Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: Eclipse

Rute tanpa jalan yang diambil Jacob mulai mendaki dan
semakin lama semakin curam, tapi itu tidak membuat
larinya melambat. Dengan enteng ia melompat dari satu
batu ke batu lain, seperti tidak membutuhkan tangan sama


sekali. Keseimbangannya yang sempurna mengingatkanku
pada kambing gunung.
"Benda tambahan apa itu di gelangmu?" tanyanya.
Aku menunduk, dan menyadari bandul berbentuk hati
dari kristal itu menghadap ke atas di pergelangan tanganku.
Aku mengangkat bahu dengan sikap bersalah. "Hadiah
kelulusan juga."
Jacob mendengus."Batu. Pantas."
Batu? Tiba-tiba saja aku teringat perkataan Alice yang
setengah selesai di luar garasi tadi. Kupandangi kristal putih
cemerlang itu dan berusaha mengingat-ingat komentar
Alice sebelumnya... tentang berlian. Mungkinkah ia hendak
mengatakan dia sudah memberimu sebutir berlian? seolaholah,
aku sudah memakai sebutir berlian pemberian
Edward? Tidak, itu tidak mungkin. Kalau bandul hati ini
berlian, ukurannya pasti lima karat atau sebangsanya!
Edward tidak mungkin...
"Sudah lama sekali kau tidak pernah datang lagi ke La
Push,” Kata Jacob, menginterupsi dugaan-dugaan yang
mengusikku.
"Aku sibuk,” dalihku. "Dan... mungkin aku memang
sedang tidak ingin ke sana."
Jacob meringis. "Kupikir kaulah yang seharusnya mudah
memaafkan orang, dan aku yang mendendam."
Aku mengangkat bahu.
"Kau pasti sering memikirkan peristiwa waktu itu, kan?"
"Tidak."
Jacob tertawa. "Kalau kau tidak bohong, berarti kau
orang paling keras kepala yang pernah hidup."


"Entahlah kalau aku memang yang terakhir itu, tapi aku
tidak berbohong."
Aku tidak suka membicarakan hal itu dalam situasi
seperti sekarang – ketika lengannya yang panas memelukku
erat-erat, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa
mengenainya. Wajahnya terlalu dekat denganku. Kalau saja
aku bisa mundur selangkah untuk menjauhinya.
"Orang yang cerdas memandang keputusan dari segala
sisi."
"Aku sudah melakukannya," dengusku.
"Kalau kaubilang sama sekali tidak pernah memikirkan...
eh, pembicaraan kita waktu terakhir kali kau datang, berarti
itu tidak benar."
"Pembicaraan itu tak ada hubungannya sama sekali
dengan keputusanku."
"Beberapa orang memang rela melakukan apa saja untuk
menipu diri sendiri."
"Menurut pengamatanku, werewolf-lah yang cenderung
melakukan kesalahan itu, menurutmu itu ada kaitannya
dengan masalah genetis atau tidak?"
"Apakah itu berarti ciumannya lebih dahsyat daripada
ciumanku?" tanya Jacob, mendadak muram.
"Aku tak bisa menilainya, Jacob. Edward satu-satunya
yang pernah menciumku.”
"Selain aku."
"Tapi bagiku itu tidak bisa dihitung sebagai ciuman,
Jacob. Menurutku itu lebih merupakan penyerangan."
"Aduh! Sinis sekali."


Aku mengangkat bahu. “Aku tidak berniat menarik
kembali ucapanku."
"Aku kan sudah meminta maaf padamu tentang hal itu."
Jacob mengingatkan.
"Dan aku sudah memaafkanmu... sebagian besar. Tapi
itu tidak mengubah caraku mengingatnya."
Jacob menggerutu panjang lebar.
Lalu suasana sunyi sebentar, yang terdengar hanya suara
tarikan napas Jacob yang terukur serta angin yang meraungraung
di pucuk-pucuk pepohonan di atas kami. Tebing
tinggi menjulang di sebelah kami, batu kelabu kasar
telanjang. Kami mengikuti dasarnya yang melengkung
keluar dari hutan.
"Aku tetap berpendapat itu sangat tidak bertanggung
jawab," kata Jacob tiba-tiba.
"Apa pun yang kaumaksud, kau salah."
"Pikirkan saja, Bella. Menurutmu, kau hanya pernah
berciuman dengan satu orang – yang sebenarnya bukan
orang sungguhan – seumur hidupmu, tapi belum-belum kau
sudah mau menikah. Bagaimana kau tahu apa yang kau
inginkan? Bukankah seharusnya kau mencoba berhubungan
dulu dengan beberapa orang?"
Aku berusaha agar nadaku tetap terdengar dingin. "Aku
tahu persis apa yang kuinginkan."
"Kalau begitu, tidak ada salahnya mengecek ulang,
mungkin sebaiknya kau coba mencium orang lain dulu,
hanya untuk membandingkan... karena apa yang terjadi
waktu itu tidak masuk perhitungan. Kau bisa menciumku,
contohnya. Aku tidak keberatan kalau kau ingin
memakaiku untuk eksperimen."


Jacob mendekapku lebih erat ke dadanya,sehingga
wajahku dekat sekali dengan wajahnya. Ia tersenyumsenyum
mendengar leluconnya sendiri,tapi aku tidak mau
mengambil resiko.
"Jangan macam-macam denganku, Jake. Aku bersumpah
tidak akan menghalangi Edward kalau dia mau
meremukkan rahangmu."
Sedikit nada panik dalam suaraku malah membuat
senyumnya semakin lebar. "kalau kau memintaku
menciummu, dia tidak akan punya alasan untuk marah.
Katanya itu tidak apa-apa."
"Jangan menahan napas dan berharap, Jake, tidak,
tunggu, aku berubah pikiran. Silakan saja. Tahan napasmu
sampai aku memintamu menciumku."
"Suasana hatimu sedang jelek hari ini."
"Entah kenapa, ya?"
"Kadang-kadang aku berpikir kau lebih menyukaiku
kalau kau berwujud serigala."
"Kadang-kadang memang begitu. Mungkin itu karena
kau tidak bisa bicara."
Jacob mengerucutkan bibirnya yang tebal dengan sikap
berpikir-pikir. "Tidak, kurasa bukan karena itu. Kurasa
mungkin lebih mudah bagimu berada di dekatku kalau aku
tidak sedang menjadi manusia, karena kau tidak perlu
berpura-pura tidak tertarik padaku."
Mulutku ternganga dengan suara tersentak kaget. Aku
langsung mengatupkannya lagi, menggertakkan gigi-gigiku.
Jacob mendengarnya. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke
belakang, membentuk senyum penuh kemenangan.


Aku menghela napas lambat-lambat sebelum berbicara.
"Tidak,aku yakin itu karena kau tidak bisa bicara."
Jacob mendesah. “Pernahkah kau lelah membohongi diri
sendiri? Kau pasti tahu betapa kau menyadari
keberadaanku. Secara fisik, maksudku."
"Bagaimana mungkin orang tidak menyadari
keberadaanmu secara fisik,Jacob?" tuntutku. "Kau monster
raksasa yang tidak menghargai ruang pribadi orang lain."
"Aku membuatmu gugup. Tapi hanya saat aku berwujud
manusia."
"Gugup tidak sama dengan jengkel."
Jacob menatapku beberapa saat, memperlambat larinya
dan berjalan, sorot geli surut dari wajahnya. Matanya
menyipit, berubah hitam di bawah naungan bayang-bayang
alisnya. Tarikan napasnya, yang sangat teratur saat ia
berlari, kini mulai berpacu. Pelan-pelan ia mendekatkan
wajahnya ke wajahku.
Kubalas tatapannya, tahu persis apa yang hendak ia
lakukan.
"Wajahmulah penyebabnya,” Aku mengingatkan dia.
Jacob tertawa keras sekali, lalu mulai berlari lagi. "Aku
tidak benar-benar ingin berkelahi dengan vampirmu malam
ini, maksudku, kalau malam lain, boleh-boleh saja. Tapi
kami punya tugas besok, dan aku tidak ingin membuat
kekuatan keluarga Cullen berkurang satu."
Perasaan malu tiba-tiba menyergapku, membuat
ekspresiku langsung berubah.
"Aku tahu, aku tahu,” Sergah Jacob, tidak mengerti.
"Menurutmu dia bisa mengalahkan aku."


Aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku membuat
kekuatan mereka berkurang satu. Bagaimana kalau ada
yang cedera hanya karena aku sangat lemah? Tapi
bagaimana kalau aku bersikap berani dan Edward...
memikirkannya saja aku tak sanggup.
"Kenapa kau, Bella?" Sikap sok jagoan lenyap dari wajah
Jacob, menampilkan Jacob yang asli di baliknya, seperti
membuka topeng. "Kalau perkataanku tadi menyinggung
perasaanmu, kau tahu aku hanya bergurau. Aku tadi cuma
main-main. Tidak ada maksud apa-apa – hei, kau baik-baik
saja? Jangan menangis, Bella," Jacob memohon-mohon.
Aku berusaha menguasai diri. "Aku bukan mau
menangis."
"Memangnya aku bilang apa tadi?"
"Bukan gara-gara perkataanmu. Tapi karena, well, garagara
aku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang... buruk."
Jacob menatapku, matanya membelalak bingung.
"Edward tidak akan bertempur besok,” bisikku
menjelaskan. "Aku memaksanya tinggal bersamaku. Aku
benar-benar pengecut."
Kening Jacob berkerut. "Kaupikir rencana kita tak akan
berhasil? Bahwa mereka akan menemukanmu di sini? Kau
mengetahui sesuatu yang aku tidak tahu?"
"Tidak, tidak, bukan itu yang kutakutkan. Aku hanya...
aku tidak sanggup membiarkannya pergi. Kalau dia tidak
kembali..." Aku bergidik, memejamkan mata untuk
mengenyahkan jauh-jauh pikiran itu.
Jacob terdiam.
Aku terus berbisik-bisik, mataku terpejam. "Kalau ada
yang celaka, itu akan selalu jadi salahku. Tapi bahkan


kalaupun tak ada yang celaka... aku jahat sekali. Pasti
begitu karena aku memaksanya tinggal bersamaku. Dia
tidak akan menyalahkan aku. Tapi aku akan selalu tahu
betapa teganya aku berbuat begini. "Aku merasa sedikit lega
setelah mencurahkan semua unek-unek yang menyesaki
dadaku. Walaupun aku hanya bisa mengakuinya kepada
Jacob.
Jacob mendengus. Mataku perlahan-lahan terbuka, dan
aku sedih melihat topeng kaku itu kembali terpasang di
wajahnya.
"Sulit dipercaya dia membiarkanmu membujuknya untuk
tidak ikut. Kalau aku, aku tidak akan mau melewatkannya
demi apa pun."
Aku mendesah. "Aku tahu."
"Tapi itu tidak berarti apa-apa," Jacob tiba-tiba mundur.
'"Tapi itu tidak berarti dia mencintaimu lebih daripada
aku."
"Tapi kau tidak akan mau tinggal denganku, walaupun
aku memohon-mohon."
Jacob mengerucutkan bibirnya sejenak, dan aku
bertanya-tanya dalam hati apakah ia akan mencoba
menyangkalnya. Kami sama-sama tahu hal sebenarnya. "Itu
hanya karena aku mengenalmu lebih baik,” jawab Jacob
akhirnya. "Semua pasti berjalan mulus tanpa halangan.
Walaupun kau memintaku dan aku menolak, kau tidak
akan marah padaku sesudahnya."
"Kalau semuanya benar-benar berjalan mulus tanpa
hambatan, mungkin kau benar. Tapi selama kau tidak ada,
aku pasti akan sangat khawatir, Jake. Bisa-bisa aku gila."


"Kenapa?" tanya Jacob parau. "Apa pedulimu bila
sesuatu menimpaku?"
"Jangan berkata begitu. Kau tahu betapa berartinya kau
bagiku. Aku menyesal tidak bisa menyayangimu seperti
yang kauinginkan, tapi memang begitulah adanya. Kau
sahabatku. Paling tidak, dulu kau pernah jadi sahabatku.
Dan terkadang pun masih... kalau kau bersikap apa
adanya."
Jacob menyunggingkan senyumnya yang dulu sangat
kusukai. "Aku selalu menjadi sahabatmu.” janji Jacob.
“Bahkan ketika aku tidak... bertingkah sebaik seharusnya.
Di balik itu semua, aku selalu ada di sini."
"Aku tahu untuk apa lagi aku tahan menghadapi semua
omong kosongmu?"
Jacob tertawa bersamaku, tapi kemudian matanya sedih.
"Kapan kau akhirnya akan menyadari bahwa kau
mencintaiku juga?"
"Dasar perusak suasana."
"Aku tidak berkata kau tidak mencintainya. Aku tidak
bodoh. Tapi mungkin saja lebih dari satu orang pada saat
bersamaan, Bella. Aku pernah melihat hal semacam itu.”
"Aku bukan werewolf aneh, Jacob."
Jacob mengernyitkan hidung, dan sebenarnya aku
hendak meminta maaf untuk komentar terakhirku itu, tapi
ia langsung mengubah topik.
"Sebentar lagi kita sampai, aku bisa mencium baunya."
Aku menghembuskan napas lega.
Jacob salah menginterpretasikan maksudku. "Dengan
senang hati aku akan memperlambat langkahku, Bella, tapi
kau pasti ingin segera berlindung sebelum itu melanda."


Tembok awan hitam – ungu yang tebal berpacu dari arah
barat, menghitamkan hutan di bawahnya.
"Wow,” gumamku. "Sebaiknya kau bergegas, Jake. Kau
harus sudah sampai di rumah sebelum badai datang."
"Aku tidak pulang."
Kupandangi dia dengan garang, putus asa. "Kau tidak
boleh berkemah dengan kami."
"Teknisnya tidak, maksudnya, tidak satu tenda dengan
kalian atau apa. Aku lebih suka kehujanan dalam badai
daripada mencium baunya. Tapi aku yakin si penghisap
darahmu pasti ingin bisa tetap berhubungan dengan
kawananku sehingga tetap bisi berkoordinasi, jadi dengan
murah hati aku akan menyediakan jasa itu."
"Lho, kupikir itu tugasnya Seth."
"Dia akan mengambil alih tugas itu besok, selama
pertarungan."
Ingatan itu sempat membuatku terdiam sejenak.
Kupandangi dia, kekhawatiran kembali menghantamku
dengan kekuatan penuh.
"Kurasa tidak mungkin kau bersedia tetap di sini karena
kau toh kau sudah ada di sini sekarang?" saranku.
"Bagaimana kalau aku benar-benar memohon? atau
menggantinya dengan kesediaanku menjadi budakmu
seumur hidup atau semacamnya?"
"Menggoda, tapi tidak. Bagaimanapun, mungkin
menarik juga melihatmu memohon-mohon. Kau boleh
melakukannya sekarang kalau mau."
"Jadi benar-benar tidak ada, tidak ada sama sekali, yang
bisa kulakukan untuk membujukmu?"


"Tidak, tidak kecuali kau bisa menjanjikan pertempuran
lain yang lebih baik untukku. Lagi pula Sam yang
menentukan semuanya, bukan aku."
Perkataannya itu membuatku mendadak teringat.
"Tempo hari Edward menceritakan sesuatu... mengenai
kau."
Jacob gelisah. "mungkin itu bohong."
"Oh,begitu ya? jadi kau bukan orang kedua dalam
kawananmu?"
Jacob mengerjap,wajahnya mendadak kosong karena
terkejut. "Oh, itu."
"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?"
"Untuk apa? Itu bukan hal penting."
"Entahlah. Kenapa tidak? Itu menarik sekali. Jadi,
bagaimana pengaruhnya? Bagaimana ceritanya Sam bisa
menjadi Alfa, sementara kau... eh, jadi Beta?"
Jacob terkekeh mendengar istilah rekaanku itu. "Sam
yang pertama, yang tertua. Jadi masuk akal bila dia yang
memimpin."
Aku mengerutkan kening. “Tapi bukankah seharusnya
Jared atau Paul menjadi yang kedua, kalau begitu? Mereka
berdualah yang berikutnya berubah."
"Well... sulit menjelaskannya,” kata Jacob dengan sikap
menghindar.
"Coba saja."
Jacob mengembuskan napas. "Alasannya lebih karena
garis keturunan, kau mengerti? Agak kuno, memang.
Memangnya kenapa kalau kakekmu siapa, begitu kan?"


Aku teringat kisah yang pernah diceritakan Jacob padaku
dulu sekali, sebelum kami tahu tentang werewolf.
"Bukankah dulu kau pernah cerita Ephraim Black adalah
kepala suku Quileute terakhir?"
"Yeah, itu benar. Karena dia si Alfa. Tahukah kau
bahwa teknisnya, Sam adalah kepala seluruh suku?” Jacob
tertawa.
"Tradisi sinting."
Aku memikirkan itu sejenak, berusaha menyatukan
berbagai kepingan yang terserak. "Tapi kau pernah bercerita
orang-orang lebih patuh kepada ayahmu ketimbang orangorang
di dewan suku karena ayahmu cucu Ephraim?"
"Lantas kenapa?"
"Well, kalau masalahnya adalah garis keturunan...
bukankah seharusnya menjadi kepala suku, kalau begitu?"
Jacob tidak menjawab. Ia memandangi hutan yang
semakin menggelap, seolah-olah mendadak perlu
berkonsentrasi menemukan jalan.
"Jake?"
"Tidak, itu tugas Sam," matanya memandang lurus ke
jalan, yang tak terlihat di tengah kerimbunan semak.
"Kenapa? kakek buyutnya Levi Uley, bukan? Apakah
Levi juga seorang Alfa?"
"Hanya ada satu Alfa,” Jacob otomatis menjawab.
"Jadi Levi itu apa?"
"Semacam Beta, begitulah," Jacob mendengus karena
memakai istilahku, "seperti aku."
"Itu tidak masuk akal."


"Tidak masalah."
"Aku hanya ingin mengerti."
Jacob akhirnya balas menatap sorot mataku yang
bingung, kemudian mendesah. "Yeah. Seharusnya aku
menjadi Alfa."
Alisku bertaut. "Sam tidak mau turun."
"Bukan begitu. Justru aku yang tidak mau naik."
"Kenapa tidak mau?"
Jacob mengerutkan kening, tidak suka mendengar
pertanyaan-pertanyaanku. Well, sekarang giliran Jacob
merasa jengah.
"Aku tidak menginginkannya Bella. Aku tidak ingin ada
yang berubah. Aku tidak mau menjadi kepala suku
legendaris. Aku tidak mau menjadi bagian dari sekawanan
werewolf, apa lagi menjadi pimpinan mereka. Aku tidak mau
menerimanya waktu Sam menawarkan."
Aku memikirkan perkataannya itu beberapa saat Jacob
tidak menyela. Matanya kembali memandangi hutan.
"Tapi kupikir sekarang kau lebih bahagia. Bahwa kau
bisa menerimanya dengan baik," bisikku akhirnya.
Jacob menunduk menatapku sambil tersenyum
menenangkan. "Yeah. Sebenarnya memang lumayan.
Terkadang mengasyikkan, seperti hal yang akan terjadi
besok. Tapi awalnya, rasanya seperti dipaksa ikut wajib
militer dan diterjunkan ke medan perang padahal
sebelumnya kau tidak tahu perang itu ada. Tidak ada
pilihan, kau mengerti? Dan keputusannya sangat final,"
Jacob mengangkat bahu. "Bagaimanapun, kurasa aku
senang sekarang. Itu memang harus dilakukan, dan


dapatkah aku memercayai orang lain untuk melakukannya
dengan benar? Lebih baik memastikannya sendiri."
Aku menatap Jacob, merasakan kekaguman yang tak
terduga-duga terhadap temanku ini. Ternyata ia lebih
dewasa daripada yang kukira. Seperti Billy malam itu pada
acara api unggun, Jacob juga memiliki keagungan yang
tidak pernah kusangka ada pada dirinya.
"Kepala Suku Jacob,” bisikku, tersenyum mendengar
julukan itu.
Jacob memutar bola matanya.
Saat itulah angin mengguncang pepohonan lebih keras di
sekeliling kami, dan rasanya seperti bertiup dari padang es.
Bunyi pohon-pohon berderak bergema dari gunung.
Walaupun cahaya menghilang ditelan aWan-awan kelabu
yang menutupi langit, aku masih bisa melihat bercak-bercak
kecil putih berkelebat melewati kami.
Jacob mempercepat langkah, matanya tertuju ke tanah
sekarang saat ia berlari secepat-cepatnya. Aku meringkuk
pasrah di dadanya,berlindung dari salju yang tidak
diharapkan kedatangannya.
Beberapa menit kemudian, setelah melesat mengitari sisi
teduh puncak berbatu, barulah kami bisa melihat tenda kecil
itu merapat di muka pegunungan. Semakin banyak salju
berjatuhan di sekeliling kami, tapi angin bertiup sangat
kencang hingga gumpalan salju tak bisa diam di satu
tempat.
"Bella," seru Edward. nadanya amat lega. Kami
mendapatinya sedang mondar-mandir gelisah di sepanjang
ruang terbuka kecil.
Ia melesat mendekatiku. nyaris terlihat kabur saking
cepatnya ia bergerak. Jacob mengernyit, lalu menurunkan


aku dari gendongannya. Edward tidak menggubris
reaksinya dan langsung memelukku erat-erat.
"Terima kasih,” kata Edward di atas kepalaku. Tak
salah lagi, nadanya terdengar tulus. "Ternyata lebih cepat
daripada yang kuharapkan, dan aku benar-benar
menghargainya."
Aku memutar badan untuk melihat respons Jacob.
Jacob hanya mengangkat bahu, semua keramahan
tersapu lenyap dari wajahnya. "Bawa dia masuk. Cuaca
akan sangat buruk, bulu kudukku meremang semua.
Apakah tenda itu kuat?"
“Aku menancapkan pasaknya kuat-kuat ke batu."
"Bagus."
Jacob mendongak menatap langit yang sekarang gelap
gulita karena amukan badai, ditaburi pusaran-pusaran kecil
salju. Cuping hidungnya kembang kempis.
"Aku mau berubah dulu,” katanya. "Aku ingin tahu apa
yang sedang terjadi di rumah."
Jacob menggantungkan jaketnya di dahan pohon pendek
di dekat situ,lalu memasuki hutan yang gelap gulita tanpa
menoleh ke belakang lagi.
22. API DAN ES
ANGIN kembali mengguncang tenda, dan aku ikut
berguncang bersamanya.
Temperatur turun drastis. Aku bisa merasakannya
menyusup ke dalam kantong tidurku, menembus jaketku.
Aku berpakaian lengkap, sepatu bot hikingku masih terikat
di kaki. Tapi itu tidak terlalu berpengaruh. Bagaimana


mungkin bisa sedingin ini? Bagaimana hawa bisa terus
semakin dingin? Bagaimanapun, temperatur harus
mencapai titik terendah juga, bukan?
"J-j-j-j-jam b-b-b-berapa ini?" kupaksa kata-kata itu keluar
dari gigiku yang gemeletukkan.
"Jam dua,"jawab Edward.
Edward duduk sejauh mungkin dalam ruangan sempit
itu, bahkan takut untuk menghembuskan napasnya ke
tubuhku karena aku sudah sangat kedinginan. Hari sudah
sangat gelap hingga aku sudah tak bisa melihat wajahnya,
tapi suaranya serat kekhawatiran, keraguan dan perasaan
frustrasi.
"Mungkin..."
"Tidak, aku b_b_b-b-baik-b-b-b- baik s-s-saja, s-s-ssungguh.
Aku tidak mm-m-mau pu-pu-pulang."
Aku tahu Edward sudah lusinan kali berusaha
membujukku untuk lari secepat mungkin dan keluar dari
tempat ini, tapi aku takut meninggalkan tempat
perlindunganku. Kalau di dalam sini saja sudah sedingin
ini, padahal aku terlindung dari amukan badai di luar, tak
bisa kubayangkan bila kami lari menembusnya.
Dan itu berarti semua usaha kami sore tadi sia-sia belaka.
Apakah kami punya cukup waktu untuk mengulangi semua
yang kami lakukan tadi setelah badai berhenti? Bagaimana
kalau badai tak kunjung berhenti? Tidak ada gunanya
pulang sekarang. Aku tahan kok menggigil semalaman.
Aku cemas semua jejak yang kutinggalkan bakal hilang.
Tapi Edward memastikan semuanya pasti masih cukup
jelas bagi monster-monster yang akan datang nanti.


"Apa yang bisa kulakukan?" Edward nyaris memohonmohon.
Aku hanya menggeleng.
Di tengah salju di luar, Jacob mendengking tidak senang.
"P-p-p-p-pergi d-d-d-dari sini,” perintahku, sekali lagi.
"Dia hanya mengkhawatirkanmu," Edward
menerjemahkan.
"Dia baik-baik saja. Tubuhnya memang dirancang
khusus untuk bisa menghadapi badai semacam ini."
"D-d-d-d-d." Sebenarnya aku ingin mengatakan
seharusnya Jacob tetap pergi, tapi tak sanggup mengatakan
apa-apa lagi. Lidahku bahkan nyaris tergigit waktu
mencoba bicara. Setidaknya Jacob sepertinya memang
cukup tahan menghadapi salju, bahkan jauh lebih baik
daripada rekan-rekan sekawanan ya dengan bulu cokelat
kemerahannya yang lebih tebal, lebih panjang. dan
gondrong. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa begitu.
Jacob mendengking, suaranya bernada protes yang kasar
dan melengking tinggi.
"Memangnya kau harus bagaimana lagi?" geram Edward
terlalu gelisah untuk tetap bersikap sopan. "Membopongnya
menembus badai ini?" kau sendiri juga tidak melakukan apa
pun yang berguna. Kenapa kau tidak pergi saja
mengambilkan alat pemanas atau semacamnya?"
"Aku t-t-t-tidak a-a-a-apa-apa,” protesku. Menilik
erangan Edward dan geraman pelan di luar tenda, tak
seorang pun di antara mereka mempercayai kata-kataku.
Angin mengguncang tenda dengan ganasnya, dan aku ikut
bergetar.


Suara lolongan tiba-tiba mengoyak raungan angin, dan
aku menutup telinga untuk menghalau suara berisik itu.
Edward merengut.
"Itu sebenarnya tidak perlu,” gerutunya."Dan itu ide
paling jelek yang pernah kudengar,” serunya lagi dengan
suara lebih keras.
"Lebih baik daripada idemu,” balas Jacob, suara
manusianya membuatku kaget. "Kenapa tidak pergi
mengambilkan alat pemanas," gerutunya. "Aku bukan
St.Nennard."
Aku mendengar suara ritsleting pintu tenda ditarik ke
bawah.
Jacob menyusup masuk lewat bukaan terkecil yang bisa
diusahakannya, sementara hawa dingin berembus masuk,
beberapa keping salju berjatuhan di lantai tenda. Tubuhku
gemetar begitu dahsyat hingga seperti kejang-kejang.
"Aku tidak suka ini,” desis Edward saat Jake menutup
kembali ristleting pintu tenda. "Cepat berikan saja
mantelmu dan segera keluar dari sini."
Mataku sudah bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan
sehingga aku bisa melihat bentuk-bentuk, bentuk Jacob
menenteng jaketnya yang tadi digantung di pohon di
sebelah tenda.
Aku mencoba bertanya apa yang mereka bicarakan. Tapi
yang keluar dari mulutku hanyalah, "A-a-a-a-a." Karena
tubuhku berguncang hebat membuatku gagap tak
terkendali.
"Jaketnya untuk besok – dia terlalu kedinginan sehingga
akan bisa memanaskannya. Jaket ini membeku. Jacob
menjatuhkannya di dekat pintu. "Kaubilang tadi dia butuh
pemanas, jadi inilah aku," jawab Jacob membentangkan


kedua lengannya selebar yang bisa dilakukannya di tenda
sempit itu. Seperti biasa, kalau ia habis berlari-lari sebagai
serigala, ia hanya berpakaian seperlunya saja – celana
panjang, tanpa baju, tanpa sepatu.
"J-J-J-J-Jake, kau akan m_m_m_membe-be-be-k-k-ku,"
aku berusaha protes.
"Aku tidak,” bantahnya riang. "Belakangan ini suhu
tubuhku bisa mencapai 42 derajar Celcius lebih. Dalam
sekejap aku pasti bisa membuatmu berkeringat."
Edward menggeram, tapi Jacob bahkan tidak meliriknya
sedikit pun. Ia malah merangkak mendekatiku dan mulai
membuka ritsleting kantong tidurku.
Tangan Edward tiba-tiba mendarat keras di bahu Jacob,
menahannya, seputih salju di kulit Jacob yang gelap.
Dagu Jacob langsung mengeras, cuping hidungnya
kembang kempis. Tubuhnya mengejang karena sentuhan
dingin itu.
"Jangan sentuh aku,” geramnya dan sela-sela gigi yang
terkatup rapat.
"Jangan sentuh dia,” balas Edward, sama garangnya.
"J-j-j-jangan b-b-b-bertengkar.” aku memohon Sekujur
tubuhku kembali berguncang hebat. Sepertinya gigiku bakal
rontok. karena bergemeletuk begitu kuat.
"Aku yakin dia akan berterima kasih padamu kalau nanti
jari-jari kakinya berubah warna jadi hitam dan putus,”
bentak Jacob.
Edward ragu-ragu, lalu menurunkan tangannya dan
kembali bergeser ke posisinya di pojok tenda.
Suara Edward datar dan mengerikan. “Jangan macammacam."


Jacob terkekeh.
"Minggirlah sedikit Bella,” perintah Jacob, membuka
ristleting kantong tidur lebih lebar.
Kupandangi dia dengan marah. Pantas saja Edward
bereaksi begitu.
"T-t-tidak.” aku berusaha memprotes.
"Jangan bodoh,” tukas Jacob,gemas. "Kau tidak suka ya
jari kakimu tetap lengkap sepuluh?"
Jacob menjejalkan tubuh ke ruang sisa yang sebenarnya
tak ada,memaksa menaikkan ritsleting sendiri.
Aku tak bisa menolak lagi, karena memang tidak mau
menolak. Tubuhnya hangat sekali. Kedua lengannya
memelukku, mendekapku dengan erat-erat di dadanya yang
telanjang. Panas tubuhnya sangat nyaman,bagai udara
setelah terlalu lama berada di bawah air. Ia meringis waktu
aku menempelkan jari-jariku sedingin es dengan penuh
semangat di kulitnya."
"Ya ampun, kau membeku Bella.” protesnya.
"m-m-maaf,” ucapku terbata-bata.
"Cobalah untuk rileks,” Jacob menyarankan saat
tubuhku kembali bergetar hebat. "Sebentar lagi kau akan
merasa hangat. Tentu saja kau akan lebih cepat hangat
kalau membuka bajumu."
Edward menggeram tajam.
"Memang faktanya begitu kok,” Jacob membela diri.
"Ada di panduan keselamatan."
"Sudahlah Jake," sergahku marah, walaupun tubuhku
menolak untuk bahkan menjauhkan diri darinya."T-t-t-tidak


ada o-o-o-orang y-y-y-yang benar-benar memb-u-tuhkan s-ss-
sepuluh jari kaki."
"Jangan pedulikan Si pengisap darah itu,” Jacob
menyarankan, nadanya penuh kemenangan. "Dia hanya
cemburu."
"Tentu saja aku cemburu,” suara Edward kembali
selembut beledu, terkendali, bagai bisikan merdu di
kegelapan. "Kau tidak tahu sama sekali betapa aku berharap
bisa melakukan apa yang sekarang kaulakukan untuknya,
anjing."
"Itulah untungnya,” tukas Jacob enteng, tapi kemudian
nadanya berubah masam. "Setidaknya kau tahu dia
berharap aku ini kau."
"Benar,” Edward sependapat.
Guncangan tubuhku mulai berkurang, sedikit
tertahankan sementara mereka cekcok terus.
"Nah,” kata Jacob, senang. "Sudah merasa lebih enak?"
Akhirnya aku bisa juga berbicara dengan lancar. "Ya."
"Bibimu masih biru.” Jacob mengamati. "Mau
kuhangatkan sekalian? Kau tinggal minta."
Edward mengembuskan napas berat.
"Jaga sikapmu,” bisikku, menempelkan wajahku ke
bahunya. Jacob terlonjak lagi waktu kulitku yang dingin
menyentuh kulitnya, dan aku tersenyum dengan sedikit
perasaan puas karena berhasil memberinya pelajaran.
Bagian dalam kantong tidur kini sudah hangat dan
nyaman. Panas tubuh Jacob seakan terpancar dari setiap sisi
tubuhnya, mungkin itu karena tubuhnya sangat besar.
Kutendang sepatu botku hingga terlepas, dan kuselipkan
jari-jari kakiku ke kakinya. Jacob terlonjak sedikit, tapi


kemudian merunduk dan menempelkan pipinya yang panas
ke telingaku yang kebas.
Kusadari kulit Jacob memancarkan aroma seperti kayu,
sangat cocok dengan suasana alam sekitarnya,di tengah
hutan sini. Aku jadi penasaran apakah keluarga Cullen dan
para anggota suku Quileute hanya membesar-besarkan
masalah bau itu karena masing-masing menyimpan
prasangka terhadap yang lain. Sebab bau mereka baik-baik
saja menurutku.
Badai mengamuk seperti lengkingan binatang menyerang
tenda, tapi itu tak lagi membuatku khawatir. Jacob tidak
lagi berada di luar di hawa yang dingin,begitu pula aku.
Tambahan lagi, aku terlalu lelah untuk khawatir tentang
hal-hal lain, capek karena sudah selarut ini belum juga
tidur,dan sekujur tubuhku sakit-sakit karena otot-ototku
kejang. Tubuhku lambat laun menjadi rileks saat
kebekuanku mulai mencair, sedikit demi sedikit, kemudian
berubah lemas.
"Jake?" gumamku dengan suara mengantuk. "Bolehkah
aku menanyakan sesuatu? Bukan maksudku ikut campur
atau bagaimana, aku benar-benar ingin tahu,” kata-kataku
persis sama seperti yang dikatakan Jacob di dapurku...
berapa lama berselang?
"Tentu,” Jawab Jacob terkekeh, teringat.
"Mengapa bulumu jauh lebih lebat daripada temantemanmu?
kau tidak perlu menjawab kalau pertanyaanku
itu kau rasa terlalu usil. "Aku tidak tahu bagaimana aturan
etiket dalam dunia werewolf."
"Karena rambutku lebih panjang.” jawab Jacob,
setidaknya pertanyaanku tidak membuatnya tersinggung. Ia
menggertakkan kepalanya sehingga rambutnya yang awutawutan,
sekarang sudah sedagu, menggelitik pipiku.


"Oh," Aku terkejut, tapi jawabannya masuk akal. Jadi
karena itulah mereka semua memotong rambut pendek
mereka pada awalnya,begitu bergabung dengan kawanan.
"Kalau begitu kenapa kau tidak memotongnya? kau suka
berambut gondrong?"
Kali ini Jacob tidak langsung menjawab pertanyaanku,
dan Edward tertawa pelan.
"Maaf,” ucapku, berhenti sebentar untuk menguap.
"Aku tidak bermaksud usil. Kau tidak perlu menjawab
pertanyaanku."
Jacob mengeluarkan suara bernada kesal. "Oh, dia toh
akan tetap menceritakannya padamu, jadi lebih baik aku
sendiri yang mengatakannya... aku memanjangkan
rambutku karena... sepertinya kau lebih suka kalau
rambutku panjang."
"Oh,” Aku merasa kikuk. "Aku, eh, suka dua-duanya,
Jake. Kau tidak perlu... repot-repot menyesuaikannya
dengan keinginanku."
Jacob mengangkat bahu. "Ternyata rambutku juga
berguna malam ini, jadi tidak usah pikirkan masalah itu
lagi."
Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Saat kesunyian
semakin panjang, kelopak mataku terasa berat dan akhirnya
tertutup, tarikan napasku semakin lambat dan teratur.
"Ya benar, Sayang, tidurlah,” bisik Jacob.
Aku mengembuskan napas, merasa senang, sudah
separuh tidak sadar.
"Seth sudah datang,” gumam Edward kepada Jacob,
dan tiba-tiba aku menyadari maksud lolongannya.


"Sempurna. Sekarang kau bisa memperhatikan hal-hal
lain, sementara aku menjaga pacarmu untukmu."
Edward tidak menyahut, tapi aku mengerang dengan
lemah. "Hentikan.” omelku.
Suasana akhirnya sunyi, setidaknya di dalam tenda. Di
luar, angin memekik-mekik mengerikan di sela-sela
pepohonan. Tenda yang bergoyang-goyang membuatku
sulit tidur. Tali pasak bisa tiba-tiba tersentak dan bergetar,
menyentakkanku kembali dari tepian ketidaksadaran
sebelum sempat benar-benar tenggelam. Aku merasa sangat
tidak enak memikirkan si serigala, si anak lelaki yang harus
berada di tengah badai salju.
Pikiranku berkelana saat aku menunggu diriku tertidur.
Ruangan kecil hangat ini membuat ingatanku melayang ke
hari-hari awal persahabatanku dengan Jacob, dan aku
mengenang bagaimana dulu saat ia menjadi matahari
penggantiku, kehangatan yang membuat hidupku yang
hampa jadi bermakna lagi. Sejak dulu aku menganggap
Jake seperti itu, dan sekarang itu terulang lagi, Jacob
menghangatkan aku lagi.
"Please!" desis Edward. "Kau keberatan tidak?"
"Apa!" Jacob balas berbisik, nadanya terkejut.
"Menurutmu, bisa tidak kau berusaha mengontrol
pikiranmu!" Edward berbisik pelan dengan nada marah.
"Siapa suruh mendengarkan,” gerutu Jacob, menantang
namun tetap merasa malu. "Enyahlah dari kepalaku."
"Kalau saja aku bisa. Kau tidak tahu berapa lantangnya
fantasi-fantasimu itu terdengar olehku. Seolah-olah kau
meneriakkannya padaku."
"Aku akan berusaha memelankannya,” bisik Jacob sinis.


Sejenak suasana sunyi.
"Benar,” Edward menjawab pikiran Jacob yang tidak
disuarakan dalam bisikan sangat pelan hingga aku nyaris
tak bisa mendengarnya. "Aku juga cemburu pada hal itu."
"Sudah kukira memang seperti itu,” bisik Jacob dengan
nada menang. "Agak menyamakan posisi, kan?"
Edward terkekeh. “Bermimpilah terus."
"Kau tahu, dia masih tetap bisa berubah pikiran,” Jacob
mengejek Edward. "Apalagi kalau mengingat semua hal
yang bisa kulakukan untuknya yang kau tidak bisa.
Setidaknya tanpa membunuhnya, begitulah."
"Tidurlah Jacob,” gumam Edward. "Kau mulai
membuatku jengkel."
"Kurasa aku memang akan tidur. Aku benar-benar
merasa nyaman."
Edward tidak menanggapi.
Aku sudah begitu dalam terhanyut dalam tidur hingga
tak bisa meminta mereka berhenti membicarakanku seolaholah
aku tidak ada di sana. Pembicaraan mereka sudah
terasa seperti mimpi bagiku, dan aku tidak yakin apakah
aku benar-benar terbangun.
"Mungkin aku bisa melakukannya,” kata Edward
beberapa saat kemudian, menjawab pertanyaan yang tidak
kudengar.
"Tapi apakah kau akan jujur?"
"Tanya dan lihat saja sendiri." Nada Edward membuatku
bertanya-tanya apakah ada lelucon yang terlewat.


"Well, kau kan bisa melihat isi kepalaku, biarkan aku
melihat isi kepalamu malam ini, itu baru adil namanya,"
kata Jacob
"Kepalamu penuh pertanyaan. Kau ingin aku menjawab
yang mana?"
"Kecemburuan... itu pasti membuatku sangat tersiksa.
Berarti sebenarnya kau tidak terlalu yakin pada diri sendiri
seperti yang selama ini kau tunjukkan. Kecuali kau memang
tidak punya emosi sama sekali."
"Tentu saja menyiksa,” Edward sependapat, tak lagi
terdengar geli. "Sekarang ini, kecemburuan itu begitu
hebatnya hingga aku nyaris tak bisa mengendalikan
suaraku. Tentu saja lebih parah lagi kalau dia jauh dariku,
bersamamu, dan aku tidak bisa melihatnya."
"Kau memikirkan hal itu setiap saat?" bisik Jacob.
"Sulitkah bagimu berkonsentrasi jika dia tidak sedang
bersamamu?"
"Ya dan tidak," kata Edward, sepertinya bertekad
menjawab sejujur-jujurnya. "Cara berpikirku tidak sama
dengan cara berpikirmu. Aku bisa memikirkan banyak hal
sekaligus. Tentu saja, itu berarti aku selalu bisa
memikirkanmu, selalu bisa bertanya-tanya apakah
pikirannya sedang tertuju kepadamu, bila dia sedang
berdiam diri dan berpikir."
Mereka terdiam cukup lama.
"Ya, aku menduga dia pasti sering memikirkanmu,”
gumam Edward, merespon pikiran Jacob. "Lebih sering
daripada yang kuinginkan. Dia khawatir kau tidak bahagia.
Bukannya kau tidak tahu itu. Bukannya kau tidak
memanfaatkan hal itu."


"Aku harus memanfaatkan apa saja yang bisa
kumanfaatkan,” tukas Jacob. "Kau punya beberapa
keuntungan yang tidak kumiliki, misalnya dia tahu bahwa
dia mencintaimu."
"Itu memang membantu,” Edward menyepakati dengan
nada lunak.
Jacob menantang.” Dia juga mencintaiku tahu."
Edward tidak menanggapi.
Jacob mendesah. “Tapi dia tidak menyadarinya."
"Aku tidak bisa mengatakan kau benar."
"Apakah itu membuatmu merasa terganggu? Apakah kau
berharap bisa melihat apa yang dia pikirkan?"
"Ya... dan tidak, lagi-lagi. Dia lebih suka keadaannya
seperti ini, dan walaupun kadang-kadang itu membuatku
gila, aku lebih suka dia bahagia."
Angin menjerit-jerit di sekeliling tenda, mengguncangnya
seperti gempa bumi. Lengan Jacob memelukku lebih erat
lagi dengan sikap protektif.
"Terima kasih,” bisik Edward. "walaupun
kedengarannya aneh, kurasa aku senang kau ada di sini,
Jacob."
"Maksudmu, walaupun aku sangat ingin membunuhmu.
Aku sangat senang dia hangat, benar begitu kan?"
"Gencatan senjata yang tidak nyaman, bukan?"
Bisikan Jacob mendadak terdengar puas. "Aku sudah
mengira kau sama pencemburunya dengan aku."
"Aku tidak cukup bodoh hingga mengumbarnya seperti
kau. Itu tidak akan membantu, kau tahu."


"Ternyata kau lebih sabar daripada aku."
"Seharusnya begitu. Aku punya waktu seratus tahun
untuk bisa mencapai tahap ini. Seratus tahun menunggu
dia."
"Jadi... pada titik apa kau memutuskan untuk
memainkan peran sebagai lelaki penyabar?"
"Waktu aku melihat betapa sakitnya dia bila dia disuruh
memilih. Biasanya tidak sesulit ini mengendalikan
perasaanku. Biasanya aku bisa meredam... perasaanperasaan
tidak beradab yang kurasakan terhadapmu jauh
lebih mudah daripada sekarang. Kadang-kadang aku
merasa dia bisa membaca pikiranku, tapi aku tak yakin."
"Kurasa kau hanya khawatir, kalau kau benar-benar
memaksanya memilih, dia mungkin tidak akan
memilihmu."
Edward tidak langsung menjawab. "Sebagian.” Edward
akhirnya mengakui. "Tapi hanya sebagian kecil. Keraguan
itu sewaktu-waktu memang muncul. Kebanyakan aku
khawatir dia akan celaka saat diam-diam menemuimu.
Setelah aku bisa menerima kenyataan bahwa dia kurang
lebih akan aman bersamamu, seaman yang mungkin bisa
dialami Bella, sepertinya pilihan terbaik adalah berhenti
memaksanya."
Jacob mendesah. "Kalau kuceritakan semua ini padanya,
dia pasti tidak akan percaya.”
"Aku tahu," Kedengarannya Edward tersenyum.
"Kaukira kau tahu segalanya," gerutu Jacob.
"Aku tidak tahu masa depan,” bantah Edward.
Suaranya mendadak terdengar tidak yakin.
Suasana sunyi cukup lama.


"Apa yang akan kaulakukan seandainya dia berubah
pikiran?" tanya Jacob.
"Aku juga tidak tahu jawabannya."
Jacob terkekeh pelan. "Apakah kau akan mencoba
membunuhku?" Sikapnya kembali sarkastis, seolah-olah
meragukan kemampuan Edward untuk melakukan hal itu.
"Tidak."
"Kenapa tidak?" Nada Jacob masih mengejek.
"Menurutmu, hatinya tidak akan terluka bila itu terjadi?"
Jacob ragu-ragu sejenak, kemudian mengembuskan
napas.
"Yeah, kau benar. Aku tahu itu benar. Tapi terkadang.."
"Terkadang ide itu sangat menggoda."
Jacob menempelkan wajahnya ke kantong tidur untuk
meredam tawanya. "Tepat sekali.” akhirnya ia sependapat.
Betapa anehnya mimpi ini. Aku penasaran apakah
penyebabnya adalah angin yang tak henti-hentinya bertiup
hingga membuatku membayangkan bisikan-bisikan itu.
Tapi angin justru menjerit-jerit, bukannya berbisik-bisik...
"Bagaimana rasanya? Kehilangan dia?" tanya Jacob
setelah terdiam sesaat, tak terdengar sedikit pun nada
bergurau dalam suaranya yang mendadak parau. "Waktu
kau mengira telah kehilangan dia selama-lamanya?
Bagaimana kau bisa...bertahan?"
"Sulit sekali bagiku membicarakan hal itu."
Jacob menunggu.
"Ada dua masa yang berbeda, ketika aku berpikir
kehilangan dia." Edward mengucapkan setiap kata sedikit


lebih lambat daripada biasanya. "Pertama kali, waktu aku
mengira aku bisa meninggalkannya... waktu itu... aku
nyaris bisa menahannya. Karena kupikir dia akan
melupakan aku hingga seolah-olah aku tidak pernah
menyentuh hidupnya. Selama lebih dari enam bulan aku
bisa menjauh darinya, menepati janjiku untuk tidak akan
ikut campur lagi. Sudah hampir bisa, aku berjuang, tapi
tahu aku tidak akan menang, aku harus kembali... hanya
untuk mengecek keadaannya. Setidaknya, itulah alasan
yang kupakai untuk membenarkan tindakanku. Dan
seandainya aku menemukannya bahagia... pikirku, aku
pasti bisa pergi lagi."
"Tapi ternyata dia tidak bahagia. Dan aku pasti akan
tinggal bersamanya. Begitulah caranya meyakinkanku
untuk tinggal di sini bersamanya besok, tentu saja. Kau
sendiri penasaran mengenai hal itu, apa kira-kira yang
memotivasiku.. rasa bersalah apa yang tidak perlu dia
rasakan. Dia mengingatkanku apa akibatnya jika aku
meninggalkannya. Dia merasa tidak enak hati telah
mengungkit masalah itu, tapi dia benar. Aku tidak akan
pernah bisa memperbaiki kesalahan dulu, tapi
bagaimanapun juga, aku tidak pernah berhenti mencoba."
Sesaat Jacob tidak merespons, entah mendengarkan
badai atau mencerna apa yang barusan didengarnya. Aku
tidak tahu yang mana.
"Dan waktu itu, ketika kau mengira dia sudah mati?"
bisik Jacob pelan.
"Ya." Edward menjawab pertanyaan berbeda. "Mungkin
akan terasa seperti itu bagimu,ya? mengingat cara
pandangmu terhadap kaum kami, kau mungkin tidak akan
bisa melihatnya sebagai Bella lagi. Tapi dia akan tetap
menjadi Bella."


"Bukan itu yang kutanyakan."
Edward menjawabnya dengan cepat dan keras. “Aku
tidak bisa menceritakan bagaimana rasanya. Tidak ada
kata-kata yang bisa mengungkapkannya."
Lengan Jacob yang memelukku mengejang.
"Tapi kau pergi karena kau tidak mau membuatnya
menjadi penghisap darah. Kau ingin dia tetap menjadi
manusia."
Edward berbicara lambat-lambat. "Jacob, sejak detik
pertama aku sadar bahwa aku mencintainya, aku sudah
tahu hanya akan ada empat kemungkinan. Alternatif
pertama, yang terbaik bagi Bella, adalah kalau cintanya
padaku tidak terlalu besar, kalau dia bisa melupakan aku
dan melanjutkan hidupnya. Aku akan menerimanya,
walaupun itu takkan pernah merubah perasaan. Kau
menganggapku... batu hidup, keras dan dingin. Memang
benar. Kami memang begini adanya, dan sangat jarang
kami mengalami perubahan yang sesungguhnya. Jika itu
terjadi, seperti ketika Bella memasuki duniaku, perubahan
itu bersifat permanen. Tak ada jalan kembali...
"Alternatif kedua, yang tadinya kupilih, adalah tetap
bersamanya seumur hidup manusianya. Memang bukan
pilihan yang bagus baginya, menyia-nyiakan hidup untuk
seseorang yang tak bisa menjadi manusia bersamanya, tapi
itu altematif yang paling bisa kuterima. Sejak awal aku
mengetahui bahwa, jika dia meninggal nanti, aku akan
mencari jalan untuk mati juga. Enam puluh, tujuh puluh
tahun, akan terasa amat sangat singkat bagiku.. Tapi
kemudian terbukti bahwa terlalu berbahaya bagi Bella jika
hidup terlalu dekat dengan duniaku. Sepertinya semua
kacau. Atau semuanya menunggu waktu untuk
menjadi...kacau. Aku takut tidak akan mendapatkan enam


puluh tahun itu jika aku berada di dekatnya dan dia tetap
menjadi manusia.
"Maka aku pun memilih opsi ketiga. Yang ternyata
menjadi kesalahan terburuk dalam hidupku yang sangat
panjang ini, seperti sudah kauketahui. Aku memilih keluar
dari dunianya, berharap bisa memaksanya memilih opsi
pertama. Itu tidak berhasil, dan malah nyaris membunuh
kami berdua."
"Pilihan apa lagi yang kumiliki selain Opsi keempat.
Itulah yang dia inginkan, setidaknya,dia mengira begitu.
Selama ini aku berusaha mengulur-ulur waktu, memberinya
waktu agar bisa menemukan alasan untuk berubah pikiran,
tapi dia sangat.. keras kepala. Kau tahu itu. Aku sangat
beruntung kalau bisa menundanya hingga beberapa bulan
lagi. Dia sangat takut menjadi tua, sementara ulang
tahunnya bulan September.."
"Aku suka opsi pertama,” gerutu Jacob.
Edward diam saja.
"Kau tahu persis betapa bencinya aku menerima ini,”
Jacob berbisik lambat-lambat, "tapi bisa kulihat kau benarbenar
mencintainya... dengan caramu sendiri. Aku tidak
bisa mendebat hal itu lagi.
"Mempertimbangkan hal itu, kupikir kau tak seharusnya
melupakan alternatif pertama, belum. Menurutku, besar
kemungkinan dia akan baik-baik saja. Setelah beberapa
waktu. Kau tahu, seandainya dia tidak terjun dari tebing
bulan Maret lalu... dan seandainya kau menunggu enam
bulan lagi untuk datang mengeceknya... Well, bisa jadi kau
akan menemukannya dalam keadaan sangat bahagia. Aku
sudah punya rencana.”


Edward terkekeh. "Mungkin saja itu akan berhasil.
Rencanamu telah dipikirkan masak-masak."
"Apa?" desak Jacob lagi.
"Tentu saja,” Edward marah sekali. “tentu saja! aku lebih
suka tetuamu menyimpan saja cerita itu dan tidak
mengungkapkannya, Jacob."
"Kau tidak senang para lintah digambarkan sebagai
penjahat?” ejek Jacob. “Kau tahu memang begitulah
kenyataannya. Dulu maupun sekarang."
"Masa bodoh dengan bagian yang itu. Masa kau tidak
bisa menebak Bella akan mengidentifikasikan dirinya
dengan karakter siapa?"
Jacob berpikir sebentar. "Oh,Ugh. Si istri ketiga. Oke,
aku mengerti maksudmu."
"Dia ingin berada di sana di lapangan. Istilahnya
membantu semampunya,” Edward mendesah. "Itu alasan
kedua aku akan menemaninya besok. Dia sangat inventif
jika menginginkan sesuatu."
"Kau tahu, kakakmu yang tentara itu memberinya ide
untuk melakukannya, bukan hanya gara-gara kisah itu."
"Dua-duanya tidak bermaksud buruk,” bisik Edward,
mengajak berdamai.
"Dan kapan gencatan senjata kecil ini berakhir?" tanya
Jacob. "Begitu hari terang? atau kita harus menunggu
sampai sesudah pertempuran?"
"Begitu hari terang,” Keduanya sama-sama berbisik,
kemudian tertawa pelan.
"Tidurlah yang nyenyak Jacob,” Bisik Edward. "Nikmati
momen ini."


Suasana kembali sunyi, dan tenda diam tak bergerak
selama beberapa menit. Angin tampaknya telah
memutuskan untuk tidak menghancurkan kami, dan
berhenti menyerang.
Edward mengerang pelan. "Maksudku, tidak sampai
seperti itu.”
"Maaf,"bisik Jacob. “Kau bisa pergi tahu, memberi kami
sedikit privasi."
"Kau mau aku membantumu tidur, Jacob?" Edward
menawarkan.
"Bisa saja kaucoba.” Jawab Jacob, tak peduli. "Pasti
menarik untuk melihat siapa yang tidak tahan dan pergi,
kan?"
"Jangan kelewatan menggodaku, serigala. Kesabaranku
tidak sesempurna itu."
Jacob membisikkan tawa. "Aku lebih suka tidak bergerak
sekarang, kalau kau tidak keberatan."
Edward mulai berdendang sendiri, lebih nyaring
daripada biasanya, berusaha menenggelamkan pikiranpikiran
Jacob, asumsiku. Tapi ternyata ia mendendangkan
lagu ninaboboku, dan, meskipun aku semakin tidak
nyaman dengan mimpi yang penuh bisikan ini, aku
terbenam semakin dalam ke ketidaksadaran... masuk ke
mimpi-mimpi lain yang lebih masuk akal...
"Yeah," Jacob mendesah. "Tapi...” tiba-tiba Jacob
berbisik cepat sekali sehingga kata-katanya saling tumpang
tindih. “Beri aku waktu satu tahun, Edward. Aku sangat
yakin bisa membuatnya bahagia. Dia memang keras kepala,
aku tahu benar itu, tapi dia punya kemampuan untuk pulih.
Kemarin pun sebenarnya dia pasti bakal pulih. Dan dia bisa


menjadi manusia,bersama Charlie dan Renee, dan dia bisa
menjadi dewasa, punya anak dan.. menjadi Bella."
"Kau mencintainya cukup besar hingga kau pasti bisa
melihat kelebihan rencana itu. Dia menganggapmu sangat
tidak egois... tapi apakah itu benar? bisakah kau
mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin saja aku
lebih baik baginya daripada dirimu?"
"Aku sudah mempertimbangkannya,” Jawab Edward
dengan suara tenang. "Dalam beberapa hal kau lebih cocok
dengannya daripada manusia lain. Bella harus dijaga, dan
kau cukup kuat sehingga mampu melindunginya dari
dirinya sendiri, dan dari segala sesuatu yang berkonspirasi
melawannya. Kau sudah melakukan hal itu, dan aku
berhutang budi padamu selama aku hidup, selamanya...
"Aku bahkan sudah bertanya kepada Alice apakah dia
bisa melihat hal itu, melihat apakah Bella akan hidup lebih
baik jika bersamamu. Dia tidak bisa melihatnya, tentu saja.
Dia tidak bisa melihatnya, dan sudah pasti Bella juga tidak
akan tidak terlihat."
"Tapi aku tidak cukup bodoh sampai melakukan
kesalahan yang sama seperti yang kubuat sebelumnya,
Jacob. Aku tidak akan berusaha memaksanya menerima
opsi pertama lagi. Selama ia menginginkanku, aku akan
tetap di sini."
"Tapi bagaimana kalau dia memutuskan
menginginkanku," tantang Jacob. "Oke, kemungkinannya
memang kecil. Aku tahu itu."
"Aku akan melepaskannya."
"Begitu saja?"
"Dalam arti aku tidak akan pernah menunjukkan betapa
beratnya itu bagiku, ya. Tapi aku akan tetap mengawasi.


Kau tahu, Jacob. Mungkin saja kau akan meninggalkan dia
suatu saat nanti. Seperti Sam dan Emily, kau tidak akan
punya pilihan. Aku akan selalu menunggu di dekat kalian.
Berharap itu terjadi."
Jacob mendengus. "Well, ternyata kau jauh lebih jujur
daripada yang berhak kuharapkan... Edward. Terima kasih
karena telah mengizinkanku mengetahui isi kepalamu."
"Seperti kataku tadi, anehnya aku justru bersyukur atas
kehadiranmu dalam hidupnya malam ini. Jadi hanya ini
yang bisa kulakukan untukmu... Kau tahu, Jacob,
seandainya bukan karena fakta bahwa kita musuh
bebuyutan, juga karena kau berusaha merebut inti
eksistensiku, mungkin sebenarnya aku bisa menyukaimu."
"Mungkin... seandainya kau bukan vampir menjijikkan
yang berniat mengisap darah gadis yang kucintai sampai
mati... well, tidak, bahkan itu pun tidak mungkin."
Edward terkekeh.
"Bolehkah aku bertanya?" tanya Edward sejurus
kemudian.
"Kenapa harus bertanya?"
"Aku hanya bisa mendengar kalau kau memikirkannya
Mengenai sebuah kisah yang Bella seperti enggan
menceritakannya padaku waktu itu. Cerita tentang istri
ketiga..."
"Memangnya kenapa?"
Edward tidak menjawab, mendengarkan cerita di kepala
Jacob. Aku mendengar desisan pelannya dalam gelap.


23. MONSTER
BEGITU aku terbangun paginya, cuaca sangat cerah,
bahkan di dalam tenda, cahaya matahari menyakiti mataku.
Dan tubuhku berkeringat, seperti telah diprediksi Jacob.
Jacob sendiri mendengkur pelan di telingaku, kedua
lengannya masih memelukku.
Kuangkat kepalaku dari dadanya yang panas seperti
orang demam dan langsung merasakan sengatan hawa
dingin pagi di pipiku yang lembab. Jacob mendesah lama
tidurnya, kedua lengannya tanpa sadar memeluk lebih erat.
Aku menggeliat, tak mampu mengendurkan pelukannya,
susah payah mengangkat kepala sampai bisa melihat...
Edward membalas tatapanku dengan datar. Ekspresinya
tenang, namun kepedihan di matanya tak bisa
disembunyikan.
"Sudah lebih hangat di luar sana?" bisikku.
"Ya. Menurutku pemanas ruangan tidak dibutuhkan
lagi."
Aku menarik resleting, tapi tidak bisa membebaskan
lenganku. Kukerahkan segenap tenaga mendorong tubuh
Jacob yang berat karena tertidur. Jacob menggumam, masih
tidur, kedua lengannya menarik lagi.
"Bisa membantu?" tanyaku pelan.
Edward tersenyum. "Kau mau aku menarik kedua
lengannya sampai terlepas dari tubuhnya sekalian?"
"Tidak, terima kasih. Lepaskan saja aku. Bisa-bisa aku
kena sengatan hawa panas nanti."


Edward membuka ritsleting kantong tidur hanya dengan
sekali sentak. Jacob terjatuh ke luar. punggungnya yang
telanjang membentur lantai tenda yang dingin.
"Hei!" protesnya. matanya langsung terbuka. Secara
insting ia mengangkat tubuh menghindari dingin, dan
berguling menindihku. Aku terkesiap saat berat tubuhnya
membuatku tak bisa bernapas.
Lalu tubuhnya tak lagi menindihku. Aku merasakan
efeknya saat tubuh Jacob terbang dan menghantam salah
satu tiang tenda hingga tenda berguncang keras.
Geraman meledak dari sekelilingku. Edward merunduk
di hadapanku. dan aku tak bisa melihat wajahnya, namun
geraman buas menyeruak dari dalam dadanya. Jacob juga
separo merunduk, sekujur tubuhnya bergetar, sementara
geraman bergemuruh dari sela-sela giginya yang terkatup
rapat. Di luar tenda, geraman buas Seth Clearwater
bergema, memantul di bebatuan.
"Hentikan. hentikan!" teriakku, cepat-cepat bangkit dan
dengan canggung berdiri di antara mereka. Ruang yang
tersisa begitu sempit hingga aku tak perlu mengulurkan
tangan jauh-jauh untuk bisa menyentuh dada mereka.
Edward memeluk pinggangku, siap menyentakkan tubuhku
menjauh.
"Hentikan, sekarang.” kuperingatkan dia.
Setelah aku menyentuhnya, Jacob mulai tenang.
Guncangan tubuhnya melambat, tapi ia masih
memamerkan giginya dan sorot matanya yang marah
tertuju kepada Edward. Seth tetap menggeram, lolongan
panjang tanpa henti menjadi latar belakang menyeramkan
bagi keheningan mendadak di dalam tenda.


"Jacob?" tanyaku, menunggu sampai akhirnya
menurunkan pandangan garangnya dan memandangku.
"Kau terluka?"
"Tentu saja tidak," desisnya.
Aku menoleh kepada Edward. Ia menatapku,
ekspresinya keras dan marah. "Itu tadi tidak baik.
Seharusnya kau meminta maaf."
Mata Edward melebar jijik. "Kau pasti bercanda, dia
menindihmu tadi."
“Itu karena kau menjatuhkannya ke lantai. Dia tidak
sengaja melakukannya, dan dia tidak mencederaiku."
Edward mengerang, sebal. Pelan-pelan ia menengadah
dan menatap Jacob dengan sorot mata marah. "Aku minta
maaf, anjing."
"Kau tidak mencederaiku,” balas Jacob, nadanya sedikit
menghina.
Hawa masih dingin, walaupun tidak sedingin
sebelumnya. Kudekap tubuhku sedikit erat.
"Ini,” kata Edward, kembali tenang. Ia mengambil jaket
yang tergeletak di lantai, lalu menyelubungkannya di atas
mantelku.
"Itu punya Jacob,” tolakku.
"Jacob kan punya mantel bulu,” tukas Edward dengan
nada menyindir.
"Aku akan masuk lagi ke kantong tidur, kalau kau tidak
keberatan,” tanpa memedulikan Edward, Jacob berjalan
mengitari kami, lalu menyusup masuk ke kantong tidur.
“Aku belum kepingin bangun. Semalam aku tidak bisa tidur
nyenyak."


"Itukan idemu,” tukas Edward impasif.
Jacob meringkuk, matanya sudah terpejam. Ia menguap.
"Aku tidak bilang itu bukan malam terbaik yang pernah
kurasakan. Hanya saja, aku kurang tidur. Kusangka Bella
tidak bakal berhenti mengoceh."
Aku meringis, bertanya-tanya dalam hati, apa kira-kira
yang keluar dari mulutku sementara tertidur.
Kemungkinannya mengerikan.
"Aku senang kau menikmatinya,” gumam Edward.
Mata Jacob yang gelap menggeletar terbuka.
"Memangnya kau tidak?" tanyanya, nadanya puas.
"Itu bukan malam terburuk yang pernah kualami seumur
hidupku."
"Apakah masuk dalam sepuluh besar?" tanya Jacob
dengan perasaan senang bernada menantang.
"Mungkin."
Jacob tersenyum dan memejamkan mata.
"Tapi," sambung Edward, "seandainya aku bisa berada
dalam posisimu semalam, itu tidak akan masuk sepuluh
besar malam terbaik yang pernah kurasakan seumur
hidupku. Mimpikan itu."
Mata Jacob terbuka dengan garang. Ia duduk dengan
kaku, bahunya mengejang.
"Tahukah kau? Kurasa di dalam sini terlalu sesak."
"Aku setuju sekali.”
Kusikut Edward, bisa-bisa sikuku memar gara-gara itu.
"Nanti saja kulanjutkan tidurku, kalau begitu,” Jacob
mengernyit. "Aku toh memang harus bicara dengan Sam."


Jacob berguling untuk berlutut dan menyambar ritsleting
pintu.
Perasaan sedih menjalari tubuhku dan diam di daerah
perut saat aku mendadak menyadari bisa jadi inilah kali
terakhir aku bisa melihatnya. Ia akan kembali kepada Sam,
kembali bertempur melawan segerombolan vampir baru
yang haus darah.
"Jake, tunggu..!" Aku mengulurkan tangan
menggapainya, tanganku meluncur menuruni lengannya.
Jake menyentakkan lengannya sebelum jari-jariku
sempat memegangnya.
"Kumohon Jake? maukah kau tetap tinggal di sini?"
"Tidak!"
Kata itu keras dan dingin. Aku tahu wajahku
memancarkan kesedihan, karena Jacob menghembuskan
napas dan senyum separuh melembutkan ekspresinya.
"Jangan khawatirkan aku Bells. Aku akan baik-baik saja,
seperti biasa," Ia memaksa dirinya tertawa. "lagi pula, kau
kira aku akan membiarkan Seth pergi dan menggantikan
tempatku, menikmati segala keasyikan di sana dan mencuri
semua pujian? yang benar saja," Jacob mendengus.
"Berhati-hatilah.."
Jacob merangsek ke luar tenda sebelum aku bisa
menyelesaikan kata-kataku.
"Tenanglah Bella,” aku mendengar gumamannya saat
mengancingkan kembali ristleting tenda.
Aku mencoba mendengarkan suara langkah-langkah
kakinya menjauh,namun suasana tetap sunyi. Tak da ada
lagi angin. Aku bisa mendengar nyanyian burung pagi nun


jauh di gunung sana,tapi selain itu,tidak ada suara apa-apa.
Jacob sekarang bisa bergerak tanpa suara.
Aku meringkuk di dalam mantelku,dan bersandar di
bahu Edward. Kami berdiam diri beberapa saat.
"Berapa lama lagi?" tanyaku.
"Kata Alice kepada Sam, kira-kira satu jam lagi,” jawab
Edward, lirih dan muram.
"Kita tetap bersama. Apa pun yang terjadi."
"Apa pun yang terjadi," Edward sependapat, matanya
kaku.
"Aku tahu,” ujarku "Aku juga takut memikirkan
mereka."
"Mereka tahu bagaimana harus menjaga diri.” Edward
meyakinkan aku,sengaja membuat nada suaranya terdengar
enteng. "Aku hanya tidak suka tidak bisa ikut dalam
keasyikan.”
Lagi-lagi kata asyik. Cuping hidungku kembang kempis.
Edward memeluk bahuku. "Jangan khawatir,” ia
menyemangati, kemudian mengecup keningku.
Seolah-olah aku bisa tidak khawatir. "Tentu, tentu."
"Kau mau aku mengalihkan perhatianmu?" Edward
mengembuskan napas, melarikan jari-jarinya yang dingin di
sepanjang tulang pipiku.
Aku bergidik tanpa sengaja; pagi masih dingin membeku.
"Mungkin tidak sekarang," Edward menjawab
pertanyaannya sendiri, menarik kembali tangannya.
"Banyak cara lain yang bisa mengalihkan perhatianku."
"Apa yang kauinginkan?"


"Kau bisa menceritakan padaku sepuluh malam
terbaikmu,” aku mengusulkan. "Aku ingin tahu."
Edward tertawa. "Coba tebak."
Aku menggeleng. "Ada terlalu banyak malam yang tidak
kuketahui. Satu abad penuh.”
"Akan kupersempit untukmu. pokoknya, semua malam
terbaikku sejak bertemu denganmu."
"Sungguh?"
"Ya, sungguh, dan marginnya pun cukup lebar."
Aku berpikir sebentar. "Aku hanya bisa berpikir tentang
malam-malam terbaikku.” Aku mengakui.
"Bisa jadi sama,” Edward menyemangati.
"Well, mungkin saat malam pertama itu. Pertama kalinya
kau menginap di rumahku."
"Ya, itu juga salah satu malam terbaikku. Tentu
saja,bagian favoritku adalah saat kau tertidur."
"Ya benar,” aku mengingat-ingat. "Malam itu juga aku
berbicara dalam tidurku."
"Ya.” Edward membenarkan.
Wajahku memanas saat aku bertanya-tanya dalam hati,
apa saja yang kuocehkan saat tertidur dalam pelukan Jacob
semalam. Aku tidak ingat bermimpi tentang apa semalam,
atau apakah aku bermimpi, jadi tidak ada yang bisa
membantu sama sekali.
"Aku ngomong apa saja semalam?" bisikku, lebih pelan
daripada sebelumnya.
Bukannya menjawab,Edward malah mengangkat bahu
dan aku meringis.


"Separah itukah?"
"Tidak ada yang terlalu parah.” Edward mendesah.
"Ayolah ceritakan padaku."
"Kebanyakan kau hanya menyebut namaku, seperti
biasa."
"Itu kan tidak terlalu parah,” aku setuju dengan sikap
hati-hati.
"Tapi lama-lama kau mulai bergumam tidak jelas tentang
"Jacob, Jacobku." Aku bisa mendengar nada terluka dalam
suara Edward, bahkan saat ia berbisik. "Jacobmu girang
bukan main mendengarnya."
Kujulurkan leherku, berusaha menempelkan bibirku ke
tepi rahangnya. Aku tidak bisa menatap matanya. Edward
menengadah menatap langit-langit tenda.
"Maaf," gumamku."Itu hanya caraku membuat
perbedaan."
"Membuat perbedaan?"
"Antara Dr.Jekyll dan Mr.Hyde. Antara Jacob yang
kusukai dan yang membuatku jengkel setengah mati,” aku
menjelaskan.
"Masuk akal,” Kesedihan Edward terdengar sedikit
mereda.
"Apa lagi malam terbaikmu?"
"Terbang pulang dari Italia.”
Kening Edward berkerut.
"Memangnya itu tidak termasuk malam terbaikmu?"
"Tidak, sebenarnya itu memang termasuk salah satu
malam terbaikku, tapi aku heran itu ada dalam daftarmu.


Bukankah saat itu kau mengira aku hanya bersikap seperti
itu karena merasa bersalah padamu, dan bahwa aku akan
kabur begitu pintu pesawat dibuka?"
"Benar,” aku tersenyum. "Tapi, bagaimanapun, kau ada
di sana."
Edward mengecup rambutku. "Kau mencintaiku lebih
dari yang pantas kuterima."
Aku tertawa mendengar pernyataannya yang konyol itu.
"Berikutnya, adalah malam setelah kepulangan kita dari
Italia," aku melanjutkan.
"Ya, itu juga masuk dalam daftarku. Kau lucu sekali
waktu itu."
"Lucu?" sergahku.
"Aku tidak sadar mimpimu benar-benar nyata. Butuh
waktu lama sekali bagiku untuk meyakinkanmu bahwa kau
sudah bangun."
"Aku masih belum yakin,” gumamku. "Sejak dulu kau
memang lebih menyerupai mimpi ketimbang kenyataan.
Sekarang ceritakan padaku salah satu malam terbaikmu.
Apa yang sudah kusebutkan tadi salah satunya menduduki
tempat pertama?"
"Tidak, yang menduduki tempat pertama adalah pada
malam lalu, waktu kau akhirnya setuju menikah
denganku."
Aku mengernyit.
"Itu tidak masuk daftarmu?"
Aku mengenang lagi bagaimana Edward menciumku,
konsesi yang kuperoleh, dan berubah pikiran. "Ya... masuk.
Tapi dengan beberapa syarat. Aku tidak mengerti kenapa


itu sangat penting bagimu. Kau toh sudah memilikiku
selamanya."
"Seratus tahun dari sekarang, kalau cara berpikirmu
sudah lebih matang sehingga bisa menghargai jawabannya,
aku akan menjelaskannya padamu."
"Aku akan mengingatkanmu untuk menjelaskan, seratus
tahun lagi."
"Apakah kau sudah merasa cukup hangat?" Edward tibatiba
bertanya.
"Aku baik-baik saja,” jawabku meyakinkan Edward.
"Kenapa?"
Sebelum Edward bisa menjawab,kesunyian di luar tenda
terkoyak oleh lolongan pedih yang memekakkan telinga.
Suara itu memantul di permukaan tebing gunung yang
telanjang dan memenuhi udara hingga terasa seakan-akan
lolongan itu datang dari segala arah.
Lolongan itu mengoyak pikiranku seperti tornado,
terdengar aneh sekaligus familier. Aneh karena belum
pernah mendengar lengkingan tersiksa sedahsyat itu.
Familier karena aku langsung mengenali suara itu, aku
mengenali suara itu memahami artinya, sama sempurnanya
seperti kalau aku sendiri yang mengucapkannya. Tidak ada
bedanya jika Jacob tidak sedang dalam wujud manusia saat
melolongkannya. Aku tidak membutuhkan terjemahan.
Jacob berada di dekat sini. Jacob mendengar setiap kata
yang kami ucapkan. Jacob sangat menderita.
Lolongan itu terputus dan berubah jadi isak tertahan dan
sejurus kemudian sunyi lagi.


Aku tidak mendengar kepergiannya yang sunyi, tapi bisa
merasakannya,aku bisa merasakan kesunyian yang kukira
sudah kurasakan tadi, ruang kosong yang ia tinggalkan.
"Karena pemanas ruanganmu sudah tidak tahan lagi.”
Edward menjawab pelan. "Gencatan senjata berakhir,”
imbuhnya, begitu pelan hingga aku tak bisa meyakini apa
yang sesungguhnya ia katakan.
"Jacob mendengarkan pembicaraan kita tadi,” bisikku.
Itu bukan pertanyaan.
"Benar.”
"Kau sudah tahu."
"Ya.”
Kupandangi dia, mataku nanar.
"Aku tidak pernah berjanji akan bertarung secara adil,”
Edward mengingatkanku dengan suara pelan. "Dan dia
berhak tahu.”
Kepalaku terkulai ke tangan.
"Kau marah padaku?" tanyanya.
"Bukan padamu,” bisikku. "Aku muak Pada diriku
sediri."
"Jangan siksa dirimu,” Edward memohon.
"Ya,” aku membenarkan dengan getir. "Seharusnya aku
menyimpan energiku untuk semakin menyiksa Jacob.
Jangan sampai ada bagian dirinya yang tidak tersakiti."
"Dia tahu risikonya melakukan hal itu."
"Memangnya kaupikir itu penting?" Aku mengerjapngerjapkan
mata, menahan agar air mataku tidak tumpah
walaupun mudah mendengarnya dalam suaraku. "apakah


kaupikir aku peduli adil atau tidak jika Jacob sudah
mendapat cukup peringatan?Aku menyakiti dia. Apa pun
yang kulakukan, aku menyakitinya lagi.” Suaraku semakin
keras,semakin histeris.
"Jahat sekali aku ini. "
Edward memelukku erat-erat. "Tidak, kau tidak jahat."
"Iya, aku jahat! Apa yang salah denganku?"Aku
memberontak dalam pelukannya, dan Edward
mengendurkan pelukannya. "Aku harus pergi mencarinya.”
"Bella, dia sudah berkilo-kilometer jauhnya dari sini, dan
hawa dingin sekali."
"Aku tidak peduli. Aku tidak bisa hanya duduk-duduk
saja di sini." Aku mengguncangkan bahu, melepaskan jaket
Jacob yang menyelubungiku, menjejalkan kaki ke dalam
sepatu bot, lalu merangkak kaku ke pintu; kakiku kebas.
"Aku harus... aku harus..." Aku tidak tahu bagaimana
menyudahi kalimat itu, tidak tahu harus melakukan apa,
tapi aku tetap membuka ritsleting pintu, lalu melangkah ke
luar, ke pagi yang cemerlang dan dingin.
Tidak seperti perkiraanku, ternyata salju tidak terlalu
banyak walaupun badai mengamuk begitu hebat semalam.
Mungkin itu karena salju tersapu angin, bukannya meleleh
karena cahaya matahari yang sekarang bersinar rendah di
sebelah tenggara, memantulkan cahayanya di salju yang
masih bertaban dan menyilaukan mataku yang belum
terbiasa. Udara masih dingin menggigit, tapi diam tak
bergerak, dan perlahan-lahan mulai terasa lebih hangat
seiring dengan semakin tingginya matahari.
Seth Clearwater meringkuk di atas onggokan daun
cemara kering, di bawah naungan pohon cemara berdaun
lebar. Bulunya yang cokelat tanah nyaris tak terlihat di atas


gundukan daun-daun kering, tapi aku bisa melihat salju
yang cemerlang memantul di matanya yang terbuka. Seth
memandangiku dengan sikap yang dalam bayanganku
merupakan ekspresi menuduh.
Aku tahu Edward mengikutiku ketika aku berjalan
tersaruk-tersaruk menuju pepohonan. Aku tidak bisa
mendengarnya, tapi cahaya matahari terpantul di kulitnya
dalam warna-warna pelangi berkilauan yang menari-nari di
depanku. Edward tidak menyusulku sampai aku beberapa
langkah memasuki bayang-bayang hutan.
Tangannya menangkap pergelangan tangan kiriku. Ia tak
menggubris waktu aku memberontak, mencoba melepaskan
tanganku dari pegangannya.
"Kau tidak bisa menyusulnya. Tidak hari ini. Sekarang
saatnya hampir tiba. Kau hanya akan menyusahkan semua
orang kalau tersesat."
Aku memuntir tanganku,menariknya tanpa hasil.
"Maafkan aku Bella,” Bisik Edward. "Aku menyesal
telah melakukan hal itu tadi."
"Kau tidak melakukan apa-apa. Itu salahku. Akulah
yang melakukannya. Aku selalu saja salah melakukan apa
pun. Seharusnya aku bisa... waktu dia... seharusnya aku
tidak... aku... aku..," aku tersedu-sedu.
"Bella, Bella."
Edward memelukku, dan air mataku membasahi
kemejanya.
"seharusnya aku... mengatakan padanya... aku
seharusnya mengatakan... apa? Apa yang bisa kulakukan
untuk memperbaiki keadaan? Seharusnya dia
tidak...mengetahuinya dengan cara seperti ini."


"Kau mau aku berusaha membawanya kembali, supaya
kau bisa berbicara dengannya? masih ada sedikit waktu,”
gumam Edward, memendam kesedihan dalam suaranya.
Aku mengangguk di dadanya, takut melihat wajahnya.
"Tunggulah dekat tenda. Sebentar lagi aku kembali."
Kedua lengan Edward memelukku lenyap. Ia pergi
begitu cepat, saking cepatnya hingga waktu aku mendongak
melihatnya,ia sudah tidak ada. Aku sendirian.
Tangisan baru menyeruak dari dadaku. Aku melukai hati
semua orang hari ini. Adakah yang kusentuh tidak rusak?
Entah mengapa aku baru merasa terpukul sekarang.
Padahal aku sudah tahu suatu saat ini pasti akan terjadi.
Tapi Jacob belum pernah bereaksi sehebat itu,kehilangan
kepercayaan dirinya dan menunjukkan betapa dalam
kepedihan hatinya. Suara lolongan pedihnya masih
menyayat hatiku,jauh di dalam dadaku. Tepat di sisi
kepedihan lain. Kepedihan karena merasakan kesedihan
Jacob. Kepedihan karena melukai hati Edward juga.
Karena tidak mampu melihat Jacob pergi dengan tegar,
tahu itulah hal yang benar,satu-satunya jalan.
Aku egois,aku suka menyakiti. Aku melukai hati orang
yang kucintai.
Aku seperti Cathy, seperti Wuthering Heights, hanya
saja pilihan-pilihanku jauh lebih baik daripadanya, tak ada
yang jahat,tak ada yang lemah. Tapi aku malah menangisi,
tidak melakukan hal yang produktif untuk memperbaiki
keadaan. Persis seperti Cathy.
Aku tak boleh lagi membiarkan apa yang melukai hatiku
mempengaruhi keputusanku lagi. Memang sepele,dan
sudah sangat terlambat, tapi aku harus melakukan hal yang
besar sekarang. Mungkin segalanya memang telah berakhir


bagiku. Mungkin Edward tidak bisa membawanya kembali.
Kalau benar begitu,aku harus menerimanya dan
melanjutkan hidupku. Edward takkan pernah melihatku
meneteskan air mata lagi untuk Jacob Black. Tidak akan
ada lagi air mata. Kuseka sisa- sisa air mataku yang terakhir
dengan Jari-Jari yang dingin.
Tapi kalau Edward benar-benar kembali bersama Jacob,
inilah saatnya. Aku harus memintanya pergi dan jangan
kembali lagi.
Kenapa sulit sekali mengatakannya? Jauh lebih sulit dari
pada mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temanku
yang lain, kepada Angela, kepada Mike? Kenapa itu terasa
menyakitkan? Ini tidak benar. Seharusnya itu tidak
membuatku sedih. Aku telah memiliki apa yang
kuinginkan. Aku tidak bisa memiliki kedua-duanya, karena
Jacob tidak mau hanya menjadi temanku. Sekarang saatnya
berhenti mengharapkannya. Berapa manusia bisa menjadi
sangat serakah!
Aku harus bisa mengatasi perasaan tidak rasional bahwa
Jacob harus ada dalam hidupku. Ia tak mungkin menjadi
milikku, tidak bisa menjadi Jacob-ku, karena aku milik
orang lain.
Sambil menyeret kaki, aku berjalan lambat-lambat
kembali ke lapangan kecil itu. Begitu aku muncul di tempat
terbuka, mengerjap-ngerjap menahan cahaya matahari yang
menyilaukan, aku melirik Seth sekilas – ia belum beranjak
dari tempatnya meringkuk di gundukan daun-daun cemara
– kemudian membuang muka, menghindari matanya.
Bisa kurasakan rambutku awut-awutan, berantakan tidak
karuan seperti rambut ular Medusa. Aku menyusupkan
Jari-jariku ke rambut dan mencoba merapikannya, tapi


langsung menyerah. Lagi pula,siapa yang peduli bagaimana
penampilanku?
Aku menyambar termos yang tergantung di samping
pintu tenda dan mengguncangnya. Terdengar bunyi air
berkecipak di dalamnya, jadi aku pun membuka tutup
termos dan minum seteguk, membilas mulutku dengan air
dingin. Di sekitar sini ada makanan, tapi aku tidak terlalu
lapar sehingga ingin mencarinya. Aku mulai mondarmandir
di ruang terbuka kecil yang terang itu, merasakan
mata Seth mengikuti setiap gerakanku. Karena aku tidak
mau memandanginya, dalam benakku ia kembali menjadi
anak laki-laki, bukannya serigala raksasa. Mirip sekali
dengan Jacob masih lebih muda.
Aku ingin meminta Seth menggonggong atau memberi
semacam isyarat apakah Jacob akan kembali, tapi aku
mengurungkan niatku itu. Tidak penting apakah Jacob
kembali. Justru lebih mudah jika ia tak kembali. Kalau saja
aku bisa memanggil Edward.
Saat itulah Seth melenguh, kemudian berdiri.
"Ada apa?" tanyaku bodoh
Seth mengabaikanku, berlari-lari kecil ke pinggiran hutan
dan mengarahkan hidungnya ke barat. Ia mulai
mendengking-dengking.
"Apakah ini tentang yang lain-lain, Seth?" desakku. "Di
lapangan?"
Seth menoleh padaku dan menggonggong pelan satu
kali, kemudian kembali mengarahkan hidungnya dengan
sikap waspada ke arah barat. Telinganya terlipat ke
belakang dan ia mendengking lagi.
Kenapa aku begitu tolol? Apa sih yang merasuk
pikiranku hingga aku membiarkan Edward pergi?


Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang terjadi? aku kan
tidak bisa berbahasa serigala.
Keringat dingin mulai membasahi punggungku.
Bagaimana kalau ternyata mereka kehabisan waktu?
bagaimana kalau ternyata Jacob dan Edward berada terlalu
dekat dengan medan pertempuran? Bagaimana kalau
Edward memutuskan bergabung?
Perasaan takut mengaduk-aduk isi perutku. Bagaimana
kalau kegelisahan Seth tak ada hubungannya dengan
kejadian di lapangan, dan gonggongannya tadi merupakan
penyangkalan? Bagaimana kalau Jacob dan Edward
berkelahi, nun jauh di hutan sana? Mereka tidak mungkin
berbuat, begitu?
Dengan perasaan yakin yang mendadak muncul dan
membuat sekujur tubuhku dingin karena ngeri, aku
menyadari mereka mungkin saja berbuat begitu – kalau ada
yang salah bicara. Ingatanku melayang ke ketegangan di
tenda pagi tadi, dan dalam hati aku penasaran apakah aku
terlalu meremehkan betapa nyarisnya peristiwa tadi
menjurus kepada perkelahian.
Mungkin aku memang pantas kehilangan mereka
berdua. Es itu mencengkeram jantungku.
Sebelum aku ambruk karena perasaan takut, Seth
menggeram pelan, jauh di dalam dadanya, kemudian
berpaling dari tempatnya berdiri mengawasi dan
melenggang kembali ke tempat istirahatnya. Tindakannya
itu membuatku tenang, sekaligus jengkel. Memangnya ia
tidak bisa menggoreskan pesan di tanah atau semacamnya,
ya?
Berjalan mondar-mandir mulai membuatku berkeringat
di balik semua lapisan baju tebal ini. Kulempar jaketku ke


tenda kemudian berjalan kembali menyusuri Jalan setapak
menuju celah sempit disela-sela pepohonan.
Mendadak Seth melompat berdiri, bulu-bulu ditekuknya
berdiri kaku. Aku memandang berkeliling, tapi tidak
melihat apa-apa. Kalau Seth tidak berhenti bertingkah
seperti itu, bisa-bisa kulempar ia dengan buah cemara.
Seth menggeram, rendah dan bernada memperingatkan,
menyelinap kembali ke arah lingkaran barat, dan aku
berpikir ulang tentang ketidaksabaranku.
"Ini hanya kami, Seth,” seru Jacob dari kejauhan.
Aku mencoba menjelaskan kepada diriku sendiri kenapa
jantungku mendadak berlari kencang begitu mendengar
suaranya. Karena takut memikirkan apa yang harus
kulakukan sekarang, itu saja. Aku tidak boleh membiarkan
diriku lega karena ia kembali. Itu justru tidak akan
membantu.
Edward yang lebih dulu muncul, wajahnya kosong dan
datar. Begitu ia melangkah keluar dari bayang-bayang,
matahari berkilauan di kulitnya bagaikan di atas permukaan
salju. Seth berlari menyongsongnya, menatap matanya
lekat-lekat. Edward mengangguk lamban, dan kekhawatiran
membuat keningnya berkerut.
"Ya, hanya itu yang kita butuhkan,” gumamnya pada
diri sendiri sebelum berbicara kepada serigala besar itu.
"Kurasa tidak seharusnya kita terkejut. Tapi waktunya akan
sangat dekat. Tolong suruh Sam meminta Alice agar
berusaha memprediksikan waktunya dengan lebih tepat."
Seth menundukkan kepala satu kali, dan aku berharap
kalau saja aku bisa menggeram. Sekarang ia baru
mengangguk. Aku memalingkan kepala, jengkel, dan
menyadari Jacob berdiri di sana.


Jacob berdiri memunggungiku, menghadap ke arah
datangnya tadi. Dengan kecut aku menunggunya berbalik.
"Bella,” bisik Edward, tiba-tiba berdiri di sebelahku. ia
menunduk menatapku dengan sorot prihatin terpancar dari
matanya. Ia sangat berbesar hati. Aku tidak pantas
mendapatkan orang sebaik dia.
"Ada sedikit masalah,” ia memberitahuku, dengan
sangat hati-hati berusaha memperdengarkan nada tenang.
"Aku akan membawa Seth pergi sebentar dan berusaha
membereskannya. Aku tidak akan pergi jauh, tapi aku juga
tidak akan mendengarkan. Aku tahu kau tidak mau ada
yang menonton, tak peduli jalan mana yang ingin kau
ambil."
Hanya di bagian terakhir terdengar secercah nada pedih
dalam suaranya.
Aku tidak boleh melukai hatinya lagi. Itu misiku dalam
hidup ini. Jangan pernah lagi aku menjadi penyebab
munculnya sorot kepedihan itu di matanya.
Aku kelewat kalut bahkan untuk bertanya, masalah baru
apa yang ia maksud. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi
sekarang.
"Cepatlah kembali,” bisikku.
Edward mengecup bibirku sekilas, kemudian lenyap di
balik hutan bersama Seth di sampingnya.
Jacob masih berada di bawah bayang-bayang
pepohonan,aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.
"Aku sedang terburu-buru, Bella,” kata Jacob, suaranya
muram. "Bagaimana kalau langsung saja kau utarakan
maksudmu."


Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering
hingga aku tak yakin suaraku bakal keluar.
"Sampaikan saja maksudmu, dan segera tuntaskan
masalah ini."
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Aku minta maaf karena aku jahat sekali,” bisikku.
"Maafkan aku karena sikapku sangat egois. Kalau saja aku
tidak pernah berjumpa denganmu, sehingga aku tidak bisa
menyakiti hatimu seperti yang telah kulakukan. Aku tidak
akan melakukannya lagi,aku janji. Aku akan pergi sejauh
mungkin darimu. Aku akan pindah ke luar negara bagian.
Kau tidak akan pernah melihatku lagi."
"Itu bukan permintaan maaf,” sergah Jacob pahit.
Aku tak mampu membuat suaraku terdengar lebih keras
daripada bisikan. "Katakan padaku bagaimana bisa
memperbaikinya."
"Bagaimana kalau aku tidak ingin kau pergi? Bagaimana
kalau aku lebih suka kau tetap di sini, egois atau tidak?
apakah aku tidak berhak dimintai pendapat, kalau kau
memang berusaha memperbaiki keadaan denganku?"
"Itu tidak akan berpengaruh apa-apa Jake. Keliru kalau
aku tetap bersamamu padahal kita menginginkan hal
berbeda. Keadaan tidak akan menjadi semakin baik. Aku
hanya akan terus menerus menyakitimu. Aku tidak mau
menyakitimu lagi. Aku tidak suka." Suaraku pecah.
Jacob mendesah, "Hentikan. Kau tidak perlu berkata
apa-apa lagi. Aku mengerti."
Aku ingin mengatakan padanya betapa aku sangat
merindukannya, tapi kuurungkan niatku. Itu juga tidak
akan berpengaruh apa-apa.


Jacob berdiri diam sesaat, memandangi tanah, dan
dengan susah payah aku melawan dorongan untuk
mendekat dan memeluknya. Menghiburnya.
Kemudian Jacob mengangkat kepala.
"Well, bukan kau satu-satunya yang mampu
mengorbankan diri sendiri,” katanya, suaranya lebih tegar.
"Permainan ini bisa dimainkan dua orang."
"Apa?"
"Aku sendiri juga sudah bertingkah buruk. Aku membuat
keadaan jadi jauh lebih sulit daripada seharusnya.
Seharusnya aku bisa menyerah dengan penuh wibawa sejak
awal. Tapi aku menyakiti hatimu juga."
"Ini salahku."
"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung semua
kesalahan, Bella. Atau menerima semua pujian. Aku tahu
bagaimana caranya menebus kesalahanku sendiri."
"Apa maksudmu?" tuntutku. Kilatan matanya yang tibatiba
berkelebat membuatku ngeri.
Jacob menengadah ke matahari kemudian tersenyum
padaku. "Sebentar lagi akan terjadi pertarungan sengit di
sana. Kurasa tidak akan sulit mengenyahkan diriku dari
gambar keseluruhan."
Kata-katanya memasuki otakku, perlahan-lahan, satu
demi satu, dan aku tak bisa bernapas. Meskipun aku
memang sudah berniat mengenyahkan Jacob sepenuhnya
dari hidupku, aku tidak menyadari hingga detik itu, berapa
dalamnya pisau itu akan menusuk untuk bisa
melakukannya.


"Oh, tidak, Jake! Tidak, tidak, tidak, tidak,” aku tercekat
penuh kengerian. "Tidak, Jake, tidak. Kumohon, jangan.”
Lututku mulai gemetar.
"Apa bedanya, Bella? Ini hanya akan membuat keadaan
jadi lebih menyenangkan bagi semua orang. Kau bahkan
tidak perlu pindah."
"Tidak!" Suaraku semakin keras. "Tidak, Jacob! Aku
tidak akan membiarkanmu melakukannya!"
"Bagaimana kau akan menghentikan aku?" ejeknya
enteng, tersenyum untuk memperhalus nada mengejek
dalam suaranya tadi.
"Jacob, kumohon, tinggallah bersamaku,” Kalau saja aku
bisa bergerak, aku pasti sudah berlutut saat itu juga.
"Selama lima belas menit sementara aku melewatkan
pertempuran yang seru? supaya kemudian kau bisa
melarikan diri dariku begitu kau merasa aku sudah aman
lagi? kau pasti bercanda."
"Aku tidak akan pergi. Aku berubah pikiran. Kita akan
mencari jalan lain Jacob. Selalu ada yang bisa
dikompromikan. Jangan pergi!"
"Kau bohong."
"Tidak. Kau tahu aku tidak pandai berbohong. Tatap
mataku. Aku akan tinggal kalau kau juga tinggal."
Wajah Jacob mengeras. "Dan aku bisa menjadi bestmanmu
saat kau menikah nanti?"
Baru beberapa saat kemudian aku bisa bicara,tapi yang
bisa kuucapkan hanyalah. “kumohon."
"Sudah kukira,” ucap Jacob, wajahnya tenang kembali,
kecuali sorot berapi-api di matanya.


"Aku mencintaimu Bella,” bisiknya.
"Aku mencintaimu Jacob,” bisikku parau.
Jacob tersenyum. "Aku lebih tahu itu daripada kau."
Ia berbalik dan berjalan menjauh.
"Apa saja,” seruku memanggilnya, suaraku tercekik.
"Apa pun yang kau inginkan Jacob. Tapi jangan lakukan
ini!"
Jacob berhenti,perlahan-lahan berbalik.
"Aku tidak yakin kau bersungguh-sungguh dengan
perkataanmu itu."
"Jangan pergi,” aku memohon.
Jacob menggeleng. “Tidak aku akan tetap pergi." Ia
terdiam sejenak, seolah-olah memutuskan sesuatu. "Tapi
aku bisa menyerahkan kepada takdir."
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan suara tercekat.
"Aku tidak harus melakukannya secara sengaja, aku akan
tetap melakukan yang terbaik bagi kawananku dan
membiarkan apa yang terjadi,terjadi." Jacob mengangkat
bahu. "Kalau kau bisa meyakinkan aku, kau benar-benar
ingin aku kembali, lebih daripada kau ingin melakukan hal
yang tidak egois."
"Bagaimana caranya?" tanyaku.
"Kau bisa memintaku,” ia mengusulkan.
"Kembalilah,” bisikku. Bagaimana mungkin ia bisa
meragukan bahwa aku bersungguh-sungguh?
Jacob menggeleng. kembali tersenyum. "Bukan begitu
maksudku."


Baru sedetik kemudian aku menangkap maksudnya, dan
selama itu Jacob menatapku dengan ekspresi menang,
begitu yakin akan reaksiku. Meski demikian, begitu
kesadaran itu menghantamku, aku langsung mengucapkan
kata-kata itu tanpa sempat memikirkan akibatnya.
"Maukah kau menciumku, Jacob?"
Matanya membelalak kaget, lalu menyipit curiga. "Kau
hanya menggertak."
"Cium aku, Jacob. Cium aku, lalu kembalilah."
Jacob ragu-ragu di bawah bayangan, berperang dengan
dirinya sendiri. Ia separo berbalik ke arah barat, tubuhnya
berbalik menjauhiku sementara kakinya tetap terpaku di
tempatnya berdiri. Sambil masih memandang ke arah lain,
ia maju selangkah dengan sikap ragu-ragu, lalu satu lagi. Ia
menggerakkan wajahnya untuk memandangku, sorot
matanya ragu.
Aku balas menatapnya. Entah bagaimana ekspresi
wajahku saat itu.
Jacob bertumpu pada tumitnya dan bergoyang maju
mundur, lalu menerjang maju, menghampiriku hanya
dalam tiga langkah panjang-panjang.
Aku tahu ia pasti akan mengambil kesempatan dari
situasi ini. Sudah kuduga. Aku berdiam tak bergerak,
mataku tertutup, jari-jariku menekuk dan membentuk
kepalan di kedua sisi tubuhku, sementara kedua tangan
Jacob merengkuh wajahku dan bibirnya menyentuh bibirku
dengan semangat yang tak jauh dari kasar.
Bisa kurasakan kemarahannya saat bibirnya
mendapatkan penolakan pasifku. Satu tangannya meraih
tengkukku lalu meremas rambutku. Tangan yang lain
menyambar pundakku dengan kasar, mengguncang


tubuhku, lalu menarikku kepadanya. Tangannya terus
meluncur menuruni lenganku, sampai ke pinggang. Lalu
melingkarkan tanganku ke lehernya. Kubiarkan tanganku di
sana, masih mengepal erat, tak yakin sampai sejauh mana
aku bisa bertindak supaya ia tetap hidup. Sementara itu
bibirnya, yang lembut dan hangat, berusaha memaksakan
respons dariku.
Begitu Jacob yakin aku takkan menurunkan tanganku, ia
membebaskan pergelangan tanganku, tangannya turun ke
pinggangku. Tangannya yang panas membara menyentuh
punggungku, dan ia menarikku lebih dekat.
Sejenak bibirnya berhenti menciumku, tapi aku tahu ia
belum selesai. Bibirnya menelusuri garis rahangku,
kemudian kedua lengannya menjelajahi leherku. Ia
menggeraikan rambutku, meraih tanganku yang lain untuk
dikalungkan ke lehernya seperti tadi.
Kemudian kedua lengannya melingkari pinggangku, dan
bibirnya menempel di telingaku.
“Kau bisa melakukannya lebih baik dari ini, Bella,”
bisiknya parau. "Kau terlalu banyak berpikir."
Aku gemetar saat merasakan giginya menyapu daun
telingaku.
"Ya, begitu.” bisiknya. "Sekali ini, biarkan dirimu
merasakan apa yang sebenarnya kurasakan."
Aku menggeleng seperti robot sampai sebelah tangan
Jacob kembali menyusup ke rambutnya dan
menghentikanku.
Suaranya berubah masam. "Kau yakin ingin aku
kembali? atau kau benar-benar ingin aku mati?


Amarah mengguncang tubuhku seperti cambuk setelah
pukulan yang dahsyat. Sungguh keterlaluan, ia tidak
bertarung dengan adil.
Karena lenganku masih melingkari lehernya,aku pun
menjambak rambutnya dengan kedua tangan, tak
memedulikan nyeri hebat yang kurasakan di tangan
kananku, dan memberontak, berusaha menarik wajahku
dari wajahnya.
Tapi Jacob salah mengerti.
Ia terlalu kuat menyadari kedua tanganku,yang berusaha
menjambak rambutnya dari akar-akarnya, dimaksudkan
untuk menyakitinya. Alih-alih marah, ia malah mengira itu
karena aku bergairah. Dikiranya aku akhirnya memberi
respon.
Sambil terkesiap Jacob mendaratkan kembali bibirnya ke
bibirku, jari-jarinya meremas pinggangku dengan ganas.
Sentakan amarah membuat pengendalian diriku yang
memang rapuh jadi kehilangan keseimbangan, respon Jacob
yang kegirangan dan tidak terduga-duga membuat
kendaliku lenyap entah kemana. Seandainya ia hanya
menunjukkan respon penuh kemenangan, mungkin aku bisa
menolaknya. Tapi justru kepolosan kegembiraannya yang
meluap-luaplah yang meremukkan tekadku,
melumpuhkannya. Otakku tak lagi terhubung dengan
tubuhku, dan aku membalas ciumannya. Bertentangan
dengan semua akal sehat, bibirku bergerak bersama bibirnya
dengan cara-cara yang aneh dan membingungkan, yang
belum pernah terjadi sebelumnya, karena aku tak perlu
berhati-hati dengan Jacob, dan ia jelas tidak perlu berhatihati
denganku.
Jari-jariku semakin erat mencengkeram rambutnya, tapi
aku justru menariknya lebih dekat sekarang.


Jacob merajalela. Cahaya matahari yang menyilaukan
mengubah kelopak mataku menjadi merah,dan warna itu
cocok,benar-benar pas dengan gairah. Gairah ada di manamana.
Aku tidak bisa melihat, mendengar atau merasakan
hal lain yang bukan Jacob.
Sebagian kecil otakku yang masih waras meneriakkan
berbagai pertanyaan padaku.
Mengapa aku tidak menghentikannya? Lebih parahnya
lagi, mengapa aku bahkan tidak bisa menemukan dalam
diriku keinginan untuk berhenti? Apa itu berarti aku tidak
mau dia berhenti? Bahwa saat kedua tanganku
mencengkeram bahunya, aku senang merasakan dada Jacob
yang begitu bidang dan kokoh? Bahwa saat kedua
tangannya menarikku terlalu erat dengan tubuhnya, aku
tetap merasa itu belum cukup erat bagiku?
Pertanyaan-pertanyaan tolol, karena kau tahu
jawabannya, selama ini aku membohongi diriku sendiri.
Jacob benar. Ternyata selama ini dia benar. Ia lebih dari
sekedar teman biasa. Itulah sebabnya sungguh mustahil
bagiku berpisah dengannya, karena ternyata aku
mencintainya juga. Aku mencintainya, jauh lebih besar
daripada seharusnya, meski masih belum mendekati cukup.
Aku mencintainya, tapi itu tidak cukup mengubah apa pun,
itu hanya cukup untuk semakin melukai hati kami berdua.
Melukai hatinya lebih parah daripada yang pernah
kulakukan.
Aku tidak peduli pada hal lain selain itu, selain
kepedihan hati Jacob. Aku lebih pantas menerima
kepedihan apa pun yang ditimbulkan perbuatan ini. Aku
berharap, kepedihan itu dahsyat. Aku berharap aku akan
benar-benar menderita.


Saat ini, rasanya seolah-olah kami satu tubuh.
Kepedihan hati Jacob sejak dulu dan akan selalu menjadi
kepedihan hatiku, jadi sekarang, kebahagiannya adalah
kebahagiaanku juga. Aku juga merasa bahagia,meski
kebahagiannya sekaligus juga merupakan kepedihan.
Nyaris nyata, perasaan itu membakar kulitku seperti asam,
siksaan perlahan-lahan.
Selama satu detik yang singkat namun seolah tak pernah
berakhir, masa depan baru yang sepenuhnya berbeda
membentang di balik kelopak mataku yang basah oleh air
mata. Seakan-akan melihat melalui saringan ke dalam
pikiran-pikiran Jacob,aku bisa melihat dengan tepat apa saja
yang akan kutinggalkan, kehilangan apa yang takkan bisa
diselamatkan pengetahuan baru ini. Aku bisa melihat
Charlie dan Renee melebur dalam potongan-potongan
gambar yang disusun menjadi satu bersama Billy, Sam dan
LA push. Aku bisa melihat tahun-tahun berlalu dan
memiliki arti seiring dengan berlalunya waktu,
mengubahku. Aku bisa melihat serigala coklat merah besar
yang kucintai, selalu menjadi perlindunganku setiap kali
aku membutuhkannya. Sekilas, dalam satu detik yang
singkat itu, aku melihat kepala dua anak kecil berambut
hitam, berlari menjauhiku memasuki hutan yang familiar.
Ketika mereka lenyap, mereka membawa seluruh
penglihatan itu bersama mereka.
Dan kemudian,dengan sangat jelas, aku merasakan
retakan di hatiku saat sebagian kecil darinya memaksa
melepaskan diri.
Bibir Jacob sudah berhenti sebelum bibirku berhenti. Aku
membuka mata dan Jacob menatapku dengan takjub dan
senang.
"Aku harus pergi."bisiknya.


"Jangan."
Jacob tersenyum senang mendengar responku. "Aku
tidak akan lama.” janjinya. "Tapi satu hal dulu.."
Ia membungkuk untuk menciumku lagi, dan tidak ada
alasan bagiku untuk menolaknya. Apa gunanya?
Ciuman kali ini berbeda. Tangan Jacob terasa halus di
wajahku dan bibirnya yang hangat dan lembut agak raguragu.
Singkat, namun sangat,sangat manis.
Kedua lengannya melingkariku, dan ia memelukku eraterat
sambil berbisik di telingaku.
"Seharusnya itu menjadi ciuman pertama kita. Lebih
baik terlambat daripada tidak sama sekali."
Di dadanya, tempat ia tak bisa melihat, air mataku
menggenang dan tumpah.
24. KEPUTUSAN KIL AT
AKU berbaring telungkup di kantong tidur, menunggu
keadilan menemukanku. Mungkin salju bakal longsor dan
menimbunku di sini. Kalau saja benar begitu. Aku takkan
pernah mau memandang wajahku lagi di cermin.
Tak ada suara yang memperingatkan aku. Tiba-tiba
tangan Edward yang dingin sudah membelai-belai
rambutku yang kusut. Aku bergidik penuh rasa bersalah
saat ia menyentuhku.
"Kau baik-baik saja?" bisiknya, suaranya cemas.
"Tidak. Aku kepingin mati."
"Itu takkan pernah terjadi. Aku takkan mengizinkannya."


Aku mengerang dan berbisik, "Mungkin nanti kau akan
berubah pikiran.”
"Mana Jacob?"
"Dia pergi bertempur,” gumamku sambil menunduk.
Jacob meninggalkan kemah dengan riang gembira,
sambil menyerukan "Sebentar lagi aku kembali" berlari
cepat menuju lapangan, sekujur tubuhnya sudah bergetar
saat ia bersiap-siap berubah wujud.
Sekarang seluruh kawanan pasti sudah mengetahui
semuanya. Seth Clearwater berjalan mondar-mandir di luar
tenda, merupakan saksi intim kejatuhanku.
Edward terdiam lama sekali. "Oh,” ujarnya akhirnya.
Nadanya membuatku khawatir, longsoran saljuku tidak
datang cukup cepat. Aku diam-diam meliriknya, dan benar
saja, mata Edward nanar saat ia mendengarkan sesuatu
yang aku lebih suka mati saja daripada itu didengar
olehnya. Aku menundukkan wajahku kembali ke lantai.
Aku terperangah ketika Edward tertawa enggan.
"Padahal kupikir akulah yang bersaing secara kotor,”
katanya dengan enggan menyatakan kekagumannya. “Dia
membuatku terlihat seperti orang suci.” Tangannya
membelai bagian pipiku yang terlihat. "Aku tidak marah
padamu, sayang. Ternyata Jacob lebih cerdik daripada yang
selama ini kukira. Meskipun aku berharap kau tidak
melakukannya.”
"Edward,” aku berbisik ke bahan nilon yang kasar.
"Aku..Aku..Aku..”
"Ssstt,” Edward mendiamkan, jari-jarinya menenangkan
di pipiku. "Bukan itu maksudku. Dia toh tetap menciummu,
walaupun kau tak terpedaya olehnya, dan sekarang aku tak


punya alasan untuk meremukkan wajahnya. Padahal aku
pasti akan sangat menikmatinya."
"Terpedaya?" gumamku, nyaris tak bisa dimengerti.
"Bella, apakah kau benar-benar yakin dia semulia itu?
bahwa dengan berbesar hati dia akan menyingkir untuk
memberi kesempatan padaku?"
Perlahan-lahan aku mengangkat kepala untuk menatap
matanya yang sabar. Ekspresinya lembut, sorot matanya
penuh pengertian, bukan jijik seperti yang pantas kulihat.
"Ya, aku benar-benar mempercayainya,” bisiku,
kemudian membuang muka. Tapi aku sama sekali tidak
merasa amarah kepada Jacob karena memperdaya aku. Tak
ada lagi ruang dalam diriku untuk menyimpan hal lain
selain kebencian yang kurasakan terhadap diriku sendiri.
Lagi-lagi Edward tertawa lirih. “Kau benar-benar tidak
pandai berbohong, jadi kau akan mempercayai orang yang
paling tidak pandai berbohong sekalipun."
"Kenapa kau tidak marah padaku?" bisikku. "Kenapa
kau tidak membenci aku? Atau mungkin kau belum
mendengar seluruh ceritanya?"
"Kurasa aku sudah sangat memahaminya," jawab
Edward dengan nada enteng dan ringan. "Jacob
membayangkannya dengan sangat jelas. Aku merasa tidak
enak pada teman-teman sekawanannya, nyaris seperti aku
merasa tidak enak pada diriku sendiri. Seth yang malang
bahkan sampai mual. Tapi Sam menyuruh Jacob
memfokuskan diri sekarang."
Aku memejamkan mata dan menggeleng-geleng sedih.
Serat-serat nilon lantai tenda yang tajam menggesek kulitku.


"Kau hanya manusia biasa,” bisik Edward, membelai
rambutku lagi.
"Itu pembelaan paling menyedihkan yang pernah
kudengar."
"Tapi kau memang manusia biasa, Bella. Dan, walaupun
aku berharap sebaliknya, demikian juga dia... ada lubanglubang
dalam hidupmu yang tidak bisa kuisi. Aku mengerti
itu."
"Tapi itu tidak benar. Justru karena itulah ini buruk
sekali. Tidak ada lubang apa pun."
"Kau mencintainya,” bisik Edward lembut.
Setiap sel dalam tubuhku benar-benar ingin
menyangkalnya.
"Aku lebih mencintaimu,” kataku. Hanya itu yang bisa
kukatakan.
"Ya, aku juga tahu itu. Tapi...waktu aku
meninggalkanmu Bella, aku meninggalkanmu berdarahdarah.
Jacoblah yang menjahit lukamu dan
memulihkannya. Itu pasti akan meninggalkan bekas, di diri
kalian berdua. Aku tidak yakin bekas jahitan semacam itu
bisa hilang sendiri. Aku tidak bisa menyalahkan salah satu
dari kalian untuk sesuatu yang kulakukan sendiri. Mungkin
aku sudah dimaafkan, tapi aku tidak berarti aku bisa lepas
dari segala konsekuensinya.
"Seharusnya aku tahu kau pasti akan menyalahkan
dirimu sendiri. Kumohon, hentikan. Aku tidak tahan
mendengarnya."
"Memangnya kau ingin aku bilang apa?"
"Aku ingin kau memaki-makiku sepuas hatimu, dalam
setiap bahasa yang kau tahu. Aku ingin kau mengatakan


kepadaku kau jijik padaku dan kau akan meninggalkan aku
sehingga aku bisa memohon-mohon dan menyembahnyembah,
memintamu tidak pergi."
"Maafkan aku," Edward menghela napas. "Aku tidak
bisa berbuat begitu."
"Setidaknya berhentilah berusaha menghiburku. Biarkan
aku menderita. Aku pantas kok menerimanya."
"Tidak," gumam Edward.
Aku mengangguk lambat-lambat. "Kau benar, teruslah
bersikap kelewat pengertian. Mungkin itu malah lebih
buruk."
Edward terdiam sejenak, aku merasakan perubahan
suasana, hal mendesak yang baru.
"Sudah semakin mendekat,” kataku.
"Ya, tinggal beberapa menit lagi. Cukup waktu untuk
menyampaikan satu hal lagi.."
Aku menunggu. Waktu akhirnya Edward berbicara lagi,
ia berbisik. “Aku bisa bersikap mulia Bella. Aku tidak akan
memintamu memilih di antara kami. Berbahagialah, dan
aku bisa memiliki bagian apa saja dariku yang kau
inginkan, atau tidak sama sekali, kalau itu memang lebih
baik. Jangan biarkan utang budi apa pun yang menurutmu
kau rasakan terhadapku, mempengaruhi keputusanmu."
Aku mengangkat tubuhku dari lantai, menyentakkan
diriku hingga berlutut.
"Brengsek, hentikan!" teriakku.
Mata Edward membelalak kaget. "Tidak, kau tidak
mengerti. Aku tidak sekadar ingin menghibur perasaanmu,
Bella. Tapi aku sungguh-sungguh."


"Aku tahu kau sungguh-sungguh,” erangku."Tapi
kenapa sih kau tidak mau melawan! Jangan sok
mengorbankan diri sekarang! Lawan!"
"Bagaimana caranya?" tanya Edward, matanya sarat
kesedihan.
Aku cepat-cepat naik ke pangkuannya, memeluk
lehernya.
"Aku tidak peduli di sini dingin. Aku tidak peduli
tubuhku bau anjing sekarang. Buat aku lupa betapa
jahatnya aku. Buat aku lupa padanya. Buat aku lupa
namaku sendiri. Lawan!"
Aku tidak menunggunya memutuskan, atau memiliki
kesempatan untuk mengatakan kepadaku ia tidak tertarik
pada monster keji yang tidak setia seperti aku. Aku
mendekatkan tubuhku ke tubuhnya dan melumatkan
bibirku ke bibirnya yang sedingin salju.
"Hati-hati, Sayang." gumamnya saat aku menciumnya
dengan ganas.
"Tidak,” geramku.
Dengan lembut Edward mendorong wajahku beberapa
sentimeter dari wajahnya. "Kau tidak perlu membuktikan
apa pun padaku."
"Aku tidak berusaha membuktikan apa pun. Kau tadi
bilang aku bisa memiliki bagian apa saja darimu yang
kuinginkan. Bagian inilah yang kuinginkan. Aku
menginginkan semuanya." Aku mengalungkan kedua
lenganku di lehernya dan berusaha keras menjangkau
bibirnya. Edward menunduk membalas ciumanku. tapi
bibirnya yang dingin ragu-ragu sementara ketidaksabaranku
semakin menjadi-jadi. Tubuhku menunjukkan maksudku


dengan jelas, membeberkan semuanya. Tak terelakkan,
tangan Edward bergerak untuk menahanku.
"Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk itu,” ia
menyarankan, begitu tenangnya hingga membuatku marah.
"Kenapa tidak,” gerutuku. Tak ada gunanya melawan
kalau Edward sudah memutuskan bersikap rasional, jadi
kujatuhkan kedua lenganku.
"Pertama-tama, karena hawa memang dingin.” Edward
mengulurkan tangan untuk menarik kantong tidur dari
lantai; ia menyelubungkannya ke tubuhku.
"Salah,” sergahku. "Pertama, karena kau sangat
bermoral untuk ukuran vampire."
Edward terkekeh. "Baiklah, terserah kalau memang
begitu menurutmu. Dingin adalah alasan kedua. Dan
ketiga... well, kau memang benar-benar bau, Sayang."
Edward mengernyitkan hidung.
Aku menghela napas.
"Keempat,” gumamnya, menundukkan wajahnya
supaya ia bisa berbisik di telingaku. "Kita akan mencoba,
Bella. Aku akan menepati janjiku. Tapi aku lebih suka kalau
itu bukan sebagai reaksi terhadap Jacob Black.”
Aku mengernyit dan membenamkan wajahku di
bahunya.
"dan kelima.."
"Panjang sekali daftarnya.” gerutuku.
Edward tertawa. “ya, tapi kau mau mendengarkan
jalannya pertempuran atau tidak?"
Saat ia berbicara, Seth melolong tinggi di luar tenda.


Tubuhku serta-merta mengejang mendengarnya. Aku
tidak sadar tangan kiriku mengepal. Kuku-kuku menusuk
telapak tanganku yang diperban, sampai Edward dengan
lembut meraih tanganku dan membuka jari-jariku.
"Semua akan baik-baik saja, Bella." janjinya."Pihak kita
memiliki kelebihan dalam hal keahlian, latihan dan unsur
kejutan. Sebentar lagi pertempuran akan selesai. Kalau aku
benar-benar percaya, aku pasti sudah berada di sana
sekarang, dan kau akan kutinggal di sini, dirantai pohon
atau semacamnya.”
"Alice itu mungil sekali.” erangku.
Edward terkekeh.” mungkin itu akan menjadi masalah...
kalau orang bisa menangkapnya."
Seth mulai mendengking-dengking.
"Ada apa?" tuturku.
"Dia hanya marah karena terjebak di sini bersama kita.
Dia tahu kawanan menyuruhnya tinggal di sini untuk
melindunginya. Padahal dia ngiler ingin bergabung dengan
mereka."
Aku memberengut ke arah Seth.
"Para vampir baru sudah sampai ke ujung jejak, tipuan
kita berhasil memancing mereka, Jasper memang genius
dan karena mereka juga mencium bau yang lain di padang
rumput, mereka memecah diri menjadi dua kelompok
sekarang, tepat seperti yang dikatakan Alice,” bisik Edward,
matanya menerawang jauh. "Sam membawa kita berputar
untuk menghadapi kelompok penyerang itu." ia begitu
tekun mendengarkan hingga menggunakan kata ganti orang
ketiga jamak untuk kawanan serigala.
Tiba-tiba ia menunduk menatapku. "Bernapaslah Bella."


Susah payah aku berusaha melakukan perintahnya.
Terdengar olehku napas berat Seth tepat di luar dinding
tenda dan aku berusaha memperlambat laju paru-paruku,
mengikuti tarikan napas Seth,agar tidak kehabisan napas.
"Kelompok pertama sekarang berada di lapangan. Kita
bisa mendengar pertempurannya."
Gigiku terkatup rapat.
Edward tertawa. “Kita bisa mendengar Emmet, dia
sangat menikmati pertarungan ini."
Aku menarik napas lagi, bersama Seth.
"Kelompok kedua sedang bersiap-siap, mereka tidak
memperhatikan, mereka belum mendengar kita."
Edward menggeram.
"Apa?" aku terkesiap kaget.
"Mereka membicarakanmu." Giginya terkatup rapat.
"tugas mereka seharusnya adalah memastikan kau tak bisa
lolos... Bagus sekali Leah! Mmm, lumayan tangkas juga
dia,” gumam Edward kagum. "Salah satu Vampire baru itu
mencium bau kita, dan Leah menerjangnya sebelum dia
bahkan sempat berbalik. Sam membantu menghabisi
vampire itu. Paul dan Jacob melumpuhkan vampire lain,
tapi vampire baru lainnya sekarang bersikap defensif.
Mereka tidak tahu harus bagaimana menghadapi pihak kita.
Kedua pihak ragu-ragu... Tidak, biarkan Sam memimpin.
Jangan halangi.” gumamnya. "Pisahkan mereka, jangan
biarkan mereka saling melindungi."
Seth mendengking.
"Begitu lebih baik, desak mereka ke arah lapangan."
Edward setuju. Tubuhnya bergerak-gerak tanpa sadar
sambil terus menonton, mengejang ketika melihat gerakan-


gerakan yang akan ia lakukan seandainya ia ikut dalam
pertempuran itu. Tangannya masih menggenggam
tanganku, kuremas jari-jarinya setidaknya ia tidak ada di
sana.
Suara yang mendadak hilang adalah satu-satunya
peringatan.
Embusan napas Seth yang berat mendadak lenyap, dan
karena aku menyamakan tarikan napasku dengannya – aku
langsung menyadarinya.
Aku ikut-ikutan berhenti bernapas, bahkan terlalu ngeri
untuk membuat paru-paruku bekerja begitu aku sadar
Edward telah membeku bagai balok es di sampingku.
Oh. tidak. Tidak. Tidak..
Siapa yang terbunuh? Mereka atau kita? Milikku,
semuanya milikku. Aku kehilangan siapa?
Begitu cepatnya hingga aku tak tahu persis bagaimana
kejadiannya, tahu-tahu aku sudah berdiri dan tenda
mendadak lenyap serta tercabik-cabik di sekelilingku.
Apakah Edward merobeknya supaya kami bisa keluar?
Mengapa?
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, syok, silau karena
cahaya matahari yang cemerlang. Yang bisa kulihat hanya
Seth, tepat di samping kami, wajahnya hanya berjarak lima
belas sentimeter dari wajah Edward. Mereka saling
menatap dengan konsentrasi penuh selama satu detik yang
terasa lama sekali.
Sinar matahari pecah berderai begitu menerpa kulit
Edward dan kilauannya berhamburan, menari-nari di bulu
Seth.


Kemudian Edward berbisik dengan nada mendesak.
"Pergi Seth!"
Serigala besar itu berbalik dan lenyap memasuki bayangbayang
hutan.
Benarkah semuanya hanya berlangsung dua detik?
Rasanya seperti berjam-jam. Aku sangat ketakutan sampai
perutku mual begitu mengetahui sesuatu yang mengerikan
sedang terjadi di lapangan sana. Kubuka mulutku untuk
memaksa Edward membawaku ke sana, dan melakukan
sekarang. Mereka membutuhkan dia, dan mereka
membutuhkan aku. Kalau aku harus berdarah-darah untuk
menyelamatkan mereka, aku akan melakukannya. Aku rela
mati untuk melakukannya,seperti istri ketiga. Walaupun
tidak memegang pisau perak di tanganku, aku pasti bisa
menemukan suatu cara...
Belum sempat melontarkan sepatah kata pun, aku
merasa seolah-olah dilempar tinggi ke udara. Tapi tangan
Edward tidak pernah melepaskanku, aku hanya
dipindahkan, begitu cepatnya hingga sensasinya terasa
seperti jatuh dalam posisi menyamping.
Aku mendapati diriku berdiri menempel erat di
punggung tebing yang tinggi. Edward berdiri di depanku,
dalam postur siaga yang langsung kufahami artinya.
Kelegaan menyapu pikiranku namun pada saat
bersamaan, perutku seperti melesak ke telapak kaki.
Ternyata aku salah mengerti.
Lega, karena tidak terjadi apa-apa di lapangan sana.
Ngeri, karena krisis itu justru terjadi di sini.
Edward berjaga-jaga dengan sikap defensif, separuh
merunduk, kedua lengan sedikit terulur, yang kukenali


dengan keyakinan menakutkan. Tebing di belakang
punggungku bagaikan dinding bata kuno di lorong sempit
Italia saat ia berdiri di antara aku dan para pengawal
keluarga Volturi yang berjubah hitam.
"Siapa?" bisikku.
Kata-kata itu terlontar dari sela-sela gigi Edward dalam
bentuk geraman yang lebih keras daripada yang
kuharapkan. Terlalu keras. Itu berarti sekarang sudah
sangat terlambat untuk bersembunyi. Kami terperangkap,
dan tidak penting lagi siapa yang mendengar jawabannya.
"Victoria,” jawab Edward, menyemburkan kata itu,
membuatnya jadi kutukan. "Dia tidak sendirian. Dia
mencium bauku, mengikuti para vampir baru untuk
mengamati, dia memang tak pernah berniat bertarung
bersama mereka. Dia membuat keputusan mendadak untuk
mencariku, menebak pasti kau berada di tempat yang sama
denganku. Dia benar. Kau benar. Ternyata memang
Victoria."
Victoria pasti sudah berada cukup dekat sehingga
Edward bisa mendengar pikiran-pikirannya.
Lagi-lagi aku merasa lega. Kalau yang datang itu
keluarga Volturi, kami berdua pasti bakal tewas. Tapi kalau
Victoria, tidak harus dua-duanya. Edward pasti bisa
selamat. Ia petarung hebat, sama hebatnya seperti Jasper.
Kalau Victoria tidak membawa terlalu banyak pengikut,
Edward pasti bisa mengalahkannya, lalu kembali ke
keluarganya. Edward lebih cepat dibandingkan siapa pun.
Ia pasti bisa selamat.
Aku sangat senang ia tadi menyuruh Seth pergi. Tentu
saja, Seth tak bisa meminta bantuan siapa pun. Victoria
mengambil keputusan pada waktu yang sangat tepat. Tapi
setidaknya Seth aman; aku tak bisa membayangkan serigala


besar berbulu cokelat pasir saat memikirkan namanya, yang
terbayang hanya sesosok remaja lima belas tahun bertubuh
besar.
Tubuh Edward bergerak, gerakan yang sangat kecil, tapi
dari sana aku tahu harus melihat ke arah mana. Kutatap
bayang-bayang hutan yang hitam.
Rasanya bagaikan didatangi mimpi buruk.
Dua vampire beringsut-ingsut maju memasuki lapangan
kecil tempat kami berkemah, mata mereka menatap tajam,
tak luput memerhatikan hal sekecil apa pun. Kulit mereka
berkilauan bagaikan berlian tertimpa cahaya matahari.
Aku nyaris tak bisa melihat cowok pirang itu, ya, dia
memang masih kanak-kanak, meskipun tubuhnya berotot
dan tinggi, mungkin sesuai denganku waktu ia berubah.
Matanya lebih merah terang daripada yang pernah kulihat
sebelumnya. Walaupun ia berada lebih dekat dengan
Edward, bahaya yang paling dekat, tapi aku bisa
memandanginya.
Karena, beberapa meter agak menyamping ke belakang
Victoria menatapku.
Rambut jingganya lebih cemerlang daripada yang
kuingat, semakin menyerupai lidah api. Tak ada angin di
sini, tapi api yang mengelilingi wajahnya seperti berpendarpendar,
seolah-olah hidup.
Matanya hitam oleh dahaga. Ia tidak tersenyum, seperti
yang selalu terjadi bila ia muncul dalam mimpi burukku,
bibirnya terkatup rapat membentuk garis kaku. Caranya
meliukkan tubuhnya tampak begitu garang, seperti singa
betina menunggu kesempatan yang tepat untuk menerjang.
Tatapannya yang liar dan berapi-api menyapu Edward dan
aku berganti-ganti. tapi tidak pernah menatap Edward lebih


dari setengah detik. Ia tak mampu mengalihkan tatapannya
dariku, sama seperti aku tak mampu mengalihkan mataku
darinya.
Ketegangan terpancar darinya, nyaris terlihat di udara.
Aku bisa merasakan kegairahan dan nafsu berkobar-kobar
dalam dirinya yang membuatnya nekat. Hampir seolah-olah
aku bisa mendengar pikiran-pikirannya juga. Aku tahu apa
yang ada dalam pikirannya.
Victoria sudah hampir mendapatkan apa yang ia
inginkan, tujuan utama seluruh eksistensinya selama lebih
dari satu tahun sekarang sudah sangat dekat.
Kematianku.
Rencananya sangat jelas dan praktis. Si cowok pirang itu
akan menyerang Edward. Begitu perhatian Edward
teralihkan, Victoria akan menghabisiku.
Itu akan dilakukan dengan sangat cepat, tak ada waktu
untuk main-main di sini, tapi tuntas. Sesuatu yang tidak
mungkin bisa dipulihkan. Sesuatu yang bahkan takkan bisa
diperbaiki oleh racun vampire sekalipun.
Victoria akan menghentikan jantungku. Mungkin dengan
cara menyurukkan tangan ke dadaku, meremukkan
jantungku. Semacam itu.
Jantungku berdebar semakin kencang,nyaris seolah-olah
membuat targetnya semakin nyata.
Nun jauh di sana,dari tengah hutan yang hitam di ujung
sana, lolongan serigala bergema di udara yang diam tak
bergerak. Karena Seth sudah pergi, tak ada yang bisa
menerjemahkan arti suara itu.
Si cowok pirang memandangi Victoria dari sudut
matanya, menunggu perintah.


Ia sangat mdua. Dugaanku, menilik iris matanya yang
merah tua, ia pasti belum lama menjadi vampire. Ia pasti
kuat, tapi masih hijau. Edward pasti bisa menghadapinya.
Edward pasti selamat.
Victoria menyentakkan dagunya ke arah Edward, tanpa
suara memerintahkan cowok pirang itu untuk maju.
"Riley,” kata Edward dengan suara lembut bernada
memohon.
Si cowok pirang membeku, matanya yang merah
membelalak.
"Dia membohongimu, Riley,” kata Edward.
"Dengarkan aku. Dia membohongimu seperti dia
membohongi teman-temanmu yang lain, yang sekarang
sekarat di lapangan sana. Kau tahu dia membohongi
mereka. karena dia menyuruhmu membohongi mereka,
bahwa kalian berdua tidak akan membantu mereka. Tidak
sulit kan untuk mempercayai dia membohongimu juga?”
Kebingungan menyapu wajah Riley.
Edward beranjak beberapa sentimeter ke samping, dan
Riley otomatis menyesuaikan diri.
"Dia tidak mencintaimu, Riley," suara lembut Edward
terdengar meyakinkan, nyaris menghipnotis. “Dia tidak
pernah mencintaimu. Dia mencintai seseorang bernama
James, dan kau tak lebih dari sekadar alat baginya.”
Begitu Edward menyebut nama James, sudut-sudut
mulut Victoria terangkat, menyeringai memamerkan
giginya. Matanya tetap terpaku padaku.
Riley melayangkan pandangan panik ke arah Vicroria.
"Riley?" panggil Edward.
Pandangan Riley kembali terfokus kepada Edward.


"Dia tahu aku akan membunuhmu, Riley. Dia memang
ingin kau mati supaya dia tidak perlu berpura-pura lagi.
Ya.., kau sudah melihatnya sendiri, kan? Kau sudah
membaca keengganan itu di matanya, mencurigai nada
palsu dalam janjinya. Kau benar. Dia memang tidak pernah
menginginkanmu. Setiap ciuman, setiap sentuhannya hanya
dusta."
Edward bergerak lagi, maju beberapa sentimeter
menghampiri bocah itu, beberapa sentimeter menjauhiku.
Tatapan Victoria langsung tertuju pada celah di antara
kami. Dibutuhkan waktu kurang dari satu detik untuk
membunuhku, ia hanya membutuhkan margin kesempatan
yang paling kecil. Lebih lambat kali ini, Riley mengubah
kembali posisinya.
"Kau tidak perlu mati,” janji Edward, matanya terus
tertuju kepada pemuda itu. "Ada cara-cara lain untuk hidup
selain daripada cara yang dia tunjukkan padamu. Tidak
semuanya dusta dan darah Riley. Kau bisa
meninggalkannya sekarang juga. Kau tidak perlu mati demi
dusta-dustanya.”
Edward menggeser kakinya ke depan dan ke samping.
Sekarang di antara kami menganga celah selebar kurang
dari setengah meter. Riley mengitari terlalu jauh, kali ini
kelewat mengulur-ulur waktu. Victoria mencondongkan
tubuh ke depan dengan bertumpu pada tumitnya.
"Kesempatan terakhir Riley,” Bisik Edward.
Wajah Riley begitu putus asa saat ia memandang
Victoria, meminta jawaban.
"Dialah pembohongnya Riley,” tukas Victoria, dan
mulutku ternganga lebar mendengar suaranya. "Aku sudah


pernah bercerita padamu tentang permainan pikiran yang
mereka lakukan. Kau tahu aku hanya mencintaimu."
Suaranya tidak seperti geraman liar dan garang seperti
dugaanku bila melihat wajah dan pembawaannya yang
buas. Suaranya justru lembut, tinggi, seperti suara anak
kecil, tinggi melengking. Suara yang cocok bagi bocah
berambut pirang ikal yang mengunyah permen karet merah
jambu. Sungguh tidak masuk akal suara itu datang dari gigi
yang berkilau menyeringai.
Dagu Riley mengeras, dan ia menegakkan bahunya.
Sorot matanya kosong,tak ada lagi kebingungan, tak ada
lagi kecurigaan. Tak ada pikiran sama sekali. Ia
menegakkan tubuh, siap menyerang.
Tubuh Victoria sepertinya bergetar, ia sangat tegang, jarijarinya
melengkung sepeti cakar, menunggu Edward
bergerak satu sentimeter saja menjauhiku.
Geraman itu tidak berasal dari salah seorang di antara
mereka.
Sosok raksasa berwarna cokelat terbang menerobos
bagian tengah celah, menubruk Riley hingga terpelanting ke
tanah.
"Tidak!" pekik Victoria, suara bayinya melengking tak
percaya.
Satu setengah meter di depanku, serigala raksasa Itu
mengoyak dan mencabik-cabik Si vampir pirang di
bawahnya. Sesuatu yang berwarna putih dan keras
terlempar ke bebatuan dekat kakiku. Aku buru-buru
menyingkir menjauhi benda itu.
Victoria sama sekali tidak melirik Riley, padahal ia baru
saja mengungkapkan cintanya pada cowok itu. Matanya
tetap tertuju padaku, dipenuhi sorot kecewa yang begitu


berapi-api hingga membuatnya terlihat seperti orang sakit
jiwa.
"Tidak,” serunya lagi, dengan rahang terkatup rapat,
sementara Edward mulai bergerak menghampirinya,
menghalangi langkahnya mendekatiku.
Riley kembali berdiri, tercabik dan kepayahan, tapi
masih bisa melayangkan tendangan keras ke pundak Seth.
Kudengar bunyi tulang berderak patah. Seth mundur dan
mulai mengitarinya, terpincang-pincang. Riley
mengulurkan kedua tangan, bersiap-siap, walaupun
kelihatannya ia kehilangan sebagian tangannya...
Hanya beberapa meter dan perkelahian itu, Edward dan
Victoria menari.
Tidak bisa dibilang berputar-putar, karena Edward tidak
mengizinkan Victoria memposisikan diri lebih dekat
kepadaku.
Victoria melenggang mundur, bergerak ke kanan dan ke
kiri, berusaha menemukan celah dalam pertahanan
Edward. Edward mengikuti gerakannya dengan luwes,
membuntutinya dengan konsentrasi sempurna. Ia mulai
bergerak tidak sampai sedetik sebelum Victoria bergerak,
membaca maksudnya lewat pikirannya.
Seth menerjang Riley dari samping, dan sesuatu tercabik
dengan bunyi robekan mengerikan. Lagi-lagi potongan
badan putih keras melayang ke hutan dan jatuh dengan
suara berdebum. Riley meraung marah, dan Seth meleset
mundur, kegesitannya sungguh menakjubkan, menilik
ukuran tubuhnya yang besar, sementara Riley menyapukan
tangannya yang tercabik-cabik kepada Seth.
Victoria menyelinap-nyelinap di antara batang-batang
pohon di ujung terjauh lapangan kecil ini. Ia menghadapi


dilema, kakinya bergerak menuju tempat yang aman namun
matanya dipenuhi dahaga terhadapku. Bisa kulihat
keinginan membunuhnya berkobar-kobar,berperang dengan
insting menyelamatkan diri dalam dirinya.
Edward juga bisa melihatnya.
"Jangan pergi Victoria,” gumamnya dengan nada
menghipnotis seperti tadi. “Kau tak akan pernah mendapat
kesempatan seperti ini lagi."
Victoria memamerkan gigi-giginya dan mendesis kepada
Edward, tapi ia sepertinya tak sanggup menjauh dari ku.
"Kau selalu bisa kabur nanti,” rayu Edward. “Masih
banyak waktu untuk itu. Memang itu kelebihanmu, bukan?
Itulah sebabnya James mempertahankannya. Berguna kalau
menyukai permainan-permainan mematikan. Pasangan
dengan insting melarikan diri yang luar biasa. Seharusnya
dia tidak meninggalkanmu, sebenarnya dia bisa
memanfaatkan keahlianmu ketika kami menangkapnya di
Phoenix dulu."
Geraman buas terlontar dari sela-sela bibi Victoria.
"Memang hanya sampai sejauh itu arti dirimu baginya.
Tolol benar, menyia-nyikan begitu banyak energi
membalaskan dendam orang yang hanya menyayangi kuda
tunggangannya. Kau hanya dimanfaatkan olehnya. Aku
tahu benar itu."
Sudut-sudut bibir Edward terangkat ke Satu sisi sambil
tangannya mengetuk-ngetuk pelipis.
Dengan pekikan tertahan Victoria meleset keluar lagi ke
balik pepohonan, melakukan gerakan tipuan ke arah
samping. Edward merespons, dan tarian itu dimulai lagi.


Saat itulah tinju RIley mengenai panggul Seth, dan
pekikan pelan terlontar dari tenggorokan Seth. Seth
mundur, pundaknya berkedut-kedut sementara ia berusaha
mengenyahkan perasaan sakit itu dari tubuhnya.
Kumohon, aku ingin memohon kepada Riley, tapi tidak
bisa menggerakkan otot-otot mulutku, menarik udara keluar
dari paru-paruku. Kumohon, dia masih kanak-kanak!
Mengapa tadi Seth tidak kabur saja. Mengapa dia tidak
lari sekarang?
Riley kembali memperkecil jarak di antara mereka,
mendesak Seth ke muka tebing di sebelahku. Victoria tibatiba
tertarik pada nasib pasangannya. Aku bisa melihatnya,
dari sudut mataku, mengira-ngira jarak antara Riley dan
aku. Seth menyerang Riley, memaksanya mundur, dan
Victoria mendesis.
Seth tidak lagi terpincang-pincang. Saat berjalan
mengitari musuhnya, ia hanya beberapa sentimeter di
sebelah Edward, ekornya menerpa punggung Edward, dan
mata Victoria melotot.
"Tidak, dia tidak akan menyerangku,” sergah Edward,
menjawab pertanyaan dalam benak Victoria. Ia
memanfaatkan kelengahan Victoria untuk beringsut lebih
dekat. “Kau menjadikan dirimu musuh bersama. Karena
kau, kami jadi bersekutu."
Victoria mengatupkan giginya rapat-rapat,berusaha
memfokuskan diri hanya kepada Edward.
"Lihatlah lebih seksama Victoria,” gumam Edward,
berusaha membuyarkan konsentrasinya. "Apakah dia
benar-benar mirip monster yang dibuntuti James melintasi
Siberia?"


Mata Victoria melotot lebar, kemudian mulai melirik
Edward, Seth, dan aku bergantian, bolak balik.
"Tidak sama?" geramnya dengan suara melengkingnya
yang mirip anak kecil. "Mustahil!"
"Tidak ada yang mustahil,” gumam Edward, suara
beledunya lembut sementara ia beringsut lebih dekat kepada
Victoria. "Kecuali menyangkut yang kau inginkan. Kau
takkan pernah menyentuh Bella."
Victoria menggeleng cepat dan mengentak, melawan
upaya Edward mengalihkan perhatiannya, dan berusaha
menerobos pertahanan Edward, tapi Edward sudah
menghalanginya. Wajah Edward mengernyit frustrasi,
kemudian ia merunduk lebih rendah, kembali berubah
menjadi singa betina, dan bergerak maju dengan langkahlangkah
mantap.
Victoria bukan vampire baru yang tidak berpengalaman
dan hanya digerakkan insting. Ia mematikan. Bahkan aku
pun tahu perbedaan antara dirinya dengan Riley dan aku
tahu Seth takkan bisa bertahan selama itu bila bertarung
melawan vampire ini.
Edward ikut bergerak, keduanya saling menghampiri,
singa melawan singa betina.
Tarian itu semakin cepat temponya.
Seperti Alice dan Jasper di padang rumput, gerakan
berpusar-pusar yang kabur, hanya saja tarian yang satu ini
tidak dikoreografi sesempurna itu. Suara berderak dan
patah yang tajam memantul di permukaan tebing setiap kali
ada yang terpeleset dalam formasi. Tapi gerakan mereka
terlalu cepat sehingga aku tak bisa melihat siapa yang
melakukan kesalahan...


Konsentrasi Riley terpecah tarian maut itu, matanya
jelalatan cemas ingin mengetahui nasib pasangannya. Seth
menyerang, mencabik sebagian kecil lagi tubuh si vampire.
Riley meraung, lalu melayangkan backhand yang sangat
keras, menghantam dada Seth yang lebar. Tubuh besar Seth
melayang setinggi tiga meter, lalu membentur dinding batu
di atas kepalaku dengan kekuatan yang seolah-olah
menggetarkan seluruh puncak tebing. Aku mendengar
udara keluar dari paru-parunya, lalu merunduk
menghindarinya saat tubuh seth terpantul dari dinding batu
dan mendarat di tanah, beberapa meter di depanku.
Dengkingan pelan terlontar dari sela-sela gigi Seth.
Kepingan-kepingan batu tajam batu kelabu menghujani
kepalaku, menggores kulitku yang terbuka. Sebongkah batu
berpinggiran tajam bergulingan menuruni lengan kananku
dan secara refleks aku menangkapnya. Jari-jariku
menggenggam pinggirannya yang tajam sementara naluri
menyelamatkan diri muncul dalam diriku, karena tidak ada
peluang lari menyelamatkan diri, tubuhku, tak peduli
betapa pun tidak efektifnya tindakan itu, bersiap-siap
melawan.
Adrenalin menderas dalam pembuluh darahku. Aku tahu
pinggiran batu yang tajam mengiris telapak tanganku. Aku
tahu buku jariku yang retak menjerit protes. Aku tahu itu,
tapi aku tidak bisa merasakan nyeri itu.
Di belakang Riley, yang bisa kulihat hanyalah jilatan
lidah api yang merupakan rambut Victoria serta sekelebat
warna putih. Suara yang menyerupai bunyi logam patah
semakin terdengar, begitu juga air mata, desis terkesiap dan
syok, menunjukkan tarian itu berubah menjadi tarian
mematikan bagi salah satu seorang di antara mereka.
Tapi siapa?


Riley menerjang ke arahku, mata merahnya menyalanyala
oleh amarah. Ia memelototi onggokan bulu cokelat
tanah yang tergeletak lemas di antara kami, dan tangannya
– tangannya yang patah dan tercabik-cabik – melengkung
membentuk cakar. Mulutnya terbuka, melebar, giginya
berkilau, saat ia bersiap-siap mengoyak-ngoyak leher Seth.
Hormon adrenalin kembali berpacu dalam pembuluh
darahku bagaikan sengatan listrik, dan tiba-tiba semuanya
menjadi sangat jelas.
Kedua pertempuran itu sudah terlalu ketat. Seth nyaris
kalah dan aku tidak tahu Edward menang atau kalah.
Mereka membutuhkan bantuan. Sesuatu yang bisa
mengalihkan perhatian musuh. Sesuatu yang akan
membuat mereka kalang kabut.
Tanganku begitu kuat mencengkeram bongkahan batu
tajam itu sampai-sampai salah satu tali penyangga tanganku
putus.
Cukup kuatkah aku? Cukup beranikah? Sekeras apa aku
harus menusukkan batu tajam itu Ke tubuhku? Bisakah
tindakanku ini memberi Seth cukup waktu untuk bangkit
lagi. Mungkinkah ia bisa segera pulih hingga
pengorbananku baginya tidak sia-sia?
Aku menggoreskan ujung batu yang tajam di lenganku,
menyentakkan lengan sweterku yang tebal sehingga kulitku
terbuka, kemudian menekankan ujung yang tajam itu ke
lipatan sikuku. Di sana sudah ada bekas luka panjang yang
kudapat pada hari ulang tahunku yang terakhir. Malam itu
darahku yang mengalir cukup menarik perhatian setiap
vampire, membuat mereka langsung membeku di tempat
masing-masing. Aku berdoa semoga kali ini darahku akan
menghasilkan efek yang sama. Aku menabahkan diri dan
menghela napas dalam-dalam.


Konsentrasi Victoria buyar begitu ia mendengarku
terkesiap. Matanya tajam selama sedetik, memandangiku.
Kemarahan dan keingintahuan berbaur aneh dalam
ekspresinya.
Entah bagaimana aku bisa mendengar suara pelan itu
padahal di sekelilingku ribut oleh suara-suara lain yang
bergema di dinding tebing dan bertalu-talu dalam pikiranku.
Bunyi debar jantungku saja seharusnya sudah cukup untuk
menenggelamkannya. Namun, pada detik yang sama saat
aku menatap mata Victoria, sepertinya aku mendengar
desahan putus asa yang familier itu.
Pada detik sama yang berlangsung singkat, tarian itu
mendadak bubar. Kejadiannya begitu cepat hingga sudah
berakhir sebelum aku bisa mengikuti urutan peristiwanya.
Aku berusaha mengikutinya dalam benakku.
Victoria melesat meninggalkan formasi kabur itu dan
menubruk dedaunan di sebarang pohon tinggi. Ia mendarat
di rerimbunan pohon yang tinggi. Lalu ia mendarat lagi ke
tanah dalam posisi merunduk, siap menerjang.
Pada saat bersamaan, Edward, yang sama sekali tidak
terlihat karena gerakannya sangat cepat memutar ke
belakang dan menyambar lengan Riley yang tidak
menduganya sama sekali. Kelihatannya Edward
menumpukkan kakinya di punggung Riley dan menarik..
Lapangan kecil itu dipenuhi jerit kesakitan Riley.
Pada waktu bersamaan Seth melompat berdiri,
menghalangi sebagian besar pandanganku.
Tapi aku masih bisa melihat Victoria. Dan, walaupun ia
tampak aneh, seperti tidak bisa melihat senyumnya, seperti
yang selama ini kulihat menghiasi wajah buasnya dalam
mimpiku.


Ia melengkung tubuh dan menerjang.
Sesuatu yang kecil dan putih mendesing dan
menabraknya di udara. Benturan yang terjadi seperti
ledakan, membuat Victoria kembali menabrak pohon,
pohon yang ini langsung patah menjadi dua. Ia kembali
mendarat dalam posisi berdiri, merunduk dan siaga, tapi
Edward sudah siap menghadapinya. Kelegaan membuncah
dalam dadaku waktu melihat Edward berdiri tegak dengan
sempurna.
Victoria menendang sesuatu dengan kaki telanjang, misil
yang melumpuhkan serangannya. "Benda itu berguling ke
arahku, dan aku menyadari benda apa itu.
Perutku serta-merta mual.
Jari-jarinya masih bergerak, mencengkeram batangbatang
rumput, lengan Riley mulai bergerak ke sana ke mari
tanpa arah.
Seth mengitari Riley lagi, dan sekarang Riley mundur. Ia
mundur menjauhi serigala yang menghampirinya,
wajahnya kaku menahan sakit. Ia mengangkat sebelah
lengannya dengan sikap defensif.
Seth mempercepat gerakannya memburu Riley, dan si
vampire jelas-jelas kehilangan keseimbangan. Aku melihat
Seth membenamkan giginya ke bahu Riley dan
mencabiknya, melompat turun kembali.
Diiringi jeritan melengking yang memekakkan telinga,
Riley kehilangan sebelah lengannya lagi.
Seth menyentakkan kepala, melontarkan lengan itu ke
hutan. Suara mendesis yang terlontar dari Sela-sela gigi Seth
terdengar seperti tawa mengejek.


Riley menyerukan teriakan minta tolong yang
memilukan.
"Victoria!"
Victoria bahkan tak terusik sedikit pun mendengar
namanya dipanggil. Matanya sama sekali tidak melirik
pasangannya.
Seth menerjang maju dengan kekuatan setara bola beton
yang biasa digunakan untuk menghancurkan gedung. Daya
sodoknya melontarkan Seth dan Riley ke pepohonan,
tempat bunyi cabikan nyaring terdengar seirama dengan
jeritan Riley. Jeritan-jeritan itu mendadak terputus,
sementara bunyi batu dicabik-cabik terus terdengar.
Meskipun tidak menyempatkan diri melirik Riley untuk
terakhir kalinya, Victoria sepertinya sadar ia sekarang
sendirian. Ia mulai mundur menjauhi Edward, sorot
kekecewaan yang amat sangat terpancar liar dari matanya.
Ia melayangkan pandangan singkat penuh damba
bercampur sakit hati, kemudian mulai mundur lebih cepat.
"Tidak.” bujuk Edward, suaranya merayu. "Tinggallah
sedikit lebih lama lagi."
Victoria berbalik dengan cepat dan terbang menuju
tempat aman di hutan, bagai anak panah dilepaskan dari
busurnya.
Tapi Edward lebih cepat – bagai anak panah yang
melesat dari busurnya.
Edward menangkap punggung Victoria yang tidak
terlindung di pinggir hutan, dan dengan satu langkah simpel
terakhir, tarian pun berakhir.
Mulut Edward menyapu leher Victoria,seperti
membelainya. Teriakan-teriakan melengking yang berasal


dari usaha Seth menutupi setiap suara lain, jadi tidak ada
suara yang jelas untuk menunjukkan apa yang sebenarnya
terjadi. Bisa saja orang mengira Edward sedang mencium
Victoria.
Kemudian rambut Jingga menyala itu tidak lagi
terhubung dengan badannya. Gelombang jingga berpendarpendar
itu terjatuh ke tanah, dan memantul satu kali
sebelum berguling ke arah pepohonan.
25. CERMIN
KUPAKSA mataku yang membeku dalam keadaan
membelalak saking syoknya – bergerak, sehingga aku tak
lagi bisa melihat benda oval yang terbungkus balutan
rambut berwarna terang itu menggeletar.
Edward kembali bergerak. Dengan gerakan cepat dan
tenang, ia memisah-misahkan mayat tanpa kepala itu.
Aku tak sanggup mendekatinya – aku tak mampu
membuat kakiku bergerak; keduanya terpaku ke batu di
bawahnya. Tapi aku mengawasi setiap tindakannya dengan
saksama, mencari bukti apakah ia terluka. Debar jantungku
melambat ke irama yang lebih normal setelah tidak
menemukan tanda-tanda cedera sedikit pun. Ia tetap
setangkas dan seanggun biasanya. Aku bahkan tidak
melihat robekan sedikit pun di bajunya.
Edward tidak menatapku, di tempat aku berdiri kaku di
dinding tebing, ngeri, sementara ia menumpuk potongan
kaki dan badan yang masih menggeletar dan berkedut-kedut
itu, kemudian menutupinya dengan daun-daun pinus
kering.


Ia masih tidak mau membalas tatapanku yang syok
sementara ia berlari memasuki hutan menyusul Seth.
Aku belum pulih sepenuhnya dari keterkejutan saat ia
dan Seth kembali, Edward membawa Riley dalam
dekapannya. Seth membawa potongan yang besar – badan
Riley – dengan mulut. Mereka menaruh bawaan mereka ke
onggokan yang sudah ada, dan Edward mengeluarkan
benda segi empat perak dari saku bajunya. Dibukanya tutup
korek butan itu dan disulutnya sebarang ranting kering. Api
langsung menyala, lidah apinya yang berwarna jingga
dengan cepat menjilat onggokan.
"Ambil semua potongan,” kata Edward dengan suara
pelan kepada Seth.
Bersama-sama, vampir dan werewolf menyusuri kawasan
perkemahan, sesekali melempar onggokan kecil batu putih
ke kobaran api. Seth membawa potongan-potongan itu
dengan moncongnya. Otakku tidak bekerja cukup baik
untuk memahami mengapa ia tidak mengubah diri untuk
membawa potongan-potongan itu dengan tangannya.
Edward tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Kemudian selesailah semuanya, dan api yang berkobar
mengirimkan asap ungu menyesakkan ke langit. Asap tebal
bergulung-gulung lambat, tampak lebih padat daripada
seharusnya; baunya seperti dupa yang terbakar, dan
aromanya sangat tidak enak. Berat, terlalu menyengat.
Seth mengeluarkan suara seperti tertawa mengejek lagi,
jauh di dalam dadanya.
Senyum berkelebat di wajah Edward yang tegang.
Edward mengulurkan tangan – telapak tangannya
mengepal. Seth menyeringai, memamerkan sederet gigi


panjang-panjang dan tajam, lalu menyundulkan hidungnya
ke tangan Edward.
"Kerja tim yang bagus," gumam Edward.
Seth menggonggong tertawa.
Kemudian Edward menghela napas dalam-dalam, dan
berbalik perlahan-lahan untuk menghadapku.
Aku tidak memahami ekspresinya. Sorot matanya sinis
seolah-olah aku musuh lain, lebih dari sinis; takut. Padahal
ia tadi tidak menunjukkan ketakutan sama sekali saat
menghadapi Victoria dan Riley... Pikiranku buntu,
terperangah dan tak berdaya, seperti tubuhku. Kupandangi
dia, bingung.
"Bella sayang,” ujarnya dengan nada paling lembut
berjalan menghampiriku dengan kelambanan dilebihlebihkan.
Kedua tangan terangkat, telapak tangan
menghadap ke depan Meski bingung, sikap Edward itu
anehnya membuatku teringat tersangka yang mendekati
polisi, menunjukkan dirinya tidak bersenjata...
"Bella, bisa tolong jatuhkan batu itu, please? Hati-hati.
Jangan lukai dirimu sendiri."
Aku sudah lupa sama sekali pada senjataku, walaupun
sekarang aku sadar telah menggenggamnya kuat sekali
sampai-sampai buku jariku menjerit protes. Apakah buku
jariku patah lagi, Carlisle jelas akan menggipsku kali ini.
Beberapa meter dariku, Edward ragu-ragu, kedua
tangannya masih terangkat, matanya masih memancarkan
sorot takut.
Baru beberapa detik kemudian aku ingat bagaimana
caranya menggerakkan jari-jariku. Kemudian batu itu jatuh


berkeletak ke tanah, sementara tanganku tetap membeku
dalam posisi yang sama.
Edward sedikit lebih rileks setelah tanganku kosong, tapi
tak juga mendekat.
"Kau tidak perlu takut, Bella,” bisik Edward. "Kau
aman. Aku tidak akan menyakitimu."
Janji membingungkan itu malah semakin membuatku
bingung. Kupandangi ia seperti anak imbesil, berusaha
memahami.
"Semua baik-baik saja Bella. Aku tahu sekarang kau
ketakutan,tapi semua sudah berakhir. Tidak ada yang akan
menyakitimu. Aku takkan menyentuhmu. Aku tidak akan
menyakitimu,” ucapnya lagi.
Mataku mengerjap-ngerjap hebat, dan akhirnya aku bisa
bicara juga. "Kenapa kau bicara begitu terus?"
Aku maju selangkah menghampirinya, tapi Edward
malah menjauhiku.
"Ada apa?" bisikku. "Apa maksudmu?"
"Apa kau..." Mata keemasan Edward tiba-tiba sama
bingungnya dengan aku. "apa kau tidak takut padaku?"
"Takut padamu? Kenapa?"
Aku maju selangkah lagi dengan kaki goyah, kemudian
tersandung sesuatu, mungkin kakiku sendiri. Edward
menangkap tubuhku, dan aku menyembunyikan wajahku di
dadanya lalu mulai tersedu.
"Bella, Bella, maafkan aku. Semua sudah berakhir, sudah
berakhir."
"Aku baik-baik saja," aku terkesiap. "Aku tidak apa-apa.
Aku hanya. Kalut. Beri aku waktu sebentar."


Kedua lengan Edward memelukku erat. "Aku benarbenar
minta maaf,” gumamnya berkali-kali.
Aku terus memeluknya sampai akhirnya bisa bernapas,
kemudian aku menciumnya, dadanya, bahunya, lehernya,
setiap bagian dirinya yang bisa kuraih. Perlahan-lahan,
otakku mulai bekerja lagi.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku di sela-sela ciumanku.
"Apakah dia melukaimu?"
"Aku benar-benar tidak apa-apa,” Edward
meyakinkanku, membenamkan wajahnya di rambutku.
“Seth?”
Edward terkekeh. "Lebih dari baik-baik saja. Sangat
bangga pada dirinya sendiri bahkan."
"Yang lain-lain? Alice. Esme? Serigala-serigala?"
"Semuanya baik-baik saja. Di sana juga sudah selesai.
Semua berjalan lancar seperti yang kujanjikan. Bagian
terburuk justru terjadi di sini."
Sesaat aku membiarkan diriku mencerna keterangan itu,
membiarkan otakku menyerapnya hingga berdiam di
kepalaku.
Keluarga dan teman-temanku aman. Victoria takkan
pernah memburuku lagi. Semua telah berakhir.
Kami semua akan baik-baik saja.
Tapi aku tak sepenuhnya mampu menyerap kabar baik
itu saat sedang bingung seperti ini.
"Katakan padaku kenapa,” desakku. "Kenapa kau kira
aku akan takut padamu!'
"Maafkan aku,” kata Edward, lagi-lagi meminta maaf –
untuk apa? Aku tidak mengerti. "Maafkan aku. Aku tidak


mau kau melihat itu tadi. Melihatku dalam keadaan seperti
tadi. Aku tahu aku pasti membuatmu takut."
Aku harus memikirkan perkataannya itu sebentar,
bagaimana ia tadi ragu-ragu mendekatiku, kedua tangan
terangkat. Seolah-olah aku bakal lari bila ia bergerak terlalu
cepat...
"Kau serius?" tanyaku akhirnya. "Kau... apa? Kaukira
kau membuatku takut sehingga aku bakal lari?" dengusku.
Mendengus itu bagus; suara tidak bisa bergetar atau pecah
saat mendengus. Kedengarannya lumayan tak peduli.
Edward memegang daguku dan mengangkat kepalaku
untuk membaca ekspresiku.
"Bella, aku hanya.” Edward ragu-ragu, kemudian
memaksakan perkataan itu keluar dari mulutnya. “aku baru
saja memenggal dan mencabik-cabik tubuh makhluk hidup
hanya dalam jarak delapan belas meter darimu. Itu tidak
membuatmu merasa terganggu?"
Edward mengerutkan kening padaku.
Aku mengangkat bahu. Mengangkat bahu juga bagus.
Sangat bosan kelihatannya. "Tidak juga. Aku hanya takut
kau dan Seth bakal terluka. Aku ingin membantu, tapi tidak
banyak yang bisa kulakukan.."
Ekspresi Edward yang tiba-tiba marah membuat suaraku
menghilang.
"Ya." sergahnya, nadanya ketus. "Aksimu dengan batu
itu. Kau tahu kau nyaris membuatku terkena serangan
jantung? Padahal bagiku bukan perkara mudah untuk
terkena serangan jantung."
Tatapan Edward membuatku sulit menjawabnya.
''Aku ingin membantu... Seth terluka.."


"Seth hanya pura-pura terluka Bella. Itu tipuan. Tapi lalu
kau..!" Ia menggeleng-gelengkan kepala, tak mampu
menyelesaikan kalimatnya. "Seth tidak bisa melihat apa
yang kau lakukan. Jadi aku harus turun tangan. Seth agak
kesal karena tidak bisa mengklaim kemenangan ini sebagai
usahanya sendiri."
"Jadi Seth hanya... pura-pura?"
Edward mengangguk dengan tegas.
"Oh."
Kami memandangi Seth,yang mengabaikan kami dan
memandangi kobaran api. Perasaan puas terpancar dari
setiap helai bulunya.
"Well, aku kan tidak tahu.” tukasku,merasa kesal
sekarang. "Lagi pula, tidak mudah menjadi satu-satunya
pihak yang tidak berdaya di sini. Tunggu saja sampai aku
menjadi vampire nanti! Aku tidak akan duduk-duduk
bengong lagi lain kali."
Emosi campur aduk melintas di wajah Edward sebelum
akhirnya menunjukkan sikap geli. "Lain kali? memangnya
kau mengantisipasi perang lagi?"
"Dengan kesialanku? Siapa tahu?"
Edward memutar bola matanya. tapi bisa kulihat ia
gembira, kelegaan membuat kepala kami ringan. Semua
sudah berakhir.
Atau... benarkah begitu?
"Tunggu dulu. Bukankah kau mengatakan sesuatu
sebelumnya..?" Aku tersentak. teringat persis bagaimana
kejadiannya tadi, apa yang akan kukatakan pada Jacob
nanti? Hatiku yang terpecah berdenyut-denyut sakit. Sulit
dipercaya, nyaris mustahil, tapi bagian terberat hari ini


belum berakhir bagiku, kemudian aku menguatkan diri.
"Tentang masalah tadi. Dan Alice, yang harus memberikan
perkiraan waktu yang tepat kepada Sam. Katamu waktunya
bakal berdekatan. Apanya yang berdekatan?"
Mata Edward kembali melirik Seth, dan mereka
berpandangan.
"Well?" tanyaku.
“Tidak ada apa-apa, sungguh.” Edward buru-buru
menjawab. "Tapi kita benar-benar harus segera
berangkat....."
Ia mulai menarik untuk menaikkanku ke punggungnya,
tapi aku mengejang dan menolak.
"Jelaskan maksudmu."
Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya.
"Waktu kita sangat sedikit, jadi jangan panik, oke? Sudah
ku bilang tak ada alasan untuk takut. Percayalah padaku,
please?"
Aku mengangguk, berusaha menyembunyikan kengerian
yang mendadak muncul, sebanyak apa lagi yang bisa
kutanggung tanpa membuat ku pingsan? "Tidak ada alasan
untuk takut. Baiklah."
Edward mengerucutkan bibir sejenak, memutuskan apa
yang harus disampaikan. Kemudian ia melirik Seth sekilas,
seolah-olah serigala itu memanggilnya.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Edward.
Seth mendengking; nadanya gugup dan cemas. Membuat
bulu kudukku meremang.
Semuanya sunyi selama sedetik yang terasa sangat
panjang.


Kemudian Edward terkesiap. "Tidak!"dan sebelah
tangannya melayang seolah ingin menyambar sesuatu yang
tidak bisa kulihat. "Jangan...!"
Entakan mengguncang tubuh Seth, dan lolongan panjang
yang memilukan mengoyak paru-parunya.
Pada saat bersamaan Edward jatuh berlutut,
mencengkeram kedua sisi kepala dengan dua tangan,
wajahnya mengernyit sakit.
Aku menjerit, hatiku disergap perasaan takut,lalu jatuh
berlutut di sampingnya. Bodohnya, aku berusaha menarik
tangan Edward yang menutupi wajah, telapak tanganku
yang basah oleh keringat, menggelincir di kulitnya yang
licin bagaikan marmer.
"Edward! Edward!"
Mata Edward terfokus padaku, setelah mengerahkan
segenap daya, akhirnya ia juga bisa membuka mulut.
"Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Itu.." Ia
terdiam dan kembali meringis.
"Apa yang terjadi?" pekikku saat Seth melolong karena
penderitaan yang dalam.
"Semua beres. Kita akan baik-baik saja," sergah Edward.
"Sam.. bantu dia.."
Dan detik itulah aku menyadari, ketika Edward
menyebut nama Sam, bahwa bukan ia atau Seth yang
dimaksudkannya. Tak ada kekuatan tak kasatmata yang
menyerang mereka. Kali ini krisis itu tidak terjadi di sini.
Ia menggunakan kata ganti orang ketiga jamak untuk
menyebut kawanan serigala itu.


Adrenalinku sudah terkuras habis. Tak ada lagi yang
tersisa. Aku merosot lemas, dan Edward menangkapku
sebelum tubuhku membentur bebatuan. Ia melesat berdiri,
aku berada dalam dekapannya.
"Seth!" teriak Edward.
Seth masih membungkuk, tubuhnya masih mengejang
sedih, terlihat seperti hendak menerjang masuk ke hutan.
"Tidak!" Edward memerintahkan. "kau harus langsung
pulang. Sekarang. Secepat kau bisa!"
Seth mendengking-dengking, menggelengkan kepalanya
yang besar.
"Seth, percayalah padaku."
Serigala besar itu menatap mata Edward yang sedih
selama satu detik yang panjang, kemudian meluruskan
tubuhnya dan melesat memasuki pepohonan, lenyap seperti
hantu.
Edward mendekapku erat-erat di dadanya, kemudian
kami juga meleset menembus hutan yang dipenuhi bayangbayang
mengambil jalan yang berbeda dengan si serigala.
"Edward." Susah payah kukeluarkan suara dari
tenggorokanku yang tercekat. "Apa yang terjadi Edward?
Apa yang terjadi pada Sam? Kita mau ke mana? apa yang
terjadi?"
"Kita harus kembali ke lapangan,” jawab Edward dengan
suara pelan. “Kami sudah tahu besar kemungkinan ini
bakal terjadi. Pagi-pagi sekali tadi, Alice melihatnya dan
menyampaikannya melalui Sam kepada Seth. Keluarga
Volturi memutuskan sekaranglah waktunya untuk turun
tangan."
Keluarga Volturi.


Terlalu banyak. Pikiranku menolak mencerna keterangan
itu, pura-pura tidak bisa mengerti.
Pohon-pohon melesat melewati kami. Begitu cepatnya
Edward berlari menuruni bukit hingga rasanya seolah-olah
kami terjun bebas, jatuh tak terkendali.
"Jangan panik. Mereka bukan datang untuk mencari kita.
Hanya kontingen normal yang terdiri atas para pengawal
yang biasa membersihkan kekacauan seperti ini. Bukan
sesuatu di luar kewajaran, mereka hanya melaksanakan
tugas. Tentu saja, sepertinya mereka begitu cermat memilih
waktu kedatangan. Dan itu membuatku yakin bahwa tak
seorang pun di Italia akan berduka cita bila para vampire
baru itu berhasil mengurangi jumlah keluarga Cullen."
Kata-kata itu meluncur dari sela-sela rahang Edward yang
terkatup rapat, keras dan muram. "Aku akan mengetahui
secara persis apa yang mereka pikirkan kalau mereka sudah
sampai di lapangan nanti."
"Karena itukah kita kembali?" bisikku. Sanggupkah aku
menghadapi hal ini? Bayangan jubah hitam berkibar-kibar
merayap masuk ke otakku yang tak ingin mengingat
mereka, dan aku tersentak, menepis pikiran itu jauh-jauh.
Pertahanan diriku nyaris jebol.
"Itu sebagian alasannya. Kebanyakan, akan lebih aman
jika kita bersatu menyambut kedatangan mereka saat ini.
Mereka tidak punya alasan untuk mengusik kita, tapi...ada
Jane bersama mereka. Kalau dia tahu kita sendirian di
suatu tempat, jauh dari yang lain, bisa-bisa itu akan
membuatnya tergoda. Seperti Victoria, Jane mungkin bisa
menebak aku pasti bersamamu. Demetri, tentu saja, pasti
bersamanya. Kalau Jane memintanya."


Aku tak ingin memikirkan nama itu. Aku tidak
mengingat wajah polos kekanakan yang rupawan itu
dibenakku. Suara aneh keluar dan kerongkonganku.
"Ssstt, Bella. ssstt. Semua akan baik-baik saja. Alice bisa
melihat kalau semua akan baik-baik saja."
Alice bisa melihatnya? "Tapi... kalau begitu di mana
serigala-serigala? Di mana kawanan itu?”
"Kawanan?"
"Mereka harus buru-buru menyingkir. Keluarga Volturi
tidak suka bila kita melakukan gencatan senjata dengan
werewolf."
Bisa kudengar napasku memburu semakin cepat. tapi
aku tak kuasa mengendalikannya. Aku mulai terengahengah.
"Aku bersumpah, mereka akan baik-baik saja.” Edward
berjanji. "Keluarga Volturi tidak akan mengenali baunya,
mereka tidak akan menyadari tadi ada serigala di sini,
mereka tidak familier dengan spesies ini. Mereka akan baikbaik
saja."
Aku tidak bisa memproses penjelasannya. Konsentrasiku
tercabik-cabik perasaan takut. Kita akan baik-baik saja.
begitu katanya tadi... dan Serth, melolong sedih... Edward
menghindari pertanyaan pertamaku, mengalihkan
perhatianku ke keluarga Volturi...
Aku sudah dekat sekali dengan tepian tebing, hanya
mencengkeram dengan ujung-ujung jemariku.
Pohon-pohon melesat lewat begitu cepat dan kabur
hingga Edward tampak seperti dikelilingi air berwarna hijau
zambrud.


"Apa yang terjadi?" Bisikku lagi. "Sebelumnya. Waktu
Seth melolong? Waktu kau kesakitan?"
Edward ragu-ragu.
"Edward! Ceritakan padaku!"
"Semuanya sudah berakhir,” bisik Edward. Aku nyaris
tak bisa mendengar suaranya karena desir angin yang
diakibatkan larinya yang begitu cepat. "serigala-serigala itu
tidak menghitung jumlah musuh mereka...mereka
menyangka semua sudah dihabisi. Tentu saja, Alice tak bisa
melihat.."
"Apa yang terjadi?”
"Salah satu vampire baru ada yang bersembunyi... Leah
menemukannya.. dia melakukan tindakan bodoh, berlagak
bisa, ingin membuktikan sesuatu. Dia menghadapi vampire
itu sendirian.."
"Leah,” ulangku, dan aku kelewat lemah untuk merasa
malu atas perasaan lega yang membanjiriku. "Apakah dia
akan baik-baik saja?"
"Leah tidak terluka,” gumam Edward.
Kupandangi dia selama satu detik yang panjang.
Sam... bantu dia...Edward tadi terkesiap. Dia laki-laki,
bukan perempuan.
"Kita sudah hampir sampai,” kata Edward, matanya
menatap lurus ke satu titik di langit.
Otomatis, mataku mengikutinya. Tampak gumpalan
awan ungu menggelayut rendah di atas pepohonan. Awan?
Padahal, di luar kebiasaan, hari ini justru terik sekali...
Tidak, bukan awan, aku mengenali kepulan asap tebal,
persis seperti yang ada di perkemahan tadi.


"Edward,” kataku, suaraku nyaris tak terdengar.
"Edward, ada yang terluka."
Soalnya aku mendengar nada pilu dalam lolongan Seth,
melihat kengerian yang terpancar dari wajah Edward.
"Ya" bisiknya.
"Siapa?" tanyaku walaupun tentu saja, aku sudah tahu
jawabannya.
Tentu saja aku tahu. Tentu saja.
Pohon-pohon melambat di sekeliling kami ketika kami
sampai ke tujuan.
Lama sekali baru Edward menjawab pertanyaanku.
"Jacob,” jawabnya.
Aku masih mampu mengangguk satu kaki.
"Tentu saja,” bisikku.
Kemudian pegangan tanganku terlepas dari bibir tebing
dalam benakku.
Semuanya berubah gelap gulita.
Pertama-tama aku sadar ada tangan-tangan dingin yang
menyentuhku. Lebih dari satu pasang. Lengan-lengan
memelukku, telapak tangan merengkuh pipiku, jari-jari
membelai keningku, dan jari-jari lagi menekan pelan
pergelangan tanganku.
Berikutnya aku mendengar suara-suara. Awalnya hanya
berupa gumaman, kemudian volumenya semakin keras dan
jelas, seperti orang yang menyalakan radio.
"Carlisle... sudah lima menit.” Suara Edward, nadanya
cemas.


"Dia akan siuman kalau sudah siap, Edward." Suara
Carlisle, selalu tenang dan yakin. "Terlalu banyak yang
dialaminya hari ini. Biarkan pikirannya melindungi dirinya
sendiri."
Tapi pikiranku tidak terlindungi. Pikiranku terperangkap
dalam pengetahuan yang tidak meninggalkanku, bahkan
dalam ketidaksadaran sekalipun... kepedihan yang
merupakan bagian dari ketidaksadaran.
Aku merasa seperti tidak terhubung dengan ragaku.
Seakan-akan terperangkap di sudut kecil dalam
kepalaku,tak lagi bisa mengendalikan apa pun. Tapi aku tak
bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Aku tidak
bisa berpikir. Kepedihan itu terlalu kuat hingga aku tidak
bisa berpikir. Aku tidak bisa meloloskan diri darinya.
Jacob.
Jacob.
Tidak,tidak,tidak,tidak,tidak...
"Alice, berapa lama waktu yang kita punya?" tanya
Edward, suaranya masih tegang, kata-kata Carlisle yang
bernada menenangkan ternyata tidak membantu.
Dari tempat yang agak jauh, terdengar suara Alice.
Nadanya riang gembira. "Lima menit lagi. Dan Bella akan
membuka matanya tiga puluh tujuh detik lagi. Aku bahkan
yakin dia bisa mendengar kita sekarang."
"Bella Sayang?" Itu suara Esme yang lembut dan
menenteramkan. "Kau bisa mendengar suaraku? Kau aman
sekarang sayang."
Ya, aku memang aman. Apakah itu benar-benar berarti?


Kemudian bibir yang dingin menempel di telingaku, dan
Edward mengizinkanku keluar dari siksaan yang
mengurung ku dalam benakku sendiri.
"Dia akan selamat Bella, saat ini Jacob Black
memulihkan diri dari luka-lukanya. Dia akan baik-baik
saja.”
Ketika kepedihan dan ketakutan itu mereda, aku
menemukan kembali ke tubuhku. Kelopak mataku
mengeletar.
"Oh, Bella,” Edward mendesah lega, dan bibirnya
menyentuh bibirku.
"Edward.” bisikku.
"Ya, aku di sini."
Aku membuka kelopak mataku, dan menatap sepasang
bola emas yang hangat.
"Jacob tidak apa-apa?"tanyaku.
"Ya.” Janjinya.
Kupandangi matanya lekat-lekat untuk mencari tandatanda
bahwa ia hanya berusaha menenangkanku. Tapi tak
menemukan apa-apa.
"Aku sendiri yang memeriksanya.” kata Carlisle
kemudian, aku memalingkan kepala mencari wajahnya,
hanya beberapa meter jauhnya. Ekspresi Carlisle serius
sekaligus meyakinkan mustahil meragukannya. "Nyawanya
tidak dalam bahaya. Dia pulih dengan kecepatan luar biasa,
walaupun cedera yang dialaminya cukup parah sehingga
dibutuhkan beberapa hari baru dia bisa kembali normal,
walaupun pemulihannya tetap secepat sekarang. Sam
sedang berusaha membuatnya mengubah diri lagi menjadi
manusia. Dengan begitu akan lebih mudah mengobatinya."


Carlisle tersenyum kecil. "Aku kan tidak pernah masuk
fakultas kedokteran hewan."
"Apa yang terjadi padanya?" bisikku. "Seberapa parah
luka-lukanya?"
Wajah Carlisle kembali serius "Serigala lain menghadapi
masalah.."
"Leah....” desahku.
"Benar. Jacob berhasil menyingkirkan Leah, tapi tidak
sempat membela dirinya. Vampire baru itu memitingnya
sebagian besar tulang di sisi kanan tubuhnya remuk."
"Sam dan Paul sampai di sana tepat waktu. Jacob sudah
mulai pulih kembali waktu mereka membawanya kembah
ke La Push."
"Dia akan normal kembali?" tanyaku.
"Ya Bella, dia tidak akan mengalami cacat permanen."
Aku menghela napas dalam-dalam.
"Tiga menit!" seru Alice pelan.
Aku bangkit dengan susah payah, berusaha berdiri.
Edward mengerti maksudku dan membantuku berdiri.
Kutatap pemandangan di depanku.
Keluarga Cullen berdiri membentuk setengah lingkaran
mengelilingi api unggun. Hampir tak ada lagi nyala api
yang terlihat, hanya kepulan asap hitam keunguan yang
tebal, menggelayut seperti penyakit di rumput yang
cemerlang. Jasper berdiri paling dekat dengan asap yang
terkesan padat itu, di bawah bayang-bayang sehingga
kulitnya tidak berkilau gemerlapan di bawah terik matahari
seperti anggota keluarganya yang lain. Ia berdiri
memunggungiku, pundaknya tegang, kedua lengan sedikit


terulur. Terasa ada sesuatu yang tidak biasa di sana, pada
bayangannya. Ia seperti membungkuk dengan sikap
waswas...
Aku terlalu kebas untuk merasakan lebih dari syok
ringan waktu menyadari masalahnya.
Ternyata ada delapan vampir di lapangan itu. Gadis itu
duduk meringkuk di sebelah api unggun, kedua lengannya
memeluk kaki. Ia masih sangat muda. Lebih muda dariku –
mungkin usianya lima belas tahun, berambut gelap, dan
kurus. Matanya tertuju padaku, dan iris matanya, sungguh
mengagetkan, berwarna merah cemerlang. Lebih cemerlang
daripada mata Riley, nyaris berkilauan. Mata itu jelalatan
ke mana-mana, tak terkendali.
Edward melihat ekspresiku yang kebingungan.
"Dia menyerah,” Edward menjelaskan dengan suara
pelan. "Yang seperti itu belum pernah kulihat sebelumnya.
Hanya Carlisle yang terpikir untuk menawarinya. Jasper
sebenarnya tidak setuju."
Aku tak sanggup mengalihkan mataku dari
pemandangan di sebelah api unggun. Tampak Jasper
mengusap-usap lengan kirinya dengan sikap tak peduli.
"Jasper baik-baik saja?" bisikku.
"Dia tidak apa-apa. Racunnya pedih."
"Dia digigit?" tanyaku, ngeri.
"Dia berusaha menangani semuanya pada saat
bersamaan. Berusaha memastikan Alice tidak melakukan
apa-apa, sebenarnya," Edward menggeleng-gelengkan
kepala. "Padahal Alice tidak butuh bantuan siapa-siapa."
Alice meringis ke arah cinta sejatinya. "Si bodoh yang
kelewat protektif."


Si wanita muda itu tiba-tiba mengedikkan kepalanya.
Seperti binatang dan meraung dengan suara melengking.
Jasper menggeram padanya dan ia mengkeret, tapi jarijarinya
menusuk ke dalam tanah seperti cakar dan
kepalanya bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang
dengan sikap menderita. Jasper maju selangkah
menghampirinya, membungkuk semakin dalam. Edward
maju dengan sikap sok tenang, membalikkan tubuh kami
sehingga ia sekarang berada di antara gadis itu dan aku.
Aku mengintip dari balik lengan Edward untuk melihat
Jasper dan gadis yang mencakar-cakar itu.
Dalam sekejap Carlisle sudah berada di samping Jasper.
Ia meletakkan tangan di bahu putranya, menahannya.
"Kau berubah pikiran, anak muda?" tanya Carlisle, tetap
setenang biasanya. "kami tidak ingin menghabisimu, tapi
kami akan melakukannya kalau kau tak bisa mengendalikan
diri."
"Bagaimana kalian bisa tahan?" erang gadis itu dengan
suara jernih melengking. “aku menginginkan dia.” matanya
yang merah cemerlang terfokus kepada Edward,
melewatinya, memandang ke balik tubuhnya padaku, dan
kuku-kuku gadis itu kembali mencakar-cakar tanah yang
keras lagi.
"kau harus bisa tahan.” tukas Carlisle, suaranya berat.
"kau harus bisa mengendalikan diri. Itu bisa dilakukan, dan
hanya itu yang bisa menyelamatkanmu sekarang."
Gadis itu mencengkeram tangannya yang berlumuran
tanah ke kepalanya, melolong pelan.
"Tidakkah sebaiknya kita menjauh darinya?" aku
berbisik, menarik-narik lengan Edward. Gadis itu


menyeringai, memamerkan gigi-giginya begitu mendengar
suaraku, ekspresinya tersiksa.
"Kita harus tetap di sini.” gumam Edward. “Mereka
sudah sampai di ujung utara lapangan sekarang."
Jantungku langsung berpacu liar saat aku menyapukan
pandanganku ke seantero lapangan, tapi aku tidak bisa
melihat hal lain selain kepulan asap tebal.
Sedetik setelah pencarianku yang tidak membuahkan
hasil mataku kembali melirik vampire perempuan muda itu.
Ia masih terus menatapku, matanya setengah sinting.
Kubalas tatapan gadis itu beberapa saat. Rambut gelap
sedagu membingkai wajahnya yang pucat pasi seperti
mayat. Sulit menilai apakah ia cantik, karena wajahnya
berkerut-kerut menahan amarah dan dahaga. Mata
merahnya yang buas mendominasi, sulit mengalihkan
pandangan darinya. Ia memelototiku dengan buas,
menggeletar, dan terus menggeliat-geliat.
Kupandangi dia, takjub. bertanya-tanya dalam hati
apakah aku sedang melihat bayangan diriku sendiri di
cermin pada masa yang akan datang.
Kemudian Carlisle dan Jasper mulai mundur
menghampiri kami. Emmett, Rosalie, dan Esme buru-buru
berkumpul mengelilingi tempat Edward berdiri bersama aku
dan Alice. Bersatu padu, seperti kata Edward tadi, dan
berada di tengah-tengahnya, adalah tempat teraman bagiku.
Aku mengalihkan pandangan dari gadis buas itu untuk
melihat kedatangan para monster.
Tidak terlihat apa-apa. Kulirik Edward, tapi matanya
terpancang lurus ke depan. Aku mencoba mengikuti
Pandangannya, tapi yang ada hanya asap, kepulan asap


pekat berminyak yang meliuk-liuk rendah di tanah,
membumbung pelan, ombak-ombak di rerumputan.
Asap itu menggelembung ke depan, berwarna lebih gelap
di bagian tengah.
"Hmm.” sebuah suara menyeramkan bergumam dari
balik kabut. Aku langsung mengenali nada apatis dalam
suara itu.
"Selamat datang, Jane.” Nada Edward sopan namun
dingin.
Bentuk-bentuk gelap itu semakin mendekat, memisahkan
diri dan kabut asap, semaki n memadat. Aku tahu pasti
Jane yang berada paling depan, jubah yang paling gelap,
nyaris hitam, dan sosok yang paling kecil, setengah meter
lebih pendek dibanding yang lain-lain. Aku nyaris bisa
melihat garis-garis wajah Jane yang seperti malaikat di balik
bayangan jubah.
Rasanya aku juga mengenali empat sosok berselubung
jubah abu-abu yang melangkah garang di belakangnya. Aku
yakin aku mengenali sosok yang paling besar, dan selagi
aku menatap, berusaha mengonfirmasi kecurigaan ku, Felix
menengadah. Ia membiarkan tudungnya tersingkap sedikit
hingga bisa kulihat ia mengedip padaku dan tersenyum.
Edward berdiri di sampingku, berusaha keras
mengendalikan diri.
Mata Jane bergerak lambat mengamati wajah-wajah
anggota keluarga Cullen yang berkilauan, kemudian
tertumbuk pada si gadis vampire baru di sebelah api
unggun, si vampire baru memegang kepalanya dengan dua
tangan.
"Aku tidak mengerti,” suara Jane datar, tapi tak lagi
terdengar tidak tertarik sebelumnya.


"Dia sudah menyerah,” Edward menjelaskan, menjawab
pertanyaan di benak Jane.
Bola mata Jane yang gelap berkelebat ke wajah Edward.
"Menyerah?"
Felix dan bayangan yang lain bertukar pandang sekilas.
Edward mengangkat bahu. "Carlisle memberinya
pilihan."
"Tidak ada pilihan bagi mereka yang melanggar aturan,”
sergah Jane datar.
Carlisle angkat bicara, nadanya lunak. “Itu terserah
padamu. Selama dia bersedia menghentikan serangannya
terhadap kami, aku tidak merasa perlu menghabisinya. Dia
tidak pernah diajari."
"Itu tidak relevan.” Jane bersikeras.
"Terserah padamu."
Jane menatap Carlise dalam kengerian yang
melumpuhkan. Ia menggelengkan kepala sedikit, kemudian
mengubah air mukanya.
"Aro berharap kami mampir ke kawasan barat ini untuk
menemuimu, Carlisle. Dia kirim salam."
Carlisle mengangguk. "Aku akan sangat berterima kasih
kalau kau menyampaikan salamku juga kepadanya."
"Tentu saja,” Jane tersenyum. Wajahnya nyaris manis
bila tersenyum seperti itu. Ia menoleh kembali ke kepulan
asap. "Kelihatannya kalian sudah melakukan tugas kami
hari ini... sebagian besar di antaranya." Matanya melirik si
sandera. "Demi keingintahuan profesional saja, berapa
banyak jumlah mereka tadi? Mereka cukup membuat
gempar Seattle."


"Delapan belas, termasuk yang ini,” Carlisle menjawab.
Mata Jane melebar, dan ia berpaling kepada kobaran api,
seperti menilai ukurannya. Felix dan bayangan yang lain
lagi-lagi bertukar pandang, kali ini lebih lama.
"Delapan belas,” ulang Jane, untuk pertama kali
suaranya terdengar tidak yakin.
"Semuanya baru,” ungkap Carlisle dengan nada sambil
lalu. "Mereka tidak terlatih."
"Semua?" suara Jane berubah tajam. "kalau begitu siapa
yang menciptakan mereka?"
"Namanya Victoria,” jawab Edward, tak ada emosi
dalam suaranya.
"Tadinya?" tanya Jane.
Edward menelengkan kepalanya ke arah hutan di sebelah
timur. Mata Jane terangkat dan terfokus pada sesuatu nun
jauh disana. Kepulan asap lain? Aku tidak menoleh untuk
mengecek.
Jane memandang ke arah timur beberapa saat, kemudian
kembali mengamati api unggun yang lebih dekat dengan
lebih saksama.
"Si Victoria ini, dia tidak termasuk dalam jumlah
delapan belas ini?"
"Ya. Dia hanya membawa satu lagi bersamanya.
Pemuda itu tidak semuda gadis ini, tapi hanya lebih tua
kira-kira setahun.”
"Dua puluh.” Jane menghembuskan napas. "Siapa yang
membereskan penciptanya?"
"Aku,” jawab Edward.


Mata Jane menyipit, lalu memalingkan wajahnya kepada
gadis di sebelah api unggun.
"Hei kau.” panggilnya, suaranya yang kaku terdengar
lebih kasar daripada sebelumnya. "namamu."
Si vampir baru malah melayangkan pandangan garang
ke arah Jane, bibirnya terkatup rapat.
Jane tersenyum bak malaikat.
Jeritan si vampir baru memekakkan telinga; tubuhnya
melengkung kaku dalam posisi aneh yang tidak natural.
Aku membuang muka, melawan dorongan untuk menutup
telinga. Kukertakkan gigiku, berharap bisa mengendalikan
perutku. Jeritan itu semakin menjadi-jadi. Aku mencoba
berkonsentrasi pada wajah Edward yang tenang dan tanpa
emosi, tapi itu malah membuatku teringat saat Edward
berada di bawah ratapan Jane yang menyiksa, dan aku
merasa semakin mual. Akhirnya aku memandang Alice dan
Esme di sebelahnya. Wajah mereka juga sama datarnya
dengan wajah Edward.
Akhirnya, semua tenang kembali.
"Namamu.” tukas Jane lagi, tak ada perubahan dalam
suaranya.
"Bree,” si gadis terkesiap.
Jane tersenyum, dan gadis itu menjerit lagi. Aku
menahan napas sampai jerit kesakitannya berhenti.
"Dia akan menceritakan apa saja yang ingin
kauketahui,” sergah Edward, menahan gemas. "Kau tak
perlu berbuat begitu."
Jane mendongak, tampak sorot geli di matanya yang
biasanya terkesan mati itu. "Oh, aku tahu.” katanya,


nyengir kepada Edward sebelum berpaling lagi kepada si
Vampir muda, Bree.
"Bree,” ucap Jane, suaranya kembali dingin. "Apakah
cerita itu benar? Benarkah jumlah kalian dua puluh?"
Gadis itu terbaring dengan napas terengah-engah, Satu
sisi wajahnya menempel ke tanah. Ia berbicara dengan
cepat. "Sembilan belas atau dua puluh, mungkin lebih, aku
tidak tahu!" Ia mengkeret. takut ketidaktahuannya akan
mendatangkan siksaan lagi baginya. "Sara dan si satu lagi
yang aku tidak tahu namanya berkelahi dalam perjalanan
ke sini.."
"Dan si Victoria ini.. dia yang menciptakanmu?"
"Aku tidak tahu.” jawabnya, mengkeret lagi. "Riley
tidak pernah menyebut namanya. Aku tidak sempat
melihatnya malam itu... soalnya gelap sekali, dan sangat
menyakitkan.."
Bree bergidik "Riley tidak mau kami bisa memikirkan
wanita itu. Kata Riley, pikiran kami tidak aman..."
Mata Jane melirik Edward, kemudian kembali pada
gadis itu.
Victoria sudah merencanakan hal ini dengan matang.
Seandainya ia tidak mengikuti Edward, tidak akan ada yang
tahu pasti ia terlibat...
"Ceritakan tentang Riley.” kata Jane. "Kenapa dia
membawamu kemari."
"Riley berkata kami harus menghabisi makhluk-makhluk
aneh bermata kuning di sini.” Bree mengoceh dengan cepat
dan tanpa paksaan. "Katanya, itu mudah saja dilakukan.
Katanya. kota ini milik mereka, dan mereka akan datang
untuk menghabisi kami. Katanya, kalau mereka sudah


dihabisi semua darah akan jadi milik kami. Dia memberi
kami bau gadis itu.” Bree mengangkat satu tangan dan
menudingkan jarinya ke arahku. "Menurut dia, kami akan
tahu kami telah menemukan kelompok yang tepat, karena
gadis itu ada bersama mereka. Menurut Riley, siapa pun
yang pertama berhasil mendapatkan dia, bisa memilikinya."
Aku mendengar rahang Edward mengejang di
sampingku.
"Kelihatannya Riley keliru soal hal yang mudah itu,”
Jane berkomentar.
Bree mengangguk, tampak lega karena tidak disiksa lagi.
Dengan hati-hati ia duduk. "Aku tidak tahu apa yang
terjadi. kami berpencar, tapi yang lain-lain tak pernah
kembali. Riley meninggalkan kami, dan dia tidak datang
membantu kami seperti yang sudah dijanjikan. Kemudian
semuanya sangat membingungkan, dan tahu-tahu semua
orang sudah bercerai berai." Lagi-lagi ia bergidik. "Aku
takut. Aku ingin kabur, orang itu,"dipandanginya Carlisle.
“bilang mereka tidak akan menyakiti aku kalau aku
berhenti menyerang."
"Ah tapi bukan haknya menawarkan hal itu, anak
muda,” Gumam Jane, nadanya lembut dan ganjil.
"Melanggar aturan menuntut konsekuensi."
Bree menatap Jane, tidak mengerti.
Jane berpaling kepada Carlisle. "kau yakin semua sudah
kau bereskan? Bagaimana dengan sebagian yang berpencar
itu?"
Wajah Carlisle tampak sangat tenang ketika
mengangguk.
"kami juga berpencar."


Jane separuh tersenyum. "Tak bisa kusangkal aku
terkesan." Bayang-bayang besar di belakangnya
menggumam setuju. "Belum pernah aku melihat ada
kelompok yang bisa selamat seluruhnya dari pelanggaran
aturan dengan skala besar ini. Kalian tahu masalah apa
yang melatarbelakanginya? sepertinya ini perilaku ekstrem,
bila mengingat gaya hidup kalian di sini. Dan kenapa gadis
itu yang menjadi kunci?" Sekilas matanya menatapku tidak
suka.
Aku bergidik.
"Victoria mendendam kepada Bella.” Edward menjawab
pertanyaan Jane, suaranya dingin.
Jane tertawa, suaranya renyah, tawa ceria anak kecil
yang bahagia. "Gadis satu ini selalu memicu timbulnya
berbagai reaksi kuat tapi aneh bagi jenis kita.”
Komentarnya, tersenyum langsung padaku, wajahnya bak
malaikat.
Edward menegang. Aku menoleh dan tepat pada saat itu
ia berpaling, memandang Jane lagi.
"Kumohon, bisakah kau tidak melakukan hal itu?"
tanyanya dengan suara kaku.
Lagi-lagi Jane tertawa renyah. "Hanya mengecek. Tidak
menimbulkan reaksi apa pun, ternyata."
Aku bergidik, dalam hati sangat bersyukur kelainan
dalam tubuhku yang melindungiku dari pengaruh Jane saat
terakhir kali kami bertemu, ternyata masih berfungsi.
Lengan Edward memegangku lebih erat.
"Well, kelihatannya tak banyak lagi yang bisa kami
lakukan. Aneh," sergah Jane, nada apatis kembali merayap
memasuki suaranya. “Tidak biasanya kedatangan kami siasia
seperti ini. Sayang kami terlambat mengikuti


pertempuran. Kedengarannya cukup menghibur untuk
disaksikan."
"Benar,” Edward menyahut cepat, suaranya tajam.
"Padahal kalian sudah sangat dekat. Sayang kalian tidak
datang setengah jam lebih awal. Mungkin kalau begitu
kalian bisa melaksanakan tugas kalian di sini."
Jane membalas tatapan garang Edward dengan
bergeming.
"Benar. Sayang sekali pertempuran itu berakhir seperti
ini bukan?"
Edward mengangguk, kecurigaannya terbukti.
Jane berpaling dan kembali memandangi Bree, wajahnya
benar-benar bosan. "Felix?" panggilnya dengan suara
mengalun.
"Tunggu," sela Edward.
Jane mengangkat sebelah alis, tapi Edward menatap
Carlisle sambil berbicara dengan nada mendesak. "Kita bisa
menjelaskan aturan-aturan yang ada pada gadis muda ini.
Sepertinya dia mau belajar. Dia tidak tahu kalau yang
dilakukannya itu salah."
"Tentu saja," jawab Carlisle. “Kami jelas siap
bertanggung jawab atas diri Bree."
Ekspresi Jane terbelah antara takjub dan tidak percaya.
"Bagi kami tidak ada pengecualian,” tukasnya. "Dan
kami tidak pernah memberi kesempatan kedua. Itu tidak
baik bagi reputasi kami. Dan itu membuatku teringat.."
Tiba-tiba, matanya kembali tertuju padaku, dan wajah
malaikatnya terkuak menunjukkan lesung pipinya. "Caius
pasti akan sangat tertarik mendengar bahwa ternyata kau


masih manusia, Bella. Mungkin dia akan memutuskan
untuk datang."
"Tanggalnya sudah ditentukan,” Alice memberitahu
Jane, berbicara untuk pertama kalinya. "Mungkin kami
akan datang mengunjungi kalian beberapa bulan lagi."
Senyum Jane lenyap, dan ia mengangkat bahu dengan
lagak tak peduli, tak melirik Alice sedikit pun. Ia berpaling
kepada Carlisle. "Senang bertemu denganmu, Carlisle...
kupikir Aro hanya melebih-lebihkan. Well, sampai ketemu
lagi nanti...”
Carlisle mengangguk, ekspresinya terluka.
"Urus itu, Felix.” kata Jane, mengangguk ke arah Bree,
suaranya sarat nada bosan. "Aku mau pulang."
"Jangan lihat.” bisik Edward di telingaku.
Tanpa diminta pun aku tidak akan mau melihat. Sudah
cukup banyak yang kulihat hari ini, lebih dari cukup untuk
seumur hidup. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan
menyembunyikan wajahku ke dada Edward.
Tapi aku masih bisa mendengar.
Terdengar suara geraman berat dan dalam, disusul suara
jeritan tinggi melengking yang sangat familiar. Suara itu
tiba-tiba terputus, kemudian satu-satunya suara yang
terdengar hanyalah bunyi mengerikan benda patah dan
remuk.
Tangan Edward mengusap-usap bahuku dengan cemas.
"Ayo,” seru Jane, dan aku mengangkat wajah, masih
sempat melihat jubah-jubah kelabu itu menghilang, menuju
asap yang meliuk-liuk. Bau dupa kembali tercium, kuat.
Jubah-jubah kelabu itu lenyap di balik kabut tebal.


26. ETIKA
KONTER di kamar mandi Alice dipenuhi ribuan jenis
produk berbeda, semuanya mengklaim bisa mempercantik
tampilan luar seseorang. Berhubung semua orang di rumah
ini sempurna dan tak mungkin berubah, aku hanya bisa
berasumsi ia membeli sebagian besar produk kecantikan ini
untukku.
Dengan perasaan kelu kubaca labelnya satu per satu,
terkejut saat menyadari membeli produk-produk semacam
itu hanya membuang-buang uang.
Aku berhati-hati untuk tidak pernah memandang ke
cermin yang panjang.
Alice menyisir rambutku dengan gerak lambat dan
berirama.
"Cukup, Alice,” sergahku datar. "Aku ingin kembali ke
La Push."
Sudah berapa jam lamanya aku menunggu sampai
akhirnya Charlie meninggalkan rumah Billy supaya aku
bisa menengok Jacob? Setiap menit, tidak mengetahui
apakah Jacob masih bernapas atau tidak, rasanya bagaikan
seumur hidup. Kemudian, waktu akhirnya aku diizinkan
pergi, untuk melihat sendiri Jacob masih hidup, waktu
justru berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja menarik
napas Alice sudah menelepon Edward lagi, memaksa
supaya aku tetap melanjutkan sandiwara menginap yang
konyol ini. Seperti itu sama sekali tidak penting..
"Jacob masih belum sadar,” Alice menjawab. "Carlisle
atau Edward akan menelepon kalau dia siuman.
Bagaimanapun kau perlu menemui Charlie. Dia tadi di


rumah Billy, jadi ia tahu Carlisle dan Edward sudah
kembali dari berburu dan dia bakal curiga kalau kau pulang
nanti."
Aku sudah menghafal dan menyamakan ceritaku. "Aku
tidak peduli. Pokoknya aku ingin berada di sana kalau
Jacob siuman nanti."
"Kau perlu memikirkan Charlie sekarang. Ini hari yang
sangat melelahkan, maaf aku tahu itu penggambaran yang
sangat tidak tepat, tapi itu bukan berarti kau bisa
meremehkan tanggung jawabmu," Nadanya serius, nyaris
mengecam. "Yang terpenting sekarang menjaga supaya
Charlie tetap aman dengan ketidaktahuannya. Mainkan
peranmu dulu Bella, baru kau bisa melakukan apa yang
kauinginkan. Bagian dari menjadi anggota keluarga Cullen
adalah bersikap penuh tanggung jawab."
Tentu saja Alice benar. Dan kalau bukan karena alasan
yang sama, alasan yang jauh lebih kuat daripada semua
ketakutan, kepedihan, dan rasa bersalahku, Carlisle tidak
akan pernah bisa membujukku meninggalkan Jacob,
pingsan maupun tidak.
"Pulanglah,” Alice memerintahkan. "Bicaralah dengan
Charlie. Sampaikan alibimu. Amankan dia."
Aku berdiri, dan darah mengalir menuruni kakiku,
menusuk-nusuk bagaikan ribuan jarum suntik. Aku sudah
terlalu lama duduk diam tak bergerak.
"Gaun itu cocok sekali di tubuhmu,” rayu Alice.
"Hah? Oh. Eh terima kasih sekali lagi untuk baju-baju
ini,” gumamku, lebih demi kesopanan ketimbang karena
benar-benar ingin berterima kasih.
"Kau butuh bukti,” kata Alice, matanya lugu dan
membelalak.” Apa gunanya shopping kalau tidak membeli


baju baru? Sangat mengesankan, kalau boleh kukatakan
sendiri."
Aku mengerjap, tidak ingat baju apa yang dipakaikannya
padaku. Aku tak mampu mencegah pikiranku melantur ke
mana-mana, seperti serangga yang merubungi lampu...
"Jacob baik-baik saja Bella,” kata Alice, dengan mudah
menerjemahkan pikiranku. "Tak perlu buru-buru. Kalau
kau menyadari betapa banyaknya morfin ekstra yang
diberikan Carlisle padanya, karena suhu tubuhnya yang
tinggi membakar habis morfin dengan cepat, kau pasti tahu
dia akan tidak sadarkan diri beberapa saat."
Setidaknya ia tidak kesakitan. Belum.
"Apakah ada yang ingin kaubicarakan sebelum pergi?"
tanya Alice dengan sikap bersimpati. ”Kau pasti lebih dari
sekedar agak traumatis."
Aku tahu apa yang ingin diketahui Alice. Tapi aku
punya pertanyaan-pertanyaan lain.
"Apakah aku akan menjadi seperti itu?" tanyaku, suaraku
muram. "Seperti si Bree yang di padang rumput?"
Meski banyak hal lain yang perlu kupikirkan, tapi
sepertinya aku tak mampu mengenyahkan gadis itu dari
ingatanku, si vampir baru yang kehidupannya barunya
begitu cepat berakhir. Wajahnya, berkerut-kerut
mendambakan darahku terus terbayang di balik kelopak
mataku.
Alice mengelus-elus lenganku. "Setiap orang berbeda,
tapi kurang lebih memang seperti itu."
Aku diam bergeming, mencoba membayangkan.
"Masa-masa seperti itu akan berlalu.” janjinya.
"Berapa lama?"


Alice mengangkat bahu. “Beberapa tahun, mungkin
kurang. Bisa jadi berbeda bagimu. Aku belum pernah
melihat bagaimana orang yang memilih jalan hidup seperti
ini menjalani kehidupan barunya. Bakal menarik melihat
bagaimana itu mempengaruhimu."
"Menarik.” Aku menirukan.
"Kami akan menjagamu agar kau tidak terkena
masalah."
"Aku tahu itu, aku percaya padamu." Suaraku monoton,
mati.
Kening Alice berkerut. "Kalau kau mengkhawatirkan
Carlisle dan Edward aku yakin mereka baik-baik saja. Aku
yakin Sam sudah mulai mempercayai kami.. well,
setidaknya mempercayai Carlisle. Baguslah kalau begitu.
Dugaanku suasana pasti sedikit tegang waktu Carlisle harus
mematahkan kembali beberapa tulang Jacob.."
"Please, Alice."
"Maaf."
Aku menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan
diri. Tubuh Jacob sudah mulai pulih dengan cepat, tapi
beberapa tulangnya tidak tersambung dengan benar. Untuk
memperbaikinya, ia sengaja dibuat pingsan, namun masih
sulit rasanya membayangkan hal itu.
"Alice, bolehkah aku bertanya? Tentang masa depan?"
Alice mendadak waswas. ”Kau kan tahu aku tidak bisa
melihat semuanya."
"Bukan itu, tepatnya. Tapi kadang-kadang kau bisa
melihat masa depanku. Menurutmu. kenapa hal-hal lain
tidak berpengaruh padaku? Baik yang dilakukan Jane, atau
Edward atau Aro.." Suaraku menghilang seiring dengan


tingkat ketertarikanku. Keingintahuanku saat ini hanya
sekilas. Jauh dikalahkan oleh emosi-emosi lain yang lebih
mendesak.
Namun Alice Justru menganggap pertanyaanku sangat
menarik. "Jasper juga Bella, bakatnya bisa mempengaruhi
tubuhmu sama seperti dia mempengaruhi orang lain. Di
situlah perbedaannya, kau mengerti? Kemampuan Jasper
mempengaruhi tubuh secara fisik. Dia benar-benar bisa
menenangkan sistemmu, atau membuatnya bergairah. Itu
bukan ilusi. Dan aku melihat visi dari sesuatu yang
dihasilkan, bukan alasan dan pikiran di balik keputusan
yang menyebabkannya. Semua itu bekerja di luar pikiran,
bukan ilusi juga; tapi realita, atau setidaknya salah satu
versi realita. Sementara Jane, Edward, Aro, dan Demetri,
mereka bekerja di dalam pikiran. Jane hanya menciptakan
ilusi kesakitan. Dia tidak benar-benar menyakiti tubuhmu,
kau hanya mengira merasakannya. Kau mengerti, Bella?
Kau aman dalam pikiranmu. Tidak ada yang bisa
mencapaimu di sana. Tak heran Aro sangat penasaran
tentang kemampuanmu di masa depan."
Alice mengamati wajahku untuk mengetahui apakah bisa
mengikuti logikanya. Sebenarnya, kata-katanya mulai
terdengar sambung-menyambung, silabel dan suaranya
kehilangan arti. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Meski begitu
aku mengangguk. Berlagak mengerti .
Alice tidak terkecoh. Ia mengelus-elus pipiku dan
bergumam.” Dia akan baik-baik saja, Bella. Aku tidak perlu
itu untuk mengetahuinya. Kau sudah siap pergi."
"Satu lagi. Bolehkah aku mengajukan pertanyaan lagi
tentang masa depanku? Bukan yang spesifik, hanya
pandangan umum saja.”


"Akan kuusahakan semampuku,” jawab Alice, kembali
ragu.
"Apakah kau masih bisa melihatku menjadi vampir?"
"Oh, itu sih gampang. Tentu, bisa."
Aku mengangguk lambat-lambat.
Alice mengamati wajahku, matanya tak bisa diterka.
"Tidakkah kau mengetahui pikiranmu sendiri Bella?"
"Tahu. Aku hanya ingin memastikan."
"Aku hanya yakin kalau kau sendiri yakin, Bella. Kau
tahu itu. Kalau kau berubah pikiran, apa yang kulihat akan
berubah... atau lenyap, dalam kasusmu."
Aku mendesah. "Tapi itu takkan terjadi."
Alice memeluk bahuku. "Maafkan aku. Aku tidak benarbenar
bisa berempati. Ingatan pertamaku adalah melihat
wajah Jasper di masa depan; sejak dulu aku sudah tahu dia
ada di tempat hidupku menuju. Tapi aku bisa bersimpati.
Aku kasihan padamu karena kau harus memilih satu di
antara dua hal yang sama baiknya."
Aku menggerakkan bahuku, melepaskan pelukannya.
"Jangan merasa kasihan padaku." Ada orang-orang yang
pantas mendapatkan simpati. Aku bukan salah satunya.
Dan aku tidak punya pilihan lain, harus ada hati yang
disakiti dalam hal ini. "Aku akan menemui Charlie
sekarang."
Aku mengendarai trukku pulang. Charlie sudah
menunggu dengan sikap curiga, tepat seperti dugaan Alice.
"Hai Bella. Bagaimana acara shopping-nya?" sapa
Charlie begitu aku melangkah memasuki dapur. ia melipat
lengannya di dada, matanya menatap wajahku.


"Lama,” jawabku muram. "Kami baru sampai."
Charlie menilai suasana hatiku. “Kurasa kau sudah
mendengar kabar tentang Jake, kalau begitu?"
"Sudah, anggota keluarga Cullen yang lain sudah lebih
dulu sampai di rumah. Esme memberi tahu kami di mana
Carlisle dan Edward berada."
"Kau baik-baik saja?"
"Mengkhawatirkan Jake. Setelah selesai memasak
makan malam, aku akan langsung berangkat ke La Push."
"Sudah kubilang, sepeda motor itu berbahaya. Kuharap
kau tahu aku tidak main-main."
Aku mengangguk sambil mulai mengeluarkan bahanbahan
dari kulkas. Charlie duduk di meja. Tidak seperti
biasa,hari ini sepertinya ia sedang ingin mengobrol.
"Kurasa kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Jake.
Siapa pun yang bisa memaki dengan energi sedahsyat itu
pasti akan pulih."
"Jadi Jake sadar waktu Dad melihatnya?" tanyaku,
berbalik untuk memandangi Charlie.
"Oh, yeah, dia sadar. Coba kau dengar makiannya, tidak
lebih baik kau tidak mendengarnya. Kurasa tak seorang pun
di La Push yang tidak bisa mendengarnya. Entah dari mana
dia mempelajari kosakata sekasar itu,tapi kuharap dia tidak
menggunakan bahasa sekasar itu jika sedang bersamamu."
"Wajar saja dia bersikap begitu hari ini. Bagaimana
keadaannya?"
"Berantakan. Dia dibawa teamn-temannya.Untung
tubuh mereka besar-besar, karena anak itu kan bongsor
sekali. Menurut Carlisle, kaki kanannya patah, begitu pula
lengan kanannya. Bisa dibilang hampir seluruh sisi kanan


tubuhnya patah waktu motornya jatuh." Charlie
menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau aku sampai
mendengar kau naik motor lagi Bella?"
"Tidak bakal Dad. Dad tidak akan mendengarnya.
Sungguh Jake tidak apa-apa?"
"Tentu Bella, jangan khawatir. Dia masih seperti biasa,
bahkan sempat menggodaku."
"Menggoda Dad?" ulangku,syok.
"Yeah... di sela-sela memaki ibu seseorang dan menyebut
nama Tuhan dengan tidak hormat, dia berkata, ‘taruhan,
kau pasti senang dia mencintai Cullen dan bukan aku hari
ini kan Charlie?’"
Aku berbalik ke kulkas supaya Charlie tidak melihat
ekspresiku.
"Dan itu benar, Edward lebih dewasa dibandingkan
Jacob soal keselamatanmu, itu harus kuakui."
"Jake lumayan dewasa kok.” gumamku dengan sikap
defensif. "Aku yakin ini bukan salahnya."
"Hari ini aneh sekali,” Charlie merenung beberapa saat
kemudian. “kau tahu aku sebenarnya tidak begitu percaya
pada tahayul, tapi sungguh ganjil... Sepertinya Billy tahu
sesuatu yang buruk akan menimpa Jake. Sepagian dia
gelisah seperti kalkun akan disembelih untuk perayaan
thanksgiving. Menurutku dia bahkan tidak mendengarkan
omonganku sama sekali."
"Kemudian, lebih anehnya lagi, kau ingat tidak, di bulan
Februari dan Maret dulu, waktu ada gangguan serigala liar
di sekitar sini?"
Aku membungkuk untuk mengambil wajan dari rak, dan
bersembunyi di sana satu dua detik lebih lama.


"Yeah.” gumamku.
"Mudah-mudahan saja tidak muncul lagi gangguan yang
sama. Pagi tadi, saat kami sedang di perahu, dan Billy tidak
begitu memperhatikanku maupun perahu yang kami naiki,
tiba-tiba terdengar lolongan serigala-serigala di hutan. Lebih
dari satu dan astaga nyaringnya bukan main.
Kedengarannya seperti berasal dari tengah perkampungan.
Yang paling aneh lagi, Billy memutar perahu dan langsung
kembali ke dermaga, seolah-olah serigala-serigala itu
memang memanggilnya. Dia bahkan tidak menggubris
pertanyaanku yang heran melihat kelakuannya.
"Suara itu berhenti begitu kami menambatkan perahu.
Tapi tiba-tiba Billy seperti terburu-buru tidak ingin
ketinggalan nonton pertandingan, padahal waktunya masih
beberapa jam lagi. Dia menggumamkan omong kosong
tentang pertunjukan dimulai lebih awal, masa pertandingan
live disiarkan lebih awal? Sungguh, Bella, aneh sekali."
"Well, lalu dia menemukan pertandingan yang katanya
ingin dia tonton, tapi kemudian dia mengabaikannya. Dia
malahan menelepon terus, menelepon Sue, Emily, dan
kakek temanmu Quil. Entah apa yang dicarinya... dia
mengobrol biasa saja dengan mereka.
"Kemudian lolongan itu terdengar lagi, tepat di luar
rumah. Belum pernah aku mendengar suara seperti itu, bulu
lenganku sampai berdiri semua. Kutanya Billy – aku sampai
harus berteriak untuk mengalahkan lolongan itu – apakah
dia memasang perangkap di halamannya. Kedengarannya
hewan itu benar-benar kesakitan."
Aku meringis, tapi Charlie begitu terhanyut ceritanya
sendiri sehingga tidak memperhatikan.
"Tentu saja aku lupa sama sekali tentang hal itu dan baru
ingat lagi sekarang, karena saat itulah Jake pulang, satu


menit yang lalu aku mendengar serigala melolong. Tapi
kemudian tiba-tiba suara itu hilang... makian Jake
mengalahkan semua suara. Kuat sekali paru-paru anak itu.”
Charlie menghentikan ceritanya sejenak,wajahnya
seperti berpikir. "lucu juga bahwa ada hikmah dibalik segala
kekacauan ini. Kupikir mereka takkan pernah bisa
mengenyahkan prasangka konyol mereka terhadap keluarga
Cullen di sana. Tapi seseorang menghubungi Carlisle, dan
Billy sangat bersyukur dia datang. Kukira kami harus
membawa Jake ke rumah sakit, tapi Billy ingin dia tetap di
rumah, dan Carlisle setuju. Kurasa Carlisle tahu yang
terbaik. Baik sekali dia, mau repot-repot datang memeriksa
pasien yang tinggal sejauh itu."
"Dan..."Charlie terdiam sejenak, seperti tak rela
mengatakan sesuatu. Ia menghela napas, lalu melanjutkan
kata-katanya. “dan Edward benar-benar... baik.
Kelihatannya dia sama khawatirnya memikirkan Jacob
seperti kau, seolah-olah yang terbaring itu saudaranya
sendiri. Sorot matanya..." Charlie menggeleng-geleng. "Dia
pemuda yang baik Bella. Aku akan berusaha mengingatnya.
Tidak janji, tapi." ia nyengir padaku.
"Aku takkan menagihnya,"gumamku.
Charlie meluruskan kakinya dan mengerang. "Senang
rasanya berada di rumah kembali. Kau pasti tak percaya
betapa sesaknya di rumah Billy yang kecil itu. Tujuh teman
Jacob berdesak-desakan di ruang depan kecil itu, aku
sampai nyaris tak bisa bernapas. Kau sadar tidak betapa
besarnya anak-anak Quileute itu sekarang Bella?'
"Yeah, memang."
Charlie menatapku, matanya tiba-tiba terfokus. “sungguh
Bella,” kata Carlisle, “sebentar lagi Jake akan pulih dan


sehat kembali. Katanya luka-lukanya terlihat lebih parah
daripada sebenarnya. Dia akan baik-baik saja."
Aku hanya mengangguk.
Anehnya, Jacob tadi terlihat sangat.. rapuh waktu aku
bergegas pergi ke rumahnya segera setelah Charlie pulang.
Di sekujur tubuhnya terpasang penyangga, menurut Carlisle
tak ada gunanya digips, karena begitu cepatnya dia pulih.
Wajahnya pucat dan letih, walaupun saat itu ia sedang
tidak sadar. Rapuh. Meskipun bertubuh besar, ia tampak
sangat rapuh. Mungkin hanya imajinasiku, ditambah lagi
aku tahu aku harus menyakiti hatinya.
Kalau saja ada kilat yang bisa menyambarku dan
membelahku menjadi dua. Lebih disukai lagi jika prosesnya
menyakitkan. Untuk pertama kalinya, berhenti menjadi
manusia terasa bagaikan pengobatan sejati. Seolah-olah ada
terlalu banyak hal yang tak ingin kulepaskan.
Kuletakkan piring berisi makanan untuk Chaarlie ke
meja di samping sikunya, lalu berjalan ke pintu.
"Eh Bella? bisa tunggu sebentar?”
"Apakah aku melupakan sesuatu?" tanyaku,
mengarahkan mataku ke piringnya.
"Tidak, tidak. Aku hanya... ingin minta tolong," Charlie
mengerutkan kening dan menunduk memandangi lantai.
"Duduklah... tidak lama kok."
Aku duduk berhadap-hadapan dengan ayahku, agak
bingung. Aku mencoba berkonsentrasi. "Ada apa Dad?"
"Masalahnya begini Bella,” wajah Charlie memerah.
"Mungkin aku hanya merasa... terpengaruh takhayul
setelah nongkrong bersama Billy yang bersikap sangat aneh


seharian. Tapi aku punya... firasat. Aku merasa sepertinya...
aku akan kehilanganmu sebentar lagi."
"Jangan konyol Dad,” gumamku dengan perasaan
bersalah.
"Dad ingin aku kuliah kan?"
"Pokoknya berjanjilah padaku.”
Aku ragu-ragu, siap mengelak."Oke.."
"Maukah kau memberitahuku sebelum melakukan
sesuatu yang besar? Sebelum kau kawin lari dengannya atau
semacamnya?"
"Dad....” erangku.
"Aku serius. Aku tidak bakal ribut-ribut hanya saja beri
tahu aku sebelumnya. Beri aku kesempatan untuk memeluk
dan mengucapkan selamat berpisah denganmu."
Meringis dalam hati, aku mengangkat tanganku.
"Konyol benar. Tapi kalau itu membuat Dad senang... aku
janji."
"Trims Bella.” kata Charlie."Aku sayang padamu, nak."
"Aku juga sayang padamu Dad." Kusentuh pundaknya,
lalu kudorong kursi menjauhi meja. "kalau Dad butuh apaapa,
aku ada di rumah Billy."
Tanpa menoleh lagi, aku berlari keluar. Sempurna, ini
benar-benar yang kubutuhkan. Aku menggerutu sendiri
sepanjang perjalanan menuju La Push.
Mercedes hitam Carlise tidak ada di depan rumah Billy.
Itu berarti baik dan buruk. Jelas aku perlu bicara berdua saja
dengan Jacob. Meski begitu, aku berharap kalau saja aku
bisa menggenggam tangan Edward, tapi sebelumnya, ketika
Jacob tidak sadar. Mustahil. Tapi aku merindukan Edward,


siangku bersama Alice tadi terasa sangat lama. Kurasa, dari
situ saja sudah jelas jawabanku bakal seperti apa. Aku
sudah tahu aku tak sanggup hidup tanpa Edward. Namun
tetap saja fakta itu takkan membuat ini menjadi lebih
mudah.
Pelan-pelan kuketuk pintu depan.
"Masuklah Bella,” seru Billy. "raungan mesin trukmu
gampang dikenali."
Aku pun masuk, “hai Billy, dia sudah bangun?"tanyaku.
"Dia bangun kira-kira setengah jam yang lalu, tepat
sebelum dokter pulang. Masuklah. Kurasa dia menunggu
kedatanganmu."
Aku tersentak, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Trims. "
Aku ragu-ragu di depan pintu kamar Jacob, tidak yakin
apakah harus mengetuk. Kuputuskan untuk mengintip
dulu, berharap – dasar pengecut – siapa tahu dia tidur lagi.
Rasanya aku butuh waktu beberapa menit lagi.
Kubuka pintu secelah dan ragu-ragu kulongokkan
kepalaku ke dalam.
Jacob menungguku, wajahnya kalem dan tenang.
Ekspresi kuyu dan letih telah hilang, digantikan ekspresi
kosong dan hati-hati. Tidak ada kilauan di matanya yang
gelap.
Sulit rasanya menatap wajahnya, tahu bahwa aku
mencintainya. Ternyata itu membawa lebih banyak
perbedaan daripada yang kukira pada awalnya. Aku
bertanya-tanya sendiri dalam hati, apakah selama ini Jacob
selalu merasa sesulit ini.


Syukurlah, ada yang menyelubungi tubuh Jacob dengan
selimut. Lega rasanya tak perlu melihat seberapa parah
cedera yang dialaminya.
Aku melangkah masuk dan menutup pintu pelan di
belakangku.
"Hai, Jake." bisikku.
Mulanya Jake tidak menyahut. Ia menatap wajahku
lama sekali. Kemudian, dengan sedikit usaha, ia mengubah
ekspresinya menjadi senyum mengejek.
"Yeah. aku sedikit sudah bisa menduga bakal seperti ini."
Jacob mendesah. "Hari ini keadaan benar-benar berubah
jadi lebih buruk. Mula-mula aku memilih tempat yang
salah, melewatkan pertarungan dan Setlah yang akhirnya
diagung-agungkan. Sudah begitu Leah harus pula jadi idiot
dengan berusaha membuktikan dirinya sama kuatnya
dengan kami semua, dan aku harus menjadi idiot yang
menyelamatkannya. Dan sekarang ini." Jacob melambaikan
tangan kirinya ke arahku, ke tempat aku berdiri ragu-ragu di
dekat pintu.
"Bagaimana perasaanmu?" gumamku. Pertanyaanku
benar-benar bodoh.
“Agak teler. Dr. Taring kurang yakin seberapa besar obat
penghilang sakit yang kubutuhkan, jadi dia coba-coba saja.
Kurasa dia memberi terlalu banyak."
"Tapi kau tidak merasa sakit."
"Tidak. Setidaknya, aku tidak bisa merasakan cederaku,"
jawab Jacob, lagi-lagi tersenyum mengejek.
Aku menggigit bibir. Entah bagaimana aku bisa
menuntaskan masalah ini. Kenapa tidak ada yang mencoba
membunuhku di saat aku kepingin mati?


Humor kecut itu lenyap dari wajah Jacob, dan sorot
matanya menghangat, keningnya berkerut seperti khawatir.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya, kedengarannya
benar-benar prihatin. "kau baik-baik saja?"
"Aku?"kupandangi dia. Mungkin memang benar Jacob
kebanyakan menelan obat. "kenapa?"
"Well, maksudku, aku sangat yakin dia tidak akan benarbenar
menyakitimu, tapi aku tidak yakin bakal seberapa
parah reaksinya. Aku sampai agak gila karena
mengkhawatirkanmu sejak terbangun tadi. Aku tidak tahu
apakah kau akan diizinkan datang atau tidak. Tegang sekali
rasanya. Bagaimana reaksinya? Apakah dia mengamuk?
Maafkan aku kalau keadaannya buruk. Aku tidak
bermaksud membiarkanmu menghadapinya sendirian.
Kupikir aku akan berada di sana.."
Baru beberapa saat kemudian aku mengerti. Jacob
mengoceh terus, semakin lama tampak semakin canggung,
sampai Aku memahami apa yang dikatakannya. Lalu aku
buru-buru meyakinkannya.
"Tidak, tidak, Jake! Aku baik-baik saja. Terlalu baik,
malah. Tentu saja dia tidak mengamuk. Kalau saja begitu!"
Mata Jacob membelalak seperti ketakutan. "Apa?"
"Dia bahkan tidak marah padaku – dia bahkan tidak
marah padamu! Dia sangat tidak egois hingga membuatku
semakin merasa tidak enak. Kalau saja dia memarahiku
atau bagaimana. Bukan berarti aku tidak pantas... well, jauh
lebih buruk daripada dimarahi. Tapi dia tidak peduli. Dia
hanya ingin aku bahagia."
"Jadi dia tidak marah?" tanya Jacob, tak percaya.
"Tidak. Dia... terlalu baik."


Jacob menatapku beberapa saat, kemudian tiba-tiba
mengerutkan keningnya. "Well, brengsek!" geramnya.
"Kenapa, Jake? Ada yang sakit?” Kedua tanganku
menggapai-gapai mencari-cari obatnya.
"Tidak.” gerutu Jacob dengan nada jijik. "Sulit
dipercaya! Dia sama sekali tidak memberimu ultimatum
atau apa pun?"
"Mendekati itu pun tidak... kau kenapa?"
Jacob merengut dan menggeleng. "Padahal aku
menantikan reaksinya. Benar-benar brengsek. Dia lebih baik
daripada yang kuduga."
Dari cara Jacob mengatakannya, meski dengan nada
lebih marah, mengingatkanku pada komentar Edward di
tenda tadi pagi tentang Jacob yang kurang memiliki etika
dalam bersaing. Dan itu berarti Jake masih berharap, masih
berjuang. Aku meringis saat kenyataan itu menohok hatiku
dalam-dalam.
"Dia tidak main-main, Jake," ucapku pelan.
"Berani bertaruh, kau keliru. Ia memainkan permainan
ini sama kerasnya denganku, tapi dia tahu apa yang dia
lakukan, sedangkan aku tidak. Jangan salahkan aku karena
dia lebih pintar memanipulasi orang ketimbang aku... aku
belum hidup terlalu lama untuk mempelajari semua
triknya."
"Edward tidak memanipulasi aku!"
"Siapa bilang! Kapan kau akan bangun dan menyadari
dia tidak sesempurna yang kau kira!"
"Paling tidak dia mengancam akan bunuh diri untuk
membuatku menciumnya.” bentakku. Begitu kata-kata itu
terlontar, wajahku merah padam karena menyesal.


"Tunggu. Anggap saja kata-kata itu tidak pernah terlontar.
Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak
pernah mengungkit hal itu."
Jacob menghela napas dalam-dalam. Ketika berbicara, ia
sudah lebih tenang. "Kenapa tidak?"
"Karena kedatanganku ke sini bukan untuk
menyalahkanmu atas apa pun juga."
"Tapi itu benar,” tukas Jacob datar. "Memang itu yang
kulakukan."
"Aku tak peduli Jake. Aku tidak marah."
Jacob tersenyum. "Aku juga tidak peduli. Aku tahu kau
pasti akan memaafkanku, dan aku senang telah
melakukannya. Aku mau melakukannya lagi. Setidaknya
aku memiliki hal itu. Setidaknya aku membuatmu
menyadari bahwa kau memang mencintaiku. Itu memiliki
arti tersendiri."
"Benarkah? Apakah itu benar-benar lebih baik daripada
kalau aku tidak tahu?"
“Tidakkah menurutmu sebaiknya kau tahu bagaimana
perasaanmu... supaya kau tidak terkejut lagi kelak, ketika
semuanya sudah terlambat dan kau sudah menikah dengan
vampir?"
Aku menggeleng, "Tidak... maksudku bukan lebih baik
untukku. Maksudku lebih baik untukmu. Apakah keadaan
baik atau lebih buruk, membuatku tahu bahwa aku
mencintaimu? Padahal itu tidak membuat perbedaan apa
pun. Bukankah akan lebih baik, lebih mudah bagimu, kalau
aku tak pernah tahu?"


Jacob memikirkan pertanyaanku dengan serius, seperti
yang kumaksudkan, berpikir dengan hati-hati sebelum
menjawab.
"Ya, lebih baik kalau kau tahu,” Jacob akhirnya
memutuskan.
"Kalau kau tak pernah tahu... aku akan selalu bertanyatanya
apakah keputusanmu akan berbeda seandainya kau
tahu. Sekarang aku tahu. Aku sudah melakukan semua
yang bisa kulakukan." Jacob menarik napas panjang dan
goyah, lalu memejamkan mata.
Kali ini aku tidak – tidak bisa – menolak dorongan
untuk menghiburnya. Aku melintasi kamar yang kecil itu,
lalu berlutut di dekat kepalanya, tidak berani duduk di
tempat tidur karena takut akan mengguncangnya dan
membuat Jacob kesakitan, dan mencondongkan tubuh
untuk menempelkan keningku di pipinya.
Jacob mendesah, dan meletakkan tangannya di
rambutku, memelukku di sana.
"Maafkan aku, Jake."
"Sudah kukira kemungkinannya kecil. Ini bukan
salahmu, Bella."
"Jangan kau juga,” erangku. "Please."
Jacob meregangkan pelukannya untuk menatapku.
"Apa?"
"Ini memang salahku. Dan aku sudah muak mendengar
orang mengatakan sebaliknya."
Jacob nyengir. Cengiran itu tidak menyentuh matanya.
"jadi kau mau aku menyeretmu ke atas arang panas?"
"sebenarnya... kurasa begitu."


Jacob mengerucutkan bibir sementara ia menilai apakah
aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Senyum
berkelebat sekilas di wajahnya, kemudian ia mengerutkan
wajah, memberengut garang.
"Membalas ciumanku seperti itu tak bisa dimaafkan!"
sembur Jacob. "Kalau kau sudah tahu akan menariknya
kembali, mungkin seharusnya kau tidak perlu bersikap
kelewat meyakinkan."
Aku meringis dan mengangguk. "Maafkan aku."
"Maaf tidak akan memperbaiki keadaan Bella. Apa yang
kau pikirkan saat itu?"
"Aku tidak berpikir,” bisikku.
"Seharusnya kau suruh aku mati sekalian. Memang
itulah yang kau inginkan."
"Tidak Jacob.” rintihku, melawan air mata yang mulai
menggenang. "Tidak! Tidak pernah."
"Kau tidak menangis kan?" tuntutnya, suaranya tiba-tiba
kembali ke nadanya yang normal. Ia bergerak-gerak tidak
sabar di tempat tidur.
"Yeah,” gerutuku, tertawa lemah, menertawakan diriku
sendiri di sela-sela air mata yang mendadak berubah
menjadi sedu sedan.
Jacob mengubah posisi, mengayunkan kakinya yang
sehat turun dari tempat tidur, seolah-olah berusaha sendiri.
"Apa-apaan kau?" bentakku di sela-sela air
mata."berbaringlah idiot, nanti cederamu makin parah!”
Aku melompat berdiri dan mendorong bahunya yang sehat
dengan dua tangan.
Jacob menyerah, berbaring lagi sambil menahan napas
kesakitan, tapi ia menyambar pinggangku dan menarikku ke


tempat tidur, ke sisi tubuhnya yang tidak cedera. Aku
bergelung di sana, berusaha meredam sedu sedan konyol itu
di kulitnya yang panas.
"Aku tidak percaya kau menangis,” gumamnya. "Kau
tahu berkata begitu hanya karena kau ingin aku
mengatakannya. Aku tidak sungguh-sungguh." Tangannya
mengusap-usap bahuku.
"Aku tahu," Aku menghela napas dalam-dalam dan
goyah, berusaha menguasai diri. Bagaimana bisa justru
akulah yang menangis sementara ia menghiburku? "Tapi
semua itu toh benar. Terima kasih karena mengatakannya.”
"Apakah aku mendapat nilai karena membuatmu
menangis?"
"Tentu, Jake," Aku berusaha tersenyum. "Sebanyak yang
kauinginkan.”
"Jangan khawatir, Bella, Sayang. Semua pasti beres."
"Aku tidak melihat bagaimana caranya semua bisa
beres,"gerutuku.
Jacob menepuk-nepuk puncak kepalaku. "Aku akan
mengalah dan bersikap baik."
“Permainan lagi,” aku penasaran, menelengkan daguku
supaya bisa melihat wajahnya.
"Mungkin," Jacob tertawa walaupun sedikit memaksa
diri, kemudian meringis. "Tapi aku akan berusaha."
Aku mengerutkan kening.
"Jangan pesimis begitu," keluhnya. "Beri aku
penghargaan sedikit."
"Apa yang kaumaksud dengan bersikap baik?"


"Aku akan menjadi temanmu, Bella,” kata Jacob pelan.
"Aku takkan meminta lebih dari itu."
"Kurasa itu sudah terlambat, Jake. Bagaimana mungkin
bisa berteman, kalau kita saling mencintai seperti ini?"
Jacob mendongak memandangi langit-langit, sorot
matanya tajam, seakan-akan membaca sesuatu yang tertulis
di sana. "Mungkin... ini bisa menjadi pertemanan jarak
jauh."
Aku mengatupkan rahang, senang ia tidak bisa melihat
wajahku, sebab aku sedang melawan sedu sedan yang
mengancam melandaku lagi. Aku harus kuat, tapi aku tidak
tahu bagaimana..
"Kau tahu kan kisah di alkitab?" tanya Jacob tiba-tiba,
matanya masih menatap kosong langit-langit. "Kisah
tentang seorang raja dan dua wanita yang memperebutkan
seorang bayi?"
"Tentu, Raja Solomon."
"Ya, benar. Raja Solomon,” ulang Jacob. "Raja itu
berkata, belah anak itu menjadi dua... padahal itu hanya
ujian. Hanya untuk melihat siapa yang bakal mengalah dan
menyerahkan bagiannya dengan maksud melindungi bayi
itu."
“Ya, aku ingat."
Jacob menatap wajahku lagi. "Aku tidak akan
membelahmu menjadi dua lagi Bella."
Aku mengerti maksudnya. Ia mengatakan dialah yang
paling mencintaiku, dan dengan rela melepaskan aku, dan
ia membuktikannya. Aku ingin membela Edward,
mengatakan kepada Jacob Bahwa Edward juga akan
melakukan hal yang sama jika aku menginginkannya,jika


aku mengizinkannya melakukan itu. Akulah yang tak ingin
Edward melakukannya. Tapi tak ada gunanya memulai
argumen yang hanya akan semakin melukai hati Jacob.
Aku memejamkan mata, memaksa diriku menguasai
pembicaraan. Aku tak boleh membuatnya merasa terbebani.
Kami berdiam diri beberapa saat. Sepertinya Jacob
menungguku mengatakan sesuatu,aku berusaha
memikirkan apa yang bisa dikatakan.
"Bolehkah aku memberitahumu bagian terburuk?" tanya
Jacob ragu-ragu ketika aku tidak mengatakan apa-apa. "Kau
keberatan? aku akan bersikap baik kok."
"Apakah itu akan membantu?" bisikku.
"Bisa jadi. Tak ada ruginya."
"Apa bagian terburuk, kalau begitu?"
"Bagian terburuk adalah mengetahui apa yang
seharusnya akan terjadi."
"Apa yang seharusnya mungkin terjadi." Aku mendesah.
"Tidak." Jacob menggeleng. "aku sangat tepat untukmu
Bella. Kita tidak perlu melakukan apa-apa...nyaman,
semudah menarik napas. Aku jalan alami yang seharusnya
kau ambil dalam hidupmu..." Mata Jacob menerawang jauh
beberapa saat, dan aku menunggu. "seandainya dunia
seperti seharusnya, bila tidak ada monster dan tidak ada
hal-hal magis..."
Aku bisa melihat apa yang dilihatnya, dan aku tahu ia
benar. Seandainya dunia adalah tempat yang waras seperti
seharusnya, Jacob dan aku pasti akan bersatu. Dan kami
akan hidup bahagia. Ia akan menjadi belahan jiwaku di
dunia itu, akan menjadi belahan jiwaku kalau saja hal itu
tidak dibayang-bayangi sesuatu yang lebih kuat, sesuatu


yang sangat kuat hingga tak mungkin ada di dunia yang
rasional.
Apakah Jacob akan memiliki kesempatan yang sama
juga. Sesuatu yang bisa digolongkan sebagai belahan jiwa?
aku harus percaya bahwa itu ada.
Dua masa depan. Dua belahan jiwa... itu terlalu berat
untuk ditanggung siapa pun. Dan sangat tidak adil karena
bukan satu-satunya yang harus membayar harganya.
Kepedihan hati Jacob sepertinya harga yang kelewat mahal.
Meringis membayangkan harga itu, aku bertanya-tanya
dalam hati apakah aku bakal ragu seandainya aku tak
pernah kehilangan Edward dulu. Seandainya aku tak tahu
bagaimana rasanya hidup tanpa dia. Entahlah.
Pengetahuan itu menjadi bagian yang sangat dalam dari
diriku, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanku
tanpa itu.
"Dia itu seperti candu bagimu, Bella,” Suara Jacob masih
lembut, sama sekali tanpa nada mengkritik. "Bisa kulihat
kau tidak bisa hidup tanpa dia sekarang. Padahal aku lebih
bagimu. Bukan candu, tapi aku seharusnya bisa menjadi
udara, matahari."
Sudut mulutku terangkat, membentuk senyum separuh.
"Dulu aku memang menganggapmu seperti itu, tahu.
Seperti matahari. Matahari pribadiku. Kau
menyeimbangkan awan-awan dalam hidupku."
Jacob mendesah. "Kalau awan-awan, aku masih sanggup
menghadapinya. Tapi aku tak bisa melawan gerhana."
Aku menyentuh wajahnya, menempelkan tanganku di
pipinya. Jacob mengembuskan napas, merasakan
sentuhanku, dan memejamkan matanya. Suasana begitu


hening. Sejenak aku bisa mendengar degup jantungnya,
lambat dan teratur.
"Ceritakan padaku bagian terburuk menurutmu,”
bisiknya.
"Mungkin sebaiknya tidak usah.”
"Please."
"Menurutku itu hanya akan melukai hatimu.”
"Please,”
Bagaimana mungkin aku tega menolak permintaannya?
"Bagian terburuk adalah...” aku ragu-ragu, kemudian
membiarkan kata-kata berhamburan dari mulutku,
mengungkapkan hal sebenarnya. "Bagian terburuk adalah
melihat semuanya, seluruh hidup kita. Dan aku sangat
menginginkannya Jake, aku menginginkan semuanya. Aku
ingin tetap tinggal di sini dan tidak pernah pindah. Aku
ingin mencintaimu dan membuatmu bahagia. Tapi aku
tidak bisa, dan itu membuatku sangat sedih... sama seperti
Sam dan Emily, Jake, aku tak pernah punya pilihan. Sejak
dulu aku tahu tidak ada yang bakal berubah. Mungkin
itulah sebabnya aku sangat keras melawanmu."
Jacob seperti memusatkan segenap konsentrasinya untuk
bernapas secara teratur.
"Tuh kan sudah kukira seharusnya aku tidak
menceritakannya padamu."
Jacob menggeleng pelan. "Tidak, aku justru senang kau
menceritakannya. Terima kasih," ia mengecup pucuk
kepalaku, kemudian menarik napas. "Aku lega sekarang."
Aku mendongak, dan ia tersenyum.
"Jadi kau akan menikah heh?"


"Kita tidak perlu membicarakan hal itu."
"Aku ingin mengetahui sebagian detailnya. Aku kan
tidak tahu kapan bisa mengobrol denganmu lagi."
Aku harus menunggu dulu satu menit sebelum bisa
bicara. Setelah yakin suaraku tidak akan tersendat, aku
menjawab pertanyaannya.
"Sebenarnya itu bukan ideku... tapi, ya benar itu sangat
berarti bagi dia. Jadi aku lantas berpikir, kenapa tidak?"
Jake mengangguk. "Memang benar... itu sih bukan hal
yang terlalu besar... kalau dibandingkan...."
Suara jacob sangat tenang, sangat apa adanya.
Kupandangi dia, ingin tahu bagaimana dia bisa tahan
menghadapi semua ini, tapi itu sangat sulit baginya. Ia
menatap wajahku sedetik, kemudian berpaling menjauhiku.
Aku menunda berbicara sampai tarikan napas Jake kembali
terkendali.
"Ya. Kalau dibandingkan,” aku sependapat.
"Berapa lama lagi?"
“Tergantung berapa lama Alice bisa menyiapkan
pernikahan," Aku menahan erangan. membayangkan apa
saja yang bakal dilakukan Alice.
"Sebelum atau sesudah?" tanyanya pelan.
Aku mengerti maksudnya. "Sesudah."
“Kau takut?" bisiknya.
“Ya,” aku balas berbisik.
"Apa yang kautakutkan?” Aku hampir-hampir tak bisa
mendengar suaranya sekarang. Ia menunduk memandangi
tanganku.


"Banyak hal," Aku berusaha membuat suaraku terdengar
lebih ringan, tapi tetap jujur. "Aku bukan orang yang suka
menyiksa diri sendiri, jadi aku tidak suka membayangkan
sakitnya. Dan aku ingin ada cara untuk menjauhkan dia
dariku, aku tidak ingin dia ikut menderita bersamaku. tapi
kurasa tak ada cara lain. Lalu hal-hal yang berkaitan dengan
Charlie juga, dan Renee... Kemudian sesudahnya, aku
berharap mudah-mudahan aku bisa mengendalikan diri
dalam waktu singkat. Mungkin aku akan menjadi ancaman
besar sehingga kawanan harus menghabisi aku."
Jacob mendongak dengan ekspresi tidak setuju. "Akan
kulumpuhkan sendiri saudaraku yang berani coba-coba
melakukannya."
"Trims."
Jacob tersenyum setengah hati. Kemudian ia
mengerutkan kening. "Tapi bukankah itu lebih berbahaya?
Konon, katanya terlalu sulit... mereka bisa kehilangan
kendali... orang-orang meninggal," Jacob menelan ludah.
"Tidak, bukan itu yang kutakutkan. Konyol, Jacob masa
kau percaya cerita-cerita vampir?"
Tapi Jacob tidak menanggapi leluconku.
"Well, bagaimanapun, banyak yang harus dikhawatirkan.
Tapi sepadan dengan apa yang akan dicapai pada
akhirnya."
Jacob mengangguk meskipun tak ingin, dan aku tahu ia
sama sekali tidak sependapat denganku.
Aku menjulurkan leher panjang-panjang untuk berbisik
di telinganya,menempelkan pipiku di kulitnya yang panas.
"Kau tahu aku mencintaimu."


"Aku tahu,” Jacob mendesah, lengannya semakin erat
memeluk pinggangku. "Kau tahu betapa aku sangat
berharap itu cukup."
"Ya."
"Aku akan selalu menunggu Bella,” janjinya, nadanya
terdengar lebih ringan. Ia mengendurkan pelukannya.
Kutarik lenganku dengan perasaan kehilangan yang tumpul,
merasakan perpisahan yang menyakitkan waktu aku
meninggalkan sebagian diriku di tempat tidur di sebelahnya.
"Kau akan selalu memiliki pilihan cadangan itu kalau kau
menginginkannya."
Aku mencoba tersenyum. "Sampai jantungku berhenti
berdetak."
Jacob balas menyeringai. "Kau tahu, kurasa mungkin
aku akan tetap menerimamu... mungkin. Kurasa itu
tergantung seberapa menyengat baumu nanti."
"Apakah sebaiknya aku kembali untuk menengokmu.
Atau kau lebih suka aku tidak melakukannya?"
"Aku harus memikirkannya dulu masak-masak,” jawab
Jacob, “mungkin aku akan membutuhkan teman untuk
mencegahku melakukan hal-hal sinting. Dokter bedah
vampir yang sangat pintar itu bilang aku tidak bisa berubah
bentuk sampai dia mengizinkannya, itu bisa membuat
sambungan tulang-tulangku jadi kacau," Jacob mengernyit.
"Bersikaplah baik dan turuti apa kata Carlise. Kau akan
pulih lebih cepat."
"Tentu, tentu."
"Aku ingin tahu kapan itu terjadi.” kataku. "Saat gadis
yang tepat datang menarik perhatianmu."


"Jangan berharap yang muluk-muluk Bella." Suara Jacob
mendadak terdengar masam. "Walaupun aku yakin itu pasti
akan membuatmu lega."
"Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin aku akan
menganggap dia tidak pantas untukmu. Entah akan
secemburu apa aku nanti."
"Asyik juga ya membayangkan bagian yang itu,” Jacob
mengakui.
"Beritahu aku kapan kau ingin aku datang lagi, dan aku
akan datang,” aku berjanji.
Sambil menghembuskan napas, Jacob menyodorkan
pipinya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Jacob."
Jacob tertawa renyah. "Aku mencintaimu lebih lagi."
Ia mengawasiku meninggalkan kamarnya dengan
ekspresi tak tertebak terpancar dari bola matanya yang
hitam.
27. KEB UTUHAN
BELUM terlalu jauh berjalan, aku sudah tak sanggup
lagi mengemudi .
Setelah aku tak bisa lagi melihat, kubiarkan ban trukku
menemukan bahu jalan yang kasar dan menggelinding
pelan hingga akhirnya berhenti. Aku merosot lemas di kursi
dan membiarkan kelemahan yang kutahan di kamar Jacob
tadi menindihku. Ternyata lebih parah daripada
perkiraanku, semburannya membuatku terkejut. Ya,
tindakanku tepat menyembunyikan ini dari Jacob. Tak
seharusnya orang melihat ini.


Tapi aku tidak terlalu lama sendirian – hanya sampai
Alice melihatku di sini, dan beberapa menit kemudian,
Edward pun datang. Pintu terbuka, dan ia menarikku ke
dalam pelukannya.
Mulanya lebih parah. Karena sebagian kecil diriku lebih
kecil, tapi semakin lama semakin keras dan semakin marah,
meneriaki sebagian diriku yang tersisa, yang mendambakan
sepasang lengan lain. Jadi ada perasaan bersalah yang
membumbui kesedihanku.
Edward tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan
aku menangis sampai aku menyebut-nyebut nama Charlie.
"Kau benar-benar siap untuk pulang?" tanya Edward
ragu.
Aku berhasil menyampaikan, setelah mencoba beberapa
kali, bahwa keadaan tidak akan membaik dalam waktu
singkat. Aku harus segera pulang menemui Charlie sebelum
malam kelewat larut dan ia menelepon Billy.
Maka Edward pun mengantarku pulang, sekali ini ia
bahkan tidak mengemudikan trukku mendekati batas
kecepatan internal, dengan sebelah tangannya memelukku
erat-erat. Sepanjang jalan aku berusaha keras
mengendalikan emosiku. Awalnya rasanya mustahil, tapi
aku pantang menyerah. Hanya beberapa detik, kataku
dalam hati. Katakan saja beberapa alasan, atau
berbohonglah sedikit, dan setelah itu aku bisa menangis
lagi. Aku pasti bisa melakukannya. Aku memeras
otak,mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan kekuatan.
Untunglah aku bisa menahan sedu sedanku,
menahannya tapi tidak mengakhirinya. Air mataku terus
membanjir. Sepertinya percuma saja mencoba
menghentikannya.


"Tunggu aku di atas,” gumamku sesampainya kami di
depan rumah.
Edward memelukku lebih erat selama satu menit dan
sejurus kemudian lenyap.
Begitu masuk ke rumah, aku langsung menuju tangga.
"Bella,” Charlie berseru memanggilku dari tempatnya
biasa berselonjor di sofa waktu aku melewatinya.
Aku menoleh padanya tanpa berbicara. Mata Charlie
membelalak dan ia buru-buru berdiri.
"Ada apa? apakah Jacob..?" tuntutnya.
Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha menemukan
suaraku.
“Dia baik-baik saja, dia baik-baik saja,” aku
menenangkan Charlie, suaraku rendah dan parau. Jacob
memang baik-baik saja secara fisik dan memang itulah yang
dikhawatirkan Charlie saat ini.
"Apa yang terjadi?" Charlie menyambar bahuku,
matanya masih membelalak cemas. "Kau kenapa?"
Penampilanku pasti lebih parah daripada yang
kubayangkan.
"Tidak apa-apa Dad. Aku... hanya harus berbicara
kepada Jacob tentang.... beberapa hal berat. Aku baik-baik
saja."
Kecemasan itu mereda, berganti dengan sikap tidak
setuju. "Benarkah ini saat yang tepat?"tanya Charlie.
"Mungkin tidak dari, tapi aku tidak punya pilihan lain,
ini sudah sampai pada titik aku harus memilih... terkadang
tidak ada jalan untuk berkompromi."


Charlie menggelengkan kepala lambat-lambat.
"Bagaimana dia menanggapinya?"
Aku tidak menjawab.
Charlie menatap wajahku sejenak, kemudian
mengangguk. Itu sudah pasti menjawab pertanyaannya.
"Mudah-mudahan kau tidak menyebabkan proses
pemulihannya terganggu."
"Dia cepat pulih kok,” gumamku.
Charlie mendesah.
Aku merasa pengendalian diriku mulai rapuh.
"Aku akan ke kamarku,” kataku, mengangkat bahu agar
pegangan Charlie terlepas.
"Baiklah," Charlie setuju. Mungkin ia bisa melihat air
mataku sudah nyaris tumpah. Tak ada yang lebih
menyakitkan Charlie ketimbang air mata.
Aku pergi ke kamar, buta dan tersandung-sandung.
Sesampainya di dalam, aku berusaha keras membuka
kaitan gelangku, mencoba membukanya dengan jari-Jari
gemetar.
"Tidak Bella,” bisik Edward, memegang tanganku. "Itu
bagian dirimu."
Ia menarikku lagi ke dalam pelukannya sementara sedu
sedanku kembali pecah.
Hari yang sangat melelahkan ini sepertinya akan terus
berjalan terus dan terus dan terus. Entah kapan bakal
berakhir.
Tapi meskipun malam berlalu dengan lambat, ini
bukanlah malam terburuk dalam hidupku. Kuhibur diriku


dengan kenyataan itu. Dan aku tidak sendirian. Itu sangat
menghibur.
Ketakutan Charlie pada ledakan emosional membuatnya
enggan mengecek keadaanku, padahal suara tangisku
lumayan berisik – mungkin ia juga tidak bisa tidur, sama
seperti aku.
Malam ini, ingatan masa laluku jelas sekali. Aku bisa
melihat setiap kesalahan yang pernah kubuat, setiap
kerusakan yang kuakibatkan, hal-hal kecil maupun besar.
Setiap kepedihan yang kutimbulkan di hati Jacob, setiap
luka yang kuberikan kepada Edward, bertumpuk dalam
tumpukan tapi yang tak mungkin kuabaikan atau
kusangkal.
Dan aku sadar selama ini aku keliru mengenai masalah
magnet itu. Ternyata bukan Edward dan Jacob yang
kupaksakan untuk hidup berdampingan, tapi dua bagian
diriku, Bellanya Edward dan Bellanya Jacob. Mereka tidak
bisa hidup berdampingan, dan seharusnya aku tak pernah
mencoba melakukannya.
Aku telah mengakibatkan banyak sekali kerusakan.
Di satu titik pada malam itu, aku teringat janji yang
kubuat sendiri pagi-pagi sekali tadi – bahwa aku takkan
pernah membuat Edward melihatku meneteskan air mata
lagi untuk Jacob Black. Pikiran itu menimbulkan histeria
baru yang membuat Edward ketakutan, lebih daripada
tangisanku. Tapi akhirnya histeria itu berlalu juga.
Edward tidak banyak bicara, ia hanya memelukku di
tempat tidur dan membiarkan aku menghancurkan
kemejanya, menodainya dengan air mata.
Butuh waktu lebih lama daripada yang kukira bagi
sebagian kecil hatiku menangisi dirinya. Tapi setelah


selesai, akhirnya aku cukup kelelahan untuk tidur. Keadaan
tidak sadar tak lantas membuatku terbebas dari kesedihan,
hanya kelegaan tumpul sesaat, seperti obat. Membuatnya
lebih tertahankan. Tapi rasa sakit itu masih ada, aku bisa
merasakannya, bahkan dalam keadaan tidur, dan itu
membantuku membuat beberapa penyesuaian yang perlu
kulakukan.
Pagi hari membawa, walaupun bukan suasana hati yang
lebih ceria, setidaknya sedikit perasaan terkendali, perasaan
bisa menerima. Secara naluriah aku tahu luka baru di
hatiku akan selalu terasa sakit. Itu akan menjadi bagian
diriku sekarang. Waktu akan membuat keadaan jadi lebih
mudah, begitulah yang selalu dikatakan orang. Tapi aku tak
peduli apakah waktu akan menyembuhkan aku atau
tidak,asal Jacob bisa pulih kembali. Bisa bahagia lagi.
Waktu bangun aku tidak mengalami Disorientasi.
Kubuka mata, akhirnya kering juga dan mataku tertumbuk
pada tatapan Edward yang waswas.
"Hai,” sapaku. Suaraku serak. Aku berdehem-dehem,
membersihkan tenggorokanku.
Edward tidak menyahut, ia menatapku. Menunggu
tangisku meledak.
"Tidak, aku tidak apa-apa.” janjiku. "Itu tidak akan
terjadi lagi."
Matanya mengejang mendengar kata-kataku.
"Maafkan aku karena kau harus melihatnya," ujarku.
“itu tidak adil bagimu."
Edward merengkuh kedua pipiku.


"Bella... apakah kau yakin? Apakah pilihanmu benar?
Aku tidak pernah melihatmu sesedih itu..." Suaranya pecah
saat mengucapkan kata terakhir.
Tapi aku sudah pernah mengalami yang lebih sedih dari
pada ini.
Kusentuh bibirnya. "Ya."
"Entahlah..." Kening Edward berkerut. "Kalau itu sangat
menyakitkan bagimu, bagaimana mungkin itu pilihan yang
benar?"
"Edward, aku tahu tanpa siapa aku tidak bisa hidup."
''Tapi..."
Aku menggeleng. "Kau tidak mengerti. Kau mungkin
cukup tabah atau cukup kuat untuk hidup tanpa aku, kalau
memang itu yang terbaik. Tapi aku takkan pernah sanggup
mengorbankan diriku seperti itu. Aku harus bersamamu.
Hanya dengan begitu aku bisa hidup."
Edward masih tampak ragu. Seharusnya aku tidak
membiarkan ia menemaniku semalam. Tapi semalam aku
sangat membutuhkan dia...
"Bisa tolong ambilkan buku itu?" pintaku, menuding ke
balik bahunya.
Alis Edward bertaut bingung, tapi dengan cepat
diberikannya buku itu padaku.
"Ini lagi?" tanyanya.
"Aku hanya ingin menemukan satu bagian yang
kuingat... untuk melihat bagaimana dia mengatakannya..."
Kubolak-balik halaman buku itu, dengan mudah
menemukan halaman yang kuinginkan. Sudut halamannya
sudah kumal, saking seringnya aku berhenti di sana. "Cathy


memang monster, tapi dalam beberapa hal ia benar,” ujarku. Ku
bacakan kalimat-kalimat itu dengan suara pelan,
kebanyakan untuk diriku sendiri. "Jikalau yang lain-lain
lenyap. tapi dia tetap ada. aku akan tetap ada. Namun jikalau
yang lain-lain bertahan, tapi dia lenyap, jagat raya akan berubah
menjadi tempat yang sangat asing." Aku mengangguk, lagi-lagi
ditujukan kepada diriku sendiri. "Aku tahu persis
maksudnya. Dan aku tahu tanpa siapa aku tidak bisa
hidup."
Edward mengambil buku itu dari tanganku dan
melemparnya ke ujung ruangan... benda itu mendarat di
meja dengan suara berdebam pelan. Dipeluknya
pinggangku.
Senyum kecil menghiasi wajahnya yang sempurna,
walaupun kekhawatiran masih menggurat di keningnya.
“Heathcliff juga memiliki momen-momen terbaiknya,” kata
Edward. Ia tidak membutuhkan buku itu untuk menirukan
kalimatnya dengan sempurna. Ia mempererat pelukannya
dan berbisik di telingaku, "Aku tak sanggup hidup tanpa
hidupku! Aku tak sanggup hidup tanpa jiwaku."
"Benar," ucapku pelan. "Begitulah maksudku."
"Bella, aku tidak tahan melihatmu merana. Mungkin..."
"Tidak, Edward. Aku sudah banyak membuat
kekacauan, dan aku harus menanggung semua risikonya.
Tapi aku tahu apa yang kuinginkan dan apa yang
kubutuhkan... dan apa yang kulakukan sekarang."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Aku tersenyum mendengar Edward mengoreksi
perkataanku tadi, kemudian mendesah, "kita akan pergi
menemui Alice."


Alice duduk di undakan teras paling bawah, terlalu
bersemangat untuk menunggu kami di dalam. Ia seperti
hendak melakukan tarian penyambutan, begitu girangnya
karena kabar yang ia tahu bakal kusampaikan.
"Terima kasih, Bella!"' Alice berseru begitu Edward dan
aku keluar dari truk.
"Tunggu dulu, Alice,” aku mengingatkan, mengangkat
tangan untuk menghentikan tawa riangnya. "Aku punya
beberapa batasan."
"Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Aku hanya punya waktu
sampai tanggal 13 Agustus, kau mendapat hak veto untuk
menentukan daftar tamu, dan kalau aku berlebihan
melakukan apa saja, kau takkan sudi bicara lagi denganku."
"Oke, oke. well, yeah. Kau sudah tahu aturan-aturannya,
kalau begitu."
“Jangan khawatir, Bella, ini pasti akan sempurna. Mau
melihat gaunmu tidak!"
Aku sampai harus menarik napas dalam-dalam beberapa
kali. Apa saja asal dia bahagia, batinku.
"Tentu."
Alice tersenyum menang.
"Ehm, Alice.” ujarku, berusaha tetap memperdengarkan
nada tenang dan biasa-biasa saja. "Kapan kau membelikan
aku gaun?"
Mungkin gaunnya tidak terlalu heboh. Edward meremas
tanganku.
Alice berjalan mendahului menuju tangga. "Hal-hal
seperti ini akan butuh waktu, Bella.” Alice menjelaskan.
Nadanya seperti... mengelak. "Maksudku, aku kan tidak


yakin keadaan akan jadi seperti ini, tapi ada kemungkinan
nyata..."
"Kapan?" tanyaku lagi.
"Di Perrine Bruyere kan ada daftar tunggunya, kau
tahu,” sergahnya, sikapnya sekarang defensif. "Gaun
Masterpiece tidak bisa diciptakan hanya semalam. Kalau
aku tidak berpikir jauh sebelumnya, bisa-bisa kau memakai
gaun pengantin siap pakai!"
Kelihatannya aku tidak akan mendapat jawaban
langsung "Per..siapa?"
"Dia bukan perancang besar Bella, jadi kau tidak perlu
senewen. Tapi dia sudah berjanji bisa memenuhi
kebutuhanku."
"Aku tidak senewen."
"Tidak, memang tidak." Ia mengawasi wajahku yang
tenang dengan sikap curiga. Kemudian saat kami memasuki
kamarnya, ia berpaling kepada Edward.
"Kau... keluar."
"Kenapa?"sergahku
"Bella,” Alice mengerang. "Kau kan tahu aturannya. Dia
tidak boleh melihat gaun pengantinmu sampai hari H."
Lagi-lagi aku menghela napas dalam-dalam. "Itu tidak
masalah bagiku. Lagi pula dia sudah melihatnya di
kepalamu. Tapi kalau memang itu yang kau inginkan..."
Alice mendorong Edward keluar. Edward bahkan tidak
memandang Alice sedikit pun.. matanya tertuju padaku,
cemas, takut meninggalkan aku sendirian.
Aku mengangguk, berharap ekspresiku cukup tenang
untuk meyakinkannya.


Alice menutup pintu tepat di depan wajah Edward.
"Baiklah!" seru Alice. "Ayo."
Disambarnya tanganku dan ditariknya aku ke ruang
penyimpanan pakaiannya yang ukurannya lebih besar
daripada kamar tidurku lalu diseretnya aku ke pojok bagian
belakang. Di sana sebuah kantong putih panjang
digantungkan sendiri di rak.
Alice membuka ristleting kantong itu dengan sekali
tarikan dan dengan hati-hati mengeluarkannya dari
gantungan. Ia mundur selangkah, mengacungkan gaun itu
seperti pembawa acara kuis.
"Bagaimana?" tanyanya menahan napas.
Aku mengamati gaun itu lama sekali. sedikit
mempermainkan Alice. Ekspresinya berubah waswas.
"Ah,” ujarku, dan aku tersenyum, membiarkannya
rileks. "Begitu."
"Bagaimana menurut pendapatmu?" desaknya.
Benar-benar mirip bayanganku tentang gaun dalam kisah
Anne of Green Gables.
"Sempurna, tentu saja. Sungguh tepat. Kau memang
genius."
Alice nyengir. "Aku tahu.'"
"Seribu sembilan ratus delapan belas?" tebakku.
"Kurang-lebih.” jawab Alice, mengangguk. "Sebagian
rancanganku sendiri, cadarnya.” Disentuhnya satin putih
itu sambil berbicara. "Rendanya vintage lho. Kau suka?"
"Cantik sekali. Sangat tepat untuk Edward.”
“Tapi tepat tidak untukmu?" desak Alice.


"Ya, kurasa ya, Alice. Menurutku, ini tepat sesuai
kebutuhanku. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya
dengan sangat baik... asal kau bisa menahan diri."
Alice berseri-seri.
"Bolehkah aku melihat gaunmu? tanyaku.
Alice mengerjapkan mata, wajahnya kosong.
"Masa kau tidak memesan gaun untukmu juga? aku kan
tidak mau pendampingku mengenakan gaun siap pakai,"
aku pura-pura meringis ngeri.
Alice memeluk pinggangku. "Terima kasih, Bella!"
"Bagaimana mungkin kau tidak bisa memprediksikan hal
itu?" godaku, mengecup rambutnya yang jabrik.
"Paranormal apa!"
Alice, mundur sambil menari-nari, wajahnya berseri-seri
oleh antusiasme baru. "Banyak sekali yang harus ku
kerjakan! Sana, mainlah dengan Edward. Aku harus
bekerja."
Ia menghambur ke luar ruangan, berteriak. “Esme!" lalu
langsung lenyap.
Aku mengikutinya keluar tanpa terburu-buru. Edward
sudah menunggu di lorong, bersandar di dinding berlapis
panel kayu.
"Kau amat sangat baik,” katanya.
"Sepertinya dia bahagia,” aku sependapat.
Edward menyentuh wajahku, matanya terlalu gelap,
sudah lama sekali sejak ia meninggalkan aku, mengamati
ekspresiku dengan seksama.
"Ayo kita pergi dari sini,” usulnya tiba-tiba. "Kita pergi
ke padang rumput kita."


Kedengarannya sangat menarik. "Kurasa aku tidak perlu
bersembunyi lagi, ya?"
"Tidak, bahaya sudah lewat."
Edward terdiam, merenung, saat ia berlari. Angin
berhembus kencang di wajahku, cuaca sekarang lebih
hangat karena badai sudah benar-benar berlalu. Awan-awan
menutupi langit seperti biasa.
Hari ini padang rumput menjadi tempat yang tenang dan
membahagiakan. Perak-perak bunga aster musim panas
menyelingi rerumputan dengan semburat warna putih dan
kuning. Aku berbaring telentang, tak memedulikan tanah
yang agak basah, dan memandangi bentuk-bentuk di awan,
namun awan terlalu datar, kelewat mulus. Tidak ada
gambar, yang ada hanya selimut kelabu lembur.
Edward berbaring di sebelahku dan menggenggam
tanganku.
"Tiga belas Agustus!" tanya Edward dengan nada sambil
lalu setelah beberapa menit berdiam diri, menikmati
kedamaian.
"Itu tepat satu bulan sebelum ulang tahunku. Aku tidak
mau umur kita terpaut terlalu jauh."
Edward mendesah. "Esme tiga tahun lebih tua daripada
Carlisle secara teknis. Kau tahu itu"
Aku menggeleng.
"Tak ada bedanya bagi mereka."
Suaraku tenang, berlawanan dengan kegelisahannya.
"Berapa umurku tidaklah terlalu penting. Edward, aku
sudah siap. Aku sudah memilih hidupku – sekarang aku
ingin mulai menjalaninya."


Edward mengelus-elus rambutku. "Hak veto menentukan
daftar tamu?"
'Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, tapi aku.." Aku
ragu-ragu, tidak ingin menjelaskan masalah yang satu ini.
Tapi lebih baik menuntaskannya saja sekalian. "Aku tak
yakin apakah Alice akan merasa perlu mengundang...
beberapa werewolf. Aku tidak tahu apakah Jake akan merasa
apakah... apakah sebaiknya dia datang. Apakah itu hal yang
benar yang harus dilakukan, atau apakah aku akan merasa
terluka jika dia tidak datang. Seharusnya Jacob tidak perlu
mengalami hal itu."
Sesaat Edward terdiam. Aku memandangi pucuk-pucuk
pohon, nyaris hitam dengan latar belakan langit yang abuabu
muda.
Tiba-tiba Edward meraih pinggangku dan menarikku ke
dadanya. "Katakan padaku, kenapa kau melakukan hal ini
Bella. Kenapa justru sekarang kau memutuskan memberi
keleluasaan kepada Alice?"
Aku mengulangi pembicaraanku dengan Charlie
semalam, sebelum pergi menemui Jacob.
"Tidak adil kalau aku tidak melibatkan Charlie dalam hal
ini,” aku menyimpulkan. "Dan itu juga berarti Renee dan
Phil. Jadi sekalian saja membuat Alice senang. Mungkin
akan lebih mudah bagi Charlie jika dia bisa mengucapkan
selamat berpisah secara benar. Walaupun dia menganggap
ini terlalu dini, aku tidak mau merenggut kesempatannya
berjalan mendampingiku menuju altar." Aku meringis saat
mengucapkan kata-kata itu, lalu kembali menghela napas
dalam-dalam. "Paling tidak ayah, ibu, dan teman-temanku
akan mengetahui bagian terbaik pilihanku, bagian terbesar
yang bisa kukatakan kepada mereka. Mereka akan tahu aku
memilihmu, dan mereka akan tahu bahwa kita bersama-


sama. Mereka akan tahu aku bahagia, di mana pun aku
berada. Menurutku, itu hal terbaik yang bisa kulakukan
untuk mereka."
Edward memegangi wajahku, mengamatinya sebentar.
"Kesepakatan batal,” tukasnya tiba-tiba.
"Apa?" aku terkesiap. "kau mau mundur sekarang?
Tidak!”
"aku bukan mau mundur, Bella. Aku akan tetap
menepati kesepakatan yang menjadi bagianku, tapi kau
bebas, apa pun yang kau inginkan, tanpa ikatan."
"Kenapa?"
"Bella, aku melihat apa yang kaulakukan. Kau berusaha
membuat semua orang lain bahagia, padahal aku tidak
peduli perasan orang lain. Aku hanya ingin kau bahagia.
Jangan bingung memikirkan bagaimana menyampaikan
kabar ini kepada Alice. Biar aku yang melakukannya. Aku
berjanji dia tidak akan membuatmu merasa bersalah."
"Tapi aku...”
"Tidak. kita akan melakukannya dengan caramu. Karena
caraku ternyata tidak berhasil. Aku menyebutmu keras
kepala, tapi lihat apa yang telah kulakukan. Aku begitu
ngotot mempertahankan apa yang kuanggap terbaik
untukmu, meskipun itu hanya menyakiti hatimu. Sangat
menyakitimu, berulang kali. Aku tidak percaya lagi pada
diriku sendiri. Kau boleh memiliki kebahagiaan sesuai
caramu. Caraku selalu saja salah.
"Jadi..." Edward bergerak ke bawah tubuhku,
menegakkan bahunya. "kita akan melakukannya sesuai
caramu, Bella. Malam ini. Hari ini. Semakin cepat semakin
baik. Aku akan bicara dengan Carlise. Kupikir mungkin


kalau kami memberimu morfin cukup banyak kau tidak
akan merasa terlalu kesakitan. Patut dicoba," Edward
menggertakkan giginya.
"Edward, tidak. "
Edward menempelkan jarinya di bibirku. “Jangan
khawatir, Bella sayang. Aku tidak melupakan tuntutanmu
yang lain."
Tangan Edward menyusup ke dalam rambutku, bibirnya
bergerak lembut, tapi sangat serius – di bibirku, sebelum aku
menyadari apa yang dikatakannya. Apa yang dilakukannya.
Tak banyak waktu untuk bertindak. Kalau terlalu lama
menunggu aku tidak akan mampu mengingat kenapa aku
harus menghentikan Edward. Sekarang saja aku sudah tidak
bisa bernapas dengan benar. Tanganku mencengkeram
lengannya, menempelkan tubuhku lebih erat lagi ke
tubuhnya, bibirku menempel di bibirnya dan menyahuti
setiap pertanyaan yang tak terucapkan olehnya.
Aku berusaha menjernihkan isi kepalaku, mencari cara
untuk berbicara.
Edward berguling pelan, menindihku di rerumputan
yang sejuk.
“Oh masa bodohlah!” sorak sisi lain diriku kegirangan.
Kepalaku dipenuhi wangi napasnya.
Tidak, tidak. tidak. aku berdebat dengan diriku sendiri.
Aku menggeleng, dan bibir Edward beralih ke leherku,
memberiku kesempatan untuk bernapas.
"Hentikan. Edward. Tunggu." Suaraku sama lemahnya
dengan tekadku.
"Kenapa?” bisik Edward di cekungan leherku.


Aku berusaha keras memperdengarkan nada penuh tekad
dalam suaraku. “aku tidak mau melakukan ini sekarang."
"ah, masa?" tanyanya. suaranya mengandung senyum.
Bibirnya kembali beralih ke bibirku sehingga membuatku
tak bisa bernapas. Gairah menderas di pembuluh darahku,
membakar kulitku yang bersentuhan dengan kulitnya.
Aku memaksa diriku untuk berkonsentrasi. Dibutuhkan
usaha yang lumayan keras hanya untuk memaksa tanganku
meninggalkan rambutnya. memindahkannya ke dada
Edward. Tapi aku berhasil melakukannya. Kemudian aku
mendorongnya berusaha menjauhkannya dariku. Aku tidak
mungkin bisa melakukannya sendirian, tapi seperti kuduga,
Edward meresponsku.
Ia mundur beberapa sentimeter untuk memandangiku,
dan sorot matanya tidak membantu sama sekali. mata itu
hitam berapi-api. Menyala-nyala.
"Kenapa?" tanyanya lagi. suaranya rendah dan parau.
"aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Sekarang juga."
Kupu-kupu di perutku membanjiri kerongkongan.
Edward memanfaatkan kebisuanku.
"Tunggu, tunggu,” aku berusaha berbicara di sela-sela
ciumannya.
“Tidak untukku,” bisik Edward tidak setuju.
"Please?" aku terkesiap.
Edward mengerang, dan menjauhkan dirinya dariku,
berguling dan kembali telentang.
Kami berbaring di sana beberapa saat, berusaha
menenangkan napas yang memburu.
"Katakan padaku kenapa tidak sekarang, Bella,” tuntut
Edward. "Sebaiknya alasannya bukan karena aku."


Segala sesuatu di duniaku adalah karena dia. Sungguh
konyol bila berharap lain.
"Edward, ini sangat penting bagiku. Aku akan
melakukannya dengan benar."
"Benar menurut definisi siapa?"
"Definisiku."
Edward berguling dan bertumpu pada sikunya,
memandangiku, ekspresinya tidak setuju.
"Bagaimana kau akan melakukannya dengan benar?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Dengan bertanggung
jawab. Semuanya dalam urutan yang benar. Aku tidak akan
meninggalkan Charlie dan Renee tanpa resolusi terbaik
yang bisa kuberikan pada mereka. Aku juga tidak akan
merenggut kebahagiaan Alice, bahwa aku tetap akan
menikah. Dan aku akan mengikatkan diriku padamu dalam
setiap cara manusia yang mungkin dilakukan, sebelum aku
memintamu membuatku menjadi abadi. Aku akan
mengikuti aturan yang ada, Edward. Jiwamu jauh terlalu
penting bagiku untuk dipertaruhkan. Kau tidak akan bisa
menggoyahkan keputusanku ini.”
"Berani bertaruh, aku pasti bisa,” bisik Edward, matanya
kembali menyala-nyala.
"Tapi kau tidak akan melakukannya,” kataku, berusaha
agar suaraku tetap tenang. "Tidak karena kau tahu inilah
yang benar-benar kuinginkan.
"Kau tidak bertarung secara adil,” tuduh Edward.
Aku nyengir, "Aku memang tidak pernah bilang begitu.”
Edward membalas senyumku, sendu, "kalau kau berubah
pikiran .."


"Kau akan jadi orang pertama yang tahu,” janjiku.
Hujan mulai menetes menerobos awan,beberapa butir
airnya menimbulkan bunyi tes-tes pelan begitu menyentuh
rumput.
Aku memandang sebal ke langit.
"Kuantar kau pulang. Edward menyapu beberapa butir
air dari pipiku.
"Hujan bukan masalah,” gerutuku. "itu hanya berarti
sekarang saatnya pergi untuk melakukan sesuatu yang
sangat tidak menyenangkan dan bahkan mungkin sangat
berbahaya.”
Mata Edward membelalak panik.
"Untung saja kau antipeluru," aku mendesah. "aku
membutuhkan cincin itu. sekarang saatnya memberitahu
Charlie.”
Edward tertawa melihat ekspresiku. "sangat berbahaya,”
ia sependapat/lagi-lagi ia tertawa, lalu merogoh saku
jinsnya.
"Tapi paling tidak sekarang tidak perlu lagi melakukan
perjalanan sampingan.”
Sekali lagi Edward menyelipkan cincin itu ke jari manis
tangan kiriku. Cincin itu akan selalu berada di sana selamalamanya.
EPIL OG – PIL IHAN
JACOB BLACK
"Jacob, menurutmu ini akan berlangsung lebih lama
lagi?" tuntut Leah. Tidak sabar. Mengeluh.


Aku mengertakkan gigi gemas.
Seperti halnya semua orang lain dalam kawanan, Leah
tahu segala-galanya. Ia tahu kenapa aku datang ke sini – ke
ujung bumi, langit, dan laut. Untuk menyendiri. Ia tahu
hanya inilah yang kuinginkan. Sendirian.
Namun Leah tetap saja memaksa menemaniku.
Selain merasa sangat terganggu, aku sempat merasa
puas. Karena aku bahkan tak perlu berpikir bagaimana
mengendalikan amarahku. Mudah saja sekarang, aku
tinggal melakukannya, begitu saja. Kabut merah itu tidak
menggelapkan mataku. Panas tidak menggetarkan tulang
belakangku. Suaraku tenang ketika aku menjawab.
“Lompat saja dari tebing, Leah," aku menuding tebing di
bawah kakiku.
"Yang benar saja, Nak," Leah mengabaikanku,
membaringkan tubuhnya ke tanah di sebelahku. "asal tahu
saja, ini sulit sekali bagiku."
"Bagimu?" Butuh semenit untuk percaya bahwa ia serius.
"Pastilah kau orang paling egois yang pernah hidup, Leah.”
“Sebenarnya aku tak ingin menghancurkan dunia mimpi
yang kautinggali – dunia di mana matahari mengorbit
tempatmu berpijak – jadi aku tidak mau repot-repot
mengatakan betapa tidak pedulinya aku pada masalahmu.
Pergi. Sana."
"Cobalah melihatnya dari sudut pandangku sebentar,
oke?" sambung Leah, seolah-olah aku tak pernah
mengatakan apa-apa.
Kalau ia berusaha merusak suasana hariku, ia berhasil.
Tawaku pecah. Anehnya, suara itu menyakitkan.
"Berhenti mendengus dan perhatikan,” bentaknya.


"Kalau aku pura-pura mendengarkan, kau mau pergi
tidak?'' tanyaku, melirik ekspresi cemberut yang selamanya
menghiasi wajahnya. Tidak tahu apakah ia masih memiliki
ekspresi lain.
Ingatanku melayang ke masa lalu, saat aku dulu
menganggap Leah manis, bahkan mungkin cantik. Itu
sudah lama sekali. Tak ada lagi yang menganggapnya
begitu sekarang. Kecuali Sam. Sam tak akan pernah
memaafkan dirinya sendiri. Seakan-akan, Leah jadi wanita
pahit ini karena kesalahan Sam.
Wajah cemberut Leah semakin menjadi-jadi, seolah-olah
ia tahu apa yang kupikirkan. Dan mungkin kecurigaanku
itu benar.
"Ini membuatku muak, Jacob. Bisakah kaubayangkan
bagaimana rasanya bagiku? Aku bahkan tidak menyukai
Bella Swan. Tapi kau membuatku menangisi si pencinta
lintah ini, seolah-olah aku juga mencintainya. Bisa kau lihat
kan, kalau itu sedikit membingungkan? Masa aku bermimpi
menciumnya semalam! Bagaimana aku harus menghadapi
hal itu, coba?”
"Memangnya aku peduli?"
"Aku tidak tahan lagi berada dalam pikiranmu! Lupakan
dia sekarang juga! Dia akan menikah dengan makhluk itu.
Makhluk itu akan berusaha mengubahnya menjadi seperti
mereka! Sekarang saatnya melanjutkan hidup, nak."
"Tutup mulut" geramku.
Salah kalau aku balas menyerang. Aku tahu itu. Kugigit
lidahku, tapi Leah bakal menyesal kalau tidak menyingkir
dari sini. Sekarang juga.
"Jangan-jangan dia malah akan membunuhnya,” sergah
Leah, tersenyum mengejek. "Konon menurut cerita-cerita,


lebih seringnya begitu. Mungkin pemakaman akan jadi
akhir yang lebih baik daripada pernikahannya."
Kali ini aku harus berusaha keras. Kupejamkan mataku
dan berjuang melawan rasa masam dalam mulutku.
Kulawan sekuat tenaga api yang menjalari punggungku,
berjuang mempertahankan wujudku sementara tubuhku
bergetar, hendak pecah.
Setelah bisa mengendalikan diri lagi, kupelototi Leah. Ia
memandangi kedua tanganku saat getarannya mulai
melambat.
Tersenyum.
“Apanya yang lucu?”
“Kalau kau kesal karena bingung masalah gender,
Leah..,” ujarku. lambat, menekankan setiap kata.
"Bagaimana menurutmu perasaan kami-kami ini, menatap
Sam melalui matamu? Emily sudah cukup kewalahan
karena harus menghadapi ngototanmu. Dia tentu tidak suka
kalau kami cowok-cowok juga megap-megap merindukan
pacarnya.”
Meskipun kesal terap saja aku merasa bersalah waktu
kulihat Leah tersentak sedih.
Ia buru-buru berdiri berhenti sebentar untuk meludahiku
lalu menghambur ke arah pepohonan, bergetar seperti
garputala.
Aku tertawa sengit. “Tidak kena.”
Sam pasti akan memarahiku habis-habisan gara-gara itu,
tapi itu sebanding dengan kepuasan yang kuperoleh. Leah
tidak akan menggangguku lagi. Dan aku akan
melakukannya lagi kalau ada kesempatan. Karena katakatanya
masih mengendap di sana, menggaruk-garuk di


benakku, sangat menyakitkan sampai aku nyaris tidak bisa
bernapas.
Aku masih bisa menerima kenyataan bahwa Bella
memilih orang lain dan bukan aku. Kepedihan itu bukan
apa-apa. Aku sanggup menanggung kepedihan itu selama
sisa hidupku yang tolol, terlalu panjang dan lama ini.
Tapi yang tidak bisa kuterima adalah, Bella rela
melepaskan segalanya, bahwa ia akan membiarkan
jantungnya berhenti berdetak dan kulitnya membeku seperti
es dan pikirannya terpuntir dan mengkristal menjadi otak
predator. Menjadi monster. Menjadi orang asing.
Menurutku, tak ada yang lebih buruk daripada itu, tak
ada yang lebih menyakitkan daripada itu di seluruh penjuru
dunia.
Tapi, kalau Edward membunuhnya...
Lagi-lagi aku harus berusaha keras melawan amarah.
Mungkin, kalau bukan karena Leah, akan lebih baik jika
aku membiarkan amarah ini mengubahku menjadi makhluk
yang bisa menanganinya dengan lebih baik. Makhluk yang
instingnya jauh lebih kuat daripada emosi manusia. Hewan
yang tidak bisa merasakan kepedihan dengan cara yang
sama. Kepedihan yang berbeda, setidaknya ada variasi.
Tapi Leah sedang berlari-lari sekarang dan aku tidak ingin
mendengarkan pikirannya. Kumaki dia dalam hati karena
merenggut jalan keluar itu dariku.
Bertentangan dengan keinginanku, kedua tanganku
bergetar. Apa yang membuatnya gemetar? Amarah?
kepedihan? Entah apa yang sedang kulawan saat ini.
Aku harus yakin Bella akan selamat. Tapi itu
membutuhkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak ingin


kurasakan, kepercayaan bahwa penghisap darah itu
memiliki kemampuan membuat Bella tetap hidup.
Bella menjadi sosok berbeda, dan aku penasaran
bagaimana itu akan mempengaruhiku. Apakah akan sama
dengan bila ia meninggal dunia, melihat Bella berdiri di
sana seperti batu? seperti es? Jika bau badannya membakar
lubang hidungku dan memicu timbulnya naluri untuk
mengoyak, merobek, bagaimana jadinya nanti?
Mungkinkah aku ingin membunuhnya? Mungkinkah aku
mampu tidak membunuh salah seorang di antara mereka?
Kupandangi ombak yang bergulung-gulung menuju
pantai, lenyap dari pandangan di bawah air tebing, tapi aku
mendengarnya mengempas pasir. Kupandangi terus sampai
jauh malam, lama setelah hari gelap.
Pulang mungkin bukan ide yang baik, tapi aku lapar, dan
aku tak punya rencana lain.
Sambil mengernyit aku memasukan lenganku ke
penyangga konyol ini dan menyambar krukku. kalau saja
Charlie tidak melihatku hari itu dan menyebarkan kabar
tentang 'kecelakaan motor' yang menimpaku, properti
konyol, benci betul aku pada benda-benda ini.
Merasa lapar sepertinya lebih baik daripada pulang
begitu aku berjalan memasuki rumah dan melihat wajah
ayahku. Pasti ada sesuatu. Mudah saja menebaknya –
ayahku selalu bersikap berlebihan kalau sedang ada
masalah. Sok biasa-biasa saja.
Ia juga terlalu banyak bicara. Belum lagi aku sampai ke
meja makan, Billy sudah mengoceh tidak karuan tentang
kegiatannya hari itu. Ia tidak pernah mengoceh seperti ini
kecuali ada sesuatu yang tidak ingin ia katakan. Sebisa
mungkin kuabaikan dia, berkonsentrasi pada makanan.
Semakin cepat aku menelannya...


“...dan Sue datang ke sini hari ini.”
Suara ayahku keras. Sulit diabaikan. Seperti biasa.
"Wanita luar biasa. Lebih perkasa daripada beruang grizzly,
wanita satu itu. Tapi entah bagaimana dia menghadapi
putrinya. Sebenarnya Sue bisa menjadi serigala yang hebat.
Kalau Leah, dia lebih cocok jadi anjing hutan.” Billy
terkekeh mendengar leluconnya sendiri.
Ayahku menunggu responsku sebentar, tapi sepertinya
tidak melihat ekspresiku yang kosong dan bosan setengah
mati.
Biasanya itu membuatnya kesal. Aku berharap ayahku
tutup mulut dan tidak lagi membicarakan Leah. Aku sedang
berusaha untuk tidak memikirkan dia.
"Kalau Seth jauh lebih mudah. Tentu saja, kau juga lebih
mudah daripada kakak-kakak perempuanmu, sampai... well,
kau harus menghadapi lebih banyak masalah daripada
mereka."
Aku mengembuskan napas, panjang dan dalam, lalu
memandang ke luar jendela.
Billy terdiam sekali. "kita mendapat surat hari ini.” Aku
bisa menebak inilah topik yang sejak tadi dihindari ayahku.
"Surat?”
"Eh... undangan pernikahan.”
Setiap otot tubuhku mengunci di tempat. Secercah
perasaan panas seolah menyapu punggungku. Kupegangi
meja dengan kedua tangan untuk menenangkan diri.
Billy terus saja bicara seolah tidak memperhatikan. "di
dalamnya ada surat yang ditujukan padamu. Aku tidak
membacanya.”


Billy menarik sehelai amplop tebal berwarna putih
gading dari tempatnya yang terjepit di antara kaki Billy dan
bagian samping kursi rodanya. Diletakkannya amplop itu di
meja di antara kami.
"Mungkin kau tidak perlu membacanya. Isinya mungkin
tidak terlalu penting.”
Psikologi terbalik yang konyol. Dengan kasar kurenggut
amplop itu dari meja.
Kertasnya tebal dan kaku. Mahal. Terlalu mewah untuk
ukuran Forks. Undangan di dalamnya juga sama, kelewat
mewah dan formal. Pasti bukan pilihan Bella. Tidak ada
tanda selera pribadinya di lembaran-lembaran kertas
menerawang dengan cetakan berwarna pastel ini. Taruhan,
ia pasti tidak menyukainya sama sekali. Aku tidak
membaca kata-katanya, bahkan tidak melihat tanggalnya.
Aku tidak peduli. Ada selembar kertas tebal berwarna putih
gading yang di lipat dua, namaku ditulis tangan dengan
tinta hitam di belakangnya. Aku tidak mengenali
tulisannya, tapi tampak sama mewahnya dengan semua
yang lain. Selama setengah detik aku bertanya-tanya apakah
si penghisap darah berniat sesumbar?
Kubuka lipatan kertas itu.
Jacob
aku melanggar aturan dengan mengirimkan ini kepadamu. Dia
takut ini akan melukai hatimu dan dia tidak ingin membuatmu
merasa wajib untuk datang. Tapi aku tahu seandainya aku berada
dalam posisimu saat ini, aku pasti juga ingin diberi pilihan.
Aku berjanji akan menjaganya dengan baik Jacob.
terima kasih untuk dia untuk segalanya.
Edward


"Jake, kita hanya punya satu meja,” Billy mengingatkan.
Ia memandang tangan kiriku.
Jari-jariku begitu kuat mencengkeram kayu meja hingga
benda itu terancam pecah berkeping-keping. Kulonggarkan
jariku satu persatu, berkonsentrasi melakukannya,
kemudian menggenggam telapak tanganku supaya tidak
memecahkan apa pun.
"Yeah, tidak apa-apalah,” gumam Billy
Aku bangkit dari kursi, menggerakkan tubuh untuk
membuka baju. mudah-mudahan Leah sudah pulang
sekarang.
"Belum terlambat,” gumam Billy waktu menuju pintu
depan yang menghalangi jalanku.
Aku sudah berlari sebelum mencapai pepohonan, bajuku
mencabik-cabik di belakangku seperti sederet remah-remah
roti, padahal aku tak ingin menemukan jalan pulang.
sekarang mudah sekali berubah wujud. Aku tak perlu
berpikir lagi, tubuhku sudah tau apa yang kuinginkan dan
sebelum aku memintanya, sudah memberikan apa yang
kuinginkan.
Sekarang aku punya empat kaki, dan aku berlari
bagaikan terbang.
Pohon yang tampak kabur bagaikan lautan luas
mengambang sekelilingku. Otot-ototku mengeras dan
meregang dalam ritme yang nyaman. aku sanggup berlari
seperti ini selama berhari-hari dan tidak merasa lelah.
Mungkin kali ini, aku tidak akan berhenti.
Tapi aku tidak sendirian.
Aku ikut prihatin, Embry berbisik di kepalaku.


Aku bisa melihat lewat matanya. Ia berada sangat jauh di
utara, tapi ia berbalik dan berlari menyongsongku.
Aku mengeram dan berlari lebih cepat.
Tunggu kami, Protes Quil. Ia lebih dekat, baru mulai
meninggalkan perkampungan.
Jangan ikuti aku, geramku..
Aku bisa merasakan kekhawatiran mereka di kepalaku
walaupun sekuat tenaga aku berusaha menenggelamkannya
dalam suara angin dan hutan. Inilah yang paling ku benci,
melihat diriku dari mata mereka, sekarang lebih parah
karena mata mereka dipenuhi perasaan iba. Mereka melihat
kebencian itu, tapi tetap berlari mengejarku.
Sebuah suara baru bergema di kepalaku.
Biarkan dia pergi. Pikiran Sam lembut, namun tetap
bernada perintah. Embry dan Quil memperlambat laju
mereka dan mulai berjalan.
Seandainya aku bisa berhenti mendengar, berhenti
melihat apa yang mereka lihat. kepalaku begitu sesak dan
satu-satunya cara untuk sendirian lagi adalah menjadi
manusia, tapi aku tidak tahan merasakan kepedihannya.
Ubah wujud kalian lagi. Sam memerintahkan mereka, aku
akan menjemputnya Embry.
Mula-mula satu, kemudian kesadaran kedua memudar
menjadi kebeningan. Hanya Sam yang tertinggal.
Terima kasih, aku bisa juga berpikir.
Pulanglah saat kau bisa. Kata-kata itu samar, semakin
lama semakin lenyap ditelan kekosongan saat Sam pun
pergi. Dan aku sendirian.


Begini jauh lebih baik. Sekarang aku bisa mendengar
gemeresik pelan daun-daun kering di bawah kuku kakiku,
kepak sayap burung hantu di atasku, samudra – jauh, nun
jauh di barat sana – mengerang di tepi pantai. Mendengar
ini, dan tidak ada lagi yang lain. Tidak merasakan apa pun
selain kecepatan, selain tarikan orot, urat, dan tulang,
bekerja sama dalam keharmonisan sementara kilometer
demi kilometer lenyap di belakangku.
Bila keheningan di kepalaku ini terus bertahan, aku
takkan pernah kembali. Aku bukan orang pertama yang
memilih wujud ini daripada wujud yang lain. Mungkin,
kalau aku berlari cukup jauh, aku tidak akan pernah harus
mendengar lagi... Kupaksa kakiku berlari lebih cepat,
meninggalkan Jacob Black jauh di belakang.
Selesai

0 Response to "Twilight Saga: Eclipse"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified