Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

SIti Nurbaya 4

Aduh, Lim! Jika kauketahui, betapa beratnya bagiku akan

meninggalkan dunia ini dengan penghaharapan yang sedemikian,

tentulah tiada heran engkau, melihat haiku sebagai ini. Bukannya

aku takut mati, bukannya aku sayang akan nyawaku, istimewa

pula sebab di sana ada ibu-bapaku menanti aku. Tetapi...

bagaimanakah halnya kekasiliku itu, sepeninggal aku kelak?"

"Nur, pikiranmu itu salah. Mustahil...! Ah, tak dapat

kubenarkan! Masakan engkau..." perkataan ini tak dapat diteruskan

oleh Alimah, karena khawatir, kalau-kalau benar persangkaan

Nurbaya ini. Teristimewa karena nyata kelihatan olehnya

putus asa yang terbayang di muka adiknya ini. Oleh sebab itu

dicobanyalah mengenyahkan was-was hatinya ini dengan

membujuk Nurbaya pula, "Jika engkau bersangka demikian,

tentulah karena engkau sakit, sehingga pikiranmu tiada tetap.

Sebaik-baiknyalah kau usahakan dirimu dengan sebesar-besar

usaha, supaya pikiranmu itu menjadi baik kembali. Jika tiada,

tentulah penyakitmu akan bertambah-tambah keras. Dan

ingatlah, bahwa badan dan nyawamu pada waktu ini bukan

milikmu sendiri saja lagi. karena dua orang yang lain, yaitu

Samsu dan aku, telah menjatuhkan cinta kasih sayangnya

kepadamu. Bila terjadi apa-apa atas dirimu, niscaya kami berdua

pun akan berdukacita dan bersedih hati pula. Oleh sebab itu, jika

benar engkau cinta kepada Samsu dan suyang kepadaku, jagalah

dirimu baik-baik, supaya jangan sampai mendapat sesuatu hal.

Bila kausia-siakan dirimu, tandanya eqgkau tiada cinta kepada

Samsu dan tiada sayang kepadaku."

"Aku tiada sayang kepadamu dan tiada cinta kepada Samsu?"

tanya Nurbaya, sambil mengangkat kepalanya. "Hanya Allah

yang mengetahui hatiku kepadamu berdua. Tetapi sesungguhnya,

Lim, tiada dapat kuketahui, apakah sebabnya perasaan yang

memutuskan pengharapan ini, kian lama kian bersarang dalam

hatiku, mengalahkan harapan yang kauberikan.

Pada pikiranku, sebaik-baiknya kautunjukkanlah suatu jalan

kepadaku, supaya aku dapat bertemu kembali dengan dia.

Apabila aku telah bertemu dengan dia, biarlah terjadi atas diriku,

apa maunya. Aku hendak melihat mukanya sekali lagi, hendak

mendengar suaranya sekali lagi. Aku hendak melihat sendiri

pada air mukanya, bagaimana hatinya kepadaku sekarang ini.

Aku hendak mendengar sendiri dan mulutnya, betapa perasaannya

kepadaku, sejak ia diusir ayahnya. Barangkali juga ia tiada

cinta lagi kepadaku atau ia marah kepadaku dan menyesal akan

perbuatannya." kata Nurbaya pula. sambil menutup mukanya,

hendak menahan air matanya yang keluar, lalu menangkup

kepada Alimah.

Alimah dengan segera mengangkat kepala Nurbaya perlahanlahan,

lalu menyapu air matanya dengan sehelai setangan sutera,

sambil berkata, "Bagaimana perkataanmu, Nur? Dahulu engkau

sendiri mengatakan, ia sangat cinta kepadamu dan engkau

hampir setiap Jumat mendapat surat dari padanya, yang

menyatakan cinta hatinya dan kasih sayangnya kepadamu.

Betapa pula engkau boleh berpikir seperti ini?"

"Ah Lim, surat itu dapat dikarang-karang. Yang tak bernar

pun, dapat dituliskan. Bunyi surat tiada selamanya bunyi

perkataan, yang timbul dari hati. Kalau benar ia masih cinta

kepadaku, masakan ditinggalkannya aku, dibiarkannya aku

dengan nasibku sedemikian ini? Ia berjalan tiada memberi tahu

kepadaku. Memang laki-laki mulutnya manis, tetapi hatinya

jarang yang lurus," jawab Nurbaya.

"Nur, ingat akan dirimu! Jangan diturutkan godaan setan!

Engkau sakit, sakit keras. Itulah sebabnya pikiranmu tiada tetap.

Akan Samsu, walaupun engkau lebih tahu hatinya daripada aku

tetapi aku bukan percaya saja, bahkan berani menanggung,

bahwa ia bukanlah seorang laki-laki yang mengubah janji atau

berhati lancung, melainkan seorang yang lurus hati, setia, boleh

dipercayai, pengasih, penyayang dan sabar. Cintanya kepadamu

bukan bohong, karena sejak kecil ia kasih dan sayang kepadamu.

Mengapakah sampai berubah hatimu kepadanya?

Bukannya aku hendak memenangkan dia, sebab ia bukan

kaum keluargaku, sedang engkau saudaraku yang sangat kucintai.

Sungguhpun demikian, persangkaanmu itu tak dapat

kubenarkan. Apakah salahnya, maka sampai bertukar pikiranmu

kepadanya, Nur? Alangkah sedih hatinya, bila diketahuinya

pikiranmu itu!"

"Ya, Lim," sahut Nurbaya, sambil memegang dan mencium

tangan saudaranya, sedang air matanya mengalir kembali.

"Benar pikiranmu itu; memang aku ini sakit dan pikiranku tiada

keruan. Memang tiada patut aku berpikir sedemikian, karena

belum ada kesalahan Samsu, yang nyata kepadaku. Ya, memang

pikiraiiku tiada betul. Maui dan ampun, Lim, akan kesalahan

adikmu yang celaka ini!

Kepadamu pun aku banyak minta maaf dan ampun, Sam, atas

perkataan dan syak wasangkaku tadi," kata Nurbaya pula, sambil

memandang potret Samsulbahri, yang ada dalam medaliunnya

itu. Kemudian dicium dan ditaruhnya gambar itu ke atas

dadanya. "Aku dakwa engkau, atas perbuatan, yang tentu tiada

kaulakukan; aku hukum engkau, dengan tiada berdosa. Tetapi

janganlah engkau berkecil hati, karena sesungguhnya aku sakit;

tak tahu, apa yang kuperbuat. Bila penyakitku ini tiada diobat

dengan penawarnya, tentulah tiada akan sembuh. Oleh sebab itu

lekaslah beri obat yang mustajab, supaya aku dapat baik

kembali. Jika tiada lekas kautawari, tentulah aku tiada dapat

hidup lama lagi di atas dunia ini dan sia-sialah maksudmu,

hendak membela aku.

Dan engkau, Lim, ibu-bapaku yang kedua. Tunjukkanlah

olehmu suatu jalan, supaya bangat aku terlepas dari neraka dunia

ini!"

"Nur," jawab Alimah, "jalan akan mengobati luka hatimu itu,

mudah benar. Bukankah masih banyak kapal di laut yang dapat

mempertemukan engkau dengan dia?"

Setelah berpikir sejurus, berkata Nurbaya, "Sungguh benar

katamu itu; sebab ia tentu tiada akan datang lagi ke Padang ini

karena negeri ini mungkin telah dihitamkannya."

"Jika demikian, tentulah engkau yang harus pergi kepadanya,"

jawab Alimah. "Takutkah engkau berlayar sendiri ke

Jakarta? Orang yang akan mengantarkan engkau ke sana, dapat

dicari. Pak Ali yang sangat cinta kepada Samsu, kabarnya telah

berhenti menjadi kusir bapanya, sebab ia bersedih hati, Engku

mudanya itu diusir oleh bapanya. Tentulah ia mau membawa

engkau ke Jakarta."

"Bukan aku takut," kata Nurbaya, "walau ke laut api sekalipun

aku berani, asal dapat bertemu dengan dia. Memang hal ini

sudah juga kupikirkan, karena hanya dengan jalan inilah aku

dapat memperoleh maksudku. Tetapi kupikir pula, bila aku telah

sampai ke sana, apa yang hendak kuperbuat? Karena engkau

maklum, ia masih murid, belum bergaji. Walaupun ia suka

menerima aku, dengan apakah kami akan hidup, sebab kami

baik, di negeri besar!"

"Tetapi pada pikiranku, kalau benar ia cinta kepadamu,

tentulah ada juga suatu akal padanya, untuk dapat hidup berdua

dengan engkau. Masakan seorang laki-laki, yang cukup kepandaiannya

sebagai Samsu, tiada dapat mencari muslihat yang

baik, di negeri besar!"

"Memang ia dahulu sudah berkirim surat kepadaku,

menyuruh aku pergi ke Jakarta, sebab ia kasihan akan daku dan

khawatir, aku membunuh diri.

Maksudnya hendak meninggalkan sekolahnya dan akan

mencari pekerjaan, supaya kami dapat hidup berdua. Tetapi

adakah baik, bila kuturutkan pikirannya ini? Kuasakah aku

menarik ia dari pelajaran yang boleh mendatangkan pangkat dan

gaji yang besar kepadanya kelak?

Ah, jika aku kaya, tiadalah kupikirkan lagi; tentu segera

kubenarkan pikirannya ini dan tiadalah kuberi ia bekerja, supaya

mendapat kesenangan, terlebih daripada raja. Tetapi apa hendak

dikata...?" lalu Nurbaya menghapuskan air matanya yang berlinang-

linang.

"Biarpun engkau tiada kaya, asal aku mampu, tentulah segala

maksudmu kusampaikan. Akan tetapi, sebab kita bukannya

hartawan yang mempunyai gedung di darat, kapal di laut, pada

pikiranku tiada ada jalan lain, daripada membenarkan pikiran itu.

Jika untungmu berdua kelak baik, tentulah akan kauperoleh juga

kesenangan dan kekayaan itu."

Setelah berpikir sejurus, berkatalah Nurbaya, sambil

mengeluh, "Ya, memang, tak ada jalan lain. Baiklah kuturut

pikiranmu dan pikirannya itu. Tetapi dari mana dicari belanja?"

"Kaugadaikan barang-barangmu yang tiada perlu kaupakai

dan kaujual barang-barangku setengahnya," sahut Alimah.

"Memang engkau lebih daripada saudara kandungku," kata

Nurbaya pula, sambil mencium Alimah pada pipinya.

"Jadi, benar telah tetap maksudmu hendak berangkat?" tanya

Alimah. "Dan bila engkau hendak berangkat?"

"Hari Saptu yang akan datang. Tetapi rahasia ini janganlah

kaubuka dahulu, Lim, sebelum aku selamat sampai ke tanah

Jawa, supaya jangan mendapat alangan apa-apa. Bila orang

tuamu tahu maksudku itu, niscaya tiadalah akan diizinkannya

aku pergi sendiri."

"Teritu tidak, kecuali kalau Pak Ali, yang membawamu,"

jawab Alimah. "Sekarang sudah senangkah pikiranmu?"

"Sudah." jawab Nurbaya.

"Maukah engkau berjanji, tidak akan termenung-menung,

berawan hati lagi atau menangis tersedu-sedu?" tanya Alullah

pula.

Pertanyaan itu tiada dijawab oleh Nurbaya melainkan dipeluk

dan diciumnya pula Alimah, sambil berkata, "Memang engkau

seorang bidadari, yang selalu menolong aku dalam segala

kesusahanku."

"Nah, sekarang tidurlah dengan senang, sebab hari telah

pukul setengah empat pagi! Biarlah aku tidur di sini menemani

engkau. Jika tidak, kelak engkau menangis pula, sebab waktu

yang beberapa hari itu, terlalu lama bagimu," kata Alimah

dengan bergurau kepada adiknya ini, lalu merebahkan dirinya ke

kasur, serta membawa Nurbaya tidur. "Sekarang peluklah aku

dan misalkan aku Samsu serta mimpikanlah ia!"

Nurbaya tiada menyahut cumbuan saudaranya ini melainkan

dengan tersenyum dan mata yang masih basah, diciumnya pula

Alimah, lalu berbaring.

Tiada berapa lama sesudah itu, tertidurlah Nurbaya dalam

pelukan Alimah. Maka dipandanglah muka Nurbaya oleh

Alimah beberapa saat lamanya dan nyata kepadanya, bahwa di

muka adiknya itu, masih terbayang kedukaan, tetapi yang

disertai pengharapan.

Tatkala ia hendak menutupkan matanya, terdengarlah

olehnya bunyi langkah orang, keluar dari bawah rumahnya.

Maka berdebarlah hatinya, karena teringat pula akan bayangbayang

yang dilihatnya, ketika akan menutup jendela bilik itu

tadi. Tetapi seketika lagi sunyi senyaplah di sana. Sungguhpun

demikian, diniharilah baru Alimah tertidur, karena takut dan

heran memikirkan orang yang dilihatnya tadi.

XI. NURBAYA LARI KE JAKARTA

Walaupun hari hampir pukul tujuh pagi, tetapi di pelabuhan

Teluk Bayur, belum terang benar. Di tempat-tempat yang tersembunyi,

di bawah-bawah pohon kayu, masih gelap. Beberapa

pekerja yang berjalan kaki menuju ke pelabuhan untuk mencari

nafkahnya, kelihatan masih berselubung kain sarung, supaya

jangan ditimpa angin pagi yang sejuk. Dari jauh, dari sebelah

timur, kedengaran bunyi lotong dan ungka, sebagai orang yang

bertempik sorak, bersuka raya, menyambut kedatangan cahaya

matahari, yang mulai menerangi hutan, tempat kediamannya.

Sesungguhnya, di sebelah timur kelihatan beberapa sinar

yang merah, memancar dari balik gunung, yang memagar

pelabuhan Teluk Bayur, sebagai hendak menembus awan yang

tebal. Di laut, kelihatan embun, seperti asap, tergantung di atas

air, berarak perlahan-lahan arah ke barat. Dari dalam kabut ini,

timbullah beberapa perahu kail, yang datang dari laut, berlayar

perlahan-lahan menuju ke darat, membawa ikan yang dapat

dikailnya pada malam hari. Angin teduh, laut pun tenang. Di

sebelah barat masih kelihatan bulan sebelah, tinggi di atas langit,

sedang cahayanya, kian lama kian pudar, sebagai perak belum

disepuh.

Sungguhpun hari masih pagi, tetapi di Teluk Bayur ramailah

sudah oleh orang yang hendak berlayar, meninggalkan kota

Padang atau mengantarkan mereka, yang hendak merantau ke

negeri lain; karena pada hari itulah ada sebuah kapal yang

hendak bertolak ke tanah Jawa, pukul delapan pagi. Pekerjapekerja,

ribut memuat dan membongkar barang-barang; anak

kapal ribut bersiap dan bekerja, sedang penumpang, berlari-lari

turun-naik, sebagai takut ketinggalan.

Pada sebuah kedai, yang ada di Teluk Bayur, kelihatan

seorang laki-laki tua, sebentar-sebentar menjenguk ke luar lalu

mengintip ke sana-sini, sebagai takut memperlihatkan dirinya.

Setelah masuklah ia kembali ke dalam kedai itu, lalu berkata

kepada seorang perempuan muda, yang berdiri di balik lemari,

"Rupa-rupanya tak ada orang yang tahu akan perjalanan kita ini,

karena sekarang, belum ada kelihatan seorang pun yang hamba

kenal."

"Untunglah," jawab perempuan muda itu, "tetapi baik juga

dilihat di luar. Siapa tahu, barangkali perjalanan kita ini diintip

orang juga."

Laki-laki tua tadi, pergilah ke luar kedai, lalu berjalan ke

sana kemari, pura-pura melihat ini dan itu, tetapi matanya

mengintip ke segenap tempat dan memperhatikan sekalian orang

yang dilihatnya.

Setelah berbunyilah seruling kapal yang pertama, keluarlah

kedua mereka dari kedai itu, berjalan lekas-lekas menuju kapal,

lalu naik ke atas geladak, mencari tempat yang tersembunyi dan

berdiam diri di sana. Dengan tiada diketahui mereka, adalah dua

orang laki-laki, yang mengintip segala kelakuan mereka dari

balik sebuah gudang.

Setelah nyatalah oleh kedua laki-laki ini, bahwa yang lari

naik ke kapal itu, ialah kurbannya, berkatalah seorang daripada

mereka kepada temannya, "Sekarang baiklah engkau pulang,

Pendekar Tiga! Kabarkanlah penglihatanmu ini kepada Engku

Datuk Meringgih, dan katakanlah kepada beliau, aku akan

mengikut mereka dengan kapal ini ke Jakarta, untuk menjalankan

perintahnya dan akan menuntut beberapa ilmu, yang berguna

untuk sasaran kita di sini. Lagi pula, aku di sana, akao mencari

beberapa kenalan dan murid-murid, yang suka masuk perkumpulan

kita."

"Baiklah, Kak Pendekar Lima," jawab Pendekar Tiga, "tetapi

adakah Kakak berbelanja?"

"Ada, untuk sementara," kata Pendekar Lima pula. "Jika

kurang, nanti akan kuminta dari Jakarta."

Kernudian daripada itu, bercerailah kedua mereka ini.

Pendekar Tiga pulang kembali ke kota Padang dan Pendekar

Lima berjalan perlahan-lahan ke pangkalan.

Setelah berbunyilah seruling yang kedua dan jambatan

hampir akan diangkat, barulah ia melompat naik kapal, lalu bersembunyi

di bawah geladak. Tiada beberapa lamanya kemudian

daripada itu, diangkatlah sauh dan berlayarlah kapal ini,

meninggalkan Teluk Bayur.

Setelah keluarlah kapal ini dari pelabuhan Teluk Bayur,

barulah perempuan yang melarikan diri tadi, berani keluar dari

tempat ia bersembunyi; lalu melihat ke sana kemari, mencari

tempat yang baik. Akhirnya dapatlah olehnya suatu tempat,

dekat kamar kapitan. Laki-laki yang bersama dengan dia, lalu

membentangkan tikarnya dan membuka sebuah kursi malas kain,

yang dibawanya untuk perempuan itu.

"Sekarang barulah senang hatiku sedikit, Pak Ali," kata

perempuan ini, setelah duduk di atas tikar itu. "Tetapi sungguhpun

demikian, was-wasku belum hilang; sebagai aku ini masih

diikuti oleh bala. Oleh sebab itu, baiklah Pak Ali coba juga nanti

berjalan ke mana-mana pura-pura mencari apa-apa dan dilihatlah

benar-benar, tiadakah diketahui orang perjalanan kita ini dan

tiadakah diikuti orang kita."

"Baiklah, orang kaya Nurbaya. Nanti hamba pergi periksa,

walaupun pada sangka hamba, tak ada orang yang tahu perjalanan

kita ini dan tak ada orang pula orang yang mengikuti

kita," jawab Ali.

Setelah duduk sejurus, berkatalah Nurbaya, "Pak Ali, sudahkah

dikirim surat kawat untuk Samsu, supaya disambutnya kita

di Tanjung Periuk?"

"Sudah, Orang Kaya, kemarin. Tetapi walaupun tak ada ia di

Tanjung Periuk, tak mengapa, karena hamba telah biasa ke

Jakarta dahulu, tatkala menjadi opas, membawa pesakitan," sahut

Ali.

"Betul, tetapi baik juga diketahuinya kedatangan kita ini,

supaya disediakannya tempat untuk kita," kata Nurbaya pula.

"Benar," jawab Ali. "Tetapi tiadakah Orang Kaya berasa

lapar? Barang kali belum makan apa-apa tadi!"

"Sesungguhnya perutku mulai berbunyi-bunyi, minta nasi,"

kata Nurbaya dengan tersenyum. Hatinya makin lama makin

riang, karena dapat meninggalkan kota Padang dengan tiada

diketahui orang dan karena mengingat pertemuan dengan

kekasihnya Samsulbahri.

"Tunggulah sebentar, hamba minta telur dan kopi," kata kusir

Ali, lalu pergi. Tiada berapa lama kemudian, kembali pula ia

dengan membawa beberapa butir telur dan dua mangkuk kopi.

Sementara itu, Nurbaya telah mengeluarkan beberapa ketupat

dan makan-makanan yang lain dari dalam rantangnya, lalu

makanlah kedua mereka itu.

Kira-kira sejam setelah itu, datanglah seorang mualim kapal,

meminta surat pelayaran. Tatkala sampai ia ke dekat Nurbaya

dan terlihat olehnya kecantikan perempuan ini, berbisik-bisiklah

ia dengan keraninya, dalam bahasa Belanda, "Bagaimana

pikiranmu tentang perempuan ini, Ludi?"

"Ini sesungguhnya bunga ros dari Padang," jawab Ludi.

"Sanggup engkau membujuknya? Selusin bir upahnya," kata

mualim itu pula.

"Coba-coba; tetapi rupanya ia orang baik-baik; tentu susah

didekati. Tambahan pula, ada yang menjaganya," jawab Ludi.

"Jika tak cukup selusin, nanti aku tambah setengah lusin

lagi," kata mualim itupula, seraya mengerling kepada Nurbaya,

"Pipinya yang cekung bila ia berkata-kata dan tahi lalat yang ada

pada pipinya, menambahkan asyik hati."

"Nantilah kucoba," jawab Ludi.

Segala percakapan ini didengar dan dimaklumi oleh Nurbaya

dan sangatlah benci hatinya melihat kedua mereka. Tetapi

ditahannya marahnya, supaya ia jangan dianiaya pula oleh

mereka.

Setelah sampai Ludi dan Mualim itu kepada Nurbaya, lalu

bertanya kerani ini, "Hendak ke mana ini?"

"Ke Jakarta," jawab Nurbaya dengan pendek.

"Ada teket?" tanya Ludi pula.

"Ini," jawab Nurbaya, seraya memberikan surat kapalnya.

Setelah dikoyak Ludi surat ini, lalu ia berkata, sambil

memulangkan cabikan teket itu, "Mengapa tinggal di sini? Di

bawah, ada tempat yang lebih baik. Kalau suka, nanti kupilihkan."

"Terima kasih! Biarlah kami di sini, karena di sini dekat

kapitan kalau ada apa-apa, boleh lekas menghadap dia."

Mendengar jawaban ini terpikirlah Ludi sejurus; tetapi lekas

ia berkata pula, "Bila kelak ada hujan atau gelombang, tentulah

basah di sini."

"Tak mengapa, kami bukan garam, hancur kena air. Jika

benar ada gelombang besar kelak, kami carilah tempat yang baik

pada pikiran kami," jawab Nurbaya, sambil melihat ke tempat

lain.

Setelah melihat Nurbaya menoleh itu, pergilah kedua

pegawai kapal ini, memeriksa surat-surat penumpang yang lain.

"Apa kataku? kata Ludi. "Memang dari jauh telah nyata

padaku, perempuan yang sedemikian sebagai burung merpati:

rupanya jinak, tetapi susah ditangkap."

"Tak peduli, Ludi; jika tak dapat dengan baik, dengan keras.

Carilah akal! Hilang semangatku melihat matanya dan

pandangannya yang tenang itu. Jika dapat olehmu nanti kucari

akal supaya gajimu ditambah." sahut mualim itu.

"Baiklah, nanti kucoba juga; tetapi kalau tak dapat, jangan

marah," jawab Ludi.

Sepeninggal kedua pegawai ini pergi, dikatakanlah oleh

Nurbaya kepada kusir Ali segala percakapan mereka.

"Jangan takut " kata kusir Ali, "nanti hamba berjaga benarbenar.

Jika berani juga ia mengganggu kita adukan saja kepada

kapitan kapal."

Tatkala itu angin teduh, laut pun tenang. Muka air, adalah

sebagai kaca besar yang berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari.

Dari ujung langit selatan sampai ke ujung langit utara, tiadalah

lain yang kelihatan, melainkan dataran yang amat luas, yang biru

warnanya. Hanyalah pada buritan kapal, air sebagai mendidih

dikacau roda kapal yang berpusing. Kapal pun berlayar seolaholah

meluncur di atas dataran yang rata, sebagai ditarik tali ajaib,

meninggalkan jejaknya yang berbaris-baris putih dan makin

lama makin besar memecah. Di sebelah utara dan di sebelah

barat, kelihatan beberapa pulau kecil yang berjejer jejer letaknya.

Cuaca terang, langit pun jernih pada segenap tempat. Tiada

berapa jauhnya dari kapal, kelihatan ikan berlompat-lompatan,

sebagai bermain-main berkejar-kejaran. Ada yang melompat

sebagai bermain-main jauhnya karena terkejut dilanggar kapal.

Dari jauh kelihatan ikan lumba-lumba, berenang beriringiringan,

sebentar timbul, sebentar hilang. Burung camar yang

putih warna bulunya, beterbangan kian kemari. Ada yang

mengintai ikan-ikan yang lengah, mengapungkan dirinya ke

muka air laut; ada yang tiada bergerak dari tempatnya sebagai

tergantung di udara, tetapi tiba-tiba menunjam ke bawah, sampai

ke atas air dengan deras terbangnya, seolah-olah anak panah

yang dilepaskan dari busumya. Tatkala terbang pula ia membumbung,

digonggongnyalah seekor ikan dalam paruhnya. Ada

pula yang melayang menyambar makanannya dengan jarinya.

Tiada berapa lamanya berlayar itu, luputlah daratan di

sebelah timur dari mata, hilang di balik ujung langit yang hampir

tiada berwatas dengan lautan.

Ke mana mata memandang, tiada lain yang kelihatan lagi

melainkan air semata-mata, disungkup oleh langit yang

melengkung. Ketika itu terasa benar oleh Nurbaya kecil dirinya,

karena sedangkan kapal yang besar itu, seolah-olah sebutir pasir

di padang sahara rupanya. Kebesaran dan kekuasaan Allah yang

menjadikan semesta alam ini, makin bertambah-tambah terasa

olehnya dan kecutlah rasa hatinya bila diingatnya halnya, tak

dapat lari ke mana-mana, lain daripada di atas kapal itu, jika

terjadi apa-apa di laut ini; karena lepas dari tempat yang kecil

ini, mautlah yang menunggunya. Nyata benar olehnya, bahwa

tempat nyawanya bergantung, tiada seberapa besamya. Di kapal

itulah saja kehidupan, tetapi di luar itu, kematian. "Adakah akan

sampai kembali aku ke darat?" pikimya dalam hatinya. "Di darat

itulah yang tiada berbahaya."

Rupanya ia lupa bahwa orang itu lebih banyak mati di

daratan daripada di lautan.

Setelah malamlah hari, terang benderanglah di kapal itu

disinari cahaya lampu listrik. Angin bertiup dari selatan,

menyegarkan segala kelasi kapal, yang telah bekerja berbelah

payah sehari itu. Setelah selesai makan, naiklah beberapa kerani

dan pegawai kapal, dari kelas dua, ke atas geladak; masingmasing

membawa permainan musiknya. Ada yang menggesek

biola, ada yang memetik gitar. mendolin, keroncong dan ada

pula yang meniup seruling, sedang yang baik suaranya,

menyanyikan lagu keroncong dan setambul, serta berpantun

berbalas-balasan, sebagai di bawah ini:

"Dari mana hendak ke mana,

dari Jepun ke bandar Cina.

Jangan marah saya bertanya,

bunga yang kembang siapa punya?"

"Siapa yang punya," berteriak Ludi, menyahuti temannya

yang bernyanyi itu. Orang yang kedua menyela pantun itu,

"Buah cempedak buah nangka, apa obatnya hati yang luka?"

Kemudian berpantun pula seorang lagi:

"Bajang-bajang tertali sutera,

tulang dibakar baunya sangit.

Dilihat gampang dipegang susah,

sebagai bulan di atas langit."

"Itukah dia!" teriak Ludi pula. Rupanya ia hanya pandai

bersorak-sorak saja. "Tarik, Yakub! Jangan malu-malu!" Pantun

itu dibalas oleh seorang lagi:

"Dari mana datangnya lintah,

dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta,

dari mata jatuh ke hati."

Pantun ini disela demikian, "Oleleh Kota Raja; jika boleh

dibawa saja."

"Ei... ei jangan!" kata Ludi pula, "Jangan merampas orang

punya!"

Kemudian berpantun pula orang yang pertama:

"Laju-laju perahu laju,

kapal berlayar ke Surabaya.

Biar lupa kain dan baju,

jangan lupa kepada saya.

"Siapa itu?" kedengaran seorang bertanya.

"Adik saya," jawab Ludi.

Sesungguhnya lagu keroncong dan Setambul ini, bila

dimainkan dengan bunyi-bunyi yang sedemikian, dalam terang

bulan, di tempat yang sunyi, sebagai di atas kapal waktu itu,

sangatlah merdu bunyinya, memberi asyik segala yang mendengarnya.

Itulah lagu yang selalu menarik hati anak mudamuda

yang suka bermain musik dan tiada jemu mereka

menyanyikannya. Akan tetapi, sebab yang memainkan lagu ini

acap kali orang yang kurang baik, di tempat yang sunyi-sunyi,

pada jauh malam, terkadang-kadang dengan maksud yang

kurang baik, menjadilah permainan ini, kurang disukai orang

baik-baik. Oleh sebab itulah sangatlah benci Nurbaya mendengar

bunyi-bunyian dan pantun mereka, lalu ia berbuat pura-pura

tidur, seraya menutup muka dan telinganya, supaya jangan terdengar

olehnya sekalian nyanyian itu.

Tatkala jauhlah sudah malam dan sunyilah di atas kapal,

datanglah Ludi berjalan perlahan-lahan, pura-pura hendak

memeriksa apa-apa. Setelah sampai ia ke tempat Nurbaya, lalu

dibangunkannya perempuan ini, sambil berkata, "Marilah ikut

aku, nanti kuberi tempat yang baik dan jika suka engkau menurut

kemauanku, kelak kuberi uang berapa sukamu."

Nurbaya lalu berdiri dan menolakkan Ludi, sambil berkata

dalam bahasa Belanda, "Jika berani engkau mengganggu aku

sekali lagi, kuadukanlah kelakuanmu yang tiada senonoh ini

kepada kapitan kapal. Akan menyusahkan penumpanglah kerjamu

di sini? Atau kausangka aku ini seorang perempuan jahat?

Buka matamu, lihat terang-terang; jangan samakan saja orang

baik-baik dengan orang jahat! Nyah engkau dari,sini!"

Kusir Ali sementara itu telah berdiri, melindungi Nurbaya;

tetapi Ludi rupanya tiada barani berbuat apa-apa lagi, lebih-lebih

karena mendengar Nurbaya berkata-kata dalam bahasa Belanda,

lalu pergi dari situ.

Walaupun sejak waktu itu Ludi tak kembali lagi, tetapi

semalam-malaman itu tiadalah berani mereka memicingkan

matanya, barang sekejap pun, takut kalau-kalau diganggu pula

oleh kerani itu.

Malam itu juga masuklah kapal ini ke pelabuhan Bengkulu,

akan tetapi tiadalah dapat memunggah atau memuat barangbarang,

sebab gelombang amat besar jadi ditunggulah sampai

keesokan harinya. Walaupun kapal ini berlabuh, tetapi Nurbaya

berasa badannya kurang enak, karena kapal itu sangat oleng

dipermainkan gelombang Ketaun. Oleh sebab tiada dapat berdiri,

tidurlah saja ia di atas bangkunya, sampai kapal itu berlayar pula,

meneruskan pelayarannya ke Jakarta. Tatkala itu, barulah

Nurbaya berasa senang sedikit, dapat berdiri dan berjalan jalan.

Hari baik pula dan pelayaran pun adalah selamat.

Akan tetapi pada malamnya, kira-kira pukul sepuluh, cuaca

yang terang itu, sekonyong-konyong bertukar menjadi gelap

gulita. Bintang-bintang yang gemerlapan cahayanya, tiada

kelihatan lagi, sebab ditutup awan yang tebal, yang mengandung

hujan. Angin teduh, lautan tenang, dan walaupun waktu itu

malam hari, tetapi udara rasanya panas.

Tiba-tiba kelihatan kilat di langit sebelah selatan, disertai

bunyi halilintar yang amat kerasnya. Tiada berapa lama

kemudian daripada itu, turunlah hujan yang amat lebat, sebagai

dicurahkan dari langit, disertai angin topan yang berembus dari

segenap pihak, berganti-ganti. Gelombang yang besar pun

datanglah, menggulung setinggi gunung; kadang-kadang bertumbuk

sama sendirinya, memecah di tengah lautan. Kapal yang

besar itu terbanting ke sana kemari dipermainkan gelombang

sebagai sekerat kayu yang tiada berharga.

Maka olenglah kapal itu ke kiri ke kanan, serta mengangguk

ke muka ke belakang. Air taut menyimbah dari segala pihak

masuk ke geladak, terkadang-kadang menghanyutkan peti-peti

atau barang-barang yang ringan, menyusahkan sangat kepada

segala penumpang; yang telah basah kuyup kena air dari atas dan

dari bawah: Oleh sebab itu, sangatlah ribut mereka, masingmasing

mencari tempat akan melindungkan diri serta barangbarangnya.

Bertambah-tambah kesukaran mereka, karena kapal

sangat oleng, sehingga banyaklah penumpang yang mabuk taut.

Dalam hal yang sedemikian, tiba-tiba kelihatan seorang lakilaki,

yang berpakaian serba hitam, datang dengan cepat mendekati

Nurbaya, yang sedang duduk di kursinya, tak dapat berdiri,

karena pusing. Dengan segera orang itu memegang badan

Nurbaya, lalu mengaggkat dan membawanya ke sisi kapal,

hendak melemparkannya ke dalam taut. Tatkala dilihat oleh

Nurbaya orang itu yaitu Pendekar Lima, yang dikenalnya,

hendak menikam Samsulbahri dahulu, berteriaklah ia minta

tolong serta berkuat, hendak melepaskan dirinya dari tangan penjahat

ini.

Kusir Ali, terperanjat, lalu berdiri mengejar Pendekar Lima

hendak menolong Nurbaya, sehingga berkelahilah mereka itu

bergumul, hendak empas mengempaskan. Oleh karena itu

terlepaslah Nurbaya dari tangan penjahat ini. Tetapi malang,

tatkala Pak Ali hendak mendekati Pendekar Lima pula, kenalah

ia disepak penjahat itu, lalu jatuh tergelimpang. Orang gempar,

dan karena takut, Pendekar Lima lari menyembunyikan dirinya,

lalu hilang pada suatu tempat yang gelap, di buritan kapal.

Tatkala datang kapitan kapal ke tempat perkelahian itu,

diceritakanlah oleh kusir Ali segala hal yang telah terjadi.

Kapitan yang berhati santun dan iba kasihan, segera memberi

perintah kepada anak buahnya, menyuruh bawa Nurbaya ke

kamar sakit, karena pada ketika itu ia, entah sebab sangat terkejut,

entah sebab diempaskan oleh Pendekar Lima, jatuh

pingsan, terhantar di sisi kapal, tiada khabarkan dirinya lagi. Dan

pada ketika itu juga disuruhnya pula cari si penjahat itu di

segenap kapal. tetapi tiada ketemu.

Keesokan harinya, kelihatan seorang anak muda, berjalan

pulang balik di pelabuhan Tanjung Periuk; rupanya ada yang

dinantinya di sana. Setelah berlabuhlah kapal yang ditumpangi

Nurbaya. naiklah anak muda itu ke kapal itu, sdinbil melihat ke

sana kemari, tetapi rupanya tiada tampak yang dicarinya. Oleh

sebab itu bertanyalah ia kepada beberapa penumpang, kalaukalau

ada seorang perempuan muda bernama Nurbaya,

menumpang bersama-sama. Setelah didengarnya dari mereka,

sekalian yang terjadi di atas diri Nurbaya, segeralah ia masuk ke

kamar sakit itu dan sesungguhnya di sana dilihatnya Nurbaya

terbaring di atas sebuah tempat tidur. Maka tiadalah tertahan

hatinya lagi, lalu ia berlari mendapatkan Nurbaya dan dipeluk

serta diciumnya perempuan ini, sambil menangis, "Aduh

Nurbaya, adikku yang tercinta! Rupanya hampir tiada dapat kita

bertemu lagi."

Mendengar perkataan ini, terbangunlah Nurbaya. dan tatkala

dilihatnya yang memeluknya itu Samsulbahri, menangislah pula

ia tersedu-sedu, seraya memeluk kekasihnya ini.

"Sungguh celaka benar, untungku ini," katanya. "tiada putusputusnya

dirundung mara bahaya. Bilakah habisnya azab

sengsaraku? Jika tiada Pak Ali yang menolong aku, tentulah aku

sekarang telah berkubur di dalam laut."

"Sudahlah adikku, jangan menangis lagi! Barangkali

sekarang inilah datang waktunya, kita akan mendapat

kesenangan, karena telah jauh daripada segala setan dan iblis.

Sabarlah, nanti aku ikhtiarkan, supaya kita beroleh kesenangan

itu. Dapatkah engkau berjalan, supaya boleh kita turun dari kapal

"Dapat," jawab Nurbaya, "hanya aku masih letih dan pening

sedikit."

"Tak mengapa," jawab kusir Ali, yang mengikut Samsu,

masuk kamar sakit, tetapi belum tampak oleh anak muda ini,

"nanti hamba dukung!"

Mendengar perkataan ini, menolehlah Samsu ke belakang

lalu segera menjabat tangan kusir Ali, minta terima kasih atas

pertolongan dan setianya.

Tengah mereka berkata, masuklah kapitan kapal dengan

seorang schout polisi, ke kamar sakit itu, lalu berkata. "lniluh

dia!"

Melihat hal Nurbaya sedemikian, terdiamlah schout ini

sejurus, kemudian diajaknya Samsu ke luar. Setelah sampai ke

luar kamar itu, berkatalah schout ini, "Engkau ini siapa?"

"Hamba seorang murid Sekolah Dokter Jawa, nama hamba

Samsulbahri," sahut Samsu.

"Perempuan ini apamu," tanya polisi ini pula.

"Walaupun bukan saudara hamba sejati, tetapi lebih baik

daripada adik kandung hamba, " jawab Samsu pula.

"Siapa namanya?''

"Sitti Nurbaya."

"Dan orang yang bersama-sama dia?"

"Ali, kusir ayah hamba, yang berpangkat Penghulu di

Padang."

"Datang dari Padangkah kedua mereka itu?"

"Memang: yang perempuan itu, anak seorang saudagar di

sana."

"Jika demikian, benarlah dia ini," kata schout itu pula.

"Apakah sebabnya maka Tuan bertanya demikian?" tanya

Samsu.

"Bacalah telegram ini," jawab schout itu, sambil mengunjukkan

sehelai surat kawat.

Setelah Samsu membaca kabar kawat ini, pucatlah mukanya

dan gemetarlah bibirnya. Tangannya dikepalkannya dan giginya

digertakkannya; lalu berkata, "Bilakah puas hati jahanam itu

menggoda Nurbaya ini?"

Kemudian berkata pula ia kepada schout itu. "Pengaduan ini

takkan tiada bohong belaka; maksudnya semata-mata hendak

menganiaya perempuan ini. Sebagai nyata pada akhirnya yang

hendak dilakukan orang atas dirinya malam tadi. Datuk

Meringgih ini ialah suaminya, seorang yang sangat kejam. Itulah

sebabnya Nurbaya sampai lari kemari. Ia hendak dibuangkan ke

laut, tentulah pekerjaan jahanam itu juga, karena penjahat yang

membuangkan Nurbaya, ialah orangnya." Kemudian dicetitakanlah

oleh Samsu hal-ihwal Nurbaya dengan pendek, dari awal

sampai kepada akhirnya.

"Aku percaya akan perkataanmu," kata schout, "tetapi aku

tiada dapat berbuat apa-apa, lain daripada menurut perintah yang

kuterima ini."

"Tentu," jawab Samsu.

Setelah termenung sejurus, berkata pula ia, "Sekarang apakah

maksud Tuan."

"Hendak kuperiksa segala barangnya," jawab pegawai polisi.

"Baiklah, nanti hamba ambil bawa-bawaannya," lalu masuklah

Samsu ke kamar Nurbaya dan sebentar lagi keluar pula ia,

membawa barang-barang adiknya ini. Setelah diperiksa, oleh

Schout nyatalah tiada kedapatan apa-apa, lain daripada uang

kira-kira lima puluh rupiah dan pakaian perempuan. Kemudian

diperiksanya pula peti kusir Ali. Itu pun tiada juga kedapatan

apa-apa, lain daripada beberapa helai pakaian.

"Uang ini siapa punya?" tanya Schout,

"Uang Nurbaya," jawab Ali.

"Kamu tahu, dari mana diperolehnya uang ini?"

"Tahu, yaitu uang gadaian gelangnya, yang harganya kirakira

dua ratus rupiah. Hamba sendiri Yang menggadaikannya,

delapan puluh rupiah tatkala kami akan berangkat kemari. Ini

suratnya. Yang tiga puluh rupiah kami pakai untuk biaya kapal,

tinggal lagi lima puluh rupiah itu.

"Tahu benarkah. engkau, bahwa gelang itu kepunyaannya

sendiri dan bukan harta suaminya?"

"Tahu: gelang itu pusaka dari emaknya yang telah meninggal

dunia; diberikan kepadanya sebelum ia kawin dengan Datuk

Meringgih."

"Memang," menyela Samsu, "hamba pun tahu hal itu."

"Baiklah," kata Schout pula, sambil menuliskan segala

perkataan mereka. "Tetapi aku harus juga memeriksa perempuan

ini."

"Tiada ada alangannya; hanya hamba minta, supaya perkara

ini jangan dikabarkan dahulu kepadanya, sebab ia masih sakit;

kalau-kalau bertambah penyakitnya, mendengar kabar yang tak

baik ini. Dan sesudah itu, tentulah ia harus dibawa ke rumah

sakit, berobat di sana dahulu," kata Samsu pula.

"Memang," kata dokter kapal, yang ada juga di sana." la

masih sakit belum boleh dibawa pulang."

"Apabila tuan suka memberi suatu surat keterangan tentang

halnya, tentulah dapat ditunggu sembuhnya dahulu," jawab

Schout.

"Nanti aku beri surat itu," kata dokter kapal, lalu pergi.

Samsu dan schout masuk ke dalam kamar Nurbaya, lalu

Samsu berkata kepadanya, "Ini tuan schout hendak memeriksa

badanmu, kalau-kalau ada bekas kecelakaan tadi malam; karena

penganiayaan itu akan diperkarakan."

Samsu pura-pura berkata demikian, supaya jangan diketahui

Nurbaya, maksud kedatangan pegawai polisi ini. Setelah

diperiksa, berkata pula schout, "Marilah, berangkat sekarang!

Nanti kutunjukkan rumah sakit tempat berobat.'

"Baiklah," jawab Samsu.

Setelah siap, berangkatlah mereka sekalian. Nurbaya berjalan

perlahan-lahan, dipimpin oleh Samsu, menuju setasiun. Di sana

naiklah mereka ke kereta api yang menuju ke kota Jakarta.

Dalam kereta api, berkata Samsu kepada Nurbaya, "Engkau di

Jakarta berobat dahulu ke rumah sakit supaya baik benar. Bila

telah sembuh nanti, boleh kita musyawaratkan, yang baik

diperbuat."

"Bagaimana yang baik padamu sajalah," jawab Nurbaya,

"aku menurut."

Setelah sampai ke kota Jakarta, dimasukkanlah Nurbaya ke

rumah sakit; setiap hari dilihati oleh Samsu dan kusir Ali. Tiada

beberapa lamanya Nurbaya dalam rumah sakit ini sembuhlah ia

dari penyakitnya, lalu keluar dari rumah sakit tinggal menumpang

di rumah seorang kepala kampung, kenalan Samsu,

sementara menanti kapal yang akan membawanya pulang

kembali ke Padang.

"Nurbaya!" kata Samsu pada suatu ketika yang baik, kepada

adiknya ini. "Ada suatu kabar penting yang hendak kuceritakan

kepadamu, yang sampai kepada waktu ini kurahasiakan; sebab

aku khawatir penyakitmu, karena mendengarnya, akan menjadi

bertambah. Tetapi sekarang badanmu telah sehat kembali, mogamoga

dapat kausabarkan hatimu."

"Kabar apa itu?' tanya Nurbaya dengan terkejut, sambil

melihat kepada Samsu.

"Jangan khawatir," jawab Samsu, tatkala dilihatnya muka

Nurbaya berubah. Dicobanya tersenyum, hendak menghilangkan

khawatir kekasihnya ini. "Barangkali engkau masih ingat

kedatangan schout, ke kapal yang kautumpangi dahulu tatkala

kapal itu baru berlabuh dan ingat pula bahwa schout itu

memeriksa peti petimu dan peti Pak Ali. Dan tentulah engkau

belum lupa pula, engkau dari kapal terus dimasukkan ke rumah

sakit. Barangkali hal yang keniudian ini menimbulkan syak

wasangka dalam hatimu, bahwa aku kurang mengindahkan

engkau.

Walau ada sekalipun pikiranmu yang sedernikian, tak boleh

aku marah, sebab memang demikianlah rupanya kelakuanku

pada waktu itu. Seakan-akan kurang mengindahkan engkau.

Akan tetapi sebenarnyalah hanya Allah yang mengetahui betapa

besarnya hatiku, tatkala mendapat kabar dan melihat engkau

datang dan Tuhanlah yang mengetalrui betapa sedihnya hatiku

melihat kedatanganmu dengan hal yang serupa itu: karena baru

saja kita bertemu sekarang sudah harus bercerai pula. Ah ..."

"Apa kataniu?' tanya Nurbaya dengan terkejut, "sekarang ini

kita harus bercerai pula? Apa sebabnya?'

Maka diceritakanlah oleh Samsu, bahwa ada suatu dakwaan

datang dari Datuk Meringgih, mengatakan Nurbaya dan kusir Ali

melarikan barang-barang dan uang Datuk itu dan meminta,

supaya mereka ditahan dan dikirimkan kembali ke Padang

selekas-lekasnya.

"Sesungguhnyalah Datuk Meringgih itu manusia yang

sebengis-bengisnya. Sebelum mati aku belumlah puas hatinya,"

kata Nurbaya dengan sangat marahnya. "Percayakah engkau

akan sekalian dakwaannya itu?"

"Masakan aku percaya Nur; masakan engkau dapat berbuat

sedemikian," jawab Samsu. Sekalian orang yang mendengar

cerita ini, tak seorang pun percaya akan dakwa itu. Tetapi apa

hendak dikata? Kita sekarang berlawan dengan polisi; tiada

dapat berbuat apa-apa, harus menurut. Jika kita berlawan dengan

Datuk celaka itu, sebelum melayang nyawaku, tiadalah engkau

akan kembali ke Padang."

Nurbaya tidak menjawab, agaknya sebab sesak dadanya,

sampai didengarnya Samsu bertanya "Bagaimana pikiranmu,

Nur? Mengapa engkau berdiam diri?"

"Sebab perkara ini sangat sulit. Kehendak hatiku, sebolehbolehnya

janganlah aku sampai kembali pula ke Padang. Tak

dapat kukatakan bagaimana susahnya aku sampai kemari, tak

dapat kuceritakan bagaunana aku akan dihinakan orang Padang,

karena aku, sebagai seorang perempuan yang bersuami, telah

meninggalkan suaminya lari kepada laki-laki lain. Kalau aku

kembali ke Padang, niscaya akan kulihatlah sekalian mulut yang

niengejekkan aku dan akan kudengarlah pula segala perkataan

yang menghinakan aku. Akan tetapi ... ya adakah jalan lain yang

dapat diturut?'

Setelah berdiam sejurus berkata pula Samsu perlahan-lahan,

"Bagaimana pikiranmu, kalau kita lari dari sini supaya terlepas

dari tangan polisi?"

"Pada sangkaku akan sia-sia juga pekerjaan kita itu," jawab

Nurbaya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. "karena

akhirnya tentulah kita akan jatuh juga ke dalam tangan polisi. Di

mana hendak menyembunyikan diri? Seluruh tanah Jawa ada

polisi. Lagi pula kalau kita berbuat demikian, sebagai benarlah

aku bersalah. Bukankah aku takut karena salah dan berani karena

benar? Lari artinya takut, oleh karena itu, tentulah sekalian orang

akan bersangka, aku ini benar bersalah. Pada pikiranku, tak dapat

aku menyatakan kebenaranku, kalau tiada melawan dakwa itu.

Oleh sebab itu biarlah aku kembali dahulu. Tak susah bagiku

akan menyatakan kebenaranku dan perkara ini niscaya lekas

putus. Bila telah putus, lekaslah pula aku kembali kemari.

"Ah ya. Tetapi sesungguhnyakah tak ada jalan lain yang

dapat melepaskan engkau dari jahanam itu?" kata Samsu, sambil

mengepal tangannya, serta memukul meja, sebagai hendak

melepaskan panas hatinya. "Keinginan hatiku hendaknya

sekarang, setelah kita bercampur ini, janganlah bercerai pula;

karena kinilah kita dapat bersama-sama. Bila telah pulang

engkau ke Padang, harus kita bertemu pula dahulu, baru dapat

bercampur kembali. Padang Jakarta bukan semalalam, lautan

besar harus diseberangi, baru sampai. Sedangkan di dalam waktu

yang sesaat boleh banyak yang terjadi, apalagi dalam perceraian

yang tak tentu lamanya ini."

"Perkataanmu itu memang benar, Sam. Tetapi apa daya kita

dalam hal ini, lain daripada menurut kehendak polisi? Bukan

bagimu saja berat perceraian ini, tetapi terlebih-lebih bagiku,

yang sebagai burung telah lepas dari penjara dan sekarang harus

menyerahkan diri pula, masuk ke dalam sangkarnya kembali,

bertemu dengan algujunya.

"Ya Allah!' keluh Nurbaya. "Kepada siapakah hamba-Mu

akan meminta pertulungan lagi, lain daripada-Mu ... ?"

Samsu tiada dapat mengeluarkan suaranya, karena sedih

melihat adiknya ini.

"Sungguhpun hatiku rasakan hancur akan meninggalkan

engkau pula, tetapi tiadalah akan senang hatiku, bila perkara ini

belum selesai. Biar dikatakan perempuan yang tiada setia kepada

suaminya, sebab memang Datuk jahanam itu bukan suamiku,

melainkan algojoku, yang telah dilindungi surat kawin, tetapi

aku tiadalah sekali-kali suka dikatakan pencuri, sebab memang

aku bukan pencuri. Oleh sebab itu kebenaranku dalam hal ini,

harus dinyatakan. Hanya suatu yang terpikir dalam hatiku,

tidakkah buleh perkara ini diperiksa di Jakarta ini saja? Jika

sekiranya boleh bcrapakah baiknya!"

"Ya, memang itu suatu akal," kata Samsu tiba-tiba, lalu

berdiri dan memakai topinya.

Hendak ke mana engkau?" tanya Nurbaya, yang belum

mengerti maksud Samsu ini.

"Hendak pergi ke kantor Asisten Residen, menanyakan,

bolehkah perkara ini diperiksa di sini saja,"

"Ya, baik. Cobalah!" kata Nurbaya. "Mudah-mudahan

disampaikan Allah juga maksudmu itu."

Seketika itu juga berangkatlah Samsu dan kira-kira pukul

dua, barulah ia kembali. Tetapi dari jauh telah kelihatan oleh

Nurbaya pada mukanya, bahwa maksudnya tiada berhasil,

karena Samsu datang dengan berdukacita.

"Bagaimana?" tanya Nurbaya dari jauh. pulang."

"Ah, tak boleh. Engkau harus juga pulang."

"Memang telah kusangka," kata Nurbaya. "Apa boleh buat!"

"Ya, memang; malang itu tak dapat ditolak. Sungguhpun

demikian baik juga engkau berhati-hati. Siapa tahu algojomu itu

ada lagi akalnya, untuk membinasakan engkau; sebab ia rupanya

tak takut dan tak ngeri berbuat segala kejahatan. Sementara itu,

akan kucarilah pekerjaan di sini, supaya ada penghidupan kita,

bila engkau telah kembali dan hidup bersama-sama dengan aku

kelak. Jika aku teruskan pelajaranku, tentulah susah kita hidup di

sini. Bagiku, biar tak menjadi dokter, asal hidup bersama-sama

dengan engkau."

"Benar sekali perkataanmu itu, Sam. Itulah jalan yang sebaikbaiknya

diturut, supaya selamat kita. Dan walaupun kusayangkan

benar, engkau meninggalkan sekolahmu, tetapi harus juga

kubenarkan maksudmu ini. Oleh sebab itu berjanjilah aku

kepadamu, bila kita telah bersama-sama kelak, akan kubalas

jasamu itu dengan penjagaan dan bantuan yang sebaik-baiknyadalam

kehidupanmu."

"Ah, perkara sekolahku janganlah kaupikirkan. Ingatlah akan

janjiku kepada ayahmu! Tidak pun demikian, seharusnyalah juga

aku membela engkau," kata Samsu, "lagi pula, memang aku tak

dapat meneruskan pelajaranku, karena kurang belanja. Engkau

tahu sendiri, ayahku tak hendak membantu lagi."

"Oleh sebab itu, pada pikiranku, bila kita telah bersama-sama

kelak, akan kusuruh juallah rumah dan tanahku serta sekalian

barang-barangku yang masih ada di Padang, supaya uang itu

dapat kita pakai pembeli rumah di sini, atau untuk apa-apa saja

yang perlu; karena aku tak hendak kembali lagi ke Padang,

biarlah mati di rantau orang. Di tanah airku sendiri tiada lain

daripada kesusahan dan kesengsaraaq yang kuperoleh.

Barangkali di negeri orang dapat aku beroleh kesenangan," kata

Nurbaya.

"Ya, benar; sesungguhnyalah itu. Pikiranku pun deniikian

juga. Padaku, apa lagi yang akan menarik hatiku ke Padang?

Engkau telah ada di sini dan ibuku akan kusuruh datang kemari,

tinggal bersama-sama dengan kita," jawab Samsu.

"Wahai, alangkah senang hatiku, bila ibumu pun telah

bersama-sama pula dengan kita! Tentulah hilang segala sengsara

yang telah kurasai itu; tentulah tinggal kesenangan dan kesukaan

lagi; tentulah... Ah, sesungguhnya cita-cita itu sangat elok

rasanya," kata Nurbaya setelah termenung sejurus, sedang

keriangan hatinya yang mulai timbul, hilang kembali, bertukar

dengan sedih, sehingga mendatangkan khawatir pula, dalani

hatinya, takut kalau-kalau tiada disampaikan Tuhan.

"Masih ingatkah engkau akan segala cita-cita pada malam,

tatkala engkau akan berangkat kemari, Sam? Apakah jadinya

sekarang?"

"Jangan berpikir sedemikian!" jawab Samsu. "Jangan putus

asa! Engkau masih muda dan aku pun begitu pula. Siapa tahu,

tidak sekarang, barangkali kelak kita beroleh kesenangan.

Masakan hujan saja dari pagi sampai petang. Panas sesudah

hujan, menimbulkan kesegaran badan dan kesenangan hati."

"Kuharap demikian jugalah hendaknya! Akan tetapi, karena

segala kecelakaan dan kedukaan telah datalig bertubi-tubi

menimpa diriku, tak beranilah aku berharap lagi; istimewa pula

sebab aku sekarang harus pulang ke Padang.

Sesungguhnya sangat berat hatiku hendak meninggalkan

engkau dan Jakarta ini, karena aku di sini sungguh berasa

senang; pertama sebab ada dalam tanganmu. kedua sebab jauh

dari tempat aku beroleh mara bahaya. Dan lagi, sebagai ada yang

melarang aku kembali ke Padang, sebagai di sana telah

menunggu pula sesuatu kecelakaan yang mengancam diriku."

"Hilangkanlah pikiran yang seperti itu! Ingatlah akan nasihat

orang tuamu!" kata Samsu dengan perlahan-lahan, membujuk

kekasihnya, walaupun hatinya sendiri berasa khawatir pula.

"Apalagi karena dalatn perkara ini, kita tak boleh mengatakan

tidak; harus menurut. Sebab itu nienyerahlah engkau dan berhatihatilah

menjaga diri! Selama-lamanya engkau sebulan di sana;

sudah itu tentulah kita bertemu pula.

Aku sesungguhnya ingun benar hendak mengantarkan

engkau; tetapi waktu ini tiada dapat aku berangkat, karena ada

sesuatu pekerjaan yang hendak kuminta. Kalau aku pergi dari

sini, tentulah lepas pekerjaan itu dari tanganku. Keinginan

hatiku, bila engkau telah kembali pula kemari, aku telah

mempunyai pekerjaan.

Lagi pula, engkau kembali ke Padang diantarkan oleh

seorang opas yang kukenal. Nanti kupesankan kepadanya,

supaya engkau dijaganya baik-baik. Jika engkau kelak hendak

kembali kemari dan tak ada teman, kirimlah kabar kepadaku!

Tentu aku datang menjemput. Dengan demikian, tak lama aku di

Padang. Bila aku menumpang dengan kapal Jakarta yang bertemu

di Padang dengan kapal dari Aceh, barangkali hari itu juga

dapat aku kembali, sehingga tak perlu bermalam di Padang.

Seboleh-bolehnya jangan aku bertemu pula dengan ayahku.

Bagaimana pikiranmu Nur? Baikkah begitu?"

"Baiklah, kalau engkau suka demikian," jawab Nurbaya,

sambil memandang muka Samsu dengan tersenyum.

"Memang engkau baik hati, segala menurut," kata Samsu

pula, seraya mencium adiknya ini.

"Sekarang kenakanlah pakaianmu, supaya dapat kita berjalan-

jalan, melihat-lihat kota Jakarta ini, sebab besok kapal

berangkat ke Padang."

"Besokkah aku harus berangkat dan bercerai pula denga

engkau?" tanya Nurbaya.

"Untuk sementara," jawab Samsu.

Setelah selesai memakai, berjalanlah kedua mereka, berpegang-

pegangan tangan, melihat tamasya kota Jakarta pada

malam hari. Oleh Samsu dibawalah Nurbaya berjalan ke sana

kemari, naik bendi dan kereta, sekeliling kota Jakarta. Tidaklah

dapat dikatakan senang hati Nurbaya melihat keindahan kota ini.

"Sesungguhnya kota Jakarta ini sangat besar dan sangat

ramai; penuh dengan toko dan rumah yang besar-besar dan

bagus-bagus. Harus jadi ibu negeri Indonesia," kata Nurbaya.

Setelah puas bersiar-siar, masuklah kedua mereka ke dalam

sebuah rumah makan, karena perutnya berasa lapar. Bila

kenyanglah sudah makan. lalu dibawa oleh Samsu Nurbaya

melihat komedi kuda, yang kebetulan sedang bermain di sana.

Kemudian barulah mereka pulang kembali, sambil berjalan

perlahan-lahan.Semalam itu lupalah Nurbaya akan hal ihwal

yang telah di-tanggungnya, dan dirasainyalah kesenangan

seorang perempuan yang bebas, yang berdekatan dengan

kekasihnya. Malam itulah malam yang ketiga kali. Nurbaya

merasa untungnya mujur.

"Tak banyak permintaanku tak banyak keinginan hatiku,

biarlah tak kaya atau tak berpangkat tinggi, asal mendapat

kcsenangan sebagai waktu ini," katanya. "Inilah surga dunia,

yang baru kukenal, Sam. Adakah akan dapat selama-lamanya

kita seperti ini?"

"Mengapa tidak? Kalau engkau telah ada pula di sini nanti,

apakah yang akan menjadi alangan lagi atas diri kita untuk selalu

bersama-sama?"

Dengan bercakap-cakap sedemikian, sampailah mereka ke

rumah tempat Nurbaya menumpang, lalu duduk di serambi muka

bertutur-turut, sebagai hendak memuas-muaskan hatinya.

"Sam!" kata Nurbaya tiba-tiba, "aku mendengar suatu pantun

yang demikian bunyinya:

"Dari jauh kapalmu datang,

pasang bendera atas kemudi.

Dari jauh adikmu datang,

melihat Kakanda yang baik budi."

"Jawabnya begini," kata Samsu, sambil tersenyum:

"Selasih di kampung Batak,

perawan luka tentang kaki.

Terima kasih banyak-banyak,

sudi datang melihati."

"Suatu lagi," kata Nurbaya:

"Sultan Iskandar raja Sikilang,

raja Barus pegang tongkatnya,

Tidak disesal badanku hilang,

sudah harus pada tempatnya."

"Jawabnya," kata Samsu:

"Sukar membilang buah kelapa,

burung pipit terbang sekawan.

Biar hilang tidak mengapa,

asal bersama dengan Tuan."

Demikianlah kedua mereka itu bercakap-cakap dan

berpantun-pantun serta bersenda gurau.

***

Pada keesokan harinya, berlayarlah Nurbaya pulang ke

Padang, bersama-sama kusir Ali, diantarkan oleh seorang opas

polisi. Dengan tolong Allah, adalah selamat perjalanan itu tiada

kurang suatu apa.

Setelah sampai ke Padang diperiksalah perkara itu, dan

nyatalah bahwa Nurbaya tiada bersalah apa-apa, dalam perkara

ini, hanyalah khianat Datuk Meringgih, yang pura-pura berbuat

sebagai barang dan uangnya dilarikan Nurbaya, supaya istrinya

ini dikirimkan kembali ke Padang.

Katanya mula-mula, tak tahu di mana barang-barang dan

uang itu disimpan Nurbaya, dan sebab ia lari; disangkanya uang

dan barang itu dibawanya. Tetapi setelah ditunjukkan Nurbaya

tempat barang-barang dan uang itu disimpan, nyatalah istrinya

tiada bersalah apa-apa.

Walaupun dimaklumi orang, Datuk Meringgih dengan

sengaja berbuat demikian tetapi tiadalah ia beroleh hukuman

apa-apa sebab ia seorang saudagar yang amat kaya di Padang.

Tatkala kapal telah berangkat, termenunglah Samsu sejurus

di pelabuhan Tanjung Periuk, karena sebagai didengarnya suara

yang timbul dalam hatinya mengatakan: Nurbaya tiada akan

kembali lagi dan itulah pertemuan mereka yang penghabisan di

atas dunia ini. Walaupun sangat khawatir dan kabur pikirannya

tetapi disabarkannya juga hatinya, dan meminta pertolongan

Tuhan yang pengasih penyayang.

XII. PERCAKAPAN NURBAYA DENGAN ALIMAH

"Bum, bum!" bunyi tabuh. Seketika lagi kedengaranlah orang

bang di langgar dan mesjid, karena magrib telah ada, waktu

orang akan sembahyang.

Ahmad Maulana dan istrinya, kelihatan berjalan menuju ke

tikar sembahyang, lalu sujud ke hadirat Tuhan, dua laki-istri.

Tiada berapa lama kemudian, selesailah mereka daripada berbuat

bakti kepada Tuhannya, itu: tetapi Ahmad Maulana tiada lekaslekas

berdiri dari tikar sembahyangnya, melainkan terus

membaca doa, sampai kepada waktu isya, lalu sembahyang pula.

Tatkala itu kelihatan Alimah dan Nurbaya menyediakan

makanan di atas tikar rumput, yang telah dialas dengan kain

putih, terbentang di tengah rumah. Tiada berapa lamanya

kemudian daripada itu, duduklah Ahmad Maulana makan,

dihadapi istrinya; sedang Alimah dan Nurbaya, duduk jauh

sedikit dari sana, sebagai menunggu, kalau-kalau Ahmad

Maulana minta apa-apa.

"Sedih hatiku melihat untung Rapiah tadi. Baru berumur

delapan belas tahun, telah meninggal dunia. Lebih-lebih sebab ia

meninggalkan dua orang anak yang masih kecil-kecil. Yang tua,

perempuan, baru berumur tiga tahun dan yang bungsu, laki-laki

berumur tengah dua tahun," kata Ahmad Maulana, sambil

menyenduk sayur-sayuran ke piringnya.

"Ya, memang kasihan benar," jawab istrinya. "Siapakah yang

akan memelihara anak-anak ini?" .

"Itulah yang menambahkan sedih hatiku," kata Ahmad

Maulana pula, "sebab tak ada kaumnya yang mampu, yang akan

mengambil dan memelihara kanak-kanak ini. Yang mati,

sudahlah; tidak dipikirkan lagi; barangkali ia telah senang,

karena telah terlepas daripada segala azab dunia; melainkan

dengan doalah harus dibantu, supaya dilapangkan Allah juga ia

dalam kuburnya. Tetapi anak-anak yang tinggal ini, bagaimanakah

halnya kelak? Sekecil itu, sudah tak beribu lagi."

"Ayahnya bukankah masih ada? Masakan tiada diperdulikannya

anak-anaknya?" jawab Fatimah, istririya.

"Ayahnya?" tanya Ahmad Maulana, sambil memandang

istrinya dengan merengut. "Uh, masakan mau ia menanggung

beban itu! Bukankah telah menjadi adat di sini, anak pulang

kepada mamak. Orang bangsawan sebagai Sutan Hamzah pula,

'kan suka menyelenggarakan anaknya; sedangkan dirinya sendiri

tak terurus olehnya! Berapa banyak anaknya di kota Padang ini,

yang tiada diindahkannya. Lebih-lebih sekarang ini, karena ia

rupanya sedang asyik kepada istri mudanya.

Walaupun ia sudi memelihara anak-anaknya ini sekalipun

tentulah akan bertambah-tambah juga sengsara anak ini; sebab

mereka niscaya akan diserahkan kepada ibu tirinya itu. Engkau

tahu sendiri betapa kelakuan perempuan kepada anak tirinya.

Dalam seratus, jarang seorang yang baik. Hampir sekaliaiinya

memandang anak tirinya, sebagai musuhnya; sebab anak madunya.

Anak-anak yang tiada bersalah dan tiada tahu apa-apa

dalam perkara orang tuanya, disiksanya dan dideranya akan

melepaskan sakit hatinya kepada madunya yang telah tak ada

lagi dan yang acap kali tiada berdosa, bahkan teraniaya, karena

suaminya dirampas orang."

Rupanya kebenaran perkataan ini tiada dapat dibatalkan oleh

Fatimah; oleh sebab itu berdiamlah ia sejurus kemudian bertanya

pula ia dengan memutar haluan percakapannya, "Tetapi apakah

sakitnya Rapiah itu?"

"Sakitnya yang sebenarnya tiada kuketahui. Kata setengah

orang demam-demam saja dan kata setengahnya batuk darah.

Ada pula yang mengatakan sakit dalam badan. Khabarnya,

semenjak ia berkelahi dengan suaminya, sebab ia marah, Sutan

Hamzah kawin dengan istrinya yang baru ini, tiadalah ia bangun

lagi, sampai kepada waktu mautnya, karena ia kena terjang

suaminya itu.

Entah mana yang benar, tiada kuketahui. Tetapi kabar ini tak

guna diceritakan pula kepada siapa pun; kalau kedengaran oleh

polisi, jadi perkara, nanti. Bukannya kita boleh terbawa-bawa

saja, tetapi kalau sampai Sutan Hamzah terhukum, bermusuhmusuhanlah

kita dengan Penghulu Sutan Mahmud. Dan lagi

apakah jadinya dengan anaknya yang masih kecil-kecil itu

kelak? Ibu mati, bapa terbuang."

"Masakan hamba gila, membukakan rahasia ini," jawab

Fatimah.

Tatkala itu kelihatan Nurbaya berdiri, lalu masuk ke dalam

biliknya, sebagai hendak mengambil apa-apa, tetapi sesungguhnya

hendak menyembunyikan air matanya, yang keluar, tak

dapat ditahannya, karena ingat akan nasibnya sendiri, hampir

sama dengan perempuan yang baru berpulang dan anaknya yang

ditinggalkannya itu.

Setelah keringlah air matanya, barulah ia keluar pula dan

kelihatan olehnya mamandanya sudah selesai makan, lalu

membasuh tangannya.

"Alimah, coba ambil rokokku dari dalam bajuku!" kata

Ahmad Maulana. Alimah segera berdiri mengambil rokok itu

dan memberikannya kepada ayahnya.

"Sekarang makanlah kamu sekalian!" kata Ahmad Maulana

pula, sambil membakar rokoknya.

Alimah dan Nurbaya mendekatlah ke sana, lalu makan

bersama-sama dengan Fatimah.

"Sebenarnya pikiranku, sekali-kali tiada setuju dengan adat

beristri banyak; karena terlebih banyak kejahatannya daripada

kebaikannya," kata Ahmad Maulana, sambil termenung

mengembuskan asap rokoknya. "Banyak kecelakaannya yang

sudah kudengar dan banyak sengsaranya, yang sudah kulihat

dengan mata kepalaku sendiri."

"Ya, tetapi sudah adat kita begitu; bagaimana hendak diubah?

Dalam agama kita pun tiada dilarang laki-laki beristri lebih dari

seorang. Bila kita beranak laki-laki, alangkah malunya kita,

walaupun kita bukan orang berbangsa tinggi sekalipun bila anak

kita itu hanya seorang saja istrinya; sebagai orang yang tak laku

kepada perempuan," jawab Fatimah.

"Jadi aku ini tak laku kepada perempuan, sebab istriku hanya

engkau scorang? Engkau tiadakah malu pula Alimah, sebab

ayahmu tak laku kepada perempuan lain?" tanya Ahmad

Maulana kepada anaknya, seraya tersenyum.

Aliniah tiada menjawab pertanyaan ayahnya ini, melainkan

tunduk kemalu-maluan.

"Rupanya Mak Mudamu ini, suka kepada laki-laki yang

beristri banyak, Nurbaya; sebab itu baiklah kaupinangkan aku

perempuan barang selusin lagi. Kalau tiada, ia nanti minta surat

cerai kepadaku, sebab malu, kepada orang, suaminya tak laku

kepada perempuan," kata Altmad Maulana pula.

Nurbaya pun tiada berani menjawab olok-olok itu hanya

tersenyum, karena dilihatnya Mak Mudanya merengut.

"Suatu lagi yang tak baik," kata Ahmad Maulana; sedang

senyumnya hilang dari birinya, "perkawinan itu dipandang

sebagai perniagaan. Di negeri lain, perempuan yang dijual

kepada laki-laki, artinya si laki-laki harus memberi uang kepada

si perempuan; akan tetapi di sini, laki-laki dibeli oleh

perempuan, sebab perempuan; memberi uang kepada laki-laki.

Oleh sebab adat yang sedemikian, laki-laki dan perempuan

hanya diperhubungkan oleh . tali uang saja atau karena keinginan

kepada keturunan yang baik; sekali-sekali tidak dipertalikan oleh

cinta kasih sayang.

Itulah sebabnya tali silaturahim antara suarni dan istri mudah

putus, sehingga lekas bercerai kedua mereka. Bila telah bercerai,

tentulah si laki-laki beristri pula dan si perempuan bersuami

kernbali. Jadi laki-laki banyak istrinya dan perempuan banyak

suaminya.

Pada bangsa Barat, biasanya suami dan istri tiada diperhubungkan

oleh tali uang atau harta, melainkan terutama oleh

tali percintaan dan kasih sayang. Karena itulah maka

perhubungan mereka lebih erat sebab cinta kasih sayang itu, acap

kali tiada mengindahkan harta, bangsa atau pangkat, Lagi pula,

mereka itu terikat oleh perjanjian setia yang seorang kepada

yang lain; tak boleh bercerai, bila tak ada sebab yang penting,

sehingga bertambah kuatlah perhubungan itu."

"Ah, mengapa pula kita kan menurut adat kafir itu," jawab

Fatimah, sambil membasuh tangannya, sebab telah selesai

makan:

Alimah dan Nurbaya mulailah mengangkat sisa-sisa

makanan, lalu menyuruh cuci piring dan mangkuk, bekas tempat

makan, kepada bujang.

Sungguhpun Nurbaya bekerja, tetapi telinganya selalu

dipasangnya, akan mendengar perkataan Bapa Mudanya, karena

buah pikirannya sesuai benar dengan pendapatnya.

"Mereka itu kafir, kata kita; tetapi mereka barangkali berkata,

kitalah yang kafir, sebab tak menurut agama mereka. Mana yang

benar, wallahualam! Tak dapat kita putuskan; hanya Allah yang

mengetahui. Sekalian agama datang dari pada-Nya, untuk

keselamatan manusia. Tentu saja tiap-tiap bangsa akan memuji

agamanya sendiri, sebagai tiap-tiap orang memuji dirinya sendiri

pula; tetapi pujian kepada diri sendiri itu, tak boleh menjadi

sebab, untuk mencela diri orang lain; apalagi kalau pengetahuan

kita hanya baru sekadar tentang diri kita sendiri saja. Bagaimana

dapat kita perbandingkan dua buah benda, kalau kita hanya tahu

satu saja, daripada keduanya?

Tentang agama itu, yang kita ketahui hanya agama kita

sendiri, itu pun belum sempurna pula. Agama lain sekali-kali

tiada kita ketahui. Bagaimana dapat kita katakan buruk baiknya?

Bagaimana dapat kita perbandingkan, mana yang benar, mana

yang salah, antara kedua agama itu? Cobalah pikir benar-benar!

Bila aku mempunyai sebuah batu dan engkau mempunyai pula

sebuah, dapatkah kaukatakan, mana lebih berat di antara kedua

batu itu, jika tiada kauketahui berat keduanya? Dan bagaimanakah

dapat kaukatakan, batumu lebih berat daripada batuku, kalau

kau belum tahu berapa besar dan berapa berat batuku? Sedangkan

batumu sendiri pun belum kauketahui benar-benar, berat dan

ringannya."

"Tetapi bukankah dapat dilihat dengan mata, ditaksir dengan

pikiran, menurut besarnya?" jawab Fatirnah.

"Penglihatan dan taksiran tiada selamanya benar. Tirnah yang

kecil, terkadang-kadang lebih berat daripada kayu yang besar.

Sungguhpun demikian, harus juga kaulihat dahulu besar kedua

benda itu, supaya dapat kautaksir beratnya.

Sekarang apakah pengetahuanmu tentang agama si kafir itu?

Lain tidak, hanya tentang keburukannya saja; itu pun karena

mendengar cerita orang dan engkau turutlah menyebutnya

sebagai seekor burung tiung meniru perkataan yang diajarkan

kepadanya, dengan tiada tahu sekali-kali apa artinya.

Tidak baik begitu, sesuatu yang belum kauketahui benarbenar,

janganlah kaucela lekas-lekas. Dalam agama kita pun

dilarang menuduh seseorang kafir atau Islam, karena sekalian

itu, hanya Tuhanlah yang tahu. Apalagi sebab hati manusia itu

tiada tetap, bertukar-tukar juga sebilang waktu. Sekarang baik,

besok barangkali jahat; tak dapat ditetapkan, karena manusia itu

bersifat lemah. Janganlah menilik yang lahir saja, sebab yang

batin itulah yang lebih berharga. Dan tahukah engkau akan batin

orang?

Walaupun pada lahirnya ia kafir, siapa tahu, pada batinnya

barangkali ia Islam. Biarpun sekarang ia kafir, boleh jadi nanti

berpaling hatinya, menjadi Islam. Dan lagi pada pikiranku,

agama itu tak ada yang jahat, sekaliannya baik, karena

maksudnya baik belaka dan tujuannya kepada Tuhan Yang Esa."

Perkataan itu tiada juga dijawab oleh Fatimah, sebab itu

berkata pulalah Ahmad Maulana, setelah berdiam diri sejurus,

"Sungguhpun mereka itu bangsa kafir, kata kita, ada juga adat

dan aturannya yang baik. Aturan, lain, dan agama pun, lain;

jangan disamakan saja. Adat dan aturan kita benar banyak yang

baik, tetapi ada juga yang salah. Apakah salahnya, kalau ditiru

adat bangsa lain yang baik dan dibuang adat kita yang buruk?

Adat mereka yang jahat itu jangan kita ambil dan adat kita yang

baik disimpan benar-benar.

Banyak aturan dan adat bangsa asing yang sudah kita tiru

dengan tiada dipikirkan dalam-dalam buruk baiknya. Baju jas

dan sepatu, pakaian siapa itu? Bukankah pakaian orang Barat?

Mengapakah dipakai juga? Orang haji dan Arab pun banyak pula

yang meniru pakaian Barat itu. Berkursi, bermeja, berlampu

gantung, bukan adat nenek moyang kita turut juga. Piring dan

mangkuk, perbuatan siapa? Tetapi dipakai juga? Adat dan aturan

siapakah yang harus diturut orang Islam? Adat orang Arab?

Orang Arab makan kurma dan minum susu unta; mengapa tidak

ditiru pula? Manakah adat dan aturan kita yang asli?

Ah Fatimah, sekalian itu, hanya dunia saja; bukan akhirat;

lahir, bukan batin. Pada pikiranku, walaupun apa juga yang

engkau pakai atau perbuat, asal hakikatmu suci dan hatimu tiada

bcrubah, tiada jadi apa-apa. Tetapi walaupun kauturut bcnar tiaptiap

perkataan yang tersebut dalam kitab, kalau hatimu tiada suci

dan lurus, tak ada gunanya."

"Ya itu betul; tetapi adat kita, pusaka nenek moyang kita, tak

boleh disia-siakan atau ditukar-tukar saja. Dan lagi, tak baik kita

membuang-buangnya; buruk dan baik harus diturut. Itu tandanya

kita beradat. Kalau hendak menambahnya dengan aturan lain,

baik, tetapi adat kita, dipakai juga."

"Memang kurang baik membuang yang lama, karena

nrendapat yang baru. Tetapi ada di antara adat dan aturan lama

itu, yang sesungguhnya baik pada zaman dahulu, tetapi kurang

baik atau tak berguna lagi waktu sekarang ini. Adalah halnya

seperti pakaian tatkala mula-mula dibeli, boleh dan baik dipakai,

tetapi makin lama ia makin tua dan lapuk; akhirnya koyakkoyak,

tak dapat dipergunakan lagi. Kalau sayang membuang

pakaian tua ini, karena mengingat jasanya, sudahlah, simpanlah

ia, untuk jadi peringatan! Tetapi pakaian baru, harus juga dibeli,

bukan?

Demikian juga adat itu; bertukar-tukar, menurut zaman.

Walaupun tiada disengaja menukarnya, ia akan berganti juga;

sebab tak ada yang tetap. Sekali air pasang, sekali tepian beralih,

kata pepatah. Dan memanglah begitu."

"Baiklah, sekarang cobalah Kanda terangkan apa kejahatan

adat kita di Padang ini, tentang beristri lebih daripada seorang?"

tanya Fatimah pula.

"Dengarlah," sahut Ahmad Maulana. "Pertama, makir.

banyak istri makin banyak belanja; scbab tiap-tiap istri itu harus

dibelanjai dengan secukupnya. Bila kurang belanja, tentu saja

kurang hati istri-istri itu. Dengan demikian, mudah timbul

perselisihan; dan bila selalu berbantah saja, dengan tiap-tiap istri

yang banyak itu, tentulah kehidupan kurang senang."

"Rupanya Kakanda lupa akan perkataan Kakanda tadi dan

adat kita yang asli, yaitu laki-laki tak usah memberi belanja

istrinya atau anaknya, karena anak istrinya itu tanggungan

mamaknya. Laki-laki dipandang sebagai orang semenda, orang

menumpang saja; jadi walaupun istri dan anak banyak, tiada

menyusahkan."

"Bukan aku lupa," jawab Ahmad Maulana. "Itulah yang lebih

terasa di hatiku. Laki-laki tak usah memberi belanja dan

memelihara anak istrinya, bahkan dapat makan dan pakaian pula

dari perempuan. Dan apabila laki-laki itu berbangsa, tatkala

kawin, dijemput pula oleh perempuan, dengan uang dan pakaian.

Jadi apa namanya laki-laki itu? Karena sesungguhnya laki-laki

itulah yang harus memberi nafkah dan memelihara anak istrinya,

sebab perempuan lebih lemah dari laki-laki.

Bila dibandingkan laki-laki dengan perempuan, tentang

bentuk badannya, kekuatannya, akalnya dan lain-lain, nyatalah

laki-laki bangsa yang melindungi anak-istri, sanak saudara, harta

benda, kampung halaman, baik tentang musuh ataupun

keperluan yang lain-lain, untuk kehidupan. Perempuan tempat

menyimpan dan mempertaruhkan anak dan harta benda. Tetapi

menurut adatmu tadi, perempuari menjadi laki-laki dan laki-laki

menjadi perempuan. Tiada sesuai dengan aturan alam."

"Boleh jadi." jawab Fatimah, "tetapi bukan perempuan itu

sendiri yang memberi makan suaminya, melainkan mak-bapa

dan ahli si perempuan itu."

"Baik, aku terima jawabmu itu, walaupun memang ada negeri

yang sesungguhnya perempuannya yang mencari penghidupan,

karena ialah yang bekerja, berniaga dan lain-lain sebagainya,

sedang suami tidur-tidur, bersuka-suka hati, mengadu ayam,

mengadu burung atau berjudi. Tetapi apakah namanya laki-laki

yang sedemikian itu? Bukankah laki-laki ini dapat disamakan

dengan bapa kuda atau bapa sapi, yang dipelihara baik-baik dan

diberi makan cukup, semata-mata hanya karena hendak mengharap

keturunannya saja?

Kalau laki-laki itu bangsawan atau iupawan, sudahlah; sebab

ada yang diharapkan dari padanya yaitu rupa yang balk atau

bangsanya yang tinggi itu, supaya turun kepada anaknya, meskipun

bangsa itu makin lama makin berkurang harganya dan

makin kurang dipandang orang. 'Fetapi, kalau laki¬laki itu tiada

berbangsa tinggi, tiada berupa baik, kepala bersegi, telinga lebar,

mata juling, hidung penyek, mulut lebar, gigi keluar, punggung

bungkuk, kaki timpang pula sebelah, apakah yang diharapkan

dari orang yang sedemikian? Segala cacatnya itukah, supaya

anak cucunya sama bagusnya dengan dia?"

"Laki-laki yang serupa itu masakan laku! Yang dibeli,

tentulah yang bangsawan, rupawan, pintar, berpangkat atau lainlainnya,"

jawab Fatimah.

"Kalau begitu, tak jadi apalah. Tiap-tiap yang berharga, tentu

tak dapat dipinta saja, walaupun barang yang berharga ini,

bagiku tak seberapa artinya. Tetapi adat yang kita perbincangkan

tadi, yaitu laki-laki dipandang sebagai orang yang inenumpang

saja, kedapatan juga pada orang kebanyakan, jadi bukan pada

orang yang istimewa saja.

Lagi pula, daripada sifat-sifat yang kausebut itu, hanyalah

kebangsawanan dan rupawan saja yang dapat diturunkan kepada

anak cucu. Tetapi pangkat yang tinggi atau ilmu yang dalam itu

apa gunanya, kalau tak dapat menolong anak?"

Maka tiadalah pula dapat Fatimah memberi jawaban.

"Kedua," kata Ahmad Maulana, setelah berhenti sejurus,

"makin banyak istri; dan makin banyak anak, makin banyak pula

belanja..."

"Tunggu dulu," kata Ahmad Maulana, sebab dilihatnya

istrinya hendak menjawab, "aku tahu, apa yang hendak kau

katakan, yaitu anak yang banyak itu tiada menjadi alangan,

bukan? Sebab sekalian anak itu ada bermamak, yang harus

memeliharanya. Tetapi karena hal itulah, tak ada pertalian cinta

kasih sayang antara anak dan bapa, sebagai antara laki dan istri

tadi itu pula. Dengan demikian, laki-laki itu tiadalah tahu yang

dinamakan: Cinta kasih sayang kepada anak dan istrinya. Yang

dikenalnya hanya sayang kepada kemanakannya. Tetapi

kesayangan kepada kemanakan, tiada dapat disamakan dengan

cinta kepada anak, darah daging sendiri. Dan anaknya itu takkan

tahu pula cinta kepada bapanya, hanya kepada ibunya saja,

sedang cinta kepada mamaknya tiada seberapa. Istrinya hanya

cinta kepada anaknya, sebab darah dagingnya, tetapi suaminya

orang lain pada perasaannya. Sebab itu jaranglah mereka

mendapat persatuan suami-istri dan kesenangan berumah tangga,

yang sangat berharga bagi bangsa Barat.

Dan lagi, pikirlah! Kesalahan siapa maka anak itu sampai ada

di dunia? Bukannya ia yang minta dilahirkan, melainkan makbapanya

yang menjadikannya. Sekarang sesudah anak itu lahir,

ia diserahkan kepada orang lain, yang sekali-kali tiada bersalah

dalam hal ini. Walau mamaknya sekalipun, kesayangannya

tiadalah akan sama dengan kesayangan ayahnya sendiri...

Bagaimana rasanya itu? Cobalah kaupikir benar-benar!

Jangan buta tuli, memandang adat saja. Mana yang dekat kepada

si bapa, anaknya atau kemanakannya? Anaknya darah dagingnya,

kemanakannya anak saudaranya, walaupun yang sedarah

dengan dia.

Ada orang yang bersangka, anak itu sesungguhnya terlebih

dekat kepada mamaknya daripada bapanya, karena itu terang

kemanakan mamaknya, sebab kelihatan dilahirkan oleh saudara

si mamak itu, yang sedarah dengan dia. Tetapi ia belum tentu

anak si bapa; boleh, jadi juga anak laki-laki lain, yaitu kalau

ibunya tiada setia kepada suaminya. Jadi si bapa itu sebagai

kurang percaya kepada anak dan istrinya.

Hal yang ganjil ini pada sangkaku, asalnya dari adat zaman

dahulu kala, tatkala perempuan boleh bersuami banyak atau

tatkala perkawinan belum teratur benar sebagai sekarang ini.

Tetapi adat itu tiada sesuai lagi dengan keadaan dewasa ini.

Perkara perkawinan pun telah teratur dengan baik, artinya tiaptiap

laki-laki tentu istrinya dan perempuan tentu pula suaminya,

disaksikan oleh orang banyak, waktu mereka kawin.

Aku tiada hendak mengatakan, bahwa tiap-tiap anak itu, tak

dapat tiada anak bapaknyalalt; tentu boleh jadi juga anak lakilaki

lain. Tetapi hal yang sedemikian, jarang terjadi sehingga

sekali-kali tak patut menjadi alasan, anak mengganjilkan diri dari

apa adat orang sedunia ini, yaitu pusaka turun kepada anak.

Kaulihat, itulah suatu contoh yang menyatakan, bahwa

sesuatu adat yang dahulu barangkali baik, tetapi sekarang ini,

mungkin tiada berharga lagi. Tak baiklah adat yang telah lama

seperti ini, disimpan saja dalam peti, kalau perlu, akan jadi tanda

mata daripada'nenek moyang kita dahulu kala?"

Perkataan itu pun tiada dapat disalahkan oleh Fatimah, sebab

itu diputarnya tujuan perbincangan ini sedikit dengan berkata,

"Tetapi bukankah baik banyak anak, supaya bangsa kembang

biak."

"O, kalau itu maksudmu, memang benar sekali. Seharusnyalah

tiap-tiap bangsa itu mengembangkan bangsanya, sebagai

tersebut dalam agama. Tetapi memelihara bangsa itu, kewajiban

pula. Jangan menjadikan saja pandai, mernelihara tak mau.

Betapa bangsa itu dapat kembang dengan sempurna, jika tiada

dipelihara sendiri baik-baik? Bekerja jangan tanggung, Mah!

Ketiga, walaupun tersebut dalam kitab (agama), laki-laki

boleh beristri sampai empat orang, tetapi haruslah harta si lakilaki

itu berlebih dahulu daripada untuk memelihara seorang istri

dengan sempurna dan haruslah pula ia adil dengan seadil-adilnya,

dalam segala hal, kepada keempat istrinya itu; haruslah

boleh. Kalau tiada, menjadi dosa; sebab kelakuan yang tak adil

itu mendatangkan dengki khianat antara istri-istri itu. Tetapi

kebanyakan laki-laki itu tiada adil kepada sekalian istrinya.

Biasanya yang baru itulah yang lebih disayanginya, daripada

yang lama; yang muda lebih digemari daripada yang tua; yang

bagus, lebih disukai daripada yang buruk. Itu tak boleh; sekaliannya

harus sama, belanja, pakaian, rumah tangga, cinta kasih

sayang dan lain-lain sebagainya.

Adakah laki-laki kita yang dapat berbuat sedemikian? Dalam

seribu jarang seorang. Kebanyakan, dalam segala hal, dilebihkannya

yang terlebih dicintai. Mustahil akan dapat sama cinta

kepada segala istri, sebab telah ditakdirkan Tuhan, manusia itu

terlebih ingin dan terlebih sayang kepada yang molek daripada

yang buruk. Kelakuan yang serupa itulah yang acap kali

menimbulkan cemburu dan dengki, antara istri-istri itu, sehingga

terbitlah perbantahan, antara laki-laid dengan istrinya dan antara

istri dengan istri. Walaupun kepada istri yang mana laki-laki itu

pergi, yang diterimanya tiada lain daripada muka masam, perkataan

yang kurang sedap didengar, penjagaan yang kurang

sempurna, terkadang-kadang umpat dan maki, sehinb ga

akhirnya jadi berkelahi. Adakah senang kehidupan yang

sedemikian?

Lagi pula, istri-istri yang dipermadukan itu, tiada lurus

hatinya kepada suaminya, baik dalam perkara apa juga. Ada pula

istri itu yang menjadi jahat, yang berbuat kelakuan yang tak

senonoh, karena hendak membalaskan sakit hatinya kepada

suaminya. Perhubungan yang memang kurang kuat tadi, menjadi

bertambah-tambah longgarlah, sehingga akhirnya, hanya tinggal

surat kawin saja lagi, yang memperaihatkan kedua mereka.

Meskipun aku laki-laki, tetapi pada pikiranku, tiada boleh

suami berkecil hati, bila istrinya yang dipermadukannya itu tiada

mengindahkan suaminya, karena suami itu pun tiada pula

mempedulikan perasaan hati istrinya. Perempuan manakah yang

dapat menahan hati, meliltat suaminya dengan perempuan lain?

Adakah laki-laki yang dapat senang hatinya, melihat istrinya

dengan laki-laki lain? Pada pikiranku tak ada.

Keempat, ada juga perempuan yang rupa-rupanya, tiada

mengindahkan kelakuan suaminya, yang suka beristri banyak itu,

sebab perempuan itu sangat sabar. Tetapi acap kali kesabaran

inilah, tanda kurang sayang kepada suaminya. Karena cemburu

itu bukankah timbulnya daripada hati yang cinta?

Apabila istri-istri itu sama cinta kepada suaminya, tentulah

masing-masing mencari akal supaya ia lebilt disayangi suaminya

daripada madunya. Kebanyakan akal ini bukan dijalankan

dengan memperbaiki kelakuan atau rumah tangga atau apa saja

yang dapat menarik hati suami tadi, melainkan dengan jalan

berdukun dan pekasih.

Tiap-tiap istri, mencari dukun yang pandai akan mengobati si

suami, supaya ia lebih dicintai daripada madunya; terkadangkadang

sampai berhabis harta benda. Si dukun bukannya

mempergunakan ilmu saja, melainkan acap kali memakai

ramuan dan obat-obatan yang harus dimakan si laki-laki. Betul

maksudnya baik, tetapi sebab ramuan pekasih itu tiada selamanya

barang yang bersih, lama-kelamaan, karena terlalu banyak

makan obat itu, dari sana-sini, dari sekalian istrinya rusak juga

badannya. Bukan seorang dua orang laki-laki yang telah menjadi

kurban perbuatan dukun seperti itu. Sayang!

Perempuan yang tiada sabar, terkadang-kadang, karena

sangat sakit hatinya dipermadukan, bukan pekasih yang diberikannya

kepada suaminya yang sedemikian, tetapi racun;

sehingga bertambah-tambalt lekaslah ia berpulang ke negeri

yang baka.

Alimah, coba beri aku air teh segelas! Kering mulutku rasanya

bercerita ini," kata Ahmad Maulana kepada anaknya.

Alimah segera keluar dari dalam biliknya, mengambil apa

yang diminta oleli ayahnya itu. Kemudian kembali pula ia ke

dalam biliknya, sedang Nurbaya di sana, pura-pura duduk menjahit,

tetapi sesungguhnya didengarkannya benar-benar segala

perkataan bapa mudanya ini.

"Kelima, apabila perempuan tadi hatinya kurang baik." kata

Ahmad Maulana pula, sesudah minum teh, "bukannya suarninya

saja yang diberinya ramuan itu, tetapi madunya pun diberinya

juga; bukan supaya sayang kepadanya, hanya supaya dibenci

oleh suaminya, ada pula yang membuat, agar madunya itu lekas

berkalang tanah. Siapa tahu, barangkali Rapiah ini kurban perbuatan

yang sedemikian pula. Kasihan!

Keenam, banyak perempuan yang telah dipermadukan itu,

karena takut beroleh kesakitan dan kesedihan pula, tiada hendak

kawin lagi, bila ia telah diceraikan oleh suaminya. Jika sekalian

perempuan berbuat demikian bagaimanakah akhirnya? Bagaimanakah

engkau dapat mengentbangkan bangsamu dengan

perempuan yang tak hendak kawin? Barangkali waktu ini hal ini

belum memberi khawatir, karena kebanyakan perempuan, belum

dapat mencari kehidupan sendiri akan tetapi kalau mereka telah

pandai pula sebagai laki-laki, tentulah lebih suka mereka

mencari penghidupan sendiri daripada selalu makan hati, sebab

dipermadukan oleh suaminya. Perempuan pun kawin, karena

hendak mencari kesenangan juga, bukan karena hendak

mengabdi kepada laki-laki."

"Itulah sebabnya tak baik arak perempuan disekolahkan,"

kata Fatimah.

"Supaya tinggal budoh dLn selama-lamanya menjadi budak

laki-laki, bukan? Boleh diperbuat sekeh ndak hati; sebagai

kerbau, diberi bertali hidungnya, supaya dapat ditarik. Dan

disuruh ke mana suka oleh yang mengembalakannya. Jika

engkau sendiri, sebagai seorang perempuan, suka bangsamu

diperbuat sedemikian, suka hatimulah! Tetapi kalau aku menjadi

perempuan, sekali-kali aku tak mau menerima peraturan ini."

Tatkala itu terdiamlah pula Fatimah, karena tak dapat menjawab

perkataan suaminya. ,

"Ketujuh, perempuan yang dipermadukan itu, hatinya tiada

lurus kepada suaminya dalam segala hal, seperti telah kukatakan

tadi. Janganlah dipandangnya suaminya sebagai kekasihnya,,

sebagai sahabatnya pun tak dapat dibenarkannya; karena pada

penglihatan dan perasaannya, laki-laki itu ialah tuannya yang

bengis. Bagaimanakah dapat hidup senang dan sehati dengan

musuh yang dibenci?

Ah Fatimah, banyak lagi kejahatan adat beristri banyak itu;

kemudian boleh kuceritakan pula. Sekarang mataku sudah

mengantuk, suruhlah, si Hasan memadami lampu dan menutup

pintu!"

Tiada berapa lamanya kemudian daripada itu, gelaplah rumah

Ahmad Maulana, sunyi senyap; karena lampu sudah dipadami

dan sekalian pintu jendela sudah ditutup. Hanya di belakang

rumah itulah masih kedengaran suara si Hasan, bujang Ahmad

Maulana, bersenandung perlahan-lahan, akan menggolekkan

dirinya sendiri.

Di dalam biiik Alimah, kelihatan Nurbaya dengan saudara

sepupunya ini, masih menjahit. Sebentar-sebentar Nurbaya

berhenti, lalu termenung, sebagai ada yang dipikirkannya.

"Nur, datang pula penyakitmu?" tanya Alimah.

"Bukan. Lim; hanya aku masih ingat akan perkataan bapa

tadi sebab pikirannya itu sangat terbenar dalam hatiku dan

menimbulkan ingatan kepada untung kita bangsa perempuan

ini," jawab Nurbaya.

"Nur, jangan kau banyak menyusahkan pikiranmu dengan

ingatan yang sedih-sedih! Penyakitmu rupanya masih ada.

Segala kenang-kenangan yang pilu-pilu, belum hendak hilang

dari hatimu. Bukankah engkau sudah berjanji kepadaku, akan

menetapkan pikiranmu supaya jangan tergoda pula lagi?"

"Bukan hatiku rawan, Lim; memang hal ini sudah lama

terpikir olehku. Cobalah kaupikir benar-benar, nasib kita

perempuan ini! Demi Tuhan yang bersifat rahman dan rahim,

kita telah dikurangkan daripada laki-laki, teman kita itu. Sengaja

kukatakan teman kita laki-laki itu, karena sesungguhnyalah

demikian walaupun banyak di antara mereka yang menyangka,

mereka itu bukan teman, melainkan tuan kita dan kita hambanya.

Pada persangkaan mereka, mereka lebih daripada kita, tentang

kekuatan dan akal mereka. Betul kita lemah daripada laki-laki

dan barangkali juga tiada sepandai laki-laki, akan tetapi

kelemahan tubuh kita dan kekurangan akal kita itu, bukanlah

sebab kelihatan kita yang kurang atau otak kita yang tiada

sempurna; hanya karena tubuh kita, sangat berlainan dengan

laki-laki. lngatlah. kita ini bangsa ibu, karena anak itu kita yang

mengandungnya melahirkannya, menyusukannya, memeliharanya

dan membesarkannya. Laki-laki tak tahu apa-apa, hanya

tahu senangnya saja.

Ingatlah perasaan perempuan yang hamil itu, muntah-muntah

sakit-sakit, tak sedap perasaan badan. Bukanlah sekalian itu

penyakit? Oleh sebab kira-kira dua bulan sesudah kita beranak,

kita telah bunting pula, bolehkah dikatakan, kita hampir

selamanya dalam sakit-sakit. Lihatlah perempuan yang tiap-tiap

tahun beranak! Bagaimana halnya? Badan rusak, lekas tua, umur

pendek. Bagaimana kita dapat menyamai kekuatan laki-laki,

yang boleh dikatakan selalu dalam sehat?

Lagi pula, segala pekerjaan laki-laki menambah kekuatan

badannya dan tajam pikirannya, tetapi pekerjaan kita perempuan

dari rumah ke dapur dan Jari dapur ke rumah, menjaga anak,

rnemasak, mencuci dan membersihkan rumah tangga; sekali-kali

bukan pekerjaan yang rnenambahkan kekuatan dan pikiran.

Laki-laki tahu perbedaan ini dan ia tahu pula penanggungan

kita tatkala kita hamil. Akan tetapi pengetahuannya itu jangankan

menjadi pandangan padanya, yang menimbulkan iba kasihan

kepada kita, tidak, melainkan ditertawakan dan dipermainkan

pula kita. Ada pula yang kawin, di waktu istrinya bunting atau

beranak. Kitakah yang berkehendak akan nasib yang malang ini?

Kitakah yang meminta, supaya dijadikan begitu? Oleh sebab

laki-laki itu tiada merasai penanggungan, kesengsaraan dan

kesakitan kita ini, itulah sebabnya tiada diindahkannya hal kita.

Jarang laki-laki yang ingat, bahwa ibunya yang telah bersusah

payah mengandung, melahirkan dan memeliharanya, bangsa

perempuan juga, bukan bangsanya sendiri, yaitu laki-laki."

"Benar sekali katamu itu, Nur," jawab Alimah, sarnbil

termenung memikirkan perkataan adiknya ini.

"Marilah kuteruskan uraian ini! Terlebih dahulu

penanggungan perempuan, karena anaknya, yang sebetulnya

bukan anaknya sendiri, melainkan anak berdua dengan laki-laki.

Oleh sebab itu haruslah kesusahan dan kesenangan yang

diperoleh, karena anak itu, terbagi sama rata atas ibu dan bapa.

Tetapi bukan begitu halnya, sebagai yang telah kupaparkan tadi.

Dan walaupun perempuan yang terlebih bersusah payah atas

anak itu, bahagia yang diperoleh lebih kepada bapanya daripada

kepada ibunya, karena anak itu kelak lebili dikenal sebagai anak

ayahnya daripada anak ibunya. Bila anak itu menjadi orang yang

berpangkat tinggi misalnya, siapakah yang terlebih beroleh nama

baik, bapanya atau ibunya? Bila orang bertanya. "Anak siapakah

yang baik, itu?" Yang disebut nama ayahnya, bukan nama

ibunya. Perempuan Barat, harus pula memakai nama suaminya.

Adakah adil perempuan ini?

Ah, keadilan! Adakah engkau dalam dunia ini atau tidak?

Kalau ada, di manakah engkau tersembunyi? keluh Nurbaya, lalu

termenung seketika.

Kemudian berkata pula ia, "Apabila kita hamil dua tiga bulan

bedan kurang segar kepala pening-pening, penglihatan kurang

terang pendengaran kurang nyata, perut selalu tak enak, acap kali

muntah, nafsu makan tiada tentu, yang enak, tak lazat rasanya

tetapi yang tak enak, disukai. Terkadang-kadang barang yang tak

ada atau sukar dicari atau tak patut dimakan, itulah yang

diidamkan. Kalau tak dapat, hati susalt dan sedih. Pikiran pun

kurang sempurna, acap kali suka marah dan benci kepada

seorang, tetapi sayang kepada yang lain, dengan tak ada sebab

karenanya. Kelakuan pun senantiasa berubah pula.

Bila hamil telah enam bulan, perut bertambah-tambah besar

dan mulai berat, sehingga susah berjalan, berdiri, bekerja, berhenti,

duduk, dan tidur. Pantangan bertambah-tambah banyak.

Ada makanan yang tak boleh dimakan, banyak pekerjaan yang

tak boleh dikerjakan, pendengaran yang tak boleh didengar dan

penglihatan yang tak boleh dilihat.

Tatkala anak hampir dilahirkan, tak dapatlah berbuat apa-apa

lagi, karena perut makin lama makin besar dan makin berat,

tetapi duduk selalu pun tak baik pula, karena susah kelak

melahirkan anak kata orang. Berjalan ke luar rumah, malu, takut

dikatakan tukang tambur.

Bila laki-laki disuruh mendukung anaknya sejam saja, lelahlah

ia katanya; tetapi perempuan sembilan bulan lamanya; terkadang-

kadang lebih lama pula, tiada berhenti-henti siang

malam, pada segala tempat, mengandung anak dan sesudah itu

beberapa tahun pula mendukungnya, perempuan itu tiada botch

mengatakan lelah.

Bila waktu akan melahirkan anak telah datang, tak dapatlah

dikatakan perasaan diri kesakitan yang ditanggung. Alam dan

dunia rasakan lenyap, pikiran benar menjadi hilang, bertukar

dengan ketakutan dan was-was. Sakit pun tiada terderita, seluruh

badan rasakan hancur, pemandangan menjadi gelap, perasaan

tiada tentu. Bila susah bersalin itu, karena sesuatu hal, acap kali

membawa kita ke pintu kubur, jika tiada lekas dapat pertolongan.

Walaupun mendapat pertolongan sekalipun, dari dukun atau

dokter yang pandai, acap kali terlalu sakit juga, karena

terkadang-kadang dengan kekerasan. Ada yang dipotong, dibedah

dan dijahit, sekaliannya boleh mendatangkan cacat dan

penyakit seumur hidup.

Apabila anak itu telah lahir ke dunia, beberapa lamanya

perempuan itu harus tidur diam-diam, tak botch bergerak-gerak,

serta harus pula memakan bermacam-macam obat yang kurang

sedap rasanya, supaya lekas sembuh. Ada kalanya penyakit itu

lama maka baik, padahal dalam waktu itu kita telah harus menjaga

dan menyusukan anak, karena kurang baik jika anak itu diberi

susu lembu.

Bila kita telah sernbuh, tiadalah pula dapat melepaskan lelah

barang sedikit pun, sebab kewajiban yang lain telah menanti,

yaitu menjaga, memelihara dan membesarkan anak itu. Tak tentu

susah, tak tentu payah, tak tahu siang dan tak tahu malam;

karena makanannya harus diberi dan dijaga, pakaiannya harus

dibuat dan dibersihkan. lika menangis harus dibujuk dan didukung,

jika mengantuk harus ditidurkan dan diayunkan. Kalau

ia sakit, berjam-jam lamanya didukung dan dinyanyikan; siang

malam tak dapat tidur atau mengerjakan apa-apa yang lain,

karena berjaga-jaga.

Bila anak ini telah besar sedikit, permainan harus diadakan

belanja harus diberi dan ia harus dididik pula dengan sempurna,

supaya ia kelak menjadi orang yang baik.

Belum selesai pekerjaan ini tanggungan yang baru sudah

datang pula, karena anak yang kedua telah dikandung. Tatkala

anak ini telah besar, harus disekolahkan dan kemudian dikawinkan.

Anak perempuan, sesudah kawin pun masih ditolong oleh

ibunya."

"Sesungguhnya demikian hal perempuan bangsa kita," jawab

Alimah. "Betul aku sendiri belum merasai beranak, tetapi aku

acap kali bercakap-cakap dengan perempuan yang telah beranak

dan menolong mereka. Oleh sebab itu kuketahui perasaan dan

penanggungan mereka."

"Dan adakah selamanya baik balasan anak itu kepada

ibunya?" kata Nurbaya pula. "Lebih-lebiht anak laki-laki acap

kali tak tahu membalas guna. Terkadang-kadang, air susu ibunya

dibalasnya dengan air racun. Bila ia telah beristri, tiadalah diindahkannya

lagi ibunya. Ada pula yang tiada hendak mengaku

ibu lagi kepada makiiya, karena ia telah kaya atau berpangkat

tinggi malu beribukan perempuan yang biasa saja atau

perempuan yang bodoh. Dan ada pula yang memusuhi sampai

memukul dan menyiksa ibunya sendiri.

"Memang anak laki-laki yang acap kali berbuat begitu; anak

perempuan jarang," sahut Alimah. '

"Boleh jadi sebab angkuhnya juga. Walaupurt asalnya dari

ibunya, tetapi pada sangkanya, ibunya itu hina, sebab ia bangsa

perempuan," kata Nurbaya seraya mengangkat kepalanya.

Setelah sejurus terhenti, berkata pula ia, "Hal yang kedua,

yang menyebabkan kita lebih lemah dan lebih kurang tajam

pikiran kita daripada laki-laki, ialah pemeliharaan, pekerjaan dan

kewajiban kita. Tentang pemeliharaan kita, sejak kita mulai

pandai berjalan, sampai berumur enarn tujuh tahun sajalah kita

boleh dikatakan bebas sedikit; boleh berjalan-jalan ke sana

kemari; boleh bermain-main ke luar rumah. Itulah waktu yang

sangat mulia bagi kita, waktu kita berbesar hati, waktu kita

merasa bebas. Sudah itu sampai kepada hari tua kita, tiadalah

lain kehidupan kita melainkan dari rumah ke dapur dan dari

dapur kembali pula ke rumah.

Apabila telah berumur tujuh delapan tahun, mulailah

dikurung sebagai burung, tiada diberi melihat langit dan bumi,

sehingga tiadalah tahu apa yang terjadi sekeliling kita.

Sedangkan pakaian dun makanan, tiada diindahkan, apalagi

kehendak dan kesukaan hati. Sementara itu kita disuruh belajar

memasak, menjahit, menjaga rumah tangga, sekaliannya

pekerjaan yang tiada dapat menambah kekuatan dan menajamkan

pikiran.

Tetapi anak laki-laki waktu itu, lain daripada disuruh ke

sekolah dan ke langgar, disuruli pula belajar menari, memencak,

berenang, berkuda dan lain-lainnya, untuk menguatkan tubuh

dan menajamkan pikirannya. Jadi sekalian pelajaran dan

pekerjaan itu pada laki-laki selalu menambah kemauan, kekuatan

dan menajamkan pikirannya sedang pada perempuan melemahkan

tubuhnya dun tiada berapa menambah kepandaiannya.

Jadi pekerjaan dan kewajiban kita pula, ialah mengandung

dan menyusukan anak; kepada anak, memelihara, membesarkan

dan mengajari dia; kepada suami, menjaga rumah tangga mengatur

makanan, pakaian dan lain-lainnya dan kepada ibu-bapa

serta kaum keluarga menurut sebarang kehendaknya. Sekalian

itupun tiada pula menambah kekuatan dan akal kita, sebagai

pada laki-laki.

Pekerjaan, pemeliharaan dan kewajiban ini, bukan kita yang

menghendaki; kita terpaksa harus menjauhkannya. Dan untuk

siapa? Untuk laki-laki dengan anaknya. Demikian pula tentang

sifat-sifat perempuan itu, bukan ia yang memintanya. Adalah

patut laki-laki menghinakan dia, sebab kita beroleh sifat-sifat

ini? Pada pikiranku, tentang kemauan dan akal itu, bila kita

perempuan diberi pelajaran, pemeliharaan, makanan, pendeknya

sekaliannya sama benar-benar dengan laki-laki, tentulah kita tak

akan kalah dari laki-laki."

"Pikiranku pun demikian juga, Nur," jawab Alimah.

"Perbedaan itu adanya, hanya karena berlainan pemeliharaan,

pelajaran, kewajiban dan lain-lainnya."

"Sungguhpun begitu, banyak juga yang asalnya dari

kesalahan perempuan sendiri, maksudku kesalahan ibu. Karena

kurang pikirannya, banyak perbuatannya yang tidak baik. Misalnya

dilarangnya anak perempuannya pergi ke sekolah, sebab

takut anak itu menjadi jahat, karena pandai membaca dan

menulis, sehingga memberi malu. Pikiranku persangkaan ini

salah benar; karena hal itu, bergantung kepada, hati, serta tabiat

kelakuannya dan pelajaran yang diperolehnya. Bila cukup

kepandaian, luas pemandangan dan jauh pendengarannya, hingga

tahu ia membedakan yang baik dengan yang jahat, artinya dapat

ia menimbang buruk dan baik perbuatannya, tentulah tiada

mudah ia terjerumus ke dalam lubang godaan laki-laki. Di mana

diperolehnya ilmu-ilmu itu, kalau tiada di sekolah?

Sebab itu, haruslah perempuan itu terpelajar, supaya terjauh

ia daripada bahaya, dan terpelihara anak suaminya dengan

sepertinya. Tentu saja kepandaiannya itu dapat juga dipergunakannya

untuk kejahatan. Itulah sebabnya perlu hati yang

baik dan pikiran sempurna. Bila perempuan itu memang tiada

baik tabiatnya atau sebab salah ajarannya, walaupun ia tak berkepandaian

sekolah sekalipun, dapat juga ia berbuat pekerjaan

jahat. Tak adalah perempuan jahat, pada bangsa yang masih

bodoh?"

"Jika dipikir dalam-dalam, nyatalah kita perempuan ini,

diperbuat sebagai anak tiri dan laki-laki sebagai anak kandung,

sebab sangat diperbedakan. Dan perempuan tiada pula diberi

tempat bergantung." kata Alimah.

"Memang," jawab Nurbaya, "dari Tuhan kita telah mendapat

alangan yaitu dalam hal mengandung dan menjaga anak,

sehingga tiada dapat melawan laki-laki, tentang apa pun; oleh

agama tiada pula disamakan dengan laki-laki, sebab laki-laki

diizinkan beristri sampai ernpat, tetapi perempuan, ke luar rumah

pun tak boleh; oleh suami dihina dan disia-siakan dan oleh ibu

bapa serta kaum kerabat, dipaksa menwut segala kehendak hati

mereka. Bangsa dan negeri pun tiada pula hendak menolong."

Di situ terhentilah Nurbaya berkata-kata, termenung

memikirkan hal dan nasib bangsanya perempuan.

"Ya seadil-adilnya, tentulah perempuan boleh pula bersuami

dua tiga, kalau laki-laki boleh beristri banyak," kata Alimah.

"Apa, perempuan bersuami banyak. Sedangkan melihat muka

laki-laki lain; tak boleh. Jika hendak ke luar rumah, haruslah

ditutup muka rapat-rapat, begitu pula bagian badan yang lainlain.

Sudah demikian, talak diserahkan pula kepada si laki-laki.

Mengapakah begitu? Mengapa laki-laki saja yang boleh menceraikan

dan mengawini perempuan, sesuka hatinya? Apakah

sebabnya maka perempuan tiada boleh berbuat begitu pula?

Perempuan sajakah yang boleh berbuat kesalahan dan menerima

hukuman dari laki-laki? Tiadakah laki-laki itu boleh pula berbuat

kesalahan kepada istrinya?

Apabila dikatakan kelaliman ini kepada laki-laki, tentulah

mereka akan gelak tersenyum saja, karena pada sangkanya,

itulah yang seadil-adilnya. Bukankah laki-laki itu tuan

perempuan, dan perempuan itu hamba laki-laki? Tentu saja

mereka boleh berbuat sekehendak, hatinya kepada kita; disiksa,

dipukul dan didera dengan tiada diberi belanja yang cukup dan

rumah tangga yang baik; tiada pula dilepaskan hati kita, tiada

diberi melihat permainan apa pun, yang boleh menyenangkan

hati dan meuambalt penglihatan dan tiada diizinkan pula mendengar

bunyi-bunyian yang menghilangkan kesusahan.

Jika salah sedikit, karena belum tahu, bukan pelajaran atau

peringatan yang diperoleh, hanya maki dan nistalah yang

diterima; ada kalanya disertai pula oleh pukul dan terjang. Jika

terlambat menyediakan makanan atau pakaian, perkataan yang

hina tentulah kedengaran. Menjawab, sekali-kali tak boleh; apa

yang terasa di hati tak boleh dikeluarkan, harus disimpan saja

dalam dada. Kalau berani melawan, tentulah akan diusir sebagai

anjing. Jika lekas diceraikan, sudahlah, tetapi acip kali,

digantung tak bertali; tiada dan tiada pula dipulang-pulangi*)

sehingga segala maksud, jadi terhalang."

"Sungguhpun demikian, penanggungan itu belumlah

seberapa, jika dibandingkan dengan penanggungan dipermadukan,"

kata Alimah. "Aku lebih suka dipukul, dikurung atau

dihinakan, daripada dipermadukan."

"Tentu," jawab Nurbaya, "itulah sebabnya agaknya, engkau

sampai bercerai dengan suamimu."

"Memang," kata Alimah.

"Cobalah ceritakan, bagaimana asalnya perceraian itu!" kata

Nurbaya pula.

"Asal mulanya, ialah asutan perempuannya dan maknya.

Kata mereka, aku yang mengasut suamiku, supaya ia benci

kepada mereka, sebab selama ia kawin dengan aku, mereka tiada

dapat berbelanja dari suamiku. Tetapi aku, sekali-kali tiada berbuat

demikian. Hanya ada aku minta kepada suamiku, supaya

*) dikunjung-kunjungi

belanja rumah setiap hari, jangan sampai kurang, sebab orang

tuaku bukan hartawan. Mendengar permintaanku ini, diberikannya

segala pendapatannya kepadaku. Dari uang itu, aku berikan

kepada ibunya sepuluh rupiah dan saudaranya lima belas rupiah

sebulan. Pada sangkaku, jika sekedar makan, cukuplah belanja

sekian itu. Tetapi rupanya kemauan mereka, sekalian pendapatan

suamiku harus diberikan kepada mereka, sebagai tatkala suamiku

belum kawin dengan aku.

Mana boleh jadi, sebab orang telah bertambah, rumah telah

dua. Bukanlah telah diketahuinya, sebelum kami kawin, ayahku

bukan orang yang mampu; jadi tak dapat menerirna suamiku,

sebagai menerima anak-anak bangsawan di Padang ini; segala

disediakan dan diadakan, tinggal pulang saja lagi. Lagi pula,

suamiku bukan seorang yang berbangsa tingki. Meskipun

demikian, mula-mula ia hendak dijemput juga. Akan tetapi

tatkala ayahku, berkata, ia tiada beruang, sudilah ia sebagai

biasa, suka sama suka saja.

Sesungguhnya perkawinan itu, atas kemauan mentua dan ipar

perempuanku itulah. Tetapi tatkala dilihat mereka, pemberian

suamiku berkurang kepadanya, bencilah mereka kepadaku dan

bibujuknyalah suamiku, supaya menceraikan aku.

Setelah dilihat mereka, suamiku tak mau saja menurut asutan

mereka dicarinyalah dukun ke sana kemari, supaya suamiku

benci kepadaku dan aku diceraikannya. Kabarnya mereka sampai

berniat hendak mengerjakan aku, supaya aku menjadi gila atau

mati.

Tatkala maksudnya yang jahat ini, dengan jalan demikian,

tak sampai pula, dikawinkannyalah suamiku dengan seorang

perempuan hartawan. Ketika aku mendengar kabar ini, tak

dapatlah kurencanakan, bagaimana rasa hatiku; marah, sedih,

benci bercampur baur tak tentu. Mataku gelap, kepalaku pening,

pendengaran hilang dan perasaan pun lenyap. Bibir dan sekujur

badanku gemetar, hatiku berdebar-debar, rasakan belah, segala

sendi anggota menjadi lemah, sehingga terjatuhlah aku ke tempat

tidurku beberapa lama¬ya, tiada khabarkan diri.

Semalam-malam aku menangis, karena tak dapat menahan

hati. Tatkala aku bertemu pula dengan suamiku adalah sebagai

aku melihat binatang rasanya, aku melihat dia: benci dan marah,

datang berganti-ganti. Segala kesukaan dan kasih sayangku

kepadanya, tiada berasa lagi. Jika tiada disabarkan oleh ibuku,

niscaya kukenakanlah tanganku ke kepalanya; begitulah geram

hatiku. Berapa kali aku minta bercerai, tetapi tiada dikabulkannya.

Apa dayaku? Karena talak dalam tangannya. Jika aku yang

memegang talak tentulah tak sampai kulihat lagi mukanya,

kujatuhkan talak ttga sekali.

Sejak waktu itu, tiadalah kuindahkan lagi dia, baik tentang

makanannya atau pakaiannya; sebab hatiku telah berubah

kepadanya, tiada lurus lagi. Jika ada laki-laki lain, yang

menggodaku pada waktu itu, agaknya kuturutkan, karena sakit

hatiku. Hendak aku lari, takut, kalau-kalau digantungkan aku

selama-lamanya; tiada diceraikan dan tidak pula dibelanjai.

Path suatu hari tatkala aku berjalan jalan dengan makku,

pada, malarrtd hari di pasar Kampung Jawa, kelihatanlah olehku

suamiku itu, sedang berjalan-jalan bersuka-sukaan, membeli apaapa

dengan maduku itu. Ketika kulihat mereka itu, gelaplah

mataku, tak tahu lagi, apa yang kuperbuat. Kata ibuku, aku terus

memburu perempuan itu, lalu menghela rambut dan bajunya

sambil memaki-makinya, sehingga berkelahilah kami di tengah~

orang banyak, bergumul dan bertarik-tarikkan rambut. Setelah

kami dipisahkan orang, kuberi malulah suamiku itu dengan

perkataan yang keji-keji serta kukatakan ia bukan laki-laki, kalau

tiada berani menceraikan daku. Ituiah sebabnya maka di pasar itu

juga dijatuhkannya talak kepadaku.

Inilah akhirnya perkawinan yang telah menghabiskan

beberapa biaya dan menimbulkan beberapa susah payah, disebabkan

perkara pemaduan."

"Jadi berapa lamanya kau bercampur dengan suamimu itu?"

tanya Nurbaya."

"Tak sampai setahun," jawab Alimah. "Sejak itu aku bersumpah,

tiada hendak kawin lagi. Apakah gunanya kawin, jika

untuk menyusahkan hati, merusakkan badan dan menghabiskan

harta? Maksudku kawin helidak mendapat kesenangan dan

menumpangkan diriku. Jika tiadadapat yang sedemikian, lebih

baik janda sebagai ini; bebas sebagai burung di udara, tiada siapa

dapat mengalangi barang sesuatu maksudku."

"Atau tinggal perawan selama-lamanya." kata Nurbaya.

"Itu tak boleh, karena terlalu aib, bagi kita; dikatakan tak

laku, sebab ada cacat," jawab Alimah.

"Aib itu karena diaibkan. Akan tetapi jika telah banyak yang

berbuat begitu, menjadi biasalah pula," kata Nurbaya.

"Barangkali," jawab Alimah.

Setelah Nurbaya termenung sejurus, berkata pula ia, seraya

mengeluh, "Memang demikianlah nasib kita perempuan. Adakah

akan berubah peraturan kita ini? Adakah kita akan dihargai oleh

laki-laki, kelak? Biar tak banyak, sekadar untuk yang perlu bagi

kehidupan kita saja pun, cukuplah. Aku tiada hendak meminta,

supaya perempuan disamakan benar-benar dengan laki-laki

dalam segala hal; tidak, karena aku mengerti juga, tentu tak

boleh jadi. Tetapi permintaanku, hendaknya laki-laki itu

memandang perempuan, sebagai adiknya, jika tak mau ia

memuliakan dan menghormati perempuannya, sebagai pada

bangsa Eropa. Janganlah dipandangnya kita sebagai hamba atau

suatu makhluk yang hina. Biarlah perempuan menuntut ilmu

yang berguna baginya, biarlah ia diizinkan melihat dan mendengar

segala ,yang boleh menambah pengetahuannya; biarlah ia

boleh mengeluarkan perasaan hatinya dan buah pikirannya,

supaya dapat bertukar-tukar pikiran, untuk menajamkan otaknya.

Dan berilah ia kuasa atas segala yang harus dikuasainya, agar

jangan sama ia dengan boneka yang bernyawa saja.

Perkara rumah tangga, pada pikiranku boleh dimisalkan

dengan sebuah negeri, yang diperintahi oleh dua orang wazir.

Kedua wazir ini hampir sama besar kekuasaannya. Seorang

wazir perkara dalam negeri, yaitu istri dan seorang pula wazir

perkara luar negeri, yaitu suami. Segala hal dalam negeri, yakni

perkara rumah tangga, penjagaan anak, makanan, perkakasperkakas

dan lain-lainnya, harus dikuasai oleh istri. Oleh sebab

itu harus perempuan faham dalarn segala hal-hal ini. Perkara luar

negeri, jadi perkara mencari penghidupan, pekerjaan, perlindungan

dan lain-lain, harus dikuasai oleh laki-laki; perempuan

tak boleh campur dalam hal itu. Di dalam segala perkara yang

penting, yang mengenai kewajiban keduanya, tentulah kedua

wazir itu boleh campur-mencampuri kewajiban masing-masing

dan bermupakat kedua, supaya dapat yang sebaik-baiknya."

"Tetapi siapakah yang menjadi raja?" tanya Alimah.

"Raja tak ada; segala sesuatu boleh dimupakatkan berdua,

supaya bertambah-tambah baik negeri. Jika hendak dilebihkan

sedikit kekuasaan wazir luar negeri itu, biarlah, tak mengapa;

sebab pahamnya lebih tua, lebih-lebih dalam memutuskan

perkara yang sukar-sukar, asal jangan lupa ia, pangkatnya

sesungguhnya sama dengan wazir dalam negeri dan janganlah ia

sampai bersangka, bahwa ialah raja, jadi dapat berbuat sekehendak

hatinya kepada temannya itu.

Kedua mereka itu sebenarnya satu, hanya terjadi dari dua

badan. Wazir dalam negeri perlu dapat pertolongan dari wazir

luar negeri, dan kebalikannya, wazir luar negeri harus pula

dibantu oleh wazir dalam negeri, dalam pekerjaan dan

kewajibannya; jadi tolong-menolonglah keduanya, dalam segala

kesusahan dan kesenangan, sebagai kata pepatah: berat sama

dipikul, ringan sama dijinjing. Sekali-kali janganlah masingmasing

bersangka, mereka dapat hidup sendiri-sendiri, karena

pekerjaan dan kekuasaannya yang berlain-lainan itu.

Sekalian penghasilan laki-laki atau perempuan, tak boleh

disembunyi-sembunyikan; baik dengan sebenar-benarnya

dinyatakan, supaya dapat dikumpulkan jadi satu. Dari jumlah

hasil ini, diberikan sebagian kepada perempuan, untuk belanja

rumah tangga, makanan dan lain-lain sebagainya; sebagian pula

kepada laki-laki, untuk biaya di luar rumah. Jika ada kelebihan,

simpanlah di atas nama berdua atau di atas nama anak. Jika lakilaki

kurang percaya kepada perempuan, sebetulnya tak boleh

laki-laki demikian, sebab laki-istri itu harus percaya-mempercayai

dan harus berhati sama lurus lebih baik janganlah

dicampurkan perkara keuangan itu. Tetapi kalau misalnya pada

sangka laki-laki, istrinya kurang pandai menjalankan uang

belanja atau pada sangka si perempuan, suaminya sangat boros,

tentulah mereka boleh campur-mencampuri tugas dalam perkara

keuangan ini.

Lain daripada itu, haruslah masing-masing selalu mencari

akal, untuk menyenangkan temannya dan selalu menjaga, supaya

jangan sampai sakit menyakiti hati. Jika tumbuh silang selisih,

janganlah masing-masing hendak beraja di hati dan bersutan di

mata sendiri-sendiri saja, karena jika demikian, menjadi kusutlah

penghidupan. Jika terbit marah, tahanlah hati, jangan ber¬katakata

atau berbuat apa-apa melainkan dinginkanlah darah yang

panas itu dahulu, supaya jangan berbuat atau mengatakan

sesuatu, dalam marah; karena hal itu boleh mendatangkan sesal

yang tak habis kemudian hari. Kalau marah tak hendak hilang,

bawalah tidur atau berjalan-jalan. Setelah habis marah dan

pikiran yang baik timbul pula, bicarakanlah pertikaian itu dengan

sabar bersama-sama, supaya mendapat kebenaran. Tak jua dapat

diputuskan, barulah dibawa kepada orang tua atau guru, minta

diselesaikan; karena biasanya, mereka banyak mempunyai

pendapat tentang hal ini. Kalau sudah demikian, tak dapat jua

diselesaikan kekusutan itu baiklah bercerai keduanya. Apa boleh

buat. Daripada bercampur dalam neraka, lebih baik bercerai

dalam surga. Tetapi bercerai itu hendaklah dengan baik, jangan

sampai menaruh dendam kesumat. Tatkala kawin dengan baik,

bercerai pun dengan baik pula. Siapa tahu, barangkali jodoh

masih ada: jadi mudah kembali. Biarpun telah habis sekalipun

jodoh, apako gunanya bekas suami atau istri itu dipandang

se,bagai musuh? Karena kita telah bercampur beberapa lamanya;

menjadi satu dengan dia. Bukankah lebih baik ia dipandang

sebagai saudara? Sedangkan hewan yang telah dipelihara, lagi

tak dapat dilupakan dalam sekejap mata, mengapakah manusia,

yang terkadang-kadang telah terikat kepada kita dengan tali

anak, diperbuat musuh?

Berselisih bermaki-makian, sampai terbuka rahasia yang

penting-penting, berteriak-teriak, sampai gempar orang sebelahmenyebelah,

berpukul-pukulan, sampai berluka-lukaan atau cara

lain yang semacam itu bukan saja tak berguna, tetapi menyatakan

kita bukan orang yang betertib sopan dan tak tahu peraturan

yang baik. Lagi pula ia boleh mendatangkan, bahaya kepada

badan sendiri. Bukankah lebih baik, kalau hendak berselisilr,

masuk berdua ke dalam bilik, tutup pintu, lalu bicarakan atau

keluarkan apa yang terasa dalam hati, perlahan-lahan, supaya

jangan diketahui orang. Apakah gunanya perselisilran kita,

diperlihatkan kepada orang lain, yang tiada bersangkut paut

dengan hal itu; apalagi karena tiada berapa lama sesudah itu, kita

akaii berdamai pula? Pada rasa hatiku, perkara yang sedemikian,

masuk rahasia rumah tangga kita; tak ada faedahnya diketahui

orang lain. Lagi pula aib rasanya seperti kelakuan anak kecil,

sebentar berkelahi, sebentar berbaik. Lihatlah anak-anak! Tatkala

berkelahi, bermaki-makian, berpukul-pukulan, seakan-akan

hendak berbunuh-bunuhan rupanya, tetapi sejurus kemudian

berbaik pula, bermain-main, bersama-sama, sebagai orang yang

berkasih-kasihan. Sedangkan pada anak-anak telah ganjil

rasanya kelakuan yang sedemikian, istimewa pula pada orang

yang telah cukup umurnya.

Perselisilian yang kecil-kecil, terkadang-kadang memang tak

dapat dihindarkan. Tetapi tak mengapa; itulah tanda bercampur

dua barang yang hidup. Sedangkan senduk dengan periuk, ada

kalanya lagi berlaga, kata orang; apa pula manusia, yang

pikirannya tiada selamanya tetap. Dan acap kali perselisihan itu

sebagai garam, menyedapkan makanan; sebab lebih besai

perselisihan, lebih nikmat pula perdamaiannya."

Sedang mereka bercakap-cakap itu, kedengaranlah dari jauh,

tukang jualan kue berteriak, "Eeee bipang, kue kerambil, kue

kacang, wajik lemang, enak-enak eeeii! ... Eee bipang!"

"Hai, telah berapa kali aku dengar tukang kue itu berteriakteriak;

rupanya sudah ada pula orang berjual kue-kue, pada

malam hari di sini," kata Nurbaya, yang telah mulai lelah berkata-

kata sedang perutnya mulai merasa lapar pula.

"Benar rupanya; tetapi baru semalam ini kudengar suara itu.

Biasanya tiada kemari jalannya, sebab di sini sunyi. Barangkali

ia sesat," jawab Alimah.

"Mari kita panggil ia, Lim! Barangkali enak-enak kuenya,"

kata Nurbaya pula.

"Ah, apa gunanya? Jika engkau hendak makan kue-kue, di

lemari ada, aku sediakan untuk jamu yang datang. Aku

sesungguhnya kurang suka makan kue-kue yang dibeli di jalan

raya, sebab tak tahu, siapa yang membuatnya dan biasanya

barang dagangan itu, tiada diindahkan amat memasaknya;

terkadang-kadang kotor," jawab Alirnah.

"Ah, masakan kotor! Aku di kampung Jawa Dalam, acap kali

membeli kue-kue itu dengan Samsu. Kami makan bersama-sama

dalarn kebun: belum pernah kedapatan yang kotor. Alangkah

senang hatinya, bila ia ada bersama-sama dengan kita sekarang

ini! Marilah kita beli, nanti bertambah-tambah jauh ia," kata

Nurbaya seraya menarik tangan saudaranya, mengajaknya

keluar, supaya dapat memanggil tukang kue itu.

"Bipang, bawa kemari!" seru Nurbaya.

Setelah hainpir tukang kue itu, bertanyalah Alimah, "Kue

dari mana ini?"

"Kue Mak Sati," jawab si penjual.

"Mak Sati di Kampung Jawa?" tanya Nurbaya.

"Saya," jawab tukang kue itu.

"Mengapa belum pernah kulihat engkau di Kampung Jawa?"

tanya Nurbaya pula. "Tukang kuenya yang seorang lagi acap kali

berjaja di Kampung Jawa Dalam. Aku kenal benar padanya

Amat namanya, bukan?"

"Benar. la berjaja di Kampung Jawa Dalam, hamba di sini,"

jawab tukang kue itu.

"Tetapi apa sebabnya, baru sekarang ini, kudengar suaramu?

Selama ini, di mana engkau?" tanya Alimah.

"Hamba baru datang dari Padang Darat," sahut tukang kue

itu, sambil membuka tempat kuenya, akan memperlihatkan

jualannya. "Sebab hamba belum dapat pekerjaan yang baik,

menjadi tukang kuelah hamba sementara."

"Di mana negerimu," tanya Nurbaya, sambil memeriksa kuekue

itu.

"Di Payakumbuh," jawab tukang kue.

"Kue wajik ini tak ada yang baru?" tanya Nurbaya.

"Tak ada," jawab tukang kue. "Akan tetapi jika Orang Kaya

suka makan lemang bergula, ada yang masih panas."

"Mana?" tanya Nurbaya.

"Ini," jawab tukang kue, seraya membuka tempat kue yang

sebuah lagi dan memilih beberapa lemang yang masih hangaf,

lalu ditunjukkannya kepada Nurbaya.

"Baik, berilah empat buah lemang itu!" kata Nurbaya pula.

"Apa gunanya banyak-banyak, Nur? Aku sedang tak enak

makan sekarang, nasi pun tiada habis."

Tatkala ifu mengerlinglah tukang kue dengan sudut matanya

kepada Alimah. Jika kelihatan oleh Alimah sudut mata ini,

tentulah nyata kepadanya, tukang kue itu marah rupanya,

mendengar perkataannya ini. Tetapi Alimah tiada melihat

kepadanya dan Nurbaya sedang asyik memilih kue-kue yang

enak-enak.

Setelah diambil Nurbaya beberapa kue yang lain, dibayarnyalah

harga makanan itu, lalu berangkatlah tukang kue itu, berjalan

cepat-cepat ke luar pekarangan.

Kedua perempuan muda itu pun pergilah duduk ke serambi

muka, lalu bercakap-cakap pula, sedang Nurbaya membuka

sebuah lemang akan dimakannya.

"Mengapa tiada terdengar lagi suara tukang kue tadi?" tanya

Alimah.

"Dipanggil orang yang di rumah muka agaknya," jawab

Nurbaya. "Makanlah kue-kue ini!"

"Tadi sudah kukatakan kepadamu, aku telah beberapa hari

tak enak makan. Berilah wajik itu sebuah! Aku coba-coba."

"Jangan begitu, Lim! Barangkali sekali inilah lagi kita akan

makan bersama-sama. Bila aku telah pergi pula ke Jakarta, tentu

susah kita akan bertemu kembali, sebab Samsu rupanya tak

hendak kembali lagi ke Padang ini. Ia hendak tinggal selamalamanya

di tanah Jawa. Bila aku telah ada di sana, is hendak

menjual segala hartaku yang masih ada di sini, untuk pembeli

rumah di sana. Dan bila aku telah senang kelak, kumintalah

engkau datang. Maukah engkau, Lim?" tanya Nurbaya, sambil

memakan lemang yang telah dikupasnya itu.

"Tentu mau, sebab aku pun ingin hendak melihat tanah Jawa;

lebih-lebih kola Jakarta."

"Hai, mengapakah lemang ini pahit gulanya?" tanya

Nurbaya.

"Barangkali gula enaunya kurang baik atau angus memasaknya,"

jawab Alimah.

"Barangkali ini enak," kata Nurbaya pula sambil mengupas

sebuah lemang lagi. Yang pertama tadi, telah habis dimakannya.

"Sesungguhnya kola Jakarta itu sangat besar; sepuluh kali lebih

besar dari kola Padang ini agaknya. Dan ramainya tak dapat

dikatakan; siang malam di jalan raya penuh orang dan kendaraan

serta kereta-kereta, bermacam-macam. Bagusnya pun tak ada

bandingannya; penuh dengan gedung yang cantik-cantik dan

kedai yang besar-besar. Patut dijadikan ibu negeri, tempat

kedudukan Pemerintah Tinggi. Tetapi istana yang sebenarnya

ada di Bogor, karena hawa negeri ini dingin; sedang di Jakarta

sangat panas. Nanti, bila aku telah ada di Jakarta pula, tentulah

kami akan berjalan-jalan ke Bogor, kata Samsu.

Sekarang inilah baru berasa senang benar hatiku, Lim, karena

tak ada alangan apa-apa lagi. Tambahan pula, tatkala aku di

Jakarta, nyata benar olehku, hati Samsu sekali-kali tiada berubah

kepadaku. Alangkah senangnya rasa hatiku, ketika berjalan jalan

dengan dia, bersiar-siar dam berputar-putar, naik bendi dan

kereta, melihat kola Jakarta... Ah, mengapa pening kepalaku ini

rasanya?"

"Barangkali kurang tidur tadi malam," jawab Alimah.

"Tidak, siang tadi, lama aku tidur. Hai, seperti berputar

penglihatanku."

"Marilah masuk, coba tidurkan!"

"Ya," jawab Nurbaya, lalu berdiri, hendak masuk ke ruang

tengah, tetapi tiba-tiba jatuhlah ia. Oleh sebab itu dipeluklah oleh

Alimah pinggangnya, lalu dibawanya masuk ke bilik dan

ditidurkannya di alas tilam.

"Tolong pijit sedikit kepalaku ini, Lim! Barangkali benar aku

masuk angin."

"Baiklah," jawab Alimah; lalu dipijitnya kepala Nurbaya.

Tiada berapa lama kemudian daripada itu, tertidurlah Nurbaya

rupanya.

Tatkala memijit itu berpikir Alimah dalam hatinya,

"Mengapakah Nurbaya tiba-tiba jadi pening? Apakah yang

diperbuatnya tadi? Pukul setengah sebelas ia telah tidur. Biasanya

sampai jauh malam is masih bercerita-cerita dan bercakapcakap."

Walaupun Nurbaya telah terlena, masih dipijit juga oleh

Alimah kepalanya, sampai beberapa lamanya. la takut adiknya

itu akan terbangun pula karena kurang enak rasa badannya;

apalagi karena Nurbaya rupanya senang kena pijitnya, sebab

lekas ia tertidur.

Ketika ia berdiri hendak pergi tidur pula, diperhatikannya

muka adiknya itu. Sangatlah is terperanjat melihat Nurbaya,

sebagai tiada bernafas lagi, lalu diguncangkannya badan

Nurbaya, supaya bangun. Tetapi sesungguhnyalah, perempuan

yang malang itu, tak ada lagi.

Maka menjeritlah Alimah, meratap menangis amat sangat,

sehingga ibu bapanya terperanjat bangun dan datang berlari-lari.

Tatkala dilihat Fatimah, Nurbaya terhantar di tempat tidurnya,

tiada bergerak lagi, lalu berteriaklah pula ia menangis dengan

merentak-rentak dan memukul-mukulkan tangannya, sehingga

ramailah bunyi ratap di rumah itu. Orang sebelah-menyebelah

pun gempar datang, hendak mengetahui, apa yang terjadi di situ.

Tetapi seorang pun tak dapat memberi keterangan yang nyata,

selainnya daripada Nurbaya telah meninggal. Malam itu juga

Ahmad Maulana pergi memanggil dokter dan dua jam kemudian

datanglah dokter itu,lalu memeriksa Nurbaya dan nyatalah

kepadanya, bahwa Nurbaya memang telah meninggal. Walaupun

dokter mencobakan sekalian ilmunya, untuk menolong Nurbaya,

tetapi sia-sia belaka.

Karena menurut cerita Alimah, Nurbaya berasa badannya tak

enak sesudah memakan lemang itu, diambillah oleh dokter

lemang yang tinggal lagi dengan kue-kue lain, akan disuruh

diperiksanya. Pada keesokan harinya nyatalah kepadanya, bahwa

Nurbaya termakan racun. Itulah yang menyebabkan mautnya.

Meskipun perkara terserah ke tangan polisi, tetapi yang

bersalah, tiada kedapatan.

Untuk mengetahui penjahat ini, marilah kita kembali mengikuti

tukang kue tadi.

Setelah sampai ia ke jalan besar, tiba-tiba keluarlah seseorang

yang memakai serba hitam dari balik pohon kayu, lalu

menghampiri tukang kue itu. Setelah dekat bertanyalah ia,

"Bagaimana Pendekar Empat?"

"Dibelinya, dan aku berikan yang bergula enau."

"Bagus! Sekarang marilah kita pergi kelas-lekas dari sini."

"Tetapi peti kue ini bagaimana?" tanya Pendekar Empat.

"Nanti; di rumah kosong itu ada sumur yang tiada dipakai

lagi. Ke sanalah kaumasukkan peti ini," jawab Pendekar Lima.

"Tetapi aku khawatir juga, kalau-kalau yang lain pun kena

pula," kata Pendekar Empat.

"Ada siapa lagi di sana?" tanya Pendekar Lima.

"Alimah; tetapi katanya ia tak mau memakan kue-kue, sebab

perutnya tak enak. Itulah sebabnya dilarangnya Nurbaya membeli

banyak-banyak. Panas hatiku mendengar perkataannya itu.

Jika tidak di rumahnya, kuterjang ia, supaya mulutnya jangan

dapat berkata-kata lagi," sahut Pendekar Empat.

"Berapa buah dibelinya lemangmu?" tanya Pendekar Lima

pula.

" "Empat buah;" jawab Pendekar Empat.

"Masakan keempatnya dimakan Nurbaya sebab sebuah

lemang pun cukup untuk membawa dua tiga orang ke pintu

kubur. Akan tetapi, tahu benarkah engkau, keempatnya berisi

gula?"

"Tahu, sebab yang berisi gula itu, kupisahkan."

"Jika demikian, tentulah sampai maksud kita, sekali ini," kata

Pendekar Lima.

"Turutlah aku!" lalu hilanglah keduanya pada tempat yang

gelap.

Pada keesokan harinya, tatkala sampai kabar kematian

Nurbaya ini kepada Sitti Maryam, yang sedang sakit keras di

Kampung Sebelah, karena terkejut ditinggalkan anaknya Samsu,

tiba-tiba berpulanglah pula ibu Samsulbahri ini, sebab kabar itu

rupanya sangat menyedihkan hatinya.

Pada hari itu, kelihatanlah dua jenazah, dibawa ke gunung

Padang. Kedua perempuan yang sangat dicintai Samsu ini,

dikuburkan dekat makam Baginda Sulaiman, ayah Sitti Nurbaya.

XIII. SAMSULBAHRI MEMBUNUH DIRI

"Arifin, aku belum menceritakan penglihatanku tadi malam,

kepadamu bukan?" kata Samsulbahri kepada sahabatnya, pada

keesokan harinya daripada malam Nurbaya kena racun, kira-kira

pukul dua siang, tatkala mereka itu pulang dari rumah tempatnya

membayar makan.

"Penglihatan apa, Sam?" tanya Arifin.

"Ajaib benar! Sampai kepada waktu ini belum habis kupikirkan,

karena belum juga kuketahui, apa itu dan apa maksudnya?"

"Cobalah ceritakan; " kata Arifin pula.

"Sebagai biasa," kata Samsu, "pukul sepuluh malam, pergilah

aku tidur. Kira-kira pukul dua belas dengan tiada kuketahui apa

sebabnya, tiba-tiba terbangunlah aku dengan terperanjat, seperti

ada yang membangunkan. Tatkala kubuka mataku, kelihatan

olehku dekat meja tulisku, sesuatu bayang-bayang putih, berdiri

di belakang kursiku. Sangatlah terperanjat aku, ketika melihat

bayang-bayang itu, sebab pada sangkaku, ia pencuri atau penjahat,

yang telah masuk ke dalam bilikku."

"Tetapi kalau pencuri atau penjahat, mengapakah berpakaian

putih?" kata Arifin.

"Itulah sebabnya maka terpikir pula olehku, barangkali aku

bermimpi; lalu kupijitlah pahaku, beberapa kali. Akan tetapi,

tatkala telah nyata benar kepadaku, bahwa aku tiada tidur lagi,

barang yang putih itu masih kelihatan juga."

"Barangkali pemandangan tiada benar," kata Arifin, yang

belum hendak percaya akan cerita sahabatnya ini.

"Oleh sebab itu, kugosoklah mataku beberapa lamanya; tetapi

yang putih itu tak hendak hilang."

"Barangkali engkau takut. atau tatkala hendak tidur, banyak

mengingat perkara setan dan hantu; jadi segala yang kaulihat,

rupanya sebagai setan," sahut Arifin pula.

"Engkau tahu sendiri, Arifin, aku tiada penakut kepada segala

yang demikian. Lagi pula, tatkala baru saja kubuka mataku, telah

kelihatan bayang-bayang yang putih itu olehku. Betapa orang

yang baru bangun tidur akan takut, jika ia tiada bermimpi yang

dahsyat!"

"Bagaimana bentuknya?" tanya Arifin, yang rupanya mulai

percaya akan cerita Samsu ini.

"Sebagai manusia, berkepala, berbadan, bertangan, dan

berkaki," sahut Samsu, "serta memakai pakaian sutera putih,

yang jarang."

"Sebagai manusia?" tanya Arifin yang mulai berasa takut,

walaupun hari pada waktu itu pukul dua siang dan orang penuh

di jalan besar. "Hih! Seram buluku mendengar ceritamu:"

"Sesungguhnya," jawab Samsu. "Melihat hal yang ajaib ini,

meskipun berapa beraniku, berdebar juga hatiku dan sejurus

lamanya, tiadalah tahu aku, apa yang hendak kuperbuat. Hendak

berteriak, malu rasanya. Lagi pula suaraku tak hendak keluar,

sebagai dicekik orang. Hendak berdiri, badan dan kaki berat

rasanya. Dibiarkan saja, takut kalau-kalau dianiaya aku. Walaupun

kuberanikan hatiku, badanku serasa kembang dan

punggungku sebagai terkena air dingin."

"Sudah itu?" tanya Arifin, yang makin bertambah-tambah

takut.

"Tatkala kuamat-amati benar bayang-bayang yang putih itu,

kelihatanlah mukanya seperti muka Nurbaya."

"Nurbaya?" tanya Arifin dengan heran.

"Ya, tak ada ubahnya; hanya wajah mukanya pucat sedikit.

Sebab itu meskipun hatiku masih khawatir, dapatlah juga

kuberanikan diriku, akan mengeluarkan perkataan, lalu bertanya,

"Siapa ini?

"Dan apa jawabnya?" tanya Arifin dengan lekas.

"Tak ada apa-apa. la diam saja dan tiada pula bergerak-gerak

dari tempatnya."

"Kemudian?" tanya Arifin pula.

"Kemudian melumpatlah aku, hendak mengambil pestolku

dari dalam lemari dan sudah itu, hendak kudekati dia. Tetapi

tatkala itu juga hilanglah bayang-bayang itu; entah ke mana

perginya tiada kuketahui."

"Betul berani benar engkau," kata Arifin.

"Tatkala itu datanglah takutku dan menolehlah aku ke

segenap tempat kalau-kalau dicekiknya aku dari belakang. Tetapi

tak kelihatan suatu apa lagi. Lalu kupasanglah lampu dan

kuambil pestolku dari dalam lemari. Ketika itu barulah berani

aku memeriksa ke sana kemari, ke bawah tempat tidur, ke bawah

meja dan ke belakang lemari, tetapi suatu pun tiada kelihatan,

sedang jendela dan pintu pun masih terkunci."

"Jika aku bertemu yang sedemikian, tentulah aku menjerit

minta tolong, kalau masih dapat, berteriak. Kalau tiada tentulah

aku akan kaku di sana juga, karena ketakutan."

"Setelah kututup lampu itu dengan kertas, supaya terangnya

jangan kelihatan dari luar dan kutaruh pestolku di bawah

bantalku, berbaringlah pula aku. Tetapi sesudah itu tiadalah

dapat aku tidur lagi; pertama karena takut akan didatanginya

kembali dalam tidurku, kedua sebab memikirkan penglihatan

yang ajaib itu. Apakah itu dan apakah takbir! Itulah setan atau

hantu!"

"Tetapi kalau hantu, mengapakah rupanya seroman dengan

Nurbaya?

Yang menjadi hantu itu, bukankah orang yang telah mati,

kata orang?" jawab Arifin.

"Sesungguhnya, seumur hidupku, baru sekali itu aku melihat

bayang-bayang yang sedemikian," jawab Samsu, yang sekali-kali

tiada mengira, bahwa Nurbaya telah mati. "Bukan mimpi tetapi

sebenar-benarnya penglihatan itu."

"Sungguh ajaib penglihatanmu itu. Tetapi kuharap janganlah

aku sampai bertemu dengan penglihatan yang serupa itu; takut

dapat celaka."

"Karena tak dapat tidur lagi, terkenanglah aku akan Nurbaya

dan ibuku, negeri dan kampung halaman kita, serta timbullah

hasrat yang amat sangat dalam hatiku, hendak pulang menemui

mereka sekalian dan menyesallah aku, tiada dapat pergi mengantarkan

Nurbaya pulang ke Padang, baru-baru ini. Belum

pernah keinginan hatiku hendak pulang sekeras tadi malam. Di

mukaku terbayang pula segala kesukaan dan kesusahan, yang

telah kurasai, sejak kita berjalan jalan ke gunung Padang. Makin

kuingat Nurbaya, makin khawatir hatiku dan makin terasa pula

olehku alpa dan lengahku, melepaskan dia seorang diri, kembali

ke dalam mulut harimau itu. Terkadang-kadang khawatir hatiku

itu menimbulkan perasaan, sebagai benar Nurbaya mendapat

celaka pula."

"Ah, masakan begitu! Tak berapa lama lagi, tentulah ia pula

di sini. Jika tiada, baik kaujemput saja; perkaranya tentulah telah

selesai," jawab Arifin.

"Maksudku pun demikian juga. Kalau hari Sabtu yang akan

datang ini belum juga ia sampai kemari, tentulah akan kujemput

sendiri ia ke Padang."

Dengan bercakap-cakap demikian, tibalah kedua mereka di

rumah Sekolah Dokter Jawa, lalu terus menuju bilik masingmasing.

Sejurus kemudian daripada itu, datanglah seorang opas

pos membawa dua helai surat kawat, untuk Samsulbahri.

Ditanyakannya kepada Arifin, di mana Samsulbahri, lalu

ditunjukkanlah oleh Arifin bilik sahabatnya ini.

Tatkala Arifin, setengah jam sesudah itu, pergi ke bilik

Samsu, hendak menanyakan surat kawat apakah yang

diterimanya tadi dua sekali, kelihatan olehnya pintu dan jendela

bilik itu telah tertutup. Pada sangkanya, Samsu tentulah telah

tidur, untuk melepaskan kantuknya, karena kurang tidur malam.

Oleh sebab ia tiada hendak mengganggu sahabatnya itu,

ditunggunyalah sampai Samsu bangun kembali.

Maksud Samsu sebelum menerima kedua surat kawat tadi,

sesungguhnya hendak pergi gidur; jendelanya pun telah ditutupnya.

Setelah diterimanya surat itu, ditutupnyalah pula pintunya,

karena hendak membaca kabar itu seorang diri; lebih-lebih,

karena kedua surat kawat itu sangat memberi khawatir hatinya.

"Dari siapakah kabar kawat ini, dan bagaimanakah

bunyinya?" katanya dalam hatinya. "O, barangkali dari Nurbaya,

memberi tahu ia akan datang kemari.

"Tetapi yang sebuah lagi, dari siapa pula?" Demikianlah

pertanyaan yang timbul dalam hatinya.

Sambil berpikir-pikir demikian, dibukanyalah kedua surat

kawat itu dengan tangan yang gemetar. Setelah dibacanya kedua

surat itu, jatuhlah ia pingsan, tiada khabarkan dirinya, sebab

kedua surat itulah yang membawa kabar kematian Nurbaya dan

ibunya.

Berapa lamanya ia terbaring pingsan itu, tiadalah

diketahuinya. Ketika ia sadarkan dirinya pula, adalah halnya

seperti seorang yang gila, tak dapat berpikir dan berkata-kata.

Menangis pun tiada kuasa, sebagai tak berair lagi matanya.

Sesudah termenung sejurus lamanya, diambilnya kertas, dan

kalam, lalu ditulisnya sepucuk surat kepada ayahnya.

Begini bunyinya:




0 Response to "SIti Nurbaya 4"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified