebaliknya emak memberita-dia aneka ragam daun, bijibijian
dan akar-akaran yang mengandung khasiat dan
bagaimana caranya meramu semua itu menjadi obat.
Pada suatu hari Minggu setelah sembahyang di gereja
dia pernah sekali datang dengan membawa beberapa
perawat yang sempat dikenal emak selama “berdinas”
dahulu di rumah sakit. Mereka kelihatan akrab dan
gembira sekali, tertawa cekikikan, bagai reuni dari
sesama teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu.
Mereka bernyanyi dengan iringan kecapi dan harmonium
yang dimainkan emak. Para zuster menyanyikan lagulagu
Batak dan emak melantunkan lagu-lagu Melayu dan
lagu Arab yang pernah dinyanyikan oleh Oum Kalsoum
dari Mesir. Karena mengetahui mereka semua adalah
anak-anak asrama yang jauh dari orang tua masingmasing,
emak sengaja menciptakan suasana keluarga
bagi gadis-gadis ini. Emak menyiapkan suguhan nasi
goreng lengkap dengan selada penyegar. Selagi dia

menyiapkan makanan tersebut mereka duduk-duduk
mengelilinginya di dapur sambil bersenda-gurau.
Setelah lama tidak muncul Zuster Bertha datang
menemui emak untuk berpamitan. Dia katanya akan
dipindahkan ke sebuah rumah sakit yang lebih besar di
Betawi. Dia terima usul perpindahan ini karena
merupakan suatu promosi. Ketika hendak pulang dia
memeluk emak dengan mesra sekali bagai memeluk
inangnya sendiri sambil menangis terisak-isak. Emak
memberikan kepadanya sebuah tanda mata berupa
kalung dan gelang manik-manik yang dia buat sendiri.
Beberapa tahun kemudian ketika tiba saatnya bagi
adikku untuk dikhitankan, khitanan ini dipercayakan
emak kepada dr. Pimgadi dan tidak lagi kepada dukun
sunat seperti yang kualami dahulu. Ketika emak hendak
membayar jasa medisnya ini dokter menolak dengan
halus. “Tak pantaslah, Mak,” katanya dengan logat
Medan yang kental “Masak saya menerima bayaran dari
kakak sendiri. Apa nanti kata orang.” Dia menyalami
emak dengan tersenyum. Berhubung dokter keberatan
menerima pembayaran, emak’ ? lalu memakai kebiasaan
di kampung dalam jasa penyunat. Dia pergi keesokan
harinya ke rumah dr. Pimgadi dan menyerahkan kepada
istrinya pulut kuning, panggang ayam dan aneka ragam
penganan.
Dalam tempo empat hari luka adikku sudah kering dan
tiga hari kemudian dia sudah bisa berlari-lari mengejar
layang-layang putus. Sedangkan penyembuhan lukaku
dahulu ketika disunat oleh dukun memerlukan waktu dua
minggu dan sesudah itu masih harus bersabar seminggu
lagi sebelum bisa main sepak bola seperti sediakala.


Bab 6
EMAK DAN PENGEMIS
Saya benci kepada pengemis,” kata emak setiap kali
ada peminta-minta datang ke rumah. Memang ada saja
orang seperti ini mengunjungi setiap rumah yang ada di
kampung kami, kadang-kadang bisa sampai tiga-empat
kali dalam seminggu, lebih-lebih di waktu bulan muda.
Orangnya tidak selalu sama dan bukan dari penduduk
sekampung. Emak tidak pernah memberikan apa pun
kepada mereka. Dibiarkannya saja pengemis itu berdoa
panjang lebar sampai bosan sendiri dan akhirnya pergi
begitu saja sambil mengomel panjang pendek. Emak
juga melarang semua anaknya untuk meladeni setiap
pengemis di mana pun.
“Kan dapat pahala, Mak?!” kata Kak Marni.
“Pahala apa, masak Tuhan memberikan ganjaran atas
perbuatan kita dalam mendukung perbuatan yang
membencikan,” jawab emak.
Dia lalu menguraikan beberapa tingkah laku pengemis
yang dianggapnya sebagai perbuatan yang
membencikan. Pertama, orang ini dengan sengaja
menyalahgunakan ayat-ayat suci untuk membenarkan
perbuatannya, seolah-olah ayat-ayat itu diturunkan
memang demi membenarkan kepengemisan. Dengan
begitu dia juga sebenarnya telah merendahkan derajat
dan martabat agama kita. Coba lihat, katanya, mana ada
orang Kristen yang sesudah sembahyang di gerejanya
pada hari Minggu, lalu beijejer duduk meminta-minta di

kanan-kiri jalan yang menuju ke gapura ke luar sambil
mengucap-ucap doa, seperti yang lazim dilakukan oleh
kaum muslim selepas sembahyang Jumat di mesjid.
Dengan mengucap-ucapkan ayat-ayat, para pengemis itu
sebenarnya bukan ingin mencari atau mendekati Tuhan,
tetapi berniat mencari atau memperoleh berkah-Nya
saja.
Kedua, dengan meminta-minta sambil berdoa itu, si
pengemis mengutak-atik rasa keseagamaan dan
kemanusiaan kita. Dia dan kita memang seagama, tetapi
apa yang dilakukannya itu jelas bukan yang
diperintahkan oleh ajaran Islam. Kita memang harus
berperikemanusiaan, tetapi apa yang dilakukannya itu
jelas tidak sejalan bahkan bertentangan dengan
ketentuan budi dan akhlak manusia yang terpuji.
Menurut paman dan bapakmu, para pengemis yang
bersila di pelataran mesjid pada umumnya meletakkan
uangnya sendiri di hadapan mereka. Dan tidak tanggungtanggung,
uang recehan yang bernilai besar lagi, mulai
dari kelip, ketip, hingga talen, agar mengesankan sudah
ada orang-orang dermawan yang memberi banyak
sedekah. Bukankah perbuatan itu merupakan satu
penipuan.
Ketiga, dengan meminta-minta itu, si pengemis tidak
hanya menipu kita tetapi juga membohongi dirinya
sendiri. Dia menipu kita karena telah menutup-nutupi
kemalasan-nya. Dia pasti malas mengingat masih ada
jerih payah lain yang merupakan sumber penghasilan
yang halal. Tanpa pernah sekolah, tanpa menjadi kuli
kontrak, misalnya, setiap waktu kalau dia mau dia bisa
diterima bekeija di perkebunan tembakau sebagai
pencari ulat dan telurnya, sebagai penakik getah, sebagai

pemetik kelapa sawit Kalau dia tidak segan-segan
berkeringat, dia bisa membantu peladang-peladang yang
berlahan luas yang sekarang kabarnya sudah bingung
karena kekurangan tenaga. Bahkan ada yang menipu
dengan berpura-pura menanyakan alamat seseorang,
kemudian meminta uang dengan alasan kehabisan
ongkos untuk pulang lagi ke kampung asal. Dia
membohongi dirinya sendiri dengan berbuat seakan-akan
sudah tidak ada jalan lain untuk mencari duit selain
dengan cara mengemis.
“Ya, Mak, tapi ‘kan ada pengemis yang berbadan
cacat,” potong Kak Ani, “buta, tangan atau kaki puntung
…!”
“Barangkali cacat-cacat tersebut dapat merupakan
pengecualian,” sahut emak, “dapat dijadikan alasan
untuk memohon belas kasihan. Namun orang cacat pun
kalau mau dapat menghasilkan sesuatu sebagai sumber
kehidupan. Bukankah Al Djamiatul Waslijah telah
mendirikan balai latihan bagi orang-orang cacat di
Sunggal agar bisa membuat keset kaki dari sabut kelapa,
sapu ijuk dan barang-barang rumah tangga lain yang
serba sederhana. Bapakmu dulu ikut menyumbang bagi
pembentukan modal pertamanya dan mencarikan
sumber air bagi sumurnya. Tetapi emak dengar ada yang
kemudian pergi begitu saja, karena katanya dengan
mengemis, bermodalkan cacat tubuh dan wajah sedih,
mereka bisa mendapat uang tiga-empat kali lebih besar
daripada membuat keset kaki dan berkeliling menjualnya
dari rumah ke rumah.
“Biasanya yang mengemis itu ‘kan orang miskin, Mak,”
aku turut bicara, “jadi memang perlu bantuan.”

“Setelah mengamati mereka yang secara teratur
datang mengemis ke sini,” kata emak, “tampang,
keadaan tubuh serta pembawaannya menunjukkan
bahwa mereka bukanlah miskin benda. Sebenarnya
mereka lebih banyak miskin dalam pikiran, gambaran dan
lebih-lebih dalam kemauan.”
Menurut emak karena miskin dalam hal-hal yang
disebut terakhir itulah makanya mereka melalaikan
rahmat Allah yang tersedia di sekitar kita. Tidak
terbayang oleh mereka bagaimana menarik manfaat dari
negeri ini yang begitu subur dan hijau. Pamanmu sering
mengatakan tongkat saja bisa tumbuh walaupun
dilempar begitu saja ke tanah kita. Bangsa-bangsa lain
berbondong-bondong datang kemari mencari kehidupan-
Belanda, Cina, Keling, Arab, dan lain-lain. Mereka ini
tidak hanya bisa hidup, ternyata ada yang bisa menjadi
kaya raya. Padahal waktu datang mereka hanya
membawa badan bermodalkan kemauan bekeija keras,
tak mengenal patah semangat. Orang-orang Cina
kabarnya datang ke sini hanya membawa kayu pemikul
untuk berusaha, selain bantal kayu untuk tidur. Bukan
rahasia lagi kalau Tjong A Fie sekarang membalut
dengan sutera berbenang emas kayu pemikul yang
dahulu dipakainya untuk berkeliling beijualan dari
kampung ke kampung. Sekarang dia sudah begitu kaya
hingga dapat membuatkan sebuah jembatan yang
terindah untuk kota kita, jembatan berhiaskan lampu
kristal hingga mendapat julukan “titi berlian”. Selain ini
dia juga telah membangun sebuah taman bunga untuk
umum.
Maka kalau kita melayani kehendak pengemis begitu
saja dengan dalih kemiskinan, kita tidak hanya tidak

mendidik mereka, tetapi lebih-lebih juga tidak mendidik
diri kita sendiri agar bisa lebih tepat dalam bertindak.
Jadi jangan sembarangan menabur kebaikan. Memang
agama Islam mewajibkan kita memberikan zakat fitrah
kepada kaum fakir miskin. Setiap tahun bapak dan emak
membawanya ke surau untuk dikumpulkan. Kemudian
kepala kampung, para tetua, ulama dan zu’ama
membagi-bagikan kumpulan zakat penduduk kampung
kita kepada orang-orang di sekitar kita yang dinilai betulbetul
miskin, berkekurangan dan pantas menerimanya.
Bahkan setiap tahun zakat yang terkumpul itu masih
bersisa untuk disalurkan kepada kaum fakir miskin dari
kampung-kampung lain.
Pada suatu hari setiba di rumah dari sekolah, gadis
Keling pembantu rumah kami, si Amisha, mengatakan
bahwa emak sejak pagi pergi bersama seorang pengemis
perempuan. Ketika hendak melangkah ke ladang, seperti
biasa di sekitar jam delapan, pengemis itu datang. Si
Amisha tidak tahu persis apa yang dibicarakan antara
emak dan dia. Beberapa saat kemudian emak balik
masuk ke rumah, berganti baju, dan lalu pergi bersama
pengemis itu. Si Amisha heran, aku pun demikian.
Selama ini aku belum pernah melihat ada pengemis
perempuan yang mendatangi rumah-rumah di kampung
kami. Dan setahuku emak tidak menyukai pengemis.
Siang itu kakak-kakakku dan aku tidak pergi ke
madrasah. Bapak sesudah makan siang dan sembahyang
zuhur juga tidak kembali ke kandang lembu. Kami semua
menanti-nanti kedatangan emak dengan harap-harap
cemas, ingin tahu apa yang sebenarnya telah teijadi.
Yang riang gembira adalah adikku, si Leman, karena
siang ini punya banyak teman bermain. Kakak-kakak dan

aku bergiliran menggendongnya di punggung di saat
main kuda-kudaan. Emak baru pulang di sekitar jam
setengah tiga sore. Dia kelihatan lelah sekali.
Menurut cerita emak, perempuan itu sampai
mengemis karena sudah buntu pikirannya, bingung
bagaimana mendapatkan uang untuk mengobati sakit
suaminya yang sudah berlarut-larut dan makan dua
orang anaknya yang masih kecil-kecil. Emak penasaran
dan ingin mengecek sendiri kebenaran cerita itu. Dia
langsung meminta pengemis itu mengantarkan dia ke
rumahnya. Rumahnya agak jauh di sebelah timur kota,
kampung Soekaramai, hingga emak harus naik sado ke
sana. Perempuan itu mengaku malu mengemis di
kampungnya sendiri, maka itu melakukannya di
kampung-kampung lain.
Soekaramai adalah pemukiman dari orang-orang suku
Jawa. Dia sendiri, Djoeminten, dan suaminya, Kasan,
lahir dan besar di salah satu perkebunan tembakau.
Orang tua mereka adalah kuli-kuli kontrak yang
didatangkan dari Jawa. Ketika kontrak orang tua mereka
selesai, mereka tidak mau ikut pulang ke Jawa karena
mereka dengar kehidupan di sana penuh sengsara.
Mereka tidak ingin menjadi kuli kontrak dan berniat
mengadu nasib di Deli saja sebagai pekeija bebas. Untuk
hidup mereka si Kasan, yang tidak pernah bersekolah,
menjadi buruh pemuat dan pembongkar barang-barang
dagangan di Pasar Sentral. Sejak sebulan ini dia sakit,
badannya panas-panas dingin, muntah-muntah dan
mencret. Melihat keadaannya ini emak benar-benar
tersentuh perasaannya.
Dengan bersempit-sempit di sado, emak mengantar si
Kasan ke rumah sakit gemeente Serdangweg. Istrinya

disuruh emak ikut dan anak-anaknya dititipkan dulu pada
tetangga. Sesampai di rumah sakit emak langsung
menemui dokter Pimgadi. Setelah mendengar cerita
emak dokter beijanji akan memberikan perawatan yang
diperlukan. Ketika emak mengatakan bahwa dia yang
akan menanggung biayanya, dokter tersenyum dan
menyalami emak, sambil mengatakan bahwa emak
sudah berbuat terlalu banyak. Maka giliran dia yang akan
melanjutkan usaha kemanusiaan yang dimulai oleh
emak. “Saya juga dari Jawa, Mak, sama-sama merantau
ke Deli seperti si Kasan,” begitu katanya kepada emak.
Sebelum pulang emak memberikan kepada Djoeminten
sedikit uang untuk makan dia dan anak-anaknya.
Kira-kira tiga bulan kemudian pasangan Kasan dan
Djoeminten serta anak-anaknya datang ke rumah untuk
mengucapkan terima kasih. Mereka membawa serantang
makanan. Si Kasan telah memburuh lagi di Pasar Sentral
dan si Djoeminten bekeija sebagai pembantu di rumah
dokter Pirngadi atas permintaannya sendiri. Mula-mula
dia keberatan ketika hendak diberikan gaji penuh. Dia
ingin menerima setengahnya saja, sisanya dipakai
sebagai pengganti uang dokter Pirngadi yang terpakai
untuk membiayai perawatan suaminya di rumah sakit.
Katanya dokter Jawa yang berbudi ini menolak
pengggantian itu dengan mengatakan bahwa dia sudah
beijanji kepada emak untuk mengurus si Kasan sampai
sembuh dan bisa bekeija lagi.
Setelah mencicipi makanan yang dimasak sendiri oleh
Djoeminten, emak berkesimpulan bahwa dia pintar
masak. Maka emak menyarankan agar dia jualan
makanan saja: gado-gado, pecel, tahu goreng, nasi
rames, lontong atau bubur. Untuk modal dia dan Kasan

harus menabung sedikit demi sedikit. Suami istri ini
beijanji akan mempertimbangkan saran tersebut.
Rupanya mereka memutuskan untuk melakukan apa
yang dikatakan emak. Ketika Djoeminten memberi tahu
dokter Pirngadi hendak berhenti bekeija sebagai
pembantu di rumahnya karena mau mencoba beijualan
makanan, atas usul emak, dokter Pirngadi tidak
keberatan, malah memberikan uang guna dipakai
sebagai modal usaha.
Mereka menjajakan makanannya dengan gerobak
dorong buatan si Kasan sendiri dan mangkal di pojok
lapangan esplanade yang teduh di bawah naungan
pohon-pohon angsana. Tempat ini sungguh strategis
karena terletak di dekat stasiun kereta api di mana sado
dan bemo biasa mangkal menunggu penumpang. Tidak
jauh dari situ terdapat kantor pos yang selalu ramai
dikunjungi orang, kantor gmeente, dua hotel besar, De
Javaasche Bank dan beberapa bank lainnya, yang
mempekeijakan ratusan pegawai pribumi. Kabarnya
jualan mereka laris sekali; selain enak juga karena
mereka menampilkan citra kebersihan.
Baru dua bulan berusaha, mereka sudah
menggunakan dua gerobak dan menggaji dua orang
pembantu. Mereka mulai berjualan minuman segar,
seperti cendol, es buah, es kacang merah, es tapai, es
tebak, es madura dan es sanghai. Belakangan kudengar
ada sinyo dan noni Belanda yang tak segan-segan
mampir sehabis sekolah untuk menikmati berbagai jenis
minuman yang mereka tawarkan itu. Mungkin karena itu
pula mereka pernah dibujuk oleh restoran Ter Meulen”
yang rasialis di Jalan Kesawan agar mau bekeija di situ.
Mereka menolak. Pendekatan serupa yang dilakukan pula

oleh restoran besar Belanda lainnya, “Tip Top”, dijalan
yang sama, juga tidak mereka terima.
Mendengar cerita tentang keberhasilan usaha suami
istri yang pernah ditolongnya itu, emak bilang bahwa
mereka boleh saja tidak pernah bersekolah, si
Djoeminten pernah mengemis, tetapi mereka ternyata
tidak miskin dalam pikiran, gambaran dan kemauan serta
mau belajar dari pengalaman. Dan Tuhan ternyata
menghargai sikap dan jerih payah seperti itu. Bukankah
DIA ada mengatakan bahwa manusia tidak akan menjadi
lebih baik nasibnya kalau dia sendiri tidak berusaha
untuk memperbaikinya. Dengan perkataan lain, doa saja
kiranya tidak cukup, masih diperlukan sekali keija keras.
Keliru kalau mengatakan sedang mujur. Yang disebut
kemujuran itu tidak ada, yang ada adalah kemauan
berusaha yang tak kenal surut, pantang menyerah.

Bab 7
EMAK DAN MEMBACA
Hari ini sejak sehabis subuh emak sudah berada di
dapur. Dia sibuk membuat berbagai macam makanan
dengan dibantu oleh kakak-kakakku dan si Amisha.
Makanan-makanan itu bukanlah untuk berbuka puasa
tetapi untuk dibawa nanti malam ke surau dalam
memperingati Nuzulul Quran. Untuk memeriahkan
peringatan peristiwa suci ini setiap keluarga di kampung
biasa menyumbangkan setampah makanan masakannya
sendiri.

Menjelang asar emak membawaku ke Kampung
Keling, daerah pertokoan yang terdekat dengan kampung
kami. Sebenarnya orang-orang asal India bukan
merupakan komunitas terbesar di perkampungan ini.
Namun di sini tersedia berbagai sarana yang
memfasilitasi pemuasan kebutuhan-kebutuhan khas
mereka, seperti kuil bagi mereka yang beragama Hindu,
mesjid bagi yang beragama Islam dan sekolah bergaya
Inggris “Khalsa English School” Di samping itu semua
jalan di daerah ini memakai nama kota-kota di India. Ada
Colombostraat, Bombaystraat, Mad-rasstraat, dan lainlain.
Di jalan Madrasstraat ini terdapat satu-satunya kedai
pangkas Keling dan ke sinilah emak membawaku sore
itu.
Waktu lalu pulang kami tidak melalui jembatan Titi
Berlian yang terbentang di atas Sungai Baboera. Sebelum
melintasi jembatan ini emak menuntunku turun ke
sungai. Di musim kemarau sungai ini dangkal dan airnya
jernih sekali, ikan-ikan kecil sejenis teri jelas kelihatan
berenang kian kemari. Emak memilih tepian yang baik,
agak berbatu dan lalu memandikan aku. “Nanti malam
Nuzulul Quran,” katanya sambil menyabuni tubuhku dan
mengeramasi rambutku yang baru dipangkas pendek.
Aku sudah tahu bahwa di malam tersebut turun wahyu
pertama dari rangkaian keseluruhan isi Kitab Suci Al
Qurati yang berbunyi nIqrak”. Aku pun tahu dari kakakku
bahwa arti dari wahyu pertama ini adalah “bacalah”.
Walaupun aku belum mengaji, karena selama ini
dianggap masih terlalu kecil, aku tahu sedikit-sedikit
jalannya kisah penurunan wahyu tersebut di Gua Hira.
Bukankah kisah yang sama diceritakan kembali di surau
pada setiap malam tanggal 17 bulan Ramadhan.

“Beberapa bulan lagi umurmu genap empat tahun,”
kata emak lebih lanjut. “Bapak dan emak kira sudah
saatnya kau mulai belajar membaca Ouran. Daoed bukan
anak kecil lagi sekarang dan rambutmu tidak pantas lagi
untuk dicukur. Maka itu mulai hari ini rambutmu akan
selalu dipangkas. Emak akan mengantarkanmu dua bulan
sekali ke tukang pangkas Keling tadi.”
Jadi peristiwa Nuzulul Quran kali ini bagiku rupanya
tidak sama dengan apa-apa yang terjadi dengan
turunnya Al Qurati di tahun-tahun sebelumnya. Setelah
upacara peringatannya di surau selesai dan kembali ke
rumah, aku tidak boleh segera tidur. Dengan disaksikan
oleh kakak-kakakku, bapak mula-mula mengajarku
membaca huruf-huruf Arab, dari Alif sampai Ya,
berulang-ulang hingga tiga kali. Kemudian giliran emak
melakukan hal yang sama. Lalu bapak, emak dan kakakkakakku
membaca bersama-sama lima ayat pertama dari
surat Al ‘Alaq, yang dipercaya sebagai wahyu Allah yang
pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
melalui Malaikat Jibril. Ayat-ayat ini mereka baca lambatlambat
agar aku dapat mengikutinya sampai lima kali.
Akhirnya bapak menutup upacara kecil ini dengan
membaca doa. Keesokan harinya baru dimulai
pembelajaranku yang sebenarnya dalam membaca Kitab
Suci agama Islam. Pembelajaran ini berlaku setiap pagi,
selama lebih kurang satu jam. Kalau bapak berhalangan,
emaklah yang menuntunku membaca. Kalau hari Minggu
giliran kakak-kakakku yang menjadi pengajar.
Emak menepati janjinya. Dua bulan sekali dia
mengantarkan aku ke Kampung Keling untuk dipangkas.
Satu kali sehabis memandikan aku di sungai, emak
duduk di atas batu di tepian dengan kaki menjuntai ke

dalam air. Emak kelihatan santai sekali. Aku duduk di
sebelahnya sambil mengunyah roti. Ini adalah satu
kesenangan tersendiri yang kunikmati bila pulang
pangkas bersama emak. Sebelum turun ke Sungai
Baboera kami lebih dahulu mampir di rumah pembakaran
roti seorang Keling Islam yang berada persis di ujung
jembatan Titi Berlian. Di situ emak membelikan aku roti
bulan dan roti-roti lainnya yang menjadi kesukaan kakak
dan bapak. Setiap habis dimandikan aku boleh
menghabiskan roti pilihanku atau, kalau hari sudah agak
senja, aku boleh memakannya sambil beijalan pulang.
Dan kali ini, karena hari masih cerah, emak dan aku
duduk-duduk bersebelahan di atas batu.
“Kau lihat sungai ini Daoed,” katanya sambil
memekikkan tangannya di bahuku. Tercium olehku bau
harum sanggulnya yang ditebarkan oleh angin lalu. “Kau
harus berlaku seperti batang air ini. Walaupun ia tetap
terus mengalir mencapai tujuannya, semakin lama
semakin menjauhi sumber asalnya, ia tidak pernah
memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya itu, ia
tetap setia padanya.”
Emak berhenti sejenak. Kemudian bertutur lagi, katakatanya
meluncur lancar bagai air yang terus mengalir.
“Sebagai manusia sumber kita adalah semua kebaikan,
kebajikan dan ajaran yang selama ini telah membesarkan
dan menyelamatkan kita, telah memuliakan hidup kita,
yang semakin membedakan kita dari binatang, yang
berasal dari kesimpulan-kesimpulan yang terpilih dari
pengalaman, yang diperas dari adat-istiadat, yang
diperoleh dari orang-orang bijak dan yang didapat dari
agama.”

Aku tak akan pernah melupakan kata-kata emak ini.
Andaikata dia perempuan sekolahan zaman sekarang,
kuduga dia pasti akan mengatakan bahwa “sumber kita
itu adalah sistem nilai yang kita hayati”. Aku duga
demikian karena sebelum beranjak dari batu yang
didudukinya dan mengajak aku pulang, kuingat dia
sempat mengatakan, “Menurut Pakcikmu kau harus
banyak membaca agar perbendaharaan dari semua
kebaikan dan ajaran yang kita anut itu terus
berkembang, senantiasa menjadi bertambah luas, kaya
dengan unsur-unsur baru yang bisa menggantikan unsurunsur
lama yang telah menjadi usang, yang tidak sesuai
lagi dengan perkembangan zaman.”
Ketika aku menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, pandangan metaforis emak tentang sungai
ini kuuraikan pula kepada publik dalam berbagai
kesempatan. Aku bahkan pernah mengetengahkannya di
forum UNESCO karena “sistem nilai” per definisi adalah
“kebudayaan”. Sedangkan kebudayaan dan pendidikan,
yang merupakan bagian dari sistem nilai itu, merupakan
tugas UNESCO par excellence.
Setelah aku agak lancar membaca surat-surat pendek
Al Quran, yang biasa dibaca mengiringi surat Al Fatihah
ketika sembahyang, orang tuaku menyuruhku belajar
mengaji pada beberapa orang di rumah masing-masing.
Mereka ini adalah yang dikenal di’ kampung sebagai
orang-orang yang saleh. Baru sesudah ini orang tuaku
mempercayakan pengajianku di madrasah. Setelah dua
kali menamatkan Al Quran di lembaga pembelajaran
agama ini, aku memberanikan diri menamatkan yang
ketiga kalinya dengan diuji di muka umum. Jarang sekali
ada anak pengajian yang berani berbuat demikian. Maka

itu orang tuaku bangga sekali. Mereka tidak pernah
mengusulkan walau sekali hal seperti itu kepadaku. Emak
menjahit sendiri baju teluk belanga yang bakal kupakai
dalam kesempatan itu dan bapak melengkapinya dengan
selembar kain pelekat Samarinda yang baru. Kakakkakakku
membelikan aku songkok dari uang tabungan
mereka.
Ujian ini dilakukan di surau dengan disaksikan oleh
warga kampung. Pengujinya terdiri dari beberapa ulama
yang datang dari berbagai kampung dan ustad dari
madrasah lain. Mereka secara bergiliran memintaku
membaca ayat-ayat tertentu dari berbagai surat yang
mereka pilih dan menilai ketepatanku dalam
melafalkannya. Setelah berunding mereka sepakat untuk
menyatakan bahwa aku telah khatam membaca Al Quran
dengan baik sekali.
Keberanianku menamatkan Kitab Suci dengan ujian
terbuka di depan umum kiranya menarik perhatian Ustad
Hasan Basri. Dia menanyakan kesediaanku untuk tampil
sebagai pembicara utama pada setiap peringatan Maulud
Nabi, Nuzulul Quran dan Israk Mikraj. Dia ingin membuat
suatu tradisi baru. Biasanya peran ini dilakukan oleh
tetua kampung yang, menurut dia, suaranya sudah
terlalu lemah untuk bisa didengar oleh seluruh hadirin.
Waktu itu kami di kampung belum mengenal mikrofon.
Dia sendiri yang akan menyusun uraian masing-masing
peristiwa keagamaan tersebut, aku tinggal menghafalnya
di luar kepala dan lalu mempidatokannya. Setiap uraian
memerlukan empat atau lima buku tulis. Kupikir-pikir
berat juga menghafal uraian sebanyak itu untuk setiap
peristiwa yang diperingati.

Menurut emak usul ustad ini merupakan suatu
tantangan yang baik untuk mengukur kemampuanku. Ia
dapat juga dianggap sebagai latihan untuk menjadi
mubaligh. Tantangan ini memang berat, namun pada
awalnya saja. Mengingat uraian-uraian yang sama akan
diulang lagi di tahun-tahun berikutnya, emak pikir
hafalan itu makin lama akan menjadi semakin ringan.
Lagi pula aku baru duduk di kelas dua sekolah dasar, jadi
belum punya pekeijaan rumah atau hafalan yang berarti.
Kalau bapak berpendapat tak baik mundur sebelum
dicoba melakukannya. Sementara kakak-kakakku sangat
antusias dan bersedia mentes apakah hafalanku sudah
betul, tidak menyimpang dari teks.
Madrasah di kampungku, nAt Takwa”, merekrut ustadustadnya
dari berbagai kawasan. Ia berkembang cepat
karena jam belajarnya tidak sama dengan jam belajar di
sekolah. Kalau sekolah dimulai dari pagi hingga tengah
hari, madrasah At Takwa dimulai dari jam dua hingga
lima sore. Jadi pelajaran diniahnya melengkapi pelajaran
keintelektualan dari sekolah. Dengan jam-jam
pembelajaran yang secara esensial bersifat
komplementer ini, anak-anak punya kesibukan formal
dari pagi hingga sore, tidak ada waktu lagi untuk
berkeliaran begitu saja sesudah usai sekolah. Maka itu
dengan semakin meningkatnya kesadaran orang-orang
tua untuk menyekolahkan anaknya, semakin banyak pula
anak-anak yang dikirim belajar keagamaan di madrasah
At Takwa. Sebab ada orang tua yang mengeluarkan
anaknya dari madrasah pagi, lalu memasukkannya ke
sekolah dasar dan seusai sekolah umum ini menyuruhnya
mengaji di madrasah sore. Dengan kedenderungan
seperti ini jumlah murid-murid di madrasahku semakin

lama semakin banyak karena menampung anak-anak dari
kampung-kampung lain yang berdekatan.
Di tahun awal penampilanku sebagai pembicara utama
pada setiap peringatan peristiwa keagamaan, Ustad
Hasan Basri masih duduk bersila di kaki mimbar, selalu
siap membisikkan kata-kata atau kalimat yang terlupa,
yang bisa membuat macet pidatoku. Syukur bahwa hal
yang tak dikehendaki itu tidak pernah terjadi. Ternyata
aku mampu menghafal di luar kepala sebuah teks
sebanyak empat kitab tulis. Bahkan di tahun kedua aku
sudah bisa mengatur sendiri aksen pembicaraanku,
bagian mana yang perlu diperlambat uraiannya, bagian
mana yang harus diperkeras ucapannya, bagian mana
yang cukup diketengahkan biasa-biasa saja. Aku sudah
mampu berimprovisasi sendiri.
Di tahun kedua sudah mulai ada undangan bagiku
untuk tampil bicara hal yang sama di kampung-kampung
lain dan, tanpa kuminta, di beri honor pula. Di tahun
ketiga undangan yang datang semakin banyak lagi dan
honor yang kuterima menjadi semakin besar dengan
semakin jauhnya letak kampung yang mengundang.
Emak sebenarnya tidak puas dengan honor-honor
tersebut. “Masak kita harus diberi imbalan uang dalam
menyebarluaskan syiar agama,” katanya penuh
keraguan. Maka dia meminta agar honor itu tidak
kupakai untuk apa pun selain guna menambah
pengetahuan, memperluas pandangan, memperdalam
pemahaman, melalui pembacaan buku-buku. “Kau ‘kan
sekarang sudah duduk di kelas tiga. Sudah bisa
membaca buku-buku berhuruf Latin yang
mengungkapkan berbagai ilmu duniawi di samping bukubuku
berhuruf Jawi yang membahas soal-soal

keagamaan, yang selama ini kau tekuni di madrasah,”
katanya dengan suara mantap.
Ketidakpuasan emak dengan honor tersebut
kuceritakan juga kepada Ustad Hasan Basri. Walaupun
tidak tinggal sekampung dia selalu setia mendampingi di
mana pun aku diundang untuk tampil. Menurut dia honor
itu mereka berikan dengan ikhlas hati. Mungkin juga
tidak mereka anggap sebagai imbalan tetapi lebih
sebagai ekspresi kepuasan mereka. Mereka puas karena
keberanianku berpidato dan gaya penampilanku di
mimbar rupanya dipakai oleh para tetua dari kampungkampung
yang mengundang sebagai penggugah anakanak
kampung mereka sendiri agar berani dan mampu
berbuat yang sama. “Gayamu berbicara seperti gaya
Pamanmu,” katanya, mengaku kenal Pakcik Leman di
gedung Jong Islamieten Bond. Dia mengatakan pernah
pula melihatku “bermain-main” di gedung tersebut.
Akhirnya dia mengatakan sangat memahami
ketidakpuasan emak itu dan karenanya sangat sepakat
dengan pendirian emak tentang penggunaan honor yang
aku terima. “Saya pikir Emakmu betul sekali ketika
mengatakan bahwa perintah membaca yang tersurat
dalam wahyu berbunyi ”iqrak” itu tidak hanya tertuju
pada isi Al Quran tetapi mengenai semua ciptaan Allah,”
katanya sungguh-sungguh. “Ya, belilah buku-buku yang
membahas ciptaan Allah, yang mengandung ilmu-ilmu
yang memungkinkan kau bisa memahami ciptaan-ciptaan
tersebut. Bacalah sebanyak-banyaknya. Turutilah
kehendak emakmu itu. Jangan lupa bahwa surga anak
berada di telapak kaki emaknya.”
Karena emak tidak menghendaki aku berkeliaran di
jalan dan bertandang ke tetangga, lebih-lebih di maham

hari, seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak
sebayaku di kampung, dia selalu memikirkan berbagai
cara guna mengembangkan kegemaranku membaca.
Lama-lama membaca menjadi kebutuhanku. Semua buku
di perpustakaan sekolah yang sanggup kucernakan
berdasarkan tingkat pengetahuanku, praktis sudah
kubaca. Aku mulai menjadi pelanggan yang setia dari
sebuah perpustakaan swasta yang ada di Kapiteinsweg.
Karena tarif sewa buku relatif mahal, emak bersedia
menambah uang saku asalkan kupergunakan untuk
membiayai peminjaman buku-buku. Acapkali sehabis
makan malam, manakala tidak ada pe-keijaan rumah
yang harus kuselesaikan, emak memintaku menceritakan
cerita atau dongeng yang sudah kubaca. Seringkali
bapak turut serta mendengar.
“Buku adalah pintu ke dunia,” kata emak selalu,
mungkin mengulangi apa yang pernah dikatakan oleh
paman. “Dan bahasa asing adalah kunci penting
pembuka pintu itu.”
Apa yang dikatakan emak ini memang benar. Melalui
penguasaan bahasa Belanda, setelah aku berhasil masuk
ke HIS, terbuka bagiku lebih banyak lagi buku yang bisa
kumanfaatkan. Selain buku-buku Belanda itu sendiri
dapat kubaca kini buku-buku ilmiah populer, novel, fiksi
dan dongeng bangsa-bangsa asing lain yang
diteijemahkan ke dalam bahasa Belanda, yang berjajar
menantang di rak buku perpustakaan sekolah dan
swasta. Bapak yang jarang tersenyum apalagi tertawa
lepas, tertawa juga ketika kuceritakan pengalaman si
gelandangan bernama Swiebertje, Swiebertje de
landloper”, yang menjadi walikota selama sehari,
sedangkan walikota yang sebenarnya pada waktu yang

sama menjadi gelandangan berhubung wajah mereka
mirip seperti pinang dibelah dua. ” Kedua orang itu
melakukan hal-hal yang aneh dan menggelikan selama
bertukar peran tersebut.
Pada malam bulan purnama biasanya penduduk di
kampung duduk-duduk di halaman rumah menikmati
kelembutan cahaya bulan. Anak-anak bermain kejarkejaran,
galasin atau apa saja, muda-mudi duduk
mengelompok sambil berdendang dan berpantun saling
menyindir, sedangkan orang-orang tua bercengkerama
dengan santai sambil mengunyah sirih atau aneka ragam
penganan. Sesekali di malam terang bulan seperti itu
emak menyuruhku mengundang anak-anak tetangga
bermain-main dan berkumpul di rumah kami. Serambi
rumah kami yang terbuka cukup luas dan di situ mereka
dapat duduk dengan leluasa. Emak menyajikan kacang
rebus, ubi goreng dan teh. Dia kemudian memintaku
menceritakan dongeng dan hikayat bangsa asing yang
pernah kubaca, dari Andersen, Grimm bersaudara, dan
lain-lain. Mereka senang mendengarnya dan biasanya
lingkaran pendengar semakin lama menjadi semakin
besar karena orang-orang dewasa pun datang turut
mendengar. Karena sering diulang-ulang
menceritakannya, lama-kelamaan kuingat di luar kepala
cerita-cerita itu dan timbul kemampuan untuk
membubuhinya dengan fantasiku sendiri. Hikayat 1001
malam berkat fantasiku itu menjadi cerita yang memukau
anak-anak, tua dan muda, dan selalu diminta untuk
diulang.
“Kau lihat,” kata emak sambil tersenyum, “kekayaan
benda berpisah dari kita bila diberikan kepada orang lain,
tetapi kekayaan pikiran tetap melekat pada kita

walaupun dibagi dengan orang lain. Bahkan bila tidak
dibagi dengan orang lain ini, kekayaan pikiran itu akan
raib, bisa hilang lenyap dengan sendirinya karena kita
sendiri lama-lama bisa tidak mengingatnya lagi.
Sementara orang lain tidak tahu bahwa pikiran yang raib
itu pernah ada karena tak pernah mendapatkannya. Dan
yang tak boleh kau lupakan, Nak, adalah bahwa salah
satu jalan yang ampuh, salah satu sumber yang tak
pernah kering, dari kekayaan pikiran ini adalah buku.
Sedangkan cara menggali sumber itu adalah membaca.
Jadi emak rasa bukan kebetulan kalau Allah menyuruh
kita membaca.”

Bab 8
EMAK DAN PENDIDIKAN
Sama halnya dengan bapak, emak tidak dapat
membaca dan menulis huruf Latin. Keadaan sosial dan
suasana tradisional tidak memungkinkan dia di masa
mudanya bersekolah, mempelajari hal-hal yang kini
sudah dianggap wajar atau biasa oleh gadis-gadis di
masyarakat modern. Namun tidak dapat dikatakan
bahwa emak dan bapak buta huruf. Mereka mampu
menulis huruf Arab dan lancar membaca Kitab Suci Al
Quran yang ditulis dengan huruf tersebut dan buku
keagamaan berbahasa Melayu yang bertuliskan huruf
Jawi.
Emak sendiri sebenarnya tekun dan rajin belajar. Hal
ini kusimpulkan dari berbagai kepandaian dan
keterampilan yang dikuasainya, jauh melebihi perempuan

kampung yang sebaya dengan dia. Emak, misalnya,
pintar memasak. Hampir setiap keluarga sekampung
yang punya hajat pasti mengharapkan emak untuk
menyiapkan lauk-pauknya. Orang-orang dari kampung
dan kawasan lain tidak jarang turut meminta bantuan
emak menyelesaikan soal masak-memasak ini. Emak
juga sangat mahir dalam berbagai kerajinan tangan
seperti menyulam, merenda dengan aneka jenis benang,
menyusun kembang dan membuat baju.
Kami sangat bangga dengan mesin jahit Singernya
yang merupakan benda sangat langka di kampung kami.
Setiap menjelang Idul Fitri atau ada keluarga yang
hendak mengawinkan anaknya pasti menyibukkan emak
menyelesaikan pesanan baju. Tidak sedikit gadis-gadis
belajar dari emak mengenai keterampilan yang dianggap
secara alami sebagai urusan kaum perempuan. Emak
pun cekatan dalam memainkan alat musik kecapi dan
harmonium.
Emak rajin mendengar dan banyak belajar dari
saudara sepupunya, Pakcik Leman, pengertianpengertian
baru serta istilah modern yang
mencerminkannya. Maka tidak mengherankan kalau
emak punya perhatian yang sangat besar pada
pendidikan. Dan bagiku memang emaklah yang pada
awal hidupku selalu mendorong aku untuk belajar. Dia
tidak hanya memperhatikan pendidikan kami, anakanaknya
sendiri, tetapi juga pendidikan anak-anak
tetangga kami. Dewasa itu pendidikan tradisional yang
berlaku di daerah tempat aku lahir dan dibesarkan adalah
bahwa anak gadis sebanyak mungkin tinggal di rumah,
dipingit, sambil belajar dari ibu dan kakak membuat
makanan, menyulam, merenda dan berbagai seni rumah

tangga lainnya. Sejauh mengenai anak laki-laki, sebagian
terbesar tidak bersekolah, dapat bermain sepuas hati
atau membantu ayah melakukan berbagai pekeijaan fisik.
Namun semua anak, baik laki-laki maupun perempuan,
belajar di madrasah atau mengaji di surau.
Berlawanan dengan kebiasaan ini, emak mengirim
kakak-kakakku ke sekolah; setelah menamatkan sekolah
dasar lalu melanjutkan ke Meisjes Vervolgschool. “Seni
hidup yang harus dikuasai oleh kaum perempuan
bukanlah seni menyiapkan makanan atau mengurus anak
semata-mata,” kata emak setiap kali kepada temantemannya.
“Sekolah akan membantu gadis-gadis kita
memperluas pengetahuan mereka dan mempelajari
banyak hal lain yang kita sendiri tidak mengetahuinya.
Anak-anak kita ini pasti akan memerlukan semua itu bila
mereka kelak menjadi ibu rumah tangga.”
Aku tahu benar usaha emak ini tidak terlalu berhasil.
Penjelasan dan alasan-alasan yang diberikannya tidak
sanggup menghilangkan prasangka yang telah berurat
berakar dalam benak perempuan-perempuan kampung
kami. Kebanyakan orang tua percaya benar bahwa di
sekolah anak-anak diajar membuat “surat cinta” setelah
mahir menulis dan membaca huruf Latin.
Dengan penuh rasa cemburu kulihat setiap pagi
kakak-kakakku pergi ke sekolah. Wajah mereka berseriseri,
buku dan kitab tulis tersusun rapi di dalam tas
sekolah yang khusus dibuat emak dari kain katun putih.
Dengan penuh harapan kunanti mereka pulang sekolah
di siang hari karena aku tahu benar mereka selalu
membawa cerita yang meriah tentang kejadian dan
kehidupan di sekolah. Ketika aku berumur lima tahun
emak menyuruh kakak membawa aku melihat-lihat

sekolah mereka. Pengalaman di “sekolah” hari itu benarbenar
sulit kulupakan. Semenjak hari itu hasratku
bersekolah semakin bernyala-nyala. Ketika beberapa
bulan kemudian kakak-kakakku mengatakan bahwa
pendaftaran sekolah tahun pelajaran berikutnya sudah
dimulai, kudesak orang tuaku untuk mencatatkan
namaku di sekolah tempat kakak-kakakku belajar.
Keesokan harinya aku dituntun emak menemui kepala
sekolah untuk pendaftaran. Sepanjang jalan menuju ke
sekolah hatiku berdebar penuh harapan. Kurasa dunia ini
seperti milikku. Kemarin semalam suntuk aku tidak dapat
tidur memikirkan pendaftaran sekolah ini. Setelah
menanyakan emak tentang tempat dan tanggal
kelahiranku, kepala sekolah kemudian melakukan tes
masuk sekolah yang berlaku ketika itu. Aku harus tegak
lurus, tangan kiri lurus ke bawah melekat di badan,
tangan kanan dibengkokkan diatas kepala rapat melekat
di rambut dan ujung jari tengah dari telapak tangan
kanan ini harus dapat mencapai puncak tertinggi telinga
kiri. Mungkin tangan kananku terlalu pendek atau bisa
jadi letak telingaku terlalu ke bawah, yang jelas adalah
ujung jari tengah dari telapak tangan kanan ini tidak
dapat menyentuh titik tertinggi telinga kiriku. Aku paksa
terus, kepala sudah terasa sakit tertekan tangan, tetapi
sia-sia belaka. Karena ini adalah tes masuk sekolah, aku
tahu akibat kegagalan ini. Mata kepala sekolah tajam
menatap gerak usahaku, mau menangis aku rasanya.
Keputusan kepala sekolah jelas sudah: aku belum
dapat diterima bersekolah. Di sini tidak, di mana pun
juga tidak. Emak segera dapat menangkap
kekecewaanku. Dia menceritakan betapa besarnya
hasratku bersekolah walaupun usiaku masih muda.

Kepala sekolah mendengarkan semua cerita emak
dengan tenang namun dia tetap pada kepu-tusannya.
Untuk peraturan standar tes ini tidak ada
pengecualiannya. Emak berusaha untuk mendengarkan
dengan teliti namun tetap menawar supaya aku dapat
diterima.
“Saya kira Engku,” kata emak dengan lemah lembut
tetapi pasti, “untuk menuntut ilmu lebih banyak
diperlukan kecerdasan otak daripada panjangnya tangan
ataupun jari.”
“Memang benar kata Encik,” jawab kepala sekolah, ”
tetapi…”
Demikianlah kulihat mereka berdua bertukar
pendapat. Akhirnya penjelasan emak masuk di akal
kepala sekolah. Engku kepala sekolah mengubah
keputusannya. Aku dapat diterima tetapi sebagai
percobaan selama enam bulan. Ketika sekolah dimulai,
segera kulihat akulah yang terkecil di kelas yang tidak
seluruhnya penuh. Sadar bahwa aku masih dalam masa
percobaan, semenjak hari pertama aku sudah belajar
keras sehingga setiap ulangan bulanan angkaku selalu
baik, bahkan di banyak mata pelajaran aku mendapat
angka tertinggi. Akhirnya aku diakui sebagai murid
penuh, tidak berbeda dengan murid-murid kelas satu
lainnya.
Emak banyak berbuat supaya anak-anaknya giat dan
senang belajar. Diciptakannya satu suasana rumah yang
kondusif begitu rupa sehingga belajar bagi kami
bukanlah merupakan satu siksaan. Kami selalu
menghadapi ulangan dan ujian sekolah dengan penuh
kegembiraan. Kami tak takut pada ujian. Karena kami

tahu benar selama hari-hari ujian kami dibolehkan
meminta emak membuatkan makanan atau lauk yang
kami senangi. Jadinya kalau musim ujian di sekolah,
makan malam di rumah seperti pesta saja. Kami sangat
menikmatinya karena emak terkenal di kampung sebagai
ahli masak. Sampai-sampai bapak, kalau ingin makan
dengan lauk yang digemarinya, mengatakan kepada
emak dengan tersenyum-senyum bahwa dia besok akan
menempuh ujian.
Begitu gandrungnya aku pada ujian hingga sampai
sekarang ini, kalaupun aku rindu pada sekolah karena
aku betul-betul merasa kehilangan ujian-ujian formal itu.
Aku sadar hidup ini sendiri sebenarnya sudah penuh
dengan “ujian” dan aku pun tak pernah gentar
menghadapinya, namun mengatasi semua ujian riil di
luar sekolah ini rasanya tidak senikmat memenangkan
ujian formal di sekolah, duduk berhadapan dengan para
penguji di meja hijau, berkesempatan menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka dengan tepat.
Walaupun belum menyelesaikan sekolah dasar ini,
lanjutan sekolahku sudah menjadi pemikiran emak.
Sekolah tempat aku belajar ini tidak ada lanjutannya
karena Sekolah Melayu. Paling jauh ditampung di
Ambachtschool. Yang ada lanjutannya adalah sekolah
dasar yang berbahasa Belanda. Maka itu aku, sesuai
dengan anjuran Pakcik Leman, harus pindah ke sekolah
dasar Belanda ini. Aku pun bersedia pindah ke sana,
melalui Schakelschool, tetapi Belanda tidak disenangi,
bahkan dibenci, di daerah kami. Banyak cerita yang
buruk tentang Belanda. Kebencian rakyat menjadi
bertambah besar terhadap semua yang berbau Belanda
setelah melihat anak-anak sekolah di lembaga pendidikan

Belanda lama-kelamaan seperti melupakan bahasa dan
kebiasaan tradisional yang ada. Mereka ini bahkan bagai
bersikap lebih Belanda daripada Belanda sendiri di mata
rakyat umum. Sementara orang-orang yang melawan
Belanda ditangkap, dipenjarakan dan bahkan ada yang
diasingkan ke daerah malaria di Papoea. Banyak yang
meninggal dalam pembuangan.
Berita kepindahanku ke “Sekolah Belanda” cepat
tersebar ke seluruh penjuru kampung. Kepindahan ini
menimbulkan reaksi dan celaan di kalangan tetangga
kami. Banyak yang heran, tak habis pikir, karena semua
orang mengetahui bahwa saudara sepupu emak
termasuk di antara orang-orang daerah kami yang
diasingkan oleh Belanda ke Boven Digoel. Di antara
mereka ini ada yang menyaksikan sendiri betapa pakcik
dengan tangan terbelenggu dan kaki dirantai melangkah
ke kapal yang akan membawanya ke tanah pembuangan.
Bagaimana mungkin, menurut mereka, paman melawan
Belanda sedangkan kemenakan masuk ke sekolah
Belanda?!
“Ada ulama dan banyak orang tua di kampung kita ini,
di antaranya ada yang dahulu kita minta mengajar si
Daoed mengaji, yang menentang keputusan kita,” kata
bapak pada suatu malam sekembalinya dari sembahyang
beijemaah di surau. “Sekolah Belanda menurut mereka
adalah sekolah kafir!” Untuk pembangunan surau ini
bapak banyak membantu dan dia tergolong orang yang
ditanya untuk urusan-urusan kehidupan di kampung
kami.
“Saya tahu adanya tantangan ini,” kata emak dengan
tenang. “Bahkan gunjingan kaum perempuan lebih
menyakitkan telinga daripada kritikan kaum laki-laki.

Bukankah hal ini sudah kita perhitungkan sejak semula.
Kita harus tetap pada pendirian kita. Pertama, karena
pendidikan anak kita adalah urusan kita sendiri, bukan
tanggung jawab orang lain. Kedua, karena keputusan
kita ini tidak merugikan kepentingan agama kita.
Bukankah Rasulullah dahulu bersedia membebaskan
musuh-musuh yang ditawannya dalam peperangan Badar
dengan syarat bahwa setiap orang kafir itu bersedia
mengajar sepuluh anak Islam membaca dan menulis.
Padahal syarat pembebasan tawanan yang berlaku ketika
itu di antara kelompok-kelompok yang berperang adalah
tebusan berupa 100 ekor unta atau uang sebanyak 4.000
dirham, yaitu biaya makan seorang selama 30 tahun.
Ketiga, saya kira si Leman yang dibuang kompeni ke
Digoel itu benar ketika mengatakan bahwa Belanda
sampai menaklukkan kita bukan karena jumlah
manusianya yang banyak tetapi karma ilmunya yang
tinggi. Maka kalau kita ingin menghancurkan kekuasaan
mereka, kita harus kuasai ilmu mereka itu!”
Karena emak teguh pada keyakinannya bapak pun
tetap pada pendiriannya semula. Dan berkat semua ini
aku tetap bersekolah di sekolah yang berbahasa Belanda.
Namun kepadaku emak berkata dengan nada yang
tegas, “Kau harus berlaku seperti sungai. Ingat yang
emak pernah katakan, walaupun ia terus mengalir
mencapai tujuannya, ia tidak pernah memutuskan diri
dan tetap setia pada sumbernya.” Maka itu di sore hari
aku tetap mengaji di madrasah seperti sediakala. Di
samping kelembutannya emak ternyata bisa berperilaku
seperti layang-layang. Semakin keras angin melawan,
semakin mantap ketinggian terbangnya, lebih-lebih kalau
mengenai hal-hal yang dianggapnya sangat prinsipiil.

Ketika Gemeente Medan mengadakan perbaikan
kampung, membuat jalan-jalan baru dan memperluas
jalan kampung yang sudah ada, rumah dan sebagian
halaman kami termakan perbaikan itu. Sedih melihat
rumah harus dibongkar dan karena terbiasa dengan
halaman yang luas, bapak berniat pindah jauh dari kota
di mana tanah masih luas dan murah harganya. Namun
emak tetap ingin menetap di kampung pinggiran kota ini.
Rumah baru lalu didirikan di atas sisa halaman yang tidak
lagi seluas dahulu. Alasan emak adalah supaya kami,
anak-anaknya, tetap mudah bersekolah. Di luar kota
tidak ada sekolah.
Dengan kesahajaan berpikir yang tidak pernah dibina
oleh pendidikan modem, emak pernah membayangkan
bahwa kegunaan ilmu adalah untuk memahami alam,
menguak rahasia alam. Hal ini diutarakannya pada suatu
hari di ladang. Aku kadang-kadang dibawa emak ke
lahan pertanian keluarga ini. Adakalanya bapak datang
bergabung menjelang makan siang, menjinjing ikan yang
dipancingnya di sungai atau membawa berbagai ramuan
dari hutan, untuk kemudian pulang bersama-sama
sesudah zuhur. Bila pergi ke ladang emak dari rumah
hanya berbekal nasi, sambal, ikan goreng atau ikan asin
mentah yang baru dibakar kalau hendak dimakan.
Sebelum makan biasanya dia meramban sayur-sayuran
untuk dijadikan lalap, ada yang direbus dahulu, ada pula
yang dimakan mentah-mentah.
“Lihatlah,” kata emak sambil menunjukkan hasil rambannya.
“Di ladang ini, juga di halaman rumah kita,
terdapat jauh lebih banyak tumbuh-tumbuhan daripada
yang kita tanam dengan sengaja. Salah satu jenis
tumbuhan yang tidak sengaja ditanam itu, yang tidak

akan pemah emak lupakan dan yang sebaiknya kau
ketahui sekarang, adalah jawawut.”
“Oh, yang sangat digemari oleh burung-burung itu,
Mak?” tanyaku. Tang menjurai berwarna coklat seperti
ekor tupai?”
“Ya, itulah. Emak ketika itu sedang mengandung kau.
Jawawut itu tumbuh lebat begitu saja di sepanjang tepi
ladang kita. Banyak burung datang memakannya.
Anehnya burung-burung itu tidak mau mematuk padi kita
yang sedang menguning, demikian pula padi para
tetangga di dekat-dekat sini. Hal ini kebetulan dilihat pula
oleh Syekh Mohammad Zen, guru dan sahabat karib
bapak. Dia meramalkan bahwa emak akan melahirkan
anak laki-laki yang pertama dan dia mengusulkan kepada
bapak agar bayi ini kelak diberi nama Daoed.”
“Oh begitu, Mak. Lalu tumbuh-tumbuhan apalagi
Mak?”
“Ada macam-macam lagi yang namanya emak juga
tidak tahu persis apa. Di antaranya ada yang sering emak
jadikan lalap itu. Hal ini merupakan suatu rahmat Tuhan
yang wajib kita syukuri. Tidak ada cara mensyukuri yang
lebih tepat selain berusaha mengetahui khasiat-khasiat
yang dikandung oleh tumbuh-tumbuhan itu.”
“Bagaimana mengusahakannya, Mak?”, tanyaku ingin
tahu.
“Dengan menuntut bermacam-macam ilmu,” jawab
emak tanpa ragu-ragu. “Emak kira ilmu berusaha
mengetahui potensi yang ada di alam dan menemukan
kaitan-kaitan antara gejala yang ada di situ. Emak rasa
ilmulah yang membantu kita membaca tanda-tanda

kandungan dari semua ciptaan Tuhan yang ada di bumi,
tanda berkhasiat, tanda beracun, tanda bermanfaat,
tanda bermudarat, bagi kehidupan makhluk.”
“Bagaimana ilmu bisa membaca tanda-tanda itu?”
“Mana emak tahu. Emak kan tidak permah bersekolah,
jadi tidak permah berkesempatan mempelajari ilmu. Tapi
coba ingat cara dokter Pimgadi bekeija. Dia selalu
menanyakan apa-apa keluhan kita, berusaha membaca
tanda-tanda yang ada di tubuh kita serta kaitankaitannya
satu sama lain dan berdasarkan semua itu
menemukan penyakit kita. Emak kira ilmu yang dahulu
dipelajarinya di sekolah itulah yang membantunya
membaca tanda-tanda keberadaan penyakit itu. Dan obat
yang kemudian diberikannya emak dengar juga dibuat
dengan bantuan ilmu. Sedangkan pendidikan sekarang di
sekolah mengajarkan ilmu-ilmu. Maka itu rajin-rajinlah
kau bersekolah. Ilmu kita perlukan sekali demi
kehidupan, tidak hanya sekedar untuk menghancurkan
kekuasaan kompeni. Sebelum dan sesudah
menghancurkan itu kita semua harus bisa hidup.”
Kalau sedang tidak di ladang atau tidak mengawasi
pe-keijaan di kandang lembu perah kami, pada waktu
makan siang bersama-sama, emak meminta aku
memberikan “laporan” tentang apa-apa yang kulakukan
di sekolah dan kualami di peijalanan antara sekolah dan
rumah. Setiap kali emak mengingatkan, “Jangan bertutur
terlalu cepat, nanti terucapkan hal-hal yang belum kau
pikirkan. Kau boleh mengatakan semua, tetapi
ucapkanlah itu dengan teratur dan dengan bahasa yang
jelas.” Dengan begini aku terdorong untuk berpikir
teratur agar mampu mengatakan segala sesuatu dengan
beraturan. Tanpa disadarinya sendiri barangkali, dengan

tuntutan seperti ini, emak membiasakan aku menghayati
hakikat ilmu pengetahuan. Aku sendiri menyadari hal ini
puluhan tahun kemudian, ketika untuk pertama kalinya
kudengar Prof. Djokosutono mengatakan bahwa “ilmu
pengetahuan adalah berpikir teratur”-u>eten-schap is
geordend denken.
Emak tidak mengabaikan kegunaan keterampilan
tangan. Kepada setiap anaknya diberikan pekeijaan
rumah tangga tertentu. Bagianku berupa menimba air
dari sumur, menyapu halaman, menyiram bunga dan
sesekali mencari kayu di hutan atau membantu bapak
membelah kayu bakar. Menurut pandangannya seorang
laki-laki harus berusaha sedapat mungkin mengeijakan
sendiri segala sesuatu. Maka itu dimintanya bapak untuk
mengajarkan aku berbagai jenis keterampilan tangan,
termasuk melabur rumah menjelang lebaran. Bahkan
emak sendiri kadang-kala menyuruh aku menanak nasi
dan membuat lauk yang sederhana. “Kemampuan seperti
ini satu ketika nanti akan membantumu,” kata emak.
“Tangan dan otak saling mengisi. Kalau mampu
menggabungkannya pasti memberikan hasil yang
gemilang.”
Ucapan emak kali ini pun benar pula. Di dalam
organisasi kepanduan aku seringkah mendapat
penghargaan berkat kemahiranku melakukan hal-hal
yang diperlukan oleh seorang pandu hidup di tengahtengah
alam terbuka. Tetapi baru sepuluh tahun
kemudian terasa benar bagiku kegunaan semua
keterampilan yang dianjurkan oleh emak, yaitu ketika
aku mulai hidup sendiri di perantauan, jauh dari rumah
dan orang tua. Ketika aku ber-SMA di Yogyakarta di
zaman revolusi fisik, untuk mendapatkan uang, seusai

sekolah aku melabur dinding yang sudah kusam dari
berbagai toko di Jalan Malioboro. Untuk memperoleh
buku pelajaran secara gratis, setiap pagi kusapu lebih
dahulu “Toko Buku Nasution” sebelum meneruskan
peijalanan ke sekolah. Kurikulum SMA ketika itu pada
umumnya tidak berbeda dengan AMS di zaman Belanda
dan toko buku ini, yang sebagian terbesar bukunya
adalah buku bekas, masih menyimpan semua buku teks
yang dipakai di AMS.
Baru saja Perang Dunia Kedua selesai, revolusi
kemerdekaan yang dahulu dimimpikan paman dimulai.
Aku sudah menginjak dewasa dan menggabungkan diri
pada Tentara Keamanan Rakyat. Di tengah-tengah
kemelut peijuangan itulah aku meninggalkan kampung
halaman, meninggalkan emak, pergi ke Jawa untuk
melanjutkan pelajaran yang tersendat-sendat selama
pendudukan Jepang.
“Emak kira Jawa berbeda dengan daerah kita,” kata
emak sebelum aku berangkat. “Lain padang lain
belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Tetapi Daoed harus
menghormati adat-istiadat daerah lain. Jangan menghina
kebiasaan orang lain hanya karena berbeda dengan yang
selama ini kau lakukan. Usahakan untuk memahami
perbedaan-perbedaan itu. Tapi jangan sekali-kali menjadi
penjilat, menyetujui pendapat seseorang semata-mata
untuk menyenangkan hatinya. Yang harus selalu kau
puaskan adalah hati nuranimu. Ingat ketika di hutan
dahulu jalan bersimpang dua. Jangan ragu-ragu
mengambil jalan yang jarang ditempuh orang banyak.”
Dan senada dengan ini bapak menambahkan, “Jangan
pergi merantau kalau tidak berani seperti elang. Hanya
elang yang berani terbang sendirian.”

Aku berangkat dengan penuh semangat peijuangan.
Sesekali terdengar bunyi tembakan beruntun yang
semakin mendekat. Tentara Sekutu bertekad menguasai
kawasan Medan Barat, di mana kampungku berada, guna
menghadang laskar dari Aceh menyusup ke dalam kota.
Tidak kusadari ketika itu bahwa kepergianku ini
merupakan permulaan dari rangkaian pengembaraanku
mencari ilmu pengetahuan, semakin jauh dari rumah,
semakin jauh dari emak dan segala kenangan manis
masa kanak-kanak.
Tahun-tahun peijuangan yang serba sulit melalu pergi.
Akhirnya Belanda dan dunia mengakui kemerdekaan
Tanah Air. Aku tidak kembali pulang kampung, tetapi
menetap di Jakarta untuk melanjutkan studi di
Universitas Indonesia. Ketika aku pulang untuk pertama
kalinya setelah tujuh tahun merantau, kudapati emak
kelihatan jauh lebih tua daripada umurnya. Alangkah
berubah penampilan tubuhnya. Emak kelihatan letih dan
memang dia telah bekeija keras semenjak bapak
meninggal pada waktu perang kemerdekaan berkecamuk
di daerah kami. Berita kepergian bapak baru kuterima
tiga tahun setelah kejadian karena komunikasi antara
Jawa dan daerahku terputus, tidak ada sama sekali,
selama revolusi fisik berlangsung.
Aku kembali lagi ke Jakarta dan mendirikan rumah
tangga sendiri setelah studiku hampir selesai. Istriku dari
Yogyakarta, belajar di SMA yang sama dan kemudian
sama-sama melanjutkan studi di Universitas Indonesia.
Sambil mengikuti kuliah kami sama-sama pula mengajar
di SMA untuk mendapatkan uang guna membiayai studi
universiter ini. Walaupun dari daerah lain emak
menerima menantunya dengan penuh kebanggaan.

Emak menangis karena bangga ketika mengetahui bahwa
istriku adalah lulusan perguruan tinggi. Dia bangga
memperoleh anggota baru di keluarga kami, yang cukup
terpelajar dan telah melampaui jenjang-jenjang
pendidikan yang belum pernah dikecapnya sendiri
seumur hidup.
Istriku dan aku menjadi tenaga pengajar di lingkungan
almamater kami. Tidak lama kemudian aku mendapat
tawaran beasiswa dari The Ford Foundation untuk
melanjutkan pelajaran di luar negeri. Setelah kutimbang
masak-masak kupilih Sorbonne sebagai tempat menimba
pengetahuan yang lebih tinggi walaupun pimpinan
Fakultas Ekonomi tidak menyetujuinya. Ia lebih menyukai
kalau aku pergi ke Amerika saja seperti staf pengajar
lainnya. Aku ingin tetap menjadi elang seperti pesan
bapak dan bertekad menempuh jalan yang jarang
diambil orang seperti kata emak. Istriku sebenarnya
mendapat tawaran beasiswa dari The Rockefeller
Foundation untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi
mana pun di luar negeri selama tetap dalam disiplin
keilmuan yang selama ini ditekuninya. Namun karena
anak kami baru berusia 15 bulan, masih sangat
memerlukan asuhan sepenuhnya dari seorang ibu, istriku
menolak tawaran itu. “Anak ini telah kita tunggu-tunggu
kedatangannya selama hampir lima tahun,” katanya.
“Kini dia telah hadir, berupa titipan Tuhan kepada kita
karena Dia rupanya memang mempercayai kita. Maka
anak ini tak boleh disiasiakan, nanti kualat.”
Berhubung dengan kepergianku dengan istri dan anak
ke Perancis, aku sekeluarga terbang kembali ke kota
kelahiranku, di mana emak lebih suka bertempat tinggal,
untuk sekaligus mohon restu dan pamit dari emak. Mata

emak berkaca-kaca ketika aku bersimpuh mengatakan
hal ini kepadanya. Namun dengan lemah lembut dia
berkata, “Dari dulu sudah emak bilang bahwa bapak dan
emak hanya bisa memberikan Daoed rumah, makan dan
pakaian. Bukan ilmu karena kami tak pernah bersekolah.
Allah telah beijanji akan mengajarkan kepada manusia
apa-apa yang tidak diketahuinya. Dengan janji ini
sebenarnya Dia telah mengulurkan tangan-Nya kepada
kita. Bila kita belajar berarti kita telah mengulurkan pula
tangan kita kepada Tuhan agar dibimbing. Bimbingan
ilahiah ini tentu ada karena belajar, menuntut ilmu,
adalah menjalankan ibadah. Maka pergilah mencari ilmu
ke tempat mana pun di mana ilmu itu bisa diperoleh!”
Aku tahu ucapannya ini didasarkan pada ayat kelima dari
surat Al ‘Alaq dan sabda Rasulullah yang menandaskan
bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslimin
dan muslimat dan untuk itu kalau perlu pergi ke Negeri
Cina.
Emak ingin merayakan kepergianku kali ini secara
meriah seperti dahulu. Karena tangannya sudah terlalu
lemah untuk menggiling rempah dan bumbu, dimintanya
bantuan kedua kakakku menyiapkan makanan
kegemaranku. Makan malam keluarga ini memang cukup
meriah seperti di masa yang lalu. Hanya kalau dahulu
kami semua duduk bersila di lantai beralaskan tikar, kini
semua duduk mengelilingi meja di atas kursi. Memang
bapak sudah tidak duduk lagi di kepala meja, sudah
tiada, tetapi banyak muka baru muncul di sekitar meja.
Suami-suami kedua kakakku, anak-anak mereka, istriku
dan anakku sendiri yang hangat duduk di pangkuan
emak, neneknya. Sekali ini memang terasa berat
meninggalkan emak. Dia sudah semakin tua, wajah dan

tangannya penuh keriput, namun penampilannya di
mataku tetap anggun. Aku tak mampu berbicara,
tenggorokanku seperti tersumbat Ketika hendak
berangkat ke Bandara Polonia, aku cium tangannya
berkali-kali, tangan yang tetap lembut walaupun telah
keriput Tangan yang dahulu menyuapkan makanan ke
mulutku, meminumkan aku obat tatkala sakit Tangan
yang dahulu memandikan aku di sungai sehabis pangkas
rambut, membasuh badanku dengan air hangat setelah
puas berhujan-hujan. Tangan yang selama ini mengurus
diriku dengan penuh kasih sayang dan perlindungan.
Aku pergi menuntut ilmu seperti yang diisyaratkan
oleh Rasulullah, sesuai dengan yang terus-menerus
diingatkan oleh emak, ke negeri yang menjadi pilihanku
sendiri, di lembaga pendidikan yang merupakan
idamanku sejak remaja.

BAB 9
EMAK DAN KERETANGIN
Saya mau belajar naik keretangin,” tutur emak di
tengah-tengah keasyikan makan malam.
“Haaa?!” bapak terhenti mengunyah; kami juga.
Semua mata tertuju kepada emak. Dia sih kelihatannya
kalem saja, seperti tak terjadi apa-apa. “Untuk apa?”
tanya bapak sambil menatap emak terus.
“Untuk bisa pergi lebih jauh dalam waktu yang lebih
singkat dan bisa membawa belanjaan yang agak
banyak,” jawab emak dengan lancar sekali. Kelihatannya

pertanyaan seperti ini sudah diduganya lebih dahulu
begitu rupa hingga jawabannya meluncur tanpa pikir lagi.
“Nik, kita ini tidak muda lagi,” kata bapak sejenak
kemudian.
“Sejak kapan ada pembatasan umur untuk berkeretangin?”
sambut emak. “Saya lihat nyonya-nyonya
Belanda yang lebih tua daripada saya naik keretangin
kesana-ke-mari. Dan badannya gemuk gemuk lagi.”
“Ya itulah, mereka lain sih …”
“Lain bagaimana? Mereka dan kita sama-lama
manusia. Bedanya kan cuma di warna kulit. Akan saya
buktikan bahwa saya pun bisa berkeretangin seperti
perempuan-perempuan Belanda itu.”
“Bukan itu yang saya maksud,” bantah bapak. “Tapi
reaksi orang-orang kampung kita sendiri.”
“Ah, paham saya sudah.” Emak cepat menangkap apa
yang ada di benak bapak. “Biarkan perempuanperempuan
sini menggunjing di belakang saya. Heran,
kok mereka begitu benci pada kemajuan. Picik bagai
katak di bawah tempurung.”
“Baiklah, asal kita hati-hati saja,” nada suara bapak
sudah lebih merendah. “Jalan-jalan raya semakin ramai.”
“Jangan khawatir Nik. Saya tahu benar sekarang ini
kendaraan yang lalu- lalang kelihatannya terus
meningkat.”
Kami semua tahu, terutama bapak, betapa kerasnya
ke-mauan emak. Kalau keinginannya sudah bulat, tak
seorang pun bisa mencegahnya. Dia pasti akan terus
berusaha mewujudkannya. Tanpa diminta dia lalu

membeberkan rencana keijanya. Dia akan segera
membeli sebuah keretangin bekas untuk dipakai selama
belajar oleh semua. Mula-mula emak sampai mahir.
Sesudah itu baru anak-anak, berurutan menurut umur,
dengan bimbingan emak. Bapak tidak ikutan karena tidak
berminat. Kalau semua sudah bisa berkeretangin dengan
baik, emak akan membeli sebuah keretangin baru yang
bisa dipakai seisi rumah sesuai dengan keperluan
masing-masing. Untuk ini emak sudah punya tabungan
yang cukup, hasil jahitan dan sesekali katering selama
ini. Jadi tidak mengganggu uang belanja rumah yang
berasal dari penjualan susu lembu.
Demikianlah, emak belajar dengan tekun seperti biasa,
Sesuai dengan dugaan bapak, M. ramai dibisikkan
para tetangga di sana-sini, emak memakai seluar
panjang dan bukan kain, untuk memudahkan naik-turun
keretangin. Dengan memakai blus dan benseluar panjang
itu, emak di mataku kelihatan lebih langsing.
“Tingkah-lakunya seperti noni dan nyonya Belanda
saja,” bisik perempuan-perempuan di kampungku
melihat emak berpakaian seperti itu. Tak tahu diri,” sindir
mereka. Malah ada perempuan dan anak-anak yang
tinggal jauh dari rumah kami berdatangan dengan
sengaja menonton emak belajar dan bersorak-sorai kalau
dia terpeleset jatuh.
Tetapi emak tidak peduli. “Lebih baik waktu yang
senggang dipakai untuk belajar sesuatu daripada
digunakan untuk duduk-duduk bersusun di anak tangga
sambil mencari kutu dan bergunjing,” kata emak berkalikali
kepada kami. Setelah keseimbangan sudah betulbetul
dikuasainya, emak dengan sengaja berkeretangin

keliling kampung dengan berbaju rok seperti yang lazim
dipakai oleh perempuan-perempuan kulit putih.
Rambutnya yang masih lebat dan panjang, masih hitam
kemilau, dikepang dua dan kemudian dijalin menjadi
sebuah sanggul yang sangat serasi dengan bentuk wajah
dan postur badannya.
“Amboi, emak cantik nian,” bisik kakak-kakakku.
“Memang pantas ‘jadi istri pendekar.”
Kurasa kecantikan emak ini sampai mengkamuflase
ke-bututan keretangin bekas yang dikayuhnya. Hari itu
emak menjadi perempuan pertama di kampungku yang
bisa naik keretangin. Namun jangankan di kampung, di
seluruh kota saja jarang sekali terlihat ada perempuan
pribumi berkeretangin yang sebaya dengan emak. Sesuai
dengan janjinya, emak lalu dengan sabar mengajar kami
satu per satu bagaimana naik keretangin.
“Ingat,” kata emak memberikan petunjuk berdasarkan
pengalamannya. “Keretangin adalah kendaraan beroda
dua. Kalau ia berhenti, keseimbangannya akan hilang
dan bisa jatuh kalau tidak ditahan. Maka penting sekali
menjaga keseimbangan ini agar kalian tidak jatuh. Kalau
keretangin sudah dikayuh, miringkan badan ke arah ia
berbelok supaya kalian tidak jatuh. Bila badan
dimiringkan ke arah yang berlawanan, kalian akan
kehilangan keseimbangan dan bisa jatuh.”
Walaupun telah dibekali dengan petuah-petuah ini,
ternyata tidak gampang menguasai keseimbangan
tersebut pada awalnya. Kak Marni sampai membentur
pohon kelapa. Kak Ani beberapa kali menyerempet pagar
rumah dan aku sendiri sempat menubruk kereta lembu.
Karena masih kecil, tapak kakiku masih belum mantap

nempel di pedal, apalagi menjejak tanah kalau berhenti.
Sesudah kami semua mahir berkeretangin, emak
memutuskan untuk menjual kembali keretangin butut
yang sudah berjasa ini dan sebagai gantinya membeli
sebuah keretangin perempuan yang baru.
Maka pada hari Minggu kami semua-emak, bapak dan
anak-anak—pergi beramai-ramai ke Kampung Keling. Di
sini ada toko merangkap bengkel keretangin milik Haji
Moeis yang telah dikenal oleh orang tuaku. Mereka
dahulu bertetangga baik sebelum emak dan bapak
pindah dari Kampung Kubur yang bersebelahan dengan
Kampung Keling. Mereka kelihatan akrab sekali dan
karena sudah lama tidak saling bertemu, percakapan dan
senda-gurau mereka melulu mengenai kehidupan masa
lalu yang kedengarannya begitu rukun, aman dan
tenteram.
Emak akhirnya mengutarakan keinginannya membeli
keretangin baru dan sekaligus mengembalikan yang
bekas, yang dibelinya dari sini juga beberapa bulan yang
lalu. Emak ingin memiliki kendaraan yang kuat Kalau
bicara kekuatan, menurut Haji Moeis, tinggal memilih
antara Fonger atau Gazelle yang buatan Belanda atau
Raleigh bikinan Inggris. Kekuatan antara ketiganya boleh
dikatakan sama, harganya pun tak jauh berbeda.
“Kalau begitu saya pilih Raleigh,” kata emak dengan pasti
“Mengapa?” tanya Uak Haji.
“Gampang saja,” jawab emak. “Bila ada pilihan dan
boleh memilih, saya pilih yang bukan buatan Belanda.
Supaya si Belanda ini tahu kita tidak mau terus
membebek kepadanya. Belanda ini kan setali tiga uang
dengan Kompeni.”

“Wah, wah, keras kepala juga kau ini Si’ah. Sama saja
dengan si Ucup,” kelakar Uak Haji. “Dan kau Daoed, kau
tentunya keras kepala juga, ya?!”
Aku diam saja. Kakak-kakakku mengangguk-anggukkan
kepala mereka tanda membenarkan. Emak dan
bapak tersenyum-senyum belaka.
Setelah harga keretangin dibayar emak menyuruh
kakak-kakakku mengayuhnya pulang. Diserahkan kepada
mereka sendiri untuk menentukan siapa yang mengayuh
dan siapa yang membonceng atau bergantian. Sebelum
berangkat emak menanyakan mereka apa-apa aturannya
berkendaraan di jalan raya bagai hendak menguji. Kak
Mami menjawab lebih dahulu. “Jalan harus di kiri. Kalau
hendak mendahului kendaraan yang berada di depan
harus dari sebelah kanan, memperhatikan baik-baik yang
datang dari arah yang berlawanan karena ia yang berhak
lewat lebih dahulu. Kalau tiba di persimpangan dan mau
belok, jalan pelan-pelan atau berhenti, kemudian lihat ke
kanan ke kiri dan ke depan, baru belok. Kalau perlu
berikan tanda dengan tangan.”
“Baik, berangkatlah,” kata emak. “Hati-hati di jalan.
Kami beijalan kaki saja. Dalam tempo dua jam kami
sudah sampai di rumah.”
“Belikan kami roti kelatak ya, Mak. ” Kedua kakakku
tahu persis bahwa kami akan melewati toko roti sebelum
melintasi jembatan Titi Berlian. “Permisi dulu Uak Haji.”
Dan sambil menaiki keretangin, mereka masih sempat
mengganggu aku. “Mak, jangan lupa memandikan si
Daoed di sungai. Tadi pagi dia belum mandi. Badannya
sudah dekil!”

Haji Moeis, emak dan bapak tertawa mendengar olokolok
ini. Uak Haji berkata kepada emak, “Hebat juga
Si’ah mendisiplinkan anak-anakmu sebelum kau suruh
pulang tadi”
“Oh, dengan menanyakan mereka peraturanperaturan
beijalan di jalan raya itu?”
“Ya, itulah yang saya maksud.”
“Bang Haji, biar mereka tahu sejak kecil bahwa hidup
ini perlu tertib. Dan untuk itu ada aturan-aturan yang
harus ditaati.” Kami bersalaman sebelum meninggalkan
toko keretangin ini.
Seisi rumah bangga dengan Raleigh pilihan emak.
Sebuah keretangin perempuan berem tromol serta
berlampu berko dan ban roda yang bergaris putih. Bila
didayung rasanya lebih ringan daripada keretangin yang
kami pakai belajar dahulu. Emak mengharuskan kami
bergantian mengelapnya setiap hari. Dengan
mengendarainya emak sekarang bisa mencapai tempattempat
yang relatif jauh. Setiap waktu dia bisa pergi ke
Centrale Passer membeli bahan-bahan yang kami
perlukan tetapi tidak tersedia di kedai-kedai Cina yang
ada di kampung kami, misalnya daging, mentega dan
rempah-rempah serta bumbu tertentu. Ke kampung kami
tidak pernah datang penjaja keliling yang menjual
daging. Yang datang setiap pagi hanya membawa ikan,
bahkan sampai dua atau tiga kali sehari kalau sedang
musim ikan kembung.
Maka bila emak hendak belanja di Centrale Passer ada
saja tetangga yang titip ini atau itu, termasuk orangorang
yang pernah mencibirkan emak ketika dahulu

belajar naik keretangin. Tetapi emak menerima titipan itu
dengan lapang dada.
“Emak ini bagaimana sih?!” protes Kak Mami. “Dulu
orang-orang ini menertawakan kita.”
“Ya Mak, tolak saja!” sambung Kak Ani dengan nada
kesal.
“Betul Mak,” sahutku tak kalah garang. “Bekot saja!”
“Ah tak perlu,” kata emak. “Kalaupun perbuatannya
dahulu itu bisa dianggap suatu dosa, mereka sudah
menebusnya dengan sebuah hukuman.”
“Hukuman?!”, kami ternganga heran.
“Ya, hukuman. Dengan terang-terangan meminta
bantuan emak, mereka sudah menjilat kembali ludah
mereka sendiri. Itulah hukuman itu. Mereka sebenarnya
lebih pantas dikasihani daripada dibenci. Mereka sudah
menyesal tetapi malu mengatakannya. Tadi waktu
berbicara dengan emak, mereka pada umumnya tak
berani lagi menatap mata emak.”
“Tetapi kalau terus-menerus titip dan macam-macam
lagi, bawaan kita kan tambah berat,” tukas kakak lagi.
“Bisa teruk awak dibuatnya.”
“Membantu orang sesuai dengan kemampuan adalah
satu kebajikan,” nasihat emak “Dan keretangin ternyata
bisa membantu kita meningkatkan bantuan sampai ke
titik kemampuan yang ada.”
Setengah tahun kemudian ketika aku naik ke kelas
empat sekolah dasar Melayu, emak membuat sebuah
kejutan. Emak membelikan aku sebuah keretangin untuk
remaja. Ukurannya lebih rendah dan roda-rodanya juga

lebih kecil daripada keretangin yang biasa dipakai oleh
orang-orang dewasa. Jadi kalaupun aku menaikinya
dalam keadaan berhenti, telapak kakiku bisa menyentuh
tanah dengan badan dimiringkan sedikit Keretangin
seukuran ini masih langka dalam lalu lintas kota.
Umumnya hanya dipakai oleh anak-anak Belanda. Maka
walaupun yang diberikan emak ini bukan barang bam,
menurut Uak Haji Moeis pernah dipakai seorang sinyo
yang baru saja pulang ke Belanda, aku merasa tetap
bergengsi memilikinya. Lagi pula keretangin ini hanya
untuk dipakai tiga atau empat tahun saja, sesudah itu
yang kuperlukan adalah keretangin orang dewasa.
Salah satu tempat berbelanja yang semakin sering
bisa dikunjungi emak berkat adanya keretangin adalah
toko Seng Hap di Kesawan. Ia merupakan toko provisien
en dranken yang terbesar dan terlengkap di Medan.
Tidak mengherankan kalau toko ini ramai dikunjungi oleh
nyo-nya-nyonya Belanda. Sebagian terbesar dari mereka
datang dengan berkeretangin, yang diparkir rapi di
halaman toko yang menyatu dengan trotoar. Kalau
sekolah sedang libur emak mengajakku ke toko ini dan
keretangin kami parkir berjajar dengan yang dimiliki oleh
nyonya-nyonya itu, satu-satunya Raleigh di antara
Fonger dan Gazelle yang ada. Karena jarang sekali orang
pribumi yang berbelanja di toko ini, emak sangat diingat
oleh para pelayan toko dan dilayani dengan baik sekali.
Suatu ketika, di saat kami sedang mengeluarkan
keretangin dari barisannya setelah menata keranjang
belanjaan di boncengannya, seorang nyonya yang
sedang menuntun keretangin terpeleset, jatuh dan
tertimpa kendaraannya itu. Rupanya tumit sepatunya
telah menginjak kulit pisang yang tercecer di trotoar. Aku

melompat mengangkat keretangin yang menghimpit
tubuhnya dan emak berusaha membantunya berdiri.
Nyonya itu kelihatan sangat kesakitan kalau
menggerakkan kakinya. Telapak kakinya pasti terkilir dan
emak lalu memapahnya ke dalam toko.
Setelah mendudukkan perempuan Belanda ini di
bangku dengan bantuan seorang pelayan toko, emak
mulai mengurut pelan-pelan telapak kaki yang terkilir.
Pelayan toko yang tadi membantu datang lagi dengan
membawa sebotol kecil obat gosok Cina. Perempuan
Belanda itu menolak karena baunya tajam menyengak
hidung. Tetapi akhirnya dia tidak keberatan dioles
dengan minyak ini setelah emak memberikan sekedar
penjelasan. Setelah diurut selama lebih kurang setengah
jam, diselang-seling jalan dan urut berkali-kali, dia
berkata tidak merasakan sakit lagi. Walaupun begitu
emak melarangnya berkeretangin sekarang dan
sebaiknya menelepon rumahnya agar dijemput. Sebelum
meninggalkan dia di toko, emak menganjurkannya untuk
segera ke dokter. Dengan wajah berseri-seri nyonya
Belanda ini menjabat tangan emak, menggenggamnya
lama sekali sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali
dan meminta alamat kami.
“Wah emak berani menasihati orang Belanda,” kataku
di tengah peijalanan pulang.
“Mengapa tidak,” sahut emak. “Itu demi kebaikannya
sendiri. Lagi pula biar dia sadar bahwa kita pun tahu cara
pengobatan yang sesuai dengan kemajuan zaman.”
Kira-kira sepuluh hari kemudian, pada suatu hari
Minggu, masuk sebuah mobil ke kampung kami dan
berhenti persis di muka rumah orang tuaku. Karuan saja

penduduk kampung gempar. Inilah mobil yang pertama
kali masuk kampung kami dan seingatku ternyata
merupakan satu-satunya selama bertahun-tahun sesudah
itu, lewat lambat-lambat dijalan tanah yang belum
diperkeras oleh apa pun, dikendarai oleh orang Belanda
dengan sopir bumiputera. Para tetangga mengira akan
ada penangkapan atau penggeledahan. Setelah pintu
mobil dibuka oleh supir, yang keluar lebih dahulu adalah
perempuan Belanda yang pernah diurut emak di toko
Seng Hap, kemudian seorang laki-laki bule yang
belakangan ternyata adalah suaminya dan seorang noni.
Kami sekeluarga ketika itu sedang berada di halaman
depan, asyik mengagumi bunga-bunga tanaman emak
yang sedang mekar penuh warna dan anggrek merpati
yang beijuntaian dari dahan pohon jambu. Mereka
memperkenalkan diri sebagai keluarga Jansen dan
anaknya bernama Rietje.
Kami cepat menjadi akrab karena mereka bisa
berbahasa Melayu. Mereka kami ajak berkeliling
halaman, yang penuh dengan aneka ragam pohon bunga
di bagian depan kanan dan kiri serta pohon buah-buahan
di sebelah belakang. Nyonya Jansen ingin membeli bibit
bunga termasuk berbagai jenis suplir, yang oleh emak
diberikan begitu saja sebagai kenangan. Namun ketika
melihat taplak meja dan hiasan dinding hasil sulaman
dan bordiran emak serta kakak, Tuan dan Nyonya Jansen
mengharap sekali boleh membelinya beberapa helai.
Terutama Nona Rietje yang kelihatan sangat tertarik
pada hasil-hasil kerajinan tangan itu. Sebelum pulang
mereka menyerahkan sekeranjang oleh-oleh makanan
Belanda seperti keju, jem, mentega, buah apel dan
anggur.

Sepeninggal mereka, atas pertanyaan beberapa
perempuan tetangga yang sejak tadi bergerombol dan
ingin tahu untuk urusan apa keluarga Belanda itu
bertandang ke rumah kami, emak menjawab singkat,
“Kami saling menceritakan betapa nikmatnya
berkeretangin keliling kota dan berbelanja murah di
pasar sentral.”

BAB 10
EMAK DAN ORANG INDEKOS
Dua tahun setelah Paklik Leman dibuang ke Digoel
emak dikunjungi oleh Mas Singgih. Emak masih
mengingatnya sebagai salah seorang dari tokoh-tokoh
pergerakan dari Jawa yang dahulu pernah diperkenalkan
oleh paman. Mas Singgih bertanya apakah dia boleh
indekos di rumah tanpa makan dan cuci pakaian, hanya
menumpang tidur, selama delapan atau sembilan bulan.
Barang yang dibawanya kulihat tak banyak. Satu kopor
rotan tempat pakaian dan satu kopor kulit berisi buku
dengan beberapa kitab tulis. Dia mengatakan akan sering
bepergian. Kalau hanya demikian emak tidak keberatan.
Bahkan tanpa diminta emak akan menyediakan air untuk
minuman sehari-hari dan teh atau kopi setiap pagi bila
dia sedang ada di rumah. Begitu emak menyatakan tidak
keberatan Mas Singgih segera melunasi uang kosnya
untuk selama tiga bulan mendatang.
Kebetulan ada satu kamar yang segera bisa ditempati.
Ia tidak selantai dengan bagian utama dari rumah
panggung di mana kami hidup sehari-hari sebagai suatu

keluarga. Ia tergolong pada bagian dapur dan dahulu
dipakai berkali-kali untuk menyimpan apa-apa yang
dipanen serba banyak dari ladang. Telah beberapa waktu
ia dibiarkan kosong. Emak telah mengantisipasi
kebutuhanku akan sebuah ruangan khusus bila temanteman
datang untuk belajar bersama. Ia mempunyai dua
pintu. Yang satu menghadap ke dapur dan yang satu
lagi, sama dengan jendelanya, menghadap ke halaman
samping rumah. Jadi melalui pintu ini penghuni atau
pemakai kamar dapat keluar masuk, datang dan pergi,
dengan leluasa lewat halaman samping. Dengan begitu
kebebasan dan privasi, baik bagi kami pemilik rumah
maupun buat penghuni kamar kos, tetap terjamin.
Tambahan lagi di halaman ini pula terletak sumur, kamar
mandi, tempat mencuci dan menjemur pakaian serta
jamban.
Mas Singgih tidak setiap hari ada di kamarnya. Dia
memang kerap bepergian sampai berhari-hari. Kalau
pulang dia segera mencuci baju dan kemudian
menyendiri di kamar, membaca atau membuat catatancatatan.
Dia adalah seorang yang sangat sopan dan
santun. Dia mengaku lebih muda daripada Pakeik Leman,
tetapi kelihatan jauh lebih tua daripada umurnya sendiri.
Tubuhnya agak bungkuk, tidak seperti paman,
berkacamata tebal dan selalu berpenampilan rapi.
Walaupun lemah lembut dalam berbicara, kalau
pembicaraan sudah menyinggung soal penjajahan dan
kemerdekaan, sama dengan paman, nada suaranya
semakin meninggi dan sorot matanya kian berapi-api
Di antara keluargaku, akulah yang ternyata paling
banyak bergaul dan berbicara dengan dia. Dan hal ini
mula-mula tidak dikehendaki emak. Emak takut kalauTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kalau aku sampai mengganggunya mengingat dia selalu
kelihatan serius, terus-menerus disibukkan oleh penulisan
yang kelihatannya tak kunjung selesai Maka kalaupun dia
tidak keberatan bila aku dekati, emak khawatir kalau dia
sebenarnya berbasa-basi belaka, karena segan saja,
berhubung aku adalah anak pemilik rumah.
“Ah, tak betul itu, Mak,” kataku membantah dugaan
emak. “Malah dia sendiri yang mengatakan agar saya tak
segan-segan datang ke kamarnya kalau dia sedang di
rumah. Sesudah tiga kali kami berbicara, dia menyatakan
saya adalah anak yang cerdas.”
“Wah, wah, baru tahu emak punya anak laki-laki yang
cerdas,” kata emak menggoda.
“Wadduuuh, mangkaklah dia dibilang cerdas,” sahut
Kak Mami turut mengganggu sambil membelai-belai
rambutku. “Makin tak mandilah adikku yang satu ini
kalau hari Minggu.”
“Buat apa mandi, begitu saja dia sudah cerdas,”
sambung Kak Ani, ikut menyindir.
Minggu pagi ini kami bertiga sedang mengelilingi emak
di dapur, memperhatikan dia asyik menyiapkan hidangan
untuk makan siang nanti. Kamar Mas Singgih yang
bersebelahan dengan dapur ini sudah beberapa hari
kosong. Seperti biasa dia kiranya sedang bepergian
membereskan urusannya.
“Kalau Daoed benar-benar anak cerdas, tentu dapat
menyimpulkan dengan baik apa-apa yang kau bicarakan
dengan Mas Singgih selama ini,” kata emak dengan
sungguh-sungguh. “Ceritakanlah sekarang, mumpung
adikmu tidak rewel dan mau dijaga si Amisha.”

“Ya, kami pun akan turut mendengarkan,” kedua
kakakku ikut berkesungguhan. “Emak selalu bilang
bahwa pengetahuan yang tidak dibagi dengan orang lain
menjadi kekayaan yang hilang dari akal.”
“Sebagai keseluruhan saya baru delapan kali berbicara
dengan Mas Singgih,” kataku, “Bahasa Melayunya payah
Mak, tersendat-sendat. Bolak-balik dia membalik-balik
kamus Belanda-Melayu untuk menemukan kata-kata
yang pas. Kelihatannya dia lebih lancar berbahasa asing,
seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan Perancis. Sayang
saya baru setahun di Schakelschool. Andaikata bahasa
Belanda saya sudah baik dan dia, karena itu, bisa
bercerita dalam bahasa Belanda ini, tentu pengetahuan
saya sudah bertambah jauh lebih banyak lagi. Mana saya
sering meminta diulang-ulang bahan pembicaraannya
karena masih sulit saya tangkap. Namun yang pasti dia
mengatakan keharusan kita untuk beijuang
memerdekakan diri dari penjajahan Belanda.”
“Ah, Pakcik Leman juga dulu terus-menerus
mengatakan begitu,” komentar Kak Marni. “Jadi bukan
hal baru.”
“Benar, Kak. Dulu saya memang kurang acuh.
Sekarang saya sudah lebih mampu memahaminya. Kalau
Pakcik lebih menitikberatkan masalah-masalah yang
berhubungan dengan penjajahan, Mas Singgih sangat
memberikan tekanan pada masalah kemerdekaan. Pada
asasnya sih pikiran mereka saling melengkapi.”
“Apa masalah kemerdekaan itu?”, tanya emak.
“Berkenaan dengan apa yang harus kita perbuat
dengan kemerdekaan atau sesudah kita merdeka.”

“Apa itu menurut dia?” Kedua kakakku sudah tak
sabar rupanya.
“Kita harus bisa mewujudkan sebuah Negara
berbentuk Republik dan seiring dengan ini kita harus
menegakkan Demokrasi. Republik dan Demokrasi,
sebuah pasangan politik, bagai lepat dengan daun, dapat
dibedakan namun berupa satu kesatuan.”
“Kalau begitu coba ceritakan kembali sekarang kepada
kami apa yang dimaksudkan dengan kata-kata tersebut.
Bayangkan dirimu bagai seorang guru yang sedang
berada di depan kelas,” tutur emak.
“Kata Demokrasi berasal dari kata Yunani yang
bermakna kekuasaan rakyat atau rakyat yang berkuasa,
karena rakyatlah yang berdaulat dalam Negara yang kita
bangun di alam kemerdekaan nanti. Negara tersebut
adalah Republik, berasal dari kata Latin, yang berarti
urusan atau perkara bersama, atau kepentingan umum,
yaitu rcs publi-ca. Pada awalnya dahulu Republik adalah
Negara apa saja asalkan diatur oleh undang-undang.
Dewasa ini Republik, di samping Negara Hukum,
bermakna persekutuan politik berdasarkan
penggabungan secara bebas dari orang-orang pada
suatu cita-cita yang disepakati bersama.”
“Apa yang dimaksudkan dengan Negara Hukum?”,
tanya Kak Marni.
“Apabila di Negara ini hukum berada di atas Pemimpin
Tertinggi pemerintahan atau Kepala Negara. Dengan
perkataan lain, lebih persis lagi, apabila Pemimpin
Tertinggi atau Kepala Negara tarsebut sebenarnya
bukanlah seorang manusia yang bertulang dan
berdaging, tetapi suatu abstraksi, yaitu undang-undang.

Dengan begini tampang, gambar atau potret Pemimpin
Tertinggi atau Kepala Negara bukanlah melukiskan
seseorang, tapi menampilkan suatu NILAI,” kataku.
“Kalau undang-undang ini begitu tinggi, begitu
menentukan, siapa yang membuatnya?” tanya emak.
“Ya, rakyat tadi, Mak,” jawabku tegas meniru-niru Mas
Singgih.
“Siapa rakyat ini? Apa kita-kita ini?”
“Ya, kita-kita inilah. Dalam artian luas, rakyat adalah
keseluruhan perorangan atau individu yang hidup di
wilayah nasional dan tunduk pada peraturan
perundangan yang sama. Jadi ia merupakan unsur-unsur
yang hidup dari bangsa. Dalam artian sempit namun
lebih persis, rakyat adalah suatu pribadi atau person
yuridis.”
“Mengapa ada dalam artian luas dan artian sempit?”
tanya emak.
“Karena pengertian yang luas dari apa yang
dimaksudkan dengan rakyat ini meliputi perorangan yang
sebenarnya tidak berdaulat, tidak punya hak atas
kedaulatan rakyat. Mereka ini adalah orang-orang asing,
warga negara yang cacat mental, yang pernah dihukum
karena berbuat kejahatan dan yang masih di bawah
umur, dalam artian belum dianggap dewasa atau akil
balig, yaitu 18 tahun.”
“Bila demikian kita bertiga ini tidak merupakan bagian
dari rakyat yang berdaulat?” tukas Kak Marni.
“Dalam artian yang sempit pasti tidak. Kita bertiga,
Kak Mami, Kak Ani dan saya, kita-kita ini merupakan

bagian dari penduduk, bagian dari semua orang yang
hidup di Negara Republik, dengan atau tanpa hak-hak
politik. Kalau nanti undang-undang menetapkan ukuran
kedewasaan politik itu 16 tahun, misalnya, Kak Mami lalu
berhak memilih dan dipilih, menjadi salah seorang dari
jutaan rakyat yang berdaulat. Maka itu dalam artian yang
sempit, seperti dikatakan tadi, rakyat adalah suatu
person yuridis. Ia merupakan penyatuan para warga
negara yang memperoleh hak untuk ambil bagian dalam
kekuasaan dan dalam kedaulatan, yaitu
kekuasaan/kedaulatan membuat undang-undang, dari
mana diturunkan hukum yang mengatur berbagai bidang
kehidupan, hak untuk memilih dan dipilih. Jadi bila
penduduk pada asasnya merupakan sebuah foto, rakyat
merupakan sebuah film, karena ia adalah suatu
dinamika, yang sarat dengan sejarah dan peijalanan
nasib serta pasang surut kehidupan, harapan, kejutan.
Bagi kita kelak, rakyat ini bukan sekedar kumpulan sukusuku.
Kelak tetap ada orang atau penduduk atau
masyarakat Aceh, Minang, Batak, Jawa dan lain-lain,
tetapi di Negara Republik Indonesia nanti tidak akan ada
lagi rakyat Aceh, rakyat Minangkabau, rakyat Batak atau
rakyat Jawa. Yang ada adalah Rakyat Indonesia karena
RAKYAT pada asasnya tidak terbagi-bagi. RAKYAT adalah
BANGSA kita sebagai suatu keseluruhan.”
“Bila demikian si Rakyat ini memilih apa dan dipilih
untuk apa?” tanya emak dan kakak-kakakku hampir
serentak.
“Berbagai jabatan politik, kenegaraan dan
pemerintahan. Yang terpenting, misalnya, memilih
Kepala Negara, yang dalam suatu Republik disebut
Presiden. Setiap warga negara yang dianggap punya

kualitas kepemimpinan, punya hak untuk dipilih oleh
rakyat. Namun demokrasi ini tidak hanya terletak pada
cara pemilihan tetapi juga pada cara perhitungan
suaranya. Kalau si pemilih itu adalah saya yang
merupakan salah seorang dari lima juta rakyat yang
berhak memilih, misalnya, maka saya berarti merupakan
seperlima juta dari Presiden yang terpilih itu. Maka itu
asas pokok dari Republik adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan demikian
setiap pemerintah secara alami memang menjadi tidak
pasti dan bisa diganti. Rakyatlah yang merupakan satusatunya
pengontrol yang tidak bisa diganti dan
permanen.”
“Wah repot juga keija kita sesudah merdeka itu,”
komentar kakak-kakakku.
“Sedangkan menurut Mas Singgih, yang tidak kalah
repot dan berat dari semua itu adalah persiapanpersiapan
yang harus kita lakukan sejak sekarang,
sebelum kemerdekaan terwujud, yang sangat
menentukan kesuksesan pembentukan Republik dan
penegakan Demokrasi di alam kemerdekaan kelak.”
“Misalnya apa?”
“Menempa kita-kita yang sudah berada di Hindia
Belanda ini secara turun-temurun menjadi satu bangsa,
yaitu Bangsa Indonesia.”
“Ya, dahulu Pakcik tak bosan-bosannya mengatakan
hal itu, termasuk kesulitan dan haiangan-halangannya.”
“Menurut Mas Singgih, kesulitan dan halangan
tersebut bukan hanya karena di sini kita mengenal begitu
banyak suku, mempunyai aneka ragam budaya dan

agama serta berbagai macam bahasa, tetapi terutama
berasal dari per-bedaan-perbedaan yang begitu besar
dalam keterpelajaran rakyat kita. Maka itu pendidikan
dianggapnya menjadi sangat penting dan menentukan
bagi keberhasilan kita menyelesaikan persiapanpersiapan
yang diperlukan di banyak bidang sebelum
kemerdekaan.”
“Kalau begitu apa-apa yang kalian lakukan ternyata
tepat dan betul sekali,” kata emak. “Kalian sudah
bersekolah dan rajin-rajinlah belajar supaya bisa menjadi
rakyat yang bisa diandalkan kelak. Kalau benar Mas
Singgih merasa tidak keberatan bila didekati, Daoed
sebenarnya punya kesempatan untuk banyak belajar dari
dia, lebih-lebih tentang hal-hal yang mungkin tidak akan
diajarkan di sekolah. Emak rasa dia bukan tipe pokrol
bambu yang sangat tidak disenangi oleh bapak dan
pakcikmu. Emak bahkan berkesimpulan dia benar-benar
terpelajar, benar-benar tahu apa-apa yang
dibicarakannya dan berasal dari keluarga bukan
sembarangan di Jawa sana.”
“Emak sudah tanyakan kepada Mas Singgih tentang
hal-ihwal keluarganya itu?” tanya Kak Marni.
“Belum,” jawab emak, “tak baik langsung menanyakan
hal-ihwal pribadi seperti itu di saat baru berkenalan.
Firasat emak saja yang membisikkan demikian. Dan yang
sudah-sudah firasat ini tidak pernah meleset bila
mengenai tabiat dan budi orang. Namun pada waktunya
kelak tentu akan emak tanyakan.”
Kami semua diam saja. Kami tahu ucapan emak selalu
benar.

“Nah, untuk sementara sekian dahulu,” sambung
emak, “kapan-kapan kita lanjutkan lagi. Rasanya tambah
juga pengetahuan emak. Sekarang biarkan emak
menyiapkan tauco ikan kembung untuk kawan nasi siang
ini.”
“Horeee!” teriak kami serentak. Kami memeluk emak
berbarengan, bergelantung di lehernya yang jenjang.
“Aih, aih, sudahlah. Emak mau jatuh rasanya karena
ulah kalian ini.” Emak mencium kami di pipi satu persatu
bergiliran. “Kalian sudah besar-besar, sudah berat.”
Walaupun berkata begitu tangannya tetap memeluk kami
erat-erat “Kau, Daoed, pergi sekarang ke kandang
lembu,” katanya sambil melepaskan pelukannya.
“Sampaikan pesan emak kepada bapak supaya pulang
sebelum zuhur agar kita bisa makan bersama-sama. Kau
Marni, cari di halaman daun ubi dan suring dan terong
atau apa saja yang bisa dijadikan lalap. Ani bantu emak
mengiris cabai dan bawang. Emak mau ke kamar
sebentar menyusukan adikmu.”
“Hai Daoed,” tegur Kak Marni, “begitu pulang dari
kandang kau harus cepat-cepat mandi. Hilang selera
awak kalau makan bersama-sama orang yang masih bau
iler!”
“Amboooi, kejam kalilah encik kita yang satu ini.
Mandinya sehabis makan sajalah yaaa. ‘Pan hari
Minggu!” kataku sambil berlari menjauhi jangkauan Kak
Marni agar tidak tertangkap olehnya. Aku senang benar
menggoda kakak yang satu ini. Aku tahu benar dia yang
paling memanjakan aku sehari-hari. Walaupun dia jarang
tersenyum, seperti bapak saja, tetapi tingkah-lakunya
selembut emak.


BAB 11
EMAK DAN KEBEBASAN BERNEGARA MERDEKA
Pada suatu malam ketika kami sekeluarga sedang
duduk-duduk di serambi depan sehabis makan, Mas
Singgih lewat di halaman samping menuju ke kamarnya.
Karena jarang sekali bertemu, emak dan bapak
mempersilakannya mampir. Dia tidak menolak.
“Sudah lama juga tidak kelihatan Mas Singgih,” kata
emak memulai pembicaraan setelah dia turut duduk
bersila sehabis menyalami kami satu per satu.
“Saya sedang menjelajahi perkebunan-perkebunan
yang ada di Sumatra Timur ini, ya kebun tembakau, ya
kebun kelapa sawit, ya kebun karet. Tentu saja saya
melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi. Untung
sebagian terbesar dari kuli-kuli kebun itu berasal dari
Jawa. Pembicaraan saya dengan mereka bisa lancar dan
mereka sangat kooperatif.”
“Hati-hati lho, Mas,” kata bapak. “Selalu ada matamata
di perkebunan. Belum lagi centeng-centeng Cina
yang selalu siap menangkap orang-orang luar yang
berkeliaran di kebun.”
“Benar sekali Pak Joesoef. Tapi saya ingin memastikan
apakah poenale sancties betul-betul sudah tidak
dipraktekkan lagi di perkebunan-perkebunan itu.
Hukuman yang tidak berperikemanusiaan itu dicabut
setelah dikritik habis-habisan oleh Moehammad Hoesni
Thamrin di Volksraad berdasarkan apa yang dia lihat

sendiri ketika beberapa tahun yang lalu berkunjung ke
perkebunan-perkebunan Belanda di sini. Andil Pak
Soelaiman cukup besar dalam upaya pencabutan
tersebut.”
“Apa andil saudara sepupu saya itu?” tanya emak ingin
tahu.
“Beliau secara diam-diam berhasil menyampaikan
kepada Pak’Hoesni Thamrin data dan bukti-bukti
kekejaman dari penerapan poenale sancties. Tapi
kemudian ada musang berbulu ayam yang melaporkan
perbuatan beliau ini kepada PBD12 dan Parket
Pengaduan dari si pengkhianat peguangan inilah yang
menjadi dasar penangkapan dan pembuangan beliau ke
Boven Digoel.”
“Ya selalu ada saja musuh dalam selimut yang tak
segan-segan menggunting dalam lipatan,” komentar
bapak.
“Begitulah adanya Pak,” sambung Mas Singgih. “Tapi
kita tidak boleh berhenti apalagi mundur. Patah tumbuh
hilang berganti. Kita harus terus menceritakan kepada
rakyat kita, dengan cara apa saja, bahwa di samping
beguang melawan penjajahan Belanda kita siapkan
sekaligus konsep negara nasional yang lebih adil, yaitu
sebuah Republik yang demokratis.”
Begitu mendengar ucapan Mas Singgih ini aku cepatcepat
berlari ke kamarku untuk mengambil kitab tulis dan
potlod guna membuat catatan. Ketika aku menggabung
lagi masih sempat kudengar emak bertanya apakah
sebuah Republik selalu lebih demokratis daripada sebuah
Kerajaan.

“Tidak juga kalau kita lengah dan tidak waspada,”
jawab Mas Singgih. “Dahulu pernah ada Republik
Romawi. Yang sebagian besar hidup di situ adalah
budak-budak milik para bangsawan. Di Republik Venesia
dan Genoa, pemimpin tertingginya disebut doge, yang
dipilih untuk seumur hidup, ternyata menjadi tiran, yaitu
penguasa negara yang lalim. Republik Florensia
diperintah oleh kalangan ningrat. Republik Cromwell
dipimpin oleh diktator militer. Jadi dulu-dulu itu kata
Republik dipakai semata-mata untuk menunjukkan
bahwa pimpinan tertingginya bukan seorang Raja.
Sekarang ini yang kita maksudkan dengan Republik
adalah … apa Daoed, kau masih ingat ?!”
“Suatu persekutuan politik berdasarkan penggabungan
secara bebas dari orang-orang pada suatu ideal yang
disepakati bersama,” jawabku lancar.
“Bravo!” seru Mas Singgih sambil bertepuk tangan.
“Putra Bu Joesoef ternyata cerdas sekali menurut ukuran
umurnya.”
“Sudahlah Mas Singgih, jangan puji dia setinggi itu,”
tukas Kak Ani. “Nanti hidungnya menjadi sebesar botol.”
Kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar
ungkapan itu, kecuali bapak. Dia, seperti biasa, hanya
tersenyum.
“Kalau tak salah orang-orang Belanda dan Inggris
sangat mencintai raja-raja mereka,” kata Kak Mami.
“Benar Dik. Di sana, juga di Jepang, masih kuat
anggapan bahwa raja mereka adalah pilihan Tuhan.
Namun tokoh-tokoh bangsawan ini adalah orang-orang
yang dapat bertukar kedudukan berkat keturunan

semata-mata. Karena itu pula keluarga raja dengan
sendirinya diperlakukan sebagai tokoh-tokoh publik.”
“Apa yang dimaksudkan dengan tokoh publik?” tanya
Kak Ani.
Tokoh publik adalah orang yang keberadaannya
dianggap demi memenuhi kepentingan umum.” jawab
Mas Singgih. “Padahal tidak dengan sendirinya begitu.
Namun karena telah ditetapkan sebagai tokoh publik,
hanya berkat kebangsawanannya, biaya hidupnya
dibebankan pada keuangan negara. Artinya, orang ini
hidup dari pajak yang dipungut dari rakyat, benar-benar
merupakan benalu. Sedangkan seorang Presiden, yang
adalah Pemimpin Tertinggi Republik, dipilih oleh rakyat
untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kualitaskualitas
khas dari dirinya sendiri dan karena itu keluarga
sang Presiden tetap merupakan orang-orang privat Di
samping ini seorang Presiden tunduk pada undangundang
umum karena dia tidak dianggap keramat, dipilih
bukan karena hak waris atau keturunan dan pasti bukan
pilihan Tuhan. Jadi dia pun bisa diseret ke pengadilan
bila ternyata melanggar hukum. Kekuasaannya datang
dari bawah, dari rakyat, sedangkan otoritas raja datang
dari atas. Maka itu pemilihan umum menjadi penting bagi
Demokrasi dan bagi Republik.”
“Bagaimana kalau saya tak mau ikut-ikutan memilih?”
tanya Kak Marni.
“Ada dua soal di sini, yaitu untuk siapa kita memilih
dan mengapa kita memilih. Mengenai soal siapa yang
akan dipilih ini adalah urusan Dik Marni pribadi. Yang
lebih penting adalah soal mengapa memilih itu. Bila Dik
Marni tidak memilih artinya kau hanya memikirkan

perkaramu sendiri. Perkara kita bersama, res publica,
yang lebih besar, kau serahkan begitu saja kepada
orang-orang lain untuk mengurusnya. Sedangkan
pengurusan perkara bersama ini yang justru merupakan
kewajiban dari semua dan setiap warga negara. Dengan
perkataan lain, kewarganegaraan dari suatu Negara
Republik tidak hanya merupakan suatu kesempatan (hak)
tetapi, pada waktu yang sama, adalah kewajiban untuk
membuat suatu perbedaan atau perubahan di tempat di
mana kau tergolong.”
“Jadi pemilihan umum yang bebas itu menentukan kedemokrasian
sesuatu pemerintahan?” tanya emak.
“Tidak dengan sendirinya, Mak,” jawab Mas Singgih.
“Bisa saja seorang pemimpin yang kharismatis menjadi
Presiden karena sebagian terbesar rakyat, disebut
mayoritas, memilihnya secara legal dalam suatu
pemilihan umum yang sah. Namun hakikat demokrasi itu
sendiri bukanlah sekedar pemerintahan mayoritas.
Hakikat tersebut terpenuhi bila kelompok minoritas tetap
memiliki hak-haknya untuk berorganisasi dan
berekspresi. Bila tidak ada satu pun kelompok, biarpun
kelompok mayoritas, apalagi individu, yang dapat
mendesakkan kehendak mereka kepada kelompokkelompok
atau individu-individu yang lain. Bila tidak ada
satu pun partai, suku, keluarga, kepercayaan atau
keyakinan keagamaan yang dapat meniadakan
kedaulatan itu sendiri.”
“Lalu apa yang harus dilakukan agar kekuasaan yang
dipercayakan oleh rakyat tidak disalahgunakan?” tanya
bapak.

“Untuk mencegah atau mengoreksi penyalahgunaan
itu kita harus membagi-bagi kekuasaan tadi,” ditegaskan
oleh Mas Singgih. “Sebab menurut orang yang jauh-jauh
hari sudah memikirkannya, yaitu Montesquieu, hanya
kekuasaan yang dapat menghadang kekuasaan.
Kekuasaan tersebut dipisah menjadi tiga bagian. Ada
kekuasaan untuk membuat undang-undang yang
dipegang oleh parlemen hasil pilihan rakyat. Ini disebut
legislatif. Ada pula kekuasaan untuk melaksanakan
undang-undang tadi yang dipegang oleh pemerintah. Ini
disebut Eksekutif. Ada lagi kekuasaan untuk
melaksanakan keadilan yang dipegang oleh lembaga
hukum. Ini disebut Yudikatif.”
Karena kami semua diam saja setelah mendengarkan
uraian ini, Mas Singgih segera melanjutkannya dengan
penjelasan tambahan yang cukup kritis. Menurut dia
pembagian kekuasaan tersebut ternyata masih
memungkinkan adanya penyalahgunaan wewenang.
Pada beberapa Republik di Amerika Latin, misalnya, ada
terdapat parlemen atau dewan perwakilan rakyat, dapat
kita temukan menteri-menteri dan ada pula badan yang
bertugas mengadili perkara. Namun semua ini tidak
berfungsi sebagaimana seharusnya sebab yang ada
bukanlah demokrasi beneran tetapi aristokrasi. Kalau di
suatu Republik korps rakyatlah yang memegang
kekuasaan berdaulat, kata Montesquieu, ia adalah suatu
demokrasi. Kalau kekuasaan berdaulat itu ada di tangan
sebagian rakyat saja, ia disebut aristokrasi.”
“Apa ciri-ciri suatu Republik aristokratik?” bapak
rupanya betul-betul berminat terhadap apa yang sedang
dibicarakan. “Dik Leman dulu belum sempat membahas
hal semacam ini, sudah keburu ditangkap.”

“Pertama adanya suatu kasta yang punya privilese,
tidak begitu banyak anggotanya, agak tertutup dan
memerintah tanpa memperdulikan massa kecuali untuk
tetap menguasainya, mengerahkannya untuk bekeija dan
bila perlu menghiburnya. Kemudian, adanya sejumlah
kecil orang di puncak yang, ke dalam, kadangkala saling
mencurigai, tetapi keluar menampilkan suatu front
bersama yang kompak. Kasta ini bisa berupa satu
keluarga, satu kelompok kekerabatan, satu golongan
profesional yang biasanya militer atau satu partai. Jadi
warga negara Republik ini sebenarnya bukan merupakan
rakyat, tetapi kawula yang tidak berdaulat Dan semua ini
bisa terjadi karena sebagian terbesar dari rakyat di
negara-negara tersebut masih bodoh, dibiarkan rendah
pendidikannya, sangat minim kesadaran politiknya.
Rakyat yang berkeadaan seperti ini sangat mudah
dimanipulasi oleh orang-orang yang, melalui mekanisme
demokrasi representatif yang legal, berusaha memegang
kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Adanya tragedi
politis-ketatanegaraan ini kelihatan dari seringnya
perebutan kekuasaan, atau coup d’Etat, di Republikrepublik
tersebut oleh kelompok militer. Sampai para
pengamat asing menjuluki kejadian-kejadian itu sebagai
sejenis sport dari para elite nasional di sana.”
Mengingat malam sudah agak larut pembicaraan distop
sampai di sini dan Mas Singgih beijanji akan mencari
waktu untuk melanjutkannya. Waktu ini baru tersedia
tiga minggu kemudian. Dia kelihatan masih lelah namun
menghendaki agar kami tetap berkumpul dan
berbincang-bincang lagi. Aku sudah siap dengan buku
catatan, demikian pula kedua kakakku. Kami bertiga
telah membahas apa-apa yang telah diuraikan oleh Mas
Singgih beberapa hari berturut-turut. Emak pernah dua

kali ikut serta dalam pembahasan itu. Bapak membuka
pembicaraan dengan menanyakan kapan saatnya,
menurut para pemimpin pergerakan di Jawa, kita
menjadi merdeka.
Mas Singgih tidak segera menjawab. Dia terbatukbatuk
kecil. Wajahnya agak tegang. Tidak jelas apakah
dia sedang mencari kata-kata yang tepat atau
menyimpulkan berbagai pendapat yang selama ini
pernah didengarnya atau … Ah, tak tahulah.
“Pak dan Bu Joesoef, peristiwa dari penjajahan ke
kemerdekaan jelas merupakan suatu perubahan politiksosial
yang sangat fundamental,” begitu dia mengawali
uraiannya. “Ada dua cara untuk mewujudkan perubahan
tersebut. Pertama, dengan jalan berangsur-angsur
melalui pengadaan perubahan sedikit demi sedikit dan
dilakukan secara planmatig, yaitu berdasarkan rencana
yang telah dipikirkan masak-masak sebelumnya. Pepatah
Melayunya adalah, maaf kalau saya keliru
menggunakannya, biar lambat asal selamat, tidak lari
gunung dikejar. Proses ini disebut evolusi. Kedua,
dengan mengadakan perubahan yang radikal dan drastis,
dinamakan revolusi. Jalan pertama jelas memerlukan
banyak waktu dan sering dibarengi dengan
ketidakpastian. Jalan kedua dapat segera mewujudkan
keadaan yang dicita-citakan. Namun hasil yang serba
cepat dan mendadak ini tercapai berkat diberlakukannya
kekerasan. Sejarah telah mencatat beberapa revolusi,
tidak segan-segan mengubah keadaan politik sosial
dengan jalan penumpahan darah.”
“Aduh, mengapa harus begitu,” potong emak. “Darah,
bunuh- membunuh … Saya bukan pengecut Ketika
mendengar dari suami saya apa-apa yang telah

dialaminya sewaktu kecil, saya jadi geram dan rasanya
ingin turut serta dalam kancah pertempuran berdarah
itu, turut membunuh kompeni. Namun saya bisa
membayangkan akibat saling mematikan itu, yaitu
penderitaan, kesengsaraan, yang bagi perempuan dan
anak-anak menjadi beban kehidupan yang lebih berat.
Maka bagaimana kalau jalan evolusi saja?!”
“Mak, bagi kita yang sedang dijajah, keberhasilan jalan
pertama tadi sangat ditentukan oleh pengertian,
kebaikan dan bantuan Belanda. Artinya pihak penguasa
negeri kita ini harus bersedia dengan ikhlas melepaskan
kekuasaannya di semua bidang pemerintahan secara
berangsur-angsur melalui pendidikan atau latihan yang
sesuai bagi anak-anak bumiputra. Atas desakan para
pemimpin kita, Pemerintah Belanda memang pernah
beijanji akan melakukan hal ini. Pada bulan November
1918 Gubernur Jenderal Graaf Van Limburg Stirrum
menerangkan di depan Volksraad bahwa Regerings
Reglement akan diubah untuk mempercepat pemindahan
hak-hak pemerintahan dari tangan Belanda ke Indonesia.
Sebulan kemudian dibentuk panitia penyusunan rencana
perubahan itu. Namun laporan hasil kerja panitia dua
tahun kemudian (1920) jauh berbeda dari isi Janji
November itu, de beruchte November Belofte. Mengapa?
Ketika janji itu diucapkan Benua Eropa sedang dilanda
kekacauan perang besar yang berkecamuk di sana.
Belanda sendiri tidak ikut berperang, tetapi sebagai
negeri kecil yang diapit oleh negara-negara besar yang
sedang bertarung, ia pasti dalam ketidakpastian.
Sesudah perang besar ini usai dan Kerajaan Belanda
ternyata bisa selamat, ia lupa akan janjinya. Kita sudah
ditipu mentah-mentah Mak.”

“Watak penjajah memang sudah begitu,” nyeletuk
bapak. “Kita selalu mau bersikap satria dalam
memeranginya, tetapi kita selalu ditipunya. Benar kata
pepatah: seperti Belanda minta tanah.”
“Maka saya kira demi kemerdekaan, revolusi tak
terelakkan.” Ungkapan ini diucapkan oleh Mas Singgih
dengan nada sangat konklusif. “Saya pikir Bung Hatta
benar sekali ketika dia mengatakan sembilan tahun yang
lalu di dalam pidato pembelaannya di depan pengadilan
Belanda, bahwa kemerdekaan Indonesia hanya dapat
diperoleh dengan kekerasan dan adalah merupakan
hukum sejarah bahwa lahirnya sesuatu bangsa selalu
sejalan dengan pertumpahan darah dan air mata.”
“Lalu kalau mau berevolusi, kapan?” tanya emak.
“Wah, sulit juga mengatakannya, Mak. Karena hal ini
pun tergantung pada faktor-faktor di dalam dan luar
negeri. Yang jelas, walaupun tanpa ada kepastian yang
meyakinkan mengenai tanggalnya, kita harus tetap
menyiapkan diri untuk melaksanakan keija besar itu.”
“Misalnya persiapan apa?” Bapak kelihatannya tertarik
pada ide revolusi itu.
“Kita harus menyiapkan diri untuk mampu berperang
secara modern, paling sedikitnya menggunakan senjatasenjata
modern seperti yang dipakai oleh angkatan
perang Kerajaan Belanda. Untuk itu kita harus berpurapura
mau masuk KNIL dan masuk ke pendidikan
perwiranya di Breda atau di Den Helder.”
“Saya tidak tahu bagaimana keadaan di Jawa,” kata
bapak. “Di Aceh sampai tahun 1920 masih ada
perlawanan kecil-kecilan terhadap kompeni. Sekarang

kata orang, sesudah teijadi pemberontakan kapal tujuh di
lepas pantai Aceh yang berseberangan dengan Kotaradja
di awal tahun 1933, Gubernemen sudah semakin tidak
percaya lagi pada orang-orang Sumatra untuk diterima
menjadi serdadu Belanda, apalagi untuk dididik menjadi
perwiranya. Jadi untuk magang di angkatan perang
Belanda, dengan pura-pura menjadi serdadunya, sudah
tertutup bagi kami yang dari Sumatra.”
“Bila demikian masukilah sekolah-sekolah Belanda
yang terbuka bagi putra-putri Andalas,” kata Mas
Singgih. “Belajarlah di Sekolah Tinggi Kedokteran,
Hukum, Teknik, Pertanian, Sekolah yang mendidik
bumiputra menjadi guru, menjadi B.B. Ambtenaar, atau
ke Sekolah Tinggi Perdagangan seperti yang dilakukan
oleh Mohammad Hatta. Saya yakin kecerdasan, kemauan
belajar dan semangat juang dari putra-putri pulau ini
tidak kalah dengan mereka yang berasal dari pulau atau
daerah lain. Dalam menyiapkan Sumpah Pemuda di
Kongres Pemuda akhir Oktober 1928 terdapat studenstuden
dari Andalas, seperti Adnan Kapau Gani,
Moehammad Jamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifoed-din. Di
samping ilmu perang modern, Pak Joesoef, kita pasti
memerlukan juga berbagai macam ilmu-ilmu modern
lainnya, dalam menyiapkan keberhasilan revolusi kita
nanti.”
“Apa sudah ada di dunia ini revolusi yang
menghasilkan Republik?” tanya emak penasaran.
“Ada, Mak, dan akan saya sebutkan dua yang
terpenting,” jawab Mas Singgih dengan antusias. “Yang
pertama adalah revolusi Amerika. Bangsa ini
mengumumkan kemerdekaannya pada tanggal 4 Juli
1776 dan sekaligus mengadakan perang kemerdekaan

melawan Kerajaan Inggris yang ingin tetap
menguasainya. Keberhasilan revolusi di Benua Baru ini
sangat mengilhami rakyat Perancis untuk memberontak
terhadap penindasan raja dan kaum bangsawannya. Hal
ini terwujud berupa penyerbuan penjara Bastille, yang
dianggap sebagai lambang kekuasaan mutlak raja, oleh
rakyat jelata yang kalap pada tanggal 14 Juli 1789 dan
bendera raja diganti oleh bendera nasional. Namun
revolusi Perancis ini berjalan tidak selancar revolusi
Amerika yang mengilhaminya. Kekuatan monarki absolut
dan kasta feodal masih tetap ada dan terus merongrong
begitu rupa hingga pergolakan demi pergolakan saling
menyusul. Sejarah mencatat revolusi Perancis ini berjalan
dari tahun 1789 hingga tahun 1799. Walaupun begitu
yang ditetapkan oleh rakyat Perancis sebagai Hari
Nasional mereka adalah tanggal 14 Juli 1789 itu, yaitu
hari rakyat berevolusi menyerbu dan menguasai penjara
Bastille. Revolusi Perancis ini melahirkan suatu Republik
Uniter atau Negara Kesatuan, sedangkan revolusi
Amerika mencetuskan Republik Federal atau Negara
Serikat.”
“Apa bedanya?” Kak Marni bertanya tanpa
menengadahkan mukanya karena sibuk membuat
catatan.
“Negara Serikat adalah sebuah negara besar yang
terdiri dari negara-negara kecil yang memiliki pemerintah
dan tata hukumnya sendiri-sendiri. Atau dengan
perkataan lain, adalah perserikatan beberapa negara
yang berdiri sendiri, yang bergabung menjadi satu, di
bawah dan di dalam sebuah organisasi kenegaraan
bersama. Ibukota negara ini adalah tempat kedudukan
pemerintah federal. Negara Kesatuan berpemerintahan

sentralistis. Bila di Negara Serikat, apa yang lokal
mendahului yang umum, di Negara Kesatuan berlaku
sebaliknya. Pemerintah Pusat, yang bertempat di
Ibukota, membawahi daerah-daerah yang bukan
merupakan negara-negara kecil yang menjadi bagiannya.
Di sini tidak ada undang-undang yang khusus untuk
sesuatu kategori penduduk. Hanya satu macam keadilan
yuridis untuk semua warga negara, tidak peduli asalusulnya,
daerahnya, agamanya atau warna kulitnya.
Republik ini terdiri dari warga negara, bukan dari
kelompok-kelompok kehidupan atau communities.”
“Kalau untuk kita kelak. Republik mana yang kiranya
paling cocok?” tanya bapak.
“Wah, sulit juga mengatakannya sekarang ini Pak
Joesoef. Setiap jenis Republik punya kelebihan dan
kekurangannya, maklum ciptaan manusia. Sejarah
pembentukannya pun berbeda-beda. Memilih model
demokrasi yang berkaitan dengan masing-masing jenis
Republik juga tidak segampang memilih merk sirup di
toko. Republik Perancis, misalnya, mewarisi dari monarki
yang dijatuhkannya suatu budaya sentralistis. Di situ
Negara Kesatuan yang mengadili konflik-konflik pribadi
dan menjamin keselarasan negeri secara keseluruhan
dengan menangani masalah-masalah pendidikan,
perhubungan, komunikasi, tata tertib umum, pengadilan
dan lain-lain. Sedangkan di Amerika Serikat hal-hal
tersebut menjadi urusan pribadi perorangan dengan
bantuan lawyers atau ahli-ahli hukum, sambil selalu
mencurigai kekuasaan yang berlebihan dari pemerintah
federal. Undang-undang Dasar negara ini menegaskan
jaminan hak-hak manusia terhadap pemerintahannya
sendiri karena menganggap kekuasaan pemerintahan

ada di tangan manusia yang pada dasarnya jahat.
Sebaliknya pendapat di Perancis, yang berdasarkan
kepercayaan bahwa manusia adalah baik tetapi
dipengaruhi oleh pernyataan di Amerika Serikat,
menciptakan di tahun 1789 Pernyataan hak-hak manusia
dan warga negara—Declaration des droits de 1 homme
et du citoyen—dengan maksud agar manusia tidak
dijauhkan dari hak kebebasan asasi. Dalam abad XVIII
dan XIX manifestasi hak-hak asasi manusia tersebut
dilaksanakan menurut politik yang berlaku di masingmasing
negara walaupun bunyi dan pengertiannya amat
universal. Maka menurut hemat saya, sambil
merenungkan lebih dalam bentuk Republik yang ideal
bagi kita kelak, mumpung masih ada waktu, kita
matangkan dahulu kebangsaan kita, saya maksud
keindonesiaan kita. Sebab negara secara esensial adalah
bangsa yang terorganisir. Dengan perkataan lain Negara-
Bangsa adalah bingkai mutlak dari organisasi besarbesaran
ini. Maka bangsa itu harus ada dahulu.”
“Menurut Dik Leman, di tahun 1928 para pemuda kita
telah bersumpah dalam kongresnya di Betawi untuk
berbangsa satu, yaitu Indonesia. Untuk bertanah air
satu, yaitu Indonesia. Untuk menjunjung satu bahasa
persatuan, yaitu Indonesia.” kata bapak. “Pokoknya
serba INDONESIA.”
“Ya Pak, begitulah kejadiannya,” ditegaskan oleh Mas
Singgih. “Dan seperti telah saya katakan tadi, ada
beberapa studen asal Sumatra yang turut aktif
menyiapkan penyelenggaraan sumpah ini. Dalam
kesempatan itu telah diperdengarkan pula calon lagu
kebangsaan kita oleh penggubahnya sendiri, yaitu Wage
Rudolf Soepratman. Sebelum peristiwa penting ini teijadi

para pemuda dari berbagai daerah yang ada di Jawa
sudah mengadakan pula gerakan pembaruan dalam
berpikir dan bersikap, yaitu menggantikan semangat
kedaerahan dengan visi kebangsaan. Mereka tetapkan
organisasi kedaerahan mereka dengan nama Jong Java,
Jong Soematra, Jong Ambon, Jong Minahasa dan lainlain.
Semua ini merupakan upaya yang positif bagi
pembentukan suatu Bangsa Indonesia , een
Indonesische Natie. Namun ketika saya dua tahun yang
lalu untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bumi
Pulau Harapan ini, saya tidak menemukan Soematra,
tetapi Aceh, Melayu, berbagai macam Batak,
Minangkabau dan lain-lain.”
“Kalau sekarang ini bagaimana?” tanya emak dan
bapak hampir serentak.
“Kok rasanya belum berubah. Saya melihat sendiri
sentimen kedaerahan dan kesukuan masih jauh lebih
tebal ketimbang kesadaran kesoematraan, seperti yang
didengung-dengungkan oleh organisasi Jong Soematra,
apalagi kesadaran mengenai kebangsaan Indonesia.
Telah saya saksikan sendiri betapa tidak mungkinnya
perkawinan antara muda-mudi yang berbeda suku
walaupun dari agama yang sama. Sampai ada yang
bunuh diri. Masalah kebang-saan ini tidak dihadapi oleh
Amerika Serikat ketika ia hendak berevolusi dahulu,
apalagi Perancis. Bangsa Perancis sudah ada sebelum
rakyatnya membentuk Republik. Mereka sudah merdeka,
tetapi tidak berdaulat Demi merebut kedaulatan ini dari
tangan raja itulah mereka berevolusi. Rakyat Amerika
Serikat yang berevolusi memang berasal dari berbagai
bangsa di Eropa. Mereka dengan sadar dan sengaja pergi
ke Benua Amerika karena ingin memulai hidup baru yang

lebih baik, lebih menjanjikan, yang mereka rasa tidak
mungkin mereka peroleh di negeri dan lingkungan
bangsa yang mereka tinggalkan karena kebiasaankebiasaan
lama yang berlaku di situ. Jadi keinginan
membentuk sebuah komuniti kebangsaan yang baru
boleh dikatakan sudah merata di kalangan para imigran
tersebut apalagi di kalangan keturunan mereka yang lahir
dan dibesarkan di Benua Baru itu. Dan mengubah
keinginan itu menjadi kenyataan juga tidak terlalu sulit
bagi mereka karena sudah pindah lingkungan hidup,
sudah melepas diri secara fisik di samping secara mental,
dari tanah tumpah darahnya semula. Realitas sangat
membantu mereka untuk membuat masa lalu benarbenar
menjadi negeri yang lain, negara dan bangsa yang
berbeda sama sekali. Jadi lain halnya dengan rakyat kita.
Bagaimana kita bisa cepat mengajak mereka menghayati
sesuatu yang baru sedangkan mereka praktis tidak
pernah beranjak dari lingkungan yang lama, di mana
mereka lahir dan dibesarkan. Jangan-jangan mereka
menganggap kita hendak menjadikan mereka orang
asing di masyarakatnya sendiri.”
“Lalu bagaimana Mas Singgih?”
“Lalu saya berkesimpulan, berdasarkan tingkat
perkembangan visi kebangsaan saat ini, yang sebaiknya
kita bentuk adalah suatu Republik Uniter, sebuah Negara
Kesatuan dan bukan suatu Republik Federal atau Negara
Serikat demi kekukuhan eksistensi kebangsaan
Indonesia. Andaikata sekarang ini kita bentuk Republik
Federal sebagai pengganti Hindia Belanda maka residensi
yang sekarang ada di Soe-matra pasti menjadi negara
bagian, karena penetapan residensi ini oleh Belanda
sangat ditentukan oleh keberadaan suku, seperti

Residensi Aceh, Residensi Tapanoeli, Residensi Soematra
Barat, Residensi Soematra Timur, Residensi Riau dan
lain-lain. Penetapan provinsi dan residensi di Jawa juga
banyak sedikitnya begitu. Maka di saat semangat
kebangsaan Indonesia masih jauh lebih tipis daripada
semangat kedaerahan/kesukuan, pilihan atas Negara
Serikat pasti akan menghancurkan eksistensi Bangsa
Indonesia. Garis-garis tapal batas negara-negara
bagiannya bukan lagi merupakan pemisahan-pemisahan
administratif yang membawa ukir dalam mozaik
Indonesia, tetapi menjadi retak-retak yang menimbulkan
belah.”
“Namun dengan membina satu kebangsaan, yaitu
Bangsa Indonesia, melalui pembentukan Negara
Kesatuan, kita kan tidak berniat melenyapkan
keberadaan suku-suku?” tanya bapak.
“Sama sekali tidak. Saya tahu persis setiap suku yang
ada di Hindia Belanda ini punya sejarah, seni-budaya dan
bahasa yang khas, bahkan masing-masing punya hukum
adatnya sendiri yang unik. Orang Aceh tidak perlu
mengurangi keacehannya untuk menjadi rakyat
Indonesia. Demikian pula halnya dengan orang dari
suku-suku lainnya. Bagi semua suku yang ada, bagi kita
semua, Indonesia adalah sesuatu yang ISTIMEWA, suatu
keistimewaan yang sama-sama kita bangun, milik kita
bersama yang sama-sama kita junjung tinggi, our
common denominator. Jadi di Negara Kesatuan itu kelak,
corak kedaerahan dan ragam kesukuan yang ada, tetap
dihormati tetapi dalam persatuan tertinggi dari satu
bangsa, dari satu bahasa dan dari hukum perdata dan
pidana yang sama. Saya maksud mscheiden-heid van
plaatselijke tint, provineialisme en sukuisme, ya en

welerkent; maar binnen de opperste eenheid van een
natie, van een taal en van hetzelfde burgerlijk en
strafwetboek. Republik Uniter kita itu nanti menghormati
adat-istiadat dan budaya yang berlainan, tetapi
memperlakukannya sebagai minderheid, sebagai unsur
bagian yang diakui, dihormati, tetapi tidak menentukan
semua. Republik ini mengetahui tetapi tidak mengakui
apa-apa yang cenderung memecah-belah, memisah atau
menghancurkan komuniti warga, burgerlijke
gemeensehap, suku, kepentingan atau agama. Sebab
Republik ini terdiri dari warga negara bukan dari
komuniti. Individu-individu memang punya kekhasan-nya
masing-masing, tetapi warga negara tidak. Bila perlu
daerah-daerah yang ada di lingkungan Republik Uniter ini
diberikan hak-hak otonomi, namun harus dengan
persiapan-persiapan mental kebangsaan dan kemampuan
administratif yang cukup. Bila tidak pemberian otonomi
pada daerah-daerah ini akan melahirkan feodal-feodal
kecil baru.”
“Mas Singgih, kini kian jelas bagi saya pentingnya kata
‘saudara’ yang semakin sering digunakan oleh pemudapemudi
terpelajar sekarang ini,” kata emak menyela
pembicaraan. Dari tadi dia lebih banyak diam, menjadi
pendengar yang baik saja. “Apakah bisa saya misalkan
negara dengan bahtera rumah tangga dan tali
persaudaraan yang Mas Singgih pujikan mampu
membentuknya itu bagai ikatan perkawinan yang
sanggup membina rumah tangga yang berhasil?”
Mas Singgih merenung sejenak sebelum menjawab.
“Saya pikir-pikir kok bisa Bu Joesoef. Ada guru besar
Belanda yang memberikan judul metaforis bagi bukunya
yang mengkaji seluk-beluk kenegaraan, yaitu Het Schip

van Staat atau Bahtera Negara. Ada lagi yang
memisalkan Negara dengan rumah tangga. Judul
bukunya Staitshuis-houding. Sementara saya melihat
adanya kemiripan antara tali persaudaraan dalam rangka
pembentukan Negara dengan ikatan perkawinan dalam
rangka pembentukan rumah tangga, yaitu kedua hal
tersebut secara esensial adalah suatu kontrak sosial.
Mengapa rupanya Bu Joesoef?”
“Begini Mas Singgih. Sebuah bahtera rumah tangga
berhasil, menjadi sempurna, bukan karena ikatan
perkawinan dari dua orang yang sempurna. Ia sempurna
karena pasangan laki-laki dan perempuan yang
membinanya melalui ikatan perkawinan itu menyadari
bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna
namun berusaha keras untuk menikmati perbedaanperbedaan
mereka.”
Kami semua terdiam mendengar kata-kata ini. Kulihat
betapa bapak menatap emak dengan penuh kekaguman.
Aku tak akan pernah melupakan ucapan emak ini
walaupun puluhan tahun kemudian baru dapat benarbenar
memahami maknanya, yaitu setelah aku sendiri
membangun sebuah rumah tangga. Mas Singgih
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Saya pikir metafora tersebut baik sekali,” kata
cendekiawan ini melanjutkan pembicaraan yang terputus
sejenak. “Dengan ini saya berani menyatakan bahwa Bu
Joesoef diam-diam merupakan seorang ibu rumah
tangga yang filosofis.”
“Ah, masak!” emak sungguh terperanjat disanjung
seperti itu, apalagi oleh orang yang diakuinya benarbenar
terpelajar.

“Benar, Mak, saya tidak bersenda-gurau,” kata Mas
Singgih. “U bent werkelijk een filosoferende moeder de
vrouw. Izinkanlah saya nanti menyelitkannya sebagai
ilustrasi dalam pidato-pidato saya di muka umum.”
Emak diam saja. Kami semua tersenyum. Di kesunyian
malam seperti ini suara orong-orong dan bunyi jangkrik
terdengar nyaring bertingkah-tingkah, bagai rebana mengiringi
kasidah, bak gayung bersambut kata beijawab.
Entah pesan apa yang hendak disampaikan oleh
serangga-serangga ini kepada sesama mereka dan
kepada kami. Kalau saja aku berilmu seperti yang dimiliki
oleh Nabi Soelaiman.
“Kalau Pak dan Bu Joesoef tidak keberatan, saya
permisi istirahat dahulu,” kata Mas Singgih menutup
pembicaraan.
“Ya, ya, sebaiknya memang begitu,” kata emak
membenarkan. “Mas Singgih kelihatannya sangat lelah
dan semakin batuk-batuk. Pasti kurang tidur. Lagi pula
anak-anak besok harus bersekolah.”
Karena kami dengar batuk Mas Singgih semakin
menjadi-jadi, malam itu juga emak membuat obat batuk
dari ramuan berbagai daun dan akar yang sudah
dikeringkan, yang selama ini disimpannya di satu kotak
khusus. Bapak yang dimintanya mengantar ramuan
tersebut ke kamar Mas Singgih. Lama- kelamaan kami
dengar batuk itu kian mereda. Keheningan malam
akhirnya tidak terusik lagi hingga kami semua bisa
tertidur dengan nyenyak. Sesekali memang terdengar
berbagai suara binatang dari hutan tetapi telinga kami itu
sudah terbiasa dengan itu. Suara-suara itu sudah

merupakan bagian dari nyanyian malam bagi penghuni
kampung kami.

BAB 12
EMAK DAN KEMURNIAN BERAGAMA
Kali ini kesehatan Mas Singgih betul-betul terganggu.
Dia berjalan tertatih-tatih keluar kamarnya melulu untuk
ke kamar mandi dan jamban. Dengan persetujuan bapak,
emak setiap hari menyiapkan makanan untuk dia,
sebagaimana lazimnya makanan untuk orang yang
sedang sakit, walaupun dalam perjanjian kos pelayanan
seperti ini tidak ada dan Mas Singgih sendiri sudah
menunggak uang kosnya selama tiga bulan. Setelah
hampir sepuluh hari tergeletak sakit dia pergi lagi selama
kira-kira seminggu.
Setelah dua hari kembali dari peijalanannya, baru dia
ikut duduk-duduk di serambi depan sehabis kami makan
malam. Dia sudah tidak batuk-batuk lagi, tetapi
badannya kelihatan lebih kurus dan mukanya agak pucat.
“Mas Singgih mungkin belum sehat benar,” kata emak.
“Barangkali masih perlu istirahat lebih banyak lagi”
“Badan saya rasanya sudah segar kok,” Mas Singgih
berusaha sekali menutup-nutupi kekurangannya. “Berkat
jamu dan masakan emak. Saya sangat berterima kasih
untuk semua itu.”
“Selaku orang tua, Bapak dan saya merasa tidak enak
kalau di rumah ada yang tidak sehat.” kata emak
sungguhTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
sungguh. “Maka itu kami selalu menyimpan aneka ragam
ramuan obat. Syukurlah kalau ramuan ternyata mujarab
dan masakan saya sesuai dengan selera.”
“Masakan emak enak sekali, ya sup ayam, ya gulai
daun ubi, ya gulai kepala ikan, ya semur daging dan
tahu, ya tauco ikan kembung, ya sambal teri-kacang, ya
tumis kangkung, pokoknya semua tanpa kecuali.
Bolehkah saya mendapat resepnya? Akan saya berikan
kepada Ibu saya di Jawa, beliau juga senang masak dan
enak juga.”
Emak tertawa. “Mas Singgih, saya cuma tahu bahanbahannya,
tetapi takarannya yang persis tidak. Cuma
kira-kira saja. Kalau sedang masak saya hanya pakai
kasih sayang.”
“Wah, wah, ucapan emak ini sungguh menyentuh
perasaan.”
“Masak. Saya tidak bermaksud begitu. Yang hendak
saya katakan adalah bahwa saya rasa Ibu Mas Singgih
melakukan hal yang sama. Dan inilah rahasia mengapa
masakan beliau terasa enak. Beliau memasak untuk
keluarganya pasti dengan kasih sayang seorang Ibu.”
“Sungguh Mak, selama ini tidak pernah terpikir oleh
saya sejauh itu … tak pernah teringat sampai ke sana.”
“Emak kira sampai saat ini pun kasih sayang ibu itu
tetap menyertai Mas Singgih. Kalau kasih anak sepanjang
jalan, kasih ibu seumur hidup.’
Mas Singgih merenung. “Saya jadi kangen pada Ibu
saya,” bisiknya, nyaris tak kedengaran.

Kami semua membisu dan membiarkannya hanyut
dalam kerinduannya. Akhirnya bapak yang memecah
keheningan suasana dengan ucapan, “Mas Singgih,
minggu lalu, yaitu semasa Mas Singgih terbaring sakit
dan kemudian bepergian lagi selama beberapa hari, kami
sekeluarga berusaha membahas kembali bersama-sama,
sebisa kami, tentang semua ide dan masalah
kemerdekaan yang selama ini telah Mas Singgih
kemukakan. Ditambah dengan penjelasan dan uraian
yang dahulu pernah kami dapat dari Dik Soelaiman, kini
kami benar-benar merasa telah memperoleh
pengetahuan yang sangat mencerahkan. Pikiran sangat
jelas menjadi terbuka ke arah masa depan …”
“… Syukurlah kalau begitu,” kata Mas Singgih dengan
wajah berseri-seri. “Jadi saya tahu bahwa pemondokan
saya di sini ada gunanya juga … Saya maksud, bukan
hanya menjadi pengganggu ketenteraman hidup
keluarga Bapak dan Ibu Joesoef.”
“Sungguh, sejak semula saya betul-betul merasa tidak
terganggu dengan kehadiran Mas Singgih di rumah
kami,” kata emak menyela pembicaraan.
“Karena jalan ke depan menjadi semakin jelas,”
sambung bapak, “makin jelas pula bagi kami, orangorang
kampung yang tidak bersekolah ini, betapa
persiapan kemerdekaan kita jadi terasa sangat sulit.”
“Tidak begitu, Pak,” tukas Mas Singgih. “Buat kami
yang telah bersekolah, telah terdidik formal, juga cukup
sulit. Apalagi kalau soal agama turut pula kita
perhitungkan. Dan, menurut saya, harus kita pikirkan
sejak sekarang ini. Daarom wil ik nu graag uw opittie
hebben over…”

“Mas Singgih berbahasa Belanda,” bapak menepuknepuk
tangan Mas Singgih bagai hendak membangunkan
dia, “saya tidak mengerti, emak juga tidak.”
“Oh, maaf Pak dan Bu Joesoef, bukan disengaja. Saya
di sini sudah merasa seperti di rumah sendiri. Kalau di
rumah kami terbiasa berbahasa Belanda, juga dengan
teman-teman di luar rumah … untuk mengelakkan
bahasa Jawa yang njelimet bertingkat-tingkat … jadi
demi praktisnya saja … bukan untuk aksi-aksian. Saya
tadi hendak mengatakan, saya sekarang mohon
pendapat Pak Joesoef.”
“Tentang apa,” tanya bapak dengan nada tetap
ramah. Tentang agama, khususnya Islam dan hubungan
fungsionalnya kelak dengan negara kita bila merdeka
mbesook.”
“Pengetahuan saya tentang Islam saja tidak banyak
apalagi bila ia dikaitkan dengan kehidupan bernegara.
Mengenai kaitan ini saya dulu banyak belajar dari Dik
Letnan dan sahabat-sahabatnya. Sayang sekali mereka
semua sekarang ada di pembuangan Boven Digoel.
Sebaiknya kita berbagi pemahaman keagamaan dan
pengetahuan kenegaraan saja, dengan begitu kita bisa
saling belajar.”
“Begini Pak Joesoef. Di Betawi pemuda-pemuda Islam
terpelajar sudah mendirikan organisasi Jong Islamieten
Bond. Ketika masih menetap di sana saya rajin
menghadiri pertemuan dan diskusi yang diadakan oleh
organisasi ini. Ternyata tidak sedikit dari anggotaanggotanya
yang menghendaki supaya Indonesia yang
merdeka itu merupakan suatu Negara Islam.”

“Ah, inilah yang mengherankan saya Mas Singgih.
Mereka terpelajar dalam hal apa?! Kalau keterpelajaran
mereka itu dalam pengetahuan kenegaraan, mereka kan
seharusnya sadar bahwa di negeri kita ini terdapat
berbagai macam agama di samping aneka ragam suku,
asal-usul dan budaya. Kalau nanti yang diunggulkan di
sini hanya satu agama, yaitu Islam, saya khawatir
Negara Indonesia akan pecah tidak lama setelah
terbentuk dan, lebih buruk lagi, tidak akan pernah
terwujud negara merdeka yang kita cita-citakan. Kalau
keterpelajaran mereka itu dalam pemahaman ilmu
keislaman, mereka seharusnya tahu bahwa konsep
Negara Islam tidak ada, baik di dalam Al Quran maupun
dalam As Sunnah.”
“Dengan perkataan lain, Pak Joesoef tidak sepakat
dengan pembentukan Negara Islam di sini?”
“Pasti tidak, khususnya di sini, di negeri kita ini.
Karena tidak fair. Di awal perkembangannya dahulu
semua agama menggunakan kekerasan, peperangan.
Ketika Islam mula-mula masuk ke negeri kita tidak ada
yang menentangnya. Padahal di sini ketika itu sudah ada
agama Hindu, Budha dan Kepercayaan yang ritualnya
benar-benar mencerminkan keberagamaan yang tulus,
membuat penghayatnya berbudi pekerti luhur, tidak
sembarangan menebang pohon, pantang mengotori
batang air. Jangankan buang air besar di sungai, buang
air kecil saja di situ sudah tabu. Kepercayaan ini sudah
dianut nenek moyang kita sejak ribuan tahun yang lalu
dan sangat toleran terhadap perkembangan agamaagama
lain di luarnya. Maka itu Kepercayaan ini tidak
memerangi kedatangan agama Hindu, Budha, Islam, dan
Kristen. Nah, sekarang, setelah Islam menjadi bertambah

besar, jauh melampaui agama-agama lainnya, kok
penganutnya tiba-tiba ingin menjadikannya agama resmi,
langsung dikaitkan dengan kekuasaan. Inilah yang saya
sebut tidak fair, tidak pantas. Dahulu selagi kecil, masih
lemah, telah diterima dengan baik-baik, dengan tangan
terbuka tanpa senjata dan dibiarkan tumbuh oleh tuan
rumah. Sekarang setelah merasa besar dan kuat ingin
menjadi penguasa rumah. Sungguh tak tahu diri,
melupakan begitu saja semangat toleransi nenek
moyang.”
“Bagaimana dengan kehendak menerapkan Syariat
Islam?”
“Sama saja Mas Singgih. Syariat adalah suatu
ketentuan tingkah laku, suatu moral yang digariskan oleh
para agamawan zaman dahulu. Ia memang didasarkan
pada Al Quran dan As Sunnah. Bagi orang atau golongan
tertentu ia dianggap lebih daripada sekadar suatu moral
tetapi merupakan suatu kerangka undang-undang, yaitu
sekumpulan hukum yang harus diterapkan oleh orang
muslim dalam kehidupan sehari-hari. Namun
kenyataannya ia dianggap tidak wajib. Menurut Dik
Leman, yang banyak membaca tentang hal ini, tidak ada
negara berpenduduk muslim di Timur Tengah, di mana
pun, yang menerapkannya. Sebagian besar dari mereka
bahkan menganggap penerapan itu sebagai suatu
langkah mundur, tidak sesuai dengan hukum dan
kehidupan modern. Saya khawatir keterbatasan
pemahaman tentang Syariat Islam, yang seharusnya
berlaku untuk keperluan diri sendiri, untuk kepentingan
perorangan, dipaksakan secara sepihak kepada orang
lain. Jangankan mengenai syariat sebagai keseluruhan,

mengenai sembahyang saja, misalnya, tidak boleh ada
paksaan.”
“Bukankah ia merupakan rukun Islam?” potong Mas
Singgih.
“Ya, rukun yang kedua,” jawab bapak. “Namun orang
tidak pantas menanyakan apakah saya sudah
sembahyang atau belum. Tidak ada keharusan bagi saya
untuk menjawab pertanyaan ini karena ia menyinggung
kebebasan pribadi. Sembahyang ini semata-mata
merupakan urusan saya. Jika saya sembahyang bukanlah
dengan maksud menunjukkan bahwa saya adalah
seorang muslim sejati tetapi demi menjalankan sungguhsungguh
kewajiban saya sebagai seorang yang beriman.
Jika saya pergi ke surau atau ke mesjid bukan supaya
dilihat orang, bukan untuk menampang. Setahu saya
dalam Islam tidak ada paksaan. Tidak ada seorang pun
yang berhak memaksa kita untuk sembahyang. Di hari
kiamat nanti, di saat setiap orang dihidupkan kembali
untuk diadili perbuatannya, setiap orang akan berdiri
sendiri dalam mempertanggungjawabkan semua
perbuatannya selagi hidup dahulu. Kita telah dibekali
dengan akal dan dengan akal ini kita bisa berpikir, bebas
memilih.”
“Walaupun begitu kan ada baiknya kalau kita
menganjurkan atau mengingatkan orang agar
bersembahyang
“Tentu baik sekali dan untuk itulah diadakan azan
menjelang setiap waktu sembahyang. Kalau kita merasa
risi melihat ada tetangga yang tidak sembahyang, kita
kunjungi dia dan ajak dia bertukar pikiran dengan
menggunakan alasan-alasan yang didasarkan pada akal.

Ini namanya perbuatan ksatria. Yang tidak baik adalah
bila kita beramai-ramai membuat negara berkuasa untuk
memaksakan pelaksanaan ibadah tersebut. Ini namanya
perbuatan curang dan pengecut Curang karena memakai
agama sebagai dalih untuk memberikan kekuasaan pada
Negara dan pengecut karena kekuasaan publik itu
dipakai semata-mata untuk memaksakan kehendak
pribadi pada semua orang. Agama terpaut pada hak
asasi, di bidang privasi, atas keyakinan orang per orang,
yang tidak bisa dipaksa-paksakan.”
“Tapi mereka yang menghendaki diterapkannya
Syariat Islam di negara kita kelak menganggap, bahkan
yakin, bahwa pelaksanaan syariat ini adalah ibadah, soal
keimanan. Dan sumber pertama dan utama dari Syariat
Islam adalah Kitab Suci Al Quran”
“Ah, itu artinya mereka memasuki bidang tafsir. Tafsir
adalah pemahaman terhadap teks, apa yang tercatat,
yang tertulis. Maka agama pada dasarnya adalah tafsir
tersebut yang dalam tradisi Islam adalah sama dengan
pergulatan di seputar teks-teks Al Quran. Sesudah Allah
tidak lagi mengirimkan rasul-Nya kepada manusia,
jumlah tafsir menjadi sebanyak jumlah pemahaman
orang-orang muslim. Kalau dalam bahasa orang Keling,
rambut sama hitam, pendapat beda-bedalah sahih.”
Bapak yang sehari-hari berpembawaan kalem, tibatiba
menjadi bersemangat. “Dulu saya pernah tinggal di
Kampung Kubur yang langsung bersebelahan dengan
Kampung Keling,” katanya. “Di antara tetangga saya ada
seorang Keling Islam, bernama Ayub Sattar, yang sangat
ringan tangan terhadap istrinya. Pada suatu sore dia
memukuli istrinya tidak hanya dengan tangan kosong
tetapi dengan kayu tangkai sapu. Istrinya menjerit-jerit

kesakitan dan hal ini saya lihat sudah sangat keterlaluan.
Beberapa penduduk pribumi lainnya juga menganggap
pemukulan ini sudah di luar batas kemanusiaan
mengingat ia dilakukan di muka anak-anak mereka
sendiri. Kami berusaha untuk melerai. Tangkai sapu yang
dipegang si Ayub saya rebut dan dia saya jorok ke dalam
rumah. Eee, tak lama kemudian dia keluar dengan
membawa Al Quran. Dengan mata yang merah bernyalanyala,
jarinya yang hitam pekat dan kotor menunjuk
salah satu ayat dari surat An Nisak, yang bunyinya
membolehkan, membenarkan, seorang suami memukuli
istrinya. Jadi dia berbuat begitu sesuai dengan teks Al
Quran. Kami semua terperangah, bagaimana ayat seperti
itu bisa masuk di dalam Kitab Suci, Kitabullah.”
Mas Singgih terdiam setelah mendengar cerita bapak
ini. Kami semua juga begitu.
“Ada lagi yang aneh mengenai peristiwa ini,” bapak
melanjutkan ceritanya. “Si Ayub ini dibela oleh seorang
lelaki Keling yang beragama Hindu. Menurut dia sebelum
Inggris menjajah negerinya, seorang istri diharuskan
melompat ke pembakaran mayat suaminya supaya samasama
mati sebagai tanda setia. Namun hal yang
sebaliknya tidak berlaku. Pemerintah Inggris telah
melarang adat kebiasaan ini, tetapi sampai sekarang
perempuan di sana tetap bukan apa-apa di
masyarakatnya. Kalau mau kawin perempuan tetap harus
memberikan mahar kepada calon suaminya. Nah, semua
ini telah mendorong saya untuk membuat suatu
pemahaman sendiri.”
“Bagaimana pemahaman Pak Joesoef, kalau boleh
saya ketahui?”

“Muslim bukanlah Islam dan ada perbedaan kalau kita
berbicara tentang Al Quran dan Islam. Muslim bukanlah
Islam itu sendiri karena suatu agama dihayati dan
dipraktekkan tidak dengan cara yang sama oleh para
penganutnya yang bertebaran di banyak tempat di
berbagai negeri. Berkaitan erat dengan ini, Islam meliputi
Al Quran, Hadis, ulama, ijmak dan budaya Arab serta
budaya setempat lainnya, peradaban dunia dan proses
perkembangannya. Dengan perkataan lain, masyarakat
Islam adalah masyarakat bersejarah. Namun Al Ouran
harus dilihat tersendiri dan AJlah yang menurunkannya
adalah jauh lebih besar daripada teks-teks agama itu.
Disadari atau tidak, budaya setempat turut
mempengaruhi pembentukan agama Islam apalagi dalam
penafsiran ajaran dan pesannya. Teks-teks agama itu
bukan kata-kata terakhir. Wahyu adalah suatu hal
sedangkan bahasa yang dipakai untuk meneruskannya
adalah hal lain lagi. Keterbatasan bahasa tidak mungkin
dapat merekam dengan tepat hakikat kehendak Tuhan
hingga teks agama dapat saja merupakan hasil budaya.”
“Kalau boleh saya simpulkan Pak Joesoef, adalah
benar bahwa Syariat Islam bersumber pada nilai-nilai Al
Quran dan As Sunnah. Nilai-nilai ini diakui
berpembawaan normatif. Namun karena semua ini
bersifat sangat metajysich atau suprajysich, usaha-usaha
umat untuk menerapkannya membuat nilai normatif yang
beraspek absolut, terlepas dari ruang dan waktu, menjadi
beraspek relatif sangat terkait dengan pandangan hidup
setempat dan perjalanan waktu. Artinya, selagi Al Quran
dan As Sunnah itu langgeng, perjalanan Islam berupa
pemahaman umatnya di berbagai tempat dari masa ke
masa bersifat historis, kultural dan, karenanya, relatif.

Jadi jangan sekali-kali mencari-cari legitimasi teologis
untuk memaksakan tafsir pribadi. Adalah tercela bila
agama difungsikan sebagai dalih belaka. Kortom, pendek
kata, Islam ini tidak tunggal karena Islam adalah,
sekaligus, teks dan konteks, keyakinan dan hukum,
individu dan masyarakat, negara dan agama.”
“Ya, bisa demikian bila diutarakan dalam bahasa
sekolahan. Yang penting adalah kita harus bersedia
menilai ajaran-ajaran Islam dari sudut pengaruh budaya
setempat dan peijalanan sejarah. Ambillah, misalnya, izin
laki-laki untuk beristri lebih daripada seorang. Di negeri
yang bergurun pasir seperti Arab, hidup matinya seorang
perempuan memang sangat tergantung pada laki-laki.
Tetapi di sini pasti tidak begitu. Dalam keberhasilan
berladang harus saya akui bahwa jasa dan tenaga
perempuan paling sedikitnya sama banyak dengan yang
telah disumbangkan oleh laki-laki. Dalam perang
melawan kompeni di Aceh perempuan ikut serta bukan
sekadar untuk menyiapkan makanan dan mengasuh
anak, tetapi bahkan turut dalam tampuk pimpinan.
Demikian pula cerita-cerita yang mengenai surga di mana
mengalir sungai-sungai madu dan susu. Ini kan betulbetul
mencerminkan kering-kerontangnya padang pasir.
Di negeri seperti ini, air saja sudah merupakan suatu
kemewahan, apalagi kalau di sungai itu mengalir madu
dan susu. Kemudian dikatakan bahwa di surga itu lakilaki
dikerumuni oleh para bidadari. Ini kan betul-betul
sesuai dengan angan-angan lelaki di negeri Arab yang
dikuasai oleh kaum laki-laki, yang dibesarkan dengan
cerita-cerita betapa nikmatnya Nabi Soelaiman punya
700 istri dan 300 selir, Nabi Daoed memiliki sejumlah istri
dan banyak selir. Kalau saya, yang adalah laki-laki, di

surga dihibur oleh para bidadari, bagaimana dengan
surganya kaum perempuan, surga dari dan untuk istri
saya, untuk si Nani, si Marni dan si Ani? Apakah akan ada
bidadara untuk mereka ini?”
“Lalu apa dan bagaimana surga itu menurut Pak
Joesoef?”
“Saya pikir-pikir kok surga itu bukan menggambarkan
suatu tempat tetapi suatu keadaan. Hari ini kami
sekeluarga sedang berada dalam keadaan surgawi, besok
belum tentu kami berkeadaan demikian. Keadaan
tersebut dimulai hari ini. Artinya, soal tempat atau lokasi
menjadi tidak penting karena surga itu adalah suatu
keadaan batin atau rohani. Kita tidak perlu mati lebih
dahulu untuk dapat mencapai surga. Sudah tentu dalam
Al Quran ada janji-janji tentang surga ini. Kita tidak boleh
meragukan ada unsur kewah-yuan dalam teks agama,
namun hal ini tidak menghalangi kita untuk berpikir lain
mengenai teks tersebut. Kita berada di saat yang
berbeda dengan saat awal pembentukan agama Islam
dan hidup di lingkungan yang lain sama sekali dengan
lingkungan semula dari agama ini dan, jangan lupa, kita
pun sedang dan akan menghadapi masalah-masalah
kehidupan yang pasti tidak sama dengan muslim di
negeri-negeri lain. Jadi keyakinan, iman, adalah baik.
Namun iman yang dijadikan hukum, yang diberlakukan
untuk semua, siapa saja, nanti dulu.”
“Di Kampung Kubur dulu pernah ada orang kita,
pribumi, yang masuk Islam hanya karena ingin punya
istri muda,” emak memotong pembicaraan. Sejak awal
pembicaraan dia asyik mendengar saja. Namun kulihat
matanya bersinar-sinar di saat bapak berbicara,
menandakan apresiasi, kekaguman dan kasih sayangnya

pada suaminya ini. “Agama yang ditinggalkannya,
Katolik, katanya tidak mengizinkan penganutnya beristri
lebih dari seorang pada waktu yang bersamaan.”
“Bukankah Islam menetapkan syarat-syarat untuk
membenarkan poligami ?” tanya Mas Singgih.
“Benar dan begitu ketat hingga yang Mas Singgih
sebut poligami itu nyaris tak mungkin teijadi. Tapi toh
dalam kenyataannya syarat-syarat itu sering diabaikan.
Belakangan saya dengar istri kedua itu telah ditalak
begitu saja oleh suaminya setelah melahirkan anak dua
orang. Sungguh kasihan, tetapi inilah nasib perempuan
yang tak punya harga diri, bersedia untuk hanya
dijadikan penghibur di rumah. Sekaligus dia merupakan
korban dari Hukum Islam yang membolehkan perceraian
antara suami-istri atas kehendak suami semata. Jadi
apakah penegasan pemberlakuan Syariat Islam akan
memasyarakatkan secara paksa adat-istiadat Arab yang
sangat tidak adil terhadap kaum perempuan,
yaitu hak suami mendera istrinya, hak laki-laki
mencampakkan begitu saja istri-ibu anaknya seperti
membuang kain plekat yang sudah kusam, kewajiban
perempuan untuk membungkus seluruh tubuhnya nyaris
seperti mayat bila keluar rumah? Kemudian katanya ada
hadis yang mengisahkan perempuan masuk neraka,
bukan karena tidak sembahyang tetapi karena tidak
berterima kasih pada sang suami. Saya masih ingat
ketika masih kecil ustad mengatakan keharusan istri
membasuh kaki suami yang pulang kerja dan kemudian
melap telapak kaki itu dengan rambutnya. Muak saya
mendengar semua itu! Yang harus kita lakukan justru
mengeluarkan semua nilai dan adat-istiadat Arab dari
keseluruhan ajaran Islam, karena inilah yang pada

akhirnya merusak keindahan dan keilahian citra Islam,
dan bukan secara membabi buta memaksakan
pemberlakuan Syariat Islam yang berbau Arab
sebagaimana adanya.”
“Bu dan Pak Joesoef, bagaimana kalau di Negara
Indonesia yang merdeka dan demokratis mbesook ada
yang berusaha membentuk Partai Islam mengingat orang
muslim di sini merupakan sebagian terbesar dari jumlah
penduduk?”
“Nilai-nilai demokrasi tentu membolehkan
pembentukan tersebut,” bapak cepat menjawab
pertanyaan Mas Singgih. “Namun saya pribadi tidak akan
mendukungnya, bahkan akan menentangnya. Karena
pertama, program aksi partai ini, yang tentunya
didasarkan pada ajaran dan pesan agama Islam, pasti
akan menjurus ke arah monopoli tafsir Al Quran.
Sedangkan Al Quran ini, Kitab Suci yang sama ini, telah
menimbulkan beijilid-jilid kitab tafsir dan beribu-ribu
kesimpulan pemahaman yang nyaris disucikan pula,
padahal adakalanya saling bertentangan. Ada risiko tafsir
partai yang dipaksakan kepada masyarakat, dengan dalih
keputusan suara terbanyak, memaknai teks-teks agama
secara harafiah, tidak menjawab masalah-masalah aktual
yang kita hadapi sekarang, tetapi berkukuh begitu saja
pada umpama-umpama awal bunyi teks Al Quran. Risiko
ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa Kitab Suci ini
bagi kita sekarang sudah ada secara langkap, tidak
seperti dahulu, ketika diwahyukan secara berangsurangsur
kepada Rasul hingga jelas konteks penurunannya.
Dik Leman pernah mengungkapkan kengeriannya setelah
melihat betapa sejumlah pemuda dalam pertemuan di
Jong Islamieten Bond berteriak-teriak mempertahankan

ide pembentukan Darul Islam dengan memakai teks-teks
Al Quran secara harafiah sebagai dalih. Kemudian,
karena kelompok muslim yang berjumlah besar
mendirikan partai, kelompok-kelompok nonmuslim yang
masing-masing berjumlah kecil, demi mempertahankan
keberadaannya, pasti akan mendirikan pula partai
bersendikan agamanya sendiri, dengan menonjolkan pula
simbol-simbol dan ritual lahiriah masing-masing. Kalau
sudah begini garis pembeda kepercayaan berubah
menjadi jurang pemisah yang semakin sulit dijembatani.
Padahal demi ketenteraman dan kemantapan tegaknya
INDONESIA, diperlukan sekali membina koneksi antara
kebajikan-kebajikan yang dikandung oleh ajaran semua
agama dengan kebajikan masyarakat kebangsaan dan
membuhul koneksi tersebut dengan simpul-simpul iman,
percaya-mempercayai, komitmen dan tanggung jawab
bersama. Akhirnya, partai kan merupakan kendaraan
untuk tidak hanya meraih tetapi lebih-lebih
mempertahankan kekuasaan. Nah, kekhawatiran akan
kehilangan kekuasaan ini merupakan sumber dari hal-hal
yang dikutuk oleh semua agama, yaitu kebohongan guna
menutupi penipuan-panipuan sebelumnya, ancaman fisik,
tekanan mental dan penggelapan uang negara guna
membeli, menyuap dan mengikat pengikut”
“Maaf saya potong, hal-hal yang Pak Joesoef katakan
terakkir ini saya pikir juga inheren dengan gerak-tindak
partai-partai nonagama. Semua partai pasti ingin
berkuasa, tetap punya banyak simpatisan, tetap khawatir
kekuasaannya akan hilang.”
“Benar Mas Singgih, tetapi partai-partai berbasis
agama, demi popularitasnya, tentu tak segan-segan
menyalahgunakan ayat-ayat Kitab Suci, ajaran

keagamaan, dipakai sebagai pembenaran aksi-aksinya.
Maka saya pikir sebaiknya penafsiran Al Ourati jangan
dijadikan urusan partai politik tetapi urusan pribadi,
ditanggapi sebagai hak setiap orang yang
mempercayainya bagai pemandu bagi privasinya.
Sedangkan partai-partai politik mendasarkan diri pada
ide, buah pikiran manusia, nilai-nilai kemanusiaan hakiki,
bukan nilai-nilai kemanusiaan primordial, dan terbuka
untuk diperdebatkan oleh sesama manusia berakal yang
dianggap duduk sama rendah dan tegak sama tinggi.
Misalnya ide tentang demokrasi, sosialisme, liberalisme,
buruh, tani, nelayan dan lain-lain.”
“Bagaimana kalau paham komunisme sebagai dasar
kepartaian, Pak Joesoef?”
“Wah, kalau yang ini sangat mengkhawatirkan juga,
Mas Singgih. Dik Leman menjelaskan kepada saya
betapa ide diktator proletar yang berkaitan erat dengan
penegakan sistem pemerintahan komunis telah
menginjak-injak hak-hak asasi manusia. Dia
mendasarkan pendapatnya ini atas apa-apa yang terjadi
di Rusia setelah Partai Komunis berkuasa, di mana tujuan
menghalalkan cara betul-betul dijadikan pegangan
penguasa. Paham komunis ini juga mengingkari
keberadaan Tuhan. Dia pernah dua kali diundang melihat
jalannya rapat di Uni Kampong, wilayah pemukiman kulikuli
pelabuhan di Belawan. Di situ dia juga melihat
kefanatikan yang sama di kalangan buruh komunis
dengan kefanatikan pemuda wahabis di Jong Islamieten
Bond. Maka dia berkesimpulan bahwa pikiran-pikiran
ekstrem orang muslim dan pikiran-pikiran ekstrem orang
komunis, bila dibiarkan bebas berkembang demi
demokrasi, lama-kelamaan akan melumpuhkan

demokrasi itu sendiri. Sebab kedua-duanya akan
memonopoli tafsir mengenai kebenaran. Yang satu
dengan membawa-bawa nama Allah, yang lain dengan
mengatasnamakan proletariat Kedua golongan ini
memang berseberangan, bahkan saling memusuhi,
namun kedua-duanya sama-sama menghalalkan
kekerasan untuk mencapai tujuannya. Dan ini jelas tidak
sesuai dengan semangat demokrasi.”
“Bila demikian, menurut hemat saya Pak Joesoef
menghendaki sebuah negara sekuler?” tanya Mas
Singgih.
“Apa maksud dari kata sekuler ini?” bapak balik
bertanya.
“Sekuler berarti tidak religius, tidak bersifat
keagamaan atau tidak berurusan dengan agama,” jawab
Mas Singgih.
“Apakah maksudnya tidak percaya pada adanya
Tuhan?”
“Tidak, bukan begitu. Sekuler bukan berarti ateis.
Orang dapat saja percaya pada adanya Tuhan dan pada
waktu yang sama berpendirian sekuler. Kesekuleran ini
ditandai oleh fakta tidak memakai agama untuk
mendesakkan hukum-hukum yang mengenai kehidupan
manusia. Maka Negara sekuler adalah Negara yang tidak
mencampuri urusan agama dan praktek keagamaan. Di
sini setiap orang, setiap warga negara, berhak
bersembahyang di tempat ibadah pilihannya sendiri,
sesuai dengan petunjuk agama masing-masing. Turki
adalah negeri berpenduduk muslim yang pertama
menjadi Negara sekuler”

“Aha, Dik Leman pernah dulu mengatakan hal ini.
Sekarang saya ingat kembali dan semakin mengerti
duduk perkaranya. Di Negara sekuler bukan tidak ada
agama tetapi tidak ada satu agama pun yang mendapat
pengakuan pemerintah apalagi diresmikan menjadi
agama negara. Di Negara ini semua agama punya hak
hidup tetapi tidak satu pun yang boleh menguasai yang
lain. Kami, saya maksud Dik Leman dan beberapa
sahabat sepeijuangannya, pernah membahas hal ini
berhari-hari di rumahnya dan dua kali di rumah ini.”
“Bagaimana kesimpulannya Pak Joesoef?”
“Kami menemukan beberapa ayat Al Quran yang
kiranya membenarkan kesekuleran ini. Ada ayat ke-6 dari
surat Al Kafirun yang mengatakan bagimu agamamu dan
bagiku agamaku. Dari sini jelas bahwa keyakinan
keagamaan jangan saling bertengkar tetapi saling
menghormati. Lalu ada ayat ke-256 dari surat Al Baqarah
yang mengatakan tidak ada paksaan dalam agama. Ini
kan berarti tidak ada keharusan untuk mewajibkan orang
menjadi muslim dan untuk memaksa pemeluk agama
Islam bertingkah-laku menurut petunjuk yang digariskan
oleh suatu kekuasaan atau oleh seorang penguasa.
Kemudian ada ayat ke-56 dari surat Al Qashash di mana
Allah berfirman bukanlah engkau (Ya Moehammad) yang
menuntun orang yang kau kehendaki tetapi Allah yang
menuntun siapa yang dikehendaki-Nya. Teks ini jelas,
Islam tidak mengharuskan seorang pun untuk
mempercayai pesan pribadinya, setiap orang berhak
punya keyakinannya sendiri dan dihormati sebagaimana
dia harus menghormati keyakinan orang-orang lain dan
akhirnya tidak ada seorang pun punya hak menggantikan
Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang

yang beriman. Akhirnya masih ada ayat ke-13 dari surat
Al Hujuraat yang menegaskan bahwa Allah telah
menciptakan kita dari laki-laki dan perempuan, telah
membuat kita menjadi bangsa-bangsa dan suku-suku,
agar kita semua saling mengenal. Lagi-lagi jelas betapa
Allah subhanahu wa taala telah mengisyaratkan kita agar
berbaur, saling menyempurnakan, justru karena kita
berbeda satu sama lain selaku makhluk, bangsa dan
suku, dengan duduk sama rendah dan tegak sama
tinggi.”
“Mas Singgih, saya dulu mengikuti terus dengan
saksama masalah ini ketika dibahas di sini,” emak
memotong lagi pembicaraan. “Selain isi pembahasannya
bisa memperluas pandangan hidup saya, saya tidak mau
sampai tidak mengetahui masalah umum yang
dibicarakan di rumah saya. Maka setelah saya renungkan
masak-masak, saya rasa saya punya kesimpulan sendiri
tentang hal keagamaan yang cukup peka ini.”
“Apa itu Bu Joesoef?”
“Begini. Semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan
yang serba baik bagi kehidupan kita. Bahkan tidak hanya
terbatas pada hubungan antara sesama makhluk
manusia, tetapi meliputi pula perlakuan Khalifah Tuhan
ini terhadap makhluk binatang dan sikapnya terhadap
alam sebagai keseluruhan. Maka alih-alih saling berebut
menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masing, saling
menyombongkan kelebihan agama masing-masing, saling
memamerkan bentuk-bentuk keimanan masing-masing,
para penganut agama lebih baik membuat agamanya
seperti garam saja, menyatu dan lebur dalam makanan,
dapat dirasakan kebaikan manfaatnya serta ketepatan
pemerataannya, tanpa kelihatan sedikit pun

kehadirannya. Bukankah setiap agama seharusnya
menjadi rahmat bagi kita semua. Jadi kalau Islam mau
dibuat maslahat bagi manusia, janganlah ia disendirikan
bagai garam dalam botol Arab yang pantang disentuh,
tetapi dibiarkan lebur menyatu dengan semua bahan
yrag membuat makanan sempurna lezat.”
Mas Singgih bagai tersentak bangun oleh ucapan
emak ini. “Wadduuuh Bu Joesoef, wat een idee… wat
een idee katanya sambil menatap emak dan bapak
berganti-ganti. “Dit is pas een verstandige gedachte van
een JilosoJerende moeder de vrouw.”
“Mas Singgih, saya tidak paham bahasa Belanda,” kata
emak.
“Maaf ya, Mak. Perkataan-perkataan itu keluar begitu
saja secara spontan dari mulut saya. Artinya, kesimpulan
emak ini merupakan buah pikiran yang bijaksana, pasti
lahir dari seorang Ibu yang berpikiran dalam, dari
seorang perempuan yang terhormat, yang luar biasa.”
“Terima kasih atas sanjungan ini. Saya khawatir Mas
Singgih agak berlebihan,” kata emak merendah.
Tidak, Mak. Sama sekali tidak berlebihan,” kata Mas
Singgih.
“Mak, saya bangga, benar-benar tidak keliru, kalau
minggu yang lalu saya nyatakan ‘u bent een filosofirende
rnoeder de vrouw’. Akan saya katakan kebijaksanaan Bu
Joesoef ini nanti kepada siapa pun di Jawa.”
“Padahal saya merumuskannya hanya dari
pengalaman memasak makanan sehari-hari,” kata emak
menjelaskan.

”Juist daarom Mak, saya katakan u bent werkelijk een
moeder de vrouw. Semua istri praktis masak setiap hari,
tetapi hanya Emak yang bisa menemukan perbandingan
yang begitu indah dan bermakna.”
Bapak diam saja. Kini kulihat giliran dia yang menatap
emak dengan penuh kekaguman. Pertemuan diakhiri
karena Mas Singgih kelihatan sudah payah sekali. Jelas
bahwa kesehatannya belum pulih sama sekali, bahkan
dapat dikatakan telah jauh menurun.

BAB 13
Emak dan keindahan pluralisme
Di malam berikutnya kami berembuk kembali. Kali ini
Mas Singgih ingin memusatkan pertukaran pikiran pada
masalah hubungan antara agama dan politik.
“Apakah diskusi Pak Soelaiman dengan temantemannya,
di mana Pak Joesoef pernah ikut, ada
menyinggung hubungan antara agama, khususnya Islam,
dengan politik?” tanyanya membuka pembahasan.
“Ya, karena menurut dia, sama dengan Mas Singgih,
Negara adalah Bangsa yang terorganisir dan berpolitik,”
jawab bapak. “Kalau Negara ini adalah sekuler, maka
seharusnya agama dan politik dipisahkan. Lebih-lebih
mengingat Islam mengatur kehidupan manusia secara
lebih langsung dibandingkan dengan apa yang dilakukan
oleh agama-agama lain, misalnya Kristen. Dari
pengaturan seperti itu pintu terbuka lebar bagi
pertarungan dan kekerasan. Sedangkan politik biasanya

merupakan pertarungan untuk dan demi kekuasaan. Hal
ini sudah terjadi begitu Rasulullah wafat. Pertarungan
meletus antara kelompok Abu Bakar dan kelompok Ali bin
Abu Thalib untuk memperebutkan kedudukan khalifah.
Inilah awal dari perseteruan yang tak kunjung padam
antara para penganut paham Sunni dan Syiah dimana
agama diketengahkan sebagai dalih sedangkan yang TZ
sebenarnya adalah kekuasaan. Jadi agama Islam de-nZ
mudah dipakai oleh pihak muslim yang punya kepen-wan
dan ambisi lain. Itulah sebabnya mengapa saya, di
samping menginginkan Negara sekuler, sepakat pula
untuk memisahkan agama dengan politik Sebab selama
yang berkuasa atau memerintah mendasarkan din pada
agama, kita rakyat, akan menghadapi masalah berat,
yaitu pemaksaan dan penyakit masyarakat yang pasti
ditimbulkan oleh pemaksaan ini, seperti tekanan formal,
tindakan menakut-nakuti fitnah kolektif, kecemasan,
pembodohan.”
“Pendapat tentang hubungan antara negara dan
agama serta antara agama dan politik sudah saya jajaki
di kalangan umat Islam di berbagai tempat di Jawa dan
Sumatra. Saya khawatir pendapat Pak Joesoef yang
rasional, redelijk dan sangat maju ini, yang saya setujui,
tidak akan mendapat dukungan banyak suara di negeri
kita ini. Saya maksud, sulit menjadi suara mayoritas,
akan terpencil.”
“Mas Singgih, soal untuk mengetahui apakah suatu
pendapat benar atau keliru adalah satu hal, sedangkan
untuk mengetahui apakah pendapat tersebut mayoriter
adalah hal lain lagi. Kalau orang menjadi terpencil bukan
dengan sendirinya berarti dia keliru. Yang benar dan
yang keliru tidak datang dari politik, apalagi politik-IslamTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hanya-satu dan yang satu ini menurut penafsiran dan
pemahaman para pendukungnya belaka. Sedangkan
yang benar dan yang keliru itu berasal dari nurani. Waktu
si Daoed kami masukkan ke HIS dulu banyak orang
kampung ini yang memencilkan kami. Tapi kami jalan
terus karena nurani kami membenarkannya. Kami berani
menentang siapa pun dan apa pun kecuali nurani ini
karena ia merupakan persemayaman Ilahi di diri kami.”
Kami semua terdiam mendengar kata-kata bapak yang
begitu tegas dan diucapkan tanpa ragu-ragu. Dalam
hatiku aku sangat mengaguminya. Bapak, seorang yang
bukan tokoh masyarakat, seorang penduduk biasa, yang
dengan kekurangannya-buta huruf Latin, tidak pernah
bersekolah—punya pemahaman tersendiri tentang
agama dan ne¬gara serta negara dan politik, yaitu
masalah yang kudengar dibahas terus-menerus tak
berkesudahan digedung Islamieten Bond dan Jong
Sumatra. Sungguh aku mengaguminya sebagai suatu
pribadi yang menyeluruh, yang anggun dalam
keutuhannya.
“Pak Joesoef tadi mengatakan penyakit masyarakat
yang ditimbulkan oleh pemaksaan agama berupa
tindakan menakut-nakuti. Saya pikir yang bapak
maksudkan lah intimidasi, bukan?” ucapan Mas Singgih
memecahkan keheningan suasana. “Namun mengapa
akan ada pula kecemasan dan pembodohan?”
“Kecemasan ini terutama terkait dengan nasib dan
kedudukan perempuan. Kelompok yang menghendaki
pemberlakuan Syariat Islam atau penegakan Negara
Islam pasti menolak ide kesetaraan antara perempuan
dan laki-laki, tetap mempertahankan poligami dan hak
laki-laki menjatuhkan talak, tidak mau menerima hak dan

kebebasan perempuan menentukan nasibnya sendiri
serta hak-hak politik yang lazim berlaku di suatu
Republik, seperti hak memilih dan dipilih menjadi
pemimpin dan lain-lain lagi. Lalu bagaimana dengan hakhak
politik kaum minoritas yang sudah lama ada di
negeri kita ini, apakah bisa sama dengan kelompok umat
Islam yang mayoritas? Sejauh yang mengenai
pembodohan, sekarang saja di saat Syariat Islam tidak
diberlakukan sudah terlihat adanya gejala-gejala ini.
Gubernemen pernah berusaha mendirikan satu sekolah
untuk beberapa kampung yang berdekatan, jauh di luar
kota Medan. Setelah setahun beijalan muridnya tidak
lebih dari lima orang, itu pun kadang-kadang datang
kadang-kadang tidak. Akhirnya gubernemen menutup
sekolah ini tanpa menyesal. Belanda saya kira malah
senang kalau rakyat kita tetap bodoh. Yang seharusnya
menyesal, yaitu penduduk dari kampung-kampung yang
bersangkutan, malah tidak peduli. Belakangan saya
dengar orang tua-orang tua takut mengirim anakanaknya
ke sekolah-sekolah umum karena di
kampungnya itu sudah ada madrasah. Mereka takut kalau-
kalau nanti dimusuhi oleh alim-ulama kolot pengasuh
madrasah. Sedangkan pelajaran di madrasah yang
diberikan sejak pagi hingga siang hari, jadi bersamaan
dengan jam-jam belajar di sekolah umum, semata-mata
mengenai pengetahuan keagamaan yang berpusat pada
Al Quran. Dalam mempelajari Kitab Suci ini anak-anak
dibiasakan untuk menghafal di luar kepala ayat-ayat
yang ada termasuk mengingat-ingat arti harafiahnya.
Sedangkan kita tahu Quran memungkinkan adanya
tafsiran-tafsiran yang berbeda. Pengetahuanpengetahuan
umum yang bersifat nonagama tidak
diajarkan karena pada umumnya dianggap sebagai

pengetahuan yang fana, tidak menyiapkan manusia
untuk hidup semestinya di alam baka kelak. Hanya
agamalah yang mereka anggap menjawab semua
persoalan hidup. Bahkan ada yang berani berujar,
katanya mengutip ucapan Umar bin Khatab, musnahkan
semua buku karena Al Quran sudah membahas semua
dan segalanya.”
“Bila demikian Pak Joesoef, di bidang pendidikan juga
harus ada pemisahan antara agama dan politik. Juga di
bidang ini tidak boleh ada sekelompok warga yang
memakai undang-undang, hukum, polisi, pengadilan,
buku pelajaran, sebagai alat mendesakkan keyakinan
khasnya menjadi kewajiban umum. Di bidang ini harus
jelas dibedakan antara apa-apa yang mengenai
kepentingan umum, yaitu publik, dan apa-apa yang
khusus, yang menyentuh keanekaragaman, yaitu
komunitas. Yang bersifat umum ini adalah hal-hal yang
pasti, dapat diverifikasi, bisa didemonstrasikan, yang
tidak dapat ditolak oleh siapa pun, seperti pengetahuan
ilmiah, nalar. Dengan perkataan lain, sekolah-sekolah
umum hanya mengajarkan hal-hal yang dapat diketahui
atau apa yang dapat dipahami oleh siapa pun. Yang
bersifat aneka ragam adalah opini, keyakinan,
kepercayaan, yang berlaku hanya bagi sebagian dari
keseluruhan warga. Maka pemisahan antara politik
dengan agama ini di bidang pendidikan jelas membuat
pembatas antara ‘apa yang saya ketahui’ dengan ‘apa
yang saya yakini’, antara bidang penalaran dan bidang
kejiwaan. Inilah yang kiranya disebut sistem pendidikan
sekuler.”
“Ya, saya yakin memang begitulah seharusnya, Mas
Singgih. Kita kan tahu Islam lahir 14 abad yang lalu.

Dalam ajaran-ajaran dan teks-teksnya ada nilai-nilai yang
abadi, berlaku sepanjang masa. Namun ada juga hal-hal
yang berkaitan dengan zaman kelahirannya dan yang
tidak sesuai lagi dengan masa kini, katakanlah zaman
modern.”
“Dan orang-orang muslim fanatik, para wahabis, ingin
kembali ke zaman Rasulullah karena memahami pesanpesan
Muhammad SAW secara picik, sangat skematis
dan karikatural,” sambung Mas Singgih.
“Maka bila tidak ada kebebasan untuk mempelajari
Islam ini bagaimana kita dapat menyentuh hal-hal yang
abadi dan yang sepintas itu,” kata bapak lagi. “Jadi perlu
ada sistem pendidikan yang bisa mengatakan kepada
anak-anak bahwa mereka ini tidak lagi hidup di zaman
Rasulullah. Pendidikan ini harus bisa memberikan kepada
anak-anak kemampuan dan cara agar mereka bisa
membentuk pendapatnya sendiri. Adalah penting sekali
memberikan kebebasan pada anak-anak agar mereka
tidak dipengaruhi oleh kefanatikan agama apa pun.
Dengan perkataan lain, dengan tetap menjunjung tinggi
pesan-pesan Rasulullah, dengan tetap percaya pada
adanya Allah, manusia muslim punya hak untuk
berkembang, yaitu untuk menyesuaikan diri pada
kehidupan kekinian atau modern tanpa membatalkan
kepercayaannya pada nilai-nilai fundamental yang
dipegangnya.”
“Artinya, hal-hal yang menyangkut kepercayaan tetap
perlu diajarkan kepada anak-anak di Negara sekuler yang
pendidikan formalnya juga bersifat sekuler?” tanya Mas
Singgih.

“Tentu perlu, perlu sekali,” jawab bapak. “Namun ini
adalah kewajiban orang tua dan kewajiban ini tidak boleh
diambil alih begitu saja oleh negara atau pemerintah
melalui sekolah-sekolah umum yang harus didirikannya
aan yang menjadi urusannya. Sebab pada kewajiban ini
mdekat suatu hak khusus yang tak terpisahkan. Adalah
hak setiap orang tua untuk mempercayakan pendidikan
agama anaknya pada orang atau lembaga yang
dipercayainya dan lingkungan komunitasnya, bila mereka
tidak dapat dl lakukannya sendiri. Saya wajib, misalnya,
memberikan pendidikan agama yang benar kepada anakanak
saya, dan untuk ini, saya punya hak mutlak untuk
memilih orang atau lembaga pembelajaran yang tepat
untuk keperluan itu. Kalau nanti ternyata anak-anak saya
keliru dalam beragama, dalam beriman, sayalah yang
mempertanggungjawabkan kekeliruan itu pada Allah,
saya sendiri dan bukan Negara, pemerintah, madrasah
atau ustad. Jadi setiap orang tua di samping bertugas
membesarkan anak-anaknya, memberikannya pendidikan
umum, masih wajib menyiapkan mereka menjadi
mukmin sejati, yaitu orang yang keagamaannya
berpembawaan manusiawi, yang toleran, tidak fanatik,
yang mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan bagi
orang-orang lain, yang memberikan keamanan bagi
dirinya dan orang-orang lain. Bukankah dalam kata Islam
ada istilah salam, yaitu damai, penyerahan diri pada
perdamaian, suatu suasaha kehidupan yang selalu
didambakan manusia di mana pun dan kapan pun.”
“Namun, Pak Joesoef, saya pikir-pikir kok rasanya sulit
sekali, hampir tidak mungkin, memisahkan agama
dengan politik, lebih-lebih kita yang sejak dahulu
dibesarkan oleh nilai-nilai religius. Maka selalu ada

kecenderungan mendasarkan politik atas nilai-nilai akhlak
yang terkandung dalam agama.”
“Kecenderungan itu baik sekali, Mas Singgih, dan pasti
menyehatkan bagi kegiatan politik yang selalu mengacu
pada perebutan kekuasaan. Namun yang harus diingat
bukanlah nilai- nilai akhlak yang terkandung dalam
agama tetapi dalam agama-agama, dan kepercayaan
religius yang ada ditanah air kita Kalau saja kita tidak
memicikkan diri, kita pasti dapat menikmati ajaran
agama lain dengan tak usah beralih ke agama yang kita
hargai itu. Dengan perkataan lain, jangan mendesakkan
nilai-nilai akhlak agama kita sendiri kepada pengikut dari
agama-agama lain. Kalau kita kaum muslim hendak
membangga-banggakan akhlak yang berasal dari ajaran
Islam boleh-boleh saja. Tunjukkanlah sikap dan tingkahlaku
yang hendak dijadikan contoh itu. Kalau menurut
saya, selaku muslim yang beijumlah besar, agar kita bisa
menjadi mukmin yang pantas diteladani, jadikanlah diri
sendiri orang yang pada pokoknya tidak mencuri, tidak
berdusta, tidak munafik, tidak memukul orang yang
lemah dan sakit, tidak mempermalukan orang yang tidak
punya apa-apa, tidak menyia-nyiakan orang tua kita,
tidak bertindak secara tidak adil, tidak berkhianat dan
lebih-lebih, mencintai Tanah Air. Bukankah Rasulullah
mengingatkan bahwa cinta Tanah Air adalah bagian dari
iman. Bila kita nanti merdeka berarti kita tetap lahir
sebagai manusia dan sekaligus menjadi warga negara,
menjadi rakyat. Maksud saya kemerdekaan adalah
kewajiban bukan melulu anugerah.”
“Pak Joesoef, sesudah saya peiajari republik-republik
hasil revolusi Amerika dan revolusi Perancis, saya
berkesimpulan bahwa yang disebut Republik itu sebagian

besar merupakan sejarah, sedikit doktrin dan, lebih-lebih,
suatu cara eksistensi. Jadi Republik ini dapat dikatakan
tidak pernah terwujud. Ia bahkan tidak terwujudkan,
onre-aliseerbaar. Kedua, Republik yang ada itu adalah
gambaran, ontwerp, yang serba relatif dan tidak sebaik
asas-asas pembentukannya, pendiriannya. Ide dan
kenyataannya sangat jauh berbeda. Saya pikir-pikir
Republik kita itu kelak akan menjadi seperti itu juga.
Namun kalau kita tetap mengingat ide tersebut, tidak
pernah melepaskannya, kita akan dapat merasakan
kepincangan dari kenyataan-kenyataan yang ada dan
akan selalu berusaha memperbaikinya. Ide republiken itu
merupakan sinyal di kejauhan yang mengingatkan kita
untuk selalu bergerak maju dijalan yang benar. Bagai
suatu tugas yang harus dilaksanakan, tak berkesudahan,
Selalu ontijdig dan tanpa garansi keberhasilan. Maka itu
pak Joesoef, saya hampir yakin bahwa dalam usahausaha
Penyempurnaan Republik itu kelak akan muncul
lagi masalah-masalah Negara Kesatuan, Negara Federal,
suku, asal-usul, kedudukan serta peran agama. Maka
penting dari sekarang didengungkan ide persatuan dan
kesatuan di antara kita, sebagai visi perekat dari mosaik
Indonesia Raya. Persatuan mempunyai makna menerima
adanya perbedaan-perbedaan dengan tulus ikhlas, penuh
toleransi. Kesatuan bermakna menyatukan dan
menegakkan kesamaan.”
“Benar sekali Mas Singgih. Maka karena hal-hal
tersebut sudah bisa diduga sebelumnya, jauh-jauh hari
sudah harus kita siapkan langkah agar setiap usaha
penyempurnaan tidak akan membuat gambaran republik
ini malah menjadi mentah kembali.”

“Langkah persiapan ini, Pak Joesoef, tidak bisa lain
terletak di bidang pendidikan. Saya jadi teringat relevansi
usaha-usaha Drs. Mohammad Hatta begitu kembali dari
negeri Belanda dahulu. Dia memotori gerakan politik
berupa Pendidikan Nasional Indonesia, pendidikan yang
meliputi berbagai bidang kehidupan secara serentak,
simultaan.”
“Dik Leman pernah mengatakan hal ini kepada saya.
Dia pengagum berat dari Bapak Pergerakan Nasional
tersebut yang juga dibuang ke Tanah Merah oleh
Belanda. Mengingat langkah pendidikan yang diikhtiarkan
oleh Drs. Mohammad Hatta dalam jangka panjang punya
efekyang jauh lebih berarti bagi semangat dan
kemampuan kebangsaan daripada langkah pengerahan
massa yang digerakkan oleh Ir. Soekarno, dia menduga
Belanda sebenarnya lebih gentar pada Hatta ketimbang
pada Soekarno.
“Ya kesan saya Bung Hatta tidak senang pada getusah
gerusuh. Dia selalu mau dalam memimpin pergerakan
nasional yang systematis, fiest thing first. Bagi dia dalam
memimpin pergerakan nasional yang diutamakan adalah
pembentukan kader melalui berbagai kursus. Dalam
rapat umum untuk mengadakan agitasi, tetapi sangat
dititikberatkan nada pemberian petunjuk melalui analisis
dari realitas yang dihadapi. Nah, saya jadi teringat.
Republik dimulai dengan habeas corpus, yaitu jagalah
dirimu, tidak ada seorang pun yang boleh menangkapmu
dengan sembarangan. Namun hal ini baru akan benarbenar
berkembang, dihayati sepenuhnya, menjadi efektif,
bila ada habeas mentem, yaitu kuasailah kesadaranmu.
Berarti dalam pembentukan Republik, hak atas

keamanan atau kepastian, veiligheid, zeker-heid, perlu
segera ditambah dengan hak atas pendidikan.”
“Bagus sekali itu,” ujar bapak memotong ucapan Mas
Singgih. “Berarti ada kewajiban bagi Republik untuk
mendirikan sekolah-sekolah umum sebanyak mungkin.
Sewaktu masih muda dahulu saya terpaksa merantau ke
negeri orang dan ketika hendak kembali ke kampung
halaman melewati beberapa bagian negeri kita. Di setiap
tempat saya lihat pada umumnya kaum muslimlah yang
paling terbelakang dan miskin. Sebagian terbesar karena
ulah mereka sendiri. Selagi remaja hampir seluruh
waktunya dipakai hanya untuk mengaji. Pengetahuan
umum dijauhi oleh orang tua mereka karena dianggap
berpembawaan Kristen, ilmunya orang-orang kafir. Bila
karena itu mereka menjadi tertinggal jauh di belakang
kaum nonmuslim yang berilmu tersebut di hampir semua
bidang kehidupan, mereka menjadi cemburu, menyalahnyalahkan
orang-orang yang dianggap kafir tersebut,
menjadi pembenci dan semakin fanatik. Padahal yang
seharusnya mereka benci adalah kepicikan sikapnya
sendiri.”
“Dan padahal tidak sedikit dari ilmu-ilmu yang mereka
jauhi itu pada awalnya adalah hasil terjemahan, binaan y
pikiran kaum muslim,” Mas Singgih mengambil alih
pembicaraan. “Zaman keemasan Islam selama lebih
kurang 350 tahun terus-menerus, dari tahun 750 hingga
tahun 1100, adalah identik dengan masa berjayanya
filosofi dan ilmu yang dikembangkan oleh peradaban
Islam. Di masa itu bermunculan ilmuwan-ilmuwan yang
berfilosofi. Saya katakan peradaban Islam karena tidak
semua dari mereka adalah kelahiran Arab. Al Razi berasal
dari Iran, Ibnu Sina lahir di gurun Asia Tengah. Al Farabi

lahir di Turki dan guru-gurunya adalah filosof-filosof Arab
Kristen di Bagdad yang merupakan lulusan-lulusan akhir
dari sekolah Kristen di Alexandria, sedangkan Ibnu Rosh
lahir di Kordoba. Al Kindi, seorang filosof kelahiran kota
Kuffah di Irak, yang beraliran rasionalis, menuntut
keseimbangan manusia dalam berpikir, bersikap dan
berperilaku. Yang unik adalah Al Khwarismi, kelahiran
Bagdad, seorang matematikus, astronom. Dia jelas
beragama Islam, berbahasa Arab, namun mengaku
berpikir seperti orang Hindu dan Yunani Purba dan
Yahudi. Dan di karya-karyanya yang berpengaruh sangat
jauh dan mendalam jelas tercermin buah pikiran orangorang
Hindu, Yunani, Yahudi dan, bahkan, pemikir
matematis zaman Babilonia.”
“Walaupun begitu zaman keemasan itu toh berhenti
juga,” desis bapak. “Yang kurang apa lagi?”
“Dekadensi, kamerosotan Islam yang terjadi sesudah
zaman keemasannya justru karena filosofi dan ilmu itu
sendiri tidak digubris lagi, terutama oleh penguasa
negeri,” ujar Mas Singgih. “Sementara filosofi dan ilmu
tersebut terus diajarkan di perguruan-perguruan tinggi
Eropa, ia tidak diajarkan dan tidak dikaji lagi di dunia
arab-muslim yang dulu telah mengembangkannya.
Sebagai pengganti nalar yang berusaha memberikan
logika tertentu pada kepercayaan, sebagai pengganti
filosofi yang mengajarkan metode, semangat kritis dan
refleksi yang menguak aneka ragam cakrawala dan
pemikiran dari bangsa-bangsa lain bagi para penganut
agama Islam, kaum muslim hanya mengajarkan agama
Islam, tak lain daripada kepercayaan keislaman.
Sedangkan bicara mengenai agama adalah bicara
tentang kepercayaan/keyakinan. Dengan begitu orang

beralih dari tradisi keterbukaan terhadap dunia ke suatu
isolasi, pengasingan, suatu ketertutupan diri. Terjadilah
pemiskinan penafsiran yang menggelinding ke pemicikan,
ke pembutaan.”
“Dekadensi itu mustinya kan tidak teijadi secara
mendadak, Mas Singgih. Apakah tidak ada usaha yang
mengingatkan adanya tanda-tanda pengabaian
penggunaan akal itu?”
“Ibnu Khaldun, ilmuwan besar terakhir dari Arab,
penemu dari ilmu yang sekarang disebut ‘sosiologi’ telah
mengingatkan para khalifah terhadap orang-orang tidak
bermutu yang mengambil tanggung jawab atas
pendidikan agama dan menggunakan kesempatan itu
untuk menyesatkan rakyat. Dia juga sangat menentang
digunakannya mesjid sebagai tempat pembelajaran halhal
lain daripada Al Ouran. Dia benar-benar seorang
visioner karena, di zaman itu, dia telah melihat bahaya
dari penyalahgunaan Islam, yaitu Islam dipakai untuk
keperluan-keperluan yang tak ada hubungannya dengan
agama ini. Di masa itu pula teijadi intimidasi terhadap
Ibnu Rosh. Padahal dia ini merupakan seorang yuris
besar muslim yang berusaha meng-introdusir nalar,
logika, ke tengah-tengah keyakinan, yang melestarikan
filosofi Aristoteles dan meneruskannya ke Eropa. Di
benua ini dia sangat dihargai dan dihormati dengan
julukan Averroes. Karena tak tahan terhadap tekanan
dan paksaan dia menyingkir ke Maroko dan meninggal di
situ tahun 1198. Dan sayangnya, betul-betul sangat
disayangkan dijaman keemasan Islam yang cukup lama
itu . ilmu-ilmu dan pemikiran kritis yang dikembangkan
oleh kebudayaan Islam bergerak ke Eropah tidak
kenegeri kita”.

“Mengapa teijadi begitu Mas Singgih?” tanya Kak
Marni.
”Pertanyaan yang bagus,” jawab Mas Singgih, “karena
ilmu itu, menurut hemat saya, bagai bibit yang selalu
terkait dengan lahan yang subur. Bagi ilmu lahan ini
berupa orang-orang yang mendambakannya, yang
mencintainya, yang membuka pikirannya untuk itu, yang
bersemangat keilmuan, yaitu tidak menerima begitu saja,
bertanya, meragukan dan ingin tahu. Nah, di zaman
keemasan Islam itu orang-orang Eropalah yang
memanfaatkan penemuan-penemuan dan teijemahanterjemahan
yang dibuat oleh para ilmuwan dan filosof
muslim, untuk maju dalam kebudayaan mereka sendiri.”
“Bukan kebetulan rupanya kalau Rasulullah
menyatakan supaya kita mencari ilmu walau sampai ke
negeri Cina dan bahwa mempelajari ilmu itu wajib
hukumnya bagi muslimin dan muslimat, dan dilakukan
sepanjang hayat, sejak buaian hingga liang lahat,” kata
bapak.
“Dan tahukah adik-adik mengapa ilmu sangat
dipujikan dalam Islam, dalam Al Quran, oleh Rasulullah?”
tanya Mas Singgih. Karena kami bertiga diam saja, dia
jawab sendiri, “Karena ilmu melatih orang berpikir
abstrak. Sedangkan kemampuan berpikir abstrak ini
diperlukan bagi pembinaan kesadaran ber-Tuhan
berhubung konsep Ketuhanan dalam Islam adalah
abstrak. Jadi mempelajari dan mendalami ilmu
sebenarnya merupakan wujud par excellence dari
ketakwaan dan keimanan kita terhadap Tuhan, sebab
dengan begitu kita menjalankan apa-apa yang
diperintahkan-Nya demi memahami-Nya dengan betul,
dengan correct. Kemudian ilmu ini pun kita perlukan agar

warga bangsa kita sekarang ini, besok dan selanjutnya,
menjadi orang yang berpikiran terbuka, tidak picik, tidak
fanatik dan bersemangat keilmuan. Maka itu pendidikan
yang diharapkan betul-betul bisa berfungsi sebagai
penyempurna Republik, tidak boleh sembarang
pendidikan. Ia harus bersifat sekuler seperti yang samasama
kita bayangkan sejak kemarin.”
“Dapatkah Mas Singgih menjelaskan lagi keija dari
pendidikan yang khas ini?” tanya bapak. “Dan kau
Daoed, catat dengan baik apa yang diuraikan Mas
Singgih nanti mengenai hal ini. Mana tahu kelak kau
menjadi guru!”
“Ya, missi pendidikan sekuler ini adalah membuat
nalar verstand, reason, itu menyebar, merata, merakyat,
begitu rupa hingga tidak satu pun kekuasaan (autoriteit),
keyakinan (geloofl, betapapun populernya, bisa luput dari
pengujian yang bebas, dari een vrije onderzoek oleh
manusia-manusia yang otonom. Sedangkan manusia
tidak dengan sendirinya, tidak bisa disulap, menjadi
otonom, melainkan melalui suatu proses pembelajaran
yang panjang. Seorang yang pandir tidak akan bisa
bebas, otonom, mandiri dalam berpikir. Dia akan selalu
terombang-ambing, mudah sekali dimangsa oleh
lingkungan atau oleh khayalan muluk para demagog atau
para mubaligh yang gemar mengutip ayat-ayat di luar
konteks awalnya. Seorang fanatik yang bebas bergerak,
namun picik pikirannya, bukanlah merupakan manusia
otonom, apalagi warga yang bebas. Untuk mendapatkan
kebebasan ini diperlukan suatu minimum pengetahuan
umum. Maka itu pembelajaran kebebasan beipikir tidak
boleh sampai menggiring seseorang ke cangkang atau

tempurung yang sempit. Artinya, tidak boleh
mendesakkan kepadanya doktrin atau agama apa pun.”
”Mas Singgih, Dik Leman dulu pernah mengatakan
bahwa organisasi politik tidak bisa melahirkan manusia
yang otonom karena pembahasan dan diskusi politis
paling jauh hanya bisa menggugah semangat untuk
mengritik. Semangat ini jarang sekali bisa berkembang
lebih lanjut menjadi semangat yang kritis karena adanya
disiplin partai. Sedangkan pupuk bagi pertumbuhan
semangat yang kritis adalah disiplin keilmuan. Maka itu
dia selalu menolak ajakan masuk partai politik tertentu
walaupun kegiatan pribadi di luar kantor adalah kegiatan
politik.”
”Oo begitu. Sekarang saya baru mengerti mengapa
Pak Leman tidak pernah bersedia menjadi anggota partai
apa pun, namun bertekad untuk selalu aktif dalam
gerakan kemerdekaan nasional. Memang benar, Pak
Joesoef, semangat untuk mengritik, de geest om te
kritiseren, adalah satu hal, sedangkan semangat yang
kritis, een kritische geest, adalah hal lain lagi. Semangat
untuk mengritik berkaitan dengan keberanian untuk
mencela atau membela, untuk melawan atau
mendukung, sesuatu atau seseorang. Semangat yang
kritis adalah kemampuan untuk membedakan yang benar
dari yang keliru, dengan menilai sendiri segala sesuatu,
bebas dari pengaruh bujukan atau hasutan atau anjuran
atau resolusi rapat akbar. Untuk bisa memperoleh
kemampuan dan kebebasan ini diperlukan penguasaan
setingkat tertentu pengetahuan. Dan penguasaan ini
diperoleh, seperti yang saya katakan tadi, melalui suatu
proses pembelajaran yang panjang. Namun ini adalah
harga yang harus dibayar untuk mendapatkan manusia

yang otonom. Manusia-manusia otonom selaku para
warga yang bebas dengan penalaran yang kritis itulah
yang kiranya bisa diandalkan untuk membuhul tali
persaudaraan bagi keanekaragaman yang ada,
persaudaraan yang menandai kesediaan kontraktual kita
untuk hidup bersama dalam suatu Republik dari Negara
Kesatuan Indonesia yang merdeka.”
“Bila demikian,” kata emak, ” ada baiknya mulai
sekarang kita camkan dalam diri masing-masing betapa
indahnya keseluruhan keindahan yang ditampilkan oleh
keanekaragaman dari berbagai unsur kemanusiaan yang
berbeda di kalangan bangsa dan negara kita. Harus kita
bimbing anak-anak kita sedini mungkin agar bisa
menghargai perbedaan-perbedaan serta
keanekaragaman tersebut demi penikmatan keseluruhan
keindahannya. Perlu dijelaskan ke-pada mereka bahwa di
samping keindahan yang berlaina dari setiap unsur yang
berbeda dari keanekaragaman, harus disadari adanya
keseluruhan keindahan, suatu keindahan tersendiri,
sebutkanlah sebagai keindahan keanekaragaman
Keindahan tersendiri ini dimungkinkan oleh kemerdekaan
bangsa untuk kita bina demi ketenteraman dan
kesejahteraan hidup bersama…”
“… Barangkali yang Bu Joesoef maksudkan,” tukas
Mas Singgih, “bahwa di samping keindahan individual,
yaitu keindahan dari setiap bagian, ada suatu keindahan
holistis, yaitu keindahan yang berhubungan dengan
sistem keseluruhan sebagai suatu kesatuan lebih
daripada sekedar kumpulan bagian … Maafkan saya telah
memotong pembicaraan Emak.”
“Ah, tidak apa-apa Mas Singgih.” ujar emak setelah
kelihatan berpikir sejenak guna memahami kata-kata Mas

Singgih tadi. “Bila dinyatakan dalam bahasa
keteipelajaran saya kira memang demikianlah adanya.
Mas Singgih lihat betapa pengetahuan saya bertambah
melalui pembicaraan
“Saya pun, Mak, menganggap penting sekali
penyataan tentang kedua jenis keindahan tersebut kata
Mas Singgih.
Kita dapat tunjukan hal itu melalui keindahan sebuah
taman yang ditanami dengan aneka ragam bunga dan
tanaman” emak melanjutkan uraiannya “Bukankah Tuhan
sendiri menciptakan bumi kita ini dalam keadaan
beragam seperti itu. Maka saya rasa nilai dari
keseluruhan keindahan tersendiri ini, dari
keanekaragaman ini pasti lebih besar daripada jumlah
nilai keindahan yang ditampilak dengan caranya masingmasing
oleh setiap unsur yang berbeda dari
keanekaragaman Kalau dalam bahasa Mas Singgih
barusan, nilai holistis itu trentu jauh melebihi jumlah dari
semua nilai individual dengan meniadakan sekat-sekat
berdasar perbedaan-perbedaan meItf ada di tengah
masyarakat termasuk, bahkan, terutama sekat-sekat
keagamaan dan kepercayaan.”
Emak menghentikan ucapannya sambil menundukkan
kepala bagai pucuk padi yang merunduk dek berisi.
Kelihatannya dia terus merenungkan apa-apa yang baru
diucapkannya tadi. Dan kami semua masih bungkam
bagai terpesona oleh tutur kata emak. Akhirnya Mas
Singgih yang memecahkan keheningan suasana.
‘Tanpa sepengetahuan Emak,” katanya, “yang saya
pakai selama ini sebagai contoh keindahan dari
persatuan dan kesatuan bangsa kita adalah keindahan

halaman Bu Joesoef yang penuh dengan bunga-bunga
aneka warna. Andaikata di halaman ini hanya ada satu
jenis bunga, betapapun indah warnanya, betapapun
harum baunya, kesatuan yang ditampilkannya akan
menjemukan, eentonig.”
“Saya yang menyiramnya setiap hari,” kataku tanpa
ada yang menanyakannya.
“Iddiiih, berani-beraninya menyela pembicaraan,”
komentar Kak Marni. “Mas Singgih sedang serius tahu?!”
“Saya cuma bilang, saya yang menyiramnya kok,”
kataku membela diri.
“Emak yang menanamnya dan bapak yang
memupuknya,” ujar Kak Ani. “Mereka tak mengatakan
apa-apa. Berani-beraninya kau ngomong!”
“Saya cuma bilang, saya yang menyiram setiap hari,”
kuulang lagi ucapanku. “Dan itu benar, saya tak
bohongkan?”
“Ya, baiklah kalau begitu,” kata Mas Singgih pura-pura
melerai. “Dalam berpidato nanti, saya tak akan lupa
mengatakan bahwa aneka ragam bunga itu subur berkat
siraman air si Daoed, anak Bu Joesoef.”
“Setiap hari,” tambahku mengoreksi. ” ya, setiap hari,”
ulang Mas Singgih.
“Amboooii”, teriak kedua kakakku serentak.
“Senanglah dia dapat ponten!’
Emak dan bapak tersenyum-senyum saja melihat kami
bercanda. Demikian pula Mas Singgih.


BAB 14
EMAK DAN KELUHURAN BUDI
Sejak kepergiannya yang terakhir Mas Singgih sudah
sebulan tidak pulang-pulang. Emak mulai gelisah.
Jangan-jangan penyakitnya kambuh di tengah perjalanan
dan kini dia terkapar sendirian di salah satu tempat. Dia
memang tidak pernah mengatakan ke mana akan pergi
dan kami pun merasa tidak perlu menanyakannya. Maka
pada suatu malam, sesudah makan, kami sekeluarga
memasuki kamarnya yang tidak pernah dikunci itu.
Bapak menyalakan lampu semprong yang ada di atas
meja. Kamarnya rapi dan bersih. Satu-satunya barang
miliknya sendiri adalah sebuah kopor kulit berisi buku.
Kopor rotan tempat bajunya sudah tidak ada. Di atas
dipan kami temukan sepucuk surat yang dialamatkan
kepada bapak dan emak. Emak memintaku untuk
membacakannya.
Isinya singkat saja. Dia kehabisan uang karena sampai
hari penulisan surat itu kiriman uang yang diharapkannya
tak kunjung tiba. Dia merasa sangat berhutang budi
pada keluarga kami, terutama pada emak dan bapak.
Maka itu dia malu sekali dan tak berani bertatap muka
dengan mereka untuk berpamitan. Dia merasa badannya
sehat dan memutuskan, dengan uang yang masih ada
untuk kembali saja kekeluarganya di Jawa.
Semua bukunya dia berikan kepada kakak-kakak dan
aku, surat itu ditutup dengan permintaan maaf dan
ucapan terima kasih tak terhingga dan mengatakan
bahwa bisa hidup bersama kami merupakan kenangan

termanis dari keseluruhan pengembaraannya selama ini
dan karena itu tidak bisa dilupakan selama hidup.
”Wah penipu rupanya dia mak” keluh kak Marni
setelah aku selesai membaca surat mas Singgih , ”pergi
diam-diam setelah tidak membayar sewa kamar
berbulan-bulan.”
”Dia tidak menipu kita nak” kata emak, ”Diapun tidak
pergi diam-diam, dia meninggalkan sepucuk surat”
“Mana Emak sudah memberinya makan, membennya
obat lagi,” sambung Kak Ani ” Semua ini kan tak ada
dalam perjanjian indekos.”
“Ya benar begitu. Dalam perjanjian itu juga tidak ada
disebut keharusan dia membagi pengetahuannya,
ilmunya, kepada kita,” sahut emak kalem.
“Selama di sini Mas Singgih sudah melakukan suatu
pekerjaan yang tak ternilai untuk kita semua, terutama
untuk kalian,” kata bapak. “Dia sudah berusaha
membangkitkan suatu harapan yang masuk di akal, telah
menyiapkan suatu masa depan yang jelas dan semua ini
merupakan kerja yang penuh risiko. Kalian ingat betapa
Pakcik Soelaiman sampai dibuang jauh oleh Belanda
karena telah melakukan hal yang sama. Dan untuk
semua usaha dan kerjanya itu Mas Singgih tak ada
menerima imbalan apa-apa, tak sepeser pun. Kita pantas
berterima kasih kepada dia dan tidak serta merta
mencapnya sebagai penipu.”
“Maka itu sebenarnya tidak hanya Mas Singgih yang
merasa berhutang budi pada kita,” sambung emak sambil
menatap wajah kakak-kakak dan aku satu per satu, “kita
semua pun sudah berhutang budi kepadanya. Marilah

sekarang hutang piutang budi ini kita jadikan pupuk bagi
perkembangan keluhuran budi kita masing-masing.”
Kemudian dengan mengalihkan pandangan matanya
yang lembut kepadaku, emak berkata, “Kau Daoed, emak
lihat rajin mencatat semua uraian Mas Singgih. Sudah
habis beberapa kitab tulis?”
“Hampir 15, Mak,” jawabku.
“Kau simpan baik-baik semua itu!” ujar emak. “Baca
lagi, telaah lagi sampai benar-benar paham. Semua itu
merupakan pengetahuan yang pasti berharga dan
berguna.”
Seingatku emak pernah bertanya kepada Mas Singgih
mengapa dia sampai bersusah payah mengembara untuk
menyebarluaskan ide kemerdekaan dan perjuangan yang
diperlukan untuk mewujudkannya. Mas Singgih
mengatakan bahwa dia adalah seorang yang beruntung
dan berbahagia. Dia lahir di kalangan keluarga ningrat.
Ayahnya yuris lulusan Leiden dan ibunya tamatan MULO.
Dia anak bungsu dari lima bersaudara dan semuanya,
kecuali dia, sudah berumah tangga. Saudaranya yang
pertama dan kedua adalah laki-laki, menjadi dokter.
Saudaranya yang ketiga, satu-satunya anak perempuan,
belum sempat menamatkan HB S, sudah kawin dengan
seorang hakim, juga keturunan ningrat. Saudaranya yang
keempat, langsung di atas dia, seorang laki-laki, menjadi
insinyur. Untuk pelajaran agama dan membaca Al Quran,
orang tuanya mendatangkan seorang guru mengaji dari
kauman ke rumah dua kali seminggu. Ayahnya kini sudah
pensiun dan hidup berkecukupan karena memiliki sawah
yang cukup luas.

Dia sendiri setelah menamatkan pelajarannya di HBS,
sebenarnya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi apa
saja, kalau perlu ke negeri Belanda. Karena dia tidak
perlu memikirkan siapa pun kecuali diri dan masa
depannya sendiri, tidak mempunyai beban keluarga
berupa apa pun, dia memutuskan untuk membagi
keberuntungan dan kebawiaan nasibnya kepada orang
banyak. Dia memutuskan ntuk mengabdikan dirinya pada
perjuangan kemerdekaan Lasa dan Tanah Air. Orang
tuanya tidak melarang, hanva mengingatkan agar
berhati-hati. Untuk melaksanakan bisikan nuraninya ini
dia telah menjelajahi seluruh pulau Jawa Kini dia memilih
bergerak di Soematra karena ini merupakan pulau masa
depan, sambil memperdalam bahasa Melayu yang sudah
ditetapkan oleh Kongres Pemuda untuk dikembangkan
menjadi bahasa Indonesia, bahasa persatuan.
“Dia telah membuat hari-hari kita tensi dengan
kegiatan-kegiatan yang terpuji, membawa pencerahan
dalam hidup kita,” kata emak. Tak ada seorang pun yang
menyuruhnya berbuat begitu. Nuraninya sendiri yang
telah menggerakkannya. Dia telah membagi banyak
pengetahuan yang bernilai dengan kalian, antara lain,
bagaimana mencari kebenaran dengan cara yang
disebutnya sebagai penalaran keilmuan. Daoed, kau jaga
baik-baik buku-buku yang ditinggalkannya itu, Nak.
Jadikan semua itu sebagai bagian yang penting dari
kumpulan buku yang sudah kau miliki. Jangan buat
semua itu menjadi sekedar penghias rak bukumu, tetapi
sebagai sumber pengetahuan yang terus-menerus perlu
digali.”
Banyak juga buku-buku itu, sekopor penuh. Kalau
dilihat dari cap yang tertera di halaman terdepan setiap

buku, separuh di antaranya di beli dari toko buku
Varekamp, Cerdas dan Antara di Medan ini. Hampir di
setiap buku ada catatan-catatan yang ditulis di pinggir
kiri halaman serta penggaris bawahan kalimat-kalimat
tertentu dengan potlod merah. Sebagian terbesar dari
buku-buku itu berbahasa asing: Belanda, Jerman,
Perancis dan Inggris. Yang berbahasa Belanda saja
ketika itu masih sulit kupahami, apalagi yang berbahasa
asing lainnya. Lebih-lebih lagi yang berbahasa Jerman,
membacanya saja sudah susah karena berhuruf khas
Jerman. Yang berbahasa Melayu beijudul “Melawat ke
Barat”, karangan Djamaloedin Adi Negoro sebanyak tiga
jilid. Buku-buku ini sudah pernah kubaca dari
perpustakaan di sekolah. Aku senang sekali mendapat
buku-buku ini karena ceritanya tentang Paris, Quartier
Latin dan Sorbonne sangat memukau. Kemudian ada
buku dari A. Damhoeri dengan judul “Depok Anak
Pagaisebuah roman pergerakan bernuansa adat
Minangkabau. Ada pula buku “Patjar Merah”, sebuah
roman politik di sekitar revolusi Perancis, tulisan Matu
Mona. Ada dua buku lagi, yaitu tulisan Semaoen beijudul
“Hikajat Kadiroen” dan Marco Kartodikromo beijudul
“Student Hidjo”. Kedua buku ini segera menarik
perhatianku karena ditulis dalam bahasa Melayu yang
tercela di sekolah, disebut”passer’s Maleisch”. Lain
dengan buku-buku dari Adi Negoro, A. Damhoeri dan
Matu Mona, yang menggunakan bahasa Melayu yang
dipujikan oleh guru, yaitu “beschaafd Maleisch”.
Walaupun isi buku-buku berbahasa asing yang
dihibahkan oleh Mas Singgih ketika itu belum kupahami
sepenuhnya, lama-kelamaan kusadari betapa penting
dan tingginya nilai keilmuan yang dikandungnya.

Semakin tinggi jenjang pendidikanku semakin kerap
kudengar na-ma-nama penulis buku tersebut. Setelah
aku sampai di jenjang pendidikan universiter, lebih-lebih
ketika di Sorbonne, buku-buku tersebut sering
disinggung dalam perkuliahan filosofi dan sejarah
keintelektualan Barat, baik melalui biografi penulisnya
atau karena tema yang dibahasnya. Nama-nama itu
adalah Huizinga, Spengler, Kant, Rousseau, Descartes,
Montesquieu, Renan, Spinoza, Toynbee, Hobbes, Bernard
Shaw. Setiap kali nama-nama itu kudengar, setiap kali itu
pula aku terkenang Mas Singgih dan, terkait dengan itu,
emak yang telah menerima orang pergerakan yang
berbudi ini indekos di rumah kami. Kali ini pun firasat
emak ternyata tidak meleset.

BAB 17
EMAK DAN CALON PERANTAU
Pada suatu hari ketika aku sedang menikmati
kesendirian, kesepian hutan dan kebersihan udaranya di
tengah-tengah kelebatan pepohonan, ketika aku sedang
betul-betul hanyut oleh cerita yang kubaca sambil
berendam di Sungai Putih, kudengar derak patahan
cabang kayu yang terpijak.Aku segera bangkit, berpaling
ke arah datangnya suara, sambil menggenggam parang
yang selalu terhunus. Aku melihat di atas tebing sungai
berdiri seorang pemuda yang lebih tua daripada diriku,
berbadan kurus dengan pakaian yang kumuh. Dia
kelihatan sangat terkejut, mungkin setelah melihat
tangan kananku memegang parang dengan wajah yang
tak gentar. Kami sama-sama terdiam beberapa saat,

hanya saling memandang. Akhirnya dia mengucapkan
salam yang segera kujawab. Dia turun ke sungai dan
kami lalu bersalaman.
Dia rupanya seorang pencari kayu juga. Aku tawarkan
kepadanya penganan yang masih ada dan langsung
dimakannya dengan lahap sekali. Kesanku dia sangat
lapar bagai orang yang beberapa hari belum bertemu
nasi. Sambil makan dia bercerita tentang dirinya yang,
setelah kudengar, cukup mengharukan. Dia bernama
Akib, sudah lama yatim piatu. Dia menumpang di rumah
pamannya yang serba kekurangan, dengan delapan
orang anak yang masih kecil-kecil, lebih muda daripada
usianya. Dia sendiri tidak pernah bersekolah. Maka untuk
membantu rumah tangga pamannya ini dia mencari kayu
bakar untuk dijual di kampung-kampung yang tidak
berbatasan dengan hutan ini. Hampir seluruh hasil
penjualan kayu yang jumlahnya tak seberapa, hanya lima
atau tujuh sen sepikul, dia serahkan kepada pamannya.
Padahal dia ingin sekali menabung karena bercita-cita
merantau ke Malaya. Dia merasa telah diperas oleh
pamannya selama ini.
Lama-kelamaan Bang Akib dan aku menjadi akrab satu
sama lain. Rupanya dialah yang sengaja menanam
pohon-pohon pisang, terong dan sayur-mayur lainnya di
dekat rawa yang telah beberapa kali kukunjungi jauh di
sana. Hasil penjualan tanaman-tanaman inilah yang
diharapkannya bisa ditabung tetapi ternyata tidak bisa
diandalkan. Ada saja orang-orang yang selalu
memanennya lebih dahulu. Dia mengatakan telah melihat
botol bersurat yang kugantung di salah satu pohon
terongnya. Karena dia sendiri buta huruf, tidak bisa

membaca apa-apa yang kutulis, surat itu dimasukkannya
kembali ke dalam botol dan lalu dibiarkannya begitu saja.
“Sungguh mengherankan,” kataku, “mengapa tidak
pernah terlintas dalam benakku untuk menulis surat itu
dalam huruf Jawi.”
“Akan percuma saja,” sahutnya, “itu pun pasti tak
akan bisa kubaca. Aku belum pernah mengaji, jadi tak
pernah mengenal huruf Jawi yang mirip dengan huruf
Arab.”
Dia menunjukkan kepadaku sebuah buhulan dari
secercah: kain kumuh yang dikebatkan di pinggangnya.
Mula-mula kukira berisi jimat tetapi setelah dia buka
ternyata isinya beberapa keping uang kelip.
“Inilah semua tabunganku selama bertahun-tahun,”
”Tak cukup satu gulden,” komentarku
-Ya begitulah. Kadang-kadang terpaksa kupakai untuk
membeli nasi. Tidak jarang kalau aku pulang larut
malam, makanan yang tercisa untukku hanya kerak dan
sayuran rebus Sedangkan setiap hari kerjaku memikul
kayu bakar dan menjajakannya dari kampung ke
kampung. Kadang-kadang uang itu kupakai juga untuk
membeli penganan bagi anak-anak paman. Kasihan
mereka, badannya kurus-kurus karena kurang makan.
“Mengapa uang itu tidak disimpan saja di rumah? Kan
lebih aman?!”
“Malah tidak. Kalau ketahuan paman bisa-bisa dia sita
semuanya. Dia memang bukan orang yang buruk
perangai, lebih-lebih bibi baik sekali. Tetapi mereka

adalah orang-orang miskin yang terus-menerus
menderita kekurangan.”
Sejak itu kami sering bertemu di tempat aku
berendam di Sungai Putih. Untuk dia selalu kubawakan
nasi dengan lauk-pauk sekedarnya, yang kadang-kadang
ditukarnya dengan pisang, durian, buah binjai atau
sayur-mayur. Dia tidak pernah mengusik bacaanku, jadi
aku tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
Biasanya sehabis makan dia terus pergi memikul
kayunya. Namun emak rupanya dengan diam-diam
memperhatikan jumlah bekal yang kubawa setiap kali
aku ke hutan. Emak tahu benar dulu-dulu aku tidak
membawa nasi sebanyak itu, cukup dengan penganan
saja. Maka tak ayal lagi dia mempertanyakan
kebiasaanku yang baru ini. Karena tak berani mendustai
emak, aku jelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Setelah mendengarkan dengan serius dia berpendapat
bahwa bantuanku kepada Bang Akib kurang tepat.
Menurut emak bantuan kepada orang yang
memerlukannya adalah baik tetapi cara memberikannya
bisa begitu keliru hingga menumbuhkan jiwa pengemis
pada diri si penerima.
Lalu emak memintaku untuk memintaku untuk
mengajak Bang Akib kerumah.
Setelah berkenalan dengan emak dia menceritakan
kembali keadaan hidupnya yang pernah dikatakan
kepadaku.
“Hidup yang Akib telah jalani selama ini tidak usah
dijadikan satu-satunya jenis kehidupan yang kau punyai”
kata emak setelah mendengar serita itu.

”Barangkali benar begitu, Mak. Saya bukan tak pernah
mencoba mengubahnya, namun tetap begini-begini saja.
Saya pun sudah berusaha mencari-cari Tuhan untuk
mengadukan nasib saya.”
“Kalau kau benar-benar sedang mencari Tuhan di
sekitarmu, setiap upaya perbaikan hidup di setiap saat
pasti menjadi suatu doa. Doa itu bukan hanya berupa
kata-kata yang diucapkan dengan air mata bercucuran.
Berusahalah demi kehidupan yang lebih baik dengan
melelehkan keringat. Ini pun suatu doa juga. Barangkali
doa yang seperti ini malah lebih diperhatikan oleh
Tuhan!”
“Saya sudah capek, Mak. Saya sudah mau pasrah saja.
Memimpikan nasib yang lebih baik saja sudah saya
hentikan.”
“Jangan begitu, impian-impianmu dapat menjadi suatu
kenyataan. Apa-apa yang kau impikan merupakan bahan
yang menuntunmu melalui kehidupan ke arah
kebahagiaan.”
Talu apa yang musti saya lakukan, Mak?”
“Jangan putus asa lagi. Bangkitlah! Bobot dari apa-apa
yang sudah kau jalani dan apa pun yang akan kau alami
masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan
kemampuan-kemampuan yang ada dalam dirimu. Perakuan
Tuhan kepadamu selama ini kiranya dimaksudkan
sebagai penggugah kesadaranmu terhadap kemampuanemampuan
tersebut. Maka gali dan kembangkanlah
kemampuan ” i tidak akan melemparkan itu ke dalam
sarangnya. Demikian pula, Tuhan memberikan kepada
kita nasi tetapi tidak meletakkan itu ke atas piring kita.

Keoada Bang Akib emak mengatakan akan membeli
sebisa mungkin kayu bakarnya. Emak pun akan
mengatakan kepada semua kenalannya untuk menjadi
pelanggan. Bahkan emak mengatakan tidak keberatan
kalau Bang Akib menumpuk kayunya di kolong rumah
kami hingga para Delanggan dapat membelinya setiap
waktu. Emak yang akan membantu menjualkannya tanpa
mengambil keuntungan sepeser pun. Dengan begitu
Bang Akib tidak perlu lagi membuang-buang waktu
beijalan keliling kampung menjajakan kayunya.
Kemudian emak mengusulkan agar waktu yang
terbebaskan itu dia pakai untuk belajar membaca,
menulis serta berhitung. Aku yang diminta emak untuk
mengajarnya dan kalau perlu dibantu oleh kakakkakakku.
Karena di Malaya seingat bapak rakyatnya
membaca dan menulis dengan huruf Jawi, dia
menawarkan jasanya untuk membantu Bang Akib
mengaji. Bila telah lancar membaca Al Quran baru bapak
akan mengajarkannya huruf Jawi. Sebab huruf ini
sebenarnya meniru huruf Arab dengan sedikit modifikasi
penggunaannya agar sesuai dengan bahasa dan lafal
Melayu. Emak sendiri mengatakan kesediaannya
menyimpan uang Bang Akib yang diperolehnya sedikit
demi sedikit itu. Setelah bekeija keras dan belajar
sungguh-sungguh selama kira-kira tiga tahun, Bang Akib
sudah mahir dalam menulis dan membaca huruf Latin
serta huruf Jawi. Dia pun sudah agak lancar membaca
Quran dan menguasai ilmu hitung elementer serta
pengetahuan tentang ukuran-ukuran panjang, berat, luas
dan isi. Bapak melengkapinya dengan pengetahuan
serupa yang berlaku di Malaya.

“Kau lihat Akib,” kata emak, “kemampuan-kemampuan
diri adalah harta pribadi kita yang tidak kelihatan
tersimpan di dalam pikiran dan perasaan, di akal dan hati
kita masing-masing. Bila kita tidak menyadarinya, apalagi
tidak mengolahnya atau tidak mengaktifkannya, tidak
ada apapun dl bUmi ini yang dapat mengimbangi
ketidakhadirannya atau ketidurannya itu.”
Sewaktu berkata begitu, emak melirik kepadaku Aku
tahu bahwa ucapannya itu dialamatkannya juga
kepadaku.
Menyadari betapa besarnya minatku untuk belajar
betapa besar hausku akan ilmu pengetahuan, emak
pernah berkata akan mengikhlaskan aku bila memang
mau merantau ke Jawa guna menuntut ilmu
pengetahuan tersebut. Lagi pula menurut emak, ada
empat jenis peijalanan yang sangat dipujikan dalam
ajaran keislaman. Pertama, hijrah, yaitu bepergian untuk
bermukim di lingkungan muslim. Kedua, alhaj, yaitu
bepergian ke Tanah Suci Mekah. Ketiga, ziyarah, yaitu
bepergian mengunjungi orang-orang suci dan tempat
pengajiannya. Keempat, rihla, yaitu bepergian guna
menuntut ilmu pengetahuan.
Sejak itu kalimat “lagu merantau” yang diajarkan
kepadaku di sekolah dasar, berbunyi “selamat tinggal
kampung halaman, aku ‘ndak pergi mencari nafkah”, aku
ubah menjadi “selamat tinggal kampung halaman, aku
‘ndak pergi mencari ilmu”. Emak tersenyum-senyum saja
bila mendengar aku menyanyikan lagu ini. Kini dia
memintaku supaya turut serta kalau dia mengajari Bang
Akib beberapa keterampilan tangan yang kiranya bisa
membantu hidup di perantauan. Yang diajarkan dan
dilatih emak adalah menambal baju, menisik pakaian,

memasang kancing, menanak nasi dan membuat
beberapa macam gulai. Ketika bapak mendapat pesanan
dari tetangga untuk dibuatkan lemari dan meja, emak
memintanya supaya kami berdua diikutkan serta sekalian
dilatih kerja kayu dan mengenal k ngannya- Emak juga
menitipkan kami berlatih alat-alat pertukangan pandai
besi di kampung untuk magang. Jangan sekali-kali
memandang rendah kerja dengan tanganmu,” katanya
terutama kepadaku. “Kerja tangan tidak mengharamkan
kerja otak”
Sementara itu tabungan Bang Akib yang disimpan
Emak sudah dianggap cukup untuk hidup di Malaya
selama paling sedikitnya delapan bulan tanpa pekerjaan.
Bang Akib beruntung selama 3 tahun ini ada lima
perkawinan di kampungku hingga penjualan kayunya
meningkat sekali. Di samping itu kebutuhan akan kayu
medang bertambah besar selama bulan Puasa dan
menjelang hari raya. Sebelum berangkat ke Malaya emak
meminta kesediaan Babah Sin untuk mengantar Bang
Akib menukar uang gulden dengan strait dollar di bank
yang dipercaya! oleh sf babah. Bapak memberikan
kepada Bang;Akib beberapa nama dan alamat orang
Malaya yang dahulu pernah dikenalnya selama merantau
di Johor, Klang dan Penang.
Bang Akib masih sempat menanyakan apakah ada pesan-
pesan emak yang belum disampaikannya guna
dipakai sebagai pegangan kelak di rantau orang. Setelah
merenung sejenak emak berkata, “Akib, hal yang kau
impi-impikan sejak lama, insya Allah, segera terwujud.
Saat kau pergi merantau ke negeri orang sudah tiba.
Kata orang, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Sebagai rumus umum pepatah ini ada benarnya. Namun

bukan sekali-kali berarti bahwa kau harus begitu saja
mengikuti kehendak orang-orang, harus selalu
menyesuaikan pendapatmu dengan apa yang dipikirkan
orang banyak. Sebab imbalan dan penyesuaian diri ini
adalah bahwa semua orang akan suka kepadamu kecuali
kau sendiri. Artinya pribadi yang serapuh itu pasti tak
akan kau sukai.”
Dari lirikannya, kali ini pun aku tahu supaya aku turut
pula mempertimbangkan pendapatnya itu. Aku paham
bahwa emak menghendaki aku tidak takut menjadi nonconformist
karena sebelum ini dia sering melontarkan
kalimat-kalimat yang mencerminkan keinginan seperti ini.
“Sebelum mengambil keputusan atau menyetujui
pendapat dapat orang lain,” katanya dulu, “tanyakan
lebih dahulu nuranimu. Kau boleh membantah siapa saja
kecuali nura-nimu, Nak.”
“Mengapa Mak?”, tanyaku.
“Karena nuranimu itu merupakan tempat
persemayaman Tuhan dalam dirimu,” jawab emak tanpa
ragu-ragu.
Sehari sebelum berangkat ke perantauan Bang Akib
datang ke rumah. Badannya tidak kurus lagi dan
sekarang penampilannya sudah jauh lebih bersih
daripada dahulu. Wajahnya mencerminkan suatu
kemauan dan keberanian untuk hidup di negeri orang.
Emak menjamunya makan dan bapak berdoa sebelum
makan dimulai. Ketika hendak pulang Bang Akib
mencium tangan emak dan bapak berulang-ulang. Dia
menangis sesenggukan bagai hendak berpisah dengan
orang tuanya sendiri.

“Akib, sudahlah, jangan larut dalam kesedihan,” kata
emak. Padahal suaranya sendiri terdengar parau tanda
sedih. “Pandang emak. Kau tahu kan, sekarang kau telah
lulus dalam ujian Tuhan. Dia melihat betapa kau telah
bekerja dan belajar keras untuk menyiapkan dirimu
mampu merantau. Kemampuan ini kau miliki bukan
karena doa tetapi karena usaha. Usaha inilah yang
merupakan doa yang sangat dihargai-Nya, doa berisi dari
orang yang tegar, bukan doa hampa dari orang yang
cengeng. Jadi Tuhan tidak pernah meninggalkan kau
seperti yang dulu kau sangka. Yang dulu-dulu kau alami
itu ternyata bukan takdir tetapi nasib. Nanti di rantau
orang Tuhan juga akan tetap menyertaimu dalam
usahamu memperbaiki nasib.”
Kami pun sebenarnya merasa kehilangan Bang Akib,
bukan hanya dia merasa kehilangan kami dengan
kepergian diirinva itu Dia memang tidak pernah tinggal
serumah dengan kami. Tapi keterlibatan kami semua
yang begitu Intensif dalam membantu dia memecahkan
masalah hidup-selama ini membuat dia terasa sebagai
bagian dari kehidupan kami sendiri. Kami, anak-anak,
menitikkan air mata dan termangu-mangu setelah dia
pergi. Kukira emak dan bapak menangis dalam hati.
Menurut rencana dia berangkat malam m dengan
perahu dari kampung Labuhan di muara Sungai Deli
menuju Malaya. Pada malam keberangkatannya itu,
seperti biasa, kami duduk-duduk di serambi depan. Sejak
makan malam tadi pengalaman kontak pribadi kami
masing-masing dengan diri Bang Akib mendominasi
pembicaraan. Ada cerita lucu, ada cerita aneh; ada cerita
haru, ada cerita gembira. Ketika angin malam terasa
mulai berembus kami saling berpandangan.

“Inilah angin yang ditunggu-tunggu pelaut, yang biasa
bertiup dari darat ke laut..,” bisik bapak. “Sekali lagi
menengadah menghitung layar, menunduk menghitung
lantai … Kini saatnya perahu si Akib mulai membongkar
sauh dan mengembangkan layar … bergerak maju …
didorong angin buritan…”
“Selamat jalan Akib,” bisik emak. Lancang Kuning,
Lancang Kuning berlayar malam ‘Duhai berlayar malam

Haluan menuju, haluan menuju ke lautan dalam ‘Duhai
ke lautan dalam …

Bab 18
EMAK DAN PENCARIAN
”Mak, apakah Bang Akib bisa berhasil dalam
perantauannya?”, tanyaku sambil bercangkung di sebelah
emak. Dia sedang asyik menyiangi lahan yang
ditanaminya dengan bayam, terong, dan sawi ladang.
Aku memunguti rumput dan aneka tanaman pengganggu
lainnya yang dicabuti emak, mengumpulkan semua
gulma itu di pengki untuk dibuang ke tempat sampah
guna dibakar.
Berhubung hari Jumat madrasah libur, sepulang dari
sekolah dan setelah beijumat, aku kadang-kadang pergi
ke ladang. Apalagi sebelum berangkat tadi bapak sengaja
berpesan agar disampaikan kepada emak bahwa dia
petang ini tidak dapat menyusulnya ke ladang. Masih
banyak yang harus dikenakannya demi kerapian kandang

lembu kami. Besok akan ada inspeksi kesehatan lembu
dan kebersihan lingkungan pemeliharaannya oleh dokter
hewan Belanda selaku inspektur kesehatan. Inspeksi ini
menggenapi pemeriksaan berkala yang dilakukan setiap
minggu oleh mantri kesehatan Raden Soemamo. Maka
kedatanganku di ladang kali ini pasti diperlukan emak,
paling sedikit bisa membantu membawa pulang berbagai
jenis sayuran untuk dimasak menjadi teman nasi seharihari.
Lagi pula sebelum aku keladang aku menyempatkan
diri masuk hutan lebih dahulu untuk mengumpulkan
dahan dan ranting kering yang digunakan sebagai bahan
bakar di dapur.
Bang Akib sudah hampir enam bulan di Malaya Dapat
kubayangkan betapa sibuk dan sulitnya dia mendapatkan
tempat berpijak yang pasti di rantau orang. Apa yang
kau maksudkan dengan kata berhasil itu?, emak kembali
bertanya tanpa memandang kepadaku, sementara jarijarinya
terus mencabuti gulma
”Ya…..ya, mampu meraih apa yang dicita-citakannya…
kira-kira begitulah, Mak.”
Emalc tidak segera menjawab. Dia menyeka keringat
di wajahnya dengan handuk kecil.
“Mari kita istirahat dahulu di gubuk. Emak haus sekali.
Kalau tak salah ada pisang yang sudah ranum di
tandan yang kemarin dulu ditebang bapakmu dari
pohonnya tetapi belum sempat dibawa pulang.”
Aku potong sesisir yang kebanyakan pisangnya sudah
pantas dimakan guna dibawa pulang nanti.
“Kau boleh mencicipinya sekarang kalau mau,” kata
emak setelah mereguk air dari kendi.

‘Tak usahlah, Mak. Nanti saja di rumah, kita nikmati
bersama-sama setelah makan malam,” kataku.
“Kemampuan si Akib meraih apa yang dicitacitakannya
tergantung pada dua hal pokok,” kata emak
sambil mengibas-ngibas dengan handuk kecilnya agar
sejuk. Sore ini hari memang tidak begitu berangin. Kami
berdua duduk berdampingan di balai-balai bambu yang
disiapkan bapak di serambi gubuk. Aku diam saja
walaupun betul-betul ingin tahu buah pikiran emak.
Inilah juga penyebab mengapa aku sering berusaha
bisa mendapat kesempatan berduaan saja dengan emak.
Untuk dapat sepuas mungkin mengetahui apa-apa
pendapatnya mengenai apa saja yang kiranya bisa
kujadikan pegangan hidup. Bukankah menurut para
tetangga, kami, anak-anak emak, sungguh beruntung
punya seorang ibu yang arif di balik keras kepalanya.
Yang mereka maksudkan dengan “keras kepala” itu tentu
keteguhan pendirian emak. Emak memang ramah
kepada siapa pun, lemah-lembut, adakalanya sungguh
feminin dalam bertutur dan berdandan, tetapi kalau
sudah menyinggung apa yang dianggapnya sebagai
prinsip, dia tidak akan beranjak barang setapak. Bagi dia
prinsip adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.
“Kedua hal pokok itu adalah,” tutur emak beberapa
saat kemudian, “pertama, bila dia tidak mampu meraih
apa yang diinginkannya, dia harus menginginkan apa
yang dimampuinya. Kedua, dia harus tahu apa yang
dicarinya. Bila tidak bagaimana dia bisa mengetahui di
mana dan bagaimana cara menemukan apa yang dicaricarinya
itu. Bagaimana dia mengetahui sudah atau belum
mendapatkannya dan kalau sudah diperoleh apakah ia
sudah sempurna.”

Kalau emak orang sekolahan, dia kiranya tidak akan
menggunakan istilah “hal” tetapi istilah “faktor” sebagai
penggantinya. Dengan kata lain, apa yang dimaksudkan
emak dengan ungkapan “dua hal” ketika itu, kini kuubah
menjadi “dua faktor”, menjadi dua faktor pokok yang
menentukan keberhasilan Bang Akib.
“Apakah demi kesempurnaan itu dia harus terusmenerus
mencari, Mak?”
“Ya, Daoed…..tanpa dikait-kaitkan dengan
kesempurnaan itu kita memang harus
mencari….ditakdirkan untuk mencari.” . :
Emak diam lagi dan kelihatan merenung. Tangannya
berhenti mengibas-ngibaskan handuk kecilnya. Aku kira
dia sedang memikirkan sesuatu dengan lebih mendalam.
Aku tak ingin mengusiknya dengan ucapan apa pun.
“Kita harus terus mencari karena emak kira hidup ini
pada hakikatnya memang berupa satu pencarian,”
ucapan Emak mengesankan begitu pasti, tanpa keraguan
sedikitpun.
Tatapan matanya diarahkan jauh kedepan, ”Kita harus
terus mencari apa yang kita inginkan, karena hanya
dalam mencari itulah kita akan menemukannya, dengan
begini ada keharusan bagi kita untuk tidak lalai memupuk
pendorong yang menggerakkan kita untuk terus
berusaha”.
Dengan memakai kata “kita” dalam ucapan-ucapannya
yang terakhir ini, aku pikir emak dengan sadar dan
sengaja mengalamatkan seluruh tutur katanya tadi
khusus kepadaku bukan hanya sekedar bahasan nasib
Bang Akib. “Adakalanya dalam mencari itu kita harus

berpikir terbalik” kata emak selanjutnya. Semakin terasa
bahwa kata-katanya ini memang ditujukan kepadaku,
untuk keperluanku sendiri. “Lihatlah tanaman-tanaman
emak di ladang ini. Untuk bisa mengetahui bagaimana
semua itu bisa tumbuh subur seperti yang kita inginkan,
emak kadang-kadang berusaha mengetahui bukan hanya
hal-hal apa yang membuatnya tumbuh subur, tetapi juga
hal-hal apa yang menghalanginya tumbuh subur.”
Setelah berdiam diri sejenak, sambil menggenggam
kembali tanganku erat-erat, emak berkata, “Terlepas dari
semua yang emak bicarakan tadi, percayalah Daoed,
emak kira kita semua sudah berusaha keras membantu si
Akib dengan pengetahuan dan keterampilan dasar yang
dapat dipakainya untuk bisa selamat di rantau
orang…percaya-lah!”
“Yang saya risaukan, Mak, adalah sikap penduduk
pribumi yang didatanginya itu. Apakah mereka tidak
merasa terganggu, tidak menganggapnya sebagai
pendatang asing yang bakal mengurangi rezeki mereka
selama ini.”
Mendengar ucapanku ini emak bagai tersentak dan
lalu berpaling menatapku. Tangannya masih
menggenggam erat tanganku. “Daoed,” katanya, “bumi
ciptaan Tuhan ini sebenarnya mampu mencukupi
kebutuhan semua manusia yang ada, tetapi pasti tidak
bisa memuaskan setiap keserakahan semua orang satu
per satu.”
Ucapan-ucapan emak mengenai hal-ihwal pencarian
ini bagai membayangi langkahku ketika tiba saatnya aku
juga menjadi perantau. Karena yang kucari dalam
perantauan ini adalah pengetahuan yang mencerahkan,

aku mengembara di dalam ruang dan waktu tidak hanya
secara fisik tetapi lebih-lebih secara mental di jalur
keilmuan. Selama pengembaraan ini aku tidak hanya
menemukan pengetahuan yang kucari tetapi berkenalan
pula dengan para pencari pengetahuan pendahulu, yang
telah merintis jalur keilmuan yang kini aku tempuh,
melalui karya-karya mereka yang kupelajari dengan
saksama. Buah pikiran mereka tegak beijajar bagai
milestone di jalur yang kelihatannya tak berujung ini.
Dan ketika melangkah di jalur ini aku sering teringat
emak. Betapa tidak. ; Aku teringat emak ketika
mengetahui bagaimana Fleming sampai menemukan
penisilin. Berkat kegigihan Pasteur orang menyadari
betapa bahayanya bakteri bagi kesehatan, bahkan
kehidupan manusia. Maka banyak bak-teriolog membuat
pembudidayaan (kultur) bakteri, guna meneliti
pengembangbiakannya lewat media tumbuh yang diatur
kondisinya. Artinya, mereka bekeija berdasarkan
pertanyaan tentang apa dan bagaimana bakteri
berkembang biak dan apa-apa saja yang mendorong
pengembang-biakan tersebut.
Fleming bersikap lain. Dia bekerja dengan pertanyaan
yang terbalik, sengaja dia balik, yaitu apa yang
menghambat pengembangbiakan bakteri. Jadi yang
dicaripenelitiannya adalah zat-zat yang berdaya
antibakterial. Berhubung yang dicarinya itu adalah suatu
antibiotikum, maka wajar kalau dia akhirnya menemukan
pinisilin, karena substansi yang satu ini memenuhi
tuntutan-tuntutan apa yang dia cari melalui kultur
bakterinya.
Aku teringat emak ketika menyadari apa yang menjadi
pendorong orang untuk terus mencari di jalur keilmuan.

Pendorong ini berupa suatu kekuatan unik dari suatu
penalaran ilmiah yang dipupuk dan dikobarkan oleh
semangat ilmiah.
Ilmu Pengetahuan secara esensial tidak berurusan
dengan obyek-obyek fisik tetapi dengan bentuk-bentuk
ide, jadi dengan hal-hal yang serba abstrak.
Maka kekuatan yang mempesona dari ilmu
pengetahuan bukanlah kesanggupannya mengungkapkan
realitas sebagaimana adanya, tetapi kemampuannya
menggambarkan hal-hal yang abtrak begitu rupa hingga
mengesankan seperti riil.
Artinya, hubungan antara ilmu pengetahuan dengan
realitas yang digambarkannya adalah bagai hubungan
jan dengan bulan. Betapapun tepatnya jari (ilmu
pengetahuan) menunjuk ke bulan (realitas), jari itu
bukan bulan. Jari tetap jari dan bulan tetap bulan.
Karena menyadari akan kekuatan yang unik dari ilmu
pengetahuan inilah maka para ilmuwan insaf bahwa
manusia tidak pernah mengetahui dengan sempurna dan
lalu terdorong untuk terus mencan dan mencari,
berusaha memandang dengan mata lain, berusaha
melihat melalui kacamata lain, berusaha mengamati
dengan cahaya yang berbeda.
Dan pencarian yang ideal seperti itu ternyata paling
berkembang di jalur keilmuan. Maka betapa aku tak
sampai melupakan emak, teringat kepadanya, ketika aku
menyadari keadaan tersebut. Ilmu pengetahuan adalah
suatu pencarian abadi, mencari suatu kesatuan di balik
keanekaragaman yang kasatmata, mencari tatanan
(order) di balik kekacauan (disorder) yang kasatmata,

mencari keteraturan di balik ketidakteraturan yang
kasatmata.
Dalam berlaku begitu setiap ilmu pengetahuan punya .
filosofinya sendiri sementara setiap filosofi punya ilmu
pengetahuannya sendiri. Suatu pengetahuan ilmiah yang
secara angsung atau tak langsung memberikan inspirasi
pada filosofi, suatu pengetahuan ilmiah yang dipertahan
kan oleh filosofi yang bersangkutan.
Aku sering teringat emak selama pengembaraan
pencarian pengetahuan di jalur keilmuan karena intisari
ucapannya yang relevan sering bergema di mimbar
perkuliahan Sorbonne, walaupun ia diucapkan dalam
bahasa yang berbeda oleh para guru besar, sering
dikumandangkan oleh buku-buku ilmiah meskipun ia
ditulis dengan kata-kata asing yang tidak pernah dikenal
emak.

Bab 19
EMAK DAN SENI LUKIS
Ketika berusia tiga tahun aku mulai sering ditinggalkan
di rumah sendirian. Pagi-pagi kakak-kakakku pergi ke
sekolah. Tak lama kemudian menyusul emak dan bapak.
Mereka pergi ke kandang lembu. Dari situ emak biasanya
terus ke ladang, kadang-kadang ditemani bapak. Kalau
banyak urusan di kandang bapak tetap bekeija di situ
sampai sore dengan dibantu oleh si Bager. Mantri
kesehatan yang secara teratur datang memeriksa
kebersihan kandang benar-benar melarang pemilik lembu
membawa anak-anaknya yang masih kecil ke kandang.

Betapapun bersihnya, kandang-kandang lembu tetap
merupakan sarang bakteri katanya. Baru setahun
kemudian aku kadang-kadang dibolehkan ikut ke ladang
atau ke kandang.
Sebenarnya selain aku ada si Amisha di rumah. Anak
si Bager ini selalu datang sebelum emak dan bapak pergi.
Sebagai pembantu rumah keijanya setiap hari mencuci
pakaian, menyeterika, membersihkan rumah dan
halaman. Jadi dia tidak bisa kuharapkan menjadi teman
bermain, apalagi dia anak perempuan dan sebaya
dengan Kak Marni. Maka begitu semua sudah pergi dan
pintu pagar ditutup, tinggallah aku seorang diri.
Walaupun pagar kayu rumahku cukup tinggi aku tidak
merasa terpenjara. Mula-mula memang rasa sepi tetapi
di balik kesepian itu aku mendapat kebebasan untuk
berbuat sesuka hati.
Halaman rumah yang cukup luas penuh dengan
berbagai pohon dan tanaman. Kebebasan awal yang
mula mula kurasa adalah bebas untuk memanjat pohonpohon
yang ada. Si Amisha yang dipesankan emak untuk
mengawasi gerak-gerikku, di samping menjalankan
tugas-tugas pokoknya, tidak melarang aku naik-turun
pohon dan berayun-ayun di dahan. Dia hanya
mengingatkan supaya berhati-hati. Setelah bosan dengan
panjat-memanjat pohon, aku berburu kupu-kupu dan
capung. Kedua jenis serangga ini banyak beterbangan
karena di halaman terda pat berbagai macam bunga.
Kalau telah lelah aku berbaring di balai-balai bambu di
keteduhan sambil menatap awan yang bergerak di langit
biru. Sesekali kulihat ada elang melayang-layang di
ketinggian itu. Kupikir-pikir alangkah enaknya elang itu,
bisa terbang tiaggi, melayang dengan bebas kian kemari.

Suatu hari ketika aku sedang mengejar-ngejar kupukupu
dan capung, emak pulang ke rumah lebih cepat
daripada biasanya. Rupanya dia hendak mengambil alat
yang ketinggalan untuk berladang sesudah
membereihkan kandang. Aku tunjukkan kepadanya
beberapa ekor kupu-kupu dan capung yang berhasil
kutangkap dengan memakai getah nangka yang
kulengketkan di ujung lidi. Hampir semua serangga itu
sudah mati sedangkan yang masih hidup sudah tak
karuan bentuk badannya karena getah itu.
”Untuk apa kau tangkap kupu-kupu dan capung ini?”
tanya emak. “Dan dengan memakai getah lagi hingga
sayap dan badannya lengket. Ekornya pun turut
terpelintir. Kasihan kan?!.
“Serangga-serangga ini indah sekali, Mak. Coba Mak
lihat badan capung-capung ini. Ada yang kuning, ada
yang merah, ada yang putih bergaris-garis hitam, serta
sayapnya yang halus seperti sutera. Demikian pula kupukupu
dengan sayapnya yang berwama-wami ini, bagai
kain yang dicap keindahannya,” jawabku membela diri.
“Oh, begitu?! Menurut emak ada dua cara untuk
menikmati keindahan serangga-serangga ini. Pertama,
mengejar dan menangkapnya dan lalu mengamati
bangkainya yang makin mengering dan kian pudar
keindahannya. Kedua, duduk diam-diam sambil melihat
serangga-serangga ini menari-nari dengan lincahnya di
sela-sela bunga, masing-masing dengan bentuk dan
warnanya yang tersendiri, menampilkan suatu keindahan
yang hidup dan serasi. Cobalah pikirkan, emak agak
terburu-buru nih.”

Setelah berkata begitu emak bergegas mengambil alat
yang tertinggal, kemudian mencium ubun-ubun kepalaku
dan lalu pergi lagi.
Kupikir-pikir ucapan emak ini ada benarnya. Memang
berbeda sekali kulihat keindahan serangga-serangga ini
selagi hidup dan ketika sudah mati. Dan keindahan ini
pun kelihatannya lebih cemerlang di saat mereka
beterbangan di sela-sela bunga yang juga indah. Semua
ini memang menyajikan suatu “keindahan yang hidup”
Emak, seperti biasa, memang benar. Aku dapat
menikmati dan merasakannya. Entah mengapa, timbul
hasratku untuk menggoreskan pemandangan yang indah
itu di tanah. Aku lalu mencorat-coret tanah dengan lidi.
Dan perbuatan ini, menggambar di tanah, ternyata dapat
juga memberikan suatu kepuasan.
Sebagian halaman di depan dan samping rumah
memang dibiarkan emak begitu saja, terbuka, tak
berumput, tidak ditanami apa-apa. Kalau ada rumput
yang tumbuh di situ terus dicabut hingga akar-akarnya.
Dan sekarang di halaman bertanah bersih ini, yang
dipakai sebagai tempat menjemur tilam dan bantal serta
hasil ladang setelah dipanen, aku mulai berbuat sesuatu
yang baru dengan kebebasanku, yaitu menggambar.
Seperti ada suatu kekuatan dalam yang mendorongku
berbuat demikian viB Dengan goresan lidi di tanah aku
menggambarkan kupu-kupu dan capung, awan elang,
pohon jambu yang sedang berbuah. Di tanah itu
kugambar pula kakak-kakak yang pergi ke sekolah, emak
yang sedang menyiangi ladang, bapak yang sedang
memandikan lembu di sungai. Kugambarkan juga diriku
yang sedang main layang-layang dan memanjat pohon.
Aku tak tahu bahwa goresan-goresan di tanah itu kiranya

disebut sketsa bila dibuat dengan notlot atau pena di
atas kertas. Aku pun tak tahu bahwa keseluruhan garisgaris
yang membentuk gambaran itu disebut sebagai
lijntekening dalam seni lukis. Yang aku tahu ketika itu
adalah bahwa membuat garis-garis yang digoreskan
dengan lidi mi ternyata memberikan kepadaku suatu
kepuasan tersendiri, tidak sama dengan kepuasan dalam
memanjat pohon atau kepuasan ketika menangkap kupukupu
dan capung atau kepuasan di saat berhasil
menangkap layang-layang lepas, tetapi toh suatu
kepuasan.
Puluhan tahun kemudian baru aku sadari bahwa
semangat lukisan Timur, the spirit of oriental painting,
justru terletak di dalam garis-garis itu; ia dikatakan
filosofis dan estetis, sesuatu yang terpisah dari realitas.
Dalam lukisan umur bentuk atau warna tidak ditampilkan
sebagaimana adanya. Lukisan tersebut merupakan
sebuah gambaran yang subyektif, menurut apa yang
dipikirkan oleh sang pelukis, yang kusadari benar ketika
itu adalah apresiasi positif mak bapak dan kakak-kakakku
terhadap gambar-gambar yang kugariskan di halaman
rumah. Sikap mereka yang sangat mendukung ini
menambah kegairahanku untuk enggambar di tanah
hingga agak mengurangi kegiatanku ini panjat pohon
atau berburu kupu-kupu dan capung. Hal itu sangat
melegakan hati dan pikiran emak karena dengan begitu
aku mulai menjauhi kegiatan-kegiatan yang SS terkilir,
patah tulang atau terluka.
Beberapa bulan kemudian Kak Marni, atas anjuran
emak memberikan kepadaku satu bundel kertas tulis tak
bergaris, potlot dan setip. Dengan begitu latar dan alat
kegiatanku dalam melukis beralih dari tanah dan lidi

kekertas dan potlot Melukis dengan potlot di atas kertas
memberikan kepadaku suatu pengalaman baru. Aku tidak
Tanya bisa membuat gambaran melalui gans-gans, tetapi
memungkinkan aku memberikan bentuk pada gambaran
melalui nuansa kehitaman potlot, hingga mengesankan
adanya bentuk tiga dimensional, cahaya dan bayangan
Namun kadang-kadang aku kembali menggambar di
tanah karena bidang yang bisa digambar pasti jauh lebih
luas daripada permukaan kertas tulis, seluas halaman
rumah itu
Sesekali kakak-kakakku ikut-ikut pula menggambar di
situ. Bahkan emak pun pernah turut serta mencoratcoret
di tanah. Bukan main gembiranya kami semua
ketika itu. Lebih-lebih emak, kelihatan sekali betapa
bahagianya dia ketika memperlihatkan kepada kami,
anak-anaknya, apa yang dulu juga pernah membuat dia
senang dan mengetahui betapa kegembiraan anakanaknya
telah menyatu pada kesenangannya tersebut.
Di antara perlengkapan belajar yang disiapkan emak
untukku ketika hendak masuk Sekolah Dasar Melayu
terdapat satu dus berisi 12 potlot warna. Sudah tentu
potlot warna ini bukan atas permintaan Kepala Sekolah
tetapi atas prakarsa emak sendiri. Pada waktu potlotpotlot
itu mui dipakai tiga tahun kemudian pada jam
pelajairan meggambar, potlot-potlot itu panjangnya
sudah berkur & rata-rata separuh karena telah kupakai
menggambar diri di rumah selama ini. Jadi ketika temanteman
aaku dikelas tiga baru mulai belajar mewarnai
gambar, aku sudah tidak canggung lagi. Maka selain
memuji keterampilanku guru meminta aku membantu
teman-teman yang masih mengalami kesulitan.
Penggunaan cat air baru diajarkan di tahun berikutnya, di

kelas IV. Bagiku hal ini juga bukan merupakan sesuatu
yang baru karena sudah kulakukan
Mungkin sekali karena laporan guru kelas IV ini.
Kepala Sekolah-Engku Azhari-meminta kesediaanku
untuk ikut membuat gambar-gambar yang akan dipakai
sebagai tema dalam pelajaran mengarang yang telah
diberikan sejak kelas III. Gambar-gambar ini berukuran
sebesar karton dan akan digantung sebagai perhiasan di
dinding kelas III, IV dan V. Untuk keperluan ini Engku
Azhari-yang mengajar di kelas V, yaitu kelas terakhirmembentuk
sebuah tim yang terdiri dari lima orang
murid yang dianggapnya kuat dalam menggambar. Dua
orang di antaranya berasal dari kelas IV, si Sjahroel dan
aku, dan sisanya adalah murid-murid dari kelas V.
Gambar-gambar itu kami buat setiap hari Jumat karena
sesudah sembahyang di mesjid madrasah libur dan pada
hari Minggu. Namun baru dua kali menggambar dua
orang sudah mengundurkan diri, si Sjahroel dari kelasku
dan si Djoefri dari kelas V.
Selama belajar di sekolah dasar ini minatku terhadap
menggambar dengan garis-garis, seperti yang dulu ku>-
lakukan di tanah halaman rumah, terangsang kembali.
Rangsangan ini datang dari ilustrasi yang terdapat di
setiap jilid buku ajar membaca sejak kelas I hingga kelas
V, beijudul “Matahari Terbif. Setelah aku masuk di HIS
baru kuketahui sebutan kategoris dari gambar-gambar
ilustratSC W.K. de Bruin tersebut, yaitu “lijntekening”
Sementara itu gambar-gambar yang kubuat semakin
menjadi naturalistis. Semua yang kulihat dan menarik
perhatianku kucoba memindahkannya ke atas kertas:
lanskap, pemandangan bunga, buah-buahan, binatang
dan manusia. Kemahiranku menggambar makhlukTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
makhluk yang bernyawa ini menimbulkan kritik dari
beberapa gelintir teman semadrasah, termasuk Sjahloel
dan Djoefri. Menurut mereka menggambar manusia dan
binatang dilarang dalam agama Islam dan itulah
sebabnya mengapa orang tua mereka mendesak mereka
untuk keluar dari tim menggambar di sekolah. Tapi dulu
mereka takut mengatakan alasan ini kepada Engku
Azhari.
Setiap hal yang membingungkan, seperti larangan
menggambar dalam Islam ini, tentu kusampaikan kepada
emak. “Ah, omong kosong itu,” kata emak tanpa berpikir
lama. “Yang dilarang, setahu emak, adalah membuat
gambar Allah dan Rasul. Kita tidak bisa menggambarkan
wujud mereka. Tuhan adalah zat, bagaimana
melukiskannya? Yang dapat kita lukis dan tidak dilarang,
adalah perwujudan kebesaran-kebesaran-Nya, buktibukti
kekuasaan-Nya dalam mencipta, seperti yang bisa
kita lihat sehari-hari di sekitar kita, berupa alam dengan
segala isinya, yaitu matahari, bulan, bintang, tumbuhtumbuhan,
binatang, manusia ….”
“… Tapi menurut teman-teman, kalau yang kita
gambar itu adalah manusia atau binatang, nanti semua
ini akan menagih nyawa kepada kita di akhirat.”
“Itu pun merupakan pendapat yang sungguh-sungguh
tak masuk di akal,” kata emak sambil tertawa. “Semua
gambar yang kau buat itu adalah bentuk-bentuk datar
yang mati sejak semula, bukan dimatikan, bukan kau
matikan. Sama saja keadaannya dengan gambar-gambar
isi alam lainnya. Bukankah menurut Pamanmu, dan
dibenarkan oleh Mas Singgih, Tuhan menyuruh kita
mempelajari alam dan segala isinya? Bila demikian emak
kira Tuhan pasti tidak melarang kita menggambarkan

semua itu sebagai tanda kekaguman dan penerimaan
kita atas ciptaan-ciptaan-Nya tersebut. Maka kalau
dengan mempelajari semua itu kita mendapatkan
kepandaian, yaitu ILMU, dengan menggambarnya kita
juga memperoleh kepandaian, yaitu SlH
Dan Tuhan katanya sangat menghargai orang-orang
yang pandai di bidang-bidang yang diridhoi-Nya”
“Lalu bagaimana dengan menggambar Rasul?”
“Muhammad SAW memang seorang manusia. Jadi
berwujud, berbadan jasmani. Namun sebagai Rasulullah
yang penting adalah semangatnya. Sama halnya dengan
zat yang adanya Allah, bagaimana menggambar
semangat ini?
Kita mungkin bisa melukiskan zat dan semangat
tersebut dengan kata-kata, dengan musik, tetapi pasti
tidak muali kin dapat melukiskannya dengan gambar.”
Walaupun begitu emak menganjurkan aku untuk
menanyakan hal ini pada Ustad Hasan Basri. Dan ustad
sependapat dengan emak. “Tak ada larangan semacam
itu,” katanya. “Emakmu benar sekali. Bahkan di Persia
dan ada tradisi menggambar dan melukis yang khusus
menghasilkan manuskrip dan risalah keagamaan. Kalau
kau mau melihatnya, datanglah ke rumah kapan saja.”
Ketika aku singgah di rumahnya, ustad menunjukkan
kepadaku beberapa buku berbahasa Arab mengenai
lullah, riwayat hidupnya, peluangannya serta kisah israk
dan mikraj. Buku-buku ini penuh dengan ornamen dan
ilustrasi yang menggambarkan Rasulullah Muhammad
dan lain-lain Rasul serta Nabi yang ditemuinya selama
perjalanan malam hari dari Masjidil Aksa ke

Sidratulmuntaha, malaikat Jibril yang bersayap seribu,
para bidadari, surga dan neraka. Buku-buku ini dibeli
ustad di Mesir ketika dia belajar di Al Azhar. Tidak ada
orang-orang yang meributkan buku-buku semacam itu di
sana, dijual untuk: umum di toko-toko buku biasa. Dan
menurut dia pida% yang kuucapkan untuk memperingati
maulud nabi, nuzulul quran dan israk-mikraj dia susun
banyak sedikitnya dari uraian-uraian buku-buku tersebut,
yang memang autentik ia akhirnya menganjurkan aku
untuk membuat kaligrafi, Sebulan kemudian kuberikan
kepadanya gubahan kaligrafiku yang pertama, yaitu
“bismillahir rohmanir rohim berupa burung terbang.
Bukan main senang hatinya. Bahuku ditepuknya
berulang-ulang.
Selagi belajar di HIS pengetahuan umumku bertambah
luas. Perlengkapan sekolah berbahasa Belanda ini jauh
lebih memadai daripada sekolah Melayu padahal secara
formal kedua-duanya merupakan sekolah dasar. Ia
mempunyai ruang perpustakaan tersendiri. Bukubukunya
sebagian terbesar buku Belanda. Sisanya bukubuku
berbahasa Melayu terbitan Balai Poestaka yang
praktis sudah kubaca semua. Di dinding setiap kelas
bergantungan schoolplaten yang dipakai sebagai sarana
berbahasa Belanda. Gambar-gambar ini mengingatkan
aku akan gambar-gambar dinding yang pernah aku buat
di sekolah Melayu dahulu. Kemampuan teknisku dalam
menggambar juga bertambah berkat perhatian khusus
dari Meneer Soemarno, de tekenleeraar, kepadaku.
Setelah kutunjukkan kepadanya beberapa sketsa dan
lukisan yang pernah kubuat, dia mengatakan bahwa aku
sebenarnya tidak perlu lagi mengikuti pelajaran

menggambar di sekolah ini. Pada jam tersebut aku bebas
untuk berbuat apa saja.
Kesempatan ini tidak kupakai untuk santai bermainbermain,
tetapi kumanfaatkan untuk membuat sketsa
tentang sekolah, keadaan lingkungannya dan istana
Sultan Deli berikut mesjid Maimoon serta taman bunga
yang terletak tidak jauh dari sekolah. Hal-hal yang
kulakukan ini ternyata sangat dihargai oleh Meneer
Soemarno. Apresiasi ini dinyatakannya dengan sebuah
hadiah berupa satu kotak pastelkrijt merk Greyhound.
Dia mengatakan supaya aku datang ke rumahnya kapan
saja agar dituntunnya bagaimana memadai kapur
gambar tersebut. Aku pernah diajaknya untuk
mengunjungi pameran pelukis Basoeki Abdoellah di Hotel
de Boer. Dia yang membayarkan karcis masuk sebesar
lima sen untuk anak sekolah. Beberapa bulan kemudian
aku ditraktir lagi ketika pelukis Frederick Kasenda
berpameran di Grand Hotel Di setiap pameran itu dia
berusaha menerangkan kepadaku kekuatan, kelemahan
serta kelebihan dan kekurangan dari setiap lukisan yang
ada d.pandang dari sudut sapuan kuas, dan kombinasi
warna, licht en schaduw dan keseimbangan perhatian
sang pelukis.
Dalam periode ini pula aku mulai mendapat
penghasilan dari kemampuanku melukis. Pertama,
dengan menggambar wajah dan kedua, membuat
ilustrasi di bidang pernovelan Membuat gambar wajah
berawal pada suatu kebetulan sama sekali tak terpikirkan
sebelumnya. Teman karib dari Babah Sm Ko Han
meninggal dan keluarga yang kemalangan ini
memerlukan sebuah gambar wajah yang berukuran agak
besar dari almarhum. Babah Sin yang mendengar aku

pandai menggambar dari anaknya, yang adalah sahabat
karibku, menyuruh si anak menanyakan kesediaanku
membuat gambar wajah yang diperlukan itu.
Tapi Apek, saya belum pernah membuat gambar
seperti itu, kataku penuh keraguan.
“Ayolah Daoed, kau pasti bisa. Saya yakin itu,” kata si
Apek penuh keyakinan. Tukang potret pasti tidak bisa
memperbesar foto sebesar itu. Ayo, cobalah, ada
keluarga yang sangat memerlukannya. Ini foto dari
teman ayah yang meninggal itu.”
Dia menberikan sebuah pasfoto yang harus
kuperbesar sampai seukuran 50 cm Syaratnya hanjs
persis sepert. Foto yang ber warna hitam putih, dan
harus bisa siap besok pagi. Ini berarti aku harus
menggambar sepanjang malam. Ketika kutanyakan
pendapat emak, dia tidak segera menjawab.
”Terserah kau sajaIah’” katanya kemudian. “Jangan
lupa bahwa besok kau harus bersekolah- Namun ini
merupakan tantangan, benar-benar suatu tantangan.
Aku terima tantangan itu. Gambar itu kubuat dengan
menggunakan konte bubuk hingga jadinya bisa halus
bagai sebuah foto. Menjelang subuh gambar itu siap,
persis seperti wajah yang tertera di pasfoto. Sebelum
berangkat ke sekolah gambar itu kuserahkan kepada
Babah Sin. Dia sangat puas setelah melihatnya, demikian
pula si Apek. “Saya sudah tahu kau ini hebat,” katanya
memuji dengan mengacungkan jempolnya. nBut you are
always so modest lah” Dua hari kemudian aku menerima
honor sebesar 15 gulden, suatu jumlah yang cukup
besar, sebesar gaji bulanan dari seorang kerani muda di
kantor.

Sejak itu aku menjadi terkenal di kalangan komunitas
Cina. Pesanan gambar mulai mengalir. “Kau ini
mengembangkan suatu keahlian yang aneh,” komentar
Kak Ani bersenda-gurau. “Lama-lama kau menjadi
tukang gambar Cina mati. Hati-hati kau, nanti ada hantu
yang datang menggoda!”
“Ah, tidak juga Kak,” jawabku. “Lihat foto suami isteri
ini. Mereka ini orang-orang Cina yang masih hidup, sehat
dan segar bugar, pemilik salah satu toko di
Cantonstraat.”
Di antara pesanan gambar yang aku terima memang
datang dari orang-orang yang masih hidup. Mereka ingin
dibuatkan gambar wajah yang berukuran besar, persis
seperti foto, yang tukang potret ketika itu belum mampu
membuatnya. Dengan membuat gambar-gambar wajah
ala foto ini, kemahiranku membuat gambar wajah
semakin meningkat. Aku sendiri sebenarnya tidak puas.
Menggambar wajah hitam putih ala foto kulakukan bukan
karena pilihanku. Aku lakukan semua ini tidak karena
dorongan artistik. Namun aku selalu berusaha membuat
yang lebih sempurna daripada yang sudah kulakukan
sebelumnya mengenai setiap pekeijaan. Dalam bekeija
yang kuutama-kan adalah kepuasanku sendiri. Hasilnya
ternyata diterima baik oleh setiap pemesan. Padahal
yang kumimpikan sebenarnya adalah melukis wajah
berwarna dari orangnya langsung duduk berpose di
depanku sebagai model, bukan menggambar wajah
h,tam putih ala foto berdasarkan foto pula. Karena rasa
tidak puas inilah maka aku tak membubuhi namaku di
atas semua gambar wajah yang aku buat itu.
Ceritanya lain bila mengenai pembuatan ilustrasi
dihidang pernovelan. Kerja seperti ini memang sangat

aku inginkan, sudah lama kupikirkan sebelumnya dan
semakin terangsang setelah aku melihat school platen
yang ada di HIS. Maka kuberanikan diri ke kantor
penerbit seri “Cendrawasih” yang setiap bulan
menerbitkan sebuah novel pendek. Redaksi bersedia
memberikan aku kesempatan yang pasti tak akan aku
sia-siakan begitu saja. Aku berusaha keras untuk
membuat ilustrasi yang pertama ini sebaik mungkin
dengan membuat dua gambar guna dipilih sendiri oleh
redaksi. Ternyata seluruh staf redaksi menjadi bingung
sendiri untuk memilihnya. Akhirnya mereka menyerahkan
kepadaku untuk membuat pilihan. Dengan demikian di
usia 13 tahun, ketika duduk di kelas terakhir HIS, aku
sudah menjadi ilustrator.
Emak bangga sekali dengan prestasiku ini. Buku yang
kulitnya dihiasi oleh gambar buatanku ini dipegangnya
lama sekali, ditimang-timangnya bagai menimang
seorang cucu. Berulang-ulang dia mengalihkan
pandangannya dari ilustrasi ke wajahku, dari wajahku ke
ilustrasi lagi dan demikian berkali-kali. Karena emak tidak
bisa membaca aku katakan kepadanya bahwa di bawah
kanan gambar itu kutulis nama bapak selengkapnya. Aku
pun berjanji akan enceritakan kepadanya garis besar isi
cerita dari buku yang kulitnya kugambar ini. :
“Simpan baik-baik buku kecil ini,” demikian pesan
emak, “demi gambar yang kau buat di kulitnya itu. Sebab
sebuah gambar yang benar-benar baik harus dilihat
berulang-ulang, di saat kau remaja, di waktu kau dewasa
dan kelak di hari tuamu, sebagaimana halnya dengan
sebuah bangunan, pemandangan atau taman yang
indah, seharusnya dipandang di bawah sinar matahari
pagi, di siang hari dan di bawah cahaya bulan.”

Berhubung membuat ilustrasi kulit buku sudah aku
niatkan dengan sadar sejak lama, di setiap gambar aku
bubuhi nama. Karena menggambar ini merupakan suatu
perbuatan yang membanggakan, aku memutuskan untuk
membawa nama keluarga, yaitu “Joesoef. Maka nama
yang kutulis pada setiap gambar dan lukisan adalah “D.
Joesoef. Namun terus terang setiap gambar atau lukisan
yang kubuat tidak memberikan kepuasan yang sama,
karena aku anggap tidak sama baik mutu artistiknya.
Setiap kali aku menyelesaikan sebuah gambar atau
lukisan aku bandingkan karya tersebut dengan apa yang
sesungguhnya ada di alam, dari dunia flora dan fauna,
sebagai tes terakhir. Bila karya tadi kuanggap pantas
bersanding dengan ciptaan Ibu Alam yang tidak bisa
dibuat oleh manusia itu, ia kunyatakan bermutu dan
kutandai dengan nama “D. Joesoef. Bila karyaku itu
kelihatannya kurang sebanding ia kuanggap kurang dan
kutandai dengan nama “D. Joes”. Sudah tentu perailaian
seperti ini sangat subyektif sebab apa yang kuanggap
kurang bermutu tadi adakalanya sangat memuaskan
pandangan artistik teman-teman. Untunglah yang
sebaliknya tidak pernah teijadi. Akibat dari penggunaan
nama seperti ini adalah bahwa teman-teman yang belum
mengenal aku sebelumnya memanggilku dengan sebutan
“Bung Joes” saja.
Pada suatu sore rumah kami didatangi oleh seorang
laki-laki dewasa yang kelihatannya agak berang. Tanpa
basa-basi dia langsung mengatakan kepada emak, yang
kebetulan sedang berada di halaman depan, ingin
bertemu dengan jsaudara D. Joes” Aku sendiri tengah
berada di sumur menimba air. Emak segera
memberitahukan hal ini kepadaku sambil mengingatkan

bahwa sang tamu kelihatannya tidak bermaksud baik.
Aku pun bergegas menemui tamu yang tak diundang itu.
“Ya, ada apa Bang?. Kataku dengan mendekatmya
sekalem mungkin. Memang kuikat sikapnya tidak ramah
sama sekali.
Orang itu lama menatap aku seperti tidak percavaSl
diperhatikannya benar-benar dari ubun-ubun hingga
uiuns kaki, berulang-ulang. “Kau benar-benar yang
bernama D. Joes?”
Aku mengangguk. Agak heran juga aku sebenarnya
“Kalau Abang tak percaya,” kataku, “silakan tanya
kepada para tetangga, orang sekampung ini, bahkan
kepada Penghulu.” Aku semakin percaya diri
menghadapinya.
“Kau yang membuat gambar ini kan?” Nada suaranya
semakin merendah. Dia menunjukkan kepadaku buku
seri “Cendrawasih” yang terbaru berjudul “Tahi Lalat
Tiruan” karangan Joesoef Sou’yb. Ini sebuah roman
detektif yang kocak. Sebagai ilustrasi kulit buku saku ini
kugambar seorang perempuan cantik dengan tahi lalat di
pipi, duduk dekat jendela gerbong kereta api.
”Ya’ Saya,ah yanS menggambarnya Bang,” kataku
masih terheran-heran. “Ada apa rupanya?”
Tamu itu tidak segera menjawab. Akhirnya dia tertawa
sendirian, terbahak-bahak. Kemudian dia menyalami
emak dengan sopan santun dan menjabat tanganku lama
sekali. Sikapnya kelihatan semakin ramah dan rileks.
”Mak, nama saya Wan Ibrahim,” katanya
memperkenalkan diri kepada emak dan aku. “Maaf
beribu maaf kalau sikap saya terlalu kasar, tidak sopan.

Saya memasuki halaman rumah ini tadi memang dengan
rasa amarah dan jengkel… karena cemburu buta.” .
Cemburu?” emak dan aku saling memandang, tak
mengerti duduk perkara. “Mengapa cemburu?”
“Wajah perempuan yang digambar oleh dik Joes ini mirip
sekali dengan wajah Siti Noerhajati… istri saya.”
“Ooh begitu,” ucap emak dan aku serentak. Aku
bernafas lega, kukira emak demikian pula.
Tadinya saya curiga pelukis D. Joes ini adalah seorang
dewasa seperti saya. Tak saya sangka dik Joes masih
remaja, masih semuda ini, lebih pantas menjadi adik
kami daripada menjadi pemuda yang harus dicurigai,
dicemburui.”
“Syukurlah masalah dik Berahim kini telah jelas
terjawab sendiri,” kata emak.
“Ya Mak, bagi saya sudah jelas sekali duduk
perkaranya. Semua ini pasti suatu kebetulan belaka,”
sambung Wan Ibrahim. “Saya khilaf dan terlalu keburu
nafcu. Saya malu sekali dan merasa bersalah besar. Tadi
sebelum kemari saya dan istri sempat bertengkar karena
tuduhan-tuduhan saya.”
“Emak percaya bahwa si Siti, istrimu itu, tentunya
cantik sekali.”
“Begitulah Mak … dia dulu gadis tercantik di kota kami
… diberi julukan Mawar kota Bengkalis…”
“Pantas sekali kalau suaminya menjadi pencemburu.”
Wan Ibrahim tersenyum kesipuan mendengar kelakar
emak. Tak baik begitu dik Berahim,” kata emak

selanjutnya. “Kalau sudah berumah tangga, suami istri
seharusnya saling percaya-mempercayai.”
Setelah berkali-kali minta maaf Wan Ibrahim akhirnya
mohon permisi pulang. Rasa menyesal jelas membayang
di wajahnya.
“Jangan lupa meminta maaf pada istrimu sendiri,”
pesan emak berulang kali.
Dua hari kemudian dia datang lagi. Kali ini bersama
istrinya dengan membawa oleh-oleh serantang lauk-pauk
hasil masakannya sendiri. Memang wajah perempuan ini
dengan tahi lalat di pipinya mirip sekali dengan wajah
yang kugambarkan di kulit buku saku seri “Cendrawasih”
itu.
Emak mempersilakan mereka duduk di serambi. ”Dik
Siti rupanya tidak hanya cantik tetapi juga pandai
memasak.” puji emak.
Sebelum pulang Wan Ibrahim sempat menanyakan
kesediaanku untuk melukis istrinya yang cantik itu Dia
telah membawa foto Kak Siti yang sebesar kartu pos
untuk dicontoh. Aku katakan pada Bang Berahim sebai
ny Kak Siti kulukis tidak dari fotonya seperti menggaSi
wajah Cina mati saja. Sebaiknya dia kulukis langsung dari
orangnya dengan memakai pastelkrijt berwarna. Memang
melelahkan karena harus duduk diam berpose berjamjam
tetapi kalau jadi pasti memuaskan yang dilukis dan
yang melukis. Demikianlah, Kak Siti kulukis di rumahnya
selama dua hari berturut-turut karena kebetulan hari
libur Dan hal ini adalah pengalamanku yang pertama
dalam melukis wajah orang yang berpose sendiri sebagai
model. Bang Ibrahim yang sangat puas melihat lukisan

ini memberikan aku honor sebanyak tiga ringgit. Dia
adalah pengusaha kopra pinang.
Aku diterima di MULO pada saat Kerajaan Belanda
baru saja diduduki Jerman dan Ratu Wilhelmina sudah
mengungsi ke Inggris. Di sekolah ini aku juga mendapat
perhatian yang tersendiri dari tekenleeraar Meneer Ter
Haasse. Di sekolah lanjutan berbahasa Belanda ini ada
sebuah niangan khusus untuk pelajaran menggambar.
Perpustakaan sekolah menyediakan pula buku-buku yang
berisi reproduksi dari karya pelukis-pelukis besar Belanda
seperti Rembrandt, Rubens, Jan Vermeer, Van Gogh,
Breitner dan ain-lain. Dengan segera aku menjadi
pengagum Rem-brandt yang sangat mahir menampilkan
lighr en schaduw pada tampang orang-orang yang
dilukisnya. Garis-garis sketsanya juga impresif sekali.
Kalau ada hari libur Meneer J Haasse mengajak aku
membuat sketsa atau dstafereel karena dia tahu aku
senang berbuat demikian sambil berusaha meningkatkan
kemampuan teknisku dalam melukis di luar. Dia pun
memberikan aku sebuah buku tentang Rembrandt karena
dia tahu aku sangat mengagumi pelukis yang satu ini.
Dia juga menganjurkan aku untuk berusaha belajar di
“Ecole des Beaux Arts” di Paris di mana dia dahulu
pernah belajar.”En bovendien,” katanya, “Paris, c’estla
ville lumiere… etsa Sorbonne, sa L’ocuvre, ses parcs … o
la la … o la la …”
Di antara kerumunan orang-orang yang menonton aku
membuat sketsa, kulirik ada seorang Belanda dan
beberapa sinyo dan noni. Yang sedang aku sketsa adalah
seorang pengemis. Di hari Jumat itu dari sekolah aku tak
langsung pulang ke rumah, tetapi pergi ke toko di
bilangan Centrale Passer membeli sesuatu. Ketika hendak

pulang kulihat seorang pengemis tua berdiri di pinggir
jalan. Melihat sosok tubuh yang kurus kering dan
berkeriput itu hatiku terenyuh dan perasaan tergerak
untuk menggambarnya. Aku ajak dia ke taman yang
teduh di sudut pasar agar berpose untukku. Setelah
selesai kuberi dia uang seketip dan sepotong roti yang
kubeli dari penjaja penganan yang ikut berkerumun. Aku
tidak segera pulang, beristirahat sejenak di bangku
sambil menatap sketsa yang baru kubuat tadi. Sang
pengemis juga duduk-duduk di rumput karena kelelahan
berdiri terus-menerus selama kugambar.
Di saat itulah orang Belanda itu menghampiri aku
diikuti dari belakang oleh semua sinyo dan noni yang
sejak tadi memperhatikan aku menggambar. Dia
bertanya dalam bahasa Melayu yang baik apakah boleh
melihat gambar sang pengemis. Aku berikan kepadanya
buku sketsaku. Karena berupa buku dia bertanya lagi
apakah dia dan semua sinyo dan noni yang ada boleh
membalik-balik buku sketsa. Kujawab dalam bahasa
Belanda bahwa aku tidak keberatan. Mendengar aku bisa
berbahasa Belanda mereka kelihatan semakin santun dan
egaliter. Lebih-lebih setelah kujelaskan, karena orang
Belanda itu menanyakan, bahwa aku seorang MULOling’*.
Dia rupanya adalah Guru HBS yang berada di
dekat taman ini dan sinyo serta noni ini adalah muridmuridnya.
Setelah dari kejauhan mereka melihat orangorang
berkerumun mereka berpikir ada kecelakaan atau
insiden lainnya di taman ini , yang merupakan terusan
dari halaman HBS, hanya dipisah kan oleh sebuah pagar
tanaman hidup.
Dia menanyakan apakah sketsa pengemis itu boleh
dibelinya. Aku keberatan karena hal itu berarti aku harus

merobeknya dan buku sketsa. Lalu dia bertanya apa aku
bersedia membuatnya sekali lagi untuk sekolahnya Dia
memperkenalkan dirinya bernama Van Hooyer
tekenleeraar di HBS itu. Dia mengusul supaya gambar ini
kubua di ruang gambar sekolah. Ruang ini kudapati jauh
lebih besa danpada yang ada di MULO dan
perlengkapannya j!ga jauh lebih memadai. Dia
mempersilakan aku memilih medl yang tersedia: karton
serta kertas gambar berbagai ukuran dan warna, konte,
pastelkrijt, cat air, eat poster serta cat minyak. Yang
kupilih adalah selembar karton berukuran 150 x 80 cm
dan konte hitam, putih, coklat dan kuning oker Sekolah
sebenarnya sudah tutup tetapi beberapa guru dan murid
masih ada yang belum pulang. Tanpa diminta, mereka
semua ikut masuk ke ruang gambar melihat apa yang
kulakukan. Karena gambar pengemis ini kubuat untuk
kedua kalinya, dengan model dan posisi yang sama
tanganku sudah seperti bergerak sendiri, bagai menari
kekanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah, menjelajahi
seluruh permukaan karton, selama hampir dua jam.
Setmti3H Pengemis tua sudah berpindah ke atas karton.
Semua yang hadir memuji kecekatanku dan menganggap
ah siap. Tetapi aku sendiri belum puas. Pengemis itu
belum kuijinkan pergi.
”Wat zie je toch in hem?” tanya Meneer Van Hooyer.
Dia pun rupanya menganggap lukisan ini sudah af, sudah
selesai. -Ik zie in hem geen lichaam, geen vlees en bloed,
geen aeraamte, ik zie alleen lijnen, een en al lijnen:
kataku. Sungguh yang kulihat pada diri pengemis ini
adalah tak lain daripada garis keriput di dahinya, di
mukanya, di badannya, tangannya, kakinya. Seluruhnya
merupakan garis garis-garis yang menyatakan kesedihan

dan kesengsaraan hidup … “ja alles, al die lijnen spreken
van verdriet, niet anders dan levensverdriet en ellende.”
“Ah, wat een filosofie,” kata Meneer Van Hooyer. “Nee
Meneer,” tukasku, “het zijn feiten. Hardefeiten die mijn
hand doen bewegen…” Saya masih ragu, belum puas.
Lukisan ini belum siap. Tunggu dulu.
Akhirnya kuketahui di mana letak kekurangan lukisan
ini. Representasi baju pengemis itu, lekuk, lipatan dan
kecompang-eampingannya belum sepenuhnya ikut
mengatakan kesengsaraan si pemakai. Apa yang tertera
di karton baru berupa corat-coret konte, belum lukisan
yang menggambarkan baju pengemis sebagaimana
adanya. Lebih mirip dengan baju jubah pendeta dari
lukisan Hans Holbein. Aku pun mulai memperbaikinya
hingga baju tersebut betul-betul menyatu dengan
penampilan sang pengemis. Selesai dalam 15 menit. Di
bawah kiri lukisan segera kububuhi nama “D. Joesoef.
Aku puas.
“Well, well, eindelijk. Zieje,” kata Meneer Van Hooyer,
tidak tahu kepada siapa. “Hoe groter de kunstenaar,des
to grooter de twijvel. Zelfoverschatting is de troostprijs
van minder begaafden ”
“Wat denk u van mijn tekeningT tanyaku kepadanya.
Dia menatapku dengan senyum keguruan dan berkata
dengan nada kebapakan, “talent is eenjijne spiegel met
een gouden lijst, met de naam van de eigenaar
gegraveerd aan de aehterkant.
Setelah memberi uang kepada pengemis dan
mengizinkannya pergi, tekenleeraar ini ingin pula
memberikan aku honor. Uang itu kutolak dengan halus.

“Dank u zeer Meneer Van Hooyer,” kataku. “Adalah satu
kehormatan buat saya bahwa lukisan saya digantung di
dinding kelas HBS Saya tahu benar bahwa keadaan tidak
akan pernah memungkinkan saya bisa diterima belajar di
sekolah bergengsi ini, betapapun besarnya keinginan
saya untuk itu.”
Tiga hari kemudian ketika hendak pulang, Meneer Ter
Haasse sudah menungguku di tempat penyimpanan keretangin.
Menurut dia Meneer Van Hooyer telah
menceritakan kepadanya segala sesuatu tentang lukisan
pengemis tua yang sekarang sudah digantung di ruang
gambar HBS. “Semua staf pengajar di sekolah itu,
termasuk direkturnya, kagum atas prestasimu itu,”
katanya. “Dan kolega saya, Meneer Van Hooyer,
meminta saya menyampaikan kepadamu paket ini
sebagai tanda penghargaannya. Dia meminta saya yang
menyampaikannya karena khawatir nanti kau tolak lagi.
Kalau kali ini kau tolak juga tentu dia akan kecewa sekali.
Well, terimalah!”
Paket itu kuterima. “Tolong sampaikan terima kasih
saya,” kataku. Keseluruhan paket itu terdiri dari beberapa
helai kanvas, kuas, lijnolie, satu kotak cat plakat dan satu
kotak cat minyak, serta sebuah buku. Buku ini, baik
bentuk, ukuran maupun kertasnya, sama persis dengan
buku sketsa biasa. Tetapi di setiap halamannya tercetak
reproduksi sketsa dari Walter Spies tentang aspek
kehidupan dan alam sejak dari Sabang, Jawa hingga Bali.
Buku ini dimasyarakatkan oleh maskapai pelayaran
“Rotterdamsche Lloyd” dalam rangka promosi
kepariwisataan. Emak menyuruh aku membuat surat
ucapan terima kasih kepada Meneer Van Hooyer.
Menurut emak biar bagaimanapun paket dan

penghargaan itu bukan datang dari orang biasa, tetapi
dari seorang guru kepada seorang murid. “Biarpun dia
seorang Belanda yang belum kau kenal sebelumnya dan
kau sendiri bukan muridnya langsung, dia adalah seorang
GURU dan kau seorang MURID. Dan guru harus
dihormati. Guru adalah orang tua kedua dari murid di
sekolah. Camkan itu di pikiran dan hatimu!”
Semasa pendudukan Jepang aku tak bersekolah lagi,
walaupun pendidikan formalku di tingkat menengah
pertama belum selesai. Bukan karena MULO diubah
menjadi Tjuu Gakko tetapi berhubung sistem pengajaran
di sekolah menengah pertama ala Jepang ini menjadi tak
menentu. Di sekolah ini ditampung pelajar-pelajar
pindahan dari Madrasah Sanawiah dan para lulusan dari
Madrasah Ibtidaiah, Sekolah Dasar Melayu dan HIS. Hari
liburnya bukan lagi Minggu tetapi Jumat. Sudah tentu
para guru juga bingung karena harus mengajar muridmurid
yang datang dari sistem persekolahan yang sangat
berlainan fokus pendidikannya. Belum lagi adanya
keharusan bagi mereka untuk bisa menguasai bahasa
Jepang secepat mungkin. Sementara itu semua murid
dikerahkan setiap hari untuk berkinro hosi, bergotong
royong demi kemenangan peperangan Asia Timur Raya.
Yang musti dikeijakan oleh murid-murid dengan
keharusan berkepala gundul ini adalah memperluas
lapangan terbang Polonia di bawah terik matahari.
Lapangan terbang yang sudah ada sejak zaman Belanda,
demi perluasannya, dijadikan satu dengan lapangan
pacuan kuda dan lapangan golf yang terletak di
sebelahnya. Pelajar yang dianggap lamban ditempeleng
oleh serdadu Jepang, ditendang, bahkan ada yang
dipukul dengan sekop hingga pecah kepalanya. Maka

tidak sedikit yang memilih keluar dari sekolah, termasuk
aku sendiri, setelah berusaha bertahan selama hampir
enam bulan. Waktu yang selama ini kupakai untuk
bersekolah se karang kumanfaatkan seluruhnya untuk
membaca. Buku yang disita oleh penguasa Jepang dari
semua rumah dan gedung perkantoran Belanda
dikumpulkan di gedung AVROS, tempat Pakcik Leman
dulu bekerja.
Gedung ini lalu dijadikan sebuah perpustakaan umum.
Kesinilah aku datang membaca hampir setiap hari. Di sini
aku bertemu dengan beberapa mantan guru HIS, MULO
dan praktis semua murid yang keluar dari Tjuu Gakko.
Pergaulan kanu menjadi sangat akrab, bagai pergaulan
dari orang-orang yang senasib sepenanggungan, yang
sulit menyesuaikan diri pada keadaan yang sama sekali
berbeda, hingga bahasa yang dipakai secara spontan
adalah bahasa Belanda Kami pun mendapat pelayanan
yang khusus dari Kepala Perpustakaan ini, seorang
pensiunan guru MULO yang menjadi terhalang untuk
kembali ke kampung halamannya di Jawa. Dan di sini
pulalah aku menjadi semakin dekat dengan Nasjah, yang
nama lengkapnya adalah Noer Alamsjah Djamin.
Sebenarnya kami sudah saling mengenal di MULO,
namun ketika itu jauh dari akrab, hanya sebatas . “hallo”
atau “goede morgen” kalau kebetulan berpapasan.
Nasjah Djamin seorang yang pendiam, baru berbunyi
kalau disapa. Kemahirannya dalam membuat sajak, syair
dan pantun jauh lebih besar daripada dalam membuat
lukisan.
Yang pasti kegemaran kami ada yang pereis sama,
yaitu membaca dan membaca. .

Ketika penguasa Jepang membuka Bunka Ka, kantor
propaganda yang berkedok kebudayaan dan
membutuhkan Pelukis, Nasjah dan aku melamar keija di
sini. Mula-mula kami ragu-ragu melakukannya karena
pada dasarnya kami sudah membenci Jepang yang
tindak-tanduknya serba kasar dan terus terang agak
biadab. Namun ada pengumuman penguasa yang
menetapkan bahwa orang-orang dewasa yang tidak
punya pekeijaan yang tetap atau tidak bersekolah, tidak
akan diberi kartu pembagian bahan makanan pokok. Ada
pula desas-desus akan ada rekrutmen dikalangan
pemuda yang menganggur untuk dijadikan heiho.
Lamaran kami diterima. Ada delapan pelukis yang bekeija
I di Sini, dua di antaranya pernah menempuh pendidikan
formal khusus dalam seni di “Indonesische Nijverheid
School” di Kayu Tanam. Sisanya adalah otodidak,
termasuk aku.
Ada pula seorang yang sangat berpengalaman di
bidang periklanan, Bang Kamil, karena di zaman Belanda
dia bekerja di sebuah Biro Reklame Belanda. Dari dia aku
kemudian banyak belajar tentang seluk beluk membuat
poster, slide iklan untuk bioskop dan membuat berbagai
macam H huruf yang artistik dan menarik.
Divisi seni rupa dari Bunka Ka terpisah letaknya dari
kantor pusat. Divisi ini menempati gedung yang di zaman
Belanda adalah toko “De Zon” di Jalan Kesawan. Ruang
besar di depan yang dahulu sehari-hari merupakan
tempat memamerkan baju-baju dan asesori modieus, kini
menjadi tempat pameran permanen di mana dipajang
poster-poster propaganda yang dikirim dari Jepang dan
yang dibuat oleh staf pelukis Bunka Ka. Sudah tentu
semua poster menggambarkan serdadu-serdadu Nippon

yang gagah perkasa sementara di dalam kota semakin
banyak berkeliaran romusha. Mereka ini dibawa
penguasa dari Jawa dan setelah mereka tak berdaya lagi
untuk diperas tenaganya di berbagai proyek kemiliteran,
mereka dilepas begitu saja ke jalan mencari makanannya
sendiri, mengais-ngais tempat sampah bagai anjing. Tak
ada seorang pun dari mereka gg yang tidak berkudis.
Setiap kali kulihat sosok-sosok manusia yang malang
ini, aku teringat pada lukisan pengemisku di zaman H
Belanda dahulu. Garis-garis yang menandai penampilan
para romusha di zaman Jepang ini lebih rapat, tidak
hanya menyatakan kepedihan dan kesengsaraan, tetapi
lebih banyak lagi: kepedihan, kesengsaraan, penipuan,
pemerasan, penindasan, kesewenang-wenangan.
Pokoknya semua yang berlawanan dengan
perikemanusiaan. Dibandingkan dengan garis-garis
pengemisku yang dahulu, garis-garis romusha tersebut
jauh lebih mencekam perasaan. Tanganku tak kuasa
menggerakkan konte untuk menggambarkan penampilan
mereka.
Gedung HBS di mana lukisan pengemisku digantung
sudah dijadikan asrama oleh tentara Jepang , tak tahu
aku bagaimana jadinya nasib lukisan itu sekarang serta
keadaan bahan-bahan menggambar dan mematung
ahulu mengisi leman, rak dan meja di ruang menggam af
Jangan-jangan semua ini dicampakkan begitu saja oleh
serdadu-serdadu yang menempatinya atau bersamasama
bangku sekolah dijadikan bahan bakar guna
memanasi tong-tong mandi para perwiranya, Mudahmudahan
bahan-bahan itu disita dan sekarang turut
mengisi gudang divisi seni rupa dari kantor Bunka Ka ini
dipimpin oleh -orang sipil. Kabarnya dia adalah pewaris

dari pemilik salah satu perusahaan raksasa di negerinya.
Badannya tinggi besar, kalau bukan karena matanya
yang sipit, Kikuo san ini bisa disangka seorang bule. Dia
seorang karikaturis yang sangat mengagumi
impresionisme dalam Seni lukis terutama yang serba
Perancis dan relatif lancar berbahasa Inggris. Dia
kelihatannya tidak oegitu peduli pada ambisi militeristis
pemerintahnya dan Kadang-kadang mengutarakan
ucapan-ucapan yang sangat is. Dia tidak pernah
menyembunyikan impiannya untuk bisa belajar lagi di
Bunka Daigaku di Tokyo. Dia pulalah yang langsung
mengatakan kepada kami, semua staf pelukisnya, ketika
Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika
Serikat. “The war is over. We loose ne … we loose | m
loose …katanya berkali kali.
Begitu Jepang bertekuk lutut dan Indonesia
menyatakan kemerdekaannya di bulan Agustus 1945,
para pelukis yang ada di Bunka Ka berprakarsa
membentuk suatu organisasi seniman yang dinamakan
“Angkatan Seni Rupa Indonesia” (ASRI). Organisasi ini
ternyata mendapat sambutan yang baik. Tidak kurang
dari 20 orang pelukis datang menggabungkan diri, yang
pekeijaan sehari-harinya tidak di bidang seni. Ada yang
pedagang, guru, kerani, tetapi senang melukis. Dalam
rapat anggota yang lengkap, diadakan pemilihan
pengurus. Pelukis senior Bung Hoessein ditetapkan
menjadi Ketua, Nasjah Djamin sebagai Sekretaris, aku
sebagai Bendahara. Tugas utama dari pengurus ini
adalah mengadakan pameran besar-besaran di bulan
Desember 1945. Dan pameran ini ternyata menjadi
pameran kolektif pertama yang pemah ada dalam
sejarah kota Medan. Sementara itu semua anggota mulai

bergerak membuat poster dan menulis slogan-slogan
peijuangan di tembok, di dinding kantor dan di dinding
gerbong kereta api berhubung serdadu NICA sudah
datang dengan membonceng tentara sekutu.
Keterampilanku dalam melukis ternyata sangat
bermanfaat ketika aku harus pergi jauh dari rumah,
merantau mencari ilmu pengetahuan. Pemanfaatan ini
sangat dibantu oleh ketidakcanggunganku untuk bekeija
dengan tangan berkat didikan emak. Ketika sampai di
Palembang pada bulan Oktober ’46, dalam peijalanan
darat ke pulau Jawa, kulukis putra dan putri dr. M. Isa,
Residen Sumatra Selatan, untuk mendapatkan tambahan
uang. Setelah tiba di Banten dua minggu kemudian
persediaan uang yang kubawa ternyata tak ada gunanya
lagi. Uang Republik Indonesia telah keluar, semua uang
Jepang dinyatakan tidak berlaku lagi dan kesempatan
menukarnya sudah ditutup. Perahu yang kutumpangi
untuk menyeberangi Selat Sunda mengalami mati angin
hingga terlambat dua hari tiba di Anyer.
Lalu uang RI kuperoleh dengan H i Bung Karao dan
Bung Hatta bagi kantor Residen di serang. Guna
memperoleh uang sewaktu ber SMA di Yogya seusai
sekolah kudatangi toko-toko di sepanjang Malioboro yang
merek usaha atau warna temboknya sudah agak luntur.
Biasanya ada satu dua toko menerima jasaku mengecat
atau melabur. Kalau pekerjaan ini agak banyak, Tino
kuminta untuk membantu. Aku juga menggunakan
kemampuanku melukis sebagai sumber mencari nafkah
semasa awal pemukimanku di Jakarta. sambil mengikuti
kuliah di Fakultas Ekonomi Univsitas Indonesia.
Selama tahun ’51-52 aku pernah menjadi ilustrator
pada penerbit “Poestaka Rakjat” dari Sutan Takdir

Alisahbana, membuat poster film-film India untuk
Bioskop Grand di Prapatan Senen dan poster drama yang
dipentaskan di panggung Miss Tjitjih di Kramat.
Sesudah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia
oleh Belanda kepada Indonesia, beberapa pelukis yang
secara fisik bermukim di Yogya dan Solo pindah ke
Jakarta, d, antaranya beberapa pelukis muda asal umatra:
Nasjah, Tino, Nashar dan Zaini. Sewaku Belanda
menyerbu dan menduduki Yogyakarta dalam agresi
militernya yang kedua di penghujung tahun ’48, Nasjah
dan fino menyingkir ke luar kota dan kemudian mengikuti
pasukan Divisi Siliwangi berlong mareh kembali ke Jawa
Barat. Mereka berdua turut menyaksikan betapa pasukan
m merebut kembali kantong-kantong basis pertahanan
RI ai situ yang terpaksa ditinggalkannya di bulan Februari
’48 karena tuntutan Persetujuan Renville sebulan
sebelumnya. an Perjalanan panjang herois ini Nasjah
mendapat ilham agi penulisan novelnya “Sekelumit
nyanyian Sunda”, tiaf anyak membuat sketsa yang
sangat bernilai dokumenter, api sayang hilang
berceceran karena berkali-kali pindah pondokan selama
di Jakarta atau dipinjamkan kepada teman yang tidak
pernah mengembalikannya.
Tino pernah mau menyerahkan sketsa-sketsanya itu
pada komandan kesatuan yang diikutinya sejak keluar
dari Yogya agar diarsipkan sebagai dokumen peijuangan
pasukan Divisi Siliwangi. Komandan tersebut menolak
karena skesta-sketsa itu dianggapnya sebagai lukisan
atau kerja belum selesai. Nasib sketsa peijuangan yang
kubuat kiranya tidak lebih baik daripada itu. Selama
agresi militer Belanda yang pertama di paruh kedua
tahun 1947, kesatuan Tentara Pelajar di mana aku

bergabung mengambil posisi di front Kedu-Ambarawa.
Berbagai aksi anggota TP ini kuabadikan dalam sketsasketsa
spontan di tempat kejadian. Teman-teman sangat
meminta agar semua sketsa yang kubuat itu disimpan
saja di pos TP Brigade 17 yang menempati dua ruang
kelas dari SMA B Kota Baru. Ketika pasukan payung
Belanda menyerang Yogya pagi-pagi tanggal 19
Desember 1948, anggota TP yang kebetulan berada di
pos ini, sebelum angkat kaki, membakar semua catatan
yang ada di situ, termasuk sketsa peijuangan TP yang
kubuat. Rupanya bagi teman-teman ini sketsa itu
diperlakukan sebagai dokumen rahasia yang pantas
dihancurkan agar tak jatuh ke tangan musuh, sedangkan
bagiku ia merupakan bahan yang bernilai sekaligus
artistik, dokumenter dan historis yang pantas dijaga guna
diteruskan ke anak cucu agar diketahui.
Di awal tahun 50-an ini Nasjah pernah mengatakan
kepadaku ada ide beredar yang ingin membentuk sebuah
organisasi untuk mewadahi kegiatan-kegiatan artistik,
semacam “De Bataviasche Kunstkring” tempo doeloe.
Kabarnya Belanda bersedia membantu melalui “Stichting
voor culturele samenwerking” (Sticusa) yang sudah
diben-tuk. Lalu dia mengajakku untuk ikut aktif
berpartisipasi mewujudkannya. Kupikir ini suatu ide yang
baik, namun aku tak mau ikut campur. Kukatakan kepada
Nasjah bahwa aku sudah jera hidup berorganisasi
dengan nara w berdasarkan pengalaman selama aktif me
“Seniman Indonesia Muda” dulu. Para Seniman ini adalah
orang-orang baik, solider pada keadaan sesama, peduli
pada nasib dan penderitaan rakyat namun pada
umumnya sangat tidak tertib, tak memperdulikan orde,
apalagi waktu walaupun lengannya memakai jam. Aku

memang menyukai kesenian tetapi tak senang pada
kehidupan seniman yang serba bohemian, tak teratur,
onverschillig. Artinya, aku tak mau lagi menetap dengan
ikatan organisatoris di dunia seniman. Memang kuakui
perlu dibina subkomunitas artistik sebagai bagian
konstitutif dari komunitas nasional di samping
subkomunitas bisnis, subkomunitas religius’
subkomunitas keilmuan dan lain-lain. Memang perlu ada
kesempatan bertemu secara teratur antara pelaku dan
pencinta seni dan, karena itu, perlu ada tempat yang
memfasilitasi pertemuan-pertemuan tersebut. Namun,
sekali lagi, aku tak ingin ikut campur.
“Lalu Joes, apa kegiatan intelektualmu di hari-hari
mendatang?” tanya Nasjah.
“Nas, saya sudah berhasil memulai suatu peijalanan
panjang ke arah menuntut ilmu pengetahuan dan ini
akan saya teruskan. Saya akan berusaha memenuhi
syarat untuk bisa menetap di lingkungan subkomunitas
keilmuan dari komunitas nasional kita. Di dunia keilmuan
ini ada juga keindahan, tapi di sini pun ada tata tertib,
disiplin, dalam erpikir dan berbuat, yang kau tahu sangat
saya senangi.” Apakah ada satu ilmu khusus yang kau
tuju?” , ,
Tidak Nas. Akan saya dalami ilmu pengetahuan apa
yang sanggup dicernakan oleh otak saya. Sebagai
angkah awal saya mulai dengan mempelajari ilmu
ekono’ttle economies. Dari sini nanti akan menyebar
bagai Percikan minyak.”
“Aha … in de voetstappen van Hatta. Ik weet dat je
hem van vroeger af bewondert … Apakah ini berarti kau
akan melupakan begitu saja seni lukis?”

SHelemaal niet! Gila kau. What is life without art?!
Saya akan terus mendalami seni lukis dengan jalan
membaca, memperhatikan kaiya-karya yang dipamerkan,
mengamati bagaimana para pelukis mencipta dan tentu
saja melukis bila ada waktu yang senggang. Ya, menjadi
semacam zon-dagschilder kalau menurut julukan sinis
kalian para seniman. Tapi jangan lupa Nas bahwa saya
ikut mendirikan organisasi ‘Angkatan Seni Rupa
Indonesia’ (ASRI) di Medan dan ikut membentuk
organisasi ‘Seniman Indonesia Muda’ (SIM) di Solo dan
pernah menjadi Ketua dari cabangnya yang ada di
Yogyakarta. Saya tidak pernah menyesal di-royer oleh
Soedjojono dari SIM karena lebih suka memilih
bersekolah daripada menjadi seniman seratus persen
seperti yang dikehendakinya. Terlalu eentonig kalau
hidup ini dilakoni hanya dengan melukis. Saya pikir saya
mampu meningkatkan mutu artistik lukisan dan sketsa
saya dengan jalan otodidak seperti yang selama ini sudah
saya lakukan.”
“Saya rasa kau pasti bisa Joes. Kau memang berbakat
melukis. Maka jangan sia-siakan pemberian Tuhan ini.
Bakat itu besar dan padamu ia betul-betul alami, bukan
hasil sekolahan.”
“Nas, kau pernah mengatakan hal ini kepada emak,”
kataku. Memang benar, Nasjah telah mengatakan hal ini
dulu kepada emak. Dia ketika itu aku undang ke rumah
untuk membantu memilih lukisanku yang pantas untuk
dipamerkan di bulan Desember 1945. Setelah melihat
koleksi karyaku satu per satu, dia mengatakan kepada
emak, “Si Joes eh si Daoed, sungguh berbakat Mak.
Sayang tidak dari dulu saya mengenalnya hingga tidak
bisa banyak belajar melukis dari dia. Lukisannya sebagai

keseluruhan, ya wajah, ya lanskap, ya stilleven, sudah
bercorak Indonesia.”
“Apakah kau masih ingat Nas bagaimana tanggapan
emak atas pernyataanmu itu?” tanyaku. Nasjah tidak
segera menjawab. Peristiwa itu terjadi kira-kira lima
tahun yang lalu. Dia kelihatan berusaha mengerahkan
seluruh daya ingatnya. Akhirnya dia berkata, ”Ya begini
… Emak kira-kira mengatakan, nak Nasyah, emak bukan
orang sekolahan. Emak tak paham apa yang
dimaksudkan dengan bakat itu. Kalaupun bakat itu
memang ada yang emak ketahui adalah bahwa di
samping bakat tersebut, agar berhasil, masih ada katakata
lainnya yang perlu disadari, bahkan dihayati, yaitu
disiplin, rajin, kemauan, percaya diri, kritis dan, di atas
semua itu ketekunan.

Bab 20
Emak dan seni musik
Lagu apa itu Daoed?” tanya emak dengan suara
bernada menampik. Aku sedang memutar piringan hitam
yang baru saja kupinjam dari Pakcik Leman.
“Musik jaz, Mak,” sahutku. “Kabarnya lagu jenis ini
sedang naik daun di Amerika. Di sini pun kata orang
jumlah penggemarnya semakin banyak.” Karena emak
diam saja kulanjutkan, “Emak tak suka, ya?!”
“Iramanya terlalu oranye!” komentar emak. “Bahkan
pada umumnya cenderung kemerah-merahan … panas!”
Dengan ungkapan ini jelas sudah betapa emak tak
menyenangi musik jaz. Sebaliknya dia sangat menyukai

senandung Melayu dan keroncong, lagu Mesir tertentu
yang dinyanyikan oleh Oum Kalsoum dan berbagai musik
klasik Barat, terutama An der schonen blauen Donau dari
Johann Strauss, termasuk himne-himne Natal dan Tahun
Baru. Koleksi piringan hitam kami sarat dengan lagu-lagu
tersebut. Dalam pandangannya lagu-lagu kegemarannya
itu berwarna serba hijau, kebiru-biruan … teduh …
menyejukkan. Maka itu kalau sedang memetik kecapi
atau memainkan harmonium lagu-lagu seperti itulah
yang sering dilantunkannya. Tak jarang dia sendiri
bernyanyi dengan diiringi suara musiknya itu.
Kalaupun emak biasa memberikan “warna” pada lagu
dan menilainya berdasarkan tafsiran tersebut, setahuku
dia tidak begitu mempedulikan “makna” dari alunan
suara atau irama musik.
“Saya merasa tak perlu mempertanyakan makna dari
kicauan burung atau dari matahari terbit di pagi hari
yang berembun. Semua itu terjadi, terdengar dan terlihat
apa adanya, dan semua itu indah,” katanya.
Namun aku tahu benar bahwa di samping nada suara
dan irama lagu, emak sangat memperhatikan isi dari lirik
nyanyiannya, yang berupa pesan, nasihat, penyadaran
dan puja-puji ketuhanan.
Uak Djohar Kamaruzzaman dari Kampung Sekip
pernah mengajak emak bergabung dalam perkumpulan
orkes gambus yang dibinanya. “Bila ditanggap orang,”
katanya, “selain memperoleh imbalan uang, gambus ini
memberikan hiburan yang bernafaskan syiar agama pada
orang banyak. Jadi bermanfaat bagi masyarakat.”
Emak menolak ajakan ini. “Musik, termasuk gambus,
memang merupakan hiburan,” kata emak. “Namun, Bang

Djohar, kata ‘hiburan’ tersebut kiranya tak cukup untuk
mengatakan apa-apa yang sebenarnya diperbuat oleh
musik dan semua yang dapat dilakukannya. Kata itu
bahkan sama sekali tidak mengungkapkan hubungan
batin antara musik dan si pemusik, antara lagu dan si
penyanyi. Saya memang suka musik yang memberikan
jiwanya pada saya, untuk kemudian saya resapi dan lalu
membaginya dengan orang-orang yang saya kasihi, yaitu
suami dan anak-anak saya.”
Emak memang memanjakan kami dengan kemampuan
musikalnya itu. Hal ini terasa betul bila kami sedang
dirundung sakit. Pada waktu itu musiknya ini merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari usaha penyembuhan
yang diberikannya dengan penuh kasih sayang. Dan lagu
yang telah mempesonanya dia ciptakan suatu keindahan
musikal yang baru, mengolahnya menjadi suatu realitas
artistik tersendiri dan membaginya dengan kami agar
dinikmati bersama.
Bapak kelihatan sangat menghargai kemampuan emak
ini. Dia sendiri merupakan anggota yang aktif dari
kelompok marhaban, kasidah dan rebana yang dibentuk
oleh pengajian di surau. Biasanya kelompok ini
menggelar kebolehannya bila ada peringatan Maulud
Nabi, Israk-Mikraj, Nuzulul Quran dan upacara pemberian
nama kepada bayi yang baru lahir. Kakak-kakakku
rupanya tidak berminat pada seni musik. Mereka lebih
tertarik pada seni kerajinan tangan serta memasak
makanan dan mempelajari semua itu dengan tekun dari
emak. Aku sendiri pernah berniat belajar memetik gitar.
Niat ini menjadi semakin kuat ketika ada sebuah
keluarga yang baru pindah ke Kampung Darat. Keluarga
ini menyewa rumah Haji Hassan yang terletak di ujung

lorong kediaman kami. Anak tertua di keluarga ini, Bang
Saimun, adalah penyanyi dari orkes Keroncong Rindu
Malam. Orkes yang satu ini, di bawah pimpinan seniman
serba bisa Lili Soehairi, sangat terkenal di Deli karena
telah berkali-kali menjadi juara dalam perlombaan
keroncong yang diadakan oleh Nirom (Nederlandsch
Indische Radio Omroep Maat-schappij) Medan. Biasanya
menjelang perlombaan tersebut, orkes ini berlatih dua
kali seminggu di rumah Bang Saimun dan kalau hari
Minggu, sehari penuh, dari pagi hingga petang hari.
Karena sama-sama tinggal selorong, aku seringkah
menghadiri latihan-latihan di hari Minggu itu.
Niat ini kemudian kubatalkan begitu saja. Pasalnya
adalah tingkah laku Bang Saimun yang lama-kelamaan
sangat menyebalkan emak. Aku pikir emak memang
benar. Karena terpesona oleh kecantikan kakak-kakakku,
Bang Saimun semakin lama semakin kerap mondarmandir
di depan rumah kami setiap petang sambil
memetik gitar dan adakalanya disertai dengan nyanyian
lagu keroncong atau senandung Melayu. Suaranya
memang merdu, bukan kebetulan kalau orkes
keroncongnya terus-menerus menjadi juara. Dia rupanya
tahu persis kalau kami sekeluarga biasa duduk-duduk di
beranda depan, termasuk kakak-kakakku, sesudah mandi
sore hari.
Perbuatannya ini jelas menjadi gunjingan orang-orang
sekampung dan diri kakak-kakakku disebut-sebut dalam
gunjingan itu. Karena tak tahan lagi emak pada suatu
hari langsung mendatangi rumah penyanyi tenar ini.
Kepada ibunya emak mengatakan celaannya terhadap
tingkah laku anaknya itu. Sejak itu Bang Saimun tidak
lagi mondar-mandir di depan rumah kami untuk

menunjukkan kebolehannya dalam seni musik.
Belakangan kudengar dia berbuat begitu bukan saja
berkat teguran keras dari emak, tetapi karena
mengetahui dari para tetangga tentang kependekaran
bapak.
Sewaktu ber-SMA di Yogyakarta aku sempat belajar
main biola. Pelajaran ini baru beijalan enam bulan ketika
Belanda melansir aksi polisionalnya yang kedua dan
langsung menduduki Ibu Kota R.I. ini. Semua sekolah
ditutup dan aku mulai aktif menulis slogan-slogan anti
Belanda di tembok, di pohon, di mana saja, di tempattempat
umum, dengan cat dan biaya sendiri. Untuk
peijuangan yang berisiko tinggi ini aku lebih suka tidak
melibatkan siapa pun, menjadi a single and lone fighter
saja. Bagai elang, seperti kata bapak, yang berani
terbang sendirian.
Berhubung kesempatan mencari nafkah dengan jalan
melabur tembok toko atau membuat papan reklame
sudah tidak mungkin lagi, persediaan uangku cepat
menyusut. Aku terpaksa menjual milikku yang masih ada
peminatnya ketika itu dan ini berarti terbuka dua pilihan.
Menjual biola atau buku-buku tertentu. Kudengar sekolah
musik tempat aku belajar selama ini bersedia membeli
kembali biolaku. Kulihat tidak sedikit petinggi militer dan
sipil Belanda datang ke Toko Buku Nasoetion mencari
buku-buku lama tentang Indonesia dan kukira beberapa
di antaranya ada dalam koleksiku. Setelah aku pikir
masak-masak kuputuskan untuk menjual biola saja, sans
regret, ni rancune.
Sewaktu belajar di Sorbonne, adakalanya kami
bertiga-istri, anakku dan aku-menelusuri Sungai Seine. Di
trotoar dari jalan sepanjang tepi sungai yang membelah

kota Paris ini terdapat bouquinistes yang menggelar
buku-buku tua dan perangko langka. Ketika iseng-iseng
membalik-balik halaman sebuah buku tua mengenai gaya
hidup dan sikap beberapa seniman besar, aku tersentak
dan segera teringat emak. Betapa tidak. Di situ kubaca
betapa Franz Liszt menegur para musikus yang sedang
asyik berlatih dengan ucapan: “Tuan-tuan, tolong buat
sedikit lebih biru – nada jenis ini memerlukan corak
tersebut!” Rupanya musikus tenar ini biasa membuat
teguran-teguran seperti itu, mengingat bacaan ini masih
mengetengahkan ucapan kritisnya yang lain dengan
kata-kata: “Ingat , beralihlah ke ungu tua … Pertahankan
itu dan tolong jangan menjadi merah muda!”
Tentu saja aku menjadi penasaran. Nalarku benarbenar
tertantang untuk mengetahui lebih dalam
mengenai asosiasi nada dan warna ini. Tidak kurang dari
enam hari kupakai di perpustakaan Sorbonne untuk
melulu mencari dan mempelajari tulisan-tulisan yang
kiranya bisa memuaskan keingintahuanku itu. Bagaimana
hasilnya? Walaupun para musikus dari orkes Franz Liszt
sudah terbiasa dengan teguran-teguran yang mereka
anggap eksentrik tersebut, tanpa memahami dengan
benar apa yang dimaksudkan oleh sang Maestro, berkat
tulisan-tulisan yang kubaca itu menjadi jelas bagiku
duduk perkaranya. Rupanya emak, Liszt dan orang-orang
berbakat lainnya, yang melihat warna ketika mendengar
musik, sedang mengalami suatu kondisi yang sepintas
lalu bisa dianggap aneh, disebut oleh ilmu pengetahuan
sebagai synaesthesia.
Menurut Dr. Penelope Lewis, seorang neuroscientist
dari Oxford, ada orang-orang yang memang tidak hanya
mendengar musik tetapi mereka dapat pula melihatnya.

Dalam berkeadaan synaesthesia suatu stimulus terhadap
salah satu dari pancaindra, katakanlah musik, ditanggapi
dengan baik tidak hanya sebagai suara, tetapi juga oleh
beberapa sistem keindraan lainnya. Jadi musik, misalnya,
mungkin “dilihat” sebagai bentuk-bentuk berwarna yang
terproyeksi ke udara, atau bentuk-bentuk yang dilihat
bisa jadi ditanggapi sebagai bau-bauan. Maka menurut
ilmu pengetahuan yang mendalami masalah ini,
synaesthesia bukanlah suatu kepura-puraan. Artinya, ada
orang-orang tertentu yang betul-betul mengalami apaapa
yang diucapkannya. Synaesthesia pada umumnya
terdapat di kalangan perempuan dan orang-orang kidal,
ditaksir satu orang di antara 300 penduduk yang
berbakat.
Eksperimen menunjukkan bahwa synaesthetes-yzitu
orang-orang berkondisi synaestfiesia-menunjukkan suatu
derajat konsistensi yang tinggi dalam memadu stimulus
dengan tanggapan. Dalam salah satu bentuk umum dari
perpaduan itu, huruf, angka dan not balok kelihatannya
punya warna yang spesifik, walaupun huruf, angka dan
not itu tertera hitam di atas putih. Dengan menggunakan
teknologi tertentu scientists meneliti kegiatan otak dalam
kondisi synaesthesia. Kegiatan otak dari orang-orang
yang sedang diteliti itu, yang melihat warna ketika
sedang mendengar suara dengan mata tertutup, ternyata
tidak hanya berkaitan dengan bidang-bidang yang
berhubungan dengan pendengaran, tetapi juga dengan
bidang-bidang yang berurusan dengan penentuan warna.
Kadang-kadang yang sekaligus terangsang tidak hanya
satu tanggapan tambahan. Synaesthete bernama Carol
Crane mengaku meresapi suara musik bagai sentuhan di
kulitnya. Dia merasakan berbagai bunyi alat musik

seperti menyentuh berbagai bagian dari tubuhnya;
misalnya biola membelai mukanya, gitar selalu mengelus
mata kakinya, terasa bagai sapuan yang lemah lembut.
Seniman lain, Oliver Messiaen, yang melihat warna dalam
kaitannya dengan musik, menggubah beberapa karya,
seperti Oiseaiuc Exotiques dan L’Ascetision, di mana dia
berusaha mengetengahkan gambaran dengan
menggunakan suara.
Ternyata kehadiran sejumlah synaesthetes di kalangan
seniman dan penggubah semakin menonjol. Mereka
memakai bakat sebagai sumber ilham atau paling
sedikitnya mengetengahkan suatu perspektif atau
pendekatan alternatif, yang menjajaki multi-sensory
stimulation dalam seni, mengkombinasikan warna, suara
dan tarian untuk memaksimalkan dampak emosionalnya.
Maka pada pertengahan abad XIX dan awal abad XX
lahirlah suatu gerakan seni yang dirangsang oleh
synaesthesia tersebut.
Salah seorang tokoh yang menonjol dalam gerakan ini
adalah Wassili Kandinsky (1866-1944), seorang pelukis
asal Rusia dan anggota dari kelompok Blaue Reiter. Dia
banyak menulis tentang pengalamanpengalamannya
sebagai synaesthete suara/warna. Mengenai komposisi
Lohengrin karya Wagner, misalnya, dia mengatakan:
“Biola, nada besar dan rendah dari bas dan khususnya
alat-alat tiup, betul-betul merupakan suatu kekuatan
menjelang malam buat saya. Dalam pikiran saya terlihat
warna, bagai terpampang dr depan mata. Garis-garis
yang menggila tergores di hadapan saya.” Salah satu
tujuan dari seni Kandinsky adalah membangkitkan suara
bagi pemirsa/penonton, menyuguhkan suatu pictorial
equivalent bagi musik. Maka pendekatannya ini

melengkapi usaha pemusik Messiaen yang berusaha
melukis dengan suara.
Jadi menurut scientists gejala synaesthesia memang
terbukti ada. Artinya, emak, Franz Liszt dan berbagai
tokoh seni lainnya itu, bukan mengada-ada. Mereka
mengungkapkan apa-apa yang benar-benar mereka
alami. Sebuah teori mengatakan bahwa memadukan
berbagai indra bagi otak anak adalah normal. Kalaupun
kebiasaan ini tidak terus berlanjut ke usia dewasa karena
beberapa jalan otak ke arah itu tidak dipakai semasa
kecil hingga pupus. Namun di kalangan synaesthetes
jalan-jalan otak tersebut rupanya tidak pupus sama sekali
hingga mereka bisa terus mengalami indra-indra
gabungan. Artinya, seorang anak yang terus dirangsang
dengan kombinasi yang tepat dari sensory impulse akan
mempertahankan jalan-jalan otak yang ditargetkan serta
kemampuan synaesthetiknya. Bila demikian, latihanlatihan
yang tepat sejak kecil memungkinkan orang
untuk menjalani hidupnya melalui kaleidoskop
synaesthesia yang cukup mengasyikkan.
Bila emak biasa mengasosiasikan warna dengan suara,
aku cenderung berbuat sebaliknya. Aku kadang-kadang
menautkan suara pada panorama dan gambaran apa
saja yang ditampilkan oleh seni rupa. Berhubung aku
bukan seniman, pasti bukan perempuan dan tidak kidal
pula, kupikir perbuatanku itu terjadi karena aku anak
emak semata-mata. Bukankah ilmu pengetahuan
mengatakan bahwa synaesthesia ada kaitannya dengan
keluarga, jadi punya dasar genetik. Aku sungguh bangga
telah lahir dari rahim emak, perempuan yang berseni
musik secara alami. ?


Bab 21
EMAK DAN PLANET BUMI
”Pemandangan dari pantai menghadap laut selalu
indah ya Mak?!” kataku begitu duduk di dekat emak.
Setelah melirik sejenak sambil menjamah tanganku dia
mengangguk.
Ketika itu kami sekeluarga sedang berpiknik, dudukduduk
di bawah keteduhan pohon-pohon kelapa yang
banyak menghiasi pantai Belawan. Di hari kedua Lebaran
tempat ini masih ramai dikunjungi penduduk, bergembira
ria mandi di laut, berperahu dan makan-makan. Kali ini
kami menyempatkan diri ke pantai merombong dengan
beberapa keluarga sekampung Darat. Ketika sudah bosan
berkecimpung di laut, aku naik ke darat menghampiri
emak. Kudapati dia duduk agak menyendiri sambil
menyusukan adikku. Bapak kulihat duduk tak jauh dari
situ, bergerombol dengan laki-laki lainnya, hingga
sewaktu-waktu dapat menemani emak bila diminta.
“Selain pemandangan alam, ada keuntungan lain yang
kita dapat bila duduk-duduk di pantai menatap laut,” kata
“Apa itu, Mak?” tanyaku.
“Kita disuguhkan bukti bahwa bumi ini bangunnya
bulat seperti bola”, jawab emak. “Ya, katakanlah
merupakan sebuah bola raksasa.”
Walaupun pelajaran di sekolah belum sampai
membahas hal ini, kukira anak-anak sebayaku sudah
mengetahui bahwa bumi ini bulat. Namun, terus terang,

kami tidak pernah terpikir untuk mencari-cari
pembuktiannya.
“Bagaimana rupa bukti itu, Mak?” tanyaku ingin tahu,
mendahului pelajaran di sekolah.
“Lihat baik-baik perahu-perahu yang bermunculan di
permukaan laut di kaki langit!” pinta emak. Setelah diam
sejenak dia bertanya, “Apa yang kau lihat lebih dahulu?”
“Puncak tiang layarnya,” jawabku seadanya.
“Lalu?”
“Layarnya …”
“Teruskan !”
“Baru badannya, semakin lama semakin jelas.”
“Nah, itulah bukti bahwa bumi kita ini bulat,” kata
emak dengan mantap. “Andaikata bumi datar seperti
permukaan meja, yang tampil lebih dahulu di mata kita
dari kejauhan adalah badan perahu, sebab ia merupakan
bagian yang terbesar dari keseluruhan benda ini.”
Karena aku diam saja, sebenarnya sedang meresapi
kebenaran ucapan emak, dia mengeluarkan sebuah jeruk
Berastagi dari keranjang makanan. Dia lalu membuat
garis melingkari kulit jeruk dengan ujung penitinya.
“Bumi kita tentu lebih sempurna bulatnya daripada
jeruk manis ini. Tapi tak apalah. Nah, kalau ada seekor
semut berjalan di kulit jeruk ini mengikuti garis yang
emak buat, artinya menurut tujuan yang tetap, ia
akhirnya pasti sampai lagi pada tempat awal gerakannya
tadi.”

“Mak, apakah ada manusia yang pernah mencoba
mengelilingi bumi seperti semut yang kita umpamakan
mengelilingi jeruk?”
“Setahu emak belum ada sebab bumi ini bukan
dataran seluruhnya. Seperti kau lihat, ada pula lautan
yang tidak dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Namun
menurut Pakcik Leman ada seorang pengarang Perancis
yang menceritakan betapa seorang Inggris telah
mengelilingi bumi dalam tempo 80 hari dengan
menggunakan berbagai jenis kendaraan dengan
kecepatan yang berbeda, melalui udara, darat dan laut”
Setelah sama-sama berdiam diri beberapa saat, emak
berkata lagi, “Daoed, kita kini sedang duduk, tapi
sebenarnya kita tidak tinggal diam. Kita sedang
bergerak.”
“Bagaimana mungkin, Mak?” aku betul-betul
tercengang mendengar ucapan emak ini.
“Karena bumi tidak pernah tinggal diam, tapi terus
bergerak. Artinya, bumi kita ini tidak hanya bulat tetapi
juga bergerak dengan berputar-putar. Berhubung kita
duduk di atas bumi ini, kita dibawanya turut bergerak,
demikian pula pohon-pohon kelapa itu, pokoknya semua
yang berada di bumi. Kita semua digendongnya,
berputar-putar mengelilingi matahari. Maka itu, ada
waktu siang, ada waktu malam, tergantung posisi bagian
bumi yang kita duduki ini sedang menghadap matahari
atau tidak. Sadarilah itu … Ini menyangkut kebesaran
Tuhan, Pencipta seluruh alam.”
“Baru tahu saya, Mak. Paham sudah… Mudahmudahan
kelak ada orang yang bisa berhasil mengitari

bumi seperti yang dikhayalkan oleh pengarang Perancis
itu.”
“Nak, Tuhan tidak pernah menuntut kita agar berhasil.
Dia hanya meminta kita supaya mencoba … mencoba
lagi dan terus mencoba!”
Empat tahun kemudian ketika duduk di kelas V, yaitu
kelas terakhir Sekolah dasar Melayu baru kuperoleh
pengetahuan dasar mengenai seluk beluk ilmu bumi.
Setelah menguraikan bangunan bumi, Engku Azhari
menanyakan siapa yang bisa membuktikan bahwa planet
bumi ini memang bulat. Aku mengacungkan tangan dan
tanpa disuruh pergi ke depan kelas. Dengan kapur
kugambar di papan tulis sebuah bulatan besar. Dari titik
tertinggi bulatan ini kutarik sebuah garis horizontal, yang
kuumpamakan sebagai ketinggian pandang seseorang
yang duduk di pantai. Lalu kugambar sebuah perahu
layar yang bergerak perlahan-lahan naik ke atas bulatan.
Aku tunjukkan di situ bahwa yang lebih dahulu kelihatan
dari titik tertinggi itu adalah puncak tiang perahu dan
bukan badannya. Ketika badan perahu masih berada di
bawah garis horizontal itu, tiang perahu sudah muncul
melewati garis tersebut.
Wah, bukan main baiknya sambutan Engku Azhari
terhadap contoh yang kuberikan itu. “Hebat kau, Daoed,
hebat kau!”, katanya berulang kali sambil menepuknepuk
bahuku. “Dari mana kau peroleh ide pembuktian
seperti ini?” tanyanya.
“Dari emak saya, Engku, ketika empat tahun yang lalu
kami sedang duduk-duduk di tepi pantai,” sahutku.

“Kalau begitu Emakmu itu pandai sekali,” katanya
sunguh-sungguh, “dia pantas menjadi guru.”
Aku diam saja. Namun dalam hati aku berkata,
memang emaklah yang selalu mengajarku hal-hal yang
belum diberitahukan di sekolah. Dan dia pulalah yang
dahulu mendebat Kepala Sekolah yang lama, yang kini
sudah pensiun dan diganti kedudukannya oleh Engku
Azhari, dengan argumen begitu rupa hingga aku diterima
masuk sekolah.
Setelah aku duduk di H.I.S. aku mampu membaca
buku petualangan mengelilingi dunia dalam bahasa
Belanda yang pernah disebut emak enam tahun yang
lalu. Penulisnya adalah Jules Verne dan tokoh yang
ditampilkannya adalah Phileas Fogg, seorang gentlcman
Inggris yang sangat memegang waktu, sama akuratnya
dengan jam besar Big Ben yang dijadikan standar waktu
dunia. Di tahun ’63 aku beruntung bisa mengelilingi
dunia atas biaya Ford Foundation. Aku punya gagasan,
yang disetujui Pimpinan Fakultas Ekonomi UI, untuk
membuka satu jurusan studi van* baru, yaitu Ekonomi
Pemerintahan (Public Economic Administration). Untuk
keperluan penyempurnaan studi ini, Ford Foundation
mempercayai aku membuat studi banding di berbagai
lembaga pendidikan Public Administration di Asia,
Amerika Serikat, Eropa Barat dan Timur serta Inggris.
Di tahun ’67, Ford Foundation lagi-lagi memberikan
aku kesempatan berkeliling dunia. Tujuan utamanya
adalah melihat kemajuan teman-teman dari Fakultas
Ekonomi yang kelak menjadi dosen di jurusan baru yang
kupikirkan itu dan kini sedang belajar di berbagai
universitas Amerika. Kali ini istri dan anakku boleh ikut.
Kami terbang dari Paris di mana kami sudah bermukim,

melewati bagian utara dari bumi, Selat Bering/Lautan
Pasifik dan mendarat di Pantai Barat Amerika. Dari Los
Angeles kami bepergian dengan kereta api dan bus ke
arah New York, melalui berbagai kampus yang telah
direncanakan, dan dari Pantai Timur negeri ini kembali
terbang ke Paris melewati Lautan Atlantik. Kedua
peijalanan keliling dunia tersebut memang tidak
mengikuti track lurus seperti yang digariskan emak
dahulu di kulit jeruk, tetapi gerakannya secara esensial
sudah bisa dianggap mengelilingi bumi.
Di Paris aku berkesempatan bertemu dengan Prof. Dr.
Abdus Salam, pemenang Nobel Fisika asal Pakistan.
Waktu itu dia belum dianugerahi penghargaan bergengsi
tersebut, itu baru terjadi di tahun 1979, namun derajat
keilmuannya sudah terkenal di lingkungan komunitas
fisikawan. Mengingat keterbelakangan dan kegagalan
perkembangan sains di negeri-negeri Islam, dia
mendirikan sebuah International Centre of Physics di
Trieste, mula-mula dengan biayanya sendlri’ guna
mendidik elite keilmuan di Negara-negara Dunia Ketiga.
Usaha ini kemudian dilanjutkannya dengan pembentukan
sebuah Academy of Sciences bagi Dunia Ketiga itu
sendiri.
Karena mengetahui dia sangat saleh dan berasal dari
sebuah keluarga yang taat beragama, salah seorang
pamannya dari pihak ibu adalah ulama penyebar Islam di
Ghana dan Nigeria selama 20 tahun, aku berusaha betul
untuk bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan dia.
Aku diterimanya dengan ramah, lebih-lebih setelah
mengetahui aku datang dari Indonesia, sebuah negeri
berpenduduk muslim yang terbesar dan kini sedang
menyiapkan disertasi di Sorbonne. Sayang waktu

pertemuan relatif singkat karena merupakan jam istirahat
antara dua sessions. Aku terpaksa membatasi diri pada.
beberapa pertanyaan saja, di antaranya mengenai ayat
88 dari Surat An Nami, “see the hills that seems solid,
they are flying as the flight of clouds.”
Berkaitan dengan Surat ini aku tanyakan kepadanya
apakah dia tahu dari bacaan bersumber apa pun,
bagaimana Rasulullah SAW menyampaikannya kepada
para Mukmin dan orang-orang kafir, baik yang Badui
maupun Kuraisy. Padahal isi ayat ini jelas bertentangan
dengan penglihatan sehari-hari. Kelihatannya dia agak
kaget mendengar pertanyaanku ini. Dengan jujur dia
mengatakan tidak pernah berpikir ke arah itu dan setahu
dia tidak ada risalah tertulis yang menyinggung hal yang
kutanyakan ini. Lalu dia balik bertanya mengapa hal ini
kuanggap penting untuk diketahui. Kujawab karena aku
ingin tahu penalaran Rasul hingga dapat meyakinkan
pendengarnya tentang kebenaran ayat-ayat Ilahiah.
Bukankah dia selalu mengatakan agar manusia selalu
memakai nalar (akal, reason)-nya.
Ketika kukatakan bahwa kebenaran ayat tersebut
mungkin bisa dijelaskan melalui disiplin astrofisika, Dr.
Abdus Salam mengangguk tanda setuju. Dan dia cepat
menambahkan betapa sebanyak 750 ayat-ayat Al Ouran
– yang berarti seperdelapan dari seluruh kandungan
Kitab Suci ini-mengingatkan umat Islam supaya
mempelajari alam, merenungi hukum-hukumnya,
memakai akal untuk mencari unsur-unsurnya yang
terakhir dan menyebarluaskan pengetahuanpengetahuan
ilmiah yang mereka peroleh keseluruh
komunitas. Akhirnya dengan nada sedih dia mengatakan
bahwa hanya sebanyak dua persen remaja berusia 18-23

tahun dari negeri-negeri Islam yang mencapai tingkat
rata-rata pengetahuan ilmiah, sedangkan di negaranegara
maju non-Islam jumlah tersebut sebesar tidak
kurang dari duabelas persen.
Setahun setelah aku diangkat menjadi Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet
Pembangunan III oleh Presiden Soeharto, Bung Siin
Irawadhy mengabarkan bahwa dia bermaksud
mendirikan gedung sekolah di Kampung Purba Baru
sebagai ungkapan rasa syukur, di bekas lokasi sekolah
yang pernah dibangun oleh Willem Iskander. Siin adalah
sahabat karibku sejak masih remaja dan bersama-sama
Bung Adi Poetera Parlindungan membuat ikrar semasa
pendudukan Jepang untuk membangun pendidikan
penduduk daerah kami. Aku sudah bekeija di bidang
pendidikan, demikian pula Adi. Karena Siin bergerak di
bidang politik, dia ingin memenuhi ikrarnya dahulu
dengan mendirikan gedung sekolah. Wllem Iskander
adalah seorang terpelajar dari Mandailing yang hidup di
Abad XIX dan sangat berusaha memajukan pendidikan di
kalangan penduduk pribumi, jauh sebelum Ki Hadjar
Dewantara melakukan hal yang sama di Jawa.
Ketika sedang berkendaraan menuju lokasi
pembangunan sekolah tersebut, pejabat setempat yang
menyertai aku di mobil membisikkan bahwa kami akan
melewati kuburan pendiri pesantren di Purba Baru,
seorang ulama besar yang sangat disegani oleh
penduduk setempat. “Bila demikian, Pak Bupati,” kataku
dengan spontan, “kita nanti berhenti sebentar di kuburan
itu untuk berziarah.” Aku teringat Bapak dahulu
berpesan, bila keadaan memungkinkan jangan sekali-kali
melewati begitu saja sebuah pekuburan, kalau kita tahu

bahwa di situ telah dimakamkan orang yang kita kenal
atau seorang ulama, walaupun tak kita kenal
sebelumnya. Setelah selesai membaca Surat Yaasiin
peijalanan kuteruskan. Penjaga kuburan kelihatan
surprised dengan penziarahan mendadak dari seorang
Menteri. Sebagai ungkapan terima kasihnya dia
mengambil salah satu Surat Yaasiin yang tampak
bertumpuk di kuburan ini dan memberikannya kepadaku
untuk kenangan. Sampai sekarang Surat tersebut masih
kusimpan baik-baik.
Ternyata perbuatanku ini menarik perhatian para
pengasuh pesantren yang didirikan oleh ulama besar
tersebut. Mereka mengirim seorang utusan ke lokasi
pembangunan sekolah yang menyampaikan undangan
kepadaku untuk mampir di pesantren dalam peijalanan
pulang nanti. Pak Bupati mengingatkan agar aku nanti
berhati-hati dalam berbicara mengingat para penghuni
pesantren pada umumnya tidak menyukai aku. Kalaupun
mereka sekarang mengundang, hal itu semata-mata
sebagai tanda terima kasih atas penziarahanku tadi. Aku
katakan kepada Pak Bupati bahwa yang tidak
menyenangi aku bukan hanya tokoh-tokoh Islam di
Purba Baru tetapi di banyak tempat di seluruh Indonesia.
Tapi hal ini tidak akan pernah bisa mengubah sikap dan
pendirianku. Keislamanku memang lain daripada yang
mereka yakini. Aku pun tidak pernah menyembunyikan
penolakanku terhadap cara pendidikan agama yang
mereka desakkan di jalur pendidikan umum yang
menjadi tanggung jawabku. Pendidikan itu cenderung
provokatif, manipulatif, menebar benih-benih kebencian,
fanatisme dan kemunafikan. Bila dibiarkan lamakelamaan
hal ini bisa tidak hanya merusak masyarakat,

tetapi menjelekkan citra agama Islam itu sendiri. Maka
sebagai muslim sejati aku berusaha membuat Islam
menjadi religion of reason dan bukan religion of hate and
fear.
Di depan gapura pesantren kudapati para ustad dan
santri telah berdiri rapi menyambut kedatanganku.
Kudengar pula lantunan lagu-lagu marhaban. Sebenarnya
aku sudah lelah begitu rupa hingga sampai detik itu pun
belum juga terpikir apa yang akan kukatakan kalau nanti
diminta berbicara. Lokasi pesantren ini indah sekali
karena terletak di daerah pegunungan yang masih
termasuk kawasan Bukit Barisan. Setelah melihat bukitbukit
yang masih membayang di kejauhan sana, aku
teringat ajaran emak tentang gerakan bumi. Aku pikir
inilah tema yang pantas kusampaikan dengan
menggunakan Ayat 88 dari Surat An Naml sebagai titik
tolak pembicaraan. Eureka!
Lantunan marhaban sudah lama berhenti, namun aku
dengan sengaja tetap menatap bukit-bukit di kejauhan
itu. Sikapku ini rupanya diperhatikan oleh semua hadirin
dengan penuh keheranan. Mereka jadi ikut-ikutan
melihat ke kejauhan sana tanpa mengetahui persis apa
yang menjadi obyek pengamatanku. Akhirnya seseorang
memberanikan diri mendekati aku, mungkin dari
Pimpinan pesantren, sambil bertanya perlahan-lahan apa
gerangan yang sedang kuamati.
“Saya lihat bukit-bukit di kejauhan itu bergerak-gerak,”
jawabku tanpa melepaskan pandanganku ke arah sana.
Sesuai dengan dugaanku, dia dan semua orang yang
berdiri di dekatku pasti tidak melihat demikian. Namun
mereka enggan membantah, mungkin khawatir dianggap
tidak sopan. Karena mereka diam saja aku kutip ayat

yang menegaskan bahwa bukit-bukit yang kelihatan diam
terpaku itu sebenarnya bergerak, “Wa taral jibaala
tahsabuhaa jaamidatau wa “W tamurru marras sahaab.”
Di dalam pesantren yang sudah dipadati dengan
dengan bamuan s^uah bola butut sebagai alat
ga, aku jelaskan gerakan bumi. Pada kulit bola ini
kugambarkan laut dan daratan yang ada, berupa benua,
pulau dan kepulauan. Karena bumi bergerak, kataku,
semua benda yang berada di kulit bumi, termasuk
gunung dan bukit, ikut bergerak. Bagai bisul yang
tumbuh di tubuh kita, kalau kita bergerak, ia turut pula
bergerak. Maha Benar Allah dengan segala firmannya.
Dan kebenaran tersebut dibuktikan oleh ilmu
pengetahuan.
Jadi saya yang Saudara-saudara lihat sekarang tegak
tak bergerak di mimbar, kataku selanjutnya, sebenarnya
sedang bergerak. Malaikat yang sedang melayang-layang
di langit pasti melihat saya sedang raun-raun di angkasa
dengan kecepatan 1675 km per jam. Kalau dari matahari
saya kelihatan menggelantung di sebuah roda putar
raksasa yang sambil berputar-putar sedang mengitarinya
dengan kecepatan 97.000 km per jam. Bila dari titik yang
lebih jauh lagi, misalnya, dari tepian Galaksi Andromed’a,
yaitu gugusan bintang yang terdekat dengan Galaksi
Bimasakti di mana bumi tergolong, bumi kita ini kelihatan
berputar-putar, mengorbit, dan akhirnya raun-raun di
dalam galaksinya dengan kecepatan rata-rata sebesar
853.000 km per jam. Bila semua ini kita tambahkan,
berarti saya dan Saudarasaudara, yang berada di
Khatulistiwa, garis lintang nol derajat, kini sedang
bergerak dengan kecepatan 951.675 km per jam. Kalau
ditakdirkan berumur panjang dan saya bisa berdiri lagi di

tempat ini puluhan tahun mendatang, mungkin gerakan
saya ini akan bertambah kecepatannya berhubung Alam
Semesta di mana kita ditakdirkan berada sedang
memuai.
Maka bukan kebetulan kalau Kitab Suci Al Ouran ada
menyebut berbagai macam waktu, yaitu waktu
penciptaan, waktu keberadaan di sisi Tuhan dan waktu
Jibril. Waktu penciptaan disebut dalam Surat Yaasiin
sebagai bagian dari satu detik di antara kaf dan nun dari
perkataan “kun”. Selanjutnya “sehari di sisi Tuhan”
adalah sama dengan Sg! waktu bumi, sebagaimana
disebut dalam Surat Al Hajj dan Surat As Sajdah.
Akhirnya ayat keempat dan Surat Al Ma’aarij menyebut,
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (terbang) menghadap
Tuhan dalam sehan yang ukurannya sama dengan
50.000 tahun.”
Jadi penting membiasakan diri untuk berpikir bahwa
segalanya bergerak menuju atau menjauhi sesuatu.
Tidak ada yang tinggal diam. Ketika saya kemarin dulu
menumpang pesawat terbang menuju Medan dari
Jakarta, sesuai dengan arah gerakan bumi, sebenarnya
Medan sedang “menuju” Jakarta. Sebaliknya kalau lusa
saya terbang dari Medan kembali ke Jakarta, pada waktu
yang sama Medan ” menjauhi” Jakarta. Maka itu,
walaupun jarak Jakarta-Me-dan tetap sama di kulit bumi,
waktu penerbangan Jakarta-Medan bisa relatif lebih
singkat dari waktu penerbangan Medan-Jakarta. Pasalnya
adalah bahwa di samping gerakan pesawat terbang ada
bumi yang juga terus-menerus bergerak, mengorbit,
sesuai dengan kodratnya.
Dahulu apa-apa yang diungkapkan oleh ayat tentang
adanya berbagai jenis waktu mungkin dianggap sebagai

suatu teka-teki. Kita menganggapnya benar karena
“takut” belaka akan siksaan di neraka bila tidak
mempercayainya. Bukankah hal yang sama teijadi pula
pada (kebenaran) cerita Israk dan Mikraj yang bisa
dianggap begitu fantastis. Bukankah keraguan ini,
kalaupun ada, menyangkut masalah waktu yang dialami
oleh Rasulullah SAW dan waktu yang sebagaimana kita
hayati sehari-hari di bumi. Dewasa ini ilmu pengetahuan
telah membuktikan bahwa perbedaan waktu semacam
itu dapat teijadi jika orang bergerak meninggalkan bumi
dengan menggunakan kecepatan yang sangat tinggi,
hingga mendekati kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km
per detik. Menurut teori relativitas yang dikembangkan
oleh Einstein, waktu di dalam sebuah pesawat ruang
angkasa akan beijalan lebih lambat daripada di bumi. Bila
demikian, seorang pengembara antariksa yang bergerak
dengan kecepatan “kilat” (Buraq atau Barqun) akan
mengalami pertumbuhan usia yang jauh lebih lambat dari
pertumbuhan usia rekan-rekannya yang ada di bumi. Dia
bisa berkelana, misalnya, selama 10 tahun menurut
ukuran waktunya dan ketika tiba kembali di bumi dia
hanya akan menemui cucu-cucu dari teman/saudara
sebayanya sebab selama selang waktu itu mereka yang
ada di bumi sudah tambah usia sebanyak 150 tahun.
Demikian pula kiranya yang dirasakan oleh Rasulullah
bersama Malaikat Jibril di dalam menempuh peijalanan
sejauh radius jagat raya ditambah jarak Sidratul
Muntaha. Menurut ukuran “waktu bumi” jarak sejauh itu
pergi dan pulangnya diselesaikan dalam satu malam. Bila
dirasakan menurut “waktu Jibril” bisa jadi hanya meliputi
waktu 1/100.000 “detik-Jibril” atau sama dengan jarak
10’5 tahun cahaya. Sungguh Maha Benar Allah dengan

segala firmannya dan hal ini dibuktikan oleh penalaran
keilmuan.
Maka bukan kebetulan kiranya kalau Rasulullah
meminta umatnya menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan
usaha tersebut dikatakannya merupakan kewajiban bagi
muslimin dan muslimat begitu rupa hingga kalau perlu
dicari sampai ke negeri Cina, yang pasti diketahuinya
sebagai negara yang bukan Islam. Di dalam Al Quran
sendiri berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan
keilmuan ada disebut berkali-kali. Misalnya kata
“nazhara” (melihat secara abstrak) disebut dalam 30
ayat, kata “tafakkuf (berpikir) dalam 16 ayat. Kata
“aqala” disebut sampai 44 kali. Kata-kata yang berasal
dari kata akal (nalar) dijumpai pada lebih dari 30 ayat.
Ayat-ayat yang di dalamnya terdapat berbagai kata
tersebut di atas mengandung perintah agar manusia
menggunakan akal (nalar) dan daya pikirnya.
Begitu rupa hingga kalaupun Allah, karena kasihnya,
menyuruh Rasulullah SAW meminta tambahan sesuatu
kepada-Nya. sesuatu itu adalah tak lain daripada “ilmu
pengetahuan” Bukankah ayat 114 dari Surat Thaha
berbunyi, “Wa qur rabbi zidnii ‘ilman”-Katakanlah
(Muhammad), ya Tuhanku tambahkanlah ilmu
pengetahuanku. Dan mengapa ilmu pengetahuan ini
dianggap penting sekali dalam penghayatan agama
Islam? Saya pikir, kataku tanpa ragu-ragu di hadapan
para santri pesantren di Purba Baru ini, karena Tuhan
mempunyai dua jenis buku. Pertama adalah Kitab Suci
yang diwahyukan kepada semua Rasul-Nya. Dalam Islam
ia adalah Al Quran, yang untuk memahaminya diperlukan
penguasaan bahasa Arab atau bahasa setempat yang
menafsirkannya. Buku Ilahiah jenis kedua adalah “Alam

Semesta”, yang harus pula kita pahami karena
merupakan karunia Allah bagi umat manusia. Nah, untuk
memahaminya dengan baik tentu diperlukan pula
penguasaan bahasa dengan mana buku itu ditulis. Dan
“bahasa” tersebut adalah tak lain daripada “ilmu
pengetahuan”.
Ketika ilmu pengetahuan betul-betul dikaji dan
dikembangkan oleh orang-orang muslim itulah teijadi apa
yang disebut dalam sejarah sebagai zaman Keemasan
Islam. Zaman ini berlangsung selama 350 tahun terusmenerus,
dari tahun 750 sampai tahun 1100. Namanama
ilmuwan yang menghiasi masa ini adalah, antara
lain: Jabir, Khwarizmi, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Omar
Khayyam, Ibnu Sina, Ibnu Al-Haytham, Ibnu Rush, Ibnu
Nafis. Ilmu pengetahuan yang mereka rumuskan meliputi
bidang-bidang kimia, aljabar, klinik, geografi,
matematika, fisika, astronomi, kedokteran, geologi dan
falsafah. Kemudian ada pula Nasir ad-Din at-Tusi yang
memimpin observatorium Maragha dengan staf sebanyak
20 orang astronom yang berasal dari dunia Islam semasa
itu. Dan zaman Keemasan ini memudar ketika orangorang
muslim mulai mengabaikn semangat dan budaya
keilmuan yang selama ini telah mengangkat citra agama
Islam.
Sebagai penutup uraian kusampaikan ucapan
Rasulullah Muhammad SAW, “Utlubul ‘ilma minal mahdi
ilal lahdi”-tuntutlah ilmu pengetahuan sejak buaian
hingga ke liang lahat. Ucapan ini jelas mengingatkan kita
supaya belajar terus-menerus, selama hayat dikandung
badan. Memang ada keindahan Ilahiah dalam belajar.
Dengan belajar kita menerima anggapan (postulat)
bahwa hidup dan kehidupan tidak dimulai pada saat

kelahiran. Ada orang-orang yang telah lahir sebelum kita
dan kita lalu mengikuti jejak mereka ini. Bukankah
tulisan-tulisan yang kita baca dan buku-buku yang kita
pelajari adalah hasil pikiran dan pekeijaan dari generasi
pendahulu ini, ayah dan emak, ulama, guru, ustad dan
orang-orang bijak serta terpelajar lainnya. Kita semua,
termasuk saya sendiri, telah menikmati pengalaman
mereka, dan berhutang pengetahuan pada mereka.
Itulah sebabnya mengapa saya tadi berziarah di makam
almarhum pendiri pesantren ini, berdoa dan membaca
Yaasiin, sebagai tanda terima kasih, menundukkan
kepala.
Para ustad dan santri pesantren mengiringi
kepergianku dengan selawat dan azan yang dilantunkan
oleh muazin. Setelah berkendaraan agak jauh Pak Bupati
mengaku betapa selama ini tak terpikir olehnya tentang
gerakan bumi dan segala sesuatu yang erat berkaitan
dengan hal ini. “Sayang kita dahulu tidak bertetangga”
kataku. “Emak saya sudah mengingatkan hal tersebut
ketika saya berumur enam tahun, masih duduk di kelas I
Sekolah Dasar Melayu.”

Bab 22
EMAK DAN SUBANG BERLIAN
“Ah, kalian tak perlu cemas. Nasib kita, insya Allah,
tidak akan menjadi seburuk itu,” kata emak setelah
mendengar cerita kakak-kakakku mengenai keadaan
usaha keluarga dari salah seorang teman mereka di
sekolah.

Di tahun 1930-an ini suasana kehidupan di daerah
kelahiranku memang semakin lama menjadi semakin
suram. Dahulu daerah Deli ini, menurut cerita orang,
disebut oleh Belanda “Het Dollarland” atau “Negeri
Dollar”. Di daerah kerajaan Melayu yang semula
berpenduduk jarang tetapi bertanah subur ini Belanda,
atas prakarsa Jacobus Nienhuys, membuka berbagai
jenis perkebunan besar di paruh kedua abad XIX.
Kegiatan Belanda ini kemudian diikuti oleh bangsabangsa
kulit putih lainnya, seperti Amerika, Inggris,
Belgia, Swiss dan Jerman. Kekayaan daerah mi menjadi
lebih dikenal lagi ketika di ujung barat lautnya ditemui
sumber-sumber minyak dan gas bumi. Guna melancarkan
jalannya bisnis, lalu lintas barang, hasil Pertambangan,
Belanda membuat jalan kereta api dan membangun
jaringan jalan raya ke dan dari setiap penjuru daerah ini.
Kemakmuran “Negeri Dollar” ini menarik perantauperantau
dari daerah-daerah lain, termasuk orang tuaku.
Bahkan ada pula pekeija yang datang atau didatangkan
dari negeri Asia, seperti India dan Cina. Semua
pendatang ini mendapatkan sumber kehidupan dan
tempat berteduh di sini. Memang kehidupan mereka ini
tidak semuanya selalu layak dengan martabat manusia
karena pencarian nafkah berdasarkan tingkat
kemampuan dan keterampilan di tengah-tengah
persaingan bebas yang semakin hari semakin meningkat.
Sama halnya dengan laron yang terbang mendatangi
cahaya, ada yang berhasil memperoleh kehangatan
cahaya yang didambakannya itu, ada pula yang akhirnya
hangus terbakar oleh panasnya api yang membuat
cahaya tersebut.

Suasana kemakmuran yang melimpah ruah ini mulai
berubah dan menjadi semakin buruk dengan datangnya
tahun 30-an. Menurut Pakcik Leman masa itu disebut
oleh Belanda sebagai “economische malaise”. Mendengar
sebutan ini penduduk pribumi, sesuai dengan logatnya,
menyebutnya sebagai zaman “ekonomi meleset”. Tidak
sedikit jumlah perkebunan ditutup atau mengurangi
kegiatan produksinya. Banyak buruh perkebunan yang
dipecat, demikian pula buruh pelabuhan, disusul oleh
pegawai-pegawai kantor gubernemen dan kantor-kantor
dagang yang mengadakan penghematan-penghematan.
Karena pengangguran terus meningkat, berbagai
usaha dagang penduduk menjadi lesu. Keadaan bisnis
dan suasana kehidupan menjadi semakin mencekam
dengan meningkatnya berita-berita mengenai
kebangkrutan usaha, pencurian, perampokan dan
pembunuhan. Dalam keadaan “meleset” seperti ini para
perantau berangsur-angsur menutup usahanya dan
kembali ke daerah atau kampung asal masing-masing.
Jumlah murid-murid di sekolah dasar juga semakin
menyusut. Akibatnya ada sekolah yang ditutup. gurunya
diberhentikan dan murid-murid yang masih mau belajar
dipindahkan ke sekolah-sekolah lain.
Hampir setiap minggu, sambil makan malam, kedua
kakakku menceritakan perpisahan yang menyedihkan
dengan teman karibnya. “Si Ainoen tadi menangis
tersedu-sedu di muka kelas sewaktu bersalaman,” kata
Kak Mami. “Dia sebenarnya masih ingin bersekolah,
tetapi kedai ayahnya gulung tikar. Ayahnya masih ingin
bertahan dengan berjualan berkeliling, tetapi dia sendiri
bersama-sama emak dan adik-adiknya harus pulang ke
Mandailing.”

Karena sudah terbiasa mendengarkan cerita sedih
seperti ini emak, bapak dan aku diam saja. Mulut terus
mengunyah sambil sesekali mengangguk-anggukkan
kepala. Ketika itu aku baru setahun di sekolah dasar.
Usiaku masih terlalu muda untuk dapat memahami
sebab-musabab keme-lesetan ekonomi yang diributkan
ini. Namun harus kuakui bahwa lama-kelamaan hatiku
terenyuh juga.
“Melihat semua ini hati saya risau,” kata Kak Marni
selanjutnya.
“Kau tak perlu risau,” potong emak cepat.
“Saya sungguh risau Mak,” jawab kakakku bersikeras.
“Bayangkan, kalau begini terus bisa jadi saya sendirian di
kelas. Kalau sampai demikian ..,,” direguknya dahulu air
di gelas sedangkan semua mata tertuju kepadanya, “…
sekolah tak enak lagi.”
Yang dimaksudkan oleh kakakku dengan “sendirian” di
kelas bukanlah seorang diri di dalam kelas tetapi seorang
diri sebagai anak perempuan di kelas. Dalam keadaan
normal saja ketika itu jumlah pelajar perempuan di
sekolah dapat dihitung dengan jari apalagi kalau
sekarang ini keluar satu per satu. Dapat kurasakan
kerisauan kakakku ini. Di kelasku sendiri pelajar
perempuannya tinggal seorang. Kasihan dia, duduk
termangu-mangu seorang diri, tak ada kawan bermain
selama jam istirahat. Di masa itu pergaulan antara anak
laki-laki dan anak perempuan di daerahku, kalaupun ada,
masih serba kaku.
“Kalau saya, yang saya risaukan lain lagi,” sela Kak
Ani. Kakakku yang ketiga ini tabiatnya lebih keras.

Biasanya dia lebih berani mengemukakan apa-apa yang
dipikir dan dirasakannya kepada orang tuaku.
“Apa pula yang kau risaukan ?” tanya bapak.
“Cerita si Bager kemarin sore kepada kami,” jawab
kakakku.
“Apa yang dikatakannya?”emak menyela cepat penuh
curiga.
“Dikatakannya penjualan susu lembu kita menurun
dan sebenarnya sudah lama merugi,” kata Kak Ani
berterus terang.
Orang tuaku memelihara sejumlah 20-an lembu perah
dan si Bager adalah orang Keling yang membantu di
perusahaan susu kami itu.
Bapak tak segera bereaksi terhadap ungkapan
kakakku ini. Diambilnya sepotong mentimun dan
dicecahkannya berkali-kali ke atas sambal. Aku melirik ke
wajah emak. Dapat kulihat di matanya kejengkelan
kepada si Bager. Emak pasti tidak menyetujui ceritacerita
yang dapat menggelisahkan anak-anaknya. Karena
bapak diam saja, kukira sedang memikirkan kata-kata
yang tepat untuk menenteramkan perasaan kami, emak
cepat-cepat berkata, “Ah, kau tak perlu cemas. Kalian tak
perlu risau. Penjualan susu memang telah menurun
karena orang Belanda dan orang-orang kulit putih lainnya
satu per satu pulang kembali ke negerinya masingmasing.
Merekalah yang selama ini membeli susu lembu
kita. Tapi usaha kita belum perlu dihentikan. Kerugian
yang ada masih dapat ditutup.”
Kami semua terdiam. Emak menjangkau piring
gorengan ikan tenggiri dan mengedarkannya kepada

bapak dan kami. Kami masing-masing mengambil
sepotong.
“Sampai sekarang kita masih makan seperti biasa,”
kata emak selanjutnya sambil meletakkan kembali piring
ikan di tempatnya semula. “Kita masih berpakaian seperti
biasa. Minggu yang lalu, kau ingat Ani, masih emak
belikan sepasang sepatu baru.”
“Ya, tapi kata Makcik Bedah sesudah emak menjual
sebuah peniti emas,” potong kakakku sambil tetap
menundukkan mukanya. Tak berani dia menatap mata
emak.
“Mak masih punya beberapa peniti lagi,” emak
berusaha menjelaskan, “yang emak jual itu pun, kau
tahu ‘kan, sudah lama tak emak pakai. Potongannya
sudah agak ketinggalan zaman. Lagi pula perhiasan
dikumpulkan untuk dipakai juga sebagai payung di waktu
hujan.” Emak tersenyum simpul. “Emak maksud, untuk
dijual kembali bila kita memerlukan uang.”
Emak memang benar. Kebiasaan penduduk di daerah
kami ketika itu menyimpan perhiasan emas dan batu
permata bukan hanya untuk perhiasan di badan. Di
samping tanah, ia dipakai juga sebagai bentuk tabungan
karena mudah dijual lagi bila keadaan mendesak.
Kami semua tahu emak mempunyai berbagai
perhiasan dari emas dan di antaranya ada yang
bertatahkan batu permata. Benda berharga ini
disimpannya baik-baik di dalam sebuah peti dari kayu jati
berkunci ganda bersama-sama perhiasan kakak-kakakku
dan benda serta surat berharga lainnya. Sesekali
diperlihatkannya perhiasan-perhiasan itu kepada kakakkakakku.
Kami semua telah melihat dan mengaguminya.

Namun sehari-hari emak biasa-biasa saja. Sedangkan
dalam berpakaian ke pesta perkawinan emak hanya
memakai perhiasannya yang paling sederhana. Bila
perempuan-perempuan lain menggunakan kesempatan
itu untuk memamerkan kekayaannya, sampai-sampai
memakai gelang kaki segala, emak seingatku tidak
pernah mau memakai gelang kaki yang dimilikinya.
”Mengapa erhiasan semahal itu harus dipakai di pakai
dibagian tubuh yang dekat dengan debu jalanan?
Demikian selalu alasan emak “Lagi pula langkah terasa
berat karena kaki seperti dibelenggu.”
Kupikir juga begitu. Sama anehnya bila kuhhat
peremouan Melayu memakai gelang tangan berlapis-lapis
meniru ebiasaan perempuan Keling. Bila tangannya
digerak-gerakkan menimbulkan bunyi gemenncing bagai
bunyi gerakan tangan orang rantai.
“Kalau tak pernah dipakai untuk apa dibeli dulu?
Tanya kakak-kakakku. Mereka tak jemu-jemunya
meributkan hal ini karena rupanya mereka ingin sekali
melihat emak seperti ibu-ibu lainnya yang penuh
bertaburkan perhiasan dari mulai di sanggul, turun ke
telinga, dada, lengan, jari-jari sampai ke kaki.
“Untuk dipakai sebagai penyimpan uang,” jawab emak
tanpa ragu-ragu, “sebagai tabungan.”
Kemudian emak mengingatkan bahwa selain perhiasan
dari emas dia masih mempunyai tabungan lain berupa
sepasang subang berlian. Ketika mendengar ucapan ini
bapak terbatuk-batuk, entah apa sebabnya. Kami semua
tersenyum puas. Kami anak-anak saling berpandangan
dengan rasa tenteram. Ya, walaupun telah dikatakan
berkali-kali, kami sering lupa bahwa emak memiliki

subang berlian. Kata orang harga berlian pasti mahal.
Emak belum pernah menunjukkan kepada kami benda
berharga itu dan juga belum pernah memakainya.
Menurut emak, kalau perhiasan yang mahal biasanya
dipakai satu stel secara lengkap. Bila tidak, dipakai satu
per satu menyendiri, subang saja misalnya, orang-orang
akan mencibirkan mulutnya di belakang punggung kita.
Memang begitulah kebiasaan buruk di kalangan
perempuan kampung kami.
Sementara itu keadaan ekonomi betul-betul “meleset”,
semakin memburuk Dalam keadaan yang serba payah
dan lesu ini bapak terpaksa menjual perusahaan
susunya. Musibah ini sampai terjadi karena dia
menyediakan perusahaannya ini sebagai jaminan bagi
hutang dari dua orang sahabat karibnya. Mereka dahulu
selagi muda sama-sama merantau ke Malaya, menjadi
teman senasib sepenanggungan, setikar sebantal. Kedua
sahabatnya itu berhutang pada Ceti untuk digunakan
sebagai modal usaha.
Ceti adalah lintah darat, rentenir, dari Sri Lanka yang
pekeijaannya meminjamkan uang kepada penduduk.
Penduduk pada umumnya tahu betapa akibatnya bila
berhutang pada Ceti. Namun tetap rentenir ini dan
bukannya bank yang merupakan tempat yang mudah
sekali untuk mendapatkan uang. Penduduk takut-takut
masuk ke “kantor bank” karena di situ selalu ditanya
dengan teliti maksud dan tujuan penggunaan uang
pinjaman itu. Kalau buta huruf Latin atau hanya bisa
membaca dan menulis dalam huruf Jawi (Arab) sudah
pasti ditolak begitu saja. Sedangkan kalau meminjam
pada Ceti, lintah darat itulah yang datang ke rumah

membawakan uangnya tanpa mempertanyakan untuk
apa pinjaman itu digunakan, buta huruf atau tidak.
Sementara hutang belum terbayar lunas, perusahaan
kedua sahabat bapak tersebut keburu bangkrut. Sebagai
penjamin akhirnya bapak harus turut bertanggung jawab.
Dalam keadaan serba meleset seperti ini hasil penjualan
lembu-lembu beserta kandang dan tempat pemerahan
susunya belum mencukupi. Terpaksalah emak menjual
lagi persediaan perhiasannya yang masih ada untuk
menutupi kekurangan itu. Aku sedih sekali ketika itu
mengingat lembu-lembu itu sudah merupakan temantemanku
bermain dan berkecimpung di sungai sambil
memandikannya. Apalagi setiap lembu mempunyai
namanya sendiri-sendiri dan seperti mengerti kalau
kupanggil dengan nama itu. Yang agak menghibur
adalah bahwa kandang lembu, atas bujukan bapak, dibeli
oleh si Bager yang selama ini dengan setia membantu
bapak. Namun dia hanya mampu membeli tiga ekor
lembu karena uang tabungannya tidak mencukupi.
Akhirnya aku tidak begitu gelisah dan khawatir setelah
mendengar emak berkata, “Kejadian ini merupakan suatu
pelajaran yang baik buat kita semua. Memang pahit,
tetapi tidak apa-apa. Kita tidak akan menderita
karenanya. Percayalah kalian, subang berlian emak
masih ada sebagai tabungan untuk berlindung di
kemudian hari.” Kakak-kakakku juga cepat melupakan
musibah ini dan kami bermain-main dengan gembira
seperti biasa bersama-sama si adik bungsu yang semakin
besar. Apalagi si Bager yang setia sekali-sekali datang
membawa susu segar dan pupuk kandang untuk
tanaman yang ada di halaman rumah. Hanya si Amisha
terpaksa dikeluarkan oleh emak karena bapak tidak

mampu lagi menggajinya seperti sediakala. Walaupun
begitu dia kadang-kadang datang bertandang dan
mengeijakan apa saja tanpa disuruh. Ketika emak
melarangnya dia bahkan menangis. Dia peluk emak dan
kedua kakakku. Dia baru berhenti datang ketika sudah
berumah tangga dan pindah ke kampung lain.
Suatu malam, sehabis makan, bapak mengatakan
akan mengurangi rokoknya secara berangsur-angsur
untuk kemudian menyetopnya sama sekali demi
penghematan belanja sehari-hari.
“Tak perlu, tak perlu itu,” emak betul-betul berusaha
mencegahnya. “Kalaupun berhenti merokok bukan demi
penghematan tetapi karena memenuhi anjuran agama.
Nik, merokok itu hukumnya makruh ‘kan?!” Emak
mengetahui betapa bapak kini bekerja lebih keras
daripada biasa. Memang bapak kelihatannya semakin
kurus dan agak murung. Aku yakin pikirannya tak dapat
melupakan begitu saja perusahaan susu lembu yang
telah dibangunnya dengan susah payah semenjak muda
dan yang kini sudah berada di tangan orang lain.
“Belum perlu penghematan seperti itu,” ulang emak lagi.
“Saya pun tak mengurangi sirih pinang saya. Makan
minum sehari-hari kita biarkan beijalan seperti biasa.
Simpanan perhiasan saya masih memadai. Subang
berlian pun masih ada sebagai payung terakhir di waktu
hujan.”
Mendengar sebutan “subang berlian” itu bapak
terbatuk-batuk lagi. Aku tak tahu mengapa. Yang aku
ketahui adalah mata dan wajah kakak-kakakku bersinar
gembira. Kami yakin nasib rumah tangga kami tidak akan
menjadi seburuk nasib rumah tangga seorang tetangga
dekat kami yang baru-baru ini terpaksa menjual tempat

kediamannya karena usaha dagangnya kandas dan tak
mempunyai tabungan dalam bentuk apa pun. Anak-anak
mereka menangis tersedu-sedu sewaktu harus keluar
meninggalkan rumahnya. Emak membekali mereka
dengan beberapa helai pakaian kami dan sedikit uang.
Kami pun turut sedih menyaksikan peristiwa ini karena
anak-anak itu adalah teman kami bermain sehari-hari.
Namun kami tak pernah gelisah dan khawatir. Untuk apa
risau. Bukankah subang berlian emak masih ada dan
utuh dan belum teijual. Kami semua bangga dengan
subang berlian itu. Ia memberikan rasa aman dan
tenteram dalam diri kami. Emak telah menyediakan
payung jauh sebelum hujan datang menerpa.
Kami pernah mengeluh mengapa bapak mau
menolong orang hingga mencelakakan dirinya sendiri,
menyusahkan hidup emak dan kami, anakanaknya.
“Anak-anak. dalam hidup ini kita harus tolongmenolong,”
kata emak membela bapak. “Dan dalam
menolong itu kita harus ikhlas.”
“Tapi ‘kan tidak perlu sampai merugikan diri sendiri?”
sanggah kakak.
“Yang keliru dalam hal ini bukanlah usaha menolong
itu, tetapi perhitungan keadaan ekonomi yang dibuat
oleh kedua sahabat karib bapak. Emak tahu. Tuhan pun
tahu bahwa Bapak benar-benar ikhlas dalam menolong,
tidak mengharapkan apa pun sebagai imbalannya.
Menolong tanpa pamrih.” ,
-Ah, tak usahlah bicara imbalan, kita semua merugi
terlalu banyak,” kakak-kakakku tetap menggerutu.

“Yang terutama merugi itu adalah Bapak sendiri,”
sambung emak. “Yang paling menderita itu adalah
Bapakmu, bukan kita. Tapi percayalah. Kalau keikhlasan
bapak ini memang dibenarkan dan diterima Tuhan, Yang
Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang ini
akan memberikan imbalan kepada kalian, anak-anak
bapak. Kalian nanti yang akan menerima pahala dari
keikhlasan perbuatan bapak dalam membantu sahabatsahabatnya.
Dalam peijalanan hidup kalian kelak, satu
waktu akan ada uluran tangan yang datang begitu saja
tanpa diduga sebelumnya. Bapak yang hari ini menanam
budi, insya Allah besok kalian yang akan memetik
hasilnya.”
Apa-apa yang dikatakan emak ini ternyata benar.
Selama aku di rantau orang, jauh dari emak dan bapak,
adakalanya aku menerima bantuan untuk keluar dari
kesulitan, dari orang-orang yang tidak kukenal dan tidak
mengenal aku sebelumnya. Aku adalah orang yang
enggan sekali meminta tolong dan tidak gampang
menerima bantuan. Aku selalu ingat nasihat emak yang
mengatakan bahwa tangan orang yang menerima pasti
berada di bawah tangan orang yang memberi. Namun
ada bantuan-bantuan yang datang secara spontan,
begitu saja, tanpa kuminta, benar-benar tanpa pamrih
dari pihak yang memberi.
Salah satu di antaranya, yang sangat mengesankan
dan pasti tak akan kulupakan seumur hidup, adalah
uluran tangan penuh kasih dari Bapak dan Ibu
Darmosoegito. Mereka dengan serta- merta menawarkan
aku tinggal di mmah mereka ketika aku sedang bingung
mencari tempat Pondokan di Yogyakarta. Ketika itu aku
harus keluar dari sanggar “Seniman Indonesia Muda”

(SIM) karena menolak tuntutan pelukis S.S. Soedjojono,
Ketua Umum SIM, supaya aku meninggalkan SMA dan
menjadi seniman 100% seperti pelukis-pelukis “muda”
lainnya di organisasi SIM. Dalam peijalanan waktu
Keluarga Darmosoegito bahkan menolak pembayaran
berupa apa pun dan sama halnya dengan Tino Sidin, aku
pun diperlakukan sebagai salah seorang anak-anaknya,
anak yang termuda. Pak Darmosoegito adalah Pamong
Perguruan Taman Siswa dan wartawan free lance.
Tatakrama kejawaan, kenasionalan dan
keintelektualannya mengingatkan aku pada Mas Singgih.
Aku beranjak dewasa melalui zaman meleset dari
tahun 30-an. Dekat akhir zaman yang naas ini keadaan
ekonomi berangsur-angsur pulih kembali namun suratsurat
kabar mulai membayangkan tanda-tanda pecahnya
Perang Dunia Kedua. Aku kini sudah dapat
memanfaatkan kemampuanku dalam melukis. Aku
semakin terampil melukis wajah, baik wajah orang yang
sudah mati maupun wajah orang yang masih hidup.
Walaupun masih duduk di HIS, beberapa penerbit sudah
bersedia mempercayakan pembuatan ilustrasi kulit
bukunya kepadaku. Ada juga yang mengulurkan tangan
memberi order menggambar iklan. Honornya cukup
lumayan. Uang yang kuperoleh hanya kubelanjakan
untuk membeli alat-alat melukis dan buku. Sebagian
besar sisanya kusimpan dan terus kuhitung. Akhirnya
tercapai suatu jumlah yang cukup besar untuk membeli
cincin atau peniti berlian guna melengkapi subang berlian
emak yang sudah ada. Aku ingin sekali melengkapi
perhiasan berlian ini supaya emak dapat memakainya.
Niat ini kusampaikan kepada kakak-kakakku dan mereka

merasa antusias untuk turut menyumbang ala kadarnya
dari tabungan masing-masing.
Aku ceritakan kepada emak caraku memperoleh dan
mengumpulkan uang ini. “Sekarang mari kita ke toko
emas di Hongkongstraat!” Aku mengajak emak dengan
penuh kebanggaan.
“Untuk apa?” tanya emak keheranan.
“Untuk membeli cincin atau peniti berlian,” kataku dan
kedua kakakku hampir serentak dengan nada gembira.
Kami gembira melihat emak surprised mendengar
ajakanku itu.
“Emak harus ikut… Ayolah!” kuulangi ajakanku. “Emak
harus memilih sendiri yang mana akan dibeli, cincin atau
peniti, guna melengkapi subang yang sudah ada … yang
Emak simpan saja selama ini.”
“Dan kemudian harus dipakai, Mak!” sambung kakakkakakku
sambil menggenggam dan meremas-remas
tangan emak, tangan yang selama ini membelai kami
dengan penuh kasih sayang.
Aneh, mendengar semua ini emak diam saja.
Ditatapnya kami bergiliran satu per satu. Mata emak
kemudian berkaca-kaca dan air matanya mulai meleleh di
pipinya. Melihat hal ini kami bertiga menjadi kikuk. Tak
tahu apa yang harus dilakukan selain saling
berpandangan. Maka bersimpuhlah kami, kaku terpaku,
di hadapan emak. Adikku si bungsu ikut-ikutan berbuat
yang sama tanpa mengerti mengapa.
Setelah menyapu air mata yang meleleh di pipinya
dengan ujung kebaya panjangnya, emak mencium dahi
dan ubun-ubun kami bergiliran satu per satu. “Emak

bangga mempunyai anak-anak seperti kalian,” katanya
dengan lemah lembut, “terutama dengan kau,” katanya
kepadaku dengan suara yang masih terisak-isak.
Setelah hening sejenak emak melanjutkan, “Subang
berlian itu tidak ada. Seumur hidup emak belum pernah
memuih benda berharga seperti itu. Kalaupun nanti kau
membelikan emak cincin berlian, cincin inilah yang bakal
perluasan berlian emak yang pertama.”
Karena kami diam saja, tak tahu apa yang harus kami
katakan, emak melanjutkan dengan nada suara yang
sungguh-sungguh, “Subang berlian itu emak sebut-sebut
supaya hati kalian tenteram. Tak baik anak-anak sekecil
kalian hidup dalam ketakutan, gelisah, cemas dan
khawatir Sekarang kalian sudah besar-besar, sudah lama
bersekolah sudah pintar, sudah bisa berpikir sendiri.
Tetapi seusia kalian dahulu itu, di saat masih ingusan,
kalian memerlukan adanya kepastian dan ketenangan
supaya kalian dapat belajar dengan baik, bisa menikmati
masa kanak-kanak dengan tenteram.”
Aku kira sekarang aku baru mengerti mengapa bapak
dahulu terbatuk-batuk setiap kali mendengar emak
menyebut-nyebut subang berliannya. Beramai-ramai
kami pergi mengantarkan emak ke toko emas untuk
membeli perhiasan berliannya yang pertama. Emak
memilih sepasang subang dan bukan cincin.

Bab 23
EMAK DAN CAHAYA

Serambi depan rumahku selalu terang benderang,
selama kami belum tidur, atau ada seseorang yang
belum pulang. Di malam hari semua pintu dan jendela
biasa ditutup erat agar nyamuk dan kelekatu tidak dapat
masuk. Akibatnya cahaya lampu di dalam rumah nyaris
tidak kelihatan dari luar. Maka bila bapak sedang
bepergian ke luar kota untuk sesuatu urusan, sebelum
kami semua masuk kamar tidur masing-masing, emak
biasa memasang lampu teplok kecil, meletakkannya di
bagian tengah lantai serambi depan dan membiarkannya
menyala sampai pagi. Menurut emak cahaya yang
memancar dari rumah di malam hari merupakan tanda
“selamat datang” bagi yang sedang berada di luar
rumah.
Di mana pun aku berada, ada bagian dari diriku yang
tetap berupa seorang anak kecil dan di dalam anak kecil
ini bersemayam kenangan pada emak. Kenangan inilah
yang membuat kebiasaan emak menyalakan lampu
dalam keadaan khas tertentu tetap melekat dalam
ingatanku. Sewaktu aku masih mengikuti kuliah di
Sorbonne, aku sering pulang jauh malam. Di sepanjang
jalan dari stasiun metro Rane-Lagh ke rumah di Rue de
Boulainvilliers, aku biasa melirik ke cahaya yang
memancar dari jendela kaca apartemen-apartemen yang
kulewati.
Bagiku cahaya itu berarti ada seseorang yang sedang
menunggu atau seseorang yang masih ditunggu
kedatangannya. Jadi rupanya bukan hanya aku yang
masih berada di luar rumah pada jam tersebut. Sesudah
tiba di depan apartemenku sendiri, dari bawah secara
instingtif kulihat jendela depanku di tingkat pertama
masih cukup terang. Aku merasa senang dan tenteram

melihat cahaya itu, sama senang dan tenteramnya
dengan keadaanku dulu ketika masih kecil, pulang
mengaji malam hari dari surau. Bukankah cahaya terang
itu hendak mengatakan juga “welcome home”, namun
kali ini yang menunggu bukan lagi emak, tetapi istriku.
Dan aku memang telah ditunggu-tunggu oleh Soel.
Seperti biasa anakku sudah tidur. Soel menunggu sambil
membaca, menyulam, membordir atau merajut.
Sewaktu anakku semata wayang, Yanti, belajar di IPB,
dia mondok di Bogor. Biasanya dia pulang ber-u>eefc
end di rumah. Maka untuk menyambut kedatangannya,
pada setiap Sabtu malam, setiap lampu di pojok afdak
rumah, sengaja kupasang. Setelah dia meneruskan
studinya di Amerika, tidak ada lagi gunanya memasang
lampu-lampu itu. Tetapi aku tahu di Amerika sana,
maupun di seluruh Jakarta sini, banyak lampu yang
menyala terus sepanjang malam, memecah kegelapan,
merupakan cahaya bagi mereka yang sedang beijalan
menuju ke kediaman masing-masing. Aku pikir emak
benar dengan kebiasaannya itu, yang hendak
mengatakan bahwa lampu yang dibiarkan menyala
merupakan simbol kasih sayang, menerangi jalannya
sang musafir yang mau pulang.
Sesudah Yanti menyelesaikan pembelajaran S-3nya,
lalu berumah tangga dan tinggal bersamaku, aku
lanjutkan lagi kebiasaan menghidupkan lampu di serambi
depan. Sebab sesekali dia memberi kuliah di IPB hingga
sore hari. Suami-nya Bambang, sebagai staf akademis
ITB, setiap minggu pergi ke Bandung beberapa hari dan
biasanya pulang dengan kereta api terakhir yang tiba di
Jakarta agak malam. Kadang-kadang mereka pergi
berbelanja makanan di toko swalayan sesudah waktu

magrib. Adakalanya Soel dan aku pergi memenuhi
undangan di malam hari. Di saat-saat seperti itu memang
perlu ada cahaya yang memancar dari rumah. Memang
cukup menyenangkan kalau kita pulang ke rumah yang
terang daripada ke rumah yang gelap. Di samping ini aku
lakukan pula kebiasaan emak mematikan lampu luar
sesudah semua pada pulang. Emak dahulu kelihatan
tenteram juga ketika mematikan lampu luar setelah yakin
bahwa semua anggota keluarga yang tercinta sudah ada
di dalam rumah dan tidak ada lagi seorang pun yang
perlu ditunggu. Aku sendiri kini juga merasakan demikian
di saat melakukan hal yang sama.
Berkat ajaran filosofis mengenai waktu, pikiranku
tentang cahaya yang memancar dari jendela rumahrumah
menjadi luas. Sebenarnya kehadiran “waktu”
sudah lama kukenal melalui “teori rente” dari Von Bohm-
Bawerk, kemudian lewat “teori Keynesiati dynamies”
yang” dikembangkan oleh Harrod dan Domar dalam
rangka menjelaskan implikasi logis dari suatu definisi
makro-ekonomis tentang ekuilibrium. Namun ketika
filosofi yang mengetengahkan makna “waktu” dengan
caranya yang tersendiri itu, aku segera teringat pada
tafsiran cahaya dari emak.
Cahaya yang bersinar di rumah, dari serambi depan
atau dari balik jendela kaca, tetap merupakan pertanda
bahwa ada orang yang sedang menunggu-nunggu
kedatangan seseorang. Namun mungkin pula ada orang
yang sedang duduk bersantai setelah penat bekeija
sehari penuh. Bisa juga karena ada orang yang sedang
belajar berhubung tidak mungkin berbuat begitu di siang
hari. Bukankah dahulu aku terpaksa melakukan hal yang
sama karena siang hari kupakai untuk mencari uang agar

bisa hidup dan membiayai pendidikan universiter. Atau
ada orang yang sedang membaca karena tahu lebih
bermanfaat menggunakan waktu luangnya secara aktif
menggali pengetahuan dari buku atau percobaan
ketimbang secara pasif menatap televisi.
Bila demikian ada tanda-tanda kedatangan
pencerahan di masa depan. Dengan kemampuan
manusia membuat cahaya artifisial nonalami guna
melanjutkan kelangsungan cahaya alami ciptaan ilahiah
yang secara teratur lenyap karena gerakan bumi,
manusia dapat meneruskan usaha-usaha kreatifnya di
bidang apa pun. Dengan begitu akan terwujud kiranya
apa yang dahulu pernah diutarakan oleh Sophocles di
zaman Yunani Purba bahwa “the long un-measured pulse
of time moves everything. There is nothing hidden that it
cannot bring to light, nothing once known that may not
become unknown.”
Maka waktu bukanlah berupa sesuatu yang tak
berdaya. Gerakannya pun tidak merupakan sekedar
pengungkapan-pengungkapan kronologis tanpa maksud.
Waktu adalah ritme internal dari sejarah yang muncul di
antara dua kutub. Ia menunjukkan adanya permulaan.
Yang esensial bukanlah apakah permulaan itu tetapi
kenyataan bahwa permulaan itu ada.
Ia adalah ketika “dari mana” kita datang agar “terus
melangkah ke depan”. Ia adalah ketika keyakinan
membenarkan dan melahirkan harapan yang mengubah,
baik saat-saat maupun semua peristiwa yang teijadi di
dalamnya; mengubah semua itu menjadi suatu
ekspektasi yang sarat dengan makna. Maka itu saat-saat
di sepanjang waktu adalah tahapan-tahapan dari suatu

peijalanan ketika kita bereksodus dari kekinian menuju
ke masa depan.
Jadi musafir yang berkelana .mencari ilmu
pengetahuan dengan mengendarai waktu pasti ditunggutunggu
kepulangannya di masa depan mengingat cahaya
harapan terus dinyalakan oleh Ibu Pertiwi. Tetap
ditunggu karena masa depan itu memerlukan suatu
pencerahan, betapapun kecilnya, agar tidak tertatih-tatih
dalam kegelapan. Sedangkan pencerahan hanya mungkin
bila ada perubahan-perubahan dalam nilai-nilai. Dan ilmu
pengetahuan mengubah nilai-nilai kita dengan dua cara.
Pertama, ilmu pengetahuan menginjeksikan ide-ide baru
ke dalam nilai-nilai yang sudah kita kenal selama ini.
Kedua, ilmu pengetahuan menundukkannya dengan
tekanan-tekanan perubahan teknis begitu rupa hingga
teijadi pembaruan dalam keseluruhan basis budaya kita.
Dengan kehadiran waktu, dengan beijalannya waktu,
kian mendalam dan meluas kiranya makna kebiasaan
emak menyediakan cahaya di tengah-tengah kegelapan.

EPILOG
Alangkah bahagianya mempunyai emak. Dia yang
membesarkan aku dengan cinta keibuan yang lembut.
Dia yang selalu memberikan aku pedoman di dalam
peijalanan hidup. Dia yang, di setiap langkah, tahap dan
jenjang, membisikkan padaku harapan. Dia yang terusmenerus
memberikan dukungan moral dalam usahaku
mengolah budaya kreatif, baik yang terpaut pada ilmu
pengetahuan maupun yang menyangkut dengan seni.

Dia yang tidak pernah mengecewakan apalagi menyakiti
hatiku. Satu-satunya duka yang disebabkannya adalah
ketika dia harus pergi meninggalkan aku untuk selamalamanya.
Hal ini teijadi tanpa kehadiranku di dekatnya. Emak
meninggal beberapa bulan setelah aku sekeluarga berada
di Paris. Ketika berita duka ini tiba aku sedang bersiapsiap
untuk mulai menempuh rangkaian ujian “Doctorat
d’Etaf di Sorbonne. Kalau aku bisa berhasil menempuh
program akademis tertinggi ini aku akan menjadi orang
Indonesia pertama yang bergelar doktor melalui program
yang bergengsi ini. Jadi hal ini betul-betul merupakan
satu tantangan bagiku. Emak pasti bangga melihat aku
berani menerima tantangan ini, aku yang tidak berasal
dari sistem pendidikan yang berkultur Perancis, bisa
diterima masuk ke program IDoctorat d’Etaf. Beberapa
orang Indonesia yang berhasil meraih gelar doktor dari
lembaga pendidikan tinggi Perancis sebelum aku, sejak
zaman prakemerdekaan, memperolehnya melalui
program “Doctorat de ‘Universite”, seperti yang baru saja
kuselesaikan dengan baik baru-baru ini.
Maka berita kepergian emak ke alam baka, memenuhi
panggilan Allah SWT yang selama ini disembahnya lima
kali sehari dalam sembahyang lima waktu, sungguh
mengejutkan aku. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Hal ini
membuat aku ingin meratap menghamburkan kesedihan
hati. Mataku menatap keluar melalui jendela kamar studi.
Di rumah sedang sepi karena istriku sedang membawa
anakku ke taman agar tidak mengganggu aku belajar.
Aku rasa diriku ringan sekali, lemas sekujur badan, bagai
orang habis menangis, walaupun aku tidak kuasa untuk
menangis.

Setelah beberapa saat duduk termangu bagai orang
kehilangan akal, aku bangkit mengambil Surat Yaasiin
dari saku baju yang kugantung di rak pakaian. Surat ini
selalu ada di baju yang kupakai sehari-hari di luar rumah,
dalam bepergian ke mana saja. Ia adalah pemberian
bapak ketika aku dulu pamit dan sekaligus mohon
direstui pergi ke Jawa, sebagai langkah awal dari
perantauan panjang menuntut ilmu pengetahuan, seperti
yang dianjurkan emak. Surat Yaasiin ini kubaca dan
kubaca untuk menenangkan pikiran. Ketenangan yang
kuperlukan untuk mengatasi rasa duka ini.
Tiba-tiba pintu kamar studiku terbuka. Anakku masuk
dengan muka berseri-seri, melompat-lompat
menghampiri tempat dudukku sambil menyerahkan
segenggam bunga rerumputan yang dipetiknya di hutan
dekat taman bermain. “C’est pour toi papa cheri” katanya
dengan penuh kasih sambil mencium pipiku.
“Dan untukmu saya bawakan buah kastanye yang kau
gemari,” kata istriku sambil menjengukkan kepalanya ke
dalam kamar. Istri dan anakku baru saja kembali dari
taman rupanya. “Enak belajar?” tanya Soel ketika
menggantungkan mantelnya di gantungan baju dekat
pintu. Aku mengangguk. Pada rupa istriku membayang
wajah emak yang anggun dan molek.
“Aku bangga mempunyai Nak Sri Soelastri sebagai
menantu. Seharusnya dia diberi nama intan dan cucuku
yang dilahirkannya disebut mutiara … ya benar-benar
mutiara dari rumah tangga kalian,” kuingat emak berkalikali
bertutur begitu kepadaku dahulu. Seolah-olah
tuturan emak ini kudengar lagi, berkumandang di
telingaku. Aku tahu kali ini pun tuturan tersebut, sama

dengan ucapan-ucapannya yang lain, mengandung
penuh kebenaran.
“Maman a toujours raison,” begitu selalu bunyi
komentar Yanti, anakku semata wayang, mengenai
petunjuk yang diberikan oleh ibunya. Aku pikir komentar
ini juga berlaku bagi tutur kata emak. Betapa tepat.
Impianku bermula kebanyakan kali dari emak. Dia yang
terus-menerus, tanpa pernah bosan, menggugahku dan
mendorongku dan memanduku menuju ke tingkat
selanjutnya, adakalanya bahkan mendera aku dengan
cemeti sembilu yang disebut kebenaran.
Tutur kata, perbuatan dan budi pekerti emak telah
merajut hidupku. Ia terus beijalan, Mak, lihatlah, bagai
batang air yang terus mengalir dengan tak pernah
memutuskan diri dari sumbernya barang sedetik pun.
Kepergian emak, maut ini, pasti bukan merupakan akhir
tetapi bagian dari hidup itu.

RIWAYAT PENULIS
Dr. Daoed JOESOEF lahir di Medan pada tanggal 8
Agustus 1926. Menempuh pendidikan universiter, untuk
program S-l, di Universitas Indonesia (1950-1959) dan
untuk dua program S-3 di Universite Pluridiseiplinaire de
Paris I Pantheon-Sorbonne (1964-1972).
Menjadi anggota TKR-Divisi IV Sumatera Timur (1945-
1946). Sambil ber-SMA di Yogyakarta bergabung dengan
Tentera Pelajar Brigade 17 Batalyon 300. Masuk jajaran
TNI dan berdinas di Komando Militer Kota Besar Jakarta
Raya (1950-1951).

Menjadi anggota Staf Pengajar FE-UI (1954-1963).
Membentuk Jurusan “Ekonomi Pemerintahan” di samping
mengepalai Jurusan “Ekonomi Umum” di Fakultas
Ekonomi. Menjadi Ketua Tim Afiliasi FE-UI dengan
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Universitas
Sriwijaya, Universitas Lampung. Mewakili FE-UI menjadi
anggota Tim Penghitung Pendapatan Nasional. Menjadi
anggota Staf Penasihat Inspektorat Jenderal Pertahanan
Rakyat
Menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam
Kabinet Pembangunan ffl (1978-1983). Anggota DPA-RI
END

0 Response to "Emak"

Post a Comment