Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: New Moon 3

14. KELUARGA
AKU mengkeret di samping Jacob, mataku
menyapu hutan, mencari werewolf lain. Ketika
mereka muncul, melangkah keluar dari sela-sela
pepohonan, penampilan mereka tak seperti yang
kuharapkan. Sejak tadi, yang ada dalam pikiranku
hanyalah bayangan para serigala. Tapi yang
kulihat ini adalah empat cowok setengah telanjang
bertubuh sangat besar.
Sekali lagi, mereka mengingatkanku pada
kakak-beradik, kembar empat. Dari cara mereka
berjalan yang nyaris sinkron satu sama lain,
berdiri di seberang jalan di depan kami, bagaimana
mereka semua memiliki otot-otot yang panjang dan
liat di bawah kulit yang sama-sama cokelat
kemerahan, rambut hitam mereka sama-sama
dipangkas pendek, serta bagaimana ekspresi
mereka mendadak berubah pada saat yang tepat
sama.
Awalnya mereka datang dengan sikap ingin tahu
dan hati-hati. Tapi begitu melihatku di sana,
separo tersembunyi di samping Jacob, amarah
mereka langsung meledak pada detik yang sama.

Sam masih yang paling besar, walaupun Jacob
sebentar lagi bakal menyainginya. Sam sudah tidak
bisa lagi disebut remaja. Wajahnya sudah lebih tua
– bukan berarti sudah keriput atau ada tandatanda
penuaan, tapi dalam hal kematangan, serta
ekspresi sabarnya.
“Apa yang kaulakukan, Jacob?” tuntutnya.
Salah seorang di antara mereka, yang tidak
kukenal—Jared atau Paul—merangsek melewati
Sam dan langsung menyemprot Jacob sebelum ia
bisa membela diri.
"Mengapa kau tidak bisa mengikuti aturan,
Jacob?" teriaknya, mengangkat kedua tangannya
ke udara. "Apa sih yang kaupikirkan? Apakah dia
lebih penting daripada segalanya—daripada
seluruh suku? Daripada orang-orang yang bakal
terbunuh?”
"Dia bisa membantu," jawab Jacob pelan.
"Membantu!" teriak cowok yang marah itu.
Kedua lengannya mulai gemetar. "Oh, mana
mungkin! Aku yakin si pencinta lintah itu setengah
mati ingin membantu kita!"
“Jangan bicara tentang dia seperti itu!" Jacob
balas berteriak, tersinggung mendengar sindiran
itu.
Sekujur tubuh cowok itu bergetar hebat, mulai
dari bahu hingga ke punggung.
"Paul! Tenang!" Sam memerintahkan.

Paul menggerakkan kepala ke belakang dan ke
depan, bukan membantah, tapi seolah-olah seperti
berusaha berkonsentrasi.
“Ya ampun, Paul," gerutu salah seorang di
antara mereka— mungkin Jared. "Kendalikan
dirimu."
Paul memuntir kepalanya ke arah Jared,
bibirnya menekuk ke belakang dengan sikap kesal.
Lalu ia beralih menatapku garang. Jacob maju
selangkah untuk menamengiku.
Tindakannya itu justru membuat amarah Paul
semakin menjadi-jadi.
"Betul sekali, lindungi dia!" raung Paul marah.
Tubuhnya kembali bergetar, berguncang hebat,
dan kepala sampai kaki Ia mengedikkan kepalanya,
geraman terlontar dari sela-sela giginya.
"Paul!" Sam dan Jacob berteriak berbarengan.
Paul seperti terjungkal ke depan, tubuhnya
bergetar dahsyat. Sebelum tubuhnya mencium
tanah, terdengar suara robekan keras, dan tubuh
cowok itu meledak.
Bulu-bulu perak gelap menyembur keluar dari
tubuhnya, mengubahnya menjadi makhluk yang
lima kali lebih besar daripada ukuran
sebenarnya—makhluk itu sangat besar dan berdiri
dengan sikap membungkuk, siap menerkam.
Moncong serigala itu tertarik ke belakang,
menampakkan gigi-giginya, dan sebuah geraman
lagi menggemuruh dari dadanya yang besar. Bola

matanya yang gelap dan berapi-api terpaku
padaku.
Detik itu juga Jacob berlari menyeberang jalan,
langsung menghampiri monster itu. "Jacob!"
jeritku.
Setengah jalan, sekujur tubuh Jacob bergetar
hebat. Ia melompat maju, menerjang dalam posisi
kepala lebih dulu ke udara yang kosong.
Diiringi suara robekan nyaring, Jacob juga
meledak. Ia meledak keluar dari kulitnya—cabikancabikan
kain hitam dan Putih terpental ke udara.
Kejadiannya begitu cepat hingga seandainya aku
berkedip, seluruh proses transformasi itu pasti
akan luput dari penglihatanku. Sedetik
sebelumnya Jacob melompat tinggi ke udara, derik
berikutnya ia sudah berubah menjadi serigala
cokelat kemerahan—sangat besar hingga rasanya
tak masuk akal bagiku bagaimana makhluk
sebesar itu bisa berada di dalam diri Jacob—
menerkam monster berbulu perak yang merunduk.
Jacob membungkam serangan si werewolf
dengan langsung menerkam kepalanya. Geramangeraman
marah bergema seperti halilintar
memantul di pepohonan.
Cabikan-cabikan kain hitam dan putih—sisasisa
pakaian Jacob jatuh ke tanah tempat ia
menghilang tadi.
“Jacob!" jeritku lagi, terhuyung-huyung maju.
"Tetaplah di tempatmu, Bella," Sam
memerintahkan. Sulit mendengar suaranya di
antara raungan dua serigala yang sedang

bertarung. Keduanya saling menggigit dan
merobek, gigi mereka yang tajam saling mengarah
ke tenggorokkan masing-masing. Serigala Jacob
tampaknya berada di atas angin—tubuhnya jelas
lebih besar daripada serigala yang lain, dan
kelihatannya juga lebih kuat. Ia memukulkan
bahunya berkali-kali ke tubuh si serigala abu-abu,
memukul mundur ke arah hutan.
"Bawa Bella ke rumah Emily," teriak Sam pada
yang lain, yang menonton pertarungan itu dengan
asyik. Jacob berhasil mendorong serigala kelabu
itu keluar dari jalan, dan mereka lenyap ke balik
hutan, walaupun geraman-geraman mereka masih
terdengar nyaring. Sam lari mengejar mereka,
menendang sepatunya hingga terlepas sambil
berlari. Saat melesat memasuki pepohonan,
sekujur tubuhnya bergetar dari kepala sampai
kaki.
Geraman dan suara moncong dikatupkan
dengan keras berangsur-angsur lenyap. Tiba-tiba
suara itu hilang sama sekali dan jalanan langsung
lengang.
Salah satu cowok itu tertawa.
Aku menoleh dan menatapnya–mataku yang
membelalak terasa membeku, seakan-akan aku tak
bisa mengerjapkan mata.
Cowok itu sepertinya menertawakan ekspresiku.
"Well, jarang-jarang kan, kau melihat yang seperti
itu," tawanya terkekeh-kekeh. Samar-samar aku
mengenali wajahnya—lebih kurus daripada yang
lain... Embry Call.

"Kalau aku sih sudah sering," sergah cowok yang
lain, Jared, menggerutu. "Setiap hari, malah."
"Ah, Paul kan tidak setiap hari lepas kendali
seperti tadi," sergah Embry tak setuju, sambil terus
nyengir. "Mungkin dua dalam tiga kali
kesempatan."
Jared berhenti untuk memungut sesuatu yang
berwarna putih dari tanah. Ia mengacungkannya
pada Embry; benda ini menggelantung lemas di
tangannya.
"Hancur sama sekali," kata Jared. "Padahal kata
Billy, ini sepatu terakhir yang bisa dibelinya—
kurasa mulai sekarang Jacob harus bertelanjang
kaki."
"Yang satu ini selamat," kata Embry,
mengacungkan kets putih. "Jadi Jake bisa
melompat-lompat," imbuhnya sambil tertawa.
Jared mulai mengumpulkan cabikan-cabikan
kain dari tanah. "Bisa tolong ambilkan sepatu
Sam? Yang lain-lain akan langsung dibuang ke
tong sampah."
Embry menyambar sepatu-sepatu itu, lalu
berlari-lari kecil ke tempat Sam menghilang tadi.
Sejurus kemudian ia muncul lagi dengan jins
dipotong pendek tersampir di lengan. Jared
mengumpulkan cabikan-cabikan pakaian Jacob
dan Paul. Mendadak ia seperti teringat padaku.
Ia memandangiku dengan saksama, menilai.
"Hei, kau tidak mau pingsan atau muntah atau
sebangsanya, kan?" desaknya.

“Rasanya tidak,” jawabku terkesiap.
“Kau kelihatan agak pucat. Mungkin sebaiknya
kau duduk.”
“Oke,” gumamku. Untuk kedua kalinya pagi itu,
aku menyurukkan kepalaku di antara lutut.
"Jake seharusnya memperingatkan kami," keluh
Embry.
“Seharusnya dia tidak mengajak ceweknya.
Memangnya apa yang dia harapkan bakal terjadi?”
“Well, ketahuan deh kalau kita serigala," desah
Embry. "Hebat, Jake."
Aku menengadahkan wajah dan memelototi
kedua cowok yang sepertinya menganggap semua
ini masalah kecil. "Kalian sama sekali tidak
khawatir memikirkan keselamatan mereka?"
tuntutku.
Embry mengerjapkan mata satu kali, terkejut.
"Khawatir? Mengapa?"
"Bisa-bisa mereka saling melukai!"
Embry dan Jared tertawa terbahak-bahak. "Aku
justru berharap Paul berhasil menggigitnya,"
sergah Jared. "Biar tahu rasa dia."
Aku langsung pucat.
"Hah, yang benar saja!" Embry tidak sependapat.
"Kau lihat tidak Jake tadi? Begitu dilihatnya Paul
lepas kendali, dia hanya butuh waktu, berapa,
setengah detik untuk menyerang? Anak itu benarbenar
berbakat."

"Paul sudah lebih lama bertarung. Taruhan
sepuluh dolar, dia pasti berhasil meninggalkan
bekas luka di tubuh Jake."
“Taruhan diterima. Jake sangat alami. Paul tidak
bakal punya kesempatan."
Mereka bersalaman, nyengir.
Aku berusaha menghibur diri melihat sikap
mereka yang seolah tak peduli, tapi aku tak
sanggup mengenyahkan bayangan brutal serigalaserigala
yang bertarung itu dari kepala ku. Perutku
mulas, perih dan kosong, kepalaku berdenyutdenyut
karena khawatir.
"Ayo kita ke rumah Emily. Dia pasti sudah
menyiapkan makanan." Embry menunduk
memandangiku. "Keberatan tidak mengantar kami
ke sana?"
"Tidak masalah," jawabku dengan suara
tercekik.
Jared mengangkat sebelah alis. "Mungkin
sebaiknya kau saja yang nyetir, Embry. Dia masih
kelihatan seperti mau muntah."
"Ide bagus. Mana kuncinya?" Embry bertanya
padaku.
"Masih di lubangnya."
Embry membuka pintu penumpang. "Naiklah,"
katanya dengan nada riang, mengangkatku dengan
sebelah tangan dan mendudukkanku di jok mobil.
Diamatinya ruang kosong yang tersisa di kabin
depan. "Kau terpaksa duduk di bak belakang"
katanya pada Jared.

"Tidak apa-apa. Soalnya aku gampang jijik. Aku
tidak mau berada di dalam sana kalau dia muntah
nanti."
"Aku berani bertaruh dia lebih kuat daripada itu.
Dia kan bergaul dengan vampir."
“Lima dolar?" tanya Jared.
"Beres. Aku jadi merasa tidak enak, mengambil
uangmu seperti ini."
Embry naik dan menyalakan mesin sementara
Jared melompat cekatan ke bak belakang. Begitu
pintu ditutup, Embry bergumam padaku, "Jangan
muntah, oke? Aku cuma punya sepuluh dolar, dan
kalau Paul menggigit Jacob..."
"Oke." bisikku
Embry menjalankan truk. mengantar kami
kembali ke perkampungan.
"Hei. bagaimana cara Jake mengakali aturan
itu?”
"'Mengakali... apa?"
"Eh, perintah itu. Kau tahu, untuk tidak
membocorkan rahasia. Bagaimana cara dia
memberi tahu hal ini padamu?"
"Oh, itu," kataku, ingat bagaimana Jacob
berusaha keras menahan keinginan untuk
membeberkan hal sebenarnya padaku semalam.
"Dia tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa menebak
dengan benar."
Embry mengerucutkan bibir, tampak terkejut.
"Hmm. Kurasa boleh juga kalau begitu."

"Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Ke rumah Emily. Dia pacar Sam... bukan,
sekarang sudah tunangannya, kurasa. Mereka
akan menemui kami di sana setelah Sam berhasil
melerai mereka. Dan setelah Paul dan Jake
berhasil mendapat baju lagi, kalau masih ada baju
Paul yang tersisa."
"Apakah Emily tahu tentang...?"
“Yeah. Dan hei, jangan memandangi dia terus,
ya? Sam bakal marah."
Aku mengerutkan kening padanya. "Kenapa aku
ingin memandanginya terus?"
Embry tampak tidak enak hati. "Seperti yang
kaulihat barusan tadi, ada risikonya bergaul
dengan werewolf Ia buru-buru mengubah topik.
"Hei, kau tidak marah kan, soal si pengisap darah
berambut hitam yang di padang rumput itu?
Kelihatannya dia bukan temanmu, tapi..." Embry
mengangkat bahu.
"Tidak, dia bukan temanku."
"Baguslah. Kami tidak mau memulai sesuatu,
melanggar kesepakatan, kau tahu."
"Oh ya, Jake pernah bercerita tentang
kesepakatan itu, dulu sekali. Kenapa membunuh
Laurent berarti melanggar kesepakatan?”
"Laurent," Embry mengulangi, mendengus,
seolah-olah geli vampir itu memiliki nama. "Well,
teknisnya sih, kami membuat kesepakatan itu
dengan keluarga Cullen. Kami tidak boleh
menyerang salah seorang di antara mereka,

keluarga Cullen, setidaknya, di luar tanah kami—
kecuali mereka lebih dulu melanggar kesepakatan.
Kami tidak tahu si pengisap darah berambut hitam
itu kerabat mereka atau bukan. Kelihatannya kau
mengenalnya."
"Mereka melanggar kesepakatan kalau
melakukan apa?"
"Kalau mereka menggigit manusia. Jake tidak
mau menunggu sampai sejauh itu."
"Oh. Eh, trims. Aku senang kalian tidak
menunggu sampai dia menggigitku."
"Sama-sama." Embry terdengar seperti
bersungguh-sungguh.
Embry mengemudikan truk hingga melewati
rumah yang terletak paling timur di sisi jalan raya
sebelum berbelok memasuki sepotong jalan tanah
yang sempit, "Trukmu lamban,” komentarnya.
"Maaf."
Di ujung jalan tampak rumah mungil yang dulu
berwarna abu-abu. Hanya ada satu jendela sempit
di samping pintu biru yang sudah kusam dimakan
cuaca, tapi kotak jendela bawahnya penuh bunga
marigold jingga dan kuning cerah, memberi kesan
ceria pada rumah itu.
Embry membuka pintu mobil dan menghirup
udara dalam-dalam. “Mmmm, Emily sedang
memasak."
Jared melompat turun dan bak belakang dan
langsung menuju pintu, tapi Embry
menghentikannya dengan meletakkan tangan di

dadanya. Ia menatapku dengan penuh arti dan berdeham-
deham.
“Aku tidak bawa dompet," dalih Jared.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan lupa."
Mereka menaiki satu undakan dan masuk ke
rumah tanpa mengeruk pintu. Aku mengikuti
dengan malu-malu.
Ruang depan, seperti halnya rumah Billy,
sebagian besar berupa dapur. Seorang wanita
muda, berkulit sehalus satin berwarna tembaga
dan rambut lurus panjang berwarna hitam seperti
bulu gagak, berdiri di konter dekat bak cuci piring,
mengeluarkan kue-kue muffin dari loyang dan
menaruhnya di piring kertas. Sesaat aku sempat
mengira alasan Embry mengatakan padaku untuk
tidak memandanginya adalah karena gadis itu
sangat cantik.
Kemudian gadis itu bertanya, "Kalian lapar?"
dengan suara merdu mengalun, dan memalingkan
wajah sepenuhnya menghadap kami, senyum
tersungging di separuh bagian wajahnya.
Sisi kanan wajahnya dipenuhi bekas luka yang
memanjang dari batas rambut hingga ke dagu, tiga
garis merah panjang dan tebal, berwarna terang
meski luka itu sudah lama sembuh. Satu garis
menarik sisi bawah sudut matanya yang hitam dan
berbentuk kenan, garis yang lain memilin sisi
kanan mulutnya menjadi seringaian permanen.
Bersyukur karena sudah diperingatkan Embry,
aku buru-buru mengalihkan pandangan ke kueTiraikasih

kue muffin di tangannya. Baunya sangat lezat –
seperti blueberry segar.
"Oh," seru Emily, terkejut. "Siapa ini?"
Aku menengadah, berusaha memfokuskan
pandangan pada sisi kiri wajahnya.
"Bella Swan," Jared menjawab pertanyaannya
sambil mengangkat bahu. Rupanya, aku pernah
menjadi topik pembicaraan sebelum ini. "Siapa
lagi?"
"Bukan Jacob namanya kalau tidak bisa
mengakali perintah,” gumam Emily. Ia
memandangiku, dan tak satu pun dari dua bagian
wajah yang dulu cantik itu terlihat ramah. "Jadi,
kau ini si cewek vampir."
Aku mengejang. "Ya. Kalau kau cewek serigala?"
Emily tertawa, begitu pula Embry dan Jared. Sisi
kiri wajahnya berubah hangat. "Kurasa begitu." Ia
berpaling kepada Jared. "Mana Sam?"
"Bella, eh, membuat Paul kaget tadi pagi."
Emily memutar bola matanya yang tidak cacat.
"Ah, Paul," desahnya. "Kira-kira lama atau tidak?
Aku baru mau mulai memasak telur."
"Jangan khawatir," Embry menenangkan. "Kalau
mereka terlambat, kami tidak akan membiarkan
makanannya mubazir."
Emily terkekeh, lalu membuka lemari es. "Tidak
diragukan lagi," ujarnya sependapat. "Bella, kau
lapar? Silakan ambil muffin-nya."

"Trims." Aku mengambil satu dari piring dan
mulai menggigiti pinggirnya. Rasanya lezat, dan
terasa nyaman di perutku yang mual. Embry
meraih kue ketiga dan menjejalkannya ke mulut.
"Sisakan untuk saudara-saudaramu,” tegur
Emily memukul kepalanya dengan sendok kayu.
Istilah itu membuatku terajut, tapi yang lain-lain
sepertinya tidak menganggapnya aneh.
"Dasar rakus,” komentar Jared.
Aku bersandar di konter dan menonton mereka
bertiga salin, mengejek seperti keluarga. Dapur
Emily menyenangkan, cemerlang dengan rak-rak
dapur berwarna putih dan lantai papan dan kayu
berwarna pucat. Di atas meja bulat kecil, sebuah
teko porselen biru-putih yang sudah retak penuh
berisi bunga-bunga liar. Embry dan Jared terlihat
seperti di rumah sendiri di sini.
Emily mengocok telur dalam porsi sangat besar,
beberapa lusin sekaligus, di mangkuk kuning
besar. Ia menyingsingkan lengan bajunya yang
berwarna lembayung muda, dan aku bisa melihat
bekas-bekas luka membentang sepanjang lengan
hingga ke punggung tangan kanan. Bergaul dengan
werewolf memang benar-benar berisiko, tepat
seperti yang dikatakan Embry tadi.
Pintu depan terbuka, dan Sam melangkah
masuk.
"Emily," sapanya, nadanya penuh cinta hingga
aku merasa malu, sepera pengganggu, saat kulihat
Sam berjalan melintasi ruangan hanya dalam satu
langkah lebar dan merengkuh wajah Emily dengan

telapak tangannya yang lebar. Ia membungkuk dan
mengecup bekas luka gelap di pipi kanan Emily
sebelum mengecup bibirnya.
"Hei, jangan begitu dong," Jared protes. "Aku
sedang makan."
"Kalau begitu tutup mulut dan makan sajalah,"
usul Sam, mencium bibir Emily yang hancur itu
sekali lagi.
“Ugh," erang Embry.
Ini lebih parah daripada film romantis mana
pun; adegan itu begitu nyata mendendangkan
kebahagiaan, kehidupan, dan cinta sejati.
Kuletakkan muffin-ku dan kulipat kedua lenganku
di dadaku yang kosong. Kupandangi bunga-bunga
itu, berusaha mengabaikan momen intim mereka,
serta luka hatiku sendiri yang berdenyut-denyut
nyeri.
Aku bersyukur karena perhatianku kemudian
beralih pada Jacob dan Paul yang menerobos
masuk melalui pintu, shock berat karena mereka
tertawa-tawa. Kulihat Paul meninju bahu Jacob
dan Jacob membalas dengan menyikut
pinggangnya. Mereka tertawa lagi. Kelihatannya
mereka tidak kurang sesuatu apa pun.
Jacob memandang sekeliling ruangan, berhenti
begitu melihatku bersandar, canggung dan rikuh,
di konter di pojok dapur.
"Hei, Bells," ia menyapaku riang. Disambarnya
dua muffin ketika berjalan melewati meja lalu
berdiri di sampingku. "Maaf soal tadi,” gumamnya
pelan. "Bagaimana keadaanmu?"

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Muffinnya
enak" Kuambil lagi muffinya dan mulai
menggigitinya lagi. Dadaku langsung terasa lebih
enak begitu Jacob ada di sampingku.
"Oh, ya ampun!" raung Jared, menyela kami.
Aku menengadah, dan melihat Jared serta
Embry mengamati garis merah muda samar di
lengan atas Paul. Embry nyengir, girang.
"Lima belas dolar," soraknya.
"Itu gara-gara kau?" bisikku pada Jacob, teringat
taruhan mereka.
"Aku nyaris tidak menyentuhnya kok. Saat
matahari terbenam nanti lukanya pasti sudah
sembuh."
"Saat matahari terbenam?" Kupandangi garis di
lengan Paul. Aneh, tapi kelihatannya luka itu
seperti sudah berumur beberapa minggu.
“Khas werewolf,” bisik Jacob.
Aku mengangguk, berusaha untuk tidak terlihat
bingung.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Jacob
dengan suara pelan.
“Tergores pun tidak,” Ekspresinya puas.
“Hei, guys,” seru Sam dengan suara nyaring,
menyela obroli dalam ruangan kecil itu. Emily
sedang menghadap kompor mengaduk-aduk
adonan telur dalam wajan besar, tapi sebelah
tangan Sam masih memegang bagian atas

punggung Emily gerakan yang tidak disadarinya.
“Jacob punya informasi untuk kita."
Paul tidak tampak terkejut. Jacob pasti sudah
menjelaskan tentang ini padanya dan Sam. Atau...
mereka mendengar pikiran Jacob.
“Aku tahu apa yang diinginkan si rambut merah
itu." Jacob menujukan perkataannya pada Jared
dan Embry. "Itulah yang ingin kusampaikan pada
kalian sebelumnya." Ditendangnya kaki kursi yang
diduduki Paul.
"Lalu?" tanya Jared.
Wajah Jacob berubah serius. "Dia memang
berusaha membalas dendam atas kematian
pasangannya—tapi ternyata pasangannya
bukanlah si pengisap darah berambut hitam yang
kita bunuh. Keluarga Cullen membunuh
pasangannya tahun lalu, jadi sekarang dia
mengincar Bella."
Itu bukan berita baru bagiku, tapi tetap saja aku
bergidik ngeri mendengarnya.
Jared, Embry, dan Emily menatapku dengan
mulut ternganga kaget.
"Dia kan hanya gadis biasa," protes Embry.
"Aku tidak berkata itu masuk akal. Tapi itulah
sebabnya si pengisap darah berusaha menerobos
pertahanan kita. Dia berniat pergi ke Forks."
Mereka terus menatapku dengan mulut masih
terbuka lebar selama beberapa saat. Kutundukkan
kepalaku.

"Bagus sekali," kata Jared akhirnya, senyuman
mulai bermain di bibirnya. "Kita punya umpan."
Dengan kecepatan mengagumkan Jacob
menyambar pembuka kaleng dari konter dan
melemparkannya ke kepala Jared. Tangan Jared
terangkat lebih cepat daripada yang kupikir
mungkin terjadi, dan menangkapnya tepat sebelum
alat itu menghantam wajahnya.
"Bella bukan umpan."
"Kau tahu maksudku," tukas Jared, tidak
merasa malu.
"Jadi kita akan mengubah pola kita," kata Sam,
mengabaikan pertengkaran mereka. "Kita akan
mencoba meninggalkan beberapa lubang, dan
melihat apakah dia akan terperangkap di
dalamnya. Kita harus berpencar, dan aku tidak
suka itu. Tapi kalau dia memang benar-benar
mengincar Bella, dia mungkin tidak akan berusaha
memanfaatkan kekuatan kita yang terpecah."
“Quil harus segera bergabung dengan kita,"
gumam Embry. “Dengan begitu kita bisa berpencar
dalam jumlah sama besar.”
Semua menunduk. Aku melirik wajah Jacob,
dan ekspresinya tampak tak berdaya, seperti
kemarin sore, di depan rumahnya. Walaupun
sekarang mereka kelihatannya sudah bisa
menerima takdir mereka, di sini di dapur yang
ceria ini. tak seorang werewolf pun menginginkan
nasib yang sama menimpa teman mereka.
"Well, kita tidak boleh mengandalkan hal ini."
kata Sam pelan, kemudian melanjutkan kataTiraikasih

katanya dengan suara biasa. "Paul, Jared, dan
Embry akan bertugas di perimeter luar sementara
Jacob dan aku bertugas di bagian dalam. Kita akan
bersatu lagi setelah berhasil menjebaknya.”
Kulihat Emily tidak terlalu suka mendengar Sam
akan berada di kelompok yang lebih kecil.
Kekhawatirannya membuatku menengadah dan
menatap Jacob, ikut khawatir juga.
Sam menatap mataku. “Menurut Jacob,
sebaiknya kau lebih banyak menghabiskan waktu
di sini. di La Push. Dia takkan bisa menemukanmu
semudah itu. untuk berjaga-jaga."
"Bagaimana dengan Charlie?” tuntutku.
"March Madness masih berlangsung," kata
Jacob. "Kurasa Billy dan Harry bisa mengajak
Charlie ke sini bila tidak sedang bekerja."
"Tunggu.” sergah Sam. mengangkat sebelah
tangan. Ia melirik Emily sebentar, lalu melirikku.
"Menurut Jacob itulah yang terbaik, tapi kau harus
memutuskannya sendiri. Sebaiknya kau
pertimbangkan benar-benar risiko kedua pilihan
itu dengan sangat serius. Kaulihat sendiri tadi pagi
betapa mudahnya keadaan berubah menjadi
berbahaya di sini, betapa cepatnya situasi menjadi
tak terkendali. Jika kau memutuskan untuk
tinggal bersama kami, aku tak bisa menjamin
keselamatanmu."
"Aku tidak akan melukainya," gumam Jacob,
menunduk.

“Sam berlagak seolah-olah tidak mendengar
perkataannya. "Kalau ada tempat lain di mana kau
merasa aman..."
Aku menggigit bibir. Ke mana aku bisa pergi
yang tidak akan membahayakan keselamatan
orang lain? Aku bergidik ngeri membayangkan
diriku menyeret Renee ke dalam persoalan ini –
menariknya ke tengah lingkaran sasaran tembak
yang kukenakan... "Aku tidak ingin membawa
Victoria ke tempat lain,” bisikku.
Sam mengangguk. "Itu benar. Lebih baik
membawanya ke sini, tempat kita bisa
menghabisinya."
Aku tersentak. Aku tidak ingin Jacob ataupun
yang lain berusaha menghabisi Victoria. Kulirik
wajah Jacob; ekspresinya tenang, nyaris sama
seperti yang kuingat sebelum masalah serigala ini
mengemuka, dan tampak benar-benar tidak peduli
bila harus memburu vampir.
"Kau akan berhati-hati, kan?" tanyaku, menelan
ludah dengan suara keras.
Cowok-cowok terpekik karena geli. Semua
menertawakanku—kecuali Emily. Ia menatap
mataku, dan tiba-tiba aku bisa melihat
kesimetrisan di balik wajahnya yang cacat.
Wajahnya masih cantik, dan terlihat hidup dengan
keprihatinan yang bahkan lebih besar daripada
yang kurasakan. Aku terpaksa membuang muka,
sebelum cinta di balik keprihatinan itu bisa
membuat hatiku nyeri lagi.

"Makanan sudah siap," serunya kemudian, dan
pembicaraan strategis itu langsung berhenti.
Cowok-cowok itu bergegas mengitari meja—yang
tampak kecil dan terancam hancur berantakan
oleh ulah mereka—dan langsung menyikat habis
wajan ukuran prasmanan berisi telur yang
diletakkan Emily di tengah mereka dengan
kecepatan yang mampu memecahkan rekor. Emily
makan sambil bersandar di konter seperti aku—
menghindari hiruk-pikuk di meja makan—dan
mengawasi mereka dengan sorot sayang.
Ekspresinya jelas menyata kan bahwa inilah
keluarganya.
Intinya, bukan ini yang kuharapkan dari
sekawanan werewolf.
Aku menghabiskan hari itu di La Piish,
kebanyakan di rumah Billy. Ia meninggalkan pesan
di telepon Charlie dan di kantor polisi, dan saat
makan malam, Charta datang membawa dua pizza.
Untung juga ia membawa dua pizza ukuran besar;
satu dihabiskan sendiri oleh Jacob.
Kulihat Charlie mengawasi kami dengan sikap
curiga sepanjang malam, terutama Jacob yang
banyak berubah. Ia menanyakan rambutnya;
Jacob hanya mengangkat bahu dan menjawab
bahwa begini lebih nyaman.
Aku tahu begitu Charlie dan aku pulang nanti,
Jacob akan langsung berangkat—berlari-lari
sebagai serigala, seperti yang dilakukannya tanpa
henti sepanjang hari tadi. Ia dan saudarasaudaranya
melakukan semacam pengawasan
terus-menerus, mencari tanda-tanda kembalinya

Victoria. Tapi karena mereka mengejarnya dari
sumber air panas semalam—mengejarnya hingga
setengah perjalanan menuju Canada, menurut
Jacob— ia belum lagi menampakkan batang
hidungnya.
Aku sama sekali tak berharap ia bakal
menyerah. Aku tidak seberuntung itu.
Jacob mengantarku ke truk sehabis makan
malam dan berdiri terus dekat jendela, menunggu
Charlie menjalankan mobilnya lebih dulu.
"Jangan takut malam ini," pesan Jacob,
sementara Charlie pura-pura mengalami kesulitan
dengan sabuk pengamannya. "Kami ada di luar
sana, berjaga-jaga."
"Aku tidak akan mengkhawatirkan diriku
sendiri," janjiku.
"Konyol. Memburu vampir kan menyenangkan.
Ini justru bagian terbaik dari semua kekacauan
ini."
Aku menggeleng. "Kalau aku konyol, berarti kau
sinting."
Jacob terkekeh. "Istirahatlah, Bella, Sayang. Kau
kelihatan capek sekali.”
"Akan kucoba."
Charlie menekan klakson dengan sikap tidak
sabar.
“Sampai besok,” seru Jacob. “Datanglah pagipagi
sekali."
"Pasti."

Charlie mengikutiku pulang ke rumah. Aku tak
begitu memerhatikan lampu-lampu di kaca
spionku. Aku malah sibuk memikirkan di mana
Sam, Jared, Embry, dan Paul berada sekarang,
berlari-lari di kegelapan malam. Aku bertanyatanya
dalam hati apakah Jacob sudah bergabung
dengan mereka.
Sesampai di rumah, aku bergegas menuju
tangga, tapi Charlie membuntuti tepat di
belakangku.
"Sebenarnya ada apa, Bella?" tuntutnya sebelum
aku sempat meloloskan diri. "Kusangka Jacob
bergabung dengan geng dan kalian berselisih
paham."
"Kami sudah baikan."
"Dan gengnya?"
"Entahlah—siapa sih yang bisa mengerti cowokcowok
remaja? Mereka itu misterius. Tapi aku
sudah berkenalan dengan Sam Uley dan
tunangannya, Emily. Kelihatannya mereka ramah
kok." Aku mengangkat bahu. "Mungkin semua
hanya salah paham."
Wajah Charlie berubah. "Aku malah belum
dengar dia dan Emily sudah resmi bertunangan.
Baguslah kalau begitu. Gadis malang."
“Dad tahu apa yang terjadi padanya?"
"Diserang beruang, di kawasan utara sana, saat
musim salmon bertelur—kecelakaan tragis. Sudah
lebih dari setahun berlalu sejak saat itu. Dengardengar,
Sam sangat terpukul oleh kejadian itu."

"Sungguh tragis," aku menirukan. Lebih dari
setahun lalu. Aku berani bertaruh peristiwa itu
terjadi ketika baru ada satu werewolf di La Push.
Aku bergidik membayangkan perasaan Sam setiap
kali memandang wajah Emily.
Malam itu. lama sekali aku berbaring dengan
mata nyalang, mencoba memilah-milah kembali
berbagai peristiwa yang kualami seharian tadi.
Kuulangi lagi saat makan malam bersama Billy,
Jacob dan Charlie. hingga ke siang yang panjang di
rumah keluarga Black, harap-harap cemas
menunggu kabar dari Jacob, ke dapur Emily,
hingga ke kengerian yang kurasakan saat para
werewolf itu bertarung, juga saat berbicara dengan
Jacob di tepi pantai.
Aku memikirkan perkataan Jacob tadi pagi,
tentang kemunafikan. Lama sekali aku memikirkan
hal itu. Aku tidak suka menganggap diriku
munafik, tapi apa gunanya membohongi diri
sendiri?
Aku meringkuk rapat-rapat. Tidak, Edward
bukan pembunuh. Bahkan di masa lalunya yang
kelam, ia tidak pernah membunuh orang yang
tidak bersalah, paling tidak.
Tapi bagaimana kalau ia dulu pembunuh?
Bagaimana kalau, selama aku mengenalnya, ia
tidak berbeda dengan vampir-vampir lain?
Bagaimana bila saat itu banyak orang menghilang
dari hutan, seperti yang terjadi sekarang? Apakah
itu akan membuatku menjauhinya?
Aku menggeleng sedih. Cinta itu tak masuk akal,
aku mengingatkan diri sendiri. Semakin kau

mencintai seseorang, semakin pikiranmu menjadi
tidak rasional.
Aku berguling dan berusaha memikirkan hal
lain—lantas memikirkan Jacob serta saudarasaudaranya,
berlari-lari di luar sana dalam gelap.
Aku tertidur dengan benak dipenuhi bayangan
serigala, tak terlihat di malam hari, menjagaku dari
bahaya. Waktu bermimpi, aku berdiri lagi di hutan,
tapi aku tidak berkeliaran. Aku memegangi tangan
Emily yang cacat sementara kami menghadap ke
arah bayang-bayang dan dengan cemas menunggu
para werewolf kami kembali ke rumah.

15. TEKANAN
LIBURAN musim semi lagi di Forks. Saat
terbangun Senin pagi, aku berbaring di tempat
tidur beberapa detik, mencerna hal itu. Pada
liburan musim semi tahun lalu, aku juga diburu
vampir. Mudah-mudahan ini tak lantas menjadi
semacam tradisi.
Sebentar saja aku sudah terbiasa dengan pola
kehidupan di La Push. Kebanyakan aku
melewatkan hari Minggu di pantai, sementara
Charlie nongkrong dengan Billy di rumah keluarga
Black. Aku dikira sedang bersama Jacob, tapi
berhubung banyak yang harus dilakukan Jacob,
jadilah aku berkeliaran sendirian,
merahasiakannya dari Charlie.

Saat mampir untuk mengecek keadaanku, Jacob
meminta maaf karena sering meninggalkanku.
Menurutnya, jadwalnya tidak selalu segila ini. tapi
sampai Victoria bisa dihentikan, serigala-serigala
itu harus tetap waspada penuh.
Saat kami berjalan jalan menyusur tepi pantai
sekarang, Jacob selalu menggandeng tanganku.
Ini membuatku berpikir tentang komentar Jared
tempo hari, tentang Jacob yang melibatkan
“ceweknya". Kurasa memang begitulah yang
tampak dari luar. Selama Jake dan aku tahu
bagaimana status sebenarnya hubungan kami, tak
seharusnya aku membiarkan asumsi-asumsi
semacam itu mengganggu pikiranku. Dan mungkin
memang tidak akan mengganggu, kalau saja aku
tidak tahu Jacob akan sangat senang bila
hubungan kami menjadi seperti yang disangka
orang. Tapi berhubung gandengan tangannya
terasa menyenangkan karena membuat tanganku
hangat, aku pun tidak memprotes.
Aku bekerja pada hari Selasa sore—Jacob
mengikutiku dengan motornya untuk memastikan
aku sampai di sana dengan selamat—dan itu tak
luput dari perhatian Mike.
“Kau berkencan dengan cowok dari La Push itu,
ya? Yang kelas dua itu?" tanya Mike, tak mampu
menyembunyikan perasaan tak suka dalam nada
suaranya.
Aku mengangkat bahu. "Tidak dalam arti teknis.
Tapi aku memang menghabiskan sebagian besar
waktuku dengan Jacob. Dia sahabatku."

Mata Mike menyipit licik. "Jangan tipu dirimu
sendiri, Bella. Cowok itu tergila-gila padamu."
"Memang," aku mendesah. "Hidup memang
rumit."
"Dan cewek-cewek itu kejam," geram Mike pelan.
Kurasa mudah saja berasumsi demikian.
Malam itu Sam dan Emily bergabung dengan
Charlie dan aku, menikmati hidangan pencuci
mulut di rumah Billy. Emily membawa kue yang
sanggup meluluhkan hati lelaki mana pun yang
bahkan lebih keras daripada Charlie. Bisa kulihat,
melalui obrolan yang mengalir lancar mengenai
berbagai topik, bahwa kekhawatiran Charlie
tentang geng di La Push mulai mencair.
Jake dan aku menyingkir ke luar, agar lebih
leluasa mengobrol. Kami pergi ke garasinya dan
duduk di dalam Rabbit. Jacob menyandarkan
kepala, wajahnya lesu karena lelah.
"Kau butuh tidur, Jake."
"Nanti juga bisa."
Jacob mengulurkan tangan dan meraih
tanganku. Kulitnya terasa sangat panas di kulitku.
"Apakah itu juga salah satu kekhasanmu
sebagai werewolf?" tanyaku. "Tubuh yang panas,
maksudku."
"Yeah. Suhu tubuh kami memang sedikit lebih
panas daripada manusia normal. Sekitar 42-43
derajat. Aku tidak pernah kedinginan lagi. Aku bisa
tahan dalam kondisi begini"—ia mengibaskan

tangan, menunjukkan kondisinya yang
bertelanjang dada—"di tengah badai salju dan tidak
merasa apa-apa. Kepingan es langsung mencair
begitu mengenai tubuhku."
"Dan kalian semua pulih dengan cepat—itu juga
kekhasan kalian sebagai werewolf?"
"Yeah, mau lihat? Keren sekali lho." Mata Jacob
terbuka dan ia nyengir. Tangannya merogoh-rogoh
ke dalam laci mobil. Sejurus kemudian tangannya
keluar lagi, menggenggam pisau lipat.
"Tidak, aku tidak mau melihat!" teriakku begitu
menyadari apa yang ada di benak Jacob.
"Singkirkan benda itu!"
Jacob terkekeh, tapi mengembalikan pisau itu ke
tempat semula. "Baiklah. Untung juga kami cepat
pulih. Kau kan tidak bisa menemui dokter bila
suhu tubuhmu setinggi kami, karena manusia
normal pasti sudah mati.”
"Ya, benar juga." Aku memikirkan hal itu
sebentar. "Dan bertubuh sangat besar—itu juga
salah satu kekhasan kalian? Apakah karena itu
kalian semua mengkhawatirkan Quil?"
"Itu dan fakta bahwa kakek Quil mengatakan
anak itu bisa mengoreng telur di dahinya.” Wajah
Jacob memperlihatkan ekspresi tak berdaya.
Takkan lama lagi. Tidak ada batasan umur yang
tepat... pokoknya seseorang akan semakin besar
dan semakin besar lalu tiba-tiba—" Jacob
menghentikan kata-katanya dan sejurus kemudian
baru bisa bicara lagi. "Terkadang, kalau kau
merasa sangat marah atau sebangsanya, itu bisa

memicu perubahan lebih cepat. Padahal aku tidak
sedang marah mengenai sesuatu—aku malah
sedang bahagia!” Jacob tertawa getir. "Karena kau,
sebagian besar. Itulah sebabnya ini tidak terjadi
lebih cepat padaku. Malah semakin membesar
dalam diriku—membuatku jadi seperti bom waktu.
Tahukah kau apa yang memicuku jadi berubah?
Aku pulang dari nonton film dan kata Billy aku
terlihat aneh. Hanya itu, tapi aku langsung emosi.
Kemudian aku—aku meledak. Aku sampai nyaris
mengoyak-ngoyak wajahnya—ayahku sendiri!"
Jacob bergidik, wajahnya memucat.
"Separah itukah, Jake?" tanyaku waswas,
berharap aku bisa membantunya. "Apakah kau
merana?"
"Tidak, aku tidak merana," jawabnya. "Tidak lagi.
Tidak karena sekarang kau sudah tahu. Rasanya
berat sekali, sebelum ini," Ia mencondongkan
tubuhnya sehingga pipinya menempel di puncak
kepalaku.
Sejenak ia terdiam, dan aku bertanya-tanya
dalam hati apa yang sedang ia pikirkan. Mungkin
aku tak ingin mengetahuinya.
"Apa bagian yang paling sulit?" bisikku, masih
berharap bisa membantu.
"Bagian tersulit adalah merasa... tidak memiliki
kendali," jawabnya lambat-lambat. "Merasa seolaholah
aku tak yakin pada diri sendiri – seperti
misalnya kau tidak seharusnya berdekatan
denganku, bahwa tak seorang pun seharusnya
berdekatan denganku. Seolah-olah aku ini monster
yang akan mencederai orang lain. Lihat saja Emily.

Sam tak bisa menguasai amarahnya satu detik
saja... dan saat itu Emily terlalu dekat dengannya.
Dan sekarang, tak ada yang bisa ia lakukan untuk
memperbaikinya. Aku bisa mendengar pikiranpikiran
Sam – aku tahu bagaimana rasanya...
"Siapa sih yang ingin menjadi mimpi buruk,
menjadi monster?
"Kemudian, melihat betapa mudahnya aku
melakukan semua itu, bahwa aku lebih hebat
daripada mereka semua—apakah itu berarti aku
kurang manusia dibandingkan Embry atau Sam?
Kadang-kadang aku takut kehilangan diri sendiri."
"Apakah itu sulit? Menemukan dirimu lagi?"
"Awalnya," jawab Jacob. "Butuh latihan untuk
bisa berubah-ubah. Tapi lebih mudah bagiku."
"Mengapa?" tanyaku heran.
"Karena Ephraim Black kakek ayahku, dan Quil
Ateara kakek ibuku."
"Quil?" tanyaku bingung.
"Kakek buyut Billy," Jacob menjelaskan. "Quil
yang kaukenal itu sepupu jauhku."
Tapi mengapa penting sekali siapa kakek
buyutmu?"
"Karena Ephraim dan Quil tergabung dalam
kawanan terakhir. Levi Uley anggota ketiga. Jadi
aku mewarisinya dari kedua pihak. Aku tidak
mungkin bisa berkelit. Begitu juga Quil."
Ekspresi Jacob muram.

"Bagian apa yang terbaik?" tanyaku, berharap
bisa membuatnya gembira.
"Bagian terbaik." ujarnya, tiba tiba tersenyum
lagi, "adalah kecepatannya."
"Lebih cepat daripada naik motor?"
Jacob mengangguk, antusias. "Tak ada
tandingannya."
"Seberapa cepat kau bisa...?"
"Berlari?" Jacob menyelesaikan pertanyaanku.
"Lumayan cepat. Aku bisa mengukurnya dengan
apa, ya? Kami berhasil menangkap... siapa
namanya? Laurent? Aku yakin kau pasti bisa lebih
memahami hal itu dibandingkan orang lain."
Itu benar. Aku tidak bisa membayangkan hal
itu—serigala berlari lebih cepat daripada vampir.
Kalau keluarga Cullen berlari, mereka semua jadi
tak terlihat saking cepatnya.
“Nah, sekarang giliranmu menjelaskan sesuatu
yang tidak aku ketahui," kata Jacob. "Sesuatu
tentang vampir. Bagaimana kau bisa tahan,
berdekatan dengan mereka? Apakah kau tidak
takut?"
"Tidak," jawabku tajam.
Nadaku membuatnya berpikir sebentar.
"Katakan, mengapa pengisap darahmu
membunuh si James itu?" tanyanya tiba-tiba.
"James mencoba membunuhku—dia
menganggapnya permainan. Dia kalah. Ingatkah

kau musim semi lalu waktu aku masuk rumah
sakit di Phoenix?"
Jacob terkesiap kaget. "Dia sudah sedekat itu?"
"Amat, sangat dekat." Kuelus bekas lukaku.
Jacob melihatnya, karena ia memegangi tangan
yang kugerakkan.
"Apa itu?" Ia mengganti tangan, mengamati
tangan kananku. "Ini bekas lukamu yang aneh itu,
yang dingin." Diamatinya bekas itu lebih dekat,
dengan pemahaman baru, dan terkesiap.
“Ya, dugaanmu tepat," kataku.
"James menggigitku." Mata Jacob membelalak,
dan wajahnya berubah jadi kekuningan di balik
permukaannya yang cokelat kemerahan.
Tampaknya ia nyaris muntah.
"Tapi kalau dia menggigitmu...? Bukankah
seharusnya kau menjadi...?" Ia tersedak.
"Edward menyelamatkanku dua kali," bisikku.
"Dia mengisap racun itu dari dalam tubuhku—kau
tahu kan, seperti mengisap bisa ular." Aku
mengejang saat kepedihan itu melesat menjalari
pinggir lubang.
Tapi bukan aku satu-satunya yang mengejang.
Aku bisa merasakan tubuh Jacob bergetar di
sampingku. Bahkan mobil pun sampai
berguncang-guncang.
"Hati-hati, Jake. Tenang. Tenangkan dirimu."
"Yeah," ia terengah-engah. "Tenang." Ia
menggoyangkan kepalanya ke depan dan ke

belakang dengan gerak cepat. Sejurus kemudian,
hanya tangannya yang bergoyang.
"Kau baik-baik saja?"
"Yeah, hampir. Ceritakan hal lain. Beri sesuatu
yang berbeda untuk dipikirkan."
"Apa yang ingin kauketahui?"
"Entahlah." Jacob memejamkan mata,
berkonsentrasi, "Tentang kelebihan-kelebihan
mereka. Apakah ada anggota keluarga Cullen lain
yang memiliki... bakat khusus? Misalnya membaca
pikiran?"
Sejenak aku ragu. Rasanya ini pertanyaan yang
akan ditanyakan Jacob pada mata-mata, bukan
temannya. Tapi apa gunanya menyembunyikan apa
yang kuketahui? Itu toh tidak berarti apa-apa lagi
sekarang, lagi pula itu bisa membantunya
mengendalikan diri.
Maka aku pun cepat-cepat berbicara, dengan
bayangan wajah rusak Emily menghantui pikiran,
dan bulu kudukku meremang di kedua lenganku.
Tak terbayangkan olehku bagaimana bila serigala
berbulu merah-cokelat itu mendadak muncul di
dalam Rabbit ini—bisa-bisa seluruh garasi ini
porak-poranda bila Jacob berubah wujud
sekarang.
"Jasper bisa... sedikit mengendalikan emosi
orang-orang di sekitarnya. Bukan dalam arti
negatif, hanya menenangkan orang, semacam itu.
Mungkin itu akan sangat membantu Paul," aku
menambahkan, sedikit menyindir. "Sementara Alice
bisa melihat hal-hal yang akan terjadi. Masa

depan, begitulah, meski tidak persis benar. Hal-hal
yang dia lihat bisa berubah bila seseorang
mengubah jalan yang sedang mereka lalui..."
Seperti waktu dia melihatku sekarat... dan dia
melihatku menjadi seperti mereka. Dua hal yang
ternyata tidak terjadi. Dan tidak akan pernah
terjadi. Kepalaku mulai pening—rasanya aku tak
bisa mengisap cukup banyak oksigen dari udara.
Tidak ada paru-paru.
Jacob sudah bisa menguasai diri sepenuhnya,
tubuhnya diam tak bergerak di sampingku.
"Mengapa kau selalu melakukan itu?" tanyanya.
Ia menarik pelan satu lenganku, yang mendekap
dada, kemudian menyerah waktu aku bersikeras
tak mau melepaskannya. Aku bahkan tak sadar
tanganku telah mendekap dada. "Kau selalu
berbuat begitu setiap kali kau merasa sedih.
Mengapa?"
"Sakit rasanya memikirkan mereka," bisikku.
"Rasanya aku tak bisa bernapas... seolah-olah aku
pecah berkeping-keping..." Sungguh aneh betapa
banyaknya yang bisa kuungkapkan pada Jacob
sekarang. Tak ada lagi rahasia di antara kami.
Jacob mengelus-elus rambutku. "Sudahlah,
Bella, sudahlah. Aku tidak akan mengungkitnya
lagi. Maafkan aku."
"Aku tidak apa-apa." Aku terkesiap. “Itu sudah
biasa. Bukan salahmu.”
"Benar-benar pasangan yang kacau ya, kita ini?”
sergah Jacob. "Tak seorang pun di antara kita bisa
mempertahankan kondisi normal."

"Menyedihkan," aku sependapat, masih belum
bisa bernapas.
"Setidaknya kita masih memiliki satu sama lain,"
kata Jacob, jelas-jelas merasa terhibur oleh
pemikiran itu.
Aku juga merasa terhibur. "Setidaknya masih
ada itu," aku sependapat.
Dan saat kami bersama, semua baik-baik saja.
Tapi ada tugas berat dan berbahaya yang wajib
dilakukan Jacob, jadi aku lebih sering sendirian,
terkungkung di La Push demi keamananku sendiri,
tanpa kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran dari
semua kekhawatiranku.
Aku merasa canggung karena harus selalu
berada di rumah Billy. Aku belajar untuk
mempersiapkan diri menghadapi ujian Kalkulus
minggu depan, tapi baru sebentar saja aku sudah
bosan. Kalau tidak ada hal pasti yang bisa
dikerjakan, aku merasa harus berbasa-basi dengan
Billy—tekanan melakukan etika yang benar dalam
bermasyarakat. Masalahnya, Billy bukan orang
yang enak diajak ngobrol, dan jadilah
kecanggungan itu terus berlanjut.
Aku mencoba main ke rumah Emily pada hari
Rabu siang, untuk berganti suasana. Awalnya
cukup menyenangkan. Emily periang dan tidak
pernah bisa duduk diam. Aku membuntutinya
sementara ia mondar-mandir ke sana kemari di
sekeliling rumah dan halamannya yang kecil
mengosek lantai yang bersih tanpa noda,
mencabuti rumput-rumput liar, membetulkan
engsel rusak, menenun benang wol dengan alat

tenun kuno, dan selalu saja memasak. Ia mengeluh
sedikit tentang selera makan cowok-cowok itu yang
kian hari kian besar saja, tapi mudah dilihat
bahwa ia sama sekali tidak keberatan mengurus
mereka. Bukan hal sulit bergaul dengannya—
bagaimanapun, kami sama-sama cewek serigala
sekarang.
Tapi Sam datang setelah aku berada di sana
beberapa jam. Aku hanya bertahan sampai aku
memastikan Jacob baik-baik saja dan bahwa tidak
ada kabar apa-apa, dan sesudahnya aku bergegas
pergi. Sulit rasanya menelan aura cinta dan
kebahagiaan yang melingkupi mereka dalam dosis
begitu besar, tanpa kehadiran orang lain yang bisa
mengencerkannya.
Jadilah aku berkeliaran di pantai, bolak-balik
menyusuri tepi pantai yang berbatu-batu, berulang
kali.
Menghabiskan waktu sendirian berdampak
buruk bagiku. Setelah bisa bersikap jujur pada
Jacob, aku jadi terlalu banyak membicarakan dan
memikirkan keluarga Cullen. Tak peduli betapa
pun kerasnya aku mencoba mengalihkan pikiran—
padahal banyak yang harus kupikirkan: aku
benar-benar sangat khawatir memikirkan Jacob
dan saudara-saudara serigalanya, aku takut
memikirkan keselamatan Charlie dan orang-orang
lain yang mengira mereka memburu binatang aku
semakin lama semakin dekat dengan Jacob tanpa
pernah secara sadar memutuskan untuk maju ke
arah itu dan aku tak tahu bagaimana
menyikapinya—namun tak satu pun dari semua

masalah yang sangat nyata dan sangat layak untuk
dipikirkan itu sanggup mengalihkan pikiranku dari
kepedihan di dadaku untuk waktu yang lama.
Akhirnya, aku bahkan tidak sanggup berjalan lagi,
karena tak bisa bernapas. Aku duduk di sepetak
bebatuan yang agak kering dan meringkuk seperti
bola.
Jacob menemukanku dalam keadaan seperti itu,
dan kentara sekali dan ekspresinya bahwa ia
mengerti.
“Maaf,” ucapnya langsung. Ia menarikku dari
tanah dan melingkarkan kedua lengannya di
pundakku. Baru saat itulah aku sadar betapa
dingin tubuhku. Kehangatannya membuatku
bergetar, tapi setidaknya aku bisa bernapas dengan
dia di sana.
"Aku mengacaukan liburan musim semimu,"
Jacob menyalahkan diri sendiri sementara kami
berjalan lagi menyusuri pantai.
"Tidak, itu tidak benar. Aku toh tidak punya
rencana apa-apa. Lagi pula, rasanya aku tidak
suka liburan musim semi."
"Besok pagi aku bisa libur. Yang lain-lain bisa
berpatroli tanpa aku. Kita akan melakukan sesuatu
yang menyenangkan."
Kata itu terasa asing dalam kehidupanku
sekarang, nyaris tidak bisa dimengerti. Aneh.
"Menyenangkan?"
"Kau butuh bersenang-senang. Hmm..." Mata
Jacob menerawang ke ombak kelabu yang
bergulung-gulung, menimbang-nimbang. Saat

matanya menyapu cakrawala, mendadak ia
mendapat ilham.
"Aku tahu!" serunya. "Ada lagi satu janji yang
harus kutepati."
"Kau ini ngomong apa?”
Jacob melepaskan tanganku dan menuding ke
arah selatan pantai, tempat pantai yang berbentuk
bulan sabit itu berakhir di tebing-tebing laut yang
tinggi menjulang. Aku mengikuti arah pandangnya,
tak mengerti.
"Bukankah aku sudah berjanji akan
mengajakmu terjun dari tebing?"
Aku bergidik.
"Yeah, memang akan sangat dingin—tapi tidak
sedingin hari ini. Bisa kaurasakan cuaca berubah?
Tekanan udaranya? Besok pasti cuaca akan lebih
hangat. Bagaimana, kau mau?"
Air yang gelap kelihatannya tidak mengundang,
dan dilihat dari sini. Tebing-tebing itu bahkan
terlihat lebih tinggi daripada sebelumnya.
Tapi sudah berhari-hari aku tak lagi mendengar
suara Edward. Mungkin itu juga bagian dari
masalah. Aku kecanduan suara dari delusiku.
Keadaan jadi memburuk bila aku terlalu lama
tidak mendengar suara itu. Terjun dari tebing pasti
bisa memulihkan keadaan.
“Jelas tentu aku mau. Asyik."
“Kalau begitu kita kencan," kata Jacob,
menyampirkan lengannya di pundakku.

"Oke—sekarang kau harus tidur." Aku tidak
suka melihat lingkaran hitam di bawah matanya
mulai tampak terukir permanen di kulitnya.
Aku bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya
dan menyelundupkan baju ganti ke mobil.
Firasatku mengatakan Charlie tidak bakal
menyetujui rencana hari ini, sama seperti ia tidak
akan menyetujui rencana sepeda motor itu.
Gagasan melupakan sejenak semua
kekhawatiranku membuatku nyaris merasa
bersemangat. Mungkin memang akan
menyenangkan. Kencan dengan Jacob, kencan
dengan Edward... Aku tertawa pahit. Boleh saja
Jake berkata kami pasangan yang kacau—tapi
akulah sesungguhnya yang benar-benar kacau.
Aku membuat werewolf terkesan sangat normal.
Aku mengira Jacob bakal menungguku di depan
rumah, seperti yang biasa ia lakukan setiap kali
suara mesin trukku yang berisik mengabarkan
kedatanganku. Ketika dia tidak muncul aku
mengira dia masih tidur. Aku akan menunggu –
memberinya kesempatan beristirahat sebanyak
mungkin. Dia butuh istirahat, sekaligus menunggu
cuaca sedikit lebih menghangat. Perkiraan Jake
ternyata benar; cuaca berubah semalam.
Gumpalan awan tebal kini menggelantung di
atmosfer, membuat udara nyaris lembab; di bawah
"selimut" kelabu itu, hawa panas dan pengap.
Kutinggalkan sweterku di truk.
Kuketuk pintu pelan-pelan.
"Masuklah, Bella," seru Billy.

Billy duduk di meja dapur, makan sereal dingin.
"Jake tidur?"
"Eh, tidak." Billy meletakkan sendoknya, dan
alisnya bertaut.
"Ada apa?" desakku. Kentara sekali dari ekspresi
Billy bahwa sesuatu telah terjadi.
"Embry, Jared, dan Paul menemukan jejak baru
pagi-pagi sekali tadi. Sam dan Jake berangkat
untuk membantu. Sam optimis—vampir
perempuan itu terpojok di sisi pegunungan.
Menurut Sam, mereka punya peluang besar untuk
mengakhirinya."
"Oh, tidak, Billy," bisikku. "Oh, tidak."
Billy tertawa, dalam dan rendah. "Sebegitu
sukanya kau pada La Push hingga ingin
memperpanjang masa tahananmu di sini?"
"Jangan bercanda, Billy. Ini terlalu mengerikan
untuk dijadikan lelucon."
"Kau benar," Billy sependapat, masih tersenyum.
Mata tuanya mustahil dibaca. "Yang satu ini sulit
ditaklukkan.”
Aku menggigit bibir.
"Bagi mereka, ini tidak seberbahaya yang
kaukira. Sam tahu apa yang harus dilakukan. Kau
hanya perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri.
Vampir itu tidak berniat melawan mereka. Dia
hanya berusaha menghindari mereka... dan
menemukanmu."

"Bagaimana Sam tahu apa yang harus dia
lakukan?" aku, menepiskan kekhawatiran Billv
terhadap keselamatanku. “Mereka baru
membunuh satu vampir bisa jadi itu hanya
keberuntungan.”
"Kami melaksanakan tugas kami dengan sangat
serius, Bella. Tak ada yang terlupa. Semua yang
perlu mereka ketahui sudah diwariskan secara
turun-temurun selama beberapa generasi."
Keterangan itu tidak lantas membuatku merasa
lega seperti yang mungkin dimaksudkan Billy.
Ingatan tentang Victoria yang liar, garang, dan
mematikan, terlalu kuat bercokol dalam kepalaku.
Kalau ia tidak bisa menghindari para werewolf,
akhirnya ia akan berusaha menerobos pertahanan
mereka.
Billy kembali menekuni sarapannya; aku duduk
di sofa dan memindah-mindahkan saluran televisi
tanpa berniat menonton. Tapi itu tidak lama. Aku
mulai merasa terperangkap di ruangan kecil itu,
sesak, gelisah karena tak bisa melihat ke luar
jendela-jendela yang tertutup tirai.
"Aku akan ke pantai,” kataku tiba-tiba kepada
Billy, lalu bergegas ke pintu.
Berada di luar ternyata tak banyak membantu.
Awan-awan didorong ke bawah oleh beban yang
tak kasatmata hingga tidak membuat perasaan
terperangkapku mereda. Anehnya, hutan terkesan
kosong saat aku berjalan menuju pantai. Tak
terlihat olehku satu hewan pun—tidak ada burung,
tidak ada tupai. Telingaku juga tidak mendengar
kicauan burung. Keheningan itu terasa

mengerikan; bahkan desiran angin menerpa
pepohonan pun tidak ada.
Aku tahu semua itu hanya karena cuaca, namun
tetap saja aku gelisah Tekanan atmosfer yang berat
dan panas bisa dirasakan bahkan oleh pancaindra
manusiaku yang lemah, dan hal itu menandakan
bakal terjadinya badai besar. Kondisi langit
semakin menguatkan dugaanku; awan bergulunggulung
hebat padahal di daratan tak ada angin.
Awan terdekat berwarna abu-abu gelap, tapi di
sela-selanya aku bisa melihat lapisan awan lain
yang berwarna ungu gelap. Langit memiliki
rencana yang sangat dahsyat hari ini. Semua
hewan di hutan pasti sudah berlindung.
Begitu sampai di pantai, aku menyesal telah
datang ke sini—aku muak pada tempat ini. Hampir
setiap hari aku datang ke sini, berkeliaran
sendirian. Apa bedanya dengan mimpi-mimpi
burukku? Tapi mau ke mana lagi? Aku terseokseok
menghampiri driftwood, lalu duduk di
ujungnya supaya bisa bersandar di akarnya yang
saling membelit. Dengan muram aku menengadah
ke langit yang murka, menunggu tetesan hujan
pertama memecah keheningan.
Aku berusaha tidak memikirkan bahaya yang
dihadapi Jacob dan teman-temannya. Karena tidak
ada apa-apa yang bisa menimpa Jacob. Aku tak
tahan memikirkannya. Aku sudah terlalu banyak
kehilangan—apakah takdir akan merenggut sedikit
kedamaian yang masih tersisa? Sepertinya itu
tidak adil, tidak seimbang. Tapi mungkin aku telah
melanggar suatu aturan tak dikenal, melanggar

batas yang membuatku jadi terkutuk. Mungkin
salah melibatkan diri dengan mitos dan legenda,
memunggungi dunia manusia. Mungkin...
Tidak. Tidak ada apa-apa yang akan menimpa
Jacob. Aku harus meyakini hal itu atau aku
takkan bisa berfungsi.
"Argh!" Aku mengerang, lalu melompat turun
dari batang kayu. Aku tak sanggup duduk diam;
itu lebih parah daripada berjalan mondar-mandir.
Sebenarnya aku sudah berharap akan
mendengar suara Edward pagi ini. Sepertinya itu
satu-satunya hal yang membuatku bisa bertahan
melewati hari ini. Lubang di dadaku belakangan ini
mulai bernanah, seolah-olah membalas dendam
untuk waktu-waktu ketika kehadiran Jacob
menjinakkannya. Bagian pinggirnya panas
membara.
Ombak semakin menggelora saat aku berjalan,
mulai mengempas bebatuan, tapi tetap belum ada
angin. Aku merasa ditekan oleh tekanan badai.
Segalanya berpusar-pusar di sekelilingku, tapi di
tempatku berdiri, udara diam tak bergerak. Udara
menghantar gelombang listrik ringan—aku bisa
merasakan rambutku bergemerisik.
Di tengah laut, ombak lebih ganas daripada di
sepanjang tepi pantai. Kulihat gelombang
menghantam garis tebing, menyemburkan awan
putih buih laut tinggi ke angkasa. Tak ada gerakan
di udara, meski awan bergolak semakin cepat
sekarang. Kelihatannya mengerikan—seolah-olah
awan-awan itu bergerak sendiri. Aku menggigil,

walaupun tahu itu hanya karena tekanan udara
yang sangat besar.
Tebing-tebing itu menjulang bagaikan pisau
hitam di langit yang murka. Saat memandanginya,
ingatanku melayang ke hari ketika Jacob bercerita
tentang Sam dan "geng'-nya. Aku ingat bagaimana
cowok-cowok itu—para werewolf—melontarkan diri
ke angkasa. Bagaimana tubuh-tubuh itu jatuh dan
berputar-putar ke bawah masih tergambar jelas
dalam ingatanku. Aku membayangkan perasaan
bebas merdeka saat jatuh... Aku membayangkan
bagaimana suara Edward dalam pikiranku –
marah, sehalus beledu, sempurna... Panas di
dadaku semakin menjadi-jadi.
Pasti ada cara untuk memuaskan dahaga itu.
Kepedihan di dadaku semakin lama semakin tak
bisa ditolerir lagi. Kupandangi tebing-tebing serta
gelombang yang menghempas bebatuan.
Well mengapa tidak? Mengapa tidak
memuaskannya saja sekarang?
Jacob sudah berjanji akan mengajakku
melompat dan tebing, bukan? Hanya karena ia
tidak bisa menemaniku, bukan berarti aku harus
melupakan kegiatan untuk mengalihkan pikiran
yang sangat kubutuhkan ini—semakin
membutuhkannya karena saat ini Jacob sedang
mempertaruhkan nyawanya sendiri?
Mempertaruhkannya. pada intinya, demi aku.
Kalau bukan karena aku, Victoria tidak akan
membunuhi orang-orang di sini... melainkan di
tempat lain, jauh dari sini. Kalau sampai terjadi
apa-apa pada Jacob, akulah yang bersalah.

Kesadaran itu menikam hatiku dalam-dalam dan
membuatku berlari-lari kecil kembali ke jalan
menuju rumah Billy, tempat trukku berada.
Aku tahu jalan terdekat ke tebing-tebing, tapi
aku harus mencari jalan kecil yang akan
membawaku sampai ke bibir tebing. Saat
menyusuri jalan itu, aku mencari belokan atau
percabangan, karena aku tahu Jake berniat
mengajakku melompat dari pinggir tebing yang
lebih rendah, bukan dari puncaknya. Tapi jalan
kecil itu hanya berupa satu garis yang berkelokkelok
menuju bibir tebing tanpa memberikan
pilihan lain. Aku tak sempat lagi mencari jalan lain
yang mengarah ke bawah—badai bergerak semakin
cepat sekarang. Angin akhirnya mulai
menyentuhku, awan-awan menekan semakin dekat
ke tanah. Begitu sampai di tempat jalan tanah itu
melebar menuju ngarai batu, tetesan hujan
pertama jatuh dan membasahi wajahku.
Tidak sulit meyakinkan diriku bahwa aku tidak
sempat lagi mencari jalan lain—aku memang ingin
melompat dari puncak tebing. Bayangan inilah
yang bertahan di kepalaku. Aku ingin terjun bebas
yang akan terasa seperti terbang.
Aku tahu ini hal paling tolol dan paling
sembrono yang pernah kulakukan. Pikiran itu
membuatku tersenyum. Kepedihan itu mulai
mereda, seakan-akan tubuhku tahu suara Edward
beberapa detik lagi akan terdengar...
Laut terdengar sangat jauh, bahkan lebih jauh
daripada sebelumnya, waktu aku berada di jalan
setapak di tengah pepohonan. Aku meringis

membayangkan suhu air yang pasti sangat dingin.
Tapi aku takkan membiarkannya menghentikanku.
Angin bertiup semakin kencang sekarang,
membuat hujan berpusar-pusar di sekelilingku.
Aku melangkah ke pinggir tebing, mengarahkan
mata ke ruang kosong di hadapanku. Jari-jari
kakiku meraba-raba ke depan tanpa melihat,
mengusap-usap pinggir batu begitu
menemukannya. Aku menghela napas dalamdalam
dan menahannya... menunggu.
"Bella."
Aku tersenyum dan mengembuskan napas.
Ya? Aku tidak menjawab dengan suara keras,
takut suaraku akan menghancurkan ilusi indah
itu. Edward terdengar sangat nyata, sangat dekat.
Hanya bila ia merasa tidak suka seperti ini aku
bisa mendengar kenangan nyata suaranya—
teksturnya yang selembut beledu dan intonasi
musikalnya yang menjadikannya suara paling
sempurna di antara segala suara.
"Jangan lakukan ini," pintanya.
Kau yang menginginkan aku menjadi manusia,
aku mengingatkan dia. Well lihat aku sekarang.
"Please. Demi aku."
Tapi kau tidak mau tinggal bersamaku selain
dengan cara ini.
“Please.” Itu hanyalah bisikan di tengah hujan
yang tersapu angin, yang menerbangkan rambutku

dan membasah, bajuku membuat rubuhku basah
kuyup seolah-olah ini lompatan keduaku.
Aku membungkuk dan bertumpu pada jantung
kakiku.
"Jangan, Bella!" Ia marah sekarang, dan amarah
itu terasa sangat indah.
Aku tersenyum dan mengangkat kedua lenganku
lurus-lurus ke muka, seakan-akan hendak terjun,
menengadahkan wajahku ke hujan. Tapi karena
terbiasa berenang di kolam umum selama
bertahun-tahun—kaki lebih dulu, pertama kali.
Aku mencondongkan tubuh ke depan,
membungkuk agar bisa meloncat lebih jauh...
Dan aku melemparkan tubuhku dari tepi tebing.
Aku menjerit saat tubuhku melayang di udara
terbuka seperti meteor, tapi jeritanku adalah
jeritan kegembiraan, bukan takut. Angin melawan,
sia-sia berusaha melawan gravitasi yang tak bisa
dikalahkan, mendorongku dan memutar-mutar
tubuhku dalam gaya spiral bagai roket
menghunjam bumi.
Yes! Kata itu bergema di benakku begitu
tubuhku membelah permukaan air. Air terasa
seperti es, lebih dingin daripada yang kutakutkan,
namun kedinginan itu justru menambah
kenikmatan yang kurasakan.
Aku bangga pada diriku sendiri saat
menghunjam semakin dalam ke air hitam yang
membekukan. Tak sedikit pun aku merasa takut—
hanya murni adrenalin. Sungguh, terjun bebas

sama sekali tidak menakutkan. Mana
tantangannya?
Saat itulah arus air menangkapku.
Pikiranku begitu terpusat pada ukuran tebing,
pada bahaya nyata ketinggiannya yang curam,
hingga sama sekali tak memikirkan air gelap yang
menanti. Tak pernah terbayangkan olehku bahwa
bahaya sesungguhnya mengintai jauh di bawahku,
di bawah ombak yang bergulung-gulung.
Rasanya ombak seperti melawanku, melemparlemparkan
aku bolak-balik di antara mereka
seolah-olah mereka bertekad membagiku dengan
mencabik-cabik tubuhku. Aku tahu cara yang
benar menghindari air pasang-surut yang saling
bertabrakan: berenang paralel dengan garis pantai,
bukan berjuang sekuat tenaga menuju pantai. Tapi
pengetahuan itu tak banyak berguna karena aku
tidak tahu di mana letak pantai.
Aku bahkan tak tahu arah menuju permukaan.
Air yang bergolak itu hitam pekat di segala arah;
tak ada cahaya setitik pun yang bisa
membimbingku ke atas. Gravitasi sangat kuat bila
dibandingkan udara, tapi itu belum ada apaapanya
dibandingkan dengan arus ombak—aku tak
bisa merasakan tarikan ke bawah, tarikan ke arah
mana pun. Yang kurasakan hanya arus yang
begitu kuat membuatku berputar-putar terus
seperti boneka kain.
Aku berusaha keras menahan napas, mengunci
bibir rapat-rapat untuk mempertahankan
persediaan oksigen terakhir yang masih tersisa.

Tak mengherankan bila delusiku menghadirkan
Edward di sana. Sudah sepantasnya, mengingat
sebentar lagi aku bakal mati. Aku justru heran
menyadari betapa pastinya pengetahuan itu. Aku
akan tenggelam. Aku sedang tenggelam.
"Berenanglah terus!" Edward memohon dengan
panik dalam pikiranku.
Ke mana? Tidak ada apa-apa kecuali kegelapan.
Tidak ada tempat ke mana aku bisa berenang.
“Hentikan itu!” perintahnya. “Jangan beraniberani
menyerah!”
Air yang dingin membuat lengan dan kakiku
mati rasa. Aku tak lagi merasakan pukulan
bertubi-tubi seperti tadi. Yang kurasakan sekarang
hanya pusing, berpusar-pusar tak berdaya di
dalam air.
Tapi aku mendengarkan kata-katanya. Kupaksa
kedua lenganku untuk terus menggapai-gapai,
kakiku untuk menendang lebih kuat, meski setiap
detik aku dihadapkan pada arah yang baru. Gawat.
Apa gunanya?
"Berjuang!" teriaknya. "Sialan, Bella, berjuanglah
terus."
Kenapa?
Aku tidak ingin berjuang lagi. Dan bukan karena
kepalaku terasa ringan, atau karena kedinginan,
atau karena otot-otot lenganku gagal berfungsi
karena kelelahan, yang membuatku merasa cukup
senang berada di tempatku sekarang. Aku nyaris
bahagia karena semua akan berakhir. Ini kematian

yang lebih mudah daripada kematian-kematian
lain yang pernah kuhadapi. Kedamaian yang ganjil.
Aku sempat berpikir tentang hal-hal klise,
tentang bagaimana kau seharusnya melihat
kembali sekilas perjalanan hidupmu. Ternyata aku
jauh lebih beruntung. Siapa pula yang ingin
melihat pemutaran ulang?
Aku melihat dia, dan aku tidak ingin lagi
berjuang. Begitu jelas, jauh lebih nyata daripada
kenangan mana pun. Alam bawah sadarku
menyimpan kenangan akan Edward dalam detail
sempurna, menyimpannya untuk momen terakhir
ini. Aku bisa melihat wajahnya yang sempurna
seolah-olah ia benar-benar di sana; kulitnya yang
sedingin es dalam nuansa warna yang tepat,
bentuk bibirnya, garis dagunya, kilatan emas di
matanya yang berapi-api. Wajar saja ia marah,
karena aku menyerah. Rahangnya terkatup rapat
dan cuping hidungnya kembang-kempis oleh
amarah.
"Tidak! Bella, tidak!"
Telingaku dibanjiri air yang membekukan, tapi
suaranya terdengar lebih jelas daripada biasa. Aku
mengabaikan kata-katanya dan berkonsentrasi
mendengarkan suaranya. Untuk apa berjuang jika
aku sudah merasa sangat bahagia dalam
keadaanku sekarang ini? Bahkan saat paruparuku
seperti dibakar karena membutuhkan
asupan udara dan kakiku kejang karena air yang
sedingin es, aku justru merasa bahagia. Aku sudah
lupa bagaimana rasanya kebahagiaan yang
sesungguhnya.

Kebahagiaan. Itu membuat kematian jadi bisa
dihadapi dengan lapang dada.
Arus menang saat itu, mendorongku dengan
kasar membentur sesuatu yang keras, batu yang
tak kelihatan dalam gelap. Benda itu
menghantamku dengan keras di bagian dada,
membenturku seperti batang besi, dan udara
melesat keluar dari paru-paruku, meledak dalam
bentuk gumpalan gelembung perak tebal. Batang
besi itu seperti menyeretku, menarikku menjauhi
Edward, semakin dalam ke dasar samudra yang
gelap.
Selamat tinggal, aku cinta padamu, adalah hal
terakhir yang kupikirkan.

16. PARIS
SAAT itulah kepalaku menyembul ke
permukaan.
Sungguh membingungkan. Padahal aku yakin
aku tenggelam.
Arus tak mau menyerah begitu saja. Gelombang
menghantamku lagi ke bebatuan; batu-batu itu
memukul bagian tengah punggungku dengan
keras, berirama, mendorong air keluar dari paruparuku.
Air menggerojok keluar dalam volume
mengagumkan, mengucur deras dari mulut dan
hidungku. Garam terasa panas membakar dan
paru-paruku terbakar, dan kerongkonganku
dipenuhi air hingga aku tak bisa menarik napas

dan batu-batu itu menyakiti punggungku. Entah
bagaimana aku bisa bertahan di satu tempat,
padahal ombak masih menggelora di sekelilingku.
Aku tak bisa melihat apa-apa kecuali air di manamana,
menggapai wajahku.
"Bernapaslah!" sebuah suara, penuh kepanikan,
memerintahkan, dan aku merasa hariku bagai
tertusuk pedih waktu mengenali suara itu—karena
itu bukan suara Edward.
Aku tak bisa mematuhinya. Air terjun yang
menggerojok deras dari mulutku tidak memberiku
kesempatan untuk menarik napas. Air hitam
sedingin es memenuhi dadaku, membuatnya
seperti terbakar.
Batu itu kembali menghantam punggungku,
tepat di antara
tulang bahu, dan air kembali terdorong keluar
dari paru, paruku.
"Bernapaslah, Bella! Ayolah!" Jacob memohonmohon.
Bintik-bintik hitam bermunculan dalam
pandanganku, semakin lebar dan semakin lebar,
menghalangi cahaya. Batu itu menghantamku lagi.
Batu itu tidak dingin seperti air; rasanya justru
panas di kulitku. Sadarlah aku bahwa itu tangan
Jacob, berusaha mengeluarkan air dari paruparuku.
Batang besi yang menyeretku dari laut
juga... hangat... Kepalaku berputar, bintik-bintik
hitam tadi menutupi segalanya...
Apakah itu berarti aku sekarat lagi? Aku tidak
suka—rasanya tidak seindah tadi. Sekarang hanya

ada kegelapan, tidak ada yang bisa dilihat di sini.
Deburan ombak mereda dalam kegelapan dan
hilang sama sekali, bahkan suara wuss yang mirip
ombak justru datang dari bagian dalam telingaku...
"Bella?" panggil Jacob, suaranya masih tegang,
tapi tak sepanik sebelumnya. "Bells, Sayang, kau
bisa mendengarku?"
Isi kepalaku berputar dan berguling memualkan,
seolah-olah bergabung dengan air yang bergolak...
"Sudah berapa lama dia tidak sadar?" tanya
seseorang.
Suara yang bukan suara Jacob membuatku
terguncang, menyentakkanku ke kesadaran yang
lebih terfokus.
Sadarlah aku bahwa aku diam tak bergerak. Tak
ada arus yang menarik-narik tubuhku –
pergolakan itu hanya ada dalam kepalaku.
Permukaan di bawahku datar dan tak bergerak.
Rasanya kasar di bawah lenganku yang telanjang.
"Entahlah," jawab Jacob, masih terdengar kalut.
Suaranya sangat dekat. Tangan-tangan itu—begitu
hangat hingga itu pasti tangannya—menyingkirkan
rambut-rambut basah dari pipiku. "Beberapa
menit? Tidak butuh waktu lama menariknya ke
pantai."
Suara wuss pelan di dalam telingaku bukanlah
suara ombak—melainkan udara yang keluarmasuk
paru-paruku lagi. Setiap tarikan napas
terasa panas—saluran napasku lecet, seperti habis
disikat dengan wol baja. Tapi aku bernapas.

Dan aku membeku kedinginan. Ribuan butiran
tajam sedingin es menghunjam wajah dan
lenganku, membuat perasaan kedinginan itu
semakin menjadi-jadi.
"Dia masih bernapas. Sebentar lagi dia pasti
siuman. Tapi usahakan agar dia tidak kedinginan.
Aku tidak suka melihat warna wajahnya..." Kali ini
aku mengenali suara Sam.
"Menurutmu tidak apa-apa bila kita
memindahkannya?"
"Punggungnya tidak cedera kan, waktu dia
jatuh?"
"Entahlah."
Mereka ragu-ragu.
Aku berusaha membuka mata. Butuh waktu
cukup lama, tapi kemudian aku bisa melihat awanawan
ungu gelap yang menghujamku dengan
hujan yang dingin membekukan. "Jake?" panggilku
dengan suara serak.
Wajah Jacob menghalangi langit. "Oh!" serunya,
ekspresi lega menyaput wajahnya. Matanya basah
oleh hujan. "Oh, Bella! Kau baik-baik saja? Kau
bisa mendengarku, tidak? Ada yang sakit?"
"H-hanya t-tenggorokanku," jawabku terbatabata,
bibirku gemetar kedinginan.
"Ayo, kami akan membawamu pergi dari sini,"
kata Jacob. Ia menyelipkan kedua lengannya di
bawah tubuhku dan mengangkatku dengan mudah
sekali—seperti mengangkat kardus kosong saja.
Dadanya telanjang dan hangat; ia merundukkan

bahu untuk melindungiku dari hujan. Kepalaku
terkulai di atas lengannya. Aku memandang
kosong ke laut yang menggelora, memukuli pasir di
belakangnya.
“Bisa?" kudengar Sam bertanya.
"Ya, akan kuurus sendiri mulai sekarang.
Kembalilah ke rumah sakit. Aku akan menyusulmu
nanti. Trims, Sam."
Kepalaku masih berputar-putar. Tak satu pun
perkataan Jacob yang bisa kucerna pada awalnya.
Sam tidak menyahut. Tidak ada suara, dan aku
bertanya-tanya dalam hati apakah ia sudah pergi.
Air menjilat dan menjulur jauh memasuki
pantai, mengejar kami sementara Jacob
membopongku pergi, seolah-olah marah karena
aku lolos. Saat aku memandang dengan letih,
mataku yang tidak fokus menangkap secercah
warna—seberkas api kecil menari di air yang gelap,
nun jauh di teluk. Gambaran itu tak masuk akal,
dan aku bertanya-tanya seberapa sadar diriku
sesungguhnya. Kepalaku berputar-putar
mengenang air hitam yang bergolak—kehilangan
orientasi hingga tak tahu mana arah naik dan
mana turun. Begitu tersesat... tapi entah
bagaimana Jacob...
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanyaku
parau.
“Aku memang mencarimu," jawabnya. Ia separo
berlari menembus hujan, menjauhi pantai menuju
ke jalan. "Aku mengikuti jejak ban mobilmu,
kemudian aku mendengarmu menjerit..." Jacob

bergidik. "Mengapa kau nekat terjun, Bella?
Apakah tidak kaulihat sebentar lagi bakal badai?
Apakah kau tidak bisa menungguku?" Nadanya
dipenuhi amarah setelah kelegaan kini memudar.
"Maaf," gumamku. "Itu tadi memang tolol."
"Yeah, itu tadi benar-benar tolol," Jacob
sependapat, tetesan air hujan berjatuhan dari
rambutnya saat ia mengangguk. "Dengar, bisa
tidak kausimpan dulu hal-hal tolol itu sampai ada
aku? Aku takkan bisa berkonsentrasi kalau kukira
kau bakal terjun dari tebing tanpa
sepengetahuanku."
"Tentu," sahutku setuju. "Bukan masalah." Aku
terdengar seperti perokok berat. Aku berusaha
membersihkan tenggorokkan—kemudian meringis;
saat membersihkan tenggorokkan, rasanya seperti
ditusuk pisau di sana. "Apa yang terjadi hari ini?
Kau berhasil... menemukannya?" Sekarang ganti
aku yang bergidik, walaupun aku tidak begitu
kedinginan, menempel di tubuh Jacob yang
panasnya tidak normal itu.
Jacob menggeleng. Ia masih terus berlari-lari
kecil menyusuri jalan menuju ke rumahnya.
"Tidak. Dia kabur ke arah laut—lebih
menguntungkan bagi para pengisap darah itu di
sana. Itulah sebabnya aku langsung bergegas
pulang—aku takut dia akan menduluiku berenang
ke sini. Kau begitu sering berada di pantai..." Suara
Jacob menghilang, terkesiap.
"Sam kembali bersamamu... jadi semua juga
sudah pulang?" Aku berharap mereka sudah tidak
lagi berada di luar dan mencarinya.

“Yeah. Semacam itulah."
Aku mencoba membaca ekspresinya,
menyapitkan mata melawan hujan yang menderas.
Sorot matanya tegang oleh kecemasan atau
kesedihan.
Kata-kata yang tadi tak bisa kucerna mendadak
langsung kupahami. "Kau tadi mengatakan...
rumah sakit. Sebelum ini, pada Sam. Apakah ada
yang terluka? Apakah dia melawan kalian?"
Suaraku melompat satu oktaf, terdengar aneh
karena parau.
"Tidak, tidak. Waktu kami kembali, Em sudah
menunggu hendak menyampaikan kabar. Tentang
Harry Clearwater. Tadi pagi Harry terkena serangan
jantung."
"Harry?” Aku menggeleng, berusaha mencerna
perkataannya. "Oh, tidak! Charlie sudah tahu?"
"Yeah. Dia juga di sana, bersama ayahku."
"Apakah Harry akan bertahan?"
Mata Jacob kembali mengejang. "Sekarang ini
kondisinya tidak begitu bagus."
Seketika itu juga aku merasa sangat bersalah—
merasa benar-benar tidak enak telah dengan
sembrono terjun dari tebing. Tak seharusnya
semua orang mengkhawatirkanku sekarang.
Sungguh waktu yang sangat tidak tepat untuk
melakukan hal ceroboh.
"Apa yang bisa kulakukan?" tanyaku.

Saat itulah hujan berhenti. Aku tidak sadar kami
sudah sampai di rumah Jacob sampai ia berjalan
melewati pintu. Badai menghantam atap.
"Kau bisa menunggu di sini" jawab Jacob sambil
menurunkanku ke sofa pendek. "Aku bersungguhsungguh,
Bella—tepat di sini. Akan kuambilkan
pakaian kering."
Kubiarkan mataku menyesuaikan diri dengan
ruangan yang gelap sementara Jacob sibuk
mencari-cari di kamarnya. Ruang depan yang
sempit terasa sangat kosong tanpa Billy, nyaris
menyedihkan. Anehnya, suasana terasa
mengerikan—mungkin itu hanya karena aku tahu
ia sedang di mana.
Sebentar Jacob sudah kembali. Ia melemparkan
setumpuk baju katun berwarna abu-abu. "Pasti
kebesaran untukmu, tapi itu yang terbaik yang
kupunya. Aku akan, eh, keluar sebentar supaya
kau bisa berganti baju."
"Jangan ke mana-mana. Aku masih terlalu lelah
untuk bergerak. Temani saja aku."
Jacob duduk di lantai di sebelahku,
punggungnya bersandar di sofa. Aku penasaran
kapan terakhir kali ia tidur. Ia tampak letih yang
kurasakan.
Jacob membaringkan kepalanya di bantal di
sebelahku dan menguap. "Kurasa aku bisa
istirahat sebentar..."
Matanya terpejam. Kubiarkan mataku terpejam
juga.

Kasihan Harry. Kasihan Sue. Aku tahu Charlie
pasti sangat kalut. Harry sahabatnya. Meskipun
Jake tadi merasa sangsi, aku justru sangat
berharap Harry bisa sembuh kembali. Demi
Charlie. Demi Sue, Leah, dan Seth...
Sofa Billy letaknya persis di sebelah radiator, jadi
aku merasa hangat sekarang, meskipun pakaianku
basah kuyup. Paru-paruku yang sakit
mendorongku ke keadaan tidak sadar, bukan
malah membuatku terus terjaga. Samar-samar aku
sempat berpikir apakah aku boleh tidur... atau aku
mencampuradukkan tenggelam dengan gegar
otak...? Jacob mulai mendengkur pelan, dan
dengkurannya menenangkanku seperti ninabobo.
Dengan cepat aku tertidur.
Untuk pertama kali dalam kurun waktu sangat
lama, mimpiku sama seperti mimpi-mimpi normal
lainnya. Hanya berkeliaran dalam ingatan samar
ke kenangan-kenangan lama— melihat matahari
kota Phoenix yang teriknya membutakan, wajah
ibuku, rumah pohon bobrok, selimut quilt kusam,
dinding kaca, api di air yang gelap... aku langsung
lupa pada gambaran yang satu begitu gambaran
yang lain muncul.
Gambaran terakhir adalah satu-satunya yang
bertahan dalam ingatanku. Tidak berarti apa-apa—
hanya dekorasi di sebuah panggung. Sebuah
balkon di waktu malam, dengan lukisan bulan
purnama menggantung di langit. Kulihat seorang
gadis bergaun tidur mencondongkan tubuh di birai
balkon dan berbicara sendiri.

Tidak berarti apa-apa... tapi ketika lambat laun
kesadaranku pulih, nama Juliet muncul dalam
benakku.
Jacob masih tidur; ia merosot ke lantai, tarikan
napasnya dalam dan teratur. Suasana rumah lebih
gelap daripada sebelumnya, di luar jendela gelap
gulita. Tubuhku kaku, tapi hangat dan hampir
kering. Bagian dalam tenggorokanku bagai dibakar
setiap kali aku menarik napas.
Aku harus bangkit—setidaknya untuk minum.
Tapi tubuhku ingin terus berbaring di sini, tidak
pernah bergerak lagi.
Alih-alih bergerak, aku malah memikirkan Juliet
lagi.
Aku bertanya-tanya dalam hari, apa yang akan
ia lakukan seandainya Romeo meninggalkannya,
bukan karena dilarang menemuinya, tapi karena
kehilangan minat? Bagaimana seandainya Rosalind
memberinya kesempatan, dan Romeo berubah
pikiran? Bagaimana seandainya, alih-alih menikahi
Juliet, Romeo justru menghilang?
Kurasa aku tahu bagaimana perasaan Juliet.
Juliet pasti takkan kembali ke kehidupan
lamanya, tidak terlalu. Ia tidak mungkin
melanjutkan hidup, aku yakin itu. Bahkan
seandainya ia hidup sampai tua dan keriput, setiap
kali memejamkan mata, wajah Romeo-lah yang
akan selalu terbayang. Ia akan menerima
kenyataan itu, pada akhirnya.
Aku bertanya-tanya apakah akhirnya Juliet akan
menikah dengan Paris, hanya untuk

membahagiakan orangtuanya, demi menjaga
ketenangan. Tidak, mungkin tidak, aku
memutuskan. Tapi kisah itu memang tak banyak
bercerita tentang Paris. Ia hanya peran pembantu tempelan,
ancaman, tenggat waktu untuk
memaksa Juliet.
Bagaimana seandainya peran Paris lebih dari
itu?
Bagaimana seandainya Paris teman Juliet?
Sahabatnya? Bagaimana seandainya Paris satusatunya
orang kepada siapa Juliet bisa
mencurahkan keluh kesahnya tentang hubungan
cintanya yang gagal dengan Romeo? Satu-satunya
orang yang benar-benar memahami Juliet dan
membuatnya merasa seperti manusia normal lagi?
Bagaimana seandainya Paris itu sabar dan baik?
Menjaganya baik-baik? Bagaimana seandainya
Juliet tahu ia tak mungkin bisa bertahan tanpa
Paris? Bagaimana kalau Paris benar-benar
mencintai Juliet dan ingin agar ia bahagia?
Dan... bagaimana bila Juliet mencintai Paris?
Tidak sebesar cintanya pada Romeo. Sama sekali
tidak seperti itu. tentu saja. Tapi cukup sampai
Juliet ingin agar Paris bahagia juga?
Desah napas Jacob yang lambat dan dalam
adalah satu-satunya suara di ruangan itu—seperti
ninabobo yang digumamkan pada seorang anak,
seperti desir suara kursi goyang, seperti detak
jarum jam tua di saat kau tidak perlu pergi ke
mana-mana... Pendek kata, suara yang membawa
kedamaian.

Seandainya Romeo benar-benar pergi, tak
pernah kembali lagi, adakah bedanya seandainya
Juliet menerima tawaran Paris atau tidak?
Mungkin seharusnya Juliet mencoba mengais
kembali kepingan-kepingan hidupnya yang masih
tersisa. Mungkin itulah hal yang paling mendekati
kebahagiaan yang bisa diraihnya.
Aku mendesah, lalu mengerang saat desahan itu
menggesek tenggorokanku. Aku terlalu jauh
menghayati kisah itu. Romeo takkan mungkin
berubah pikiran. Itulah sebabnya orang-orang
masih mengenang namanya, selalu dikaitkan
dengan nama kekasihnya: Romeo dan Juliet. Itulah
sebabnya kisah itu indah. "Juliet dicampakkan dan
akhirnya bersanding dengan Paris" tidak akan
pernah menjadi hit.
Aku memejamkan mata dan kembali terlena,
membiarkan pikiranku berkelana meninggalkan
drama tolol yang tak i kupikirkan lagi. Aku malah
memikirkan kenyataan—bagaimana aku terjun dari
tebing serta bagaimana itu merupakan kesalahan
yang sangat tolol. Dan bukan hanya lompat tebing,
tapi juga sepeda motor dan ulahku yang tidak
bertanggung jawab, yang ingin menjadi seperti Evel
Knievel. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk
menimpaku? Apa akibatnya bagi Charlie? Serangan
jantung yang menimpa Harry mendadak
menempatkan segala sesuatu ke dalam perspektif
yang benar. Perspektif yang tak ingin kulihat,
karena—bila aku mengakui kebenarannya—itu
berarti aku harus mengubah cara-caraku. Bisakah
aku hidup seperti itu?

Mungkin. Itu takkan mudah; faktanya, justru
akan sangat menyedihkan jika aku harus
mengenyahkan halusinasiku dan berusaha
bersikap dewasa. Tapi mungkin sebaiknya aku
melakukannya. Dan mungkin aku bisa. Kalau ada
Jacob.
Aku tidak bisa memutuskannya sekarang. Itu
terlalu menyakitkan. Lebih baik aku memikirkan
hal lain saja.
Bayangan-bayangan dari ulah cerobohku sore
tadi berkecamuk dalam pikiranku sementara aku
mencoba membayangkan hal yang menyenangkan
untuk dipikirkan... desir angin saat aku jatuh, air
yang hitam pekat, tarikan arus... wajah Edward...
aku memikirkannya lama sekali. Tangan Jacob
yang hangat memukul-mukul punggungku,
berusaha membuatku kembali bernapas... tetesan
hujan yang tajam yang dicurahkan awan-awan
ungu... api aneh di antara ombak...
Ada sesuatu yang familier tentang secercah
warna di air itu. Tentu saja itu tak mungkin api—
Pikiranku terputus oleh suara ban mobil
melindas lumpur dijalan di luar Kudengar mobil itu
berhenti di depan rumah, disusul kemudian
dengan suara pintu-pintu dibuka dan ditutup.
Terpikir olehku untuk bangkit dan duduk, tapi
kemudian mengurungkan niatku.
Mudah saja mengenali suara Billy. namun tidak
seperti biasa, ia berbicara dengan nada sangat
rendah, hingga hanya terdengar seperti gumaman
serak.

Pintu terbuka, lampu menyala. Aku mengerjapngerjapkan
mata, buta sesaat. Jake tersentak
bangun, terkesiap dan melompat berdiri.
"Maaf," geram Billy. "Kami membangunkan
kalian, ya?"
Pelan-pelan mataku terfokus pada wajahnya,
kemudian, begitu bisa membaca ekspresinya, air
mataku langsung merebak.
"Oh, tidak, Billy!" erangku.
Billy mengangguk pelan, ekspresinya keras oleh
dukacita. Jake bergegas menghampiri ayahnya dan
meraih satu tangannya. Kesedihan membuat
wajahnya tiba-tiba terlihat seperti anak kecil—
tampak aneh di tubuhnya yang dewasa.
Sam berdiri tepat di belakang Billy, mendorong
kursi rodanya melewati pintu. Pembawaan
normalnya yang tenang tak terlihat di wajahnya
yang pilu.
"Aku ikut sedih," bisikku.
Billy mengangguk. "Semua merasa kehilangan."
"Mana Charlie?"
"Ayahmu masih di rumah sakit bersama Sue.
Banyak... yang harus diurus."
Aku menelan ludah susah payah.
"Sebaiknya aku segera kembali ke sana," gumam
Sam, lalu cepat-cepat merunduk keluar dari pintu.
Billy menarik tangannya dari genggaman Jacob,
lalu menggelindingkan kursi rodanya melintasi
dapur menuju kamarnya.

Jake mengawasi kepergiannya sebentar, lalu
duduk lagi di lantai di sampingku. Ia menutup
wajahnya dengan kedua tangan. Kugosok-gosok
bahunya, berharap tahu harus bilang apa.
Lama kemudian baru Jacob meraih tanganku
dan menempelkannya di wajah.
“Bagaimana perasaanmu? Kau baik-baik saja?
Mungkin seharusnya aku membawamu ke dokter
atau sebangsanya." Jacob mendesah.
"Tak perlu mencemaskan aku," kataku parau. Ia
berpaling menatapku. Ada lingkaran merah di
matanya. "Kau kelihatan payah."
"Aku memang agak kepayahan."
"Aku akan mengambil trukmu kemudian
mengantarmu pulang—mungkin sebaiknya kau
sudah di rumah kalau Charlie pulang nanti."
"Benar.”
Aku berbaring lunglai di sofa sambil menunggu.
Billy tinggal di dalam kamar. Aku risi karena
keberadaanku mengganggu tuan rumah yang ingin
menyendiri dalam dukacitanya.
Tak lama kemudian Jake kembali. Raungan
mesin trukku memecah keheningan sebelum aku
mengharapkannya. Tanpa berkata apa-apa Jacob
membantuku berdiri dari sofa, merangkul
pundakku ketika hawa dingin di luar membuat
tubuhku menggigil Tanpa bertanya lagi ia langsung
duduk di balik kemudi, kemudian mendekapku
rapat-rapat di sampingnya. Aku membaringkan
kepalaku di dadanya.

“Bagaimana caramu pulang nanti?" tanyaku.
"Aku tidak akan pulang. Kami kan belum
berhasil menangkap si pengisap darah itu, ingat?"
Tubuhku bergidik, bukan karena kedinginan.
Sesudah itu kami lebih banyak berdiam diri.
Hawa dingin membuatku terjaga. Pikiranku awas,
dan otakku bekerja sangat keras dan sangat cepat.
Bagaimana seandainya? Tindakan tepat apa
yang harus kulakukan?
Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa
Jacob sekarang—berusaha membayangkannya saja
sudah membuatku ngeri. Bagaimanapun, ia telah
menjadi bagian esensial yang membuatku bertahan
hidup. Tapi membiarkan keadaan seperti apa
adanya... apakah itu kejam, seperti yang
dituduhkan Mike?
Aku ingat pernah berharap Jacob itu saudara
lelakiku. Aku sadar sekarang, yang kuinginkan
sebenarnya adalah mengklaimnya sebagai milikku.
Rasanya seperti bukan saudara bila ia memelukku
seperti ini. Pelukannya menyenangkan—hangat,
nyaman, dan familier. Aman. Jacob adalah
pelabuhan yang aman.
Aku bisa mengklaimnya. Hal itu ada dalam
jangkauanku.
Aku harus menceritakan semua padanya, aku
tahu itu. Hanya itu satu-satunya cara bersikap
adil. Aku harus menjelaskannya dengan benar,
supaya ia tahu aku bukannya membuka lembaran
baru, bahwa ia terlalu baik bagiku. Ia sudah tahu

aku hancur, bagian itu tidak akan membuatnya
terkejut, tapi ia harus tahu seberapa parah
kerusakannya. Aku bahkan harus mengakui
bahwa aku gila—menjelaskan tentang suara-suara
yang kudengar. Ia perlu mengetahui segalanya
sebelum mengambil keputusan.
Tapi, bahkan saat aku menyadari pentingnya
kejujuran itu, aku tahu Jacob akan menerimaku
apa adanya. Ia bahkan tidak akan berpikir-pikir
lagi.
Aku harus berkomitmen dalam hal ini—
berkomitmen sebanyak yang masih tersisa dalam
diriku, memberikan setiap kepingan yang tersisa.
Itu satu-satunya cara bersikap adil padanya.
Maukah aku? Bisakah?
Salahkah berusaha membuat Jacob bahagia?
Bahkan seandainya cinta yang kurasakan padanya
tak lebih dari gema lemah dari apa yang dulu bisa
kulakukan, walaupun hatiku jauh dari sini,
berkelana dan menangisi Romeo-ku yang phinplan,
apakah itu salah?
Jacob menghentikan trukku di depan rumahku
yang gelap gulita, mematikan mesin hingga
kesunyian tiba-tiba menyergap. Seperti yang
sudah-sudah, tampaknya ia bisa memahami jalan
pikiranku sekarang.
Jacob mengulurkan lengannya yang lain untuk
memelukku, meremukkanku ke dadanya,
mendekapku erat-erat. Lagi-lagi, rasanya
menyenangkan. Nyaris seperti manusia utuh lagi.

Kukira Jacob pasti memikirkan Harry, tapi
kemudian saat berbicara, nadanya meminta maaf.
"Maaf. Aku tahu kau tidak merasa seperti yang
kurasakan, Bells. Sumpah aku tidak keberatan.
Aku hanya senang kau tidak keberatan aku bisa
bernyanyi—padahal itu bukan nyanyian yang ingin
didengar orang." Jacob mengumandangkan tawa
sengaunya di telingaku.
Napasku melejit satu tingkat, mengamplas
dinding-dinding tenggorokanku.
Tidak mungkinkah Edward, meski terkesan tidak
peduli, ingin agar aku bahagia? Tidakkah masih
tersisa sedikit perasaan sayang sebagai teman
dalam dirinya untuk menginginkan itu bagiku?
Kurasa pasti masih. Edward tidak mungkin marah
padaku karena hal ini: memberikan secuil cinta
yang tidak ia inginkan pada temanku Jacob. Lagi
pula, itu bukan cinta yang sama.
Jake menempelkan pipinya yang hangat ke
puncak kepalaku.
Jika aku memalingkan wajahku ke samping—
jika aku menempelkan bibirku ke bahunya yang
telanjang... aku tahu benar apa yang akan terjadi
selanjutnya. Mudah sekali. Tidak perlu ada
penjelasan apa-apa malam ini.
Tapi bisakah aku melakukannya? Mampukah
aku mengkhianati hatiku yang hampa demi
menyelamatkan hidupku yang menyedihkan?
Kupu-kupu menggelepar dalam perutku saat
aku berpikir untuk memalingkan kepala.

Kemudian, sama jelasnya seperti bila aku berada
dalam bahaya besar, suara Edward yang sehalus
beledu berbisik di telingaku.
"Berbahagialah," katanya.
Aku langsung membeku.
Jacob merasakan tubuhku mengejang dan
otomatis melepaskan pelukannya, menggapai ke
pintu.
Tunggu, aku ingin berseru. Tunggu sebentar.
Tapi aku masih terpaku di tempat, mendengarkan
gema suara Edward dalam kepalaku.
Udara yang dingin oleh badai berembus masuk
ke truk.
"OH!" Napas Jacob tersentak keluar, seolah-olah
seseorang meninju perutnya. "Sialan!”
Jacob membanting pintu dan memutar kunci
mobil pada saat bersamaan. Kedua tangannya
gemetar sangat hebat hingga aku tak tahu
bagaimana ia bisa melakukannya.
"Ada apa?"
Jacob meraungkan mesin terlalu cepat; mesin
terbatuk-batuk dan mati.
"Vampir," semburnya.
Darah surut dan kepalaku dan membuatku
pening. "Bagaimana kau tahu?'
"Karena aku bisa menciumnya! Sialan!”
Mata Jacob liar, jelalatan menjelajahi jalanan
yang gelap. Tampaknya ia tidak terlalu menyadari

getaran yang menjalari sekujur tubuhnya.
"Berubah atau membawanya pergi dari sini?"
desisnya pada diri sendiri.
Ia menunduk menatapku sekilas, melihat sorot
mataku yang ketakutan dan wajahku yang pucat,
kemudian matanya menyapu jalanan lagi. "Baiklah.
Kubawa kau pergi dari sini."
Mesin menyala dengan suara meraung. Ban-ban
berdecit saat ia memutar truk ke arah berlawanan,
berbalik menuju satu-satunya tempat kami bisa
meloloskan diri. Lampu truk menyapu trotoar,
menerangi bagian depan hutan yang gelap, dan
akhirnya memantul pada mobil yang diparkir di
seberang jalan depan rumahku.
"Berhenti!" aku terkesiap kaget.
Itu mobil hitam—mobil yang kukenal. Aku
memang paling tidak tahu apa-apa soal mobil, tapi
kalau mobil yang satu itu, aku hafal benar. Itu
Mercedez S55 AMG. Aku tahu berapa tenaga kuda
daya mesinnya serta warna interiornya. Aku tahu
bagaimana rasanya mesin yang bertenaga itu
menderum dari bagian dalamnya. Aku tahu
bagaimana aroma jok kulitnya yang mewah serta
bagaimana lapisan kaca filmnya yang ekstra gelap
membuat tengah hari terasa seperti senja dari balik
jendela-jendelanya.
Itu mobil Carlisle.
"Berhenti!" pekikku lagi, kali ini lebih keras,
karena Jacob memacu trukku secepat-cepatnya
menjauhi jalan.
“Apa?!"

"Itu bukan Victoria. Berhenti, berhenti! Aku
ingin kembali."
Jacob menginjak rem begitu dalam hingga aku
terpaksa menahan tubuhku di dasbor agar tidak
terbentur.
"Itu mobil Carlisle! Itu milik keluarga CuUen.
Aku kenal mobil itu.
Jacob melihat fajar merekah di wajahku, dan
sekujur tubuhnya berguncang hebat.
"Hei, tenanglah, Jake. Tidak apa-apa. Tidak ada
bahaya, kaulihat? Rileks."
"Yeah, tenang," sahut Jacob dengan napas
terengah-engah, menundukkan kepala dan
memejamkan mata. Sementara ia berkonsentrasi
agar tidak meledak menjadi serigala, aku menoleh
ke belakang dan memandangi mobil hitam itu.
Itu hanya Carlisle, kataku pada diri sendiri.
Jangan berharap lebih. Mungkin juga Esme...
Hentikan sekarang juga, kataku pada diri sendiri.
Hanya Carlisle. Itu saja sudah luar biasa. Lebih
dari yang kuharapkan akan pernah terjadi lagi.
"Ada vampir di rumahmu," desis Jacob. "Tapi
kau malah ingin kembali?"
Aku meliriknya, dengan enggan mengalihkan
mataku dari Mercedes itu—takut mobil itu bakal
menghilang begitu aku melirik ke tempat lain.
"Tentu saja," kataku, suaraku hampa karena
terkejut mendengar pertanyaannya. Tentu saja aku
ingin kembali.

Wajah Jacob mengeras saat aku
memandanginya, membentuk topeng getir yang
kusangka sudah lenyap untuk selamanya. Tepat
sebelum topeng iu menutupi wajahnya, aku sempat
menangkap kejang pengkhianatan berkelebat dari
matanya. Kedua tangannya masih gemetar. Ia
tampak sepuluh tahun lebih tua daripadaku.
Ia menarik napas dalam-dalam. "Kau yakin itu
bukan tipuan?”
“Itu bukan tipuan. Itu Carlisle. Antar aku
kembali!"
Guncangan hebat melanda bahunya yang lebar,
tapi matanya datar dan tanpa emosi. "Tidak."
"Jake, tidak apa-apa—"
"Tidak. Pulanglah sendiri, Bella." Suara Jacob
terdengar bagai tamparan – aku tersentak saat
suaranya menghantamku. Dagunya mengejang dan
mengendur.
"Begini, Bella," sambungnya dengan suara sama
kerasnya. "Aku tidak bisa kembali ke sana. Ada
kesepakatan atau tidak, itu musuhku yang ada di
dalam sana."
"Tidak seperti itu—"
"Aku harus segera memberi tahu Sam. Ini
mengubah semuanya. Kami tidak boleh tertangkap
saat ada dalam teritorial mereka."
"Jake, ini bukan perang!"

Jacob tak menggubris kata-kataku. Dia
memasukkan gigi netral lalu melompat keluar dari
pintu, membiarkan mesin tetap menyala.
"Bye, Bella," serunya sambil menoleh sebentar.
"Aku benar-benar berharap kau tidak mati." Ia
berlari kencang menembus kegelapan, tubuhnya
bergetar sangat hebat hingga sosoknya terlihat
kabur; ia sudah lenyap sebelum aku sempat
membuka mulut untuk memanggilnya kembali.
Rasa bersalah membuatku terhenyak sebentar.
Apa yang kulakukan pada Jacob?
Tapi rasa bersalah tak mampu menahanku
terlalu lama.
Aku bergeser ke kursi sebelah dan memasukkan
gigi. Kedua tanganku getaran, sama seperti tangan
Jake tadi, dan aku harus berkonsentrasi penuh.
Lalu dengan hati-hati aku memutar truk dan
membawanya lagi ke rumahku.
Gelap gulita setelah aku mematikan lampu
mobil. Charlie begitu tergesa-gesa berangkat hingga
lupa menyalakan lampu teras. Sejenak aku sempat
ragu, memandangi rumah itu, muram disaput
bayang-bayang. Bagaimana kalau ternyata
memang tipuan?
Kupandangi lagi mobil hitam itu, nyaris tak
terlihat di gelap malam. Tidak. Aku kenal mobil itu.
Meski begitu, tetap saja tanganku gemetar,
bahkan lebih hebat daripada sebelumnya, saat aku
meraih kunci di atas pintu. Saat memegang kenop
pintu untuk membuka kuncinya, kenop terputar

dengan mudah dalam genggamanku. Kubiarkan
pintu terbentang lebar. Ruang depan gelap pekat.
Aku ingin menyerukan sapaan, tapi
tenggorokanku kelewat kering. Sepertinya aku tak
mampu menarik napas.
Aku maju selangkah memasuki rumah dan
meraba-raba mencari tombol lampu. Hitam pekat—
seperti air hitam tadi... Mana sih tombol lampu?
Sama seperti air yang hitam tadi, dengan api
Jingga menyala menjilat-jilat di atasnya, meski itu
tidak mungkin. Tidak mungkin itu kobaran api,
tapi kalau begitu apa...? Jari-jariku menyusuri
dinding, masih mencari-cari, masih gemetar...
Tiba-tiba sesuatu yang dikatakan Jacob sore tadi
bergema dalam pikiranku, akhirnya otakku bisa
juga mencernanya... Dia kabur ke arah laut—lebih
menguntungkan bagi para pengisap darah itu di
sana. Itulah sebabnya aku langsung bergegas
pulang—aku takut dia akan menduluiku berenang
ke sini.
Tanganku mengejang saat masih mencari tombol
lampu, sekujur tubuhku membeku kaku, saat aku
sadar mengapa aku mengenali warna Jingga aneh
di air itu.
Rambut Victoria, berkibar-kibar liar tertiup
angin, warnanya seperti api... bersamaku dan
Jacob. Apa jadinya kalau tidak ada San, kalau
kami hanya berdua...? Aku tak mampu bernapas
ataupun bergerak.
Lampu menyala, meski tanganku yang membeku
tidak juga berhasil menemukan tombol lampu.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau oleh
lampu yang tiba-tiba menyala, dan melihat
seseorang di sana, menungguku.

17. TAMU
DIAM tak bergerak dan putih, dengan mata
hitam besar terpaku di wajahku, tamuku
menunggu, bergeming di tengah ruang depan,
cantik luar biasa.
Sesaat lututku gemetar, dan aku nyaris rubuh.
Detik berikutnya aku menghambur
menghampirinya.
"Alice, oh, Alice!" pekikku, menubruknya.
Aku lupa betapa kerasnya tubuh Alice; rasanya
seperti menabrak dinding semen.
"Bella?" Suara Alice lega bercampur bingung.
Aku memeluknya erat-erat, terengah-engah
karena berusaha menghirup sebanyak mungkin
aroma kulitnya. Baunya lain dari yang lain—bukan
beraroma bunga ataupun rempah-rempah, juga
bukan wangi jeruk ataupun musk. Tak satu
parfum pun di dunia ini yang bisa menandinginya.
Ingatanku tidak bisa mengingatnya dengan tepat.
Aku tidak sadar saat napasku yang terengahengah
berubah menjadi sesuatu yang lain – aku
baru sadar bahwa aku menangis tersedu-sedu
ketika Alice menyeretku ke sofa ruang tamu dan
menarikku ke pangkuannya. Rasanya seperti

meringkuk dalam pelukan patung baru, tapi
lekukan tubuh patung batu itu pas benar dengan
bentuk tubuhku. Alice mengusap-usap
punggungku dengan lembut, menungguku
menguasai diri kembali.
"Aku... maafkan aku," isakku. "Aku hanya...
sangat bahagia... bertemu denganmu!"
"Sudahlah, Bella. Semua baik-baik saja."
"Ya," isakku. Dan, kali ini, sepertinya memang
begitu.
Alice mendesah. "Aku sudah lupa betapa
emosionalnya kau," katanya, nadanya terdengar
tidak suka.
Aku mendongak dan memandangnya dari selasela
air mataku. Leher Alice tegang, menjauhiku,
bibirnya terkatup rapat. Matanya hitam kelam.
"Oh" aku mengembuskan napas, menyadari
masalahnya. Alice haus. Dan aromaku menggoda.
Sudah lama sekali aku tak pernah lagi memikirkan
hal semacam itu. "Maaf."
"Ini salahku sendiri. Sudah lama sekali aku
tidak berburu. Seharusnya aku tidak membiarkan
diriku sehaus itu. Tapi aku terburu-buru hari ini."
Tatapannya yang diarahkan padaku sangat garang.
"Omong-omong, maukah kau menjelaskan padaku
bagaimana caranya sampai kau masih hidup?"
Pertanyaan ini membuatku kaget dan langsung
menghentikan sedu-sedanku. Aku langsung
menyadari apa yang terjadi, dan mengapa Alice
datang ke sini.

Aku menelan ludah dengan suara keras. "Kau
melihatku jatuh."
"Tidak," sergah Alice, matanya menyipit. "Aku
melihatmu melompat.”
Aku mengerucutkan bibir sambil berusaha
memikirkan penjelasan yang tidak terdengar
sinting.
Alice menggelengkan kepala. "Sudah kubilang
padanya ini bakal terjadi, tapi dia tidak percaya
padaku. 'Bella sudah berjanji,’” Alice menirukan
suara Edward dengan sangat sempurna hingga
membuatku membeku shock saat kepedihan
merobek tubuhku. '"Jangan mencoba melihat masa
depannya juga,'" sambung Alice, masih mengutip
kata-kata Edward. "'Kita sudah cukup
membuatnya menderita.'
"Tapi meski tidak mencari, bukan berarti aku
tidak melihat," lanjut Alice. "Aku bukannya
mengawasimu, sumpah, Bella. Hanya saja sudah
terjalin hubungan batin denganmu, jadi... waktu
aku melihatmu melompat, tanpa pikir panjang aku
langsung naik pesawat. Aku tahu pasti sudah
terlambat, tapi aku tidak bisa tidak melakukan
apa-apa. Kemudian aku sampai di sini, berpikir
mungkin aku bisa membantu Charlie, dan tahutahu
kau datang." Alice menggeleng-gelengkan
kepala, kali ini karena bingung. Suaranya tegang.
"Aku melihatmu tercebur ke air dan aku menunggu
dan menunggumu muncul kembali, tapi kau tidak
keluar-keluar juga. Apa yang terjadi? Dan tega
benar kau berbuat begitu kepada Charlie?
Pernahkah kau berhenti sejenak untuk

memikirkan dampaknya bagi dia? Dan bagi
kakakku? Apa kau pernah berpikir apa yang
Edward—"
Aku langsung memotongnya saat itu juga, begitu
mendengarnya menyebut nama Edward. Tadi
kubiarkan saja dia nyerocos, bahkan setelah aku
sadar dia salah paham, hanya untuk mendengar
suaranya yang bagaikan denting lonceng merdu
itu. Tapi sekarang sudah saatnya menyela.
"Alice, aku bukan mau bunuh diri.”
Alice menatapku ragu. "Jadi maksudmu, kau
tidak terjun dari tebing?"
"Bukan, tapi..." aku meringis. "Itu kulakukan
hanya untuk bersenang-senang."
Ekspresinya mengeras.
"Aku pernah melihat teman-teman Jacob terjun
dari tebing," sergahku. "Kelihatannya... asyik, dan
aku sedang bosan..."
Ia menunggu.
"Aku tidak mengira badai akan memengaruhi
arus air. Sebenarnya, aku bahkan tidak
memikirkan air sama sekali."
Alice tidak percaya begitu saja. Kentara sekali ia
masih mengira aku mencoba bunuh diri.
Kuputuskan untuk mengalihkan pikirannya. “Jadi
kalau kau melihatku terjun, mengapa kau tidak
melihat Jacob?”
Alice menelengkan kepalanya ke satu sisi,
perhatiannya terusik.

Aku melanjutkan. "Memang benar aku mungkin
sudah tenggelam seandainya Jacob tidak melompat
menyusulku. Well, oke, bukan mungkin lagi. Tapi
untunglah dia menyusulku, dan dia menarikku ke
permukaan, dan kurasa dia menyeretku ke pantai,
walaupun saat itu aku pingsan jadi tidak tahu apaapa.
Aku tidak mungkin tenggelam lebih dari satu
menit sebelum dia menyambarku. Bagaimana kau
bisa tidak melihatnya?"
Kening Alice berkerut bingung. "Ada orang yang
menarikmu keluar?"
"Ya. Jacob menyelamatkan aku."
Kutatap Alice dengan sikap ingin tahu sementara
berbagai emosi berkecamuk di wajahnya. Ia merasa
terganggu oleh sesuatu—visinya yang tidak
sempurna? Tapi aku tak yakin. Kemudian ia
mencondongkan tubuh dan mengendus bahuku.
Aku langsung mengejang.
"Jangan konyol," kecamnya, mengendusiku lagi.
"Kau sedang apa?"
Alice mengabaikan pertanyaanku. "Siapa yang
bersamamu barusan? Kedengarannya kalian tadi
bertengkar."
"Jacob Black. Dia... sahabatku, begitulah.
Setidaknya, dulu..." Ingatanku melayang pada
wajah Jacob yang marah dan merasa dikhianati,
bertanya-tanya dalam hati apa statusnya bagiku
sekarang.
Alice mengangguk, sepertinya sibuk memikirkan
hal lain.

"Apa?"
"Entahlah," tukasnya. "Aku tak yakin itu berarti
apa."
"Well, aku tidak tewas, setidaknya."
Alice memutar bola matanya. “Sungguh tolol
Edward, mengira kau bisa bertahan hidup
sendirian. Belum pernah kulihat orang yang begitu
mudah tersangkut pada hal-hal tolol yang
mengancam nyawa."
"Aku bertahan kok," tegasku.
Alice memikirkan hal lain. "Jadi, kalau arus air
terlalu kuat bagimu, bagaimana Jacob ini bisa
menolongmu?"
"Jacob itu... kuat"
Alice mendengar keengganan dalam suaraku,
dan alisnya terangkat.
Aku menggigit bibir sejenak. Ini rahasia atau
bukan? Dan kalau ini rahasia, kepada siapa aku
lebih berpihak? Jacob, atau Alice?
Terlalu sulit menyimpan rahasia, aku
memutuskan. Jacob tahu semuanya, jadi mengapa
Alice tidak?
"Begini, Well dia itu... werewolf,” aku mengakui
dengan sikap buru-buru. "Suku Quileute berubah
menjadi serigala bila ada vampir di sekitar mereka.
Mereka sudah kenal Carlisle sejak dulu sekali.
Apakah saat itu kau sudah bersama Carlisle?”
Alice ternganga sejenak, tapi sejurus kemudian
pulih dari kekagetannya, matanya mengerjap

cepat. "Well, kalau begitu pantas ada bau itu,”
gerutunya. "Tapi apakah itu menjelaskan apa yang
tidak kulihat?" Ia berpikir, kening porselennya
berkerut.
"Bau?" ulangku.
"Baumu tidak enak," cetus Alice sambil lalu,
keningnya masih berkerut. "Werewolf? Kau yakin
soal itu?"
"Yakin sekali," aku memastikan, meringis saat
teringat bagaimana Paul dan Jacob bertarung di
jalan. "Kalau begitu kau masih belum bersama
Carlisle waktu terakhir kali ada werewolf di
Forks?"
"Belum. Aku belum menemukannya." Alice
masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tibatiba
matanya membelalak, dan ia berpaling,
menatapku dengan ekspresi shock. "Sahabatmu
werewolf?”
Aku mengangguk malu-malu. "Ini sudah
berlangsung berapa lama?"
"Belum lama," jawabku, suaraku terdengar
defensif. "Dia baru beberapa minggu menjadi
werewolf!”
Alice membelalak memandangiku. "Werewolf
yang masih muda? Itu bahkan lebih parah! Edward
benar—kau magnet yang menarik bahaya.
Bukankah kau seharusnya menghindari bahaya?"
"Tidak ada yang salah dengan werewolf!”
gerutuku, tersinggung mendengar nadanya yang
mengkritik.

"Sampai amarah mereka meledak." Alice
menggeleng kuat-kuat. "Dasar kau, Bella. Orang
lain pasti bakal hidup lebih baik setelah para
vampir meninggalkan kota. Tapi kau langsung
bergaul dengan monster-monster pertama yang
bisa kautemukan."
Aku tidak ingin berdebat dengan Alice—aku
masih gemetaran saking gembira karena ia benarbenar,
sungguh-sungguh ada di sini, hingga aku
bisa menyentuh kulit marmernya dan mendengar
suaranya yang seperti genta angin—tapi ia sangat
keliru.
"Tidak, Alice, para vampir tidak sepenuhnya
pergi—tidak semuanya, paling tidak. Justru itulah
masalahnya. Kalau bukan karena para werewolf
itu, Victoria pasti sudah berhasil menemukanku
sekarang. Well kalau bukan karena Jake dan
teman-temannya, Laurent pasti berhasil
membunuhku sebelum Victoria, kurasa, jadi—"
"Victoria?" desis Alice. "Laurent?"
Aku mengangguk, sedikit waswas melihat
ekspresi yang terpancar dari mata hitamnya.
Kutuding dadaku sendiri. "Magnet yang menarik
bahaya, ingat?"
Alice menggeleng-geleng lagi. "Ceritakan semua
padaku— dari awal."
Aku memoles awal kisahku, sengaja melewatkan
cerita tentang motor dan suara-suara itu, tapi
membeberkan semua yang terjadi sampai hari ini.
Alice tidak menyukai penjelasan singkatku tentang
kebosanan dan lompat tebing, jadi aku buru-buru

menceritakan tentang api aneh yang kulihat di air
dan apa perkiraanku mengenainya. Matanya
menyipit hingga nyaris segaris di bagian itu. Aneh
juga melihatnya begitu... begitu berbahaya—seperti
vampir. Aku menelan ludah dengan susah payah
dan melanjutkan kisahku tentang Harry.
Alice mendengarkan ceritaku tanpa menyela.
Sesekali, ia menggeleng, dan kerutan di keningnya
semakin dalam hingga tampak seperti terpahat
secara permanen di kulit marmernya. Ia tidak
berbicara dan, akhirnya, aku terdiam, dicekam
kesedihan karena kematian Harry. Pikiranku
melayang pada Charlie; sebentar lagi ia pulang.
Bagaimana kira-kira kondisinya?
"Kepergian kami sama sekali tidak membawa
kebaikan bagimu, ya?" gumam Alice.
Aku tertawa satu kali—kedengarannya agak
histeris. "Memang tujuannya bukan itu, kan?
Kalian pergi bukan demi kebaikanku."
Alice merengut memandangi lantai beberapa
saat. "Well, kurasa aku bertindak impulsif hari ini
tadi. Mungkin seharusnya aku tidak ikut campur."
Bisa kurasakan darah surut dari wajahku.
Perutku langsung mulas. "Jangan pergi, Alice,"
bisikku. Jari-jariku mencengkeram kerah kemeja
putihnya dan aku mulai tak bisa bernapas.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku."
Mata Alice membelalak semakin lebar, "Baiklah,"
ia memberi penekanan pada setiap katanya. "Aku
tidak akan ke mana-mana malam ini. Tarik napas
dalam-dalam."

Aku berusaha menuruti, meski rasanya itu
mustahil.
Alice memandangi wajahku sementara aku
berkonsentrasi menarik napas. Ia menunggu
sampai aku lebih tenang untuk berkomentar.
"Kau kelihatan kacau sekali, Bella."
"Aku kan tadi tenggelam," aku
mengingatkannya.
"Bukan itu maksudku. Kau berantakan."
Aku tersentak. "Dengar, aku sudah berusaha
semampuku."
"Apa maksudmu?"
“Ini tidak mudah. Aku sedang berjuang
mengatasinya."
Kening Alice berkerut. "Sudah kubilang pada
Edward," katanya pada diri sendiri.
"Alice," aku mendesah. "Kaukira kau bakal
menemukan apa tadi? Maksudku, selain aku mati?
Apakah kau berharap akan menemukanku dalam
keadaan ceria dan bernyanyi-nyanyi gembira? Kau
kan tahu bagaimana aku."
"Memang. Tapi harapanku begitu."
"Kalau begitu berarti aku bukan orang paling
tolol di dunia.”
Telepon berdering.
“Itu pasti Charlie," kataku, berdiri dengan susah
payah. Kusambar tangan Alice yang sekeras batu

dan kuseret ia bersamaku ke dapur. Aku takkan
melepaskannya dari pandanganku.
"Charlie?" seruku di corong telepon.
"Bukan, ini aku," sahut Jacob.
"Jake!"
Alice mengamati ekspresiku.
"Hanya ingin memastikan kau masih hidup,"
kata Jacob masam.
"Aku baik-baik saja. Sudah kubilang itu bukan—
"
"Yeah. Aku mengerti. Bye," Jacob langsung
menutup telepon.
Aku mendesah dan menengadahkan kepala,
menatap langit-langit. "Gawat."
Alice meremas tanganku. "Mereka tidak suka
aku datang."
"Memang tidak. Tapi itu toh bukan urusan
mereka."
Alice merangkul bahuku. "Jadi apa yang kita
lakukan sekarang?" tanyanya. Sesaat ia seperti
bicara pada dirinya sendiri. "Banyak yang harus
dilakukan. Membereskan yang belum selesai."
"Melakukan apa?"
Wajah Alice mendadak terlihat hati-hati. "Aku
tidak begitu yakin... aku harus menemui Carlisle."
Apakah dia harus pergi secepat ini? Perutku
langsung mulas.

"Tidak bisakah kau tinggal dulu di sini?"
pintaku. "Please? Sebentar saja. Aku sangat rindu
padamu." Suaraku pecah.
"Kalau menurutmu itu ide bagus" Matanya
terlihat tidak senang. .
"Menurutku itu ide bagus. Kau bisa menginap di
sini – Charlie pasti senang sekali."
"Aku kan punya rumah, Bella"
Aku mengangguk, kecewa tapi tidak menyerah.
Alice ragu-ragu, mengamanku.
"Well aku kan perlu mengambil baju ganti,
paling tidak."
Aku memeluknya. "Alice, kau baik sekali!"
"Dan kurasa aku harus berburu. Segera,"
imbuhnya kaku.
"Uups" Aku langsung mundur selangkah.
"Kau bisa kan, menghindari masalah satu jam
saja?" tanyanya skeptis. Kemudian, sebelum aku
sempat menjawab, Alice mengacungkan satu jari
dan memejamkan mata. Wajahnya datar dan
kosong selama beberapa detik.
Kemudian matanya terbuka dan ia menjawab
pertanyaannya sendiri. "Ya, kau akan baik-baik
saja. Setidaknya malam ini." Ia meringis. Bahkan
saat mengernyit seperti itu, ia masih terlihat
seperti malaikat.
"Nanti kau kembali, kan?" tanyaku, suaraku
kecil. "Aku janji—satu jam."

Kulirik jam di meja dapur. Alice tertawa dan
mencondongkan tubuh cepat-cepat untuk
mengecup pipiku. Detik berikutnya ia sudah pergi.
Aku menarik napas dalam-dalam. Alice akan
kembali. Tiba-tiba aku merasa jauh lebih enak.
Banyak sekali yang harus kulakukan untuk
menyibukkan diri sambil menunggu. Mandi jelas
jadi prioritas pertama. Sambil menanggalkan
pakaian, aku mengendusi bahuku, tapi tidak bisa
mencium bau apa pun kecuali bau garam dan
rumput laut. Aku jadi penasaran apa maksud Alice
mengatakan tubuhku bau sekali.
Setelah tubuhku bersih, aku kembali ke dapur.
Tidak terlihat tanda-tanda Charlie sudah makan,
jadi mungkin ia lapar jika pulang nanti. Aku
bergumam tanpa nada sambil menyibukkan diri di
dapur.
Sementara kaserol hari Kamis kemarin sedang
dipanaskan di microwave, aku memasang seprai di
sofa dan meletakkan bantal tua. Alice tidak
membutuhkannya, tapi Charlie perlu melihatnya.
Aku berhati-hati untuk tidak mengawasi jam
dinding. Tak ada alasan untuk panik; Alice sudah
berjanji.
Aku tergesa-gesa menghabiskan makananku
tanpa merasakannya—yang kurasakan hanya perih
saat makanan meluncur di tenggorokanku yang
luka. Kebanyakan aku haus; pasti ada setengah
galon air laut yang terminum olehku. Tingginya
kadar garam dalam tubuhku membuatku
dehidrasi.

Aku beranjak untuk mencoba nonton TV sambil
menunggu.
Ternyata Alice sudah di sana, duduk di tempat
tidurnya yang telah kusiapkan. Matanya bagaikan
butterscotch cair. Ia tersenyum dan menepuknepuk
bantal. "Trims."
"Kau datang lebih awal," seruku, gembira.
Aku duduk di sebelahnya dan menyandarkan
kepalaku di bahunya. Ia melingkarkan lengannya
yang dingin di bahuku dan mendesah.
"Bella. Harus kami apakan kau?"
"Entahlah," aku mengakui. "Aku benar-benar
sudah berusaha sekuat tenaga."
“Aku percaya padamu."
Lalu kami terdiam
"Apakah—apakah dia..." Aku menghela napas
dalam-dalam. Lebih sulit menyebut namanya
dengan suara keras, walaupun aku bisa
memikirkannya sekarang. "Apakah Edward tahu
kau di sini?" Aku tidak tahan untuk tidak
bertanya. Bagaimanapun, itu kepedihanku. Aku
akan membereskannya setelah Alice pergi nanti,
aku berjanji pada diriku sendiri, dan merasa mual
memikirkannya.
"Tidak."
Hanya ada satu kemungkinan bahwa itu benar.
"Dia tidak sedang bersama Carlisle dan Esme?"
"Dia datang beberapa bulan sekali."

"Oh." Kalau begitu ia pasti masih sibuk
menikmati hal-hal lain yang bisa mengalihkan
pikirannya. Aku memfokuskan rasa ingin tahuku
pada topik lain yang lebih aman. "Kauhilang tadi
kau terbang ke sini... Kau datang dari mana?"
"Aku sedang di Denali. Mengunjungi keluarga
Tanya."
"Apakah Jasper ada di sini? Dia datang
bersamamu?"
Alice menggeleng. "Dia tidak suka aku ikut
campur. Kami sudah berjanji..." Suaranya
menghilang, kemudian nadanya berubah.
"Menurutmu Charlie tidak keberatan aku datang
ke sini?" tanyanya, terdengar waswas.
"Charlie menganggapmu baik sekali, Alice"
"Well, sebentar lagi kita akan tahu."
Benar saja, beberapa detik kemudian aku
mendengar suara mobil memasuki halaman. Aku
melompat dan bergegas membukakan pintu.
Charlie tersaruk-saruk pelan meniti jalan,
matanya tertuju ke tanah dan bahunya terkulai.
Aku menghampirinya; ia bahkan tidak melihatku
sampai aku memeluk pinggangnya. Ia membalas
pelukanku dengan sepenuh hati.
“Aku ikut sedih mendengar tentang Harry, Dad"
"Aku akan sangat kehilangan dia," gumam
Charlie.
"Bagaimana keadaan Sue?"

"Dia seperti orang linglung, seperti belum bisa
mencernanya. Sam menemaninya sekarang..."
Volume suaranya hilang-timbul. "Kasihan anakanak
itu. Leah hanya setahun lebih tua daripada
kau, sementara Seth baru empat belas..." Charlie
menggeleng-gelengkan kepala.
Sambil tetap merangkulku, Charlie berjalan lagi
menuju pintu.
"Em, Dad?" Kupikir lebih baik aku
mengingatkannya dulu. "Dad pasti tidak akan
menyangka siapa yang sedang di sini sekarang."
Charlie menatapku kosong. Kepalanya menoleh
dan melihat Mercedez yang diparkir di seberang
jalan, cahaya lampu teras terpantul di bodinya
yang dicat hitam mengilat. Sebelum ia sempat
bereaksi, Alice sudah berdiri di ambang pintu.
"Hai, Charlie," sapanya pelan. "Maaf aku datang
pada saat yang sangat tidak tepat."
"Alice Cullen?" Charlie memicingkan mata,
memandangi sosok mungil di depannya, seolaholah
meragukan matanya sendiri. "Alice, benarkah
itu kau?"
"Ini memang aku," Alice membenarkan.
"Kebetulan aku sedang berada di sekitar sini."
"Apakah Carlisle...?"
“Tidak, aku sendirian."
Baik Alice maupun aku tahu bukan Carlisle
sebenarnya yang ingin ditanyakan Charlie.
Lengannya mencengkeram bahuku lebih erat.

"Dia boleh menginap di sini, kan?" pintaku. "Aku
sudah memintanya."
"Tentu saja," jawab Charlie datar. "Kami senang
menerimamu di sini, Alice."
"Terima kasih, Charlie. Aku tahu waktunya
sangat tidak tepat."
"Tidak, tidak apa-apa, sungguh. Aku akan
sangat sibuk melakukan apa yang bisa kulakukan
untuk keluarga Harry; aku senang ada yang
menemani Bella."
"Makan malam sudah siap di meja, Dad," aku
memberi tahu ayahku.
"Trims, Bell" Ia meremas bahuku sekali lagi
sebelum tersaruk-saruk ke dapur.
Alice kembali ke sofa, dan aku mengikutinya.
Kali ini dialah yang merangkul bahuku.
"Kau kelihatan capek."
"Yeah," aku sependapat, dan mengangkat bahu.
"Begitulah kalau habis mengalami peristiwa yang
nyaris menyebabkan kematian... Jadi, apa
pendapat Carlisle mengenai kedatanganmu ke
sini?"
"Dia tidak tahu. Dia dan Esme sedang pergi
berburu. Beberapa hari lagi dia kembali."
"Kau tidak akan memberi tahu dia, kan... kalau
dia datang lagi nanti?'' tanyaku. Alice tahu yang
kumaksud kali ini bukan Carlisle.
"Tidak. Bisa-bisa dia ngamuk nanti," jawab Alice
muram. Aku tertawa, kemudian mendesah.

Aku tidak kepingin tidur. Aku ingin berjaga
sepanjang malam, mengobrol dengan Alice. Lagi
pula, tidak masuk akal bila aku lelah, karena
seharian tadi aku tidur di sofa Jacob. Tapi
tenggelam benar-benar menguras habis tenagaku,
tapi mataku tak mau diajak kompromi. Kuletakkan
kepalaku bahunya yang sekeras batu, dan
terhanyut dalam tidur yang lebih tenang daripada
yang bisa kuharapkan.
Aku bangun pagi-pagi sekali, dari tidur nyenyak
tanpa mimpi, merasa segar bugar tapi kaku. Aku
terbaring di sofa, di bawah selimut yang kusiapkan
untuk Alice, dan aku bisa mendengarnya
mengobrol dengan Charlie di dapur.
Kedengarannya Charlie sedang membuatkan
sarapan untuknya.
"Seberapa parah keadaannya, Charlie?" tanya
Alice lirih, dan awalnya kukira mereka sedang
membicarakan keluarga Clearwater.
Charlie mendesah. "Parah sekali."
"Ceritakan semua padaku. Aku ingin tahu persis
apa yang terjadi setelah kami pergi."
Sejenak tidak terdengar apa-apa kecuali pintu
rak dapur ditutup dan pemantik api di kompor
dinyalakan. Aku menunggu, tegang.
"Aku tidak pernah merasa begitu tak berdaya,"
Charlie memulai lambat-lambat. "Aku tidak tahu
apa yang harus kulakukan. Minggu pertama itu—
aku sampai mengira mungkin dia perlu dirawat di
rumah sakit. Dia tidak mau makan atau minum,
juga tidak mau bergerak. Dr. Gerandy bolak-balik

menyebut istilah 'katatonik’, tapi aku tidak
mengizinkannya menemui Bella. Aku takut itu
akan membuatnya ketakutan.”
“Tapi akhirnya dia normal lagi?"
"Aku meminta Renee datang dan membawanya
ke Florida. Pokoknya aku tidak mau menjadi orang
yang... seandainya dia harus dirawat di rumah
sakit atau sebangsanya. Aku berharap tinggal
dengan ibunya bisa membantu. Tapi waktu kami
mulai mengemasi pakaiannya, tiba-tiba saja dia
bangun. Aku pernah melihat Bella mengamuk
seperti itu. Dia bukan anak pemarah, tapi, ya
ampun, saat itu dia mengamuk habis-habisan. Dia
menghamburkan pakaiannya ke mana-mana dan
berteriak-teriak, tidak mau disuruh pergi—
kemudian akhirnya dia mulai menangis.
Menurutku, itulah titik baliknya. Aku tidak
membantah waktu dia bersikeras ingin tetap
tinggal di sini... dan awalnya dia benar-benar
seperti sudah membaik..."
Suara Charlie menghilang. Sulit mendengarnya
mencurahkan isi hati seperti ini, tahu betapa aku
sudah sangat menyusahkannya.
"Tapi?” desak Alice.
"Dia kembali bersekolah dan bekerja, makan,
tidur, dan mengerjakan PR. Dia menjawab bila
ditanya. Tapi dia... kosong. Matanya hampa.
Banyak hal kecil yang hilang—dia tidak mau
mendengarkan musik lagi; aku bahkan pernah
menemukan setumpuk CD rusak di tong sampah.
Dia tidak membaca; dia tidak mau berada di
ruangan yang sama bila TV menyala, meskipun

sejak dulu dia memang jarang nonton TV Akhirnya
aku mengerti—Bella sengaja menghindar dari
segala sesuatu yang mengingatkannya pada... dia.
"Kami nyaris tak bisa berbicara; aku sangat
khawatir akan mengatakan hal-hal yang bisa
membuatnya sedih—hal-hal kecil saja bisa
membuatnya kalut—dan dia tidak pernah memulai
pembicaraan. Dia baru menjawab bila kutanya.
"Dia sendirian terus sepanjang waktu. Tidak
pernah membalas telepon teman-temannya, dan
setelah beberapa saat, mereka berhenti menelepon.
"Pendek kata, rasanya seperti tinggal dengan
mayat hidup. Aku masih mendengar dia menjerit
dalam tidurnya...”
Aku nyaris bisa melihatnya bergidik. Aku sendiri
juga bergidik waktu ingat. Kemudian aku
mendesah. Ternyata aku tidak berhasil
memperdaya Charlie dengan berpura-pura terlihat
baik-baik saja. Sedikit pun dia tidak terperdaya.
"Aku sangat menyesal mendengarnya, Charlie,"
ucap Alice, nadanya muram.
"Itu bukan salahmu." Cara Charlie mengucapkan
hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa ia
menganggap ada orang yang bertanggung jawab
dalam hal itu. "Sejak dulu kau selalu baik
padanya."
"Sepertinya dia sudah lebih baik sekarang"
"Yeah. Sejak dia bergaul dengan Jacob Black,
aku melihat banyak kemajuan. Pipinya mulai
merona lagi bila dia pulang, matanya juga kembali

bercahaya. Dia lebih bahagia." Charlie terdiam
sejenak, dan suaranya berbeda waktu berbicara
lagi. "Jacob satu atau dua tahun lebih muda
daripada Bella, dan aku tahu dia dulu menganggap
Jacob sebagai teman, tapi kurasa mungkin
hubungan mereka sekarang lebih daripada itu,
atau mengarah ke sana paling tidak." Charlie
mengucapkannya dengan nada yang nyaris seperti
mengajak perang. Itu peringatan, bukan bagi Alice,
tapi agar Alice meneruskannya ke pihak lain.
"Walaupun lebih muda, Jake sangat dewasa,"
sambung Charlie, nadanya masih defensif. "Dia
mengurus ayahnya secara fisik seperti Bella
mengurus ibunya secara emosional. Itu
mendewasakan dia. Anaknya juga tampan—mirip
ibunya. Dia cocok dengan Bella," Charlie
menandaskan.
"Kalau begitu, untunglah Bella memiliki dia,"
Alice sependapat.
Charlie mengembuskan napas panjang, merasa
tidak punya lawan lagi. "Oke, kurasa itu terlalu
melebih-lebihkan. Entahlah... bahkan meskipun
sudah ada Jacob, sesekali aku masih melihat
sesuatu di matanya, dan aku bertanya-tanya
apakah bisa memahami betapa sakit hatinya
sesungguhnya. Itu tidak normal, Alice, dan itu...
itu membuatku takut. Sama sekali tidak normal.
Tidak seperti... ditinggal seseorang, tapi seolaholah
seperti ada yang meninggal.” Suara Charlie
pecah.
Memang seperti ada yang meninggal—seolaholah
akulah yang meninggal. Karena rasanya lebih

dari sekadar kehilangan seseorang yang
merupakan cinta paling sejati dalam hidupku. Tapi
juga kehilangan seluruh masa depan, seluruh
keluarga— seluruh hidup yang telah kupilih...
Charlie melanjutkan ceritanya dengan nada tak
berdaya. "Aku tidak tahu apakah Bella akan bisa
melupakannya—aku tak yakin apakah dia bisa
pulih dari sesuatu seperti ini. Sejak dulu dia selalu
konstan dalam segala hal. Dia bukan tipe orang
yang melupakan masa lalu, atau yang bisa
berubah pikiran."
"Dia memang berbeda dari yang lain," Alice
membenarkan dengan suara kering.
"Dan Alice..." Charlie ragu-ragu sejenak. "Kau
tahu aku sayang padamu, dan bisa kulihat dia
senang bisa bertemu lagi denganmu, tapi... aku
agak khawatir bagaimana kunjunganmu ini akan
berakibat padanya."
“Aku juga begitu, Charlie, aku juga begitu. Aku
tidak akan datang seandainya tahu keadaannya
seperti ini. Maafkan aku."
“Jangan meminta maaf, Sayang. Siapa yang
tahu? Mungkin ini akan berdampak baik baginya."
"Mudah-mudahan kau benar."
Lama tidak terdengar suara apa-apa kecuali
bunyi garpu menggesek piring dan suara Charlie
mengunyah. Aku bertanya-tanya dalam hati di
mana Alice menyembunyikan makanannya.
“Alice, aku harus menanyakan sesuatu
padamu," kata Charlie canggung.

Alice tetap tenang. "Silakan."
"Dia tidak bermaksud kembali ke sini untuk
berkunjung, bukan?" Aku bisa mendengar amarah
tertahan dalam suara Charlie.
Alice menjawab dengan nada lembut dan
menenangkan. "Dia bahkan tidak tahu aku kemari.
Terakhir kali aku bicara dengannya, dia sedang di
Amerika Selatan."
Tubuhku langsung tegang mendengar informasi
baru ini, dan membuka telingaku lebar-lebar.
"Baguslah kalau begitu," dengus Charlie. "Well,
kuharap dia senang di sana."
Untuk pertama kali terdengar secercah nada
kaku dalam suara Alice. "Aku tidak akan
berasumsi apa-apa, Charlie." Aku tahu bagaimana
matanya berkilat bila ia menggunakan nada itu.
Terdengar suara kursi didorong menjauhi meja,
menggesek lantai dengan suara keras. Aku
membayangkan Charlie berdiri; tak mungkin Alice
menghasilkan suara seberisik itu. Keran diputar,
airnya menciprat membasahi piring.
Sepertinya mereka tidak akan membicarakan
Edward lagi, maka kuputuskan sekaranglah
waktunya bangun.
Aku berbalik, sengaja membuat pegas sofa
berderit. Lalu aku menguap dengan suara keras.
Suara-suara di dapur langsung terdiam.
Aku menggeliat dan mengerang.

"Alice?" panggilku pura-pura lugu; suaraku yang
parau karena tenggorokanku sakit membuat
sandiwaraku semakin meyakinkan.
“Aku di dapur, Bella,” seru Alice, tak ada tandatanda
dalam suaranya bahwa ia curiga aku
menguping pembicaraan mereka tadi. Tapi ia
memang pandai menyembunyikan hal-hal
semacam itu.
Charlie harus berangkat saat itu—ia akan
membantu Sue Clearwater mengurus segala
sesuatu berkaitan dengan pemakaman Harry. Ini
pasti akan jadi hari yang sangat panjang dan
membosankan seandainya tidak ada Alice. Ia
belum mengatakan kapan akan pergi, dan aku juga
tidak bertanya. Aku tahu itu takkan bisa dihindari,
tapi aku sengaja tidak mau memikirkannya.
Kami malah mengobrol tentang keluarganya—
semua kecuali satu.
Carlisle bekerja shift malam di Ithaca dan
mengajar paruh waktu di Cornell. Esme
merestorasi sebuah rumah yang didirikan pada
abad ketujuh belas, sebuah monumen bersejarah,
di hutan di utara kota. Emmett dan Rosalie sempat
pergi berbulan madu lagi ke Eropa selama
beberapa bulan, tapi sekarang sudah kembali.
Jasper juga berada di Cornell, kali ini belajar
filosofi. Sementara Alice melakukan beberapa riset
pribadi, berkaitan dengan informasi yang tanpa
sengaja kutemukan untuknya musim semi lalu. Ia
berhasil melacak keberadaan rumah sakit jiwa
tempatnya menghabiskan tahun-tahun terakhirnya

sebagai manusia. Kehidupan yang tidak diingatnya
sama sekali.
"Namaku dulu Mary Alice Brandon," Alice
bercerita padaku dengan suara pelan. “Aku punya
adik perempuan bernama Cynthia. Anak
perempuannya—keponakanku—masih hidup dan
tinggal di Biloxi."
Kau berhasil mengetahui alasan mereka
memasukkanmu ke... tempat itu?” Apa yang
membuat orangtua sanggup melakukan hal
seekstrem itu? Walaupun putri mereka bisa
melihat hal-hal yang akan terjadi di masa depan...
Alice menggeleng, mata topaz-nya berpikir. "Tak
banyak yang bisa kutemukan mengenai mereka.
Aku meneliti semua koran lama yang disimpan di
mikrofilm. Keluargaku tidak sering disebut-sebut;
mereka bukan bagian dari lingkaran sosial yang
diberitakan di koran-koran. Yang ada hanya berita
pertunangan kedua orangtuaku, juga pertunangan
Cynthia," Nama itu diucapkan dengan sikap
canggung. "Kelahiranku juga diumumkan... begitu
juga kematianku. Aku menemukan hiburanku.
Aku juga mencuri formulir pendaftaranku ke
rumah sakit jiwa dari arsip lama rumah sakit.
Tanggal aku masuk ke sana dan tanggal di nisanku
sama."
Aku tidak tahu harus mengatakan apa, dan,
setelah terdiam sejenak, Alice beralih ke topik-topik
lain yang lebih ringan.
Keluarga Cullen telah berkumpul lagi sekarang,
kecuali satu orang, menghabiskan liburan musim
semi di Denali bersama Tanya dan keluarganya.

Aku mendengarkan dengan penuh semangat,
bahkan kabar-kabar yang paling remeh sekalipun.
Alice tak pernah menyinggung orang yang paling
menarik hatiku, dan aku mensyukurinya.
Cukuplah mendengar cerita-cerita tentang keluarga
yang dulu aku pernah bermimpi ingin menjadi
bagian darinya.
Charlie baru kembali setelah hari gelap, dan ia
tampak lebih lelah daripada malam sebelumnya. Ia
akan kembali ke reservasi besok pagi-pagi sekali
untuk menghadiri pemakaman Harry, jadi ia tidur
lebih cepat. Aku tidur di sofa lagi bersama Alice.
Charlie nyaris terlihat seperti orang asing saat
berjalan menuruni tangga sebelum matahari terbit,
mengenakan setelan jas tua yang tak pernah
kulihat sebelumnya. Jasnya dibiarkan tak
dikancing; kurasa pasti karena terlalu sesak
sehingga tidak bisa dikancing Dasinya agak terlalu
lebar untuk mode saat ini Ia berjingkat-jingkat ke
pintu, berusaha tidak membangunkan kami.
Kubiarkan ia pergi. Pura-Pura tidur, seperti yang
dilakukan Alice di kursi malas.
Begitu Charlie keluar, Alice langsung duduk
tegak. Di bawah selimut, ia berpakaian lengkap.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanyanya.
"'Entahlah—kau melihat hal menarik yang bakal
terjadi?"
Alice tersenyum dan menggeleng. "Tapi sekarang
kan masih pagi sekali."
Sekian lama menghabiskan waktu di La Push
berarti mengabaikan setumpuk pekerjaan di

rumah, jadi aku memutuskan untuk
membereskannya sekarang. Aku ingin melakukan
sesuatu, apa saja, agar hidup Charlie lebih
mudah—mungkin membuatnya senang bila pulang
dan menemukan rumah bersih dan rapi. Aku
memulainya dari kamar mandi—ruangan itulah
yang paling menunjukkan tanda-tanda tidak
terurus.
Sementara aku bekerja, Alice bersandar di
ambang pintu dan mengajukan pertanyaan remeh
tentang, Well, teman-teman SMA kami seru apa
saja yang mereka kerjakan semenjak ia pergi.
Wajahnya tetap tenang dan tanpa emosi, tapi aku
bisa merasakan ketidaksukaannya waktu ia sadar
betapa sedikitnya yang bisa kuceritakan padanya.
Atau mungkin itu hanya perasaan bersalahku
setelah menguping pembicaraannya dengan Charlie
kemarin pagi.
Aku sedang sibuk berkutat dengan cairan
pembersih, menggosok dasar bak mandi, waktu bel
pintu berbunyi.
Aku langsung menoleh pada Alice, dan
ekspresinya terperangah, nyaris waswas, hal yang
aneh; Alice tidak pernah terkejut.
"Sebentar!" seruku ke pintu depan, berdiri, lalu
bergegas ke wastafel untuk membasuh kedua
lenganku.
"Bella," kata Alice dengan secercah nada
frustrasi dalam suaranya, "kurasa aku bisa
menebak siapa yang datang itu, jadi kupikir ada
baiknya kalau aku pergi."

"Menebak?" aku menirukan. Sejak kapan Alice
harus menebak sesuatu?
"Bila ini pengulangan dari ketidakmampuanku
melihat masa depan seperti yang terjadi kemarin,
maka besar kemungkinan yang datang itu Jacob
Black atau salah seorang... temannya."
Aku menatap Alice, mulai paham. "Jadi kau
tidak bisa melihat werewolf?"
Alice meringis. "Sepertinya begitu." Jelas ia
jengkel oleh fakta ini—sangat jengkel.
Bel pintu berdering lagi—berbunyi untuk kedua
kalinya, cepat dan tidak sabar.
"Kau tidak perlu pergi ke mana-mana, Alice. Kau
yang lebih dulu berada di sini."
Alice mengumandangkan tawa kecilnya yang
merdu itu— ada nada sinis di sana. "Percayalah
padaku—bukan ide bagus membiarkan aku berada
dalam ruangan yang sama dengan Jacob Black."
Alice mengecup pipiku sekilas sebelum lenyap di
balik pintu kamar Charlie—dan keluar dari jendela
kamar bagian belakang, tak diragukan lagi.
Bel pintu kembali berdering.

18. PEMAKAMAN
AKU berlari cepat menuruni tangga dan
menyentakkan pintu, membukanya.

Yang datang Jacob, tentu saja. Walaupun "buta",
Alice tidak bodoh.
Ia berdiri nyaris dua meter dari pintu, hidungnya
mengernyit tidak suka, tapi wajahnya tenang—
seperti topeng. Meski begitu aku tidak termakan
oleh sikapnya yang sok tenang; aku bisa melihat
kedua tangannya gemetar pelan.
Amarah menjalari tubuhnya. Hal itu membuatku
teringat pada siang tak menyenangkan ketika ia
lebih memilih Sam ketimbang aku, dan aku
merasakan daguku terangkat dengan sikap defensif
sebagai respons.
Rabbit milik Jacob menunggu dengan mesin
menyala di pinggir jalan, bersama Jared di balik
kemudi dan Embry di kursi penumpang. Aku
paham maksudnya: mereka takut membiarkan
Jacob datang ke sini sendirian. Itu membuatku
sedih, sekaligus agak jengkel. Keluarga Cullen
tidak seperti itu.
“Hai,” sapaku akhirnya ketika Jarob tak juga
bicara.
Jake mengerucutkan bibir, masih berdiri agak
jauh dari pintu. Matanya menyapu bagian depan
rumah. Aku menggertakkan gigi. "Dia tidak di sini.
Kau membutuhkan sesuatu?"
Jacob ragu-ragu. "Kau sendirian?"
"Ya." Aku mendesah.
"Boleh aku bicara sebentar denganmu?"
"Tentu saja boleh, Jacob. Silakan masuk."

Jacob menoleh memandangi teman-temannya di
mobil. Kulihat Embry menggeleng sedikit. Entah
mengapa, itu membuatku jengkel bukan main.
Rahangku kembali terkatup rapat. "Pengecut,”
gumamku pelan.
Mata Jacob beralih lagi padaku, alisnya yang
hitam tebal berkerut marah di atas matanya yang
menjorok masuk. Rahangnya mengeras, dan ia
berjalan mengentak-entakkan kaki—tidak ada
istilah lain untuk melukiskan caranya berjalan—
menghampiriku dan merangsek melewatiku masuk
ke rumah.
Aku menatap Jared dan kemudian Embry dulu—
aku tidak suka cara mereka menatapku tajam
seperti itu; apakah mereka benar-benar mengira
aku akan membiarkan Jacob dilukai?—sebelum
menutup pintu di depan hidung mereka.
Jacob berdiri di ruang depan di belakangku,
memandangi onggokan selimut di ruang tamu.
"Pesta menginap nih?" tanyanya, nadanya sinis.
"Yeah," jawabku, sama ketusnya. Aku tidak suka
melihat Jacob bertingkah seperti ini. "Memangnya
kenapa?”
Jacob mengernyitkan hidungnya lagi, seperti
mencium suatu yang tidak menyenangkan. "Mana
‘teman’-mu?” Aku bisa mendengar tanda kutip
dalam suaranya.
“Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan.
Dengar, Jacob, apa maumu?”

Ada sesuatu di ruangan ini yang kelihatannya
membuat Jacob gelisah—kedua lengannya yang
panjang bergetar. Ia tidak menjawab pertanyaanku.
Ia malah beranjak ke dapur, matanya jelalatan.
Aku mengikutinya. Ia mondar-mandir di depan
konter dapur yang pendek.
"Hei." seruku, menghalanginya. Jacob berhenti
mondar-mandir dan menunduk memandangiku.
"Apa masalahmu?"
"Aku tidak suka harus datang ke sini"
Ucapannya menyinggung perasaanku. Aku
meringis, dan mata Jacob terpejam.
"Kalau begitu sayang sekali kau harus datang,"
gerutuku. "Mengapa tidak langsung saja
kausampaikan apa yang perlu kausampaikan
supaya kau bisa pergi?"
“Aku hanya perlu mengajukan beberapa
pertanyaan padamu. Tidak butuh waktu lama.
Kami harus segera kembali untuk menghadiri
pemakaman."
"Oke. Tanyakan saja" Aku mungkin terlalu
berlebihan dalam menunjukkan sikap
bermusuhan, tapi aku tidak mau Jacob melihat
betapa menyakitkannya ini bagiku. Aku tahu aku
tidak bersikap adil. Bagaimanapun, aku lebih
memilih si pengisap darah ketimbang dia semalam.
Aku menyakitinya lebih dulu.
Jacob menghela napas dalam-dalam, dan jarijarinya
yang gemetar mendadak diam. Wajahnya
mulai tenang seperti topeng.

“Salah satu anggota keluarga Cullen menginap di
sini bersamamu," ujarnya.
“Benar. Alice Cullen."
Jacob mengangguk khidmat. "Berapa lama dia
akan berada di sini?"
"Selama yang dia inginkan." Nadaku masih
menantang. "Rumah ini terbuka baginya."
"Menurutmu bisakah kau... tolong...
menjelaskan padanya tentang yang lain itu—
Victoria?"
Wajahku memucat. "Aku sudah bercerita
padanya."
Jacob mengangguk. "Kau perlu tahu bahwa kami
hanya bisa mengawasi wilayah kami sendiri dengan
adanya seorang anggota keluarga Cullen di sini.
Kau baru akan aman bila berada di La Push. Aku
tidak bisa lagi melindungimu di sini."
"Oke," sahutku, suara nyaris tak terdengar.
Jacob memalingkan wajah, memandang ke luar
jendela. Ia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Itu saja?"
Dengan mata tetap tertuju ke jendela, Jacob
menjawab, "Satu pertanyaan lagi."
Aku menunggu, tapi ia tidak bicara juga. "Ya?"
desakku akhirnya.
"Apakah yang lain-lain juga akan kembali ke sini
sekarang?" tanyanya, suaranya pelan dan tenang.
Mengingatkanku pada pembawaan Sam yang
selalu tenang. Semakin hari Jacob semakin mirip

Sam... aku heran sendiri mengapa itu membuatku
merasa sangat terganggu.
Sekarang akulah yang diam saja. Jacob menoleh
dan memandangi wajahku dengan mata
menyelidik.
"Well?" tanyanya. Susah payah ia berusaha
menutupi ketegangan di balik ekspresinya yang
tenang.
"Tidak," jawabku akhirnya. Dengan enggan.
"Mereka tidak akan kembali."
Ekspresinya tidak berubah. "Oke. Itu saja.
Kutatap dia dengan garang, kejengkelanku
kembali membara.”Well, sekarang kau bisa pergi.
Katakan pada Sam monster-monster mengerikan
itu tidak kembali untuk menyerang kalian.”
“Oke,” ulang Jacob, tetap tenang.
Sepertinya perkataanku itu menyinggung
perasaannya. Jacob cepat keluar dari dapur. Aku
menunggu mendengar bunyi pintu depan dibuka,
tapi tidak terdengar apa-apa. aku bisa mendengar
detak jarum jam di atas kompor, dan dalam hati
aku mengagumi kemampuan Jacob bergerak tanpa
suara.
Benar-benar kacau. Bagaimana mungkin aku
bisa membuatnya menjauh dariku dalam waktu
begitu singkat?
Apakah ia akan memaafkanku bila Alice sudah
pergi nanti? Bagaimana kalau ia tidak
memaafkanku?

Aku bersandar lemas ke konter dan mengubur
wajahku dengan kedua tangan. Bagaimana aku
bisa mengacaukan semuanya? Tapi apa lagi yang
bisa kulakukan yang mungkin membuahkan hasil
berbeda? Bahkan saat menoleh ke belakang, aku
tak bisa memikirkan cara lain yang lebih baik,
tindakan lain yang sempurna.
"Bella...?" tanya Jacob, suaranya gelisah. Aku
mengeluarkan wajahku dari balik tangan dan
melihat Jacob ragu-ragu di ambang pintu dapur;
ternyata ia belum pergi seperti yang kukira. Setelah
melihat tetes-tetes bening berkilauan di tanganku,
barulah aku sadar bahwa aku menangis.
Ekspresi tenang Jacob kini lenyap; wajahnya
cemas dan tak yakin. Ia bergegas kembali dan
berdiri di depanku, menunduk sehingga matanya
dekat sekali dengan mataku.
"Aku melakukannya lagi, ya?"
"Melakukan apa?" tanyaku, suaraku pecah,
"Melanggar janjiku. Maaf."
"Tidak apa-apa," gumamku. "Kali ini
penyebabnya aku sendiri."
Wajah Jake berkerut-kerut. "Aku tahu
bagaimana perasaanmu terhadap mereka.
Seharusnya aku tidak kaget lagi."
Aku bisa melihat perubahan di matanya. Ingin
rasanya aku menjelaskan bagaimana Alice
sesungguhnya, untuk melindunginya dari
penghakiman Jacob, tapi seolah-olah ada yang

mengingatkanku bahwa sekarang belum waktunya
menjelaskan hal itu.
Maka aku hanya bisa berkata, "Maaf," sekali lagi.
"Bagaimana kalau kita tidak usah
mempermasalahkannya lagi, oke? Dia hanya
berkunjung, kan? Dia akan pergi, dan keadaan
akan kembali normal."
"Tidak bisakah aku berteman dengan kalian
berdua sekaligus?" tanyaku, suaraku tak mampu
menyembunyikan kepedihan yang kurasakan.
Jacob menggeleng lambat-lambat. "Tidak, kurasa
tidak bisa."
Aku mengisap ingus dan memandangi kakinya
yang besar. "Tapi kau mau menungguku, kan? Kau
akan tetap menjadi temanku, walaupun aku juga
menyayangi Alice?"
Aku tidak mendongak, takut melihat pikiran
Jacob berkaitan dengan kalimat terakhirku tadi.
Jacob tidak langsung menjawab, jadi mungkin ada
benarnya aku tidak melihat tadi.
"Yeah, aku akan selalu menjadi temanmu,"
katanya parau. "Tak peduli siapa pun yang
kausayangi."
“Janji?”
“Janji.”
Aku bisa merasakan lengan Jacob meliukku,
dan aku bersandar di dadanya, masih terisak-isak.
“Menyebalkan.”

"Yeah.” Kemudian Jacob mengendusi rambutku
dan berseru, “Hueek.”
“Apa!” sergahku. Aku mendongak dan melihat
hidung Jacob mengernyit lagi. "Mengapa semua
orang bersikap begitu padaku? Aku kan tidak bau!”
Jacob tersenyum sedikit. "Ya. kau bau—baumu
seperti mereka. Hah. Terlalu manis—manis
memuakkan. Dan... dingin. Membakar hidungku."
"Sungguh?" Aneh. Bau Alice wangi sekali. Bagi
manusia, setidaknya. "Tapi kalau begitu, mengapa
Alice juga menganggapku bau sekali?"
Senyum Jacob langsung lenyap. "Hah. Mungkin
baginya bauku juga tidak terlalu enak. Hah."
"Well, bau kalian baik-baik saja menurutku."
Aku meletakkan kepalaku di dadanya lagi. Aku
akan sangat kehilangan Jacob kalau dia pergi
meninggalkanku nanti. Seperti makan buah
simalakama saja—di satu sisi aku ingin Alice tetap
di sini selamanya. Aku bisa mati—secara
metaforis—bila dia meninggalkanku. Tapi
bagaimana aku bisa tahan hidup tanpa bertemu
Jacob? Benar-benar kacau, pikirku lagi.
“Aku pasti akan merindukanmu," bisik Jacob,
menyuarakan pikiranku. "Setiap menit. Mudahmudahan
sebentar lagi dia pergi."
"Tidak harus seperti itu, Jake."
Jacob mendesah. "Tidak, memang harus begitu,
Bella. Kau... sayang padanya. Jadi lebih baik bila
aku tidak dekat-dekat dengannya. Aku tidak yakin
akan cukup bisa mengendalikan diri untuk

menghadapinya. Sam pasti marah kalau aku
melanggar kesepakatan, dan–" nadanya berubah
sarkastis—"mungkin kau juga tidak suka kalau
aku membunuh temanmu.”
Aku terkejut mendengar perkataannya, tapi
Jacob justru semakin mempererat lengannya,
menolak melepaskanku. "Tidak ada gunanya
menghindari kebenaran. Memang begitulah
keadaannya, Bells."
“Aku tidak suka keadaannya seperti itu."
Jacob membebaskan satu tangan sehingga bisa
mengangkat daguku dengan tangan cokelatnya
yang besar dan memaksaku menatapnya. "Yeah.
Lebih mudah dulu, ketika kita masih sama-sama
manusia, ya?"
Aku mendesah.
Kami saling memandang lama sekali. Tangannya
panas membara di kulitku. Di wajahku, aku tahu
tidak tergambar emosi apa pun kecuali kesedihan
sendu—aku tidak ingin mengucapkan selamat
berpisah sekarang, meski hanya sebentar. Mulanya
wajah Jacob merefleksikan wajahku, namun ketika
kami sama-sama tak mengalihkan pandangan,
ekspresinya berubah.
Ia melepaskanku, mengangkat tangannya yang
lain untuk membelai pipiku dengan ujung-ujung
jari, terus hingga ke dagu. Aku bisa merasakan
jari-jarinya bergetar—kali ini bukan karena marah.
Ia menaruh telapak tangannya ke pipiku, sehingga
wajahku terperangkap oleh kedua tangannya yang
panas membara.

"Bella," bisiknya.
Aku membeku.
Tidak! Aku belum mengambil keputusan tentang
ini. Entah apakah aku mampu melakukannya, dan
sekarang aku sedang tak bisa berpikir. Tapi
sungguh tolol jika aku mengira menolaknya
sekarang takkan menghasilkan konsekuensi apaapa.
Aku membalas tatapannya. Ia bukan Jacob-ku.
tapi ia bisa menjadi milikku. Wajahnya sangat
kukenal dan kusayang. Dalam begitu banyak hal,
aku memang mencintainya. Ia penghiburku,
pelabuhanku yang aman. Sekarang mi, aku bisa
memilih untuk menjadikannya milikku.
Alice memang sekarang kembali, tapi itu tidak
mengubah apa-apa. Cinta sejari telah hilang
selama-lamanya. Sang pangeran takkan pernah
kembali untuk mengecupku dan
membangunkanku dari tidur yang panjang. Lagi
pula, aku juga bukan seorang putri. Jadi apa
protokol cerita dongeng untuk ciuman-ciuman lain?
Ciuman sepele yang tidak memusnahkan mantra?
Mungkin akan mudah—seperti menggenggam
tangannya atau dirangkul olehnya. Mungkin akan
terasa menyenangkan. Mungkin tidak akan terasa
seperti pengkhianatan. Lagi pula, memangnya aku
mengkhianati siapa? Hanya diriku.
Sambil tetap menatap mataku, Jacob mulai
mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tapi aku
masih belum bisa memutuskan.

Dering telepon membuat kami sama-sama
melompat kaget, namun tidak membuyarkan
konsentrasi Jacob. Ia menarik tangannya dari
bawah daguku dan menyambar gagang telepon,
tapi sambil tetap memegang pipiku dengan
tangannya yang lain. Matanya yang gelap tak
beralih sedikit pun dari mataku. Pikiranku terlalu
kacau untuk bisa bereaksi, bahkan mengambil
kesempatan dari gangguan yang mendadak itu.
"Kediaman keluarga Swan," jawab Jacob, suara
seraknya rendah dan dalam
Seseorang menyahut, dan sikap Jacob sertamerta
berubah. Ia menegakkan badan, dan
tangannya terjatuh dari wajahku. Matanya
langsung berubah datar, wajahnya kosong, dan
aku berani mempertaruhkan sisa dana kuliahku
yang tidak seberapa bahwa yang menelepon itu
pasti Alice.
Kesadaranku pulih dan tanganku terulur,
meminta telepon. Jacob tak menggubrisku.
"Dia tidak ada di sini," jawab Jacob, dan katakatanya
bernada garang.
Orang yang menelepon itu mengatakan sesuatu,
sepertinya meminta tambahan informasi, karena
Jacob menambahkan dengan sikap enggan, "Dia
sedang menghadiri pemakaman."
Lalu Jacob menutup telepon. "Dasar pengisap
darah kurang ajar," gerutunya pelan. Ia kembali
menunjukkan wajah yang seperti topeng getir itu.

"Siapa itu, kenapa kau menutup telepon begitu
saja?" aku terkesiap, marah. "Ini rumahku, dan itu
teleponku!"
"Tenang! Justru dia yang menutup telepon
duluan!"
"Dia? Dia siapa?"
Jacob menyemburkan gelar itu dengan nada
mengejek. "Dr. Carlisle Cullen."
"Mengapa kau tidak memberikan teleponnya
padaku?!"
"Dia tidak minta bicara denganmu kok," jawab
Jacob dingin. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi,
tapi kedua tangannya gemetar. "Dia bertanya di
mana Charlie dan kujawab. Kurasa aku tidak
melanggar etika apa pun."
"Dengar aku, Jacob Black—"
Tapi Jacob jelas tidak mendengarkan katakataku.
Ia menoleh ke belakang dengan cepat,
seolah-olah ada orang yang memanggilnya dari
ruangan lain. Matanya membelalak lebar dan
tubuhnya mengejang, lalu mulai bergetar. Otomatis
aku ikut mendengarkan juga, tapi tidak terdengar
suara apa-apa.
"Bye, Bells." semburnya, lalu tergesa-gesa
menuju pintu depan.
Aku berlari mengejarnya. "Ada apa?”
Kemudian aku menabraknya, saat ia berhenti,
menggoyang-.oyanskan badan dengan bertumpu
Pada tumit, memaki pelan. Tiba-tiba ia berbalik

lagi, menyenggolku keras. Aku goyah dan rubuh ke
lantai, kedua kakiku tersangkut di kakinya.
"Sialan, aduh!” protesku saat Jacob buru-buru
menyentakkan kakinya, membebaskannya dari
belitan kakiku.
Susah payah aku bangkit kembali sementara
Jacob berlari menuju pintu belakang; mendadak ia
kembali membeku. Alice berdiri tak bergerak di
kaki tangga.
"Bella," panggilnya dengan suara tercekat. Aku
cepat-cepat berdiri dan menghambur
mendapatinya. Mata Alice nanar dan menerawang
jauh, wajahnya tegang dan pucat pasi seperti
mayat. Tubuhnya yang langsing bergetar karena
pergolakan di dalam dirinya.
"Alice, ada apa?" pekikku. Aku merengkuh
wajahnya dengan kedua tangan, berusaha
menenangkannya.
Matanya mendadak terfokus ke mataku,
membelalak oleh kesedihan.
"Edward," hanya itu yang ia bisikkan.
Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada yang
sanggup ditangkap oleh otakku begitu mendengar
jawabannya. Awalnya aku tak mengerti mengapa
ruangan berputar atau dari mana raungan hampa
di telingaku ini berasal. Pikiranku bergerak sangat
lambat, tak mampu mencerna wajah Alice yang
muram dan apa hubungan hal itu dengan Edward,
sementara tubuhku saat itu sudah goyah, mencari
kelegaan dalam ketidaksadaran sebelum kenyataan
dapat menghantamku telak-telak.

Tangga terlihat miring dalam sudut yang sangat
tidak lazim.
Suara Jacob yang marah tiba-tiba terdengar di
telingaku, mendesis menghamburkan kata-kata
makian. Samar-samar aku merasa tidak senang.
Teman-teman barunya jelas memberi pengaruh
yang tidak baik.
Aku terbaring di sofa tanpa mengerti mengapa
aku bisa berada di sana, dan Jacob masih terus
mengumpat-umpat. Rasanya seperti ada gempa
bumi—sofa berguncang-guncang di bawah
tubuhku.
"Kauapakan dia?" tuntut Jacob.
Alice tak menggubrisnya. "Bella? Bella, sadarlah.
Kita harus bergegas."
"Jangan mendekat," tegur Jacob.
"Tenanglah, Jacob Black," Alice memerintahkan.
"Jangan sampai kau berubah dalam jarak sedekat
itu dengannya."
"Kurasa aku tidak punya masalah dalam
mengendalikan diri," sergah Jacob, tapi suaranya
terdengar sedikit lebih dingin.
“Alice?" Suaraku lemah. "Apa yang terjadi?"
tanyaku, walaupun aku tidak ingin mendengarnya.
"Aku tidak tahu," Alice tiba-tiba meraung. "Apa
yang dia pikirkan?!"
Susah payah aku berusaha mengangkat
tubuhku, meski kepalaku pusing. Sadarlah aku
bahwa aku mencengkeram tangan Jacob untuk

menyeimbangkan diri. Dialah yang berguncangguncang,
bukan sofanya.
Alice mengeluarkan ponsel perak kecil dari
dalam tas sementara mataku memandanginya.
Jari-jarinya menekan cepat serangkaian tombol,
begitu cepatnya hingga tampak kabur.
"Rose, aku harus bicara dengan Carlisle
sekarang.” Suaranya tajam saat melontarkan katakata
itu. "Baiklah, pokoknya segera setelah dia
kembali. Tidak, aku akan naik pesawat. Dengar,
kau sudah dapat kabar dari Edward?”
Alice terdiam sekarang, mendengarkan dengan
ekspresi yang semakin lama semakin ngeri.
Mulutnya ternganga, membentuk huruf O penuh
kengerian, dan ponsel di tangannya bergetar hebat.
"Mengapa?” ia terkesiap. “Mengapa kau berbuat
begitu, Rosalie?”
Apa pun jawabannya, itu membuat dagu Alice
mengeras karena marah. Matanya berkilat-kilat
dan menyipit.
“Well kau salah besar dua kali, Rosalie, jadi itu
pasti akan jadi masalah, bukan?" tanyanya tajam.
"Ya, benar. Dia baik-baik saja—ternyata aku
salah... Ceritanya panjang... Tapi kau juga salah
dalam hal itu, karena itulah aku menelepon... Ya,
memang itulah yang kulihat."
Suara Alice sangat kaku dan bibirnya tertarik ke
belakang. "Sudah agak terlambat untuk itu, Rose.
Simpan saja penyesalanmu untuk orang yang
memercayainya." Alice menutup ponsel lipatnya
keras-keras.

Ia tampak tersiksa saat berpaling menatapku.
"Alice," semburku cepat-cepat. Aku belum
sanggup membiarkannya bicara. Aku butuh
beberapa detik lagi sebelum ia berbicara dan katakatanya
menghancurkan apa yang tersisa dalam
hidupku. "Alice, Carlisle sudah kembali. Dia baru
saja menelepon..."
Alice menatapku kosong. "Kapan?" tanyanya
dengan suara bergaung hampa.
"Setengah menit sebelum kau muncul."
“Apa katanya?” Ia benar-benar fokus sekarang,
menunggu jawabanku.
“Aku tidak sempat bicara dengannya." Mataku
melirik Jacob.
Alice mengalihkan tatapannya yang tajam
menusuk pada Jacob. Jacob tersentak, tapi
bergeming di dekatku. Ia duduk dengan sikap
canggung, hampir seperti berusaha menamengiku
dengan tubuhnya.
"Dia minta bicara dengan Charlie, dan
kukatakan Charlie tidak ada," sergah Jacob dengan
nada tidak senang.
"Hanya itu?" tuntut Alice, suaranya sedingin es.
"Lalu dia langsung menutup telepon," bentak
Jacob. Sekujur tubuhnya bergetar, membuatku
ikut terguncang.
Alice menyentakkan kepalanya kembali ke
arahku. "Bagaimana persisnya kata-katanya?"

"Dia bilang, 'Dia tidak ada di sini,’ dan waktu
Carlisle bertanya Charlie ke mana, Jacob
menjawab, 'Dia sedang menghadiri pemakaman.’”
Alice mengerang dan merosot lemas.
"Katakan padaku, Alice," bisikku.
"Itu tadi bukan Carlisle," katanya dengan sikap
tak berdaya.
"Jadi menurutmu aku pembohong?" raung Jacob
dari sampingku.
Alice mengabaikannya, memfokuskan diri pada
wajahku yang kebingungan.
"Itu tadi Edward." Alice mengucapkannya sambil
berbisik dengan suara tercekat. "Dia mengira kau
sudah mati."
Pikiranku mulai bekerja lagi. Kata-kata itu
bukanlah yang kutakutkan, dan kelegaan
menjernihkan pikiranku.
"Rosalie memberi tahu dia bahwa aku bunuh
diri, benar, kan?" tanyaku, mendesah saat
tubuhku mulai rileks kembali.
"Benar," Alice mengakui, matanya berkilat
marah. "Dalam pembelaannya, dia memang benarbenar
memercayainya. Mereka terlalu
mengandalkan penglihatanku meskipun
penglihatanku tidak sempurna. Tapi Rosalie
sampai melacak keberadaan Edward hanya untuk
menyampaikan hal itu! Apakah dia tidak sadar...
atau peduli...?" Suara Alice menghilang dalam
kengerian.

"Dan waktu Edward menelepon ke sini, dia
mengira yang dimaksud Jacob adalah
pemakamanku," aku tersadar. Sakit rasanya
mengetahui aku tadi sudah sangat dekat
dengannya, hanya beberapa sentimeter saja dari
suaranya. Kuku-kukuku terbenam di kulit lengan
Jacob, tapi ia bergeming.
Alice menatapku aneh. "Kau tidak kalut,"
bisiknya.
"Well, waktunya memang sangat tidak tepat, tapi
semua bisa diluruskan kembali. Kalau dia
menelepon lagi nanti, dia bisa diberitahu tentang...
kejadian... sebenarnya..." Suaraku menghilang.
Tatapan Alice membuat kata-kataku tersangkut di
tenggorokkan.
Mengapa Alice sepanik ini? Mengapa wajahnya
berkerut-kerut oleh sikap kasihan bercampur
ngeri? Apa yang dikatakannya pada Rosalie di
telepon barusan? Sesuatu tentang
penglihatannya... dan penyesalan Rosalie; Rosalie
takkan pernah menyesali apa pun yang terjadi
padaku. Tapi bila dia menyakiti keluarganya,
saudara lelakinya...
"Bella," bisik Alice. "Edward tidak akan
menelepon lagi. Dia percaya pada Rosalie."
“Aku. Tidak. Mengerti." Mulutku membentuk
setiap kata tanpa suara. Aku tidak sanggup
mendorong udara keluar dari mulutku untuk
mengucapkan kata-kata yang akan membuat Alice
menjelaskan maksudnya.
"Dia pergi ke Italia."

Seketika aku langsung mengerti.
Ketika suara Edward terngiang kembali dalam
ingatanku, suaranya bukan lagi imitasi sempurna
dari delusiku. Hanya nada datar dan lemah seperti
yang terekam dalam ingatanku. Tapi kata-katanya
saja sudah cukup mengoyak dadaku dan
membuatnya menganga lebar. Kata-kata itu
berasal dari saat ketika aku berani
mempertaruhkan segala yang kumiliki pada fakta
bahwa ia mencintaiku.
Well aku tidak mau hidup tanpa kau, kata
Edward waktu itu ketika kami menonton Romeo
dan Juliet meninggal, persis di ruangan ini. Tapi
aku tidak tahu bagaimana melakukannya... aku
tahu Emmett dan Jasper tidak akan mau
membantu... jadi kupikir mungkin aku akan pergi ke
Italia dan melakukan sesuatu untuk memprovokasi
Volturi... Kau tidak boleh membuat kesal keluarga
Volturi. Kecuali kau memang ingin mati.
Kecuali kau memang ingin mati.
"TIDAK!" Penyangkalan setengah berteriak itu
terdengar sangat nyaring setelah kata-kata yang
diucapkan sambil berbisik, hingga membuat kami
semua terlonjak kaget. Aku merasa darah
menyembur ke wajahku saat aku menyadari apa
yang telah dilihat Alice. "Tidak! Tidak, tidak, tidak!
Tidak boleh! Dia tidak boleh melakukan hal itu!"
"Dia langsung membulatkan tekad begitu
temanmu mengonfirmasi bahwa sudah terlambat
untuk menyelamatkanmu."

"Tapi dia... dia yang pergi! Dia tidak
menginginkanku lagi! Apa bedanya itu sekarang?
Dia toh sudah tahu aku bakal meninggal suatu
saat nanti!"
"Menurutku dia memang tidak berniat hidup lagi
setelah kau tidak ada," ujar Alice pelan.
"Berani betul dia!" jeritku. Aku berdiri sekarang,
dan Jacob bangkit dengan sikap ragu, lagi-lagi
menempatkan dirinya di antara Alice dan aku.
"Oh, minggirlah, jacob!" Kusikut tubuhnya yang
gemetar itu dengan sikap tidak sabar. “Apa yang
bisa kita lakukan?” tanyaku pada Alice. Pasti ada
yang bisa kami lakukan. “Apakah kita tidak bisa
meneleponnya? Bisakah Carlisle
menghubunginya?”
Alice menggeleng-geleng. "Itu hal pertama yang
kucoba. Dia membuang ponselnya ke tong sampah
di Rio—teleponku dijawab orang lain...,” bisiknya.
"Kaubilang tadi kita harus bergegas. Bergegas
bagaimana? Ayo kita lakukan, apa pun itu!"
"Bella, aku – aku tidak bisa memintamu
untuk..." Suaranya menghilang dalam
kebimbangan.
"Minta saja!" perintahku.
Alice memegang bahuku dengan kedua tangan,
memegangiku jari-jarinya membuka dan menutup
secara sporadis untuk memberi penekanan pada
kata-katanya. "Mungkin saja kita sudah terlambat.
Aku melihatnya mendatangi keluarga Volturi... dan
minta mati." Kami sama-sama bergidik, dan

mataku tiba-tiba buta. Aku mengerjap-ngerjapkan
mata, mengusir air mata yang merebak. "Sekarang
tergantung pada pilihan mereka. Aku tidak bisa
melihatnya sampai mereka mengambil keputusan.
Tapi kalau mereka mengatakan tidak, dan itu
mungkin saja terjadi—Aro kan, menyayangi
Carlisle, dan tidak mau membuatnya sedih –
Edward punya rencana cadangan. Keluarga Volturi
sangat protektif terhadap kota mereka. Kalau
Edward melakukan sesuatu yang mengoyakkan
kedamaian tempat itu, menurut perkiraannya,
mereka pasti akan bertindak untuk
menghentikannya. Dan dia benar. Mereka memang
akan bertindak."
Kutatap Alice dengan dagu mengejang frustrasi.
Aku belum mendengar alasan apa pun yang bisa
menjelaskan mengapa kami masih berdiri di sini.
“Jadi kalau mereka setuju mengabulkan
permintaannya, berarti kita terlambat. Kalau
mereka menolak, dan Edward menjalankan
rencananya untuk membuat mereka marah, kita
juga terlambat. Kalau dia melakukan
kecenderungan teatrikal-nya... mungkin kita masih
punya waktu."
"Ayo kita pergi!"
"Dengar, Bella! Terlepas dari apakah kita nanti
terlambat atau tidak, kita akan berada di jantung
kota Volturi. Aku akan dianggap kaki tangan
Edward bila dia berhasil. Kau akan menjadi
manusia yang bukan hanya terlalu banyak tahu,
tapi juga membangkitkan selera. Besar
kemungkinan mereka akan menghabisi kita—

walaupun dalam kasusmu hukumannya mungkin
menjadikanmu menu makan malam."
"Jadi itukah sebabnya kita tidak kunjung
berangkat juga?" tanyaku dengan sikap tak
percaya. "Aku akan pergi sendirian kalau kau
takut." Dalam hati aku menghitung jumlah uang di
rekeningku, dan bertanya-tanya apakah Alice
bersedia meminjamkan kekurangannya padaku.
“Aku hanya takut membuatmu terbunuh.”
Aku mendengus sebal. "Setiap hari juga aku
hampir terbunuh kok! Katakan padaku apa yang
perlu kulakukan!”
"Tulis pesan untuk Charlie. Aku akan menelepon
perusahaan penerbangan."
“Charlie," aku terkesiap.
Bukan berarti keberadaanku di sini bisa
melindunginya, tapi sanggupkah aku
meninggalkannya sendirian di sini untuk
menghadapi... .
"Aku tidak akan membiarkan apa pun menimpa
Charlie.” Suara pelan Jacob terdengar parau
bercampur marah. "Masa bodoh dengan
kesepakatan."
Aku mendongak dan menatapnya, tapi Jacob
merengut melihat ekspresiku yang panik.
"Cepatlah. Bella,” sela Alice dengan nada
mendesak. Aku berlari ke dapur, menyentakkan
laci-laci hingga terbuka dan membuang semua
isinya ke lantai, kalang-kabut mencari bolpoin.

Sebuah tangan cokelat halus mengulurkan bolpoin
padaku.
"Trims,” gumamku, menarik tutupnya dengan
gigi. Tanpa bersuara Jacob mengulurkan notes
tempat kami biasa menuliskan pesan-pesan
telepon. Kurobek lembaran paling atas dan
kulempar begitu saja ke balik bahuku.
Dad, tulisku. Aku bersama Alice. Edward sedang
ada masalah. Dad boleh menghukumku kalau aku
pulang nanti Aku tahu waktunya sangat tidak tepat.
Maafkan aku. Sangat sayang padamu. Bella.
"Jangan pergi," bisik Jacob. Amarahnya lenyap
karena sekarang Alice sudah tak ada lagi di
ruangan itu.
Aku tidak mau membuang-buang waktu
berdebat dengannya. "Kumohon, kumohon,
kumohon jaga Charlie baik-baik," pintaku sambil
melesat kembali ke ruang depan. Alice menunggu
di ambang pintu dengan tas disampirkan ke
pundak.
"Ambil dompetmu—kau harus membawa KTP.
Please, kuharap kau punya paspor. Tak ada waktu
untuk membuat paspor palsu."
Aku mengangguk dan berlari menaiki tangga,
lututku lemas oleh perasaan bersyukur karena
ibuku sempat ingin menikah dengan Phil di pantai
di Meksiko. Tentu saja, seperti semua rencananya
yang lain, rencana itu gagal total. Tapi aku sudah
telanjur melakukan segala persiapan berkenaan
dengan rencananya itu.

Aku menghambur memasuki kamar. Kujejalkan
dompet tuaku, T-shirt bersih, dan celana panjang
ke dalam ransel, dan cak ketinggalan sikat gigi.
Lalu aku melesat lagi menuruni tangga. Perasaan
deja vu nyaris terasa mencekik saat ini.
Setidaknya, tidak seperti waktu itu—ketika aku
harus melarikan diri dari Forks untuk lolos dari
kejaran para vampir haus darah, bukan malah
menemui mereka—aku tidak perlu berpamitan
dengan Charlie secara langsung.
Jacob dan Alice tampak bersitegang di depan
pintu yang terbuka, berdiri berjauhan satu sama
lain hingga awalnya orang pasti takkan mengira
mereka sedang berbicara. Tampaknya mereka tak
menggubris kemunculanku kembali yang berisik.
"Mungkin saja kau bisa mengendalikan diri
sesekali, tapi kau membawanya ke hadapan lintahlintah
yang—" tuduh Jacob dengan nada marah.
"Ya. Kau benar, anjing." Alice tak kalah garang.
"Keluarga Volturi itu inti utama jenis kami—
merekalah alasan mengapa bulu kudukmu
meremang saat kau mencium bauku. Mereka
hakikat mimpi-mimpi burukmu, kengerian di balik
instingmu. Aku bukannya tidak menyadari hal itu."
"Dan kau membawa Bella ke mereka, seperti
membawa sebotol anggur ke pesta!" teriak Jacob.
"Kaupikir dia lebih aman bila aku
meninggalkannya sendirian di sini, bersama
Victoria yang mengincarnya?”
"Kami bisa mengatasi si rambut merah.”

"Kalau benar begitu, mengapa dia masih
berburu?"
Jacob menggeram, dan getaran hebat
mengguncang tubuhnya.
“Hentikan!” teriakku pada mereka berdua, kalut
oleh perasaan tidak sabar. "Nanti saja berdebatnya,
kalau kita sudah kembali. Ayo berangkat!'
Alice berbalik menuju mobilnya, menghilang
saking buru-burunya. Aku bergegas menyusulnya,
otomatis berhenti sebentar untuk berbalik dan
mengunci pintu.
Jacob menyambar lenganku dengan tangannya
yang gemetar. "Please, Bella. Kumohon."
Bola matanya yang gelap berkaca-kaca oleh air
mata. Tenggorokanku tercekat.
"Jake, aku harus—“
"Tapi kau tidak harus pergi. Sungguh. Kau bisa
tinggal di sini bersamaku. Kau bisa tetap hidup.
Demi Charlie. Demi aku."
Mesin Mercedes Carlisle menderum; meraungraung
semakin keras saat Alice menginjak pedal
gas dengan tidak sabar.
Aku menggeleng, air mataku mengalir turun.
Kutarik lenganku dari pegangannya, dan Jacob
tidak menahanku.
“Jangan mati, Bella," katanya dengan suara
tercekik. "Jangan pergi. Jangan."
Bagaimana kalau aku tidak pernah melihatnya
lagi?

Pikiran itu menyeruak keluar dari benakku di
sela-sela air mata tanpa suara; sedu sedan
terlontar dari dadaku. Aku meraih pinggang Jacob
dan memeluknya sebentar, mengubur wajahku
yang bersimbah air mata di dadanya. Jacob
menempelkan tangannya yang besar ke belakang
kepalaku, seolah-olah ingin menahanku di sana.
"Selamat tinggal, Jake." Kutarik tangannya dari
rambutku, dan kuaum telapaknya. Aku tak
sanggup menatap wajahnya. “Maaf,” bisikku.
Kemudian aku berbalik dan berlari ke mobil.
Pintu penumpang sudah terbuka, menunggu.
Kulempar ranselku ke belakang dan masuk,
membanting pintu di belakangku.
“Jaga Charlie baik-baik!" aku menoleh dan
berteriak ke luar jendela, tapi Jacob sudah tidak
tampak lagi. Saat Alice menginjak pedal gas kuatkuat
dan – ban mobil berderit keras bagaikan
lengkingan suara manusia – memutar mobil
dengan cepat ke arah jalan, mataku tertumpu pada
cabikan sesuatu berwarna putih, dekat pinggir
pepohonan. Cabikan sepatu.

19. BERPACU
KAMI berhasil naik pesawat hanya beberapa
detik sebelum jadwal keberangkatan, dan siksaan
sesungguhnya dimulai. Pesawat bertengger di
apron dengan mesin menyala sementara para
pramugari melenggang—begitu santainya—di

sepanjang lorong pesawat, menepuk-nepuk tas
yang disimpan di kompartemen di atas tempat
duduk, memastikan semuanya beres. Pilot-pilot
mencondongkan tubuh dari kokpit, mengobrol
dengan pramugari-pramugari ketika mereka lewat.
Tangan Alice terasa keras di pundakku,
menahanku tetap di kursi sementara aku bergerakgerak
gelisah.
“Ini lebih cepat daripada berlari," Alice
mengingatkanku dengan suara pelan.
Aku hanya mengangguk sambil terus bergerakgerak.
Akhirnya pesawat bergulir pelan, sedikit demi
sedikit menambah kecepatan dan itu semakin
menyiksaku. Kusangka aku bakal lega setelah
pesawat akhirnya lepas landas, tapi
ketidaksabaran yang kurasakan ternyata tak
berkurang juga.
Alice sudah mengangkat telepon dari punggung
kursi di depannya sebelum pesawat berhenti
menanjak, sengaja memunggungi pramugari yang
menatapnya tidak setuju. Namun sesuatu di
ekspresiku membuat pramugari itu mengurungkan
niatnya untuk menghampiri dan menegur kami.
Aku berusaha menulikan telinga dari bisik-bisik
Alice dengan Jasper; aku tak ingin mendengar
kata-katanya lagi, tapi ada juga beberapa yang
tanpa sengaja terdengar olehku.
“Aku tidak yakin, aku bolak-balik melihatnya
melakukan berbagai hal berbeda, berkali-kali
berubah pikiran... Pembunuhan massal di kota,

menyerang penjaga, mengangkat mobil di atas
kepala di alun-alun kota... kebanyakan hal-hal
yang akan mengekspos mereka—dia tahu itu cara
paling cepat memaksa mereka bereaksi...
"Tidak, tidak bisa." Suara Alice semakin pelan
hingga nyaris tak terdengar, walaupun aku duduk
hanya beberapa sentimeter di sebelahnya. Aku
menajamkan pendengaran. "Katakan pada Emmett,
jangan... Well, susul Emmett dan Rosalie dan bawa
mereka kembali... Pikirkan baik-baik, Jasper.
Kalau dia melihat salah seorang di antara kita,
menurutmu, apa yang akan dia lakukan?"
Alice mengangguk. "Tepat sekali. Menurutku
Bella-lah satu-satunya kesempatan—kalau masih
ada kesempatan... aku akan melakukan apa pun
yang masih bisa dilakukan, tapi siapkan Carlisle;
kemungkinannya kecil."
Lalu ia tertawa, kemudian suaranya tercekat.
“Aku juga sudah memikirkan hal itu... Ya, aku
janji." Suaranya berubah memohon. "Jangan ikuti
aku. Aku janji, Jasper. Bagaimanapun caranya,
aku akan keluar... Dan aku cinta padamu.”
Alice menutup telepon, dan bersandar di
kursinya dengan mata terpejam. "Aku benci harus
berbohong padanya.”
"Ceritakan semua padaku, Alice," pintaku. “Aku
tidak mengerti. Menapa kau menyuruh Jasper
menghentikan Emmett, menapa mereka tidak
boleh datang menolong kita?"
"Dua alasan," bisik Alice, matunya masih
terpejam. "Yang pertama sudah kukatakan

padanya. Kami bisa saja berusaha menghentikan
Edward sendiri—kalau Emmett bisa
menemukannya, mungkin kami bisa meyakinkan
dia bahwa kau masih hidup. Tapi kami takkan
berhasil mendekati Edward diam-diam. Dan kalau
dia melihat kami datang mencarinya, dia justru
akan bertindak lebih cepat. Dia akan melemparkan
Buick ke tembok batu atau semacamnya, dan
keluarga Volturi akan melumpuhkannya.
"Ada alasan kedua tentu saja, alasan yang tidak
bisa kuungkapkan pada Jasper. Karena bila
mereka ada di sana dan keluarga Volturi
membunuh Edward, mereka pasti akan melawan
keluarga Volturi, Bella." Alice membuka matanya
dan menatapku, memohon. "Kalau saja ada
kesempatan kami bisa menang... kalau saja ada
kesempatan kami berempat bisa menyelamatkan
saudara kami dengan bertempur untuknya,
mungkin ceritanya akan lain. Tapi kami tidak bisa,
dan, Bella, aku tidak sanggup kehilangan Jasper
seperti itu."
Sadarlah aku mengapa mata Alice memohon
pengertianku. Ia melindungi Jasper, dengan
mempertaruhkan nyawa kami sendiri, dan
mungkin nyawa Edward juga. Aku mengerti, dan
aku tidak berpikir buruk tentangnya. Aku
mengangguk.
“Apakah Edward tidak bisa mendengarmu?"
tanyaku. "Tidak bisakah dia tahu, begitu
mendengar pikiranmu, bahwa aku masih hidup,
bahwa tidak ada gunanya melakukan hal ini?"

Bukan berarti kalau aku sudah mati ia bisa
dibenarkan melakukannya. Aku masih tidak
percaya ia sanggup bereaksi seperti ini. Sungguh
tak masuk akal! Aku ingat sangat jelas katakatanya
hari itu di sofa, ketika kami nonton Romeo
dan Juliet bunuh diri, yang satu menyusul yang
lain. Aku tidak mau hidup tanpa kau, begitu kata
Edward waktu itu, seolah-olah itu kesimpulan yang
sangat jelas. Tapi kata-kata yang diucapkannya di
hutan saat ia meninggalkanku telah membuyarkan
semua itu—secara paksa.
"Kalau dia mendengarkan," Alice menjelaskan.
"Tapi percaya atau tidak, mungkin saja untuk
membohongi pikiranmu. Seandainya kau sudah
meninggal, aku akan tetap berusaha
menghentikannya. Dan aku akan berpikir 'Bella
masih hidup, Bella masih hidup’ sekuat tenaga.
Dia tahu itu "
Kukertakkan gigiku dengan perasaan frustrasi.
"Kalau kami bisa melakukan ini tanpa kau,
Bella, aku tidak akan membahayakan
keselamatanmu seperti ini. Tindakanku ini sangat
tidak bisa dibenarkan."
"Jangan tolol. Itu hal terakhir yang seharusnya
kaukhawatirkan" Aku menggeleng dengan sikap
tak sabar. "Ceritakan apa yang kaumaksud waktu
bilang kau tidak suka harus membohongi Jasper."
Alice menyunggingkan senyum muram. "Aku
berjanji padanya akan keluar sebelum mereka
membunuhku juga. Padahal aku tidak bisa
menjamin—itu sangat tidak mungkin." Alice
mengangkat alis, seolah-olah berusaha

meyakinkanku untuk lebih serius lagi menanggapi
bahaya itu.
"Siapa sebenarnya keluarga Volturi ini?" tanyaku
berbisik. "Apa yang membuat mereka jauh lebih
berbahaya dari pada Emmett, Jasper, Rosalie, dan
kau?" Sulit membayangkan hal lain yang lebih
mengerikan daripada itu.
Alice menarik napas dalam-dalam, sekonyongkonyong
melayangkan pandangan tidak suka ke
balik bahuku Aku menoleh dan masih sempat
melihat lelaki yang duduk di seberang gang
membuang muka. seakan-akan tidak sedang
menguping pembicaraan kami. Kelihatannya ia
pengusaha, bersetelan jas lengkap dengan dasi dan
laptop di pangkuan. Ketika aku menatapnya kesal,
lelaki itu membuka komputer dan dengan lagak
terang-terangan memasang headphone di
telinganya.
Aku mencondongkan tubuh lebih dekat kepada
Alice. Bibirnya tepat di telingaku saat ia
membisikkan ceritanya.
"Aku kaget waktu kau mengenali nama itu,"
katanya. "Bahwa kau langsung mengerti
maksudku—waktu kukatakan Edward pergi ke
Italia. Awalnya kukira aku harus menjelaskan.
Seberapa banyak yang sudah diceritakan Edward
padamu?"
"Dia hanya mengatakan mereka keluarga tua
yang berkuasa, seperti bangsawan. Bahwa kau
tidak boleh membuat mereka kesal kecuali kau
ingin... mati," bisikku. Kata terakhir itu sangat
sulit diucapkan.

"Kau harus mengerti," ujar Alice, suaranya lebih
lambat, lebih terukur. "Kami keluarga Cullen unik
dalam banyak hal, lebih daripada yang kauketahui.
Sebenarnya... justru tidak normal kalau begitu
banyak di antara kami bisa hidup bersama dalam
damai. Sama halnya dengan keluarga Tanya di
utara, dan Carlisle berspekulasi bahwa dengan
tidak mengisap darah manusia, akan lebih mudah
bagi kami untuk bisa hidup beradab, membentuk
ikatan yang didasarkan pada kasih, bukan sematamata
untuk bertahan hidup atau perasaan
nyaman. Bahkan kelompok kecil James yang
terdiri atas tiga vampir itu bisa dikatakan besar—
dan kaulihat sendiri betapa mudahnya Laurent
meninggalkan mereka. Biasanya jenis kami
bepergian sendirian, atau berpasang-pasangan.
Keluarga Carlisle yang terbesar saat ini, sepanjang
pengetahuanku, kecuali satu keluarga lain.
Keluarga Volturi.
"Aslinya, mereka bertiga, Aro, Caius, dan
Marcus."
“Aku pernah melihat mereka," gumamku. "Di
lukisan di ruang kerja Carlisle."
Alice mengangguk. "Dua wanita bergabung
dengan mereka kemudian, dan mereka berlima
membentuk keluarga. Entahlah, tapi menurutku
usia merekalah yang memberi mereka kemampuan
untuk hidup bersama dengan damai. Usia mereka
tiga ribu tahun lebih. Atau mungkin bakat khusus
mereka yang membuat mereka sengaja
bertoleransi. Seperti Edward dan aku, Aro dan
Marcus juga... berbakat."

Alice melanjutkan ceritanya sebelum aku sempat
bertanya. “Atau mungkin juga kecintaan mereka
pada kekuasaan yang menyatukan mereka.
Menyebut mereka dengan istilah bangsawan
adalah sangat tepat."
"Tapi kalau hanya lima—"
"Lima yang membentuk keluarga," Alice
mengoreksi. "Itu belum termasuk pengawal
mereka."
Aku menghela napas dalam-dalam.
"Kedengarannya... serius."
"Oh, memang," Alice meyakinkan aku. “Ada
sembilan pengawal tetap, begitulah yang terakhir
kami dengar. Yang lain-lain... tidak tetap. Gontaganti.
Dan banyak di antara mereka juga berbakat
– dengan bakat-bakat luar biasa, membuat apa
yang bisa kulakukan terlihat seperti tipuan
murahan. Mereka dipilih keluarga Volruri karena
kemampuan mereka, baik cara fisik maupun yang
lain."
Aku membuka mulut, tapi lalu menutupnya lagi.
Kurasa aku tak ingin tahu seberapa kecil peluang
menang dari mereka.
Alice mengangguk lagi, seolah-olah mengerti apa
yang kupikirkan. "Mereka jarang terlibat
konfrontasi. Tak ada yang setolol itu hingga mau
mencari gara-gara dengan mereka. Mereka tetap
tinggal di kota dan hanya pergi untuk
melaksanakan kewajiban."
“Kewajiban?" aku keheranan.

"Edward tidak menceritakan padamu apa yang
mereka lakukan?”
"Tidak," jawabku, merasa wajahku kosong tanpa
ekspresi.
Alice melongok lagi ke balik bahuku, ke arah si
lelaki pengusaha, lalu mendekatkan bibirnya yang
sedingin es ke telingaku.
"Ada alasan mengapa Edward menyebut mereka
bangsawan... kelas penguasa. Selama beribu-ribu
tahun, mereka menjadi pihak yang menegakkan
peraturan kami—itu berarti menghukum para
pelanggarnya. Mereka melaksanakan kewajiban itu
dengan tegas."
Mataku terbelalak shock. "Jadi ada peraturan?"
tanyaku, suaraku kelewat keras.
"Ssstt!"
"Kenapa tak ada yang memberi tahuku
sebelumnya?" bisikku marah. "Maksudku, aku
ingin menjadi... salah satu dari kalian! Kenapa
tidak ada yang menjelaskan aturan-aturannya
padaku?"
Alice berdecak melihat reaksiku. "Peraturannya
tidak terlalu rumit, Bella. Hanya ada satu
larangan—dan kalau kaupikir benar-benar, kau
mungkin bisa menebaknya sendiri."
Aku berpikir sebentar. "Tidak, aku tidak tahu."
Alice menggeleng, kecewa. "Mungkin aturannya
terlalu jelas. Kami – hanya harus merahasiakan
eksistensi kami."

“Oh,” gumamku. Memang jelas sekali.
“Itu masuk akal, dan kebanyakan kami tidak
butuh diawasi,” lanjut Alice. "Tapi setelah beberapa
abad, terkadang salah seorang di antara kami ada
yang bosan. Atau gila. Entahlah. Dan saat itulah
keluarga Volturi menengahi sebelum perbuatan
para vampir itu bisa mengakibatkan hal buruk bagi
mereka, atau bagi kami semua."
"Jadi Edward..."
"Berencana melecehkan peraturan itu di kota
mereka sendiri—kota yang diam-diam telah mereka
kuasai selama tiga ribu tahun, sejak Zaman
Etruria. Saking protektifnya terhadap kota mereka,
mereka tidak mengizinkan perburuan di dalam
tembok kota. Bisa jadi Volterra kota teraman di
dunia—setidaknya dari serangan vampir."
"Tapi katamu tadi mereka tidak pernah
meninggalkan kota. Lantas bagaimana mereka
makan?"
"Mereka tidak pergi. Mereka membawa makanan
mereka dari luar, terkadang dari tempat-tempat
sangat jauh. Dengan begitu para pengawal punya
kegiatan lain bila tidak sedang menghabisi para
vampir yang membelot. Atau melindungi Volterra
dari hal-hal yang tak diinginkan..."
"Dari situasi seperti ini, seperti Edward," aku
menyelesaikan kalimatnya. Menakjubkan betapa
mudahnya mengucapkan nama Edward sekarang.
Aku tak yakin apa perbedaannya. Mungkin karena
aku tak berniat hidup lebih lama lagi kalau tak
bisa bertemu dengannya. Atau tidak hidup sama

sekali, kalau kami terlambat. Tenang rasanya
karena tahu aku bisa mengakhirinya dengan
mudah.
"Aku ragu mereka pernah menghadapi situasi
seperti ini,” gumam Alice, kesal. "Tak banyak
vampir yang ingin bunuh diri."
Suara yang keluar dari mulutku sangat pelan,
tetapi Alice sepertinya mengerti itu jerit kesedihan.
Ia dengan lengannya yang kurus dan kokoh.
“Kita akan berusaha semampu kita, Bella. Ini
belum berakhir.”
“Memang belum.” Aku membiarkan Alice
menghiburku, meski tahu ia menganggap peluang
kami sangat kecil. “Dan keluarga Volturi akan
menghabisi kita kalau kita gagal.”
Alice menegang. “Sepertinya kau malah senang.”
Aku mengangkat bahu.
“Hentikan, Bella, atau kita berbalik di New York
dan kembali ke Forks.”
“Apa?”
“Kau tahu maksudku. Kalau kita terlambat
menyelamatkan Edward, aku akan berusaha
sekuat tenaga mengembalikanmu ke Charlie, dan
aku tak mau kau berulah macam-macam.
Mengerti?”
"Tentu, Alice."
Alice mundur sedikit agar bisa memelototiku.
"Jangan macam-macam."
"Sumpah pramuka " tukasku.

Alice memutar bola matanya.
"Biarkan aku berkonsentrasi sekarang. Aku akan
mencoba melihat apa yang direncanakannya."
Sebelah tangan Alice tetap merangkulku, tapi ia
menyandarkan kepalanya ke kursi dan
memejamkan mata. Ia menempelkan tangan
satunya ke sisi wajah, mengusap-usapkan ujung
jarinya ke pelipis.
Aku mengawasinya dengan takjub. Akhirnya ia
diam, tak bergerak sama sekali.
Menit-menit berlalu, dan kalau aku tidak
mengenalnya, aku mungkin mengira Alice tertidur.
Aku tidak berani mengganggunya untuk bertanya.
Aku tidak mengizinkan diriku membayangkan
kengerian yang akan kami hadapi, atau, yang lebih
mengerikan, kemungkinan bahwa kami bakal
gagal—tidak kalau aku tak ingin menjerit sekeraskerasnya.
Aku juga tak bisa mengantisipasi apa-apa.
Mungkin kalau aku sangat, sangat, sangat
beruntung, aku bisa menyelamatkan Edward,
bagaimanapun caranya. Tapi aku tidak setolol itu,
mengira dengan menyelamatkannya, aku bisa
tinggal bersamanya. Aku tidak berbeda, tidak lebih
istimewa daripada sebelumnya. Tak ada alasan
baru mengapa ia menginginkanku sekarang.
Bertemu dengannya dan kemudian kehilangan dia
lagi...
Kulawan rasa sedih itu. Ini harga yang harus
kubayar untuk menyelamatkan hidupnya. Aku
akan membayarnya.

Film diputar, dan penumpang di sebelahku
memasang headphone. Terkadang aku melihat juga
sosok-sosok yang berkelebat di layar monitor yang
kecil, tapi tidak tahu apakah itu film roman atau
horor.
Rasanya seperti berabad-abad baru pesawat
mulai mengurangi ketinggian untuk mendarat di
New York City. Alice bergeming dalam trance-nya.
Aku bingung harus bagaimana. Kuulurkan
tanganku untuk menyentuhnya, tapi lalu kutarik
lagi. Ini terjadi belasan kali sebelum pesawat
terguncang menyentuh landasan.
"Alice," kataku akhirnya. “Alice, kita harus
turun."
Aku menyentuh lengannya.
Pelan-pelan sekali mata Alice terbuka. Ia
menggeleng sebentar.
“Ada yang baru?" tanyaku pelan, takut terdengar
lelaki di sebelahku.
“Tidak juga," jawab Alice sambil mengembuskan
napas, nyaris tak bisa kutangkap. "Dia semakin
dekat. Dia sedang memutuskan bagaimana dia
akan memintanya.”
“Kami harus berlari mengejar pesawat yang akan
membawa kami ke Italia, tapi itu bagus – lebih baik
begitu daripada harus menunggu. Alice
memejamkan mata dan kembali hanyut ke trance
seperti sebelumnya. Aku menunggu sesabar
mungkin. Ketika hari kembali gelap aku membuka
penutup jendela untuk memandang ke luar, ke

kegelapan yang menghampar tak ada bedanya
dengan memandangi penutup jendela.
Aku bersyukur selama beberapa bulan ini aku
banyak berlatih mengendalikan pikiran. Jadi, alihalih
memikirkan berbagai kemungkinan
mengerikan, tak peduli apa pun kata Alice, aku
tidak berniat tetap hidup, aku berkonsentrasi
memikirkan masalah-masalah lain yang lebih
ringan. Misalnya saja, apa yang akan kukatakan
pada Charlie sepulangnya aku nanti? Itu masalah
pelik yang cukup menyita pikiran selama beberapa
jam. Dan Jacob? Ia berjanji akan menunggu, tapi
apakah janji itu masih berlaku? Apakah aku akan
sendirian di Forks nanti, tanpa siapa-siapa sama
sekali? Mungkin aku tidak ingin benahan hidup,
tak peduli apa pun yang terjadi.
Rasanya baru beberapa detik kemudian Alice
mengguncang bahuku—ternyata aku ketiduran.
"Bella," desisnya, suaranya agak terlalu keras di
kabin gelap yang dipenuhi orang-orang yang
sedang tidur.
Aku tidak mengalami disorientasi—tidurku
belum cukup lama.
"Ada apa?"
Mata Alice berkilat di bawah lampu baca
remang-remang dari barisan di belakang kami.
"Tidak ada apa-apa." Alice tersenyum senang.
"Kabar baik. Mereka berunding, tapi sudah
memutuskan untuk menolak permintaannya."

"Keluarga Volturi?" gumamku, masih
mengantuk.
"Tentu saja, Bella, perhatikan. Aku bisa melihat
apa yang akan mereka katakan."
"Beritahu aku."
Seorang pramugara berjingkat-jingkat
menyusuri lorong, menghampiri kami. "Boleh saya
ambilkan bantal untuk Anda?" Bisikan pelannya
seperti menegur kami karena kami bercakap-cakap
cukup keras.
"Tidak, terima kasih." Alice menengadah dan
tersenyum lebar padanya, senyumnya luar biasa
manis. Pramugara itu tampak keheranan saat
berbalik dan tersaruk-saruk kembali ke tempatnya.
"Beritahu aku," bisikku, nyaris tak terdengar.
Alice berbisik-bisik di telingaku. "Mereka tertarik
padanya—menurut mereka, bakat Edward bisa
sangat berguna. Mereka akan menawarinya tinggal
bersama mereka."
"Apa yang akan dikatakan Edward?"
"Aku belum bisa melihatnya, tapi berani taruhan
pasti seru" Alice nyengir lagi. "Ini kabar baik
pertama—titik terang pertama. Mereka tertarik;
mereka benar-benar tak ingin menghancurkan
dia—mubazir, begitulah istilah yang akan
digunakan Aro—dan mungkin itu cukup membuat
Edward menjadi kreatif. Semakin banyak waktu
yang dia habiskan untuk memikirkan rencananya,
semakin baik bagi kita."

Penjelasan itu tak cukup membuatku berharap,
membuatku merasakan kelegaan yang jelas sekali
dirasakan Alice. Masih begitu banyak
kemungkinan kami bisa terlambat. Dan kalau aku
tidak bisa melewati tembok kota Volturi, aku tidak
akan mampu menghentikan Alice menyeretku
kembali ke rumah.
"Alice?"
"Apa?"
"Aku bingung. Bagaimana kau bisa melihat
sejelas itu? Sementara di lain waktu, kau melihat
kejadian-kejadian yang sangat jauh – peristiwa peristiwa
yang tidak terjadi?'
“Mata Alice berubah kaku. Aku bertanya-tanya
dalam hati apakah ia bisa menebak isi pikiranku.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas karena
peristiwanya langsung dan dekat, dan karena aku
benar-benar berkonsentrasi. Kejadian-kejadian
yang sangar jauh datang sendiri – itu hanya
pencuatan sekelebat, kemungkinan-kemungkinan
saman Tambahan lagi, aku melihat jenisku lebih
jelas daripada aku melihat jenismu. Edward
bahkan lebih mudah lagi, karena hubunganku
sangat dekat dengannya.”
"Kau bisa melihatku kadang-kadang," aku
mengingatkannya.
Alice menggeleng. "Tidak sejelas aku melihat
Edward."
Aku mendesah. "Kalau saja kau benar-benar
bisa melihat masa depanku dengan tepat. Awalnya,

waktu kau pertama kali melihat hal-hal tentang
aku, bahkan sebelum kita bertemu..."
"Apa maksudmu?"
“Kau melihatku menjadi seperti kalian." Aku
mengatakannya nyaris tanpa suara.
Alice mendesah. "Itu merupakan kemungkinan
pada waktu itu."
"Pada waktu itu," aku mengulangi.
“Sebenarnya, Bella..." Alice ragu-ragu sejenak,
kemudian sepertinya mengambil pilihan. "Jujur
saja, rasanya ini jadi semakin konyol. Aku berdebat
dengan diriku, apakah aku harus mengubahmu
sendiri.”
Kutatap Alice, membeku oleh perasaan shock.
Serta-merta pikiranku menolak kata-katanya. Aku
tidak boleh terlalu berharap, takut ia berubah
pikiran.
"Apakah aku membuatmu takut?" tanya Alice.
"Kusangka memang itulah yang kauinginkan."
"Memang!" aku terkesiap. "Oh, Alice, lakukan
sekarang! Aku bisa membantumu—dan aku tidak
akan memperlambat larimu. Gigit aku!"
"Ssstt," Alice memperingatkan. Si pramugara
lagi-lagi melihat ke arah kami. "Cobalah berpikir
jernih," bisiknya. "Waktunya tidak cukup. Kita
harus sampai di Volterra besok. Padahal kalau aku
menggigitmu, kau akan menggeliat-geliat kesakitan
berhari-hari." Alice mengernyitkan muka. "Dan
bayangkan saja bagaimana reaksi para penumpang
lain."

Aku menggigit bibir. "Kalau kau tidak
melakukannya sekarang, kau akan berubah
pikiran."
"Tidak" Alice mengerutkan kening, ekspresinya
tidak senang. "Kurasa aku tidak akan berubah
pikiran. Edward pasti akan marah, tapi apa lagi
yang bisa dia lakukan?"
Jantungku berdegup semakin kencang. "Tidak
ada."
Alice tertawa pelan, kemudian mendesah. "Kau
terlalu percaya padaku, Bella. Aku tidak yakin
apakah aku bisa. Bisa-bisa kau malah terbunuh
nanti."
“Aku berani mengambil risiko itu."
"Kau ini sangat aneh, bahkan untuk ukuran
manusia.”
“Trims.”
"Oh Well, saat ini, ini kan hanya hipotesis.
Pertama-tama, kita harus bisa melewati hari esok
lebih dulu.”
"Benar sekali," Tapi setidaknya aku punya
sesuatu yang bisa diharapkan seandainya kami
selamat melewati hari esok. Kalau Alice benarbenar
menepati janjinya—dan kalau dia tidak
membunuhku—maka Edward boleh mengejar apa
saja yang dia inginkan untuk mengalihkan
pikirannya, dan aku bisa mengikutinya. Aku tidak
akan membiarkannya memikirkan hal lain.
Mungkin, kalau aku cantik dan kuat, dia tidak
ingin memikirkan hal lain.

"Tidurlah lagi," Alice menyuruhku. Aku akan
membangunkanmu kalau ada perkembangan
baru."
"Baiklah," gerutuku, yakin aku takkan bisa tidur
lagi. Alice mengangkat kedua kakinya ke kursi,
merangkulnya dengan kedua tangan dan
meletakkan dahinya ke lutut. Ia bergoyang majumundur
sambil berkonsentrasi.
Aku meletakkan kepalaku ke kursi, menatapnya,
dan tahu-tahu waktu aku sadar, kulihat Alice
menurunkan penutup jendela dengan keras,
menghalangi cahaya matahari yang mulai merekah
di ufuk timur.
"Apa yang terjadi?” gumamku.
"Mereka sudah menolak permintaannya," kata
Alice pelan. Aku langsung bisa melihat antusiasme
Alice lenyap sama sekali.
Suaraku tercekat di tenggorokkan karena panik.
"Apa yang akan Edward lakukan?”
"Kacau sekali awalnya. Aku hanya bisa melihat
sepotong-potong, rencananya berubah-ubah sangat
cepat."
"Apa saja rencananya?" desakku.
"Waktunya sangat tidak tepat," bisik Alice.
"Awalnya dia memutuskan untuk berburu."
Alice menatapku, melihat mimik tak mengerti
tergambar di wajahku.

"Di kota," ia menjelaskan. "Dia sudah hampir
melakukannya. Tapi dia berubah pikiran pada
saat-saat terakhir."
“Dia tidak mau mengecewakan Carlisle,"
gumamku. Tidak pada akhirnya.
"Mungkin," Alice sependapat.
"Cukupkah waktunya?" Saat aku bicara, terasa
ada perubahan tekanan udara dalam kabin
pesawat. Aku bisa merasakan pesawat mengurangi
ketinggian.
"Mudah-mudahan cukup—kalau Edward tetap
pada keputusan terakhirnya, mungkin."
“Apa itu?"
"Mudah saja. Dia akan berdiri di bawah terik
matahari."
Berdiri di bawah terik matahari. Hanya itu.
Itu saja sudah cukup. Bayangan Edward berdiri
di tengah padang rumput—kulitnya berkilauan dan
berpendar-pendar seolah-olah terbuat dari jutaan
berlian—terpatri sangat jelas dalam ingatanku. Tak
seorang manusia pun yang melihatnya akan
melupakannya. Keluarga Volturi tidak mungkin
mengizinkan itu terjadi. Tidak bila mereka ingin
tetap merahasiakan keberadaan mereka di kota itu.
Kupandangi seberkas cahaya abu-abu yang
menerobos masuk lewat jendela-jendela terbuka.
"Kita akan terlambat" bisikku, kerongkonganku
tercekat oleh kepanikan.

Alice menggeleng. "Saat ini, dia cenderung ingin
melakukan hal yang melodramatis. Dia ingin
dirinya ditonton sebanyak mungkin orang, jadi dia
akan memilih alun-alun utama, di bawah menara
jam. Tembok-tembok di sana tinggi. Dia akan
menunggu sampai matahari tepat di atas kepala.
"Jadi kita punya waktu sampai tengah hari?”
"Kalau kita beruntung. Kalau dia tetap dengan
keputusannya."
Suara pilot bergaung melalui interkom,
mengumumkan, pertama dalam bahasa Prancis
lalu Inggris, bahwa kami akan segera mendarat.
Lampu sabuk pengaman menyala dengan suara
berdenting.
"Seberapa jauh perjalanan dari Florence ke
Volterra?”
"Tergantung seberapa cepat kau menyetir...
Bella?”
“Ya?”
Alice menatapku dengan sikap spekulatif.
"Bagaimana pendapatmu tentang pencurian mobil
mewah?
Sebuah Porsche kuning terang berhenti dengan
suara rem berdecit nyaring beberapa meter di
depanku yang berjalan mondar-mandir, tulisan
TURBO dengan huruf-huruf melengkung perak
terpampang di bagian belakangnya. Semua orang
di trotoar bandara yang penuh sesak
memerhatikan mobil itu.

"Cepat, Bella!" Alice berteriak tak sabar lewat
jendela yang terbuka.
Aku berlari ke pintu dan melompat masuk,
rasanya ingin sekali menutupi wajahku dengan
stoking hitam seperti pencuri.
"Ya ampun, Alice," keluhku. “Apa kau tidak bisa
memilih mobil lain yang lebih mencolok untuk
dicuri?"
Interior mobil itu berlapis kulit hitam, dan
jendela-jendelanya dilapisi kaca film gelap.
Rasanya lebih aman berada di dalam, seperti
malam hari.
Alice meliuk-liukkan mobil, terlalu kencang,
menerobos lalu lintas bandara yang ramai—
menyusup di antara ruang-ruang lowong tipis di
antara mobil-mobil sementara aku tegang
ketakutan dan tanganku meraba-raba mencari
sabuk pengaman.
"Pertanyaan yang lebih penting," Alice
mengoreksi, "apakah aku tidak bisa mencuri mobil
lain yang bisa berlari lebih cepat, dan jawabannya
tidak. Aku beruntung."
“Aku yakin akan sangat menenteramkan kalau
jalan-jalan diblokir.”
Alice tertawa keras. "Percayalah padaku, Bella.
Kalaupun ada pemblokiran jalan, itu terjadi di
belakang kita." Diinjaknya pedal gas dalam-dalam,
seolah ingin membuktikan kata-katanya.
Mungkin seharusnya aku melihat-lihat
pemandangan di luar jendela, ke kota Florence

kemudian Tuscan yang kulewati dengan sangat
cepat hingga pemandangan terlihat kabur. Ini
perjalanan pertamaku ke mana pun, dan mungkin
juga yang terakhir. Tapi cara Alice menyetir
membuatku ngeri, meskipun aku tahu aku bisa
memercayainya di balik kemudi. Dan aku terlalu
tersiksa oleh perasaan gelisah hingga tak ingin
melihat perbukitan atau kota-kota berpagar
tembok yang tampak bagaikan kastil di kejauhan.
"Ada lagi yang kaulihat?"
"Ada sesuatu yang terjadi," gumam Alice.
"Semacam festival. Jalan-jalan dipenuhi orang dan
bendera-bendera merah. Sekarang tanggal
berapa?”
Aku tidak yakin. "Tanggal sembilan belas,
mungkin?'
"Well, ironis sekali. Ini hari Santo Marcus."
"Berarti apa?"
Alice berdecak kesal. "Kota itu
menyelenggarakan perayaan setiap tahun. Menurut
legenda, seorang misionaris Katolik, Pastor
Marcus-Marcus dari Volturi, begitulah – berhasil
mengenyahkan semua vampir dari Voltetra 1500
tahun yang lalu. Konon, sang pastor menjadi
martir di Rumania, dalam upayanya
menghilangkan wabah. Tentu saja itu hanya omong
kosong – vampir itu tidak pernah meninggalkan
kota. Tapi dari sanalah hal-hal takhayul seperti
salib dan bawang putih berasal. Pastor Marcus
sukses menggunakannya. Dan vampir tak pernah
mengganggu Volterra, jadi pasti mujarab.”

Alice sinis. "Itu lantas menjadi semacam
perayaan di kota, dan penghargaan bagi kepolisian
– bagaimanapun, Volterra kota yang luar biasa
aman. Polisilah yang mendapat nama.”
Sadarlah aku apa yang dimaksud Alice dengan
ironis. "Mereka pasti tidak senang kalau Edward
mengacaukan semuanya justru Pada Hari Santo
Marcus, kan?"
Alice menggeleng, ekspresinya muram. Tidak.
Mereka akan bertindak sangat cepat.
Aku membuang muka, berjuang melawan
kegelisahan yang membuat gigiku ingin menggigit
bibir bawahku. Sekarang bukan saat yang tepat
untuk berdarah.
Mengerikan, bagaimana matahari tampak sangat
tinggi di langit yang biru pucat.
“Dia masih berencana menunggu sampai tengah
hari?" tanyaku.
“Ya. Dia memutuskan untuk menunggu. Dan
mereka menunggunya."
"Katakan padaku apa yang harus kulakukan."
Mata Alice tetap tertuju ke jalan yang berliku—
jarum spidometer menyentuh angka paling kanan
pada piringan.
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Dia hanya
harus melihatmu sebelum beranjak ke tempat
terang. Dan dia harus melihatmu sebelum
melihatku."
"Bagaimana caranya?”

Mobil merah kecil tampak seperti ngebut dalam
posisi mundur saat Alice melesat menyalipnya.
“Aku akan mengantarmu sedekat mungkin ke
sana, kemudian kau harus berlari ke arah yang
kutunjukkan.”
Aku mengangguk.
"Usahakan agar tidak tersandung" Alice
menambahkan. Tidak ada waktu untuk gegat otak
hari ini."
Aku mengerang. Itu sangat khas aku—
mengacaukan semuanya, menghancurkan dunia,
hanya gara-gara kikuk sesaat.
Matahari terus menanjak di langit sementara
Alice berpacu menduluinya. Cahayanya sangat
terik, dan itu membuatku panik. Jangan-jangan
Edward nanti merasa tak perlu menunggu sampai
tengah hari.
"Itu," kata Alice tiba-tiba, menuding kota kastil
di puncak bukit terdekat.
Aku menatapnya, merasakan untuk pertama
kalinya secercah ketakutan baru. Setiap menit
sejak kemarin pagi—rasanya seperti sudah
seminggu yang lalu—saat Alice mengucapkan
namanya di kaki tangga, hanya ada satu
ketakutan. Meski begitu, sekarang, saat aku
menatap tembok-tembok bata merah kuno serta
menara-menara yang menjulang di puncak bukit
terjal, aku merasakan ketakutan lain yang lebih
egois merayapi hatiku.

Menurutku kota itu sangat cantik. Namun kota
itu benar-benar membuatku sangat ketakutan.
"Volterra," kata Alice dengan suara datar dan
dingin.

20. VOLTERRA
KAMI memulai pendakian yang terjal, dan
jalanan makin lama makin sesak. Saat jalan
berkelok semakin tinggi, mobil-mobil berjajar
berimpitan hingga sulit bagi Alice untuk menyelipnyelip
di antara mereka. Laju mobil kami melambat
dan mulai merangkak di belakang Peugeot kecil
cokelat.
"Alice," erangku. Jam di dasbor tampaknya
bergerak semakin cepat.
Hanya ini satu-satunya jalan masuk," Alice
mencoba menenangkan. Tapi suaranya terlalu
tegang untuk bisa menenangkan
Mobil-mobil terus beringsut maju, setiap kali
hanya mampu bergerak beberapa puluh senti.
Terik matahari begitu cemerlang, rasanya sudah
berada tepat di atas kepala.
Mobil-mobil merayap satu per satu menuju kota.
Setelah kami semakin dekat, aku bisa melihat
mobil-mobil diparkir * Pinggir jalan dan orangorang
turun, berjalan kaki. Mulanya kukira itu
karena mereka tidak sabar – sesuatu yang bisa
kupahami. Tapi kemudian mobil melewati

tikungan, dan aku bisa melihat lapangan parkir di
luar tembok kota, serta kerumunan orang berjalan
melewati gerbang. Tak ada yang diizinkan masuk
dengan mengendarai mobil.
“Alice,” bisikku mendesak.
“Aku tahu," jawabnya. Wajahnya seperti pahatan
es.
Sekarang setelah aku menyadarinya, dan karena
mobil merayap sangat lambat hingga aku bisa
melihat keadaan sekelilingku, ternyata hari sangat
berangin. Orang-orang yang berdesak-desakan
menuju pintu gerbang mencengkeram topi erat-erat
dan menepis rambut dari wajah mereka. Pakaian
mereka berkibaran. Aku juga melihat warna merah
di mana-mana. Baju merah, topi merah, bendera
merah menjulur bagaikan pita-pita panjang di
samping gerbang, berkibar-kibar ditiup angin—
tepat di depan mataku, syal merah terang yang
dililitkan seorang wanita di rambutnya mendadak
terbang tertiup angin. Syal itu terpilin ke udara,
menggeliat-geliat seperti makhluk hidup. Wanita
itu meraih syalnya, melompat ke udara, tapi syal
itu berkibar lebih tinggi, seutas warna merah darah
dengan latar belakang dinding tembok kuno yang
kusam.
"Bella" Alice berkata dengan nada rendah dan
mendesak. “Aku tidak bisa melihat apa yang akan
diputuskan penjaga itu di sini—kalau aku tidak
bisa masuk, kau harus masuk sendiri. Kau harus
berlari. Tanya saja jalan menuju Palazzo dei Priori,
dan berlarilah ke arah yang mereka tunjukkan.
Jangan sampai tersesat."

"Palazzo dei Priori, Palazzo dei Priori," aku
mengulang-ulang nama itu, berusaha
menghafalnya.
"Atau ‘menara jam', kalau mereka bisa
berbahasa Inggris. Aku akan memutar dan
berusaha mencari tempat sepi di belakang kota
supaya bisa memanjat tembok.”
Aku mengangguk. “Palazzo dei Priori.”
“Edward akan berada di bawah menara jam, di
utara alun-alun. Di sebelah kanannya ada gang
sempit, dan dia menunggu di sana, di bawah
bayang-bayang. Kau harus menarik perhatiannya
sebelum dia keluar ke bawah terik matahari.”
Aku mengangguk-angguk cepat.
Alice sudah mendekati bagian depan barisan.
Tampak seorang lelaki berserat biru laut
mengarahkan arus lalu lintas, membelokkan
mobil-mobil menjauhi lapangan parkir yang penuh.
Mobil-mobil itu berputar arah dan kembali untuk
mencari tempat parkir di pinggir jalan. Lalu tibalah
giliran Alice.
Lelaki berseragam itu menggerak-gerakkan
tangannya dengan sikap ogah-ogahan, tidak
memerhatikan. Alice menekan pedal gas,
menyusup di sampingnya, melaju menuju gerbang.
Lelaki itu meneriakkan sesuatu pada kami, tapi
tetap berdiri di tempat, melambai-lambaikan
tangan kalang-kabut pada mobil berikut agar tidak
meniru kelakuan buruk kami.
Lelaki di pintu gerbang mengenakan seragam
yang sama. Saat kami mendekat, gerombolan turis

melewati kami, memenuhi trotoar, memandang
dengan sikap ingin tahu Porsche mewah yang
memaksa masuk itu.
Si penjaga berdiri tepat di tengah jalan. Alice
memiringkan mobil hati-hati sebelum berhenti.
Sinar matahari menerpa jendelaku, dan Alice
terlindung oleh bayang-bayang. Dengan cekatan
tangannya terulur ke belakang kursi dan
menyambar sesuatu dari dalam tasnya.
Penjaga itu menghampiri mobil dengan ekspresi
kesal, lalu dengan marah mengetuk kaca jendela
Alice.
Alice menurunkan kaca jendelanya separo, dan
kulihat penjaga itu terperangah sedikit begitu
melihat wajah yang menyembul di balik kaca mobil
yang gelap.
"Maaf hanya bus pariwisata yang diperkenankan
masuk k, kota hari ini, Miss," kata penjaga itu
dengan bahasa Inggris patah-patah yang berlogat
kental. Nadanya kini meminta maaf, seolah-olah
menyesal harus menyampaikan kabar buruk pada
wanita yang sangat memesona.
“Ini tur pribadi," sahut Alice, menyunggingkan
senyum memikat. Ia mengulurkan tangan ke luar
jendela, ke terik matahari. Aku menegang, sebelum
kemudian sadar bahwa ia mengenakan sarung
tangan warna kulit sebatas siku. Alice meraih
tangan si penjaga yang masih terangkat sehabis
mengetuk kaca jendelanya tadi, lalu menariknya ke
dalam mobil. Alice meletakkan sesuatu ke telapak
tangan si penjaga, lalu menutup jari-jarinya.

Wajah si penjaga tampak linglung waktu ia
menarik kembali tangannya dan memandangi
gulungan tebal uang yang kini dipegangnya. Yang
terluar adalah lembaran seribu dolar.
"Apakah ini lelucon?" gumam si penjaga.
Senyum Alice membutakan. "Hanya bila Anda
menganggapnya lucu."
Penjaga itu menatap Alice, matanya membelalak
lebar. Dengan gugup kulirik jam di dasbor. Kalau
Edward tetap dengan rencana semula, kami hanya
punya waktu lima menit.
"Aku agak terburu-buru," ucap Alice, masih
tersenyum.
Penjaga itu mengerjap dua kali, kemudian
menyurukkan uang itu ke dalam rompinya. Ia
mundur selangkah menjauhi jendela dan
melambaikan tangan, menyilakan kami lewat.
Tampaknya tak ada yang menyadari perpindahan
uang secara diam-diam tadi, Alice melaju
memasuki kota, dan kami sama-sama
mengembuskan napas lega.
Jalanan sangat sempit, dilapisi bebatuan yang
warnanya sama dengan bangunan-bangunan
cokelat kayu manis pudar yang menutupi jalan
dengan bayang-bayangnya. Rasanya seperti yang
menutupi berada di gang. Bendera-bendera merah
menghiasi dinding, satu sama lain hanya berjarak
beberapa meter, berkibar-kibar ditiup angin yang
melengking di jalan sempit itu.
Jalanan penuh sesak, dan para pejalan kaki
membuat laju kami terhambar.

"Tidak jauh lagi,” Alice menyemangatiku;
tanganku mencengkeram pegangan pintu, siap
meloncat ke jalan begitu mendapat aba-aba dari
Alice.
Alice memacu mobil dengan cepat sambil
sesekali mengerem mendadak, dan orang-orang di
jalan mengacungkan tinju mereka kepada kami
dan meneriakkan kata-kata bernada marah yang
untungnya tidak kumengerti. Ia berbelok
memasuki jalan kecil yang tak mungkin
diperuntukkan bagi mobil; orang-orang yang shock
sampai harus menempelkan tubuh rapat-rapat ke
ambang pintu di pinggir jalan saat kami lewat.
Kami menemukan jalan lain di ujungnya.
Bangunan-bangunan di sini lebih tinggi; lantai
teratas condong ke jalan dan bertemu di tengah
sehingga tak ada sinar matahari menyentuh
trotoar—bendera-bendera merah yang berkibar di
tiap-tiap sisi nyaris bersentuhan. Kerumunan
orang di sini bahkan lebih padat daripada di
tempat lain. Alice menghentikan mobil. Aku sudah
membuka pintu sebelum mobil sepenuhnya
berhenti.
Alice menuding ke jalan yang melebar ke sepetak
ruang terbuka yang terang benderang. "Di sana—
kita sekarang di selatan alun-alun. Larilah
menyeberangi alun-alun, ke kanan menara jam.
Aku akan mencari jalan memutar—"
Napas Alice mendadak terkesiap, dan saat ia
bicara lagi; suaranya berupa desisan. "Mereka ada
di mana-mana!”

0 Response to "Twilight Saga: New Moon 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified