Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: New Moon 4

Aku langsung tegang, tapi Alice mendorongku
keluar mobil. "Lupakan mereka. Waktumu tinggal
dua menit. Lari, Bella, lari!" teriaknya, turun dari
mobil sambil bicara.
Aku tak sempat melihat Alice melebur dalam
bayang-bayang. Aku juga tak sempat menutup
pintu mobil di belakangku. Kudorong seorang
wanita yang menghalangi jalanku dan berlari
sekencang-kencangnya dengan kepala tertunduk,
tidak menggubris apa pun kecuali batu-batu tidak
rata di bawah kakiku.
Keluar dari lorong yang gelap, mataku dibutakan
cahaya matahari yang menyorot tajam ke alunalun
utama. Angin menderu menerpaku,
menerbangkan rambut hingga menutupi mata dan
semakin membutakan mataku. Tidak heran aku
tidak melihat pagar betis di depanku sampai aku
menabraknya.
Tak ada ruang lowong, tak ada celah sedikit pun
di antara tubuh-tubuh yang saling berimpitan itu.
Kudorong mereka dengan marah, melawan tangan tangan
yang balas mendorongku. Kudengar
seruan-seruan kesal dan bahkan jerit kesakitan
saat aku berjuang menerobos kerumunan, tapi
tidak ada yang dilontarkan dalam bahasa yang
kukenal. Wajah-wajah kabur yang penuh amarah
dan kekagetan, lagi-lagi dikelilingi warna merah.
Seorang wanita berambut pirang cemberut padaku,
dan syal merah yang melilit lehernya tampak
seperti luka mengerikan. Seorang anak yang
dipanggul di atas bahu seorang laki-laki,

menunduk dan nyengir padaku, bibirnya terbuka,
memamerkan taring vampir dari plastik.
Kerumunan itu mendesak-desakku, memutar
badanku ke arah yang salah. Aku senang ada
menara jam yang bisa menjadi patokan, kalau
tidak aku pasti sudah kehilangan arah. Tapi kedua
jarum jam yang terpampang di sana beringsutingsut
mengarah ke matahari yang tak kenal belas
kasihan, dan walaupun aku mendorong
kerumunan sekuat tenaga, aku tahu aku
terlambat. Aku balikan belum sampai setengah
jalan. Aku tidak akan berhasil. Aku tolol, lamban,
dan aku manusia, dalami semua akan mari
karenanya.
Aku berharap Alice bisa keluar. Aku berharap
Alice akan melihatku dari balik bayang-bayang
gelap dan tahu aku telah gagal, supaya ia bisa
pulang ke Jasper.
Aku memasang telinga, berusaha mendengarkan
di balik seruan-seruan bernada marah, suara yang
akan menjadi pertanda bahwa hal yang
kutakutkan telah terjadi: napas tertahan, mungkin
teriakan, saat seseorang melihat Edward.
Namun saat itu ada celah di tengah
kerumunan—aku bisa melihat ruang kosong di
depan. Cepat-cepat aku berlari menghampirinya,
tidak menyadarinya sampai tulang keringku
memar menabrak bata. Rupanya ada kolam air
mancur besar berbentuk segiempat, tepat di tengah
alun-alun.
Aku nyaris menangis lega saat mengayunkan
kakiku ke pinggir kolam dan berlari mengarungi air

selutut. Air bercipratan di sekelilingku saat aku
berlari melintasi air kolam. Bahkan di bawah terik
matahari, angin yang bertiup terasa sangat dingin,
dan basah membuat dingin itu menyakitkan. Tapi
kolam air mancur itu sangat lebar; aku jadi bisa
menyeberangi pusat alun-alun hanya dalam
beberapa detik. Aku tidak berhenti saat mencapai
sisi seberang—aku menggunakan dinding kolam
yang rendah sebagai tumpuan, dan melemparkan
diri ke tengah kerumunan.
Kini orang-orang justru menghindariku, tak
ingin terciprat air dingin yang menetes-netes dari
bajuku yang basah saat aku berlari. Aku
menengadah, menatap jam lagi.
Dentang lonceng yang dalam dan menggemuruh
bergaung ke segenap penjuru alun-alun.
Getarannya terasa hingga ke batu-batu di bawah
kakiku. Anak-anak menangis, menutup telinga.
Dan aku mulai berteriak sambil berlari,
"Edward!" jeritku, tahu itu sia-sia. Kerumunan
ini terlalu berisik, dan suaraku terengah-engah
karena lelah. Tapi aku tak bisa berhenti berteriak.
Jam kembali berdentang. Aku berlari melewati
seorang anak dalam gendongan ibunya—
rambutnya nyaris putih di bawah cahaya matahari
yang terik. Sekelompok lelaki jangkung, semuanya
mengenakan blazer merah, berteriak mengingatkan
saat aku menghambur menerobos mereka. Jam
berdentang lagi.
Di balik para lelaki berblazer itu, tampak celah
di tengah kerumunan, ruang kosong di antara para
pengunjung yang berdesak-desakan di

sekelilingku. Mataku menyapu lorong gelap di
sebelah kanan alun-alun segiempat luas di bawah
menara jam. Aku tak bisa melihat jalan—terlalu
banyak orang yang menghalangiku. Jam kembali
berdentang.
Sulit melihat sekarang. Tanpa kerumunan yang
menahan angin, angin menampar wajahku dan
membakar mataku. Entah itukah yang membuat
air mataku merebak, atau apakah aku menangis
kalah saat jam kembali berdentang.
Sebuah keluarga kecil beranggotakan empat
orang berdiri paling dekat dengan mulut gang. Dua
gadis mengenakan gaun merah, dengan pita
senada menghiasi rambut gelap mereka yang diikat
ke belakang. Sang ayah tidak tinggi. Sepertinya
aku bisa melihat sesuatu yang benderang di
keteduhan, tepat di atas bahunya. Aku
menghambur ke arah mereka, berusaha melihat
dari balik air mataku yang pedih. Jam berdentang,
dan gadis terkecil menutup telinganya rapat-rapat.
Gadis yang lebih tua, tingginya hanya
sepinggang ibunya, merangkul kaki sang ibu dan
memandang ke dalam bayang-bayang di belakang
mereka. Kulihat gadis itu menarik-narik siku
ibunya dan menuding ke keteduhan. Jam
berdentang, dan aku sudah sangat dekat sekarang.
Aku sudah cukup dekat sehingga bisa
mendengar suara si sadis kecil yang melengking
tinggi. Ayahnya menatapku terperanjat saat aku
menghambur menghampiri mereka, meneriakkan
nama Edward berkali-kali dengan suara serak.

Si gadis yang lebih tua tertawa terkikik dan
mengatakan sesuatu pada ibunya, menuding lagi
ke bayang-bayang dengan sikap tidak sabar.
Aku meliuk melewati sang ayah—ia buru-buru
berkelit, mengamankan bayinya agar tidak
tertabrak olehku—dan berlari sekencangkencangnya
ke ruang gelap di belakang mereka
sementara jam berdentang nyaring di atas
kepalaku.
“Edward, jangan!" jeritku, tapi suaraku hilang
ditelan gemuruh lonceng yang bergaung.
Aku bisa melihatnya sekarang. Dan bisa kulihat
bahwa ia tidak melihatku.
Itu benar-benar Edward, kali ini bukan
halusinasi. Dan tahulah aku delusiku ternyata
lebih kacau daripada yang kusadari; bayanganku
tentang Edward tak seindah aslinya.
Edward berdiri, tak bergerak seperti patung,
hanya beberapa meter dari mulut gang. Matanya
terpejam, lingkaran di bawahnya berwarna ungu
tua, kedua lengannya terkulai rileks di sisi
tubuhnya, telapak tangan mengarah ke atas.
Ekspresinya sangat damai, seolah sedang
membayangkan hal-hal menyenangkan. Kulit
dadanya yang seperti marmer telanjang—sehelai
kain putih teronggok dekat kakinya. Cahaya yang
memantul dari jalan alun-alun yang dilapisi batu
gemerlap samar oleh kilau yang terpantul dari
kulitnya.
Belum pernah aku melihat pemandangan yang
lebih indah daripada itu—bahkan saat aku berlari,

terengah-engah dan berteriak-teriak, tak urung
aku terpesona. Dan tujuh bulan terakhir tak
berarti apa-apa. Kata-katanya di hutan dulu tak
berarti apa-apa. Bukan masalah bila ia tidak
menginginkanku. Aku tidak akan pernah
menginginkan hai lain selain dirinya, tak peduli
betapa pun lamanya aku hidup.
Jam berdentang, dan Edward melangkah lebar
menuju cahaya.
"Tidak!" jeritku. "Edward, lihat aku!"
Edward tidak mendengarkan. Bibirnya
tersenyum kecil. Ia mengangkat kakinya, siap
mengambil langkah yang akan membawanya
langsung ke bawah sorotan matahari.
Aku menabraknya begitu keras hingga
kekuatannya pasti akan membuatku tersungkur ke
tanah seandainya kedua lengannya tidak
menangkap dan memegangiku. Benturan itu
membuatku kehabisan napas dan menyentakkan
kepalaku ke belakang.
Mata Edward yang gelap perlahan-lahan terbuka
sementara jam kembali berdentang.
Ia menunduk, menatapku dengan keterkejutan
tanpa suara.
"Luar biasa," ucapnya, suaranya yang merdu itu
terdengar takjub, sedikit geli. "Carlisle benar."
"Edward," aku berusaha menarik napas, tapi
tidak ada yang suara yang keluar. "Kau harus
kembali ke tempat teduh. Kau harus pindah!"

Edward tampak terpesona. Tangannya membelai
pipiku lembut. Sepertinya ia tidak sadar aku
berusaha memaksanya kembali. Rasanya seperti
mendorong tembok. Jam berdentang tapi Edward
tidak bereaksi.
Aneh sekali, padahal aku tahu saat itu kami
berada dalam bahaya maut. Namun detik itu aku
merasa damai. Utuh. Aku bisa merasakan
jantungku berpacu kencang di dadaku, darah
mendesir panas dan cepat mengisi pembuluh
darahku lagi. Paru-paruku dipenuhi aroma harum
yang menguar dari kulitnya. Seakan-akan tak
pernah ada lubang di dadaku. Aku sempurna –
bukan sembuh, karena seolah-olah memang tak
pernah ada luka di sana.
“Aku tidak percaya prosesnya ternyata cepat
sekali. Aku tidak merasa apa-apa, hebat sekali
mereka," renung Edward, memejamkan matanya
lagi dan menempelkan bibirnya ke rambutku.
Suaranya bagaikan madu dan beledu. "Kematian,
yang mengisap madu dari desah napasmu, tak
memiliki kuasa terhadir kecantikanmu," bisiknya,
dan aku mengenali sebaris kalimat yang diucapkan
Romeo di kuburan. Jam berdentang untuk terakhir
kali. "Aroma tubuhmu juga persis sama," sambung
Edward. "Jadi mungkin inilah neraka. Aku tidak
peduli. Aku akan menerimanya."
"Aku belum mati," selaku. "Dan kau juga belum!
Kumohon, Edward, kita harus pindah. Mereka
pasti tidak jauh dari sini!"
Aku memberontak dalam pelukannya, dan alis
Edward bertaut bingung.

"Apa?’ tanyanya sopan.
“Kita tidak mati, belum! Tapi kita harus pindah
dari sini sebelum keluarga Volturi—"
Pemahaman berkelebat di wajahnya saat aku
bicara. Belum lagi aku selesai bicara. Edward tibatiba
menarikku menjauhi tepi keteduhan,
membalikkan badanku dengan mudah hingga
punggungku menempel di dinding bata, dan ia
memunggungiku menghadap ke gang. Kedua
lengannya terbentang lebar, melindungi, di
depanku.
Aku mengintip dari bawah lengannya dan
melihat dua sosok hitam keluar dari balik bayangbayang.
"Salam, Tuan-Tuan," suara Edward tenang dan
ramah, di permukaan. "Kurasa aku tidak
membutuhkan layanan kalian hari ini. Aku akan
sangat berterima kasih, bila kalian bersedia
menyampaikan ucapan terima kasihku kepada
tuan-tuan kalian."
"Bagaimana kalau kita pindahkan pembicaraan
ke tempat lain yang lebih memadai?" suara halus
berbisik dengan nada mengancam.
"Menurutku itu tidak perlu." Suara Edward lebih
keras sekarang. “Aku tahu instruksimu, Felix. Aku
tidak melanggar aturan apa pun."
"Felix hanya bermaksud menegaskan
keberadaan matahari," kata bayang-bayang lain
dengan nada menenangkan. Mereka tersembunyi
di balik jubah abu-abu gelap yang panjangnya

mencapai tanah dan mengembang tertiup angin.
"Mari kita cari tempat yang lebih teduh."
"Aku akan menyusul tepat di belakang kalian,"
ujar Edward kering. "Bella, bagaimana kalau kau
kembali ke alun-alun dan menikmati festival?"
"Tidak, bawa gadis itu," bayang-bayang pertama
berkata entah bagaimana bisa memperdengarkan
nada mengerling dalam bisikannya.
"Kurasa tidak." Sikap pura-pura ramah yang
ditunjukkan Edward langsung lenyap. Suara
Edward datar dan dingin. Ia sedikit mengubah
posisi tubuhnya, dan bisa kulihat ia siap-siap
bertarung.
"Tidak." Aku hanya mampu menggerakkan
mulut tanpa suara.
"Ssst," bisik Edward, ditujukan hanya padaku.
“Felix," bayang-bayang kedua, yang lebih bisa
mengerti, mengingatkan. "Jangan di sini." Ia
berpaling kepada Edward. "Aro hanya ingin bicara
lagi denganmu, kalau kau sudah memutuskan
untuk tidak lagi memaksa kami menurun
keinginanmu."
“Tentu saja," Edward setuju. "Tapi biarkan gadis
ini pergi.”
“Aku khawatir itu tidak mungkin," bayangbayang
sopan itu menyahut dengan sikap
menyesal. "Kami memiliki aturan yang harus
ditaati.”
"Kalau begitu aku khawatir tidak akan bisa
menerima undangan Aro, Demetri."

"Baiklah kalau begitu," dengkur Felix. Mataku
sudah bisa beradaptasi dengan keadaan yang
remang-remang, dan kulihat ternyata Felix
bertubuh sangat besar, tinggi dan tebal di bagian
pundak. Ukuran tubuhnya mengingatkanku pada
Emmett.
“Aro pasti kecewa," desah Demetri.
"Aku yakin dia pasti bisa mengatasi
kekecewaannya," sahut Edward.
Felix dan Demetri beringsut semakin dekat ke
mulut gang sedikit demi sedikit memperlebar jarak
di antara mereka sehingga bisa menyerang Edward
dari dua sisi. Mereka bermaksud memaksanya
masuk lebih dalam ke lorong, untuk menghindari
keributan. Tak ada pantulan cahaya bisa
menyentuh kulit mereka; keduanya aman di balik
jubah.
Edward tidak bergerak sedikit pun. Ia
menempatkan dirinya dalam bahaya karena
melindungiku.
Tiba-tiba Edward menolehkan kepalanya dengan
cepat, ke arah kegelapan lorong yang berkelokkelok.
Demetri dan Felix melakukan hal yang
sama, sebagai respons atas suara atau gerakan
yang terlalu halus untuk pancaindraku.
"Bagaimana bila kita menjaga sikap?" sebuah
suara merdu mengalun menyarankan. "Ada wanita
di sini."
Alice melenggang ringan ke sisi Edward,
pembawaannya tenang. Tak sedikit pun tandatanda
ketegangan dalam dirinya. Ia tampak begitu

mungil, sangat rapuh. Kedua lengannya yang kecil
bergoyang-goyang seperti kanak-kanak.
Meski begitu, baik Demetri maupun Felix
langsung menegakkan badan, jubah mereka
berputar pelan saat angin berembus sepanjang
lorong. Wajah Felix berubah masam. Rupanya
mereka tidak suka bila keadaan berimbang.
"Kita tidak sendirian," Alice mengingatkan
mereka.
Demetri menoleh ke belakang. Beberapa meter
ke arah alun-alun, keluarga kecil tadi, yang anakanak
perempuannya bergaun merah, memandangi
kami. Si ibu berbicara dengan nada mendesak
pada suaminya, matanya tertuju pada kami
berlima. Ia membuang muka waktu Demetri
melihat ke arahnya. Sang suami berjalan beberapa
langkah menuju alun-alun, dan menepuk bahu
salah seorang lelaki berblazer merah.
Demetri menggeleng. "Kumohon, Edward, jangan
mempersulit keadaan," ujarnya.
"Setuju," Edward menyetujui. "Dan kalau kita
pergi dengan tenang sekarang, tidak akan ada
orang yang tahu.”
Demetri mendesah frustrasi. "Setidaknya izinkan
kami mendiskusikan masalah ini secara lebih
tertutup.”
Enam lelaki berblazer merah sekarang
bergabung dengan keluarga kecil tadi dan
memandangi kami dengan ekspresi waswas. Aku
sangat khawatir dengan sikap protektif Edward di
depanku—pasti itulah yang memicu kecemasan

orang-orang tadi. Ingin rasanya aku berteriak pada
mereka untuk lari.
Rahang Edward mengatup dengan suara keras.
“Tidak.”
Felix tersenyum.
“Cukup.”
Suara itu tinggi, tajam dan datang dari belakang
kami.
Aku mengintip dari bawah lengan Edward dan
melihat sosok lain yang kecil dan gelap, berjalan
menghampiri kami. Menilik jubahnya yang
mengembang, aku tahu itu salah seorang dari
mereka. Siapa lagi?
Awalnya kukira sosok itu bocah lelaki. Si
pendatang baru itu semungil Alice, dengan rambut
cokelat pucat dan lemas yang dipangkas pendek.
Tubuh di balik jubahnya—yang berwarna lebih
gelap, nyaris hitam—ramping dan memiliki
karakteristik feminin sekaligus maskulin. Tapi
wajahnya terlalu cantik untuk ukuran laki-laki.
Wajahnya yang bermata lebar dan berbibir penuh
itu bakal membuat malaikat Botticelli terlihat
bagaikan monster menyeramkan. Bahkan
walaupun iris matanya merah pucat.
Ukuran tubuhnya sangat tidak signifikan
sehingga reaksi para vampir lain begitu melihat
kedatangannya membuatku bingung. Ketegangan
Felix dan Demetri langsung mencair, dan mereka
mundur selangkah dari posisi mereka yang siap
menyerang melebur kembali dalam keremangan

bayang-bayang bangunan yang bagian atasnya
menjorok ke jalan.
Edward juga menurunkan kedua lengannya dan
berubah rileks—tapi karena kalah.
“Jane,” desahnya, nadanya mengenali
bercampur menyerah.
Alice melipat kedua lengannya di dada,
ekspresinya datar.
“Ikuti aku," kata Jane lagi, suaranya yang
kekanak-kanakan terdengar monoton. Ia berbalik
dan melenggang tanpa suara memasuki kegelapan.
Felix melambaikan tangan pada kami, menyuruh
kami berjalan duluan sambil tersenyum mengejek.
Alice langsung berjalan mengikuti Jane. Edward
merangkul pinggangku dan menarikku berjalan di
sampingnya. Lorong yang kami lewati menikung
sedikit ke bawah dan semakin menyempit. Aku
mendongak memandang Edward dengan berbagai
pertanyaan berkecamuk di mataku, tapi Edward
hanya menggeleng. Meskipun aku tak bisa
mendengar yang lain-lain berjalan di belakang
kami, aku yakin mereka ada di sana.
"Well, Alice," kata Edward dengan sikap seperti
mengajak ngobrol sementara kami berjalan.
"Kurasa seharusnya aku tidak kaget melihatmu
datang ke sini."
"Itu salahku," Alice menyahut dengan nada yang
sama. "Jadi sudah kewajibanku pula untuk
meluruskannya."

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Edward
sopan, seakan-akan tidak begitu tertarik. Aku
yakin pasti karena ada pihak-pihak lain yang ikut
mendengarkan di belakang kami.
"Ceritanya panjang." Alice melirik sekilas ke
arahku. "Singkatnya, dia memang melompat dari
tebing, tapi bukan karena mau bunuh diri.
Belakangan ini Bella menyukai olahraga ekstrem."
Wajahku memerah dan aku memandang lurus
ke depan, menatap bayang-bayang gelap yang tak
bisa lagi kulihat. Bisa kubayangkan apa yang
didengar Edward dalam pikiran Alice sekarang.
Nyaris tenggelam, diburu vampir-vampir, berteman
dengan werewolf...
"Hm," ucap Edward pendek, dan nadanya tidak
lagi terdengar biasa-biasa saja.
Lorong meliuk-liuk, masih terus menurun, jadi
aku tidak melihat jalan itu buntu hingga kami
sampai di depan tembok bata yang datar dan tak
berjendela. Vampir mungil bernama Jane tadi tidak
terlihat.
Tanpa ragu dan tanpa menghentikan langkah
sedikit pun. Alice melenggang menuju dinding.
Kemudian dengan tangkas ia menyelinap masuk ke
lubang yang menganga di jalan.
Kelihatan seperti saluran limbah, menjorok di
titik terendah jalan yang berbatu. Aku tidak
menyadarinya sampai Alice mendadak lenyap, tapi
kisi-kisi penutupnya digeser separuh. Lubang itu
kecil dan gelap gulita.
Aku langsung mogok.

"Tidak apa-apa, Bella,” kara Edward pelan. Alice
akan menangkapmu.”
Kupandangi lubang itu dengan sikap ragu.
Kurasa Edward pasri akan turun lebih dulu, kalau
saja tidak ada Demetri dan Felix menunggu, sinis
dan diam, di belakang kami.
Aku berlutut dan meringkuk, mengayunkan
kedua kakiku ke lubang yang sempit.
"Alice?" bisikku, suaraku gemetar.
“Aku di sini, Bella," Alice meyakinkanku.
Suaranya terdengar terlalu jauh di bawah hingga
tak berhasil menenangkan hatiku.
Edward memegangi pergelangan tanganku—
tangannya terasa seperti batu di musim dingin—
lalu menurunkan aku ke kegelapan.
"Siap?" tanyanya.
"Lepaskan dia," seru Alice.
Aku memejamkan mata sehingga tidak bisa
melihat kegelapan, menutupnya rapat-rapat
dengan penuh ketakutan, mengatupkan mulut
agar tidak menjerit. Edward menjatuhkanku.
Aku jatuh tanpa suara, tak jauh dari atas
lubang. Udara mendesir melewatiku selama
setengah detik, kemudian, tepat ketika aku
mengembuskan napas keras-keras, kedua lengan
Alice yang sudah menunggu menangkapku.
Tubuhku pasti bakal memar-memar; lengan
Alice sangat keras. Ia membantuku berdiri tegak.

Suasana di dasar lubang remang-remang, tapi
tidak gelap gulita. Cahaya dari lubang di atas
membiaskan kilauan samar, terpancar basah dari
batu-batu di bawah kakiku. Cahaya sempat hilang
sedetik, dan sejurus kemudian wajah Edward yang
putih samar-samar muncul di sampingku. Ia
merangkul pundakku, memelukku rapat di sisinya,
dan mulai menggiringku maju dengan cepat. Aku
melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya yang
dingin, berjalan tersandung-sandung dan tersaruksaruk
di permukaan batu yang tidak rata. Suara
kisi-kisi berat digeser menutupi saluran limbah di
belakang kami, berdentang mantap dan keras.
Cahaya remang-remang dari jalan dengan cepat
hilang ditelan kegelapan. Suara langkah-langkah
kakiku yang tersaruk-saruk bergaung di ruangan
yang gelap gulita; kedengarannya sangat lebar, tapi
aku tak yakin. Tak ada suara apa-apa selain debar
jantungku yang berpacu cepat serta kakiku
menginjak batu-batu basah—kecuali satu kali,
waktu aku mendengar desahan tidak sabar
berbisik di belakangku.
Edward memelukku erat-erat. Dengan tangan
satunya ia memegang wajahku, ibu jarinya yang
halus menyusuri bibirku. Sesekali aku merasa ia
menempelkan wajahnya ke rambutku. Aku sadar
ini mungkin satu-satunya kesempatan kami, jadi
aku merapatkan diriku lebih dekat padanya.
Saat ini rasanya seakan-akan ia
menginginkanku, dan itu sudah cukup untuk
menghalau kengerian yang kurasakan, berada di
terowongan bawah tanah, bersama para vampir di

belakang kami. Mungkin itu tidak lebih daripada
perasaan bersalah – perasaan bersalah jugalah
yang mendorong Edward datang ke sini untuk mati
karena ia yakin gara-gara dialah aku bunuh diri.
Tapi aku merasakan bibirnya diam-diam menempel
di keningku, dan aku tak peduli apa motivasinya.
Setidaknya aku bisa bersamanya lagi sebelum aku
mati. Itu lebih baik daripada umur panjang.
Seandainya saja aku bisa menanyakan apa
persisnya yang terjadi sekarang. Aku ingin sekali
tahu bagaimana kami akan mati – seolah-olah
keadaan bisa lebih baik dengan tahu lebih dulu.
Tapi aku tak bisa bersuara meskipun dengan
berbisik karena kami dikelilingi vampir lain. Yang
lain-lain bisa mendengar semuanya – setiap
tarikan napasku, setiap detak jantungku.
Jalan setapak di bawah kaki kami terus
menurun, membawa kami lebih dalam ke perut
bumi, dan itu membuatku merasa dicekam
ketakutan pada ruang sempit. Untung ada tangan
Edward yang terasa menenangkan di wajahku,
hingga aku tidak menjerit.
Aku tidak tahu dari mana cahaya itu berasal,
tapi perlahan-lahan suasana di sekelilingku mulai
berwarna abu-abu gelap, tak lagi hitam pekat.
Kami berada di terowongan melengkung yang
rendah. Cairan hitam pekat merembes keluar dari
batu-batu kelabu, seolah-olah mengeluarkan tinta.
Tubuhku gemetar, dan kurasa itu karena
ketakutan. Baru setelah gigi-gigiku gemeletuk aku
menyadari itu karena aku kedinginan. Bajuku

masih basah, dan suhu di bawah kota dingin
menusuk Begitu pula kulit Edward.
Edward menyadari hal itu pada saat yang
bersamaan denganku, lalu ia melepaskan
pelukannya dan hanya menggandengku saja.
“T-t-tidak,” kataku dengan gigi gemeletuk,
merangkul pinggangnya lagi. Aku tak peduli
meskipun tubuhku membeku. Siapa yang tahu
berapa lama lagi waktu yang tersisa?
Tangan dingin Edward menggosok-gosok
lenganku, berusaha menghangatkanku.
Kami bergegas menyusuri terowongan, atau
bagiku rasanya seperti bergegas. Langkahlangkahku
yang lamban membuat jengkel
seseorang—kurasa pasti Felix—dan aku
mendengarnya mendesah jengkel sesekali.
Di ujung terowongan tampak kisi-kisi—batangbatang
besinya sudah berkarat, tapi setebal
lenganku. Pintu kecil yang terbuat dari batangbatang
besi yang lebih tipis dan saling berkaitan
terbuka lebar. Edward merunduk melewatinya dan
bergegas memasuki ruangan lain yang lebih besar
dan terang. Pintu besi itu terbanting menutup
dengan suara berdentang nyaring, diikuti bunyi
gerendel dipasang. Aku terlalu takut untuk melihat
ke belakang.
Di sisi lain ruangan terdapat pintu kayu rendah
yang berat. Pintu itu sangat tebal—aku bisa
melihatnya karena pintu itu juga terbentang lebar.
Kami melangkah melewati pintu itu, dan aku
memandang berkeliling dengan terkejut, dan

otomatis langsung rileks. Di sampingku Edward
menegang, dagunya mengeras kaku.

21. VONIS
KAMI berada di aula yang terang benderang dan
tidak mencolok. Dindingnya putih kusam,
lantainya dilapisi karpet abu-abu. Lampu-lampu
neon persegi panjang terpasang dalam jarak yang
sama di sepanjang langit-langit. Hawa di sini lebih
hangat, dan aku bersyukur karenanya. Ruangan
ini tampak sangat ramah dibandingkan saluran
pembuangan limbah berdinding batu yang gelap
dan mengerikan tadi.
Sepertinya Edward tidak sependapat dengan
penilaianku. Matanya memandang garang ke
lorong aula yang panjang, ke sosok kurus hitam
yang berdiri di ujung sana, dekat lift.
Ia menarikku bersamanya, sementara Alice
berjalan di sisiku yang lain. Pintu yang berat
menutup dengan suara berderit di belakang kami,
kemudian terdengar bunyi gerendel digeser.
Jane menunggu di dekat lift, sebelah tangan
memegangi pintu agar tetap terbuka untuk kami.
Ekspresinya apatis.
Begitu masuk ke lift, tiga vampir yang bekerja
untuk keluarga Volturi terlihat semakin rileks.
Mereka menyingkapkan jubah mereka,
membiarkan penutup kepala terbuka dan terkulai
di pundak. Baik Felix maupun Demetri sama-sama

memiliki kulit sewarna zaitun—kelihatan aneh
dikombinasikan dengan raut wajah mereka yang
pucat seperti kapur. Rambut hitam Felix dipangkas
pendek, sementara rambut Demetri tergerai lepas
berombak-ombak ke bahunya. Mata mereka merah
tua di bagian pinggir, tapi semakin gelap hingga
nyaris hitam di sekitar pupil. Di balik jubah, baju
mereka modern, pucat, dan biasa. Aku mengkeret
di sudut, menempel pada Edward. Tangannya
masih menggosok-gosok lenganku. Matanya tak
pernah lepas memandangi Jane.
Perjalanan dengan lift singkat saja; kami
melangkah memasuki ruangan yang kelihatannya
seperti ruang penerimaan tamu yang mewah.
Dinding-dindingnya berlapis panel kayu, lantainya
ditutup karpet tebal empuk berwarna hijau. Tak
ada jendela, tapi lukisan-lukisan besar bergambar
pemandangan daerah pedesaan Tuscan yang
diterangi cahaya lampu benderang tergantung di
mana-mana sebagai pengganti jendela. Sofa-sofa
kulit berwarna lembut ditata membentuk
kelompok-kelompok yang nyaman, dan meja-meja
mengilap dihiasi vas-vas kristal penuh karangan
bunga berwarna-warni meriah. Aroma bungabunga
itu mengingatkanku pada rumah duka.
Di tengah ruangan berdiri konter tinggi mengilap
dari kayu mahoni. Aku ternganga keheranan
melihat seorang wanita berdiri di baliknya.
Wanita itu bertubuh tinggi, dengan kulit gelap
dan mata hijau. Ia akan terlihat sangat cantik di
perusahaan lain—tapi tidak di sini. Karena ia juga
manusia, sama seperti aku. Aku tidak mengerti apa

yang dikerjakan wanita manusia itu di sini,
sikapnya begitu rileks, dikelilingi para vampir.
Wanita itu tersenyum sopan menyambut
kedatangan kami. “Selamat siang, Jane,” sapanya.
Tidak ada keterkejutan di wajahnya saat ia melirik
rombongan Jane. Tidak juga Edward yang dada
telanjangnya berkilau samar tertimpa cahaya
lampu putih, atau bahkan aku, yang acak-acakan
dan sangat jelek bila dibandingkan dengannya.
Jane menangguk. “Gianna.” Ia terus berjalan
menuju sepasang pintu ganda di bagian belakang
ruangan, dan kami semua mengikuti.
Saat Felix melewati meja. ia mengedipkan mata
pada Gianna, dan wanita itu tertawa.
Di sisi dalam pintu kayu itu terdapat ruang
penerimaan tamu lain yang berbeda jenisnya.
Bocah lelaki pucat bersetelan abu-abu mutiara
bisa dikira kembaran Jane. Rambutnya lebih gelap,
dan bibirnya tidak sepenuh bibir Jane, namun
sama memikatnya. Ia maju menghampiri kami.
Sambil tersenyum tangannya terulur pada Jane.
"Jane."
"Alec," sahut Jane memeluk pemuda itu. Mereka
berciuman pipi. Kemudian pemuda itu menatap
kami.
"Mereka mengirimmu keluar untuk membawa
satu tapi kau kembali dengan membawa dua...
setengah," kata pemuda itu, menatapku. "Bagus
sekali."
Jane tertawa—suaranya ceria seperti celotehan
bayi.

"Selamat datang kembali, Edward," Alec
menyapanya. "Sepertinya suasana hatimu sudah
lebih baik."
“Sedikit," Edward membenarkan dengan nada
datar. Kulirik wajah Edward yang keras, dan
bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin
suasana hatinya bisa lebih buruk dari sekarang.
Alec terkekeh, dan memerhatikan aku yang
menempel erat di sisi Edward. "Jadi, inikah si
pembuat heboh itu?" tanyanya, skeptis.
Edward hanya tersenyum, ekspresinya sinis.
Kemudian tubuhnya mengejang.
"Bodoh," ucap Felix dengan nada biasa-biasa
saja dari belakang.
Edward berbalik, geraman rendah terdengar dari
dadanya. Felix tersenyum—tangannya terangkat,
telapak tangan mengarah ke atas; ia menekukkan
jari-jarinya dua kali, mengundang Edward untuk
maju.
Alice menyentuh lengan Edward. "Sabar," ia
mengingatkan.
Mereka bertukar pandang cukup lama, dan aku
berharap bisa mendengar apa yang dikatakan Alice
padanya. Menurutku pasti ada hubungannya
dengan tidak menyerang Felix, karena Edward
menarik napas dalam-dalam dan berpaling kembali
pada Alec.
"Aro pasti sangat senang bisa bertemu lagi
denganmu," kata Alec, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kalau begitu jangan biarkan dia menunggu
terlalu lama," saran Jane.
Edward mengangguk satu kali.
Alec dan Jane, bergandengan tangan, berjalan
mendului kami memasuki aula lain yang luas dan
sarat hiasan—apakah ruangan ini ada ujungnya?
Mereka mengabaikan pintu-pintu di ujung aula-
—pintu-pintu itu seluruhnya dilapisi emas—
berhenti di tengah jalan sebelum mencapai
ujungnya, dan menggeser panel yang menutupi
pintu kayu polos. Pintu itu tidak terkunci. Alec
membukakannya untuk Jane.
Aku ingin mengerang saat Edward menarikku
memasuki pintu itu. Kami memasuki ruangan yang
lagi-lagi terbuat dan batu tua seperti yang ada di
alun-alun, di lorong, dan di saluran pembuang
limbah. Suasananya juga gelap dan dingin.
Ruang peralihan dari batu itu tidak besar. Di
baliknya ada ruangan lain yang lebih terang dan
besar menyerupai gua, bentuknya bulat sempurna,
seperti menara kasti yang besar... mungkin benar
ini menara. Dua lantai ke atas, tampak dua jendela
berbentuk celah memanjang, membuat cahaya
matahari yang menerobos melaluinya jatuh dalam
bentuk persegi panjang di lantai batu di bawahnya.
Tidak ada cahaya buatan. Satu-satunya perabot di
ruangan itu hanyalah beberapa kursi kayu besar
seperti singgasana, yang diletakkan tidak
beraturan, rata dengan dinding batu yang
melengkung. Di pusat lingkaran, di cekungan
pendek, terdapat saluran pembuangan limbah lagi.
Aku bertanya-tanya dalam hati apakah mereka

menggunakannya sebagai jalan keluar, seperti
lubang di jalan.
Ruang itu tidak kosong. Segelintir orang
berkumpul, tampaknya sedang mengobrol santai.
Gumaman suara-suara pelan dan halus terdengar
bagai dengungan lembut di udara. Saat aku
melihat, sepasang wanita pucat bergaun musim
panas berhenti di bawah sepetak cahaya matahari,
dan, seperti prisma, kulit mereka membiaskan
pendar cahaya pelangi ke dinding-dinding cokelat
kusam.
Wajah-wajah memesona itu menoleh begitu
rombongan kami memasuki ruangan. Sebagian
besar makhluk abadi itu mengenakan celana
panjang dan kemeja biasa – pokoknya, pakaian
yang tidak akan terlihat mencolok di jalan-jalan di
bawah sana. Namun lelaki yang pertama kali
berbicara mengenakan jubah panjang. Warnanya
hitam pekat, dan menyapu lantai. Aku sempat
mengira rambut hitam kelamnya yang panjang
adalah tudung jubahnya.
“Jane, Sayang, kau sudah kembali!” seru lelaki
itu senang. Suaranya terdengar seperti desahan
lirih.
Lelaki itu melenggang maju, dan gerakannya
begitu luwes sampai-sampai aku ternganga,
mulutku terbuka lebar. Bahkan Alice, yang setiap
gerakannya terlihat seperti menari, tidak bisa
menandinginya.
Aku lebih terperangah lagi saat lelaki itu
melenggang lebih dekat dan aku bisa melihat
wajahnya. Tidak seperti wajah-wajah menarik tapi

tidak natural yang mengelilinginya (karena ia tidak
menghampiri kami sendirian; seluruh rombongan
mengerubunginya dengan rapat, beberapa
mengikuti di belakang, yang lain berjalan
mendahuluinya dengan sikap waspada khas
pengawal). Aku tidak bisa menentukan apakah
wajahnya tampan atau tidak. Garis-garis wajahnya
memang sempurna. Tapi ia berbeda dari para
vampir di sampingnya, sama seperti mereka
berbeda denganku. Kulitnya putih transparan,
seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih
transparan, seperti kulit bawang, dan tampak
sama rapuh – kelihatan sangat kontras dengan
rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya.
Aku merasakan dorongan aneh yang mengerikan
untuk menyentuh pipinya, untuk merasakan
apakah kulitnya lebih lembut daripada kulit
Edward atau Alice, dan bila diraba apakah terasa
halus, seperti kapur. Matanya merah, sama seperti
makhluk-makhluk lain di sekitarnya, tapi
warnanya berselaput, keruh seperti susu; aku
penasaran apakah pandangannya terganggu oleh
selaput itu.
Vampir itu melenggang menghampiri Jane,
merengkuh wajah Jane dengan tangannya yang
berlapis kulit setipis kertas, mendaratkan kecupan
ringan di bibir tebal Jane, lalu melenggang mundur
selangkah.
“Ya, tuan,” Jane tersenyum; ekspresinya
membuatnya terlihat seperti bocah malaikat. “Aku
membawanya kembali hidup-hidup seperti yang
Anda inginkan.”

"Ah, Jane.” Vampir itu tersenyum. “Kau sungguh
menenteramkan hatiku."
Ia mengarahkan matanya yang berkabut ke arah
kami, dan senyumnya semakin cerah – menjadi
girang.
"Dan Alice dan Bella juga!'' soraknya, bertepuk
tangan dengan tangannya yang kurus. "Ini benarbenar
kejutan yang menggembirakan! Hebat!
Kupandangi vampir itu, shock mendengarnya
menyebut nama kami dengan sikap ramah, seolaholah
kami teman lama yang mampir tanpa didugaduga.
Vampir itu berpaling pada pendamping kami
yang bertubuh besar. "Felix, tolong sampaikan
kepada saudara-saudaraku tentang kedatangan
tamu-tamu kita. Aku yakin mereka pasti tidak
ingin melewatkan kesempatan ini"
"Baik, Tuan" Felix mengangguk dan lenyap di
balik pintu tempat kami masuk tadi.
"Kaulihat, Edward?" Vampir aneh itu menoleh
dan tersenyum pada Edward, seperti kakek yang
sayang tapi marah pada cucunya. "Apa kubilang?
Kau senang kan, aku tidak mengabulkan
permintaanmu kemarin?"
“Ya, Aro, aku senang," Edward membenarkan,
mempererat pelukannya di pinggangku.
“Aku suka akhir yang membahagiakan." Aro
mendesah. "Itu sangat jarang terjadi. Tapi aku
ingin mendengar cerita selengkapnya. Bagaimana
itu bisa terjadi? Alice?" Ia berpaling kepada Alice,

sorot ingin tahu terpancar dari matanya yang
berkabut. Saudaramu sepertinya menganggapmu
tidak mungkin salah, tapi jelas ada kesalahan."
“Oh, aku masih jauh dari sempurna." Alice
menyunggingkan senyum memesona. Ia tampak
sangat santai, hanya saja kedua tangannya
terkepal erat. "Seperti yang Anda lihat hari ini, aku
menyebabkan masalah sesering aku
menyelesaikannya."
"Kau terlalu rendah hati," cela Aro. "Aku sudah
sering melihat bakatmu yang luar biasa, dan harus
kuakui, bakatmu benar-benar unik. Hebat!"
Alice melirik sekilas kepada Edward. Itu tidak
luput dari perhatian Aro.
"Maaf, kita belum berkenalan, bukan? Aku
hanya merasa seperti sudah mengenalmu, dan aku
cenderung suka mendului. Saudaramu
memperkenalkan kita kemarin, dengan cara yang
aneh. Begini, aku juga memiliki sebagian bakat
seperti yang dimiliki saudaramu, hanya saja aku
memiliki batasan, sedangkan dia tidak." Aro
menggelengkan kepala; nadanya iri.
"Dan juga jauh lebih kuat," Edward
menambahkan dengan nada kering. Ditatapnya
Alice sementara ia menjelaskan dengan cepat. "Aro
membutuhkan kontak fisik untuk bisa
mendengarkan pikiranmu, tapi dia bisa mendengar
lebih banyak daripada aku. Kau tahu aku hanya
bisa mendengarkan pikiran yang sedang melintas
dalam pikiranmu saat ini. Aro bisa mendengar
semua pikiran yang pernah singgah di kepalamu.

Alice mengangkat alisnya yang indah, dan
Edward menelengkan kepala.
Itu juga tak luput dari perhatian Aro.
"Tapi bisa mendengar dari jauh..." Aro
mendesah, melambaikan tangan pada mereka
berdua, dan pertukaran pikiran yang baru saja
terjadi. "Itu akan sangat menyenangkan.”
Aro memandang ke balik bahu kami. Semua
kepala ikut berpaling ke arah yang sama, termasuk
Jane, Alice dan Demetri, yang berdiri tanpa suara
di sebelah kami.
Aku yang terakhir menoleh. Felix sudah kembali,
dan di belakangnya melenggang dua lelaki
berjubah hitam. Keduanya sangat mirip dengan
Aro, salah satunya bahkan juga berambut hitam
tergerai. Yang satunya bahkan juga berambut
hitam tergerai. Yang satunya lagi berambut putih
terang seperti salju – seputih wajahnya – yang
tergerai lepas ke bahu. Kulit wajah mereka samasama
setipis kertas.
Lengkap sudah trio yang tergambar pada lukisan
Carlisle, tidak berubah meski tiga ratus tahun
telah berlalu semenjak lukisan itu dibuat.
"Marcus, Caius. lihat!" seru Aro. "Bella ternyata
masih hidup, dan Alice datang bersamanya! Hebat,
bukan?"
Tak seorang pun di antara mereka tampak
setuju dengan pemilihan kata hebat yang
digunakan Aro. Si vampir berambut hitam terlihat
sangat bosan, seakan-akan sudah terlalu sering
menyaksikan antusiasme Aro yang meluap-luap

selama berabad-abad. Wajah vampir yang lain
masam di bawah rambutnya yang seputih salju.
Ketidaktertarikan yang mereka tunjukkan tak
mengurangi semangat Aro.
"Mari kita dengar ceritanya bersama-sama," Aro
nyaris berdendang dengan suaranya yang sehalus
bulu.
Si vampir tua berambut putih menjauh,
melenggang menghampiri salah satu singgasana
kayu. Yang lain berhenti di sebelah Aro, dan ia
mengulurkan tangan, mulanya kukira hendak
meraih tangan Aro. Tapi ia hanya menyentuh
telapak tangan Aro sekilas dan kemudian
menjatuhkan tangannya kembali. Aro mengangkat
sebelah alisnya yang hitam. Aku jadi heran
bagaimana kulitnya yang setipis kertas itu tidak
remuk oleh gerakan tersebut.
Edward mendengus sangat pelan, dan Alice
memandanginya, ingin tahu.
"Terima kasih, Marcus," ujar Aro. "Itu sangat
menarik,"
Sadarlah aku, sedetik terlambat, bahwa Marcus
membiarkan Aro mengetahui pikirannya.
Marcus kelihatannya tidak tertarik. Ia
melenggang menjauhi Aro, mendekati vampir
satunya yang pastilah bernama Caius, yang duduk
menempel di dinding. Dua vampir yang
mendampinginya mengikuti tanpa suara di
belakangnya—pengawal, seperti yang sudah
kuduga sebelumnya. Aku bisa melihat dua wanita
bergaun musim panas yang berdiri mengapit Caius

dengan sikap sama. Agak konyol menurutku bila
vampir membutuhkan pengawal, tapi mungkin
para vampir tua itu sama rapuhnya seperti yang
ditunjukkan kulit mereka.
Aro menggelengkan kepala. "Luar biasa,"
ucapnya. "Benar-benar luar biasa."
Ekspresi Alice frustrasi. Edward berpaling
padanya dan menjelaskan dengan ringkas dan
suara pelan. "Marcus bisa melihat hubungan. Dia
terkejut melihat betapa kuatnya hubungan kita."
Aro tersenyum. "Sangat menyenangkan,"
ulangnya lagi. Lalu ia berbicara pada kami. "Agak
sulit membuat Marcus terkejut, aku bisa
memastikan."
Kutatap wajah Marcus yang datar seperti mayat,
dan aku percaya.
"Sungguh sulit dimengerti, bahkan sekarang,"
renung Aro, menatap lengan Edward yang
melingkari pinggangku. Sulit bagiku mengikuti
jalan pikiran Aro yang ruwet. Aku berusaha
mengikuti dengan susah payah. "Bagaimana kau
bisa berdiri sedekat itu dengannya?"
"Bukan berarti mudah," jawab Edward tenang.
"Namun tetap saja—la tua cantante! Sungguh
mubazir!”
Edward tertawa datar, “Aku menganggapnya
lebih sebagai harga yang harus dibayar.”
Aro merasa skeptis. “Harga yang sangat tinggi.”
“Kesempatan memang berharga mahal.”

Aro terbahak. “Kalau saja aku tidak bisa
mencium aromanya melalui pikiranmu, aku tidak
mungkin percaya godaan terhadap darah seseorang
bisa sekuat itu. Aku sendiri belum pernah
merasakan hal seperti itu. Kebanyakan kita rela
menukar apa saja untuk dapat memiliki anugerah
sebesar itu, tapi kau malah...”
“Menyia-nyiakannya,” Edward menyelesaikan
kata-kata Aro, suaranya kini terdengar sinis.
Lagi-lagi Aro terbahak. “Ah, betapa kangennya
aku pada sobatku, Carlisle! Kau mengingatkan aku
padanya—hanya saja dia tidak segalak kau."
"Carlisle jauh melebihi aku dalam banyak hal
lain."
"Tak pernah terpikir olehku, aku akan pernah
melihat Carlisle kehilangan kendali diri, tapi kau
membuatnya malu."
"Itu tidak benar." Edward terdengar tidak sabar.
Seolah-olah ia muak dengan basa-basi ini. Itu
membuatku semakin takut; mau tak mau aku jadi
berusaha membayangkan apa yang ia harapkan
bakal terjadi.
“Aku senang melihat kesuksesannya," renung
Aro. "Kenanganmu mengenainya adalah anugerah
bagiku, meski itu membuatku sangat takjub. Aku
heran karena ternyata aku... justru senang melihat
kesuksesannya di jalan tak lazim yang dipilihnya.
Kukira dia akan tersia-sia, melemah seiring
berjalannya waktu. Aku sempat mencela
rencananya menemukan pihak-pihak lain yang
setuju dengan pandangannya yang aneh. Namun

bagaimanapun aku senang karena ternyata aku
keliru.”
Edward tidak menanggapi.
"Tapi pertahanan dirimu!" Aro mendesah. “Aku
tidak tahu kekuatan sehebat itu ternyata ada.
Membiasakan diri mengabaikan godaan sedahsyat
itu, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali—
seandainya tidak merasakannya sendiri, aku pasti
tidak akan percaya."
Edward membalas pandangan kagum Aro tanpa
ekspresi. Aku cukup mengenali wajahnya—waktu
tidak banyak mengubahnya—untuk mengetahui
bahwa di balik ekspresinya yang tenang, tersimpan
amarah yang menggelora. Susah payah aku
berusaha mempertahankan napasku tetap tenang.
"Hanya mengingat bagaimana dia begitu
menggairahkan bagimu..." Aro terkekeh.
"Membuatku haus."
Edward mengejang.
"Jangan merasa terganggu," Aro meyakinkannya.
"Aku tidak bermaksud mencelakakannya. Tapi aku
sangat ingin tahu, mengenai satu hal secara
khusus." Ia menatapku dengan sikap sangat
tertarik. "Bolehkah?" tanyanya penuh semangat,
mengangkat sebelah tangan.
"Tanya saja padanya." Edward menyarankan
dengan nada datar.
"Tentu saja, kurang ajar benar aku!" seru Aro.
“Bella,” ia berbicara sendiri padaku sekarang. "Aku
takjub karena kau satu-satunya yang merupakan

pengecualian terhadap bakat Edward yang
mengagumkan itu—sungguh sangat menarik hal
semacam itu bisa terjadi! Dan aku jadi ingin tahu.
berhubung bakat kami serupa dalam banyak hal,
apakah kau mau berbaik hati mengizinkan aku
untuk mencoba – melihat apakah kau merupakan
pengecualian bagiku juga?”
Mataku serta-merta melirik Edward dengan
penuh ketakutan. Meski bertanya dengan sikap
sopan yang berlebihan, aku tak yakin aku punya
pilihan. Ngeri rasanya membayangkan mengizinka
Aro menyentuhku, namun tak urung diam-diam
aku tertarik oleh kesempatan menyentuh kulitnya
yang aneh ini.
Edward mengangguk menyemangati – apakah
karena ia yakin Aro tidak akan mencelakakanku,
atau karena memang tak ada pilihan aku tidak
tahu.
Aku berpaling kembali pada Aro dan mengangkat
tanganku pelan-pelan di hadapanku. Tanganku
gemetar.
Aro melenggang menghampiriku, dan aku yakin
ia sengaja memasang mimik tenang untuk
meyakinkan aku. Namun garis-garis wajahnya
kelewat aneh, terlalu asing dan menakutkan,
untuk dapat meyakinkan aku. Mimik wajahnya
lebih percaya diri daripada kata-katanya tadi.
Aro mengulurkan tangan, seperti hendak
menjabat tanganku, dan menempelkan kulitnya
yang aneh ke kulitku. Kulitnya terasa keras
sekaligus rapuh—lebih menyerupai serpih daripada
granit—dan lebih dingin daripada yang kukira.

Matanya yang berkabut tersenyum
memandangiku, dan mustahil bagiku untuk
mengalihkan pandangan. Matanya memesona
dengan cara yang ganjil dan tidak menyenangkan.
Wajah Aro berubah di depan mataku. Rasa
percaya diri itu goyah dan mula-mula menjadi
keraguan, baru kemudian tidak percaya sebelum
akhirnya tenang kembali, membentuk topeng
ramah.
“Sangat menarik," ucapnya sambil melepaskan
tanganku dan kembali ke tempatnya.
Mataku berkelebat memandang Edward, dan,
walaupun wajahnya tenang, ia tampak sedikit puas
pada diri sendiri.
Aro terus dalam ekspresi menerawang. Sesaat ia
diam, matanya berkelebat menatap kami bertiga.
Kemudian tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.
"Ini pertama kalinya," katanya pada diri sendiri.
"Aku jadi penasaran apakah dia juga imun
terhadap bakat-bakat kita yang lain... Jane,
Sayang?"
"Tidak!" Edward mengucapkan kata itu sambil
menggeram Alice menyambar lengannya,
memeganginya. Edward menepiskannya.
Si mungil Jane tersenyum bahagia pada Aro.
"Ya, Tuan?"
Edward benar-benar menggeram sekarang,
suara itu terlontar dari dalam dirinya, matanya
menatap Aro garang dengan sorot berapi-api.
Ruangan sunyi senyap, semua memandanginya

dengan tercengang dan tak percaya, seolah-olah ia
melakukan sesuatu yang sangat memalukan dan
tak bisa diterima. Kulihat Felix menyeringai penuh
harap dan maju satu langkah. Aro meliriknya, dan
Felix langsung menegang, seringaiannya berubah
jadi ekspresi merajuk.
Lalu ia berbicara kepada Jane. “Aku ingin tahu,
sayangku, apakah Bella imun terhadapmu."
Aku nyaris tak bisa mendengar suara Aro karena
geraman marah Edward. Edward melepaskan aku,
bergerak untuk menyembunyikanku dari
pandangan mereka. Caius melayang ke arah kami,
bersama rombongannya, untuk menonton.
Jane berbalik menghadapi kami dengan senyum
memesona tersungging di wajah.
"Jangan!" pekik Alice saat Edward menerjang
gadis mungil itu.
Sebelum aku sempat bereaksi, sebelum semua
orang lain bisa melompat ke tengah mereka,
sebelum para pengawal Aro sempat mengejang,
Edward sudah terjatuh ke lantai
Tak ada yang menyentuhnya, tapi ia tergeletak di
lantai baru, menggeliat-geliat kesakitan, semenara
aku menatapnya dengan penuh kengerian.
Tane hanya tersenyum padanya sekarang, dan
mendadak aku mengerti. Inilah yang dimaksud
Alice mengenai bakat luar biasa, mengapa semua
orang memperlakukan Jane dengan hormat dan
mengapa Edward melemparkan diri di depannya
sebelum Jane bisa melakukannya terhadapku.

“Hentikan!" aku menjerit, suaraku bergema
dalam kesunyian, melompat ke depan di antara
mereka. Tapi Alice merangkulku sekuat-kuatnya
dengan kedua tangan, tak peduli aku merontaronta.
Tidak ada suara yang keluar dari bibir
Edward saat ia menggeliat-geliat di lantai batu.
Kepalaku serasa mau pecah karena tidak tega
melihatnya.
"Jane," Aro memanggilnya dengan suara tenang.
Jane mendongak cepat masih tersenyum senang,
matanya bertanya-tanya. Begitu memalingkan
wajah, Edward berhenti menggeliat-geliat.
Aro menelengkan kepala ke arahku.
Jane mengarahkan senyumnya padaku.
Aku bahkan tidak membalas tatapannya. Aku
memandangi Edward dari dekapan tangan Alice,
masih meronta-ronta tanpa hasil.
"Dia tidak apa-apa," bisik Alice padaku dengan
suara kaku. Saat Alice berbicara Edward duduk,
lalu berdiri dengan tangkas. Matanya menatap
mataku, sorot matanya tampak ketakutan Awalnya
kukira ketakutan itu karena apa yang batu saja
dialaminya. Tapi kemudian ia berpaling cepat ke
arah Jane, lalu kembali padaku – dan ketegangan
di wajahnya mengendur, berubah lega.
Aku memandangi Jane juga dan ia tidak lagi
tersenyum. Ia menatapku garang, dagunya
mengeras oleh kuatnya ia berkonsentrasi. Aku
mengkeret, menunggu datangnya rasa sakit.
Tidak terjadi apa-apa.

Edward sudah berdiri di sampingku lagi.
Disentuhnya lengan Alice dan Alice
menyerahkanku padanya.
Tawa Aro meledak. "Ha, ha, ha," tawanya. "Hebat
sekali!"
Jane mendesis frustrasi, mencondongkan tubuh
ke depan, seolah-olah bersiap menerjang.
"Jangan kecewa, Sayang," kata Aro dengan nada
menenangkan, meletakkan tangannya yang
seringan bedak ke bahu Jane. "Dia mengacaukan
kita semua"
Bibir atas Jane melengkung ke belakang,
memamerkan giginya sementara ia terus
menatapku garang.
"Ha, ha, ha," lagi-lagi Aro terbahak. "Kau sangat
berani, Edward, menahan sakit tanpa suara. Aku
pernah meminta Jane melakukannya padaku satu
kali—hanya karena ingin tahu." Ia menggeleng
kagum.
Edward melotot, jijik.
"Jadi mau kita apakan kau sekarang?" Aro
mendesah.
Edward dan Alice mengejang. Ini bagian yang
mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Aku mulai
gemetar.
"Kurasa tidak ada kemungkinan kau berubah
pikiran?" Aro bertanya pada Edward dengan sikap
penuh harap. "Bakatmu akan menjadi tambahan
yang sangat baik untuk kelompok kecil kami."

Edward ragu-ragu. Dari sudut mata kulihat Felix
dan Jane meringis.
Edward seakan menimbang setiap kata dengan
seksama, sebelum mengucapkannya. "Kurasa...
tidak... usah.”
"Alice?" tanya Aro, masih berharap. “Mungkin
kau tertarik bergabung dengan kami?"
"Tidak, terima kasih," jawab Alice.
“Dan kau, Bella?" Aro mengangkat alisnya.
Edward mendesis, rendah di telingaku, kutatap
Aro dengan pandangan kosong. Apakah ia
bergurau? Atau ia benar-benar serius menanyakan
apakah aku ingin tinggal untuk makan malam?
Kesunyian itu dikoyakkan oleh suara Caius, si
vampir berambut putih.
"Apa?" tuntutnya pada Aro; suaranya, meski tak
lebih dari sekadar bisikan, Terdengar datar.
"Caius, masa kau tidak melihat potensi di sini?"
Aro mencelanya dengan sikap sayang. 'Aku belum
pernah melihat bakat prospektif lain yang sangat
menjanjikan sejak kita menemukan Jane dan Alec.
Dapatkah kaubayangkan kemungkinannya bila dia
menjadi salah seorang di antara kita?"
Caius membuang muka dengan ekspresi sengit.
Mata Jane berapi-api karena tersinggung
dibanding-bandingkan.
Edward menahan marah di sampingku. Aku bisa
mendengar gemuruh di dadanya, yang nyaris

menjadi geraman. Aku harus berusaha agar
amarahnya tidak membuatnya celaka.
"Tidak, terima kasih," aku angkat bicara dengan
suara yang tak lebih dari bisikan, suaraku gemetar
karena takut.
Aro mendesah. "Sayang sekali. Sungguh sia-sia."
Edward mendesis. "Bergabung atau mati, begitu?
Aku sudah bisa menduganya waktu kami dibawa
ke ruangan ini. Hukummu tidak berarti apa-apa."
Nada suara Edward membuatku terkejut. Ia
terdengar berang, tapi ada sesuatu yang disengaja
dalam cara penyampaiannya – seolah-olah ia
memilih kata-kata yang akan ia ucapkan dengan
begitu saksama.
"Tentu saja tidak,” Aro mengerjap, terperangah.
"Kami memang sudah berkumpul di sini, Edward,
menunggu Heidi kembali. Bukan karena kau."
"Aro," Caius mendesis. "Hukum mengklaim
mereka."
Edward menatap Caius garang, "Bagaimana
bisa?" tuntutnya. Dia pasti bisa membaca pikiran
Caius, tapi sepertinya bertekad membuatnya
mengutarakan pikiran itu dengan suara keras.
Caius mengacungkan telunjuknya yang panjang
kurus padaku. "Dia terlalu banyak tahu. Kau
sudah mengekspos rahasia kita." Suaranya setipis
kertas, sama seperti kulitnya.
"Di sini juga ada beberapa manusia dalam
sandiwara kalian," Edward mengingatkan Caius,

dan ingatanku langsung melayang pada resepsionis
cantik di bawah.
Wajah Caius terpilin membentuk ekspresi baru.
Apakah itu dimaksudkan sebagai senyuman?
"Benar," ia sependapat. "Tapi kalau mereka
sudah tidak kami butuhkan lagi, mereka akan
menjadi pemuas dahaga kami. Bukan begitu
rencanamu untuk gadis yang satu ini Kalau dia
membocorkan rahasia kita, apakah kau siap
menghabisinya? Kurasa tidak," dengusnya.
"Aku tidak akan—" aku membuka mulut, masih
berbisik. Caius membungkamku dengan tatapan
dingin.
"Kau juga tidak berniat menjadikannya salah
satu dari kita,” lanjut Caius. "Dengan begitu, dia
ancaman bagi eksistensi kita. Meski ini benar,
dalam hal ini hanya hiduplah yang dikorbankan.
Kau boleh pergi kalau memang mau.”
Edward menyeringai, menunjukkan gigi-giginya.
“Sudah kukira,” kata Caius, dengan ekspresi
menyerupai kegembiraan. Felix mencondongkan
tubuh, bersemangat.
“Kecuali..." Aro menyela. Kelihatannya ia tidak
senang dengan arah pembicaraan ini. “Kecuali kau
memang berniat memberinya keabadian?”
Edward mengerucutkan bibir, ragu-ragu sesaat
sebelum menjawab. "Dan kalau itu benar?"
Aro tersenyum, kembali senang. “Yah, kalau
begitu kau boleh pulang dan menyampaikan
salamku pada sobatku Carlisle." Ekspresinya

berubah ragu. "Tapi aku khawatir kau harus
bersungguh-sungguh dengan ucapanmu."
Aro mengangkat tangan di hadapannya. Caius,
yang awalnya memberengut marah, berubah rileks.
Bibir Edward mengejang membentuk garis
marah. Ia menatap mataku, dan aku membalas
tatapannya.
“Ucapkan dengan sungguh-sungguh," bisikku.
"Kumohon."
Sebegitu menjijikkannyakah ide itu? Apakah
Edward lebih suka mati daripada mengubahku?
Perutku seperti ditendang.
Edward menunduk menatapku dengan ekspresi
tersiksa.
Kemudian Alice melangkah menjauhi kami, maju
mendekati Aro. Kami menoleh dan menatapnya.
Tangannya terangkat seperti Aro.
Alice tidak mengatakan apa-apa, dan Aro
melambaikan tangan kepada para pengawalnya
yang bergegas datang untuk menghalangi Alice. Aro
menemui Alice di tengah, dan meraih tangannya
dengan mata memancarkan kilau tamak dan
penuh semangat.
Aro menunduk ke atas tangan mereka yang
saling menyentuh mata terpejam saat
berkonsentrasi. Alice diam tak bergerak, wajahnya
kosong. Aku mendengar Edward menggertakkan
gigi.
Semua diam tak bergerak. Aro seakan membeku
di atas tangan Alice. Detik demi detik berlalu dan

semakin lama aku semakin tertekan, bertanyatanya
sampai kapan ini akan terus berlangsung,
apakah waktu sudah berlalu terlalu Uma Se belum
itu berarti sesuatu yang buruk telah terjadi—lebih
buruk daripada keadaan sekarang.
Waktu terus berjalan dan terasa menyiksa, dan
sejurus kemudian suara Aro mengoyak
keheningan.
"Ha, ha, ha," ia tertawa, kepalanya masih
tertunduk ke depan. Ia mendongak perlahanlahan,
matanya cemerlang oleh kegembiraan. "Itu
sangat menakjubkan!"
Alice tersenyum kering. "Aku senang Anda
menikmatinya."
"Melihat berbagai hal yang telah kaulihat—
terutama peristiwa-peristiwa yang belum terjadi!"
Aro menggeleng-geleng takjub.
"Tapi akan terjadi," Alice mengingatkan,
suaranya kalem. "Ya, ya, itu sudah ditentukan.
Tentu tidak ada masalah."
Caius tampak sangat kecewa—perasaan yang
tampaknya juga dirasakan Felix dan Jane.
"Aro," tegur Caius.
“Caius Sayang," Aro tersenyum. "Jangan cerewet.
Coba pikirkan kemungkinan-kemungkinannya!
Mereka memang tidak bergabung dengan kita hari
ini, tapi kita selalu bisa berharap di masa
mendatang. Coba bayangkan kegembiraan yang
akan dibawa hanya oleh Alice saja ke keluarga kecil

kita... Lagi pula, aku juga sangat ingin melihat
bagaimana jadinya Bella nanti!"
Aro tampak yakin sekali. Apakah ia tidak sadar
betapa subjektifnya penglihatan Alice? Bahwa ia
bisa memutuskan untuk mengubahku hari ini,
kemudian mengubahnya besok? Sejuta keputusan
kecil, baik keputusannya maupun keputusan
banyak pihak lain – juga Edward – dapat saja
mengubah jalan hidupnya, sehingga dengan
demikian, masa depan pun akan ikut berubah.
Dan apakah ada artinya bila Alice bersedia,
apakah ada bedanya bila aku benar-benar berubah
menjadi vampir, bila itu justru menjijikkan bagi
Edward? Bila kematian, baginya, merupakan
alternatif yang lebih baik daripada memilikiku di
sisinya selamanya, menjadi gangguan yang abadi?
Meski sangat ketakutan, aku merasa diriku
terbenam dalam perasaan depresi, tenggelam di
dalamnya...
"Kalau begitu kami boleh pergi sekarang?" tanya
Edward datar.
"Ya, ya," jawab Aro riang. "Tapi datanglah lagi
kapan-kapan. Ini benar-benar mengasyikkan!"
“Dan kami juga akan mengunjungi kalian,"
Caius berjanji, matanya tiba-tiba separuh
terpejam, seperti tatapan kadal yang kelopak
matanya tebal. "Untuk memastikan kalian
menepati bagian kalian. Kalau aku jadi kau, aku
tidak akan menunda terlalu lama. Kami tidak
pernah menawarkan kesempatan kedua."
Rahang Edward mengeras, tapi ia mengangguk.

Caius tersenyum sinis dan melenggang kembali
ke tempat Marcus masih duduk, tidak bergerak
dan tidak tertarik.
Felix mengerang.
"Ah, Felix," Aro tersenyum geli. "Sebentar lagi
Heidi datang. Sabarlah."
“Hmmm," Ada semacam kecemasan dalam suara
Edward. “Kalau begitu, mungkin sebaiknya kami
pergi saja sekarang.”
“Benar," Aro sependapat. "Itu ide bagus.
Kecelakaan bisa saja terjadi Tapi kumohon kau
mau menunggu di bawah sampai hari gelap, kalau
kau tidak keberatan.”
“Tentu saja,” Edward setuju, sementara aku
meringis membayangkan harus menunggu
seharian sebelum bisa keluar dari sini.
"Dan ini," Aro menambahkan, memberi isyarat
kepada Felix dengan satu jari. Felix langsung
datang menghampirinya, dan Aro membuka jubah
abu-abu yang dikenakan vampir bertubuh besar
itu, melepasnya dari pundaknya. Dilemparkannya
jubah itu pada Edward. "Ambillah. Kau agak terlalu
menarik perhatian."
Edward memakai jubah itu, menurunkan
penutup kepalanya.
Aro mendesah. "Cocok untukmu."
Edward tertawa, tapi mendadak terdiam,
menoleh ke belakang. "Terima kasih, Aro. Kami
akan menunggu di bawah."

"Selamat jalan, sobat-sobat muda," kata Aro,
matanya cemerlang saat ia memandang ke arah
yang sama.
"Ayo kita pergi," kata Edward, nadanya
mendesak sekarang.
Demetri memberi isyarat agar kami
mengikutinya, kemudian beranjak menuju pintu
tempat kami datang tadi. Tampaknya, itu satusatunya
jalan keluar.
Edward menarik tanganku dan berjalan cepatcepat.
Alice merapat di sisiku yang lain, wajahnya
keras.
"Masih kurang cepat," gumamnya.
Aku mendongak padanya, ketakutan, tapi Alice
hanya tampak sedih. Saat itulah pertama kalinya
aku mendengar celotehan orang-orang mengobrol—
keras dan kasar—terdengar dari arah ruang depan.
"Well, ini tidak biasa," dentum suara kasar
seorang laki-laki.
"Sangat abad pertengahan," balas seorang
wanita dengan suaranya yang melengking tinggi
dan tidak enak didengar.
Serombongan besar orang melewati pintu yang
kecil, memenuhi ruangan berdinding baru yang
lebih kecil. Demitri memberi isyarat pada kami agar
menepi. Kami menempel rapat-rapat di dinding
yang dingin untuk memberi jalan pada mereka.
Pasangan yang berjalan paling depan, orangorang
Amerika kalau mendengar aksennya,
memandang berkeliling dengan sikap menilai.

"Selamat datang, Tamu-Tamu! Selamat datang di
Volterra!" Aku bisa mendengar Aro berseru riang
dari ruangan menara yang besar.
Anggota rombongan lain, jumlahnya mungkin
empat puluh atau lebih, berbaris masuk setelah
pasangan tadi. Beberapa mengamari keadaan
sekelilingnya seperti turis. Beberapa bahkan
memotret. Yang lain-lain tampak bingung, seolaholah
cerita yang membawa mereka ke ruangan ini
sekarang tak lagi masuk akal. Perhatianku tertarik
pada wanita mungil berkulit gelap. Di lehernya
melingkar rosario, dan wanita itu mencengkeram
salib erat-erat dengan satu tangan. Ia berjalan
lebih lambat daripada yang lain, sesekali
menyentuh anggota rombongan lain dan bertanya
dalam bahasa yang tidak kumengerti. Sepertinya
tidak ada yang memahaminya, dan suara wanita
itu terdengar semakin panik.
Edward menarik wajahku ke dadanya, tapi
terlambat. Aku sudah mengerti.
Begitu ada celah yang memungkinkan untuk
lewat, Edward cepat-cepat mendorongku ke arah
pintu. Aku bisa merasakan ekspresi ngeri tergurat
di wajahku, dan air mataku mulai menggenang.
Aula emas penuh ukiran itu sunyi, kosong tanpa
kehadiran siapa pun, kecuali seorang wanita jelita
yang tampak bagai patung. Ia memandangi kami
dengan sikap ingin tahu, utama aku.
"Selamat datang kembali, Heidi," Demetri
menyapa dari belakang kami.

Heidi tersenyum sambil lalu. Ia mengingatkanku
pada Rosalie, meski tidak mirip sama sekali—
hanya karena kecantikannya juga begitu luar
biasa, tak terlupakan. Aku bagai tak mampu
mengalihkan tatapan.
Wanita itu berpakaian begitu rupa untuk
semakin menonjolkan kecantikannya. Kakinya
yang luar biasa panjang tampak lebih gelap dalam
balutan stoking, terpampang jelas di balik rok
mininya yang superpendek. Blusnya berlengan
panjang dan berleher tinggi namun sangat ketat,
dan terbuat dari vinyl merah. Rambut panjangnya
yang sewarna kayu mahoni itu mengilap, dan bola
matanya berwarna ungu aneh—warna yang hanya
mungkin dihasilkan lensa kontak biru yang
menutupi iris berwarna merah.
"Demetri," wanita itu balas menyapa dengan
suara selembut sutra, matanya berkelebat dari
wajahku ke jubah abu-abu yang dikenakan
Edward.
"Boleh juga hasil pancingannya," puji Demetri
padanya, dan mendadak aku memahami
dandanannya yang mencolok... ia bukan hanya
pemancing, tapi sekaligus juga umpan.
"Trims." Heidi menyunggingkan senyum
memesona. "Kau tidak ikut?"
"Sebentar lagi. Sisakan beberapa untukku.”
Heidi mengangguk dan merunduk melewati
pintu sambil melayangkan pandangan ingin tahu
sekali lagi ke arahku.

Edward berjalan sangat cepat hingga aku harus
berlari-lari untuk bisa mengimbanginya. Tapi
belum lagi kami berhasil mencapai pintu berukir di
ujung aula, pekik jerit itu telah dimulai.

22. PENERBANGAN
DEMETRI meninggalkan kami di ruang
penerimaan ramu yang mewah dan ceria iru,
tempar wanita bernama Gianna bertugas di balik
konter yang mengilat. Musik yang merdu dan
ramah mengalun dari pengeras suara yang
tersembunyi.
"Jangan keluar sebelum gelap," Demerri
mengingarkan kami.
Edward mengangguk, dan Demerri bergegas
pergi.
Gianna sama sekali tak terkejut mendengar
perkataan itu, meski matanya mengawasi jubah
yang dipinjam Edward dengan mata menyipit,
berspekulasi.
"Kau baik-baik saja.'' tanya Edward pelan,
terlalu pelan untuk bisa didengar oleh wanita
manusia itu. Suaranya kasar – kalau beledu bisa
dibilang kasar – oleh perasaan cemas. Pasti karena
masih tertekan oleh situasi kami, pikirku.
"Sebaiknya segera dudukkan dia sebelum jatuh,"
kata Alice. Sepertinya dia akan kehilangan
kendali."

Saat itu barulah aku sadar tubuhku gemetar,
bergetar kuat, sekujurku berguncang sampai
gigiku gemeletukan dan ruangan di sekelilingku
berputar dan pandanganku kabur. Selama sedetik
sempat aku bertanya dalam hati, seperti inikah
yang Jacob rasakan sesaat sebelum meledak
menjadi werewolf.
Aku mendengar suara yang tidak masuk akal,
bunyi robekan aneh, meningkahi musik merdu
yang mengalun di latar belakang. Karena tubuhku
terguncang hebat, aku tak bisa memastikan dari
mana suara itu berasal.
"Ssstt, Bella, ssstt, bisik Edward sambil
menarikku ke sofa paling jauh dari pandangan
manusia yang ingin tahu di meja.
"Kurasa dia histeris. Mungkin sebaiknya
kautampar saja dia," Alice menyarankan.
Edward memandangnya sekilas dengan kalut.
Kemudian aku mengerti. Oh. Itu suaraku. Bunyi
robekan itu ternyata isak tangis yang keluar dari
dadaku. Itulah yang membuat tubuhku
berguncang-guncang.
"Tidak apa-apa, kau aman, tidak apa-apa,"
bujuk Edward berkali-kali. Ia mengangkatku ke
pangkuannya dan menyelubungi tubuhku dengan
jubah wolnya yang tebal, melindungiku dari
kulitnya yang dingin.
Aku tahu sungguh tolol bereaksi seperti ini.
Siapa yang tahu sampai kapan aku bisa melihat
wajahnya? Ia selamat, aku selamat, dan ia bisa
meninggalkan aku begitu kami bebas. Dengan

mata dipenuhi air mata seperti ini hingga aku tak
bisa melihat garis-garis wajahnya dengan jelas
adalah kesia-siaan—kegilaan.
Namun di balik mataku, tempat air mata tak
dapat menghapus bayangan itu, aku masih dapat
melihat wajah putih seorang wanita mungil yang
mencengkeram rosario.
"Orang-orang itu," seduku.
"Aku tahu," bisik Edward.
"Sungguh mengerikan.”
“Ya. memang. Seandainya kau tidak melihatnya
tadi.”
Aku membaringkan kepalaku di dadanya yang
dingin, menyeka maniku dengan jubah yang tebal.
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali,
berusaha menenangkan diri.
"Ada yang bisa kubantu?” sebuah suara
bertanya sopan. Ternyata Gianna, mencondongkan
tubuh di balik bahu Edward dengan raut wajah
prihatin namun tetap profesional sekaligus
menjaga jarak. Tampaknya ia sama sekali tidak
merasa risi berada hanya beberapa sentimeter dari
vampir yang galak. Entah ia benar-benar tidak
menyadarinya, atau sangat baik dalam
menjalankan tugasnya.
'Tidak," Edward menjawab dingin.
Gianna mengangguk, tersenyum padaku,
kemudian menghilang.

Aku menunggu sampai ia jauh. "Apakah dia tahu
apa yang berlangsung di sini?" tanyaku, suaraku
pelan dan parau. Aku mulai bisa menguasai diri,
tarikan napasku mulai tenang.
“Ya. Dia tahu semuanya," Edward menjawab
pertanyaanku.
“Tahukah dia bahwa mereka akan
membunuhnya suatu hari nanti?"
"Dia tahu kemungkinannya begitu," jawab
Edward.
Jawabannya membuatku terkejut.
Wajah Edward sulit dibaca. "Dia berharap
mereka akan memutuskan untuk
mempertahankannya."
Aku merasa darah surut dari wajahku. "Dia
ingin menjadi salah satu dari mereka?"
Edward mengangguk, matanya tajam menatap
wajahku, mengamati reaksiku.
Aku bergidik. "Bagaimana mungkin dia
menginginkan hal itu?” bisikku, lebih ditujukan
pada diriku sendiri, bukan karena ingin mendapat
jawaban. "Bagaimana mungkin dia bisa setega itu,
melihat orang-orang digelandang memasuki
ruangan mengerikan itu, dan ingin menjadi bagian
dari semua itu?"
Edward tidak menjawab. Ekspresinya berkerut,
merespons perkataanku barusan.
Saat aku menatap wajahnya yang begitu
rupawan, berusaha memahami perubahannya,

mendadak terpikir olehku bahwa aku benar-benar
berada di sini, dalam pelukan Edward, betapapun
singkatnya, dan bahwa kami tidak—saat ini—
hendak dibunuh.
"Oh, Edward," isakku, dan aku menangis lagi.
Reaksi yang benar-benar tolol. Air mataku terlalu
deras sehingga aku tak bisa melihat wajahnya lagi,
dan itu tak bisa dimaafkan. Padahal jelas aku
hanya punya waktu sampai matahari terbenam.
Bagaikan kisah dongeng, dengan tenggat waktu
yang akan mengakhiri keajaiban.
"Ada apa?" tanya Edward, masih cemas,
membelai-belai punggungku dengan tepukantepukan
lembut.
Aku merangkul lehernya—apa hal terburuk yang
bisa ia lakukan? Paling-paling mendorongku jauhjauh—
dan merapatkan tubuh lebih dekat lagi
padanya. "Apakah aku gila bila aku justru merasa
bahagia sekarang?" tanyaku. Suaraku tercekat.
Edward tidak mendorongku. Ia malah
mendekapku erat-erat di dadanya yang sekeras es,
begitu eratnya hingga aku sulit bernapas, bahkan
dengan paru-paruku yang telah utuh kembali.
"Aku sangat mengerti maksudmu," bisiknya. “Tapi
kita punya banyak alasan untuk bahagia. Salah
satunya, karena kira hidup."
"Ya." aku setuju. "Itu alasan yang bagus.”
“Dan bersama-sama,” desah Edward. Embusan
napasnya begitu harum sehingga membuat
kepalaku melayang.

Aku hanya mengangguk, yakin Edward tidak
terlalu bersungguh-sungguh dengan perkataannya
itu, seperti halnya aku.
“Dan kalau beruntung, kita akan tetap hidup
besok."
“Mudah-mudahan,” sahutku gelisah.
"Peluangnya cukup bagus." Alice meyakinkanku.
Selama ini ia lebih banyak diam, sampai-sampai
aku nyaris melupakan kehadirannya. "Aku akan
bertemu lagi dengan Jasper dalam waktu kurang
dari 24 jam," ia menambahkan dengan nada puas.
Betapa beruntungnya Alice. Ia bisa memercayai
masa depannya.
Aku tidak mampu terlalu lama mengalihkan
mata dari wajah Edward. Aku memandanginya
terus, sepenuh hati berharap masa depan tidak
akan datang. Bahwa momen ini akan berlangsung
selamanya, atau, kalau tidak bisa, bahwa aku
tidak akan ada lagi bila masa depan itu tiba.
Edward membalas tatapanku, bola matanya
yang gelap tampak lembut, dan mudah bagiku
berpura-pura ia merasakan hal yang sama
denganku. Jadi itulah yang kulakukan. Berpurapura,
untuk membuat momen ini semakin indah.
Ujung-ujung jari Edward menyusuri lingkaran di
bawah mataku. "Kau kelihatan capek sekali."
"Dan kau kelihatan haus," aku balas berbisik,
mengamati memar ungu di bawah mata hitamnya.
Edward mengangkat bahu. "Tidak apa-apa."

"Kau yakin? Aku bisa duduk dengan Alice," aku
menawarkan diri, meski sebenarnya tidak rela; aku
lebih suka Edward membunuhku sekarang
daripada beringsut satu sentimeter saja dari
tempatku berada sekarang.
“Jangan konyol." Edward mendesah; embusan
napasnya yang wangi membelai-belai wajahku.
“Tidak pernah aku sekuat ini mengendalikan diri
dalam hal itu dibanding sekarang."
Berjuta pertanyaan berkecamuk dalam benakku
ingin kutanyakan padanya. Salah satunya sudah
berada di ujung bibirku sekarang, tapi kutelan
kembali. Aku tidak ingin merusak suasana,
walaupun suasananya sangat tidak
menyenangkan, di ruangan yang membuatku
mual, di bawah tatapan seorang calon monster.
Dalam pelukan Edward, sungguh mudah
berkhayal bahwa ia menginginkanku. Aku tidak
mau memikirkan motivasinya sekarang—apakah ia
bersikap begini untuk membuatku tenang selama
kami masih dalam bahaya, atau ia hanya merasa
bersalah karena kami berada di sini dan lega
karena ia tidak harus bertanggung jawab atas
kematianku. Mungkin perpisahan kami sudah
cukup lama sehingga aku tidak membuatnya
bosan sekarang ini. Tapi semua itu bukan
masalah. Aku jauh lebih bahagia dengan berpurapura.
Aku berbaring tenang dalam pelukannya,
mengenang kembali wajahnya, berpura-pura...
Edward memandangi wajahku seolah-olah
melakukan hal yang sama, sambil berdiskusi

dengan Alice bagaimana caranya pulang. Suara
mereka begitu cepat dan rendah hingga aku tahu
Gianna tidak bisa memahaminya. Aku sendiri
nyaris tak bisa menangkapnya. Tapi
kedengarannya seperti melibatkan pencurian mobil
lagi. Malas-malasan aku berpikir apakah Porsche
kuning yang kami pakai sebelumnya sudah
kembali ke tangan pemiliknya atau belum.
"Apa maksudnya omongan tentang penyanyi
itu?” tanya Alice suatu saat.
“La tua cantante,” jawab Edward. Suaranya
membuat kata-kata itu terdengar mengalun seperti
musik.
"Ya, itu," kata Alice, dan aku berkonsentrasi
sesaat. Aku sendiri juga penasaran tadi.
Aku merasakan bahu Edward terangkat.
“Mereka mempunyai julukan bagi orang yang
aroma tubuhnya sama seperti aroma Bella di
penciumanku. Mereka menyebutnya menyanyiku –
karena darahnya menyanyi untukku."
Alice terbahak.
Aku lelah sekali dan ingin tidur, tapi aku matimatian
melawannya. Aku tidak mau kehilangan
satu detik pun bersamanya. Sesekali, sambil
berbicara dengan Alice, Edward tiba-tiba
membungkuk dan menciumku—bibirnya yang
sehalus kaca menyapu rambut, dahi, juga ujung
hidungku. Setiap kali itu terjadi, seolah-olah aliran
listrik menyengat hatiku yang lama tertidur. Suara
degupnya seakan memenuhi seluruh penjuru
ruangan.

Ini surga—berada persis di tengah neraka.
Aku benar-benar kehilangan orientasi waktu.
Jadi ketika lengan Edward memeluk lenganku
lebih erat, dan baik ia maupun Alice memandang
ke ujung ruangan dengan ekspresi waswas, aku
langsung panik. Aku mengkeret dalam pelukan
Edward saat Alec—matanya kini merah cemerlang,
namun setelan jas abu-abu terangnya tetap bersih
tanpa noda meski habis makan sore—berjalan
melewati pintu ganda.
Ternyata ia membawa kabar baik.
"Kalian boleh pergi sekarang," kata Alec pada
kami, nadanya sangat hangat, seperti kawan lama.
"Kami harap kalian segera pergi dari kota ini."
Edward tidak mau berpura-pura ramah;
suaranya sedingin es. “Itu bukan masalah."
Alec tersenyum, mengangguk, kemudian
menghilang lagi.
“Ikuti lorong sebelah kanan di tikungan sana,
sampai ke deretan lift pertama,” Gianna memberi
tahu kami sementara Edward membantuku berdiri.
"Lobinya dua lantai di bawah, langsung keluar ke
jalan. Selamat jalan," ia menambahkan dengan
nada riang. Aku bertanya-tanya dalam hati,
apakah kecakapannya dalam bekerja cukup untuk
menyelamatkannya.
Alice melontarkan pandangan sengit ke arahnya.
Aku lega ada jalan keluar lain; aku tidak yakin
akan sanggup berjalan menyusuri lorong-lorong
bawah tanah lagi.

Kami keluar melalui lobi yang ditata dengan
sangat mewah dan berselera tinggi. Akulah satusatunya
yang menoleh ke belakang, memandangi
kastil abad pertengahan yang menaungi facade
bisnis mewah. Aku tidak bisa melihat menara itu
dari sini, dan aku sangat bersyukur.
Pesta masih berlangsung meriah di jalan-jalan.
Lampu-lampu jalan baru mulai menyala saat kami
berjalan cepat menyusuri gang-gang sempit beralas
batu. Langit kelabu kusam semakin memudar di
atas kepala, dan bangunan-bangunan begitu padat
menyesaki jalan hingga suasananya terasa lebih
gelap.
Pestanya juga lebih gelap. Jubah panjang
Edward yang menjuntai tidak tampak mencolok
seperti yang mungkin akan terjadi pada malammalam
normal lain di Volterra. Beberapa orang
juga mengenakan jubah satin hitam, dan taring
plastik seperti yang pernah kulihat dipakai seorang
anak kecil di alun-alun siang tadi tampaknya juga
sangat populer di kalangan orang dewasa.
"Konyol," kecam Edward.
Aku tidak menyadari kapan Alice menghilang
dari sampingku. Aku menoleh untuk menanyakan
sesuatu, tapi ia tidak ada.
"Mana Alice?" bisikku panik.
"Dia pergi mengambil tas kalian dari tempat dia
meninggalkannya siang tadi."
Aku bahkan sudah lupa aku membawa sikat
gigi. Informasi itu membuatku senang.

"Dia mencuri mobil juga, pasti?" tebakku.
Edward nyengir. "Tidak sampai kita berada di
luar."
Rasanya jauh sekali baru kami sampai di pintu
gerbang. Edward bisa melihat aku kelelahan; ia
merangkul pinggangku dan memapahku hampir
sepanjang perjalanan.
Aku bergidik saat ia menarikku melewati
gerbang batu hitam melengkung. Jeruji besar kuno
yang menggantung di atas tampak seperti pintu
kerangkeng, mengancam hendak menimpa kami,
mengurung kami di dalam.
Edward membimbingku ke mobil berwarna
gelap, yang menunggu dalam lingkaran bayangan
di kanan gerbang dengan mesin menyala. Aku
terkejut waktu Edward menyusup masuk ke jok
belakang bersamaku, tidak bersikeras
mengemudikannya.
Alice meminta maaf. "Maafkan aku." Ia
melambaikan tangan ke dasbor. "Tidak banyak
pilihan."
"Tidak apa-apa, Alice." Edward nyengir. "Tidak
bisa selalu memilih 911 Turbo."
Alice mendesah. "Aku harus memiliki salah satu
mobil semacam itu secara legal. Sungguh luar
biasa."
"Nanti kubelikan satu untuk hadiah Natal," janji
Edward.
Alice menoleh dan menatap Edward dengan
senyum berseri-seri, dan itu membuatku khawatir,

karena saat itu ia sudah ngebut menuruni jalan
perbukitan yang gelap dan berkelok-kelok.
"Kuning," katanya.
Edward tetap merangkulku erat-erat. Dalam
selubung jubah abu-abunya, aku merasa hangat
dan nyaman. Lebih dari nyaman.
"Kau bisa tidur sekarang, Bella," bisiknya.
"Sudah berakhir."
Aku tahu yang dimaksud Edward adalah
bahaya, mimpi buruk di kota kuno, tapi aku masih
harus menelan ludah dengan susah payah sebelum
bisa menjawab.
“Aku tidak mau tidur. Aku tidak capek." Kalimat
terakhir itu tidak benar. Yang benar adalah aku
belum mau memejamkan mata. Mobil ini hanya
diterangi samar-samar oleh nyala lampu panel
dasbor, tapi itu sudah cukup untuk bisa melihat
wajahnya.
Edward menempelkan bibirnya di cekungan di
bawah telingaku. "Cobalah," bujuknya. Aku
menggeleng.
Edward mendesah. "Kau masih saja keras
kepala."
Aku memang keras kepala; mati-matian aku
melawan kelopak mataku yang berat, dan aku
menang.
Bagian tersulit adalah melewati jalan yang gelap;
lampu-lampu benderang di bandara Florence
sedikit melegakan hati, begitu juga kesempatan
untuk menyikat gigi dan ganti baju dengan pakaian

bersih; Alice membelikan Edward baju baru juga,
dan Edward membuang jubah hitamnya ke tong
sampah di sebuah gang. Penerbangan ke Roma
hanya sebentar hingga kelelahan tidak sempat
membuatku tertidur. Tapi aku tahu penerbangan
dari Roma ke Atlanta akan sangat berbeda, jadi
kuminta pramugari membawakan segelas Cocacola.
"Bella,” tegur Edward tidak senang. Ia tahu
biasanya aku tidak menolerir minuman yang
mengandung kafein.
Alice duduk di belakang kami. Aku bisa
mendengarnya berbisik-bisik dengan Jasper di
telepon.
"Aku tidak mau tidur," aku mengingatkannya.
Aku memberi alasan yang bisa dipercaya karena
itu memang benar. "Kalau aku memejamkan mata
sekarang, aku akan melihat hal-hal yang tidak
ingin kulihat. Bisa-bisa aku malah bermimpi
buruk.”
Edward tidak membantahku lagi setelah itu.
Sebenarnya ini saat yang tepat sekali untuk
mengobrol, untuk mendapat jawaban yang
kubutuhkan—dibutuhkan tapi tidak benar-benar
diinginkan; belum-belum aku sudah merasa sulit
memikirkan apa yang bakal kudengar. Waktu yang
panjang membentang di hadapan kami tanpa
gangguan apa pun, dan Edward tidak mungkin
melarikan diri dariku di atas pesawat—well,
setidaknya, tidak semudah itu. Tidak ada yang bisa
mendengar kami kecuali Alice; hari sudah larut
malam, dan sebagian besar penumpang mematikan

lampu dan meminta bantal dengan suara pelan.
Mengobrol bisa membantuku melawan kelelahan.
Namun, anehnya, aku malah menutup mulutku
rapat-rapat dari banjir pertanyaan.
Pertimbanganku mungkin salah karena kelelahan,
tapi aku berharap dengan menunda pembicaraan,
aku bisa meminta waktu beberapa jam dengannya
nanti—memperpanjang kebersamaan ini satu
malam lagi, ala Scheherazade,
Jadilah aku minum bergelas-gelas soda, bahkan
berkedip pun aku nyaris tak mau. Edward
tampaknya cukup senang bisa mendekapku dalam
pelukannya, jari-jarinya menelusuri wajahku lagi
dan lagi. Aku juga menyentuh wajahnya. Aku tak
sanggup menghentikan diriku sendiri, meski takut
itu akan menyakitiku nanti, kalau aku sudah
sendirian lagi. Edward terus saja menciumi
rambutku, keningku, pergelangan tanganku... tapi
tak pernah bibirku, dan itu bagus. Soalnya, berapa
kali hati yang hancur lebur masih bisa diharapkan
pulih kembali' Beberapa hari terakhir ini, aku
bertahan melewati berbagai peristiwa yang
seharusnya mengakhiri hidupku, tapi itu tidak
membuatku merasa kuat. Malah aku merasa
sangat rapuh, seakan-akan satu kata saja sanggup
menghancurkanku.
Edward juga diam saja. Mungkin ia berharap
aku akan tidur. Mungkin memang tak ada yang
ingin ia katakan.
Aku memenangkan adu kekuatan melawan
kelopak mataku yang berat. Mataku masih terbuka
lebar saat kami mencapai bandara di Atlanta, dan

aku bahkan sempat melihat matahari terbit di
awan-awan di atas kota Seattle sebelum Edward
menutup jendela rapat-rapat. Aku bangga pada
diriku sendiri. Tak satu menit pun terlewatkan.
Baik Alice maupun Edward sama sekali tidak
terkejut melihat rombongan yang menunggu
kedatangan kami di Bandara Sea-Tac, tapi aku
kaget luar biasa. Jasper adalah yang pertama
kulihat—tampaknya ia tidak melihatku sama sekali
Matanya hanya, tertuju pada Alice. Alice bergegas
mendapatkannya; mereka tidak berpelukan seperti
pasangan-pasangan lain yang bertemu di sini
Keduanya hanya saling memandang wajah masingmasing,
namun, entah mengapa, momen itu justru
terasa sangat pribadi sampai-sampai aku merasa
perlu membuang muka.
Carlisle dan Esme menunggu di sudut sepi jauh
dan antrean di depan metal detector. dalam
naungan pilar besar. Esme mengulurkan tangan,
memelukku erat-erat dengan sikap canggung,
karena Edward tidak melepaskan pelukannya
dariku.
"Terima kasih banyak," bisiknya di telingaku.
Kemudian Esme memeluk Edward, dan ia terlihat
seperti ingin menangis.
"Jangan pernah membuatku menderita seperti
itu lagi,” Esme nyaris menggeram.
Edward menyeringai, penuh penyesalan. “Maaf,
Mom.”
"Terima kasih Bella,” kata Carlisle. “kami
berutang budi padamu.”

“Ah, tidak,” gumamku. Tiba-tiba saja aku
merasa letih sekali karena begadang semalaman.
Kepalaku terasa lepas dari tubuhku.
“Dia sangat kelelahan," Esme memarahi Edward.
"Mari kita bawa dia pulang."
Tidak yakin apakah saat ini ingin pulang, aku
tersaruk-saruk, separo buta, melintasi bandara,
Edward menyeretku di satu sisi, sementara Esme
di sisi lain. Aku tidak tahu apakah Alice dan Jasper
mengikuti di belakang kami atau tidak, dan aku
terlalu lelah untuk melihat.
Kurasa aku tertidur, walaupun masih berjalan,
saat kami sampai di mobil. Keterkejutan melihat
Emmett dan Rosalie bersandar pada sedan hitam
di bawah cahaya buram lampu-lampu garasi parkir
membuatku tersentak. Edward mengejang.
"Jangan," bisik Esme. "Rosalie merasa bersalah."
"Memang seharusnya begitu," tukas Edward,
tidak berusaha memelankan suara.
"Itu bukan salahnya." belaku, kata-kataku tidak
terdengar jelas karena kelelahan.
“Beri kesempatan padanya untuk meminta
maaf," pinta Esme. "Kami akan naik mobil bersama
Alice dan Jasper."
Edward memandang garang pasangan vampir
berambut pirang yang sangat memesona itu.
“Kumohon, Edward," ujarku. Sebenarnya aku
juga tidak mau semobil dengan Rosalie, sama
seperti Edward, tapi cukup sudah aku
menyebabkan perpecahan dalam keluarga ini.

Edward mendesah, lalu menarikku ke mobil.
Emmett dan Rosalie naik ke kursi depan tanpa
bicara, sementara Edward lagi-lagi menarikku ke
kursi belakang. Aku tahu aku tidak akan mampu
melawan kelopak mataku lagi, jadi kubaringkan
kepalaku di dadanya dengan sikap kalah,'
membiarkan mataku terpejam. Kurasakan mesin
mobil menderum pelan.
"Edward," Rosalie memulai.
"Aku tahu." Nada kasar Edward terdengar tidak
ramah.
"Bella?" Rosalie bertanya lirih.
Kelopak mataku menggeletar terbuka dengan
shock Ini pertama kalinya ia berbicara langsung
padaku.
"Ya, Rosalie?" sahutku, ragu-ragu.
“Aku sangat menyesal, Bella. Aku merasa sangat
bersalah telah menyebabkan semua ini, dan sangat
bersyukur kau cukup berani untuk pergi dan
menyelamatkan saudaraku setelah apa yang
kuperbuat. Kuharap kau mau memaafkanku.”
Kata-katanya canggung, terbata-bata karena
malu, tapi terdengar tulus.
"Tentu saja, Rosalie," gumamku, menyambar
kesempatan apa saja untuk membuatnya tidak
membenciku lagi. “Ini bukan salahmu. Akulah
yang melompat dari tebing sialan itu. Tentu saja
aku memaafkanmu.”
Kata-kataku terdengar mengantuk.

"Itu tidak masuk hitungan sampai dia sadar,
Rose,” Emmet terkekeh.
"Aku sadar kok," tukasku; tapi suaraku
terdengar seperti gumaman tidak jelas.
Kemudian suasana sunyi, kecuali derum pelan
suara mesin. Aku pasti tertidur, karena rasanya
baru beberapa detik kemudian pintu terbuka dan
Edward membopongku turun dari mobil Mataku
tidak mau membuka. Mulanya kukira kami masih
di bandara.
Kemudian aku mendengar suara Charlie.
"Bella!" teriaknya dari jauh.
"Charlie,” gumamku, berusaha menghalau
kantuk yang melandaku.
“Ssstt" bisik Edward. "Semua beres; kau sudah
sampai di rumah dan aman. Tidur sajalah."
“Berani-beraninya kau menunjukkan mukamu
lagi di sini." Charlie memaki Edward. suaranya
terdengar jauh lebih dekat sekarang.
"Sudahlah, Dad." erangku. Charlie tidak
menggubrisku.
"Kenapa dia," tuntut Charlie.
"Dia hanya sangat lelah, Charlie,” Edward
menenangkannya. "Biarkan dia istirahat."
"Jangan ajari aku!" teriak Charlie. "Berikan dia
padaku. Jangan sentuh dia!'
Edward berusaha menyerahkanku kepada
Charlie, tapi aku mencengkeram tubuhnya kuatkuat,
tak mau melepaskannya. Aku bisa

merasakan tangan ayahku menyentakkan
lenganku.
“Hentikan, Dad," sergahku lebih keras lagi. Aku
berhasil memaksa kelopak mataku membuka
untuk menatap Charlie nanar. "Marah saja
padaku."
Saat itu kami berada di depan rumahku. Pintu
depan terbuka lebar. Awan yang menaungi di atas
kepala terlalu tebal hingga aku tak bisa
memperkirakan jam berapa sekarang.
“Itu sudah pasti," tegas Charlie. "Masuk ke
dalam."
“Ke. Turunkan aku," desahku.
Edward menurunkan aku. Bisa kulihat bahwa
aku berdiri, tapi aku tidak bisa merasakan kakiku.
Aku maju sempoyongan, sampai trotoar berputar
ke arah wajahku. Dengan tangkas Edward
menyambarku sebelum wajahku mencium beton.
"Izinkan aku membawanya ke atas,” kata
Edward. "Setelah itu aku akan pergi."
"Jangan," tangisku, panik. Aku belum
mendapatkan penjelasan apa-apa. Ia tidak boleh
pergi dulu, setidaknya sampai ia menjelaskan
semuanya, bukan begitu?
“Aku tidak akan jauh-jauh," Edward berjanji,
berbisik sangat pelan di telingaku sehingga Charlie
tidak mungkin bisa mendengar.
Aku tidak mendengar Charlie menjawab, tapi
Edward berjalan memasuki rumah. Mataku hanya
sanggup bertahan sampai tangga. Hal terakhir

yang kurasakan adalah tangan dingin Edward
membuka cengkeraman jari-jariku dari kemejanya.

23. KEBENARAN
RASANYA aku tidur lama sekali—sekujur
tubuhku kaku, seolah-olah aku tidak bergerak
sama sekali selama itu. Pikiranku linglung dan
lamban; berbagai mimpi aneh—mimpi dan mimpi
buruk—berpusar-pusar dalam benakku. Semua
tampak sangat jelas. Kengerian dan kebahagiaan,
semua berbaur jadi kebingungan yang aneh. Ada
perasaan tak sabar bercampur ketakutan,
keduanya bagian dari mimpi penuh frustrasi saat
kakiku tak bisa berlari cepat... Dan di mana-mana
ada monster, musuh-musuh bermata merah yang
lebih menyeramkan daripada sesama mereka yang
lebih beradab. Mimpi itu masih terpatri kuat – aku
bahkan masih ingat nama-namanya. Tapi bagian
yang paling kuat dan paling jelas dari mimpi itu
bukanlah kengeriannya. Melainkan kehadiran
malaikat itulah yang paling jelas kuingat.
Sulit rasanya membiarkan malaikat itu pergi dan
bangun. Mimpi ini tak mau disingkirkan begitu
saja ke gudang mimpi yang tak ingin kudatangi
lagi. Aku melawannya dengan susah payah saat
pikiranku mulai lebih awas, terfokus pada
kenyataan. Aku tak ingat hari apa ini, tapi aku
yakin ada yang menungguku, entah ku Jacob,
sekolah, pekerjaan, atau hal lain. Aku menarik

napas dalam-dalam, bertanya-tanya dalam hati
bagaimana aku sanggup menjalani satu hari lagi.
Sesuatu yang dingin menyentuh dahiku lembut
sekali
Kupejamkan mataku lebih rapat. Rupanya aku
masih bermimpi, tapi anehnya, rasanya sungguh
sangat nyata. Aku sudah hampir terbangun...
beberapa detik lagi, dan mimpi akan lenyap.
Tapi aku sadar mimpi itu terasa kelewat nyata,
kelewat nyata sehingga tak mungkin terjadi.
Lengan sekeras batu yang kubayangkan memeluk
tubuhku amat terlalu kokoh. Kalau kubiarkan
lebih lama lagi, aku akan menyesal nanti. Dengan
keluhan menyerah, kubuka paksa kelopak mataku
untuk menghalau ilusi itu.
"Oh!" aku terkesiap kaget, dan melemparkan
tinjuku ke muka.
Well jelas, aku sudah kelewatan; salah besar
membiarkan imajinasiku jadi tak terkendali. Oke,
mungkin "membiarkan" bukan istilah yang tepat.
Aku memaksanya menjadi tak terkendali—bisa
dibilang aku dikuntit halusinasiku sendiri—dan
sekarang pikiranku meledak.
Dibutuhkan kurang dari setengah detik untuk
menyadari bahwa, kepalang basah sudah telanjur
sinting, ada baiknya kunikmati saja delusiku,
mumpung delusinya menyenangkan.
Aku membuka lagi mataku – dan Edward masih
di sana, wajahnya yang sempurna hanya beberapa
sentimeter dari wajahku.

“Aku membuatmu takut, ya?” suaranya yang
rendah bernada cemas.
Ini bagus sekali, sebagai delusi. Wajahnya,
suaranya, aroma tubuhnya, segalanya – semua
jauh lebih baik daripada tenggelam. Kilasan
khayalanku yang rupawan itu mengawasi
perubahan ekspresiku dengan waswas. Matanya
hitam pekat, dengan bayangan menyerupai memar
di bawahnya. Itu membuatku terkejut; Edward
halusinasiku biasanya muncul dalam keadaan
kenyang.
Aku mengerjap dua kali, susah payah berusaha
mengingat hal terakhir yang aku yakin nyata. Alice
juga ada dalam mimpiku, dan bertanya-tanya
apakah ia benar-benar kembali, atau itu hanya
khayalan. Kalau tidak salah, ia kembali pada hari
aku nyaris tenggelam waktu itu...
"Oh. brengsek" makiku parau. Tenggorokanku
seperti tersumbat.
"Ada apa, Bella?”
Aku mengerutkan kening pada Edward, tidak
bahagia. Wajahnya bahkan jauh lebih cemas
daripada sebelumnya.
“Aku sudah mati, kan?" erangku. "Aku benarbenar
tenggelam. Brengsek, brengsek, brengsek!
Charlie pasti sedih sekali."
Kening Edward berkerut. "Kau belum mati"
"Kalau begitu, mengapa aku tidak bangunbangun
juga?" tantangku, mengangkat alis.
"Kau sudah bangun, Bella."

Aku menggeleng. "Tentu, tentu. Kau memang
ingin aku mengira begitu. Kemudian keadaan akan
lebih parah waktu aku terbangun nanti. Kalau aku
masih bisa bangun, dan itu tidak akan terjadi,
karena aku sudah mati. Cawat. Kasihan Charlie.
Juga Renee dan Jake..." Suaraku menghilang, ngeri
membayangkan apa yang telah kulakukan.
“Aku bisa mengerti kau salah mengartikan aku
dengan mimpi buruk." Senyum Edward yang
berumur singkat terlihat muram. "Tapi aku tidak
bisa membayangkan apa yang telah kaulakukan
sehingga kau masuk neraka. Memangnya kau
banyak membunuh orang selagi aku tidak ada?"
Aku meringis. "Jelas tidak. Kalau saat ini aku
berada di neraka, kau tidak akan ada di sini
bersamaku."
Edward mendesah.
Pikiranku semakin jernih. Mataku berkelebat
sebentar dari wajahnya—meski sebenarnya
enggan-—ke jendela yang gelap dan terbuka, lalu
kembali padanya. Kupandangi dia sambil
mengingat-ingat... dan aku merasakan rona merah
yang tidak familier menjalari pipiku dengan hangat
saat lambat laun aku menyadari bahwa Edward
sungguh-sungguh, benar-benar ada di sini
bersamaku, tapi aku malah membuang-buang
waktu dengan menjadi idiot.
"Kalau begitu, semua itu benar-benar terjadi?"
Nyaris sulit mengubah mimpiku menjadi
kenyataan. Rasanya aku belum bisa menerima
konsep itu.

"Tergantung." Senyum Edward masih kaku.
"Kalau yang kaumaksud adalah kita hampir
dibantai di Italia, ya, itu benar.”
"Aneh sekali," renungku. "Aku benar-benar pergi
ke Italia. Tahukah kau, aku bahkan tak pernah
pergi lebih jauh dari Alburquerque?”
Edward memutar bola matanya. "Mungkin
sebaiknya kau tidur lagi. Kau masih linglung."
"Aku sudah tidak capek lagi.” Pikiranku kembali
jelas sekarang. "Jam berapa sekarang? Sudah
berapa lama aku tertidur?”
"Sekarang baru jam satu pagi lewat sedikit. Jadi,
kira-kira empat belas jam."
Aku menggeliat saat Edward bicara. Tubuhku
kaku sekali.
"Charlie?" tanyaku
Edward mengerutkan kening. “Tidur. Mungkin
kau tahu saat ini aku melanggar aturan. Well,
teknisnya sih tidak, karena kata Charlie aku tidak
boleh menjejakkan kaki lagi melewati pintu,
sementara aku masuk lewat jendela... Tapi meski
begitu, maksudnya sudah jelas.”
"Charlie melarangmu datang ke sini?" tanyaku,
perasaan tak percaya dengan cepat melebur
menjadi amarah.
Sorot mara Edward sedih. "Memangnya apa yang
kauharapkan?"
Sorot mataku marah. Aku harus bicara dengan
ayahku—mungkin sekarang saat yang tepat untuk

mengingatkan ayahku bahwa secara hukum aku
sudah dianggap dewasa. Itu tidak berarti banyak
tentu saja, kecuali dalam hal prinsip. Sebentar lagi
tidak ada lagi alasan untuk melarangku. Aku
mengalihkan pikiran ke hal-hal lain yang tidak
terlalu menyakitkan.
"Ceritanya bagaimana?" tanyaku, benar-benar
ingin tahu, sekaligus berusaha keras menjaga agar
obrolan terus berlangsung juga untuk
menenangkan diriku sendiri, supaya aku tidak
membuat Edward kabur ketakutan oleh kerinduan
menggebu-gebu yang bergejolak dalam diriku.
"Apa maksudmu?"
“Aku harus menceritakan apa pada Charlie? Apa
alasanku menghilang selama... omong-omong
berapa hari aku pergi?" Aku berusaha menghitunghitung.
“Hanya tiga hari.” Tatapan Edward mengeras,
tapi kali ini senyumnya lebih alami. “Sebenarnya,
aku berharap kau punya penjelasan bagus.
Soalnya aku tidak tahu harus memberi alasan
apa.”
Aku mengerang. "Hebat."
"Well mungkin Alice bisa memberi alasan yang
tepat," kata Edward, berusaha menghibur hatiku.
Dan aku merasa terhibur. Siapa yang peduli apa
yang harus kuhadapi nanti? Setiap detik ia di sini –
begitu dekat, wajahnya yang sempurna berkilau
dalam keremangan cahaya yang dipantulkan
angka-angka jam alarmku – sangatlah berharga
dan tidak patut disia-siakan.

"Jadi," aku memulai, memilih pertanyaan yang
paling tidak penting—walaupun tetap sangat
menarik—sebagai permulaan. Aku sudah
diantarkan dengan selamat sampai ke rumah, jadi
sebentar lagi Edward mungkin akan memutuskan
untuk pergi, kapan saja. Aku harus membuatnya
terus bicara. Lagi pula, surga sementara ini tidak
sepenuhnya komplet tanpa suaranya. "Apa yang
kaulakukan selama ini sampai tiga hari yang lalu?"
Wajah Edward langsung kecut. "Tidak ada yang
menarik."
"Tentu saja tidak," gumamku.
"Mengapa kau mengernyitkan muka seperti itu?"
"Well.." aku mengerucutkan bibir, menimbangnimbang.
"Seandainya kau, misalnya, hanya
mimpi, jawaban seperti itulah yang pasti akan
kauucapkan. Imajinasiku pasti sudah mentok."
Edward mendesah. "Kalau aku menceritakannya
padamu, apakah akhirnya kau akan percaya
bahwa kau tidak sedang bermimpi buruk?" ,
"Mimpi buruk!" ulangku sinis. Edward
menunggu jawabanku. "Mungkin," jawabku secelah
berpikir sejenak. “Kalau menceritakannya padaku."
"Selama ini aku... berburu."
"Masa hanya itu yang kaulakukan?” kritikku.
“Itu jelas tidak membuktikan aku sudah
terbangun.”
Edward ragu-ragu, kemudian berbicara lambatlambat,
memilih kata-kata dengan saksama. "Aku
bukan berburu makanan... sebenarnya aku

mencoba belajar... mencari jejak. Aku kurang
bagus dalam hal itu.”
“Apa yang kaulacak?" tanyaku, tertarik.
"Bukan sesuatu yang penting." Kata-kata
Edward tidak sejalan dengan ekspresinya; ia
tampak gelisah, tidak nyaman.
"Aku tidak mengerti."
Edward ragu-ragu; wajahnya, mengilat oleh bias
hijau aneh lampu jam, tampak terkoyak.
"Aku—" Edward menarik napas dalam-dalam.
"Aku berutang maaf padamu. Tidak, tentu saja aku
berutang banyak padamu, jauh lebih banyak
daripada itu. Tapi kau harus tahu—" kata-kata
mulai mengalir sangat cepat. Seingatku, beginilah
cara Edward bicara bila sedang gelisah, sehingga
aku harus berkonsentrasi penuh untuk
menangkap semuanya— "bahwa aku sama sekali
tidak tahu. Aku tidak menyadari kekacauan yang
kutinggalkan. Kusangka kau aman di sini. Sangat
aman. Aku tidak mengira Victoria—" bibir Edward
melengkung ke belakang saat mengucapkan nama
itu—"akan kembali. Harus kuakui, ketika
melihatnya waktu itu, aku lebih memerhatikan
pikiran James. Tapi aku sama sekali tidak melihat
respons semacam ini dalam dirinya. Bahwa dia
bahkan memiliki hubungan dengan James. Kurasa
aku mengerti sekarang—Victoria sangat yakin pada
James, jadi tak pernah terlintas dalam pikirannya
bahwa James bisa gagal. Rasa percaya diri yang
terlalu berlebihanlah yang menutupi perasaannya
terhadap James – itu membuatku tidak melihat

besarnya cinta Victoria kepada James, serta
hubungan batin yang terjalin di antara mereka.
"Bukan berarti tindakanku meninggalkanmu
menghadapi bahaya semacam itu bisa dimaafkan.
Waktu aku mendengar apa yang kaukatakan pada
Alice—apa yang dilihatnya sendiri—waktu aku
sadar ternyata kau sampai harus bergaul dengan
werewolf, werewolf yang tidak dewasa, kasar,
makhluk terburuk lain selain Victoria—" Edward
bergidik dan serbuan kata-katanya terhenti
sejenak. "Ketahuilah, aku sama sekali tidak tahu
tentang hal ini. Aku merasa muak, muak luar
biasa, bahkan sampai sekarang, setiap kali aku
bisa melihat dan merasakan kau aman dalam
pelukanku. Sungguh bodoh dan tolol aku ini—"
"Hentikan," aku memotong perkataannya.
Edward menatapku sedih, dan aku berusaha
menemukan kata-kata yang tepat—yang akan
membebaskan Edward dari kewajiban rekaannya
sendiri ini, yang membuatnya sangat menderita.
Tidak mudah mengutarakannya. Entah apakah
aku bisa mengucapkannya tanpa menangis. Tapi
aku harus mencoba melakukannya dengan benar.
Aku tidak mau menjadi sumber perasaan bersalah
dan kesedihan dalam hidupnya. Seharusnya
Edward bahagia, tak peduli bagaimana akibatnya
bagiku.
Aku benar-benar berharap bisa menunda bagian
terakhir pembicaraan kami ini. Soalnya, ini hanya
akan mengakhiri lebih cepat pertemuan kami.

Mengandalkan latihan selama berbulan-bulan
untuk berusaha bersikap normal di hadapan
Charlie, aku memasang ekspresi datar.
"Edward," kataku. Mengucapkan namanya
membuat tenggorokanku serasa terbakar. Aku bisa
merasakan bayangan lubang itu,, siap menganga
kembali dan mengoyak dadaku begitu Edward
pergi nanti. Entah bagaimana aku bisa bertahan
nanti. "Ini harus dihentikan sekarang. Kau tidak
boleh berpikir begitu. Kau tidak bisa membiarkan...
rasa bersalah ini menguasai hidupmu. Kau tidak
bisa bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi
padaku di sini. Itu bukan salahmu, itu hanyalah
bagian dari bagaimana kehidupan sebenarnya
bagiku. Jadi, kalau aku tersandung di depan bus
atau hal lain suatu saat nanti, kau harus sadar
bukan tugasmu untuk menyalahkan dirimu. Kau
tidak boleh langsung kabur ke Italia hanya karena
kau merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan
aku. Bahkan seandainya aku terjun dari tebing itu
untuk mati, itu pilihanku sendiri, bukan
kesalahanmu. Aku tahu sudah menjadi... sifatmu
menanggung rasa bersalah untuk segala
sesuatunya, tapi kau benar-benar tidak bisa
membiarkan hal itu membuatmu melakukan halhal
ekstrem! Itu sangat tidak bertanggung jawab—
pikirkan Esme dan Carlisle dan—"
Aku nyaris tak bisa menahan tangis. Aku
berhenti untuk menarik napas dalam-dalam,
berharap bisa menenangkan diri. Aku harus
membebaskannya. Aku harus memastikan ini tidak
akan pernah terjadi lagi.

“Isabella Marie Swan," bisik Edward, ekspresi
ganjil melintasi wajahnya. Ia nyaris tampak marah.
"Jadi kau yakin aku meminta Volturi
membunuhku karena merasa bersalah?"
Aku bisa merasakan wajahku memancarkan
sikap tidak mengerti. "Memangnya bukan karena
itu?"
"Merasa bersalah? Memang sangat. Lebih
daripada yang bisa kaupahami."
“Jadi... apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Bella, aku datang ke keluarga Volturi karena
kukira kau sudah mati," ujarnya, suaranya lembut,
matanya berapi-api. “Bahkan seandainya aku tidak
punya andil dalam kematianmu"—Edward bergidik
saat membisikkan kata terakhir itu – “seandainya
pun itu bukan salahku, aku akan tetap pergi ke
Italia. Jelas, seharusnya aku lebih berhati-hati—
seharusnya aku langsung bicara pada Alice, bukan
menerima begitu saja perkataan Rosalie. Tapi,
bayangkan saja, aku harus berpikir bagaimana
waktu pemuda itu berkata Charlie sedang
menghadiri pemakaman? Apa kemungkinannya?
"Kemungkinannya..." lalu Edward menggerutu,
terusik. Suaranya pelan sekali hingga aku tidak
yakin mendengar perkataannya dengan benar.
"Kemungkinannya selalu berlawanan dengan
keinginan kita. Kesalahan demi kesalahan. Aku
tidak akan pernah mengkritik Romeo lagi."
"Tapi aku masih belum mengerti," kataku.
"Justru itulah intinya. Memangnya kenapa?"
"Maaf?"

"Memangnya kenapa kalau aku sudah mati?"
Edward menatapku ragu beberapa saat sebelum
menjawab. "Kau tidak ingat apa yang pernah
kukatakan padamu sebelumnya?”
"Aku ingat semua yang pernah kaukatakan
padaku." Termasuk kata-kata yang menegaskan
semuanya.
Edward membelai bibir bawahku dengan ujungujung
jarinya yang dingin. "Bella, sepertinya kau
salah mengerti." Ia memejamkan mata,
menggerakkan kepala ke depan dan ke belakang
dengan senyum miring menghiasi wajahnya yang
rupawan. Bukan senyum bahagia. "Kukira aku
sudah menjelaskan dengan sangat jelas
sebelumnya. Bella, aku tak sanggup hidup di dunia
kalau kau tidak ada."
“Aku..." Kepalaku berputar sementara aku
mencari-cari kara yang tepat. "Bingung." Benar.
Penjelasannya sungguh tidak masuk akal bagiku.
Edward menatap mataku dalam-dalam dengan
tatapannya Kang tulus dan bersungguh-sungguh.
"Aku pembohong besar, Bella, aku harus jadi
pembohong besar begitu.”
Aku mengejang, otot-ototku mengunci seolah
bersiap menahan benturan. Otot dadaku
mengejang, sakitnya luar biasa.
Edward mengguncang bahuku, berusaha
melenturkan posturku yang kaku. "Dengarkan
kata-kataku sampai selesai! Aku ini pembohong
besar, tapi kau juga terlalu cepat percaya padaku."
Edward meringis. "Itu... sangat menyakitkan."

Aku menunggu, masih kaku.
"Saat kita di hutan, waktu aku mengucapkan
selamat tinggal—"
Aku tidak mengizinkan diriku mengingat
kenangan buruk itu. Aku berusaha keras tetap
berada di masa sekarang saja.
"Waktu itu kau tidak mau melepaskan aku,"
bisiknya. "Aku bisa melihatnya. Aku tidak ingin
melakukannya—sungguh sangat menyakitkan
bagiku melakukannya—tapi aku tahu kalau aku
tidak bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak
mencintaimu lagi, pasti baru lama sekali kau bisa
kembali menjalani hidup. Aku berharap, bila kau
mengira aku sudah tidak mencintaimu lagi, maka
kau pun akan melakukan hal yang sama."
"Perpisahan seketika," bisikku dari sela-sela
bibir yang tak bergerak.
"Tepat sekali. Tapi aku tak pernah
membayangkan ternyata mudah saja
membohongimu! Kusangka itu mustahil dilakukan
bahwa kau akan sangat meyakini hal yang
sebenarnya sehingga aku harus berbohong dulu
mati-matian sebelum aku bisa menanamkan
sedikit saja benih keraguan dalam pikiranmu. Aku
bohong, dan aku sangat menyesal—menyesal
karena menyakitimu, menyesal karena itu upaya
yang sia-sia. Menyesal karena aku tidak bisa
melindungimu dari diriku yang sebenarnya. Aku
berbohong untuk menyelamatkanmu, tapi ternyata
tidak berhasil. Maafkan aku.

"Tapi bagaimana bisa kau malah percaya
padaku? Padahal sudah ribuan kali aku
menyatakan cintaku padamu, bagaimana kau bisa
membiarkan satu kata saja menghancurkan
kepercayaanmu padaku?"
Aku tidak menjawab. Aku terlalu shock untuk
bisa membentuk respons yang rasional.
"Aku bisa melihatnya di matamu, kau sejujurnya
percaya aku tidak menginginkanmu lagi. Konsep
yang paling absurd dan konyol—seolah-olah aku
bisa bertahan tanpa membutuhkanmu!"
Aku masih kaku. Kata-katanya tidak
kumengerti, karena tidak masuk akal.
Edward mengguncang bahuku lagi, tidak keraskeras,
tapi cukup membuat gigiku gemeletuk
sedikit.
"Bella," desahnya. "Sungguh, apa yang ada
dalam pikiranmu waktu itu!"
Dan tangisku pun pecah. Air mata menggenang
dan kemudian mengalir deras di kedua pipiku.
"Sudah kukira," isakku. "Sudah kukira aku pasti
bermimpi."
"Keterlaluan benar kau ini," sergah Edward, lalu
tertawa-tawanya keras dan frustrasi. "Bagaimana
caranya aku menjelaskan supaya kau mau percaya
padaku? Kau tidak sedang tidur, dan kau belum
mati. Aku ada di sini, dan aku cinta padamu. Aku
selalu mencintaimu, dan akari selalu mencintaimu.
Aku memikirkanmu, melihat wajahmu dalam
pikiranku, setiap detik selama kita berpisah.

Waktu kubilang aku tidak menginginkanmu lagi,
bisa dibilang itu semacam sumpah palsu yang
paling konyol."
Aku menggeleng sementara air mata terus
menetes dari sudut-sudut mataku.
''Kau tidak percaya padaku, kan?” bisiknya,
wajahnya yang pucat sekarang lebih pucat
daripada biasanya – aku bisa melihatnya bahkan di
bawah cahaya lampu remang-remang. “Mengapa
kau malah percaya pada kebohongan, dan bukan
kebenaran?”
"Memang tidak pernah masuk akal bahwa kau
mencintaiku," aku menjelaskan suaraku tercekat.
"Sejak dulu aku tahu itu.”
Mata Edward menyipit, dagunya mengeras.
"Akan kubuktikan bahwa kau sudah bangun,"
janjinya.
Ia merengkuh wajahku di antara kedua
tangannya yang sekeras besi, tak menggubris
pemberontakanku saat aku berusaha memalingkan
wajah.
"Kumohon, jangan," bisikku.
Edward berhenti, bibirnya hanya beberapa
sentimeter dari bibirku.
"Mengapa tidak?" tuntutnya. Napasnya
berembus di wajahku, membuat kepalaku
berputar.
"Kalau nanti aku terbangun"—Edward membuka
mulut untuk protes, maka aku pun buru-buru

mengoreksi—"oke, lupakan itu—kalau kau pergi
lagi nanti, tanpa ini pun keadaan sudah cukup
sulit."
Edward mundur sedikit, menatap wajahku.
"Kemarin, ketika aku hendak menyentuhmu,
kau sangat... ragu-ragu, begitu hati-hati, tapi tetap
sama. Aku ingin tahu mengapa. Apakah karena
aku terlambat? Karena aku terlalu menyakiti
hatimu? Karena kau sudah mencintai orang lain,
seperti yang kumaksudkan bagimu? Kalau
memang begitu, itu... cukup adil. Aku tidak akan
mencela keputusanmu. Jadi, tidak usah mencoba
menjaga perasaanku, please—ceritakan saja
padaku sekarang apakah kau masih mencintaiku
atau aduk setelah semua yang kulakukan padamu.
Bisakah kau?" bisik Edward.
"Pertanyaan idiot macam apa itu?"
"Jawab saja. Please."
Lama sekali kutatap Edward dengan tajam.
"Perasaanku terhadapmu takkan pernah berubah.
Tentu saja aku cinta padamu—dan itu tak bisa
diganggu gugat lagi!"
"Hanya itu yang perlu kudengar."
Lalu bibir Edward menempel di bibirku, dan aku
tak mampu melawannya. Bukan karena ia ribuan
kali lebih kuat daripada aku, tapi karena
pertahanan diriku langsung ambruk begitu bibir
kami bertemu. Ciuman kali ini tidak sehati-hati
ciuman lain yang bisa kuingat, tapi itu bukan
masalah. Kalau memang aku akan menghancurkan

diriku lebih jauh lagi, maka lebih baik sekalian
saja.
Maka aku pun membalas ciumannya, jantungku
berdebar-debar tidak berirama saat napasku
memburu dan jari-jariku membelai wajahnya
dengan rakus. Aku bisa merasakan tubuhnya yang
sekeras marmer menempel di setiap lekuk
tubuhku, dan aku sangat gembira ia tidak
mendengarkan aku—tak ada kepedihan di dunia
yang dapat membenarkan kehilangan cinta ini.
Tangan Edward meraba wajahku, sama seperti
tanganku meraba wajahnya, dan saat bibir kami
terpisah sejenak beberapa detik, ia membisikkan
namaku.
Ketika kepalaku mulai terasa pusing, Edward
menarik tubuhnya, tapi menempelkan telinganya
di dadaku.
Aku berbaring di sana, nanar, menunggu
napasku tenang kembali.
"Omong-omong; kata Edward dengan nada
biasa-biasa saja. “Aku tidak akan
meninggalkanmu."
Aku tidak mengatakan apa-apa, dan Edward
sepertinya bisa mendengar nada skeptis dalam
diamku.
Ia mengangkat wajahnya dan menatapku lekatlekat.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak
tanpa kau," ia menambahkan dengan nada lebih
serius. "Dulu aku meninggalkanmu karena ingin
kau punya kesempatan untuk menjalani hidup
yang normal dan bahagia sebagai manusia. Aku

bisa melihat akibatnya bila kau terus bersamaku—
membuatmu terus-menerus dalam bahaya,
merenggutmu dari duniamu, mempertaruhkan
nyawamu setiap kali aku bersamamu. Jadi aku
harus berusaha. Aku harus melakukan sesuatu,
dan tampaknya, pergi adalah satu-satunya jalan.
Kalau aku tidak beranggapan kau akan lebih baik,
aku tidak akan pernah pergi. Aku terlalu egois.
Hanya kau yang lebih penting daripada apa yang
kuinginkan... yang kubutuhkan. Apa yang
kuinginkan dan kubutuhkan adalah bersamamu,
dan aku tahu aku tidak akan pernah cukup kuat
meninggalkanmu lagi. Terlalu banyak alasan untuk
tinggal—syukurlah! Sepertinya kau tidak bisa
aman, tak peduli betapa pun jauhnya jarak di
antara kita."
"Jangan janjikan apa-apa," bisikku. Kalau aku
membiarkan diriku berharap, tapi ternyata
harapanku kosong... itu akan membunuhku.
Seandainya semua vampir yang tak kenal belas
kasihan itu tak sanggup menghabisiku, kehilangan
harapan pasti bisa melakukannya.
Bola mata Edward yang hitam berkilat marah.
"Jadi kau – pikir aku bohong sekarang?"
“Tidak—tidak bohong." Aku menggeleng,
berusaha berpikir jernih. Mempelajari hipotesis
bahwa ia memang mencintaiku, namun tetap
berpikir objektif dan klinis, sehingga aku tidak
akan jatuh dalam perangkap harapan. "Kau
memang bersungguh-sungguh... sekarang. Tapi
bagaimana dengan besok, kalau kau memikirkan
kembali semua alasan mengapa kau

meninggalkanku dulu? Atau bulan depan, kalau
Jasper lepas kendali lagi terhadapku?"
Edward tersentak.
Ingatanku melayang ke hari-hari terakhir
hidupku sebelum Edward meninggalkanku,
berusaha melihatnya melalui saringan apa yang
dikatakannya padaku sekarang. Dari sudut
pandang itu, membayangkan bahwa ia
meninggalkanku saat masih mencintaiku,
meninggalkanku demi aku, aku jadi mengerti
sikapnya yang dingin dan menjauhiku. "Kau toh
tidak melakukannya tanpa memikirkannya masakmasak
lebih dulu, kan?" tebakku. "Nanti pun kau
akan melakukan apa yang kauanggap benar."
"Aku tidak setegar yang kaukira," sergah
Edward. "Benar atau salah tidak lagi berarti
banyak buatku; aku akan tetap kembali. Sebelum
Rosalie mengabarkan berita itu padaku, aku sudah
tidak lagi berusaha menjalani hidup seminggu
demi seminggu, atau bahkan sehari demi sehari.
Aku berjuang untuk bisa bertahan hidup dari satu
jam ke satu jam berikutnya. Hanya soal waktu
saja—dan tidak lama lagi sebenarnya—aku akan
muncul lagi di depan jendelamu dan memohon
agar kau mau menerimaku kembali. Aku tidak
keberatan memohon sekarang, kalau memang itu
maumu."
Aku meringis. "Kumohon, seriuslah.”
"Oh, aku serius kok," tegas Edward, sikapnya
garang sekarang. "Bisakah kau mencoba
mendengarkan apa yang akan kukatakan padamu?

Maukah kau memberiku kesempatan menjelaskan
apa artinya kau bagiku?”
Edward menunggu, mengamati wajahku saat ia
berbicara untuk memastikan aku benar-benar
mendengarkan.
"Sebelum kau. Bella, hidupku bagaikan malam
tanpa bulan. Gelap pekat, tapi bintang-bintang—
titik-titik cahaya dan alasan... Kemudian kau
melintasi langitku bagaikan meteor. Tiba-tiba saja
semua seperti terbakar; ada kegemerlapan, ada
keindahan. Setelah kau tidak ada, setelah meteor
tadi lenyap di batas cakrawala, semuanya hitam
kembali. Tidak ada yang berubah, tapi mataku
sudah dibutakan oleh cahaya terang tadi. Aku
tidak bisa lagi melihat bintang-bintang. Jadi tidak
ada alasan lagi untuk apa pun juga.”
Aku ingin memercayainya. Tapi ini hidupku
tanpa dia yang Edward lukiskan, bukan
sebaliknya.
"Matamu akan menyesuaikan diri lagi,"
gumamku.
"Itulah masalahnya—tidak bisa."
"Bagaimana dengan hal-hal yang bisa
mengalihkan pikiranmu?"
Edward tertawa tanpa emosi. "Itu hanya bagian
dari kebohonganku, Sayang. Tidak ada yang bisa
mengalihkan pikiran dari... dari penderitaan.
Jantungku sudah hampir sembilan puluh tahun
tak lagi berdetak, tapi ini berbeda. Rasanya
seakan-akan jantung hatiku hilang—seolah-olah
rongga dadaku kosong. Seakan-akan, segala

sesuatu dalam diriku kutinggalkan di sini
bersamamu."
"Lucu," gumamku.
Edward mengangkat sebelah alisnya yang
sempurna itu. "Lucu?"
Maksudku aneh—kukira hanya aku yang merasa
seperti itu. Banyak sekali bagian diriku yang hilang
juga. Sudah lama sekali aku tak pernah benarbenar
bisa bernapas." Kuisi paru-paruku dengan
udara, menikmati sensasinya. "Dan jantungku.
Jelas-jelas sudah hilang."
Edward memejamkan mata dan menempelkan
telinganya dadaku lagi. Kubiarkan pipiku
menempel di rambutnya, merasakan teksturnya di
kulitku, menghirup aroma wangi tubuhnya.
"Kalau begitu, melacak tidak bisa mengalihkan
pikiran?" tanyaku, ingin tahu, sekaligus ingin
mengalihkan pikiranku sendiri. Aku sudah nyaris
berharap lagi. Aku tidak akan mampu
menghentikan diri terlalu lama. Jantungku
berdetak, menyanyi di dadaku.
"Tidak." Edward mendesah. "Itu tidak pernah
menjadi sesuatu yang dilakukan untuk
mengalihkan pikiran. Itu kewajiban."
"Apa maksudmu?"
"Maksudnya, walaupun aku tidak pernah
mengharapkan akan muncul bahaya dari Victoria,
aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja
setelah... Well, seperti kataku tadi, aku payah
dalam hal itu. Aku berhasil melacaknya sampai

jauh ke Texas, tapi kemudian aku mengikuti
petunjuk palsu sampai ke Brazil—padahal
sebenarnya dia malah datang ke sini." Edward
mengerang. "Aku bahkan tidak berada di benua
yang benar! Dan sementara itu, lebih buruk
daripada ketakutanku yang paling buruk—"
"Kau memburu Victoria?" aku setengah memekik
begitu bisa menemukan suaraku, melesat naik dua
oktaf.
Dengkur Charlie di kejauhan terhenti, dan
sejurus kemudian mulai lagi dengan berirama.
"Tidak berhasil," jawab Edward, mengamati
ekspresi garangku dengan mimik bingung. "Tapi
pasti bisa lebih baik lain kali. Dia tidak akan
menodai udara yang segar ini dengan menarik
napas dan mengembuskannya lebih lama lagi.”
"Itu... tidak bisa," akhirnya aku bisa juga
bersuara. Gila. Walaupun dibantu Emmett atau
Jasper sekalipun. Ini lebih buruk daripada
bayanganku yang lain: Jacob Black berdiri
berhadap-hadapan dengan sosok Victoria yang
kejam dan buas. Aku tak sanggup membayangkan
Edward di sana, walaupun ia jauh lebih bisa
bertahan daripada sahabatku yang setengah
manusia itu.
"Sudah terlambat baginya. Aku mungkin masih
bisa mengabaikan kejadian waktu itu, tapi tidak
sekarang, setelah—"
Aku menyelanya lagi, berusaha
memperdengarkan nada tenang. "Bukankah kau
baru saja berjanji tidak akan meninggalkan aku?"

tanyaku, melawan kata-kata yang kuucapkan,
tidak mengizinkannya tertanam di hatiku. "Janji
itu tidak sejalan dengan ekspedisi pelacakan yang
memakan waktu lama, bukan?”
Kening Edward berkerut. Geraman pelan
terdengar dari dadanya. "Aku akan menepati
janjiku, Bella. Tapi Victoria—" geraman itu semakin
jelas terdengar—"harus mati. Segera."
"Tak usah tergesa-gesa," ujarku, berusaha
menyembunyikan kepanikanku. "Mungkin dia
tidak akan kembali. Gerombolan Jake mungkin
berhasil membuatnya kabur ketakutan. Sungguh
tidak ada alasan untuk tetap mencarinya. Selain
itu, aku punya masalah lain yang lebih besar
ketimbang Victoria."
Mata Edward menyipit, tapi ia mengangguk.
"Memang benar. Masalah werewolf memang
masalah besar."
Aku mendengus. "Yang kumaksud bukan Jacob.
Masalahku jauh lebih parah daripada
segerombolan serigala remaja yang berbuat onar."
Kelihatannya Edward ingin mengatakan sesuatu,
tapi kemudian mengurungkannya. Giginya
terkatup dengan suara berdetak, dan ia berbicara
di sela-selanya. "Benarkah?" tanyanya. “Kalau
begitu, apa masalah terbesarmu? Masalah yang
membuat kembalinya Victoria mencarimu terasa
bagaikan persoalan sepele bila dibandingkan
dengannya?"
"Bagaimana kalau yang kedua terberat?" elakku.
"Baiklah," Edward setuju, curiga.

Aku terdiam. Aku tidak yakin bisa menyebutkan
namanya. “Ada pihak-pihak lain yang akan datang
mencariku," aku mengingatkannya dengan bisikan
pelan.
Edward mendesah, tapi reaksinya tidak sekuat
yang kubayangkan, apalagi bila dibandingkan
dengan responsnya terhadap Victoria tadi.
"Jadi keluarga Volturi hanya yang kedua
terberat?"
"Sepertinya kau tidak kalut mendengarnya,"
komentarku.
"Well, kita punya banyak waktu untuk
memikirkannya masak-masak. Bagi mereka waktu
artinya sangat jauh berbeda denganmu, atau
bahkan aku. Mereka menghitung tahun seperti kau
menghitung hari. Aku tidak heran bila kau sudah
berumur tiga puluh tahun baru mereka teringat
lagi padamu," imbuh Edward enteng.
Kengerian melandaku.
Tiga puluh tahun.
Kalau begitu, janji-janji Edward tidak berarti
apa-apa, pada akhirnya. Bila suatu hari nanti aku
akan mencapai umur tiga puluh tahun, berarti
Edward tidak mungkin berencana tinggal lama.
Kepedihan mengetahui hal itu membuatku sadar
bahwa aku mulai berharap, tanpa mengizinkan
diriku melakukannya.
"Kau tidak perlu takut," ujar Edward, cemas saat
melihat air mataku mulai merebak lagi. “Aku tidak
akan membiarkan mereka menyakitimu."

"Selama kau ada di sini." Bukan berarti aku
peduli apa yang terjadi pada diriku setelah ia pergi.
Edward merengkuh wajahku dengan kedua
tangannya yang sekeras batu, memegangnya eraterat
sementara matanya yang sekelam malam
menatap mataku lekat-lekat dengan daya gravitasi
yang menyerupai lubang hitam.
"Tapi kauhilang tadi tiga puluh!” bisikku. Air
mata merembes keluar dari sudut mata. "Jadi apa?
Kau akan tinggal, tapi membiarkan aku menjadi
tua? Yang benar saja."
Sorot mata Edward melembut, sementara
mulutnya mengeras. "Tepat seperti itulah yang
akan kulakukan. Pilihan apa lagi yang kupunya?
Aku tidak bisa hidup tanpa kau, tapi aku tidak
mau menghancurkan jiwamu."
“Apakah itu sungguh-sungguh karena..." Aku
berusaha menjaga suaraku tetap datar, tapi
pertanyaan ini terlalu sulit untuk dilontarkan. Aku
ingat bagaimana ekspresi Edward waktu Aro nyaris
memohon padanya untuk mempertimbangkan ide
membuatku abadi. Ekspresi muak itu. Apakah
kengototan Edward untuk tetap mempertahankan
aku sebagai manusia sungguh-sungguh karena
jiwaku, atau karena ia tak yakin dirinya
menginginkan aku bersamanya sebegitu lama?
“Ya?" tanya Edward, menunggu pertanyaanku.
Aku malah mengajukan pertanyaan lain. Hampir—
tapi tidak persis—sama susahnya.
"Tapi bagaimana kalau nanti aku sudah tua
sekali dan orang-orang mengira aku ibumu?

Nenekmu?" Suaraku pucat oleh perasaan jijik—aku
bisa melihat wajah Gran lagi dalam mimpiku
tentang bayangan dalam cermin waktu itu.
Seluruh wajah Edward melembut sekarang. Ia
mengusap air mata dari pipiku dengan bibirnya.
"Itu tidak penting bagiku," embusan napasnya
menerpa kulitku. "Kau akan selalu menjadi orang
yang paling cantik bagiku. Tentu saja..." Edward
ragu-ragu, sedikit tersentak. "Kalau kau menjadi
lebih tua daripada aku – kalau kau menginginkan
sesuatu yang lebih – aku bisa memahaminya,
Bella. Aku berjanji tidak akan menghalangimu
kalau kau ingin meninggalkan aku."
Mata Edward tampak bagaikan batu akik cair
dan benar-benar tulus. Ia berbicara seolah-olah
telah memikirkan rencana tolol ini masak-masak.
"Kau tentunya sadar suatu saat nanti aku akan
mati, bukan?" desakku.
Edward juga sudah memikirkan hal itu. "Aku
akan menyusulmu secepat aku bisa."
"Ini benar-benar..." Aku mencari kata yang tepat.
"Gila."
"Bella, hanya itu satu-satunya cara yang
tertinggal—"
"Mari kita mundur dulu sejenak," tukasku;
merasa marah membuatku jauh lebih mudah
untuk berpikir jernih dan tegas. "Kau pasti masih
ingat pada keluarga Volturi, kan? Aku tidak bisa
tetap menjadi manusia selamanya. Mereka akan
membunuhku. Walaupun seandainya mereka tidak
memikirkan aku sampai aku berumur tiga puluh

tahun"—aku mendesiskan kalimat itu—"apa kau
benar-benar mengira mereka bakal lupa?"
"Tidak," jawab Edward lambat-lambat,
menggelengkan kepala. "Mereka tidak akan lupa.
Tapi..."
"Tapi?"
Edward menyeringai sementara aku menatapnya
kecut. Mungkin bukan aku satu-satunya yang
sinting di sini. "Aku punya beberapa rencana."
"Dan rencana-rencana itu," tukasku, suaraku
semakin masam dalam setiap katanya. "Rencanarencana
itu pasti berpusat padaku yang tetap
menjadi manusia.”
Sikapku membuat ekspresi Edward mengeras
"Itu sudah jelas." Nadanya kasar, wajahnya yang
bak malaikat itu arogan.
Kami bertatapan garang beberapa saat.
Kemudian aku menarik napas dalam-dalam,
menegakkan bahu, dan mendorong lengan Edward
jauh-jauh supaya bisa duduk tegak.
"Kau ingin aku pergi?" tanya Edward, dan hatiku
terasa nyeri melihat bagaimana pemikiran itu
menyakiti hatinya, meski ia berusaha tidak
menunjukkannya.
"Tidak." jawabku. "Aku yang akan pergi."
"Boleh aku bertanya kau akan ke mana?"
tanyanya.
"Aku akan pergi ke rumahmu," jawabku, masih
menggapai-gapai tanpa melihat.

Edward berdiri dan menghampiriku. "Ini
sepatumu. Kau akan naik apa ke sana?"
"Trukku."
“Suaranya mungkin akan membuat Charlie
terbangun," kata Edward sebagai upaya untuk
membuatku mengurungkan niat.
Aku mendesah. “Aku tahu. Tapi jujur saja,
sekarang pun aku pasti akan dihukum tidak boleh
keluar rumah beberapa minggu. Jadi mumpung
sudah basah, kecebur saja sekalian."
"Itu tidak benar Charlie pasti akan menyalahkan
aku, bukan kau."
"Kalau punya ide lain yang lebih baik, katakan
saja."
“Tetaplah di sini." Edward menyarankan, tapi
ekspresinya tidak berharap.
“Jangan harap. Tapi silakan saja kalau kau mau
tetap di sini. Anggap saja di rumah sendiri,"
dorongku, kaget sendiri mendengar betapa
wajarnya caraku menyindir, lalu bergegas menuju
pintu.
Tiba-tiba saja Edward sudah berdiri di
hadapanku, menghalangi jalan.
Aku mengerutkan kening, dan berbalik menuju
jendela. Tidak terlalu tinggi kok dari tanah, dan di
bawah sebagian besar berupa rerumputan...
"Oke," desah Edward. "Aku akan
membopongmu."

Aku mengangkat bahu. "Terserah. Tapi mungkin
sebaiknya kau juga berada di sana."
"Mengapa begitu?"
"Karena kalau kau sudah punya pendapat, sulit
sekali mengubah pendapatmu. Jadi aku yakin kau
pasti ingin mendapat kesempatan mengutarakan
pandangan-pandanganmu."
"Pandangan-pandanganku mengenai apa?" tanya
Edward dari sela-sela rahangnya yang terkatup
rapat.
"Ini bukan lagi hanya mengenai kau. Kau bukan
pusat semesta alam, tahu." Kalau pusat semesta
alam pribadiku, tentu saja, adalah cerita lain.
"Kalau kau akan membuat keluarga Volturi
mendatangi kita hanya gara-gara hal tolol seperti
mempertahankan aku sebagai manusia, maka
keluargamu perlu didengar juga pendapatnya."
"Pendapat mereka mengenai apa?" tanya
Edward, setiap kata diucapkan dengan jelas.
"Ketidakabadianku. Aku akan melakukan voting
untuk menentukannya."

24. PEMUNGUTAN SUARA
EDWARD tidak senang, perasaan itu dengan
mudah bisa dibaca dari ekspresinya. Namun tanpa
berargumen lebih jauh lagi, ia membopongku dan
melompat lincah dari jendelaku, mendarat tanpa
entakan sedikit pun, seperti kucing. Ternyata

lumayan tinggi juga jarak dari jendela ke tanah,
tidak seperti dugaanku.
"Baiklah kalau begitu," kata Edward, suaranya
sinis oleh sikap tidak setuju. "Naiklah."
Ia membantuku naik ke punggungnya, lalu
melesat secepat kilat. Bahkan setelah sekian lama
tidak menaiki punggungnya lagi, rasanya itu
seperti sesuatu yang rutin. Mudah. Terbukti ini
sesuatu yang tak pernah dilupakan, seperti naik
sepeda.
Sunyi senyap dan gelap saat Edward berlari
menembus hutan, embusan napasnya lambat dan
teratur—saking gelapnya, pepohonan yang terbang
melewati kami nyaris tak terlihat, dan hanya
embusan kuat angin menerpa wajah yang
menunjukkan betapa cepat Edward berlari. Udara
lembab; tidak membakar mataku seperti angin di
alun-alun besar waktu itu, dan rasanya nyaman.
Malam juga terasa menenangkan, setelah siang
benderang yang menakutkan itu. Seperti waktu
aku masih kecil, bermain di balik selubung selimut
tebal, kegelapan ini terasa familier dan melindungi.
Aku ingat bagaimana berlari menembus hutan
seperti ini dulu membuatku ngeri, bagaimana dulu
aku selalu memejamkan mata. Rasanya itu reaksi
yang tolol sekarang. Kubuka mataku lebar-lebar,
dagu menempel di bahunya, dan pipiku di
lehernya. Kecepatannya sungguh menggairahkan.
Seratus kali lebih asyik daripada naik motor.
Aku memalingkan wajah menghadap wajah
Edward dan menempelkan bibirku ke kulit
lehernya yang dingin dan keras.

"Terima kasih," ucapnya, sementara bayanganbayangan
hitam samar pepohonan melesat di
samping kami. "Apakah itu berarti kau
memutuskan bahwa kau sudah bangun?"
Aku tertawa. Suara tawaku terdengar ringan,
alami, renyah. Pas. "Tidak juga. Bagaimanapun,
lebih dari itu aku tidak mau bangun. Tidak malam
ini."
"Aku akan mengembalikan lagi kepercayaanmu
padaku, bagaimanapun caranya," gumam Edward,
lebih ditujukan pada dirinya sendiri. "Walaupun itu
jadi hal terakhir yang kulakukan."
"Aku percaya padamu kok," aku meyakinkan dia.
"Aku justru tidak percaya pada diriku sendiri."
"Tolong jelaskan."
Edward memperlambat larinya dan berjalan—
aku tahu itu karena terpaan angin mereda—dan
dugaanku, kami tak jauh dari rumahnya. Malah,
kalau tidak salah aku bisa mendengar suara air
sungai mengalir dalam gelap, di suatu tempat tak
jauh dari sini.
“Well–“ aku memeras otak, berusaha
menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan
maksudku. “Aku tidak... cukup percaya pada
diriku sendiri. Bahwa aku pantas mendapatkanmu.
Aku tidak punya apa-apa yang bisa
mempertahankanmu.”
Edward berhenti dan mengulurkan tangan ke
belakang, menurunkan aku dari punggungnya.
Tangannya yang lembut tidak melepaskanku;
bahkan sesudah ia membantuku menjejakkan kaki

ke tanah, ia merangkulku erat-erat, mendekapku
di dadanya.
"Aku milikmu selamanya, ikatan itu tak bisa
dipatahkan," bisiknya. "Jangan pernah ragukan
itu.'
Tapi bagaimana bisa aku tidak meragukannya?
"Kau belum memberi tahu...," gumamnya.
"Apa?"
"Apa masalah terbesarmu."
"Tebak saja sendiri.” Aku mendesah, kemudian
mengulurkan tangan untuk menyentuh ujung
hidungnya dengan telunjuk.
Edward mengangguk. "Aku memang lebih buruk
daripada keluarga Volturi," ucapnya muram.
"Kurasa aku pantas mendapatkannya."
Aku memutar bola mataku. "Hal terburuk yang
bisa dilakukan keluarga Volturi adalah
membunuhku."
Edward menunggu dengan sorot mata tegang.
"Kau bisa meninggalkan aku,'' aku menjelaskan.
"Keluarga Volturi, Victoria... mereka bukan apa-apa
dibandingkan dengan kau meninggalkan aku."
Bahkan dalam gelap aku bisa melihat kepedihan
memilin wajahnya – mengingatkanku pada
ekspresinya di bawah tatapan Jane yang menyiksa;
aku merasa muak, dan menyesal telah mengatakan
hal yang sebenarnya.
"Jangan; bisikku, menyentuh wajahnya. "Jangan
sedih"

Edward mengangkat salah satu sudut mulutnya
setengah hati, tapi ekspresi itu tidak menyentuh
matanya. "Kalau saja ada jalan untuk membuatmu
percaya bahwa aku tak sanggup meninggalkanmu,"
bisiknya. "Hanya waktu, kurasa, yang bisa
meyakinkanmu.
Aku menyukai pikiran itu. "Oke," aku setuju.
Wajah Edward masih tampak tersiksa. Aku
berusaha mengalihkan perhatiannya dengan halhal
lain yang sepele.
"Jadi—karena kau sudah memutuskan akan
tinggal di sini. Boleh aku mendapatkan kembali
barang-barangku?" tanyaku, sengaja membuat
nada suaraku seringan mungkin.
Usahaku berhasil, sampai batas tertentu:
Edward tertawa. Namun sorot matanya masih
sedih. "Barang-barangmu tak pernah kubawa,"
jawabnya. "Aku tahu itu salah, karena aku pernah
berjanji akan meninggalkanmu tanpa hal-hal yang
bisa mengingatkanmu padaku. Memang tolol dan
kekanak-kanakan, tapi aku ingin meninggalkan
sesuatu dari diriku untukmu. CD, foto-foto, tiket—
semua tersimpan di bawah lantai papan
kamarmu."
"Sungguh?"
Edward mengangguk, tampak sedikit terhibur
melihat reaksiku yang jelas-jelas gembira
mendengar fakta sepele itu. Namun belum cukup
untuk menghapus kepedihan di wajahnya.

"Kurasa," ujarku lambat-lambat. “Aku tidak
yakin, tapi kurasa... kurasa mungkin aku sudah
mengetahuinya sejak dulu."
"Apa yang kauketahui?"
Aku hanya ingin mengenyahkan sorot sedih ini
dan mata Edward, namun saat aku mengucapkan
kata-kata itu, kedengarannya justru sangat benar,
lebih daripada yang kuduga.
“Sebagian diriku, mungkin alam bawah sadarku
tidak pernah berhenti meyakini bahwa kau tetap
peduli padaku, apakah aku hidup atau sudah
mari. Mungkin itulah sebabnya aku mendengar
suara-suara."
Sejenak, suasana sunyi senyap. Suara-suara?
tanya Edward datar.
"Well, hanya satu suara. Suaramu. Ceritanya
panjang." Ekspresi kecut di wajah Edward
membuatku berharap aku tidak mengungkit-ungkit
masalah itu. Akankah ia mengira aku sinting,
seperti orang-orang lain? Apakah perkiraan orangorang
itu benar? Tapi paling tidak ekspresi itu—
yang membuat Edward terlihat seolah-olah
terbakar—mereda.
"Aku punya waktu kok." Suara Edward terdengar
kaku dan datar.
"Ceritanya menyedihkan."
Edward menunggu.
Aku tak yakin bagaimana menjelaskannya.
"Ingatkah kau waktu Alice menyebut tentang olah
raga ekstrem?"

Edward mengucapkan kata-kata itu tanpa
perubahan nada maupun penekanan. "Kau terjun
dari tebing untuk bersenang-senang."
“Eh, benar. Dan sebelum itu, dengan sepeda
motor—"
“Sepeda motor?" sergah Edward. Aku cukup
mengenali suaranya untuk mengetahui ada
sesuatu yang mulai bergolak di balik ketenangan
sikapnya.
"Kurasa bagian yang itu tidak kuceritakan pada
Alice."
“Memang tidak."
“Well tentang itu... Begini, aku menemukan
bahwa... saat aku melakukan sesuatu yang tolol
atau berbahaya... aku bisa mengingatmu lebih
jelas," aku mengaku, merasa diriku benar-benar
sinting. "Aku jadi bisa mengingat bagaimana
suaramu bila sedang marah. Aku bisa
mendengarnya, seolah-olah kau berdiri tepat di
sebelahku. Kebanyakan aku mencoba untuk tidak
memikirkanmu, tapi ini tidak begitu
menyakitkan—rasanya seolah-olah kau
melindungiku lagi. Seakan-akan kau tidak ingin
aku terluka.
"Dan, Well, aku jadi penasaran sendiri apakah
alasan mengapa aku bisa mendengarmu begitu
jelas adalah karena, di balik itu semua, aku selalu
tahu kau tidak pernah berhenti mencintaiku."
Lagi, saat aku bicara, kata-kata yang keluar dari
mulutku terdengar sangat meyakinkan. Bahwa itu

memang benar. Lubuk hatiku yang terdalam
mengenali kebenarannya.
Edward mengucapkan kata-kata itu dengan
suara separo tercekik. "Kau... sengaja...
membahayakan nyawamu... hanya agar bisa
mendengar—"
"Ssstt," aku memotong kata-katanya. "Tunggu
sebentar. Kurasa aku mendapat pencerahan."
Ingatanku melayang ke malam di Port Angeles
ketika aku mengalami delusi pertama. Ada dua
opsi. Sinting atau pemenuhan harapan. Aku tidak
melihat opsi ketiga.
Tapi bagaimana kalau...
Bagaimana kalau kau sungguh-sungguh percaya
sesuatu itu benar, tapi ternyata kau salah?
Bagaimana kalau kau begitu keras kepala meyakini
kau benar, bahwa kau bahkan tidak mau
mempertimbangkan kebenaran? Apakah kebenaran
itu akan dibungkam, atau kebenaran itu akan
berusaha menerobos keluar?
Opsi ketiga: Edward mencintaiku. Ikatan yang
terbentuk di antara kami bukanlah ikatan yang
bisa dihancurkan oleh ketidakhadiran, jarak, atau
waktu Dan tak peduli apakah ia lebih istimewa,
lebih rupawan, lebih pintar, atau lebih sempurna
daripada aku, bagaimanapun ia sudah berubah,
tak bisa diperbaiki lagi, sama seperti aku. Sama
halnya aku akan selalu menjadi miliknya, demikian
juga ia akan selalu menjadi milikku.
Itukah yang selama ini coba kukatakan pada
diriku sendiri?

"Oh!"
"Bella?"
"Oh. Oke. Aku mengerti."
"Pencerahanmu?" tanya Edward, suaranya
bergetar dan tegang.
"Kau mencintaiku," ujarku kagum. Keyakinan
dan kebenaran itu melanda diriku lagi.
Walaupun matanya masih waswas, senyum
separo yang sangat kucintai itu melintasi
wajahnya. "Benar, aku memang mencintaimu."
Hatiku menggelembung hingga rasanya seperti
nyaris meremukkan tulang-tulang rusukku.
Memenuhi rongga dada dan menyumbat
kerongkongan hingga aku tak bisa bicara.
Edward benar-benar menginginkanku seperti
aku menginginkan dia—selamanya. Hanya karena
ia takut aku akan kehilangan jiwaku, karena ia tak
ingin merenggut hal-hal manusiawi dari diriku,
yang membuat Edward begitu ngotot ingin tetap
mempertahankan aku sebagai manusia.
Dibandingkan dengan ketakutan bahwa ia tidak
menginginkan aku, halangan ini—jiwaku—nyaris
terasa tidak signifikan.
Edward merengkuh wajahku erat-erat dengan
tangannya yang dingin dan menciumku sampai
kepalaku pening dan hutan seperti berputar. Lalu
ia menempelkan dahinya ke keningku, dan napas
kami memburu, lebih cepat daripada biasanya.
"Kau masih lebih baik daripada aku," kata
Edward.

"Lebih baik dalam hal apa?"
"Bertahan. Kau, setidaknya, masih mau
berusaha. Bangun pagi-pagi, berusaha bersikap
normal demi Charlie, menjalani rutinitas hidupmu.
Kalau tidak sedang aktif melacak, aku.., benarbenar
tidak berguna. Aku tidak bisa berada di
sekitar keluargaku—aku tidak bisa berada di
sekitar siapa pun. Aku malu mengakui bahwa
kurang lebih aku hanya terpuruk dan membiarkan
diriku dilanda kesedihan." Edward menyeringai,
malu-malu. "Jauh lebih menyedihkan daripada
mendengar suara-suara. Dan, tentu saja, kau tahu
aku juga begitu."
Aku sangat lega karena Edward tampaknya
benar-benar mengerti—senang karena ini semua
masuk akal baginya. Pokoknya, ia tidak
menatapku seakan-akan aku sudah gila. Ia
menatapku seakan-akan... ia mencintaiku.
"Aku hanya mendengar satu suara," koreksiku.
Ia tertawa dan menarikku erat di sebelah kanan
tubuhnya, lalu mulai membimbingku maju.
"Aku hanya menuruti maumu," Edward
melambaikan tangan ke kegelapan di depan kami
saat kami berjalan. Tampak sesuatu yang pucat
dan megah di sana—rumahnya, aku tersadar.
"Pendapat mereka tak ada pengaruhnya sedikit
pun.”
"Ini memengaruhi mereka juga sekarang.”
Edward mengangkat bahu tak acuh.

Ia berjalan mendahuluiku melalui pintu depan
yang terbuka, memasuki rumah yang gelap, dan
menyalakan lampu-lampu. Ruangan itu masih
sama seperti yang kuingat dulu piano dan sofa-sofa
putih serta tangga megah berwarna pucat itu. Tak
ada debu, tak ada kain-kain putih.
Edward memanggil nama-nama anggota
keluarganya dengan volume suara yang biasa
kugunakan bila berbicara dalam keadaan biasa.
"Carlisle? Esme? Rosalie? Emmett? Jasper? Alice?"
Mereka mendengarnya.
Carlisle tiba-tiba sudah berdiri di sampingku,
seakan-akan sudah sejak tadi berada di sana.
"Selamat datang kembali, Bella." Ia tersenyum.
"Apa yang bisa kami lakukan untukmu pagi ini?
Dalam bayanganku, mengingat jamnya yang tidak
lazim, aku yakin ini bukan sekadar kunjungan
ramah-tamah?"
Aku mengangguk. "Aku ingin berbicara dengan
semuanya sekaligus, kalau boleh. Mengenai
sesuatu yang penting."
Aku tak tahan untuk tidak melirik wajah Edward
sambil bicara. Ekspresinya tidak setuju namun
pasrah. Waktu aku melihat kembali pada Carlisle,
ia juga sedang memandang Edward.
"Tentu saja," jawab Carlisle. "Bagaimana kalau
kita bicara di ruangan lain?"
Carlisle mendului melintasi ruang duduk yang
terang benderang, berbelok memasuki ruang
makan, menyalakan lampu-lampu sambil berjalan.
Dinding-dindingnya berwarna putih, langitTiraikasih

langitnya tinggi, seperti ruang duduk. Di tengah
ruangan, di bawah lampu kristal yang
menggantung rendah, tampak meja besar mengilat
berbentuk oval yang dikelilingi delapan kursi.
Carlisle menarik keluar kursi di kepala meja
untukku.
Aku belum pernah melihat keluarga Cullen
menggunakan meja ruang makan sebelumnya—itu
hanya perabot. Mereka tidak makan di rumah.
Begitu aku berbalik untuk duduk di kursi, aku
melihat kami tidak sendirian. Esme berjalan
mengikuti Edward, dan di belakangnya, anggota
keluarga lainnya menyusul.
Carlisle duduk di kananku, sementara Edward di
kiri. Tanpa bersuara yang lain-lain duduk di kursi
masing-masing Alice nyengir padaku, belum-belum
sudah memahami plotnya Emmett dan Jasper
terlihat ingin tahu, sementara Rosalie tersenyum
ragu-ragu padaku. Malu-malu aku membalas
senyumnya. Masih butuh waktu untuk
membiasakan diri.
Carlisle mengangguk padaku. "Silakan dimulai."
Aku menelan ludah. Tatapan mereka
membuatku gugup. Edward meraih tanganku di
bawah meja. Aku melirik padanya, tapi ia
memandangi anggota keluarganya yang lain,
wajahnya tiba-tiba garang.
"Well" aku terdiam sejenak. "Kuharap Alice
sudah menceritakan pada kalian semua yang
terjadi di Volterra?"
"Semuanya sudah," Alice meyakinkanku.

Aku melayangkan pandangan penuh arti
padanya. "Dan saat dalam perjalanan?"
"Itu juga sudah," angguknya.
"Bagus," aku mengembuskan napas lega. "Kalau
begitu, kita semua sudah sama-sama mengerti."
Mereka menunggu dengan sabar sementara aku
mencoba menata pikiranku.
"Jadi begini, aku punya masalah," aku memulai.
"Alice berjanji pada keluarga Volturi bahwa aku
akan menjadi seperti kalian. Mereka akan
mengirim seseorang ke sini untuk mengecek, dan
aku yakin itu sesuatu yang harus dihindari.
"Jadi, sekarang, ini melibatkan kalian semua. Itu
sangat kusesali." Kutatap wajah rupawan mereka
satu demi satu, meninggalkan yang paling rupawan
sebagai yang terakhir. Sudut-sudut mulut Edward
tertekuk ke bawah, membentuk seringaian. "Tapi
kalau kalian tidak menginginkan aku, aku tidak
akan memaksa kalian, terlepas dari apakah Alice
setuju melakukannya atau tidak.”
Esme membuka mulut untuk bicara, tapi
kuangkat jariku untuk menghentikannya.
"Please, izinkan aku menyelesaikan
penjelasanku dulu. Kalian tahu apa yang
kuinginkan. Dan aku yakin kalian tahu bagaimana
pendapat Edward. Jadi, menurutku, satu-satunya
cara yang adil untuk memutuskannya adalah
dengan melakukan pemungutan suara. Kalau
kalian memutuskan tidak menginginkanku,
maka... kurasa aku akan kembali ke Italia
sendirian. Aku tidak mau mereka datang ke sini!'

Memikirkannya saja sudah membuat keningku
berkerut.
Terdengar geraman samar dari dalam dada
Edward. Aku mengabaikannya.
"Dengan mempertimbangkan keselamatan
kalian, aku ingin kalian memilih ya atau tidak
tentang apakah aku akan menjadi vampir."
Aku separo tersenyum saat mengucapkan kata
terakhir itu, dan memberi isyarat pada Carlisle
untuk mulai.
"Tunggu sebentar," sela Edward.
Kutatap dia garang lewat mata yang disipitkan.
Edward mengangkat alisnya padaku, meremas
tanganku.
"Ada yang ingin kutambahkan sebelum kita
memulai pemungutan suara."
Aku mendesah.
"Tentang bahaya yang dimaksud Bella,"
lanjutnya. "Menurutku, kita tidak perlu kelewat
khawatir."
Ekspresi Edward semakin bersemangat. Ia
meletakkan sebelah tangannya di permukaan meja
yang mengilap dan mencondongkan tubuh.
“Begini," ia menjelaskan, memandang sekeliling
meja sambil bicara, "ada lebih dari satu alasan
mengapa aku tak ingin menjabat tangan Aro di
sana, pada akhirnya. Ada sesuatu yang tak
terpikirkan oleh mereka, dan aku tak ingin

memunculkan pikiran itu dalam benak mereka."
Edward nyengir.
"Apa itu?" desak Alice. Aku yakin ekspresiku
juga sama skeptisnya dengan mimik Alice.
"Keluarga Volturi terlalu percaya diri, dan
alasannya kuat. Saat memutuskan menemukan
seseorang, mereka bisa menemukannya dengan
mudah. Ingatkah kau pada Demetri?" Edward
menoleh padaku.
Aku bergidik. Bagi Edward itu berarti "ya".
"Dia bisa menemukan orang-orang—itu memang
bakatnya, karena itulah mereka
mempekerjakannya.
"Nah, selama kita bersama mereka, aku
menyadap otak mereka untuk mencari tahu hal
apa saja yang bisa menyelamatkan kita,
mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Jadi
aku melihat bagaimana bakat Demetri bekerja. Dia
pelacak—pelacak yang seribu kali lebih hebat
daripada James. Kemampuannya secara longgar
terhubung dengan apa yang kulakukan, atau apa
yang Aro lakukan. Dia menangkap... bau? Aku
tidak tahu bagaimana menggambarkannya...
getaran... pikiran seseorang, dan kemudian
mengikutinya. Dia bisa melacak dari jarak sangat
jauh.
"Tapi setelah eksperimen kecil yang dilakukan
Aro, well...”
Edward mengangkat bahu.

"Kaupikir dia takkan bisa menemukan aku,"
sergahku datar.
Edward tersenyum puas. "Aku yakin sekali.
Demetri bergantung sepenuhnya pada indra lain
itu. Kalau itu tidak mempan dilakukan
terhadapmu, mereka semua bakal buta.
"Lantas, bagaimana itu bisa menyelesaikan
persoalan?”
"Jelas sekali, Alice akan bisa memberi tahukan
kapan mereka berencana datang, kemudian aku
akan menyembunyikanmu Mereka takkan bisa
berbuat apa-apa,” kata Edward dengan sikap
senang. "Itu akan sama sulitnya dengan mencari
jarum dalam tumpukan jerami!"
Edward dan Emmert bertukar pandang dan
tersenyum menyeringai.
Ini tak masuk akal. "Tapi mereka bisa
menemukanmu," aku mengingatkannya.
"Dan aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Emmett tertawa, dan mengulurkan tangan ke
seberang meja pada saudaranya, mengacungkan
tinjunya. "Rencana yang bagus sekali, saudaraku,"
ucapnya antusias.
Edward mengulurkan tangan dan
membenturkan tinjunya dengan tinju Emmett.
"Tidak," desis Rosalie.
"Sama sekali tidak" aku sependapat.
"Bagus," ucap Jasper kagum.
"Dasar idiot," omel Alice.

Esme hanya memandang garang kepada Edward.
Aku menegakkan posisi dudukku, kembali
fokus. Ini kan rapatku.
"Baiklah kalau begitu. Edward telah
menawarkan alternatif lain pada kalian sebagai
bahan pertimbangan," ujarku dingin. "Mari kita
melakukan pemungutan suara."
Kali ini aku menatap Edward; lebih baik aku
segera mengetahui pendapatnya. "Kau ingin aku
bergabung dengan keluargamu?"
Mata Edward sekeras dan sehitam batu api.
"Tidak dengan cara itu. Kau harus tetap menjadi
manusia."
Aku mengangguk sekali, menjaga ekspresiku
tetap tenang, dan berlanjut ke yang lain.
"Alice?"
"Ya."
"Jasper?"
"Ya," jawab Jasper, suaranya muram. Aku
sedikit terkejut— aku sama sekali tidak yakin pada
pilihannya—tapi aku menekan reaksiku dan
melanjutkan.
"Rosalie?"
Rosalie ragu-ragu sejenak, menggigit bibir
bawahnya yang penuh dan sempurna itu. "Tidak."
Aku tetap memasang wajah tenang dan
memalingkan wajahku sedikit untuk melanjutkan
ke anggota keluarga lain, tapi Rosalie mengangkat

kedua tangannya, telapak tangannya mengarah ke
depan.
"Izinkan aku memberi penjelasan," Rosalie
memohon. "Bukan berarti aku tidak suka kau
menjadi saudaraku. Hanya saja... ini bukan
kehidupan yang akan kupilih untuk diriku sendiri.
Kalau saja dulu ada orang yang memilih tidak
untukku."
Aku mengangguk lambat-lambat, kemudian
berpaling kepada Emmett.
"Ya, tentu saja!" Ia nyengir. "Kita bisa mencari
jalan lain untuk mencari gara-gara dengan si
Demetri ini."
Aku masih meringis mendengar perkataannya
saat berpaling kepada Esme.
"Ya, tentu saja, Bella. Aku sudah
menganggapmu bagian dari keluargaku."
"Terima kasih, Esme," bisikku sambil berpaling
kepada Carlisle.
Tiba-tiba saja aku merasa gugup, berharap aku
tadi meminta suaranya lebih dulu. Aku yakin ini
suara yang paling berarti, suara yang dianggap
lebih dari suara mayoritas.
Carlisle tidak melihat ke arahku.
"Edward," ujarnya.
"Tidak," geram Edward. Rahangnya mengeras,
bibirnya menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya.
“Ini satu-satunya jalan yang masuk akal,"
Carlisle berkeras. "Kau sudah memilih untuk tidak

hidup tanpa dia, jadi menurutku tak ada pilihan
lain."
Edward menjatuhkan tanganku, keluar dari
meja. Ia menghambur meninggalkan ruangan,
menggeram-geram marah.
"Kurasa kau sudah tahu jawabanku." Carlisle
mendesah.
Aku masih memandangi kepergian Edward.
"Trims," gumamku.
Suara benda pecah yang mengoyak gendang
telinga terdengar dari ruang sebelah
Aku tersentak, lalu cepat-cepat bicara. "Hanya
itu yang kuperlukan. Terima kasih semuanya.
Untuk kesediaan kalian menerimaku. Begitu
jugalah yang kurasakan terhadap kalian semua."
Suaraku tercekat oleh emosi di akhir kalimat.
Dalam sekejap Esme sudah berdiri di
sampingku, lengannya yang dingin memelukku.
"Bella tersayang," desahnya.
Aku membalas pelukannya. Dari sudut mata
kulihat Rosalie menunduk memandangi meja, dan
sadarlah aku kata-kataku tadi dapat ditafsirkan
berbeda.
"Well, Alice," ujarku setelah Esme melepas
pelukannya. "Di mana kau ingin melakukannya?"
Alice menatapku, matanya membelalak ngeri.
"Tidak! Tidak! TIDAK!" raung Edward,
menghambur kembali ke dalam ruangan. Ia sudah
sampai di hadapanku sebelum aku sempat

berkedip, membungkuk di atasku, wajahnya
berkerut-kerut marah. "Kau gila, ya?" teriaknya.
"Apa kau benar-benar sudah tidak waras lagi?"
Aku mengkeret menjauhinya, kedua tangan
menutupi telinga.
"Eh, Bella," Alice menyela dengan nada gelisah.
"Sepertinya aku belum siap melakukan itu. Aku
harus menyiapkan diri dulu..."
"Kau sudah berjanji," aku mengingatkannya,
memandang garang dari bawah lengan Edward.
“Aku tahu, tapi... Yang benar saja, Bella! Aku
tidak tahu bagaimana melakukannya tanpa
membunuhmu."
"Kau bisa melakukannya," aku menyemangati.
"Aku percaya padamu."
Edward menggeram marah.
Alice menggeleng cepat-cepat, terlihat panik.
"Carlisle?" Aku menoleh dan memandanginya.
Edward merenggut wajahku dengan tangannya,
memaksaku menatapnya. Sebelah tangannya yang
lain terulur, telapak tangannya mengarah pada
Carlisle.
Carlisle tak menggubrisnya. "Aku bisa
melakukannya," ia menjawab pertanyaanku. Kalau
saja aku bisa melihat ekspresinya. "Kau tak perlu
takut aku akan kehilangan kendali."
"Kedengarannya bagus." Aku berharap ia bisa
memahaminya; sulit berbicara dengan jelas bila
Edward mencengkeram daguku seperti ini.

"Tunggu," sergah Edward dari sela-sela giginya
"Tidak perlu melakukannya sekarang."
"Tidak ada alasan untuk tidak melakukannya
sekarang," balasku, kata-kataku tidak terdengar
jelas.
"Aku bisa memikirkan beberapa alasan."
"Tentu saja bisa," tukasku masam. "Sekarang
lepaskan aku.”
Edward melepaskan wajahku, dan melipat kedua
lengannya di dada. "Kira-kira dua jam lagi, Charlie
akan datang ke sini mencarimu. Dan aku tak ragu
dia akan melibatkan polisi."
"Ketiga polisi yang ada di sini." Tapi aku
mengerutkan kening.
Ini selalu menjadi bagian tersulit. Charlie, Renee.
Sekarang ada Jacob juga. Orang-orang yang akan
kutinggalkan, orang-orang yang akan kusakiti.
Kalau saja hanya aku orang yang menderita, tapi
aku tahu itu tidak mungkin.
Di saat yang sama, aku lebih menyakiti mereka
lagi dengan tetap menjadi manusia.
Membahayakan nyawa Charlie dengan berada di
dekatnya. Membahayakan Jake lebih lagi dengan
menarik musuh-musuhnya datang ke wilayah yang
wajib dijaganya. Dan Renee—aku bahkan tak
berani mengambil risiko mengunjungi ibuku
sendiri karena takut bakal membawa masalah masalahku
yang mematikan ke sana!
Aku magnet yang menarik bahaya; aku
menerima kenyataan itu.

Dengan menerimanya, aku tahu aku harus bisa
menjaga diri dan melindungi orang-orang yang
kucintai, meskipun itu berarti aku tidak bisa
bersama mereka. Aku harus kuat.
"Dengan maksud untuk tetap tidak menarik
perhatian orang!' tukas Edward, masih berbicara
lewat gigi terkatup rapat, tapi memandang Carlisle
sekarang, "kusarankan kita mengakhiri
pembicaraan ini sekarang, setidaknya sampai Bella
lulus SMU, dan pindah dari rumah Charlie."
"Itu permintaan yang masuk akal, Bella," ujar
Carlisle.
Aku memikirkan reaksi Charlie bila ia bangun
pagi ini, bila—setelah ia mengalami kehilangan
besar dengan meninggalnya Harry, kemudian aku
membuatnya kalang-kabut dengan kepergianku
yang tanpa penjelasan—ia menemukan tempat
tidurku kosong. Charlie pantas mendapatkan yang
lebih baik daripada itu. Toh tidak lama lagi;
kelulusanku sudah di depan mata...
Aku mengerucutkan bibir. 'Akan
kupertimbangkan."
Edward langsung rileks. Rahangnya mengendur.
"Mungkin sebaiknya kuantar kau pulang,”
katanya, lebih tenang sekarang, tapi jelas ingin
buru-buru membawaku pergi dari sini. "Siapa tahu
Charlie bangun lebih pagi."
Kupandangi Carlisle. "Setelah kelulusan?"
"Aku janji."

Aku menarik napas dalam-dalam, tersenyum,
dan berpaling kembali ke Edward. "Oke. Kau boleh
membawaku pulang."
Edward membawaku melesat keluar dari rumah
sebelum Carlisle bisa menjanjikan hal lain. Ia
membawaku keluar lewat pintu belakang, jadi aku
tidak melihat barang apa yang pecah di ruang
tamu.
Perjalanan pulang sangat hening. Aku merasa
menang dan sedikit puas pada diri sendiri. Sangat
ketakutan juga, tentu saja, tapi aku berusaha tidak
memikirkan bagian itu. Tak ada gunanya
mengkhawatirkan rasa sakit—baik fisik maupun
emosional—jadi itu tidak kulakukan. Tidak sampai
benar-benar harus.
Sesampainya di rumahku, Edward tidak
berhenti. Ia langsung berlari menaiki dinding dan
masuk lewat jendela kamarku dalam tempo
setengah detik. Lalu ia melepaskan kedua
lenganku yang melingkari lehernya dan
membaringkanku di tempat tidur.
Kusangka aku punya gambaran cukup jelas
tentang apa yang ia pikirkan, tapi ekspresinya
membuatku terkejut. Bukannya marah, ia malah
terlihat seperti menimbang-nimbang Ia berjalan
mondar-mandir tanpa suara di kamarku yang
gelap sementara aku memerhatikan dengan
kecurigaan yang semakin menjadi-jadi.
"Apa pun yang kaurencanakan, itu tidak akan
berhasil," kataku.
"Ssstt. Aku sedang berpikir."

"Ugh," erangku, mengempaskan diri ke tempat
tidur dan menyelubungi kepalaku dengan selimut.
Tidak terdengar suara apa-apa, tapi mendadak
Edward sudah di sana. Ia menyibakkan selimut
supaya bisa melihatku. Ia berbaring di sebelahku.
Tangannya terangkat, menyibakkan rambutku
yang jatuh di pipi.
"Kalau kau tidak keberatan, aku lebih suka kau
tidak menyembunyikan wajahmu. Aku sudah
pernah merasakan hidup tanpa kau selama yang
bisa kutahan. Sekarang... jawab pertanyaanku."
"Apa?" tanyaku, enggan.
"Seandainya kau bisa memiliki segalanya yang
ada di dunia ini, apa saja, apa yang kauinginkan?"
Aku bisa merasakan skeptisme di mataku.
"Kau."
Edward menggeleng tidak sabar. "Sesuatu yang
belum kaumiliki."
Aku tidak yakin ke mana ia berusaha
mengarahkanku, jadi aku berpikir dengan hati-hati
sebelum menjawab. Aku menemukan jawaban
yang memang benar, tapi mungkin juga mustahil.
Aku ingin... bukan Carlisle yang melakukannya.
Aku ingin kaulah yang mengubahku."
Kuamati reaksi Edward dengan kecut, mengira ia
akan marah lagi seperti yang kulihat di rumahnya
tadi. Kaget juga aku waktu kulihat ekspresinya
tidak berubah. Ia masih terlihat menimbangnimbang,
berpikir keras.

"Kau rela menukar itu dengan apa?"
Aku tidak memercayai pendengaranku. Dengan
mulut ternganga lebar, kupandangi wajahnya yang
tenang dan langsung melontarkan jawaban
sebelum otakku sempat berpikir.
"Apa saja."
Edward tersenyum tipis, kemudian
mengerucutkan bibir. "Lima tahun?"
Wajahku berkerut membentuk ekspresi antara
kecewa dan ngeri.
"Kaubilang tadi apa saja," Edward
mengingatkanku.
"Ya, tapi... kau akan memanfaatkan waktu lima
tahun itu untuk berkelit. Aku harus menyambar
kesempatan ini, mumpung masih ‘panas’. Lagi
pula, terlalu berbahaya menjadi manusia—bagiku,
setidaknya. Jadi, apa saja kecuali itu."
Edward mengerutkan kening. "Tiga tahun?"
"Tidak!"
"Itu tidak berarti apa-apa sama sekali bagimu?"
Aku berpikir betapa aku sangat menginginkan
hal ini. Lebih baik memasang wajah sok tenang,
aku memutuskan, dan tidak membiarkan Edward
tahu betapa aku sangat menginginkannya. Itu
akan membuat posisiku berada di atas angin.
"Enam bulan?"
Edward memutar bola matanya. "Masih kurang."
"Satu tahun, kalau begitu," tawarku. "Itu
batasanku."

"Paling tidak beri aku dua tahun."
"Enak saja. Sembilan belas aku masih mau. Tapi
jangan harap aku mau mendekati usia dua puluh.
Kalau selamanya kau akan berusia belasan, aku
juga mau seperti itu.
Edward berpikir sebentar. "Baiklah. Lupakan
soal batasan waktu. Kau boleh menjadi seperti aku
– tapi ada syaratnya.”
"Syarat?" Suaraku berubah datar. "Syarat apa?”
Sorot mata Edward tampak hati-hati—ia
berbicara lambat-lambat. "Menikahlah dulu
denganku."
Kupandangi dia, menunggu... "Oke. Di mana
lucunya?"
Edward mendesah. "Kau melukai egoku, Bella.
Aku baru saja melamarmu, tapi kau malah
menganggapnya gurauan."
"Edward, kumohon, seriuslah."
“Aku seratus persen serius." Edward menatapku
tanpa sedikit pun sorot humor di wajahnya.
"Oh, ayolah," tukasku, ada secercah nada
histeris dalam suaraku. "Aku kan baru delapan
belas."
"Well, aku hampir seratus sepuluh. Sudah
waktunya aku menikah."
Aku membuang muka, memandang ke luar
jendela yang gelap, berusaha mengendalikan
kepanikan sebelum telanjur meledak.

"Begini, menikah tidak masuk dalam daftar
prioritasku saat ini, kau mengerti? Ini ibarat
ciuman kematian bagi Renee dan Charlie."
"Pilihan katamu menarik."
"Kau tahu maksudku."
Edward menghela napas dalam-dalam. "Tolong
jangan katakan kau takut pada komitmen," kata
Edward dengan nada tidak percaya, dan aku
mengerti maksudnya.
"Sama sekali bukan itu," elakku. "Aku... takut
pada reaksi Renee. Dia sangat menentang
pernikahan sebelum aku berumur tiga puluh."
"Karena dia lebih suka kau menjadi salah satu
dari kaum yang terkutuk selamanya." Edward
tertawa sinis.
"Kurasa kau bercanda."
"Bella, kalau kau membandingkan tingkat
komitmen antara Penyatuan dalam ikatan
pernikahan dengan menukar jiwamu sebagai ganti
hidup selamanya sebagai vampir..." Edward
menggelengkan kepala. "Kalau kau tidak cukup
berani untuk menikah denganku, maka—"
"Well," aku menyela. "Bagaimana kalau aku
berani? Bagaimana kalau kuminta kau
membawaku ke Vegas sekarang juga? Apakah tiga
hari lagi aku bisa menjadi vampir?"
Edward tersenyum, giginya berkilau dalam gelap.
"Tentu; jawabnya, menerima gertakanku. "Kuambil
dulu mobilku."

"Brengsek," gerutuku. "Kuberi kau waktu
delapan belas bulan."
"Tidak ada kesepakatan lain," sergah Edward,
nyengir. "Aku suka syarat ini"
"Baiklah. Biar Carlisle saja yang melakukannya
setelah aku lulus nanti."
"Kalau memang itu maumu." Edward
mengangkat bahu, dan senyumnya benar-benar
seperti senyum malaikat.
"Kau benar-benar keterlaluan," erangku. "Benarbenar
monster."
Edward terkekeh. "Jadi karena itu kau tidak
mau menikah denganku?"
Lagi-lagi aku mengerang.
Edward mencondongkan tubuh ke arahku; bola
matanya yang hitam pekat melebur dan berapi-api,
membuyarkan konsentrasiku. "Please, Bella?"
desahnya.
Sejenak aku sampai lupa bernapas. Begitu pulih
kembali, aku buru-buru menggeleng, berusaha
menjernihkan pikiranku yang mendadak buntu.
"Apakah akan lebih baik jika aku punya waktu
untuk membelikanmu cincin?"
"Tidak! Tidak usah ada cincin segala!" Bisa
dibilang aku benar-benar berteriak.
“Uups.”
"Charlie bangun; sebaiknya aku pulang," kata
Edward dengan sikap menyerah. Jantungku
berhenti berdetak.

Edward mengamati ekspresiku sesaat.
"Kekanak-kanakan tidak, kalau aku bersembunyi
di lemarimu?"
"Tidak," bisikku penuh semangat. "Tinggallah.
Please."
Edward tersenyum dan menghilang.
Aku gelisah seperti cacing kepanasan dalam
gelap, menunggu Charlie datang mengecekku.
Edward tahu persis apa yang ia lakukan, dan aku
berani bertaruh, membuatku kaget adalah bagian
dari rencananya. Tentu saja aku masih punya
pilihan membiarkan Carlisle melakukannya, tapi
sekarang setelah aku tahu ada kesempatan
Edward mau mengubahku sendiri, aku sangat
menginginkan kesempatan itu. Curang benar
Edward.
Pintu kamarku membuka secelah.
"Pagi, Dad."
"Oh, hai, Bella." Charlie terdengar malu karena
kepergok mengecek. "Sudah bangun rupanya."
“Yeah. Sejak tadi aku menunggu Dad bangun
supaya bisa mandi." Aku beranjak bangun.
"Tunggu dulu," tukas Charlie, menyalakan
lampu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau oleh
nyala terang yang tiba-tiba, dan sehati-hati
mungkin menjaga agar mataku tidak melirik terus
ke lemari. "Kita bicara dulu sebentar."
Aku tak mampu tidak meringis. Aku lupa minta
dicarikan alasan yang bagus oleh Alice.

“Kau tahu kau dalam masalah besar."
“Yeah, aku tahu."
“Aku sudah seperti orang gila tiga hari terakhir
ini. Pulang dari pemakaman Harry, aku mendapati
kau sudah pergi. Jacob hanya bisa mengatakan
kau kabur bersama Alice Cullen, dan menurut dia,
kau dalam kesulitan. Kau tidak meninggalkan
nomor telepon yang bisa dihubungi, dan kau juga
tidak menelepon. Aku tidak tahu di mana kau
berada atau kapan— atau apakah—kau akan
pulang. Tidak tahukah kau betapa... betapa..."
Charlie tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia
menarik napas tajam dan melanjutkan katakatanya.
"Bisakah kau memberiku satu saja alasan
mengapa aku tidak perlu mengirimmu ke
Jacksonville saat ini juga?"
Mataku menyipit. Jadi mau main ancam nih?
Aku juga bisa kalau begitu. Aku duduk tegaktegak,
menarik selimut yang menyelubungi
tubuhku. "Karena aku tidak mau pergi."
"Tunggu sebentar, young lady—"
"Begini, Dad, aku menerima tanggung jawab
penuh atas ulahku kemarin, dan Dad berhak
menghukumku selama yang Dad inginkan. Aku
juga akan mengerjakan semua tugas rumah,
termasuk mencuci pakaian dan piring, sampai Dad
menganggapku kapok. Dan menurutku, Dad juga
berhak mengusirku dari sini—tapi itu tidak akan
membuatku pindah ke Florida."

Wajah Charlie langsung merah padam. Ia
menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum
menjawab.
"Kau mau menjelaskan pergi ke mana kau
kemarin?"
Oh, brengsek. "Ada... masalah gawat."
Charlie mengangkat alis, sudah menduga aku
bakal memberi penjelasan yang brilian seperti itu.
Aku menggelembungkan pipi lalu
mengembuskannya dengan suara keras. "Entah
bagaimana aku bisa menamakannya, Dad. Intinya
hanya salah paham. Yang ini bilang begitu, yang
itu bilang begini. Akhirnya jadi rak terkendali.”
Charlie menunggu dengan ekspres, tak percaya.
"Begini, Alice mengatakan pada Rosalie tentang
aku melompat dari tebing..." Dengan panik aku
berusaha memberikan penjelasan masuk akal,
sebisa mungkin tetap menyatakan hal yang benar
sehingga ketidakmampuanku berbohong dengan
meyakinkan takkan terlalu kentara, tapi belum lagi
aku sempat melanjutkan ceritaku, ekspresi Charlie
mengingatkanku bahwa ia tidak tahu apa-apa
tentang masalah lompat tebing itu.
Ya ampun. Kayak aku belum kena masalah saja.
"Kurasa aku belum menceritakan itu pada Dad,"
sergahku tercekat. "Bukan apa-apa kok. Hanya
iseng, berenang bersama Jake. Pokoknya begini,
Rosalie lantas memberi tahu Edward, dan Edward
langsung kalap. Rosalie tanpa sengaja membuat
ceritanya terdengar seolah-olah aku mencoba

bunuh diri atau semacamnya. Edward tidak mau
menjawab teleponnya, jadi Alice menyeretku ke...
LA, untuk menjelaskan secara langsung." Aku
mengangkat bahu, sepenuh hati berharap semoga
Charlie tidak terlalu memerhatikan kekagokanku
barusan sehingga tidak menyimak penjelasan
brilian yang kuberikan padanya.
Wajah Charlie langsung membeku. "Memangnya
kau benar-benar berniat bunuh diri, Bella?"
“Tidak, tentu saja tidak. Hanya bersenangsenang
dengan Jake. Terjun dari tebing. Anak-anak
La Push sering melakukannya kok. Seperti kataku
tadi, itu bukan apa-apa."
Wajah Charlie memanas—dari membeku ke
panas oleh amarah. "Lantas, maksudnya Edward
Cullen itu apa?" raungnya. “Selama ini, dia
meninggalkanmu begitu saja tanpa penjelasan—"
Aku buru-buru memotongnya. "Lagi-lagi salah
paham."
Wajah Charlie memerah lagi. "Jadi sekarang dia
kembali?"
"Aku belum tahu rencana pastinya bagaimana.
Kalau tidak salah, mereka semua kembali."
Charlie menggeleng-gelengkan kepala, urat-urat
nadi di keningnya menyembul. "Aku ingin kau
menjauhi dia, Bella. Aku tidak percaya padanya.
Dia tidak baik untukmu. Aku tidak akan
membiarkannya merusakmu seperti itu lagi."
"Baiklah," sergahku judes.

Charlie bertumpu pada tumitnya dan bergoyang
maju-mundur. "Oh." Ia tergagap sesaat,
mengembuskan napas dengan suara keras karena
terkejut. "Kusangka kau akan bersikap sulit."
"Memang." Aku memandang lurus-lurus ke mata
Charlie. "Maksudku, 'Baiklah, aku akan keluar dari
rumah ini.’”
Mata Charlie melotot; wajahnya pucat pasi.
Tekadku luntur saat aku mulai mengkhawatirkan
kesehatannya. Charlie kan tidak lebih muda
daripada Harry...
"Dad, aku tidak ingin keluar dari rumah ini,"
kataku lebih lembut. "Aku sayang pada Dad. Aku
tahu Dad khawatir, tapi Dad harus percaya padaku
dalam hal ini. Dan Dad harus melunakkan sikap
terhadap Edward kalau Dad ingin aku tetap tinggal
di sini. Dad ingin aku tinggal di sini atau tidak?”
"Itu tidak adil, Bella. Kau tahu aku ingin kau
tinggal di sini."
"Kalau begitu bersikaplah baik pada Edward,
karena di mana ada aku, di situ ada dia." Aku
mengucapkannya dengan sikap yakin. Keyakinan
yang kudapat dari pencerahan itu masih kuat.
"Tidak di rumahku," Charlie mengamuk.
Aku mengembuskan napas berat. “Begini, aku
memberi ultimatum lagi pada Dad malam ini – atau
lebih tepatnya pagi ini. Pikirkan saja dulu selama
beberapa hari, oke? Tapi tolong diingat bahwa
Edward dan aku ibaratnya sudah satu paket.”
"Bella–"

"Pikirkan dulu," aku bersikeras. "Dan sementara
Dad memikirkannya, bisa tolong beri aku privasi?
Aku benar-benar harus mandi.”
Wajah Charlie berubah warna menjadi ungu
aneh, tapi ia keluar juga, membanting pintu keraskeras.
Kudengar ia berjalan mengentak-entakkan
kaki menuruni tangga.
Kulempar selimutku, dan tahu-tahu saja Edward
sudah di sana, duduk di kursi goyang, seakanakan
sudah di sana selama pembicaraanku dengan
Charlie berlangsung.
"Maaf soal tadi," bisikku.
"Bukan berarti aku tidak pantas mendapatkan
yang jauh lebih buruk," Edward balas berbisik.
"Jangan bertengkar dengan Charlie gara-gara aku,
please."
"Sudahlah, jangan khawatir," desahku sambil
mengemasi peralatan mandi dan satu setel pakaian
bersih. "Aku akan bertengkar dengannya kalau
memang perlu, tapi tak lebih dari itu. Atau kau
berusaha memberi tahuku bahwa kalau aku keluar
dari rumah ini, aku tidak diterima di tempatmu?"
Aku membelalakkan mata, pura-pura kaget.
"Memangnya kau mau pindah ke rumah penuh
vampir?"
“Mungkin itu tempat paling aman untuk orang
seperti aku. Lagi pula..." aku menyeringai. "Kalau
Charlie mengusirku, berarti tidak perlu menunggu
sampai lulus, kan?"

Rahang Edward mengeras. "Begitu bersemangat
ingin terkutuk selamanya," gerutunya.
“Kau tahu kau tidak benar-benar meyakini itu."
“Oh, begitu ya?" gerutunya.
"Tidak. Kau tidak percaya."
Edward menatapku tajam dan membuka mulut
hendak bicara, tapi aku memotongnya.
"Kalau kau benar-benar percaya kau telah
kehilangan jiwamu, maka waktu aku
menemukanmu di Volterra, kau pasti langsung
menyadari apa yang terjadi, bukannya mengira kita
berdua sudah sama-sama mati. Tapi kau tidak
begitu—kau malah berkata 'Luar biasa. Carlisle
benar,'" aku mengingatkannya, merasa menang.
"Ternyata, kau masih berharap."
Sekali ini, Edward tak mampu mengatakan apaapa.
"Jadi marilah kita sama-sama berharap, oke?"
saranku. "Bukan berarti itu penting. Kalau ada
kau, aku tidak butuh surga."
Pelan-pelan Edward bangkit, lalu merengkuh
wajahku dengan kedua tangan sambil menatap
mataku lekat-lekat. "Selamanya," ia bersumpah,
masih sedikit terperangah.
"Hanya itu yang kuminta," kataku, lalu berjinjit
agar bisa menempelkan bibirku ke bibirnya.


EPILOG—KESEPAKATAN
HAMPIR semuanya kembali normal—normal
seperti sebelum masa ini, ketika aku berkeliaran
laksana mayat hidup—dalam tempo sangat cepat,
lebih daripada yang kuyakini bisa terjadi. Rumah
sakit menerima Carlisle kembali dengan tangan
terbuka, bahkan tidak merasa perlu menutupi
kegembiraan mereka bahwa Esme tidak terlalu
suka tinggal di LA. Gara-gara aku tidak ikut
ulangan Kalkulus karena harus pergi ke luar negeri
waktu itu, nilai Alice dan Edward saat ini lebih
bagus daripada aku untuk bisa lulus SMA. Tibatiba
kuliah menjadi prioritas (kuliah masih tetap
merupakan rencana B, untuk jaga-jaga siapa tahu
tawaran Edward membuatku batal mengambil
pilihan melakukannya dengan Carlisle sesudah
lulus). Sudah banyak tenggat waktu pendaftaran
yang kulewatkan, tapi Edward menyodorkan
setumpuk formulir baru untuk kuisi setiap hari. Ia
sudah mengembalikan berkas pendaftarannya ke
Harvard, jadi tidak masalah baginya bila, gara-gara
aku terlalu banyak berleha-leha, kami terdampar di
Peninsula Community College tahun depan.
Charlie agak marah padaku, dan ia juga
mendiamkan Edward. Tapi setidaknya Edward
diizinkan – selama jam berkunjung yang sudah
ditentukan—masuk ke rumah lagi. Tapi aku tidak
diizinkan keluar dari sana.
Aku hanya boleh keluar untuk bersekolah dan
bekerja, jadi dinding-dinding kelasku yang
berwarna kuning kusam mendadak terasa begitu

mengundang bagiku. Itu berhubungan erat dengan
orang yang duduk di meja di sebelahku.
Edward mengambil jadwalnya yang lama, jadi ia
sekelas denganku di hampir semua pelajaran.
Kelakuanku begitu aneh, sejak keluarga Cullen
"pindah" ke LA, sehingga tak ada yang mau duduk
di sampingku. Bahkan Mike, yang dulu selalu
bersemangat memanfaatkan setiap kesempatan,
sekarang pun seperti menjaga jarak. Dengan
kembalinya Edward, delapan bulan terakhir nyaris
bagaikan mimpi buruk yang mengganggu.
Nyaris, meski tidak persis seperti itu. Salah
satunya, karena sekarang aku dihukum tidak
boleh keluar rumah. Dan alasan lain, sebelum
musim gugur waktu itu, aku tidak bersahabat
dengan Jacob Black. Jadi, tentu saja, waktu itu
aku belum merasa kehilangan dia.
Aku tidak bisa pergi ke La Push, dan Jacob tidak
mau datang menemuiku. Ia bahkan tidak mau
menerima teleponku.
Kebanyakan aku menelepon ke sana malammalam,
setelah Edward diusir – jam sembilan tepat
oleh Charlie yang meski muram tapi tampaknya
sangat senang bisa mengusir Edward – dan
sebelum Edward menyusup kembali ke kamarku
lewat jendela setelah Charlie tidur. Aku sengaja
memilih waktu itu untuk melakukan panggilan
yang sia-sia ini karena kulihat Edward selalu
mengernyitkan muka setiap menyebut nama
Jacob. Seperti tidak suka dan waswas... mungkin
bahkan marah. Kurasa itu karena Edward juga
punya prasangka buruk terhadap werewolf,

walaupun tidak sevokal Jacob terhdap "para
pengisap darah”.
Jadi. aku jarang menyebut-nyebut nama Jacob.
Dengan Edward di dekatku, sulit memikirkan
hal-hal yang tidak membahagiakan – bahkan
memikirkan mantan sahabatku, yang saat ini
mungkin sedang sangat tidak bahagia, gara-gara
aku. Kalaupun aku memikirkan Jake, aku selalu
merasa bersalah karena tidak sering memikirkan
dia.
Dongeng itu sudah kembali. Sang pangeran
sudah kembali, dan kutukan jahat dilenyapkan.
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap
karakter lain yang tertinggal dan tidak ikut
bahagia. Apakah kisah ini juga akan berakhir
bahagia selamanya untuk dia?
Minggu-minggu berlalu, dan Jacob masih tidak
mau menjawab teleponku. Hal ini mulai
membuatku terus-menerus khawatir. Seperti keran
bocor di belakang kepalaku yang tidak bisa
kumatikan atau kuabaikan. Tes, tes, tes. Jacob,
Jacob, Jacob.
Jadi, meski jarang menyebut-nyebut nama
Jacob, terkadang perasaan frustrasi dan gelisahku
meluap juga.
"Benar-benar brengsek!" aku mengomel panjangpendek
pada Sabtu siang saat Edward
menjemputku dari tempat kerja. Lebih mudah
melampiaskan amarah daripada merasa bersalah.
"Ini sama saja dengan menghina!"

Aku sudah mencoba segala cara, dengan
harapan mendapat respons berbeda. Kali ini aku
mencoba menelepon Jake dari tempat kerja, tapi
teleponku dijawab Billy yang sama sekali tidak bisa
membantu. Lagi-lagi.
"Kata Billy, Jacob tidak mau bicara denganku,"
aku meradang, memelototi hujan yang mengalir
membasahi jendela mobil. “Masa dia ada di sana,
tapi tidak mau berjalan tiga langkah saja untuk
menerima telepon! Biasanya Billy hanya
mengatakan Jacob keluar, sibuk, tidur, atau
semacamnya Maksudku, bukan berarti aku tidak
tahu dia bohong padaku tapi paling tidak cara itu
masih lebih sopan. Kurasa Billy juga benci padaku
sekarang. Tidak adil!"
"Bukan begitu, Bella," ucap Edward tenang.
"Tidak ada yang benci padamu."
"Rasanya seperti itu," gerutuku, melipat kedua
lengan di dada. Sekarang itu hanya kebiasaan yang
sulit diubah. Tidak ada lagi lubang di dadaku
kini—aku bahkan sudah nyaris tidak ingat
perasaan hampa yang pernah kurasakan.
"Jacob tahu kami sudah kembali, dan aku yakin
dia tahu pasti aku bersamamu," jelas Edward. "Dia
tidak mau dekat-dekat denganku. Permusuhan itu
sudah berurat akar dalam dirinya."
"Itu kan konyol. Dia tahu kau tidak... seperti
vampir-vampir lain."
"Bukan berarti tidak ada alasan untuk menjaga
jarak."

Aku memandang garang melalui kaca depan
mobil. Yang kulihat hanya wajah Jacob, terpasung
dalam topeng getir yang kubenci itu.
"Bella, memang beginilah keadaannya," kata
Edward kalem. "Aku bisa mengendalikan diri, tapi
aku ragu dia bisa. Dia masih sangat muda. Besar
kemungkinan akan terjadi perkelahian, dan aku
tidak tahu apakah bisa menghentikannya sebelum
aku membu—" Edward mendadak berhenti bicara,
kemudian cepat-cepat melanjutkan. "Sebelum aku
menyakitinya. Kau tidak akan senang. Aku tidak
ingin itu terjadi."
Aku ingat apa yang dikatakan Jacob di dapur
waktu itu, mendengar kata-kata yang ia ucapkan
sambil mengenang suaranya yang parau. Aku tidak
yakin akan cukup bisa mengendalikan diri untuk
menghadapinya... Mungkin kau juga tidak suka
kalau aku membunuh temanmu. Tapi, Jacob
ternyata mampu mengendalikan diri, waktu itu...
"Edward Cullen," bisikku. "Tadi kau mau
mengatakan membunuhnya, kan? Iya, kan?”
Edward membuang muka, memandang ke hujan
di luar. Di depan kami, lampu merah yang tadi
tidak kusadari keberadaannya berubah menjadi
hijau dan Edward menjalankan mobilnya kembali,
mengemudikannya sangat lamban. Tidak biasanya
ia menyetir sepelan ini.
"Aku akan berusaha... sekuat tenaga... untuk
tidak melakukannya," kata Edward akhirnya.
Kutatap ia dengan mulut ternganga lebar, tapi
Edward tetap memandang lurus ke depan. Kami

berhenti sebentar di depan tanda stop di pojok
jalan.
Mendadak, aku ingat apa yang terjadi pada Paris
ketika Romeo kembali. Pengarahan adegannya
sederhana: Mereka bertarung. Paris kalah. Tapi ini
konyol. Mustahil.
"Well" ujarku, menarik napas dalam-dalam,
menggeleng untuk mengenyahkan kata-kata itu
dari benakku. "Hal seperti itu takkan pernah
terjadi, jadi tidak ada alasan untuk
mengkhawatirkannya. Dan kau tahu Charlie
sedang memelototi jam sekarang. Sebaiknya cepat
antar aku pulang sebelum aku dapat masalah lagi
gara-gara pulang terlambat."
Aku menengadah padanya, tersenyum setengah
hati.
Setiap kali menatap wajah Edward, wajah yang
luar biasa sempurna itu, jantungku berdebar
keras, kencang, dan sangat terasa dalam dadaku.
Kali ini debaran itu berpacu lebih cepat dari pada
biasanya. Aku mengenali ekspresinya yang
membeku seperti patung itu.
"Kau memang akan dapat masalah lagi, Bella,"
bisiknya dari sela-sela bibirnya yang tidak
bergerak.
Aku bergeser lebih dekat, mencengkeram lengan
Edward sambil mengikuti arah pandangnya. Entah
apa yang kukira bakal kulihat—mungkin Victoria
berdiri di tengah jalan, rambut merah menyalanya
berkibar-kibar ditiup angin, atau sederet makhluk

tinggi berjubah hitam... atau sekawanan werewolf
yang marah. Tapi aku tidak melihat apa-apa.
"Apa? Ada apa?"
Edward menghela napas dalam-dalam.
"Charlie..."
"Ayahku?" pekikku.
Lalu Edward menunduk menatapku, dan
ekspresinya cukup tenang hingga mampu
meredakan sedikit kepanikanku.
"Charlie... mungkin tidak akan membunuhmu,
tapi dia sedang berpikir-pikir untuk
melakukannya," Edward memberitahu. Ia mulai
menjalankan mobilnya, memasuki jalan rumahku,
tapi melewati rumahku dan memarkir mobilnya di
pinggir pepohonan.
"Memangnya aku melakukan kesalahan apa?"
tanyaku terkesiap.
Edward menoleh ke belakang, ke arah rumah
Charlie. Aku mengikuti arah pandangnya, dan
melihat untuk pertama kalinya benda yang
terparkir di jalan masuk, persis di sebelah mobil
patroli ayahku. Mengilat, warnanya merah terang,
mustahil terlewatkan. Motorku, berdiri gagah di
sana.
Kata Edward tadi, Charlie sudah siap
membunuhku, jadi ia pasti sudah tahu – bahwa
sepeda motor itu milikku. Hanya ada satu orang di
balik pengkhianatan ini.
"Tidak!" seruku kaget. "Mengapa? Mengapa
Jacob tega melakukan ini padaku?" Perasaan sakit

karena dikhianati melanda hatiku. Padahal aku
sangat percaya pada Jacob – saking percayanya
sampai aku menceritakan semua rahasiaku
padanya. Seharusnya ia menjadi pelabuhan yang
aman bagiku – orang yang selalu bisa kuandalkan.
Tentu saja hubungan kami saat ini sedang
renggang rapi aku tidak mengira fondasi dasar
hubungan kami telah berubah. Kusangka itu tidak
bisa berubah!
Kesalahan apa yang kulakukan sehingga pantas
diganjar seperti ini? Charlie bakal sangat marah—
dan lebih daripada itu, ia akan merasa sakit hati
dan cemas. Apakah bebannya selama ini masih
belum cukup? Tak pernah terbayang olehku Jake
bisa begitu licik dan keju Air mataku merebak,
terasa perih di mataku, tapi itu bukan air mata
kesedihan. Aku telah dikhianati. Tiba-tiba saja aku
sangat marah sampai kepalaku berdenyut-denyut
seperti mau meledak.
"Dia masih di sini?" desisku.
"Ya. Dia menunggu kita di sana," Edward
memberi tahuku, mengangguk ke jalan setapak
yang membelah pepohonan hutan yang rapat
menjadi dua.
Aku melompat turun dari mobil, menghambur ke
arah pepohonan dengan kedua tangan sudah
mengepal, siap meninju.
Mengapa Edward harus lebih cepat daripada
aku?
Ia sudah menyambar pinggangku sebelum aku
sampai di jalan setapak itu.

"Lepaskan aku! Biar kubunuh dia! Dasar
pengkhianat!' Aku meneriakkan makian itu ke arah
pepohonan.
"Nanti Charlie dengar,” Edward mengingatkanku.
"Dan kalau dia sudah menyuruhmu masuk, dia
bakal membeton pintunya, mencegahku masuk."
Aku melirik ke arah rumah, dan sepertinya
hanya sepeda motor merah mengilap itu saja yang
tampak olehku. Aku marah sekali. Kepalaku
berdenyut-denyut lagi.
"Beri aku kesempatan bicara sekali saja dengan
Jacob kemudian aku akan menemui Charlie." Siasia
saja aku memberontak minta dilepaskan.
"Jacob Black ingin bertemu denganku. Karena
itulah dia masih di sini."
Aku langsung kaget—aku serta-merta berhenti
meronta-ronta. Kedua tanganku terkulai lemas.
Mereka bertarung; Paris kalah.
Aku memang marah, tapi tidak semarah itu.
"Bicara?" tanyaku.
"Kurang-lebih begitu."
"Lebihnya bagaimana?" Suaraku bergetar.
Edward merapikan rambutku yang jatuh di
sekitar wajah. "Jangan khawatir, kedatangannya ke
sini bukan untuk berkelahi denganku. Dia
bertindak sebagai... juru bicara bagi kawanannya."
"Oh."
Edward menengok lagi ke arah rumah,
mempererat rangkulannya di pinggangku, lalu

menarikku ke arah hutan. "Kita harus bergegas.
Charlie sudah mulai tidak sabar."
Kami tidak perlu pergi terlalu jauh; Jacob sudah
menunggu tak jauh dari situ. Ia menunggu sambil
bersandar di pohon berlumut, wajahnya keras dan
getir, persis yang kubayangkan. Ia menatapku,
kemudian Edward. Mulut Jacob menyeringai
membentuk seringaian sinis, dan ia bergeser
menjauh dari tempatnya bersandar. Ia berdiri
bertumpu pada bagian belakang kakinya yang
telanjang, agak condong ke depan, mengepalkan
kedua tangannya yang gemetar. Ia tampak lebih
besar dibandingkan terakhir kali aku melihatnya.
Entah bagaimana, meski rasanya mustahil, ia
masih terus bertumbuh. Tubuhnya akan
menjulang melebihi Edward, kalau mereka berdiri
bersisian.
Tapi Edward langsung berhenti berjalan begitu
kami melihat Jacob, menyisakan jarak yang cukup
lebar di antara kami dan Jacob. Edward sengaja
memosisikan tubuhnya begitu rupa sehingga aku
berada di belakangnya. Aku menjulurkan badan
melewati rubuhnya supaya bisa menatap Jacob—
menuduhnya dengan mataku.
Tadinya aku mengira dengan melihat ekspresi
Jacob yang sinis dan penuh kebencian akan
membuatku semakin marah. Tapi ternyata aku
malah teringat saat terakhir kali melihatnya,
dengan air mata berlinang. Amarahku melemah,
menggeletar, sementara aku menatap Jacob.
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya—
aku tidak suka reuni kami harus terjadi seperti ini

"Bella," kata Jacob sebagai salam, mengangguk
satu kali ke arahku tanpa mengalihkan
pandangannya sedikit pun dari Edward.
"Kenapa?" bisikku, berusaha menyembunyikan
suara tercekat di kerongkonganku. "Tega-teganya
kau berbuat begini padaku, Jacob?"
Seringaian sinis itu lenyap, namun wajahnya
tetap keras dan kaku. "Ini yang terbaik."
“Apa maksud perkataanmu itu? Memangnya kau
ingin Charlie mencekikku? Atau kau ingin dia kena
serangan jantung, seperti Harry? Tak peduli
betapapun marahnya kau padaku, tega-teganya
kau melakukan ini padanya?"
Jacob meringis, alisnya bertaut, tapi ia tidak
menjawab.
“Dia tidak ingin menyakiti siapa pun—dia hanya
ingin kau dihukum, sehingga kau tidak diizinkan
menghabiskan waktu denganku," gumam Edward,
menjelaskan pikiran yang tak ingin diutarakan
Jacob.
Mata Jacob menyala-nyala oleh kebencian saat
ia me berengut marah pada Edward.
"Aduh, Jake!" erangku. "Aku memang sudah
dihukum! Memangnya kaukira kenapa aku tidak
ke La Push dan menendang bokongmu karena kau
tidak mau menerima teleponku?"
Mata Jacob berkelebat ke arahku, untuk
pertama kalinya tampak bingung. "Jadi karena
itu?" tanyanya, kemudian ia mengunci mulut

rapat-rapat, seperti menyesal telah kelepasan
bicara.
"Dia kira akulah yang tidak mengizinkan, bukan
Charlie," Edward menjelaskan lagi.
"Hentikan," bentak Jacob.
Edward tidak menanggapi.
Jacob bergetar hebat, kemudian ia
menggertakkan giginya sekeras kepalan tangannya.
"Ternyata Bella tidak melebih-lebihkan waktu dia
bercerita tentang... kemampuanmu," katanya dari
sela-sela giginya. "Jadi kau pasti sudah tahu
kenapa aku datang ke sini"
"Benar," jawab Edward lirih. "Tapi, sebelum kau
mulai, aku perlu mengatakan sesuatu."
Jacob menunggu, membuka dan menutup
telapak tangannya sementara berusaha
mengendalikan getaran tubuhnya yang merayapi
kedua lengan.
"Terima kasih," ucap Edward, dan suaranya
bergetar karena ketulusan hatinya. "Aku tidak
akan pernah bisa mengungkapkan betapa
besarnya rasa terima kasihku padamu. Aku
berutang budi padamu sepanjang sisa...
eksistensiku.
Jacob menatapnya dengan pandangan kosong
getaran tubuhnya langsung berhenti. Ia melirik
cepat ke arahku, rapi raut wajahku sama
bingungnya.
"Karena kau telah menjaga Bella," Edward
mengklarifikasi, suaranya parau dan bersungguhTiraikasih

sungguh. "Saat aku... tidak ada untuk
menjaganya."
"Edward—" aku membuka mulut untuk
mengatakan sesuatu, tapi Edward mengangkat
sebelah tangan, matanya tertuju kepada Jacob.
Ekspresi mengerti menyapu wajah Jacob sesaat
sebelum topeng keras itu kembali. "Aku tidak
melakukannya untukmu.”
“Aku tahu. Tapi itu tidak menghapus perasaan
terima kasih yang kurasakan. Kurasa kau perlu
tahu. Seandainya ada yang bisa kulakukan
untukmu, selama itu masih dalam kekuasaanku..."
Jacob mengangkat sebelah alisnya yang hitam.
Edward menggeleng. "Aku tidak punya kuasa
dalam hal itu.”
"Kuasa siapa, kalau begitu?" geram Jacob.
Edward menunduk menatapku. "Kuasanya. Aku
cepat belajar, Jacob Black, jadi aku tidak akan
melakukan kesalahan yang sama dua kali. Aku
akan tetap di sini sampai dia menyuruhku pergi."
Sejenak aku terhanyut dalam tatapan mata
emasnya. Tidak sulit memahami bagian
percakapan yang tak bisa kudengar itu. Satusatunya
yang diinginkan Jacob dari Edward adalah
pergi dari sini.
“Tidak akan," bisikku, mataku masih terpaku
pada mata Edward.
Jacob membuat suara seperti mau muntah.

Dengan enggan kualihkan tatapanku dari mata
Edward, memandang Jacob dengan kening
berkerut. "Ada hal lain yang kubutuhkan, Jacob?
Kau ingin aku kena masalah – misimu sudah
tercapai. Bisa jadi Charlie akan mengirimku ke
sekolah militer. Tapi itu tidak akan bisa
membuatku menjauhi Edward. Tidak ada yang bisa
melakukan hal itu. Jadi, apa lagi yang
kauinginkan?"
Jacob tak mengalihkan tatapannya dari Edward.
"Aku hanya perlu mengingatkan teman-temanmu
yang suka mengisap darah itu tentang beberapa
poin penting dalam kesepakatan yang telah mereka
sepakati. Hanya karena perjanjian itulah aku tidak
mengoyak-ngoyak leher mereka saat ini juga."
"Kami belum lupa," sergah Edward, dan pada
saat yang bersamaan aku menuntut, "Poin-poin
penting apa?"
Jacob masih memandang Edward garang, tapi ia
menjawab pertanyaanku. "Kesepakatan itu sangat
spesifik. Kalau salah seorang di antara mereka
menggigit manusia, gencatan senjata berakhir.
Menggigit, bukan membunuh," ia menekankan.
Akhirnya, ia menatapku. Sorot matanya dingin.
Detik ini juga aku menangkap maksudnya,
kemudian wajahku berubah sedingin wajahnya.
"Itu sama sekali bukan urusanmu."
"Enak saja—" hanya itu yang sanggup
dilontarkan Jacob.
Aku tidak mengira jawabanku yang terburuburu
akan mendatangkan respons sekeras itu.

Meski datang untuk menyampaikan peringatan itu,
Jacob pasti tidak tahu. Ia pasti mengira peringatan
itu hanya sebagai tindakan pencegahan. Ia tidak
sadar – atau tidak mau percaya – bahwa aku telah
menentukan pilihan. Bahwa aku benar-benar
berniat menjadi anggota keluarga Cullen.
Jawabanku membuat Jacob nyaris kejangkejang.
Ia menempelkan tinjunya kuat-kuat ke
pelipis, memejamkan mata rapat-rapat dan
membungkuk seperti berusaha mengendalikan
entakan-entakan tubuhnya. Wajahnya berubah
hijau ke-kuningan di balik kulitnya yang cokelat
kemerahan.
“Jake? Kau baik-baik saja?" tanyaku cemas.
Aku maju setengah langkah menghampirinya,
tapi Edward menyambar tubuhku dan menarikku
dengan kasar ke belakangnya. "Hati-hati! Dia tidak
bisa menguasai diri,” ia mengingatkanku.
Tapi entah bagaimana Jacob sudah bisa
menguasai diri; hanya kedua lengannya yang
gemetar sekarang. Ia merengut menatap Edward
dengan kebencian menyala-nyala. "Ugh, Aku
takkan mungkin menyakitinya."
Perubahan tekanan dalam kalimat Jacob
barusan tidak luput dari perhatian Edward
maupun aku, begitu juga dengan tuduhan yang
tersirat di dalamnya. Desisan pelan terlontar dari
bibir Edward. Refleks Jacob mengepalkan tinjunya.
"BELLA!" raungan Charlie membahana dari arah
rumah. "MASUK KE RUMAH SEKARANG JUGA!"

Kami langsung membeku, mendengarkan
kesunyian yang mengikutinya.
Aku yang pertama bersuara; suaraku gemetar.
"Sialan."
Ekspresi marah Jacob sedikit melunak. "Aku
benar-benar minta maaf soal itu," gumamnya. "Aku
harus melakukan apa yang bisa kulakukan—aku
harus berusaha..."
“Trims." Suaraku yang bergetar menghancurkan
kesinisanku. Aku melayangkan pandang ke ujung
jalan setapak, setengah berharap Charlie
menghambur menerobos semak-semak basah
seperti banteng mengamuk. Aku akan menjadi
bendera merahnya di skenario itu.
"Satu hal lagi," kata Edward padaku, kemudian
ia berpaling kepada Jacob. “Kami tidak
menemukan jejak Victoria di wilayah kami – kalian
sendiri bagaimana?"
Edward langsung tahu jawabannya begitu Jacob
memikirkannya, tapi Jacob tetap menyuarakannya.
"Terakhir kalinya adalah waktu Bella... pergi. Kami
biarkan saja dia mengira dia berhasil menerobos
pertahanan kami—lalu kami mempersempit
lingkaran, bersiap-siap menyerangnya..."
Punggungku bagaikan disiram air es.
"Tapi kemudian dia melesat pergi seperti
kelelawar melesat keluar dari neraka. Sepanjang
yang bisa kami duga, dia cium bau adik
perempuanmu dan langsung kabur. Sejak dia
belum kembali mendekati tanah kami."

Edward mengangguk. "Kalau dia kembali, dia
bukan masalah kalian lagi. Kami akan—"
"Dia membunuh di wilayah kami," desis Jacob.
"Dia milik kami!"
"Tidak—," aku mulai memprotes pernyataan
mereka.
"BELLA! AKU MELIHAT MOBILNYA JADI AKU
TAHU KAU ADA DI SANA! KALAU KAU TIDAK
MASUK KE RUMAH DALAM SATU MENIT..!"
Charlie tidak menyelesaikan ancamannya.
"Ayo," ajak Edward.
Aku menoleh kepada Jacob, terbagi-bagi.
Apakah aku akan melihatnya lagi?
"Maaf," bisik Jacob pelan sekali sehingga aku
baru mengerti setelah membaca gerak bibirnya.
"Bye, Bells.
"Kau sudah berjanji," aku mengingatkannya
dengan sedih. "Masih berteman, kan?"
Jacob menggeleng lambat-lambat, dan gumpalan
di tenggorokanku nyaris mencekikku.
"Kau tahu betapa sulitnya aku sudah berusaha
menepati janji itu, tapi... aku tidak tahu bagaimana
aku bisa terus mencobanya. Tidak sekarang..."
Jacob berusaha keras mempertahankan mimik
wajahnya yang seperti topeng, tapi mimik itu goyah
kemudian lenyap. "Aku kehilangan kau, mulutnya
bergerak-gerak tanpa suara. Sebelah tangannya
terulur padaku, jari-jarinya membentang, seolah
berharap jari-jari itu cukup panjang untuk

menjembatani jarak yang membentang di antara
kami.
"Aku juga," ujarku tercekat. Tanganku terulur ke
arahnya melintasi jarak yang lebar.
Seolah terhubung, gema kepedihan hati Jacob
memilin hatiku. Kesedihannya adalah kesedihanku
juga.
"Jake..." Aku maju selangkah menghampirinya.
Ingin rasanya aku memeluk pinggangnya dan
menghapus ekspresi sedih di wajahnya.
Edward menarikku lagi, lengannya menahan,
bukan melindungi.
"Tidak apa-apa," aku meyakinkan Edward,
mendongak untuk membaca wajahnya dengan
sorot percaya di mataku. Ia pasti mengerti.
Mata Edward tak bisa dibaca, wajahnya tanpa
ekspresi. Dingin. "Tidak, itu tidak benar."
"Lepaskan dia," geram Jacob, kembali marah.
"Dia ingin lepas! Jacob maju dua langkah lebarlebar.
Kilatan antisipasi terpancar dari matanya.
Dadanya seolah menggelembung saat ia bergetar.
Edward mendorongku ke belakang
punggungnya, berputar menghadapi Jacob.
"Tidak! Edward—!"
"ISABELLA S WAN!"
"Ayolah! Charlie marah!" Suaraku panik, tapi
bukan karena Charlie sekarang. "Cepatlah!"
Kutarik-tarik tangan Edward dan ia sedikit
rileks. Ditariknya aku kembali pelan-pelan,

matanya terus tertuju kepada Jacob sementara
kami mundur.
Jacob mengawasi kami dengan seringaian marah
menghiasi wajahnya yang getir. Sorot antisipasi
tadi surut dari wajahnya, kemudian, tepat sebelum
hutan memisahkan kami, wajahnya tiba-tiba
berkerut menahan sakit.
Aku tahu pemandangan wajahnya yang terakhir
itu akan terus menghantuiku sampai aku
melihatnya tersenyum lagi.
Dan saat itulah aku bersumpah bahwa aku akan
melihatnya tersenyum, dan itu tidak lama lagi. Aku
akan mencari jalan untuk mempertahankan
temanku.
Edward tetap merangkul pinggangku,
mendekapku erat-erat. Hanya itu yang membuat
air mataku tidak tumpah.
Aku punya banyak persoalan serius.
Sahabatku menganggapku musuh.
Victoria masih berkeliaran, membahayakan
semua orang yang kusayangi.
Kalau aku tidak segera menjadi vampir, keluarga
Volturi akan membunuhku.
Dan kini, sepertinya bila aku berubah, para
werewolf Quileute juga akan melakukan hal yang
sama—selain berusaha membunuh keluarga masa
depanku juga. Sebenarnya menurutku mereka
tidak bakal berhasil, tapi apakah sahabatku akan
tewas dalam usahanya melakukan hal itu?

Benar-benar persoalan yang sangat serius. Jadi
kenapa semua masalah itu mendadak terasa
sangat tidak signifikan saat kami menerobos keluar
dari pepohonan dan aku melihat ekspresi di wajah
Charlie yang ungu?
Edward meremasku lembut. "Tenang, ada aku.”
Aku menarik napas dalam-dalam.
Itu benar. Ada Edward di sini, dengan kedua
lengannya memelukku.
Aku sanggup menghadapi apa pun juga, selama
ada dia. Kutegakkan bahuku dan berjalan maju
menyongsong nasib, takdirku berjalan mantap
mengiringiku.


###

0 Response to "Twilight Saga: New Moon 4"

Post a Comment