Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Twilight 2

Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.

"Sungguh, aku tidak merasa syok," protesku.

"Kau seharusnya syok—seperti umumnya orang normal.

Kau bahkan tidak terlihat gemetaran." Ia tampak khawatir.

Ia menatap ke dalam mataku, dan aku melihat betapa

matanya terang, lebih terang daripada yang pernah kulihat,

cokelat keemasan.

"Aku merasa sangat aman denganmu," ujarku, begitu

terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi.

Perkataanku membuatnya tidak nyaman; alisnya yang

berwarna pualam mengerut. Ia menggeleng, wajahnya

cemberut.

"Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan."

gumamnya pada diri sendiri.

Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya, sambil

menebak ekspresinya. Aku bertanya-tanya kapan saat yang

tepat untuk mulai bertanya padanya.

"Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu

terang." ujarku, mencoba mengalihkannya dari pikiran apa

pun yang membuatnya cemberut dan murung.

Ia menatapku, terkesima. "Apa?"

"Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna

hitam—tadi kupikir matamu berubah kelam," lanjutku. Aku

punya teori tentang itu.

Matanya menyipit. "Teori lagi?"

"Mm-hm." Aku mengunyah sepotong kecil roti, berusaha

terlihat cuek.

"Kuharap kau lebih kreatif kali ini... atau kau masih

mengutip dari buku-buku komik?" Senyumnya mengejek,

namun tatapannya masih tegang.

"Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik, tapi

aku juga tidak menduga-duganya sendiri," aku mengakui.

"Dan?" sambarnya.

Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku.

Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan

tubuh kami ke tengah, karena kami langsung duduk tegak

lagi ketika si pelayan datang. Ia menaruh makanan itu di

depanku—sepertinya lumayan enak—dan langsung berbalik

menghadap Edward.

"Apakah kau berubah pikiran?" tanyanya. "Kau tak ingin

kubawakan sesuatu?" Aku mungkin saja membayangkan

makna ambigu dalam kata-katanya.

"Tidak, terima kasih, tapi kau boleh membawakan soda

lagi.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk

gelasku yang kosong.

“Tentu." Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja

dan berlalu.

"Apa katamu tadi?" tanya Edward

"Aku akan menceritakannya di mobil. Kalau..." aku

berhenti.

"Ada syaratnya?" Ia mengangkat satu alisnya, suaranya

terdengar waswas.

"Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan."

"Tidak masalah."

Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. Kali ini ia

meletakkannya tanpa bicara, lalu pergi.

Aku menyesapnya.

“Well, ayo mulai,” ia mendesakku, suaranya masih

tegang.

Aku memulai dengan yang paling sederhana. Atau

begitulah menurutku. "Kenapa kau berada di Port

Angeles?"

Ia menunduk, perlahan-lahan melipat tangannya yang

besar di meja. Meski menunduk, bisa kulihat matanya

berkilat menatapku dari balik bulu matanya, menandakan ia

mengejekku.

"Berikutnya."

"Tapi itu yang paling mudah," ujarku keberatan.

"Berikutnya," ia mengulangi perkataannya.

Aku menunduk, kesal. Kuambil garpu dan dengan hatihati

membelah ravioli-nya. Pelan-pelan aku

memasukkannya ke mulut, masih menunduk, mengunyah

sambil berpikir. Jamurnya enak. Aku menelan dan

menyesap Coke lagi sebelum mendongak.

"Oke, kalau begitu." Aku memandangnya marah, dan

perlahan melanjutkan pertanyaan. "Katakan saja, secara

hipotesis tentu saja, seseorang... bisa mengetahui apa yang

dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu—dengan

beberapa pengecualian."

"Hanya satu pengecualian," ia meralatku, “secara

hipotesis.”

"Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian. Aku

senang ia bersedia meladeniku. tapi aku berusaha terlihat

kasual "Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya?

Bagaimana bisa... seseorang... menemukan

orang lain pada saat yang tepat? Bagaimana kau bisa tahu

dia sedang dalam kesulitan?" Aku bertanya-tanya apakah

pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.

"Secara hipotetis?" tanyanya.

"Tentu saja."

"Well, kalau... seseorang itu..."

"Sebut saja dia Joe," aku mengusulkan.

Ia tersenyum ironis. "Ya sudah. Kalau Joe

memerhatikan, pemilihan waktunya tak perlu setepat itu."

Ia menggeleng, memutar bola matanya. "Hanya kau yang

bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa

membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun

waktu satu dekade, kau tahu itu."

"Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis," aku

mengingatkannya dengan nada dingin.

Ia tertawa, matanya hangat.

"Betul juga," sahurnya menyetujui. "Bisakah kita

memanggilmu Jane?"

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku, tak mampu

membendung rasa penasaranku. Aku menyadari telah

mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi.

Sepertinya ia bergidik, disiksa dilema yang berkecamuk

dalam batinnya. Kami bertatapan, dan kurasa ia sedang

membuat keputusan, mengatakan yang sejujurnya atau

tidak.

“Kau tahu, kau bisa memercayaiku," gumamku. Tanpa

berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh

tangannya yang terlipat, tapi ia langsung menariknya,

begitu juga aku.

"Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan."

Suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku salah – kau lebih teliti

daripada yang kukira."

"Kupikir kau selalu benar."

"Biasanya begitu." Ia kembali menggeleng. "Aku juga

salah menilaimu mengenai suatu hal. Kau bukan daya tarik

terhadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup luas.

Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau ada sesuatu yang

berbahaya dalam radius sepuluh mil, masalah itu selalu bisa

menemukanmu.”

"Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori

itu?" tebakku.

Raut wajahnya berubah dingin, tanpa ekspresi. "Tak

salah lagi."

Kuulurkan tanganku sekali lagi—mengabaikan ketika ia

mencoba menariknya—dan dengan hati-hati menyentuh

punggung tangannya. Kulitnya dingin dan keras, seperti

batu.

"Terima kasih." Suaraku benar-benar tulus. "Sudah dua

kali kau menyelamatkanku."

Ketegangan di wajahnya mencair. "Jangan ada yang

ketiga kali, oke?"

Aku cemberut, tapi mengangguk. Ia menarik tangannya

dan menaruhnya di bawah meja. Tapi ia mencondongkan

tubuhnya ke arahku.

"Aku membuntutimu ke Port Angeles," akunya terburuburu.

"Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan

ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali

itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya

bisa melewati satu hati tanpa mengalami begitu banyak

bencana." Ia berhenti. Aku bertanya-tanya apakah

seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia

membuntutiku: tapi sebaliknya aku malah senang. Ia

menatapku, barangkali bertanya-tanya mengapa aku tibatiba

tersenyum.

"Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku

sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah

mencampurinya?" tanyaku berspekulasi, mengalihkan

kecurigaanku.

"Itu bukan yang pertama," katanya, suaranya sulit

didengar. Aku menatapnya terpana, tapi ia menundukkan

kepala. "Takdir pertama kali memilihmu ketika aku

bertemu denganmu."

Aku merasakan sekelumit perasaan ngeri mendengar

kata-katanya, ditambah ingatan akan tatapan kelam

matanya yang sekonyong-konyong hari itu... tapi perasaan

aman yang sangat hebat berkat kehadirannya

mengenyahkan semuanya. Ketika ia mendongak untuk

menatap mataku, tak ada secercah pun rasa takut di

dalamnya.

"Kau ingat?" tanyanya, wajahnya yang tampan berubah

serius.

"Ya," sahutku tenang.

"Tapi toh sekarang kau duduk di sini." Ada secercah

keraguan dalam suaranya, salah satu alisnya terangkat.

"Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu." Aku terdiam

sebentar. "Karena entah bagaimana kau tahu bagaimana

menemukanku hari ini...?" semburku.

Ia mengatupkan bibirnya erat-erat, matanya yang

menyipit menatapku, kembali menimbang-nimbang. Ia

memandangi piringku yang masih penuh, lalu menatapku

lagi.

“Kau makan, aku bicara," usulnya.

Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan

mengunyahnya.

"Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya.

Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku

bisa dengan mudah menemukannya." Ia menatapku

waswas, dan aku menyadari tubuhku mematung. Kupaksa

menelan makananku, lalu menusuk ravioli-nya lagi dan

menyuapnya.

"Secara tidak hati-hati aku mengikuti Jessica—seperti

kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port

Angeles – dan awalnya aku tidak memerhatikan ketika kau

pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak

bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang

kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk ke

sana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau toh

harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara

acak membaca pikiran orang-orang di jalan—melihat

apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di

mana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir...

tapi anehnya aku toh khawatir juga." Ia melamun,

tatapannya menembusku, melihat hal-hal yang tak bisa

kubayangkan.

"Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil...

mendengarkan. Matahari akhirnya terbenam, dan aku

nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan

lalu—" la berhenti, menggertakkan giginya akibat amarah

yang sekonyong-konyong muncul. Ia mencoba

menenangkan dirinya sendiri.

“Lalu apa?" bisikku. Pandangannya tetap menerawang.

“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan," geramnya,

bibir atasnya menyelip masuk di antara giginya. "Aku

melihat wajahmu dalam pikirannya." Tiba-tiba Edward

mencondongkan tubuh, satu siku bertengger di meja,

tangan menutupi mata. Gerakan itu begitu cepat sehingga

membuatku bingung.

"Sulit... sekali—kau tak bisa membayangkan betapa

sulitnya—hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan

mereka... tetap hidup." Suaranya tidak jelas, tertutup

lengannya.

"Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan

Angela tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian,

aku akan pergi mencari mereka," ia mengakui dalam

bisikan.

Aku duduk diam. kepalaku pening, pikiranku campur

aduk. Tanganku terlipat di pangkuan, dan aku bersandar

lemah di kursi. Tangannya masih menutupi wajah, dan ia

masih tak bergerak, bagai patung batu.

Akhirnya ia mendongak, matanya mencari-cari mataku,

penuh dengan pertanyaannya sendiri.

"Kau sudah siap pulang?" tanyanya.

"Ya, aku siap," aku mengiyakan, amat sangat bersyukur

dapat pulang bersamanya. Aku belum siap berpisah

dengannya.

Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. Atau

memerhatikan.

"Jadi bagaimana?" ia bertanya kepada Edward.

"Kami mau bayar, terima kasih." Suaranya tenang, agak

serak, masih tegang oleh obrolan tadi. Sepertinya ini

membuat si pelayan bingung. Edward mendongak,

menunggu.

"T-tentu," ujar pelayan itu terbata-bata. "Ini dia." Ia

mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek

hitamnya dan menyerahkannya pada Edward.

Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. Ia

menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi

pada si pelayan.

"Simpan saja kembaliannya." Edward tersenyum, lalu

bangkit. Aku ikut berdiri dengan susah payah.

Ia tersenyum menggoda lagi kepada Edward. "Semoga

malammu menyenangkan."

Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan

terima padanya. Aku menyembunyikan senyumku.

Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu, masih berhatihati

agar tidak menyentuhku. Aku teringat ucapan Jessica

tentang hubungannya dengan Mike, bagaimana mereka

nyaris sampai ke tahap ciuman. Aku menghela napas.

Edward sepertinya mendengar, dan ia menunduk

penasaran. Aku memandang trotoar, bersyukur karena ia

sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan.

Ia membukakan pintu untukku dan menunggu sampai

aku masuk, lalu menutupnya dengan lembut. Aku

memerhatikannya memutar ke depan, masih mengagumi

keanggunannya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa

dengan itu sekarang—tapi nyatanya belum. Firasatku

mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan

Edward.

Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan

pemanas hingga maksimal. Udara dingin sekali, dan kurasa

cuaca bagusnya sudah berakhir. Meski begitu aku merasa

hangat dalam balutan jaketnya, menghirup aromanya ketika

kupikir ia sedang tidak melihat.

Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran,

sepertinya tanpa melirik, berputar menuju jalan tol.

"Sekarang," katanya, "giliranmu."

9. TEORI

"BOLEH aku bertanya satu hal lagi?" aku memohon

ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang

sepi. Sepertinya ia tidak memerhatikan jalan. Ia menghela

napas.

"Satu saja," katanya menyetujui. Bibirnya mengatup

membentuk ekspresi hati-hati.

"Well... katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku

itu, dan aku pergi ke selatan. Aku hanya bertanya-tanya

bagaimana kau mengetahuinya."

Ia berpaling, sengaja.

“Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu,"

gerutuku.

Ia nyaris tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Aku mengikuti aroma tubuhmu."

Ia memandang jalan, memberiku waktu untuk mengatur

ekspresi. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk

menanggalnya, tapi akan kusimpan jauh-jauh untuk

dipikirkan nanti. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Aku

belum siap membiarkannya selesai, mengingat sekarang ia

mau menjelaskan semuanya.

"Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi...,”

aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Ia memandang tidak setuju padaku. "Yang mana?"

"Bagaimana caranya—membaca pikiran? Bisakah kau

membaca pikiran siapa saja, di mana saja? Bagaimana kau

melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa...?" Aku

merasa konyol, meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak

nyata.

"Itu lebih dari satu pertanyaan," protesnya. Aku hanya

menjalin jari-jariku dan menatapnya, menanti jawaban.

"Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa

mendengar siapa saja, di mana saja. Aku harus cukup dekat

dengan orang itu. Semakin aku mengenal "suara"

seseorang, meski jauh pun aku bisa mendengar mereka.

Tapi tetap saja, tak lebih dari beberapa mil." Ia berhenti

dengan penuh pertimbangan. "Kurang-lebih seperti berada

di ruangan besar penuh orang, semua bicara serentak.

Hanya suara senandung—suara-suara dengungan di latar

belakang. Setelah aku terfokus pada satu suara, barulah apa

yang mereka pikirkan menjadi jelas.

"Kebanyakan aku mendengarkan semuanya—dan itu

bisa sangat mengganggu. Kemudian lebih mudah untuk

terlihat normal"—dahinya berkerut ketika

mengatakannya— “ketika aku sedang tidak sengaja

menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang

dikatakannya."

"Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?" tanyaku

penasaran.

Ia menatapku, sorot matanya misterius.

"Aku tidak tahu," gumamnya. "Satu-satunya dugaanku,

adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang

lainnya. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di

gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkap

gelombang FM." tersenyum jail, tiba-tiba tertawa.

"Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu, aku

aneh?" Kata-katanya menggangguku lebih dari yang

seharusnya—barangkali karena memang benar. Aku sendiri

menduga diriku memang aneh, hingga akhirnya merasa

malu bila terbukti benar.

"Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku

dan justru kau yang khawatir dirimu aneh," ia tertawa.

"Jangan khawatir, itu cuma teori..." Wajahnya menegang.

"Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu."

Aku menghela napas. Bagaimana memulainya?

"Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak

sekarang ini?" dengan lembut ia mengingatkanku.

Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya,

mencoba berpikir. Kebetulan aku memerhatikan

spidometernya.

"Gila!" seruku. "Pelankan mobilnya!"

"Kenapa?" Ia bingung. Tapi kecepatan mobil tidak

berkurang.

"Kau melaju seratus mil per jam!" aku masih berteriak.

Aku menatap panik ke luar jendela, tapi terlalu gelap

sehingga tak bisa melihat apa-apa. Jalanan hanya tampak

sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. Hamparan

hutan di kedua sisi jalan bagai dinding hitam—sekeras

dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan

kecepatan ini.

“Tenang, Bella." Ia memutar bola matanya, masih tidak

memperlambat kecepatannya.

“Apa kau mencoba membunuh kita berdua?" tanyaku.

"Kita tidak akan tabrakan."

Aku mencoba mengubah intonasiku. "Kenapa kau

terburu-buru seperti ini?"

"Aku selalu mengemudi seperti ini." Ia berbalik,

tersenyum lebar padaku.

"Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!"

"Aku belum pernah mengalami kecelakaan, Bella—aku

bahkan belum pernah ditilang." Ia nyengir dan menepuknepuk

dahinya. "Radar pendeteksi alami."

"Sangat lucu," tukasku marah. "Charlie polisi, kau tidak

lupa, kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu

lintas. Lagi pula, kalau kau menabrak pohon dan membuat

kita berdua cedera, barangkali kau masih bisa selamat."

"Barangkali," ia menyetujui gurauanku, kemudian

tertawa sebentar. "Tapi kau tidak." Ia menghela napas, dan

dengan lega aku memerhatikan jarum kecepatan perlahanlahan

menunjukkan angka delapan puluh. "Puas?"

"Hampir."

"Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan," gumamnya.

"Kaubilang ini pelan?"

"Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku,"

tukasnya. "Aku masih menantikan teori terakhirmu."

Aku menggigit bibir. Ia menunduk memandangku,

matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka

melembut.

"Aku tidak bakal tertawa," janjinya.

"Aku lebih khawatir kau bakal marah padaku."

"Seburuk itukah?"

"Kurang-lebih, ya."

Ia menunggu. Aku menunduk memandang tanganku,

jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. Katakan saja."

Suaranya tenang.

"Aku tak tahu bagaimana memulainya,” akuku.

"Kenapa kau tidak mulai dari awal... katamu

kesimpulanmu tidak muncul begitu saja."

"Tidak."

"Apa yang memicunya—buku? Film?" ia mencoba

menebak.

"Tidak—semuanya berawal hari Sabtu, di pantai." Aku

memberanikan diri melirik wajahnya. Ia tampak bingung.

"Aku bertemu teman lama keluargaku—Jacob Black,"

aku melanjutkan. "Ayahnya dan Charlie telah berteman

sejak aku masih bayi."

Ia masih tampak bingung.

"Ayahnya salah satu tetua suku Quileute." Aku

mengamatinya dengan hati-hati. Ekspresinya masih sama.

"Kami jalan-jalan—" aku mengubah ceritaku, tidak seperti

rencana semula "—dan dia menceritakan beberapa legenda

tua—kurasa dia mencoba menakut-nakutiku. Dia

menceritakan salah satunya..." aku berhenti, ragu-ragu.

"Lanjutkan," katanya.

"Tentang vampir." Aku sadar suaraku berbisik. Aku tak

sanggup menatap wajahnya sekarang. Tapi aku melihat

genggamannya menguat, mencengkeram roda kemudi.

"Dan kau langsung teringat padaku?" Suaranya masih

tenang.

“Tidak. Dia... menyebut keluargamu." Ia tak

mengatakan apa-apa, terus menatap jalan. Sekonyongkonyong

aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob.

“Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol," aku

buru-buru berkata. "Dia tidak bermaksud supaya aku

berpikir yang bukan-bukan." Sepertinya ucapanku itu tidak

cukup; aku harus mengaku. "Itu salahku, aku yang

memaksanya bercerita padaku."

"Kenapa?"

“Lauren mengatakan sesuatu tentang kau—dia mencoba

memprovokasiku. Dan seorang cowok yang lebih tua dari

suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi, hanya

saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. Jadi

aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan

memancingnya agar mau bercerita," aku mengakuinya.

Ia tertawa, dan aku terkejut dibuatnya. Aku menatapnya.

Ia tertawa, tapi sorot matanya sengit, menatap lurus ke

depan.

"Memancingnya bagaimana?" tanyanya.

"Aku mencoba merayunya—dan ternyata hasilnya lebih

baik dari yang kuduga." Saat mengingatnya lagi, suaraku

memancarkan keraguan.

"Kalau saja aku melihatnya." Ia tergelak. "Dan kau

menuduhku membuat orang terpesona—Jacob Black yang

malang."

Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar

jendela menembus malam.

"Lalu apa yang kaulakukan?" ia bertanya lagi setelah

beberapa saat.

"Aku mencari keterangan di Internet."

"Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?" Suaranya

nyaris terdengar tidak tertarik. Tapi tangannya semakin

kuat mencengkeram kemudi.

"Tidak. Tidak ada yang cocok. Kebanyakan konyol.

Kemudian..." aku berhenti.

"Apa?"

“Kuputuskan itu tidak penting," bisikku.

"Itu tidak penting?” nada suaranya membuatku

mendongak—akhirnya aku berhasil membuatnya

menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Wajahnya

memancarkan ketidakpercayaan, dengan sedikit amarah

yang membuatku waswas.

"Tidak," kataku lembut. "Tidak penting bagiku apa pun

kau ini.”

Nada mengejek terdengar dalam suaranya. "Kau tidak

peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusiai"

"Tidak."

Ia terdiam, kembali memandang lurus ke depan.

Wajahnya pucat dan kaku.

"Kau marah," keluhku. "Aku seharusnya tidak

mengatakan apa-apa.”

"Tidak," katanya, tapi suaranya setegang wajahnya.

"Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan—bahkan

meskipun pikiranmu itu tidak waras."

"Jadi aku salah lagi?" tantangku.

"Bukan itu maksudku. 'Itu tidak penting!'" ia mengutip

kata-kataku, sambil mengatupkan rahangnya erat-erat.

"Aku benar?" tanyaku menahan napas.

"Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang.

"Tidak juga." Aku diam sebentar. "Tapi aku memang

penasaran." Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.

Tiba-tiba ia menyerah. "Apa yang membuatmu

penasaran?"

"Berapa umurmu?"

"Tujuh belas," ia langsung menjawab.

“Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?"

Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. "Cukup

lama," akhirnya ia mengaku.

“Oke.” Aku tersenyum, senang karena setidaknya ia mau

jujur padaku. Ia menunduk menatapku dengan sorot

memerhatikan, seperti yang dilakukannya sebelumnya,

ketika ia khawatir aku syok. Aku tersenyum lebar,

menghiburnya, dan ia cemberut.

"Jangan tertawa—tapi bagaimana kau bisa keluar di

siang hari?"

Bagaimanapun juga ia tertawa. "Mitos."

"Terbakar matahari?"

"Mitos."

"Tidur di peti mati?"

"Mitos." Ia ragu sesaat, lalu nada suaranya berubah

aneh. "Aku tidak bisa tidur."

Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami

jawabannya. "Sama sekali?"

"Tidak pernah," katanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. Mata

emasnya bertemu pandang denganku, dan aku tak mampu

berkata-kata. Aku menatapnya sampai ia berpaling.

"Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting."

Suaranya tegang sekarang, dan ketika menatapku lagi,

tatapannya dingin.

Aku berkedip, masih terkesima. "Yang mana?"

"Kau tidak peduli dengan makananku?" tanyanya sinis.

“Oh," gumamku, "itu."

"Ya, itu." Suaranya muram. "Tidakkah kau ingin tahu

apakah aku minum darah?"

Aku tersentak. "Well, Jacob mengatakan sesuatu tentang

itu."

"Apa yang dikatakan Jacob?" tanyanya datar.

"Dia bilang kau tidak... memburu manusia. Katanya

keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian

hanya memburu binatang."

"Dia bilang kami tidak berbahaya?" Suaranya terdengar

sangat sinis.

"Tidak juga. Dia bilang kalian seharusnya tidak

berbahaya. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan

kehadiran kalian di tanah mereka, untuk berjaga-jaga."

Ia menatap ke depan, tapi aku tak bisa menduga apakah

ia sedang melihat ke jalan atau tidak.

"Jadi apakah dia benar? Tentang tidak memburu

manusia?" Aku berusaha membuat suaraku sewajar

mungkin.

"Suku Quileute punya ingatan yang panjang," bisiknya.

Aku menganggapnya sebagai pembenaran.

"Tapi jangan senang dulu," ia mengingatkanku. "Mereka

benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Kami masih

berbahaya."

"Aku tidak mengerti."

"Kami berusaha," ia menjelaskan perlahan. "Kami

biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. Tapi

terkadang kami juga membuat kesalahan. Aku, contohnya,

membiarkan diriku berduaan denganmu."

"Kausebut ini kesalahan?" aku mendengar nada sedih

dalam suaraku, tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga.

"Kesalahan yang sangat berbahaya," gumamnya.

Kami sama-sama terdiam. Aku mengamati lampu sorot

yang meliuk mengikuti jalan. Sorot lampu itu bergerak

terlalu cepat; hingga tidak umpak nyata, seperti dalam video

game. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat, seperti jalanan

hitam di bawah kami. dan aku teramat sangat takut takkan

ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti inisecara

terbuka, tanpa dinding di antara kami. Kata-katanya

mencerminkan nada final, dan aku tersentak dibuatnya.

Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga

bersamanya.

"Ceritakan lagi," pintaku putus asa, tak peduli apa yang

dipikirkannya, hanya supaya aku bisa mendengar suaranya

lagi-

Ia menatapku, terkejut karena perubahan nada suaraku.

"Apa lagi yang ingin kauketahui?"

"Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan

manusia," kataku, suaraku masih memancarkan

keputusasaan. Aku menyadari mataku basah, dan aku

bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku.

"Aku tidak ingin menjadi monster." Suaranya sangat

pelan.

"Tapi binatang tidak cukup bukan?"

Ia berhenti. "Aku tidak yakin tentu saja, tapi aku

membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan

tahu dan susu kedelai; kami menyebut diri kami vegetarian,

lelucon di antara kami sendiri. Tidak benar-benar

memuaskan lapar kami—atau dahaga tepatnya. Tapi

membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Hampir

sepanjang waktu." Suaranya berubah Licik. "Kadangkadang

lebih sulit dari yang lainnya."

"Apakah sekarang sangat sulit bagimu?" tanyaku.

Ia menghela napas. “Ya."

"Tapi kau tidak sedang lapar," kataku yakin—

menyatakan, bukan bertanya.

“Kenapa kau berpikir begitu?"

"Matamu. Sudah kubilang aku punya teori. Aku

memerhatikan bahwa orang-orang—khususnya cowok—

lebih pemarah ketika mereka lapar."

Ia tergelak. "Kau ini memang pengamat, ya kan?”

Aku tidak menjawab; hanya mendengarkan suara

tawanya, berusaha mematrinya dalam ingatan.

"Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan

Emmett?" tanyaku memecah kesunyian.

"Ya." Ia berhenti sesaat, seolah-olah sedang memutuskan

akan mengatakan sesuatu atau tidak. "Aku tidak ingin

pergi, tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu

ketika aku tidak sedang haus."

"Kenapa kau tidak ingin pergi?”

"Itu membuatku... khawatir... berada jauh darimu."

Tatapannya lembut namun dalam, dan sepertinya

membuatku lemah. "Aku tidak bercanda ketika memintamu

untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis

lalu. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi

karena mengkhawarirkanmu. Dan setelah apa yang terjadi

malam ini, aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir

pekan ini tanpa tergores." Ia menggeleng, lalu sepertinya ia

ingat sesuatu. "Well, tidak benar-benar tanpa tergores."

“Apa?"

"Tanganmu," ia mengingatkanku. Aku memandang

telapak tanganku, ke guratan-guratan yang nyaris sembuh di

pergelangan tanganku. Matanya tak pernah luput dari apa

pun.

“Aku terjatuh," keluhku.

“Sudah kuduga." Bibirnya tersenyum. "Kurasa,

mengingat siapa dirimu, kejadiannya bisa lebih buruk lagi—

dan kemungkinan ini menyiksaku selama kepergianku. Tiga

hari yang amat panjang. Aku benar-benar membuat

Emmett kesal." Ia tersenyum menyesal.

“Tiga hari? Bukankah kau baru kembali hari ini?"

“Tidak, kami kembali hari Minggu."

"Lalu kenapa tak satu pun dari kalian masuk sekolah?"

Aku merasa kesal, nyaris marah memikirkan betapa

kecewanya aku karena ia tidak muncul.

“Well, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, dan

memang tidak. Tapi aku tak bisa keluar ketika matahari

bersinar—setidaknya, tidak di tempat yang bisa dilihat

orang."

"Kenapa?"

"Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu," ia berjanji.

Aku memikirkannya beberapa saat.

"Kau kan bisa meneleponku," kataku.

Ia bingung. "Tapi aku tahu kau baik-baik saja."

"Tapi aku tidak tahu di mana kau berada. Aku—" aku

ragu-ragu, mengalihkan pandanganku.

"Apa?" suaranya yang lembut mendesakku.

"Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. Itu juga

membuatku waswas." Wajahku merona ketika

mengatakannya terus terang.

Ia terdiam. Aku melirik, waswas, dan melihat ekspresi

terluka di wajahnya. "Ah," erangnya pelan. "Ini salah."

Aku tak bisa memahami reaksinya. "Memangnya aku

bilang apa?”

"Tidakkah kau mengerti, Bella? Tidak masalah bagiku

membuat diriku sendiri merana, tapi kalau kau melibatkan

dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi." Ia memalingkan

tatapannya yang terluka ke jalan, kata-katanya meluncur

terlalu cepat untuk dimengerti. "Aku tak mau mendengar

kau merasa seperti itu lagi." Suaranya pelan namun tegas.

Kata-katanya melukaiku. "Ini salah. Ini tidak aman. Aku

berbahaya. Bella—kumohon, mengertilah."

"Tidak." Aku berusaha sangat keras supaya tidak

terdengar seperti anak kecil yang merajuk.

“Aku serius," geramnya.

"Begitu juga aku. Sudah kubilang, tidak penting kau itu

apa. Sudah terlambat."

Suaranya menghardik, pelan dan parau. "Jangan pernah

katakan itu."

Kugigit bibitku, lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu

menyakitiku. Aku memandang jalan. Pasti kami sudah

dekat sekarang. Ia mengemudi terlalu cepat.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya, suaranya masih

muram. Aku hanya menggeleng, tak yakin apakah aku

sanggup bicara. Kurasakan tatapannya di wajahku, tapi aku

tetap memandang lurus ke muka.

"Kau menangis?" Ia terdengar terkejut. Aku tidak sadar

air mataku telah menetes. Bergegas aku menyekanya ,

dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi.

"Tidak," kataku, tapi suaraku parau.

Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya,

ragu-ragu ingin meraihku, tapi kemudian

mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di

roda kemudi.

"Maafkan aku." Suaranya sarat penyesalan. Aku tahu ia

tidak sekadar meminta maaf atas kata-katanya yang telah

membuatku sedih.

Kegelapan menyusup di antara keheningan.

"Katakan," ia bertanya setelah beberapa menit, dan aku

bisa mendengarnya berusaha lebih ceria.

"Ya?"

"Apa yang kaupikirkan malam ini, sebelum aku muncul?

Aku tak bisa mengerti ekspresimu—kau tidak terlihat

setakut itu, kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada

sesuatu."

"Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara

menghadapi serangan—kau tahu kan, ilmu bela diri. Aku

bermaksud menghancurkan hidungnya hingga melesak ke

kepalanya." Aku membayangkan cowok berambut gelap itu

dengan penuh kebencian.

"Kau akan melawan mereka?" Ini membuatnya kecewa.

"Tidakkah kau ingin melarikan diri?"

"Aku sering terjatuh kalau lari," aku mengakuinya.

"Bagaimana kalau berteriak meminta tolong?"

"Aku juga bermaksud melakukannya."

Ia menggeleng. "Kau benar—aku jelas-jelas melawan

takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup."

Aku menghela napas. Laju mobil memelan, melewati

perbatasan Forks. Hanya butuh kurang dari dua puluh

menit.

"Apakah besok kita akan bertemu?" tanyaku.

"Ya—ada tugas yang harus dikumpulkan." Ia tersenyum.

"Aku akan menunggumu saat makan siang."

Konyol, setelah semua yang kami lalui malam ini, janji

kecil itu masih saja membuat perutku mulas, dan aku tak

mampu bicara.

Kami di depan rumah Charlie. Lampu-lampunya

menyala, trukku ada di tempatnya, semuanya sangat wajar.

Rasanya seperti terbangun dari mimpi. Edward

menghentikan mobilnya, tapi aku tidak beranjak.

"Kau janji akan datang besok?"

"Aku janji."

Aku mempertimbangkannya beberapa saat, lalu

mengangguk. Kutanggalkan jaketnya, dan menghirup

aromanya untuk terakhir kali.

"Kau boleh menyimpannya—kau tidak punya jaket yang

bisa kaupakai besok," ia mengingatkanku.

Kukembalikan jaket itu padanya. "Aku tak mau

menjelaskannya pada Charlie."

“Oh, benar." Ia tersenyum.

Aku ragu-ragu, tanganku pada pegangan pintu, mencoba

mengulur-ulur waktu.

"Bella?" panggilnya dengan nada berbeda—serius tapi

ragu.

"Ya?" aku berbalik padanya, terlalu antusias.

"Maukah kau berjanji padaku?"

"Ya," kataku, dan langsung menyesali kesepakatan tanpa

syarat itu. Bagaimana kalau ia memintaku menjauhinya?

Aku tak bisa menepati janji itu.

"Jangan pergi ke hutan seorang diri."

Aku menatapnya bingung. "Kenapa?"

Dahinya mengerut, tatapannya tegang ketika

menerawang melewatiku, terus menembus jendela.

"Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana.

Anggap saja begitu."

Aku agak gemetar mendengar suaranya yang tiba-tiba

dingin, tapi lega. Ini, setidaknya, janji yang mudah

dipenuhi. "Terserah apa katamu."

"Sampai ketemu besok," desahnya, dan aku tahu ia

menginginkanku pergi sekarang.

"Baik kalau begitu." Dengan enggan kubuka pintunya.

"Bella?" aku berbalik dan ia mendekat padaku, wajah

tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku.

Jantungku berhenti berdetak.

"Tidur nyenyak ya," katanya. Napasnya menyapu

wajahku, membuatku terpana. Ini aroma menyenangkan

yang sama dengan yang tercium di jaketnya, namun lebih

kental. Mataku mengerjap, benar-benar terpesona. Lalu ia

menjauh.

Aku tak bisa bergerak hingga otakku mengurai dengan

sendirinya. Lalu aku melangkah canggung keluar, sampai

harus berpegangan pada sisi pintu. Kupikir aku

mendengarnya tertawa, tapi suaranya terlalu pelan jadi aku

tak yakin.

Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan,

kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan.

Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di

pojokan. Aku menyadari udara sangat dingin.

Aku meraih kunciku tanpa berpikir, membuka pintu, dan

masuk ke dalam.

Charlie memanggilku dari ruang tamu. "Bella?"

"Ya, Dad, ini aku." Aku beranjak masuk untuk

menemuinya. Ia sedang menonton pertandingan bisbol.

"Kau pulang cepat."

"Oh ya?" aku terkejut.

"Sekarang bahkan belum jam delapan," ia

memberitahuku. "Apakah kalian bersenang-senang?"

"Yeah—sangat menyenangkan." Kepalaku berputarputar

ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi.

"Mereka membeli gaun."

"Kau baik-baik saja?"

"Aku hanya lelah. Aku cukup banyak berjalan tadi."

"Well, barangkali kau harus berbaring." Ia terdengar

waswas. Aku membayangkan bagaimana rupaku. "Aku

akan menelepon Jessica dulu.”

"Bukankah kau baru saja bersamanya?" ia bertanya,

terkejut.

"Ya—tapi jaketku tertinggal di mobilnya. Aku mau

mengingatkan supaya dia membawakannya besok.

"Well, biarkan dia sampai rumah dulu.”

“Benar," aku menyetujuinya.

Aku pergi ke dapur, menjatuhkan diri di kursi, kelelahan.

Sekarang aku benar-benar merasa pusing. Aku

membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga.

Pegangan, perintahku.

Tiba-tiba telepon berbunyi, mengagetkanku. Aku

mengangkatnya.

"Halo?" desahku.

"Bella?"

"Hei, Jess, aku baru saja mau meneleponmu."

"Kau sudah sampai rumah?" Suaranya terdengar lega

dan terkejut.

"Ya. Jaketku tertinggal di mobilmu—bisakah kau

membawakannya besok?"

"Tentu saja. Tapi ceritakan apa yang terjadi!" pintanya.

"Mmm, besok saja—di kelas Trigono, oke?"

Ia langsung mengerti. "Oh, ayahmu ada di sana ya?"

"Ya, benar."

"Oke, kalau begitu kita ngobrol besok. Bye.”

Aku tahu ia sudah tidak sabar. "Bye, Jess."

Aku menaiki tangga perlahan, benar-benar nyaris

pingsan. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa

memerhatikan apa yang kulakukan. Baru ketika aku berada

di kamar mandi—airnya terlalu panas, menyengat kulitku—

aku tersadar diriku kedinginan. Selama beberapa menit

tubuhku bergetar cukup keras, hingga akhirnya semburan

air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Lalu aku

berdiri di bawah pancuran, terlalu lelah untuk bergerak,

sampai air hangatnya menyembur lagi.

Aku melangkah sempoyongan, membalut diriku dengan

handuk, berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya

aku tidak gemetar lagi. Aku langsung mengenakan pakaian

tidur dan menyusup ke bawah selimut, meringkuk,

memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. Beberapa kali aku

sempat gemetaran.

Pikiranku masih berputar-putar dipenuhi bayangan yang

tak bisa kumengerti, dan beberapa yang kucoba enyahkan.

Awalnya tak ada yang jelas, tapi semakin aku nyaris

tertidur, beberapa kemungkinan pun menjadi nyata.

Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama,

Edward adalah vampir. Kedua, ada sebagian dirinya—dan

aku tak tahu seberapa kuat bagian itu—yang haus akan

darahku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat,

selamanya.

10. INTEROGASI

KEESOKAN paginya, sulit berdebat dengan bagian

diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Logika

tak berpihak padaku, ataupun akal sehat. Aku bergantung

pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku—seperti

aroma tubuhnya. Aku yakin takkan pernah bisa

memimpikannya dengan usahaku sendiri.

Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut, benar-benar

sempurna. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari

ini. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat, teringat

aku tidak memiliki jaket. Bukti lagi bahwa ingatanku benar.

Ketika aku tiba di lantai dasar, Charlie sudah pergi lagi—

aku terlambat lebih dari yang kukira. Aku menelan tiga

gigitan granola, dan menyapunya dengan susu yang

langsung kuminum dari karton, lalu bergegas meninggalkan

rumah. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku

bertemu Jessica.

Cuaca di luar berkabut lebih dari biasa, udara nyaris

tertutup kabut. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan

wajahku yang telanjang. Tak sabar rasanya ingin

menyalakan pemanas di dalam truk. Kabut sangat tebal,

sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir di sana,

ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya—

mobil berwarna silver. Jantungku berdetak cepat, berhenti,

lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat.

Aku tak melihat dari mana datangnya, tapi tiba-tiba ia

sudah di sana, membukakan pintu untukku.

"Kau mau berangkat bersamaku hari ini?" tanyanya,

tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang

diberikannya lagi ini. Ada keraguan dalam suaranya. Ia

benar-benar memberiku pilihan—aku bebas menolak, dan

sebagian dirinya berharap begitu. Harapan yang sia-sia.

"Ya, terima kasih," kataku, berusaha tetap tenang. Ketika

masuk ke mobilnya yang hangat, aku memerhatikan jaket

krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. Ia

menutup pintu, dan lebih cepat dari seharusnya, ia sudah

duduk di sebelahku, menyalakan mobil.

"Aku membawakan jaket untukmu. Aku tak ingin kau

sakit atau apa." Suaranya hati-hati. Aku melihat ia sendiri

tidak mengenakan jaket, hanya kaus rajut lengan panjang

berkerah V warna abu-abu muda. Lagi-lagi bahan itu

melekat sempurna di dadanya yang bidang. Seperti biasa,

wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari

tubuhnya.

"Aku tak selemah itu, kau tahu," kataku, tapi kutarik

jaketnya ke pangkuan, mendorong lenganku ke lengan jaket

yang kelewat panjang, penasaran ingin mengetahui apakah

aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku.

Ternyata lebih baik.

“Benarkah?" ia menyangsikannya, suaranya sangat pelan

hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya.

Kami mengemudi melewati jalanan berselimut kabut,

Selalu terlalu cepat, terasa canggung. Setidaknya aku

merasa begitu. Semalam semua penghalang itu lenyap...

hampir semuanya. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa

seterbuka itu. Ini membuat lidahku kelu. Aku

menunggunya memulai.

Ia berbalik dan nyengir. "Apa? Tidak ada rentetan

pertanyaan hari ini?”

"Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?"

tanyaku, lega.

"Tidak seperti reaksimu." Ia kelihatan bergurau, tapi aku

tak yakin.

Aku cemberut. "Apakah reaksiku buruk?"

"Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan

tenang sekali—tidak wajar. Itu membuatku bertanya-tanya,

apa yang sebenarnya kaupikirkan."

"Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya

kupikirkan."

"Kau mengeditnya," tuduhnya.

"Tidak terlalu banyak."

"Cukup untuk membuatku gila."

"Kau tidak ingin mendengarnya," gumamku pelan,

nyaris berbisik. Begitu kata-kataku terucap, aku langsung

menyesalinya. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar, aku

hanya berharap ia tidak memerhatikan.

Ia tidak bereaksi, dan aku bertanya-tanya apakah aku

telah merusak suasana hatinya. Ekspresinya tak dapat

ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. Aku

terlambat menyadari sesuatu.

“Di mana keluargamu yang lain?" aku bertanya—lebih

dari bahagia bisa berduaan dengannya, mengingat biasanya

mobil ini penuh dengan yang lain.

"Mereka naik mobil Rosalie." Ia mengangkat bahu ketika

memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna

merah mengilap. "Kelewat mencolok, kan?"

"Mmm, wow." desahku. "Kalau Rosalie memilikinya,

kenapa dia pergi bersamamu?"

"Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami berusaha

membaur."

"Kalian tidak berhasil." Aku tertawa dan menggelenggelengkan

kepala ketika kami keluar dari mobil. Aku tidak

terlambat; cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku

punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. "Jadi,

kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat

menarik perharian?"

"Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan

sekarang." Ia menghampiriku di depan mobil, berjalan

sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Aku ingin

mempersempit jarak itu, ingin menggapai dan

menyentuhnya, tapi khawatir ia tidak menyukainya.

"Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?" aku

bertanya terang-terangan. "Kalau kalian memang

menginginkan privasi?"

"Memanjakan diri," ia mengakuinya, dengan senyum

jail. "Kami semua suka ngebut."

"Sudah kuduga," gumamku pelan.

Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai,

Jessica menungguku, matanya nyaris keluar dari

rongganya. Di atas lipatan lengannya ada jaketku,

syukurlah.

"Hei, Jessica," kataku ketika kami sudah dekat. "Terima

kasih sudah ingat membawanya." Ia menyerahkan jaketku

tanpa bicara.

"Selamat pagi, Jessica," sapa Edward sopan. Bukan

sepenuhnya salah Edward, bahwa suaranya begitu

menggoda. Atau daya sihir tatapannya.

"Err... hai." Jessica melirik ke arahku dengan mata

melotot, berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer.

"Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono." Ia

menatapku penuh makna, dan aku mencoba tidak

mengerang. Apa yang akan kukatakan padanya?

"Yeah, sampai ketemu nanti."

Ia berlalu, berhenti dua kali untuk menoleh ke arah

kami.

“Apa yang akan kaukatakan padanya?" gumam Edward.

"Hei, kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!" tukasku.

"Aku tak bisa," katanya, terkejut. Lalu ia tampak

mengerti. "Bagaimanapun, aku bisa membaca pikirannya—

dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas."

Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan

menyerahkannya padanya, kemudian mengenakan jaketku

sendiri, ia melipatnya, lalu menyampirkannya di lengan.

"Jadi, kau akan bilang apa padanya?"

"Tolong bantu aku sedikit," aku memohon padanya.

"Apa yang ingin diketahuinya?"

Ia menggeleng, tersenyum nakal. "Itu tidak adil."

"Tidak, kau tidak akan memberitahu apa yang

kauketahui—itu baru tidak adil."

Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. Kami

berhenti di depan pintu kelas pertamaku.

"Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. Dan

dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku,"

akhirnya ia mengatakannya.

"Iihh. Apa yang harus kukatakan?" Aku mencoba

menjaga ekspresiku tetap polos. Orang-orang melewati

kami menuju kelas, barangkali menatap kami, tapi aku

nyaris tak menyadari keberadaan mereka.

"Hmmm.'" Ia berhenti untuk meraih rambutku yang

terlepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke

tempatnya. Jantungku memburu. "Kurasa kau bisa

mengatakan ya untuk pertanyaan pertama... kalau kau tidak

keberatan—itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya."

"Aku tak keberatan," kataku pelan.

"Dan untuk pertanyaan yang satu lagi... Well, aku akan

mendengar jawabannya langsung darimu." Salah satu ujung

bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. Aku

tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. Ia sudah

berbalik dan berlalu.

"Sampai ketemu saat makan siang," ujarnya seraya

menoleh ke belakang. Tiga orang yang berjalan ke pintu

berhenti untuk menatapku.

Aku bergegas memasuki kelas, wajahku merah padam

dan malu. Dasar curang. Sekarang aku bahkan lebih

khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada

Jessica. Aku duduk di bangkuku yang biasa, karena kesal

kubanting tasku.

"Selamat pagi, Bella," sapa Mike, yang duduk di

sebelahku. Aku mendongak dan melihat raut aneh dan

pasrah di wajahnya. "Bagaimana di Port Angeles?"

"Yah..." tak ada cara yang bagus untuk

menyimpulkannya. "Hebat," jawabku sekenanya. "Jessica

membeli gaun yang sangat keren."

"Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?"

tanyanya, matanya bersinar-sinar. Aku tersenyum

mendengar pertanyaan itu.

"Katanya dia benar-benar menikmatinya," aku

meyakinkannya.

“Benarkah?" tanyanya bersemangat.

"Sudah pasti."

Mr. Mason mengabsen kami, menyuruh kami

mengumpulkan tugas. Pelajaran bahasa Inggris dan

Pemerintahan lewat begitu saja, sementara aku waswas

bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica. dan

apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang

kukatakan lewat pikiran Jess. Berapa bakat kecilnya itu

sangat membuat tidak nyaman—kalau sedang tidak

digunakan untuk menyelamatkan jiwaku.

Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua, tapi hati

masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit.

Aku tersenyum menatap langit.

Tentu saja Edward benar. Ketika aku memasuki kelas

Trigono, Jessica sudah duduk di deret belakang nyaris

melompat-lompat di bangkunya, penasaran. Dengan

enggan aku duduk di sebelahnya, mencoba meyakinkan

diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat

mungkin.

"Ceritakan semuanya!" perintahnya sebelum aku duduk.

"Apa yang ingin kauketahui?" tanyaku hati-hati.

"Apa yang terjadi semalam?"

"Dia mengajakku makan malam, lalu mengantarku

pulang."

Ia memandang marah padaku, wajahnya tegang, sinis.

"Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?"

"Dia ngebut seperti orang sinting. Mengerikan." Kuharap

Edward mendengarnya.

“Apakah itu semacam kencan—apakah kau

memberitahunya untuk menemuimu di sana?"

Tak terpikir olehku hal itu. "Tidak—aku sangat terkejut

melihatnya di sana."

Bibirnya mencibir, kecewa mendengar kejujuranku.

“Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?" ia

menganalisis.

"Ya—itu juga kejutan. Dia memerhatikan aku tidak

membawa jaket semalam," aku menjelaskan.

"Jadi, kalian akan berkencan lagi?"

"Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti,

karena menurut dia, trukku tidak bakal sanggup—apakah

itu masuk hitungan?"

"Ya." ia mengangguk.

"Well, kalau begitu, ya."

"W-o-w." Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku

kata. "Edward Cullen."

"Aku tahu," aku setuju dengannya. "Wow" bahkan tidak

cukup mewakili.

"Tunggu!" Tangannya terangkat, telapak tangannya

menghadapku, seperti sedang menghentikan laju mobil.

"Apakah dia sudah menciummu?"

"Belum," gumamku. "Bukan begitu."

Ia kelihatan kecewa. Aku yakin diriku juga.

"Menurutmu hari Sabtu...?" Alisnya terangkat.

"Aku sangat meragukannya." Kekecewaan terasa nyata

dalam suaraku.

"Apa yang kalian obrolkan?" desaknya, berbisik meminta

informasi lebih lanjut. Kelas sudah dimulai, tapi Mr. Varner

tidak terlalu memerhatikan dan kami bukan satu-satunya

yang masih mengobrol.

"Entahlah, Jess, banyak," aku balas berbisik. "Kami

membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris, sedikit."

Sangat, sangat sedikit. Kurasa dia menyinggungnya sekilas.

"Ayolah, Bella," ia merajuk. "Ceritakan detailnya."

"Well, baiklah... akan kuceritakan satu. Mestinya

kaulihat pelayan restoran merayunya—terang-terangan

sekali. Tapi dia tidak memerhatikan cewek itu sama sekali"

Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku

itu.

"Itu pertanda baik.” Jessica mengangguk. "Apakah

pelayan itu cantik?”

"Sangat—dan barangkali umurnya 19 arau 20."

"Lebih baik lagi. Dia pasti menyukaimu."

"Kurasa, tapi sulit mengetahuinya. Sikapnya selalu

misterius," kataku membelanya, seraya menghela napas.

"Aku tidak mengira kau berani sekali hanya berduaan

dengannya," desahnya.

"Kenapa?" aku terkejut, tapi ia tidak memahami

reaksiku.

"Dia begitu... mengintimidasi. Aku takkan tahu apa yang

harus kukatakan padanya." Wajahnya berubah, barangkali

mengingat kejadian pagi ini atau semalam, ketika Edward

menebarkan pesona tatapannya pada Jess.

"Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan

logika ketika bersamanya," aku mengakui.

"Oh Well. Dia memang luar biasa tampan." Jessica

mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya

menghapus semua kekurangan Edward. Yang barangkali

memang begitulah menurut pandangannya.

"Dia jauh lebih daripada sekadar sangat tampan."

"Sungguh? Seperti apa?"

Aku berharap tidak pernah mengatakan apa-apa, sama

seperti aku berharap Edward hanya bercanda mengenai

mendengarkan percakapan kami.

“Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat... tapi dia

jauh lebih luar biasa di balik wajahnya." Vampir yang ingin

menjadi baik—yang berkeliaran menyelamatkan nyawa

orang supaya dirinya tidak menjadi monster... Aku menatap

ke depan kelas.

"Apakah itu mungkin?" Jessica cekikikan.

Aku mengabaikannya, mencoba terlihat seperti

memerhatikan Mr. Varner.

"Jadi, kau menyukainya?" Ia belum mau menyerah.

"Ya," kataku kasar.

"Maksudku, kau benar-benar menyukainya?" desaknya.

"Ya," kataku lagi, wajahku merona. Kuharap detail itu

tidak melekat dalam ingatannya.

Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya

membutuhkan jawaban satu kata. "Seberapa suka?"

"Terlalu suka," aku balas berbisik. "Lebih daripada dia

menyukaiku. Tapi aku tak tahu bagaimana mengatasinya."

Aku mendesah, wajahku terus merona.

Kemudian, untungnya, Mr. Varner menyuruh Jessica

menjawab pertanyaan.

Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas, dan

begitu bel berbunyi, aku langsung menyelamatkan diri.

"Di kelas Inggris, Mike bertanya apakah kau mengatakan

sesuatu tentang Senin malam," aku memberitahunya.

"Kau bercanda! Apa katamu?!" ia menahan napas,

perhatiannya benar-benar teralih.

"Kubilang kau sangar menikmatinya—dia kelihatan

senang."

"Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga

jawabanmu!"

Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas

selanjutnya, dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol,

dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetaildetailnya.

Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya

selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan

berbalik padaku.

Bel istirahat siang berbunyi. Ketika aku melompat dari

bangku, memasukkan buku-buku sembarangan ke tas,

ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess

menyadari sesuatu.

"Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan?"

tebaknya.

"Kurasa tidak." Aku tak yakin Edward tidak akan

menghilang seperti yang pernah dilakukannya.

Tapi di luar pintu kelas bahasa Spanyol kami—tampak

sangat mirip dewa Yunani—Edward sedang menungguku.

Jessica melihatnya, memutar bola mata, lalu pergi.

"Sampai nanti. Bella" Kata-katanya penuh maksud

tersembunyi. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti.

"Halo." Suara Edward memesona sekaligus mengusik. Ia

tadi mendengarkan. Sudah pasti.

"Hai."

Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi, dan ia tidak

bicara—kurasa ia mengulur-ulur waktu—jadi perjalanan

kami ke kafetaria berlangsung hening. Berjalan di sisi

Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat

seperti ini rasanya mirip hari pertamaku di sini; semua

orang memandangiku.

Ia membimbingku menuju antrean, masih diam, meski

beberapa detik sekali ia memandangku, ekspresinya

berubah-ubah. Tampak olehku rasa kesal lebih

mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. Aku

memainkan ritsleting jaketku karena gugup.

Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan

makanan. "Apa yang kaulakukan?" tanyaku. "Kau tidak

mengambil itu semua untukku, kan?"

Ia menggeleng, maju untuk membayar makanannya.

"Tentu saja separuhnya untukku." Alisku terangkat.

Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama

terakhir kali. Dari ujung meja sekelompok murid senior

menatap kami, terkagum-kagum, sementara kami duduk

berhadapan. Edward seperti tidak menyadarinya.

"Ambil apa saja yang kau mau," katanya seraya

mendorong nampannya ke arahku.

"Aku penasaran," kataku sambil mengambil apel dan

menggenggamnya, "apa yang kaulakukan bila ada yang

menantangmu makan?”

"Kau selalu penasaran." Ia meringis, menggelenggelengkan

kepala. Ia memandangku geram, dan sambil

terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan,

dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar, cepat-cepat

mengunyah, lalu menelannya. Aku mengamatinya dengan

mata membelalak.

"Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau

bisa melakukannya, ya kan?" tanyanya meremehkan.

Aku mengerutkan hidung. "Aku pernah melakukannya...

ketika ditantang," aku mengakuinya. "Tidak terlalu buruk."

Ia tertawa. "Kurasa aku tidak terkejut." Sesuatu di

belakangku seperti menarik perhatiannya.

"Jessica sedang memerhatikan semua tindak-tandukku—

dia akan memaparkannya padamu nanti." Ia

menyorongkan sisa pizza padaku. Menyebutkan nama

Jessica membuatnya bersikap menyebalkan lagi.

Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. lalu

memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.

“Jadi pelayannya cantik, ya?" tanyanya santai.

“Kau benar-benar tidak memerhatikan?”

“Tidak. Aku memikirkan banyak hal."

"Cewek malang." Sekarang aku bisa bersimpati dengan

tulus.

"Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica... Well, itu

menggangguku." Ia menolak dialihkan perhatiannya.

Suaranya parau, ia melirik dari balik bulu matanya, gelisah.

"Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak

kausukai. Itu risiko suka menguping pembicaraan orang,"

aku mengingatkannya.

"Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan

mendengarkan."

"Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang

kupikirkan baik untuk kauketahui."

"Memang," ia menyetujuinya, tapi suaranya masih

parau. "Meski begitu, kau tidak sepenuhnya benar. Aku

ingin tahu apa yang kaupikirkan—semuanya. Aku hanya

berharap... kau tidak memikirkan beberapa hal."

Wajahku merengut. "Itu sama saja."

"Tapi bukan itu masalahnya sekarang."

"Lalu apa?" Sekarang kami saling mencondongkan

tubuh. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu; sementara

tubuhku condong ke depan, tangan kananku memegangi

leher. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada

di kafetaria penuh orang, dan barangkali ada banyak

tatapan penasaran tertuju pada kami. Begitu mudahnya

larut dalam percakapan rahasia, terutama bila

menegangkan.

"Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku

daripada aku padamu?" gumamnya, semakin mendekat saat

bicara, matanya yang gelap keemasan menyorot tajam.

Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas.

Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. "Kau

melakukannya lagi," bisikku.

Matanya membelalak terkejut. "Apa?"

“Membuatku terpesona," aku mengakuinya, mencoba

berkonsentrasi untuk menatapnya lagi.

"Oh." Dahinya berkerut.

"Bukan salahmu," aku mendesah. "Kau tak bisa

mencegahnya.”

"Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?"

Aku menunduk. "Ya."

"Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar

berpendapat begitu?" Lagi-lagi ia jengkel.

"Ya, aku benar-benar berpendapat begitu." Aku tetap

menunduk memandang meja, mataku menelusuri kayunya.

Keheningan terus berlanjut. Dengan keras kepala aku

menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. Aku

berusaha keras melawan godaan untuk melihat ekspresinya.

Akhirnya ia bicara, suaranya sangat lembut. "Kau salah."

Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang

lembut.

"Kau tak bisa mengetahuinya," bantahku sambil berbisik.

Aku menggeleng ragu, meskipun jantungku berdebar

mendengar ucapannya, dan aku ingin sekali

memercayainya.

"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Mata topaz-nya

sangat menusuk—menurutku sia-sia saja berusaha mencari

kebenaran dari dalam benakku.

Aku balas menatapnya, berusaha berpikir jernih, tak

peduli seperti apa pun raut wajahnya, dan mencari cara

untuk menjelaskan. Ketika aku sedang memilih katakataku,

kulihat ia mulai tidak sabar. Gelisah karena sikap

diamku, ia mulai kesal. Kuangkat tanganku dari leher, dan

mengacungkan satu jari.

“Biarkan aku berpikir," aku berkeras. Keregangan di

wajahnya mencair, karena kini ia puas bahwa aku berniat

menjawab pertanyaannya. Kujatuhkan tanganku ke meja,

lalu menutupkan keduanya. Aku memandangi tanganku,

mengaitkan jemari lalu menguraikannya, ketika akhirnya

aku bicara.

"Well, terlepas dari kenyataannya, kadang-kadang..."

Aku berhenti. "Aku tidak yakin—aku tidak tahu caranya

membaca pikiran—tapi terkadang rasanya seolah kau

berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau

mengatakan sesuatu yang lain." Itu kesimpulan terbaik dari

sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya.

"Peka," bisiknya. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan

dalam kata-katanya, membenarkan ketakutanku. "Tapi

justru itulah kenapa kau salah," ia mulai menjelaskan, tapi

kemudian matanya menyipit. "Apa maksudmu

'kenyataannya'?"

"Well, lihat aku," kataku, yang benar-benar tidak penting

karena Edward sudah menatapku. "Aku sungguh-sungguh

manusia biasa—Well, kecuali untuk hal-hal buruk seperti

pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu, dan

aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh.

Sedangkan kau?" Kulambaikan tanganku padanya dan

semua kesempurnaannya yang membingungkan.

Alisnya mengerut marah sesaat, lalu santai lagi ketika ia

akhirnya mengerti. "Kau sendiri tidak melihat dirimu

dengan jelas. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu,"

ia tergelak ironis, "tapi kau tidak mendengar apa yang

dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada

hari pertamamu di sini.”

Mataku mengerjap, terperanjat. "Aku tak percaya...," aku

menggumam pada diriku sendiri.

"Percayalah sekali ini saja—kau bukan manusia biasa."

Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang

melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. Aku

langsung mengingatkannya tentang argumentasiku

sebelumnya.

"Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal," tukasku.

"Tidakkah kau mengerti? Itu yang membuktikan bahwa

aku benar. Akulah yang paling peduli, karena seandainya

aku bisa melakukannya”—ia menggeleng, mencoba

melawan pendapat itu—"seandainya meninggalkanmu

adalah sesuatu yang harus kulakukan, akan kusakiti diriku

sendiri demi menjagamu agar tidak terluka, supaya kau

tetap aman."

Aku menatapnya marah. "Dan pikirmu aku takkan

melakukan hal yang sama?"

"Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu."

Tiba-tiba suasana hatinya yang tak bisa ditebak berubah

lagi; senyum jail dan memesona itu muncul di wajahnya.

"Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa seperti

pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan

kehadiranku."

"Tak seorang pun mencoba membunuhku hari ini," aku

mengingatkannya, bersyukur topiknya sudah lebih ringan.

Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi. Kalau

perlu, kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan

diriku sendiri agar ia tetap di dekatku... Kusingkirkan

pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. Ide itu

jelas bakal mendatangkan masalah buatku.

"Belum," ia menambahkan.

"Belum," aku setuju. Aku bisa saja mendebatnya, tapi

sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar.

"Aku punya pertanyaan lain untukmu." Raut wajahnya

masih kasual.

“Tanyakan saja."

"Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini,

ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua

penggemarmu?”

Aku merengut mengingat hal itu. "Kau tahu, aku belum

memaafkanmu untuk masalah Tyler," aku

mengingatkannya/ "Itu semua salahmu, sehingga dia

mengira aku akan pergi ke prom bersamanya."

"Oh, dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku—

aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu," ia tergelak.

Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak

semenawan itu. "Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan

menolak?" tanyanya, masih tertawa sendiri.

"Mungkin tidak," kataku jujur. "Tapi aku kemudian akan

membatalkannya—berpura-pura sakit atau mengalami

cedera pergelangan kaki."

Ia bingung. "Kenapa kau melakukan itu?" Aku

menggeleng sedih. "Kau tak pernah melihatku di kelas

Olahraga, tapi kupikir kau bakal mengerti."

“Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tak

bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa

tersandung?"

"Tentu saja."

"Itu bukan masalah." Ia terdengar sangat yakin. "Sudah

sepantasnya." Tahu aku akan memprotes, ia pun menyela.

"Tapi kau tak pernah bilang padaku—apakah kau sudah

mantap ingin ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita

melakukan sesuatu yang berbeda?"

Selama kata "kita" dilibatkan, aku tak peduli yang

lainnya.

"Aku terbuka untuk tawaran lain," kataku. "Tapi aku

punya satu permintaan."

Ia tampak waswas, seperti biasa setiap kali aku

melontarkan pertanyaan terbuka. "Apa?"

"Boleh aku yang mengemudi?"

Ia merengut. "Kenapa?"

"Well, terutama karena waktu kubilang kepada Charlie

akan pergi ke Seattle, dia secara spesifik bertanya apakah

aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kalau dia

bertanya lagi, barangkali aku tidak akan berbohong, tapi

rasanya dia tidak akan bertanya lagi, dan meninggalkan

truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Juga

karena cara menyetirmu membuatku takut."

Ia memutar bola matanya. "Dari semua hal dalam diriku

yang bisa membuatmu takut, kau malah takut dengan

caraku mengemudi." Ia menggeleng-geleng tak percaya, tapi

kemudian matanya berubah serius lagi. "Tidakkah kau ingin

memberitahu ayahmu, kau akan melewatkan hari itu

bersamaku?" Ada maksud lain yang tak kumengerti di balik

pertanyaannya.

"Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik." Aku

yakin soal itu. "Lagi pula, memangnya kita mau ke mana?"

"Prakiraan cuacanya bagus, jadi aku akan menghilang

untuk sementara... dan kau bisa ikut bersamaku kalau

mau." Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku.

"Dan kau akan memperlihatkan padaku yang

kaumaksud mengenai matahari?" tanyaku, gembira oleh

gagasan akan terungkapnya misteri ini.

"Ya." Ia tersenyum, lalu terdiam. "Tapi kalau kau tidak

ingin... berduaan denganku, aku tetap tak ingin kau pergi ke

Seartle sendirian. Aku khawatir memikirkan masalah yang

mungkin menimpamu di kota sebesar itu."

Aku jengkel. "Phoenix tiga kali lebih besar daripada

Seattle—itu baru jumlah populasinya. Untuk ukuran—"

“Tapi nyatanya," ia menyelaku, "kecelakaan yang

kaualami tidak bermula di Phoenix. Jadi, lebih baik kau

berada di dekatku." Matanya kembali menyala-nyala.

Aku tak bisa membantah, baik tatapan maupun

maksudnya, lagi pula ia benar "Karena itu sudah terjadi,

aku tak keberatan berduaan saja denganmu."

"Aku tahu." desahnya, merenung. "Meski begitu, kau

harus memberitahu Charlie.”

"Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?"

Sorot matanya tiba-tiba mengeras. "Sebagai satu alasan

kecil bagiku untuk memulangkanmu."

Aku menelan ludah. Tapi setelah berpikir sesaat, aku

menjadi yakin. “Kurasa aku akan mengambil risiko itu."

Ia menghela napas marah, dan memalingkan wajah.

"Kira bicara yang lain saja," usulku.

"Apa yang ingin kaubicarakan?" tanyanya. Ia masih

kesal. Aku memandang sekelilingku, memastikan tak

seorang pun mendengarkan. Ketika menyapukan

pandangan ke seluruh ruangan, aku bertemu pandang

dengan adiknya, Alice, yang sedang menatapku. Yang lain

memandangi Edward. Aku buru-buru mengalihkan

pandangan kepada Edward, dan melontarkan hal pertama

yang terlintas dalam benakku.

"Kenapa kau pergi ke Goar Rocks akhir pekan lalu...

untuk berburu? Charlie bilang, itu bukan tempat yang baik

untuk hiking, banyak beruang."

Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang

sangat jelas.

“Beruang?" aku menahan napas dan ia tersenyum

mencemooh. “Kau tahu, sekarang bukan musim berburu

beruang" aku menambahkan dengan tegas, untuk

menyembunyikan keterkejutanku.

“Kalau kau membaca dengan teliti, peraturannya hanya

mencakup berburu dengan senjata," ia memberitahuku.

Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku

sementara aku perlahan-lahan memahami ucapannya.

"Beruang?" ulangku terbata-bata.

"Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett." Suaranya

masih tenang, namun matanya mengamati reaksiku. Aku

mencoba mengendalikan diri.

"Hmmm," kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa

menunduk. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke,

tanpa memandang ke arahnya.

"Jadi," kataku setelah sesaat, akhirnya menatap matanya

yang gelisah. "Kesukaanmu apa?"

Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di

ujung bibirnya. "Singa gunung."

"Ah," kataku sopan, berpura-pura tidak tertarik, sambil

mencari sodaku lagi.

"Tentu saja," katanya, nada suaranya menyamai nada

suaraku, "kami harus berhati-hati agar tidak

membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami.

Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi

binatang predatornya tinggi—menciptakan daerah

jangkauan sejauh mungkin. Di sekitar sini ada banyak rusa

dan kijang, dan itu sebenarnya cukup, tapi di mana

kesenangannya?" Ia tersenyum menggoda.

"Ya, benar," aku bergumam sambil menggigit pizza lagi.

"Awal musim semi adalah musim berburu beruang

kesukaan Emmett—mereka baru saja selesai hibernasi, jadi

lebih pemarah." Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu.

"Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang

Grizzly yang sedang marah." Aku mengangguk

menyetujuinya.

Ia tertawa terbahak-bahak, menggelengkan kepala.

“Tolong katakan apa yang benar-benar kaupikirkan."

"Aku mencoba membayangkannya—tapi tidak bisa. aku

mengakuinya. "Bagaimana kalian berburu beruang tanpa

senjata?"

"Oh, kami punya senjata." Ia memamerkan gigi putihnya

dengan senyum mengerikan. Aku menahan tubuhku agar

tidak bergidik sebelum ia melihatnya. "Pokoknya bukan

jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat

peraturan berburu. Kalau kau pernah melihat beruang

menyerang di acara televisi, kau seharusnya bisa

membayangkan cara Emmett berburu."

Aku tak bisa menghentikan rasa rakut yang menjalari

punggungku. Aku melirik ke seberang kafetaria, ke arah

Emmett, untung ia tidak sedang melihat ke arahku. Otot

kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang

bahkan lebih menakutkan lagi.

Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. Aku

menatapnya, ngeri.

"Apa kau juga seperti beruang?" tanyaku pelan.

"Lebih seperti singa, atau begitulah kata mereka,"

katanya enteng. "Barangkali pilihan kami mencerminkan

kepribadian kami."

Aku berusaha tersenyum. "Barangkali," aku

mengulanginya. Tapi pikiranku dipenuhi bayanganbayangan

yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan.

"Apakah aku akan pernah melihatnya?"

"Tentu saja tidak!" Wajahnya memucat bahkan lebih dari

biasanya, dan matanya tiba-tiba berkilat marah. Aku

menyandarkan tubuhku ke belakang, tertegun, dan—

meskipun tak pernah mengaku padanya—takut melihat

reaksinya. Ia juga menyandarkan tubuh, bersedekap.

“Terlalu menakutkan buatku?" tanyaku ketika dapat

mengendalikan suaraku lagi.

"Kalau memang itu, aku akan mengajakmu keluar

malam ini," katanya, nada suaranya dingin. "Kau perlu

merasakan ketakutan yang sebenarnya. Tak ada cara yang

lebih baik buatmu.”

"Lalu kenapa?" desakku, mencoba mengabaikan

kemarahannya.

Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang.

"Sampai nanti," akhirnya ia berkat, Dengan satu gerakan

kecil ia sudah bangkit berdiri. “Kita bakal terlambat."

Aku memandang berkeliling, ia benar, kafetaria hampir

kosong. Saat aku bersamanya, waktu dan keberadaanku

begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari

keduanya Aku melompat, meraih tasku dari sandaran kursi.

"Kalau begitu, sampai nanti," timpalku. Aku takkan

lupa.

11. KESULITAN

SEMUA memerhatikan ketika kami berjalan bersamasama

menuju meja lab. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh

seperti biasa. Sebagai gantinya, ia duduk cukup dekat,

lengan kami nyaris bersentuhan.

Mr. Banner sudah masuk kelas—betapa perencanaan

waktunya sangat tepat—sambil menarik kereta beroda

dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan

ketinggalan zaman. Hari menonton film—suasana senang

di kelas nyaris nyata.

Mr. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke

dinding untuk mematikan lampu.

Kemudian, ketika ruangan sudah gelap, sekonyongkonyong

aku terkejut menyadari Edward duduk sangat

dekat denganku. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang

melanda sekujur tubuhku, kagum karena kesadaranku akan

keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Dorongan

sinting untuk meraih dan menyentuhnya, membelai

wajahnya yang sempurna sekali saja dalam gelap, nyaris

membuatku sinting. Aku menyilangkan lengan erat-erat di

dada, jemariku mengepal. Aku kehilangan akal sehat.

Pembukaan film dimulai, cahayanya sekejap menyinari

ruangan. Otomatis aku melirik ke arahnya. Aku tersenyum

malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku,

tangannya mengepal di balik lengan, matanya melirikku

juga. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan

napas. Benar-benar konyol kalau aku sampai pening.

Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Aku tak bisa

berkonsentrasi pada filmnya—aku bahkan tidak tahu

filmnya tentang apa. Sia-sia aku berusaha tenang, aliran

listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian

tubuhnya tak pernah berkurang. Sesekali aku membiarkan

diriku melirik ke arahnya, tapi kelihatannya ia juga tak

pernah bisa tenang. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun

sama sekali tak berkurang, dan kepalan tanganku semakin

erat hingga jari-jariku sakit karenanya.

Aku mendesah lega ketika Mr. Banner menyalakan

lampu kembali. Kurenggangkan dekapan lenganku,

melemaskan jemariku yang kaku. Edward tertawa geli di

sebelahku.

“Well, tadi itu menarik," gumamnya. Suaranya misterius

dan ratapannya hati-hati.

“Hmmm," hanya itu yang bisa kukatakan.

“Yuk?” ajaknya, sambil bangkit dengan lincah.

Aku nyaris mengerang. Waktunya kelas Olahraga. Aku

berdiri hati-hati, khawatir keseimbanganku terpengaruh

oleh hasrat baru yang muncul di antara kami.

Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut, lalu

berhenti di ambang pintu. Aku berbalik untuk

mengucapkan selamat tinggal. Wajahnya membuatku

bingung—ekspresinya sedih, nyaris terluka, sekaligus begitu

menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali

menyala-nyala, sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku tak

sanggup bicara.

Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, matanya sarat

pergumulan, dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan

ujung jemarinya. Kulitnya dingin seperti biasa, namun jejak

yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku—

seperti terbakar, tapi aku tidak merasa nyeri.

Ia berbalik tanpa berkata-kata dan langsung

meninggalkanku.

Aku berjalan memasuki gimnasium, nyaris melayanglayang

dan sempoyongan. Aku menuju ruang ganti,

mengganti pakaian dalam keadaan melamun, hanya samarsamar

menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku.

Barulah ketika seseorang menyerahkan raket padaku, aku

sepenuhnya sadar. Raket itu tidak berat, namun tak terasa

mantap di tanganku. Kulihat beberapa anak mengamatiku

diam-diam. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasangpasangan.

Untung sisa-sisa kesopanan Mike masih ada; dan ia

berdiri di sebelahku.

"Mau berpasangan denganku?"

"Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu

melakukannya,” aku meringis penuh penyesalan.

“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu." Ia

tersenyum. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk

menyukai Mike.

Keadaan tidak berjalan lancar. Entah bagaimana aku

memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu

Mike dengan ayunan yang sama. Aku menghabiskan sisa

pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan, raketnya

aman tersimpan. Meski aku telah mencederainya, Mike

bermain cukup baik; ia memenangkan tiga dari empat

babak seorang diri. Ia mengajakku ber-high five yang

seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit

tanda kelas berakhir.

"Jadi," katanya sambil berjalan meninggalkan lapangan.

"Jadi apa?"

"Kau jalan dengan Cullen, heh?" tanyanya, nadanya

menantang. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya

lenyap.

"Itu bukan urusanmu, Mike," aku mengingatkannya,

diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas.

"Aku tidak suka," ia tetap mengatakannya juga.

"Memang tidak perlu," sergahku marah.

"Caranya memandangmu... seolah ingin memakanmu."

ia meneruskan, mengabaikan keberatanku.

Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak,

tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. Ia memandang marah

padaku. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker.

Aku berpakaian dengan cepat, sesuatu yang lebih hebat

mengaduk-aduk perutku, pertengkaranku dengan Mike

sudah jauh dari ingatanku. Aku bertanya-tanya apakah

Edward menungguku, atau apakah aku seharusnya

menemuinya di mobil. Bagaimana kalau saudarasaudaranya

ada di sana? Aku merasakan gelombang

ketakutan yang mendalam. Tahukah mereka bahwa aku

tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku

tahu, atau tidak?

Ketika beranjak meninggalkan gimnasium, aku baru saja

memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat ke

lapangan parkir. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. Edward

menantiku, bersandar santai di dinding gimnasium.

wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang.

Ketika aku berjalan ke sisinya, aku merasakan sensasi lega

yang aneh.

“Hai, desahku, tersenyum lebar.

"Halo." Senyumannya memesona. "Bagaimana kelas

Olahraga-mu?”

Wajahku berubah agak kecewa. "Baik-baik saja." Aku

berbohong.

"Benarkah?" tanyanya tidak percaya. Pandangannya

bergeser sedikit, melirik ke belakangku, matanya menyipit.

Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi

kami.

"Apa?" desakku.

Ia kembali menatapku, masih tegang. "Newton

membuatku kesal."

"Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?" aku

terperanjat. Tiba-tiba selera humorku lenyap.

"Bagaimana kepalamu?" tanyanya polos.

"Kau ini bukan main!" Aku berbalik, berjalan cepat ke

lapangan parkir, meskipun tak bermaksud begitu.

Dengan mudah Edward menyusul.

"Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di

kelas Olahraga—aku jadi penasaran." Ia tidak terdengar

menyesal, jadi aku mengabaikannya.

Kami berjalan tanpa bicara—aku diam karena malu dan

geram—menuju mobilnya. Tapi belum sampai di tempat

Edward memarkir Volvo-nya, langkahku terhenti—

kerumunan orang, semua cowok, tampak

mengerumuninya. Lalu aku tersadar mereka tidak sedang

mengerumuni Volvo, melainkan mobil convertible merah

Rosalie, mereka tampak sangat tertarik. Tak satu pun dari

mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap di

antara mereka dan membuka pintu mobilnya. Aku langsung

masuk ke jok penumpang, juga luput dari perhatian.

"Kelewat mencolok," gumamnya.

"Mobil apa itu?" tanyaku.

"M3."

"Aku tidak paham jenis-jenis mobil."

"Itu keluaran BMW" Ia memutar bola matanya, tanpa

memandangku, mencoba memundurkan mobil tanpa

menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.

Aku mengangguk—aku pernah mendengarnya.

"Kau masih marah?" tanyanya sambil berhati-hati

mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah.

"Jelas."

Ia menghela napas. "Maukah kau memaafkanku kalau

aku meminta maaf?'

"Mungkin... kalau kau bersungguh-sungguh. Dan kalau

kau berjanji tidak mengulanginya lagi," aku bersikeras.

Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam.

"Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh, dan aku setuju

membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?" ujarnya.

Aku mempertimbangkannya, dan memutuskan

barangkali itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. "Setuju,"

sahutku.

"Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu

marah." Ketulusan membara di matanya untuk waktu

lama—membuat irama jantungku berantakan—kemudian

berubah jadi santai. "Dan aku akan tiba di depan rumahmu

pagi-pagi sekali Sabtu nanti."

"Mmm, rasanya tidak akan terlalu membantu bila

Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya."

Senyumannya kini rendah hati. "Aku tidak berencana

membawa mobil."

"Bagaimana—" menyelaku.

"Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa

mobil."

Aku tidak mendesaknya lagi. Aku punya pertanyaan

yang lebih penting.

“Apakah sudah tiba saatnya?" tanyaku.

Dahinya berkerut. "Kurasa sudah.”

Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.

Ia menghentikan mobilnya. Aku mendongak, terkejut—

tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. Edward

memarkir mobilnya di belakang trukku. Bermobil

dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka

mata ketika kami sudah sampai. Ketika aku menatapnya

lagi, ia sedang menatapku, mengamatiku.

"Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa

melihatku berburu?" Ia tampak serius, tapi rasanya aku

melihat kejailan di matanya.

"Well" ujarku, "aku terutama ingin tahu bagaimana

reaksimu."

"Apa aku membuatmu takut?" Ya, sudah jelas ia sedang

melucu.

"Tidak," aku berbohong. Ia tidak percaya.

Aku minta maaf telah membuatmu takut," ia tetap

bersikeras sambil tersenyum simpul, tapi kemudian semua

gurauan ini lenyap. "Hanya saja membayangkan kau ada di

sana... sementara kami berburu." Rahangnya mengeras.

"Pasti buruk?"

Ia berkata dengan rahang rapat. "Sangat."

"Karena..."

Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang

melewati kaca depan, ke awan-awan yang menggayut tebal,

yang seolah dapat diraih.

"Ketika kami berburu," katanya pelan, dengan enggan,

kami, membiarkan indra mengendalikan diri kami... tanpa

banyak menggunakan pikiran. Terutama indra penciuman

kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan

kendali seperti itu...” Ia menggeleng, masih menatap awanawan

tebal itu dengan murung.

Aku tetap menjaga ekspresiku, menantikan kelebaran

matanya yang beberapa saat kemudian mengamati reaksiku

atas ucapannya. Wajahku tidak menunjukkan apa-apa.

Namun pandangan kami bertemu, dan keheningan itu

semakin kental—dan berubah. Getaran yang kurasakan

siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku

tanpa berkedip. Ketika kepalaku mulai berputar, aku sadar

aku tak bernapas. Ketika akhirnya aku menghela napas

gemetar, memecah kekakuan di antara kami, ia

memejamkan mata.

"Bella, kurasa kau harus masuk sekarang." Suaranya

rendah dan serak, matanya kembali menatap awan.

Kubuka pintunya, dan embusan angin sangat dingin

yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku.

Khawatir kehilangan keseimbangan, dengan hati-hati aku

keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. Suara

jendela diturunkan membuatku berbalik.

“Oh, Bella?" ia memanggilku, suaranya lebih tenang. Ia

menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka, tersenyum

tipis.

"Ya?"

“Besok giliranku."

“Giliran apa?"

Senyumnya melebar, memamerkan kilauan deretan

giginya. “Bertanya padamu."

Lalu ia menghilang, mobilnya melaju cepat sepanjang

jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku

mengumpulkan kesadaranku. Aku berjalan menuju rumah

sambil tersenyum. Jelas ia berencana menemuiku besok,

kalau tak ada halangan.

Malam itu Edward muncul dalam mimpiku, seperti

biasa. Bagaimanapun tidurku berubah. Mimpi itu

menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul

siangnya, dan aku berguling kian kemari, gelisah, hingga

sering kali terbangun. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh

ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi.

Ketika terbangun aku masih merasa lelah, tapi juga

tegang. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan

jinsku, sambil mendesah membayangkan tank top dan

celana pendek. Makan pagi berlangsung biasa, tenang

seperti yang kuharapkan. Charlie menggoreng telur

untuknya sendiri; aku makan semangkuk sereal. Aku

bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu

ini. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar

ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci

piring.

"Mengenai Sabtu ini...," katanya, berjalan menyeberangi

dapur, dan menyalakan keran.

Aku berkata takut-takut, "Ya, Dad?"

"Kau masih kepingin ke Seattle?" tanyanya.

"Begitulah rencanaku." Aku nyengir, berharap ia tidak

menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong.

Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan

menggosok-gosoknya dengan sikat. "Dan kau yakin takkan

sempat ke pesta dansa?"

“Aku tidak akan ke pesta dansa, Dad." Aku menatapnya

jengkel.

“Tak adakah yang mengajakmu?" tanyanya, berusaha

menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi

membilas piring.

Aku berkelit. "Kali ini anak ceweklah yang mengajak."

“Oh." Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut.

Aku merasa kasihan padanya. Pasti sulit menjadi ayah;

hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan

bertemu cowok yang disukainya, tapi juga

mengkhawatirkan sebaliknya. Betapa ngeri, pikirku

bergidik, seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai

siapa yang sebenarnya yang kusukai.

Kemudian Charlie pergi sambil melambai, dan aku naik,

menyikat gigi, dan mengumpulkan buku-bukuku. Ketika

mendengar mobil patroli Charlie menjauh, aku hanya bisa

bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela.

Mobil silver itu sudah ada di sana, menunggu di tempat

Charlie biasa parkir. Aku setengah berlari menuruni tangga,

keluar rumah, membayangkan berapa lama rutinitas aneh

ini akan berlanjut. Aku tak pernah menginginkannya

berakhir.

Ia menunggu di mobil, sepertinya tidak memerhatikan

waktu aku menutup pintu tanpa repot-repot mengunci. Aku

berjalan menuju mobil, berhenti malu-malu sebelum

membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia tersenyum,

tenang—dan seperti biasa, begitu sempurna dan tampan

hingga membuatku tersiksa.

"Selamat pagi." Suaranya lembut. "Bagaimana kabarmu

hari ini?" Matanya menjelajahi wajahku, seolah

pertanyaannya lebih daripada sekadar basa-basi.

"Baik, terima kasih." Aku selalu baik—lebih dari baik—

setiap kali berada di dekatnya.

Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku.

"Kau tampak lelah."

"Aku tak bisa tidur," aku mengaku, tanpa sadar

menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah.

"Aku juga," godanya sambil menyalakan mesin mobil

Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Aku

yakin deruman trukku akan membuatku kaget, kalau aku

sempat mengendarainya lagi.

Aku tertawa. "Kurasa itu benar. Kurasa aku tidur agak

lebih banyak darimu."

"Aku berani bertaruh untuk itu."

"Jadi, apa yang kaulakukan semalam?" tanyaku.

Ia tergelak. "Tidak bisa. Hari ini giliranku bertanya."

"Oh, kau benar. Apa yang ingin kauketahui?" Dahiku

mengerut. Aku tak bisa membayangkan apa pun tentangku

yang bisa membuatnya tertarik.

"Apa warna kesukaanmu?" tanyanya, raut wajahnya

serius.

Aku menggerak-gerakkan mataku. "Setiap hari berubahubah."

"Kalau hari ini?" Ia masih tenang.

"Barangkali cokelat." Aku biasa berpakaian sesuai

dengan suasana hatiku.

Ia mendengus, ekspresi seriusnya berubah. "Cokelat?"

tanyanya ragu-ragu.

"Tentu. Warna cokelat itu hangat. Aku rindu cokelat.

Semua yang seharusnya berwarna cokelat—batang pohon,

bebatuan, debu—di sini semua itu dilapisi warna hijau,"

keluhku.

Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Sesaat

ia berpikir, menatap mataku.

"Kau benar," katanya serius. "Warna cokelat itu hangat."

Tangannya menyentuh lembut, tapi masih sedikit raguragu,

merapikan rambutku ke balik bahu.

Kami sudah tiba di sekolah. Ia berbalik menghadapku

sambil memarkir mobil.

"Musik apa yang kaumainkan di CD player-mu saat ini?"

tanyanya, wajahnya muram, seolah sedang menginterogasi

pembunuh.

Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang

diberikan Phil. Ketika kusebut nama bandnya, ia tersenyum

mengejek, tatapan aneh terpancar di matanya. Ia membuka

laci di bawah CD player mobilnya, mengeluarkan satu dari

tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah

sempit dan menyerahkannya padaku.

"Debussy, lalu ini?" Satu alisnya terangkat.

Itu CD yang sama. Aku mengamati sampulnya yang tak

asing lagi, sambil terus menunduk.

Sepanjang hari itu berlanjut seperti itu. Sambil

mengantarku ke kelas bahasa Inggris, ketika menemuiku

seusai kelas bahasa Spanyol, sepanjang waktu makan siang,

ia terus-menerus menanyaiku detail-detail remeh dalam

hidupku. Film yang kusuka dan tidak kusuka, beberapa

tempat yang pernah kukunjungi, dan tempat-tempat yang

ingin kukunjungi, dan mengenai buku-buku—untuk yang

satu ini tak ada habisnya.

Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara

sebanyak itu. Sering kali aku tersadar, pasti aku telah

membuatnya bosan. Tapi ia kelihatannya menyerap semua

informasi yang kusampaikan, dan rentetan pertanyaannya

yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Kebanyakan

pertanyaannya mudah, hanya sedikit sekali yang membuat

wajahku merona malu. Tapi ketika wajahku akhirnya toh

merah padam, ia malah mulai melontarkan rentetan

pertanyaan baru lagi.

Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku, dan aku

langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia menderaku

dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga

aku merasa sedang menjalani psikotes saat km langsung

menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu.

Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan

dalam benaknya, kalau saja wajahku tidak merah padam.

Wajahku memerah karena, selama ini batu kesukaanku

adalah garnet. Ketika memandang matanya yang berwarna

topaz, mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini

menyukai topaz. Dan, tentu saja, ia takkan menyerah

hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.

"Katakan," akhirnya ia memerintahkan setelah

bujukannya tak berhasil—gagal hanya karena aku berhasil

mengelak menatap wajahnya.

"Itu warna matamu hari ini," desahku, pasrah,

memandangi tanganku yang bermain-main dengan

rambutku. "Kurasa kalau kau menanyakannya dua minggu

lalu, aku akan bilang onyx.” Aku mengatakan terlalu

banyak dari yang seharusnya, dan aku khawatir ini akan

menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku

salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas.

Tapi ia terdiam hanya sedetik.

"Kau suka bunga apa?" desaknya lagi.

Aku menghela napas lega, dan terus menjawab

pertanyaannya.

Kelas Biologi menjadi masalah lagi. Edward terus

melontarkan pertanyaan sampai Mr. Banner memasuki

kelas, sambil menarik kereta audiovisual lagi. Ketika guru

itu mendekati panel lampu, aku melihat Edward menggeser

kursinya agak sedikit jauh. Tapi itu tidak membantu. Begitu

ruangan gelap, percikan listrik itu muncul lagi, hasrat yang

sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya

yang dingin seperti kemarin telah kembali.

Aku mencondongkan tubuh ke meja, meletakkan dagu di

atas lengan yang kulipat, jemariku yang tersembunyi

meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat

konyol

yang membuatku resah. Aku tak melihat ke arahnya,

khawatir ia juga sedang memandangku, dan itu hanya akan

membuatku sulit mengendalikan diri. Aku mencoba

menonton dengan sungguh-sungguh, namun pada akhir

pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Aku

menghela napas lega ketika Mr. Banner menyalakan lampu

kembali, akhirnya memandang Edward; ia sedang

menatapku, sorot matanya bingung.

Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak,

menungguku. Kami berjalan ke gimnasium tanpa bicara,

seperti kemarin. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh

wajahku tanpa berkata-kata—kali ini dengan punggung

tangannya yang dingin, membelai kening hingga

rahangku—sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan

Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Ia tidak

berbicara padaku hari ini, entah karena ekspresiku yang

hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran

kami kemarin. Di suatu tempat, di sudut benakku, aku

merasa bersalah. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya.

Setelah itu aku langsung mengganti pakaian, gelisah,

tahu semakin cepat aku bergerak, semakin cepat pula aku

akan menemui Edward. Tekanan itu membuatku lebih

tegang daripada biasanya, tapi akhirnya aku melangkah

keluar, merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya

berdiri di sana. Senyum lebar mengembang di wajahku. Ia

balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam.

Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang, tak mudah

untuk dijawab. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari

rumahku, ia memaksaku menggambarkan apa saja yang

tidak biasa baginya, berjam-jam kami duduk di depan

rumah Charlie, langit mulai gelap dan hujan sekonyongkonyong

turun membasahi sekeliling kami.

Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti

aroma antiseptik—pahit, agak lengket, tapi masih

menyenangkan—bunyi cicada yang melengking dan lantang,

pepohonan kering yang rapuh, luasnya langit, warna biru

dan putih membentang sepanjang kaki langit, nyaris tak

terselingi pegunungan-pegunungan rendah dengan bebatuan

vulkanik ungu. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah

mengapa itu semua begitu indah bagiku—untuk

menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya

dengan tumbuh-tumbuhan berduri yang sering tampak

sekarat, keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah

yang menonjol, dengan lembah-lembah yang menekuk

dangkal di antara bukit-bukit berbatu, dan cara mereka

menggapai matahari. Aku sadar menggunakan kedua

tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya.

Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik

membuatku terus bicara dengan bebasnya. Dalam cahaya

temaram badai, aku dibuatnya lupa untuk merasa malu

karena telah memonopoli pembicaraan. Akhirnya, ketika

aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di

rumah, bukannya melontarkan pertanyaan lain, ia malah

terdiam.

"Kau sudah selesai?" tanyaku lega.

"Hampir selesai pun tidak—tapi ayahmu sebentar lagi

pulang."

"Charlie!" Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya, dan

mendesah. Aku menerawang ke langit yang gelap karena

derasnya hujan, tapi aku tak tahu jam berapa sekarang.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku sambil melihat jam. Aku

kaget melihat waktu—Charlie sedang dalam perjalanan

pulang sekarang.

"Sudah twilight—rembang petang," gumam Edward.

memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Nada

suaranya melamun, seolah pikirannya jauh entah di mana.

Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan

mobil.

Aku masih menatapnya ketika matanya tiba-tiba kembali

menatapku.

"Ini saat paling aman bagi kami," katanya, menjawab

tatapanku yang bertanya-tanya. "Saat termudah, tapi juga

yang paling sedih, mengingat... ini adalah akhir satu hari

lain, kembalinya sang malam. Kegelapan begitu mudah

ditebak, bukankah begitu?" Ia tersenyum muram.

"Aku suka malam. Tanpa kegelapan kita takkan pernah

melihat bintang." Aku mengerutkan kening. "Meski di sini

tak banyak yang bisa dilihat."

Ia tertawa, dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba

ceria lagi.

"Charlie akan sampai sebentar lagi. Jadi, kecuali kau

mau memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti..."

Alisnya naik sebelah.

"Terima kasih, tapi tidak." Kukumpulkan buku-bukuku,

tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. "Jadi, kalau

begitu besok giliranku?"

"Tentu saja tidak!" Wajah marahnya menggodaku. "Aku

sudah bilang belum selesai, kan?"

"Ada apa lagi sih?"

“Kau akan tahu besok." Ia mencondongkan tubuh

meraih pegangan pintuku dan membukakannya.

Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak

liar.

Tapi tangannya membeku di pegangan pintu.

“Kacau," gumamnya.

“Apa?" aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat,

tatapannya gelisah.

Ia melirikku sebentar. "Masalah lagi," katanya muram.

Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes, lalu

bergerak nyaris menarik dirinya menjauh dariku.

Lampu sorot yang menembus hujan menarik

perhatianku. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya

beberapa meter di depan kami.

"Charlie sudah dekat," ia mengingatkanku, memandang

menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi.

Meski bingung dan penasaran, aku langsung melompat

keluar. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi

jaketku.

Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan

mobil tadi, tapi terlalu gelap. Aku bisa melihat sosok

Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang

tadi; ia masih menatap ke depan, tatapannya terpaku pada

sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. Ekspresinya

aneh, antara putus asa dan menantang.

Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya, bannya

berdecit di pelataran yang basah. Dalam sekejap Volvo itu

lenyap dari pandangan.

"Hei, Bella," suara serak yang tak asing lagi

memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu.

“Jacob?" tanyaku, menyipitkan mata menembus hujan.

Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan, lampunya

menyinari mobil di depanku.

Jacob sudah keluar dari mobil, senyumnya yang lebar

tampak nyata meski saat itu gelap. Di jok penumpang

duduk seseorang yang jauh lebih tua, pria bertubuh kekar

dengan wajah yang kuingat—wajah yang berkeriput, pipi

yang kendur, dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. Dan

sepasang mata yang tak disangka-sangka sangat familier,

mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno

untuk sebentuk wajahnya yang lebar. Itu ayah Jacob, Billy

Black. Aku langsung mengenalinya, meski sudah lebih dari

lima tahun sejak terkir kali aku melihatnya. Aku nyaris lupa

namanya jika Charlie tidak menyebutnya pada hari pertama

kedatanganku di sini. Ia memandangku, mengamati

wajahku, jadi aku tersenyum malu-malu padanya. Matanya

lebar, seolah-olah ngeri, hidungnya kembang-kempis.

Senyumku memudar.

Masalah lagi, seperti kata Edward.

Billy masih menatapku lekat-lekat, waswas. Diam-diam

aku mengerang. Apakah Billy mengenali Edward semudah

itu? Mungkinkah ia benar-benar memercayai legenda

mustahil yang diceritakan anaknya?

Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Ya. Ya, ia

percaya.

12. PENYEIMBANGAN

"BILLY!" seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.

Aku berbalik menuju rumah, memberi isyarat pada Jacob

untuk mendekat, sambil meraih-raih ke bawah serambi.

Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di

belakangku.

"Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di

belakang kemudi, Jake," protesnya.

“Kami mendapat izin meninggalkan reservasi," kata

Jacob, sementara aku membuka pintu dan menyalakan

lampu teras.

"Ya, tentu saja," Charlie tertawa.

"Bagaimanapun aku harus mampir kemari." Aku

mengenali suara Billy yang menggelegar itu dengan mudah,

meski sudah bertahun-tahun. Suaranya membuatku tibatiba

merasa lebih muda, masih kanak-kanak.

Aku masuk, membiarkan pintu terbuka dan menyalakan

semua lampu sebelum menanggalkan jaket. Lalu aku berdiri

di ambang pintu, dengan waswas memerhatikan Charlie

dan

Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan

mendudukkannya di kursi roda.

Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas

masuk, menghindari hujan. "Ini kejutan," kata Charlie.

"Sudah terlalu lama," sahut Billy. "Kuharap kami datang

di waktu yang tepat." Matanya yang gelap bersinar-sinar

menatap ku, ekspresinya tak dapat ditebak.

"Tidak masalah. Kuharap kau bisa tinggal untuk

menyaksikan pertandingan."

Jacob nyengir. "Kurasa itulah rencananya—TV kami

rusak sejak minggu lalu."

Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur.

"Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella

lagi," ia menambahkan. Jacob cemberut dan menunduk

sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal

yang menyelimutiku. Barangkali rayuanku di pantai tempo

hari kelewat meyakinkan.

"Kalian lapar?" tanyaku, berbalik menuju dapur. Aku

ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang

penasaran.

"Tidak, kami sudah makan sebelum kemari," sahur

Jacob.

“Bagaimana denganmu, Charlie?" aku menengok sambil

meluncur ke sudut.

“Tentu saja," balasnya, suaranya terdengar berpindah ke

ruang depan, ke TV. Bisa kudengar suara kursi roda Billy

menyusul di belakangnya.

Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku

sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di

belakangku.

“Jadi, bagaimana keadaanmu?" tanya Jacob.

“Baik.” Aku tersenyum. Semangatnya sangat sulit

ditolak. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah

selesai?”

"Belum." Keningnya berkerut. "Aku masih perlu

beberapa bagian lainnya. Kami meminjam mobil itu." Ia

menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya.

"Maaf. Aku belum melihat... apa yang kaucari itu?"

"Master cylinder.” Ia nyengir. "Apakah trukmu

bermasalah?" lanjurnya tiba-tiba.

"Tidak."

"Oh. Aku hanya penasaran sebab kau tidak

menggunakannya."

Aku menunduk menatap wajan, mengintip bagian bawah

sandwich-nya. "Seorang teman memberiku tumpangan."

"Tumpangan yang keren." Suara Jacob terkagum-kagum.

"Tapi aku tidak mengenali pemiliknya. Kusangka aku kenal

hampir semua anak di sini."

Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk,

membalikkan sandwich.

"Sepertinya ayahku mengenalinya."

"Jacob, bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari

di atas tempat cuci piring."

"Tentu saja."

Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa.

Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi.

"Jadi, siapa dia?" tanyanya, menaruh dua piring di

konter di sebelahku.

Akhirnya aku mengalah. "Edward Cullen."

Yang membuatku terkejut, ia tertawa. Aku mendongak

memandangnya. Ia kelihatan sedikit malu.

"Kurasa itu menjelaskan semuanya," katanya. "Kenapa

ayahku bersikap sangat aneh."

"Benar sekali." Aku berpura-pura polos. "Dia tidak

menyukai keluarga Cullen."

"Dasar orang tua yang percaya takhayul," gumam Jacob.

"Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie, kan?" Aku

tak bisa menahannya, kata-kata itu keluar dalam bisikan.

Jacob menatapku sesaat, dan aku tak bisa menebak

ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. "Aku sih

tidak yakin dia bakal bilang," akhirnya ia menjawab.

"Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali

mereka bertemu. Mereka tidak banyak bercakap-cakap

sejak—boleh dibilang malam ini semacam reuni, kurasa.

Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi."

"Oh," kataku, mencoba terdengar tak peduli.

Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar

makanan kepada Charlie, berpura-pura menonton

pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. Sebenarnya

aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu,

memerhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan

menginterogasiku, mencoba mencari jalan untuk

menghentikannya bila ia memulainya.

Sungguh malam yang panjang. PR-ku banyak yang

belum selesai, tapi aku khawatir meninggalkan Billy

sendirian bersama Charlie. Akhirnya pertandingannya

selesai.

“Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?"

tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu.

“Entahlah," sahutku menarik diri.

“Tadi itu menyenangkan, Charlie," kata Billy.

“Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya,"

ujar Charlie membesarkan hati Billy.

“Tentu, tentu," timpal Billy. "Kami akan datang. Selamat

tidur.” Ketika tatapannya beralih padaku, senyumnya

memudar. "Jaga dirimu, Bella," rambahnya serius.

“Terima kasih," gumamku, lalu berpaling.

Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie

melambaikan tangannya di ambang pintu. "Bella, tunggu,"

serunya.

Hatiku mencelos. Apakah Billy sempat mengatakan

sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang

tamu?

Tapi Charlie tampak tenang, di wajahnya masih tersisa

senyuman dari kunjungan yang tak disangka-sangka tadi.

"Kita belum sempat mengobrol malam ini. Bagaimana

harimu?"

"Baik," aku menyahut enggan, satu kakiku pada undakan

pertama, benakku memikirkan informasi mana yang bisa

kuceritakan pada Charlie. "Tim bulu tangkisku

memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar."

"Wow, aku tak tahu kau bisa main bulu tangkis."

"Well, sebenarnya sih tidak, tapi partnerku sangat hebat,"

aku mengakuinya.

"Siapa?" tanyanya, nadanya tertarik.

"Mmm... Mike Newton," sahutku ogah-ogahan.

"Oh ya—kau pernah bilang kau berteman dengan si

Newton itu." Suaranya penuh semangat. "Keluarganya

baik. Ia terkagum-kagum sebentar. "Kenapa kau tidak

mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?"

"Dad!" erangku. "Dia berkencan dengan Jessica,

temanku. Lagi pula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa."

"Oh iya," gumamnya. Lalu ia tersenyum menyesal

padaku. "Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu

nanti... Aku berencana pergi memancing bersama temantemanku

sepulang kerja. Cuacanya seharusnya cukup

hangat. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu

hingga ada yang bisa menemanimu, aku akan di rumah

saja. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian

di rumah."

"Dad, kau oke." Aku tersenyum, berharap kelegaanku

tidak kentara. "Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah

sendirian—kita kan mirip. Aku mengerling padanya dan ia

tersenyum hingga sudut-sudut matanya mengerut.

Tidurku lebih pulas malam itu, kelewat lelah untuk

bermimpi. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu,

suasana hatiku bahagia. Malam yang menegangkan

bersama Bily dan Jacob kelihatannya tidak terlalu

berbahaya lagi sekarang; jadi kuputuskan untuk melupakan

semuanya. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit

rambutku, dan lagi ketika aku melompat-melompat

menuruni tangga. Charlie memerhatikan.

"Pagi ini kau ceria sekali," sahutnya saat sarapan.

Aku mengangkat bahu. "Ini Jumat."

Aku bergegas, sehingga begitu Charlie berangkat aku

sudah siap. Tasku sudah siap, sepatu sudah kukenakan, gigi

sudah bersih, namun meskipun aku bergegas ke pintu begitu

yakin Charlie sudah hilang dari pandangan, ternyata

Edward lebih cepat dariku. Ia sedang menanti di mobilnya

yang mengilap, jendelanya terbuka, mesinnya mati.

Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi, langsung masuk ke jok

penumpang, supaya lebih cepat memandang wajahnya. Ia

tersenyum lebar padaku, membuat napas dan jantungku

berhenti. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih

indah daripada dia. Tak ada yang bisa menandinginya

dalam hal apa pun.

"Bagaimana tidurmu semalam?" tanyanya. Aku

bertanya-tanya apakah ia menyadari, betapa menggoda

suaranya.

“Baik. Bagaimana dengan malammu?"

“Menyenangkan." Senyumannya memukau; aku merasa

ada humor dalamnya yang tak berhasil kutangkap.

"Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?"

tanyaku.

"Tidak." Ia nyengir. "Hari ini masih milikku!”

Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam

hidupku: lebih banyak tentang Renee, hobinya, apa yang

kami lakukan bersama-sama waktu senggang. Kemudian

satu-satunya nenek yang kutahu, beberapa teman sekolah—

membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowokcowok

yang berkencan denganku. Aku lega karena tak

pernah benar-benar berkencan, jadi topik yang satu itu tidak

berlangsung lama. Ia, sama seperti Jessica dan Angela,

terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang

sama sekali nol.

"Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin

kaujumpai?" tanyanya serius, membuatku bertanya-tanya

apa yang dipikirkannya.

Dengan enggan aku mengakuinya. "Tidak di Phoenix."

Bibirnya terkatup erat.

Saat ini kami di kafetaria. Hari berlalu cepat dalam

kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. Aku

memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku.

"Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri

hari ini," katanya, sama sekali tak ada hubungannya,

sementara aku mengunyah.

"Kenapa?" tanyaku.

“Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang."

"Oh." Mataku mengerjap, bingung dan kecewa. "Tidak

masalah, berjalan kaki tidak terlalu jauh kok."

Ia menatapku tidak sabaran. "Aku takkan

membiarkanmu pulang jalan kaki. Kami akan mengambil

trukmu dan meninggalkannya di parkiran "

“Aku tidak membawa kuncinya," desahku. "Aku benarbenar

tidak keberatan berjalan kaki.” Yang membuatku

keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya.

Ia menggeleng. “Trukmu akan ada di sini, kuncinya

tergantung di lubang starter – kecuali kau khawatir

seseorang mengambilnya.” Ia menertawai perkataannya

sendiri.

"Baiklah," aku menyetujuinya, bibirku merengut. Aku

cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari

Rabu, di tumpukan pakaian di ruang cuci. Bahkan

kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku, atau apa pun

yang direncanakannya, ia takkan menemukannya. Ia

sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. Ia

nyengir, terlalu percaya diri.

"Jadi, kau mau ke mana?" tanyaku sewajar mungkin.

"Berburu," jawabnya dingin. "Kalau akan berduaan

denganmu besok, aku akan melakukan tindakan

pencegahan apa pun yang kubisa." Wajahnya bertambah

muram... dan memelas. "Kau boleh membatalkannya kapan

saja, kau tahu itu."

Aku menunduk, khawatir akan tatapannya yang

persuasif. Aku menolak merasa takut padanya, tak peduli

betapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. Itu tidak

masalah, ulangku dalam benakku.

“Tidak," bisikku, balas menatapnya. "Aku tak bisa."

“Barangkali kau benar," gumamnya putus asa. Warna

matanya berubah gelap ketika kuperhatikan.

Aku mengubah topik kami. "Jam berapa kita ketemu

besok?” tanyaku, sudah merasa sedih memikirkan ia bakal

pergi.

“Tergantung... itu kan Sabtu, tidakkah kau ingin bangun

lebih siang?” ia menawarkan.

“Tidak,” aku menjawab terlalu cepat. Ia menahan

senyum.

“Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa." katanya.

Charlie akan ada di rumah?"

"Tidak, besok dia pergi mancing," ujarku membayangkan

betapa semuanya berjalan lancar.

Suaranya berubah tajam. "Dan kalau kau tidak pulang,

apa yang akan dipikirkannya?”

"Aku tidak tahu," jawabku tenang. "Dia tahu aku

berencana mencuci pakaian. Barangkali dipikirnya aku

terjatuh ke dalam mesin cuci."

Ia memandangku marah dan aku membalasnya.

Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada

kemarahanku.

"Kau akan berburu apa malam ini?" tanyaku akhirnya,

ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah.

"Apa saja yang kami temukan. Kami tidak pergi jauhjauh."

Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja

menanggapi rahasia gelapnya.

"Kenapa kau pergi dengan Alice?" tanyaku.

"Alice yang paling... mendukung." Dahinya mengerut

ketika mengatakan itu.

"Dan yang lain?" tanyaku hati-hati. "Mereka apa?"

Sesaat ia mengernyitkan alis. "Bisa dibilang tidak

percaya."

Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. Mereka

duduk, memandang ke berbagai arah, persis seperti ketika

aku pertama kali melihat mereka. Hanya saja sekarang

mereka berempat, saudara laki-laki mereka yang menawan

dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku,

matanya yang keemasan tampak gelisah.

"Mereka tidak menyukaiku," aku mencoba menebak.

“Bukan itu," protesnya, tapi tatapannya kelewat polos.

"Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa

meninggalkanmu."

Aku meringis. "Untuk masalah ini, aku juga tidak

mengerti."

Edward menggeleng pelan, matanya memandangi langitlangit

sebelum menatapku lagi. "Sudah kubilang—kau

sendiri tidak memahami dirimu. Kau tidak seperti orangorang

yang pernah kukenal. Kau membuatku kagum."

Aku memandang marah padanya, karena yakin ia

sedang menggodaku sekarang.

Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. "Dengan

keunggulan yang kumiliki," gumamnya, menyentuh

dahinya dengan hati-hati, "aku lebih baik daripada manusia

umumnya. Manusia bisa ditebak. Tapi kau... kau tak

pernah seperti yang kuduga. Kau selalu membuatku

terkejut."

Aku berpaling, mataku kembali mengamati keluarganya,

merasa malu dan tidak puas. Kata-katanya membuatku

merasa seperti kelinci percobaan. Aku ingin menertawai

diriku sendiri karena mengharapkan yang lain.

"Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan," lanjutnya.

Aku merasakan tatapannya di wajahku, tapi aku belum bisa

menatapnya, khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di

mataku. Tapi ada lagi... dan tak mudah menjelaskannya

dengan kata-kata—"

Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia

berbicara. Tiba-tiba Rosalie, saudaranya yang berambut

pirang dan luar biasa cantik, berpaling dan menatapku.

Tidak, bukan melihat—melainkan menatap marah dengan

tatapan gelap dan dingin. Aku ingin berpaling, tapi

tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward

menghentikan kata-katanya dan menggeram marah.

Suaranya nyaris seperti desisan.

Rosalie membuang muka. dan aku lega karena terbebas

dari tatapannya. Aku kembali menatap Edward—dan tahu

ia melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi

mataku.

Wajahnya tegang ketika menjelaskan. "Maaf soal itu.

Dia hanya khawatir. Begini... bukan hanya aku yang bakal

terancam, kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu

denganmu terang-terangan..." Ia menunduk.

"Kalau?"

"Kalau ini berakhir... dengan buruk." Ia menaruh

kepalanya di antara kedua tangannya seperti yang

dilakukannya malam itu di Port Angeles. Kesedihannya

sangat nyata; ingin rasanya aku menenangkannya, tapi aku

tak tahu bagaimana caranya. Kupaksakan tanganku

meraihnya; dengan cepat, meski akhirnya kujatuhkan lagi

ke meja, khawatir sentuhanku malah memperburuk

keadaan. Perlahan aku menyadari kata-katanya seharusnya

membuatku takut. Aku menunggu rasa takut itu, tapi

sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan pedih

karena rasa sakit yang dialaminya.

Dan perasaan frustrasi—frustrasi karena Rosalie telah

menyela apa pun itu yang hendak dikatakannya. Aku tak

tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya

lagi. Ia masih memegangi kepalanya.

Aku berusaha bicara sewajar mungkin. "Kau harus pergi

sekarang?"

"Ya." Ia mengangkat wajah; sesaat wajahnya serius,

kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum.

"Mungkin ini yang terbaik. Kita masih punya lima belas

menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi—

aku tidak yakin bisa melakukannya lagi."

Aku hendak beranjak. Alice—rambut gelapnya yang

pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya yang

seperti peri kecil—tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakang

Edward. Posturnya ramping, elegan meski tidak bergerak.

Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan

dariku. "Alice."

“Edward." balasnya, suara soprano tingginya nyaris

sama menariknya seperti suara Edward.

“Alice, ini Bella—Bella, ini Alice," ia memperkenalkan

kami, menunjuk kami sesantai mungkin, senyum sinis

mengembang di wajahnya.

"Halo, Bella." Warna matanya yang seperti batu obsidian

tak bisa ditebak, tapi senyumnya bersahabat. "Senang

akhirnya bisa berkenalan."

Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya.

"Hai, Alice," sapaku malu-malu.

"Sudah siap?" tanyanya pada Edward.

Suaranya dingin. "Hampir. Kita ketemu di mobil."

Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami;

langkahnya sangat gemulai, begitu anggun sehingga

membuatku iri.

"Haruskah aku mengucapkan 'Selamat bersenangsenang',

atau kalimat itu tidak tepat?" tanyaku, berbalik

menghadap Edward lagi.

"Tidak, selamat bersenang-senang' sudah cukup." Ia

tersenyum.

"Kalau begitu, selamat bersenang-senang." Aku berusaha

terdengar tulus. Tentu saja aku tidak bisa menipunya.

“Akan kucoba." Ia masih tersenyum. "Dan kau, jagalah

dirimu, kumohon."

“Aman di Forks—itu sih gampang."

“Bagimu memang gampang." Rahangnya mengeras.

“Janji.”

“Aku janji akan menjaga diri," ulangku. "Aku akan

mencuci malam ini—pasti bakal penuh bahaya."

“Jangan terjatuh," ejeknya.

“Lihat saja."

Ia bangkit berdiri, aku juga.

"Sampai ketemu besok," desahku.

"Sepertinya bakalan lama bagimu, ya kan?" godanya.

Aku mengangguk sedih.

“Aku akan datang esok pagi," ia berjanji, tersenyum

lebar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh wajahku,

mengusap lembut pipiku. Lalu ia berbalik dan pergi. Aku

memandanginya hingga ia tak terlihat lagi.

Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa pelajaran

hari itu, setidaknya pelajaran Olahraga, tapi insting

menghentikan niatku. Aku tahu kalau aku menghilang

sekarang, Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi

dengan Edward. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan

kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini... kalau

saja semuanya tidak berjalan semestinya. Aku mencoba

mengenyahkan keinginanku itu, dan lebih berkonsentrasi

membuat segalanya lebih aman baginya.

Dengan sendirinya aku tahu—dan rasanya ia juga—

bahwa esok adalah saat yang penting. Hubungan kami tak

bisa berlanjut secara seimbang, seperti layaknya hubungan

di ujung tanduk. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi

lain, tergantung sepenuhnya pada keputusannya, atau

instingnya. Keputusanku sendiri sudah bulat, bahkan

sebelum aku memutuskannya dengan sadar, dan aku

bertekad menjalankannya. Karena tak ada yang lebih

menakutkan buatku, lebih menyakitkan, daripada

menjauhkan diriku darinya. Itu sesuatu yang mustahil.

Aku pergi ke kelas dengan patuh. Aku tak bisa

mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi;

pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. Di

Olahraga, Mike mengajakku bicara lagi; berharap aku

bersenang-senang di Seattle. Hati-hati kujelaskan bahwa

aku tidak jadi pergi, khawatir trukku takkan sanggup.

“Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?" tanyanya,

tiba-tiba marah.

"Tidak, aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa."

"Lalu, apa yang akan kaulakukan?" tanyanya, kelewat

ingin tahu.

Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak

ikut campur. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku

berbohong.

"Cucian, dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau

nilaiku bakal jelek."

"Apakah Cullen membantumu belajar?"

"Edward" aku menekankan, "tidak akan membantuku

belajar. Dia pergi entah ke mana akhir pekan ini."

Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya, dan ini

membuatku terkejut.

"Oh," katanya kembali bersemangat. "Kau tahu, kau bisa

datang ke pesta bersama kami—pasti keren. Kami semua

akan berdansa denganmu," janjinya.

Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih

tajam dari seharusnya.

“Aku tidak akan pergi ke pesta dansa, Mike, oke?"

“Ya sudah." Ia marah lagi. "Aku hanya menawarkan."

Ketika sekolah akhirnya selesai, aku berjalan lemas

menuju parkiran. Aku terutama tak ingin pulang berjalan

kaki, tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa

trukku ke sini. Tapi aku mulai percaya tak ada yang

mustahil baginya. Insting terakhirku terbukti benar—trukku

diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. Aku

menggeleng tak percaya, membuka pintu yang tak terkunci

dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter.

Selembar kertas tergeletak di jokku. Aku mengambilnya

dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya, dua kata

dalam tulisan yang elegan.

Jaga dirimu

Suara deru truk membuatku kaget. Aku menertawai

diriku sendiri.

Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci, namun

gemboknya terbuka, persis seperti yang kutinggalkan pagi

tadi. Sesampai di dalam aku langsung ke ruang cuci.

Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi.

Aku mencari jinsku, dan setelah menemukannya, kuperiksa

sakunya. Kosong. Barangkali kuncinya telah kugantungkan

di suatu tempat, pikirku sambil menggeleng.

Mengikuti insting sama yang telah membuatku

berbohong pada Mike, aku menelepon Jessica untuk

berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan

lancar. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk

hariku bersama Edward, aku memberitahunya tentang

pembatalan itu. Sebagai pihak ketiga yang tak ada

hubungannya sama sekali, ia terdengar lebih kecewa dari

seharusnya. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah

itu.

Sepanjang makan malam Charlie melamun,

mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya, kurasa,

atau mungkin pertandingan basket, atau mungkin ia hanya

benar-benar menikmati lasagna yang kubuat—sulit

menebak apa yang dipikirkan Charlie.

“Kau tahu, Dad..„" aku memulai, membuyarkan

lamunannya.

"Ada apa, Bell?"

"Kurasa kau benar tentang Seattle. Kurasa aku akan

menunggu Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku.”

"Oh" katanya, terkejut. "Oh, oke. Jadi kau ingin aku

menemanimu di rumah?"

"Tidak Dad, jangan ubah rencanamu. Aku punya banyak

harus kulakukan... PR, mencuci.... Aku perlu ke

perpustakaan dan ke toko kelontong. Aku akan pergi ke

sana kemari seharian... kau pergi saja dan bersenangsenanglah."

"Kau yakin?"

"Tentu Dad. Lagi pula, persediaan ikan kita sudah

menipis—persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga

tahun barangkali."

"Mudah sekali hidup bersamamu. Bella." Ia tersenyum.

"Kau juga, Dad," kataku, tertawa. Tawaku reda, tapi

sepertinya Dad tidak memerhatikan. Aku merasa sangat

bersalah telah membohonginya, sampai-sampai aku nyaris

mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang

sebenarnya. Nyaris.

Setelah makan malam aku melipat pakaian dan

memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. Sayangnya

ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan

saja. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang, dan

sudah mulai tak terkendali. Pikiranku berpindah-pindah

antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris

menyakitkan, dan perasaan sangat takut yang membulatkan

tekadku. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku

telah membuat keputusan, dan tak akan mengubahnya. Aku

mengeluarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih

sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang

ditulisnya. Ia ingin agar aku selamat, aku mengingatkan

diriku sendiri berulang-ulang. Aku hanya perlu berpegangan

pada keyakinan bahwa akhirnya, hasrat itu mengalihkan

segalanya. Dan apa pilihanku yang lainnya –

mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. Lagi

pula. sejalaku datang ke Forks, kelihatannya hidupku benarbenar

tentang dirinya.

Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam

khawatir, bertanya-tanya apakah akan sangat

menyakitkan... bila semua ini berakhir buruk.

Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk

pergi tidur. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur,

jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan

sebelumnya. Aku sengaja meminum pil demam yang

sebenarnya tidak kuperlukan—obat itu bisa membuatku

tidur selama delapan jam. Dalam keadaan normal aku tidak

akan memaafkan tindakan seperti itu, tapi besok bakal

cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur.

Sambil menunggu obatnya bekerja, aku mengeringkan

rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus, dan

memikirkan apa yang akan kukenakan besok.

Setelah semua siap untuk esok, akhirnya aku berbaring di

tempat tidur. Aku merasa tegang, hingga tak bisa berhenti

bolak-balik. Aku terbangun, dan mencari-cari di kotak

sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin.

Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu

berbaring lagi, berusaha menenangkan setiap bagian

tubuhku. Di tengah-tengah itu obat yang kuminum tadi

mulai bekerja, dan aku pun tidur pulas.

Aku bangun cepat, tidurku benar-benar nyenyak dan

tanpa mimpi, berkat obat yang sengaja kuminum. Meski

istirahatku cukup, aku kembali tergesa-gesa seperti

semalam. Aku berpakaian terburu-buru, melicinkan kerah

pakaianku, merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami

di pinggangku. Aku mengintip ke luar jendela untuk

memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Awan tipis

bagai kapas menyelimuti langit. Sepertinya tidak akan

bertahan lama.

Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar

merasakannya, buru-buru membereskannya ketika selesai.

Aku mengintip ke jendela lagi, tapi tak ada yang berubah.

Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun

ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak

kencang.

Aku meluncur ke pintu; sedikit kesulitan dengan

selotnya, tapi akhirnya berhasil membukanya. Dan ia

tampak berdiri di sana. Semua kegelisahanku lenyap begitu

aku melihat wajahnya. Kini aku merasa tenang. Aku

mendesah lega—ketakutan yang kurasakan kemarin terasa

konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku.

Awalnya ia tidak tersenyum—wajahnya muram. Tapi

kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku, dan

ia pun tertawa.

"Selamat pagi," sapanya sambil tergelak.

"Ada apa?" aku menunduk untuk memastikan tidak

melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu, atau celana.

"Kira serasi." Ia tertawa lagi. Aku baru menyadari bahwa

ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda,

dengan kerah putih mengintip di baliknya, dan jins. Aku

ikut tertawa, menyembunyikan sekelumit kekecewaan—

kenapa ia terlihat seperti model peragaan busana sementara

aku tidak?

Aku mengunci pintu rumah sementara ia berjalan ke

truk. Ia menunggu di pintu penumpang dengan ekspresi tak

berdosa yang mudah ditebak.

“Kita sudah sepakat," aku mengingatkannya, merasa

puas. Lalu aku masuk ke kursi kemudi, dan meraih ke

seberang untuk membukakan pintu baginya.

"Ke mana?" tanyaku.

"Kenakan sabuk pengamanmu–belum-belum aku sudah

gugup.”

Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya.

"Ke mana?" ulangku sambil mendesah.

"Ke arah satu-kosong-satu utara," perintahnya.

Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada

jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di

wajahku. Karenanya aku mengemudi lebih berhati-hati dari

biasa, menembus kota yang masih tidur.

"Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum

malam tiba?"

"Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu—

hargailah sedikit," tukasku gusar.

Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota,

meskipun ia terus saja mencela. Pemandangan semak

belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut

lumut menggantikan pekarangan dan rumah-rumah yang

tadi kami lewati.

"Belok kiri di satu-sepuluh," perintahnya ketika aku

hendak bertanya. Aku mematuhinya tanpa berkata-kata.

"Sekarang terus hingga ke ujung jalan." Aku bisa

mendengar senyum dalam suaranya, tapi terlalu takut bakal

keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa

waswas.

“Dan di ujung jalan sana ada apa?" aku bertanya-tanya.

"Jalan setapak."

“Kita akan mendaki gunung?" Untung aku memakai

sepatu tenis.

“Apakah itu masalah?" Ia terdengar tidak kaget.

“Tidak.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar

meyakinkan. Tapi, kalau pilarnya trukku berjalan pelan..

"Jangan khawatir, jaraknya hanya kurang-lebih lima mil,

dan kita tidak perlu terburu-buru."

Lima mil. Aku tidak menyahut, supaya ia tidak

mendengar kepanikan dalam suaraku. Lima mil dengan

akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh,

sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku

keseleo, atau bahkan melukaiku. Ini akan jadi perjalanan

memalukan.

Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara,

sementara aku membayangkan kengerian yang bakal

kuhadapi.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tak sabar setelah

beberapa saat.

Lagi-lagi aku berbohong. "Hanya membayangkan tempat

yang kita tuju."

"Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang

bersahabat." Kami memandang ke luar jendela, ke awanawan

yang mulai menipis.

"Charlie bilang hari ini bakal hangat."

"Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?"

tanyanya.

"Tidak."

"Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersamasama?”

Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu.

"Tidak, aku bilang kau membatalkan rencana itu—dan

itu benar."

"Tak ada yang tahu kau bersamaku?" Sekarang ia marah.

“Tergantung... kurasa kau memberitahu Alice?”

“Sangat membantu. Bella," tukasnya jengkel. Aku

berpura-pura tidak mendengar.

"Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga

kau kepingin bunuh diri?" tanyanya ketika aku

mengabaikan kata katanya.

"Katamu kau bisa mendapat masalah... kalau kita

terlihat bersama-sama di depan orang banyak, aku

mengingatkannya.

“Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin

menimpaku–kalau kau tidak pulang ke rumah?" Ia masih

terdengar marah, dan sangat sinis.

Aku mengangguk, pandanganku tetap ke jalan.

Ia menggumamkan sesuatu, berbicara begitu cepat

hingga aku tak bisa memahaminya.

Selama sisa perjalanan kami membisu. Aku bisa

merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam

dirinya, dan aku tak tahu harus bilang apa.

Kemudian jalanan berakhir, menyempit menjadi jalan

setapak dengan penanda dari kayu kecil. Aku memarkir

truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar, waswas

karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan

mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya.

Sekarang di luar terasa hangat, lebih hangat daripada yang

pernah kurasakan sejak tiba di Forks, nyaris lembab di

bawah selimut awan. Aku melepaskan sweter dan

mengikatkannya di pinggang, bersyukur telah mengenakan

kaus tipis tanpa lengan di baliknya—apalagi karena aku

harus berjalan kaki sejauh lima mil.

Aku mendengarnya menutup pintu, dan melihat apakah

ia juga melepas sweternya. Ia tidak sedang memandangku,

melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku.

“Lewat sini," katanya sambil menoleh, sorot matanya

masih kesal. Ia mulai memasuki hutan gelap itu.

"Jalan setapaknya?" suaraku jelas terdengar panik ketika

mengitari truk dan mengejarnya.

"Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan, bukannya

berarti kita akan melaluinya."

"Tanpa jalan setapak?" tanyaku putus asa.

"Aku takkan membiarkanmu tersesat." Kemudian ia

berbalik, dengan senyum mengejek, dan aku mendengus

pelan. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak

mengancingkannya, sehingga kulit putihnya yang mulus

terpapar dari leher hingga ke dada, otot-ototnya yang

sempurna tak lagi tampak samar dari balik pakaian yang

membalutnya. Ia terlalu sempurna, pikirku sambil menatap

tajam dengan putus asa. Tidak mungkin makhluk yang

menyerupai dewa ini ditakdirkan untukku.

Ia menatapku, keheranan melihat ekspresiku yang

tersiksa.

"Kau ingin pulang?" tanyanya tenang, perasaan tersiksa

yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya.

"Tidak." Aku melangkah maju sampai ke dekatnya, tak

ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun

lamanya waktuku bersamanya.

"Ada apa?" tanyanya lembut.

"Aku bukan pendaki yang baik," sahutku tolol. "Kau

harus sangat sabar."

"Aku bisa sabar—kalau aku berusaha keras." Ia

tersenyum, sambil menatap mataku, berusaha

mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa

dijelaskan.

Aku mencoba membalas senyumnya, tapi senyumku

tidak meyakinkan. Ia mengamati wajahku.

“Aku akan membawamu pulang," janjinya. Aku tak bisa

mengatakan apakah janji itu tanpa syarat, atau artinya ia

akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. Aku

tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih, dan

sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan

pikiran yang terbaca olehnya.

"Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam

hutan sebelum matahari terbenam, sebaiknya kau mulai

menunjukkan arahnya," kataku dingin. Ia memandang

marah padaku, mencoba memahami maksudku.

Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke

dalam hutan.

Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. Jalan yang

kami lalui kebanyakan datar, dan ia menahan dahan-dahan

basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Ketika

jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang, atau

bebatuan besar, ia membantuku, mengangkatku dengan

memegangi sikuku, dan langsung melepasku begitu selesai

melewati rintangan. Sentuhan dingin kulitnya selalu

membuat jantungku berdebar tak keruan. Ketika terjadi

untuk kedua kali, aku sempat melihat wajahnya dan yakin

entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku.

Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari

kesempurnaannya sebisa mungkin, tapi sering kali aku

gagal. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan

kepedihan.

Kami lebih sering berjalan dalam diam. Kadang-kadang

ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya

dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Ia menanyakan

hari ulang tahunku, guru-guru sekolah dasarku, hewan

peliharaanku semasa kecil—dan harus kuakui setelah tiga

ekor ikan yang kupelihara berturut-turut mati, aku

menyerah, tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. Ia

menertawaiku, lebih keras dari biasanya—gema yang

seperti bunyi lonceng memantul ke arah kami dari hutan

yang kosong.

Pendakian itu nyaris menghabiskan waktu sepagian, tapi

tak sekali pun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar.

Hutan itu membentang di sekeliling kami, dipenuhi jaring

pepohonan kuno, dan aku mulai merasa gugup bahwa kami

takkan menemukan jalan keluar lagi. Sebaliknya ia sangat

tenang, merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring

hijau, tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju.

Setelah beberapa jam cahaya yang menyusup di antara

dedaunan pohon berubah, warna kehijauan yang suram

berganti jadi hijau cerah. Hari telah berubah cerah, tepat

seperti yang diramalkannya. Untuk pertama kali sejak kami

memasuki hutan, aku merasa gembira—yang dengan cepat

berubah menjadi tidak sabar.

"Apakah kita sudah sampai?" godaku, pura-pura kesal.

"Hampir." Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang

sudah ceria lagi. "Kaulihat cahaya terang di depan sana?"

Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. "Apakah

seharusnya aku bisa melihatnya?"

Ia nyengir. "Barangkali belum kasat oleh matamu."

"Waktunya mengunjungi dokter mata," gumamku. Ia

nyengir semakin lebar.

Tapi kemudian, setelah melangkah seratus meter lagi,

aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami.

Cahaya itu kuning, bukan hijau. Aku mempercepat

langkah, hasratku semakin bertambah di setiap langkahku.

Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang, dan

mengikutiku tanpa suara.

Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah

menembus tumbuhan pakis terakhir menuju tempat

terindah yang pernah kulihat. Padang rumput itu kecil,

melingkar sempurna, dan ditumbuhi bunga-bunga liar—

biru keunguan, kuning, dan putih lembut. Tak jauh dari

tempatku berdiri, aku bisa mendengar senandung sungai.

Matahari bersinar tepat di atas kami, menyinari lingkaran

itu dengan kabut kekuningan. Aku berjalan pelan,

terpesona, melintasi rumput halus, bunga, bunga yang

melambai-lambai, serta udara hangat dan keemasan. Aku

setengah membalikkan badan, ingin berbagi ini semua

dengannya, tapi ia tak ada di belakangku seperti yang

kukira. Aku memandang berkeliling, dengan ketakutan

mencari-carinya. Akhirnya aku menemukannya, berdiri di

bawah bayangan pepohonan lebat di tepi kegelapan hutan,

memerhatikanku dengan tatapan waswas.

Aku kembali melangkah ke arahnya, sorot mataku sarat

oleh rasa ingin tahu. Tatapannya hati-hati, enggan. Aku

tersenyum menyemangati, mengulurkan tangan, sambil

terus melangkah ke arahnya. Ia mengangkat tangan

mengingatkan, dan aku pun ragu. lalu terdiri.

Edward tampak menghela napas dalam-dalam, lalu ia

melangkah ke tengah cahaya terang mentari siang.

13. PENGAKUAN

MELIHAT Edward di bawah sinar matahari sungguh

membuatku terpesona. Aku takkan pernah terbiasa

dengannya, meskipun aku telah memandanginya seharian

ini. Kulitnya, putih meski agak memerah sepulang berburu

kemarin, tampak kemilau, seolah-olah ribuan berlian

mungil tertanam di bawah permukaan kulitnya. Ia

berbaring tak bergerak di rerumputan, kausnya tersingkap

dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya,

lengannya yang telanjang juga berkilauan. Kelopak

matanya yang keunguan dan berbinar terpejam, meski tentu

saja ia tidak tertidur. Patung yang sempurna, terukir dari

bebatuan entah apa namanya, halus bagai pualam,

berkilauan bagai kristal.

Terkadang bibirnya bergerak-gerak, begitu cepat hingga

seperti gemetar. Tapi ketika kutanya, katanya ia sedang

bernyanyi untuk dirinya sendiri: terlalu pelan untuk bisa

kudengar.

Aku juga menikmati sinar matahari, meskipun udara

tidak cukup kering bagiku. Aku ingin berbaring, seperti

yang dilakukannya, dan membiarkan matahari

menghangatkan wajahku. Tapi toh aku hanya duduk

memeluk kakiku, dagu kuletakkan di lutut, tak ingin

berpaling dari wajahnya. Angin bertiup pelan. membelai

rambutku dan rerumputan yang menari-nari di selatar tubuh

Edward yang tak bergerak.

Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan

bagiku, kini tampak pudar di samping keberadaan Edward

yang bersinar cemerlang.

Dengan ragu-ragu, selalu khawatir, bahkan sekarang,

bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi, terlalu indah

untuk menjadi kenyataan... kuulurkan satu jariku dan

kuelus punggung tangannya yang berkilauan, yang berada

di dekatku. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang

sempurna, halus bagai satin, dingin seperti batu. Ketika aku

memandangnya lagi matanya terbuka, mengamanku. Hari

ini warnanya cokelat keemasan, lebih ringan dan hangat

setelah berburu. Senyumnya dengan cepat mengembang di

sudut bibirnya yang tak bercela.

"Aku tidak membuatmu takut, kan?" guraunya, tapi aku

bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam

suara lembutnya.

"Tak lebih dari biasanya."

Ia tersenyum lebih lebar; giginya mengilap di bawah

sinar matahari.

Aku beringsut mendekat, sekarang mengulurkan tangan

untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengan ujung jari.

Jemariku gemetaran, dan aku tahu ini pun takkan luput dari

perhatiannya.

“Kau keberatan?" tanyaku, karena ia sudah

memejamkan mata lagi.

“Tidak," katanya tanpa membuka mata "Kau tak dapat

membayangkan bagaimana rasanya." Ia mendesah.

Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya

yang sempurna, mengikuti jejak samar nadinya yang

kebiruan menuju lipatan sikunya. Dengan tangan lain, aku

meraih dan membalikkan tangannya. Menyadari apa yang

kuinginkan, ia membalikkan tangan dengan cepat,

gerakannya membuatku terkesiap. Aku terkejut, sesaat jarijariku

membeku di lengannya.

"Maaf," gumamnya. Aku mendongak tepat saat matanya

yang berwarna emas menutup lagi. "Terlalu mudah menjadi

diriku sendiri ketika bersamamu."

Kuangkat tangannya, membolak-balikkannya sambil

mengamati matahari yang menyinari telapak tangannya.

Kudekatkan tangannya ke wajahku, mencoba melihat sisi

kulitnya yang tersembunyi.

"Katakan apa yang kaupikirkan," bisiknya. Aku melihat

dan mendapatinya menatapku, mendadak begitu lekat.

"Masih tidak biasa untukku, untuk tidak mengetahui."

"Kau tahu, kita semua merasa seperti itu setiap saat."

"Hidup ini sulit." Apakah aku hanya membayangkan

nada sesal dalam suaranya? "Tapi kau tidak

memberitahuku."

"Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang

kaupikirkan...," ujarku ragu-ragu.

"Dan?"

"Aku berharap dapat memercayai bahwa dirimu nyata.

Dan aku berharap aku tidak takut."

"Aku tidak ingin kau takut." Suaranya menggumam

lembut Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya

sejujurnya, bahwa aku tak perlu takut, bahwa tak ada yang

perlu ditakuti.

"Well, bukan rasa takut itu yang kumaksud, meskipun

jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan."

Semua berlangsung begini cepat hingga aku tidak melihat

gerakannya, sekarang ia setengah duduk, bertopang pada

lengan kanannya, telapak tangan kirinya masih dalam

genggamanku. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti

dariku. Aku mungkin saja—seharusnya—menjauh dari

kedekatannya yang tak disangka-sangka, tapi aku tak bisa

bergerak. Matanya yang keemasan memesonaku.

"Lalu apa yang kautakutkan?" bisiknya sungguhsungguh.

Tapi aku tak bisa menjawab. Seperti yang pernah

kualami sebelumnya, aku mencium napas sejuknya di

wajahku. Manis, nikmat, aroma yang membuatku

meneteskan air liur. Tidak seperti apa pun di dunia ini.

Secara naluriah, tanpa berpikir, aku mendekat padanya,

menghirupnya.

Dan ia menghilang, melepaskan tangannya dariku.

Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus, ia

berada enam meter dariku, berdiri di ujung padang rumput

kecil ini, di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. Ia

menatapku, matanya tampak kelam dalam bayangan itu,

ekspresinya tak dapat kutebak.

Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok

terpancar di wajahku. Tanganku yang kosong bagai

tersengat.

“Maafkan... aku..., Edward," bisikku. Aku tahu ia bisa

mendengarnya.

“Beri aku waktu sebentar," sahutnya, cukup lantang

untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. Aku

duduk diam tak bergerak.

Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama, ia berjalan

kembali ke arahku, pelan untuk ukurannya. Ia berhenti,

masih beberapa meter jauhnya, dan duduk anggun di tanah,

kakinya menyilang. Tak sekali pun ia pernah melepaskan

pandangannya dariku. Ia menghela napas panjang dua kali,

lalu senyum menyesal.

“Aku sangat menyesal," ujarnya ragu. "Apakah kau bisa

mengerti maksudku, kalau kubilang aku hanya manusia?"

Aku mengangguk sekali, tak bisa tersenyum mendengar

gurauannya. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika

pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. Ia dapat

menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. Senyumnya

berubah mengejek.

"Aku predator terbaik di dunia, bukankah begitu? Segala

sesuatu tentang diriku mengundangmu mendekat—suaraku,

wajahku, bahkan aromaku. Seperti aku membutuhkannya

saja!" Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri, pergi,

langsung lenyap dari pandangan, dan muncul kembali di

bawah pohon yang sama seperti sebelumnya, setelah

mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik.

"Seperti kau bisa kabur dariku saja," ia tertawa getir.

Ia mengulurkan satu tangannya, dan tanpa kesulitan

mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang

pohonnya, hingga menimbulkan bunyi patahan yang

mengerikan. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya

dengan tangannya, lalu melemparnya begitu cepat,

mengempaskannya ke pohon besar lain. Pohon itu

bergoyang dan bergetar.

Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi, setengah meter

dariku, kaku bagai batu.

“Seperti kau bisa melawanku saja." katanya lembut.

Aku duduk tak bergerak, merasa lebih takut padanya dari

pada selama ini. Aku tak pernah melihatnya begitu bebas di

balik penyamarannya yang sempurna. Ia tak pernah benarbenar

lebih tidak manusiawi... atau lebih menawan. Dengan

wajah pucat dan mata membelalak, aku duduk bagai

burung siap dimangsa ular.

Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena

perasaan senang yang meluap-luap. Lalu, ketika detik demi

detik berlalu, percikan itu memudar. Ekspresinya perlahan

berganti menjadi kesedihan yang purba.

"Jangan takut," gumamnya, suara lembutnya tak

disengaja terdengar menggoda. "Aku berjanji...," ujarnya

ragu. "Aku bersumpah tidak akan menyakitimu." Ia

kelihatan lebih ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada

aku.

"Jangan takut," bisiknya lagi sambil mendekat, dengan

amat perlahan. Ia duduk luwes, dengan gerakan tak

bergegas yang disengaja, hingga wajah kami sejajar, hanya

terpisah tiga puluh senti.

"Kumohon maafkan aku," pintanya. "Aku bisa

mengendalikan diri. Kau membuatku tak berdaya. Tapi

sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali." Ia

menunggu, tapi aku masih tak sanggup bicara. "Sejujurnya,

hari ini aku tidak merasa haus." Ia mengedipkan mata.

Mendengar itu aku harus tertawa, meski suara tawaku

gemetar dan tertahan.

“Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya lembut, perlahan

dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan

kembali menggenggam tanganku.

Aku memandang tangannya yang dingin dan halus, lalu

matanya. Mata itu lembut, penuh penyesalan. Aku kembali

menatap tangannya, kemudian dengan sengaja menelusuri

garis tangannya dengan ujung jariku. Aku memandangnya

dan tersenyum gugup.

Senyuman balasannya sungguh memesona.

“Jadi, tadi kita sampai di mana, sebelum aku bersikap

kasar,” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut.

“Sejujurnya, aku tidak bisa mengingatnya."

Ia tersenyum, tapi wajahnya tampak malu. "Kurasa kita

sedang membicarakan kenapa kau merasa takut, di samping

alasan yang sudah jelas."

"Oh, benar."

"Jadi?"

Aku menunduk menatap tangannya, dan dengan lembut

menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang

berkilauan. Detik demi detik pun berlalu.

"Betapa mudahnya aku marah," desahnya. Aku menatap

matanya, dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian

ini adalah hal baru baginya, juga bagiku. Dan terlepas dari

begitu banyaknya hal tak terpahami yang dialaminya

bertahun-tahun, ini juga masih sama sulitnya baginya.

Kubesarkan hatiku melihat kenyataan ini.

"Aku takut... karena, untuk, Well, alasan yang jelas, aku

tak bisa terus di dekatmu. Dan aku takut keinginan untuk

terus bersamamu lebih kuat daripada seharusnya." Aku

menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan

semua itu. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara

gamblang.

"Ya," timpalnya pelan. "Jelas, itu sesuatu yang perlu

ditakutkan. Keinginan untuk bersamaku. Itu sungguh bukan

ke inginanmu yang terbaik."

Aku cemberut.

"Aku seharusnya pergi sejak lama," desahnya. "Aku

seharusnya pergi sekarang. Tapi aku tak tahu apakah aku

bisa."

"Aku tidak ingin kau pergi," gumamku sedih, seraya

menunduk lagi.

“Itulah sebabnya aku harus pergi. Tapi jangan khawatir.

Pada dasarnya aku makhluk egois. Aku terlalu

menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang

seharusnya kulakukan."

"Aku senang."

"Jangan!" Ia menarik tangannya, kali ini lebih lembut;

suaranya lebih parau daripada biasanya. Parau untuk

ukurannya, tapi toh tetap masih lebih indah daripada suara

manusia mana pun. Sulit rasanya untuk mengikutinya—

perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu

membuatku terlambat memahami situasi, dan bingung.

"Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan

pernah lupakan itu. Jangan pernah lupa aku lebih

berbahaya bagimu daripada bagi orang lain." Ia berhenti,

dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam

hutan. Aku berpikir sesaat.

"Sepertinya aku tidak mengerti apa sebenarnya yang

kaumaksud—terutama bagian terakhir," kataku.

Ia kembali menatapku dan tersenyum, belum apa-apa

suasana harinya lagi-lagi berubah.

“Bagaimana aku menjelaskannya?" godanya. "Tanpa

membuatmu takut lagi... hmmmm." Tanpa terlihat

memikirkannya, ia meletakkan tangannya dalam

genggamanku; dan aku menggenggamnya erat-erat dengan

kedua tanganku. Ia memandang tangan kami.

"Kehangatan ini luar biasa menyenangkan." Ia

mendesah.

Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya.

“Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang

berbeda-beda?" ia memulai. "Beberapa orang menyukai es

krim cokelat, yang lain memilih stroberi?"

Aku mengangguk.

"Maaf aku menggunakan makanan sebagai

perumpamaan aku tak tahu cara lain untuk

menjelaskannya." Aku tersenyum. Ia balas tersenyum

menyesal. "Kau tahu, setiap orang punya aroma berbeda,

inti berbeda. Bila kau mengunci seorang peminum dalam

ruangan penuh bir basi, dia akan dengan senang

meminumnya. Tapi dia bisa menolaknya, kalau ia memang

ingin, kalau ia bukan peminum lagi. Sekarang misalnya

kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan

itu, cognac langka terbaik—dan memenuhi ruangan itu

dengan aromanya yang hangat—menurutmu, apa yang

akan dilakukannya?"

Kami duduk diam, saling menatap—mencoba membaca

pikiran satu sama lain.

Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu.

"Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. Barangkah

terlalu mudah untuk menolak brendi. Mungkin aku harus

mengganti si peminum dengan pencandu heroin."

"Jadi maksudmu, aku semacam heroin bagimu?" godaku,

berusaha mencairkan suasana.

Ia langsung tersenyum, sepertinya menghargai usahaku.

"Ya, kau adalah heroin bagiku."

"Apakah itu sering terjadi?" tanyaku. Ia memandang

melampaui puncak pohon, memikirkan jawabannya.

"Aku membicarakan hal ini dengan saudara-saudara lakilakiku."

Ia masih memandang kejauhan. "Bagi Jasper,

kalian manusia kurang-lebih sama. Dialah yang terakhir

bergabung dalam keluarga kami. Sulit baginya untuk sama

sekali berpantang. Dia tak punya waktu untuk

menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma, juga

rasa." Ia memandangku, raut wajahnya menyesal.

"Maaf,” katanya.

"Aku tak keberatan. Kumohon jangan khawatir kau akan

membuatku tersinggung, atau takut, atau apa pun.

Begitulah caramu berpikir. Aku bisa mengerti, atau

setidaknya mencoba. Jelaskan saja sebisamu."

Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap

langit.

"Jadi, Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan

seseorang yang sama"—ia ragu, mencari-cari kara yang

tepat—"menariknya seperti kau bagiku. Yang membuatku

tidak menggunakan akal sehat. Emmett, boleh dibilang

sudah lebih lama bersama kami, jadi dia mengerti

maksudku. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya,

yang kedua lebih kuat daripada yang pertama."

"Dan kau?"

"Tidak pernah."

Kata itu melayang sesaat di sana, dalam embusan angin

yang hangat.

"Apa yang dilakukan Emmett?" tanyaku memecah

keheningan.

Pertanyaan yang salah. Wajahnya menjadi gelap,

tangannya mengepal dalam genggamanku. Ia membuang

muka. Aku menunggu, tapi ia takkan menjawab.

"Kurasa aku tahu," kataku akhirnya.

Ia melirik; wajahnya muram, memohon.

"Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf,

bukan begitu?"

“Apa yang kauminta dariku? Izinku?" Suaraku lebih

tajam daripada yang kuinginkan. Aku mencoba membuat

suaraku lebih ramah – aku bisa menebak harga yang harus

dibayarnya karena telah bersikap jujur. "Maksudku, apakah

tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas

kematianku sendiri!

"Tidak, tidak!" Ia langsung menyesal. "Tentu saja ada

harapan! Maksudku, tentu saja aku tidak akan..." Ia tidak

menyelesaikan kalimatnya, matanya nanar menatapku.

"Kisah kita berbeda. Emmett... dia tidak mengenal kedua

gadis itu, mereka hanya kebetulan berpapasan dengannya.

Kejadiannya sudah lama sekali, dan dia tidak... setangkas

dan sehati-hati sekarang."

Ia terdiam dan mengamanku lekat-lekat ketika aku

merenungkannya.

"Jadi kalau kita bertemu... oh, di lorong gelap atau

apa...” Nyaliku ciut.

"Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar

tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan—"

Sekonyong-konyong ia berhenti, memalingkan wajah.

"Ketika kau berjalan melewatiku, aku bisa saja

menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami,

saat itu juga. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku

sejak, yah, bertahun-tahun yang lalu, aku takkan sanggup

menghentikan diriku sendiri." Ia berhenti, memandang

geram pepohonan.

Ia memandangku muram, kami mengingat saat-saat itu.

"Kau pasti menduga aku kerasukan."

"Aku tidak mengerti alasannya. Bagaimana kau bisa

membenciku secepat itu..."

"Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang di

kirim langsung dari nerakaku sendiri untuk

menghancurkanku. Aroma yang menguar dari kulitmu...

Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. Dalam

satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk

memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku, agar aku

bisa berdua saja denganmu. Dan aku terus melawan

keinginan itu, memikirkan keluargaku, apa yang akan

menimpa mereka akibat kebodohanku Aku harus pergi,

menghilang, sebelum aku mengucapkan, kata-kata yang

bisa membuatmu mengikutiku..."

Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba

memahami ingatannya yang pahit. Matanya yang

keemasan membara di balik bulu matanya, menghipnotis

dan mematikan.

"Kau pasti datang," ujarnya.

Aku mencoba berkata dengan tenang, "Tak diragukan

lagi."

Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku,

membebaskanku dari kekuatan tatapannya. "Kemudian,

ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa

menghindarimu, kau ada di sana—di ruangan kecil hangat

itu, begitu dekat, aroma tubuhmu membuatku sinting. Saat

itu aku nyaris menculikmu. Hanya ada satu manusia lemah

di sana—sangat mudah untuk diatasi."

Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari,

ingatanku diperbarui lewat matanya, hanya saja sekarang

aku menyadari bahayanya. Miss Cope yang malang; aku

bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi

penyebab kematiannya.

"Tapi aku menolaknya. Aku tidak tahu bagaimana. Aku

memaksa diriku agar tidak menunggumu, tidak

mengikutimu dari sekolah. Bagiku di luar lebih mudah,

karena di sana aku tak bisa mencium aromamu. Aku bisa

berpikir dengan jernih, membuat keputusan yang tepat. Aku

meninggalkan yang lain di dekat rumah—aku kelewat malu

memberitahu mereka betapa lemahnya diriku, mereka

hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah—lalu aku pergi

menemui Carlisle, di rumah sakit, untuk memberitahunya

aku akan pergi." Aku menatapnya terpana.

“Aku bertukar mobil dengannya—bahan bakar mobilnya

penuh dan aku tak ingin berhenti. Aku tidak berani pulang

menemui Esme. Dia tidak akan tinggal diam sampai

mengetahui apa yang terjadi. Dia akan mencoba

meyakinkanku bahwa itu tidak penting...

"Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska." Ia

terdengar malu, seolah-olah mengakui betapa pengecut

dirinya. "Dua hari aku di sana, bersama beberapa kenalan

lama... tapi aku rindu rumah. Aku benci karena telah

mengecewakan Esme, dan yang lainnya, keluarga adopsiku.

Dalam udara bersih pegunungan, sulit memercayai betapa

sangat menggodanya dirimu. Aku meyakinkan diriku

sendiri, bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah

diriku. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan,

tidak sebesar ini, dekat pun tidak, tapi aku kuat. Siapa kau

ini, gadis kecil tak penting"—tiba-tiba ia nyengir—"yang

mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun

kembali..." Pandangannya menerawang.

Aku tak sanggup berkata-kata.

“Aku melakukan tindakan pencegahan, berburu, makan

lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi

denganmu. Aku yakin aku cukup kuat untuk

memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Aku sombong

mengenai hal ini.

“Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu

untuk mengetahui reaksimu terhadapku benar-benar

menggangguku. Aku tak terbiasa melakukannya lewat

perantara, mendengarkan pikiranmu melalui pikiran

Jessica... pikirannya tidak terlalu orisinal, dan sangat

mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. Lagi pula

aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan

ucapanmu. Sangat menyebalkan.” Ia Cemberut

mengingatnya.

"Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama

itu, bila mungkin, jadi aku mencoba berbicara denganmu

seperti yang akan kulakukan dengan siapa pun. Sebenarnya

aku sangat ingin, aku berharap dapat menguraikan sebagian

pikiranmu. Tapi kau terlalu menarik, aku mendapati diriku

tertawan dalam ekspresimu... dan sesekali kau mengibasngibaskan

tangan atau rambutmu, dan aroma yang

menguar membuatku terkesima lagi...

"Tentu saja, kemudian kau nyaris mati tepat di

hadapanku. Baru setelannya aku menemukan alasan yang

sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu—karena jika aku

tidak menyelamatkanmu, jika darahmu tercecer di sana di

depanku, kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku

mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Tapi aku baru

memikirkan alasan itu setelahnya. Saat itu, yang bisa

kupikirkan hanya, 'Jangan dia.'"

Ia memejamkan mata, larut dalam pengakuannya yang

menyiksa. Aku mendengarkan, lebih antusias daripada

rasional. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut.

Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Aku

sangat bersimpati atas penderitaannya, bahkan sekarang,

ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.

Akhirnya aku bisa bicara, meski suaraku samar-samar.

"Di rumah sakit?"

Matanya berkilat-kilat menatapku. "Aku kaget. Aku tak

percaya aku telah membahayakan diri kami, menaruh

diriku dalam kuasamu—dirimu, dari semua orang yang

ada. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk

membunuhmu." Kami beringsut menjauh ketika kata itu

terucap. "Tapi efeknya justru kebalikannya," ia bergegas

melanjutkan. "Aku bertengkar dengan Rosalie, Emmett,

dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya...

pertengkaran terburuk kami. Carlisle membelaku, begitu

juga Alice." Ia meringis ketika menyebut nama itu. Aku tak

bisa menebak alasannya. "Esme menyuruhku melakukan

apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal." Ia

menggeleng tulus.

"Sepanjang keesokan harinya, aku membaca pikiran

setiap orang yang berbicara denganmu, dan aku terkejut kau

memegang kata-katamu. Aku sama sekali tidak memahami

dirimu. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi

denganmu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk

menjauhimu. Dan setiap hari aroma kulitmu, napasmu,

rambutmu... memukulku sama kerasnya seperti hari

pertama."

Mata kami kembali bertemu, dan aku terkejut melihat

betapa lembut tatapannya.

"Karenanya," lanjutnya, "akan lebih baik jika aku

mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu, daripada

sekarang, di sini—tanpa saksi dan apa pun yang bisa

menghentikanku—seandainya aku akan menyakitimu."

Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya, "Kenapa?"

"Isabella." Ia mengucapkan nama lengkapku dengan

hati-hati, kemudian mengacak-acak rambutku dengan

tangannya. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku

tegang. "Bella, aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku

sampai menyakitimu. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku."

Ia menunduk, kembali malu-malu. "Bayangan dirimu,

kaku, putih, dingin... tak bisa melihatmu merona lagi, tak

bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui

kepura-puraanku... rasanya tak tertahankan." Ia menatapku

dengan matanya yang indah, namun tersiksa. "Kau yang

terpenting bagiku sekarang. Terpenting bagiku sampai

kapan pun.”

Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan

kami berubah-ubah. Dari topik menyenangkan tentang

kematianku sekonyong-konyong kami mengungkapkan

perasaan kami. Ia menunggu, dan meskipun aku menunduk

mengamati tangan kami aku tahu matanya yang keemasan

mengawasiku.

"Kau sudah tahu bagaimana perasaanku, tentu saja,”

kataku akhirnya "Aku ada di sini... yang secara kasar berarti

aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu."

Wajahku muram. "Bodohnya aku."

"Kau memang bodoh," ia menimpaliku sambil tertawa.

Tatapan kami bertemu, dan aku ikut tertawa. Kami samasama

menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi

itu.

"Jadi singa jatuh cinta pada domba... ," gumamnya. Aku

berpaling menyembunyikan mataku sementara hatiku

senang mendengar kata-kata itu.

"Domba bodoh," desahku.

"Singa masokistik menjijikkan." Lama sekali ia

memandang hutan yang gelap , dan aku bertanya-tanya ke

mana pikirannya telah membawanya.

"Kenapa... ?” aku memulai, kemudian berhenti, tak

yakin bagaimana meneruskannya.

Ia memandangku dan tersenyum; sinar matahari

membuat wajah dan giginya berkilauan.

"Ya?"

“Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya."

Senyumnya memudar. "Kau tahu kenapa."

"Tidak, maksudku, tepatnya apa salahku? Aku harus

berjaga-jaga, tahu, jadi sebaiknya aku mulai belajar apa

yang tidak seharusnya kulakukan. Ini, contohnya"—aku

membelai punggung tangannya – “sepertinya tidak

masalah."

Ia tersenyum lagi. "Kau tidak melakukan kesalahan apa

pun. Bella. Itu salahku."

"Tapi aku ingin membantu, kalau bisa, agar ini tidak

lebih sulit lagi bagimu."

"Wol..." Sesaat ia memikirkannya. “Masalahnya kau

begitu dekat. Kebanyakan manusia dengan sendirinya

menjauhi kami mundur karena keanehan kami... Aku tidak

berharap kau akan sedekat ini. Dan aroma lebermu.” Ia

berhenti sesaat, melihat apakah ia membuatku marah.

"Baik kalau begitu," kataku bergurau, mencoba

mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang. Aku melipat

daguku. "Aku takkan memperlihatkan leherku."

Berhasil; ia tertawa. "Tidak, sungguh, lebih pada

kejutannya daripada yang lainnya."

Ia mengangkat tangannya yang bebas, dan menaruhnya

dengan lembut di leherku. Aku duduk diam tak bergerak,

sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami—

peringatan yang menyuruhku untuk takut. Namun tak ada

rasa takut dalam diriku. Bagaimanapun yang ada justru

perasaan lain...

"Lihat, kan," katanya. "Benar-benar tidak apa-apa."

Darahku mengalir deras, dan aku berharap bisa

memperlambatnya, sadar ini pasti membuat segalanya lebih

sulit—detak jantung dalam nadiku. Pasti ia bisa

mendengarnya.

“Rona pipimu cantik," gumamnya. Dengan lembut ia

membebaskan tangannya yang lain. Tanganku jatuh lunglai

di pangkuan. Dengan lembut ia membelai pipiku, lalu

memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya.

“Jangan bergerak," bisiknya, seolah aku belum membeku

saja.

Perlahan, tanpa mengalihkan pandangan dariku, ia

mencondongkan wajah ke arahku. Lalu tiba-tiba, namun

dengan teramat lembut, ia menempelkan pipinya yang

dingin di relung leherku. Aku tak bisa bergerak, bahkan bila

menginginkannya. Aku mendengarkan suara napasnya

yang teratur, mengawasi bagaimana matahari dan angin

bermain-main di rambutnya yang perunggu, lebih

manusiawi daripada bagian dirinya yang lain.

Dengan kelambatan disengaja, tangan-tangannya

meluncur menuruni leherku. Aku gemetar, dan aku

mendengarnya terengah. Tapi tangannya tidak berhenti

ketika dengan lembut beralih ke bahuku, kemudian

berhenti.

Wajahnya bergeser ke samping, hidungnya menyusuri

tulang selangkaku. Ia berhenti, salah satu sisi wajahnya

menempel lembut di dadaku.

Mendengarkan detak jantungku. "Ah," desahnya.

Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa

bergerak. Bisa jadi berjam-jam. Akhirnya detak jantungku

memelan, tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika

memegangku. Aku tahu kapan pun ini bisa jadi kelewat

berlebihan, dan hidupku bisa berakhir—begitu cepat hingga

aku bahkan mungkin takkan menyadarinya. Dan aku tak

bisa membuat diriku ketakutan. Aku tak bisa memikirkan

apa pun, kecuali bahwa ia sedang menyentuhku.

Kemudian, terlalu cepat, ia melepaskanku.

Sorot matanya damai. “Tidak akan sesulit itu lagi,"

katanya puas.

"Apakah sulit sekali bagimu?"

"Tak seburuk yang kubayangkan. Kau?"

"Tidak, itu tidak buruk... bagiku."

Ia tersenyum mendengar nada suaraku. "Kau tahu

maksudku."

Aku tersenyum.

"Kemarilah." Ia meraih tanganku dan menaruhnya di

pipinya "Bisa kaurasakan hangatnya?"

Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. Tapi aku

nyaris tidak memerhatikan, berhubung aku sedang

menyentuh wajahnya, sesuatu yang selalu kuimpikan sejak

hari pertama aku melihatnya.

"Jangan bergerak," bisikku.

Tak ada yang bisa setenang Edward. Ia memejamkan

mata dan diam tak bergerak bagai batu, sebuah ukiran

dalam genggamanku.

Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya, berhatihati

agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan.

Kubelai pipinya, dengan lembut mengusap kelopak

matanya, bayangan keunguan di bawah matanya.

Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna, kemudian,

dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak

bercela. Bibirnya membuka di bawah tanganku, dan aku

bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung

jemariku. Aku ingin mencondongkan tubuh, menghirup

aromanya. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh, tak

ingin mendorongnya terlalu jauh.

Ia membuka mata, dan keduanya tampak kelaparan.

Bukan dengan cara yang membuatku takut, tapi yang

membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar

lagi.

"Kuharap," bisiknya, "kuharap kau bisa merasakan...

kesulitan... kebingungan... yang kurasakan. Agar kau

mengerti.”

Ia mengulurkan tangannya ke rambutku, kemudian

dengan hati-hati mengusap wajahku.

“Katakan padaku," desahku.

"Kurasa aku tidak bisa. Sudah kubilang, di lain sisi, rasa

lapar–haus —yang menjadikanku makhluk tercela,

kurasakan padamu. Dan kurasa kau bisa memahami itu.

Meskipun" – ia setengah tersenyum – “berhubung kau

tidak kecanduan obat-obat terlarang barangkali kau tak bisa

mengerti sepenuhnya.”

"Tapi..." Jemarinya menyentuh lembut bibirku,

membuatku gemetaran lagi. "Ada hasrat lain. Hasrat yang

tak bisa kumengerti, sesuatu yang asing bagiku."

"Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang

kausangka.”

"Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. Apakah

rasanya selalu sepera ini?

"Bagiku?" aku berhenti. "Tidak, tidak pernah. Tidak

pernah sebelumnya."

Ia menggenggam tanganku di antara kedua tangannya.

Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya.

"Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu," ia

mengaku. "Aku tak tahu apakah aku bisa."

Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku,

mengingatkannya lewat tatapanku. Kutempelkan pipiku di

dadanya yang keras. Aku hanya bisa mendengar desah

napasnya, tak ada yang lain.

"Ini sudah cukup," desahku, memejamkan mata.

Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku

dan menekankan wajahnya di rambutku.

“Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang

kausangka," sahutku.

“Aku punya naluri manusia—naluri itu mungkin saja

terkubur dalam-dalam, tapi masih ada."

Lama sekali kami duduk seperti itu; aku bertanya-tanya

mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti

halnya diriku. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai

memudar, bayangan hutan mulai menyentuh kami, dan aku

pun mendesah.

"Kau harus pergi."

"Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku."

"Sudah jelas." Aku bisa mendengar senyuman dalam

perkataannya.

Ia meraih bahuku, dan aku menatap wajahnya.

"Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?" pintanya,

kegembiraan tiba-tiba menyala-nyala di matanya.

"Memperlihatkan apa?"

"Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di

hutan." Ia mengamati ekspresiku. "Jangan khawatir, kau

akan sangat aman, dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat

dari pada yang kaubayangkan." Bibirnya menyunggingkan

senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti

berdetak.

"Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?" tanyaku

hati-hati.

Ia tertawa, lebih keras daripada yang pernah kudengar.

"Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu

saja!"

"Benar, aku yakin kau sering mendengarnya."

"Ayo, pengecut kecilku, naik ke punggungku."

Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau,

tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Ia tersenyum

melihat keraguanku, lalu mengulurkan tangan meraihku.

Jantungku bereaksi; meskipun tak bisa mendengar

pikiranku, ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak

jantungku. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya

tanpa aku perlu bersusah-payah. Setelah itu aku mengaitkan

tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa

membuat orang biasa tersedak. Rasanya seperti memeluk

batu.

“Aku agak lebih berat daripada tas ranselmu," aku

mengingatkannya.

“Hah!" dengusnya. Aku nyaris bisa mendengar ia

memutar bola matanya. Aku tak pernah melihatnya begitu

bersemangat sebelumnya.

Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia

meraih tanganku, menekankan telapak tanganku ke

wajahnya, dan menghirupnya dalam-dalam.

"Selalu lebih mudah daripada sebelumnya" gumamnya.

Kemudian ia berlari.

Jika sebelumnya keberadaannya pernah membuatku

mengkhawatirkan kematian, itu tak sebanding dengan yang

kurasakan saat ini.

Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru,

bagai hantu. Tak ada suara, tak ada bukti ia memijakkan

kakinya di tanah. Irama napasnya tak pernah berubah, tidak

menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Tapi

pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat, selalu

luput menyentuh kami.

Aku terlalu takut untuk memejamkan mata, meskipun

hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan

membakarnya. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh

menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang

mengudara. Dan untuk pertama kali dalam hidupku, aku

merasa mabuk.

Kemudian selesai. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi

untuk mencapai padang rumput Edward, dan sekarang,

dalam hitungan menit, kami sudah sampai lagi di truk.

“Asyik, bukan?" Suaranya meninggi, senang. Ia berdiri

tak bergerak, menungguku turun. Aku mencobanya, tapi

otot-ototku kaku. Lengan dan kakiku tetap mengunci

tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan

membuatku tidak nyaman.

“Bella?" panggilnya, sekarang terdengar waswas.

“Rasanya aku perlu berbaring," aku menahan napas.

"Oh, maaf." Ia menungguku, tapi aku masih tetap tak

bisa bergerak.

"Sepertinya aku perlu bantuan,” ujarku.

Ia tertawa pelan, dan dengan lembut melepaskan

cengkeramanku di lehernya. Kupasrahkan diriku.

Kemudian ia menarikku menghadapnya, menggendongku

seolah aku kanak-kanak. Ia memelukku sebentar, lalu hatihati

menurunkanku ke atas hamparan pakis.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

Aku tidak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku

berputar cepat sekali. "Rasanya pusing."

"Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu."

Aku mencobanya, dan lumayan membantu. Aku

bernapas pelan, menjaga kepalaku tetap tenang. Aku

merasakan ia duduk di sisiku. Waktu berlalu, dan akhirnya

aku dapat mengangkat kepala. Telingaku berdenging.

"Kurasa itu bukan gagasan yang bagus," gumamnya.

Aku mencoba bersikap positif, namun suaraku lemah.

"Tidak, itu tadi sangat menarik."

"Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu—oh bukan, kau

sepucat aku!"

“Seharusnya tadi aku memejamkan mata." Lain kali

ingat itu."

"Lain kali!" erangku.

Ia tertawa. Suasana hatinya masih bagus.

“Tukang pamer," gumamku.

“Buka matamu, Bella," ujarnya pelan.

Dan di sanalah dia, wajahnya sangat dekat denganku.

Ketampanannya memukauku—terlalu berlebihan,

kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa.

“Aku sedang berpikir, ketika aku berlari...” Ia terdiam.

"Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan."

"Bella kau lucu." ia tergelak. "Berlari adalah sesuatu yang

alami, bukan sesuatu yang harus kupikirkan."

"Tukang pamer," gumamku lagi. Ia tersenyum.

"Bukan," lanjutnya, "aku berpikir ada sesuatu yang ingin

kucoba." Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya

lagi. Aku tak bisa bernapas.

Ia ragu-ragu—tidak seperti biasanya, seperti cara

manusia.

Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium

wanita, untuk mengira-ngira bagaimana reaksinya, untuk

melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Barangkali ia

ingin mengulur-ulur waktu, saat penantian yang tepat

terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.

Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri, untuk

mengetahui apakah ini aman, untuk memastikan dirinya

masih dapat mengendalikan hasratnya.

Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut

bibirku.

Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reaksiku.

Darahku mendidih dan membara di bibirku. Napasku

terengah-engah. Jemariku meremas rambutnya,

mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Bibirku membuka

saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.

Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku.

Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku.

Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang

waspada.

“Ups," desahku.

"Itu namanya melecehkan."

Tatapannya liar, rahangnya menegang, meski begitu

artikulasinya tetap sempurna. Ia memegang wajahku hanya

beberapa senti dari wajahnya. Aku terpana dibuatnya.

"Haruskah aku... ?" Aku mencoba menahan diri,

memberinya sedikit ruang.

Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikit pun.

"Tidak, aku bisa menolerirnya. Tolong tunggu sebentar."

Suaranya sopan, terkendali.

Aku terus menatap matanya, memerhatikan hasrat yang

berkobar-kobar di dalamnya mulai memudar dan

melembut.

Kemudian ia tersenyum, dan senyumnya tak disangkasangka

nakal.

"Nah," katanya, jelas puas dengan dirinya sendiri.

"Bisa ditolerir?" tanyaku.

Ia tertawa keras. "Aku lebih kuat daripada yang kuduga.

Senang mengetahuinya."

"Kuharap aku bisa mengatakan yang sama. Maafkan

aku.''

"Kau toh hanya manusia biasa."

"Terima kasih banyak," sahutku getir.

Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. Ia

mengulurkan tangan padaku, gerakan yang tak kusangkasangka.

Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tak

bersentuhan. Kugenggam tangannya yang dingin,

memerlukannya lebih dari dugaanku. Keseimbanganku

belum kembali sepenuhnya.

"Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau

karena ciumanku yang menghanyutkan?" Betapa ceria,

betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini,

wajah malaikatnya tampak tenang. Ia adalah Edward yang

berbeda dari yang kukenal. Dan aku merasa lebih tergilagila

padanya. Akan menyakitkan bila harus berpisah

darinya sekarang.

“Aku tidak yakin, aku masih pening," akhirnya aku

berhasil menyahut. "Kurasa gabungan keduanya."

"Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi." "Kau

gila ya?" protesku.

"Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada

hari terbaikmu." godanya. "Refleksmu jauh lebih lambat."

"Aku yakin itu benar, tapi kurasa keberanianku, atau

trukku, bisa menerimanya.”

"Percayalah, Bella, sedikit saja."

Kuselipkan tanganku di saku celana, menggenggam

kunci mobilku erat-erat.

“Tidak. Tidak sedikit pun."

Alisnya terangkat tak percaya.

Aku mulai mengitarinya, menuju sisi pengemudi. Ia

mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak

terhuyung. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ia mungkin tidak

akan membiarkanku lewat sama sekali. Lengannya

menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling

pinggangku.

"Bella, aku telah mengerahkan segenap usaha yang

kubisa untuk menjagamu tetap hidup. Aku takkan

membiarkanmu mengemudi ketika berjalan lurus pun kau

tak bisa. Lagi pula, seorang teman takkan membiarkan

temannya mengemudi dalam keadaan mabuk," kutipnya

sambil tergelak. Aku bisa mencium aroma manis yang tak

tertahankan dari dadanya.

"Mabuk?" timpalku keberatan.

“Kau mabuk oleh kehadiranku." Ia memamerkan

senyumnya yang menggoda lagi.

"Aku tak bisa menyangkal yang satu itu," desahku. Tak

ada jalan keluar, aku tak bisa menolaknya untuk apa pun.

Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan

menjatuhkannya, mengamati tangannya berkelebat bagai

kilat dan menyambarnya tanpa suara. "Santai saja—trukku

sudah cukup tua.”

"Sangat masuk akal," timpalnya.

"Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?”

tanyaku jengkel. "Oleh kehadiranku?"

Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi

menjadi lembut dan hangat. Awalnya ia tidak menjawab

hanya menundukkan wajahnya ke arahku, dan

mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku, mulai

dari telinga ke dagu, berulang-ulang. Aku gemetaran.

"Bagaimanapun," akhirnya ia bergumam, "refleksku

lebih baik.

14. TEKAD YANG KUAT MENGALAHKAN

SEGALA HAMBATAN FISIK

HARUS kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia

menjaga kecepatannya tetap wajar. Seperti banyak hal,

tampaknya itu mudah baginya. Meskipun ia nyaris tidak

melihat jalanan, ban trukku tak pernah keluar satu senti pun

dari batas jalur. Ia mengemudi dengan satu tangan, tangan

yang lain menggenggam tanganku yang bersandar di kursi.

Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai

terbenam, kadang-kadang menatapku—wajahku, rambutku

yang berkibaran dari jendela yang terbuka, tangan kami

yang bertaut.

Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu

lama, dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah

kudengar. Ia hafal setiap barisnya.

"Kau suka musik '50-an?" tanyaku.

"Musik'50-an bagus. Jauh lebih bagus daripada musik

'60-an, atau 70-an, uhh!" Ia bergidik. "Delapan puluhan

masih bisa diterima."

“Apa kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?"

tanyaku, ragu-ragu, tak ingin merusak selera humornya

yang ceria.

"Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya

tetap mengembang.

"Tidak juga, tapi aku masih bertanya-tanya..." aku

nyengir. "Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu

terjaga sepanjang malam."

"Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu

kecewa," ia bergumam pada dirinya sendiri. Ia memandang

matahari; menit demi menit berlalu.

"Coba saja," kataku akhirnya.

Ia mendesah, kemudian menatap mataku, seolah-olah

benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. Apa

pun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan

keberaniannya. Ia melihat ke arah matahari—cahaya benda

langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya

bercahaya dalam kilauan butir-butir kemerahan—lalu

berkata,

"Aku lahir di Chicago tahun 1901." Ia berhenti sejenak

dan melirikku dari sudut matanya. Dengan hati-hati kujaga

wajahku tetap tenang, sabar menantikan penjelasan

selanjutnya. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan,

"Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918.

Usiaku tujuh belas saat itu, sekarat akibat flu Spanyol."

Ia mendengarku terkesiap, meski bagiku sendiri nyaris

tak terdengar. Ia menunduk menatap mataku lagi.

"Aku tak mengingatnya dengan baik—sudah lama sekali,

dan ingatan manusia memudar." Sesaat ia larut dalam

ingatannya sebelum melanjutkan lagi, "Tapi aku ingat

bagaimana rasanya, ketika Carlisle menyelamatkanku.

Bukan hal mudah, bukan sesuatu yang bisa kaulupakan."

“Orangtuamu?"

"Mereka telah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu.

Aku sebatang kara. Itu sebabnya dia memilihku. Di tengahtengah

kekacauan bencana epidemik itu, tak seorang pun

bakal menyadari bahwa aku menghilang.

"Bagaimana dia... menyelamatkanmu?”

Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut. Sepertinya

ia memilih kata-katanya dengan hati-hati

"Sulit. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang

diperlukan untuk menyelesaikannya. Tapi Carlisle selalu

menjadi yang paling manusiawi, yang paling berbelas kasih

di antara kami.... Kurasa kau tak bisa menemukan yang

setara dengannya sepanjang sejarah." Ia terdiam. "Bagiku,

rasanya amat, sangat menyakitkan.”

Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan

apa-apa lagi mengenai masalah ini. Kutekan rasa

penasaranku, meskipun nyaris tak mungkin. Banyak yang

perlu kupikirkan mengenai hal ini, hal-hal yang baru saja

muncul dalam benakku. Tak diragukan lagi benaknya yang

berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak

kumengerti.

Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.

"Kesendirianlah yang menggerakkannya. Biasanya itulah

alasan di balik pilihan tersebut. Aku adalah yang pertama

dalam keluarga Carlisle, meski tak lama setelah itu dia

menemukan Esme. Dia terjatuh dari tebing. Mereka

langsung membawanya ke kamar mayat di rumah sakit,

meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut."

"Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk

menjadi...” Kami tak pernah mengucapkan kata itu, dan

aku tak dapat mengucapkannya sekarang.

"Tidak, itu hanya Carlisle. Dia takkan pernah

melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain."

Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya

setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah

baginya itu. "Meski begitu, katanya lebih mudah bila aliran

darahnya lemah," lanjutnya. Ia memandang jalanan yang

sekarang telah menggelap, dan aku bisa merasakan topik ini

telah berakhir.

"Emmett dan Rosalie?"

"Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah

Esme. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia

berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti

Esme baginya—Carlisle berhati-hati dengan pikirannya

yang menyangkut diriku." Ia memutar bola matanya. "Tapi

Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. Dua tahun

kemudian dia menemukan Emmett. Rosalie sedang

berburu—waktu itu kami sedang di Appalachia—dan

mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett.

Rosalie membawanya kepada Carlisle, menempuh jarak

lebih dari seratus mil, khawatir dia tak dapat melakukannya

sendiri. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya

perjalanan itu baginya." Ia menatapku dalam-dalam, dan

mengangkat tangan kami, masih terjalin, lalu mengusap

pipiku dengan punggung tangannya.

"Tapi dia berhasil," aku mendorongnya, berpaling dari

keindahan matanya yang tak tertahankan.

"Ya," gumamnya. "Dia melihat sesuatu di wajah Emmett

yang membuatnya cukup kuat. Dan sejak itu mereka selalu

bersama-sama. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari

kami, sebagai suami-istri. Semakin muda umur yang kami

pilih sebagai identitas kami, semakin lama kami bisa tinggal

di mana pun. Forks kelihatannya sempurna, jadi kami

semua mendaftar di SMA." Ia tertawa. "Kurasa kita harus

menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun lagi.”

"Alice dan Jasper?"

"Alice dan Jasper dua makhluk yang sangar langka.

Mereka mengembangkan kesadaran, begitu kami

menyebutnya, tanpa bimbingan dari luar. Jasper berasal

dari keluarga... lain, jenis keluarga yang sangat berbeda.

Dia tertekan, dan akhirnya memilih mengembara sendirian.

Alice menemukannya. Seperti aku, Alice memiliki bakat

khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami.”

"Sungguh?" selaku, terkesima. "Tapi karamu, kau satusatunya

yang bisa mendengarkan pikiran orang lain."

"Memang benar. Alice mengetahui hal lain. Dia melihat

hal-hal—hal-hal yang mungkin terjadi, hal-hal yang akan

datang. Tapi itu sangat subjektif. Masa depan tidak terukir

di atas batu. Segala sesuatu berubah."

Rahangnya mengeras ketika mengatakan itu, dan

matanya tertuju padaku, lalu berlalu begitu cepat sehingga

aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya.

"Hal-hal apa yang dilihatnya?"

"Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan

sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. Dia melihat

Carlisle dan keluarga kami, dan mereka datang bersamasama

menemui kami. Alice paling sensitif terhadap

makhluk bukan-manusia. Dia selalu melihat, contohnya,

ketika kelompok lain jenis kami mendekat. Dan ancaman

apa pun yang mungkin ditimbulkan."

"Apakah jenis kalian... ada banyak?" Aku terkejut.

Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan di antara

manusia tanpa terdeteksi?

"Tidak, tidak banyak. Tapi kebanyakan tidak akan

menetap di satu tempat. Hanya yang seperti kami, yang

telah berhenti memburu kalian manusia"-ia mengerling licik

padaku—"bisa hidup bersama manusia selama apa pun.

Kami hanya menemukan seperti kami, di desa kecil di

Alaska. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama, tapi

jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai

menyadari keberadaan kami. Jenis seperti kami yang

hidup... secara berbeda cenderung berkumpul bersama.

"Dan yang lain?"

"Kebanyakan berpindah-pindah. Dari waktu ke waktu

kami hidup seperti itu. Seperti yang lainnya, kebiasaan ini

mulai membosankan. Kadang-kadang kami bertemu yang

lain, karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah

Utara."

"Kenapa begitu?"

Kami telah sampai di depan rumahku sekarang, dan ia

mematikan truk. Suasana sangat tenang dan gelap; tak ada

bulan. Lampu teras mati, jadi aku tahu ayahku belum

pulang.

"Kau memerhatikan sore tadi?" godanya. "Kaupikir aku

bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa

menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa

kami memilih Semenanjung Olympic, salah satu tempat di

dunia dengan sinar matahari paling sedikit. Rasanya

menyenangkan bisa keluar di siang hari. Kau takkan

percaya betapa membosankannya malam setelah delapan

puluh tahun yang aneh."

“Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?"

"Barangkali."

“Dan Alice berasal dari keluarga yang lain, seperti

Jasper?"

“Tidak, dan itu adalah misteri. Alice tidak ingat

kehidupan manusianya sama sekali. Dan dia tidak tahu

siapa yang menciptakannya. Dia terbangun sendirian. Siapa

pun yang menciptakannya telah meninggalkannya, dan tak

satu pun dari kami mengerti kenapa, atau bagaimana orang

itu bisa melakukannya. Seandainya Alice tidak memiliki

indra istimewa itu, seandainya dia tidak melihat Jasper dan

Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah

satu dari kami, dia barangkali bisa berubah jahat."

Banyak sekali yang harus dipikirkan, banyak sekali yang

masih ingin kutanyakan. Tapi yang membuatku teramat

malu, perutku keroncongan. Aku begitu terkesima sehingga

bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Sekarang aku sadar

bahwa aku sangat kelaparan.

"Maaf, aku membuatmu terlambat makan malam."

“Aku baik-baik saja, sungguh."

“Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu

bersama seseorang yang perlu makan. Aku lupa.”

"Aku ingin bersamamu." Lebih mudah mengatakannya

dalam kegelapan, mengetahui bagaimana suaraku bisa

mengkhianatiku dan kecanduanku akan dirinya terdengar

sangat nyata.

"Tidak bisakah aku masuk?" tanyanya.

"Kau mau?" Aku tak bisa membayangkannya, makhluk

bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek.

“Ya, kalau tidak merepotkan." Aku mendengar pintunya

menutup pelan, dan nyaris saat itu juga ia telah berada di

samping pintuku, membukakannya untukku.

“Sangat manusiawi," aku memujinya.

“Jelas kebiasaan itu muncul lagi."

Ia berjalan di sisiku dalam kegelapan malam, begitu

diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke

arahnya untuk memastikan ia masih di sana. Dalam gelap

ia tampak jauh lebih normal. Masih pucat, ketampanannya

masih bagai ilusi, tapi bukan lagi makhluk kemilau di

bawah sinar matahari seperti sore tadi.

Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya

untukku. Aku berhenti di tengah-tengah pintu.

"Pintunya tak terkunci?"

"Bukan, aku menggunakan kunci di bawah daun pintu."

Aku melangkah masuk, menyalakan lampu teras, dan

berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. Aku yakin

tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya.

“Aku penasaran denganmu."

"Kau memata-mataiku?" Entah bagaimana aku tak bisa

membuat suaraku terdengar marah. Aku tersanjung.

Ia kelihatan tidak menyesal. "Apa lagi yang bisa

dilakukan pada malam hari?"

Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri

lorong menuju dapur. Ia sudah di sana, sama sekali tak

perlu diarahkan. Ia duduk di kursi yang sama dengan yang

kubayangkan akan didudukinya. Ketampanannya membuat

dapur bersinar-sinar. Lama baru aku bisa berpaling.

Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku,

mengambil lasagna sisa semalam dari dapur, menempatkan

sebagian di piring, kemudian memanaskannya di

microwave. Piringnya berputar, menyebarkan aroma tomat

dan oregano ke seluruh dapur. Aku tetap menatap piring

ketika bicara.

“Seberapa sering?" tanyaku kasual.

“Hmmm?" Ia terdengar seolah-olah aku telah

menariknya keluar dari lamunannya.

Aku masih tidak berpaling. "Seberapa sering kau datang

kemari?"

“Aku datang ke sini hampir setiap malam."

Aku berputar, terperangah. "Kenapa?"

“Kau menarik ketika sedang tidur." Nada suaranya

datar. “Kau mengigau."

“Tidak!" sahurku menahan napas, wajahku memanas

hingga ke garis rambut. Aku meraih meja dapur untuk

menjaga keseimbangan. Aku tahu aku suka mengigau

ketika tidur, tentu saja; ibuku selalu menggodaku soal ini.

Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu

mengkhawatirkannya di sini.

Ekspresinya langsung berubah kecewa. "Apa kau sangat

marah padaku?"

"Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah

kehabisan napas.

Ia menanti.

"Pada?" desaknya.

"Apa yang kaudengar!" erangku.

Saat itu juga, tanpa suara, ia sudah pindah ke sisiku,

tangannya meraih tanganku dengan hati-hati.

"Jangan sedih!" ia memohon. Ia menurunkan wajahnya

hingga sejajar dengan mataku, kemudian menatapnya. Aku

merasa malu. Aku mencoba memalingkan wajah.

"Kau merindukan ibumu," bisiknya. "Kau

mengkhawatirkannya. Dan ketika hujan turun, suaranya

membuatmu gelisah. Kau juga sering mengigau tentang

rumahmu, tapi sekarang sudah jauh berkurang. Kau pernah

mengatakan sekali, 'Terlalu hijau?'” Ia tertawa lembut,

berharap aku bisa melihatnya, dan tidak membuatku

tersinggung lagi.

"Ada lagi?" desakku.

Ia tahu maksudku. "Kau memanggil namaku," ia

mengakui.

Aku mendesah kalah. "Sering?"

"Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’,

tepatnya?"

"Oh tidak!" Kepalaku terkulai.

Ia menarikku lembut ke dadanya. Gerakannya sangat

alami.

"Jangan malu," ia berbisik di telingaku. "Seandainya bisa

bermimpi, aku pasti akan memimpikanmu. Dan aku tidak

merasa malu.”

Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi

jalanan, melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan,

terus ke lorong menuju ke kami. Tubuhku kaku dalam

pelukannya.

"Haruskah ayahmu tahu aku di sini?" tanyanya.

"Aku tidak yakin..." Aku memikirkannya dengan cepat.

"Kalau begitu lain waktu saja..."

Dan aku pun sendirian.

"Edward!" desisku tertahan.

Aku mendengar suara tawa yang samar, lalu lenyap.

Terdengar suara Dad membuka kunci pintu.

"Bella?" panggilnya. Sebelumnya hal ini menggangguku,

siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tibatiba

saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan.

"Di sini." Kuharap ia tidak mendengar nada histeris

dalam suaraku. Aku mengambil makan malamku dari

microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. Langkah

kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian

bersama Edward.

“Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku

lelah sekali." Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk

melepaskannya, sambil berpegangan dengan sandaran kursi

yang tadi diduduki Edward.

Aku membawa makananku, mengunyahnya sambil

mengambilkan makan malamnya. Aku kepedasan.

Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna

Charlie, dan meminum susuku untuk menghilangkan pedas.

Ketika aku meletakkan gelasku, susunya bergetar. Aku baru

menyadari tanganku gemetaran. Charlie duduk di kursi,

dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk di sana

sebelum dia, benar-benar menggelikan.

“Terima kasih." sahutnya ketika aku menghidangkan

makanannya di meja.

"Bagaimana harimu?" tanyaku, buru-buru. Aku ingin

sekal, pergi ke kamar.

"Bagus. Acara memancingnya biasa saja... kau? Apakah

semua yang ingin kaukerjakan akhirnya selesai?"

"Tidak juga—cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan

begitu saja." Aku menyuap lasagna-ku lagi.

"Hari ini memang bagus," timpalnya. Betapa ironisnya,

pikirku.

Begitu lasagna-ku habis, aku mengangkat gelasku dan

menandaskan susu yang tersisa.

Charlie membuatku kaget karena ternyata ia

memerhatikan. "Sedang terburu-buru?"

"Yeah, aku lelah. Aku mau tidur lebih cepat."

"Kau kelihatan agak tegang," ujarnya. Mengapa, oh,

mengapa ia harus begitu perhatian malam ini?

"Masa sih?" Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku

langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di

pengering.

“Ini hari Sabtu," sahutnya menerawang.

Aku tak menjawab.

“Tak ada rencana malam ini?" tanyanya tiba-tiba.

"Tidak, Dad, aku hanya mau tidur."

“Tak satu pun cowok di kota ini sesuai tipemu, ya?" Ia

curiga, tapi berusaha terdengar biasa saja.

“Tidak, belum ada cowok yang menarik perhatianku."

Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok

dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie.

"Kupikir Mike Newton itu... katamu dia ramah."

“Dia hanya teman, Dad.”

“Wol, lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua.

Tunggu sampai kuliah nanti, kalau mau mencari teman

istimewa.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan

meninggalkan rumah sebelum masalah hormon

bermunculan.

“Sepertinya ide bagus," aku menimpali sambil menaiki

tangga.

“Selamat malam, Sayang," ujarnya. Tak diragukan lagi

ia akan memasang telinga semalaman, menungguku

mengendap-endap meninggalkan rumah.

"Sampai besok pagi, Dad." Sampai nanti malam ketika

kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti

untuk memeriksaku.

Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah

mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. Kututup

pintunya cukup keras untuk didengarnya, kemudian berlari

dengan berjingkat menuju jendela. Aku membukanya dan

melongok ke luar menembus malam. Mataku mencari-cari

dalam kegelapan, ke bayangan pepohonan yang tak dapat

ditembus.

"Edward?" bisikku, merasa benar-benar tolol.

Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. "Ya?"

Aku berbalik, salah satu tanganku melayang ke leher

karena terkejut.

Ia berbaring, tersenyum lebar di tempat tidurku,

tangannya menyilang di belakang kepala, kakinya berayunayun

di ujung tempat tidur, posisinya sangat santai.

“Oh!" aku mendesah, jatuh lemas ke lantai.

“Maafkan aku.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat,

berusaha menyembunyikan perasaan gelinya.

“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan

jantungku.”

Perlahan-lahan ia bangkit duduk, supaya tidak

mengejutkanku lagi. Kemudian ia mencondongkan

tubuhnya ke depan dan menautkan lengannya yang

panjang, mengangkatku, memegang pangkal lenganku

seolah aku anak kecil. Ia mendudukkanku tempat tidur di

sebelahnya.

"Kenapa kau tidak duduk saja denganku?" ia

menyarankan, meletakkan tangannya yang dingin di

tanganku. "Bagaimana jantungmu?"

"Kau saja yang bilang—aku yakin kau mendengarnya

lebih baik dariku."

Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat

tidur.

Sesaat kami duduk diam di sana, sama-sama

mendengarkan detak jantungku melambat. Aku berpikir

tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku

ada di rumah.

"Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi

manusia?' pintaku.

"Tentu." Ia menggerakkan tangan menyuruhku

melakukannya.

"Diam di situ," kataku, mencoba tampak galak.

“Ya, Ma'am.” Dan ia berpura-pura seperti patung di

ujung tempat tidurku.

Aku melompat, memungut piamaku dari lantai dan tas

perlengkapan mandiku dari meja. Aku membiarkan lampu

tidak menyala, meluncur keluar, kemudian menutup pintu.

Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas.

Aku membanting pintu kamar mandi keras-keras, supaya

Charlie tidak naik mencariku.

Aku bermaksud buru-buru. Kugosok gigiku keras-keras,

berusaha menyeluruh sekaligus cepat, menyingkirkan sisasisa

lasagna. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir

cepat. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku,

menenangkan denyut nadiku. Aroma khas sampoku

membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama

seperti tadi pagi. Aku mencoba tidak memikirkan Edward,

yang sedang duduk di kamarku, menunggu, karena kalau

begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari

awal lagi. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Kumatikan

keran air, handukan sekenanya, terburu-buru lagi.

Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku.

Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama

sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang

tahunku dua tahun lalu, yang masih ada label harganya dan

tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah.

Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk, kemudian

menyisirnya cepat-cepat. Kulempar handuknya ke

keranjang, lalu melempar sikat dan pasta gigi ke tasku.

Kemudian aku meluncur turun supaya Charlie bisa

melihatku mengenakan piama dan habis mandi.

"Selamat malam, Dad."

"Selamat malam, Bella." Ia tampak terkejut dengan

kemunculanku. Barangkali itu akan mencegahnya

memeriksaku malam ini.

Aku menaiki anak tangga dua-dua, berusaha tetap

tenang, dan meluncur ke kamar, menutup pintu rapat-rapat.

Edward tak bergerak sedikit pun dari posisi semula, bagai

ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh.

Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak, patungnya

menjadi hidup.

Matanya mengamanku, rambutku yang basah. T-Shirt

yang sudah berlubang-lubang. Salah satu alisnya terangkat.

"Bagus."

Aku nyengir.

"Sungguh, pakaian itu tampak bagus padamu."

“Terima kasih." bisikku. Aku kembali ke sisinya, duduk

menyilangkan kaki di sebelahnya. Aku memandang garisgaris

lantai kayu kamarku.

"Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?"

"Charlie pikir, aku bakal menyelinap keluar."

"Oh." Ia memikirkannya. “Kenapa?" Seolah-olah ia tidak

dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang

kuduga.

"Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat."

Ia mengangkat daguku, mengamati wajahku.

"Sebenarnya kau tampak hangat sekali."

Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku,

meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. Aku sama sekali

tak bergerak.

"Mmmmmm...," desahnya.

Saat ia menyentuhku, sangat sulit untuk memikirkan

pertanyaan yang masuk akal. Saat konsentrasiku buyar,

butuh beberapa menit bagiku untuk memulai.

"Sepertinya... sekarang lebih mudah bagimu berada di

dekatku."

"Begitukah yang kaulihat?" gumamnya, hidungnya

meluncur ke sudut rahangku. Aku merasakan tangannya,

lebih ringan dari sayap ngengat, menyibak rambut basahku

ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di

bawah daun telingaku.

"Amat sangat lebih mudah," kataku mencoba

mengembuskan napas. °

"Hmm."

"Jadi, aku bertanya-tanya...” aku memulai lagi, tapi jarijarinya

perlahan menelusuri tulang selangkaku, dan aku

kehilangan akal sehatku.

"Ya?" desahnya.

"Kenapa," suaraku bergetar, membuatku malu, "seperti

itu menurutmu?"

Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa.

"Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik."

Aku menarik diri; dan ia membeku—dan aku tak lagi

mendengar suara napasnya.

Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati, kemudian,

bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks,

ekspresinya tampak bingung.

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"Tidak—justru sebaliknya. Kau membuatku sinting,"

paparku.

Ia memikirkannya sebentar, dan ketika berbicara ia

terdengar senang. "Benarkah?" Senyum kemenangan

perlahan menyinari wajahnya.

"Kau mau tepukan tangan?" tanyaku sinis.

Ia nyengir.

"Aku hanya terkejut," ia menjelaskan. "Selama kuranglebih

seratus tahun terakhir," suaranya menggoda, "aku tak

pernah membayangkan sesuatu seperti ini. Aku tak percaya

akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin

menghabiskan waktuku... bukan dalam artian seorang adik.

Dan menemukan, meskipun semuanya baru bagiku, bahwa

aku bisa mengendalikan diriku saat... bersamamu...."

"Kau bisa melakukan apa saja," ujarku.

Ia mengangkat bahu, menerima pujianku, dan kami

tertawa pelan.

"Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?" desakku.

"Sore tadi..."

"Ini tidak mudah,” desahnya. "Tapi sore tadi. aku

masih... ragu. Maafkan aku soal itu, benar-benar tak

termaafkan bersikap seperti itu.”

“Tidak tak termaafkan,” sergahku.

"Terima kasih.” Ia tersenyum. "Kau tahu," lanjutnya,

sekarang menunduk, "aku tidak yakin apakah aku cukup

kuat..." Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya

lembut ke wajahnya. "Selain kemungkinan aku dapat...

menaklukkan"—ia menghirup aroma pergelangan

tanganku—"aku juga rapuh. Sampai aku memutuskan

diriku memang cukup kuat, bahwa sama sekali tak ada

kemungkinan aku akan... bahwa aku dapat..."

Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan katakata.

Begitu... manusiawi.

"Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?"

"Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,"

ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan

dalam kegelapan.

"Wow, itu tadi mudah," sahutku.

Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan,

namun tetap bersemangat.

"Mudah bagimu!" ralatnya, menyentuh hidungku dengan

ujung jarinya.

Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

"Aku berusaha," bisiknya, suaranya sedih. "Kalau nanti

segalanya jadi kelewat berat, aku cukup yakin akan bisa

pergi.”

Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan

kepergian.

"Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku

menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku

jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh

darimu selama apa pun aku harus mengulang semuanya

lagi. Tapi aku tidak benar-benar dari awal, kurasa.”

"Kalau begitu jangan pergi," timpalku, tak mampu

menyembunyikan hasrat dalam suaraku.

"Setuju," balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman

lembut. "Kemarikan borgolnya—aku adalah tawananmu."

Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di

sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia

mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia

lebih banyak tertawa daripada seluruh waktu yang

kuhabiskan dengannya sebelumnya.

"Kau tampak lebih... ceria dari biasanya," kataku. "Aku

belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya."

"Bukankah seharusnya seperti ini?" Ia tersenyum.

"Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah

mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu,

melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?"

“Sangat berbeda," timpalku. "Lebih kuat daripada yang

pernah kubayangkan."

"Contohnya"—kata-katanya lebih mengalir sekarang,

aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap

semuanya— "perasaan cemburu. Aku telah membacanya

ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan

pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya

dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku..." Ia meringis.

"Kau ingat waktu Mike mengajak mu pergi ke pesta dansa?"

Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk

alasan berbeda. "Hari itu kau mulai berbicara lagi

denganku."

"Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang

kurasakan—awalnya aku tak menyadarinya. Aku bahkan

lebih jengkel daripada sebelumnya karena tak bisa

mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau

menolaknya. Apakah itu hanya semata-mata demi

persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain?

Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk

memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli.

"Lalu semuanya mulai jelas," ia tergelak. Aku

menatapnya jengkel dalam gelap.

"Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang

akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati

ekspresimu. Aku tak bisa menyangkali perasaan lega yang

kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku

tak bisa yakin.

"Itu adalah malam pertama aku datang ke sini. Sambil

melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang

kutahu benar; bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan.

Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu

sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama

beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak

kau akan mengatakan ya kepada Mike, atau seseorang

seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah."

“Kemudian," ia berbisik, "ketika kau tidur, kau

menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga

awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik

gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu

mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah

perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa

mengabaikanmu lebih lama lagi.” ia terdiam sebentar,

barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba

berdebar-debar.

“Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat

dari pada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja,

ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton

itu...” Ia menggelengkan kepala keras-keras.

"Aku seharusnya tahu kau pasti menguping," gerutuku.

"Tentu saja."

"Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?"

"Semua ini baru bagiku; kau membangkitkan sisi

manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat

karena ini baru."

"Yang benar saja," godaku, "itu tidak ada apa-apanya,

mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie—Rosalie,

penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie—sebenarnya

tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana

aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?"

"Tidak ada persaingan." Giginya berkilauan. Ia menarik

tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku

diam sebisa mungkin, bahkan bernapas dengan hati-hati.

"Aku tahu tidak ada persaingan," gumamku di kulitnya

yang dingin. "Itulah masalahnya."

"Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya

sendiri, tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik

bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia

takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus

daya tarikmu terhadapku." Ia serius sekarang, tulus.

"Selama hampir sembilan puluh tahun aku hidup bersama

jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir

bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali

tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa

pun, karena kau belum dilahirkan."

"Kedengarannya tidak adil," bisikku, wajahku masih

rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku

sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah

itu?"

"Kau benar," timpalnya senang. "Aku harus

membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti." Ia

melepaskan salah tangannya. melepaskan pergelangan

tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke

tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku,

dan ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu

membahayakan hidupmu sedap detik yang kauhabiskan

bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau

hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan...

seberapa besar harga yang harus kaubayar?"

"Sangat sedikit—aku tak merasa dirugikan untuk apa

pun."

"Belum." Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi

kesedihan yang purba.

Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya,

tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat.

"Apa—" aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang.

Aku membeku, namun tiba-tiba ia melepaskan tanganku,

lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjerembab.

"Berbaringlah!" desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari

mana datangnya suara itu dalam kegelapan.

Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring,

seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak

saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di

tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebihlebihkannya.

Saru menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan,

tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi.

Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah

selimut, bibirnya di telingaku.

"Kau aktris yang payah-bisa kubilang karier seperti itu

tidak cocok untukmu."

"Sialan." gumamku. Jantungku berdebar kencang.

Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal;

kedengarannya seperti lagu nina bobo.

Ia berhenti. "Haruskah aku meninabobokanmu hingga

kau tidur?"

"Yang benar saja," aku tertawa. "Seolah-olah aku bisa

tidur saja sementara kau di sini!"

"Kau melakukannya setiap saat," ia mengingatkanku.

"Tapi aku tidak tahu kau ada di sini," balasku dingin.

"Jadi kalau kau tidak ingin tidur...," ujarnya,

mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan.

"Kalau aku tidak ingin tidur...?"

Ia tergelak. "Kalau begitu apa yang ingin kaulakukan?"

Mula-mula aku tak bisa menjawab.

"Aku tidak tahu," jawabku akhirnya.

"Katakan kalau kau sudah memutuskannya."

Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku,

merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku,

menghirup napas.

"Kupikir kau sudah kebal?"

"Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak

bisa menghargai aromanya," bisiknya. "Aromamu seperti

bunga, mirip lavender... atau freesia" ujarnya.

"Menggiurkan.”

"Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang

memberitahuku betapa lezat aromaku."

Ia tergelak, lalu mendesah.

"Aku telah memutuskan apa yang ingin kulakukan," aku

memberitahunya. "Aku mau mendengar lebih banyak

tentang mu."

"Tanyakan apa saja."

Aku memilah pertanyaanku hingga yang paling penting.

"Kenapa kau melakukannya?" kataku. "Aku masih tidak

mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal

dirimu... yang sebenarnya, tolong jangan salah mengerti,

tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak

mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal."

Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan

bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang

lainnya— mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan

kelompok kami—mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana

cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah...

mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa

memilih untuk mengendalikannya—untuk menaklukkan

batasan takdir yang tak diinginkan oleh satu pun dari kami.

Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi

kemanusiaan apa pun yang kami miliki."

Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan.

"Apakah kau tertidur?" ia berbisik setelah beberapa

menit.

"Tidak."

"Cuma itu yang membuatmu penasaran?"

Aku memutar bola mataku. "Tidak juga."

"Apa lagi yang ingin kauketahui?"

"Kenapa kau bisa membaca pikiran—kenapa hanya kau?

Dan Alice melibat masa depan... kenapa itu terjadi?"

Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan.

“Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia

yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami

yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik

itu menjadi lebih kuat – seperti pikiran dan indra kami.

Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap

pikiran orang-orang di sekitarku. Dan bahwa Alice

memiliki indra keenam, di mana pun dia berada."

“Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan

mereka berikutnya?:

“Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa

kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett

membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau

bisa menyebutnya sifat keras kepala," ia tergelak. "Jasper

sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam

kehidupan awalnya, mampu memengaruhi orang-orang di

sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang

dia mampu memanipulasi emosi orang-orang di

sekelilingnya—menenangkan seruangan penuh orang yang

sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat

kerumunan orang yang letih jadi bersemangat. Karunia

yang sangat unik."

Aku membayangkan kemustahilan yang

digambarkannya, mencoba memahaminya. Ia menunggu

dengan sabar sementara aku berpikir.

"Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle

mengubahmu, dan seseorang pasti juga telah mengubahnya,

dan seterusnya..."

"Well, dari mana asalmu? Evolusi? Penciptaan? Tidak

mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama

seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau

mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini

mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku

sendiri sulit memercayainya, apakah begitu sulit untuk

memercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan

angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh,

juga bisa menciptakan kedua jenis kita?”

"Biar kuluruskan—aku bayi anjing lautnya, kan?”

"Benar." Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku—

bibirnya?

Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan

apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku

harus bersikap tenang: aku tak ingin membuat ini lebih sulit

baginya daripada sekarang.

“Kau sudah siap tidur?" tanyanya, menyela keheningan

singkat di antara kami. "Atau kau punya pertanyaan lagi?"

"Hanya sejuta atau dua.”

"Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan

selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia

mendengarnya.

"Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?" Aku

menginginkan kepastian. "Lagi pula, kau ini makhluk

legenda."

"Aku takkan meninggalkanmu." Suaranya memancarkan

kesungguhan.

"Kalau begitu, satu lagi malam ini..." Dan aku pun

merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu—aku

yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba.

"Apa itu?"

"Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran."

"Bella, kau bisa bertanya apa pun padaku."

Aku tak menyahut, dan ia mengerang.

“Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustrasi

bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru

makin parah dan lebih parah lagi."

“Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah

cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau."

"Please?" Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil

untuk kutolak.

Aku menggeleng.

"Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tingga

menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari

seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” lagi-lagi, suara

bujuk rayu itu.

“Well,” aku memulainya, senang ia tidak bisa melihat

wajahku

"Ya?"

"Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah...

Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan

manusia?"

Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku.

"Apakah itu arah pembicaraanmu?"

Aku gelisah, tak mampu menjawab.

"Ya, kurasa kurang-lebih sama," katanya. "Sudah

kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami,

hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi."

Aku hanya bisa menggumamkan "Oh."

"Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?"

"Well, aku memang membayangkan... kau dan aku...

suatu hari..."

Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari

tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku,

bereaksi dengan sendirinya.

"Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita."

“Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita...

sedekat itu?"

"Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau

sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan

setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku

tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat

mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja." Suaranya

hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak

tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. "Kalau

aku terlalu gegabah... seandainya satu detik saja aku tak

cukup memerhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku,

maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah

menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu

betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup

kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu.”

Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku

tetap diam. “Kau takut?" tanyanya.

Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga

ucapanku jujur. "Tidak, aku baik-baik saja."

Ia seperti berpikir selama sesaat. "Meski begitu, sekarang

aku penasaran," katanya, suaranya kembali ringan. "Kau

sudah pernah.." ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

“Tentu saja belum." Wajahku memerah. "Sudah

kubilang aku belum pernah merasa seperti ini terhadap

orang lain, sedikit pun tidak."

"Aku tahu. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. Aku

tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan."

"Bagiku ya. Paling tidak sekarang keduanya nyata

bagiku," aku mendesah.

"Bagus. Setidaknya kita punya persamaan." Ia terdengar

puas.

"Naluri manusiamu...," aku memulai. Ia menanti. "Well,

apakah kau menganggapku menarik dari segi itu, sama

sekali?"

Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku

yang hampir kering.

"Aku mungkin bukan manusia, tapi aku laki-laki," ia

meyakinkanku.

Aku menguap tanpa sengaja.

“Aku telah menjawab pertanyaanmu, sekarang kau harus

tidur," ia bersikeras.

"Aku tak yakin apakah aku bisa."

“Kau mau aku pergi?"

"Tidak!" seruku terlalu lantang.

Ia tertawa, kemudian mulai menggumamkan senandung

yang sama lagi, nina bobo yang asing, suara malaikat,

lembut di telingaku.

Lebih letih daripada yang kusadari, lelah karena tekanan

mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya,

aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.

15. KELUARGA CULLEN

CAHAYA suram dari satu lagi hari mendung akhirnya

membangunkanku. Aku berbaring, lengan menutupi mata,

mengantuk dan pusing. Sesuatu, sebuah mimpi yang coba

kuingat, mencoba menyusup masuk ke dalam kesadaranku.

Aku mengerang dan berguling ke sisi, berharap bisa tertidur

lagi. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku.

"Oh!" Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga

kepalaku pusing.

"Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami... tapi aku

menyukainya." Suaranya yang tenang terdengar dari kursi

goyang di sudut kamar.

"Edward! Kau tidak pergi!” aku berseru gembira, dan

tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya.

Begitu menyadari apa yang kulakukan, aku membeku,

terkejut karena semangatku yang menggebu. Aku

menatapnya, khawatir tindakanku telah melewati batas.

Tapi ia tertawa.

"Tentu saja," jawabnya kaget, tapi kelihatan senang

melihat reaksiku. Tangannya mengusap-usap punggungku.

Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya,

menghirup aroma kulitnya.

"Aku yakin itu mimpi."

"Kau tidak sekreatif itu, lagi," dengusnya.

"Charlie!" Aku teringat, tanpa berpikir melompat menuju

pintu.

"Dia pergi sejam yang lalu—setelah memasang kembali

kabel akimu, kalau boleh kutambahkan. Harus kuakui, aku

kecewa. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk

menghentikanmu, seandainya kau bertekad pergi?"

Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri, ingin

sekali kembali padanya, tapi khawatir napasku bau.

"Kau tidak biasanya sebingung ini di pagi hari," ujarnya.

Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi.

Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak.

"Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia,"

aku mengakuinya.

"Kutunggu."

Aku melompat ke kamar mandi, sama sekali tak

memahami emosiku. Aku tak mengenali diriku, di dalam

maupun di luar. Wajah yang ada di cermin praktis asing—

matanya terlalu ceria, bintik-bintik merah menyebar di

tulang pipiku. Setelah menggosok gigi aku merapikan

rambutku yang berantakan. Kupercikkan air dingin ke

wajahku, dan berusaha bernapas secara normal, tapi nyaris

gagal. Setengah berlari aku kembali ke kamar.

Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih di sana,

lengannya masih menantiku. Ia meraihku, dan jantungku

berdebar tak keruan.

"Selamat datang lagi," gumamnya, membawaku ke

dalam

Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam

keheningan, sampai aku menyadari ia telah berganti

pakaian, dan rambutnya sudah rapi.

"Kau pergi?" tuduhku, sambil menyentuh kerah kausnya

yang masih baru.

"Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama

dengan ketika aku datang—apa yang akan dipikirkan para

tetangga?"

Aku mencibir.

"Kau tidur sangat pulas semalam; aku tak melewatkan

apa pun." Matanya berkilat-kilat. "Kau mengigau lebih

awal."

Aku menggeram. "Apa yang kaudengar?"

Mata keemasannya melembut. "Kaubilang kau

mencintaiku."

"Kau sudah tahu itu," aku mengingatkannya,

menyusupkan kepalaku.

"Tapi toh aku senang mendengarnya."

Kusembunyikan wajahku di bahunya.

"Aku mencintaimu," bisikku.

"Kau hidupku sekarang" jawabnya sederhana.

Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. Ia bergerak

maju-mundur sementara ruangan semakin terang.

“Saatnya sarapan," akhirnya ia berkata, dengan kasualuntuk

membuktikan, aku yakin, bahwa ia mengingat semua

kelemahan manusiaku.

Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan

dan mataku membelalak ke arahnya. Ia terperanjat.

"Bercanda!" aku nyengir. “Padahal katamu aku tidak

bisa berakting!”

Ia mengerutkan dahi, jijik. "Tidak lucu."

"Itu sangat lucu, dan kau tahu itu." Tapi hati-hati aku

mengamati mata emasnya, memastikan ia memaafkanku.

Dan tampaknya aku dimaafkan.

"Boleh kuulangi?" tanyaku. "Saatnya sarapan untuk

manusia."

"Oh, baiklah."

Ia mengusungku di bahunya yang kokoh, dengan lembut,

namun dengan kecepatan yang membuatku menahan

napas. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku

menuruni tangga, tapi ia mengabaikanku. Ia

mendudukkanku di kursi.

Ruang dapur terang, ceria, seolah-olah menyerap

suasana hatiku.

"Apa menu sarapannya?" tanyaku riang.

Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. "Mm, aku

tak yakin. Kau mau apa?" Alis pualamnya berkerut.

Aku tersenyum, melompat berdiri.

"Tidak apa-apa, aku bisa mengurus diriku sendiri dengan

cukup baik. Perhatikan caraku berburu."

Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. Bisa

kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan

mengambil sendok. Kuletakkan makananku di meja, lalu

berhenti.

"Kau mau sesuatu?" tanyaku, tak ingin bersikap tidak

sopan.

Ia memutar bola matanya. "Makan saja. Bella.”

Aku duduk di meja makan, memerhatikannya sambil

menyuap sereal. Ia memandangiku, mempelajari setiap

gerakanku. Itu membuatku tidak nyaman. Aku berdehem

untuk bicara, mengalihkan perhatiannya.

"Apa acara hari ini?" tanyaku.

"Hmmm..." Aku melihatnya berhati-hati memikirkan

jawabannya. "Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu

keluargaku?”

Aku menelan liurku.

“Apa sekarang kau takut?" ia terdengar berharap.

"Ya," aku mengakui; bagaimana mungkin aku

menyangkalnya—ia bisa melihatnya di mataku.

"Jangan khawatir." Ia mencibir. "Aku akan

melindungimu."

"Aku tidak takut pada mereka" jelasku. "Aku khawatir

mereka takkan... menyukaiku. Tidakkah mereka akan, Well,

terkejut kau membawa seseorang... seperti aku... ke rumah

menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang

mereka?"

"Oh, mereka sudah mengetahui semuanya. Kau tahu,

kemarin mereka bertaruh"—ia tersenyum, tapi suaranya

parau— "apakah aku membawamu kembali, meski aku tak

mengerti mengapa mereka mau bertaruh melawan Alice.

Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan

rahasia. Sebenarnya kami memang tidak mungkin

berahasia, terutama dengan kemampuanku membaca

pikiran dan Alice melihat masa depan, dan semuanya."

"Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk

menumpahkan kegelisahan kalian, jangan lupa itu."

"Kau menyimak," ia tersenyum senang.

“Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang." Aku

meringis, "jadi, apakah Alice sudah melihat kedatanganku?"

Reaksinya aneh. "Kira-kira begitu," katanya jengah,

berpaling sehingga aku tidak melihat matanya. Aku

menatapnya penasaran.

“Apakah itu enak?” tanyanya, tiba-tiba berbalik

menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan

menggoda. “Jujur, makananmu itu tidak terlalu

mengundang selera."

"Well, sama sekali bukan beruang pemarah...,"

gumamku, mengabaikan tatapan marahnya. Aku masih

bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku

menyebut soal Alice. Aku buru-buru menghabiskan

serealku, sambil berspekulasi.

Ia berdiri di tengah dapur, mirip patung Adonis lagi,

menerawang ke luar jendela belakang.

Kemudian tatapannya kembali padaku, dan ia

memamerkan senyumnya yang menawan.

"Dan kurasa kau juga harus memperkenalkanku pada

ayahmu."

"Dia sudah mengenalmu," aku mengingatkannya.

"Maksudku sebagai pacarmu."

Aku menatapnya curiga. "Kenapa?"

"Bukankah begitu kebiasaannya?" tanyanya polos.

"Aku tidak tahu," aku mengakui. Pengalaman

berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk

mengetahui kebiasaan itu. Bukan berarti aturan berkencan

yang normal berlaku di sini. "Itu tidak perlu, kau tahu. Aku

tidak berharap kau... maksudku, kau tak perlu berpura-pura

demi aku."

Senyumnya penuh kesabaran. "Aku tidak berpura-pura."

Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk,

menggigit bibir.

"Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu

atau tidak?" desaknya.

"Apakah kau boyfriend-ku?" Kutekan ketakutanku

membayangkan Edward dan Charlie dan kata "boyfriend—

pacar" dalam ruangan yang sama pada waktu bersamaan.

"Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata 'boy’”

"Aku mendapat kesan sebenarnya kau lebih dari itu." aku

mengaku, memandangi meja.

"Well, aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya

semua detail mengerikan itu." Ia meraih ke seberang meja,

mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan

lembut. "Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa

aku sering kemah. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan

menetapkan larangan untukku."

"Benarkah?" aku sekonyong-konyong waswas.

"Benarkah kau akan berada di sini?"

"Selama yang kauinginkan," ia meyakinkanku.

“Aku akan selalu menginginkanmu," aku

mengingatkannya. "Selamanya."

Perlahan ia mengelilingi meja, setelah beberapa senti

dariku ia menghentikan langkah, mengulurkan tangan

untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. Ekspresinya

penuh makna.

“Apa itu membuatmu sedih?" tanyaku.

Ia tak menyahut. Lama sekali ia menatap ke dalam

mataku.

"Kau sudah selesai?" ia akhirnya bertanya.

Aku melompat berdiri. "Ya."

"Berpakaianlah—aku akan menunggu di sini."

Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Aku ragu

ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya

berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak

memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lega

rasanya bisa berpikir begitu. Aku tahu aku sengaja tak mau

memikirkannya.

Akhirnya aku mengenakan satu-satunya rok yang

kumiliki – rok panjang, berwarna khaki, masih kasual. Aku

mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. Lirikan

singkat di cermin memberitahu rambutku benar-benar

berantakan, jadi aku mengucirnya jadi ekor kuda.

“Oke.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. “Aku

sudah pantas bepergian.”

Ia menunggu di ujung tangga, lebih dekat dari yang

kukira, dan aku langsung menghambur ke arahnya. Ia

memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku

lebih dekat.

"Kau salah lagi," gumamnya di telingaku. "Kau sangat

tidak pantas—tak seorang pun boleh terlihat begitu

menggoda, itu tidak adil."

"Menggoda bagaimana?" tanyaku. "Aku bisa

mengganti...”

Ia mendesah, menggeleng-gelengkan kepala. "Kau sangat

konyol." Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang

sejuk di dahiku, dan ruangan pun berputar. Aroma

napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.

"Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku

tergoda?" katanya. Jelas itu pertanyaan retoris. Jemarinya

perlahan menelusuri tulang belakangku, napasnya semakin

menderu di permukaan kulitku. Tanganku membeku di

dadanya, dan aku kembali melayang. Ia memiringkan

kepala perlahan, dan menyentuhkan bibir dinginnya ke

bibirku untuk kedua kalinya, dengan sangat hati-hati

membukanya.

Kemudian aku tak sadarkan diri.

“Bella?" suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap

dan memegangiku.

“Kau... membuatku... jatuh pingsan," aku meracau.

"Apa yang akan kulakukan denganmu!" ia menggerutu,

putus asa. "Kemarin aku menciummu, dan kau

menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!"

Aku tertawa lemah, membiarkan lengannya menahanku

sementara kepalaku masih berputar-putar.

"Dan katamu aku bisa melakukan segalanya.” ia

mendesah.

"Itulah masalahnya" Aku masih pusing, "Kau terlalu

pintar melakukannya. Amat sangat terlalu pintar."

"Kau merasa sakit?" ia bertanya; ia pernah melihatku

Seperti ini sebelumnya.

"Tidak – pingsanku kali ini berbeda. Aku tak tahu apa

yang terjadi." Aku menggeleng menyesalinya. "Kurasa aku

lupa bernapas."

"Aku tak bisa membawamu ke mana-mana dalam

keadaan seperti ini.”

"Aku baik-baik saja,” aku bersikeras. “Lagi pula

keluargamu toh bakal menganggapku gila. jadi apa

bedanya?"

Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. "Aku sangat

menyukai warna kulitmu," ujarnya tak disangka-sangka.

Wajahku memerah senang dan berpaling.

"Begini, aku berusaha sangat keras untuk tidak

memikirkan apa yang akan kulakukan, jadi bisakah kita

berangkat sekarang?" tanyaku.

"Dan kau khawatir, bukan karena kau akan pergi ke

rumah yang isinya vampir semua, tapi karena kaupikir

vampir-vampir itu tak akan menerimamu, betul?"

"Betul," aku langsung menjawabnya, menyembunyikan

keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.

Ia menggeleng. "Kau sulit dipercaya."

Aku menyadari, saat ia mengemudikan trukku

meninggalkan pusat kota, aku sama sekali tak tahu di mana

ia tinggal. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah,

jalanan membentang ke utara, rumah-rumah yang kami

lalui semakin jarang, dan semakin besar. Kemudian kami

meninggalkan rumah-rumah, dan memasuki hutan

berkabut. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau

tetap bersabar, ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak

beraspal. Jalanan itu tak bertanda, nyaris tak tampak di

antara tumbuh-tumbuhan pakis. Hutan menyelimuti kedua

sisinya, hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan

sejauh beberapa meter, meliuk-liuk seperti ular di sekeliling

pepohonan kuno.

Kemudian, setelah beberapa mil, hutan mulai menipis,

dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil, atau

sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu

kemuraman hutan tidak memudar, karena ada enam pohon

cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabangcabangnya

yang lebar. Bayangan pepohonan itu menaungi

dinding rumah yang berdiri di antaranya, membuat serambi

yang mengitari lantai dasar tampak kuno.

Aku tak tahu apa yang kuharapkan, tapi jelas bukan yang

seperti ini. Rumah itu tampak abadi, elegan, dan barangkali

berusia ratusan tahun. Cat putih yang membalutnya lembut

dan nyaris pudar, berlantai tiga, berbentuk persegi dan

proporsional. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah

merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang

sempurna. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak di

sana. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat

kami, tersembunyi di kegelapan hutan.

"Wow."

“Kau menyukainya?" Ia tersenyum.

"Bangunan ini memiliki pesona tersendiri."

Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak.

"Siap?" ia bertanya sambil membukakan pintuku.

"Sama sekali tidak—ayo." Aku mencoba tertawa, tapi

sepertinya tenggorokanku tercekat. Aku merapikan rambut

dengan gugup.

"Kau cantik." Ia menggenggam tanganku dengan luwes,

tanpa ragu.

Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju

teras rumah. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku; ibu

jarinya membuat gerakan melingkar yang menenangkan di

punggung tanganku. Ia membukakan pintu untukku.

Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi,

lebih tak bisa diramalkan, daripada bagian luarnya. Sangat

terang sangat terbuka, dan sangat luas. Dulunya ruangan ini

pasti kumpulan beberapa kamar, namun dindingdindingnya

disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan

luas di lantai dasar. Di bagian belakang dinding yang

menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan

kaca, dan di balik bayangan pohon cedar terbentang

rerumputan luas hingga ke sungai. Tangga meliuk yang

lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. Dindingdindingnya,

langit-langitnya yang tinggi, lantainya yang

terbuat dari kayu, dan karpet tebal, semuanya merupakan

gradasi warna putih.

Tampak menanti untuk menyambut kami, berdiri persis

di kiri pintu, pada bagian lantai yang lebih tinggi di sisi

grand piano yang spektakuler, adalah orangtua Edward.

Aku pernah melihat dr. Cullen sebelumnya, tentu saja,

tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat

kemudaannya, kesempurnaannya yang luar biasa. Kurasa

perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme, satusatunya

anggota keluarga Cullen yang belum pernah

kulihat. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti

yang lainnya. Wajahnya berbentuk hati, rambutnya

berombak dan halus, berwarna cokelat karamel,

mengingatkanku pada era film bisu. Tubuhnya mungil

langsing namun tidak terlalu kurus, lebih berisi dibanding

yang lainnya. Mereka mengenakan pakaian kasual

berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam

rumah mereka. Mereka tersenyum menyambut kami, tapi

tidak bergerak mendekat. Kurasa mereka tak ingin

membuatku takut.

"Carlisle, Esme," suara Edward memecah keheningan

yang terjadi sebentar, "ini Bella."

"Selamat datang, Bella." Langkah Carlisle terukur,

berhati-hati saat mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya

dan aku melangkah maju untuk menjabatnya.

"Senang bisa bertemu Anda lagi, dr. Cullen."

"Tolong panggil saja Carlisle."

"Carlisle." Aku tersenyum padanya, kepercayaan diriku

yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. Aku bisa merasakan

Edward merasa lega di sampingku.

Esme tersenyum dan melangkah maju juga, menjabat

tanganku. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang

kuperkirakan.

"Senang sekali bisa berkenalan denganmu," sahutnya

tulus.

"Terima kasih. Aku juga senang bisa bertemu Anda."

Memang itulah yang kurasakan. Pertemuan itu bagaikan

pertemuan dongeng—Putri Salju dalam wujud aslinya.

"Di mana Alice dan Jasper?" Edward bertanya, tapi

mereka tidak menjawab, berhubung keduanya muncul di

puncak tangga yang lebar.

"Hei, Edward!" Alice memanggilnya bersemangat. Ia

berlari menuruni tangga, perpaduan rambut hitam dan kulit

putih, sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di

hadapanku. Carlisle dan Esme memelototinya, tapi aku

menyukainya. Lagi pula, itu sesuatu yang alami—baginya.

"Hai, Bella!" sapa Alice, dan ia melesat ke depan untuk

mengecup pipiku. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya

tampak berhati-hati, sekarang mereka tampak terkesiap.

Mataku juga memancarkan rasa terkejut, tapi aku juga

sangat senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku

sepenuhnya. Aku bingung melihat Edward yang mendadak

kaku d. sebelahku. Aku memandang wajahnya, tapi

ekspresinya tak bisa ditebak.

"Kau memang harum, aku belum pernah memerhatikan

sebelumnya." ia berkomentar, membuatku sangat malu.

Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus

dikatakan, kemudian Jasper ada di sana—tinggi bagai singa.

Perasaan lega menyeruak dalam diriku, dan tiba-tiba aku

merasa nyaman terlepas di mana aku tengah berada.

Edward menatap Jasper, salah satu alisnya terangkat, dan

aku teringat akan kemampuannya.

"Halo, Bella," sapa Jasper. Ia tetap menjaga jarak, tidak

menawarkan untuk berjabat tangan. Tapi mustahil untuk

merasa gugup di dekatnya.

"Halo, Jasper." Aku tersenyum malu-malu padanya, dan

pada yang lainnya juga. "Senang bisa bertemu kalian

semua—rumah kalian sangat indah." tambahku apa

adanya.

"Terima kasih," sahut Esme. "Kami senang sekali kau

datang." Ia berbicara penuh perasaan, dan aku menyadari ia

pasti menganggapku berani.

Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak

terlihat di mana pun di rumah itu, dan aku ingat

penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku

bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak

menyukaiku.

Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini; ia

memandang Edward penuh makna, ekspresinya mendalam.

Dan sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali.

Aku mengalihkan pandangan, berusaha bersikap sopan.

Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu.

Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku, seandainya

aku memenangkan lotre, aku akan membeli grand piano

untuk ibuku. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano—ia

hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya

sendiri—tapi aku suka melihatnya memainkan piano. Ia

terlihat bahagia, begitu tenggelam—bagiku ia kelihatan

seperti sosok misterius yang baru, seseorang di luar sosok

"ibu" yang kukenal selama ini. Ia mengajariku cara bermain

piano, tentu saja, tapi seperti kebanyakan anak, aku terus

mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih.

Esme memerhatikan keprihatinanku.

"Kau bisa main piano?" tanyanya, menunjuk piano

dengan kepalanya.

Kugelengkan kepalaku. "Tidak sama sekali. Tapi piano

itu indah sekali. Apakah itu milik Anda?"

"Tidak," ia tertawa. "Edward tidak memberitahumu dia

pandai bermain musik?"

"Tidak." Dengan marah kutatap Edward yang memasang

ekspresi tak berdosa. "Kurasa aku seharusnya tahu."

Alis Esme yang lembut terangkat, bingung.

"Edward bisa melakukan segalanya, bukan begitu?"

kataku menjelaskan.

Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak

setuju. "Kuharap kau tidak pamer pada Bella—itu tidak

sopan," bentaknya.

"Hanya sedikit," Edward tertawa lepas. Wajah Esme

melembut mendengar suara itu, dan sesaat mereka saling

menatap—tatapan yang tak kumengerti—meskipun wajah

Esme tampak nyaris puas.

"Sebenarnya, dia terlalu rendah hati." aku meralatnya.

"Kalau begitu, bermainlah untuknya," bujuk Esme.

"Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan,"

sergah Edward keberatan.

"Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan,"

balas Esme.

"Aku ingin mendengarmu bermain piano," sahutku.

"Kalau begitu sudah diputuskan." Esme mendorong

Edward menuju piano. Edward menarikku bersamanya,

mendudukkanku di kursi di sampingnya.

Lama sekali ia menatapku putus asa, sebelum beralih

pada tuts-tuts pianonya.

Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts

gading itu. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu

rumit, begitu kaya, mustahil hanya dimainkan dengan

sepasang tangan. Aku merasakan mulutku menganga

terkesima karena permainannya, dan mendengar tawa

pelan di belakangku, menertawakan reaksiku.

Edward menatapku santai, musik masih melingkupi

kami tanpa henti, dan ia berkedip. "Kau menyukainya?"

"Kau menciptakannya?" Aku terperangah menyadarinya.

Ia mengangguk. "Kesukaan Esme."

Aku memejamkan mata sambil menggeleng-gelengkan

kepala.

"Ada apa?"

"Aku merasa amat sangat tidak berguna."

Irama musik memelan, berubah jadi lebih lembut, dan

aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di

antara sekumpulan not yang dimainkannya.

“Kau yang menginspirasi ini," katanya lembut.

Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat

manis.

Aku tak sanggup berkata-kata.

“Mereka menyukaimu, kau tahu." katanya. "Terutama

Esme.”

Aku melirik ke belakang, tapi ruangan besar itu kosong

sekarang.

"Mereka ke mana?"

"Kurasa mereka ingin memberi kita privasi."

Aku mendesah. "Mereka menyukaiku. Tapi Rosalie dan

Emmett..." aku tidak menyelesaikan kata-kataku, tak yakin

bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku.

Ia merengut. "Jangan khawatirkan Rosalie," karanya,

matanya melebar dan persuasif. "Dia akan datang."

Aku mencibir. "Emmett?"

"Well, dia pikir aku gila, dan dia benar, tapi dia tidak

punya masalah denganmu. Dia mencoba berempati dengan

Rosalie."

"Apa yang membuat Rosalie tidak suka?" Aku tak yakin

apakah ingin mengetahui jawabannya.

Ia menarik napas dalam-dalam. "Rosalie yang paling

berjuang keras... menutupi jati diri kami. Sulit baginya bila

ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. Dan dia

agak cemburu."

"Rosalie cemburu padaku?" tanyaku tak percaya. Aku

berusaha membayangkan sebuah kehidupan di mana di

dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki

alasan apa pun untuk merasa cemburu pada seseorang

seperti aku.

"Kau manusia." Ia mengangkat bahu. "Dia berharap

seandainya dia juga manusia."

"Oh," gumamku, masih terkejut. "Bahkan Jasper...”

"Ini benar-benar salahku," katanya. "Sudah kubilang, dia

yang terakhir mencoba cara hidup kami. Aku

mengingatkannya untuk menjaga jarak."

Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu, dan

bergidik.

"Esme dan Carlisle...?" lanjutku cepat, untuk

mencegahnya menyadari kengerianku.

"Senang melihatku bahagia. Sebenarnya. Esme tidak

akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu

berselaput. Selama ini dia mengkhawatirkan aku, takut ada

sesuatu yang hilang dari karakter utamaku, bahwa aku

terlalu muda ketika Carlisle mengubahku... Dia sangat

senang. Setiap kali aku menyentuhmu, dia nyaris tersedak

oleh perasaan puas."

"Alice tampak sangat... bersemangat."

"Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal,"

katanya dengan bibir terkatup rapat.

"Dan kau takkan menjelaskannya, ya kan?"

Sesaat keheningan melintas di antara kami. Ia menyadari

bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku

tahu ia takkan mengatakan apa-apa. Tidak sekarang.

"Jadi, tadi Carlisle bilang apa padamu?"

Alisnya menyatu. "Aku tahu kau pasti memerhatikan."

Aku mengangkat bahu. "Tentu saja."

Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum

menjawab. "Dia ingin memberitahuku beberapa hal—dia

tidak tahu apakah aku mau memberitahumu."

"Apakah kau akan memberitahuku?"

"Aku harus, karena aku akan sedikit... kelewat protektif

selama beberapa hari ke depan-atau minggu-dan aku tak

mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini seorang tiran."

“Ada apa?"

"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Alice hanya melihat

akan ada beberapa tamu. Mereka tahu kami ada di sini, dan

mereka penasaran.”

"Tamu?"

"Ya... well, mereka tidak seperti kami, tentu saja—

maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. Barangkali

mereka sama sekali tidak akan datang ke kota, tapi jelas aku

takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka

pergi."

Aku bergidik ngeri.

"Akhirnya, respons yang masuk akal!" gumamnya. "Aku

mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu."

Aku mengabaikan gurauannya, memalingkan wajah,

mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu.

Ia mengikuti arah pandanganku. "Tidak seperti yang

kauharapkan, ya kan?" tanyanya, suaranya terdengar

arogan.

"Tidak," aku mengakuinya.

"Tidak ada peti mati, tidak ada tumpukan kerangka di

sudut; aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang labalaba...

pasti semua ini sangat mengecewakanmu," lanjutnya

mengejek.

Aku mengabaikannya. "Begitu ringan... begitu terbuka."

Ia terdengar lebih serius saat menjawab. "Ini satusatunya

tempat di mana kami tak perlu bersembunyi."

Lagu yang masih dimainkannya, laguku, tiba di bagian

akhir, kord terakhir berganti menjadi not yang lebih

melankolis. Not terakhir mengalun sedih dalam

keheningan.

"Terima kasih," gumamku. Aku tersadar air mata

merebak di pelupuk mataku. Aku menyekanya, malu.

Ia menyentuh sudut mataku, menyeka titik air mata yang

tersisa. Ia mengangkat jarinya, mengamati tetes air itu lekatlekat.

Kemudian, begitu cepat hingga aku tak yakin ia

benar-benar melakukannya, ia meletakkan jarinya ke

mulutnya untuk merasakannya.

Aku menatapnya bertanya-tanya, dan ia balas

memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum.

“Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah

ini?"

"Tidak ada peti mati?" aku mengulanginya, kesinisan

dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan

waswas yang kurasakan.

Kami menaiki anak rangga yang besar-besar, tanganku

menyusuri birai rangga yang halus bagai satin. Ruangan

panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna

kuning madu, sama seperti lantai keramiknya.

"Kamar Rosalie dan Emmett... ruang kerja Carlisle...

kamar Alice..." Ia menunjukkannya sambil menuntunku

melewati pintu-pintu itu.

Ia bisa saja melanjutkan, tapi aku berhenti mendadak

dan terperanjat di akhir ruang besar itu, terkesiap

memandang ornamen yang menggantung di dinding di aras

kepalaku. Edward tergelak, menertawai ekspresiku yang

bingung. "Kau boleh tertawa," katanya. "Bisa dibilang

ironis."

Aku tidak tertawa. Tanganku terulur dengan sendirinya,

satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar

itu, warna permukaannya yang gelap mengilat, sangat

kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan. Aku

tidak menyentuhnya, meskipun penasaran apakah kayu

yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti

kelihatannya.

"Pasti sudah sangat tua," aku menebaknya.

Ia mengangkat bahu. "Awal 1630-an, kurang-lebih."

Aku mengalihkan pandang dari salib itu kepada Edward.

“Mengapa kalian menyimpannya di sini?" aku bertanyatanya.

“Nostalgia. Itu milik ayah Carlisle."

“Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak

ragu-ragu.

"Tidak. Dia mengukirnya sendiri. Salib ini digantungkan

di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan."

Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi

keterkejutanku, tapi aku kembali memandang salib kuno

dan sederhana itu, untuk berjaga-jaga. Aku langsung

menghitung dalam hari; salib itu berusia lebih dari 370

tahun. Keheningan berlanjut saat aku berusaha

menyimpulkan pikiranku mengenai tahun-tahun yang

begitu banyak.

"Kau baik-baik saja?" Ia terdengar waswas.

"Berapa umur Carlisle?" tanyaku pelan, mengabaikan

pertanyaannya, masih memandangi salib.

"Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-362,"

jawab Edward. Aku kembali menatapnya, berjuta-juta

pertanyaan tersimpan di mataku.

Ia memerhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara.

"Carlisle lahir di London, pada tahun 1640-an,

menurutnya. Lagi pula bagi orang-orang awam, saat itu

perhitungan waktu belum terlalu tepat. Meski begitu, saat

itu tepat sebelum pemerintahan Cromwell."

Aku tetap menjaga ekspresiku, sadar ia mengamatiku

saat aku menyimak. Lebih mudah seandainya aku tidak

mencoba memercayainya.

"Dia putra tunggal seorang pendeta Anglikan. Ibunya

meninggal saat melahirkannya. Ayahnya berpandangan

sempit. Saat penganut Protestan mulai berkuasa, dia begitu

bersemangat membantai umat Katolik Roma dan agama

lainnya. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. Dia

mengizinkan perburuan penyihir, werewolf... dan vampir."

Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. Aku yakin ia

memerhatikan, tapi ia melanjutkannya.

"Mereka membakar banyak orang tak berdosa—tentu

saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak

mudah ditangkap.”

"Ketika sang pendeta semakin tua, dia menempatkan

anak laki-lakinya yang patuh sebagai pemimpin dalam

pencarian. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan;

dia tidak gesit menuduh; untuk menemukan roh-roh jahat

di mana mereka tidak eksis. Tapi dia tetap ngotot, dan lebih

pintar dari ayahnya. Dia benar-benar menemukan vampir

sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota, hanya

keluar pada malam hari untuk berburu. Pada masa itu,

ketika monster bukan hanya mitos dan legenda, begitulah

cara mereka hidup."

"Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka,

tentu saja"—tawanya lebih menyeramkan sekarang—"dan

menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu

keluar ke jalanan. Akhirnya salah satu dari mereka

muncul."

Suaranya sangat pelan; aku harus benar-benar

berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya.

"Dia pasti makhluk kuno, dan lemah karena kelaparan.

Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa

Latin saat mencium keramaian. Dia berlari ke jalanan dan

Carlisle—dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas—

memimpin pengejaran. Makhluk itu bisa dengan mudah

mengalahkan mereka, tapi Carlisle mengira makhluk itu

terlalu lapar, jadi dia berbalik dan menyerang. Makhluk itu

menjatuhkan Carlisle lebih dulu, tapi yang lain ada di

belakangnya, dan dia berbalik untuk membela diri. Dia

membunuh dua manusia, dan kabur dengan membawa

korban ketiganya, meninggalkan Carlisle berdarah-darah di

jalanan."


0 Response to "Twilight 2"

Post a Comment