Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight Saga: Eclipse 2

Rosalie mendesah, dan mulai berbisik-bisik lagi. "Ya,
aku mengkhawatirkan cuaca aku tidak ingin
pernikahanku dipindah ke dalam ruangan...
"Hanya tinggal beberapa blok lagi ke rumahku waktu aku
mendengar mereka. Sekelompok lelaki di bawah lampu
jalan yang rusak, tertawa begitu keras. Mabuk. Aku
berharap kalau saja tadi meminta ayahku menemaniku
pulang, tapi jaraknya sangat dekat, jadi rasanya itu konyol.
Kemudian lelaki itu memanggil namaku.
"'Rose!' teriaknya, dan yang lain tertawa-tawa tolol.
"Aku tidak sadar para pemabuk itu berpakaian sangat
bagus. Ternyata itu Royce bersama teman-temannya, putraputra
keluarga kaya lainnya.
"Ini dia Rose-ku!” Royce berseru, tertawa-tawa bersama
mereka, terdengar sama tololnya. “Kau terlambat. Kami
kedinginan, kau membuat kami menunggu begitu lama."
"Aku belum pernah melihatnya mabuk sebelum ini.
Paling-paling hanya saat toast, satu-dua kali, di pesta. Dia
pernah berkata tidak menyukai sampanye. Tapi aku tidak
mengira ternyata dia menyukai minuman yang lebih keras.
"Dia punya teman baru-teman dari temannya, baru
datang dari Atlanta.
"Benar kan kataku, John,’ Royce sesumbar, menyambar
lenganku dan menarikku lebih dekat. 'Benar kan dia lebih
cantik daripada semua buah persik Georgia-mu itu?'
"Lelaki bernama John itu berambut gelap dan kulitnya
gelap terbakar matahari. Dia memandangiku dari ujung
kepala sampai ujung kaki seperti menaksir kuda yang
hendak dibeli.


"’Sulit menilainya,' kata lelaki itu lambat-lambat.
'Soalnya bajunya tertutup rapat.’”
"Mereka tertawa, Royce juga, seperti yang lain.
"Tiba-tiba Royce mengoyak jaketku dari bahu-itu
pemberiannya-sampai semua kancing kuningannya copot.
Kancing-kancing itu berserakan di jalan.
"'Tunjukkan bagaimana dirimu sebenarnya, Rose!' Royce
tertawa lagi kemudian merenggut topi dari rambutku hingga
terlepas. Jepit-jepit menjambak rambutku dari akarnya, dan
aku berteriak kesakitan. Mereka kelihatannya malah senang
mendengar jerit kesakitanku ..
Rosalie tiba-tiba menatapku, seolah-olah lupa aku ada di
sana. Aku yakin wajahku pasti pucat pasi seperti wajahnya.
"Kau tidak perlu mendengar kelanjutannya.” kata
Rosalie pelan. "Mereka meninggalkanku di jalan, tertawatawa
sambil sempoyongan pergi. Mereka kira aku sudah
mati. Mereka menggoda Royce bahwa dia harus mencari
calon istri baru. Royce tertawa dan berkata dia harus belajar
bersabar lebih dulu.
"Aku tergeletak di jalan, menunggu kematian
menjemputku.
Udara dingin, dan aku heran kenapa aku masih sempat
memikirkannya, padahal sekujur tubuhku sakit, Salju mulai
turun, dan aku bertanya-tanya kenapa aku tidak mati saja.
Aku tidak sabar ingin segera mati, supaya kesakitan ini
segera berlalu. Rasanya lama sekali...
"Saat itulah Carlisle menemukanku. Dia mencium bau
darah, dan datang menyelidiki. Aku ingat samar-samar
merasa kesal saat dia menanganiku, berusaha
menyelamatkan nyawaku. Aku tidak pernah menyukai dr.
Cullen atau istrinya dan adik lelaki istrinya-waktu itu orang


mengenal Edward sebagai adik Esme. Aku sebal karena
mereka jauh lebih rupawan daripada aku, terutama kaum
lelakinya. Tapi karena mereka tidak berbaur dengan
masyarakat, jadi aku hanya satu-dua kali bertemu mereka.
"Kukira aku sudah mati waktu Carlisle mengangkatku
dari tanah dan melarikanku-karena kecepatannya sangat
tinggi rasanya seolah-olah aku terbang. Aku masih ingat
betapa takutnya aku karena rasa sakit itu tak berhenti juga...
"Tahu-tahu aku berada di ruangan terang benderang, dan
hangat. Kesadaranku mulai hilang, dan aku bersyukur rasa
sakit itu mulai mereda. Tapi tiba-tiba sesuatu yang tajam
menembus tubuhku, di leher, pergelangan tangan,
pergelangan kaki. Aku menjerit karena syok, mengira
Carlisle membawaku ke sana untuk menyakitiku lebih lagi.
Kemudian api itu mulai membakar sekujur tubuhku, dan
aku tak peduli lagi pada hal-hal lain. Aku memohon-mohon
padanya supaya aku dibunuh saja. Ketika Esme dan
Edward pulang, kumohon pada mereka agar membunuhku
juga. Carlisle duduk mendampingiku. Dia memegang
tanganku dan meminta maaf berjanji rasa sakit itu akan
hilang. Dia menceritakan semuanya padaku, dan kadangkadang
aku mendengarkan. Dia menjelaskan siapa dirinya,
akan menjadi apa aku nanti. Aku tidak percaya padanya.
Dia meminta maaf setiap kali aku menjerit.
"Edward tidak senang. Aku mendengar mereka
membicarakanku. Kadang-kadang aku berhenti menjerit.
Tak ada gunanya berteriak-teriak.
"’Apa yang kaupikirkan, Carlisle?' tanya Edward.
'Rosalie Hale?’ Rosalie menirukan nada jengkel Edward
dengan sempurna. "Aku tidak suka caranya menyebut
namaku, seolah-olah ada yang tidak beres dengan diriku. .


"’Aku tidak tega membiarkan dia mati,’ kata Carlisle
pelan. 'Sungguh keterlaluan-terlalu menyedihkan, terlalu
banyak yang disia-siakan,'
"’Aku tahu,' sergah Edward, seperti tidak mau
mendengar lagi. Aku marah mendengarnya. Waktu itu aku
tidak tahu Edward benar-benar bisa melihat apa yang
dilihat Carlisle.
"Terlalu banyak yang disia-siakan. Aku tidak tega
meninggalkannya,” ulang Carlisle sambil berbisik.
"'Tentu saja kau tidak tega,' Esme sependapat,
"Manusia mati setiap saat,' Edward mengingatkan
Carlisle dengan suara keras. 'Apa kau tidak berpikir dia
agak mudah dikenali? Keluarga King pasti akan melakukan
pencarian besar-besaran-meskipun tak seorang pun curiga
siapa iblisnya,' geram Edward.
"Aku senang karena sepertinya mereka tahu Royce-lah
pelakunya.
"Aku tidak sadar itu menandakan prosesnya sebentar lagi
akan berakhir-bahwa tubuhku semakin kuat dan itulah
sebabnya aku bisa berkonsentrasi mendengarkan
pembicaraan mereka. Rasa sakit itu mulai memudar dari
ujung-ujung jariku.
"’Akan kita apakan dia?' Edward bertanya dengan nada
jengkel-atau begitulah setidaknya kedengarannya di
telingaku.
"Carlisle mendesah. 'Itu terserah dia, tentu saja. Mungkin
dia ingin pergi sendiri.’
'Waktu itu aku sudah mulai memercayai penjelasan
Carlisle, sehingga kata-katanya membuatku ngeri. Aku tahu


hidupku telah berakhir, dan aku takkan bisa kembali lagi.
Aku tidak tahan membayangkan diriku sendirian...
"Rasa sakit itu akhirnya lenyap dan mereka menjelaskan
lagi padaku, menjadi apa aku sekarang. Meskipun mataku
merah, tapi aku makhluk paling rupawan yang pernah
kulihat.” Rosalie menertawakan dirinya sesaat, "Butuh
waktu sebelum aku mulai menyalahkan kecantikanku
sebagai penyebab terjadinya peristiwa itu-sebelum aku
melihat kecantikanku sebenarnya merupakan kutukan. Aku
sempat berharap kalau saja aku... well, bukan jelek, tapi
normal. Seperti Vera. Supaya aku diizinkan menikah
dengan orang yang mencintaiku, dan memiliki bayi-bayi
yang manis. Itulah yang benar-benar kuinginkan, selama
ini. Sampai sekarang aku masih merasa itu bukan hal yang
berlebihan untuk diminta.”
Ia termenung beberapa saat, dan aku bertanya-tanya
apakah lagi-lagi ia lupa aku ada di sini. Tapi kemudian ia
tersenyum padaku, ekspresinya tiba-tiba menyiratkan
kemenangan.
"Kau tahu, rekorku nyaris sama bersihnya dengan
Carlisle,” kata Rosalie. "Lebih baik daripada Esme. Seribu
kali lebih bagus daripada Edward. Aku belum pernah
merasakan darah manusia.” katanya bangga.
Rosalie memahami ekspresiku yang bingung
mendengarnya mengatakan rekornya nyaris sama
bersihnya.
"Aku membunuh lima manusia.” Rosalie
memberitahuku dengan nada puas. "Kalau kau bisa
menyebut mereka manusia. Tapi aku sangat berhati-hati
untuk tidak mencecerkan darah mereka-karena aku tahu
aku tak mungkin sanggup menahan diri kalau itu terjadi,


padahal aku tidak mau ada sedikit pun bagian mereka
masuk dalam diriku, kau mengerti, kan?
"Aku sengaja menyisakan Royce untuk yang terakhir.
Harapanku, dia akan mendengar tentang kematian temantemannya
dan mengerti, tahu apa yang bakal dihadapinya.
Aku berharap rasa takut akan membuat akhir hidupnya
semakin mengerikan. Kurasa itu berhasil. Royce
bersembunyi di dalam ruangan tak berjendela, di balik pintu
setebal pintu ruang brankas di bank, dijaga pengawal
bersenjata, waktu aku mendatanginya. Uups-tujuh
pembunuhan.” Rosalie mengoreksi. "Aku lupa pengawalpengawalnya.
Hanya butuh sedetik untuk menghabisi
mereka.
“Aku melakukannya dengan sangat teatrikal. Agak
kekanak-kanakan sebenarnya. Aku mengenakan gaun
pengantin yang kucuri khusus untuk kesempatan itu. Royce
menjerit waktu melihatku. Dia menjerit-jerit terus malam
itu. Sengaja menyisakannya sebagai korban terakhir adalah
ide bagus-lebih mudah bagiku untuk mengendalikan diri,
sengaja memperlambat...
Tiba-tiba Rosalie berhenti bercerita, dan
melirikku."Maafkan aku.” katanya dengan nada menyesal.
"Aku membuatmu ketakutan, ya?”
“Aku tidak apa-apa kok.” dustaku.
“Aku terlalu larut dalam ceritaku.”
"Tak apa-apa.”
“Aku heran Edward tidak bercerita banyak padamu
mengenainya.”
"Dia tidak suka membeberkan cerita orang – Edward
merasa itu artinya mengkhianati kepercayaan mereka,


karena dia mendengar jauh lebih banyak daripada hanya
bagian-bagian yang mereka ingin dia dengar.”
Rosalie tersenyum dan menggeleng. "Mungkin
seharusnya aku lebih respek padanya. Dia benar-benar baik,
bukan?"
"Menurutku begitu.”
"Aku tahu itu benar.” Lalu Rosalie mendesah. "Selama
ini aku bersikap kurang adil padamu, Bella. Pernahkah
Edward memberitahumu sebabnya? Atau itu terlalu
rahasia?"
"Kata Edward, karena aku manusia. Katanya, kau tidak
suka ada orang luar yang tahu.”
Tawa merdu Rosalie memotong perkataanku. "Sekarang
aku benar-benar merasa bersalah. Ternyata Edward jauh,
jauh lebih baik daripada yang layak kuterima.” Rosalie
terkesan lebih hangat bila tertawa, seperti sedikit
mengendurkan sikap sok wibawanya yang sebelumnya tak
pernah absen kalau ada aku. "Dia itu pembohong besar"
Lagi-lagi Rosalie tertawa.
"Jadi, dia bohong?” tanyaku, mendadak waswas.
"Well, mungkin istilah itu berlebihan. Dia hanya tidak
menceritakan keseluruhan kisahnya. Yang dia ceritakan
memang benar, bahkan sekarang lebih benar daripada
sebelumnya. Tapi waktu itu...” Rosalie menghentikan katakatanya,
tertawa gugup. "Memalukan. Begini, awalnya
lebih tepat dikatakan aku cemburu karena dia
menginginkanmu dan bukan aku.”
Perasaan takut melanda sekujur rubuhku saat mendengar
kata-katanya. Duduk di bawah cahaya bulan keperakan,
Rosalie lebih cantik daripada apa pun yang bisa


kubayangkan. Aku tak mungkin mampu bersaing
dengannya.
"Tapi kau mencintai Emmett... ,” gumamku.
Rosalie menggerakkan kepalanya maju-mundur, geli.
“Aku tidak menginginkan Edward seperti itu, Bella. Tidak
pernah-aku menyayanginya sebagai saudara, tapi Edward
membuatku jengkel sejak pertama kali aku mendengarnya
bicara. Tapi kau harus mengerti... aku begitu terbiasa
dengan orang menginginkanku. Sementara Edward sedikit
pun tidak tertarik. Itu membuatku frustrasi, bahkan
tersinggung awalnya. Tapi karena dia tidak pernah
menginginkan orang lain, itu tidak terlalu menggangguku
lagi. Bahkan waktu kami pertama kali bertemu dengan klan
Tanya di Denali-semua wanita itu!-Edward tidak pernah
menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Kemudian dia
bertemu denganmu.” Rosalie menatapku bingung. Aku
hanya separuh memerhatikan. Pikiranku melayang ke
Edward dan Tanya dan semua wanita itu, dan bibirku
terkatup membentuk garis lurus.
"Bukannya kau tidak cantik, Bella,” sergah Rosalie, salah
mengartikan ekspresiku. "Itu hanya berarti dia
menganggapmu lebih menarik daripada aku. Karena aku
peduli pada hal-hal lahiriah, itu membuatku tersinggung.”
"Tapi kau tadi mengatakan 'pada awalnya’, Sekarang...
kau sudah tidak merasa seperti itu lagi, kan? Maksudku,
kita sama-sama tahu kau makhluk tercantik di planet ini.”
Aku tertawa karena harus mengatakan hal itu-padahal
itu sudah sangat jelas. Sungguh aneh Rosalie masih butuh
diyakinkan mengenainya.
Rosalie ikut tertawa. "Trims, Bella. Dan tidak, itu tidak
terlalu menggangguku lagi. Sejak dulu Edward memang
agak aneh.” Ia tertawa lagi.


"Tapi kau tetap tidak menyukaiku.” aku berbisik.
Senyum Rosalie lenyap. "Maafkan aku.”
Kami terduduk diam sesaat, dan Rosalie terkesan tidak
ingin melanjutkan pembicaraan.
"Boleh aku tahu kenapa? Apakah aku melakukan sesuatu
... ?" Apakah Rosalie marah karena aku menyebabkan
keluarganya – Emmett-nya – berada dalam bahaya? Berkalikali.
Dulu James, dan sekarang Victoria...
"Tidak, kau tidak melakukan apa-apa,” gumamnya.
"Belum.”
Kutatap dia, tercengang.
"Tidak mengertikah kau, Bella?" Suara Rosalie tiba-tiba
terdengar lebih berapi-api daripada sebelumnya, bahkan
saat ia menceritakan kisah hidupnya yang tidak bahagia
tadi, "Kau sudah memiliki segalanya. Masa depanmu
terbentang luas di hadapanmu-semua yang kuinginkan.
Tapi kau malah ingin membuangnya begitu saja. Tidak
tahukah kau, aku rela menukar segalanya asal bisa menjadi
dirimu? Kau punya pilihan, sementara aku tidak, tapi kau
mengambil pilihan yang salah!"
Aku tersentak melihat ekspresinya yang menyala-nyala.
Aku sadar mulurku ternganga, jadi aku lantas menutupnya
rapat-rapat.
Rosalie menatapku lama sekali dan, lambat laun, bara
api di matanya meredup. Sekonyong-konyong ia merasa
malu.
"Padahal tadi aku yakin sekali bisa melakukannya
dengan tenang.” Rosalie menggeleng, tampak sedikit
bingung karena luapan emosinya barusan. "Tapi sekarang


lebih sulit daripada dulu, waktu aku masih menyanjungnyanjung
keindahan fisik.”
Rosalie memandangi bulan sambil berdiam diri. Baru
beberapa saat kemudian aku berani menyela pikirannya.
"Apakah kau akan lebih menyukaiku kalau aku tetap
menjadi manusia?"
Rosalie menoleh padaku, bibirnya berkedut-kedut,
hendak merekah membentuk senyuman. "Mungkin.”
"Tapi kau juga mendapatkan akhir yang
membahagiakan,” aku mengingatkan Rosalie. "Kau
memiliki Emmett.”
"Aku mendapat setengah.” Rosalie nyengir. "Kau tahu
aku menyelamatkan Emmett dari serangan beruang, dan
membawanya pulang ke Carlisle. Tapi tahukah kau kenapa
aku mencegah beruang itu memakannya?"
Aku menggeleng.
"Dengan rambut gelapnya yang ikal... lesung pipi yang
muncul bahkan saat dia meringis kesakitan... wajah lugu
aneh yang kelihatannya tidak cocok dimiliki laki-laki
dewasa... dia mengingatkanku pada si kecil Henry, anak
Vera. Aku tidak ingin dia mati-keinginanku begitu besar,
hingga walaupun aku membenci kehidupan ini, aku cukup
egois untuk meminta Carlisle mengubahnya untukku.
"Aku lebih beruntung daripada yang pantas kudapatkan.
Emmett adalah segalanya yang kuminta kalau aku cukup
tahu hendak meminta apa. Orang seperti dialah yang
dibutuhkan seseorang seperti aku. Dan, anehnya, dia juga
membutuhkan aku. Bagian itu berjalan lebih baik daripada
yang bisa kuharapkan. Tapi kami takkan bisa punya anak.
Jadi aku tidak akan pernah duduk-duduk di beranda,


bersama Emmett yang rambutnya beruban di sisiku,
dikelilingi cucu-cucu kami.”
Senyum Rosalie kini tampak ramah. "Untukmu
kedengarannya aneh ya? Dalam beberapa hal, kau jauh
lebih matang daripada aku saat berumur delapan belas
tahun. Tapi dalam beberapa hal lain.. ada banyak hal yang
mungkin tak pernah kaupikirkan secara serius. Kau terlalu
muda untuk tahu apa yang kauinginkan sepuluh, lima belas
tahun lagi-dan terlalu muda untuk menyia-nyiakan semua
itu tanpa memikirkannya masak-masak. Jangan tergesagesa
mengambil keputusan mengenai hal-hal permanen,
Bella.”
Ia menepuk-nepuk kepalaku tanpa terkesan menggurui.
Aku mendesah.
"Pikirkanlah dulu sebentar lagi. Karena begitu
melakukannya, kau tidak akan bisa kembali lagi. Esme
cukup puas dengan kami sebagai pengganti anak... dan
Alice tidak ingat kehidupannya sebagai manusia, jadi dia
tidak merindukannya... tapi kau akan ingat. Banyak sekali
yang harus kaukorbankan.”
Tapi lebih banyak yang akan kudapat, kataku dalam hati.
"Trims, Rosalie. Senang akhirnya aku bisa memahami ...
mengenalmu lebih baik lagi.”
"Maaf kalau selama ini sikapku sangat buruk.” Rosalie
menyeringai. “Aku akan berusaha memperbaiki sikap mulai
sekarang.”
Aku balas nyengir.
Kami memang belum berteman, tapi aku sangat yakin
Rosalie tidak akan selamanya membenciku.


"Aku akan pergi sekarang, supaya kau bisa tidur.” Mata
Rosalie melirik tempat tidur, dan bibirnya berkedut-kedut.
“Aku tahu kau frustrasi karena Edward mengurungmu
seperti ini, tapi jangan marahi dia kalau dia kembali nanti.
Dia mencintaimu lebih daripada yang kauketahui. Dia
takut berjauhan denganmu.” Rosalie bangkit tanpa suara
dan beranjak ke pintu. "Selamat malam, Bella,” bisiknya
sambil menutup pintu.
"Selamat malam, Rosalie,” bisikku, sedetik terlambat.
Iama sekali baru aku bisa tidur sesudahnya.
Ketika benar-benar tertidur, aku malah bermimpi buruk.
Dalam mimpiku aku merangkak di jalanan asing dari
batu yang gelap dan dingin, meninggalkan jejak darah di
belakangku. Bayangan samar seorang malaikat bergaun
putih panjang mengamati perjalananku dengan sorot mata
tidak suka.
Esok paginya Alice mengantarku ke sekolah sementara
aku ke luar kaca depan dengan sikap masam. Aku merasa
kurang tidur, dan itu membuat kekesalanku karena
disandera semakin menjadi-jadi.
"Nanti malam kira akan ke Olympia atau melakukan hal
lain,” janji Alice. “Asyik, kan?"
"Kenapa kau tidak mengurungku saja di ruang bawah
tanah,” saranku, “jadi tidak perlu bermanis-manis padaku,"
Alice mengernyitkan kening. "Dia akan mengambil lagi
Porsche-nya. Aku tidak begitu berhasil. Karena seharusnya
kau merasa senang.”
"Ini bukan salahmu.” gumamku. Sulit dipercaya aku
benar-benar merasa bersalah. "Sampai ketemu nanti saat
makan siang.”


Aku berjalan dengan langkah-langkah berat ke kelas
bahasa Inggris. Tanpa Edward, hari ini dijamin tidak
menyenangkan. Aku merengut terus sepanjang pelajaran
pertamaku, sepenuhnya sadar sikapku ini takkan membantu
memperbaiki keadaan.
Ketika lonceng berbunyi, aku berdiri dengan lesu. Mike
menunggu di depan pintu, memeganginya untukku.
"Edward hiking lagi akhir minggu ini?" tanya Mike
dengan nada mengajak ngobrol saat kami berjalan di bawah
gerimis hujan.
"Yeah.”
"Mau melakukan sesuatu malam ini?”
Bagaimana bisa Mike masih terus berharap?
"Tidak bisa. Aku harus menghadiri pesta piama.”
gerutuku.
Mike menatapku dengan pandangan aneh sambil
mereka-reka suasana hatiku.
"Siapa yang...”
Pertanyaan Mike terputus raungan mesin yang
menggelegar dari belakang kami, dari arah lapangan parkir,
Semua orang di trotoar menoleh untuk melihat,
memandang dengan sikap tak percaya saat sepeda motor
hitam yang suara mesinnya berisik berhenti dengan rem
berdecit keras di pinggir trotoar, mesinnya masih meraungraung.
Jacob melambai-lambaikan tangan ke arahku dengan
sikap mendesak.
"Lari, Bella!" teriaknya, mengatasi raungan suara mesin.
Aku membeku sedetik sebelum akhirnya mengerti. Cepat-


cepat aku menoleh kepada Mike. Aku tahu aku hanya
punya waktu beberapa detik.
Sejauh apa Alice akan bertindak untuk menahanku di
depan umum?
"Aku mendadak sakit, jadi harus pulang, oke?" kataku
pada Mike, suaraku mendadak penuh semangat.
"Baiklah.” gerutu Mike.
Kukecup pipi Mike sekilas, "Trims, Mike. Aku berutang
budi padamu!" seruku sambil cepat-cepat lari menjauh.
Jacob meraungkan mesinnya, nyengir. Aku melompat
naik ke sadel belakang, memeluk pinggangnya erat-erat.
Pandanganku tertumbuk pada Alice. Ia membeku di
pinggir kafeteria, matanya berkilat-kilat marah, bibirnya
menyeringai, menampakkan giginya.
Kulayangkan pandangan memohon kepadanya.
Detik berikutnya kami sudah ngebut begitu cepat hingga
perutku terasa mual.
"Pegangan.” teriak Jacob.
Aku menyembunyikan wajah di punggungnya sementara
ia memacu motornya di jalan raya. Aku tahu ia akan
memperlambat laju motornya begitu kami sampai di
perbatasan Quileute nanti. Aku hanya perlu bertahan
sampai saat itu.
Dalam hati aku berdoa sekuat tenaga semoga Alice tidak
mengikuti, dan semoga Charlie tidak kebetulan melihatku...
Jelas kami telah sampai di zona aman. Kecepatan motor
langsung berkurang, dan Jacob meluruskan tubuh serta
tertawa sambil bersorak-sorai. Kubuka mataku.


"Kita berhasil!" teriaknya. "Tidak buruk untuk usaha
kabur dari penjara, kan?"
"Ide bagus, Jake.”
"Aku ingat penjelasanmu waktu itu, bahwa si lintah
paranormal itu tidak bisa meramalkan apa yang akan
kulakukan. Aku senang hal ini tidak terpikir olehmu-sebab
kalau itu terpikir olehmu, dia tidak akan membiarkanmu
pergi ke sekolah.”
"Itulah sebabnya aku tidak mempertimbangkannya.”
Jacob tertawa menang. "Apa yang ingin kaulakukan hari
ini?”
"Apa saja!" aku ikut tertawa. Senang rasanya bisa bebas.
8. AMARA H
KAMI pergi ke pantai lagi, berkeliaran tanpa tujuan.
Jacob masih bangga karena berhasil membawaku kabur dari
pengawasan.
"Apa menurutmu mereka akan datang mencarimu?"
tanya Jacob, nadanya penuh harap,
"Tidak.” Aku yakin sekali. "Tapi mereka akan marah
sekali padaku malam ini.”
Jacob memungut sebutir batu dan melemparnya ke
ombak.
"Tidak usah kembali kalau begitu,” lagi-lagi ia
mengusulkan.
"Charlie pasti akan senang sekali.” tukasku sarkastis.
"Berani taruhan, dia pasti tidak keberatan.”


Aku tidak menyahut, Jacob mungkin benar, dan itu
membuatku mengertakkan gigi. Sikap Charlie yang terangterangan
lebih menyukai teman-teman Quileute-ku benarbenar
tidak adil. Dalam hati aku penasaran apakah Charlie
akan tetap berpendapat sama seandainya ia tahu pilihannya
adalah antara vampir dan werewolf.
"Nah, apa skandal terbaru kalian?” tanyaku ringan.
Jacob mendadak berhenti berjalan, dan menunduk
memandangiku dengan sorot syok.
"Kenapa? Aku tadi hanya bercanda.”
"Oh.” Jacob membuang muka.
Kutunggu Jacob melangkah lagi, tapi sepertinya ia
tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Jadi memang ada skandal, ya?" tanyaku.
Jacob terkekeh sekali. "Aku lupa tidak semua orang bisa
mengetahui segala sesuatu dalam pikiranku. Bahwa hanya
aku yang bisa mengetahui pikiranku saat ini.”
Kami menyusuri pantai yang berbatu sambil terdiam
beberapa menit.
"Jadi apa?" tanyaku akhirnya. "Yang diketahui semua
orang dalam pikiranmu?"
Sejenak Jacob ragu-ragu, seolah tak yakin bagaimana
caranya menjelaskan padaku. Ialu ia mendesah dan berkata,
"Quil mengalami imprint. Jadi sekarang sudah tiga orang.
Kami-kami yang tersisa mulai waswas. Mungkin fenomena
itu lebih jamak daripada cerita-cerita orang...” Kening
Jacob berkerut, ia berpaling menatapku. Ia memandang
mataku tanpa bicara, alisnya bertaut penuh konsentrasi.
"Apa yang kaupandangi?" tanyaku, merasa risi.


Jacob mendesah. "Tidak apa-apa.”
Jacob mulai melangkah lagi. Dan seolah tanpa berpikir,
tangannya terulur dan menggandeng tanganku. Kami
berjalan menyusuri bebatuan sambil berdiam diri.
Sempat terlintas dalam benakku bagaimana kami
kelihatannya saat ini, berjalan bergandengan tangan di tepi
pantai-seperti sepasang kekasih, jelas-dan bertanya-tanya
dalam hati, apakah sebaiknya aku menolaknya. Tapi
memang selalu seperti ini bersama Jacob... tak ada alasan
meributkannya sekarang.
"Kenapa Quil mengalami imprint saja lantas jadi
skandal?” tanyaku setelah tidak tampak tanda-tanda Jacob
bakal meneruskan kata-katanya. "Apakah karena dia yang
terakhir bergabung?”
"Itu tidak ada hubungannya dengan ini.”
"Kalau begitu, apa masalahnya?"
"Lagi-lagi soal legenda. Aku jadi bertanya-tanya, kapan
kita akan berhenti terkejut karena semua legenda itu
ternyata benar?" Jacob mengomel sendiri.
"Kau akan menceritakannya padaku tidak? Atau aku
harus menebak?"
"Mana mungkin kau bisa menebaknya. Begini, kau kan
tahu sudah lama sekali Quil tidak bergaul lagi dengan kami,
sampai baru-baru ini. Jadi dia sudah lama tidak main ke
rumah Emily
"Jadi Quil meng-imprint Emily juga?" aku terkesiap.
"Bukan! Sudah kubilang, kau takkan bisa menebaknya.
Dua keponakan Emily kebetulan sedang berkunjung... dan
Quil bertemu Claire.”


Jacob tidak melanjutkan kata-katanya. Aku
memikirkannya sesaat,
"Emily tidak ingin keponakannya berhubungan dengan
werewolf? Itu kan agak munafik,” tukasku.
Tapi aku bisa memahami kenapa Emily merasa seperti
itu, Terbayang olehku bekas luka panjang yang merusak
wajahnya, memanjang hingga ke lengan kanan. Hanya
sekali Sam tidak bisa menguasai diri, dan saat itu ia berdiri
terlalu dekat dengan Emily. Hanya sekali itu... aku melihat
sendiri kepedihan di mata Sam setiap kali melihat hasil
perbuatannya terhadap Emily. Aku bisa mengerti kenapa
Emily ingin melindungi keponakannya dari hal itu.
"Bisakah kau berhenti menebak-nebak? Tebakanmu
melenceng jauh. Emily bukan keberatan karena hal itu, tapi
hanya, well, karena ini sedikit terlalu cepat.”
"Apa maksudmu dengan terlalu cepat?"
Jacob menilaiku dengan mata menyipit. "Usahakan
untuk tidak menghakimi, oke?"
Hati-hati aku mengangguk.
"Claire berumur dua tahun,” kata Jacob.
Hujan mulai turun. Aku mengerjap-ngerjapkan mata
dengan ganas saat titik-titik hujan membasahi wajahku.
Jacob menunggu sambil berdiam diri. Ia tidak memakai
jaket, seperti biasa: hujan meninggalkan bercak-bercak gelap
di T-shirt hitamnya, dan menetes-netes di rambut
gondrongnya. Ia menatap wajahku tanpa ekspresi.
"Quil... berjodoh... dengan anak berumur dua tahun?"
tanyaku akhirnya.


"Itu biasa terjadi,” Jacob mengangkat bahu. Ia
membungkuk untuk memungut sebutir batu lagi dan
melemparnya jauh-jauh ke teluk. "Atau konon begitulah
ceritanya.”
"Tapi dia masih bayi.” protesku.
Jacob memandangiku dengan sikap geli yang getir. "Quil
tidak akan bertambah tua.” ia mengingatkanku, nadanya
sedikit masam. "Dia hanya perlu bersabar selama beberapa
dekade"
"Aku.. tidak tahu harus bilang apa.”
Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengkritik,
meski sejujurnya, aku merasa ngeri. Sampai sekarang, tak
satu hal pun yang berkaitan dengan werewolf yang
membuatku merasa terganggu semenjak aku tahu mereka
tidak melakukan pembunuhan seperti kecurigaanku.
"Kau menghakimi.” tuduh Jacob. "Kentara sekali dari
wajahmu.”
“Maaf,” gumamku. "Tapi kedengarannya mengerikan
sekali.”
"Sama sekali tidak seperti itu; kau salah duga,” Jacob
membela temannya, mendadak berapi-api. "Aku melihat
sendiri bagaimana, lewat matanya. Sama sekali tidak ada
hal romantis dalam hal itu, tidak bagi Quil, tidak sekarang.”
Jacob menghela napas dalam-dalam, frustrasi. "Sulit
menggambarkannya. Bukan seperti cinta pada pandangan
pertama, sungguh. Tapi lebih menyerupai... gerakan
gravitasi. Ketika kau melihat jodohmu, tiba-tiba bukan
bumi lagi yang menahanmu tetap berpijak. Tapi dia. Dan
tak ada yang lebih berarti daripada dia. Dan kau rela
melakukan apa pun untuknya, menjadi apa saja untuknya...


Kau menjadi apa pun yang dia perlukan, entah itu
pelindung, kekasih, teman, ataupun kakak.
"Quil akan menjadi kakak terhebat, terbaik yang bisa
dimiliki seorang anak. Tidak ada balita di seantero planet
ini yang akan dijaga dengan lebih hati-hati ketimbang gadis
kecil itu nantinya. Dan kemudian, kalau dia sudah lebih
besar dan membutuhkan teman, Quil akan lebih pengertian,
lebih bisa dipercaya, dan lebih bisa diandalkan daripada
orang lain yang dia kenal. Dan akhirnya, setelah dia
dewasa, mereka akan sebahagia Emily dan Sam. Secercah
nada pahit yang aneh membuat suara Jacob terdengar lebih
tajam saat ia menyebut nama Sam.
“Apakah Claire tidak punya pilihan dalam hal ini?"
"Tentu saja. Tapi kenapa Claire tidak mau memilihnya,
pada akhirnya? Quil akan jadi pasangan yang sempurna
baginya. Seakan Quil diciptakan khusus untuknya.”
Kami berjalan sambil berdiam diri sesaat, sampai aku
berhenti untuk melempar batu ke laut, Tapi batu itu jatuh di
pantai, hanya beberapa meter dari laut, Jacob
menertawakanku.
"Tidak semua orang sekuat kau,” gumamku.
Jacob mendesah.
"Menurutmu, kapan itu akan terjadi padamu?" tanyaku
pelan.
Jawaban Jacob datar dan langsung. "Tidak akan
pernah.”
"Itu bukan sesuatu yang bisa kaukendalikan, kan?"
Jacob terdiam beberapa menit. Tanpa sadar, kami
berjalan semakin lambat, nyaris tak bergerak sama sekali.


"Seharusnya memang tidak.” Jacob mengakui. "Tapi
kau harus melihatnya – gadis yang akan menjadi jodohmu.”
"Dan kaupikir karena belum melihatnya, maka dia tidak
ada?" tanyaku skeptis. "Jacob, kau kan belum banyak
melihat dunia luar – kurang daripada aku, bahkan.”
"Memang belum.” Jacob membenarkan dengan suara
pelan. Ditatapnya wajahku dengan pandangan yang ribariba
menusuk. "Tapi aku tidak akan pernah melihat orang
lain, Bella. Aku hanya melihatmu. Bahkan saat aku
memejamkan mata dan berusaha melihat hal lain. Tanya
saja Quil atau Embry. Itu membuat mereka semua gila.”
Aku menjatuhkan pandanganku ke batu-batu.
Kami tidak melangkah lagi. Satu-satunya suara hanya
debur ombak yang memukul tepi pantai, Aku tak bisa
mendengar suara hujan karena kalah oleh raungan ombak.
"Mungkin sebaiknya aku pulang.” bisikku.
"Jangan!" protes Jacob, terkejut karena harus berakhir
begini.
Aku mendongak dan menatapnya lagi, dan mata Jacob
kini tampak waswas.
"Kau punya waktu seharian, kan? Si pengisap darah kan
belum pulang.”
Kupelototi dia.
"Jangan tersinggung,” ia buru-buru berkata.
"Ya, aku punya waktu seharian. Tapi, Jake...”
Jacob mengangkat kedua tangannya. "Maaf" ia meminta
maaf. “Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi. Aku hanya
akan menjadi Jacob.”
Aku mendesah. "Tapi kalau itu yang kaupikirkan...”


"Jangan khawatirkan aku,” sergah Jacob, tersenyum
dengan keriangan dibuat-buat, terlalu ceria. “Aku tahu apa
yang kulakukan. Bilang saja kalau aku membuatmu resah.”
"Entahlah...”
“Ayolah, Bella. Mari kembali ke rumah dan mengambil
motor kita. Kau harus mengendarai motormu secara teratur
supaya motornya tidak cepat rusak.”
"Sepertinya aku tidak boleh naik motor.”
"Siapa yang melarang? Charlie atau si pengisap-atau
dia?"
“Dua-duanya.”
Jacob memamerkan cengiran khasnya, dan tiba-tiba saja
ia kembali menjadi Jacob yang paling kurindukan, ceria dan
hangat.
Aku tak kuasa untuk tidak balas nyengir.
"Aku tidak akan bilang siapa-siapa.” janjinya.
"Kecuali teman-temanmu.”
Jacob menggeleng dengan sikap bersungguh-sungguh
dan mengangkat tangan kanannya. “Aku janji tidak akan
memikirkannya.”
Aku tertawa. "Kalau aku cedera, itu karena tersandung.”
"Terserah apa katamu.”
Kami mengendarai motor kami di jalan-jalan kecil yang
mengelilingi La Push sampai hujan membuatnya jadi terlalu
berlumpur dan Jacob bersikeras mengatakan ia akan
pingsan kalau tidak segera makan. Billy menyapaku dengan
nada biasa-biasa saja waktu kami sampai di rumah, seolaholah
kemunculanku yang tiba-tiba tidak berarti apa-apa
kecuali bahwa aku ingin menghabiskan waktu dengan


temanku. Sehabis makan sandwich buatan Jacob, kami
pergi ke garasi dan aku membantunya mencuci motor.
Sudah berbulan-bulan aku tidak menginjakkan kaki lagi ke
sini-sejak Edward kembali-tapi rasanya biasa saja. Hanya
menghabiskan siang bersama di garasi.
"Asyik sekali.” komentarku ketika Jacob mengeluarkan
soda hangat dari kantong belanjaan. "Aku kangen sekali
tempat ini.”
Jacob tersenyum, memandang berkeliling ke atap plastik
yang dipaku di aras kepala kami. "Yeah, aku bisa
memahaminya. Segala kemewahan Taj Mahal, tanpa harus
repot-repot pergi ke India.”
"Bersulang untuk Taj Mahal kecilnya Washington,” aku
bersulang, mengangkat kalengku.
Jacob menempelkan kalengnya ke kalengku.
"Ingat tidak Valentine waktu itu? Kukira itu terakhir
kalinya kau datang ke sini-terakhir kalinya ketika keadaan
masih... normal, maksudku.”
Aku tertawa. "Tentu saja aku masih ingat. Aku menukar
kesempatan menjadi budak seumur hidup demi mendapat
sekotak cokelat berbentuk hati. Itu bukan sesuatu yang
mudah dilupakan begitu saja.”
Jacob tertawa bersamaku. "Benar. Hmmm, budak
seumur hidup. Aku harus memikirkan sesuatu yang bagus.”
Lalu ia mendesah. "Rasanya itu sudah bertahun-tahun yang
lalu. Era yang lain. Yang lebih membahagiakan.”
Aku tidak sependapat dengannya. Sekarang era yang
membahagiakan bagiku. Tapi aku kaget ketika menyadari
betapa banyak yang kurindukan dari masa-masa kelamku.
Mataku memandangi bagian terbuka di tengah hutan yang
muram. Hujan kembali menderas, tapi di dalam garasi kecil


itu hangat, karena aku duduk di sebelah Jacob. Ia sama
hangatnya dengan pemanas ruangan.
Jari-jarinya menyapu tanganku. "Keadaan sudah benarbenar
berubah.”
"Yeah,” jawabku, kemudian aku mengulurkan tangan
dan menepuk-nepuk ban belakang motorku. "Charlie dulu
suka padaku. Semoga saja Billy tidak mengatakan apa-apa
mengenai hari ini...” Aku menggigit bibir.
"Tidak akan. Dia tidak gampang panik seperti Charlie.
Hei, aku belum pernah secara resmi meminta maaf padamu
atas ulah tololku membawa motor ke rumahmu waktu itu.
Aku sangat menyesal membuatmu dimarahi habis-habisan
oleh Charlie. Kalau saja aku tidak berbuat begitu.”
Aku memutar bola mata. "Aku juga.”
"Aku benar-benar menyesal.”
Jacob menatapku penuh harap, rambut hitamnya yang
basah dan kusut mencuat ke segala arah di sekeliling
wajahnya yang memohon.
"Oh, baiklah! Kau dimaafkan.”
"Trims, Bells!"
Kami nyengir beberapa saat, tapi sejurus kemudian
wajah Jacob berubah muram.
"Kau tahu hari itu, waktu aku membawa motor ke
rumahmu... sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu
kepadamu,” kata Jacob lambat-lambat. "Tapi juga... tidak
ingin menanyakannya.”
Aku bergeming-reaksi khas bila aku tertekan, Kebiasaan
yang kudapat dari Edward.


"Apakah kau keras kepala karena marah padaku, atau
kau benar-benar serius?" bisiknya.
"Tentang apa?” aku, balas berbisik, walaupun yakin aku
tahu maksudnya.
Jacob menatapku garang. "Kau tahu. Waktu kaubilang
itu bukan urusanku... apakah-apakah dia menggigitmu?”
Jacob mengernyit saat mengucapkan kata terakhir.
"Jake...” Kerongkonganku rasanya tersumbat. Aku tak
sanggup menyelesaikan perkaraanku.
Jacob memejamkan mata dan menghela napas dalamdalam.
"Kau serius?"
Tubuh Jacob sedikit gemetar, Matanya tetap terpejam.
"Ya,” bisikku.
Jacob menghela napas, lambat dan dalam. "Sudah
kuduga.”
Aku menatap wajahnya, menunggunya membuka mata.
"Tahukah kau apa artinya ini?" runtut Jacob tiba-tiba.
"Kau pasti memahaminya, kan? Apa yang akan terjadi bila
mereka melanggar kesepakatan?"
"Kami akan pergi lebih dulu.” kataku, suaraku nyaris
tak terdengar.
Mata Jacob mendadak terbuka, bola matanya yang
hitam sarat amarah dan sakit hati. "Tidak ada batasan
geografis dalam kesepakatan itu, Bella. Leluhur kami
menyepakati perjanjian damai itu karena keluarga Cullen
bersumpah mereka berbeda, bahwa mereka tidak berbahaya
bagi manusia. Mereka berjanji tidak akan pernah
membunuh atau mengubah siapa pun lagi. Kalau mereka
melanggar janji mereka sendiri, kesepakatan itu tidak


berarti, dan mereka tak ada bedanya dengan vampir-vampir
lain. Kalau sudah begitu, bila kami menemukan mereka...”
"Tapi, Jake, bukankah kau sendiri juga sudah melanggar
kesepakatan itu?" sergahku, mencari-cari pegangan yang
masih tersisa. "Bukankah ada bagian dalam kesepakatan itu
yang melarangmu memberitahu orang tentang vampir?
Padahal kau sudah memberitahu aku. Berarti kesepakatan
itu sudah dilanggar, kan?”
Jacob tidak suka diingatkan tentang hal itu; kepedihan di
matanya berubah menjadi sorot tidak suka. "Yeah, aku
sudah melanggar kesepakatan – jauh sebelum aku
memercayainya. Dan aku yakin mereka pasti sudah
diberitahu tentang hal itu.” Jacob memandangi dahiku
masam, tak mampu menatap sorot mataku yang malu.
"Tapi bukan berarti mereka jadi mendapat kelonggaran atau
semacamnya. Kalau tidak tahu, tentu bukan masalah.
Mereka hanya punya satu pilihan kalau tidak menyukai apa
yang telah kulakukan. Pilihan yang sama yang kami miliki
jika mereka melanggar perjanjian: menyerang. Memulai
peperangan.”
Jacob membuatnya terdengar seperti sesuatu yang tidak
bisa dihindari. Aku bergidik.
"Jake, kan tidak harus seperti itu.”
Jacob mengertakkan giginya. "Memang harus seperti
itu.”
Kesunyian yang menyusul setelah pernyataannya tadi,
bergaung begitu keras,
"Apakah kau takkan pernah memaafkanku, Jacob?"
bisikku.


Begitu mengucapkan kata-kata itu, aku langsung
berharap tak pernah mengatakannya. Aku tak ingin
mendengar jawabannya.
"Kau tidak akan menjadi Bella lagi.” Jacob menjawab
pertanyaanku. "Temanku tidak akan ada lagi. Tak ada
seorang pun yang bisa kumaafkan.”
"Berarti jawabannya tidak,” bisikku. Kami bertatapan
lama sekali. "Kalau begitu ini perpisahan, Jake?"
Jake _mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat,
ekspresi garangnya berubah menjadi terkejut. "Kenapa?
Kita toh masih punya waktu beberapa tahun. Apakah kita
tidak bisa berteman sampai tiba waktunya nanti?"
"Beberapa tahun? Tidak, Jake, bukan beberapa tahun.”
Aku menggeleng dan tertawa garing. "Lebih tepatnya
beberapa minggu.”
Aku sama sekali tidak mengira reaksi Jacob akan begitu
hebat.
Jake tiba-tiba berdiri, dan terdengar bunyi kaleng soda
meledak di tangannya. Sodanya berhamburan ke manamana,
membasahi tubuhku, seperti air disemprotkan dari
slang.
"Jake!" Aku sudah hendak memprotes, tapi langsung
bungkam begitu menyadari sekujur tubuh Jake bergetar
karena amarah. Ia memelototiku dengan garang, suara
geraman menyeruak dari dadanya.
Aku terpaku di tempat, terlalu syok untuk ingat
bagaimana caranya bergerak.
Getaran itu mengguncang-guncang tubuhnya, semakin
lama semakin cepat, sampai Jake terlihat seperti bergetar
hebat. Sosoknya mengabur...


Kemudian Jacob mengertakkan gigi kuat-kuat, dan
geraman itu berhenti. Ia memejamkan mata rapat-rapat
untuk berkonsentrasi; getaran itu melambat hingga akhirnya
tinggal tangannya yang bergoyang-goyang.
"Beberapa minggu.” kata Jacob, nadanya monoton dan
datar.
Aku tak mampu menyahut; tubuhku masih membeku.
Jacob membuka mata. Sorot matanya lebih dari sekadar
marah.
"Dia akan mengubahmu menjadi pengisap darah kotor
hanya dalam hitungan minggu!" desis Jacob dari sela-sela
giginya.
Terlalu terperangah untuk merasa tersinggung oleh katakatanya
barusan, aku hanya mampu mengangguk tanpa
suara.
Wajah Jacob berubah hijau di balik kulitnya yang cokelat
kemerahan.
"Tentu saja, Jake,” bisikku setelah terdiam selama
semenit yang terasa sangat lama. "Dia tujuh betas tahun,
Jacob. Sedangkan aku semakin hari semakin mendekati
sembilan belas. Lagi pula, apa gunanya menunggu? Hanya
dia yang kuinginkan. Apa lagi yang bisa kulakukan?"
Pertanyaan terakhir itu kumaksudkan sebagai pertanyaan
retoris.
Kata-kata itu melesat keluar dari mulut Jacob bagaikan
lecutan cambuk. "Banyak. Masih banyak hal lain yang bisa
kaulakukan. Lebih baik kau mati saja. Aku lebih suka kalau
kau mati."
Aku tersentak seperti ditampar. Sakitnya melebihi bila ia
benar-benar menamparku.


Kemudian, saat kepedihan itu menyeruak di dalam
hariku, amarahku sendiri meledak menjadi kobaran api,
"Mungkin kau akan beruntung," tukasku muram, tibatiba
bangkit berdiri. "Mungkin aku akan ditabrak truk
dalam perjalanan pulang nanti.”
Kusambar motorku dan kudorong menembus hujan.
Jacob tak bergerak waktu aku melewatinya. Begitu sampai
di jalan yang kecil dan berlumpur, aku menaikinya dan
mengengkol pedalnya dengan kasar hingga mesinnya
meraung menyala. Roda belakang menyemburkan lumpur
ke arah garasi, dan aku berharap mudah-mudahan lumpur
itu mengenai Jacob.
Tubuhku benar-benar basah kuyup saat aku melaju
melintasi jalan raya yang licin menuju rumah keluarga
Cullen. Angin bagai membekukan hujan di kulitku, dan
belum sampai setengah jalan, gigiku sudah bergemeletuk
kedinginan.
Sepeda motor benar-benar tidak praktis digunakan di
Washington. Akan kujual benda tolol ini pada kesempatan
pertama nanti.
Kudorong motor itu memasuki garasi rumah keluarga
Cullen yang luas dan tidak kaget melihat Alice
menungguku, bertengger di kap mesin Porsche-nya.
Tangannya mengelus-elus catnya yang kuning mengilap.
"Aku bahkan belum sempat mengendarainya.” Alice
mendesah.
"Maaf," semburku dari sela-sela gigiku yang gemeletuk.
"Kelihatannya kau perlu mandi air panas.” kata Alice,
nadanya sambil lalu, sambil melompat turun dengan lincah.
"Yep.”


Alice mengerucutkan bibir, mengamati ekspresiku
dengan hati-hati. "Kau mau membicarakannya?"
"Tidak.”
Alice mengangguk, tapi matanya dipenuhi rasa ingin
tahu.
"Mau pergi ke Olympia nanti malam?"
"Tidak juga. Aku belum boleh pulang?"
Alice meringis.
"Sudahlah, tidak apa-apa, Alice.” karaku. "Aku akan
tetap di sini supaya tidak menyusahkanmu.”
"Trims.” Alice mengembuskan napas lega.
Aku tidur lebih cepat malam itu, meringkuk lagi di sofa.
Hari masih gelap waktu aku terbangun. Aku merasa
linglung, tapi aku tahu hari masih belum pagi. Dengan mata
terpejam aku meregangkan otot-otot, dan berguling ke
samping. Sedetik kemudian baru aku sadar gerakan itu
seharusnya membuatku terjatuh ke lantai. Dan rasanya aku
terlalu nyaman.
Aku berguling telentang, berusaha melihat. Malam lebih
gelap daripada kemarin-awan-awan terlalu tebal hingga
cahaya bulan tak mampu menembusnya,
"Maaf',' Bisikannya begitu lembut hingga suaranya
merupakan bagian dari kegelapan. "Aku tidak bermaksud
membangunkanmu.”
Aku mengejang, menunggu amarah itu datang-baik
amarahku maupun amarahnya-tapi suasana begitu tenang
dan damai dalam kegelapan kamarnya. Aku nyaris bisa
merasakan manisnya reuni ini menggelantung di udara,
keharuman yang berbeda dari aroma napasnya; kekosongan
ketika kami berpisah meninggalkan jejak kepahitan


tersendiri, sesuatu yang tidak kusadari sampai kepahitan itu
lenyap.
Tidak ada friksi di antara kami, Keheningan itu begitu
damai-tidak seperti ketenangan yang terjadi sebelum badai,
tapi seperti malam jernih yang tak tersentuh bahkan oleh
mimpi akan terjadinya badai.
Dan aku tak peduli bahwa seharusnya aku marah kepada
Edward. Aku tidak peduli seharusnya aku marah kepada
semua orang. Aku malah mengulurkan tangan, menemukan
tangannya dalam gelap, dan menarik tubuhku lebih dekat
lagi padanya. Kedua lengan Edward melingkari tubuhku,
mendekapku di dadanya. Bibirku mencari-cari, menjelajahi
daerah sekitar kerongkongannya, ke dagunya, sampai aku
akhirnya menemukan bibirnya.
Edward menciumku lembut sesaat, kemudian terkekeh.
"Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima
amukan yang mengalahkan keganasan beruang, tapi malah
ini yang kudapat? Seharusnya aku lebih sering membuatmu
marah.”
"Beri aku satu menit untuk bersiap-siap.” godaku,
menciumnya lagi.
"Akan kutunggu selama yang kau mau.” bisik Edward
di bibirku. jari-jarinya menyusup ke dalam rambutku.
Napasku mulai memburu. "Mungkin besok pagi.”
"Terserah kau saja.”
"Selamat datang kembali.” kataku saat bibir dingin
Edward menempel di bawah daguku. "Aku senang kau
sudah pulang.”
"Wah, menyenangkan sekali.”


"Mmm.” aku sependapat, mempererat lenganku di
lehernya.
Tangan Edward melingkari sikuku, bergerak lambat
menuruni lengan, melintasi rusuk dan terus ke pinggang,
menyusuri pinggul dan turun ke kaki, memeluk lutut. Ia
berhenti di sana, tangannya melingkari tungkaiku.
Aku berhenti bernapas. Biasanya ia tidak mengizinkan
ini terjadi. Walaupun tangannya dingin, mendadak aku
merasa hangat. Bibirnya bergerak di lekukan di pangkal
tenggorokanku.
"Bukan bermaksud membangkitkan amarah lebih cepat.”
bisik Edward, "tapi apa kau keberatan memberitahuku apa
yang tidak kausukai dari tempat tidur ini?"
Sebelum aku sempat menjawab, bahkan sebelum aku
sempat berkonsentrasi untuk mencerna kata-katanya,
Edward berguling ke samping. Ia merengkuh wajahku
dengan kedua tangan, menelengkannya sedemikian rupa
agar bibirnya bisa menjangkau leherku. Desah napasku
terlalu keras-agak memalukan sebenarnya, tapi aku tidak
sempat lagi merasa malu.
"Tempat tidur?' tanya Edward lagi. "Menurutku tempat
tidurnya bagus.”
"Sebenarnya ini tidak perlu.” akhirnya aku bisa
menjawab. Edward kembali menarik wajahku ke wajahnya,
dan bibirku menempel di bibirnya. Aku bisa merasakan
tubuhnya yang sedingin marmer menempel di tubuhku.
Jantungku bertalu-talu begitu keras hingga aku sulit
mendengar tawa pelannya.
"Itu masih bisa diperdebatkan.” Edward tidak
sependapat, "Ini pasti sulit dilakukan di sofa.”


Sedingin es, lidahnya menjelajahi lekuk bibirku dengan
lembut.
Kepalaku berputar cepat-napasku memburu, pendekpendek.
"Memangnya kau berubah pikiran?" tanyaku dengan
napas terengah-engah. Mungkin ia sudah berpikir ulang
tentang semua aturan yang ditetapkannya sendiri. Mungkin
ada makna signifikan lain di balik tempat tidur ini daripada
yang kuduga pada awalnya. Jantungku memukul-mukul
dadaku hingga nyaris membuatku kesakitan sementara aku
menunggu jawabannya.
Edward mendesah, berguling telentang hingga kami
kembali berbaring berdampingan.
"Jangan konyol, Bella,” tukasnya, kentara sekali ada
nada menegur dalam suaranya-jelas, ia mengerti maksudku.
“Aku hanya berusaha menggambarkan keuntungan
memiliki tempat tidur yang sepertinya tidak kausukai.
Jangan terbawa suasana.”
"Terlambat.” gerutuku. "Dan aku suka tempat
tidurnya.” aku menambahkan.
"Bagus.” Aku bisa mendengar secercah senyum dalam
suaranya saat ia mengecup keningku. "Aku juga suka.”
"Tapi aku tetap menganggapnya tidak perlu.”
sambungku.
"Kalau kita tidak mau terbawa suasana, lalu apa
gunanya?”
Lagi-lagi Edward mendesah. "Untuk keseratus kalinya,
Bella-itu terlalu berbahaya.”
"Aku suka yang berbahaya-bahaya,” tukasku.


"Aku tahu.” Nadanya terdengar sedikit pahit, dan aku
sadar Edward pasti sudah melihat sepeda motor di garasi.
"Akan kuberitahu apa yang berbahaya.” sergahku buruburu,
sebelum Edward sempat beralih ke topik diskusi baru.
"Suatu saat nanti, aku akan 'terbakar' secara spontan-dan
kau tidak bisa menyalahkan orang lain kecuali dirimu
sendiri.”
Edward bergerak untuk mendorongku jauh-jauh.
"Apa-apaan sih kau?" protesku, tetap menggelayutinya.
"Melindungimu dari kemungkinan terbakar. Kalau ini
terlalu berlebihan untukmu.”
"Aku bisa mengatasinya,” tukasku.
Edward membiarkan aku menyusup kembali dalam
pelukannya.
"Maaf kalau aku memberimu kesan yang salah.” kata
Edward. "Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Itu
bukan perbuatan yang baik.”
"Sebenarnya, itu amat, sangat baik.”
Edward menghela napas dalam-dalam. "Apa kau tidak
capek? Seharusnya aku membiarkanmu tidur.”
"Tidak, aku tidak capek, Aku tidak keberatan kalau kau
ingin memberiku kesan yang keliru lagi.”
"Mungkin itu bukan ide bagus. Bukan kau satu-satunya
yang bisa terbawa suasana.”
"Ah, siapa bilang,” gerutuku
Edward terkekeh. "Kau kan tidak tahu, Bella. Parahnya
lagi, kau begitu bersemangat meruntuhkan pengendalian
diriku.”


"Aku tidak mau meminta maaf untuk hal itu.”
"Bolehkah aku meminta maaf?'
"Untuk apa?"
"Kau marah padaku, ingat?”
"Oh, itu.”
"Maafkan aku. Aku memang salah. Lebih mudah
berpikir jernih kalau kau aman di sini bersamaku.”
Lengannya merangkulku lebih erat. "Aku jadi sedikit sinting
bila harus meninggalkanmu. Kurasa aku tidak akan pergi
jauh-jauh lagi. Tidak sebanding dengan pengorbanannya.”
Aku tersenyum. "Memangnya kau tidak berhasil
menangkap singa gunung""
"Berhasil. Tapi tetap saja, itu tidak sebanding dengan
kegelisahan yang kurasakan. Maafkan aku karena meminta
Alice menyanderamu. Itu bukan ide bagus.”
"Memang.” aku sependapat.
"Aku tidak akan melakukannya lagi.”
"Oke.” sahutku enteng. Aku sudah memaafkan Edward.
"Tapi ada enaknya juga kok pesta semalam suntuk...”
Aku meringkuk lebih dekat padanya, menempelkan
bibirku ke lekukan di tulang selangkanya "Kau bisa
menyanderaku kapan saja kau mau.”
"Mmm.” Edward mendesah. "Siapa tahu aku akan
menerima tawaranmu itu.”
"Jadi sekarang giliranku?”
"Giliranmu?” suara Edward terdengar bingung.
"Meminta maaf"


"Kau mau meminta maaf untuk apa?"
"Memangnya kau tidak marah padaku?" tanyaku
bingung.
"Tidak.”
Kedengarannya Edward sungguh-sungguh.
Aku merasa alisku bertaut, "Memangnya kau belum
bertemu Alice waktu kau sampai di rumah tadi?"
"Sudah-kenapa?”
"Kau akan mengambil lagi Porsche-nya?"
"Tentu saja tidak. Itu kan hadiah.”
Kalau saja aku bisa melihat ekspresi Edward. Nadanya
mengisyaratkan seolah-olah aku menghinanya.
"Memangnya kau tidak ingin tahu apa yang kulakukan?"
tanyaku, mulai bingung melihat sikap Edward yang seolah
tidak peduli.
Aku merasa ia mengangkat bahu. "Aku selalu tertarik
pada semua yang kaulakukan, tapi kau tak perlu
memberitahuku apa-apa. kecuali kau memang ingin.”
"Tapi aku pergi ke La Push.”
"Aku tahu.”
"Dan aku bolos sekolah.”
"Aku juga.”
Aku memandang ke arah suaranya, menelusuri
garis,garis wajahnya dengan jari-jariku, berusaha
memahami suasana hatinya. "Dari mana asalnya semua
toleransi ini?" tuntutku.
Edward mendesah.


"Kuputuskan bahwa kau benar. Masalahku sebenarnya
lebih berupa... prasangka terhadap werewolf daripada yang
lain. Aku akan berusaha bersikap lebih bijaksana dan
memercayai penilaianmu. Kalau menurutmu aman, aku
akan percaya padamu.”
“Wow.”
"Dan... yang paling penting... aku tidak akan
membiarkan masalah ini merusak hubungan kita.”
Aku membaringkan kepalaku di dadanya dan
memejamkan mata, senang sekali.
"Jadi,” kata Edward dengan nada biasa-biasa saja. "Ada
rencana untuk kembali ke La Push dalam waktu dekat?"
Aku tidak menjawab. Pertanyaan Edward membawa
ingatanku kembali ke kata-kata Jacob, dan kerongkonganku
mendadak tercekat.
Edward salah membaca sikap diamku serta tubuhku
yang tiba-tiba menegang.
"Supaya aku bisa membuat rencana juga,” Edward buruburu
menjelaskan. "Aku tidak mau kau merasa harus buruburu
kembali hanya karena aku menunggumu di sini.”
"Tidak,” kataku, suaraku terdengar aneh di telingaku
sendiri. "Aku tidak punya rencana untuk kembali ke sana.”
"Oh. Kau tidak perlu melakukannya untukku.”
"Kurasa aku tidak diterima lagi di sana,” bisikku.
"Memangnya kau melindas kucing penduduk di La
Push?" tanya Edward ringan. Aku tahu ia tak ingin
memaksaku bercerita, tapi aku bisa mendengar nada ingin
tahu di balik kata-katanya.


"Tidak" Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian
menjelaskan dengan bergumam cepat. "Kurasa Jacob pasti
sudah tahu... jadi aku tidak mengira dia akan terkejut.”
Edward menunggu sementara aku ragu-ragu.
"Dia tidak mengira... bahwa akan secepat itu.”
"Ah,” ucap Edward pelan.
"Katanya dia lebih suka melihatku mati.” Suaraku
bergetar saat mengucapkan kata terakhir,
Sesaat Edward diam tak bergerak, berusaha
mengendalikan entah reaksi apa yang ia tidak ingin aku
melihatnya.
Lalu ia memelukku erat-erat dengan lembut ke dadanya.
"Aku ikut sedih.”
"Kusangka kau akan senang mendengarnya.” bisikku.
"Masa aku senang bila itu menyakiti hatimu?" bisik
Edward ke rambutku. "Kurasa tidak, Bella.”
Aku mengembuskan napas dan tubuhku merileks,
kutempelkan tubuhku dengan tepat ke tubuhnya. Tapi
Edward bergeming, tegang.
"Ada apa?” tanyaku.
"Tidak ada apa-apa.”
"Kau bisa menceritakannya padaku.”
Edward terdiam sejenak. "Mungkin itu akan
membuatmu marah."
"Aku tetap ingin tahu.”
Edward mendesah. "Aku bisa benar-benar
membunuhnya karena berkata begitu padamu. Aku ingin
sekali.”


Aku tertawa setengah hati. "Untung kau pandai
menguasai diri.”
"Bisa saja aku lepas kendali.” Nadanya melamun.
"Kalau kau mau lepas kendali, ada tempat yang lebih
baik untuk melakukannya.” Aku merengkuh wajahnya,
berusaha mengangkat tubuhku untuk menciumnya. Lengan
Edward memelukku lebih erat, menahanku.
Ia mendesah. "Haruskah selalu aku yang menjadi pihak
yang bertanggung jawab di sini?"
Aku nyengir dalam gelap. "Tidak. Biarkan aku menjadi
pihak yang bertanggung jawab selama beberapa menit.. atau
beberapa jam.”
"Selamat malam, Bella
"Tunggu-ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu.”
"Apa itu?"
"Semalam aku ngobrol dengan Rosalie...”
Lagi-lagi tubuh Edward mengejang. "Ya. Dia sedang
memikirkan hal itu waktu aku datang tadi. Dia membuatmu
mempertimbangkan banyak hal, ya?"
Suaranya cemas, dan aku sadar Edward mengira aku
ingin berbicara tentang alasan-alasan yang diberikan
Rosalie padaku agar terap menjadi manusia. Tapi aku
tertarik pada hal lain yang lebih mendesak.
"Dia bercerita sedikit... tentang saat keluarga kalian
tinggal di Denali.”
Aku diam sebentar; permulaan ini rupanya membuat
Edward terkejut. "Ya?"
"Dia bercerita tentang sekelompok vampir perempuan...
dan kau.”


Edward tidak menyahut, walaupun aku sudah menunggu
cukup lama.
"Jangan khawatir.” kataku, setelah keheningan itu
semakin tak tertahankan, "Kata Rosalie kau tidak...
menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Tapi aku hanya
penasaran apakah ada salah seorang di antara mereka yang
tertarik. Menunjukkan ketertarikan padamu, maksudku.”
Lagi-lagi Edward diam.
"Siapa?” tanyaku, berusaha agar suaraku tetap terdengar
biasa-biasa saja, meski tidak begitu berhasil. "Atau mungkin
ada lebih dari satu?"
Tidak ada jawaban. Kalau saja aku bisa melihat
wajahnya, sehingga bisa mencoba menebak apa arti
diamnya Edward.
"Alice pasti mau memberitahu.” kataku. "Akan kutanya
sekarang juga.”
Edward semakin mempererat pelukannya; aku bahkan
tidak bisa bergeser satu senti pun.
"Sudah malam.” kata Edward. Ada nada lain dalam
suaranya yang baru kali ini terdengar. Sedikit gugup,
mungkin agak malu. "Selain itu, kalau tidak salah Alice tadi
pergi...”
"Gawat.” tebakku. "Pasti gawat sekali, kan?” Aku mulai
panik, jantungku berdebar semakin cepat saat
membayangkan rival abadi cantik jelita yang tidak pernah
kusadari kehadirannya selama ini.
"Tenanglah, Bella,” kata Edward, mengecup ujung
hidungku. "Sikapmu konyol.”
"Masa? Kalau begitu, kenapa kau tidak mau bercerita
padaku?"


"Karena memang tidak ada yang perlu diceritakan. Kau
terlalu membesar-besarkan.”
"Siapa?" desakku,
Edward mendesah. "Tanya sempat menyatakan
ketertarikannya. Aku mengatakan padanya, dengan sesopan
dan se-gentleman mungkin, bahwa aku tidak bisa membalas
perhatiannya. Hanya itu.”
Aku menjaga agar suaraku terdengar sedatar mungkin.
"Jawab pertanyaanku – Tanya itu seperti apa?”
"Sama saja seperti kami – kulit putih, mata emas,”
Edward menjawab terlalu cepat.
"Dan, tentu saja, luar biasa cantik.”
Aku merasakan Edward mengangkat bahu.
"Kurasa begitu, menurut mata manusia,” kata Edward,
tak acuh. "Tapi tahukah kau?”
"Apa? Suaraku sewot.
Edward menempelkan bibirnya di telingaku; napasnya
yang dingin menggelitik. "Aku lebih suka wanita berambut
cokelat.”
"Jadi rambutnya pirang. Pantas.”
"Pirang stroberi-sama sekali bukan tipeku.”
Aku memikirkannya sebentar, berusaha berkonsentrasi
sementara bibir Edward bergerak pelan menyusuri pipiku,
terus ke tenggorokan, lalu naik lagi. Ia mengulanginya
hingga tiga kali sebelum aku bicara.
"Kurasa itu bisa diterima,” aku memutuskan.


"Hmmm.” bisikan Edward menerpa kulitku. "Kau
sangat menggemaskan kalau sedang cemburu. Ternyata
asyik juga.”
Aku merengut dalam gelap.
"Sudah malam.” kata Edward lagi, berbisik, nadanya
nyaris membujuk, lebih halus daripada sutra. "Tidurlah,
Bella-ku. Mimpilah yang indah-indah. Kau satu-satunya
yang pernah menyentuh hatiku. Cintaku selamanya
milikmu. Tidurlah, cintaku satu-satunya.”
Edward mulai menyenandungkan lagu ninaboboku, dan
aku tahu tak lama lagi aku pasti akan terlena, jadi aku
lantas memejamkan mata dan meringkuk lebih rapat lagi ke
dadanya.
9. TARGET
ALICE mengantarku pulang paginya, untuk
mempertahankan kedok pesta semalam suntuk. Tak lama
kemudian baru Edward akan datang, secara resmi kembali
dari perjalanan "hiking"-nya. Semua kepura-puraan ini
mulai membuatku muak. Aku tidak akan merindukan
bagian ini dari kehidupan manusiaku kelak.
Charlie mengintip lewat jendela depan begitu
mendengarku membanting pintu mobil. Ia melambai
kepada Alice, kemudian membukakan pintu untukku.
"Senang, tidak?" tanya Charlie.
"Tentu saja, sangat senang. Sangat... cewek.”
Aku membawa barang-barangku masuk, menjatuhkan
semuanya di kaki tangga, lalu ke dapur mencari camilan.
"Ada pesan untukmu.” seru Charlie.


Di konter dapur, notes khusus untuk menulis pesan
telepon disandarkan secara mencolok pada wajan.
Jacob menelepon, tulis Charlie.
Katanya dia tidak sungguh-sungguh dan dia minta maaf. Kau
diminta meneleponnya. Baik-baiklah dengannya, kedengarannya
dia kalut.
Aku meringis. Tidak biasanya Charlie mengedit pesanpesanku.
Masa bodoh kalau Jacob kalut. Aku tidak ingin bicara
dengannya. Terakhir kali kudengar, mereka tidak
mengizinkan telepon dari pihak lawan. Kalau Jacob lebih
suka aku mati, mungkin sebaiknya ia membiasakan diri aku
tak ada.
Selera makanku hilang. Aku berbalik dan pergi untuk
menyimpan barang-barangku.
"Kau tidak akan menelepon Jacob?" tanya Charlie. Ia
bersandar di dinding ruang tamu, mengawasiku mengambil
barang-barang.
"Tidak.”
Aku mulai melangkah menaiki tangga.
"Itu bukan sikap yang baik, Bella,” tegur Charlie.
"Memaafkan itu perintah Tuhan.”
"Urus saja urusanmu sendiri.” gerutuku pelan, saking
pelannya hingga pasti tidak terdengar Charlie,
Aku tahu cucian pasti menumpuk, jadi setelah
menyimpan pasta gigi dan melempar baju-baju kotorku ke
keranjang cucian kotor, aku pergi ke kamar Charlie untuk
melepas seprai. Kutaruh seprainya di onggokan dekat
puncak tangga, lalu pergi untuk melepas sepraiku sendiri,


Aku berhenti sebentar di samping tempat tidur,
menelengkan kepala ke satu sisi.
Mana bantalku? Aku berjalan berkeliling, menyapukan
pandangan ke seisi kamar. Tidak ada bantal. Aneh,
kamarku terkesan sangat rapi. Bukankah kemarin ada kaus
abu-abu disampirkan di tiang ranjang bagian bawah? Dan
berani sumpah, seingatku ada kaus kaki kotor di sandaran
kursi goyang, juga blus merah yang kujajal dua hari lalu,
tapi tidak jadi kupakai karena kuanggap terlalu resmi untuk
dipakai ke sekolah, tersampir di lengan kursi goyang...
Dengan cepat aku berbalik lagi. Keranjang cucianku tidak
kosong, tapi isinya juga tidak menggunung, seperti
perkiraanku tadi.
Apakah Charlie mencuci pakaianku? Tidak biasanya ia
berbuat begitu.
"Dad, kemarin Dad mencuci, ya?” teriakku dari ambang
pintu.
"Ehm, tidak.” Charlie balas berteriak, terdengar
bersalah. "Kau mau aku mencuci?"
"Tidak, aku saja. Kemarin Dad masuk ke kamarku untuk
mencari sesuatu?"
"Tidak. Kenapa?"
"Mmm... blusku ada yang hilang.”
“Aku tidak masuk ke sana.”
Kemudian aku ingat Alice datang ke sini untuk
mengambil piamaku. Aku tidak sadar ia juga meminjam
bantalku-mungkin karena selama di sana aku menolak tidur
di tempat tidur. Kelihatannya ia sekalian berbenah,
mumpung sedang di sini. Aku jadi malu karena kamarku
begitu berantakan.


Tapi blus merah itu sebenarnya belum kotor, jadi aku
beranjak ke keranjang cucian untuk mengambilnya lagi.
Aku mengira akan menemukan blus itu di tumpukan
paling atas, tapi ternyata tidak ada. Aku tahu mungkin aku
mulai paranoid, tapi sepertinya ada barang lain yang hilang,
atau mungkin lebih dari satu barang. Soalnya pakaian kotor
yang ada di sini sedikit sekali.
Kurenggut seprai dari tempat tidur lalu bergegas menuju
ruang cuci, menyambar pakaian kotor Charlie dalam
perjalanan ke sana. Mesin cuci juga kosong. Aku juga
mengecek mesin pengering, separuh berharap bakal
menemukan pakaian yang sudah dicuci di sana, setelah
Alice mencucinya. Nihil. Aku mengerutkan kening,
bingung.
"Sudah ketemu yang dicari?' teriak Charlie.
"Belum.”
Aku kembali ke lantai atas untuk mencari di kolong
tempat tidur. Tidak ada apa-apa kecuali sandal kamar. Aku
mulai mengaduk-aduk laci lemari. Mungkin aku lupa telah
menyimpan blus merah itu.
Aku menyerah ketika bel pintu berbunyi. Itu pasti
Edward.
"Pintu,” seru Charlie dari sofa waktu aku melesat
melewatinya.
"Jangan sewot begitu, Dad.”
Kubuka pintu depan dengan senyum lebar tersungging di
wajah.
Mata emas Edward membelalak lebar, cuping hidungnya
kembang-kempis, mulutnya menyeringai, menampakkan
giginya.


"Edward?" Suaraku tajam karena syok begitu membaca
ekspresinya. “Apa-?”
Edward meletakkan telunjuknya ke bibirku. "Beri aku
waktu dua detik.” bisiknya. “Jangan bergerak.”
Aku berdiri terpaku di ambang pintu dan Edward...
menghilang. Ia bergerak begitu cepat hingga Charlie takkan
mungkin melihatnya lewat.
Belum sempat pulih dari kekagetanku untuk menghitung
sampai dua, Edward sudah kembali. Ia memeluk
pinggangku dan menarikku dengan gesit ke dapur. Matanya
menyapu cepat seisi ruangan, dan ia merapatkan tubuhku
ke tubuhnya seolah-olah melindungiku dari sesuatu. Aku
melirik Charlie yang duduk di sofa, tapi ayahku sengaja
mengabaikan kami.
"Barusan ada yang datang ke sini.” bisik Edward di
telingaku setelah menarikku ke ujung dapur. Nadanya
tegang; sulit mendengarnya di tengah berisiknya suara
mesin cuci.
"Berani sumpah, tidak ada werewolf...” kataku.
"Bukan mereka,” Edward buru-buru menyela,
menggelengkan kepala. "Salah seorang dari kami."
Dari nadanya kentara sekali yang ia maksud bukanlah
salah seorang anggota keluarganya.
Aku merasa darah surut dari wajahku, "Victoria?"
tanyaku, suaraku tercekat.
"Aku tidak mengenali baunya.”
"Salah seorang keluarga Volturi,” aku menduga.
"Mungkin.”
"Kapan?"


"Itulah sebabnya menurutku ini salah seorang dari
mereka-karena kejadiannya belum lama, pagi-pagi sekali,
waktu Charlie masih tidur. Dan siapa pun itu, dia tidak
menyentuh Charlie, jadi pasti ada tujuan lain.”
"Mencariku.”
Edward tidak menyahut. Tubuhnya membeku, seperti
patung.
"Kenapa kalian bisik-bisik begitu?" tanya Charlie curiga,
mendadak muncul dengan membawa mangkuk popcorn
yang sudah kosong.
Aku merasa mual. Ada vampir datang ke rumah
mencariku saat Charlie sedang tidur. Panik melandaku,
membuat kerongkonganku bagai tercekik. Aku tak mampu
menjawab, hanya memandangi Charlie dengan sangat
ketakutan.
Ekspresi Charlie berubah. Mendadak ia nyengir. "Kalau
kalian sedang bertengkar... well, aku tidak mau
mengganggu.”
Masih nyengir, Charlie meletakkan mangkuknya di bak
cuci, lalu melenggang keluar ruangan.
"Ayo kira pergi.” ajak Edward dengan suara pelan yang
kaku.
"Tapi Charlie!" Perasaan takut itu meremas dadaku,
membuatku sulit bernapas,
Edward menimbang-nimbang sejenak, dan sejurus
kemudian tangannya sudah memegang ponsel.
"Emmett,” gumam Edward di corong telepon. Ia mulai
berbicara cepat sekali hingga aku tidak memahami katakatanya.
Pembicaraan selesai dalam setengah menir. Lalu ia
kembali menarikku ke pintu.


"Emmett dan Jasper sedang dalam perjalanan ke sini,”
bisiknya saat merasakan penolakanku, "Mereka akan
menyisir hutan. Charlie aman.”
Lalu kubiarkan Edward menyeretku, terlalu panik untuk
bisa berpikir jernih. Charlie masih memandangku dengan
cengiran puas, namun ketika ia melihat mataku yang
memancarkan sorot ketakutan, tatapannya serta-merta
berubah jadi bingung. Edward sudah berhasil menyeretku
ke luar pintu sebelum Charlie sempat mengatakan apa-apa.
"Kita mau ke mana?" Aku masih terus berbisik-bisik,
bahkan setelah kami berada di mobil.
"Kita akan bicara dengan Alice,” kata Edward,
volumenya normal tapi nadanya muram.
"Menurutmu mungkin dia melihat sesuatu?"
Edward memandang lurus ke jalan dengan mata
menyipit. "Mungkin.”
Mereka menunggu kami, karena sudah diperingatkan
Edward melalui telepon. Rasanya seperti berjalan
memasuki museum, semua berdiri diam seperti patung
dalam berbagai variasi pose stres.
"Apa yang terjadi?” tuntut Edward begitu kami masuk
melewati pintu. Aku syok melihatnya memelototi Alice,
kedua tangan terkepal marah.
Alice berdiri dengan kedua lengan terlipat erat di dada.
Hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak. "Aku sama sekali
tidak tahu. Aku tidak melihat apa-apa.”
"Bagaimana hisat' desis Edward.
"Edward,” sergahku, menegurnya secara halus, Aku
tidak suka ia berbicara sekasar itu pada Alice.


Carlisle menyela dengan nada menenangkan. "Ini bukan
ilmu pasti, Edward.”
"Orang itu masuk ke kamarnya, Alice. Bisa saja dia ada
di sana-menunggu Bella.”
"Aku pasti akan melihatnya.”
Edward melontarkan kedua tangannya dengan sikap
putus asa. "Betulkah? Kau yakin?"
Suara Alice dingin waktu menjawab. "Kau sudah
menyuruhku berjaga-jaga, melihat kalau-kalau keluarga
Volturi sudah mengambil keputusan, melihat apakah
Victoria kembali, mengawasi setiap langkah Bella. Mau
menambahkan tugas lain? Apakah aku juga harus
mengawasi Charlie, atau kamar Bella, atau rumahnya, atau
seantero jalannya sekalian? Edward, kalau terlalu banyak
yang harus kulakukan. selalu ada kemungkinan ada yang
luput dari perhatian.”
"Kelihatannya memang sudah ada yang luput dari
perhatian,” bentak Edward.
"Keselamatan Bella tidak pernah terancam. Tidak ada
yang perlu dilihat.” .
"Kalau kau memang mengawasi Italia, kenapa kau tidak
melihat mereka mengirim...”
"Kurasa pelakunya bukan orang suruhan mereka.”
bantah Alice bersikeras. "Kalau suruhan mereka, aku pasti
bisa melihatnya.”
"Siapa lagi yang akan membiarkan Charlie hidup?" Aku
bergidik.
"Entahlah,” jawab Alice.
"Membantu sekali.”


"Hentikan, Edward,” bisikku.
Edward berpaling padaku, wajahnya masih terlihat
garang, rahangnya terkatup rapat. Ia menatapku galak
selama setengah detik, kemudian, tiba-tiba, mengembuskan
napas. Matanya membelalak dan rahangnya mengendur.
"Kau benar, Bella. Maafkan aku.” Dipandanginya Alice.
"Maafkan aku, Alice. Seharusnya aku tidak
melampiaskannya padamu. Ini sungguh keterlaluan.”
"Aku mengerti.” Alice meyakinkan Edward. "Aku juga
bingung memikirkannya."
Edward menarik napas dalam-dalam. "Oke, mari kita
telaah dengan pikiran logis. Apa saja kemungkinannya?"
Seketika itu juga ketegangan yang dirasakan semua
orang tampak mencair. Alice rileks dan bersandar ke
punggung sofa. Carlisle berjalan pelan-pelan menghampiri
Alice, matanya menerawang jauh. Esme duduk di sofa di
depan Alice, melipat kakinya ke kursi. Hanya Rosalie yang
tetap tak bergerak, berdiri memunggungi kami, memandang
ke dinding kaca.
Edward mendudukkan aku di sofa dan aku duduk di
sebelah Esme, yang mengubah posisi dan merangkul
bahuku. Edward menggenggam sebelah tanganku erat-erat
dengan kedua tangan.
"Victoria?" tanya Carlisle.
Edward menggeleng. "Bukan, Aku tidak mengenali
baunya. Mungkin salah seorang anak buah Volturi, yang
belum pernah kutemui.”
Alice menggeleng. “Aro belum menyuruh siapa pun
mencari Bella. Aku pasti akan melihatnya. Aku sedang
menunggu hal itu.”


Edward tersentak. "Kau mengawasi datangnya perintah
resmi.”
"Jadi menurutmu ada yang bertindak sendiri? Kenapa?"
"Ide Cains,” duga Edward, wajahnya kembali
menegang.
"Atau Jane .. ,” kata Alice. "Mereka sama-sama memiliki
kemampuan untuk mengirimkan vampir yang tidak
dikenal."
Edward memberengut. "Dan sama-sama punya
motivasi"
"Tapi itu tidak masuk akal,” tukas Esme. "Siapa pun itu,
kalau dia bermaksud menunggu Bella, Alice pasti akan
melihatnya. Dia tidak bermaksud mencelakakan Bella.
Atau Charlie, dalam hal ini.”
Aku mengkeret mendengar nama ayahku disebut.
"Tenanglah, Bella,” bisik Esme, mengelus-elus
rambutku.
"Tapi apa tujuannya, kalau begitu?" Carlisle merenung.
"Mengecek apakah aku masih manusia?" aku menduga.
"Mungkin,” Carlisle membenarkan.
Rosalie mengembuskan napas, cukup keras untuk
terdengar olehku. Ia sudah mencair dari kebekuannya, dan
wajahnya kini berpaling ke dapur dengan sikap penuh
harap. Edward, di lain pihak, terlihat kecewa.
Emmett menerjang masuk melalui pintu dapur, Jasper
tepat di belakangnya.
"Sudah pergi, berjam-jam yang lalu.” Emmett
mengumumkan, kecewa. "Jejaknya mengarah ke Timur,


kemudian selatan, dan menghilang ke jalan kecil. Ada
mobil yang menunggu di sana.”
"Sial,” gerutu Edward. "Padahal kalau dia pergi ke
barat... well, akhirnya anjing-anjing itu akan berguna.”
Aku meringis, dan Esme mengusap bahuku.
Jasper menatap Carlisle. "Kami tidak mengenalinya.
Tapi ini.” Jasper mengulurkan sesuatu yang berwarna hijau
dan kisut. Carlisle menerimanya dan mendekatkan benda
itu ke wajahnya. Kulihat, saat benda itu berpindah tangan,
ternyata itu ranting pakis yang patah. "Mungkin kau
mengenali baunya.”
"Tidak.” jawab Carlisle. "Tidak kenal. Bukan seseorang
yang pernah bertemu denganku."
"Mungkin kita semua salah duga. Mungkin ini hanya
kebetulan... ,” Esme mulai menyampaikan pemikirannya,
tapi terhenti saat melihat semua mata memandangnya
dengan sorot tak percaya. "Maksudku, bukan kebetulan ada
orang asing memilih datang ke rumah Bella secara acak.
Maksudku, mungkin saja orang itu hanya ingin tahu. Bau
kita menempel kuat di tubuh Bella. Mungkinkah dia
penasaran apa yang menarik kita ke sana?"
"Kalau begitu, kenapa dia tidak langsung datang ke sini?
Kalau dia memang hanya ingin tahu?" tuntut Emmett.
"Kalau kau pasti akan berbuat begitu,” kata Esme
dengan senyum sayang yang tiba-tiba merekah. "Tapi
vampir lain belum tentu melakukan hal yang sama.
Keluarga kira sangat besar-bisa jadi dia takut. Tapi Charlie
tidak diapa-apakan. Jadi belum tentu dia musuh.”
Hanya penasaran. Seperti James dan Victoria dulu juga
penasaran, pada awalnya? Membayangkan Victoria saja
sudah membuatku gemetar, walaupun satu hal yang sangat


mereka yakini adalah, tamu tak diundang ini bukan
Victoria. Kali ini bukan. Victoria akan tetap pada pola
obsesifnya. Ini pasti vampir lain, vampir asing.
Pelan tapi pasti, aku akhirnya menyadari jumlah vampir
di dunia ini ternyata lebih banyak daripada yang awalnya
kukira. Seberapa sering sebenarnya manusia berpapasan
dengan mereka, tapi tidak menyadarinya? Berapa banyak
kematian, yang dilaporkan sebagai korban kejahatan dan
kecelakaan, yang sebenarnya diakibatkan para vampir
kehausan? Sesesak apa sebenarnya dunia baru ini nanti saat
aku akhirnya bergabung?
Masa depan yang masih terbungkus rapat itu membuat
sekujur tubuhku bergidik.
Keluarga Cullen memikirkan perkataan Esme barusan
dengan ekspresi berbeda-beda. Kentara sekali Edward tidak
menerima teori itu, sementara Carlisle sangat ingin
menerimanya.
Alice mengerucutkan bibir, "Menurutku tidak begitu.
Waktunya terlalu tepat... Tamu tak diundang itu sangat
berhati-hati untuk tidak melakukan kontak. Seolah-olah dia
tahu kalau dia menyentuh sesuatu, aku akan melihatnya.”
"Mungkin dia punya alasan lain untuk tidak menyentuh
sesuatu.” Esme mengingatkan Alice.
"Apakah penting mengetahui siapa tamu tak diundang
itu?" tanyaku. "Yang jelas, memang ada yang mencariku...
apakah itu bukan alasan yang cukup kuat? Sebaiknya kita
tidak menunggu sampai kelulusan.”
"Tidak, Bella,” sergah Edward cepat. "Masalahnya tidak
segawat itu. Kalau kau benar-benar dalam bahaya, kami
pasti akan tahu.”


"Pikirkan Charlie,” Carlisle mengingatkanku. "Pikirkan
betapa sedihnya dia kalau kau tiba-tiba menghilang.”
"Aku justru memikirkan Charlie! Justru karena aku
mengkhawatirkan dia! Bagaimana kalau tamu tak diundang
itu kebetulan haus semalam? Selama aku berada di dekat
Charlie, dia juga akan menjadi target. Kalau terjadi apa-apa
padanya, itu semua salahku!"
"Itu tidak benar, Bella,” kata Esme, menepuk-nepuk
kepalaku. "Dan Charlie akan baik-baik saja. Kita hanya
harus lebih berhati-hati.”
"Lebih berhati-hati," ulangku dengan nada tidak percaya.
"Semua pasti beres, Bella,” janji Alice; Edward meremas
tanganku.
Dan jelaslah bagiku, saat melihat wajah-wajah rupawan
mereka satu demi satu, bahwa apa pun yang kukatakan,
takkan bisa mengubah pendirian mereka.
Dalam perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Aku
frustrasi. Meski sudah menyampaikan alasan yang
kedengarannya masuk akal, aku masih tetap manusia.
"Kau tidak akan sendirian sedetik pun.” Edward berjanji
saat mengantarku pulang ke rumah Charlie.
“Akan selalu ada yang menjagamu. Emmett, Alice,
Jasper...”
Aku mendesah. "Konyol, Mereka pasti akan bosan
setengah mati. Jangan-jangan mereka sendiri yang akan
membunuhku nanti, hanya supaya ada kerjaan."
Edward memandangiku masam. "Lucu sekali, Bella.”
Suasana hati Charlie sedang bagus waktu kami sampai di
rumah. Ia melihat ketegangan di antara aku dan Edward,
dan salah mengartikannya. Diawasinya kesibukanku


memasak makan malam dengan senyum kemenangan
tersungging di wajahnya. Edward pergi sebentar, untuk
melihat-lihat keadaan, asumsiku, tapi Charlie menunggu
sampai Edward kembali untuk menyampaikan pesan yang
ia terima.
"Jacob menelepon lagi.” kata Charlie begitu Edward
datang.
Kubiarkan wajahku datar tanpa ekspresi saat meletakkan
piring di hadapannya.
"Benarkah?"
Charlie mengernyit. "Jangan picik begitu, Bella.
Kedengarannya dia merana sekali.”
"Jacob membayar Dad jadi humasnya, atau Dad
membantunya secara sukarela?"
Charlie menggerutu panjang-pendek tidak jelas padaku
sampai makanan tiba dan membungkam omelannya.
Meski tidak menyadarinya, teguran Charlie tadi tepat
mengenal sasaran.
Hidupku memang bagaikan permainan ular tangga
sekarang ini-apakah aku akan dapat ular saat dadu
berikutnya dilemparkan? Bagaimana kalau benar-benar
terjadi sesuatu pada diriku nanti? Rasanya aku lebih dari
sekadar picik jika aku membiarkan Jacob merasa bersalah
atas apa yang dia katakan tadi.
Tapi aku tidak mau bicara dengannya saat Charlie ada,
karena aku harus sangat berhati-hati agar tidak salah
omong. Memikirkan ini membuatku iri pada hubungan
Jacob dan Billy. Betapa mudahnya hidup kalau tak ada
yang perlu kaurahasiakan dari orang yang tinggal serumah
denganmu.


Kuputuskan untuk menunggu sampai esok pagi, Besar
kemungkinan aku tidak akan mati malam ini, jadi tak ada
salahnya membuat Jacob merasa bersalah hingga dua belas
jam lagi. Bahkan mungkin itu bagus Untuk memberinya
pelajaran.
Setelah Edward berpamitan malam ini, aku bertanyatanya
dalam hati siapa gerangan yang akan bertugas di
tengah hujan deras malam ini, menjaga Charlie dan aku,
Aku merasa tak enak hati pada Alice atau siapa pun
orangnya, meski tak urung merasa tenang juga. Harus
kuakui itu melegakan, tahu aku tidak sendirian. Dan
Edward kembali secepat kilat.
Lagi,lagi Edward meninabobokan aku sampai tertidur
dan-menyadari bahwa dia ada meskipun aku sedang tidurtidurku
nyenyak sekali, bebas dari mimpi buruk.
Esok paginya, Charlie sudah berangkat memancing
bersama Deputi Mark sebelum aku bangun. Kuputuskan
untuk memanfaatkan waktu kosong tanpa pengawasan ini
untuk berbuat baik.
"Aku akan membebaskan Jacob dari perasaan
bersalahnya.” aku mewanti-wanti Edward begitu selesai
sarapan.
"Sudah kuduga kau pasti akan memaafkan dia.” Edward
menanggapi sambil tersenyum enteng. "Kau memang tidak
berbakat mendendam.”
Aku memutar bola mata, tapi senang mendengarnya.
Kelihatannya Edward benar-benar sudah tidak
mempermasalahkan pergaulanku dengan werewolf.
Aku tidak melihat jam sampai setelah menghubungi
nomor telepon rumah Jacob. Ternyata masih agak terlalu
pagi untuk menelepon, dan aku sempat khawatir akan


membangunkan Billy dan Jake, tapi teleponku langsung
diangkat pada deringan kedua, jadi dia pasti tidak sedang
jauh-jauh dari pesawat telepon.
"Halo?" sebuah suara muram menyahut.
"Jacob."
"Bella!" pekiknya. "Oh, Bella, aku benar-benar minta
maaf!" Kata-kata itu berhamburan susul-menyusul dari
mulut Jacob, begitu terburu-buru ingin mengungkapkan
semuanya. "Sumpah, aku tidak bermaksud berkata begitu.
Aku memang bodoh. Aku marah – tapi itu bukan alasan,
Itu hal paling bodoh yang pernah kuucapkan seumur hidup
dan aku minta maaf. jangan marah padaku, please? Please.
Seumur hidup jadi budakmu pun aku mau – asal kau mau
memaafkanku.”
"Aku tidak marah, Kau sudah dimaafkan.”
"Terima kasih.” Jacob mengembuskan napas keraskeras.
''Aku tak percaya aku bisa sebodoh itu.”
"Jangan khawatir soal itu-aku sudah terbiasa.”
Jacob tertawa, lega bukan main. "Datanglah ke sini.”
pintanya. "Aku ingin membayar kelakuan burukku
kemarin.”
Aku mengerutkan kening. "Bagaimana caranya?"
"Apa saja yang kau mau. Terjun dari tebing.” Jacob
mengusulkan, tertawa lagi.
"Oh, itu baru ide brilian.”
''Aku akan menjagamu.” janji Jacob. "Apa pun yang
ingin kaulakukan.”
Kulirik Edward. Wajahnya sangat tenang, tapi aku yakin
sekarang bukan saat yang tepat.


"Tidak sekarang.”
"Dia tidak suka padaku, kan? Sekali ini suara Jacob lebih
terdengar malu ketimbang getir.
"Bukan itu masalahnya. Ada... well, ada masalah lain
yang sedikit lebih mengkhawatirkan daripada werewolf
remaja yang bandel...” Aku berusaha memperdengarkan
nada bergurau, tapi ternyata tak berhasil mengelabui Jacob.
''Ada apa?" tuntutnya.
"Ehm.” Aku tak yakin apakah sebaiknya memberitahu
dia.
Edward mengulurkan tangan padaku, meminta untuk
bicara pada Jacob. Kupandangi wajahnya dengan saksama.
Sepertinya Edward cukup tenang.
"Bella?" tanya Jacob.
Edward mendesah, tangannya terulur semakin dekat.
"Apa kau keberatan bicara dengan Edward?" tanyaku,
was-was. "Dia ingin bicara denganmu.” Jacob terdiam
lama sekali.
"Oke.” Jacob akhirnya setuju, "Ini pasti menarik.”
Kuserahkan gagang telepon kepada Edward; mudahmudahan
ia membaca sorot peringatan di mataku.
"Halo, Jacob,” sapa Edward, sopan sekali.
Sunyi. Aku menggigit bibir, berusaha menebak
bagaimana Jacob menanggapi sapaan Edward.
"Ada yang datang ke sini... baunya tidak kukenal.”
Edward menjelaskan. "Apakah kawananmu menemukan
sesuatu yang baru?"


Diam lagi, sementara Edward mengangguk-angguk,
tidak terkejut.
"Jadi begini, Jacob. Aku tidak akan melepaskan
pengawasanku terhadap Bella sampai masalah ini beres.
Harap jangan tersinggung."
Jacob memotong kata-kata Edward, dan aku bisa
mendengar dengung suaranya dari corong telepon, Apa pun
yang ia katakan, kedengarannya lebih bersungguh-sungguh
daripada sebelumnya. Aku tidak bisa mendengar kata-kata
Jacob.
"Mungkin kau benar...,” Edward mulai berbicara, tapi
Jacob mendebatnya lagi. Setidaknya, kedengarannya
mereka tidak marah.
"Usul yang menarik. Kami sangat bersedia melakukan
negosiasi ulang. Jika Sam setuju.”
Suara Jacob kini lebih pelan. Aku mulai menggigit-gigit
ibu jariku saat berusaha membaca ekspresi Edward.
"Terima kasih.” sahut Edward.
Lalu Jacob mengatakan sesuatu yang membuat ekspresi
kaget melintas di wajah Edward.
"Sebenarnya, aku berencana pergi sendiri.” kata
Edward, menjawab pertanyaan yang tidak disangka-sangka
itu, "Supaya yang lainnya bisa menjaga Bella.”
Suara Jacob naik satu oktaf dan kedengarannya ia
berusaha meyakinkan Edward.
"Aku akan berusaha mempertimbangkannya secara
objektif,” Edward berjanji. "Seobjektif yang mampu
kulakukan.”
Kali ini diamnya lebih pendek.


"Idemu tidak buruk, Kapan? ...Tidak, tidak apa-apa.
Sebenarnya aku sendiri juga ingin mengikuti jejaknya.
Sepuluh menit... tentu.” kata Edward. Ia menyodorkan
telepon padaku. "Bella?"
Pelan-pelan aku menerimanya, bingung.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" aku bertanya pada
Jacob, suaraku jengkel. Aku tahu ini kekanak-kanakan, tapi
aku merasa tersisih.
"Gencatan senjata, kurasa. Hei, kau bisa membantuku.”
Jacob menyarankan. "Cobalah meyakinkan si pengisap
darah bahwa tempat teraman untukmu-terutama saat dia
tidak ada-adalah di reservasi. Kami mampu mengatasi
masalah apa pun.”
"Jadi itukah yang tadi kauusulkan padanya?”
"Ya. Masuk akal, kan? Mungkin sebaiknya Charlie
berada di sini juga. Sesering mungkin.”
"Minta Billy membujuknya.” aku setuju. Aku tidak suka
membayangkan Charlie berada dalam jangkauan sasaran
tembak yang sepertinya selalu terarah padaku. "Apa lagi?"
"Hanya mengatur ulang beberapa perbatasan, supaya
kami bisa menangkap siapa pun yang berada terlalu dekat
dengan Forks. Aku tidak yakin apakah Sam mau
melakukannya, tapi sampai dia bisa diyakinkan, aku akan
terus berjaga-jaga.”
"Apa maksudmu 'berjaga-jaga’?''
"Maksudku, kalau kau melihat serigala berlari-lari di
sekitar rumahmu, jangan ditembak.”
"Tentu saja tidak. Tapi tidak seharusnya kau
melakukan... hal-hal riskan.”


Jacob mendengus. "Jangan bodoh, Aku bisa menjaga
diri.”
Aku mendesah.
"Aku juga berusaha meyakinkan dia untuk
membiarkanmu datang berkunjung. Dia tidak suka pada
kami, jadi jangan termakan ocehannya tentang
keselamatan. Dia sama tahunya dengan aku, bahwa kau
pasti aman di sini.”
"Akan kuingat baik-baik.”
"Sampai ketemu sebentar lagi.” kata Jacob.
"Kau akan ke sini?"
"Yeah. Aku akan mengendus bau si tamu tak diundang
supaya kami bisa melacaknya kalau dia kembali nanti.”
"Jake, aku benar-benar tidak suka membayangkan kau
melacak...”
"Oh please, Bella,” selanya. Jacob tertawa, kemudian
menutup telepon.
10. BA U
SUNGGUH kekanak-kanakan. Kenapa Edward harus
pergi sebelum Jacob datang? Bukankah kami sudah
melupakan halhal kekanakan seperti ini?
"Bukan berarti aku memiliki antagonisme pribadi
terhadapnya, Bella, tapi itu lebih mudah bagi kami berdua.”
Edward berkata di ambang pintu. "Aku tidak akan berada
jauh dari sini. Kau akan aman.”
"Bukan itu yang kukhawatirkan.”


Edward tersenyum, kemudian secercah ekspresi licik
terpancar dari matanya. Ia menarikku ke dekatnya,
mengubur wajahnya di rambutku. Bisa kurasakan embusan
napasnya yang dingin membasahi helai-helai rambutku saat
ia mengembuskan napas; bulu kuduk di tengkukku langsung
meremang.
"Aku akan segera kembali,” ucapnya, kemudian tertawa
keras-keras, seolah-olah baru saja melontarkan lelucon yang
lucu sekali.
"Apanya yang lucu?"
Tapi Edward hanya nyengir, lalu melesat ke arah
pepohonan tanpa menjawab.
Menggerutu sendiri, aku beranjak untuk membersihkan
dapur. Sebelum sempat mengisi bak cuci sampai penuh, bel
pintu sudah berbunyi, Sulit membiasakan diri dengan
kenyataan bahwa Jacob justru bisa datang jauh lebih cepat
tanpa naik mobil. Sebal juga rasanya, bagaimana semua
orang sepertinya bisa bergerak jauh lebih cepat daripada
aku...
"Masuklah, Jake!" teriakku.
Aku sedang berkonsentrasi pada tumpukan piring dalam
air bersabun hingga lupa kalau belakangan ini Jacob bisa
berjalan tanpa suara. Maka aku pun terlonjak kaget waktu
suaranya tiba-tiba terdengar di belakangku.
"Kenapa kau membiarkan pintumu tidak dikunci seperti
itu? Oh, maaf."
Aku terciprat air cucian piring ketika kehadiran Jacob
membuatku terlonjak kaget.


"Aku tidak mencemaskan orang yang bisa dihalangi
dengan pintu terkunci,” tukasku sambil menyeka bagian
depan bajuku dengan lap.
"Memang benar,” Jacob sependapat.
Aku berpaling untuk memandanginya, menatapnya
dengan pandangan kritis. "Memangnya kau benar-benar
tidak bisa mengenakan baju, ya, Jacob?" tanyaku. Lagi-lagi
Jacob bertelanjang dada, tidak memakai apa-apa kecuali
jins usang yang dipotong pendek, Diam-diam aku curiga
apakah Jacob memang sengaja ingin memamerkan otot-otot
barunya yang kekar. Harus kuakui, otot-ototnya memang
mengesankan-tapi menurutku Jacob bukan tukang pamer.
"Aku tahu kau tidak pernah kedinginan lagi, tapi tetap
saja.”
Jacob melarikan jemarinya di rambutnya yang basah;
rambut itu menjuntai ke matanya.
"Begini lebih mudah.” ia menjelaskan.
"Apanya yang lebih mudah?”
Jacob tersenyum sinis, "Membawa-bawa celana pendek
saja sudah cukup merepotkan, apalagi baju dan celana
lengkap. Memangnya aku keledai pengangkut?"
Keningku berkerut. "Kau ini bicara apa sih, Jacob?"
Ekspresi Jacob menyiratkan kemenangan, seolah-olah
aku luput memerhatikan sesuatu yang sudah sangat jelas.
"Bajuku tidak ikut menghilang dan muncul lagi setiap kali
aku berubah bentuk-jadi aku harus membawanya sambil
berlari. Maaf kalau aku tidak ingin membawa beban terlalu
banyak.”
Wajahku merah padam. "Itu sama sekali tidak terpikir
olehku.” gumamku.


Jacob tertawa dan menunjuk tali kulit hitam setipis
benang rajut yang dililitkan tiga kali di tungkai kirinya,
menyerupai gelang. Barulah aku sadar ia juga bertelanjang
kaki. "Itu kupakai bukan untuk bergaya-tidak enak rasanya
membawa-bawa jins di mulur.”
Aku tidak tahu harus berkara apa.
Jacob nyengir, "Apakah keadaanku yang setengah
telanjang ini membuatmu risi?"
"Tidak.”
Jacob tertawa lagi, dan aku memunggunginya untuk
berkonsentrasi pada piring-piring yang sedang kucuci.
Mudah-mudahan ia menyadari wajahku merah padam
karena malu oleh kebodohanku sendiri, bukan karena
pertanyaannya barusan.
"Well, sebaiknya aku langsung saja mulai.” Jacob
mendesah.
"Aku tidak mau memberinya alasan untuk mengatakan
bahwa aku tidak melakukan bagianku dengan benar.”
"Jacob, kau tak perlu...”
Jacob mengangkat tangan, menghentikan perkataanku.
“Aku melakukannya atas dasar sukarela. Sekarang, di mana
bau si tamu tak diundang itu paling kuat tercium?"
"Di kamarku, mungkin.”
Mara Jacob menyipit. Ia tidak menyukai kenyataan itu,
sama seperti Edward.
"Tunggu sebentar.”
Dengan tekun aku menyikat piring yang kupegang. Satusatunya
suara yang terdengar hanyalah bunyi sikat plastik
menggesek-gesek permukaan keramik, Aku memasang


telinga, berusaha mendengarkan suara dari atas, derit lantai
papan, bunyi pintu ditutup. Tapi tidak terdengar apa-apa.
Sadarlah aku bahwa aku sudah menyikat piring yang sama
lebih lama daripada seharusnya, jadi aku berusaha
memusatkan perhatian pada apa yang sedang kukerjakan.
"Fiuuh!" seru Jacob, beberapa sentimeter di belakangku,
lagi-lagi membuatku melompat kaget.
"Aduh, Jake, jangan mengagetkanku terus!"
"Maaf. Ayo...” Jacob meraih lap dan mengeringkan
tumpahan air. "Aku akan 'menebus' dosa-dosaku. Kau
mencuci, aku yang membilas dan mengeringkan.”
"Baiklah.” Kusodorkan piring itu padanya,
"Well, baunya cukup kuat, Omong-omong, kamarmu
bau sekali.”
"Nanti aku beli pengharum ruangan.”
Jacob tertawa.
Selama beberapa menit berikutnya, aku mencuci dan
Jacob mengeringkan sambil berdiam diri.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Aku mengulurkan piring lagi padanya. "Tergantung pada
apa yang ingin kauketahui"
"Bukan maksudku ikut campur atau bagaimana-aku
benar-benar ingin tahu.” Jacob berusaha meyakinkanku.
"Baik. Silakan, tanya saja.”
Jacob terdiam sebentar, "Bagaimana rasanya-punya
pacar vampir?"
Aku memutar bola mataku. "Asyik sekali.”


"Aku serius. Apakah itu tidak pernah membuatmu
merasa terganggu-tidak pernah membuatmu ngeri?”
"Tidak pernah.”
Jacob terdiam saat mengambil mangkuk dari tanganku.
Kulirik wajahnya-kening Jacob berkerut, bibir bawahnya
mencebik.
“Ada lagi?" tanyaku.
Jacob mengernyitkan hidungnya lagi. "Well, aku hanya
ingin tahu ... apakah ... ehh, kau berciuman dengannya?”
Aku tertawa. "Ya.”
Jacob bergidik. "Ugh.”
"Orang kan beda-beda.” gumamku.
"Memangnya kau tidak takut pada taringnya?”
Kutinju lengan Jacob, tubuhnya terciprat air cucian
piring. "Tutup mulutmu, Jacob! Kau tahu dia tidak punya
taring!"
"Cukup mirip dengan taring!” gerutu Jacob.
Aku menggertakkan gigi dan dengan gemas menyikat
pisau dapur.
"Boleh aku bertanya lagi?” tanya Jacob lirih waktu aku
menyerahkan pisau itu padanya. "Hanya ingin tahu.”
"Baiklah,” bentakku.
Jacob membolak-balik pisau di tangannya di bawah
kucuran air. Saat berbicara, suaranya hanya berupa bisikan.
"Katamu kemarin beberapa minggu lagi.... Kapan,
persisnya...?” Ia tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya.
"Kelulusan,” aku balas berbisik, menatap wajahnya
waswas. Apakah ini akan membuatnya mengamuk lagi?


"Cepat sekali,” desah Jacob, matanya terpejam.
Kedengarannya bukan pertanyaan. Melainkan ratapan.
Otot-otot lengan Jacob mengeras dan bahunya mengejang.
“ADUH!" teriak Jacob; suasana di dapur begitu sunyi
sampai-sampai aku melompat kaget mendengar
teriakannya.
Tangan kanan Jacob menggenggam erat mata pisau-ia
membuka genggaman dan pisau itu jatuh berdenting di
konter, Di telapak tangannya tampak segaris luka panjang
dan dalam. Darah mengalir ke jari-jarinya dan menetes ke
lantai,
"Brengsek! Aduh!" maki Jacob.
Segera saja kepalaku pusing dan perutku berontak. Aku
berpegangan erat-erat ke konter dengan satu tangan,
menarik napas dalam-dalam lewat mulut, dan memaksa diri
untuk tenang supaya bisa menolongnya.
"Oh, tidak, Jacob! Oh, brengsek! Ini, belitkan di
tanganmu!"
Aku menyodorkan lap piring itu padanya, meraih
tangannya. Jacob menepis tanganku.
"Tidak apa-apa, Bella, jangan khawatir.”
Seisi ruangan mulai tampak berpendar-pendar dan kabur
di sisi-sisinya.
Aku kembali menarik napas dalam-dalam. "Jangan
khawatir?! Tanganmu teriris pisau!"
Jacob tak menggubris lap yang kusodorkan padanya. Ia
meletakkan tangannya di bawah keran dan membiarkan air
mengalir membersihkan lukanya. Air yang mengucur
berubah warna menjadi merah. Kepalaku berputar.
"Bella.” kata Jacob.


Aku memalingkan muka, tak mau melihat lukanya, dan
mendongak menatap wajah Jacob. Kening Jacob berkerut,
tapi ekspresinya tenang.
"Apa?"
"Kau kelihatan seperti mau pingsan, dan bibirmu
kaugigiti. Hentikan. Rileks. Tarik napas panjang. Aku tidak
apa-apa.”
Aku menghirup udara melalui mulut dan berhenti
menggigit bibit bawahku. "Jangan sok kuat.”
Jacob memutar bola matanya.
"Ayo. Kuantar kau ke UGD,” Aku yakin sekali masih
mampu menyetir. Dinding-dinding tidak tampak
bergoyang-goyang lagi, setidaknya.
"Tidak perlu,” Jake mematikan air dan mengambil lap
dari tanganku. Ia melilitkan lap itu dengan longgar ke
telapak tangan.
"Tunggu.” protesku. "Coba kulihat.” Tanganku
semakin erat mencengkeram konter, berjaga-jaga agar tidak
jatuh kalau nanti luka itu membuatku pusing lagi.
"Memangnya kau punya gelar dokter tapi tidak pernah
memberitahuku, ya?"
"Pokoknya beri aku kesempatan untuk memutuskan
apakah aku perlu mengamuk atau tidak untuk
membawamu ke rumah sakit.”
Jacob mengernyitkan wajah dengan sikap pura-pura
ngeri.
"Please, jangan mengamuk!"
"Kalau aku tidak boleh melihat tanganmu, dijamin aku
pasti mengamuk.”


Jacob menghela napas dalam-dalam, kemudian
mengembuskannya dengan suara keras, "Baiklah.”
Dibukanya belitan lap itu dan, waktu aku mengulurkan
tangan untuk mengambilnya, Jacob meletakkan tangannya
di tanganku.
Dibutuhkan waktu beberapa derik. Aku bahkan sampai
membalikkan tangannya, walaupun aku yakin telapak
tangannya tadi terluka. Kubalikkan lagi tangan itu,
akhirnya menyadari yang tersisa dari lukanya hanyalah
goresan berwarna pink tua.
"Tapi... tadi kau berdarah... banyak sekali.”
Jacob menarik tangannya, matanya menatap mataku,
tenang dan kalem.
"Lukaku sembuh dengan cepat.” "Betul sekali.” sahutku
tanpa suara.
Padahal aku tadi melihat luka yang panjang itu dengan
jelas, melihat darah yang mengalir ke bak cuci. Bau darah
yang seperti karat bercampur garam bahkan nyaris
membuatku pingsan. Luka seperti itu seharusnya dijahit.
Seharusnya dibutuhkan waktu berhari-hari agar luka itu
mengering, dan baru berminggu-minggu kemudian menjadi
segores bekas luka warna pink mengilat seperti yang kini
menghiasi kulit Jacob.
Mulut Jacob berkerut, membentuk senyum separo, lalu
menepukkan tinjunya ke dada. "Werewolf, ingat?”
Matanya menatapku lama sekali.
"Benar,” ujarku akhirnya.
Jacob tertawa melihat ekspresiku. "Aku kan sudah
pernah menceritakannya padamu. Kau juga pernah melihat
bekas luka Paul.”


Aku menggeleng untuk menjernihkan pikiran, "Tapi
sedikit lain kalau melihat urutan kejadiannya dengan mata
kepala sendiri.”
Aku berlutut dan mengeluarkan botol berisi cairan
pemutih dari rak di bawah bak cuci. Kemudian aku
menuangkan sedikit ke lap dan mulai menggosok-gosok
lantai. Bau cairan pemutih yang membakar melenyapkan
sisa-sisa pusing dari kepalaku.
"Biar aku saja yang membersihkan.” kata Jacob.
"Tidak usah. Tolong masukkan saja lap ini ke mesin
cuci.” Setelah aku yakin lantai tidak berbau apa-apa lagi
kecuali bau cairan pemutih, aku bangkit dan membilas bak
cuci sebelah kanan dengan cairan pemutih, Kemudian aku
pergi ke ruang cuci di sebelah pantry, dan menuangkan satu
tutup botol penuh cairan pemutih ke mesin cuci sebelum
menyalakannya. Jacob mengamati kesibukanku dengan
ekspresi tidak setuju tergambar di wajahnya.
"Kau mengidap kelainan jiwa obsesif-kompulsif ya?”
tanyanya begitu aku selesai.
Hah. Mungkin. Tapi paling tidak kali ini alasanku tepat.
"Di sini kami agak sensitif dengan darah. Aku yakin kau
bisa memahami hal itu.”
"Oh.” Jacob mengernyitkan hidungnya lagi.
"Kenapa tidak membuat keadaan menjadi semudah
mungkin baginya? Apa yang dia lakukan sekarang sudah
cukup berat.”
"Tentu, tentu. Kenapa tidak?”
Kutarik sumbat bak, dan membiarkan air kotor terisap
masuk ke saluran pembuangan.
"Boleh aku tanya sesuatu, Bella?"


Aku mendesah.
"Bagaimana rasanya-punya sahabat werewolf?"
Pertanyaan itu membuatku kaget. Aku tertawa keraskeras.
"Menakutkan tidak bagimu?” desak Jacob sebelum aku
bisa menjawab.
"Tidak. Kalau werewolf-nya sedang bersikap baik, rasanya
menyenangkan sekali,” kataku.
Jacob nyengir lebar, giginya cemerlang berlatar belakang
kulitnya yang cokelat kemerahan. "Trims, Bella.” katanya,
kemudian menyambar tanganku dan memelukku erat sekali
sampai nyaris meremukkan tulang-tulangku.
Belum sempat aku bereaksi, ia sudah melepas
pelukannya dan mundur menjauh.
"Ugh,” omelnya, hidungnya mengernyit. "Rambutmu
lebih bau daripada kamarmu.”
"Maaf" gumamku. Mendadak aku sadar apa yang
ditertawakan Edward tadi, setelah bernapas begitu dekat di
rambutku.
"Satu dari sekian banyak risiko bergaul dengan vampir,”
tukas Jacob, mengangkat bahu. "Baumu jadi tidak keruan.
Risiko kecil tapi, kalau dibandingkan risiko-risiko lain.”
Kupelototi dia. “Aku hanya berbau tidak enak bagimu,
Jake.”
Jake menyeringai. "Sampai keremu lagi, Bells.”
"Kau sudah mau pulang?"
"Dia menungguku pergi. Aku bisa mendengarnya di
luar.”


"Oh.”
"Aku akan keluar lewat pintu belakang.” kata Jacob,
kemudian berhenti. "Tunggu sebentar-hei, menurutmu bisa
tidak kau datang ke La Push nanti malam? Ada pesta api
unggun. Emily akan datang, dan kau juga bisa berkenalan
dengan Kim... Dan aku tahu Quit ingin bertemu denganmu
juga. Dia agak kesal karena kau tahu lebih dulu daripada
dia.”
Aku nyengir membayangkannya. Bisa kubayangkan
bagaimana jengkelnya Quit mengetahui hal itu-teman
perempuan manusia Jacob bergaul dengan werewolf
sementara ia malah belum tahu apa-apa. Kemudian aku
mendesah. "Yeah, Jake, aku tidak bisa memastikan. Begini,
keadaan agak tegang sekarang ini...”
"Ayolah, mungkinkah ada yang bisa menerobos
pertahanan semua-kami berenam?”
Ada jeda aneh setelah Jacob terbata-bata di akhir
pertanyaan. Aku bertanya-tanya dalam hari, apakah ia
kesulitan mengucapkan kata werewolf dengan suara keras,
seperti aku sering mengalami kesulitan mengucapkan kata
vampir.
Mara hitamnya yang besar tanpa malu-malu dipenuhi
sorot memohon.
"Akan kutanyakan.” kataku ragu.
Jacob mengeluarkan suara yang kedengarannya seperti
geraman pelan. "Jadi dia sekarang sipirmu juga? Tahu
tidak, minggu lalu aku melihat berita tentang gaya pacaran
remaja yang terlalu menguasai dan senang menyiksa-"
"Oke!" kupotong kata-katanya, kemudian kudorong
lengannya. "Saatnya bagi werewolf untuk pulang!"


Jacob nyengir. "Bye, Bells. Pastikan kau minta izin
padanya."
Ia sudah kabur lewat pintu belakang sebelum aku bisa
menemukan sesuatu untuk dilempar. Aku mengomel
panjang lebar di ruangan yang kosong.
Beberapa detik setelah Jacob pergi, Edward berjalan
lambat-lambat memasuki dapur, butiran-butiran air hujan
berkilau bagaikan berlian di rambutnya yang berwarna
perunggu. Sorot matanya kecut.
“Apakah kalian berkelahi?" tanyanya.
"Edward!" seruku, menubruknya.
"Halo.” Ia tertawa dan memelukku. "Kau berusaha
mengalihkan perhatianku, ya? Caramu berhasil.”
"Tidak, aku tidak berkelahi dengan Jacob. Tidak terlalu.
Kenapa?"
"Aku hanya penasaran kenapa kau menusuknya. Bukan
berarti aku keberatan.” Dengan dagunya, Edward
menuding pisau di konter,
"Astaga! Kukira aku sudah membersihkan semuanya.”
Aku melepaskan diri darinya dan berlari untuk meletakkan
pisau di bak cuci sebelum mengucurinya dengan cairan
pemutih,
"Aku tidak menusuknya.” jelasku sambil terus bekerja.
"Dia lupa sedang memegang pisau.”
Edward terkekeh. "Ternyata tidak seseru yang
kubayangkan.”
"Jangan begitu
Edward mengeluarkan amplop besar dari saku jaketnya
dan melemparnya ke konter, "Ada surat untukmu.”


"Kabar baik?”
"Aku pikir begitu.”
Mataku menyipit curiga mendengar nadanya. Aku
beranjak untuk memeriksa.
Edward melipat amplop besar itu menjadi dua. Aku
melicinkannya, terkejut saat merasakan kertasnya yang
tebal dan mahal, lalu membaca alamat pengirimnya.
"Dartmouth? Apa ini leluconmu?"
"Aku yakin ini surat pernyataan diterima. Bentuknya
mirip sekali dengan punyaku.”
"Ya ampun, Edward-apa yang kaulakukan?”
“Aku mengirimkan aplikasimu, itu saja.”
"Mungkin aku memang bukan calon yang tepat untuk
Dartmouth, tapi aku tidak sebodoh itu hingga percaya hal
ini.”
"Sepertinya Dartmouth menganggapmu calon yang
tepat.”
Aku menghela napas dalam-dalam dan menghitung
pelan-pelan sampai sepuluh. "Baik hati benar mereka.”
ujarku akhirnya. "Namun, diterima atau tidak, terap ada
masalah uang kuliah. Aku tidak sanggup membayarnya,
dan aku tidak mau kau menghambur-hamburkan uang yang
jumlahnya cukup untuk membeli mobil sport lagi hanya
supaya aku bisa pura-pura masuk Dartmouth tahun depan.”
"Aku tidak butuh mobil sport lagi. Dan kau tidak perlu
berpura-pura,” ujar Edward. "Setahun kuliah kan bukan
masalah besar. Mungkin kau bahkan akan menyukainya.
Pikirkan baik-baik, Bella. Bayangkan betapa senangnya
Charlie dan Renee nanti...”


Suara Edward yang selembut beledu melukiskan
gambaran itu di kepalaku sebelum aku sempat
mencegahnya. Sudah pasti Charlie akan bangga bukan
kepalang-tidak ada seorang warga Forks pun yang bakal
luput mendengar, cerita bangga Charlie. Dan Renee pasti
histeris saking girangnya mendengar keberhasilankuwalaupun
dia pasti akan bersumpah sama sekali tidak
terkejut....
Aku berusaha menepis bayangan itu dari kepalaku.
"Edward. Membayangkan menjalani hidup sampai
kelulusan saja aku sudah tidak sanggup, apalagi sampai
musim panas atau musim gugur yang akan datang.”
Lengan Edward memelukku lagi. "Tidak ada yang akan
mencelakakanmu. Kau masih punya banyak waktu.”
Aku mendesah. "Aku akan mengirimkan seluruh isi
rekeningku ke Alaska besok, Hanya itu alibi yang
kubutuhkan. Jaraknya cukup jauh hingga Charlie paling
cepat baru akan mengharapkan kepulanganku saat Natal
nanti. Dan aku yakin pasti bisa memikirkan alasan untuk
tidak datang saat itu. Kau tahu.” godaku setengah hati,
"hidup menyimpan rahasia dan selalu membohongi orang
rasanya sedikit menyusahkan.”
Ekspresi Edward mengeras. "Semakin lama akan
semakin mudah. Beberapa dekade mendatang, semua orang
yang kaukenal akan mati. Jadi masalahmu beres.”
Aku tersentak.
"Maaf, ucapanku tadi kasar.”
Aku menunduk, menatap amplop putih besar itu tanpa
benar-benar melihatnya. "Tapi benar.”


"Kalau aku berhasil menyelesaikan masalah ini, apa pun
yang kira hadapi ini, maukah kau mempertimbangkan
untuk menunggu?”
"Tidak.”
"Selalu saja keras kepala.”
"Yep.”
Mesin cuci berguncang keras dan mesinnya terbatukbatuk
lalu mati.
"Dasar barang rongsokan,” gerutuku sambil melepaskan
diri dari pelukan Edward. Kupindahkan lap piring kecil
yang membuat mesin cuciku yang kosong-melompong itu
mogok, lalu kunyalakan lagi.
"Aku jadi ingat,” kataku. "Bisakah kautanyakan pada
Alice di mana dia menyimpan barang-barangku yang
diambilnya waktu membersihkan kamarku? Sudah kucari
ke mana-mana, tapi tidak ketemu.”
Edward menatapku bingung. "Alice membersihkan
kamarmu?”
" Yeah, kurasa itulah yang dia lakukan. Waktu dia
datang untuk mengambil piama, bantal, dan barang-barang
untuk keperluan menyanderaku.” Kupelototi Edward
sejenak. "Dia mengambil semua barang yang berserakan,
baju-baju, kaus kaki, dan aku tidak tahu di mana dia
menyimpannya.”
Wajah Edward tetap terlihat bingung beberapa saat lagi,
tapi kemudian, mendadak, tubuhnya mengejang kaku.
"Kapan kau menyadari barang-barangmu hilang?"
"Sepulang dari pesta piama gadungan itu, Kenapa?"


"Menurutku bukan Alice yang mengambil barangbarangmu.
Baik baju maupun bantal, Barang-barang yang
diambil itu, apakah itu benda-benda yang sudah kaupakai...
kausentuh.. dan kau tiduri?”
"Ya. Ada apa sebenarnya, Edward?"
Ekspresi Edward mengeras. "Benda-benda dengan bau
tubuhmu.”
"Oh!"
Kami berpandangan lama sekali.
"Tamu tak diundang itu.” gumamku.
"Dia mengumpulkan jejak-jejak... bukti. Untuk
membuktikan dia sudah menemukanmu?"
"Kenapa?" bisikku.
"Entahlah, Tapi, Bella, aku bersumpah akan mencari
tahu. Pasti.”
“Aku tahu kau pasti bisa,” kataku, meletakkan kepalaku
di dadanya. Saat bersandar di sana, aku bisa merasakan
ponsel di sakunya bergetar.
Edward mengeluarkan ponselnya dan memandangi
nomor yang tertera di layar. "Kebetulan.” gumamnya,
kemudian membuka ponselnya. "Carlisle, aku... Ia terdiam
dan mendengarkan, raut wajahnya penuh konsentrasi
selama beberapa menit. "Akan kuperiksa. Dengar...”
Edward menjelaskan tentang barang-barangku yang
hilang, tapi dari sisi yang bisa kudengar, kelihatannya
Carlisle juga tidak bisa memberi masukan.
"Mungkin aku akan pergi..,” kata Edward, suaranya
menghilang saat matanya melirik ke arahku. "Mungkin
tidak. Jangan biarkan Emmett pergi sendirian, kau tahu


bagaimana dia. Paling tidak minta Alice untuk terus
berjaga-jaga. Kita bereskan persoalan ini nanti.”
Edward menutup kembali ponselnya. "Mana surat
kabarmu?" tanyanya.
"Eh, entahlah. Kenapa?"
"Ada yang perlu kulihat. Apa Charlie sudah
membuangnya?”
"Mungkin."
Edward menghilang.
Setengah detik kemudian ia kembali, rambutnya lagi-lagi
dihiasi butiran air hujan yang menyerupai berlian,
tangannya memegang koran yang basah. Ia
membentangkan koran itu di meja, matanya menyapu
judul-judul beritanya dengan cepat. Ia membungkukkan
badan, perhatiannya terfokus pada berita yang sedang
dibacanya, satu jari menyusuri baris-baris yang paling
menarik perhatiannya.
"Carlisle benar... ya... ceroboh sekali. Muda dan sinting?
Atau memang ingin mati?" Edward bergumam sendiri.
Aku mencoba melongok dari balik bahunya.
Judul berita surat kabar Seattle Times itu berbunyi:
"Epidemi Pembunuhan Berlanjut-Polisi Tak Punya
Petunjuk Baru".
Beritanya nyaris mirip dengan yang dikeluhkan Charlie
beberapa minggu lalu-kejahatan kota besar yang
mendongkrak Seattle ke puncak tangga daftar kota yang
tingkat pembunuhannya paling tinggi.
“Makin gawat,” gumamku.


Kening Edward berkerut. "Benar-benar tak terkendali.
Tidak mungkin ini hasil perbuatan satu vampir baru. Apa
yang terjadi sebenarnya? Seolah-olah mereka belum pernah
mendengar tentang keluarga Volturi. Itu mungkin saja,
kurasa. Tidak ada yang pernah menjelaskan aturanaturannya
pada mereka... jadi siapa yang menciptakan
mereka?”
"Keluarga Volruri?" ulangku, bergidik.
"Hal seperti inilah yang secara rutin mereka tanganikaum
imortal yang membuat keberadaan kami terancam
diketahui. Keluarga Volturi baru saja membereskan
kekacauan seperti ini beberapa tahun yang lalu di Atlanta.
padahal keadaan waktu itu tidak separah sekarang. Tak
lama lagi mereka pasti akan mengintervensi, sebentar lagi,
kecuali kita bisa mencari cara untuk menenangkan situasi,
Aku benar-benar lebih suka mereka tidak datang ke Seattle
sekarang. Kalau mereka berada sedekat ini... mereka
mungkin akan mengecek keadaanmu.”
Lagi-lagi aku bergidik. "Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita harus mengetahui lebih banyak sebelum bisa
memutuskan, Mungkin kalau kita bisa bicara dengan anakanak
muda ini, menjelaskan peraturan-peraturannya,
keadaan bisa kembali tenang,” Kening Edward berkerut,
seolah pesimis itu bakal berhasil. "Akan kita tunggu sampai
Alice mengetahui apa yang terjadi .. Jangan sampai kita
ikut campur sebelum betul-betul perlu. Bagaimanapun, itu
bukan tanggung jawab kira. Untunglah kita punya Jasper,”
imbuh Edward, seolah pada dirinya sendiri. "Saat
menghadapi vampir muda, dia bisa sangat membantu.”
“Jasper? Kenapa?”
Edward tersenyum misterius. "Bisa dibilang Jasper itu
ahlinya vampir muda.”


“Apa maksudmu, ahlinya?"
"Kau harus tanya sendiri padanya-ceritanya rumit"
"Benar-benar kacau.” gerutuku.
"Rasanya memang seperti itu, ya? Seolah-olah masalah
datang bertubi-tubi dari segala penjuru.” Edward
mendesah. “Apa menurutmu kehidupanmu akan lebih
mudah kalau kau tidak jatuh cinta padaku?"
"Mungkin. Bukan kehidupan yang menyenangkan, rapi.”
"Bagiku,” Edward mengoreksi pelan. "Dan sekarang,”
sambungnya dengan senyum kecut, "kurasa kau pasti ingin
meminta sesuatu dariku?"
Kupandangi Edward dengan tatapan kosong. "Minta
apa?”
"Atau mungkin tidak" Edward nyengir. "Kalau tidak
salah, sepertinya kau tadi berjanji akan minta izinku untuk
menghadiri semacam acara kumpul-kumpul dengan para
werewolf malam ini.”
"Menguping lagi, ya?"
Edward nyengir. "Hanya sedikit, di bagian akhir."
"Well, sebenarnya aku tidak berniat minta izin darimu.
Kupikir kau sudah cukup banyak pikiran.”
Edward meletakkan tangannya di bawah daguku,
memeganginya sehingga ia bisa membaca mataku. "Kau
ingin pergi?"
"Itu bukan hal besar. Tidak perlu dikhawatirkan.”
"Kau tidak perlu meminta izinku, Bella. Aku bukan
ayahmu-syukurlah. Tapi mungkin seharusnya kau bertanya
pada Charlie.”


"Tapi kau tahu Charlie pasti akan mengizinkan.”
“Aku memang lebih bisa melihat jawaban yang mungkin
dia lontarkan daripada kebanyakan orang, itu benar.”
Aku hanya menatap Edward, berusaha memahami jalan
pikirannya, dan mencoba menepis kerinduan untuk pergi ke
La Push dari pikiranku agar aku tidak. digoyahkan
keinginan-keinginanku sendiri, Rasanya bodoh kepingin
nongkrong dengan segerombolan cowok-serigala besar
padahal saat ini begitu banyak hal mengerikan dan tidak
bisa dijelaskan sedang terjadi. Tentu saja, justru karena
itulah aku ingin pergi. Aku ingin melepaskan diri sejenak
dari ancaman kematian, meskipun hanya untuk beberapa
jam... menjadi Bella yang kekanak-kanakan dan ceroboh,
yang bisa menertawakan semua masalah dengan Jacob,
meski hanya sesaat. Tapi itu bukan masalah.
"Bella,” kata Edward. "Sudah kubilang, aku akan
berusaha bersikap lebih bijaksana dan memercayai
penilaianmu. Aku tidak main-main. Kalau kau memercayai
para werewolf itu, aku pun tidak akan khawatir soal
mereka.”
"Wow,” ucapku, sama seperti semalam.
"Dan Jacob benar-mengenai satu hal setidaknyasekawanan
werewolf seharusnya bisa melindungi, bahkan
dirimu, untuk satu malam.”
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Tapi...”
Aku bersiap-siap mendengar kabar buruk.
"Kuharap kau tidak. keberatan kuminta berhari-hari?
Membolehkan aku mengantarmu sampai ke perbatasan,


pertama. Dan kedua, membawa ponsel, supaya aku tahu
kapan harus menjemputmu?"
"Kedengarannya... sangat masuk akal.”
"Bagus sekali.”
Edward tersenyum padaku, dan aku tidak melihat setitik
pun kecemasan di matanya yang bagaikan permata itu.
Tepat seperti yang sudah diduga, Charlie sama sekali
tidak keberatan aku pergi ke La Push untuk pesta api
unggun. Jacob berseru-seru kegirangan waktu aku
meneleponnya untuk mengabarkan berita itu, dan
sepertinya ia cukup bersemangat hingga mau menerima
syarat-syarat pengamanan yang diajukan Edward. Ia
berjanji akan menemui kami di garis perbatasan tepat pukul
enam.
Aku sudah memutuskan, setelah berdebat dengan diriku
sendiri sebentar, bahwa aku tidak akan menjual motorku.
Aku akan membawanya kembali ke La Push, ke tempat
seharusnya dan, kalau aku sudah tidak membutuhkannya
lagi... well, kelak, aku akan mendesak Jacob untuk
mengambil keuntungan dari basil jerih payahnya. Ia bisa
menjual motor itu atau memberikannya kepada seorang
teman. Tidak masalah bagiku.
Malam ini sepertinya merupakan kesempatan baik untuk
mengembalikan motor itu ke garasi Jacob. Dengan
perasaan yang selalu muram belakangan ini, setiap hari
sepertinya bisa saja jadi kesempatan terakhir, Aku tak
punya waktu untuk menunda-nunda melakukan tugas apa
pun, tak peduli betapa sepelenya tugas itu.
Edward hanya mengangguk ketika aku menjelaskan
keinginanku, tapi kalau tak salah aku sempat melihat
secercah sorot muram di matanya. Aku tahu, seperti halnya


Charlie, ia juga tidak suka membayangkan aku
mengendarai motor.
Kuikuti Edward kembali ke rumahnya, ke garasi tempat
aku meninggalkan motorku. Setelah memasukkan trukku
dan turun, aku baru sadar kemuraman kali ini mungkin
tidak sepenuhnya berkaitan dengan keselamatanku.
Di sebelah motor antik kecilku, membuatnya terlihat
minder, tampak kendaraan lain. Menyebut kendaraan lain
ini sebagai sepeda motor rasanya kurang tepat, karena
kendaraan itu sepertinya tidak masuk dalam rumpun yang
sama dengan motorku yang tiba-tiba saja terlihat bobrok.
Kendaraan itu besar, mulus, berwarna perak, dan-bahkan
saat sedang tidak bergerak-tampak sangat cepat.
“Apa itu?”
"Bukan apa-apa.” gumam Edward.
"Kelihatannya tidak seperti itu.”
Ekspresi Edward biasa-biasa saja; sepertinya ia bertekad
untuk tidak membesar-besarkan hal itu. "Well, aku tak yakin
apakah kau akan memaafkan temanmu, atau apakah dia
akan memaafkanmu, dan aku bertanya-tanya apakah kau
tetap ingin mengendarai motormu, Kedengarannya kau
sangat menikmati naik motor. Jadi kupikir aku bisa pergi
bersamamu, kalau kau mau.” Edward mengangkat bahu.
Kupandangi sepeda motor mewah itu, Di sampingnya,
motorku terlihat seperti sepeda roda tiga bobrok.
Gelombang kesedihan tiba-tiba melandaku saat aku
menyadari mungkin mi analogi yang tepat untuk
menggambarkan bagaimana aku terlihat di samping
Edward.


''Aku takkan sanggup mengimbangi kecepatanmu.”
bisikku.
Edward mengangkat daguku supaya bisa menatap
wajahku. Dengan satu jari ia mencoba mendorong sudut
mulutku ke atas.
"Aku yang akan mengimbangimu, Bella.”
"Tapi rasanya takkan menyenangkan bagimu.”
"Tentu menyenangkan, kalau kita bersama-sama.”
Aku menggigit bibir dan membayangkannya sejenak.
"Edward, kalau menurutmu aku mengendarai motor terlalu
cepat atau kehilangan kendali atau semacamnya, apa yang
akan kaulakukan?"
Edward ragu-ragu sejenak, kentara sekali berusaha
menemukan jawaban yang tepat. Aku tahu jawabannya: ia
akan menemukan cara untuk menyelamatkanku sebelum
aku celaka.
Kemudian Edward tersenyum. Senyumnya tulus, kecuali
sorot matanya yang mendadak berubah defensif.
"Ini sesuatu yang kaulakukan bersama Jacob. Aku
mengerti sekarang.”
"Masalahnya, well, Jacob tak perlu terlalu memelankan
laju motornya. Aku bisa mencoba, mungkin...”
Kupandangi sepeda motor perak itu dengan sikap ragu.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan.” kata Edward,
kemudian tertawa renyah. ''Aku melihat Jasper mengagumi
motor ini. Mungkin sudah saatnya dia memakai cara baru
untuk bepergian. Lagi pula, Alice sudah pun ya Porsche
sekarang.”
"Edward, aku...”


Edward memotong perkataanku dengan ciuman cepat.
"Sudah kubuang tidak usah dipikirkan. Tapi maukah kau
melakukan sesuatu untukku?"
“Apa pun yang kaubutuhkan,” aku buru-buru berjanji.
Edward melepas wajahku dan mencondongkan tubuh ke
bagian samping sepeda motor besarnya, mengeluarkan
sesuatu yang disimpannya di sana.
Ia kembali sambil membawa benda berwarna hitam tak
berbentuk, dan benda lain berwarna merah yang mudah
dikenali.
"Please?" pinta Edward, memamerkan senyum miring
yang selalu mampu mengenyahkan penolakanku.
Kuambil helm merah itu, menimang-nimangnya. “Aku
pasti kelihatan konyol.”
"Tidak, justru akan terlihat pintar. Cukup pintar untuk
tidak mencelakakan diri sendiri." Disampirkannya benda
hitam itu, apa pun itu, ke lengannya, kemudian merengkuh
wajahku dengan tangannya. “Aku tak bisa hidup tanpa
wajah yang berada dalam genggamanku ini. Tolong jaga
dirimu baik-baik.”
"Oke, baik. Yang satu itu apa?” tanyaku curiga.
Edward tertawa dan menunjukkan sejenis jaket berlapis
busa yang tebal. "Ini jaket khusus untuk naik motor.
Kudengar terpaan angin di jalan sangar keras, walaupun
aku belum pernah merasakannya sendiri.”
Edward mengulurkan jaket itu padaku. Sambil menghela
napas dalam-dalam, kusibakkan rambutku ke belakang dan
kujejalkan kepalaku ke dalam helm. Lalu aku menyurukkan
kedua tangan ke lengan jaket. Edward mengancingkannya


untukku, sudut-sudut mulutnya terangkat membentuk
senyum, lalu mundur selangkah.
Aku merasa sangat gendut. "Jujur saja, aku jelek sekali,
ya?”
Edward mundur selangkah lagi dan mengerucutkan
bibir.
"Sejelek itu?" gerutuku.
"Tidak, tidak, Bella. Sebenarnya...” Edward sepertinya
berusaha keras mencari kata yang tepat. "Kau terlihat...
seksi"
Aku tertawa keras-keras. "Yang benar saja.”
"Seksi sekali, sungguh.”
"Kau bicara begitu hanya supaya aku mau
memakainya,” tukasku. "Tapi tidak apa-apa. Kau benar,
begini memang lebih bijaksana.”
Edward memelukku dan menarikku ke dalam
pelukannya. "Kau benar-benar konyol. Kurasa itu bagian
dari pesonamu. Walaupun, harus kuakui, ada ruginya juga
memakai helm ini.”
Kemudian Edward melepas helm itu agar bisa
menciumku.
Saat Edward mengantarku ke La Push tak lama
kemudian, aku tersadar situasi yang belum pernah terjadi
sebelumnya ini anehnya terasa familier. Buruh waktu
beberapa saat untuk menentukan sumber perasaan deja vu
ini.
"Tahukah kau ini mengingarkanku pada apa?" tanyaku.


"Rasanya seperti waktu aku masih kecil dan Renee
mengantarku pada Charlie selama musim panas. Aku
merasa seperti anak-anak yang berumur tujuh tahun.”
Edward tertawa.
Aku tidak terang-terangan mengatakannya, tapi
perbedaan terbesar antara dua situasi ini adalah bahwa
hubungan Renee dan Charlie lebih baik daripada Edward
dan Jacob.
Kira-kira setengah perjalanan menuju La Push, kami
mengitari tikungan jalan dan mendapati Jacob bersandar di
Volkswagen merah yang direparasi sendiri olehnya.
Ekspresi netral Jacob mencair membentuk senyum waktu
aku melambai dari kursi depan.
Edward memarkir Volvo-nya hampir tiga puluh meter
jauhnya.
"Telepon aku kapan pun kau siap pulang.” pesannya.
"Dan aku akan menjemputmu di sini.”
“Aku tidak akan pulang terlalu malam,” janjiku.
Edward mengeluarkan motor dan perlengkapan baruku
dari bagasi mobilnya-aku kagum semua itu bisa muat di
dalamnya. Tapi mungkin tidak terlalu sulit kalau kau cukup
kuat untuk mengangkat mobil van, apalagi hanya sepeda
motor kecil begini.
Jacob mengawasi, tak bergerak sedikit pun untuk
mendekat, senyumnya lenyap dan sorot mata gelapnya
tidak bisa dibaca.
Kukepit helm itu di bawah ketiak dan kulemparkan jaket
itu ke atas jok motor.
"Bisa?" tanya Edward.
"Tenang saja.” aku meyakinkannya.


Edward mendesah dan membungkuk ke arahku. Aku
menengadahkan wajah untuk memberinya ciuman kecil
perpisahan, tapi Edward membuatku kaget, ia mendekapku
erat-erat ke dadanya dan menciumku dengan sangat
antusias seperti yang dilakukannya di garasi tadi-dalam
sekejap, aku sudah megap-megap kehabisan napas.
Edward tertawa pelan, menertawakan sesuatu, kemudian
melepasku.
"Selamat tinggal,” ucapnya. “Aku suka sekali jaketmu.”
Saat berbalik memunggunginya, aku sempat melihat
kilatan di matanya yang tak seharusnya kulihat. Khawatir,
mungkin. Sesaat aku sempat mengira itu kepanikan. Tapi
mungkin aku melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada,
seperti biasa.
Bisa kurasakan mata Edward mengawasi punggungku
saat aku mendorong sepeda motorku ke garis perbatasan
vampir-werewolf untuk menemui Jacob.
"Apa-apaan ini?” Jacob berseru kepadaku, nadanya
kecut, memerhatikan motorku dengan ekspresi
membingungkan.
"Menurutku sebaiknya motor ini kukembalikan ke
tempat seharusnya.” kataku.
Jacob memikirkan perkataanku sejenak, kemudian
senyum lebarnya merekah, membelah wajahnya.
Aku tahu di titik mana tepatnya wilayah kekuasaan
werewolf karena Jacob mendorong tubuhnya menjauhi mobil
dan berlari dengan melompat-lompat cepat ke arahku.
Dalam tiga langkah saja ia sudah sampai ke tempatku. Ia
mengambil motor itu dariku, menyeimbangkannya pada
sandaran, dan menyambar tubuhku, mengangkat dan
memelukku erat-erat.


Aku mendengar mesin Volvo menggeram, dan berjuang
susah payah melepaskan diri.
"Hentikan, Jake!" aku terengah-engah kehabisan napas.
Jacob tertawa dan menurunkanku, Aku berbalik untuk
melambai, tapi mobil perak itu sudah lenyap di balik
tikungan jalan.
"Bagus.” komentarku, sengaja membiarkan nada jengkel
menyusup dalam suaraku.
Mata Jacob membelalak, berpura-pura lugu. “Apa?"
“Sikapnya sangat baik mengenai hal ini; jangan
memaksakan keberuntunganmu.”
Lagi-lagi Jacob tertawa, lebih keras daripada sebelumnya
– ia menganggap perkaraanku lucu sekali, Aku berusaha
mengira-ngira apa yang lucu sementara Jacob berjalan
mengitari mobil Rabbit untuk membukakan pintu bagiku.
"Bella,” kata Jacob akhirnya – masih terkekeh-kekeh –
sambil menutup pintu setelah aku masuk, "kau tidak bisa
memaksakan apa yang tidak kaumiliki.”
11. LEGENDA
"Kau mau makan hot dog itu tidak?" Paul bertanya
kepada Jacob, matanya terpaku pada makanan terakhir
yang masih tersisa dari begitu banyaknya hidangan yang
telah dihabiskan para werewolf.
Jacob bersandar di lututku dan memainkan hot dog yang
ditusukkan ke gantungan baju logam yang diluruskan; api
di ujung api unggun menjilat-jilat kulit sosis yang gosong. Ia
mengembuskan napas dan menepuk-nepuk perutnya. Entah
bagaimana perutnya masih datar, meskipun sudah tak bisa


kuhitung lagi berapa banyak hot dog yang dimakannya
setelah yang kesepuluh,
"Kurasa begitu.” jawab Jacob lambat-lambat. "Perutku
penuh sekali hingga rasanya kepingin muntah, tapi kalau
kupaksa, sepertinya masih bisa, Tapi aku tidak akan
menikmatinya sama sekali.” Jacob mengembuskan napas
lagi dengan sedih.
Walaupun Paul sudah makan setidaknya sebanyak yang
dimakan Jacob, ia memelototi Jacob dan mengepalkan
kedua tinju.
"Waduh,” Jacob tertawa. "Bercanda, Paul. Ini.”
Dilemparnya tusukan buatan sendiri itu ke seberang
lingkaran. Kupikir hot dog-nya bakal jatuh mencium pasir,
tapi dengan cekatan Paul menangkap ujungnya tanpa
kesulitan.
Bergaul dengan orang-orang yang luar biasa cekatan
setiap saat, lama-lama bakal membuatku minder.
"Trims, man,” seru Paul, sudah melupakan kemarahan
singkatnya tadi.
Api berderak, semakin mendekat ke pasir. Bunga api
meledak, tiba-tiba menyemburkan seberkas warna jingga
terang di langit yang hitam. Lucu, aku tidak sadar matahari
telah terbenam. Untuk pertama kalinya aku ingin tahu
sudah selarut apa sekarang. Aku benar-benar lupa waktu.
Ternyata lebih mudah nongkrong dengan teman-teman
Quileute-ku daripada yang kuduga.
Waktu Jacob dan aku mengantar sepeda motorku ke
garasi-dan ia dengan muram mengakui helm itu ide bagus
yang seharusnya terpikir olehnya-aku mulai khawatir
memikirkan reaksi yang akan kuterima saat muncul di acara
api unggun itu, Dalam hari aku bertanya-tanya apakah para


werewolf akan menganggapku pengkhianat sekarang.
Apakah mereka akan marah pada Jacob karena
mengajakku? Apakah aku akan merusak suasana pesta?
Tapi ketika Jacob menarikku keluar dari hutan ke temp
at pertemuan di puncak tebing-tempat api unggun sudah
menyala lebih terang daripada matahari yang tertutup
awan-suasana begitu santai dan ceria.
"Hai, cewek vampir!" Embry menyapaku dengan suara
keras. Quil melompat untuk tos dan mencium pipiku. Emily
meremas tanganku waktu kami duduk di tanah berbatu
yang dingin di sampingnya dan Sam.
Selain beberapa keluhan bernada menyindir-kebanyakan
dilontarkan Paul-tentang membuat bau pengisap darah
tercium karena aku duduk searah dengan arah angin, aku
diperlakukan sebagai bagian dari kelompok ini.
Ternyata yang hadir bukan hanya anak-anak, Ada Billy,
yang kursi radanya ditempatkan di posisi kepala lingkaran.
Di sebelahnya, di kursi lipat, tampak sangat rapuh, duduk
kakek Quil yang sudah tua dan berambut putih, Quil Tua.
Sue Clearwater, janda teman Charlie, Harry, duduk di kursi
di sebelah sang kakek: kedua anaknya, Leah dan Seth, juga
ada di sana, duduk di ranah seperti kami-kami yang lain. Ini
membuatku terkejut, tapi sekarang mereka bertiga jelas
sudah mengetahui rahasia ini. Menilik cara Billy dan Quil
Tua berbicara kepada Sue, kedengarannya Sue
menggantikan tempat Harry di dewan. Apakah itu lantas
membuat anak-anaknya otomatis menjadi anggota
kelompok paling rahasia di La Push?
Dalam hati aku bertanya-tanya, sulitkah bagi Leah
duduk berseberangan dengan Sam dan Emily? Wajah
cantiknya tak menunjukkan emosi apa pun, tapi ia tidak
peruah mengalihkan pandangan dari lidah api. Menatap


garis-garis wajah Leah yang sempurna, aku tidak bisa tidak
membandingkannya dengan wajah Emily yang hancur, Apa
pendapat Leah tentang bekas luka Emily, setelah sekarang
ia tahu hal sebenarnya di batik bekas-bekas luka itu?
Si kecil Seth Clearwater sekarang tidak kecil lagi.
Dengan seringaian lebarnya yang ceria serta perawakannya
yang jangkung dan sangar, ia sangat mengingatkanku pada
Jacob dulu. Kemiripan itu membuatku tersenyum,
kemudian mendesah. Apakah Seth juga akan mengalami
nasib yang sama, hidupnya berubah drastis sebagaimana
halnya cowok-cowok lain itu? Apakah karena masa depan
itu maka ia dan keluarganya diizinkan berada di sini?
Seluruh anggota kawanan ada di sana: Sam dengan
Emily-nya, Paul, Embry, dan Jared. dengan Kim, gadis
yang diimprint-nya.
Kesan pertamaku terhadap Kim adalah bahwa ia gadis
yang baik, sedikit pemalu, dan agak biasa. Wajahnya lebar,
dengan tulang pipi menonjol dan mata yang kelewat kecil
untuk mengimbanginya. Hidung dan mulutnya terlalu lebar
untuk standar kecantikan tradisional, Rambut hitam
lurusnya tipis dan lemas ditiup angin yang rasanya tak
pernah mau berhenti bertiup di puncak tebing seperti ini.
Itu kesan pertamaku. Tapi setelah beberapa jam
memerhatikan Jared memandangi Kim, aku tak lagi
menganggap gadis itu biasa-biasa saja.
Cara Jared menatapnya! Seperti orang buta melihat
matahari untuk pertama kalinya. Seperti kolekror
menemukan lukisan Da Vinci yang belum ditemukan,
seperti ibu menatap wajah anak yang baru dilahirkannya.
Sorot mata Jared yang penuh kekaguman membuatku
melihat hal-hal baru mengenai Kim-bagaimana kulitnya
tampak bagaikan sutra cokelat kemerahan dalam nyala api,


bagaimana bentuk bibirnya merupakan kurva ganda yang
sempurna, bagaimana gigi putihnya tampak sangat indah
mengintip di sela bibir itu, betapa panjang bulu matanya,
menyapu pipinya saat ia memandang ke bawah.
Kulit Kim terkadang berubah gelap saat matanya
bertemu tatapan takjub Jared, dan ia kemudian cepat-cepat
menunduk seolah malu, tapi ia sendiri tak bisa mengalihkan
pandangannya dan Jared untuk waktu cukup lama.
Memandangi mereka, aku merasa seolah-olah bisa lebih
memahami apa yang diceritakan Jacob padaku tentang
imprint sebelumnya-sulit menolak komitmen dan pemujaan
dalam tingkat seperti itu.
Kim kini duduk bersandar di dada Jared dengan kepala
mengangguk-angguk, kedua lengan Jared merangkulnya.
Aku membayangkan Kim pasti merasa hangat sekali di
sana.
"Sekarang sudah malam sekali,” bisikku pada Jacob.
“Jangan bicara begitu dulu.” Jacob balas berbisikwalaupun
jelas bahwa setengah anggota kelompok di sini
memiliki pendengaran yang cukup sensitif untuk
mendengar pembicaraan kami. "Bagian terbaik justru belum
dimulai.”
"Bagian terbaik apa? Kau menelan sapi bulat-bulat?"
Jacob mengumandangkan tawanya yang serak dan
rendah. "Tidak. Itu penutupnya. Tujuan pertemuan itu
bukan sekadar melahap makanan yang jumlahnya cukup
untuk seminggu. Teknisnya, ini pertemuan dewan. Ini
pertemuan pertama Quit dan dia belum mendengar
ceritanya. Well, dia sudah mendengarnya, tapi ini pertama
kalinya dia tahu cerita-cerita itu benar, Itu cenderung


membuat seseorang jadi lebih memerhatikan. Kim, Seth,
dan Leah juga baru pertama kali datang.”
"Cerita-cerita?"
Jacob cepat-cepat beringsut kembali ke sampingku,
tempat aku bersandar di tebing baru yang rendah. Ia
merangkul bahuku dan berbisik pelan di telingaku.
"Sejarah yang selama ini kami pikir hanyalah legenda,”
kata Jacob. "Kisah-kisah keberadaan kami. Yang pertama
adalah kisah tentang para pejuang roh.”
Hampir seolah-olah bisikan lirih Jacob merupakan kata
pengantar pembuka cerita. Atmosfer mendadak berubah di
sekeliling api unggun yang berkobar rendah. Paul dan
Embry duduk lebih tegak. Jared menyenggol Kim dan
dengan lembut menarik tubuhnya agar duduk lebih tegak.
Emily mengeluarkan buku tulis berjilid spiral serta
bolpoin, lagaknya mirip pelajar yang siap mendengarkan
kuliah penting. Sam menggeser tubuhnya sedikit di
sampingnya-sehingga Sam kini menghadap ke arah yang
sama dengan Quil Tua, yang duduk di samping Sam-dan
mendadak aku sadar para tua-tua dewan di sini jumlahnya
bukan tiga, melainkan empat.
Leah Clearwater, wajahnya masih berupa topeng cantik
tanpa emosi, memejamkan mata-bukan seperti sedang lelah,
tapi seperti mencoba berkonsentrasi. Adik lelakinya
mencondongkan tubuh ke arah para tua-tua dengan penuh
semangat.
Api berkeretak, percikan bunga api kembali terlontar,
gemerlap di malam yang gelap.
Billy berdeham-deham membersihkan tenggorokan, dan,
tanpa merasa perlu memberi kata pengantar lagi, mulai
mengisahkan ceritanya dengan suara yang dalam dan


berwibawa, Kata-katanya mengalir mantap, seolah-olah ia
sudah menghafalnya luar kepala, tapi juga dengan penuh
perasaan dan irama yang halus. Seperti puisi yang
dibacakan sendiri oleh penulisnya.
"Sejak awal suku Quileute merupakan suku kecil,” cerita
Billy. "Dan walaupun sampai sekarang jumlah kita masih
sedikit, namun kita tidak pernah punah. Ini karena sejak
dulu ada suatu kekuatan magis dalam darah kita. Bukan
kemampuan berubah wujud-itu baru dimiliki belakangan.
Awalnya, kita adalah pejuang roh.”
Sebelumnya aku tak pernah mengenali wibawa dalam
suara Billy Black, walaupun sekarang kusadari,
kewibawaan itu sejak dulu memang sudah ada.
Bolpoin Emily meluncur cepat menggores-gores
permukaan kertas, berusaha mengimbangi penuturan Billy.
"Pada awalnya, suku kita berdiam di pantai ini dan
menjadi pembuat kapal serta nelayan yang ahli. Tapi suku
ini kecil, sementara pantai ini kaya ikan. Ada beberapa suku
lain yang menginginkan tanah kita, dan jumlah kira terlalu
sedikit untuk mempertahankannya. Suku lain yang lebih
besar datang menyerang kira, dan kira menaiki kapal-kapal
untuk melarikan diri dari mereka.
"Kaheleha bukanlah pejuang roh pertama, tapi kami
tidak ingat kisah-kisah lain sebelum kisahnya. Kami tidak
ingat siapa yang pertama kali menemukan kekuatan ini,
atau bagaimana kekuatan itu digunakan sebelum krisis ini.
Kaheleha adalah Kepala Suku Roh agung pertama dalam
sejarah kita. Dalam situasi yang genting ini, Kaheleha
menggunakan kemampuan itu untuk mempertahankan
tanah kita.
"Dia dan semua pejuangnya meninggalkan kapal-bukan
raga, melainkan roh mereka. Kaum wanita menjaga raga


mereka dan mengawasi ombak, sementara kaum pria
kembali ke pantai kita dalam wujud roh.
"Mereka tidak bisa menyentuh suku musuh secara fisik,
tapi mereka punya cara lain. Konon mereka bisa
meniupkan angin kencang ke perkemahan musuh; mereka
bisa meniupkan angin dahsyat yang melengking tinggi,
membuat musuh-musuh mereka rakut. Konon, menurut
cerita, hewan-hewan bisa melihat para pejuang roh dan
memahami mereka; hewan-hewan itu bersedia
melaksanakan perintah mereka.
"Kaheleha membawa pasukan rohnya dan- mengacaubalaukan
para pendatang tak diundang itu, Suku penjajah
itu memiliki banyak kawanan anjing besar berbulu tebal
yang mereka gunakan untuk menarik kereta luncur di
daerah utara yang membeku. Para pejuang roh membuat
anjing-anjing itu melawan tuan mereka, kemudian
mendatangkan ribuan kelelawar dari gua-gua di tebing.
Mereka menggunakan angin yang melengking untuk
membantu anjing-anjing itu membuat bingung tuan mereka.
Anjing dan kelelawar menang. Mereka yang selamat
tercerai-berai, menyebut pantai kira tempat terkutuk.
Anjing-anjing itu berlari liar ketika para pejuang roh
melepaskan mereka. Kaum lelaki suku Quileute kembali ke
tubuh dan istri mereka, penuh kemenangan.
"Suku-suku lain yang tinggal berdekatan, suku Hoh dan
Makah, membuat perjanjian dengan suku Quileute. Mereka
tidak mau terkena kekuatan magis kita. Kita hidup damai
berdampingan dengan mereka. Setiap musuh yang datang
akan dihalau oleh para pejuang roh.
"Beberapa generasi berlalu. Dan sampailah kita pada
Kepala Suku Roh agung terakhir, Taha Aki. Dia dikenal
bijaksana dan cinta damai. Rakyat hidup makmur dan
bahagia di bawah pemerintahannya.


"Tapi ada satu orang, Utlapa, yang merasa tidak puas.”
Desisan rendah terdengar dari sekitar api unggun. Aku
tidak sempat melihat dari mana suara itu berasal. Billy tidak
menggubrisnya dan melanjutkan penuturannya.
"Utlapa adalah salah seorang pejuang roh paling kuat
yang dimiliki Kepala Suku Taha Aki-berilmu tinggi, tapi
juga serakah. Dia berpendapat, rakyat seharusnya
menggunakan kemampuan magis mereka untuk menambah
luas wilayah kekuasaan, memperbudak suku Hoh dan
Makah, dan membangun kerajaan.
"Perlu diketahui, saat para pejuang berada dalam bentuk
roh, mereka saling mengetahui pikiran yang lain. Taha Aki
melihat apa yang diimpikan Utlapa, dan marah padanya.
Utlapa diperintahkan meninggalkan sukunya, dan tidak
boleh lagi menggunakan wujud rohnya. Utlapa lelaki kuat,
tapi para pejuang yang setia kepada Kepala Suku jauh lebih
banyak. Dia tidak punya pilihan lain selain pergi. Orang
terbuang yang marah itu bersembunyi di dalam hutan di
dekat situ, menunggu kesempatan membalas dendam
kepada Kepala Suku.
"Bahkan pada masa-masa damai, Kepala Suku Roh
selalu waspada melindungi rakyatnya. Sering kali dia pergi
ke tempat suci rahasia di pegunungan. Dia akan
meninggalkan raganya dan terbang melintasi hutan,
menyusuri tepi pantai, memastikan tidak ada ancaman yang
mendekat.
"Suatu hari, saat Taha Aki pergi untuk melaksanakan
tugasnya mi, Utlapa membuntuti. Awalnya, Utlapa banyak
berencana membunuh SI Kepala Suku, tapi rencana ini
berbahaya. Jelas, para pejuang roh akan mencarinya untuk
menghabisinya, dan mereka bisa membuntutinya lebih
cepat daripada kemampuannya meloloskan diri, Ketika dia
bersembunyi di balik bebatuan dan melihat Kepala Suku


bersiap-siap meninggalkan rubuhnya, rencana lain muncul
dalam benaknya.
"Taha Aki meninggalkan tubuhnya di tempat rahasia dan
terbang bersama angin agar tetap bisa mengawasi
rakyatnya. Utlapa menunggu sampai dia yakin wujud roh
Kepala Suku sudah berada cukup jauh.
"Taha Aki langsung tahu Urlapa bergabung dengannya
dalam dunia roh, dan dia juga tahu rencana kejam Utlapa.
Dia bergegas kembali ke tempat rahasianya, tapi bahkan
angin pun tidak cukup cepat untuk menyelamatkannya.
Waktu Taha Aki sampai lagi di tempat rahasianya,
tubuhnya sudah tidak ada. Tubuh Urlapa tergeletak begitu
saja di sana, tapi Utlapa tidak memberi kesempatan pada
Taha Aki untuk kembali ke dunia nyata-dia sudah
menggorok lehernya sendiri dengan tangan Taha Aki.
"Taha Aki mengikuti tubuhnya turun gunung. Dia
berteriak pada Urlapa, tapi Utlapa mengabaikannya, seolaholah
dia hanya angin biasa.
"Taha Aki melihat dengan putus asa bagaimana Urlapa
mengambil tempatnya sebagai kepala suku Quileute.
Selama beberapa minggu, Utlapa tidak melakukan apa-apa
kecuali memastikan semua orang percaya dia adalah Taba
Aki. Lalu perubahan-perubahan pun dimulai-perintah
pertama Urlapa adalah melarang pejuang mana pun
memasuki dunia roh. Dia mengklaim telah mendapat visi
akan terjadinya bahaya, padahal sebenarnya dia takut. Dia
tahu Taha Aki menunggu kesempatan untuk menceritakan
hal sebenarnya pada pejuang roh lain. Utlapa juga takut
memasuki dunia roh, tahu Taha Aki pasti bisa dengan cepat
merebut kembali tubuhnya. Jadi impian Utlapa menguasai
dunia dengan para pejuang roh mustahil diwujudkan, dan
dia menghibur diri dengan bersikap sewenang-wenang
terhadap sukunya. Dia menjadi beban-meminta perlakuan


khusus yang tidak pernah dilakukan Taha Aki, mengambil
istri kedua yang masih muda dan kemudian ketiga, padahal
istri pertama Taha Aki masih hidup-sesuatu yang tak
pernah dilakukan kaum lelaki suku kita. Taha Aki melihat
itu semua dengan kemarahan yang tidak berdaya.
“Akhirnya, Taha Aki berusaha membunuh tubuhnya
untuk menyelamatkan sukunya dari kesewenang-wenangan
Utlapa. Dia membawa seekor serigala buas dari
pegunungan, tapi Utlapa bersembunyi di balik para
pejuangnya. Waktu serigala itu membunuh seorang pemuda
yang melindungi kepala suku palsu, Taha Aki merasa
sangat berduka dan bersalah. Diperintahkannya serigala itu
pergi.
"Semua kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak
mudah menjadi pejuang roh, Lebih mengerikan daripada
menyenangkan saat terbebas dari raga kita, Inilah sebabnya
mereka hanya menggunakan kemampuan mereka saat
benar-benar dibutuhkan. Perjalanan seorang diri sang
Kepala Suku untuk terus mengawasi rakyatnya menjadi
beban sekaligus pengorbanan. Tidak memiliki raga adalah
hal yang membingungkan, tidak nyaman, dan mengerikan.
Taha Aki sudah begitu lama terpisah dengan tubuhnya
hingga pada titik ini dia merasa sangat menderita. Dia
merasa terperangkap-tidak akan pernah bisa menyeberang
ke tanah akhir tempat para leluhurnya menunggu,
terperangkap dalam ketiadaan yang menyiksa selamalamanya.
"Serigala besar itu mengikuti roh Taha Aki yang
menggeliat-geliat dan mengaduh-aduh penuh penderitaan
menembus hutan. Tubuh serigala itu sangat besar untuk
jenisnya, dan rupawan. Taha Aki tiba-tiba merasa iri
kepada hewan bodoh itu. Setidaknya hewan itu masih
memiliki raga. Setidaknya hewan itu masih memiliki


kehidupan. Bahkan kehidupan sebagai binatang pun masih
lebih baik daripada kesadaran hampa yang mengerikan ini.
"Kemudian Taha Aki mendapat ilham yang mengubah
kita semua. Dia meminta kepada serigala besar itu untuk
memberi ruang bagi rohnya, untuk berbagi raga. Serigala itu
setuju. Taha Aki memasuki tubuh serigala itu dengan lega
dan bersyukur. Memang bukan tubuh manusianya. tapi ini
lebih baik daripada kehampaan dunia roh.
"Sebagai satu rubuh, manusia dan serigala itu kembali ke
perkampungan di tepi pantai. Orang-orang berlarian
ketakutan, berteriak-teriak memanggil para pejuang. Para
pejuang berhamburan keluar, menyongsong serigala itu
dengan tombak mereka, Utlapa, tentu saja, bersembunyi
dengan aman di dalam.
"Taha Aki tidak menyerang para pejuang. Perlahanlahan
dia mundur dari mereka, berbicara dengan matanya
dan berusaha melolongkan lagu-lagu rakyatnya. Para
pejuang mulai menyadari serigala itu bukan hewan
sembarangan, bahwa ada roh yang menguasainya. Salah
seorang pejuang yang sudah tua, lelaki bernama Yut,
memutuskan untuk melanggar perintah sang kepala suku
palsu dan mencoba berkomunikasi dengan serigala itu.
"Begitu Yut menyeberang ke dunia roh, Taha Aki keluar
dari tubuh serigala-binatang itu menunggu dia kembali
dengan sikap jinak-untuk bicara dengannya. Yut langsung
mengetahui hal yang sebenarnya, dan menyambut
kedatangan kembali si kepala suku yang asli.
"Kemudian Urlapa datang untuk melihat apakah serigala
itu telah berhasil dikalahkan. Ketika diliharnya Yut
tergeletak tanpa roh di tanah, dikelilingi para pejuang yang
protekrif Utlapa menyadari apa yang terjadi. Utlapa


langsung mencabut pisaunya dan menghambur untuk
membunuh Yut sebelum dia bisa kembali ke tubuhnya,
"'Pengkhianatt'seru Udapa, dan para pejuang itu tidak
tahu harus berbuat apa. Kepala Suku sudah melarang
mereka berkelana ke dunia roh, jadi kepala Suku berhak
memutuskan bagaimana menghukum mereka yang
melanggar perintahnya.
''Yut melompat kembali memasuki tubuhnya, tapi Utlapa
menghunus pisaunya ke leher Yut dan menutup mulutnya
dengan tangan. Tubuh Taha Aki kuat, sementara Yut sudah
lemah karena usia. Yut tidak sempat mengucapkan sepatah
kata pun untuk mengingatkan para pejuang lain sebelum
Utlapa membungkamnya selama-lamanya.
"Taha Aki melihat bagaimana roh Yut melayang ke
negeri akhir yang tidak boleh dimasuki Taha Aki untuk
selama-lamanya. Dia merasa sangat marah, kemarahannya
jauh lebih dahsyat daripada yang pernah dirasakannya
sebelumnya. Dia memasuki tubuh serigala besar itu lagi,
bermaksud mengoyak-ngoyak leher Utlapa. Tapi saat dia
menyatu dengan serigala itu, keajaiban besar terjadi.
"Kemarahan Taha Aki adalah kemarahan seorang lelaki.
Cintanya terhadap rakyat dan kebenciannya terhadap orang
yang menjajah mereka terlalu besar untuk tubuh si serigala,
terlalu manusia. Serigala itu bergetar, dan-di depan mata
kepala para pejuang dan Utlapa yang syok bukan kepalang
berubah menjadi manusia,
"Lelaki baru itu tidak terlihat seperti tubuh Taha Aki,
Dia jauh lebih agung. Dia adalah perwujudan daging dari
roh Taha Aki. Tapi para pejuang langsung mengenalinya,
karena mereka pernah berkelana bersama roh Taha Aki.
"Utlapa mencoba lari, tapi Taha Aki memiliki kekuatan
serigala dalam tubuh barunya. Dia langsung menangkap si


penjahat dan meremukkan rohnya sebelum dia sempat
melompat keluar dari tubuh curiannya.
"Rakyat bersorak-sorai begitu menyadari apa yang
terjadi. Taha Aki dengan cepat membenahi semuanya,
bekerja lagi bersama rakyatnya dan mengembalikan para
istri muda ke keluarga masing-masing. Satu-satunya
perubahan yang tetap dia pertahankan adalah berakhirnya
perjalanan roh. Dia tahu perjalanan roh terlalu berbahaya,
karena bisa membuat seseorang mencuri kehidupan orang
lain. Dan pejuang roh pun menghilang.
"Mulai saat itu, Taha Aki bukan serigala, bukan pula
manusia. Mereka menyebutnya Taha Aki si Serigala Besar,
atau Taha Aki si Manusia Roh. Dia memimpin sukunya
selama bertahun-tahun, karena dia tidak pernah menua,
Bila bahaya mengancam, dia akan mengubah diri menjadi
serigala untuk melawan atau menakut-nakuti musuh.
Rakyat hidup dalam damai. Taha Aki memiliki banyak
anak laki-laki, dan sebagian dari mereka mendapati bahwa,
setelah mencapai usia dewasa, mereka juga bisa berubah
bentuk menjadi serigala. Setiap serigala berbeda, karena
mereka serigala roh dan merefleksikan manusia yang berada
dalam diri mereka.”
"Pantas bulu Sam seluruhnya berwarna hitam.” gumam
Quil pelan, nyengir. "Hatinya hitam, bulunya hitam.”
Aku begitu terhanyut dalam kisah itu, hingga syok
rasanya kembali ke masa kini, ke kelompok yang duduk
mengitari api unggun yang mulai redup, Lagi-lagi dengan
perasaan syok, sadarlah aku bahwa orang-orang yang
duduk mengitari api unggun ini adalah cucu-cucu Taha
Aki-entah keturunan keberapa mereka.


Api melontarkan serentetan bunga api ke langit, lidahnya
bergetar dan menari-nari, memunculkan berbagai bentuk
yang nyaris tak bisa dikenali.
"Kalau begitu bulumu yang cokelat melambangkan apa?"
Sam balas berbisik kepada Quil. "Berapa manisnya dirimu?"
Billy tak menggubris olok-olok mereka. "Sebagian anakanak
lelaki itu menjadi pejuang bersama Taha Aki, dan
mereka tidak lagi bertambah tua. Yang lain-lain, yang tidak
menyukai transformasi, menolak bergabung dengan
kawanan werewolf. Mereka mulai bertambah tua lagi, dan
penduduk suku mendapati bahwa werewolf bisa bertambah
tua seperti yang lain bila mereka melepaskan roh serigala
mereka. Usia Taha Aki tiga kali lipat usia rata-rata manusia
umumnya. Dia menikahi istri ketiga setelah kematian dua
istri pertamanya, dan menemukan istri rohnya yang sejati
dalam diri istri ketiganya mi. Walaupun dia juga mencintai
istri-istrinya yang lain, tapi ini berbeda. Dia memutuskan
untuk melepaskan serigala rohnya supaya bisa mati saat
istrinya mati.
"Begitulah caranya kemampuan magis itu menurun pada
kita, tapi ceritanya belum berakhir sampai di sini....”
Ia memandangi Quil Ateara Tua yang bergerak di
kursinya, menegakkan bahunya yang ringkih. Billy minum
dari sebuah botol berisi air dan menyeka dahinya, Bolpoin
Emily tidak pernah ragu saat ia menulis dengan cepat di
atas kertas.
"Itulah cerita tentang para pejuang roh.” Quil Tua
memulai dengan suara tenornya. "Dan inilah cerita
mengenai pengorbanan sang istri ketiga.”
"Beberapa tahun setelah Taha Aki melepaskan serigala
rohnya, ketika dia sudah tua, timbul kekacauan di utara,
dengan suku Makah. Beberapa wanita muda suku Makah


lenyap, dan orang-orang Makah menyalahkan para serigala
tetangga mereka, yang ditakuti sekaligus tidak dipercaya.
Para werewolf masih bisa saling membaca pikiran saat
sedang menjadi serigala, sama seperti leluhur mereka saat
dalam wujud roh. Mereka tahu tak seorang pun di antara
mereka bersalah. Taha Aki berusaha menenangkan kepala
suku Makah, rapi ketakutan terasa begitu kuar. Taha Aki
tidak menginginkan terjadinya perang. Dia bukan lagi
pejuang yang memimpin pasukannya terjun ke medan
perang. Disuruhnya putra serigala tertuanya, Taha Wi,
mencari si pembuat onar sebelum timbul kerusuhan.
"Taha Wi memimpin lima serigala lain dalam
kawanannya menyisiri seluruh wilayah pegunungan,
mencari bukti hilangnya orang-orang Makah. Mereka
menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka temukan
sebelumnya-aroma wangi manis yang aneh di hutan yang
membakar hidung mereka hingga terasa sangat
menyakitkan.”
Aku beringsut lebih rapat lagi ke samping Jacob. Kulihat
sudut mulutnya berkedut-kedut senang, dan lengannya
memelukku semakin erat.
"Mereka tidak tahu makhluk apa yang bisa
meninggalkan bau seharum itu, tapi mereka mengikutinya.”
lanjut Quil Tua. Suaranya yang bergetar tidak sewibawa
suara Billy, namun memiliki secercah nada garang
mendesak yang aneh di dalamnya. Jantungku melompat
ketika kata-katanya berhamburan semakin cepat.
"Mereka menemukan samar-samar sisa bau manusia,
juga bau darah manusia, di sepanjang jalan. Mereka yakin
inilah musuh yang mereka cari-cari.
"Perjalanan itu membawa mereka sangat jauh ke utara
sehingga Taha Wi mengirim pulang setengah anggota


kawanan, serigala-serigala muda, kembali ke tepi pantai
untuk melapor kepada Taha Aki.
"Taha Wi dan kedua saudaranya tidak pernah kembali.
"Serigala-serigala muda itu mencari kakak-kakak mereka,
tapi hanya menemukan kesunyian. Taha Aki menangisi
anak-anak Lelakinya yang hilang. Dia pergi menemui
kepala suku Makah dalam pakaian berkabung dan
menceritakan semua yang terjadi. Kepala suku Makah
percaya melihat duka cita Taha Aki, dan ketegangan di
antara kedua suku mereda.
"Setahun kemudian, dua gadis Makah lenyap dari rumah
mereka pada malam yang sama, Suku Makah. Langsung
memanggil para werewolf, yang menemukan bau harum
yang sama di seluruh penjuru perkampungan Makah.
Serigala-serigala itu kembali melakukan perburuan.
"Hanya satu yang kembali. Dia adalah Yaha Uta, anak
sulung dari istri ketiga Taha Aki, sekaligus yang termuda
dalam kawanan. Dia membawa sesuatu yang belum pernah
dilihat suku Quileute sepanjang sejarah-mayat aneh yang
dingin dan keras seperti batu, yang dibawanya dalam
bentuk potongan-potongan. Semua keturunan Taha Aki,
bahkan yang tidak pernah menjadi serigala, bisa mencium
bau menyengat dari makhluk mati itu. Inilah musuh suku
Makah.
"Yaha Uta melukiskan apa yang terjadi: dia dan kakakkakaknya
menemukan makhluk itu, yang mirip manusia
tapi tubuhnya sekeras batu granit, bersama dua perempuan
Makah. Satu dari kedua gadis itu sudah mati, pucat pasi
kehabisan darah, tergeletak di tanah. Gadis yang satu lagi
berada dalam dekapan makhluk itu, giginya menancap di
leher si gadis. Mungkin gadis itu masih hidup waktu mereka
melihat pemandangan mengerikan itu, tapi makhluk itu
dengan cepat mematahkan leher si gadis dan


mencampakkan tubuhnya yang sudah tak bernyawa ke
tanah waktu mereka mendekat, Bibir putihnya berlumuran
darah si gadis, dan matanya berkilau merah.
"Yaha Uta menggambarkan kekuatan serta kecepatan
makhluk itu, Salah seorang kakaknya langsung menjadi
korban ketika meremehkan kekuatannya. Makhluk itu
mencabik-cabik tubuh kakaknya seperti boneka, Yaha Uta
dan saudaranya yang lain lebih berhati-hati. Mereka bekerja
sama, menyerang makhluk itu dari berbagai sisi,
mengakalinya. Mereka harus mengerahkan segala daya dan
kekuatan mereka sebagai serigala, sesuatu yang tidak
pernah teruji sebelumnya. Makhluk itu keras seperti batu
dan dingin seperti es. Mereka mendapati hanya gigi
merekalah yang bisa menghancurkan makhluk itu. Mereka
mulai mencabik sedikit demi sedikit anggota tubuh makhluk
itu sementara makhluk itu melawan.
"Tapi makhluk itu cepat tanggap, dan tak lama kemudian
mulai mengimbangi manuver mereka. Dia berhasil
menangkap saudara Yaha Uta. Yaha Uta melihat celah di
leher makhluk itu, lalu menerkamnya. Giginya merobek
kepala makhluk itu dari tubuhnya, tapi tangan-tangan
makhluk itu tetap mencoba meremukkan tubuh kakaknya.
"Yaha Uta mengoyak-ngoyak makhluk itu hingga tak
bisa dikenali lagi, mencabik-cabik tubuh makhluk itu dalam
upayanya menyelamatkan kakaknya. Dia terlambat, tapi,
akhirnya, makhluk itu berhasil dihancurkan.
"Atau begitulah perkiraan mereka. Yaha Uta meletakkan
potongan-potongan tubuh makhluk itu untuk diteliti para
tua-tua. Potongan tangan tergeletak di samping potongan
lengan si makhluk yang sekeras granit. Dua bagian tubuh
itu saling menyentuh saat para tua-tua menusuk-nusuknya
dengan tongkat, dan potongan tangan menggapai potongan
lengan, berusaha menyatu kembali.


"Dengan penuh kengerian para tua-tua membakar sisasisa
potongan tubuh itu. Awan besar berbau harum
mengepul, mencemari udara. Setelah tidak tersisa apa-apa
lagi kecuali abu, mereka membagi-bagi abu itu ke kantongkantong
kecil dan membuangnya ke berbagai tempat
terpisah-sebagian ke laut, sebagian ke hutan, sebagian lagi
ke gua-gua tebing. Taha Aki mengalungkan sebuah kantong
di lehernya, agar dia tahu bila makhluk itu berusaha
menyatukan diri kembali.”
Quil Tua berhenti sebentar dan berpaling kepada Billy.
Billy melepas kalung kulit yang melingkari lehernya. Di
ujungnya tergantung kantong kecil, menghitam dimakan
usia. Beberapa orang terkesiap. Bisa jadi itu salah satu
kantong-kantong tersebut.
"Mereka menyebutnya Makhluk Dingin, Peminum
Darah, dan mereka hidup dalam ketakutan bahwa makhluk
itu tidak sendirian. Padahal hanya satu serigala pelindung
yang tersisa, si muda Yaha Uta.
"Mereka tidak perlu menunggu lama. Makhluk itu
memiliki pasangan, juga peminum darah, yang datang ke
perkampungan Quileute untuk membalas dendam.
"Konon Wanita Dingin itu makhluk paling cantik yang
pernah dilihat mata manusia. Dia bagaikan dewi fajar saat
memasuki perkampungan pagi itu; sekali itu matahari
bersinar, dan cahayanya berkilauan menerpa kulitnya yang
putih dan membakar rambut emasnya yang tergerai hingga
ke lutut. Wajahnya sangat rupawan, matanya hitam di
wajahnya yang putih. Beberapa orang berlutut untuk
memujanya.
"Dia menanyakan sesuatu dengan suara tinggi
melengking, dalam bahasa yang tak pernah didengar
manusia. Orang-orang bingung, tidak tahu bagaimana


menjawabnya. Tidak ada keturunan Taha Aki di antara
para saksi mata kecuali seorang anak lelaki kecil. Dia
mencengkeram baju ibunya dan berteriak, mengatakan bau
wanita itu menyengat hidungnya. Salah seorang tua-tua,
yang saat itu sedang dalam perjalanan ke tempat
pertemuan, mendengar perkataan bocah itu dan menyadari
siapa yang berada di antara mereka. Dia berteriak,
menyuruh orang-orang lari. Wanita itu membunuhnya
pertama kali.
"Ada dua puluh saksi mata yang melihat kedatangan si
Wanita Dingin. Dua selamat, hanya karena perhatian
wanita itu teralih oleh darah, dan berhenti sebentar untuk
memuaskan dahaganya. Mereka berlari ke Taha Aki, yang
duduk di ruang rapat bersama para tua-tua lain, anak-anak
lelakinya, dan istri ketiganya. .
"Yaha Uta langsung berubah menjadi serigala begitu
mendengar kabar itu. Dia pergi untuk menghancurkan si
peminum darah sendirian. Taha Aki, istri ketiganya, anakanak
lelakinya, serta para tua-tua mengikuti di belakangnya.
“Awalnya mereka tidak bisa menemukan makhluk itu,
hanya bukti serangannya. Mayat-mayat bergelimpangan,
beberapa kering tanpa darah lagi, beberapa berceceran di
jalan tempatnya menghilang. Kemudian mereka mendengar
jeritan dan bergegas menuju tepi pantai.
"Beberapa gelintir orang suku Quileute berlari ke kapalkapal
untuk menyelamatkan diri. Wanita itu mengejar
seperti hiu, dan mematahkan haluan kapal dengan
kekuatannya yang luar biasa. Ketika kapal tenggelam, dia
menangkap orang-orang yang berusaha melarikan diri
dengan berenang menjauh dan menghabisi mereka juga.
"Begitu melihat serigala besar di tepi pantai, wanita itu
langsung melupakan orang-orang yang berenang menjauh.


Secepat kilat dia berenang lagi ke pantai, saking cepatnya
hingga gerakannya tampak kabur, tubuhnya menetesneteskan
air, berdiri anggun di depan Yaha Uta. Wanita itu
menudingnya dengan telunjuknya yang putih dan
mengajukan pertanyaan yang lagi-lagi tidak bisa dimengerti.
Yaha Uta menunggu.
"Pertarungan berlangsung sengit. Wanita itu tidak sekuat
pasangannya. Tapi Yaha Uta sendirian-tidak ada yang bisa
membantunya mengalihkan kemarahan makhluk itu.
"Waktu Yaha Uta kalah, Taha Aki menjerit tidak terima.
Terpincang-pincang, ia berjalan maju dan berubah menjadi
serigala tua bermoncong putih. Serigala itu sudah tua, tapi
ini Taha Aki si Manusia Roh, dan amarah membuatnya
kuat, Pertarungan dimulai lagi.
"Istri ketiga Taha Aki baru saja melihat putranya tewas
di depan mata kepalanya sendiri. Sekarang suaminya
bertarung, dan dia tidak punya harapan suaminya bisa
menang. Dia mendengar setiap kata yang diceritakan si
saksi di hadapan dewan desa. Dia juga mendengar cerita
tentang kemenangan pertama Yaha Uta, dan tahu bahwa
Yaha Uta selamat karena saudara lelakinya mengalihkan
perhatian makhluk itu darinya.
"Si istri ketiga menyambar pisau dari sabuk salah seorang
putra yang berdiri di sampingnya. Mereka semua masih
muda, belum dewasa, dan si istri tahu mereka pasti mati
bila ayah mereka gagal.
"Si istri ketiga menghambur ke arah si Wanita Dingin
dengan pisau terangkat tinggi-tinggi. Si Wanita Dingin
tersenyum, perhatiannya nyaris tidak teralihkan dari
pertarungannya dengan si serigala tua. Dia tidak takut pada
manusia wanita yang lemah atau pisau yang bahkan tidak


akan menggores kulitnya, dan dia sudah bersiap-siap
melayangkan pukulan kematian ke arah Taha Aki.
"Kemudian si istri ketiga melakukan sesuatu yang tidak
disangka-sangka sama sekali oleh si Wanita Dingin. Dia
berlutut di kaki si peminum darah dan menusukkan pisau
itu ke jantungnya sendiri.
"Darah muncrat dari sela-sela jari si istri ketiga dan
mengenai si Wanita Dingin. Si peminum darah tak mampu
menahan godaan darah segar yang mengalir dari tubuh istri
ketiga. Secara instingtif dia berpaling ke wanita yang sekarat
itu, sesaat terhanyut dahaganya sendiri.
"Gigi Taha Aki langsung menjepit lehernya.
"Itu bukan akhir pertarungan, tapi Taha Aki sekarang
tidak sendirian. Menyaksikan ibu mereka sekarat, dua anak
lelaki yang masih muda merasakan kemarahan yang
meluap-luap hingga mereka menerjang maju sebagai
serigala roh, meskipun mereka belum dewasa. Bersama
ayah mereka, mereka menghabisi makhluk itu.
"Taha Aki tidak pernah bergabung kembali dengan
sukunya. Dia tidak pernah berubah menjadi manusia lagi.
Dia berbaring selama satu hari di samping jenazah istri
ketiganya, menggeram setiap kali ada yang berusaha
menyentuh jenazah istrinya, kemudian Taha Aki pergi ke
hutan dan tidak pernah kembali.
"Sejak saat itu, masalah dengan makhluk-makhluk
dingin jarang terjadi. Para putra Taha Aki menjaga suku
sampai anak-anak lelaki mereka cukup tua untuk
menggantikan. Tidak pernah ada lebih dari tiga serigala
pada saat bersamaan. Itu sudah cukup. Sesekali peminum
darah melewati wilayah ini, tapi mereka terkejut karena
tidak mengira sama sekali akan berhadapan dengan
serigala-serigala. Kadang-kadang ada serigala yang tewas,


tapi tidak pernah sampai habis total seperti waktu pertama
kali. Mereka sudah belajar bagaimana bertarung dengan
para makhluk dingin, dan mereka mewariskan pengetahuan
itu turun-temurun, dari pikiran serigala ke pikiran serigala
lain, dari roh ke roh, dari ayah ke anak lelaki.
"Waktu berlalu, dan keturunan Taha Aki tidak lagi
menjadi serigala saat mereka mencapai usia dewasa. Hanya
sesekali, bila ada makhluk dingin di sekitar mereka, barulah
serigala-serigala itu muncul lagi. Makhluk-makhluk dingin
selalu datang sendiri atau berpasangan, dan kelompok
mereka tetap kecil,
"Kelompok yang lebih besar datang, dan kakek buyut
kalian bersiap-siap bertarung untuk mengusir mereka. Tapi
pemimpin mereka berbicara dengan Ephraim Black seolaholah
dia manusia, dan berjanji tidak akan mencelakakan
suku Quileute. Mata kuningnya yang aneh menjadi bukti
ucapannya bahwa mereka tidak sama dengan para
peminum darah lain. Jumlah serigala kalah banyak
dibanding jumlah mereka; makhluk-makhluk dingin itu
tidak perlu menawarkan kesepakatan karena mereka
sebenarnya bisa memenangkan pertarungan. Ephraim
setuju. Mereka menepati janji mereka, walaupun kehadiran
mereka cenderung menarik yang lain-lain untuk datang.
"Dan jumlah mereka memaksa munculnya kawanan
yang lebih besar daripada yang pernah dilihat suku ini.”
lanjut Quil Tua, dan sejenak, mata hitamnya yang
tersembunyi di balik lipatan-lipatan keriput, seolah tertuju
padaku. "Kecuali, tentu saja, pada masa Taha Aki,”
ujarnya. kemudian mendesah. "Karena itu, anak-anak lelaki
suku kita lagi-lagi harus menanggung beban dan harus
berkorban sebagaimana halnya ayah-ayah mereka dulu.”
Semua terdiam untuk waktu yang lama. Para keturunan
hidup dari kemampuan magis dan legenda berpandangan


saru sama lain di sekeliling api unggun, kesedihan
membayang di mata mereka. Semua kecuali satu.
"Beban,” dengus orang itu dengan suara rendah.
"Menurutku ini justru keren" Bibir bawah Quil yang tebal
sedikit mencebik.
Di seberang api unggun yang mulai meredup, Seth
Clearwater – matanya membelalak karena kekaguman
terhadap para pelindung suku – mengangguk setuju.
Billy terkekeh, tawanya rendah dan panjang, dan
suasana magis seakan memudar seiring dengan bara api
yang semakin meredup. Tiba-tiba kelompok ini kembali
menjadi lingkaran teman, Jared melemparkan kerikil ke
arah Quil, dan semua tertawa saat batu itu membuatnya
melompat kaget. Obrolan pelan berdengung di sekeliling
kami, menggoda dan santai.
Mata Leah Clearwater terap terpejam. Rasanya aku
melihat sesuatu berkilau di pipinya seperti air mata, tapi
waktu aku menoleh kembali sejurus kemudian, kilauan itu
sudah lenyap.
Baik aku maupun Jacob tidak berbicara. Tubuhnya diam
tak bergerak di sampingku, tarikan napasnya dalam dan
teratur, dan kupikir dia pasti sudah hampir tertidur,
Pikiranku berkelana jauh sekali. Aku tidak memikirkan
Yaha Uta atau serigala-serigala lain, atau si Wanita Dingin
yang cantik jelita-mudah sekali membayangkannya. Tidak,
aku memikirkan seseorang di luar lingkaran magis itu. Aku
sedang berusaha membayangkan wajah wanita tak bernama
yang telah menyelamatkan seluruh suku, si istri ketiga.
Hanya wanita biasa, tanpa bakat ataupun kemampuan
istimewa. Secara fisik lebih lemah dan lebih lamban
daripada monster apa pun dalam legenda. Tapi justru dialah


yang menjadi kunci, solusi. Ia menyelamatkan suaminya,
anak-anak lelakinya yang masih muda, sukunya.
Kalau saja mereka ingat siapa namanya. Ada yang
mengguncang-guncang lenganku.
''Ayo, Bells,” bisik Jacob di telingaku. "Kita sudah
sampai.” Aku mengerjap-ngerjapkan mata, bingung karena
api separonya sudah lenyap. Aku melotot memandangi
kegelapan yang tidak disangka-sangka, berusaha mengenali
keadaan di sekelilingku. Butuh waktu semenit untuk
menyadari bahwa aku sudah tidak lagi berada di tebing.
Aku hanya bersama Jacob. Aku masih berada dalam
pelukannya, tapi tidak lagi berbaring di tanah.
Bagaimana aku bisa berada di mobil Jacob?
"Oh, brengsek!" aku terkesiap kaget begitu sadar aku
tertidur, “Jam berapa sekarang? Brengsek, mana telepon
bodoh itu?" Kutepuk-tepuk saku baju dan celanaku,
kebingungan waktu tidak mendapati benda itu di mana pun.
"Tenanglah. Tengah malam saja belum. Dan aku sudah
menelepon dia untukmu. Lihat-dia sudah menunggu di
sana.”
"Tengah malam?" ulangku dengan sikap bodoh, masih
linglung. Aku memandang kegelapan, dan jantungku
berdebar begitu mataku mengenali sosok Volvo, hampir tiga
puluh meter jauhnya. Tanganku meraih handel pintu.
"Ini,” kata Jacob, meletakkan sesuatu di telapak
tanganku yang lain. Ponselku.
"Kau menelepon Edward untukku?'
Mataku sudah bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan
hingga bisa melihat senyum Jacob yang cemerlang.


"Kupikir, kalau aku baik-baik dengannya, aku bisa lebih
sering bertemu denganmu.”
"Trims, Jake,” ujarku, terharu. "Sungguh, terima kasih.
Dan terima kasih sudah mengundangku malam ini. Acara
tadi...” Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan katakata.
"Wow. Lain daripada yang lain.”
"Padahal kau bahkan tidak sempat bangun untuk
melihatku menelan sapi bulat-bulat.” Jacob tertawa.
"Tidak, aku senang kau menyukainya. Rasanya...
menyenangkan. Karena ada kau di sana
Tampak gerakan-gerakan dalam gelap di kejauhan –
sesuatu yang pucat bergerak-gerak di antara pepohonan
hitam. Berjalan mondar-mandir?
"Yeah, dia sudah tidak sabar lagi, ya?” ujar Jacob,
melihat perhatianku tertuju ke sana. "Pergilah. Tapi
cepatlah kembali lagi,oke?"
"Tentu, Jake,” janjiku, membuka pintu mobil secelah,
Hawa dingin menyerbu masuk, menerjang kakiku dan
membuatku gemetaran.
"Tidur yang nyenyak, Bells. Jangan khawatirkan apa-apa
aku akan menjagamu malam ini.”
Aku terdiam, satu kaki menginjak ranah. "Tidak usah,
Jake. Istirahat sajalah, aku baik-baik saja.”
"Tentu, tentu,” sahut Jacob, tapi nadanya lebih terkesan
meremehkan daripada setuju.
"Malam, Jake. Trims.”
"Malam, Bella.” bisiknya sementara aku bergegas
memasuki kegelapan.
Edward menyambutku di garis perbatasan.


"Bella,” sambutnya, kentara sekali terdengar lega;
lengannya memelukku erat-erat.
"Hai, Maaf aku lama sekali, Aku ketiduran dan-"
“Aku tahu. Jacob sudah menjelaskan,” Ia mulai
melangkah menuju mobil dan aku berjalan tersaruk-saruk di
sampingnya. "Kau capek? Aku bisa menggendongmu.”
"Tidak usah.”
“Ayo, kuantar kau pulang, supaya kau bisa tidur. Kau
senang di sana?"
"Yeah – benar-benar luar biasa, Edward. Kalau saja kau
bisa datang. Aku bahkan tidak bisa menjelaskannya. Ayah
Jake menceritakan pada kami legenda-legenda kuno dan
rasanya begitu... begitu magis.”
"Kau harus menceritakannya padaku. Tapi kau harus
tidur dulu.”
''Aku tidak akan bisa menceritakannya dengan benar..,”
sergahku, kemudian menguap lebar-lebar,
Edward terkekeh. Ia membukakan pintu untukku,
mengangkat dan mendudukkanku di dalam mobil, lalu
memasangkan sabuk pengaman.
Nyala lampu terang-benderang menerpa kami. Aku
melambaikan tangan ke arah lampu mobil Jacob, tapi tidak
tahu apakah ia bisa melihatnya.
Malam itu – setelah berhasil melewati Charlie, yang
tidak mengomeliku seperti dugaanku sebelumnya karena
Jacob ternyata sudah meneleponnya juga – aku bukannya
langsung ambruk ke tempat tidur, tapi malah
mencondongkan tubuh di ambang jendela yang terbuka,
menunggu Edward kembali. Malam ini dingin sekali, nyaris
seperti musim dingin. Aku tidak menyadarinya sama sekali


saat berada di tebing yang berangin; kupikir, pasti itu bukan
karena duduk dekat api unggun, tapi karena duduk di
sebelah Jacob.
Tetes-tetes air hujan sedingin es menerpa wajahku saat
hujan mulai turun.
Keadaan terlalu gelap untuk melihat hal lain selain
segitiga-segitiga hitam pohon cemara yang meliuk dan
menggeletar akibat tiupan angin. Tapi aku terap membuka
mataku lebar-lebar, mencari bentuk-bentuk lain di tengah
badai. Siluet pucat, bergerak bagaikan hantu menembus
kegelapan yang hitam pekat atau mungkin bayangan samar
serigala besar... Tapi mataku terlalu lemah.
Kemudian tampak gerakan di tengah kegelapan, tepat di
sebelahku. Edward menyelinap masuk melalui jendela
kamarku yang terbuka, tangannya lebih dingin daripada
hujan.
''Apakah Jacob ada di luar sana?" tanyaku, tubuhku
gemetar saat Edward meraihku ke dalam pelukannya.
"Ya... di suatu tempat. Dan Esme sedang dalam
perjalanan pulang.”
Aku mendesah. "Cuaca sangat dingin dan basah. Ini
konyol.” Lagi-lagi aku gemetaran.
Edward terkekeh. "Yang merasa dingin hanya kau,
Bella.”
Dalam mimpiku malam itu, hawa juga dingin, mungkin
karena aku tidur dalam pelukan Edward. Tapi dalam
mimpiku, aku berada di luar di tengah badai, angin melecut
rambutku ke wajah dan membutakan mataku. Aku berdiri
di pantai First Beach yang melengkung bagai bulan sabit
dan berbatu-batu, berusaha memahami bentuk-bentuk yang
bergerak cepat, yang hanya bisa kulihat samar-samar dalam


gelap di pinggir pantai. Awalnya tidak ada apa-apa kecuali
sekelebat warna putih dan hitam, saling melesat
menghampiri dan menari menjauh. Kemudian, seolah-olah
bulan mendadak muncul dari balik awan-awan, aku bisa
melihat semuanya.
Rosalie, dengan rambut menjuntai basah dan keemasan
hingga ke belakang lututnya, menerjang ke arah serigala
raksasa-moncongnya berkelebat keperakan-yang seketika itu
juga kukenali sebagai Billy Black.
Aku berlari kencang, tapi sungguh membuat frustrasi,
ternyata aku hanya bisa berlari sangat pelan, seperti dalam
gerak lambat. Aku berusaha berteriak pada mereka,
meminta mereka berhenti, tapi suaraku diterbangkan angin,
dan aku tak sanggup bersuara. Aku melambai-lambaikan
kedua lengan, berharap bisa menarik perhatian mereka.
Sesuatu berkelebat di tanganku, dan untuk pertama kali
baru aku menyadari tangan kananku memegang sesuatu.
Aku memegang pisau panjang dan tajam, kuno dan
berwarna perak, bilahnya ternoda darah kering yang telah
menghitam.
Aku mengernyit ngeri melihat pisau itu, dan mataku
mendadak terbuka, melihat kegelapan yang tenang di
kamarku. Hal pertama yang kusadari adalah aku tidak
sendirian, dan aku berpaling untuk membenamkan wajahku
ke dada Edward, tahu wangi kulitnya pasti akan mengusir
mimpi buruk itu jauh-jauh, lebih efektif daripada hal lain.
“Aku membuatmu terbangun, ya?” bisik Edward.
Terdengar suara kertas, seperti gemersik halaman, disusul
kemudian dengan suara berdebum pelan, seolah-olah ada
benda ringan membentur lantai kayu.
"Tidak.” gumamku, mendesah senang saat lengan
Edward memelukku erat. Aku tadi bermimpi buruk."


"Mau menceritakannya padaku?"
Aku menggeleng. "Terlalu capek. Mungkin besok pagi,
kalau ingat.”
Aku merasakan tawa tanpa suara mengguncang tubuh
Edward.
"Besok pagi.” Edward setuju.
"Kau sedang membaca apa?" gumamku, belum
sepenuhnya terbangun.
"Wuthering Heights,” jawab Edward.
Aku mengerutkan kening walaupun masih mengantuk.
"Katamu kau tidak suka buku itu.”
"Kau meninggalkannya di sini.” bisik Edward. suara
lembutnya membuaiku kembali ke ketidaksadaran. "Lagi
pula... semakin sering aku menghabiskan waktu denganmu,
semakin banyak emosi manusia yang sepertinya bisa
kupahami. Ternyata aku bisa bersimpati pada Heathcliff
dalam hal-hal yang sebelumnya kupikir pasti mustahil.”
"Mmm.” desahku.
Ia mengatakan sesuatu yang lain, suaranya pelan, tapi
aku sudah kembali pulas.
Esok paginya cuaca kelabu putih dan tenang. Edward
menanyakan mimpiku, tapi aku tidak bisa mengingatnya.
Yang kuingat hanyalah bahwa aku kedinginan, dan bahwa
aku senang ia ada di sana waktu aku bangun. Edward
menciumku, cukup lama untuk membuatku detak nadiku
berpacu, kemudian pulang untuk berganti baju dan
mengambil mobilnya.
Aku cepat-cepat berpakaian, tak punya banyak pilihan.


Siapa pun yang mengacak-acak keranjang pakaian kotor
berhasil merusak koleksi bajuku. Seandainya tidak
mengerikan, situasi ini pasti sangat menjengkelkan.
Aku baru hendak turun untuk sarapan waktu mataku
tertumbuk pada novel Wuthering Heights-ku yang sudah
lusuh, tergeletak dalam posisi terbuka di lantai tempat
Edward menjatuhkannya semalam, jilidnya yang sudah
rusak tidak pernah mau menutup sendiri, sehingga bagian
yang terakhir kali dibacanya tetap terbuka, seperti yang
selalu terjadi setiap kali aku habis membaca buku itu.
Ingin tahu, aku memungut buku itu, berusaha mengingat
perkataan Edward semalam. Kalau tidak salah ia bersimpati
pada Heathcliff, aneh sekali. Itu pasti tidak benar; aku pasti
hanya memimpikan bagian itu.
Mataku tertumbuk pada dua kata di halaman yang
terbuka itu, dan aku menundukkan untuk membaca
paragraf itu lebih saksama. Itu bagian di mana Heathcliff
berbicara, dan aku sangat mengenal kalimat itu,
Dan bisa kulihat perbedaan di antara perasaan kami,
seandainya ia berada dalam posisiku,walaupun aku sangat
membencinya dengan kebencian yang mengubah hidupku menjadi
empedu, aku tidak akan pernah mencelakakannya. kau mungkin
tidak percaya itu, terserah kau! Aku tidak akan melenyapkan
lelaki itu dari lingkungan si wanita selama si wanita masih
menginginkannya. Begitu si wanita tidak menghendakinya lagi,
aku akan mengoyak jantungnya dan meminum darahnya! Tapi
hingga saat itu datang, kalau kau tidak percaya padaku, berati
kau tidak kenal aku, hingga saat itu, lebih baik aku mati daripada
menyentuh rambutnya sehelaipun.
Dua kata yang menarik perhatianku adalah "meminum
darahnya”.
Aku bergidik.


Ya, jelas aku pasti hanya bermimpi mendengar Edward
memberi komentar positif tentang Heathcliff. Dan halaman
ini mungkin bukan halaman yang dibacanya semalam. Bisa
saja buku ini terbuka di halaman ini secara tidak sengaja
waktu terjatuh semalam.
12. WAKTU
"AKU meramalkan...,” Alice berkata dengan nada
mengerikan.
Edward menyikut rusuk Alice, yang dengan tangkas
berhasil dielakkannya.
"Baiklah,” gerutu Alice. "Edward memaksaku
melakukannya. Tapi aku memang meramalkan bahwa kau
akan bersikap lebih sulit kalau aku mengagetkanmu.”
Saat itu kami sedang berjalan ke mobil usai sekolah, dan
aku benar-benar tidak mengerti apa yang diocehkan Alice.
"Bisa mengatakannya dalam bahasa Inggris?" pintaku.
"Jangan rewel seperti bayi menyikapi ini, Tidak boleh
marah-marah.”
"Sekarang aku benar-benar takut.”
"Jadi kau – maksudku kita – akan menyelenggarakan
pesta kelulusan. Bukan hal besar. Tidak perlu takut, Tapi
aku sudah melihat kau bakal mengamuk kalau aku
menjadikannya pesta kejutan" – Alice menari-nari
menghindar saat Edward mengulurkan tangan untuk
mengacak-acak rambutnya-" tapi kata Edward, aku harus
memberitahumu dulu. Pestanya kecil-kecilan kok. Janji.”
Aku mengembuskan napas berat. "Memang ada gunanya
membantah?”


"Sama sekali tidak.”
"Oke, Alice. Aku akan datang. Dan aku pasti akan
membenci setiap menitnya. Janji.”
"Nah, begitu dong! Omong-omong, aku sangat menyukai
hadiahku. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot.”
"Alice, aku tidak memberimu hadiah apa-apa!"
"Oh, aku tahu kok. Tapi kau akan memberiku hadiah.”
Aku memutar otak panik, berusaha mengingat-ingat aku
pernah memutuskan memberi hadiah kelulusan apa untuk
Alice, yang mungkin dilihatnya.
"Luar biasa.” gumam Edward. "Bagaimana bisa orang
sekecil kau jadi sangat menjengkelkan?"
Alice tertawa, "Itu bakat namanya.”
"Tidak bisa ya, menunggu beberapa minggu sebelum
menceritakan padaku soal ini?" tanyaku masam. "Sekarang
aku akan stres lebih lama.”
Alice mengerutkan kening padaku.
"Bella,” ucapnya. "Kau tahu sekarang hari apa?"
"Senin?"
Alice memutar bola mata. "Ya. Sekarang hari Senin...
tanggal empat.” Ia menyambar sikuku, memutar tubuhku
setengah lingkaran, dan menuding poster kuning besar yang
ditempel di pintu gimnasium. Di sana, dalam huruf-huruf
hitam terang, tertulis tanggal kelulusan. Tepat satu minggu
dari hari ini.
"Sekarang tanggal empat? Bulan Juni? Kau yakin?"
Tak seorang pun menjawab. Alice hanya menggeleng
sedih, pura-pura kecewa, dan alis Edward terangkat.


"Tidak mungkin! Bagaimana itu bisa terjadi?" Dalam hati
aku menghitung mundur, tapi tidak mengerti bagaimana
hari-hari bisa berlalu secepat itu.
Aku merasa seakan-akan ada yang menendang kakiku
dan jatuh tersungkur. Berminggu-minggu aku stres dan
khawatir... dan entah bagaimana di tengah segala obsesiku
memikirkan waktu, waktuku malah lenyap begitu saja.
Kesempatanku membereskan semuanya, menyusun
rencana, habis sudah. Aku kehabisan waktu.
Dan aku belum siap.
Aku tak tahu bagaimana melakukannya. Bagaimana
mengucapkan selamat berpisah kepada Charlie dan Renee...
kepada Jacob... kepada kondisiku sebagai manusia.
Aku tahu persis apa yang kuinginkan, tapi tiba-tiba saja
aku takut menggapainya.
Teorinya, aku sangat ingin, bahkan bersemangat
menukar ketidakabadian dengan keabadian.
Bagaimanapun, itu kunci agar bisa bersama Edward
selamanya. Apalagi ada fakta aku diburu berbagai pihak,
baik yang dikenal maupun tidak. Aku lebih suka tidak
duduk berpangku tangan, tidak berdaya dan menggiurkan,
menunggu salah seorang dari mereka berhasil
menangkapku.
Teorinya, semua itu masuk akal,
Prakteknya... yang kutahu hanyalah menjadi manusia.
Masa depan di luar sana ibarat sumur dalam dan gelap yang
takkan kuketahui dasarnya sampai aku melompat ke
dalamnya.
Pengetahuan sederhana seperti tanggal hari ini, misalnya
yang kentara sekali oleh alam bawah sadarku berusaha
kuabaikan – membuat tenggat waktu yang begitu kutunggu-


tunggu terasa bagaikan tanggal untuk menghadapi regu
tembak.
Samar-samar aku menyadari Edward membukakan pintu
mobil untukku, Alice berceloteh di kursi belakang, juga
suara hujan menderu menerpa kaca depan. Edward
sepertinya menyadari hanya tubuhku yang ada di sana; ia
tidak berusaha menggugahku dari lamunan. Atau mungkin
ia sudah berusaha, tapi aku tidak menggubrisnya.
Sesampainya di rumahku, Edward membimbingku ke
sofa dan mendudukkanku di sampingnya. Aku memandang
ke luar jendela, ke kabut kelabu cair, dan berusaha
menemukan lagi ketetapan hariku yang lenyap entah ke
mana. Kenapa sekarang aku justru panik? Aku sudah tahu
tenggat waktunya sebentar lagi tiba. Kenapa aku harus
ketakutan jika saat itu benar-benar tiba?
Entah berapa lama Edward membiarkanku menerawang
ke luar Jendela sambil berdiam diri. Tapi setelah hujan
lenyap ditelan malam, akhirnya ia tak tahan lagi.
Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya
yang dingin, dan menatapku lekat-lekat dengan mata
emasnya.
"Maukah kau memberitahuku apa yang sedang
kaupikirkan? Sebelum aku jadi gila?"
Apa yang bisa kukatakan padanya? Bahwa aku
pengecut? Aku mencari-cari kata yang tepat.
"Bibirmu pucat. Bicaralah, Bella.”
Aku mengembuskan napas besar-besar. Sudah berapa
lama aku menahan napas?
"Tanggal itu membuatku kaget,” bisikku. "Itu saja.”


Edward menunggu, wajahnya sarat kekhawatiran dan
tampak skeptis.
Aku mencoba menjelaskan. “Aku tidak yakin harus
melakukan apa... harus mengatakan apa kepada Charlie...
apa yang harus dikatakan bagaimana...
Suaraku menghilang.
“Jadi bukan masalah pesta?"
Aku mengerutkan kening. "Bukan. Tapi terima kasih
karena mengingarkanku."
Hujan terdengar semakin keras saat Edward menilik
wajahku. .
"Kau belum siap,” bisiknya.
"Sudah,” aku langsung berbohong, reaksi yang sangat
spontan. Kentara sekali Edward tidak percaya, jadi au
menarik napas dalam-dalam, dan mengatakan hal
sebenarnya. "Aku harus siap.”
"Kau tidak harus melakukan apa-apa.”
Bisa kurasakan kepanikan muncul dalam tatapanku saat
aku menyebut alasan-alasannya tanpa suara. "Victoria,
Jane, Caius, siapa pun dia, masuk ke kamarku,..!”
"Itu justru alasan untuk menunggu.”
"Itu tidak masuk akal, Edward!"
Edward menempelkan tangannya lebih erat lagi di
wajahku dan sengaja berbicara lambat-lambat.
"Bella. Tak seorang pun dari kami punya pilihan. Kau
sudah tahu akibatnya... bagi Rosalie terutama. Kami
berjuang dengan susah payah, berusaha berdamai dengan
diri sendiri untuk sesuatu yang tak bisa kami kendalikan.


Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu. Kau harus
punya pilihan.”
"Aku sudah menetapkan pilihan.”
"Kau tidak boleh mengambil keputusan hanya karena
ada pedang diacungkan di atas kepalamu. Kami akan
membereskan masalah itu, dan aku akan menjagamu.”
Edward bersumpah. "Kalau kita sudah bisa mengatasinya,
dan tidak ada yang memaksamu mengambil keputusan,
barulah kau bisa memutuskan untuk bergabung denganku,
kalau kau masih menginginkannya. Tapi tidak saat kau
takut. Kau tidak boleh melakukannya dengan terpaksa.”
"Carlisle sudah berjanji,” gumamku, berlawanan dengan
kebiasaan. "Setelah kelulusan.”
"Tidak sampai kau siap,” tukas Edward mantap. "Dan
jelas tidak saat kau merasa terancam.”
Aku tidak menyahut. Aku malas berdebat; rasanya aku
tak bisa menemukan komitmenku saat itu.
"Sudahlah,” Edward mengecup keningku. "Tak ada
yang perlu dikhawatirkan.”
Aku tertawa lemah. "Tidak ada kecuali kiamat yang
sebentar lagi datang"
"Percayalah padaku."
“Aku percaya.”
Edward masih mengawasi wajahku, menungguku rileks.
"Boleh kutanyakan sesuatu?” tanyaku.
"Apa saja.”
Aku ragu-ragu, menggigit bibir, kemudian mengajukan
pertanyaan lain yang selama ini kukhawatirkan.


"Memangnya aku akan memberi hadiah apa untuk
kelulusan Alice?"
Edward terkekeh. "Kelihatannya kau akan membelikan
tiket konser untuk kami berdua...”
"Ya, benar!" Aku lega sekali, nyaris tersenyum. "Konser
di Tacoma. Aku melihat iklannya di koran minggu lalu, dan
kupikir kalian pasti suka kalau kuberi hadiah tiket konser,
karena katamu CD-nya bagus.”
"Ide yang bagus sekali. Terima kasih.”
"Mudah-mudahan saja tiketnya belum habis terjual.”
"Yang penting niatnya. Soal itu aku pasti tahu.”
Aku mendesah.
"Ada hal lain yang ingin kautanyakan.” kata Edward.
Keningku berkerut, "Kau hebat."
“Aku banyak berlatih membaca wajahmu. Tanyakan
padaku.”
Aku memejamkan mata dan mencondongkan tubuh
kepadanya, menyembunyikan wajahku di dadanya. "Kau
tidak mau aku menjadi vampir."
"Memang tidak,” kata Edward lirih, kemudian
menunggu. "Itu bukan pertanyaan.” desaknya beberapa
saat kemudian.
"Well... aku khawatir tentang... kenapa kau merasa
seperti itu.”
"Khawatir?" Edward mengulangi kata itu dengan kaget.
"Maukah kau menjelaskan kepadaku kenapa?
Sejujurnya, tanpa menghiraukan perasaanku?"


Edward ragu-ragu sejenak. "Kalau aku menjawab
pertanyaanmu, maukah kau menjelaskan pertanyaanmu?"
Aku mengangguk, wajahku masih tersembunyi di
dadanya.
Edward menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Kau bisa melakukan jauh lebih baik daripada ini, Bella.
Aku tahu kau percaya aku punya jiwa, tapi aku tidak
sepenuhnya yakin akan hal itu, jadi mempertaruhkan
jiwamu...” Edward menggeleng lambat-lambat, "Bagiku,
mengizinkan hal ini – membiarkanmu menjadi seperti aku
hanya supaya aku takkan pernah kehilanganmu – adalah
tindakan paling egois yang bisa kubayangkan. Aku sangat
menginginkannya, lebih daripada apa pun, untuk diriku
sendiri. Tapi untukmu, aku menginginkan lebih dari itu.
Menuruti kemauanmu – rasanya seperti melakukan
kejahatan. Itu hal paling egois yang pernah kulakukan,
bahkan bila aku hidup selamanya.”
"Seandainya ada cara supaya aku bisa menjadi manusia
untukmu – tak peduli apa pun risikonya, aku rela
menanggungnya.”
Aku duduk diam tak bergerak, menyerap semua itu.
Edward merasa dirinya egois.
Aku merasa senyumku pelan-pelan merekah.
“Jadi... bukan karena kau takut kau tidak akan
menyukaiku sebesar sekarang setelah aku berubah nanti –
kalau tubuhku tak lagi lunak dan hangat dan bauku tak lagi
sama? Kau benar-benar mau mempertahankanku, tak
peduli bagaimanapun jadinya aku nanti?"
Edward mengembuskan napas keras-keras, "Kau
khawatir aku tidak akan menyukaimu?" tuntutnya.
Kemudian, belum sempat aku menjawab, tawanya sudah


meledak. "Bella, untuk ukuran orang yang sangat intuitif
kau bisa begitu konyol!"
Aku tahu Edward pasti menganggapku konyol, rapi aku
lega. Kalau ia benar-benar menginginkanku, aku pasti
sanggup melewati sisanya... entah bagaimana caranya.
Egois tiba-tiba terasa bagaikan kata yang indah.
"Kukira kau tidak sadar betapa lebih mudahnya itu
bagiku, Bella,” kata Edward, masih terdengar secercah nada
humor dalam suaranya, "kalau aku tidak perlu
berkonsentrasi setiap saat agar tidak membunuhmu. Jelas,
aku pasti akan kehilangan beberapa hal. Salah satunya
ini...”
Ia menatap mataku sambil membelai pipiku, dan aku
merasakan darah mengalir cepat dan membuat kulitku
merah padam. Edward tertawa lembut.
"Dan mendengar detak jantungmu,” sambungnya, lebih
serius tapi tetap tersenyum kecil, "Itu suara paling signifikan
di duniaku. Aku sudah sangat terbiasa mendengarnya
sekarang, aku bahkan bisa mendengarnya dari jarak
beberapa kilometer. Tapi hal-hal itu tidak berarti. Ini,”
ujarnya, merengkuh wajahku dengan kedua tangan. "Kau.
Itulah yang kupertahankan. Kau tetap Bella-ku, hanya
sedikit lebih kuat.”
Aku mendesah dan membiarkan mataku terpejam karena
senang, meletakkan wajahku di tangannya.
"Sekarang, maukah kau menjawab pertanyaanku?
Sejujurnya, tanpa menghiraukan perasaanku?" tanya
Edward.
"Tentu saja,” jawabku langsung, mataku terbuka lebar
karena kaget. Apa yang ingin ia ketahui?


Edward berbicara lambat-lambat. "Kau tidak mau
menjadi istriku.”
Jantungku berhenti berdetak, dan sejurus kemudian
berpacu cepat. Keringat dingin merembes di tengkuk dan
kedua tanganku berubah menjadi es.
Edward menunggu, mengawasi, dan mendengarkan
reaksiku.
"Itu bukan pertanyaan,” bisikku akhirnya.
Edward menunduk, bulu matanya memantulkan
bayangan panjang di tulang pipinya. Ia menurunkan
tangannya dari wajahku dan meraih tangan kiriku yang
membeku. Ia memainkan jari-jariku sambil bicara.
“Aku khawatir kenapa kau merasa seperti itu.”
Aku mencoba menelan ludah. "Itu juga bukan
pertanyaan,” bisikku.
"Please, Bella?”
"Sejujurnya?" tanyaku, hanya bisa menggerakkan
mulutku tanpa suara.
"Tentu saja. Aku bisa menerimanya, apa pun itu.”
Aku menghela napas dalam-dalam, "Kau pasti akan
menertawakanku.”
Edward menatapku, syok. "Menertawakan? Sulit
membayangkannya."
"Lihat saja nanti.” gumamku, lalu mendesah. Wajahku
berubah dari putih ke merah padam karena perasaan malu
yang tiba-tiba muncul. "Oke, baiklah! Aku yakin
kedengarannya akan seperti lelucon besar bagimu, tapi ini
benar! Ini sangat... sangat... sangat memalukan? Aku
mengakui, dan menyembunyikan wajahku di dadanya lagi.


Sejenak tidak ada yang mengatakan apa-apa.
"Aku tidak mengerti.”
Aku mendongak dan menatapnya garang, perasaan malu
membuatku menyampaikan maksudku dengan pedas dan
sengit.
"Aku bukan gadis seperti itu, Edward. Yang langsung
menikah begitu lulus SMA, seperti gadis kota kecil
kampungan yang hamil di luar nikah! Tahukah kau
bagaimana pikiran orang nanti? Sadarkah kau abad berapa
sekarang? Tak ada orang yang menikah pada umur delapan
belas sekarang! Bukan orang-orang yang cerdas,
bertanggung jawab, dan matang! Aku tidak mau menjadi
seperti itu! Aku tidak seperti itu...” Kata-kataku
menghilang, kehilangan kegarangannya.
Wajah Edward tak terbaca saat ia mencoba mencerna
jawabanku.
"Hanya itu?" tanyanya akhirnya.
Aku mengerjapkan mata. “Apa itu belum cukup?”
"Jadi bukan karena kau.. lebih bersemangat memperoleh
keabadian daripada hanya mendapatkan aku?"
Kemudian, walaupun tadinya aku mengira Edward akan
tertawa, mendadak justru akulah yang tertawa histeris.
"Edward!" Aku megap-megap kehabisan napas di selasela
tawaku. "Ya ampun... padahal aku... mengira... kau...
jauh... lebih cerdas daripada aku!"
Edward meraihku dalam pelukannya, dan aku bisa
merasakan ia tertawa bersamaku.
"Edward,” kataku, berusaha berbicara lebih jelas, "tidak
ada gunanya hidup selamanya tanpa kau. Aku tidak mau
hidup satu hari pun tanpa kau.”


"Well, lega mendengarnya,” kata Edward.
"Meski begitu... tetap saja itu tidak mengubah apa-apa.”
"Tapi senang rasanya bisa memahaminya. Dan aku bisa
memahami sudut pandangmu, Bella, sungguh. Tapi aku
benar-benar sangat senang kalau kau mau mencoba
mempertimbangkan sudut pandangku.”
Aku sudah kembali tenang, jadi aku pun mengangguk
dan berusaha keras menghapus kerutan di keningku.
Mata emas cair Edward menatapku lekat-lekat,
membuatku merasa seperti dihipnotis.
"Begini, Bella, sejak dulu aku sudah menjadi laki-laki itu.
Dalam duniaku, aku sudah dewasa, Aku tidak mencari
cinta – tidak, saat itu aku terlalu bersemangat menjadi
prajurit hingga tidak peduli pada cinta, aku tidak
memikirkan yang lain selain betapa mulianya terjun ke
medan perang seperti yang selalu mereka dengungdengungkan
terhadap para calon tentara yang mendaftar –
tapi seandainya aku menemukan...” Edward terdiam
sejenak, menelengkan kepala ke satu sisi. “Aku tadi hendak
mengatakan seandainya aku menemukan seseorang, tapi itu
tidak tepat. Seandainya aku menemukanmu, tidak ada
keraguan dalam pikiranku bagaimana aku memulainya.
Aku laki-laki itu, yang – begitu mengetahui kaulah orang
yang kucari – akan langsung berlutut dan melamarmu. Aku
pasti menginginkanmu untuk selama-lamanya, bahkan saat
kata itu tidak memiliki arti yang sama.”
Edward menyunggingkan senyum miringnya padaku.
Kutatap dia dengan mata membelalak lebar.
"Tarik napas, Bella,” ia mengingatkanku sambil
tersenyum.


Aku menarik napas.
"Bisakah kau melihat dari sisiku, Bella, walaupun sedikit
saja?”
Dan sejenak aku bisa. Aku melihat diriku dalam balutan
gaun panjang dan blus renda-renda berleher tinggi, dengan
rambut disanggul tinggi-tinggi. Aku melihat Edward
tampak tampan dalam setelan jas warna terang, memegang
buket bunga-bunga liar, duduk berdampingan denganku di
ayunan teras.
Aku menggeleng dan menelan ludah. Aku baru saja
melihat kilas balik seperti dalam novel Anne of Green Gables.
"Masalahnya, Edward,” kataku dengan suara gemetar,
menghindari pertanyaannya, ''dalam pikiranku, pernikahan
dan selamanya tidak selalu berkaitan. Dan berhubung saat
ini kita hidup di duniaku, mungkin sebaiknya kira ikuti saja
zaman ini, kalau kau mengerti maksudku."
"Tapi di lain pihak.” tukas Edward, "sebentar lagi kau
akan meninggalkan konsep waktu untuk selama-lamanya.
Jadi kenapa kebiasaan fana sebuah kebudayaan lokal harus
sangat memengaruhi keputusanmu?”
Aku mengerucutkan bibir, "Kau harus beradaptasi
dengan kebudayaan setempat, Edward.”
Edward menertawakanku. "Kau tidak perlu mengatakan
ya atau tidak hari ini, Bella. Tapi ada baiknya kita
memahami dua sudut pandang yang berbeda, bukankah
begitu menurutmu?”
"Jadi syaratmu...?”
"Masih berlaku. Aku bisa memahami sudut pandangmu,
Bella, tapi kalau kau mau aku sendiri yang
mengubahmu...."


"Teng-teng-teng-teng, teng-teng-teng.” gumamku pelan.
Sebenarnya aku bermaksud menyenandungkan mars
pernikahan, tapi kedengarannya malah seperti nyanyian
kematian.
Waktu terus berjalan terlalu cepat.
Malam itu berlalu tanpa diganggu mimpi, tiba-tiba hari
sudah pagi dan had kelulusan membayang di depan mata.
Ada setumpuk pelajaran yang harus kupelajari untuk ujian
akhir, dan aku tahu aku bahkan tidak akan bisa menguasai
setengahnya dalam beberapa hari yang tersisa.
Waktu aku turun untuk sarapan, Charlie sudah
berangkat. Ia meninggalkan korannya di meja, dan itu
membuatku teringat harus membeli sesuatu. Mudahmudahan
saja iklan penjualan tiket konser masih ada; aku
butuh nomor teleponnya untuk membeli tiket-tiket bodoh
itu. Sepertinya sudah bukan hadiah istimewa lagi, karena
tidak ada unsur kejutannya. Tentu saja, berusaha memberi
kejutan untuk Alice bukanlah ide cemerlang.
Aku bermaksud langsung menuju bagian hiburan, tapi
judul berita utama yang dicetak hitam tebal menarik
perharianku. Hatiku bagai dicengkeram kengerian saat
membungkuk dan membaca lebih saksama berita di
halaman depan.
SEATTLE DITEROR PEMBANTAIAN
Belum sampai saru dekade berlalu sejak Seattle jadi medan
perburuan bagi pembunuh berantai paling keji sepanjang sejarah
Amerika Serikat. Gary Ridgway, yang dijuluki Pembunuh Green
River, dijatuhi hukuman karena membunuh 48 wanita.
Dan kini, Seattle harus menghadapi kemungkinan menjadi
tempat berdiam monster yang bahkan lebih kejam lagi.


Polisi tidak menyimpulkan serangkaian pembunuhan dan
peristiwa orang hilang yang begitu sering terjadi akhir-akhir ini
sebagai perbuatan pembunuh berantai. Paling tidak belum. Polisi
enggan meyakini pembantaian sesadis ini merupakan hasil
perbuatan satu orang. Itu berarti si pembunuh – bila, memang
benar, pelakunya hanya satu orang – bertanggung jawab atas 39
pembunuhan dan kasus orang hilang yang saling berhubungan
hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Sebagai perbandingan, 48
kasus pembunuhan yang dilakukan Ridgway dilakukan dalam
kurun waktu 21 tahun. jika pembunuhan-pembunuhan ini bisa
dikaitkan ke satu orang, ini akan jadi kasus pembantaian terbesar
yang dilakukan seorang pembunuh berantai sepanjang sejarah
Amerika.
Polisi cenderung lebih meyakini teori bahwa pembantaian ini
dilakukan sekelompok orang. Teori ini didasari pada banyaknya
korban, serta fakta bahwa tampaknya tidak ada pola khusus
dalam pemilihan korban.
Dari Jack The Ripper hingga Ted Bundy, target pembunuhan
berantai biasanya dihubungkan dengan kesamaan usia, gender,
ras, atau kombinasi ketiganya. Sementara korban-korban
kejahatan ini bervariasi, mulai dari pelajar cemerlang berusia 15
tahun Amanda Reed, hingga pensiunan tukang pos Omar Jenks
berusia 67 tahun. Jumlah korbannya juga nyaris seimbang dalam
hal jenis kelamin, yaitu 18 wanita dan 21 pria. Ras para korban
pun bermacam-macam: Kaukasia, Afrika-Amerika, Hispanik, dan
Asia.
Pilihan tampaknya dilakukan secara acak. Motifnya seolaholah
membunuh tanpa alasan lain selain ingin membunuh jadi
mengapa mesti mempertimbangkan ini sebagai kasus pembunuhan
berantai?
Cukup banyak kesamaan dalam modus operandi untuk
mencoret kemungkinan kejahatan-kejahatan tersebut tidak saling
berhubungan. Setiap korban ditemukan dalam keadaan hangus


terbakar hingga dibutuhkan catatan gigi untuk proses identifikasi.
Ada indikasi digunakannya semacam zat akseleran, seperti bensin
atau alkohol, untuk membakar mayat-mayat korban; namun sisa
akseleran tak pernah ditemukan. Semua mayat korban dibuang
begitu saja tanpa upaya menyembunyikannya.
Yang lebih mengerikan lagi, sebagian besar mayat
menunjukkan bukti telah terjadinya kekerasan brutal – tulangtulang
remuk, seperti diremukkan tekanan yang sangat kuat –
yang oleh petugas forensik diyakini terjadi sebelum korban
meninggal, walaupun kesimpulan tersebut sulit dipastikan
kebenarannya, mengingat kondisi korban.
Kemiripan lain yang mengarah pada kemungkinan bahwa hal
ini merupakan pembunuhan berantai: tidak ada bukti sedikit pun
yang tertinggal di tubuh korban, kecuali mayat korban sendiri.
Tidak ada sidik jari, tidak ada jejak ban ataupun rambut asing
yang tertinggal. Juga tidak ada yang pernah melihat pelaku yang
dicurigai dalam berbagai peristiwa orang hilang itu.
Kemudian peristiwa lenyapnya para korban itu sendiri sama
sekali tidak dilakukan sembunyi-sembunyi. Tak seorang korban
pun bisa dianggap sebagai sasaran empuk. Tidak ada yang lari
dari rumah atau menggelandang di jalanan, yang mudah hilang
dan jarang dilaporkan sebagai orang hilang. Para korban lenyap
dari rumah mereka, dari apartemen lantai empat, dan klub
kebugaran, dari resepsi pernikahan. Mungkin yang paling
mencengangkan: petinju amatir berusia 30 tahun, Robert Walsh,
datang ke bioskop bersama teman kencannya; beberapa menit
setelah film diputar, wanita tersebut sadar korban sudah tak ada
lagi di kursinya. Jenazahnya ditemukan tiga jam kemudian
setelah regu pemadam kebakaran dipanggil ke lokasi terbakarnya
tempat pembuangan sampah, 32 kilometer dari bioskop,
Pola lain yang ditemukan dalam pembantaian itu: semua
korban hilang pada malam hari.


Dan pola apakah yang paling menakutkan? Kecepatan. Enam
di antaranya dilakukan pada bulan pertama, 11 pada bulan
kedua. Dua puluh dua terjadi dalam kurun waktu 10 hari
terakhir. Dan polisi belum juga menemukan pihak yang
bertanggung jawab sejak jenazah hangus pertama ditemukan.
Bukti-bukti yang ada saling bertentangan, bagian-bagiannya
mengerikan. Geng baru yang kejam atau pembunuh berantai yang
terlalu aktif? Atau hal lain yang belum terpikirkan polisi?
Hanya saru kesimpulan yang tak terbantahkan lagi: sesuatu
yang mengerikan mengintai Seattle.
Aku sampai harus membaca kalimat terakhir tiga kali,
dan sadarlah aku itu karena tanganku gemetar.
"Bella?"
Walaupun sedang berkonsentrasi, suara Edward, meski
tenang dan sudah bisa diduga kehadirannya, tetap saja
membuatku terkesiap dan membalikkan badan dengan
cepat.
Edward bersandar di ambang pintu, alisnya bertaut,
Kemudian tiba-tiba saja ia sudah berada di sisiku, meraih
tanganku.
“Aku membuatmu kaget, ya? Maaf Padahal aku tadi
sudah mengeruk pintu..."
"Tidak, tidak.” aku buru-buru menjawab, "Kau sudah
melihat ini?" Kutunjuk koran itu.
Kening Edward berkerut.
“Aku belum membaca berita hari ini. Tapi aku tahu
keadaannya makin parah. Kami harus melakukan sesuatu
secepatnya.”
Aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak suka mereka
mengambil risiko, dan apa pun atau siapa pun yang ada di


Seattle benar-benar mulai membuatku ngeri. Tapi
membayangkan keluarga Volturi datang juga sama
mengerikannya.
“Apa kata Alice?"
"Itulah masalahnya,” Kerutan di kening Edward
mengeras, "Dia tidak bisa melihat apa-apa.. walaupun kami
sudah berkali-kali menetapkan pikiran untuk mengeceknya.
Dia mulai merasa tidak percaya diri. Dia merasa terlalu
banyak hal luput dari perhatiannya belakangan ini, takut
kalau-kalau ada yang tidak beres. Bahwa mungkin
kemampuan visinya mulai hilang.”
Mataku membelalak. "Bisakah itu terjadi:?"
"Siapa tahu? Tidak ada yang pernah meneliti... tapi aku
benar-benar meragukannya. Hal-hal ini cenderung semakin
intensif seiring berjalannya waktu. Lihat saja Aro dan
Jane.”
"Kalau begitu apa masalahnya?”
"Ramalan yang digenapi dengan sendirinya, kurasa.
Karena kita menunggu-nunggu Alice melihat sesuatu
supaya kita bisa pergi tapi dia tidak melihat apa-apa karena
kira tidak benar-benar pergi sampai dia melihat sesuatu.
Jadi dia tidak melihat kita di sana. Mungkin kita harus
melakukannya begitu saja.”
Aku bergidik. "Tidak.”
"Kau ingin masuk kelas atau tidak hari ini? Ujian akhir
tinggal beberapa hari lagi; tidak mungkin ada materi baru.”
"Kurasa aku bisa bolos satu hari. Kita mau melakukan
apa?"
''Aku ingin bicara dengan Jasper.”


Jasper, lagi. Aneh. Di keluarga Cullen, Jasper selalu agak
berada di pinggir, ia adalah bagian dari segalanya tapi tak
pernah menjadi pusat segalanya. Aku punya asumsi sendiri
ia hanya ada untuk Alice. Firasatku mengatakan, meski rela
mengikuti Alice ke mana pun, namun gaya hidup ini
bukanlah pilihan pertamanya. Fakta bahwa ia kurang
berkomitmen pada gaya hidup ini ketimbang yang lain-lain
mungkin menjadi alasan ia lebih sulit mengikutinya.
Bagaimanapun, aku tidak pernah melihat Edward
merasa tergantung kepada Jasper. Aku jadi penasaran lagi,
apa yang dimaksud Edward mengenai keahlian Jasper. Aku
tidak tahu banyak tentang riwayat hidup Jasper, hanya
bahwa ia berasal dari suatu tempat di selatan sebelum Alice
menemukannya. Entah mengapa, Edward selalu mengelak
bila ditanya tentang saudara lelaki terbarunya itu, Dan aku
selalu merasa terintimidasi oleh vampir jangkung pirang
mirip bintang film pendiam itu untuk menanyakannya
secara langsung.
Sesampainya di rumah kami menemukan Carlisle, Esme,
dan Jasper sedang tekun menyimak siaran berita, walaupun
suaranya kecil sekali hingga aku tak bisa mendengar. Alice
duduk di anak tangga paling bawah, bertopang dagu dengan
ekspresi muram. Saat kami datang, Emmett melenggang
keluar dari pintu dapur, terlihat sangat santai. Ia memang
tak pernah memusingkan apa pun.
"Hai, Edward. Membolos, Bella?" Ia nyengir padaku.
"Kami sama-sama bolos,” Edward mengingatkannya.
Emmett terbahak.
"Memang, tapi ini kan pertama kalinya Bella menjalani
masa-masa SMA. Bisa saja dia kehilangan sesuatu.”


Edward memutar bola matanya, tapi tak menggubris
saudara kesayangannya itu. Ia melemparkan koran ke arah
Carlisle.
"Sudah baca bahwa polisi sekarang mempertimbangkan
kemungkinan pelakunya pembunuh berantai?" tanyanya.
Carlisle mendesah. "Ada dua spesialis memperdebatkan
kemungkinan itu di CNN sepanjang pagi ini.”
"Kita tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut.”
"Kita pergi saja sekarang," seru Emmett, mendadak
antusias. ''Aku bosan setengah mati.”
Suara desisan bergema di tangga dari lantai atas,
"Pesimis betul dia,” gerutu Emmett pada dirinya sendiri.
Edward sependapat, "Kita memang harus pergi suatu
saat nanti.”
Rosalie muncul di puncak tangga dan turun pelan-pelan.
Wajahnya mulus, tanpa ekspresi,
Carlisle menggeleng-gelengkan kepala. ''Aku khawatir.
Kira tidak pernah melibatkan diri dengan hal semacam ini
sebelumnya. Ini bukan urusan kita. Kita bukan keluarga
Volturi.”
''Aku tidak mau keluarga Volturi sampai harus datang ke
sini.” kata Edward. "Jika itu terjadi, kita tak punya banyak
waktu untuk bereaksi.”
"Belum lagi manusia-manusia tak berdosa di Seattle
sana,” imbuh Esme. "Tidak benar membiarkan mereka mati
seperti ini."
"Memang.” desah Carlisle.
"Oh.” sergah Edward tajam, memalingkan kepala
sedikit untuk menatap Jasper. "Itu tidak terpikir olehku.


Jadi begitu. Kau benar, pasti itu. Well, semua jadi berubah
kalau begitu.”
Bukan hanya aku yang memandangi Edward dengan
sikap bingung, tapi mungkin hanya aku satu-satunya yang
tidak terlihat sedikit jengkel.
"Kurasa ada baiknya kaujelaskan pada yang lain-lain,”
saran Edward kepada Jasper. “Apa tujuannya?” Edward
mulai berjalan mondar-mandir, memandangi lantai, hanyut
dalam pikirannya sendiri.
Aku tidak melihatnya berdiri, tapi tiba-tiba Alice sudah
ada di sampingku. “Apa yang diocehkan Edward?"
tanyanya pada Jasper. "Apa yang sedang kaupikirkan?"
Jasper tampak risi menjadi pusat perhatian. Ragu-ragu,
setelah mengamati wajah semua yang mengelilinginya –
karena semua merubung untuk mendengarkan
perkataannya – matanya kemudian tertuju padaku.
"Kau bingung," katanya padaku, suaranya yang dalam
sangat tenang.
Tidak ada nada bertanya dalam asumsinya. Jasper tahu
apa yang kurasakan, apa yang dirasakan semua orang.
"Kira semua bingung," gerutu Emmett.
"Kau punya waktu yang cukup untuk bersikap sabar,”
kata Jasper pada Emmet. "Bella juga harus memahami hal
ini. Dia sudah menjadi bagian dari kita sekarang.”
Kata-kata Jasper membuatku terkejut. Meski jarang
sekali berurusan dengan Jasper, apalagi sejak ulang tahunku
tempo hari waktu ia mencoba membunuhku, aku tidak
mengira ia berpikir begitu mengenalku.
"Berapa banyak yang kauketahui tentang aku, Bella?”
tanya Jasper.


Emmett mendesah sok dramatis, lalu mengempaskan diri
ke sofa untuk menunggu dengan sikap tidak sabar yang
dilebih-lebihkan.
“Tidak banyak,” aku mengakui.
Jasper menatap Edward, yang mendongak dan
membalas tatapannya.
"Tidak,” Edward menjawab pikirannya. “Aku yakin kau
bisa mengerti kenapa aku belum menceritakan hal itu
padanya. Tapi kurasa dia perlu mendengarnya sekarang.”
Jasper mengangguk dengan sikap khidmat, kemudian
mulai menggulung lengan sweter warna gading yang
dipakainya.
Aku mengawasinya, ingin tahu dan bingung, berusaha
memahami apa yang ia lakukan. Jasper memegang
pergelangan tangannya di bawah kap lampu meja di
sebelahnya, dekat bola lampu, dan jarinya menyusuri bekas
luka berbentuk bulan sabit di kulitnya yang pucat.
Butuh waktu semenit untuk menyadari mengapa bentuk
itu tampak tak asing di mataku.
"Oh,” desahku begitu tersadar, "Jasper, bekas lukamu
mirip sekali dengan bekas lukaku.”
Aku mengulurkan tangan, bulan sabit keperakan itu
terlihat lebih jelas di kulitku yang berwarna krem ketimbang
di kulit Jasper yang sewarna pualam.
Jasper tersenyum samar. "Aku punya banyak bekas luka
seperti bekas lukamu, Bella.”
Wajah Jasper tak terbaca saat ia menyingkapkan lengan
sweter tipisnya lebih ke aras lagi. Awalnya mataku tidak
mengenali tekstur tebal yang melapisi permukaan kulitnya.
Mengingat warnanya yang putih di atas dasar putih, bentuk


bulan sabit melengkung silang-menyilang dalam pola seperti
bulu itu hanya bisa dilihat karena bantuan sinar terang
lampu di sebelahnya. Tekstur itu jadi agak timbul seperti
relief, dengan bayang-bayang pendek mengelilingi garisgaris
luarnya. Kemudian aku terkesiap karena pola itu
ternyata dibentuk bulan sabit seperti yang ada di
pergelangan tangannya seperti yang ada di tanganku.
Kupandangi lagi bekas lukaku yang kecil dan sendirian –
dan ingat bagaimana aku mendapatkannya. Kupandangi
bentuk gigi James yang terukir selamanya di kulitku.
Kemudian aku terkesiap, mendongak menatap Jasper.
"Jasper, apa yang terjadi padamu?"
13. VAMP IR BARU
"SAMA seperti yang terjadi pada tanganmu.” jawab
Jasper tenang. "Dikalikan seribu.” Ia tertawa, tawanya
sedikit sedih, Diusapnya lengannya. "Racun kami adalah
satu-satunya yang meninggalkan bekas pada kami.”
"Kenapa?" Aku terkesiap ngeri, merasa lancang tapi tak
sanggup mengalihkan pandangan dari kulitnya yang carutmarut.
"Aku tidak memiliki... latar belakang yang sama seperti
saudara-saudara angkatku di sini. Awal-mulaku sama sekali
berbeda.” Suaranya berubah keras saat ia selesai bicara.
Aku ternganga memandanginya, tercengang.
"Sebelum aku menceritakan riwayatku padamu,” kata
Jasper, "kau harus paham di dunia kami juga ada tempattempat,
Bella, di mana umur mereka yang tidak bisa menua
di ukur dalam hitungan minggu, bukan abad.”


Yang lain-lain sudah pernah mendengar cerita ini
sebelumnya. Carlisle dan Emmett mengalihkan perhatian
kembali ke televisi. Alice berjalan tanpa suara, lalu
bersimpuh di kaki Esme. Tapi Edward tetap menyimak
dengan tekun, sama seperti aku: bisa kurasakan matanya
menatap wajahku, membaca setiap perubahan emosi.
"Untuk benar-benar memahami alasannya, kau harus
melihat dunia dari perspektif berbeda. Kau harus
membayangkan bagaimana dunia di mata mereka yang
berkuasa, serakah... yang terus-menerus haus.
"Begini. ada tempat-tempat di dunia ini yang lebih
disukai kaum kami dibandingkan yang lain. Tempat kami
bisa tidak terlalu menahan diri, tapi tetap tidak ketahuan.
"Bayangkan misalnya, peta belahan dunia Barat.
Bayangkan setiap nyawa manusia di dalamnya sebagai
noktah merah kecil. Semakin tebal warna merahnya,
semakin mudah kami – well, mereka yang eksis dengan cara
seperti ini – bisa makan tanpa menarik perhatian.”
Aku bergidik membayangkannya, mendengar kata
"makan", Tapi Jasper tidak khawatir membuatku takut,
tidak overprotektif seperti Edward. Ia melanjutkan ceritanya
tanpa jeda.
"Bukan berarti kelompok-kelompok di Selatan peduli
apakah manusia menyadari keberadaan mereka atau tidak.
Keluarga Volturi-lah yang menjaga supaya mereka tidak
melewati batas. Hanya mereka yang ditakuti kelompokkelompok
Selatan. Kalau bukan karena keluarga Volturi,
keberadaan kita semua dengan cepat akan ketahuan.”
Keningku berkerut mendengar cara Jasper mengucapkan
nama itu-sikapnya penuh hormat, nyaris seperti penuh
terima kasih. Sulit bagiku menerima pemikiran bahwa
keluarga Volturi orang-orang baik.


"Kelompok Utara, bila dibandingkan, justru sangat
beradab. Kebanyakan dari kami adalah kaum nomaden
yang bisa menikmati baik siang maupun malam hari, yang
mengizinkan manusia berinteraksi dengan kami tanpa
curiga-anonim penting artinya bagi kami semua.
"Sebaliknya, dunia - di Selatan sama sekali berbeda.
Kaum abadi hanya keluar pada malam hari. Siang hari
mereka gunakan untuk merencanakan aksi berikutnya, atau
mengantisipasi musuh mereka. Karena di Selatan terjadi
perang, perang terus-menerus selama berabad-abad, tanpa
sekali pun gencatan senjata, Kelompok-kelompok di sana
nyaris tidak memerhatikan keberadaan manusia, kecuali
sebagai prajurit yang memerhatikan sekelompok 'sapi' di
pinggir jalan – makanan yang siap diambil. Keluarga
Volturi-lah yang membuat mereka bersembunyi dari
pengamatan manusia.”
"Memangnya apa yang mereka perebutkan?" tanyaku.
Jasper tersenyum. "Ingatkah kau peta dengan nokrahnoktah
merah itu?"
Ia menunggu, maka aku pun mengangguk.
"Mereka berperang karena berebut menguasai wilayah
yang noktah merahnya paling tebal.
"Begini, dulu pernah terpikir oleh seseorang, bahwa
seandainya dia menjadi satu-satunya vampir di, katakanlah
Mexico City, dia bisa makan setiap malam, bahkan dua-tiga
kali sehari, dan tidak ada yang memerhatikan. Jadi dia
menyusun rencana untuk menyingkirkan para pesaingnya.
"Yang lain-lain juga memiliki gagasan yang sama.
Sebagian bahkan punya taktik yang lebih efektif daripada
yang lain.


"Tapi taktik yang paling efektif diciptakan vampir yang
masih sangat muda, bernama Benito. Hal pertama yang
didengar orang tentang Benito adalah bahwa dia datang
dari tempat di sebelah utara Dallas dan membantai dua
kelompok kecil yang berbagi wilayah di dekat Houston.
Dua malam kemudian dia menghabisi klan yang jauh lebih
kuat, yang mengklaim kawasan Monterrey di sebelah utara
Meksiko. lagi-lagi, Benito menang
"Bagaimana dia bisa menang?" tanyaku ingin tahu.
"Benito menciptakan sekelompok vampir baru. Dialah
yang pertama kali memikirkan hal itu, dan, pada awalnya,
dia tidak bisa dihentikan. Vampir yang masih sangat muda
itu ganas, liar, dan nyaris mustahil dikendalikan. Satu
vampir baru masih bisa diatasi, diajarkan untuk menahan
diri, tapi sepuluh, lima belas sekaligus adalah mimpi buruk.
Mereka mudah disuruh saling menyerang, apalagi kalau
disuruh menghabisi musuh. Benito harus terus menciptakan
vampir baru karena mereka berkelahi antar mereka sendiri,
juga karena kelompok-kelompok vampir yang dibantainya
menghabisi setengah kekuatannya sebelum kalah.
"Kau tahu, walaupun vampir baru berbahaya, mereka
masih mungkin dikalahkan kalau kau tahu caranya. Mereka
luar biasa kuat secara fisik, selama tahun pertama atau
kedua, dan kalau diperbolehkan mengerahkan segenap
kekuatan, mereka sanggup meremukkan vampir yang lebih
tua dengan mudah. Tapi mereka diperbudak insting mereka
sendiri, sehingga mudah diprediksi. Biasanya mereka tidak
punya keahlian berperang, hanya mengandalkan otot dan
keberanian. Dan dalam kasus ini, jumlah mereka yang
sangat banyak.
"Vampir-vampir di selatan Meksiko sadar apa yang
menyerang mereka, dan mereka melakukan satu-satunya


hal yang terpikir untuk melawan Benito. Membuat pasukan
sendiri...”
"Situasi menjadi tidak terkendali – bisa kaubayangkan
sendiri. Kami kaum abadi juga memiliki sejarah sendiri,
dan perang yang satu ini takkan pernah dilupakan. Tentu
saja tidak enak menjadi manusia di Mexico City pada saat
itu.”
Aku bergidik.
"Ketika jumlah korban mencapai angka yang dapat
menimbulkan epidemi – bahkan, sejarah kalian
menyebutkan bahwa berkurangnya populasi secara drastis
adalah akibat wabah penyakit – keluarga Volturi akhirnya
turun tangan. Seluruh penjaga datang bersama dan mencari
setiap vampir baru di seluruh penjuru Amerika Utara
bagian bawah. Benito bermarkas di Puebla, membangun
pasukan secepat yang bisa dilakukannya demi mendapatkan
hadiah utama- Mexico City. Keluarga Volturi memulai
pembersihan dari Benito, kemudian berlanjut ke yang lainlain.
"Setiap orang yang didapati sedang bersama vampir baru
langsung dieksekusi saat itu juga, dan karena semua orang
berusaha melindungi diri dari Benito, Meksiko bersih dari
vampir untuk sementara waktu.
"Keluarga Volturi melakukan pembersihan besar-besaran
selama hampir satu tahun. Ini babak lain dalam sejarah
kami yang akan selalu dikenang, walaupun sedikit sekali
saksi mata tersisa yang masih bisa mengingatnya. Aku
pernah berbicara dengan seseorang yang pernah
menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan, ketika mereka
mengunjungi Culiacin.”


Jasper bergidik. Aku baru sadar bahwa sebelumnya aku
tidak pernah melihat Jasper takut ataupun ngeri. Ini yang
pertama kalinya.
"Untunglah demam ingin menguasai itu tidak menyebar
dari Selatan. Bagian dunia lainnya tetap waras. Kami
berutang budi pada keluarga Volturi sehingga bisa
menjalani kehidupan seperti ini.
"Tapi setelah keluarga Volturi kembali ke Italia, para
vampir yang masih bertahan dengan cepat menancapkan
klaimnya di Selatan.
"Tak lama kemudian kelompok-kelompok itu mulai
berselisih lagi. Banyak sekali darah busuk, maafkan
istilahku. Balas dendam merajalela di mana-mana. Ide
menciptakan vampir baru sudah terbentuk, dan ada
sebagian yang tidak mampu menolak. Bagaimanapun,
karena tidak ingin didatangi lagi oleh keluarga Volturi,
kelompok-kelompok Selatan lebih berhati-hati kali ini. Para
vampir baru dipilih dari kelompok manusia secara lebih
cermat, dan diberi lebih banyak pelatihan. Mereka
dimanfaatkan secara sangat hati-hati, dan sebagian besar
manusia tetap tidak menyadari keberadaan mereka. Para
pencipta mereka tidak memberi alasan kepada keluarga
Volturi untuk kembali.
"Perang berlanjut, namun dalam skala lebih kecil.
Sesekali ada orang yang bertindak terlalu jauh, spekulasi
pun berkembang di koran-koran manusia, dan keluarga
Volturi kembali untuk membersihkan kota. Tapi mereka
membiarkan yang lain-lain, yang cukup berhati-hati,
melanjutkan kegiatan mereka...”
Mata Jasper menerawang jauh.
"Begitulah kau berubah," Kesadaranku hanya berupa
bisikan.


"Ya,” Jasper membenarkan. "Waktu aku masih menjadi
manusia, aku tinggal di Houston, Texas. Umurku hampir
tujuh belas waktu aku bergabung dengan Tentara
Konfederasi di tahun 1861. Aku berbohong pada bagian
penerimaan dan mengatakan umurku dua puluh. Aku
tinggi, jadi mereka percaya.
"Karier militerku hanya berumur pendek, tapi sangat
menjanjikan. Orang-orang selalu... menyukaiku,
mendengarkan apa yang kukatakan. Kata ayahku, itu
karena aku punya karisma. Tentu saja, sekarang aku tahu
mungkin itu karena hal lain. Namun, apa pun alasannya,
aku cepat mendapat promosi, mengalahkan tentara-tentara
lain yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Tentara
Konfederasi masih baru dan berusaha mengorganisir diri,
jadi itu memberiku kesempatan untuk maju. Saat
pertempuran pertama di Galveston – well, sebenarnya lebih
tepat disebut kerusuhan – akulah mayor termuda di Texas,
bahkan tanpa menyebutkan umurku sesungguhnya.
“Aku diserahi tanggung jawab mengevakuasi wanita dan
anak-anak dari kota ketika kapal-kapal mortar Union
sampai di pelabuhan, Diperlukan waktu satu hari untuk
menyiapkan mereka, kemudian aku berangkat bersama
rombongan rakyat sipil pertama untuk membawa mereka
ke Houston.
"Aku masih ingat malam itu dengan sangat jelas.
"Kami sampai di kota setelah hari gelap. Aku tidak
berlama-lama di sana, hanya sampai aku bisa memastikan
seluruh anggota rombongan dalam keadaan aman. Setelah
semua urusanku selesai, aku mengganti kudaku dengan
kuda baru, lalu kembali ke Galveston. Tidak ada waktu
untuk beristirahat.


"Baru satu setengah kilometer meninggalkan kota, aku
menemukan tiga wanita berjalan kaki. Asumsiku, mereka
gelandangan dan aku langsung turun dari kuda untuk
menawarkan bantuan. Tapi waktu aku melihat wajah
mereka dalam keremangan cahaya bulan, aku terperangah
sampai tak bisa berkata-kata. Mereka, tak diragukan lagi,
merupakan tiga wanita paling cantik yang pernah kulihat.
"Kulit mereka sangat pucat, aku ingat sampai terkagumkagum
melihatnya. Bahkan gadis kecil berambut hitam,
yang dari garis-garis wajahnya kentara sekali orang
Meksiko, tampak bagaikan porselen dalam cahaya bulan.
Kelihatannya mereka masih muda, mereka semua, masih
pantas disebut gadis. Aku tahu mereka bukan anggota
rombongan kami yang tersesat. Aku pasti ingat kalau
pernah melihat mereka bertiga.
"’Dia sampai tidak sanggup bicara,' kata gadis yang
paling tinggi dengan suara merdu mengalun – suaranya
seperti genta angin. Rambutnya berwarna terang, dan
kulitnya seputih salju.
"Gadis yang lain juga pirang, kulitnya juga putih bersih.
Wajahnya seperti malaikat. Gadis itu mencondongkan
tubuh ke arahku dengan mata separuh tertutup dan menarik
napas dalam-dalam.
“’Mmm,’ gumamnya. ‘Menyenangkan.’
"Gadis yang kecil, si mungil berambut cokelat,
memegang lengan gadis itu dan berbicara cepat sekali.
Suaranya terlalu lirih dan merdu untuk terdengar ketus, tapi
sepertinya itulah yang dia maksudkan.
"’Konsentrasi, Nettie,’ begitu katanya.
“Aku memiliki kemampuan merasakan bagaimana
orang-orang saling berhubungan, jadi aku langsung tahu


gadis berambut cokelat itulah pemimpinnya. Kalau di
militer, bisa dibilang gadis itu lebih tinggi pangkatnya
dibandingkan yang lain.
"’Kelihatannya dia orang yang tepat – muda, kuat,
seorang tentara...’ Si rambut cokelat terdiam, dan aku
mencoba berbicara, tapi tidak bisa. 'Dan ada satu lagi...
kalian bisa menciumnya?' tanyanya kepada dua gadis yang
lain. 'Dia... memikat.’”
"’Oh, ya,’ Nettie langsung setuju, mencondongkan tubuh
ke arahku lagi.
"'Sabar,’ si rambut cokelat mengingatkan. Aku ingin
mempertahankan yang satu ini.’
"Nettie mengerutkan kening; sepertinya kesal.
"'Sebaiknya kau saja yang melakukannya, Maria; si
pirang tinggi berkata lagi. 'Kalau dia penting bagimu.
Soalnya, aku membunuh sama seringnya seperti aku
mempertahankan mereka.’
"Ya, biar aku saja yang melakukannya,' Maria
sependapat. 'Aku benar-benar menyukai yang satu ini.
Bawa Nettie pergi, bisa? Aku tidak mau repot-repot
memikirkan keselamatan diriku selagi sedang berusaha
berkonsentrasi,'
"Bulu kudukku meremang, walaupun aku sama sekali
tidak mengerti apa yang dibicarakan makhluk-makhluk
cantik itu. Naluriku mengatakan ada bahaya, bahwa gadis
berwajah malaikat tadi tidak main-main waktu berbicara
tentang membunuh, tapi penilaianku mengalahkan
naluriku. Aku tidak diajari untuk takut pada wanita,
melainkan melindungi mereka,
"’Ayo kita berburu,' Nettie setuju dengan sikap antusias,
meraih tangan si gadis jangkung. Mereka melesat – benar-


benar luwes! – dan berpacu menuju kota. Hampir terlihat
seperti terbang saking cepatnya – gaun putih mereka
berkibar-kibar di belakang bagaikan sayap. Aku mengerjapngerjap
takjub, dan mereka pun lenyap.
“Aku menoleh dan menatap Maria, yang mengamatiku
dengan sikap ingin tahu.
“Aku bukan orang yang percaya takhayul. Sampai detik
itu aku tidak pernah percaya pada hantu atau omong
kosong lain sejenisnya. Tapi tiba-tiba saja aku tidak yakin.
"’Siapa namamu, Tentara?' Maria bertanya padaku.
"'Mayor Jasper Whitlock, Ma'am,’ jawabku terbata-bata,
tak bisa bersikap tidak sopan pada wanita, meski ia hantu
sekalipun.
"’Aku benar-benar berharap kau selamat, Jasper,’
katanya lembut. ‘Aku punya firasat bagus mengenaimu.’
"Dia maju satu langkah, dan menelengkan kepala seperti
hendak menciumku. Aku membeku di tempat, meski
seluruh naluriku berteriak menyuruhku berlari.”
Jasper berhenti sejenak, wajahnya merenung, "Beberapa
hari kemudian.” katanya akhirnya, dan aku tidak tahu
apakah ia mengedit ceritanya demi aku atau karena
merespons ketegangan yang bahkan bisa kurasakan
terpancar dari Edward. “Aku diperkenalkan pada
kehidupanku yang baru.
"Nama mereka Maria, Nettie, dan Lucy. Mereka belum
lama bersama-sama – Maria mengumpulkan dua gadis yang
lain – ketiganya selamat dari peperangan yang mereka
menangkan. Hubungan mereka saling menguntungkan.
Maria ingin membalas dendam, dan ingin menguasai
kembali wilayahnya. Sementara yang lain ingin
memperluas... ladang perburuan mereka, kurasa begitulah


istilahnya. Mereka bermaksud membentuk pasukan, dan
melakukannya secara lebih hati-hati daripada biasanya. Itu
ide Maria. Dia menginginkan pasukan yang superior, jadi
dia mencari manusia-manusia tertentu yang berpotensi. Jadi
dia memberi kami lebih banyak perhatian, memberi
pelatihan lebih banyak daripada yang mau dilakukan pihak
lain. Dia mengajari kami cara bertarung, dan dia mengajari
kami bagaimana agar tidak terlihat manusia. Kalau kami
berbuat baik, kami diberi hadiah...”
Jasper berhenti, mengedit ceritanya lagi.
"Tapi dia terburu-buru. Maria tahu kekuatan luar biasa
vampir baru mulai melemah setelah satu tahun, jadi dia
ingin bertindak selagi kami masih kuat.
"Sudah ada enam anggota waktu aku bergabung dengan
kelompok Maria. Dia menambah empat lagi dalam dua
minggu. Kami semua lelaki – Maria menginginkan tentara –
jadi agak susah menjaga agar kami tidak berkelahi antar
kami sendiri, Aku terjun dalam peperangan pertama
melawan teman-teman baruku sepasukan. Aku lebih cepat
dibandingkan yang lain-lain, lebih hebat dalam bertempur.
Maria senang melihat hasil kerjaku, meski kesal karena
harus terus-menerus mengganti mereka yang kuhabisi. Aku
sering diberi hadiah, dan itu membuatku semakin kuat.
"Maria pandai menilai karakter orang. Dia memutuskan
untuk menugaskanku mengetuai anggota-anggota lain –
seolah-olah aku dipromosikan. Itu sangat sesuai dengan
sifat asliku. Jumlah korban menurun drastis, dan jumlah
kami membengkak hingga mendekati dua puluh.
"Ini jumlah yang luar biasa mengingat pada masa itu
kami harus sangat berhati-hati. Meski belum terdefinisikan,
kemampuanku mengendalikan atmosfer emosional di
sekitarku, sangatlah efektif. Sebentar saja kami mulai


bekerja sama dalam cara yang tidak pernah dilakukan para
vampir baru sebelumnya. Bahkan Maria, Nettie, dan Lucy
bisa lebih mudah bekerja sama.
"Maria sangat sayang padaku – dia mulai bergantung
padaku. Dan, dalam beberapa hal, bisa dibilang aku benarbenar
memujanya. Aku sama sekali tidak tahu cara hidup
lain itu mungkin. Maria memberi tahu kami seperti inilah
keadaannya, dan kami percaya.
"Dia memintaku memberi tahu kapan saudara-saudara
lelakiku dan aku siap bertempur, dan aku bersemangat ingin
membuktikan diri. Akhirnya aku berhasil menghimpun
pasukan beranggotakan 23 orang – 23 vampir baru yang
sangat kuat, terorganisir, dan terlatih, tidak seperti pasukanpasukan
lain sebelumnya. Maria girang bukan main.
"Kami bergerak diam-diam menuju Monterrey, daerah
asal Maria dulu, dan dia melepas kami untuk menghadapi
musuh-musuhnya. Waktu itu mereka hanya punya
sembilan vampir baru, serta sepasang vampir tua yang
mengendalikan mereka. Kami mengalahkan mereka lebih
mudah daripada yang bisa dipercaya Maria, dan hanya
kehilangan empat anggota. Margin kemenangan yang
belum pernah terjadi sebelumnya.
"Dan kami semua terlatih dengan baik. Kami
melakukannya tanpa menarik perhatian. Kota berpindah
tangan tanpa satu manusia pun menyadarinya.
"Kesuksesan membuat Maria serakah. Tak lama
kemudian dia mulai melirik kota-kota lain. Tahun pertama
itu dia memperluas kendalinya untuk menguasai sebagian
besar Texas dan sebelah utara Meksiko. Kemudian vampirvampir
lain datang dari Selatan untuk menggulingkannya.
Jasper mengusapkan dua jari di sepanjang pola samar
bekas luka di lengannya.


"Pertempurannya sengit. Banyak yang mulai waswas
keluarga Volturi bakal kembali. Dari 23 anggota asli, akulah
satu-satunya yang selamat dalam delapan belas bulan
pertama. Kami menang dan kalah. Nettie dan Lucy
akhirnya berbalik melawan Maria – tapi dalam
pertempuran itu kami menang.
"Maria dan aku berhasil mempertahankan Monterrey.
Suasana sedikit tenang, walaupun perang terus berlanjut.
Keinginan menguasai sudah tidak ada; kebanyakan hanya
keinginan membalas dendam dan bermusuhan. Banyak
sekali yang kehilangan pasangan, dan itu adalah hal yang
tidak bisa dimaafkan kaum kami...
"Maria dan aku selalu menyiapkan kira-kira selusin
vampir baru untuk berjaga-jaga. Mereka tidak berarti bagi
kami – mereka hanya pion, bisa digonta-ganti. Kalau sudah
tidak berguna lagi, kami benar-benar membuang mereka.
Hidupku berlanjut dalam pola kekerasan dan tahun-tahun
pun berlalu. Aku muak pada semua itu untuk waktu yang
sangat lama sebelum ada perubahan...
"Beberapa dekade kemudian aku menjalin persahabatan
dengan vampir baru yang tetap berguna dan selamat
melewati tiga tahun pertamanya meskipun
kemungkinannya sangat kecil. Namanya Peter. Aku
menyukai Peter; dia .. beradab-kurasa itulah istilah yang
tepat. Dia tidak suka bertarung, walaupun dia bisa
melakukannya dengan baik.
"Dia ditugaskan menangani para vampir baru – menjaga
mereka, bisa dibilang begitu. Itu tugas yang berat.
"Kemudian tiba saatnya melakukan pembersihan lagi.
Kekuatan para vampir baru itu sudah habis; sudah
waktunya mereka diganti. Peter seharusnya membantu aku
menyingkirkan mereka. Kami menghabisi mereka secara


individu, kau mengerti kan, satu per satu. Tugas itu sangat
berat. Kali ini dia berusaha meyakinkan aku ada beberapa
yang memiliki potensi, tapi Maria sudah menginstruksikan
agar kami menghabisi mereka semua. Jadi kubilang tidak
padanya.
"Kira-kira baru setengah perjalanan, aku bisa merasakan
tugas semacam ini mulai membebani batin Peter. Aku
sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku
menyuruhnya pergi saja dan menyelesaikan tugas ini
sendirian waktu aku memanggil korban berikutnya. Yang
mengagetkan, Peter tiba-tiba marah, mengamuk. Aku
bersiap-siap menghadapi suasana hati apa pun yang
mungkin dibayangkannya – dia petarung hebat, tapi dia
bukan tandinganku.
"Vampir baru yang kupanggil wanita, baru saja melewati
tahun pertamanya. Namanya Charlotte. Perasaan Peter
berubah begitu wanita itu muncul; perasaan itulah yang
membuatku mengetahui niat Peter sesungguhnya. Peter
berteriak, menyuruh wanita itu lari, lalu dia sendiri
menyusul. Sebenarnya aku bisa saja mengejar mereka, tapi
itu tidak kulakukan. Aku merasa... enggan menghabisinya.
"Maria kesal padaku gara-gara itu...
"Lima tahun kemudian Peter diam-diam kembali
menemuiku. Waktu yang dia pilih untuk kembali sungguh
tepat.
"Maria bingung melihat pikiranku yang semakin
memburuk. Dia tidak pernah sedikit pun merasa depresi,
dan aku sendiri penasaran kenapa aku berbeda. Aku mulai
menyadari perubahan emosinya bila Maria berada di
dekatku – kadang-kadang ada perasaan takut... dan benci –
perasaan yang sama yang memberiku peringatan dini waktu
Nettie dan Lucy menyerang. Aku sedang bersiap-siap


menghabisi satu-satunya sekutuku, inti eksistensiku, waktu
Peter kembali.
"Peter menceritakan kehidupan barunya bersama
Charlotte, menceritakan opsi-opsi yang sebelumnya tak
pernah terbayangkan bisa kumiliki. Selama lima tahun
mereka tidak pernah berperang, walaupun mereka bertemu
banyak vampir lain di Utara. Vampir-vampir lain yang bisa
hidup berdampingan tanpa bertempur terus-menerus.
"Dalam obrolan itu, dia berhasil meyakinkanku. Aku
siap pergi, dan entah mengapa lega karena tidak harus
membunuh Maria. Aku sudah menjadi pendampingnya
selama sekian tahun. hampir selama Carlisle dan Edward,
namun ikatan batin kami tidak sekuat mereka. Kalau kau
hidup untuk bertarung, untuk pertumpahan darah,
hubungan yang terbentuk sangat rentan dan mudah
dihancurkan. Aku pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Aku berkelana bersama Peter dan Charlotte selama
beberapa tahun, menjajaki dunia baru yang lebih damai ini.
Tapi depresiku tak kunjung hilang. Aku tidak mengerti apa
yang salah dengan diriku, sampai Peter menyadari perasaan
depresi itu semakin menjadi-jadi setiap kali aku selesai
berburu.
“Aku merenung memikirkannya. Sekian tahun
membantai dan membunuh, aku nyaris kehilangan semua
rasa perikemanusiaanku. Tak diragukan lagi aku adalah
mimpi buruk, monster paling kejam. Meski begitu, setiap
kali aku menemukan korban manusia lain, aku kembali
teringat kehidupanku yang dulu. Ketika melihat mereka
membelalak takjub pada ketampananku, aku seperti bisa
melihat Maria dan yang lain-lain dalam pikiranku,
bagaimana mereka terlihat olehku pada malam terakhir aku
menjadi Jasper Whitlock. Perasaan itu lebih kuar bagiku –
kenangan buruk ini – daripada bagi orang lain. karena aku


bisa merasakan semua yang dirasakan calon korbanku. Dan
aku merasakan emosi mereka waktu aku membunuh
mereka,
"Kau sudah pernah mengalami sendiri bagaimana aku
bisa memanipulasi emosi di sekitarku, Bella. tapi aku tak
tahu apakah kau sadar perasaan-perasaan yang ada dalam
ruangan itu juga mempengaruhiku. Setiap hari aku hidup
dalam iklim emosi. Selama seabad pertama kehidupanku;
aku hidup di dunia yang dipenuhi aksi balas dendam yang
haus darah. Kebencian adalah pendamping terapku.
Kebencian itu sedikit berkurang setelah aku meninggalkan
Maria, tapi aku masih harus merasakan kengerian dan
ketakutan korbanku.
“Aku mulai tak sanggup lagi menanggungnya.
"Depresiku semakin parah, dan aku menjauh dari Peter
dan Charlotte. Walaupun beradab, mereka tidak merasakan
keengganan yang mulai kurasakan. Mereka hanya
menginginkan kedamaian dari perang. Sementara aku lelah
merasakan keharusan membunuh – membunuh siapa saja,
bahkan manusia biasa sekalipun,
"Meski begitu, aku harus terus membunuh. Apa lagi
pilihan yang kumiliki? Aku berusaha mengurangi
frekuensinya, tapi akibatnya aku sangat kehausan hingga
akhirnya harus menyerah. Setelah seabad merasakan
kepuasan instan, aku mendapati bahwa mendisiplinkan diri
itu... menantang. Aku masih belum bisa
menyempurnakannya."
Jasper terhanyut dalam kisahnya, begitu juga aku. Jadi
aku kaget bukan main waktu ekspresi muram Jasper
mendadak berubah menjadi senyum penuh damai.
"Aku sedang di Philadelphia. Muncul badai besar, dan
aku keluar pada siang hari – sesuatu yang belum


sepenuhnya bisa kujalani dengan nyaman. Aku tahu berdiri
di tengah hujan akan menarik perhatian, maka aku pun
merunduk dan memasuki restoran kecil yang separuh
kosong. Warna mataku cukup gelap, jadi tidak ada yang
akan memerhatikan, walaupun itu berarti aku sedang
dahaga, dan itu sedikit membuatku khawatir.
"Dia ada di sana – menungguku, tentu saja,” Jasper
terkekeh. "Dia melompat dari bangku tinggi di konter begitu
aku masuk dan langsung menghampiriku.
“Aku syok. Aku tak yakin apakah wanita itu bermaksud
menyerangku. Itu satu-satunya interpretasi dari sikapnya,
akibat dari masa laluku yang suram. Tapi wanita itu
tersenyum. Dan berbagai emosi yang terpancar dari dalam
dirinya sama sekali tidak seperti yang pernah kurasakan
sebelumnya.
"’Kau membuatku menunggu lama sekali,’ katanya.”
Aku tidak sadar Alice datang dan berdiri di belakangku
lagi.
"Dan kau menundukkan kepala, seperti lazimnya lelaki
Selatan baik-baik, dan menjawab, 'Maafkan saya, Ma'am,’"
Alice tertawa mengenangnya.
Jasper menunduk dan tersenyum padanya. "Kau
mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya tanpa perlu
berpikir. Untuk pertama kali dalam kurun waktu hampir
seabad, aku merasa ada harapan.”
Jasper meraih tangan Alice sambil bicara,
Alice nyengir. “Aku hanya lega. Kupikir kau tidak akan
pernah muncul.”


Mereka saling tersenyum lama sekali, kemudian Jasper
menoleh lagi padaku, ekspresi lembut masih menggayuti
wajahnya.
"Alice menceritakan apa yang ia lihat tentang Carlisle
dan keluarganya. Aku nyaris tak percaya ada vampir yang
bisa hidup seperti itu. Tapi Alice membuatku optimis. Maka
kami pun pergi mencari mereka.”
“Membuat mereka ketakutan setengah mati juga,”
imbuh Edward, memutar bola matanya kepada Jasper
sebelum berpaling kepadaku untuk menjelaskan. "Emmett
dan aku sedang berburu. Jasper muncul, tubuhnya dipenuhi
bekas luka akibat peperangan, membawa makhluk kecil
aneh ini" – disikutnya Alice dengan bercanda – "yang
menyapa mereka semua dengan nama masing-masing, tahu
segala sesuatu mengenai mereka, dan ingin tahu dia bisa
menempati kamar yang mana.”
Alice dan Jasper tertawa berbarengan dalam harmonisasi
suara yang kompak, sopran dan bass.
"Dan sesampainya aku di rumah, semua barangbarangku
sudah di garasi,” sambung Edward.
Alice mengangkat bahu. "Kamarmu kan yang memiliki
pemandangan paling indah.”
Mereka semua tertawa berbarengan.
"Bagus sekali ceritanya,” kataku.
Tiga pasang mata menatapku, mempertanyakan
kewarasanku.
"Maksudku bagian terakhir,” aku membela diri, “Akhir
yang membahagiakan dengan hadirnya Alice.”
"Alice memang membawa perubahan.” Jasper setuju.
"Iklim seperti inilah yang kusenangi"


Namun selingan tadi tak dapat mengurangi ketegangan
yang telanjur tercipta.
"Satu pasukan," bisik Alice. "Kenapa kau tidak
memberitahuku?”
Yang lain kembali menyimak pembicaraan kami, mata
mereka terpaku di wajah Jasper.
"Kupikir aku pasti salah menerjemahkan pertandapertanda
yang ada. Karena, apa motifnya? Untuk apa
seseorang membentuk pasukan di Seattle? Tidak ada sejarah
perselisihan di sana, tidak ada balas dendam. Tidak masuk
akal bila melihatnya dari sudut pandang untuk menguasai
saru wilayah juga; karena memang tidak ada yang
mengklaim wilayah itu, Kaum nomaden hanya
melewatinya, jadi tidak ada pihak yang perlu dilawan.
Tidak perlu membela diri terhadap apa pun.
"Tapi aku pernah melihat hal seperti ini sebelumnya, dan
tidak ada penjelasan lain. Ada sepasukan vampir baru di
Seattle. Kurang dari dua puluh, menurut perkiraanku.
Sulitnya, mereka benar-benar tidak dilatih. Siapa pun yang
menjadikan mereka, membiarkan mereka berkeliaran begitu
saja. Ini hanya akan bertambah parah, dan tidak lama lagi,
keluarga Volturi pasti akan turun tangan. Sebenarnya, aku
justru heran mereka membiarkan masalah ini berlarut-larut
begitu lama.”
"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Carlisle.
"Kalau ingin menghindari keterlibatan keluarga Volturi,
kira harus mengenyahkan vampir-vampir baru itu, dan kita
harus melakukannya sesegera mungkin,” Wajah Jasper
tampak keras. Setelah mengetahui riwayat hidupnya, aku
bisa menduga evaluasi ini pasti sangat merisaukan
pikirannya. “Aku bisa mengajari kalian caranya. Tidak
mudah melakukannya di kota. Vampir-vampir muda ini


tidak peduli apabila keberadaan mereka diketahui orang,
tapi kita harus tetap berhati-hati. Itu membatasi gerak-gerik
kita dalam beberapa hal, sementara mereka tidak. Mungkin
kita bisa merayu mereka untuk keluar dari kota.”
"Mungkin itu tidak perlu.” Suara Edward muram,
"Tidak terpikirkah oleh kalian bahwa satu-satunya ancaman
yang mungkin ada dalam wilayah ini, yang membuat
seseorang merasa perlu membentuk pasukan adalah kita
sendiri?'
Mata Jasper menyipit; mata Carlisle membelalak, syok.
"Keluarga Tanya juga dekat,” kata Esme lambat-lambat,
tidak bisa menerima perkataan Edward.
"Para vampir baru itu tidak mengacau di Anchorage,
Esme. Menurutku, kita perlu mempertimbangkan
pemikiran bahwa kitalah target mereka.”
"Mereka tidak mengincar kita,” Alice bersikeras,
kemudian terdiam sejenak. “Atau... mereka tidak tahu
kalau mereka mengincar kita. Belum.”
“Ada apa?” tanya Edward, ingin tahu sekaligus tegang.
“Apa yang kauingat?"
"Kilasan-kilasan gambar.” jawab Alice. “Aku tidak bisa
melihat dengan jelas kalau berusaha melihat apa yang
sedang terjadi, sama sekali tidak konkret. Tapi aku sering
mendapat potongan-potongan gambar yang aneh. Tidak
cukup lengkap untuk bisa dicerna. Seolah-olah ada orang
yang berubah pikiran, beralih dari satu tindakan ke tindakan
lain begitu cepat sehingga aku tak bisa melihat dengan
jelas...”
"Bimbang?" tanya Jasper tak percaya.
"Entahlah...”


"Bukan bimbang.” geram Edward. "Tapi tahu.
Seseorang yang tahu kau tidak bisa melihat apa-apa sampai
suatu keputusan diambil. Seseorang yang bersembunyi dari
kita. Bermain-main dengan celah dalam visimu.”
"Siapa yang tahu tentang hal itu?" bisik Alice.
Mata Edward sekeras es. “Aro mengenalmu sebaik kau
mengenal dirimu sendiri.”
"Tapi aku pasti bisa melihatnya kalau mereka
memutuskan untuk datang...”
"Kecuali mereka tidak ingin tangan mereka kotor.”
"Balas budi," Rosalie memberi masukan, untuk pertama
kalinya angkat bicara. "Seseorang di Selatan... seseorang
yang sudah melanggar aturan, Seseorang yang seharusnya
dihancurkan tapi diberi kesempatan kedua – asalkan mereka
bersedia menangani persoalan kecil ini... Itu bisa
menjelaskan respons keluarga Volturi yang terkesan
lambat.”
"Kenapa?" tanya Carlisle, masih syok. "Tidak ada alasan
bagi keluarga Volturi-"
"Tentu saja ada,” sela Edward pelan. "Tapi aku heran ini
terjadi begitu cepat, karena pikiran -pikiran lainnya lebih
kuat. Dalam benak Aro, dia melihatku di satu sisi, dan
Alice di sisinya yang lain. Masa sekarang dan masa depan,
kemahatahuan sejati. Berkuasa atas pikiran membuat Aro
tergiur. Kukira butuh waktu jauh lebih lama baginya untuk
menjalankan rencana itu – dia terlalu menginginkannya.
Tapi dia juga memikirkanmu, Carlisle, memikirkan
keluarga kita, yang semakin lama semakin kuat dan besar.
Dia merasa iri sekaligus takut: kau memiliki... tak lebih
daripada yang dimilikinya, memang, tapi kau memiliki halhal
yang dia inginkan. Dia mencoba untuk tidak


memikirkannya, tapi tidak bisa sepenuhnya
menyembunyikan keinginan itu. Ide untuk mengenyahkan
saingan ada dalam benaknya; selain mereka, keluarga kita
adalah kelompok terbesar yang pernah mereka temui...”
Kutatap wajah Edward dengan ngeri. Ia tak pernah
menjelaskannya, tapi kurasa aku tahu alasannya. Aku bisa
membayangkannya sekarang, mimpi Aro. Edward dan
Alice mengenakan jubah hitam berkibar-kibar, berjalan
mendampingi Aro dengan sorot mata dingin dan merah
darah...
Carlisle membuyarkan lamunan seramku. "Mereka
terlalu berkomitmen dengan misi mereka. Mereka takkan
pernah melanggar aturan mereka sendiri. Itu bertentangan
dengan segala sesuatu yang selama ini mereka kerjakan."
"Mereka bisa membersihkannya sesudahnya.
Pengkhianatan ganda,” tukas Edward muram. "Tak ada
yang dirugikan.”
Jasper mencondongkan tubuh ke depan, menggelenggeleng.
"Tidak, Carlisle benar. Keluarga Volturi tidak
pernah melanggar aturan. Apalagi, ini terlalu sembrono.
Orang... ini, ancaman ini – mereka tak tahu apa yang
mereka lakukan. Pasti pelakunya baru pertama kali
melakukan ini, aku berani bersumpah. Aku tidak percaya
keluarga Volturi terlibat. Tapi mereka akan terlibat.”
Mereka berpandang-pandangan, membeku akibat
perasaan tertekan,
"Kalau begitu, mari kita pergi,” Emmett nyaris meraung.
"Tunggu apa lagi?”
Carlisle dan Edward berpandang-pandangan. Edward
mengangguk satu kali.


"Kau harus mengajari kami, Jasper,” kata Carlisle
akhirnya, "Bagaimana menghancurkan mereka.” Dagu
Carlisle mengeras, tapi bisa kulihat sorot kepedihan di
matanya waktu ia mengucapkan kata-kata itu. Carlisle
paling tidak menyukai kekerasan.
Ada hal lain yang mengganggu pikiranku, tapi entah apa,
aku sendiri tak tahu. Aku merasa kebas, ngeri, sangat
ketakutan. Meski begitu di balik semua itu aku bisa
merasakan ada hal penting yang luput dari perhatianku.
Sesuatu yang masuk akal di tengah segala kekacauan ini.
Sesuatu yang bisa memperjelas keadaan.
"Kita membutuhkan bantuan,” kata Jasper. “Apa
menurutmu keluarga Tanya mau...? Lima vampir dewasa
lain akan membuat perbedaan besar. Kate dan Eleazar
terutama akan sangat menguntungkan pihak kita. Akan
mudah sekali, dengan bantuan mereka."
"Nanti akan kita tanyakan,” jawab Carlisle.
Jasper mengulurkan ponsel. "Kita harus bergegas.”
Belum pernah aku melihat Carlisle yang biasanya tenang
terguncang. Ia menerima ponsel dari tangan Jasper, lalu
berjalan ke arah deretan jendela. Ia menghubungi sebuah
nomor, menempelkan ponsel ke telinga, dan
menumpangkan tangannya ke kaca. Matanya menatap pagi
yang berkabut dengan ekspresi pedih dan ambivalen.
Edward meraih tanganku dan menarikku ke sofa putih.
Aku duduk di sebelahnya, memandangi wajahnya
sementara Edward menatap Carlisle.
Suara Carlisle rendah dan cepat, sulit didengar.
Kudengar ia menyapa Tanya, kemudian menjelaskan
situasinya dengan kecepatan tinggi, terlalu cepat untuk


kumengerti, meski kentara sekali para vampir Alaska
mengetahui apa yang terjadi di Seattle.
Mendadak nada suara Carlisle berubah.
"Oh,” ucapnya, suaranya terdengar lebih tajam karena
terkejut. "Kami tidak mengira kalau... Irina merasa seperti
itu.”
Edward mengerang di sampingku dan memejamkan
mata. "Brengsek... Terkutuklah Laurent di tempatnya di
neraka terdalam sekarang.”
"Laurent?" bisikku, darah langsung surut dari wajahku,
tapi Edward tidak merespons, perhatiannya tertuju pada
pikiran-pikiran Carlisle.
Perjumpaan singkatku dengan Laurent awal musim semi
lalu masih segar dalam ingatanku. Aku masih ingat setiap
kata yang ia ucapkan sebelum diinterupsi Jacob dan
kawanannya.
Sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk
membantunya...
Victoria. Laurent adalah manuver pertama Victoria – ia
mengirim Laurent untuk melakukan observasi, untuk
melihat apakah sulit menemukanku. Hanya saja Laurent
tidak selamat dari terkaman serigala-serigala sehingga tidak
bisa melapor kembali pada Victoria.
Walaupun tetap memelihara hubungan dengan Victoria
setelah kematian James, Laurent juga menjalin ikatan dan
hubungan baru. Ia sempat tinggal bersama keluarga Tanya
di Alaska – Tanya si pirang stroberi – teman-teman terdekat
keluarga Cullen di dunia vampir, praktis sudah seperti
keluarga besar. Laurent tinggal bersama mereka selama
hampir satu tahun sebelum kematiannya.


Carlisle masih terus bicara, suaranya tidak terdengar
memohon-mohon. Persuasif tapi sedikit tajam. Kemudian
mendadak nada tajam itu menggantikan nada persuasif.
"Tak diragukan lagi,” tukas Carlisle kaku. "Kami
memiliki kesepakatan. Mereka tidak melanggarnya, begitu
juga kami. Aku ikut prihatin mendengarnya... tentu saja.
Kalau begitu kami akan berusaha sendiri.”
Carlisle menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Matanya masih terus menerawangi kabut di luar sana.
“Ada apa?” gumam Emmett kepada Edward.
"Ternyata hubungan Irina dengan teman lama kita
Laurent lebih dari teman biasa. Sekarang Irina mendendam
pada para serigala karena membunuh Laurent untuk
menyelamatkan Bella. Jadi dia ingin –" Edward terdiam,
menunduk menatapku.
"Teruskan,” ujarku dengan nada sedatar mungkin.
Mata Edward mengeras. "Dia ingin membalas dendam.
Menghabisi kawanan serigala itu. Mereka mau membantu
asal kita mengizinkan mereka menyerang kawanan
serigala.”
"Tidak!" aku terkesiap.
"Jangan khawatir,” sergah Edward dengan suara datar.
"Carlisle takkan pernah mengizinkan hal itu.” Edward raguragu
sejenak, lalu mengembuskan napas. "Begitu juga aku.
Laurent sendiri yang mencari masalah" – ini nyaris berupa
geraman – "dan aku tetap berutang budi pada para serigala
karena telah menyelamatkanmu.”
"Wah, ini gawat,” keluh Jasper. "Pertarungannya terlalu
seimbang. Kita memang lebih terampil daripada mereka,
tapi jumlah kita tidak melebihi mereka. Kita bisa menang,


tapi berapa harga yang harus kita bayar?" Matanya yang
tegang berkelebat ke wajah Alice, lalu ia berpaling lagi.
Ingin rasanya aku menjerit sekeras-kerasnya waktu
menyadari maksud Jasper.
Kita bisa menang, tapi juga bisa kalah. Sebagian
mungkin akan jadi korban.
Aku memandang berkeliling, ke wajah-wajah mereka
Jasper, Alice, Emmett, Rose, Esme, Carlisle... Edward –
wajah-wajah keluargaku.
14. DEKLA RASI
"BERCANDA kau,” sergahku pada hari Rabu Siang.
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal!"
"Terserah apa katamu,” sahut Alice. "Pokoknya
pestanya tetap jalan.”
Kupandangi dia, mataku membelalak tak percaya hingga
rasanya bola mataku nyaris copot dari rongganya dan
mendarat di nampan makan siangku.
"Oh, tenanglah, Bella! Tidak ada alasan untuk
membatalkan pesta. Lagi pula, undangannya kan sudah
disebar."
"Tapi... itu... kan... gila!"
"Kau kan sudah membelikanku hadiah,” tukas Alice
mengingatkan. "Jadi kau tinggal datang.”
Aku berusaha keras menenangkan diri, "Menimbang
semua yang terjadi saat ini, rasanya tidak pantas kita
menggelar pesta.”


"Yang sedang terjadi sekarang ini adalah kelulusan, jadi
justru sangar pantas jika kita menyelenggarakan pesta
sekarang.”
“Alice!"
Alice mendesah, dan mencoba bersikap serius. "Ada
beberapa hal yang perlu kita bereskan sekarang, dan itu
butuh waktu. Mumpung tidak ada yang bisa kita kerjakan
saat ini. Lebih baik kita rayakan saja hal yang bagus-bagus.
Kau hanya lulus SMA sekali seumur hidup – ini yang
pertama kali. Kau tidak bisa menjadi manusia lagi, Bella.
Ini kesempatan sekali seumur hidup.”
Edward, yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan
perdebatan kecil kami, melayangkan pandangan
mengingatkan kepada Alice. Alice menjulurkan lidah
kepadanya. Ia benar – suaranya yang lembut tak mungkin
terdengar orang di tengah-tengah celotehan ribut anak-anak
di kafeteria ini. Tapi kalaupun ada yang mendengar, tak ada
yang mengerti maksudnya.
"Memangnya apa yang perlu dibereskan?" tanyaku,
menolak digiring ke topik lain.
Edward menjawab pelan, "Jasper menganggap kita butuh
bantuan. Keluarga Tanya satu-satunya pilihan yang kita
punya. Carlisle sedang berusaha melacak keberadaan
beberapa teman lamanya, sementara Jasper mencari Peter
dan Charlotte. Dia sedang menimbang-nimbang untuk
menemui Maria... tapi sebenarnya kami tak ingin
melibatkan orang-orang Selatan.”
Alice bergidik pelan.
"Harusnya tidak sulit meyakinkan mereka untuk
membantu,” lanjut Edward. "Tidak ada yang ingin
didatangi tamu dari Italia.”


"Tapi teman-teman ini – mereka bukan... vegetarian,
kan?” protesku, menggunakan istilah yang dipakai keluarga
Cullen untuk menjuluki diri mereka sendiri.
"Bukan.” jawab Edward, tiba-tiba tanpa ekspresi.
"Di sini? Di Forks?"
"Mereka teman-teman kita,” Alice meyakinkanku.
"Semua pasti beres. Jangan khawatir. Apalagi, Jasper kan
harus mengajari kami beberapa pelajaran tentang cara
menghabisi vampir baru...”
Mata Edward berubah cerah mendengarnya, dan senyum
kecil terkuak di bibirnya. Tiba-tiba perutku bagai dipenuhi
pecahan-pecahan es kecil yang tajam.
"Kapan kalian akan pergi?" tanyaku, suaraku bergaung.
Aku tak tahan memikirkannya – bahwa mungkin ada di
antara mereka yang tidak kembali. Bagaimana kalau yang
jadi korban itu Emmett, yang begitu pemberani dan
sembrono hingga tidak pernah mau berhati-hati sedikit pun!'
Atau Esme, begitu manis dan keibuan, yang tak
kubayangkan bisa bertarung? Atau Alice, begitu mungil dan
tampak sangat rapuh? Atau... tapi aku bahkan tak bisa
memikirkan namanya, meskipun hanya
mempertimbangkan kemungkinannya.
"Satu minggu,” ujar Edward dengan sikap biasa -biasa
saja, "Waktunya cukup untuk kita.”
Serasa ada serpihan-serpihan es menusuk-nusuk perutku.
Aku mendadak mual.
"Kelihatannya kau pucat sekali, Bella.” Alice
berkomentar.
Edward memeluk bahuku dan menarikku erat-erat ke
sisinya. "Semua pasti beres, Bella. Percayalah padaku.”


Tentu, pikirku. Percaya padanya. Kan bukan dia yang
bingung memikirkan apakah orang yang menjadi inti
eksistensinya bisa kembali atau tidak.
Dan mendadak aku mendapat ilham. Mungkin aku tidak
perlu duduk menunggu mereka. Satu minggu lebih dari
cukup.
"Kalian butuh bantuan.” ujarku pelan,
"Benar," Alice menelengkan kepala ke satu sisi
sementara ia mencerna perubahan nada suaraku.
Aku hanya memandanginya saat menjawab. Suaraku
hanya sedikit lebih keras daripada bisikan. "Aku bisa
membantu.”
Tubuh Edward mendadak kaku, lengannya memelukku
kelewat erat, Ia mengembuskan napas, dan suaranya berupa
desisan.
Namun Alice-lah, masih terap tenang, yang menjawab.
"Itu malah tidak akan membantu."
"Kenapa tidak?” bantahku; bisa kudengar nada putus asa
dalam suaraku. "Delapan kan lebih baik daripada tujuh.
Waktunya lebih dari cukup.”
"Tidak cukup waktu untuk membuatmu bisa membantu
kami, Bella,” Alice membantah dengan nada dingin.
"Ingatkah kau bagaimana Jasper menggambarkan vampirvampir
muda itu? Kau tidak bakal bisa bertempur. Kau
tidak akan bisa mengontrol instingmu, dan itu hanya akan
membuatmu menjadi sasaran empuk. Dan bisa-bisa Edward
celaka saat berusaha melindungimu.” Ia bersedekap, puas
dengan logikanya yang tak terbantahkan.


Dan aku tahu Alice benar. Aku duduk merosot di
kursiku, harapanku yang tiba-tiba muncul seketika lenyap.
Di sampingku, Edward kembali rileks.
Ia berbisik di telingaku, "Yang penting bukan karena kau
takut.”
"Oh.” ucap Alice, ekspresi kosong mendadak melintasi
wajahnya. Sejurus kemudian ekspresinya berubah kecut.
“Aku paling tidak suka kalau ada yang batal di saat-saat
terakhir. Berarti jumlah tamunya berkurang jadi 65...”
"Enam puluh lima!' Sekali lagi aku membelalakkan mata.
Aku bahkan tidak punya teman sebanyak itu, Memangnya
aku kenal sebegitu banyak orang?
"Siapa yang batal?” tanya Edward, tidak menggubrisku.
“Renee.”
“Apa?" aku terkesiap kaget.
"Sebenarnya dia berniat memberimu kejutan saat
kelulusan nanti, tapi mendadak ada masalah. Kau akan
mendapat pesan darinya di rumah nanti.”
Sesaat kubiarkan diriku menikmati perasaan lega. Apa
pun masalah yang dihadapi ibuku sekarang, aku benarbenar
bersyukur. Kalau saja ia datang ke Forks sekarang
aku tak ingin memikirkannya. Bisa-bisa kepalaku meledak.
Lampu pesan di pesawat telepon berkedip-kedip
sesampainya aku di rumah. Kelegaanku kembali
membuncah saat mendengar penjelasan ibuku mengenai
kecelakaan yang dialami Phil di lapangan bola – saat
mendemonstasikan gerakan meluncur, ia bertabrakan
dengan pemain lain dan tulang pahanya parah, Phil benarbenar
bergantung pada ibuku sekarang, jadi tidak mungkin


ia bisa meninggalkannya. Ibuku masih terus meminta-minta
maaf saat pesannya terputus.
"Well, berarti berkurang satu,” desahku.
"Berkurang satu apa?" tanya Edward.
"Berkurang satu orang yang tidak perlu kukhawatirkan
bakal terbunuh minggu ini.”
Edward memutar bola matanya.
"Kenapa kau dan Alice tidak menganggap serius masalah
ini?" tuntutku. "Ini serius, tahu.”
Edward tersenyum. "Kepercayaan diri.”
"Hebat,” gerutuku. Kuraih telepon dan kuhubungi
Renee.
Aku tahu ini bakal jadi obrolan panjang, tapi aku juga
tahu aku tidak perlu banyak bicara.
Aku hanya mendengarkan, dan meyakinkan ibuku setiap
kali bisa menyela ocehannya: aku tidak kecewa, aku tidak
marah, aku tidak sakit hati. Seharusnya ia berkonsentrasi
membantu Phil supaya cepat sembuh. Aku menitipkan
salam "semoga cepat sembuh" kepada Phil, dan berjanji
akan meneleponnya dengan cerita lengkap tentang acara
kelulusan Forks High yang kampungan ini. Akhirnya, aku
terpaksa menggunakan alasan bahwa aku sangat perlu
belajar untuk menghadapi ujian akhir agar bisa menyudahi
telepon.
Kesabaran Edward sungguh luar biasa. Ia menunggu
dengan sopan sementara aku meladeni ocehan ibuku, hanya
memainkan rambutku dan tersenyum setiap kali aku
mendongak. Mungkin konyol memerhatikan hal semacam
itu padahal ada hal-hal lain yang lebih penting untuk
dipikirkan, tapi senyum Edward tetap sanggup membuat


napasku tertahan. Ia sangat tampan hingga terkadang sulit
memikirkan hal lain, sulit berkonsentrasi pada masalah Phil
atau permintaan maaf Renee atau pasukan vampir keji. Aku
hanya manusia biasa.
Begitu menutup telepon, aku berjinjit menciumnya.
Edward memeluk pinggangku dengan kedua tangannya dan
mengangkatku ke atas konter dapur, supaya aku tak perlu
berjinjit. Kurangkul lehernya dan melebur di dadanya yang
dingin.
Seperti biasa, belum apa-apa Edward sudah menarik diri.
Aku merasakan wajahku menekuk cemberut, Edward
tertawa melihat ekspresiku sementara ia melepaskan diri
dari belitan lengan dan kakiku. Ia bersandar di konter,
bersebelahan denganku, dan memeluk bahuku.
"Aku tahu menurutmu aku memiliki pengendalian diri
yang kuar dan tak tergoyahkan, tapi sebenarnya tidak"
"Seandainya saja begitu,” aku mendesah,
Dan ia ikut-ikutan mendesah.
"Sepulang sekolah besok,” kata Edward, mengganti
topik, "aku akan pergi berburu dengan Carlisle, Esme, dan
Rosalie. Hanya beberapa jam – kami takkan pergi jauhjauh,
Alice, Jasper, dan Emmett pasti bisa menjagamu.”
"Ugh,” gerutuku. Besok hari pertama ujian akhir, jadi
hanya setengah hari. Besok aku ujian Kalkulus dan Sejarah
– keduanya tantangan bagiku – jadi hampir seharian besok
aku akan sendirian, tak melakukan apa-apa kecuali merasa
khawatir. "Aku tidak suka dijaga.”
"Kan hanya untuk sementara,” janji Edward.
“Jasper pasti bosan setengah mati. Dan Emmett pasti
akan mengejekku.”


"Mereka pasti akan bersikap sangat baik.”
"Hah, yang benar saja.” gerutuku.
Kemudian, mendadak aku sadar aku punya pilihan lain
selain dijaga. "Kau tahu aku sudah lama tidak ke La Push,
semenjak acara api unggun waktu itu.”
Kuamati wajah Edward dengan saksama, melihat kalaukalau
ada perubahan ekspresi. Mata Edward sedikit
mengeras.
“Aku cukup aman di sana,” kuingatkan dia.
Edward berpikir sebentar, "Mungkin kau benar;"
Wajahnya tenang, namun sedikit terlalu datar. Hampir saja
aku bertanya apakah ia lebih suka aku tetap di sini, tapi
kemudian terbayang olehku ejekan-ejekan yang sudah pasti
akan dilontarkan Emmett padaku. "Memangnya kau sudah
haus lagi?" tanyaku, mengulurkan tangan dan mengusapusap
bayangan samar di bawah matanya. Iris matanya
masih emas tua.
"Tidak juga,” Edward sepertinya enggan menjawab, dan
itu membuatku kaget. Aku menunggu penjelasan darinya.
"Kami ingin tetap sekuat mungkin,” Edward
menjelaskan. "Mungkin kami akan berburu lagi dalam
perjalanan nanti, mencari buruan besar."
"Itu akan membuatmu lebih kuar?"
Edward mengamari wajahku, seolah mencari sesuatu,
tapi tidak ada apa-apa di sana kecuali keingintahuan.
"Ya.” jawab Edward akhirnya. "Darah manusia adalah
yang paling kuar, meski hanya sedikit. Jasper sempat
berpikir untuk melakukan pengecualian sekali ini saja –
walaupun dia tidak menyukai ide itu, namun demi alasan


kepraktisan – tapi dia tidak mau menyarankannya. Dia tahu
apa yang akan dikatakan Carlisle nanti.”
"Apakah itu bisa membantu?” tanyaku pelan.
"Tak ada bedanya. Kami takkan mengubah jati diri
kami." Aku mengerutkan kening. Kalau ada yang bisa
membantu, meskipun kemungkinannya kecil... kemudian
aku bergidik, sadar bahwa aku rela seseorang yang tidak
kukenal mati demi melindungi Edward. Aku ngeri pada
diriku sendiri, tapi tak sepenuhnya sanggup
menyangkalnya.
Edward mengganti topik lagi. "Itulah sebabnya mereka
sangat kuat, tentu saja. Para vampir baru itu penuh darah
manusia – darah mereka sendiri, bereaksi terhadap
perubahan. Darah itu bertahan dalam jaringan tubuh
mereka dan menguatkan mereka. Tubuh mereka
menghabiskannya pelan-pelan, seperti pernah dikatakan
Jasper, kekuatan itu mulai memudar setelah kira-kira satu
tahun.”
"Seberapa kuat aku nantinya?”
Edward nyengir. "Lebih kuat daripada aku.”
"Lebih kuat daripada Emmett?"
Seringaiannya semakin lebar, "Ya. Coba tantang dia adu
panco nanti. Dia akan belajar banyak dari pengalaman itu.”
Aku tertawa. Kedengarannya konyol sekali.
Lalu aku mendesah dan melompat dari konter, karena
aku benar-benar tak bisa menundanya lebih lama lagi. Aku
harus belajar sungguh-sungguh. Untunglah aku dibantu
Edward, dan Edward sangat pandai mengajar – apalagi ia
tahu banyak hal. Kurasa masalah terbesarku hanya
memfokuskan diri pada ujian-ujian nanti. Kalau tidak hati-


hati bisa-bisa aku menulis esai Sejarah tentang perang
vampir di daerah Selatan.
Aku menyempatkan diri menelepon Jacob, dan Edward
tampak biasa-biasa saja seperti waktu aku menelepon Renee
tadi. Ia memainkan rambutku lagi.
Walaupun saat ini siang bolong, teleponku
membangunkan Jacob, dan awalnya ia sempat jengkel. Ia
langsung girang waktu aku bertanya apakah aku bisa datang
ke rumahnya besok. Sekolah Quileute sudah mulai liburan
musim panas, jadi Jacob menyuruhku datang sepagi
mungkin. Aku senang ada pilihan lain selain dijaga seperti
bayi. Rasanya masih ada sedikit harga diri bila
menghabiskan waktu bersama Jacob.
Sebagian harga diri itu lenyap waktu Edward lagi-lagi
bersikeras mengantarku ke perbatasan seperti anak-anak
yang diantar petugas perwalian.
"Bagaimana ujianmu tadi?" tanya Edward dalam
perjalanan, berbasa-basi sedikit.
"Sejarah sih gampang, tapi entah kalau Kalkulus.
Sepertinya masuk akal, jadi itu mungkin berarti aku gagal.”
Edward tertawa, ''Aku yakin kau pasti lulus. Atau, kalau
kau benar-benar khawatir, aku bisa menyuap Mr. Vamer
supaya memberimu nilai A.”
"Eh, trims, rapi tidak usah, terima kasih.”
Lagi-lagi Edward tertawa, tapi mendadak berhenti waktu
kami berbelok di tikungan terakhir dan melihat mobil
merah menunggu. Keningnya berkerut penuh konsentrasi,
kemudian, saat memarkir mobilnya, ia mendesah.
"Ada apa?” tanyaku, tanganku memegang pintu.


0 Response to "Twilight Saga: Eclipse 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified