Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: Eclipse 3

Edward menggeleng. "Tidak apa-apa.” Matanya
menyipit saat memandang ke luar kaca depan, ke mobil itu.
Aku pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.
"Kau tidak sedang mendengarkan pikiran Jacob, kan?”
tuduhku.
"Tidak mudah mengabaikan orang kalau dia berteriak.”
"Oh,” Aku berpikir sebentar, “Apa yang dia teriakkan?”
bisikku.
“Aku yakin benar dia akan mengatakannya sendiri
padamu nanti,” jawab Edward masam.
Sebenarnya aku berniat mendesaknya lebih jauh, tapi
kemudian Jacob membunyikan klakson – dua kali dengan
nada tidak sabar.
"Itu sangat tidak sopan,” geram Edward.
"Begitulah Jacob,” desahku, kemudian bergegas turun
sebelum Jacob melakukan sesuatu yang bakal membuat
amarah Edward meledak.
Aku melambaikan tangan kepada Edward sebelum
menaiki Rabbit dan, dari kejauhan, kelihatannya ia benarbenar
kesal gara-gara masalah klakson itu... atau apa pun
yang dipikirkan Jacob. Tapi pandanganku lemah dan sering
kali keliru menilai sesuatu.
Aku ingin Edward mendatangiku. Aku ingin mereka
berdua turun dari mobil masing-masing, berjabat tangan,
dan berteman – menjadi Edward dan Jacob, bukan vampir
dan werewolf. Rasanya seperti memegang dua magnet keras
kepala itu di tanganku lagi, dan aku mendekatkan
keduanya, berusaha memaksakan kekuatan alami mereka
agar berubah...
Aku mendesah, lalu naik ke mobil Jacob.


"Hai, Bells,” Nada Jake riang, tapi suaranya seperti
diseret. Kuamati wajahnya waktu ia mulai menjalankan
mobil, mengemudikannya sedikit lebih cepat daripada yang
biasa kulakukan, tapi lebih lambat daripada Edward, dalam
perjalanan kembali ke La Push.
Jacob terlihat berbeda, bahkan mungkin sakit, Kelopak
matanya turun dan wajahnya letih. Rambut shaggy-nya
mencuat ke mana-mana; di beberapa tempat malah hampir
sampai ke dagu.
"Kau baik-baik saja, Jake?"
"Hanya capek,” akhirnya ia bisa menjawab setelah
sebelumnya menguap lebar-lebar. Lalu ia bertanya, "Apa
yang ingin kaulakukan hari ini?"
Kupandangi ia sesaat, "Kita nongkrong dulu saja di
rumahmu,” aku menyarankan. Kelihatannya Jacob tidak
bisa melakukan lebih dari itu. "Nanti saja naik motornya.”
"Tentu, tentu,” sahutnya, lagi-lagi menguap.
Rumah Jacob kosong, dan itu terasa aneh. Sadarlah aku
bahwa Billy nyaris menjadi aksesori permanen di sana.
"Mana ayahmu?.
"Di rumah keluarga Clearwater. Sekarang dia sering ke
sana setelah Harry meninggal. Sue sering kesepian.”
Jacob duduk di sofa tua yang tidak lebih besar daripada
loveseat dan mengenyakkan tubuhnya ke satu sisi, memberi
ruang untukku.
"Oh. Baguslah. Kasihan Sue.”
"Yeah... dia menghadapi banyak masalah...” Jacob raguragu
sejenak. "Dengan anak-anaknya.”


"Tentu, pastilah berat bagi Seth dan Leah, kehilangan
ayah mereka.."
"He-eh,” Jacob setuju, hanyut dalam pikirannya. Ia
mengambil remote dan menyalakan TV, sepertinya tanpa
berpikir. lagi-lagi ia menguap.
"Ada apa denganmu, Jake. Kau seperti zombie."
"Aku hanya tidur kira-kira dua jam semalam dan empat
jam malam sebelumnya,” cerita Jacob. Ia meregangkan
kedua lengan panjangnya lambat-lambat, dan aku bisa
mendengar sendi-sendinya berderak. Disampirkannya
lengan kirinya di sepanjang punggung sofa di belakangku,
dan duduk merosot untuk menyandarkan kepalanya di
dinding. “Aku kecapekan."
"Memangnya kenapa kau tidak tidur?" tanyaku.
Jacob mengernyitkan wajah. "Sam bersikap sulit. Dia
tidak percaya pada teman-temanmu, para pengisap darah
itu. Padahal aku sudah berpatroli semalaman selama dua
minggu dan belum ada yang menyentuhku, tapi dia masih
saja tidak percaya. Jadi untuk sementara aku sendirian."
"Berpatroli semalaman," Apa itu karena kau berusaha
menjagaku? Jake, itu salah! Kau perlu tidur. Aku tidak akan
kenapa-kenapa."
"Sudahlah, tidak apa-apa," Mata Jacob mendadak
tampak lebih waspada. "Hei, kau sudah tahu siapa yang
masuk ke kamarmu waktu itu? Apakah ada berita baru."
Aku tak memedulikan pertanyaan kedua. '"Tidak, kami
belum menemukan apa-apa tentang, eh, tamu kami."
"Kalau begitu aku akan tetap berjaga-jaga,” kata Jacob,
matanya terpejam.
"Jake.." aku mulai merengek.


"Hei, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan, aku kan
sudah menawarkan diri melayanimu, ingat. Aku budakmu
seumur hidup."
"Aku tidak mau punya budak!"
Mata Jacob tetap terpejam. "Memangnya apa yang
kauinginkan, Bella?"
"Aku menginginkan temanku Jacob, dan bukan Jacob
yang separo mati, menyakiti diri sendiri dengan konyol."
Jacob memotong kata-kataku. "Begini saja, aku berharap
bisa melacak keberadaan vampir yang boleh kubunuh, oke."
Aku diam saja. Jacob menatapku, melirik untuk melihat
reaksiku.
"Bercanda, Bella."
Mataku memandang lurus ke pesawat televisi.
"Jadi, ada rencana khusus minggu depan. Kau akan
lulus, kan. Wow. Hebat.” Nadanya berubah datar, dan
wajahnya, yang sudah nampak letih, terlihat semakin kuyu
saat matanya terpejam lagi, kali ini bukan karena kelelahan,
tapi karena penyangkalan. Sadarlah aku bahwa momen
kelulusanku masih menjadi sesuatu yang menyakitkan
baginya, walaupun niatku itu sekarang terhalang.
"Tidak ada rencana istimewa," jawabku hati-hati,
berharap Jacob mendengar nada yakin dalam suaraku tanpa
aku perlu menjelaskannya lebih lanjut. Aku sedang tidak
ingin membicarakannya. Pertama, karena Jacob sepertinya
sedang tidak siap membicarakan hal-hal sulit. Kedua, aku
tahu ia pasti tahu aku cemas. "Well, tapi ada pesta kelulusan
yang harus kuhadiri. Pesta kelulusanku sendiri." Aku
mengeluarkan suara jijik. "Alice paling suka pesta, jadi dia


mengundang seisi kota ke rumahnya malam harinya. Pasti
menyebalkan."
Mata Jacob langsung terbuka selagi aku bicara, dan
senyum lega membuat wajahnya tidak tampak letih lagi.
"aku tidak diundang. Aku tersinggung nih," godanya.
"Anggap saja kau ku undang. Itu kan pestaku, jadi
seharusnya aku boleh mengundang siapa pun yang
kuinginkan."
"Trims," tukas Jacob sarkastis, matanya kembali
terpejam.
"Kuharap kau benar-benar mau datang,” kataku tanpa
berharap. "Pasti asyik. Bagiku, maksudku."
"Tentu, tentu." gumam Jacob. "Itu pasti sangat...
bijaksana." Suaranya lenyap.
Beberapa detik kemudian, ia sudah mendengkur.
Kasihan Jacob. Kuamati wajahnya yang sedang
bermimpi. dan menyukai apa yang kulihat. Saat tidur,
setiap jejak keras kepala dan kepahitan lenyap dari
wajahnya dan tiba-tiba saja ia kembali menjadi pemuda
yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku sebelum
semua omong kosong tentang werewolf ini mengganggu
kehidupan kami. Ia tampak jauh lebih muda. Ia terlihat
seperti Jacob-ku. Aku meringkuk di sofa, menungguinya
tidur, berharap ia bisa tidur sebentar untuk menggantikan
kurang tidurnya. aku memindah-mindah saluran TV; tapi
tak banyak yang bisa ditonton. Akhirnya aku memilih
menonton acara masak-memasak, walaupun saat menonton
aku tahu tidak akan pernah serepot itu waktu memasakkan
makan malam untuk Charlie.
Jacob terus saja mendengkur, dengkurannya semakin
keras. Kukeraskan volume TV.


Anehnya, aku merasa rileks, dan hampir mengantuk
juga. Rumah ini rasanya lebih aman ketimbang rumahku
sendiri, mungkin karena tidak ada yang pernah datang
mencariku di sini. Aku bergelung di ujung sofa dan terpikir
olehku untuk ikut tidur. Mungkin aku sudah ketiduran
kalau saja dengkuran Jacob tidak sekeras itu. Jadi,
bukannya tidur, aku malah membiarkan pikiranku
berkelana ke mana-mana.
Ujian akhir sudah selesai, dan sebagian besar mudah.
Kalkulus, satu-satunya pengecualian, sudah lewat, lulus
atau gagal. Pendidikan SMA-ku sudah berakhir. Tapi aku
tidak benar-benar tahu bagaimana perasaanku tentang hal
itu. Aku tidak bisa memandangnya secara objektif; karena
itu berkaitan dengan berakhirnya kehidupanku sebagai
manusia.
Aku bertanya-tanya sendiri berapa lama Edward
berencana memakai alasan “bukan karena kau takut" ini.
Aku harus bersikap tegas suatu saat nanti.
Kalau berpikir praktis, aku tahu sungguh masuk akal
meminta Carlisle mengubahku segera setelah aku lulus.
Forks Jadi nyaris sama berbahayanya dengan zona perang.
Bukan, Forks itulah zona perangnya. Belum lagi... itu bisa
jadi alasan yang tepat sekali untuk tidak menghadiri pesta
kelulusanku sendiri. Aku tersenyum-senyum saat
memikirkan alasan paling remeh dari semua alasan
mengapa aku harus berubah. Bodoh... namun tetap
menarik.
Tapi Edward benar – aku belum benar-benar siap.
Dan aku tidak ingin bersikap praktis. Aku ingin
Edwardlah yang mengubahku. Memang bukan keinginan
rasional. Aku yakin bahwa – kira-kira dua detik setelah aku
digigit dan bisa itu mulai membakar urat-urat nadiku – aku


benar-benar takkan peduli siapa yang melakukannya. Jadi
seharusnya itu tidak menjadi masalah. Sulit
menjelaskannya, bahkan pada diriku sendiri, kenapa itu
penting. Pokoknya aku ingin dialah yang melakukan pilihan
itu – ingin memilikiku sehingga tidak sekadar membiarkan
aku diubah. rapi dia sendirilah yang melakukan perubahan
itu. Kekanak-kanakan memang, tapi aku senang
membayangkan bibirnyalah yang menjadi hal terakhir yang
kurasakan. Bahkan yang lebih memalukan lagi, ada hal
yang takkan pernah utarakan secara terus terang, aku ingin
bisanyalah yang racuni sistemku. Itu akan benar-benar
membuatku jadi miliknya seutuhnya.
Tapi aku tahu Edward akan ngotot mempertahankan
syarat menikah yang diajukannya waktu itu – karena ia
jelas ingin menunda mengubahku dan sejauh ini, taktiknya
berbasil. Aku mencoba membayangkan memberi tahu
kedua orang tuaku bahwa aku akan menikah musim panas
ini. Memberi tahu Angela, Ben. dan Mike. Aku tidak
sanggup. Aku tidak bisa membayangkan haus bilang apa.
Lebih mudah memberi tahu mereka bahwa aku akan
menjadi vampir. Dan aku yakin paling tidak
ibuku,seandainya aku berniat menceritakan hal sebenarnya
hingga sedetail – detailnya – bakal lebih mati-matian
menentang rencanaku menikah muda daripada menjadi
vampir. Aku meringis membayangkan ekspresi ngeri Renee.
Kemudian, sedetik saja, aku melihat visi aneh yang sama
tentang Edward dan aku duduk di ayunan teras, memakai
baju dari dunia yang berbeda. Dunia tempat tidak ada
orang yang akan merasa aneh melihatku mengenakan
cincin kawinnya di jariku. Tempat yang lebih simpel, di
mana cinta didefinisikan dengan cara-cara yang lebih
sederhana. Satu tambah satu sama dengan dua...


Jacob mendengus dan berguling ke samping. Lengannya
terkulai dari punggung sofa dan menindihku.
Astaga, berat sekali dia Dan panas. Baru beberapa detik
saja, aku sudah kepanasan.
Aku berusaha menggeser tubuhku dari bawah lengannya
tanpa membuatnya terbangun, tapi aku harus
mendorongnya sedikit, dan ketika lengannya terjatuh dari
tubuhku. matanya serta-merta terbuka. Ia melompat berdiri,
memandang berkeliling dengan gugup.
“Apa? Apa?” tanyanya, linglung.
"Hanya aku, Jake, Maaf aku membangunkanmu."
Jake menoleh dan menatapku, matanya mengerjap
bingung.
"Bella!"
"Hei, tukang ngantuk."
"Oh, astaga! Aku ketiduran ya tadi. Maaf ya! Berapa
lama aku tidur?"
"Beberapa dengkuran. Sudah tak bisa kuhitung lagi."
Jacob mengenyakkan bokongnya kembali ke sofa di
sampingku. "Wow. Maafkan aku soal tadi, sungguh."
Kutepuk-tepuk kepalanya, berusaha menghaluskan anakanak
rambutnya yang awut-awutan. "Jangan merasa tidak
enak. Aku justru senang kau bisa tidur sebentar."
Jacob menguap dan meregangkan otot-otornya. "Payah
benar aku akhir-akhir ini. Tidak heran Billy selalu pergi.
Aku sangat membosankan."
"Ah, itu tidak benar,” sanggahku.


"Ugh, ayo kita keluar. Aku perlu jalan-jalan sedikit,
kalau tidak aku pasti bakal teler lagi."
"Jacob, tidurlah lagi. Aku tidak apa-apa. Akan kutelepon
Edward untuk datang menjemputku." Kutepuk-tepuk
semua sakuku sambil bicara, dan baru sadar semuanya
kosong. "Brengsek, aku terpaksa pinjam teleponmu.
Ponselku pasti ketinggalan di mobil." Aku mulai beranjak
untuk berdiri.
"'Jangan!" sergah Jacob, menyambar tanganku. "Tidak,
jangan ke mana-mana. Kau kan jarang bisa ke sini. Payah
benar aku, menyia-nyiakannya begitu saja."
Jacob menarikku turun dari sofa sambil bicara, kemudian
membimbingku ke luar, merunduk saat melewati ambang
pintu. Cuaca semakin sejuk sementara Jacob tidur tadi;
sekarang hawa terasa menggigit padahal saat ini bukan
musim dingin, pasti akan ada badai. Rasanya sekarang
seperti bulan Februari, bukan Mei.
Hawa yang dingin menggigit sepertinya membuat Jacob
lebih sigap. Ia berjalan mondar-mandir di depan rumah
selama semenit, menyeretku bersamanya.
"Bodoh benar aku," gerutunya pada diri sendiri.
“Ada apa, Jake. Kau kan hanya ketiduran tadi." Aku
mengangkat bahu.
"Padahal sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu.
Benar-benar keterlaluan."
"Bicaralah sekarang,” bujukku.
Jacob menatap mataku sebentar, lalu cepat-cepat
mengalihkan pandangannya ke pepohonan. Pipinya tampak
merona merah, tapi itu sulit dipastikan karena kulitnya yang
gelap.


Mendadak aku ingat apa yang dikatakan Edward tadi
waktu ia menurunkan aku, bahwa Jacob akan
memberitahuku sendiri apa saja yang diteriakkannya dalam
benaknya tadi. Aku mulai menggigit-gigit bibir.
"Begini.” kata Jacob. "Sebenarnya aku berniat
melakukannya dengan cara sedikit berbeda." Ia tertawa,
dan kedengarannya seperti menertawakan diri sendiri.
"Cara yang lebih halus,” imbuhnya. "Sebenarnya aku
berniat menyusun kata-katanya dulu tapi” – ia memandang
awan-awan, yang semakin meredup seiring berlalunya sore
– "aku tidak punya waktu lagi untuk menyusunnya."
Jacob tertawa lagi, gugup. Kami masih berjalan mondarmandir
dengan langkah pelan.
"Kau bicara apa sih," desakku.
Jacob menghela napas dalam-dalam. "aku ingin
mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya kau sudah tahu...
tapi kupikir sebaiknya aku mengutarakannya secara
terbuka. Sehingga tidak ada lagi keraguan dalam hal ini."
Aku menjejakkan kakiku ke tanah, dan Jacob berhenti
melangkah. Aku melepaskan tanganku dari gandengannya,
lalu bersedekap. Mendadak aku yakin tidak ingin
mengetahui pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
Alis Jacob berkerut, matanya yang menjorok masuk
bagai dinaungi bayangan. Bola matanya hitam pekat saat ia
menatapku dengan pandangan tajam menusuk.
"Aku mencintaimu, Bella," kata Jacob dengan nada
mantap dan yakin. "Bella, aku mencintaimu. Dan aku ingin
kau memilihku, bukan dia. Aku tahu kau tidak merasa
seperti itu, tapi aku harus menyatakan ini padamu supaya
kau tahu kau punya pilihan. Aku tidak mau ada salah
komunikasi di antara kita."


15. TARUHAN
KUPANDANGI Jacob berlama-lama, tak mampu
mengatakan apa-apa.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Sementara Jacob
menatap ekspresi terperangahku, keseriusan lenyap dari
wajahnya.
"Oke." ujarnya, nyengir.''Hanya itu."
"Jake - " Rasanya ada sesuatu yang besar menyangkut di
tenggorokanku. Aku berusaha menyingkirkannya."Aku
tidak bisa,maksudku aku tidak... aku harus pulang."
Aku berbalik, tapi Jacob menyambar bahuku dan
memutar tubuhku.
“Jangan,tunggu. Aku tahu itu, Bella. Tapi, dengar,
jawablah pertanyaanku, oke? Apakah kau mau aku pergi
dan tidak pernah bertemu lagi denganmu? Jujurlah."
Sulit berkonsentrasi, jadi butuh satu menit untuk
menjawabnya. "Tidak, bukan itu yang kuinginkan."
akhirnya aku mengakui.
Lagi-lagi Jacob nyengir. "Begitu."
"Tapi aku menginginkanmu bukan karena alasan yang
sama dengan kenapa kau menginginkanku," sergahku.
"Kalau begitu, jelaskan kenapa persisnya kau
menginginkanku."
Aku berpikir dengan saksama. "Aku merasa kehilangan
kalau kau tidak ada. Kalau kau bahagia," aku menjelaskan
hati-hati. “itu membuatku bahagia. Tapi itu juga berlaku
bagi Charlie, Jacob. Kau keluargaku. Aku sayang padamu,
tapi aku tidak mencintaimu."


Jacob mengangguk, tidak merasa terganggu sama sekali.
"Tapi kau terap menginginkanku di dekatmu.”
"Ya," Aku mendesah. Penjelasanku tidak membuat
Jacob surut langkah.
"Kalau begitu aku akan tetap di dekatmu."
"Kau memang senang menyiksa diri sendiri.” gerutuku.
"Yep," Jacob membelai-belai pipi kananku dengan ujung
Jemarinya. Kutepis tangannya jauh-jauh.
"Menurutmu, bisa tidak kau bersikap sedikit lebih baik,
paling tidak?" tanyaku, kesal.
"Tidak, tidak bisa. Putuskan sendiri, Bella. Kau bisa
memilikku apa adanya, termasuk sikapku yang
menjengkelkan atau tidak sama sekali."
Kupandangi dia, frustrasi. "Itu kejam."
"Kau juga kejam."
Perkataannya itu membuat langkahku terhenti, dan
tanpa sengaja aku mundur selangkah. Jacob benar. Kalau
aku tidak kejam, sekaligus serakah, aku akan mengatakan
padanya aku tidak mau berteman dengannya dan
menyuruhnya pergi jauh-jauh. Bukan tindakan yang tepat
berusaha mempertahankan temanku padahal itu justru akan
melukai hatinya. Entah apa yang kulakukan di sini, tapi
tiba-tiba saja aku yakin itu bukan tindakan yang tepat.
"Kau benar,” bisikku.
Jacob tertawa. "Aku memaafkanmu kok. Tapi usahakan
agar kau tidak terlalu marah padaku. Karena baru-baru ini
aku memutuskan aku tidak akan menyerah. Sesuatu yang
sulit didapat itu justru sangat menarik untuk ditaklukkan."


"Jacob.” Kutatap matanya yang gelap, berusaha
membuatnya menganggapku serius. "Aku mencintainya,
Jacob. Dia seluruh hidupku."
"Kau juga cinta padaku," Jacob mengingatkan aku. Ia
mengangkat tangan waktu aku membuka mulut hendak
memprotes. "Tidak seperti kau mencintainya, aku tahu.
Tapi dia juga bukan seluruh hidupmu. Tidak lagi. Mungkin
dulu begitu, tapi dia pergi. Dan sekarang dia harus
menghadapi konsekuensi dari pilihan itu – aku."
Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Kau benar-benar
nekat."
Tiba-tiba Jacob berubah serius. Ia meraih daguku dan
memeganginya kuat-kuat sehingga aku tak bisa
memalingkan wajah dari tatapan matanya yang tajam.
"Sampai jantungmu berhenti berdetak, Bella.” katanya.
“Aku akan terus berada di sini, berjuang. Jangan lupa
bahwa kau punya pilihan."
"Aku tidak ingin punya pilihan,” tukasku, berusaha
menyentakkan daguku tapi sia-sia. "Dan detak jantungku
sudah tinggal menghitung hari, Jacob. Waktunya sudah
hampir habis."
Mata Jacob menyipit. "Berarti semakin kuat alasanku
untuk berjuang – berjuang lebih keras lagi sekarang,
mumpung aku masih bisa," bisiknya.
"T...," aku hendak protes, tapi terlambat.
Bibirnya melumat bibirku, menghentikan protesku. ia
menciumku dengan marah, kasar, satu tangan
mencengkeram kuat-kuat tengkukku, membuatku tak bisa
melepaskan diri. Sekuat tenaga kudorong dadanya, tapi
Jacob sepertinya bahkan tidak menyadarinya. Meski ia


sedang marah bibirnya tetap terasa lembut, hangat, dan
asing di bibirku.
Aku berusaha mendorongnya jauh-jauh, tapi lagi-lagi
gagal. Tapi sepertinya kali ini ia menyadarinya, dan itu
membuatnya semakin bersemangat. Bibirnya memaksa
bibirku membuka, dan bisa kurasakan embusan napasnya
yang panas di dalam mulutku.
Atas dasar naluri, kubiarkan kedua tanganku terkulai dan
berhenti bereaksi. Kubuka mata dan tidak melawan, tidak
merasa... hanya menunggunya berhenti.
Berhasil. Amarah Jacob sepertinya menguap, dan ia
menarik bibirnya untuk menatapku. Ia menempelkan lagi
bibirnya dengan lembut ke bibirku, satu kali, dua kali... tiga
kali. Aku berlagak seperti patung dan menunggu.
Akhirnya Jacob melepaskan wajahku dan
mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"Sudah selesai?" tanyaku, suaraku tanpa ekspresi.
"Sudah," desahnya. Senyumnya terkuak, matanya
terpejam.
Kutarik lenganku ke belakang, kemudian
mengayunkannya ke depan, meninju mulut Jacob dengan
sekuat tenaga.
Terdengar suara berderak.
"Aduh! ADUH!" jeritku, melompat-lompat kesakitan
sambil mendekap tinjuku di dada. Tulangku patah, aku bisa
merasakannya.
Jacob memandangiku dengan syok. "Kau tidak apa-apa?"
"Tidak, brengsek! Kau membuat tulangku patah!'


"Bella, kau sendiri yang membuat tulangmu patah.
Sekarang, berhenti menandak-nandak dan biar kuperiksa."
"Jangan sentuh aku! Aku mau pulang sekarang juga!"
"Kuambil mobilku dulu," kata Jacob kalem. Ia bahkan
tidak mengusap-usap dagu seperti di film-film.
Menyedihkan.
"Tidak, trims."' desisku. "Lebih baik aku jalan kaki
saja."Aku berbalik menuju jalan. Hanya beberapa kilometer
ke perbatasan. Begitu aku menjauh dari Jacob, Alice pasti
akan melihatku. Ia akan mengirim seseorang untuk
menjemputku.
"Setidaknya izinkan aku mengantarmu pulang," desak
Jacob. Sungguh tak bisa dipercaya, berani benar ia
memeluk pinggangku.
Dengan marah aku menyentakkan diri darinya.
"Baiklah!" geramku. "Lakukan saja! Aku tak sabar ingin
melihat apa yang akan dilakukan Edward padamu! Mudahmudahan
saja dia mematahkan lehermu, dasar ANJING
tolol tukang paksa menyebalkan!"
Jacob memutar bola matanya. Ia mengantarku ke kursi
penumpang dan membantuku naik. Ketika naik ke balik
kemudi, ia bersiul-siul.
"Memangnya kau tidak kesakitan sama sekali?" tanyaku,
marah dan kesal.
"Bercanda, ya? Kalau saja kau tadi tidak menjerit, aku
mungkin tidak bakal tahu kau berusaha meninjuku. Aku
memang tidak terbuat dari batu, tapi aku juga tidak
selembek itu."
"Aku benci padamu, Jacob Black."
"Itu bagus. Benci adalah emosi yang menggelora."


"Soal emosi sih gampang,” gerutuku pelan.
"Pembunuhan, kejahatan emosional terburuk."
"Oh, ayolah,"sergah Jacob, sikapnya tetap riang dan
kelihatannya ia bahkan akan mulai bersiul-siul lagi. "Itu tadi
pasti lebih asyik daripada berciuman dengan batu.”
"Jangankan lebih, mendekati saja tidak," tukasku dingin.
Jacob mengerucutkan bibir. "Ah, kau hanya mengadaada."
"Aku tidak mengada-ada."
Sepertinya perkataanku bahkan tidak membuatnya
terusik sedikit pun, tapi sejurus kemudian wajah Jacob
berubah cerah. “Itu karena kau marah. Aku memang tidak
berpengalaman dalam urusan ini, tapi kurasa tadi itu sudah
sangat luar biasa."
"Ugh,” erangku.
"Kau akan memikirkannya malam ini. Saat dia mengira
kau sudah tidur, kau akan memikirkan pilihan-pilihan yang
kau miliki."
"Kalau aku memikirkanmu malam ini, itu karena aku
bermimpi buruk."
Jacob memperlambat laju mobilnya hingga merayap,
memalingkan wajah kepadaku dengan mata gelapnya yang
membelalak lebar dan bersungguh-sungguh "Coba pikirkan,
Bella.” desaknya, suaranya lembut dan bernada penuh
semangat. "Kau tidak perlu mengubah apa-apa untukku.
Kau tahu Charlie pasti senang kalau kau memilihku. Aku
bisa melindungimu sama baiknya dengan vampirmu,
mungkin bahkan lebih baik. Dan aku akan membuatmu
bahagia, Bella. Ada begitu banyak yang bisa kuberikan
padamu yang tidak bisa dia berikan. Aku berani bertaruh


dia bahkan tak bisa menciummu seperti tadi, karena dia
takut melukaimu. Aku tidak akan pernah, tidak akan
pernah menyakitimu, Bella."
Kuacungkan tanganku yang cedera.
Jacob mendesah. "Itu bukan salahku. Seharusnya kau
tahu itu sebelum memukulku."
"Jacob, tidak mungkin aku bisa bahagia tanpa dia."
"Kau belum pernah mencobanya," sanggah Jacob.
"Waktu dia pergi dulu, kau menghabiskan seluruh energimu
untuk memikirkannya terus. Kau bisa bahagia kalau saja
mau melepasnya. Kau bisa bahagia bersamaku."
"Aku tidak ingin bahagia bersama orang lain kecuali
dia,” aku bersikeras.
"Kau tidak akan pernah bisa merasa yakin pada dirinya,
seperti kau bisa yakin pada diriku. Dia pernah
meninggalkanmu dulu, jadi dia bisa melakukannya lagi."
"Tidak.. itu tidak benar," sergahku dari sela-sela rahang
yang terkatup rapat. Pedihnya kenangan itu menyayat
hatiku seperti cambuk. Membuatku ingin balas menyakiti
Jacob. "Kau dulu juga pernah meninggalkanku." aku
mengingatkannya dengan nada dingin, ingatanku melayang
ke minggu-minggu saat Jacob bersembunyi dariku, katakata
yang diucapkannya di hutan di samping rumahnya...
"Itu tidak benar," bantah Jacob. "Kata mereka, aku tidak
boleh memberitahumu, bahwa tidak aman bagimu kalau
kita bersama. Tapi aku tidak pernah meninggalkanmu,
tidak pernah! Aku dulu selalu berlari mengitari rumahmu
pada malam hari – seperti yang kulakukan sekarang. Hanya
untuk memastikan kau baik-baik saja."


Aku takkan membiarkan Jacob membuatku merasa
kasihan padanya sekarang.
"Antar aku pulang. Tanganku sakit."
Jacob mendesah, dan mulai memacu mobilnya dalam
kecepatan normal, memandangi jalan.
"Pikirkanlah dulu, Bella."
"Tidak," tolakku keras kepala.
"Kau akan memikirkannya. Malam ini. Dan aku akan
memikirkanmu sementara kau memikirkanku."
"Seperti kataku tadi, mimpi buruk."
Jacob nyengir. "Kau membalas ciumanku."
Aku terkesiap, tanpa berpikir mengepalkan tinjuku lagi,
mendesis ketika tanganku yang patah bereaksi.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Tidak."
"Kurasa aku bisa membedakannya.”
"Jelas tidak bisa, itu tadi bukan membalas ciumanmu,
tapi berusaha supaya kau berhenti menciumku, dasar idiot."
Jacob tertawa,tawanya rendah dan serak.
"Mengharukan. Hampir terlalu defensif, menurutku."
Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak ada gunanya
berdebat dengannya; dia hanya akan memutarbalikkan
semua ucapanku. Aku berkonsentrasi pada tanganku,
berusaha meregangkan jari-jariku, memastikan bagian mana
yang patah. Rasa sakit menusuk buku-buku jariku. Aku
mengerang.


"Aku benar-benar minta maaf soal tanganmu," kata
Jacob, kedengarannya nyaris tulus. "Lain kali kalau mau
memukulku, pakai tongkat bisbol atau linggis saja, oke."
"Jangan kira aku akan melupakannya," gerutuku.
Aku tidak sadar kami mengarah ke mana sampai kami
berada di jalan menuju rumahku.
"Mengapa kau membawaku ke sini?" tuntutku.
Jacob menatapku hampa. "Lho, katamu tadi kau mau
pulang."
"Ugh. Kurasa kau tidak bisa mengantarku ke rumah
Edward, ya?" Aku mengertakkan gigi dengan gemas.
Kepedihan membuat wajahnya terpilin, dan bisa kulihat
perkataanku tadi menohoknya lebih daripada apa pun yang
pernah kukatakan.
"Ini rumahmu, Bella." ujarnya pelan.
"Memang, tapi memangnya ada dokter yang tinggal di
sini!" tanyaku mengacungkan tanganku lagi.
"Oh," Jacob berpikir sebentar. "Aku akan mengantarmu
ke rumah sakit. Atau Charlie bisa mengantarmu?"
"Aku tidak mau ke rumah sakit. Memalukan dan tidak
perlu."
Jacob membiarkan mesin Rabbit tetap menyala
sesampainya di depan rumah, menimbang-nimbang dengan
ekspresi tidak yakin. Mobil patroli Charlie terparkir di
halaman garasi.
Aku mendesah. "Pulanglah, Jacob."
Aku turun dari mobil dengan canggung, berjalan menuju
rumah. Mesin mobil di belakangku dimatikan, dan aku


jengkel sekali mendapati Jacob lagi-lagi berada di
sebelahku.
"Apa yang akan kaulakukan?" tanyanya.
"Aku akan mengompres tanganku dengan es batu,
kemudian menelepon Edward dan memintanya datang
untuk mengantarku ke Carlisle supaya dia bisa mengobati
tanganku. Lalu, kalau kau masih di sini, aku akan pergi
mencari linggis."
Jacob diam saja. Ia membukakan pintu depan dan
memeganginya untukku.
Kami berjalan sambil berdiam diri melewati ruang depan
tempat Charlie berbaring di sofa.
"Hai, anak-anak." sapanya, duduk sambil
mencondongkan tubuh. "Senang melihatmu di sini, Jake."
"Hai, Charlie." sahut Jacob dengan nada biasa-biasa saja,
berhenti sebentar. Aku terus melangkah marah ke dapur.
"Kenapa dia?" tanya Charlie.
"Dia merasa tangannya patah,” aku mendengar Jacob
menjelaskan kepada Charlie. Aku langsung menuju kulkas
dan mengeluarkan wadah es batu.
"Kok bisa?" Sebagai ayah, menurutku seharusnya
Charlie lebih menunjukkan sikap prihatin ketimbang geli.
Jacob tertawa. "Dia memukulku tadi.”
Charlie ikut-ikutan tertawa. Aku cemberut sambil
menghantamkan wadah es batu ke pinggir bak cuci. Es batu
berjatuhan nyaring ke bak cuci, dan aku meraup segenggam
dengan tanganku yang sehat dan membungkusnya dengan
lap piring yang kuambil dari konter.
"Kenapa dia memukulmu?"


"Karena aku menciumnya," jawab Jacob, sama sekali
tidak malu.
"Hebat juga kau, Nak." Charlie malah menyelamati dia.
Aku mengertakkan gigi dan meraih telepon. Kuhubungi
nomor ponsel Edward.
"Bella?" Edward langsung menjawab pada deringan
pertama. Kedengarannya ia lebih dari lega, ia girang sekali.
Terdengar olehku derum Volvo di latar belakang; ia sudah
di mobil, baguslah kalau begitu. "Ponselmu ketinggalan...
Maaf Jacob mengantarmu pulang?"
"Ya," gerutuku. "Bisakah kau datang dan menjemputku,
please?"
“Aku segera datang,” ujarnya langsung. "Ada apa?"
"Aku ingin Carlisle memeriksa tanganku. Kurasa ada
yang patah."
Suasana di ruang depan kini sunyi senyap, dan aku
bertanya-tanya dalam hati, kapan Jacob bakal kabur. Aku
menyunggingkan senyum muram membayangkan
kegelisahannya.
"Apa yang terjadi?" tuntut Edward, suaranya berubah
datar.
"Aku meninju Jacob," aku mengakui.
"Bagus,” ucap Edward muram. "Walaupun, aku prihatin
kau cedera."
Aku langsung tertawa, karena Edward terdengar sama
senangnya seperti Charlie tadi.
"Kalau saja aku bisa melukai dia." Aku mendesah
frustrasi. "Dia bahkan tidak merasa sakit sama sekali."
"Bisa kuatur," Edward menawarkan diri.


"Aku memang sudah berharap kau akan berkata begitu."
Edward terdiam sejenak. "Aneh sekali kaubilang begitu,"
katanya mulai merasa khawatir. "Memangnya apa yang dia
lakukan?"
"Dia menciumku," geramku.
Yang terdengar di ujung sana hanya suara mesin
meraung semakin cepat.
Di ruang sebelah Charlie bicara lagi. "Mungkin
sebaiknya kau pergi, Jake," ia menyarankan.
"Kurasa aku akan tetap di sini, kalau Anda tidak
keberatan."
"Tanggung sendiri akibatnya," gerutu Charlie.
"Anjing itu masih di sana?" Edward akhirnya kembali
bersuara.
"Masih."
"Sebentar lagi aku sampai,” katanya galak, dan telepon
pun terputus.
Saat aku meletakkan gagang telepon, tersenyum,
kudengar suara mobil Edward ngebut melintasi jalan. Rem
diinjak keras-keras agar mobil berhenti tepat di depan
rumah. Aku beranjak membukakan pintu.
"Bagaimana tanganmu?" tanya Charlie waktu aku lewat,
ia tampak jengah. Jacob nongkrong di sebelahnya di sofa,
terlihat sangat santai.
Kusingkirkan bungkusan es batu dari tanganku untuk
menunjukkan kondisinya. "Bengkak."
"Mungkin sebaiknya kau menyerang orang yang
seukuran denganmu," Charlie mengusulkan.


"Mungkin." sahutku sependapat. Aku berjalan terus
untuk membukakan pintu. Edward sudah menunggu.
"Biar kulihat." gumamnya.
Edward memeriksa tanganku dengan lembut sangat
berhati-hati hingga aku tidak merasa sakit sama sekali.
Kedua tangannya hampir sama dinginnya dengan es, dan
terasa menyejukkan di kulitku.
"Kurasa dugaanmu benar soal tangan yang patah,”
katanya. "Aku bangga padamu. Kau pasti mengerahkan
segenap tenagamu untuk melakukannya."
"Sebanyak yang kumiliki." Aku mendesah. "Meskipun
masih kurang, ternyata."
Edward mengecup tanganku lembut."Aku akan
merawatnya," janjinya. Kemudian ia berseru, "Jacob,”
suaranya tetap tenang dan datar.
"Sudah, sudah," Charlie mengingatkan.
Aku mendengar Charlie bangkit dari sofa. Jacob lebih
dulu sampai di ujung koridor, langkahnya juga nyaris tak
terdengar, tapi Charlie menyusul tak jauh di belakangnya.
Ekspresi Jacob waspada dan bersemangat.
"Aku tidak mau ada perkelahian, mengerti?" Charlie
hanya memandangi Edward saat bicara. "Kalau perlu, aku
bisa memakai lencanaku."
"Itu tidak perlu," kata Edward dengan nada kaku.
"Kenapa kau tidak menangkapku saja, Dad?" aku
mengusulkan. "Kan aku yang melakukan pemukulan."
Charlie mengangkat alis. "Kau mau mengajukan
tuntutan, Jake?"


"Tidak," Jacob nyengir. "Aku rela kok ditinju asal bisa
menciumnya."
Edward meringis.
"Dad, Dad menyimpan pemukul bisbol kan di kamar?
Aku ingin meminjamnya sebentar."
Charlie menatapku tajam. "Cukup, Bella."
"Ayo kita pergi supaya Carlisle bisa memeriksa
tanganmu sebelum kau telanjur masuk penjara," kata
Edward, ia merangkul bahuku dan menarikku ke pintu.
"Baiklah,” sahutku, bersandar padanya. Aku sudah tidak
terlalu marah lagi. karena sekarang aku sudah bersama
Edward. Aku merasa terhibur, dan tanganku tidak begitu
sakit lagi.
Kami sedang berjalan menyusuri trotoar waktu kudengar
Charlie berbisik dengan nada cemas di belakangku.
"Apa-apaan kau!" Sudah gila, ya?"
"Sebentar saja, Charlie,” sahut Jacob."Jangan khawatir,
sebentar lagi aku kembali."
Aku menoleh dan kulihat Jacob mengikuti kami,
berhenti sebentar untuk menutup pintu di depan wajah
Charlie yang kaget dan resah.
Awalnya Edward tidak menggubris Jacob, ia terus
menuntunku ke mobilnya. Ia membantuku naik menutup
pintu,kemudian berbalik menghadap Jacob di trotoar.
Aku mencondongkan badan dengan cemas lewat jendela
yang terbuka. Aku bisa melihat Charlie di dalam rumah,
mengintip dari sela-sela tirai ruang depan.
Pembawaan Jacob biasa-biasa saja, kedua lengannya
terlipat di dada, tapi otot-otot dagunya mengeras.


Edward berbicara dengan suara sangat tenang dan
lembut, tapi itu malah membuat kata-katanya terdengar
lebih mengancam. "Aku tidak akan membunuhmu
sekarang, karena itu akan membuat Bella sedih."
"Hahhh," gerutuku.
Edward berpaling sedikit untuk melontarkan senyum
sekilas. Wajahnya tetap tenang. "Besok pagi kau pasti akan
merasa bersalah,” katanya, menyapukan jari-jarinya ke
pipiku.
Lalu ia menoleh kembali pada Jacob. "Tapi kalau kau
sampai membawanya pulang lagi dalam keadaan cedera,
dan aku tidak peduli siapa yang salah dalam hal ini, aku
tidak peduli apakah dia sekadar tersandung, atau meteor
jatuh dari langit dan menimpa kepalanya, kalau kau
mengembalikan dia dalam keadaan kurang sempurna
daripada saat aku meninggalkannya padamu, kau akan
berlari hanya dengan tiga kaki. Kau mengerti itu, anjing!"
Jacob memutar bola matanya.
"Siapa yang mau kembali ke sana?" sergahku.
Edward meneruskan kata-katanya seakan-akan tidak
mendengar perkataanku. "Dan kalau kau berani
menciumnya lagi, aku akan mematahkan rahangmu
untuknya," janji Edward, suaranya masih lembut dan halus
laksana beledu, namun mematikan.
"Bagaimana kalau dia ingin aku menciumnya?" tantang
Jacob, arogan.
"Hah?” dengusku.
"Kalau itu yang dia inginkan, aku tidak keberatan,"
Edward mengangkat bahu, tak terusik. "Mungkin sebaiknya
kau menunggunya meminta, bukan malah seenaknya


mengartikan bahasa tubuhnya, tapi terserah saja, itu kan
wajahmu."
Jacob nyengir.
"Tak usah berharap," omelku.
"Memang dia berharap begitu," gumam Edward.
"Well, kalau kau sudah selesai mengorek-ngorek isi
kepalaku,” tukas Jacob jengkel, "kenapa kau tidak langsung
pergi untuk mengobati tangannya?"
"Satu hal lagi,” ujar Edward lambat-lambat. "Aku akan
berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankannya. Kau
harus tahu itu. Aku tidak menganggap sepele apa pun juga,
dan aku akan berjuang dua kali lebih keras daripada yang
bakal kaulakukan."
"Bagus," geram Jacob. "Tidak asyik mengalahkan orang
yang sudah menyerah kalah."
"Dia milikku,” Suara Edward yang rendah mendadak
garang, tidak setenang sebelumnya. "Aku tidak bilang aku
akan berjuang secara adil."
"Aku juga tidak."
"Semoga beruntung."
Jacob mengangguk. "Ya, semoga laki-laki yang terbaik
yang menang."
"Kedengarannya tepat sekali... guk."
Jacob meringis sekilas, kemudian ekspresinya kembali
datar dan ia memiringkan tubuhnya agar dapat tersenyum
padaku. Aku balas memelototinya.
"Mudah-mudahan tanganmu sebentar lagi sembuh. Aku
benar-benar menyesal kau cedera."


Dengan sikap kekanak-kanakan, aku membuang muka.
Aku tidak mendongak lagi saat Edward berjalan
mengitari mobil dan naik ke sisi pengemudi, jadi aku tidak
tahu apakah Jacob masuk kembali ke rumah atau tetap
berdiri di sana, mengawasiku.
"Bagaimana rasanya?" tanya Edward waktu kami
menjauh.
"Jengkel."
Edward terkekeh. "Maksudku tanganmu.”
Aku mengangkat bahu. "Aku sudah pernah mengalami
yang lebih parah daripada ini."
"Benar,” Edward sependapat, keningnya berkerut.
Edward membawa mobilnya mengitari rumah menuju
garasi. Tampak Emmett dan Rosalie di sana, kedua kaki
Rosalie yang sempurna, yang bisa dikenali meskipun
terbungkus jins, keluar dari bawah Jeep Emmett yang besar.
Emmett duduk di sebelahnya, sebelah tangan terulur ke
bawah Jeep ke arah Rosalie. Butuh waktu beberapa saat
untuk menyadari bahwa Emmett berfungsi sebagai
dongkrak.
Emmett memperhatikan dengan sikap ingin tahu saat
Edward membantuku turun dari mobil dengan hati-hati.
Matanya tertuju pada tangan yang kudekap di dada.
Emmett nyengir. "Jatuh lagi ya, Bella?"
Kutatap ia dengan galak. "Tidak, Emmett. Aku meninju
werewolf."
Emmett mengerjapkan mata, kemudian tawanya
meledak.


Saat Edward membimbingku melewati mereka, Rosalie
berbicara dari bawah mobil.
"Jasper bakal menang taruhan," ucap Rosalie puas.
Tawa Emmett langsung terhenti, dan ia mengamatiku
lagi dengan sorot mata menilai.
"Taruhan apa?" tuntutku, berhenti sejenak.
"Ayo kita segera memeriksakanmu ke Carlisle,” desak
Edward. Ditatapnya Emmett. Kepalanya menggeleng
nyaris tak kentara.
"Taruhan apa?" desakku sambil menoleh.
"Trims, Rosalie," gumam Edward sambil mempererat
pelukannya dan menarikku ke rumah.
"Edward...." gerutuku.
"Itu kekanak-kanakan." tukas Edward sambil
mengangkat bahu. "Emmett dan Jasper senang bertaruh."
"Emmett pasti mau memberitahuku,” Aku berusaha
berbalik, tapi lengan Edward mencengkeram erat seperti
besi di pinggangku.
Edward mendesah. "Mereka bertaruh berapa kali kau
akan... terpeleset pada tahun pertama."
"Oh.”
Aku meringis, berusaha menyembunyikan kengerian
yang mendadak muncul waktu aku menyadari maksudnya.
"Mereka bertaruh berapa banyak orang yang akan
kubunuh?"
"Ya,” Edward mengakui dengan sikap enggan. "Menurut
Rosalie, emosimu yang meledak-ledak akan membuat
Jasper menang taruhan."


Aku merasa sedikit gamang. "Jasper bertaruh aku akan
membunuh banyak orang."
"Dia bakal lebih senang kalau kau kesulitan
menyesuaikan diri. Dia sudah muak selalu menjadi yang
paling lemah."
"Tentu. Tentu saja itu akan membuatnya senang. Kurasa
aku bisa saja melakukan beberapa pembunuhan, kalau itu
membuat Jasper senang. Kenapa tidak?" aku mengoceh
tidak keruan, suaraku monoton dan datar. Dalam benakku,
aku seperti melihat judul-judul berita di koran, daftar namanama...
Edward meremasku. "Kau tidak perlu
mengkhawatirkannya. Faktanya, kau tidak perlu
mengkhawatirkannya sama sekali, kalau memang tidak
mau."
Aku mengerang dan Edward, mengira tangankulah yang
sakit, menarikku lebih cepat ke rumah.
Tanganku memang patah, tapi cederaku tidak terlalu
serius,hanya sedikit retak di salah satu buku jari. Aku tidak
mau digips, dan kata Carlisle, aku boleh hanya memakai
penyangga asal berjanji memakainya terus. Aku berjanji.
Edward tahu pikiranku berkelana ke mana-mana saat
Carlisle dengan hati-hati memasangkan penyangga
tanganku. beberapa kali ia menyuarakan kekhawatirannya
bahwa aku kesakitan, tapi kuyakinkan ia bukan itu
penyebabnya.
Seakan-akan aku butuh,atau masih bisa,
mengkhawatirkan hal lain.
Semua cerita Jasper tentang vampir-vampir yang baru
diciptakan berkecamuk dalam pikiranku sejak ia
menjelaskan masa lalunya. Sekarang tiba-tiba kisah-kisah


itu muncul lagi akibat berita tentang pertaruhannya dengan
Emmett. Dalam hati aku penasaran apa yang mereka
pertaruhkan. Hadiah apa yang bisa memotivasi bila kau
sudah memiliki segalanya?
Sejak dulu aku tahu aku bakal berbeda. Aku berharap
mudah-mudahan aku bisa jadi sekuat yang dikatakan
Edward. Kuat, cepat, dan yang terpenting, cantik.
Seseorang yang bisa berdiri di sisi Edward dan merasa
dirinya memang pantas berada di sana.
Aku berusaha untuk tidak terlalu banyak berpikir tentang
hal-hal lain yang juga akan terjadi nantinya. Liar. Haus
darah. Mungkin aku takkan bisa berhenti membunuh orang.
Orang-orang yang tidak kukenal, yang tak pernah
menyakitiku. Orang-orang seperti para korban di Seattle
yang jumlahnya semakin bertambah, yang memiliki
keluarga, teman-teman, dan masa depan. Orang-orang yang
memiliki kehidupan. Dan aku bisa menjadi monster yang
merenggut semua itu dari mereka.
Namun sejujurnya. aku bisa mengatasi bagian itu,karena
aku percaya kepada Edward, percaya penuh kepadanya.
bahwa ia tidak akan membiarkanku melakukan hal-hal
yang bakal kusesali. Aku tahu ia pasti mau membawaku ke
Antartika dan berburu penguin kalau aku memintanya. Dan
aku rela melakukan apa pun asal bisa menjadi orang yang
baik. Vampir yang baik. Pikiran itu pasti akan membuatku
terkikik.. seandainya aku tidak sedang mengkhawatirkan
hal baru ini.
Karena, kalau entah bagaimana aku benar-benar seperti
itu,seperti gambaran mengerikan tentang vampir baru
sebagaimana digambarkan Jasper dalam benakku –
mungkinkah aku bisa menjadi diriku,Dan seandainya yang
kuinginkan hanya membunuh orang, bagaimana jadinya
dengan hal-hal yang kuinginkan sekarang?


Edward sangat terobsesi agar aku tidak kehilangan satu
pun pengalaman sebagai manusia. Biasanya keinginannya
itu terkesan konyol. Tidak banyak pengalaman manusia
yang kukhawatirkan bakal hilang. Selama aku bisa bersama
Edward, apa lagi yang kuinginkan?
Kupandangi wajahnya sementara ia mengawasi Carlisle
mengobati tanganku. Tak ada hal lain di dunia ini yang
kuinginkan lebih daripada dia. Apakah itu, bisakah itu,
berubah?
Adakah pengalaman manusia yang tidak ingin
kulewatkan?
16. HARI YANG PENTING
"AKU tidak punya baju!'" aku mengeluh sendiri.
Setiap potong baju yang kumiliki bertebaran di tempat
tidur; laci-laci dan lemariku kosong. Kupandangi ruangruang
kosong itu, berharap bakal muncul baju bagus yang
bisa kupakai.
Rok khaki-ku tersampir di punggung kursi goyang,
menungguku menemukan padanan yang pas. Sesuatu yang
akan membuatku terlihat cantik dan dewasa. Sesuatu yang
menyatakan acara istimewa. Tapi aku tidak menemukan
apa-apa.
Sebentar lagi aku harus berangkat, tapi aku masih
mengenakan sweter lusuh favoritku. Kecuali aku bisa
menemukan sesuatu yang lebih baik di sini,dan
kemungkinannya sangat kecil,aku akan diwisuda dalam
balutan sweter ini.
Kupelototi tumpukan baju di tempat tidur dengan wajah
cemberut.


Yang paling membuatku jengkel, aku tahu persis apa
yang akan kukenakan seandainya baju itu ada, blus
merahku yang hilang dicuri. Kutinju dinding dengan
tanganku yang sehat.
"Dasar vampir maling tolol menjengkelkan!" geramku.
"Memangnya apa yang kulakukan?" tuntut Alice.
Alice bersandar santai di sebelah jendela yang terbuka,
seolah-olah sudah sejak tadi ia di sana.
"Tok, tok,” imbuhnya sambil nyengir.
"Susah ya, menungguku datang membukakan pintu?"
Alice melemparkan kotak putih pipih ke tempat tidur.
"Aku kebetulan lewat. Kupikir, mungkin kau butuh sesuatu
untuk dikenakan."
Kutatap bungkusan besar yang teronggok di atas
tumpukan pakaianku yang tidak memuaskan, dan meringis.
''Akuilah,” tukas Alice. "Aku ini penyelamat.”
"Kau memang penyelamat,” gumamku. "Trims.”
"Well, senang juga sekali-sekali bisa melakukan sesuatu
dengan benar. Kau tidak tahu betapa menjengkelkannya
masalah ini, kecolongan tidak bisa melihat hal-hal yang
seharusnya bisa kulihat. Aku merasa sangat tidak berguna,
Sangat... normal." Alice meringis merasakan betapa
ngerinya kata itu.
"Tak terbayangkan betapa tidak enaknya itu. Menjadi
normal? Ugh."
Alice tertawa. "Well, paling tidak ini bisa menggantikan
bajumu yang hilang dicuri maling menyebalkan itu,
sekarang aku tinggal memikirkan apa yang tidak bisa
kulihat di Seattle."


Ketika Alice mengucapkan kata-kata itu, menyatukan
dua situasi dalam satu kalimat, saat itulah bola lampu bagai
menyala di kepalaku. Sesuatu yang samar yang berhari-hari
mengganggu ketenanganku, benang merah yang tak
kunjung bisa kuketahui apa itu, tiba-tiba saja menjadi jelas.
Kutatap Alice, wajahku membeku dengan entah ekspresi
apa yang tadi terlintas.
"Kau tidak mau membukanya?" tanya Alice. Ia
mendesah waktu aku tidak segera bergerak, lalu ia sendiri
yang membuka tutup kotak itu. Lalu mengeluarkan sesuatu
dari dalamnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tapi aku
tidak bisa mengumpulkan konsentrasiku. "Cantik, kan? Aku
memilih warna biru, karena aku tahu Edward paling suka
melihatmu memakai warna itu."
Aku tidak mendengarkan.
"Berarti sama," bisikku.
"Apanya yang sama?" tuntut Alice. "Kau tidak punya
gaun seperti ini. Ya ampun, kau kan hanya punya satu rok!"
"Bukan, Alice! Lupakan dulu soal gaun itu, dengarkan!"
"Kau tidak suka, ya?" Wajah Alice disaput perasaan
kecewa.
"Dengar, Alice, masa kau tidak mengerti juga? Berarti
sama! Orang yang membobol masuk dan mencuri
barangku, serta para vampir baru di Seattle sana. Mereka
bersama-sama!"
Pakaian itu terjatuh dari sela-sela jari Alice, suaranya
mendadak tajam. "Kenapa kau mengira begitu?"
"Ingat apa yang dikatakan Edward. waktu itu? Mengenai
seseorang yang memanfaatkan lubang-lubang dalam
penglihatanmu sehingga kau tak bisa melihat para vampir


baru itu? Kemudian ucapanmu sebelumnya, tentang
pemilihan waktunya yang sangat pas, betapa si pencuri
sangat berhati-hati untuk tidak melakukan kontak apa pun,
seolah-olah dia tahu kau akan bisa melihatnya kalau dia
menyentuh sesuatu. Menurutku kau benar, Alice, kurasa
dia memang tahu. Kurasa dia memang sengaja
memanfaatkan lubang-lubang itu. Dan seberapa besar
kemungkinan ada dua orang berbeda yang cukup banyak
tahu mengenai dirimu sehingga bukan hanya mereka bisa
berbuat begitu, tapi juga memutuskan melakukannya pada
saat bersamaan Tidak mungkin. Pelakunya pasti satu orang.
Orang yang menciptakan pasukan ini adalah orang yang
mencuri bauku."
Alice tidak terbiasa dibuat kaget. Tubuhnya langsung
membeku, dan ia tertegun lama sekali sehingga aku mulai
menghitung-hitung dalam kepalaku sambil menunggu. Ia
tidak bergerak dua menit penuh. Lalu matanya terfokus
kembali padaku.
"Kau benar.” katanya terperangah. "Tentu saja kau
benar. Dan waktu kau menjelaskannya seperti itu...”
"Ternyata dugaan Edward keliru,” bisikku. "Ternyata ini
ujian... untuk melihat apakah ini berhasil. Bahwa dia bisa
masuk dan keluar dengan aman selama dia tidak
melakukan hal-hal yang harus kauawasi. Seperti mencoba
membunuhku, misalnya.... Dan dia bukan mengambil
barang-barangku untuk membuktikan dia sudah
menemukanku. Dia mencuri bauku... supaya yang lain-lain
bisa menemukan aku."
Mata Alice membelalak lebar karena syok. Aku benar,
dan kentara sekali ia juga tahu itu.
"Oh, tidak,” ujarnya tanpa suara.


Aku sudah tak lagi mengharapkan emosiku bereaksi
secara masuk akal. Sementara otakku mencerna fakta
bahwa ada orang yang menciptakan sepasukan vampir –
pasukan yang dengan kejam sudah membunuh lusinan
orang di Seattle – untuk tujuan kilat menghancurkan aku,
aku justru merasa sangat lega.
Sebagian karena akhirnya aku berhasil menemukan
jawaban atas perasaan tak enak yang terus mengusikku,
bahwa ada hal penting yang luput dari perhatianku.
Tapi sebagian lagi justru berbeda sama sekali.
"Well,” bisikku, "sekarang semua boleh merasa lega.
Ternyata tidak ada yang berniat menghabisi keluarga
Cullen."
"Kalau kaukira hal yang satu itu sudah berubah, kau
salah besar,” sergah Alice dari sela-sela rahangnya yang
terkatup rapat. Kalau ada orang yang mengincar salah satu
dari kita, mereka harus melewati kita dulu untuk bisa
mencapai yang satu itu.”
"Trims, Alice. Tapi setidaknya kita tahu apa yang
sesungguhnya mereka incar. Itu pasti bisa membantu.”
"Mungkin.” gumamnya. Ia mulai berjalan mondarmandir
di dalam kamarku.
Duk, duk – pintu kamarku digedor-gedor.
Aku terlonjak. Alice sepertinya tidak menyadari.
"Belum siap juga, ya? Bisa-bisa kita terlambat!" protes
Charlie, kedengarannya gelisah. Seperti aku, Charlie juga
kurang menyukai acara-acara resmi. Dalam kasusnya,
persoalannya adalah karena harus berpakaian rapi.
"Hampir. Sebentar lagi,” jawabku parau.
Charlie terdiam sejenak. "Kau menangis, ya.”


"Tidak. Aku hanya gugup. Pergilah.”
Kudengar langkah-langkah kaki Charlie yang berat
menuruni tangga.
“Aku pergi dulu, ya,” bisik Alice.
"Kenapa?"
"Sebentar lagi Edward datang. Kalau dia mendengar
tentang hal ini..."
"Pergi, pergi!” desakku langsung. Edward pasti bakalan
langsung panik kalau tahu. Aku takkan bisa
menyembunyikan masalah ini terlalu lama darinya, tapi
mungkin upacara kelulusan bukan saat yang tepat untuk
reaksinya.
"Pakailah,” perintah Alice sambil bergegas keluar
jendela.
Aku melaksanakan perintahnya, berpakaian dengan
sikap linglung.
Awalnya aku berencana menata rambutku dengan
tatanan indah, tapi karena sudah tak sempat lagi, aku
membiarkannya tergerai membosankan seperti biasa.
Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tak sempat lagi mematut diri
di cermin. jadi tidak tahu bagaimana penampilanku
mengenakan sweter dan rok pemberian Alice. Aku
menyampirkan toga polyester kuning jelek di lenganku dan
bergegas menuruni tangga.
"Kau cantik.” puji Charlie, belum-belum suaranya sudah
tersendat menahan haru. "Baju baru, ya?"
"Yeah,” gumamku, berusaha berkonsentrasi.
"Pemberian Alice. Trims."
Edward datang hanya beberapa menit setelah Alice
pergi, Tak cukup waktu untuk memasang ekspresi tenang di


wajahku. Tapi berhubung kami akan naik mobil patroli
bersama Charlie, ia tidak sempat bertanya ada masalah apa.
Minggu lalu Charlie ngotot begitu tahu aku bermaksud
pergi dengan Edward ke acara wisuda. Dan aku mengerti
maksudnya,orang tua seharusnya mendapat hak utama
untuk datang ke acara wisuda. Aku mengalah dengan
lapang dada, dan Edward dengan riang menyarankan kami
pergi bersama. Berhubung Carlisle dan Esme tidak
keberatan. Charlie tak bisa menemukan alasan kuat untuk
menolak; dengan berat hati ia terpaksa setuju. Dan sekarang
Edward duduk di jok belakang mobil polisi ayahku, di balik
pemisah yang terbuat dari fiberglass, dengan ekspresi geli –
mungkin karena ayahku juga menunjukkan ekspresi geli,
disertai cengiran lebar setiap kali matanya diam-diam
melirik Edward di kaca spion. Yang hampir pasti berarti
Charlie membayangkan hal-hal yang akan membuatnya
bertengkar denganku kalau ia menyuarakan pikirannya.
"Kau baik-baik saja?" bisik Edward waktu ia
membantuku turun dari jok depan di lapangan parkir
sekolah.
"Gugup,” jawabku, dan itu benar.
"Kau cantik sekali,” pujinya.
Sepertinya Edward ingin mengatakan sesuatu yang lain,
tapi Charlie, kentara sekali dari sikapnya, menyelinap di
antara kami dan merangkul bahuku.
"Kau senang?" tanyanya.
"Tidak juga," aku mengakui.
"Bella, ini hari besar. Kau lulus SMA. Sekarang kau
masuk ke dunia sesungguhnya. Kuliah. Hidup mandiri...
Kau bukan gadis kecilku lagi," Charlie tersendat di akhir
kalimat.


"Dad,” erangku. "Kumohon, jangan cengeng.”
"Siapa yang cengeng?" geram Charlie. "Nah, kenapa kau
tidak senang?"
"Aku tidak tahu, Dad. Mungkin belum terasa atau
bagaimana."
"Bagus juga Alice menyelenggarakan pesta. Kau
membutuhkan sesuatu yang bisa membuatmu gembira.”
"Tentu. Aku memang butuh pesta.”
Charlie tertawa mendengar nadaku dan meremas
bahuku. Edward mendongak ke awan-awan, wajahnya
seperti berpikir.
Ayahku harus meninggalkan kami di pintu belakang
gimnasium dan mengitari gedung menuju pintu masuk
utama bersama para orangtua lain.
Suasana hiruk-pikuk saat Mr. Cope dari Bagian Tata
Usaha dan Mr. Vamer, guru Matematika, berusaha
mengatur semua orang berbaris secara alfabetis.
"Kau ke depan, Mr, Cullen," bentak Mr. Vamer kepada
Edward.
"Hai, Bella!"
Aku mendongak dan melihat Jessica Stanley melambai
padaku dari bagian belakang barisan dengan senyum lebar
menghiasi wajah.
Edward menciumku sekilas, mendesah, dan bergabung
dengan murid-murid lain yang nama keluarganya juga
berawalan dengan huruf C. Alice tidak ada. Apa yang akan
dia lakukan? Membolos dari acara wisuda? Sungguh bukan
saat yang tepat bagiku untuk melontarkan dugaan tadi.
Seharusnya aku menunggu sampai acara ini selesai.


"Sini, Bella!" Jessica memanggilku lagi.
Aku berjalan menyusuri barisan untuk berdiri di
belakang Jessica, dalam hati agak heran kenapa ia tiba-tiba
begitu ramah. Ketika aku sudah semakin dekat, kulihat
Angela berdiri lima baris lebih ke belakang, mengamati
Jessica dengan keingintahuan yang sama.
Jess sudah mengoceh sebelum aku bisa mendengar
suaranya.
"..sungguh luar biasa. Maksudku, kayaknya kita baru
saja bertemu, tapi tahu-tahu sekarang kita sama-sama
diwisuda," celotehnya. "Percaya nggak kalau ini sudah
berakhir? Rasanya aku kepingin menjerit!"
“Aku juga,” gumamku.
"Ini benar-benar luar biasa. Ingatkah kau waktu kau
pertama kali datang ke sini? Waktu itu kita langsung akrab.
Pokoknya sejak pertama kali bertemu. Luar biasa. Dan
sekarang aku akan ke Califomia dan kau ke Alaska. Wah,
aku pasti kangen sekali padamu! Janji ya, kita harus
kumpul-kumpul lagi kapan-kapan! Aku senang sekali kau
akan bikin pesta. Sempurna. Karena. kita sudah lama nggak
kumpul-kumpul.Sementara sebentar lagi kita akan
berpisah.."
Jessica mengoceh terus, dan aku yakin sikapnya yang
tiba-tiba ramah pasti dikarenakan nostalgia kelulusan dan
perasaan gembira karena diundang ke pesta, padahal aku
sama sekali tidak punya andil dalam hal itu. Aku berusaha
keras menyimak celotehannya sambil mengenakan toga.
Dan ternyata aku senang karena hubunganku dengan
Jessica bisa berakhir dengan baik.
Karena ini adalah akhir, tak peduli apa pun yang
dikatakan Eric, si lulusan terbaik, dalam kata sambutannya,


yang mengatakan bahwa "commencement" selain memiliki
arti secara penyerahan ijazah kepada para lulusan, juga
berarti “awal" dan segala macam omong kosong lainnya.
Acara berjalan sangat cepat. Aku merasa seperti
menekan tombol fast forward. Memangnya kita harus
berjalan secepat itu? Kemudian Eric berpidato dengan
sangat cepat saking gugupnya, kata-kata dan kalimat
berkejaran hingga pidatonya tak bisa dimengerti lagi. Tahutahu
Kepala Sekolah Greene sudah mulai memanggil namanama
para wisudawan, antara satu dengan yang lain tanpa
diselingi jeda yang cukup panjang; deretan depan
gimnasium sampai terbirit-birit maju. Ms. Cope yang
malang sampai kewalahan memberikan ijazah yang benar
kepada Kepala Sekolah sesuai nama yang dipanggil.
Kulihat Alice, yang mendadak muncul, melenggang ke
panggung untuk menerima ijazahnya, ekspresi penuh
konsentrasi terpatri di wajahnya. Edward menyusul di
belakang, ekspresinya bingung, tapi tidak kalut. Hanya
mereka yang bisa mengenakan toga kuning jelek ini dan
tetap tampil menawan.
Keduanya tampak menonjol di tengah kerumunan,
kerupawanan dan keanggunan mereka seakan berasal dari
dunia lain. Aku jadi heran sendiri bagaimana aku dulu bisa
mengira mereka manusia biasa. Sepasang malaikat, lengkap
dengan sayap, justru tidak akan terlihat mencolok.
Kudengar Mr. Greene memanggil namaku dan aku
bangkit dari kursi, menunggu barisan di depanku bergerak.
Terdengar sorakan di bagian belakang gimnasium, aku
menoleh dan melihat Jacob menarik Charlie berdiri,
keduanya bersorak-sorai memberi semangat. Aku bahkan
sempat melihat puncak kepala Billy di sebelah siku Jake.
Aku masih sempat menyunggingkan sesuatu yang
menyerupai senyuman.


Mr. Greene selesai membacakan daftar nama, tapi terus
menyodorkan ijazah dengan senyum malu sementara kami
lewat di depannya.
"Selamat, Miss Stanley." gumamnya saat Jess menerima
ijazahnya.
"Selamat, Miss Swan." gumamnya. seraya menjejalkan
ijazah ke tanganku yang sehat.
"Trims,” gumamku.
Dan selesailah sudah.
Aku berdiri di sebelah Jessica bersama para wisudawan
lain. Sekeliling mata Jess merah, dan ia berkali-kali
menyeka wajahnya dengan lengan toga. Sedetik kemudian
baru aku paham ia menangis.
Mr. Greene mengatakan sesuatu yang tidak terdengar
olehku, dan semua orang di sekelilingku bersorak-sorai dan
berteriak. Topi-topi kuning berjatuhan di sekitarku. Kulepas
juga topiku, terlambat, dan hanya membiarkannya jatuh ke
tanah.
"Oh, Bella!" pekik Jess di tengah suara orang-orang
mengobrol yang mendadak terdengar. "Tidak percaya
rasanya kita sudah tamat SMA."
"Aku tidak percaya semua sudah berakhir," gumamku.
Jessica memeluk leherku. "Janji ya, kita akan terus saling
berhubungan.”
Aku balas memeluknya, merasa sedikit canggung karena
mengelak mengiyakan permintaannya. "Aku sangat
senang bisa mengenalmu, Jessica. Masa dua tahun yang
sungguh indah.”


"Ya, memang.” desahnya, dan terisak. Kemudian ia
melepas pelukannya. "Lauren!" pekiknya, melambai-lambai
di atas kepalanya dan berjalan menembus kerumunan toga
kuning. Para keluarga mulai membaur, membuat kami
semakin terdesak.
Aku melihat Angela dan Ben, tapi mereka dikelilingi
keluarga mereka. Nanti saja aku menyelamati mereka.
Aku menjulurkan leher panjang-panjang, mencari Alice.
"Selamat,” bisik Edward di telingaku, kedua lengannya
memeluk pinggangku. Suaranya pelan; ia tidak ingin buruburu
melihatku sampai di titik penting ini.
"Eh, trims.”
"Kelihatannya kau masih gugup,” Edward mengamati.
"Memang masih."
"Apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Pesta nanti malam?
Tidak akan seburuk yang kaukira."
"Mungkin kau benar."
"Kau mencari siapa?”
Ketahuan juga ternyata. "Alice – di mana dia?"
"Begitu mendapatkan ijazahnya, dia langsung kabur.”
Nada suaranya berubah. Aku mendongak dan melihat
Edward memandang ke pintu belakang gimnasium dengan
ekspresi bingung. dan aku langsung mengambil keputusan
saat itu juga, keputusan yang semestinya harus kupikirkan
baik-baik, tapi jarang kulakukan.
"Kau mengkhawatirkan Alice?" tanyaku.
"Eh...," Edward tidak mau menjawab.


"Omong-omong, apa yang sedang dia pikirkan? Untuk
mencegahmu membaca pikirannya, maksudku."
Mata Edward berkelebat ke wajahku, dan menyipit
curiga. "Saat ini dia sedang menerjemahkan Himne Perang
Republik ke dalam bahasa Arab. Kalau sudah selesai nanti,
dia akan beralih ke bahasa sandi Korea."
Aku tertawa gugup. "Kurasa itu akan membuat otaknya
cukup sibuk."
"Kau tahu apa yang dia sembunyikan dariku," tuduh
Edward.
"Tentu saja," Aku menyunggingkan senyum lemah.
"Justru akulah yang menyebabkannya."
Edward menunggu, bingung.
Aku memandang berkeliling. Charlie pasti sedang
berusaha menembus kerumunan untuk mencapai kami.
"Aku tahu bagaimana Alice,” aku buru-buru berbisik,
"mungkin dia berusaha menyembunyikan masalah ini
darimu sampai setelah pesta nanti. Tapi karena aku sendiri
tidak keberatan pestanya dibatalkan, well, bagaimanapun,
jangan langsung panik, oke? Selalu lebih baik kalau kita
tahu sebanyak mungkin yang bisa kita ketahui. Itu pasti bisa
membantu, entah bagaimana caranya."
"Apa sih yang kaubicarakan?"
Kulihat kepala Charlie di tengah lautan kepala lain saat
ia mencariku. Lalu tatapannya tertumbuk padaku dan ia
melambaikan tangan.
"Pokoknya tetaplah tenang, oke?"
Edward mengangguk sekali, mulutnya terkatup
membentuk garis yang muram.


Dalam bisikan terburu-buru aku menjelaskan pikiranku
padanya. "Menurutku selama ini kau salah bila mengira
persoalan-persoalan yang kita hadapi berasal dari beberapa
pihak. Menurutku justru semuanya berasal dari satu pihak...
dan kurasa pelakunya sebenarnya mengincarku. Semua itu
berhubungan, pasti. Hanya satu orang yang mencoba
bermain-main dengan visi Alice. Orang tak dikenal yang
masuk ke kamarku adalah ujian, untuk menguji apakah ada
yang bisa menyelinap tanpa terlihat oleh pikiran Alice.
Orang ini pastilah orang yang sama dengan yang selalu
berubah pikiran, dan yang menciptakan para vampir baru,
dan yang mencuri baju-bajuku,semuanya berhubungan.
Bajuku diambil untuk mereka."
Wajah Edward berubah putih pias hingga aku sulit
menyelesaikan penjelasanku.
"Tapi tidak ada yang mengincar kalian, kau mengerti,
kan? Itu bagus – Esme, Alice, dan Carlisle, berarti tidak ada
yang berniat menyakiti mereka!"
Mata Edward membesar, membelalak panik, terpana,
dan ngeri. Ia langsung tahu aku benar, sama halnya dengan
Alice.
Kuletakkan tanganku di pipinya. "Tenang," aku
memohon.
"Bella!" seru Charlie, menerobos kerumunan keluargakeluarga
yang berjejal di sekeliling kami.
"Selamat, Sayang!" Dia masih saja berteriak, padahal
sudah berada tepat di samping telingaku. Dirangkulnya aku
erat-erat, dengan licik menggeser Edward saat
melakukannya.
"Trims," gumamku, pikiranku tertuju pada ekspresi
Edward. Ia masih belum bisa menguasai diri. Kedua


tangannya separuh terulur ke arahku, seperti hendak
menyambar dan membawaku kabur. Aku sedikit lebih bisa
menguasai diri ketimbang dia, dan menurutku kabur
rasanya tidak terlalu buruk.
"Jacob dan Billy harus buru-buru pulang, kau lihat tidak
mereka datang tadi?" Tanya Charlie, mundur selangkah,
tapi kedua tangannya tetap memegang bahuku. Ia berdiri
memunggungi Edward, mungkin sengaja untuk
membuatnya merasa tersisih, namun saat ini hal itu bukan
masalah. Mulut Edward menganga lebar, matanya masih
membelalak ketakutan.
"Yeah,” aku meyakinkan ayahku, berusaha tetap
menyimak perkataannya. "Suara mereka kedengaran kok."'
"Baik betul mereka sampai mau repot-repot datang,”
kata Charlie.
"He-eh."
Oke, ternyata memberitahu Edward bukan ide bagus.
Tindakan Alice mengaburkan pikirannya benar. Seharusnya
aku menunggu sampai kami sendirian di suatu tempat,
mungkin bersama anggota keluarganya yang lain. Dan
tidak. ada benda-benda yang mudah pecah di sekitarnya –
seperti jendela...mobil... bangunan sekolah. Wajah Edward
memunculkan kembali semua perasaan takutku, bahkan
lebih. Walaupun ekspresinya kini bukan lagi takut,tapi
amarah meluap-luap yang mendadak. tampak jelas di
wajahnya.
"Nah, sekarang kau mau makan malam di mana?" tanya
Charlie. "Di mana saja boleh lho."
"Aku kan bisa masak."
"Jangan konyol. Bagaimana kalau kita makan di Lodge?"
usul Charlie dengan senyum bersemangat.


Aku tidak begitu suka makan di restoran favorit Charlie,
tapi saat ini apa bedanya? Aku toh tidak. bakal bisa makan.
"Baiklah, ke Lodge, keren." sahutku.
Senyum Charlie semakin lebar, kemudian ia mendesah.
Ia menoleh sedikit ke arah Edward, tanpa benar-benar
menatapnya.
"Kau mau ikut juga, Edward?"
Kupandangi dia, mataku memohon. Edward mengubah
ekspresinya tepat sebelum Charlie menoleh untuk
melihat kenapa Edward tidak. menjawab.
"Tidak, terima kasih,” jawab Edward kaku, wajahnya
keras dan dingin.
"Kau punya rencana lain bersama orangtuamu?" tanya
Charlie, nadanya agak tidak enak. Edward selalu lebih
sopan meskipun Charlie sebenarnya tak pantas
menerimanya. Kini sikapnya yang mendadak ketus
mengagetkan Charlie.
"Ya. Permisi...” Edward tiba-tiba berbalik dan
menghambur menerobos kerumunan yang mulai berkurang.
Gerakannya agak terlalu cepat, terlalu kalut untuk
mempertahankan pembawaannya yang biasanya sempurna.
"Aku salah omong, ya?" Tanya Charlie dengan ekspresi
bersalah.
"Jangan khawatir, Dad,” aku meyakinkan dia. "Kurasa
bukan Dad penyebabnya.”
"Kalian bertengkar lagi?"
"Tidak ada yang bertengkar. Urus saja urusan Dad
sendiri."
"Kau memang urusanku.”


Aku memutar bola mataku. "Ayo kita makan."
The Lodge sarat pengunjung. Tempat itu, menurut
pendapatku, kemahalan dan norak, tapi hanya itu satusatunya
tempat di kota yang paling mirip restoran resmi,
jadi selalu populer menjadi ajang berbagai acara. Dengan
muram kupandangi pajangan kepala rusa sementara Charlie
melahap iga panggang dan mengobrol dengan orangtua
Tyler Crowley di meja sebelah. Suasananya berisik, semua
yang datang ke sana baru saja kembali dari acara kelulusan,
dan sebagian besar mengobrol dengan sesama pengunjung
di seberang lorong atau meja sebelah seperti Charlie.
Aku duduk membelakangi jendela depan, berusaha
melawan godaan untuk menoleh dan mencari-cari sepasang
mata yang bisa kurasakan tertuju padaku sekarang. Aku
tahu aku takkan melihat apa-apa. Sama pastinya dengan
aku tahu ia tak mungkin membiarkan aku sendirian tanpa
diawasi, bahkan sedetik sekalipun. Tidak setelah ini.
Makan malam berjalan lambat. Charlie, yang sibuk
bersosialisasi, makan terlalu pelan. Kucuil-cuil burgerku,
menjejalkan potongan demi potongan ke serbet saat aku
yakin Charlie sedang tidak melihat. Sepertinya waktu
berjalan sangat lama, tapi waktu aku melihat jam,yang
kulakukan lebih sering daripada yang perlu
kulakukan,jarum jamnya ternyata belum bergerak terlalu
jauh.
Akhirnya Charlie selesai mendapat kembalian dan
meletakkan tip di meja. Aku berdiri.
"Buru-buru, ya?" tanyanya.
"Aku ingin membantu Alice mempersiapkan segala
sesuatunya,” jawabku.


"Oke." Charlie berpaling sebentar untuk berpamitan
kepada semua orang. Aku keluar dan menunggu di samping
mobil polisi.
Aku bersandar di pintu depan, menunggu Charlie selesai
berpamitan dengan teman-temannya. Sudah hampir gelap
di lapangan parkir, awan-awan sangat tebal, hingga tidak
ketahuan lagi apakah matahari sudah terbenam atau belum.
Udara terasa pengap. seperti hendak turun hujan.
Sesuatu bergerak dalam keremangan bayang-bayang.
Seruan tertahanku berubah jadi embusan napas lega
ketika kulihat Edward muncul dari keremangan.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia mendekapku erat-erat di
dadanya. Tangannya yang dingin meraih daguku, lalu
menengadahkan wajahku supaya ia bisa menempelkan
bibirnya yang keras ke bibirku. Bisa kurasakan ketegangan
di dagunya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku begitu ia
membiarkanku menarik napas.
"Tidak begitu baik,” gumamnya. "Tapi aku harus bisa
menguasai diri. Maaf kalau aku tadi tidak bisa menahan
emosi.”
"Salahku. Seharusnya aku menunda memberitahumu.”
"Tidak,” sergah Edward. "Ini hal penting yang perlu
kuketahui. Sulit dipercaya aku justru tidak melihatnya!"
"Kau kan sedang banyak pikiran.”
"Dan kau tidak?"
Tiba-tiba Edward menciumku lagi, tidak membiarkanku
menjawab. Ia melepaskan diri sedetik kemudian. "Sebentar
lagi Charlie keluar."


''Aku akan memintanya mengantarku ke rumahmu.”
“Aku akan mengikutimu ke sana.”
"Itu tidak perlu,” aku mencoba berkata, tapi Edward
sudah keburu lenyap.
"Bella?" Charlie memanggil dari ambang pintu restoran,
menyipitkan mata, berusaha melihat dalam gelap.
"Aku di sini.”
Charlie melenggang ke mobil, menggerutu pelan,
mengomeli ketidaksabaranku.
"Nah, apa yang kaurasakan sekarang?" tanya Charlie
padaku saat mobil melaju di jalan tol menuju utara. "Ini
hari yang sangat bersejarah bagimu.”
"Aku merasa baik-baik saja,” dustaku.
Charlie tertawa, tahu aku bohong. "Khawatir soal pesta
itu?" tebaknya.
"Yeah,” dustaku lagi.
Kali ini Charlie percaya saja. "Kau memang tidak pernah
suka pesta.”
"Keturunan siapa, ya?" gumamku.
Charlie terkekeh. "Well, kau kelihatan sangat cantik.
Seandainya saja terpikir olehku untuk membelikanmu
sesuatu. Maaf, ya.”
“Jangan konyol, Dad
"Itu tidak konyol. Aku merasa tidak selalu melakukan
hal yang seharusnya kulakukan untukmu.”
"Itu konyol. Dad hebat kok. Ayah terbaik di dunia.
Dan...” Tak mudah berbicara hati ke hati dengan Charlie,
tapi akhirnya aku bisa juga, setelah lebih dulu berdeham-


deham. "Dan aku sangat senang pindah dan tinggal
bersamamu, Dad. Itu ide terbaik yang pernah terpikir
olehku. Jadi jangan khawatir – Dad hanya sedang
mengalami pesimisme pascawisuda.”
Charlie mendengus. "Mungkin. Tapi aku yakin pernah
gagal di sana-sini beberapa kali. Maksudku, lihat saja
tanganmu!"
Aku menunduk, memandangi kedua tanganku dengan
pandangan kosong. Tangan kiriku disandang penyangga
yang aku sendiri jarang menyadarinya. Buku jariku yang
retak tidak begitu sakit lagi.
"Tak pernah terpikir olehku untuk mengajarimu cara
meninju orang. Tapi ternyata aku salah.”
"Lho, kupikir Dad memihak Jacob?"
"Tak peduli aku memihak siapa, kalau ada yang
menciummu tanpa izin, kau harus bisa menegaskan
perasaanmu tanpa mencederai dirimu sendiri. Kau pasti
tidak memasukkan ibu jari ke kepalan tangan, ya?"
"Tidak. Dad. Baik sekali Dad sampai berpikir begitu,
walaupun itu pikiran aneh, tapi kurasa, diajari pun
percuma. Kepala Jacob benar-benar keras.”
Charlie tertawa. "Lain kali, kalau mau meninju di perut.”
"Lain kali?" tanyaku tidak percaya.
"Sudahlah, jangan terlalu keras padanya. Dia masih
muda.”
"Dia menjengkelkan.”
"Dia tetap temanmu.”
''Aku tahu,” Aku mendesah. ''Aku tidak benar-benar tahu
apa yang sebaiknya kulakukan dalam hal ini, Dad.”


Charlie mengangguk lambat-lambat. "Yeah. Tidak
selamanya hal yang tepat itu bisa diketahui dengan jelas.
Terkadang hal yang tepat untuk seseorang justru tidak tepat
bagi orang lain. Jadi... silakan memikirkannya sendiri.”
"Trims,” gumamku garing.
Lagi-lagi Charlie tertawa, tapi sejurus kemudian
keningnya berkerut. "Kalau pesta ini jadi terlalu liar...” ia
mulai mewanti-wanti.
"Jangan khawatir, Dad. Carlisle dan Esme ada di sana
untuk mengawasi. Aku yakin Dad juga boleh datang. kalau
mau."
Charlie meringis sambil menyipitkan mata, berusaha
melihat menembus kegelapan di luar kaca depan. Charlie
juga tidak suka pesta, sama seperti aku.
"Di mana ya belokannya?" tanya Charlie. "Seharusnya
mereka memangkas pepohonan dan semak di sekitar jalan
masuk – mustahil menemukannya gelap-gelap begini."
"Sehabis tikungan berikutnya, kalau tidak salah.” Aku
mengerucutkan bibir. "Dad benar – mustahil
menemukannya. Kata Alice, dia sudah mencantumkan peta
di undangannya. Meski begitu, mungkin semua orang bakal
tersesat.” Aku sedikit senang membayangkan hal itu.
"Mungkin,” sahut Charlie saat jalan menikung ke timur.
"Atau mungkin juga tidak.”
Kegelapan yang hitam pekat mendadak sirna di depan,
tepat di jalan masuk menuju rumah keluarga Cullen.
Seseorang melilitkan ribuan lampu kecil berkelap-kelip di
pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan, jadi mustahil
terlewatkan.
“Alice,” ucapku masam.


"Wow,” Charlie terkagum-kagum saat kami berbelok
memasuki jalan masuk. Bukan hanya dua pohon di ujung
jalan yang dihiasi lampu. Setiap kira-kira dua puluh meter,
sebuah "mercusuar" menyala membimbing para tamu
menuju rumah putih besar. Sepanjang jalan – sejauh hampir
lima kilometer.
"Kalau melakukan sesuatu Alice tidak setengahsetengah,
ya?" gumam Charlie takjub.
"Yakin Dad tidak mau masuk?"
"Yakin sekali. Selamat bersenang-senang, Nak.”
"Terima kasih banyak, Dad.”
Charlie tertawa-tawa sendiri waktu aku turun dan
menutup pintu. Aku mengawasinya pergi sambil terus
senyam-senyum. Sambil mendesah aku bergegas menaiki
tangga, menabahkan hati untuk menghadapi pestaku.
17. SEKUTU
"BELLA?"
Suara lembut Edward terdengar dari belakangku. Aku
berbalik dan melihatnya berlari lincah menuruni undakan
teras, rambutnya berantakan karena berlari. Ia langsung
memelukku, sama seperti yang dilakukannya di lapangan
parkir tadi, dan menciumku lagi.
Ciuman ini. membuatku takut. Terlalu banyak
ketegangan dan kegelisahan yang kurasakan dari caranya
melumat bibirku, seakan-akan Edward takut kami tak
punya banyak waktu lagi bersama-sama.
Aku tak boleh membiarkan diriku berpikir seperti itu.
Tidak kalau aku harus bersikap sebagaimana layaknya


manusia normal beberapa jam ke depan. Aku melepaskan
diri darinya.
"Mari segera kita akhiri pesta konyol ini,” gumamku, tak
sanggup menatap matanya.
Edward merengkuh wajahku dengan dua tangan,
menunggu sampai aku mendongak.
"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada
dirimu."
Kusentuh bibirnya dengan jari-jari tanganku yang sehat.
"Aku tidak terlalu mengkhawatirkan diriku kok.”
"Kenapa aku tidak terlalu kaget mendengarnya, ya?"
Edward menggerutu sendiri. Ia menarik napas dalamdalam,
kemudian tersenyum kecil. "Siap berpesta?"
tanyanya.
Aku mengerang.
Edward memegangi pintu untukku, lengannya tetap
memeluk pinggangku. Sejenak aku berdiri membeku di
sana, lalu menggelengkan kepala lambat-lambat.
"Tak bisa dipercaya.”
Edward mengangkat bahu. “Begitulah Alice.”
Bagian dalam rumah keluarga Cullen telah diubah
menjadi kelab malam – bukan seperti kelab malam yang
sering dijumpai di kehidupan nyata, hanya di TV.
"Edward!" seru Alice dari sebelah pengeras suara
berukuran raksasa. ''Aku membutuhkan saranmu.” Ia
melambaikan tangan ke arah tumpukan CD. ''Apakah
sebaiknya kita beri mereka lagu-lagu yang familier dan
menghibur Atau" – ia melambaikan tangan ke tumpukan
lain –" mendidik selera musik mereka?"


"Yang menghibur saja,” Edward merekomendasikan.
"Kuda hanya mau dituntun ke air.”
Alice mengangguk serius, dan mulai melemparkan CDCD
musik yang "mendidik" itu ke dalam kotak.
Kuperhatikan ia sudah mengganti bajunya dengan tank top
berhias manik-manik dipadu celana kulit merah. Kulitnya
yang telanjang bereaksi ganjil di bawah lampu-lampu merah
dan ungu yang berkedip-kedip.
"Sepertinya dandananku kurang heboh.”
"Dandananmu sempurna,” bantah Edward tak
sependapat.
"Kau lumayan,” Alice mengoreksi.
"Trims.” Aku mendesah. "Menurutmu, mereka bakal
datang. tidak?" Siapa pun bisa mendengar nada berharap
dalam suaraku. Alice mengernyit padaku.
"Semua akan datang,” jawab Edward. "Mereka semua
sudah tak sabar lagi ingin melihat bagian dalam rumah
keluarga Cullen yang terpencil dan misterius.”
"Wow, keren,” erangku.
Ternyata aku tak perlu membantu. Aku ragu – bahkan
nanti setelah aku tidak lagi butuh tidur dan bisa bergerak
jauh lebih cepat – aku akan bisa menandingi kesigapan
Alice dalam mengurus segala sesuatu.
Edward menolak melepaskanku meskipun hanya sedetik,
menyeretku ke sana kemari sementara ia mencari Jasper
dan Carlisle untuk menceritakan tentang teoriku. Aku
mendengarkan sambil berdiam diri dengan perasaan ngeri
saat mereka mendiskusikan serangan terhadap pasukan
vampir di Seattle. Kentara sekali Jasper tidak senang
dengan perbandingan jumlah yang ada, tapi mereka tak bisa


menghubungi siapa pun kecuali keluarga Tanya yang tidak
bersedia membantu. Tidak seperti Edward, Jasper tidak
berusaha menyembunyikan perasaan putus asanya. Kentara
sekali ia tidak suka berjudi dengan taruhan sedemikian
tinggi.
Aku tak sanggup ditinggal sendiri, menunggu. dan
berharap mereka kembali Aku tak sanggup. Bisa-bisa aku
gila.
Bel pintu berdering.
Dalam sekejap suasana langsung berubah normal.
Senyum hangat dan ramah menggantikan ketegangan di
wajah Carlisle. Alice mengeraskan volume musik, dan
dengan lincah meluncur menuju pintu.
Ternyata yang datang satu mobil Suburban penuh berisi
teman-temanku, entah terlalu gugup atau terlalu
terintimidasi untuk datang sendiri-sendiri. Jessica orang
pertama yang muncul di pintu, disusul Mike di
belakangnya. Lalu Tyler, Conner, Austin, Lee, Samantha...
bahkan Lauren membuntut di belakang, matanya yang
kritis berbinar-binar dengan perasaan ingin tahu. Mereka
semua penasaran, dan langsung ternganga takjub melihat
ruangan besar yang ditata menyerupai tempat nongkrong
yang chic. Ruangan itu tidak kosong, seluruh anggota
keluarga Cullen sudah siap di tempat masing-masing, siap
berperan dalam sandiwara manusia mereka yang sempurna
seperti biasa. Malam ini aku merasa seperti sedang
berakting, sama seperti mereka.
Aku pergi untuk menyapa Jess dan Mike, berharap nada
gugup dalam suaraku dianggap sebagai ekspresi kegirangan.
Belum sempat beranjak untuk menyapa temanku yang lain,
lagi-lagi bel pintu berdering. Kupersilakan Angela dan Ben


masuk, membiarkan pintu terbuka lebar, karena melihat
Eric dan Katie hendak menaiki undakan.
Aku tidak sempat lagi merasa panik. Aku harus
mengobrol dengan semua orang, mencurahkan segenap
konsentrasi untuk menjadi tuan rumah yang ceria. Meski
sebenarnya ini pesta patungan antara Alice, Edward, dan
aku., namun tak dapat disangkal akulah sasaran yang paling
populer untuk diberi ucapan selamat dan terima kasih.
Mungkin karena keluarga Cullen terlihat agak asing di
bawah lampu-lampu pesta yang dipasang Alice. Mungkin
karena lampu-lampu itu membuat ruangan menjadi
remang-remang dan terkesan misterius. Bukan atmosfer
yang bisa membuat kebanyakan manusia merasa rileks
berdiri di sebelah orang seperti Emmett. Kulihat Emmett
nyengir kepada Mike saat mereka bertemu di meja
hidangan, kilauan lampu merah menerpa giginya, dan Mike
langsung mundur selangkah.
Mungkin Alice sengaja melakukannya, memaksaku
menjadi pusat perhatian posisi yang menurutnya
seharusnya bisa lebih kunikmati. Ia tak bosan-bosan
berusaha membuatku jadi manusia seperti yang
dibayangkannya.
Jelas pesta ini sukses besar, walaupun para tamunya
secara naluriah gelisah karena kehadiran keluarga Cullen –
atau mungkin itu justru menjadi bumbu yang semakin
menyemarakkan suasana pesta. Musiknya menular, lampulampunya
nyaris menghipnotis. Menilik cepatnya makanan
habis, hidangan pestanya pasti juga lezat. Sebentar saja
ruangan sudah penuh, meski tidak sampai menyesakkan.
Seluruh murid kelas senior sepertinya ada di sini, begitu
juga sebagian besar murid junior. Tubuh-tubuh bergoyang
mengikuti irama yang bergetar di bawah telapak kaki


mereka, pestanya nyaris berubah menjadi ajang dansadansi.
Ternyata memang tidak sesulit yang kukira. Aku
mengikuti teladan yang ditunjukkan Alice, berbaur dan
mengobrol sebentar dengan semua orang. Sepertinya
mereka cukup gampang disenangkan. Aku yakin pesta ini
jauh lebih keren daripada pesta mana pun yang pernah
diadakan di Forks. Alice nyaris mendengkur saking
bangganya – tak seorang pun di sini yang bakal melupakan
malam ini.
Aku sudah mengitari ruangan satu kali, dan sampai lagi
di Jessica. Ia mengoceh penuh semangat, dan aku tidak
perlu terlalu menyimak, karena besar kemungkinan ia tidak
membutuhkan responsku. Edward berdiri di sebelahku –
tetap menolak membiarkanku sendirian. Tangannya mesra
memeluk pinggangku, sesekali mendekapku lebih erat,
mungkin sebagai respons atas berbagai pikiran yang tak
ingin kudengar.
Itu sebabnya aku langsung curiga waktu ia melepaskan
pelukannya dari pinggangku dan beringsut menjauhiku.
“Jangan ke mana-mana,” bisiknya di telingaku.
"Sebentar lagi aku kembali.”
Edward berjalan anggun menerobos kerumunan,
kelihatannya sama sekali tidak menyentuh tubuh-tubuh
yang berdiri berdekatan, begitu cepatnya ia lenyap sampaisampai
aku tak sempat bertanya kenapa ia pergi.
Kupandangi ia dengan mata menyipit sementara Jessica
berteriak-teriak penuh semangat meningkahi suara musik.
menggayuti sikuku, tidak sadar perhatianku sedang di
tempat lain.
Kulihat Edward mencapai bayang-bayang gelap di
sebelah pintu dapur. Di sana lampu hanya bersinar


temaram. Ia membungkuk di atas seseorang, tapi aku tak
bisa melihat orangnya, tertutup kepala-kepala di antara
kami.
Aku berjinjit, menjulurkan leher panjang-panjang. Saat
itulah lampu yang merah menyapu punggungnya dan
terpantul di manik-manik yang menghiasi baju Alice. Meski
lampu itu hanya menyentuh wajahnya setengah detik, itu
sudah cukup.
"Permisi sebentar, Jess.” gumamku, menarik lenganku
dari cengkeramannya. Tanpa menunggu aku langsung
pergi, bahkan tanpa melihat apakah aku melukai
perasaannya dengan kepergianku yang mendadak itu.
Aku merunduk, menerobos kerumunan, terdorongdorong
sedikit. Beberapa orang kini berjoget. Aku bergegas
menuju pintu dapur.
Edward sudah pergi, tapi Alice masih di sana, di
kegelapan, wajahnya kosong – wajah tanpa ekspresi seperti
yang kerap terlihat di wajah orang yang baru saja
menyaksikan kecelakaan mengerikan. Satu tangannya
mencengkeram ambang pintu, seolah-olah ia harus
berpegangan.
"Apa, Alice, apa? Apa yang kau lihat?" Kedua tanganku
mencengkeram dada – memohon-mohon.
Alice tidak menatapku, matanya menerawang jauh. Aku
mengikuti arah pandangnya dan melihatnya bertatapan
mata dengan Edward di seberang ruangan. Wajah Edward
kosong bagai batu. Ia berbalik dan lenyap dalam bayangbayang
di bawah tangga.
Saat itulah bel pintu berdering, berjam-jam setelah
deringan terakhir, dan Alice menengadah dengan ekspresi
bingung yang dengan cepat berubah jadi jijik.


"Siapa yang mengundang werewolf?" omelnya padaku.
Aku merengut. “Aku.”
Kupikir aku sudah membatalkan undangan itu –
bagaimanapun juga aku tidak menyangka Jacob bakal nekat
datang ke sini.
"Well, urus mereka sendiri kalau begitu. Aku harus bicara
dengan Carlisle.”
"Tidak, Alice. tunggu!" Aku berusaha meraih lengannya,
tapi Alice sudah keburu lenyap dan tanganku hanya
menggapai udara kosong.
"Brengsek!" gerutuku.
Aku tahu pasti sekaranglah saatnya. Alice sudah melihat
apa yang dinanti-nantikan olehnya, dan jujur saja. rasanya
aku tak kuat menahan ketegangan dan membukakan pintu
lebih dulu. lagi-lagi bel pintu berdering, lama dan panjang,
seolah-olah ada orang memencet tombol bel dan tidak
melepaskannya. Aku membelakangi pintu dengan penuh
tekad, lalu mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan
yang gelap, mencari Alice.
Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mulai beranjak
menaiki tangga.
"Hai, Bella!"
Suara Jacob yang berat berkumandang saat musik
berhenti sejenak, dan, meski tidak ingin, wajahku otomatis
terangkat begitu mendengar namaku dipanggil.
Aku mengernyitkan wajah.
Tidak hanya satu werewolf, melainkan tiga. Jacob masuk
sendiri, diapit Quil dan Embry di kiri-kanannya. Keduanya
tampak sangat tegang, mata mereka berkelebat mengitari


ruangan seperti memasuki ruang bawah tanah berhantu.
Tangan Embry yang gemetar masih memegangi pintu,
tubuhnya miring agak ke belakang, siap lari.
Jacob melambai padaku, lebih tenang dibanding kedua
temannya yang lain, meskipun hidungnya mengernyit jijik.
Aku balas melambai – lambaian perpisahan – dan berbalik
mencari Alice. Aku memaksakan diri menyelinap di antara
punggung Conner dan Lauren.
Ia muncul entah dari mana, tangannya mendarat di
bahuku dan menarikku kembali ke keremangan dekat
dapur. Aku mengelak dan melepaskan diri dari
cengkeramannya, tapi pemuda itu menyambar pergelangan
tanganku yang sehat dan menyentakku dari kerumunan.
"Sambutan yang ramah,” komentarnya.
Aku menarik tanganku dan menatapnya cemberut
"Untuk apa kau ke sini?"
"Kau yang mengundangku, ingat?"
"Kalau hook kananku memang terlalu lemah bagimu,
izinkan aku menerjemahkannya. itu berarti aku
membatalkan undangan."
"Jangan jahat begitu. Aku membawakan hadiah
kelulusan untukmu lho."
Aku bersedekap. Aku sedang tidak ingin bertengkar
dengan Jacob sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilihat
Alice, dan apa pendapat Edward dan Carlisle mengenainya.
Aku menjulurkan leher panjang-panjang, melihat ke balik
punggung Jacob, mencari-cari mereka.
"Kembalikan saja ke tokonya, Jake. Aku harus
melakukan sesuatu..


Jacob bergerak menutupi pandanganku, menuntut
perhatianku.
"Aku tidak bisa mengembalikannya. Aku tidak
membelinya di toko – aku membuatnya sendiri. Butuh
waktu sangat lama pula."
Lagi-lagi aku mencondongkan tubuh ke balik tubuhnya,
tapi tak satu pun anggota keluarga Cullen yang tampak. Ke
mana perginya mereka? Mataku menyapu seluruh penjuru
ruangan yang gelap itu.
"Oh, ayolah. Bell. Jangan berlagak seolah-olah aku tidak
di sini!"
"Aku bukannya berlagak." Mereka tidak ada di manamana.
"Dengar, Jake, saat ini aku sedang banyak pikiran.”
Jacob meletakkan tangannya di bawah daguku dan
mendongakkan wajahku. "Boleh minta waktu beberapa
detik saja tanpa terbagi-bagi, Miss Swan?"
Aku menyentakkan wajahku. “Jaga tanganmu baik-baik,
Jacob,”desisku.
"Maaf!" seru Jacob. mengangkat kedua tangannya seperti
menyerah. "Aku benar-benar minta maaf. Mengenai
kejadian waktu itu juga, maksudku. Seharusnya aku tidak
menciummu seperti itu. Itu salah. Kurasa.., well, kurasa aku
menipu diri sendiri dengan mengira kau menginginkanku."
"Menipu – gambaran yang tepat sekali!"
"Bersikaplah yang baik. Kau bisa menerima permintaan
maafku, kau tahu."
"Baiklah. Permintaan maaf diterima. Sekarang, permisi
sebentar..."
"Oke,” gumam Jacob, dan nadanya sangat berbeda dari
sebelumnya hingga aku berhenti mencari-cari Alice dan


mengamati wajahnya. Jacob menunduk memandang lantai,
menyembunyikan matanya. Bibir bawahnya sedikit
mencebik.
"Ternyata kau lebih suka berkumpul dengan temanteman
sejatimu,” tukasnya dengan nada kalah. "Aku
mengerti."
Aku mengerang. "Aduh, Jake, kau tahu itu tidak adil.”
"Memangnya aku tahu?"
"Seharusnya kau tahu.” Aku mencondongkan tubuh ke
depan, menyipitkan mata, berusaha menatap matanya.
Jacob mendongak, menghindari mataku.
"Jake?"
Ia tak mau melihatku.
"Hei, katanya kau membuatkan sesuatu untukku, benar?"
tanyaku. "Atau itu hanya omong kosong? Mana hadiahku?"
Upayaku berpura-pura antusias tampak sangat
menyedihkan, tapi berhasil. Jacob memutar bola matanya
dan kemudian nyengir padaku.
Aku tetap mempertahankan sikap pura-puraku yang
menyedihkan, menyodorkan telapak tangan. "Aku
menunggu lho."
"Yang benar saja,” gerutu Jacob sarkastis. Tapi ia
merogoh kantong belakang jinsnya dan mengeluarkan
kantong kain rajutan berwarna-warni. Seutas tali kulit
mengikat kantong itu.
Diletakkannya kantong itu di telapak tanganku.
"Hei, cantik sekali, Jake. Terima kasih!"
Jacob mendesah. "Hadiahnya di dalam, Bella.”
"Oh.”


Susah juga membuka ikatannya. lagi-lagi Jacob
mendesah dan mengambil kantong itu dariku, membukanya
dengan mudah dengan menarik tali yang tepat. Aku
menyodorkan telapak tanganku, tapi Jacob membalikkan
kantong itu dan mengguncangnya, mengeluarkan sesuatu
yang berwarna keperakan ke tanganku. Logam beradu
dengan logam, menimbulkan suara berdenting pelan.
"Bukan aku yang membuat gelangnya,” Jacob mengakui.
"Hanya bandulnya."
Pada rantai gelang perak itu terpasang sebuah pahatan
mungil dari kayu. Aku mengamatinya lebih saksama.
Sungguh menakjubkan betapa mendetailnya patung mungil
itu – serigala miniatur itu terlihat seperti sungguhan.
Bahkan bahannya terbuat dari kayu berwarna merahcokelat,
serupa benar dengan warna kulit Jacob.
"Cantik sekali,” bisikku. "Kau sendiri yang membuatnya?
Bagaimana?"
Jacob mengangkat bahu. "Billy yang mengajarkan.
Dalam hal itu dia malah lebih pandai daripada aku.”
"Sukar dipercaya,” gumamku, membolak-balik serigala
mungil itu dengan jemariku.
“Kau benar-benar menyukainya?"
"Ya! Luar biasa sekali, Jake."
Jacob tersenyum, awalnya senang, tapi kemudian
ekspresinya berubah masam. "Well, kupikir mungkin itu
bisa membuatmu teringat padaku sesekali. Kau tahu kan
kata orang, jauh di mata, jauh pula di hati."
Aku tak menggubris sikapnya. "Sini, bantu aku
memakainya."


Aku menyodorkan pergelangan tangan kiriku, karena
yang kanan memakai penyangga. Jacob memasangkan
kaitannya dengan mudah, meski gelang itu tampak terlalu
rapuh untuk jari-jarinya yang besar.
"Kau akan memakainya?" tanyanya.
"Tentu saja aku akan memakainya."
Jacob nyengir padaku,senyum bahagia yang senang bisa
kulihat di wajahnya.
Aku membalasnya beberapa saat kemudian, tapi lalu
mataku kembali mengitari ruangan, dengan gugup mencaricari
Edward atau Alice di antara kerumunan.
"Kenapa kau gelisah begitu?" tanya Jacob.
"Tidak apa-apa,” dustaku, mencoba berkonsentrasi.
"Terima kasih untuk hadiahnya, sungguh. Aku benar-benar
suka."
"Bella?" Alis Jacob bertaut sehingga matanya seperti
tenggelam jauh di balik bayang-bayang. "Pasti ada masalah,
kan?"
“Jake, aku... tidak, tidak apa-apa.'"
"Jangan bohong, kau tidak pandai berbohong.
Seharusnya kau memberitahuku kalau ada masalah. Kami
ingin mengetahui hal-hal ini," tukasnya, menggunakan kata
ganti orang jamak pada akhir kalimat.
Mungkin Jacob benar, para serigala pasti tertarik pada
apa yang terjadi. Hanya saja aku belum yakin apakah ini
memang hal itu. Aku belum bisa memastikannya sampai
aku bertemu Alice.
“Jacob, aku akan memberitahumu. Tapi izinkan aku
mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi, oke? Aku
perlu bicara dengan Alice."


Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi mengerti. "Si
peramal itu melihat sesuatu."
"Ya, tepat waktu kau datang tadi."
"Apakah ini mengenai pengisap darah yang masuk ke
kamarmu?" bisik Jacob, merendahkan suaranya lebih
rendah daripada dentuman musik.
"Ada hubungannya," aku mengakui.
Jacob mencerna informasi itu sebentar, menggelengkan
kepala sambil membaca wajahku. "Kau tahu sesuatu yang
tidak kauceritakan padaku... sesuatu yang sangat penting."
Apa gunanya berbohong lagi? Dia terlalu mengenalku.
"Ya."
Jacob menatapku sesaat, kemudian berbalik untuk
menatap mata saudara-saudara sekawanannya, di tempat
mereka berdiri di ambang pintu, canggung dan rikuh.
Begitu melihat ekspresinya, mereka langsung bergerak,
berjalan gesit melewati para tamu, hampir seperti sedang
berdansa juga. Kurang dari satu menit mereka sudah berdiri
mengapit Jacob, menjulang tinggi di atasku.
"Sekarang. Jelaskan," tuntut Jacob.
Embry dan Quil menatap kami bergantian, wajah
mereka bingung dan waswas.
"Jacob, aku tidak tahu semuanya.” Aku terus
menyapukan pandangan, mencari jalan untuk meloloskan
diri. Mereka menyudutkanku, baik dalam arti harfiah
maupun sebaliknya.
"Yang benar-benar kauketahui saja, kalau begitu."
Mereka serentak bersedekap. Agak lucu sebenarnya, tapi
juga menakutkan.


Kemudian aku melihat Alice menuruni tangga, kulitnya
yang putih berkilau dalam terpaan cahaya ungu.
“Alice!” pekikku lega.
Alice langsung melihat ke arahku, padahal suara bass
yang berdentum-dentum menenggelamkan suaraku. Aku
melambai-lambai penuh semangat, dan melihat wajah Alice
saat matanya tertumbuk pada tiga werewolf yang
membungkuk di atasku.
Matanya menyipit.
Tapi, sebelum reaksi itu muncul, wajahnya tampak stres
dan takut. Aku menggigit bibir saat ia bergegas
menghampiriku.
“Aku perlu bicara denganmu," bisiknya di telingaku.
"Eh, Jake, sampai ketemu lagi nanti...,” gumamku saat
kami beranjak mengitari mereka.
Jacob mengulurkan lengan menghalangi jalan kami,
menumpukan tangannya di dinding. "Hei, jangan buruburu."
Alice mendongak. menatapnya. matanya membelalak
tak percaya. "Maaf, apa katamu?"
"Ceritakan pada kami apa yang terjadi," tuntut Jacob,
suaranya menggeram.
Jasper muncul entah dari mana. Padahal sedetik yang
lalu hanya ada Alice dan aku yang terpojok di dinding,
Jacob menghalangi jalan. Tapi mendadak muncul Jasper,
berdiri di sebelah lengan Jake, ekspresinya mengerikan.
Jacob pelan-pelan menarik lagi lengannya. Sepertinya itu
tindakan paling bagus jika Jacob memang ingin
mempertahankan lengannya.


"Kami berhak tahu,” gumam Jacob, matanya masih
menatap Alice garang.
Jasper melangkah di antara mereka, dan ketiga werewolf
menegakkan tubuh masing-masing.
"Hei, hei,” seruku, mengumandangkan tawa sedikit
histeris. "Ini pesta, ingat!”
Tak ada yang menggubrisku. Jacob menatap Alice
garang sementara Jasper memandang Jacob ganas. Wajah
Alice mendadak berubah bijak.
"Tidak apa-apa, Jasper. Dia benar."
Jasper tetap memasang posisi waspada.
Aku yakin ketegangan ini bakal membuat kepalaku
meledak sebentar lagi. "Apa yang kaulihat, Alice?"
Alice menatap Jacob sebentar, kemudian berpaling
padaku, jelas memutuskan untuk membiarkan mereka ikut
mendengarkan.
"Keputusan sudah diambil."
"Kalian akan ke Seattle?"
"Tidak.”
Aku merasa darah Surut dari wajahku. Perutku mulas.
"Mereka akan datang ke sini,” ujarku, suaraku tercekik.
Para pemuda Quileute menatapku sambil terdiam,
membaca setiap pergolakan emosi yang bermain-main di
wajah kami. Mereka terpaku di tempat masing-masing,
namun tak sepenuhnya tenang. Tiga pasang tangan
gemetar.
"Ya."
"Ke Forks,” bisikku.


"Ya.”
"Untuk?"
Alice mengangguk, memahami pertanyaanku. "Salah
seorang di antara mereka membawa blus merahmu."
Aku mencoba menelan ludah.
Ekspresi Jasper tidak setuju. Kentara sekali ia tidak suka
mendiskusikan masalah ini di hadapan para werewolf, tapi ia
merasa harus mengatakan sesuatu. "Kita tidak bisa
membiarkan mereka datang sejauh ini. Kita kekurangan
orang untuk melindungi kota."
"Aku tahu,” sahut Alice, wajahnya tiba-tiba tampak
sedih. "Tapi tak penting di mana kita menghentikan
mereka. Jumlah kita tetap tidak cukup, jadi pasti ada
sebagian yang lolos dan datang ke sini untuk mencari."
"Tidak!" bisikku.
Hiruk-pikuk pesta menenggelamkan pekikanku. Di
sekeliling kami teman-teman, terangga, dan musuhmusuhku
makan, tertawa-tawa, dan bergoyang diiringi
suara musik tak tahu sama sekali sebentar lagi mereka akan
menghadapi kengerian, bahaya, bahkan mungkin kematian.
Gara-gara aku.
“Alice,” ucapku tanpa suara. “Aku harus pergi, aku
harus menjauh dari sini."
"Tak ada gunanya. Yang kita hadapi bukan pelacak.
Mereka akan tetap datang ke sini lebih dulu."
"Kalau begitu aku harus pergi menemui mereka!" Kalau
suaraku tidak separau dan setegang itu, mungkin yang
keluar adalah pekikan. "Kalau mereka menemukan apa
yang dicari, mungkin mereka akan menjauh dan tidak
mencelakakan orang lain!"


"Bella!" protes Alice.
"Tunggu sebentar,” perintah Jacob, suaranya rendah
dan memaksa. "Siapa yang akan datang ini!'
Alice mengalihkan tatapannya yang dingin kepada
Jacob.
"Kaum kami. Dalam jumlah besar.”
"Kenapa?"
"Mencari Bella. Hanya itu yang kami tahu.”
"Terlalu banyak untuk kalian hadapi?'" tanyanya.
Jasper menahan emosinya. "Kami memiliki beberapa
kelebihan, anjing. Pertempurannya bakal seimbang.”
"Tidak,” tukas Jacob, senyum miring yang aneh dan
kejam mengembang di wajahnya. "Tidak akan seimbang.”
"Bagus!" desis Alice.
Masih membeku ketakutan, kutatap ekspresi baru Alice.
Wajahnya berbinar-binar penuh semangat, keputusasaan
seketika lenyap dari garis-garis wajahnya yang sempurna.
Alice nyengir kepada Jacob, dan Jacob balas nyengir.
"Semua langsung menghilang, tentu saja," kata Alice
kepada Jacob dengan nada menang. "Tidak
menguntungkan memang, tapi dengan berbagai
pertimbangan, aku akan menerimanya."
"Kita harus berkoordinasi,” kata Jacob. "Tidak mudah
bagi kami. Meski begitu, ini lebih merupakan tugas kami
ketimbang tugas kalian."
"Aku tak setuju, tapi kami memang membutuhkan
bantuan. Kami tidak akan pilih-pilih."
"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu,” aku menyela mereka.


Alice berjinjit, Jacob membungkuk ke arahnya, wajah
mereka berbinar-binar penuh semangat, hidung mengernyit
menahan bau satu sama lain. Keduanya menatapku tak
sabar.
"Berkoordinasi!" ulangku, gigiku terkatup karena gemas.
"Kau tidak bermaksud menghalangi kami ikut, kan?"
tanya Jacob.
"Kau memang tidak boleh ikut!"
"Paranormalmu tidak menganggap begitu."
“Alice – bilang tidak pada mereka!" desakku. "Bisa-bisa
mereka terbunuh!"
Jacob, Quil, dan Embry tertawa keras-keras.
"Bella,” kata Alice, suaranya menenangkan, membujuk,
"kalau sendiri-sendiri, kita semua bisa terbunuh. Tapi
bersama-sama–“
"Itu tidak akan menjadi masalah,” Jacob menyelesaikan
kalimatnya. lagi-lagi Quil tertawa.
"Berapa banyak?" tanya Quil penuh semangat.
"Tidak!" teriakku.
Alice bahkan tidak memandang ke arahku. "Berubahubah,
21 hari ini, tapi jumlahnya menurun."
"Kenapa?" tanya Jacob, ingin tahu.
"Ceritanya panjang,” kata Alice, tiba-tiba memandang
sekeliling ruangan. "Dan sekarang bukan tempat yang tepat
untuk mendiskusikan ini."
"Bagaimana kalau nanti malam?"
"Baiklah,” Jasper yang menjawab. "Kami memang
sudah merencanakan... pertemuan strategis. Kalau kalian


ingin bertempur bersama kami, kalian membutuhkan
beberapa instruksi."
Wajah para serigala kontan menunjukkan sikap tidak
puas begitu mendengar kalimat terakhir.
"Tidak?" erangku.
"Pasti bakal aneh.” kata Jasper dengan sikap merenung.
"Aku tak pernah mempertimbangkan untuk bekerja sama.
Ini pasti yang pertama kali."
"Itu sudah jelas.” Jacob sependapat. Ia buru-buru ingin
pergi sekarang. "Kami harus kembali untuk menemui Sam.
Jam berapa?"
"Jam berapa yang terlalu malam untuk kalian?"
Ketiganya memutar bola mata masing-masing. “Jam
berapa?" ulang Jacob.
"Jam tiga?"
"Di mana?"
"Kira-kira enam belas kilometer sebelah utara kantor
jagawana Hutan Hoh. Datanglah dari arah barat, kalian
pasti bisa mengikuti bau kami."
"Kami akan datang."
Mereka berbalik untuk pergi.
"Tunggu, Jake!" aku berseru memanggilnya. "Please!
Jangan lakukan ini!"
Jacob berhenti, berbalik untuk nyengir padaku,
sementara Quil dan Embry berjalan dengan sikap tidak
sabar menuju pintu. "Jangan konyol, Bella. Kau memberiku
hadiah yang jauh lebih bagus daripada hadiah yang
kuberikan padamu."


"Tidak!” aku berteriak lagi. Raungan gitar elektrik
menenggelamkan teriakanku.
Jacob tidak menyahut; ia bergegas pergi menyusul
temannya yang sudah lenyap. Aku hanya bisa memandang
tak berdaya saat Jacob menghilang.
18. INSTRUKSI
"ITU tadi pasti pesta terlama sepanjang sejarah," keluhku
dalam perjalanan pulang.
Edward sepertinya setuju. "Sekarang toh sudah
berakhir," katanya, mengusap-usap lenganku dengan sikap
menenangkan.
Karena sekarang akulah satu-satunya yang butuh
ditenangkan. Edward sendiri baik-baik saja sekarang –
seluruh anggota keluarga Cullen baik-baik saja.
Mereka semua sudah berusaha meyakinkanku; Alice
menepuk-nepuk kepalaku waktu aku pergi tadi,
memandangi Jasper dengan sikap penuh makna sampai
gelombang damai melandaku. Esme mengecup keningku
dan berjanji semua pasti beres, Emmett tertawa terbahakbahak
dan bertanya kenapa hanya aku yang diizinkan
berkelahi dengan werewolf... solusi yang diberikan Jacob
membuat mereka semua rileks, hampir-hampir seperti
euforia setelah berminggu-minggu terimpit stres. Keraguan
telah digantikan dengan rasa percaya diri. Pesta tadi benarbenar
diakhiri dengan suasana perayaan.
Tapi tidak bagiku.
Sudah cukup buruk–mengerikan–bahwa keluarga Cullen
akan bertempur untukku. Sudah cukup mengerikan bagiku


mengizinkan itu terjadi. Itu saja rasanya lebih daripada
yang bisa kutanggung.
Apalagi sekarang ditambah Jacob. Saudara-saudaranya
yang bodoh dan bersemangat itu, sebagian besar dari
mereka bahkan lebih muda daripada aku. Mereka sama saja
seperti anak-anak kecil bertubuh bongsor dan berotot
besar,yang menganggap pertempuran ini sama
mengasyikkannya dengan piknik di pantai. Aku tak boleh
membahayakan mereka juga. Urat-urat sarafku tegang dan
menonjol. Entah sampai kapan aku bisa menahan diri agar
tidak menjerit keras-keras.
Aku berbisik, berusaha terdengar terap tenang. "Kau
harus mengajakku malam ini."
"Bella, kau sangat lelah."
"Memangnya kaukira aku bisa tidur?"
Kening Edward berkerut. "Ini eksperimen. Aku tak yakin
kami semua bisa... bekerja sama. Aku tidak mau kau
terjebak di tengah-tengahnya."
Mendengar alasan itu aku malah semakin ingin pergi.
"Kalau kau tak mau mengajakku, akan kutelepon Jacob."
Sorot mata Edward mengeras. Itu pukulan baginya, aku
tahu. Tapi jangan harap aku mau ditinggal.
Ia tidak menjawab; kami sudah tiba di rumah Charlie
sekarang. Lampu depan menyala.
"Sampai ketemu di atas," gumamku.
Aku berjingkat-jingkat masuk lewat pintu depan. Charlie
tertidur di ruang tamu, tubuhnya kelewat besar untuk
ukuran sofa yang kecil mendengkur sangat keras hingga aku
bisa saja menyalakan gergaji listrik dan ia tetap tak
terbangun saking nyenyaknya.


Kuguncang bahunya keras-keras.
"Dad! Charlie!"
Charlie menggerutu. matanya tetap terpejam.
"Aku sudah pulang – bisa-bisa Dad sakit punggung kalau
tidur seperti itu. Ayo, waktunya pindah."
Setelah mengguncang-guncang tubuhnya lama sekali,
akhirnya aku berhasil menyuruh Charlie pindah dari sofa
tanpa pernah benar-benar membuka mata. Kubantu ia naik
ke tempat tidur dan ia langsung ambruk di atas penutup
tempat tidur, masih berpakaian lengkap, lalu langsung
mendengkur lagi.
Ia takkan mencariku dalam waktu dekat.
Edward menunggu di kamar sementara aku mencuci
muka dan mengganti bajuku dengan jins dan kemeja flanel.
Ia mengawasiku dengan sikap tidak suka dari kursi goyang
sementara aku menggantung baju pemberian Alice di
lemari.
"Kemarilah,” kataku, meraih tangannya dan menariknya
ke tempat tidurku.
Kudorong ia ke ranjang, lalu bergelung rapat-rapat di
dadanya. Mungkin Edward benar dan aku memang kelewat
letih hingga bakal ketiduran. Tapi aku takkan
membiarkannya menyelinap pergi tanpa aku.
Edward menyelimutiku rapat-rapat, kemudian
mendekapku erat-erat.
''Tenanglah.”
"Tentu.”
"Ini pasti berhasil, Bella. Aku bisa merasakannya."
Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat.


Edward masih memancarkan perasaan lega. Tidak ada
orang, kecuali aku, yang peduli jika Jacob dan temantemannya
terluka. Bahkan Jacob dan teman-temannya
sendiri pun tak peduli. Apalagi mereka.
Edward tahu aku sudah nyaris tak bisa menahan emosi.
"Dengar, Bella. Ini akan sangat mudah. Para vampir baru
itu akan terkejut setengah mati. Mereka bahkan tidak tahu
werewolf itu ada. Aku pernah melihat mereka beraksi
berkelompok, seperti Jasper juga bisa mengingatnya. Aku
benar-benar yakin teknik berburu para serigala itu akan
membuat para vampir baru mati kutu. Dan dalam keadaan
tercerai berai dan bingung, mereka bisa kami kalahkan
dengan mudah. Jangan-jangan malah ada beberapa di
antara kami yang tinggal duduk santai saja,” gurau Edward.
"Benar-benar mudah,” gumamku datar di dadanya.
"Sssttt,” Edward membelai-belai pipiku. "Kita lihat saja
nanti. Sekarang jangan khawatir.
Edward mulai menggumamkan lagu ninaboboku, tapi
sekali ini lagu itu tidak berhasil menenangkan perasaanku.
Orang-orang – well, vampir dan werewolf maksudnya,
tapi tetap saja – orang-orang yang kusayangi terancam
terluka. Terluka karena aku. lagi. Kalau saja kesialanku
sedikit lebih terfokus. Rasanya aku kepingin berteriak
sekeras-kerasnya ke langit yang kosong: Akulah yang
kauinginkan – di sini! Hanya aku!
Aku berusaha memikirkan bagaimana aku bisa
melakukan hal itu – memaksa kesialanku terfokus pada
diriku saja. Jelas tidak mudah. Aku harus menunggu,
menanti kesempatan...
Aku tak kunjung tidur. Menit demi menit berlalu cepat,
dan yang mengejutkan, aku masih tetap tegang dan


waspada waktu Edward menarik tubuhku dan
mendudukkanku.
"Kau yakin tak mau menunggu saja di sini dan tidur?"
Kutatap ia dengan masam.
Edward mendesah, lalu meraupku dalam dekapannya
sebelum terjun dari jendela kamarku.
Ia berlari menembus hutan yang gelap dan sunyi, aku
bertengger di punggungnya. Bahkan saat ia berlari bisa
kurasakan semangatnya meluap-luap. Edward berlari
seperti biasa jika kami hanya berdua, hanya untuk
bersenang-senang, sekadar untuk merasakan tiupan angin di
rambutnya. Saat keadaan masih tenang, hal-hal semacam
itulah yang bisa membuatku bahagia.
Sesampainya di padang terbuka yang luas, keluarganya
sudah menunggu, mengobrol santai, rileks. Sesekali
terdengar tawa Emmett yang bergema di ruang terbuka
yang luas itu. Edward menurunkanku dan kami berjalan
bergandengan tangan menghampiri mereka.
Karena suasana yang gelap gulita sebab bulan
tersembunyi di balik awan, butuh semenit untuk menyadari
ternyata kami berada di lapangan bisbol. Tempat yang sama
di mana, lebih setahun yang lalu. malam pertamaku yang
menyenangkan bersama keluarga Cullen terusik oleh
datangnya James dan kawanannya. Aneh rasanya berada di
sini lagi – seolah-olah pertemuan ini belum terasa lengkap
sampai James, Laurent, dan Victoria datang dan bergabung
dengan kami. Tapi James dan Laurent takkan pernah
kembali. Pola itu tidak akan berulang. Mungkin semua pola
lain pun sudah lenyap.


Ya, ada orang yang telah menghancurkan pola mereka.
Mungkinkah keluarga Volturi merupakan pihak-pihak yang
feksibel dalam persamaan ini?
Aku meragukannya.
Di mataku Victoria selalu terkesan bagaikan kekuatan
alam yang tak bisa dihindari – seperti angin topan yang
bergerak dalam garis lurus sepanjang tepi pantai – tak bisa
dihindari, tak tergoyahkan, tapi. bisa diramalkan. Mungkin
salah membatasinya seperti itu. Victoria pasti mampu
beradaptasi.
"Tahukah kau apa yang kupikirkan?" tanyaku kepada
Edward.
Edward tertawa. "Tidak."
Hampir saja aku tersenyum.
"Apa yang kaupikirkan?"
"Kupikir, semua itu pasti saling berhubungan. Bukan
hanya dua,tapi ketiga-tiganya."
"Aku tidak mengerti."
"Tiga hal buruk terjadi sejak kau kembali.” Aku
mengacungkan tiga jariku. "Para vampir baru di Seattle.
Penyusup di kamarku. Dan, pertama-tama Victoria datang
mencariku."
Mata Edward menyipit memikirkannya. "'Kenapa begitu
menurutmu?"
“Karena aku sependapat dengan Jasper, keluarga Volturi
mencintai aturan-aturan mereka. Dan kalau mereka yang
melakukannya, pasti hasilnya lebih baik.” Dan aku pasti
sudah mati kalau mereka memang ingin aku mati. aku
menambahkan dalam hati. "Ingat waktu kau melacak.
keberadaan Victoria tahun lalu?"


"Ya.” Kening Edward berkerut. ''aku tidak begitu
berhasil."
“Kata Alice, kau berada di Texas. Kau mengikutinya ke
sana?"
Alis Edward bertaut. "Ya. Hmm...”
"Betul kan – bisa jadi dia mendapat ilham di sana. Tapi
karena dia tidak tahu harus bagaimana, para vampir baru
itu jadi lepas kendali.”
Edward menggeleng-gelengkan kepala. "Hanya Aro yang
tahu persis bagaimana visi Alice bekerja."
“Aro-lah yang paling tahu, tapi bukankah Tanya, Irina,
serta teman-temanmu yang lain di Denali juga cukup tahu?
Laurent tinggal bersama mereka cukup lama. Dan kalau dia
ternyata masih berhubungan dengan Victoria hingga mau
membantunya melakukan sesuatu, kenapa dia juga tidak
menceritakan semua yang diketahuinya kepada Victoria?"
Kening Edward berkerut. "Tapi bukan Victoria yang
masuk ke kamarmu."
"Memangnya dia tidak bisa menciptakan teman-teman
baru? Pikirkan baik-baik., Edward. Kalau memang Victoria
yang melakukan hal ini di Seattle, berarti dia punya banyak
teman baru. Dia yang menciptakan mereka."
Edward menimbang-nimbang, dahinya berkerut penuh
konsentrasi.
"Hmmm,” ujarnya akhirnya. "Mungkin saja. Aku masih
menganggap keluarga Volturi-lah yang paling mungkin...
Tapi sebagian teorimu cocok. Kepribadian Victoria.
Teorimu sangat cocok dengan kepribadiannya. Sejak awal
dia memang menunjukkan kemampuan luar biasa untuk
mempertahankan diri – mungkin memang itu bakatnya.


Bagaimanapun, plot ini tidak membahayakan posisinya di
mata kami, kalau dia hanya duduk berpangku tangan dan
membiarkan para vampir baru berbuat onar di sini. Dan
mungkin itu juga tidak terlalu membahayakan posisinya di
mata keluarga Volturi. Mungkin dia berharap kita akan
menang, pada akhirnya, meskipun tak mungkin tanpa
korban dalam jumlah besar di pihak kita. Tapi tak seorang
pun dari pasukan kecilnya yang akan selamat dan menjadi
saksi terhadap keterlibatannya. Faktanya,” sambung
Edward, memikirkannya secara mendetail, "kalaupun ada
yang selamat, aku berani bertaruh dia berniat
menghancurkan mereka... Hmm. Meskipun begitu, dia
harus punya setidaknya satu teman yang sedikit lebih
matang. Tak mungkin seorang vampir baru sanggup
membiarkan ayahmu tetap hidup...”
Edward menerawang lama sekali, kemudian tiba-tiba
tersenyum padaku, tergugah dari lamunannya. "Jelas
mungkin. Meski begitu kita harus bersiap-siap menghadapi
segala kemungkinan sampai kita tahu pasti. Kau sangat
cerdik hari ini,” imbuhnya. "Mengesankan."
Aku mendesah. "Mungkin aku hanya bereaksi terhadap
tempat ini. Lapangan ini membuatku merasa seolah-olah
dia berada di dekat-dekat sini... seolah-olah dia melihatku
sekarang."
Otot-otot rahang Edward mengeras membayangkannya.
"Dia takkan pernah bisa menyentuhmu, Bella,”
sergahnya. Meski begitu mata Edward tetap menyapu
pepohonan yang gelap dengan saksama. Sementara mencari
bayang-bayang mereka, ekspresi yang sangat aneh melintasi
wajahnya. Bibirnya tertarik ke belakang dan matanya
berkilat-kilat, memancarkan binar aneh – semacam harapan
liar dan garang.


"Walaupun begitu, di lain pihak aku justru sangat ingin
dia sedekat itu,” gumamnya. "Victoria, juga siapa pun yang
berniat menyakitimu. Punya kesempatan mengakhiri semua
ini sendirian. Menuntaskannya dengan tanganku sendiri
kali ini."
Aku bergidik mendengar kegeraman dalam suaranya,
dan kuremas jemarinya kuat-kuat, berharap aku cukup kuat
untuk menyatukan tangan kami seperti ini selamanya.
Kami sudah nyaris mencapai keluarganya, dan untuk
pertama kali baru kusadari Alice tidak tampak seoptimis
yang lain. Ia berdiri agak menjauh. mengawasi Jasper
meregangkan kedua lengannya seperti orang melakukan
pemanasan sebelum berolahraga, bibirnya sedikit mencebik.
"Alice kenapa?" bisikku.
Edward terkekeh, kembali menjadi dirinya. "Para
werewolf sedang dalam perjalanan ke sini, jadi sekarang dia
tidak bisa melihat apa yang akan terjadi. Dia merasa tidak
nyaman, buta seperti itu."
Alice, walaupun berdiri paling jauh dari kami, bisa
mendengar suara Edward yang pelan. Ia mendongak dan
menjulurkan lidahnya. Edward tertawa lagi.
"'Hai, Edward,” sapa Emmett. "Hai, Bella. Dia
membolehkanmu ikut latihan juga?"
Edward mengerang."Please, Emmett, jangan buat dia
berpikir yang tidak-tidak.”
"Kapan tamu-tamu kita datang?" tanya Carlisle kepada
Edward.
Edward berkonsentrasi sebentar, kemudian mendesah.
"Satu setengah menit lagi. Tapi aku terpaksa harus
menerjemahkan perkataan mereka, Soalnya mereka tidak


cukup percaya kepada kita hingga mau datang dalam wujud
manusia."
Carlisle mengangguk. "Ini sulit bagi mereka. Mereka
mau datang saja aku sudah bersyukur."
Kutatap Edward dengan mata terbelalak. "Mereka
datang sebagai serigala?"
Edward mengangguk, berhati-hati melihat reaksiku. Aku
menelan ludah satu kali, teringat dua kali kesempatan
melihat Jacob dalam wujud serigala, pertama kali di padang
rumput bersama Laurent, kedua kalinya di jalanan hutan
ketika Paul marah padaku... keduanya kenangan yang
diwarnai teror.
Kilatan aneh terpancar dari mata Edward, seolah-olah
ada sesuatu yang baru terpikirkan olehnya, sesuatu yang
sama sekali tidak menyenangkan. Ia cepat-cepat membuang
muka, sebelum aku sempat melihat lebih banyak, lalu
memandang Carlisle dan yang lain-lain.
"Bersiap-siaplah,mereka merahasiakan sesuatu dari kita."
"Apa maksudmu?" tuntut Alice.
"Ssstt,” Edward mengingatkan, lalu memandang jauh ke
kegelapan.
Lingkaran keluarga Cullen tiba-tiba melebar, dengan
Jasper dan Emmett di bagian paling ujung. Dari cara
Edward mencondongkan tubuh ke depan di sebelahku,
kentara sekali ia berharap dirinya berdiri di samping
mereka. Aku mempererat cengkeramanku di tangannya.
Aku menyipitkan mata ke arah hutan, tidak melihat apaapa.


"Astaga,” gumam Emmett pelan. "Pernahkah kau
melihat yang seperti itu?" Esme dan Rosalie bertukar
pandang dengan mata membelalak.
"Ada apa?" bisikku sepelan mungkin. "Aku tidak melihat
apa-apa."
"Anggota kawanan itu bertambah,” bisik Edward di
telingaku.
Memangnya aku belum memberi tahu dia bahwa Quil
sudah bergabung? Kujulurkan leherku panjang-panjang,
berusaha melihat enam serigala di kegelapan. Akhirnya
sesuatu yang berkilat-kilat terlihat dalam gelap – mata
mereka, lebih tinggi daripada seharusnya. Aku sudah lupa
betapa sangat tingginya serigala-serigala itu. Seperti kuda,
tapi sangat berotot dan berbulu tebal – dengan gigi laksana
pisau, tak mungkin luput dari pandangan.
Aku hanya bisa melihat mata mereka. Dan waktu aku
menyapukan pandanganku, menjulurkan leher panjangpanjang
untuk melihat lebih jelas lagi, terlintas dalam
benakku ada lebih dari enam pasang mata menatap kami.
Satu, dua, tiga... Dengan cepat aku menghitung jumlah
pasangan mata itu dalam hati. Dua kali.
Ada sepuluh pasang mata.
"Menakjubkan,” gumam Edward nyaris tanpa suara.
Carlisle sengaja maju satu langkah. Gerakannya hatihati,
dimaksudkan untuk meyakinkan.
"Selamat datang,” sapanya pada serigala-serigala yang
tak tampak itu.
"Terima kasih,” Edward menjawab dengan nada datar
yang aneh, dan aku pun langsung tersadar kata-kata itu
berasal dari Sam. Aku menatap mata yang berkilat-kilat di


tengah,sangat jangkung, yang tertinggi di antara mereka.
Sama sekali tak terlihat sosok serigala hitam di malam yang
gelap pekat itu.
Edward berbicara lagi dengan suara asing yang sama,
menyuarakan kata-kata Sam. "Kami akan melihat dan
mendengarkan, tapi tak lebih dari itu. Hanya itu yang bisa
kami lakukan sebatas kemampuan kami mengendalikan
diri.”
"Itu lebih dari cukup.” jawab Carlisle. "Putraku Jasper,"
ia melambaikan tangan ke arah Jasper yang berdiri dengan
sikap tegang dan siaga. "berpengalaman dalam bidang ini.
Dia akan mengajari kami bagaimana mereka bertempur,
bagaimana mereka bisa dikalahkan. Aku yakin kalian bisa
mengaplikasikannya pada gaya berburu kalian sendiri."
"Mereka berbeda dari kalian" Edward menyuarakan
pertanyaan Sam.
Carlisle mengangguk. "Mereka masih sangat baru-baru
beberapa bulan umurnya. Masih kanak-kanak., bisa
dibilang begitu. Mereka tidak memiliki keahlian atau
strategi, kekuatan semata. Malam ini jumlah mereka dua
puluh. Sepuluh untuk kami, sepuluh untuk kalian –
mestinya tidak sulit. Jumlahnya bisa berkurang. Para
vampir baru ini berkelahi antar mereka sendiri."
Terdengar suara geraman menjalar di barisan serigala
yang samar-samar itu, geraman rendah yang entah
bagaimana justru terdengar antusias.
"Kami bersedia menghadapi lebih daripada bagian kami,
jika diperlukan,” Edward menerjemahkan, nadanya kini tak
lagi terdengar tak acuh.
Carlisle tersenyum. "Kita lihat saja bagaimana jadinya
nanti."


"Kau tahu kapan mereka datang?"
“Mereka akan datang melintasi pegunungan empat hari
lagi, siang hari. Saat mereka mendekat, Alice akan
membantu kami mencegat mereka.”
"Terima kasih informasinya. Kami akan menonton."
Dengan suara mendesah mata-mata itu merendah
mendekati tanah, sepasang setiap kali.
Sejenak suasana sunyi senyap, kemudian Jasper maju
selangkah ke ruang kosong di antara para vampir dan
serigala. Tidak sulit bagiku melihatnya – kulit Jasper
cemerlang dalam kegelapan, sama seperti mata serigala.
Jasper melontarkan pandangan waswas ke arah Edward,
yang mengangguk, kemudian Jasper berdiri memunggungi
para serigala. Ia mendesah, kentara sekali merasa rikuh.
"Carlisle benar,” Jasper berbicara hanya kepada kami;
sepertinya ia berusaha mengabaikan penonton di
belakangnya. "Mereka berkelahi seperti kanak-kanak. Dua
hal terpenting yang perlu kalian ingat adalah, pertama,
jangan biarkan mereka memeluk kalian dan, kedua, jangan
terang-terangan menunjukkan niat kalian untuk
membunuh. Karena hanya untuk itulah mereka
dipersiapkan. Selama kalian bisa mendekati mereka dari
samping sambil terus bergerak, mereka akan sangat bingung
hingga tidak bisa merespons secara efektif, Emmett?"
Dengan senyum lebar Emmett maju meninggalkan
barisan.
Jasper mundur ke ujung utara dekat para musuh sekutu.
Ia melambaikan tangan menyuruh Emmett maju.
"Oke, Emmett duluan. Dia contoh terbaik dari serangan
vampir baru."


Mata Emmett menyipit. “Akan kucoba untuk tidak
mematahkan apa pun," gerutunya.
Jasper nyengir. "Maksudku adalah, Emmett sangat
mengandalkan kekuatan. Dia sangat terang-terangan dalam
menyerang. Demikian pula para vampir baru, mereka tidak
akan berusaha melakukannya dengan halus. Langsung
serang saja, Emmett."
Jasper mundur lagi beberapa langkah, tubuhnya
mengejang.
"Oke, Emmetr-coba tangkap aku."
Dan aku uk bisa melihat Jasper lagi – sosoknya hanya
tinggal kelebatan samar saat Emmett menyerangnya bagai
beruang, menyeringai sambil menggeram-geram. Emmett
juga luar biasa cepat, tapi tidak seperti Jasper. Jasper seperti
tak bertubuh, seperti hantu – setiap kali tangan Emmett
yang besar meraihnya, jari-jari Emmett hanya
mencengkeram udara kosong. Di sampingku Edward
mencondongkan tubuh dengan sikap menyimak, matanya
terpaku pada pertarungan itu. Lalu Emmett membeku.
Jasper menyergapnya dari belakang, giginya hanya dua
setengah sentimeter dari lehernya.
Emmett memaki.
Terdengar geraman kagum dari serigala-serigala yang
menonton.
"Lagi,” desak Emmett, senyumnya lenyap.
"Sekarang giliranku,” protes Edward. Jari-jariku
mencengkeramnya tegang.
"Sebentar lagi," Jasper menyeringai, mundur selangkah.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada Bella dulu."


Aku menonton cemas saat Jasper melambaikan tangan
kepada Alice, memintanya maju.
"Aku tahu kau mengkhawatirkan Alice,” Jasper
menjelaskan padaku waktu Alice menandak-nandak lincah
memasuki arena. "Aku ingin menunjukkan padamu
mengapa itu tidak perlu.”
Walaupun aku tahu Jasper takkan pernah membiarkan
Alice cedera, namun terap saja sulit melihat Jasper
merunduk dan mengambil sikap siap menyerang. Alice
berdiri tak bergerak, tampak semungil boneka di depan
Emmett, tersenyum-senyum sendiri. Jasper bergerak maju,
lalu merayap ke kiri Alice.
Alice memejamkan mata.
Jantungku berdebar-debar tidak keruan saat Jasper
mengendap-endap ke tempat Alice berdiri.
Jasper menerjang, lenyap. Tiba-tiba saja ia sudah berada
di kanan Alice. Kelihatannya Alice tidak bergerak sama
sekali.
Jasper berputar dan menerjang Alice lagi, kali ini
mendarat dalam posisi membungkuk di belakangnya seperti
pertama tadi; sementara itu, Alice berdiri tersenyumsenyum
dengan mata tertutup.
Kali ini aku memandangi Alice lebih saksama.
Ternyata ia bergerak – aku tidak melihatnya tadi, karena
perhatianku lebih tertuju kepada serangan Jasper. Ia maju
sedikit tepat ketika Jasper melayang menuju tempat ia
berdiri sebelumnya. Alice melangkah lagi, sementara
tangan Jasper yang menggapainya meraih udara kosong di
tempat pinggangnya tadi berada.


Jasper merangsek maju, dan Alice mulai bergerak lebih
cepat. Ia menari-nari – berputar, berpusar, dan meliukliukkan
tubuh. Jasper bagaikan patnernya, menerjang,
mengulurkan tangan berusaha mengimbangi gerakangerakannya
yang anggun, tak pernah menyentuhnya,
seolah-olah setiap gerakan dikoreografi dengan baik.
Akhirnya, Alice tertawa.
Tahu-tahu ia sudah bergelayutan di punggung Jasper,
bibirnya menempel di leher.
"Kena kau,” tukasnya, lalu mengecup leher Jasper.
Jasper terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala. "Kau ini
benar-benar monster kecil mengerikan."
Serigala-serigala itu menggeram lagi. Kali ini nadanya
kecut.
"Ada bagusnya juga mereka belajar respek kepada kita,”
gumam Edward, geli. Lalu ia berbicara lebih keras,
"Giliranku.”
Edward meremas tanganku sebelum melepasnya.
Alice datang dan berdiri di sampingku. "Keren kan,
tadi?" tanyanya dengan nada menang.
"Sangat,” aku sependapat, tak mengalihkan pandangan
sedikit pun dari Edward saat ia meluncur tanpa suara
mendekati Jasper, gerakannya lentur dan waspada seperti
kucing hutan.
"Aku mengawasimu, Bella,” bisik Alice tiba-tiba,
suaranya melengking sangat rendah hingga aku nyaris tak
bisa mendengar, meskipun bibirnya berada dekat di
telingaku.
Aku melirik wajah Alice sekilas, kemudian kembali
memandang Edward. Edward menatap Jasper saksama,


keduanya pura-pura saling memukul ketika Edward
semakin memperkecil jarak.
Ekspresi Alice penuh celaan.
"Aku akan memperingatkan Edward jika rencanamu
sudah semakin matang,” ancam Alice dengan gumaman
rendah yang sama. "Tak ada gunanya membahayakan
dirimu sendiri. Kaupikir mereka berdua bakal menyerah
kalau kau mati. Mereka akan tetap bertarung, kami semua
akan tetap bertarung. Kau tidak bisa mengubah apa pun,
jadi bersikap manislah, oke?"
Aku meringis, mencoba mengabaikannya.
"Aku mengawasimu,” ulangnya.
Sekarang Edward sudah dekat sekali dengan Jasper, dan
pertarungan ini lebih seimbang daripada dua pertarungan
lainnya. Jasper berpengalaman selama satu abad, dan sebisa
mungkin ia berusaha hanya mengandalkan insting, tapi
pikirannya selalu membuat maksudnya diketahui sedetik
sebelum ia bertindak. Edward sedikit lebih cepat, tapi
gerakan yang digunakan Jasper tidak familier baginya.
Mereka saling menyerang berkali-kali, tak ada yang bisa
merebut posisi di atas angin, geraman insting terus-menerus
meledak. Sulit menontonnya, tapi lebih sulit lagi
mengabaikannya. Mereka bergerak kelewat cepat hingga
aku tidak benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan.
Sesekali mata-mata tajam para serigala membetot
perhatianku. Aku punya firasat serigala-serigala itu
mendapat lebih banyak pelajaran dalam hal ini
dibandingkan aku – mungkin lebih dari yang seharusnya.
Akhirnya, Carlisle berdeham-deham.
Jasper tertawa, Lalu mundur selangkah. Edward
menegakkan tubuh dan nyengir padanya.


"Kembali bekerja,” Jasper mengizinkan. "Anggap saja
seri."
Semua mendapat giliran, Carlisle, kemudian Rosalie,
Esme, dan Emmett lagi. Aku menyipitkan mata, berusaha
melihat dari sela-sela bulu mataku, meringis ketika Jasper
menyerang Esme. Itu pertarungan tersulit untuk ditonton.
Kemudian Jasper memperlambat gerakannya, meskipun
tetap tidak cukup lambat bagiku untuk memahami gerakangerakannya,
dan memberi lebih banyak instruksi.
"Kalian mengertikan maksudku melakukan ini?" Jasper
sesekali bertanya. "Ya, persis seperti itu,” ia membesarkan
hati. "Konsentrasi pada sisi-sisi. Jangan lupa di mana target
mereka berada. Terus bergerak."
Edward selalu fokus, menonton sekaligus mendengarkan
apa yang tak bisa dilihat yang lain-lain.
Semakin sulit bagiku untuk mengikuti jalannya latihan
saat kelopak mataku mulai berat. Belakangan ini aku
memang jarang tidur nyenyak, dan sekarang sudah hampir
24 jam sejak aku terakhir tidur. Aku bersandar pada
Edward, dan membiarkan mataku terpejam.
"Sebentar lagi kita selesai,” bisik Edward.
Jasper membenarkan, menoleh kepada para serigala itu
untuk pertama kali, ekspresinya kembali terlihat tidak
nyaman.
"Kami akan melakukan ini lagi besok. Silakan bila ingin
mengobservasi lagi."
"Baik,” jawab Edward dalam suara Sam yang dingin.
"Kami pasti datang."


Kemudian Edward mendesah, menepuk-nepuk
lenganku, lalu meninggalkan aku. Ia berpaling kepada
keluarganya.
"Kawanan serigala berpendapat, akan sangat membantu
bila mereka bisa mengenal bau kita masing-masing,
sehingga mereka tidak melakukan kesalahan nantinya.
Kalau kita bisa berdiri diam tak bergerak, itu akan lebih
mudah bagi mereka."
"Tentu boleh,” Carlisle menjawab pertanyaan Sam.
"Apa pun yang kalian butuhkan."
Terdengar geraman rendah dan parau dari kawanan
serigala saat mereka berdiri.
Mataku kembali membelalak, kelelahan pun enyah
terlupakan.
Malam yang hitam pekat mulai memudar, matahari
menerangi awan-awan, walaupun belum muncul di batas
cakrawala, jauh di seberang pegunungan sana. Ketika
serigala-serigala itu mendekat, mendadak bentuk mereka
terlihat jelas... juga warna bulunya.
Sam memimpin di depan, tentu saja. Sangat besar, hitam
pekat seperti tengah malam. bagaikan monster yang muncul
dari mimpi burukku – secara harfiah. Setelah pertama kali
melihat Sam dan yang lain-lain di padang rumput, mereka
muncul dalam mimpi burukku lebih dari sekali.
Sekarang setelah bisa melihat mereka semua,
mencocokkan wujud raksasa mereka dengan setiap pasang
mata, kelihatannya jumlah mereka lebih dari sepuluh.
Sungguh kawanan yang sangat besar.
Dari sudut mata kulihat Edward memerhatikanku,
dengan hati-hati menilai reaksiku.


Sam mendekati Carlisle di tempatnya berdiri di bagian
depan, kawanan yang besar itu membuntuti tepat di
belakang ekornya. Jasper mengejang, tapi Emmett, yang
berdiri di sebelah Carlisle pada sisi yang lain, menyeringai
dan rileks.
Sam mengendus Carlisle, sepertinya sedikit meringis saat
melakukannya. Lalu ia mendekati Jasper.
Mataku menyusuri serigala-serigala lain yang berbaris
dengan sikap waspada. Aku yakin tahu mana serigala yang
baru. Ada serigala berbulu abu-abu terang yang tubuhnya
jauh lebih kecil dibandingkan yang lain, bulu tengkuknya
berdiri dengan sikap tidak suka. Ada lagi serigala lain,
bulunya berwarna cokelat padang pasir, terkesan garang
dan canggung dibandingkan yang lain-lain. Erangan pelan
mengguncang tubuh serigala coklat padang pasir itu saat
Sam maju dan meninggalkannya terisolasi di antara Carlisle
dan Jasper.
Pandangan mataku tertumbuk pada serigala tepat di
belakang Sam. Bulunya cokelat kemerahan dan lebih
panjang daripada yang lain-lain – gondrong. Tubuhnya
nyaris setinggi Sam, terbesar kedua di kawanannya. Gaya
berjalannya kasual, bahasa tubuhnya memancarkan sikap
tidak peduli sementara yang lain-lain kentara sekali
menganggap ini siksaan.
Serigala besar berbulu cokelat kemerahan itu merasa aku
memperhatikannya, dan ia mendongak menatapku dengan
mata hitam yang sangat kukenal.
Aku balas menatapnya, berusaha memercayai apa yang
sudah kuketahui. Bisa kurasakan ekspresi kagum dan takjub
terlihat di wajahku.
Moncong serigala itu terbuka, tertarik ke belakang,
menampakkan giginya. Seharusnya itu ekspresi yang


mengerikan, kalau bukan karena lidahnya yang menjulur ke
samping, membentuk seringaian khas serigala.
Aku tertawa.
Seringaian Jacob bertambah lebar, menampakkan
giginya yang tajam. Ia meninggalkan barisan, tak
memedulikan ratapan teman-teman sekawanannya yang
mengikutinya. Ia berlari-lari kecil melewati Edward dan
Alice untuk berdiri kira-kira setengah meter dariku. Ia
berhenti di sana, melirik Edward sekilas.
Edward berdiri tak bergerak, seperti patung, matanya
masih tetap menilai reaksiku.
Jacob membungkuk, melipat kaki depannya dan
merunduk hingga wajahnya tidak lebih tinggi dari wajahku,
menatapku, mengukur responsku seperti yang dilakukan
Edward.
"Jacob?" desahku.
Jawaban berupa geraman jauh dari dalam dadanya
terdengar seperti tawa terkekeh.
Aku mengulurkan tangan, jari-jariku sedikit gemetar, dan
menyentuh bulu merah-cokelat di sisi wajahnya.
Mata hitam itu terpejam, dan Jacob menyandarkan
kepalanya yang besar ke tanganku. Geraman mendengung
bergaung dari kerongkongannya.
Bulunya lembut sekaligus kasar, dan terasa hangat di
kulitku. Aku menyusupkan jari-jariku ke dalamnya dengan
sikap ingin tahu, meraba teksturnya, membelai-belai bagian
leher yang warnanya lebih gelap. Aku tidak sadar berdiri
dekat sekali dengannya; sekonyong-konyong, tanpa
peringatan lebih dulu, Jacob menjilat wajahku dari dagu
sampai ke batas rambut.


"Ihh! Jijik, Jake!" keluhku, melompat ke belakang dan
memukulnya, bersikap seolah-olah ia manusia. Jacob
mengelakkan pukulanku, dan gonggongan terbatuk-batuk
yang keluar dari sela-sela giginya jelas merupakan tawa.
Kuseka wajahku dengan lengan baju, tak tahan untuk
tidak ikut tertawa.
Saat itulah baru aku menyadari semua ternyata
memerhatikan kami, keluarga Cullen dan para werewolf,
keluarga Cullen dengan ekspresi terperangah dan sedikit
jijik. Sementara ekspresi para serigala sulit dibaca. Tapi
Sam tampak tidak senang.
Kemudian aku melihat Edward, gelisah dan jelas-jelas
kecewa. Sadarlah aku ia mengharapkan reaksi lain dariku.
Misalnya menjerit-jerit dan kabur ketakutan.
Lagi-lagi Jacob bersuara seperti tertawa.
Serigala-serigala lain sekarang mundur menjauh, tak
melepaskan pandangan sedikit pun dari keluarga Cullen
saat mereka pergi. Jacob berdiri di sampingku, mengawasi
kepergian mereka. Tak lama kemudian mereka lenyap
ditelan kegelapan hutan. Hanya dua yang menunggu ragu
di dekat pepohonan, mengawasi Jacob, postur mereka
memancarkan kegelisahan.
Edward mendesah, dan, mengabaikan Jacob, datang lalu
berdiri di sampingku. di sisi yang lain, meraih tanganku.
"Siap pergi?" tanyanya.
Belum sempat aku menjawab, ia sudah mengarahkan
pandangannya melewatiku, menatap Jacob.
"Aku belum sempat memikirkan semuanya secara
mendetail,” kata Edward, menjawab pertanyaan dalam
pikiran Jacob.


Si serigala Jacob menggerutu sebal.
"Ini lebih rumit daripada itu,” kata Edward.. “Jangan
khawatir; aku akan memastikan semuanya aman.”
"Kau bicara apa sih?" tuntutku.
"Hanya mendiskusikan strategi,” kata Edward.
Kepala Jacob bergerak kian kemari, menatap wajahwajah
kami. Kemudian, tiba-tiba, ia berlari menuju hutan.
Saat ia melesat pergi, untuk pertama kalinya barulah aku
melihat sejumput kain hitam terikat di kaki belakangnya.
"Tunggu,” seruku, otomatis mengulurkan sebelah tangan
untuk meraihnya. Tapi Jacob sudah lenyap di balik
pepohonan hanya dalam hitungan detik, diikuti dua serigala
lain.
"Kenapa dia pergi?" tanyaku, tersinggung.
"Nanti dia kembali,” kata Edward. Lalu ia
mengembuskan napas. “Dia ingin bisa bicara sendiri.”
Kupandangi kawasan tepi hutan tempat Jacob
menghilang tadi, kembali menyandarkan diri ke sisi
Edward. Aku sudah nyaris ambruk tapi berusaha keras
melawan kantukku.
Jacob muncul lagi, kali ini dengan dua kaki. Dadanya
yang bidang telanjang. rambutnya awut-awutan dan
gondrong. Ia hanya mengenakan celana hitam ketat, kedua
kakinya telanjang menginjak tanah yang dingin. Sekarang ia
sendirian, tapi aku curiga teman-temannya menunggu di
balik pepohonan, tidak terlihat.
Tidak butuh waktu lama bagi Jacob untuk menyeberangi
lapangan, walaupun ia memutar sejauh mungkin dari
keluarga Cullen, yang berdiri mengobrol dalam lingkaran.


"Oke, pengisap darah,” sergah Jacob setelah ia berada
berapa meter dari kami, melanjutkan pembicaraan yang
tidak bisa kuikuti tadi. "Memang apanya yang rumit?"
"Aku harus mempertimbangkan setiap kemungkinan,”
kata Edward, tetap tenang. "Bagaimana kalau ada yang
berhasil menyelinap melewati kalian?"
Jacob mendengus mendengarnya. "Oke, kalau begitu
tinggalkan saja dia di reservasi. Kami memang akan
menyuruh Collin dan Brady tetap tinggal di reservasi. Dia
pasti aman di sana."
Aku merengut. "Kalian membicarakan aku, ya?"
"Aku hanya ingin tahu apa yang akan dia lakukan
terhadapmu selama pertempuran," Jacob menjelaskan.
"Apa yang dia lakukan terhadapku?"
"Kau tidak bisa tetap berada di Forks, Bella.” Suara
Edward menenangkan. "Mereka tahu ke mana harus
mencarimu di sana. Bagaimana kalau ada yang berhasil
menyelinap melewati kami?"
Perutku mulas dan darah surut dari wajahku. "Charlie?"
aku terkesiap.
"Dia akan bersama Billy,” Jacob cepat-cepat
menenangkan aku. "Ibaratnya, kalau ayahku sampai harus
membunuh untuk membawanya ke sana, dia pasti akan
melakukannya. Mungkin tidak sampai seperti itu. Hari
Sabtu ini, kan? Ada pertandingan kok."
"Sabtu ini?" tanyaku, kepalaku berputar. Kepalaku
kelewat ringan hingga aku tak bisa mengendalikan pikiran
yang berputar-putar liar dalam benakku. Kutatap Edward
dengan kening berkerut. "Well, sial! Kau tak bisa
menggunakan hadiah kelulusan dariku.”


Edward tertawa. "Yang penting niatnya.” Edward
mengingatkan. "Berikan saja tiketnya ke orang lain.”
Mendadak aku mendapat ilham. “Angela dan Ben,” aku
langsung memutuskan. "Setidaknya dengan begitu mereka
akan berada di luar kota."
Edward menyentuh pipiku. "Kau tidak bisa
mengevakuasi semua orang.” ujarnya lembut.
"Menyembunyikanmu hanya tindakan pencegahan. Sudah
kubilang, kami tidak akan menghadapi masalah sekarang.
Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk mengimbangi
kami."
"Tapi bagaimana kalau dia ditinggalkan di La Push
saja?" sela Jacob, tidak sabar.
"Dia sudah terlalu sering bolak-balik ke sana,” kata
Edward.
"Jejaknya tertinggal di mana-mana. Alice hanya melihat
vampir-vampir yang sangat muda itu berburu, tapi jelas ada
yang menciptakan mereka. Ada yang lebih berpengalaman
di balik semua ini. Siapa pun dia" – Edward terdiam
menatapku – "laki-laki ataupun perempuan, ini semua bisa
jadi hanya untuk mengalihkan perharian. Alice akan
melihat kalau orang itu memutuskan untuk mencari sendiri,
tapi kita pasti akan sangat sibuk saat keputusan itu diambil.
Mungkin ada orang yang memperhitungkan hal itu. Aku
tak bisa meninggalkan dia di tempat yang sudah sering
didatanginya. Dia harus sulit ditemukan, hanya untuk
berjaga-jaga. Memang tepat, tapi aku tak mau mengambil
risiko."
Aku menatap Edward saat ia menjelaskan, keningku
berkerut. Ditepuk-tepuknya lenganku.
"Hanya untuk berhati-hati,” janjinya.


Jacob melambaikan tangan ke hutan lebat di sebelah
timur, ke Pegunungan Olympic yang membentang sejauh
mata memandang.
"Sembunyikan saja dia di sana," ia menyarankan. "Ada
jutaan kemungkinan di sana – di tempat-tempat salah
seorang dari kita bisa mencapainya hanya dalam beberapa
menit bila memang dibutuhkan."
Edward menggeleng. "Baunya terlalu kuat dan,
bercampur dengan bauku, menjadi sangat kentara. Biarpun
aku menggendongnya, tetap saja akan meninggalkan jejak.
Jejak kami memang tersebar di mana-mana, tapi bercampur
dengan bau Bella, akan menarik perhatian mereka. Kami
tidak yakin jalan mana yang akan mereka lalui, karena
mereka belum tahu. Kalau mereka mencium baunya
sebelum menemukan kita...”
Mereka sama-sama meringis, alis keduanya bertaut.
"Kau paham kan kesulitannya.”
"Pasti ada jalan untuk mengakalinya," gerutu Jacob.
Matanya memandang garang ke hutan, mengerucutkan
bibirnya.
Aku limbung. Edward memeluk pinggangku, menarikku
lebih dekat dan menyangga tubuhku.
"Aku harus mengantarmu pulang, kau kelelahan. lagi
pula sebentar lagi Charlie bangun...”
"Tunggu sebentar,” sergah Jacob, memutar tubuhnya
menghadap kami lagi, matanya cemerlang. "Kalian jijik
pada bauku, kan?"
"Hmm, lumayan." Edward maju dua langkah. "Itu
mungkin." Ia menoleh ke keluarganya. "Jasper?" serunya.


Jasper mendongak dengan sikap ingin tahu. Ia mendekat,
bersama Alice setengah langkah di belakangnya. Wajahnya
kembali frustrasi.
"Oke, Jacob.” Edward mengangguk padanya.
Jacob menoleh padaku, wajahnya menyiratkan
campuran berbagai emosi. Kentara sekali ia bersemangat
dengan rencana barunya ini, tapi juga gelisah karena berada
begitu dekat dengan sekutu-sekutu musuhnya. Kemudian
giliranku yang merasa waswas waktu ia mengulurkan kedua
lengannya kepadaku.
Edward menghela napas dalam-dalam.
"Akan kita lihat apakah aku bisa cukup mengecoh
baumu untuk menyembunyikan jejakmu,” Jacob
menjelaskan.
Kupandangi kedua lengannya yang terulur dengan sikap
curiga.
"Kau harus membiarkannya menggendongmu, Bella,"
Edward menjelaskan kepadaku. Suaranya tenang, tapi aku
bisa mendengar perasaan tidak suka di baliknya.
Keningku berkerut.
Jacob memutar bola matanya, tidak sabaran, lalu
mengulurkan tangan dan merenggutku ke dalam
pelukannya.
"Jangan cengeng begitu,” gerutunya.
Tapi matanya melirik Edward, sama seperti aku. Wajah
Edward tetap kalem dan tenang. Ia menujukan
perkataannya kepada Jasper.
"Bau Bella jauh lebih tajam bagiku – jadi kupikir, akan
lebih adil bila orang lain yang mencoba."


Jacob memunggungi mereka dan berjalan cepat ke hutan.
Aku tidak mengatakan apa-apa saat kegelapan melingkupi
kami. Aku cemberut, tidak senang dipeluk Jacob. Rasanya
terlalu intim – sebenarnya dia tidak perlu memelukku seerat
itu – dan dalam hati aku bertanya-tanya bagaimana rasanya
ini bagi dia. Aku bersedekap, kesal saat penyangga
lenganku justru semakin membuatku teringat pada
kenangan buruk itu.
Kami tidak pergi terlalu jauh; Jacob berjalan mengikuti
pola melengkung yang lebar dan kembali ke lapangan dari
arah berbeda, mungkin setengah lapangan jauhnya dari titik
kami berangkat tadi. Edward berdiri sendirian dan Jacob
menghampirinya.
"Kau bisa menurunkan aku sekarang."
"Aku tidak mau mengambil risiko mengacaukan
eksperimen..." Jacob memelankan langkah dan semakin
mempererat pelukannya.
"Kau benar-benar menjengkelkan,” gerutuku.
"Trims.”
Entah dari mana tahu-tahu Jasper dan Alice sudah
berdiri di samping Edward. Jacob maju selangkah,
kemudian menurunkan aku beberapa meter jauhnya dari
Edward. Tanpa menoleh lagi kepada Jacob, aku
menghampiri Edward dan meraih tangannya.
"Well?" tanyaku.
"Asal kau tidak menyentuh apa-apa, Bella, aku tidak bisa
membayangkan ada yang mau repot mengendus-endus
tanah untuk mencari baumu,” kata Jasper, nyengir. "Baumu
hampir sepenuhnya tersamarkan."


"Sukses besar,” Alice sependapat, mengernyitkan
hidung.
"Dan aku mendapat ide.”
"Yang pasti akan berhasil,” imbuh Alice penuh percaya
diri.
"Cerdik,” Edward sependapat.
"Bagaimana kau bisa tahan dengan semua itu?" bisik
Jacob padaku.
Edward tak memedulikan Jacob dan menatapku saat ia
menjelaskan. "Kami, well, kau, akan meninggalkan jejakjejak
palsu menuju lapangan. Bella. Para vampir baru itu
sedang berburu, jadi baumu akan membuat mereka
bergairah, dan mereka akan datang tepat ke tempat yang
kami inginkan tanpa kami harus berhati-hati mengenainya.
Alice sudah bisa melihat rencana ini pasti berhasil. Saat
mereka menangkap bau kami, mereka akan berpencar dan
berusaha menyerang kami dari dua sisi. Setengah masuk ke
hutan, tempat visi Alice tiba-tiba menghilang..."
"Yes!" desis Jacob.
Edward tersenyum pada Jacob, benar-benar senyum
bersahabat.
Aku merasa muak. Bagaimana mereka bisa begitu
bersemangat membicarakan ini? Bagaimana aku bisa tahan
bila dua-duanya berada dalam bahaya? Aku tidak sanggup.
Aku tidak mau.
"Tidak bisa,” sergah Edward tiba-tiba, nadanya marah.
Aku terlonjak kaget, khawatir Edward mendengar tekadku
barusan, tapi matanya tertuju kepada Jasper.


“Aku tahu, aku tahu,” Jasper buru-buru menyergah.
“Aku bahkan tidak mempertimbangkannya, sungguh."
Alice menginjak kakinya.
"Kalau Bella benar-benar berada di lapangan." Jasper
menjelaskan kepada Alice, "para vampir baru itu bakal
kesetanan. Mereka takkan bisa berkonsentrasi pada hal lain
selain dirinya. Mudah saja menghabisi mereka...”
Tatapan garang Edward membuat Jasper mundur.
"Tentu saja itu terlalu berbahaya bagi Bella. Itu pikiran
ngawur," ujarnya buru-buru. Tapi ia melirikku, dan sorot
matanya berharap.
"Tidak,” tolak Edward. Nadanya tegas, tak bisa ditawartawar.
"Kau benar.” kata Jasper. Ia meraih tangan Alice dan
menghampiri yang lain. "Dua yang terbaik dari tiga?"
Kudengar ia bertanya kepada Alice saat mereka beranjak
untuk latihan lagi.
Jacob memandanginya dengan jijik.
"Jasper selalu memandang segala sesuatu dari perspektif
militer," dengan tenang Edward membela saudaranya. "Dia
selalu melihat berbagai opsi,itu namanya teliti, bukan tidak
berperasaan."
Jacob mendengus.
Tanpa sadar sejak tadi Jacob semakin beringsut
mendekat, tertarik oleh keasyikannya menyimak
perencanaan. Sekarang ia berdiri tidak sampai satu meter
dari Edward, dan, berdiri di antara mereka, bisa kurasakan
udara sarat oleh ketegangan fisik. Seperti arus listrik statis
yang setiap saat bisa korslet.


Edward kembali bersikap resmi. “Aku akan
membawanya ke sini Jumat siang untuk menyebarkan jejak
palsu. Kalian bisa menemui kami sesudahnya, dan
membawanya ke tempat yang kuketahui. Tempatnya
terpencil, mudah dipertahankan, walaupun bukan berarti
pasti akan seperti itu. Aku akan mengambil rute lain
menuju ke sana."
"Lalu bagaimana? Meninggalkannya dengan ponsel?"
Tanya Jacob kritis.
"Kau punya ide yang lebih bagus?"
Tiba-tiba Jacob tampak puas. "Ya, ada.”
"Oh.. Baiklah, anjing, lumayan juga idemu.”
Dengan cepat Jacob menoleh menatapku, seolah-olah
bertekad menjadi pihak yang baik dengan
menginformasikan jalannya pembicaraan. "Kami berusaha
membujuk Seth untuk tinggal bersama dua serigala muda
lainnya. Dia masih terlalu muda, tapi keras kepala dan
pemberontak. Jadi terpikir olehku untuk memberinya tugas
lain – ponsel."
Aku berusaha menunjukkan sikap seolah-olah mengerti.
Tapi semua tahu aku tidak mengerti.
"Selama Seth Clearwater menjadi serigala, dia bisa terus
berhubungan dengan kawanannya,” Edward menjelaskan.
“Jarak tidak masalah!” imbuhnya, menoleh kepada Jacob.
"Tidak.”
"Empat ratus delapan puluh kilometer?" Tanya Edward.
"Mengesankan.”
Jacob kembali berbaik hati. "Itu jarak terjauh yang
pernah dieksperimenkan,” ia menjelaskan padaku. "Masih
sangat jelas.”


Aku mengangguk asal, dalam hati aku kaget karena si
kecil Seth Clearwater sudah menjadi manusia serigala juga,
dan itu membuatku sulit berkonsentrasi. Dalam benakku
aku bisa melihat senyumnya yang cemerlang, sangat mirip
Jacob waktu masih kecil dulu; usianya tak mungkin lebih
dari lima belas tahun, kalau Seth memang itulah usianya.
Tiba-tiba saja aku bisa memahami antusiasmenya yang
meluap-luap saat pertemuan api unggun waktu itu...
"Ide bagus," Edward sepertinya enggan mengakuinya.
"Aku akan merasa lebih tenang kalau ada Seth di sana,
bahkan seandainya tanpa komunikasi instan. Entah apakah
aku sanggup meninggalkan Bella sendirian di sana. Tapi
coba bayangkan betapa anehnya situasi ini sekarang!
Mempercayai werewolf!"
"Bertarung bersama vampir, bukannya melawan
mereka!"
Jacob menirukan nada jijik seperti yang disuarakan
Edward.
"Well", kau masih bisa bertarung melawan beberapa di
antara mereka,” tukas Edward.
Jacob tersenyum. "Karena itulah kami ada di sini."
19. EGOIS
EDWARD menggendongku pulang dalam dekapannya,
yakin aku pasti takkan mampu berpegangan padanya. Aku
pasti jatuh tertidur dalam perjalanan.
Waktu bangun aku sudah berada di tempat tidur dan
cahaya suram menerobos masuk melalui kaca-kaca jendela,
miring dan datang dari Sudut yang aneh. Hampir seolaholah
hari sudah sore.


Aku menguap dan menggeliat, jari-jariku mencari-cari
Edward tapi ia tak ada.
"Edward?' gumamku.
Jemariku yang meraba-raba menyentuh sesuatu yang
dingin dan halus. Tangannya.
"Kau sudah benar-benar bangun sekarang," bisik
Edward.
"Mmm,” aku mendesah mengiyakan. "Memangnya
banyak pertanda palsu?"
"Kau gelisah terus – mengoceh seharian."
"Seharian?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan
menoleh lagi ke jendela.
"Kau habis begadang,” kata Edward menenangkan."Jadi
kau pantas tidur seharian."
Aku terduduk, kepalaku pening. Cahaya memang
menerobos masuk ke jendelaku dari arah barat. "Wow."
"Lapar?” tebak Edward.” Mau sarapan di tempat tidur?"
"Aku bisa sendiri kok,” erangku, menggeliat lagi. "Aku
harus turun dan bergerak."
Edward menggandeng tanganku menuju dapur,
mengamatiku dengan waswas, seolah-olah takut aku akan
ambruk. Atau mungkin dikiranya aku melindur.
Aku memilih sarapan yang sederhana, memasukkan dua
keping Pop-Tart ke panggangan. Aku melihat bayangan
diriku sendiri di lapisan kromnya yang memantulkan
bayangan.
"Ya ampun, aku benar-benar tampak berantakan."


"Semalam memang sangat melelahkan." kata Edward
lagi. "Seharusnya kau tinggal saja di sini dan tidur."
"Yang benar saja! Dan ketinggalan semuanya. Kau tahu,
kau harus mulai bisa menerima fakta sekarang aku sudah
menjadi bagian keluargamu."
Edward tersenyum. "Mungkin lama-lama aku akan
terbiasa juga."
Aku duduk menghadapi sarapanku, sementara Edward
duduk di sampingku. Ketika kuangkat Pop-Tart untuk
gigitan pertama, kulihat Edward memandangi tanganku.
Aku menunduk, dan melihat aku masih mengenakan
hadiah yang diberikan Jacob untukku di pesta.
"Boleh lihat?" tanyanya, meraih bandul serigala kecil dari
kayu itu.
Aku menelan dengan suara berisik. "Eh tentu."
Edward menyeimbangkan patung mungil itu di telapak
tangannya yang putih. Sesaat, aku sempat takut. Hanya
dengan sedikit remasan jari-jarinya, bandul itu bakal remuk.
Tapi tentu saja Edward takkan berbuat begitu. Punya
pikiran seperti itu saja sudah membuatku malu. Edward
hanya menimang-nimang serigala kecil itu di telapak
tangannya berapa saat, lalu melepasnya. Bandul itu berayun
pelan di pergelangan tanganku.
Aku mencoba membaca ekspresi di matanya. Yang
kulihat hanya ekspresi berpikir, semua yang lain
dipendamnya, kalau memang ada yang lain.
"Jacob Black boleh memberimu hadiah."
Itu bukan pertanyaan, atau tuduhan. Hanya pernyataan
fakta. Tapi aku tahu ia merujuk pada hari ulang tahun
terakhirku serta kekesalanku karena diberi berbagai


hadiah,waktu itu aku tidak menginginkan apa-apa.
Terutama tidak dari Edward. Memang tidak sepenuhnya
logis, dan, tentu saja, semua orang tetap mengabaikan
keinginanku...
"Kau sudah sering memberiku hadiah," aku
mengingatkan dia. "Kau tahu aku suka barang-barang
buatan sendiri."
Edward mengerucutkan bibirnya sejenak. "Bagaimana
kalau barang yang dulunya milik orang lain Apakah itu bisa
diterima?"
"Maksudmu?"
"Gelang ini.” Telunjuk Edward menyusuri gelang yang
melingkar di pergelangan tanganku. "Kau akan sering
memakainya?"
Aku mengangkat bahu.
"Karena kau tidak ingin melukai perasaannya," Edward
menduga dengan cerdik.
"Tentu, kurasa begitu."
"Adilkah menurutmu, kalau begitu?" tanya Edward,
menunduk menatap tanganku sambil bicara. Ia
membalikkan tanganku hingga telapakku menghadap ke
atas, lalu ujung jarinya menyusuri urat-urat nadi di
pergelangan tanganku. "Kalau aku juga memberimu sesuatu
yang bisa merepresentasikan aku?"
"Merepresentasikanmu?"
"Sebuah bandul, sesuatu yang akan selalu membuatmu
teringat padaku."
"Aku selalu mengingatmu. Tidak perlu pengingat lain."


"Kalau aku memberimu sesuatu, maukah kau
memakainya? "desak Edward.
"Benda yang pernah dimiliki seseorang?" aku mengecek.
"Ya, sesuatu yang sudah lama kusimpan." Edward
menyunggingkan senyum malaikatnya.
Kalau hanya ini reaksi Edward terhadap hadiah Jacob,
aku akan menerimanya dengan senang hati. “Apa saja asal
kau bahagia."
"Kau menyadari ketidakseimbangannya, bukan?"
tanyanya, nada suaranya berubah menuduh. "Karena aku
jelas menyadarinya."
"Ketidakseimbangan apa?"
Mata Edward menyipit. "Orang lain boleh memberimu
hadiah sesuka mereka. Semua kecuali aku. Aku ingin sekali
memberimu hadiah kelulusan tapi itu tidak kulakukan. Aku
tahu itu akan membuatmu lebih marah daripada kalau
orang lain yang memberimu hadiah. Itu sangat tidak adil.
Bagaimana kau menjelaskan alasanmu?"
"Gampang.” Aku mengangkat bahu. "Kau lebih penting
dari pada semua orang lain. Dan kau sudah memberiku
dirimu. Itu lebih daripada yang pantas kuterima, dan
hadiah lain, apa pun, yang kuterima darimu, hanya akan
membuat posisi kita makin tak seimbang."
Edward mencerna penjelasanku sesaat, kemudian
memutar bola matanya. "Caramu menghargaiku benarbenar
konyol."
Aku mengunyah sarapanku dengan tenang. Aku tahu
Edward tidak akan mengerti bila kukatakan padanya
pikirannya itu terbalik.
Ponsel Edward mendengung.


Diperhatikannya dulu nomor yang tertera di sana
sebelum menerimanya. "Ada apa, Alice?"
Edward mendengarkan, dan aku menunggu reaksinya,
mendadak gugup. Tapi apa pun yang dikatakan Alice tidak
membuat Edward terkejut. Ia mendesah beberapa kali.
"Rasa-rasanya aku sudah menduga akan seperti itu," kata
Edward kepada Alice, menatap mataku. alisnya terangkat
dengan sikap tidak setuju. "Dia bicara dalam tidurnya."
Pipiku merah padam. Memangnya apa lagi yang
kuocehkan?
"Serahkan saja padaku," janjinya.
Edward menatapku garang sambil memutuskan
hubungan.
"Apakah ada yang ingin kaubicarakan denganku?"
Aku menimbang-nimbang sesaat. Menilik peringatan
Alice semalam, aku bisa menebak maksud Alice menelepon
Edward. Kemudian aku teringat mimpi-mimpi mengganggu
yang kualami waktu aku tidur seharian, dalam mimpi itu
aku mengejar Jasper, berusaha mengikutinya dan
menemukan lapangan terbuka di tengah hutan yang
berkelok-kelok menyesatkan, tahu aku akan menemukan
Edward di sana... Edward. serta para monster yang ingin
membunuhku, tapi aku tidak peduli pada mereka karena
sudah membuat keputusan, aku sudah bisa menebak apa
yang didengar Edward sementara aku tidur."
Aku mengerucutkan bibir sesaat, tak sanggup membalas
tatapannya. Edward menunggu.
"Aku suka ide Jasper," kataku akhirnya.
Edward mengerang.


"Aku ingin membantu. Aku harus melakukan sesuatu,"
aku bersikeras.
"Tidak akan membantu kalau kau berada dalam
bahaya."
"Menurut Jasper itu bisa membantu. Ini kan
keahliannya."
Edward memelototiku.
"Kau tidak bisa membuatku menyingkir," ancamku.
"Aku tidak mau bersembunyi di hutan sementara kalian
mempertaruhkan nyawa demi aku."
Tiba-tiba Edward menahan senyumnya yang nyaris
terkuak. "Alice tidak melihatmu di lapangan, Bella. Dia
melihatmu tersaruk-saruk di tengah hutan, tersesat. Kau
takkan bisa menemukan kami; kau hanya akan membuatku
membuang banyak waktu untuk mencarimu sesudahnya."
Aku berusaha tetap bersikap setenang Edward. "Itu
karena Alice tidak memperhitungkan faktor Seth
Clearwater,” ujarku sopan. "Kalau dia memperhitungkan
hal itu, tentu saja dia tidak akan bisa melihat apa-apa sama
sekali. Tapi kedengarannya Seth juga ingin berada di medan
pertempuran, sama sepertiku. Jadi pasti tidak terlalu sulit
membujuknya untuk menunjukkan jalan padaku."
Amarah melintas di wajah Edward, kemudian ia
menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri.
"Mungkin saja itu bisa berhasil... kalau kau tidak
memberitahuku. Sekarang. aku tinggal meminta Sam
memberi perintah khusus kepada Seth. Biarpun ingin, Seth
tidak mungkin bisa mengabaikan perintah semacam itu."
Aku tetap menyunggingkan senyum ceria. "Tapi untuk
apa Sam memberi perintah semacam itu?" Kalau aku bilang
padanya kehadiranku di sana justru akan membantu?"


Berani bertaruh, Sam pasti lebih suka meluluskan
permintaanku daripada permintaanmu."
Edward berusaha keras menahan diri lagi. "Mungkin kau
benar. Tapi aku yakin Jacob pasti juga bersedia memberi
perintah yang sama."
Keningku langsung berkerut. "Jacob?"
"Jacob orang kedua. Pernahkah dia memberitahumu hal
itu? Perintahnya juga harus ditaati."
Edward berhasil membungkam perlawananku, dan
melihat senyumannya, ia pun tahu itu. Keningku berkerut.
Jacob pasti bakal berpihak kepada Edward,dalam urusan
yang satu ini,aku betul-betul yakin. Dan Jacob tidak pernah
memberi tahu hal itu padaku.
Edward memanfaatkan kebingungan sesatku dengan
meneruskan kata-katanya dengan nada kalem dan
menenangkan yang mencurigakan itu.
"Aku mendapat kesempatan melihat ke dalam pikiran
kawanan itu semalam. Ternyata lebih seru daripada cerita
sinetron. Aku sama sekali tidak mengira betapa
kompleksnya situasi dalam sebuah kawanan yang begitu
besar. Bagaimana keinginan individual harus berhadapan
dengan keinginan kelompok... Menarik sekali."
Edward jelas-jelas berusaha mengalihkan pikiranku.
Kupelototi ia dengan galak.
"Jacob menyimpan banyak rahasia.” kata Edward
sambil nyengir.
Aku tidak menyahut, aku terus saja memelototinya,
mempertahankan argumenku dan menunggu peluang.
"Misalnya saja, kau lihat tidak serigala abu-abu kecil
yang ada di sana semalam?"


Aku mengangguk kaku.
Edward terkekeh. "Mereka sangat memercayai legenda.
Tapi ternyata, terjadi banyak hal baru yang dalam kisahkisah
itu justru tidak pernah ada."
Aku mengembuskan napas. "Oke, kumakan umpanmu.
Apa maksudmu sebenarnya?"
"Mereka selalu menerima tanpa ragu bahwa hanya cucu
lelaki langsung serigala aslilah yang memiliki kemampuan
untuk berubah."
"Jadi ada seseorang yang bukan cucu lelaki langsung
yang berubah?"
"Ya. Tapi dia memang cucu perempuan langsung."
Aku berkedip, mataku membelalak, "Perempuan?"
Edward mengangguk. "Dia mengenalmu. Namanya
Leah Clearwater."
"Jadi Leah juga werewolf!" pekikku. "Apa?" Sudah berapa
lama Kenapa Jacob tidak memberitahuku?"
"Ada hal-hal yang tidak boleh dia ceritakan kepada siapa
pun, misalnya saja, berapa jumlah mereka. Seperti
kukatakan tadi, kalau Sam memberi perintah, kawanan itu
tidak bisa tidak mematuhi. Jacob sangat berhati-hati untuk
memikirkan hal-hal lain bila dia berada di dekatku. Tentu
saja, setelah semalam, semuanya terbuka lebar."
"Aku tidak percaya. Leah Clearwater!" Mendadak aku
ingat Jacob pernah bercerita tentang Leah dan Sam, serta
bagaimana Jacob mendadak bersikap seolah-olah ia sudah
kelepasan omong, setelah berkata Sam harus menatap mata
Leah setiap hari dan tahu ia telah melanggar semua janjinya
sendiri... Leah di tebing. setetes air mata berkilau di pipinya
ketika Quil Tua berbicara tentang beban dan pengorbanan


yang dipikul anak-anak lelaki suku Quileute... Dan Billy
yang mendadak jadi sering bertandang ke rumah Sue karena
ia memiliki masalah dengan anak-anaknya... dan masalah
itu ternyata bahwa kedua anaknya sekarang menjadi
werewolf!
Sebelumnya aku tidak begitu memikirkan Leah
Clearwater, hanya ikut sedih karena ayahnya, Harry,
meninggal dunia, kemudian merasa kasihan padanya waktu
Jacob menceritakan padaku tentang kisah cintanya, berapa
proses imprint aneh antara Sam dan sepupunya Emily telah
menghancurkan hati Leah.
Dan sekarang ia menjadi anggota kawanan Sam,
mendengar pikiran-pikirannya... dan tak bisa
menyembunyikan pikirannya sendiri.
Aku paling tidak menyukai bagian yang itu. Jacob pernah
berkata. Semua yang membuatmu malu, terpampang jelas dan
bisa diketahui semua orang.
"'Kasihan Leah." bisikku.
Edward mendengus. "Dia membuat hidup jadi sangat
tidak menyenangkan bagi yang lain-lain. Aku tak yakin dia
pantas mendapat simpatimu."
"Apa maksudmu?"
"Ini saja sudah sulit bagi mereka, saling mengetahui
pikiran masing-masing. Sebagian besar berusaha bekerja
sama, untuk lebih memudahkan keadaan. Karena jika satu
orang saja sengaja bersikap jahat, semua ikut merasakan
sakitnya."
"Leah punya alasan kuat untuk itu,” gumamku, masih
memihak Leah.


"Oh, aku tahu." ucap Edward. "Keharusan imprint
adalah satu hal teraneh yang pernah kusaksikan seumur
hidupku. padahal aku sudah melihat hal-hal yang benarbenar
aneh."
Edward menggeleng-geleng takjub. "Saat
menggambarkan bagaimana Sam terikat kepada Emily-nya
– atau mungkin lebih tepat kukatakan Sam-nya Leah. Sam
benar-benar tidak punya pilihan. Itu mengingatkanku pada
cerita A Midsummer Night's Dream ketika semua kekacauan
disebabkan mantra cinta para peri... seperti sihir saja."
"Kasihan Leah,” ujarku lagi. "Tapi apa maksudmu.
bersikap jahat?"
"Leah terus-menerus memikirkan hal-hal yang lebih suka
mereka lupakan.” Edward menjelaskan. "Misalnya saja,
soal Embry."
"Memangnya ada apa dengan Embry?" tanyaku, terkejut.
"Ibunya pindah dari reservasi Makah tujuh belas tahun
lalu, saat Embry masih dalam kandungan. Ibunya bukan
suku Quileute. Semua orang berasumsi ibu Embry
meninggalkan ayahnya bersama suku Makah. Tapi
kemudian Embry bergabung dengan kawanan serigala."
"Lantas?"
"Jadi, kandidat utama ayah Embry adalah Quit Ateara,
St Joshua Uley, atau Billy Black, yang semuanya masih
beristri saat itu, tentu saja."
“Ah, yang benar,” aku terkesiap. Edward benar, persis
seperti cerita sinetron.
"Sekarang Sam, Jacob, dan Quil bertanya-tanya siapa di
antara mereka yang memiliki saudara seayah. Mereka
semua berharap Sam-lah saudara seayah Embry, karena


bisa dibilang ayah Sam memang tidak baik. Tapi keraguan
itu selalu ada. Jacob sendiri tidak berani bertanya kepada
Billy tentang hal itu."
"Wow. Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu hanya
dalam satu malam?"
"Pikiran kawanan itu menakjubkan. Semua berpikir
bersama, sekaligus sendiri-sendiri pada saat bersamaan.
Banyak sekali yang bisa dibaca!"'
Nadanya terdengar sedikit menyesal seperti orang yang
terpaksa berhenti membaca buku yang bagus sebelum
klimaks.
Aku tertawa.
"Kawanan itu memang menakjubkan," aku sependapat.
"Hampir sama menakjubkannya denganmu saat
berusaha mengalihkan pikiranku."
Ekspresi Edward kembali berubah sopan,wajah datar
yang sempurna.
"Aku harus berada di sana, Edward.”
"Tidak,” tukas Edward dengan nada tegas yang tak bisa
ditawar-tawar lagi.
Saat itulah sebuah ide muncul di benakku.
Sebenarnya aku tidak perlu berada di lapangan itu. Aku
hanya perlu berada di tempat yang sama dengan Edward.
Kejam, tuduhku pada diri sendiri. Egois. egois, egois!
Jangan lakukan itu!
Aku tak memperdulikan akal sehatku. Namun aku juga
tidak berani menatap mata Edward saat bicara. Perasaan
bersalah membuat mataku terpaku ke meja.


"Oke, begini. Edward,” bisikku. "Masalahnya begini...
aku dulu sudah pernah gila. Aku tahu sampai di mana batas
kemampuanku. Dan aku tak sanggup kalau kau
meninggalkan aku lagi."
Aku tidak mengangkat wajah untuk melihat reaksinya,
takut mengetahui betapa menyakitkannya kata-kataku itu
baginya. Aku memang mendengarnya terkesiap kaget dan
sejurus kemudian terdiam. Kupandangi daun meja yang
terbuat dari kayu berwarna gelap, berharap bisa menarik
lagi kata-kataku tadi. Tapi mungkin juga tidak kalau itu bisa
membuahkan hasil.
Tiba-tiba Edward memelukku, tangannya membelai
wajah dan lenganku. Ia menenangkan aku. Perasaan
bersalahku semakin menjadi-jadi. Tapi naluri
menyelamatkan diri lebih kuat. Tidak diragukan lagi
Edward merupakan faktor penting keselamatanku.
"Kau tahu tidak akan seperti itu. Bella.” gumamnya.
"Aku tidak akan jauh-jauh darimu, dan sebentar saja aku
pasti sudah selesai."
"Aku tidak sanggup,” aku bersikeras, tetap menunduk.
"Tidak tahu apakah kau akan kembali atau tidak.
Bagaimana aku bisa menjalaninya, tak peduli betapapun
cepatnya itu berakhir?"
Edward mendesah."Pasti akan berakhir dengan mudah,
Bella. Tidak ada alasan untuk takut."
"Tidak ada sama sekali?"
"Sama sekali tidak."
"Dan semua akan baik-baik saja?"
"Semuanya,” janji Edward.
“Jadi aku sama sekali tidak perlu berada di sana?"


"Tentu saja tidak. Alice baru saja memberi tahu
jumlahnya berkurang jadi sembilan belas. Kami pasti bisa
menghadapi mereka dengan mudah."
"Benar,kau pernah bilang saking mudahnya, janganjangan
ada di antara kalian yang tinggal duduk-duduk
santai," aku mengulangi perkataan Edward semalam.
"Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu."
"Ya."
Rasanya terlalu mudah,Edward pasti sudah bisa
menebak maksudku. "Begitu mudahnya hingga kau bisa
tidak ikut?"
Setelah lama tidak terdengar apa-apa, akhirnya aku
menengadah untuk melihat ekspresinya.
Wajah Edward kembali datar.
Aku menghela napas dalam-dalam. "Jadi harus salah
satu. Apakah situasinya lebih berbahaya daripada yang kau
ingin kuketahui, dan itu berarti aku berhak berada di sana,
melakukan sebisaku untuk membantu. Atau... ini akan
sangat mudah sehingga mereka bisa mengatasinya tanpa
kau. Mana yang lebih tepat?"
Edward diam saja.
Aku tahu apa yang ia pikirkan,hal yang sama seperti
yang kupikirkan. Carlisle, Esme, Emmett, Rosalie, Jasper.
Dan.... aku memaksa diriku memikirkan nama terakhir,
dan Alice.
Aku penasaran apakah aku ini monster. Bukan monster
seperti anggapan Edward, tapi monster sungguhan. Yang
senang menyakiti orang. Yang tidak mempunyai batasan
jika itu berkaitan dengan apa yang mereka inginkan.


Yang kuinginkan hanyalah supaya Edward tetap aman,
aman bersamaku. Apakah aku memiliki batasan apa yang
akan kulakukan, apa yang bersedia kukorbankan demi
meraihnya? Entahlah.
"Kau memintaku membiarkan mereka bertempur tanpa
bantuanku?"' Tanya Edward pelan.
"Ya," Mengagetkan bagaimana aku bisa menjaga
suaraku tetap tenang, padahal dalam hati aku begitu kacau.
“Atau membiarkanku ikut. Yang mana saja, asal kita bisa
bersama."
Edward menghela napas dalam-dalam. kemudian
mengembuskannya lambat-lambat. Ia mengulurkan tangan
dan merengkuh kedua pipiku, memaksaku menatapnya.
Ditatapnya mataku lama sekali. Aku bertanya-tanya dalam
hati apa yang ia cari, dan apa yang ia temukan. Apakah
perasaan bersalah terlihat begitu jelas di wajahku seperti
halnya itu terasa di perutku – membuatku mual?
Matanya mengejang akibat emosi yang tak bisa kubaca,
dan Edward. menurunkan satu tangan untuk mengeluarkan
ponselnya lagi.
"Alice.” desahnya. "Bisakah kau datang sebentar untuk
menjaga Bella?" Ia mengangkat sebelah alis, menantangku
membantah ucapannya. "Aku perlu bicara dengan Jasper."
Alice pasti setuju. Edward menyimpan ponselnya dan
kembali memandangi wajahku.
"Apa yang akan kaukatakan kepada Jasper?" bisikku.
"Aku akan mendiskusikan kemungkinan... aku tidak ikut
bertempur."
Dari wajahnya kentara sekali sulit bagi Edward
mengucapkan kata-kata itu.


"Maafkan aku."
Aku memang menyesal. Aku tidak suka membuatnya
melakukan hal ini. Namun sesalku tak cukup besar hingga
aku bisa menyunggingkan senyum palsu dan
mengizinkannya pergi tanpa aku. Jelas tidak sebesar itu.
"Jangan meminta maaf," kata Edward, tersenyum
sedikit.
"Jangan pernah takut mengungkapkan perasaanmu,
Bella. Kalau memang ini yang kaubutuhkan.." Edward
mengangkat bahu. "Kau prioritas utamaku."
"Maksudku bukan begitu,seolah-olah kau harus memilih
aku atau keluargamu."
"Aku tahu itu, lagi pula, bukan itu yang kauminta. Kau
memberiku dua alternatif yang bisa kauterima, dan aku
memilih salah satu yang bisa kuterima. Itu namanya
berkompromi."
Aku mencondongkan tubuh dan meletakkan keningku di
dadanya. "Terima kasih," bisikku.
"Tidak apa-apa," sahut Edward, mengecup rambutku.
"Tidak apa-apa."
Lama sekali kami tidak bergerak. Aku tetap
menyembunyikan wajahku, membenamkannya di bajunya.
Dua suara berebut bicara dalam hatiku. Yang satu ingin aku
bersikap baik dan berani, yang lain menyuruh sisi baikku
untuk tidak banyak mulut.
"Siapa itu istri ketiga?" tahu-tahu Edward bertanya.
"Hah?" tukasku, sengaja mengulur-ulur. Aku tidak ingat
pernah bermimpi tentang hal itu lagi.


"Kau menyebut-nyebut 'istri ketiga’ semalam. Soal yang
lain-lain memang tidak begitu masuk akal, tapi yang satu itu
benar-benar membuatku bingung."
Edward menjauhkan tubuhnya dariku dan
menggelengkan kepala, mungkin bingung mendengar nada
tidak suka dalam suaraku.
"Oh. Eh, yeah. Itu hanya satu dari beberapa kisah yang
kudengar di acara api unggun waktu itu," Aku mengangkat
bahu. "Ceritanya jadi menempel di kepalaku."
Belum sempat Edward bertanya, Alice sudah muncul di
ambang pintu dapur dengan ekspresi masam.
"Kau akan melewatkan semua yang asyik-asyik."
gerutunya.
"Halo, Alice,” Edward menyapanya. Ia meletakkan satu
jari di bawah daguku dan menengadahkan wajahku,
menciumku sebelum pergi.
"Aku akan kembali lagi nanti.” janjinya padaku."Aku
akan membicarakan masalah ini dengan yang lain,
membuat berapa pengaturan."
"Oke.”
"Tak banyak yang perlu diatur,” tukas Alice. “Aku sudah
memberi tahu mereka. Emmett senang sekali.”
Edward mendesah. "Tentu saja dia senang."
Edward berjalan ke luar, meninggalkanku untuk
menghadapi Alice.
Alice memandangiku marah.
"Maafkan aku,” lagi-lagi aku meminta maaf
"Menurutmu, hal ini akan semakin membahayakan kalian?"


Alice mendengus. "Kau terlalu khawatir, Bella. Bisa-bisa
kau cepat ubanan."
"Kenapa kau kesal kalau begitu."
"Edward bersikap sangat menyebalkan jika kemauannya
tidak dituruti. Aku hanya mengantisipasi hidup bersamanya
selama beberapa bulan ke depan." Alice mengernyit.
"Kurasa, kalau itu membuatmu tetap waras, tak ada
salahnya melakukannya. Tapi harapanku kau bisa
mengatasi rasa pesimismu, Bella. Itu sangat tidak perlu."
"Apa kau akan membiarkan Jasper pergi tanpa kau?"
tuntutku.
Alice meringis, "Itu lain.”
“Apanya yang lain."
"Cepat bersihkan dirimu,” perintahnya. "lima belas
menit lagi Charlie sampai di rumah, dan kalau kau
kelihatan seperi ini, dia pasti tidak akan mengizinkanmu
keluar lagi."
Wow, aku benar-benar kehilangan sehari penuh Rasanya
benar-benar rugi. Untung nantinya aku tidak selalu harus
membuang-buang waktuku dengan tidur.
Aku sudah rapi waktu Charlie sampai di rumah,
berpakaian lengkap, baju rapi, dan sibuk di dapur
memasakkan makan malam untuknya. Alice duduk di
tempat Edward biasa duduk dan sepertinya itu langsung
membuat Charlie bersikap ceria.
"Halo, Alice! Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Aku baik-baik saja, Charlie, trims.”
"Akhirnya bangun juga kau, tukang tidur,” kata Charlie
padaku waktu aku duduk di sebelahnya, sebelum berpaling
kembali kepada Alice. "Semua orang ramai membicarakan


pesta yang diadakan orangtuamu semalam. Wah, kalian
pasti repot sekali membereskan seisi rumah."
Alice mengangkat bahu. Karena sudah mengenal Alice
dengan baik, itu pasti sudah selesai dikerjakan.
"Tidak percuma kok,” ujarnya. “Pestanya meriah."
"Mana Edward?" tanya Charlie, sedikit enggan. “Apa dia
sedang membantu beres-beres?"
Alice mengembuskan napas dan wajahnya berubah
murung. Mungkin itu hanya akting, tapi terlalu sempurna di
mataku sehingga rasanya mengerikan. "Tidak. Dia sedang
sibuk merencanakan acara akhir pekan bersama Emmett
dan Carlisle."
"Hiking lagi?"
Alice mengangguk, wajahnya mendadak sendu. “Ya.
Mereka semua pergi, kecuali aku. Kami selalu pergi
backpacking pada akhir tahun ajaran, semacam perayaan,
tapi tahun ini aku memutuskan lebih suka belanja daripada
hiking, tapi tak seorang pun mau tinggal untuk
menemaniku. Aku sendirian."
Wajah Alice berkerut, ekspresinya begitu sedih sampaisampai
Charlie otomatis mencondongkan tubuh ke
arahnya, sebelah tangan terulur, seperti ingin menolong.
Kupelototi Alice dengan sikap curiga. Apa lagi yang
dilakukannya sekarang?
"Alice, Sayang, kenapa kau tidak menginap saja di sini
bersama kami?" Charlie menawarkan. “Aku tidak suka
membayangkan kau sendirian di rumah besar itu."
Alice mendesah. Sesuatu menginjak kakiku di bawah
meja.
"Aduh!" protesku.


Charlie berpaling kepadaku. "Apa?"
Alice melayangkan pandangan frustrasi ke arahku.
Kentara sekali ia menganggapku sangat lamban malam ini.
"Jari kakiku terantuk," gumamku.
"Oh," Charlie menoleh lagi kepada Alice. "Jadi..
bagaimana tawaranku tadi?"
Lagi-lagi Alice menginjak kakiku, kali ini tidak terlalu
keras.
'"Eh, Dad, Dad kan tahu akomodasi di sini kurang
memadai. Berani bertaruh, Alice pasti tidak mau tidur di
lantai kamarku.."
Charlie mengerucutkan bibir. Alice menunjukkan
ekspresi murung itu lagi.
'"Kalau begitu, mungkin sebaiknya Bella menemanimu
di rumahmu,” Charlie menyarankan. "Hanya sampai
orangtuamu kembali.'"
"Oh, kau mau, tidak, Bella?" Alice tersenyum berseri-seri
padaku. “Kau tidak keberatan shopping denganku, kan?"
"Tentu,” aku setuju. "Shopping. Oke.”
"Kapan mereka berangkat?" tanya Charlie.
Lagi-lagi Alice mengernyit. "Besok."
"Kapan kau mau aku datang?" tanyaku.
"Sehabis makan malam, kurasa,” jawabnya, kemudian
menempelkan telunjuknya di dagu, berpikir-pikir. "Hari
Sabtu kau tidak ada acara apa-apa, kan? Aku ingin
shopping ke luar kota, pergi seharian."
"Jangan ke Seattle,” sela Charlie, alisnya bertaut.


"Tentu saja tidak,” Alice langsung menyanggupi,
walaupun kami tahu Seattle justru akan sangat aman pada
hari Sabtu.
"Maksudku ke Olympia, mungkin.."
"Kau pasti senang, Bella.” Charlie riang karena lega.
"Pergilah, sekali-sekali menghirup udara kota."
"Yeah, Dad. Pasti asyik."
Dengan satu obrolan ringan, Alice berhasil mendapatkan
izin bagiku untuk keluar pada malam terjadinya
pertempuran.
Edward kembali tak lama kemudian. Diterimanya saja
ucapan selamat bersenang-senang dari Charlie tanpa
perasaan terkejut. Ia berkata mereka harus berangkat pagipagi
sekali besok, dan berpamitan sebelum waktu biasanya
ia pulang.
Alice ikut pulang bersamanya.
Aku permisi hendak tidur tak lama setelah mereka
pulang.
"Masa kau sudah capek lagi," protes Charlie.
"Sedikit,” dustaku.
"Pantas kau sering mangkir menghadiri pesta,” gerutu
Charlie. "Kau butuh waktu yang sangat lama untuk pulih."
Di lantai atas, Edward sudah berbaring melintang di
tempat tidurku.
"Jam berapa kita akan bertemu dengan para serigala?"
bisikku sambil mendekatinya.
"Satu jam lagi."
"Bagus. Jake dan teman-temannya butuh tidur."


"Mereka tidak butuh tidur sebanyak kau," tukasnya.
Aku beralih ke topik lain, berasumsi Edward berniat
membujukku tinggal saja di rumah. "Alice sudah cerita
padamu, belum, kalau dia menculikku lagi?"
Edward nyengir. "Sebenarnya, bukan begitu."
Kutatap Edward, bingung, dan ia tertawa pelan melihat
ekspresiku.
"Akulah satu-satunya yang diizinkan menyanderamu,
ingat?" tanya Edward. "Alice akan pergi berburu bersama
mereka semua." Ia mendesah. "Kurasa aku tidak perlu
melakukan itu sekarang."
"Jadi kau yang akan menculikku?"
Edward mengangguk.
Aku berpikir sebentar. Tidak ada Charlie yang
mendengarkan di lantai bawah, sesekali datang untuk
mengecek. Dan di seantero rumah tidak ada vampir yang
tidak pernah tidur dengan pendengaran mereka yang luar
biasa sensitif. Hanya dia dan aku – benar-benar sendirian.
"Kau tidak keberatan, kan?" tanya Edward, cemas
melihatku terdiam.
"Well... tentu tidak. kecuali satu hal."
"Apa itu?" Mata Edward tampak gelisah.
Membingungkan, tapi entah kenapa Edward sepertinya
masih merasa tidak yakin ia memilikiku. Mungkin aku
perlu lebih memperjelas maksudku.
"Kenapa Alice tidak bilang saja kepada Charlie bahwa
kau berangkat malam ini?" tanyaku.
Edward tertawa, lega.


Aku menikmati perjalanan ke lapangan lebih daripada
semalam. Aku masih merasa bersalah, masih takut, tapi
tidak ketakutan lagi. Aku bisa berfungsi. Aku bisa melihat
melewati apa yang akan terjadi, dan nyaris meyakini bahwa
mungkin keadaan akan baik-baik saja. Ternyata Edward
bisa menerima usul untuk tidak ikut berperang... dan karena
itulah, sulit untuk tidak memercayainya waktu mengatakan
mereka bisa memenangkan peperangan ini dengan mudah.
Edward tidak mungkin berani meninggalkan keluarganya
kalau ia sendiri tidak percaya. Mungkin Alice benar, aku
terlalu khawatir.
Kami yang terakhir sampai di lapangan.
Jasper dan Emmett sudah bergulat, hanya pemanasan
kalau mendengar tawa mereka, Alice dan Rosalie duduk di
tanah yang keras, menonton. Esme dan Carlisle mengobrol
berapa meter dari sana, kepala mereka berdekatan, jari-jari
saling bertautan, tak memedulikan sekeliling mereka.
Malam ini suasana jauh lebih benderang, cahaya bulan
menerobos awan-awan tipis, dan aku bisa dengan mudah
melihat tiga serigala duduk mengitari arena latihan, satu
sama lain terpisah cukup jauh, supaya bisa menonton dari
sudut berbeda.
Aku juga langsung bisa mengenali Jacob; aku pasti akan
langsung mengenalinya, walaupun seandainya ia tidak
mendongak dan menengok begitu mendengar kami datang.
"Mana serigala-serigala yang lain?" tanyaku.
"Tidak semuanya perlu datang ke sini. Satu saja sudah
cukup, tapi Sam tidak terlalu percaya kepada kita sehingga
berani mengirim Jacob sendirian, walaupun Jacob bersedia.
Quil dan Embry adalah... kurasa kau bisa menyebut mereka
pendamping Jacob."


"Jacob percaya padamu.”
Edward mengangguk. "Dia percaya kami tidak akan
mencoba membunuhnya. Hanya itu, tapi."
"Apakah kau akan ikut berpartisipasi malam ini?"
tanyaku, ragu-ragu. Aku tahu hampir sama sulitnya bagi
Edward ditinggal sendirian, sama seperti aku sulit ditinggal
olehnya. Mungkin malah lebih sulit.
"Aku akan membantu Jasper kalau dia membutuhkan.
Dia ingin mencoba beberapa pengelompokan yang tidak
seimbang. mengajari mereka caranya menghadapi beberapa
penyerang sekaligus."
Edward mengangkat bahu.
Gelombang kepanikan baru langsung menghancurkan
rasa percaya diriku yang singkat tadi.
Mereka terap kalah banyak. Aku malah semakin
memperparah keadaan.
Mataku menatap lapangan, berusaha menyembunyikan
kepanikanku.
Ternyata aku memandang ke tempat yang salah,
sementara aku berusaha keras membohongi diri sendiri,
meyakinkan diriku segala sesuatu akan berjalan seperti
kemauanku. Karena ketika aku memaksa mataku berpaling
dari keluarga Cullen,mengalihkan pandangan dari latihan
perang-perangan yang beberapa hari lagi akan menjadi
nyata dan mematikan, mataku tertumbuk kepada Jacob dan
ia tersenyum.
Lagi-lagi seringaian khas serigala seperti yang
ditunjukkannya kemarin, matanya menyipit seperti yang
biasa dilakukannya saat berwujud manusia.


Sulit dipercaya bahwa, belum lama berselang, aku
menganggap serigala-serigala itu mengerikan, sampaisampai
aku tidak bisa tidur karena terganggu mimpi buruk
mengenai mereka.
Aku tahu, tanpa bertanya, yang mana Embry dan yang
mana Quit. Karena Embry jelas-jelas serigala kelabu kurus
dengan bercak-bercak gelap di punggungnya, yang duduk
menonton dengan sabar, sementara Quil-bulunya cokelat
tua, dengan warna lebih terang di daerah sekitar wajah,
bergerak-gerak terus, sepertinya sangat ingin bergabung
dengan perang-perangan itu. Mereka bukan monster,
bahkan dalam keadaan seperti ini. Mereka teman.
Teman yang tidak terlihat tak terkalahkan seperti
Emmett dan Jasper, yang bergerak lebih cepat daripada
pagutan kobra, dengan cahaya bulan memantul berkilauan
di kulit mereka yang sekeras granit. Teman yang
kelihatannya tidak memahami bahaya yang mengancam di
sini. Teman yang tidak abadi, yang bisa berdarah, yang bisa
tewas....
Rasa percaya diri Edward memang meyakinkan, karena
kentara sekali ia tidak terlalu mengkhawatirkan
keselamatan keluarganya. Tapi apakah ia akan sedih jika
sesuatu terjadi pada serigala-serigala itu? Adakah alasan
baginya untuk merasa cemas, bila kemungkinan itu tidak
mengganggunya sama sekali? Rasa percaya diri Edward
hanya berlaku untuk satu sisi ketakutanku.
Aku berusaha membalas senyum Jacob, menelan ludah
dengan susah payah karena tenggorokanku bagai tersumbat.
Sepertinya aku tidak berhasil menyunggingkan senyum
yang wajar.
Jacob melompat ringan, kelincahannya tampak tak
sepadan dengan tubuhnya yang besar, dan ia berlari-lari


kecil menghampiri Edward dan aku yang berdiri di pinggir
arena.
"Jacob," Edward menyapanya sopan.
Jacob tidak menggubrisnya, mata hitamnya tertuju
padaku, ia merendahkan kepalanya hingga sejajar
denganku, seperti yang dilakukannya kemarin.
menelengkannya ke satu sisi.
Dengkingan pelan keluar dari moncongnya.
“Aku baik-baik saja." jawabku. tanpa perlu
diterjemahkan Edward. "Hanya khawatir."
Jacob terus memandangiku.
"Dia ingin tahu kenapa." gumam Edward.
Jacob menggeram – nadanya tidak mengancam, hanya
kesal – dan bibir Edward bergerak-gerak.
"Apa?" tanyaku.
"Dia menganggap terjemahanku tidak tepat. Sebenarnya
yang dia pikirkan adalah, ‘itu benar-benar bodoh. Apa yang
perlu dikhawatirkan?’ Aku mengeditnya karena menurutku
itu kasar."
Aku tersenyum setengah hati, kelewat cemas untuk
benar-benar merasa geli. "Justru banyak sekali yang perlu
dikhawatirkan,” kataku kepada Jacob. "Seperti misalnya,
segerombolan serigala bodoh mencelakakan diri sendiri."
Jacob mengumandangkan tawanya yang menggonggong
itu.
Edward mendesah. "Jasper minta bantuan. Kau bisa kan
tanpa penerjemah?"
"Bisa."


Sejenak Edward menatapku sendu, ekspresinya sulit
dimengerti, lalu ia berbalik dan berjalan ke tempat Jasper
sudah menunggu.
Aku duduk di tempatku berdiri tadi. Tanah dingin dan
tidak nyaman.
Jacob maju selangkah, lalu berpaling menatapku, dan
dengkingan pelan keluar dari tenggorokannya. Ia maju lagi
setengah langkah.
"Tontonlah tanpa aku," kataku. "Aku tidak ingin
menonton."
Jacob Mencondongkan kepalanya lagi ke satu sisi,
kemudian melipat tubuhnya dan duduk di tanah dengan
embusan napas yang menggetarkan tubuhnya.
"Benar kok. kauperhatikan latihannya saja," aku
meyakinkan dia. Jacob tidak menyahut, hanya Meletakkan
kepalanya di kedua kaki depannya.
Aku menengadah, memandangi awan-awan yang perak
cemerlang, tidak ingin menonton pertempuran. Imajinasiku
sudah cukup liar. Angin sepoi-sepoi bertiup ke lapangan.
dan aku menggigil.
Jacob beringsut lebih dekat kepadaku, mendesakkan
bulu-bulunya yang hangat ke sisi kiri tubuhku.
"Eh, trims." gumamku.
Beberapa menit kemudian aku bersandar di bahunya
yang lebar. Jauh lebih nyaman seperti itu.
Awan-awan bergerak lambat di langit, suasana berubah
redup kemudian cerah kembali saat gumpalan-gumpalan
tebal melewati bulan dan terus melaju.
Tanpa berpikir aku mulai menyusupkan jari-jariku ke
bulu lehernya. Suara dengkuran aneh seperti kemarin


menggeletar di kerongkongannya. Suaranya terdengar
akrab. Lebih kasar, lebih liar daripada dengkuran kucing.
tapi sama-sama menunjukkan suasana hati yang senang dan
gembira.
"Kau tahu, aku tidak pernah punya anjing," renungku.
"Sebenarnya aku ingin memelihara anjing. tapi Renee
alergi."
Jacob tertawa, tubuhnya bergetar di bawah tanganku.
"Kau sama sekali tidak khawatir mengenai hari Sabtu?"
tanyaku.
Jacob memalingkan kepalanya yang besar ke arahku.
sehingga aku bisa melihat satu bola matanya berputar.
"Kalau saja aku bisa seyakin itu."
Jacob menyandarkan kepalanya ke kakiku, dan mulai
mendengkur lagi. Itu benar-benar membuat perasaanku
sedikit lebih enak.
"Jadi besok kita akan pergi hiking, kurasa."
Jacob menggeram; nadanya antusias.
"Mungkin akan jauh sekali,” Aku mewanti-wanti Jacob.
"Edward tidak menilai jarak seperti manusia normal
umumnya."
Lagi-lagi Jacob menggonggong tertawa.
Aku semakin merapat ke bulunya yang hangat,
menyandarkan kepalaku ke lehernya.
Aneh. Meski Jacob sedang dalam wujud aneh seperti
sekarang. tapi kami tetap seperti Jake dan aku dulu –
persahabatan yang damai dan tenteram, yang sama
alaminya dengan bernapas – dibandingkan dengan beberapa
saat terakhir aku bersama-sama Jacob saat ia dalam wujud


manusia. Sungguh ganjil, aku justru menemukan perasaan
itu lagi di sini, padahal kukira wujud serigala merupakan
penyebab hilangnya perasaan itu.
Perang-perangan berlanjut di lapangan, dan mataku
menerawang ke bulan yang berkabut.
20. KOMPROMI
SEMUA sudah siap.
Aku sudah berkemas-kemas untuk menginap dua hari
bersama Alice; dan tasku sudah menunggu di truk. Aku
sudah memberikan tiket konserku ke Angela, Ben, dan
Mike. Mike akan mengajak Jessica. persis seperti yang
kuharapkan. Billy meminjam kapal Quil Ateara Tua dan
mengajak Charlie memancing di laut lepas sebelum
pertandingan sore dimulai. Collin dan Brady, dua werewolf
termuda, sengaja ditinggal untuk menjaga La Push,
walaupun mereka masih kanak-kanak usia keduanya baru
tiga belas. Meski begitu Charlie lebih aman daripada siapa
pun yang tetap berada di Forks.
Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan. Aku
berusaha menerima hal itu, dan melupakan hal-hal lain
yang berada di luar kendaliku, setidaknya untuk malam ini.
Bagaimanapun hasilnya nanti, semua akan berakhir dalam
48 jam. Pikiran itu nyaris terasa melegakan.
Edward memintaku rileks, dan aku akan berusaha
semampuku.
"Untuk malam ini saja, bisakah kita mencoba melupakan
hal-hal lain kecuali kau dan aku?" pinta Edward,
mengeluarkan segenap pesona lewat sorot matanya yang
tertuju padaku. "Sepertinya aku tak pernah bisa punya


cukup waktu seperti itu. Aku perlu berduaan denganmu.
Hanya denganmu."'
Itu bukan permintaan yang sulit untuk disetujui,
walaupun aku tahu jauh lebih mudah mengatakan akan
melupakan ketakutanku daripada melakukannya. Ada
banyak hal yang kupikirkan sekarang, tapi mengetahui kami
hanya memiliki malam ini saja untuk berduaan sangatlah
membantu.
Ada hal-hal yang sudah berubah.
Misalnya, aku sudah siap.
Aku sudah siap bergabung dengan keluarganya dan
dunianya. Perasaan takut, bersalah, dan gelisah yang
kurasakan sekarang telah mengajariku hal itu. Aku sudah
mendapat kesempatan untuk berkonsentrasi memikirkan
hal ini,saat aku memandangi bulan di balik awan-awan
sambil bersandar pada seekor werewolf,dan aku tahu aku
tidak akan panik lagi.
Lain kali, kalau terjadi sesuatu pada kami, aku akan siap.
Aku akan menjadi aset, bukan beban. Edward takkan
pernah harus memilih antara aku dan keluarganya lagi.
Kami akan menjadi partner,seperti Alice dan Jasper. Lain
kali,aku akan melakukan bagianku.
Aku akan menunggu bahaya itu dipindahkan dari atas
kepalaku, supaya Edward puas. Tapi itu tidak perlu. Aku
sudah Siap.
Tinggal satu bagian lagi yang masih hilang.
Satu bagian, karena ada beberapa hal yang tidak
berubah, termasuk caraku mencintainya. Aku punya
banyak waktu memikirkan masak-masak dampak taruhan
Jasper dan Emmett – memikirkan hal-hal yang dengan rela
akan kutinggalkan saat aku menanggalkan kemanusiaanku,


juga bagian yang tidak rela kutinggalkan. Aku tahu
pengalaman manusia mana yang harus ingin kurasakan
sebelum aku berhenti menjadi manusia.
Jadi banyak sekali yang harus kami bereskan malam ini.
Dari apa yang telah kulihat selama dua tabun terakhir ini,
bagiku tidak ada istilah tidak mungkin. Dibutuhkan lebih
dari itu untuk menghentikanku sekarang.
Oke, well, sejujurnya, ini mungkin akan jauh lebih rumit
daripada itu. Tapi aku akan mencobanya.
Biarpun sudah mantap dengan keputusanku, aku tidak
kaget waktu masih merasa gugup saat mengemudi
menyusuri jalan panjang menuju rumahnya,aku tidak tahu
bagaimana melakukan apa yang akan kulakukan, dan itu
jelas membuatku sangat gugup. Edward duduk di kursi
penumpang. menahan senyum melihat aku menyetir
dengan lamban. Aku kaget ia tidak bersikeras ingin
menyetir, malam ini sepertinya ia cukup puas dengan
kecepatanku.
Hari sudah gelap waktu kami sampai di rumahnya.
Meski begitu padang rumput terang benderang akibat
cahaya lampu yang terpancar dari setiap jendela.
Begitu mesin dimatikan, Edward sudah berada di
samping pintuku, membukakannya untukku. Ia
membopongku turun dengan satu tangan, menyambar tasku
dari belakang truk lalu menyampirkannya di pundak
dengan tangannya yang lain. Bibirnya menemukan bibirku
sementara aku mendengarnya menendang pintu truk hingga
tertutup.
Tanpa menghentikan ciumannya, Edward mengayunkan
tubuhku. sehingga aku berada dalam dekapannya dan
menggendongku masuk ke rumah.


Apakah pintu depan sudah terbuka? Entahlah. Pokoknya
kami langsung masuk, dan kepalaku berputar. Aku sampai
harus mengingatkan diriku untuk menarik napas.
Ciuman itu tidak membuatku takut. Tidak seperti
sebelumnya saat aku bisa merasakan ketakutan dan
kepanikan menyusup di balik kendali Edward. Bibirnya
tidak cemas, melainkan antusias sekarang – sepertinya ia
sama bersemangatnya denganku karena malam ini kami
bisa mencurahkan segenap perhatian untuk berduaan. Ia
terus menciumiku selama beberapa menit. berdiri di depan
pintu, tidak sehari-hari biasanya, bibirnya dingin dan
melumat bibirku dengan ganas.
Aku mulai merasa agak optimis. Mungkin mendapatkan
apa yang kuinginkan tidak sesulit yang kukira sebelumnya.
Tidak, tentu saja itu akan tetap sesulit biasanya.
Sambil terkekeh pelan Edward menjauhkan diriku
darinya. menggendongku agak jauh dari tubuhnya.
"Selamat datang di rumah,” ucapnya, matanya cair dan
hangat.
"Kedengarannya menyenangkan," kataku, terengahengah.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Edward nadanya
santai.
"Oh?"
"Barang yang dulu menjadi milik orang lain, ingat? Kau
bilang itu boleh."
"Oh, benar. Kurasa aku memang pernah berkata begitu."
Edward terkekeh melihat keenggananku.


"Barangnya ada di kamarku. Bagaimana kalau kita
mengambilnya?"
Kamar Edward? "Tentu,” aku setuju, merasa sangat licik
saat menautkan jari-jariku ke Jari-jarinya. "Ayo kita ke
sana."
Edward pasti benar-benar ingin memberiku benda bukan
hadiah ini, karena kecepatan manusiaku tak cukup cepat
baginya. Ia meraupku lagi ke dalam gendongannya dan
nyaris terbang menaiki tangga menuju kamarnya. Ia
menurunkanku di depan pintu, lalu melesat masuk ke
lemari.
Ia sudah kembali sebelum aku sempat maju selangkah
pun, tapi aku mengabaikannya dan tetap berjalan
menghampiri ranjang emas besar itu, mengempaskan
tubuhku ke pinggir tempat tidur dan bergeser ke tengah.
Aku meringkuk seperti bola. kedua lengan memeluk lutut.
"Oke." gerutuku. Sekarang setelah berada di tempat yang
kuinginkan, aku bisa berlagak sedikit enggan. "Mana
barangnya?"
Edward tertawa.
Ia naik ke tempat tidur dan duduk di sebelahku. Detak
jantungku langsung berantakan. Mudah-mudahan Edward
mengira itu karena aku gugup hendak diberi hadiah.
"Barang yang pernah dimiliki orang lain," Edward
mengingatkan dengan nada tegas. Ditariknya pergelangan
tangan kiriku, dan disentuhnya gelang perak itu sekilas.
Lalu ia melepaskan lenganku kembali.
Aku mengamatinya dengan hati-hati. Di sisi yang
berseberangan dengan bandul serigala, kini tergantung
sebutir kristal cemerlang berbentuk hati. Kristal itu memiliki
jutaan segi. sehingga bahkan di bawah cahaya lampu yang


temaram, benda itu berkilau cemerlang. Aku terkesiap
pelan.
"Dulu, itu milik ibuku," Edward mengangkat bahu
dengan sikap seolah-olah itu masalah sepele. “Aku
mewarisi beberapa butir kristal seperti ini," Beberapa
kuberikan kepada Esme dan Alice. Jadi, jelas, ini bukan
sesuatu yang terlalu istimewa."
Aku tersenyum sendu mendengarnya.
"Tapi kupikir, ini bisa mewakiliku dengan tepat,"
sambung Edward. "Karena keras dan dingin.” Ia tertawa.
"Dan membiaskan warna-warna pelangi ketika tertimpa
cahaya matahari."
"Kau lupa pada kemiripan yang terpenting,” gumamku.
"Ini cantik sekali."
"Hatiku juga bisa seperti kristal itu," renung Edward.
"Dan hatiku juga milikmu."
Kuputar pergelangan tanganku agar hatinya berkilauan.
"Terima kasih. Untuk kristal ini dan untuk hatimu."
"Tidak, aku yang berterima kasih padamu. Aku benarbenar
lega, kau bisa menerima hadiah dengan mudah.
Latihan yang bagus untukmu," Edward nyengir,
memamerkan gigi-giginya.
Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, menyusupkan
kepalaku ke bawah lengannya dan merapat di sisinya.
Rasanya mungkin seperti bermanja-manja dengan patung
David karya Michelangelo, kecuali bahwa sosok marmer
Edward yang sempurna merangkulku dan menarikku lebih
dekat.
Sepertinya ini permulaan yang bagus.


"Bisakah kira mendiskusikan sesuatu? Aku akan sangat
berterima kasih kalau kau bisa memulai dengan pikiran
terbuka."
Edward ragu-ragu sejenak. “Akan kuusahakan
semampuku," ia setuju, berhati-hati sekarang.
"Aku tidak akan melanggar aturan apa pun," aku
berjanji.
"Ini benar-benar soal kau dan aku," Aku berdehamdeham.
"Begini... aku terkesan melihat betapa baiknya kita
berkompromi semalam. Jadi kupikir. aku ingin
mengaplikasikan prinsip yang sama pada situasi
berbeda."Entah kenapa sikapku formal sekali. Pasti karena
gugup.
"Memangnya apa yang ingin kaunegosiasikan?" tanya
Edward, suaranya mengandung senyum.
Aku berusaha keras menemukan kata-kata yang tepat
untuk membuka pembicaraan.
"Dengar, jantungmu berdebar keras sekali," bisik
Edward. "Mengepak-ngepak seperti sayap burung
hummingbird. Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
"Teruskan kalau begitu," Edward mendorongku.
"Well, kurasa, pertama-tama, aku ingin membicarakan
syarat menikah yang konyol itu."'
"Yang menganggapnya konyol hanya kau. Memangnya
kenapa?"
"Aku ingin tahu... apakah itu masih bisa
dinegosiasikan?"


Edward mengerutkan kening. serius sekarang. "Aku
sudah memberimu kelonggaran terbesar,aku setuju menjadi
yang mengambil hidupmu walaupun itu bertentangan
dengan akal sehatku. Dan seharusnya itu membuatku
berhak mendapat sedikit kompromi darimu."
"Tidak," Aku menggeleng, berusaha keras menjaga
wajahku tetap tenang. "Bagian ini sudah tidak bisa ditawartawar
lagi. Kita tidak sedang membicarakan... perubahanku
sekarang. Aku ingin membereskan beberapa detail lain."
Edward menatapku curiga. "Detail-detail mana yang
kaumaksudkan persisnya?"
Aku ragu-ragu. "Mari kita perjelas dulu prasyaratprasyaratmu."
"Kau tahu apa yang kuinginkan."
"Pernikahan,” Aku membuatnya terdengar seperti kata
yang kotor.
"Ya." Edward tersenyum lebar. "Sebagai permulaan."
Perasaan syok serta-merta merusak ekspresiku yang
secara hati-hati kujaga agar tetap tenang. "Jadi, masih ada
lagi?"
"Well,” ujar Edward, wajahnya menimbang-nimbang.
"Kalau kau jadi istriku, milikku adalah milikmu... misalnya
saja uang kuliah. Jadi tidak ada masalah kalau kau mau
masuk Dartmouth."
"Ada lagi? Sekalian, mumpung kau sedang aneh-aneh?"
"Aku tidak keberatan meminta perpanjangan waktu."
"Tidak. tidak ada perpanjangan waktu. Itu namanya
melanggar kesepakatan."
Edward mendesah. "Satu atau dua tahun saja?"


Aku menggeleng kuat-kuat, bibirku terkatup membentuk
garis keras kepala. "Lanjutkan ke prasyaratan berikutnya."
"Hanya itu. Kecuali kau mau membicarakan masalah
mobil.."
Edward nyengir lebar waktu melihatku meringis, lalu
meraih tanganku dan mulai memainkan jari-jariku.
"Aku tidak sadar ternyata ada hal lain yang kauinginkan
selain diubah menjadi monster. Aku jadi penasaran."
Suaranya rendah dan lembut. Secercah nada gelisah dalam
suara Edward pasti sulit dideteksi kalau saja aku tidak
begitu mengenalnya.
Aku diam sejenak, memandangi tangannya yang
menggenggam tanganku. Aku masih belum tahu bagaimana
harus memulai. Aku merasakan matanya menatapku dan
aku takut mengangkat wajah. Darah mulai membakar
wajahku.
Jari-jarinya yang dingin membelai pipiku. "Kau tersipu?"
tanyanya kaget. Aku tetap menunduk. "Please, Bella, kau
membuatku tegang."
Aku menggigit bibir.
"Bella,” Suaranya kini bernada memarahi,
mengingatkanku bahwa Edward tidak suka jika aku tidak
mau mengutarakan pikiranku.
"Well, aku sedikit khawatir... tentang sesudahnya," aku
mengakui, akhirnya berani menatapnya.
Kurasakan tubuh Edward mengejang. tapi suaranya
lembut dan sehalus beledu. “Apa yang kau khawatirkan?"
"Kalian sepertinya sangat yakin bahwa satu-satunya hal
yang akan membuatku tertarik, sesudahnya, adalah
membantai semua orang di kota," aku mengakui, sementara


Edward meringis mendengar pilihan kata-kataku. "Dan aku
tahu aku akan sangat sibuk dengan kekacauan itu sehingga
tidak akan menjadi diriku lagi... dan bahwa aku tidak
akan... aku tidak akan menginginkanmu seperti aku
menginginkanmu sekarang."
"Bella, keadaan itu takkan berlangsung selamanya."
Edward meyakinkan aku.
Ia tidak mengerti maksudku sama sekali.
"Edward,” ujarku, gugup, memandangi setitik bercak di
pergelangan tanganku. “Ada sesuatu yang ingin kulakukan
sebelum aku tidak lagi menjadi manusia."
Edward menungguku melanjutkan. Aku diam saja.
Wajahku panas.
"Apa pun yang kauinginkan," dorong Edward. gelisah
dan sama sekali tidak mengerti.
"Kau janji?" bisikku, tahu upayaku menjebaknya dengan
kata-katanya sendiri tidak akan berhasil, namun tak
sanggup menolaknya.
"Ya,” jawab Edward.. Aku mendongak dan melihat
sorot matanya tulus bercampur bingung. "Katakan apa yang
kauinginkan, dan kau akan mendapatkannya."
Sulit dipercaya betapa aku merasa canggung dan seperti
idiot. Aku terlalu lugu,hal yang. tentu saja, merupakan inti
diskusi ini. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya
merayu. Wajahku malah memerah dan sikapku kikuk.
"Kau,” gumamku, nyaris kacau.
"Aku milikmu,” Edward tersenyum, masih belum sadar
berusaha membalas tatapanku sementara aku malah
memalingkan muka.


Aku menghela napas dalam-dalam dan beringsut hingga
sekarang aku berlutut di tempat tidur. Lalu aku memeluk
lehernya dengan dua tangan dan menciumnya.
Edward membalas ciumanku, bingung tapi bersedia.
Bibirnya lembut menempel di bibirku, dan aku tahu
pikirannya sedang berkelana ke tempat lain,berusaha
memikirkan apa yang ada dalam pikiranku. Menurutku ia
butuh petunjuk.
Kedua tanganku sedikit gemetar saat aku melepas
pelukanku. Jari-jariku merayap menuruni lehernya sampai
ke kerah kemeja. Tanganku yang gemetar menyulitkan
upayaku untuk bergegas membuka kancingnya sebelum ia
menghentikanku.
Bibir Edward membeku, dan aku nyaris bisa mendengar
bunyi 'klik" dalam benaknya saat ia menyatukan potonganpotongan
perkataan dan tindakanku.
Ia langsung mendorongku, wajahnya sangat tidak setuju.
"Bersikaplah yang masuk akal Bella."
"Kau sudah janji, apa pun yang kuinginkan," aku
mengingatkan tanpa berharap.
"Kita tidak akan mendiskusikan masalah ini," Edward
menatapku marah sambil mengancingkan kembali dua
kancing kemejanya yang berhasil kubuka.
Gigiku terkatup rapat.
"Kita akan tetap mendiskusikannya," sergahku. Aku
merenggut blusku dan menyentakkan kancing paling atas.
Edward menyambar pergelangan tanganku dan
menahannya di samping tubuhku.
"Kubilang tidak," tukasnya datar.


Kami saling melotot.
"Kau sendiri yang ingin tahu tadi," aku beralasan.
"Kupikir kau menginginkan sesuatu yang agak realistis."
"Jadi kau bisa mengajukan permintaan bodoh dan
konyol apa pun yang kauinginkan – misalnya menikah,tapi
aku bahkan tidak boleh mendiskusikan apa yang aku–"
"Tidak," Wajah Edward keras.
Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan
diri. Dan, saat amarahku mulai mereda, aku merasakan
sesuatu yang lain.
Butuh semenit untuk menyadari kenapa aku menunduk
lagi, wajahku kembali memerah,kenapa perutku terasa tidak
nyaman, kenapa mataku basah, kenapa aku tiba-tiba ingin
lari meninggalkan ruangan.
Perasaan tertolak melandaku, naluriah dan kuat.
Aku tahu itu tidak rasional. Dalam kesempatankesempatan
lain Edward sudah sangat jelas
mengungkapkan bahwa keselamatanku merupakan satusatunya
alasan. Namun belum pernah aku serapuh ini. Aku
merengut memandangi penutup tempat tidur warna emas
yang senada dengan matanya dan berusaha mengenyahkan
reaksi refleks yang mengatakan bahwa aku tidak diinginkan
dan tidak bisa diinginkan.
Edward mengeluh. Tangan di atas mulutku bergerak ke
bawah dagu dan ia mendongakkan wajahku sehingga aku
harus menatapnya.
"Apa lagi sekarang?"
"Tidak ada apa-apa," gumamku.


Edward mengamati wajahku lama sekali sementara aku
berusaha berkelit dari pandangannya, meski sia-sia. Alisnya
berkerut, ekspresinya berubah ngeri.
"Apakah aku menyakiti perasaanmu?" tanya Edward,
syok.
"Tidak,” dustaku.
Begitu cepatnya sehingga aku bahkan tak yakin
bagaimana itu bisa terjadi, tapi tahu-tahu aku sudah berada
dalam pelukannya, tangannya menopang wajahku dan ibu
jarinya mengelus-elus pipiku dengan sikap memastikan.
"Kau tahu kenapa aku harus menolak," bisiknya. "Kau
tahu aku menginginkanmu juga."
"Benarkah?" bisikku, suaraku penuh keraguan.
"Tentu saja aku menginginkanmu, dasar gadis bodoh,
cantik, dan kelewat sensitif," Edward tertawa sekali, tapi
kemudian suaranya berubah muram. "Bukankah semua
orang juga begitu? Aku merasa banyak yang antre di
belakangku, berebut posisi, menungguku membuat
kesalahan cukup besar... Asal tahu saja, kau terlalu
menggairahkan."
"Sekarang siapa yang bodoh?" Aku ragu apakah
canggung, minder, dan kikuk masuk dalam kategori
menggairahkan dalam anggapan orang lain.
"Apakah aku harus mengedarkan petisi supaya kau
percaya? Haruskah kuberitahu nama-nama yang berada
dalam daftar teratas? Kau tahu beberapa di antaranya, tapi
beberapa lainnya mungkin bakal mengagetkanmu."
Aku menggeleng dalam dekapannya. meringis. "Kau
hanya berusaha mengalihkan perhatianku. Mari kembali ke
topik tadi."


Edward mendesah.
"Katakan padaku kalau ada yang salah kupahami." Aku
berusaha memperdengarkan nada datar. "Tuntutanmu
adalah menikah” aku tak mampu mengucapkan kata itu
tanpa mengernyit "membayari uang kuliahku, lebih banyak
waktu, dan kau tidak. keberatan kalau mobilku bisa lari
lebih cepat."
Kuangkat alisku. "Semuanya sudah, kan? Lumayan
panjang juga daftarnya."
"Hanya yang pertama yang merupakan tuntutan."
Tampaknya sulit bagi Edward mempertahankan ekspresi
datar. "Yang lain-lain hanya permohonan."
"Sedangkan satu-satunya tuntutanku adalah-"
"Tuntutan?" sela Edward, mendadak kembali serius.
"Ya, tuntutan."
Matanya menyipit.
"Menikah bukan perkara mudah bagiku. Aku tidak mau
menurut begitu saja tanpa mendapat kompensasi."
Edward membungkuk untuk berbisik di telingaku.
"Tidak," bisiknya lembut. "Itu tidak mungkin dilakukan
sekarang. Nanti, kalau kau sudah tidak serapuh sekarang.
Bersabarlah, Bella."
Aku berusaha mempertahankan nada tenang dan bijak.
"Tapi di situlah masalahnya. Aku tidak akan sama lagi
kalau sudah tidak serapuh sekarang. Aku tidak akan
menjadi orang yang sama! Entah akan menjadi siapa aku
nanti."
"Kau akan terap menjadi Bella," janji Edward.


Aku mengerutkan kening. "Kalau aku berubah sampai
sejauh itu hingga mau membunuh Charlie, bahwa aku
takkan ragu minum darah Jacob atau Angela kalau saja ada
kesempatan, bagaimana mungkin itu benar?"
"Masa itu akan berlalu. Dan aku ragu kau mau minum
darah anjing." Edward pura-pura bergidik memikirkannya.
"Bahkan sebagai vampire baru, seleramu akan lebih bagus
daripada itu."
Kuabaikan saja upayanya mengalihkan topik
pembicaraan. "Tapi itu akan selalu jadi sesuatu yang paling
kuinginkan, bukan?" tantangku. "Darah, darah, dan lagilagi
darah!”
“Fakta kau masih hidup adalah bukti itu tidak benar,"
tukas Edward.
"Lebih dari delapan puluh tahun kemudian,” kuingatkan
dia. "Yang kumaksud adalah secara fisik. Secara intelektual,
aku tahu akan bisa menjadi diriku sendiri... setelah sekian
lama. Tapi mumi secara fisik – aku akan selalu haus, lebih
dari segalanya."
Edward diam saja.
"Kalau begitu aku memang akan menjadi berbeda,” aku
menyimpulkan tanpa bantahan dari Edward. "Karena
sekarang ini, secara fisik, tak ada hal – lain yang kuinginkan
lebih daripada dirimu. Lebih daripada makanan, air, atau
oksigen. Secara intelektual, prioritas-prioritasku sedikit lebih
masuk akal. Namun secara fisik..."
Kuputar kepalaku untuk mengecup telapak tangannya.
Edward menghela napas dalam-dalam. Aku kaget juga
karena kedengarannya ia sedikit goyah.
"Bella, bisa-bisa aku membunuhmu nanti,” bisiknya.


"Kurasa itu tidak mungkin."
Mata Edward mengeras. Ia mengangkat tangannya dari
wajahku dan dengan gerak cepat menjangkau ke belakang
punggungnya, meraih sesuatu yang tak bisa kulihat.
Terdengar seperti ada yang patah dengan suara teredam,
dan ranjang berderit-derit di bawah tubuh kami.
Edward memegang sesuatu yang berwarna gelap, ia
menyodorkannya supaya aku bisa melihatnya lebih jelas.
Benda itu bunga logam. salah satu mawar besi yang
menghiasi tiang serta kanopi ranjangnya yang terbuat dari
besi tempa. Edward mengepalkan tangannya sedetik.. jarijarinya
meremas lembut, kemudian membuka telapak
tangannya lagi.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia menyodorkan onggokan
logam hitam yang kini hancur. Benda itu hanya seperti gips
di tangannya, seperti lilin mainan yang diremas tangan
anak-anak. Hanya dalam setengah detik benda itu telah
remuk bagai pasir hitam di telapak tangannya.
Kupandangi dia. "Bukan itu maksudku. Aku sudah tahu
berapa kuatnya kau. Tidak perlu sampai merusak perabot."
"Jadi apa maksudmu sebenarnya?" tanya Edward
muram, melemparkan onggokan pasir besi itu ke sudut
kamar; benda itu membentur dinding dengan suara seperti
hujan.
Matanya menatap wajahku lekat-lekat sementara aku
susah payah berusaha menjelaskan.
"Aku tidak bermaksud mengatakan secara fisik kau tidak
mampu mencelakakan aku kalau mau... Tapi lebih bahwa
kau tidak ingin mencelakakan aku... sebegitu besar hingga
menurutku kau tidak akan pernah sanggup mencelakakan
aku."


Edward sudah menggeleng-gelengkan kepala sebelum
aku selesai bicara.
"Mungkin tidak akan seperti itu, Bella."
"Mungkin," dengusku. "Kau sendiri tidak lebih tahu
daripada aku dalam masalah ini."
"Tepat sekali. Apakah menurutmu aku mau mengambil
risiko itu denganmu?"
Kutatap matanya lama sekali. Tidak ada tanda-tanda ia
mau berkompromi, tidak ada petunjuk ia tidak tegas dengan
keputusannya.
"Please,” bisikku akhirnya, tak punya harapan lagi.
"Hanya itu yang kuinginkan. Please,” Aku memejamkan
mata kalah, menunggu jawaban "tidak" yang final dan akan
segera terlontar.
Tapi Edward tidak langsung menjawab. Aku ragu-ragu
dengan sikap tak percaya, terperangah mendengar tarikan
napasnya yang kembali memburu.
Kubuka mataku, dan Edward tampak terkoyak.
"Please?" bisikku lagi, debar jantungku semakin kencang.
Kata-kata berhamburan dari mulutku saat aku terburu-buru
mengambil kesempatan, selagi aku melihat sorot tak yakin
terpancar dari matanya. "Kau tidak perlu memberiku
jaminan apa-apa. Kalau memang tidak bisa, well tidak apaapa.
Tapi biarkan kita mencoba... hanya mencoba. Dan aku
akan memberikan apa yang kauinginkan,” janjiku tanpa
berpikir. "Aku akan menikah denganmu. Kau boleh
membayari kuliahku di Dartmouth, dan aku tidak akan
mengeluh tentang sogokan yang kaukeluarkan supaya aku
bisa masuk ke sana. Kau bahkan bisa membelikan aku
mobil mewah kalau itu bisa membuatmu senang! Tapi...
please."


Lengan Edward yang dingin memelukku lebih erat, dan
bibirnya menempel di telingaku; embusan napasnya yang
dingin membuat tubuhku gemetar. "Sungguh tak
tertahankan. Begitu banyak yang ingin kuberikan padamu –
tapi justru ini yang kautuntut dariku. Tahukah kau betapa
sakitnya ini, menolakmu yang memohon-mohon padaku
seperti ini?'''
"Kalau begitu jangan menolak,” usulku, napasku
terengah-engah.
Edward tidak menjawab.
"Please," aku mencoba lagi.
"Bella..." Edward menggeleng lambat-lambat, tapi
rasanya itu bukan penolakan karena wajahnya dan bibirnya
menjelajahi tenggorokanku. Rasanya seperti menyerah
kalah. Jantungku, yang memang sudah berdebar keras, kini
berpacu semakin cepat.
Lagi-lagi,aku berusaha memanfaatkan momentum itu
sebisaku. Saat wajahnya berpaling ke arahku dengan gerak
lambat karena belum bisa memutuskan. aku cepat-cepat
menggeser kepala hingga bibirku menempel di bibirnya.
Kedua tangan Edward merengkuh wajahku, dan aku
sempat mengira ia akan mendorongku lagi jauh-jauh.
Ternyata aku keliru.
Bibirnya tidak menciumku dengan lembut; sekarang ada
hal baru berupa konflik bercampur perasaan putus asa
dalam ciumannya. Kupeluk lehernya erat-erat, dan, di
kulitku yang tiba-tiba panas. tubuhnya kurasakan lebih
dingin daripada biasanya. Aku gemetar, tapi bukan karena
kedinginan.
Edward tidak berhenti menciumiku. Justru akulah yang
melepaskan diri darinya, megap-megap kehabisan udara.


Bahkan saat itu pun bibirnya tidak beranjak dari kulitku,
hanya beralih ke kerongkongan. Gairah kemenangan
melandaku, membuatku merasa berkuasa. Berani. Ia terlalu
rupawan. Istilah apa yang dipakainya barusan? Tak
tertahankan, itu dia. Ketampanannya sungguh tak
tertahankan...
Kutarik bibir Edward kembali ke bibirku, dan sepertinya
Edward sama bernafsunya dengan aku. Satu tangannya
masih merengkuh wajahku, tangan yang lain memeluk
pinggang, mendekap tubuhku erat-erat. Posisi Itu
membuatku lebih sulit meraih bagian depan kemejaku, tapi
bukannya tidak mungkin.
Belenggu sedingin besi mencengkeram pergelangan
tanganku, dan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi di
atas kepala, yang tiba-tiba sudah berada di atas bantal.
Bibirnya lagi-lagi menempel di telingaku. "Bella,”
bisiknya, suaranya hangat dan selembut beledu. "Bisa tidak,
kau berhenti mencoba membuka bajumu, please."
"Kau ingin melakukannya sendiri?" tanyaku, bingung.
"Tidak malam ini,” jawab Edward lembut. Bibirnya kini
lebih lambat menyusuri pipi dan daguku, semua ketergesagesaan
itu lenyap.
"Edward, jangan –" aku mulai mendebatnya.
"Aku tidak mengatakan tidak,” Edward meyakinkanku.
"Aku hanya mengatakan 'tidak malam ini’."
Aku memikirkan perkataannya itu sementara deru
napasku melambat.
"Beri aku satu alasan mengapa malam ini berbeda
dengan malam-malam lain." Aku masih terengah-engah, itu


membuat perasaan frustrasi dalam suaraku terdengar
kurang meyakinkan.
"Aku bukan baru dilahirkan kemarin," Edward terkekeh
di telingaku. "Di antara kita berdua, siapa menurutmu yang
lebih tidak bersedia mengabulkan keinginan pasangannya?
Kau baru saja berjanji akan menikahiku sebelum
melakukan perubahan apa pun, tapi kalau aku menyerah
malam ini, jaminan apa yang kumiliki bahwa kau tidak
akan meminta Carlisle mengubahmu besok pagi? Aku–
jelas–jauh lebih tidak enggan mengabulkan permintaanmu.
Jadi... kau duluan."
Aku mengembuskan napas dengan suara keras. "Jadi aku
harus menikah dulu denganmu?" tanyaku dengan sikap tak
percaya.
"Begitulah kesepakatannya – terima atau tidak.
Kompromi, ingat?"
Kedua lengan Edward merangkulku, dan ia muai
menciumiku lagi dengan penuh gairah. Terlalu persuasif –
sepertinya ini paksaan, pemaksaan. Aku berusaha menjaga
pikiranku tetap jernih... tapi langsung gagal.
"Menurutku itu sungguh-sungguh ide buruk," aku
terkesiap setelah ia membiarkanku menarik napas.
"Aku tidak terkejut kau merasa begitu." Edward
tersenyum menyeringai. "Pikiranmu memang tak pernah
bercabang."
"Bagaimana bisa begini?" gerutuku. "Kupikir aku berada
di atas angin malam ini, sekali ini, dan sekarang, tahu-tahu
saja.."
"Kau sudah bertunangan,” Edward menyelesaikan
kalimatku.


"Aduh! Kumohon, jangan mengucapkannya keraskeras."
"Memangnya, kau mau menarik lagi janjimu?"
tuntutnya.
Edward melepas pelukannya dan menatap wajahku
lekat-lekat. Ekspresinya terhibur, ia senang bisa
menggodaku.
Kupelototi dia, berusaha tidak menggubris senyumnya
yang membuat jantungku melompat liar.
"Ya atau tidak?" desaknya.
"Ugh!" erangku. "Tidak. Aku tidak menarik kembali
janjiku. Kau bahagia sekarang?"
Senyum Edward membutakan. "Sangat."
Lagi-lagi aku mengerang.
"Kau tidak bahagia sama sekali?"
Edward menciumku lagi sebelum aku sempat menjawab.
Lagi-lagi ciuman yang terlalu persuasif.
"Sedikit,” aku mengakui saat sudah bisa bicara. "Tapi
bukan karena mau menikah.”
Lagi-lagi Edward menciumku. "Apakah kau merasa
segala sesuatunya terbalik?" ia tertawa di telingaku. "Secara
tradisional bukankah seharusnya kau yang ribut minta
dinikahi, sedangkan aku sebaliknya?"
"Tidak ada yang tradisional antara kau dan aku,"
"Benar."
Edward menciumku lagi, dan terus menciumiku sampai
jantungku berdebar keras dan kulitku membara.


"Begini. Edward,” gumamku, suaraku bernada
membujuk ketika Edward menghentikan ciumannya
sejenak untuk mengecup telapak tanganku. "Aku sudah
berkata mau menikah denganmu, dan itu akan kulakukan.
Aku berjanji. Bersumpah. Kalau kau mau, aku akan
menandatangani kontraknya dengan darahku sendiri."
"Tidak lucu,” tukas Edward, menjelajahi bagian dalam
pergelangan tanganku.
"Maksudku... aku tidak akan mengelabuimu atau
semacamnya. Kau tahu aku tidak seperti itu. Jadi benarbenar
tidak ada alasan untuk menunggu. Kita hanya
berdua,seberapa sering itu terjadi? dan kau sudah
menyediakan ranjang yang sangat besar dan nyaman ini..."
"Tidak malam ini," tegas Edward lagi.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya."
Menggunakan tangan yang masih diciuminya, aku
menengadahkan wajah Edward sehingga bisa melihat
ekspresinya.
"Kalau begitu, apa masalahnya? Kau toh sudah tahu kau
akan menang akhirnya.” Aku mengerutkan kening dan
menggerutu, "Kau selalu menang."
"Hanya membatasi taruhanku,” kata Edward kalem.
"Pasti ada yang lain,” tebakku, mataku menyipit. Wajah
Edward memancarkan ekspresi defensif, secercah pertanda
adanya motif rahasia yang coba ia sembunyikan di balik
sikapnya yang biasa-biasa saja. "Apakah kau berniat
menarik kembali janjimu?"


"Tidak,” Edward berjanji dengan sikap khidmat. "Aku
bersumpah, kita akan mencobanya. Setelah kau menikah
denganku."
Aku menggeleng, tertawa muram. "Kau membuatku
merasa seperti penjahat dalam kisah melodrama, memuntirmuntir
kumis saat sedang mencoba merenggut kehormatan
seorang gadis yang malang."
Mata Edward tampak pedih saat berkelebat menatap
wajahku, lalu ia cepat-cepat menunduk untuk
menempelkan bibirnya ke tulang selangkaku.
"Memang begitu, kan?" Tawa pendek yang lolos dari
bibirku lebih merupakan tawa syok ketimbang geli. "Kau
berusaha menjaga kehormatanmu!" Aku menutup mulut
dengan tangan untuk meredam tawa cekikikan yang
mengikutinya. Kata-kata itu sangat... kuno.
"Tidak, gadis konyol." gerutu Edward di bahuku. "aku
berusaha menjaga kehormatanmu. Tapi yang Mengagetkan,
kau membuatnya jadi SULIT sekali."
"Ini benar-benar konyol..."
"Begini saja, biar kutanya sesuatu." Edward buru-buru
menyela. "Kita sudah pernah mendiskusikan hal ini
sebelumnya, tapi coba hibur hatiku. Berapa orang di
ruangan ini yang memiliki jiwa? Memiliki kesempatan
masuk surga, atau apa pun yang ada di sana setelah
kehidupan ini?"
"Dua," aku menjawab langsung, suaraku tegas.
"Baiklah. Mungkin itu benar. Sekarang, banyak sekali
perbedaan pendapat mengenai hal ini, tapi mayoritas orang
sepertinya berpikir ada beberapa aturan yang harus diikuti."


"Aturan-aturan vampir belum cukup bagimu? Kau juga
masih memikirkan aturan-aturan manusia?"
"Tidak ada salahnya," Edward mengangkat bahu.
"Untuk berjaga-jaga."
Kupelototi ia dengan mata disipitkan.
"Sekarang, tentu saja, mungkin sudah terlambat
bagiku,seandainya pendapatmu tentang jiwaku memang
benar."
"Tidak, belum terlambat bagimu." bantahku marah.
"Jangan ‘membunuh’ sudah umum diterima keyakinan
agama mana pun. Padahal aku sudah membunuh banyak
orang, Bella."
"Kau hanya membunuh orang-orang jahat."
Edward mengangkat bahu. "Mungkin itu berpengaruh,
mungkin juga tidak. Tapi kau belum pernah membunuh
orang..."
"Yang kaukenal," gerutuku.
Edward tersenyum, tapi tidak menanggapi interupsiku
tadi.
"Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak
membuatmu jatuh dalam pencobaan."
"Oke. Tapi kita kan tidak bertengkar soal melakukan
pembunuhan," aku mengingatkannya.
"Tetap berlaku prinsip yang sama, satu-satunya
perbedaan hanyalah, bahwa ini satu-satunya area di mana
aku sama bersihnya denganmu. Tidak bolehkah aku
mempertahankan satu aturan saja yang belum pernah
kulanggar?"
"Satu?"


"Kau sendiri tahu aku sudah pernah mencuri, berbohong,
menginginkan milik orang lain... hanya kehormatanku yang
masih tersisa," Edward tersenyum miring.
"Aku juga sering bohong."
"Memang, tapi kau sangat tidak pandai berbohong, jadi
itu tidak terlalu berpengaruh. Tidak ada yang percaya
padamu."
"Aku benar-benar berharap kau keliru mengenai hal itu,
sebab kalau tidak, tak lama lagi Charlie pasti akan
mendobrak pintu itu sambil mengacungkan pistol berisi
peluru."
"Charlie lebih bahagia berpura-pura menelan semua
ceritamu. Dia lebih suka membohongi diri sendiri daripada
mengorek-ngorek lebih jauh," Edward nyengir padaku.
"Memangnya hak milik orang lain apa yang
kauinginkan?" tanyaku ragu. "Kau kan sudah memiliki
semua."
"Aku menginginkanmu,” Senyum Edward menggelap.
"Aku tidak berhak menginginkanmu, tapi aku tetap nekat.
Dan coba lihat apa jadinya kau sekarang! Mencoba merayu
vampir."
Edward menggeleng-gelengkan kepala, pura-pura ngeri.
"Kau boleh menginginkan apa yang sudah menjadi
milikmu," aku memberitahunya– "Lagi pula, kukira kau
mengkhawatirkan kehormatanku."
"Memang. Kalau itu sudah terlambat bagiku... Well,
celakalah aku, aku tidak bermaksud melucu – kalau aku
membiarkan itu menyebabkanmu tidak masuk surga juga."
"Kau tidak bisa memaksaku pergi ke tempat yang kau
tidak ada,” aku bersumpah. "Itulah definisiku tentang


neraka. Bagaimanapun, aku punya solusi mudah mengenai
hal itu, jangan pernah mati, bagaimana?"
"Kedengarannya cukup sederhana. Mengapa tak pernah
terpikir olehku sebelumnya?"
Edward tersenyum sampai aku menyerah dan
mendengus marah. "Jadi, begitu. Kau tidak mau tidur
denganku sampai kita menikah."
"Secara teknis, aku tidak akan pernah bisa tidur
denganmu.”
Aku memutar bola mataku. "Sangat dewasa, Edward."
"Tapi, selain detail itu, ya, kau benar."
"Menurutku, kau punya motif tersembunyi."
Mata Edward membelalak sok lugu. "Ada lagi?"
"Kau tahu itu akan mempercepat proses," tuduhku.
Edward berusaha tidak tersenyum. "Hanya ada satu hal
yang ingin kupercepat, dan yang lain-lain boleh ditunda
selamanya... tapi untuk yang satu ini, memang benar,
hormon-hormon manusiamu yang tidak sabaran adalah
sekutuku yang paling kuat di titik ini."
"Aku tidak percaya mau saja menuruti kemauanmu.
Kalau aku teringat Charlie dan Renee! Bisakah
kaubayangkan bagaimana pendapat Angela nanti? Atau
Jessica? Ugh. Sudah bisa kubayangkan bagaimana gosipnya
nanti."
Edward mengangkat sebelah alisnya, dan aku tahu
kenapa. Apa gunanya mengkhawatirkan perkataan mereka
tentangku, kalau sebentar lagi aku pergi dan tidak akan
kembali lagi? Benarkah aku sesensitif itu sampai-sampai
tidak sanggup menahan lirikan penuh arti dan pertanyaan-


pertanyaan bernada menjurus selama beberapa minggu
saja?
Mungkin itu tidak akan terlalu mengusik pikiranku
seandainya aku tak tahu bahwa aku mungkin juga akan
bergosip seperti mereka seandainya salah satu teman kami
menikah musim panas ini.
Hah. Menikah musim panas ini! Aku bergidik.
Namun, mungkin itu tidak akan terlalu mengusik
pikiranku seandainya aku tidak dibesarkan untuk bergidik
setiap kali memikirkan pernikahan.
Edward menginterupsi keresahanku. "Tidak perlu besarbesaran.
Aku tidak butuh perayaan. Kau tidak perlu
memberitahu siapa-siapa atau membuat perubahan apa
pun. Kita pergi saja ke Vegas, kau bisa mengenakan jins
belel dan kita pergi ke kapel yang menyediakan layanan
menikah secara drive through. Aku hanya ingin menikah
secara resmi, bahwa kau milikku dan bukan milik orang
lain."
"Sekarang juga sudah resmi,” gerutuku. Tapi gambaran
yang diberikan Edward kedengarannya lumayan juga.
Hanya saja Alice pasti akan kecewa.
"Kita lihat saja nanti,” Edward tersenyum puas. "Kurasa
kau tidak menginginkan cincinmu sekarang?"
Aku harus menelan ludah sebelum bisa bicara.
"Dugaanmu benar."
Edward tertawa melihat ekspresiku. "Baiklah kalau
begitu. Toh tidak lama lagi aku bisa memasangkannya di
jarimu."
Kutatap ia dengan jengkel. "Kau bicara seolah-olah kau
sudah memiliki cincinnya."


"Memang sudah,” jawab Edward, tanpa malu-malu.
"Siap kupakaikan secara paksa begitu terlihat tanda-tanda
kelemahan pertama."
"Kau keterlaluan."
"Kau mau melihatnya?" tanya Edward. Mata topaz
cairnya tiba -tiba berbinar, penuh semangat.
"Tidak!" Aku nyaris berteriak. reaksi refleks. Aku
langsung menyesalinya. Wajah Edward terlihat agak
kecewa. "Kecuali kau benar-benar ingin menunjukkannya
padaku.” koreksiku. Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat
agar ketakutanku yang tidak logis tidak terlihat.
"Sudahlah,” Edward mengangkat bahu. "Itu bisa
menunggu."
Aku mendesah. "Tunjukkan cincin sialan itu padaku,
Edward."
Edward menggeleng. "Tidak."
Kupandangi ekspresinya lama sekali.
"Please?" pintaku pelan, bereksperimen dengan senjata
yang baru kutemukan. Kusentuh wajahnya sekilas dengan
ujung-ujung jariku. "Kumohon, bolehkah aku melihatnya?"
Edward menyipitkan mata. "Kau makhluk paling
berbahaya yang pernah kutemui,” gerutunya. Tapi ia
bangkit dan dengan gerakan luwes berlutut di samping
nakas kecil. Sebentar saja ia sudah duduk lagi di sampingku
di tempat tidur, sebelah tangan memeluk bahuku. Di tangan
satunya ia memegang kotak hitam kecil. Di letakannya
kotak itu di lutut kiriku.
"Silakan kalau mau melihat." katanya kasar.
Sulit rasanya meraih kotak hitam kecil itu, tapi karena
tak ingin melukai perasaannya lagi, aku berusaha agar


tanganku tidak gemetaran. Permukaannya halus berlapis
satin hitam.
Kusapukan jemariku di atasnya, ragu-ragu.
"Kau tidak mengeluarkan banyak uang, kan?
Berbohonglah padaku kalau ya."
"Aku tidak mengeluarkan uang sama sekali,” Edward
meyakinkanku. "Itu juga benda warisan. Cincin yang
diberikan ayahku untuk ibuku."
"Oh.” Keterkejutan mewarnai suaraku. Kuangkat sedikit
penutup kotak dengan ibu jari dan telunjuk, tapi tidak
membukanya.
"Kurasa cincinnya sudah agak kuno.” Nadanya purapura
meminta maaf. "Kuno, seperti aku. Aku bisa saja
membelikan sesuatu yang lebih modem. Sesuatu dari
Tiffany's?"
"Aku suka yang kuno-kuno,” gumamku sambil raguragu
mengangkat penutup kotak.
Di atas hamparan satin hitam, cincin milik Elizabeth
Masen gemerlapan di bawah cahaya temaram.
Permukaannya lonjong panjang. dikelilingi barisan
memanjang batu-batu bulat berkilauan. Cincinnya dibuat
dari emas–halus dan mungil. Jaring emas tipis merangkai
berlian-berlian itu. Belum pernah aku melihat cincin seperti
itu.
Tanpa berpikir, aku membelai-belai permata yang
berkilauan itu.
"Cantik sekali,” gumamku pada diri sendiri,
terperangah.
"Kau suka?"


"Cincinnya cantik,” Aku mengangkat bahu.. berlagak
kurang tertarik. "Mana mungkin tidak suka?"
Edward terkekeh. "Coba lihat, apakah pas?"
Tangan kiriku mengepal.
"Bella,” desah Edward. "Aku bukan mau menyoldernya
ke jarimu. Hanya mencoba, untuk melihat apakah
ukurannya perlu disesuaikan dengan jarimu. Setelah itu kau
bisa melepasnya lagi.”
"Baiklah,” gerutuku.
Kuraih cincin itu, tapi jari-jari Edward yang panjang
bergerak lebih cepat. ia meraih tangan kiriku, lalu
menyelipkan cincin itu ke jari manisku. Ia mengulurkan
tanganku, dan kami berdua mengamati kilau oval itu di
kulitku. Ternyata tidak semengerikan yang kukira,
mengenakan cincin itu di jari manisku.
"Benar-benar pas,” kata Edward dengan lagak tak acuh.
"Bagus, aku jadi tidak perlu pergi ke toko emas."
Aku bisa mendengar secercah emosi di balik gaya
bicaranya yang biasa-biasa saja, dan aku mendongak
memandangi wajahnya. Emosi itu juga terpancar dari
matanya, tampak nyata meskipun ekspresinya sengaja
dibuat biasa-biasa saja.
"Kau menyukainya, kan?" tanyaku curiga,
menggerakkan jari-jariku dan berpikir sungguh sayang
bukan tangan kiriku yang patah kemarin.
Edward mengangkat bahu. "Tentu,” jawabnya, lagaknya
masih biasa-biasa saja. "Kelihatannya sangat manis di
jarimu."
Kutatap matanya, berusaha menerka-nerka emosi apa
yang membara tepat di balik permukaannya. Edward


membalas tatapanku, dan kepura-puraannya mendadak
lenyap. Ia berseri-seri, wajah malaikatnya cemerlang karena
kegembiraan dan kemenangan. Ia begitu rupawan hingga
membuatku tersentak.
Sebelum aku sempat pulih dari kekagetanku.. Edward
sudah menciumku, bibirnya menunjukkan kegembiraannya.
Kepalaku ringan saat ia memindahkan bibirnya untuk
berbisik di telingaku – tapi napasnya sama memburunya
dengan napasku.
"Ya, aku menyukainya. Kau tidak tahu bagaimana
rasanya."
Aku tertawa, terkesiap sedikit. "Aku percaya padamu."
"Kau keberatan kalau aku melakukan sesuatu?" bisiknya,
kedua lengannya memelukku lebih erat.
"Apa pun yang kauinginkan."
Tapi Edward melepas pelukannya dan bergeser menjauh.
"Apa pun kecuali itu,” protesku.
Edward tak menggubris protesku, meraih tanganku, dan
menarikku turun dari tempat tidur. ia berdiri di depanku,
kedua tangan memegang bahuku, wajahnya serius.
"Nah, aku ingin melakukannya dengan benar. Please,
please, ingatlah bahwa kau sudah setuju dengan hal ini, jadi
jangan merusaknya."
"Oh, tidak,” seruku tertahan ketika Edward berlutut
dengan satu kaki.
"Bersikaplah yang manis,” bisiknya.
Aku menarik napas dalam-dalam.


"Isabella Swan?" Edward menengadah, menatapku dari
balik bulu matanya yang panjang. mata emasnya lembut
tapi, entah bagaimana, tetap membara. "Aku berjanji akan
mencintaimu selamanya, setiap hari selamanya. Maukah
kau menikah denganku?"
Banyak sekali yang ingin kukatakan, sebagian di
antaranya sama sekali tidak bagus, dan yang lainnya
bahkan lebih cengeng dan romantis daripada yang mungkin
kubayangkan Edward bisa kukatakan. Daripada
mempermalukan diri sendiri,aku berbisik. “Ya."
"Terima kasih,” hanya itu jawaban Edward. Ia meraih
tangan kiriku dan mengecup setiap ujung jari sebelum
mengecup cincin yang kini menjadi milikku.
21. JEJAK-JEJ AK
AKU tidak suka menyia-nyiakan malam ini dengan
tidur, tapi itu tak bisa dihindari. Matahari terang benderang
di luar dinding kaca waktu aku terbangun, dengan awanawan
kecil berarak terlalu cepat melintasi langit. Angin
menggoyangkan puncak-puncak pohon hingga seluruh
penjuru hutan terlihat seperti terguncang.
Edward meninggalkan aku sendirian untuk berganti baju,
dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk
berpikir. Entah bagaimana, rencanaku semalam berantakan,
dan aku butuh waktu untuk menerima seluruh
konsekuensinya. Walaupun aku sudah mengembalikan
cincin warisan itu sesegera mungkin tanpa melukai
perasaannya, tangan kiriku teras lebih berat, seakan-akan
benda itu masih melekat di sana, hanya tidak kasatmata.
Seharusnya ini tidak membuatku merasa terganggu, aku
beralasan. Ini toh bukan hal besar,hanya naik mobil ke


Vegas. Aku akan mengenakan pakaian yang lebih baik
daripada jeans belel, aku akan memakai kaos usang.
Upacarnya pasti tidak bakal lama, tidak mungkin lebih dari
lima belas menit,bukan? Jadi aku pasti bisa
menghadapinya.
Kemudian, kalau semua sudah selesai, Edward harus
menepati bagian janjinya. Aku akan berkonsentrasi pada
hal itu, dan melupakan yang lain.
Kata Edward,aku tidak harus memberitahu siapa-siapa,
dan aku berencana membuatnya menepati hal itu. Tentu
saja, sungguh bodoh aku sampai tidak teringat kepada
Alice.
Keluarga Cullen sampai di rumah menjelang tengah hari.
Mereka terkesan siap dan serius, dan itu menyentakkan
ingatanku kembali ke betapa seriusnya masalah yang akan
segera kami hadapi.
Tidak seperti biasanya, suasana hati Alice sepertinya
sedang buruk. Kupikir itu gara-gara ia frustrasi karena
merasa normal, menilik kata-kata pertamanya kepada
Edward yang berupa keluhan karena mereka bekerja sama
dengan serigala.
"Kaupikir," Alice mengernyit saat menggunakan kata
yang tidak pasti itu. “Ada baiknya kau menyiapkan
perbekalan untuk menghadapi cuaca dingin, Edward. Aku
tidak bisa melihat persisnya di mana kau berada nanti,
karena kau akan pergi bersama anjing itu siang nanti. Tapi
badai sepertinya lumayan buruk di kawasan sekitar sana."
Edward mengangguk.
"Akan turun salju di pegunungan,” Alice mengingatkan.
"Waduh, salju.” Aku menggerutu. Sekarang bulan Juni,
demi Tuhan.


"Pakai jaket,” Alice memberi tahuku. Nadanya tidak
ramah dan itu membuatku kaget. Aku mencoba membaca
wajahnya, tapi ia membuang muka.
Kutatap Edward,dan ia tersenyum, apa pun yang
membuat Alice kesal justru membuatnya geli.
Perlengkapan berkemah Edward sangat lengkap, properti
untuk melengkapi sandiwara mereka sebagai manusia,
keluarga Cullen merupakan pelanggan setia toko milik
keluarga Newton. Edward menyambar kantong tidur, tenda
kecil, dan beberapa bungkus makanan kering – nyengir
waktu aku mengernyit melihat bungkusan-bungkusan
makanan itu – dan menjejalkan semuanya ke dalam ransel.
Alice datang ke garasi ketika kami sedang di sana,
memperhatikan Edward bersiap-siap tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Edward sendiri tidak mengacuhkannya.
Setelah selesai berkemas-kemas Edward menyodorkan
ponselnya kepadaku. "Bagaimana kalau kau telepon Jacob
dan katakan kita siap bertemu dengannya kira-kira satu jam
lagi. Dia tahu di mana harus menemui kita."
Jacob tidak ada di rumah, tapi Billy berjanji akan
menelepon teman-temannya yang lain sampai ada werewolf
yang bisa menyampaikan pesan itu padanya.
"Kau tidak usah khawatir tentang Charlie, Bella." Billy
berkata. "Bagian itu urusanku."
"Yeah, aku tahu Charlie pasti akan baik-baik saja." Aku
sendiri tidak yakin soal keselamatan anak lelaki Billy. tapi
tidak mengutarakannya kepada Billy.
"Kalau saja aku bisa ikut bersama mereka besok." Billy
terkekeh penuh penyesalan. "Susah juga jadi orang tua,
Bella."


Dorongan untuk berperang pasti merupakan karakteristik
yang paling menentukan dalam kromosom Y. Mereka
semua sama saja.
"Selamat bersenang-senang bersama Charlie."
"Semoga beruntung, Bella,” sahut Billy. "Dan...
sampaikan juga salamku kepada, eh, keluarga Cullen."
"Baiklah,” aku berjanji, kaget mendengarnya.
Waktu mengembalikan ponsel itu kepada Edward, aku
melihat ia dan Alice seperti sedang berdiskusi tanpa suara.
Alice menatap Edward, memohon lewat sorot matanya.
Edward mengerutkan kening, tidak menyukai apa pun yang
diinginkan Alice.
"Billy kirim salam."
"Dia baik sekali,” kata Edward,memalingkan wajahnya
dari Alice.
“Bella, boleh aku bicara berdua saja denganmu?" tanya
Alice.
"Kau akan membuat hidupku lebih sulit daripada
seharusnya, Alice.” Edward mengingatkan dengan gigi
terkatup rapat. "Aku lebih suka kau tidak melakukannya."
"Ini tidak ada urusannya denganmu, Edward,” Alice
balas membentak.
Edward tertawa. Rupanya ia menganggap respons Alice
tadi lucu.
"Memang tidak ada kok,” Alice ngotot. "ini urusan
perempuan."
Kening Edward berkerut.
"Biarkan dia bicara denganku,” kataku kepada Edward.
Aku jadi penasaran.


"Kau sendiri yang setuju,ya.” gerutunya. Dia tertawa
lagi,setengah marah, setengah geli, lalu menghambur ke
luar garasi.
Aku menoleh kepada Alice, merasa cemas sekarang,tapi
Alice tidak memandangku. Suasana hatinya masih juga
jelek.
Ia beranjak dan duduk di kap mesin Porschenya,
wajahnya muram. Aku mengikuti,dan bersandar di bumper
mobil, di sebelahnya.
"Bella?" tanya Alice dengan nada sedih,bergeser ke
sisiku. Suaranya terdengar begitu merana hingga aku
memeluk bahunya dengan sikap menghibur.
"Ada apa, Alice?"
"Apakah kau tidak sayang padaku?" tanyanya dengan
nada sedih yang sama.
"Tentu saja sayang, kau tahu itu."
"Kalau begitu, kenapa aku melihatmu diam-diam pergi
ke Vegas untuk menikah tanpa mengundangku?"
"Oh,” gerutuku, pipiku berubah menjadi pink. Kentara
sekali aku benar-benar telah melukai perasaanya, maka aku
pun cepat-cepat membela diri. "Kau tahu aku tidak suka
perayaan besar-besaran. Tapi itu ide Edward."
"Aku tidak peduli itu ide siapa. Tega-teganya kau berbuat
begini padaku? Kalau Edward yang melakukannya, aku
tidak kaget, tapi bukan kau. Aku menyayangimu seperti
saudaraku sendiri."
"Bagiku, Alice, kau memang saudariku."
"Ah, omong kosong!" geramnya.


"Baiklah, kau boleh ikut. Toh tidak banyak yang bisa
dilihat."
Alice masih terus meringis.
"Apa?" tuntutku.
"Seberapa besar rasa sayangmu padaku, Bella?"
"Kenapa?"
Ia menatapku dengan sorot memohon, alis hitamnya
yang panjang mencuat ke atas di tengah dan berkerut
menjadi satu, sudut-sudut bibirnya bergerak. Sungguh
ekspresi yang mengibakan.
"Please, please, please,” bisiknya. "Please, Bella, please,
kalau kau benar-benar menyayangiku... Please, izinkan aku
mengurus acara pernikahanmu."
"Aduh, Alice!" erangku, melepaskan diri dan berdiri
tegak. "Tidak!jangan lakukan ini padaku."
"Kalau kau benar-benar, sungguh-sungguh sayang
padaku, Bella."
Aku bersedekap. "Itu sungguh tidak adil. Dan Edward
juga memakai alasan yang sama untuk membuatku
menuruti kemauannya."
"Aku berani bertaruh Edward pasti lebih suka kau
melakukannya secara tradisional, walaupun dia takkan
pernah mengatakannya padamu. Dan Esme, bayangkan
betapa akan sangat berartinya ini bagi dia!"
Aku mengerang. "Aku lebih suka menghadapi vampirevampire
baru sendirian."
"Aku akan berutang budi padamu selama satu dekade."
"Kau akan berutang budi padaku selama satu abad."


Mata Alice berbinar. "Jadi itu berarti, Ya?"
"Tidak! Aku tidak mau melakukannya."
"Kau tidak melakukan apa-apa kecuali berjalan sejauh
beberapa meter, kemudian mengulangi apa yang diucapkan
pendeta."
"Ugh! ugh,ugh!”
"Please!"Alice mulai melompat-lompat kecil. "Please,
please, please, please, please?"
"Aku tidak pernah, tidak akan pernah memaafkanmu
untuk perbuatanmu ini, Alice."
"Hore!"pekik Alice, bertepuk tangan.
"Itu bukan mengiyakan!"
"Tapi kau akan mengiyakannya,” dendangnya.
"Edward!" teriakku, menghambur keluar garasi dengan
mengentak-entak. "aku tahu kau mendengarkan.
Kemarilah," Alice menyusul tepat di belakangku, masih
bertepuk tangan.
"Terima kasih banyak, Alice," tukas Edward masam,
muncul dari belakangku. Aku berbalik untuk
menyemprotnya, tapi ekspresi Edward begitu waswas dan
kalut hingga aku tak mampu menyuarakan protesku. Aku
malah memeluknya, menyembunyikan wajahku, berjagajaga
supaya mataku yang berair saking marahnya tidak
dikira sebagai tangisan.
"Vegas,” Edward berjanji di telingaku.
"Tidak mungkin.” Alice menyombong. "Bella tidak
mungkin tega melakukannya padaku. Kau tahu, Edward,
sebagai saudara, kadang-kadang kau membuatku kecewa."


"Jangan bersikap kejam,” omelku pada Alice. "Dia
berusaha membuatku bahagia, tidak seperti kau."
"Aku juga berusaha membuatmu bahagia, Bella. Tapi
aku lebih tahu apa yang membuatmu bahagia... suatu saat
nanti. Kelak kau akan berterima kasih padaku. Mungkin
tidak selama lima puluh tahun pertama, tapi pasti suatu saat
nanti."
"Aku tidak pernah mengira akan tiba suatu saat hari
ketika aku bersedia bertaruh melawanmu, Alice, tapi hari
itu telah datang."
Alice mengumandangkan tawa merdunya. “Jadi
bagaimana, mau menunjukkan cincinnya padaku, tidak?"
Aku meringis ngeri saat Alice menyambar tangan kiriku
tapi dengan cepat menjatuhkannya lagi.
"Hah. Padahal aku melihat Edward memasukkannya ke
jarimu... Apakah ada yang terlewat?" tanyanya. Ia
berkonsentrasi selama setengah detik, dahinya berkerut,
sebelum menjawab pertanyaannya sendiri. "Tidak. Rencana
pernikahan tidak berubah."
"Bella hanya tidak suka memakai perhiasan,” Edward
menjelaskan.
"Apa bedanya sebutir berlian lagi? Well, cincin itu
memang memiliki banyak berlian, tapi maksudku dia kan
sudah memberimu se..."
"Cukup Alice!" Edward tiba-tiba memotongnya. Caranya
memelototi Alice... ia jadi kelihatan seperti vampire. "Kami
buru-buru."
"Aku tidak mengerti. Apa maksud Alice dengan berlianberlian
itu?" tanyaku.


"Nanti saja kita bicarakan,” tukas Alice. "Edward benar,
sebaiknya kalian segera berangkat. Kalian harus
menyiapkan perangkap dan mendirikan kemah sebelum
badai datang." Alice mengerutkan kening dan ekspresinya
cemas, hampir-hampir gugup. "Jangan lupa membawa
mantel Bella. Sepertinya cuaca akan... sangat dingin, di luar
kebiasaan."
"Semuanya sudah siap," Edward meyakinkan Alice.
"Semoga sukses,” kata Alice sebagai salam perpisahan.
Rute yang kami tempuh untuk mencapai lapangan dua
kali lebih panjang daripada biasa, Edward sengaja memutar
jauh-jauh, memastikan bau badanku tidak berada di dekat
jejak yang akan disembunyikan Jacob nanti. Ia
membopongku, ransel gembung menjadi tempatku
bertengger, seperti biasa.
Ia berhenti di bagian paling ujung lapangan, lalu
menurunkan aku.
"Baiklah. Sekarang berjalanlah ke utara, sentuh sebanyak
mungkin benda yang bisa kausentuh. Alice memberiku
gambaran jelas rentang rute yang akan mereka tempuh, jadi
tidak butuh waktu lama bagi kami untuk memotongnya."
"Utara?"
Edward tersenyum dan menunjuk ke arah yang benar.
Aku berjalan memasuki hutan,meninggalkan sinar
matahari kuning jernih yang menerpa lapangan rumput di
belakangku. Mungkin penglihatan Alice yang sedikit kabur
keliru mengenai salju itu. Mudah-mudahan saja begitu.
Sebagian besar langit jernih,walaupun angin bertiup
kencang di tempat-tempat terbuka. Di antara pepohonan
angin bertiup lebih tenang, tapi hawa memang terlalu
dingin untuk bulan Juni,walaupun sudah mengenakan


kemeja lengan panjang yang dilapisi sweter tebal,bulu di
lenganku masih saja meremang. Aku berjalan lambat, jarijariku
menelusuri apa saja yang berada cukup dekat
denganku, kulit pohon yang kasar, pakis yang basah,
bebatuan yang ditutupi lumut.
Edward mengikuti,berjalan lurus di belakang, kira-kira
delapan belas meter jauhnya.
"Aku melakukannya dengan benar?" seruku.
"Sempurna."
Aku mendapat ilham. "ini bisa membantu?" tanyaku
sambil menyusupkan jari-jariku ke rambut dan mengambil
beberapa helai rambut yang terlepas. Kuletakkan semuanya
di atas tumbuhan pakis-pakisan.
"Ya itu membuat jejaknya semakin kuat. Tapi kau tidak
perlu mencabuti rambutmu, Bella. Ini saja sudah cukup."
"Ah, rambutku masih banyak kok."
Suasana gelap di bawah pepohonan, dan aku ingin bisa
berjalan lebih dekat dengan Edward dan menggandeng
tangannya.
Kuselipkan sehelai rambut lagi ke ranting patah yang
menghalangi jalan setapak yang kulewati.
"Sebenarnya kau tidak perlu menuruti kemauan Alice,”
kata Edward.
"Kau tidak usah mengkhawatirkan itu, Edward. Aku
tidak akan meninggalkanmu di altar karena itu." Dengan
perasaan kecut aku sadar Alice tetap akan mendapatkan apa
yang la inginkan, terutama karena ia tak bisa digoyahkan
bila menginginkan sesuatu, dan juga karena aku tak pernah
kuat menanggung perasaan bersalah.


"Bukan itu yang kukhawatirkan. Aku hanya ingin
pernikahan ini berjalan sesuai dengan keinginanmu."
Aku menahan diri untuk tidak mendesah. Aku hanya
akan menyinggung perasaannya kalau mengatakan yang
sebenarnya, bahwa itu tidak penting, hanya beberapa
derajat lebih buruk daripada yang lainnya.
"Well, walaupun kemauannya dituruti, kita bisa tetap
merayakannya secara sederhana. Hanya kita, Emmet bisa
mendapatkan izin untuk menikahkan orang dari internet."
Aku terkikik. “Kedengarannya boleh juga.” Tidak akan
terlalu resmi bila Emmet yang membacakan janji
pernikahan, dan justru itu merupakan kelebihan. Tapi aku
pasti susah menahan diri untuk tidak tertawa.
"Betul, kan,” ucap Edward sambil tersenyum. "Semua
pasti bisa dikompromikan."
Dibutuhkan beberapa saat untuk mencapai tempat
pasukan vampir baru dipastikan akan menemukan jejakku,
tapi Edward tidak pernah merasa tidak sabar dengan
gerakanku yang lamban.
Namun ia harus menunjukkan jalan padaku dalam
perjalanan pulang. Supaya aku tetap berada di jalur yang
sama. Semuanya tampak sama saja di mataku.
Kami sudah hampir sampai di lapangan ketika aku
terjatuh. Aku bisa melibat tanah lapang di depan, dan
mungkin karena itulah aku terlalu bersemangat dan tidak
memperhatikan Jalan. Tahu-tahu aku terjerembab dan
kepalaku membentur pohon terdekat, tapi sebatang ranting
kecil patah di bawah tangan kiriku dan menusuk telapak
tanganku.
"Aduh! Wah, benar-benar bagus,” gerutuku.


"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja. Tetaplah di tempatmu. Aku
berdarah. Sebentar lagi pasti akan berhenti."
Edward mengabaikan laranganku. Ia sudah mendekat
sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.
"Aku punya kotak P3K,” katanya,mengeluarkan benda
itu dari ranselnya. "Aku punya firasat aku bakal
membutuhkannya."
"Tidak parah kok. Aku bisa membereskannya sendiri,
kau tidak perlu membuat dirimu tidak nyaman."
"Siapa bilang aku tidak nyaman,” tukas Edward kalem,
"kemarilah, biar kubersihkan."
"Tunggu sebentar, aku punya ide lain."
Tanpa menatap darah dan bernapas lewat mulut, untuk
berjaga-jaga siapa tahu perutku mengamuk, aku
menekankan tanganku ke batu di dekatku.
"Apa-apan kau?"
"Jasper pasti senang sekali,” gumamku pada diri sendiri.
Aku kembali berjalan ke lapangan, menempelkan telapak
tanganku ke semua benda yang kutemui di sepanjang jalan
setapak. "Taruhan, ini pasti akan benar-benar membuat
mereka kalap."
Edward menghembuskan napas.
"Tahan napasmu,” kataku.
"Aku tidak apa-apa. Menurutku, sikapmu berlebihan."
"Kan tugasku hanya ini. Aku ingin melakukannya sebaik
mungkin."


Kami keluar dari balik kerimbunan sementara aku
berbicara. Kubiarkan tanganku yang luka menyapu pakispakisan.
"Well, kau sudah melakukannya dengan baik," Edward
meyakinkanku. "Para vampire baru itu pasti akan kalap,
dan Jasper akan sangat terkesan pada dedikasimu. Sekarang
izinkan aku merawat tanganmu, lukamu jadi kotor."
"Biar aku saja, please."
Edward meraih tanganku dan tersenyum saat
mengamatinya. "ini tidak lagi membuatku terusik."
Kupandangi Edward lekat-lekat sementara ia
membersihkan lukaku, mencari tanda-tanda kekalutan. Ia
tetap menarik napas dan menghembuskannya lagi dengan
sikap biasa-biasa saja, senyum kecil yang sama tersungging
di bibirnya.
"Kenapa tidak?" akhirnya aku bertanya ketika Edward
menempelkan plester di telapak tanganku.
Edward mengangkat bahu. "Aku sudah bisa
mengatasinya."
"Kau... sudah mengatasinya? Kapan? Bagaimana?" Aku
mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali Edward
menahan napas saat berdekatan denganku. Seingatku itu
saat ulang tahunku yang terakhir, September silam.
Edward mengerucutkan bibir, seperti mencari kata-kata
yang tepat. “Aku pernah mengalami 24 jam yang
mengerikan, mengira kau sudah mati, Bella. Itu mengubah
cara pandangku terhadap banyak hal."
"Apakah itu mengubah bauku bagi penciumanmu?"
"Sama sekali tidak. Tapi... setelah mengalami bagaimana
rasanya mengira aku telah kehilangan dirimu...reaksiku


berubah. Seluruh keberadaanku menolak melakukan apa
pun yang dapat memicu timbulnya penderitaan seperti itu
lagi."
Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.
Edward tersenyum melihat ekspresiku. "Kurasa kau bisa
menyebutnya pengalaman yang sangat mendidik."
Saat itulah angin berembus kencang menerpa lapangan,
menerbangkan rambutku hingga mengelilingi wajah dan
membuat tubuhku bergetar.
"Baiklah,” ujar Edward, merogoh ranselnya lagi. "Kau
sudah selesai melakukan tugasmu." Ia mengeluarkan jaket
musim dinginku yang tebal dan menyodorkannya supaya
aku bisa memakainya. "Sekarang,beres sudah. Ayo kita
pergi berkemah!"
Aku tertawa mendengar nada pura-pura antusias dalam
suara Edward.
Edward meraih tanganku yang berplester – tanganku
yang lain masih belum sepenuhnya pulih, masih memakai
penyangga, dan mulai berjalan ke sisi lain lapangan.
"Di mana kita akan bertemu Jacob?" tanyaku.
"Di sini,” Edward melambai ke arah pepohonan di
depan kami. Dan pada saat itu juga Jacob melangkah keluar
dengan sikap waswas dari balik bayang-bayang.
Seharusnya aku tidak perlu kaget melihatnya dalam
wujud manusia. Tapi entah kenapa aku mengira akan
melihat serigala besar berbulu cokelat kemerahan.
Lagi-lagi Jacob tampak lebih besar, tak diragukan lagi itu
karena aku memang mengharapkannya; tanpa sadar, diamdiam
aku pasti berharap melihat Jacob kecil yang kuingat,
temanku yang santai, yang tidak membuat segala


sesuatunya rumit seperti sekarang. Ia melipat kedua
lengannya di dadanya yang telanjang, mencengkeram jaket.
Wajahnya menatap kami tanpa ekspresi.
Sudut-sudut bibir Edward tertarik ke bawah. "Pasti ada
cara lain yang lebih baik untuk melakukan ini."
"Sekarang sudah terlambat,” gerutuku muram.
Edward mendesah.
"Hai, Jake,” aku menyapanya saat kami sudah lebih
dekat dengannya.
"Hai, Bella."
"Halo, Jacob," sapa Edward.
Jacob tak peduli dengan basa basi, sikapnya resmi. "Aku
harus membawanya ke mana?"
Edward mengeluarkan peta dari saku samping ransel dan
menyerahkannya kepada Jacob. Jacob membuka
lipatannya.
"Sekarang kita di sini,” kata Edward, mengulurkan
tangan untuk menyentuh titik yang dimaksud. Jacob
otomatis berjengit untuk menghindar, tapi kemudian
menenangkan diri. Edward pura-pura tidak melihat.
"Dan kau harus membawa dia ke sini,” lanjut Edward,
menyusuri pola berkelok-kelok di sekitar garis ketinggian di
peta itu. "Perkiraan kasarnya empat belas setengah
kilometer."
Jacob mengangguk satu kali.
"kira-kira satu setengah kilometer dari sini, kau akan
melintasi jalanku. Kau bisa mengikutinya dari sana. Kau
membutuhkan peta ini?"


"Tidak, terima kasih. Aku sangat mengenal kawasan ini.
Kurasa aku tidak akan tersesat."
Jacob sepertinya harus berusaha lebih keras daripada
Edward untuk bersikap lebih sopan.
"Aku akan mengambil rute lebih panjang,” kata Edward.
"Sampai jumpa beberapa jam lagi."
Edward menatapku dengan sikap tidak senang. Ia tidak
menyukai bagian rencana yang ini.
"Sampai nanti,” gumamku.
Edward lenyap ditelan pepohonan, menuju arah
berlawanan.
Begitu tidak kelihatan lagi, sikap Jacob langsung berubah
ceria.
"Bagaimana kabarmu,Bella?" tanyanya sambil nyengir
lebar.
Aku memutar bola mataku. "Biasa-biasa saja."
"Yeah," Jacob sependapat. “Segerombolan vampir
berusaha membunuhmu. Biasalah."
"Biasalah."
"Well,” ucapnya, mengenakan jaketnya supaya kedua
tangannya bisa bergerak bebas. "Ayo kita berangkat."
Sambil mengernyit, aku maju mendekatinya.
Jacob membungkuk dan menyapukan lengannya ke
belakang lututku, meraupnya tiba-tiba. Lengan satunya
menangkap tubuhku sebelum kepalaku membentur tanah.
"Dasar,” omelku.
Jacob terkekeh, sudah berlari menembus pepohonan. Ia
berlari dengan langkah-langkah mantap, cukup cepat untuk


bisa diimbangi manusia yang segar bugar... di tanah datar...
tanpa membawa beban sekian puluh kilogram seperti yang
dilakukannya sekarang.
"Kau tidak perlu berlari. Nanti kau capek."
"Berlari tidak membuatku capek,” tukas Jacob.
Napasnya datar, seperti tempo teratur pelari maraton. "Lagi
pula, hawa sebentar lagi mendingin. Mudah-mudahan dia
sudah selesai mendirikan tenda sebelum kita sampai di
sana."
Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke lapisan jaketnya yang
tebal. "Kupikir kau sudah tidak kedinginan lagi sekarang."
"Memang tidak. Aku membawanya untukmu, untuk
berjaga-jaga siapa tahu kau tidak siap." Dipandanginya
jaketku, seolah-olah nyaris kecewa karena ternyata aku
sudah siap menghadapi hawa dingin. "Aku tidak suka
melihat keadaan cuaca. Membuatku gelisah. Kauperhatikan
tidak kalau sejak tadi tidak tampak seekor binatang pun?"
"Eh, tidak juga."
"Sudah kukira kau tidak memperhatikan. Panca
inderamu terlalu tumpul."
Aku tidak menanggapi komentarnya. "Alice juga
mengkhawatirkan keadaan cuaca."
"Kalau hutan sampai sesunyi ini, pasti akan terjadi
sesuatu. 'Hebat' juga kau, memilih hari ini untuk
berkemah."
"Itu kan bukan ideku sepenuhnya."

0 Response to "Twilight Saga: Eclipse 3"

Post a Comment