Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight 3

Edward berhenti. Aku bisa merasakan ia mengedit
sesuatu, menyembunyikan sesuatu dariku.
Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Tubuhtubuh
akan dibakar—apa saja yang terinfeksi oleh monster
itu harus dibakar. Carlisle mengikuti instingnya dan
menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia merangkak
menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu
mengikuti makhluk jahat dan korbannya. Dia bersembunyi
di gudang bawah tanah, mengubur dirinya sendiri di antara
tomat-tomat yang membusuk. Benar-benar mukjizat dia
dapat tetap diam, dan tak ditemukan.
"Akhirnya semua itu selesai, dan dia menyadari dirinya
telah menjelma sebagai apa."
Aku tak yakin bagaimana ekspresiku, tapi tiba-tiba ia
berhenti.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja," aku menenangkannya. Dan
meskipun aku menggigit bibir karena ragu, ia pasti telah
melihat rasa penasaran yang membara di mataku.
Ia tersenyum. "Kuharap kau punya beberapa pertanyaan
lagi untukku."
"Beberapa."
Senyumnya melebar, memamerkan giginya yang
sempurna. Ia mulai menyusuri ruang besar itu, sambil
menarikku bersamanya. "Kalau begitu, ayo," ajaknya.
"Akan kutunjukkan padamu."
16. CARLISLE
IA menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai
ruang kerja Carlisle. Ia berhenti sebentar di depan pintu.
"Masuklah," undang Carlisle.
Edward membuka pintu yang mengantar kami ke
ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yang
menghadap ke barat. Dinding-dindingnya bersekat,
kayunya berwarna lebih gelap—di mana saja terlihat.
Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang
menjulang hingga di atas kepalaku dan menyimpan lebih
banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di
perpustakaan.
Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar, di sebuah
kursi kulit. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada
halaman buku tebal yang dipegangnya. Ruangan itu
bagaikan ruang dekan yang ada dalam bayanganku – hanya
saja Carlisle terlihat terlalu muda untuk menempatinya.
“Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya
dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk.
"Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah
kita" kata Edward. "Well, sejarahmu, sebenarnya."
"Kami tidak bermaksud mengganggu Anda," kataku
meminta maaf.
"Tidak sama sekali. Dari mana kau akan mulai?"
"The Wagonnet," jawab Edward, meletakkan satu
tangannya di bahuku, dan memutar tubuhku untuk melihat
kembali pintu yang baru kami lalui. Setiap kali ia
menyentuhku, bahkan dengan sentuhan paling ringan
sekalipun, jantungku langsung berdebar sangat cepat.
Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi.
Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan
yang lainnya. Sebagai ganti rak buku, dinding ini dipenuhi
gambar berbingkai dalam segala ukuran, beberapa dengan
warna terang, yang lain hitam-putih membosankan. Aku
berusaha mencari benang merah yang menghubungkan
gambar-gambar itu, tapi pengamatanku yang terburu-buru
tidak menghasilkan apa pun.
Edward menarikku ke ujung sisi kiri, memosisikanku di
depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu
sederhana. Yang satu ini tidak terlalu mencolok dibanding
lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah; dilukis dengan
beragam gradasi warna sepia. menggambarkan kota yang
sarat dengan atap yang amat landai, dengan puncak menara
tipis di atas beberapa menara yang terserak. Sungai lebar
mengaliri bagian muka, dilintasi jembatan penuh bangunan
yang tampak seperti katedral kecil.
"London pada tahun 1650-an." kata Edward.
"London pada masa mudaku," Carlisle menambahkan
beberapa meter di belakangku. Aku tersentak; aku tidak
mendengarnya mendekat. Edward meremas tanganku.
"Maukah kau menceritakannya?" pinta Edward. Aku
menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle.
Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. "Aku mau,”
jawabnya. "Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat.
Rumah sakit menelepon pagi tadi—dr. Snow tidak masuk
karena sakit. Lagi pula, kau mengetahui ceritanya sebaik
aku," tambahnya, tersenyum pada Edward sekarang.
Sungguh perpaduan yang aneh—dokter kota yang sibuk
dengan masalah sehari-hari, terjebak dalam pembahasan
mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London.
Aku juga waswas, mengetahui ia mengatakannya dengan
lantang hanya demi kepentinganku.
Setelah tersenyum hangat ke arahku, Carlisle
meninggalkan ruangan.
Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung
halaman Carlisle itu.
"Lalu apa yang terjadi?" akhirnya aku bertanya,
mendongak menatap Edward, yang sedang mengamanku.
"Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?"
Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu, dan
aku memerhatikan untuk melihat gambar mana yang
menarik perhatiannya sekarang. Ternyata gambar
pemandangan berukuran lebih besar dalam warna-warna
musim gugur yang muram—padang rumput kosong dan
berbayang di sebuah hutan, dengan puncak gunung di
kejauhan.
"Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa," kata
Edward pelan, "dia melawannya. Dia berusaha
menghancurkan dirinya sendiri. Tapi itu tidak mudah."
"Bagaimana?" Aku tak bermaksud mengatakannya keraskeras,
tapi kata itu meluncur begitu saja.
"Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat,"
Edward memberitahuku, suaranya datar. "Dia berusaha
menenggelamkan dirinya di lautan... tapi dia masih baru
untuk kehidupan barunya, dan sangat kuat Sungguh
mengagumkan bahwa dia mampu menolak... memangsa...
padahal dia masih begitu baru. Sejalan dengan waktu,
nalurinya bertumbuh makin kuat, mengambil alih
segalanya. Tapi dia begitu jijik pada dirinya sendiri hingga
memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan
membiarkan dirinya kelaparan."
"Apakah itu mungkin?" suaraku terdengar samar.
"Tidak, hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh
kami."
Mulutku membuka hendak bertanya, tapi ia menduluiku.
"Akhirnya dia sangat kelaparan, dan menjadi lemah. Dia
pergi sejauh mungkin dari manusia, sadar tekadnya mulai
melemah. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari,
mencari tempat paling sepi, membenci dirinya sendiri.
"Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat
persembunyiannya. Dia begitu haus hingga menyerang
tanpa berpikir lagi. Kekuatannya pulih dan dia menyadari
ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster
jahat yang selama ini dikhawatirkannya. Pernahkah dia
memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa
bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. Dia dapat
hidup tanpa menjadi makhluk jahat. Dia menemukan jati
dirinya lagi.
Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. Dia
pandai dan selalu ingin belajar. Sekarang dia memiliki
waktu tak terbatas. Dia belajar pada malam hari, bekerja di
siang hari. Dia berenang ke Prancis dan—"
“Dia berenang ke Prancis?"
“Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. Bella,"
Edward mengingatkanku dengan sabar.
"Kurasa itu benar. Hanya saja kedengarannya lucu
dalam konteks itu. Lanjutkan."
"Berenang sesuatu yang mudah bagi kami—"
"Segalanya mudah bagimu." kataku kagum.
Ia menunggu, wajahnya kesal.
"Aku takkan menyelamu lagi, janji."
Ia tergelak misterius, dan menyelesaikan kalimatnya.
"Karena secara teknis, kami tidak perlu bernapas."
"Kau—"
"Tidak, tidak, kau sudah janji." Edward tertawa, dengan
lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. "Kau
mau mendengar ceritanya atau tidak?
"Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku,
lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa," gumamku.
Ia mengangkat tangan, memindahkannya ke leherku.
Jantungku bereaksi terhadap hal itu, tapi aku berkeras.
"Kau tak perlu bernapas?" desakku.
"Tidak, itu tidak perlu. Hanya masalah kebiasaan." Ia
mengangkat bahu.
“Berapa lama kau tahan... tanpa bernapas?"
"Kurasa untuk waktu tak terbatas; entahlah. Lamakelamaan
rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki
indra penciuman."
“Agak tidak nyaman," ulangku.
Aku tidak memerhatikan ekspresiku sendiri, tapi sesuatu
yang ditunjukkannya membuat Edward semakin muram.
Tangannya terkulai di sisinya dan ia berdiri diam tak
bergerak, matanya menatap lekat wajahku. Keheningan
terus berlanjut. Tubuhnya tak bergerak bagai baru.
“Ada apa?" aku berbisik, menyentuh wajahnya yang
membeku.
Wajahnya melembut karena sentuhanku, dan ia
mendesah “Aku terus menunggunya terjadi."
"Menunggu apa?"
"Aku tahu pada titik tertentu, sesuatu yang kukatakan
padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima.
Kemudian kau akan menjauh dariku, lari sambil menjeritjerit."
Ia setengah tersenyum, tapi tatapannya serius. "Aku
takkan menghentikanmu. Aku ingin ini terjadi sebab aku
ingin kau aman. Meski begitu, aku juga ingin bersamamu.
Dua hasrat yang mustahil dipertemukan..." Ia tidak
menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang
wajahku. Menunggu.
"Aku takkan lari ke mana-mana," aku berjanji padanya.
"Kita lihat saja," katanya, tersenyum lagi.
Aku merengut. "Jadi, lanjutkan—Carlisle berenang ke
Prancis."
Ia berhenti, kembali lagi ke ceritanya. Dengan sendirinya
matanya tertuju ke gambar lain—yang paling berwarnawarni
di antara yang lainnya, yang bingkainya paling penuh
ukiran, dan yang paling besar; lebarnya dua kali pintu di
sebelahnya. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang
dalam jubah panjang, berputar-putar mengelilingi pilar-pilar
dan melewati balkon pualam. Aku tak bisa mengatakan
apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani,
ataukah karakter yang melayang di atas awan dimaksudkan
bersifat biblikal.
"Carlisle berenang ke Prancis, dan terus ke Eropa, ke
universitas-universitas di sana. Pada malam hari dia belajar
musik, ilmu pengetahuan, kedokteran—dan menemukan
panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat
menyelamatkan nyawa manusia." Ekspresinya penuh
kekaguman, hormat. "Aku tak punya cukup kata-kata untuk
menggambarkan perjuangan Carlisle; dia menghabiskan
dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya
dengan susah payah. Sekarang dia sudah kebal dengan bau
darah manusia, dan dia mampu melakukan pekerjaan yang
dicintainya tanpa tersiksa. Dia menemukan kedamaian
yang luar biasa di sana, di rumah sakit..." Lama sekali
Edward menerawang. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya.
Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami.
"Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang
lainnya di sana. Mereka jauh lebih beradab dan
berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni
gorong-gorong di London."
Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling
tinggi, yang dengan tenang memandang kekacauan di
bawah mereka. Aku mengamari sosok-sosok itu dengan
saksama, lalu tersadar, seraya tertawa kaget, bahwa aku
mengenali pria berambut keemasan itu.
"Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle.
Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa," Edward
tertawa. "Aro, Marcus, Caius," katanya, memperkenalkan
tiga lainnya, dua berambut hitam, yang satu lagi berambut
putih bagai salju. "Penjaga malam di gedung seni."
“Apa yang terjadi pada mereka?" tanyaku lantang, ujung
jariku hanya satu senti dari figur-figur di kanvas itu.
"Mereka masih di sana." Ia mengangkat bahu. "Seperti
selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. Carlisle
tinggal hanya sebentar bersama mereka, hanya beberapa
dekade. Dia sangat mengagumi keberadaban mereka,
kehalusan budi bahasa mereka, tapi mereka tetap berusaha
memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap makanan
utamanya, begitulah mereka menyebutnya. Mereka
mencoba membujuknya, dan dia berusaha memengaruhi
mereka, keduanya sama-sama tidak berhasil. Karena itu
Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Dia
berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. Dia sangat
kesepian, kau tahu.
"Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang
lama. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi
makhluk dongeng, dia mendapati dirinya dapat berinteraksi
dengan manusia, seolah-olah dia salah satu dari mereka.
Dia mulai menerapkan metode pengobatan. Dan meskipun
hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi;
dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya.
"Ketika epidemi influenza merebak, dia bekerja
bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago.
Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah
gagasan dalam benaknya, dan dia nyaris memutuskan
untuk melakukannya—berhubung dia tak bisa
mendapatkan teman, dia akan menciptakannya. Dia tak
sepenuhnya yakin bagaimana terjadinya perubahan dalam
dirinya, jadi dia merasa ragu. Dan dia benci mengambil
hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Dalam
pemikiran itulah dia menemukanku. Tak ada harapan
untukku; aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orangorang
sekarat. Dia telah merawat orangtuaku, dan tahu aku
sebatang kara. Dia memutuskan untuk mencobanya..."
Suara Edward, nyaris berbisik sekarang, memelan.
Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di
sebelah barat. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi
pikirannya sekarang, kenangan Carlisle ataukah ingatannya
sendiri. Aku menunggu dalam diam.
Ketika ia kembali padaku, senyuman malaikat yang
lembut menghiasi wajahnya.
"Dan sejak itu hidup kami sempurna," ia menyimpulkan.
"Apakah sejak itu kau selalu tinggal bersama Carlisle.”
tanyaku.
"Hampir selalu." Ia meletakkan tangannya di pinggangku
dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke pintu. Aku
menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu,
bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan
kisah yang lainnya.
Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami
berjalan menyusuri lorong, jadi aku bertanya, "Hampir
selalu?"
Ia mendesah, tampak enggan menjawabnya. "Well, aku
memiliki jiwa pemberontak khas remaja—sekitar sepuluh
tahun setelah aku... dilahirkan... diciptakan, terserah
bagaimana kau menyebutnya. Aku tidak menyukai caranya
berpantang, dan aku marah padanya karena telah
membatasi seleraku. Jadi aku pergi hidup seorang diri
selama beberapa waktu."
"Sungguh?" Aku terpancing, bukannya ketakutan, seperti
yang seharusnya kurasakan.
Ia bisa merasakannya. Aku samar-samar menyadari
kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya,
tapi aku tidak terlalu memerhatikan sekelilingku.
"Itu tidak membuatmu takut?"
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
“Kurasa... kedengarannya masuk akal."
Ia tertawa, lebih keras daripada sebelumnya. Kami
sekarang berada di anak tangga teratas, di lorong berpanel
lainnya.
"Sejak kelahiran baruku," gumamnya, "aku memiliki
kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang
di sekitarku, baik manusia maupun bukan manusia. Itu
sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang
Carlisle—aku bisa mengetahui ketulusannya yang
sempurna, mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu.
"Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada
Carlisle dan berkomitmen pada visinya. Kupikir aku akan
terbebas dari... depresi... yang menyertai hati nurani.
Karena aku mengetahui pikiran mangsaku, aku dapat
mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang
jahat. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong
gelap tempat dia membunuh seorang gadis muda—kalau
aku menyelamatkan gadis itu, maka tentunya aku tidak
sejahat itu."
Aku gemetaran, membayangkan terlalu jelas apa yang
digambarkannya—lorong pada malam hari, gadis yang
ketakutan, laki-laki di belakangnya. Dan Edward, Edward
yang sedang berburu, menyeramkan sekaligus
mengagumkan bagai dewa muda, tak terhentikan. Apakah
gadis itu berterima kasih, ataukah lebih ketakutan daripada
sebelumnya?
"Tapi sejalan dengan waktu, aku mulai melihat monster
dalam diriku. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu
banyak kehidupan manusia yang telah kuambil, tak peduli
apa pun alasannya. Dan aku pun kembali kepada Carlisle
dan Esme. Mereka menyambutku secara berlebihan. Lebih
daripada yang layak kudapatkan."
Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu.
"Kamarku," ia memberitahuku, membuka dan
menarikku masuk.
Kamarnya menghadap ke selatan, dengan jendela seluas
dinding seperti ruangan besar di bawah. Seluruh bagian
belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Pemandangan di
sini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi
hutan rak terjamah hingga ke deretan Pegunungan
Olympic. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang
kuduga.
Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak
CD. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki
toko musik. Di sudut ada satu set sound system yang
tampak canggih jenis yang tak akan kusentuh karena yakin
bakal merusaknya. Tidak ada tempat tidur, hanya sofa kulit
hitam yang lebar dan mengundang. Lantainya dilapisi
karpet tebal berwarna keemasan, dan dindingnya dilapisi
bahan tebal yang bernuansa lebih gelap.
"Perlengkapan audio yang bagus?" aku mencoba
menebak.
Ia tergelak dan mengangguk.
Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya.
Suaranya pelan, namun musik jazz lembut itu terdengar
seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. Aku
melihat-lihat koleksi musiknya.
"Bagaimana kau menyusunnya?" aku bertanya.
Ia tidak mendengarkan.
"Mmmm, berdasarkan tahun, lalu berdasarkan pilihan
pribadi dalam rentang waktu itu," katanya setengah
melamun.
Aku berbalik, dan ia sedang memandangku dengan
ekspresi aneh di matanya.
"Apa?"
"Aku tahu aku akan merasa... lega. Setelah kau
mengetahui semuanya, aku tak perlu lagi menyimpan
rahasia darimu. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari
itu. Ternyata aku menyukainya. Ini membuatku... bahagia."
Ia mengangkat bahu, tersenyum samar.
“Aku senang," kataku, balas tersenyum. Aku khawatir ia
menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Senang
mengetahui bukan itu masalahnya.
Tapi kemudian, ketika tatapannya memilah-milah
ekspresiku, senyumnya memudar dan dahinya berkerut.
“Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit, kan?"
aku menebak.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, dan ia
mengangguk.
“Aku benci menghancurkan harapanmu, tapi kau benar
tidak semenakutkan yang kaukira. Sebenarnya, aku sama
tidak menganggapmu menakutkan," aku berbohong. Ia
berhenti, alisnya terangkat, jelas-jelas tidak percaya.
Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. 'Kau seharusnya
tidak mengatakan itu," ia tergelak. Ia menggeram dengan
suara pelan; bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang
sempurna. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya,
setengah membungkuk, tegang seperti singa yang siap
menerjang.
Aku mundur darinya, menatapnya nanar.
"Kau tidak akan melakukannya."
Aku tidak melihatnya melompat ke arahku—terlalu
cepat. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang,
kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras
sampai ke dinding. Lengannya membentuk sangkar baja di
sekeliling tubuhku—nyaris menyentuhku. Tapi aku toh
terengah-engah saat mencoba memperbaiki posisiku.
Ia tidak membiarkanku. Digulungnya tubuhku
menyerupai bola ke dadanya, dicengkeramnya diriku lebih
erat daripada rantai besi. Aku menatapnya ngeri, tapi
sepertinya ia dapat mengendalikan diri dengan baik,
rahangnya melemas ketika ia tersenyum, matanya berkilatkilat
penuh canda.
“Apa katamu tadi?" ia berpura-pura menggeram.
“Kau monster yang sangat, sangat menakutkan," kataku
kesinisanku sedikit melunak karena terengah-engah.
“Jauh lebih baik,” ia menyetujuinya.
“Mmm.” Aku berusaha bangkit. "Boleh aku bangun
sekarang?”
Ia hanya tertawa.
"Boleh kami masuk?" terdengar suara lembut dari lorong.
Aku berjuang melepaskan diri, tapi Edward hanya
menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di
pangkuannya. Aku bisa melihat bahwa itu Alice, dan Jasper
berdiri di belakangnya, di pintu masuk. Pipiku merah
padam, tapi Edward tampak santai.
"Silakan." Edward masih menahan tawa.
Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh
melihat kami berpelukan seperti itu; ia berjalan—nyaris
menari, gerakannya sangar anggun—ke tengah ruangan, di
sana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. Sebaliknya
Jasper berhenti di pintu, ekspresinya agak terkejut. Ia
menatap wajah Edward, dan aku bertanya-tanya apakah ia
sedang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar
biasa.
"Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan
siang, dan kami datang untuk melihat apakah kau mau
berbagi," ujar Alice.
Tubuhku langsung kaku, sampai aku menyadari Edward
tersenyum—entah karena komentar Alice atau reaksiku,
aku tak dapat mengatakannya.
“Maaf, rasanya aku tak ingin berbagi," jawabnya, dengan
seenaknya memelukku lebih dekat.
“Sebenarnya," kata Jasper, tersenyum sambil memasuki
ruangan. "Alice bilang akan ada badai besar malam ini, dan
Emmett ingin bermain bisbol. Kau mau ikut?"
Ucapannya terdengar cukup biasa, tapi konteksnya
membuatku bingung. Meskipun kusimpulkan Alice lebih
bisa diandalkan daripada ramalan cuaca.
Mata Edward berkilat-kilat, tapi ia ragu.
“Tentu saja kau harus mengajak Bella," seru Alice.
Sepertinya aku melihat Jesper melirik ke arahnya.
“Apa kau ingin ikut?" Edward bertanya padaku,
kelihatan senang, wajahnya bersemangat.
"Tentu." Aku tak mungkin mengecewakannya. "Mmm,
kita akan ke mana?"
"Kami harus menunggu petir untuk bermain bisbol—kau
akan tahu kenapa," ia berjanji.
"Apakah aku akan memerlukan payung?"
Mereka tertawa keras.
"Perlukah?" Jasper bertanya pada Alice.
"Tidak." Alice terdengar yakin. "Badai akan
menghantam kota. Akan cukup kering di hutan."
"Kalau begitu, bagus." Seperti biasa, semangat dalam
suara Jasper menular. Aku mendapati diriku bersemangat,
bukannya ketakutan.
"Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut." Alice
melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian
yang akan membuat iri balerina mana pun.
“Seperti kau tidak tahu saja," goda Jasper, dan mereka
langsung berlalu. Jasper berhasil menutup pintu tanpa
bersuara.
“Kita akan main apa?" tanyaku.
“Kau akan menonton," Edward meralat. "Kami yang
akan bermain bisbol."
Aku memutar bola mataku. "Vampir suka bisbol?"
“Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau."
oloknya.
17. PERMAINAN
GERIMIS baru saja mulai ketika Edward berbelok
menuju jalanan rumahku. Hingga saat itu aku sama sekali
tidak ragu ia akan terus menemaniku sementara aku
menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.
Kemudian aku melihat mobil hitam, Ford usang,
diparkir di pelataran parkir Charlie—dan mendengar
Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, suaranya
pelan dan parau.
Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah,
tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya.
Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir
trukku. Jacob mengawasi, ekspresinya mematikan.
Suara Edward yang dalam terdengar marah. "Ini sudah
kelewatan."
"Dia datang untuk memperingatkan Charlie?" aku
menebak, lebih ketakutan daripada marah.
Edward hanya mengangguk, membalas tatapan Billy
yang menembus hujan dengan mata menyipit.
Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie
belum pulang
"Biar aku yang mengurusnya,” usulku. Tatapan tajam
Edward membuatku waswas.
Aku terkejut karena ia menyetujuinya. "Barangkali itu
yang terbaik. Meskipun begitu, berhati-hatilah. Anak itu
tidak tahu apa-apa."
Aku sedikit kesal karena dia menyebut Jacob anak,
"Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku," aku
mengingatkan.
Ia memandangku, kemarahannya langsung lenyap. "Oh,
aku tahu," ia meyakinkanku dengan senyuman.
Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan
pintu.
"Ajak mereka masuk," perintahnya, “jadi aku bisa pergi.
Aku akan kembali sekitar senja."
"Kau mau membawa trukku?" aku menawarkan, sambil
membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada
Charlie di mana trukku berada.
Ia memutar bola matanya. "Aku bisa berjalan pulang
lebih cepat daripada truk ini."
"Kau tidak perlu pergi," kataku sedih.
Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram.
"Sebenarnya memang tidak perlu. Setelah kau
menyingkiRkan mereka"—ia melemparkan tatapan kelam
ke arah Jacob dan Billy—"kau masih harus mempersiapkan
Charlie untuk bertemu pacar barumu." Ia tersenyum lebar,
memamerkan seluruh giginya.
Aku mengerang. "Terima kasih banyak."
Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. "Aku akan
segera kembali," ia berjanji. Matanya kembali melirik teras,
kemudian ia membungkuk, sekilas mengecup pangkal
tangku. Jantungku melompat tak keruan, dan aku
memandang ke teras. Wajah Billy tak lagi datar, dan ia
mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya.
"Segera," aku menekankan kara itu sambil membuka
pintu dan berdiri di bawah hujan.
Aku bisa merasakan Tatapannya di punggungku ketika
aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras.
"Hei, Billy. Hai, Jacob." Aku menyapa mereka seceria
mungkin. "Charlie pergi seharian—kuharap kalian belum
terlalu lama menunggu."
"Belum lama," sahur Billy tenang. Matanya yang
berwarna hitam memandangku tajam. "Aku hanya mau
mengantar ini" Ia menunjuk kantong cokelat di
pangkuannya.
"Terima kasih," kataku, meskipun tak tahu apa isinya.
"Masuklah sebentar dan keringkan dirimu."
Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang
tajam saat membuka pintu, dan menyuruh mereka berjalan
mendahuluiku.
"Mari, biar kusimpankan untukmu," aku menawarkan
diri, berbalik untuk menutup pintu. Kubiarkan diriku
memandang ke arah Edward sekali lagi. Ia sedang
menunggu, diam, matanya serius.
"Masukkan ke kulkas," Bill mengingarkan ketika
menyerahkan bungkusan itu padaku. "Isinya beberapa
potong ikan goreng buatan Harry Clearwater—kesukaan
Charlie. Kulkas akan membuatnya lebih kering." Ia
mengangkat bahu.
"Terima kasih," aku mengulanginya, namun kali ini
bersungguh-sungguh. "Aku kehabisan cara baru untuk
mengolah ikan, dan dia bertekad membawa lebih banyak
ikan malam ini."
"Memancing lagi?" Billy bertanya, matanya berbinar. “Di
tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan ke
sana menemuinya.”
“Bukan,” aku cepat-cepat berbohong, wajahku
menegang, “Dia ke tempat baru... tapi aku tidak tahu di
mana."
Ia menyadari perubahan ekspresiku, dan itu
membuatnya berpikir.
"Jake," katanya, masih mengamatiku. "Mengapa kau
tidak pergi mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil?
Aku juga ingin memberikannya pada Charlie."
"Di mana?" Jacob bertanya, suaranya murung. Aku
memandangnya, tapi ia menunduk menatap lantai, alisnya
bertaut.
"Rasanya aku melihatnya di bagasi," jawab Billy.
"Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah."
Jacob kembali menembus hujan.
Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. Setelah
beberapa saat, keheningan itu mulai terasa menjengahkan,
jadi aku berbalik menuju dapur. Aku bisa mendengar decit
roda kursinya yang basah di atas lantai linoleum ketika
mengikutiku.
Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang
sudah penuh, dan berbalik menghadapnya. Wajahnya yang
keriput tak dapat ditebak.
“Charlie pulang larut." Suaraku nyaris kasar.
Ia mengangguk setuju, tapi tidak mengatakan apa-apa.
“Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya," ujarku
memberi isyarat.
Ia terus mengangguk. Aku mendesah dan melipat
tanganku di dada.
Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin
basa-basi lagi. "Bella," katanya, kemudian ragu-ragu.
Aku menunggu.
"Bella," katanya lagi. "Charlie salah satu sahabatku."
"Ya."
Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara
bergemuruh. "Kuperharikan kau menghabiskan waktumu
dengan salah satu anak keluarga Cullen.”
"Ya," kembali aku menjawab dengan ketus.
Matanya menyipit. "Barangkali ini bukan urusanku, tapi
menurutku itu bukan ide yang bagus."
"Kau benar," timpalku. "Itu memang bukan urusanmu."
Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada
suaraku. "Barangkali kau tidak mengetahuinya, tapi
keluarga Cullen punya reputasi tidak bagus di reservasi
kami."
"Sebenarnya, aku mengetahuinya," ujarku tegas. Ia
terkejut. "Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan, bukan
begitu? Karena keluarga Cullen tak pernah menginjakkan
kaki di reservasi, ya kan?" Bisa kulihat ucapanku yang
mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan
melindungi sukunya telah membuatnya bungkam.
"Memang benar," ia menyetujuinya, matanya waspada.
"Kau kelihatannya... cukup tahu tentang keluarga Cullen.
Lebih tahu daripada yang kuduga."
Aku menatapnya. "Bahkan mungkin lebih tahu
daripadamu.”
Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil
memikirkannya. "Mungkin," ia mengalah, tapi sorot
matanya tajam. "Apakah Charlie sama tahunya seperti
dirimu?"
Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.
"Charlie sangat menyukai keluarga Cullen," sahutku
membentengi diri. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit.
Ekspresinya tidak senang, tapi tidak terkejut.
“Itu bukan urusanku," katanya. "Tapi mungkin urusan
Charlie."
"Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku, entah aku
menganggap itu urusan Charlie atau tidak, ya kan?"
Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti
pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha
untuk tidak mengatakan apa pun yang mencurigakan. Tapi
sepertinya ia mengerti. Ia mempertimbangkannya
sementara hujan mengguyur atap, satu-satunya suara yang
memecah keheningan.
"Ya," akhirnya ia menyerah. "Kurasa itu urusanmu
juga."
Aku mendesah lega. "Terima kasih, Billy."
"Pikirkan saja apa yang kaulakukan, Bella," desaknya.
"Oke," aku buru-buru menimpali.
Wajahnya menekuk. "Maksudku, jangan lakukan apa
yang sedang kaulakukan."
Aku menatap matanya, di dalamnya tak lain hanya rasa
peduli terhadapku, dan tak ada yang bisa kukatakan.
Saat itu juga pintu depan terbanting keras, dan aku
melompat mendengarnya.
"Gambar itu tak ada di mana pun di mobil." Keluhan
Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. Ketika ia
berbelok di sudut, bagian pundak bajunya tampak basah
karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya.
"Hmm," Billy bergumam, tiba-tiba mengalihkan
pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya.
"Kurasa aku meninggalkannya di rumah."
Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis.
Hebat."
"Well, Bella, beritahu Charlie"—Billy berhenti sebelum
melanjutkan kata-katanya—"bahwa kami mampir,
maksudku.”
“Akan kusampaikan," gumamku.
Jacob terkejut. “Kita sudah mau pergi?"
"Charlie akan pulang larut." Billy menjelaskan sambil
meluncur melewati Jacob.
"Oh," Jacob tampak kecewa. "Well, kurasa sampai
ketemu nanti. Bella."
"Tentu," timpalku.
"Jaga dirimu," Billy mengingatkanku. Aku tak
menyahut.
Jacob membantu ayahnya melewati pintu. Aku
melambai sebentar, sambil melirik trukku yang sekarang
sudah kosong kemudian menutup pintu sebelum mereka
berlalu.
Aku berdiri di lorong sebentar, mendengarkan suara
mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. Aku
diam di Tempat, menunggu kejengkelan dan
kekhawatiranku lenyap. Setelah ketegangan itu sedikit
memudar, aku pergi ke lantai atas untuk mengganti
pakaian.
Aku mencoba beberapa atasan berbeda, tak yakin apa
yang menantiku malam ini. Saat aku berkonsentrasi pada
apa yang akan terjadi, yang baru saja lewat jadi tidak
penting. Sekarang setelah tak lagi di bawah pengaruh Jasper
dan Edward, aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa
takut sebelumnya. Segera saja aku menyerah memilih
pakaian—kukenakan atasan flanel usang dan jins—lagi pula
aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman.
Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk
mengangkatnya. Hanya ada satu suara yang ingin
kudengar; yang lainnya akan membuatku kecewa. Tapi aku
tahu kalau ia ingin berbicara denganku, barangkali ia
langsung muncul saja di kamarku.
“Halo?" tanyaku, terengah-engah.
"Bella? Ini aku," kara Jessica.
“Oh, hei, Jess." Sejenak kukerahkan diriku untuk
kembali ke dunia nyata. Rasanya seperti berbulan-bulan
bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan
Jessica. "Bagaimana pesta dansanya?"
“Asyik banget!" sembur Jessica. Tak perlu dipancing lagi,
ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam
sebelumnya. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat
yang tepat, tapi tidak mudah untuk berkonsentrasi. Jessica,
Mike, pesta dansa, sekolah—semuanya terdengar sangat
tidak sesuai dengan saat ini. Mataku terus menatap jendela,
mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu.
"Kaudengar apa yang kukatakan, Bella?" tanya Jess
jengkel.
"Maaf, apa?"
"Kubilang, Mike menciumku! Kau percaya?"
"Itu bagus, Jess," kataku.
"Jadi, apa yang kaulakukan kemarin?" tantang Jessica,
masih jengkel karena aku kurang menyimak. Atau mungkin
ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya.
"Tidak ada, sungguh. Aku hanya berjalan-jalan di luar
menikmati matahari."
Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi.
"Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward
Cullen?"
Pintu depan dibanting, dan aku bisa mendengar Charlie
menimbulkan suara gedebak-gedebuk di bawah tangga,
meletakkan peralatannya.
"Mmm." Aku ragu, tak yakin apa lagi yang harus
kuceritakan.
"Hai. Nak!" seru Charlie saat berjalan ke dapur. Aku
melambai padanya.
Jess mendengar suara Charlie. "Oh. ayahmu ada. Tak
apa – kita ngobrol besok. Sampai ketemu di kelas Trigono.”
"Sampai ketemu. Jess." Aku menutup telepon.
"Hei. Dad," kataku. Ia sedang menggosok-gosok
tangannya di bak cuci piring. "Mana ikannya?"
"Aku meletakkannya di freezer."
"Akan kuambil beberapa sebelum membeku—Billy
mengantarkan beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore
ini." Aku berusaha terdengar bersemangat.
"Oh ya?" Mara Charlie berbinar-binar. "Itu kesukaanku."
Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan
makan malam. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di
meja, makan dalam diam. Charlie menikmati makanannya.
Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana
melaksanakan tugasku, berjuang memikirkan cara untuk
mengangkat masalah itu.
"Apa yang kaulakukan hari ini?" tanyanya,
membuyarkan lamunanku.
"Well, sore ini aku di rumah saja..." Bukan sepanjang
sore, sebenarnya. Aku berusaha menjaga suaraku tetap
ceria, tapi perutku seperti berlubang. "Dan pagi ini aku
bertamu ke rumah keluarga Cullen."
Charlie menjatuhkan garpunya.
“Rumah dr. Cullen?" ia bertanya, kaget.
Aku berpura-pura tidak memerhatikan reaksinya.
"Yeah."
"Apa yang kaulakukan di sana?" Ia tidak mengambil
garpunya lagi.
“Well, bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward
Cullen malam ini, dan dia ingin memperkenalkan aku
dengan orangtuanya... Dad?"
Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan
pembuluh darah.
"Dad, kau baik-baik saja?"
"Kau berkencan dengan Edward Cullen?" gelegar
Charlie.
O-Oh. "Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?"
"Dia terlalu tua untukmu," serunya marah.
“Kami sama-sama murid junior," aku meralatnya,
meskipun ia lebih benar dari yang diduganya.
"Tunggu..." ia berhenti. "Edward itu yang mana, ya?"
"Edward adalah yang paling muda, yang rambutnya
cokelat kemerahan." Yang tampan, yang seperti dewa...
"Oh, well, itu"—ia berusaha keras mengucapkan katakatanya—"
lebih baik, kurasa. Aku tidak suka tampang yang
bertubuh besar. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan
semuanya, tapi dia kelihatan terlalu... dewasa untukmu.
Apakah Edwin ini pacarmu?"
"Namanya Edward, Dad."
"Ya, tidak?"
"Kurasa bisa dibilang begitu."
"Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak lakilaki
mana pun di kota ini." Tapi ia mengambil garpunya
lagi, jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu.
"Well, Edward tidak tinggal di kota, Dad."
Ia menatapku jengkel saat mengunyah.
"Lagi pula," lanjutku, "ini baru tahap awal, kau tahu.
Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal
pacar, oke?
“Kapan dia akan kemari?"
“Dia akan tiba sebentar lagi."
“Dia akan mengajakmu ke mana?"
Aku menggeram keras-keras. "Kuharap kausingkirkan
kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Kami akan
bermain bisbol bersama keluarganya."
Wajahnya cemberut, kemudian akhirnya ia tergelak.
"Kau bermain bisbol?"
"Well, barangkali kebanyakan aku menonton."
"Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini," ia
mengamatiku curiga.
Aku mendesah dan memutar bola mataku.
Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan
rumah. Aku melompat dan mulai membersihkan piring
bekas makanku.
"Tinggalkan saja piring-piring itu, aku bisa mencucinya
malam ini. Kau sudah terlalu memanjakanku."
Bel pintu berbunyi, dan Charlie berjalan terhuyunghuyung
untuk membukanya. Aku hanya beberapa jengkal
di belakangnya.
Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana.
Edward berdiri di bawah bias lampu teras, tampak seperti
model pria dalam iklan jas hujan.
"Ayo masuk, Edward."
Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya
dengan benar.
"Terima kasih, Kepala Polisi Swan," sahut Edward
dengan suara penuh hormat.
"Oh, panggil saja aku Charlie. Sini, kusimpankan
jaketmu."
"Terima kasih, Sir."
"Silakan duduk, Edward." Aku meringis.
Edward duduk dengan luwes di kursi satu dudukan,
memaksaku duduk di sofa, di sebelah Charlie. Aku cepatcepat
melirik jengkel padanya. Ia mengedip di belakang
Charlie.
"Jadi, kudengar kau mau mengajak putriku menonton
pertandingan bisbol." Faktanya, hanya di Washington-lah
pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak
peduli deras atau tidak.
“Ya, Sir, begitulah rencananya." Ia tidak tampak terkejut
bahwi aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Lagi
pula, ia mungkin saja mendengarkan.
"Well, kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu."
Charlie tertawa, dan Edward ikut tertawa.
"Oke" Aku bangkit berdiri.
"Sudah cukup menertawakanku. Ayo kita pergi." Aku
kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Mereka
mengikuti.
"Jangan pulang terlalu larut, Bell."
"Jangan khawatir, Charlie, aku akan mengantarnya
pulang sebelum larut," Edward berjanji.
"Kaujaga putriku baik-baik, oke?"
Aku mengerang, tapi mereka mengabaikanku.
"Dia akan aman bersamaku, aku janji, Sir."
Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward, yang
terdengar pada setiap kata-katanya.
Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaki.
Mereka tertawa, dan Edward mengikutiku.
Aku berhenti tiba-tiba di teras. Di sana, di belakang
trukku, tampak Jeep berukuran sangat besar. Bannya lebih
tinggi dari pinggangku. Di depan lampu depan dan
belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar
terkait di rangka bemper yang besar. Atapnya merah
mengilat.
Charlie bersiul pelan.
“Kenakan sabuk pengamanmu," sahutnya tercekat.
Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Aku
mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik.
mendesah, kemudian mengangkatku dengan satu tangan.
Kuharap Charlie tidak memerhatikan.
Ketika ia beralih ke jok pengemudi, dalam langkah
manusia normal, aku berusaha mengenakan sabuk
pengamanku. Tapi terlalu banyak kaitan.
"Ini semua untuk apa?" tanyaku ketika ia membuka
pintu.
"Itu perlengkapan keselamatan off-road.”
"Oh-oh."
Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat, tapi
tidak mudah. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh
untuk membantuku. Aku senang hujannya sangat lebat
sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari.
Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang
menyentuh leherku, menyusuri tulang selangkaku. Aku
menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar
tidak terengah-engah.
Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan
mesin. Kami berlalu meninggalkan rumah.
"Ini... mmm... Jeep-mu besar sekali."
"Ini punya Emmett. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari
sepanjang jalan."
"Di mana kalian menyimpan benda ini?"
"Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah
kami dan menjadikannya garasi."
"Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?”
Ia menatapku tak percaya.
Lalu aku tiba-tiba mengerti.
"Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus
berlari separuh perjalanan?" Suaraku naik beberapa oktaf.
Ia tersenyum tegang. "Kau tidak akan berlari."
"Aku bakal mual."
"Pejamkan saja matamu, kau akan baik-baik saja."
Kugigit bibirku, melawan rasa panik.
Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku,
kemudian mengerang. Aku menatapnya, bingung.
"Kau harum sekali ketika hujan," jelasnya.
"Dalam artian yang baik, atau buruk?" tanyaku hati-hati.
Ia mendesah. "Keduanya, selalu keduanya."
Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam
kegelapan dan guyuran hujan, tapi entah bagaimana ia
menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan
lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Untuk waktu
yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap, karena
aku melonjak-lonjak seperti mata bor. Meski begitu Edward
kelihatannya menikmati perjalanan, tersenyum lebar
sepanjang jalan.
Kemudian kami tiba di ujung jalan; pepohonan
membentuk dinding hijau pada ketiga sisi Jeep. Hujan
tinggal gerimis, setiap detik semakin pelan, dan langit
tampak lebih terang di balik awan.
"Maaf, Bella, kita harus jalan kaki dari sini."
"Kau tahu? Aku akan menunggu di sini saja."
"Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat
luar biasa pagi ini."
"Aku belum melupakan pengalaman terakhirku."
Mungkinkah itu baru kemarin?
Ia mengitari bagian depan mobil, dan menuju sisiku
dalam kelebatan. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk
pengamanku.
“Biar aku yang melakukannya, kau terus saja," protesku.
“Hmmm...," ia berpikir sambil cepat-cepat
menyelesaikannya. “Sepertinya aku harus memanipulasi
ingatanmu."
Sebelum aku bereaksi. ia menarikku dari Jeep dan
membuatku berdiri di tanah. Nyaris tak berembun sekarang
ini; Alice benar.
"Memanipulasi ingatanku?" tanyaku gugup.
"Semacam itu." Ia memerhatikanku lekat-lekat, dengan
hati-hati, tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Ia
meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku
dan mencondongkan tubuh, memaksaku menempel ke
pintu. Ia mencondongkan rubuhnya semakin dekat,
wajahnya hanya beberapa senti dariku. Aku tak bisa
melepaskan diri.
"Nah." desahnya, aromanya saja telah mengganggu
proses berpikirku, "apa tepatnya yang kaukhawatirkan?"
"Well, mm, menabrak pohon—" aku menelan ludah "—
dan sekarat. Kemudian mual."
Ia menahan senyum. Kemudian ia menunduk dan
dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan
leherku.
"Kau masih khawatir sekarang?" gumamnya di atas
kulitku.
"Ya." Aku berusaha berkonsentrasi. "Tentang menabrak
pepohonan dan menjadi mual."
Menggunakan hidungnya, ia menyusuri leherku hingga
ke ujung dagu. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku.
"Sekarang?" Bibirnya berbisik di rahangku.
"Pepohonan," aku terengah. "Mual."
Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku.
"Bella, kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon, kan?"
“Tidak, tapi aku mungkin." Tak ada kepercayaan diri
dalam suaraku. Ia mengendus kemenangan yang mudah.
Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku, berhenti
tepat di sudut mulutku.
“Akankah kubiarkan pohon melukaimu?" Bibirnya
nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran.
“Tidak," desahku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur,
tapi tak ada yang bisa kulakukan.
“Kaulihat," katanya, bibirnya bergerak di bibirku. "Tak
ada perlu dikhawatirkan, ya kan?"
"Tidak," aku mendesah, menyerah.
Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris
dengan kasar, dan menciumku sepenuh hati, bibirnya yang
tak mau berkompromi melumat bibirku.
Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. Jelas aku
mestinya tahu lebih baik saat ini. Namun toh aku tak bisa
menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama.
Bukannya tetap diam dengan aman, lenganku malah
terangkat dan memeluk erat lehernya, dan sekonyongkonyong
aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku.
Aku mendesah dan mengangkat bibirku.
Ia tergagap mundur, dengan mudah melepaskan
cengkeramanku.
"Sialan, Bella!" ujarnya, terengah-engah. "Kau akan
menjadi alasan kematianku, aku bersumpah."
Aku berjongkok, mengaitkan tanganku di lutut agar tidak
jatuh ke tanah.
"Kau tidak bisa mati," gumamku, berusaha mengatur
napas.
"Aku mungkin memercayai itu sebelum aku bertemu
denganmu. Sekarang, ayo kita keluar dari sini sebelum aku
melakukan sesuatu yang sangat bodoh," geramnya.
Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya,
dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku
selembut sebelumnya. Aku mengunci kedua kakiku di
pinggangnya, dan melingkarkan tanganku erat-erat di
lehernya.
"Jangan lupa untuk memejamkan mata," ia
mengingatkan dengan nada kasar.
Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya, di
bawah lenganku sendiri, dan memejamkan mata.
Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang
bergerak. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku,
tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak, gerakannya
terlalu halus. Aku tergoda untuk mengintip, hanya untuk
melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan
seperti sebelumnya, tapi aku menahannya. Tidak sebanding
dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Aku menghibur
diriku sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang
teratur.
Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti
hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh
rambutku.
"Sudah sampai. Bella."
Aku memberanikan diri membuka mata, dan cukup
yakin, kami sudah berhenti. Dengan kaku kulepaskan
cengkeramanku dan rubuhnya dan merosot ke tanah,
mendarat di punggungku.
"Oh!" dengusku ketika terempas ke tanah yang basah.
Ia menatapku tak percaya, jelas-jelas tak yakin apakah ia
masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu.
Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai, dan
ia pun tertawa terbahak-bahak.
Aku bangkit berdiri, mengabaikannya sambil
membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. Itu
hanya membuatnya tertawa lebih keras. Merasa jengkel,
aku mulai melangkah ke dalam hutan.
Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku.
"Kau mau ke mana, Bella?"
"Nonton pertandingan bisbol. Kau kelihatannya tidak
tertarik lagi bermain, tapi aku yakin yang lain akan
bersenang-senang tanpa dirimu."
"Kau berjalan ke arah yang salah."
Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya, dan berjalan
menghentak ke arah sebaliknya. Ia menangkapku lagi.
“Jangan marah, aku tak dapat menahan diri. Kau
seharusnya melihat wajahmu sendiri." Ia tergelak sebelum
bisa menahannya.
"Oh, jadi hanya kau yang berhak marah?" tanyaku,
alisku terangkat.
"Aku tidak marah padamu.”
"Bella, kau akan menjadi alasan kematianku?'" aku
mengingatkannya dengan nada sinis.
"Itu hanya pernyataan sesungguhnya."
Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi, tapi ia
menangkapku dengan cepat.
"Kau marah," aku berkeras.
"Ya."
"Tapi kau baru bilang—"
"Aku tidak marah padamu. Tidak bisakah kau
melihatnya, Bella?" Tiba-tiba ia tegang, seluruh selera
humornya lenyap. "Tidakkah kau mengerti?"
"Mengerti apa?" tuntutku, bingung dengan perubahan
suasana hatinya yang tiba-tiba, begitu juga kata-katanya.
"Aku takkan pernah marah padamu—bagaimana
mungkin bisa? Kau begitu berani, percaya... hangat."
“Lalu kenapa?" bisikku, mengingat suasana hatinya yang
kelam yang menjauhkannya dariku, yang selalu
kuinterpretasikan sebagai perasaan frustrasi yang rasional—
frustrasi akan kelemahanku, kelambananku, dan reaksi
manusiaku yang tak terkendali...
Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku.
“Aku membangkitkan kemarahanku sendiri," katanya
lembut. “Karena selalu membahayakan dirimu.
Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Kadang-kadang
aku benar-benar benci diriku sendiri. Aku harus lebih kuat,
aku harus bisa –“
Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. "Jangan."
Ia meraih tanganku, memindahkannya dari bibirnya
namun meletakkannya di wajahnya.
"Aku mencintaimu," karanya. "Itu alasan menyedihkan
untuk apa yang kulakukan, tapi itu masih benar."
Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya
padaku—dalam begitu banyak kata-kata. Ia mungkin tidak
menyadarinya tapi aku tentu saja menyadarinya.
"Sekarang kumohon bersikaplah yang baik," ia
melanjutkan, dan membungkuk untuk menyapukan
bibirnya dengan lembut di bibirku.
Aku diam tak bergerak. Lalu mendesah. "Kau berjanji
pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak
sampai larut, ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang."
“Ya, Ma'am."
Ia tersenyum sedih dan melepaskanku, kecuali satu
tanganku. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa
meter, menembus semak-semak yang basah dan padat,
mengitari pohon cemara beracun yang besar sekali, dan
kami pun sampai, di ujung lapangan terbuka yang luas di
pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Luasnya dua kali
stadion bisbol.
Aku bisa melihat yang lain semua ada di sana; Esme,
Emmett, dan Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang
menonjol adalah yang terdekat dengan kami, mungkin
jauhnya seratus meter. Lebih jauh lagi aku bisa melihat
Jasper dan Alice, setidaknya jaraknya seperempat mil,
kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu, rapi aku tak
melihat bolanya. Kelihatannya Carlisle sedang menandai
base, tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu?
Ketika kami sampai, Esme, Emmett, dan Rosalie bangkit
berdiri. Esme menghampiri kami. Emmett mengikuti
setelah menatap punggung Rosalie. Rosalie telah bangkit
dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik
ke arah kami. Perutku langsung mual, gelisah.
"Kaukah yang kami dengar tadi, Edward?" Esme
bertanya sambil mendekati kami.
"Kedengarannya seperti beruang tersedak," Emmett
membenarkan.
Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. "Itu memang
dia."
"Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu," Edward
menjelaskan, cepat-cepat membalasku.
Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari,
atau menari ke arah kami. Ia meluncur cepat dan berhenti
dengan luwes di dekat kami. "Sudah waktunya," ia
mengumumkan.
Begitu ia berbicara, gemuruh petir yang menggelegar
mengguncang hutan, kemudian pecah di barat kota.
"Menyeramkan, bukan?" kata Emmett dengan nada
akrab, sambil mengedip padaku.
“Ayo.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari
ke lapangan yang luas. Alice berlari bagai rusa. Emmett
juga nyaris seanggun dan secepat Alice—meski begitu ia
takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.
“Kau siap bermain?" Edward bertanya, tatapannya
bersemangat, berkilat-kilat.
Aku mencoba terdengar bersemangat. "Ayo. tim!"
Ia mengejek dan. setelah mengacak-acak rambutku,
mengejar kedua saudaranya. Larinya lebih agresif, lebih
mirip Ia cheetah daripada rusa, dan dengan cepat ia
mendahului mereka. Keanggunan dan kekuatan itu
memesonaku.
"Mau ikut turun?" Esme bertanya dengan suaranya
lembut dan merdu, dan aku menyadari telah melongo
menatap Edward. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan
mengangguk. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di
antar kami, dan aku bertanya-tanya apakah ia masih
berhati-hati agar tidak membuatku takut. Ia menyamakan
langkah kami tanpa terlihat tidak sabar.
"Anda tidak bermain bersama mereka?" tanyaku malumalu.
"Tidak, aku lebih suka jadi wasit—aku suka menjaga
mereka tetap jujur," ia menjelaskan.
"Kalau begitu, apakah mereka suka bermain curang?"
"Oh ya—kau harus dengar argumentasi mereka!
Sebenarnya, kuharap kau tak perlu mendengarnya, kau
akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala."
"Anda terdengar seperti ibuku," aku tertawa, terkejut.
Ia juga tertawa. "Well, aku memang menganggap mereka
anak-anakku dalam banyak hal. Aku tak pernah bisa
menghilangkan naluri keibuanku—apakah Edward bilang
bahwa aku kehilangan seorang anak?"
"Tidak," gumamku, terkejut, berusaha memahami masa
kehidupan mana yang sedang diingatnya.
"Ya, bayi pertamaku dan satu-satunya. Dia meninggal
hanya beberapa hari setelah dilahirkan, makhluk kecil yang
malang, ia mendesah. "Itu menghancurkan hatiku—itu
sebabnya aku melompat dari tebing, kau tahu," tambahnya
terus terang.
"Edward hanya bilang Anda j-jatuh," ujarku terbata-bata.
"Selalu sang pria sejati." Ia tersenyum. "Edward putra
baruku yang pertama. Aku selalu menganggapnya begitu,
meskipun dia lebih tua dariku, setidaknya dalam satu cara."
Ia tersenyum hangat padaku. "Itu sebabnya aku senang dia
menemukanmu. Sayang." Ungkapan sayang itu terdengar
sangat alami meluncur dari bibirnya. "Dia sudah terlalu
lama menjadi laki-laki aneh, aku sedih melihatnya
sendirian."
"Kalau begitu, Anda tidak keberatan?" aku bertanya,
kembali ragu-ragu. "Bahwa aku... sangat tidak tepat
untuknya?"
"Tidak." Ia tampak bersimpati. "Kaulah yang
diinginkannya. Entah bagaimana, pasti akan ada jalan
keluarnya," katanya, meskipun dahinya berkerut waswas.
Gelegar petir terdengar lagi.
Esme menghentikan langkah; rupanya kami telah sampai
di ujung lapangan. Kelihatannya mereka telah membentuk
tim. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan, Carlisle
berdiri di antara base pertama dan kedua, dan Alice
memegang bola, berdiri di titik yang pasti merupakan posisi
pitcber.
Emmett mengayunkan tongkat alumunium; suaranya
berdesis nyaris tak terdengar di udara. Aku menunggunya
menghampiri home base, tapi saat ia mengambil posisi, aku
baru menyadari bahwa ia sudah di sana—lebih jauh dari
posisi pitcber yang kupikir mungkin. Jasper berdiri beberapa
meter di belakangnya, sebagai anggota tim lawan. Tentu
saja tak satu pun dari mereka memakai sarung tangan.
“Baik,” seru Esme lantang, dan aku tahu bahkan Edward
pun akan mendengarnya, sejauh apa pun posisinya. "Ke
posisi masing-masing."
Alice berdiri tegak, seolah-olah tak bergerak. Gayanya
tampak licik daripada mengancam. Ia memegang bola
dengan kedua tangannya setinggi pinggang, dan kemudian,
bagai serangan kobra, tangan kanannya mengayun dan bola
menghantam tangan Jasper.
“Apakah itu strike?” aku berbisik kepada Esme.
"Kalau mereka tidak memukulnya, baru disebut strike,"
ia memberitahuku.
Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. Alice
tersenyum sebentar. Kemudian tangannya mengayun lagi.
Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil
memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya.
Bunyi pukulan itu menggetarkan, menggelegar; menggema
hingga ke pegunungan—aku langsung mengerti mengapa
mereka memerlukan badai petir.
Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan,
melayang menembus hutan yang mengelilingi.
"Home run" aku bergumam.
"Tunggu," Esme mengingatkan, mendengarkan dengan
saksama, satu tangan terangkat. Emmett tampak seperti
kelebatan dari satu base ke base berikut, Carlisle
membayanginya. Aku tersadar Edward menghilang.
"Laut,” Esme berteriak lantang. Aku menatap tak
percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi
pepohonan, tangannya yang terangkat menggenggam bola,
senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku.
"Emmett memukul paling keras," jelas Esme, "tapi
Edward berlari paling cepat."
Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan.
Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan
kecepatan mereka berlari mengelilingi lapangan.
Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka
menunggu badai petir untuk bermain ketika Jasper,
berusaha menghindar tangkapan sempurna Edward,
memukul bola mati ke arah Carlisle. Carlisle lari mengejar
bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama.
Ketika mereka bertabrakan, suaranya bagai tabrakan dua
batu besar. Aku melompat karena waswas, tapi entah
bagaimana mereka sama sekal, tak terluka.
"Safe" seru Esme dengan suaranya yang tenang.
Tim Emmett memimpin dengan skor satu—Rosalie
melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett
berhasil memukul bola jauh-jauh—ketika Edward
menangkap bola ketiga. Ia berlari cepat ke sisiku, wajahnya
memancarkan rasa senang.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya.
"Yang jelas, aku takkan pernah bisa duduk sepanjang
pertandingan Major League Baseball kuno yang
membosankan lagi."
"Dan kedengarannya kau sering melakukannya
sebelumnya." Ia tertawa.
"Aku agak kecewa," godaku.
"Kenapa?" tanyanya, bingung.
"Well, akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan
satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapa
pun di planet ini."
Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa,
membuatku kehabisan napas.
"Giliranku," katanya, menuju base.
Ia bermain pintar, menjaga bola tetap rendah, jauh dan
jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir
lapangan, melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett
berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. Carlisle
membuat sekali pukulan sangat jauh keluar lapangan—
dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku –
sehingga ia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran.
Alice ber-high five dengan mereka.
Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut, dan
mereka saling menertawakan layaknya pemain bisbol
normal saat mereka bergantian memimpin. Kadang-kadang
Esme menyuruh mereka tenang. Petir terus bergemuruh,
tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice.
Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward
menangkap. Tiba-tiba Alice terkesiap. Mataku tertuju pada
Edward, seperti biasa, dan aku melihat kepalanya tersentak
untuk memandang Alice. Mata mereka bertemu dan dalam
sekejap sesuatu terjadi di antara mereka. Edward sudah
berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya
kepada Alice apa yang terjadi.
"Alice?" suara Esme tegang.
"Aku tidak melihat—aku tak bisa mengatakannya,"
bisiknya.
Semua sudah berkumpul.
"Ada apa, Alice?" Carlisle bertanya dengan suara tenang
berwibawa.
"Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira.
Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru," gumamnya.
Jasper mendekati Alice, posturnya protektif. "Apa yang
berubah?" tanyanya.
"Mereka mendengar kita bermain, dan itu membuat
mereka berbelok," katanya menyesal, seolah-olah ia merasa
bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya
ketakutan.
Tujuh pasang mata yang gesit memandang wajahku,
kemudian berpaling.
"Seberapa cepat?" Carlisle bertanya, berbalik menghadap
Edward.
Ketegangan menyelimuti wajahnya.
"Kurang dari lima menit. Mereka berlari—mereka ingin
bermain." Wajah Edward geram.
“Kau bisa melakukannya?" Carlisle bertanya padanya,
matanya kembali berkilat-kilat memandangku.
"Tidak, tidak sambil menggendong—" Ia terdiam. "Lagi
ia hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium
aromanya dan mulai berburu."
"Berapa banyak?" tanya Emmett pada Alice. "Tiga,"
jawab Alice singkat.
"Tiga!" sahut Emmett meremehkan. "Biarkan mereka
datang." Otot lengannya yang kekar tampak tegang.
Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang
sesungguhnya, Carlisle berpikir. Hanya Emmett yang
tampak tenang; yang lain menatap wajah Carlisle dengan
tatapan gelisah.
"Mari kita lanjutkan saja permainan ini," akhirnya
Carlisle memutuskan. Suaranya tenang dan datar. "Alice
bilang mereka hanya penasaran."
Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang
hanya berlangsung beberapa detik. Aku mendengarkan
dengan saksama dan menangkap sebagian besar
maksudnya, meskipun aku tak bisa mendengar apa yang
sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran
bibirnya yang tak bersuara. Aku hanya melihat Edward
menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega.
“Kau yang menangkap, Esme," katanya. "Cukup
untukku." Dan ia pun berdiri di depanku.
Yang lain kembali ke lapangan, dengan waswas
menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang
tajam. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke
sekitar tempatku berdiri.
"Uraikan rambutmu." Edward berkata dengan nada
suara rendah dan datar.
Aku mematuhinya, melepaskan ikat rambutku dan
mengibaskan rambutku hingga tergerai.
Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku.
"Yang lain berdatangan sekarang."
"Ya, kumohon diamlah, jangan bersuara, jangan
bergerak dari sisiku." ia menyembunyikan dengan baik
ketegangan dalam suaranya, tapi aku toh dapat
menangkapnya. Ia menarik rambut panjangku ke depan,
menutupi wajah.
"Itu takkan membantu," kata Alice lembut. "Aku dapat
mencium baunya dari seberang lapangan."
"Aku tahu." Sekelumit perasaan putus asa mewarnai
nada suaranya.
Carlisle berdiri di base, dan yang lain ikut bermain
dengan setengah hati.
"Apa yang Esme tanyakan padamu?" bisikku.
Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. "Apakah mereka
haus?" gumamnya enggan.
Detik demi detik berlalu; sekarang permainan berlanjut
tanpa semangat. Tak seorang pun berani memukul lebih
keras dari pukulan asal-asalan, dan Emmett, Rosalie, dan
Jasper berdiri di tengah lapangan. Ketika sesekali terlepas
dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku, aku
menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Tatapannya tanpa
ekspresi, tapi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku
berpikir ia marah.
Edward sama sekali tidak memerhatikan permainan,
mata dan pikirannya menerawang ke hutan.
"Maafkan aku, Bella," gumamnya marah. "Sungguh
bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu
seperti ini. Aku sungguh meminta maaf."
Aku mendengar napasnya berhenti, matanya menatap
hampa sisi kanan lapangan. Ia setengah melangkah,
memosisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang.
Carlisle, Emmett, dan yang lain berpaling ke arah sama,
mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi
telingaku.
18. PERBURUAN
MEREKA muncul satu per satu dari tepi hutan, terpisahpisah
sejauh dua belas meter. Laki-laki yang pertama
muncul langsung mundur, membiarkan laki-laki yang lain
berdiri di depan, menempatkan dirinya di dekat laki-laki
tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan
dialah pemimpin mereka. Yang ketiga wanita; dari jarak ini
aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa
kemerahan yang mengagumkan.
Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hatihati
menghampiri keluarga Edward, memperlihatkan rasa
hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya
sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing.
Ketika mereka mendekat, bisa kulihat betapa berbedanya
mereka dengan keluarga Cullen. Langkah mereka pelan,
anggun, langkah yang secara konstan nyaris berubah siap
menerkam. Mereka berpakaian ala backpacker umumnya:
jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan
tebal dan tahan lama. Namun pakaian mereka tampak
usang karena sering dipakai dan mereka bertelanjang kaki.
Kedua laki-laki itu berambut cepak, rambut si wanita yang
berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpihserpihan
hutan.
Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati
postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Ia berdiri diapit
Emmett dan Jasper. Para pendatang itu melangkah hati-hati
menghampiri mereka, dan tanpa komunikasi yang kentara,
mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap
lebih santai serta berwibawa.
Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan,
kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama,
rambutnya hitam mengilap. Postur tubuhnya sedang,
ototnya kekar tentu saja, tapi kalah jauh dari Emmett. Ia
tersenyum ramah, memamerkan gigi putihnya.
Si perempuan lebih liar, dengan resah ia bergantian
menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di
sekitarku, rambutnya yang berantakan berkibaran dalam
angin yang bertiup pelan. Posturnya sangat anggun. Lakilaki
kedua berdiri diam di belakang mereka, tubuhnya lebih
ramping daripada si pemimpin, rambutnya yang cokelat
muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja.
Matanya, meskipun diam, entah mengapa tampak paling
waspada.
Mata mereka juga berbeda. Bukan warna emas atau
hitam seperti yang kuharapkan, tapi warna burgundy gelap
yang keji dan mengancam.
Sambil masih tersenyum, laki-laki berambut gelap
melangkah maju ke arah Carlisle.
“Kami kira kami mendengar permainan." katanya santai
dengan sedikit logat Prancis. "Aku Laurent, ini Victoria dan
James.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya.
“Aku Carlisle. Ini keluargaku, Emmett dan Jasper,
Rosalie, Esme dan Alice. Edward dan Bella." Ia sengaja
tidak menunjuk kami satu per satu. Aku terkejut ketika ia
menyebut namaku.
“Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?" tanya Laurent
ramah.
Carlisle membalas dengan sama ramahnya.
“Sebenarnya, kami baru saja selesai. Tapi lain kali kami
jelas tertarik mengajak kalian bermain. Apakah kalian
berencana tinggal lama di daerah ini?"
"Kami sedang menuju utara, tapi kami penasaran ingin
melihat siapa yang ada di sekitar sini. Sudah lama kami
belum berjumpa siapa-siapa."
"Tidak, wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan
terkadang beberapa pengunjung seperti kalian."
Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan
santai; kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak
biasa untuk mengendalikan situasi.
"Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?"
Laurent bertanya dengan sikap santai.
Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu.
"Di sini, di Olympic Range, di sekitar Coast Ranges untuk
waktu tertentu. Kami mempunyai tempat tinggal permanen
di dekat sini. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami
di dekat Denali."
Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan.
“Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?" Ada rasa
penasaran yang murni dalam suaranya.
"Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa
mengobrol dengan nyaman?" undang Carlisle. "Ceritanya
agak panjang."
James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar
kata ‘rumah’, tapi Laurent lebih pandai mengendalikan
ekspresinya.
"Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat."
Senyumnya ramah. "Kami telah berburu sepanjang
perjalanan dari Ontario, dan sudah lama belum sempat
membersihkan diri" Ia mengagumi penampilan Carlisle
yang beradab.
"Kumohon jangan tersinggung tapi kami akan
menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini.
Kalian mengerti, kami harus menjaga agar eksistensi kami
tetap terjaga," Carlisle menjelaskan.
"Tentu saja." Laurent mengangguk. "Kami tentu tidak
akan melanggar teritori kalian. Lagi pula, kami baru saja
bersantap di luar Seattle." Ia tertawa. Rasa ngeri menjalar di
tulang punggungku.
"Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari
bersama kami—Emmett dan Alice, kalian bisa pergi
bersama Edward dan Bella ke Jeep," Carlisle menambahkan
dengan tenang.
Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika
Carlisle bicara. Rambutku berantakan ditiup angin, tubuh
Edward menegang dan laki-laki kedua, James, tiba-tiba
memutar kepalanya, mengamatiku, hidungnya mengendusendus.
Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju
selangkah dan siap menerkam. Edward memperlihatkan
giginya, balas siap menerkam, menggeram penuh ancaman.
Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi
pagi; melainkan hal paling mengerikan yang pernah
kudengar. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut
hingga ke ujung kakiku.
"Apa ini?" Laurent blak-blakan menunjukkan rasa
terkejutnya. Baik Edward maupun James tidak mengubah
pose agresif mereka. James bergerak sedikit ke samping, dan
sebagai jawabannya Edward bergeser.
“Dia bersama kami." Jawaban Carlisie yang tegas
diarahkan langsung kepada James. Laurent sepertinya tidak
mencium aroma tubuhku setajam James, tapi sekarang
tampaknya ia sudah menyadarinya.
"Kalian membawa snack?” tanyanya, ekspresinya
keheranan saat ia melangkah enggan ke depan.
Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi,
bengis, bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang
berkilauan. Laurent melangkah mundur.
"Kubilang dia bersama kami," Carlisle mengulangi katakatanya
dengan tegas.
"Tapi dia manusia,” protes Laurent. Ucapannya sama
sekali tidak bernada agresif, semata-mata hanya terkejut.
"Ya." Emmett jelas-jelas membela Carlisle, matanya
tertuju kepada James. Perlahan James menegakkan
tubuhnya, tapi tatapannya tak pernah lepas dariku, cuping
hidungnya masih mengembang. Edward tetap tegang bagai
singa di hadapanku
Ketika Laurent bicara, nada suaranya lembut—mencoba
menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul.
"Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu
sama lain.”
"Tentu." Suara Carlisle masih tenang.
“Tapi kami ingin menerima undanganmu." Matanya
bergantian menatap Carlisle dan aku. "Dan, tentu saja,
kami takkan melukai perempuan manusia ini. Seperti
kataku, kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu."
James memandang tak percaya dan kesal kepada
Laurent. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan
Victoria, yang matanya masih menatap gelisah dari satu
wajah ke wajah lain.
Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang
gamblang sebelum berbicara. "Akan kami tunjukkan
jalannya. Jasper, Rosalie, Esme?" panggilnya. Mereka
mendekat, menghalangiku dari pandangan saat mereka
berkumpul. Serta-merta Alice sudah berada di sisiku, dan
Emmett mundur perlahan, tatapannya terkunci pada James
saat ia berjalan membelakangi kami.
"Ayo, Bella." Suara Edward pelan dan lemah.
Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang
sama, begitu ketakutannya hingga sama sekali tak bergerak.
Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku
hingga aku tersadar. Alice dan Emmett berada dekat di
belakang kami, menyembunyikan diriku. Aku berjalan
tersandung-sandung di sebelah Edward, masih terkejut
karena ngeri. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain
sudah pergi atau belum. Ketidaksabaran Edward begitu
kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia
menuju tepi hutan.
Sesampainya di bawah naungan pepohonan, Edward
mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan
langkah. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak, yang
lain tak jauh darinya. Aku terus menundukkan kepala, tapi
mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam.
Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini
kelam. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti
Edward ketika ia berlari kini lenyap seluruhnya, digantikan
amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih
cepat. Bahkan denganku di punggungnya, yang lain tak bisa
menduluinya.
Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat, dan
Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya ketika m,
naruhku di jok belakang.
“Pasangkan sabuk pengamannya,” ia memerintahkan
Emmet, yang menyelinap masuk sebelahku.
Alice telah berada di jok depan, dan Edward menyalakan
mesin Kemudian mesinnya menderu dan kami bergerak
mundur, berputar menghadap jalanan yang berliku.
Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk
kumengerti, tapi kedengarannya jelas seperti serangkaian
makian.
Perjalanan yang berguncang-guncang itu jauh lebih
buruk saat ini, dan kegelapan hanya membuatnya semakin
mengerikan. Emmett dan Alice memandang saksama ke
luar jendela.
Kami tiba di jalan utama, dan meskipun laju kami
bertambah cepat, aku bisa melihat jauh lebih baik ke mana
tujuan kami. Dan kami menuju selatan, menjauh dari
Forks.
"Kita mau ke mana?" aku bertanya.
Tak ada yang menjawab. Bahkan tak seorang pun
melihat ke arahku.
"Sialan, Edward! Ke mana kau membawaku?"
“Kami harus membawamu pergi dari sini—jauh sekali—
sekarang." Ia tidak menoleh ke belakang, matanya terpaku
ke jalan. Spidometer menunjukkan kecepatan seratus lima
mil per jam.
“Kembali! Kau harus membawaku pulang!" aku
berteriak. Aku memberontak, berusaha melepaskan kaitan
tolol sabuk pengaman ini.
"Emmett," kata Edward dingin.
Dan Emmet mengamankan tanganku dalam
genggamannya yang kuat.
“Edward! Tidak, kau tidak boleh melakukan ini."
“Aku harus, Bella, sekarang kumohon diamlah."
“Tidak akan! Kau harus membawaku pulang—Charlie
akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu—
Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi,
bersembunyi selamanya!"
“Tenanglah, Bella." Suaranya dingin. "Kami sudah
pernah mengalami itu sebelumnya."
"Tidak demi aku, tidak akan! Kau tidak akan
menghancurkan segalanya demi aku!" Aku memberontak
habis-habisan, dan sama sekali sia-sia.
Alice berbicara untuk pertama kali. "Menepilah,
Edward."
Edward menatapnya marah, kemudian menambah
kecepatan.
"Edward, mari kita bicarakan masalah ini."
"Kau tidak mengerti" ia mengerang frustrasi. Aku belum
pernah mendengar suaranya selantang ini; begitu
memekakkan di dalam Jeep yang sempit. Jarum spidometer
nyaris mendekati angka 115. "Dia pemburu, Alice, tidakkah
kau melihatnya? Dia pemburu!"
Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku, dan
aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. Kata itu
memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku; aku
ingin memahaminya, tapi tak ada celah bagiku untuk
bertanya.
“Menepilah, Edward." Nada suara Alice tenang, namun
terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar
sebelumnya.
Jarum spidometer bergerak melewati 120.
“Lakukan, Edward."
"Dengar, Alice. Aku melihat pikirannya. Berburu adalah
hasratnya, obsesinya-dan dia menginginkan Bella, Alice—
Bella, secara spesifik. Dia memulai perburuannya malam
ini."
"Dia tidak tahu ke mana—"
Edward menginterupsi. "Pikirmu berapa lama waktu
yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota?
Rencananya sudah matang bahkan sebelum Laurent
bicara."
Aku terkesiap, menyadari ke mana aroma tubuhku akan
membawanya. "Charlie! Kau tak bisa meninggalkannya di
sana! Kau tak boleh meninggalkannya!" Aku meronta-ronta
di balik ikatan sabuk.
"Dia benar," kata Alice.
Jeep sedikit melambat.
"Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak," bujuk
Alice.
Jeep kembali melambat, lebih drastis, dan tiba-tiba kami
berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. Aku terdorong ke
depan, lalu terempas lagi ke jok.
"Tidak ada pilihan," desis Edward.
"Aku tidak akan meninggalkan Charlie!" teriakku.
Ia benar-benar mengabaikanku.
"Kita harus membawanya kembali," Emmett akhirnya
bicara.
"Tidak," sahut Edward mantap.
“Dia bukan tandingan kita, Edward. Dia takkan bisa
menyentuhnya."
“Dia akan menunggu."
Emmett tersenyum. "Aku juga bisa menunggu."
“Kau tidak mengerti. Sekali memutuskan untuk berburu,
dia tak tergoyahkan. Kita harus membunuhnya."
Emmett kelihatannya setuju-setuju saja dengan ide itu.
"Itu sebuah pilihan."
“Dan yang perempuan. Dia bersamanya. Bila nantinya
berubah menjadi perseteruan si pemimpin akan turun
tangan juga.”
“Jumlah kita cukup banyak."
“Itu pilihan lain," kata Alice pelan.
Edward berbalik padanya, murka, suaranya menggeram.
“Tidak – ada – pilihan – lain!"
Emmett dan aku memandangnya terkejut, tapi Alice
kelihatan biasa-biasa saja. Keheningan berlangsung panjang
sementara Edward dan Alice saling menatap.
Aku memecahkannya. "Tidakkah kalian ingin
mendengar rencanaku?"
"Tidak," geram Edward. Alice memelototinya, akhirnya
terpancing juga.
"Dengar," aku memohon. "Bawa aku kembali."
"Tidak," potong Edward.
Aku memandang marah dan melanjutkan. "Bawa aku
kembali, aku akan bilang pada ayahku bahwa aku ingin
pulang ke Phoenix. Kukemasi barang-barangku. Kita
tunggu sampai si pemburu memerhatikan, baru kita lari.
Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie.
Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI. Lalu kau
bisa membawaku ke mana pun kau mau."
Mereka menatapku, terkesiap.
“Bukan ide yang buruk, sungguh." Keterkejutan Emmett
jelas penghinaan.
“Bisa saja berhasil—dan kita tak bisa membiarkan
ayahnya begitu saja tanpa pelindungan. Kalian tahu itu."
kata Alice
Semua menatap Edward.
“Terlalu berbahaya—aku tak menginginkannya berada
dalam radius mil dari Bella."
Emmett tampak sangat percaya diri. "Edward, dia takkan
bisa mengalahkan kita.”
Alice berpikir sebentar. "Aku tidak melihatnya
menyerang Dia akan mencoba menunggu kita
meninggalkannya sendirian."
"Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu
takkan terjadi."
"Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang."
Aku berusaha terdengar tegas.
Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan
mata.
"Kumohon," kataku, suaraku jauh lebih pelan. Ia tidak
mendongak. Ketika bicara, suaranya terdengar terluka.
"Kau akan pergi malam ini, tak peduli apakah si
pemburu melihat atau tidak. Katakan pada Charlie, kau tak
tahan lagi berada di Forks. Ceritakan apa saja agar dia
percaya. Kemasi apa pun yang bisa kauambil, kemudian
masuk ke trukmu. Aku tak peduli apa yang dikatakannya
padamu. Kau punya waktu lima belas menit. Kaudengar
aku? Lima belas menit setelah kau keluar dari pintu."
Jeep menderu menyala, dan ia memutarnya, bannya berdecit-
decit. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai
kecepatan.
“Emmett?" aku bertanya, menatap lurus tanganku.
“Oh, maaf." Ia melepaskannya.
Beberapa menit berlangsung dalam keheningan, kecuali
bunyi deru mesin. Lalu Edward berbicara lagi.
"Inilah yang akan kita lakukan. Sesampainya di rumah
Bella, kalau si pemburu tidak ada di sana, aku akan
mengantarnya sampai ke pintu. Kemudian dia punya waktu
lima belas menit." Ia menatapku geram dan kaca spion.
"Ernmert kau berjaga di luar rumah. Alice, kauambil truk
Bella. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. Setelah
dia keluar, kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan beritahu
Carlisle."
"Tidak akan," Emmett menyela. "Aku ikut kau."
"Pikirkan lagi, Emmett. Aku tak tahu berapa lama aku
akan pergi."
"Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung,
aku ikut kau."
Edward mendesah. "Kalau si pemburu ada di sana," ia
melanjutkan perkataannya dengan muram, "kita tidak akan
berhenti."
"Kita akan sampai di sana sebelum dia," kata Alice
yakin.
Edward sepertinya setuju. Apa pun masalahnya dengan
Alice, sekarang ia tak meragukannya lagi.
"Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?" Alice
bertanya.
Suaranya terdengar pahit. "Kau akan membawanya
pulang."
"Tidak, aku tidak mau," kata Alice tenang.
Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi.
"Kita semua takkan muat di trukku," aku berbisik.
Sepertinya Edward tidak mendengarku.
"Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri," aku
berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan.
Ia mendengarnya.
"Bella, kumohon lakukan saja dengan caraku, sekali ini
saja,” katanya, menggertakkan giginya.
"Dengar, Charlie bukan orang bodoh," protesku. "Kalau
besok kau tidak tampak di kota, dia bakal curiga."
“Truk tak ada hubungannya. Kami akan memastikan dia
aman. dan itulah yang terpenting."
"Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat
bagaimana sikapmu malam ini. Dia akan berpikir kau
bersamaku di mana pun kau berada."
Emmett melihat ke arahku, terlihat terkejut lagi.
"Edward, dengarkan dia," desaknya. "Kupikir dia benar."
"Ya, dia memang benar," Alice menimpali.
"Aku tak bisa melakukannya." Suara Edward dingin.
"Emmett juga harus tinggal," aku melanjutkan. "Dia jelas
menaruh perhatian pada Emmert.”
"Apa?" Emmert berbalik padaku.
"Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya kalau
kau tinggal," timpal Alice.
Edward menatap Alice tak percaya. "Menurutmu, aku
harus membiarkan Bella pergi sendirian?"
"Tentu saja tidak," sahut Alice. "Jasper dan aku akan
membawanya."
“Aku tak bisa melakukannya," Edward mengulangi katakatanya,
tapi kali ini terselip nada menyerah di baliknya.
Akal sehatnya mulai bekerja.
Aku mencoba membujuk. "Tetaplah di sini selama
seminggu—" aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan
meralat kata-kataku "—beberapa hari. Biarkan Charlie
melihat kau tidak menculikku, dan buat perburuan si James
ini berantakan. Pastikan dia benar-benar kehilangan
jejakku. Lalu datanglah dan temui aku. Tentu saja ambil
rute memutar, kemudian Jasper dan Alice bisa pulang."
Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.
“Menemuimu di mana?"
"Phoenix." Tentu saja.
“Tidak. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang
akan kautuju," katanya tidak sabar.
"Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan
tentunya. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya
mendengar pembicaraan kita. Dia takkan pernah percaya
aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan."
"Dia licik," Emmett tergelak.
"Dan kalau itu tidak berhasil?"
"Beberapa juta orang tinggal di Phoenix," aku
memberitahunya.
"Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon."
"Aku takkan pulang."
"Oh?" tanyanya, nada suaranya berbahaya.
"Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri."
"Edward, kami akan menemaninya," Alice
mengingatkan.
"Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?' ia bertanya
pada Alice.
"Tetap di dalam ruangan."
"Aku sepertinya menyukainya." Emmett sedang
memikirkan tentang menghabisi James, tak diragukan lagi.
"Diam, Emmett."
“Dengar, kalau kita mencoba membunuhnya sementara
Bella masih di sini, kemungkinan besar akan ada yang
terluka—dia akan terluka, atau kau karena mencoba
melindunginya. Nah, kalau kita menyerang saat dia
sendirian...” ia tidak menyelesaikan kalimatnya,
senyumnya mengembang perlahan. Aku benar.
Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota.
Meskipun ucapanku terdengar berani, bisa kurasakan bulu
kudukku meremang. Aku memikirkan Charlie, sendirian di
rumah, dan mencoba untuk berani.
"Bella.” Suara Edward terdengar sangat lembut. Alice
dan Emmert memandang ke luar jendela. "Kalau kau
membiarkan sesuatu terjadi padamu—apa pun—aku akan
menuntut tanggung jawab darimu. Kau mengerti?"
"Ya," sahutku, menelan ludah.
Ia berpaling kepada Alice. "Apakah Jasper bisa
menanganinya?"
"Percayalah padanya, Edward. Dia telah bekerja dengan
sangat, sangat baik, dalam segala hal."
"Bisakah kau menanganinya?" ia bertanya.
Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu
meringis mengerikan sambil menggeram parau. Aku
langsung meringkuk ketakutan.
Edward tersenyum padanya. "Tapi simpan opinimu
untuk dirimu sendiri," gumamnya tiba-tiba.
19. PERPISAHAN
CHARLIE menungguku. Semua lampu di rumah
menyala. Pikiranku kosong ketika aku mencoba
memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. Ini
tidak bakal menyenangkan.
Perlahan Edward menepikan Jeep, memarkirnya tepat di
belakang trukku. Mereka bertiga sangat waspada, duduk
tegak di kursi mereka, mendengarkan setiap suara di hutan,
mengamati setiap bayangan, menghirup setiap aroma,
mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. Mesin
dimatikan, dan aku duduk tidak bergerak ketika mereka
terus mendengarkan.
“Dia tidak di sini," kata Edward tegang. "Ayo."
Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku
melepaskan sabuk pengaman. "Jangan khawatir. Bella,"
katanya pelan namun ceria, "kami akan membereskan
semuanya di sini dalam waktu singkat."
Aku merasakan mataku berkaca-kaca saat memandang
Emmet. Aku nyaris tak mengenalnya, namun
bagaimanapun juga, tidak mengetahui kapan aku bisa
bertemu lagi dengannya setelah malam ini, membuatku
sedih. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus
kutahankan selama satu jam ke depan, dan pikiran itu
membuat air mataku mulai turun.
"Alice, Emmert." Suara Edward memerintah. Mereka
menyelinap tanpa suara menembus kegelapan, langsung
menghilang. Edward membukakan pintuku dan memegang
tanganku, kemudian menarikku ke dalam pelukannya yang
melindungi. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah,
matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.
"Lima belas menit," ia mengingatkan dengan berbisik.
"Aku bisa melakukannya," isakku. Air mata memberiku
inspirasi.
Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya
dengan kedua tanganku. Aku menatap matanya lekat-lekat.
"Aku mencintaimu," kataku, suaraku pelan dan dalam.
"Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apa yang terjadi
sekarang."
"Takkan terjadi apa-apa padamu, Bella," katanya, sama
tajamnya.
"Jalankan saja rencananya, oke? Jaga Charlie untukku.
Dia takkan terlalu menyukaiku lagi setelah ini, dan aku
ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya."
"Masuklah, Bella. Kita harus bergegas." Suaranya
mendesak.
"Satu lagi," aku berbisik penuh hasrat. "Jangan
dengarkan kata-kataku malam ini." Ia mencondongkan
tubuhnya, jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat
untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat
mungkin. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu
hingga terbuka.
"Pergilah, Edward!" aku berteriak padanya, berlari
masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan
wajahnya yang masih terkejut.
“Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu, dan
sekarang ia bangkit berdiri.
“Jangan ganggu aku!" aku berteriak padanya, air mataku
mengalir deras sekarang. Aku berlari menaiki tangga
menuju kamar, membanting pintu dan menguncinya. Aku
berlari ke tempat tidur, mengempaskan diri di lantai untuk
mengambil tasku. Aku langsung mengulurkan tangan ke
bawah kasur dan pengambil kaus kaki usang tempatku
menyimpan uangku.
Charlie menggedor-gedor pintu kamar.
"Bella, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Suaranya
waswas.
"Aku mau pulang," aku berteriak, memberi tekanan pada
kata yang tepat.
"Apakah dia melukaimu?" suaranya hampir marah.
"Tidak!" jeritku. Aku berbalik ke lemari pakaian, dan
Edward sudah ada di sana, tanpa suara meraup asal-asalan
pakaianku, lalu melemparkannya padaku.
"Apakah dia mencampakkanmu?" Charlie benar-benar
bingung.
“Tidak!" aku berteriak, agak terengah-engah saat
menjejalkan semuanya ke dalam tas. Edward melempar
beberapa helai pakaian lagi padaku. Sekarang tasnya sudah
lumayan penuh.
"Apa yang terjadi, Bella?" seru Charlie dari balik pintu
sambil menggedor-gedor lagi.
“Aku mencampakkannya!" aku balas berteriak, sambil
menarik resleting tasku. Tangan Edward yang sedang tidak
melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup
ritsleting itu dengan mulus. Dengan hati-hati ia menaruh
talinya di bahuku.
“Aku akan menunggu di truk – pergi!” ia berbisik, dan
mendorong ke pintu. Ia menghilang lewat jendela.
Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie
berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni
tangga.
"Apa yang terjadi?" ia berteriak. Ia berada tepat di
belakang ku. "Kupikir kau menyukainya."
Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur.
Meskipun ia masih bingung cengkeramannya kuat.
Ia memutar rubuhku menghadapnya, dan aku bisa
melihat ekspresi di wajahnya, bahwa ia tidak berniat
membiarkanku pergi. Aku hanya bisa memikirkan satu cara
untuk melepaskan diri, dan ini akan sangat melukai hatinya
hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika
memikirkannya. Tapi aku tak punya waktu, dan aku harus
memikirkan keselamatannya.
Aku menatap geram pada ayahku, air mata kembali
menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera
kulakukan.
"Aku memang menyukainya—itulah masalahnya. Aku
tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa tinggal di sini lebih
lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan
membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat
kesalahan bodoh yang sama seperti yang dilakukan Mom.
Aku benci—aku tak bisa tinggal di sini lebih lama lagi!"
Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah
menyetrumnya. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut
dan terluka, lalu bergegas ke pintu.
"Bells, kau tak bisa pergi sekarang. Sudah malam,"
bisiknya di belakangku.
Aku tidak menoleh. "Aku akan tidur di truk bila
mengantuk."
"Tunggu satu minggu lagi," ia memohon, masih terkejut
setengah mati. "Renee akan kembali pada saat itu."
Ini benar-benar membuatku kesal. "Apa?"
Charlie melanjutkan dengan bersemangat, hampir
meracau lega ketika melihat keraguanku. "Dia menelepon
ketika kau sedang keluar. Kehidupannya di Florida tidak
berjalan baik, dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak
hingga akhir pekan, mereka akan kembali ke Arizona.
Asisten pelatih Side-winders bilang mungkin mereka masih
punya posisi sementara untuknya."
Aku menggeleng, berusaha mengumpulkan pikiranku
yang sekarang berantakan. Setiap detik yang berlalu akan
semakin membahayakan nyawa Charlie.
"Aku punya kunci," gumamku, memutar kenop pintu. Ia
berdiri terlalu dekat, satu tangannya terulur ke arahku,
wajahnya syok. Aku tak bisa membuang waktu dan
berdebat dengannya lagi. Aku harus membuatnya lebih
sakit lagi.
"Biarkan aku pergi, Charlie." Aku mengulangi kata-kata
terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini
bertahun-tahun yang lalu. Aku mengucapkannya semarah
mungkin, lalu membuka pintu, dan mengempaskannya.
"Semuanya kacau, oke? Aku sungguh, sungguh membenci
Forks!"
Ucapanku yang jahat berhasil—Charlie bergeming di
ambang pintu, terpana, sementara aku berlari menembus
malam. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan
yang kosong. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku,
membayangkan bayangan gelap di belakangku. Kulempar
tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka.
Kuncinya sudah menggantung di lubang starter.
“Besok aku akan menelepon!" aku berteriak, berharap
melebihi apa pun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini
padanya saat itu, namun sadar aku takkan pernah sanggup.
Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman
rumah.
Edward meraih tanganku.
"Menepi," katanya begitu rumahku, dan Charlie, telah
lenyap di belakang kami.
"Aku bisa mengemudi," kataku di balik air mata yang
mengalir ke pipi.
Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeram
pinggangku, dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas
dari pedal gas. Ia menarikku ke pangkuannya, melepaskan
tanganku dari kemudi, dan tiba-tiba saja ia sudah berpindah
ke jok pengemudi. Trukku tidak oleng sedikit pun.
"Kau takkan bisa menemukan rumahnya," ia
menjelaskan.
Tiba-tiba lampu-lampu menyorot terang di belakang
kami. Aku memandang lewat kaca belakang, mataku
membelalak ketakutan.
"Itu cuma Alice," ia menenangkanku. Ia memegang
tanganku lagi.
Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang
pintu. "Si pemburu?"
"Dia mendengar akhir sandiwaramu," kata Edward
geram.
"Charlie?" tanyaku ngeri.
"Si pemburu mengikuti kita. Sekarang dia berlari di
belakang kita."
Tubuhku langsung membeku. "Bisakah kita
meninggalkannya?"
"Tidak." Tapi Edward mempercepat laju truk sambil
berbicara. Mesin truk menggeram.
Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi.
Aku menoleh ke belakang menatap lampu mobil Alice
ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar
jendela.
Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap
mulutku.
"Itu Emmett!
Ia melepaskan tangannya dari mulutku, dan memeluk
pinggangku.
"Semuanya baik-baik saja, Bella," ia berjanji. "Kau akan
aman.”
Kami melesat melewati kota yang sepi, menuju jalan tol
utara.
"Aku tak tahu kau masih begitu bosan dengan kehidupan
kota kecil," katanya berbasa-basi, dan aku tahu ia berusaha
mengalihkan perhatianku. "Sepertinya kau menyesuaikan
diri dengan cukup baik—terutama akhir-akhir ini.
Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena
telah membuat hidupmu jauh lebih menarik."
"Aku benar-benar bukan anak yang baik," aku mengaku,
mengabaikan usahanya mengalihkan perhatianku, sambil
menunduk memandangi lutut. "Itu tadi hal yang sama yang
diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. Bisa dibilang
itu sangat kejam dan tidak adil."
"Jangan khawatir. Dia akan memaafkanmu." Ia
tersenyum sedikit, meskipun matanya tidak.
Aku menatapnya putus asa, dan ia melihat kepanikan di
mataku.
“Bella, semuanya akan baik-baik saja."
“Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak
bersamamu," bisikku.
“Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari,"
kitanya seraya mempererat pelukannya. "Jangan lupa, ini
idemu."
“Ini ide terbaik—tentu saja ini ideku."
Senyumnya pucat dan langsung lenyap.
"Kenapa ini terjadi?" tanyaku, suaraku melengking
“Kenapa aku?"
Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. "Ini salahku
aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu." Kemarahan
dalam suaranya ditujukan pada dirinya sendiri.
"Bukan itu maksudku," aku berkeras. "Aku ada di sana,
memangnya kenapa? Kehadiranku tidak mengganggu dua
yang lain. Kenapa si James ini memutuskan ingin
membunuhku. Ada orang di mana-mana, kenapa aku?" Ia
ragu-ragu, berpikir sebelum menjawab.
"Aku mendengarkan pikirannya malam ini," ia memulai
dengan suara pelan. "Aku tak yakin ada yang bisa
kulakukan untuk menghindari ini, begitu dia melihatmu.
Sebagian adalah salahmu." Suaranya masam. "Seandainya
aromamu tidak begitu menggiurkan, dia mungkin saja tidak
terusik. Tapi ketika aku membelamu..., Well, itu membuat
segalanya tambah parah. Dia tidak terbiasa dikecewakan,
tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. Dia
menganggap dirinya pemburu, bukan yang lain.
Eksistensinya hanya melulu mengenai berburu, dan baginya
tantangan adalah satu-satunya hal yang penting. Tiba-tiba
kita mempersembahkan tantangan yang indah di
hadapannya—satu klan besar yang terdiri atas pejuang
tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang
lemah. Kau takkan percaya betapa gembiranya dia
sekarang. Ini permainan favoritnya, dan kita baru saja
menjadikannya permainan paling menarik baginya."
Suaranya penuh kejijikan. Ia berhenti sebentar.
"Tapi seandainya aku tidak membelamu, dia bisa saja
membunuhmu saat itu juga," katanya sangat putus asa.
"Kupikir... aromaku tidak sama bagi yang lain... tidak
seperti bagimu," kataku ragu-ragu.
“Memang tidak. Tapi bukan berarti kau bukan godaan
bagi mereka. Seandainya kau telah menarik perhatian si
pemburu – atau salah satu dari mereka – dengan cara yang
sama seperti terhadapku, pertarungan akan terjadi saat itu
juga.”
Aku bergidik ngeri.
“Kurasa aku tak punya pilihan lain kecuali
membunuhnya sekarang," gumamnya. "Carlisle takkan
menyukainya."
“Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan,
meskipun aku tak bisa melihat sungainya di kegelapan. Aku
tahu kami semakin dekat. Aku harus bertanya sekarang.
"Bagaimana kau membunuh vampir?"
Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan
suaranya mendadak parau. "Satu-satunya yang bisa
memastikan kematiannya adalah dengan
menghancurkannya berkeping-keping lalu membakarnya."
"Dua vampir lainnya, apakah mereka akan ikut
bertarung dengannya?"
"Yang perempuan ya. Aku tak yakin dengan Laurent.
Mereka tidak punya ikatan kuat—dia bersama mereka
hanya demi kemudahan. James mempermalukannya ketika
berada di padang rumput..."
“Tapi James dan wanita itu—mereka akan mencoba
membunuhmu?" tanyaku, suaraku gemetar.
“Bella, jangan berani-berani membuang waktumu untuk
mengkhawatirkan aku. Satu-satunya yang harus
kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan
– kumohon, kumohon – usahakanlah jangan ceroboh.”
“Apakah dia masih mengikuti?"
“Ya. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah
kami. Tidak malam ini.”
Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. Alice
mengikuti di belakang.
Kami langsung menuju rumah. Lampu-lampu di dalam
menyala terang, tapi nyaris tak dapat menguraikan
kegelapan hutan yang rapat. Emmett telah membukakan
pintuku sebelum truk berhenti; ia menarikku dari jok,
meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang,
dan membawaku berlari melewati pintu.
Kami menghambur ke ruangan putih yang luas Edward
dan Alice berada di sisi kami. Semua ada di sana; mereka
bangkit berdiri begini mendengar kami mendekat. Laurent
berdiri di tengah mereka. Aku bisa mendengar geraman
pelan Emmet saat ia mendudukkanku di sisi Edward.
"Dia mengikuti kami," ungkap Edward, menatap galak
pada Laurent.
Wajah Laurent tampak muram. "Aku sudah
mengkhawatirkan hal itu."
Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di
telinganya; bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu
yang tak terdengar. Mereka menaiki tangga bersama-sama.
Rosalie mengamati mereka, kemudian bergerak cepat ke sisi
Emmett. Matanya yang indah penuh cinta dan—ketika
beralih enggan menatapku—tampak marah.
"Apa yang akan dilakukannya?" Carlisle bertanya kepada
Laurent dengan nada waswas.
"Maafkan aku," jawabnya. "Aku khawatir, ketika anak
laki-lakimu tadi membelanya, itu justru memicunya.
"Bisakah kau menghentikannya?"
Laurent menggeleng. "Tak ada yang bisa menghentikan
James begitu dia sudah mulai."
“Kami akan menghentikannya," Emmett berjanji. Tak
ada keraguan di balik maksud perkataannya.
“Kau takkan bisa menaklukkannya. Aku tak pernah
melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama tiga ratus
tahun kehidupanku. Dia sangat mematikan. Itu sebabnya
aku bergabung dalam kelompoknya."
Kelompoknya tentu saja, pikirku. Pertunjukan soal siapa
sang pemimpin di lapangan tadi hanya pura-pura.
Laurent menggeleng. Ia melirikku, bingung, kemudian
kembali menatap Carlisle. "Kau yakin ini layak?"
Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan;
Laurent langsung ciut.
Carlisle menatap Laurent dingin. "Aku khawatir kau
harus menentukan pilihan."
Laurent mengerti. Ia menimbang-nimbang sebentar. Ia
menatap satu per satu setiap wajah di sana, dan akhirnya
menyapu seluruh ruangan yang terang itu.
"Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan di sini.
Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. Aku sama sekali
tidak membenci kalian, tapi aku tidak akan menentang
James. Kurasa aku akan menuju utara—menemui klan
yang ada di Denali." Ia ragu-ragu. "Jangan remehkan
James. Dia memiliki pemikiran yang brilian dan indra yang
tak ada tandingannya. Dia sama nyamannya berada dalam
dunia manusia seperti kalian, dan dia tidak akan
mendatangi kalian dengan terang-terangan... Aku minta
maaf atas apa yang terjadi di sini. Aku sungguh menyesal."
Ia membungkuk, tapi aku melihatnya melirik bingung lagi
ke arahku.
“Pergilah dalam damai," ujar Carlisle dengan nada
formal.
Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu
yang lama, kemudian bergegas keluar.
Keheningan hanya bertahan sebentar.
"Seberapa dekat?" Carlisle menatap Edward.
Esme sudah bergerak; tangannya menekan tombol tak
kasat mara di dinding, dan dengan suara menderu, daun
jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Aku
memandang terkesima.
"Sekitar tiga mil dari sungai; dia sedang memutar untuk
menemui si wanita.”
"Apa rencananya?"
"Kita akan mengalihkan perhatiannya, kemudian Jasper
dan Alice akan membawanya ke selatan."
"Lalu?"
Nada suara Edward terdengar mematikan. "Begitu Bella
aman dari bahaya, kita akan memburu James."
"Kurasa tak ada pilihan lain," Carlisle menimpali,
wajahnya kelam.
Edward berbalik menghadap Rosalie.
"Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian,"
perintah Edward. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan
marah dan tak percaya.
"Kenapa aku harus melakukannya?" desisnya.
"Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial—
bahaya yang kaupilih untuk kita semua."
Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya.
"Rose...," gumam Emmett, sambil meletakkan satu
tangan di bahunya. Rosalie menepisnya.
Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati, teringat
temperamennya yang meledak-ledak, mengkhawatirkan
reaksinya.
Ia membuatku terkejut. Ia berpaling dari Rosalie seolaholah
ia tak pernah mengatakan apa-apa, seolah ia tidak ada.
“Esme?" tanyanya tenang.
“Tentu saja," gumam Esme.
Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku,
mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian
menggendongku, dan melompati anak tangga sebelum aku
menyadarinya.
"Apa yang kita lakukan?" tanyaku terengah-engah saat ia
menurunkanku di ruangan yang gelap entah di mana di
lantai dua.
"Berusaha mengaburkan aromamu. Tidak akan bertahan
lama, tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri." Aku
bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai.
"Kurasa pakaian Anda takkan muat..." aku ragu, tapi
tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. Aku
bergegas melepaskan jinsku. Ia memberi sesuatu padaku,
rasanya seperti kaus. Aku berjuang memasukkan tanganku
ke lubang yang tepat. Begitu aku selesai, ia menyerahkan
celana panjangnya. Aku mengenakannya, tapi tak bisa
mengeluarkan kakiku; terlalu panjang. Dengan mahir ia
menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa
berdiri. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku.
Ia menarikku kembali ke tangga, ke tempat Alice berdiri
sambil membawa tas kulit kecil. Mereka masing-masing
memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika
melayang menuruni tangga.
Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami
pergi tadi. Edward dan Emmett sudah siap berangkat,
Emmett menyampirkan ransel yang kelihatan berat di
bahunya. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada
Esme. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama
kepada Alice— Ponsel mungil berwarna perak.
“Esme dan Rosalie akan membawa trukmu, Bella." ia
memberitahu saat melewatiku. Aku mengangguk, melirik
cemas ke arah Rosalie. Ia sedang menatap geram ke arah
Carlisle.
"Alice. Jasper—kalian bawa Mercedes-nya. Warna
gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di
Selatan."
Mereka juga mengangguk.
"Kami naik Jeep."
Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama
Edward. Tiba-tiba aku menyadari, dengan ngeri, bahwa
mereka akan ikut meramaikan perburuan.
"Alice," Carlisle bertanya, "apakah mereka akan
memakan umpannya?"
Semua memerhatikan Alice ketika ia memejamkan mata
dan bergeming.
Akhirnya matanya membuka. "James akan memburumu.
Si wanita akan mengikuti truk. Kita seharusnya bisa pergi
setelah itu." Suaranya yakin.
"Ayo kita pergi." Carlisle berjalan menuju dapur. Tapi
Edward serta-merta telah berdiri di sisiku. Ia menangkapku
dalam genggamannya yang kuat, memelukku erat-erat. Ia
sepertinya tidak menyadari keluarganya memerhatikan saat
ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya,
mengangkat tubuhku dari lantai. Dalam waktu sekejap
bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku.
Kemudian semuanya selesai. Ia menurunkanku kembali ke
lantai, masih memegangi wajahku, matanya yang indah
membara menatapku.
Sorot matanya berubah hampa, mematikan, ketika ia
berpaling dariku.
Dan mereka pun pergi.
Kami berdiri di sana, yang lain memalingkan pandangan
dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku.
Keheningan terus berlanjut, kemudian ponsel Esme
bergetar. Ia langsung mendengarkan.
"Sekarang" katanya. Rosalie berjalan sambil
mengentakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi
ke arahku, tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku.
“Jaga dirimu." Bisikannya menggema di belakang
mereka saat mereka menyelinap keluar. Aku mendengar
suara trukku menderu, lalu lenyap.
Jasper dan Alice menunggu. Ponsel Alice sepertinya
sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar.
"Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Aku akan
ambil mobil." Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika
Edward pergi.
Jasper dan aku berpandang-pandangan. Ia berdiri agak
jauh di pintu masuk... berhati-hati.
"Kau salah, kau tahu itu," katanya pelan.
"Apa?" aku terkesiap.
"Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang—
dan kau memang layak."
"Tidak," gumamku. "Kalau terjadi sesuatu pada mereka,
pengorbanan mereka bakal sia-sia."
“Kau keliru," ia mengulanginya, tersenyum ramah
padaku.
Aku tak mendengar apa-apa, tapi kemudian Alice
melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku
dengan tangan terentang.
"Bolehkah?" tanyanya.
“Kau yang pertama meminta izin." Aku tersenyum
pahit. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah
yang dilakukan Emmett, memelukku dengan sikap
melindungi, kemudian kami terbang melewati pintu,
meninggalkan cahaya terang di belakang kami.
20. KETIDAKSABARAN
KETIKA terbangun, aku bingung. Pikiranku kabur,
masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Butuh waktu lebih
lama dari seharusnya untuk menyadari di mana aku berada.
Ruangan ini terlalu biasa untuk berada di mana pun,
kecuali di hotel. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja
memastikan dugaanku tepat, begitu juga tirai panjang yang
terbuat dan bahan yang sama dengan penutup tempat
tidurnya, serta dindingnya yang bercorak umum.
Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai di
sini, tapi awalnya tidak berhasil.
Aku ingat mobil hitam yang mengilat, kaca jendelanya
lebih gelap daripada kaca limusin. Suara mesinnya nyaris
tak terdengar, meskipun kami melaju melebihi dua kali
batas kecepatan yang diizinkan di jalan tol.
Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang
yang terbuat dari kulit berwarna gelap. Entah bagaimana
sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di
lehernya yang bagai granit. Kedekatan ini sepertinya tidak
mengganggunya sama sekali dan anehnya kulitnya yang
dingin dan keras membuatku merasa nyaman. Bagian
depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin, lembab
karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku
bengkak dan memerah, dan air mataku habis terkuras.
Kantuk meninggalkanku, mataku yang perih membuka
dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir
dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian
mana California. Cahaya kelabu memancar di langit tak
berawan, menyengat mataku. Tapi aku tak bisa
memejamkannya; ketika aku melakukannya, bayanganbayangan
yang berkelebat tampak kelewat nyata, bagaikan
slide yang tertanam di balik pelupuk mataku, tak
tertahankan. Ekspresi sedih Charlie—geraman brutal
Edward yang memamerkan deretan giginya—tatapan
marah Rosalie—tatapan menggebu-gebu si pemburu—
tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali
menciumku... Aku tak tahan melihat semua itu. Jadi aku
melawan kelelahanku dan matahari pun semakin tinggi.
Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang
rendah, dan matahari berada di belakang sekarang, sinarnya
memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun.
Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut
menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya
dalam sehari. Aku menatap hampa lahan luas yang
membentang di hadapanku. Phoenix – pohon-pohon palem,
semak belukarnya garis-garis tak beraturan di persimpangan
jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang
hijau, dan bercak turgouise kolam-kolam renang, semua
kabur di balik kabut asap tipis dan dikelilingi bukit berbatu
pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan.
Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas
hambatan – jelas, lebih tajam dari yang kuingat. lebih pucat
dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi di balik
bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan
terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega
sedikit pun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah.
“Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?" tanya
Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan
tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin
mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang.
"Ikuti terus rute I-sepuluh," jawabku otomatis. "Kita
akan melewatinya."
Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur.
"Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?" aku
bertanya pada Alice.
"Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya
untuk berjaga-jaga."
Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor
International... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa
pasti saat itulah aku tertidur.
Meskipun sekarang aku telah melupakan ingatanku,
samar-samar aku ingar telah meninggalkan mobil—
matahari baru saja terbenam—lenganku di bahu Alice dan
lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku
bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus
kegelapan yang kering dan hangat.
Aku tak ingat ruangan ini.
Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur.
Angka yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi
tidak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikit
pun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan
benderang karena cahaya lampu.
Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatihtatih
ke jendela. menyingkap tirainya.
Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari.
Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang
terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang
baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan
tempat.
Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan
pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang
senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian
yang pendek.
Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan
pelan di pintu membuatku kaget.
"Boleh aku masuk?" tanya Alice.
Aku menghela napas panjang. "Tentu."
Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati.
"Sepertinya kau butuh tidur lebih lama," katanya.
Aku hanya menggeleng.
Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai
rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku.
"Kita harus tinggal di kamar," ia memberitahuku.
“Oke." Suaraku serak, parau.
“Haus?" ia bertanya.
Aku mengangkat bahu. "Aku baik-baik saja. Kau
bagaimana?"
“Tak ada yang tak bisa diatasi." Ia tersenyum. "Aku
memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward
mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering
daripada kami.”
Aku langsung lebih waspada. "Dia menelepon?"
“Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. "Dia
mengatakannya sebelum kita pergi."
Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku
melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami
tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya
dari arah TV. Jesper duduk diam di meja di sudut,
menonton berita tanpa gairah sedikit pun.
Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya
sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan
tanpa menyadari apa yang kumakan.
Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke
TV seperti yang dilakukan Jasper.
Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali
melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu
diam. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun
sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya,
perutku langsung mulas. Alice menatapku.
"Ada apa, Alice?" aku bertanya.
"Tidak ada apa-apa." Matanya lebar, jujur... dan aku
tidak memercayainya.
"Apa yang kita lakukan sekarang?"
"Kita tunggu sampai Carlisle menelepon."
"Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon
sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan
Alice beralih dariku ke telepon di atas tas kulit kemudian
kembali menatapku lagi.
"Apa artinya?" suaraku bergetar, dan aku berusaha
mengendalikannya. "Kalau dia belum menelepon?"
"Itu artinya mereka tak ada yang perlu mereka
beritahukan pada kita." Tapi suaranya kelewat datar, dan
semakin sulit rasanya untuk bernapas.
Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih
dekat denganku daripada biasanya.
"Bella," kata Jasper dengan suara menenangkan yang
menuakan. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa.
Kau Benar-benar aman di sini."
"Aku tahu itu.”
"Lalu kenapa kau ketakutan?" tanyanya, bingung. Ia
mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa
menebak maksud di balik itu semua.
"Kaudengar apa yang dikatakan Laurent." Suaraku
hanya bisikan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya.
"Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau
sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah?
Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle,
Emmett, Edward..." Aku menelan liurku. "Kalau si wanita
liar itu melukai Esme..." Suaraku meninggi, kecemasan
mulai mewarnainya. "Bagaimana aku bisa terus hidup
sementara semua itu adalah salahku? Tak satu pun dari
kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku—
"
"Bella, Bella, hentikan," Jasper menyelaku, kata-katanya
mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. "Kau
mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku
untuk yang satu ini—tak satu pun dari kami berada dalam
bahaya. Kau hanya terlalu tegang itu saja; jangan ditambah
lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini.
Dengarkan aku!” perintahnya, karena aku telah
memalingkan wajah. "Keluarga kami kuat. Ketakutan kami
satu-satunya adalah kehilangan dirimu."
“Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu—"
Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan
jemarinya yang dingin. "Hampir satu abad lamanya Edward
seorang diri. Sekarang dia telah menemukanmu. Kau tak
bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama
dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega
melihat ke dalam matanya selama ratusan tahun yang akan
datang bila dia kehilangan dirimu?
Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang
matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan
menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa memercayai
perasaanku selama Jasper ada di sana.
Hari itu berlangsung sangar lama.
Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan
meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk
saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak
seorang pun menonton. Secara teratur mereka mengantar
makanan untukku. Telepon perak di aras tas Alice
sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya
waktu.
Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik
dariku. Saat aku mondar-mandir dengan gelisah, mereka
hanya bertambah kaku, dua patung yang matanya tanpa
kentara mengikuti gerakku. Aku menyibukkan diri dengan
menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang
bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, cokelat
lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif
yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk di sana,
seperti saat aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil.
Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya,
dan kucing yang meregangkan tubuhnya. Tapi ketika
lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap,
aku memalingkan wajah.
Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur,
hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku
berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku
bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di
ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari
pengawasan Jesper yang tajam.
Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah
ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai
bertanya-tanya instruksi seperti apakah tepatnya yang
diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur,
dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya
aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk
tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang
tadi lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk
gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu
meringkuk sambil memeluk kakiku.
"Alice?" aku bertanya.
"Ya?"
Aku menjaga suaraku tetap tenang. "Menurutmu apa
yang sedang mereka lakukan?"
"Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin
ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan
menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat
sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu
berbalik, mereka akan kembali ke Forks dan mengawasi
ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya berjalan baik
bila mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu
berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia
menguping pembicaraan di telepon."
“Dan Esme?"
“Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan
menelepon bila ada kemungkinan si wanita bisa
mendengar. Aku menduga mereka semua hanya ingin
sangat berhati-hati."
“Menurutmu mereka benar-benar aman?”
“Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa
kami sama sekali tidak terancam bahaya?”
"Meski begitu, maukah kau mengatakan yang
sejujurnya?"
"Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya
padamu." Suaranya tulus.
Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguhsungguh
dengan ucapannya.
“Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau
menjadi vampir?”
Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik
untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu.
"Edward tidak ingin aku memberitahumu," katanya
tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat.
"Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk
mengetahuinya."
"Aku tahu."
Aku menatapnya, menunggu.
Ia mendesah. "Dia bakal sangat marah."
"Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice,
sebagai teman, aku memohon padamu." Dan sekarang
kami memang teman, entah bagaimana—seperti yang
sudah diduganya selama ini.
Ia menatapku dengan matanya yang indah dan
bijaksana... mempertimbangkan.
"Aku akan menceritakan cara kerjanya," akhirnya ia
berkata, "tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tak pernah
melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan
dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan
teorinya."
Aku menunggu.
"Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata
dalam gudang senjata fisik kami – sangat, sangat banyak
dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan,
pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti
Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra
tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik
kami menarik bagi mangsa kami."
Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward
menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di
padang rumput.
Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya
senjata ekstra lain. Kami juga berbisa," katanya, giginya
berkilauan. "Bisa kami tidak mematikan—hanya
melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh
aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat
kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat
berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si
mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada
pengecualian. Carlisle, misalnya."
"Jadi... kalau racunnya menyebar...," gumamku.
"Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna,
tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah,
seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama
jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar,
menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya.
Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun
selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan
mengharapkan kematian."
Aku gemetar mendengarnya.
“Itu tidak menyenangkan, kau tahu."
“Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak
begitu mengerti," kataku.
“Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami
merasakan darah, atau bahkan menciumnya saja, akan
sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang
mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit
seseorang, mencecap darahnya, itu akan memancing
kegilaan. Sulit untuk kedua pihak—yang satu godaan
darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa."
"Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?"
"Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat
transformasi adalah ingatan terkuat yang mereka miliki dari
masa kehidupan mereka sebagai manusia." Suaranya
terdengar muram.
Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masingmasing.
Detik demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan
kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku.
Kemudian tanpa peringatan apa pun, Alice melompat
dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku
tersentak saat aku menatapnya, terkejut.
"Ada yang berubah." Suaranya mendesak, dan ia tidak
sedang berbicara padaku lagi.
Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia
telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice
yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alice
dan membimbingnya kembali ke tempat tidur,
mendudukkannya di ujung tempat tidur.
"Apa yang kaulihat?" tanyanya hati-hati, menatap ke
dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang
sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan
tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat
sekali.
“Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di
mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan
dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin
itu."
"Di mana kamar itu?"
"Aku tidak tahu. Ada yang hilang—keputusan yang lain
belum dibuat."
“Berapa lama lagi?"
“Segera. Dia akan berada di ruangan cermin hari ini,
atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu.
Dan sekarang dia berada dalam kegelapan."
Suara Jesper tenang, teratur, saat ia menanyainya dengan
cara terlatih. "Apa yang dilakukannya?”
"Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di
kegelapan, di tempat lain."
"Bisakah kau melihat di mana dia berada?"
"Tidak, terlalu gelap."
"Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada di sana?"
"Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi
ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga
sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak
menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini
adalah ruangan tempatnya menunggu." Pandangan Alice
menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper.
"Tak ada yang lainnya?"
Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak.
“Apa maksudnya?" aku bertanya.
Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian
Jasper menatapku.
“Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah
membuat keputusan yang akan membimbingnya ke
ruangan cermin, dan ruangan gelap."
"Tapi kita tidak tahu di mana ruangan itu.”
“Tidak.”
“Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan di utara
Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara
Alice terdengar putus asa.
"Haruskah kira menelepon?" tanyaku. Mereka bertukar
pandangan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi.
Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat
mendongak.
Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu
di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu.
"Carlisle," desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega,
seperti yang kurasakan.
"Ya," katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk
waktu yang lama.
"Aku baru saja melihatnya." Ia menggambarkan lagi apa
yang dilihatnya. "Apa pun yang membuatnya naik ke
pesawat itu... itu membimbingnya ke ruangan-ruangan itu."
Alice terdiam. "Ya," ia berbicara di telepon, kemudian ia
berbicara padaku. "Bella?"
Ia menyodorkan teleponnya. Aku berlari
menghampirinya.
"Halo?" desahku.
"Bella," kata Edward.
"Oh, Edward! Aku sangat khawatir."
“Bella," ia mendesah frustrasi, "sudah kubilang jangan
mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri." Tak
kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya.
Kurasakan kabut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia
bicara.
"Kau di mana?"
“Kami berada di luar Vancouver. Bella, maafkan aku—
kami kehilangan jejaknya. Dia kelihatannya curiga—dia
berhati-hati, menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku
tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Tapi dia sudah
pergi sekarang—sepertinya naik pesawat. Kami kira dia
kembali ke Forks untuk memulai lagi dari awal." Aku bisa
mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku, katakatanya
yang cepat terdengar samar bagai gumaman.
“Aku tahu. Alice melihat dia berhasil kabur."
"Meski begitu kau tak perlu khawatir. Dia takkan
menemukan apa pun yang akan membawanya padamu.
Kau hanya perlu tetap di sana dan menunggu sampai kami
menemukannya lagi."
"Aku akan baik-baik saja. Apakah Esme bersama
Charlie?"
"Ya—si wanita ada di kota. Dia pergi ke rumah Charlie,
tapi Charlie sedang di tempat kerja. Dia tidak mendekati
Charlie, jadi jangan khawatir. Dia aman dalam pengawasan
Rosalie dan Esme."
"Apa yang dilakukan wanita itu?"
"Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Dia
mengelilingi kota sepanjang malam. Rosalie mengikutinya
hingga ke bandara, semua jalanan di kota, sekolah... dia
mencari-cari, Bella, tapi tak ada yang bisa ditemukannya."
"Kau yakin Charlie aman?"
"Ya, Esme takkan membiarkannya luput dari
pengawasan. Dan sebentar lagi kami akan tiba di sana.
Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks, kami akan
menghabisinya."
"Aku merindukanmu," bisikku.
"Aku tahu. Bella. Percayalah padaku, aku tahu. Rasanya
seolah-olah kau telah membawa separuh diriku
bersamamu.”
“Kalau begitu datang dan ambillah," aku menantangnya.
“Segera, begitu aku bisa. Aku akan membuatmu aman
dulu." Suaranya tegang.
“Aku mencintaimu," aku mengingatkannya.
“Bisakah kau memercayainya, terlepas dan semua yang
telah kaualami karena aku, bahwa aku juga mencintaimu?”
“Ya, sebenarnya aku percaya."
“Aku akan segera datang padamu."
"Aku akan menunggu."
Setelah percakapan selesai, kabut depresi pun
menyelimuti ku lagi.
Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada
Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas
meja Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo
hotel. Aku bersandar di sofa, mengintip dari balik bahunya.
Ia sedang menggambar sebuah ruangan: panjang persegi
dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian
belakang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai
membentang sepanjang ruangan. Di bawah dinding
terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin.
Sepanjang dinding setinggi pinggang tampak garis panjang.
Garis yang disebut Alice berwarna emas.
"Itu studio balet," kataku, tiba-tiba mengenali bentuknya
yang tidak asing.
Mereka memandangku, terkejut.
"Kau tahu ruangan ini?" suara Jasper terdengar tenang
tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Alice
menunduk menatap gambarnya, tangannya menyapu kertas
itu sekarang, menggambar tangga darurat di dinding
belakang stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan
depan.
"Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi
untuk belajar menari—ketika usiaku delapan atau sembilan
tahun. Bentuknya tak berubah." Kusentuh kertas itu pada
bagian yang menonjol kemudian menyempit di bagian
belakang ruangan. "Di sana letak kamar mandinya—
pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. Tapi
stereonya tadinya di sini"—aku menunjuk sudut kiri—
"sudah lama, dan tidak ada TV. Ada jendela di ruang
tunggu-kau akan melihat ruangan itu, dari sudut pandang
ini kalau kau melihatnya dari jendela itu.”
Alice dan Jasper menatapku.
“Kau yakin ini ruangan yang sama?" Jasper bertanya,
masih tenang.
"Tidak, sama sekali tidak—kurasa kebanyakan studio tari
kelihatan sama—cermin-cerminnya, palangnya." Jari-jariku
menelusuri palang balet yang terpasang di depan cermin.
"Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing." Aku
menyentuh pintunya, terpasang pada tempat yang sama
persis seperti yang kuingat.
"Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana
sekarang?" Alice bertanya, membuyarkan lamunanku.
"Tidak, sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah ke
sana. Aku penari yang payah—mereka selalu menjadikanku
cadangan pada acara resital," aku mengakui.
"Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?"
tanya Alice sungguh-sungguh.
"Tidak, kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang
sama. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya, entah di
mana."
"Di mana letak studio yang biasa kaudatangi?" Jasper
bertanya dengan nada kasual.
“Di sekitar sudut rumah ibuku. Aku biasa berjalan kaki
ke sana sepulang sekolah..." kataku, suaraku menghilang.
Aku melihat mereka bertukar pandang.
“Kalau begitu di sini, di Phoenix?" Suara Jasper masih
santai.
"Ya,” bisikku. "58th Street dan Cacrus."
Kami duduk terdiam, memandangi gambar Alice.
“Alice, apakah telepon itu aman?"
"Ya," ia meyakinkanku. "Nomornya hanya akan
terdeteksi ke Washington."
"Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk
menelepon ibuku.”
"Kupikir dia di Florida."
"Memang—tapi dia akan segera pulang, dan dia tak bisa
kembali ke rumah itu sementara..." Suaraku gemetar. Aku
sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward,
tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah
Charlie, sekolah, di mana catatan tentang diriku berada.
"Bagaimana kau akan menghubunginya?"
"Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah—dia
seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur."
"Jasper?" tanya Alice.
Ia mempertimbangkannya. "Kurasa itu tidak mungkin
berbahaya—pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau
berada, tentu saja."
Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice
dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Terdengar
nada sambung sebanyak empat kali, kemudian aku
mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan
untuk meninggalkan pesan.
"Mom," kataku setelah bunyi bip, "ini aku. Dengar, aku
mau kau melakukan sesuatu. Ini penting. Begitu kau
menerima pesan ini, hubungi aku di nomor ini." Alice
sudah di sisiku, menuliskan nomornya untukku di bagian
bawah gambar. Aku membacanya perlahan, dua kali.
"Kumohon jangan pergi ke mana-mana sampai kau
berbicara denganku. Jangan khawatir, aku baik-baik saja,
tapi aku harus bicara denganmu secepatnya, tak peduli
kapan pun kau menerima pesan mi, oke? Aku mencintaimu,
Mom. Bye." Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh
hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang
membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku.
Aku duduk di sofa, mengunyah buah-buahan yang
tersisa di piring, pengantisipasi malam yang panjang. Aku
berpikir untuk menelepon Charlie, tapi tak yakin apakah ia
sudah pulang atau belum. Aku berkonsentrasi menonton
berita, mencari berita tentang Florida, atau tentang
pelatihan musim semi – aksi demo atau badai topan atau
serangan teroris—apa pun yang mungkin membuat mereka
pulang lebih awal.
Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada
habisnya. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu
melakukan sesuatu sama sekali. Selama beberapa waktu
Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan
penglihatannya, sebanyak yang dapat dilihatnya dengan
mengandalkan cahaya yang berasal dari TV. Tapi ketika
selesai ia hanya duduk, menatap dinding-dinding kosong
tanpa berkedip. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk
mondar-mandir atau mengintip dari balik tirai, atau
menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak, seperti yang
kurasakan.
Aku pasti tertidur di sofa, menantikan telepon berbunyi
lagi. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku
sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur, tapi aku
kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.
21. TELEPON
AKU bisa merasakan hari lagi-lagi masih terlalu dini
ketika aku terbangun. Aku tahu siang dan malamku
perlahan-lahan terbalik. Aku berbaring di tempat tidur dan
mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari
ruangan lain. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras
untuk bisa kudengar sangatlah aneh. Aku berguling hingga
kakiku menyentuh lantai, lalu tertatih-tatih menuju ruang
tamu.
Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul dua pagi.
Alice dan Jasper duduk di sofa, Alice membuat sketsa
sementara Jasper mengintip dari bahunya. Mereka tidak
mendongak ketika aku masuk, terlalu asyik memerhatikan
gambar yang dibuat Alice.
Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip.
"Apakah dia melihat sesuatu yang baru?" aku bertanya
pelan pada Jasper.
“Ya. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-
VCR, hanya saja kali ini keadaannya terang.”
Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan
balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang
rendah. Dinding-dindingnya berpanel kayu, agak terlalu
gelap, ketinggalan zaman. Lantainya diselimuti karpet
berpola warna gelap. Di dinding sebelah selatan ada jendela
besar. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada
ruang tamu. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu—
perapian dari batu cokelat yang terbuka ke dua ruangan itu.
TV dan VCR ditaruh di aras lemari pajang kayu yang
kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Sofa panjang
kuno terletak di depan TV, meja ramu yang bundar berdiri
di depannya.
"Teleponnya di sebelah sana," bisikku, sambil menunjuk.
Dua pasang mara yang abadi menatapku.
"Itu rumah ibuku."
Alice telah bangkit dari sofa, telepon di tangan, menekan
nomor. Aku menatap gambar ruang keluarga rumah ibuku
yang amat tepat itu. Tidak seperti biasa Jasper
mendekatiku. Dengan lembut ia menyentuh bahuku, dan
kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat
kemampuannya menenangkan lebih kuat lagi. Kepanikanku
tetap samar, tidak fokus.
Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya, suara
dengung pelan itu mustahil ditangkap. Aku tak bisa
berkonsentrasi.
“Bella," kata Alice. Aku menatapnya hampa.
“Bella, Edward akan datang menjemputmu. Dia,
Emmett, dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat,
menyembunyikanmu untuk sementara waktu."
“Edward akan datang?" Kata-kata itu bagaikan
pelampung penyelamat, menjaga kepalaku tetap terapung.
“Ya, dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle.
Kita akan menemuinya di bandara, dan kau akan pergi
bersamanya.”
"Tapi ibuku... dia ke sini untuk mengincar ibuku, Alice!"
Terlepas dari kemampuan Jasper, kepanikan terdengar jelas
dalam suaraku.
"Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman."
"Aku tak bisa menang, Alice. Kau tak bisa menjaga
semua orang yang kukenal selamanya. Tidakkah kau
mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak
memburuku. Dia akan menemukan seseorang dia akan
melukai orang yang kucintai... Alice. aku tak bisa—"
"Kami akan menangkapnya, Bella," ia meyakinkanku.
"Dan bagaimana kalau kau terluka, Alice? Kaupikir aku
bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku
yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?"
Alice menatap Jasper penuh arti. Kabut tebal kelelahan
menyapuku, dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan.
Pikiranku mencoba melawan kabut itu, menyadari apa yang
sedang terjadi. Aku memaksa membuka mataku dan
berdiri, menjauhkan diri dari tangan Jasper.
"Aku tak ingin tidur lagi," bentakku.
Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu, sebenarnya
membantingnya, supaya bisa mengeluarkan semua
perasaanku tanpa ada yang melihat. Kali ini Alice tidak
mengikutiku. Selama tiga setengah jam aku menatap
dinding meringkuk, bergoyang-goyang. Pikiranku berputarputar,
mencoba mencari cara untuk keluar dari mimpi
buruk ini. Tak ada jalan keluar, tak ada kompromi. Aku
hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang
masa depanku. Satu-satunya pertanyaan adalah, berapa
banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku
mencapainya.
Satu-satunya penghiburan, satu-satunya harapan yang
tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. Barangkah,
kalau bisa melihat wajahnya lagi, aku juga bisa melihat
pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang.
Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan,
merasa sedikit malu dengan sikapku. Kuharap aku tak
menyinggung perasaan mereka, bahwa mereka tahu betapa
aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan
untukku.
Alice berbicara sangat cepat seperti biasa, tapi yang
menarik perhatianku adalah, untuk pertama kalinya Jasper
tak ada di ruangan itu. Aku melihat jam—pukul 05.30.
"Mereka baru saja lepas landas," Alice memberitahu.
"Mereka akan mendarat pukul 09.45." Hanya beberapa jam
lagi sebelum Edward tiba di sini.
"Di mana Jasper?"
"Dia pergi untuk check out"
"Kalian tidak menginap di sini?"
"Tidak, kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat
dengan rumah ibumu.”
Perutku melilit mendengar kata-katanya.
Tapi telepon berbunyi lagi, mengalihkan perhatianku.
Alice tampak terkejut, tapi aku telah melangkah maju,
menggapai telepon sambil berharap-harap cemas.
"Halo?" sapa Alice. "Tidak, dia ada di sini." Ia
menyodorkan teleponnya padaku. Ibumu, katanya tanpa
suara.
"Halo?"
“Bella? Bella?" Itu suara ibuku, dalam nada familier yang
telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku, setiap kali
aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau
menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian.
Suaranya panik.
Aku mendesah. Aku telah menduganya, meskipun aku
telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak
mengagetkan tanpa mencurangi urgensinya.
"Tenang, Mom." kataku dengan suaraku yang paling
menenangkan, seraya berjalan pelan menjauhi Alice. Aku
tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan
sementara matanya mengawasiku. "Semua baik-baik saja,
oke? Beri aku waktu satu menit dan aku akan menjelaskan
semuanya, aku janji."
Aku diam, terkejut karena ia belum menyela kata-kataku.
"Mom?"
"Berhati-hatilah, jangan katakan apa-apa sebelum aku
menyuruhmu." Suara yang kudengar sekarang terdengar
sama asing dan mengejutkannya. Itu suara tenor laki-laki,
suara yang amat menyenangkan dan umum—jenis suara
yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Ia berbicara
sangat cepat.
"Nah, aku tak perlu melukai ibumu, jadi tolong lakukan
seperti yang kuperintahkan, maka dia akan baik-baik saja."
Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam
keheningan mencekam. "Bagus sekali," ia memujiku.
"Sekarang ulangi kata-kataku, dan cobalah mengatakannya
sewajar mungkin. Tolong katakan. Tidak, Mom, tetaplah di
tempatmu.'"
"Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu." Suaraku tak lebih
dari bisikan.
“Bisa kulihat ini bakalan sulit." Suara itu terdengar
senang masih ringan dan ramah. "Kenapa kau tidak pergi
ke ruangan lain sekarang sehingga wajahmu tidak
mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk
menderita. Sambil berjalan, tolong katakan, 'Mom, tolong
dengarkan aku.' Katakan sekarang."
"Mom, tolong dengarkan aku," aku memohon. Aku
berjalan sangat pelan ke kamar tidur, merasakan tatapan
waswas Alice di belakangku. Aku menutup pintu, berusaha
berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkeram
benakku.
“Nah bagus, kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak."
"Ya."
"Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Aku yakin itu."
"Ya."
"Baik, kalau begitu," suara menyenangkan itu
melanjutkan, "katakan,'Mom, percayalah padaku.'"
"Mom, percayalah padaku."
"Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Aku
sedang bersiap-siap menunggu, tapi ibumu tiba lebih awal.
Lebih mudah begini, ya kan? Tidak terlalu menegangkan,
kau jadi tidak terlalu khawatir."
Aku menunggu.
"Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan sangat
saksama. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu;
menurutmu, kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak."
"Tidak."
“Aku menyesal mendengarnya. Aku berharap kau bisa
lebih kreatif lagi dari itu. Menurutmu, apakah kau bisa
melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung
pada hal itu? Jawab ya atau tidak."
Entah bagaimana, harus ada cara. Aku ingat kami akan
pergi ke bandara. Sky Harbor International Airport: penuh
sesak, sangat memusingkan...
“Ya."
“Itu lebih baik. Aku yakin takkan mudah, tapi
seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau
bersama seseorang, well, itu akan sangat buruk bagi ibumu.”
Suara ramah itu mengancam. “Saat ini kau pasti sudah
mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari
betapa aku bisa tahu jika kau mencoba mengajak seseorang
bersamamu. Dan betapa singkatnya waktu yang
kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan.
Kau mengerti? Jawab ya atau tidak."
"Ya." Suaraku parau.
"Bagus sekali. Bella. Sekarang inilah yang harus
kaulakukan Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. Di
sebelah telepon ada sebuah nomor. Teleponlah, dan aku
akan memberitahumu ke mana kau harus pergi
selanjutnya." Aku sudah tahu ke mana aku akan pergi, dan
di mana ini akan berakhir. Tapi aku akan mengikuti setiap
perintahnya dengan tepat. "Bisakah kau melakukannya?
Jawab ya atau tidak."
"Ya."
"Sebelum siang kumohon. Bella. Waktuku tidak
banyak," katanya sopan.
"Di mana Phil?" aku langsung bertanya.
"Ah, hati-hati. Bella. Kumohon, tunggu sampai aku
menyuruhmu bicara.'
Aku menunggu.
"Ini penting nah, jangan buat teman-temanmu curiga
ketika kau kembali pada mereka. Bilang ibumu menelepon
dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah
untuk sementara waktu. Sekarang ulangi kata-kataku,
'Terima kasih, Mom.' Katakan sekarang."
"Terima kasih, Mom." Air mataku menetes. Aku
mencoba menahannya.
“Katakan, ‘Aku mencintaimu, Mom, sampai ketemu.’
Katakan sekarang."
"Aku mencintaimu, Mom." Suaraku terdengar dalam.
“Sampai ketemu," aku berjanji.
“Selamat tinggal Bella. Aku menanti-nantikan bertemu
denganmu lagi.” Ia menutup telepon.
Aku menempelkan telepon di telingaku. Sendi-sendiku
kaku karena rasa takut yang amat sangat – aku tak dapat
meregang jemariku untuk melepaskan telepon itu.
Aku tahu aku harus berfikir, tapi kepalaku dipenuhi
suara panik ibuku. Detik demi detik berlalu saat aku
berjuang mengendalikan diri.
Perlahan, amat perlahan, pikiranku mulai menembus
dinding sakit. Menyusun rencana. Karena sekarang aku
hanya punya satu pilihan: pergi ke ruang cermin dan mati.
Aku tak memiliki jaminan, tak ada yang bisa kuberikan
agar ibuku tetap hidup. Aku hanya bisa berharap James
akan merasa puas karena memenangkan permainan, bahwa
mengalahkan Edward cukup baginya. Keputusasaan
mencengkeramku; tak ada cara untuk bernegosiasi, tak ada
yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa
memengaruhinya. Tapi aku masih tidak punya pilihan. Aku
harus mencoba.
Aku mengesampingkan ketakutanku sebisa mungkin.
Keputusanku sudah bulat. Tak ada gunanya membuangbuang
waktu meratapi hasil akhirnya. Aku harus berpikir
dengan baik, karena Alice dan Jasper menungguku, dan
menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat
mustahil.
Tiba-tiba aku bersyukur Jasper sedang keluar.
Seandainya ia berada di sini dan merasakan kesedihanku
selama lima menit terakhir ini, bagaimana aku bisa
mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan
ketakutan dan kekhawatiranku, mencoba
mengenyahkannya. Aku tidak boleh takut sekarang. Aku
tak tahu kapan Jasper akan kembali.
Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. Aku
harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal
membantuku. Entah bagaimana, aku harus bisa
menjauhkan Alice...
Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku,
pena saran. Tapi aku harus membereskan satu hal lagi
sendirian sebelum Jasper kembali.
Aku harus menerima kenyataan bahwa aku takkan
bertemu Edward lagi, takkan ada pertemuan terakhir
sebelum aku ke ruangan cermin. Aku akan menyakitinya,
dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. Kubiarkan
gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. Kemudian
aku mengesampingkannya juga, dan pergi menemui Alice.
Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah
muram. Aku melihatnya waswas, dan aku tidak
menunggunya bertanya. Aku hanya punya satu skenario
dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi.
"Ibuku khawatir, dia ingin pulang. Tapi tenang saja, aku
berhasil meyakinkannya untuk tetap di sana." Suaraku
lemas.
"Kami akan memastikan dia baik-baik saja. Bella, jangan
khawatir."
Aku berpaling; aku tak bisa membiarkannya melihat
wajahku.
Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di
meja. Perlahan-lahan aku menghampirinya, sebuah rencana
mulai tersusun di benakku. Di sana juga ada amplop.
Bagus.
"Alice," kataku pelan, tanpa berbalik, menjaga suaraku
tetap tenang. "Kalau aku menulis surat untuk ibuku,
maukah kau memberikannya padanya? Maksudku,
meninggalkan suratnya di rumahnya?"
"Tentu saja. Bella." Suaranya terdengar hati-hati. Ia bisa
melihat kegelisahanku. Aku harus lebih bisa menguasai
emosiku.
Aku masuk lagi ke kamar, dan berlutut di sebelah meja
kecil di sisi tempat tidur untuk menulis surat.
"Edward," tulisku. Tanganku gemetaran, tulisanku nyaris
tak terbaca.
Aku mencintaimu. Aku sangat menyesal. Ia menyandera
ibuku, dan aku harus berusaha. Aku tahu ini mungkin tak
berhasil. Ku teramat menyesal.
Jangan marah pada Alice dan Jasper. Kalau aku bisa
kabur dari pengawasan mereka, itu namanya mukjizat.
Sampaikan rasa terima kasihku pada mereka. Terutama
pada Alice, kumohon.
Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya.
Kurasa, itulah yang ia inginkan. Aku takkan tahan bila ada
yang harus menderita karena aku, apalagi kau. Kumohon,
hanya ini yang bisa kuminta darimu saat ini. Demi aku.
Aku mencintaimu. Maafkan aku.
Bella.
Kulipat surat itu dengan'hati-hati, dan memasukkannya
ke amplop. Akhirnya Edward toh akan menemukannya
juga. Aku hanya berharap ia mengerti, dan mau
mendengarku sekali ini saja.
Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku.
22. PETAK UMPET
BUTUH waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga—
semua ketakutan, keputusasaan, kehancuran hatiku. Detik
demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Jasper
belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice.
Aku takut berada satu ruangan dengannya, takut ia akan
menebaknya... tapi juga takut bersembunyi darinya untuk
alasan yang sama.
Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup
terkejut, pikiranku begitu tersiksa dan labil, tapi aku toh
terkejut juga saat melihat Alice membungkuk di meja,
mencengkeram tepi-nya dengan kedua tangan.
“Alice?”
Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya, tapi
kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi lain, dan
aku melihat wajahnya. Tatapannya hampa, terpana...
Pikiranku melayang pada ibuku. Apakah aku sudah
terlambat?
Aku bergegas ke sisinya, otomatis menyentuh tangannya.
“Alice!” seru Jasper, muncul tepat di belakang Alice,
kedua tangannya memeluk tangan Alice, melepaskan
cengkeramannya dari meja. Di seberang ruangan, pintu
menutup dengan bunyi klik pelan.
“Ada apa?” desak Jasper
Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya
dada Jasper. “Bella,” katanya.
“Aku di sini,” balasku.
Kepalanya menoleh, matanya terpaku padaku,
ekspresinya masih hampa, aneh. Aku langsung tersadar ia
tidak berbicara padaku, ia menjawab pertanyaan Jasper.
“Apa yang kaulihat?’ kataku—suaraku yang datar dan
tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan.
Jasper menatapku tajam. Aku menjaga ekspresiku tetap
hampa dan menunggu. Mata Jasper bingung saat dengan
cepat bergantian menatap wajahku dan Alice, merasakan
kepanikan... karena sekarang aku bisa menebak apa yang
dilihat Alice.
Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Aku
menyambutnya, menggunakannya untuk mengendalikan
emosiku.
Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya.
“Tidak ada apa-apa, sungguh,” akhirnya ia menjawab,
suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. “Hanya
ruangan yang sama seperti sebelumnya.”
Alice akhirnya memandangku, ekspresinya lembut dan
tenang- “Kau mau sarapan?”
“Tidak, aku makan di bandara saja.” Aku juga terdengar
sangat tenang. Aku pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Hampir seolah meminjam indra
istimewa Jasper, aku bisa merasakan keinginan Alice –
meskipun tersembunyi dengan baik – agar aku
meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper.
Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka
melakukan sesuatu yang keliru, bahwa mereka bakal
gagal...
Aku bersiap-siap seperti robot, berkonsentrasi pada setiap
hal kecil. Rambutku dibiarkan tergerai, berayun menutupi
wajah. Suasana damai yang diciptakan Jasper
memengaruhi dan membantuku berpikir jernih.
Membantuku menyusun rencana. Aku merogoh-rogoh
tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang.
Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku.
Ingin sekali rasanya segera tiba di bandara, dan aku
merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. Kali ini aku
duduk sendirian di belakang. Alice menyandarkan tubuh di
pintu, wajahnya menghadap Jasper, tapi dari balik
kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik.
“Alice?” tanyaku cuek. Ia menjawab hati-hati, “Ya?”
“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?”
Aku menatap ke luar jendela, suaraku terdengar bosan.
“Kata Edward yang kaulihat tidak berarti final... bahwa halhal
berubah?” Menyebut namanya lebih sulit dari yang
kukira. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan
mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang
kami tumpangi.
“Ya, hal-hal bisa berubah...” gumam Alice—mudahmudahan,
pikirku. “Beberapa hal lebih pasti dari yang
lain... seperti cuaca. Manusia lebih sulit. Aku hanya melihat
hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang
melakukannya. Begitu mereka berubah pikiran—membuat
keputusan baru, tak peduli betapa kecil—seluruh masa
depan pun berubah.”
Aku mengangguk penuh perhatian. “Jadi kau tak bisa
melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang
ke sini.”
“Ya,” ia menimpali, kembali waspada.
Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama
James aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana.
Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin
dilihatnya. Aku tak ingin kepanikanku membuat Jasper
semakin curiga. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi
sekarang, terutama setelah penglihatan Alice. Rencanaku
nyaris tak mungkin terlaksana.
Kami tiba di bandara. Keberuntungan berpihak padaku,
atau barangkali kebetulan saja. Pesawat Edward mendarat
di terminal empat, terminal paling besar tempat
mendaratnya semua penerbangan—jadi fakta itu bukan
sesuatu yang aneh. Tapi toh itulah terminal yang
kubutuhkan: yang terbesar, yang paling memusingkan. Dan
ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya
kesempatan.
Kami parkir di lantai empat, di garasi berukuran raksasa.
Aku menunjukkan jalan, berhubung pengetahuanku tentang
bandara ini lebih baik daripada mereka. Kami
menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para
penumpang turun. Lama sekali Alice dan Jasper
memandangi papan jadwal penerbangan. Aku bisa
mendengar mereka mendiskusikan pro dan konrra tentang
New York, Atlanta, Chicago. Tempat-tempat yang tak
pernah kulihat. Dan takkan pernah kulihat.
Aku menunggu kesempatan, tidak sabar, tak mampu
menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. Kami duduk di
barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam, Jasper dan
Alice pura-pura memerhatikan orang-orang yang lalulalang,
tapi sebenarnya mereka mengawasiku. Lirikan cepat
mereka mengikuti setiap gerakanku. Benar-benar tak ada
harapa. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani
menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku
di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti?
Aku mengeluarkan surat tak beralamat itu dari sakuku
dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Ia
menatapku
“Suratku,” kataku. Ia mengangguk, menyelipkannya di
balik penutup bagian atas. Edward akan segera
menemukannya.
Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edward
semakin dekat. Betapa menakjubkan, setiap sel tubuhku
sepertinya mengetahui kedatangannya, menginginkan
kedatangannya. Itu membuatnya sangat sulit. Aku
mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal,
untuk melihatnya dulu, baru melarikan diri. Tapi aku tahu
akan mustahil kabur jika Edward sudah di sini.
Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli
sarapan. Aku memberitahunya belum ingin sarapan.
Aku memandang papan jadwal kedatangan,
memerhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba
tepat waktu. Penerbangan dari Seattle merangkak
mendekati baris teratas.
Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk
melarikan diri, angka-angka itu berubah. Pesawatnya tiba
sepuluh menit lebih cepat. Aku tak punya waktu lagi.
“Kurasa aku mau makan sekarang” kataku buru-buru.
Alice berdiri. “Aku ikut bersamamu.”
“Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?”
tanyaku. “Aku merasa sedikit...” Aku tidak menyelesaikan
kalimatku. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan
apa yang tidak kukatakan.
Jasper bangkit berdiri. Mata Alice tampak bingung tapi
yang membuatku lega—ia tidak curiga. Ia pasti
menganggap perubahan dalam penglihatannya sebagai hasil
rencana si pemburu, bukannya pengkhianatanku.
Jasper berjalan tanpa suara di sisiku, tangannya di
punggungku, seolah membimbingku. Aku berpura-pura
tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami
lihat, pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya
kuinginkan. Dan di sanalah, di belokan, di luar jangkauan
mata Alice yang tajam: toilet wanita lantai tiga.
“Kau keberatan?” tanyaku pada Jasper saat kami
melintasinya. “Aku tidak bakal lama.”
Begitu pintu menutup di belakang aku lari. Aku ingat
saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua.
Pintu yang lain tak jauh dari lift. Aku hanya perlu lari
sebentar, dan kalau Jasper tetap menunggu di tempat, ia
takkan bisa melihatku. Aku tidak menoleh ke belakang saat
berlari. Ini satu-satunya kesempatanku, bahkan kalaupun
Jasper melihat, aku harus terus berlari. Orang-Orang
menatapku, tapi aku mengabaikannya. Di belokan lift
sudah menanti, dan aku berlari, mengulurkan tangan di
antara pintunya yang hampir menutup. Lift itu penuh sesak
oleh orang-orang yang akan turun. Aku menyelinap di
antara para pengguna lift yang kesal, dan memastikan
tombol lantai satu telah ditekan. Sudah menyala, dan pintu
lift pun menutup.
Begitu pintunya membuka, aku lari lagi meninggalkan
gerutuan jengkel di belakangku. Aku memperlambat lariku
saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper, dan
lari lagi begitu mendekati pintu keluar. Aku tidak tahu
apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. Aku
hanya punya bertapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku.
Aku melompat keluar dari pintu otomatis, nyaris menabrak
kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan.
Tak ada taksi satu pun.
Aku tak punya waktu. Alice dan Jasper entah hampir
menyadari aku menghilang, atau malah sudah. Mereka
akan menemukanku dalam sekejap.
Pintu shuttle menuju Hyart sedang menutup, jaraknya
beberapa meter di belakangku.
“Tunggu!” aku berseru, melambai-lambai ke arah
pengemudinya.
“Ini shuttle ke Hyart,” si pengemudi berseru bingung saat
membukakan pintu.
“Ya,” napasku tersengal-sengal, “itu tujuanku.” Aku
bergegas menaiki undakannya.
Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan, tapi
kemudian mengangkat bahu, tak mau repot-repot bertanya.
Kebanyakan kursinya kosong. Aku duduk sejauh
mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar
jendela saat mula-mula jalan setapak, kemudian
bandaranya, melesat dari pandangan. Aku tak bisa
menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan
saat menemukan ujung jejakku. Aku belum boleh
menangis, aku mengingatkan diri. Jalan yang harus kulalui
masih panjang.
Keberuntungan masih bersamaku. Di depan Hyatt,
pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper
terakhir dari bagasi taksi. Aku melompat dari shuttle dan
berlari ke taksi, menyelinap ke jok di belakang pengemudi.
Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku.
Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku.
“Aku harus tiba di sana secepat mungkin.”
“Itu di Scottsdale,” protesnya.
Aku melempar empat dua puluh dolaran ke kursi di
sebelahnya.
‘Apakah itu cukup?”
“Tentu, Nak, tidak masalah.”
Aku bersandar lagi di jok, melipat tangan di pangkuan,
Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku, tapi aku
tidak memandang ke luar jendela. Aku memaksa diriku
tetap penuh kendali. Kuputuskan untuk tidak menyerah,
mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. Tak ada
gunanya larut dalam ketakutan, juga kekhawatiran.
Takdirku telah ditentukan Sekarang aku hanya tinggal
mengikutinya.
Jadi. Sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan
menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama
Edward.
Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk
bertemu Edward. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit
untuk melihat wajahnya lebih dulu. Betapa luwes dan
anggun gerakannya di antara keramaian orang yang
memisahkan kami. Kemudian aku lari mendekat—kikuk
seperti biasa—dan aku pun berada dalam pelukan tangan
pualamnya, akhirnya aman.
Aku bertanya-tanya ke mana kami akan pergi. Ke suatu
tempat di utara, agar ia bisa keluar di siang hari. Atau
mungkin di tempat yang sangat terpencil, supaya kami bisa
berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. Aku
membayangkannya di pantai, kulitnya berkilauan bagai air
laut. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi.
Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi
surga dunia bagiku. Aku masih menyimpan banyak sekali
pertanyaan untuknya. Aku bisa mengobrol dengannya
selamanya, tak pernah tidur, tak pernah meninggalkan
sisinya.
Bisa kulihat wajahnya dengan sangat jelas
sekarang...bahkan mendengar suaranya. Dan terlepas dari
semua ketakutan dan keputusasaanku, aku merasa bahagia.
Aku begitu larut dalam lamunan, sehingga tak menyadari
betapa cepat waktu berlalu.
“Hei, berapa nomornya?’
Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku, dan
bayangan indahku pun lenyap. Rasa ngeri yang dingin dan
tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang
ditinggalkannya.
“Lima-delapan-dua-satu.” Suaraku tercekat. Sopir taksi
menatapku, khawatir aku sakit atau apa.
“Kalau begitu, kita sudah sampai.” Ia ingin sekali
mengeluarkanku dari mobilnya, barangkali berharap aku
takkan meminta kembalian.
“Terima kasih,” bisikku. Tak ada alasan untuk takut, aku
mengingatkan diriku sendiri. Rumahnya kosong. Aku harus
bergegas; ibuku menantiku, ketakutan, mengandalkan aku.
Aku lari ke pintu, mengulurkan tangan ke atasnya dan
mengambil kunci. Kubuka pintunya. Di dalam gelap,
kosong, normal. Aku berlari menghampiri telepon seraya
menyalakan lampu dapur. Di sana, di whiteboard, tampak
sepuluh digit angka yang rapi. Jemariku gemetaran
menekan nomor itu, beberapa kali keliru. Aku harus
menutup dan memulai lagi. Kali ini aku hanya
berkonsentrasi pada tombol-tombolnya, dengan saksama
menekannya satu per satu. Berhasil. Aku mendekatkan
gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Hanya
berdering satu kali.
“Halo, Bella,” suara tenang itu menyambut di ujung
telepon. “Ini sangat cepat. Aku terkesan.”
“Apakah ibuku baik-baik saja?”
“Dia sangat baik-baik. Jangan khawatir, Bella, aku sama
sekali tak punya masalah dengannya. Kecuali kau tidak
datang sendirian, tentunya.” Ringan, senang.
“Aku sendirian.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur
hidupku.
“Bagus sekali. Sekarang, kau tahu studio balet di belokan
dekat rumahmu?”
“Ya, aku tahu jalan ke sana.”
“Well kalau begitu, kita akan bertemu sebentar lagi”
Aku menutup telepon.
Aku lari meninggalkan ruangan, melewati pintu muka,
menuju panas yang menyengat.
Tak ada waktu untuk menoleh dan memandang
rumahku, dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini—
kosong, simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung.
Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat
kukenal itu adalah musuhku.
Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di
bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa
bermain ketika masih kanak-kanak. Atau berlutut di
gundukan tanah di sekitar kotak pos, makam segala macam
bunga yang coba ditanam Mom. Ingatan-ingatan itu lebih
baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari
ini. Tapi aku menjauh dari semua itu, menuju belokan,
meninggalkan semua di belakangku.
Aku merasa sangat lamban, seperti berlari di pasir
basah— seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk
menyusuri jalanan ini. Beberapa kali aku terpeleset, sekali
jatuh, menahan tubuhku dengan tangan, lalu tertatih-tatih
bergerak maju. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan.
Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. Aku berlari, peluh
menetes-netes di wajahku, napasku terengah-engah. Sinar
matahari terasa panas di kulitku. Kelewat terang saat
memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Aku
merasa terekspos habis-habisan. Lebih mengerikan daripada
yang pernah kubayangkan, aku kini mengharapkan hutanhutan
hijau Forks yang protektif rumahku.
Ketika berbelok di sudut terakhir, menuju Jalan Cactus
aku bisa melihat studio itu, seperti yang selama ini kuingat
Lapangan parkir di depannya kosong, semua kerai jendela
tertutup. Aku tak bisa lari lagi—aku tak sanggup bernapas,
kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Aku memikirkan
ibuku agar bisa terus bergerak, langkah demi langkah.
Ketika semakin dekat, aku bisa melihat tanda di balik
pintu. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala, tulisan itu
berbunyi “studio tari ditutup selama libur musim semi”.
Kusentuh gagang pintunya, menariknya membuka
perlahan. Tidak dikunci. Aku berusaha mengatur napas,
dan membuka pintu.
Lobi gelap dan kosong sejuk, terdengar deru suara
pendingin ruangan. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang
dinding karpetnya beraroma sampo. Lantai dansa sebelah
barat gelap, aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka.
Lampu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih
besar menyala, tapi kerai jendelanya tertutup.
Ketakutan mencengkeramku begitu kuat hingga seperti
menjeratku. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah.
Kemudian suara ibuku memanggil.
“Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. Aku berlari ke
pintu, menuju sumber suara.
“Bella, kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu
lagi?” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki
ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu.
Aku memandang sekelilingku, berusaha menemukan dan
mana datangnya suara Mom. Aku mendengarnya tertawa,
dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu.
Di sanalah dia, di layar televisi, mengacak-acak
rambutku merasa lega. Rekaman itu diambil saat
Thanksgiving, waktu usiaku dua belas. Kami pergi
mengunjungi nenekku di California, itu tahun terakhir
sebelum ia meninggal. Suatu hari kami ke pantai, dan aku
menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Ia
melihatku nyaris jatuh, berusaha menggapai keseimbangan.
“Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan.
Kemudian layar televisi berubah jadi biru.
Perlahan-lahan aku berbalik. James berdiri mematung di
ambang pintu belakang, begitu kaku hingga awalnya aku
tak mengenalinya. Ia memegang remote control. Lama
kami bertatapan, kemudian ia tersenyum.
Ia berjalan menghampiriku, lumayan dekat, lalu
melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. Aku
hati-hati berbalik, memerhatikannya.
“Maafkan hal tadi, Bella, tapi tidakkah lebih baik kalau
ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suaranya sopan,
ramah.
Dan tiba-tiba aku tersadar. Ibuku aman. Ia masih di
Florida. Ia tak pernah menerima pesanku. Ia tak pernah
dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat
pucat di depanku ini. Ibuku aman.
“Ya,” aku menjawab, suaraku lega.
“Kau tak terdengar marah meskipun aku telah
mengelabuimu.”
“Memang tidak.” Suaraku yang tiba-tiba meninggi
memicu keberanianku. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi
segalanya bakal berakhir. Charlie dan Mom takkan pernah
terluka, tak perlu merasa takut. Aku nyaris pusing. Bagian
analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris
meledak akibat tekanan yang kurasakan.
“Betapa aneh. Kau benar-benar tulus dengan
perkataanmu” Matanya yang gelap menilaiku dengan
sangat tertarik. Iris nyaris hitam, hanya ada sedikit nuansa
kemerahan di sekelilingnya. Haus. “Kalian manusia bisa
lumayan menarik. Kurasa aku bisa membayangkan
gambaranmu. Mengagumkan – sebagian kalian sepertinya
sama sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri.”
Ia berdiri beberapa meter dariku, tangan dilipat,
menatapku dengan sorot penasaran. Tak ada kebengisan
pada wajah atau sikap tubuhnya. Tampangnya sangat biasa,
sama sekali tak ada yang istimewa pada wajah maupun
tubuhnya. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong
yang sudah biasa bagiku. Ia mengenakan kaus lengan
panjang biru pucat dan jins belel.
“Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu
akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya, dan
bagiku ia seperti berharap-harap.
“Tidak, kurasa tidak. Setidaknya, aku memintanya untuk
tidak melakukannya.”
“Apa katanya?”
“Aku tidak tahu.” Rasanya aneh sekali bisa
berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. “Aku
meninggalkan surat untuknya.”
“Betapa romantis, surat terakhir. Dan menurutmu dia
akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang
sekarang nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan.
“Kuharap begitu.”
“Hmmm. Well, kalau begiru harapan kita berbeda. Kau
tahu, semua ini sedikit terlalu mudah, kelewat cepat.
Sejujurnya, aku kecewa. Aku mengharapkan tantangan
yang lebih besar. Lagi pula, aku hanya memerlukan sedikit
keberuntungan.”
Aku menunggu dalam diam.
“Ketika Victoria tak dapat menyentuh ayahmu, aku
menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Tak
ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal
aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan.
Jadi, setelah berbicara dengan Victoria, kuputuskan untuk
pergi ke Phoenix mengunjungi ibumu. Kudengar kau ingin
pulang. Awalnya, aku tak pernah mengira kau bersungguhsungguh.
Kemudian aku bertanya-tanya. Manusia bisa
sangat mudah ditebak; mereka suka berada di tempat
familier, tempat aman. Dan bukankah ini rencana yang
sempurna, pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi
tempat persembunyianmu—tempat yang katamu akan
kaudatangi.
“Tapi tentu saja aku tidak yakin, itu hanya dugaan. Aku
biasanya punya insting mengenai mangsa yang kuburu, kau
boleh menyebutnya indra keenam. Aku mendengarkan
pesanmu setibanya di rumah ibumu, tapi tentu saja aku tak
yakin dari mana kau menelepon. Memiliki nomormu tentu
sangat berguna, tapi kau bisa saja berada di Antartika, dan
permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat
sini.
“Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix.
Victoria mengawasi mereka untukku, tentu saja. Dalam
sebuah permainan dengan banyak pemain, aku tak bisa
bekerja sendirian, Jadi mereka memberitahu apa yang
kuharapkan, bahwa kau ada di sini. Aku sudah siap; aku
telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik.
Kemudian tinggal sedikit gertakan saja.”
“Sangat mudah, kau tahu, tidak terlalu memenuhi
standarku. Jadi. Begini, kuharap kau salah mengena,
kekasihmu. Edward. Bukan?”
Aku tak menyahut. Nyaliku benar-benar ciut. Aku punya
firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang
sebenarnya. Dan kemenangannya sama sekali tak ada
hubungannya denganku. Tak ada kepuasan dalam
mengalahkan diriku, manusia lemah ini.
“Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan
pesan untuk Edward-mu?”
Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera
digital seukuran telapak tangan, dengan hati-hati
meletakkannya di atas stereo. Nyala lampu merah kecil
menandakan alat itu sudah mulai merekam. Ia
mengaturnya beberapa kali, melebarkan lensanya. Aku
menatapnya ngeri.
“Maafkan aku, tapi aku hanya berpikir dia takkan
mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah
menyaksikan ini. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa
pun. Tentu saja, ini semua untuknya. Kau hanya manusia,
yang sayang sekali berada di tempat yang salah, pada waktu
yang salah, dan tak diragukan lagi, boleh kutambahkan,
berada bersama kelompok yang salah.”
Ia menghampiriku, tersenyum. “Sebelum kita mulai...”
Perutku mual ketika ia berbicara. Sesuatu yang tidak
kuperkirakan.
“Aku senang memanas-manasi sedikit. Sebenarnya
jawabannya sudah ada di sana selama ini, dan aku begitu
takut Edward akan mengetahuinya dan merusak
kesenanganku. Hal seperti itu pernah terjadi, oh, sudah
lama sekali. Satu-satunya mangsaku yang berhasil kabur
dariku.
“Kau tahu, vampir yang begitu tololnya untuk jatuh
cinta pada korban kecilnya ini mengambil keputusan yang
tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu.
Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya,
dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya
bekerja—aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki
beberapa vampir terhadap kalian manusia—dan begitu
vampir tua itu membebaskannya, dia membuat gadis itu
aman. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan
sakitnya, makhluk kecil malang. Dia telah terperangkap di
lubang hitam itu terlalu lama. Ratusan tahun sebelumnya
dia bisa saja dibakar karena penglihatannya. Pada tahun
1920-an, hukumannya adalah rumah sakit jiwa dan terapi
syok. Ketika gadis itu membuka mata, kemudaannya yang
baru membuatnya kuat, seolah-olah dia belum pernah
melihat matahari. Si vampir tua menjadikannya vampir
baru yang kuat, dan tak ada alasan lagi bagiku untuk
menyentuhnya.” Ia mendesah. “Sebagai balas dendam, aku
menghancurkan si vampir tua.”
“Alice,” desahku, terkejut.
“Ya, teman kecilmu. Aku terkejut melihatnya di
lapangan itu. Jadi kurasa pengalaman ini tidak buruk-buruk
amat bagi kelompoknya. Aku mendapatkanmu, tapi mereka
mendapatkannya. Satu-satunya korban yang berhasil kabur
dariku. Suatu kehormatan, sebenarnya.
“Dan aromanya memang sangat lezat, aku masih
menyesal tak sempat mencicipinya... Aromanya bahkan
lebih lezat daripada kau. Maaf – aku tak bermaksud
menyinggungmu. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan.
Bunga-bungaan, bagaimanapun...”
Ia maju selangkah lagi, sampai jaraknya tinggal beberapa
senti. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan
mengendusnya dengan lembut. Lalu perlahan-lahan ia
mengembalikannya lagi di tempat semula, dan aku
merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Ia
mengangkat tangannya dan mengelu pipiku sekilas dengan
ibu jarinya, wajahnya penasaran Aku ingin sekali
menjauhkan diri darinya, tapi tubuhku membeku Aku
bahkan tak bisa beringsut.
“Tidak,” gumamnya pada diri sendiri, lalu menjatuhkan
tangannya, “aku tak mengerti.” Ia mendesah. “Well, kurasa
kita selesaikan saja sekarang. Kemudian aku bisa
menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di
mana bisa menemukanmu, dan pesan kecilku.”
Aku benar-benar mual sekarang. Ada rasa sakit yang
mendekat, dan aku bisa melihat di matanya. Ia tidak akan
puas hanya dengan menang memangsaku, lalu pergi.
Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. Lututku
gemetaran, dan aku khawatir bakal jatuh.
Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku, dengan
wajar, seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik
dari patung di museum. Wajahnya masih ramah dan
terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai.
Kemudian ia mencondongkan tubuh, dan senyumnya
yang menawan perlahan melebar, semakin lebar, hingga
tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan
gigi, terpapar jelas dan berkilauan.
Aku tak dapat menahan diri—aku mencoba lari. Sama
sia-sianya seperti yang kuperkirakan, selemah lututku saat
itu. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu
darurat.
Dalam sekejap ia sudah di depanku. Aku tidak melihat
apakah ia menggunakan tangan atau kakinya, terlalu cepat.
Entakan keras menghantam dadaku—tubuhku melayang ke
belakang dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku
menghantam cermin. Kacanya hancur berantakan,
serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di
sampingku.
Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. Aku
tak bisa bernapas, perlahan-lahan ia menghampiriku.
“Itu efek yang sangat menyenangkan,” katanya,
mengamati kaca-kaca yang berserakan, suaranya kembali
ramah. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film
sederhanaku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk
berjumpa denganmu. Sempurna, ya kan?”
Aku mengabaikannya, dengan tangan dan lutut aku
merangkak ke pintu lain.
Ia langsung menghadangku, kakinya menginjak kakiku.
Aku mendengar suara keretak itu sebelum merasakannya.
Tapi kemudian aku merasakannya, dan aku tak dapat
menahan jerit kesakitanku. Aku berbalik untuk meraih
kakiku, dan ia berdiri menjulang di atasku, tersenyum.
“Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan
terakhirmu?” tanyanya ramah. Ibu jari kakinya menekan
kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan
kesakitan. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu.
“Tidakkah kau lebih ingin Edward berusaha
mencariku?” ujarnya.
“Tidak!” seruku parau. “Tidak, jangan Edward –“ Lalu
sesuatu menghantam wajahku, melemparkanku kembali ke
cermin yang sudah pecah.
Selain sakit di kakiku, aku merasakan robekan tajam di
kulit kepalaku, di tempat pecahan kaca itu menusukku.
Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku.
Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku,
mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku.
Aromanya membuatku mual.
Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu
yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir.
Matanya, yang sebelumnya penuh tekad, kini membara
dengan hasrat tak terkendali. Darah yang mengalir –
meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku, dengan
cepat menggenang di lantai – membuatnya sinting karena
dahaga. Terlepas dari tujuan awalnya, ia tak dapat
menahan diri lebih lama.
Biarlah segera berlalu sekarang hanya itu yang bisa
kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku mulai
membuatku tak sadarkan diri. Mataku memejam.
Aku mendengar, seolah dari kedalaman air, raungan
terakhir si pemburu. Aku bisa melihat, lewat lorong panjang
yang terbentuk di mataku, sosok gelapnya menghampiriku.
Dengan kekuatan terakhir, tanganku terangkat menutup
wajah. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri.
23. MALAIKAT
SAAT tak sadarkan diri, aku bermimpi.
Aku melayang-layang di bawah permukaan air yang
gelap, dan mendengar suara paling menyenangkan yang
bisa ditangkap pikiranku—suara yang indah,
membahagiakan, sekaligus mengerikan. Suara geraman
lain; lebih dalam, lebih ganas, dan sarat amarah.
Aku diseret naik, nyaris mencapai permukaan, oleh rasa
sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur,
namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata.
Kemudian aku tahu aku sudah mati.
Karena, dari kedalaman air, aku mendengar suara
malaikat memanggil namaku, memanggilku ke satu-satunya
surga yang kuinginkan.
“Oh, tidak, Bella, tidak!” malaikat itu berseru putus asa.
Di belakang ratapan itu ada suara lain—keributan
mengerikan yang berusaha kuhindarkan. Raungan penuh
ancaman, gelegar amarah yang mengerikan, dan lengkingan
kesakitan, sekonyong-konyong pecah...
Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si
malaikat.
“Bella, kumohon! Bella, dengar, kumohon, kumohon,
Bella, kumohon!” ia memohon.
Aku ingin mengatakan ya. Apa saja. Tapi aku tak bisa
mengucapkannya.
“Carlisle!” si malaikat berseru, kesedihan mendalam
memenuhi suaranya yang sempurna. “Bella, Bella, tidak, oh
kumohon, tidak, tidak!” Dan si malaikat pun menangis
tersedu-sedu.
Malaikat tak seharusnya menangis, itu tidak benar. Aku
mencoba menemukannya, memberitahunya semua baikbaik
saja, tapi airnya sangat dalam hingga menekanku, dan
aku tak bisa bernapas.
Kepalaku seperti ditekan. Rasanya sakit. Kemudian, saat
rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku, aku
merasakan sakit yang lain, lebih kuat. Aku menjerit,
tersengal-sengal keluar dari kolam yang gelap.
“Bella!” si malaikat berseru.
“Dia kehilangan banyak darah, tapi luka di kepalanya
tidak terlalu dalam,” suara tenang itu memberitahuku.
“Hati-hati kakinya patah.”
Geram kemarahan nyata di bibir si malaikat.
Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. Ini tidak
mungkin surga, ya kan? Terlalu banyak rasa sakit.
“Kurasa beberapa rusuknya juga patah,” pemilik suara
merdu itu melanjutkan kata-katanya.
Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. Ada rasa
sakit baru, rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan
semua rasa sakit yang kurasakan.
Seseorang membakarku.
“Edward.” Aku mencoba memberitahunya, tapi suaraku
sangat pelan dan berat. Aku tak bisa memahami diriku
sendiri.
“Bella, kau akan baik-baik saja. Kau bisa mendengarku,
Bella? Aku mencintaimu.”
“Edward,” aku mencoba lagi. Suaraku sedikit lebih jelas.
“Ya, aku di sini.”
“Sakit,” rengekku.
“Aku tahu, Bella, aku tahu”—kemudian, menjauh
dariku, terdengar amat sangat ketakutan—“tak bisakah kau
melakukan sesuatu?”
“Tolong ambilkan tasku... Tenangkan dirimu, Alice, itu
akan membantu,” Carlisle berjanji.
“Alice?” erangku.
“Dia di sini, dia tahu di mana menemukanmu.”
“Tanganku sakit,” aku mencoba memberitahunya.
“Aku tahu, Bella. Carlisle akan memberimu sesuatu, rasa
sakitnya akan berhenti.”
“Tanganku terbakar!” aku berteriak, akhirnya terbebas
dari kegelapan, mataku perlahan-lahan membuka. Aku tak
dapat melihat wajah Edward, sesuatu yang gelap dan
hangat membayangi mataku. Kenapa mereka tak bisa
melihat apinya dan memadamkannya?
Suaranya terdengar ngeri. “Bella?”
“Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa
panas itu membakarku. “Carlisle! Tangannya!”
“Dia menggigitnya.” Suara Carlisle tak lagi tenang
melainkan terkejut.
Aku mendengar Edward menghela napas ngeri.
“Edward, kau harus melakukannya.” Itu suara Alice, di
dekat kepalaku, jari-jari dingin mengusap kelembaban di
kedua mataku.
“Tidak!” ia berteriak.
“Alice,” aku mengerang.
“Mungkin ada kesempatan,” kata Carlisle.
“Apa?” Edward memohon.
“Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar.
Lukanya cukup bersih.” Saat Carlisle bicara, aku bisa
merasakan kepalaku semakin tertekan, ada yang berdenyutdenyut
di kulit kepalaku. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit
yang ditimbulkan api itu.
“Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang.
“Aku tidak tahu,” sahut Carlisle. “Tapi kita harus
bergegas.”
“Carlisle, aku...” Edward ragu. “Aku tak tahu apakah
aku bisa melakukannya.” Ada kepedihan dalam suara
indahnya lagi.
“Itu keputusanmu, Edward, apa pun itu. Aku tak bisa
menolongmu. Aku harus menghentikan perdarahannya,
kalau kau akan mengisap darah dari tangannya.”
Aku menggeliat dalam cengkeraman rasa sakit yang
kuat, membuat rasa sakit di kakiku muncul kembali.
“Edward!” jeritku. Aku tahu mataku kembali terpejam.
Aku membukanya, begitu putus asa ingin menemukan
wajahnya. Dan aku melihatnya. Akhirnya, aku melihat
wajahnya yang sempurna memandangku, pergulatan antara
kebimbangan dan kepedihan tampak nyata di sana.
“Alice, cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle
membungkuk di depanku, membereskan luka di kepalaku.
“Edward, kau harus melakukannya sekarang atau akan
terlambat.”
Wajah Edward tampak lelah. Aku memerhatikan
matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi
tekad yang membara. Rahangnya mengeras. Aku
merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang
terbakar, menahannya. Kemudian kepalanya menunduk ke
atasnya, bibirnya yang dingin menekan kulitku.
Awalnya rasa sakit itu semakin parah. Aku menjerit dan
meronta dari cengkeraman sejuk yang menahanku. Aku
mendengar suara Alice, berusaha menenangkan diri.
Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai, dan Carlisle
menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai
batu.
Kemudian, perlahan, saat tanganku mati rasa, aku pun
tenang. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang
hingga tak lagi terasa.
Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. Aku
takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap, takut akan
kehilangan dirinya di kegelapan.
“Edward,” aku mencoba bicara, tapi tak dapat
mendengar suaraku. Namun mereka bisa.
“Dia di sini, Bella.”
“Tinggallah, Edward, tinggallah bersamaku...”
“Ya, aku akan bersamamu.” Suaranya tegang tapi
terselip nada kemenangan di sana.
Aku mendesah bahagia. Api itu lenyap, rasa sakit yang
lain memudar berganti rasa kantuk yang menyelimuti
diriku.
“Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.
“Darahnya bersih,” kata Edward pelan. “Aku bisa
merasakan obat penghilang sakitnya.”
“Bella?” Carlisle mencoba memanggilku.
Aku berusaha menjawabnya. “Mmmm?”
“Apakah apinya sudah hilang?”
“Ya.” Desahku. “Terima kasih, Edward.”
“Aku mencintaimu,” jawabnya.
“Aku tahu,” aku menghela napas, rasanya sangat lelah.
Aku mendengar suara favoritku di dunia ini: tawa pelan
Edward. Letih karena perasaan lega.
“Bella?” Carlisle bertanya lagi.
Dahiku berkerut; aku ingin tidur. “Apa?”
“Di mana ibumu?”
“Di Florida,” aku mendesah. “Dia mengelabuiku,
Edward. Dia menonton video rekaman kami.” Kemarahan
dalam suaraku terdengar lemah.
Tapi itu membuatku teringat.
‘Alice.” Aku mencoba membuka mata. “Alice,
videonya—dia tahu tentang kau, Alice, dia tahu dari mana
asalmu.” Aku bermaksud mengatakannya saat ini juga, tapi
suaraku lemah. “Aku mencium bau bensin,” aku
menambahkan, tersadar dari kabut yang menggayuti
pikiranku.
“Sudah saatnya memindahkannya,” kata Carlisle.
“Tidak, aku ingin tidur,” aku menolak.
“Kau bisa tidur, Sayang, aku akan menggendongmu,”
Edward menenangkanku.
Dan aku pun berada dalam pelukannya, meringkuk di
dadanya—melayang-layang semua sakitnya hilang.
“Sekarang tidurlah. Bella,” adalah kata-kata terakhir
yang kudengar.
24. JALAN BUNTU
KETIKA terbangun aku melihat cahaya putih terang.
Aku berada di ruang yang asing ruang putih. Dinding di
sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga
bawah; di atas kepalaku, cahaya terang menyilaukan
pandangan. Aku dibaringkan di tempat tidur keras—dengan
besi pengaman. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. Ada
bunyi bip yang mengganggu tak jauh dariku. Aku berharap
itu artinya aku masih hidup. Kematian tak seharusnya tidak
senyaman ini.
Tangan-tanganku dipenuhi slang infus, dan ada sesuatu
direkatkan di wajahku, di bawah hidung. Kuangkat
tanganku untuk melepaskannya.
“Jangan, tidak boleh.” Jari-jari dingin menangkap
tanganku.
“Edward?” Aku menoleh sedikit, dan wajahnya yang
indah hanya beberapa senti dariku, ia meletakkan dagunya
di ujung bantal. Sekali lagi aku menyadari diriku masih
hidup, kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia.
“Oh, Edward, aku benar-benar menyesal!”
“Ssssttt.” Ia menyuruhku diam. “Sekarang semuanya
baik-baik saja.”
“Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat jelas, dan
pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya.
“Aku nyaris terlambat. Aku bisa saja terlambat,” ia
berbisik, suaranya terdengar menyesal.
“Aku bodoh sekali. Edward. Kupikir dia menyandera
ibuku.”
“Dia mengelabui kita semua.”
“Aku harus menelepon Charlie dan ibuku,” samar-samar
aku ingat untuk melakukannya.
“Alice sudah menelepon mereka. Renee ada di sini—
well, di sini, di rumah sakit ini. Dia sedang mencari
makan.”
“Dia di sini?” Aku mencoba duduk, tapi kepalaku
berputar makin menjadi, dan tangannya dengan lembut
menahanku di bantal.
“Sebentar lagi dia kembali,” Edward berjanji. “Dan kau
belum boleh bergerak.”
“Tapi apa yang kaukatakan padanya?” tanyaku panik.
Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Ibuku ada di sini
dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir.
“Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?”
“Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela.” Ia
berhenti. “Harus kauakui, ini mungkin saja terjadi.”
Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. Aku
memandangi tubuhku di balik selimut, kakiku bengkak.
“Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya.
“Kakimu patah, begitu juga empat rusukmu, beberapa
bagian tengkorakmu retak, memar hampir di sekujur tubuh,
dan kau kehilangan banyak darah. Mereka memberimu
transfusi. Aku tidak menyukainya – sesaat aromamu jadi
berbeda.”
“Itu pasti perubahan yang baik untukmu.”
“Tidak, aku menyukai aromamu yang asli.”
“Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. Ia
langsung tahu maksudku.
“Aku tak yakin.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku
yang bertanya-tanya, mengangkat tanganku yang dibalut
perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya,
berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung
dengan salah satu monitor.
Aku menunggu jawabannya dengan sabar.
Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. “Rasanya
mustahil... untuk berhenti,” ia berbisik. “Mustahil. Tapi aku
melakukannya.” Akhirnya ia memandangku, setengah
tersenyum. “Aku harus mencintaimu.”
“Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas
tersenyum. Dan itu membuat wajahku terasa sakit.
“Lebih baik, bahkan—lebih baik daripada yang
kubayangkan.”
“Maafkan aku,” ujarku menyesal.
Ia menatap langit-langit. “Dari semua yang perlu
dimaafkan.”
“Apa lagi yang harus kumintai maaf?”
“Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya
dariku.”
“Maafkan aku,” aku meminta maaf lagi.
“Aku tahu kenapa kau melakukannya.” Suaranya
menenangkan. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal. Kau
seharusnya menungguku, seharusnya memberitahuku.”
“Kau takkan membiarkanku pergi.”
“Memang tidak.” Ia menimpali dengan geram. “Takkan
kubiarkan.”
Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai
menghantuiku. Aku merinding, kemudian meringis.
Edward langsung waswas.
“Ada apa, Bella?”
“Apa yang terjadi pada James?”
“Setelah aku menjauhkannya darimu, Emmett dan
Jasper membereskannya.” Kata-katanya sarat dengan
penyesalan yang sangat dalam.
Ini membingungkanku. “Aku tidak melihat Emmett dan
Jasper di sana.”
“Mereka harus meninggalkan ruangan... darahmu
berceceran di mana-mana.”
“Tapi kau tetap tinggal.”
“Ya, kau tetap tinggal.”
“Dan Alice dan Carlisle...?” aku bertanya-tanya.
“Mereka juga menyayangimu, kau tahu.”
Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku
melihat Alice, mengingatkanku akan sesuatu. “Apakah
Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas.
“Ya.” Suaranya berubah kelam, samar-samar
menguarkan kebencian.
“Alice tak pernah mengerti, itu sebabnya dia tidak
ingat.”
“Aku tahu. Dia memahaminya sekarang.” Suara Edward
tenang tapi wajahnya kelam oleh amarah.
Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang
lain, tapi sesuatu menghentikanku. Aku memandang ke
bawah, melihat kantong transfusi menahan tanganku.
“Auw.” Aku meringis.
“Ada apa?” tanyanya waswas—perhatiannya teralihkan,
tapi hanya sedikit. Kesedihan tak sepenuhnya memudar
dari matanya.
“Jarum,” aku menjelaskan, memalingkan pandang. Aku
berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik
napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di
sekitar rusukku.
“Takut jarum,” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri,
sambil menggeleng. “Oh, vampir sadis yang berniat
menyiksanya sampai mati, tentu, tidak masalah, dia
langsung lari menemuinya. Tapi jarum infus...”
Aku memutar bola mataku. Aku senang mengetahui
setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. Kuputuskan
untuk mengubah topik.
“Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya.
Ia menatapku, pertama bingung, kemudian kepedihan
terpancar di matanya. Alisnya bertaut saat wajahnya
menekuk. “Kau ingin aku pergi?”
“Tidak!” protesku, ngeri membayangkannya. “Bukan,
maksudku, kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus
tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali.”
“Oh,” kata Edward, dahinya kembali mulus bak pualam.
“Aku datang ke Phoenix untuk berbicara dari hati ke hati.
Untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks.” Matanya
yang lebar tampak jujur dan tulus, hingga aku sendiri nyaris
memercayainya. “Kau setuju menemuiku, dan kau
mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle
dan Alice— tentu saja aku ke sini dengan ditemani
orangtua,” ia menambahkannya lugu, “tapi kau terpeleset
ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan... well, kau
tahu kelanjutannya. Tapi kau tak perlu mengingat
detailnya; kau punya alasan bagus untuk tidak
mengingatnya dengan jelas.”
Aku memikirkannya beberapa saat. “Ada beberapa
kekurangan dalam cerita itu. Tak ada jendela yang pecah,
misalnya.
“Tidak juga,” katanya. “Alice terlalu banyak bersenangsenang
ketika” menciptakan barang bukti. Semua telah
diatasi, kami membuatnya sangat meyakinkan—barangkali
kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. Kau tak perlu
mengkhawatirkan apa pun.” Ia berjanji, mengusap pipiku
dengan sentuhan paling ringan. “Sekarang tugasmu hanya
sembuh.”
Aku tidak terlaju tenggelam dalam rasa sakit atau
pengaruh obat hingga tak bereaksi terhadap sentuhannya.
Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali—
sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama
jantungku yang mendadak liar.
“Ini bakal memalukan,” gumamku pada diri sendiri.
Ia tertawa, dan tatapannya mengira-ngira. “Hmmm, aku
jadi penasaran...”
Ia mencondongkan tubuh perlahan; suara bip semakin
cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Tapi
ketika akhirnya bibir kami bersentuhan, meskipun teramat
lembut, bunyi bip itu mendadak berhenti.
Ia langsung tersentak, ekspresi waswasnya berubah lega
saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi.
“Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu
daripada biasanya.” Dahinya berkerut.
“Aku belum selesai menciummu,” aku mengeluh.
“Jangan buat aku pergi menghampirimu.”
Ia tersenyum, dan membungkuk untuk mencium lembut
bibirku. Monitor langsung bergerak kacau lagi.
Tapi kemudian bibirnya menegang. Ia menarik diri.
“Kurasa aku mendengar ibumu,” katanya, tersenyum.
“Jangan tinggalkan aku,” aku berseru, rasa panik yang
tak masuk akal merasukiku. Aku tak bisa membiarkannya
pergi—ia mungkin akan menghilang dariku lagi.
Sekejap ia melihat ketakutan di mataku. “Aku takkan
meninggalkanmu,” ia berjanji, sungguh-sungguh, kemudian
tersenyum. “Aku akan tidur siang.”
Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa
recliner dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat
tidur, lalu berbaring dan memejamkan mata. Posisinya
diam tak bergerak.
“Jangan lupa bernapas,” bisikku sinis. Ia menarik napas
panjang, matanya masih terpejam.
Aku bisa mendengar ibuku sekarang. Ia sedang berbicara
dengan seseorang barangkali perawat, dan ia terdengar lelah
dan sedih. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur
dan berlari padanya, untuk menenangkannya, meyakinkan
semuanya baik-baik saja. Tapi keadaanku tak
memungkinkan aku melompat, jadi aku menunggunya
dengan tidak sabar.
Terdengar suara pintu berderit, dan ia mengintip dari
sana.
“Mom!” aku berbisik, suaraku penuh sayang dan lega. Ia
melihat Edward yang tertidur di sofa recliner dan berjingkat
menghampiriku.
“Dia tak pernah pergi, ya kan?” gumamnya pada diri
sendiri.
“Mom, aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia
membungkuk dan memelukku lembut, dan aku merasakan
air mata hangat menetes di pipiku.
“Bella, aku sedih sekali!”
“Maafkan aku, Mom. Tapi sekarang semua baik-baik
saja, tidak apa-apa,” aku mencoba menenangkannya.
“Aku senang akhirnya kau tersadar.” Ia duduk di tepi
tempat tidur.
Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa.
“Berapa lama aku tak sadarkan diri?”
“Sekarang hari Jumat. Sayang, kau tak sadar cukup
lama.”
“Jumat?” Aku terkejut. Aku mencoba mengingat hari
ketika... tapi aku tak ingin memikirkannya.
“Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk
sementara waktu, Sayang—luka-lukamu parah sekali.”
“Aku tahu.” Aku bisa merasakannya.
“Kau beruntung dr. Cullen ada di sana. Dia baik,
meskipun masih sangat muda. Dan dia lebih mirip model
daripada dokter...”
“Kau bertemu Carlisle?”
“Dan adik Edward, Alice. Dia gadis menyenangkan.”
“Memang,” aku menimpali sepenuh hati.
Ia menoleh ke arah Edward, yang berbaring di kursi
dengan mata terpejam. “Kau tidak bilang punya temanteman
yang baik di Forks.”
Aku tersenyum, kemudian mengerang.
“Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas, kembali
menghadapku. Mata Edward berkilat menatapku.
“Tidak apa-apa,” aku meyakinkan mereka. “Aku hanya
perlu mengingat untuk tidak bergerak.” Edward kembali
pura-pura tidur.
Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik.
“Di mana Phil?” tanyaku cepat.
“Di Florida—oh, Bella! Kau takkan menyangka! Tepat
sebelum berangkat, kami mendapat berita terbaik!”
“Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya.
“Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns, kau percaya?”
“Itu hebat, Mom,” kataku, berusaha terdengar
bersemangat, meskipun aku tidak begitu mengerti apa
artinya itu.
“Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville,” Mom
sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya.
“Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan
Akron, salju dan semuanya, karena kau tahu betapa aku
sangat membenci dingin, tapi sekarang Jacksonville!
Matahari selalu bersinar, dan kelembabannya tak seburuk
itu. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan,
warna kuning dengan bingkai putih, dan teras persis seperti
di film-film tua, dan pohon ek raksasa, dan jaraknya hanya
beberapa menit dari laut, dan kau akan memiliki kamar
mandimu sendiri—“
“Mom, tunggu sebentar!” selaku. Mata Edward masih
terpejam, tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang
tidur. “Apa yang kaubicarakan? Aku takkan pergi ke
Florida. Aku tinggal di Forks.”
“Tapi kau tak perlu lagi, dasar bodoh,” ia tertawa. “Phil
bisa tinggal bersama kita lebih sering lagi sekarang... kami
sudah sering membicarakannya, dan kalau dia harus
melakukan perjalanan jauh, aku akan tinggal separuh waktu
denganmu dan separuh lagi dengannya.”
“Mom.” Aku meragu, bertanya-tanya bagaimana
bersikap diplomatis tentang hal ini. “Aku ingin tinggal di
Forks. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di
sekolah, dan aku punya beberapa teman cewek”—ia melirik
ke arah Edward lagi saat aku mengingatkannya aku punya
teman, jadi aku mencoba alasan lain—“dan Charlie
membutuhkanku. Dia sebatang kara di sana, dan dia sama
sekali tak bisa memasak.”
“Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya, heran. Ide ini tak
terbayangkan olehnya. Lalu matanya kembali melirik
Edward. “Kenapa?”
“Sudah kubilang–sekolah, Charlie–aduh!” Aku
mengangkat bahu. Bukan ide bagus.
Tangannya bergerak ke sana kemari, mencoba
menemukan bagian rubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. Ia
menaruh tangannya di dahiku, karena bagian itu tidak
diperban.
“Bella, Sayang, kau tidak menyukai Forks,” ia
mengingatkanku.
“Tidak terlalu buruk, Mom.”
Ia merengut, lalu memandangku dan Edward bergantian,
kali ini benar-benar disengaja.
“Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya.
Aku hendak berbohong tapi mata Mom mengamati
wajahku, dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya di sana.
“Dia salah satu alasannya,” aku mengakui. Tak perlu
kuakui, dialah alasan terbesarku. “Apakah kau sempat
berbicara dengan Edward?” tanyaku.
“Ya.” Ia bimbang memandangi Edward yang diam tak
bergerak. “Dan aku ingin bicara denganmu rentang hal ini.”
O-ow. “Tentang apa?” tanyaku.
“Kurasa anak laki-laki itu jatuh cinta padamu,”
tuduhnya, berusaha menjaga suaranya tetap pelan.
“Aku juga berpikir begitu,” ujarku.
“Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa
menutupi rasa penasaran dalam suaranya.
Aku mendesah, memalingkan wajah. Meskipun aku
sangar menyayangi ibuku, ini bukan sesuatu yang ingin
kubicarakan dengannya. “Aku cukup tergila-gila padanya.”
Nah—itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin
dikatakan seorang remaja cewek centang cowok
pertamanya.
“Well, dia kelihatan sangat baik, dan, ya Tuhanku, dia
luar biasa tampan, tapi kau masih sangat muda. Bella...”
Suaranya terdengar ragu-ragu; sejauh yang bisa kuingat,
inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia
nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Aku
mengenali nada masuk-akal-namun-tegas dari percakapan
yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok.
“Aku tahu itu, Mom. Jangan khawatir. Aku Cuma
naksir,” aku menenangkannya.
“Benar,” ia menimpali, langsung senang.
Kemudian ia mendesah, dan dengan perasaan bersalah
melirik jam bundar besar di dinding.
“Kau harus pergi?”
Ia menggigit bibir. “Phil seharusnya menelepon sebentar
lagi... Aku tak tahu kau akan segera sadar...”
“Tidak apa-apa, Mom.” Aku berusaha menyembunyikan
rasa legaku supaya perasaannya tidak terluka. “Aku tidak
akan sendirian.”
“Aku akan segera kembali. Aku tidur di sini, kau tahu,”
ujarnya, bangga pada dirinya sendiri.
“Oh, Mom, kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur
di rumah—aku takkan menyadarinya.” Pengaruh obat
penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi
sekarang, meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.
“Aku terlalu tegang,” ia mengakui malu-malu. “Telah
terjadi tindak kejahatan di kompleks kita, dan aku tidak
suka berada di sana sendirian.”
“Kejahatan?” tanyaku kaget.
Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat
rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah—sama
sekali tak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian
tepat di halaman depan. Kau ingat dulu kau menari di sana,
Sayang?”
“Aku ingat.” Aku bergidik dan meringis ngeri.
“Aku bisa tinggal. Sayang kalau kau membutuhkanku.”
“Tidak, Mom. Aku akan baik-baik saja. Edward akan
menemaniku.”
Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah
alasannya ingin tinggal. “Aku akan kembali malam ini.”
Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji, dan ia
kembali menatap Edward saat mengucapkannya.
“Aku sayang kau, Mom.”
“Aku juga sayang kau. Bella. Cobalah untuk lebih
berhari-hari ketika berjalan. Sayang, aku tak ingin
kehilangan dirimu.”
Mata Edward tetap terpejam, tapi senyum lebar
mengembang di wajahnya.
Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan
kabel-kabel yang menempel di rubuhku. Mom mengecup
dahiku, menepuk-nepuk tanganku yang diperban, kemudian
pergi.
Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku.
“Kau tegang Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih
tinggi di bagian ini.”
“Aku baik-baik saja,” aku meyakinkannya.
“Akan kuberitahu dokter bahwa kau sudah sadar. Dia
akan ke sini sebentar lagi.”
Begitu perawat menutup pinru, Edward langsung berada
di sisiku.
“Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat.
Ia tersenyum, sama sekali tak menyesal. “Mobil bagus,
lajunya sangat cepat.”
“Bagaimana tidur siangmu?” tanyaku.
“Menarik.” Matanya menyipit.
“Apa?”
Ia menunduk ketika menjawab, “Aku terkejut. Kupikir
Florida... dan ibumu... Well, kupikir itulah yang
kauinginkan.”
Aku menatapnya tak mengerti. “Tapi kau harus berada
di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. Kau
hanya bisa keluar pada malam hari, seperti vampir sejati.”
Ia nyaris tersenyum, tapi tidak juga. Lalu wajahnya
serius. “Aku akan tinggal di Forks, Bella. Atau di mana pun
yang keadaannya seperti di sana,” ia menjelaskan. “Di
tempat aku tak bisa melukaimu lagi.”
Awalnya aku tak langsung memahaminya. Aku terus
menatapnya hampa saat kata-katanya satu per satu tersusun
dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Aku
nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin
memburu, meskipun, saat napasku semakin liar, aku
merasakan nyeri di dadaku.
Ia tidak mengatakan apa-apa; ia memerhatikan wajahku
dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada
hubungannya dengan tulang-tulang yang patah, rasa sakit
yang jauh lebih parah, mengancam menghancurkanku.
Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki
ruangan. Edward duduk tak bergerak saat perawat
mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih, sebelum
beralih ke monitor.
“Waktunya untuk obat penghilang sakit. Sayang?”
tanyanya ramah, sambil menepuk-nepuk kantong infus.
“Tidak, tidak,” gumamku, berusaha menghilangkan
kepedihan dari suaraku. “Aku tidak membutuhkan apaapa.”
Aku tak bisa memejamkan mata sekarang.
“Tak perlu berpura-pura berani. Sayang. Sebaiknya kau
tidak terlalu tegang; kau perlu beristirahat.” Ia menunggu,
tapi aku hanya menggeleng.
“Baiklah,” ia mendesah. “Tekan saja tombol bantuan
kalau kau sudah siap.”
Ia memandang Edward serius, dan sekali lagi melirik,
waswas mesin-mesin itu, lalu pergi.
“Sssstt, Bella, tenanglah.”
“Jangan tinggalkan aku.” Aku memohon, suaraku parau
“Aku takkan meninggalkanmu,” ia berjanji. “Sekarang
tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk
memberimu obat penenang.”
Tapi jantungku tak mau tenang.
“Bella.” Ia membelai wajahku hati-hati. “Aku takkan ke
mana-mana. Aku akan ada di sini selama kau
membutuhkanku.”
“Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku.
Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang
tersengal-sengal. Rusukku nyeri.
Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan
mendekatkan wajahnya ke wajahku. Matanya lebar dan
serius. “Aku bersumpah.”
Aroma napasnya menenangkan. Sepertinya meringankan
rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. Ia terus
menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara
bip mesin kembali normal. Matanya berwarna gelap, lebih
mendekati hitam daripada keemasan.
“Lebih baik?” tanyanya.
“Ya,” sahutku hati-hati.
Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak
kumengerti. Kurasa aku memilih kata “overreaction –
bereaksi berlebihan.”
“Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik, menjaga
suaraku agar tidak gemetaran. “Apakah kau lelah
menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?”
“Tidak, aku tak ingin tanpa dirimu. Bella, tentu saja
tidak. Yang benar saja. Dan aku juga senang-senang saja
menyelamatkanmu—jika saja bukan karena fakta bahwa
akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya...
bahwa akulah alasan kau berada di sini.”
“Ya, kaulah penyebabnya.” Aku merengut. “Alasan aku
berada di sini—hidup-hidup.”
“Nyaris,” ia berbisik. “Dibalut perban dan plester dan
nyaris tak bisa bergerak.”
“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru
saja kualami ini,” kataku, mulai jengkel. “Aku sedang
memikirkan yang lain—kau boleh pilih. Kalau bukan
karena kau, aku sudah membusuk di pemakaman Forks.”
Ia meringis mendengar kata-kataku, tapi raut khawatir
tak enyah juga dari wajahnya.
“Meski begitu, itu bukan yang terburuk,” ia melanjutkan
berbisik, seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa.
“Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana, terbaring
di lantai... meringkuk dan terluka.” Suaranya tercekat.
“Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat.
Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan—semua
ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang
masa. Bukan, yang paling parah adalah merasa...
mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. Percaya aku
sendirilah yang akan membunuhmu.”
“Tapi kau tidak membunuhku.”
“Aku bisa saja. Semudah itu.”
Aku tahu aku harus tetap tenang... tapi ia mencoba
membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku, dan rasa
panik mencekat paru-paruku, mencoba melepaskan diri.
“Berjanjilah padaku.” Aku berbisik.
“Apa?”
“Kau tahu maksudku.” Aku mulai marah sekarang. Ia
benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif.
Ia mendengar perubahan pada nada suaraku.
Tatapannya tajam. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk
berada jauh darimu, Jadi kurasa kau akan menemukan
caranya... entah itu akan membunuhmu atau tidak.” Ia
menambahkan dengan kasar.
“Bagus.” Meski begitu ia tidak berjanji—fakta itu tak
terlewatkan olehku. Kepanikanku nyaris tak terbendung;
tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk
mengendalikan amarahku. “Kau memberitahuku
bagaimana kau berhenti... sekarang aku mau tahu kenapa,”
desakku.
“Kenapa?” ulangnya hati-hati.
“Kenapa kau melakukannya. Kenapa kau tak
membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama
seperti dirimu.”
Mata Edward sepertinya berubah hitam, dingin, dan aku
ingat, ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. Alice pasti
terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru
diketahuinya... atau ia sangat berhati-hati dengan
pikirannya ketika berada di sekitar Edward—jelas Edward
tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan
vampir. Ia terkejut, marah. Lubang hidungnya kembangkempis,
mulutnya seolah dipahat dan batu.
Ia tidak akan menjawab, itu sangat jelas.
“Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku
tak berpengalaman menjalin hubungan,” kataku. “Tapi
kelihatannya masuk akal... seorang laki-laki dan perempuan
seharusnya sederajat... salah satu dari mereka tak bisa selalu
menghambur dan menyelamatkan yang lain. Mereka harus
saling menyelamatkan satu sama lain.”
Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat
tidurku, lalu meletakkan dagunya di sana. Raut wajahnya
lembut, kemarahannya mereda. Sepertinya ia telah
memutuskan ia tidak marah padaku. Kuharap aku punya
kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward
menemuinya.
“Kau telah menyelamatkanku,” katanya pelan.
“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane,” aku berkeras.
“Aku juga ingin jadi Superman.”
“Kau tidak tahu apa yang kauminta.” Suaranya lembut;
ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.
“Kurasa aku tahu.”
“Bella, kau tidak tahu. Aku telah melewati hampir
sembilan puluh tahun memikirkan hal ini, dan aku masih
tidak yakin.”
“Apa kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?”
“Tidak, aku tidak berharap begitu.” Ia berhenti sebelum
melanjutkan, “Tapi hidupku sudah berakhir. Aku tidak
menyerahkan apa pun.”
“Kaulah hidupku. Hanya kehilangan dirimu yang bisa
menyakitiku.” Aku semakin baik dalam hal ini. Mudah
rasanya mengakui betapa aku membutuhkannya.
Meski begitu ia sangat tenang. Yakin.
“Aku tak bisa melakukannya. Bella. Aku takkan
melakukannya padamu.”
“Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan mapanku
rak selantang yang kuinginkan. “Jangan bilang padaku itu
terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini, atau kurasa beberapa
hari yang lalu... setelah itu. Seharusnya bukan apa-apa.”
Ia menatap geram padaku.
“Dan rasa sakitnya?” tanyanya.
Wajahku memucat. Aku tak bisa menahannya. Tapi aku
berusaha menjaga ekspresiku hingga tidak kelihatan betapa
jelas aku mengingat rasanya... api dalam nadiku.
“Itu masalahku.” Karaku. “Aku bisa mengatasinya.”
“Sangat mungkin untuk bersikap berani hingga pada titik
keberanian itu berubah jadi kegilaan.”
“Bukan masalah. Tiga hari. Sama sekali, bukan
masalah.”
Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya
bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin
diharapkannya. Aku melihatnya berusaha menekan
amarah, memerhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya.
“Charlie?” tanyanya tiba-tiba. “Renee?”
Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha
menjawab. Aku membuka mulut, tapi tak ada suara yang
keluar. Aku menutupnya lagi. Ia menunggu, kemudian
ekspresinya berganti jadi kemenangan karena tahu aku
tidak mengetahui jawabannya.
“Begini saja, itu juga bukan masalah,” gumamku
akhirnya; suaraku terdengar sama tidak meyakinkannya
seperti setiap kali aku berbohong. “Renee selalu membuat
keputusan yang menurut dia benar—dia ingin aku
melakukan yang sama. Dan Charlie lebih fleksibel, dia
terbiasa hidup sendirian. Aku tak bisa menjaga mereka
selamanya. Aku punya kehidupan sendiri yang harus
kujalani.”
“Tepat sekali,” tukasnya. “Dan aku tak ingin
mengakhirinya.”
“Kalau kau menungguku hingga sekarat, ada kabar baik
untukmu! Aku baru saja mengalaminya!”
“Kau akan sembuh,” ia mengingatkanku.
Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri,
mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. Aku
menatapnya, dan ia balas menatap. Wajahnya tidak
menunjukkan kompromi.
“Tidak,” kataku pelan. “Aku takkan sembuh.”
Kerutan di dahinya semakin dalam. “Tentu saja kau
akan sembuh. Paling-paling akan meninggalkan satu atau
dua bekas luka...”
“Kau keliru,” aku berkeras. “Aku bakal mati.”
“Sungguh, Bella.” Sekarang ia cemas. “Kau akan keluar
dari sini beberapa hari lagi. Paling lama dua minggu.”
Aku menatapnya geram. “Aku mungkin takkan mati
sekarang— tapi suatu saat. Setiap menit dalam hidupku aku
semakin dekat ke kematian. Dan aku akan menjadi tua.”
Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. Ia
menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya, matanya
terpejam. “Itulah yang mestinya terjadi. Yang seharusnya
terjadi. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada—dan
aku seharusnya tidak ada.”
Aku mendengus. Ia membuka mata, terkejut. “Itu
bodoh. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang
lotere, mengambil uangnya, dan berkata, ‘Begini, kita
kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi.
Lebih baik begitu.’ Dan aku tidak memercayainya.”
“Aku bukan hadiah lotere,” geramnya.
“Benar. Kau jauh lebih baik.”
Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.
“Bella, kita tidak akan membahasnya lagi. Aku menolak
mengutukmu mengalami malam tak berujung, dan inilah
keputusanku.”
“Kalau kaupikir ini akhirnya, berarti kau tidak
mengenalku,” aku mengingatkannya. “Kau bukan satusatunya
vampir yang kukenal.”
Matanya kembali kelam. “Alice takkan berani.”
Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan
hingga aku tak dapat mencegah untuk memercayainya—
aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani
untuk membuatnya marah.
“Alice sudah melihatnya kan?” Aku mencoba menebak.
“Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu
marah. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu... suatu hari
nanti.”
“Dia keliru. Dia juga melihatmu mari. Tapi itu juga tidak
terjadi.”
“Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice.”
Lama sekali kami bertatapan. Suasana hening kecuali
bunyi deru mesin bunyi bip, tetesan. Dan detak jam besar di
dinding. Akhirnya ekspresinya melembut.
“Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya.
Ia tertawa dingin. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.”
Aku mendesah. “Auw,” gumamku.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya, sambil melirik
tombol untuk memanggil perawat.
“Aku baik-baik saja.” Aku berbohong.
“Aku tidak percaya,” katanya lembut.
“Aku tidak mau tidur lagi.”
“Kau harus beristirahat Semua perdebatan ini tidak baik
untukmu.”
“Jadi menyerahlah” aku menyarankan.
“Usaha bagus.” Ia menggapai tombol.
“Jangan!”
Ia mengabaikanku
“Ya?” terdengar suara dan speaker di dinding.
“Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang
sakitnya,” katanya tenang tak memedulikan kekesalan yang
terpancar di wajahku.
“Aku akan menyuruh perawat ke sana” Suara itu
terdengar bosan.
“Aku takkan meminumnya,” aku berjanji.
Ia memandang kantong cairan di samping tempat
tidurku. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum
apa-apa.”
Detak jantungku mulai memburu. Ia melihat ketakutan
di mataku, dan mendesah putus asa.
“Bella, kau sakit. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.
Kau benar-benar keras kepala. Saat ini mereka tidak akan
memasang jarum lagi di tubuhmu.”
“Aku tidak takut jarum,” gumamku. “Aku takut
memejamkan mata.”
Kemudian ia tersenyum simpul, dan memegang wajahku
dengan kedua tangannya. “Sudah kubilang, aku takkan
pergi ke mana-mana. Jangan khawatir. Selama kau senang
karenanya, aku akan di sini.”
Aku balas tersenyum, mengabaikan rasa sakit di pipiku.
“Itu berarti selamanya, tahu.”
“Oh, kau akan melupakannya—kau Cuma naksir aku.”
Aku menggeleng tak percaya—itu membuatku pusing.
“Aku terkejut waktu Renee memercayai ucapanku itu. Aku
tahu kau tahu lebih baik darinya.”
“Itulah hal terindah menjadi manusia.” Ia
memberitahuku. “Segala sesuatu berubah.”
Mataku menyipit. “Jangan kelewat berharap.”
Ia tertawa ketika perawat masuk sambil mengacungkan
suntikan.
“Permisi.” Katanya pada Edward
Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan, bersandar di
dinding. Ia bersedekap dan menunggu. Aku terus
menatapnya, masih waswas. Ia menatapku tenang.
“Nah, ini obatnya, Sayang.” Perawat tersenyum saat
menyuntikkan obat ke tabung infusku. “Kau akan merasa
lebih baik sekarang.”
“Terima kasih,” gumamku datar. Hanya sebentar. Aku
langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran
darahku.
“Kurasa sudah bereaksi,” gumamnya, saat kelopak
mataku mulai memejam.
Perawat pasti telah meninggalkan ruangan, karena
sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.
“Tinggallah.” Kata itu nyaris tak terdengar.
“Aku akan ada di sini,” ia berjanji. Suaranya indah,
bagai nina bobo. “Seperti kataku, selama ini membuatmu
bahagia... selama ini adalah yang terbaik untukmu.”
Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala, tapi terlalu
berat. ‘”Tu tidak sama,” gumamku.
Ia tertawa. “Sudah, jangan khawatirkan itu, Bella. Kau
bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti.”
Kurasa aku tersenyum mendengarnya. ‘”Ke.”
Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.
“Aku mencintaimu,” bisiknya.
“Aku juga.”
“Aku tahu,” ia tertawa pelan.
Aku menoleh sedikit... mencari. Ia tahu apa yang kucari.
Bibirnya menyentuh lembut bibirku.
“Terima kasih,” desahku.
“Sama-sama.”
Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. Tapi aku
melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Tinggal satu lagi
yang ingin kukatakan padanya.
“Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan
jelas.
“Ya?”
“Aku bertaruh memegang Alice,” gumamku.
Kemudian aku pun tertidur.
EPILOG: ACARA ISTIMEWA
EDWARD membantuku naik ke mobilnya, sangat
berhati-hati dengan sutra dan shiffon-nya, bunga-bunga
yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal
penuh gaya, serta tongkat berjalanku. Ia mengabaikan
bibirku yang cemberut sangat marah.
Setelah aku duduk nyaman, ia menyelinap ke jok
pengemudi, dan melaju mundur dari jalanan sempit dan
panjang itu.
“Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang
terjadi?” gerutuku. Aku benar-benar tidak suka kejutan.
Dan ia tahu itu.
“Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya
juga.” Ia tersenyum mengejek, dan aku tercekat. Apakah
aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya?
“Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan, bukan?”
ujarku.
“Sudah.” Ia tersenyum. Aku belum pernah melihatnya
mengenakan hitam. Warna itu sangat kontras dengan
kulitnya yang pucat, membuat ketampanannya benar-benar
bagaikan mimpi. Itu tak dapat kusangkal, bahkan kalaupun
kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat
gugup.
Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Atau sepatu
yang kukenakan. Sepatuku hanya satu, berhubung kakiku
yang lain masih rapat terbalut gips. Tapi hak stiletto yang
kukenakan hanya dipegangi tali sutra, dan itu jelas takkan
membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini.
“Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan
memperlakukanku seperti Barbie Percobaan,” sahutku
seraya mencengkeram jok kursi. Aku menghabiskan
sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas,
menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata
rambut dan penata rias. Setiap kali aku merasa tak nyaman
atau mengeluh, ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali
tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia, dan
memintaku tidak menghancurkan kesenangannya.
Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol— warna biru
gelap, berimpel, dan tanpa lengan, dengan label berbahasa
Prancis yang tak kumengerti—gaun yang lebih cocok
dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Tak
ada yang bagus dari pakaian formal kami, aku yakin itu.
Kecuali... tapi aku takut menguraikan kecurigaanku,
bahkan dalam pikiranku sendiri.
Perhatianku teralih dering telepon. Edward
mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya, melihat
sebentar ke layar sebelum menjawab.
“Halo, Charlie,” sahutnya hati-hati.
“Charlie?” Dahiku berkerut.
Charlie... agak sedikit kurang bersahabat sejak
kepulangan-ku ke Forks. Ia menyikapi pengalaman burukku
dalam dua sikap. Terhadap Carlisle, ia teramat sangat
bersyukur dan berterima kasih. Di sisi lain ia sangat yakin
semua ini salah Edward—sebab kalau bukan karena
Edward, aku tidak akan meninggalkan rumah. Dan Edward
sama sekali tidak menentangnya. Belakangan ini Charlie
memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah
diterapkannya padaku sebelumnya: jam malam... jam
berkunjung.
Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward
membelalak rak percaya, kemudian senyuman langsung
mengembang di wajahnya.
“Kau bercanda!” Ia tertawa.
“Ada apa?” desakku.
Ia mengabaikanku. “Biarkan aku bicara padanya,” saran
Edward, kegembiraannya tampak nyata. Ia menunggu
sebentar.
“Halo, Tyler, ini Edward Cullen.” Suaranya sangat
ramah, tapi hanya di permukaan. Aku mengenalnya cukup
baik untuk menangkap kejailan di baliknya. Apa yang
dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran mengerikan mulai
terbentuk di benakku. Sekali lagi aku memandang gaun
yang kukenakan atas paksaan Alice itu.
“Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman,
tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.” Nada
suara Edward berubah, dan ancaman dalam suaranya tibatiba
jauh lebih nyata saat ia melanjutkan kata-katanya.
“Dan sejujurnya dia tidak akan punya waktu untuk siapa
pun kecuali aku, setiap malam. Jangan tersinggung. Aku
menyesal malammu tidak menyenangkan.” Ia sama sekali
tidak terdengar menyesal. Kemudian ia menutup telepon,
senyum lebar menghiasi wajahnya.
Wajah dan leherku merah padam karena marah. Aku
bisa merasakan air mata kemarahan menggenangi mataku.
Ia terkejut melihatku. “Apakah bagian terakhir tadi
kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
Aku mengabaikan kata-katanya.
“Kau mengajakku ke prom!” teriakku.
Sekarang semua sudah jelas. Kalau saja aku
memerhatikan sejak awal, aku yakin pasti bisa melihat
tanggal di poster-posrer di seluruh penjuru sekolah. Tapi
aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Tidakkah
Edward mengenalku sama sekali?
Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu, itu sudah jelas. Ia
mengatupkan bibir dan matanya menyipit. “Jangan
mempersulit keadaan. Bella.”
Aku menoleh ke luar jendela; kami sudah setengah jalan
menuju sekolah.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas.
Ia menunjuk tuksedonya. “Sungguh, Bella, menurutmu
apa yang kita lakukan?”
Aku merasa dipermalukan. Pertama, karena aku tidak
melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Juga karena
kecurigaan samar—sebenarnya harapan—yang berkembang
di hatiku seharian ini, mengingat Alice mencoba
mengubahku jadi ratu kecantikan, benar-benar jauh
melenceng. Harapanku yang setengah mengerikan
kelihatannya sangat konyol sekarang.
Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Tapi prom,
yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku.
Air mata kemarahan menetes di pipiku. Aku cemas
mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. Bergegas
kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak
belepotan. Tanganku tidak hitam ketika kutarik; barangkali
Alice tahu aku membutuhkan makeup antiair.
“Ini benar-benar konyol. Kenapa kau menangis?” tanya
Edward kesal.
“Karena aku marah!”
“Bella.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.
“Apa?” gumamku, bingung.
“Ayolah,” desaknya.
Tatapannya mencairkan segenap amarahku. Mustahil
bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu.
Aku menyerah.
“Baiklah.” Bibirku mencebik, aku tak mampu
memelototinya segalak yang kuinginkan. “Aku akan ikuti
maumu. Tapi nanti akan kaulihat. Nasib burukku belum
berakhir. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang
lain. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan
kakiku yang sehat sebagai buktinya.
“Hmmm.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari
seharusnya. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada
Alice untuk hal itu nanti malam.”
“Alice akan datang?” Ini sedikit menenangkan.
“Bersama Jasper, dan Emmett... dan Rosalie,” ia
mengakui.
Perasaan tenang itu langsung lenyap. Hubunganku
dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan, meskipun
hubunganku dengan suami-sesekali-waktunya bisa dibilang
baik. Emmett senang berada di dekatku—menurut dia,
reaksi manusiaku sangat menghiburnya... atau barangkali
kenyataan aku sering kali terjatuh itu yang membuatnya
menganggapku sangat lucu. Rosalie bersikap seakan-akan
aku tidak ada. Setelah menggeleng-gelengkan kepala untuk
mengenyahkan pikiran itu, terpikir olehku hal lain.
“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya, tiba-tiba curiga.
“Tentu saja.” Ia nyengir, lalu tergelak. “Meski begitu,
kelihatannya Tyler tidak.”
Kukertakkan gigiku. Aku benar-benar tidak mengerti
mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Di
sekolah, tempat Charlie tak bisa ikut campur, Edward dan
aku tak terpisahkan—kecuali pada hari-hari cerah yang
sangat jarang terjadi.
Kami sudah di sekolah sekarang; mobil Rosalie tampak
mencolok di lapangan parkir. Hari ini langit berawan tipis,
secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat.
Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan
pintuku. Ia mengulurkan tangan.
Aku tak bergerak dari tempat duduk, tangan terlipat,
diam-diam berpuas diri. Lapangan parkir dipenuhi orang
berpakaian formal: para saksi. Ia tak dapat memindahkanku
secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya
seandainya kami hanya berdua.
Ia mendesah. “Waktu seseorang hendak membunuhmu,
kau seberani singa—kemudian saat seseorang menyebutnyebut
soal dansa... “ Ia menggeleng.
Aku menelan liurku. Berdansa.
“Bella, aku takkan membiarkan apa pun melukaimu—
bahkan tidak dirimu sendiri. Aku takkan pernah
melepaskanmu, aku janji.”
Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh
lebih baik. Ia bisa melihatnya di wajahku.
“Sudah, sudah,” katanya lembut, “takkan seburuk itu.”
Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Aku
menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya
mengangkatku dari mobil.
Ia tetap memelukku erat-erat, menyokongku saat aku
terpincang-pincang menuju sekolah ......
Di Phoenix, prom diadakan di ballroom hotel. Di sini,
pestanya berlangsung di ruang gym. Barangkali itulah satusatunya
ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta
dansa. Ketika kami sampai di dalam, aku tertawa geli
melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang
menghiasi dinding.
“Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai,”
olokku.
“Well” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja
tempat penjualan karcis—meskipun ia praktis
menggendongku, tapi aku masih harus melangkah tertatihtatih—“
ada lebih dari cukup vampir hadir di sini.”
Aku melihat ke arah lantai dansa; bagian tengah lantai
tampak lengang hanya ada dua pasangan berputar-putar
anggun. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai
untuk memberi mereka ruang—tak ada yang ingin tampak
kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu.
Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela
dalam balutan tuksedo klasik. Alice rampak memukau
dalam gaun satin hitam berpotongan leher V yang
memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Dan
Rosalie... Well, ya Rosalie. Penampilannya sungguh di
luar dugaan. Gaun merah menyalanya berpunggung
terbuka, melekat ketat sampai ke betis yang kemudian
melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di
belakangnya. Garis leher gaunnya jatuh hingga ke
pinggang. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu,
termasuk diriku sendiri.
Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa
membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku
penuh konspirasi.
“Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku
geram.
“Oh, tentu saja aku bersama kelompok vampir.” Ia
tersenyum enggan.
“Apa pun asal kau tak perlu berdansa.”
“Apa pun.”
Ia membayar tiket kami, kemudian membimbingku ke
lantai dansa. Kupeluk lengannya, dan menyeret kakiku.
“Aku punya waktu semalaman,” ia mengingatkan.
Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang
berdansa elegan—boleh dibilang dengan gaya yang sangat
tidak sesuai dengan musik masa kini. Aku memerhatikan
mereka dengan ngeri.
“Edward.” Tenggorokanku sangat kering hingga aku
hanya bisa berbisik. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!”
Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku.
“Jangan khawatir, bodoh,” ia balas berbisik. “Aku bisa.”
Ia melingkarkan tanganku di lehernya, mengangkatku, lalu
meletakkan kakinya di bawah kakiku.
Kemudian kami pun berdansa.
“Aku merasa seperti berumur lima tahun,” aku tertawa
setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu
bersusah-payah.
“Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun,”
gumamnya, sesaat menarikku lebih rapat, sehingga kakiku
sedikit terangkat dari lantai.
Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan
tersenyum menyemangati—aku balas tersenyum padanya.
Aku terkejut menyadari aku menikmatinya... sedikit.
“Oke, ini tidak terlalu buruk,” aku mengakui.
Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu, wajahnya
tampak marah.
“Ada apa?” aku bertanya keras-keras. Aku mengikuti
arah pandangannya, tidak fokus akibat berputar-putar,
namun akhirnya aku bisa melihat apa yang
mengganggunya. Jacob Black, tidak mengenakan tuksedo
melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi,
rambutnya ditarik licin dalam kucir kuda. Ia berjalan
menghampiri kami.
Setelah kaget waktu mengenalinya tadi, kini aku merasa
kasihan pada Jacob. Ia jelas-jelas merasa tidak nyaman—
teramat sangat tidak nyaman. Penyesalan terpancar di
matanya saat kami beradu pandang.
Edward menggeram sangat pelan.
“Jaga sikapmu!” desisku.
Suara Edward terdengar sinis. “Dia ingin mengobrol
denganmu.”
Jacob sampai di tempat kami, perasaan malu dan
menyesal makin jelas di wajahnya.
“Hei, Bella, aku memang berharap kau ada di sini.”
Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Tapi
senyumnya tetap hangat.
“Hai, Jacob.” Aku balas tersenyum. “Apa kabar?”
“Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu,
memandang Edward untuk pertama kali. Aku terkejut
melihat Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Ia pasti
telah bertambah tinggi beberapa senti sejak pertama kali aku
melihatnya.
Wajah Edward tenang ekspresinya hampa. Satu-satunya
jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri
di atas kakiku sendiri, lalu mundur selangkah.
“Terima kasih,” kata Jacob ramah.
Edward hanya mengangguk, menatapku lekat-lekat
sebelum berbalik menjauh.
Jacob menaruh tangannya di pinggangku, dan aku
mengulurkan tangan ke bahunya.
“Wow, Jake, berapa tinggimu sekarang?”
Ia tampak bangga. “Seratus delapan puluh lima senti.”
Kami tidak benar-benar berdansa—mustahil dengan
kondisi kakiku saat ini. Sebagai gantinya, dengan canggung
kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa
menggerakkan kaki. Itu bagus juga, dengan tingginya
sekarang ia jadi tampak kurus, jangkung dan tak seimbang,
hingga barangkali ia bukan pedansa yang lebih baik
daripada diriku sendiri.
“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku
bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. Melihat reaksi
Edward tadi, aku bisa menduga jawabannya.
“Kau percaya, ayahku memberiku dua puluh dolar
supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui, sedikit
malu-malu.
“Ya, aku percaya,” gumamku. “Well, kuharap
setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?” aku
menggodanya, memberi isyarat dengan kepala ke
sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai
sekumpulan gaun warna pastel.
“Yeah,” ia mendesah. “Tapi dia sudah bersama
seseorang.”
Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan
penasaranku— kemudian kami sama-sama berpaling,
merasa jengah.
“Omong-omong kau cantik sekali,” ia menambahkan
malu-malu.
“Mm, ttims. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya
datang ke sini?” aku buru-buru bertanya, meskipun aku
tahu jawabannya.
Jacob tidak kelihatan senang karena topik percakapan
kami berubah. Ia memalingkan wajah, sekali lagi merasa
jengah.
“Katanya, di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara
denganmu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan
akal sehatnya.”
Aku ikut tertawa, namun lemah.
“Lagi pula, katanya, kalau aku mengatakan sesuatu
padamu dia akan membelikan master cylinder yang
kubutuhkan,” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.
“Kalau begitu, katakan saja padaku. Aku ingin kau bisa
menyelesaikan mobilmu.” Aku balas tersenyum. Setidaknya
Jacob tidak memercayai satu pun kegilaan ini. Itu membuat
keadaan sedikit lebih mudah. Sambil bersandar di dinding
Edward memandang wajahku, sementara wajahnya sendiri
datar. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink
mengawasinya malu-malu, namun sepertinya Edward tidak
menyadari keberadaan cewek itu.
Jacob berpaling lagi, merasa malu. “Jangan marah,
oke?”
“Tidak mungkin aku marah padamu, Jacob,” aku
meyakinkannya. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy.
Katakan saja apa yang harus kaukatakan.”
“Well—ini bodoh sekali, maafkan aku. Bella—dia ingin
kau putus dengan pacarmu. Dia memintaku untuk
memohon padamu.” Ia menggeleng jijik.
“Dia masih percaya takhayul, eh?”
“Yeah. Dia... seperti kebakaran jenggot waktu kau
mengalami kecelakaan di Phoenix. Dia tidak percaya...”
Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya.
Mataku menyipit. “Aku terjatuh.”
“Aku tahu itu,” Jacob langsung menyahut.
“Pikirnya, Edward ada kaitannya dengan kecelakaan
yang menimpaku.” Itu bukan pertanyaan, dan terlepas dari
janjiku, aku merasa marah.
Jacob tak berani menatapku. Kami bahkan tak lagi repotrepot
bergoyang mengikuti musik, meskipun tangannya
masih di pinggangku, dan tanganku melingkar di lehernya.
“Begini, Jacob, aku tahu Billy barangkali tidak bakal
percaya tapi hanya supaya kau tahu”—ia memandangku
sekarang, bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku—
“Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku.
Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya, aku pasti
sudah mati.”
“Aku tahu,” ujarnya. Sepertinya ucapan tulusku telah
sedikit memengaruhinya. Paling tidak mungkin nantinya ia
bisa meyakinkan Billy.
“Hei, aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini,
Jacob,” aku meminta maaf. “Setidaknya, yang penting kau
mendapatkan onderdilmu, ya kan?”
“Yeah,” gumamnya. Ia masih tampak canggung...
kecewa.
“Ada lagi?” tanyaku tak percaya.
“Lupakan saja,” gumamnya, “aku akan mencari
pekerjaan dan menabung sendiri.”
Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang.
“Katakan saja, Jacob.”
“Ini buruk sekali.”
“Aku tak peduli. Beritahu aku,” desakku.
“Oke... tapi, hhh, ini kedengarannya buruk sekali.” Ia
menggeleng “Dia menyuruhku memberitahumu, bukan,
memperingatkanmu, bahwa – dan ini kata-katanya, bukan
aku” – ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan
membuat tanda kutip – “Kami akan mengawasi.” Dengan
hati-hati ia menunggu reaksiku.
Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Aku
tertawa keras-keras.
“Aku menyesal kau harus melakukan ini. Jake,” olokku.
“Aku tidak terlalu keberatan.” Ia tertawa lega.
Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusuri
gaunku. “Jadi, haruskah aku menyuruhnya untuk jangan
ikut campur?” tanyanya penuh harap.
“Tidak,” desahku. “Bilang padanya aku berterima kasih.
Aku tahu dia bermaksud baik.”
Musiknya berhenti, dan kulepaskan lenganku dari
lehernya.
Tangannya masih di pinggangku, dan ia memandang
kakiku yang digips. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah
aku membantumu bergerak ke suatu tempat?”
Edward menjawabnya untukku. “Tidak apa-apa, Jacob.
Aku yang mengambil alih.”
Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap
Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.
“Hei, aku tidak melihatmu di situ,” gumam Jacob.
“Kalau begitu, sampai ketemu, Bella.” Ia melangkah
mundur, melambai dengan setengah hati.
Aku tersenyum. “Yeah, sampai ketemu.”
“Maaf,” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.
Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai
dimainkan. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat,
tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Kusandarkan
kepalaku di dadanya, merasa senang.
“Merasa lebih baik?” godaku.
“Tidak juga,” katanya singkat.
“Jangan marah pada Billy,” desahku. “Dia hanya
mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Bukan
apa-apa.”
“Aku tidak marah pada Billy,” ia meralat tajam. “Tapi
anak laki-lakinya membuatku jengkel.”
Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya.
Wajahnya sangat serius. “Kenapa?”
“Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku
sendiri.”
Aku menatapnya tidak mengerti.
Ia setengah tersenyum. “Aku sudah berjanji takkan
melepaskanmu malam ini,” ia menjelaskan.
“Oh. Well, aku memaafkanmu.”
“Terima kasih. Tapi ada hal lain.” Wajah Edward
cemberut.
Aku menunggu dengan sabar.
“Dia menyebutmu cantik,” akhirnya ia meneruskan katakatanya,
kerutan di wajahnya semakin nyata. “Mengingat
penampilanmu saat ini, itu bisa dibilang menghina. Kau
lebih dari sekadar cantik.”
Aku tertawa. “Kau mungkin sedikit bias.”
“Kurasa tidak. Lagi pula, aku punya daya lihat yang
sempurna.”
Kami kembali berdansa, kakiku di atas kakinya saat ia
menarikku lebih dekat.
“Jadi, apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua
ini?” aku bertanya-tanya.
Ia menunduk menatapku, bingung, dan aku memandang
pita kertas krep dengan penuh arti.
Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah, memutarmutar
tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang
gym. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang
setang berdansa sambil memandangiku penasaran. Jessica
melambai, dan aku balas tersenyum padanya. Angela juga
ada di sana, tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si
kecil Ben Cheney; Angela tak pernah melepaskan
pandangannya dari Ben, yang sedikit lebih pendek
daripadanya. Lee, Samantha, Lauren, dan Conner menatap
kami geram; aku bisa menyebutkan semua orang yang
menari melewatiku. Kemudian kami sampai di luar, di
bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara
sejuk.
Begitu kami sendirian, ia menggendong dan
membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di
bawah bayangan pepohonan madrone. Ia duduk di sana,
sambil terus memelukku erat di dadanya. Bulan telah
muncul di langir, rampak jelas di antara awan-awan tipis,
dan wajahnya bertambah pucat dalam cahaya putih.
Mulutnya tegang, matanya resah.
“Intinya?” aku memulai dengan lembut.
Ia mengabaikanku, menatap bulan.
“Twilight, lagi,” gumamnya. “Akhir yang lain. Tak
peduli berapa sempurna sebuah hari, toh harus berakhir
juga.”
“Beberapa hal tak perlu berakhir,” gumamku setengah
mendesis, langsung tegang.
Ia mendesah.
“Aku membawamu ke prom,” katanya pelan, akhirnya
menjawab pertanyaanku, “karena aku tak ingin kau
kehilangan momen apa pun. Aku tak ingin kehadiranku
menjauhkanmu dan segala peluang kalau aku bisa
membuatnya terjadi. Aku ingin kau menjadi manusia. Aku
ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku
mati pada tahun 1918.”
Aku bergidik mendengar kata-katanya, lalu menggeleng
marah. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal
pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri?
Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku, aku
takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari.”
Ia tersenyum sekilas, tapi senyum itu tidak menyentuh
matanya. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.”
“Itu karena aku bersamamu.”
Beberapa saat kami terdiam. Ia menatap bulan dan aku
menatapnya. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa
aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia
yang normal.
“Maukah kau memberirahuku sesuatu?” tanyanya,
menunduk, menatapku seraya tersenyum simpul.
“Bukankah aku selalu melakukannya?”
“Berjanjilah kau akan memberitahuku,” desaknya,
tersenyum.
Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. “Baiklah.”
“Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui
aku akan membawamu ke sini,” ia memulai.
“Memang” selaku.
“Tepat,” ia menyetujui. “Tapi kau pasti sudah punya
teori lain... aku penasaran—kaupikir kenapa aku
mendandanimu seperti ini?”
Benar, aku langsung menyesal. Kucibirkan bibirku, raguragu.
“Aku tidak ingin memberitahumu.”
“Kau sudah berjanji,” tukasnya keberatan.
“Aku tahu.” “Apa masalahnya?”
Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku.
“Kurasa itu akan membuatmu marah—atau sedih.”
Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya.
“Aku masih ingin tahu. Kumohon.”
Aku mendesah. Ia menunggu.
“Well. Aku menduga itu semacam... acara istimewa.
Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa... prom!”
ejekku.
“Manusia?” tanyanya datar. Ia memilih kata kuncinya.
Aku memandangi gaunku, memainkan chiffon-nya. Ia
menunggu dalam diam.
“Oke,” aku buru-buru mengaku. “Aku berharap kau
mungkin berubah pikiran... bahwa kau akan mengubahku,
akhirnya.”
Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. Aku
mengenali beberapa di antaranya: amarah... sedih...
kemudian ia tampak senang.
“Kaupikir itu sejenis acara resmi, ya?” godanya sambil
menyentuh kerah tuksedonya.
Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku.
“Aku kan tidak tahu. Setidaknya bagiku ini lebih masuk
akal daripada prom.”
Ia masih nyengir.
“Tidak lucu, tahu,” kataku.
“Tidak, kau benar, ini tidak lucu,” ia menimpali,
senyumnya memudar. “Meskipun begitu aku lebih suka
menganggapnya lelucon, daripada percaya bahwa kau
serius.”
“Tapi aku memang serius.”
Ia menghela napas dalam. “Aku tahu. Dan kau benarbenar
menginginkannya?”
Kepedihan itu kembali tampak di matanya. Kugigit
bibirku dan mengangguk
“Kau siap mengakhiri semua ini,” gumamnya, nyaris
kepada dirinya sendiri, “siap menjadikan ini akhir
hidupmu, meskipun hidupmu bahkan belum dimulai. Kau
siap merelakan semuanya.”
“Ini bukan akhir, ini baru permulaan,” sergahku, suaraku
berbisik.
“Aku tidak pantas mendapatkannya,” katanya sedih.
“Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku
sendiri dengan sangat jelas?” tanyaku, satu alisku terangkat.
“Kau sama butanya denganku.”
“Aku tahu siapa diriku.”
Aku mendesah.
Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah
memengaruhiku. Ia mengerutkan bibir dan matanya
mencari-cari. Ia mengamati wajahku lama sekali.
“Kalau begitu, kau sudah siap?” tanyanya.
“Mmm.” Kutelan liurku. “Ya?”
Ia tersenyum, lalu perlahan-lahan menunduk hingga
bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut
rahang.
“Sekarang juga?” ia berbisik, napasnya terasa sejuk di
kulitku. Tanpa sadar aku gemetar.
“Ya,” bisikku, jadi suaraku tidak terdengar parau. Kalau
dipikirnya aku hanya menggertak, ia bakal kecewa. Aku
sudah membuat keputusan ini, dan aku yakin. Tak peduli
tubuhku kaku seperti papan, kedua tanganku mengepal,
napasku tak beraturan...
Ia tergelak misterius, lalu menjauh. Wajahnya memang
kelihatan kecewa.
“Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal
menyerah semudah itu,” ejeknya.
“Seorang gadis boleh bermimpi.”
Alisnya terangkat. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi
monster?”
“Tidak juga,” kataku, cemberut mendengar pilihan
katanya. Monster. “Aku lebih sering memimpikan
bersamamu selamanya.”
Ekspresinya berubah, melembut, sedih mendengar
kepedihan dalam suaraku.
“Bella.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. “Aku
akan tinggal bersamamu—tidakkah itu cukup?”
Aku tersenyum di bawah jemarinya. “Untuk sekarang,
ya.”
Wajahnya cemberut melihat tekadku. Tak seorang pun
bakal mengalah malam ini. Ia menghela napas, dan suara
yang dikeluarkannya jelas geraman.
Kusentuh wajahnya. “Dengar,” kataku. “Aku
mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila
digabungkan. Tidakkah itu cukup?”
“Ya, itu cukup,” jawabnya, tersenyum. “Cukup untuk
selamanya.”
Dan ia pun membungkuk lagi, menekankan bibir
dinginnya sekali lagi ke leherku.
Selesai
Sinopsis
“Tentang tiga hal aku benar-benar yakin:
Pertama, Edward seorang vampir.
Kedua, ada sebagian dirinya—dan aku tak tahu seberapa
dominan bagian itu—yang haus akan darahku.
Dan ketiga, aku mencintainya. Dan cintaku padanya
teramat dalam dan tanpa syarat.”
Ketika Isabella Swan pindah ke Forks yang muram, ia
bertemu Edward Cullen, cowok misterius sangat memesona
yang membuat perasaannya jungkir balik Dengan kulit
porselen, mata keemasan, dan suara merdu memikat,
Edward sungguh sosok teramat menarik yang membuat
Isabella terpikat. Selama ini Edward telah berhasil
menyembunyikan identitasnya yang sesungguhnya, tapi
Bella bertekad untuk menyiih3ut4jn rahasia paling
kelamnya.
Hanya saja Bella sama sekali tidak menyadari bahaya
yang menantinya, ketika hubungannya dengan Edward
semakin akrab. Dan sanggupkah Bella berpaling dan
meninggalkan Edward sebelum segalanya terlambat dan tak
ada jalan kembali baginya?
Ini adalah kisah cinta terlarang. Dan seperti cinta
terlarang lainnya, cinta ini tak mengenal jalan kembali,
selain menjadi hidup dan sekaligus mati pada saat yang
sama.

Selesai

1 Response to "Twilight 3"

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified