Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

SIti Nurbaya 5

Jakarta, 13 Juli 1879.

Paduka Ayahanda!

Sebelum ananda menuliskan maksud ananda dan

mencurahkan segala yang terasa di hati ananda

kepada Ayahanda dalam surat ini, terlebih dahulu

ananda memohonkan ampun beribu-ribu ampun ke

bawah ribaan Ayahanda, atas kesalahan ananda

yang telah ananda perbuat dahulu dan kesalahan

ananda sekarang ini, karena telah berani

memanggil Ayah pula kepada Ayahanda, walaupun

Ayahanda tiada sudi lagi mengaku anak kepada

ananda.

Ananda maklum, tentulah sangat susah bagi

Ayahanda, seorang yang berbangsa dan berpangkat

tinggi, akan menarik surut perkataan yang telah

terlanjur. Tetapi sebab permintaan ini, ialah

permintaan yang penghabisan bagi ananda,

permintaan seorang yang tiada lama lagi akan

hidup di dunia ini, seorang yang akan segera

meninggalkan negeri yang fana ini dan pada

penghabisan umurnya, tiada lain pengharapannya,

hanya akan beroleh ampun dan maaf dari ayahbunda,

sanak saudara dan kaum kerabatnya, maka

besar gunung kata orang, tetapi lebih besarlah lagi

pengharapan ananda, supaya permintaan ananda

ini, Ayahanda kabulkan juga.

Bukankah orang yang akan dihukum mati itu,

diturut kehendaknya dan diberi permintaannya yang

akhir? Sekali inilah lagi ananda akan meminta

kepada Ayahanda dan sekali inilah pula lagi,

Ayahanda akan meluluskan permintaan ananda;

karena bilamana Ayahanda membaca surat ini,

lamalah sudah ananda tiada dalam dunia ini,

melainkan telah sujud ke hadirat Tuhan

rabbulalamin, akan memohonkan ampun ata!O

sekalian dosa ananda yang amat besar itu; karena

rupanya dalam dunia yang fana ini, tiadalah boleh

ananda mendapat ampun itu, meskipun ananda telah

mengaku kesalahan ananda dan telah pula

mendapat hukuman yang berat.

Ayahanda, mengapakah begitu hal dunia ini?

Mengapakah ananda tiada boleh mendapat

keadilan? Bukankah ananda ini manusia juga,

sebagai orang lain'? Bukankah manusia itu bersifat

lupa, berhati lemah dan berfikir yang tiada tetap?

Hanya Allah yang bersifat kadim? Bukankah

manusia itu suatu maliluk yang tiada boleh berbuat

sekehendak hatinya, bila tiada dengan izin Tuhan

Yang Maha Kuasa? Bukankah nasib manusia itu tak

dapat dibuat-buat, karena sekalian itu telah

terdaftar di lauhmahfut dan sudah dijanjikan,

sebelum dilahirkan ke dunia? Dan bukankah tiaptiap

kesalahan itu, walau bagaimanapun besarnya,

ada juga ampunannya? Akan tetapi mengapakah

dunia ini tiada menimbang dengan adil, melainkan

melemparkan segala kesalahan kepada ananda?

Meskipun ananda insyaf dan mengaku sekalian

kesalahan itu, tetapi bukan ampunan atau hukuman

yang enteng yang ananda peroleh, melainkan

sebagai ditambah siksaan yang diberikan kepada

ananda.

Sesungguhnya kesalahan ananda itu, bukanlah

suatu kesalahan yang ringan, melainkan kesalahan

yang memberi aib nama ayah-bunda, kaum keluarga

dan kampung halaman serta mendatangkan duka

nestapa kepada beberapa manusia, memutusasakan

beberapa orang, tetapi seharusnyalah hakim yang

adil, mendengarkan kedua belah pihak dan tidak

menuduh sebelah pihak saja.

Jangankan hati manusia yang memang lemah dan

lembut, sedangkan batu yang keras, dapat juga

ditembus air yang lunak, apabila selalu ia jatuh

bertitik-titik ke atasnya. Bukankah besi keras, tetapi

mengapakah dapat juga ia ditajamkan dengan batu

yang rapuh? Dan apakah yang lebih keras daripada

intan? Tetapi dapat juga ia diasah. Apalagi ananda,

seorang laki-laki muda, yang memang bersifat

mudah jatuh ke dalam jaring yang sedemikian;

bagaimana dapat menahan hati? Tambahan pula

memanglah hati ananda yang lemah itu, tak dapat

melihat kesusahan dan kesengsaraan atau kelaliman

orang; terlebih-lebih bila yang teraniaya itu teman

ananda sendiri, kawan bermain dari kecil, sahabat

yang lebih daripada saudara kandung. Bagaimana

dapat ananda membiarkan teraniaya?

Bukannya pula ananda akan menjatuhkan segala

kesalahan ke atas Nurbaya, sekali-kali tidak.

Memang ananda merasa, bahwa hati Nurbaya telah

lama tersangkut pada ananda, dan pada sangka

ananda pun takkan tiada, tentu ialah kelak yang

akan menjadi istri ananda. Pada pikiran ananda,

persangkaan ini bukanlah pada ananda saja

adanya, tetapi pada Ayahanda dan sekalian mereka

yang kenal akan kami pun, tentulah ada pula.

Sekarang bolehkah kita berkecil hati atau marah,

apabila seekor burung yang telah dipelihara itu,

meskipun dengan pemeliharaan yang sempurna

sekalipun, diberi sangkar yang bagus, makanan dan

minuman yang cukup, pada suata hari, tatkala ia

dilepaskan, terus terbang kembali ke tempatnya asli,

ke dalam hutan? Bukankah, kesenangan dan

kesentosa• an itu tiada selamanya disebabkan oleh

uang atau harta? Bukankah terkadang-kadang

seorang kuli, boleh merasa lebih senang dan sentosa

daripada seorang raja;

Bagaimanakah boleh disalahkan perbuatan

seorang yang telah putus asa, sebagai Nurbaya

waktu itu, karena melihat maksud dait keinginannya,

yang sejak dari kecil telah diidamkannya, tiba-tiba

dengan paksa dihilangkan orang, sehingga tak

dapat berharap lagi?

Orang yang mendapat kecelakaan amat sangat,

sehingga terpaksa menjalankan pekerjaan yang

terlebih ditakutinya daripada mati, pikirannya

tiadalah benar lagi dan segala perbuatannya tak

dapat disalahkan. Herankah kita, bila seorang yang

teramat dahaga, tak berpikir panjang lagi dan tak

mengindahkan segala kesengsaraan yang akan

diperolehnya kelak, karena perbuatannya, tetapi

dengan segera meminum air telaga, yang baru

dijumpainya?

Jadi siapakah yang salah dalam hal ini?

Nurbaya? Tidak! Ananda? Tidak! Tiada seorang

pun jua; sebab masing-masing sekadar menurut

jalan yang telah tentu, yang akan ditempuhnya juga.

Datuk Meringgih sekalipun tak boleh disesali pula,

sebab ia sekadar mengerjakan yang lazim dijalankan

di tanah air kita. Walaupun ia telah memaksa

Nurbaya, dengan jalan yang keji dan mempergunakan

berbagai tipu muslihat untuk menyampaikan

sekalian maksudnya yang keji, tak juga boleh

disalahkan; karena ia tak tahu kepada yang baik.

Pada sangkanya tiada jahat perbuatannya itu.

Apakah gunanya uangnya yang sebanyak itu,

kalau harta itu tiada akan dapat menyampaikan

segala maksudnya, walau yang hina sebagaimana

jua pun? Apakah pedulinya kesusahan orang lain,

putusnya pengharapan orang, karena kelakuannya,

kesengsaraan orang, karena perbuatannya, asal ia

dapat beroleh kesenangan dan dapat melepaskan

hawa nafsunya? Bukankah sekalian orang berbuat

demikian? Jangankan manusia, sedangkan hewan

yang hina, lagi berbuat begitu. Bukankah sekalian

maliluk di atas dunia ini kerjanya selalu bunuhmembunuh,

celaka-mencelakakan, untuk membela

dirinya sendiri? Mengapakah Datuk Meringgih tak

boleh berbuat sedemikian? Terlebih-lebih pula

kepada perempuan, yang memang di mata bangsa

kita, bukan manusia, melainkan boneka bernyawa,

yang harus menurut segala kemauan suaminya

dengan tiada boleh berpikir., berkata, melihat,

mendengar, mencium dan merasai. Disuruh bekerja,

haruslah bekerja, jika disuruh sakit, haruslah sakit

dan jika disutuh mati sekalipun haruslah mati.

Tentu, sebab budak namanya, boleh diperbuat

sesuka hati.

Jadi apakah salahnya, jika laki-laki yang telah

putih rambutnya, telah habis giginya, telah bungkuk

punggungnya, karena tuanya, dikawinkan dengan

seorang perawan yang sebaya dengan cucunya'?

Dan apakah alangannya, jika laki-laki itu beristri

lebih daripada seorang? Lihatlah ayam jantan!

Betinanya pun lebih pada seekor. Kalau seekor

binatang boleh berbuat sedemikian, mengapakah

manusia yang terlebih mulia, terlebih berkuasa,

terlebih cerdik dan pandai, tak boleh berbuat

sebagai binatang itu? Tentu saja boleh, seharusnya

lebih dari itu. Jika diberikan kepada seekor bapa

kuda, sepuluh atau dua puluh kuda betina, menurut

perbandingan, masih kurang, jika diizinkan kepada

manusia beristri sampai seratus dua ratus

sekalipun."

Samsu berhenti sejurus menyurat, untuk menahan hatinya

yang geram. Tak puas ia, sebab segala yang terasa dalam hatinya

waktu itu hanya dapat dituliskannya dalam surat itu saja: itu pun

tiada pula sempurna. Kemudian diteruskanyalah menulis surat

itu:

Supaya surat ini jangan terlalu panjang, baiklah

ananda ceritakan penanggungan ananda, sejak

ananda tiada berbapa lagi. Hukuman dan deraan,

azab dan sengsara yang telah ananda rasai, tak

dapat ananda uraikan dengan secukupnya dalam

surat ini. Sejak ananda menjadi yatim, tiada

berayah berkaum keluarga, tiada berkampung

berhalaman dan tiada berumah bertanah air,

sampai kepada waktu ini, belumlah ananda merasai

kesenangan. Setiap waktu pikiran digoda sesal yang

tak putus dan kenang-kenangan yang dahsyat. Pada

siang hari terbayang-bayanglah di mata ananda

segala kelakuan ananda yang keji itu; adalah

sebagai hal itu baru terjadi. Muka Ayahanda yang

murka, nyata kelihatan; suara Ayahanda yang

garang, nyata terdengar oleh ananda sehingga

kecutlah hati dan seramlah bulu ananda, seperti

seorang yang akan dihukum gantung.

Apabila telah hilanglah penglihatan dan

pendengaran ini, terbayanglah pula muka Bunda

ananda yang sangat berdukacita, karena putus asa:

bagai sampan hilang pengayuh, bagai ayam hilang

induknya. Pada mukanya itu nyata tergambar,

betapa sedih dan sesal hatinya, melihat anak

kandungnya, yang sebiji mata, buah hatinya, tempat

pengharapannya berkumpul, mendapat mara

bahaya yang amat besar, sehingga luput dari

matanya. Hancur luluh hati ananda melihat

kesedihannya, yang tak dapat ananda lipur. .

Setelah itu berdirilah pula di muka ananda

sekalian kaum keluarga, yang memandang ananda

dengan benci dan merengut, sebagai melihat seekor

anjing yang mencuri tulang. Penglihatan yang

sedemikian, sangatlah memberi malu ananda,

sehingga hampirlah tak berani ananda memperlihatkan

diri.

Pada malam hari, bertukarlah kenang-kenangan

dan ingatan tadi dengan mimpi yang dalisyat.

Sekalian hal yang telah terjadi, melintas kembali,

sebagai sebenarnya terjadi pula sekali lagi. Rasanya

Datuk Meringgih datang membawa sebilah pedang

yang terhunus, hendak memancung leher ananda.

Oleh sebab itu, berteriaklah ananda di dalam tidur

dan terbangunlah teman-teman yang dekat dengan

ananda. Apabila ananda bermimpikan Nurbaya,

menangislah ananda di waktu tidur, karena tak

tahan melihat sedih hatinya, yang disebabkan oleh

nasibnya yangmalang.

Demikianlah hal ananda siang malam digoda

pikiran dan mimpi yang jahat. Jangankan belajar,

makan dan minum pun hampir tak dapat, karena

nasi dimakan serasa sekam, air diminum rasakan

duri. Apabila Ayahanda melihat ananda pada waktu

menulis surat ini, barangkali tiadalah kenal lagi

Ayahanda kepada ananda, karena badan ananda

sangat berubah.

Terkadang-kadang timbul niat di dalam hati

hendak membunuh diri; tetapi ingatan kepada

Bunda dan Nurbayalah yang mengalangi 'maksud

itu, sebab takut, kalau-kalau bertambah pula

dukacita mereka, oleh perbuatan ananda ini. Akan

tetapi walaupun ananda belum melekatkan senjata

ke badan sendiri, jika demikian saja godaan-godaan

yang datang, tentulah akhirnya akan ke sana juga

perginya. Inilah pula yang menambahkan susah

hati, sebab waktu itu ananda belum boleh

meninggalkan dunia ini; bukan untuk ananda

sendiri, melainkan untuk Bunda dan Nurbaya, yang

telah ananda celakakan itu.

Seharusnyalah bagi ananda, mengangkat mereka

kembali dari lumpur, tempat mereka ananda

jatuhkan. Itulah sebabnya maka ananda kembali ke

Jakarta, dengan maksud akan mencoba meneruskan

pelajaran ananda.

Tetapi apa hendak dikata, Ayahanda? Rupanya

hukuman dan penderitaan yang telah ananda

tanggung, belumlah cukup untuk pembayar utang

kesalahan ananda. Karena tatkala ananda baru

berasa bebas sedikit dari godaan ini dan mulai

biasa menanggung kesakitan, dan ketika ananda

mulai beroleh pengharapan, akan dapat melawan,

segala siksaan dan percobaan ini, sehingga dapat

juga menyampaikan maksud ananda, yakni akan

menyenangkan Bunda dan Nurbaya lebih dahulu,

sebelum berpindah ke alam lain, ketika itulah pula

datang hukuman ananda yang sebenar-benarnya.

Ketika itulah jatuh pedang yang menceraikan badan

dari kepala ananda, menembus dada dan jantung

ananda, menghancurkan hati dan tulang ananda

seluruh tubuh; karena waktu itulah datang surat

kawat, yang membawa kabar Ibu ananda dan

Nurbaya, dua orang perempuan yang masih sayang

kepada ananda, tatkala ananda telah jatuh ke dalam

lumpur, telah meninggal dunia ini ...

Aduhai! Di situlah putus pengharapan, habis

sabar dan hilang akal ananda. Sekaranglah ananda

menjadi yatim piatu, tiada beribu, tiada berbapa,

tiada bersanak atau saudara, tiada berkaum

kerabat, kampung halaman dan tanah air lagi. Oleh

sebab itu, apal4h gunanya ananda hidup juga?

Daripada hidup bercermin bangkai, baiklah mati

berkalang tanah."

Tatkala sampai ke sana Samsu menulis, jatuhlah kalam dari

tangannya, sebagai ia tiada berdaya lagi, memegang kayu yang

sekerat kecil itu, dan penuhlah surat itu berlumur dawat. Air

matanya pun jatuh pula bercucuran, membasahi kertas yang

disuratnya. Karena terlalu amat sedih hatinya, menangkuplah ia

ke meja tulisnya dan menangis tersedu-sedu beberapa lamanya.

"Ya, nasib! Tiadakah engkau menaruh iba kasihan kepada

bani Adam yang muda remaja itu? Bukankah ia baru akan

mengenal kesenangan, kemuliaan dan kekayaan dunia ini,

sebagai sekuntum bunga yang baru hendak mengembangkan

kelopaknya akan menghamburkan baunya yang semerbak, dan

mempertunjukkan warnanya yang cantik, kepada segala kupukupu

yang melintas dekatnya. Dengan kekerasan dan

kekejaman, telah kaubantun ia dari tangkainya, sehingga putus

lalu gugur ke tanah, menjadi hancur."

Setelah bersedih hati sedemikian itu diangkatlah oleh Samsu

kepalanya, lalu disapunya air matanya, diambilnya pula

kalamnya dan diteruskannya menulis suratnya tadi:

Ya, Ayahanda! Rupanya pengharapan yang

ananda peroleh sedikit itu, ialah suatu tanda yang

menyatakan, bahwa kesudahan nasib ananda akan

datang. Sejak Ayahanda membuang ananda, kutuk

telah jatuh bertubi-tubi ke atas kepala ananda dan

sejak waktu itu, tiadalah ditinggalkannya lagi

ananda barang sekejap pun, melainkan selalu

diturutnya jejak ananda, sebagai bayang-bayang di

waktu malam, menanti saat yang baik dan ketika

yang sempurna, untuk menerkam ananda.

Sejak waktu itulah ananda dipermain-mainkannya,

seperti kucing mempermainkan tikus; ditangkap

dan dilepaskannya pula. Gelak senyum ia agaknya

melihat ananda, tatkala beroleh pengharapan yang

sedikit tadi. Direnggangkannya sedikit cakarnya

yang panjang dan tajam itu dari badan ananda,

karena pada pikirannya, "Kelak akan masuklah

cakarku ini ke dalam dagingmu yang lembut itu,

untuk meleburkan tubuhmu, bila engkau coba

hendak melepaskan dirimu."

Sesungguhnya, Ayahanda, maksudnya itu telah

dapat dilangsungkannya. Ananda telah diremasnya

dalam cakarnya yang runcing dan panjang itu.

Tinggal menunggu hancur luluh saja lagi ...

Tentang perbuatan ananda yang akhir ini pun,

ananda pohonkanlah ampun dan maaf, dunia

akhirat kepada Ayahanda jangan jadi keberatan

atas perjalanan ananda dalam menuruti Bunda dan

Nurbaya, yang telah berangkat lebih dahulu. Mogamoga

dapatlah kami bersama-sama menghadap ke

hadirat Tuhan yang amat add.

Akhirnya ananda mintalah pula terima kasih

banyak-banyak kepada Ayahanda serta kaum

kerabat kita, atas susah payah, karena telah sudi

memelihara ananda dari kecil sampai besar. Akan

kebaikan itu, tiada lain, melainkan Allahlah yang

akan membalasnya, karena balasan yang telah

ananda berikan, adalah jahat semata-mata, sebagai

air susu dengan air tuba. Tetapi apa hendak dikata?

Karena sekalian itu pun takdir daripada Tuhan

juga.

Terimalah sembah sujud yang penghabisan dari

ananda.

Selamat tinggal!

SAMSULBAHRI

Tatkala Samsu hendak menyuratkan perkataan "selamat

tinggal" itu gemetarlah tangannya, sehingga hampir-hampir tak

dapat ditulisnya tanda tangannya. Napasnya sesak dan mukanya

pucat karena nemahan sedih yang memenuhi dadanya. Kepala

pening dan penglihatannya berputar, terlebih-lebih sebab

matanya penuh dengan air mata yang tak dapat ditahannya.

Maka menangislah pula Samsu dengan amat rawannya, sambil

menutup mukanya dengan kedua belah tangannya dan

menangkup ke atas meja.

Beberapa lamanya ia bersedih hati itu, tiadalah diketahuinya,

hanya tatkala ia sadarkan dirinya pula, didengarnyalah lonceng

setengah enam telah berbunyi. Maka berdirilah ia melihat surat

itu dan memasukkameya ke dalam sebuah pembungkus surat.

Surat itu dialamatkannya kepada ayahnya. Kemudian

dicucinyalah mukanya, supaya hilang merah matanya, bekas

menangis, lalu dipakainya pakaiannya.

Setelah itu ditulisnya pula sepucuk surat, untuk guru dan

teman sejawatnya yang demikian bunyinya:

Sekalian guru dan teman sekolah hamba!

Janganlah Tuan-tuan heran bila mendengar kabar,

hamba dengan paksa telah membawa diri ke pintu

kubur. Tuan-tuan sekalian tentu maklum, bahwa

kehidupan tiap-tiap manusia di atas dunia ini tiada

sama. Ada yang beruntung, ada yang malang, ada

pula yang berganti-ganti beroleh kesenangan dan

kesusahan. Walaupun nasib mereka berlain-lainan,

tetapi ada juga yang bersamaan pada mereka, yaitu

maksud dan harapan yang ada pada tiap-tiap

manusia yang hidup. Bukankah tiap-tiap pekerjaan

itu ada sebab dan tujuannya? Akan tetapi, apabila

maksud itu telah hilang dan pengharapan telah

putus, apakah gunanya hidup lagi? Daripada

memenuh-menuhkan kampung, menghabis-habiskan

makanan dan menyusahkan orang, dengan tiada

berguna, baiklah mati.

Hal yang sedemikian, telah jatuh ke atas diri

hamba. Oleh sebab itu, pada sangka hamba, tak ada

gunanya hamba hidup lama lagi di atas dunia ini.

Hamba harap cukuplah ini bagi Tuan-tuan untuk

mengetahui sebab perbuatan hamba ini. Sungguhpun

hamba berbuat begitu, hamba pohonkan siang dan

malam, janganlah ada di antara teman-teman

hamba, yang berniat hendak meniru perbuatan

hamba ini dan terjauh jugalah hendaknya mereka

daripada segala kecelakaan yang telah menimpa diri

hamba.

Kemudian hamba pohonkan banyak terima kasih

kepada sekalian guru dan teman sejawat, atas

sekalian pelajararn dan kasih sayang, yang telah

dilimpahkan kepada hamba.

Sambutlah sembah sujud dan salam maaf dari

murid dan teman Tuan yang malang ini.

SAMSULBAHRI

Tambahan: Sekalian barang-barang dan perkakas

hamba, haraplah dibagi-bagikan kepada segala teman

sekolah hamba, untuk menjadi-tanda mata dari

hamba.

Setelah dilipatnya surat ini, diletakkannya di atas meja

tulisnya, lalu pergilah ia membuka lemarinya, mengambil suatu

benda yang kecil. Setelah diperiksanya benda itu baik-baik,

dimasukkannyalah ke dalam kocek celananya. Kemudian

dibukanya pintu biliknya, lalu ke luar. Di luar dilihatnya Arifin

hendak mengetuk pintu biliknya. Air matanya hendak keluar

pula, karena teringat, tiada berapa saat lagi, akan bercerailah ia

dengan sahabat karibnya ini.

Lama ia termenung memikirkan hal itu, sampai didengarnya

suara Arifin yang berkata sambil menghampirinya, "Alangkah

lamanya engkau tidur hari ini, Sam. Lihatlah matamu masih

merah! Kabar apa yang kau terima dari Padang tadi? Aku harap,

kabar baik."

"Ya," jawab Samsu dengan susah payah mengeluarkan

perkataan ..., Ibuku telah sembuh kembali."

"Syukur! Alangkah senangnya hatiku, mendengar kabar yang

baik ini! Tetapi surat kawat yang sebuah lagi dan siapa?" tanya

Arifin pula.

"Dari Mamanda, mengabarkan hal itu juga," jawab Samsu

seraya membuang mukanya ke pintu biliknya dengan segera,

supaya jangan kelihatan oleh Arifin dukacitanya.

Tatkala pintu bilik ini akan ditutupnya, diperhatikannyalah

biliknya ini dengan sekalian perkakas yang ada di dalamnya,

yakni segala benda, yang telah dipergunakannya sekian lama.

Setelah itu ditariknyalah pintu ini dengan keras, sebagai takut ia

lama-lama memandang sekalian perkakas yang akan ditinggalkannya

itu.

"Engkau hendak ke mana sekarang, Sam? Rupanya hendak

berjalan?" tanya Arifin.

"Ke kantor pos, akan memasukkan sepucuk surat untuk

ayahku," jawab Samsu.

"Tentulah akan membalas kawat tadi, bukan?"

"Ya," jawab Samsu dengan pendek.

"Jika demikian, marilah aku temani engkau ke sana, sebab

maksudku pun hendak berjalan-jalan juga," kata Arifin.

Samsu tiada dapat menjawab permintaan sahabatnya ini

dengan segera, sebab tak tahu, apa yang akan diperbuatnya.

Kalau dibawanya Arifin, tentulah tak dapat dilangsungkannya

maksudnya dan jika tak dikabulkannya permintaan ini, takut ia,

sahabatnya ini akan menduga niatnya; karena belum pernah ia ke

luar rumah, tidak bersama-sama dengan Arifn. Tampak seorang,

tampak keduanya.

Setelah berpikir sejurus, berkatalah ia, "Baik benar; tetapi di

kantor pos kita kelak harus bercerai, sebab ada maksudku yang

lain."

Walaupun Arifin heran mendengar jawab Samsu ini, karena

belum pernah ia berbuat sesuatu yang tiada boleh diketahuinya,

tetapi dengan tersenyum dijawabnya perkataan Samsu itu.

"Tentu aku tiada akan mengalangi engkau, bila engkau ada

keperluan yang lain."

. Meskipun ia tersenyum, tetapi hatinya tiada senang. Bukan

saja karena melihat perubahan kelakuan Samsu, tetapi karena

nyata kepadanya, tatkala menghampiri sahabatnya ini. Samsu

baru saja menangis. Tambahan pula, bila benar kabar yang baru

diterimanya, menyatakan ibunya telah sembuh dari penyakitnya,

mengapakah dikawatkan dan dengan dua surat kawat sekali

sebagai suatu kabar yang amat penting dan segera. Mengapakah

tidak dengan surat biasa saja?

Oleh sebab itu ditetapkannyalah hatinya, hendak mengetahui

rahasia ini. Takut ia, kalau-kalau karena mendapat sesuatu

kesusahanlah, maka sahabatnya sampai menangis. Dalam hal itu,

tentulah akan dicobanya melipur duka nestapa Samsu.

Di tengah jalan khawatir Arifin ini makin bertambah-tambah,

sebab dilihatnya Samsu sebagai seorang yang sedang memikirkan

sesuatu hal yang sangat penting; karena acap kali tiada

didengarnya perkataan Arifin dan jawabannya pun banyak yang

salah, bila ia bertanyakan barang sesuatu kepadanya. Dan lagi

apakah sebabnya lama benar dipandang Samsu mukanya tadi?

Dan pintu biliknya ditutupnya dengan keras, sebagai orang

takut? Mengapa pula lama ia berhenti di muka sekolah, memperhatikan

sekolah itu, sebagai orang yang baru melihatnya?

Tiada berapa lamanya berjalan itu, sampailah kedua mereka

ke kantor pos. Segera Samsu menghampiri tempat memasukkan

surat, lalu mengeluarkan surat yang hendak dikirimkannya

kepada ayahnya itu dari dalam koceknya. Lama dipandangnya

surat itu, sebagai ia memperhatikan alamatnya, barulah

dimasukkannya perlahan-lahan ke dalam lubang surat, seolaholah

sayang ia rupanya hendak mengirimkannya.

Sekalian kelakuan Samsu ini diintip oleh Arifin dari sisinya,

sambil pura-pura membaca suatu surat yang tergantung di

dinding kantor pos itu. Tiba¬tiba menolehlah ia kepada

sahabatnya ini, sebab didengarnya Samsu berkata, "Sekarang

engkau jangan marah, Rif, sebab aku akan meninggalkan

engkau. Bukan karena tak suka berjalan bersama-sama dengan

engkau, hanya sebab aku telah berjanji, akan pergi ke rumah

seorang tuan, seorang diri saja; jadi kurang baik, bila aku bawa

engkau, dengan tiada memberi tahu lebih dahulu kepada yang

punya rumah. Kelak, bila aku pergi pula ke sana, tentulah akan

kuminta kepadanya, supaya kita boleh pergi bersama-sama ke

situ."

"Ah, tak jadi apa itu. Aku pun tentu tak berani ke sana, kalau

tiada dipanggil. Hanya kuharap, janganlah engkau lupa pulang

kelak, karena asyik bercakap-cakap," kata Arifin dengan purapura

tersenyum, supaya jangan syak hati Samsu kepadanya.

"Nah, Sam, aku harap engkau akan banyak beroleh kesukaan

dan kesenangan di sana!" kata Arifin pula, sambil keluar dari

kantor pos. Setelah sampai ke jalan besar, di muka kantor pos

itu, menolehlah ia kebelakang. Dengan terperanjat dilihatnya

Samsu masih berdiri di kantor pos itu sambil memandang ia

berjalan dan nyata tampak olehnya, air mata sahabatnya ini

berlinang-linang di pipinya, dengan tiada dirasainya rupanya.

Ketika itu barulah Samsu ingat akan dirinya, lalu

memalingkan mukanya dan berjalan cepat-cepat menuju arah ke

barat.

Melihat hal yang sedemikian, bertambah-tambahlah keras

sangka Arifin, Samsu berniat akan berbuat pekerjaan yang

penting, yang tiada boleh diketahui orang; siapa tahu barangkali

perbuatan yang boleh mencelakakan dirinya. Sekarang yakinlah

nyata kepadanya, bahwa segala perkataan Samsu tadi tiada

benar. Oleh sebab itu semangkin keraslah keinginannya hendak

mengetahui maksud sahabatnya ini dan kalau benar ia berniat

jahat, seboleh-bolehnya hendak dicegahnya.

Akan menyembunyikan dirinya, segeralah ia masuk ke dalam

suatu kedai, pura-pura hendak membeli apa-apa, tetapi sebenarnya

akan mengintai ke mana tujuan perjalanan sahabatnya itu.

Setelah nyata olehnya Samsu berjalan menuju ke barat dengan

tiada menoleh-noleh ke belakang, keluarlah Arifin dari kedai itu,

lalu mengikut Samsu dari jauh. Sebentar-bentar ia bersembunyi

di balik pohon kayu atau kereta, takut terlihat oleh Samsu, kalau

ia menoleh ke belakang.

Setelah beberapa lamanya berjalan itu, kelihatanlah olehnya

Samsu masuk ke dalam suatu kebun bunga dan di sana luputlah

ia dari pemandangan Arifin. Oleh sebab itu Arifin mempercepat

langkahnya, mengejar temannya. Akan tetapi tatkala ia sampai

ke kebun itu, tiadalah kelihatan olehnya Samsulbahri, karena hari

telah mulai gelap.

Hati Arifin berdebar dan khawatirnya bertambah-tambah,

sebagai ada sesuatu bahaya, yang mengancam sahabatnya.

Karena tak tahu ke mana akan dicarinya Samsu, berdirilah ia

sejurus akan mendengarkan, adakah bunyi orang berjalan atau

tidak. Tetapi lain daripada ribut di jalan besar, tiadalah

kedengaran apa-apa olehnya. Sebab itu berjalanlah ia cepat-cepat

ke sana kemari, sambil memandang ke kiri dan ke kanan.

Setelah sejurus ia mencari, kelihatanlah olehnya dari jauh

sebagai orang duduk di atas sebuah bangku, membelakang

kepadanya. Tangannya yang kanan diangkatnya ke kepalanya,

seperti hendak memberi tabik. Tatkala diperhatikan Arifin benarbenar

orang ini, nyatalah yang duduk itu Samsu, yang sedang

mengacungkan sebuah pestol ke kepalanya. Dengan tiada

berpikir lagi menjeritlah ia, "Samsu, ingat akan dirimu!" sambil

melompat memburu sahabatnya itu.

Akan tetapi terlambat, karena tatkala itu juga didengarnya

bunyi pestol dan dilihatnya Samsu rebah ke bangku. Segera

Arifin lari ke bangku itu dan di sana dilihatnya sahabatnya ini

tiada ingatkan diri lagi dan kepalanya berlumuran darah. Arifin

tiadalah terkata-kata dan tak tahu apa yang akan diperbuatnya,

lalu berteriak minta tolong.

Tiada berapa lama kemudian, penuhlah orang di tempat itu

dan kabar orang menembak diri, pecahlah ke sana kemari. Polisi

datang akan memeriksa. Setelah diceritakan Arifin kejadian itu

dibawalah mayat Samsu ke rumah sakit.

Keesokan harinya tersiarlah di surat kabar, seorang muda

anak Padang, murid Sekolah Dokter Jawa telah menembak diri

di kebun kembang Jakarta. Entah apa sebabnya belum diketahui.

XIV. SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Walaupun waktu itu telah diberi berukuran, seperti detik, menit,

jam, hari, Jumat, bulan, tahun dan abad, tetapi tiadalah sama juga

ia pada yang setahun. Bagi kebanyakan orang, waktu itu

sesungguhnya setahun lamanya, yaitu 12 bulan atau 52 Jumat

atau 365 hari. Akan tetapi ada juga orang yang merasa waktu itu

365 X 24 jam atau 364 X 1440 menit lamanya dan akhirnya ada

pula yang meyangka setahun itu lebih lama lagi sebagai sepuluh

tahun atau seabad. Kebalikannya, ada pula yang berkata, waktu

yang setahun itu tiada seberapa lama, hanya sebulan atau sejumat

saja.

Orang-orang kaya, yang setiap hari beroleh kesenangan,

kesukaan dan kemuliaan dan seumur hidupnya belum pernah

merasai atau mengenal kesengsaraan, dan belum pula ditimpa

mara bahaya dan kecelakaan dunia, tentulah tiada akan merasai

perjalanan waktu itu. Bagi mereka, waktu itu sebagai melompat,

dari pagi ke petang, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun.

Pada orang yang mencari penghidupannya dengan harus

membanting tulang, atau orang yang asyik akan pekerjaannya,

waktu itu tiadalah sampai-menyampai. Orang inilah yang tahu

menimbang mahal harga waktu itu. Acap kali mereka mengeluh,

karena kekurangan waktu.

"Alangkah baiknya bila siang itu lebih daripada 12 jam

lamanya," katanya.

Akan tetapi bagi insan yang mengandung kedukaan dan

kesengsaraan atau dendam dan pengharapan, yang tak mudah

diperolehnya, terkadang-kadang waktu itu suatu penggoda yang

amat sangat tiada terhingga. Itulah sebabnya, maka sehari serasa

setahun, yang setahun serasa seabad.

Sungguhpun waktu itu tiada sama, pada perasaan tiap-tiap

manusia, tetapi janganlah alpa, bahwa waktu itu sangat mahal

'harganya, bila tahu menghargakannya dan sangatlah berpaedah,

bila tahu mempergunakannya. Terlebih-lebih, karena tiap-tiap

makhluk, telah ditetapkan waktu yang diperolehnya daripada

Allah taala, guna hidup di atas dunia ini. Bila waktu yang telah

diberikan itu telah dilalui, tak dapat tiada, haruslah makhluk itu

meninggalkan dunia ini, berpulang ke negeri yang baka. Pada

waktu itulah kebanyakan manusia baru insyaf akan dirinya dan

menoleh ke belakang, melihat jalan yang jauh, yang telah

ditempuhnya. Oleh mereka yang beruntung baik, tiadalah lain

yang dilihatnya sepanjang jalan itu, melainkan pohon rimbun

daun, yang melindungi sekalian yang lalu-lintas di situ, dari

panas matahari; serta pula beberapa tempat perhentian untuk

berteduh, melepaskan lelah. Buah-buahan yang lezat citarasanya,

yang menghilangkan lapar dan dahaga dan bunga-bungaan yang

cantik molek warnanya, yang menyedapkan pemandangan mata

dan yang harum baunya, menyegarkan perasaan badan, bergantungan

dan berkembangan pada segala tempat. Telaga yang

jernih dan sejuk airnya, terdapat sepanjang jalan.

Akan tetapi, mereka yang malang dan celaka, tiadalah lain

yang diperolehnya di jalan itu, melainkan panas terik atau hujan

lebat dan angin topan, yang disertai oleh kilat dan petir. Dan

adalah jalan itu sangat berbelok-belok, sehingga tak mudah

ditempuh serta turun-naik dengan susahnya. Oleh sebab itu

sebelum sampai kita ke ujung jalan ini, baiklah diingat, bahwa

jalan itu kelak akan ditempuh juga oleh anak cucu, kaum

kerabat, handai tolan kita atau sesama manusia. Bukankah

kewajiban kita, yang dahulu menempuh jalan ini, untuk berbuat

barang sesuatu, yang mendatangkan faedah kepada mereka

kelak, lebih-lebih kepada yang bernasib malang?

Tanamlah di pinggir jalan yang belum sempurna itu, pohonpohonan

yang rindang dan buah-buahan yang dapat dimakan.

Perbuatlah bangku-bangku tempat berhenti, galilah telaga yang

berair sejuk, adakanlah taman bunga-bungaan yang menyedapkan

pemandangan mata dan menyenangkan pikiran, serta ubahlah

jalan itu, supaya menjadi jalan yang datar dan lurus lagi

mudah ditempuh; jalan yang tiada memberi bahaya dan

keselamatan kepada barang siapa yang melaluinya. Apabila telah

sampai lagi, karena jalan itu tiada akan ditempuh pula.

Sepuluh tahun sesudah Samsulbahri menembak diri di

Jakarta, kelihatanlah pada suatu hari, kira-kira pukul lima

petang, dua orang posir, berjalan perlahan-lahan serta bercakapcakap,

menuju setasiun kerera api di Cimahi. Walaupun kedua

mereka itu sama-sama petah lidahnya berkata dalam bahasa

Belanda dan pakaiannya serupa pula, tetapi dari jauh, telah nyata

sangat berlainan. Yang seorang tubuhnya pendek dan gemuk,

tanda kuat tenaganya. Rambutnya perang, matanya biru, hidungnya

mancung, tiada bermisai atau berjanggut dan kulitnya pun

putih, menyatakan ia bukan anak negeri di sana, melainkan

bangsa di atas angin. Yang seorang lagi, badannya tinggi

semampai, tanda cepat dan lentuk; rambut dan matanya hitam

hidungnya sedang, bermisai dan berjanggut yang runcing dan

kulitnya kuning, menyatakan ia bangsa anak Indonesia. Lain

daripada itu adalah pula perbedaannya yang nyata benar

kelihatan, yaitu air muka kedua mereka itu. Opsir barat itu,

cahaya mukanya riang dan lucu; kelakuannya pun bersetujuan

benar dengan air mukanya, karena selalu bersukacita dan

berolok-olok, seolah-olah tidak dikenalnya kedukaan hati dan

kesusahan dunia, melainkan kesukaan dan keriangan itulah yang

selalu diingat dan dipikirkannya.

Katanya, "Apa gunanya aku berdukacita, bila dapat

bersukacita? Apa gunanya aku menangis bila dapat tertawa?

Bukankah menangis itu menyedihkan hati dan sedih itu

merusakkan badan? Tetapi tertawa menambah kesehatan tubuh.

Apalah gunanya sejengkal, dipikirkan sampai sedepa? Bukankah

lebih baik digulung, jadi pendek dan disimpul sampai mati?

Apakah gunanya dipikirkan hal yang akan terjadi pada esok

lusa, sebulan atau setahun lagi? Karena hal itu belum ada dan

belum tentu. Jika terjadi juga, bagaimana nanti saja. Ada umur,

ada rezeki. Dan lagi, apa faedahnya diingat juga sekalian yang

telah lalu? Bukankah barang yang telah terjadi, tiada dapat

diubah lagi, walau dikejar sekarang ini saja terjadi, tiada dapat

diubah lagi, walau dikejar dengan kuda sembrani sekalipun?

Tidakkah lebih baik hal yang sekarang ini saja yang dipikirkan

dan dibuat seboleh-boleh, supaya menjadi hal yang dapat

menyenangkan hati dan menyentosakan pikiran?"

Demikianlah pikir opsir putih itu. Segala kesusahan dan

kemalangan tiada diindahkan dan dipikirkannya benar-benar

melainkan kesukaan dan kesenangan itulah yang dicintainya.

Pikirannya ini benar juga, karena dalam pekerjaannya waktu itu

di mana sekalian keperluan hidup telah ada, memang dapat ia

berbuat sedemikian.

Sesungguhnya. tabiat yang semacam ini acap kali

menyenangkan hati, menggemukkan badan dan memudakan

rupa. Akan tetapi tiada sekalian orang dapat berbuat begitu.

Orang yang harus bekerja dahulu, baru mendapat sesuap nasi,

susah akan meniru kelakuan yang sedemikian; kerena halnya,

tiada seperti pada tentara; makanan, pakaian dan rumah tangga

telah tersedia. Sungguhpun demikian, baik juga barang sesuatu

itu dipikirkan dengan sempurna, karena: pikir itu pelita hati; asal

jangan dilebih-lebih. Sebab pikiran yang banyak dan bercabangcabang,

tiada dapat menyehatkan tubuh.

Jika dipandang muka opsir Bumiputra tadi, nyata kelihatan,

bahwa ia tiada seriang temannya, bahkan pendiam, sebagai

seorang yang telah tua fahamnya. Acap kali juga ia tersenyum,

bila sahabatnya tadi berolok-olok tetapi pada air mukanya terang

berbayang, bahwa ia seorang yang telah banyak menanggung

azab sengsara dan senantiasa digoda oleh suatu kedudukan, yang

tak dapat dilipur lagi.

Sungguhpun pada kedua mereka banyak yang sangat

berbeda, tetapi ada juga yang bersamaan. Lain daripada

pangkatnya, banyak tabiat dan kelakuannya yang sepadan,

misalnya: baik, lurus daq rendah hati, lagi berani. Sifat-sifat yang

sama inilah, yang mempertalikan mereka, sehingga jadi

bersahabat karib. Walaupun percampuran keduanya baru enam

bulan, tetapi tali silaturrahim antara mereka, telah sangat teguh,

sebagai persahabatan yang sudah bertahun-tahun lamanya.

"Alangkah baik hari ini! Segar rasanya badanku berjalan

jalan." kata opsir Barat.

"Sungguh katamu itu, Yan," jawab opsir Bumiputra, "karena

hari baru hujan, tiada terlalu lebat, sehingga lumpur tak ada,

tetapi debu hilang. Ke mana kita berjalan-jalan?"

"Marilah kita ke setasiun kereta api dahulu, kemudian

berputar lalu ke ruinah bola," jawab Letnan Yan Van Sta.

"Baiklah," jawab Letnan Bumiputra.

"Tadi pagi ke mana engkau pergi dengan serdadumu, Mas?"

tanya Yan Van Sta.

"Menembak, ke padang pembedekan," jawab Letnan Mas.

"Siapa yang beroleh ros?" *) tanya Van Sta pula.

"Ada beberapa orang: Vander Ha, de Kuip, Lewikawang,

Mahutu, Suwoto dan Prawira," jawab Mas.

"Memang kudengar, mereka pandai benar menembak. Acap

kali mendapat ros."

"Tangan dan hati mereka rupanya tetap, tiada gemetar, dan

pemandangannya pun tajam. Itulah sifat-sifat yang terutama

sekali bagi orang yang masuk golongan bala tentara. Dengan

serdadu sedemikian, mudali merampas benteng yang kukuh dan

mengalahkan musuh yang kuat. Telah kurasai sendiri, tatkala aku

di Aceh."

*) Pusat pembedekan (alamat).

"Nah, kejadian itu nanti kuceritakan kepadaku, Mas! Banyak

pendengaran, banyak pula pengetahuan. Itulah sebabnya maka

aku tak putus-putus bertutur dan bercakap-cakap dengan

engkau."

"Baiklah," jawab Mas dengan tersenyum. "Nanti, bila kita

telah duduk bersenang-senang di rumah bola atau rumah sendiri!

Tetapi cerita ini, hanya cerita peperangan yang biasa saja."

"Biar bagaimanapun biasanya, acap kali banyak juga

pelajaran yang dapat dipetik dari dalamnya; terlebih-lebih bagiku

yang baru datang ke Indonesia ini. Aku belum tahu adat dan

peraturan orang di sini," kata Van Sta.

"Hai,dengan tiada kita ketahui, kita telah ada di setasiun.

Marilah kita masuk sebentar, sebab kebetulan ada kereta api

yang hendak ke Bandung. Barangkali ada kupu-kupu Bandung,

yang hendak pulang ke sarangnya," kata Van Sta pula, sambil

tersenyum.

"Walaupun ada hendak kauapakan? Sebab ia dalam

perjalanan. Masakan dapat dipegang, burung di udara'."jawab

Mas.

"Dengan tangan tentu tidak, sebab tentulah tanganku harus

berpuluh meter, panjangnya. Tetapi dengan pemegangnya,

misalnya bedil atau jerat. Dan biar tak dapat memegangnya,

melihat pun cukuplah. Mata pun hendak senang pula," jawab

Van Sta.

Maka masuklah kedua mereka ke dalarn setasiun. Di sana

seNungguuhnya kelihatan oleh mereka, seorang nona yang

cantik parasnya, duduk seorang diri di kelas satu.

"Nah, apa kataku!" bisik Van Sta kepada Mas. "Memang tak

salah sangkaku. Lihatlah olehmu bidadari yang duduk di kelas

satu itu. Alangkah manis pemandangan matanya. Lihat!

Ditentangnya aku. Matilah gua*)."

Ketika itu, berbunyilah lonceng tiga, dan tiada berapa saat

kemudian, keluarlah kereta api dengan mengembus ke kiri ke

kanan, dari setasiun Cimahi, menuju Bandung, diikuti dengan

mata oleh Letnan Van Sta.

"Hai, Mas, bila kita pergi ke Bandung? Aku telah beberapa

lamanya tiada tamasya ke sana," kata Van Sta dengan tiba-tiba,

tatkala permainan matanya telah lenyap dari pemandangannya,

seraya mengajak sahabatnya ke luar setasiun.

"Bila saja engkau suka, aku menurut" jawab Mas.

"Malam Ahad ini,' kata Van Sta pula.

"Baik," jawab Mas. "Tetapi Yan, mengapakah engkau tiada

hendak beristri. Bukankah lebih baik beristri, daripada

membujang sedemikian ini?"

"Aku beristri?" tanya Van Sta dengan tersenyum, sambil

menunjuk dadanya. "Ha ha, ha! Yang akan menjadi istriku itu,

* Saya

belum ddahirkan lagi."

"Mengapakah begitu'? Masakan tak ada perempuan yang

baik bagimu?" kata Mas.

"Jika aku mencari istri, bukan kecantikannya saja yang

kupandang, tetapi yang terutama bagiku, ialah kelakuan dan

kesayangannya kepadaku karena aku kawin, bukan sebab hendak

berperempuan, tetapi sebab hendak beristri. Perempuan mudah

diperoleh, tetapi sukar didapat. Yang cantik banyak di jalan,

yang baik susah dicari. Bagiku biar buruk, asal baik, biar bodoh

asal pandai."

"Hai, hai! Apa pula artinya itu?" jawab Mas. "Masakan yang

buruk itu boleh baik dan yang bodoh itu pandai pula. Ada-ada

saja peribahasamu."

"Boleh, mengapa tidak? Sebab buruk dan baik itu hanya

perkataan orang. Jika buruk dikatakan, menjadi buruklah ia, dan

jika baik dikatakan, menjadi baiklah pula ia. Misalnya nona tadi,

jika dibandingkan dengan orang yang cantik-cantik di Eropa,

buruk kata kita; tetapi jika dibandingkan dengan orang Papua,

amat cantik ia, kurang baik rupanya asal kelakuannya dan

hatinya baik kepadaku; biar kurang pandai dalatu ilmu yang lainlain,

asal cakap mengurus aku dan anakku serta rumah

tanggaku."

"Benar katamu itu, Yan. Pikiranku pun demikian pula,"

jawab Mas.

"Akan tetapi meskipun ada yang seperti itu waktu ini

belumlah juga aku hendak kawin."

"Mengapa tidak?" tanya Mas.

"Kawin itu adalah suatu perkara yang penting, terlebih-lebih

bangsa Eropa; sebab kami terikat oleli beberapa perjanjian,

sehingga tak mudah bercerai. Bila dapat yang sesungguhnya

baik, sudahlah. Tetapi jika tidak, bagaimana?"

"Itulah gunanya bertunangan dahulu, supaya yang seorang

kenal benar yang lain, bukan?"

"Benar, walaupun tiada selamanya memadai; karena terkadang-

kadang dalam bertunangan itu, bukan kelakuan dan hati

sejati, yang diperlihatkan, melainkan kedua-duanya bermain

komidi, sehingga sesudah kawin, baharulah diketahui, bahwa

mereka sama-sama tertipu. Akan tetapi yang menjadi alangan

besar bagiku, ialah karena badan terikat, apalagi telah kawin;

bukan untuk sementara, melainkan untuk hidup.

Sesungguhnya beristri itu ada kebaikannya, tetapi kejahatannya

ada pula. Kebaikannya yaitu: kehidupan tetap, uang jika

habis pun ada bekasnya, rumah tangga terpelihara, yang suka

beranak, dapat beroleh anak akan penghiburkan hatinya. Istri

yang baik, memang terlebih menyenangkan daripada menyusahkan

suaminya. Tetapi kejahatannya yang amat sangat bagiku,

yaitu kita tidak bebas lagi; segala kehendak hati tak dapat

diturutkan. Terkadang-kadang harus minta izin pula kepada si

nyonya, kalau hendak berbuat apa-apa. Dan jika dapat istri yang

cemburu, sudah, rusuhlah negeri! Dan terikatlah kaki tangan."

"Tetapi, Yan, cemburu itu bukankah tanda cinta? Bila engkau

tiada cinta kepada istrimu, masakan engkau cemburu? Tentu

katamu: Biar diambil orang, aku tak perduli; kucari yang lain,"

kata Mas.

"Benar, tak salah katamu itu! Tetapi kalau terlalu cemburu,

menjadi tak baik juga. Enakkah itu, apabila tak boleh berkatakata

dengan atau melihat perempuan lain? Tak boleh berjalan ke

rumah bola atau ke mana-mana?"

'"Ah, kalau terlalu, tentulah menjadi buruk. Segala yang

terlalu memang tak baik. Terlalu penuh melimpah, terlalu baik

dipermainkan orang, kata pepatah Belanda."

"Benar, benar, benar! Itulah sebabnya, maka aku tak hendak

beristri sekarang ini. Jika dapat istri yang sedemikian, celakalah

aku. Bila aku telah tua kelak, hendak dikurung pun boleh, tetapi

tatkala masih muda ini, masih cinta aku kepada kemerdekaan:

tak hendak aku diikat-ikat perempuan. Bila telah puas membujang,

biarlah terikat."

"Bila engkau telah tua, perempuan mana pula yang Ian suka

mengikut engkau? Yang suka kepadamu pun barangkali tak ada

lagi," kata Mas, sambil tertawa. "Tambahan pula, apabila engkau

telah tua, tentu tak diikat lagi, sebab biasanya yang tua itu tak

suka lari, karena kakinya telah lemah dan ia tak kuat berjalan

lagi. Yang diikat itu, ialah yang muda, yang kakinya masih kuat

akan melarikan dirinya..."

"Aha, itulah yang kusukai, Mas!" jawab Van Sta. "Makin

lama, engkau makin riang. Barangkali tadi malam engkau dapat

mimpi yang baik. Itulah yang sebaik-baiknya. Nyahkan segala

waswas dan pikiran yang kusut, ganti dengan kesukaan! Turutlah

fahamku, riang selama-lamanya. Hidup keriangan!"

"Sungguhpun dernikian, hidup sendiri-sendiri, bukanlah

hidup sejati,"

kata Mas pula, sebagai tak mengindahkan kesukaan hati

sahabatnya. "Sebab perempuan harus bersuami dan laki-laki

harus beristri. Bukankah kewajiban sekalian makhluk yang

hidup, mengembangkan bangsanya? Bagaimanakah akhirnya

dunia ini, bila sekalian orang hendak hidup bebas, sebagai

engkau?"

"Di tanah Eropah telah mulai banyak yang berbuat begitu,"

jawab Van Sta.

"Ya, tapi pikiran yang sebagai itu, tak hendak kawin seumur

hidup, tak dapat kubenarkan. Bila ada sesuatu cacat di badan,

misalnya penyakit atau celaan yang lain, sudahlah; tak mengapa.

Tetapi jika membujang itu, karena hendak menurutkan kesukaan

hati saja, kurang baik. Bagaimanakah jadinya manusia itu

kelak?"

"Jadinya, ialah laki-laki dan perempuan terlebih merdeka

daripada sekarang ini dalam perkara perkawinan. Jika hendak

berhubung atau bercerai dengan siapa pun, dapat pada sebilang

waktu, dengan tiada ada alangan apa-apa, asal suka sama suka."

"Ya, itulah yang hendak kukatakan! Bukankah itu yang

dinamakan percintaan rahasia atau percintaan b9bas, bukan?

Yaitu perhubungan antara laki-laki dan perempuan, yang tiada

dipertalikan oleh perkawinan? Perempuan tak tentu suaminya,

laki-laki pun tak tentu istrinya; masing-masing hidup dengan

kekasihnya. Bila telah jemu dengan yang seorang, dibuang,

dicari pula yang lain. Dan anak yang dilahirkan, tak tentu

bapanya. Wahai! Kalau begitu, akhirnya berbaliklah kita kepada

zaman purbakala, tatkala manusia belum berpakaian, hidup

biadab sebagai binatang."

Tatkala itu sampailah kedua letnan ini ke rumah bola, lalu

duduk di luar, di tempat yang sunyi.

"Perhatikanlah dahulu. perbantahan kita ini," kata Van

Sta,."dan katakan¬lah apa yang hendak kauminum?"

"Wiski soda," jawab Mas.

Van Sta lalu meminta dua gelas wiski soda kepada bujang

iumah bola.

Sementara itu Letnan Mas mengeluarkan serutunya; sebatang

diberikannya kepada sahabatnya dan sebatang diisapnya sendiri.

Setelah datang minuman yang diminta mereka, rriin`umlah

keduanya.

"Sebuah lagi yang tak dapat kubenarkan pikiran perempuan

dewasa ini, yaitu hendak menjabat pekerjaan laki-laki dan

bekerja sebagai laki-laki. Kalau sekalian perempuan berbuat

demikian, apakah kelak akan pekerjaan laki-laki? Harus ke

dapurkah mereka, mengurus rumah tangga dan menjaga anak?

Berbalik hujan ke langit.

Bertambah besar bahayanya, karena kebanyakan orang yang

memberi pekerjaan, suka memakai perempuan; sebab perempuan

mau menerima gaji sedikit. Itulah suatu hal yang menambahkan

perempuan tak suka bersuami. Pikirannya, apakah gunanya

bersuami lagi, karena pendapatan telah cukup untuk kehidupan?

Akan tetapi adakah benar pikiran ini? Kita hidup di atas dunia

ini, tak boleh dengan mengingat keperluan diri sendiri saja,

melainkan harus juga mengingat keperluan umum. Sebagai

seorang laki-laki, harus mempunyai kewajiban atas anak dan

istrinya, sehingga tak boleh membela dirinya sendiri saja,

demikian pula tiap-tiap manusia, harus berkewajiban atas

sesamanya manusia.

Pada sangkaku pikiran perempuan tadi salah. Apa gunanya

perempuan menuntut kepandaian laki-laki dan memegang

pekerjaan laki-laki? Bukankah sesuatu pekerjaan itu ada

maksudnya? Dalam hal itu yang diutamakari ialah kehidupan

dan kesenangan. Apabila maksud ini dapat diperoleh dari suami,

apakah perlunya perempuan hendak mencari sendiri? Bukan aku

cemburu dan dengki, perempuan akan sepandai laki-laki; tidak

sekali-kali! Lebih dalam, lebih tinggi dan lebih banyak ilmu

perempuan, lebih baik, asal jangan lupa ia akan kewajibannya

yang asli."

"Apakah kewajibannya yang asli itu?" tanya Van Sta.

"Perkara anak, perkara rumah tangga dan perkara makanan."

"Benar, tetapi perempuan, lain pula katanya. Untuk menjaga

rumah tangga ada bujang, untuk memasak ada juru masak, untuk

menjahit ada tukang jahit, untuk menjaga anak ada babu, untuk

mencuci ada tukang cuci dan untuk menjaga kebun ada tukang

kebun. Masakah sekalian itu ia sendiri yang harus mengerjakannya?"

"Tentu tidak. Akan tetapi meskipun ada bujang, juru masak

babu dan lain-lain, perempuan, harus juga faham dalam segala

hal itu, karena sekalian orang-orangnya tadi sekadar pekerja,

yang harus bekerja, yang akan mengatur dan memerintah,

tentulah ia sendiri. Dapatkah didikan anaknya, diserahkannya

kepada babunya yang bodoh itu?

Lagi pula perkara berbujang, berjuru masak, berbabu itu,

hanya dapat dilakukan oleh orang yang mampu saja, walau

bangsa Eropah sekalipun. Jika tak dapat berbuat sedemikian,

bagaimana? Ingatlah, manusia itu terlebih banyak yang miskin

daripada yang kaya. Si laki-lakilah pula yang harus mengerjakan

pekerjaan babu, juru masak, tukang kebun dan lain-lain itu, bila

ia telah letih karena membanting tulang, pulang dari pekerjaannya?

Dan apakah pekerjaan si perempuan? Menjadi bunga dalam

rumah sajakah? Tak adil benar pembagian kerja yang seperti itu.

Herankah kita, bila laki-laki yang kurang maju, kelak akan takut

beristri dan berpikir pula, "Apakah faedahnya aku beristri, jika

akan menambah susah badanku sendiri dan tiada dapat

menolongku dalam kehidupanku sehari-hari? Lebih baik aku

membujang, karena jika perempuan itu saja, banyak di jalan."

Kalau demikian, bukankah jadi bertambah dalam, jurang

yang menceraikan laki-laki dengan perempuan.

Bila laki-laki itu kaya, seharusnyalah ia memenuhi segala

keinginan istrinya dan haruslah ia menjadikan perempuan, putri

dalam istana. Akan tetapi jika laki-laki itu sungguh tak cakap

mengadakan sekalian permintaan istrinya, janganlah dipaksa.

Keadaan suaminya harus ditimbang juga oleh perempuan.

Jangan membuta tuli, mengingat yang senang untuk diri sendiri

saja!"

"Ya, tetapi perempuan bersuami, karena hendak mendapat

penghidupan dan kesenangan pula. Jika akan susah juga, apa

gunanya bersuami? Lebih baik bekerja, mencari penghidupan

sendiri," jawab Van Sta.

'"Inilah yang hendak kukatakan. Pikiran semacam inilah yang

tak boleh ada, baik pada laki-laki ataupun pada perempuan;

sebab itulah tanda mereka hanya mengingat keperluan sendiri

saja, tiada mengindahkan keperluan bersama. Kalau diteruskan

peraturan yang begitu, tentulah akan bermusuh-musuhan suami

dengan istri dan akhirnya akan terjadilah peperangan antara

perempuan dengan laki-laki. Itulah sebabnya maka aku

sesungguhnya khawatir, kalau kepandaian segenapnya

diturunkan kepada perempuan dengan tiada mengindahkan

keadaan dan kewajiban perempuan. Sebab karena kepandian itu,

bukannya menjadi benar, melainkan menjadi salah pikiran;

misalnya tak dapat hidup cara biasa lagi, sebagai adatnya

sediakala melainkan hendak hidup besar. Bercampur, dengan

orang biasa saja tak dapat pula. Jika hendak bersuami, haruslah

yang kaya atau yang berpangkat tinggi Tetapi sebab laki-laki itu,

lebih-lebih pada bangsaku, belum banyak yang sedemikian,

tentulah perempuan yang telah pandai itu akan lari kepada

bangsa lain, umpamanya kepada bangsamu atau bangsa Cina,

sehingga akhirnya akan hilanglah bangsa sendiri. Dan jika

sekalian perempuan, yang telah terpelajar berbuat begitu apakah

yang tinggal pada bangsanya sendiri dan bagaimanakah akhirnya

bangsaku itu? Siapakah yang akan memajukannya lagi?

Sesungguhnya tak baik perempuan atau laki-laki menaruh

pikiran hendak hidup sendiri-sendiri, berebut-rebutan pekerjaan,

atas mengatasi kepandaian dan bermusuh-musuhan dalam

penghidupan, karena laki-laki dan perempuan itu satu, tak boleh

bercerai, harus tolong-menolong. Laki-laki perlu kepada

perempuan dan perempuan perlu pula kepada laki-laki. Bukankah

telah dikatakan dalam bahasa Belanda: seia sekata itu mendatangkan

kekuatan, akan tetapi perselisihan itu memecah belah

tenaga. Peperangan kehidupan di atas dunia ini memang tak

mudah. Apa gunanya diperbuat lagi dengan perselisihan antara

perempuan dan laki-laki?"

"Memang, memang," jawab Van Sta, sambil meminum wiski

sodanya.

"Ada lagi yang masih terasa di hatiku," kata Mas, setelah

meminum wiskinya pula.

"Apa itu?"

"Yaitu tentang pelajaran anak perempuan bangsaku. Oleh

sebab kewajiban perempuan memang tiada sama dengan

kewajiban laki-laki, pada pikiranku tak perlu segala ilmu lakilaki

dipelajari oleh perempuan. Laki-laki pun tak perlu pula

mempelajari kepandaian perempuan, yang tak perlu baginya,

misalnya ilmu menjahit atau memasak, kalau ia tiada harus

menjadi tukang jahit atau tukang masak. Apa gunanya

kepandaian insinyur dan hakim misalnya bagi perempuan?

Bukankah lebih baik dipelajarinya kepandaian yang berguna

baginya?

Aku katakan sekalian itu kepadamu, Yan, sebab sesungguhnya

hatiku khawatir perempuan Indonesia ini dengan buta tuli

meniru segala aturan dan pikiran perempuan Eropah, dengan

tiada menimbang baik-baik, sebenarnyakah berguna sekalian

aturan dan pikiran itu bagi perempuan di sini? Pada pikiranku,

tidak sekalian yang baik bagi perempuan Eropah, baik pula bagi

perempuan Indonesia. Ada yang baik di sana, tak baik di sini dan

kebalikannya ada yang berguna di sini tak berguna di sana. Yang

sesungguhnya baik ambillah, tirulah dan pakailah!"

"Baiklah Mas! Sekalian pikiranmu telah kudengar, hanya ada

suatu yang belum kuketahui. Tadi engkau suruh aku beristri dan

kaucacat niatku hendak membujang, tapi mengapakah engkau

sendiri tiada hendak beristri?"

Mendengar pertanyaan ini, terkejutlah Letnan Mas Wiski

yang diangkatnya ke mulutnya, tiada jadi diminumnya,

melainkan diletakkannya kembali, lalu termenunglah ia sejurus

lamanya, tiada berkata-kata. Kemudian menunduklah ia dan

tatkala itu jatuhlah setitik air mata kepangkuannya.

Van Sta sangat heran melihat kelakuan sahabatnya ini, karena

tiada diketahuinya, apakah sebabnya ia tiba-tiba jadi demikian.

Oleh sahabat itu bertanyalah ia, "Apakah sebabnya engkau

sekonyong-konyong berdiam diri. Mas? Tak enakkah badanmu?"

"Bukan begitu," jawab Mas, seraya mengangkat kepalanya

kembali. "Sudahlah, jangan kautanyakan lagi hal itu! Tak apaapa."

Sebab nyata oleh Van Sta, muka Mas sesungguhnya menjadi

muram, karena mendengar pertanyaan tadi, tiadalah hendak

dipanjangkannya perkara itu, lalu diputarnya haluan percakapannya.

"Telah sepuluh tahun lamanya aku masuk bala tentara, mulai

di Aceh. Bagaimana ceritanya?"

"O, ya" jawab Mas. Sungguhpun dicobanya hendak

melenyapkan muram durja yang terbayang di mukanya, tetapi

tiadalah dapat, karena pikiran, yang menyebabkan ia bermuram

durja, tiada hendak hilang dari kalbunya; adalah sebagai luka

lama yang hampir sembuh, terbuka kembali. "Hampir lupa aku

akan janjiku itu. Dengarlah! Tetapi baiklah kumulai menceritakan

halku dahulu supaya terang ceritanya ini. Hanya kuminta

kepadamu, janganlah engkau gusar mendengar cerita ini, karena

banyak mengandung kesedihan."

Dalam berkata-kata itu, rupanya muka Letnan Mas, makin

lama makin bertambah muram, sehingga segala keriangan hatinya

tadi, tiadalah kelihatan sedikit juga lagi.

"Pada mukaku tentu telah nyata kepadamu, aku ini bukan

bangsa Eropah, melainkan anak Indonesia," demikian permulaan

cerita Letnan Mas.

"Tadi engkau berjanji akan menceritakan peperanganmu dari

serdadu sampai kepada pangkatku sekarang ini. Aku masuk jadi

bala tentara ini bukan karena apa, hanya karena hendak ..." di

situ terhenti Letnan Mas bercakap, sebagai tak dapat ia

mengeluarkan perkataannya ..." mencari kematian."

"Apa katamu?" tanya Van Sta dengan takjub.

"Mencari kematian, kataku," jawab Mas dengan sedih.

"Tetapi sekarang, belumlah kuperoleh maksudku ini. Rupanya

benar kata pepatah Melayu: sebelum ajal, berpantang mati.

Telah beberapa kali kucoba hendak mendapat maut, tetapi

ada-ada saja alangannya, sehingga tak sampailah maksudku.

Barangkali belum boleh aku meninggalkan dunia ini, sebelum

aku menyampaikan janjiku. Oleh sebab itu tawakal aku, sambil

menunggu waktu itu. Ketika itulah kuketahui benar, bahwa

manusia tak dapat berbuat sekehendak hatinya, jika tiada dengan

gerak Tuhan. Berapa orang yang tiada hendak mati, karena takut

atau karena masih perlu hidup, tetapi dicabut nyawanya. Tetapi

aku ini yang beringin benar akan maut itu dan di atas dunia ini

tiada berguna lagi, masih dipeliharakan.

Barangkali engkau tiada percaya ceritaku ini, dan bersangka,

bahwa aku sangat percaya kepada segala takhyul. Atau engkau

berpikir, bila kutembak kepalaku, tentulah aku mati; tiada siapa

dapat melarang. Itu pun telah kucoba, tetapi ada saja yang

melepaskan aku dari bahaya. Lihatlah, ini tandanya di kepalaku,

bahwa aku telah menembak kepalaku."

Lalu Letnan Mas memperlihatkan suatu tanda luka, pada

kepalanya sebelah kanan.

"Pada suatu hari hendak kugantung diriku. Terlebih dahulu

kuperiksa tali dan tiang tempat aku akan menggantung diriku itu,

karena aku takut kalau-kalau tiada berhasil pula pekerjaanku.

Rupanya tali dan tiang itu kuat; tetapi apakah sebabnya, tatkala

aku tergantung di sana, tiang itu patah, roboh bersama-sama aku

ke tanah, sehingga maksudku itu tiada sampai pula. Ketiga

kalinya hendak kumakan racun. Akan tetapi ketika gelas itu

sampai ke mulutku, berbunyilah bedil musuh yang ditembakkannya

kepadaku. Pelurunya melalui jendela kacaku dan menghancurkan

gelas yang ada dalam tanganku. Keempat kalinya aku

terjun ke dalam air, pada tempat yang kusangka sunyi. Tetapi

mengapakah tiada kelihatan olehku, di sana ada orang mengail

tersembunyi di tempat gelap! Si pengail itulah yang menolongku,

tatkala aku akan tenggelam. Lain daripada itu membabi buta

dalam peperangan. Itu pun tak juga menyampaikan hajatku,

karena aku sampai sekarang belum mati, melainkan bintanglah

yang diberikan kepadaku, sebab sangka orang, aku gagah berani

dan dinaikkanlah pula pangkatku sampai menjadi letnan."

"Memang keberanaianmu dan hadiah yang kauperoleh dari

Pemerintah, acap kali dipercakapkan orang."

"Bukan sebab keberanian dan kegagahanku, maka aku

beroleh hadiah dan pangkat itu; hanya semata-mata karena

untung. Kepadaku yang tiada beringin apa-apa lagi, diberikan

pangkat dan hadiah ini.

Kepada orang lain yang bercinta akan anugerah itu, tiada

diberikan bukan...? Sekarang tentulah maklum engkau, apa

sebabnya aku tiada beristri.

Orang yang putus asa, sebagai aku tak boleh beristri. Apakah

jadinya kelak dengan anak dan istriku, bila kuperoleh keinginan

hatiku tadi?"

"Tetapi siapa tahu, barangkali, dapat dilipur oleh anak dan

istrimu."

"Tak boleh, tak boleh aku berbuat demikian! Karena aku

telah bersumpah, selekas-lekasnya akan meninggalkan dunia

ini."

Maka termenunglah pula Letnan Mas, sedang air matanya

pun berlinang-linang kembali.

"Sangat ajaib ceritamu ini!" kata Van Sta dengan sangat

sedih melihat hal temannya. Sebenarnya ingin hatinya hendak

mengetahui, apa sebab sahabatnya ini, jadi putus asa sedemikian

itu. Tetapi tiadalah berani ia bertanya, karena terasa olehnya,

tentulah sebabnya itu sangat penting; barangkali melukakan

hatinya pula, apabila disuruh menceritakan. Karena itu

diputarnyalah haluan percakapan itu.

"Tetapi perkara peperangan itu, bagaimana pulakah?" tanya

Van Sta akan membawa Mas dari kenang-kenangan yang menghancurkan

hatinya.

"Ah, ya; kejadian itu belum juga lagi kuceritakan. Demikian

riwayatnya. Akan tetapi ada suatu yang hendak kupinta kepadamu

sebelum kita meninggalkan perkara yang sedih ini, yakni

janganlah kaubukakan rahasiaku ini kepada orang lain. Engkaulah

baru sahabatku yang mengetahui halku ini."

"Masakan gila aku akan menceritakannya, bila tak boleh,"

jawab Van Sta.

"Dengarlah," kata Letnan Mas. "Pada suatu hari, tatkala aku

di Aceh, dapatlah aku perintah pergi memeriksa beberapa

kampung dekat Sigli, dengan tiga puluh orang serdadu marsose,

karena kabarnya di sana banyak musuh membuat ribut, dikepalai

oleh Teuku Putih. Penunjuk jalan kami, rupanya belum tahu

benar jalan-jalan di sana; jadi sesatlah kami. Ketika hampir

malam, belum juga dapat jalan pulang.

Kira-kira pukul tujuh malam bertemulah kami dengan bala

tentara Teuku Putih, lebih kurang 150 orang banyaknya. Mulamula

sangkaku musuh tiada sebanyak itu, karena hari gelap, tak

dapat ditaksir. Oleh sebab itu kukerahkanlah serdaduku ke muka,

mengadang musuh, lalu berperanglah kami dengan bedil, amat

ramainya. Belum berapa lamanya berperang, nyatalah kepadaku,

bahwa kami telah tertutup dart muka, kiri dan kanan. Sejurus

kemudian, terdengar bunyi bedil dari belakang.

Tatkala diketahui oleh serdaduku, bahwa kami telah tertutup

gemparlah mereka, karena tak tahu, apa hendak diperbuatnya.

Ada yang hendak lari, ada yang tak mau mendengar perintah

lagi. Hanya adalah kira-kira sepuluh orang yang masih setia

kepadaku. Kataku kepada serdaduku yang sepuluh itu, "Jangan

alang kepalang! Jika akan mati pun, biarlah karena berkelahi,

jangan karena diazab musuh dalam tawanan. Sandang bedilmu

dan cabutlah kelewangmu, maju ke muka, sambil tertempik.

Hanya satu jalan yang dapat menolong kita, yaitu keluar dari

lingkungan musuh ini."

"Baiklah," jawab sekalian serdadu yang setia itu, lalu bertempiklah

kami, menyerukan diri dengan kelewang, kepada

musuh yang di muka. Mujur! Sekalian serdadu yang telah

kehilangan akal tadi menurut pula, sehingga pecahlah perang

musuh di muka, undur ke kiri ke kanan.

Tatkala kami akan lari, kudengar musuh berteriak, "Kafir

hitam, Mas! Kafir hitam, Mas!"

Rupanya telah dikenalnya namaku. Lagi pula dalam

peperangan itu Teuku Putih kena kelewang serdaduku. Oleh

sebab itu undurlah musuh selangkah-selangkah, sehingga akhirnya

tiada kedengaran lagi suara bedilnya. Sesudah berperang,

kuhitunglah serdaduku; tinggal 16 orang yang masih dapat

berkelahi. Dan yang 14 orang lagi 10 orang mati dan 4 orang

luka parah. Aku dengan beberapa serdadu yang setia tadi luka

juga, tetapi tiada berbahaya. Karena aku khawatir akan diserang

musuh pula, berikhtiarlah aku hendak pulang, tetapi tak tahu

jalan. Kebetulan di antara orang Aceh yang tinggal di sana, ada

seorang yang luka kakinya, tak dapat lari. Aku tanyakanlah

kepadanya ke mana jalan pulang serta berjanji akan memberi

hadiah kepadanya, bila ia berkata benar, dan akan menderanya,

bila ia berbuat bohong. Orang itu mau mengabulkan permintaanku

itu, asal aku menetapi janjiku.

Setelah kuperiksa benar-benar sekalian serdadu yang telah

rubuh itu dan nyata sesungguhnya mereka telah mati, barulah

aku pulang. Keempat serdadu yang luka tadi, kami usunglah berganti-

ganti.

Tiada lama berjalan itu, sampailah kami ke jalan yang kami

kenal dan tiada berapa lamanya kemudian daripada itu, sampailah

kami ke kota.

Orang Aceh yang luka tadi kuberi hadiah duit dan kulepaskan

di jalan, atas permintaannya. Ada juga kutanyakan kepadanya di

mana tempat Teuku Putih, tetapi katanya ia tiada tahu, sebab

pada sangkanya Teuku itu tak bertempat diam yang tetap,

melainkan mengembara selama-lamanya.

Tatkala hampir sampai ke kota berhentilah kami sejurus, dan

kukatakanlah kepada serdadu yang hendak lari tadi, sekali itu

kuberi maaf kelakuan mereka, tetapi bila kemudian hari diperbuatnya

pula sedemikian, takkan tiada kubedil atau kutuntut

mereka. Sekali itu dengan sengaja hendak kuperlihatkan kepada

mereka, bahwa dalam hal terdesak dan terkepung, hanya hati

yang tetap dan pikiran yang terang itulah, yang acap kali dapat

menolong. Sekalian mereka minta ampun dan bersumpah, tiada

lagi akan berbuat demikian.

Di Sigli itulah gelasku dibedil musuh, sebagai kuceritakan

tadi."

"Sesungguhnya hulubalang itu harus tetap hatinya; tak boleh

lekas hilang akal," kata Van Sta.

"Memang! Sekarang hendak minum apa lagi engkau? Karena

aku ingin segelas bir?"

"Aku pun bir pula."

Setelah datang bir ini, minumlah pula kedua mereka.

"Rupanya orang Aceh kenal kepadamu," kata Van Sta.

"Barangkali. Sebab aku acap kali beruntung dalam

peperangan, disangkanya aku berilmu, tak dapat dikalahkan."

"Memang, mereka itu sangat percaya kepada takhyul.".

"Yang kedua di Lhokseumawe," kata Letnan Mas

menyambung ceritanya. Akan tetapi waktu itu kelihatan seorang

serdadu datang tergopoh-gopoh kepada mereka. Sesudah

memberi hormat, lalu diunjukkannya sepucuk surat kepada

kedua letnan itu. Setelah dibaca Letnan Mas surat ini, diunjukkannyalah

kepada sahabatnya sambil berkata, "Mengapa-kah

Tuan Kapitan menyuruh datang kita dengan segera? Ayuh,

marilah kita berangkat bangat-bangat!"

Sesudah dibayarnya harga minuman tadi, berjalanlah mereka

ke rumah Kapitan yang memanggilnya. Baru sampai mereka ke

sana, Kapitan itu berkata, "Mas dan Van Sta, aku dapat perintah

menyuruh kamu kedua bersama-sama serdadurnu, segera

berangkat ke Padang. Esok hari juga kamu harus berangkat dari

sini ke Jakarta dan dari sana bersama-sama bala tentara dari

tempat lain-lain, dengan kapal, ke Padang; karena di sana telah

timbul perusuhan, perkara belasting. Beritahulah sekalian

serdadumu, supaya mereka bersiap malam ini juga. Aku harap

engkau di sana akan beruntung pula, sebagai sedia kala," kata

Kapitan itu kepada Letnan Mas, sambil menjabat tangannya.

"Dan engkau, Van Sta, supaya pulang dengan kemenangan."

katanya kepada Van Sta, seraya bersalam pula. "Selamat jalan!"

"Terima kasih Kapitan," jawab kedua letnan ini, lalu keluar

dan berjalan menuju tangsinya, akan mengabarkan perintah itu

kepada sekalian serdadunya.

Serdadu-serdadu ini gempar semalam-malaman, karena

bersiap tergesa-gesa.

"Sekarang aku dapat berperang bersama-sama dengan engkau

dan dapat belajar padamu," kata Van Sta kepada Letnan Mas.

Akan tetapi perkataan ini tiada didengar oleh Letnan Mas,

sebagai ia sedang memikirkan sesuatu hal yang penting.

Semalam-malaman itu Letnan Mas tiada dapat tidur. Apakah

sebabnya? Takutlah ia pergi berperang ke Padang? Mustahil!

Letnan Mas yang telah termasyhur gagah beraninya dan telah

berpuluh kali berperang, selamanya mendapat kemenangan.

Letnan yang tiada takut, melainkan beringin mati itu, tak boleh

jadi 'kan menaruh gentar. Sungguhpun demikian, pucat mukanya

dan gemetar tangannya, sampai jauh malam, belum hendak

hilang.

Karena tak dapat tidur, berjalan-jalanlah ia bolak-balik dalam

rumahnya; kemudian duduk di atas kursi, sudah itu berdiri pula

seraya berpikir, sebagai sebenarnya ia takut berperang, sekali itu.

Dengarlah apa katanya!

"Belum cukup jugakah azabku, setelah disiksa sedemikian

ini? Sudahlah kesengsaraanku sendiri tak dapat kutanggung

rasanya, sekarang disuruh pula aku membunuh bangsaku. Berapa

yang telah jatuh karena senjataku, berapa yang binasa karena

tanganku, berapa ibu yang kehilangan anaknya, berapa

perempuan yang kematian suaminya dan kanak-kanak yang

ditinggalkan bapanya. Berapa kaum yang bercerai, terbuang dan

terhukum dan lumbung yang roboh dan terbakar, kampung dan

desa yang binasa, karena tugasku.

Bilakah aku dapat berhenti dari pekerjaan jahanam ini dan

menjadi algojo bangsaku sendiri? Sesungguhnya untung yang

sebagai untungku ini, agaknya tak adalah bandingannya dalam

dunia ini. Dan apa sebabnya? Apa dosaku maka diazab

sedemikian ini? Mereka yang tiada tahu akan nasibku,

barangkali menyangka, bahwa aku gemar akan pekerjaanku

sekarang ini. Tetapi hanya Tuhanlah yang tahu, betapa hancur

hatiku, melihat berpuluh-puluh perempuan menjadi janda, berpuluh

kanak-kanak menjadi yatim, beratus nyawa yang

melayang, beratus laki-laki remaja menjadi daif, karena

kehilangan kaki atau tangan atau bagian badannya yang lain;

beratus rumah yang roboh dan terbakar, berpuluh kampung dan

desa yang rusak binasa dan beberapa pula harta yang dirampas.

Akan tetapi apa hendak kukatakan? Sebab aku terpaksa berbuat

sedemikian, untuk mendapat kematianku. Mengapakah sampai

sekarang belum juga kuperoleh keinginan hatiku ini? Mengapakah

nyawaku ini belum juga dicabut? Masih saja aku dipelihara!

Belumkah juga habis hukumanku? Kini aku bukan disuruh

membunuh bangsaku saja lagi, tetapi disuruh pula membunuh

kaum keluarga, sahabat kenalanku sendiri.

Ya Allah, ya Rabbi! Belumkah juga sampai waktunya

hamba-Mu ini akan dilepaskan dari kesengsaraan ini? Berapa

lamakah lagi hamba-Mu harus bernanti?"

Setelah ia berkata demikian itu, sebagai terdengarlah olehnya

suara berkata dalam hatinya, "Sekarang inilah, akan dapat

disampaikan keinginan hatimu itu. Sekarang inilah, akan terlepas

engkau dari azabmu dan sekarang inilah akan dapat engkau

bercampur kembali dengan sekalian mereka yang kaucintai!"

Maka terperanjatlah Letnan Mas mendengar jawaban ini, dan

berdebar-debar hatinya, karena pikirannya, "Benarkah suara

yang kudengar itu atau pikiranku pulakah yang tiada sempurna?"

Kemudian duduklah ia di atas sebuah kursi, lalu termenung

memikirkan perkataan yang timbul dalam hatinya tadi. Sekalian

kesengsaraannya, sejak dari mulanya sampai kepada waktu itu,

terbayanglah pula di mukanya. Dalam pada itu terlalailah ia

dengan tiada diketahuinya, lalu tertidur di atas kursi ini. Akan

tetapi tiada berapa iamanya kemudian, terperanjatlah ia bangun

mendengar bunyi selompret, karena hari telah pukul setengah

enam pagi. Dengan segera berdirilah ia, lalu menyuruh bawa

sekalian perkakasnya ke setasiun, dan setelah ia membasuh

mukanya dan minum kopi secangkir, berjalanlah ia ke tangsi.

Tiada beberapa lamanya kemudian, berangkatlah kereta api

yang membawa mereka, nienuju kota Jakarta.

XV. RUSUH PERKARA BELASTING DI PADANG

"Sudahkah Engku Datuk Malelo mendengar kabar yang kurang

baik itu?" tanya seorang tua, di pasar Bukit Tinggi, kepada

temannya.

"Kabar apakah itu, Engku Malim Batuah?" sahut sahabatnya.

"Kompeni akan meminta uang belasting kepada kita," jawab

Malim Batuah.

"Uang belasting? Uang apa pula itu?" tanya Datuk Malelo

dengan senyum merengut. "Ada-ada saja kompeni itu, untuk

mencari uang. Dan siapakah yang akan susah karena aturan itu?

Tentulah anak negeri juga. Belumkah cukup uang rodi, uang

jaga, uang ini dan uang itu? Sekarang ditambah pula dengan

uang belasting? Uang apakah artinya itu, Malim?"

"Uang belasting, yaitu uang pajak harta benda atau

pencaharian, dalam setahun-setahun," jawab Malim Batuah.

"Belanda kekurangan duit rupanya, jadi dicari-carinya akal

untuk memperoleh uang. Tetapi perbuatan yang sedemikian, tak

boleh dibiarkan. Kalau diturutkan saja, cobalah Engku Malim

lihat! Sudah ini ada pula lagi uang yang akan dibayar. Di mana

kita peroleh sekalian itu? Dan apakah sebabnya maka kita harus

membayar uang-uang itu? Karena kita budak, bukan tawanan,

bukan pula orang yang membayar upeti kepada kompeni. Dan

lagi apakah gunanya uang itu?"

"Hamba pun tak tahu, hanya sekedar mendengar cerita orang

pula. Kabarnya sekalian Tuanku Laras akan dipanggil ke kantor

Tuan Residen, untuk memupakatkan perkara ini. Tentulah kita

akan mendapat kabar yang nyata dari Datuk-Datuk dan Tuanku

kita betapa yang sebenarnya."

"Biar bagaimana sekalipun, hamba tak mupakat dengan

peraturan ini," jawab Datuk Malelo.

Demikianlah anak negeri menyambut kedatangan kabar

perkara belasting ini. Bukan di Padang Hilir dan Padang Hulu

saja, anak negeri berpikir sedemikian, tetapi pada seluruh negeri,

yang akan menerima aturan baru ini.

Kabar perkara belasting itu segeralah pecah dan kembang

pada seluruh negeri, kota dan lorong, sampai ke kampung dan

dusun yang kecil-kecil, sehingga tua muda, kecil besar, laki-laki

perempuan, tahulah kabar ini. Sekalian mereka mencomel,

karena berasa kurang adil diperintahi Belanda, yang pada pikiran

mereka berbuat sekehendak hatinya, memaksa mereka membayar

belasting, untuk menambah kekayaannya.

Oleh sebab Pemerintah merasa khawatir, anak negeri tiada

hendak menurut saja aturan baru ini, melainkan boleh jadi

membantah, bermupakatlah pegawai-pegawai Belanda dengan

pegawai anak negeri. Di Padang Hilir dengan Tuanku-Tuanku

Penghulu, di Padang Hulu dengan Tuanku-Tuanku Laras, untuk

mencari akal yang baik, supaya dapat juga menjalankan

belasting itu, dengan amannya.

Sekalian pegawai bumiputra, disuruhlah menyampaikan dan

memperbincangkan perkara ini dengan pegawai-pegawai

kampung dan anak negeri, serta disuruh terangkan pula sebabsebab

dan keperluan belasting itu, supaya mereka jangan salah

sangka. Oleh sebab itu ramailah orang berkumpul-kumpul di

sana-sini, membicarakan hal itu. Tuanku-Tuanku Laras atau

Tuanku-Tuanku Penghulu dengan Kepala-Kepala Negeri,

Kepala-Kepala Negeri dengan anak buahnya dan anak buah

dengan kaum keluarganya.

Supaya kita ketahui benar perkara ini, marilah kita turut tiaptiap

permupakatan itu!

Pada suatu hari berkumpullah di kantor Residen Bukit

Tinggi, sekalian Tuanku Laras keresidenan Padang Hulu*).

Asisten-Asisten Residen dengan Kemendur-Kemendur dan

Aspiran-Aspirannya pun ada serta hadir. Setelah cukup

sekaliannya dalam majelis, berdirilah Tuan Residen, lalu berkata

dalam bahasa Melayu Minangkabau, "Tuan-Tuan dan Tuanku-

Tuanku sekalian yang hadir di sini! Sebelum kami nyatakan

*) Pada ketika itu keresidenan Sumatra Barat sekarang ini masih

terbatas atas dua keresidenan: pertama, keresiden Padang Hulu

(Bukit Tinggi) kedua, keresidenan Padang Hilir (Padang).

perintah yang kami teruna, terlebih dahulu kaini ucapkan selamat

datang kepada Tuan-tuan dan Tuanku-Tuanku yang telah

menurut permintaan kami, datang berkumpul kemari, karena

adalah suatu perintah, yang penting dari Pemerintah Agung,

yang hendak kami memupakatkan di sini dengan Tuan-tuan dan

Tuanku-Tuanku sekalian.

Sebagai Tuanku-Tuanku ketahui, tanah Hindia ini diperintahi

oleh Pemerintah Belanda. Tuan-tuan tahu pula, tanah Hindia ini

bukan kecil, melainkan sangatlah besar dan luasnya. Beberapa

pulau yang besar-besar, seperti pulau Sumatra, pulau Jawa,

Kalimantan, Sulawesi, sampai ke pulau Papua, masuk

jajahannya. Lain daripada itu, banyak pula pulau yang kecilkecil,

yang masuk bagiannya, sebagai pulau Bali, Loinbok,

Sumbawa, Flores, Timor, Sumba, Sawu, Roti dan lain-lain

sebagainya. Sekaliannya itu harus dijaga dan diurus oleh

Pemerintah Belanda, sebaik-baiknya, supaya segala penduduknya

mendapat keselamatan dan kesejahteraan.

Akan menyampaikan maksud ini, diadakan oleh Pemerintah

pegawai-pegawai, cukup dengan alat perkakas, rumah dan

kantornya. Marilah kami sebutkan berapa macam pegawai, akan

jadi misal. Pertama pegawai yang memerintah dan mengemudikan

negeri, yaitu pegawai sebagai kita sekalian ini. Pegawai ini

bukan sedikit orangnya, perkakasnya, rumahnya dan kantornya.

Beribu orangnya, dari yang berpangkat Residen sampai ke juru

juru tulis dan Kepala Kampung, sedang Gubernur Jenderal pun,

boleh dimasukkan golongan ini.

Kedua, pegawai yang memajukan bumiputra tentang

pengetahuan dan kerajinannya, yaitu guru-guru. Beribu pula

banyaknya dengan rumah-rumah sekolahnya, kecil besar;

perkakasnya pun bermacam-macam pula.

Ketiga, pegawai yang memajukan perusahaan tanah dan

perniagaan, sedemikian pula banyak orang tempatnya dan

perkakasnya.

Keempat, pegawai yang membuat rumah-rumah, jalan jalan,

serokan-serokan, sungai-sungai dan lain-lain. Pegawai itu pun

tak kurang orang, kantor dan perkakasnya.

Kelima, pegawai yang menjaga keamanan negeri, yaitu bala

tentara. Pegawai inilah yang sangat banyak belanja, tetapi

keperluannya pun sangat besar pula. Bukannya di daratan saja,

tetapi di lautan pun diadakan pula bala tentara, untuk menjaga

keamanan laut, perniagaan dan musuh. Bala tentara ini

dilengkapi dengan kapal-kapal perang dan senjatanya.

Pegawai yang mengurus uang Pemerintah pun diadakan pula.

Lain daripada itu banyak lagi tiada kami sebutkan di sini, sebab

tentulah akan menjadi lanjut percakapan ini. Tuanku-Tuanku

lihat, semuanya diurus dengan sebaik-baiknya; segala yang

berguna, diadakan dan yang tak perlu, dibuang. Jangankari hal

manusia, perkara hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, tanah¬tanah,

air-air dan yang lain-lain pun tidak dilupakan. '

Tuanku-Tuanku tentulah maklum, sekalian itu bukan- sedikit

belanjanya, mana penggaji pegawai, niana pembuat tempat atau

rumahnya, mana pembeli perkakasnya, dan mana pula biaya

perjalanannya. Cobalah pikirkan dan hitung belanja sebuah

rumah atau kantor Gubernemen saja, dalam sebulan dengan gajigaji

orang, biaya perkakas dan lain-lain sebagainya. Di situ

barulah nyata, bahwa belanja ini bukan sedikit. Berpuluh juta

rupiah Pemerintah harus mengeluarkan uang tiap-tiap tahun,

untuk biaya sekaliannya itu.

Di manakah diperoleh uang yang sekian banyaknya? Benar

ada hasil dari tanah, dari kopi, dari perniagaan, dari ini dan dari

itu, tetapi hasil ini sekarang nyata tiada memadai. Bagaimana

akal kini akan mencari uang penambah yang kurang ini? Bila

Tuanku-Tuanku di rumah hendak memakai tikar, lainpu, kursi

dan meja, siapakah yang harus membelinya? Tentu Tuanku

sendiri, bukan? Masakan dapat diminta kepada orang lain?

Demikianlah juga perkara negeri kita ini, tak boleh kita meminta

bantuan kepada kerajaan lain, melainkan kita sendirilah, yang

harus memikulnya. Bukankah aturan itu sejak dahulu kala, telah

ada juga di sini? Segala sesuatu yarig perlu bagi negeri, negeri

itu sendirilah yang mengadakan, dipungut dari anak negeri.

Dahulu penghasilan yang kami sebut tadi, memang cukup,

untuk membiayai sekalian keperluan tadi, tetapi sebab keperluan

itu makin lama makin bertambah, sebab orang pun kian lama

kian banyak pula, sekarang hasil-hasil itu tak mencukupi lagi.

Barangkali tambahan keperluan itu, di sini belum nyata benar,

tetapi di negeri-negeri asing, terang kelilhatan. Sungguhpun

demikian, harus juga kita bersama-sama menolong. Janganlah

kita berpikir, apa perlunya ditolong negeri asing itu? Sebab

sebagai telah kami katakan tadi, sekalian pulau yang masuk

tanah Hindia, menjadi satu. Biar bangsa Melayu atau Jawa.

Dayak atau Papua. Belanda ataupun Cina, sekalian penduduk

Hindia ini, harus menjadi satu dan harus bersama-sama

memajukan tanah kita.

Janganlah tiada percaya, bahwa segala yang diperbuat di

negeri lain, membawa hasil juga ke mana-mana. Lihatlah

Sekolah Dokter Jawa, diadakan hanya di tanah Jawa; tetapi

bukan urang Jawa saja yang beroleh hasil dari sekolah itu; orang

Minangkabau, orang Batak, Menado. Ambun dan lain-lain pun

dapat pula belajar di sana, untuk menjadi dokter. Dalam sekolah

Raja*), di sini, bukannya bangsa Minangkabau saja yang dapat

menuntut ilmu guru, tetapi orang Tapanuli, Aceh, Palembang-

Lampung, Bengkulu sampai ke Pontianak dan Sambas pun,

*) Kweekshool

boleh juga. Demikian pulalah perbaikan-perbaikan yang diadakan

di negeri lain-lain itu, tak dapat tiada mendatangkan kebaikan

juga kepada kita di sini.

Oleh sebab itu, diputuskanlah oleh Pemerintah Agung,

sekalian penduduk tanah Hindia ini, haruslah bersama-sama,

membantu kekurangan ini. Yang miskin tentulah sedikit, yang

kaya banyak. Uang bantuan itu dinamakan "Uang belasting",

dibayar tiap-tiap tahun. Jadi tak ada ubahnya dengan uang jakat

dan fitrah. Hanya uang belasting, dipakai untuk keperluan kita

bersama dan bukan dihadiahkan kepada orang miskin, untuk

keperluan mereka itu sendiri.

Belasting ini telah dijalankan di mana-mana, baik di negeri di

atas angin atau negeri di bawah angin; sedang di tanah Hindia ini

pun hampir pada segenap tempat dan sekalian penduduknya

menerima aturan ini dengan rela. Hanya di Minangkabau inilah

yang belum lagi. Tuanku-Tuanku tentu maklum, bila orang di

sini dibebaskan dari belasting itu, perbuatan Pemerintah ini

niscaya tidak adil. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Tambahan pula, bila orang di sini suka menuntut aturan ini

dengan senang hati. Pemerintah suka membebaskan orang

Minangkabau daripada kontrak menjual kopi kepada

Gubernemen, sehingga kopi boleh dijual kepada orang lain,

dengan harga lima atau enam kali lipat ganda. Apalagi kalau

dipikir benar-benar, nyatalah kontrak menjual kopi itu pada masa

ini tiada adil lagi; tak sesuai dengan zamannya, karena

timbanglah: Siapakah yang bertanam kopi din menjualnya ke

gedung Gubernemen? Bukankah orang-orang peladang, artinya

orang-orang miskin? Orang kaya-kaya, saudagar-saudagar,

adakah berbuat sedemikian? Tidak. Jadi siapakah yang membayar

belasting pada hakikinya? Bukankah si miskin? Si kaya

bersenang-senang saja.

Inilah maksud kami meminta datang Tuanku sekalian kemari

supaya disampaikan pemerintah ini kepada anak negeri, dengan

diterangkan apa sebabnya dan apa gunanya uang belasting itu.

Mengerti benarlah hendaknya mereka tentang perkara ini, supaya

jangan sampai mereka berpikir, uang itu diminta, sekedar hendak

memenuhi kantung orang Belanda. Sekali-kali negeri tiada

beroleh hasil dari belasting ini, melainkan kita yang di sini

jugalah.

Lagi pula janganlah salah sangka. Sekalian kami bangsa

Belanda yang ada di sini, ialah pegawai Gubernemen, sebagai

Tuanku-Tuanku juga, dan yang Gubernemen itu bukanlah

bangsa Belanda atau kerajaan Belanda, sekali-kali tidak lain

melainkan penduduk tanah Hindia inilah. Bangsa Belanda di sini

sekadar memerintah, menolong mengatur.

Pada rasa hati kami cukuplah itu, untuk menerangkan

maksud kami. Bila ada di antara Tuan-tuan dan Tuanku-Tuanku

yang merasa apa-apa tentang perkara ini, keluarkanlah! Supaya

dapat diperbincangkan bersama-sama."

Lalu Residen duduk di atas kursi, bernanti, adakah orang

yang hendak berkata atau tidak. Tetapi seorang pun tiada yang

hendak mengeluarkan pikirannya, tentang hal ini.

Setelah berdiam-diam sejurus, bertanya pula Residen, "Tak

adakah orang yang hendak berkata apa-apa, tentang hal ini?"

Tatkala itu berdirilah seorang Tuanku Laras, yang tertua

daripada sekalian laras yang hadir, lalu memberi hormat kepada

Residen dan segala yang hadir dalam majelis itu; kernudian

berkatalah ia, "Sepanjang pikiran hamba yang tua ini, tak adalah

yang akan dijawab lagi dalam perkara ini, karena sekaliannya

telah diputuskan oleh Pemerintah Agung. Walaupun ada yang

terasa dalam hati kami, terkalang di mata kami, tetapi pada

sangka hamba, tak ada paedahnya diperkatakan lagi, sebab tak

dapat mengubah aturan yang telah ditetapkan itu. Tak ada yang

lain yang dapat kami perbuat dalam hal ini, melainkan kami

sampaikan perintah ini kepada anak negeri serta kami terangkan

kepada mereka, guna dan sebabnya diadakan belasting itu.

Seboleh-bolehnya kami akan berdaya upaya, supaya anak negeri

menurut peraturan ini. Meskipun demikian, tentulah tak dapat

kami pastikan, anak negeri akan menerima aturan ini dengan

senang hati; sebab tiap-tiap yang baru, tiada lekas diterima,

lebih-lebih jika tak nyata kebaikannya. Tambahan pula, aturan

ini, ialah aturan yang mengenai pura*) anak negeri. Oleh sebab

itu marilah kita bersama-sama berikhtiar dan memohon kepada

Tuhan, supaya perintah ini dapat dilangsungkan dengan

selamat."

Sekarang marilah kita dengar pula jawab pegawai kampung,

tentang perkara ini, dalam perkumpulan yang diadakan di rumah

atau balairung.

Rapat itu dikepalai oleh Tuanku Laras.

Setelah berkumpullah sekalian Datuk, Penghulu, Hulubalang,

orang kaya, besar bertuah, Kepala Negeri, Cerdik pandai dan

lain-lainnya, berkatalah Tuanku Laras, menyampaikan perintah

yang diterimanya dari Residen, serta menerangkan guna dan

sebabnya belasting itu dijalankan. Setelah selesai ia berkata-kata,

menjawablah beberapa orang daripada yang hadir.

"Tentang peraturan Gubernemen ini, belum kami ketahui

buruk baiknya. Tetapi yang mula-mula terasa dalam hati kami

dalarn perkara belasting ini, ialah orang Belanda rupanya telah

lupa akan janjinya, kepada orang Minangkabau. Bukankah sudah

ditetapkan dalam "Pelekat Panjang", bahwa kami anak

Minangkabau tak perlu membayar bia, yang sebagai belasting

ini? Apakah sebabnya maka kami disuruh juga membayar,

*) pundi-pundi uang

sekarang? Mungkirkah orang Belanda akan janjinya?

Kedua, orang Belanda sudah lupa pula, bahwa kami bukan

orang takluk, yang harus membayar upeti kepada bangsa

Belanda. Negeri kami tiada diambil dengan asap bedil, oleh

orang Belanda, melainkan dengan perjanjian, antara sahabat

dengan sahabat.

Ketiga Tuan Residen berkata, orang Belanda di sini

menolong memerintahkan. Tetapi siapakah yang meminta

pertolongan itu? Kami tidak minta tolong diperintah, melainkan

minta tolong mengalahkan paderi di zaman paderi, lain tidak.

Pada pikiran kami, tiada perlu kami diperintahi bangsa asing,

sebab dari nenek moyang kami dahulu kala, kami biasa

diperintah Raja bangsa kami sendiri dan dalam pemerintahan itu

kami pun merasa senang, tiada berasa kurang adil. Oleh sebab

itu, tak perlu kami meminta pertolongan kepada bangsa asing,

untuk memerintahi kami.

Keempat, kata Tuan Residen uang belasting itu untuk

menambah kekurangan belanja Pemerintah, sebab banyak

perubahan yang akan diadakan. Perubahan apakah itu, tiada kami

ketahui; sebab tiada dimupakatkan dahulu dengan kami,

sehingga kami tak tahu pula sungguhkah perubahan itu berguna

bagi kami. Pada pikiran kami, segala yang ada sekarang ini pun

cukuplah; tak perlu diadakan perubahan lagi. Adapun perubahan,

bukannya untuk kami saja, hanya terutama untuk mereka yang

berpangkat tinggi, yang kaya dan orang kota.

Kelima, Tuan Residen berkata sendiri, keperluan kita tak

boleh diminta kepada orang lain, mengapakah tidak tiap-tiap

kampung atau negeri mengadakan keperluannya sendiri-sendiri?

Mengapakah kami harus menolong orang Selebes, Timor dan

Papua? Melihat rupanya pun kami belum! Dan siapakah yang

akan menanggung, mereka itu kelak akan rnenolong kami pula,

bila kami dapat kesusahan atau ada keperluan apa-apa?

Keenam, Tuan Residen berkata, kita sekalian ini yang

Gubernemen, bukan bangsa Belanda. Mengapakah segala

sesuatu diputuskan dan diperbuat oleh orang Belanda saja; suara

anak negeri sekali-kali tiada didengar? Perkara belasting ini pun

tiada dimupakatkan dahulu dengan kami. Setelah terjadi, disuruh

kami menurut, dengan tiada boleh mengatakan tidak. Bagaimanakah

kami namanya itu, orang yang diperintahkan atau

orang yang memerintah?

Ketujuh, dikatakan ada pegawai yang membuat rumah, jalan

dan lain-lain. Rumah siapakah yang dibuatnya? Rumah kami,

kami sendiri yang membuat. Jalan pun kami pula yang

mengerjakan. Apa paedahnya pegawai-pegawai yang diadakan

itu untuk kami? Pegawai perusahaan tanah, belum kami ketahui

di sini dan orang itu tak ada perlunya bagi kami. Apakah yang

akan diajarkannya kepada kami? Bertanam padi? Telah diketahui

nenek moyang kami beratus tahun yarig telah lalu. Perkara

hewan? Kerbau kami kembang biak juga, walaupun tiada

dipelihara benar-benar. Dari dokter itu adakah ia sampai

mengobat ke kampung-kampung kami? Hanya di kota itulah ia

tinggal, di tempat orang yang kaya-kaya. Kami anak kampung,

miskin, tak cakap membayar upahnya.

Balatentara, gunanya yang baru kelihatan oleh kami, lain

tidak akan memaksa kami menurut perintah Kompeni. Musuh

dari darat dan dari laut, siapakah itu? Jika bangsa kami, cukuplah

kami saja yang akan melawannya dan kalau bangsa asing,

apakah gunanya kami lawan? Orang Belanda bukankah bangsa

asing?

Perkara sekolah pun demikian pula, adanya hanya di kota

saja, untuk orang kota. Jika anak kami hendak bersekolah,

haruslah ia berjalan berpal-pal jauhnya; sebab di kampung hanya

langgar yang ada."

Begitulah jawab kebanyakan Penghulu, Kepala-Kepala

Negeri dan Kepala Kampung atas perintah belasting itu.

Sekarang marilah kita dengar pula pikiran anak negeri

sendiri.

Di kampung Kota Tengah, dekat kota Padang, berkumpullah

pada suatu malam, sekalian isi kampung ini, dalam mesjid.

Sesudah sembahyang isya, kelihatanlah beratus-ratus orang di

sana, orang kampung itu dan orang kampung-kampung lain,

yang rupanya telah diberi tahu, bahwa pada malam itu akan

diadakan rapat besar, untuk membicarakan perkara belasting.

Orang yang seakan-akan menjadi kepala permusyawaratan ini,

ialah haji-haji, orang alim, guru agama dan orang tua-tua. Di

antara orang tua-tua itu kelihatanlah Datuk Meringgih, saudagar

yang amat kaya di Padang.

Setelah hadir sekalian, mulailah Datuk Meringgih membuka

bicara.

"Sebabnya maka kami minta datang ninik mamak, adik

kakak, sanak saudara sekalian, malam ini berkumpul di sini,

ialah karena hendak membicarakan aturan baru yang akan

dipikulkan Kompeni kepada kita, yaitu pembayaran uang

belasting. Rupanya orang Belanda, belum puas mengisap darah

kita, memeras tenaga kita mengeluarkan keringat kita. Cobalah

pikir, uang rodi, uang jaga, dan beberapa uang yang lain-lain,

sudah kita bayar, katanya untuk kita; padahal untuk dirinya

sendiri, untuk mengenyangkan perutnya, melepaskan dahaganya

dan mengayakan bangsanya. Bagi kita anak negeri, paedah

apakah yang kita terima dari uang-uang yang telah kita bayar

itu? Adakah di antara saudara yang hadir ini, yang telah

merasainya? Hamba yang telah setua ini, tinggal di dalam kota,

siang malam bercampur gaul dengan Belanda, Cina, Keling,

Arab dan bangsa yang lain-lain, sampai sekarang, belum tahu

akan paedahnya itu. Ke mana perginya dan apa gunanya uang

itu, hanya Kompenilah yang tahu. Sebab dilihatnya kita suka saja

membayar uang-uang itu, sekarang dimintanya pula uang

belasting. Kalau belasting ini kita bayar juga esok, ada lagi uang

yang dimintanya dari kita. Barangkali rumah tangga, pakaian dan

perkakas, anak-istri kita dibiayainya pula.

Bukankah pepatah kita telah menunjukkan betapa tamak dan

lobanya bangsa Belanda? Bukankah telalt dikatakan seperti

Belanda minta tanah, diberi sejengkal, mau sedepa. Peraturan

yang serupa ini, dalam jajahan bangsa lain seperti bangsa

Inggris, tak ada. Hamba sendiri sudah pergi ke Singapura, Pulau

Pinang, Perak dan Johor, tak ada hamba lihat orang yang membayar

belasting di sana. Hanya di sini saja yang ada. Jadi aturan

ini dibuat-buat saja olelt orang Belanda, untuk memeras kita,

supaya kering sekering-keringnya.

Memang kemauan orang Belanda, kita anak negeri, miskin

dan bodoh hendaknya, supaya mudah dipermain-mainkannya

dan bila kita tiada berdaya lagi kelak, tentulah akan dijualnya

seperti budak."

Mengapakah Datuk Meringgih ada di situ, mengasut anak

negeri, kepada Pemerintah? Mengapakah ia tiada pada perniagaannya?

Karena ia mengerti, kalau jadi dijalankan belasting itu,

tentulah ia yang banyak harus membayar. Lagi pula rupanya

Pemerintah di Padang, sedang mengintip perjalanannya, karena

orang makin lama makin kurang percaya akan kelurusan hatinya.

Hal ini diketahui oleh Datuk Meringgih, itulah sebabnya maka

sangat panas hatinya kepada Pemerintah Belanda. Ketika itu,

sebab ada jalan, hendakk dibalaskannya sakit hatinya ini. Oleh

sebab itulah dicarinya akal, supaya maksud Pemerintah ini tiada

sampai. Disuruhnya orang-orangnya ke sana kemari, mengasut

anak negeri, supaya melawan; jangan mau membayar belasting.

Setelah selesai Datuk Meringgih beikata-kata, berdirilah pula

seorang haji, katanya, "Pada pikiran hamba benarlah kata Engku

Datuk itu, karena hamba telah pergi ke Mekah, Madinah, Jedah,

tetapi di sana pun tak ada hamba dapat aturan sebagai ini.

Memang susah, kalau di bawah perintah kapir; selamanya kita

hendak dianiaya saja. Akhirnya niscaya agama kita akan ditukarnya

dengan agama Nasrani, sehingga menjadi kapirlah kita,

masuk api neraka seperti mereka. Tentu tak senang hati mereka,

melihat kita masuk surga; jadi dicarinya kawan mati."

Mendengar perkataan haji ini, geramlah hati sekalian yang

hadir dan kedengaranlah comel di sana-sini, mengatakan,

"Sesungguhnya tak patut!"

Ada pula yang berkata, "Memang Belanda tak boleh dipercayai,

bicaranya putar balik, sebagai lidah Keling."

Setengahnya berkata pula, "Memang Belanda musuh kita,

dunia akhirat, dalam perkara agama dan perkara yang lain-lain

pun."

Datuk Meringgih berseri mukanya melihat kegembiraan hati

sekalian orang itu dan sangatlah benci hatinya, tatkala ada

seorang di antara mereka yang berani menyahut, "Sepanjang

pendengaran hamba, uang itu akan dipergunakan, untuk

keperluan kita juga."

"Keperluan apa?" tanya Datuk Meringgih dengan segera.

"Pembuat jalan jalan, rumah-rumah dan sekolah, kantorkantor

misalnya," jawab yang berkata itu.

"Untuk siapa jalan yang baik, untuk kita atau untuk dia? Kita

tak perlu akan jalan yang baik, tetapi tak mau jalan yang buruk;

sebab itu disuruhnya kita membuat jalan untuk dia. Sekarang

jalan apa pula lagi yang akan dibuat dengan uang belasting itu?

Tentang rumah sekolah itu untuk siapa pula? Anak siapakah

yang banyak bersekolah, anak kita atau anaknya? Ada

beberapakah di antara Engku-Engku yang ada di sini, yang sudah

bersekolah Pemerintah? Tahukah Engku-Engku akan maksud

sekolah itu? Supaya anak-anak kita suka kepadanya dan benci

kepada bangsanya sendiri.

Di mana ada sekolah di kampung ini? Hamba tidak bersekolah

tetapi jadi kaya juga. Jadi, apa perlunya sekolah itu

kepada kita? Yang perlu bagi kita, yaitu langgar dan mesjid.

Adakah diperbuatnya itu? Tidak, bukan? Tetapi gerejanya

dibesarkannya, diperbuatnya bagus-bagus dengan uang kita. Dan

tentang kantor itu, tak perlu hamba katakan gunanya; setiap hari

Engku-Engku dapat melihat sendiri. Bukankah di sana kita

dihukumnya, terkadang-kadang dengan tiada bersalah? Bila tak

mau menurut kehendaknya, dimasukkannya ke gedung yang

sebuah lagi, yaitu penjara.

"Apa lagi?" tanya Datuk Maringgih kepada orang yang menjawab

tadi. "Coba katakan, supaya hamba terangkan yang

sebenar-benarnya. Jangan suka mendengar kata orang saja dan

menurut kata itu dengan tiada dipikirkan dalam-dalam; menjadi

kita burung tiung."

Orang yang berkata tadi, tiadalah dapat menjawab lagi lalu

berdiam diri.

Setelah berdiam sejuruh, kedengaianlah pula suara Datuk

Meringgih, "Sekarang hendak hamba tanyakan kepada sekalian

saudara-saudara yang hadir ini, haruslah diturut saja perintah ini

dan dibiarkan hidung kita diberi bertali, sebagai kerbau, supaya

dapat ditariknya ke mana sukanya? Kita ini bukan binatang,

melainkan manusia juga, sebagai dia; bermata, berkepala,

berkaki dan bertangan. Mengapakah kita mau diperbodoh orang

datang? Adakah patut, limau dialahkan bendalu?"

"Sesungguhnya tak baik dibiarkan," jawab seorang guru tua,

"jadi bertambah-tambah lalim dia. Akhirnya diusirnya kita dari

negeri kita ini. Ke mana hendak pergi?"

"Jadi, jika tiada hendak dibiarkan, bagaimana?" tanya

seorang.

"Lawan saja," jawab beberapa anak muda. '

"Melawan itu mudah asal hati sungguh berani dan perkakas

cukup, diadulah untuk kelak," jawab yang bertanya tadi." Tetapi

tak adakah jalan lain-lain yang lebih baik, daripada melawan,

karena pekerjaan berperang itu tak baik dipermudah? Bukan

sedikit kesengsaraan dan kemalangan yang dibawanya. Kita ini

bukan sebatang kara, melainkan beranak beristri, berkaum

keluarga, berkampung, berhalaman. Yang berperang tidak

dipikirkan: esa hidup, kedua mati, namanya anak laki-laki.

Tetapi yang tinggal itulah, yang menjadi pikiran. Betapa hal

mereka kelak, bila kita kalah?"

Perkataan itu rupanya mendatangkan pikiran kepada yang

mendengarnya dan hal itu lekas dimaklumi oleh Datuk

Maringgih. Karena itu segeralah ia menjawab; katanya,

"Barangkali Engku takut berhadapan dengan Belanda. Jika dua

hati, tak perlu mengikut; karena tentulah akan mendatangkan

beban kepada kami. Kami bukannya perempuan; tak takut mati.

Yang tinggal itu kami serahkan kepada Tuhan. Dia terlebih

sempurna memelihara daripada kami."

"Bukan hamba takut," jawab orang itu pula. "Jika perlu,

hamba pun rela menyerahkan nyawa hamba. Tetapi yang hendak

hamba katakan, yaitu tak adakah jalan lain, yang lebih baik

daripada melawan, untuk memperoleh maksud kita? Kalau ada,

mengapakah takkan diturut?"

"Bagaimanakah jalan itu?" tanya orang banyak, yang rupanya

kurang suka berperang.

"Tak baiklah, bila kita pergi bersama-sama kepada

Pemerintah Tinggi di sini, minta diurungkan saja aturan itu?"

kata orang tadi pula.

"Ha, ha, ha!" tertawa Datuk Meringgih." Engku belum tahu

rupanya adat Belanda, sebab belum bercampur gaul dengan

mereka. Tetapi hamba ini, bukan sehari dua hari kenal pada

Belanda! Berpuluh tahun telah bercampur dengan mereka; sebab

itu tahu benar hamba akan adatnya. Belanda itu tiada nienaruh

kasihan tiada pandang-memandang, tiada tahu membalas guna,

hendak berkeras saja; apa-apa maksudnya harus terjadi.

Bukankah ia katanya bangsa yang memerintah, yaitu bangsa

yang tinggi? Kita ini dipandangnya sebagai budak, sebagai

binatang, tak boleh membuka bicara, melainkan harus buta tuli,

menurut kemauannya. Hamba berani bertaruh, seribu lawan,

serupiah, kalau dikabulkannya permjntaan kita itu. Lagi pula

perintah datangnya dari Jakarta, bukannya dari Pemerintah

Tinggi di sini. Walaupun Pemerintah Tinggi di sini memperkenankan

permintaan kita, kalau Pemerintah Tinggi di Jakarta

tak suka, masakan boleh jadi. Tambahan lagi siapa tahu,

barangkali perintah itu dari negeri Belanda datangnya. Siapa

yang hendak pergi ke sana, bertemu dengan raja Belanda? Pada

pikiran hamba, jika kita tiada hendak menurut perintah ini,

baiklah ditunjukkan dengan melawan. Itulah jalan yang

sependek-pendeknya. Bila akan dikabulkannya, tentu lekas

diturutnya kemauan kita. Berperang sedikit dikabulkannya, tentu

lekas diturutnya kemauan kita. Berperang sedikit apa salahnya,

permainan anak laki-laki. Untuk beroleh keuntungan, bukankah

harus rugi lebih dahulu?"

Muka mereka yang telah mulai sabar sedikit, menjadilah

gembira pula,mendengar kata Datuk Meringgih ini.

"Yang hamba pikirkan, ialah akhir kelaknya. Jika melawan,

adakah akan dapat kemenangan? Karena Belanda banyak

serdadunya dan cukup senjatanya. Kalau tiada terlawan, menjadi

sia-sialah pekerjaan kita dan akhirnya rusak binasa, tiada

bertentu; sedang belasting harus juga dibayar."

"Perkara kalah memang itu tiada dapat ditentukan lebih

dahulu, karena sekaliannya itu takdir Allah. Jika ditolongnya kita

walau berjuta banyaknya serdadu musuh dan berkapal perkakas

dan senjatanya, tentulah kita akan beroleh kemenangan juga. Jika

tak menang pun, tak mengapa, karena telah kita perlihatkan

kepadanya, bahwa kita bukan perempuan, melainkan laki-laki,

yang tak boleh diperbuat sembarang saja. Apabila ia kemudian

hari hendak membuat peraturan baru pula, tentulah akan

dipikirnya baik-baik, sebelum dijalankannya. Inilah suatti

daripada keuntungan kita. Akan tetapi, kalau kita berdiam diri

saja dan menurut segala kemauannya, niscaya dikatakannya kita

takut dan sebab lemah tentulah akan dititinya benar-benar,

sehingga tiadalah terlepas lagi kita daripada aniayanya, makin

lama, makin bertambah.berat. Lihatlah orang Aceh! Apa senjatanya?

Tetapi dapat mereka melawan, sehingga sampai sekarang,

belum juga takluk lagi. Pendeknya asal hati jantan, tentu boleh

menjadi." jawab Datuk Meringgih.

"Benar perkataan Engku Datuk itu," teriak beberapa anak

muda, yang masuk perkumpulan Datuk Meringgih. "Itulah perkataan

laki-laki sejati. Pendeknya sekarang begini saja, barang

siapa yang tak hendak ikut melawan, boleh tinggal di rumah.

Jika hendak menyebelah kepada kapir itu pun, tak dilarang; asal

jangan ada di sini lagi, sebab tentulah takkan kami beri ampun."

Karena perkataan ini, tak adalah lagi yang berani membantah

kamauan Datuk Meringgih ini, sehingga sekaliannya terdiam

sejurus, sampai berkata pula seorang haji tua, "Berperang dengan

Belanda itu ada akalnya. Jika tak ada perkakas lawan dengan

yang lain."

"Akal apa itu? Cobalah nenek haji katakan!" teriak beberapa

orang yang kurang berani.

"Akal orang Aceh; bedil dan meriam itu dilawannya dengan

isim; sehingga bedil tak berbunyi atau tak mengenai dan pedang

tak makan."

"Tahukan Nenek ilmu itu?"

"Jika tak tahu, apa gunanya aku berkata-kata di sini? Bukan

cuma-cuma saja rambutku telah putih. Aku sendiri sudah pergi

ke tanah Aceh, menuntut ilmu itu."

"Kalau begitu tak perlu takut. Tetapkanlah hati, untuk

melawan dan suruhlah dia datang beribu-ribu kemari," kata yang

berani kepada yang tak berdaya.

Demikianlah pikiran kebanyakan anak negeri, tentang

belasting itu.

Oleh sebab pada sangkanya, Pemerintah berbuat tak semenamena

kepada mereka, ditetapkannyalah, tiada hendak membayar

belasting dan jika dipaksa juga, tentu melawan.

Sesungguhnya, tatkala seorang menteri di Padang Hulu

datang hendak menangkap beberapa orang, yapg disangka

menjadi kepala dalam perusuhan itu, melawanlah anak negeri

dan dibunuhnyalah menteri ini. Beberapa Datuk yang keras

kepala, dipenjarakan dalam penjara Bukit Tinggi. Pada keesokan

harinya. datanglah beratus-ratus anak negeri, meminta lepaskan

mereka itu. Seorang Tuanku Laras yang dengan keras hendak

menjalankan belasting itu dibunuh; dikatakan menolong bangsa

Belanda. Demikian pula seorang Kemendur, diserang anak

negeri dalam rumahnya. Tatkala ia telah dibunuh, mayatnya

dilembarkan ke dalam api rumahnya yang dibakar. Seorang

Asisten Residen diserang, ketika bekerja dalam kantornya.

Banyak gudang Pemerintah yang berisi kopi, dirampas dan

dibakar begitu juga rumah-rumah dan kantor-kantor Pemerintah.

Dengan demikian, gemparlah seluruh Padang Hulu dan

Padang Hilir. Di mana-mana kedengaran rusuh dan orang

melawan, sebagai mereka telah mupakat lebih dahulu sama-sama

hendak berontak.

Serdadu yang ada, tak dapat, disuruh memadamkan huru-hara

itu. sebab tak cukup, lalu disuruh menjaga kota saja. Sekalian

pegawai Pemerintah disuruh berkumpul dalam kota. Di dalam

kota, yang selalu dikelilingi serdadu, dicarilah akal sebolehbolehnya

akan melindungkan diri, bila musuh datang

menyerang. Dan lagi dilarang orang berkumpul-kumpul di sana,

supaya jangan dapat bermupakat.

Pada malam hari tak boleh berjalan di tempat-tempat yang

gelap, dengan tiada membawa api (suluh). Memakai pakaian

serba putih pun dilarang, supaya jangan disangkakan musuh.

Pada malam hari, serdadu-serdadu ronda di dalam kota menjaga

keamanan. Sementara itu dimintalah serdadu-serdadu datang dari

negeri lain lalu dikirimkan mereka ke tempat-tempat yang yang

berbahaya dan disuruh pula ronda ke luar kota atau ke kampungkampung.

Ada pula yang disuruh menjaga rumah-rumah dan

harta benda Pemerintah. Jalan kereta api dari pelabuhan Teluk

Bayur sampai ke Padang Hulu pun, dijaga oleh serdadu, supaya

jangan dirusak perusuh.

Akan tetapi anak negeri selalu pula berkumpul-kumpul di

luar kota di tempat yang sunyi, bermupakat akan melawan atau

menyerang. Masing-masing bersiap, menyediakan senjata, untuk

berperang. Perempuan-perempaan dan anak-anak dikirim ke

gunung-gunung. Harta benda mereka dikuburkan di dalam tanah

atau disembunyikan di tempat yang sunyi. Utusan dikirim ke

segenap tempat, supaya dapat santa-sama menyerang. Ada yang

dikirim ke Aceh hendak mengajak orang Aceh bersama-sama

melawan dan ada pula yang diutus ke negeri Turki, akan

mengadukan kelaliman Pemerintah Belanda.

XVI. PEPERANGAN ANTARA SAMSULBAHRI DAN

DATUK MERINGGIH

Setelah masuklah kapal yang membawa Letnan Mas ke

pelabuhan Teluk Bayur, turunlah sekalian bala tentara itu ke

daiat, lalu langsung berjalan ke kota Padang, Di sana gemparlah

isi kota, melihat bala tentara sekian banyaknya datang; cukup

dengan alat senjata dan meriamnya.

Yang seorang bertanya kepada yang lain:

"Mengapakah didatangkan serdadu sekian banyaknya ini?"

"Tidakkah engkau tahu?" jawab yang ditanyai. "Seluruh

tanah jajahan Belanda akan rusuh, sebab anak negeri hendak

melawan; tak mau membayar belasting."

Kabar kedatangan bala tentara, ini, sekejap itu juga pecah ke

sana kemari, sampai ke luar-luar kota, sehingga perempuan dan

anak-anak pun tahu hal ini. Maka ramailah dibicarakan

peperangan yang akan terjadi. Yang penakut, larilah

bersembunyi ke gunung-gunung dengan anak bini dan harta

bendanya; yang berani tinggallah di dalam kota, karena ingin

hendak melihat tamasya perang. Yang kaya, berharta banyak,

khawatir kalau-kalau harta bendanya dirampas orang. Yang

banyak beranak dan bersanak saudara, ngeri, takut anak-istri dan

kaum keluarganya terbawa-bawa mendapat kesusahan. Hanya

bangsa penjahatiah yang gembira hatinya, karena ada harapan

akan dapat mencuri dan menyamun dengan mudah dan sepuas,

puas hatinya. Saudagar-saudagar pun tak kurang khawatirnya,

sebab pada sangkanya, tentulah perniagaannya akan jatuh,

karena peperangan ini. Begitu pula pegawai-pegawai

Pemerintah, berdebar-debar hatinya, takut kalau-kalau serdadu

kalah. Jika demikian, tentulah mereka tiada akan mendapat

ampunan dari perusuh, karena sekalian yang tiada hendak ikut

melawan, dipandang mereka sebagai musuhnya. Hanya

perusuhlah yang geram melihat, bala tentara Pemerintah datang

sebanyak itu dan panas hatinya, lalu berpikir mencari akal akan

memperdayakan serdadu ini.

Setelah sampailah bala tentara itu ke tangsi Padang, pergilah

Letnan Mas kepada Kapitannya, minta izin akan pergi sebentar

dengan berjanji, segera akan kembali pula, karena adalah suatu

keperluan yang sangat penting baginya.

Mula-mula rupanya kapitannya tiada hendak memberi izin ini

tetapi tatkala dilihatnya Mas meminta amat sangat, diperkenankanyalah

juga permintaan itu dengan pesan, supaya jangan lewat

daripada pukul enam petang kembali. Sebab pada waktu itu hari

baru pukul setengah lima, berpikirlah Letnan Mas dalam hatinya,

"Tentu tidak terlambat aku kembali."

Dengan segera dipanggilnya sebuah bendi sewaan, lalu

berangkat menuju ke Muara. Setelah sampailah ia ke sana,

diseberanginyalah sungai Arau dengan perahu dan didakinya

Gunung Padang. Di tengah jalan bertemulah ia dengan seorang

fakir, yang tinggal di atas gunung itu, lalu ditanyakannya di

mana kubur Baginda Sulaiman, saudagar yang berpulang kirakira

sepuluh tahun telah lalu. Walaupun fakir itu sangat heran

mendengar perkataan ini dan berpikir dalam hatinya, apakah

sebabnya seorang letnan menanyakan kubur seorang Melayu,

tetapi ditunjukkannya juga kubur itu.

Setelah sampai ke makam ini, kelihatanlah oleh Letnan Mas

tiga buah kubur dalam suatu tempat yang berpagar tembok. Dua

buah daripada kubur ini, letaknya berdekat-dekatan; yang sebuah

lagi agak jauh sedikit. Tatkala dibacanya huruf yang tertulis pada

batu nisan kubur yang berdekat-dekatan itu nyatalah kepadanya,

bahwa kubur itulah yang dicarinya. Karena tiada tertahan oleh

Letnan Mas hatinya, segeralah ia masuk ke dalam makam ini,

lalu berlutut di antara kedua kubur yang berjauh-jauhan itu,

sambil memeluk keduanya dengan kedua belah tangannya. Di

situ menangislah ia tersedu-sedu, seraya meratap demikian,

"Aduhai Nurbaya dan Ibu yang sangat hamba cintai!

Mengapakah sampai hati benar meninggalkan hamba seorang

diri di atas dunia ini? Berjalan tiada hendak berkata-kata, pergi

tiada hendak membawa-bawa. Mengapakah tiada diajak hamba

pergi bersama-sama dan tiada dinantikan hamba, supaya boleh

hamba temani, dalam perjalanan yang jauh itu? Dan tatkala telah

ditinggalkan, mengapakah tidak lekas dijemput, dibiarkan

sepuluh tahun lamanya hamba mengembara ke sana kemari,

mencari jalan akan mengikut Bunda dan Adinda, sehingga

sampai kepada waktu ini pekerjaan itu sia-sia belaka.

Aduhai! Bilakah masanya kita akan dapat berjumpa pula dan

bilakah waktunya kita akan dapat berkumpul dan bercakapcakap,

sebagai dahulu? Bunda dan Nur, pintakanlah kepada

Allah subhanahu wataala, supaya jangan dipanjangkan-Nya lagi

umur hamba ini dan lekaslah dipertemukan-Nya kita sekalian;

karena hidup bercinta seperti ini, sesungguhnyalah tiada terderita

oleh hamba. Cukuplah sepuluh tahun lamanya hamba

menanggung siksa dan azab yang tiada tertanggung oleh manusia

dan patutlah sudah hamba dilepaskan daripada penjara yang

sedemikian.

Aduh Nur, aduh Adikku! Tiada kusangka sekali-kali akan

beginilah akhirnya kita ini. Mengapakah segala pengharapan dan

cita-cita orang dikabulkan, tetapi harapan dan cita-cita kita

dijadikan seperti ini? Apakah salahmu, dan salahku dan salah

kita ini, maka beroleh nasib yang sedemikian ini? Sudahlah di

dunia ini, segala pengharapan dan permintaan kita, yang kita

pohonkan sebilang waktu, tiada dikabulkan, di akhirat kelak ada

akan disampaikan Allah, segala cita-cita itu? Ah, pada rasaku tak

adalah manusia yang malang sebagai kita ini! Sepuluh tahun

lamanya aku menanggung sengsara dan dukacita; sepuluh tahun

pula aku menanggung rindu dendam, kepadamu, tetapi sampai

sekarang ini, belum disampaikan Tuhan juga maksudku ini.

Berapakah lamanya lagi aku harus menunggu?

Tetapi oya, Nur; aku telah beroleh alamat, bahwa aku segera

akan dipertemukan dengan engkau, karena inilah penghabisan

sisaku. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya; doakan

bersama-sama.

Suatu yang belum kuketahui, yaitu dapatkah aku menuntutkan

belamu atau tiada? Tetapi biarpun tak dapat, Allah Yang

Maha Kuasa takkan lupa, bahwa tiap-tiap kesalahan itu tiada

akan luput daripada hukumannya. Biarlah bersama-sama kita

kelak menyembahkan kesalahannya ini."

Setelah itu diciumlah oleh Letnan Mas kedua nisan kubur itu,

lalu berdiri perlahan-lahan dan berkata kepada fakir yang masih

tercengang berdiri di sana, melihat kelakuan letnan ini, karena

heran, mengapakah seorang Belanda, menangis di kubur seorang

Islam!

"Fakir, mengajilah Tuan di sana, bagi arwah segala yang

telah meninggal itu. Inilah hamba beri sedekah!" lalu

dikeluarkannya uang kertas sepuluh rupiah dari dalam tempat

uangnya, diberikannya kepada fakir ini. Karena seumur

hidupnya, belum pernah fakir ini menerima hadiah sekian

banyaknya, sangatlah sukacita hatinya, lalu mengaji semalammalaman

di makam itu.

Sementara Letnan Mas pergi ke Gunung Padang, datanglah

kabar dari Gubernur Padang, mengatakan malam itu perusuh

akan masuk ke dalam kota, membuat huru-hara. Oleh sebab itu

dimintalah sebagian daripada serdadu yang ada itu, pergi ke luar

kota, mengadang musuh ini, supaya jangan sampai berperang di

dalam kota.

Kira-kira pukul tujuh malam, berangkatlah sepasukan

serdadu yang dipimpin oleh Letnan Mas dan Van Sta, ke luar

kota Padang menuju Kota Tengah. Pukul sembilan, sampailah

mereka ke Tabing dan tiada berapa lama kemudian, hampirlah

mereka ke Kota Tengah. Dari jauh telah kelihatan berpuluhpuluh

orang; sekaliannya memakai serba putih, berkumpulkumpul

di pinggir jalan, di muka sebuah kedai; rupanya mereka

sedang bermusyawarat, bagaimana hendak menyerang.

Sekaliannya bersenjata sebuah golok.

Tatkala kelihatan oleh perusuh serdadu datang, gemparlah

sekaliannya; ada yang mengambil senjatanya, ada yang

menghunus kerisnya, ada yang memencak, ada yang berteriak

memanggil kawan, ada yang memaki-maki dan ada pula yang

mengacu-acukan senjatanya; berbagai-bagai kelakuan mereka.

Setelah hampir kepada mereka ini, Letnan Mas menyuruh

berhenti serdadunya dan membariskan mereka. Seorang

kemendur yang mengikut bersama-sama maju ke muka,

menyuruh perusuh menyerahkan dirinya. Tetapi jangankan diindahkan

mereka, kemendur itulah yang dimaki-makinya, seraya

memencak mengajak berkelahi. Setelah tiga kali kemendur

membujuk dengan lemah-lembut, menyuruh mereka menyerahkan

diri, tiada juga didengar oleh orang-orang itu, diserahkannyalah

kekuasaan ke tangan Letnan Mas. Letnan Mas menyusun

serdadunya, lalu menyuruh menembak ke udara. Seketika itu

juga berbunyilah kira-kira tiga puluh bedil, sekaligus. Tatkala

didengar perusuh bunyi bedil ini dan dilihatnya, tiada seorang

pun yang kena, bertambah-tambahlah berani mereka, karena

pada sangkanya sesungguhnyalah mereka tiada dimakan anak

bedil lagi, berkah ajimat yang diperolehnya dari gurunya. Maka

bertempiklah mereka bersorak dan ratib mengucap "La illaha

illallah" lalu maju ke muka. Setelah hampirlah mereka, barulah

Letnan Mas memerintahkan membedilnya.

Tatkala berbunyilah bedil kedua kalinya, rebahlah sebaris

orang yang di muka, jatuh ke tanah. Ada yang menjerit, ada yang

memekik, ada yang meminta tolong dan ada pula yang terus

ratib, tetapi banyak yang tiada bersuara lagi karena terus mati.

Perusuh yang berdiri di belakang, bingunglah sejurus, tiada tahu

apa yang dibuatnya. Ketika berbunyi pula bedil ketiga kalinya,

pecahlah perang perusuh itu, karena banyak yang mati. Mana

yang tinggal larilah cerai-berai kian kemari, membawa dirinya

masing-masing.

Akan tetapi seketika itu juga, keluarlah beberapa orang tuatua

dan haji-haji dari dalam sebuah rumah, lalu berteriak

memanggil sekalian orang yang lari itu, serta mencabut kerisnya

dan maju ke muka. Karena melihat keberanian ini, berbaliklah

sekalian yang lari, lalu mengikut guru-gurunya dengan

bertempik sorak pula, menyerang serdadu-serdadu dari dua

pihak. Oleh sebab cepat datang mereka menyerbukan dirinya,

serdadu-serdadu Letnan Mas, tiadalah sempat menembak lagi,

lalu mempergunakan bayonetnya. Dengan segera menjadi

ramailah peperangan itu, masing-masing mencari lawannya. Ada

yang bertikam-tikaman, ada yang bertetak-tetakan pedang, ada

yang tangkis-menangkis, berpukul-pukulan, tangkap-menangkap

dan banting-membantingkan. Yang mati, jatuh, yang luka,

berdarah, yang takut, lari, yang berani mengejar. Ada yang maju,

ada yang mundur, ada yang melompat, berbagai-bagai kelakuan

mereka. Suara pun bermacam-macam kedengaran, gegap

gempita, tiada disangka bunyi lagi, dicampuri pula oleh bedil,

pistol, pedang dan parang. Walaupun bulan terang cahayanya,

tetapi di tempat itu gelap, karena asap bedil. Dan jika pakaian

mereka tiada sangat berlainan, yakni hitarn dan putih, niscaya

tiadalah tentu lawan kawan. Letnan Mas dengan kepala perusuh,

kelihatan sama-sama mengerahkan bala tenteranya, menyuruh

maju sambil membedil dan menetak.

Tiada berapa lamanya berperang itu, banyaklah yang mati

dan yang luka pada kedua belah pihak. Darah mengalir di jalan

raya dan mayat tersiar-siar di sana-sini. Oleh sebab dari

kampung tiada putus-putusnya datang bantuan perusuh, tiadalah

tertahan oleh Letnan Mas serangan musuhnya, sehingga

disuruhnya serdadunya undur perlahan-lahan. Bila tiada datang

bantuan dari Letnan Van Sta, pastilah pecah perang Letnan Mas.

Untunglah pada waktu itu juga kedengaran tempik sorak serdadu

Letnan Van Sta, yang menyerbukan diri ke medan peperangan.

Tiada berapa lamanya kemudian daripada itu, undurlah perusuh

perlahan-lahan dan akhirnya, tatkala bantuan mereka tak datang

lagi, pecahlah perang mereka, lalu lari kian kemari,

bertemperasan, diburu oleh serdadu-serdadu kedua letnan itu.

Tatkala mengejar perusuh, kelihatan oleh Letnan Mas,

seorang daripada kepala mereka, bangun badan, perjalanan dan

suaranya serupa benar dengan bangun badan, perjalanan dan

suara Datuk Maringgih, musuhnya yang sekian lama dicaricarinya.

Maka berdebar-debarlah hati Letnan Mas dan gemetar

tangannya serta berubah mukanya, sebagai suka bercampur

duka. Suka karena ada pengharapan akan dapat membalaskan

sakit hatinya, dan duka karena ingat akan segala kejahatan yang

telah diperbuat jahanam itu. Ketika kepala perusuh ini hendak

melarikan dirinya, diburunyalah orang itu dengan tiada berpikir

panjang lagi. Setelah berhadap-hadapan mereka, nyatalah pada

Letnan Mas, bahwa persangkaannya tadi benar, karena

sesungguhnya Datuk Meringgih, algojo Nurbaya, yang berdiri di

mukanya, lalu berkatalah ia, "Datuk Meringgih! Benarkah

engkau ini?"

"Ya, akulah Datuk Meringgih, saudagar yang kaya di Padang

ini," jawab kepala perusuh itu. "Engkau ini siapa, maka kenal

kepadaku?

Setelah diamat-amatinya Letnan Mas ini, terperanjatlah ia

lalu surut beberapa langkah ke belakang, seraya berteriak,

"Samsulbahri! Engkau tiada mati? Atau setannyakah ini?"

"Seketika itu juga melompatlah ia kembali ke muka, hendak

menetak Letnan Mas. Letnan Mas melompat ke kanan, lalu

berkata, "Tunggu dahulu, Datuk Meringgih! Karena banyak yang

terasa dalam hatiku, yang hendak kukatakan kepadamu, sebelum

aku terpaksa mencabut nyawamu."

Mendengar perkataan ini berdirilah Datuk Meringgih, karena

hendak mengetahui, apakah yang akan dikatakan musuhnya itu.

"Datuk Meringgih! Sesungguhnya akulah Samsulbahri, yang

sepuluh tahun telah lalu, sudah mati, tetapi yang dikeluarkan

kemtali dari dalam kubur, untuk menghukum engkau atas segala

kejahatanmu yang keji itu. Tatkala aku membedil diriku di

Jakarta, karena terlebih suka mati daripada hidup menanggung

sengsara yang asalnya daripada perbuatanmu, tiadalah disampaikan

Tuhan maksudku itu. Rupanya aku terlebih dahulu harus

menuntut bela atas segala kesalahanmu. Itulah sebabnya maka

peluru yang kutujukan ke kepalaku, tiada menembus otakku.

Karena aku terperanjat, mendengar suara sahabatku, Arifin, yang

tatkala itu berteriak, dan tanganku bergoyang, sehingga anak

bedil, sekadar merusakkan tulang kepalaku saja. Ketika aku

sadar akan diriku, kupintalah kepada dokter dan sekalian orang

yang tahu akan halku, supaya kabar aku hidup kembali, tiada

disiarkan ke mana-mana, karena pada pikiranku, lebih baik aku

disangka orang telah mati daripada hidup sedemikian. Beberapa

kali aku mencari kematian, tetapi tiada juga dapat, karena Tuhan

masih memanjangkan umurku, supaya dapat menghukum

engkau atas segala dosamu.

Sepuluh tahun lamanya aku menanggung sengsara dan

dukacita yang tiada terderita, sepuluh tahun pula aku menaruh

dendam dalam hatiku kepadamu. Sekarang barulah disampaikan

Tuhan maksudku itu; sekarang barulah dapat aku menuntutkan

bela sekalian orang yang telah engkau aniaya, hai penjahat yang

sebesar-besarnya! Karena kekayaanmu, menjadilan engkau

sombong dan angkuh serta tekebur kepada Tuhan, yang telah

memberunu kekayaan itu. Pada sangkamu dengan kekayaan itu

tentulah 'kan dapat engkau berbuat sekehendak hatimu. Yang

tinggi kaujatuhkan, yang mulia kauhinakan, yang kaya kau

miskinkan dengan tiada pandang-memandang, tiada tilik-menilik

dan tiada menaruh belas kasihan, asal nafsumu yang jahat dan

hina itu dapat kaupenuhi.

Hai Datuk durhaka! Kekayaanmu itu tiada memberi paedah

kepada teman sejawatmu, sahabat kenalanmu, sesamamu

manusia dan kepada dirimu sendiri sekalipun, melainkan mendatangkan

segala bahaya, sengsara, duka nestapa kepada isi

negeri. Tiada layak engkau dikurniai Tuhan senjata yang sekuat

itu.

Dengan kekayaanmu itu kauceraikan anak daripada bapanya,

adik daripada kakaknya, asyik daripada masyuknya, sahabat

daripada karibnya. Dengan kekayaanmu itu kaujatuhkan Baginda

Sulaiman, sampal berpulang ke rahmatullah, karena dukacita;

dengan kekayaanmu itu kaupaksa anaknya menurut kesukaanmu

yang keji, kekasih dan saudaranya kauaniaya ini sampai hampir

mati di dalam laut. Kemudian kaudakwa ia mencuri barangbarangmu

yang kauperoleh dengan tipu daya, darah keringat

orang lain. Tatkala engkau tiada berdaya lagi akan memaksa

Nurbaya, yang tiada bersalah itu, kaubunuhlah ia dengan racun.

Dengan kekayaanmu itu kauceraikan aku daripada ibu-bapa

dan kaum keluargaku dan kauputuskan, pengharapanku akan

menjadi orang baik-baik, sehingga ibuku meninggal dunia

karena kesedihan hati. Sungguhpun demikian, sekalian itu belum

lagi seperseratus dari segala dosamu yang harus kautanggunl.

Hai Datuk Meringgih! Tiadakah terasa olehmu kesalahnmu

itu? Tiadakah takut engkau kepada Tuhan, yang memberikan

segala kekuasaan itu kepadamu? Tiadakah malu engkau kepada

sesamamu manusia, yang engkau perdayakan? Dan tiadalah

belas kasihan engkau kepada sekalian mereka, yang telah

menjadi kurbanmu?"

Samsulbahri berhenti sejurus berkata-kata itu, karena penuh

rasa dadanya dan sesak rasa napasnya, menahan hatinya yang tak

dapat direncanakan di sini.

Datuk Meringgih tiada menjawab sepatah kata pun, sebab

baru dirasanya waktu itu, kebenaran perkataan Samsulbahri ini.

Di situlah baru nyata padanya, bahwa sebenarnya sampai kepada

waktu itu, belumlah lagi ia berbuat kebaikan dengan hartanya

yang sekian banyaknya itu. Bila ia mati dalam peperangan ini,

tentulah segala hartanya itu akan terbagi-bagi kepada yang

tinggal dan apakah akan dibawanya ke dalam kubur? Tak lain

nama yang jahat, sumpah, umpat dan maki segala mereka yang

telah dianiaya. Dan tentulah sekalian itu akan memberatinya

dalam kuburnya. Bila ada ia berbuat kebaikan, barangkali adalah

juga yang akan mendoakan arwahnya.

Di sana, tatkala ia telah hempir ke pintu kubur, baru

diinsyafinya, bahwa harta dunia itu sangat sedikit harganya,

untuk kehidupannya di negeri yang baka. Maka timbullah sesal

dalarn hatinya atas perbuatannya yang telah lalu. Akan tetapi apa

hendak dikata, karena tatkala itu dirasainya, ia tak dapat lagi

memperbaiki kesalahannya itu.

Setelah sejurus berdiam diri, berkatalah pula Samsulbahri

dengan menyapu air matanya, yang tak dapat ditahannya, "Hai

Datuk Meringgih! Sekaranglah akan kuperlihatkan kepadamu,

bahwa ada lagi yang terlebih berkuasa daripada hartamu itu.

Walaupun seratus kali lebih banyak hartamu dari yang ada

sekarang ini, tiadalah akan dapat ia mengubah pikiranku, hendak

membalas kejahatanmu itu dan tiadalah dapat ia menolong

melepaskan engkau dari dalam tanganku. Terimalah olehmu

hukumanmu!" lalu Samsu mengangkat pestolnya, menembak

Datuk Meringgih. Tetapi tatkala itu juga Datuk Meringgih

melompat ke muka, menetak Samsulbahri dengan parangnya,

sambil berteriak, "Rasailah pula olehmu bekas tanganku, hai

anjing Belanda!"

Setelah itu juga rebahlah keduanya ke tanah; Datuk

Meringgih karena kena peluru Samsulbahri, yang menembus

dada dan jantungnya dan Samsulbahri, karena kena parang

Datuk Meringgih kepalanya.

Tatkala diangkat Letnan Mas oleh serdadwrya, kelihatan di

antara mayat-mayat perusuh itu, dua mayat yang memakai serba

hitam yang seorang lehernya hampir putus, rupanya kena

kelewang, yang seorang lagi dadanya tembus kena bayonet.

Itulah mayat Pendekar Lima dan Pendekar Empat, yang beroleh

hukuman daripada Yang Maha Kuasa, atas segala kejahatannya.

Dua hari kemudian daripada peperangan yang tersebut di atas

ini, kelihatanlah dalam rumah sakit di Padang, seorang opsir,

sedang tidur di atas sebuah ranjang, berselimutkan kain selimut

putih. Rupanya ia sakit keras, karena hampir seluruh kepalanya

terbungkus perban putih, sehingga hanya mukanya saja yang

tampak, yang pucat warnanya. Dekat tempat tidur ini, berdirilah

seorang penjaga, yang sedang mengatur gelas-gelas obat,

perlahan-lahan; rupanya ia takut, kalau-kalau si sakit ini terkejut

bangun. Ketika itu masuklah seorang dokter Belanda, hendak

memeriksa keadaan si sakit ini.

Mendengar bunyi sepatu dokter si sakit membuka matanya

dan memandang kepada dokter. Di situ nyata, mata si sakit telah

kabur warnanya dan pemandangannya telah lemah. Dokter yang

masuk ini segera memberi salam, lalu bertanya, "Apa kabar?"

"Perasaan badan ada baik sedikit, walaupun sakit kepala

belum hilang benar," jawab si sakit perlahan-lahan. .

"Memang, sakit kepala itu dalain dua tiga hari ini barangkali

masih ada," lalu dokter memeriksa kulit muda mata dan jalan

darah pada pangkal lengan si sakit. "Berapa panas badannya pagi

ini?" tanya dokter kepada penjaga.

"Ada hamba tuliskan," jawab penjaga, seraya mengunjukkan

sehelai daftar. Setelah doukter melihat daftar ini, terdiamlah ia

sejurus.

"Tuan Dokter," kata si sakit pula dengan tiba-tiba.

"Walaupun hamba katakan tadi, perasaan badan hamba senang

sedikit, tetapi kesenangan itu, pada sangka hamba, bukan

kesenangan karena akan sembuh. Jangan marah, bila hamba

katakan, bahwa hamba tiada lama lagi akan hidup di atas dunia

ini; karena demikianlah perasaan hamba. Janganlah Tuan

sembunyikan pendapatan Tuan kepada hamba, karena misalnya

Tuan kuatir, hamba takut mati. Sekali-kali tidak. Kematian telah

lama hamba ingini dan telah hamba cari di mana-mana. Baru

sekarang hamba peroleh. Syukurlah!

Lagi pula tadi malam hamba telah dikunjungi oleh kekasih

dan ibu hamba, yang telah lama meninggalkan dunia ini. Mereka

berjanji hari ini akan datang kembali menjemput hamba supaya

dapat pergi bersama-sama ke tempat mereka."

Di sini berhentilah si sakit berkata-kata sejurus lamanya

karena percakapan ini rupanya sangat melemahkannya. Kepalanya

dipegangnya, sebagai ia berasa sakit di sana.

"Jika berasa lelah, lebih baik jangan berkata-kata dahulu."

kata dokter.

Setelah berdiam sejurus si sakit menggagahi dirinya, untuk

meneruskan perkataannya, "Tak apa-apa Tuan Dokter. Jangan

kuatir! Sakit kepala hamba datang pula sedikit. Sebelum hamba

meninggalkan dunia ini ada suatu permintaan hamba kepada

Tuan."

"Permiritaan apa itu? Katakanlah! Jika dapat, tentu akan

hamba kabulkan." sahut dokter.

"Hamba ingin benar hendak bertemu dengan Sutan Mahmud,

Penghulu di Padang ini. Bolehkah?" tanya si sakit perlahan-lahan

putus-putus suaranya.

"Tentu sekali boleh." jawab dokter, walaupun ia tiada

mengerti apakah sebabnya seorang opsir tentara, hendak berjumpa

dengan seorang Melayu Padang. "Dengan segera ia akan

hamba minta datang kemari. Adakah lagi permintaan Tuan?"

"Tidak. Hanya itu. Terima kasih!" jawab si sakit.

"Baiklah," kata dokter pula, lalu ke luar, untuk menyuruh

panggil Sutan Mahmud.

Setelah keluar dokter, si sakit tertidur kembali, sebagai

kelelahan karena berkata-kata tadi.

Dua jam kemudian datanglah Sutan Mahmud ke rumah sakit

ini, lalu dibawa penjaga masuk bilik opsir tentara yang sakit tadi.

Tatkala dilihat Sutan Mahmud muka si sakit, sangatlah

terperanjat ia, karena rupa opsir ini tak ubah dengan rupa

anaknya Samsulbahri, yang telah ineninggal dunia di Jakarta,

sepuluh tahun yang telah lalu.

Dengan tiada dapat ditahannya, berlinang-linang air matanya,

sebab terkenang nasib anaknya yang malang itu, yang telah

membunuh dirinya, karena putus asa. Sekali-kali tiada disangkanya

akan demikian untung anaknya yang sebiji mata itu.

Sebenarnya ia telah lama menyesal akan perbuatannya, yang

tergopoh-gopoh atas anaknya itu. Karena akan perbuatan

anaknya itu berhubung dengan bangsa dan pangkatnya yang

tinggi, diusirnya anaknya ini, sehingga istrinya yang hanya

seorang, mati karena kesedihan hati dan anaknya yang tunggal

mernbunuh diri, karena kedukaan. Setelah meninggal anaknya

ini dan setelah dipikirkannya benar-benar perkara ini, terasa

olehnya, bahwa kesalahan anaknya itu sebenarnya tiada

seberapa.

Percintaannya kepada Nurbaya, tak dapat disalahkan; karena

sejak kecil ia bercampur gaul dengan anak sahabatnya ini,

sebagai seorang yang bersaudara kandung. Persangkaannya,

bahkan pengharapannya pun, Nurbaya akan menjadi istri anaknya.

Walaupun Nurbaya tiada berbangsa tinggi, tetapi tak

mengapa. Kecantikan parasnya, kepandaiannya dan tingkah

lakunya yang baik, telah cukup untuk pengganti kerugian

kebangsawanan Padang. lstrinya, Ibu Samsu, bukan orang

berbangsa, tetapi tiada menjadi alangan apa-apa bagi kehidupan

bersuami-istri. Memang patut Samsu bersanding dengan

Nurbaya, seorang cantik, seorang tangkas. Demikian kenangkenangan

Sutan Mahmud.

Maka terbayanglah di matanya pada waktu itu, anaknya

duduk bersuka-sukaan dengan Nurbaya, sebagai orang yang

bersuami-istri. Samsu sebagai seorang dokter dan Nurbaya,

sedang memangku seorang anak laki-laki, cucunya.

"Ah, kalau tak ada Datuk Meringgih jahanam itu, niscaya

kenang-kenanganku ini bukan cita-cita, melainkan

sebenarnyalah. Dan jika tiada karena bangsa dan pangkatku yang

tinggi, barangkali tiada sampai kuusir anakku yang sebiji mata.

Sekarang apa hendak dikata? Karena keduanya tak ada di

dunia ini lagi. Semoga di akhirat dapat disampaikannya sekalian

cita-cita dan hasrat hatinya, yang tiada diperolehnya di dunia

ini."

Di situ bercucuran pula air matanya, jatuh berderai dengan

tiada dirasainya.

Sesungguhnya demikianlah, hati Sutan Mahmud. Sesal

dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, kata pepatah.

Walaupun engkau menjerit sampai ke langit sekalipun,

kesalahanmu ini tak dapat diperbaiki lagi. Jika tiada tergesa-gesa

engkau menjatuhkan hukurnan atas anakmu waktu itu,

barangkali tiada terjadi kesengsaraan dan kesedihan ini dan

dapatlah kaucapai cita-citamu tadi. Tetapi karena engkau masih

sangat terikat oleh kemegahan pangkat dan bangsamu, jadilah

demikian kesudahannya.

Tentu; mulut terdorong, mas padahannya; hukumanmu

terdorong kepada anakmu, kesengsaraan dan kematian beberapa

orang balasnya. "Terlebih besar dosamu atas kesalahanmu ini,

karena engkau seorang kepala negeri, ibu-bapa, tempat meminta,

tempat bertanya, tempat berlindung kepanasan, tempat berteduh

kelrujanan, bagi anak buahmu. Engkaulah yang harus

menyelesaikan yang kusut, memperjemih yang keruh dan

memperbaiki yang rusak.

Bila engkau kepada anakmu sendiri telah menjatuhkan

hukuman yang seberat itu, hanya karena engkau bersangka harus

berbuat sedemikian, karena kebangsawananmu dan pangkatmu

yang tinggi, betapakah engkau akan melakukan kewajibaumu

dengan seadil-adilnya dan sebaik-baiknya kepada oiang lain''

fiap-tiap kesalahan itu memang ada hukumannya dan inilah

hukuman yang telah dijatuhkan Tuhan ke atas dirimu. Mudahmudahan

dapatlah engkau memetik ibaratnya!

Sementara Sutan Mahmud berdiri termenung memikirkari

untung nasib anaknya yang malang dan merindukannya serta

menyesal akan perbuatan yang tergesa-gesa, menunggu si sakit

bangun, masuklah dokter tadi ke dalam bilik itu dan karena itu si

sakit terjaga daripada tidurnya, lalu membuka matanya dan

menoleh ke kanan ke kiri. Tatkala dililiatnya Sutan Mahmud,

lalu diperhatikannya Penghulu ini sejurus lamanya. Kemudian

ditutupnya pula matanya dan dilambainya Penghulu ini dengan

tangannya, supaya datang mendekatinya. Dokter dan penjaga

berdiri agak jauh sedikit, karena tiada hendak mendengarkan

percakapan yang mungkin tiada boleh didengar orang lain.

Setelah hampirlah Nenohulu Sutan Mahmud, lalu berkatalah

si sakit perlahan-lahan dengan putus-putus suaranya, "Tuanku

Penghulu! Hamba minta datang Tuanku kemari, karena adalah

suatu rahasia yang hendak hamba bukakan, sebelum hamba

berpulang. Rahasia itu ialah permintaan anak Tuanku sendiri,

Samsulbahri."

"Anak hamba Samsulbahri yang telah meninggal dunia di

Jakarta?" tanya Sutan Mahmud dengan terkejut.

"Ya, Samsu itu, yang tiada jadi mati," sahut si sakit.

"Samsu tiada mati. Anak hamba tiada mati?" tanya Sutan

Mahmud dengan tergesa-gesa dan amat herannya.

"Benar," sahut si sakit.

"Jadi ia masih hidup sekarang? Di manakah ia waktu ini? ...

Tetapi betapakah Tuan tahu akan hal ini."

"Sebab hamba waktu itu ada dalam rumah sakit, tempat ia

diobati," lalu diceritakanlah oleh si sakit tentang penembakan

diri Samsu di Jakarta dan apa sebabnya ia dikatakan telah mati.

Kemudian ia masuk tentara, untuk mencari kematian, tetapi tiada

diperolehnya juga. Akhirnya ia disuruh ke Padang untuk

memadamkan huru-hara belasting.

"Jika demikian, ia ada di Padang sekarang ini." kata Sutan

Mahmud dan mukanya bercahaya karena kesukaan.

"Benar ia datang bersama-sama hamba kemari dan berperang

pun bersama-sama hamba pula. Pangkatnya Letnan dan namanya

Mas, yaitu kebalikan namanya yang sebenarnya. Sam."

Karena bercakap-cakap ini rupanya si sakit bertambah lelah

sehingga berkata pun hampir tak dapat. Mukanya semakin pucat

dan acap kali ia memegaug kepalanya, karena kesakitan.

Setelah berhenti sejurus, berkata pula ia sambil mengangkat

kepalanya sedikit, sebagai kuatir, suaranya tiada akan terdengar

oleh Sutan Mahmud.

"Inilah pesannya: bila . . . ia ... mati minta ... dikuburkan ...

antara ... ibunya ... dan ... Nurbaya ... Allahu Akbar!"

Tatkala habis perkataan ini, habislah pula napas si sakit, lalu

rebah ke tempat tidurnya dan berpulanglah ia dengan tenangnya.

Walaupun kamatian si sakit ini amat tenang dan mudah

rupanya, karena muka mayatnya tiada berubah, sebagai orang

yang tidur biasa saja, sedang pada bibirnya masih berbekas

senyum, seolah-olah suka meninggalkan dunia yang fana ini,

tetapi Sutan Mahmud sangat terperanjat, melihat kematian yang

tiba-tiba ini. Setelah ia berkomat-kamit membaca doa sejurus

lamanya, seraya bertanya, "Kenalkah Tuan, Letnan Mas yang

datang dari Jakarta, bersama-sama Tuan yang baru meninggal

ini? Di manakah ia sekarang ini?"

"Letnan Mas?" tanya dokter dengan heran.

"Ya, Letnan Mas, yang datang kemari untuk berperang

dengan perusuh di Padang ini." kata Sutan Mahmud pula.

"Tiada lain, melainkan inilah dia, yang baru meninggal dunia

ini." jawab dokter.

Tatkala Sutan Mahmud mendengar perkataan dokter ini,

terpekiklah ia, lalu memeluk dan mencium mayat itu, sambil

menangis tersedu-sedu; karena sekarang nyatalah olehnya, si

sakit yang baru meninggal itu, tiada lain melainkan anaknya

sendiri, Samsulbahri, yang telah sepuluh tahun dirindu-rindukannya,

sekarang meninggal di hadapannya, dengan tiada dikenalnya.

"Aduhai Anakku, biji mataku!! Mengapakah tiada dikatakan

lebih dahulu, sehingga ayahda tiada tahu akan anak sendiri.

Memang sejak terpandang mukamu tadi, ayanda telah syak

wasangka; tetapi tiada berani membenarkan persangkaan itu,

karena mustahil rasanya. Wahai! Mengapakah Ananda tiada

hendak mengaku terus terang, melainkan menyembunyikan diri,

sampai ananda tak ada lagi. Barangkali ananda masih marah

kepada ayanda, sehingga tiada hendak mengaku bapa lagi

kepada ayanda.

Telah lama ayanda rasai dan ketahui kesalahan ayanda,

karena telah menjatuhkan hukuman yang berat, ke atas diri

Ananda, dengart tiada usul periksa yang sebaik-baiknya,

sehingga sesal yang tak kunjung putus, telah menggoda ayanda.

Oleh sebab itu, beringin benar ayanda beroleh maaf dari Ananda,

dunia dan akhirat.

Aduhai Ananda! Mengapakah tatkala hidup dalam sepuluh

tahun, tiada hendak kembali kepada ayanda, sehingga ayanda

hanya diberi kesempatan sejurus lamanya, untuk bercakap-cakap

dengan Ananda, yang tiada ayanda kenal lagi, pada penghabisan

umur Ananda?

Kesalahan ayanda kepada Ananda memanglah besar, tetapi

patut juga Ananda maklumi kekurangan orang tua, yang terikat

oleh adat istiadat negerinya, sebagai ayanda ini. Sekarang apalah

gunanya ayanda hidup lagi, seorang diri di atas dunia ini, karena

Ananda tak ada lagi; sedang bunda Ananda pun telah lama pula

meninggalkan ayanda. Bawalah ayanda bersama-sama, supaya

dapat pula kita bercampur gaul, sebagai dahulu. Janganlah

ayanda ditinggalkan seorang diri, di atas dunia ini!

"Ya Allah, ya Tuhanku! Lekaslah cabut pula nyawaku ini,

supaya dapat bertemu kembali dengan anak-istriku!"

Maka pingsanlah Sutan Mahmud, tiada khabarkan dirinya

lagi.

Pada keesokan harinya diusunglah sebuah jenazah dari rumah

Sutan Mahmud, Penghulu di Padang, yang dipikul oleh empat

orang Kepala Kampung. Jenazah ini, sebagai kebiasaan di

Padang, ditutup dengan kain putih, yang penuh ditaburi bungabungaan.

Sebelah ke muka, di tengah-tengah dan sebelah ke

belakang, jenazah itu dipayungi dengan payung kuning, tanda

yang meninggal itu seorang bangsawan tinggi. Di muka jenazah,

berjalan dua orang muda. Yang membakar setanggi dan gaharu

dalam perasapan yang ditaruh di atas dulang perak. Yang

seorang lagi membawa bunga-bungaan dan air cendana. Di kiri

kanan jenazah ini, berjalan beberapa pemuda bangsawan, yang

membawa tombak dan perisai, pedang dan panji-panji, dan lainlainnya,

yang biasa dibawa dalam upacara penguburan anak rajaraja.

Hanya gendang dan serunailah yang tiada kedengaran

bunyinya, karena tiada dibenarkan oleh ulama-ulama.

Di belakang jenazah ini, kelihatan haji-haji, syekh-syekh,

ulama-ulama, yang tiada putus-putusnya zikir dan membaca doa.

Di belakang mereka, berjalan pembesar, pegawai-pegawai,

Kepala-Kepala, orang tua-tua, cerdik pandai, kaum bangsawan

dan rakyat biasa. Di belakang itu pula, berbaris serdadu yang

memakai pakaian kebesaran.

Mulanya akan disertakan musik dan penembakan bedil,

menurut aturan tentara, tetapi ini pun tiada dapat dibenarkan oleh

kaum ulama. Sebagai penutup, kelihatan kendaraan pembesarpembesar

kota Padang, dari sekalian bangsa yang berjejer

sampai jauh ke belakang.

Jenazah siapakah itu? Itulah jenazah Samsulbahri, anak Sutan

Mahmud, Penghulu Padang yang terkenal, sebagai seorang

bangsawan tinggi, yang dihormati dan dimuliakan orang. Bagi

sahabat kenalannya, Samsulbahri adalah seorang yang baik budi,

peramah pengasih penyayang, penolong dengan tiada menilik

rupa dan bangsa. Dalam tentara ialah Letnan Mas, yang masyhur

gagah beraninya dan telah menolong Pemerintah dalam beberapa

kesukaran peperangan. Itulah sebabnya, tatkala hidupnya

dadanya dihiasi beberapa bintang. Bagi kaum keluarganya, ialah

seorang anak yang disayangi.

Di antara orang yang banyak, yang mengantarkan jenazah

ini, kelihatan seorang tua bungkuk, yang telah berambut putih,

berjalan perlahan-lahan di sisi jenazah, sebentar-sebentar

meminta ikut mendagang jenazah ini, dengan air matanya yang

tergenang di pelupuk matanya, seraya berkata seorang diri, "Ya,

inilah penanggungan orang yang dikurniai Tuhan umur yang

panjang. Segala yang muda-muda, yang mendahuluinya, harus

diantarkannya seorang ke dalam kubur, sampai datang gilirannya,

ia sendiri diantarkan orang ke makamnya.

"Alangkah beratnya bagi mereka yang harus melihat kekasihnya

dilahirkan dan diambil kembali, oleh Yang Maha Kuasa.

Ibunya kulihat dilahirkan, dan sepuluh tahun yang lalu, kuantarkan

ia kekuburan. Anaknya ini, kulihat pula dilahirkan. Sekarang

harus pula kuantarkan ia ke makamnya. Tetapi aku sendiri,

bilakah datang giliranku? Dan siapakah yang akan mengantarkan

aku ke kuburku?" Demikianlah pikiran orang tua itu, yakni kusir

Ali yang sangat terikat hatinya kepada Samsulbahri dan ibunya.

Di antara perempuan, yang banyak pula pergi mengantarkan,

kelihatan Sitti Alirnah dengan ibu-bapanya, karena teringat akan

Sitti Nurbaya, kekasih yang meninggal ini.

Setelah jenazah Samsulbahri dibawa ke mesjid dan

disembahyangkan di sana, barulah dibawa ke Gunung Padang,

tempat makam yang diminta oleh yang meninggal. Setelah

sampai ke sana diturunkanlah jenazah Samsulbahri ke dalam

kubur, yang letaknya antara kubur ibunya dan Sitti Nurbaya,

kekasihnya, sebagaimana permintaannya, pada penghabisan

umurnya, lalu diernbangkan dan ditimbunlah liang kubur itu.

Kemudian dibacakan talkin.

Sekalian pembesar Belanda dan bangsa lain turut menimbun

kubur itu dengan sekepal tanah dan akhirnya disiramilah kubur

itu dengan air cendana dan disebarkanlah bunga-bungaan ke

atasnya. Setelah itu berpidatolah seorang pembesar tentara,

memperingati kegagahan dan kesetiaan yang meninggal, kepada

Pemerintah. Ialah anak negeri yang mula-mula dapat mencapai

pangkat yang setinggi itu dalam golongan tentara. Kemudian

diucapkannya, supaya arwah yang meninggal mendapat

kesentosaan dan kesejahteraan di alam yang baka.

Setelah Sutan Mahmud mengucapkan terima kasih kepada

pembesar ini dan kepada sekalian orang yang telah datang

memperlihatkan kesedihan hatinya, dengan bersusah payah, ikut

serta menyelamatkan jenazah anaknya dan setelah dimintakannya

maaf atas sekalian dosa kesalahan anaknya ini, yang dapat

memberatinya di dalam kuburnya dan setelah dimintakannya

pula doa sekalian yang hadir kepada Allah taala, untuk

keselamatan Samsulbahri, pulanglah sekaliannya ke rumah

masing-masing. Hanya Sutan Mahmud dengan beberapa hajilah

yang masih tinggal mengaji di sana. Kemudian mereka ini pun

pulang pula dan tinggallah Sutan Mahmud dengan kusir Ali,

termenung duduk di atas sebuah batu. Rupanya Sutan Mahmud

terlalu berdukacita karena kematian anaknya ini dan amat

menyesal akan perbuatannya yang telah lalu.

Setelah malamlah hari, berjalanlah kedua mereka itu dari

sana dan sunyilah di makam itu. Hanya Samsulbahrilah yang

tinggal seorang diri, di tempatnya yang awal dan akhir ini.

Insaflah insan akan dirimu, demikianlah juga akhirnya akan

jadimu!

Dua bulan kemudian, kelihatan pada suatu hari, dua orang

muda naik bendi menuju ke Muara. Walaupun pakaian mereka

cara Eropah, tetapi kopiahnya yang hitam itu menyatakan, bahwa

mereka bangsa Bumiputra, anak negeri di sana.

Seorang daripada mereka, berpangkat dokter dan seorang

lagi, berpangkat opseter. Keduanya memegang seikat bunga

dalam tangannya. Setelah sampai ke Muara, lalu mereka

menyeberang sungai Arau dan mendaki Gunung Padang. Tatkala

mereka tiba di tempat yang ditujunya, kelihatanlah di sana

olehnya, lima buah kubur sejejer berdekat-dekatan. Kelima

kubur itu sama besar dan sama bentuknya. Pada tiap-tiap kepala

kubur ini, ada batu nisan dari marmer, yang bertulis dengan

huruf air mas. Di kubur yang pertama tertulis "Inilah kubur

Baginda Sulaiman, meninggal pada tanggal 5 Ramadan, tahun

1315"

Pada nisan yang kedua tertulis "Inilah kubur Siti Nurbaya,

binti Baginda Sulaiman meninggal pada tanggal 5 Zulhidjdjah

tahun 1315".

Pada nisan yang ketiga tertulis "Inilah kubur Samsulbahri,

anak Sutan Mahmud, Penghulu Padang, meninggal tanggal 5

Syafar, tahun 1326".

Pada nisan yang keempat tertulis, "Inilah kubur Sitti

Maryam, istri Sutan Mahmud, Penghulu Padang, meninggal pada

tanggal 5 Zulhijah 1315."

Pada nisan yang kelima tertulis "Inilah kubur Sutan Mahmud,

Penghulu Padang, meninggal pada tanggal 8 Rabiulawal, tahun

1326".

Kedua anak muda tadi, lalu menaburkan bunga yang

dibawanya ke atas kelima kubur ini, terlebih-lebih ke atas kubur

yang kedua dan ketiga, sedang air matanya berlinang-linang.

"Bakhtiar!" kata dokter itu. "Adakah engkau sangka, tatkala

kira-kira sebelas tahun yang lalu, berjalan-jalan dengan Samsu

dan Nurbaya kemari, kita pada waktu ini akan melawat kuburnya

di sini? Masihkah engkau mengingat waktu itu, tiga bulan

sebelum kita berangkat ke Jakarta?"

"Sesungguhnya, Arifin," jawab opseter, "tidak kusangka

sekali-kali. Tetapi apa hendak dikata? Karena manusia itu tiada

dapat berbuat sekehendak hatinya, melainkan haruslah menepati

segala janji, yang telah diperbuat. Meskipun demikian, kelima

mereka ini telah nyata dan tetap tempatnya, berdekat-dekatan

kelimanya. Akan tetapi kita ini, belum tentu lagi, entah di mana,

entah dengan siapa."

"Tetapi apakah sebabnya Engku Sutan Mahmud meninggal

dengan tiba-tiba? Apakah sakitnya?" tanya Arifin pula.

"Rindu akan anak-istrinya, menyesal akan perbuatannya,"

jawab Bakhtiar.

"Kasihan," sahut Arifin.

Setelah disuruh mereka beberapa fakir mengaji di sana,

kembalilah keduanya pulang ke rumahnya. Hanya yang telah

berkubur itu jugalah yang tinggal di sana, untuk selama-lamanya.

TAMAT

0 Response to "SIti Nurbaya 5"

Post a Comment