Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: New Moon

Stephenie Meyer


Twilight Buku ke 2
New moon



PENDAHULUAN
AKU merasa bagai terperangkap dalam mimpi
buruk mengerikan. Dalam mimpi itu kau harus
berlari, berlari terus sampai paru-parumu pecah,
tapi kau tak sanggup memacu tubuhmu untuk
bergerak cukup cepat. Kakiku rasanya makin lama
makin lambat sementara aku berjuang menembus
kerumunan orang yang tidak memiliki perasaan,
tapi jarum di menara jam tak juga melambat. Tak
peduli dan tanpa belas kasihan, jarum jam itu
terus bergerak menuju akhir—akhir segalanya.
Tapi ini bukan mimpi, dan, tidak seperti mimpi
buruk, aku tidak berlari menyelamatkan nyawaku;
aku berlari untuk menyelamatkan sesuatu yang
jauh lebih berharga. Hidupku nyaris tak ada
artinya bagiku hari ini.
Menurut Alice tadi, besar kemungkinan kami
bakal mati di sini. Mungkin hasil akhirnya akan
lain bila ia tidak terperangkap cahaya matahari
yang menyilaukan; hanya akulah yang bisa berlari
melintasi lapangan terbuka yang terang benderang
dan padat ini.
Tapi aku tidak bisa berlari cukup cepat.
Jadi tak ada artinya bagiku, kami dikelilingi
musuh-musuh kami yang luar biasa berbahaya.
Saat jam mulai berdentang, bergetar di bawah sol
sepatuku yang terasa berat, tahulah aku bahwa
aku terlambat – dan aku senang sesuatu yang
haus darah menungguku di sayap bangunan.
Karena bila aku gagal dalam misiku ini, aku tidak
lagi memiliki keinginan untuk hidup.

Jam kembali berdentang, dan matahari
memancarkan cahayanya yang terik tepat dari titik
di tengah langit.

1. PESTA
AKU 99,9% yakin sedang bermimpi.
Alasan mengapa aku begitu yakin sedang
bermimpi adalah, pertama, aku berdiri di bawah
cahaya matahari yang terang benderang—sorot
matahari yang menyilaukan, sesuatu yang tak
pernah terjadi di Forks, Washington, kampung
halamanku yang selalu berhujan—dan kedua, aku
sedang menatap nenekku, Grandma Marie.
Padahal Gran sudah meninggal enam tahun lalu,
jadi itu bukti solid untuk menguatkan teoriku
tentang mimpi ini.
Gran tak banyak berubah; wajahnya masih tepat
seperti yang kuingat. Kulitnya lembut dan layu,
terlipat-lipat membentuk ribuan keriput kecil yang
menggelantung lembut pada tulang di bawahnya.
Seperti aprikot kering, tapi dengan gumpalan
rambut putih tebal yang mengelilingi wajahnya
bagaikan awan.
Mulut kami—mulut Gran berupa kerutan
keriput—mengembang membentuk senyum
terkejut pada saat bersamaan. Ternyata Gran juga
tidak menyangka akan bertemu denganku.
Aku baru saja hendak bertanya kepadanya;
begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam

benakku—Apa yang Gran lakukan di sini dalam
mimpiku? Ke mana saja Gran selama enam tahun
terakhir ini? Apakah Pop baik-baik saja, dan
apakah mereka sudah bertemu, di mana pun
mereka berada sekarang—tapi Gran membuka
mulut saat aku juga membuka mulut, jadi aku
berhenti untuk memberinya kesempatan lebih
dulu. Gran juga terdiam, kemudian kami samasama
tersenyum melihat kecanggungan kami.
"Bella?"
Bukan Gran yang memanggil namaku, dan kami
pun sama-sama menoleh untuk melihat siapa
gerangan yang bergabung dalam reuni kecil kami.
Sebenarnya tanpa melihat pun aku sudah tahu
siapa dia; itu suara yang pasti akan kukenali di
mana pun—kukenal dan kurespons, tak peduli
apakah aku sedang bangun atau tidur... atau
bahkan mati, aku yakin. Suara yang untuknya aku
rela berjalan melintasi api—atau, agar tidak
terdengar terlalu dramatis, mengarungi hujan dan
sengatan hawa dingin yang selalu datang setiap
hari.
Edward.
Walaupun aku selalu senang bertemu
dengannya—baik sadar maupun tidak—dan
walaupun aku hampir yakin aku sedang bermimpi,
tak urung aku panik juga saat Edward berjalan
menghampiri kami di bawah terik matahari yang
menyengat.
Aku panik karena Gran tak tahu aku mencintai
vampir—tak seorang pun mengetahuinya—jadi
bagaimana aku bisa menjelaskan fakta bahwa

sorot matahari yang benderang memantul di kulit
Edward dalam bentuk ribuan keping pelangi,
membuatnya terlihat seakan-akan terbuat dari
kristal atau berlian?
Well, Gran, kau pasti sudah melihat pacarku
berkilau kilau. Memang begitulah dia kalau berada
di bawah sinar matahari. Jangan khawatir...
Apa yang Edward lakukan? Alasan utama ia
tinggal di Forks, kota yang curah hujannya
tertinggi di dunia, adalah supaya ia bisa berada di
luar rumah pada siang hari tanpa takut rahasia
keluarganya terbongkar. Tapi sekarang ia malah
melenggang santai menghampiriku—senyum
termanis menghiasi wajahnya yang rupawan—
seakan-akan hanya ada aku di sini.
Detik itu juga, aku berharap bukan aku satusatunya
yang terkecualikan oleh bakat
misteriusnya; biasanya aku justru bersyukur
menjadi satu-satunya orang yang pikirannya tak
bisa dibaca Edward. Tapi sekarang aku malah
berharap ia bisa membaca pikiranku juga, supaya
ia bisa mendengar peringatan yang kuteriakkan
dalam pikiranku.
Aku melayangkan pandangan panik kepada
Gran, dan melihat ternyata itu sudah terlambat.
Gran sudah berpaling menatapku, dan sorot
matanya sama terkejutnya dengan sorot mataku.
Edward—masih menyunggingkan senyumnya
yang begitu menawan hingga membuat hatiku
bagai menggelembung dan meledak memecahkan
dada—merangkul bahuku dan membalikkan

tubuhku sehingga aku berdiri berhadap-hadapan
dengan nenekku.
Ekspresi Gran membuatku terkejut. Alih-alih
tampak ngeri, ia malah menatapku takut-takut,
seperti menunggu disemprot. Dan ia berdiri dengan
posisi sangat aneh—sebelah tangan terangkat
canggung menjauhi tubuhnya, terulur, dan
kemudian tertekuk di udara. Seperti merangkul
seseorang yang tidak bisa kulihat, seseorang yang
tidak tampak...
Barulah kemudian, saat melihat gambaran yang
lebih besar, aku menyadari ada pigura emas yang
membingkai sosok nenekku. Tidak mengerti, aku
mengangkat tangan yang tidak memeluk pinggang
Edward dan mengulurkannya untuk menyentuh
nenekku. Gran meniru gerakanku dengan tepat,
seperti cermin. Tapi di mana jari-jari kami
seharusnya bertemu, tak ada apa-apa kecuali kaca
yang dingin...
Dengan keterkejutan memusingkan, mimpiku
sekonyong-konyong berubah jadi mimpi buruk.
Tak ada Gran.
Itu aku. Bayanganku dalam cermin. Aku—tua,
keriput, dan layu.
Edward berdiri di sampingku, bayangannya
tidak terpantul dalam cermin, begitu rupawan, dan
selamanya berumur tujuh belas tahun.
Edward menempelkan bibirnya yang sempurna
dan sedingin es ke pipiku yang keriput.
“Selamat ulang tahun,” bisiknya.

Aku terbangun kaget—kelopak mataku terbuka
lebar—dan terkesiap. Cahaya kelabu muram,
cahaya matahari yang seperti biasa selalu tersaput
mendung, menggantikan cahaya matahari yang
terang benderang dalam mimpiku.
Hanya mimpi, kataku dalam hati. Itu tadi hanya
mimpi. Aku menarik napas dalam-dalam,
kemudian terlonjak lagi waktu alarmku berbunyi.
Kalender kecil di sudut permukaan jam
menginformasikan padaku hari ini tanggal tiga
belas September.
Hanya mimpi, tapi di satu sisi setidaknya mimpi
itu cukup meramalkan apa yang bakal terjadi di
masa mendatang. Hari ini hari ulang tahunku. Aku
genap delapan belas tahun.
Berbulan-bulan lamanya aku sangat takut
menantikan datangnya hari ini.
Sepanjang musim panas yang sempurna—
musim panas paling membahagiakan yang pernah
kualami, musim panas paling membahagiakan
yang pernah dialami siapa pun di mana pun,
sekaligus juga musim panas paling berhujan
sepanjang sejarah kawasan Semenanjung
Olympic—tanggal muram ini bergentayangan
dalam diam, menunggu saat yang tepat untuk
menyerang.
Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih
buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi.
Aku bisa merasakannya—aku lebih tua. Setiap hari
aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah,
pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah
delapan belas tahun.

Sementara Edward tidak akan pernah jadi
delapan belas tahun.
Ketika sedang menggosok gigi, aku nyaris
terkejut karena wajah yang terpantul di cermin
tidak berubah. Kupandangi diriku, mencari tandatanda
bakal munculnya keriput di kulitku yang
seputih gading. Tapi satu-satunya kerutan yang
ada hanya di dahi, dan aku tahu kalau aku bisa
rileks, kerutan itu akan hilang. Tapi aku tidak bisa.
Alisku tetap terpatri membentuk garis khawatir di
atas mata cokelatku yang waswas.
Itu hanya mimpi, aku mengingatkan diriku lagi.
Hanya mimpi... tapi juga mimpi burukku yang
terburuk.
Aku melewatkan sarapan, terburu-buru ingin
meninggalkan rumah secepat mungkin. Tapi aku
tak sepenuhnya bisa menghindari ayahku, jadi
terpaksalah aku meluangkan beberapa menit
berlagak riang. Aku benar-benar berusaha
menunjukkan kegembiraan mendapat kado-kado
yang sudah kuminta untuk tidak usah dibelikan,
tapi setiap kali tersenyum, rasanya seakan-akan
tangisku hendak pecah.
Aku bersusah-payah menahan diri saat
mengendarai truk menuju sekolah. Sosok Gran
tadi–aku tidak mau berpikir itu aku–sulit
dienyahkan dari kepalaku. Aku tak bisa merasakan
perasaan lain selain putus asa saat berbelok
memasuki lapangan parkir di belakang gedung
Forks High School dan melihat Edward bersandar
tanpa bergerak di Volvo-nya yang mengkilat,
bagaikan patung marmer dewa berhala keindahan

yang telah lama dilupakan orang. Ia bahkan lebih
tampan daripada dalam mimpiku tadi. Dan ia di
sana menungguku, seperti biasa setiap hari.
Perasaan putus asa itu sesaat lenyap; digantikan
rasa takjub. Bahkan setelah setengah tahun
pacaran dengannya, aku masih belum percaya aku
pantas memperoleh keberuntungan sebesar ini.
Saudara perempuannya, Alice, berdiri di
sebelahnya, menungguku juga.
Tentu saja Edward dan Alice bukan saudara
kandung (di Forks ceritanya adalah, semua anak
keluarga Cullen diadopsi dr. Carlisle Cullen dan
istrinya, Esme, karena keduanya jelas terlalu muda
untuk mempunyai anak remaja), tapi mereka
sama-sama berkulit putih pucat, mata mereka juga
sama-sama memiliki secercah warna keemasan
yang aneh, dengan bayangan gelap menyerupai
memar di bawahnya. Wajah Alice sama seperti
Edward, juga sangat indah. Bagi orang yang tahu—
seperti aku—kemiripan itu menunjukkan siapa
mereka sesungguhnya.
Melihat Alice menunggu di sana—mata
cokelatnya bersinat-sinar girang, tangannya
menggenggam benda segi empat kecil terbungkus
kertas warna perak—membuat keningku berkerut.
Aku sudah memberi tahu Alice aku tidak
menginginkan apa-apa, apa pun, baik itu kado
maupun perhatian, untuk hari ulang tahunku.
Jelas, keinginanku ternyata diabaikan.
Kubanting pintu Chevy '53 milikku—kepingan
kecil karat beterbangan mengotori baju hitamku
yang basah—dan berjalan lambat-lambat

menghampiri mereka. Alice berlari cepat
menghampiriku, wajah mungilnya berseri-seri di
bawah rambut hitamnya yang jabrik.
"Selamat ulang tahun, Bella!"
"Ssstt!" desisku, memandang berkeliling untuk
memastikan tak ada yang mendengar
perkataannya barusan. Hal terakhir yang
kuinginkan adalah perayaan dalam bentuk apa
pun untuk memperingati hari muram ini.
Alice tak menggubrisku. "Kau mau membuka
kadonya sekarang atau nanti saja?" tanyanya
penuh semangat sementara kami menghampiri
Edward yang masih menunggu.
"Tidak ada kado-kadoan," protesku.
Sepertinya Alice akhirnya bisa mencerna
suasana hatiku yang buruk. "Oke... nanti saja,
kalau begitu. Kau suka album kiriman ibumu? Dan
kamera dari Charlie?"
Aku mendesah. Tentu saja ia tahu aku dapat
kado apa saja. Bukan hanya Edward satu-satunya
anggota keluarga mereka yang memiliki
kemampuan istimewa. Alice pasti bisa "melihat"
apa yang ingin diberikan kedua orangtuaku begitu
mereka memutuskannya sendiri.
"Yeah. Kadonya bagus-bagus."
"Menurutku idenya bagus sekali. Kau kan hanya
satu kali jadi murid senior seumur hidupmu. Jadi
ada baiknya pengalaman itu didokumentasikan "
"Kau sendiri, sudah berapa kali jadi murid
senior?"

"Itu lain."
Saat itu kami sudah sampai di tempat Edward,
dan ia mengulurkan tangan padaku. Aku
menyambutnya dengan penuh semangat, sejenak
melupakan suasana hariku yang muram.
Kulit Edwatd, seperti biasa. licin, keras, dan
sangat dingin. Dengan lembut diremasnya jarijariku.
Kutatap mata topaz-nya yang berkilauan,
dan hatiku bagai diremas keras-keras. Mendengar
detak jantungku yang kencang, Edward tersenyum
lagi.
Ia mengangkat tangannya yang bebas dan
menelusuri bagian luar bibirku dengan ujung
jarinya yang dingin sambil bicara "Jadi, sesuai
hasil pembicaraan, aku tak boleh mengucapkan
selamat ulang tahun padamu, benar begitu?"
"Ya. Itu benar," Aku tidak pernah bisa
menirukan cara bicaranya yang mengalun serta
artikulasinya yang sempurna dan formal.
Kemampuan yang hanya bisa dipelajari pada abad
lalu.
"Hanya mengecek," Edward menyurukkan jarijarinya
ke rambut perunggunya yang berantakan.
"Siapa tahu kau berubah pikiran. Kebanyakan
orang sepertinya menikmati hari ulang tahun dan
hadiah."
Alice tertawa, suaranya bergemerincing, seperti
genta angin. "Tentu saja kau akan menikmatinya.
Semua orang akan bersikap baik padamu hari ini
dan menuruti kemauanmu, Bella. Hal terburuk apa

yang bisa terjadi?" Itu pertanyaan retoris yang tak
perlu dijawab.
"Bertambah tua," aku tetap menjawab, dan
suaraku kedengarannya tidak semantap yang
kuinginkan.
Di sampingku, senyum Edward mengejang kaku.
"Delapan belas kan tidak terlalu tua," sergah
Alice. "Bukankah wanita biasanya menunggu
sampai mereka berumur 29 baru merasa tua?"
"Delapan belas berarti lebih tua daripada
Edward," aku bergumam.
Edward mendesah.
"Teknisnya begitu," sambung Alice, menjaga
nadanya tetap ringan. "Tapi kan, hanya setahun
lebih tua."
Dan kupikir... kalau aku bisa merasa yakin akan
masa depan yang kuinginkan, yakin aku bisa
bersama Edward selamanya, juga Alice dan semua
anggota keluarga Cullen yang lain (lebih disukai
tidak sebagai wanita tua yang keriputan)... maka
satu atau dua tahun lebih tua takkan terlalu
masalah bagiku. Tapi tekad Edward sudah bulat
bahwa tidak akan ada perubahan bagiku di masa
depan. Masa depan yang membuatku jadi seperti
dia—membuatku abadi juga.
Kebuntuan, begitulah ia menyebutnya.
Jujur saja, aku tidak benar-benar bisa
memahami jalan pikiran Edward. Apa enaknya bisa
mati? Menjadi vampir tampaknya bukan hal yang

tidak enak—setidaknya kalau melihat bagaimana
keluarga Cullen menjalaninya.
"Jam berapa kau akan datang ke rumah?"
sambung Alice, mengganti topik. Dari ekspresinya,
ia merencanakan sesuatu yang justru ingin
kuhindari.
"Aku tidak tahu aku punya rencana datang ke
sana."
"Oh, yang benar saja, Bella!" keluh Alice. "Kau
tidak akan merusak kegembiraan kami, kan?"
"Lho, kusangka di hari ulang tahunku aku
berhak menentukan apa yang aku inginkan."
"Aku akan menjemputnya di rumah Charlie usai
sekolah," kata Edward pada Alice, tak
menggubrisku sama sekali.
"Aku harus kerja," protesku.
"Ah, siapa bilang," tukas Alice dengan nada
menang. "Aku sudah bicara dengan Mrs. Newton
mengenainya. Dia mau kok mengganti jadwal shiftmu.
Dia kirim salam 'Selamat Ulang Tahun'."
"Aku—aku tetap tidak bisa datang," kataku
terbata-bata, gelagapan mencari alasan. "Aku, Well
belum sempat nonton Romeo and Juliet untuk
kelas bahasa Inggris."
Alice mendengus. "Ah, kau sudah hafal Romeo
and Juliet!'
"Tapi kata Mr. Berty, kami harus melihat
sandiwara itu dilakonkan untuk bisa sepenuhnya

menghargainya—karena begitulah yang diinginkan
Shakespeare."
Edward memutar bola matanya.
"Kau kan sudah nonton filmnya," tuduh Alice.
"Tapi versi yang 1960-an belum. Kata Mr. Berty,
versi itulah yang terbaik."
Akhirnya, Alice menghapus senyum kemenangan
itu dari wajahnya dan memelototiku. "Ini bisa
mudah, atau bisa juga sulit, Bella, tapi pokoknya—
"
Edward memotong ancamannya. "Rileks, Alice.
Kalau Bella ingin nonton film. dia boleh nonton
film. Ini kan hari ulang tahunnya."
"Nah, kan," imbuhku.
"Aku akan membawanya ke sana sekitar jam
tujuh," sambung Edward. "Kau punya banyak
waktu untuk menyiapkan semuanya."
Tawa Alice kembali berderai. "Kedengarannya
asyik. Sampai nanti malam, Bella! Bakalan asyik,
lihat saja nanti" Ia nyengir—senyum lebarnya
menampakkan sederet giginya yang sempurna dan
mengilat—lalu mengecup pipiku dan berlari
menuju kelas pertamanya sebelum aku sempat
merespons.
“Edward, please—" aku mulai memohon, tapi
Edward menempelkan jarinya yang dingin ke
bibirku.
"Nanti saja kita diskusikan. Kita bisa terlambat
masuk kelas.”

Tidak ada yang repot-repot memandangi kami
saat kami sepera biasa mengambil tempat di
bagian belakang kelas (sekarang hampir semua
kelas kami sama—luar biasa bagaimana Edward
bisa membuat para pegawai tata usaha yang
wanita mau membantunya). Edward dan aku
sudah bersama-sama cukup lama sehingga tak lagi
menjadi sasaran gosip. Bahkan Mike Newton sudah
tak lagi melayangkan pandangan muram yang dulu
sempat membuatku merasa sedikit bersalah.
Sekarang ia malah tersenyum, dan aku senang
karena sepertinya ia bisa menerima bahwa kami
hanya bisa berteman. Mike banyak berubah selama
liburan musim panas kemarin—wajahnya kini
tidak lagi bulat tembam, membuat tulang pipinya
tampak semakin menonjol, dan rambut pirang
pucatnya pun dipotong model baru; kini
rambutnya tidak jabrik lagi, melainkan sedikit
lebih panjang dan di-gel hati-hati untuk
menimbulkan kesan agak berantakan. Mudah saja
mengetahui dari mana ia mendapatkan inspirasi
model rambut itu—tapi penampilan Edward bukan
sesuatu yang bisa diperoleh dengan cara meniru.
Seiring dengan berjalannya hari, aku
mempertimbangkan beberapa cara untuk mangkir
dari entah acara apa yang akan dilangsungkan di
rumah keluarga Cullen malam ini. Pasti
menyebalkan jika harus mengikuti perayaan
padahal suasana hatiku justru sedang ingin
berduka. Tapi, yang lebih parah lagi, pasti akan
ada perhatian dan hadiah-hadiah di sana.
Perhatian bukan sesuatu yang diinginkan orang
kikuk yang gampang cedera seperti aku. Tak ada

yang ingin menjadi sorotan bila besar
kemungkinan kau bakal jatuh terjerembab.
Dan aku sudah terang-terangan meminta—Well,
memerintahkan, lebih tepatnya—agar tidak ada
yang memberiku kado tahun ini. Kelihatannya
bukan hanya Charlie dan Renee yang memutuskan
untuk tidak menggubrisnya.
Aku tidak pernah punya banyak uang, tapi itu
bukan masalah bagiku. Renee membesarkan aku
dengan gaji guru TK. Pekerjaan Charlie juga tidak
memberinya gaji besar—dia kepala polisi di sini, di
Forks yang hanya kota kecil. Satu-satunya
pendapatan pribadiku hanya didapat dari hasil
bekerja tiga kali seminggu di toko perlengkapan
olahraga setempat. Di kota sekecil ini, bisa
mendapat pekerjaan saja sudah untung. Setiap sen
yang kuhasilkan langsung masuk ke tabungan
untuk biaya kuliah nanti. (Kuliah itu Rencana B.
Aku masih berharap bisa menjalankan Rencana A,
tapi Edward ngotot ingin tetap mempertahankan
aku sebagai manusia...)
Edward punya banyak uang—aku bahkan tidak
ingin membayangkan jumlahnya. Uang hampir tak
ada artinya bagi Edward atau anggota keluarga
Cullen lainnya. Itu hanya sesuatu yang semakin
bertambah karena mereka memiliki waktu tak
terbatas dan saudara perempuan dengan
kemampuan ajaib memprediksi tren pasar modal.
Edward sepertinya tidak mengerti mengapa aku
tidak ingin ia menghabiskan uangnya untukku—
mengapa aku justru merasa tidak enak bila diajak
makan di restoran mahal di Seattle, mengapa ia

tidak diizinkan membelikan aku mobil yang bisa
melaju di atas kecepatan 88 kilometer per jam,
atau mengapa aku tidak membiarkan ia membayar
uang kuliahku (konyolnya, ia sangat antusias
terhadap Rencana B). Edward menganggapku
senang bersikap sulit padahal sebenarnya tidak
perlu.
Tapi bagaimana aku bisa membiarkannya
memberiku banyak hal sementara aku tidak bisa
membalasnya? Ia, entah untuk alasan apa, ingin
bersamaku. Jika ia memberiku hal lain lagi, itu
hanya akan membuat kami makin tidak seimbang.
Waktu terus berjalan, baik Edward maupun
Alice tak lagi mengungkit masalah hari ulang
tahunku, jadi aku mulai merasa sedikit rileks.
Kami duduk di meja kami yang biasa saat
makan siang.
Ada semacam gencatan senjata aneh di meja
kami. Kami bertiga—Edward, Alice, dan aku—
duduk di sisi meja paling selatan. Karena sekarang
anggota keluarga Cullen lain yang "lebih tua" dan
lebih mengerikan (dalam kasus Emmett, jelas)
sudah lulus, Alice dan Edward tidak terlihat terlalu
mengancam, jadi bukan hanya kami yang duduk di
meja ini. Teman-temanku yang lain, Mike dan
Jessica (yang sedang dalam fase canggung sehabis
putus), Angela dan Ben (yang hubungannya
berhasil melewati musim panas dengan selamat),
Eric, Conner, Tyler, dan Lauren (walaupun yang
terakhir itu tidak termasuk kategori teman) semua
duduk di meja yang sama, di seberang garis
pemisah yang tak kasatmata. Garis itu lenyap di

hari-hari cerah saat Edward dan Alice bolos
sekolah, dan pada hari seperti itu, obrolan bisa
berlangsung sangat lancar dan melibatkan aku.
Edward dan Alice tidak menganggap sikap
teman-temanku yang agak mengasingkan mereka
itu aneh atau menyinggung perasaan, seperti yang
pasti bakal kurasakan kalau itu terjadi padaku.
Mereka nyaris tidak memerhatikannya. Orangorang
selalu merasa agak canggung berdekatan
dengan keluarga Cullen, malah bisa dibilang nyaris
takut, untuk alasan yang mereka sendiri tak bisa
jelaskan. Aku pengecualian yang jarang dalam hal
itu. Terkadang justru Edward yang merasa
terganggu melihat betapa nyaman aku di dekatnya.
Menurutnya itu berbahaya bagi kesehatanku—
pendapat yang selalu kutolak mentah-mentah
setiap kali ia mengutarakannya.
Siang berlalu dengan cepat. Sekolah usai, dan
seperti biasa, Edward mengantarku ke truk. Tapi
kali ini, ia membukakan pintu penumpang. Alice
pasti membawa mobilnya pulang supaya Edward
bisa memastikan aku tidak kabur.
Aku bersedekap dan tidak menunjukkan tandatanda
bakal segera berteduh dari hujan yang
menderas. "Sekarang kan hari ulang tahunku, jadi
boleh dong aku yang menyetir?"
"Aku berpura-pura hari ini bukan hari ulang
tahunmu, seperti yang kauinginkan.”
"Kalau ini bukan hari ulang tahunku, berarti
aku tidak harus pergi ke rumahmu malam ini...”

"Baiklah," Edward menutup pintu dan berjalan
melewatiku untuk membuka pintu pengemudi.
"Selamat ulang tahun."
"Ssst," desahku setengah hati. Aku naik
melewati pintu yang sudah terbuka, dalam hati
berharap Edward menerima tawaranku yang lain.
Edward mengotak-atik radio sementara aku
menyetir, menggeleng sebal.
"Sinyal radiomu jelek sekali."
Keningku berkerut. Aku tidak suka Edward
menjelek-jelekkan trukku. Trukku bagus kok—
punya kepribadian.
"Kepingin stereo yang bagus? Naik mobilmu
saja." Aku begitu gugup menghadapi rencana Alice,
ditambah suasana hatiku yang memang sudah
muram, jadi kata-kata yang keluar dari mulutku
terdengar lebih tajam daripada yang sebenarnya
kumaksudkan. Aku jarang marah kepada Edward,
dan nadaku yang ketus membuat Edward
mengatupkan bibir rapat-rapat menahan senyum.
Setelah aku memarkir trukku di depan rumah
Charlie, Edward merengkuh wajahku dengan
kedua tangan. Ia memegangku sangat hati-hati,
hanya ujung-ujung jarinya yang menempel lembut
di pelipis, tulang pipi, dan daguku. Seolah-olah
aku gampang pecah. Dan itu benar—bila
dibandingkan dengan dia, paling tidak.
“Seharusnya hari ini suasana hatimu lebih baik
dibanding kan hari-hari lain" bisiknya. Aroma
napasnya yang manis membelai wajahku.

"Dan kalau suasana hatiku jelek?" tanyaku,
napasku tidak teratur.
Bola mata Edward yang keemasan menyalanyala.
"Sayang sekali."
Kepalaku sudah berputar-putar saat Edward
mendekatkan kepalanya ke wajahku dan
menempelkan bibirnya yang sedingin es ke bibirku.
Tepat seperti yang ia inginkan, sudah pasti, aku
langsung melupakan semua kekhawatiranku dan
berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan
mengeluarkannya.
Bibir Edward terus menempel di bibirku, dingin,
licin, dan lembut, sampai aku merangkulkan
kedua tanganku ke lehernya dan membiarkan
diriku hanyut dalam ciumannya, agak terlalu
antusias malah. Aku bisa merasakan bibirnya
tertekuk ke atas saat ia melepaskan wajahku dan
melepaskan tanganku yang mendekap tengkuknya
erat-erat.
Edward sangat berhati-hati dalam utusan
hubungan fisik, karena ia ingin aku tetap hidup.
Meski tahu aku harus memberi jarak aman antara
kulitku dengan gigi Edward yang setajam silet dan
berlapis racun itu, aku cenderung melupakan halhal
remeh semacam itu saat ia menciumku.
"Jangan nakal," desahnya di pipiku. Edward
menempelkan bibirnya sekali lagi dengan lembut
ke bibirku, kemudian melepaskan pelukannya,
melipat kedua lenganku di perut.
Denyut nadi menggemuruh di telingaku.
Kutempelkan sebelah tanganku ke dada.

Jantungku berdebar sangat keras di bawah telapak
tangan.
"Menurutmu, apakah aku bisa jadi semakin baik
dalam hal ini?" tanyaku, menujukannya pada
diriku sendiri. "Bahwa jantungku suatu saat nanti
akan berhenti mencoba melompat keluar dari
dadaku setiap kali kau menyentuhku?"
"Aku benar-benar berharap itu tidak akan
terjadi," jawab Edward, sedikit puas pada diri
sendiri.
Kuputar bola mataku. "Ayo kita nonton keluarga
Capulet dan Montague saling menghabisi,
bagaimana?"
"Your wish, my command"
Edward duduk berselonjor di sofa sementara aku
menyetel film, mempercepat bagian pembukaan.
Waktu aku duduk di pinggir sofa di depannya,
Edward merangkul pinggangku dan menarikku ke
dadanya. Memang tidak senyaman bersandar di
punggung sofa, karena dada Edward keras dan
dingin—dan sempurna—seperti pahatan es, tapi
aku jelas lebih menyukainya. Edward menarik
selimut tua yang tersampir di punggung sofa dan
menghamparkannya menutupi tubuhku, supaya
aku tidak membeku karena bersentuhan dengan
tubuhnya.
"Kau tahu, sebenarnya aku kurang suka pada
Romeo," Edward berkomentar saat filmnya mulai.
"Memangnya Romeo kenapa?" tanyaku, agak
tersinggung. Romeo salah satu karakter fiksi

favoritku. Sampai aku bertemu Edward, aku
sempat agak-agak naksir padanya.
"Well, pertama-tama, dia mencintai Rosaline
ini—apa menurutmu itu bukan plin-plan
namanya? Kemudian, beberapa menit setelah
pernikahan mereka, dia membunuh sepupu Juliet.
Itu sangat tidak cerdas. Kesalahan demi kesalahan.
Masa menghancurkan kebahagiaannya sendiri?"
Aku mendesah. "Kau mau aku menontonnya
sendirian?"
“Tidak, toh aku akan lebih banyak
menontonmu." Jari-jarinya menyusur membentuk
pola di kulit lenganku, membuat bulu kudukku
meremang. "Kau bakal menangis, tidak?"
"Kemungkinan besar," aku mengakui, "kalau aku
memerhatikan."
"Aku tidak akan mengganggumu kalau begitu."
Tapi aku merasakan bibirnya di rambutku, dan itu
sangat mengganggu.
Akhirnya film itu berhasil menyita perhatianku,
sebagian besar berkat “jasa" Edward membisikkan
dialog-dialog Romeo di telingaku—suaranya yang
merdu bak beledu membuat suara si aktor
terdengar lemah dan kasar. Dan aku benar-benar
menangis, membuat Edward geli, saat Juliet
terbangun dan menemukan suami barunya sudah
meninggal.
"Harus kuakui, aku agak iri padanya dalam hal
ini," kata Edward, mengeringkan air mataku
dengan seberkas rambutku.

"Dia cantik sekali."
Edward mengeluarkan suara seperti jijik. "Aku
bukan iri karena ceweknya—tapi karena mudahnya
dia bunuh diri," Edward mengklarifikasi dengan
nada menyindir. "Kalian manusia gampang sekali
mati! Tinggal menelan setabung kecil ekstrak
tumbuhan..."
"Apa?" aku kaget.
"Itu pernah terpikir olehku, dan aku tahu dari
pengalaman Carlisle, prosesnya tidak sesederhana
itu. Aku bahkan tidak tahu berapa kali dia
mencoba bunuh diri awalnya... begitu sadar dia
sudah berubah menjadi..." Suara Edward, yang
sempat berubah serius, kini ceria lagi. "Dan sampai
sekarang ternyata dia masih sehat walafiat."
Aku berbalik supaya bisa membaca ekspresi
wajahnya. "Ngomong apa sih kau?" tuntutku. "Apa
maksudmu, itu pernah terpikir olehmu?"
"Musim semi lalu, waktu kau... nyaris
terbunuh..." Edward terdiam sejenak untuk
menarik napas dalam-dalam, berusaha keras
kembali memperdengarkan nada menggoda. "Tentu
saja aku berusaha fokus untuk menemukanmu
hidup-hidup, tapi sebagian otakku menyusun
rencana cadangan. Seperti kataku tadi, tak
semudah yang bisa dilakukan manusia."
Sedetik, kenangan akan perjalanan terakhirku
ke Phoenix membanjiri otakku dan membuatku
merasa pusing. Aku bisa melihat semuanya dengan
sangat jelas—terik matahari yang menyilaukan,
gelombang panas yang menguap dari beton saat

aku berlari sekuat tenaga, tergesa-gesa, dan putus
asa, untuk menemukan vampir sadis yang ingin
menyiksaku sampai mati. James, menunggu di
ruang cermin bersama ibuku sebagai sandera—
atau aku menyangka begitu. Aku tidak tahu itu
hanya tipuan. Sama halnya James juga tidak tahu
saat itu Edward sedang lari untuk menyelamatkan
aku; Edward tiba tepat waktu, meski nyaris
terlambat. Tanpa berpikir, jari-jariku meraba bekas
luka berbentuk bulan sabit di tanganku yang
suhunya selalu beberapa derajat lebih rendah
daripada bagian kulitku yang lain.
Aku menggeleng—seolah ingin menepis
kenangan buruk itu jauh-jauh—dan berusaha
mencerna maksud Edward. Perutku melilit.
"Rencana cadangan?" ulangku.
"Well, aku tidak mau hidup tanpa kau," Edward
memutar bola matanya, seolah-olah jawaban itu
sudah sangat jelas, tak perlu ditanyakan lagi. "Tapi
aku tak tahu bagaimana melakukannya—aku tahu
Emmett dan Jasper tidak akan mau membantu...
jadi kupikir mungkin aku akan pergi ke Italia dan
melakukan sesuatu untuk memprovokasi Volturi."
Aku tidak ingin percaya bahwa Edward serius,
tapi matanya terlihat muram, terfokus pada
sesuatu di kejauhan saat ia mempertimbangkan
berbagai cara untuk menghabisi nyawanya sendiri.
Seketika aku marah.
"Apa itu Volturi?" tuntutku.
"Volturi itu nama sebuah keluarga," Edward
menjelaskan, matanya masih tampak muram.
"Keluarga sejenis kami, sangat tua dan berkuasa.

Di dunia kami, mereka bisa dianggap keluarga
bangsawan, kurasa. Carlisle pernah tinggal
sebentar dengan mereka dulu, di Italia, sebelum
kemudian menetap di Amerika—kau ingat
ceritanya?"
"Tentu saja aku ingat."
Aku tidak akan pernah lupa saat pertama kali
aku ke rumah Edward, mansion putih besar jauh
di pelosok hutan, di tepi sungai, atau kamar
tempat Carlisle—yang bisa dianggap ayah
Edward—menyimpan koleksi lukisan yang
menggambarkan sejarah pribadinya. Lukisan yang
paling meriah, paling berwarna-warni, sekaligus
yang paling besar yang ada di sana,
menggambarkan kehidupan Carlisle di Italia. Tentu
saja aku ingat potret diri kwartet lelaki kalem,
masing-masing berwajah memesona seperti
malaikat serafin, berdiri di balkon paling tinggi, di
tengah pusaran berbagai warna yang bercampur
aduk. Walaupun lukisan itu sudah berabad-abad
usianya, Carlisle—si malaikat pirang—tetap tak
berubah. Dan aku ingat ketiga malaikat lain,
kenalan Carlisle dari masa awal hidupnya. Edward
tak pernah menyebut nama Volturi untuk trio
rupawan itu, dua berambut hitam, satu berambut
seputih salju. Ia menyebut mereka Aro, Caius, dan
Marcus, malaikat malam penjaga seni...
"Intinya, kau tidak boleh membuat kesal
keluarga Volturi," sambung Edward, memutus
lamunanku. "Kecuali kau memang ingin mati—
atau apa sajalah istilahnya untuk kami." Suaranya

sangat tenang, sehingga terkesan ia nyaris bosan
oleh kemungkinan itu.
Kemarahanku berubah menjadi kengerian.
Kurengkuh wajahnya yang seperti marmer dan
kuremas kuat-kuat.
"Kau jangan sekali-kali, jangan sekali-kali,
berpikir seperti itu lagi!" sergahku. "Tak peduli apa
pun yang terjadi padaku, kau tidak boleh
mencelakakan dirimu sendiri!"
"Aku tidak akan pernah membahayakan dirimu
lagi, jadi itu tidak perlu diperdebatkan lagi."
"Membahayakan aku! Kusangka kita sudah
sepakat semua ketidakberuntungan itu adalah
salahku?" Amarahku menjadi-jadi. "Beraniberaninya
kau berpikir begitu?" Pikiran bahwa
Edward tak mau hidup lagi, bahkan walaupun aku
sudah mati, terasa sangat menyakitkan.
"Apa yang akan kaulakukan, bila situasinya
dibalik?"
"Itu lain."
Tampaknya Edward tidak mengerti di mana letak
perbedaannya. Ia berdecak.
"Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?" Aku
pucat memikirkan kemungkinan itu. "Kau mau
aku menghabisi nyawaku sendiri?''
Secercah kepedihan menyaput garis-garis
wajahnya yang sempurna.

"Kurasa aku bisa mengerti maksudmu... sedikit,"
Edward mengakui. "Tapi apa yang bisa kulakukan
tanpa kau?"
"Apa pun yang sudah kaulakukan selama ini
sebelum aku datang dan memperumit
keberadaanmu."
Edward mendesah. "Kau membuatnya terdengar
sangat mudah."
Seharusnya memang begitu. Aku toh tidak
semenarik itu.”
Edward sudah hendak membantah, tapi lalu
mengurungkan niatnya. "Tidak perlu
diperdebatkan," ia mengingatkan aku. Mendadak,
ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih
formal, menggeserku ke samping sehingga kami
tak lagi berdempetan.
"Charlie?" tebakku.
Edward tersenyum. Sejurus kemudian aku
mendengar suara mobil polisi menderu memasuki
halaman. Aku mengulurkan tangan, meraih tangan
Edward dan menggenggamnya erat-erat. Hanya itu
yang bisa ditolerir ayahku.
Charlie masuk sambil menenteng kardus pizza.
"Hai, Anak-anak." Ia nyengir padaku. "Kupikir,
sekali-sekali boleh juga kau dibebaskan dari tugas
memasak dan mencuri piring di hari ulang
tahunmu. Lapar?"
"Tentu. Trims, Dad."

Charlie tak pernah mengomentari kondisi
Edward yang kelihatannya tak punya selera
makan. Ia sudah terbiasa melihat Edward
melewatkan makan malam.
"Anda tidak keberatan saya mengajak Bella
keluar malam ini, kan?" tanya Edward setelah
Charlie dan aku selesai makan.
Kupandangi Charlie penuh harap. Siapa tahu
ayahku memiliki konsep bahwa ulang tahun
adalah acara keluarga, jadi aku harus tinggal di
rumah—ini ulang tahun pertamaku bersamanya,
ulang tahun pertama sejak ibuku, Renee, menikah
lagi dan pindah ke Florida, jadi aku tidak tahu
bagaimana ayahku menyikapinya.
"Boleh saja—malam ini Mariners main lawan
Sox," Charlie menjelaskan, dan harapanku
langsung musnah. "Jadi aku tidak bisa
menemani... Ini" Charlie meraup kamera yang ia
belikan atas saran Renee (karena aku
membutuhkan foto-foto untuk mengisi albumku)
dan melemparnya ke arahku.
Seharusnya Dad tidak melemparkan kamera itu
padaku— sejak dulu aku memiliki kelemahan
dalam hal koordinasi. Kamera itu menyapu ujungujung
jariku, dan terpental k lantai. Edward
menyambarnya sebelum benda itu jatuh
membentur lantai linoleum.
"Gesit juga kau," komentar Charlie. "Kalau
malam ini ada acara seru di rumah keluarga
Cullen, Bella, jangan lupa memotret. Kau tahu
sendiri bagaimana ibumu—dia pasti sudah tak
sabar ingin segera melihat foto-foto itu."

"Ide bagus, Charlie," kata Edward, menyerahkan
kamera itu padaku.
Aku mengarahkan kamera itu pada Edward, dan
menjepretnya. "Berfungsi dengan baik."
"Bagus. Hei, kirim salam pada Alice, ya. Dia
sudah lama tidak main ke sini." Sudut-sudut
mulut Charlie tertarik ke bawah.
"Baru juga tiga hari, Dad," aku mengingatkan
ayahku. Charlie tergila-gila pada Alice. Ia jadi dekat
dengannya musim semi lalu ketika Alice
membantuku melewati masa-masa pemulihan yang
sulit; Charlie merasa sangat berterima kasih pada
Alice karena menyelamatkannya dari keharusan
memandikan anak perempuan yang sudah hampir
dewasa. "Akan kusampaikan padanya."
"Oke. Bersenang-senanglah kalian malam ini"
Jelas, itu pengusiran secara halus, Charlie sudah
beringsut ke ruang duduk dan pesawat televisi.
Edward tersenyum menang dan meraih
tanganku, menarikku keluar dari dapur.
Sesampainya di trukku, Edward membukakan
pintu penumpang untukku lagi, dan kali ini aku
tidak membantah. Aku masih sulit menemukan
belokan tersamar yang menuju rumahnya di
kegelapan malam seperti ini.
Edward mengemudikan mobil ke arah utara
melintasi Forks, kentara sekali jengkel dengan
batas kecepatan yang bisa ditempuh Chevy-ku
yang berasal dari zaman prasejarah ini. Mesinnya
mengerang lebih keras daripada biasanya saat

Edward menggenjotnya di atas kecepatan delapan
puluh kilometer per jam.
"Pelan-pelan," aku mengingatkan dia.
"Tahu apa yang bakal sangat kausukai? Audi
coupe mungil yang bagus sekali. Suara mesinnya
halus, tenaganya kuat..."
"Nggak ada yang salah dengan trukku. Dan
omong-omong tentang hal tidak penting yang
berharga mahal, kalau kau tahu apa yang bagus
untukmu, kau tidak mengeluarkan uang untuk
membeli hadiah ulang tahun."
"Satu sen pun tidak"
"Bagus."
"Bisakah kau membantuku?"
"Tergantung apa yang kauminta."
Edward mendesah, wajahnya yang tampan
tampak serius. "Bella, ulang tahun terakhir yang
kami rayakan adalah saat Emmett berulang tahun
di tahun 1935. Tolonglah santai sedikit, dan jangan
terlalu menyulitkan malam ini. Mereka semua
sangat bersemangat."
Selalu agak mengagetkanku setiap kali Edward
menyinggung hal-hal semacam itu. "Baiklah, aku
akan bersikap manis.”
"Mungkin seharusnya aku mengingatkanmu..."
"Ya, please"
"Waktu kubilang mereka semua sangat
bersemangat... maksudku mereka semua."

"Semua?" Aku tersedak. "Lho, kukira Emmett
dan Rosalie sedang di Afrika." Semua orang di
Forks mengira anak-anak keluarga Cullen yang
sudah dewasa pindah ke luar kota untuk kuliah
tahun ini ke Darmouth, tapi aku tahu yang
sebenarnya.
“Emmett ingin datang."
"Tapi... Rosalie?”
"Aku tahu. Bella. Jangan khawatir, dia akan
bersikap sangat baik."
Aku diam saja. Tidak semudah itu untuk tidak
merasa khawatir. Tak seperti Alice, kakak "angkat"
Edward yang lain, Rosalie yang berambut pirang
dan sangat cantik itu, tidak begitu menyukaiku.
Sebenarnya, lebih dari sekadar tidak suka. Bagi
Rosalie, aku penyusup tak diundang yang
mengetahui kehidupan rahasia keluarganya.
Aku merasa sangat bersalah memikirkan situasi
saat ini, karena dugaanku, kepergian Rosalie dan
Emmett untuk waktu lama adalah salahku,
walaupun diam-diam aku senang ia tidak ada.
Emmett, kakak Edward yang bertubuh besar dan
suka bercanda, nah kalau dia, aku benar-benar
merasa kehilangan. Dalam banyak hal, ia sudah
seperti kakak lelaki yang ingin kumiliki sejak
dulu... hanya saja jauh, jauh lebih mengerikan.
Edward memutuskan mengganti topik. "Jadi,
kalau kau tidak memperbolehkan aku
membelikanmu Audi, adakah hal lain yang
kauinginkan untuk ulang tahunmu?"

Kata-kata itu meluncur dari bibirku dalam
bentuk bisikan. "Kau tahu apa yang kuinginkan."
Kerutan dalam muncul di dahi Edward yang
semulus marmer. Jelas ia berharap tadi tidak
mengalihkan topik pembicaraan dari masalah
Rosalie.
Rasanya kami sudah sering sekali berdebat hari
ini.
“Jangan malam ini, Bella. Please?”
“Well, mungkin Alice bisa mengabulkan
keinginanku."
Edward menggeram—suaranya dalam dan
mengancam. "Ini tidak akan menjadi ulang
tahunmu yang terakhir, Bella," ia bersumpah.
"Itu tidak adil!"
Kalau tidak salah aku mendengar gigi-giginya
gemertak.
Kami sudah berhenti di depan rumah sekarang.
Lampu-lampu bersinar terang dari setiap jendela di
dua lantai pertama. Deretan lentera Jepang yang
terang bergelantungan di atap teras, membiaskan
pendaran cahaya lembut di pohon-pohon cedar
besar yang mengelilingi rumah. Mangkuk-mangkuk
besar berisi bunga—mawar merah jambu—berjajar
sepanjang tangga lebar yang mengarah ke pintupintu
depan.
Aku mengerang.
Edward menarik napas dalam-dalam beberapa
kali untuk menenangkan diri. "Namanya juga

pesta," ia mengingatkanku. "Berusahalah bersikap
baik."
"Tentu," gerutuku.
Edward turun untuk membukakan pintu bagiku,
lalu mengulurkan tangan.
"Aku punya pertanyaan."
Ia menunggu dengan waswas.
"Kalau film ini dicuci cetak," kataku, memainkan
kamera di tanganku, "apakah kau akan muncul di
foto?"
Tawa Edward pecah berderai. Ia membantuku
turun dari mobil, menarikku menaiki tangga, dan
masih terus tertawa saat membukakan pintu
untukku.
Mereka semua menunggu di ruang duduk yang
besar dan berwarna putih. Begitu aku melangkah
masuk, mereka menyambutku dengan teriakan
nyaring, "Selamat ulang tahun, Bella!" sementara
aku menunduk dengan wajah merah padam. Alicelah
isumsiku, yang telah menutup semua bagian
yang permukaannya datar dengan lilin pink dan
lusinan mangkuk kristal berisi ratusan mawar. Ada
meja bertaplak putih diletakkan di sebelah grand
piano Edward, dengan kue tart pink di atasnya,
bunga-bunga mawar, tumpukan piring kaca, dan
gundukan kecil kado terbungkus kertas warna
perak.
Ini ratusan kali lebih parah daripada yang bisa
kubayangkan.

Edward. merasakan kegalauanku. merangkul
pinggangku dengan sikap menyemangati, lalu
mengecup puncak kepalaku.
Orangtua Edward. Carlisle dan Esme—tetap
semuda dan serupawan biasanya—berdiri paling
dekat ke pintu. Esme memelukku hati-hati,
rambutnya yang halus dan sewarna karamel
membelai pipiku saat ia mengecup dahiku,
kemudian Carlisle merangkul pundakku.
"Maaf tentang ini. Bella," bisiknya. "Kami tidak
sanggup mengekang Alice."
Rosalie dan Emmett berdiri di belakang mereka.
Rosalie tidak tersenyum, tapi setidaknya ia tidak
melotot. Emmett nyengir lebar. Sudah berbulanbulan
aku tidak bertemu mereka; aku sudah lupa
betapa luar biasa cantiknya Rosalie—nyaris
menyakitkan melihatnya. Dan benarkah Emmett
sejak dulu sudah begitu... besar?
"Kau sama sekali tidak berubah," kata Emmett,
berlagak seolah-olah kecewa. "Sebenarnya aku
berharap kau sedikit berubah, tapi ternyata
wajahmu tetap merah, seperti biasa.”
"Terima kasih banyak, Emmett," kataku,
semakin merah padam.
Emmett tertawa. "Aku harus keluar dulu
sebentar" —ia terdiam untuk mengedipkan mata
pada Alice dengan gaya mencolok—"Jangan
berbuat macam-macam selagi aku tidak ada.”
“Akan kucoba."

Alice melepas tangan Jasper dan bergegas maju,
giginya berkilauan di bawah cahaya lampu. Jasper
juga tersenyum, tapi tetap berdiri di tempat. Ia
bersandar, jangkung dan pirang, di tiang di kaki
tangga. Setelah beberapa hari terkurung bersama
di Phoenix, kusangka ia sudah tidak
menghindariku lagi. Tapi sikapnya sekarang
kembali seperti sebelumnya—sedapat mungkin
menghindariku—begitu terbebas dari kewajiban
sementaranya untuk melindungiku. Aku tahu itu
bukan masalah pribadi, hanya tindakan
pencegahan, dan aku mencoba untuk tidak terlalu
sensitif mengenainya. Jasper agak sulit
menyesuaikan diri dengan diet keluarga Cullen
dibandingkan para anggota keluarga yang lain; bau
darah manusia lebih sulit ditolaknya dibanding
yang lain-lain—ia belum terlalu lama mencoba.
"Waktunya buka kado!" seru Alice. Ia menggamit
sikuku dengan tangannya yang dingin dan
menarikku ke meja penuh tart dan kado-kado
mengilap.
Aku memasang wajah martirku yang terbaik.
"Alice, sudah kubilang aku tidak menginginkan
apa-apa—“
"Tapi aku tidak mendengarkan," sela Alice,
senyum puas tersungging di bibirnya. "Bukalah." Ia
mengambil kamera dari tanganku dan
menggantinya dengan kotak segiempat besar warna
perak.
Kotak itu sangat ringan hingga terasa kosong.
Label di atasnya menandakan kado itu dari

Emmett, Rosalie, dan Jasper. Waswas, kurobek
kertas itu dan kupandangi kotak di dalamnya.
Itu kotak peralatan elektronik, dengan angkaangka
pada namanya. Kubuka kotak itu, berharap
mengetahui isinya. Tapi kotak itu kosong.
“Ehm... trims."
Senyum Rosalie terkuak sedikit. Jasper
terbahak. "Itu stereo untuk mobilmu; ia
menjelaskan. "Emmett sedang memasangnya
sekarang supaya kau tidak bisa
mengembalikannya."
Alice selalu selangkah di depanku.
"Trims, Jasper. Rosalie." kataku pada mereka,
nyengir saat teringat keluhan Edward siang tadi
tentang radioku-hanya jebakan, ternyata. “Trims,
Emmett!" seruku dengan suara lebih keras.
Aku mendengar suara tawanya yang berdentum
dari dalam trukku, dan mau tak mau aku ikut
tertawa.
“Berikutnya, buka kadoku dan kado Edward,"
kata Alice, begitu bersemangat hingga suaranya
terdengar melengking tinggi. Di tangannya ada
kotak kecil pipih.
Aku menoleh dan melayangkan pandangan
tajam pada Edward. "Kau sudah janji."
Sebelum ia sempat menjawab. Emmett berlarilari
melewati pintu. "Tepat pada waktunya!"
serunya. Ia menyelinap di belakang Jasper, yang
juga beringsut lebih dekat dari biasanya agar bisa
melihat lebih jelas.

"Aku tidak mengeluarkan uang satu sen pun,"
Edward meyakinkan aku. Ia menyingkirkan
seberkas rambut dari wajahku, membuat kulitku
bagai tergelitik
Aku menghirup napas dalam-dalam dan
menoleh pada Alice. "Berikan padaku," aku
mendesah Emmett terkekeh gembira.
Aku mengambil kado kecil itu dari tangannya,
memutar bola mataku pada Edward sambil
menyelipkan jariku di bawah pinggiran kertas dan
menyentakkannya di bawah selotip.
"Sial," gumamku saat kertas itu mengiris jariku;
aku menarik jariku dari bawah kertas untuk
mengetahui kondisinya. Setitik darah muncul dari
luka kecil itu.
Sesudahnya segalanya terjadi begitu cepat.
"Tidak!” raung Edward.
Ia menerjangku hingga terjengkang menabrak
meja. Meja terbalik, menjatuhkan kue tart dan
kado-kado, juga bunga-bunga dan piring-piring.
Aku mendarat di tengah kepingan kristal yang
pecah berantakan.
Jasper menabrak Edward, dan suaranya
terdengar seperti benturan batu-batu besar saat
terjadi longsor.
Ada lagi suara lain, geraman mengerikan yang
sepertinya berasal jauh dari dasar dada Jasper.
Jasper berusaha menerobos melewati Edward,
mengatupkan giginya hanya beberapa sentimeter
saja dari wajah Edward.

Detik berikut Emmett menyambar Jasper dari
belakang, menguncinya dalam pitingan tangan
yang besar, tapi Jasper memberontak, matanya
yang liar dan kosong hanya terfokus padaku.
Selain shock, aku juga merasa kesakitan. Aku
terbanting ke lantai di dekat piano, kedua tangan
refleks terbentang lebar untuk menahan jatuhku,
tepat menimpa kepingan-kepingan kaca yang
tajam. Baru sekarang aku merasakan kesakitan
yang pedih dan menusuk yang menjalar dari
pergelangan tangan ke lipatan siku.
Pusing dan linglung, aku mendongak dari darah
merah cerah yang merembes keluar dari
lenganku—dan melihat enam pasang mata vampir
yang tiba-tiba menatapku dengan sorot kelaparan.

2. JAHITAN
HANYA Carlisle yang tetap tenang. Pengalaman
bekerja di UGD selama berabad-abad tergambar
jelas dalam suaranya yang tenang dan berwibawa.
"Emmett, Rose, bawa Jasper keluar."
Kali ini tanpa senyum, Emmett mengangguk.
"Ayolah, Jasper."
Jasper meronta-ronta dalam cengkeraman
Emmett, menggeliat-geliat, menyorongkan giginya
ke arah saudaranya, matanya masih liar.
Wajah Edward pucat pasi saat ia menghambur
dan membungkuk di atas tubuhku, posisinya jelas

melindungi. Geraman rendah bernada
memperingatkan terdengar dari sela-sela giginya
yang terkatup rapat. Aku tahu ia tidak bernapas.
Rosalie, wajah malaikatnya tampak puas, maju
selangkah di depan Jasper—menjaga jarak dengan
giginya—dan membantu Emmett menyeret Jasper
keluar lewat pintu kaca yang dibukakan Esme,
sebelah tangan menutup mulut dan hidungnya.
Wajah Esme yang berbentuk hati tampak malu.
"Akubenar-benar minta maaf, Bella," jeritnya
sambil mengikuti yang lain-lain ke halaman.
"Beri aku jalan, Edward," gumam Carlisle.
Sedetik berlalu, kemudian Edward mengangguk
lambat-lambat dan merilekskan posisinya.
Carlisle berlutut di sebelahku, mencondongkan
tubuh untuk memeriksa lenganku. Bisa kurasakan
perasaan shock membeku di wajahku, jadi aku
berusaha mengubahnya.
"Ini, Carlisle," kata Alice, mengulurkan handuk.
Carlisle menggeleng. "Terlalu banyak serpihan
kaca di lukanya." Ia mengulurkan tangan dan
merobek bagian bawah taplak meja putih menjadi
kain panjang tipis. Dililitkannya kain itu di bawah
siku untuk membentuk semacam bebat. Bau anyir
darah membuat kepalaku pening. Telingaku
berdenging.
"Bella," kata Carlisle lirih. "Kau mau aku
mengantarmu ke rumah sakit, atau kau mau aku
merawatnya di sini saja?"

"Di sini saja, please," bisikku. Kalau ia
membawaku ke rumah sakit, cepat atau lambat
Charlie pasti bakal tahu.
"Biar kuambilkan tasmu,” kata Alice.
"Mari kita bawa dia ke meja dapur," kata Carlisle
pada Edward.
Edward mengangkatku dengan mudah,
sementara Carlisle memegangi lenganku agar tetap
stabil.
"Bagaimana keadaanmu, Bella?" tanya Carlisle.
"Baik-baik saja," Suaraku terdengar cukup
mantap, dan itu membuatku senang.
Wajah Edward kaku seperti batu.
Alice telah menunggu di sana. Tas Carlisle sudah
diletakkan di meja, bersama lampu meja kecil yang
menyala terang dicolokkan ke dinding. Edward
mendudukkan aku dengan lembur ke kursi,
sementara Carlisle menarik kursi lain. Ia langsung
bekerja.
Edward berdiri di sampingku, sikapnya masih
protektif, masih menahan napas.
"Pergilah, Edward," desahku.
"Aku bisa mengatasinya,” Edward bersikeras.
Tapi dagunya kaku; sorot matanya menyala-nyala
oleh dahaga yang coba dilawannya sekuat tenaga,
jauh lebih parah baginya ketimbang bagi yang lainlain.

"Kau tidak perlu sok jadi pahlawan," tukasku.
"Carlisle bisa mengobatiku tanpa bantuanmu.
Pergilah dan hirup udara segar."
Aku meringis saat Carlisle melakukan sesuatu di
lenganku yang rasanya perih.
"Aku akan tetap di sini," bantah Edward.
"Kenapa kau senang menyiksa diri sendiri?”
gumamku.
Carlisle memutuskan menengahi. "Edward, lebih
baik kau menemui Jasper sebelum dia jadi tak
terkendali. Aku yakin dia marah pada dirinya
sendiri, dan aku ragu dia mau mendengarkan
nasihat yang lain selain kau sekarang ini."
"Benar," dukungku penuh semangat. "Cari
Jasper sana."
"Lebih baik kau melakukan sesuatu yang
berguna," imbuh Alice.
Mata Edward menyipit karena kami
mengeroyoknya seperti itu, tapi akhirnya ia
mengangguk sekali dan berlari kecil dengan lincah
melalui pintu dapur sebelah belakang. Aku yakin ia
belum menarik napas sekali pun sejak jariku teriris
tadi.
Perasaan kebas dan mati rasa menyebar di
sekujur lenganku. Meski perihnya hilang, namun
itu membuatku teringat pada lukaku, jadi
kupandangi saja wajah Carlisle dengan saksama
untuk mengalihkan pikiran dari apa yang
dilakukan tangannya. Rambut Carlisle berkilau
emas di bawah cahaya lampu sementara ia

membungkuk di atas lenganku. Bisa kurasakan
secercah rasa mual mengaduk-aduk perutku, tapi
aku bertekad takkan membiarkan kegelisahan
menguasaiku. Sekarang tak ada lagi rasa sakit,
yang ada hanya perasaan seperti ditarik-tarik yang
berusaha kuabaikan. Tak ada alasan untuk
muntah-muntah seperti bayi.
Seandainya tak berada dalam jangkauan
pandanganku, aku pasti takkan menyadari Alice
akhirnya menyerah dan menyelinap ke luar
ruangan. Dengan senyum kecil meminta maaf, ia
lenyap di balik pintu dapur.
"Well, itu berarti semuanya," desahku. "Aku bisa
mengosongkan ruangan, paling tidak."
"Itu bukan salahmu," hibur Carlisle sambil
terkekeh. "Itu bisa terjadi pada siapa pun."
"Bisa," ulangku. "Tapi biasanya hanya terjadi
padaku."
Lagi-lagi Carlisle tertawa.
Ketenangan sikap Carlisle jauh lebih
menakjubkan saat dibandingkan reaksi yang
lainnya. Tak tampak secercah pun kegugupan di
wajahnya. Carlisle bekerja dengan gerakan-gerakan
cepat dan mantap. Satu-satunya suara lain selain
embusan napas kami yang pelan hanya bunyi kling
kling saat pecahan-pecahan kecil kaca dijatuhkan
satu demi satu ke meja.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" desakku.
"Bahkan Alice dan Esme..." Aku tak menyelesaikan
kata-kataku, hanya menggeleng heran. Walaupun
mereka semua juga sudah meninggalkan diet

tradisional vampir seperti halnya Carlisle, tapi
hanya dia yang sanggup mencium aroma darah
tanpa merasa tergoda sedikit pun untuk
mencicipinya. Jelas, itu jauh lebih sulit daripada
yang terlihat.
"Latihan bertahun-tahun,” jawab Carlisle.
"Sekarang aku sudah hampir tidak menyadari
baunya lagi.”
"Menurutmu, apakah akan lebih sulit bila kau
cuti lama dari rumah sakit? Dan tidak selalu
berdekatan dengan darah?"
"Mungkin," Carlisle mengangkat bahu, tapi
kedua tangannya tetap mantap. "Aku tak pernah
merasa perlu cuti lama-lama." Ia menyunggingkan
senyum ceria ke arahku. "Aku terlalu menikmati
pekerjaanku."
Kling, kling, kling. Kaget juga aku melihat
banyaknya serpihan kaca di lenganku. Aku tergoda
untuk melirik tumpukan yang semakin bertambah,
hanya untuk melihat ukurannya, tapi aku tahu ide
itu takkan membantuku menahan keinginan untuk
tidak muntah.
"Apa sebenarnya yang kaunikmati?" tanyaku.
Sungguh tak masuk akal—bertahun-tahun
berjuang dan menyangkal diri untuk bisa mencapai
suatu titik di mana ia bisa menahannya begitu
mudah. Lagi pula aku ingin terus mengajaknya
bicara; obrolan membantu mengalihkan pikiran
dari perutku yang mual.
Bola mata Carlisle yang berwarna gelap tampak
tenang dan merenung saat ia menjawab. "Hmm.

Aku paling senang kalau... kemampuanku ini bisa
membantu menyelamatkan orang yang kalau tidak
kutolong pasti akan meninggal. Senang rasanya
mengetahui bahwa, karena kemampuanku,
kehidupan orang lain bisa jauh lebih baik karena
aku ada. Bahkan indra penciumanku terkadang
bisa menjadi perangkat diagnosis yang berguna."
Satu sisi mulutnya terangkat membentuk separo
senyuman.
Aku memikirkan hal itu sementara Carlisle
mengorek-ngorek lukaku, memastikan semua
serpihan kaca telah diambil Lalu ia merogoh-rogoh
tasnya, mencari peralatan baru, dan aku berusaha
untuk tidak membayangkan jarum dan benang.
"Kau berusaha sangat keras membenahi sesuatu
yang sebenarnya bukan salahmu," kataku
sementara sensasi tarikan yang baru mulai terasa
di pinggir-pinggir kulitku. "Maksudku, kau tidak
minta dilahirkan seperti ini. Kau tidak memilih
kehidupan seperti ini, tapi kau tetap berusaha
sangat keras untuk menjalaninya dengan baik."
"Aku bukan hendak membenahi apa-apa,"
Carlisle menyanggah halus. "Seperti segalanya
dalam hidup, aku hanya memutuskan hendak
berbuat apa dengan kehidupan yang kumiliki
sekarang."
"Kau membuatnya terdengar terlalu mudah."
Carlisle memeriksa lenganku lagi. "Nah, sudah,"
ujarnya, menggunting benang. "Sudah beres." Ia
mengolesi kapas bertangkai ukuran besar dengan
cairan sewarna sirup banyak-banyak, lalu
membalurkannya dengan saksama di seluruh

permukaan luka yang sudah dijahit. Baunya aneh;
membuat kepalaku berputar. Cairan itu membuat
kulitku perih.
"Tapi awalnya," desakku sementara Carlisle
menempelkan kasa panjang menutupi luka, lalu
merekatkannya ke kulitku. "Mengapa terpikir
olehmu untuk mencoba cara hidup yang lain selain
yang lazim bagi kalian?"
Bibir Carlisle terkuak, membentuk senyum
pribadi. "Edward tak pernah menceritakannya
padamu?"
"Pernah. Tapi aku ingin memahami jalan
pikiranmu..."
Wajah Carlisle mendadak berubah serius lagi,
dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia juga
memikirkan hal yang sama. Bertanya-tanya apa
yang akan kupikirkan saat—aku menolak berpikir
itu hanya kemungkinan—itu terjadi padaku.
"Kau tahu ayahku pemuka agama," kenang
Carlisle sambil membersihkan meja dengan hatihati,
mengelap semuanya dengan kasa basah,
kemudian mengulanginya lagi. Bau alkohol
membakar rongga hidungku. "Dia memiliki
pandangan yang agak keras terhadap dunia, hal
yang mulai kupertanyakan sebelum aku berubah."
Carlisle meletakkan semua kasa kotor dan
serpihan kaca ke dalam mangkuk kristal kosong.
Aku tidak mengerti maksudnya, sampai kemudian
Carlisle menyalakan korek. Kemudian ia
membuang batang korek api ke tumpukan kain
yang basah oleh alkohol, dan api yang tiba-tiba
menyala membuatku melompat kaget.

"Maaf,” katanya. "Nah, sudah... aku tidak
sependapat dengan keyakinan yang dianut ayahku.
Tapi tidak pernah, selama hampir empat ratus
tahun sekarang sejak aku dilahirkan, aku melihat
apa pun yang membuatku meragukan keberadaan
Tuhan dalam wujud bagaimanapun. Bahkan
bayangan dalam cermin pun tidak."
Aku pura-pura mengamati balutan di lenganku
untuk menyembunyikan kekagetanku melihat arah
pembicaraan kami. Agama adalah hal terakhir yang
kuharapkan bakal menjadi jawabannya. Aku
sendiri bisa dibilang tidak memiliki keyakinan.
Charlie menganggap dirinya Lutheran, karena
itulah agama yang dianut kedua orangtuanya, tapi
di hari Minggu ia beribadah di tepi sungai dengan
joran dan pancing. Renee sesekali ke gereja, tapi
sama seperti affair singkatnya dengan tenis,
kerajinan tembikar, yoga, dan kursus bahasa
Prancis, ia sudah tertarik pada hal lain saat aku
baru mulai menyadari kegemaran barunya.
Aku yakin semua ini kedengarannya aneh,
karena keluar dari mulut vampir. Carlisle nyengir,
tahu penggunaan kata itu secara sambil lalu selalu
berhasil membuatku shock. "Tapi aku berharap
masih ada tujuan dalam hidup ini. bahkan bagi
kami. Sulit memang, harus kuakui,” sambung
Carlisle dengan nada tak acuh. "Bagaimanapun
juga, kami telah dikutuk. Tapi aku berharap, dan
mungkin ini harapan konyol, bahwa kami bisa
mendapatkan sedikit penghargaan karena telah
mencoba."

"Menurutku itu tidak konyol," gumamku. Aku
tak bisa membayangkan ada orang, termasuk
Tuhan, yang tidak terkesan pada Carlisle. Lagi
pula, satu-satunya surga yang kuinginkan adalah
yang ada Edward-nya. "Dan kurasa orang lain pun
tak ada yang berpikir begitu."
"Sebenarnya, kau orang pertama yang
sependapat denganku."
"Memangnya yang lain-lain tidak merasakan hal
yang sama?" tanyaku, terkejut, pikiranku hanya
tertuju pada satu orang secara khusus.
Carlisle kembali menebak jalan pikiranku.
"Edward sependapat denganku sampai batas
tertentu. Tuhan dan surga itu ada... begitu juga
neraka. Tapi dia tidak percaya ada kehidupan
setelah kematian untuk jenis kami," Suara Carlisle
sangat lembut; ia memandang ke luar jendela besar
di atas bak cuci, ke kegelapan. "Kau tahu, menurut
dia, kami sudah kehilangan jiwa kami."
Aku langsung teringat kata-kata Edward siang
tadi: kecuali kau memang ingin mati—atau apa
sajalah istilahnya untuk kamu. Sebuah bola lampu
seakan menyala di kepalaku.
"Jadi itulah masalahnya, bukan?" aku menduga.
"Itulah sebabnya dia begitu sulit mengabulkan
keinginanku."
Carlisle berbicara lambat-lambat. "Aku
memandang... putraku. Kekuatannya,
kebaikannya, kecemerlangan yang terpancar
darinya—dan itu justru semakin mengobarkan
semangat itu, keyakinan itu, lebih dari yang

sudah-sudah. Bagaimana mungkin tidak ada
kehidupan setelah kematian untuk makhluk sebaik
Edward?"
Aku mengangguk penuh semangat, setuju.
"Tapi kalau keyakinanku sama seperti Edward
bahwa jiwa kami sudah hilang..." Carlisle
menunduk memandangiku dengan sorot mata tak
terbaca. "Seandainya kau meyakini hal yang sama
seperti yang diyakininya. Tegakah kau merenggut
jiwanya?"
Cara Carlisle memfrasekan pertanyaan itu
menghalangi jawabanku. Seandainya ia bertanya
apakah aku rela mempertaruhkan jiwaku untuk
Edward, jawabannya jelas. Tapi apakah aku rela
mempertaruhkan jiwa Edward? Kukerucutkan
bibirku dengan sikap tak suka. Itu bukan barter
yang adil.
"Sekarang kau mengerti masalahnya."
Aku menggeleng, sadar sifat keras kepalaku
mulai muncul.
Carlisle mendesah.
"Itu pilihanku,” aku berkeras.
"Itu juga pilihannya," Carlisle mengangkat
tangan begitu melihatku hendak membantah.
"Terlepas dari apakah dia bertanggung jawab
melakukan hal itu terhadapmu."
"Dia bukan satu-satunya yang bisa
melakukannya," Kupandangi Carlisle dengan sikap
spekulatif.

Carlisle tertawa, ketegangan langsung mencair.
"Oh, tidak. Kau harus membereskan masalah ini
dengan dia!' Tapi sejurus kemudian ia menghela
napas panjang. "Itu bagian yang aku tidak akan
pernah bisa yakin. Kupikir, dalam banyak hal lain,
aku sudah melakukan yang terbaik dengan apa
yang harus kulakukan. Tapi benarkah tindakanku
yang membuat orang lain menjalani kehidupan
seperti ini? Aku tak bisa memutuskan."
Aku tidak menjawab. Aku membayangkan
bagaimana jadinya hidupku seandainya Carlisle
menolak godaan untuk mengubah keberadaannya
yang sendirian... dan bergidik.
"Ibu Edward-lah yang membuatku yakin dengan
keputusanku" Suara Carlisle nyaris hanya bisikan.
Matanya menerawang kosong ke luar jendela yang
gelap.
"Ibunya?" Setiap kali aku bertanya kepada
Edward tentang orangtuanya, ia hanya berkata
mereka sudah lama meninggal dan ingatannya
kabur. Sadarlah aku ingatan Carlisle terhadap
orangtua Edward, meski pertemuan mereka sangat
singkat, pastilah sangat jelas.
"Ya. Namanya Elizabeth. Elizabeth Masen.
Ayahnya, Edward Senior, tidak pernah tersadar
selama di rumah sakit. Dia meninggal saat
gelombang pertama serangan influenza terjadi. Tapi
Elizabeth sadar nyaris hingga menjelang
meninggal. Edward mirip sekali dengannya—warna
rambutnya juga pirang tembaga, begitu juga
matanya, sama-sama hijau."

"Mata Edward dulu hijau?" gumamku, berusaha
membayangkannya.
"Ya..." Carlisle menerawang jauh. "Elizabeth
sangat mengkhawatirkan putranya. Dia
mempertaruhkan peluangnya untuk selamat
dengan berusaha merawat Edward dalam keadaan
sakit. Kusangka Edward-lah yang akan lebih dulu
meninggal, kondisinya jauh lebih parah daripada
ibunya. Saat maut menjemput Elizabeth, prosesnya
sangat cepat. Kejadiannya tepat setelah matahari
terbenam, dan aku datang untuk menggantikan
para dokter yang sudah bekerja seharian. Saat itu
rasanya sulit sekali berpura-pura—begitu banyak
yang harus ditangani, dan aku tidak butuh
istirahat. Betapa bencinya aku harus pulang ke
rumah, bersembunyi dalam gelap dan berpurapura
tidur padahal begitu banyak orang yang
sekarat.
"Pertama-tama aku pergi untuk mengecek
keadaan Elizabeth dan putranya. Aku mulai
merasa terikat pada mereka–hal yang berbahaya
mengingat kondisi manusia yang rapuh. Begitu
melihatnya, aku langsung tahu kondisi Elizabeth
semakin parah. Demamnya tak terkendali, dan
tubuhnya sudah tak kuat lagi melawan.
"Tapi dia tidak tampak lemah, saat dia
memandangiku dengan mata menyala-nyala dari
ranjangnya.”
'"Selamatkan dia!' pintanya padaku dengan
suara serak yang sanggup dikeluarkan
tenggorokannya.

'"Aku akan berusaha semampuku’ aku berjanji
padanya, meraih tangannya. Demamnya tinggi
sekali, hingga ia bahkan tak bisa merasakan
tanganku yang sangat dingin itu. Semua terasa
dingin di kulitnya.
“’Kau harus bisa,’ desaknya, mencengkeram
tanganku begitu kuat hingga aku bertanya-tanya
dalam hati apakah ia bisa selamat dari krisis ini.
Matanya keras, seperti batu, seperti zambrud. 'Kau
harus melakukan semua yang mampu
kaulakukan. Apa yang orang lain tidak bisa, itulah
yang harus kaulakukan untuk Edward-ku.’
“Aku ketakutan. Dia menatapku dengan
matanya yang tajam menusuk, dan, sesaat, aku
yakin dia tahu rahasiaku. Kemudian demam
menguasainya, dan dia tak pernah sadar lagi. Dia
meninggal hanya satu jam setelah mengutarakan
tuntutannya padaku.
“Berpuluh-puluh tahun lamanya aku
mempertimbangkan untuk menciptakan
pendamping untuk hidupku. Hanya satu makhluk
lain yang bisa benar-benar mengenalku, bukan
aku yang berpura-pura. Tapi aku tak pernah bisa
menemukan pembenaran untukku – melakukan
seperti yang pernah dilakukan terhadapku.
"Lalu di sanalah Edward berbaring, sekarat.
Jelas sekali dia hanya punya waktu beberapa jam.
Di sampingnya terbaring ibunya, entah bagaimana
wajahnya tetap tidak tampak tenang, meski dalam
kematian."
Carlisle seperti melihat lagi semuanya,
kenangannya tidak pudar meski seabad telah

berlalu. Aku juga bisa melihatnya dengan jelas,
saat Carlisle bicara—“keputusasaan yang
melingkupi rumah sakit, atmosfer kematian yang
terlampau kuat. Tubuh Edward panas membara
oleh demam, nyawanya terancam seiring dengan
detik-detik yang berjalan... sekujur tubuhku lagilagi
bergidik, mengenyahkan bayangan itu dari
pikiranku.
"Kata-kata Elizabeth terngiang-ngiang di
kepalaku. Bagaimana dia bisa menebak apa yang
bisa kulakukan? Mungkinkah ada orang yang
benar-benar menginginkan hal itu untuk anaknya?
"Kupandangi Edward. Meski sakit keras, dia
tetap tampan. Ada sesuatu yang murni dan indah
tergambar di wajahnya. Seperti yang kuinginkan di
wajah anakku kalau aku punya anak.
"Setelah bertahun-tahun tak bisa memutuskan,
aku langsung bertindak tanpa berpikir lagi.
Pertama-tama, kudorong dulu jenazah ibunya ke
kamar mayat, lalu aku kembali untuk menjemput
Edward. Saat itu rumah sakit kekurangan tenaga
dan perhatian untuk menangani setengah saja
kebutuhan para pasien. Kamar mayat kosong—dari
orang hidup, paling tidak. Diam-diam kubawa
Edward keluar dari pintu belakang, kugendong
melewati atap-atap rumah, kembali ke rumahku.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Kuputuskan
untuk membuat kembali luka seperti yang pernah
kuterima dulu, beberapa abad sebelumnya di
London. Belakangan, aku merasa bersalah. Luka
itu lebih menyakitkan dan lebih lama sembuh
daripada yang sebenarnya diperlukan.

"Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak pernah
menyesal telah menyelamatkan Edward," Carlisle
menggeleng, kembali ke masa kini. Ia tersenyum
padaku. "Kurasa sebaiknya kuantar kau pulang
sekarang."
"Biar aku saja," kata Edward. Ia muncul dari
arah ruang makan yang remang-remang, berjalan
lambat-lambat untuk ukurannya. Wajahnya datar,
ekspresinya tak terbaca, tapi ada yang tidak beres
dengan matanya—sesuatu yang coba
disembunyikannya sekuat tenaga. Aku merasa
perutku seperti diaduk-aduk.
"Carlisle bisa mengantarku," kataku. Aku
menunduk memandang kemejaku; bahan katun
biru mudanya basah oleh bercak-bercak darah.
Bahu kananku berlepotan krim gula warna pink.
"Aku tidak apa-apa," Suara Edward datar tanpa
emosi. "Kau toh perlu ganti baju. Bisa-bisa Charlie
terkena serangan jantung kalau melihatmu seperti
itu. Akan kuminta Alice mencarikan baju
untukmu." Edward berjalan lagi keluar dari pintu
dapur.
Kupandangi Carlisle dengan sikap waswas. "Dia
kalut sekali."
"Memang," Carlisle sependapat. "Yang terjadi
malam ini adalah apa yang paling ditakutinya
bakal terjadi. Membahayakanmu, karena keadaan
kami yang seperti ini."
"Itu bukan salahnya."
"Bukan salahmu juga."

Aku mengalihkan tatapanku dan mata Carlisle
yang indah dan bijak. Aku tidak sependapat
dengannya.
Carlisle mengulurkan tangan dan membantuku
berdiri. Kuikuti dia ke ruang utama. Esme sudah
kembali; sedang mengepel lantai tempatku jatuh
tadi—dengan cairan desinfektan murni tanpa
campuran kalau menilik dari baunya.
"Esme, biar aku saja," Bisa kurasakan wajahku
kembali merah padam.
"Aku sudah selesai." Esme mendongak dan
tersenyum padaku. "Bagaimana keadaanmu?"
"Baik-baik saja," aku meyakinkan dia. "Carlisle
menjahit lebih cepat daripada dokter lain yang
pernah menanganiku."
Mereka berdua tertawa.
Alice dan Edward muncul dari pintu belakang.
Alice bergegas mendapatiku, tapi Edward berdiri
agak jauh, ekspresinya sulit digambarkan.
"Ayolah," ajak Alice. "Akan kucarikan sesuatu
yang tidak begitu mengerikan untuk dipakai."
Alice menemukan kemeja Esme yang warnanya
mendekati warna bajuku tadi. Charlie tak bakal
memerhatikan, aku yakin. Perban putih panjang di
lenganku tidak tampak terlalu serius setelah aku
tak lagi memakai baju yang berlepotan bercak
darah. Charlie toh tak pernah terkejut melihatku
diperban.
“Alice," bisikku saat ia kembali berjalan menuju
pintu.

"Ya?" Suara Alice tetap pelan, memandangiku
dengan sikap ingin tahu, kepalanya ditelengkan ke
satu sisi.
"Seberapa parah?" Aku tak yakin apakah
berbisik-bisik begini ada gunanya. Walaupun kami
di lantai atas, dengan pintu tertutup, mungkin ia
tetap bisa mendengarku.
Wajah Alice menegang. "Aku belum bisa
memastikan."
"Jasper bagaimana?"
Alice mendesah. "Dia sangat kesal pada dirinya
sendiri. Itu memang lebih sulit baginya dibanding
bagi yang lain, dan dia tidak suka merasa diri
lemah."
"Itu bukan salahnya. Bisa tolong katakan
padanya aku tidak marah, sama sekali tidak marah
padanya, bisa, kan?"
"Tentu saja."
Edward menungguku di pintu depan. Begitu aku
sampai di kaki tangga, ia membukakan pintu
tanpa sepatah kata pun.
"Bawa barang-barangmu!" pekik Alice waktu aku
berjalan waswas menghampiri Edward. Ia meraup
kedua bungkusan, yang satu baru separo terbuka,
serta kameraku dari bawah piano, dan menjejalkan
semuanya ke lekukan lenganku yang tidak terluka.
"Kau bisa mengucapkan terima kasih belakangan,
kalau sudah membuka kado-kadomu!”
Esme dan Carlisle mengucapkan selamat malam
dengan suara pelan. Sempat kulihat mereka diamTiraikasih

diam melirik putra mereka yang diam seribu
bahasa, sama seperti aku.
Lega rasanya berada di luar; aku bergegas
melewati deretan lentera dan mawar yang kini
mengingatkanku pada peristiwa tak mengenakkan
tadi. Edward berjalan di sampingku tanpa bicara.
Ia membukakan pintu penumpang untukku, dan
aku naik tanpa protes.
Di atas dasbor terpasang pita merah besar,
menempel di stereo yang baru. Kurenggut pita itu
dan kubuang ke lantai. Waktu Edward naik di
sampingku, kutendang pita itu ke bawah kursi.
Edward tidak melihat ke arahku ataupun stereo
itu. Kami juga tidak menyalakannya, dan entah
bagaimana kesunyian justru semakin terasa oleh
raungan mesin yang tiba-tiba. Edward ngebut
terlalu kencang melintasi jalan yang gelap dan
berkelok-kelok.
Kesunyian itu membuatku sinting.
“Katakan sesuatu," pintaku akhirnya saat
Edward berbelok memasuki jalan raya.
"Kau ingin aku bilang apa?" tanyanya dengan
sikap menjauh.
Aku meringis melihat sikapnya yang tak mau
mendekat. "Katakan kau memaafkan aku."
Perkataanku itu menimbulkan secercah
kehidupan di wajahnya—secercah amarah.
"Memaafkanmu? Untuk apa?"
"Seandainya aku lebih berhati-hati, tidak akan
terjadi apa-apa.”

"Bella, jarimu hanya teriris kertas—itu bukan
alasan untuk mendapat hukuman mati."
"Tetap saja aku yang salah."
Kata-kataku seolah membobol bendungan.
"Kau yang salah? Kalau jarimu teriris kertas di
rumah Mike Newton, dan di sana ada Jessica,
Angela, dan teman-teman normalmu lainnya, apa
hal terburuk yang mungkin terjadi? Mungkin
mereka tidak bisa menemukan plester untukmu?
Kalau kau terpeleset dan menabrak tumpukan
piring kaca karena ulahmu sendiri—bukan karena
ada yang mendorongmu—bahkan saat itu pun, hal
terburuk apa yang bisa terjadi? Paling-paling
darahmu berceceran mengotori jok mobil saat
mereka mengantarmu ke UGD? Mike Newton bisa
memegangi tanganmu saat dokter menjahitmu—
dan dia tidak perlu berjuang melawan dorongan
untuk membunuhmu selama berada di sana.
Jangan menyalahkan dirimu sendiri dalam hal ini,
Bella. Itu hanya akan membuatku semakin jijik
pada diriku sendiri."
"Bagaimana bisa Mike Newton dibawa-bawa
dalam pembicaraan ini?" tuntutku.
"Mike Newton dibawa-bawa dalam pembicaraan
ini karena akan jauh lebih aman kalau kau
berpacaran saja dengan Mike Newton," geram
Edward.
"Lebih baik mati daripada berpacaran dengan
Mike Newton." protesku. "Aku lebih baik mati
daripada berpacaran dengan orang lain selain kau.”
"Jangan sok melodramatis, please"

"Kalau begitu, kau juga tidak usah ngomong
yang bukan-bukan."
Edward tidak menjawab. Ia menatap garang ke
luar kaca, ekspresinya kosong.
Aku memeras otak, mencari cara untuk
menyelamatkan malam ini. Tapi sampai truk
berhenti di depan rumahku, aku masih belum
menemukan caranya.
"Kau akan menginap malam ini?" tanyaku.
"Sebaiknya aku pulang."
Hal terakhir yang kuinginkan adalah Edward
berkubang dalam perasaan bersalah. "Untuk ulang
tahunku," desakku.
"Tidak bisa dua-duanya—kau ingin orang
mengabaikan hari ulang tahunmu atau tidak. Pilih
salah satu," Nadanya kaku, tapi tidak seserius
sebelumnya. Diam-diam aku mengembuskan
napas lega.
"Oke. Aku sudah memutuskan aku tidak mau
kau mengabaikan hari ulang tahunku. Kutunggu
kau di atas."
Aku melompat turun, meraih kado-kadoku.
Edward mengerutkan kening.
"Kau tidak perlu membawanya."
“Aku menginginkannya," jawabku otomatis,
kemudian bertanya-tanya dalam hati apakah
Edward menggunakan teknik psikologi terbalik.
“Tidak, itu tidak benar. Carlisle dan Esme
mengeluarkan uang untuk membeli kadomu."

"Tidak apa-apa," Kudekap kado-kado itu dengan
kikuk di bawah lenganku yang tidak terluka, lalu
membanting pintu mobil. Kurang dari satu detik
Edward sudah keluar dari mobil dan berdiri di
sampingku.
"Biar kubawakan paling tidak," katanya sambil
mengambil kado-kado itu dari pelukanku. "Aku
akan menemuimu di kamarmu."
Aku tersenyum. "Trims."
"Selamat ulang tahun," bisik Edward, lalu
membungkuk untuk menempelkan bibirnya ke
bibirku.
Aku berjinjit agar bisa berciuman lebih lama,
tapi Edward melepaskan bibirnya. Ia
menyunggingkan senyum separonya yang sangat
kusukai itu, lalu menghilang di balik kegelapan.
Pertandingan masih berlangsung; begitu berjalan
memasuki pintu depan, aku langsung bisa
mendengar suara komentator meningkahi soraksorai
penonton di televisi.
"Bell?" seru Charlie.
"Hai, Dad," balasku, muncul dari sudut ruangan.
Kurapatkan lenganku ke sisi tubuh. Tekanan itu
membuat lukaku berdenyut-denyut, dan aku
mengerutkan hidung. Anestesinya mulai
kehilangan pengaruhnya ternyata.
"Bagaimana pestanya?" Charlie tidur-tiduran di
sofa dengan kaki ditumpangkan di lengan sofa.
Rambut cokelat keritingnya kempis di satu sisi.

"Alice merajalela. Bunga, kue tart, lilin, kado—
pokoknya komplet."
"Mereka memberimu kado apa?"
"Stereo untuk trukku." Dan beberapa kado lain
yang belum diketahui isinya.
"Wow"
"Yeah," aku sependapat. "Well, aku mau tidur
dulu." "Sampai besok pagi."
Aku melambaikan tangan. "Sampai besok."
"Lenganmu kenapa?"
Wajahku kontan memerah dan mulutku memaki
"Aku tadi tersandung. Nggak apa-apa kok"
"Bella," Charlie mendesah, menggelenggelengkan
kepala.
"Selamat malam, Dad."
Aku bergegas masuk ke kamar mandi, tempatku
menyimpan piamaku sebagai persiapan untuk
malam-malam seperti ini. Aku memakai tank top
dan celana katun sebagai ganti sweter bolongbolong
yang biasa kupakai tidur, meringis saat
gerakanku membuat jahitan di lenganku tertarik.
Dengan satu tangan aku mencuci muka, menyikat
gigi, lalu cepat-cepat masuk ke kamar.
Ia sudah duduk di tengah-tengah tempat tidur,
malas-malasan mempermainkan salah satu kado
perakku.
"Hai," sapanya. Suaranya sedih. Ia masih
menyalahkan dirinya sendiri.

Aku naik ke tempat tidur, menyingkirkan kadokado
itu dan tangan Edward, lalu naik ke
pangkuannya.
"Hai," Aku meringkuk di dadanya yang sekeras
batu. "Boleh kubuka kadoku sekarang?"
"Mengapa tahu-tahu kau antusias begini?"
tanyanya.
"Kau membuatku ingin tahu."
Kuambil kotak persegi panjang tipis yang pasti
kado dari Carlisle dan Esme.
"Biar aku saja," saran Edward. Diambilnya kado
itu dan tanganku dan dirobeknya kertas perak
pembungkusnya dengan satu gerakan luwes. Lalu
ia menyodorkan kotak putih persegi empat itu
padaku.
"Kau yakin aku bisa mengangkat tutup
kotaknya?" sindirku, tapi Edward tak
mengacuhkan sindiranku.
Kotak itu berisi selembar kertas panjang dan
tebal, penuh berisi tulisan. Butuh waktu semenit
baru aku bisa mencerna informasi yang tertulis di
sana.
"Kita akan pergi ke Jacksonville?" Aku girang
bukan main, meski sebenarnya tidak ingin.
Kadonya berupa voucher tiket pesawat, untukku
dan Edward.
"Begitulah idenya."
"Aku tak percaya. Renee bakal girang setengah
mati! Tapi kau tidak keberatan, kan? Di sana

panas terik, jadi kau harus berada di dalam rumah
seharian"
"Kurasa itu bisa diatasi," kata Edward, tapi
keningnya berkerut. "Seandainya aku tahu kau
akan bereaksi seperti ini, aku akan menyuruhmu
membukanya di depan Carlisle dan Esme.
Kusangka kau bakal protes."
"Well, tentu saja ini berlebihan. Tapi aku bisa
pergi bersamamu!"
Edward tertawa kecil. "Tahu begitu, aku akan
mengeluarkan uang untuk membeli kadomu.
Ternyata kau masih bisa berpikir sehat."
Aku menyingkirkan tiket-tiket itu dan meraih
kado dari Edward, rasa ingin tahuku muncul lagi.
Edward mengambilnya dariku dan membuka
bungkusnya seperti kado pertama tadi.
Ia menyerahkan padaku kotak CD bening,
dengan CD kosong di dalamnya.
"Apa ini?" tanyaku, heran.
Edward tidak berkata apa-apa; dikeluarkannya
CD itu lalu dimasukkannya ke CD player di atas
nakas. Tangannya menekan tombol play dan kami
menunggu dalam kesunyian. Lalu musik mulai
mengalun.
Aku mendengarkan, tak mampu berkata apaapa,
mataku terbelalak lebar. Aku tahu ia
menunggu reaksiku, tapi aku tak sanggup bicara.
Air mataku menggenang, dan aku mengangkat
tangan untuk menyekanya sebelum jatuh menetes
di pipi.

“Lenganmu sakit?” tanya Edward waswas.
"Tidak, ini bukan karena lenganku. Indah sekali,
Edward. Tak ada kado lain yang bisa kauberikan
yang lebih kusukai daripada ini. Aku tak percaya."
Lalu aku diam, supaya bisa mendengarkan.
CD itu berisi rekaman musiknya, komposisinya.
Musik pertama di CD itu adalah lagu ninaboboku.
“Kupikir kau tidak akan membiarkanku
membelikanmu piano supaya aku bisa
memainkannya untukmu di sini," Edward
menjelaskan.
"Kau benar"
"Lenganmu bagaimana?"
"Baik-baik saja," Sebenarnya, lukaku mulai
terasa panas di balik perban. Aku ingin
mengompresnya dengan es batu. Sebenarnya aku
bisa menggunakan tangan Edward, tapi itu bakal
membuatnya tahu aku kesakitan.
"Aku akan mengambilkan Tylenol untukmu."
"Aku tidak butuh apa-apa," protesku, tapi
Edward sudah menurunkan aku dari pangkuannya
dan berjalan ke pintu.
"Charlie," desisku. Charlie tidak tahu Edward
sering menginap di kamarku. Sebenarnya, bisabisa
ia terserang stroke bila aku memberi tahunya.
Tapi aku tidak merasa terlalu bersalah telah
memperdaya ayahku. Soalnya, kami toh tidak
melakukan apa-apa yang dilarang olehnya. Edward
dan aturan-aturannya...

“Dia tidak akan menangkap basah aku," janji
Edward sebelum lenyap tanpa suara di balik
pintu... dan kembali sejurus kemudian, memegangi
pintu sebelum sempat menutup kembali. Ia
memegang gelas kumur yang diambilnya dari
kamar mandi serta sebotol pil di satu tangan.
Aku menerima pil-pil yang disodorkannya tanpa
membantah—aku tahu paling-paling aku bakal
kalah berdebat dengannya. Dan lenganku mulai
benar-benar nyeri.
Lagu ninaboboku terus mengalun, lembut dan
lirih, di latar belakang.
"Sudah malam," kata Edward. Ia meraup dan
menggendongku dengan satu tangan, sementara
tangan satunya membuka penutup tempat tidur.
Lalu ia membaringkanku dengan posisi kepala di
atas bantal, kemudian menyelimutiku. Ia berbaring
di sebelahku—di atas selimut agar aku tidak
kedinginan— dan meletakkan lengannya di atas
tubuhku.
Aku menyandarkan kepala di bahunya dan
mengembuskan napas bahagia.
"Terima kasih sekali lagi," bisikku.
"Terima kasih kembali."
Sejenak suasana sunyi sementara aku
mendengarkan lagu ninaboboku berakhir. Lagu
lain mulai. Aku mengenalinya sebagai lagu favorit
Esme.
"Kau sedang memikirkan apa?" bisikku.

Edward ragu-ragu sejenak sebelum menjawab.
"Sebenarnya, aku sedang berpikir tentang apa yang
benar dan yang salah."
Aku merasakan sekujur tubuhku bergidik.
"Kau ingat kan, aku tadi memutuskan ingin kau
tidak mengabaikan hari ulang tahunku?" aku
buru-buru bertanya, berharap ia tidak tahu aku
berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Ya," Edward sependapat, waspada.
“Well, aku sedang berpikir-pikir, karena
sekarang masih hari ulang tahunku, aku ingin kau
menciumku lagi."
“Kau serakah malam ini."
"Ya, memang—tapi please, jangan lakukan apa
pun yang tidak ingin kaulakukan," aku
menambahkan, kesal.
Edward tertawa, kemudian mendesah. "Semoga
surga mencegahku melakukan hal-hal yang tidak
ingin kulakukan," katanya dengan nada putus asa
yang aneh saat ia meletakkan tangannya di bawah
daguku dan mendongakkan wajahku.
Ciuman kami diawali seperti biasa—Edward
tetap sehati-hati biasanya, dan seperti biasa pula,
jantungku mulai bereaksi berlebihan. Kemudian
sesuatu sepertinya berubah. Tiba-tiba saja bibir
Edward melumat bibirku lebih ganas, tangannya
menyusup masuk ke rambutku dan mendekap
wajahku erat-erat. Dan, walaupun tanganku juga
menyusup masuk ke rambutnya, dan meski jelas
aku mulai melanggar batas kehati-hatiannya,

namun sekali ini ia tidak menghentikanku.
Tubuhnya dingin di balik selimut yang tipis, tapi
aku menempelkan tubuhku erat-erat ke tubuhnya.
Ia berhenti begitu tiba-tiba; didorongnya aku
dengan kedua tangan yang lembut tapi tegas.
Aku terhenyak ke atas bantal, terengah-engah,
kepalaku berputar. Sesuatu menarik-narik
ingatanku, tapi aku tak kunjung bisa meraihnya.
"Maaf," kata Edward, napasnya juga terengahengah.
"Itu tadi sudah melanggar batas."
“Aku tidak keberatan," kataku megap-megap.
Edward mengerutkan kening padaku dalam
gelap. "Cobalah untuk tidur, Bella."
"Tidak, aku ingin kau menciumku lagi."
“Kau menilai pengendalian diriku kelewat tinggi."
"Mana yang lebih membuatmu tergoda, darahku
atau tubuhku?" tantangku.
"Dua-duanya," Edward nyengir sekilas, meski
sebenarnya tak ingin, lalu kembali serius.
"Sekarang, bagaimana kalau kau berhenti
mempertaruhkan peruntunganmu dan pergi
tidur?"
"Baiklah," aku setuju, meringkuk lebih rapat
padanya. Aku benar-benar lelah. Ini hari yang
panjang dalam banyak hal, namun aku tidak
merasa lega saat hari ini berakhir. Seakan-akan
ada hal lain yang lebih buruk bakal terjadi besok.
Firasat konyol—kejadian apa yang lebih buruk

daripada hari ini tadi? Pasti hanya karena aku
shock.
Berusaha agar tidak ketahuan, aku
menempelkan lenganku yang sakit di bahu
Edward, supaya kulitnya yang dingin bisa
meredakan sakitku. Seketika itu juga nyerinya
hilang.
Aku sudah hampir tertidur, mungkin malah
sudah separo tidur, waktu mendadak aku sadar
ciuman Edward tadi mengingatkan aku pada apa:
musim semi lalu, ketika harus meninggalkanku
untuk menyesatkan James, Edward memberiku
ciuman perpisahan, tidak tahu kapan—atau
apakah—kami akan bertemu lagi. Ciuman tadi juga
nyaris terasa menyakitkan, seperti ciuman itu,
meski entah untuk alasan apa, aku tak bisa
membayangkannya. Aku bergidik dalam tidurku,
seolah-olah aku sudah mengalami mimpi buruk.

3. TAMAT
KEESOKAN paginya, perasaanku benar-benar
kacau. Aku tidak bisa tidur nyenyak; lenganku
nyeri dan kepalaku sakit. Perasaanku semakin
kacau melihat wajah Edward tetap licin dan
muram saat ia mengecup dahiku sekilas dan
merunduk keluar dari jendela kamarku. Aku takut
membayangkan waktu yang kulewatkan saat tidur
tadi, takut Edward berpikir tentang yang benar dan
salah lagi sambil memandangiku tidur. Kegelisahan

itu seolah menambah pukulan bertubi-tubi di
kepalaku.
Edward menungguku di sekolah, seperti biasa,
tapi wajahnya masih muram. Ada sesuatu di balik
tatapannya dan aku tak yakin apa itu—dan itu
membuatku takut. Aku tak ingin mengungkitnya
semalam, tapi aku tak yakin apakah dengan
menghindarinya justru memperparah keadaan.
Edward membukakan pintu untukku.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Sempurna," dustaku, meringis saat suara pintu
dibanting bergema di dalam kepalaku.
Kami berjalan sambil membisu, Edward
memperpendek langkah untuk mengimbangiku.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan,
tapi sebagian besar harus menunggu, karena
pertanyaan-pertanyaan itu untuk Alice: Bagaimana
Jasper pagi ini? Apa yang mereka katakan waktu
aku sudah pulang? Apa kata Rosalie? Dan yang
paling penting apa yang dilihat Alice akan terjadi di
masa mendatang menurut penglihatannya yang
aneh dan tidak sempurna itu? Bisakah Alice
menebak apa yang dipikirkan Edward, mengapa ia
begitu muram? Apakah firasat ketakutan yang tak
mau enyah dari hatiku ini berdasar?
Pagi berlalu dengan lambat. Aku tak sabar ingin
bertemu Alice, walaupun tidak benar-benar bisa
bicara dengannya kalau Edward ada di sana.
Edward sendiri lebih banyak berdiam diri. Sesekali
ia menanyakan lenganku, dan aku menyahutinya
dengan berbohong.

Alice biasanya mendului kami makan siang; ia
tak perlu mengimbangi orang lelet seperti aku. Tapi
ia tak ada di meja, menunggu dengan nampan
penuh makanan yang tak akan dimakannya.
Edward tidak mengatakan apa-apa tentang
absennya Alice. Mulanya aku mengira kelasnya
belum selesai—sampai aku melihat Conner dan
Ben, yang sekelas dengannya di kelas bahasa
Prancis jam keempat.
"Mana Alice?" tanyaku pada Edward dengan
sikap waswas.
Edward memandangi granola bar yang
diremasnya pelan-pelan sebelum menjawab. "Dia
menemani Jasper."
"Jasper baik-baik saja?"
"Dia pergi dulu untuk sementara."
"Apa? Ke mana?"
Edward mengangkat bahu. "Tidak pasti ke
mana."
"Alice juga," kataku putus asa. Tentu saja, bila
Jasper membutuhkannya, Alice akan pergi.
“Ya. Dia pergi untuk sementara. Dia mencoba
meyakinkan Jasper untuk pergi ke Denali."
Denali adalah tempat sekumpulan vampir unik
lain—vampir baik seperti keluarga Cullen—tinggal.
Tanya dan keluarganya. Aku beberapa kali
mendengar tentang mereka. Edward pernah
bertemu mereka musim dingin lalu saat
kedatanganku ke Forks membuat hidupnya sulit.

Laurent, anggota paling beradab dalam kelompok
kecil James, memilih ke sana daripada berpihak
kepada James untuk melawan keluarga Cullen.
Masuk akal bila Alice mendorong Jasper untuk
pergi ke sana.
Aku menelan ludah, berusaha mengenyahkan
ganjalan yang tiba-tiba bersarang di
tenggorokanku. Perasaan bersalah membuat
kepalaku tertunduk dan bahuku terkulai. Aku
membuat mereka terusir dari rumah mereka
sendiri, seperti Rosalie dan Emmett. Aku benarbenar
wabah penyakit.
"Lenganmu sakit?" kata Edward dengan nada
bertanya.
"Siapa yang peduli dengan lengan tololku?"
sergahku jengkel.
Edward tidak menyahut, dan aku meletakkan
kepalaku di meja.
Usai sekolah, kebisuan semakin tak
tertahankan. Aku tak ingin menjadi orang yang
memecah kebisuan, tapi rupanya hanya itu satusatunya
pilihan kalau aku ingin ia bicara lagi
denganku.
"Kau datang nanti malam?" tanyaku ketika
Edward berjalanmengiringiku—sambil membisu—
ke trukku. Ia selalu datang.
"Nanti?"
Aku senang karena ia terlihat kaget. “Aku harus
kerja. Aku kan harus tukaran shift dengan Mrs.
Newton untuk bisa libur kemarin."

"Oh," gumam Edward.
"Jadi kau akan datang kalau aku sudah di
rumah, ya kan?" Aku tidak suka karena tiba-tiba
merasa tak yakin tentang hal ini.
"Kalau kau menginginkannya."
"Aku selalu menginginkanmu," aku
mengingatkannya, mungkin sedikit lebih
bersungguh-sungguh daripada seharusnya.
Aku mengira ia bakal tertawa, atau tersenyum,
atau setidaknya bereaksi terhadap kata-kataku.
"Baiklah kalau begitu," sahutnya tak acuh.
Edward mengecup keningku lagi sebelum
menutup pintu trukku. Lalu ia berbalik dan berlari
melompat dengan anggun ke mobilnya.
Aku masih sanggup menyetir trukku keluar dari
lapangan parkir sebelum kepanikan
menghantamku telak-telak, tapi aku sudah
kehabisan napas ketika sampai di Newton's.
Ia hanya butuh waktu, aku meyakinkan diriku
sendiri. Ia pasti bisa melupakannya. Mungkin ia
sedih karena keluarganya harus pergi. Tapi Alice
dan Jasper sebentar lagi kembali, begitu juga
Rosalie dan Emmett. Kalau perlu, aku akan
menjauh dulu dari rumah putih besar di tepi
sungai itu—aku tidak akan pernah menjejakkan
kaki lagi di sana. Bukan masalah. Aku tetap bisa
bertemu Alice di sekolah. Ia akan kembali
bersekolah, kan? Lagi pula, ia lebih sering berada
di rumahku. Ia tak mungkin tega menyakiti hati
Charlie dengan menjauhiku.

Tak diragukan lagi aku akan bertemu Carlisle
secara teratur—di UGD.
Bagaimanapun, kemarin tidak terjadi apa-apa.
Tidak terjadi apa-apa. Aku memang jatuh—tapi itu
kan sudah biasa. Dibandingkan musim semi lalu.
sepertinya ini tidak penting. James
meninggalkanku babak-belur dan nyaris mati
kehabisan darah—meski begitu Edward tabah
menjalani minggu demi minggu yang tak ada
akhirnya di rumah sakit jauh lebih baik daripada
ini. Apakah karena, kali ini, ia tidak melindungiku
dari serangan musuh? Melainkan dari saudaranya
sendiri?
Mungkin jauh lebih baik jika Edward
membawaku pergi saja, daripada keluarganya
tercerai berai seperti itu. Depresiku sedikit
berkurang waktu aku mulai membayangkan bisa
berduaan dengan Edward tanpa ada yang
mengganggu. Seandainya Edward bisa bertahan
sampai akhir tahun ajaran ini, Charlie takkan bisa
melarang. Kami bisa pergi ke luar kota untuk
kuliah, atau berpura-pura itulah yang kami
lakukan, seperti Rosalie dan Emmett tahun ini.
Tentu saja Edward bisa menunggu satu tahun. Apa
artinya satu tahun kalau kau bisa hidup
selamanya? Menurutku itu tidak terlalu berat.
Aku berhasil menabahkan diri hingga sanggup
turun dari truk dan berjalan ke toko. Hari ini Mike
Newton menduluiku datang ke sini, tersenyum dan
melambai waktu aku masuk. Kusambar rompiku,
mengangguk samar ke arahnya. Otakku masih
sibuk membayangkan berbagai skenario

menyenangkan tentang aku dan Edward yang
melarikan diri ke tempat-tempat eksotis.
Mike membuyarkan lamunanku. "Bagaimana
ulang tahun-mu?”
"Ugh," gumamku. "Aku senang itu sudah
berakhir."
Mike memandangiku dari sudut matanya,
seolah-olah aku sinting.
Waktu berjalan sangat lambat. Aku ingin
bertemu lagi dengan Edward, berdoa semoga ia
sudah bisa mengatasi saat-saat terburuknya, apa
pun itu, waktu aku bertemu lagi dengannya nanti.
Semua baik-baik saja, aku meyakinkan diri sendiri
berulang kali. Semua pasti akan normal lagi.
Kelegaan yang kurasakan waktu berbelok
memasuki kawasan tempat tinggalku dan melihat
mobil perak Edward terparkir di depan rumahku
sangat besar dan luar biasa. Dan itu membuatku
gelisah.
Aku bergegas masuk lewat pintu depan, berseru
sebelum benar-benar berada di dalam.
"Dad? Edward?"
Saat aku berseru, terdengar jelas alunan musik
acara SportsCenter yang ditayangkan ESPN
bergema dari ruang duduk.
"Di sini," Charlie menyahut.
Aku menggantungkan jas hujan dan bergegas
mengitari sudut ruangan.

Edward duduk di kursi, sementara ayahku di
sofa. Mata keduanya sama-sama tertuju ke layar
televisi. Fokus itu normal saja bagi ayahku. Tapi
tidak demikian halnya bagi Edward.
"Hai," sapaku lemah.
"Hai, Bella," sahut ayahku, matanya tak pernah
beralih dari layar televisi. "Kami baru saja makan
pizza dingin. Kalau tidak salah masih ada di meja"
"Oke."
Aku menunggu di ambang pintu. Akhirnya
Edward menoleh sambil tersenyum sopan.
"Sebentar lagi aku menyusul," janjinya. Matanya
beralih lagi ke televisi.
Sejenak aku hanya bisa bengong, shock. Tak
seorang pun di antara mereka sepertinya
menyadari hal itu. Aku bisa merasakan sesuatu,
mungkin kepanikan, bertumpuk di dadaku. Aku
kabur ke dapur.
Pizza-nja sama sekali tidak menarik
perhatianku. Aku duduk di kursi, melipat lutut,
dan memeluk kedua kakiku. Ada yang tidak beres,
mungkin lebih parah daripada yang kusadari.
Obrolan khas cowok terus berlanjut dari depan
layar televisi.
Aku berusaha mengendalikan diri, memberi
penjelasan masuk akal pada diriku. Hal paling
buruk apa yang bisa terjadi? Aku tersentak. Jelas
itu pertanyaan keliru. Sulit rasanya bernapas
dengan benar.

Oke, aku berpikir lagi, hal paling buruk apa yang
sanggup kuterima? Aku juga tidak terlalu
menyukai pertanyaan itu. Tapi aku memikirkan
berbagai kemungkinan yang kupertimbangkan hari
ini tadi.
Menjauh dari keluarga Edward. Tentu saja.
Edward tidak mungkin berharap Alice juga bakal
kujauhi. Tapi kalau Jasper tak bisa didekati,
berarti lebih sedikit waktu yang bisa kuhabiskan
bersama Alice. Aku mengangguk sendiri—itu bisa
kuterima.
Atau pergi dari sini. Mungkin Edward tak ingin
menunggu sampai akhir tahun ajaran, mungkin
harus sekarang juga.
Di hadapanku, di meja, tergeletak hadiahhadiahku
dari Charlie dan Renee yang
kutinggalkan di sana semalam. Kamera yang tak
sempat kugunakan di rumah keluarga Cullen
tergeletak di sebelah album. Sambil menarik napas
panjang kusentuh sampul depan album cantik
yang dihadiahkan ibuku padaku, teringat pada
Renee. Entah bagaimana, sekian lama hidup tanpa
ibuku tidak membuatku lantas bisa lebih mudah
menerima kemungkinan hidup terpisah selamanya
darinya.
Dan Charlie akan tinggal sendirian di sini,
ditinggalkan. Hati mereka bakal terluka...
Tapi kami akan kembali, bukan? Kami pasti
akan datang berkunjung, bukan begitu?
Aku tak bisa memastikan jawabannya.

Aku meletakkan pipiku ke lutut, memandangi
benda-benda yang menjadi ungkapan cinta kedua
orangtuaku. Aku tahu jalan yang kupilih ini bakal
sulit. Dan, bagaimanapun, aku memikirkan
skenario terburuk—yang paling buruk yang bisa
kuterima.
Aku menyentuh album itu lagi, membalikkan
sampul depannya. Sudut-sudut logam kecil sudah
tersedia di halaman dalam untuk meletakkan foto
pertama. Bagus juga idenya, merekam
kehidupanku di sini. Aku merasakan dorongan
yang aneh untuk mulai. Mungkin aku tak punya
waktu lama lagi di Forks.
Aku memainkan tali kamera, penasaran dengan
film pertama di dalamnya. Mungkinkah hasilnya
akan mendekati sosok aslinya? Aku
meragukannya. Tapi Edward tampaknya tidak
khawatir hasilnya bakal kosong. Aku terkekeh
sendiri, mengenang tawa lepasnya semalam.
Tawaku terhenti. Begitu banyak yang berubah, dan
begitu tiba-tiba. Membuatku merasa sedikit
pusing, seakan-akan aku berdiri di tepi tebing
curam yang sangat tinggi.
Aku tak ingin memikirkannya lagi. Kusambar
kameraku dan berjalan menuju tangga.
Kamarku tak banyak berubah dalam kurun
waktu tujuh belas tahun semenjak ibuku tinggal di
sini. Dinding-dindingnya masih berwarna biru
muda, tirai berenda menguning yang tergantung di
depan jendela juga masih sama. Sekarang di sana
ada tempat tidur, bukan boks. tapi Renee pasti
akan mengenalinya dari selimut quilt yang

terhampar berantakan di atasnya—itu hadiah dari
Gran.
Bagaimanapun, aku memotret kamarku. Tak
banyak lagi yang bisa kulakukan malam ini—di
luar sudah terlalu gelap—dan perasaan itu
semakin kuat, sekarang bahkan nyaris menjadi
keharusan. Aku akan merekam segala sesuatu
tentang Forks sebelum harus meninggalkannya.
Perubahan akan datang. Aku bisa
merasakannya. Bukan prospek menyenangkan,
tidak bila hidup saat ini sudah begitu sempurna.
Aku sengaja berlama-lama di kamar sebelum
turun lagi ke bawah, sambil menenteng kamera,
berusaha menepis kegelisahan yang berkecamuk di
hatiku, memikirkan jarak aneh yang tidak ingin
kulihat di mata Edward. Ia pasti bisa
mengatasinya. Mungkin ia khawatir aku bakal
kalut bila ia mengajakku pergi. Akan kubiarkan ia
mengatasi perasaannya tanpa ikut campur. Dan
aku akan siap bila nanti ia memintaku.
Aku sudah siap dengan kameraku waktu
menyelinap diam-diam ke ruang duduk. Aku yakin
tak mungkin Edward tidak menyadari
kehadiranku, tapi ia tetap tidak mendongak. Aku
merasakan tubuhku merinding saat perasaan
dingin menerpa perutku; kuabaikan perasaan itu
dan kuambil foto mereka.
Barulah mereka menoleh memandangku. Kening
Charlie berkerut. Wajah Edward kosong, tanpa
ekspresi.
"Apa-apaan sih kau, Bella?" protes Charlie.

“Oh, ayolah," Aku pura-pura tersenyum saat
beranjak duduk di lantai, persis di depan sofa
tempat Charlie berbaring santai. "Dad kan tahu
sebentar lagi Mom pasti menelepon untuk bertanya
apakah aku sudah memanfaatkan hadiahhadiahku.
Aku harus segera memulainya supaya
Mom tidak kecewa.
"Tapi mengapa kau memotretku?" gerutu
Charlie.
"Karena Dad ganteng sekali," jawabku, menjaga
agar nada suaraku tetap ringan. "Dan karena Dadlah
yang membeli kamera ini, maka Dad wajib
menjadi salah satu objeknya."
Charlie menggumamkan kata-kata yang tidak
jelas.
"Hei, Edward," kataku dengan lagak tak acuh
yang patut diacungi jempol. "Ambil fotoku bersama
ayahku."
Kulempar kamera itu padanya, sengaja
menghindari matanya, lalu berlutut di samping
lengan sofa yang dijadikan tumpuan kepala
Charlie. Charlie mendesah.
"Kau harus tersenyum, Bella," gumam Edward.
Aku menyunggingkan senyum terbaikku, dan
kamera menjepret.
"Sini kufoto kalian," Charlie mengusulkan. Aku
tahu ia hanya berusaha mengalihkan fokus kamera
dari dirinya.
Edward berdiri dan dengan enteng melemparkan
kamera itu kepada Charlie.

Aku bangkit dan berdiri di samping Edward, dan
pengaturan itu terasa formal dan asing bagiku.
Edward mengaitkan sebelah lengannya ke bahuku,
dan aku merangkul pinggangnya lebih erat. Aku
ingin menatap wajahnya, tapi tidak berani.
"Senyum, Bella," Charlie mengingatkanku lagi.
Aku menghela napas dalam-dalam dan
tersenyum. Lampu blitz seakan membutakan
mataku.
"Cukup sudah potret-memotretnya malam ini,"
kata Charlie kemudian, menjejalkan kamera ke
celah di antara bantal-bantal sofa, lalu berguling di
atasnya. "Kau tidak perlu menghabiskan satu rol
film sekarang juga."
Edward menurunkan tangannya dari bahuku
dan menggeliat melepaskan diri dengan sikap
kasual. Lalu ia duduk lagi di kursi.
Aku ragu, lalu duduk bersandar lagi di sofa.
Mendadak aku merasa sangar ketakutan sampaisampai
tanganku gemetar. Kutempelkan kedua
tanganku ke perut untuk menyembunyikannya,
meletakkan daguku ke lutut dan memandangi
layar televisi di depanku, tak melihat apa-apa.
Setelah acara berakhir, aku bergeming di tempat
duduk. Dari sudut mata kulihat Edward berdiri.
"Sebaiknya aku pulang," katanya.
Charlie tidak mengangkat wajah dari tayangan
iklan. "Sampai ketemu lagi."
Aku berdiri dengan sikap canggung—tubuhku
kaku setelah duduk diam sekian lama—lalu

mengikuti Edward ke pintu depan. Ia langsung ke
mobilnya.
"Kau menginap tidak?'" tanyaku, tanpa ada
harapan dalam suaraku.
Aku sudah bisa menebak jawabannya, jadi
rasanya tidak terlalu menyakitkan.
"Tidak malam ini."
Aku tidak menanyakan alasannya.
Edward naik ke mobilnya dan menderu pergi
sementara aku berdiri di sana, tak bergerak. Aku
nyaris tak sadar hujan telah turun. Aku
menunggu, tanpa tahu apa yang kutunggu, sampai
pintu di belakangku terbuka.
"Bella, kau ngapain?" tanya Charlie, terkejut
melihatku berdiri sendirian di sana, air hujan
menetes-netes membasahi tubuhku.
“Tidak sedang apa-apa."' Aku berbalik dan
terseok-seok kembali ke rumah.
Malam itu sangat panjang, aku nyaris tak bisa
beristirahat.
Aku bangun segera setelah matahari
membiaskan cahaya pertamanya di luar jendela
kamarku. Seperti robot aku bersiap-siap ke
sekolah, menunggu langit terang. Setelah makan
semangkuk sereal, aku memutuskan sekarang
sudah cukup terang untuk memotret. Aku
memotret trukku, lalu bagian depan rumah. Aku
berbalik dan menjepret hutan di dekat rumah
Charlie beberapa kali. Lucu juga bagaimana hutan
itu tak lagi terasa mengancam seperti dulu.

Sadarlah aku bahwa aku akan sangat kehilangan
ini semua—kehijauan, keabadian, kemisteriusan
hutan ini. Semuanya.
Aku memasukkan kamera ke tas sekolah
sebelum berangkat. Kucoba memusatkan pikiran
pada proyek baruku, bukan pada fakta bahwa
Edward ternyata belum berhasil mengatasi
kegalauan hatinya sepanjang malam.
Selain takut, aku mulai tidak sabar. Sampai
berapa lama lagi ini akan berlangsung?
Kebisuan itu berlangsung sepanjang pagi.
Edward berjalan di sampingku, bungkam seribu
bahasa, sepertinya tak pernah benar-benar
menatapku. Aku mencoba berkonsentrasi pada
pelajaran-pelajaranku, tapi bahkan bahasa Inggris
pun tak mampu menarik perhatianku. Mr. Berty
sampai harus dua kali mengulang pertanyaan
tentang Lady Capulet sebelum aku sadar ia
menujukan pertanyaan itu padaku. Edward
membisikkan jawaban yang benar dengan suara
pelan, lalu kembali mengabaikanku.
Saat makan siang, kebisuan terus berlanjut.
Rasanya aku seperti hendak menjerit setiap saat,
jadi, untuk mengalihkan pikiran aku
mencondongkan badan, melanggar garis batas tak
kasatmata, dan berbicara pada Jessica.
"Hei, Jess?"
“Ada apa, Bella?"
"Boleh aku minta tolong?" tanyaku, merogoh
tasku. “Ibuku ingin aku memotret teman-temanku

untuk albumku. Jadi tolong potretkan semua
orang, ya?” Kuulurkan kamera itu padanya.
"Tentu." jawabnya, nyengir, lalu berpaling untuk
menjepret Mike yang mulutnya sedang penuh
makanan.
Sudah bisa ditebak, perang potret pun terjadi.
Kulihat mereka mengedarkan kamera ke sekeliling
meja, tertawa terbahak-bahak, berpose, dan
mengeluh karena difoto dalam keadaan jelek.
Anehnya, tingkah mereka terasa kekanak-kanakan
bagiku. Mungkin aku saja yang sedang tidak mood
untuk bersikap layaknya manusia normal hari ini.
"Waduh," kata Jessica dengan nada meminta
maaf saat mengembalikan kamera padaku.
"Sepertinya kami menghabiskan filmmu."
"Tidak apa-apa. Aku sudah memotret semua
yang perlu kupotret kok."
Usai sekolah, Edward mengantarku ke lapangan
parkir sambil membisu. Aku harus bekerja lagi,
dan sekali ini aku justru merasa senang.
Bersamaku ternyata tidak membantu memperbaiki
keadaan. Mungkin kalau ia sendirian justru akan
membuat suasana hatinya lebih baik.
Aku memasukkan filmku ke Thriftway dalam
perjalanan ke Newton's, kemudian mengambil fotofoto
yang sudah dicuci cetak sepulang kerja. Di
rumah aku menyapa Charlie sekilas, menyambar
sebungkus granola bar dari dapur, lalu bergegas
masuk ke kamar sambil mengempit amplop berisi
foto-foto itu.

Aku duduk di tengah ranjang dan membuka
amplop itu dengan sikap ingin tahu bercampur
waswas. Konyolnya, aku masih separo berharap
foto pertama akan menampilkan bidang kosong.
Waktu mengeluarkannya, aku terkesiap dengan
suara keras. Edward tampak sama tampannya
dengan aslinya, menatapku dengan sorot hangat
yang kurindukan beberapa hari belakangan ini.
Sungguh luar biasa bagaimana seseorang bisa
tampak begitu... begitu... tak terlukiskan. Seribu
kata pun takkan mampu menandingi foto ini.
Dengan cepat aku melihat-lihat sekilas foto lain
dalam tumpukan, lalu menjejerkan tiga di
antaranya di tempat tidur.
Foto pertama adalah foto Edward di dapur, sorot
matanya yang hangat memancarkan kegembiraan.
Foto kedua adalah foto Edward dan Charlie,
menonton ESPN. Perbedaan ekspresi Edward
tampak nyata. Sorot matanya tampak hati-hati di
sini, tidak ramah. Masih tetap sangat tampan,
namun wajahnya terkesan lebih dingin, lebih
menyerupai patung, kurang hidup.
Terakhir foto Edward dan aku berdiri
berdampingan dengan sikap canggung. Wajah
Edward sama seperti dalam foto terakhir, dingin
dan menyerupai patung. Kekontrasan di antara
kami sangat menyakitkan. Ia tampak bagai dewa.
Aku tampak sangat biasa, bahkan untuk ukuran
manusia, nyaris polos. Kubalik foto itu dengan
perasaan jijik.
Bukannya mengerjakan PR, aku malah begadang
untuk memasukkan foto-foto itu ke album. Dengan

bolpoin aku membuat catatan di bawah semua
foto, nama-nama dan tanggalnya. Aku sampai pada
foto Edward dan aku, dan, tanpa memandanginya
terlalu lama, melipatnya jadi dua dan
menyelipkannya ke sudut logam, sisi Edward
menghadap ke atas.
Setelah selesai, aku menjejalkan tumpukan foto
kedua ke amplop yang masih baru, lalu menulis
surat terima kasih yang panjang untuk Renee.
Edward masih belum datang juga. Aku tak ingin
mengakui dialah alasanku begadang hingga larut
begini. Aku berusaha mengingat kapan terakhir
kali ia tidak datang, tanpa alasan, tanpa
menelepon... Ternyata tidak pernah. Lagi-lagi, aku
tak bisa tidur nyenyak. Sama seperti dua hari
sebelumnya, suasana di sekolah juga tetap penuh
kebisuan yang menegangkan dan membuat
frustrasi. Aku lega waktu melihat Edward
menungguku di lapangan parkir, tapi kelegaan itu
sirna dengan cepat. Tak ada perubahan dalam
dirinya, kecuali mungkin ia lebih menjauh.
Sulit rasanya mengingat alasan dari semua
kekacauan ini. Hari ulang tahunku rasanya telah
lama berselang. Kalau saja Alice kembali. Segera.
Sebelum keadaan jadi makin tak terkendali lagi.
Tapi aku tak bisa bergantung pada hal itu. Aku
sudah memutuskan kalau aku tak bisa bicara
dengan Edward hari ini, benar-benar bicara, aku
akan menemui Carlisle besok. Aku harus
melakukan sesuatu.
Sepulang sekolah Edward dan aku akan
membicarakannya sampai tuntas, aku berjanji

pada diriku sendiri. Aku tak mau menerima alasan
apa pun.
Edward mengantarku ke trukku, dan aku
menguatkan diri untuk melontarkan tuntutan.
"Keberatan tidak kalau aku datang ke rumahmu
hari ini?" tanya Edward sebelum kami sampai ke
truk, menduluiku.
"Tentu saja tidak."
"Sekarang?" tanya Edward lagi, membukakan
pintu untukku.
“Tentu," aku menjaga suaraku tetap datar,
walaupun tidak menyukai nada mendesak dalam
suaranya. "Aku hanya akan memasukkan surat
untuk Renee ke bus surat dalam perjalanan
pulang. Sampai ketemu di rumah."
Edward memandangi amplop tebal di jok trukku.
Tiba-tiba ia mengulurkan tangan dan
menyambarnya.
"Biar aku saja" ujarnya pelan. "Dan aku akan
tetap lebih cepat sampai di rumah daripada kau."
Ia menyunggingkan senyum separo favoritku, tapi
kesannya lain. Matanya tidak memancarkan
senyum itu.
"Oke," aku setuju, tak mampu membalas
senyumnya. Edward menutup pintu, lalu berjalan
ke mobilnya.
Memang benar Edward sampai lebih dulu di
rumahku. Ia sudah memarkir mobilnya di tempat
Charlie biasa parkir waktu aku menghentikan
trukku di depan rumah. Itu pertanda buruk.

Berarti ia tidak berniat lama-lama di rumahku.
Aku menggeleng dan menghela napas dalamdalam,
berusaha menabahkan hati.
Edward turun dari mobil waktu aku keluar dari
trukku, lalu berjalan menghampiriku. Ia
mengulurkan tangan, mengambil tasku. Itu
normal. Tapi ia menyurukkannya lagi ke jok truk.
Itu tidak normal.
"Ayo jalan-jalan denganku," ajaknya, suaranya
tanpa emosi. Ia meraih tanganku.
Aku tidak menjawab. Aku tak punya alasan
untuk memprotes, tapi aku langsung tahu apa
yang kuinginkan. Aku tidak menyukainya. Ini
gawat, ini benar-benar gawat, suara di kepalaku
berkata berulang-ulang.
Tapi Edward tidak menunggu jawabanku.
Ditariknya aku ke sisi timur halaman, tempat
hutan berbatasan dengan halaman. Aku
mengikutinya meski dalam hati menolak, berusaha
berpikir di sela-sela kepanikan yang melandaku.
Inilah yang kuinginkan, aku mengingatkan diriku
sendiri. Kesempatan untuk membicarakannya
sampai tuntas. Jadi mengapa kepanikan ini
mencekikku?
Kami baru beberapa langkah memasuki
pepohonan ketika Edward berhenti. Kami bahkan
belum sampai di jalan setapak—aku masih bisa
melihat rumahku.
Begini kok dibilang jalan-jalan.
Edward bersandar di pohon dan memandangiku,
ekspresinya tak terbaca.

“Oke, ayo kita bicara," kataku. Nada suaraku
terdengar lebih berani daripada yang sebenarnya
kurasakan.
Edward menghela napas dalam-dalam.
"Bella, kami akan pergi."
Aku juga menghela napas dalam-dalam.
Kusangka aku sudah siap. Tapi tetap saja aku
bertanya.
"Mengapa sekarang? Setahun lagi—"
"Bella, sudah saatnya. Lagi pula, berapa lama
lagi kami bisa bertahan di Forks? Carlisle tidak
tampak seperti sudah berumur tiga puluh tahun,
apalagi dia mengaku sekarang usianya 33. Kami
harus memulai dari awal lagi secepatnya,
bagaimanapun juga"
Jawaban Edward membuatku bingung. Aku
memandanginya, berusaha memahami
maksudnya. Ia balas menatapku dingin.
Dengan perasaan mual, aku pun memahami
maksudnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala,
berusaha menjernihkan pikiran. Edward
menunggu tanpa sedikit pun tanda tidak sabar.
Butuh beberapa menit baru aku bisa bicara.
"Oke," kataku. "Aku ikut."
"Tidak bisa, Bella. Ke mana kami akan pergi...
itu bukan tempat yang tepat untukmu."
"Di mana kau berada, di situlah tempat yang
tepat untukku."
"Aku tidak baik untukmu, Bella."

"Jangan konyol," Aku ingin terdengar marah,
tapi kedengarannya malah seperti memohon. "Kau
hal terbaik dalam hidupku."
"Duniaku bukan untukmu," ucap Edward
muram.
"Apa yang terjadi pada Jasper—itu bukan apaapa,
Edward! Bukan apa-apa!"
"Kau benar," Edward sependapat. "Persis seperti
itulah yang bakal terjadi."
"Kau sudah berjanji! Di Phoenix, kau berjanji
kau akan tinggal—"
"Sepanjang itu yang terbaik untukmu," Edward
mengoreksiku.
"Tidak! Ini masalah jiwaku, kan?" aku berteriak,
marah, kata-kata berhamburan dari mulutku—
namun entah bagaimana tetap saja terdengar
seperti memohon-mohon. "Carlisle memberi
tahuku, dan aku tidak peduli, Edward. Aku tidak
peduli! Ambil saja jiwaku. Aku tidak
menginginkannya tanpa kau—itu sudah jadi
milikmu!"
Edward menarik napas dalam-dalam dan
beberapa saat menerawang menatap tanah. Waktu
akhirnya ia mendongak, matanya tampak berbeda,
lebih keras—seperti emas cair yang membeku
keras.
"Bella, aku tidak ingin kau ikut denganku."
Edward mengucapkan kata-kata itu lambat-lambat
dan jelas, matanya yang dingin menatap wajahku,

memerhatikan sementara aku menyerap semua
perkataannya.
Sunyi sejenak saat aku mengulangi kata-kata itu
berkali-kali dalam pikiranku, memilah-milah untuk
mendapatkan maksud sesungguhnya.
"Kau... tidak... menginginkanku?" Aku mencoba
mengucapkan kata-kata itu, bingung
mendengarnya diucapkan dalam urutan seperti itu.
"Tidak."
Kutatap matanya, tak mengerti. Edward balas
menatapku tanpa ampun. Matanya bagai topaz—
keras dan jernih dan sangat dalam. Aku merasa
seolah-olah bisa memandang ke dalamnya hingga
berkilo-kilometer jauhnya, namun di kedalaman
tak berdasar itu aku tidak melihat adanya
kontradiksi dari kata yang diucapkannya tadi.
“Well, itu mengubah semuanya." Aku terkejut
mendengar nada suaraku yang kalem dan tenang.
Pasti karena perasaanku sudah mati rasa. Aku
tidak menyadari apa yang ia katakan padaku. Itu
masih tetap tak masuk akal.
Edward mengalihkan pandangan ke pepohonan
saat bicara lagi. "Tentu saja, aku akan selalu
mencintaimu... sedikit-banyak. Tapi peristiwa
malam itu membuatku sadar, sekaranglah saatnya
berubah. Karena aku... lelah berpura-pura menjadi
sesuatu yang bukan diriku, Bella. Aku bukan
manusia." Edward menatapku lagi, bagian-bagian
dingin wajahnya yang sempurna memang bukan
manusia. "Aku membiarkan ini berlangsung terlalu
lama, dan aku minta maaf untuk itu."

"Jangan." Suaraku kini hanya berupa bisikan;
kesadaran mulai meresapiku, menetes-netes bagai
asam dalam pembuluh darahku. "Jangan lakukan
ini."
Edward hanya menatapku, dan kelihatan dari
matanya kata-kataku sudah terlambat. Ia sudah
melakukannya. "Kau tidak baik untukku, Bella."
Edward membalikkan kata-kata yang
diucapkannya tadi, jadi aku tak bisa
membantahnya. Aku tahu benar aku tidak cukup
baik baginya.
Aku membuka mulut untuk mengatakan
sesuatu, kemudian menutupnya lagi. Edward
menunggu dengan sabar, wajahnya bersih dari
segala emosi. Kucoba sekali lagi.
"Kalau... kalau memang itu yang kauinginkan."
Edward mengangguk satu kali.
Sekujur tubuhku terasa lumpuh. Aku tak bisa
merasakan apa-apa dari leher ke bawah.
"Tapi aku ingin meminta sesuatu, kalau boleh,"
katanya.
Entah apa yang dilihatnya di wajahku, karena
sesuatu berkelebat di wajahnya sebagai respons.
Tapi sebelum aku sempat memahaminya, ia telah
mengubah ekspresinya menjadi topeng tenang yang
sama.
"Apa saja," aku bersumpah, suaraku sedikit
lebih kuat.
Sementara aku menatapnya, mata beku Edward
mencair. Emas itu berubah menjadi cair lagi,

melebur, membakar mataku dengan kekuatan
teramat besar.
"Jangan lakukan sesuatu yang ceroboh atau
tolol," perintahnya, tak lagi dingin. "Kau mengerti
maksudku?"
Aku mengangguk tak berdaya.
Mata Edward mendingin, sikap menjaga
jaraknya kembali lagi. "Aku memikirkan Charlie,
tentu saja. Dia membutuhkanmu. Jaga dirimu
baik-baik—demi dia."
Lagi-lagi aku mengangguk. "Baiklah," bisikku.
Edward tampak rileks sedikit.
"Dan aku akan menjanjikan sesuatu padamu
sebagai balasannya," katanya. "Aku berjanji ini kali
terakhir kau bertemu denganku. Aku tidak akan
kembali. Aku tidak akan menyulitkanmu lagi. Kau
bisa melanjutkan hidupmu tanpa gangguan dariku
lagi. Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak
pernah ada."
Lututku pasti mulai gemetar, karena pohonpohon
mendadak bergoyang. Bisa kudengar darah
menderas lebih cepat di belakang telingaku. Suara
Edward terdengar semakin jauh.
Edward tersenyum lembut. "Jangan khawatir.
Kau manusia—ingatanmu tak lebih dari sekadar
saringan. Waktu akan menyembuhkan semua luka
bagi jenismu."
"Kalau ingatanmu?" tanyaku. Kedengarannya
seperti ada yang menyumbat tenggorokanku,
seolah-olah aku tersedak.

"Well—“ Edward ragu-ragu selama satu detik
yang singkat—"aku tidak akan lupa. Tapi jenisku...
kami sangat mudah dialihkan perhatiannya." Ia
tersenyum, senyumnya tenang dan tidak
menyentuh matanya.
Edward mundur selangkah menjauhiku. "Aku
sudah mengatakan semuanya, kurasa. Kami tidak
akan mengganggumu lagi."
Kata "kami" yang ia ucapkan menggugah
perhatianku. Itu membuatku terkejut; kusangka
aku sudah tak bisa menyadari apa pun lagi.
"Alice tidak akan kembali," aku tersadar. Entah
bagaimana Edward bisa mendengarku—mulutku
tidak mengeluarkan suara—tapi sepertinya ia
mengerti.
Ia menggeleng pelan, matanya tak pernah lepas
dari wajahku.
“Tidak. Mereka semua sudah pergi. Aku tetap
tinggal untuk berpamitan denganmu."
"Alice sudah pergi?" Suaraku hampa oleh rasa
tak percaya.
"Sebenarnya dia ingin berpamitan, tapi aku
meyakinkan dia, perpisahan seketika justru lebih
baik bagimu."
Kepalaku pusing; sulit rasanya berkonsentrasi.
Kata-kata Edward berputar-putar dalam pikiranku,
dan aku seperti mendengar dokter di rumah sakit
di Phoenix, musim semi lalu, saat menunjukkan
hasil foto rontgen padaku. Kelihatan kan kalau
patahnya tiba-tiba, jarinya menelusuri foto

tulangku yang patah. Itu bagus. Dengan begitu
bisa sembuh lebih mudah, lebih cepat.
Aku berusaha bernapas normal. Aku perlu
berkonsentrasi, mencari jalan keluar dari mimpi
buruk ini.
"Selamat tinggal, Bella," kata Edward, suaranya
tetap tenang dan damai.
"Tunggu!" aku tersedak oleh kata itu,
menggapainya, memerintahkan kakiku yang terasa
berat untuk membawaku maju.
Kusangka Edward juga mengulurkan tangan
untuk menggapaiku. Tapi tangannya yang dingin
mencengkeram pergelangan tanganku dan
merapatkannya ke sisi kiri dan kanan tubuhku. Ia
membungkuk, dan menempelkan bibirnya sekilas
ke dahiku, sangat sebentar. Mataku terpejam.
"Jaga dirimu baik-baik," desahnya, rasa dingin
menerpa kulitku.
Terasa tiupan angin sekilas yang tidak wajar.
Mataku terbuka. Daun-daun pohon maple bergetar
oleh embusan angin pelan yang menandai
kepergiannya.
Ia sudah pergi.
Dengan kaki gemetar, mengabaikan fakta bahwa
tindakanku itu tak ada gunanya, aku berjalan
mengikutinya memasuki hutan. Bukti
kepergiannya langsung lenyap. Tak ada jejak kaki,
daun-daun diam kembali, tapi aku terus berjalan
tanpa berpikir. Aku tak sanggup melakukan hal

lain. Aku harus terus bergerak. Kalau aku berhenti
mencarinya, semua berakhir.
Cinta, hidup, makna... berakhir.
Aku berjalan dan berjalan. Waktu tak ada
artinya lagi bagiku sementara aku berjalan pelan
menembus semak belukar. Berjam-jam telah
berlalu, tapi rasanya baru beberapa detik. Mungkin
waktu terasa membeku karena hutan tampak
sama tak pedulinya betapapun jauhnya aku
melangkah. Aku mulai khawatir aku hanya
berputar-putar dalam lingkaran, lingkaran yang
sangat kecil, tapi aku terus berjalan. Sering kali
aku tersandung, dan, setelah hari makin gelap,
aku juga sering terjatuh.
Akhirnya aku tersandung sesuatu—karena
sekarang sudah gelap gulita, aku tak tahu benda
apa yang membuatku tersandung—dan tak bisa
bangkit lagi. Aku berguling ke samping, supaya
bisa bernapas, dan bergelung di rerumputan yang
basah.
Sementara aku berbaring di sana, aku merasa
waktu terus berjalan tanpa aku menyadarinya. Aku
tak ingat berapa lama waktu telah berlalu
semenjak malam turun. Apakah di sini selalu
segelap ini di malam hari? Padahal seharusnya ada
sedikit cahaya bulan yang menerobos gumpalan
awan, bersinar menembus kanopi pepohonan, dan
menerpa tanah.
Tapi malam ini tidak. Malam ini langit hitam
pekat. Mungkin tak ada bulan malam ini—
mungkin ada gerhana bulan, bulan baru.

Bulan baru. Aku gemetaran, meski tidak
kedinginan.
Hitam pekat untuk waktu yang sangat lama
sebelum aku mendengar mereka memanggilmanggil.
Seseorang meneriakkan namaku. Sayup-sayup
dan teredam tetumbuhan basah yang
mengelilingiku, tapi itu jelas namaku. Aku tidak
mengenali suara itu. Terpikir olehku untuk
menjawab, tapi aku linglung, dan butuh waktu
lama untuk menyimpulkan aku sebaiknya
menjawab. Saat itu. teriakan itu sudah berhenti.
Beberapa saat kemudian hujan
membangunkanku. Kurasa aku tidak benar-benar
tertidur; aku hanya terhanyut dalam kondisi tak
sadar dan tak bisa berpikir, bertahan dengan
segenap kekuatan ke perasaan kebas yang
membuatku tak bisa menyadari apa yang tak ingin
kuketahui.
Hujan sedikit membuatku gelisah. Aku
menggigil. Kubuka belitan tanganku yang
melingkari lutut untuk menutupi wajah.
Saat itulah aku mendengar teriakan itu lagi. Kali
ini lebih jauh, dan kadang-kadang terdengar
seperti beberapa suara berteriak bersama-sama.
Aku mencoba menghela napas dalam-dalam. Aku
ingat seharusnya aku menyahut, tapi kukira
mereka takkan bisa mendengarku. Sanggupkah
aku berteriak cukup lantang?
Tiba-tiba terdengar suara lain, mengagetkanku
karena cukup dekat. Seperti mendengus-dengus,

suara binatang. Kedengarannya binatang besar.
Dalam hati aku bertanya-tanya apakah seharusnya
aku merasa takut. Aku tidak takut—cuma mati
rasa. Itu bukan masalah. Dengusan itu pergi.
Hujan terus turun, dan bisa kurasakan air
menggenang di pipiku. Saat sedang berusaha
mengumpulkan kekuatan untuk memalingkan
kepala, kulihat seberkas cahaya.
Awalnya hanya kilau samar yang memantul di
semak-semak di kejauhan. Cahaya itu semakin
lama semakin terang, menyinari bidang besar,
tidak seperti lampu senter yang menyorot lurus.
Cahaya itu menembus semak terdekat, dan
ternyata cahaya itu berasal dari lentera propane,
tapi hanya itu yang bisa kulihat—
kecemerlangannya sesaat membutakanku.
"Bella."
Suara itu berat dan tidak kukenal, tapi bernada
mengenali. Ia tidak memanggil namaku untuk
mencari, tapi memberi tahu bahwa aku sudah
ditemukan.
Aku menengadah—tinggi sekali rasanya—ke
seraut wajah gelap yang kini bisa kulihat
menjulang tinggi di atasku. Samar-samar aku
sadar orang asing itu mungkin hanya terlihat
sangat tinggi karena kepalaku masih tergeletak di
tanah.
"Kau dilukai?"
Aku tahu kata-kata itu berarti sesuatu, tapi aku
hanya bisa memandanginya, bingung. Apa artinya
pengertian pada saat seperti ini?

"Bella, namaku Sam Uley."
Namanya sama sekali asing.
"Charlie menyuruhku mencarimu."
Charlie? Nama itu menggugahku, dan aku
berusaha lebih menyimak perkataannya. Charlie
berarti sesuatu, kalaupun yang lain tidak.
Lelaki jangkung itu mengulurkan tangan.
Kutatap tangan itu, tak yakin harus melakukan
apa.
Mata hitamnya menilaiku sedetik, kemudian ia
mengangkat bahu. Dengan gerakan cepat dan
luwes, ia mengangkatku dari tanah dan
membopongku.
Aku terkulai dalam gendongannya, lemas,
sementara lelaki itu berjalan melompat-lompat
dengan tangkas menembus hutan yang basah.
Sebagian diriku tahu seharusnya ini membuatku
marah—dibopong orang asing. Tapi aku sudah tak
punya tenaga lagi untuk marah.
Rasanya sebentar saja sudah tampak lampulampu
dan dengungan berat suara kaum lelaki.
Sam Uley memperlambat langkah saat mendekati
kerumunan.
"Aku menemukannya!" serunya, suaranya
menggelegar.
Dengungan itu terhenti, dan mulai lagi sejurus
kemudian dengan lebih keras. Wajah-wajah
berputar membingungkan di atas kepalaku. Hanya
suara Sam yang masuk akal di tengah kekacauan

itu, mungkin karena telingaku menempel di
dadanya.
"Tidak, kurasa dia tidak cedera," katanya pada
seseorang. "Dia hanya terus-menerus berkata 'Dia
sudah pergi’."
Apakah aku mengatakannya dengan suara
keras? Kugigit bibirku.
"Bella, Sayang, kau baik-baik saja?"
Itu suara yang pasti akan kukenali di mana
pun—bahkan saat suaranya sarat oleh perasaan
khawatir seperti sekarang ini.
"Charlie?" Suaraku terdengar asing dan kecil.
"Aku di sini, Sayang"
Aku merasa tubuhku dipindahkan, dan sejurus
kemudian, aku bisa mencium bau khas jaket
sheriff ayahku yang terbuat dari kulit. Charlie
terhuyung-huyung menggendongku.
"Mungkin sebaiknya aku saja yang
membopongnya," Sam Uley menyarankan.
"Tidak perlu," jawab Charlie, agak terengah.
Ia berjalan pelan-pelan, tersaruk-saruk. Kalau
saja aku bisa mengatakan padanya untuk
menurunkanku dan membiarkan aku berjalan
sendiri, tapi tak ada suara yang keluar dari
kerongkonganku.
Di mana-mana ada lampu, dipegang
segerombolan orang yang berjalan bersamanya.
Rasanya seperti pawai. Atau prosesi pemakaman.
Aku memejamkan mata.

"Kita sudah hampir sampai di rumah, Sayang,”
sesekali Charlie bergumam.
Kubuka mataku lagi waktu kudengar kunci
pintu diputar.
Kami di teras rumah, dan lelaki gelap jangkung
bernama Sam memegang pintu untuk Charlie.
sebelah tangan terulur ke arah kami, seolah
bersiap-siap menangkapku bila lengan Charlie tak
kuat lagi membopongku.
Tapi Charlie berhasil menggendongku melewati
pintu dan membaringkanku di sofa ruang duduk.
"Dad, aku basah kuyup," sergahku lemah.
"Tidak apa-apa." Suaranya serak. Kemudian ia
berbicara pada seseorang. "Selimut-selimut ada di
dalam lemari di puncak tangga."
"Bella?'' tanya sebuah suara baru. Aku
memandangi lelaki berambut kelabu yang
membungkuk di atasku, dan baru mengenalinya
setelah beberapa detik yang berlalu teramat
lamban.
"Dr. Gerandy?" gumamku.
"Benar, Sayang" jawab lelaki itu. "Kau terluka,
Bella?"
Butuh semenit untuk benar-benar
memikirkannya. Aku bingung karena teringat
pertanyaan sama yang diajukan Sam Uley di hutan
tadi. Hanya saja Sam menanyakannya secara
berbeda: Kau dilukai? tanyanya tadi. Perbedaannya
jelas sekali sekarang.

Dr. Gerandy menunggu. Sebelah alisnya yang
beruban terangkat, dan kerutan di dahinya
semakin dalam.
“Aku tidak apa-apa," dustaku. Kata-kata itu
cukup benar untuk menjawab pertanyaannya.
Tangannya yang hangat menyentuh dahiku, dan
jari-jarinya menekan bagian dalam pergelangan
tanganku. Kulihat bibirnya bergerak-gerak saat ia
menghitung, matanya tertuju pada jam tangan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya, nadanya
biasa-biasa saja.
Aku membeku dalam genggaman tangannya,
kurasakan perasaan panik di pangkal
tenggorokanku.
"Kau tersesat di hutan?" desak si dokter. Aku
menyadari beberapa orang ikut mendengarkan.
Tiga lelaki jangkung berwajah gelap—dari La Push,
reservasi Indian Quileute di sepanjang garis pantai,
kalau tidak salah—Sam Uley salah satunya, berdiri
berimpitan memandangiku. Mr. Newton ada di
sana bersama Mike dan Mr. Weber, ayah Angela;
mereka memandangiku, tidak terang-terangan
seperti orang-orang asing itu. Suara-suara berat
lain berdengung dari arah dapur dan di luar pintu
depan. Setengah isi kota pastilah mencariku tadi.
Charlie berada paling dekat denganku. Ia
mencondongkan tubuh untuk mendengar
jawabanku.
"Ya," bisikku. "Aku tersesat."

Dokter mengangguk, berpikir, jari-jarinya
dengan lembut memeriksa kelenjar di bawah
daguku. Wajah Charlie mengeras.
"Kau lelah?" dr. Gerandy bertanya.
Aku mengangguk dan memejam dengan patuh.
"Menurutku tak ada yang mengkhawatirkan,"
kudengar dokter itu bicara pelan pada Charlie
beberapa saat kemudian. "Hanya kelelahan.
Biarkan dia tidur untuk memulihkan kekuatan.
Besok aku datang untuk mengecek keadaannya."
Dokter terdiam sebentar. Ia pasti melihat jam
tangannya karena lalu menambahkan, "Well, hari
ini maksudku."
Terdengar suara berderit saat mereka samasama
bangkit dari sofa.
"Apakah benar?" bisik Charlie. Suara-suara
mereka terdengar lebih jauh sekarang. "Mereka
sudah pergi?"
"Dr. Cullen meminta kami untuk tidak
mengatakan apa-apa," dr. Gerandy menjawab.
"Tawaran itu datang sangat tiba-tiba; mereka harus
segera memilih. Carlisle tidak ingin ke
pindahannya diributkan.
"Pemberitahuan singkat kan tak ada salahnya,"
gerutu Charlie.
Suara dr. Gerandy terdengar tidak enak waktu ia
menimpali. "Ya, Well, dalam situasi ini, ada
baiknya bila memberi peringatan.”
Aku tidak mau mendengar lagi. Aku merabaraba,
mencari pinggiran selimut yang dihamparkan

seseorang di atas tubuhku, lalu menariknya hingga
menutupi telinga.
Kesadaranku hilang-timbul. Aku mendengar
Charlie mengucapkan terima kasih dengan suara
berbisik pada para sukarelawan saat satu demi
satu mereka pulang. Aku merasakan jemarinya
membelai dahiku, disusul kemudian dengan
dihamparkannya selimut lain. Telepon berdering
beberapa kali, dan ia bergegas menjawabnya
sebelum bunyi deringan membangunkanku. Ia
menjawab kekhawatiran para penelepon dengan
suara pelan.
"Yeah, kami sudah menemukannya. Dia tidak
apa-apa. Tersesat. Sekarang dia baik-baik saja,"
begitu kata Charlie berkali-kali.
Aku mendengar per-per kursi berderit saat ia
duduk di sana untuk menjagaku.
Beberapa menit kemudian telepon kembali
berdering.
Charlie mengerang saat bangkit dari kursinya
dengan susah payah, kemudian menghambur,
tersaruk-saruk, menuju dapur. Kubenamkan
kepalaku lebih dalam ke bawah selimut, tak ingin
mendengarkan pembicaraan yang sama lagi.
"Yeah," jawab Charlie, menguap.
Suaranya berubah, terdengar jauh lebih
waspada saat ia bicara lagi. "Di mana?" Sejenak ia
terdiam. "Kau yakin itu di luar reservasi?" Terdiam
lagi. "Tapi apa yang bisa terbakar di sana?"
Suaranya terdengar waswas bercampur bingung.
"Dengar, aku akan ke sana dan mengeceknya."

Aku mendengarkan, semakin tertarik, sementara
Charlie menekan serangkaian nomor di telepon.
"Hei, Billy, ini Charlie—maaf menelepon sedini
ini... tidak, dia baik-baik saja. Sekarang dia tidur...
Trims, tapi bukan itu alasanku menelepon. Aku
baru saja ditelepon Mrs. Stanley, dan katanya dari
jendela tingkat dua rumahnya, dia bisa melihat api
berkobar di tebing-tebing laut, tapi aku tidak
benar-benar... Oh!" Mendadak suaranya berubah—
nadanya terdengar jengkel... atau marah. "Dan
mengapa mereka berbuat begitu? He eh.
Benarkah?" Charlie mengucapkannya dengan nada
sarkastis. "Well, jangan meminta maaf padaku.
Yeah, yeah. Pastikan apinya tidak menjalar ke
mana-mana... Aku tahu, aku tahu, aku hanya
heran mereka bisa menyalakannya di cuaca seperti
ini."
Charlie ragu-ragu sejenak, lalu dengan enggan
menambahkan, "Terima kasih sudah mengirim
Sam dan anak-anak lain ke sini. Kau benar—
mereka memang lebih mengenal kondisi hutan
daripada kami. Sam-lah yang menemukannya, jadi
aku berutang budi padamu... Yeah, kita bicara lagi
nanti," Charlie menyanggupi, nadanya masih
masam, sebelum menutup telepon.
Charlie menggerutu, kata-katanya tidak jelas, ia
berjalan tersaruk-saruk kembali ke ruang duduk.
"Ada apa?" tanyaku.
Charlie bergegas menghampiriku. “Maaf
membuatmu terbangun. Sayang"
“Ada yang terbakar, ya?"

“Tidak ada apa-apa," Charlie meyakinkan aku.
"Hanya api unggun di tebing-tebing sana."
“Api unggun?” tanyaku. Suaraku tidak terdengar
ingin tahu. Nadanya mati.
Charlie mengerutkan kening. "Beberapa anak
dari reservasi berulah aneh-aneh.” ia menjelaskan.
"Mengapa?" tanyaku muram.
Kentara sekali Charlie tidak ingin menjawab. Ia
menunduk memandangi lantai di bawah lututnya.
"Mereka merayakan kabar itu." Nadanya getir.
Hanya ada satu kabar yang terpikir olehku,
meski aku berusaha untuk tidak memikirkannya.
Kemudian potongan-potongan informasi itu mulai
menyatu. "Karena keluarga Cullen pergi," bisikku.
"Mereka tidak suka ada keluarga Cullen di La
Push—aku sudah lupa soal itu."
Suku Quileute percaya takhayul tentang "yang
berdarah dingin" peminum darah yang merupakan
musuh suku mereka, sama halnya dengan legenda
mereka tentang air bah dan leluhur berwujud
werewolf. Hanya cerita, cerita rakyat, bagi sebagian
besar mereka. Tapi ada segelintir yang percaya.
Teman baik Charlie, Billy Black, termasuk yang
percaya, walaupun Jacob, putranya,
menganggapnya tolol karena percaya pada
takhayul. Billy pernah mengingatkanku agar
menjauhi keluarga Cullen...
Nama itu menggerakkan sesuatu dalam diriku,
sesuatu yang mulai mencakar-cakar, berusaha
muncul ke permukaan, sesuatu yang aku tahu
tidak ingin kuhadapi.

"Konyol," gerutu Charlie
Sesaat kami hanya duduk berdiam diri. Langit
tak lagi gelap di luar jendela. Di suatu tempat di
balik hujan, matahari mulai terbit.
"Bella?" Charlie bertanya.
Kupandangi ia dengan gelisah.
"Dia meninggalkanmu sendirian di hutan?”
tanya Charlie.
Aku berkelit dari pertanyaannya. "Bagaimana
Dad tahu ke mana harus mencariku?" Pikiranku
mengelak dari kesadaran yang mau tak mau mulai
datang, datang dengan cepat sekarang.
"Pesanmu,” jawab Charlie, terkejut. Ia merogoh
saku belakang jinsnya dan mengeluarkan kertas
kumal. Kertas itu kotor dan basah, dengan bekas
lipatan silang-menyilang yang menandakan kertas
itu sudah dibuka dan dilipat lagi berulang kali.
Charlie membukanya lagi, mengangkatnya sebagai
bukti. Tulisan cakar ayam di sana sangat mirip
tulisanku sendiri.
Pergi jalan-jalan dengan Edward, menyusuri jalan
setapak, begitu bunyi tulisannya. Sebentar lagi
pulang, B.
"Waktu kau tidak pulang-pulang, aku menelepon
ke rumah keluarga Cullen, tapi tak ada yang
mengangkat," cerita Charlie pelan. "Lalu aku
menelepon rumah sakit, dan dr. Gerandy memberi
tahu Carlisle sudah pindah."
"Mereka pindah ke mana?" gumamku.

Charlie menatapku. "Edward tidak memberi
tahu?"
Aku menggeleng, hatiku ciut. Mendengar
namanya disebut seakan melepaskan sesuatu yang
sejak tadi mencakari hatiku—rasa sakit yang
membuatku tak bisa bernapas, terperangah oleh
kekuatannya yang luar biasa.
Charlie memandangiku dengan sikap ragu saat
menjawab. “Carlisle menerima pekerjaan di rumah
sakit besar di Los Angeles. Kurasa gajinya pasti
sangat besar."
LA kota yang panas terik. Mustahil mereka
benar-benar pindah ke sana. Aku teringat mimpi
burukku dengan cermin itu... cahaya matahari
berpendar-pendar dari kulitnya—
Kepedihan mengoyak hariku saat aku teringat
wajahnya.
"Aku ingin tahu apakah Edward
meninggalkanmu sendirian di tengah hutan sana,"
desak Charlie.
Mendengar nama Edward membuatku sangat
tersiksa. Aku menggeleng kalut, putus asa ingin
lepas dari cengkeraman kepedihan itu. "Akulah
yang salah. Dia meninggalkanku di jalan setapak,
aku masih bisa melihat rumah ini... tapi aku
mencoba mengikutinya.”
Charlie hendak mengatakan sesuatu; dengan
sikap kekanak-kanakan aku menutup kedua
telingaku. "Aku tidak bisa membicarakan ini, Dad.
Aku ingin ke kamarku."

Sebelum ayahku bisa menjawab, aku sudah
menghambur turun dari sofa dan tersaruk-saruk
menaiki tangga ke atas.
Seseorang datang ke rumah untuk meninggalkan
pesan bagi Charlie. pesan yang menuntunnya
untuk menemukanku. Sejak menyadari hal itu,
kecurigaan sudah timbul di benakku. Aku
menghambur ke kamarku, menutup pintu, dan
menguncinya sebelum berlari ke CD player di
samping tempat tidurku.
Semua masih tampak persis seperti sebelum aku
meninggalkannya. Kutekan bagian atas CD player.
Kaitannya terlepas, dan tutupnya perlahan
mengayun terbuka.
Kosong.
Album yang diberikan Renee untukku tergeletak
di lantai di samping tempat tidur, persis di tempat
aku terakhir kali meletakkannya. Kubuka
sampulnya dengan tangan gemetar.
Aku hanya perlu melihat halaman pertama.
Sudut-sudut logam kecil di dalamnya tak lagi
menjepit foto. Halamannya kosong, yang tertinggal
hanya tulisan tanganku sendiri di bagian bawah:
Edward Cullen, dapur Charlie, 13 September.
Aku berhenti di sana. Sudah kuduga ia akan
sangat cermat menghapus semua jejaknya.
Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah
ada.
Aku merasakan lantai kayu halus di bawah
lututku, lalu telapak tanganku, kemudian

menempel di kulit pipiku. Aku berharap bakal
pingsan tapi sayangnya, ternyata aku tidak
kehilangan kesadaran. Gelombang kepedihan yang
tadi hanya menerpaku kini menerjang tinggi,
menggulung kepalaku menyeretku ke bawah.
Aku tak muncul lagi di permukaan.
OKTOBER
-
NOVEMBER
-
DESEMBER
-
JANUARI
-

4. TERBANGUN
WAKTU berlalu. Bahkan saat rasanya mustahil,
waktu tetap tenis berjalan. Bahkan di saat setiap
detik pergerakan jarum jam terasa menyakitkan,
bagaikan denyut nadi di balik luka memar. Waktu
seakan berlalu di jalan yang tidak rata, bergejolak
dan diseret-seret, namun terus berjalan. Bahkan
bagiku.
-
KEPALAN Charlie meninju meja. "Baiklah, Bella!
Aku akan mengirimmu pulang."

Aku mendongak dari serealku, yang sejak tadi
hanya kupandangi tanpa kumakan, dan menatap
Charlie dengan shock. Aku tidak menyimak
pembicaraan—sebenarnya, aku malah tidak sadar
kami sedang berbicara—jadi aku tidak mengerti
maksud perkataannya.
"Aku kan sudah di rumah," gumamku, bingung.
"Aku akan mengirimmu ke Renee, ke
Jacksonville," Charlie menjelaskan maksudnya.
Charlie memandang putus asa saat aku lambat
laun mencerna maksudnya.
"Apa salahku?" Kurasakan wajahku mengernyit.
Benar-benar tidak adil. Kelakuanku selama empat
bulan terakhir ini benar-benar tak bercela. Setelah
minggu pertama itu, yang tak pernah kami ungkitungkit
lagi, aku tak pernah bolos sekolah atau
kerja satu hari pun. Nilai-nilaiku sempurna. Aku
tak pernah melanggar jam malam—aku toh tak
pernah ke mana-mana sehingga harus melanggar
jam malam. Aku juga sangat jarang
menghidangkan masakan sisa untuk makan
malam. Charlie merengut.
"Kau tidak melakukan apa-apa. Justru itulah
masalahnya. Kau tidak pernah melakukan apaapa."
“Dad mau aku bikin ulah?" Aku keheranan,
alisku bertaut saking bingungnya. Aku berusaha
keras memerhatikan. Itu tidak mudah. Aku sudah
sangat terbiasa mengabaikan semuanya sehingga
seperanya telingaku berhenti berfungsi.

"Bikin ulah lebih baik daripada... daripada
bermuram durja setiap saat seperti ini!”
Perkataannya sedikit menyinggung perasaanku.
Padahal aku sudah berhati-hati untuk
menghindari segala bentuk kesedihan, termasuk
bermuram durja.
"Aku tidak bermuram durja kok."
"Itu bukan kata yang tepat," Charlie
menyimpulkan dengan enggan. "Bermuram durja
masih lebih baik—itu berarti melakukan sesuatu.
Kau sekarang... tanpa kehidupan, Bella. Kurasa
itulah istilah yang paling tepat."
Tuduhan itu tepat mengenai sasaran. Aku
menghela napas dan berusaha memperdengarkan
nada ceria.
“Maafkan aku, Dad." Permintaan maafku
terdengar agak datar, bahkan di telingaku sendiri.
Kusangka selama ini aku berhasil menipunya.
Menjaga agar Charlie tidak menderita adalah
tujuan utama semua upayaku. Sungguh
menyebalkan semua upayaku itu sia-sia belaka.
“Aku tidak ingin kau meminta maaf."
Aku mendesah. “Kalau begitu, katakan apa yang
Dad ingin kulakukan."
“Bella,” Charlie ragu-ragu, dengan cermat
menelaah reaksiku terhadap kata-katanya
selanjutnya. "Sayang kau bukan orang pertama
yang mengalami hal semacam ini, tahu."
"Aku tahu." Cengiran yang menyertai katakataku
tadi lemah dan tak meyakinkan.

"Dengar, Sayang. Menurutku mungkin—
mungkin kau butuh bantuan."
"Bantuan?"
Charlie diam sejenak, kembali mencari kata-kata
yang tepat. "Ketika ibumu pergi," ia memulai,
keningnya berkerut, "dan membawamu
bersamanya." Charlie menghela napas dalamdalam.
"Well, itu masa-masa yang sangat berat
bagiku."
"Aku tahu, Dad," gumamku.
"Tapi aku bisa mengatasinya," tegas Charlie.
"Sayang kau tidak mengatasinya. Aku menunggu,
aku berharap keadaan jadi lebih baik" Ia
memandangiku dan aku buru-buru menunduk.
"Kurasa kita sama-sama tahu keadaan ternyata
belum membaik juga."
"Aku baik-baik saja kok."
Charlie tak menggubris sergahanku. "Mungkin,
Well, mungkin kalau kau bicara dengan orang lain
tentang masalah ini. Seorang profesional."
"Dad mau aku berkonsultasi ke psikiater?"
suaraku terdengar sedikit lebih tajam saat
menyadari maksudnya.
"Mungkin itu bisa membantu."
"Dan mungkin itu sama sekali takkan
membantu.”
Aku tidak begitu paham soal psikoanalisis, tapi
aku sangat yakin itu tidak bakal efektif kecuali
subjeknya relatif jujur. Tentu, aku bisa

mengatakan hal sebenarnya—kalau aku ingin
menghabiskan sisa hidupku di sel untuk orang gila
yang dindingnya dilapisi busa pengaman.
Charlie mengaman ekspresiku yang keras
kepala, dan beralih menggunakan senjata lain.
"Ini di luar kemampuanku, Bella. Mungkin
ibumu-"
"Dengar," sergahku datar. "Aku akan keluar
malam ini, kalau memang itu yang Dad inginkan.
Aku akan menelepon Jess atau Angela."
"Bukan itu yang kuinginkan," bantah Charlie,
frustrasi. "Rasanya aku tak sanggup melihatmu
berusaha lebih keras lagi. Belum pernah aku
melihat orang berusaha sekeras itu. Sedih hariku
melihatnya."
Aku pura-pura bodoh, menunduk memandangi
meja. "Aku tidak mengerti, Dad. Pertama Dad
marah karena aku tidak melakukan apa-apa,
kemudian Dad bilang tidak ingin aku keluar."
"Aku ingin kau bahagia—tidak, bahkan tidak
perlu sedrastis itu. Aku hanya ingin kau tidak
merana lagi. Menurutku kesempatanmu untuk
pulih akan lebih besar kalau kau pergi dari Forks,"
Mataku berkilat oleh percikan emosi pertama
yang sudah sekian lama kupendam dalam hati.
"Aku tidak mau pindah," tolakku.
"Kenapa tidak?" tuntut Charlie.
"Sekarang semester terakhirku di sekolah—
pindah hanya akan mengacaukan semuanya."

“Kau kan pintar—kau pasti bisa mengejar
pelajaran."
"Aku tidak mau mengganggu Mom dan Phil."
“Ibumu sudah lama ingin kau tinggal
bersamanya lagi."
“Florida terlalu panas."
Kepalan tangan Charlie kembali menghantam
meja. "Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya
terjadi di sini, Bella, dan itu tidak baik untukmu.”
Ia menghela napas dalam-dalam. "Ini sudah berlalu
beberapa bulan. Tidak ada telepon, tidak ada surat,
tidak ada kontak. Kau tidak bisa terus-terusan
menunggunya."
Kutatap Charlie dengan garang. Kemarahan itu
nyaris, meski tidak sampai, mencapai wajahku.
Sudah lama sekali wajahku tak pernah lagi
membara oleh emosi apa pun.
Topik ini benar-benar terlarang, seperti yang
disadari benar oleh Charlie.
"Aku tidak menunggu apa-apa. Aku tidak
mengharapkan apa-apa," bantahku dengan nada
monoton yang rendah.
"Bella—" Charlie memulai, suaranya berat.
"Aku harus berangkat sekolah," selaku, berdiri
dan merenggut sarapanku yang belum disentuh
dari meja. Kujatuhkan mangkukku di bak cuci
tanpa merasa perlu mencucinya dulu. Aku tak
sanggup meneruskan pembicaraan lagi.

"Aku akan menyusun rencana dengan Jessica,"
seruku dari balik bahu sambil menyandang tas
sekolah, tanpa menatap mata Charlie. "Mungkin
aku tidak makan malam di rumah. Kami akan
pergi ke Port Angeles dan nonton film."
Aku sudah keluar dari pintu sebelum Charlie
bereaksi.
Karena begitu terburu-buru ingin secepatnya
menyingkir dari hadapan Charlie, aku termasuk
orang pertama yang sampai di sekolah.
Keuntungannya adalah, aku mendapat tempat
parkir yang bagus sekali. Tapi sayangnya aku jadi
punya banyak waktu kosong, padahal selama ini
sedapat mungkin aku berusaha menghindari
waktu kosong.
Dengan cepat, sebelum sempat memikirkan
tuduhan-tuduhan Charlie tadi, aku mengeluarkan
buku Kalkulus-ku. Kubuka di bagian yang akan
mulai kami pelajari hari ini dan berusaha
memahaminya sendiri. Membaca matematika
bahkan jauh lebih sulit daripada
mendengarkannya, tapi aku semakin
menguasainya. Beberapa bulan terakhir ini, aku
menghabiskan waktu sepuluh kali lebih banyak
untuk mempelajari Kalkulus daripada yang pernah
kuhabiskan untuk pelajaran Matematika sebelum
ini. Hasilnya, nilaiku rata-rata selalu A. Aku tahu
Mr. Varner merasa perbaikan nilai-nilaiku berkat
metode mengajarnya yang superior. Dan kalau itu
membuatnya bahagia, aku tidak ingin
menghancurkan fantasinya.

Kupaksa diriku untuk terus belajar sampai
lapangan parkir penuh, dan akhirnya aku malah
harus bergegas menuju kelas Bahasa Inggris. Kami
sedang membahas tentang Animal Farm, topik yang
cukup mudah. Bagiku komunisme bukan masalah;
selingan segar di sela-sela kisah cinta
membosankan yang mengisi sebagian besar
kurikulum. Aku duduk di kursiku, senang karena
bisa mengalihkan perhatian ke topik yang
diajarkan Mr. Berty.
Waktu berlalu tanpa terasa bila aku di sekolah.
Sebentar saja lonceng sudah berbunyi. Aku mulai
memasukkan buku-bukuku ke tas.
"Bella?'
Aku mengenali suara Mike, dan sudah tahu apa
yang akan ia katakan sebelum ia
mengucapkannya.
"Besok kau kerja?"
Aku mendongak. Ia bersandar di seberang gang
dengan ekspresi cemas. Setiap Jumat ia selalu
menanyakan hal yang sama. Tak peduli aku tidak
pernah cuti sakit sehari pun. Well, dengan satu
pengecualian, beberapa bulan silam. Tapi ia tak
punya alasan memandangiku dengan sikap
prihatin seperti itu. Aku kan karyawan teladan.
"Besok Sabtu, kan?" aku balas bertanya. Setelah
Charlie mengungkitnya, barulah aku sadar betapa
hampa kedengarannya suaraku.
"Ya, benar," sahut Mike. "Sampai ketemu di
kelas Bahasa Spanyol," Ia melambai satu kali

sebelum berbalik memunggungiku. Ia tak pernah
lagi mengantarku ke kelas.
Aku tersaruk-saruk menuju kelas Kalkulus
dengan ekspresi muram. Di kelas ini aku duduk di
sebelah Jessica.
Sudah berminggu-minggu, bahkan mungkin
berbulan-bulan, Jess tak pernah lagi menyapaku
bila aku berpapasan dengannya di koridor. Aku
tahu aku membuatnya tersinggung dengan
sikapku yang antisosial, dan ia ngambek. Tidak
bakal mudah mengajaknya bicara sekarang—
apalagi meminta bantuannya. Aku
mempertimbangkan semuanya masak-masak
sementara berdiri di luar kelas, sengaja berlamalama.
Aku tak ingin menghadapi Charlie lagi tanpa
adanya interaksi sosial yang bisa dilaporkan. Aku
tahu aku tak bisa berbohong, walaupun bayangan
menyetir sendirian ke Port Angeles pulang-pergi—
memastikan odometerku menampilkan jarak mil
yang tepat—terasa sangat menggoda. Tapi ibu
Jessica gemar bergosip, dan cepat atau lambat
Charlie pasti akan bertemu dengan Mrs. Stanley di
kota. Kalau itu terjadi, tak diragukan lagi ia bakal
mengungkit masalah itu. Jadi berbohong jelas
tidak mungkin.
Sambil mendesah, kudorong pintu hingga
terbuka. Mr. Varner melayangkan tatapan galak—
ia sudah memulai pelajaran. Aku bergegas ke
kursiku. Jessica sama sekali tidak mendongak
waktu aku duduk di sebelahnya. Untung saja aku

punya waktu lima puluh menit untuk menyiapkan
mental.
Kelas ini bahkan berlalu lebih cepat daripada
Bahasa Inggris. Sebagian kecil disebabkan oleh
persiapan yang kulakukan tadi pagi di mobil—tapi
sebagian besar berasal dan fakta bahwa waktu
selalu berjalan sangat cepat bila aku harus
menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Aku meringis ketika Mr. Varner menyudahi
pelajaran lima menir lebih cepat. Ia tersenyum
seperti orang yang telah berbuat baik.
“Jess?" Hidungku mengernyit waktu tubuhku
mengejang, menunggunya menyerangku.
Jessica berbalik di kursi untuk menghadapiku,
menatapku tak percaya. "Kau bicara padaku,
Bella?"
"Tentu saja," Aku membelalakkan mata, berlagak
lugu.
"Apa? Kau butuh bantuan dengan Kalkulus?"
Nadanya sinis.
"Tidak." Aku menggeleng. "Sebenarnya, aku ingin
tahu apakah kau mau... nonton film bersamaku
nanti malam? Aku benar-benar membutuhkan
malam khusus cewek." Kata-kata itu terdengar
kaku, seperti dialog yang diucapkan asal saja, dan
Jessica tampak curiga.
"Kenapa kau mengajakku?" tanyanya, sikapnya
masih tidak ramah.
"Kau orang pertama yang terpikir olehku bila
aku sedang ingin kumpul-kumpul dengan teman

cewek," Aku tersenyum, berharap senyumku
terlihat tulus. Bisa jadi itu benar. Setidaknya
dialah orang pertama yang terpikir olehku bila aku
ingin menghindari Charlie. Berarti kan sama saja.
Kesinisan Jessica sedikit berkurang. "Well,
entahlah."
"Kau ada acara?"
“Tidak... kurasa aku bisa saja pergi bersamamu.
Kau mau nonton apa?"
Aku tidak tahu film apa yang sedang diputar
saat ini," elakku. Aku memeras otak mencari
petunjuk—bukankah baru-baru ini aku mendengar
seseorang berbicara tentang film? Melihat poster?
"Bagaimana kalau film tentang presiden wanita
itu?"
Jessica menatapku ganjil "Bella, film itu kan
sudah lama sekali tidak diputar lagi."
"Oh." Keningku berkerut. "Apakah ada film yang
ingin kau tonton?”
Sifat asli Jessica yang cerewet serta-merta
muncul sementara ia berpikir. "Well, ada film
komedi romantis yang mendapat banyak pujian.
Aku ingin menontonnya. Dan ayahku baru saja
nonton Dead End dan benar-benar menyukainya."
Aku langsung tertarik pada judulnya yang
menjanjikan.
"Ceritanya tentang apa?"
"Zombie dan semacamnya. Kata ayahku, itu film
paling seram yang pernah ditontonnya bertahuntahun."

"Kedengarannya sempurna." Aku lebih suka
berurusan dengan zombie daripada nonton film
cinta-cintaan.
"Oke." Kelihatannya Jessica terkejut melihat
responsku. Aku berusaha mengingat-ingat apakah
dulu aku suka nonton film horor, tapi tidak bisa
memastikan. "Bagaimana kalau aku menjemputmu
sepulang sekolah nanti?" Jessica menawarkan diri.
“Tentu.”
Jessica menyunggingkan senyum bersahabat
yang masih terlihat sedikit ragu sebelum beranjak
pergi. Aku agak terlambat membalas senyumnya,
tapi kupikir ia masih sempat melihatnya.
Sisa hari itu lewat dengan cepat, pikiranku
terfokus pada acara malam ini. Dari pengalaman
sebelumnya aku tahu, begitu berhasil membuat
Jessica ngobrol. aku hanya perlu bergumam pelan
di saat yang tepat sebagai balasan. Hanya
diperlukan interaksi minimal.
Kabut tebal yang mengaburkan hari-hariku kini
terkadang membingungkan. Aku terkejut saat
mendapati diriku sudah di kamar, tidak begitu
mengingat perjalanan pulang ke rumah dan
sekolah atau bahkan membuka pintu depan. Tapi
itu bukan masalah. Aku justru bersyukur bila
waktu berjalan tanpa terasa.
Aku tidak melawan kabut yang menyelubungi
pikiranku saat berpaling menghadap lemari. Ada
tempat-tempat tertentu di mana perasaan kebas
itu lebih dibutuhkan. Aku nyaris tidak
memerhatikan apa-apa saat menggeser pintu

lemari, menyingkapkan tumpukan sampah di sisi
kiri, tersuruk di bawah baju-baju yang tak pernah
kupakai.
Mataku tidak melirik kantong plastik hitam
besar berisi hadiah-hadiah ulang tahun terakhirku,
tidak melihat bentuk stereo yang menonjol di balik
plastik hitam; aku juga tidak berpikir tentang jarijariku
yang berdarah setelah aku merenggutkan
benda itu secara paksa dari dasbor.
Kusentakkan tas lama yang jarang kupakai dari
gantungannya, lalu kudorong pintu lemari hingga
tertutup.
Saat itulah aku mendengar suara klakson.
Cepat-cepat kukeluarkan dompetku dari tas
sekolah dan kumasukkan ke tas. Aku bergegas,
seolah-olah dengan bergegas aku bisa membuat
malam ini berlalu lebih cepat.
Kulirik diriku di cermin ruang depan sebelum
membuka pintu, hati-hati mengatur ekspresiku
dengan menyunggingkan senyum dan berusaha
mempertahankannya.
“Terima kasih sudah mau pergi denganku malam
ini," kataku pada Jess sambil naik ke kursi
penumpang, berusaha memperdengarkan nada
berterima kasih. Sudah cukup lama aku tak
pernah lagi memikirkan apa yang akan kukatakan
pada orang lain selain Charlie. Jess lebih sulit. Aku
tak yakin harus berpura-pura menunjukkan emosi
yang bagaimana.

"Tentu. Omong-omong, mengapa tahu-tahu
kepingin?" tanya Jess sambil menjalankan
mobilnya.
"Tahu-tahu kepingin apa?"
"Mengapa kau tiba-tiba memutuskan... untuk
keluar?" Kedengarannya ia mengubah
pertanyaannya di tengah-tengah.
Aku mengangkat bahu. "Sekali-sekali boleh,
kan?"
Saat itulah aku mengenali lagu yang diputar di
radio, lalu cepat-cepat mengulurkan tangan ke
tombol pemutar. "Keberatan, nggak?" tanyaku.
"Tidak, silakan saja."
Aku memutar-mutar tombol ke beberapa stasiun
sampai menemukan satu yang tidak "berbahaya".
Kulirik ekspresi Jess saat musik yang baru
kutemukan itu mengalun mengisi mobil.
Mata Jess langsung menyipit. "Sejak kapan kau
mendengarkan musik rap?"
"Entahlah," jawabku. "Sudah lumayan lama."
"Kau suka lagu ini?" tanyanya ragu.
"Jelas."
Akan sangat sulit berinteraksi dengan Jessica
secara normal bila aku harus berusaha keras
mengabaikan suara musiknya pula. Maka aku pun
mengangguk-anggukkan kepala, berharap
gerakanku seirama dengan ketukan.
"Oke..." Jessica memandang ke luar kaca depan
dengan mata melotot.

"Bagaimana hubunganmu dengan Mike
belakangan ini?" aku buru-buru bertanya.
“Kau lebih sering ketemu dia daripada aku."
Pertanyaanku tadi tidak membuatnya mulai
mengoceh seperti yang kuharapkan bakal terjadi.
“Sulit ngobrol di tempat kerja," gumamku, lalu
mencoba lagi– "Ada cowok lain yang kencan
denganmu belakangan ini?"
"Tidak juga. Kadang-kadang aku kencan dengan
Conner Aku kencan dengan Eric dua minggu lalu."
Jessica memutar bola matanya dan aku bisa
merasakan adanya cerita yang panjang. Kusambar
kesempatan baik itu.
"Eric Yorkie? Siapa yang mengajak siapa?"
Jessica mengerang, semakin bersemangat. "Ya,
dia dong tentu saja! Aku tidak tahu bagaimana
menolak ajakannya dengan halus."
"Dia mengajakmu ke mana?" desakku, tahu ia
akan menerjemahkan semangatku sebagai
ketertarikan. "Ceritakan semuanya."
Jessica langsung nyerocos, dan aku duduk
bersandar di kursiku, merasa lebih nyaman
sekarang. Aku menyimak ceritanya dengan
saksama, sesekali menggumam bersimpati dan
terkesiap ngeri bila diperlukan. Setelah selesai
dengan cerita tentang Eric, ia melanjutkan dengan
membandingkannya dengan Conner tanpa perlu
diminta lagi.
Filmnya main lebih awal, jadi Jess mengusulkan
supaya kami nonton pertunjukan sore dan sesudah

itu baru makan. Aku senang-senang saja
mengikuti semua kemauannya; bagaimanapun,
aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan—
menghindar dari Charlie.
Kubiarkan saja Jess terus mengoceh selama
preview film-film baru, supaya aku bisa lebih
mudah mengabaikannya. Tapi aku gugup waktu
filmnya dimulai. Sepasang kekasih berjalan
menyusuri tepi pantai, bergandengan tangan dan
mendiskusikan perasaan mereka dengan ekspresi
penuh cinta yang memuakkan dan palsu. Kutahan
diriku untuk tidak menutup telinga dan mulai
berdendang. Aku kan tidak berniat nonton film
cinta-cintaan
"Katanya film zombie," desisku pada Jessica
"Memang film zombie kok."
"Lantas, kenapa belum ada orang yang
dimakan?" tanyaku putus asa.
Jessica memandangiku dengan mata
membelalak lebar yang nyaris tampak ngeri. "Aku
yakin bagian itu pasti muncul sebentar lagi,”
bisiknya.
"Aku mau beli popcorn dulu. Kau mau juga?"
"Tidak, terima kasih."
Seseorang di belakang kami ber-"sssttt".
Aku sengaja berlama-lama di konter makanan,
memandangi jam sambil berdebat dalam hati
berapa persen dari film berdurasi sembilan puluh
menit yang bisa dihabiskan untuk adegan cinta.
Kuputuskan sepuluh menit sudah lebih dari

cukup, itu pun aku menyempatkan diri berhenti
sebentar di depan pintu teater untuk memastikan.
Terdengar suara jeritan membahana dari speaker,
jadi tahulah aku, bahwa aku sudah cukup lama
menunggu.
"Kau ketinggalan semuanya," gumam Jess waktu
aku menyusup ke kursiku. "Hampir semua orang
sudah jadi zombie sekarang."
"Antreannya panjang." Kusodorkan popcorn-ku.
Ia mengambil segenggam.
Sisa film itu dipenuhi adegan serangan zombie
serta jeritan tanpa henti segelintir orang yang
masih hidup, jumlah mereka menyusut cepat.
Awalnya aku menyangka tak ada adegan yang
bakal membuatku terusik. Tapi aku merasa
gelisah, dan awalnya aku tak tahu kenapa.
Baru setelah menjelang akhir cerita, saat
memandangi wajah si zombie yang kurus cekung,
terseok-seok menghampiri manusia terakhir yang
menjerit-jerit ketakutan, aku menyadari apa
masalahnya. Adegannya berganti-ganti antara
wajah ketakutan si tokoh wanita, dengan wajah
mati tanpa ekspresi makhluk yang mengejarnya,
berganti-ganti, semakin lama makin dekat.
Dan sadarlah aku sosok mana yang paling
menyerupai aku.
Aku berdiri.
"Mau ke mana kau? Kira-kira dua menit lagi
filmnya habis," desis Jess.

"Aku perlu minum," gumamku sambil lari ke
pintu keluar.
Aku duduk di bangku di luar pintu teater dan
berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan
keironisannya. Tapi memang ironis, kalau dipikirpikir,
bahwa, pada akhirnya, justru akulah yang
berubah jadi zombie. Sungguh tak terduga sama
sekali.
Bukan berarti aku dulu tak pernah bermimpi
menjadi monster mistis—hanya saja itu bukan
mayat hidup menyeramkan. Kugelengkan kepalaku
kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran itu,
merasa panik. Aku tak boleh memikirkan apa yang
pernah kuimpikan dulu.
Sungguh menyedihkan menyadari diriku bukan
lagi tokoh utama, bahwa kisahku sudah berakhir.
Jessica keluar dari pintu teater, sejenak tampak
ragu, mungkin bertanya-tanya ke mana harus
mulai mencariku. Begitu melihatku ia tampak lega,
tapi hanya sesaat. Kemudian ia kelihatan kesal.
“Apakah filmnya terlalu seram bagimu?"
tanyanya.
"Yeah," jawabku. "Kurasa aku ini penakut."
"Lucu juga." Keningnya berkerut. "Aku tidak
mengira kau ketakutan—aku menjerit terus, tapi
tak pernah mendengarmu menjerit sekali pun. Jadi
aku tidak mengerti kenapa kau malah keluar."
Aku mengangkat bahu. "Aku cuma ketakutan."
Jessica rileks sedikit. "Rasa-rasanya itu tadi
memang film paling seram yang pernah kutonton.

Berani taruhan, malam ini kita pasti bakal
bermimpi buruk."
"Tak diragukan lagi," sahutku, berusaha
menjaga suaraku tetap normal. Aku tahu aku pasti
bakal bermimpi buruk, tapi tidak ada zombie
dalam mimpiku. Mata Jessica menatap wajahku
sekilas, lalu membuang muka. Mungkin aku tak
berhasil membuat suaraku terdengar normal.
"Kau mau makan di mana?" tanya Jess.
"Terserah."
"Oke."
Jess mulai mengoceh tentang aktor utama film
tadi sementara kami berjalan beriringan. Aku
mengangguk-angguk saat ia mencerocos penuh
semangat, memuji-muji ketampanan si aktor. Aku
sendiri tak ingat pernah melihat lelaki yang bukan
zombie dalam film itu.
Aku tidak memerhatikan ke mana Jessica
mengajakku. Aku hanya samar-samar menyadari
di luar sudah gelap dan suasananya lebih sepi.
Agak lama baru aku tersadar mengapa suasana
sepi. Jessica sudah berhenti mengoceh.
Kupandangi dia dengan sikap meminta maaf,
berharap aku tidak membuatnya tersinggung.
Jessica tidak sedang melihat ke arahku.
Wajahnya tegang; ia menatap lurus ke depan dan
berjalan cepat. Kulihat matanya jelalatan ke kanan,
ke seberang jalan, lalu melihat ke arah depan lagi,
berulang kali.

Saat itulah baru aku memerhatikan keadaan
sekelilingku.
Kami berada di trotoar yang tidak diterangi
lampu jalan. Toko-toko kecil yang berjajar di
sepanjang jalan sudah tutup semua, etalaseetalasenya
gelap gulita. Setengah blok di depan,
lampu-lampu jalan kembali menyala, dan tampak
olehku di sana, lengkungan kuning cemerlang
McDonald's yang hendak didatanginya.
Di seberang jalan ada saru toko yang masih
buka. Etalasenya diberi penutup di bagian dalam
dan tampak reklame-reklame neon menyala, iklan
berbagai merek bir, bersinar di depannya. Reklame
terbesar berwarna hijau cerah, bertuliskan nama
barnya—One-Eyed Pete’s. Dalam hati aku
bertanya-tanya apakah bar itu mengusung tema
bajak laut yang tidak terlihat dari luar. Pintu
besinya dibiarkan terbuka; bagian dalamnya
remang-remang, dan dengungan pelan suara-suara
pengunjung dan denting es batu membentur gelas
terbawa hingga ke seberang jalan. Tampak empat
cowok bersandar di dinding sebelah pintu.
Kulirik lagi Jessica. Matanya terpaku pada jalan
di depannya dan ia berjalan cepat. Ia tidak tampak
ketakutan—hanya waswas, berusaha untuk tidak
menarik perhatian.
Aku berhenti tanpa berpikir, memandangi
keempat cowok itu dengan perasaan deja vu yang
sangat kuat. Jalan yang berbeda, malam yang
berbeda, tapi adegannya kurang-lebih sama. Salah
seorang di antara mereka bahkan pendek dan
berambut gelap. Saat aku berhenti dan berpaling

ke arah mereka, cowok itu mendongak dengan
sikap tertarik.
Aku balas menatapnya, membeku di trotoar.
"Bella?" Jess berbisik. "Apa yang kaulakukan?"
Aku menggeleng, aku sendiri tidak tahu. "Kurasa
aku kenal mereka...," gumamku.
Apa yang kulakukan? Seharusnya aku lari dari
kenangan ini secepat aku bisa, menghalau
bayangan empat cowok yang berdiri itu dari
pikiranku, melindungi diriku dengan perasaan
kebas yang membuatku bisa berfungsi selama ini.
Kenapa aku malah melangkah, dengan linglung, ke
jalan?
Rasanya terlalu kebetulan aku bisa berada di
Port Angeles bersama Jessica, bahkan dijalan yang
gelap. Mataku tertuju pada si cowok pendek,
berusaha mencocokkannya dengan ingatanku
tentang cowok yang mengancamku malam itu
hampir satu tahun yang lalu. Aku penasaran
apakah aku bisa mengenali cowok itu, bila itu
benar-benar dia. Bagian tertentu dari malam
tertentu itu kabur bagiku. Tubuhku lebih bisa
mengingatnya daripada pikiranku; kakiku
mengejang saat aku mencoba memutuskan akan
lari atau tetap berdiri tegak, tenggorokanku kering
saat aku berusaha menjerit keras-keras, kulitku
menegang di bagian buku-buku jari saat aku
mengepalkan tinju, bulu kudukku meremang saat
si cowok berambut gelap memanggilku "Manis..."
Ada semacam kesan mengancam yang
ditunjukkan cowok-cowok itu, yang tidak ada

hubungannya dengan peristiwa malam itu. Kesan
itu muncul dari fakta bahwa mereka orang asing,
bahwa suasana di sini gelap, dan jumlah mereka
lebih banyak daripada kami—tidak ada yang lebih
spesifik daripada itu. Tapi cukup membuat suara
Jessica terdengar panik saat ia berseru
memanggilku.
"Bella, ayolah!”
Aku tidak menggubrisnya, melangkah pelanpelan
tanpa pernah memutuskan secara sadar
untuk menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti
mengapa, tapi ancaman samar yang ditunjukkan
cowok-cowok itu justru menarikku ke arah mereka.
Dorongan hati yang benar-benar tak masuk akal,
tapi sudah lama sekali aku tak pernah lagi
merasakan dorongan hati apa pun... jadi kuikuti
saja.
Sesuatu yang asing berdesir dalam pembuluh
darahku. Adrenalin, aku menyadari, yang sudah
lama absen dalam diriku, menggenjot denyut
nadiku semakin cepat dan berjuang melawan
hilangnya sensasi. Aneh—mengapa ada adrenalin
kalau aku tidak merasa takut? Rasanya nyaris
bagaikan gema masa lalu saat aku berdiri seperti
ini, di jalan gelap di Port Angeles, bersama orangorang
asing.
Aku tidak melihat alasan untuk takut. Aku tidak
bisa membayangkan ada yang perlu kutakuti lagi
di dunia ini, setidaknya secara fisik. Itu salah satu
keuntungan kalau sudah kehilangan segalanya.
Aku sudah separo menyeberang ketika Jess
menyusul dan menyambar lenganku.

“Bella! Kau tidak boleh masuk ke bar!" desisnya.
"Aku bukannya mau masuk," jawabku asal,
menepis tangannya. "Aku hanya ingin melihat
sesuatu..."
"Kau sinting, ya?" bisiknya. "Kepingin bunuh
diri?"
Pertanyaan itu menarik perhatianku, dan
mataku terfokus padanya.
"Tidak, aku tidak kepingin bunuh diri" Suaraku
defensif, tapi itu benar. Aku tidak bermaksud
bunuh diri. Bahkan pada awalnya, saat kematian
tak diragukan lagi akan mendatangkan kelegaan,
itu tidak pernah terpikir olehku. Aku terlalu
banyak berutang budi pada Charlie. Aku merasa
bertanggung jawab atas Renee. Aku harus
memikirkan mereka.
Dan aku sudah berjanji tidak akan melakukan
hal yang tolol atau ceroboh. Karena semua alasan
itu, aku masih bernapas hingga detik ini.
Teringat pada janji itu, aku merasakan secercah
perasaan bersalah, tapi apa yang kulakukan
sekarang tidak tergolong perbuatan tolol dan
ceroboh. Aku kan tidak mengiris pergelangan
tanganku dengan pisau.
Mata Jess membulat, mulutnya ternganga lebar.
Pertanyaannya tentang bunuh diri tadi hanya
pertanyaan retoris, dan aku terlambat
menyadarinya.
"Pergi makan sana," bujukku padanya,
melambaikan tangan ke restoran cepat saji. Aku

tidak suka caranya menatapku. "Sebentar lagi aku
menyusul"
Aku berpaling darinya, kembali menatap
keempat cowok yang memandangi kami dengan
sorot takjub bercampur ingin tahu.
"Bella, hentikan sekarang juga!"
Otot-ototku langsung mengejang, membeku
kaku di tempatku berdiri. Karena bukan suara
Jessica yang menegurku sekarang. Suara itu
bernada marah, suara yang sangat kukenal, suara
yang indah—lembut bagai beledu bahkan saat
sedang gusar.
Itu suaranya—aku sangat berhati-hati untuk
tidak menyebut namanya—dan terkejut karena
suara itu tidak membuatku terjengkang, tidak
membuatku meringkuk di trotoar karena tersiksa
oleh perasaan kehilangan. Tidak ada kepedihan,
tidak ada sama sekali.
Detik itu juga, begitu mendengar suaranya,
semuanya jadi sangat jelas. Seakan-akan kepalaku
mendadak muncul di permukaan kolam berair
gelap. Aku jadi lebih menyadari semuanya—
pemandangan, suara-suara, hawa dingin yang
tidak kusadari berembus tajam menerpa wajahku,
aroma yang menyeruak dari pintu bar yang
terbuka.
Aku memandang berkeliling dengan shock.
"Kembali ke Jessica," suara indah itu
memerintahkan, masih bernada marah. "Kau
sudah berjanji—tidak akan melakukan perbuatan
tolol."

Aku sendirian. Jessica berdiri beberapa meter
dariku, menatapku dengan sorot ngeri. Bersandar
di dinding, orang-orang asing itu menonton dengan
bingung, mempertanyakan sikapku yang berdiri
mematung di tengah jalan.
Aku menggeleng, berusaha memahami. Aku tahu
ia tidak ada di sana, namun tetap saja ia terasa
begitu dekat, dekat untuk pertama kalinya sejak...
sejak yang terakhir itu. Nada marah dalam
suaranya merupakan ungkapan keprihatinan
amarah sama yang dulu pernah sangat familier—
sesuatu yang sudah lama tak pernah kudengar
lagi, sepertinya sudah selamanya.
"Tepati janjimu." Suara itu mulai menghilang,
seperti suara radio yang volumenya dikecilkan.
Aku mulai curiga jangan-jangan sedang
berhalusinasi. Dipicu, tak diragukan lagi, oleh
kenangan itu—deja vu itu, perasaan familier aneh
bahwa aku pernah mengalami situasi yang sama.
Dengan cepat aku menelaah berbagai
kemungkinan dalam pikiranku.
Opsi pertama: aku sudah sinting. Itu istilah
orang awam bagi mereka yang mendengar suarasuara
dalam pikiran mereka.
Mungkin.
Opsi kedua: Pikiran bawah sadarku memberiku
apa yang memang kuinginkan. Ini pemenuhan
keinginan—kelegaan sementara dari rasa sakit
dengan merangkul pemikiran yang keliru bahwa ia
peduli apakah aku hidup atau mati.
Memproyeksikan apa yang akan ia katakan

seandainya A) ia ada di sini, dan B) ia takut
sesuatu yang buruk bakal terjadi padaku.
Kemungkinan.
Aku tak bisa melihat opsi ketiga, jadi aku
berharap pilihannya adalah yang kedua dan ini
hanya pikiran bawah sadarku yang tak terkendali,
bukannya sesuatu yang mengharuskan aku
dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Namun reaksiku tak bisa dibilang waras—aku
justru bersyukur Selama ini aku memang takut
kehilangan suaranya, dan dengan demikian, lebih
dari yang lain, aku sangat bersyukur pikiran
bawah sadarku bisa mengenang suara itu lebih
jelas daripada pikiran sadarku.
Aku tak boleh memikirkan dia. Itu sesuatu yang
selama ini kuhindari. Tentu saja sesekali terpeleset
itu wajar; aku hanya manusia biasa. Tapi
keadaanku semakin baik, jadi sekarang ini
kepedihan itu bisa kuhindari selama beberapa hari
berturut-turut. Gantinya adalah perasaan kebas
yang tak pernah berakhir. Antara merasa pedih
dan tidak merasa apa-apa, aku memilih tidak
merasa apa-apa.
Aku menunggu datangnya kepedihan itu
sekarang. Aku tidak lumpuh—pancaindraku terasa
luar biasa intens setelah sekian bulan diliputi
kabut—tapi kepedihan normal itu tak kunjung
datang. Satu-satunya kesakitan hanya perasaan
kecewa karena suaranya menghilang.
Aku punya waktu sedetik untuk memilih.

Tindakan bijaksana adalah lari dari
perkembangan yang kemungkinan besar bakal
menghancurkan—dan jelas tidak stabil secara
mental—ini. Sungguh tolol mendorong munculnya
halusinasi.
Tapi suaranya semakin menghilang.
Aku maju selangkah, mengetes.
"Bella, kembali," geramnya.
Aku mendesah lega. Kemarahan itulah yang
ingin ku dengar—bukti palsu yang dibuat-buat
bahwa ia peduli, anugerah meragukan dari alam
bawah sadarku.
Beberapa derik berlalu sementara aku menyortir
pikiranku Orang-orang asing itu memandangiku,
ingin tahu. Mungkin yang terlihat di luar adalah
aku sedang menimbang-nimbang apakah akan
menghampiri mereka atau tidak. Bagaimana
mereka bisa menebak bahwa aku berdiri di sana
menikmati momen ketidakwarasan yang mendadak
datang tanpa diduga?
“Hai," sapa salah satu cowok itu, nadanya penuh
percaya diri sekaligus sedikit sarkastis. Kulit dan
rambutnya terang, dan ia berdiri dengan sikap
percaya diri, yakin dirinya tampan. Aku tidak bisa
melihat apakah ia tampan atau tidak. Aku diliputi
prasangka.
Suara di kepalaku menjawab dengan geraman
menakutkan. Aku tersenyum, dan si cowok yang
percaya diri itu sepertinya menanggap itu
undangan.

"Ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau
tersesat," Lelaki itu nyengir dan mengedipkan
mata.
Dengan hati-hati aku melangkahi selokan yang
dialiri air yang tampak hitam dalam kegelapan.
"Tidak. Aku tidak tersesat."
Sekarang setelah aku berada lebih dekat—dan
anehnya mataku bisa terfokus—aku menganalisis
cowok pendek berambut gelap tadi. Ternyata sama
sekali asing. Aku merasakan sensasi kecewa yang
mencurigakan bahwa ia ternyata bukan cowok
jahat yang berusaha menyakitiku hampir satu
tahun yang lalu.
Suara di kepalaku kini diam.
Si cowok pendek menyadari tatapanku. "Boleh
aku membelikanmu minuman?" ia menawarkan,
gugup, tampaknya tersanjung karena aku
memandanginya terus.
"Aku masih di bawah umur," jawabku otomatis.
Cowok itu terperangah—bertanya-tanya
mengapa aku mendekati mereka. Aku merasa wajib
menjelaskan.
"Dari seberang jalan, kau mirip seseorang yang
kukenal. Maaf, ternyata aku salah."
Ancaman yang menarikku dari seberang jalan
mendadak menguap. Mereka bukan cowok-cowok
berbahaya yang kuingat. Mungkin mereka orang
baik-baik. Aman. Aku langsungtidak tertarik lagi.

"Tidak apa-apa," si cowok pirang yang percaya
diri tadi berkata. "Tinggallah di sini dan ngobrol
dengan kami."
"Trims, tapi aku tak bisa." Jessica ragu-ragu di
tengah jalan, matanya membelalak oleh amarah
dan perasaan dikhianati.
"Oh, beberapa menit saja."
Aku menggeleng, dan berbalik untuk bergabung
dengan Jessica.
"Ayo kita makan," usulku, nyaris tidak
meliriknya. Walaupun aku tampak, saat itu,
terbebas dari sikap kosong dan hampa seperti
zombie, namun aku tetap menjaga jarak. Pikiranku
sibuk. Perasaan mati yang aman dan kebas itu
tidak kembali, dan aku jadi semakin gelisah seiring
berjalannya waktu, karena perasaan itu tak
kunjung datang.
"Apa sih yang ada dalam pikiranmu tadi?"
bentak Jessica. Kau tidak kenal mereka—bisa jadi
mereka psikopat!"
Aku mengangkat bahu, berharap Jessica akan
melupakannya. Aku hanya mengira kenal salah
satu dari mereka."
“Kau ini aneh sekali, Bella Swan. Aku merasa
seperti tidak mengenal dirimu."
“Maaf.” Aku tidak tahu lagi harus bilang apa.
Kami berjalan memasuki McDonald's sambil
membisu. Aku berani bertaruh, Jessica pasti
menyesal karena tadi kami berjalan kaki ke sini,
bukannya naik mobil, supaya bisa memesan lewat

mobil saja. Sekarang ia gelisah dan ingin Segera
mengakhiri malam ini, sama seperti yang
kurasakan pada awalnya.
Beberapa kali aku mencoba mengajaknya
mengobrol sambil makan, tapi Jessica menolak
bekerja sama. Aku pasti benar-benar telah
membuatnya tersinggung.
Waktu kami kembali ke mobilnya, Jessica
mengembalikan saluran ke stasiun radio favoritnya
dan mengeraskan volume sampai kelewat keras
untuk bisa ngobrol dengan nyaman.
Aku tidak perlu berusaha sekeras biasa untuk
mengabaikan musiknya. Walaupun pikiranku,
sekali itu, tidak kebas dan kosong, tapi banyak hal
lain yang kupikirkan selain menyimak lirik lagu.
Kutunggu perasaan kebas itu kembali, atau
kepedihan itu. Karena kepedihan itu pasti datang.
Aku sudah melanggar aturanku sendiri. Alih-alih
menghindar dari kenangan, aku malah maju dan
menyapanya. Aku sudah mendengar suaranya,
begitu jelas, di kepalaku. Ada harga yang harus
kubayar, aku yakin itu. Apalagi kalau aku tidak
bisa lagi mendatangkan kabut untuk melindungi
diriku. Aku merasa terlalu sadar, dan itu
membuatku takut.
Tapi kelegaan masih merupakan emosi terkuat
dalam diriku—kelegaan yang berasal dari lubuk
hatiku yang terdalam.
Meski berjuang keras untuk tidak memikirkan
dia, aku tidak berjuang untuk melupakan. Aku
khawatir—di larut malam saat kelelahan karena

kurang tidur mematahkan pertahananku—semua
itu berangsur-angsur lenyap. Bahwa pikiranku
berlubang-lubang seperti saringan, dan bahwa
suatu saat nanti aku tak lagi bisa mengingat warna
matanya dengan tepat, sentuhan kulitnya yang
dingin, serta tekstur suaranya. Aku tidak bisa
memikirkannya, tapi aku harus mengingatnya.
Karena tinggal satu hal yang perlu kuyakini agar
aku bisahidup–aku harus tahu dia ada. Itu saja.
Yang lain-lain masih bisa kutahan. Pokoknya asal
dia ada.
Itulah sebabnya aku merasa lebih terperangkap
di Forks daripada sebelumnya, mengapa aku
bertengkar dengan Charlie waktu ayahku
mengusulkan perubahan. Sejujurnya, seharusnya
itu bukan masalah; tidak ada yang akan kembali
lagi ke sini.
Tapi kalau aku pindah ke Jacksonville, atau ke
tempat lain yang terang benderang dan tidak
familier, bagaimana aku bisa yakin ia nyata? Di
tempat aku tidak akan pernah bisa membayangkan
dia, keyakinan itu akan memudar... dan itu tidak
bisa kuterima.
Terlarang untuk diingat, takut untuk dilupakan;
sungguh sulit menjalaninya.
Aku terkejut waktu Jessica menghentikan
mobilnya di depan rumahku. Perjalanan pulang
tidak memakan waktu lama, tapi, meski terasa
sebentar, aku tidak mengira Jessica bakal
membisu sepanjang jalan.

"Terima kasih sudah mau pergi denganku, Jess,"
kataku sambil membuka pintu. "Acara kita tadi...
asyik." Aku berharap asyik istilah yang tepat.
“Tentu," gumamnya.
“Aku minta maaf tentang... kejadian sehabis film
tadi."
“Terserahlah, Bella" Jessica memandang lurus
ke kaca depan, tidak memandangku. Sepertinya
semakin malam ia semakin marah, bukan malah
melupakannya.
“Sampai ketemu lagi hari Senin?"
"Yeah. Bye."
Aku menyerah dan menutup pintu. Jessica
menderu pergi, masih tak mau melihatku.
Aku sudah lupa pada Jessica sesampainya di
dalam rumah.
Charlie menungguku di tengah ruang depan,
kedua lengannya terlipat rapi di dada dengan
telapak tangan mengepal.
"Hai, Dad," sapaku acuh tak acuh sambil
merunduk melewati Charlie, berjalan menuju
tangga. Aku sudah terlalu lama memikirkan dia,
dan aku ingin berada di atas sebelum semua itu
mengejarku.
"Dari mana saja kau?" tuntut Charlie.
Kupandangi ayahku, terkejut. "Aku pergi nonton
film di Port Angeles bersama Jessica. Seperti yang
kubilang tadi pagi."
"Hahhh," gerutu ayahku.

"Tidak apa-apa, kan?”
Charlie mengamati wajahku, matanya melebar
ketika melihat sesuatu yang tak terduga. "Yeah,
tidak apa-apa. Kau senang?"
"Tentu," jawabku. "Kami nonton zombie
memangsa orang-orang. Bagus sekali."
Mata Charlie menyipit.
"Malam, Dad."
Charlie membiarkanku lewat. Aku bergegas
masuk ke kamarku.
Aku berbaring di tempat tidur beberapa menit
kemudian, menyerah saat kepedihan itu akhirnya
muncul.
Hal ini benar-benar melumpuhkan, sensasi
bahwa sebuah lubang besar menganga di dadaku,
merenggut semua organ vitalku dan meninggalkan
bekas luka yang masih basah dan berdarah di
sekelilingnya, yang masih tetap berdenyut nyeri
dan mengeluarkan darah meski waktu terus
berjalan. Secara rasional aku tahu paru-paruku
pasti masih utuh, namun a megap-megap
menghirup udara dan kepalaku berputar seolaholah
segenap usahaku sia-sia. Jantungku pasti
juga masih berdetak, tapi aku tak bisa mendengar
detaknya di telingaku; tanganku terasa biru
kedinginan. Aku meringkuk seperti bayi, memeluk
dada seperti memegangi diriku agar tidak hancur
berantakan. Aku berusaha menggapai perasaan
kelu dan lumpuh, penyangkalanku, tapi perasaan
itu meninggalkanku.

Meski begitu, kudapati bahwa ternyata aku bisa
bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan
itu—perasaan kehilangan yang terpancar keluar
dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan
yang menghancurkan ke kaki—tangan dan
kepalaku—tapi semua itu masih bisa kutahan. Aku
bisa melewatinya. Walaupun rasanya kepedihan itu
tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku
jadi semakin kuat menahannya.
Apa pun yang terjadi malam ini—dan apakah
penyebabnya zombie, adrenalin, atau halusinasi—
itu telah membangunkan aku.
Untuk pertama kali dalam kurun waktu lama,
aku tidak tahu harus mengharapkan apa esok
pagi.

5. CURANG
"BELLA, bagaimana kalau kau pulang saja,"
Mike menyarankan, matanya terfokus ke satu sisi,
tidak benar-benar menatapku. Aku bertanya-tanya
berapa lama hal itu sudah berlangsung, tanpa aku
menyadarinya.
Sore ini tak banyak pengunjung di Newtons. Saat
itu hanya ada dua pengunjung, backpacker sejati
kalau menilik dari obrolannya. Mike menghabiskan
satu jam terakhir menjelaskan kelebihan dan
kekurangan dua merek ransel lightweight pada
mereka. Tapi mereka menghentikan dulu
pembicaraan serius tentang harga, dan malah

asyik saling membual soal kisah-kisah petualangan
hiking terbaru mereka di hutan. Mike
memanfaatkan kesempatan itu untuk
meninggalkan mereka sebentar.
"Aku tidak keberatan tetap di sini," kataku. Aku
masih belum bisa menenggelamkan diri kembali ke
cangkang mati rasa yang melindungiku, jadi segala
sesuatu tampak begitu dekat dan nyaring hari ini,
seakan-akan aku telah membuka kapas yang
selama ini menyumbat telingaku. Kucoba untuk
mengabaikan tawa para hiker itu, tapi tidak
berhasil.
"Sudah kubilang," kata cowok gempal berjenggot
oranye yang tidak cocok dengan rambutnya yang
cokelat gelap. "Aku sudah pernah melihat beruang
grizzly dari jarak sangat dekat waktu di
Yellowstone, tapi itu masih belum apa-apa
dibandingkan binatang yang satu ini." Rambutnya
lengket, dan bajunya kelihatan seperti sudah
dipakai berhari-hari. Benar-benar baru turun
gunung.
"Tidak mungkin. Beruang hitam tidak mungkin
bisa sebesar itu. Beruang grizzly yang kaulihat itu
mungkin bayi beruang." Cowok kedua tinggi
langsing, wajahnya gosong terbakar matahari dan
berkerut-kerut karena kelewat sering di udara
terbuka, membentuk lapisan kulit kering yang
mengesankan.
"Serius, Bella, begitu kedua orang ini selesai,
aku akan menutup toko," gumam Mike.
"Yah, jika kau memang ingin aku pergi..." aku
mengangkat bahu.

"Dalam posisi merangkak, hewan itu lebih tinggi
daripada kau," si cowok berjenggot ngotot
sementara aku mengemasi barang-barangku.
"Besar sekali dan hitam pekat. Aku akan
melaporkannya pada pengawas hutan di sini.
Orang-orang harus diperingatkan—aku tidak
melihatnya di gunung lho— tapi hanya beberapa
kilometer dari ujung jalan setapak."
Si wajah kasar tertawa dan memutar bola
matanya. “Biar kutebak—kau melihatnya dalam
perjalanan turun, kan? Kau belum makan
makanan sungguhan atau tidur di tanah selama
seminggu, bukan?"
"Hei, eh, namamu Mike, kan?" seru si cowok
berjenggot, menoleh pada kami.
"Sampai keremu Senin," gumamku
“Ya, Sir," jawab Mike. berpaling pada mereka.
"Katakan, pernahkah ada peringatan di sini
baru-baru ini—tentang beruang hitam?”
"Tidak, Sir. Tapi ada baiknya untuk selalu
menjaga jarak dan menyimpan makanan Anda
dengan benar. Anda sudah pernah melihat kaleng
antiberuang kami yang baru? Beratnya tidak
sampai satu kilo...”
Pintu menggeser terbuka dan aku keluar
menerobos hujan Aku meringkuk di dalam jaketku
dan berlari ke mobil. Hujan menderas memukulmukul
penutup kepalaku dengan suara luar biasa
keras, tapi sebentar saja raungan mesin
mengalahkan suara lainnya.

Aku tidak ingin pulang ke rumah Charlie yang
kosong. Semalam sangat menyiksa, dan aku tak
ingin mengulangi lagi adegan penyiksaan itu.
Bahkan setelah kepedihan hatiku mereda sehingga
aku bisa tidur, penyiksaan itu ternyata belum
berakhir. Seperti yang kukatakan pada Jessica
setelah nonton film, tak diragukan lagi aku pasti
akan bermimpi buruk.
Sekarang setiap malam aku memang selalu
bermimpi buruk. Mimpiku selalu sama, karena
selalu mimpi buruk yang sama. Kau pasti mengira
aku akan bosan setelah sekian bulan berlalu,
menjadi imun terhadapnya. Tapi mimpi itu tak
pernah gagal membuatku ngeri, dan baru berakhir
saat aku menjerit terbangun. Charlie tak pernah
datang lagi untuk menengok dan mencari tahu apa
yang terjadi, untuk memastikan tidak ada
penyusup yang mencekikku atau semacamnya—ia
sekarang sudah terbiasa.
Mimpi burukku mungkin bahkan tidak
menakutkan bagi orang lain. Tidak ada yang tahutahu
melompat dari persembunyian dan berteriak,
"Buuu!" Tidak ada zombie, tidak ada hantu, tidak
ada psikopat. Hanya pepohonan berlumut
membentang sejauh mata memandang, begitu
sunyi sehingga kesunyian itu menekan gendang
telingaku. Suasana gelap, seperti senja di hari
berawan, hanya ada seberkas cahaya tertinggal
untuk melihat bahwa tidak ada yang bisa dilihat.
Aku bergegas menembus keremangan tanpa jalan
setapak, selalu mencari, mencari, mencari, makin
lama makin panik sementara waktu terus berjalan,
berusaha bergerak lebih cepat, meski kecepatan

membuat langkahku kikuk... Kemudian aku akan
sampai pada satu titik dalam mimpiku—dan aku
bisa merasakannya datang sekarang, tapi rasanya
aku tak pernah bisa menggugah diriku untuk
bangun sebelum saat itu tiba—saat aku tidak bisa
mengingat apa yang sebenarnya kucari. Waktu aku
sadar tidak ada apa-apa yang bisa dicari, dan tidak
ada apa-apa yang bisa ditemukan. Bahwa tak
pernah ada apa-apa kecuali hutan sepi yang
kosong, dan tidak akan pernah ada apa-apa lagi
untukku... tidak ada apa-apa kecuali kehampaan...
Biasanya saat itulah teriakanku dimulai.
Aku tidak memerhatikan ke mana aku
mengendarai trukku—hanya berjalan tak tentu
arah, menyusuri jalan tikus yang kosong dan
basah karena aku sengaja menghindari jalan-jalan
menuju rumahku—karena aku memang tak tahu
mau pergi ke mana.
Kalau saja aku bisa merasa kebas lagi, tapi aku
tak ingat bagaimana dulu aku bisa membuat diriku
merasa seperti itu. Mimpi buruk itu menggayuti
pikiranku dan membuatku memikirkan hal-hal
yang akan membuatku sedih. Aku tak ingin
mengingat hutan. Bahkan saat aku bergidik dan
menepis bayangan-bayangan itu, aku merasa air
mataku merebak dan kepedihan mulai merayapi
tubir lubang di dadaku. Kulepas saru tangan dari
kemudi dan memeluk tubuhku agar tetap utuh.
Nantinya akan terasa seolah olah aku tak pernah
ada. Kata-kata itu berkelebat di benakku, tak lagi
terdengar jelas dan sempurna seperti halusinasiku
semalam. Sekarang itu hanya kata-kata, tanpa

suara, seperti tulisan yang tercetak di buku. Hanya
kata-kata, tapi kata-kata itu mengoyak lubang di
dadaku hingga terbuka lebar, dan aku menginjak
rem keras-keras, tahu seharusnya aku tidak
menyetir dalam keadaan seperti ini.
Aku membungkuk, menempelkan wajahku ke
kemudi dan mencoba bernapas tanpa paru-paru.
Aku bertanya-tanya berapa lama ini akan
berlangsung Mungkin suatu saat nanti, bertahuntahun
dari sekarang—bila kepedihan itu mereda
hingga ke tahap aku sanggup menanggungnya—
aku akan bisa mengenang kembali beberapa bulan
pendek yang akan selalu menjadi masa-masa
terindah dalam hidupku. Dan, jika kepedihan ini
bisa cukup mereda hingga membuatku mampu
berbuat begitu, aku yakin akan merasa bersyukur
atas waktu yang pernah ia berikan padaku. Lebih
dari yang kuminta, lebih dari yang pantas
kuterima. Mungkin suatu saat nanti aku bisa
melihatnya seperti itu.
Tapi bagaimana jika lubang ini takkan pernah
membaik? Bila tubirnya yang basah tak pernah
sembuh? Bila kerusakannya permanen dan tak
bisa diperbaiki lagi?
Kudekap diriku lebih erat lagi. Nantinya akan
terasa seolah-olah ia tak pernah ada, pikirku
merana. Janji yang sungguh tolol dan mustahil
ditepati! Bisa saja ia mencuri foto-fotoku dan
mengambil kembali hadiah-hadiahnya, tapi itu
tidak mengembalikan keadaan seperti dulu,
sebelum aku bertemu dengannya. Bukti fisik
adalah bagian yang paling tidak signifikan. Aku

telah diubah, bagian dalam diriku diubah hingga
nyaris tak bisa dikenali lagi. Bahkan bagian luarku
tampak berbeda—wajahku pucat kekuningan,
putih kecuali bagian bawah mata yang berwarna
ungu, hasil mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Mataku tampak gelap berlatar belakang kulitku
yang pucat sehingga—meskipun seandainya aku
cantik, dan dilihat dari dekat—aku bahkan bisa
dikira vampir sekarang. Tapi aku tidak cantik, jadi
kemungkinan aku lebih mirip zombie.
Seolah-olah ia tak pernah ada? Itu gila namanya.
Janji yang takkan pernah bisa ia tepati, janji yang
dilanggar segera setelah ia membuatnya.
Aku membentur-benturkan kepalaku ke kemudi,
berusaha mengalihkan diriku dari kepedihan yang
teramat sangat.
Itu membuatku merasa tolol, karena berpikir
untuk selalu menepati janjiku. Di mana logisnya,
menepati kesepakatan yang sudah dilanggar pihak
satunya? Siapa yang peduli kalau aku melakukan
perbuatan yang tolol dan ceroboh? Tak ada alasan
menghindar dari kecerobohan, tak ada alasan
mengapa aku tak boleh melakukan hal tolol.
Aku tertawa meski pikirku itu tidak lucu, masih
megap-megap menghirup udara. Bertindak ceroboh
di Forks—melakukan rencana itu di sini sama
sekali tak ada harapan.
Humor tidak lucu itu mengalihkan perhatianku,
dan meredakan kepedihan hatiku. Napasku mulai
mudah, dan aku bisa duduk bersandar ke kursi.
Walaupun hari ini cuaca dingin, tapi dahiku basah
oleh keringat.

Aku berkonsentrasi pada rencana tanpa harapan
itu untuk mencegah pikiranku terbawa lagi ke
kenangan yang menyakitkan. Melakukan hal
ceroboh di Forks membutuhkan kreativitas tinggi—
mungkin lebih dari yang kumiliki. Tapi aku
berharap bisa menemukan jalan... perasaanku
bakal lebih enak jika aku tidak berpegangan eraterat,
sendirian, pada kesepakatan yang sudah
dilanggar. Seandainya saja aku juga bisa
melanggar sumpahku sendiri. Tapi bagaimana aku
bisa berbuat curang, di kota kecil yang aman
tenteram ini? Tentu saja Forks tidak selalu aman.
tapi begitulah tampaknya keadaannya sekarang
Membosankan aman.
Lama sekali aku memandang ke luar kaca
depan, pikiranku bergerak lambat—sepertinya aku
tak bisa membuat pikiranku berkelana ke tempat
lain. Kumatikan mesin, yang mengerang dengan
suara memilukan setelah tidak dijalankan begitu
lama, lalu turun ke tengah hujan yang mengguyur.
Hujan dingin menetes-netes dari rambutku,
kemudian mengalir menuruni pipi bagai air mata.
Air hujan membantu menjernihkan kepalaku. Aku
mengerjap-ngerjapkan air dari mataku, menatap
kosong ke seberang jalan.
Setelah memandang selama satu menit, barulah
aku menyadari di mana aku berada. Aku memarkir
trukku di tengah-tengah jalur utara Russell
Avenue. Aku berdiri di depan rumah keluarga
Cheney—trukku menghalangi jalan masuk ke
garasi mereka—dan di seberang jalan tinggal
keluarga Marks. Aku tahu aku harus

memindahkan trukku, dan bahwa aku harus
pulang. Salah besar berkeliaran tanpa tujuan
seperti ini, pikiran melantur dan linglung,
membahayakan keselamatan pengemudi lain di
Forks. Selain itu, sebentar lagi pasti ada orang
yang bakal melihatku, dan melaporkanku pada
Charlie.
Saat menghela napas dalam-dalam untuk
bersiap-siap sebelum bergerak, sebuah
pengumuman di halaman rumah ke-luarga Marks
menarik perhatianku—sebenarnya itu hanyalah
potongan kardus yang disandarkan di kotak pos,
dengan tulisan huruf-huruf balok hitam di atasnya.
Terkadang, takdir benar-benar terjadi.
Kebetulan? Atau memang sudah ditakdirkan
seperti itu? Entahlah, tapi tolol rasanya berpikir
bahwa entah bagaimana sudah ditakdirkan bahwa
sepeda-sepeda motor rongsok karatan di halaman
depan rumah keluarga Marks, di sebelah
pengumuman bertulis tangan DIJUAL,
SEBAGAIMANA ADANYA, memiliki tujuan lain yang
lebih besar dengan berada di sana, tepat di tempat
aku membutuhkannya.
Jadi mungkin itu bukan takdir. Mungkin ada
banyak cara untuk bertindak ceroboh, dan baru
sekarang mataku terbuka.
Ceroboh dan tolol. Itu dua kata favorit Charlie
sehubungan dengan sepeda motor.
Pekerjaan Charlie tidak sebanyak pekerjaan
polisi di kota-kota besar, tapi ia sering mendapat
panggilan dalam kasus-kasus kecelakaan lalu

lintas. Dengan jalan bebas hambatan yang panjang
dan basah, berkelok-kelok dan berbelok menembus
hutan, tikungan buta demi tikungan buta, mudah
saja melakukan aksi semacam itu. Tapi bahkan
dengan adanya truk-truk tronton yang melaju
lambat mengangkut kayu, sebagian besar orang
memilih tak melakukannya. Kecuali mereka yang
mengendarai sepeda motor, dan Charlie sudah
terlalu sering melihat korban-korban berjatuhan,
hampir selalu anak-anak, tergeletak di jalan raya.
Ia pernah menyuruhku berjanji sebelum aku
berumur sepuluh tahun, untuk tidak pernah naik
motor. Bahkan di usia semuda itu, aku tak perlu
berpikir dua kali sebelum berjanji. Siapa yang mau
naik motor di sini? Rasanya seperti mandi dalam
kecepatan sembilan puluh kilo meter per jam.
Begitu banyak janji yang kutepati...
Saat itulah sebuah ide muncul di kepalaku. Aku
ingin melakukan hal yang tolol dan ceroboh, dan
aku ingin melanggar janji. Mengapa harus berhenti
pada satu hal saja?
Hanya sampai sejauh itu aku memikirkannya.
Kuterobos genangan air hujan menuju pintu depan
rumah keluarga Marks dan menekan bel.
Salah seorang anak lelaki keluarga Marks, yang
lebih muda, yang baru masuk SMA membukakan
pintu. Aku tak ingat namanya. Rambut pirang
pasirnya hanya sebahuku.
Anak itu mengenaliku. "Bella Swan?" serunya
kaget.

“Berapi harga motor itu?" tanyaku, napasku
terengah-engah, menyentakkan ibu jariku ke balik
bahu ke arah benda yang dipajang di halaman
“Kau serius?” tanyanya.
"Tentu saja."
“Sepeda-sepeda motor itu sudah tidak bisa
jalan."
Aku mendesah tak sabaran—itu sudah bisa
kusimpulkan dan tulisan di pengumuman.
"Berapa?"
“Kalau kau benar-benar menginginkannya, ambil
saja. Ibuku menyuruh ayahku memindahkan
sepeda-sepeda motor itu ke jalan supaya diangkut
truk sampah."
Kulirik lagi sepeda-sepeda motor itu dan
menyadari keduanya bertengger di atas tumpukan
rumput kering dan ranting-ranting mau."Kau
yakin?”
"Tentu, mau tanya sendiri pada ibuku?”
Mungkin lebih baik tidak melibatkan orang
dewasa, siapa tahu ia akan menyampaikannya
pada Charlie.
"Tidak, aku percaya padamu."
Kau mau aku membantumu?” cowok itu
menawarkan diri. "Motor itu tidak enteng lho."
"Oke, trims. Tapi aku hanya butuh satu."
"Sebaiknya ambil saja dua-duanya," kata cowok
itu. "Mungkin kau bisa menggunakan onderdilnya."

Cowok itu mengikutiku keluar ke tengah
curahan hujan dan membantuku menaikkan
kedua motor yang berat itu ke bak belakang
trukku. Sepertinya ia bersemangat sekali ingin
menyingkirkannya, jadi aku tidak membantah.
"Memangnya apa yang mau kaulakukan dengan
sepeda-sepeda motor itu?" tanyanya. "Sudah
bertahun-tahun tidak bisa jalan"
"Sudah kuduga," kataku, mengangkat bahu.
Karena ide ini muncul mendadak, aku belum
sempat menyusun rencana apa pun. "Mungkin aku
akan membawanya ke bengkel Dowling."
Cowok itu mendengus. "Dowling akan meminta
ongkos perbaikan lebih mahal daripada harga
motornya sendiri."
Itu benar. John Dowling terkenal sering
memasang tarif mahal; tak ada yang mau
membetulkan mobil di bengkelnya kecuali
terpaksa. Kebanyakan lebih suka pergi ke bengkel
di Port Angeles, kalau mobilnya masih bisa jalan.
Dalam hal itu, aku sangat beruntung—awalnya
aku sempat khawatir, waktu Charlie
menghadiahiku truk antik ini, bahwa aku takkan
bisa merawatnya. Tapi ternyata aku tak pernah
mengalami masalah apa pun, kecuali suara
mesinnya yang berisik dan batas maksimal
kecepatannya yang hanya 88 kilometer per jam.
Jacob Black telaten merawatnya sejak mobil ini
masih menjadi milik ayahnya, Billy...
Ilham menyambarku bagai sambaran petir—
bukan hal yang tidak masuk akal, mengingat saat
ini sedang hujan badai. "Kau tahu nggak? Itu

bukan masalah. Aku kenal orang yang jago
mengutak-atik mobil"
"Oh. Baguslah kalau begitu," Cowok itu
tersenyum lega.
Cowok itu melambaikan tangan waktu aku
menjalankan trukku, masih terus tersenyum.
Ramah juga dia.
Sekarang aku ngebut dan memiliki tujuan, ingin
cepat-cepat sampai di rumah sebelum Charlie
pulang, siapa tahu ia pulang lebih cepat, walaupun
kecil sekali kemungkinan itu bakal terjadi. Aku
menghambur ke dalam rumah menuju pesawat
telepon, masih sambil menggenggam kunci mobil.
"Kepala Polisi Swan, please," kataku waktu
teleponku dijawab seorang deputi. "Ini Bella.”
"Oh, hai, Bella," sahut Deputi Steve ramah.
"Akan kupanggilkan dia"
Aku menunggu.
"Ada apa, Bella?" tuntut Charlie begitu
mengangkat telepon.
"Apa aku tidak boleh menelepon Dad kalau tidak
ada masalah gawat?"
Charlie terdiam sebentar. "Kau tidak pernah
menelepon sebelumnya. Apakah ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya ingin menanyakan arah jalan
ke rumah keluarga Black—sepertinya aku sudah
tidak ingat lagi. Aku ingin mengunjungi Jacob.
Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu
dengannya."

Ketika Charlie berbicara lagi, suaranya terdengar
jauh lebih gembira. "Ide yang bagus sekali, Bells.
Ada bolpoin?"
Arahan yang ia berikan sangat sederhana. Aku
berjanji akan pulang saat makan malam, walaupun
Charlie mencoba mengatakan tak perlu terburuburu.
Ia ingin bergabung denganku di La Push,
tapi aku menolak keras.
Jadi dengan niat pulang tepat waktu aku
mengendarai truk ku terlalu cepat menyusuri
jalan-jalan ke luar kota yang gelap oleh hujan
badai. Harapanku, aku bisa menemui Jacob
sendirian. Billy mungkin akan mengadukanku
kalau ia mengetahui rencanaku.
Sembari menyetir, aku agak waswas memikirkan
reaksi Billy nanti bila bertemu denganku. Ia pasti
girang sekali. Dalam benak Billy tak diragukan lagi,
ini semua berakhir jauh lebih baik daripada yang
berani ia harapkan. Kegembiraan dan kelegaannya
hanya akan mengingatkanku pada satu hal yang
tak sanggup kuingat. Hari ini jangan lagi, aku
memohon dalam hati. Aku sudah lelah.
Rumah keluarga Black samar-samar masih
familier, rumah kayu kecil dengan jendela-jendela
sempit dan cat merah kusam yang membuatnya
mirip lumbung kecil. Kepala Jacob sudah nongol
dari jendela bahkan sebelum aku sempat turun
dari truk. Tak diragukan lagi, raungan suara mesin
yang familier memberi tahukan kedatanganku
padanya. Jacob sangat bersyukur waktu Charlie
membeli mobil truk Billy untukku,
menyelamatkannya dari keharusan mengendarai

truk ini kalau sudah cukup umur. Aku sangat
menyukai trukku, tapi Jacob sepertinya
menganggap batas kecepatan truk ini sebagai
kekurangan.
Ia berlari menyongsongku.
"Bella!" Cengiran senang tersungging lebar di
wajahnya, giginya yang putih cemerlang tampak
sangat kontras dengan kulitnya yang cokelat
kemerahan. Sebelum ini aku tak pernah melihat
rambutnya tidak dikucir. Kini rambutnya tergerai
seperti tirai satin hitam di sisi kiri dan kanan
wajahnya yang lebar.
Jacob tumbuh semakin dewasa dalam delapan
bulan terakhir. Ia melewati titik di mana otot-otot
masa kanak-kanaknya mengeras membentuk
sosok remaja bertubuh padat dan tegap; otot-otot
tendon dan urat nadinya semakin jelas di balik
kulit lengan dan tangannya yang merah cokelat.
Wajahnya masih semanis yang kuingat, meski kini
juga mulai menegas – tulang pipinya semakin
tajam, rahangnya persegi, semua kemontokan
masa kecil telah lenyap.
"Hai, Jacob!” Aku merasakan dorongan
antusiasme yang tidak biasa begitu melihat
senyumnya. Sadarlah aku bahwa aku senang
bertemu dengannya. Kenyataan itu
mengejutkanku.
Aku membalas senyumnya, dan sesuatu terbetik
dalam pikiranku, bagaikan dua keping puzzle yang
menyatu. Aku sudah lupa betapa aku sangat
menyukai Jacob Black.

Jacob berhenti beberapa meter dariku, dan aku
mendongak menatapnya dengan terkejut, kepalaku
menengadah jauh ke belakang hingga hujan
menetes-netes membasahi wajahku.
"Kau semakin jangkung!" tuduhku takjub.
Jacob tertawa, senyumnya semakin lebar.
"Seratus sembilan puluh dua sentimeter lebih," ia
memberi tahu dengan perasaan puas diri.
Suaranya semakin berat, tapi masih sedikit serak
seperti yang kuingat dulu.
"Apakah kau akan berhenti tumbuh?" aku
menggeleng-geleng tak percaya. "Besar sekali kau."
"Masih kurus, tapi." Ia nyengir. "Ayo masuk!
Nanti kau basah kuyup."
Jacob berjalan menduluiku, memilin rambutnya
dengan tangannya yang besar sambil berjalan. Ia
mengeluarkan karet gelang dan saku celana dan
mengikat rambutnya.
“Hai, Dad," serunya waktu kami merunduk
melewati pintu depan. "Lihat siapa yang datang."
Billy sedang di ruang tamunya yang mungil,
tangannya memegang buku. Ia meletakkan buku
itu di pangkuan dan menggelindingkan kursi
rodanya ke depan begitu melihatku.
"Well kejutan besar! Senang bertemu denganmu.
Bella."
Kami bersalaman. Tanganku lenyap dalam
genggamannya yang lebar.

"Apa yang membawamu ke sini? Charlie baikbaik
saja, kan?"
"Ya, tentu. Aku hanya ingin bertemu Jacob—aku
sudah lama sekali tidak bertemu dengannya."
Mata Jacob berbinar-binar mendengar
jawabanku. Senyumnya lebar sekali hingga pipinya
pasti terasa sakit.
"Bisakah kau makan malam di sini?" Billy juga
bersemangat.
"Tidak, aku kan harus memasak untuk Charlie,
Anda tahu."
"Ah, aku kan bisa meneleponnya sekarang," Billy
menyarankan. "Pintu rumah ini selalu terbuka
untuknya."
Aku tertawa untuk menyembunyikan
kecanggunganku. "Bukan berarti Anda tidak akan
bertemu lagi denganku. Aku janji akan kembali lagi
ke sini—saking seringnya sampai Anda bosan
melihatku." Bagaimanapun, kalau Jacob bisa
membetulkan motor itu, harus ada yang
mengajariku mengendarainya.
Billy menanggapi perkataanku dengan berdecak.
"Oke, mungkin lain kali"
"Jadi, Bella, kau ingin melakukan apa?" tanya
Jacob.
"Terserah. Apa yang sedang kaulakukan waktu
aku datang tadi?" Anehnya, aku merasa nyaman di
sini. Rumah ini familier, meski terasa berjarak. Tak
ada yang membuatku teringat pada masa laluku
yang menyakitkan.

Jacob ragu-ragu. "Aku baru mau mengutak-atik
mobilku, tapi kita bisa melakukan hal lain..."
"Tidak, itu sempurna!" selaku. "Aku ingin sekali
melihat mobilmu."
“Oke" sahut Jacob, tak yakin. "Ada di belakang,
di garasi."
Malah lebih baik, batinku. Aku melambai pada
Billy. "Sampai ketemu lagi nanti.”
Pepohonan rindang dan semak belukar
menyembunyikan garasi dari rumah. Garasi itu
sebenarnya tak lebih dari dua pondok besar yang
disatukan. Di dalamnya, di atas blok sinder,
bertengger sesuatu yang dalam pandanganku
menyerupai mobil utuh. Aku mengenali simbol di
grille depannya, paling tidak.
“Volkswagen apa itu?" tanyaku.
“Volkswagen Rabbit—keluaran 1986, mobil
klasik."
“Bagaimana keadaannya:"
"Hampir selesai," jawab Jacob riang. Kemudian
suaranya turun satu oktaf. “Ayahku menepati
janjinya padaku musim semi lalu."
"Ah," ucapku.
Tampaknya Jacob memahami keenggananku
untuk mengungkit lagi topik itu. Aku mencoba
untuk tidak mengingat kejadian saat prom bulan
Mei. Ketika itu Jacob disuap ayahnya dengan janji
akan diberi uang dan onderdil mobil asalkan mau
menyampaikan pesan untukku ke sana. Billy ingin

aku menjauh dari orang terpenting dalam hidupku.
Ternyata kekhawatirannya, akhirnya, tidak
beralasan. Aku malah terlalu aman sekarang.
Tapi aku bertekad akan melakukan sesuatu
untuk mengubahnya.
"Jacob, kau tahu seluk-beluk motor?” tanyaku.
Jacob mengangkat bahu. "Lumayan. Temanku
Embry punya motor trail. Kadang-kadang kami
mengutak-atiknya. Kenapa?"
“Well..." Aku mengerucutkan bibir sambil
menimbang-nimbang. Aku ragu apakah Jacob bisa
merahasiakan hal ini, tapi aku tak punya banyak
pilihan. "Belum lama ini aku mendapat sepasang
sepeda motor, tapi kondisinya tidak bagus. Aku
ingin tahu apakah kau bisa membetulkannya."
“Asyik" Jacob tampak benar-benar senang
mendapat tantangan itu. Wajahnya berseri-seri.
"Akan kucoba."
Aku mengacungkan jari, mengingatkan.
"Masalahnya," aku menjelaskan. "Charlie tidak
suka aku naik motor. Jujur saja, bisa jadi urat
nadi di dahinya bakal putus kalau dia tahu tentang
hal ini. Jadi kau tidak boleh memberi tahu Billy."
"Tentu, tentu." Jacob tersenyum. "Aku mengerti."
"Aku akan membayarmu," sambungku.
Jacob tersinggung mendengarnya. "Tidak. Aku
ingin membantu. Kau tidak boleh membayarku."
"Well... bagaimana kalau barter saja?" Usulan itu
muncul begitu saja di benakku sementara aku

bicara, tapi kedengarannya cukup masuk akal.
"Aku hanya butuh satu motor—dan aku juga ingin
diajari menaikinya. Jadi bagaimana kalau begini?
Aku akan memberimu satu sepeda motor,
kemudian kau bisa mengajariku cara
mengendarainya."
"Ke-reeen." Jacob mengucapkan kata itu dalam
dua silabel.
"Tunggu sebentar—kau sudah cukup umur
belum? Ulang tahunmu kapan?"
"Sudah lewat," goda Jacob, menyipitkan mata,
pura-pura marah. "Sekarang aku sudah enam
belas."
"Kayak umur bisa menghentikanmu saja
sebelum ini,” aku menggerutu. "Maaf aku lupa hari
ulang tahunmu.”
"Tidak apa-apa. Aku juga lupa hari ulang
tahunmu. Umur mu berapa, empat puluh?"
Aku mendengus. "Hampir."
“Kita satukan saja pesta ulang tahun kita untuk
merayakannya."
"Kedengarannya seperti kencan.”
Mata Jacob berbinar mendengarnya.
Aku harus mengekang antusiasmenya sebelum
ia telanjur salah sangka—hanya saja sudah lama
sekali aku tak pernah lagi merasa seringan dan
sebebas ini. Jarangnya aku merasakan perasaan
itu membuatnya jadi lebih sulit dikendalikan.

"Mungkin kalau motornya sudah selesai
dibetulkan— hitung-hitung hadiah untuk kita,"
aku menambahkan.
“Setuju. Kapan kau akan membawanya ke sini?"
Aku menggigit bibir, malu. "Sudah ada di
trukku" aku mengakui.
“Bagus." Kelihatannya ia bersungguh-sungguh.
“Apakah Billy bakal melihat kalau kita
membawanya ke sini?”
Jacob mengedipkan mata. "Diam-diam saja,
kalau begitu."
Kami menyelinap mengitari rumah dari sisi
timur, merapat ke pepohonan bila kami bisa
terlihat dari jendela, berlagak seperti sedang jalan jalan,
untuk berjaga-jaga. Jacob dengan cekatan
menurunkan sepeda-sepeda motor itu dari bak
truk, mendorongnya satu per satu ke semak
tempat aku bersembunyi. Enteng saja kelihatannya
baginya—padahal seingatku sepeda-sepeda motor
itu berat, sangat berat.
"Kondisinya tidak parah-parah amat kok," kata
Jacob, menilai kondisi sepeda-sepeda motor itu
sementara kami mendorongnya ke bawah naungan
pepohonan. "Yang satu ini malah bisa bernilai
tinggi kalau sudah dibetulkan—ini Harley Sprint
kuno."
"Kalau begitu, itu punyamu."
"Kau yakin?'
"Jelas.”

"Tapi untuk membetulkannya butuh banyak
biaya," kata Jacob, mengerutkan kening
memandangi bagian-bagian sepeda motor yang
sudah menghitam. "Kita harus menabung dulu
untuk bisa membeli onderdil."
"Bukan kita,” tolakku. "Kalau kau mau
membetulkannya gratis, akulah yang akan
membeli onderdilnya."
"Entahlah...," gumam Jacob.
"Aku punya sedikit uang tabungan. Dana kuliah,
kau tahu." Masa bodoh dengan kuliah, pikirku
dalam hati. Aku toh tidak menabung tidak cukup
banyak untuk pergi ke suatu tempat istimewa—lagi
pula, aku toh tidak berniat meninggalkan Forks.
Apa bedanya kalau aku membobol tabunganku
sedikit?
Jacob hanya mengangguk. Semua itu masuk
akal saja baginya.
Sementara kami mengendap-endap kembali ke
garasi, aku memikirkan keberuntunganku. Hanya
cowok remaja yang mau melakukan ini: menipu
orangtua kami dengan membetulkan kendaraan
berbahaya dan menggunakan uang yang
seharusnya ditabung untuk kepentingan kuliah. Ia
tidak melihat ada yang salah dengan hal itu. Jacob
benar-benar anugerah dari para dewa.


6. TEMAN-TEMAN
KEDUA sepeda motor itu tidak perlu
disembunyikan di tempat yang jauh, cukup
menyimpannya di garasi Jacob. Kursi roda Billy
tidak bisa bergerak di tanah tidak rata yang
memisahkan pondok dengan rumah.
Jacob mulai membongkar motor pertama—yang
berwarna merah, yang akan menjadi milikku—
hingga bagian-bagiannya terlepas. Ia membuka
pintu Rabbit-nya supaya aku bisa duduk di jok.
bukan di lantai. Sambil bekerja Jacob mengobrol
dengan gembira, hanya perlu kupancing sedikit
untuk meneruskan obrolan. Ia menceritakan
sekolahnya, kelas-kelas yang ia ikuti, juga dua
sahabatnya.
"Quil dan Embry?" selaku. "Nama-nama yang
tidak lazim.”
Jacob terkekeh. "Quil itu nama turunan, sedang
Embry nama bintang sinetron. Pokoknya aku tidak
bisa bilang apa-apa soal itu. Mereka bakal ngamuk
kalau kau mulai menyinggung nama mereka –
mereka bakal mengeroyokmu."
“Itu kausebut teman baik?" Aku mengangkat
sebelah alis.
"Mereka memang baik kok. Hanya saja jangan
ejek nama mereka."
Saat itulah terdengar seruan di kejauhan.
"Jacob?" teriak seseorang.
"Itu Billy, ya?" tanyaku.

"Bukan," Jacob menunduk, dan kelihatannya
wajahnya memerah di balik kulitnya yang cokelat.
"Baru dibicarakan sudah nongol. Itu panjang umur
namanya."
"Jake? Kau di sini?" Teriakan itu kini semakin
dekat.
"Yeah!" Jacob menyahut, lalu mendesah.
Kami menunggu sambil terdiam sebentar sampai
dua cowok jangkung berkulit gelap melenggang
memasuki garasi.
Yang satu bertubuh ramping, hampir setinggi
Jacob. Rambut hitamnya sedagu dan dibelah
tengah, sebelah diselipkan di balik telinga kiri
sementara yang kanan tergerai bebas. Cowok
satunya yang lebih pendek tubuhnya lebih gempal.
Kaus putihnya ketat menutupi dadanya yang
berotot, dan tampaknya ia sadar dan bangga akan
hal itu. Rambutnya dipangkas pendek sekali
hingga nyaris cepak.
Langkah keduanya langsung terhenti begitu
mereka melihatku. Si ceking melirikku dan Jacob
bergantian, sementara si gempal menatapku terus,
senyum mengembang perlahan di wajahnya.
"Hei, Buy," Jacob menyapa mereka setengah
hati.
"Hei, Jake," sahut si pendek tanpa mengalihkan
tatapannya dariku. Aku terpaksa membalas
senyumnya, seringaiannya sangat jail. Melihatku
tersenyum, ia mengedipkan mata. "Halo.”
"Quil, Embry—ini temanku, Bella."

Quil dan Embry, aku masih belum tahu yang
mana Quil dan yang mana Embry, bertukar
pandang dengan sorot penuh makna.
“Anak Charlie, kan?" tanya si gempal,
mengulurkan tangan.
"Benar,” jawabku menjabat tangannya.
Genggamannya mantap; kelihatannya ia seperti
sedang melenturkan otot-otot bisepsnya.
“Aku Quil Ateara,” ia memperkenalkan diri
dengan gagah sebelum melepaskan tanganku.
“Senang berkenalan denganmu, Quil."
“Hai, Bella. Aku Embry. Embry Call—mungkin
kau sudah bisa menebaknya" Embry
menyunggingkan senyum malu-malu dan
melambai dengan satu tangan, yang kemudian ia
jejalkan ke saku jinsnya.
Aku mengangguk. "Senang berkenalan
denganmu juga."
"Kalian ngapain?” tanya Quil, masih terus
memandangiku.
“Bella dan aku ingin memperbaiki sepeda-sepeda
motor ini," Jacob menjelaskan, meski itu tak
sepenuhnya tepat. Tapi sepeda motor sepertinya
kata ajaib. Perhatian kedua cowok itu langsung
beralih ke proyek Jacob, mencecarnya dengan
pertanyaan-pertanyaan terpelajar. Banyak dari
kata-kata yang mereka gunakan tidak kumengerti,
dan kurasa aku harus memiliki kromosom Y untuk
benar-benar memahami semangat mereka yang
meluap-luap.

Ketiganya masih asyik mengobrol tentang
onderdil dan bagian-bagian motor waktu aku
memutuskan untuk pulang sebelum Charlie
muncul di sini. Sambil mendesah, aku merosot
turun dari Rabbit.
Jacob mendongak lagi, ekspresinya seperti
meminta maaf. “Kami membuatmu bosan, ya?"
“Tidak." Dan aku memang tidak bohong. Aku
merasa senang–benar-benar aneh. "Tapi aku harus
memasak makan malam untuk Charlie."
"Oh... Well, aku akan selesai membongkar motor
ini malam ini dan menentukan apa saja yang kita
butuhkan untuk memperbaikinya. Kapan kau ingin
kita menggarapnya lagi?"
"Bisakah aku kembali lagi besok?" Hari Minggu
sudah menjadi kutukan dalam hidupku. Tak
pernah ada cukup PR untuk menyibukkanku.
Quil menyenggol lengan Embry dan keduanya
nyengir.
Jacob tersenyum senang. "Wah, pasti asyik!"
"Kalau kau bisa menyusun daftarnya, kita bisa
pergi untuk membeli onderdil," aku menyarankan.
Wajah Jacob sedikit berkurang kegembiraannya.
"Aku masih belum yakin apakah aku sebaiknya
membiarkanmu membayar semuanya."
Aku menggeleng. "Tidak bisa. Pokoknya aku
akan mendanai proyek ini. Kau tinggal
menyumbang tenaga dan keahlian saja"
Embry memutar bola matanya pada Quil.

"Tetap saja rasanya kurang tepat," Jacob
menggeleng.
"Jake, kalau aku membawa sepeda-sepeda motor
ini ke bengkel, berapa biaya yang akan diminta
montir padaku?" aku beralasan.
Jacob tersenyum. "Oke, kalau begitu setuju."
"Belum lagi kau nanti harus mengajariku
mengendarainya, aku menambahkan.
Quil nyengir lebar pada Embry dan membisikkan
sesuatu yang tak bisa kutangkap. Tangan Jacob
melayang untuk menampar bagian belakang kepala
Quil. "Cukup sudah, keluar,” gerutunya.
"Tidak, sungguh, aku harus pulang,” protesku,
bergegas ke pintu. "Sampai ketemu besok, Jacob.”
Bcgiru aku lenyap dari pandangan, kudengar
Quil dan Embry berseru berbarengan,
"Wuuuuuuu!"
Diikuti sejurus kemudian dengan suara gradakgruduk,
diselingi dengan "Waduh!" dan "Hei!"
"Kalau kalian berani-berani menjejakkan kaki
lagi ke tanahku besok..." Kudengar Jacob
mengancam. Suaranya lenyap waktu aku berjalan
melewati pepohonan.
Aku tertawa pelan. Suara itu membuat mataku
membelalak heran. Aku tertawa, benar-benar
tertawa, padahal tak ada yang memerhatikan. Aku
merasa sangat ringan hingga aku tertawa lagi,
hanya agar perasaan itu bertahan lebih lama.

Aku lebih dulu sampai di rumah ketimbang
Charlie. Waktu ia datang, aku baru saja
mengangkat ayam goreng dari wajan dan
meletakkannya di atas tumpukan serbet kertas.
"Hai, Dad." Aku nyengir padanya.
Wajah ayahku tampak shock sesaat sebelum ia
mengubah ekspresinya. "Hai, Sayang," sapanya,
suaranya terdengar tidak yakin. "Senang bertemu
Jacob?"
Aku mulai memindahkan makanan ke meja. "Ya,
senang."
"Well, baguslah kalau begitu." Charlie masih
berhati-hati. "Kalian ngapain?'
Sekarang giliranku yang berhati-hati. "Aku
nongkrong di garasinya dan menontonnya bekerja.
Dad tahu dia sedang memperbaiki Volkswagen?"
“Yeah, kalau tidak salah Billy pernah
menceritakannya."
Interogasi harus terhenti saat Charlie mulai
mengunyah, tapi ia terus mengamati wajahku
sambil makan.
Usai makan malam aku menyibukkan diri,
membersihkan dapur dua kali, kemudian
mengerjakan PR pelan-pelan di ruang depan
sementara Charlie menonton pertandingan hoki.
Aku menunggu selama mungkin, tapi akhirnya
Charlie mengatakan malam sudah larut. Ketika
aku tidak menjawab, ia bangkit, meregangkan otot,
lalu pergi tidur, mematikan lampu. Dengan enggan
aku mengikutinya.

Saat menaiki tangga, aku merasakan sisa-sisa
perasaan senang aneh yang kurasakan sore tadi
menyusut dari dalam diriku, digantikan perasaan
takut memikirkan apa yang akan kuhadapi
sekarang.
Aku tidak kebas lagi. Malam ini akan, tak
diragukan lagi, sama mengerikannya dengan
semalam. Aku berbaring di tempat tidur dan
bergelung rapat-rapat, menanti datangnya
serangan. Kupejamkan mataku erat-erat dan...
tahu-tahu, hari sudah pagi.
Kupandangi cahaya keperakan pucat yang
menerobos jendela kamarku, terperangah.
Untuk pertama kali dalam empat bulan lebih,
aku bisa tidur tanpa bermimpi. Bermimpi atau
menjerit. Entah emosi mana yang lebih kuat—lega
ataukah shock.
Aku berbaring diam di tempat tidurku selama
beberapa menit, menunggu perasaan itu datang
kembali. Karena pasti ada yang datang. Kalau
bukan kepedihan, maka mati rasa. Aku menunggu,
tapi tak terjadi apa-apa. Aku merasa lebih bugar
daripada yang kurasakan beberapa bulan
belakangan ini.
Aku tak yakin ini bakal bertahan. Rasanya
seperti berdiri di tubir yang licin dan berbahaya,
dan bergerak sedikit saja pasti bakal membuatku
tergelincir. Mengedarkan pandangan ke sekeliling
kamar dengan mata tiba-tiba jernih—menyadari
betapa aneh kelihatannya, terlalu resik, seolaholah
aku tidak tinggal di sini sama sekali—benarbenar
berbahaya.

Kutepis pikiran itu dari benakku, dan
berkonsentrasi, sambil berpakaian, pada fakta
bahwa aku akan bertemu Jacob lagi hari ini.
Pikiran itu membuatku nyaris merasa.., penuh
harapan. Mungkin akan sama seperti kemarin.
Mungkin aku tak perlu mengingatkan diriku untuk
tampak tertarik dan mengangguk atau tersenyum
pada interval tertentu, seperti yang kulakukan
pada orang-orang lain. Mungkin... tapi aku tak
yakin ini akan bertahan juga. Tidak yakin hari ini
akan sama—begitu mudah—seperti kemarin. Aku
tidak akan menyiapkan diri untuk kekecewaan
seperti itu.
Saat sarapan, Charlie bersikap hati-hati. Ia
berusaha menyembunyikan sikap penasarannya,
mengarahkan mata ke telurnya sampai yakin aku
tidak melihat.
"Apa yang akan kaulakukan hari ini?" tanyanya,
mengamati benang yang terlepas di pinggiran
mansetnya, seakan-akan tidak terlalu
memerhatikan jawabanku.
"Aku mau main ke rumah Jacob lagi"
Charlie mengangguk tanpa mendongak. "Oh,"
ujarnya.
"Dad keberatan?" Aku pura-pura khawatir. "Aku
bisa tinggal di rumah..."
Charlie buru-buru mendongak, sorot panik
terpancar dari wajahnya. "Tidak, tidak! Pergi saja.
Kebetulan Harry akan datang untuk nonton
pertandingan denganku."

"Mungkin Harry bisa menjemput Billy sekalian,"
aku menyarankan. Semakin sedikit saksi mata,
semakin baik.
"Wah, ide bagus."
Aku tak yakin apakah pertandingan itu hanya
alasan untuk "mengusirku" dari rumah, tapi
Charlie tampak cukup bersemangat sekarang. Ia
langsung menghampiri pesawat telepon sementara
aku memakai jas hujan. Aku merasa sedikit
waswas dengan buku cek yang tersimpan di saku
jaketku. Aku tak pernah menggunakannya
Di luar hujan turun seperti air ditumpahkan dari
ember.
Aku harus mengendarai trukku lebih pelan lagi;
aku nyaris tak bisa melihat mobil lain di depan
trukku. Tapi akhirnya aku sampai juga di jalan
berlumpur yang menuju ke rumah Jacob. Sebelum
aku sempat mematikan mesin, pintu depan sudah
terbuka dan Jacob berlari menyongsongku sambil
membawa payung hitam besar.
Ia memegangi payung itu menaungi pintu
trukku.
"Charlie menelepon tadi—katanya kau sudah
jalan ke sini," Jacob menjelaskan sambil nyengir.
Dengan enteng, tanpa harus dikomando lagi oleh
otot-otot yang mengelilinginya, bibirku merekah
membentuk senyuman. Perasaan hangat yang
aneh menggelegak menaiki kerongkonganku,
padahal air hujan yang memercik ke pipiku dingin
seperti es.

"Hai, Jacob."
"Pintar juga kau, mengusulkan supaya Billy
dijemput," Jacob mengangkat tangannya untuk
ber-high five denganku.
Aku harus mengulurkan tangan tinggi-tinggi
untuk membalasnya dan Jacob tertawa.
Harry datang menjemput Billy beberapa menit
kemudian. Jacob mengajakku melihat-lihat
kamarnya yang kecil sambil menunggu orangorang
dewasa pergi.
"Jadi kita ke mana, Pak Montir?" tanyaku begitu
pintu depan ditutup Billy.
Jacob mengeluarkan kertas yang terlipat dari
saku dan meluruskannya. "Kita mulai dari tempat
penimbunan barang bekas, siapa tahu kita
beruntung. Proyek ini bisa jadi agak mahal lho," ia
mengingatkanku. "Kedua motor itu perlu dipermak
habis-habisan agar bisa berfungsi lagi." Karena
wajahku tidak tampak waswas, Jacob
menambahkan, "Maksudku mungkin bisa habis
lebih dari seratus dolar.”
Aku mengeluarkan buku cek dan mengibasngibaskannya
memutar bola mata seolah
meremehkan kekhawatirannya. “Itu sih enteng."
Hari ini lumayan aneh. Aku menikmatinya.
Bahkan saat di tempat penimbunan barang bekas
sekalipun, di bawah guyuran hujan dan berlepotan
lumpur setinggi pergelangan kaki. Awalnya aku
penasaran apakah itu hanya aftershock setelah
kehilangan perasaan kebas, tapi menurutku itu
bukan penjelasan yang cukup masuk akal.

Aku mulai berpikir penyebab terbesarnya adalah
Jacob. Bukan hanya karena ia selalu senang
bertemu denganku, atau bahwa ia tidak diam-diam
melirikku dari sudut matanya, menunggu aku
melakukan sesuatu yang bisa membuatku dikira
gila atau depresi. Sama sekali tak ada
hubungannya denganku. Penyebabnya adalah
Jacob sendiri. Pada dasarnya Jacob memang
periang, dan sifat periang itu terbawa dalam
dirinya seperti aura, menularkannya pada siapa
pun yang kebetulan di dekatnya. Seperti bumi yang
mengelilingi matahari, setiap kali ada orang dalam
jangkauan gravitasinya, Jacob membuat mereka
merasa hangat. Hal yang alamiah, bagian dari
dirinya yang sesungguhnya. Tak heran aku begitu
bersemangat ingin bertemu dengannya.
Bahkan saat ia mengomentari lubang menganga
di dasbor-ku, itu tak lantas membuatku panik
seperti seharusnya.
"Srereo-nya rusak, ya?" tanyanya heran.
"Yeah," dustaku.
Jacob merogoh-rogoh ke balik lubang itu. "Siapa
yang mengeluarkannya? Kok sampai rusak
begini..."
"Aku," jawabku mengakui.
Jacob terbahak. "Mungkin sebaiknya kau nanti
jangan sering-sering menyentuh motor."
"Bukan masalah."
Menurut Jacob, kami beruntung dalam
perburuan kami di tempat penimbunan barang

bekas. Ia sangat bersemangat melihat beberapa
logam penyok temuannya yang menghitam karena
oli; aku kagum karena ia bisa tahu kegunaan
benda-benda itu.
Dari sana kami ke Checker Auto Parts di
Hoquiam. Dengan trukku, perjalanan ke sana
makan waktu dua jam lebih ke arah selatan,
menyusuri jalan bebas hambatan yang berkelokkelok,
tapi waktu berlalu tanpa terasa bila bersama
Jacob. Ia mengobrol tentang teman-teman dan
sekolahnya, dan aku mendapati diriku mengajukan
banyak pertanyaan, bahkan tanpa berpura-pura,
tapi karena benar-benar ingin mengetahui
jawabannya.
"Dari tadi aku terus yang bicara," protes Jacob
setelah selesai bercerita panjang-lebar tentang Quil
dan huru-hara yang ditimbulkannya gara-gara
mengajak kencan pacar murid senior. "Bagaimana
kalau sekarang gantian? Apa saja yang sedang
terjadi di Forks? Di sana pasti jauh lebih seru
daripada di La Push."
"Salah," aku mendesah. "Benar-benar tidak ada
apa-apa di sana. Teman-temanmu jauh lebih
menarik daripada teman-temanku. Aku suka
teman-temanmu. Si Quil itu lucu."
Kening Jacob berkerut. "Kurasa Quil suka
padamu."
Aku tertawa. "Dia agak terlalu muda untukku."
Kerutan di kening Jacob semakin dalam. "Dia
tidak terlalu lebih muda darimu. Hanya satu tahun
beberapa bulan."


0 Response to "Twilight Saga: New Moon"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified