Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: New Moon 2

Aku merasa kami tidak sedang membicarakan
Quil lagi. Aku menjaga agar suaraku tetap ringan,
menggoda. “Tentu, tapi mengingat perbedaan
kematangan antara cowok dan cewek, bukankah
menurutmu sebaiknya kita menghitungnya dalam
usia anjing? Berapa umurku dalam usia anjing,
kira dua belas tahun lebih tua?”
Jacob tertawa, memutar bola matanya. "Oke,
tapi kalau kau mau sok pilih-pilih seperti itu, kau
juga harus membuat perhitungan rata-rata sesuai
ukuran tubuh. Kau kan kecil sekali, jadi sepuluh
tahun harus dibuang dari total umurmu."
"Seratus enam puluh senti kan tinggi rata-rata,"
dengusku. "Bukan salahku kalau kau kelewat
tinggi."
Kami saling mengolok-olok seperti itu hingga
mencapai Hoquiam, masih memperdebatkan
formula yang tepat untuk menentukan umur—aku
kehilangan dua tahun karena tidak bisa mengganti
ban, tapi mendapat satu tahun lagi karena
ditugaskan mengurus pembukuan di rumahku—
sampai kami tiba di Checker, dan Jacob harus
kembali berkonsentrasi. Kami menemukan semua
yang ada dalam daftarnya, dan Jacob yakin akan
mencapai banyak kemajuan dengan onderdil yang
sudah kami beli.
Saat kami tiba kembali di La Push, umurku 23
tahun dan dia 30—jelas ia menambahkan
keahliannya mengutak-atik mesin untuk
mendongkrak umurnya.
Aku belum melupakan alasanku melakukan ini.
Dan, meski dalam prosesnya aku merasa lebih

bahagia daripada yang kuduga sebelumnya, tak
ada alasan untuk mengubah keinginan awalku.
Aku tetap ingin berbuat curang. Tidak masuk akal
memang, tapi aku benar-benar tak peduli. Aku
akan melakukan hal paling ceroboh yang bisa
kulakukan di Forks. Jangan harap aku akan tetap
menepati janjiku sementara pihak lain sudah
melanggarnya. Menghabiskan waktu bersama
Jacob ternyata jauh lebih mengasyikkan daripada
yang kuduga.
Billy belum pulang, jadi kami tidak perlu
sembunyi-sembunyi menurunkan barang-barang
belanjaan kami. Begitu semua sudah kami
hamparkan di lantai plastik dekat kotak perkakas
Jacob, Jacob langsung mulai bekerja sambil terus
bicara dan tertawa-tawa sementara jari-jarinya
menyortir dengan ahli berbagai onderdil logam di
hadapannya.
Kepiawaian Jacob bekerja dengan tangan sangat
menakjubkan. Padahal tangannya tampak kelewat
besar untuk pekerjaan rumit yang harus dilakukan
dengan cermat dan tepat. Saat sedang bekerja,
gerakannya nyaris terkesan anggun. Tidak seperti
bila sedang berdiri; tubuhnya yang jangkung dan
kakinya yang besar membuatnya nyaris sama
kikuknya denganku.
Quil dan Embry tidak muncul, jadi mungkin
ancaman Jacob kemarin ditanggapi serius oleh
mereka.
Hari berlalu kelewat cepat. Sebentar saja hari
sudah gelap di mulut garasi, kemudian kami
mendengar Billy memanggil kami.

Aku melompat dan membantu Jacob menyimpan
semua peralatan, ragu-ragu karena tak yakin
apakah aku boleh menyentuh bagian-bagian
sepeda motor itu.
"Tinggalkan saja," kata Jacob. "Aku akan bekerja
lagi nanti malam."
"Jangan lupakan tugas sekolahmu atau tugas
lainnya," kataku, merasa sedikit bersalah. Aku tak
ingin Jacob mendapat masalah. Masalah itu hanya
untukku.
"Bella?"
Kami sama-sama tersentak waktu suara Charlie
yang familier menyeruak di antara pepohonan,
kedengarannya dekat sekali.
"Sial," gerutuku. "Ya, sebentar!" teriakku ke arah
rumah.
"Ayo pergi." Jacob tersenyum, menikmati
ketegangan. Ia mematikan lampu, dan sesaat aku
seolah-olah buta. Jacob menyambar tanganku dan
menarikku keluar dari garasi, menembus
pepohonan, kakinya menemukan jalan setapak
yang sudah sangat dikenalnya dengan mudah.
Tangannya kasar, dan sangat hangat.
Meski ada jalan setapak, kami masih saja
tersandung-sandung dalam gelap. Jadi kami samasama
tertawa waktu rumah mulai tampak.
Tawanya tidak terlalu dalam; ringan dan hanya di
permukaan, tapi tetap menyenangkan. Aku yakin
Jacob tidak menyadari secercah histeria di
dalamnya. Aku tidak biasa tertawa, dan tawa itu
terasa menyenangkan tapi sekaligus meresahkan.

Charlie berdiri di teras belakang yang kecil,
bersama Billy yang duduk di ambang pintu di
belakangnya.
"Hai, Dad," sapa kami berbarengan, dan itu
membuat kami tertawa lagi.
Charlie memandangiku dengan mata terbelalak
lebar, lalu melirik sekilas ke bawah, melihat tangan
Jacob yang menggandeng tanganku.
"Billy mengundang kita makan malam," kata
Charlie dengan nada biasa-biasa saja.
"Resep spageti super rahasiaku. Diwariskan
turun-temurun ke beberapa generasi," kata Billy
dengan suara serak.
Jacob mendengus. "Kurasa Ragu belum ada
selama itu."
Di dalam rumah penuh orang. Ada Harry
Clearwater bersama keluarganya—istrinya, Sue,
yang samar-samar masih kuingat dari liburan
musim panas di Forks waktu aku masih kecil dulu,
dan kedua anaknya. Leah murid senior seperti aku,
tapi usianya setahun lebih tua. Kecantikannya
eksotis—kulit tembaga indah, rambut hitam
mengilat, bulu mata tebal seperti bulu ayam—dan
ia sibuk sendiri. Sejak kami datang, ia terus asyik
mengobrol di telepon rumah Billy, dan tidak
kunjung berhenti. Seth berumur empat belas
tahun; ia mendengarkan setiap kata yang keluar
dari mulut Jacob dengan sorot mata mengidolakan.
Karena tidak semua orang bisa ditampung di
meja dapur, Charlie dan Harry mengeluarkan
kursi-kursi ke halaman, dan kami makan spageti

dari piring yang diletakkan di pangkuan, di
keremangan cahaya lampu yang menyorot dari
balik pintu rumah Charlie yang terbuka. Kaum
lelaki mengobrolkan pertandingan, lalu Harry dan
Charlie menyusun rencana untuk memancing
bersama-sama. Sue menyindir suaminya tentang
kolesterolnya dan berusaha, meski gagal,
membuatnya malu dan makan sesuatu yang
berdaun dan berwarna hijau. Jacob mengobrol
denganku dan Seth, yang sesekali menyela dengan
penuh semangat setiap kali Jacob terlihat seperti
mau melupakannya. Charlie menatapku, berusaha
agar tidak kentara, dengan sorot mata senang
namun waspada.
Berisik dan terkadang membingungkan rasanya
saat semua orang berlomba-lomba mengungguli
yang lain dalam bercerita, dan tawa dari satu
lelucon diinterupsi dengan cerita tentang lelucon
lain. Aku tak perlu sering-sering bicara, tapi aku
banyak tersenyum, dan itu hanya karena aku
merasa ingin. Rasanya aku tak ingin pulang.
Tapi, ini Washington, dan akhirnya hujan
membubarkan pertemuan kami; ruang tamu Billy
kelewat sempit untuk melanjutkan acara kumpulkumpul
kami. Charlie tadi naik mobil Harry, jadi
kami pulang naik trukku. Charlie bertanya tentang
kegiatanku hari ini, dan sebagian besar yang
kuceritakan benar—bahwa aku pergi dengan Jacob
mencari onderdil kemudian menontonnya bekerja
di garasi.

"Menurutmu, kau akan mengunjunginya lagi
nanti?” tanya Charlie, berusaha menunjukkan
sikap biasa-biasa saja.
"Besok sepulang sekolah,” aku mengakui. "Aku
akan membawa PR-ku, jangan khawatir."
"Pastikan kau melakukannya," perintah Charlie,
berusaha menutupi perasaan puasnya.
Aku merasa gelisah sesampai di rumah. Aku
tidak ingin naik ke lantai atas. Hangatnya
kehadiran Jacob berangsur-angsur lenyap, dan
sebagai gantinya, perasaan resah semakin menjadijadi.
Aku yakin aku tak mungkin tidur tenang dua
malam berturut-turut.
Untuk menunda tidur aku mengecek e-mail; ada
pesan baru dari Renee.
Ia menulis tentang kegiatannya hari itu, tentang
klub buku yang mengisi waktu luang karena ia
keluar dari kelas meditasi, tentang pengalamannya
minggu ini menjadi guru pengganti di kelas dua,
membuatnya merindukan murid-murid TK-nya. Ia
juga menulis tentang Phil yang menikmati
pekerjaan barunya sebagai pelatih, dan bahwa
mereka berencana berbulan madu kedua ke Disney
World.
Dan aku membaca semuanya seperti membaca
buku harian, bukan surat yang ditujukan untuk
orang lain. Hatiku dilanda perasaan menyesal,
membuat perasaanku tertusuk. Aku ini bukan
anak baik.
Aku membalas e-mail-nya dengan cepat,
mengomentari setiap bagian suratnya, dan

menceritakan aktivitasku juga—kuceritakan
tentang pesta spageti di rumah Billy dan apa yang
kurasakan saat menonton Jacob membuat sesuatu
yang berguna dari potongan-potongan kecil
logam—kagum dan sedikit iri. Aku sama sekali
tidak mengungkit tentang perubahan nyata dalam
surat ini dibandingkan surat-surat lain yang
diterima ibuku dalam beberapa bulan terakhir. Aku
bahkan nyaris tak ingat apa yang kutulis seminggu
yang lalu, tapi aku yakin isinya pasti sangat tidak
responsif. Semakin dipikir, semakin aku merasa
bersalah; aku pasti benar-benar membuat ibuku
khawatir.
Aku masih bertahan sampai jauh malam
sesudah itu, menyelesaikan PR lebih banyak
daripada yang seharusnya kukerjakan. Tapi meski
kurang tidur dan sudah menghabiskan hampir
seharian bersama Jacob—merasa nyaris bahagia—
ternyata itu tetap tak bisa menjauhkan mimpi
buruk dari tidurku selama dua malam berturutturut.
Saat bangun aku gemetaran, teriakanku teredam
bantal. Ketika cahaya pagi yang samar masuk
melalui jendelaku, aku diam tak bergerak di tempat
tidur dan mencoba mengenyahkan mimpi buruk
itu. Tapi ada sedikit perbedaan dalam mimpi tadi
malam, dan aku berkonsentrasi mengingatnya.
Semalam aku tidak sendirian di hutan. Sam
Uley—lelaki yang menemukanku di hutan pada
malam yang tidak sanggup kupikirkan dalam
keadaan sadar itu—ada di sana. Perubahan yang
aneh dan tak terduga-duga. Yang mengejutkan,

mata gelapnya memancarkan sorot tidak ramah,
sarat rahasia yang sepertinya tak ingin ia bagikan
padaku. Kupandangi dia sesering yang bisa
dilakukan mataku yang jelalatan mencari-cari; aku
jadi gelisah, selain perasaan panik yang biasa,
karena ia ada di sana. Mungkin itu karena, bila
aku tidak sedang menatap langsung ke arahnya,
bentuk badannya seolah menggeletar dan berubah
dalam tatapanku. Tapi ia tidak melakukan apa-apa
kecuali berdiri dan memandangiku. Tidak seperti
waktu kami bertemu di dunia nyata, ia tidak
menawarkan bantuan.
Charlie memandangiku selama sarapan, dan aku
berusaha mengabaikannya. Kurasa aku pantas
menerimanya. Aku tak bisa berharap ayahku tidak
mengkhawatirkan aku. Mungkin butuh berminggu minggu
baru ia akan berhenti memandangiku
seolah-olah menunggu aksi zombie-ku muncul
kembali, jadi aku harus berusaha untuk tidak
membiarkan itu menggangguku. Bagaimanapun,
aku sendiri juga akan mengawasi kemunculan lagi
si zombie itu. Dua hari belum cukup untuk
menganggap diriku sudah benar-benar sembuh.
Sekolah justru sebaliknya. Sekarang setelah aku
memerhatikan, kentara sekali tak ada yang
memerhatikanku.
Aku ingat hari pertama aku datang ke Forks
High School—betapa aku sangat berharap bisa
berubah warna menjadi abu-abu dan menghilang
ke balik beton trotoar yang basah seperti bunglon
raksasa. Tampaknya permohonanku terkabul, satu
tahun terlambat.

Rasanya seolah-olah aku tidak di sana. Bahkan
mata guru-guru melewati kursiku seolah-olah
kursi itu kosong.
Aku mendengar segalanya sepanjang pagi, sekali
lagi mendengar suara-suara orang di sekelilingku.
Aku berusaha mengetahui apa yang terjadi, tapi
obrolan mereka terpotong-potong jadi akhirnya aku
menyerah.
Jessica tidak mendongak waktu aku duduk di
sebelahnya di kelas Kalkulus.
"Hai, Jess," sapaku sok biasa-biasa saja.
"Bagaimana sisa akhir minggumu kemarin?"
Jessica menengadah dengan sorot mata curiga.
Mungkinkah ia masih marah? Atau hanya tidak
sabar menghadapi orang gila?
"Super," jawabnya, mengalihkan perhatian
kembali ke bukunya.
"Bagus," gumamku.
Istilah "menganggap sepi" sangat tepat
menggambarkan sikap Jessica saat itu. Aku bisa
merasakan udara hangat berhembus dari kisi-kisi
di lantai, tapi tetap saja aku kedinginan.
Kuambil jaket yang tadi kusampirkan ke
punggung kursi, lalu memakainya lagi.
Pelajaran keempatku berakhir terlambat, jadi
meja tempatku biasa makan siang sudah penuh
waktu aku sampai di sana. Mike sudah ada di
sana, begitu juga Jessica dan Angela, Conner,
Tyler, Eric, dan Lauren. Katie Marshall, murid
junior berambut merah yang rumahnya dekat

dengan rumahku, duduk bersama Eric, dan Austin
Marks—kakak cowok yang memberiku motor—
duduk di sebelahnya. Aku bertanya-tanya dalam
hati sejak kapan mereka duduk di sini, tidak ingat
apakah ini yang pertama kali atau sudah menjadi
kebiasaan.
Aku mulai kesal pada diriku sendiri. Rasanya
seolah-olah aku dimasukkan ke kardus dan
dipendam dalam biji-biji Styrofoam selama
semester lalu.
Tidak ada yang mendongak waktu aku duduk di
sebelah Mike, walaupun kursiku berderit nyaring
menggores lantai linoleum waktu aku menariknya.
Aku berusaha mengikuti obrolan.
Mike dan Conner asyik mengobrol tentang
olahraga, jadi aku langsung menyerah, tidak bisa
mengikuti obrolan mereka.
"Ke mana Ben hari ini?" tanya Lauren pada
Angela. Aku tergugah, tertarik. Aku penasaran
apakah itu berarti Angela dan Ben masih pacaran.
Aku nyaris tidak mengenali Lauren. Rambut
pirangnya yang halus seperti sutra dipotong
pendek—sekarang rambutnya model pixic
superpendek, sampai-sampai bagian belakangnya
dicukur habis kayak cowok. Aneh sekali. Kalau
saja aku tahu alasan di baliknya. Mungkin ada
permen karet yang menempel di rambutnya? Atau
jangan-jangan ia menjual rambutnya? Apakah
orang-orang yang biasa diperlakukan tidak baik
olehnya memergokinya sendirian di belakang gym
dan menggundulinya? Kuputuskan tidak adil

menilainya dari pendapatku dulu. Siapa tahu
sekarang ia sudah berubah jadi baik.
"Ben kena flu perut," jawab Angela dengan suara
pelan dan kalem. "Mudah-mudahan tidak lama
sakitnya. Semalam sakitnya parah sekali."
Angela juga mengubah model rambutnya.
Sekarang layer di rambutnya sudah dipanjangkan.
“Apa saja yang kalian lakukan akhir minggu
kemarin?" tanya Jessica. kedengarannya tidak
terlalu memedulikan jawabannya. Berani bertaruh,
itu pasti hanya pancingan supaya ia bisa
menceritakan ceritanya sendiri. Aku penasaran
apakah ia akan bercerita tentang Port Angeles
sementara aku duduk hanya dua kursi jauhnya
dari dia? Apakah aku begitu tidak kasatmata,
sehingga tidak ada yang merasa tidak nyaman
membicarakan aku padahal aku ada di sini?
"Sebenarnya kami berniat piknik hari Sabtu,
tapi... berubah pikiran," cerita Angela. Ada sedikit
ketegangan dalam suaranya yang menarik
perhatianku.
Kalau Jess, tetap saja tidak peduli. "Sayang
sekali," katanya, bersiap membeberkan ceritanya
sendiri. Tapi ternyata bukan hanya aku yang
memerhatikan.
"Apa yang terjadi?" tanya Lauren ingin tahu.
“Well," jawab Angela, terkesan lebih ragu-ragu
daripada biasanya, walaupun ia memang selalu
berhati-hati. "Kami naik mobil ke utara, hampir
sampai ke sumber air panas—di sana ada tempat
yang asyik untuk piknik, kira-kira satu setengah

kilometer menyusuri jalan setapak. Tapi baru
separo jalan menuju ke sana... kami melihat
sesuatu."
"Melihat sesuatu? Apa?" Alis Lauren yang pucat
bertaut. Bahkan Jess sepertinya mendengarkan
sekarang.
"Entahlah," jawab Angela. "Kami pikir itu
beruang. Soalnya warnanya hitam, tapi
sepertinya... terlalu besar."
Lauren mendengus. "Oh, masa kau juga!" Sorot
matanya berubah mengejek, dan kuputuskan
menarik kembali keraguanku barusan. Jelas,
kepribadiannya belum banyak berubah, tidak
seperti rambutnya. "Tyler juga berusaha
meyakinkanku dengan cerita mengenai beruang
minggu lalu."
"Tak mungkin ada beruang berkeliaran sedekat
itu dengan pemukiman penduduk," kata Jessica,
berpihak pada Lauren.
"Sungguh," protes Angela dengan suara rendah,
menunduk memandang meja. "Kami benar-benar
melihatnya."
Lauren tertawa meremehkan. Mike masih asyik
mengobrol dengan Conner, tidak memerhatikan
mereka.
"Tidak, dia benar," selaku tak sabar. "Hari Sabtu
kemarin ada hiker yang mengaku melihat beruang
juga, Angela. Katanya, beruang itu besar dan
hitam, dan tidak jauh di luar kota. Benar kan,
Mike?"

Suasana langsung sunyi. Setiap pasang mata di
meja itu berpaling dan menatapku dengan shock.
Si cewek baru, Katie, mulutnya ternganga seperti
baru saja menyaksikan ledakan. Tidak ada yang
bergerak.
"Mike?" gumamku, malu. "Ingat, tidak, orang
yang bercerita soal beruang itu?"
"T-tentu," jawab Mike terbata-bata sedetik
kemudian. Entah mengapa ia memandangku
seaneh itu. Aku bicara dengannya di tempat kerja,
kan? Benar, kan? Kalau tidak salah sih begitu...
Mike pulih dari kagetnya. "Yeah, tempo hari ada
orang bilang dia melihat beruang hitam besar di
ujung jalan setapak lebih besar daripada grizzly."
"Hmph." Lauren berpaling pada Jessica,
bahunya mengejap lalu langsung mengubah topik.
"Sudah dapat kabar dari USC?" tanyanya.
Semua ikut berpaling, kecuali Mike dan Angela.
Angela tersenyum ragu-ragu padaku, dan aku
buru-buru membalas senyumnya.
"Omong-omong, apa saja kegiatanmu akhir
pekan kemarin, Bella?" tanya Mike ingin tahu, tapi
anehnya waswas.
Semua kecuali Lauren menoleh, menunggu
jawabanku.
"Jumat malam Jessica dan aku nonton film di
Port Angeles, Sabtu siang dan hampir sepanjang
hari Minggu kuhabiskan di La Push.”

Beberapa pasang mata menatapku dan Jessica
berganti-ganti. Jessica tampak kesal. Aku jadi
bertanya-tanya dalam hati apakah itu karena ia tak
ingin orang lain tahu ia pergi bersamaku, atau
karena ingin ia yang bercerita.
"Kalian nonton film apa?" tanya Mike, mulai
tersenyum.
"Dead End—yang ada zombie-nya itu lho." Aku
nyengir memberi semangat. Mungkin sebagian
kerusakan yang kubuat selama bulan-bulan
zombie-ku kemarin masih bisa diperbaiki.
"Dengar-dengar, filmnya seram ya. Menurutmu
begitu?" Mike bersemangat meneruskan obrolan.
"Bella bahkan keluar di akhir film, saking
ketakutannya," sela Jessica sambil tersenyum licik.
Aku mengangguk, berusaha menunjukkan wajah
malu. "Seram abis."
Mike tak henti-hentinya menanyaiku sampai
makan siang berakhir. Berangsur-angsur, yang
lain-lain bisa memulai obrolan lain, meski masih
sering memandangiku. Angela lebih sering
mengobrol dengan Mike dan aku, dan, waktu aku
berdiri untuk membuang sisa-sisa makanan dari
nampan, ia mengikuti.
"Trims ya," katanya pelan setelah kami jauh dari
meja.
"Untuk apa?"
"Untuk berbicara, membelaku tadi."
"Bukan masalah."

Angela menatapku prihatin, tapi bukan karena
ia mengira aku sudah sinting. "Kau baik-baik
saja?"
Inilah sebabnya aku lebih memilih Jessica
daripada Angela—walaupun aku lebih menyukai
Angela—untuk menemaniku jalan bareng. Karena
Angela terlalu cepat mengerti.
"Tidak sepenuhnya," aku mengakui. "Tapi sudah
sedikit lebih baik."
"Aku senang," ucapnya. "Aku kehilangan kau
selama ini."
Saat itulah Lauren dan Jessica melenggang
melewati kami, dan aku mendengar Lauren
berbisik keras, "Aduh senangnya. Bella sudah
kembali."
Angela memutar bola matanya pada mereka, dan
tersenyum padaku dengan sikap menyemangati.
Aku mendesah. Rasanya seperti memulai dari
awal lagi.
"Hari ini tanggal berapa?" tanyaku tiba-tiba.
"Sembilan belas Januari."
"Hmm."
"Memangnya kenapa?" tanya Angela.
"Kemarin tepat satu tahun aku memulai hari
pertamaku di sini," kenangku.
“Tidak banyak yang berubah," gumam Angela,
memandang Lauren dan Jessica.

"Memang," sahutku sependapat. "Aku juga
berpikir begitu.

7. PENGULANGAN
ENTAH apa yang kulakukan di sini.
Apakah aku berusaha mendorong diriku kembali
ke keadaan seperti zombie? Apakah aku sudah
berubah menjadi masokis—senang disiksa?
Seharusnya aku langsung ke La Push. Aku merasa
jauh. jauh lebih sehat bila bersama Jacob, Ini
bukan hal yang sehat untuk dilakukan.
Tapi aku terus saja mengendarai trukku pelanpelan
menembus jalan yang ditumbuhi semaksemak
liar di kiri-kanan-nya, meliuk-liuk
menerobos pepohonan yang melengkung di atas
kepala bagai terowongan hijau yang hidup. Kedua
tanganku gemetar, dan aku mempererat
cengkeramanku pada setir.
Aku tahu sebagian alasanku melakukan ini
karena mimpi buruk itu; sekarang setelah aku
benar-benar terbangun, kehampaan mimpi itu
menggerogoti saraf-sarafku, seperti anjing
mengkhawatirkan di mana tulangnya dikubur. Ada
sesuatu yang harus dicari. Tak bisa diraih dan
mustahil, tidak peduli dan tidak perhatian... tapi
dia ada di luar sana, di suatu tempat. Aku harus
memercayai hal itu.
Sebagian yang lain adalah sensasi pengulangan
aneh seperti yang kurasakan di sekolah tadi,

tanggal yang kebetulan itu. perasaan bahwa aku
memulai dari awal lagi—mungkin akan begitulah
hari pertamaku jadinya bila aku sungguh-sungguh
menjadi orang yang paling tidak biasa di kafeteria
siang itu.
Kata-kata itu memenuhi kepalaku, tanpa nada,
seolah-olah aku membaca dan bukan
mendengarnya langsung:
Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah
ada.
Aku membohongi diri sendiri dengan membagi
alasan kedatanganku ke sini menjadi hanya dua
bagian. Aku tak mau mengakui motivasi terbesar.
Karena secara mental itu tidak waras.
Sebenarnya, aku ingin mendengar suaranya lagi,
seperti delusi aneh yang kualami Jumat malam
lalu. Untuk waktu yang singkat itu, ketika
suaranya datang dari bagian lain selain ingatan
sadarku, ketika suaranya terdengar sempurna dan
semanis madu, bukan gaung lemah seperti yang
biasa dimunculkan kenanganku, aku bisa
mengingatnya tanpa merasa sedih. Itu tidak
bertahan lama; kepedihan itu kembali
menyerangku, sesuatu yang aku yakin pasti akan
terjadi setelah aku melakukan tindakan ceroboh
ini. Tapi momen-momen berharga saat aku bisa
mendengarnya lagi bagaikan rayuan yang tak bisa
ditolak. Aku harus mencari cara untuk mengulangi
pengalaman itu... atau mungkin istilah yang lebih
tepat adalah episode.
Aku berharap deja vu adalah kuncinya. Itu
sebabnya aku akan pergi ke rumahnya, yang tak

pernah kuinjak lagi sejak pesta ulang tahunku
yang sial itu, beberapa bulan silam.
Tumbuh-tumbuhan lebat dan nyaris menyerupai
hutan belantara merayap lamban di samping
jendela trukku, meluncur dan meluncur terus.
Kupercepat laju trukku, mulai gelisah. Sudah
berapa lama aku menyetir? Bukankah seharusnya
aku sudah sampai di rumah itu? Tetumbuhan
begitu menyemak hingga jalan yang kulalui tampak
asing.
Bagaimana kalau aku tak bisa menemukannya?
Aku bergidik. Bagaimana kalau tidak ada bukti
nyata sama sekali?
Kemudian kelebatan pepohonan mulai
merenggang, persis seperti yang kucari, hanya saja
sekarang tidak terlalu kentara. Flora di sini tidak
menunggu lama untuk mengklaim kembali tanah
yang dibiarkan tak dijaga. Pakis-pakisan tinggi
sudah menyusup ke padang rumput di sekeliling
rumah, mengimpit batang-batang pohon cedar,
bahkan sampai ke teras yang lebar. Seolah-olah
halaman dibanjiri—setinggi pinggang—dengan
gelombang hijau berombak-ombak.
Dan rumah itu ada di sana, tapi tidak sama.
Meski tidak ada yang berubah di bagian luar,
namun kekosongan berteriak dari jendelajendelanya
yang melompong. Mengerikan. Untuk
pertama kali semenjak melihat rumah indah ini,
aku merasa ini tempat yang tepat untuk kediaman
vampir.
Kuinjak rem dalam-dalam, berpaling. Aku tak
berani maju lebih jauh lagi.

Tapi tak ada yang terjadi. Tidak ada suara apaapa
dalam benakku.
Aku membiarkan mesin truk tetap menyala dan
melompat ke dalam lautan pakis. Mungkin, seperti
Jumat malam lalu, kalau aku melangkah maju...
Pelan-pelan aku berjalan menghampiri bagian
depan rumah yang sepi dan kosong, mesin trukku
menggemuruh menenangkan di belakangku. Aku
berhenti sesampainya di tangga teras, karena tidak
ada apa-apa di sini. Tidak tersisa sedikit pun kesan
bahwa mereka pernah di sini... bahwa ia pernah di
sini. Rumah itu memang masih berdiri kokoh, tapi
itu tidak banyak berarti. Realita konkretnya tidak
akan mengenyahkan kehampaan mimpi burukku.
Aku tidak berjalan lebih dekat lagi. Aku tidak
ingin melongok ke dalam jendela. Entah mana yang
lebih berat dilihat. Bila ruangan-ruangan di
dalamnya melompong, bergaung kosong dari lantai
ke langit-langit, itu pasti akan sangat menyakitkan.
Seperti waktu nenekku meninggal, saat ibuku
berkeras menyuruhku tetap di luar sebelum Beliau
dimakamkan. Alasannya, aku tidak perlu melihat
Gran seperti itu, mengingatnya seperti itu, lebih
baik mengingatnya seperti waktu ia masih hidup.
Tapi apakah tidak lebih buruk bila semuanya
tetap sama? Bila sofa-sofa itu masih berada di
tempat aku terakhir kali melihatnya, lukisanlukisan
masih terpajang di dinding—dan lebih
parah lagi, piano itu masih bertengger di
panggungnya yang rendah? Itu hanya bisa
ditandingi dengan rumah ini lenyap tanpa bekas,
melihat benda-benda itu teronggok begitu saja.

Bahwa semua masih sama, tak disentuh dan
dilupakan, ditinggalkan pemiliknya.
Sama seperti aku.
Aku berbalik memunggungi kekosongan yang
menyayat hati itu dan bergegas kembali ke truk.
Hampir saja aku berlari. Aku ingin secepatnya
pergi dari sini, kembali ke dunia manusia. Aku
merasa diriku hampa, dan aku ingin bertemu
Jacob. Mungkin ada penyakit lain yang
berkembang dalam diriku, kecanduan lain, seperti
kekebasan yang kurasakan sebelumnya. Aku tak
peduli. Kuinjak pedal gas dalam-dalam, memacu
trukku secepat mungkin, menggelinding menuju
"obat" yang dapat memuaskan kecanduanku.
Jacob sudah menungguku. Dadaku seakan
merileks begitu melihatnya, membuatku mudah
bernapas.
"Hai, Bella," serunya.
Aku tersenyum lega. “Hai, Jacob" Kulambaikan
tangan pada Billy yang memandang ke luar
jendela.
"Ayo kita segera bekerja," kata Jacob dengan
suara pelan namun bersemangat.
Entah bagaimana aku bisa tertawa. "Kau benarbenar
belum muak padaku, ya?" aku penasaran. Ia
sendiri pasti mulai bertanya-tanya, sebegitu putus
asanya aku ingin punya teman.
Jacob berjalan menduluiku mengitari rumah
untuk menuju garasi.
"Nggak. Belum."

"Tolong beritahu aku kapan aku mulai
membuatmu kesal. Aku tidak mau menjadi
pengganggu."
"Oke." Jacob tertawa, suaranya sengau. "Tapi
kalau aku jadi kau, aku tidak bakal terlalu
berharap."
Saat melangkah memasuki garasi, aku shock
melihat motor merah itu sudah berdiri, tampak
lebih mirip motor daripada onggokan besi tua.
“Jake, hebat benar kau," desahku.
Lagi-lagi Jake tertawa. "Aku jadi obsesif bila
sedang mengerjakan proyek." Ia mengangkat bahu.
"Kalau pintar sih, seharusnya aku berlama-lama
mengerjakannya."
"Kenapa?"
Jacob menunduk, berdiam diri lama sekali
hingga aku sempat bertanya-tanya apakah ia
mendengar pertanyaanku. Akhirnya, ia bertanya
padaku, "Bella, seandainya aku berkata tidak bisa
membetulkan sepeda-sepeda motor itu, apa yang
akan kaukatakan?"
Aku juga tidak langsung menjawab, dan Jacob
mendongak untuk mengecek ekspresiku.
"Aku akan berkata... sayang sekali, tapi berani
taruhan, kita pasti bisa mencari kegiatan lain
untuk dilakukan. Kalau kepepet sih, kita bahkan
bisa mengerjakan PR bersama."
Jacob tersenyum, dan bahunya kembali rileks. Ia
duduk di sebelah motor dan memungut obeng.

"Menurutmu kau masih akan datang ke sini kalau
aku sudah selesai memperbaikinya, begitu?"
"Jadi maksudmu itu ya?" Aku menggeleng.
"Kurasa aku memang sengaja memanfaatkan
keahlian mekanikmu yang kelewat murah itu. Tapi
selama kau masih mengizinkan aku datang ke sini,
aku pasti datang."
"Berharap ketemu Quil lagi?" godanya.
"Ketahuan deh."
Jacob terkekeh. "Kau benar-benar suka
menghabiskan waktu bersamaku?" tanyanya,
takjub.
"Suka, suka sekali. Dan akan kubuktikan. Aku
harus kerja besok, tapi Rabu-nya kita bisa
melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya
dengan perbengkelan."
"Seperti apa?"
"Entahlah. Kita bisa pergi ke rumahku supaya
kau tidak tergoda untuk menjadi obsesif. Kau bisa
membawa tugas sekolahmu—kau pasti banyak
ketinggalan pelajaran, karena aku tahu aku pun
begitu."
"Boleh juga bikin PR bareng." Jacob mengernyit
dan aku bertanya-tanya dalam hati berapa banyak
PR yang sudah lalai ia kerjakan agar bisa
bersamaku.
"Benar," aku sependapat. "Kita harus mulai
menunjukkan sikap bertanggung jawab sesekali,
kalau tidak Billy dan Charlie tidak bakal semudah
ini memberi izin," Aku membuat isyarat yang

menggambarkan kami sebagai kesatuan. Jacob
senang melihatnya—wajahnya berseri-seri.
"Mengerjakan PR sekali seminggu?" usulnya.
“Mungkin lebih baik dua kali," aku
menyarankan, membayangkan setumpuk PR yang
baru saja diberikan hari ini.
Jacob mengembuskan napas berat. Lalu ia
mengulurkan tangan melewati kotak perkakas,
mengambil kantong kertas. Dari dalamnya ia
mengeluarkan dua kaleng soda, membuka satu
dan menyodorkannya padaku. Lalu dibukanya
kaleng kedua dan diangkatnya dengan sikap
seperti hendak bersulang.
"Ini untuk tanggung jawab," katanya. "Dua kali
seminggu."
"Dan kecerobohan pada setiap hari di
antaranya," aku menekankan
Jacob nyengir dan menempelkan kalengnya ke
kalengku.
Aku sampai di rumah lebih malam daripada
yang kurencanakan, dan mendapati Charlie sudah
memesan pizza dan bukannya menungguku
pulang. Ia tidak menerima permintaan maafku.
"Tidak apa-apa," ia meyakinkan aku. "Sesekali
kau pantas mendapat istirahat dari tugas
memasak."
Aku tahu Charlie hanya merasa lega karena aku
masih bersikap layaknya manusia normal, dan
tidak ingin merusak suasana.

Aku mengecek e-mail dulu sebelum mulai
mengerjakan PR. Ternyata ada balasan dari Renee.
Ia bersemangat sekali mengomentari setiap hal
yang kutulis kemarin, jadi aku pun membalasnya
dengan penjelasan panjang-lebar tentang
kegiatanku hari ini. Semua kecuali tentang sepeda
motor. Bahkan Renee yang periang itu bakal
jantungan kalau kuceritakan.
Suasana sekolah hari Selasa lumayan
menyenangkan – Angela dan Mike sepertinya siap
menyambutku kembali dengan tangan terbuka—
dengan berbaik hati melupakan sikapku yang
menyimpang beberapa bulan terakhir ini.
Sementara Jess masih menolak. Aku jadi
penasaran jangan-jangan ia membutuhkan surat
permintaan maaf resmi atas insiden di Port Angeles
tempo hari.
Mike riang dan cerewet sekali saat bekerja.
Seolah-olah selama ini ia menyimpan bahan
obrolan selama satu semester dan menumpahkan
semuanya sekarang. Aku mendapati diriku bisa
tersenyum dan tertawa bersamanya, meski tidak
semudah bila aku bersama Jacob. Kelihatannya
tidak ada maksud apa-apa di baliknya, sampai tiba
waktunya untuk pulang.
Mike memasang tanda "TUTUP" di etalase
sementara aku melipat rompiku dan
menjejalkannya di bawah konter.
"Menyenangkan sekali malam ini," kata Mike
senang.
"Yeah," aku sependapat, meski lebih suka
menghabiskan soreku di garasi.

"Sayang kau harus keluar sebelum filmnya
selesai minggu lalu."
Aku agak bingung mengikuti jalan pikirannya.
Kuangkat bahuku. "Kurasa aku memang penakut."
"Maksudku, seharusnya kau nonton film yang
lebih bagus, yang kau suka," ia menjelaskan.
"Oh," gumamku, masih bingung.
"Seperti misalnya Jumat ini. Bersamaku. Kita
bisa pergi nonton film yang tidak seram sama
sekali.”
Kugigit bibirku.
Aku tidak ingin merusak hubunganku dengan
Mike, tidak bila dialah salah satu dari sedikit orang
yang siap memaafkanku atas sikap gilaku. Tapi ini,
lagi-lagi, terasa sangat familier. Seakan-akan
peristiwa tahun lalu tak pernah terjadi. Kalau saja
kali ini aku bisa memakai Jess sebagai alasan.
“Maksudmu berkencan?" tanyaku. Bersikap
jujur mungkin langkah terbaik yang bisa diambil
saat ini. Langsung ke pokok masalah.
Mike mencerna nada suaraku. "Kalau kau mau.
Tapi tidak perlu begitu juga."
"Aku tidak mau berkencan," jawabku lambatlambat,
menyadari betapa benar hal itu. Seisi
dunia terasa sangat jauh denganku sekarang.
"Hanya sebagai teman?" Mike mengusulkan.
Bola matanya yang biru jernih sekarang tidak
tampak terlalu bersemangat. Kuharap ia

bersungguh-sungguh waktu mengatakan kami bisa
jadi teman saja.
"Pasti asyik. Tapi sayangnya aku sudah punya
acara Jumat nanti, jadi bagaimana kalau minggu
depan?"
"Kau mau ngapain?" tanyanya, lebih ingin tahu
daripada yang kurasa ingin ia tunjukkan.
"Bikin PR. Aku sudah... janji akan belajar
bersama teman.”
"Oh. Oke. Mungkin minggu depan."
Mike mengantarku ke trukku, sikapnya tidak
seceria tadi. Aku jadi teringat bulan-bulan
pertamaku di Forks. Lingkaran kehidupanku
seolah kembali ke titik awal, dan sekarang
semuanya terasa bagaikan gema—gema yang
kosong, tanpa ketertarikan seperti dulu.
Esok malamnya Charlie tidak kelihatan kaget
sedikit pun melihat Jacob dan aku berselonjor di
lantai ruang tamu dengan buku pelajaran
bertebaran di mana-mana, jadi kurasa ia dan Billy
diam-diam membicarakan kegiatan kami.
“Hai, Anak-anak," sapanya, matanya mengarah
ke dapur. Aroma lasagna yang kubuat sesorean
tadi—sementara Jacob menonton dan sesekali
mencicipi—menguar ke ruang depan; aku sengaja
berbuat baik, berusaha menebus dosa gara-gara
membiarkan Charlie memesan pizza terus.
Jacob ikut makan malam bersama kami, lalu
pulang sambil membawa sepiring makanan untuk
Billy. Dengan enggan ia menambahkan satu tahun

lagi ke umurku yang masih bisa dinegosiasikan
karena kepiawaianku memasak.
Hari Jumat kami nongkrong di garasi, dan
Sabtu-nya, usai bekerja di Newtons, kami bikin PR
lagi. Charlie merasa cukup yakin aku sudah
kembali waras sehingga mau pergi memancing
bersama Harry. Waktu ia pulang, kami sudah
selesai mengerjakan PR—merasa sangat
bertanggung jawab dan dewasa—dan sedang
menonton Monster Garage di Discovery Channel.
"Mungkin sebaiknya aku pulang," Jacob
mendesah. "Ternyata sudah malam sekali."
"Oke, baiklah," gerutuku. "Kuantar kau pulang."
Jacob tertawa melihat ekspresiku yang
keberatan—sepertinya itu membuatnya senang.
"Besok kembali bekerja," kataku begitu kami
sudah aman di dalam truk. "Jam berapa kau mau
aku datang?"
Ada kesan riang yang tak bisa dijelaskan
terpancar dari senyumnya. "Kutelepon kau dulu,
oke?"
"Tentu." Keningku berkerut, bertanya-tanya ada
apa. Senyum Jacob semakin lebar.
Aku membersihkan rumah keesokan paginya—
sambil menunggu Jacob menelepon sekaligus
berusaha mengenyahkan mimpi burukku yang
terakhir. Pemandangannya berubah. Semalam aku
berkelana di tengah lautan pakis yang diselingi
pohon hemlock raksasa di sana-sini. Tidak ada
apa-apa lagi di sana, dan aku tersesat,

menggelandang tanpa tujuan dan sen dirian, tidak
mencari apa-apa. Ingin rasanya kumarahi diriku
sendiri karena pergi ke sana minggu lalu.
Kutepiskan mimpi itu dari pikiran sadarku,
berharap mimpi tersebut akan terkunci rapat di
suatu tempat dan tidak muncul lagi.
Charlie sedang mencuci mobil patrolinya di luar,
jadi ketika telepon berdering, aku langsung
menjatuhkan sikat WC dan lari ke bawah untuk
mengangkatnya.
"Halo?" jawabku terengah-engah.
"Bella." kata Jacob, nadanya aneh dan formal.
"Hai, Jake"
"Aku yakin kita... ada kencan hari ini," katanya,
nadanya sarat makna terselubung.
Butuh waktu sedetik bagiku untuk
mencernanya. "Sudah selesai? Aku tidak percaya!"
Waktunya benar-benar tepat. Aku membutuhkan
sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku dari
mimpi buruk dan kehampaan.
"Yeah, dua-duanya sudah berfungsi lagi."
"Jacob, kau ini benar-benar, tidak diragukan
lagi, orang paling berbakat dan hebat yang pernah
kukenal. Usiamu bertambah sepuluh tahun karena
ini."
"Keren! Jadi sekarang aku sudah separo baya."
Aku tertawa. "Aku akan segera ke sana!"

Kulempar semua peralatan bersih-bersihku ke
bawah konter kamar mandi, lalu kusambar
jaketku.
"Mau ke rumah Jake," kata Charlie waktu aku
berlari melewatinya. Itu bukan pertanyaan.
“Yep," sahutku sambil meloncat ke truk.
"Aku nanti akan ke kantor," Charlie berseru
padaku.
“Oke," aku balas berteriak, memutar kunci.
Charlie mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa
mendengarnya dengan jelas karena terhalang
raungan mesin truk. Ke dengarannya seperti,
"Buru-buru amat?"
Kuparkir trukku di sisi rumah keluarga Black,
dekat pepohonan, supaya kami bisa lebih mudah
menyelundupkan sepeda-sepeda motor itu keluar.
Waktu aku turun, secercah warna berkelebat
menarik perhatianku—dua motor mengilap, satu
merah, satu hitam, tersembunyi di balik semak,
tidak tampak dari rumah. Jacob sudah siap.
Sepotong pita biru diikat membentuk pita kecil
di setiap setang motor. Aku tertawa melihatnya
sewaktu Jacob menghambur keluar rumah.
"Siap?" tanyanya pelan, matanya berbinar-binar.
Aku menengok ke belakang bahunya, tapi tidak
ada tanda-tanda kehadiran Billy.
"Yeah," jawabku, tapi tidak merasa terlalu
bersemangat seperti sebelumnya; aku mencoba

membayangkan diriku benar-benar menunggangi
sepeda motor itu.
Dengan enteng Jacob menaikkan sepeda-sepeda
motor itu ke bak belakang trukku,
membaringkannya dengan hati-hati agar tidak
terlihat.
"Ayo," ajaknya, suaranya lebih tinggi daripada
biasanya karena bersemangat. "Aku tahu tempat
yang aman—tidak ada yang akan memergoki kita
di sana."
Kami ke luar kota menuju selatan. Jalan tanah
berkelok-kelok keluar-masuk hutan—terkadang
tidak tampak pemandangan lain selain pepohonan,
dan sejurus kemudian tiba-tiba tampak
pemandangan indah Samudera Pasifik
membentang luas, jauh hingga ke batas cakrawala,
abu-abu gelap di bawah awan-awan. Kami berada
di atas pantai, di puncak tebing-tebing yang
membatasi pantai di sini, dan pemandangannya
seakan membentang luas hingga ke ujung bumi.
Aku mengendarai trukku pelan-pelan, supaya
bisa dengan aman memandangi samudra luas
sesekali, sementara jalan berkelok-kelok semakin
dekat ke tebing-tebing laut. Jacob bercerita tentang
keberhasilannya memperbaiki kedua sepeda motor
itu, tapi penjelasannya mulai mengarah ke hal-hal
teknis, jadi aku tidak begitu memerhatikan.
Saat itulah aku melihat empat orang berdiri di
tubir batu, terlalu dekat ke pinggir tebing. Dari
jauh aku tidak bisa menebak usia mereka, tapi
asumsiku mereka lelaki dewasa. Meski hari ini

dingin, kelihatannya mereka hanya mengenakan
celana pendek.
Kulihat lelaki yang tubuhnya paling tinggi maju
semakin dekat ke pinggir tebing. Otomatis aku
memperlambat laju truk, kakiku ragu-ragu di pedal
rem.
Dan detik berikutnya, lelaki itu menjatuhkan
dirinya dari pinggir tebing.
"Tidak!" teriakku, menginjak rem dalam-dalam.
"Ada apa?" Jacob balas berteriak, kaget.
"Orang itu—dia baru saja melompat dari pinggir
tebing! Mengapa mereka tidak mencegahnya? Kita
harus menelepon ambulans!" Kubentangkan pintu
truk lebar-lebar dan melompat keluar, tindakan
yang sama sekali tak masuk akal. Jalan tercepat ke
pesawat telepon adalah kembali ke rumah Billy
Tapi aku tidak memercayai apa yang baru saja
kulihat. Mungkin di alam bawah sadarku, aku
berharap akan melihat sesuatu yang berbeda bila
tidak dihalangi kaca depan trukku.
Jacob tertawa, dan aku berbalik menatapnya
dengan panik. Apakah ia begitu tidak punya
perasaan, begitu tega?
"Mereka hanya terjun dari tebing, Bella.
Rekreasi. Di La Push kan tidak ada mal," Jacob
menggoda, meski ada secercah nada kesal dalam
suaranya.
"Terjun dari tebing?" ulangku, bingung. Tak
percaya rasanya melihat sosok kedua melangkah
ke pinggir tebing, diam sejenak, kemudian dengan

sangat anggun melompat ke udara. Ia melayang
untuk waktu yang rasanya seperti berabad-abad
bagiku, sebelum akhirnya membelah ombak kelabu
gelap dengan mulus, jauh di bawah sana.
"Wow. Tinggi sekali." Aku masuk kembali ke
truk, sambil terus memandangi kedua penerjun
yang tersisa. "Tingginya tidak mungkin kurang dari
tiga puluh meter."
"Well, yeah, kebanyakan dari kami terjun dari
posisi yang agak lebih ke bawah, dari batu yang
menjorok ke luar tebing itu." Jacob menuding ke
luar jendela. Tempat yang ditunjukkannya memang
tampak jauh lebih masuk akal. "Orang-orang itu
sinting. Mungkin hanya ingin pamer. Maksudku,
yang benar saja, hari ini kan dingin sekali. Airnya
pasti sangat dingin." Jacob mengernyit tak setuju,
seolah-olah adegan berbahaya tadi
menyinggungnya secara pribadi. Aku agak terkejut
juga melihatnya. Kukira Jacob hampir tak pernah
marah.
"Kau pernah terjun dari tebing?" Kata "kami"
yang diucapkannya tadi tak luput dari
pendengaranku.
"Tentu, tentu," Ia mengangkat bahu dan nyengir.
"Asyik kok. Agak ngeri, memacu adrenalin."
Aku menoleh kembali memandangi tebing-tebing
itu, dan melihat sosok ketiga mondar-mandir di
pinggir tebing. Belum pernah aku menyaksikan
sesuatu yang senekat itu seumur hidupku. Mataku
membelalak, dan aku tersenyum. "Jake, kau harus
mengajakku terjun dari tebing kapan-kapan.

Jacob menatapku dengan kening berkerut,
wajahnya tidak setuju. "Bella, baru saja kau mau
memanggilkan ambulans untuk Sam," ia
mengingatkanku. Kaget juga aku, ia bisa mengenali
siapa orang tadi dari kejauhan.
"Aku ingin mencoba," aku berkeras, bergerak
untuk turun lagi dari truk.
Jacoh menyambar pergelangan tanganku.
“Jangan hari ini ok?: Bisakah kira menunggu
setidaknya sampai cuaca menghangat?"
“Oke, baik." aku setuju. Dengan pintu
terbuka,angin sedingin es membuat bulu kudukku
meremang. "Tapi aku ingin melakukannya dalam
waktu dekat.”
"Dalam waktu dekat." Jacob memutar bola
matanya. "Terkadang kau sedikit aneh, Bella. Kau
tahu itu?"
Aku mendesah. "Ya."
“Dan kita tidak akan terjun dari puncak." Aku
menonton, takjub, saat pemuda ketiga memulai
terjunnya dengan berlari lebih dulu dan
melontarkan diri lebih jauh ke udara kosong
daripada kedua temannya yang lain. Pemuda itu
meliuk dan berputar-putar di angkasa saat terjun
bebas, seperti penerjun payung. Ia tampak benarbenar
bebas—tanpa beban dan bersikap sesuka
hati.
"Baiklah." aku setuju. "Setidaknya untuk
pertama kali."

Sekarang giliran Jacob yang mendesah. "Jadi,
tidak, kita menjajal motor kita?" tuntut Jacob.
"Oke, oke," jawabku, mengalihkan mata dari
orang terakhir yang menunggu di tebing.
Kukenakan lagi sabuk pengamanku dan menutup
pintu. Mesin masih menyala, meraung keras bila
tidak dijalankan. Kami kembali melaju.
“Jadi siapa mereka—orang-orang gila itu?"
tanyaku.
Jacob mengeluarkan suara seperti kesal dari
tenggorokannya. "Mereka geng La Push."
"Kalian punya geng?" tanyaku. Sadarlah aku
suaraku terdengar kagum.
Jacob langsung tertawa melihat reaksiku. "Tidak
seperti itu. Sumpah, mereka itu seperti pengawas
sekolah yang melenceng dari tugasnya. Mereka
tidak suka bikin ulah, melainkan menjaga
ketenteraman." Jacob mendengus. "Pernah, suatu
kali ada pemuda dari daerah Makah rez sana,
badannya juga besar, pokoknya penampilannya
sangar. Well, menurut kabar burung, pemuda itu
menjual sabu ke anak-anak, dan Sam Uley serta
para muridnya mengusir pemuda itu dari tanah
kami. Mereka selalu saja mendengung-dengungkan
soal tanah kami dan harga diri suku... konyol juga
lama-lama. Parahnya lagi, dewan suku
menganggap serius mereka. Kata Embry, dewan
suku benar-benar bertemu Sam secara teratur."
Jacob menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya
menunjukkan mimik tidak suka. "Embry juga
pernah mendengar dari Leah Clearwater bahwa

geng itu menyebut diri mereka 'pelindung’ atau
semacam itulah."
Tangan Jacob mengepal, sepertinya gatal ingin
meninju sesuatu. Belum pernah aku melihatnya
seperti itu.
Kaget juga aku mendengar nama Sam Uley
disebut-sebut. Aku tidak ingin nama itu membawa
kembali ingatan tentang mimpi burukku, jadi aku
buru-buru menyampaikan hasil pengamatan
sekilasku untuk mengalihkan perhatian. "Kau
tidak terlalu menyukai mereka."
"Kelihatan, ya?" tanyanya sarkastis.
"Well. Kedengarannya mereka tidak melakukan
hal yang tidak baik" Aku berusaha menenangkan
Jacob, membuatnya riang kembali. "Hanya saja
sikap mereka memang agak terlalu sok alim untuk
anak geng."
"Yeah. Sok alim itu istilah yang tepat. Mereka
selalu ingin pamer—seperti terjun tebing itu.
Mereka bertingkah seperti... seperti, entahlah.
Seperti cowok-cowok macho. Dulu pernah, waktu
nongkrong di toko bersama Embry dan Quil,
semester lalu, Sam datang bersama kronikroninya,
Jared dan Paul. Quil mengatakan
sesuatu, kau kan tahu dia suka omong besar dan
omongannya membuat Paul jengkel. Matanya
langsung berubah gelap, dan dia seperti
tersenyum—bukan, dia memamer kan giginya rapi
tidak tersenyum—dan sepertinya dia marah sekali
sampai-sampai sekujur tubuhnya bergetar atau
bagaimana. Tapi Sam meletakkan tangannya di
dada Paul dan menggeleng. Paul memandanginya

sebentar dan kemudian tenang kembali. Terus
terang, seolah-olah Sam-lah yang bisa
menenangkannya—seakan-akan Paul bakal
mencabik-cabik kami kalau tidak dihentikan Sam."
Jacob mengerang. "Seperti film western kacangan.
Kau tahu kan, Sam itu besar sekali, umurnya saja
sudah dua puluh. Tapi Paul juga masih enam
belas, lebih pendek daripada aku dan tidak
segempal Quil. Kurasa, salah satu dari kami bisa
saja mengalahkannya."
Cowok macho? aku sependapat. Aku bisa
melihatnya dalam benakku ketika Jacob
menggambarkannya, dan itu mengingatkanku pada
sesuatu... tiga cowok jangkung berkulit gelap
berdiri diam dan saling merapat di ruang tamu
rumah ayahku. Gambarnya miring ke satu sisi,
karena kepalaku terbaring di sofa sementara dr.
Gerandy dan Charlie membungkuk di atasku...
Apakah mereka itu geng Sam?
Aku cepat-cepat berbicara lagi untuk
mengalihkan perhatianku dari kenangan itu.
"Apakah Sam tidak sedikit terlalu tua untuk hal
semacam ini?"
"Yeah. Seharusnya dia kuliah, tapi dia tetap
tinggal di sini. Sudah begitu, tidak ada yang
mempermasalahkannya pula. Padahal, dewan suku
marah besar waktu kakak perempuanku menolak
tawaran beasiswa parsial dan lebih memilih
menikah. Tapi, oh tidak, Sam Uley tidak mungkin
melakukan kesalahan."
Wajah Jacob mengeras oleh amarah—amarah
dan perasaan lain yang awalnya tidak kukenali.

"Kedengarannya sangat menjengkelkan dan...
aneh. Tapi aku tidak mengerti mengapa kau
memasukkannya ke hati." Kulirik wajahnya,
berharap aku tidak membuatnya tersinggung.
Jacob mendadak tenang, memandang ke luar
jendela.
"Belokannya terlewat," katanya datar.
Aku membuat putaran berbentuk huruf U yang
lebar sekali; sampai nyaris menabrak pohon saat
lingkaran yang kubuat membuat trukku terseok
hingga ke setengah badan jalan.
"Terima kasih peringatannya," gerutuku sambil
mulai menyusuri jalan kecil.
"Maaf, tadi aku sedang tidak memerhatikan
jalan." Sejenak tidak ada yang bicara.
"Kau bisa berhenti di mana saja di sepanjang
jalan ini," kata Jacob lirih.
Aku menepikan truk dan mematikan mesin.
Telingaku berdenging oleh kesunyian yang
mendadak. Kami turun, lalu Jacob berjalan ke
belakang untuk menurunkan sepeda motor. Aku
mencoba membaca ekspresinya. Ada hal lain yang
membuatnya gundah. Pertanyaanku tadi tepat
mengenai sasaran.
Jacob tersenyum setengah hati sambil
mendorong motor merah itu ke sisiku. "Selamat
ulang tahun yang terlambat. Kau siap?"
"Rasanya sudah." Tiba-tiba saja motor itu
tampak mengancam, menakutkan, waktu aku
sadar sebentar lagi aku akan mengendarainya.

"Kita akan pelan-pelan saja," Jacob berjanji.
Hati-hati kusandarkan motor itu ke bemper truk
sementara Jacob menurunkan motornya.
"Jake..." Aku ragu-ragu sejenak waktu ia
kembali mengitari truk.
"Yeah?"
"Apa sebenarnya yang membuatmu merasa
terganggu? Mengenai Sam. maksudku? Apakah
ada masalah lain?" Ku, pandangi wajahnya, tapi ia
tidak marah. Ia menatap tanah dan menendangkan
sepatunya ke roda depan sepeda motornya berkalikali.
seperti mengulur-ulur waktu.
Jacob mendesah. "Hanya... cara mereka
memperlakukan aku. Membuatku takut." Katakata
itu mulai berhamburan keluar dari mulutnya.
"Kau tahu, dewan suku terdiri atas para anggota
yang kedudukannya setara, tapi kalaupun ada
pemimpin, pemimpinnya adalah ayahku. Aku tidak
pernah bisa mengerti mengapa orang-orang
memperlakukan dia seperti itu. Mengapa opininya
yang paling didengar. Pasti ada hubungannya
dengan ayahnya dan ayah dari ayahnya. Kakek
buyutku, Ephraim Black, bisa dibilang kepala suku
kami yang terakhir, dan mereka masih
mendengarkan perkataan Billy, mungkin karena
itu.
"Tapi aku sama saja seperti orang-orang lain.
Tidak ada yang memperlakukan aku secara
istimewa... sampai sekarang."
Aku terperangah mendengarnya. "Sam
memperlakukan mu secara istimewa?"

"Yeah," jawab Jacob, mendongak dan
memandangku dengan sorot galau. "Dia
memandangiku seperti menunggu sesuatu...
seperti berharap aku akan bergabung dengan geng
tololnya itu suatu saat nanti. Dia lebih
memerhatikan aku daripada pemuda-pemuda lain.
Aku tidak suka."
“Kau tidak perlu bergabung dengan geng apa
pun." Suaraku marah. Ini benar-benar meresahkan
hati Jacob, dan itu membuatku marah.
Memangnya para "pelindung" ini pikir siapa
mereka?
“Yeah.” Kaki Jacob masih terus menendangnendang
roda.
"Apa?" Aku tahu pasti masih ada lagi.
Jacob mengerutkan kening, alisnya bertaut
seperti kalau ia tampak sedih dan khawatir,
bukannya marah. "Ini tentang Embry. Dia selalu
menghindariku belakangan ini"
Pikiran itu sepertinya tidak ada hubungannya
dengan masalah tadi, tapi aku ingin tahu apakah
masalah yang dihadapinya dengan sahabatnya itu
gara-gara aku. "Kau kan bersamaku terus akhirakhir
ini," aku mengingatkan dia, merasa egois.
Ternyata selama ini aku memonopoli dia.
"Tidak, bukan gara-gara itu. Bukan hanya aku
yang merasa begitu—Quil juga, dan orang-orang
lain. Embry tidak sekolah selama satu minggu, tapi
tidak pernah ada di rumah bila kami mencoba
menemuinya. Dan waktu dia kembali, dia
tampak... dia tampak kalut. Ketakutan. Quil dan

aku berusaha membujuknya untuk menceritakan
masalah yang dihadapinya, tapi dia tidak mau
bicara pada kami berdua."
Kupandangi Jacob, menggigit bibir dengan
cemas—ia benar-benar ketakutan. Tapi Jacob tidak
balas menatapku. Ia memandangi kakinya yang
menendang-nendang karet ban. Temponya makin
lama makin cepat.
"Lalu minggu ini, tak ada hujan tak ada angin,
Embry mulai bergabung dengan Sam dan temantemannya
yang lain. Dia tadi juga ada di tebing."
Suaranya rendah dan tegang.
Akhirnya Jacob menatapku juga. "Bella, dulu
mereka lebih sering mengganggu Embry daripada
aku. Embry bahkan tidak mau berurusan dengan
mereka. Tapi sekarang dia membuntuti Sam ke
mana-mana seolah-olah dia sudah bergabung
dalam sebuah sekte.
"Dan hal yang sama juga terjadi pada Paul.
Persis sama. Dia bukan teman Sam. Lalu tahutahu
dia tidak masuk sekolah beberapa minggu,
dan ketika kembali, mendadak Sam seperti
memiliki dia. Entah apa maksudnya. Aku tidak
mengerti, dan aku merasa harus mencari tahu,
karena Paul temanku dan... Sam menatapku
dengan sikap aneh... dan...” suara Jacob
menghilang.
"Kau sudah membicarakan ini dengan Billy?"
tanyaku. Ketakutannya mulai menular. Bulu
kuduk di sekujur tubuhku meremang.

Kini wajahnya tersaput amarah. "Sudah,"
dengusnya. "Benar-benar membantu.”
"Apa kata ayahmu?"
Ekspresi Jacob sinis, dan saat berbicara, ia
menirukan suara ayahnya yang berat. "Tidak ada
yang perlu kaukhawatirkan sekarang, Jacob.
Beberapa tahun lagi, kalau kau tidak... Well, akan
kujelaskan nanti." Dan kemudian suaranya biasa
lagi. "Bagaimana penjelasan seperti itu bisa
membuatku mengerti? Apakah ayahku berusaha
menjelaskan bahwa ini disebabkan oleh pubertas
tolol, usia akil balig dan sebangsanya? Ini soal lain.
Ada yang tidak beres."
Jacob menggigit-gigit bibir bawahnya dan
meremas kedua tangannya. Kelihatannya ia seperti
mau menangis.
Instingku langsung menyuruhku merangkulnya,
memeluk pinggangnya dan menempelkan wajahku
ke dadanya. Ia besar sekali, aku merasa seperti
anak kecil yang memeluk orang dewasa.
"Oh, Jake, semua pasti beres!" aku
meyakinkannya. "Kalau keadaan bertambah parah,
kau bisa tinggal bersamaku dan Charlie. Jangan
takut, akan kita cari jalan keluarnya!"
Jacob membeku sedetik, kemudian kedua
lengannya yang panjang merangkulku ragu-ragu.
"Trims, Bella." Suaranya lebih serak daripada
biasa.
Sesaat kami berdiri diam sambil berpelukan, dan
itu tidak membuatku kalut; malah, aku merasa
nyaman bisa bersentuhan dengannya. Berbeda

sama sekali dengan saat terakhir kali seseorang
memelukku seperti ini. Ini pelukan persahabatan.
Dan Jacob orangnya sangat hangat.
Aneh juga bagiku, bisa sedekat ini—lebih secara
emosional daripada fisik, meski kedekatan fisik
juga merupakan hal yang aneh bagiku—dengan
sesama manusia. Itu bukan gayaku yang biasa.
Normalnya, tidak mudah bagiku berhubungan
dengan manusia, dalam tahapan yang sangat
mendasar.
Tidak dengan manusia.
"Kalau tahu begini reaksimu, aku akan lebih
sering panik." Suara Jacob ringan, terdengar
normal lagi, dan tawanya menggemuruh di
telingaku. Jari-jemarinya menyentuh rambutku,
lembut dan hati-hati.
Well, bagiku ini persahabatan.
Aku cepat-cepat melepaskan diri, tertawa
bersamanya, tapi dalam hati bertekad untuk
mengembalikan keadaan ke perspektif semula.
"Sulit dipercaya aku dua tahun lebih tua
darimu," tukasku, memberi penekanan pada kata
"lebih tua". "Kau membuatku merasa seperti orang
kerdil." Berdiri sedekat ini dengannya, aku benarbenar
harus mendongak tinggi-tinggi untuk bisa
melihat wajahnya.
"Kau selalu saja lupa umurku sudah empat
puluhan.”
“Oh, benar."

Jacob menepuk-nepuk kepalaku. "Kau seperti
boneka kecil,” godanya. "Boneka porselen."
Aku memutar bola mataku, mundur lagi
selangkah. "Sudahlah, jangan mulai lagi dengan
ejekanmu soal albino itu.”
"Serius nih, Bella, kau yakin kau bukan albino?"
Jacob mendekatkan tangannya yang kemerahan
itu ke tanganku, perbedaannya sangat mencolok.
"Aku belum pernah melihat orang yang lebih pucat
daripada kau... Well. Kecuali–" Jacob tidak
meneruskan kata-katanya, dan aku membuang
muka berusaha tidak memahami apa yang hendak
ia katakan.
“Bagaimana, jadi naik motor atau tidak?”
“Ayolah,” ajakku, lebih antusias daripada
setengah menit sebelumnya. Kalimat Jacob yang
tidak selesai tadi mengingatkanku pada alasan
mengapa aku datang ke sini.

8. ADRENALIN
"OKE, yang mana kopling?"
Aku menuding tuas di setang kiriku. Salah besar
melepaskan pegangan. Sepeda motor yang berat itu
goyah di bawahku, terancam jatuh ke samping.
Cepat-cepat kusambar lagi setangnya, berusaha
menegakkannya.
"Jacob, motornya tidak mau berdiri tegak,"
keluhku,

"Nanti akan stabil kalau sudah jalan," janjinya.
"Sekarang, mana rem?"
"Di belakang kaki kananku."
"Salah."
Jacob menyambar tangan kananku dan
menekukkan jari-jariku ke tuas di belakang setang
gas.
"Tapi tadi kaubilang—"
"Ini rem yang harus kaugunakan. Jangan pakai
rem belakang dulu, itu untuk nanti, kalau kau
sudah bisa mengendarainya dengan benar."
"Kedengarannya kok tidak benar," tukasku
curiga. "Bukan kali kedua rem itu sama
pentingnya?"
"Lupakan saja rem belakang, oke? Ini—"Jacob
menumpang, kan telapak tangannya ke telapak
tanganku dan menggerakkannya untuk meremas
tuas. "Begini caranya mengerem. Jangan lupa." Ia
meremas tanganku sekali lagi.
"Baiklah." aku setuju.
“Gas?”
Kuputar setang kanan.
"Gigi?"
Aku menyenggolnya dengan tungkai kaki kiriku.
"Bagus sekali. Kurasa kau sudah hafal namanama
bagiannya. Sekarang tinggal
menjalankannya."

"He-eh," gumamku, tidak berani mengatakan
apa-apa lagi. Perutku melilit aneh dan rasanya
suaraku mau pecah. Aku takut sekali. Aku
berusaha meyakinkan diri bahwa ketakutanku itu
tak beralasan. Aku toh sudah pernah melewati hal
terburuk yang mungkin terjadi. Dibandingkan
dengan itu, mengapa hal lain bisa membuatku
takut? Seharusnya aku bisa menghadapi maut
dengan enteng dan berani.
Tapi perutku tidak percaya.
Kutatap jalan tanah yang membentang panjang
di hadapanku, diapit di sisi kiri dan kanannya
dengan tetumbuhan hijau rimbun berkabut.
Jalanannya berpasir dan lembab. Lebih bagus
daripada lumpur.
“Sekarang, tekan koplingnya," Jacob
memerintahkan.
Kuremas kopling dengan jari-jari tanganku.
"Sekarang ini penting, Bella," Jacob
menekankan. "Jangan lepas kopling itu, oke? Aku
ingin kau menganggapnya granat aktif. Pinnya
sudah dilepas dan sekarang kau menahan
pemicunya."
Aku meremasnya semakin kuat.
"Bagus. Kira-kira bisa tidak kau menyalakan
mesin dengan mengengkol pedal kakinya?"
"Kalau aku memindahkan kakiku, aku bisa
jatuh," kataku dengan rahang terkatup rapat, jarijariku
mencengkeram erat granat aktifku.

"Oke, biar aku saja. Jangan lepaskan
koplingnya."
Jacob mundur selangkah, kemudian tiba-tiba
mengengkol pedal keras-keras. Terdengar raungan
pendek, dan sepeda motor tersentak ke depan
saking kerasnya Jacob mengengkol. Aku mulai
goyah ke samping, tapi Jacob buru-buru
memegangi sepeda motor sebelum benda itu jatuh
bersamaku ke tanah.
"Tahan," ia menyemangati. "Koplingnya masih
kaupegang?"
"Ya," jawabku.
"Jejakkan kakimu—akan kucoba lagi." Jacob
menumpukan tangannya ke sadel belakang, untuk
berjaga-jaga.
Empat kali mengengkol baru mesinnya menyala.
Bisa kurasakan motor itu bergetar di bawahku
seperti binatang yang marah. Kucengkeram kopling
kuat-kuat sampai jari-jariku sakit.
"Cobalah menggas," Jacob menyarankan. "Pelanpelan.
Dan jangan lepaskan koplingnya."
Ragu-ragu, kuputar setang kanan. Meski hanya
sedikit, namun sepeda motor menggeram di
bawahku. Kedengarannya marah dan lapar
sekarang. Jacob tersenyum puas.
"Ingat bagaimana caranya memasukkan gigi
satu?' tanyanya.
"Ya."
"Well, lakukanlah."

"Oke"
Jacob menunggu beberapa detik. "Kaki kiri,"
desaknya.
"Aku sudah tahu," sergahku, menarik napas
dalam-dalam
"Yakin kau mau melakukannya?" tanya Jacob.
"Kelihatannya kau takut."
"Aku baik-baik saja,” bentakku. Kupelankan gas
sedikit.
"Bagus sekali," Jacob memujiku. "Sekarang,
pelan-pelan sekali lepaskan kopling."
Jacob mundur selangkah menjauhi motor.
"Kau mau aku melepaskan granat?" tanyaku tak
percaya. Pantas saja ia mundur.
"Begitulah caramu menjalankan motor, Bella.
Tapi lakukan sedikit demi sedikit."
Saat mulai melonggarkan cengkeraman, aku
shock bukan main saat mendengar suara yang
bukan milik cowok yang berdiri di sampingku.
"Ini ceroboh, kekanak-kanakan, dan idiot, Bella,"
suara selembut sutra itu menegur.
"Oh!" aku terkesiap, dan tanganku terlepas dari
kopling.
Sepeda motor itu memberontak di bawahku,
menyentakku maju dan ambruk ke tanah, separo
bodinya menindihku. Suara mesinnya terbatukbatuk
lalu mati.

"Bella?" Jacob menyentakkan sepeda motor berat
itu dengan enteng. "Kau terluka?”
Tapi aku tidak mendengarkan.
"Sudah kubilang," suara sempurna itu berbisik,
sebening kristal.
"Aku tidak apa-apa," gumamku, linglung.
Lebih dari itu. Suara di kepalaku telah kembali.
Masih terngiang-ngiang di telingaku—gaung yang
lembut dan sehalus beledu.
Pikiranku berputar cepat memikirkan berbagai
kemungkinan. Tidak ada yang familier di sini—di
jalanan yang tidak pernah kulihat, melakukan
sesuatu yang tidak pernah kulakukan
sebelumnya—tidak ada deja vu. Jadi halusinasi itu
pasti dipicu hal lain... aku merasa adrenalin
menderas kembali di pembuluh darahku, dan
kurasa aku tahu jawabannya. Kombinasi adrenalin
dan bahaya, atau mungkin hanya ketololan.
Jacob menarikku berdiri.
"Kepalamu terbentur?” tanyanya.
"Kelihatannya tidak," Aku menganggukkan
kepala ke depan dan ke belakang, mengecek.
"Motornya tidak rusak, kan?" Pikiran itu
membuatku waswas. Aku sangat ingin mencoba
lagi, segera. Bertindak ceroboh ternyata lebih
berhasil daripada yang kukira. Tidak harus
melakukan kecurangan. Mungkin aku sudah
menemukan cara untuk memunculkan
halusinasi— itu jauh lebih penting.

"Tidak. Mesinnya hanya mati," jawab Jacob,
menyela spekulasi kilatku. "Kau terlalu cepat
melepas kopling."
Aku mengangguk. "Ayo kita coba lagi"
"Kau yakin?" tanya Jacob.
"Positif."
Kali ini aku mencoba mengengkol sendiri. Sulit
sekali; aku harus meloncat sedikit agar bisa
menginjak pedal sekuat tenaga, dan setiap kali
melakukannya, sepeda motor itu seperti mencoba
menjatuhkanku. Tangan Jacob menggelayut di atas
setang, siap menangkapku kalau aku
membutuhkannya.
Setelah beberapa kali mencoba dengan benar,
bahkan ditambah dengan beberapa kali percobaan
yang kurang tepat, baru mesinnya menyala dan
meraung hidup di bawahku. Ingat bahwa ibaratnya
aku sedang memegang granat, aku bereksperimen
dengan memutar-mutar handel gas. Mesin
langsung menggeram begitu handel gas diputar
sedikit saja. Senyumku kini sama lebarnya dengan
senyum Jacob.
"Hati-hati melepas koplingnya," Jacob
mengingatkanku. "Kau ingin bunuh diri, kalau
begini? Jadi itu ya tujuannya?" suara itu berbicara
lagi, nadanya galak.
Aku tersenyum kaku—masih berfungsi
ternyata—dan mengabaikan pertanyaan itu. Jacob
tidak akan membiarkan hal buruk menimpaku.

"Pulanglah ke Charlie," suara itu
memerintahkan. Keindahannya membuatku
terpesona. Aku tak sanggup membiarkan
ingatanku kehilangan suara itu, tak peduli berapa
pun harga yang harus kubayar.
"Lepaskan pelan-pelan," Jacob menyemangatiku.
"Baiklah," jawabku. Aku agak resah waktu
menyadari perkataanku itu menjawab pertanyaan
mereka berdua.
Suara di kepalaku lagi-lagi menggeram
mengatasi raungan mesin motor.
Berusaha fokus kali ini, tidak membiarkan suara
itu mengagetkanku lagi, aku melepaskan
cengkeramanku sedikit demi sedikit. Tahu-tahu
giginya masuk dan motor menyentak maju.
Dan aku pun terbang.
Terpaan angin kencang yang tadi tidak ada
meniup kulitku hingga melekat erat di tengkorak
dan menerbangkan rambutku ke belakang dengan
kekuatan sangat besar, seolah-olah ada yang
menjambaknya. Perasaan mulas yang kurasakan
tadi sebelum melaju lenyap sudah; adrenalin
menderas di sekujur tubuh, menggelitik urat-urat
nadiku. Pohon-pohon lewat cepat di sebelahku,
kabur menjadi dinding hijau.
Tapi ini baru gigi satu. Kakiku beringsut-ingsut
maju mendekati gigi sementara tanganku memutar
setang untuk menambah gas.

"Tidak, Bella!" suara semanis madu itu
memerintahkan dengan nada marah, tepat di
telingaku. "Hati-hati!"
Pikiranku sempat teralih sejenak dari kecepatan
untuk menyadari bahwa jalanan ternyata mulai
menikung pelan ke kiri, tapi aku masih tetap
melaju lurus. Jacob belum mengajariku caranya
membelok.
"Rem, rem," aku bergumam sendiri, dan secara
naluri menginjak rem keras-keras dengan kaki
kanan, seperti yang biasa kulakukan saat menyetir
mobil.
Motor mendadak goyah di bawahku, pertama
bergetar ke satu sisi dan baru kemudian ke sisi
lain. Motor itu menyeretku ke arah dinding hijau,
padahal kecepatanku kelewat tinggi. Aku berusaha
membelokkan setang ke arah berlawanan, dan
mendadak bobotku mendorong motor ke tanah,
masih terus tergelincir ke arah pepohonan.
Sepeda motor itu kembali mendarat di atas
tubuhku, meraung nyaring, menarikku melintasi
pasir basah hingga membentur sesuatu yang tidak
bergerak. Aku tak bisa melihat. Wajahku
tersungkur ke dalam lumut. Aku mencoba
mengangkat kepala, tapi sesuatu menghalangiku.
Aku pusing dan bingung. Kedengarannya ada
tiga hal yang menggeram—motor di atasku, suara
di kepalaku, dan sesuatu yang lain...
"Bella!" Jacob berteriak, dan aku mendengar
geraman motor lain berhenti

Motor itu tak lagi mengimpitku ke tanah, dan
aku berguling untuk bernapas. Semua geraman itu
diam.
"Wow," gumamku. Aku merasa sangat bergairah.
Beginilah pasti resep jitu untuk halusinasiadrenalin
ditambah bahaya ditambah perbuatan
tolol. Sesuatu yang mendekati itu, paling tidak.
"Bella!" Jacob membungkuk cemas di atasku.
Bella, kau masih hidup?"
"Aku baik-baik saja!” seruku antusias. Aku
meregangkan otot-otot lengan dan kakiku.
Kelihatannya semua masih berfungsi dengan baik.
Ayo kita lakukan lagi."
"Kurasa jangan." Jacob masih terdengar waswas.
"Kurasa sebaiknya kuantar kau ke rumah sakit
dulu.”
"Aku baik-baik saja."
“Ehm, Bella? Di dahimu ada luka robek yang
besar sekali, dan darahmu mengucur deras." Jacob
memberitahuku.
Aku meletakkan tangan di kepala. Benar saja,
tanganku jadi basah dan lengket. Aku tidak
mencium bau apa-apa kecuali lumut lembab di
wajahku, dan itu mencegah datangnya mual.
"Oh, maafkan aku, Jacob." Kutekan luka itu
kuat-kuat, seolah-olah dengan begitu aku bisa
memaksa darah masuk kembali ke kepalaku.
"Untuk apa kau meminta maaf karena
berdarah?" tanya Jacob sambil memeluk
pinggangku dan membantuku berdiri. "Ayo kita

pergi. Aku yang menyetir." Ia mengulurkan tangan,
meminta kunci.
"Sepeda-sepeda motornya bagaimana?" tanyaku
sambil menyerahkan kunci.
Jacob berpikir sebentar. "Tunggu di sini. Dan
ambil ini." Jacob membuka kausnya yang sudah
ternoda darah, lalu melemparnya ke arahku.
Kubuat kaus itu menjadi buntalan dan
kutempelkan ke dahiku. Aku mulai mencium baru
darah; aku menarik napas dalam-dalam lewat
mulut dan mencoba berkonsentrasi pada hal lain.
Jacob melompat kembali menaiki sepeda motor
hitam, menyalakan mesinnya dengan hanya sekali
mengengkol, lalu langsung ngebut,
menghamburkan pasir dan kerikil-kerikil kecil di
belakangnya. Ia tampak atletis dan profesional saat
membungkuk ke depan di atas setang, kepala
merunduk, wajah maju, rambut mengilat berkibarkibar
menerpa kulit punggungnya yang cokelat
kemerahan. Mataku menyipit iri. Aku yakin tidak
terlihat seperti itu saat mengendarai motor.
Kaget juga aku menyadari betapa jauhnya aku
mengendarai motorku. Aku nyaris tak bisa melihat
Jacob di kejauhan waktu ia akhirnya sampai ke
trukku. Ia melemparkan sepeda motor ke bak truk
dan berlari ke sisi kemudi.
Aku benar-benar tidak keberatan waktu Jacob
memacu trukku hingga suara mesinnya meraung
memekakkan telinga. Kepalaku sedikit pusing,
perutku mual, tapi lukaku tidak serius. Darah
yang keluar dari luka kepala memang cenderung

lebih banyak. Jacob sebenarnya tak perlu sepanik
itu.
Jacob membiarkan mesin tetap menyala
sementara ia berlari mendapatiku, melingkarkan
lengannya lagi ke pinggangku.
"Oke, ayo kunaikkan kau ke truk."
"Sungguh, aku tidak apa-apa," aku meyakinkan
Jacob sementara ia membantuku naik. "Jangan
panik begitu. Darahnya hanya sedikit kok."
"Sedikit bagaimana, ini banyak sekali,” kudengar
Jacob menggerutu waktu ia lari mengambil sepeda
motorku.
"Sekarang, mari kita pikirkan dulu masalah ini
sebentar, kataku setelah Jacob naik lagi ke mobil.
"Kalau kau membawaku ke UGD seperti ini,
Charlie pasti akan tahu nanti." Kulirik tanah dan
lumpur yang mengering di jinsku.
"Bella, kurasa lukamu perlu dijahit. Aku tidak
akan membiarkanmu mati kehabisan darah.”
“Itu, tidak akan terjadi,” aku meyakinkannya.
“Kita antar saja dulu motornya, kemudian mampir
ke rumahku supaya aku bisa menghilangkan
semua bukti dan baru kemudian ke rumah sakit.”
"Bagaimana dengan Charlie?
“"Katanya tadi dia harus kerja."
“Kau yajin?”
“Percakah padaku. Aku ini gampang berdarah.
Ini tidak separah kelihatannya kok."

Jacob tidak senang mendengarnya—sudut-sudut
mulutnya tertekuk ke bawah—tapi ia tidak ingin
menyusahkanku. Aku memandang ke luar jendela,
menempelkan kaus Jacob yang berlepotan darah
ke kepala, sementara ia membawa trukku menuju
Forks.
Sepeda motor itu jauh lebih baik daripada yang
kubayangkan. Tujuan sesungguhnya tercapai. Aku
sudah berbuat curang—melanggar janjiku. Aku
melakukan kecerobohan yang tidak perlu.
Sekarang aku tak lagi merasa terlalu merana
karena kedua pihak sudah sama-sama ingkar janji.
Dan, menemukan kunci ke halusinasi!
Setidaknya, begitulah yang kuharapkan. Aku akan
menguji teori itu sesegera mungkin. Mungkin
mereka bisa menanganiku dengan cepat di UGD,
jadi aku bisa mencobanya lagi nanti malam.
Ngebut di jalan seperti tadi rasanya luar biasa.
Terpaan angin menampar wajahku, cepatnya motor
melaju dan kebebasan yang kurasakan...
mengingatkanku pada kehidupan masa laluku,
terbang menembus hutan lebat tanpa berjalan,
menaiki punggungnya sementara ia berlari –
pikiranku berhenti sampai di situ, membiarkan
ingatanku terputus begitu saja karena mendadak
hatiku miris. Aku meringis.
“Kau masih baik-baik?” tanya Jacob.
"Yeah." Aku berusaha tetap memperdengarkan
nada tegar seperti sebelumnya.
"Omong-omong," imbuh Jacob. "Aku akan
mencopot kabel rem kakimu malam ini."

Di rumah, yang pertama kulakukan adalah
menyempatkan diri melihat keadaanku di cermin;
benar-benar mengerikan. Darah mengering dalam
bentuk aliran tebal di sepanjang pipi dan leherku,
menempel di rambutku yang berlumpur. Kuamati
diriku dari sisi klinis, berpura-pura darah itu cat
supaya tidak mual. Aku bernapas lewat mulut, dan
tidak merasa ingin muntah.
Aku mencuci muka sebisaku. Lalu
kusembunyikan pakaian kotorku yang berlepotan
darah di bagian bawah keranjang cucian, lalu
memakai jins baru dan kemeja (jadi tidak perlu
memakainya lewat kepala) sehati-hati mungkin.
Aku berhasil melakukannya dengan satu tangan
dan menjaga pakaianku tidak terkena noda darah.
"Cepatlah," seru Jacob.
"Oke, oke," aku balas berteriak. Setelah
memastikan tidak meninggalkan bukti-bukti
memberatkan, aku turun ke lantai bawah.
"Bagaimana kelihatannya?" tanyaku.
"Lebih baik," ia mengakui.
"Tapi apakah aku terlihat seperti tersandung di
garasimu dan kepalaku membentur palu?"
"Ya, kurasa begitu."
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat."
Jacob bergegas menggiringku keluar, dan
bersikeras menyetir lagi. Kami sudah setengah
jalan menuju rumah sakit waktu aku sadar ia
masih tidak memakai baju.

Aku mengurutkan kening dengan perasaan
bersalah. "Seharusnya tadi kita mengambil jaket
untukmu.”
"Nanti sandiwara kita terbongkar dong,” goda
Jacob. "Lagi pula, udara tidak dingin kok."
"Kau bercanda, ya?” Aku gemetar, tanganku
terulur untuk menyalakan pemanas.
Kupandangi Jacob untuk melihat apakah ia
sengaja berlagak gagah supaya aku tidak khawatir,
tapi kelihatannya ia cukup nyaman. Sebelah
tangannya bertengger di bagian belakang kursiku,
sementara aku justru meringkuk supaya tetap
hangat.
Jacob benar-benar terlihat lebih tua daripada
enam belas tahun—bukan empat puluh, tapi
mungkin lebih tua dariku. Quil saja masih kalah
berotot dibandingkan dia, padahal Jacob
menganggap dirinya kurus seperti tengkorak. Ototototnya
panjang dan liat, tapi jelas kelihatan di
balik kulitnya yang mulus. Warna kulitnya cantik
sekali, membuatku iri saja.
Jacob sadar sedang diamati.
"Apa?" tanyanya, mendadak canggung.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak
menyadarinya sebelum ini. Tahukah kau bahwa
kau lumayan tampan?"
Begitu kata-kata itu terlontar, aku khawatir ia
akan salah menerima observasi impulsifku itu.
Tapi Jacob hanya memutar bola matanya.
"Kepalamu terbentur keras sekali, ya?"

"Aku serius."
"Well, kalau begitu, trims. Kayaknya."
Aku nyengir. "Sama-sama. Kayaknya."

Aku mendapat tujuh jahitan untuk menutup
luka di keningku. Setelah merasa perih karena
mendapat anestesi lokal, prosedurnya sendiri tidak
sakit. Jacob memegangi tanganku sementara dr.
Snow menjahit, dan aku berusaha untuk tidak
memikirkan betapa ironisnya itu.
Kami lama sekali di rumah sakit. Setelah selesai,
aku harus mengantar Jacob ke rumahnya dan
buru-buru pulang untuk memasak makan malam
untuk Charlie. Charlie sepertinya memercayai
ceritaku bahwa aku jatuh di garasi Jacob.
Bagaimanapun, bukan baru kali ini aku pergi
sendiri ke UGD.
Malam itu tidak seburuk malam pertama itu,
setelah aku mendengar suaranya yang sempurna
di Port Angeles. Lubang itu kembali menganga,
seperti yang selalu terjadi setiap kali aku jauh dari
Jacob, tapi bagian pinggirnya tak lagi berdenyutdenyut
nyeri. Aku selalu menyusun rencana ke
depan, menanti-nanti datangnya delusi lagi, dan
itu mengalihkan perhatianku. Juga, aku tahu
perasaanku akan lebih enak besok, saat bertemu
lagi dengan Jacob. Itu membuat lubang hampa dan
kepedihan yang familier itu lebih mudah
ditanggung; sebentar lagi kelegaan akan kudapat.
Mimpi buruk juga kehilangan sedikit potensinya.

Aku takut pada kehampaan, seperti yang selalu
terjadi, tapi anehnya, aku juga tidak sabar
menunggu saat-saat yang akan membuatku
menjerit dan kemudian tersadar. Aku tahu mimpi
buruk itu pasti berakhir.
Hari Rabu berikutnya, sebelum aku sampai di
rumah dan UGD, dr. Gerandy menelepon ayahku
untuk mengingatkan kemungkinan aku mengalami
gegar otak dan menyarankannya untuk
membangunkan aku setiap dua jam sekali
sepanjang malam untuk memastikan itu tidak
serius. Mata Charlie menyipit curiga mendengar
penjelasan lemahku yang lagi-lagi mengatakan aku
tersandung.
"Mungkin sebaiknya kau jangan lagi nongkrong
di garasi, Bella,” Charlie menyarankan saat makan
malam.
Aku panik, khawatir Charlie bakal mengeluarkan
semacam dekrit yang melarangku pergi ke La Push,
dan akibatnya aku tidak akan bisa mengendarai
motorku lagi. Tapi aku tak mau menyerah—hari ini
aku mengalami halusinasi paling menakjubkan.
Delusiku yang bersuara sehalus beledu itu
berteriak-teriak padaku selama hampir lima menit
sebelum akhirnya aku menginjak rem kelewat
mendadak dan tubuhku terlempar membentur
pohon. Untuk itu aku rela merasakan sakit yang
akan kualami malam ini tanpa mengeluh.
“Aku bukannya tersandung di garasi," aku buruburu
memprotes. "Kami sedang hiking, dan aku
tersandung batu."

"Sejak kapan kau suka hiking?" Charlie bertanya
skeptis. "Kerja di Newton's membuatku ketularan
demam berpetualang," dalihku. "Setiap hari
menjual berbagai perlengkapan hiking, lama-lama
penasaran juga."
Charlie menatapku tajam, tidak percaya.
“Aku akan lebih berhati-hati," janjiku, diamdiam
menyilangkan jari-jariku di bawah meja.
"Aku tidak keberatan kau hiking di sekitar La
Push, tapi jangan jauh-jauh dari kota, oke?"
"Kenapa?'
“Well, belakangan ini aku sering mendapat
laporan tentang kemunculan hewan-hewan liar.
Petugas dari departemen kehutanan akan
mengecek laporan-laporan itu, tapi untuk
sementara waktu..."
“Oh, soal beruang besar itu," kataku, mendadak
paham. “Yeah, beberapa hiker yang datang ke
Newton's juga mengaku melihatnya. Dad yakin ada
beruang grizzly raksasa yang bermutasi di luar
sana?"
Kening ayahku berkerut. "Pokoknya ada sesuatu.
Jangan jauh-jauh dari kota. oke?"
"Tentu, tentu," aku buru-buru menyahut.
Kelihatannya Charlie tidak begitu puas.
"Charlie mulai curiga," keluhku pada Jacob
waktu aku menjemputnya sepulang sekolah pada
hari Jumat.

"Mungkin untuk sementara kita jangan naik
motor dulu." Jacob melihat ekspresi penolakan di
wajahku dan menambahkan, "Setidaknya untuk
satu-dua minggu ini. Kau bisa kan menjauhi
rumah sakit selama satu minggu?"
"Lantas, kita ngapain dong?" omelku.
Jacob tersenyum riang. "Terserah kau."
Aku memikirkannya sebentar—tentang apa yang
kuinginkan.
Aku tidak suka membayangkan bakal
kehilangan kedekatanku dengan kenangan tak
menyakitkan itu, meski hanya beberapa detik—
kenangan yang datang sendiri, tanpa aku perlu
memikirkannya secara sadar. Kalau aku tidak bisa
naik motor, berarti aku harus mencari jalan lain
untuk melakukan hal yang berbahaya dan memicu
adrenalin, dan untuk itu diperlukan pemikiran
yang serius serta kreativitas. Tidak melakukan
apa-apa untuk sementara sepertinya tidak
menarik. Bagaimana kalau aku depresi lagi,
bahkan walaupun sudah bersama Jake? Aku harus
tetap menyibukkan diri.
Mungkin ada jalan lain, resep lain... tempat lain.
Keliru besar mendatangi rumahnya, jelas. Tapi
kehadiranmu pasti terpatri di suatu tempat, di
tempat lain selain dalam diriku. Pasti ada tempat
di mana kehadirannya terasa lebih nyata di antara
lokasi-lokasi penting yang sarat kenangan
manusia-manusia lain.
Ada satu tempat yang terlintas dalam benakku.
Satu tempat yang akan selalu menjadi miliknya,

bukan milik orang lain. Tempat yang magis penuh
cahaya. Padang rumput indah yang hanya pernah
kulihat sekali dalam hidupku, benderang oleh sinar
matahari dan kulitnya yang berpendar-pendar
gemerlap.
Ide itu berpotensi besar menjadi senjata makan
tuan—bisa jadi itu malah akan sangat
menyakitkan. Bahkan memikirkannya saja sudah
membuat dadaku nyeri oleh kehampaan. Sulit
rasanya menahan perasaan tetap tenang, agar
tidak ketahuan. Tapi jelas, di sanalah tempatku
pasti bisa mendengar suaranya. Lagi pula. aku
sudah telanjur mengatakan pada Charlie bahwa
aku pernah hiking...
"Apa yang kaupikirkan sampai serius begitu?"
tanya Jacob.
"Well..." Aku mulai lambat-lambat. "Dulu aku
pernah menemukan tempat di dalam hutan—aku
menemukannya waktu aku sedang, eh, hiking.
Padang rumput kecil, pokoknya indah sekali.
Entah apakah aku bisa menemukannya lagi
sendiri. Mungkin bisa kalau mencoba beberapa
kali..."
“Kita bisa memakai kompas dan peta," kata
Jacob penuh percaya diri. "Kau tahu dari mana
memulainya?"
“Ya, tepat dari ujung jalan setapak di ujung jalan
satu sepuluh berakhir. Arah selatan, kalau tidak
salah."

"Bagus, Ayo kita cari." Seperti biasa, Jacob
selalu bersemangat menerima ajakanku. Tidak
peduli betapa pun anehnya ajakanku itu.
Maka, Sabtu siang aku mengikat sepatu bot
hiking baruku—dibeli paginya dengan
memanfaatkan diskon dua puluh persen khusus
karyawan yang kupakai untuk pertama kali—
menyambar peta topografi Semenanjung Olympic,
lalu melaju ke La Push.
Kami tidak langsung mulai; pertama-tama,
Jacob tengkurap di lantai ruang tamu—panjang
badannya mengisi seluruh ruangan—dan, selama
dua puluh menit penuh, menggambar jaring-jaring
rumit di bagian-bagian tertentu pada peta
sementara aku bertengger di kursi dapur
mengobrol dengan Billy. Sepertinya Billy sama
sekali tidak khawatir mendengar rencana kami
pergi hiking. Aku terkejut juga karena Jacob
menceritakan padanya tentang rencana kami,
padahal orang-orang banyak meributkan soal
beruang itu. Aku ingin meminta Billy untuk tidak
bercerita pada Charlie, tapi takut permintaan itu
justru mendorongnya berbuat sebaliknya.
"Mungkin kita akan bertemu beruang super itu,"
canda Jacob, matanya tertuju pada desainnya.
Aku cepat-cepat melirik Billy, takut ia bakal
bereaksi seperti Charlie.
Tapi Billy hanya tertawa mendengar perkataan
anaknya. "Mungkin sebaiknya kaubawa saja satu
stoples madu, untuk jaga-jaga."

Jacob terkekeh. "Mudah-mudahan sepatu bot
barumu bisa berlari cepat, Bella. Satu stoples
madu tidak cukup untuk menahan beruang yang
kelaparan."
"Aku hanya perlu berlari lebih cepat darimu."
"Selamat deh kalau begitu!" seru Jacob,
memutar bola matanya sambil melipat peta. "Ayo
kita pergi.”
"Selamat bersenang-senang," kata Billy sambil
menggelinding menuju lemari es.
Charlie bukan tipe orang yang sulit, tapi
sepertinya Billy jauh lebih longgar ketimbang dia.
Aku mengemudikan trukku sampai ke ujung
jalan tanah, berhenti dekat papan petunjuk yang
menandai awal jalan setapak. Sudah lama sekah
aku tak pernah lagi ke sini, dan perutku bereaksi
dengan gugup. Bisa jadi ini sangat gawat. Tapi
akan setimpal dengan hasilnya kalau aku bisa
mendengarnya.
“Aku turun dan memandangi belukar hijau yang
rapat.
“Aku pergi ke arah ini," gumamku, menuding
lurus ke depan.
"Hmmm,” gumam Jake.
"Apa?”
Ia melihat ke arah yang kutunjuk, lalu ke jalan
setapak yang sudah ditandai dengan jelas, dan
kembali lagi.
"Aku pasti mengira kau cewek penjelajah sejati."

“Enak saja." Aku tersenyum lemah. "Aku ini
pemberontak."
Jacob tertawa, kemudian mengeluarkan peta
kami.
"Tunggu sebentar." Ia memegang kompas dengan
sikap ahli, memutar peta hingga mengarah ke
tempat yang ia inginkan.
"Oke—garis pertama pada peta. Ayo cabut."
Kentara sekali Jacob harus memperlambat
langkah demi aku, tapi ia tidak mengeluh. Aku
berusaha untuk tidak memikirkan perjalanan
terakhirku ke bagian hutan ini, ditemani seseorang
yang sama sekali berbeda. Kenangan-kenangan
normal masih tetap berbahaya. Kalau kubiarkan
diriku tergelincir, aku akan mendapati diriku
mencengkeram dada untuk menahannya tetap
utuh, megap-megap kehabisan udara, dan
bagaimana aku menjelaskan itu pada Jacob?
Ternyata tetap memfokuskan diri pada masa
sekarang tidak sesulit yang kuduga. Hutan ini
sangat mirip dengan bagian lain semenanjung, dan
kehadiran Jacob membuat suasana hatiku sangat
jauh berbeda.
Jacob bersiul-siul riang, lagunya tidak kukenal,
sambil mengayun-ayunkan kedua lengan dan
berjalan ringan menembus semak belukar yang
kasar. Bayang-bayang tak tampak segelap biasa.
Tidak dengan ditemani matahari pribadiku.
Sesekali Jacob mengecek kompas, memastikan
kami tetap di jalur yang benar. Kelihatannya ia
benar-benar paham apa yang dilakukannya. Aku

ingin memujinya, tapi lalu mengurungkan niat. Tak
diragukan lagi ia bakal menambahkan beberapa
tahun ke usianya yang sudah menggelembung.
Pikiranku berkelana sementara aku berjalan,
dan rasa ingin tahuku muncul. Aku masih belum
melupakan pembicaraan kami waktu itu di tebingtebing
laut—selama ini aku menunggu Jacob
mengungkitnya lagi, tapi kelihatannya itu tidak
bakal terjadi.
"Hei... Jake?" tanyaku ragu-ragu.
"Yeah?"
"Bagaimana kabar... Embry? Dia sudah kembali
normal?"
Jacob terdiam sejenak, masih terus berjalan
dengan langkah-langkah panjang. Ketika berada
kira-kira tiga meter di depan, ia berhenti untuk
menungguku.
"Tidak. Dia belum kembali normal," kata Jacob
begitu aku sampai di dekatnya, sudut-sudut
mulutnya tertarik ke bawah. Ia belum mulai
berjalan lagi. Seketika itu juga aku langsung
menyesal sudah mengungkitnya.
"Masih bersama Sam?"
"Yep."
Jacob merangkul bahuku, dan ekspresinya
tampak sangat galau sehingga aku tak berani
menghalaunya dengan guyonan, seperti yang
sebenarnya ingin kulakukan.

"Mereka masih memandangimu dengan sikap
aneh?” aku separo berbisik.
Pandangan Jacob menerawang menembus
pepohonan. "Kadang-kadang.”
“Dan Billy?”
“Sangat membantu, seperti yang sudah-sudah,”
tukas Jacob dengan nada masam bercampur
marah yang membuatku merasa tidak enak.
“Sofa kami selalu siap menampungmu," aku
menawarkan.
Jacob tertawa, sikap masamnya yang tidak biasa
mendadak lenyap. “Tapi coba bayangkan betapa
membingungkannya posisi Charlie—waktu Billy
menelepon polisi bahwa aku diculik."
Aku tertawa, senang melihat Jacob normal lagi.
Kami berhenti waktu Jacob berkata kami sudah
berjalan hampir sepuluh kilometer, memotong ke
barat sebentar, lalu kembali menyusuri jalur lurus
sesuai gambar dalam petanya. Semua tampak
sama persis seperti jalan masuk tadi, dan aku
punya firasat pencarian tololku bisa dibilang gagal
total. Aku terpaksa mengakuinya waktu akhirnya
hari mulai gelap, hari yang tak bermatahari
meredup berganti malam tak berbintang, tapi
Jacob justru lebih percaya diri.
“Asal kau yakin kita memulainya dari tempat
yang tepat..." Ia menunduk menatapku.
"Ya, aku yakin."

“Maka kita pasti akan menemukannya," ia
berjanji, menyambar tanganku dan menarikku
menerobos semak pakis. Begitu keluar dari dalam
semak, kulihat trukku bertengger di pinggir jalan.
Jacob melambaikan tangannya dengan bangga.
"Percayalah padaku."
"Kau hebat," aku mengakui. "Tapi lain kali,
jangan lupa bawa senter."
"Mulai sekarang, hiking menjadi kegiatan tetap
kita setiap hari Minggu. Aku baru tahu ternyata
jalanmu selamban itu."
Aku menyentakkan tanganku dari gandengannya
dan berjalan sambil mengentak-entakkan kaki ke
mobil, sementara Jacob terkekeh melihat reaksiku.
"Bagaimana, mau mencoba lagi besok?"
tanyanya, menyusup masuk ke jok penumpang.
"Tentu. Kecuali kau mau pergi tanpa aku supaya
aku tidak menahanmu dengan langkah-langkahku
yang selamban siput.”
"Aku tahan kok," Jacob meyakinkan aku. "Tapi
kalau kita hiking lagi nanti, lebih baik kau
memakai moleskin–semacam sepatu (mokasin yang
terbuat dari kulit hewan berbulu. Berani bertaruh,
kakimu pasti lecet-lecet dengan sepatu bot barumu
itu.”
"Sedikit," aku mengakui. Rasanya kakiku
memang lecet semua.
"Mudah-mudahan besok kita bisa melihat
beruang. Aku agak kecewa juga soal itu."

"Ya, aku juga," sergahku sinis. "Mungkin besok
kita beruntung dan akan menjadi mangsa
binatang!"
"Beruang tidak suka makan manusia. Kita toh
tidak enak-enak amat." Jacob nyengir padaku di
dalam truk yang gelap. "Tentu saja, bisa jadi kau
merupakan pengecualian. Berani bertaruh, kau
pasti enak sekali."
"Terima kasih banyak," sahutku, membuang
muka. Ia bukan orang pertama yang mengatakan
hal itu.

9. KAMBING CONGEK
WAKTU mulai berjalan jauh lebih cepat
dibanding sebelumnya. Sekolah, bekerja, dan
Jacob—meski tidak selalu dalam urutan itu—
membentuk pola yang rapi dan mudah diikuti. Dan
keinginan Charlie terwujud: aku tidak merana lagi.
Tentu saja. aku tidak bisa sepenuhnya menipu diri
sendiri. Saat berhenti untuk menginventarisasi
hidupku, sesuatu yang kuusahakan untuk tidak
terlalu sering kulakukan, aku tak bisa
mengabaikan implikasinya terhadap tingkah
lakuku.
Aku seperu bulan tersesat—planetku hancur
dalam skenario film rentang kepedihan hati yang
menimbulkan perubahan besar—yang tetap, walau
bagaimanapun, bergerak dalam orbitnya yang kecil

dan sempit mengitari ruang angkasa yang kini
kosong melompong, mengabaikan hukum gravitasi.
Aku semakin piawai naik motor, dan itu berarti
aku tidak membuat Charlie khawatir lagi karena
terlalu sering jatuh. Tapi itu juga berarti suara di
kepalaku mulai menghilang, sampai aku tidak
mendengarnya lagi sama sekali. Diam-diam aku
panik. Aku semakin kalap menari padang rumput
itu. Aku memeras otak mencari aktivitas lain yang
bisa memicu idrenalin.
Aku tak lagi memerhatikan hari-hari yang
berlalu – tidak ada alasan untuk itu. karena aku
berusaha sebisa mungkin hidup di masa kini,
tanpa masa lalu yang menghilang, atau masa
depan yang menjelang. Karena itulah aku terkejut
waktu Jacob mengungkit tanggal berapa sekarang
saat kami bertemu untuk mengerjakan PR. Ia
sudah menungguku waktu aku berhenti di depan
rumahnya.
"Selamat Hari Valentine," kata Jacob, tersenyum,
tapi menunduk saat menyapaku.
Ia mengulurkan kotak kecil berwarna pink,
menaruhnya di telapak tangan.
"Well, aku merasa tolol sekali," gumamku. "Ini
Hari Valentine?”
Jacob menggeleng dengan lagak pura-pura
sedih. "Terkadang kau ini seperti tidak ada di sini
saja. Ya, sekarang tanggal 14 Februari. Nah,
maukah kau menjadi Valentine-ku? Berhubung
kau tidak membelikan sekotak cokelat seharga

lima puluh sen, paling tidak itulah yang bisa
kaulakukan."
Aku mulai merasa tidak enak. Kata-katanya
bernada menyindir, tapi hanya di permukaan.
"Apa tepatnya kewajiban menjadi Valentine?"
aku mengelak.
"Biasalah—menjadi budak seumur hidup,
semacam itu."
"Oh, Well, kalau hanya itu..." Kuterima kotak
cokelat itu. Tapi aku berusaha memikirkan cara
untuk menegaskan batas-batas itu. Lagi. Bersama
Jacob, sepertinya batas-batas itu sering kali kabur.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan besok?
Hiking, atau UGD?"
"Hiking,” aku memutuskan. "Bukan hanya kau
yang bisa obsesif. Aku mulai berpikir janganjangan
tempat itu hanya khayalanku saja..." Aku
mengerutkan kening dan menerawang.
"Kita pasti bisa menemukannya,” Jacob
meyakinkanku. "Sepeda motor hari Jumat?” ia
menawarkan.
Aku melihat kesempatan dan langsung
menyambarnya tanpa meluangkan waktu untuk
memikirkannya masak-masak lebih dulu.
"Jumat nanti aku akan pergi nonton film. Sudah
lama sekali aku berjanji pada teman-teman
sekafeteriaku untuk pergi bareng." Mike pasti
senang.

Tapi wajah Jacob langsung berubah. Aku sempat
menangkap secercah ekspresi di matanya yang
gelap sebelum ia menunduk dan memandang
tanah.
“Kau ikut, kan?" aku cepat-cepat menambahkan.
"Atau kau merasa bergaul dengan serombongan
murid senior itu sangat membosankan?" Ternyata
aku tetap tak bisa menjaga jarak dengannya. Aku
tidak tega melukai hati Jacob; kami seperti
memiliki hubungan khusus yang aneh, dan
kesedihannya menusuk hatiku juga. Apalagi, aku
senang membayangkan diriku ditemani olehnya
melewati "cobaan" ini—aku memang sudah berjanji
pada Mike, tapi tidak merasa terlalu antusias
melakukannya.
“Kau ingin aku ikut, bersama teman-temanmu
yang lain?"
“Ya," dengan jujur aku mengakui, meski dalam
hati tahu ini hanya akan membuat masalah. "Aku
akan lebih senang kalau ada kau. Ajak Quil
sekalian, biar lebih ramai."
"Quil bakal kalang-kabut. Cewek-cewek senior."
Jacob terkekeh dan memutar bola matanya. Aku
tidak menyebut nama Embry, begitu juga dia.
Aku ikut tertawa. "Akan kucoba memberinya
pilihan yang cantik-cantik."
Aku mengutarakan maksudku pada Mike di
kelas Bahasa Inggris.
"Hei, Mike," sapaku setelah kelas berakhir. "Kau
tidak ada acara Jumat malam nanti?"

Mike mengangkat wajah, mata birunya langsung
penuh harap. "Tidak ada. Mau pergi bareng?"
Aku menyusun kalimatku dengan hati-hati. "Aku
sedang berpikir-pikir untuk pergi beramai-ramai"—
aku menekankan kata itu—"nonton Crosshairs"
Sebelumnya aku sudah melakukan penelitian lebih
dulu—bahkan sampai membaca resensi film segala
untuk memastikan aku tidak bakal kecele nanti.
Konon katanya film itu bergelimang darah dari
awal sampai akhir. Aku belum begitu pulih untuk
tahan menyaksikan film cinta-cintaan.
"Kedengarannya asyik, kan?"
"Tentu," sahut Mike, kentara sekali kurang
bersemangat.
"Asyik."
Sedetik kemudian, wajahnya kembali ceria
hingga hampir mendekati level kegembiraannya
tadi. "Bagaimana kalau kita ajak Angela dan Ben?
Atau Eric dan Katie?"
Ia bertekad membuat acara jalan-jalan ini
menjadi semacam kencan ganda rupanya.
"Bagaimana kalau dua-duanya?" saranku. "Dan
Jessica juga. tentu saja. Juga Tyler dan Conner,
dan mungkin Lauren,” aku menambahkan dengan
enggan. Aku kan sudah berjanji akan membawa
banyak pilihan untuk Quil.
"Oke," gumam Mike, usahanya gagal.
"Dan," lanjutku, "aku juga akan mengajak
beberapa teman dari La Push. Jadi sepertinya kita
membutuhkan Suburban-mu kalau semua ikut."

Mata Mike menyipit curiga.
"Ini teman-temanmu yang selama ini sering
belajar bareng kau?"
“Yep, tepat sekali," jawabku riang. "Walaupun
kau bisa menganggapnya tutoring—mereka baru
kelas dua SMA"
"Oh," kata Mike terkejut. Setelah berpikir
sedetik, ia tersenyum.
Namun akhirnya Suburban itu tidak diperlukan.
Jessica dan Lauren langsung bilang sibuk begitu
Mike mengatakan akulah yang merencanakan
acara pergi bareng ini. Eric dan Katie sudah punya
rencana sendiri—mau merayakan tiga minggu
mereka pacaran atau apa. Lauren sudah lebih dulu
menyatroni Tyler dan Conner sebelum Mike, jadi
mereka juga bilang sibuk. Bahkan Quil pun batal
ikut—dihukum tidak boleh keluar rumah gara-gara
berkelahi di sekolah. Akhirnya, hanya Angela dan
Ben yang bersedia, juga Jacob tentu saja.
Meski begitu, jumlah pengikut yang berkurang
banyak itu tidak mengurangi kegembiraan Mike.
Yang ia ocehkan melulu tentang hari Jumat.
"Kau yakin tidak mau menonton Tomorrow and
Forever saja?" tanyanya saat makan siang,
menyebut judul film komedi romantis yang sedang
menduduki peringkat teratas dalam deretan filmfilm
box office. "Menurut resensi Rotten Tomatoes,
filmnya bagus banget lho."

"Aku ingin nonton Crosshairs? aku bersikeras.
"Aku sedang mood nonton film-film action. Yang
banyak darah dan isi perutnya!''
"Oke." Mike berpaling, tapi aku masih sempat
melihat ekspresinya yang menganggapku sinting.
Sesampainya di rumah sepulang sekolah,
sebuah mobil yang sangat familier terparkir di
depan rumahku. Jacob berdiri bersandar di kap
mesin, seringai lebar menghiasi wajahnya.
"Tidak mungkin!" teriakku sambil melompat
turun dari truk. "Kau sudah selesai! Aku tidak
percaya! Kau sudah selesai memermak si Rabbit!"
Jacob berseri-seri. "Baru semalam. Ini
perjalanan pertamanya."
"Luar biasa." Kuangkat tanganku untuk ber-high
five.
Jacob memukulkan telapak tangannya ke
telapak tanganku, tapi membiarkannya tetap
menempel di sana, memilin jari-jarinya dengan jari jariku.
"Jadi, boleh tidak aku mengendarainya
malam ini?"
"Jelas boleh," jawabku, lalu mendesah.
"Ada apa?"
"Aku menyerah—aku tidak bisa mengungguli ini.
Jadi kau menang. Kau yang paling tua."
Jacob mengangkat bahu, tidak terkejut
melihatku menyerah. "Itu sudah jelas."

Suburban Mike muncul di tikungan, berdegukdeguk.
Kutarik tanganku dari tangan Jacob, dan
kulihat ia mengernyit.
"Aku ingat cowok ini," katanya pelan ketika Mike
memarkir mobilnya di seberang jalan. "Dia cowok
yang mengira kau pacarnya. Dia masih salah
sangka?"
Aku mengangkat sebelah alisku. "Sebagian orang
sulit menerima penolakan."
"Bagaimanapun," kata Jacob sambil merenung,
"terkadang kegigihan bisa membuahkan hasil."
"Lebih sering menjengkelkan, tapi."
Mike turun dari mobil dan menyeberang jalan.
"Hai, Bella,” ia menyapaku, kemudian matanya
berubah waswas pada waktu menengadah
memandangi Jacob. Kulirik Jacob sebias berusaha
objektif. Ia sama sekali tidak mirip anak kelas 2
SMA. Badannya besar sekali—kepala Mike nyaris
tidak sampai sebahu Jacob; aku bahkan tak ingin
membayangkan tinggi, ku kalau aku berdiri di
sebelahnya—dan wajahnya juga tampak lebih tua
daripada biasa, bahkan sebulan yang lalu
sekalipun.
"Hai. Mike! Kau masih ingat Jacob Black?"
“Tidak juga.” Mike mengulurkan tangan.
"Teman lama keluarga,” Jacob memperkenalkan
diri, menjabat tangan Mike. Mereka bersalaman
dengan keras. Setelah melepaskan genggamannya.
Mike meregangkan jari-jarinya.

Kudengar telepon berdering dari dapur.
“Kuangkat dulu ya— siapa tahu dari Charlie,"
kataku pada mereka, lalu berlari masuk.
Ternyata Ben. Angela terserang flu perut, dan ia
enggan pergi sendiri tanpa Angela. Ia meminta
maaf karena batal pergi dengan kami.
Aku berjalan lambat-lambat menghampiri kedua
cowok yang sedang menunggu itu, menggelengkan
kepala. Aku benar-benar berharap Angela cepat
sembuh, tapi harus kuakui aku agak kesal oleh
perkembangan tak terduga ini. Jadi sekarang
hanya tinggal kami bertiga, Mike, Jacob, dan aku—
benar-benar menyenangkan, pikirku, sinis
bercampur muram.
Keliarannya Jake dan Mike tidak berusaha
mengakrabkan diri selama kepergianku. Mereka
berdiri terpisah beberapa meter, saling
memunggungi sambil menungguku; ekspresi Mike
masam, meski Jacob tetap seceria biasa.
“Ang sakit,” aku memberi tahu dengan muram.
"Dia dan Ben tidak bisa ikut.”
“Kurasa flu itu mulai menulari anak-anak lain.
Austin dan Conner hari ini juga tidak masuk.
Mungkin lain kali saja kita pergi," Mike
menyarankan.
Sebelum aku sempat mengiyakan, Jacob sudah
angkat bicara.
"Aku sih masih tetap ingin pergi. Tapi kalau kau
lebih suka tidak pergi, Mike—"

"Tidak, aku ikut," potong Mike. "Aku hanya
memikirkan Angela dan Ben. Ayo kita pergi," Ia
mulai berjalan menghampiri Suburban-nya.
"Hei, kau keberatan tidak kalau Jacob yang
menyetir?" tanyaku. "Aku sudah bilang dia boleh
menyetir tadi—dia baru saja selesai memperbaiki
mobilnya. Dia memermaknya dari nol lho,"
pamerku, bangga seperti ibu yang anaknya juara
kelas.
"Terserah," bentak Mike.
"Baiklah kalau begitu," sahut Jacob, seakanakan
semua beres. Di antara kami bertiga, dialah
yang kelihatannya paling santai.
Mike naik ke kursi belakang Rabbit dengan
ekspresi jijik.
Jacob, seperti biasa, bersikap riang, mengobrol
ramai sampai aku sama sekali lupa pada Mike
yang merajuk tanpa suara di kursi belakang.
Kemudian Mike mengubah strategi. Ia
mencondongkan tubuh, meletakkan dagunya di
bahu kursi; pipinya nyaris menyentuh pipiku. Aku
bergeser sedikit, memunggungi jendela.
"Radionya rusak, ya?" tanya Mike, nadanya
sedikit marah, memotong omongan Jacob.
"Tidak," jawab Jacob "Tapi Bella tidak suka
musik."
Kupandangi Jacob, terkejut. Aku tidak pernah
bilang begitu padanya.
"Bella?" tanya Mike, jengkel.

Dia benar gumamku, sambil masih terus
memandangi profil Jacob yang tenang.
"Kok bisa kau tidak suka musik?" tuntut Mike
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Jengkel saja
mendengarnya.”
“Hmph,” Mike duduk bersandar.
Waktu kami sampai di bioskop, Jacob
mengulurkan selembar sepuluh dolar.
“Apa ini?” tolakku.
“Aku belum cukup umur untuk nonton film ini,"
ia mengingatkanku.
“Aku tertawa keras-keras. "Jadi usia relatif tak
ada gunanya, ya. Apakah Billy akan membunuhku
kalau aku menyelundupkanmu masuk?”
“Tidak. Aku sudah bilang padanya kau
berencana mengorupsi keluguanku "
Aku terkikik, dan Mike mempercepat langkah
untuk mengimbangi kami.
Aku nyaris berharap Mike memutuskan untuk
tidak ikut saja. Ia masih terus merajuk—merusak
suasana saja. Tapi aku juga tak ingin berkencan
sendirian dengan Jacob. Itu tidak akan membantu
apa-apa.
Filmnya tepat seperti yang diramalkan. Di bagian
awalnya saja sudah empat orang yang ditembak
dan satu dipenggal kepalanya. Cewek di depanku
menutup mata dan memalingkan wajah ke dada
teman kencannya. Si cowok menepuk-nepuk bahu
si cewek, sambil sesekali nyengir. Mike sepertinya

tidak menonton. Wajahnya kaku sementara
matanya memelototi tirai di aras layar.
Aku menyiapkan diri untuk bertahan selama
dua jam, menonton warna-warna dan gerakangerakan
di layar, bukannya melihat bentuk-bentuk
orang, mobil, dan rumah. Tapi kemudian Jacob
mulai tertawa.
"Apa?" bisikku.
"Oh, ayolah!" Jacob balas mendesis. "Masa darah
menyembur sejauh itu. Ketahuan banget
bohongnya!"
Lagi-lagi ia tertawa, saat tiang bendera
menombak seorang pria ke tembok beton.
Sesudah itu aku benar-benar menonton filmnya,
tertawa bersamanya saat adegannya makin lama
makin konyol. Bagaimana aku bisa melawan garis
batas dalam hubungan kami yang makin lama
makin kabur ini kalau aku sangat menikmati
kebersamaanku dengannya?
Baik Jacob maupun Mike sama-sama
menumpangkan lengannya di lengan kursiku, satu
di kiri, satu di kanan. Tangan mereka sama-sama
ditumpangkan dengan sikap santai, telapak tangan
menghadap ke atas, dalam posisi yang
kelihatannya tidak natural. Seperti jebakan
beruang dari baja, terbuka dan siap menjerat
mangsa. Jacob punya kebiasaan meraih tanganku
setiap kali ada kesempatan, tapi di sini, di dalam
bioskop yang gelap, dengan Mike melihat, hal itu
bisa diartikan berbeda—dan aku yakin ia tahu itu.
Aku tidak percaya Mike memikirkan hal yang

sama, tapi tangannya melakukan hal yang sama
seperti yang dilakukan Jacob.
Kulipat kedua tanganku erat-erat di dada dan
berharap tangan mereka akan berhenti beraksi.
Mike-lah yang pertama menyerah. Ketika film
sudah berjalan kira-kira setengahnya, ia menarik
lengannya dan nun condongkan tubuh ke depan,
memegang kepalanya dengan tangan. Mulanya
kukira ia bereaksi pada sesuatu yang ada di layat,
tapi kemudian ia mengerang.
"Mike, kau tidak apa apa?" bisikku.
Pasangan di depan kami menoleh dan
memandangi Mike waktu ia mengerang lagi.
“Tidak,” jawabnya terengah. “Sepertinya aku
sakit."
Aku bisa melihat kilauan keringat di wajahnya
dengan bantuan cahaya dari layar.
Mike mengerang lagi, lalu bangkit dan
menghambur ke pintu. Aku berdiri untuk
mengikutinya, dan Jacob langsung meniruku.
“Kau tidak perlu ikut. Jangan biarkan delapan
dolarmu terbuang sia-sia," desakku saat berjalan
menyusuri gang di tengah deretan kursi bioskop.
"Tidak apa-apa. Kau benar-benar jago memilih
film, Bella. Filmnya konvol banget,” Suara Jacob
berubah dari berbisik menjadi normal, begitu kami
keluar dari teater.
Tidak tampak tanda-tanda Mike di ruang
tunggu, dan aku senang Jacob tadi memutuskan

keluar bersamaku—ia bisa menyelinap ke toilet
cowok untuk mengecek keberadaan Mike di sana.
Beberapa detik kemudian, Jacob kembali.
“Oh, memang benar dia ada di sana," katanya,
memutar bola matanya. "Dasar lembek.
Seharusnya kau mengajak orang yang perutnya
lebih kuat. Orang yang tertawa kalau melihat
darah membuat cowok lembek muntah."
"Akan kubuka mataku lebar-lebar, kalau-kalau
ada orang seperti itu."
Kami hanya berdua di ruang tunggu. Kedua
teater sedang memutar film, jadi ruang tunggu
kosong melompong—cukup sunyi sehingga kami
bisa mendengar bunyi berondong jagung meletupletup
di kios makanan di lobi.
Jacob duduk di bangku berlapis beledu yang
menempel di dinding, menepuk-nepuk tempat
kosong di sebelahnya.
"Kedengarannya dia bakal lama di dalam sana,"
katanya, menjulurkan kakinya yang panjang,
bersiap-siap menunggu.
Sambil mendesah aku ikut duduk bersamanya.
Tampaknya Jacob berpikir untuk mengaburkan
garis batas di antara kami lagi. Benar saja, begitu
aku duduk, ia membuat gerakan untuk merangkul
pundakku.
"Jake," protesku, berkelit. Jacob menurunkan
tangannya, tidak tampak tersinggung oleh
penolakanku tadi. Ia mengulurkan tangan dan
dengan mantap meraih tanganku, menarik

pinggangku waktu aku berusaha berkelit lagi. Dari
mana ia memperoleh kepercayaan dirinya itu?
"Tunggu sebentar, Bella," katanya, suaranya
tenang. "Jawab dulu pertanyaanku."
Aku meringis. Aku tidak ingin melakukan ini.
Tidak sekarang, tidak nanti. Tidak ada hal lain
yang tersisa dalam hidupku saat ini yang lebih
penting daripada Jacob Black. Tapi sepertinya ia
bertekad ingin mengacaukan semuanya.
"Apa?" gerutuku masam.
"Kau suka padaku, kan?"
"Kau tahu aku suka padamu."
"Lebih daripada badut yang sedang muntahmuntah
di dalam sana itu, kan?" Jacob menuding
pintu toilet.
"Ya," aku mendesah.
"Lebih daripada cowok-cowok yang kaukcnal?"
Sikapnya kalem, tenang—seolah-olah jawabanku
tidak penting, atau ia sudah tahu jawabannya.
"Lebih daripada cewek-cewek juga," jawabku.
"Tapi hanya itu," katanya, dan itu bukan
pertanyaan.
Sulit sekali menjawabnya, sulit mengucapkan
kata itu. Apakah ia bakal sakit hati dan
menghindariku? Bagaimana aku bisa kuat
menghadapinya?
"Ya," bisikku.

Jacob nyengir. "Itu tidak apa-apa, tahu. Asalkan
kau paling suka padaku. Dan kau menganggapku
ganteng—kayaknya Aku siap menjadi orang yang
gigih dan menjengkelkan."
"Perasaanku tidak akan berubah,” kataku, dan
meski berusaha agar suaraku tetap normal, aku
bisa mendengar nada sedih di dalamnya.
Ekspresinya seperti berpikir, tak lagi menggoda.
"Pasti masih karena yang satu itu, kan?"
Aku meringis. Lucu juga bagaimana ia seolah
tahu untuk tidak mengucapkan namanya—seperti
sebelumnya di mobil mengenai musik. Jacob
menangkap banyak hal tentang aku tanpa aku
perlu menjelaskannya.
"Kau tidak perlu membicarakannya," kata Jacob.
Aku mengangguk, bersyukur.
"Tapi jangan marah padaku kalau aku
mendekatimu terus, oke?" Jacob menepuk-nepuk
punggung tanganku. "Karena aku tidak mau
menyerah. Aku masih punya banyak waktu."
Aku mendesah. "Seharusnya kau tidak menyianyiakannya
untukku," kataku, meski aku
menginginkannya. Apalagi karena ia mau
menerimaku dalam keadaanku yang seperti ini—
barang rusak, apa adanya.
"Aku memang ingin melakukannya, selama kau
masih suka bersamaku."
"Aku tidak bisa membayangkan aku tidak suka
bersamamu,” ungkapku jujur.

Jacob berseri-seri. "Itu sudah cukup buatku."
"Hanya saja jangan berharap lebih," aku
mengingatkan, mencoba menarik tanganku. Jacob
terus memeganginya dengan gigih.
"Ini tidak membuatmu rikuh, kan?" tanyanya,
meremas jari-jariku.
"Tidak," desahku. Sejujurnya, rasanya
menyenangkan. Tangannya jauh lebih hangat
daripada tanganku; aku selalu merasa kedinginan
belakangan ini.
"Dan kau tidak peduli pada apa yang dia
pikirkan." Jacob menyentakkan ibu jarinya ke arah
toilet.
"Kurasa tidak."
"Kalau begitu apa masalahnya?"
"Masalahnya," ujarku, "karena ini artinya
berbeda bagiku dan bagimu."
"Well," Jacob mempererat genggamannya. "Itu
masalahku, kan?"
"Terserahlah," gerutuku. "Jangan lupa, tapi."
"Aku tidak akan lupa. Pin-nya sudah dilepaskan
dari granatnya, sekarang, he?" Ia menohokkan
jarinya ke rusukku.
Aku memutar bola mata. Kurasa kalau ia ingin
menjadikan masalah ini sebagai lelucon, itu
haknya.
Jacob berdecak pelan sebentar waktu jari
manisnya menelusuri bekas luka di sisi tanganku.

"Lucu juga bekas lukamu di sini ini," katanya
tiba-tiba, memuntir tanganku untuk
mengamatinya. "Bagaimana kejadiannya?”
Telunjuk tangannya yang satu lagi menyusuri
tepian bekas luka panjang berbentuk bulan sabit
keperakan yang nyaris tak terlihat di kulitku yang
pucat.
Aku merengut. "Masa aku harus mengingat dari
mana saja semua bekas lukaku berasal?"
Aku menunggu kenangan itu menghantamku—
membuka lubang yang menganga. Tapi seperti
yang sudah sering kali terjadi, kehadiran Jacob
menjagaku tetap utuh.
"Bekas luka ini dingin," gumamnya, menekan
pelan tempat James dulu melukaiku dengan
giginya.
Kemudian Mike tersaruk saruk keluar dari toilet,
wajahnya kelabu dan berkeringat. Ia tampak
kepayahan.
“Oh, Mike," aku kaget.
“Keberatan tidak kalau kita pulang lebih cepat?"
bisiknya.
"Tidak, tentu saja tidak.” Kutarik tanganku dan
berdiri untuk membantu Mike berjalan. Ia tampak
limbung.
“Filmnya terlalu sadis untukmu?" tanya Jacob
tanpa perasaan.

Pelototan Mike garang sekali. "Aku bahkan tidak
sempat melihatnya," gumamnya. "Aku sudah mual
sejak sebelum lampu-lampu dimatikan."
“Kenapa kau diam saja?" kumarahi dia
sementara kami berjalan sempoyongan menuju
pintu keluar.
“Aku berharap nanti akan hilang sendiri," jawab
Mike.
"Tunggu sebentar," kata Jacob sesampainya
kami di pintu. Ia cepat-cepat berjalan kembali ke
kios makanan.
"Boleh minta wadah popcorn kosong?" tanyanya
pada cewek penjaga kios. Cewek itu memandang
Mike satu kali, lalu langsung menyodorkan wadah
kosong pada Jacob.
“Bawa dia keluar, please," pinta si penjaga kios.
Jelas, cewek itulah yang kebagian tugas mengepel.
Kuseret Mike ke udara luar yang dingin dan
basah. Ia menghela napas dalam-dalam. Jacob
berjalan tepat di belakang kami. Ia membantuku
menaikkan Mike ke kursi belakang, lalu
menyodorkan wadah itu padanya dengan mimik
serius.
"Please,” hanya itu yang Jacob katakan.
Kami membuka semua jendela, supaya udara
malam yang dingin berembus masuk, berharap itu
bisa membantu Mike merasa lebih sehat. Aku
memeluk kedua kakiku dengan kedua tangan agar
tetap hangat.

"Kedinginan lagi?" tanya Jacob, merangkul
pundakku sebelum aku sempat menjawab.
"Kau tidak?"
Jacob menggeleng.
"Kau pasti demam atau sebangsanya," gerutuku.
Aku sendiri membeku kedinginan. Kusentuh
keningnya dengan jari-jariku, dan kepalanya
memang panas.
"Astaga, Jake—badanmu panas sekali!"
"Aku merasa baik-baik saja." Ia mengangkat
bahu. "Sehat walafiat."
Aku mengerutkan kening dan menyentuh
kepalanya lagi. Kulitnya membara di bawah jarijariku.
"Tanganmu sedingin es," protes Jacob.
"Mungkin memang aku yang kedinginan," aku
mengalah.
Mike mengerang di kursi belakang, lalu muntah
ke dalam wadah. Aku meringis, berharap perutku
tahan mendengar dan mencium baunya. Jacob
menoleh cemas untuk memastikan mobilnya tidak
terkena muntahan.
Jarak terasa semakin panjang dalam perjalanan
pulang.
Jacob diam, merenung. Ia membiarkan
lengannya tetap melingkari pundakku, dan rasanya
begitu hangat hingga angin dingin terasa nyaman.
Aku memandang ke luar kaca depan, hatiku
diliputi perasaan bersalah.

Seharusnya aku tidak memberi harapan pada
Jacob. Itu kulakukan murni karena egois. Tak
peduli aku sudah berusaha memperjelas posisiku.
Kalau ia merasa masih ada harapan, meskipun
sedikit, untuk mengubah hubungan ini menjadi
lebih dari sekadar persahabatan, itu berarti aku
masih kurang jelas dalam memberinya penjelasan.
Bagaimana caraku menjelaskan supaya ia
mengerti? Aku ini cangkang kosong. Ibarat rumah
tak berpenghuni—ditinggalkan— selama berbulanbulan
aku tak bisa didiami. Sekarang aku sedikit
lebih baik. Ruang depan sudah diperbaiki. Tapi
hanya itu—hanya satu ruang kecil. Padahal Jacob
pantas mendapatkan lebih baik daripada itu—lebih
baik daripada sekadar satu ruangan yang sudah
nyaris ambruk dan kemudian dibetulkan.
Sebanyak apa pun yang ia lakukan tidak akan bisa
membuatku berfungsi kembali.
Namun aku tahu aku takkan mau menjauhinya,
bagaimanapun juga. Aku terlalu
membutuhkannya, dan aku egois. Mungkin aku
bisa lebih memperjelas sisiku, supaya ia mau
meninggalkan aku. Pikiran itu membuatku
bergidik, dan Jacob mempererat rangkulannya.
Aku mengantar Mike pulang dengan Suburbannya,
sementara Jacob mengikuti di belakang untuk
mengantarku pulang. Jacob lebih banyak diam
sepanjang perjalanan menuju rumahku, dan aku
bertanya-tanya dalam hati apakah ia memikirkan
hal-hal yang sama seperti yang kupikirkan.
Mungkin saja ia berubah pikiran.

“Sebenarnya aku ingin mampir, karena kita
pulang lebih cepat," kata Jacob sambil
menghentikan mobilnya di samping trukku. "Tapi
kurasa kau benar bahwa aku demam. Aku mulai
merasa sedikit... aneh."
"Oh tidak, jangan sampai kau sakit juga! Kau
mau aku mengantarmu pulang?"
"Tidak" Jacob menggeleng, alisnya bertaut. “Aku
belum merasa sakit. Hanya... tidak enak badan.
Kalau terpaksa sekali, aku akan berhenti di pinggir
jalan."
"Maukah kau meneleponku begitu sampai di
rumah?" tanyaku cemas.
"Tentu, tentu." Jacob mengerutkan kening,
memandang lurus ke kegelapan, dan menggigit
bibir.
Kubuka pintu untuk turun, tapi Jacob meraih
pergelangan tanganku dengan lembut dan
memeganginya. Aku kembali merasakan betapa
panas kulitnya bersentuhan dengan kulitku.
"Ada apa, Jake?" tanyaku.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu,
Bella... tapi kurasa ini akan terdengar gombal."
Aku mendesah. Ini pasti kelanjutan pembicaraan
di teater tadi. "Silakan."
"Begini, aku tahu kau sering merasa tidak
bahagia. Dan mungkin ini tidak membantu apaapa,
tapi aku ingin kau tahu aku akan selalu
mendampingimu. Aku tidak akan
mengecewakanmu—aku berjanji kau akan selalu

bisa mengandalkan aku. Wow, kedengarannya
benar-benar gombal. Tapi kau tahu itu, kan?
Bahwa aku tidak akan pernah, tidak sekali pun,
menyakitimu?"
"Yeah, Jake. Aku tahu itu. Dan aku memang
sudah mengandalkanmu, mungkin lebih daripada
yang kau tahu."
Senyum merekah di wajahnya, seperti matahari
terbit merekah merah di awan-awan, dan aku ingin
memotong lidahku sendiri. Semua yang kukatakan
memang benar, tapi seharusnya aku berbohong.
Mengatakan hal sebenarnya adalah salah, itu
hanya akan menyakiti hatinya. Aku akan
mengecewakannya.
Mimik aneh melintas di wajahnya. "Kurasa aku
benar-benar harus pulang sekarang," katanya.
Aku cepat-cepat turun.
"Telepon aku!" teriakku begitu ia beranjak pergi.
Kupandangi mobilnya berlalu, dan sepertinya ia
masih bisa mengemudikan mobilnya dengan baik,
paling tidak. Kupandangi jalanan yang kosong
setelah mobilnya lenyap, perasaanku juga sedikit
tidak enak, tapi bukan karena alasan fisik.
Kalau saja Jacob Black terlahir sebagai saudara
lelakiku, saudara laki-laki kandung, sehingga aku
memiliki hak hukum atas dirinya yang membuatku
bebas dari perasaan bersalah. Tuhan tahu aku
tidak pernah berniat memanfaatkan Jacob, tapi
perasaan bersalah yang kurasakan saat ini mau
tak mau membuatku berpikir bahwa jangan-jangan
memang itulah yang kulakukan.

Terlebih lagi, aku tidak pernah berniat mencintai
dia. Satu hal yang kuketahui benar—dan aku
meyakininya dari lubuk hatiku yang terdalam, dari
pusat tulang-tulangku, dari puncak kepala hingga
ujung kaki, dari dalam dadaku yang hampa— cinta
memberi orang kekuatan untuk
menghancurkanmu. Aku hancur luluh dan tidak
bisa diperbaiki lagi. Tapi aku membutuhkan Jacob
sekarang, membutuhkannya seperti obat. Aku
sudah terlalu lama memanfaatkannya sebagai
kruk, dan aku terjerumus lebih dalam daripada
yang awalnya kurencanakan dengan orang lain.
Sekarang aku tak tega menyakiti hatinya, tapi aku
juga tak bisa menahan diri untuk terus-menerus
menyakitinya. Ia mengira waktu dan kesabaran
akan mengubahku, dan, walaupun aku tahu ia
salah besar, tapi aku juga tahu aku akan
membiarkannya mencoba.
Ia sahabatku. Aku akan selalu sayang padanya,
tapi itu takkan pernah cukup.
Aku masuk untuk menunggu telepon dan
menggigiti kuku.
"Filmnya sudah selesai?" tanya Charlie kaget
waktu aku berjalan masuk. Ia duduk di lantai, tak
sampai setengah meter dari TV. Pasti
pertandingannya seru sekali.
"Mike tiba-tiba sakit," aku menjelaskan.
"Semacam flu perut.”
"Kau tidak apa-apa?"
"Sekarang sih aku baik-baik saja," jawabku ragu.
Jelas, aku juga sudah tertular.

Aku bersandar di konter dapur, tanganku hanya
beberapa sentimeter dari telepon, berusaha
menunggu dengan sabar. Aku teringat mimik aneh
di wajah Jacob sebelum pulang tadi, dan jari-jariku
mengetuk-ngetuk konter. Seharusnya aku tadi
memaksanya supaya mau diantar pulang.
Kupandangi jam dinding sementara menit-menit
berlalu. Sepuluh. Lima belas. Bahkan kalau aku
yang menyetir, hanya butuh waktu lima belas
menit untuk sampai ke sana, dan Jacob menyetir
mobilnya lebih cepat daripada aku. Delapan belas
menit. Kuangkat telepon dan kuhubungi
nomornya.
Teleponku berdering dan berdering. Mungkin
Billy sudah tidur. Mungkin aku salah menekan
nomor. Kucoba lagi.
Pada deringan kedelapan, saat aku sudah
hampir menyerah, Billy menjawab.
"Halo?" tanyanya. Suaranya waswas, seperti
mengharapkan kabar buruk.
"Billy, ini aku, Bella—Jake sudah sampai di
rumah belum? Dia berangkat dari sini dua puluh
menit yang lalu."
"Dia sudah sampai," jawab Billy datar.
"Seharusnya dia meneleponku." Aku agak kesal.
"Dia merasa tidak enak badan waktu berangkat
tadi, jadi aku khawatir."
"Dia... terlalu sakit sehingga tidak bisa
menelepon. Dia sedang kurang sehat sekarang.”

Nada suara Billy seperti berjarak. Aku sadar ia
pasti ingin menemani Jacob.
"Beritahu aku bila butuh bantuan,” aku
menawarkan. "Aku bisa datang ke sana." Aku
teringat pada Billy, terikat pada kursi rodanya,
sementara Jake mengurus dirinya sendiri...
"Tidak, tidak," tolak Billy cepat-cepat. "Kami
baik-baik saja. Kau di rumah saja."
Caranya mengatakan itu nyaris kasar.
“Oke "jawabku.
"Bye, Bella."
Well, paling tidak ia sudah sampai di rumah.
Anehnya, kekhawatiranku tak kunjung mereda.
Aku menaiki tangga dengan langkah-langkah berat,
cemas. Mungkin aku bisa ke rumahnya besok
sebelum bekerja, untuk mengecek keadaannya.
Aku bisa membawakan sup—kalau tidak salah
masih ada sekaleng sup Campbells tersimpan di
suatu tempat.
Aku sadar semua rencana itu buyar ketika
mendadak terjaga jauh lebih awal—jamku
menunjukkan pukul setengah lima pagi—dan
bergegas ke kamar mandi. Charlie menemukanku
di sana setengah jam kemudian, terbaring di lantai,
pipiku menempel di pinggir bak mandi yang dingin.
Ia menatapku lama sekali.
"Flu perut," akhirnya ia berkata.
"Ya," erangku.
“Kau butuh sesuatu?" tanyanya.

"Hubungi keluarga Newton, please?” pintaku
dengan suara serak. "Katakan aku ketularan Mike,
jadi tidak bisa masuk hari ini. Sampaikan juga
permintaan maafku."
"Tentu, bukan masalah," Charlie meyakinkanku.
Sepanjang sisa hari itu kuhabiskan di lantai
kamar mandi, tidur beberapa jam dengan kepala
dibaringkan di atas handuk.
Charlie mengatakan dirinya harus bekerja, tapi
aku curiga itu hanya alasan karena ia butuh akses
ke kamar mandi. Ia meninggalkan segelas air di
lantai agar aku tidak dehidrasi.
Aku terbangun waktu ia datang. Kulihat hari
sudah gelap di kamarku—hari sudah malam.
Charlie menaiki tangga untuk mengecek kondisiku.
"Masih hidup?"
"Begitulah," jawabku.
"Kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak, trims."
Charlie ragu-ragu sejenak, jelas bingung harus
melakukan apa. "Oke, kalau begitu," katanya, lalu
turun lagi ke dapur.
Kudengar telepon berdering beberapa menit
kemudian. Charlie berbicara dengan seseorang
dengan suara pelan, lalu menutup telepon.
"Mike sudah sembuh," serunya padaku.
Well, pertanda bagus. Dia jatuh sakit kuranglebih
delapan jam sebelum aku. Jadi tinggal
delapan jam lagi. Pikiran itu membuat perutku

mual, dan kuangkat tubuhku untuk membungkuk
di atas toilet.
Aku ketiduran lagi di atas handuk, tapi waktu
terbangun aku sudah berbaring di tempat tidur
dan di luar jendela tampak terang. Aku tidak ingat
pindah; Charlie pasti menggendongku ke kamar—
ia juga meninggalkan segelas air di atas nakas.
Tenggorokanku kering kerontang. Kureguk habis
isi gelasku, meski rasanya aneh.
Perlahan-lahan aku bangkit, berusaha untuk
tidak memicu timbulnya rasa mual lagi. Aku
lemah, dan mulutku tidak enak, tapi perutku baikbaik
saja. Kulirik jam.
Dua puluh empat jamku sudah berlalu.
Aku tidak memaksakan diri, dan hanya makan
biskuit asin untuk sarapan. Charlie tampak lega
melihatku pulih.
Begitu yakin tidak akan tergeletak lagi seharian
di lantai kamar mandi, kutelepon Jacob.
Jacob sendiri yang menjawab, tapi begitu
mendengar suaranya, aku tahu ia belum sembuh.
"Halo?" Suaranya serak, parau.
"Oh, Jake," aku mengerang bersimpati.
"Suaramu aneh."
"Aku memang merasa aneh," bisiknya.
“Aku sangat menyesal mengajakmu pergi
denganku. Ini menyebalkan."

"Aku senang kok pergi." Suaranya masih
berbisik. "Jangan salahkan dirimu. Ini bukan
salahmu."
"Kau pasti sembuh sebentar lagi," aku
meyakinkannya. "Waktu aku bangun tadi pagi,
ternyata aku sudah sembuh."
"Memangnya kau sakit?" tanyanya datar.
"Ya, aku juga ketularan. Tapi sekarang aku
sudah sembuh."
"Baguslah," Suaranya hampa.
"Jadi kau pasti juga akan sembuh dalam
beberapa jam," aku menyemangatinya.
Aku nyaris tidak mendengar jawabannya.
"Kurasa sakitku tidak sama denganmu."
"Kau bukannya flu perut?" tanyaku, bingung.
"Bukan. Ini lain."
“Apa yang terasa tidak enak?"
"Semuanya," bisik Jacob. "Sekujur tubuhku
sakit."
Kesakitan di suaranya nyaris nyata.
"Apa yang bisa kubantu, Jake? Aku bisa
membawakan apa untukmu?"
"Tidak ada. Kau tidak bisa datang ke sini."
Sikapnya kasar. Aku jadi teringat sikap Billy tempo
hari.
"Aku kan sudah terekspos dengan penyakit apa
pun yang merongrongmu saat ini," aku
mengingatkan.

Jacob mengabaikan perkataanku. "Aku akan
meneleponmu kalau bisa. Aku akan memberi tahu
kapan kau bisa datang lagi."
"Jacob—"
"Aku harus pergi," katanya, mendadak buruburu.
"Telepon aku kalau kau sudah merasa lebih
sehat."
"Baiklah," sahutnya, tapi suaranya terdengar
pahit dan aneh.
Ia terdiam beberapa saat. Aku menunggunya
mengucapkan selamat berpisah, tapi ia juga
menunggu.
"Sampai ketemu lagi," kataku akhirnya.
"Tunggu sampai aku menelepon," katanya lagi.
"Oke... Bye, Jacob."
"Bella," ia membisikkan namaku, kemudian
menutup telepon.

10. PADANG RUMPUT
JACOB tidak menelepon.
Pertama kalinya aku menelepon, Billy yang
mengangkat dan mengatakan Jacob masih tidur.
Aku berusaha mengorek keterangan, memastikan
Billy sudah membawanya ke dokter. Menurut Billy
sudah, tapi entah mengapa, untuk alasan yang aku

sendiri tak tahu, aku kok tidak begitu percaya
padanya. Aku menelepon lagi, beberapa kali sehari,
selama dua hari berikutnya, tapi tak ada yang
mengangkat.
Sabtunya kuputuskan untuk menemui Jacob,
masa bodoh dengan undangan. Tapi rumah merah
kecil itu kosong. Aku jadi takut—sesakit itukah
Jacob sampai harus dirawat di rumah sakit? Aku
mampir ke rumah sakit dalam perjalanan pulang,
tapi menurut perawat jaga di meja depan, baik
Jacob maupun Billy tidak datang ke rumah sakit.
Kuminta Charlie menelepon Harry Clearwater
begitu ia sampai di rumah dan kantor. Aku
menunggu, waswas, sementara Charlie mengobrol
dengan teman lamanya; obrolan mereka sepertinya
sangat lama tanpa sekali pun menyebut-nyebut
nama Jacob. Kedengarannya Harry-lah yang baru
saja pulang. dari rumah sakit... menjalani tes
jantung. Kening Charlie berkerut, tapi Harry
bercanda dengannya, menceritakan yang luculucu,
sampai Charlie tertawa lagi. Barulah
kemudian Charlie bertanya tentang Jacob, dan
sekarang ia tak lagi banyak bicara sehingga aku
tak bisa mengikuti percakapan, karena ia hanya
mengucapkan hmmm dan yeah berulang-ulang.
Aku mengetuk-ngetukkan jari ke konter di samping
Charlie, sampai ia memegang tanganku untuk
menghentikannya.
Akhirnya Charlie menutup telepon dan berpaling
padaku.
"Kata Harry, saluran teleponnya bermasalah, jadi
itulah sebabnya teleponmu tidak nyambung. Billy

membawa Jake ke dokter di reservasi, dan
kelihatannya dia sakit mono. Dia ke capekan, dan
kata Billy, dia tidak boleh ditengok," lapor Charlie.
"Tidak boleh ditengok?" tanyaku tak percaya.
Charlie mengangkat sebelah alis. "Sekarang kau
jangan ikut campur, Bells. Billy tahu apa yang
terbaik untuk Jake. Sebentar lagi juga dia sembuh
dan bisa ke sini lagi. Bersabarlah."
Aku tidak memaksa. Charlie terlalu khawatir
memikirkan Harry. Jelas itu lebih penting—tidak
tepat mengganggu pikirannya dengan hal-hal
sepele. Jadi aku naik ke lantai atas dan
menyalakan komputer. Aku menemukan situs
kedokteran dan mengetikkan kata "mononukleosis"
ke kolom pencarian.
Yang kutahu tentang mono hanyalah bahwa
seseorang bisa tertular penyakit itu dari
berciuman, sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi
pada Jake. Aku membaca gejala-gejalanya dengan
cepat—kalau demam memang ia mengalaminya,
tapi bagaimana dengan gejala yang lain? Tidak ada
radang tenggorokkan parah, tidak ada kelelahan,
tidak ada pusing kepala, setidaknya tidak sebelum
ia pulang dari bioskop: ia bahkan sempat berkata
dirinya "sehat walafiat”. Benarkah penyakitnya
muncul secepat itu? Berdasarkan artikel itu,
sepertinya yang harus muncul lebih dulu adalah
radang tenggorokannya.
Kupandang layar komputer dan bertanya-tanya
dalam hati mengapa, tepatnya, aku melakukan hal
ini. Mengapa aku merasa sangat... sangat curiga,

seperti tidak percaya pada cerita Billy? Untuk apa
Billy berbohong pada Harry?
Aku saja yang konyol, mungkin. Aku hanya
khawatir, dan jujur saja. aku takut tidak
diperbolehkan bertemu Jacob—itu membuatku
gelisah.
Aku menyimak keterangan lain dalam artikel itu,
menggali lebih banyak informasi. Aku berhenti
begitu sampai pada bagian yang menjelaskan
penyakit mono bisa bertahan lebih dari sebulan.
Sebulan? Mulutku ternganga.
Tapi Billy tak mungkin menerapkan aturan tidak
boleh dijenguk sampai selama itu. Tentu saja tidak.
Jake bisa gila kalau disuruh berbaring terus di
tempat tidur tanpa seorang pun bisa diajak bicara.
Apa sebenarnya yang ditakutkan Billy? Menurut
artikel itu, pengidap mono harus menghindari
aktivitas fisik, tapi tidak ada penjelasan tentang
aturan tidak boleh dijenguk. Penyakit itu kan tidak
terlalu menular.
Kuputuskan untuk memberi Billy waktu satu
minggu sebelum mulai mengorek-ngorek lagi. Satu
Minggu sudah cukup lama.
Ternyata satu minggu itu lama sekali. Hari Rabu
aku yakin tidak bakal mampu bertahan hidup
sampai Sabtu.
Ketika memutuskan untuk tidak mengganggu
Billy dan Jacob selama seminggu, aku sebenarnya
tak yakin Jacob bakal menuruti aturan Billy.
Setiap hari sesampainya di rumah dari sekolah,

aku berlari ke pesawat telepon untuk mengecek
pesan-pesan. Tidak pernah ada pesan untukku.
Aku melanggar janjiku sendiri dengan mencoba
meneleponnya tiga kali, tapi saluran teleponnya
masih rusak.
Aku terlalu sering tinggal di rumah, dan terlalu
sering sendirian. Tanpa Jacob, juga adrenalin dan
kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, semua
yang selama ini kutekan mulai menghantuiku lagi.
Mimpi-mimpi itu mulai menyerangku lagi. Aku
tidak lagi bisa melihat bagian akhirnya datang.
Yang ada hanya kehampaan yang mengerikan—
terkadang di hutan, terkadang di lautan pakis
kosong tempat rumah putih itu tak lagi ada.
Sesekali ada Sam Uley di sana, di hutan,
mengawasiku lagi. Aku tidak memedulikan dia—
tidak ada kenyamanan yang kurasakan dengan
kehadirannya, aku malah merasa semakin
sendirian. Walhasil, aku selalu terbangun setelah
menjerit ketakutan, setiap malam.
Lubang di dadaku kini semakin parah.
Kusangka aku sudah bisa mengendalikannya, tapi
aku mendapati diriku meringkuk, setiap hari,
sambil mencengkeram pinggang dan megap-megap
kehabisan udara.
Aku tak mampu menghadapi kesendirian dengan
baik.
Aku lega tak terkira di pagi hari waktu
terbangun—setelah menjerit, tentu saja—dan
teringat sekarang hari Sabtu. Berarti hari ini aku
bisa menelepon Jacob. Dan kalau saluran telepon
masih tetap belum berfungsi, aku akan ke La Push.

Bagaimanapun caranya, pokoknya hari ini harus
lebih baik daripada seminggu terakhir yang sepi
ini.
Aku menghubungi nomor telepon Jacob, lalu
menunggu tanpa berharap apa-apa. Jadi aku kaget
waktu Billy mengangkat telepon pada dering
kedua.
“Halo?”
“Oh. hai, cerita teleponnya sudah berfungsi lagi!
Hai, Billy. Ini Bella. Aku hanya ingin tahu kabar
Jacob. Apakah dia sudah bisa ditengok? Aku
sedang berpikir-pikir untuk mampir–“
"Maafkan aku, Bella,” sela Billy, dan aku
bertanya-tanya apakah ia sedang nonton televisi;
kedengarannya perhatian Billy sedang tertuju pada
hal lain. "Dia tidak ada di rumah."
"Oh." Butuh sedetik untuk mencernanya. "Kalau
begitu dia sudah sembuh?”
"Yeah," jawab Billy, setelah sempat ragu-ragu
sejenak. "Ternyata bukan mono. Hanya virus
biasa.”
"Oh. Kalau begitu... ke mana dia?"
"Dia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya
ke Port Angeles—kalau tidak salah mau nonton
film atau sebangsa-nya. Dia pergi seharian."
"Well, aku lega mendengarnya. Aku khawatir
sekali. Aku senang dia cukup sehat untuk pergi
jalan-jalan." Suaraku terdengar palsu sementara
aku mengoceh tidak keruan.

Jacob sudah sembuh, tapi tidak merasa perlu
meneleponku. Ia pergi dengan teman-temannya.
Sementara aku duduk di rumah, merindukannya
setiap jam. Aku kesepian, cemas, bosan... tercabikcabik
– dan sekarang kecewa karena menyadari
perpisahan kami selama seminggu ini ternyata
tidak memiliki dampak yang sama terhadapnya.
“Kau menginginkan sesuatu?" Billy bertanya
sopan.
“Tidak, tidak juga."
“Well, akan kusampaikan padanya kau
menelepon,” Billy berjanji. “Bye, Bella.”
“Bye,” sahutku, tapi Billy sudah lebih dulu
menelepon telepon.
Sesaat aku hanya bisa mematung dengan
telepon masih di tangan.
Jacob pasti berubah pikiran, seperti yang
kutakutkan selama ini. Ia mengikuti saranku dan
tidak menyia-nyiakan waktunya untuk seseorang
yang tidak bisa membalas perasaannya. Aku
merasa darah menyusut dari wajahku.
"Ada yang tidak beres?" tanya Charlie sambil
menuruni tangga.
"Tidak," dustaku, meletakkan gagang telepon.
"Kata Billy, Jacob sudah sehat. Dia tidak kena
mono. Syukurlah."
"Jadi dia mau datang ke sini, atau kau yang ke
sana?" tanya Charlie sambil lalu, mulai mengadukaduk
isi lemari es.

"Tidak dua-duanya," aku mengakui. "Dia pergi
dengan teman-temannya yang lain."
Nada suaraku akhirnya menarik perhatian
Charlie. Ia mendongak menatapku dengan sikap
mendadak kaget, tangannya membeku memegangi
sebungkus keju lembaran.
"Bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk
makan siang?" tanyaku seringan mungkin,
berusaha mengalihkan pikiran.
"Tidak, aku hanya mau membuat sesuatu untuk
bekal ke sungai..."
"Oh, mau mancing hari ini?"
"Well, Harry menelepon... dan hari tidak hujan."
Charlie sibuk menyiapkan setumpuk makanan di
atas konter sembari bicara. Tiba-tiba ia
mengangkat wajahnya lagi seolah-olah menyadari
sesuatu. "Katakan, kau mau aku di rumah saja
menemanimu, berhubung Jake pergi?"
"Tidak apa-apa, Dad," kataku, berusaha
memperdengarkan nada tak peduli. "Ikan makan
lebih lahap bila cuaca cerah."
Charlie menatapku, wajahnya jelas bimbang.
Aku tahu ia khawatir, takut meninggalkan aku
sendirian, kalau-kalau aku “bermuram durja” lagi.
"Sungguh, Dad. Mungkin aku akan menelepon
Jessica,” dalihku buru-buru. Aku lebih suka
sendirian daripada diawasi terus seharian oleh
Charlie. "Kami harus belajar Kalkulus. Aku bisa
meminta bantuannya." Bagian itu benar. Tapi aku
harus bisa sendiri tanpa meminta bantuan Jessica.

"Ide bagus. Kau terlalu banyak bermain dengan
Jacob, teman-temanmu yang lain bakal mengira
kau sudah melupakan mereka."
Aku tersenyum dan mengangguk, seolah-olah
peduli pendapat teman-temanku.
Charlie berbalik, tapi lalu berputar lagi dengan
ekspresi khawatir. "Hei, kau mau belajar di sini
atau di rumah Jess, kan?"
"Tentu, mau di mana lagi?"
"Well, aku hanya ingin kau berhati-hati untuk
tidak masuk ke hutan, seperti yang sudah
kukatakan padamu sebelumnya."
Butuh semenit bagiku untuk memahaminya,
karena saat itu pikiranku sedang tertuju pada hal
lain. "Masalah dengan beruang lagi?"
Charlie mengangguk, keningnya berkerut. "Ada
hiker yang hilang—polisi hutan menemukan
kemahnya tadi pagi, tapi tidak ada tanda-tanda
keberadaannya. Di sana ada jejak-jejak binatang
besar... tentu saja binatang itu bisa saja datang
kemudian, karena mencium bau makanan...
Pokoknya, mereka sekarang sedang memasang
jebakan untuk menangkapnya."
“Oh,” ucapku sambil lalu. Aku tidak benar-benar
mendengarkan peringatannya; aku jauh lebih kalut
memikirkan situasiku dengan Jacob daripada
kemungkinan menjadi mangsa beruang.
Aku senang Charlie terburu-buru. Ia tidak
menungguku menelepon Jessica, jadi aku tidak
perlu bersandiwara. Aku menyibukkan diri dengan

mengumpulkan semua buku sekolahku di meja
dapur untuk kumasukkan ke tas; mungkin itu
terlalu berlebihan, dan bila Charlie tidak begitu
bersemangat pergi memancing, itu pasti akan
membuatnya curiga.
Aku begitu sibuk terlihat sibuk hingga tidak
menyadari betapa mengerikannya hari kosong yang
membentang di hadapanku sampai aku melihat
Charlie meluncur pergi. Hanya butuh kira-kira dua
menit memandangi telepon dapur yang diam seribu
bahasa untuk memutuskan aku tidak mau tinggal
di rumah hari ini. Aku menimbang-nimbang
beberapa pilihan.
Aku tidak akan menelepon Jessica. Sepanjang
pengamatanku, Jessica sudah menyeberang ke sisi
gelap.
Aku bisa naik truk ke La Push dan mengambil
motorku— pikiran menarik, tapi masalahnya satu:
siapa yang akan mengantarku ke UGD kalau aku
membutuhkannya nanti?
Atau... aku toh sudah punya peta dan kompas di
trukku. Aku yakin sudah cukup memahami
prosesnya sehingga tidak akan tersesat. Mungkin
aku bisa mengeliminasi dua garis lagi hari ini,
dengan begitu kami akan lebih maju daripada
jadwal bila nanti Jacob mau menemuiku lagi. Aku
menolak memikirkan kapan kira-kira itu akan
terjadi. Atau apakah itu takkan pernah terjadi lagi.
Aku sempat merasakan secercah perasaan
bersalah saat menyadari bagaimana perasaan
Charlie kalau tahu aku mau ke hutan; tapi aku

mengabaikannya. Pokoknya aku tidak bisa tinggal
di rumah lagi hari ini.
Beberapa menit kemudian aku sudah berada di
jalan tanah yang tidak mengarah ke tempat
tertentu. Aku membuka semua jendela dan
menyetir secepat yang bisa dilakukan trukku,
mencoba menikmati embusan angin yang menerpa
wajahku. Hari berawan, tapi nyaris kering – hari
yang cerah untuk ukuran Forks.
Untuk memulai dibutuhkan waktu yang lebih
lama daripada bila per* bersama Jacob. Setelah
memarkir truk di tempat biasa, aku harus
menghabiskan waktu tak kurang dari lima belas
menit untuk mempelajari jarum kecil di
permukaan kompas serta tanda-tanda di peta yang
sekarang sudah lecek itu. Setelah yakin mengikuti
jalur yang benar, aku mulai berjalan memasuki
hutan.
Hutan penuh kehidupan hari ini, semua
makhluk kecil menikmati kekeringan yang hanya
sementara. Namun entah bagaimana, bahkan
dengan kicauan burung-burung dan dengung
serangga yang mengitari kepalaku dengan berisik,
juga bunyi langkah kaki tikus yang berkelebat
menerobos semak belukar, hutan terkesan lebih
menyeramkan hari ini; membuatku teringat pada
mimpi burukku yang terbaru. Aku tahu itu hanya
karena aku sendirian, kehilangan siulan riang
Jacob serta suara sepasang kaki lain menginjak
tanah yang lembab.
Perasaan gelisah itu semakin kuat saat aku
semakin dalam memasuki pepohonan. Aku mulai

susah bernapas—bukan karena berkeringat, tapi
karena aku mengalami kesulitan dengan lubang
tolol di dadaku lagi. Kudekap tubuhku dengan
kedua tangan dan berusaha mengenyahkan
kepedihan itu dari pikiranku. Nyaris saja aku
berbalik, tapi aku tak ingin menyia-nyiakan upaya
yang telah kulakukan.
Ritme langkah-langkahku mulai menumpulkan
pikiran dan kepedihanku, sementara aku terus
merangsek maju. Napasku akhirnya mulai teratur,
dan aku senang tak jadi pulang. Aku semakin
piawai menjelajah alam; aku tahu aku sekarang
bisa berjalan lebih cepat.
Aku tidak tahu apakah aku jauh lebih efisien
sekarang. Kalau tidak salah, mungkin aku sudah
berjalan enam kilometer lebih, dan bahkan belum
mulai mencari. Kemudian, dengan ketiba-tibaan
yang membuatku kehilangan orientasi, aku
melangkah melewati lengkingan pendek yang
terbentuk dari dua pohon maple merambat—
menerobos semak pakis setinggi dada—dan
memasuki padang rumput.
Ini tempat yang sama, itu aku yakin benar.
Belum pernah aku melihat tempat terbuka lain
yang begitu simetris. Bentuknya bulat sempurna,
seolah-olah ada orang yang dengan sengaja
membuat lingkaran sempurna, mencabuti pohonpohon
tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di
rerumputan yang melambai-lambai. Ke arah timur
sayup-sayup aku mendengar suara mata air
menggelegak.

Tempat ini tidak terlalu memesona tanpa cahaya
matahari, namun tetap sangat indah dan tenang.
Sekarang bukan musimnya bunga-bunga liar;
permukaannya tertutup rumput tebal yang
mengayun tertiup angin sepoi-sepoi, bagaikan riak
air di permukaan danau.
Ini tempat yang sama... tapi aku tidak
menemukan yang kucari-cari di sini.
Kekecewaan datang nyaris seketika seperti saat
kesadaran itu datang. Aku terhenyak ke tanah,
berlutut di pinggir padang terbuka, mulai terengahengah.
Apa gunanya pergi lebih jauh lagi? Tak ada yang
tertinggal di sini. Tidak lebih dari kenangan yang
bisa kupanggil kembali setiap kali aku
menginginkannya, asal aku rela menanggung
kepedihan yang menyertainya—kepedihan yang
kurasakan sekarang, yang membuatku menggigil.
Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini bila dia
tak ada. Aku tak yakin benar apa yang kuharap
akan kurasakan di sini, tapi padang rumput ini
hampa oleh atmosfer, hampa oleh segalanya, sama
seperti tempat-tempat lain. Sama seperti mimpi
burukku. Kepalaku berputar-putar, pusing sekal.
Setidaknya aku datang sendirian. Aku
merasakan serbuan perasaan syukur saat
menyadari hal itu. Kalau aku menemukan padang
rumput ini bersama Jacob... Well, aku tak
mungkin bisa menyamarkan lubang tak berdasar
tempatku jatuh sekarang. Bagaimana aku bisa
menjelaskan keadaanku yang hancur berkepingkeping,
kondisiku yang meringkuk seperti bola

untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak
mencabik-cabik tubuhku? jauh lebih baik bila
tidak ada yang melihatku.
Dan aku juga tak perlu menjelaskan pada siapa
pun mengapa aku begitu tergesa-gesa
meninggalkan tempat ini. Jacob pasti akan
berasumsi, setelah begitu bersusah-payah melacak
keberadaan tempat ini, bahwa aku ingin
menghabiskan waktu lebih dari hanya beberapa
detik di sini. Tapi sekarang pun aku sudah
berusaha mendapatkan kekuatan untuk bisa
berdiri lagi. memaksa diriku bangkit supaya bisa
pergi dari sini. Terlalu banyak kepedihan yang
harus ditanggung di tempat kosong ini—kalau
perlu aku bahkan tidak keberatan merangkak.
Untung saja aku sendirian!
Sendirian. Aku mengulangi kata itu dengan
kepuasan muram sambil memaksa diriku bangkit
meski hatiku sakit sekali. Tepat saat itu sesosok
tubuh melangkah keluar dari sela-sela pepohonan
di sebelah utara, kira-kira tiga puluh langkah
jauhnya.
Berbagai macam emosi berkecamuk dalam
diriku detik juga. Pertama adalah terkejut; aku
berada jauh dari jalan setapak mana pun, dan
tidak mengira akan ada orang lain di sini.
Kemudian saat mataku terfokus pada sosok tak
bergerak itu, melihat tubuhnya yang bergeming
dan kulitnya yang pucat, serbuan harapan yang
menyakitkan mengguncangku. Aku menekannya
habis-habisan, berjuang melawan sayatan pedih
penderitaan saat mataku menjalar ke wajah di

bawah rambut yang hitam, bukan wajah yang ingin
kulihat. Berikutnya muncul rasa takut; ini bukan
wajah yang kutangisi, namun jaraknya cukup
dekat hingga aku tahu cowok yang menghadap ke
arahku itu bukan hiker yang tersesat.
Kemudian, akhirnya, aku mengenalinya.
"Laurent!" pekikku, kaget bercampur senang.
Respons yang tak masuk akal. Mungkin
seharusnya aku berhenti pada perasaan takut.
Laurent adalah salah satu anggota kelompok
James saat kami pertama kali bertemu. Ia tidak
ikut dalam perburuan yang terjadi kemudian—
perburuan di mana akulah mangsanya—tapi itu
hanya karena ia takut; aku dilindungi kelompok
lain yang lebih besar daripada kelompoknya. Akan
lain ceritanya kalau tidak begitu—saat itu ia tidak
menyesal tidak menjadikanku makanannya. Tentu
saja ia pasti sudah berubah, karena ia pergi ke
Alaska untuk tinggal bersama kelompok beradab
lain, keluarga lain yang juga menolak minum darah
manusia demi alasan etis. Keluarga lain seperti...
tapi aku tidak membiarkan diriku memikirkan
nama itu.
Ya, takut pasti lebih masuk akal, tapi yang
kurasakan hanya kepuasan berlebihan. Padang
rumput ini kembali menjadi tempat magis. Magis
yang lebih gelap daripada yang kuharapkan, jelas,
namun tetap magis. Inilah koneksi yang kucari.
Bukti, walau bagaimanapun kecilnya, bahwa—di
suatu tempat di dunia yang sama dengan tempatku
tinggal—dia ada.

Mustahil melihat bahwa Laurent masih persis
sama seperti dulu. Kurasa sungguh tolol dan
manusiawi sekali mengharapkan ada semacam
perubahan dari tahun lalu. Tapi memang ada
sesuatu... aku tak tahu persis apa itu.
"Bella?" tanya Laurent, tampak lebih terperangah
dari pada yang kurasakan.
“Kau ingat.” Aku tersenyum. Sungguh konyol
aku bisa begitu gembira karena ada vampir yang
mengingat namaku.
Laurent nyengir. “Aku tidak mengira akan
bertemu kau di sini." Ia melenggang
menghampiriku, ekspresinya takjub.
“Apa tidak terbalik? Aku memang tinggal di sini.
Kusangka kau sudah pergi ke Alaska."
Laurent berhenti kira-kira sepuluh langkah
dariku, menelengkan kepala ke satu sisi. Wajahnya
adalah wajah paling tampan yang kulihat untuk
kurun waktu yang rasanya seperti berabad-abad.
Kuamati garis-garis wajahnya dengan perasaan
lega yang rakus. Ini dia orang kepada siapa aku
tidak perlu berpura-pura—seseorang yang sudah
tahu setiap hal yang tak pernah bisa
kuungkapkan.
"Kau benar," ia sependapat. "Aku memang pergi
ke Alaska. Meski begitu, aku tidak mengira...
Waktu aku mendapati rumah keluarga Cullen
sudah kosong, kusangka mereka sudah pindah."
“Oh." Aku menggigit bibir ketika nama itu
membuat lukaku yang masih basah kembali

berdarah. Butuh sedetik untuk menenangkan diri.
Laurent menunggu dengan sorot ingin tahu.
"Mereka memang sudah pindah," akhirnya bisa
juga aku memberi tahunya.
"Hmm,” gumam Laurent. "Kaget juga aku,
mereka meninggalmu. Bukankah kau sejenis
peliharaan mereka?"
Matanya sama sekali, tidak memancarkan sorot
menghina.
Aku tersenyum kecut. "Semacam itulah."
"Hmmm," ujarnya, tampak berpikir lagi.
Saat itulah aku sadar mengapa ia tampak
sama— terlalu sama. Setelah Carlisle memberi
tahu kami Laurent tinggal dengan keluarga Tanya,
aku mulai membayangkan dia, meski aku jarang
memikirkannya, dengan mata keemasan yang
sama seperti yang dimiliki... keluarga Cullen—aku
meringis saat memaksa nama itu keluar. Mata
yang dimiliki semua vampir baik.
Tanpa sengaja aku mundur selangkah, dan mata
merahnya yang gelap dan penuh keingintahuan itu
mengikuti gerakanku.
"Apakah mereka sering mengunjungimu?"
tanyanya, nadanya masih biasa-biasa saja, tapi
tubuhnya bergerak ke arahku.
"Berbohonglah," suara beledu indah itu berbisik
cemas dari benakku.
Aku terkejut mendengar suaranya, tapi
seharusnya itu tidak membuatku kaget. Bukankah

saat ini aku berada dalam bahaya yang tak
terbayangkan? Sepeda motor tidak ada apa-apanya
dibandingkan ini.
Aku melakukan apa yang diperintahkan suara
itu.
"Sesekali." Aku berusaha tetap terdengar ringan,
rileks. "Waktu terasa lebih panjang bagiku,
rasanya. Sementara mereka, kau tahu, mudah
dialihkan perhatiannya..." Aku mulai melantur.
Aku harus berusaha keras menutup mulut.
"Hmmm," kata Laurent lagi. "Bau rumahnya
seperti sudah lama tidak ditinggali..."
"Kau harus berbohong lebih baik lagi, Bella,"
desak suara itu.
Aku mencoba. "Aku harus memberi tahu Carlisle
kalau kau mampir. Dia pasti menyesal tidak
sempat menemuimu.” Aku berpura-pura berfikir
sebentar. "Tapi mungkin aku tidak perlu
menceritakannya pada... Edward, kurasa–“ aku
nyaris tak mampu menyebut namanya, dan itu
membuat ekspresiku aneh, mementahkan
gertakanku sendiri “– karena dia sangat pemarah..
Well, aku yakin kau masih ingat. Dia masih sensitif
kalau mengingat kejadian dengan James waktu itu
Aku memutar bola mata dan melambaikan tangan
dengan lagak cuek, seolah-olah itu semua sejarah
lama, tapi ada secercah nada histeris dalam
suaraku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah
Laurent bakal mengenalinya.
"Benarkah begitu?" Laurent menanggapi dengan
senang... sekaligus skeptis.

Aku menjawab singkat, agar suaraku tidak
menunjukkan kepanikanku. "Mm-hmm.”
Laurent melangkah ke samping dengan sikap
biasa-biasa saja, memandang berkeliling padang
rumput kecil itu. Kusadari langkah itu
membawanya semakin dekat denganku. Di
kepalaku suara itu merespons dengan geraman
rendah.
“Bagaimana keadaan di Denali? Kata Carlisle,
kau tinggal bersama Tanya?" suaraku melengking
kelewat tinggi.
Pertanyaan itu membuatnya diam sebentar. "Aku
sangat menyukai Tanya," ia merenung. "Apalagi
saudara perempuannya Irina... aku tidak pernah
menetap terlalu lama di satu tempat sebelumnya,
dan aku menikmati keuntungan dan hal-hal baru
yang bisa kurasakan. Tapi larangannya sulit...
Heran juga aku, mereka bisa bertahan begitu
lama." Ia tersenyum padaku seperti mengajak
berkomplot. "Kadang-kadang aku melanggarnya."
Aku tak sanggup menelan ludah. Kakiku mulai
bergerak mundur, tap, langsung membeku saat
matanya yang merah berkelebat turun dan
menangkap gerakan itu.
"Oh," kataku dengan suara lemah. "Jasper juga
punya masalah dengan itu."
"Jangan bergerak," suara itu berbisik. Aku
berusaha melakukan apa yang ia perintahkan.
Sulit, tapi; insting untuk lari nyaris tak bisa
dikendalikan.

"Benarkah?" Laurent tampak tertarik. "Itukah
sebabnya mereka pergi?"
"Bukan," jawabku jujur. "Jasper lebih berhatihati
di rumah."
"Benar," Laurent sependapat. "Begitu juga aku."
Satu langkah maju yang diambilnya jelas
disengaja.
"Apakah Victoria pernah menemukanmu?"
tanyaku, napasku tersengal, sangat ingin
mengalihkan perhatiannya. Itu pertanyaan pertama
yang muncul di benakku, dan aku langsung
menyesalinya begitu kata-kata itu terlontar dari
mulutku. Victoria—yang memburuku bersama
James, kemudian menghilang—bukanlah
seseorang yang ingin kuingat pada saat-saat
genting seperti ini.
Tapi pertanyaan itu menghentikannya.
"Ya," jawab Laurent, ragu-ragu melangkah.
"Sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk
membantunya." Ia mengernyit. "Dia tidak akan
senang kalau tahu hal ini."
"Tahu apa?" tanyaku bersemangat,
mengundangnya untuk terus bicara. Laurent
memandang garang ke arah pepohonan, jauh
dariku. Aku memanfaatkan kelengahannya itu
dengan mundur satu langkah.
Laurent kembali memandangku dan
tersenyum—ekspresinya membuatnya terlihat
seperti malaikat berambut hitam.

"Kalau dia tahu aku membunuhmu," jawabnya
sambil mendengkur merayu.
Aku terhuyung-huyung mundur. Geraman panik
di kepalaku membuatnya semakin sulit didengar.
"Dia ingin melakukannya sendiri,” Laurent
melanjutkan senang. "Dia agak... kesal denganmu.
Bella."
"Aku?" pekikku.
Laurent menggeleng dan terkekeh. "Aku tahu,
menurutku sepertinya itu juga agak sedikit bodoh.
Tapi James pasangannya, dan Edward-mu
membunuhnya."
Bahkan di sini, di ambang maut, namanya
masih merobek lukaku yang masih basah bagaikan
pisau bergerigi tajam.
Laurent tidak menyadari reaksiku. "Menurutnya
lebih tepat membunuhmu daripada membunuh
Edward—itu baru adil, pasangan untuk pasangan.
Dia memintaku memetakan arah untuknya,
katakanlah begitu. Tak kukira kau begitu mudah
ditemukan. Jadi mungkin rencana Victoria tidak
sempurna—ternyata kau bukanlah sasaran balas
dendam seperti yang dia bayangkan, karena kau
pasti tidak berarti banyak bagi Edward bila dia
meninggalkanmu sendiri di sini tanpa
perlindungan."
Pukulan lain, sayatan lain ke dadaku.
Laurent bergerak sedikit, dan aku terseok
mundur selangkah.

Kening Laurent berkerut. "Kurasa dia bakal
marah, bagaimanapun juga."
“Kalau begitu mengapa tidak kautunggu saja
dia?" bujukku dengan suara tercekik.
Seringaian licik membelah wajahnya. "Well, kau
bertemu denganku di saat yang tidak tepat, Bella.
Kedatanganku ke sini bukan untuk menjalankan
misi Victoria—aku sedang berburu. Aku sangat
haus, dan baumu... sungguh menerbitkan air liur."
Laurent menatapku dengan sikap setuju, seolaholah
perkataan itu dimaksudkan sebagai pujian.
"Ancam dia," delusi indah itu memerintahkan,
suaranya terdistorsi oleh kengerian.
"Dia pasti tahu kau yang melakukannya,"
bisikku, mematuhi perintah suara itu. "Kau tidak
akan bisa lolos."
"Mengapa tidak?" Senyum Laurent melebar. Ia
memandang ke sekeliling padang terbuka kecil
yang dikitari pepohonan itu. "Baumu akan tersapu
hujan berikutnya. Tak ada yang akan menemukan
mayatmu—kau hanya akan dinyatakan hilang,
seperti banyak, banyak sekali manusia lain. Tidak
ada alasan bagi Edward untuk mengira itu
perbuatanku, kalau dia cukup peduli untuk
menyelidiki. Yakinlah, tidak ada masalah pribadi
dalam hal ini, Bella. Hanya karena aku haus."
"Memohonlah," halusinasiku memohon.
"Please?” pintaku.

Laurent menggeleng, wajahnya ramah, "Anggap
saja begini, Bella. Kau sangat beruntung karena
akulah yang menemukanmu."
"Benarkah begitu?" tanyaku, mencuri
kesempatan untuk mundur satu langkah lagi.
Laurent mengikuti, gesit dan anggun.
"Ya," ia meyakinkanku. "Aku akan sangat cepat.
Kau tidak akan merasakan apa-apa, aku janji. Oh,
aku akan berbohong pada Victoria mengenainya
nanti, tentu saja, hanya untuk menenangkan
hatinya. Tapi kalau kau tahu apa yang dia
rencanakan untukmu, Bella..." Laurent menggeleng
dengan gerak lamban, seakan-akan nyaris jijik.
"Berani sumpah, kau pasti akan berterima kasih
padaku untuk ini."
Kutatap ia dengan ngeri.
Laurent mengendusi angin yang menerbangkan
helai-helai rambutku ke arahnya. "Menerbitkan air
liur," ia mengulangi kata-katanya, menghirup
dalam-dalam.
Tubuhku mengejang, bersiap lari, mataku
menyipit saat aku mengkeret ngeri,dan raungan
marah Edward bergema di kejauhan, di bagian
belakang kepalaku. Namanya menembus semua
dinding yang kubangun untuk menahannya.
Edward, Edward, Edward. Aku akan mati. Tidak
apa-apa bila aku memikirkan dia sekarang.
Edward, aku cinta padamu.
Melalui mataku yang menyapit, kulihat Laurent
berhenti mengendus udara dan memalingkan
kepala secepat kilat ke kiri. Aku tak berani

mengalihkan pandanganku darinya, mengikuti
matanya meski ia tak perlu mengalihkan perhatian
ataupun trik lain untuk mengalahkanku. Aku
terlalu takjub untuk merasa lega ketika ia pelanpelan
mulai mundur menjauhiku.
"Aku tak percaya," ucapnya, suaranya begitu
pelan hingga aku nyaris tidak mendengarnya.
Barulah saat itu aku menoleh. Mataku menyapu
padang rumput, mencari interupsi yang
memperpanjang hidupku.
Awalnya aku tidak melihat apa-apa, dan mataku
secepat kilat kembali ke Laurent. Ia mundur lebih
cepat lagi sekarang, matanya menatap tajam ke
dalam hutan.
Lalu aku melihatnya; sesosok makhluk hitam
besar muncul dari sela-sela pepohonan, tenang
seperti bayangan, dan berjalan mantap
menghampiri si vampir. Tubuhnya besar sekali—
setinggi kuda, tapi lebih gemuk, jauh lebih berotot.
Moncongnya yang panjang meringis, memamerkan
sederet taring setajam belati. Geraman liar
meluncur dari sela-sela giginya, menggelegar
melintasi ruang terbuka seperti suara petir
menyambar.
Beruang itu. Hanya saja, ternyata hewan itu
bukan beruang. Namun tetap saja, pasti monster
hitam raksasa inilah makhluk yang menggegerkan
warga itu. Dari jauh orang akan mengira itu
beruang. Hewan apa lagi yang badannya bisa
sebesar dan sekekar itu?

Aku berharap akan beruntung dan bisa
melihatnya dari jauh. Tapi yang terjadi malah
hewan itu melangkah tanpa suara melintasi
rerumputan, hanya tiga meter dari tempatku
berdiri.
"Jangan bergerak sedikit pun," suara Edward
berbisik
Kupandangi makhluk mengerikan itu, pikiranku
kacau saat aku berusaha menemukan nama
hewan itu. Bentuknya jelas mirip anjing, begitu
juga caranya bergerak. Aku hanya bisa memikirkan
satu kemungkinan, terpaku dalam kengerian yang
amat sangat. Namun tak pernah terbayangkan
olehku serigala bisa sebesar itu.
Lagi-lagi hewan itu menggeram, dan aku bergidik
ngeri mendengarnya.
Laurent mundur ke pinggir pepohonan, dan,
meski membeku ketakutan, pikiranku dilanda
kebingungan. Mengapa Laurent mundur? Memang
serigala itu sangat besar, tapi makhluk itu tetap
hanya binatang. Mengapa vampir takut pada
binatang? Dan Laurent sangat ketakutan. Matanya
membelalak ngeri, sama seperti aku.
Seperti menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja
serigala raksasa itu tidak sendirian. Mengapit di
sisi kiri dan kanannya, ada dua hewan raksasa lain
melenggang diam memasuki padang rumput. Yang
satu berbulu abu-abu gelap, satunya lagi cokelat,
namun keduanya tidak setinggi serigala pertama.
Serigala abu-abu muncul dari balik pepohonan
hanya beberapa meter dariku, matanya terpaku
pada Laurent.

Belum lagi aku sempat bereaksi, dua serigala
lain menyusul, membentuk huruf V, seperti
kawanan burung yang bermigrasi ke selatan. Itu
berarti monster cokelat kemerahan yang
merangsck menembus semak belukar berada
cukup dekat denganku hingga aku bisa
menyentuhnya.
Tanpa sengaja aku terkesiap dan melompat
mundur – tindakan paling tolol yang bisa
kulakukan. Lagi-lagi aku membeku, menunggu
serigala-serigala itu berbalik menyerangku, mangsa
yang lebih lemah. Sempat terlintas dalam benakku
semoga Laurent segera beraksi dan melumat
gerombolan serigala itu-itu mudah saja baginya.
Kurasa di antara dua pilihan di depanku, di
mangsa sekawanan serigala hampir bisa dibilang
pilihan yang lebih buruk.
Serigala yang paling dekat denganku, yang
berbulu cokelat kemerahan, memalingkan kepala
sedikit begitu mendengarku terkesiap.
Mata serigala itu gelap, nyaris hitam. Hewan itu
menatapku sepersekian detik, matanya yang gelap
terkesan terlalu cerdas untuk hewan liar.
Sementara hewan itu memandangiku, mendadak
aku teringat pada Jacob—lagi-lagi dengan perasaan
bersyukur. Setidaknya aku datang ke sini
sendirian, ke padang rumput negeri dongeng yang
penuh monster-monster mengerikan ini.
Setidaknya Jacob tidak akan ikut mati. Setidaknya
aku tidak bertanggung jawab atas kematiannya.
Geraman rendah yang sekali lagi keluar dari
moncong pemimpin gerombolan membuat serigala

cokelat-merah itu memalingkan kepala secepat
kilat, kembali kepada Laurent.
Laurent menatap gerombolan monster serigala
itu dengan perasaan shock dan takut yang tak bisa
ditutup-tutupi. Perasaan pertama bisa kupahami.
Tapi aku terperangah waktu, tanpa aba-aba lebih
dulu, ia berbalik dan menghilang di balik
pepohonan.
Dia kabur.
Detik itu juga kawanan serigala itu langsung
mengejarnya, berlari cepat melintasi padang
rumput terbuka dengan langkah-langkah
bertenaga, menggeram dan mengatup-ngatupkan
moncong dengan keras dan nyaring. Kedua
tanganku serta-merta terangkat ke atas, secara
naluriah menutup telinga. Suara itu menghilang
dengan sangat cepat begitu gerombolan serigala
lenyap di balik hutan.
Kemudian aku sendirian lagi.
Lututku terkulai, tak sanggup menopang berat
tubuhku, dan aku terjatuh dengan posisi tangan
bertumpu di tanah, isak tangis memenuhi
kerongkonganku.
Aku tahu aku harus segera pergi, sekarang juga.
Berapa lama serigala-serigala itu akan mengejar
Laurent sebelum berbalik dan mengejarku? Atau
akankah Laurent melawan mereka? Mungkinkah ia
yang nanti akan kembali mencariku?
Awalnya aku tak bisa bergerak; lengan dan
kakiku gemetaran, dan aku tak tahu bagaimana
bisa kembali berdiri.

Pikiranku tak bisa menghalau ketakutan,
kengerian, ataupun kebingungan yang kurasakan.
Aku tidak memahami apa yang baru saja
kusaksikan.
Vampir tak seharusnya kabur dari sekawanan
anjing raksasa seperti itu. Apa gunanya gigi yang
tajam dan kulit mereka yang sekeras granit?
Dan serigala-serigala seharusnya tidak
mengganggu Laurent. Walaupun ukuran mereka
yang luar biasa itu mengajar mereka untuk tidak
takut pada apa pun, tetap saja tak masuk akal
mengapa mereka mengejarnya. Aku ragu kulit
Laurent yang sedingin marmer memancarkan bau
yang menyerupai makanan. Mengapa mereka
malah mengabaikan makhluk berdarah panas dan
lemah seperti aku dan justru mengejar Laurent?
Aku tidak mengerti sama sekali.
Angin dingin menyapu padang rumput,
mengayunkan rumput-rumput seolah ada sesuatu
yang menggerakkannya.
Aku cepat-cepat berdiri, mundur walaupun
angin menerpaku tanpa mencederai. Tersandungsandung
panik, aku berbalik dan langsung lari
menerobos pepohonan.
Beberapa jam berikutnya sungguh mengerikan.
Butuh waktu tiga kali lebih lama untuk meloloskan
diri dari pepohonan daripada untuk mencapai
padang. Awalnya aku tidak memerhatikan ke mana
aku melangkah, pikiranku hanya terfokus pada
melarikan diri. Setelah cukup tenang untuk ingat
bahwa aku punya kompas, aku sudah jauh di

pelosok hutan yang asing dan menakutkan. Kedua
tanganku gemetar sangat hebat sehingga aku
harus meletakkan kompas di tanah berlumpur
untuk bisa membacanya. Beberapa menit sekali
aku harus berhenti untuk meletakkan kompas dan
mengecek bahwa aku masih berjalan ke barat laut,
mendengarkan—bila suara-suara itu tidak
tersembunyi di balik langkah-langkah kakiku yang
panik—bisikan pelan berbagai hal yang tak
kelihatan di sela-sela dedaunan.
Pekikan burung jaybird membuatku terlompat
ke belakang dan jatuh menimpa pohon cemara
muda berdaun lebat. Akibatnya lenganku tergoresgores
dan rambutku terbelit daun-daun cemara.
Tupai yang mendadak berkelebat lewat membuatku
menjerit begitu keras hingga menyakitkan bahkan
telingaku sendiri.
Akhirnya pohon-pohon mulai renggang. Aku
muncul dijalan kosong kira-kira satu setengah
kilometer dari tempatku meninggalkan truk tadi.
Meskipun didera kelelahan yang amat sangat, aku
berlari-lari kecil menyusuri jalan sampai
menemukan trukku. Sesampai di dalamnya
tangisku kembali meledak. Kukunci pintu truk
rapat-rapat sebelum merogoh kantong untuk
mengeluarkan kuncinya. Raungan suara mesin
terasa melegakan dan waras. Suara itu
membantuku menahan air mata sementara aku
memacu trukku secepatnya menuju jalan utama.
Sesampainya di rumah, kondisiku sudah lebih
tenang, tapi masih kacau-balau. Mobil polisi
Charlie sudah terparkir di halaman—aku bahkan

tidak menyadari hari sudah malam. Langit sudah
menggelap.
"Bella?" seru Charlie begitu aku membanting
pintu depan dan cepat-cepat memutar kunci.
"Yeah, ini aku." Suaraku lemah.
"Dari mana saja kau?" tanyanya menggelegar,
muncul dari ambang pintu dapur dengan wajah
garang.
Aku ragu-ragu. Ayahku mungkin sudah
menelepon keluarga Stanley. Sebaiknya aku
menceritakan hal yang sebenarnya saja.
"Aku pergi hiking," aku mengaku.
Mata Charlie kaku. "Mengapa tidak jadi pergi ke
rumah Jessica?"
"Aku sedang malas belajar Kalkulus hari ini."
Charlie bersedekap. "Kan sudah kubilang untuk
menjauhi hutan."
"Yeah, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak
akan melakukannya lagi," Aku bergidik.
Sepertinya baru saat itulah Charlie benar-benar
memerhatikan keadaanku. Aku ingat tadi aku
sempat meringkuk di tanah hutan; jadi pastilah
keadaanku benar-benar berantakan.
"Apa yang terjadi?" desak Charlie.
Lagi, aku memutuskan mengatakan hal yang
sebenarnya, setidaknya sebagian, adalah pilihan
terbaik. Aku terlalu terguncang untuk berpurapura
aku tadi menikmati hari yang tenang dengan
flora dan fauna hutan.

"Aku melihat beruang itu." Aku berusaha
mengatakannya dengan tenang, tapi suaraku tinggi
dan gemetar. "Ternyata bukan beruang— tapi
sejenis serigala. Dan jumlahnya ada lima. Ada yang
berbulu hitam besar, abu-abu, cokelat
kemerahan..."
Mata Charlie membelalak ngeri. Ia bergegas
menghampiriku dan menyambar bagian atas
lenganku.
“Kau tidak apa-apa?"
Kepalaku mengangguk-angguk lemah.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi."
"Mereka tidak menggubrisku. Tapi setelah
mereka pergi, aku lari dan terjatuh-jatuh."
Charlie melepaskan bahuku dan memelukku
erat-erat. Selama beberapa saat ia tidak
mengatakan apa-apa.
“Serigala," gumamnya.
"Apa?"
"Menurut polisi hutan, jejak-jejaknya bukan
jejak beruang— tapi serigala tidak sebesar itu..."
"Mereka ini raksasa"
"Berapa banyak katamu tadi?"
“Lima.”
Charlie menggeleng, keningnya berkerut cemas.
Akhirnya ia bicara dengan nada yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi. "Tidak boleh hiking lagi."
"Pasti," aku berjanji dengan patuh.

Charlie menelepon ke kantor untuk melaporkan
apa yang kulihat. Aku berbohong sedikit saat
mengatakan di mana persisnya aku melihat
serigala-serigala itu—kubilang saja aku sedang
menyusuri jalan setapak yang mengarah ke utara.
Aku tak ingin ayahku tahu seberapa jauh aku telah
masuk ke dalam hutan, melanggar larangannya,
dan, yang lebih penting lagi, aku tidak mau orang
lain berkeliaran di dekat tempat Laurent mungkin
mencariku. Pikiran itu membuatku mual.
"Kau lapar?" tanya Charlie setelah menutup
telepon.
Aku menggeleng, meskipun seharusnya perutku
keroncongan. Aku belum makan seharian.
"Capek saja," jawabku. Aku berbalik menuju
tangga.
"Hei," seru Charlie, suaranya mendadak berubah
curiga lagi. "Bukankah kau tadi bilang Jacob pergi
seharian?"
"Kata Billy begitu," jawabku, bingung mendengar
pertanyaannya.
Charlie mengamati ekspresiku sebentar, dan
tampaknya puas dengan apa yang dilihatnya di
sana.
"Hah."
"Kenapa?" tuntutku. Kedengarannya Charlie
seolah menuduhku telah berbohong padanya tadi
pagi. Mengenai hal lain selain belajar dengan
Jessica.

"Well, hanya saja waktu aku menjemput Harry
tadi, aku melihat Jacob di depan toko yang ada di
sana bersama teman-temannya. Aku melambai
menyapanya, tapi dia... Well aku tak yakin dia
melihatku. Sepertinya dia sedang berdebat dengan
teman-temannya. Dia tampak aneh, seperti kesal
mengenai sesuatu. Dan... berbeda. Seolah-olah kau
bisa melihat anak itu bertumbuh! Setiap kali
melihatnya, sepertinya dia semakin bertambah
besar."
"Kata Billy, Jake dan teman-temannya pergi ke
Port Angeles untuk nonton film. Mungkin mereka
sedang menunggu teman di sana."
"Oh." Charlie mengangguk dan berjalan ke
dapur.
Aku berdiri di ruang depan, berpikir tentang
Jacob yang berdebat dengan teman-temannya. Aku
penasaran apakah ia mengonfrontir Embry rentang
kedekatannya dengan Sam. Mungkin itulah
sebabnya ia meninggalkanku hari ini—kalau itu
berarti ia bisa menuntaskan masalahnya dengan
Embry aku ikut senang.
Aku berhenti sebentar untuk memastikan pintu
masih terkunci rapat sebelum masuk ke kamar.
Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya kunci
bagi monster-monster yang kulihat siang tadi?
Asumsiku, gagang pintu saja sudah cukup untuk
menghalangi masuknya serigala, karena mereka
tidak memiliki ibu jari untuk memegang. Dan
kalau Laurent datang ke sini...
Atau... Victoria.

Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tubuhku
bergetar begini hebat hingga aku susah tidur. Aku
meringkuk rapat-rapat di bawah selimut, dan
menghadapi fakta-fakta mengerikan.
Tidak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada
pencegahan yang bisa kuambil. Tidak ada tempat
untuk bersembunyi. Tidak ada orang yang bisa
menolongku.
Aku sadar, dengan perut melilit mual, bahwa
situasinya sekarang lebih buruk daripada itu.
Karena semua fakta itu juga mengacu pada
Charlie. Ayahku, tidur di kamar yang bersebelahan
dengan kamarku, hanya terpisah sedikit saja dari
inti sasaran yang terpusat padaku. Bau tubuhku
akan menggiring mereka ke sini, tak peduli aku
ada di sini atau tidak.
Tremor itu mengguncang-guncang tubuhku
sampai gigi-gigiku gemeletukan.
Untuk menenangkan diri aku membayangkan
hal yang tidak mungkin: aku membayangkan
serigala-serigala besar itu berhasil menangkap
Laurent di hutan dan membantai makhluk yang
tidak bisa mati dan tidak bisa dihancurkan itu,
seperti mereka memangsa habis manusia normal
lainnya. Meski absurd, bayangan itu membuatku
tenang. Kalau serigala-serigala itu berhasil
menangkapnya, ia tidak bisa mengatakan pada
Victoria bahwa aku sendirian di sini. Bila ia tidak
kembali, mungkin Victoria mengira keluarga Cullen
masih melindungiku. Seandainya kawanan serigala
itu bisa memenangkan pertarungan...

Vampir-vampir baikku takkan pernah kembali;
betapa melegakan membayangkan vampir jenis lain
juga bisa menghilang.
Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu
datangnya ketidaksadaran—hampir tidak sabar
lagi menunggu mimpi burukku dimulai. Lebih baik
bermimpi buruk daripada melihat seraut wajah
tampan yang pucat tersenyum padaku sekarang
dari balik kelopak mataku.
Dalam imajinasiku, mata Victoria hitam oleh
dahaga, cemerlang oleh antisipasi, dan bibirnya
menekuk, menampilkan gigi-giginya yang berkilau
dalam kegembiraan. Rambut merahnya terang
laksana api; berkibar-kibar kusut mengitari
wajahnya yang liar.
Kata-kata Laurent tadi terngiang-ngiang dalam
benakku. Kalau kau tahu apa yang dia rencanakan
untukmu...
Aku menempelkan tinjuku kuat-kuat ke mulut
agar tidak menjerit.

11. SEKTE
SETIAP kali aku membuka mata dan melihat
cahaya matahari, menyadari aku telah selamat
melewati satu malam lagi, merupakan kejutan
bagiku. Setelah pulih dari keterkejutan, jantungku
mulai berdetak kencang dan telapak tanganku
berkeringat; aku baru bisa bernapas lega setelah

turun dari tempat tidur dan memastikan Charlie
juga selamat.
Kentara sekah ia khawatir—melihatku meloncat
kaget setiap kah mendengar suara keras, atau
wajahku tiba-tiba memucat tanpa alasan jelas.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang sesekali
diajukannya, Charlie sepertinya menyalahkan
ketidakhadiran Jacob sebagai penyebabnya.
Ketakutan yang selalu menghantui pikiranku
biasanya mengalihkan perhatianku dari fakta
bahwa satu minggu lagi telah berlalu, tapi Jacob
masih belum meneleponku. Tapi kalau aku bisa
berkonsentasi pada kehidupan normal—kalau
hidupku bisa dibilang normal—hal ini membuatku
gelisah.
Aku sangat kehilangan dia.
Rasanya sudah cukup parah ditinggal sendiri
sebelum aku ketakutan setengah mati begini.
Sekarang, lebih dari sebelumnya aku rindu tawa
lepasnya yang riang dan cengirannya yang menular
itu. Aku membutuhkan perasaan aman dan waras
yang bisa kuperoleh dengan nongkrong di
garasinya serta tangan hangatnya menggenggam
jari-jariku yang dingin.
Aku separo berharap ia bakal meneleponku hari
Senin. Misalnya ada kemajuan soal Embry,
bukankah ia ingin melaporkannya? Aku ingin
memastikan kecemasan terhadap temannyalah
yang menyita seluruh waktunya, bukan karena ia
tak mau lagi berteman denganku.

Aku meneleponnya Selasa, tapi tidak ada yang
menjawab. Apakah saluran teleponnya rusak lagi?
Atau Billy sekarang memasang caller ID?
Hari Rabu aku menelepon setiap setengah jam
sekali sampai jam sebelas malam, putus asa ingin
mendengar kehangatan suara Jacob.
Hari Kamis aku duduk di dalam truk di depan
rumah—dengan kedua pintu terkunci rapat—kunci
truk di tangan, selama satu jam penuh. Aku
berdebat dengan diriku sendiri, berusaha
membenarkan keinginan untuk pergi sebentar ke
La Push, tapi tak sanggup melakukannya.
Aku tahu Laurent pasti sudah kembali ke
Victoria sekarang. Kalau aku pergi ke La Push,
bisa-bisa aku menuntun salah seorang dari mereka
ke sana. Bagaimana kalau mereka menangkapku
ketika Jake di dekatku? Meski sangat menyakitkan
bagiku, aku tahu lebih baik bagi Jacob bila ia
menghindariku. Lebih aman untuknya.
Sudah cukup buruk aku tidak bisa menemukan
jalan untuk mengamankan Charlie. Kemungkinan
besar mereka akan datang mencariku pada malam
hari, dan alasan apa yang bisa kuutarakan untuk
membuat Charlie keluar dari rumah? Bisa saja aku
menceritakan hal sebenarmu, capi ini akan
membuatnya mengurungku di ruangan tertutup
rapat. Aku rela-rela saja menjalani semua itu—
menerima dengan tangan terbuka, malah—bila itu
bisa membuat Charlie aman. Tapi Victoria tetap
akan datang ke rumah Charlie lebih dulu,
mencariku. Mungkin, bila ia menemukan aku di
sini, itu sudah cukup baginya. Mungkin ia akan

langsung pergi setelah selesai berurusan
denganku.
Jadi aku tidak bisa lari. Kalaupun bisa, mau
pergi ke mana? Ke Renee? Aku bergidik
membayangkan diriku membawa bayangan
mematikan itu ke dunia ibuku yang aman dan
bermandikan matahari. Aku tidak akan pernah
membahayakan nyawanya seperti itu.
Kekhawatiran itu meninggalkan lubang besar di
perutku. Tak lama lagi aku akan punya dua lubang
yang sama persis.
Malam itu Charlie kembali berbuat baik dan
meneleponkan Harry untukku, mencari tahu
apakah keluarga Black sedang ke luar kota. Harry
melaporkan bahwa Billy menghadiri rapat dewan
Rabu malam kemarin, dan tidak menyebut-nyebut
bakal pergi ke mana pun. Charlie mewanti-wantiku
untuk tidak mengganggu mereka—Jacob pasti
akan menelepon kalau sudah punya waktu.
Jumat siang, saat mengendarai truk sepulang
sekolah, pikiran itu sekonyong-konyong
menghantamku.
Aku tidak sedang memerhatikan jalan yang
sudah sangat kukenal, membiarkan suara mesin
menumpulkan otak dan membungkam
kekhawatiranku, saat alam bawah sadarku
menyampaikan keputusan yang selama ini pasti
disimpulkan dalam pikiranku tanpa aku sendiri
mengetahuinya.
Begitu hal tersebut terpikirkan olehku, aku
merasa diriku benar-benar tolol karena tidak sejak

dulu teringat hal itu. M' mang sih, aku sedang
banyak pikiran—vampir yang terobsesi ingin
membalas dendam, serigala mutan raksasa, lubang
yang masih basah di pusat dada—tapi setelah aku
menjajarkan semua bukti yang ada, sungguh
memalukan bahwa kesimpulan ini begitu jelas.
Jacob sengaja menghindariku. Kata Charlie, ia
tampak aneh, kesal... jawaban-jawaban Billy yang
samar dan tidak membantu.
Astaga, aku tahu persis apa yang terjadi pada
Jacob.
Pasti gara-gara Sam Uley. Bahkan mimpi
burukku pun berusaha memberi tahuku. Sam
berhasil mendapatkan Jacob. Apa pun yang terjadi
pada cowok-cowok lain di reservasi telah terjadi
juga pada temanku dan mereka mencurinya
dariku. Ia diisap masuk ke sekte Sam.
Bukan karena Jacob tak mau lagi berteman
denganku, aku menyadari dengan perasaan
terharu yang tiba-tiba menyerbu.
Kubiarkan trukku berhenti dengan mesin
menyala di depan rumahku. Apa yang sebaiknya
kulakukan? Aku menimbang-nimbang bahaya dari
setiap pilihan yang akan kuambil.
Kalau aku pergi mencari Jacob, bisa-bisa aku
menuntun Victoria atau Laurent ke rumahnya.
Kalau aku tidak pergi menemuinya, Sam akan
menariknya lebih dalam lagi ke gengnya yang
mengerikan itu. Mungkin akan terlambat kalau
aku tidak segera bertindak.

Seminggu telah berlalu, dan belum ada vampir
yang datang mencariku. Seminggu sudah lebih dari
cukup bagi mereka untuk kembali, jadi aku pasti
bukan prioritas. Besar kemungkinan, seperti yang
sudah kuputuskan sebelumnya, mereka akan
datang mencariku pada malam hari. Peluang
mereka mengikutiku ke La Push jauh lebih kecil
daripada peluang kehilangan Jacob karena
terpengaruh Sam.
Bahaya menyusuri jalanan hutan yang terpencil
sepadan dengan tujuanku. Ini bukan kunjungan
iseng untuk mengetahui apa "yang terjadi. Aku
sudah tahu apa yang terjadi. Ini misi
penyelamatan. Aku akan berbicara dengan Jacob—
menculiknya kalau perlu. Aku pernah melihat
tayangan di PBS tentang memprogram ulang
orang-orang yang sudah dicuci otak. Pasti ada cara
untuk memulihkannya.
Kuputuskan untuk menelepon Charlie lebih
dulu. Mungkin apa pun yang sedang terjadi di La
Push saat ini memerlukan keterlibatan polisi. Aku
menghambur masuk, tidak sabar lagi ingin segera
berangkat.
Charlie sendiri yang mengangkat telepon.
"Kepala Polisi Swan."
"Dad, ini Bella.”
"Ada apa?"
Kali ini aku tidak bisa membantah asumsinya
bahwa kalau aku menelepon pasti ada yang tidak
beres. Suaraku gemetar. "Aku mengkhawatirkan
Jacob."

"Kenapa?" tanya Charlie, terkejut oleh topik yang
tidak terduga-duga itu.
“Kupikir... kupikir sesuatu yang aneh sedang
terjadi di reservasi. Jacob pernah cerita tentang
hal-hal aneh yang terjadi pada cowok-cowok lain
sepantarnya. Sekarang, dia bertingkah sama
seperti mereka dan aku takut."
"Hal-hal seperti apa?" Charlie berbicara dengan
nada profesional khas polisi. Itu bagus; berarti ia
menanggapi keluhanku dengan serius.
“Mula-mula dia ketakutan, lalu dia
menghindariku, dan sekarang... aku takut dia
sudah bergabung dengan geng aneh di sana,
gengnya Sam. Gengnya Sam Uley."
“Sam Uley?" ulang Charlie, terkejut lagi
"Ya."
Suara Charlie terdengar lebih rileks waktu ia
menjawab. "Kurasa kau keliru, Bells. Sam Uley itu
anak baik. Well, sekarang dia sudah dewasa.
Pemuda baik. Coba saja kaudengar komentar Billy
mengenai dia. Sam melakukan hal-hal positif
dengan para pemuda di reservasi. Dia itu yang—"
Charlie tak melanjutkan kata-katanya, dan
menurutku ia tadi pasti hendak mengatakan
sesuatu tentang malam saat aku tersesat di hutan.
Aku buru-buru meneruskan kata-kataku.
"Dad, bukan begitu. Jacob takut padanya."
"Kau sudah bicara pada Billy tentang hal ini?"
Charlie berusaha menenangkanku sekarang. Aku

langsung kehilangan perhatiannya begitu
menyebut nama Sam tadi.
"Billy tidak merasa khawatir."
"Well, Bella, kalau begitu aku yakin semua beres.
Jacob kan, masih anak-anak; dia mungkin cuma
berulah. Aku yakin dia baik-baik saja.
Bagaimanapun, dia toh tidak bisa bersamamu
terus setiap saat."
"Ini tidak ada kaitannya denganku," aku
bersikeras, tapi percuma saja, aku sudah kalah.
"Menurutku, kau tidak perlu khawatir soal ini.
Biarkan Billy yang mengurus Jacob."
"Charlie..." Suaraku mulai merengek.
"Bells, urusanku banyak sekali sekarang. Dua
turis hilang dari jalan setapak di luar danau sabit."
Suaranya terdengar gelisah. "Masalah dengan
serigala ini jadi semakin tak terkendali."
Sejenak perhatianku teralih—terperangah, lebih
tepatnya— oleh kabar itu. Tak mungkin serigalaserigala
itu sela menghadapi Laurent...
"Dad yakin itu yang terjadi pada mereka?" tanya
“Itulah yang kutakutkan. Sayang. Ada—" Charlie
ragu-ragu sejenak. “Di sana ada jejak-jejak lagi.
dan... bercak darah juga kali ini"
“Oh! Kalau begini pasti tidak terjadi konfrontasi.
Laurent pasti berhasil lari dari kejaran serigalaserigala
itu, tapi mengapa? Apa yang kulihat di
padang rumput waktu itu semakin lama semakin
aneh—semakin mustahil untuk dipahami.

“Dengar, aku benar-benar harus pergi. Jangan
khawatirkan Jake, Bella. Aku yakin semuanya
beres."
“Baiklah," sergahku pendek, frustrasi karena
kata-katanya mengingatkanku pada krisis lebih
mendesak yang kuhadapi. "Bye." Kututup telepon.
Kupandangi pesawat telepon lama sekali. Masa
bodohlah, aku memutuskan.
Billy menjawab setelah dua deringan.
"Halo?"
"Hai, Billy," sapaku, nyaris menggeram. Aku
berusaha terdengar lebih ramah saat meneruskan
kata-kataku. "Bisa bicara dengan Jacob?”
"Jake pergi."
Sangat mengejutkan. "Anda tahu dia ke mana?"
"Pergi dengan teman-temannya." Suara Billy
hati-hati.
"Oh ya? Ada yang kukenal? Quil?" Kentara sekali
kata-kata itu tidak terlontar dengan sikap biasabiasa
saja seperti yang sebenarnya kumaksudkan.
"Bukan," jawab Billy lambat-lambat. "Kurasa dia
tidak pergi bersama Quil hari ini."
Aku tahu lebih baik aku tidak menyebut nama
Sam. "Embry?" tanyaku.
Billy terkesan lebih gembira karena bisa
menjawab pertanyaan yang satu ini. "Yeah, dengan
Embry."

Itu sudah cukup bagiku. Embry termasuk geng
mereka. "Well, bisa tolong suruh dia meneleponku
kalau sudah pulang nanti, ya?"
"Tentu, tentu. Tidak masalah." Klik.
"Sampai ketemu lagi, Billy," gerutuku di telepon
yang sudah mati.
Aku mengendarai trukku ke La Push, bertekad
hendak menunggu. Aku akan duduk di depan
rumahnya semalaman kalau perlu. Aku akan bolos
sekolah. Cepat atau lambat anak itu pasti pulang,
dan kalau itu terjadi, ia harus bicara denganku.
Otakku begitu sibuk memikirkan perjalanan
yang selama ini begitu takut kulakukan hingga
rasanya hanya butuh beberapa detik saja untuk
sampai ke sana. Tahu-tahu saja hutan sudah
mulai menipis, dan aku tahu sebentar lagi aku
akan bisa melihat rumah-rumah kecil pertama di
reservasi.
Berjalan menjauh, di sisi kiri jalan, tampak
cowok jangkung bertopi bisbol.
Napasku sempat tercekat sesaat di
tenggorokkan, berharap keberuntungan
memihakku sekali itu, dan aku tanpa sengaja
bertemu Jacob tanpa perlu bersusah-payah. Tapi
pemuda itu badannya terlalu lebar, dan rambut di
bawah topinya pendek. Bahkan dari belakang pun
aku yakin itu Quil, meski ia tampak lebih besar
daripada waktu aku terakhir kali melihatnya. Ada
apa dengan pemuda-pemuda Quileute ini? Apakah
mereka dicekoki hormon pertumbuhan hasil
eksperimen?

Aku meminggirkan trukku ke sisi jalan yang
berlawanan arah dan berhenti di sebelahnya. Quil
mendongak saat mendengar raungan mesin trukku
mendekat.
Ekspresi Quil lebih membuatku takut daripada
terkejut. Wajahnya muram, suntuk, dan dahinya
berlipat-lipat khawatir.
"Oh, hai, Bella," ia menyapaku muram.
"Hai, Quil... kau baik-baik saja?"
Quil menatapku sedih. "Baik.
"Mungkin aku bisa mengantarmu ke suatu
tempat?" aku menawarkan.
“Tentu kurasa," gumamnya. Ia berjalan tersaruksaruk
mengitari bagian depan truk dan membuka
pintu penumpang lalu naik.
“Ke mana."
"Rumahku di sisi utara, di belakang toko,"
katanya.
“Kau sudah bertemu Jacob hari ini?" Pertanyaan
itu terlontar dari mulutku bahkan sebelum Quil
selesai bicara.
Kutatap Quil penuh semangat, menunggu
jawabannya. Tapi Quil hanya memandang ke luar
kaca depan beberapa saat sebelum menjawab.
"Dari jauh," jawab Quil akhirnya.
"Dari jauh?" ulangku.
“Aku berusaha mengikuti mereka—dia bersama
Embry." Suara Quil rendah, sulit didengar di selasela
suara mesin. Aku mencondongkan tubuh lebih

dekat. "Aku tahu mereka melihatku. Tapi mereka
malah berbelok dan menghilang di balik
pepohonan. Kurasa mereka tidak sendirian—
kurasa Sam dan anggota gengnya ada bersama
mereka.
“Aku sudah satu jam berkeliaran di hutan,
memanggil-manggil mereka. Aku baru saja keluar
ke jalan lagi waktu kau datang.”
"Jadi Sam berhasil mendapatkannya." Kata-kata
itu tidak begitu jelas terdengar—gigiku terkatup
rapat.
Quil memandangiku. "Jadi kau tahu soal itu?”
Aku mengangguk. "Jake pernah bercerita
padaku... sebelum ini.”
"Sebelum ini," ulang Quil, dan mendesah.
"Jadi Jacob sekarang sama parahnya dengan
yang lain-lain?"
"Tidak pernah meninggalkan Sam sedetik pun."
Quil membuang muka dan meludah dari jendela
yang terbuka.
"Dan sebelum itu—apakah dia menghindari
semua orang? Tingkahnya aneh?"
Suara Quil rendah dan kasar. "Tidak selama
yang lain-lain. Mungkin hanya satu hari. Lalu Sam
menemuinya."
"Menurutmu, apa penyebabnya? Narkoba atau
sebangsanya?”
"Aku tak bisa membayangkan Jacob atau Embry
terlibat hal-hal kayak begitu... tapi aku tahu apa?

Apa lagi kalau bukan itu? Dan mengapa orangorang
tua tidak khawatir?" Quil menggelenggelengkan
kepala, dan rasa takut kini terpancar
dari matanya. "Jacob tak ingin menjadi bagian...
sekte ini. Aku tidak mengerti apa yang bisa
mengubahnya." Quil memandangiku, wajahnya
ketakutan. "Aku tidak ingin menjadi yang
berikutnya."
Mataku membayangkan ketakutan yang sama.
Ini kedua kalinya aku mendengarnya digambarkan
sebagai sekte. Tubuhku bergidik. "Orangtuamu
menanggapi ketakutanmu?"
Quil meringis. "Yang benar saja. Kakekku duduk
di dewan suku, sama seperti ayah Jacob. Sam Uley
itu pemuda terbaik yang pernah ada di sini, begitu
menurut kakekku."
Kami berpandangan beberapa saat. Kami sudah
sampai di La Push sekarang, dan trukku nyaris
merangkak di jalan yang lengang. Tampak olehku
satu-satunya toko di desa itu, tak jauh di depan.
“Aku turun saja sekarang." kata Quil. "Rumahku
di sana.” Ia menuding rumah petak kayu di
belakang toko. Kutepikan trukku, dan ia melompat
turun.
“Aku akan menunggu Jacob," kataku kaku.
Semoga beruntung." Quil membanting pintu dan
tersaruk-saruk menyusuri jalanan, kepala
tertunduk, bahu terkulai.
Wajah Quil menghantuiku saat aku memutar
truk, kembali ke rumah keluarga Black. Ia takut

menjadi yang berikutnya. Apa sebenarnya yang
terjadi di sini?
Aku berhenti di depan rumah Jacob, mematikan
mesin, dan menurunkan kaca jendela. Hari panas
terik, angin tidak bertiup. Kurumpangkan kedua
kakiku di dasbor, siap menunggu.
Sebuah gerakan berkelebat di sudut mataku—
aku menoleh dan melihat Billy memandangiku dari
balik jendela depan dengan mimik bingung. Aku
melambai dan menyunggingkan senyum kaku. tapi
tetap di tempatku.
Mata Billy menyipit; ia membiarkan tirai terjatuh
menutupi kaca jendela.
Aku siap menunggu selama mungkin, tapi aku
berharap ada yang bisa kulakukan. Kukeluarkan
bolpoin dari dasar ransel, serta selembar kertas
ulangan lama. Aku mulai mencoret-coret bagian
belakang kertas itu.
Aku baru sempat menggambar sebaris bentuk
belah ketupat waktu mendadak ada yang
menggedor pintu trukku.
Aku terlonjak, mendongak, mengira akan
melihat Billy.
"Sedang apa kau di sini, Bella?" geram Jacob.
Kupandangi dia, terperangah takjub.
Jacob berubah drastis selama beberapa minggu
aku tidak melihatnya. Hal pertama yang menarik
perhatianku adalah rambutnya—rambutnya yang
indah sudah lenyap, dipangkas pendek, menutupi
kepalanya bagaikan satin hitam mengilap. GarisTiraikasih

garis wajahnya tampak mengeras, lebih kaku...
menua. Leher dan bahunya juga berbeda, tampak
lebih padat. Tangannya, yang mencengkeram
bingkai jendela, tampak besar sekali, dengan otototot
tendon dan pembuluh darah menonjol di balik
kulitnya yang cokelat kemerahan. Tapi perubahan
fisik itu tidak penting.
Ekspresinyalah yang membuatnya nyaris tak
bisa dikenali lagi. Senyum terbuka dan ramah itu
kini lenyap, sama seperti rambutnya, sorot hangat
di matanya yang gelap berganti dengan sorot tidak
suka yang langsung terasa mengganggu. Ada
kegelapan dalam diri Jacob sekarang. Seolah-olah
matahariku telah meledak.
"Jacob?" bisikku.
Jacob hanya menatapku, matanya tegang dan
marah.
Sadarlah aku kami tidak sendirian. Di
belakangnya berdiri empat cowok lain; semuanya
jangkung dan berkulit cokelat kemerahan, rambut
hitam dipangkas pendek seperti rambut Jacob.
Mereka bisa disangka kakak-beradik—aku bahkan
tak bisa menentukan yang mana Embry di antara
kelompok itu. Kemiripan mereka semakin
dipertegas dengan sorot tidak suka yang samasama
terpancar dari setiap pasang mata.
Setiap pasang kecuali satu. Paling tua dengan
jarak beberapa tahun, Sam berdiri paling belakang,
wajahnya tenang dan yakin. Aku harus menelan
kembali kebencian yang merayap naik di
kerongkonganku. Ingin benar kuhajar dia. Tidak,
aku ingin melakukan lebih daripada itu. Lebih dari

segalanya, aku ingin tampak garang dan
mematikan, menjadi seseorang yang membuat
orang lain tak berani macam-macam. Seseorang
yang bakal membuat Sam Uley ketakutan setengah
mati.
Aku ingin menjadi vampir.
Keinginan bengis itu membuatku terpana dan
terkejut. Itu keinginan yang paling terlarang dari
semuanya—bahkan saat aku menginginkannya
hanya untuk alasan kejam seperti ini untuk
mengalahkan musuh—karena itulah yang paling
menyakitkan. Masa depan itu sudah hilang untuk
selama-lamanya, tidak pernah benar-benar berada
dalam jangkauanku. Aku berusaha mengendalikan
diriku lagi sementara lubang di dadaku berdenyutdenyut
hampa.
“Kau mau apa?" tuntut Jacob, ekspresinya
makin terlihat tidak suka sementara ia
menyaksikan berbagai emosi campur aduk di
wajahku.
“Aku ingin bicara denganmu," kataku dengan
suara lemah. Aku berusaha fokus tapi aku masih
kesal karena membiarkan impian tabuku tadi lepas
kendali.
"Silakan," desisnya dari sela-sela gigi yang
terkatup rapat. Sorot matanya garang. Belum
pernah aku melihatnya menatap siapa pun seperti
itu, apalagi aku. Hatiku sakit sekali—sakitnya
nyata, seperti tusukan di kepalaku.
"Sendirian!" desisku, dan suaraku lebih kuat.
Jacob menoleh ke belakang, dan aku tahu ke mana

matanya mengarah. Setiap pasang mata tertuju
pada Sam untuk mengetahui reaksinya.
Sam mengangguk satu kali, wajahnya sama
sekali tak tampak gelisah. Ia melontarkan
komentar pendek dalam bahasa yang mengalun
dan tidak kukenal—aku hanya tahu itu bukan
bahasa Prancis ataupun Spanyol, tapi dugaanku,
itu bahasa Quileute. Ia berbalik dan berjalan
masuk ke rumah Jacob. Yang lain-lain, Paul,
Jared, dan Embry, seperti kuduga, mengikutinya
masuk.
"Oke." Jacob tampaknya tidak terlalu marah lagi
setelah yang lain-lain pergi. Wajahnya kini sedikit
lebih tenang, tapi juga lebih tidak berdaya. Sudutsudut
mulutnya seperti tertarik ke bawah secara
permanen.
Aku menarik napas dalam-dalam. "Kau tahu apa
yang ingin kuketahui."
Jacob tidak menjawab. Ia hanya menatapku
getir.
Aku balas menatapnya dan kesunyian berlanjut.
Kepedihan di wajahnya membuat nyaliku lenyap.
Aku merasa kerongkonganku tercekat.
"Bisakah kita jalan-jalan?" tanyaku, mumpung
masih bisa bicara.
Jacob tidak menyahut; wajahnya tidak berubah.
Aku turun dari truk, merasakan mata-mata yang
tidak kelihatan menatapku dari balik jendela, lalu
mulai berjalan menuju pepohonan di utara. Kakiku
menginjak rerumputan lembab dan lumpur di

samping jalan, dengan suara berdecit, dan, karena
hanya itu satu-satunya suara yang terdengar,
awalnya aku mengira Jacob tidak mengikutiku.
Tapi waktu aku menoleh, ia sudah berjalan di
sisiku, entah bagaimana kakinya menemukan
pijakan yang tidak menimbulkan suara.
Aku merasa lebih tenang saat mencapai tepi
hutan, karena Sam tak mungkin bisa melihatku.
Sementara kami berjalan aku memeras otak,
memikirkan hal yang tepat untuk diutarakan, tapi
nihil. Sebaliknya aku malah semakin marah
karena Jacob tersedot semakin dalam... karena
Billy membiarkan ini terjadi... karena Sam bisabisanya
berdiri di sana dengan sikap tenang dan
penuh percaya diri...
Jacob tiba-tiba mempercepat langkah, berjalan
melewatiku dengan mudah dengan kedua kakinya
yang panjang, kemudian berbalik menghadapiku,
berdiri tepat di tengah jalan setapak sehingga aku
terpaksa berhenti juga.
Pikiranku sempat beralih sejenak ke gerakgeriknya
yang anggun dan mantap. Padahal selama
ini Jacob hampir sama kikuknya denganku
berkaitan dengan pertumbuhan badannya yang tak
pernah berakhir. Kapan itu berubah?
Tapi Jacob tidak memberiku kesempatan sama
sekali untuk memikirkannya.
"Mari kita tuntaskan,” katanya, suaranya keras
dan parau.
Aku menunggu. Ia tahu apa yang kuinginkan.

"Itu tidak seperti yang kaukira." Suaranya
sekonyong-konyong terdengar letih. "Ternyata tidak
seperti yang kukira—aku salah besar."
"Jadi apa, kalau begitu?"
Jacob mengamati wajahku lama sekali,
menimbang-nimbang. Amarah tak sepenuhnya
enyah dari matanya. "Aku tak bisa memberi
tahumu," katanya akhirnya.
Rahangku mengeras, dan aku berbicara dari
sela-sela gigiku yang terkatup rapat. "Kusangka
kita berteman."
"Dulu kita memang berteman." Ada sedikit
penekanan pada kata dulu.
"Tapi kau tidak membutuhkan teman lagi,"
tukasku masam. "Kau punya Sam. Bagus sekali,
bukan—sejak dulu kau memang kagum padanya."
"Aku tidak memahaminya sebelum ini."
"Dan sekarang kau sudah melihat kebenaran.
Haleluya"
“Ternyata itu tidak seperti yang kukira. Ini
bukan salah Sam. Dia membantuku sebisa
mungkin." Suara Jacob berubah rapuh, dan ia
memandang melampaui kepalaku, melewatiku,
amarah membara di matanya.
“Dia membantumu," aku mengulangi dengan
sikap ragu. "Jelas."
Tapi Jacob sepertinya tidak mendengarkan. Ia
menarik napas panjang dalam-dalam, berusaha

menenangkan diri. Ia sangat marah sampai-sampai
tangannya gemetar.
"Jacob, please,” bisikku. “Bisakah kauceritakan
saja padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin
aku bisa membantu."
"Tidak ada yang bisa membantuku sekarang."
Kata-kata itu meluncur dalam bentuk erangan
pelan; suaranya pecah.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tuntutku, air
mataku merebak. Aku mengulurkan tangan
padanya, seperti pernah kulakukan sebelumnya,
maju selangkah dengan kedua lengan terbuka
lebar.
Kali ini Jacob mengelak, mengangkat kedua
tangannya dengan sikap defensif. "Jangan sentuh
aku," bisiknya.
"Apakah Sam menular?" gumamku. Air mata
konyol itu lolos dari sudut-sudut mataku. Aku
menyekanya dengan punggung tangan, dan melipat
kedua lenganku di dada.
"Berhentilah menyalahkan Sam." Kata-kata itu
terlontar cepat, seperti refleks. Kedua tangan Jacob
terangkat ke atas, hendak memilin rambut yang
sudah tidak ada lagi, kemudian terkulai lemas ke
sisi tubuhnya.
"Kalau begitu aku harus menyalahkan siapa?"
sergahku.
Jacob menyunggingkan senyum separo; hal yang
muram dan aneh.
"Kau tidak ingin mendengar jawabannya."

"Siapa bilang tidak ingin!" sergahku. "Aku ingin
tahu, dan aku ingin tahu sekarang."
"Kau keliru," Jacob balas membentak.
"Jangan berani-berani mengatakan aku keliru—
bukan aku yang dicuci otak! Katakan padaku
sekarang siapa yang bersalah dalam hal ini, kalau
bukan Sam-mu yang berharga itu!"
"Kau sendiri yang minta," Jacob menggeram
padaku, matanya berkilat-kilat. "Kalau kau ingin
menyalahkan seseorang, mengapa tidak
kauarahkan saja jarimu pada makhluk-makhluk
pengisap darah kotor dan berbau busuk yang
sangat kaucintai itu?”
Mulutku ternganga dan napasku mengeluarkan
suara terkesiap kaget. Aku membeku di tempat,
tertusuk oleh kata-katanya yang setajam pisau.
Kepedihan mengoyak tubuhku dalam pola familier,
lubang basah itu terkoyak dari bagian dalam ke
luar, tapi itu belum apa-apa dibandingkan berbagai
pikiran kalut yang berkecamuk dalam benakku.
Aku tak yakin pendengaranku benar. Tidak sedikit
pun tampak tanda-tanda keraguan di wajahnya.
Hanya amarah.
Mulutku masih terus menganga lebar.
"Sudah kubilang kau pasti tidak ingin
mendengarnya," tukas Jacob.
"Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud,"
bisikku.
Jacob mengangkat sebelah alis dengan sikap tak
percaya. "Menurutku kau justru sangat mengerti

siapa yang kumaksud. Kau tidak menyuruhku
mengucapkan namanya, kan? Aku tidak mau
menyakitimu."
“Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud,"
ulangku seperti robot.
"Keluarga Cullen,” jawabnya lambat-lambat,
mengulur-ulur kata itu, mengamati wajahku saat
mengucapkannya. "Aku tahu itu—aku bisa melihat
di matamu apa akibatnya bila aku menyebut nama
mereka."
Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha
menyangkal sekaligus menjernihkan pikiran pada
saat bersamaan. Bagaimana ia bisa mengetahui hal
ini? Dan apa hubungan semua itu dengan sekte
Sam? Apakah mereka sekelompok pembenci
vampir? Apa gunanya membentuk kelompok
semacam itu bila tidak ada lagi vampir yang tinggal
di Forks? Mengapa Jacob justru mulai memercayai
cerita-cerita tentang keluarga Cullen sekarang,
setelah bukti kehadiran mereka sudah lama
lenyap, tidak akan pernah kembali lagi?
Lama sekali baru aku menemukan jawaban yang
tepat. "Jangan katakan sekarang kau percaya pada
cerita-cerita takhayul Billy," kataku dengan sikap
mengejek yang tidak terlalu meyakinkan.
"Ternyata dia lebih banyak tahu daripada yang
kukira."
"Bersikaplah serius, Jacob."
Jacob menatapku garang, sorot matanya
mengkritik.

"Terlepas dari soal takhayul," sergahku buruburu.
"Aku tetap tidak mengerti mengapa kau
menuduh keluarga..."—meringis—"Cullen. Mereka
pindah lebih dari setengah tahun lalu. Bagaimana
mungkin kau menyalahkan mereka atas apa yang
dilakukan Sam sekarang?"
"Sam tidak melakukan apa-apa, Bella. Dan aku
tahu mereka sudah pindah. Tapi terkadang... halhal
tertentu terjadi, dan semuanya sudah
terlambat."
"Hal-hal tertentu apa? Apa yang terlambat? Kau
menyalahkan mereka karena apa?"
Jacob tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke
wajahku, amarah berkobar-kobar di matanya.
"Karena mereka ada," desisnya.
Aku terkejut dan perhatianku tiba-tiba teralih
karena mendadak muncul kata-kata peringatan di
benakku dalam suara Edward, padahal saat itu
aku bahkan tidak sedang merasa takut.
"Diamlah sekarang, Bella. Jangan desak dia,"
Edward memperingatkan di telingaku.
Sejak nama Edward menerobos keluar dari
dinding pertahanan tempatnya terkubur selama
ini, aku tak bisa lagi menguncinya rapat-rapat.
Nama itu tak lagi menyakitkan hatiku – tidak
selama detik-detik berharga saat aku bisa
mendengar suaranya.
Jacob marah sekali di hadapanku, sekujur
tubuhnya gemetar oleh amarah.

Aku tidak mengerti mengapa delusi Edward
muncul tak terduga-duga dalam benakku. Jacob
memang marah, tapi ia tetap Jacob. Tidak ada
adrenalin, tidak ada bahaya.
"Beri dia kesempatan untuk menenangkan diri,"
suara Edward berkeras.
Aku menggelengkan kepala bingung. "Sikapmu
konyol," kataku pada mereka berdua.
“Terserah," sergah Jacob, kembali menarik
napas dalam-dalam. "Aku tidak mau berdebat
denganmu. Itu toh tidak penting lagi, karena sudah
telanjur."
"Apanya yang sudah telanjur?"
Jacob tidak kaget sedikit pun saat aku
meneriakkan kata-kata itu di wajahnya.
"Ayo kita kembali. Tidak ada lagi yang perlu
dibicarakan."
Aku ternganga. "Tentu saja masih ada! Kau
belum menjelaskan apa-apa!'
Jacob berjalan melewatiku, melangkah kembali
ke rumah.
"Aku bertemu Quil hari ini," teriakku. Jacob
menghentikan langkah, tapi tidak berbalik. "Kau
masih ingat temanmu, Quil? Yeah, dia ketakutan."
Jacob berbalik menghadapiku. Wajahnya sedih.
"Quil," hanya itu yang ia ucapkan
“Dia juga mengkhawatirkanmu. Dia sangat
ketakutan." Tatapan Jacob menerawang
melewatiku dengan sorot putus asa.

Aku semakin bersemangat mengomporinya. "Dia
takut ikan menjadi yang berikutnya."
Jacob berpegangan pada sebatang pohon,
wajahnya berubah kehijauan di bawah kulitnya
yang merah kecokelatan. "Dia takkan menjadi yang
berikutnya," gumam Jacob pada diri sendiri. "Tak
mungkin. Sekarang semua sudah selesai.
Seharusnya ini semua tidak terjadi lagi. Kenapa?
Kenapa?" Ia meninju pohon. Pohon itu tidak besar,
namun ramping dan kira-kira hanya semeter lebih
tinggi daripada Jacob. Tapi aku tetap terkejut saat
pohon itu roboh dengan bunyi keras.
Jacob menatap pohon itu dengan terkejut, lalu
pandangannya berubah ngeri.
"Aku harus kembali." Ia berbalik dan berjalan
pergi sangat cepat hingga aku harus berlari-lari
kecil untuk menyamai langkahnya.
"Kembali kepada Sam!"
"Bisa dibilang begitu," kedengarannya persis
seperti maksud Jacob. Ia bergumam dan tak mau
memandangku.
Aku mengejarnya sampai ke truk. "Tunggu!" aku
berteriak memanggil saat Jacob mengarah ke
rumahnya.
Ia berbalik menghadapku, dan kulihat
tangannya gemetaran lagi.
"Pulanglah, Bella. Aku tak bisa berteman
denganmu lagi" Kepedihan yang kurasakan,
meskipun sepertinya konyol dan tak penting,
benar-benar kuat. Air mata menggenangi mataku

lagi. "Apakah kau... mencampakkan aku?" Katakata
yang keluar salah, tapi itulah cara terbaik
yang bisa kupikirkan untuk bertanya padanya.
Bagaimanapun juga, apa yang Jake dan aku miliki
lebih dari sekadar cinta monyet. Ini lebih kuat
daripada itu.
Ia tertawa pahit. "Tidak. Jika aku
mencampakkanmu, aku akan bilang 'Kita lebih
baik berteman.' Tapi sekarang, aku bahkan tak
bisa mengatakan itu."
"Jacob... kenapa Sam tidak membolehkanmu
punya teman lain? Please, Jake. Kau sudah janji.
Aku membutuhkanmu!" Kehampaan hidupku
sebelum ini—sebelum Jacob membawa sedikit
alasan untuk hidup lagi ke dalam hidupku—
seakan bersiap menghadangku. Kesepian mencekik
tenggorokanku.
"Maafkan aku, Bella." Jacob mengucapkan setiap
kata perlahan-lahan dengan suara dingin yang
sepertinya bukan miliknya.
Aku tak percaya itu yang sebenarnya ingin
diucapkan Jacob. Sepertinya ada hal lain yang
berusaha ia katakan lewat sorot matanya yang
marah, tapi aku tak bisa memahami pesan itu.
Mungkin ini sama sekali bukan tentang Sam.
Mungkin ini juga tak ada hubungannya dengan
keluarga Cullen. Mungkin Jacob hanya berusaha
keluar dari situasi yang tak mungkin berubah, tak
ada harapan. Mungkin seharusnya aku
membiarkan ia melakukan itu, jika itu yang terbaik
untuknya. Aku harus melakukan itu. Itu hal yang
benar.

Tapi aku mendengar suaraku berbisik.
"Aku minta maaf tak bisa... sebelum... kuharap
aku bisa mengubah perasaanku terhadapmu,
Jacob." Aku putus asa, berusaha menggapai,
mengulur kebenaran begitu jauhnya hingga katakataku
nyaris melengkung menjadi kebohongan.
"Mungkin... mungkin aku bisa berubah," aku
berbisik. "Mungkin, kalau kau memberiku sedikit
waktu... Tapi jangan menyerah terhadapku
sekarang, Jake. Aku takkan bisa bertahan."
Wajahnya berubah dari marah menjadi sedih
dalam sedetik. Satu tangannya yang masih
gemetaran terulur menggapaiku.
"Tidak. Jangan berpikir begitu, Bella, please.
Jangan salahkan dirimu, jangan pikir ini salahmu.
Ini semua salahku. Sumpah, ini sama sekali bukan
salahmu.”
"Bukan salahmu, tapi salahku," aku berbisik.
"Pasti sudah ada yang baru untukmu."
"Aku sungguh-sungguh, Bella. Aku tidak..."
Jacob berjuang menyelesaikan kalimatnya,
suaranya semakin serak saat ia berusaha
mengendalikan emosi. Sorot matanya tersiksa.
"Aku tidak cukup baik untuk menjadi temanmu
lagi, atau apa pun. Aku tidak seperti dulu lagi. Aku
tidak baik."
"Apa?" Kupandangi dia, bingung dan heran. "Kau
ini bicara apa? Kau jauh lebih baik daripada aku,
Jake. Kau baik! Siapa yang mengatakan kau tidak
baik? Sam? Itu kebohongan yang keji, Jacob!

Jangan biarkan dia berkata begitu padamu!" aku
tiba-tiba berteriak lagi.
Wajah Jacob keras dan datar. "Tidak ada yang
memberi tahuku. Aku tahu siapa diriku."
"Kau temanku, itulah kau! Jake—jangan!"
Jacob mundur menjauhi ku.
"Maafkan aku, Bella," katanya lagi; kali ini hanya
berupa gumaman lirih. Ia berbalik dan hampirhampir
berlari memasuki rumah.
Aku tak sanggup bergerak dari tempatku berdiri.
Kupandangi rumah kecil itu; tampaknya rumah itu
terlalu kecil untuk menampung empat cowok
berbadan besar dan dua pria yang bahkan lebih
besar lagi. Tidak ada reaksi apa pun di dalam.
Tidak ada kibasan pada tirai jendela, tidak ada
suara-suara ataupun gerakan. Rumah itu
menatapku kosong.
Hujan mulai turun rintik-rintik, menusuk
kulitku di sana-sini. Aku tak mampu mengalihkan
pandangan dari rumah itu. Jacob akan keluar lagi.
Pasti.
Hujan turun semakin deras, angin juga bertiup
semakin kencang. Tetesan air tak lagi jatuh dari
atas; air hujan kini menyamping dari barat.
Tercium olehku bau garam dan lautan. Rambutku
menampari wajah, menempel di bagian-bagian
yang basah dan menjerat bulu mataku. Aku
menunggu.
Akhirnya pintu terbuka, dan dengan lega aku
maju selangkah.

Billy menggelindingkan kursi rodanya ke
ambang pintu. Aku tidak melihat siapa-siapa di
belakangnya.
“Charlie baru saja menelepon, Bella. Kukatakan
padanya kau sudah dalam perjalanan pulang."
Matanya menyorotkan rasa iba.
Sorot iba itulah yang menggerakkanku. Aku
tidak berkomentar. Aku hanya berbalik seperti
robot dan naik ke truk. Aku tadi membiarkan kacakaca
jendela terbuka, jadi jok mobilku kan dan
basah. Tidak apa-apa. Aku toh sudah kepalang
basah kuyup.
Ini bukan apa-apa! Ini bukan apa-apa! pikiranku
berusaha menghiburku. Itu benar. Im memang
bukan apa-apa. Ini bukan akhir dunia, tidak lagi.
Ini hanyalah akhir dari secuil kedamaian yang
tertinggal. Hanya itu.
Ini bukan apa-apa, aku sependapat, lalu
menambahkan, tapi ini cukup menyakitkan.
Kusangka selama ini Jake memulihkan lubang
dalam diriku—atau setidaknya menambalnya,
menjaganya agar tidak terlalu menyakitiku.
Ternyata aku salah. Ternyata selama ini ia
memahat lubangnya sendiri, sehingga sekarang
hatiku bolong-bolong seperti keju Swiss. Dalam
hati aku bertanya-tanya mengapa aku tidak
hancur berkeping-keping.
Charlie sudah menunggu di teras. Begitu trukku
berhenti, ia menghampiriku.

"Billy menelepon. Katanya kau bertengkar
dengan Jake-katanya kau sangat kalut,” ia
menjelaskan sambil membukakan pintu untukku.
Lalu ia memandang wajahku. Ekspresi
mengenali yang penuh kengerian tergambar di
wajahnya. Aku berusaha merasakan wajahku dari
dalam, untuk mencari tahu apa yang dilihatnya.
Wajahku kosong dan dingin, dan sadarlah aku
wajahku ini mengingatkan Charlie pada apa.
"Kejadiannya tidak seperti itu," gumamku.
Charlie merangkulku dan membantuku turun
dari truk. Ia tidak mengomentari bajuku yang
basah kuyup.
"Kalau begitu apa yang terjadi?" tanyanya
sesampainya di dalam. Ditariknya selimut yang
tersampir di punggung sofa dan dililitkannya di
bahuku. Sadarlah aku sekujur tubuhku masih
gemetaran.
Suaraku hampa tak bernyawa. "Kata Sam Uley,
Jacob tidak boleh berteman lagi denganku."
Charlie melayangkan pandangan aneh ke
arahku. "Siapa yang bilang begitu?"
"Jacob," jawabku, meski tidak persis begitu yang
ia katakan. Tapi itu tetap benar.
Alis Charlie bertaut. "Kau benar-benar merasa
ada yang tidak beres dengan pemuda Uley ini?"
"Aku yakin. Tapi Jacob tidak mau memberi tahu
apa itu." Aku bisa mendengar air menetes-netes
dari bajuku ke lantai dan menciprat di linoleum.
"Aku mau ganti baju dulu."

Charlie tenggelam dalam pikirannya. "Oke,"
sahutnya sambil lalu.
Aku memutuskan untuk mandi karena merasa
sangat kedinginan, tapi air panas ternyata tidak
bisa memengaruhi suhu kulitku. Aku masih
kedinginan ketika akhirnya aku menyerah dan
mematikan air. Dalam suasana yang mendadak
hening, aku bisa mendengar Charlie berbicara
dengan seseorang di bawah. Aku membungkus
rubuhku dengan handuk, lalu membuka pintu
kamar mandi secelah.
Suara Charlie terdengar marah. “Aku tidak
percaya. Itu tidak masuk akal."
Kemudian suasana sepi, dan barulah aku sadar
Charlie sedang berbicara di telepon. Saru menit
berlalu.
"Jangan menyalahkan Bella!" Charlie tiba-tiba
berteriak. Aku terlonjak. Ketika ia bicara lagi,
suaranya hati-hati dan lebih rendah. "Selama ini
Bella dengan jelas menyatakan dia dan Jacob
hanya berteman... Well, kalau memang begitu,
mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal?
Tidak, Billy menurutku dia benar dalam hal ini...
Karena aku tahu bagaimana anak perempuanku,
dan kalau menurutnya Jacob ketakutan sebelum
ini—" Charlie berhenti bicara, dan waktu
menjawab, ia nyaris berteriak lagi.
“Apa maksudmu aku tidak kenal anak
perempuanku sebaik yang kukira!" Ia
mendengarkan sebentar, dan responsnya sangat
pelan hingga nyaris tak bisa kutangkap. "Kalau
kaupikir aku akan mengingatkannya tentang hal

itu, sebaiknya kau berpikir lagi. Dia baru mulai
bisa melupakannya, dan sebagian besar karena
Jacob, kurasa. Kalau apa pun yang dilakukan
Jacob dengan si Sam ini membuat Bella kembali
terpuruk dalam depresi, maka Jacob harus
berurusan denganku. Kau memang temanku, Billy,
tapi ini menyakiti keluargaku." Charlie kembali
terdiam saat Billy menjawab.
“Kau benar—sekali saja anak-anak itu
melanggar aturan, aku pasti akan tahu
mengenainya. Kami akan mengawasi situasi ini,
kau boleh yakin akan hal itu." Ia bukan lagi
Charlie; sekarang ia Kepala Polisi Swan.
“Baik. Yeah. Bye." Telepon dibanting keraskeras.
Aku berjingkat-jingkat cepat melintasi lorong
dan masuk ke kamarku. Charlie menggerutu
marah di dapur.
Jadi Billy hendak menyalahkan aku. Aku
memberi harapan pada Jacob dan akhirnya ia
muak.
Sungguh aneh, karena itu juga yang
kutakutkan, tapi setelah mendengar perkataan
Jacob sore tadi, aku tidak percaya lagi bahwa
itulah yang menjadi penyebabnya. Ada hai lain
selain cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan
sungguh mengagetkan bila Billy sampai harus
menggunakan itu sebagai alasan. Itu membuatku
berpikir bahwa rahasia apa pun yang mereka
simpan pastilah lebih besar daripada yang selama
ini kubayangkan. Setidaknya Charlie memihakku
sekarang.

Aku memakai piama lalu merangkak naik ke
tempat tidur. Hidup saat ini sudah terasa cukup
gelap hingga kubiarkan diriku melanggar janjiku
sendiri. Lubang itu—sekarang ada lebih dari satu
lubang—toh sudah terasa menyakitkan, jadi
mengapa tidak? Kutarik keluar kenanganku—
bukan kenangan sesungguhnya yang pasti akan
terlalu menyakiti, tapi kenangan palsu tentang
suara Edward dalam benakku sore tadi—dan
memutarnya berulang kali di kepalaku sampai aku
tertidur dengan air mata masih menuruni wajahku
yang kosong.
Mimpiku baru malam ini. Hujan turun dan
Jacob berjalan tanpa suara di sampingku, meski di
bawah kakiku tanah yang kuinjak bergemeretak
seperti kerikil kering. Tapi ia bukan Jacob-ku; ia
Jacob yang baru, masam, dan anggun. Gaya
berjalannya yang anggun dan mantap
mengingatkanku pada seseorang yang lain, dan,
saat kuperhatikan, garis-garis wajahnya berubah.
Kulitnya yang cokelat kemerahan memudar,
meninggalkan seraut wajah putih pucat bagai
tulang. Matanya berubah warna menjadi emas.
kemudian merah, lalu emas lagi. Rambutnya yang
dipangkas pendek acak-acakan tertiup angin,
berubah warna menjadi tembaga begitu angin
menyentuhnya. Dan wajahnya berubah sangat
tampan hingga membuat hatiku hancur berkepingkeping.
Aku mengulurkan tangan ke arahnya, tapi
ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangan
seperti tameng. Kemudian Edward menghilang.
Aku tak yakin, waktu aku terbangun di
kegelapan, apakah aku baru mulai menangis,

ataukah air mataku mengalir saat aku tidur dan
terus mengalir sampai sekarang. Kutatap langitlah
kamar yang gelap. Aku bisa merasakan sekarang
sudah tengah malam – aku masih separo tertidur,
mungkin malah masih tidur. Kupejamkan mataku
dengan letih, berdoa semoga tidurku tidak
diganggu mimpi lagi.
Saat itulah aku mendengar suara yang
membuatku terbangun tadi. Suara sesuatu yang
tajam menggesek permukaan jendela dan
menimbulkan bunyi berderit yang melengking
tinggi, seperti suara kuku menggores kaca.

12. PENYUSUP
KEDUA mataku membelalak ngeri, padahal aku
sangat kelelahan dan bingung sampai-sampai tak
yakin apakah aku sudah bangun atau masih tidur.
Sesuatu menggaruk-garuk kaca jendelaku lagi
dengan suara melengking tinggi yang sama.
Bingung dan kikuk karena mengantuk, aku
tersaruk-saruk turun dari tempat tidur dan
melangkah ke jendela, mengerjap-ngerjapkan air
mata yang masih menggenang di mataku.
Sosok hitam besar bergelantungan goyah di sisi
luar kaca jendela, menerjang ke arahku seperti
hendak menabrak kaca. Aku terhuyung-huyung
mundur, ngeri, kerongkonganku tercekat hendak
menjerit.

Victoria.
Ia datang mencariku.
Mati aku.
Jangan Charlie juga!
Kutelan lagi jeritan yang sudah menggumpal di
tenggorokanku Aku tak boleh bersuara. Entah
bagaimana caranya. Pokoknya jangan sampai
Charlie datang memeriksa...
Kemudian suara parau yang sudah sangat
kukenal keluar dari sosok gelap itu.
“Bella!” sosok itu mendesis. "Aduh! Brengsek,
buka jendelanya! ADUH!”
Butuh dua detik untuk mengenyahkan rasa
takut sebelum aku bisa bergerak, tapi kemudian
aku bergegas ke jendela dan mendorong kacanya.
Awan-awan diterangi cahaya remang di baliknya
cukup untuk membuatku bisa mengenal, sosok
itu.
"Sedang apa kau?" aku terkesiap.
Jacob bergelayut goyah di pucuk tanaman yang
tumbuh di tengah-tengah halaman kecil Charlie.
Bobot tubuhnya membuat pohon itu merunduk ke
arah rumah dan sekarang ia berayun—kalanya
bergelantungan enam meter di atas tanah—tak
sampai semeter dariku. Ranting-ranting kurus di
pucuk pohon menggaruk-garuk dinding rumah lagi
dengan suaranya yang berderit-derit.

“Aku mencoba menepati"—Jacob terengahengah,
memindahkan berat badannya saat puncak
pohon memantulkannya— janjiku!"
Aku mengerjapkan pandanganku yang kabur,
mendadak yakin aku tengah bermimpi.
“Kapan kau pernah berjanji untuk bunuh diri
dengan jatuh dari pohon Charlie?”
Jacob mendengus, menganggap gurauanku tidak
lucu, mengayunkan kaki agar bisa lebih seimbang.
"Minggir," perintahnya.
"Apa?"
Jacob mengayunkan kalanya lagi, ke belakang
dan ke depan, meningkatkan momentum. Sadarlah
aku apa yang hendak dilakukannya.
"Jangan. Jake!"
Tapi aku merunduk juga ke samping, karena
sudah terlambat. Sambil menggeram Jacob
menerjang ke jendela kamarku yang terbuka.
Jeritan lain siap terlontar dari kerongkonganku
saat menunggu Jacob terjatuh dan mati—atau
paling tidak cedera membentur papan kayu. Tapi
aku benar-benar shock waktu ia dengan tangkas
mengayun masuk ke dalam kamar, mendarat
dengan tumit mencium lantai dan suara berdebum
pelan.
Tatapan kami otomatis mengarah ke pintu,
menahan napas, menunggu apakah suara tadi
membangunkan Charlie. Kesunyian berlalu
beberapa detik, kemudian kami mendengar suara
dengkur tertahan Charlie.

Cengiran lebar lambat-lambat merekah di wajah
Jacob; tampaknya ia sangat puas pada diri sendiri.
Itu bukan cengiran seperti yang selama ini kukenal
dan kusukai—tapi cengiran baru, yang seolah
mengejek keluguannya dulu, di wajah baru yang
kini menjadi milik Sam.
Itu agak keterlaluan bagiku.
Aku menangisi cowok ini sampai ketiduran.
Penolakan kasarnya tadi meninggalkan lubang
baru yang menyakitkan di dadaku. Ia
meninggalkan mimpi buruk yang baru, seperti
infeksi pada luka—penghinaan setelah perlakuan
buruk. Dan sekarang ia datang ke kamarku,
tersenyum mengejek seolah-olah semua itu tak
pernah terjadi. Dan lebih parahnya lagi, walaupun
kedatangannya berisik dan canggung, ulahnya
mengingatkanku pada Edward ketika dulu ia
sering menyusup masuk lewat jendela malammalam,
dan kenangan itu semakin memedihkan
luka hatiku yang belum sembuh.
Semua ini, ditambah fakta bahwa aku sangat
kelelahan, membuat suasana hatiku jadi buruk.
"Keluar!" desisku, sebisa mungkin membuat
bisikanku terdengar ketus.
Jacob mengerjapkan mata, wajahnya berubah
kosong karena terkejut.
"Tidak," protesnya. "Aku datang untuk meminta
maaf."
"Aku tidak terima!”

Aku berusaha mendorongnya kembali ke luar
jendela—bagaimanapun juga, kalau ini mimpi, ia
tidak akan cedera apa-apa. Tapi ternyata tak ada
gunanya. Aku tak sanggup menggerakkan
tubuhnya sedikit pun. Cepat-cepat kujatuhkan
tanganku, lalu mundur menjauhinya.
Ia tidak mengenakan pakaian, walaupun angin
yang bertiup masuk dari jendela cukup dingin
untuk membuatku gemetar, dan aku merasa tak
nyaman memegang dadanya yang telanjang.
Kulitnya panas membara, seperti kepalanya waktu
aku terakhir kali menyentuhnya dulu. Seolah-olah
ia masih demam tinggi.
Ia tidak kelihatan sakit. Ia terlihat besar. Jacob
mencondongkan tubuh ke arahku, besar sekali
hingga menutupi jendela, bingung melihat reaksiku
yang sengit.
Sekonyong-konyong aku tak sanggup
menanggungnya lagi—rasanya seolah-olah semua
akibat dari kurang tidur yang kualami sekian lama
menerjangku sekaligus. Aku capek sekali hingga
rasanya ingin ambruk ke lantai saat itu juga.
Tubuhku limbung, dan aku berjuang keras
menjaga mataku tetap terbuka.
"Bella?" bisik Jacob waswas. Diraihnya sikuku
waktu aku limbung lagi, lalu digiringnya aku ke
tempat tidur. Kakiku lunglai begitu aku sampai di
pinggir tempat tidur, dan kujatuhkan kepalaku
yang lemas ke kasur.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Jacob, perasaan
waswas membuat keningnya berkerut.

Aku menengadah memandanginya, air mata di
pipiku belum sepenuhnya kering. "Bagaimana aku
bisa baik-baik saja, Jacob?"
Kesedihan menggantikan sebagian kepahitan di
wajahnya. "Benar," Jacob sependapat, lalu
menghela napas dalam-dalam. "Brengsek. Well,
aku—aku minta maaf, Bella" Permintaan maaf itu
tulus, tak diragukan lagi, meski masih ada kerutkerut
marah di wajahnya.
"Mengapa kau datang ke sini? Aku tidak
menginginkan permintaan maaf darimu, Jake."
"Aku tahu," bisiknya. "Tapi aku tak bisa
membiarkan kita berpisah seperti sore tadi. Benarbenar
tidak menyenangkan. Maafkan aku."
Aku menggeleng letih. "Aku tidak mengerti sama
sekali."
“Aku tahu. Aku ingin menjelaskan—" Mendadak
Jacob berhenti bicara, mulutnya ternganga, hampir
seolah-olah ada sesuatu yang memutus aliran
udaranya. Lalu ia menghirup napas dalam-dalam.
"Tapi aku tak bisa menjelaskan," katanya, masih
marah. "Kalau saja aku bisa."
Kubiarkan kepalaku jatuh ke tangan.
Pertanyaanku terbenam oleh lenganku. "Kenapa?"
Jacob terdiam sesaat. Kuputar wajahku ke satu
sisi—terlalu letih untuk menegakkannya—untuk
melihat ekspresinya. Wajahnya membuatku
terkejut. Matanya menyipit, giginya terkatup rapat,
dahinya berkerut-kerut seolah sedang mengerah
kan segenap kekuatan.

"Ada apa?" tanyaku.
Jacob mengembuskan napas berat, dan aku
sadar selama ini ia juga menahan napas. "Aku
tidak bisa melakukannya," gumamnya, frustrasi.
“Melakukan apa?”
Jacob mengabaikan pertanyaanku. "Dengar,
Bella, pernahkah kau punya rahasia yang tidak
bisa kauceritakan pada siapa-siapa?"
Ia menatapku dengan sorot mengerti, dan
pikiranku langsung melompat ke keluarga Cullen.
Mudah-mudahan saja ekspresiku tidak terlihat
bersalah.
"Sesuatu yang tidak bisa kauberitahukan pada
Charlie, pada ibumu?" desaknya. "Sesuatu yang
bahkan tak bisa kaubicarakan denganku? Bahkan
sekarang pun tidak?"
Aku merasakan tatapanku mengeras. Aku tidak
menjawab pertanyaannya, meski tahu ia akan
mengartikan itu sebagai pembenaran.
"Bisakah kau mengerti bahwa... situasiku saat
ini juga kurang-lebih sama?" Ia kembali terbatabata,
seolah berusaha mencari kata-kata yang
tepat. "Terkadang loyalitas menghalangimu
melakukan hal yang kauinginkan. Terkadang kau
tidak bisa menceritakan rahasia itu karena tidak
berhak menceritakannya."
Aku tak bisa membantah. Ia benar sekali—aku
menyimpan rahasia yang tak berhak kuceritakan,
namun yang wajib kulindungi. Rahasia yang, tibatiba,
seolah-olah ia tahu mengenainya.

Aku masih belum memahami hubungan antara
rahasia ini dengan dia, atau Sam, atau Billy. Apa
hubungannya semua ini dengan mereka, apalagi
sekarang keluarga Cullen sudah pergi?
"Aku tak tahu mengapa kau datang ke sini,
Jacob, kalau tujuanmu hanya untuk berteka-teki
denganku, bukannya memberi jawaban."
"Maafkan aku" bisiknya. "Ini benar-benar
membuatku frustrasi."
Beberapa saat kami berpandangan di kamar
yang gelap, wajah kami sama-sama tidak memiliki
harapan.
"Bagian yang paling menyakitiku," kata Jacob
sekonyong-konyong, "adalah bahwa kau
sebenarnya sudah tahu. Aku sudah menceritakan
semuanya padamu!"
"Apa maksudmu?"
Jacob terkesiap kaget, kemudian
mencondongkan tubuhnya ke arahku, wajahnya
berubah dari tidak memiliki harapan ke penuh
semangat meluap-luap hanya dalam hitungan
detik. Ia menatap mataku berapi-api, wajahnya
antusias dan penuh semangat. Ia mengucapkan
kata-kata itu tepat di mukaku; embusan napasnya
sepanas kulitnya.
"Kurasa aku tahu bagaimana mengakalinya—
karena sebenarnya kau sudah tahu, Bella! Aku
tidak boleh menceritakannya padamu, tapi lain
halnya kalau kau bisa menebaknya! Aku tidak bisa
dibilang membocorkan rahasia!"

"Kau mau aku menebak? Menebak apa?"
"Rahasiaku! Kau pasti bisa—kau sudah tahu
jawabannya!"
Aku mengerjap dua kali, mencoba menjernihkan
pikiran. Aku lelah sekali. Tak satu pun perkataan
Jacob masuk akal bagiku.
Jacob melihat ekspresiku yang kosong,
kemudian wajahnya kembali mengeras,
mengerahkan segenap kekuatan. "Tunggu, aku
akan memberimu sedikit bantuan" katanya. Apa
pun yang coba ia lakukan, itu sangat sulit karena
napasnya sampai terengah-engah.
"Bantuan?" tanyaku, berusaha mengikuti
pembicaraannya.
Kelopak mataku terasa berat, tapi kupaksa
mataku agar tetap terbuka.
"Yeah," ujarnya, napasnya berat. "Seperti
petunjuk, misalnya.”
Jacob merengkuh wajahku dengan tangannya
yang besar dan kelewat panas, memegangnya
hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Ditatapnya mataku dalam-dalam sementara ia
berbisik, seolah-olah berusaha memberi tahukan
sesuatu di balik kata-kata yang ia ucapkan.
"Kau masih ingat waktu kita pertama kali
bertemu—di tepi pantai di La Push?"
"Tentu saja masih."
"Ceritakan padaku mengenainya."

Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba
berkonsentrasi. "Kau menanyakan trukku..."
Jacob mengangguk, mendorongku untuk
melanjutkan. "Kita mengobrol tentang Rabbit..."
"Teruskan."
"Kita berjalan-jalan di tepi pantai..." Pipiku mulai
panas di bawah telapak tangan Jacob saat
pikiranku melayang ke hari itu, tapi Jacob tidak
menyadarinya, karena kulitnya sendiri panas.
Waktu itu aku mengajaknya jalan-jalan,
menggodanya dengan maksud ingin menggali
informasi darinya.
Jacob mengangguk, cemas menunggu
kelanjutannya.
Suaraku nyaris tak terdengar. "Kau
menceritakan kisah- kisah menyeramkan... legenda
suku Quileute."
Jacob memejamkan mata dan membukanya lagi.
"Ya." Kata itu terucap dengan tegang, bersungguh sungguh,
seolah-olah ia sedang berada di tepi
sesuatu yang vital. Ia berbicara lambat-lambat,
setiap kata diucapkan dengan jelas. "Kau ingat apa
yang kuceritakan waktu itu?"
Bahkan dalam gelap, ia pasti bisa melihat
perubahan rona wajahku. Bagaimana aku bisa
melupakannya? Tanpa menyadari apa yang ia
lakukan, Jacob memberi tahu apa yang perlu
kuketahui hari itu—bahwa Edward adalah vampir.
Jacob menatapku dengan mata yang tahu terlalu
banyak. "Pikirkan baik-baik" katanya.

"Ya, aku ingat," desahku.
Jacob menghela napas dalam-dalam, berusaha
keras mengendalikan perasaannya. "Apa kau ingat
semua cerita—" Ia tak mampu menyelesaikan
pertanyaan. Mulutnya ternganga seakan-akan
sesuatu mengganjal kerongkongannya.
"Semua ceritanya?" tanyaku.
Jacob mengangguk bisu.
Kepalaku seperti diaduk-aduk. Hanya satu cerita
yang benar-benar penting. Aku tahu Jacob juga
menceritakan hal-hal lain, tapi aku tak bisa
mengingat cerita pendahuluannya yang tidak
penting, apalagi otakku saat ini rasanya tumpul
saking lelahnya. Aku mulai menggeleng-gelengkan
kepala.
Jacob mengerang dan melompat turun dari
tempat tidur. Ia menekankan tinjunya ke kening
dan bernapas dengan cepat dan marah. "Kau
sudah tahu, kau sudah tahu," gerutunya pada diri
sendiri.
"Jake? Jake, please, aku lelah sekali. Aku tidak
bisa berpikir sekarang. Mungkin besok..."
Jacob menarik napas untuk menenangkan diri
dan mengangguk. "Mungkin nanti kau akan ingat.
Kurasa aku mengerti mengapa kau hanya ingat
satu cerita saja," imbuhnya dengan nada menyindir
dan getir. "Kau keberatan, tidak, kalau aku
bertanya sesuatu tentang hal itu?" tanyanya,
nadanya masih sinis. "Sudah sejak lama aku ingin
tahu.”

“Tentang apa?” tanyaku waswas.
"Tentang cerita vampir yang kuceritakan
padamu."
Kupandangi dia dengan sorot waspada, tak
mampu menjawab. Tanpa menunggu
persetujuanku, Jacob tetap mengajukan
pertanyaannya.
"Benarkah waktu itu kau memang tidak tahu?"
tanyanya, suaranya berubah parau. "Benarkah aku
yang pertama kali memberi tahumu siapa dia
sesungguhnya?"
Bagaimana ia bisa mengetahuinya? Mengapa ia
memutuskan untuk percaya, mengapa baru
sekarang? Gigiku mengatup rapat. Kubalas
tatapannya, tak berniat menjawab. Jacob
menyadarinya.
"Kau mengerti kan, apa yang kumaksud dengan
loyalitas?" gumamnya, suaranya semakin parau.
"Hal yang sama juga terjadi padaku, tapi lebih
parah. Kau tak bisa membayangkan betapa
kuatnya aku terikat..."
Aku tidak suka itu—tidak suka melihatnya
memejamkan mata seolah-olah kesakitan saat
mengatakan dirinya terikat tadi. Lebih dari sekadar
tidak suka—aku sadar bahwa aku benci, membenci
apa pun yang menyakitinya. Sangat benci.
Wajah Sam memenuhi pikiranku.
Bagiku, ini semua intinya adalah sesuatu yang
secara sukarela dilakukan. Aku menjaga rahasia

keluarga Cullen karena cinta: tidak berbalas, tapi
sejati. Bagi Jacob, tidak harus menjadi seperti itu.
"Apakah kau tak bisa membebaskan diri?"
bisikku, menyentuh pinggiran kasar di bagian
belakang rambutnya yang pendek
Tangan Jacob mulai gemetar, tapi ia tidak
membuka mata. "Tidak. Aku terikat di dalamnya
seumur hidup. Seperti hukuman penjara seumur
hidup." Tawa sinis. "Lebih lama daripada itu,
mungkin."
"Tidak, Jake," erangku. "Bagaimana kalau kita
kabur? Hanya kau dan aku. Bagaimana kalau kita
lari dari rumah, dan meninggalkan Sam?"
"Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan
dengan kabur dari rumah, Bella," bisik Jacob. "Aku
mau saja kabur bersamamu, tapi... seandainya
bisa." Bahunya kini ikut gemetar. Ia menghela
napas dalam-dalam. "Sudahlah, aku harus pergi."
"Kenapa?"
"Pertama, sepertinya kau nyaris ambruk setiap
saat. Kau butuh tidur—aku ingin kau sehat dan
bugar sehingga bisa berpikir jernih. Kau harus bisa
menyimpulkannya, kau harus bisa"
"Lalu kenapa lagi?"
Kening Jacob berkerut. "Aku harus menyelinap
pergi diam-diam—seharusnya aku tak boleh
menemuimu. Mereka pasti bertanya-tanya di mana
aku sekarang." Mulutnya berkerut. "Kurasa aku
harus tetap menceritakannya pada mereka."

"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa pada
mereka" desisku.
"Bagaimanapun, aku akan tetap
mengatakannya."
Amarah berkobar dalam dadaku. "Aku benci
mereka!"
Jacob menatapku dengan mata membelalak
lebar, terkejut. "Tidak, Bella. Jangan benci mereka.
Ini bukan salah Sam ataupun salah satu dari
mereka. Seperti sudah kukatakan padamu
sebelumnya—ini salahku. Sesungguhnya Sam itu...
Well, luar biasa baik. Jared dan Paul juga baik,
walaupun Paul agak sedikit... Dan Embry temanku
sejak dulu. Tidak ada yang berubah dalam hal
itu—satu-satunya yang belum berubah. Aku benarbenar
merasa tak enak hati kalau ingar bagaimana
dulu aku punya pandangan jelek terhadap Sam...”
Sam luar biasa baik? Kupandangi Jacob dengan
sikap tidak percaya, tapi tak kutanggapi.
"Kalau begitu, mengapa kau tidak boleh
menemuiku?" tuntutku.
"Karena tidak aman," gumam Jacob, menunduk.
Kata-katanya membuatku bergidik ngeri. Jadi ia
juga tahu itu? Tak ada orang lain yang tahu
kecuali aku. Tapi ia benar—sekarang ini tengah
malam, waktu yang tepat untuk berburu. Jacob
tak seharusnya berada di kamarku. Kalau ada
yang datang mencariku, aku harus sendirian.
"Kalau aku menganggapnya terlalu... terlalu
berisiko," bisiknya, "aku tidak mungkin datang.
Tapi, Bella," ia menatapku lagi, "aku pernah

berjanji padamu. Aku tidak menyangka janji itu
akan begitu sulit ditepati, tapi bukan berarti aku
tidak akan berusaha."
Jacob melihat ekspresi tak mengerti di wajahku.
"Setelah nonton film konyol waktu itu," ia
mengingatkan aku. "Aku berjanji padamu, aku
tidak akan pernah menyakitimu... Aku benar-benar
melanggar janjiku sendiri sore tadi, ya?"
"Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya,
Jake. Tidak apa-apa."
“Trims, Bella." Jacob meraih tanganku. "Aku
akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan
agar bisa berada di sisimu, sesuai janjiku." Tibatiba
ia nyengir. Bukan cengiranku, bukan cengiran
Sam, tapi kombinasi aneh keduanya. "Akan sangat
membantu bila kau bisa menyimpulkannya sendiri,
Bella. Cobalah untuk benar-benar berusaha."
Aku meringis lemah. "Akan kucoba."
“Dan aku akan berusaha menemuimu lagi
nanti," Jacob mendesah. "Dan mereka pasti akan
berusaha mencegahku melakukannya."
"Jangan dengarkan mereka."
"Akan kucoba," Jacob menggeleng, seolah
meragukan dirinya sendiri. "Begitu kau bisa
menebaknya, segeralah datang dan beritahu aku."
Mendadak ia teringat sesuatu, sesuatu yang
membuat kedua tangannya gemetar. "Kalau kau...
kalau kau masih mau menemuiku."
"Mengapa aku tidak mau menemuimu?"

Wajah Jacob berubah keras dan pahit, wajah
yang seratus persen milik Sam. "Oh, ada saja
alasannya, pasti" tukasnya kasar. "Dengar, aku
benar-benar harus pergi. Bisakah kau melakukan
sesuatu untukku?"
Aku hanya mengangguk, takut melihat
perubahan dalam dirinya.
"Paling tidak telepon aku—kalau kau tidak mau
menemuiku lagi. Beritahu aku kalau memang
begitu."
"Itu tidak akan terjadi—"
Jacob mengangkat sebelah tangan,
menghentikan kata-kataku. "Pokoknya beritahu
aku."
Ia berdiri dan berjalan ke jendela.
"Jangan tolol, Jake," tukasku. "Bisa-bisa kakimu
patah nanti. Lewat pintu saja. Charlie tidak akan
memergokimu."
"Aku tidak akan kenapa-kenapa," tukasnya, tapi
berbalik menuju pintu juga. Ia ragu-ragu waktu
melewatiku, menatapku dengan ekspresi seolaholah
sesuatu menusuknya. Ia mengulurkan
sebelah tangan, memohon.
Aku menerima uluran tangannya, dan tiba-tiba
ia menyentakku—kasar sekali—hingga aku tertarik
turun dari tempat tidur dan menabrak dadanya.
"Siapa tahu aku tak bisa bertemu lagi
denganmu," bisiknya di rambutku, memelukku
sangat erat hingga tulang-tulangku terasa seperti
mau remuk.

"Tidak bisa—bernapas!" aku megap-megap.
Jacob langsung melepas pelukannya, sebelah
tangannya memegang pinggangku agar aku tidak
terjatuh. Ia mendorongku, kali ini lebih lembut,
kembali ke tempat tidur.
"Tidurlah, Bells. Kau harus bisa berpikir jernih.
Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Aku ingin
kau mengerti. Aku tak ingin kehilangan kau, Bella.
Tidak karena masalah ini."
Jacob mencapai pintu hanya dalam sekali
melangkah, membukanya pelan-pelan, kemudian
lenyap di baliknya. Aku mencoba mendengar suara
langkah-langkah kakinya menuruni tangga, tapi
tidak terdengar apa-apa.
Aku berbaring lagi di tempat tidur, benakku
berputar. Aku terlalu bingung, terlalu letih.
Kupejamkan mata, berusaha mencerna semuanya,
tapi detik berikutnya ketidaksadaran menelanku
begitu cepat hingga terasa membingungkan.
Bukan tidur damai tanpa mimpi seperti
dambaanku yang kudapatkan—tentu saja bukan.
Lagi-lagi aku melihat diriku di hutan, dan mulai
berkeliaran seperti yang selalu kulakukan.
Dengan cepat aku menyadari ini bukan mimpi
yang sama seperti biasa. Pertama, karena aku
tidak merasakan dorongan untuk berjalan tak
tentu arah atau melakukan pencarian; aku hanya
sekadar berkeliaran karena kebiasaan, karena
memang itulah yang biasanya kulakukan di sini.
Sebenarnya, ini bahkan bukan hutan yang sama.
Aromanya berbeda, begitu juga cahayanya. Hutan

ini tidak berbau tanah lembab, melainkan berbau
asin air laut. Aku tak bisa melihat langit; meski
begitu, matahari pasti bersinar—dedaunan di
atasku berwarna hijau zambrud.
Ini hutan di sekitar La Push—dekat pantai di
sana, aku yakin. Aku tahu bila aku menemukan
pantai, aku pasti bisa melihat matahari. Maka aku
mempercepat langkah, mengikuti suara debur
ombak yang samar-samar terdengar di kejauhan.
Dan mendadak muncul Jacob, Ia menyambar
tanganku, menarikku kembali ke bagian hutan
paling gelap.
"Jacob, ada apa?" tanyaku. Wajahnya ketakutan
seperti anak kecil, dan rambutnya kembali indah,
diikat ke belakang membentuk ekor kuda yang
tergerai di pangkal leher. Ia menarikku sekuat
tenaga, tapi aku menolak; aku tak ingin masuk ke
kegelapan.
"Lari, Bella, kau harus lari!" bisiknya, ketakutan.
Serbuan gelombang deja vu yang sekonyongkonyong
datang begitu kuat hingga nyaris
membangunkanku.
Sekarang aku tahu mengapa aku mengenali
tempat ini. Karena aku pernah berada di sana
sebelumnya, di mimpi yang lain. Sejuta tahun yang
lalu, bagian dari kehidupan yang sama sekali
berbeda. Ini mimpi yang pernah kudapat pada
malam setelah aku berjalan-jalan dengan Jacob di
pantai, malam pertama aku tahu Edward itu
vampir. Mengenang kembali hari itu bersama

Jacob pastilah yang memicu timbulnya mimpi ini
dari kenanganku yang terkubur.
Terpisah dari mimpi itu sekarang, aku
menunggu mimpi itu berlanjut. Cahaya
menghampiriku dari pantai. Beberapa saat lagi
Edward akan keluar dari pepohonan, kulitnya
berkilau redup, matanya hitam dan berbahaya. Ia
akan melambai ke arahku, dan tersenyum.
Wajahnya setampan malaikat, giginya runcingruncing
dan tajam...
Tapi aku terlampau cepat. Ada hal lain yang
harusnya terjadi lebih dulu.
Jacob menjatuhkan tanganku dan menjerit.
Gemetar dan mengentak-entak, ia terjatuh ke
tanah dekat kakiku.
“Jacob!” jeritku, rapi ia sudah lenyap.
Sebagai gantinya kini tampak serigala berbulu
merah-cokelat dengan mata gelap dan cerdas.
Mimpiku melenceng jauh, seperti kereta api yang
keluar dari rel.
Ini bukan serigala yang sama seperti yang
pernah kuimpikan di kehidupan lain. Ini serigala
besar berbulu cokelat kemerahan yang berdiri
dekat sekali denganku di padang rumput,
seminggu yang lalu. Serigala raksasa yang sangat
besar, lebih besar daripada beruang.
Serigala itu menatapku saksama, berusaha
menyampaikan sesuatu yang penting dengan
matanya yang cerdas. Mata hitam-cokelat yang
familier, seperti mata Jacob Black. Aku terbangun

sambil menjerit sekeras-kerasnya. Aku nyaris
berharap Charlie akan datang untuk mengecek
keadaanku kali ini. Ini bukan jeritanku yang biasa.
Kubenamkan kepalaku di bantal dan berusaha
meredam jeritan histeris yang hendak keluar dari
kerongkonganku. Kutekan bantal kuat-kuat ke
wajahku, bertanya-tanya dalam hati apakah aku
juga bisa membungkam fakta yang baru saja
berhasil kuhubungkan.
Tapi Charlie tidak datang, dan akhirnya aku bisa
juga meredam jeritan aneh yang keluar dari
tenggorokanku.
Aku ingat semuanya sekarang—setiap kata yang
keluar dari mulut Jacob pada hari itu di pantai,
bahkan bagian sebelum ia sampai ke cerita tentang
para vampir, atau "yang berdarah dingin" menurut
istilahnya. Terutama bagian pertama.
“Apakah kau tahu tentang legenda kamu tentang
asal-muasal kami-maksudku suku Quikute?”
tanyanya.
“Tidak juga," aku mengakui.
“Well ada banyak legenda, sebagian bahkan
dipercaya sudah ada sejak Zaman Air Bah—konon,
suku Quileute kuno mengikat kano mereka di pucukpucuk
pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa
selamat, seperti Nabi Nuh dan bahteranya!” Ia
tersenyum, untuk menunjukkan ia sendiri tidak
begitu memercayai cerita-cerita sejarah. "Legenda
lain mengatakan kami keturunan serigala—dan
bahwa sampai sekarang serigala masih berkerabat
dengan kami. Hukum adat melarang kami
membunuh mereka.

"Lalu ada cerita-cerita tentang yang berdarah
dingin." Suara Jacob terdengar sedikit lebih rendah.
"Yang berdarah dingin?"
"Ya. Ada cerita-cerita tentang yang berdarah
dingin, cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda
serigala, dan ada juga yang masih cukup baru.
Menurut legenda, kakek buyutku sendiri mengenal
sebagian dari mereka. Dialah yang membuat
kesepakatan untuk menghalau mereka dari tanah
kami." Jacob memutar bola matanya.
"Kakek buyutmu?"
"Beliau itu tetua suku, seperti ayahku. Begini,
yang berdarah dingin itu musuh alami serigala—
Well, bukan serigala sungguhan, tapi serigala yang
menjelma menjadi manusia, seperti leluhur kami.
Kau bisa menyebutnya werewolf."
"Werewolf punya musuh?"
"Hanya satu."
Sesuatu menyumbat kerongkonganku,
mencekikku. Aku berusaha menelannya, tapi
benda itu tersangkut di sana. tak bergerak. Aku
berusaha meludahkannya.
"Werewolf,” aku terkesiap.
Ya, kata itulah yang tadi menyumbat
tenggorokanku.
Dunia seolah jungkir balik, miring pada
porosnya.
Tempat macam apakah ini? Benarkah ada dunia
di mana legenda-legenda kuno berkeliaran di

sepanjang perbatasan kota-kota kecil, berhadapan
dengan monster-monster mistis? Apakah itu berarti
setiap kisah dongeng didasarkan pada sesuatu
yang benar-benar nyata? Adakah hal yang waras
atau normal sama sekak, atau semuanya hanya
magis dan kisah-kisah hantu?
Kucengkeram kepalaku kuat-kuat, menjaganya
agar tidak meledak.
Sebuah suara kecil garing dalam benakku
bertanya mengapa aku begitu kalut. Bukankah aku
sudah menerima keberadaan vampir sejak dulu—
dan tanpa histeris sama sekali?
Benar sekali, aku ingin balas meneriaki suara
itu. Tidakkah saru mitos sudah cukup untuk siapa
pun, cukup untuk seumur hidup?
Lagi pula, sebelumnya tidak ada satu momen
pun di mana aku tak sepenuhnya menyadari
bahwa Edward Cullen bukan manusia biasa. Jadi
bukan hal mengagetkan waktu aku tahu siapa ia
sebenarnya—karena jelas sekali ia itu berbeda.
Tapi Jacob? Jacob, yang hanyalah Jacob, dan
tidak lebih daripada itu? Jacob, temanku? Jacob,
satu-satunya manusia yang bisa memahamiku...
Dan ia bahkan bukan manusia.
Kulawan dorongan untuk menjerit lagi.
Jadi, apa arti semua itu bagiku?
Aku tahu jawaban pertanyaan itu. Berarti ada
yang benar-benar tidak beres denganku.
Bagaimana bisa hidupku dipenuhi karakterkarakter
dari film horor? Bagaimana mungkin aku

bisa begitu peduli pada mereka sehingga hatiku
terasa seperti direnggutkan dan dadaku setiap kali
mereka pergi mengikuti jalan hidup mistis mereka?
Di kepalaku segalanya berputar dan bergerak,
berubah posisi sehingga hal-hal yang tadinya
berarti sesuatu, sekarang memiliki arti berbeda.
Berarti tidak ada sekte. Tidak pernah ada sekte,
tidak pernah ada geng. Tidak, ternyata bahkan
lebih buruk daripada itu. Yang ada ternyata adalah
kawanan.
Kawanan yang terdiri atas lima werewolf raksasa
aneka warna yang waktu itu berjalan melewatiku di
padang rumput Edward...
Mendadak, aku merasa harus bergegas. Mataku
melirik jam—masih terlalu pagi, tapi aku tak
peduli. Aku harus pergi ke La Push sekarang. Aku
harus menemui Jacob supaya ia bisa memberi
tahuku bahwa aku tidak hilang ingatan.
Kusambar baju bersih pertama yang bisa
kutemukan, tak peduli apakah serasi atau tidak,
lalu berlari menuruni tangga, melompati dua anak
tangga sekaligus. Nyaris saja aku bertabrakan
dengan Charlie saat menghambur di lorong,
menuju ke pintu.
"Mau ke mana kau?" tanyanya, terkejut
melihatku, sama seperti aku terkejut melihatnya.
"Kau tahu sekarang jam berapa?"
"Yeah. Aku harus menemui Jacob."
"Kusangka urusan dengan Sam—"

"Itu tidak penting, aku harus bicara dengannya
sekarang juga."
"Sekarang masih terlalu pagi." Kening Charlie
berkerut ketika ekspresiku tidak berubah. "Tidak
mau sarapan dulu?"
"Tidak lapar." Kata-kata meluncur cepat dari
bibirku. Charlie menghalangi jalanku. Aku
menimbang-nimbang untuk merunduk
mengitarinya dan kabur secepat-cepatnya, tapi aku
tahu aku harus memberi penjelasan nanti.
"Sebentar lagi aku kembali, oke?"
Charlie mengerutkan kening. "Langsung ke
rumah Jacob, kan? Tidak mampir-mampir dulu?"
Tentu saja tidak. mau mampir ke mana? Katakataku
berkejaran, karena aku begitu terburuburu.
"Entahlah," Charlie mengakui. “Hanya saja...
Well, terjadi penyerangan lagi – serigala-serigala itu
lagi. Dekat sekali dengan pemukiman penduduk di
sumber air panas sana—kali ini ada saksi mata
yang menyaksikan. Korban hanya beberapa meter
dari jalan saat menghilang. Istrinya melihat
serigala abu-abu besar beberapa menit kemudian,
waktu dia sedang mencari suaminya, lalu lari
mencari bantuan."
Perutku langsung mulas mendengarnya. "Orang
itu diterkam serigala?"
"Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang itu—
yang ada hanya bercak darah" Wajah Charlie
tampak galau. "Para polisi hutan menyisir hutan
dengan bersenjata lengkap, membawa sukarelawan

yang juga bersenjata. Banyak pemburu yang ingin
terlibat—tersedia hadiah bagi yang bisa menembak
mati serigala. Itu berarti akan banyak tembakmenembak
di hutan, dan itu membuatku
khawatir." Charlie menggeleng. "Kalau orang-orang
terlalu bersemangat, bisa terjadi banyak
kecelakaan..."
“Mereka akan menembaki serigala-serigala itu?"
Suaraku naik tiga oktaf.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan? Ada apa?"
tanya Charlie, matanya yang tegang menelisik
wajahku. Rasanya aku seperti mau pingsan;
wajahku pasti lebih pucat daripada biasanya, toh
bukan aktivis lingkungan hidup, kan?" ku tak
mampu menjawab.
Seandainya Charlie tidak sedang
memandangiku, aku pasti sudah menyurukkan
kepalaku antara lutut. Aku lupa pada para hiker
yang hilang itu, juga jejak-jejak berdarah... aku
tidak menghubungkan fakta-fakta itu dengan
kesadaran pertamaku.
"Dengar, Sayang, ini tidak perlu membuatmu
ketakutan. Asalkan kau tetap di kota atau dijalan
raya—tidak berhenti-berhenti—oke?"
"Oke," sahutku lemah.
"Pergi dulu ya."
Kutatap Charlie lekat-lekat untuk pertama kali,
dan kulihat ia melilitkan sarung pistolnya ke
pinggang dan memakai sepatu hiking.

"Kau tidak akan ikut terjun mencari serigalaserigala
itu kan, Dad?"
"Aku harus membantu, Bells. Banyak orang
menghilang."
Suaraku naik lagi, nyaris histeris sekarang.
"Jangan! Jangan, jangan pergi. Terlalu berbahaya!"
"Aku harus melakukan tugasku, Nak. Jangan
pesimis begitu—aku akan baik-baik saja" Charlie
berbalik ke pintu, membukanya dan
memeganginya. "Kau mau pergi?"
Aku ragu-ragu, perutku masih seperti diadukaduk.
Apa yang bisa kukatakan untuk
menghentikannya? Kepalaku pusing sekali, tak
mampu berpikir apa-apa.
"Bells?"
"Mungkin sekarang memang masih terlalu pagi
untuk pergi ke La Push," bisikku.
"Aku setuju," kata Charlie, lalu melangkah
keluar ke tengah hujan, menutup pintu di
belakangnya.
Begitu Charlie lenyap dari pandangan, aku
merosot lemas ke lantai dan menyurukkan
kepalaku di antara lutut.
Haruskah aku menyusul Charlie? Apa yang bisa
kukatakan?
Dan bagaimana dengan Jacob? Jacob
sahabatku; aku harus memperingatkan dia. Kalau
dia benar-benar – aku meringis dan memaksa
diriku memikirkan istilah itu – werewolf (dan aku

tahu itu benar, aku bisa merasakannya), itu berarti
orang-orang akan menembaki dia! Aku harus
memberitahu Jacob dan teman-temannya bahwa
orang-orang akan berusaha membunuh mereka
bila mereka berkeliaran sebagai serigala raksasa.
Aku harus membentahu mereka supaya berhenti.
Mereka harus berhenti! Charlie ada di hutan.
Pedulikah mereka pada hal itu? Aku penasaran...
Hingga saat ini, hanya orang-orang asing yang
hilang. Apakah itu berarti sesuatu, atau hanya
kebetulan?
Aku harus percaya bahwa Jacob, paling tidak,
peduli pada hal itu.
Bagaimanapun, aku harus mengingatkan dia.
Atau... perlukah aku?
Jacob sahabatku, tapi benarkah ia juga
monster? Monster sungguhan? Monster jahat?
Haruskah aku mengingatkan dia, padahal dia dan
teman-temannya... pembunuh? Padahal mereka
begitu tega membantai para hiker yang tidak
berdosa? Seandainya mereka benar-benar makhluk
jahat seperti yang ada di film-film horor, salahkah
bila aku melindungi mereka?
Mau tak mau aku jadi membandingkan Jacob
dan teman-temannya dengan keluarga Cullen.
Kudekap tubuhku erat-erat. melawan lubang itu,
saat aku memikirkan mereka.
Aku tidak tahu apa-apa tentang werewolf, itu
sudah jelas. Paling-paling aku membayangkan
mereka mendekati sosok seperti yang sering
digambarkan di film-film – makhluk setengah

manusia berbadan besar dan berbulu lebat atau
semacam itu – itu pun kalau aku membayangkan
mereka. Jadi aku tak tahu apa yang membuat
mereka berburu, apakah karena kelaparan atau
kehausan atau hanya dorongan untuk membunuh.
Sulit menilainya, karena aku tidak tahu apa-apa.
Tapi pasti tidak lebih sulit daripada yang dialami
keluarga Cullen dalam upaya mereka menjadi
makhluk yang baik. Ingatanku melayang kepada
Esme—air mataku merebak saat membayangkan
wajahnya yang teduh dan baik—serta bagaimana,
meski sikapnya begitu keibuan dan penuh kasih
sayang, ia terpaksa menahan napas, merasa malu
sekali, dan lari menjauhiku waktu aku berdarah.
Tak mungkin lebih sulit daripada itu. Aku juga
teringat pada Carlisle, yang selama berabad-abad
berjuang mengajari dirinya sendiri untuk
mengabaikan darah, sehingga ia bisa
menyelamatkan nyawa manusia sebagai dokter.
Tidak ada yang lebih sulit daripada itu.
Para werewolf memilih jalan berbeda.
Sekarang, apa yang seharusnya aku pilih?

13. PEMBUNUH
KALAU saja itu orang lain dan bukan Jacob,
pikirku pada diri sendiri, menggeleng-gelengkan
kepala saat melaju melintasi jalan raya yang
membelah hutan menuju La Push.

Aku masih belum yakin aku melakukan hal yang
benar, tapi aku sudah berkompromi dengan diriku
sendiri.
Aku tak bisa memaafkan apa yang Jacob dan
teman-temannya, kawanannya, lakukan. Sekarang
aku mengerti maksud perkataannya semalam—
bahwa aku mungkin tidak ingin menemuinya lagi—
dan bahwa aku bisa meneleponnya seperti yang ia
usulkan, tapi rasanya itu pengecut. Setidaknya,
aku harus bicara empat mata dengannya. Akan
kukatakan dengan tegas padanya bahwa aku tak
mungkin mengabaikan apa yang sedang terjadi.
Aku tak mungkin berteman dengan pembunuh
tanpa mengatakan apa-apa, membiarkan
pembunuhan itu terus berlanjut... Itu berarti aku
sama jahatnya dengan mereka.
Tapi aku tak bisa tidak mengingatkan dia juga.
Aku harus berbuat sebisaku untuk melindunginya.
Kuhentikan trukku di depan rumah keluarga
Black dengan bibir terkatup rapat. Cukup sudah
keterkejutanku menghadapi kenyataan sahabatku
werewolf. Haruskah ia menjadi monster juga?
Rumah itu gelap gulita, tak tampak cahaya
lampu di jendela-jendelanya, tapi aku tak peduli
kalaupun aku membangunkan mereka. Tinjuku
menggedor-gedor pintu depan dengan marah;
gedorannya mengguncang dinding-dinding.
"Silakan masuk,” kudengar Billy berseru sejurus
kemudian, dan sebuah lampu menyala.
Kuputar kenop pintu; ternyata tidak terkunci.
Billy bersandar di pintu dekat dapur yang kecil, di

bahunya tersampir mantel mandi, ia belum duduk
di kursi rodanya. Begitu melihat siapa yang datang
matanya melebar sedikit, kemudian wajahnya
berubah kaku.
"Well, selamat pagi, Bella. Mengapa kau datang
pagi-pagi buta begini?"
"Hai, Billy. Aku perlu bicara dengan Jake—di
mana dia?"
"Ehm... kurang tahu ya," dusta Billy, wajahnya
tetap datar.
"Tahukah kau apa yang dilakukan Charlie pagi
ini?" tuntutku, muak melihatnya mengulur-ulur
waktu.
"Haruskah aku tahu?"
"Dia dan setengah isi kota turun ke hutan
membawa senapan, memburu serigala-serigala
raksasa."
Ekspresi Billy berubah, tapi kemudian datar lagi.
"Jadi aku ingin bicara dengan Jake mengenai hal
itu. kalau kau tidak keberatan," lanjutku.
Billy mengerucutkan bibirnya yang tebal. "Aku
berani bertaruh Jake pasti masih tidur," kata Billy
akhirnya, mengangguk ke lorong kecil di sebelah
kamar depan. "Belakangan dia sering pulang larut
malam. Anak itu buruh istirahat—mungkin
sebaiknya kau tidak membangunkan dia.”
"Sekarang giliranku," gumamku pelan sambil
berjalan menuju lorong. Billy mendesah.

Kamar Jacob yang kecil, yang sebenarnya lebih
mirip ruang penyimpanan baju, adalah satusatunya
pintu di lorong yang panjangnya tak
sampai satu meter. Aku tidak repot-repot
mengetuk. Aku langsung membuka pintunya;
pintu itu membentur dinding dengan suara keras.
Jacob—masih mengenakan celana olahraga
hitam yang dipotong pendek seperti semalam—
berbaring diagonal di ranjang dobel yang mengisi
seluruh ruangan dan hanya menyisakan beberapa
sentimeter saja di sisi-sisinya. Bahkan dalam posisi
miring tempat tidur itu masih kurang panjang;
kaki Jacob tergantung di satu sisi dan kepalanya di
sisi lain. Ia tidur nyenyak, mendengkur pelan
dengan mulut terbuka. Bahkan suara pintu
membentur dinding tidak membuatnya tersentak.
Wajahnya damai dalam tidur yang nyenyak,
semua garis-garis amarah lenyap. Ada lingkaran di
bawah mata yang tidak kusadari sebelumnya.
Meski ukuran tubuhnya sangat besar, ia kini
tampak sangat muda, dan sangat letih. Perasaan
iba mengguncang hatiku.
Aku keluar lagi dan menutup pintu dengan
suara pelan.
Billy memandangiku dengan sorot ingin tahu
dan waspada saat aku berjalan lambat-lambat
kembali ke ruang depan.
"Sebaiknya kubiarkan saja dia tidur sebentar."
Billy mengangguk, kemudian kami
berpandangan beberapa saat. Aku ingin sekali
menanyakan apa pendapat Billy tentang hal ini.

Apa pendapatnya tentang perubahan yang dialami
putranya? Tapi aku tahu ia mendukung Sam sejak
awal, jadi Kupikir pembunuhan-pembunuhan itu
pasti tidak berarti apa-apa baginya. Bagaimana ia
membenarkan hal ku pada dirinya sendiri, aku tak
bisa membayangkan.
Aku juga melihat banyak pertanyaan
berkecamuk di matanya yang gelap, tapi ia juga
tidak menyuarakannya.
"Begini saja," kataku, memecah keheningan yang
sangat terasa. “Aku akan pergi ke pantai sebentar.
Kalau dia bangun, tolong katakan padanya aku
menunggunya, oke?"
"Tentu, tentu," Billy menyanggupi.
Aku ragu apakah Billy benar-benar akan
menyampaikan pesanku. Well, kalaupun tidak, aku
sudah berusaha, kan?
Aku mengendarai trukku ke First Beach dan
memarkirnya di lapangan tanah yang kosong. Hari
masih gelap—subuh muram menjelang pagi yang
berawan—dan waktu mematikan lampu truk aku
nyaris tak bisa melihat apa-apa. Aku harus
membiasakan mataku dulu sebelum bisa
menemukan jalan setapak yang membelah ilalang
tinggi. Udara di sini lebih dingin, angin bertiup
menerpa air yang hitam, dan kujejalkan kedua
tanganku dalam-dalam ke saku jaket musim
dinginku. Setidaknya hujan sudah berhenti.
Aku berjalan menyusuri tepi pantai ke arah
tembok laut sebelah utara. Tidak tampak Pulau St.
James maupun pulau-pulau lain, hanya bentukTiraikasih

bentuk samar nun jauh di sana. Aku berjalan hatihati
meniti karang, mewaspadai driftwood yang
mungkin bisa membuatku tersandung.
Aku menemukan apa yang kucari sebelum
menyadari aku mencarinya. Benda itu muncul dari
kegelapan setelah jaraknya hanya tinggal beberapa
meter: sebatang driftwood panjang seputih tulang
yang terdampar jauh ke karang. Akar-akarnya
terpilin ke atas dan mengarah ke lautan, bagaikan
ratusan tentakel rapuh. Aku tak yakin apakah itu
pohon yang sama tempat Jacob dan aku mengobrol
untuk pertama kalinya—obrolan yang mengawali
begitu banyak benang kusut dalam hidupku—tapi
sepertinya lokasinya sama. Aku duduk di tempatku
duduk dulu, dan memandang lautan yang tak
kelihatan.
Melihat Jacob seperti itu—lugu dan rapuh dalam
tidurnya—telah mengenyahkan semua perasaan
jijikku, melenyapkan semua amarahku. Aku masih
tetap tak bisa menutup mata pada apa yang
terjadi, seperti yang tampaknya dilakukan Billy
tapi aku juga tak bisa menghakimi Jacob atas
perbuatannya itu. Itulah yang namanya sayang.
Saat kau menyayangi seseorang mustahil bersikap
logis mengenai mereka. Jacob tetap temanku,
terlepas dari apakah ia membunuh orang atau
tidak. Dan aku tak tahu harus bagaimana
menghadapi hal itu.
Saat membayangkan Jacob tidur begitu damai,
aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk
melindunginya. Sungguh tidak logis.

Logis atau tidak aku terus saja membayangkan
wajahnya yang damai, berusaha menemukan
jawaban, mencari cara untuk melindunginya,
sementara langit perlahan-lahan berubah warna
menjadi kelabu.
"Hai, Bella."
Suara Jacob datang dari kegelapan dan
membuatku kaget. Suaranya lirih, nyaris malumalu,
tapi karena aku mengira bakal mendengar
kedatangannya dari suara batu-batu yang terinjak,
tetap saja suara itu membuatku kaget. Tampak
olehku siluetnya membelakangi matahari terbit—
kelihatannya besar sekali.
"Jake?"
Jacob berdiri beberapa langkah jauhnya,
bergerak-gerak gelisah.
“Kata Billy kau datang mencariku—tidak butuh
waktu lama, kan? Sudah kukira kau pasti bisa
menebaknya."
"Yeah, aku ingat ceritanya sekarang," bisikku.
Lama tidak terdengar apa-apa dan, walaupun
masih terlalu gelap untuk bisa melihat jelas,
kulitku bagai tergelitik seolah-olah mata Jacob
mengamati wajahku lekat-lekat. Pastilah sudah
cukup terang bagi Jacob untuk melihat ekspresiku,
karena waktu ia bicara lagi, suaranya mendadak
berubah sinis.
"Kau toh bisa menelepon saja," sergahnya kasar.
Aku mengangguk. "Memang."

Jacob mulai mondar-mandir di atas bebatuan.
Kalau kubuka telingaku lebar-lebar, aku bisa
mendengar suara langkah kakinya menginjak
bebatuan di balik debur ombak. Batu-batu
berderak seperti kastanyet di telingaku.
"Mengapa kau datang?" tuntutnya, tak
menghentikan langkah-langkahnya yang marah.
"Kupikir lebih baik kita bertemu langsung."
Jacob mendengus. "Oh, jauh lebih baik."
"Jacob, aku harus memperingatkanmu—"
"Tentang para polisi hutan dan pemburu?
Jangan khawatir. Kami sudah tahu."
"Jangan khawatir?" tuntutku tak percaya. "Jake,
mereka membawa senapan! Mereka juga
memasang perangkap dan menawarkan hadiah
uang dan—"
"Kami bisa menjaga diri," geramnya, masih terus
mondar-mandir. "Mereka takkan bisa menangkap
apa-apa. Mereka hanya membuat keadaan lebih
sulit—sebentar lagi mereka juga akan menghilang."
"Jake!" desisku.
“Apa? Memang kenyataannya begitu kok."
Wajahku pucat saking jijiknya. "Bisa-bisanya
kau... merasa seperti itu? Kau kenal orang-orang
ini. Charlie juga ikut!” Pikiran itu membuat
perutku mulas.
Langkah Jacob langsung berhenti. "Apa lagi yang
bisa kami lakukan?” semburnya.

Matahari mengubah awan-awan menjadi merah
muda keperakan di atas kami. Aku bisa melihat
ekspresinya sekarang; wajahnya marah, frustrasi,
merasa dikhianati.
“Bisakah kau..., Well berusaha untuk tidak
menjadi... werewolf?” aku menyarankan sambil
berbisik.
Jacob melontarkan kedua tangannya ke udara.
"Kayak aku punya pilihan saja!" teriaknya. "Dan
apa gunanya itu, kalau kau justru khawatir orangorang
akan menghilang?"
“Aku tidak mengerti."
Jacob menatapku garang, matanya menyipit dan
mulutnya terpilin membentuk seringai. "Tahukah
kau apa yang membuatku sangat marah?”
Aku terkejut melihat ekspresinya yang garang.
Jacob sepertinya menunggu jawaban, maka aku
pun menggeleng.
"Kau ini benar-benar munafik, Bella—lihat saja,
kau duduk di sana, takut padaku! Apakah itu
adil?" Kedua tangannya gemetar oleh amarah.
"Munafik? Mengapa takut pada monster berarti
aku munafik?"
“Ugh!” erang Jacob, menekankan tinjunya yang
gemetar ke pelipis dan memejamkan mata rapatrapat.
"Coba dengar omonganmu sendiri!"
"Apa?"
Jacob berjalan dua langkah mendekatiku,
mencondongkan tubuh di atasku dan menatapku

berapi-api. "Well, aku menyesal aku tidak bisa
menjadi monster yang tepat untukmu, Bella.
Kurasa aku tidak sehebat si pengisap darah itu,
bukan?''
Aku melompat berdiri dan balas memandangnya
dengan sorot berapi-api juga. "Tidak, memang
tidak!" teriakku. "Masalahnya bukan siapa kau,
tolol, tapi apa yang kaulakukan!"
"Apa artinya itu?" raung Jacob, sekujur
tubuhnya gemetar menahan marah.
Aku kaget bukan kepalang waktu mendadak
terdengar suara Edward mewanti-wantiku.
"Berhati-hatilah, Bella," suaranya yang selembut
beledu mengingatkan. "Jangan paksa dia. Kau
harus menenangkannya."
Bahkan suara di kepalaku bersikap tidak masuk
akal hari ini.
Tapi aku tetap menurutinya. Aku rela
melakukan apa saja demi suara itu.
"Jacob," aku memohon, mengubah nada
suaraku jadi lembut dan datar. "Apakah benarbenar
perlu membunuh orang, Jacob? Apakah
tidak ada cara lain? Maksudku, kalau vampir bisa
mencari jalan lain untuk bertahan tanpa
membunuh orang, masa kalian tidak bisa
mencobanya juga?"
Jacob tertegak kaget, seolah-olah kata-kataku
tadi menyetrum sekujur tubuhnya. Alisnya
terangkat dan matanya membelalak lebar.
"Membunuh orang?" tuntutnya.

"Memangnya kaupikir kita sedang
membicarakan apa?"
Tubuh Jacob sudah tidak gemetar lagi. Kini ia
menatapku dengan sikap tak percaya bercampur
harap-harap cemas. "Kusangka kita sedang
berbicara tentang perasaan jijikmu terhadap
werewolf!”
"Tidak, Jake, bukan. Masalahnya bukan karena
kau... werewolf. Itu bukan masalah,” aku berjanji
padanya, dan aku tahu saat mengucapkan katakata
itu bahwa aku bersungguh-sungguh. Aku
benar-benar tak peduli bila ia berubah menjadi
werewolf—dia tetap Jacob. "Kalau kau bisa
mencari jalan untuk tidak melukai orang-orang...
hanya itu yang aku tidak suka Mereka tidak
berdosa Jake, orang-orang seperti Charlie, dan aku
tak mungkin menutup mata sementara kau—"
"Hanya itu? Sungguh?” Jacob menyela katakataku,
senyumnya merekah. “Kau takut karena
aku ini pembunuh? Hanya itu alasanmu?"
"Apakah itu belum cukup?"
Tawa Jacob meledak.
"Jacob Black, ini sangat tidak lucu!"
"Memang, memang," Jacob sependapat, masih
terus terbahak bahak.
Ia melangkah lebar-lebar dan meraup tubuhku,
memelukku erat-erat.
"Kau benar-benar sungguh-sungguh, tidak
keberatan kalau aku bermetamorfosis menjadi

anjing raksasa?" tanyanya, suaranya terdengar
bahagia di telingaku.
"Tidak," aku terkesiap. "Tidak—bisa—napas—
Jake!"
Jacob melepaskan pelukannya, tapi meraih
kedua tanganku. "Aku bukan pembunuh, Bella."
Kutatap wajahnya dengan saksama, dan tampak
jelas itu benar. Perasaan lega meliputiku.
"Sungguh?" tanyaku.
"Sungguh," janji Jacob dengan sikap khidmat.
Kuangkat kedua lenganku dan kupeluk dia.
Mengingatkanku pada hari pertama kami menjajal
motor—tapi tubuhnya lebih besar sekarang, dan
aku merasa lebih seperti kanak-kanak.
Seperti waktu itu juga, ia membelai rambutku.
“Maaf aku mengataimu munafik," Jacob
meminta maaf.
"Maaf aku mengataimu pembunuh."
Jacob tertawa.
Sesuatu melintas dalam pikiranku saat itu, dan
aku melepas pelukanku supaya bisa menatap
wajahnya. Alisku bertaut cemas. "Bagaimana
dengan Sam? Dan yang lain-lain?"
Jacob menggeleng, tersenyum seakan-akan
beban berat terangkat dari bahunya. "Tentu saja
tidak. Tidak ingatkah kau bagaimana kami
menyebut diri kami?"

Ingatan itu sangat jelas—itu baru terpikir olehku
hari ini, "Pelindung?"
"Tepat."
"Tapi aku tidak mengerti. Apa yang terjadi di
hutan? Para hiker yang hilang, bercak darah?"
Wajah Jacob langsung berubah serius dan
khawatir. "Kami berusaha melakukan tugas kami,
Bella. Kami berusaha melindungi mereka, tapi
kami selalu sedikit terlambat."
"Melindungi mereka dari apa? Jadi benar-benar
ada beruang di luar sana?"
"Bella, Sayang, kami hanya melindungi orangorang
dari satu hal—dari satu-satunya musuh
kami. Itu sebabnya kami ada—karena mereka juga
ada."
Kutatap Jacob dengan pandangan kosong
selama satu detik sebelum akhirnya mengerti.
Darah langsung surut dari wajahku dan pekikan
pelan tanpa kata terlontar dari bibirku.
Jacob mengangguk. "Sudah kuduga kau pasti
bisa menyadari apa yang sebenarnya terjadi."
"Laurent," bisikku. "Dia masih di sana."
Jacob mengerjapkan mata dua kali, dan
menelengkan kepala ke satu sisi. "Siapa Laurent?"
Aku berusaha menyortir berbagai pikiran yang
berkecamuk di kepalaku agar bisa menjawab. "Kau
tahu—kau melihatnya di padang rumput. Kau kan
ada di sana..." Kata-kata itu terlontar dengan nada

takjub saat semuanya jadi jelas. “Kau ada di sana,
karena itu dia tidak jadi membunuhku...”
“Oh si lintah berambut hitam itu?" Jacob
menyeringai, Seringaiannya kaku dan garang. “Jadi
itukah namanya?"
Aku bergidik. “Nekat benar kau?” bisikku. "Dia
bisa membunuhmu! Jake, tidak sadarkah kau
betapa berbahaya—"
Lagi-lagi Jacob memotong perkataanku dengan
tertawa. "Bella, satu vampir bukan masalah besar
bagi sekawanan werewolf sebesar kami. Begitu
mudahnya sampai malah tidak terasa asyik lagi!”
"Apanya yang mudah?”
"Membunuh si pengisap darah yang akan
membunuhmu. Tapi itu bukan berarti kami bisa
digolongkan sebagai pembunuh," Jacob buru-buru
menambahkan. "Vampir kan bukan manusia."
Aku hanya dapat menggerak-gerakkan mulut
tanpa suara. "Kau... membunuh... Laurent?"
Jacob mengangguk. “Well, kami melakukannya
bersama-sama," ia membenarkan.
“Jadi Laurent sudah mati?" bisikku.
Ekspresinya berubah. "Kau tidak marah, kan?
Dia kan akan membunuhmu—dia memang berniat
membunuh, Bella, kami yakin itu sebelum kami
menyerang. Kau juga tahu itu, kan?"
"Aku tahu itu. Tidak, aku tidak marah—aku..."
Aku merasa harus duduk. Aku mundur goyah
selangkah sampai tungkaiku menyentuh driftwood,

lalu mengenyakkan tubuhku di sana. "Laurent
sudah mati. Dia tidak akan kembali mencariku."
"Kau tidak marah, kan? Dia bukan temanmu
atau bagaimana, kan?”
“Temanku?" Aku mendongak menatapnya,
bingung dan pusing saking leganya. Aku mulai
mengoceh, mataku basah. "Tidak, Jake. Aku malah
sangat... sangat lega. Kusangka dia akan
menemukanku—setiap malam aku ketakutan
menunggunya datang, berharap dia cukup puas
denganku dan tidak mengganggu Charlie. Aku
sangat ketakutan, Jacob... Tapi bagaimana? Dia
kan vampir! Bagaimana kalian bisa
membunuhnya? Dia kan sangat kuat, sangat
keras, seperti marmer..."
Jacob duduk di sebelahku, lengannya yang besar
merengkuhku dengan sikap menenangkan.
"Karena itulah kami diciptakan, Bells. Kami juga
kuat. Kalau saja kau memberi tahuku bahwa kau
sangat ketakutan. Kau tak perlu takut."
"Kau kan tidak ada," gumamku, pikiranku
menerawang.
"Oh, benar."
"Tunggu, Jake—tapi kusangka kau sudah tahu.
Semalam katamu tidak aman jika kau berada di
kamarku. Kusangka itu karena kau tahu ada
vampir yang akan datang. Itu kan yang
maksudmu?"
Jacob tampak bingung sebentar, kemudian
menunduk. "Tidak, bukan itu maksudku."

"Kalau begitu kenapa menurutmu tidak aman
bila kau berada di kamarku?"
Jacob menatapku dengan mata penuh
penyesalan. "Maksudku bukannya tidak aman
bagiku. Aku justru memikirkan keselamatanmu."
"Apa maksudmu?"
Jacob menunduk dan menendang sebutir batu.
"Ada lebih dari satu alasan kenapa aku tak
seharusnya berada di dekatmu, Bella. Aku tidak
boleh membocorkan rahasia kami padamu, itu
salah satunya, tapi alasan lain adalah karena ini
tidak aman bagimu. Kalau aku sangat marah... dan
emosiku tersulut... bisa-bisa kau terluka."
Aku memikirkan penjelasannya baik-baik.
"Waktu kau marah sebelumnya... waktu aku
meneriakimu... dan tubuhmu gemetar...?"
“Yeah.” Jacob tertunduk semakin dalam. "Tolol
benar aku. Aku harus lebih bisa menahan diri. Aku
sudah bersumpah untuk tidak marah, apa pun
yang kaukatakan padaku. Tapi... aku sangat
marah karena kupikir aku akan kehilangan kau...
bahwa kau tak bisa menerima keadaanku yang
sebenarnya..."
"Apa yang akan terjadi... bila kau sangat
marah?" bisikku.
"Aku akan berubah menjadi serigala." Jacob
balas berbisik.
"Tidak perlu menunggu bulan purnama?"
Jacob memutar bola matanya. "Versi Hollywood
itu tak sepenuhnya benar." Lalu ia mendesah, dan

kembali serius. "Kau tidak perlu merasa terlalu
takut. Bells. Kami akan membereskan masalah ini.
Dan kami akan menjaga Charlie serta yang lainlain
secara khusus—kami tidak akan
membiarkannya celaka. Percayalah padaku."
Sesuatu yang amat sangat jelas, yang
seharusnya langsung bisa kutangkap—tapi karena
selama ini pikiranku sibuk membayangkan Jacob
dan teman-temannya berkelahi melawan Laurent,
hal itu benar-benar tak terpikir olehku—baru
muncul dalam pikiranku saat itu, ketika Jacob
mulai berbicara dalam konteks sekarang.
Kami akan membereskan masalah ini.
Jadi ini belum berakhir.
"Laurent sudah tewas," aku terkesiap, sekujur
tubuhku dingin seperti es.
“Bella?” tanya Jacob waswas, menyentuh pipiku
yang kelabu
“Kalau Laurent sudah tewas... seminggu yang
lalu... berarti ada orang lain yang membunuh
orang-orang itu sekarang."
Jacob mengangguk; rahangnya terkatup rapat,
dan ia berbicara dari sela-selanya. "Mereka berdua.
Kami menyangka pasangannya pasti ingin
melawan kami—dalam kisah-kisah kami, mereka
biasanya sangat marah kalau kau membunuh
pasangan mereka—tapi dia terus-menerus lari
menjauh, tapi lalu kembali lagi. Kalau saja kami
tahu apa yang diincarnya, akan lebih mudah
melumpuhkannya. Tapi sikapnya tak masuk akal.
Dia terus saja menari-nari di pinggir, seperti

menguji pertahanan kami, mencari jalan masuk—
tapi masuk ke mana? Dia ingin pergi ke mana?
Menurut Sam, dia berusaha memisahkan kami,
supaya kesempatannya lebih besar..."
Suara Jacob berangsur-angsur menghilang
sampai kedengarannya seperti berasal dari ujung
terowongan yang panjang; aku tak lagi bisa
menangkap kata demi kata. Dahiku berkeringat
dan perutku seperti diaduk-aduk, seperti waktu
aku flu perut dulu. Persis seperti waktu aku flu
perut.
Aku cepat-cepat berpaling darinya, dan
membungkuk di atas driftwood. Tubuhku
terguncang, perutku yang kosong sangat mual,
walaupun tak ada apa-apa di dalamnya yang bisa
dimuntahkan.
Victoria ada di sini. Mencariku. Membunuhi
orang-orang asing di hutan. Hutan tempat Charlie
melakukan pencarian...
Kepalaku berputar cepat.
Jacob menyambar bahuku—mencegahku
ambruk dan mencium bebatuan. Aku bisa
merasakan embusan napasnya yang panas di
pipiku. "Bella! Ada apa?"
"Victoria," aku terkesiap segera setelah bisa
menarik napas di sela-sela serangan mual yang
melandaku.
Di kepalaku, Edward menggeram marah
mendengar nama itu.

Kubiarkan Jacob menarikku dari posisi dudukku
yang terkulai, ia meletakkanku dengan canggung di
pangkuannya, membaringkan kepalaku yang
lunglai ke bahunya. Ia berusaha keras
menyeimbangkanku, menjagaku agar tidak terkulai
lemas dan jatuh dari pangkuannya.
Disingkirkannya rambutku yang berkeringat dan
wajahku.
"Siapa?" tanya Jacob. "Kau bisa mendengarku,
Bella? Bella?"
"Dia bukan pasangan Laurent,” erangku di bahu
Jacob. "Mereka hanya teman lama...”
"Kau mau minum? Perlu dokter? Katakan
padaku aku harus bagaimana," tuntut Jacob,
bertubi-tubi.
"Aku bukan sakit—aku takut," aku menjelaskan
sambil berbisik. Istilah takut kedengarannya tidak
mencakup semua yang kurasakan.
Jacob menepuk-nepuk punggungku. "Takut
pada si Victoria ini?"
Aku mengangguk, bergidik.
"Victoria itu vampir wanita berambut merah?"
Aku gemetar lagi, dan merintih, "Ya."
"Bagaimana kau bisa tahu dia bukan
pasangannya?"
"Laurent memberi tahuku bahwa James-lah
pasangannya," aku menjelaskan, otomatis
melemaskan tanganku yang dihiasi bekas luka.

Jacob memalingkan wajahku, merengkuhnya
kuat-kuat dengan tangannya yang besar.
Ditatapnya mataku lekat-lekat. "Ada hal lain yang
dia ceritakan, Bella? Ini penting. Kau tahu vampir
wanita itu menginginkan apa?"
"Tentu saja," bisikku. "Victoria menginginkan
aku."
Mata Jacob membelalak lebar, lalu menyipit.
"Mengapa?" tuntutnya.
"Edward membunuh James,'' bisikku. Jacob
memegangiku sangat erat hingga aku tak perlu
mencengkeram lubang itu—pelukannya
membuatku tetap utuh. "Victoria memang...
marah. Tapi kata Laurent, Victoria menganggap
lebih adil membunuhku daripada Edward.
Pasangan sebagai ganti pasangan. Dia tidak tahu—
masih belum tahu, kurasa—bahwa... bahwa..." Aku
menelan ludah dengan susah payah. "Bahwa
hubungan kami sudah tidak seperti itu lagi. Tidak
bagi Edward, setidaknya."
Perhatian Jacob sempat beralih sebentar
mendengar perkataanku itu, ekspresinya campur
aduk. "Jadi itu yang terjadi? Mengapa keluarga
Cullen pindah?"
"Bagaimanapun, aku hanya manusia biasa.
Tidak ada yang istimewa," aku menjelaskan,
mengangkat bahu lemah.
Sesuatu yang kedengarannya seperti geraman—
bukan geraman sesungguhnya, hanya suara
manusia yang mencoba meniru—bergemuruh di

dada Jacob di bawah telingaku. "Kalau si pengisap
darah idiot itu benar-benar cukup tolol untuk—"
"Please? erangku. "Please. Jangan."
Jacob ragu-ragu, lalu mengangguk satu kali.
"Ini penting," katanya lagi, wajahnya kembali
serius sekarang. "Inilah tepatnya yang perlu kami
ketahui. Kita harus segera memberi tahu yang
lain."
Jacob berdiri, menarikku hingga ikut berdiri.
Kedua tangannya tetap memegangi pinggangku
sampai ia yakin aku tidak akan jatuh.
"Aku tidak apa-apa," dustaku.
Ia melepaskan sebelah tangannya dari
pinggangku dan ganti memegang tanganku. "Ayo
kita pergi."
Jacob menarikku kembali ke truk.
“Kita mau ke mana?" tanyaku.
“Aku belum yakin," Jacob mengakui. "Aku akan
minta diada kan pertemuan. Hei, tunggu dulu di
sini sebentar, oke?” Jacob menyandarkanku ke sisi
truk dan melepaskan tanganku.
“Kau mau ke mana?”
“Sebentar lagi aku kembali." janjinya. Lalu ia
berbalik dan berlari cepat melintasi lapangan
parkir, menyeberang jalan, dan masuk ke balik
hutan yang memagari tepi jalan. Ia lenyap di balik
pepohonan gesit dan cekatan bagai rusa.
"Jacob!' aku berteriak memanggilnya dengan
suara serak, tapi ia sudah lenyap.

Ini bukan saat yang tepat untuk ditinggal
sendirian. Beberapa detik setelah Jacob tidak
terlihat, aku sudah megap-megap kehabisan
napas. Kuseret kakiku ke dalam truk, dan
langsung mengunci pintu rapat-rapat. Namun aku
belum sepenuhnya merasa tenang.
Victoria sudah memburuku. Hanya
keberuntungan yang membuatnya belum
menemukanku sekarang—hanya keberuntungan
dan lima werewolf remaja. Aku mengembuskan
napas tajam. Tak peduli apa yang dikatakan Jacob,
membayangkan ia berada di dekat Victoria
sungguh mengerikan. Aku tak peduli ia bisa
berubah menjadi apa bila marah. Aku bisa melihat
Victoria dalam pikiranku, wajahnya liar,
rambutnya seperti api, mematikan, tak
terkalahkan...
Tapi, menurut cerita Jacob, Laurent sudah mati.
Apakah itu mungkin? Edward—otomatis aku
mencengkeram dadaku—pernah menjelaskan
padaku betapa sulitnya membunuh vampir. Hanya
vampir lain yang bisa melakukannya. Tapi kata
Jacob tadi karena itulah werewolf diciptakan...
Katanya ia akan mengawasi Charlie secara
khusus—bahwa sebaiknya aku memercayakan
keselamatan ayahku pada para werewolf
Bagaimana aku bisa memercayainya? Tak seorang
pun dari kami aman! Apalagi Jacob, bila ia
berusaha menempatkan diri di antara Victoria dan
Charlie... di antara Victoria dan aku.
Rasanya aku ingin muntah lagi.

Ketukan tajam di jendela membuatku memekik
ketakutan—tapi ternyata hanya Jacob, yang sudah
kembali. Kubuka kunci pintu dengan jari-jari
gemetar sekaligus bersyukur.
"Kau benar-benar ketakutan, ya?" tanyanya
sambil memanjat naik.
Aku mengangguk.
"Tidak perlu. Kami akan menjagamu—Charlie
juga. Aku janji."
"Rasanya lebih mengerikan membayangkan kau
menemukan Victoria daripada Victoria menemukan
aku," bisikku.
Jacob tertawa. "Kau harus lebih memercayai
kami. Kalau tidak, itu sama saja menghina."
Aku hanya menggeleng. Aku sudah terlalu sering
melihat vampir beraksi.
"Kau tadi ke mana?" tanyaku.
Jacob mengerucutkan bibir, dan tidak
mengatakan apa-apa.
"Apa? Apa itu rahasia?"
Jacob mengerutkan kening. "Tidak juga. Agak
aneh saja, tapi. Aku tidak ingin membuatmu
ngeri."
"Aku sudah agak terbiasa dengan hal-hal yang
aneh sekarang ini." Aku mencoba tersenyum meski
tak berhasil.
Jacob balas nyengir dengan enteng. "Kurasa
mau tidak mau kau harus terbiasa juga. Oke.

Begini, saat kami menjadi serigala, kami bisa...
saling mendengar."
Alisku bertaut bingung.
"Bukan mendengar suara-suara," sambung
Jacob, "tapi kami bisa mendengar... pikiran—
setidaknya pikiran masing-masing—tak peduli
betapa pun jauhnya kami. Itu sangat membantu
bila kami berburu, namun di luar itu, justru terasa
mengganggu. Memalukan – membuat kita jadi
tidak punya rahasia. Aneh, ya?”
“Jadi itu yang kaumaksud semalam, waktu
kauhilang kau akan memberitaku mereka bahwa
kau datang menemuiku, walaupun sebenarnya tak
ingin?”
“Cerdas juga kau.”
"Kau juga pandai sekali menghadapi hal-hal
aneh. Kusangka itu akan membuatmu merasa
terganggu."
“Itu tidak... kau bukan orang pertama yang
kukenal yang bisa melakukan hal seperti itu. Jadi
rasanya tidak aneh bagiku."
“Benarkah?... Tunggu—maksudmu para
pengisap darah itu?"
"Kuharap kau tidak menyebut mereka begitu."
Jacob tertawa.
"Terserah. Keluarga Cullen, kalau begitu?"
"Hanya... hanya Edward." Diam-diam
kulingkarkan sebelah tanganku ke tubuh.

Jacob tampak terkejut—terkejut yang tidak
senang. "Kusangka itu hanya dongeng. Aku
memang pernah mendengar legenda tentang
vampir yang bisa melakukan... hal-hal istimewa,
tapi kusangka itu hanya mitos."
"Apakah masih ada yang hanya mitos?" tanyaku
kecut.
Jacob merengut. "Kurasa tidak. Oke, kita akan
bertemu Sam dan yang lain-lain di tempat kita naik
motor dulu."
Aku menyalakan mesin dan menjalankan trukku
kembali di jalan.
“Jadi kau berubah jadi serigala tadi, agar bisa
berbicara pada Sam?" tanyaku, penasaran.
Jacob mengangguk, tampak malu-malu. "Hanya
sebentar – aku mencoba untuk tidak
memikirkanmu agar mereka tidak tahu apa yang
terjadi. Aku takut Sam akan menyuruhku untuk
tidak mengajakmu."
"Itu tidak akan menghentikanku." Aku tidak
dapat mengenyahkan persepsiku bahwa Sam jahat.
Aku selalu mengatupkan gigiku rapat-rapat setiap
kali mendengar namanya.
"Well, tapi itu akan menghentikan aku" kata
Jacob, berubah muram. "Ingat bagaimana aku tak
bisa menyelesaikan kalimatku semalam?
Bagaimana aku tak bisa menyampaikan ceritaku
secara utuh?"
"Yeah. Kau kelihatan seperti tercekik sesuatu."

Jacob berdecak garang. "Nyaris. Sam bilang, aku
tidak boleh memberi tahumu. Dia itu... ketua
kawanan, begitulah. Dia itu Alpha-nya. Bila dia
menyuruh kami melakukan sesuatu, atau tidak
melakukan sesuatu—bila dia bersungguh-sungguh
dengan ucapannya, Well, kita tidak bisa
mengabaikannya begitu saja."
"Aneh," gerutuku.
"Sangat," Jacob sependapat. "Itu semacam
kekhasan werewolf.”
"Hah" adalah respons terbaik yang terpikirkan
olehku.
"Yeah, hal semacam itu banyak sekali—hal-hal
yang khas werewolf. Aku tak bisa membayangkan
keadaan Sam, berusaha menghadapinya sendirian.
Bersama-sama sebagai kawanan saja sudah cukup
buruk, apalagi sendirian.
"Sam pernah sendirian?"
"Yeah,” Jacob merendahkan suaranya. "Waktu
aku... berubah, itu peristiwa paling... buruk
peristiwa paling mengerikan yang pernah
kualami—lebih buruk daripada yang bisa ku
bayangkan. Tapi aku tidak sendirian – ada suarasuara
di sana. dalam kepalaku, menjelaskan apa
yang terjadi dan apa yang harus kulakukan.
Dengan begitu aku bisa tetap mempertahankan
kewarasanku. kurasa. Tapi Sam...” Jacob
menggeleng-gelengkan kepala. “Sam tidak dapat
bantuan dan siapa pun."
Buruh waktu cukup lama untuk bisa menerima
semua ini. Saat Jacob menjelaskan seperti itu. sulit

untuk tidak merasa kasihan pada Sam. Aku
berulang kali harus mengingatkan diri sendiri
bahwa tak ada alasan untuk membencinya lagi.
“Apakah mereka akan marah melihatku datang
bersamamu?" tanyaku.
Jacob mengernyitkan muka. "Mungkin. Mungkin
sebaiknya aku—“
Tidak, tidak apa-apa.” Jacob menenangkanku.
"Kau tahu banyak hal yang bisa membantu kami.
Kau kan bukannya tidak tahu apa-apa. Kau
seperti... entahlah, mata-mata atau apa. Kau
pernah berada di belakang garis lawan."
Aku mengerutkan kening. Itukah yang
diinginkan Jacob dariku? Informasi dari "orang
dalam" yang bisa membantu mereka
menghancurkan musuh? Tapi aku bukan matamata.
Selama ini aku tidak mengumpulkan
informasi apa-apa. Belum-belum, perkataannya
tadi membuatku merasa seperti pengkhianat.
Tapi aku ingin ia menghentikan Victoria, kan?
Tidak.
Aku memang ingin Victoria dihentikan, kalau
bisa sebelum ia menyiksaku sampai mati atau
bertemu Charlie atau membunuh orang asing lagi.
Aku hanya tidak ingin Jacob menjadi orang yang
menghentikannya, atau yang mencoba
menghentikannya. Aku tidak ingin Jacob dekatdekat
dengannya.
“Seperti soal pengisap darah yang bisa membaca
pikiran,” sambung Jacob, tak menyadari

kebisuanku. "Itu salah satu hal yang perlu kami
ketahui. Sungguh menyebalkan bahwa ternyata
cerita-cerita itu benar. Semuanya jadi lebih rumit
Hei. menurutmu si Victoria ini juga punya
kemampuan khusus?"
"Kurasa tidak," jawabku ragu, kemudian
mendesah. "Kalau ada, dia pasti sudah
menceritakannya."
"Dia? Oh, maksudmu Edward—uupps, maaf.
Aku lupa. Kau tidak suka menyebut namanya.
Atau mendengarnya."
Kuremas perutku, berusaha mengabaikan
perasaan berdenyut-denyut di sekitar dadaku.
"Tidak juga, tidak."
"Maaf."
"Bagaimana kau bisa begitu mengenalku, Jacob?
Terkadang seolah-olah kau bisa membaca
pikiranku."
"Ah, tidak. Aku hanya memerhatikan."
Kami sampai di jalan tanah kecil tempat Jacob
pertama kali mengajarku naik motor.
"Ini tidak apa-apa?" tanyaku.
“Tentu, tentu.”
Aku menepi dan mematikan mesin.
"Kau masih merasa tidak bahagia, ya?"
gumamnya.
Aku mengangguk, mataku menerawang ke hutan
yang muram.

“Apa menurutmu... mungkin... sekarang ini kau
jadi lebih baik tanpanya?"
Aku menghela napas lambat-lambat, kemudian
mengembuskannya. "Tidak."
“Karena dia bukan yang terbaik—"
"Please, Jacob," selaku, memohon sambil
berbisik. "Bisakah kita tidak membicarakan
masalah ini? Aku tidak tahan!”
"Oke." Jacob menarik napas dalam-dalam. "Maaf
kalau aku mengungkit soal itu."
"Jangan merasa tidak enak. Kalau saja
situasinya berbeda, justru menyenangkan akhirnya
bisa membicarakan hal ini dengan orang lain.
Jacob mengangguk. "Yeah, menyimpan rahasia
dirimu selama dua minggu saja rasanya sulit.
Pastilah berat sekali, tidak bisa membicarakannya
dengan siapa pun.”
“Berat sekali." aku membenarkan.
Jacob terkesiap. “Mereka datang. Ayo turun."
"Kau yakin? tanyaku sementara Jacob membuka
pintu truk. "Mungkin sebaiknya aku tidak berada
di sini."
“Mereka harus bisa menerimanya," kata Jacob,
kemudian nyengir. "Siapa sih yang takut pada
serigala besar yang jahat?”
"Ha ha," sergahku. Tapi aku turun juga dari
truk, bergegas mengitari bagian depan untuk
berdiri di samping Jacob. Aku masih ingat jelas
monster-monster raksasa yang kulihat di padang

rumput waktu itu. Kedua tanganku gemetar,
seperti tangan Jacob tadi, tapi lebih karena takut
ketimbang marah.
Jacob meraih tanganku dan meremasnya. "Itu
mereka."

0 Response to "Twilight Saga: New Moon 2"

Post a Comment