Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

SIti Nurbaya 3

Setelah disabarkan Samsu hatinya, lalu dibacanya pula surat

itu, karena sangat ingin ia hendak mengetahui, apakah jadinya

dengan kekasihnya itu.

"Di dalam sepekan itu," demikianlah sambungan surat

Nurbaya," pergilah ayahku ke sana kemari mencari uang,

tetapi tiadalah seorang juga yang percaya lagi kepadanya,

karena ia telah jatuh sengsara. Sedangkan sahabat karibnya,

yang acap kali ditolongnya di dalam kesenangannya, telah

meninggalkannya pula. Rupanya begitulah adat dunia ini,

patut dikiaskan oleh orang Jakarta dengan sindiran: Ada uang

abang sayang, tak ada uang abang melayang. Ya! Kawan

gelak yang banyak, tetapi kawan menangis jarang bersua.

Rupanya uang itulah yang dipandang, ditakuti, dihormati, dan

dicintai orang; uang itulah sahabat kerabat, ibu-bapa dan

sanak saudara. Yang tak beruang akan yatim piatulah, sunyi

daripada sekaliannya, hidup sebatang kara.

Jika demikian, alangkah lancungnya dunia ini, alangkah

jahatnya manusia itu! Tetapi sesungguhnya tak ada orang

yang tiada memandang uang di dalam dunia ini? Hormat

karena hormat, takut karena takut, sayang karena sayang, dan

cinta karena cinta? Walaupun aku percaya, tentulah ada juga

orang yang tiada memandang uang, orang yang sebenarnya

orang, di antara penduduk kota Padang ini, tetapi sebab

kecelakaan yang bertimba-timpa ini, menjadilah syak hatiku

dan kurang kepercayaanku.

Sekarang marilah kuteruskan ceritaku, supaya jangan terlalu

panjang surat ini.

Kebun kelapa yang di Ujung Karang itu, harta ayahku yang

penghabisan, tak lalai dijual, karena kelapanya sekalian telah

mati."

Ketika itu hati Samsu makin bertambah-tambah tak enak,

sehingga ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Oleh sebab itu; tatkala akan sampailah janji ayahku itu

kepada Datuk Meringgih, pada malamnya, datanglah ia

kepadaku, bertanyakan pikiranku tentang hal ini, karena

esoknya tentulah akan datang—Datuk ini mendengar

keputusan kami.

Aku tiada terkata-kata lagi; sejak terbakar toko ayahku,

hatiku tak dapat kusenangkan. Acap kali menangislah aku

pada malam hari mengenangkan nasibku yang malang ini.

Mimpirnu pun selalu terbayang-bayang di mataku. Setelah

Datuk Meringgih menagih piutangnya, tiadalah aku dapat

tidur setiap malam, melainkan selalu menangis bersedih hati.

Kerap kali aku terkejut, karena sebagai kelihatan olehku

Datuk Meringgih datang menguasai aku. Dengan demikian,

badanku menjadi kurus kering tinggal kulit pembalut tulang:

Jika engkau lihat aku sekarang jni, pastilah tak kenal lagi

engkau kepadaku. Demikianlah perubahan badanku, karena

sedih, susah, takut dan makan hati."

"Aku tahu, Nur, bahwa engkau tiada suka kepada Datuk

Meringgih," kata ayahku pada malam itu kepadaku. "Pertama

umurnya telah tua, kedua karena rupanya tak elok, ketiga

karena tabiatnya keji. Itulah sebabnya ia bukan jodohmu. Dan

aku tahu pula bagaimana hatimu kepada Samsu dan hatinya

kepadamu. Aku pun tiada lain. melainkan itulah yang kucitacitakan

dan kuharapkan siang dan malam, yakni akan melihat

engkau duduk bersama-sama dengan Samsu kelak, karena

ialah jodohmu yang sebanding dengan engkau.

Aku percaya pula, bahwa orang tuanya yang waktu ini

sangat bersedih hati melihat halku ini dan terlalu ingin hendak

menolong aku, tetapi karena tak dapat, hanya berawan hati

menjauhkan diri, bahwa Sutan Mahmud pun tiada akan

mengalangi cita-cita kita ini, bahkan akan serta mencukupi

perjodohan itu. Sungguhpun aku tahu akan sekalian itu, tapi

hendak juga kutanyakan pikiranmu, supaya jangan sampai

menjadi sesalan kemudian han, karena engkau sendirilah yang

dapat memutuskan perkara ini. Jika sudi engkau menjadi istri

Datuk Meringgih, selamatlah aku, tak masuk ke dalam

penjara dan tentulah tiada akan terjual rumah dan tanah kita

ini. Akan tetapi jika tak sudi engkau, niscaya aku dan sekalian

kita yang masih ada ini, akan jatuh ke dalam tangannya."

Mendengar perkataan ayahku ini, tiadalah dapat kutahan

lagi sedih hatiku, hancur luluh rasa jantungku, lalu menangislah

aku tersedu-sedu di dada ayahku, sehingga basahlah baju

dan kainnya, karena air mataku yang bercucuran. Tiadalah

kujawab perkataannya sepatah pun karena dadaku bagaikan

pecah dan leherku bagai terkunci.

Tatkala ayahku melihat halku sedernikian itu, air matanya

tak dapat ditahannya, sehingga keluar berlinang-linang jatuh

ke pipinya, lalu diciumnya kepalaku sambil berkata,

"Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat hendak memaksa

engkau. Jika tak sudi engkau, sudahlah; tak mengapa. Biarlah

harta yang masih ada ini hilang ataupun aku masuk penjara

sekalipun, asal jangan bertambah-tambah pula dukacitamu.

Pada pikiranku tiadalah akan sampai dipenjarakannya aku;

mungkin masih boleh ia dibujuk. Sesungguhnya aku terlebih

suka mati daripada memaksa engkau kawin dengan orang

yang tiada kausukai; dan jika aku tiada ingat akan engkau dan

tiada takut akan Tuhanku, niscaya telah lama tak ada lagi aku

dalam dunia ini. Tetapi engkaulah yang menjadi alanganku.

Bagaimanakah halmu kelak, bila aku tak ada lagi? Siapakah

yang akan memeliharamu?"

Ketika itu berlinang-linanglah pula air mata ayahku di

pipinya. Sesungguhnya harta benda itu tiada berguna bagiku,

jika engkau tiada ada. Apa yang akan kubela? Tanggunganku

yang lain tak ada ibumu pun telah lama meninggal dunia.

Pikiran kepadamulah yang membangkitkan hatiku hendak

berniaga, mencari keuntungan yang banyak, supaya engkau

kelak jangan susah dalam Whidupanmu. Tiada lain yang

kuingini dan kuamalkan serta kupohonkan kepada Rabbulalamin,

melainkan kesenangan dan kesentosaanmulah kelak,

bila aku telah berpulang. Sekarang engkau tak suka pada

orang itu, sudahlah! Kewajibarrku telah kujalankan, supaya

jangan engkau menyesali aku pula kelak. Sekarang marilah

kita nanti segala kehendak Tuhan dengan tawakal dan

menyerah!"

Mendengar bujukan ayahku ini, barulah dapat aku

mengeluarkan suara lalu bertanya, "Tidakkah cukup untuk

pembayar utang itu, kalau sekalian barang hamba jual dengan

rumah dan tanah Ayah? Karena hamba lebih suka miskin

daripada jadi istri Datuk Me ringgih."

"Tanah tak laku, sebab tak ada orang yang hendak membelinya

dan harga barang-barangmu dengan rumah ini tentulah

tak lebih dari.enam tujuh ribu rupiah. Di mana dicari yang

lain dengan bunga uang utang itu? Tetapi sudahlah, jangan

kaupikirkan lagi perkara ini senangkanlah hatimu, dan kita

tunggulah apa yang akan datang."

Semalam-malaman itu tak dapat aku memejamkan mataku

barang sekejap pun; menangis pun tak dapat pula, sebagai

kehabisan air mata. Sungguhpun mataku terbuka, tetapi tak

dapat aku berpikir apa-apa; adalah sebagai otakku telah lelah.

Oleh sebab itu berbaringlah lalu semalam-malaman itu

dengan mata yang terbuka dan pikiran yang kacau-balau.

Halku adalah seperti orang yang tiada khabarkan dirinya,

antara bangun dengan tidur, antara hidup dengan mati.

Berbagai-bagai penglihatan dengan perasaan yang memberi

takut dan dahsyat hatiku, datang menggoda. Dikatakan bermimpi,

mataku terbuka, dikatakan jaga, pikiranku tiada

hendak menurut kemauanku. Inilah agaknya yang disebut

orang bermimpi dalam bangun.

Setelah menyingsinglah fajar di sebelah timur dan berkokoklah

ayam berbalas-balasan, barulah sadar aku akan

diriku dan nyatalah kepada hari telah subuh, lalu keluarlah

aku membasahi kepalaku yang masih panas, sebagai besi

menyala. Kemudian aku mandi akan menyegarkan tubuhku.

Sesudah mandi, barulah agak dapat aku berfikir dengan benar.

Tatkala ingatlah pula aku akan halku, kecutlah kembali hatiku

dan berdebar-debarlah jantungku serta gemetar sendi tulangku,

karena sebentar lagi akan jatuhlah hukumanku atau

hukuman ayahku. Bila aku tiada diterkamnya, niscaya ayahkulah

yang akan disiksanya, binatang buas itu.

Tiada berapa lama kemudian daripada itu, sesungguhnya

datanglah Datuk Meringgih dengan dua orang Belanda.

Setelah naik ke rumahku dengan tiada duduk lagi, ia bertanya

kepada ayahku, "Bagaimana?"

"Tak dapat kubayar utang itu," jawab ayahku, "dan anakku

tak dapat pula kuberikan kepadamu."

Tatkala mendengar perkataan ayahku ini, merentaklah ia

dengan marahnya, lalu berkata, "Jika demikian, tanggunglah

olehmu!" lalu diserahkannya perkara itu kepada pegawai

Belanda, yang datang bersama-sama dengan dia. Seorang

daripada tuan ini berkata, sambil mendekati ayahku,

"Walaupun dengan sedih hati, tetapi terpaksa hamba akan

membawa tuan ke dalam penjara, atas kemauan Datuk

Meringgih."

"Dan hamba terpaksa pula menyita rumah dan sekalian

harta tuan hamba," kata pegawai yang lain.

Ayahku tiada dapat menyahut apa-apa lain daripada,

"Lakukan kewajiban tuan-tuan!"

Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara,

sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku

dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui,

keluarlah aku, lalu berteriak, "Jangan dipenjarakan ayahku!

Biarlah aku jadi istri Datuk Meringgih!"

Mendengar perkataanku itu, tersenyumlah Datuk Meringgih

dengan senyum, yang pada penglihatanku, sebagai senyum

seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya, dan terbayanglah

sukacitanya dan berahi serta hawa nafsu hewan

kepada matanya, sehingga terpaksa aku menutup mataku.

Ayahku tiada berkata apa-apa melainkan datang memeluk

aku, sambil bertanya "Benarkah katamu itu?" Seperti suatu

perkakas mengangguklah aku, karena mengeluarkan perkataan

tak dapat lagi.

"Oleh sebab hendak menolong ayahku, anakku menyerahkan

dirinya kepadamu, untuk memuaskan hawa nafsu dan

hatimu, yang sebagai hati binatang itu." kata ayahku kepada

Datuk Meringgih." Sekarang barulah kuketahui bahwa

kejatuhanku ini semata-mata karena perbuatanmu juga karena

busuk hatimu, dengki dan tak dapat engkau melihat orang lain

berharta pula seperti engkau. Dengan berbuat pura-pura bersahabat

karib dengan aku, kauperdayakan aku, sampai aku

jatuh ke dalam tanganmu dan harus menurut sebarang

kehendakmu yang keji itu. Tetapi tak apa, Datuk Meringgih!

Tuhan itu tiada buta; lambat-laun tentulah engkau akan

beroleh juga hukuman atas khianatmu ini," lalu ayahku

menuntun aku masuk ke dalam rumah. Sejak waktu itulah

Samsu, aku menjadi istri Datuk Meringgih ...

Di sini tulisan surat itu tiada terang pula, sebab kertasnya

penuh dengan bekas air mata.

Setelah Samsu membaca kecelakaan ini, lalu ia menundukkan

kepalanya ke atas mejanya, menangis amat sangat, karena

sedih akan nasib kekasihnya dan untungnya sendiri pun. Segala

cita-cita hatinya yang sekian lama diharap-harapkannya, pada

saat itu hilang lenyap, sebagai batu jatuh ke lubuk, hujan jatuh ke

pasir, tak dapat dicari lagi. Pengharapan yang telah sekian lama

berurat berdaging dalam jantungnya, tiba-tiba diputuskan oleh

Datuk Meringgih, dengan putus yang tak dapat disambung lagi.

"Inilah jadinya segala kenang-kenanganku yang sekian lama

aku hasratkan! Inilah buah permintaan dan doaku yang kupohonkan

siang dan malam kepada Tuhan yang Maha Kuasa! Alangkah

malangnya untung nasibku ini!" demikianlah buah tangis

Samsulbahri seorang diri di dalam biliknya.

Setelah menangis amat sedih beberapa lamanya, tiba-tiba

berdirilah ia dengan menggertakkan giginya dan mengepalkan

tangannya. Dengan muka yang pucat dan mata yang bernyalanyala,

karena menahan marahnya, dipegangnyalah potret

Nurbaya yang ada dekatnya sambil mengangkat mukanya ke atas

lalu bersumpah, "Demi Allah, demi rasul-Nya! Selagi ada napas

di dalam dadaku, akan kubalas jua kejahatan ini! Tiada puas

hatiku sebelum kutuntut bela atas aniayanya ini.

Ya Allah, ya Tuhanku! Perkenankanlah juga permintaanku

ini dan janganlah dicabut nyawaku lebih dahulu, sebelum sampai

maksudku ini."

Setelah bersumpah itu, tunduklah Samsu beberapa saat lamanya,

sebagai hendak menahan sedih dan amarahnya; kemudian

terduduklah pula ia ke atas kursinya, tiada berkata-kata barang

sepatah pun. Tatkala sadarlah ia kembali akan dirinya, lalu diteruskannya

membaca surat Nurbaya dengan mata yang masih

merah dan basah.

"Barangkali tak dapat kaupikirkan. Samsu, bagaimana

hancur hatiku sekarang ini. Pertama karena telah mungkir

janji kepadamu dan memutuskan pengharapanmu; kedua

karena terpaksa duduk dengan seorang-orang yang sebagai

Datuk Meringgih ini; iblis tua yang sangat kubenci. Tiadalah

suatu yang dapat kupandang padanya. Sungguh kaya, rupanya

sama dengan hantu pemburu, bangsanya, Allah yang tahu,

asalnya penjual ikan kering, tabiatnya lebih daripada tabiat

binatang, kelakuannya kasar dan bengis. Lagi pula ialah orang

yang menjatuhkan ayahku dari kekayaan dan namanya; ialah

musuh kami yang sebesar-besarnya dan ialah pula yang akan

menjadi algojoku, untuk mencabut nyawaku. Kepada orang

yang sedemikian itu aku harus menyerahkan diriku. Dengan

dia aku harus hidup bersama-sama. Cobalah kaupikir; Aduh!

Agaknya tak ada orang yang sama sengsaranya dengan aku

dalam dunia ini!

Sungguhpun telah kupaparkan sekalian hal ihwalku ini,

barangkali belumlah juga engkau percaya kepadaku dan

masih bersangka, bahwa segala hal itu kuperbuat-buat jua,

untuk memperdayakan engkau. Akan tetapi Allah subhanahu

wata ala saksiku, Sam, dan Dialah juga yang mengetahui

bagaimana rasa hatiku, tatkala aku harus menyerahkan diriku.

Sungguhpun demikian tiadalah boleh juga aku berkecil hati,

bila engkau tiada hendak percaya kepadaku, karena walau

bagaimana sekalipun aku memang teiah mungkir janji, tiada

menurut perkataan dan sumpahku yang telah kukeluarkan.

Dan akulah seorang perempuan yang telah memutuskan pengharapan

kekasihnya. Sekalian itu tak dapat kutidakkan. Akan

tetapi adakah jalan lain yang dapat kuturut di dalam

kecelakaan ini?

Oleh sebab tiada terderita olehku penanggungan yang

sebagai ini, timbullah ingatan dalam hatiku hendak membunuh

diriku. Itulah hukuman yang berpadanan dengan dosaku.

Seribu kali lebih suka aku mati berkalang tanah, daripada

hidup bercermin bangkai, sebagai ini. Akan tetapi tatkala aku

hendak memakan racun, datanglah ingatanku, kalau-kalau

perbuatan ini salah pula pada hematku.

Oleh sebab itu kutulislah surat ini, supaya kau ketahui halku

ini dari awal sampai akhirnya dan tahu pula segala sebabsebab

yang telah menjadikan aku sampai mungkir janji. Bila

telah kaubaca surat ini, dapatlah kautimbang hukuman yang

akan kaujatuhkan ke atas diriku, dan yang akan kuterima

dengan rela dan tulus. Bila dari padamu pun aku tiada akan

mendapat ampun, tahulah aku, bahwa di dalam dunia ini tak

ada harapanku lagi. Oleh sebab itu kupinta kepadamu dengan

sebesar-besar permintaan, kaubalaslah surat ini dengan

segera.

Sebagai kaulihat, sebagian daripada mimpimu dahulu itu

telah terjadi, tinggal jatuh ke dalam jurang itu saja lagi. Bila

telah sampai ke sana, tentulah ajalku pun akan sampailah

pula. Jadi kejatuhanku karena Datuk Meringgih ini, tak dapat

kutolak lagi, karena demikianlah sudah untung nasibku. Oleh

sebab itu, di dalam hal ini, terlebih baik bagiku, lekas-lekas

dihabiskan umurku, supaya jangan menanggung terlalu lama.

Suatu yang akan melipur hatiku kelak. apabila aku telah

sampai ke sana, kepada penghabisan mimpimu itu, ialah jatuh

ke dalam jurang itu adalah bersama-sama dengan engkau.

Barangkali di sanalah kita tiada akan bercerai lagi, walaupun

dalam dunia ini masih dapat dipisahkan orang. Di akhiratlah

kita akan bersatu selama-lamanya.

Sehingga inilah dahulu, kekasihku. Kelak, jika masih ada

hayat di kandung badanku, kusambunglah pula cerita yang

malang ini, asal masih sudih engkau melihat bekas tanganku

yang akan melukiskan untungku yang celaka ini. Barangkali

juga aku tiada boleh lagi memanggil engkau kekasihku, tetapi

menjadi abangku, barangkali masih suka engkau dan

sambutlah peluk cium daripada adikmu yang sengsara ini.

NURBAYA

Setelah Samsu membaca surat ini, dire bahkannyal ah dirinya

di tempat tidurnya, lalu menelungkup menangis tersedu-sedu

semalam-malaman itu.

IX. SAMSULBAHRI PULANG KE PADANG

Lebih dari setahun lamanya kita tinggalkan gunung Padang,

sejak Samsulbahri berjalan-jalan ke sana dengan Nurbaya dan

teman-temannya. Sekarang marilah kita kembali pula ke sana,

karena pada hari ini sangatlah ramai di gunung itu, penuh sesak

dengan beratus-ratus orang laki-laki perempuan, kecil besar, tua

muda. Dekat-dekat pekuburan; di bawah-bawah polion kayu, di

tempat yang teduh-teduh, duduklah mereka berkumpul-kumpul.

Ada yang sedang asyik membaca salawat, untuk sekalian ahli

kubur, ada yang sedang asyik membersihkan kubur orang tuanya,

ada yang sedang meratap menangis di atas kubur anaknya,

yang baharu meninggal dunia dan ada pula yang sedang

menyiramkan air cendana dan menaruh bunga rampai, di atas

kubur saudaranya, yang amat dicintainya. Akan tetapi ada pula

yang hanya duduk bercakap-cakap saja dan banyak pula yang

datang sekedar hendak melihat-lihat atau beramai-ramai saja. Di

jalan ke gunung itu dan di kakinya, penuh dengan orang, sebagai

di pasar rupanya. Ada yang datang, ada yang pergi dan ada pula

yang berhenti melepaskan lelah.

Di batang Arau kelihatan berpuluh-puluh sampan, yang

menyeberangkan mereka pulang balik, sedang di pinggir jalan

raya kelihatan pula berpuluh-puluh bendi berjejer, menunggu

muatan. Fakir dan miskin serta alim ulama, demikian pula hajihaji

banyak yang datang, untuk mendoa. Ada yang kedengaran

sedang ratib dan ada pula yang sedang membaca fatihah.

Apakah sebabnya maka ramai sungguh waktu itu di gunung

Padang? O, karena hari itulah penghabisan bulan Sya'ban; esoknya

akan mulai puasa bulan Ramadan. Sebelum masuk ke dalam

bulan yang baik ini, pergilah seisi kota Padang mengunjungi

pekuburan sekalian kaum keluarganya, yang telah berpulang ke

rahmatullah, untuk mendoakan arwahnya dan memohonkan

selamat, supaya yang telah meninggal dan yang masih hidup

pun, semuanya dipelihara Tuhan dalam segala hal.

Oleh sebab tinggal sehari itulah kaum Muslimin boleh makan

siang hari, dipuas-puaskan merekalah nafsunya dengan segala

makan-makanan yang lezat cita rasanya. Itulah sebabnya maka

dinamakan orang Padang hari itu "hari makan-makan".

Pada petangnya, kelihatan bulan sebagai secarik kertas, memancarkan

cahayanya di sebelah barat tiada berapa tingginya

dari muka airlaut. Oleh sebab itu berbunyilah tabuh pada

sekalian langgar dan mesjid akan memberitahukan kepada segala

urnat Islam, bahwa keesokan harinya, puasa akan dimulai.

Setelah tiga hari puasa dijalankan, pada keempat harinya,

masuklah sebuah kapal, yang datang dari Jakarta ke pelabuhan

Teluk Bayur, membawa beberapa murid-murid sekolah Jakarta,

yang asalnya dari Sumatra Barat. Mereka hendak pulang ke

rumahnya mengujungi orang tua dan handai tolannya, karena

dalam bulan puasa sekalian sekolah Bumiputra ditutup.

Di antara murid-murid itu, adalah juga Samsulbahri dengan

sahabatnya Arifin dan Bakhtiar. Tatkala merapatlah sudah kapal

ke pangkalan, naiklah ketiga mereka ke darat, lalu pulang

tergesa-gesa ke rumah orang tuanya masing-masing, karena

sangat rindu hendak bertemu dengan ibu-bapaknya. Hanya

Samsulbahrilah yang sebagai tiada mengindah, karena kekasihnya

yang ditinggalkannya dahulu tak ada lagi. Yang akan

menyambutnya hanya ibu bapaknya saja. Istimewa pula, karena

pulangnya itu niscaya akan membangunkan kembali segala

ingatan kepada waktu yang telah silam.

Setelah sampailah Samsu ke rumah orang tuanya, lalu berjabat

tanganlah ia dengan ayahnya dan ibunya dipeluknya.

Kemudian masuklah ia ke dalam biliknya, akan menukar

pakaiannya. Sebab itu keluarlah pula, bercakap-cakap dengan

orang tuanya, menceritakan halnya, pelajarannya di Jakarta dan

pelayarannya dengan kapal pulang balik. Tetapi sungguhpun ia

berkata-kata itu hati dan pikirannya tiada di sana, melayang

entah ke mana. Halnya ini diketahui oleh ibunya dan Sitti

Maryam turut berdukacita, mengenangkan nasib anaknya, yang

sebiji mata ini. Sungguhpun demikian, tiadalah dibayangkan

Samsu, pada mukanya, perasaan hatinya.

"Kasihan," kata Samsu dengan suara yang pilu, karena sesungguhnya

hatinya terlalu sedih, tatkala melihat rumah orang

tuanya dan rumah Nurbaya dengan sekalian yang menimbulkan

ingatan kepada waktu yang telah lalu, sehingga hampirlah

menyesal ia pulang ke Padang, "hamba melihat seorang

hukuman membuangkan dirinya ke laut sebagai seorang yang

telah putus asa."

"Di mana?" tanya ibunya dengan terperanjat, mendengar

kabar yang dahsyat itu, takut kalau-kalau anaknya berbuat

demikian pula.

"Di laut Tanjung Cina, malam kemarin dahulu. Tatkala

gelombang amat besar, melompatlah ia dari geladak kapal ke

laut, lalu hilang tiada timbul lagi."

"Ya Allah, ya rabbi, kasihan!" sahut ibunya dengan ngeri.

"Rupanya karena putus asa, lebih suka ia mati di dalam laut

daripada menanggung kesengsaraan, kehinaan dan malu. Patutlah

acap kali hamba lihat ia termenung dan terkadang-kadang

menangis di gisi kapal; makan pun kerap kali tiada suka."

"Barangkali ia hendak lari," kata Sutan Mahmud.

"Pada pikiran hamba bukan demikian," sahut Samsu, "karena

kapal waktu itu jauh di tengah lautan; daratan tak kelihatan.

Masakan dapat ia mencapai pantai. Lagi pula tangannya

dibelenggu; bagaimanakah ia dapat berenang?"

"Sedih amat! Bagaimanakah rasa hati anak-bininya, ibu-bapa

dan sanak saudaranya, bila mendengar kabar itu?" kata Sitti

Maryam pula.

"Barangkali ia sebatang kara atau besar kesalahannya," sahut

Sutan Mahmud.

"Kesalahan manusia itu, hanya Allah yang mengetahui,"

jawab istrinya.

"Kabarnya ia dipersalahkan membunuh orang, sebab itu dihukum

buang dalam rantai lima belas tahun lamanya ke Sawah

Lunto," kata Samsu pula.

"Nah, dengarlah itu! Kalau tak bersalah, masakan dihukum

seberat itu," jawab Sutan Mahmud.

"Biarpun telah dihukum, belum tentu lagi bersalah, karena

hukuman itu, walau rupanya adil sekalipun, masih hukuman

dunia dan hakimnya manusia, yang gawat dan lemah, sebagai

kita sekalian juga," jawab Sitti Maryam.

"Baik; tetapi hakim itu bukannya orang bodoh, melainkan

orang yang ahli dalam undang-undang, orang yang telah terpelajar

dan bersekolah tinggi. Lagi pula bukan seorang hakim

yang menghukum itu, melainkan bersama-sama; bagaimana

boleh salah juga?" kata Sutan Mahmud pula.

"Walau demikian sekalipun, belum dapat juga lagi kita

pastikan, orang itu bersalah; karena yang batin itu tak dapat

diketahui manusia," jawab Sitti Maryam.

Samsulbahri tiada hendak mencampuri pertengkaran ayah

dengan ibunya ini, istimewa pula karena pikirannya tak ada di

sana.

"Bagaimana pula engkau ini?" kata Sutan Mahmud,

"masakan hakim menghukum orang dengan tiada semena-mena?

Tentulah telah cukup keterangannya dengan saksi-saksinya

sekalian, baru dihukum."

"Saksi itulah yang acap kali menyesatkan hakim untuk

mendapat kebenaran. Kakanda jangan gusar, karena perkataan

adinda ini. Cobalah dengar misal yang akan adinda ceritakan ini!

Seorang yang kaya atau berpangkat tinggi, hendak membinasakan

seorang miskin. Dengan uang atau pangkatnya itu, mudah

baginya mengadakan beberapa saksi palsu. Bila hakim hanya

mendengar saksi saja, tentulah si miskin, yang tiada bersalah itu,

akan dihukum.

Misal yang kedua. Di tempat yang sunyi, dibunuh oleh

seorang penjahat seorang yang melintas ke qana, karena hendak

merampas harta bendanya. Seorang yang baik dan lurus hati,

yang tiada bersalah suatu apa sampai pula ke sana. Tatkala

dilihatnya orang terhantar di jalan raya, tentulah akan diperiksanya,

kalau-kalau masih dapat ditolong. Karena memeriksa itu

pakaiannya kena darah. Ketika itu datang empat orang yang lain

ke sana, lalu tampak olehnya si lurus hati itu ada dekat mayat,

dengan pakaiannya berlumur darah. Tidakkah ia akan didakwa

berbuat kejahatan itu? Sekalian saksi tentu dapat mengaku di

hadapan hakim mereka telah melihat dengan matanya sendiri

bahwa si lurus hatilah yang ada dekat mayat, dengan berlumuran

darah pakaiannya. Saksi-saksi ini berkata benar, tiada berdusta.

Tidaklah dapat dikatakan cukup keterangan? Yaitu empat lima

saksi-saksi yang berkata benar dan pakaian yang berlumuran

darah? Oleh sebab itu hakim menghukum si lurus hati ini. Akan

tetapi benarkah ia bersalah dalam pembunuhan itu?"

Oleh karena mendengar kebenaran perkataan istrinya ini,

bangunlah Sutan Mahmud dari kursinya, lalu pergi duduk di

serambi muka, karena kalah bersoal jawab dengan istrinya, tetapi

malu mengaku kebodohannya.

Setelah keluar Sutan Mahmud, barulah kelihatan oleh Sitti

Maryam, anaknya, Samsulbahri, sedang termenung melihat ke

rumah Nurbaya, lalu ditegurnya dengan pertanyaan, "Samsu,

apakah yang kaumenungkan?" walaupun telah diketahuinya, apa

yang dipikirkan anaknya pada waktu itu.

"Ah, tidak apa-apa, Bu," sahut Samsu, "ingatan hamba belum

lepas dari kejadian yang telah hamba ceritakan tadi. Rupanya

pengharapan yang putus itu, boleh memberi bahaya, yang amat

sangat kepada manusia."

Mendengar jawaban anaknya ini, berdebarlah Sitti Maryam,

takut kalau-kalau Samsu telah putus asa pengharapan pula. Oleh

sebab itu, bertanyalah ia kepada Samsu, akan menduga hati

anaknya ini, "Sudahkah engkau tahu, bahwa Nurbaya telah

kawin dengan Datuk Meringgih? Ada aku suruh ayahmu

mengabarkan hal itu kepadamu, tetapi entah dikabarkannya

entah tidak, tiadalah kuketahui."

Yang sebenarnya dilarang oleh Sitti Maryam, suaminya

menulis surat kepada Samsu, tentang hal ini, sebab ia takut

anaknya ini akan putus asa.

"Sudah," jawab Samsu dengan pendek, karena tak dapat

rupanya ia mendengar lagi kabar itu.

"Barangkali engkau kurang suka melihat perkawinan ini,

sebab sesungguhnya tak layak saudaramu itu duduk dengan

Datuk Meringgih. Tetapi apa hendak dikata? Sekalian itu takdir

daripada Tuhan semata-mata, tak dapat dibatalkan lagi. Pergilah

engkau ke rumahnya! Ayahandanya telah beberapa hari sakit. Di

sana akan kaudengar, bahwa itulah jalan yang sebaik-baiknya

untuk melepaskan mereka daripada kecelakaannya," kata Sitti

Maryam, membujuk anaknya.

"Sakit apakah Mamanda Baginda Sulaiman?" tanya Samsu.

"Sakit demam dan sakit kepala," jawab Sitti Maryam.

"Baiklah, segera hamba pergi ke sana," kata Samsu, lalu

masuk ke biliknya akan menukar pakaiannya. Tatkala itu

datanglah sais Ali membawa sekalian buah-buahan yang dibawa

Samsu dari Jakarta.

"Sediakanlah sepiring untuk Engkumu di muka dan sepiring

lagi untuk Engku Baginda Sulaiman! Barangkali ada nafsunya

memakan buah-buahan. Telah beberapa hari ia tidak makan,"

kata Sitti Maryam.

"Baiklah," jawab sais Ali.

Tiada berapa lama kemudian daripada itu, keluarlah Samsu

dari rumah orang tuanya, diiringkan oleh Kusir Ali, pergi ke

rumah Baginda Sulaiman.

Setelah masuklah mereka ke pekarangan rumah ini, berdebarlah

hati Samsu memandang bangku tempat ia duduk

bersama-sama Nurbaya pada malam ia akan berangkat ke

Jakarta, setahun yang telah lalu. Teringat kembali olehnya

sekalian kelakuan dan perkataan serta janjinya kepada Nurbaya,

pada malam itu dan apabila tak malu ia kepada sais Ali, tentu

keluarlah air matanya, karena sedih.

"Adakah Nurbaya dalam rumah ini atau tiadakah?"

Demikianlah pikiran Samsu dalam hatinya. Kalau ada bagaimana

ia bertemu dengan kekasihnya yang telah meninggalkannya ini?

Setelah masuklah ia ke dalam rumah Nurbaya, tiadalah

kelihatan olehnya seorang juga, lalu ia berjalan perlahan-lahan,

masuk ke bilik Baginda Sulaiman. Di sana tampaklah olehnya

saudagar ini sedang berbaring di atas tempat tidurnya,

berselimutkan kain panas. Sangat terperanjat Samsu serta sedih

hatinya melihat perubahan ayah Nurbaya ini. Apabila di tempat

yang lain ia bertemu dengan Baginda Sulaiman, tentulah tiada

percaya ia yang berbaring itu memang mamanda angkatnya.

Rambutnya mulai putih, mukanya pucat, badannya kurus,

mata dan pipinya serta napasnya sekali-sekali, karena sangat

letih rupanya.

"Engkau Nurbaya? Hampirlah kemari!"

"Hamba bukan Nurbaya," sahut Samsu dengan gemetar

bibirnya, karena menahan sedih hatinya. "Hamba Samsulbahri,

baru datang dari Jakarta. Tatkala hamba dengar Mamanda sakit,

segeralah hamba kemari."

Setelah mendengar perkataan ini, menoleh si sakit kepada

Samsu dengan membesarkan matanya, sebagai hendak menerangkan

penglihatannya. "Samsulbahri?" tanyanya dengan

lemah suaranya.

"Hamba, Mamanda," jawab Samsu.

"Marilah dekat kemari, Samsu!" kata Baginda Sulaiman pula.

Samsu hampirlah dengan membawa buah tangannya dari

Jakarta sambil berkata, "Inilah hamba bawa buah-buahan sedikit;

kalau-kalau Mamanda dapat memakannya."

"Buah apa itu?" tanya si sakit, "sesungguhnya aku telah

beberapa hari tak enak makan."

"Ada buah sauh Manila, ada buah mangga, buah salak dan

nenas. Buah anggur dan apel pun ada pula hamba beli di kedai.

Barangkali dapat menimbulkan nafsu Mamanda," sahut Samsu.

"Cobalah beri aku buah sauh itu sebuah; pilih yang lembut!"

kata Baginda Sulaiman.

Dipilihnya oleh Samsu sebuah sauh Manila yang masak

benar, dibersihkannya dan diberikannya kepada mamandanya

itu, lalu dimakanlah oleh Baginda Sulaiman perlahan-lahan.

Rupanya nafsu makannya datang sedikit, entah sebab segar buah

itu, entah sebab Samsu, yang membawanya, wallahualam;

karena buah itu dimakannya beberapa butir.

Sementara Baginda Sulaiman makan itu, Samsu tiada putusputusnya

memandang mukanya dan sangatlah besar hatinya

tatkala dilihatnya buah tangannya itu dapat menimbulkan nafsu

si sakit, yang telah beberapa hari tiada makan. `

"Sungguh nyaman buah yang telah engkau bawa ini, Sam;

segar badanku rasanya memakannya," kata si sakit. "Aku banyak

minta terima kasih kepadamu, Samsu, apalagi karena rupanya

hatimu tiada berubah kepadaku, di dalam aku ditimpa

kesengsaraan ini. Tadi aku sangka engkau Nurbaya, karena ialah

yang kusuruh datang. Akan tetapi bertambah-tambah besar

hatiku, tatkala kuketahui, engkau pun telah ada di sini. Rupanya

petmintaanku dikabulkan Tuhan; karena pertemuan ini telah

beberapa lama aku pohonkan. Sangat ingin hatiku hendak berjumpa

dengan engkau, sebab adalah sesuatu yang hendak kuminta

kepadamu."

"Permintaan apakah itu Mamanda, katakanlah! Jika ada pada

hamba, tentulah hamba berikan," jawab Samsu.

"Pada sangkaku tiadalah berapa lama lagi aku hidup di atas

dunia ini. Sekalian gerak dan tanda-tanda telah datang kepadaku,

memberi tahu, bahwa aku segera akan berpulang ke

rahmatullah."

"Mamanda, janganlah berpikir sedemikian! Ingatlah

Nurbaya!" kata Samsu dengan berlinang-linang air matanya.

"Itulah yang menjadi alangan padaku; itulah yang menggoda

pikiranku. Bila aku tak ada dalam dunia ini, menjadilah Nurbaya

seorang anak yatim piatu, yang tidak beribu-bapa dan sunyi pula

daripada segala sanak saudara kaum keluarga. Bagaimanakah

halnya kelak, sepeninggalku; sebatangkara di atas dunia ini?

Siapakah yang akin menolongnya dalam segala kesusahannya,

dan siapakah yang akan menunjuk mengajarnya dalam

kesalahannya? Karena maklumlah engkau, umurnya baru

setahun jagung belum tahu hidup sendiri, belum tahu kejahatan

dunia dan belum merasai azab sengsara yang sebenar-benarnya.

Ketahuilah olehmu, Samsu, walaupun di dalam dunia ini

dapat kita memperoleh kesenangan, kesukaan, kekayaan, dan

kemuliaan, akan tetapi dunia ini adalah mengandung pula segala

kesusahan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kehinaan yang

bermacam-macam rupa dan bangunnya, tersembunyi pada segala

tempat mengintip kurbannya setiap waktu, siap akan menerkam,

barang yang dekat kepadanya.

Lain daripada itu, dunia ini penuh pula dengan ranjau

godaan, kelaliman, tipu daya, hasud khasumat, sombong angkuh

dan dengki khianat. Apabila tiada berhati-hati dan tak dapat

menghindarkan diri daripada sekalian kejahatan itu, niscaya

terperosoklah kita ke dalamnya dan binasalah badan. Pada

sebilang waktu, dalam segala tempat, dapat kita bertemu dengan

bahaya ini. Di daratan, di lautan, di udara, di dalam tanah, di

dalam rumah, di tengah jalan, di dalam hutan, di tengah padang,

tidaklah luput kita daripada mara bahaya itu. Sementara duduk,

sementara berjalan, tidur, minum dan makan, berkata-kata,

melihat, mendengar, mencium dan lain-lain sebagainya, dapat

bertemu dengan dia. Sesungguhnya, Samsu, tak mudah hidup di

dunia ini. Itulah jembatan siratalmustakim yang halusnya lebih

daripada rambut dibelah tujuh.

Tak mudah minitinya. Kebanyakan orang jatuh, masuk ke

dalam api neraka yang menyala di bawahnya. Hanya mereka

yang berhati-hati dalam segala pekerjaannya dengan mempergunakan

pikiran yang sempurna, mereka yang berhati suci dan

lurus, serta sabar dan tawakal, itulah yang acap kali selamat

sampai ke seberang. Demikianlah susahnya, jika hendak hidup

dengan baik di atas dunia ini, apalagi bagi orang sebatangkara.

Telah kurasa sendiri, Samsu, tatkala aku masih kecil. Itulah

sebabnya pada kebanyakan orang, dunia neraka jahanam, perhubungan

seribu-ribu tali kesukaan dan kesaktian, yang tidak

berkeputusan: patah tumbuh, hilang berganti, dari awal sampai

akhir. Yang agak mujur sedikit pun, bertukar-tukar pula

untungnya, sekali ke bawah sekali ke atas; berputar sebagai roda

yang berpusing. Hanya beberapa orang, saja yang mendapat

surganya di atas dunia ini.

Berilah aku beberapa buah anggur lagi! Karena lemah

rasanya badanku, berkata-kata ini."

Dengan segera Samsu memberikan buah anggur kepada ayah

Nurbaya. Setelah buah itu dimakannya beberapa butir, disambungnya

perkataannya tadi. "Oleh sebab kuketahui dan

kurasai sendiri sekaliannya itu, bertambah-tambah khawatirlah

hatiku meninggalkan Nurbaya. Sedangkan bagi laki-laki, telah

sekian susahnya, istimewa pula bagi perempuan yang bersifat:

lemah dan yang dipandang oleh bangsa kita rendah derajatnya

daripada derajat laki-laki; sedang bagi kebanyakan kaum

Muslimin hampir tiada berharga, hampir sama dengan sahaya.

Bagaimanakah untungnya kelak? Bingung hatiku memikirkan

hal itu. Akan tetapi, apa yang hendak kukatakan, karena ajal,

untung, dan pertemuan itu tak dapat ditentukan.

Oleh sebab di atas dunia ini tak ada yang lain, melainkan

engkaulah anakku yang kedua, engkaulah saudara Nurbaya,

kupintalah kepadamu, dengan sebesar-besar pinta, supaya sudilah

kiranya engkau menolong dan membantu saudaramu yang

piatu ini kelak, di dalam segala halnya. Janganlah kausia-siakan

dan kaubuang-buang ia dan sudilah engkau menjadi ibubapanya!

Janganlah engkau menaruh dendam dan sakit hati

sebab ia telah menjadi istri Datuk Meringgih! Engkau maklum,

Samsu, perkawinannya itu tiada dengan sesuka hatinya dan tidak

dengan sesuka hatiku, melainkan semata-mata karena takdir

daripada Tuhan Yang Masa Esa juga, tak dapat diubah lagi.

Walaupun aku dan ia lebih suka mati daripada berbuat

sedemikian, akan tetapi apalah kuasa kami, akan membantah

kehendak Tuhan ini! Bukan kesalahan Nurbaya, bukan

kesalahanku dan bukan kesalahan siapa pun maka terjadi hal ini,

melainkan semata-mata telah nasib Nurbaya yang sedemikian

itu."

Ketika itu berhentilah Baginda Sulaiman sejurus berkata-kata

sebagai hendak menantikan jawaban dari Samsu, tetapi karena

Samsu berdiam diri, lalu diulangnya pertanyaannya, "Sudikah

engkau mengabulkan permintaanku itu?"

"Masakan hamba tak sudi," jawab Samsu. "Perkara itu

janganlah Mamanda khawatirkan; walau bagaimana sekalipun,

Nurbaya tinggal adik hamba, dunia dan akhirat; tak boleli hamba

buang atau hamba hilangkan dari dalam hati hamba. Berjanjilah

hamba dengan bersaksikan Tuhan dan rasul-Nya, selagi hamba

hidup, tiadalah akan hamba sia-siakan Nurbaya."

Maka dipeganglah tangan Samsu oleh Baginda Sulaiman

dengan kedua belah tangannya, lalu diletakkannya di atas dadanya

dan dipejamkannya matanya sejurus, sambil berkata dengan

lapang bunyi suaranya, "Terima kasih!"

Tatkala itu tiba-tiba masuklah Nurbaya ke dalam bilik itu.

Sesungguhnya Nurbaya telah lama datang, karena dipanggil

oleh ayahnya. Akan tetapi ketika didengarnya suara Samsulbahri

dalam bilik ayahnya, tiadalah tahu apa yang hendak dibuatnya.

Walaupun hatinya sangat ingin hendak masuk melihat ayahnya,

tetapi malu dan takut rasanya ia akan bertemu dengan Samsulbahri.

Dalam hal yang demikian bingunglah ia, lalu berdiri

seketika, di luar bilik ayahnya, dengan hati yang berdebar-debar.

Setelah didengarnya janji Samsu kepada ayahnya, barulah

hilang bingungnya, bertukar dengan sukacita yang sangat, karena

sekarang diketahuinyalah bahwa hati kekasih dan saudaranya ini;

tiada berubah kepadanya. Itulah sebabnya, maka berani.ia

masuk, menemui ayahnya dan Samsu.

Ketika Samsu memandang muka Nurbaya, dengan sekonyong-

konyong terbukalah mulutnya, tiada berkata-kata. Hatinya

suka bercampur duka. Suka karena bertemu dengan kekasihnya

ini, duka. karena mengenangkan pengharapannya yang telah

putus.... Dilihatnya rupa Nurbaya sungguh sangat berubah dari

dahulu, tatkala ditinggalkannya. Badannya yang tinggi lampai

dan lemah gcmulai itu menjadi kurus, mukanya yang putih

kuning sertaa kemerah-merahan, bila kepanasan, menjadi pucat;

matanya yang jernih itu menjadi pudar, dikelilingi oleh suatu

lingkaran hitam yang dalam; pipinya seakan-akan cekung,

rambutnya kusut, sebagaia tiada diindahkannya benar-benar.

Sekaliannya rnenyatakan kedukaan dan kesakitan hati yang tiada

terhingga. Sangatlah sedih hati Samsu melihat hal kekasihnya

sedemikian itu; sehingga tiada dapat ia berkata-kata, untuk

pengeluarkan perasaan hatinya.

Tatkala terpandang oleh Nurbaya Samsu, pura-pura

terperanjatlah ia, lalu, berkata dengann riang rupanya, "Engkau

ada di sini, Sam! Apa kabar? Bila datang?." lalu didekatinya

kekasihnya dan dijabatnya tangannya.

"Tadi, dengan kapal yang baru masuk," sahut Samsu, sambil

menjabat tangan Nurbaya. "Tatkala aku sampai ke rumah, aku

dengar mamanda sakit; itulah sebabnya segera aku datang

kemari. Apa kabar dirimu sendiri?"

"Sebagai engkau lihat," jawab Nurbaya. "Sekaliannya bukan

menyatakan kesenangan. Akan tetapi nantilah kuceritakan lebih

panjang tentang hal ini."

Kemudian didekati Nurbaya ayahnya, lalu berkata, "Ayah,

apa kabar? Bagaimana perasaan Ayah sekarang? Dan apakah

aral, maka di suruh datang ananda ini?"

"Hampir padaku dan duduklah engkau di sini! Ada suatu

yang penting, yang hendak kuceritakan kepadamu."

Setelah hampirlah Nurbaya kepada ayahnya, berkata Baginda

Sulaiman.

"Anakku Nurbaya! Ketahuilah olehmu, aku ini sesungguhnya

telah lama sakit, tetapi tiada kuperlihatkan kepadamu, melainkan

kutahan seboleh-bolehnya, supaya kesakitanku ini jangan pula

sampai menambahkan kedukaan hatimu. Aku ini telah tua,

perjalananku dalam dunia ini tiada mendaki lagi, melainkan

menurunlah, ke tempatku yang kekal, tempat aku akan

beristirahat selama-lamanya. Dari yang tak ada aku akan

diadakan, dari kecil menjadi besar, setelah besar menjadi tua dan

bila telah tua, berbaliklah aku kembali kepada asalku.

Demikianlah perjalanan segala yang bernyawa di atas dunia ini;

tak ada simpang yang lain dan tak dipat pula diubah. Segala yang

hidup akan matilah juga pada akhirnya, dan segala yang ada

akan bertukar-tukar juga romannya.

Walaupun hal itu biasanya tiada diingat orang atau tiada

sempat dipikirkan, karena dirintang kesukaan atau kedukaan dan

karena pikiran yang sedemikian pada kebanyakan orang

mendatangkan ngeri dan takut, sebab kematian adalah sesuatu

yang gaib, akan tetapi sekaliannya itu tiadalah akan mengubah

perjalanan alarn ini. Sesungguhpun ingatan kepada mati mendatangkan

dahsyat di dalam hati, tetapi janganlah dihilangkan

benar-benar pikiran ini, melainkan harulah diinsyafkan juga,

bahwa maut itu, pada suatu ketika akan datang juga, supaya

janganlah kita bersangka, akan hidup selama-lamanya dan dapat

kekal bercampur gaul dengan sekalian yang ada ini. Dengan

demikian, bila datang waktunya kelak, kita akan menlnggalkan

dunia ini pula, bercerai daripada segala yang dikasihi dan

disayangi, tiadalah kita akan sangat terkejut dan hilang akal;

karena inilah yang acap kali menyesatkan perjalanan yang pergi

dan merusakkan badan dan pikiran yang tinggal; sebab menyesal

dan merindu, serta bersedih bersusah hati dengan amat sangat.

Aku maklum, bercerai dengan segala yang telah mengikat

hati, tak mudah; istimewa pula bila perceraian itu perpisahan

yang akhir, bercerai tiada akan bertemu lagi, pada sangka

setengah orang. Tetapi janganlah lupa, bahwa sekaliannya itu

memanglah seharusnya demikian. Walaupun suka atau tak suka,

riang ataupun duka, takut atau berani, menyerah atau membantah,

bila ajal itu telah datang, tak akan dapat dihindarkan lagi,

melainkan harus diterima dengan menyerah, tulus dan ikhlas.

Apakah kekuasaan kita, insan yang hina dan daif ini? Tak ada.

Sungguhpun ada di antara orang yang sombong dan angkuh,

yang membesarkan dirinya atas kepandaian, kekayaan, bangsa

atau pangkatnya yang tinggi, akan tetapi berapakah kekuasaan

mereka, jika dibandingkan dengan kekuasaan alam ini? Adalah

sebagai setitik air dengan lautan sedunia ini; barangkali tak

sampai pula sedemikian.

Tentang kepandaian, aku akui, banyak yang telah diketahui

orang, agaknya berjuta-juta kali lipat ganda daripada itu.

Barangkali engkau tiada percaya akan perkataanku ini, oleh

sebab itu marilah tanyakan kepadamu suatu hal yang mudah

saja: manakah yang terlebih dahulu ada, ayamkah atau telurkah?

Tanyakanlah kepada orang pandai-pandai, siapakah dapat

memberi keterangan itu?

Tentang kekayaan yang besar dan pangkat yang tinggi itu,

janganlah aku ceritakan lagi; banyak contoh yang telah kaulihat

dan kaudengar sendiri. Walau sebagaimana pun kekayaan dan

tinggi pangkat, manusia itu, jika dengan kehendak Tuhan, dalam

sekejap mata hilanglah ia. Bangsa yang tinggi, tak boleh menjadi

alasan kesombongan, karena ketinggian itu sebab ditinggikan

dan kerendahan itu sebab direndahkan orang. Jika tak ada yang

meninggikan dan mcrendahkan, tentulah sama rata sekaliannya.

Dan siapakah yang meninggi dan merendahkan itu? Hanya

manusia jua. Bukankah sekalian manusia itu asalnya dari nabi

Adam dan Sitti Hawa? Bagaimana boleh bertinggi berendah dan

berlain-lain, apabila asalnya sama? Bukannya hendak kusamakan

saja sekalian rnanusia itu, tidak. Ada juga perbedaannya;

tetapi bukan kebangsawanannya, melainkan derajatnyalah yang

tiada sama. Sungguhpun demikian derajat itu pun karunia Tuhan

jua. Apa gunanya menyombongkan dengan pemberian orang?

Kelebihan yang diperoleh sendiri pun, sebagai ilmu kepandaian,

tak boleh juga disombongkan, sebab sekalian orang dapat memperoleh

ilmu dan kcpandaian, asal ada untung nasibnya akan

beroleh anugerah itu.

Ya, Nur! Jika aku tiada letih, tentulah akan kuuraikan

sekaliannya, karena banyak lagi yang harus kauketahui. Akan

tetapi, supaya jangan terlalu panjang ceritaku ini, baiklah aku

kembali kepada maksudku tadi."

Setelah berhenti beberapa lamanya, berkata pula Baginda

Sulaiman perlahan-lahan. "Oleh sebab itu, bukankah lebih baik

dalam hal yang telah kuceritakan tadi, jangan terlalu berawan

hati melainkan diperbanyak juga sabar dan tawakal kepada

Tuhan Yang Maha Esa, dengan menyerah dan berdoa, supaya

yang berjalan dan yang tinggal pun dipelihara juga. Aku

ceritakan hal itu kepadamu, karena penyakitku ini rupanya kian

hari kian bertambah. Siapa tahu, kalau-kalau besok lusa harus

meninggalkan engkau."

Mendengar perkataan ini, menjeritlah Nurbaya, menangis

tersedu-sedu, memeluk dan mencium ayahnya, sambil berkata,

"Ayah, janganlah pergi, tinggallah bersama-sama ananda! Bila

Ayahanda akan pergi juga, bawalah ananda sekali; jangan

ditinggalkan seorang diri di atas dunia ini! Siapakah kelak yang

akan sudi menolong ananda, sebagai Ayahanda? Ke manakah

tempat bertanya dan siapakah tempat meminta? Jika sakit,

siapakah yang mengobat dan menjaga? Jika susah, siapakah

yang akan melipur hati ananda ini? Aduh, menjadilah yatim

piatu, sebatang kara, ananda di atas dunia ini! Tiada beribu, tiada

berbapa, dan tiada bersaudara pula. Ya Allah, bagaimanakah hal

hamba Mu kelak, bila Ayah hamba tak ada lagi?"

Demikian bunyi tangis Nurbaya di dada ayahnya.

"Jangan menangis, Nur!" kata Baginda Sulaiman membujuk

anaknya. "Sekalian itu belum tentu. Harapan dan ucapanku siang

dan malam, lamalah juga hendaknya kita dapat bercampur gaul.

Kukatakan hal itu kepadamu; supaya engkau ingat dan jangan

terlalu terperanjat, bila datang waktunya; karena walau

bagaimana sekalipun, waktu itu niscaya akan datang juga; tidak

sekarang, tentulah nanti. Akan hidup selama-lainanya, tentu tak

dapat. Nyawa itu dalam tangan Allah; jika dikehendakinya, bila

saja, niscaya melayanglah ia dalam sekejap mata. Selagi aku

dapat betkata-kata, wajib bagiku, untuk memberi ingat engkau,

supaya jangan menjadi sesalan bagiku kelak.

Memang sedih hatiku mengenangkan halku. sekarang ini.

Bila aku berpulang dewasa ini, tak adalah apa-apa yang dapat

kutinggalkan padamu, lain daripada cinta dan doaku; karena

sekalian hartaku tak ada lagi. Tetapi janganlah engkau khawatir

dan putus asa! Serahkanlah untungmu kepada Rabbul-alamin!

Dialah yang akan memelihara engkau. Dialah yang akan

menolong dan mengasihani engkau, lebih daripada aku.

Jangankan manusia, sedangkan ulat dalam lubang batu sekalipun,

dipeliharakan dan diberinya rezeki. Oleh sebab itu, janganlah

hilang akal, melainkan pintalah siang dan malam kepada

Yang Maha Kuasa, supaya engkau dipeliharakan-Nya juga, di

dalam segala halmu. Kemudian janganlah pula lupa akan Samsu

ini! Walaupun ia bukan saudaramu sejati, tetapi ia lebih daripada

saudara kandungmu. Lagi pula ia telah berjanji kepadaku akan

setia kepadamu; di dunia dan akhirat."

"Sungguhkah demikian, Sam?" tanya Nurbaya dengan

segera, seraya memegang kedua belah tangan anak muda ini

sambil menentang mukanya. "Tak dapat kukatakan, betapa

besarnya hatiku mendengar perkataan ayahku tadi. Sungguhkah

tiada berubah hatimu kepadaku?"

"Sungguh, Nur," jawab Samsu. "Apa sebabnya hatiku akan

berubah kepadamu? Atas halmu pada waktu ini, tak boleh aku

berkecil hati, karena sekaliannya itu bukan kesalahanmu, melainkan

gerak daripada Tuhan juga. Seharusnya, karena engkau telah

ditimpa bahaya sedemikian itu, bertambah-tambah kasih

sayangku kepadamu, karena pertolongan dan belaku atas dirimu

pada waktu engkau dalam kesusahan ini, gkan amat berharga.

Janganlah engkau syak wasangka kepadaku! Walau bagaimana

sekalipun, engkau tinggal adikku, tak dapat dan tak boleh

kubuang-buang. Tali yang telah memperhubungkan aku dengan

engkau, telah tersimpul mati, tak dapat diungkai lagi. Dagingmu

telah menjadi dagingku, darahmu telah menjadi darahku; siapa

dapat menceraikan kita?"

"Aku banyak meminta terima kasih kepadamu, Samsu!

Hanya Allah yang mengetahui betapa sanangnya hatiku, mendengar

perkataanmu dan Dialah juga yang dapat membalas

kebaikanmu itu."

Tatkala ia berkata-kita sedemikian itu, tak dapatlah ditahan

oleh Nurbaya air matanya, yang telah berlinang-linang, jatuh

berderai ke tikar, sebagai manik putus talinya.

"Apabila aku tak ada lagi," kata Baginda Sulaiman pula,

"lebih berhati-hatilah engkau menjaga diri, pandai-pandai

memeliharakan badan; berkata di bawah-bawah*), mandi di

hilir-hilir, sebagai kata peribahasa. Karena sesungguhnya, bahasa

itulah yang menunjukkan bangsa, istimewa pula, karena sekalian

manusia yang baik, lebih suka kepada budi bahasa yang manis,

perkataan yang lemah-lembut daripada tingkah laku yang kasar,

perkataan yang tiada senonoh. Dengan kelakuan yang baik, lebih

banyak kita akan beroleh maksud kita dan lebih banyak pula kita

mendapat pertolongan, daripada dengan paksaari dan kekerasan.

Jika hendak mulia, hinakan diri. Sebab kemuliaan dan kehinaan

itu bukan datang dari kita sendiri, melainkan dari orang lain.

Apakah salahnya merendahkan diri? Tak hilang pangkat dan

bangsa; karena hati dan perkataan yang rendah. Tak mati ular

menyusup akar, kata pepatah kita. Perkataan yang rendah, budi

bahasa yang manis, tidak menjadi salah, bahkan acap kali membawa

kita ke tempat yang tinggi. Kebalikannya, perkataan yang

tinggi, sifat yang gaduk, mendatangkan kebencian. Jika pergi ke

negeri orang, haruslah air orang disauk**) dan ranting orang

dipatah, artinya jangan membawa aturan sendiri, melainkan adat

*) Merendah diri

**) Ditimba

kebiasaan orang dan negeri itulah yang dipakai dan dijalanan,

supaya disukai orang dan lekas mendapat sahabat kenalan yang

baik, yang sudi menolong kita dalam segala kesusahan kita.

Sahabat kesukaan, janganlah diperbanyak, sebab biasanya tiada

memberi faedah, bahkan acap kali menyedihkan hati. Sahabat

kedukaan, itulah yang baik dirapati. Sahabat musuh, yaitu orang

yang mengail dalam belanga dan menggunting dalam lipatan,

yang pura-pura bersahabat dengan kita, karena hendak mencelakakan

kita, haruslah berhati-hati benar, karena ialah yang

rupanya terlalu karib kepada kita dengan manis budi bahasanya.

Oleh sebab itu, janganlah lupa pula akan pepatah kita: Buah

yang manis itu acap kali berulat.

Yang tua harus dihormati, yang muda dikasihi, sama besar

mulia-memuliakan. Walaupun yang tua itu rupanya kurang

daripada kita, tentang pengetahuan, kekayaan, pangkat, bangsa,

ataupun yang lain-lain sebagainya, tetapi ia terlebih dahulu

makan garam daripada kita dan terlebih banyak merasai

kehidupan yang baik dan jahat. Ingatlah, lama hidup banyak

dirasai, jauh berjalan banyak dilihat. Oleh sebab itu pada orang

yang sedemikian, tak dapat tiada adalah juga pengetahuan atau

penglihatan atau penanggungan yang belum ada pada kita, atau

belum kita rasai. Itulah sebabnya orang ini harus dihormati.

Yang muda harus dikasihi; sebab mereka adik kita, yang

kurang kekuatan dan pengetahuannya daripada kita. Tak patut

kita mempergunakan kelebihan kita, akan menganiaya mereka.

Demikian pula segala mahluk yang ada, terlebih-lebih yang

lemah dan lata, haruslah disayangi. Jangan disakiti, karena

sekalian itu hamba Allah sebagai kita juga. Dengan sesama

manusia, haruslah berkasih-kasihan, beramah-ramahan dan

bertolong-tolongan, dalam segala pekerjaan, suka dan duka.

Terlebih-lebih yang sengsara dan kesusahan itulah, yang terutama

harus ditolong. Yang mulia dan kaya pun tak perlu

dihindarkan, karena yang miskin dapat membantu dengan

kekuatan dan nasehat dan yang kaya dapat menolong dengan

uang. Janganlah angkuh dan sombong; istimewa pula karena

pada kita sekarang ini, tak ada yang dapat disombongkan; uang

tidak, bangsa pun kurang. Walaupun ada berharta, berbangsa dan

berpangkat sekalipun, tak perlu disombongkan, karena sebagai

telah kukatakan, sekalian itu barang pinjaman belaka dan

hanyalah dalam dunia ini saja ada harganya. Bila yang empunya

kelak meminta kembali hartanya itu, tak dapat tiada haruslah

dipulangkan.

Jangan suka berbuat kejahatan dan kelaliman, melainkan

kebaikan itulah yang akan kaucintai. Itulah, pepatah: Raja adil

raja disembah, raja lalim raja disanggah. Sedangkan raja lagi

diperbuat demikian, apalagi kita. Pikiranmu pun haruslah suci

dan bersih, jangan suka berniat yang salah kepada dirimu atau

diri orang lain, karena segala perbuatan dan pikiran itu tak

hilang; ada awal tentu ada pula akhirnya. Segala perbuatan atau

pikiran yang jahat, tak kan tiada jahat jugalah jadinya kepada

dirimu sendiri atau diri sesamamu manusia. Kebalikannya,

segala perbuatan dan niat yang baik itu, tak dapat tiada akan

mendatangkan kebaikan juga atas dirimu atau diri orang lain.

Walaupun terkadang-kadang akibat perbuatan dan niatmu itu

berlainan rupanya daripada maksudmu, janganlah engkau syak;

sekalian itu takkan salah. Jika tak sekarang, kemudian tentulah

akan membalas juga kebaikan atau kejahatan itu. Yang baik itu,

tak dapat menimbulkan yang jahat itu, yang jahat tak dapat pula

mendatangkan yang baik.

Bila permintaanmu tiada kabul dan maksudmu tiada sampai,

dan jika engkau beroleh sesuatu kesusahan atau mara bahaya,

janganlah lekas putus asa, serta menyesal akan untungmu dan

murka akan Tuhanntu, karena segala sesuatu itu memanglah

karunia juga daripada Tuhanmu dan Tuhan itu sesungguhnya

bersifat adil serta pengasih penyayang kepada hamba-Nya;

sekali-kali tiadalah la berkehendak membinasakan hamba-Nya,

dalam waktu yang bagaimana sekalipun. Oleh sebab itu segala

yang dikurniakan-Nya kepada hamba-Nya, meskipun rupanya

jahat bagi mereka yang tiada mengerti, tetapi sesungguhnya

hakekatnya baik juga: Jika engkau pikirkan dan perhatikan

benar-benar akan nyatalah kepadamu, bahwa segala yang jahat

rupanya yang telah jatuh ke atas dirimu itu, ada juga

mengandung kebaikan, yaitu pelajaran, yang dapat membawa

engkau ke padang kemajuan yang sebenar-benarnya. Oleh

karena kesusahan dan kesengsaraan itulah, maka jadi bertambahtambah

pengetahuanmu dan ilmumu, tentang rahasia-rahasia

alam ini, dan kehidupan di atas dunia ini. Kesenangan dan

kesukaan jarang mendatangkan pelajaran, bahkan acap kali melupakan

manusia itu akan dirinya dan Tuhannya; terkadangkadang

menjadikan mereka itu sombong, angkuh serta tekebur.

Akan menerangkan, bahwa kecelakaan itu tak lain daripada

pelajaran, dengarlah misal ini! Seorang kanak-kanak, belum tahu

akan bahaya api. Bagaimana dapat diterangkan kepadanya,

supaya mengerti benar ia, akan kebesaran bahaya itu sehingga

dapat ia menghindarkan dirinya daripada api itu? Susah sangat

bukan'? Hampir tak dapat, karena bahaya itu tak dapat

diperlihatkan, atau dimisalkan kepada kanak-kanak yang kecil

itu dengan sebenar-benarnya, sebelum dirasainya sendiri. Pada

suatu hari, tatkala ia bermain-main api, dengan takdir Allah,

terbakarlah tangannya. Pada waktu itu, baharulah dirasainya

bahaya api itu. Mereka yang tiada tahu atau yang tiada hendak

berpikir lebih panjang, mengatakan kanak-kanak itu mendapat

hukuman daripada Tuhan, tetapi sesungguhnya mendapat kurnia,

yaitu suatu pengetahuan dan pelajaran yang tak dapat diperolehnya,

jika tiada dirasainya sendiri. Oleh karena kecelakaan itu,

bertambahlah pengetahuan kanak-kanak tadi dan dapatlah ia

menghindarkan dirinya daripada bahaya api, yang boleh berlipat

ganda besarnya daripada yang telah dirasainya itu. Bukankah ini

kurnia? Demikianlah juga segala kesusahan dan kecelakaan yang

lain-lain, tak dapat tiada, ada juga baiknya. Bila kaupikirkan

segala mara bahaya yang menimpa dirimu, niscaya terjatuhlah

engkau daripada was-was dan penyesalan hati serta beberapa

penyakit yang asalnya dari itu.

Pikiran yang masgul, sedih dan susah, tidak mendatangkan

kebaikan kepada dirimu, semata-mata kejahatan juga; melainkan

sabar dan tawakal, serta pikiran yang suci itulah juga, yang

menambah kesehatan badan. Bukankah telah dikatakan: sabar itu

anak kunci pintu surga. Bukankah sabar itu tanda faham yang

dalam, iman yang tetap, yaitu sifat-sifat yang mulia. Sabar itulah

yang acap kali memberi jalan ke surga dunia dan surga akhirat,

sedang tiada sabar, pemarah, pengumpat, dengki, khianat, loba

dan tamak dan sifat yang lain-lain, yang sebagai ini, acap kali

menuntun kita ke dalam neraka. Jika dapat engkau sabarkan

hatimu daripada segala kesedihan, kesusahan dan amarah, tentulah

dapat pula engkau tahan segala nafsumu yang tiada baik.

Sifat yang dengki khianat loba dan tamak itu, harus dilawan

dengan sekeras-kerasnya, supaya nyahlah sekaliannya dari

hatimu.

Kekayaan yang besar, pangkat yang tinggi, bangsa yang

mulia, tiada selamanya membawa kesenangan; karena

kebanyakan manusia bersifat tamak, tiada menerima yang telah

dikurniakan Tuhan kepadanya, melainkan hendak bertambahtambah

dan berlebih-lebihan juga. Dan jika dapat pun

dipenuhinya segala kehendak dan maksudnya itu bukan puas

hatinya, bahkan bertambah-tambah pulalah tamak dan lobanya,

dan semakin lupalah ia akan dirinya dan Tuhannya, karena asyik

hendak memuaskan hawa nafsunya yang tak dapat dipenuhi itu.

Dan jika tak dapat disampaikannya segala maksudnya itu,

menyesallah ia akan untungnya dan mengumpatlah ia kepada

Allah. Ke sini ke sana, tiadalah orang yang sedemikian itu akan

mendapat kesenangan dan kesejahteraan.

Oleh sebab itu terimalah segala yang telah dikurniakan

Tuhan itu dengan sabar. Jika hendak menambah yang telah ada

itu, boleh tetapi hendaklah minta kepada-Nya dan. dengan jalan

yang baik. Jika tiada dikabulkan permintaan itu sekarang,

sabarlah dahulu barangkali kemudian dapat juga, karena barang

sesuatu yang dikehendaki itu, niscaya akan diperoleh juga akhir

kelaknya, asal dengan yakin dan bersungguh-sungguh hati

meminta. Sebagai telah kukatakan, Tuhan itu bersifat pengasih

dan penyayang.

Orang yang pada lahirnya hina, miskin dan daif, terkadangkadang

hatinya terlebih senang daripada yang kaya, mulia atau

berpangkat tinggi. Misalnya, seorang anak, yang tinggal tersembunyi

di hutan atau di gunung, jauh dari¬pada segala

keindahan, kesukaan, kekayaan dan kepintaran dunia, acap kali

terlebih senang daripada orang kota, yang selalu diselimuti oleh

sekalian kebesaran dan kemuliaan; sebab keperluan untuk

kehidupan anak hutan itu, tiada seberapa, sehingga keinginan

hatinya hampir tak ada dan nafsunya pun kurang. Keinginan dan

nafsu itulah penggoda yang teramat besar

Setelah berhenti sejurus memakan buah-buahan bawaan

Samsu disambunglah pula oleh Baginda Sulaiman nasihat

kepada anaknya itu, "Janganlah engkau bersangka, kemajuan

dunia itu selamanya mendatangkan manfaat kepada manusia,

tidak. Misal yang mudah, yaitu ini: Apakah sebabnya maka

orang tua-tua dahulu kala umurnya lebih panjang dan badannya,

lebih sehat daripada orang sekarang ini? Padahal kehidupan

mereka itu tidak sernpurna dan keperluan mereka itu pun tiada

sebanyak orang sekarang ini? Pakaiannya terkadang-kadang

hanya sehelai kain kulit kayu, makanannya tiada dimasak dan

tiada diberi bumbu atau rempah-rempah, rumah tangganya, di

pokok kayu atau dalam gua batu.

Bukan umur dan kesehatan badannya saja yang lebih

daripada orang sekarang, tetapi ilmunya pun terlebih dalam pula;

misalnya ilmu bertanam padi, yang asalnya daripada orang

Hindu, zaman dahulu kala, sampai kepada waktu ini, belum

dapat diperbaiki orang. Candi-candi, yang diperbuat orang Hindu

itu, belum dapat ditiru oleh insinyur-insinyur.yang pandai,

tentang kekuatannya. Ilmu orang Mesir membungkus mayat

rajanya, sampai dapat disimpan beribu-ribu tahun lamanya pun,

tiada diketahui orang sekarang. Sampai dewasa ini masih ada

juga bekas-bekas orang dahulu itu, walaupun tiada sebagai di

masa mereka itu mesih hidup.

Ingatlah pula akan orang-orang gunung, di negeri kita ini

yang tinggal tersisih, jauh dari kota, di tempat yang sunyi!

Bukankah badan mereka itu terlebih sehat dan kuat daripada

orang kota? Hati dan pikirannya terlebih baik dan lebih bersih

pula? Apakah makanan mereka itu? Nasi dengan asam-asam dan

sayur-sayuran, yang tiada dimasak dengan sempurna. Sungguhpun

demikian, badannya sebagai gajah dan kekuatannya bukan

sedikit. Hujan dan panas tiada diindahkannya, bahkan seakanakan

menambahkan kesehatan badannya. Pakaiannya hanya

secarik kain, rumah tangganya dimasuki hujan dan angin, tetapi

jarang mereka itu sakit.

Akan orang kota yang telah maju itu, berbagai-bagai akal dan

obat yang dipakainya, supaya jangan sakit. Rumah tangganya

haruslah baik, menurut ilmu dokter, pakaiannya cukup daripada

kain yang baik-baik, makanannya haruslah dijaga benar-benar;

jangan sampai kekurangan dan kotor. Pada sangkaku kehidupan

yang serupa itulah, yang meracun manusia, menjadikan pendek

umurnya dan lemah badannya.

Kebaikan mereka, orang yang dikatakan setengah biadab itu,

aku sendiri telah acap kali merasainya; suka tolong-menolong,

beramah-ramahan, berkasih-kasihan, lurus hati, boleh dipercayai,

setia, hormat, tertib, sopan, santun, adil dan lain-lain;

sekaliannya, sifat-sifat yang telah dilupakan oleh kebanyakan

orang kota. Sayang orang yang sedemikian, makin lama makin

berkurang-kurang, bertukar dengan orang yang dinamakan

dirinya cerdik pandai dan beradab, tetapi yang sebenarnya,

makin pandai makin ganas dan makin buas, serta menukar sifatsifat

nenek moyangnya, yang mulia-mulia itu dengan dengki,

khianat, loba, tamak, hidup sendiri-sendiri, tiada hendak tolongmenolong,

tiada hendak beramah-ramahan dan berkasih-kasihan;

sombong, angkuh, kikir, tekebur, tak boleh dipercayai, tiada

setia, lalim dan sebagainya. Ah, bagaimanakah akhirnya dunia

ini, apabila kemajuan, yang sangat dicintai kaum sekarang,

membawa manusia ke jalan yang seperti itu?

Lagi pula, haruslah engkau ketahui, kemajuan itu, ialah suatu

perkakas, yang boleh ditujukan ke tempat yang baik dan ke

tempat yang jahat. Bila ke tempat yang baik di kemudian, baik

pulalah hasilnya tetapi bila ditujukan tempat yang jahat, tentu

jahatlah jadinya. Orang sekarang, rupa-rupanya hendak

menunjukkan perahu kemajuannya itu, ke pulau kejahatan, jadi

bukan akan menyempurnakan manusia, bahkan akan memusnahkan

segala yang hidup.

Bedil itu apakah gunanya, jika tak untuk menghabiskannya?

Meriam itu apakah faedahnya, jika tidak untuk meleburkan

dunia? Dan apakah sebabnya, maka jadi begini? Tak lain karena

orang sekarang, yang mengaku dirinya terlebih pandai dan

beradab daripada orang dahulu, yang dikatakannya biadab itu,

sesungguhnya bertambah ganas dan buas, sebagai telah

kukatakan tadi.

Makin bertambah maju manusia itu, makin bertambah besar

kebaikan dan kejahatannya. Ilmu dokter, yaitu suatu hasil

daripada kemajuan.itu, walaupun dapat dipergunakan, untuk

menyembuhkan penyakit, tetapi dapat pula dipakai akan

pembunuh yang hidup. Oleh sebab orang yang tiada beriman,

memang terlebih mudah digoda oleh kejahatan dari dipimpin

oleh kebaikan, menjadilah kemajuannya suatu bisa, yang

meracun dunia. Itulah sebabnya orang yang sedemikian, tak baik

diberi senjata kemajuan. Bukankah penjahat yang terpelajar itu,

terlebih berbahaya daripada penjahat yang bodoh? Bila seorang

yang bodoh, hendak mencuri, ditunggunya dahulu sampai yang

empunya tak ada atau sampai ia tidur. Jika mereka masih ada,

atau masih jaga, tak dapatlah disampaikannya maksudnya.

Tetapi penjahat yang terpelajar, di dalam hal itu, tentulah akan

mempergunakan segala ilmunya, yang terkadang-kadang boleh

sangat memberi bahaya, untuk menyampaikan niatnya. Oleh

sebab itu, segala ilmu yang jatuh kepada mereka yang tiada

berhati baik, akan menjadi senjata yang berbisalah, di tangan

mereka. Sebelum menuntut ilmu, haruslah dibersihkan dahulu

hati. Alangkah besar faedahnya, bila di sekolah diajarkan juga

ilmu suci hati!"

Hingga itu berhentilah Baginda Sulaiman berkata-kata, lalu

meminta pula buah apel sebuah. Kemudian barulah berkata pula

ia, "Bila engkau beruntung baik, pakailah kelebihan hartamu itu,

untuk menolong yang susah dan miskin, kepandaianmu, untuk

menunjuk mengajari yang belum tahu dan pangkatmu, untuk

membawa sesamamu manusia ke tempat yang sejahtera. Jika itu

kau lakukan, tak dapat tiada, selamatlah dan terpeliharalah

engkau dunia dan akhirat. Dan apabila telah datanglah pula

waktunya engkau akan meninggalkan dunia ini, niscaya takkan

adalah lagi sesuatu yang menjadi alangan bagi perjalananmu dan

berpulanglah engkau, dengan perasaan yang tulus, karena

kauketahui bahwa engkau, semasa hidupmu, tiada berbuat salah.

Hatimu pun suci dan cinta kepada kebaikan.

Suatu lagi yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu pepatah

kita: pikir itu pelita hati. Peribahasa ini sangat benar, baik lahir

ataupun batin. Barang sesuaiu yang hendak diperbuat atau

dikatakan, hendaklah dipikir lebih dahulu dengan sehabis-habis

pikiran. Janganlah terburu dan jangan pula memakai ilmu katak,

telah melompat sebelum diketahui, apa yang akan terjadi atas

diri! Itulah sebabnya, acap kali salah lompatnya, yang mendatangkan

celaka kepadanya. Bila telah binasa, datanglah sesal

yang tiada berkeputusan. Tetapi apa gunanya lagi sesalan itu?

Perkataan yang telah keluar dari mulut dan sesuatu yang telah

terjadi, tak dapat ditarik kemliali. Sesal dahulu pendapatan, sesal

kemudian tak berguna, kata orang kita. Kesusahan yang

menimpa, karena kesalahan itu, harus ditanggung. Kaki

terdorong, ini padahannya, mulut terlanjur, emas padahannya*).

Oleh sebab itu, haruslah perlahan-lahan dan berhati-hati

bekerja: biar lambat asal selamat, tak lari gunung dikejar. Bila

telah ditimbang buruk haiknya, laba ruginya dan bila telah

dibolak-balikkan, dan nyata benar kebaikan pekerjaan itu,

kerjakanlah! Insya Allah, selamat. Lagi pula jangan suka

*) Alamatnya

mendengar hasut fitnah dan ajaran yang tiada baik: nasihat yang

baik itulah yang akan ditaruh dalam hati dan dipakai selama

hidup. Jika terlalu suka mendengar perkataan orang, menjadi

kacau balau pikiranmu dan acap kali meu¬datangkan sesalan

kepada yang salah, teperbuat sebagai cerita peladang dengan

keledainya."

"Bagaimana ceritanya itu?" tanya Nurbaya.

"Samsu tentu tahu cerita ini. Biarlah ia menceritakannya,

supaya aku dapat berhenti sejurus, melepaskan lelahku, karena

berkata-kata ini."

"Bagaimana cerita itu, Samsu?" tanya Nurbaya kepada

Samsulbahri.

"Begitu," jawab Samsu. "Keledai bukankah kendaraan

manusia? Tetapi karena yang empunya, sangat suka mendengar

perkataan orang, dengan tiada memikirkan perkataan itu lebih

jauh, menjadilah ia kendaraan keledainya."

"Ajaib," jawab Nurbaya.

"Memang, demikianlah jadinya, bila kita terlalu suka

mendengar perkataan orang. Karena orang itu, tiada semuanya

baik kepada kita dan walaupun baik maksudnya, terkadangkadang

boleh jahat juga jadinya kepada kita; sebab hal manusia

itu tiada sama; yang baik pada seorang, boleh jahat pada yang

lain. Jika diturut dengan tiada dipikirkan baik-baik lebih dahulu,

terjerumuslah kita ke dalam lubang.

Cerita keledai itu demikian bunyinya: Seorang peladang

mempunyai seekor keledai. Pada suatu hari, pergilah ia bersamasama

anaknya ke pasar, akan membeli-beli. Si peladang ini

menunggang keledai itu, dan anaknya disuruhnya berjalan di

sisinya. Tiada berapa lama mereka berjalan, bertemulah seorang

perempuan. Tatkala dilihat oleh perempuan itu hal yang

sedemikian, berkatalah ia, "Sesungguhnya orang tua ini tiada

berpikiran! Anaknya yang kecil, yang belum kuat berjalan,

dibiarkannya berjalan kaki, sedang ia duduk bersenang-senang di

atas keledainya."

Perkataan perempuan itu terdengar oleh si peladang, lalu

dinaikkannya anaknya ke atas keledainya dan berjalanlah ia di

sisi binatang ini.

Kemudian bertemulah pula seorang pendeta. Tatkala dilihat

oleh pendeta itu akan hal yang sedemikian, menggeleng-gelenglah

ia, seraya berkata, "Anak ini tiada berbudi. Adakah patut

orang tuanya disuruhnya berjalan kaki sedang ia duduk keenakenakan

di atas kendaraan?"

Perkataan ini termakan pula oleh si peladang, lalu katanya,

"Baiklah kita berdua menunggang keledai ini."

Tiada berapa lamanya berkendaraan berdua, bertemulah pula

seorang pegawai negeri, yang berkata dengan amarahnya, tatkala

melihat si peladang dengan anaknya berdua, menunggang

keledai itu, "Anak dan bapa ini tiada sekali-kali berpikiran dan

tak menaruh kasih sayang! Adakah patut binatang yang sekecil

itu dikendarai oleh dua orang? Apabila kamu tiada turun dari

keledaimu, niscaya kuadukan kamu kepada hakim, sebab

mendera binatang.

Maka turunlah si peladang itu dengan anaknya, lalu berjalan

kaki sebelah menyebelah keledainya. Sejurus kemudian, berjumpa

pula mereka dengan sorang sahabatnya, lalu berkata

sahabat ini, "Alangkah bodoh,kamu kedua ini! Apakah gunanya

kamu memelihara keledai, jika tak dapat ditunggang, sampai

kamu berjalan kaki, dengan susah payah?"

Setelah mendengar perkataan yang akhir ini, tiadalah terkatakata

anak dan bapa.

"Aku sendiri naik keledai ini, salah, engkau sendiri menaiki

pun salah, berdua kita naik, salah pula dan tiada ditunggangi, tak

benar juga. Bagaimanakah yang betul?" Demikianlah keluh si

peladang, sambil membantingkan kopiahnya ke tanah, lalu

duduk di atas sebuah batu, karena tak berani berjalan lagi. "Jika

demikian marilah kita pikul keledai ini! Barangkali begitu yang

baik, karena cara lain tak ada lagi," kata si peladang kepada

anaknya, seraya mencari sebatang kayu. Kemudian diikatnyalah

keempat kaki keledainya, dipikulnya berdua, masuk pasar.

Sekalian isi pasar yang melihat perbuatan yang ganjil ini,

tercengang, lalu berkata, "Seumur hidupku belum pernah aku

melihat orang menjadi kendaraan keledai; baru sekarang inilah.

Gilakah si peladang itu?" lalu mereka tertawa gelak-gelak,

menertawakan si peladang dengan anaknya itu.

"Ini pun masih salah juga," kata peladang, lalu menjatuhkan

keledainya ke tanah, karena bingung.

"Memang bagus benar cerita itu," kata Nurbaya.

"Sehingga inilah dahulu, Nur! Besok lusa aku akan bercerita

pula. Sekarang aku sangat letih hendak tidur. Bila engkau

pulang?" kata Baginda Sulaiman.

"Hamba telah minta izin kepada Engku Datuk, tinggal dua

tiga hari," jawab Nurbaya.

"Jika demikian baiklah."

Setelah diselimuti oleh Nurbaya ayahnya, tidurlah si sakit mi.

Kemudian daripada itu, Samsu minta dirilah, hendak pulang ke

rumahnya.

"Nanti, aku katakan, bila aku akan menceritakan halku

kepadamu, Sam," kata Nurbaya, tatkala Samsu hendak keluar

dari bilik itu.

"Baiklah," jawab Samsu, lalu pulang ke rumah orang tuanya.

Pada keesokan malamnya, kelihatan Nurbaya duduk di

serambi muka rumahnya. Hari waktu itu kira-kira pukul

sembilan, bulan yang sebesar sisir itu, baru terbenam, hingga

malam hanya diterangi oleh bintang yang gemerlapan cahanya di

langit biru. Tetapi dalam pekarangan dan serambi muka rumah

Nurbaya, gelap, karena tak ada lampu dipasang. Hanya sinar

lentera, pada jalan besarlah, yang masuk mencrangi beberapa

tempat dalam pekarangan itu. Nurbaya yang duduk di beranda

muka, rupanya sebagai gelisah di tempat yang gelap itu, karena

sebentar-sebentar ia Menoleh ke rumah Samsu, sebagai ada

sesuatu yang ditunggunya dari sana.

Tidak berapa lamanya ia duduk sedemikian, kelihatanlah

sebagai bayang-bayang, orang berjalan, keluar dari pekarangan

rumah Sutan Mahmud, menuju ke rumah Nurbaya. Setelah

melihat bayang-bayang ini, berdirilah Nurbaya, lalu berjalan

perlahan-lahan, masuk ke dalam bilik ayahnya; kemudian keluar

pula dan turun ke pekarangan, menuju bangku, yang ada di

bawah pohon tanjung, seraya menoleh ke sana kemari, sebagai

takut, kalau-kalau ada orang yang melihat perbuatannya ini.

Setelah sampai ke bangku itu, duduklah ia bernanti. Tiada berapa

lama antaranya, tiba-tiba terdengarlah olehnya suara orang

berkata perlahan-lahan, "Engkaukah ini, Nur?"

"Ya, akulah," jawab Nurbaya.

"Tidakkah ada orang di sini, yang dapat mengintip kita dan

mendengar percakapan kita?" tanya orang itu pula.

"Pada sangkaku, tak ada," jawab Nurbaya, sambil menoleh

sekali lagi ke segenap pihak. Tetapi suatu pun tiada yang

kelihatan atau kedengaran olehnya. "Duduklah di sisiku ini,"

kata Nurbaya pula.

Orang itu duduklah di sisi Nurbaya, lalu berkata, "Bagaimana

ayahmu?"

"Rupanya ada bertambah baik, sebab makan pun mulai suka;

tetapi masih terlalu lemah dan kata doktet tadi, tak boleh ia

terlalu bergerak-gerak dan terkejut-kejut. Bila engkau telah

menjadi dokter, Samsu, alangkah baiknya! Tentulah engkau

sendiri dapat mengobatinya."

"Ya, Nur," jawab orang itu, yang sesungguhnya Samsu,

"tetapi waktu itu masih lama. Masih enam tahun lagi aku harus

belajar, barulah dapat menjadi dokter. Itu pun belum tentu pula;

entahlah jadi, entah tidak sebab waktu yang enam tahun itu

bukan sedikit lamanya, banyak yang, boleh terjadi, dalam waktu

yang selama itu."

"Mengapakah tiada menjadi?" tanya Nurbaya.

"Bagaimana boleh menjadi, jika penggodaan sebagai ini?

Penanggunganku, dalam setahun ini, hanya Allah yang

mengetahui. Berapa kali aku berasa kehabisan tenaga, untuk

melawan segala penggodaan itu; berapa kali aku bersangka; akan

kalah berperang dengan hawa nafsuku dan akan jatuhlah aku ke

dalam tangan setan iblis. Hanya dengan pertolongan Allah saja,

dapat kulayari lautan yang beranjau-ranjau ini, men-capai tanah

tepi. Sedang luka hatiku, karena bercerai dengan engkau belum

lagi sembuh, telah datang pula kejatuhan ayahmu Belum habis

aku memikirkan hal ini, datang pula suratmu, membawa kabar

yang meluluhlantakkan hati jantungku, memutuskan segala

pengharapanku.

Walaupun keduanya yang bermula itu masih dapat kulipur,

tapi kecelakaan yang akhir ini, memutuskan tali tempat aku bergantung,

merebahkan tiang tempat aku bersandar dan mematahkan

dahan tempat aku berpijak. Ketika itulah jatuh hukumanku

dan hilang pengharapanku, akan penghidupanku di kemudian

hari. Beberapa hari lamanya aku tak dapat belajar, karena sakit.

Tak tahu aku, apa sebabnya maka aku dapat juga naik ke kelas

dua. Pada sangkaku, tentulah aku akan tinggal di kelas satu,

sebab pelajaran tak keruan."

"Memang telah kusangka, tentulah engkau takkan senang

mendengar kabar ini. Tetapi apa boleh buat! Terpaksa aku

menulis surat itu. Jika tak kukabarkan hal itu kepadamu, takut

aku, kalau-kalau kaupersalahkan aku. Bagaimanakah halku, bila

engkau pun berpaling pula dari padaku?"

"Tentang hatiku, janganlah kau syak wasangka. Bukanlah

telah kukatakan dahulu kepadamu dan kujanjikan tadi kepada

ayahmu? Bagaimana aku akan berubah kata pula?"

"Sesungguhnyakah tiada berubah hatimu kepadaku, Sam?

Sesungguhnyalah hatimu itu masih suci dan bersih kepadaku,

sebab dahulu, sebelum terjadi perkara ini? Dan sesungguhnyakah

dapat kauberi ampun dan maaf aku, atas kesalahanku? Ataukah,

sebab engkau malu kepada ayahku dan karena hendak membesarkan

hatiku saja, engkau berjanji sedemikian? Katakanlah

yang sebenar-benarnya kepadaku, supaya tahulah aku, apa yang

akan kuperbuat sekarang ini," kata Nurbaya pula, simbil

memegang tangan Samsu dan memandang mukanya.

"Nurbaya, mengapakah engkau kurang percaya kepadaku?

Sudahkah aku berbuat dusta kepadamu? Dan bagaimanakah aku

boleh berkecil hati, dalam halmu ini? Sebab bukan kehendakmu

sendiri, melainkan karena teraniaya, engkau terpaksa berbuat

sedemikian. Janganlah kau syak lagi akan daku; lihatlah ke atas

langit. Bintang yang beribu-ribu, yang menabur langit itu saksiku,

bahwa aku waktu ini berkata benar."

"Jangan engkau marah kepadaku, Sam, sebab aku sebagai

tiada percaya lagi kepadamu. Bukan begitu hatiku: hanya sebab

otakku,yang sejak aku ditimpa timpa mara bahaya ini, telah

menjadi sakit, selalu pikiranku tiada keruan. Acap kali datang

niat yang jahat menggoda hatiku, yaitu hendak membunuh diri,

supaya lekas terlepas daripada siksaan ini. Akan tetapi, jika

datang ingatan kepadamu dan kepada ayahku, undurlah niatku

itu; takut aku akan duka-cita yang akan menimpa dirimu dan

ayahku, karena perbuatanku itu."

"Nur, janganlah ada pikiranmu yang sedemikian! Perbanyaklah

sabarmu dan tawakallah kepada Allah! Ingatlah akan pen

ajaran ayahmu! Engkau masih muda, masih lama akan hidup dan

masih banyak menaruh pengharapan. Janganlah putus asa!" kata

Samsu, akan membujuk Nurbaya.

"Sekalian itu memang benar, Sam. Tetapi apa dayaku, tak

dapat kutanggung rasanya azab yang sedemikian ini. Tak ada

perkataan, yang dapat menyatakan perasaan hatiku; bagaikan

putus rangkai jantungku, bagaikan lulus tempat berdiri, tergantung

di awang-awang, antara langit dengan bumi, antara

hidup dengan mati.

Bagaimana tiada begitu? Cobalah kaupikir! Aku harus duduk

dengan orang, yang bukannya tiada kusukai saja, tetapi orang

yang memutuskan pengharapan yang kuamalkan siang dan

malam, yang menceraikan aku dengan kekasihku, yang menganiaya

dan menjatuhkan ayahku, sampai sengsara serupa ini,

musuh ayahku dan musuhku yang sebesar-besarnya dan akhirnya

menjadi algojoku. Tambahan pula, orang yang umur, kepandaian,

kesukaan, tabiat dan kelakuannya, sekali-kali tiada sepadan

dengan aku. Sekali-kali ia tiada cinta kepadaku; hanya suka,

karena hendak memuaskan nafsunya yang keji itu saja. Bila telah

puas hatinya, tentulah akan dibuangnya aku, sebagai melemparkan

sampah ke pelimbahan; barangkali terus dibunuhnya aku,

jahanam itu!

Bagaimanakah dapat kusabarkan hatiku, bagaimanakah dapat

kusenangkan pikiranku, dan bagaimana pula dapat aku hidup

manis dengan orang yang sedemikian? Makin hari, makin kusut

pikiranku, makin bertambah dukacita dan sedih hatiku, dan

makin bertambah-tambah pula benci hatiku melihat rupanya. Tak

ada yang baik pada pemandanganku, tak ada yang enak pada

perasaanku. Makan tak sedap, tidur tak nyenyak, bangun pun

bertambah-tambah bingung. Rumah tangga, makanan dan

minuman, pakaian dan permainan, pendeknya sekalian yang

miliknya atau yang berasal dari padanya, bukannya dapat

melipur hatiku, hanya mendatangkan marah, sedih dan duka.

Betapa aku hidup, dengan orang yang sedemikian itu?

Jika hari telah malam, aku ingin, supaya lekas siang dan

apabila telah siang, kuharap pula, supaya lekas malam. Aku

minta, biar yang setahun ini menjadi sehari, dan yang sebulan

menjadi sejam; karena tak tahu, apa yang akan diperbuat dan tak

dapat melipur hati. Waktu yang sejam, sebagai sebulan rasanya

dan yang sehari serasa setahun. Sesungguhnya itulah neraka

dunia, yang sebenar-benarnya.

Maka berhentilah Nurbaya sebentar bertutur, karena hendak

menyapu air matanya, yang keluar dengan tiada dirasainya.

Samsu tiadalah dapat berkata-kata, sebab sedih mendengarkan

nasib adiknya ini.

"Oleh sebab itu, kupinta kepadamu, Sam," kata Nurbaya

pula, "bila engkau kelak beranak perempuan, janganlah sekalikali

kaupaksa kawin dengan laki-laki yang tiada disukainya.

Karena telah kurasai sendiri sekarang ini, bagaimana sakitnya,

susahnya dan tak enaknya, duduk dengan suami yang tiada

disukai. Tak heran aku, bila perempuan, yang bernasib sebagai

aku ini menjalankan pekerjaan yang tak baik, karena putus asa.

Aku ini, sudahlah; sebab terpaksa akan menolong ayahku. Tetapi

perempuan yang tiada semalang aku, janganlah dipaksa, menurut

kehendak hati ibu-bapa, sanak saudara sahaja, tentang perkawinannya,

dengan tiada mengindahkan kehendak, kesukaan,

umur, kepandaian, tabiat dan kelakuan anaknya. Karena tiada

siapa yang akan menanggung kesusahan kelak, jika tak baik

jadinya; melainkan yang kawin itu sendiri. Ibu-bapa atau kaum

keluarga sekedar akan melihat dari jauh. Bukankah sepatutnya

ditanyakan dahulu pikirannya, tentang perkawinan itu? Bukankah

anak perempuan itu mempunyai pikiran, perasaan, penglihatan

dan kesukaan juga sebagai perempuan yang lain?

Sungguhpun ibu-bapa tahu dan kenal akan anaknya, tetapi

yang terlebih mengetahui akan dirinya, tentulah anak itu sendiri

juga. Banyak ibu-bapa yang bersangka, bahwa ialah yang terlebih

mengetahui akan hal anaknya. Oleh sebab itu, pada sangkanya

haruslah anak itu menurut sekalian kemauan orang tuanya.

Ibu-bapa yang sedemikian, ialah ibu-bapa yang tiada menghargakan

anaknya. Dan apabila ia sendiri tak menghargakan

anaknya, janganlah ia berharap, menantunya atau orang lain,

akan mengindahkan anaknya. Dan janganlah pula ia berkecil

hati, bila laki-laki, memandang perempuan masih jauh di bawah

telapaknya, karena sesungguhnya belum dapat ia bertanding

dengan laki-laki, bila belum tahu ia akan harga dirinya sendiri.

Lagi pula, kalau benar anak dan menantu itu dapat turutmenurut

kelak, sehingga dapat kekal perkawinannya selamalamanya!

Jika tidak, bercerailah pula; padahal belanja entah

beberapa ribu telah habis, sampai setengahnya menggadai dan

menjual harta berhabis-habisan, untuk mengawinkan anak.

Bukankah sayang uang yang sebanyak itu, dibuang cumacuma?

Pada pikiranku, kewajiban ibu-bapa dalam hal perkawinan

anaknya pertama mengingat umur anaknya itu; sebab jika terlalu

muda dikawinkan, niscaya merusakkan badan anak itu dan

sekalian keturunannya. Di Indonesia ini, pada sangkaku anak

perempuan janganlah lebih muda dikawinkan daripada berumur

dua puluh tahun. Jangan seperti aku, baru berumur enam belas

tahun, telah terpaksa kawin. Makin tua, makin baik."

"Ya, tetapi pada sangka perempuan di sini, suatu keaiban,

kalau tak kawin muda-muda, sebagai tak laku," kata Samsu

dengan tiba-tiba.

"Persangkaan yang sedemikian, timbulnya daripada kebiasaan

yang tak baik. Bila nyata kepada kita, sesuatu adat salah,

mengapakah tak hendak dibuang, tetapi diturut saja, membuta

tuli? Lihatlah bangsa Barat! Terkadang-kadang, setelah berumur

tiga puluh tahun, baru kawin; tak ada orang yang menghinakan

mereka. Dan sesungguhnya, tatkala perempuan itu berumur tiga

puluh lima atau empat puluh tahun sekalipun, rupanya masih

muda, badannya masih tetap dan kukuh. Bila beranak umur

sekian, sempurnalah anak itu; menjadi orang yang sehat badan

dan pikirannya; tubuhnya besar dan umurnya pun panjang. Akan

tetapi perempuan di sini, umur tigapuluh tahun, terkadangkadang

telah bercucu. Itulah sebabnya maka dirinya sendiri dan

anaknya pun tiada sempurna dan akhirnya tentu bangsanyalah

yang menjadi kurang baik, sebab sekaliannya keturunan

perempuan muda, yang belum cukup umurnya.

Kedua, haruslah orang tua itu bertanya kepada anaknya,

sudahkah ada niatnya hendak kawin? Kalau belum, janganlah

dipaksa, supaya jangan menjadi huru-hara kemudian. Ada

perempuan yang belum mau mengikat dirinya dengan tali

perkawinan; sebab misalnya, masih suka bebas, sebagai anakanak,

atau sebabnya ada sesuatu maksudnya, yang menjadi

alangan kepada perkawinannya.

Ketiga, haruslah ditanyakan, sukakah ia kepada jodohnya itu

atau tiada. Yang sebaik-baiknya, tentulah anak itu sendiri

mencari jodohnya. Bukannya aku berkehendak, supaya

perempuan bangsa kita, dibebaskan seperti perempuan Barat,

siang malam bercampur gaul dengan laki-laki. Tidak, karena

adat Barat itu kurang baik bagi bangsa kita. Tetapi kedua mereka

yang dikawinkan itu, baiklah berkenal-kenalan dahulu; biar yang

seorang tahu benar akan yang seorang. Jika khawatir akan

sesuatu bahaya, jagalah anak perempuan itu baik-baik, jangan

terlalu banyak diberi bercampur dengan tunangannya.

Cukuplah sekadar belajar kenal saja. Dan jika tak suka atau

khawatir anak itu akan salah mencari jodohnya sendiri,

pilihkanlah dahulu yang baik pada pikiran orang tuanya. Akan

tetapi sesudah itu haruslah ditanyakan juga kepada anak itu,

sukakah ia kepada pilihan orang tuanya ini. Tetapi sebaikbaiknya

pertemukanlah keduanya, supaya jangan tatkala

dikawinkan itu saja masing-masing baru dapat melihat rupa

jodohnya."

"Kata orang tua-tua, cinta itu akan datang juga kelak bila

telah kawin," kata Samsu dengan tersenyum.

"Tiada selamanya," jawab Nurbaya. "Bagaimana dapat aku

mencintai orang, yang sebagai batuk Meringgih ini? Apakah

yang akan dapat menarik hatiku? Tak ada suatu pun yang

berpadanan dan bersamaan dengan daku.

Keempat haruslah umumya berpadanan; tua laki-laki sedikit.

telah lazim; sama tua baik juga; tua pun yang perempuan sedikit,

tak mengapa, asal jangan terlalu amat besar perbedaan mereka.

Laki-laki yang berumur lima puluh tahun dengan perempuan

yang berumur enam belas atau nenek-nenek yang berumur

limapuluh tahun dengan laki-laki yang berumur dua puluh tahun,

tentu saja tak sepadan. Itulah yang menjadi duri dalam daging,

yang selalu terasa-rasa oleh yang muda. Oleh sebab itu acap kali

ia tiada setia; berpaling hatinya kepada yang lain yang sebaya

dengan dia. Yang tua itu pun, terkadang-kadang tak senang pula

hatinya; malu kepada orang, sebab jodoh yang sangat besar

perbedaannya itu, tentulah menjadi buah tutur orang segenap

negeri.

Lagi pula, orang yang telah tua itu, berlainan pikiran,

kemauan, kesukaan, kelakuan, tabiat adat dan kepandaiannya

dengan yang muda. Kemauan yang tua misalnya jangan terlalu

banyak berjalan, karena kekuatannya tiada seberapa lagi, tetapi

yang muda, itulah yang dikehendakinya, karena tak betah selalu

di rumah. Kesukaan yang muda misalnya, makanan yang keraskeras;

tetapi si tua tak dapat memakan makanan itu, walaupun

masih ingin, karena giginya tak ada lagi. Yang tua, biasanya tua

pula fahamnya, tetapi yang muda, masih suka beriang-riang,

bermain-main dan bersenda gurau. Tabiat dan adat pun acap kali

berubah, bila umur telah tua. Aku masih menghargai segala

keelokan dan kesenangan, tetapi Datuk Meringgih ini, ingatan

dan pikirannya tiada lain melainkan kepada uang dan

pemiagaannya. Apa gunanya itu bagiku, bila tiada dapat kupakai

untuk memenuhi segala keinginan hatiku? Sekalian itu harus

diingat pula oleh ibu-bapa, yang hendak mengawinkan anaknya,

karena sangatlah susahnya akan menyamakan sifat dan kelakuan

yang berbeda-beda itu.

Kepandaian harus pula sama, supaya dapat berunding dan

bercakap-cakap dalam segala hal. Jika yang seorang pandai dan

yang seorang bodoh, terkadang-kadang yang pandai menjadi

sombong dan yang bodoh bersedih hati. Demikian pula tentang

kekayaan dan bangsa. Jika si laki-laki berbangsa tinggi dan si

perempuan orang biasa saja, rendahlah dipandangnya istrinya,

dan bila si laki-laki kaya, tetapi istrinya seorang yang miskin,

mudah disia-siakannya perempuannya itu.

Rupanya janganlah berbeda sebagai malam dengan siang;

karena itu pun boleh pula mendatangkan hal-hal yang kurang

baik. Akhirnya, harus diingat akan besar dan tinggi badan.

Adakah tampan pada pernandangan mata bila gajah yang besar

tinggi, dipersandingkan dengan tikus yang kecil kerdil? Ingatlah,

kedua mereka itu harus menjadi satu, pasangan yang baik dari

badan yang dua.

Sebagai kaulihat, tak mudah dapat mencari jodoh yang sejoli.

Itulah sebabnya perkawinan itu suatu hal yang penting; tak baik

dipermudah, sebagai dilakukan oleh bangsa kita. Karena

kesenangan dan keselamatan orang berlaki-istri dan berumah

tangga, hanya dapat diperoleh, bila si laki-laki dan si perempuan

dalam segala hal dapat bersetujuan. Dalam hal yang demikian,

menjadilah rumah tangganya surga dunia, yang mendatangkan

kesukaan, kesenangan, cinta kasih sayang, selama-lamanya. Dan

bila telah beranak, bertambah-tambahlah kesenangan dan

kesukaan itu. Tetapi jika tiada begitu, menjadilah rumah tangga

itu neraka jahanain, yang selalu menimbulkan perselisihan,

perkelahian, benci, amarah, sedih, susah. terkadang-kadang

bencana dan bahaya yang disudahi dengan perceraian."

"Terlebih-lebih bagi laki-laki yang harus membanting tulang

untuk memperoleh kehidupannya," kata Samsu, "sangat berharga

kesenangan dalam rumah itu, karena bila ia pulang dari

pekerjaannya dengan lelah payah, dan didapatinya di dalam

rumahnya penglipur hatinya, niscaya berobatlah lelahnya dan

dengan riang hatilah ia pada keesokan harinya menjalankan

pekerjaannya yang berat itu. Dengan dernikian, tiadalah akan

dirasainya keberatan pekerjaannya itu dan tetaplah sehat

badannya serta panjanglah umurnya. .

Bila tak ada yang seperti ini sengsaralah kehidupannya.

Sesudah ia menderita kelelehan dalarn pekerjaannya, tatkala

sampai ke rumah, kusut dan keruh pula yang dihidangkan oleh

anak-istrinya. Tiada heran, jika laki-laki yang serupa itu, tiada

betah di rumahnya; sebagai takut ia kepada tempat kediamannya

yang tetap itu. Oleh sebab itu larilah ia ke luar, mencari

penglipur hatinya di mana-mana. lnilah yang acap kali

menjadikan laki-laki itu jahat dan bengis kelakuannya, suka

berbuat yang tidak senonoh."

"Memang tugas perempuan tiada mudah," jawab Nurbaya,

"harus pandai menarik dan melipur hati suaminya; bukan dengan

wajah yang cantik saja, tetapi juga dengan kelakuan yang baik,

peraturan yang sempurna dan kepandaian yang cukup."

"Laki-laki, begitu pula," kata Samsu, "harus pandai membimbing

anak-istrinya, supaya betah dalam rumahnya dan

dengan riang dan suka hati, menjalankan kewajibannya. Sekalian

yang dapat menghiburkan hati, harus diadakan; sebab, apabila

perempuan tak betah lagi dalam rumahnya, bertambahtambahlah

celakanya, karena tak ada tempat lain, yang dapat

menyenangkan hatinya..."

"Sesungguhnya hal ini kurang diperhatikan oleh bangsa kita,"

kata Samsu pula, setelah berhenti sejurus. "Itulah sebabnya agaknya,

acap kali terjadi perceraian dalam negeri kita, sehingga lakilaki

atau perempuan sampai beberapa kali kawin."

"Bukan itu saja, tetapi selagi talak dipegang laki-laki saja dan

laki-laki boleh beristri sampai beberapa orang, susahlah akan

mengubah hal itu." kata Nurbaya.

"Memang, itu pun tak adil pula," sahut Samsu.

"Jika perempuan yang memegang talak, dan aku tiada terikat

oleh ayahku, niscaya tiada kupanjangkan jodoh ini. Tetapi, apa

hendak kuperbuat? Aku terikat pada tangan dan kaki... Tiadakah

kasihan engkau kepadaku, Sam? Tak adakah akal, supaya lepas

aku dari ikatan ini? Dengarlah olehmu pantun nasibku ini:

"Di sawah jangan memukat ikan,

ikan bersarang dalam padi.

Susah tak dapat dikatakan,

ditanggung saja dalam hati.

Gantungan dua tergantung,

tergantung di atas peti.

Ditanggung tidak tertanggung,

sakit memutus rangkai hati.

Buah pinang di dalam puan,

tumpul kacip asah di batu.

Tidaklah iba gerangan tuan,

kepada adik yatim piatu?

Labuk baik kuala dalam,

pasir sepanjang muaraqya,

Buruk baik minta digenggam,

badanlah banyak sengsaranya.

Ikatkan mati pisang berjantung,

hunus keris letakkan dia.

Niat hati hendak bergantung,

putus tali apakan daya."

"Nur sabarlah dahulu! Bukan aku tak kasihan kepadamu,

hanya pada waktu ini belum dapat kita berbuat apa-apa, karena

ikatannya sangat keras. Senangkanlah dahulu hatimu! Kelak

akan kucari muslihat yang baik. Sekarang hanya bersama-sama

kita berdoa kepada Allah, supaya lekas engkau terlepas dari

ikatan ini. Sst, diam! Apakah itu! Sebagai ada bunyi apa-apa di

luar pagar itu?" kata Samsu tiba-tiba, serta menoleh ke tempat

bunyi itu. Akan tetapi tiada suatu apa pun yang kelihatan

olehnya.

"Barangkali katak atau binatang kecil-kecil yang mencari

makanannya," jawab Nurbaya, lalu menyambung percakapannya

dengan Samsu. "Siapakah yang menyangka, Sam, tatkala kita

setahun yang telah lalu, duduk di atas bangku ini, dengan

pengharapan yang besar, akan jadi sebagai sekarang ini hal kita?

Apakah jadinya cita-cira kita itu dan adakah akan dapat

disampaikan pula? Dengarlah pantun ini:

"Dari Perak ke negeri Rum,

berlayar lalu ke kuala.

Jangan diharap untung yang belum,

sudah tergenggam terlepas pula.

Orang Pagai mencari lokan,

kembanglah bunga serikaya.

Aku sebagai anak ikan,

kering pasang apakan daya.

Singapura kersik berderai,

tempat ketam lari berlari.

Air mata jatuh berderai,

sedihkan untung badan sendiri.

Berbunyi kerbau Rangkas Betung,

berbunyi memanggil kawan.

Menangis aku menyadar untung,

untungku jauh dari awan.

Berlayar dari Teluk Betung,

Anak Bogor mencari tiram.

Apa kuharap kepada untung,

perahu bocor menanti karam.

Tikar pandan dua berlapis,

dilipat digulung anak Bangka.

Sesal di badan tidak habis,

karena untung yang celaka."

Disabarkanlah Nurbaya oleh Samsu dengan pantun yang di

bawah ini:

"Jangan disesal pada tudung,

tudung saji teredak Bantan.

Jangan disesal kepada untung,

sudah nasib permintaan badan. '

Ke rimba berburu kera,

dapatlah anak kambing jantan.

Sudah nasib apakan daya,

demikian sudah permintaan badan.

Sudah begitu tarah papan,

bersudut empat persegi.

Sudah begitu permintaan badan,

sudah tersurat pada dahi.

Dikerat rotan belah tiga,

Nakoda belayar dekat Jawa.

Jangan diturut hati yang luka,

binasa badan dengan nyawa."

Dijawab oleh Nurbaya:

"Berkota kampung Padang Besi,

Tempat orang duduk berjaga.

Cintamu jangan dihabisi,

Sehelai rambut tinggalkan juga."

Dibalas pula oleh Samsu:

"Jika menjahit duduk di pintu

jarumnya jangan dipatahkan.

Cintaku suci sudahlah tentu,

sedikit belum diubahkan.

Bang dahulu maka kamat,

takbir baru orang sembahyang.

Bercerai Allah dengan Muhammad,

baru bercerai kasih sayang.

Berbunyi meriam Tanah Jawa,

orang Belanda mati berperang.

Haram kakanda berhati dua

cinta kepada Adik seorang."

Mendengar pantun ini, tiadalah tertahan oleh Nurbaya

hatinya lagi, lalu dipeluknya Samsu dan diciumnya pipinya.

Dibalas oleh Samsu cium kekasihnya ini dengan pelukan yang

hasrat. Di dalam berpeluk dan bercium-ciuman itu, tiba-tiba terdengar

di belakang mereka, suara Datuk Meringgih berkata

demikian, "Itulah sebabnya, maka keras benar hatimu akan

pulang, dan tiada hendak berbalik kepadaku. Bukannya hendak

menjaga ayahmu, sebagai katamu, hanya akan bersenangsenangkan

diri ddngan kekasihmu. Inilah perbuatan kaum muda,

kaum yang terpelajar, yang beradat sopan santun, tetapi memperdayakan

suami, supaya dapat bersenda gurau dengan laki-laki, di

tempat yang gelap, sedang ayah sendiri, sakit keras. Inilah

rupanya kelebihan kaum muda daripada kami kaum kuno. Inilah

yang dipelajari di sekolah tinggi, dengan belanja dan susah

payah yang tida sedikit. Jika serupa ini, benar juga pikiran kami

kaum kuno: kemajuan kaum muda itu, bukan akan meninggikan

derajatnya, bahkan akan membawanya dari tempat yang mulia

ke tempat yang hina; membusukkan nama yang harum,

menghilangkan derajat dan kemuliaan perempuan, sedang adat

dan kepandaian lama, yang berfaedah bagi perempuan disiasiakan.

Tak harus perempuan yang sedemikian dimajukan."

Ketika itu terperanjatlah Samsu dan Nurbaya, lalu berdirilah

Samsu di muka Nurbaya akan melindunginya. Oleh sebab bencinya

Samsu kepada Datuk Meringgih ini, karena teringat akan

sumpahnya di Jakarta, tiadalah dapat ditahannya hatinya lagi lalu

menjawab, "Tak perlu engkau berkata begitu! Bercerminlah

engkau kepada badanmu sendiri! Adakah engkau sendiri berlaku

sopan santun berhati lurus dan benar, tahu adat istiadat? Jika ada

iblis yang sejahat jahatnya di atas dunia ini, tentu engkaulah iblis

itu."

Mendengar maki nista ini, merah padamlah muka Datuk

Meringgih, lalu diangkatnya tongkatnya dan dipalukannya

kepada Samsu. Tetapi tatkala itu juga Samsu melompat ke kiri,

seraya menarik Nurbaya, sehingga palu Datuk Meringgih itu

jatuh mengenai bangku, tempat mereka duduk tadi dan dengan

segera Samsu melompat ke hadapan, meninju muka Datuk

Meringgih dengan kedua belah tangannya berturut-turut, serta

kakinya pun menendang perut lawannya ini, sehingga jatuhlah

Datuk Meringgih, terbanting ke tanah, lalu berteriak minta

tolong, "Pendekar Lima, tolong aku!'

Seketika itu juga, datanglah seorang-orang yang berpakaian

serba hitam, dari tempat yang gelap, memburu Samsu dengan

sebilah keris terhunus di tangannya. Melihat bahaya yang akan

menimpa Samsu ini, menjeritlah Nurbaya sekuat-kuatnya, minta

tolong, sehingga bergemparanlah orang sebelah menyebelah,

terperanjat, berlari-lari ke luar.

Tatkala dilihat Samsu keris Pendekat Lima ditikamkan

kepadanya, melompatlah ia ke sisi dengan merendahkan dirinya,

lalu menyepak tangan Pendekar Lima, sehingga terpelantinglah

senjata itu ke udara. Pendekar Lima tak dapat menyerang Samsu

lagi, karena dilihatnya orang berlari-lari datang ke sana, lalu

larilah ia menyembunyikan dirinya.

Sekalian orang yang datang yang di antaranya ada ayah

Samsu bertanya, apakah sebabnya maka berteriak minta tolong?

Akan tetapi seorang pun tiada menyahut. Oleh sebab itu,

bertanyalah Sutan Mahmud kepada Datuk Meringgih, apakah

yang telah terjadi.

"Tanyakanlah kepada anak Tuanku! Setelah diperdayakan

hamba bersama-sarna istri hamba, dipukulnya pula hamba,"

jawab Datuk Meringgih.

Sutan Mahmud maklum, apa maksud pekataan Datuk

Meringgih ini dan ia sangatlah malu akan kelakuan anaknya.

Oleh sebab itu berkatalah ia, "Percayalah Engku, perkara ini

akan hamba periksa benar-benar. Siapa yang bersalah, tentulah

tiada akan luput dari hukuman, walaupun anak hamba

sekalipun." Lalu pulanglah ia membawa Samsu ke rumahnya.

Setelah berangkat Sutan Mahmud, kelihatan Baginda

Sulaiman keluar dari biliknya, karena ia sangat terperanjat, mendengar

suara anaknya minta tolong, sehingga ia bangun dari

tempat tidumya. Walaupun badannya sangat lemah, sehingga ia

dilarang dokter bergerak-gerak, tetapi karena ia takut anaknya

akan mendapat kecelakaan, lupalah ia akan dirinya. Tatkala ia

hendak turun di tangga yang gelap itu, jatuhlah ia tergulingguling

ke bawah. Melihat hal ayahnya ini, berlari-larilah

Nurbaya dengan beberapa orang, akan menolong Baginda

Sulaiman. Akan tetapi, ketika diangkat, nyatalah orang tua itu,

telah berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!

Maka menjeritlah Nurbaya menangis tersedu-sedu dengan

mengempas-empaskan dirinya, tak dapat disabarkan lagi, lalu

jatuh pingsan. Mayat Baginda Sulaiman dan Nurbaya yang

pingsan, diangkat oranglah ke dalam rumahnya, dibaringkan di

ruang tengah dan Nurbaya dibawa masuk ke dalam biliknya.

Setelah dibasahi orang kepala Nurbaya dan diciumkan minyak

kelonyo ke hidungnya, barulah ia sadarkan dirinya pula, lalu

meratap amat sedih.

"Tak perlu engkau menangis," kata Datuk Meringgih,

"karena salahmu sendiri. Engkaulah yang membunuh ayahmu."

Mendengar tempelak ini, berdirilah Nurbaya sekonyongkonyong.

Air mukanya yang sedih itu hilang sekaliannya, bertukar

dengan marah yang amat sangat. Air matanya kering,

matanya yang telah merah, karena menangis, bertambah-tambah

merah, bibir dan sekujur badannya gemetar. Sangatlah dahsyat

rupanya pada waktu itu, seakan-akan singa yang kelaparan,

hendak menerkam musuhnya.

"Apa katamu?" kata Nurbaya. "Aku membunuh ayahku,

celaka? Engkau yang membunuhnya! Pada sangkamu aku tiada

tahu, perbuatanmu yang keji itu kepada ayahku? Engkaulah yang

menjatuhkan dia, karena dengki khianatmu dan busuk hatimu.

Perbuatanmulah, maka toko ayahku terbakar, perahunya

tenggelam kelapanya mati, sekalian langganannya tak hendak

mengambil barang-barang dari padanya lagi, serta mungkir

membayar utangnya dan segala orangnya lari, merribawa uang

ayahku. Tatkala ayahku telah jatuh miskin, pura-pura kautolong

ia dengan meminjamkan uang kepadanya, tetapi maksudmu yang

sebenarnya, hendak menjerumuskannya ke jurang yang terlebih

dalam, karena hatimu yang terlebih bengis daripada setan itu,

belum puas lagi. Aku pun kauseret pula ke dalam kekejian, untuk

memuaskan kan hawa nafsumu, yang terlebih hina pada hawa

nafsu hewan. Sekarang ayahku telah mati; barulah senang

hatimu, bukan? Akan tetapi pada waktu inilah pula, aku terlepas

dari tanganmu, hai bangsat! Aku dahulu menurut kehendakmu,

karena hendak membela ayahku, supaya jangan sampai engkau

penjarakan dia. Sekarang ayahku tak ada lagi, putus pula

sekalian tali yang mengikatkan aku kepadamu. Janganlah engkau

harap, aku akan kembali kepadamu. Manusia yang sebagai

engkau, tiada layak bagiku. Rupamu sebagai hantu pemburu,

tuamu sama dengan nenekku, tabiatmu terlebih jahat dari tabiat

binatang yang buas. Apa yang dapat kupandang padamu?

Uangmu yang engkau peroleh dengan tipu daya, darah keringat

mereka yang telah engkau aniaya itu? Apa gunanya uang itu

bagiku? Karena kikirmu, engkau sendiri pun tak dapat memakai

uang itu. Siapa tahu barangkali hartamu itu kau peroleh dengan

jalan mencuri dan menyamun. Seram badanku, jika kuingat akan

hal itu. Daripada bersuamikan engkau, terlebih suka aku

bersuamikan anjing. Nyah engkau dari sini! Tiada sudi aku

memandang engkau sebelah mata pun, terlebih daripada aku

melihat najis. Cis! Ceraikan aku sekarang ini juga! Jika tiada,

bukanlah laki-laki."

"Jangan engkau lupa, ayahmu berutang kepadaku. Oleh sebab

itu rumah ini, akulah yang punya dan berkuasa atasnya. Jadi

bukan engkau yang dapat mengusir aku, tetapi akulah yang harus

mengusir engkau dari sini. Jika banyak juga mulutmu, tentu

malam ini juga kukeluarkan engkau dengan ayahmu sekali, dari

rumah ini," jawab Datuk Meringgih, yang pucat mukanya karena

menahan marahnya.

"Apa katamu? Rumah dan sekalian barang ini, bukan harta

ayahku, melainkan milikku sendiri, karena tertulis di atas

namaku. Tiada siapa berkuasa atasnya, melainkan aku seorang.

Kalau benar engkau laki-laki dan berkuasa atas rumah ini,

cobalah kaukeluarkan aku dari sini!" lalu Nurbaya mengambil

palang pintu, sambil berkata, "Tandanya aku berkuasa atas

rumah ini, kuusir engkau seperti anjing dari sini. Bila lama juga

engkau di sini, takkan tiada makanlah palang pintu ini kepalamu

yang besar, sulah dan beruban itu," lalu Nurbaya menghampiri

Datuk Meringgih, sambil mengayunkan palang pintu ke kepalanya;

tetapi lekaslah ia dipegang orang, disabarkan dengan perkataan

yang lemah-lembut.

Datuk Meringgih turun dari rumah Nurbaya, seraya berkata,

"Nanti!" lalu pulang ke rumahnya.

Sepanjang jalan tiada lain yang dipikirkan, melainkan jalan

akan membinasakan Nurbaya.

Tatkala Datuk Meringgih diusir oleh Nurbaya dari rumahnya,

ketika itu pula Samsu diusir oleh ayahnya dari rumahnya.

Demikian kata Sutan Mahmud kepada anaknya, "Perbuatanmu

ini sangat memberi malu aku, sebab tak patut sekali-kali. Ke

manakah akan kusembunyikan mukaku? Bagaimanakah aku

akan menghapus arang yang telah kaucorengkan pada mukaku

ini? Perbuatan yang sedemikian, bukanlah perbuatan orang yang

berbangsa, anak orang yang berpangkat tinggi, orang yang

terpelajar, melainkan pekerjaan orang yang hina, yang tak tahu

adat dan kelakuan yang baik. Pada sangkaku, engkau bukan

masuk bangsa yang kedua itu.

Namaku yang baik selama ini, yang dimuliakan dan

dihormati orang, bangsaku yang tinggi dan belum bercacat,

sekarang kau kotorkan dengan noda yang tak dapat dihapus lagi.

Inikah balas usahaku memajukan engkau, sampai ke mana-mana.

Inikah buah pelajaran yang engkau peroleh di sekolahmu?

Sayang aku, akan uangku yang sekian banyaknya, yang telah

kukeluarkan, untuk mendidik dan memandaikan engkau. Inikah

yang engkau pelajari di Jakarta? Pelajaranmu belum tentu lagi,

pekerjaan yang sedemikian telah kauperbuat."

Setelah berhenti sejurus, berkata pula Sutan Mahmud,

"Kesalahanmu ini tak dapat kuampuni, karena sangat memberi

aib. Pergilah engkau dari sini! Sebab aku tak hendak mengakui

engkau lagi. Yang berbuat demikian, bukan anakku."

Samsulbahri tiada menyahut sepatah pun perkataan ayahnya

ini, melainkan tunduk berdukacita. Hanya ibunyalah yang

menangis tatkala mendengar anaknya diusir oleh suaminya.

"Jika engkau pun hendak mengikuti anakmu, pergilah

bersama-sama! Aku tak hendak melihatnya lagi," kata Sutan

Mahmud pula kepada istrinya, lalu turun dari rumahnya, pergi ke

rumah saudaranya di Alang Lawas:

Setelah berangkat Sutan Mahmud, dibujuklah Samsulbahri

oleh ibunya dengan beberapa perkataan yang manis-manis,

supaya jangan dimasukkannya ke dalam hatinya, amarah

ayahnya itu. Akan tetapi Samsulbahri tiada menyahut pula

melainkan minta masuk ke biliknya, karena sangat mengantuk,

hendak tidur katanya.

Mendengar permintaan anaknya ini hilanglah kuatir Sitti

Maryam. Pada sangkanya, tiada diindahkan Samsu amarah

ayahnya tadi. Tetapi sebenarnya Samsu semalam-malaman itu

tiada dapat memejamkan matanya, barang sekejap pun; melainkan

menangislah ia dengan amat sedih mengenangkan nasibnya

dan nasib Nurbaya kekasihnya yang malang itu. Tatkala hari

telah pukul tiga malam, bangunlah ia perlahan-lahan dari tempat

tidurnya, lalu dimasukkannya sekalian pakaiannya ke dalam

petinya dan keluarlah ia dari jendela biliknya. Setelah sampai ke

pintu pekarangan rumah orang tuanya, menolehlah ia ke

belakang, ke rumah itu dan rumah Nurbaya, lalu berhenti sejurus

lamanya dan berkata perlahan-lahan, "Selamat tinggal Ibu dan

kekasihku! Aku hendak berjalan, barang ke mana dibawa nasibku

yang malang ini. Jika ada umurku panjang, mungkin akan

bertemu juga kita dalam dunia ini; jika tidak, bernanti-nantilah

kita di akhirat. Di sanalah kita dapat bertemu pula, bercampur

selama-lamanya, tiada bercerai lagi.

Tatkala ia berkata-kata sedemikian, bercucuranlah air matanya,

karena hatinya sangat sedih. Terlebih-lebih, sebab sebagai

adalah suatu perasaan yang timbul dalam hatinya, yang

mengatakan, ia tiada akan dapat bertemu lagi dengan kedua

perempuan yang sangat dicintainya ini. Kemudian berjalanlah ia

menuju pelabuhanTeluk Bayur. Walaupun hari amat gelap dan

jalan amat sunyi tetapi tiadalah ia merasa takut, sebab pikirannya

masih terikat kepada hal yang baru terjadi itu. Kira-kira pukul

lima pagi, sampailah ia ke pelabuhan Teluk Bayur, lalu naik

kapal yang akan berlayar hari itu ke Jakarta. Karena takut akan

diketahui orang, yang barangkali mengikutinya dari belakang,

bersembunyilah ia dalam sebuah kamar kelasi kapal yang dikenalnya.

Pukul tujuh pagi diangkatlah jangkar dan berlayarlah kapal

itu menuju pelabuhan Tanjung Periuk.

Ketika diketahui oleh ibunya pada keesokan harinya, bahwa

anaknya tak ada lagi, ributlah ia menyuruh cari ke sana kemari,

tetapi tiadalah bertemu, dan seorang pun tiada tahu ke mana

perginya. Sebab sedih hatinya, berangkatlah ia tiga hari

kemudian ke Padang Panjang, ke rumah saudaranya. Di sanapun

rupanya tak dapat dilipurnya hatinya, sehingga badannya makin

lama makin kurus dan akhirnya jatuhlah ia sakit, karena

bercintakan anaknya.

X. KENANG-KENANGAN KEPADA SAMSULBAHRI

Hari kira-kira pukul setengah tujuh, petang berebut dengan senja,

siang hampir akan hilang, malam hampir akan datang. Matahari

yang telah menjalankan kewajibannya, yakni memberi cahaya

dan panas kepada muka bumi yang sebelah timur, telah setengah

jam lamanya terbenam ke bawah ujung langit, yang sebelah

barat. Hanya bekas jejaknyalah yang masih kelihatan,

mengembang dari tempat silamnya, ke atas, sebagai kipas besar,

yang memancarkan bermacam-macam sinar yang permai warnanya.

Bintang kejora, mulai bercahaya, sebagai suatu mustika,

yang bersinar di tempat gelap. Bin-, tang yang lain pun, mulai

pula gemerlapan cahayanya, sebagai berlian pada peniti, yang

selalu digoyang oleh pegas. Burung-burung yang melayang di

udara, sekaliannya telah mencari sarangnya masing-masing, akan

melepaskan lelahnya, sebab bekerja berat sehari-hari itu mencari

rezeki, untuk kehidupannya, sehingga perlulah ia beristirahat,

akan mengumpulkan tenaganya untuk keesokan harinya. Hanya

burung murailah yang masih kedengaran kicau mengicau di

puncak kayu, sebagai hendak mengucapkan selamat tidur kepada

kawan-kawannya. Demikian pula ayam jantan, masih ada di luar

kandangnya, menoleh ke segenap tempat, seolah-olah hendak

mengetahui, sudahkah masuk sekalian anak dan bininya ke

dalam kandangnya. Tetapi induk ayam, telah lama ada di tempatnya,

mengeram akan memanaskan anak-anaknya yang masih

kecil. Kelelawar telah meninggalkan tempatnya pula, terbang

kian kemari dengan tiada kedengaran bunyi kelepaknya, memburu

kelekatu yang melayang di segala tempat. Di bawah pohon

kayu, kedengaran kumbang, terbang mencari mangsanya. Kupukupu

malam kelihatan mengembangkan sayapnya yang berukirukiran

itu, melayang ke atas dan ke bawah, terbang dipikat

bunga sedap malam. Cengkerik pun mulai pula mengerit,

seakan-akan orang yang sedang asyik mengaji dan berzikir di

surau.

Sekonyong-konyong timbullah di sebelah timur, dari puncak

gunung yang tinggi, perlahan-lahan dengan tiada berasa

jalannya, putri malam yang cantik molek itu, sebagai bidadari

baru turun dari kayangan. Datangnya itu adalah diiringkan oleh

dayang pengasuhnya, yakni bintang-bintang yang mengelilinginya

dan diwakili oleh beberapa pahlawan hulubalangnya, yaitu

awan dan mega yang memagarinya. Maksudnya menjelma itu,

ialah akan menunjukkan wajahnya yang gilang-gemilang,

kepada bumi, yang disinarinya dengan sinar yang lembut dan

segar.

Alangkah senang dan sentosanya hati dan perasaan sekalian

mahluk di muka bumi, menyambut kedatangan putri kamariah

ini, sehingga terlipur rasanya duka nestapa mereka, karena ditinggalkan

kekasihnya, raja siang itu. Amat indah paras mukanya

yang bundar jemih itu, sebagai emas bam disepuh, melimpahkan

cahayanya yang hening dan bening, sampai ke bawah-bawah

pohon kayu dan ke celah-celah batu. Sekalian hamba Allah, tua

muda, besar kecil, yang mula-mulanya hendak mencari tilam dan

kasurnya, akan melepaskan lelahnya, karena peperangan di

padang penghidupan yang baru dilakukannya, tertariklah

kembali ke luar, sebab hendak merasai kesenangan dan

kesedapan yang dikaruniakan oleh putri malam ini. Anak-anak

yang biasanya telah mendekur di tempat tidur, keluarlah bermain-

main, berkejar-kejaran dan bernyanyi di malam sunyi dan

piatu itu. Di muka rumah, banyak orang duduk bercakap-cakap

dengan anak dan istrinya atau sahabat kenalannya, membicarakan

hal-ihwal yang telah lalu atau sesuatu yang akan datang.

Di tepi laut kota Padang, terbayang-bayang di atas beberapa

bangku sebagai orang duduk berdekatan, bercakap perlahanlahan.

Siapakah mereka, yang telah sengaja mencari tempat yang

sunyi-senyap ini, sebagai takut akan diganggu orang? Itulah

asyik dan masyuknya, yang sedang melepaskan dahaga cinta

berahinya. Mereka tiada ingat lagi akan dirinya dan tiada mengindahkan

sekalian yang mengelilinginya; sebagai tak adalah

baginya makhluk di atas dunia ini, lain daripadanya berdua. Dan

sesungguhnya, mereka itulah orang sesenang-senang dan

semujur-mujur manusia waktu itu. Disuluhi oleh cahaya yang

permai, dinyanyikan oleh geloinbang yang menderu-deru

memecah di tepi pantai, tersembunyi di tempat yang lengang,

bebas daripada segala keramaian, penglihatan dan pendengaran,

memang dapatlah mereka merasai kenikmatan asmara sepenuhpenuhnya.

Di jalan raya, kelihatan kereta;kereta ditarik oleh kuda yang

besar-besar, bersiar-siar perlahan-lahan kian kemari. Di pinggir

jalan yang dilindungi pohon yang rindang-rindang, kelihatan

beberapa orang bangsa Barat, berjalan berpegang-pegangan

tangan dengan istrinya, akan mengambil hawa yang sedap.

Akan tetapi, bila kedua asyik dan masyuk itu berjauh jauhan,

seorang dengan yang lain, hilanglah segala kesenangan dan

kesukaan tadi, berganti dengan duka dan sedih, yang menghancurkan

hati. Segala yang pada waktu itu menambahkan

kesukaan dan kesenangan, seperti tempat yang sunyi senyap,

cahaya bulan yang permai, gelombang yang memecah di pasir

pantai, angin yang bertiup sepoi-sepoi, sekalian itu akan terbalik

menambahkan rindu dendam, yang disertai oleh sedih dan pilu

yang amat sangat.

Demikian pula bagi dagang yang jauh di rantau orang,

sekalian itu acap kali mendatangkan kesedihan hati serta rindu

dendam yang tiada terkira-kira; karena teringat akan tanah air,

rumah tangga, kampung halaman, ibu-bapa, sanak saudara, kaum

keluarga, handai dan tolan, yang telah lama luput dari mata,

tetapi tiada kunjung hilang dari hati. Terlebih-lebih jika teringat

bahwa Allah sajalah yang mengetahui akan untung manusia itu,

entahkan terjejak kembali tanah tepi, entahkan tersangkut di

rantau orang, sebagai kata pantun:

Bergetah tangan kena cempedak,

digosok dengan bunga karang.

Entah berbalik entah tidak,

entah hilang di rantau orang.

Jarang berbunga tapak leman,

orang Padang mandi ke pulau.

Orang berkampung bersalaman,

dagang membilang teluk rantau.

Makin lama, makin malam, dan bulan pun mengambang kian

bertambah-tambah tinggi. Anak-anak yang bermain-main bersorak-

sorak tadi, tiadalah kedengaran lagi suaranya, karena telah

lama berselimut di tempat tidurnya. Orang yang duduk bercakapcakap

di muka rumahnya tiada pula kelihatan lagi; masingmasing

telah masuk ke dalam rumahnya. Di jalan besar, bendibendi

telah mulai kurang, dan orang pun hampir tak ada lagi.

Tiada lama kemudian daripada itu sunyi senyaplah jalan raya

yang ramai tadi. Hanya sekawan orang jaga, yang memakai

serba hitam, masih kelihatan berjalan perlahan-lahan dengan

tiada bercakap-cakap, supaya keadaan mereka jangan diketahui

penjahat.

Kota yang ramai tadi menjadi sunyi senyaplah, sebagai

negeri yang telah ditinggalkan orang. Sekaliannya tidur. Hanya

di puncak kayu yang tinggi, masih kedengaran sejurus-sejurus

bunyi burung pungguk, yang sedang merindukan bulan, mendayu-

dayu antara ada dengan tiada, seakan-akan ratap tangis

yang sedih, tersedu-sedu dengan putus-putus suaranya.

Hai Pungguk! Mengapakah engkau merindu sedemikian itu,

seraya memandang dengan tiada berkeputusan kepada bulan

yang tinggi itu? Apakah yang menjadikan sedih hatimu, dan

apakah maksud perbuatanmu itu?

"Aduh bulan, aduh jiwaku, jantung hatiku, cahaya mataku!

Bilakah engkau turun ke dunia ini, melihat aku, yang telah

sekian lama mengandung rindu dendam kepadamu? Bilakah

engkau jatuh ke bumi, ke atas pangkuanku untuk mengobati luka

hatiku, yang telah tembus kena panah berahi, yang telah kaulepaskan

daripada busurnya menuju dadaku? Tiadakah belas dan

kasihan hatimu, melihat aku selalu merayu di puncak kayu ini,

merindukan engkau dengan tiada mengindahkan jerih dan lelah,

hujan dan basah? Sampai hati gerangan engkau, melihat halku

sebagai orang mabuk cendawan.

Adapun maksudku hendak terbang mendapatkan engkau,

akan memperhambakan diriku yang hina ini kepadamu kalaukalau

beroleh kasihan daripadamu, tetapi apatah dayaku?

Sayapku yang lemah ini, tiada dapat membawa aku terbang lebih

tinggi, dari pohon ini:

Putih berkembang bunga kecubung,

mati tiram di tepi pantai.

Maksud hendak memeluk gunung,

apa daya tangan tak sampai.

Aduh, aduh! Bilakah dapat kusampaikan hasrat hatiku ini?

Karena apabila telah sianglah hari kelak, bila telah datanglah

suamimu raja Samsu, memancarkan sinarnya yang tajam ke

segenap penjuru alam ini, haruslah aku lari bersembunyi ke

tempat yang gelap, supaya jangan buta mataku ditembus panah

suamimu."

Sebagai burung Pungguk ini meratap, menangis, merayu di

puncak kayu, merindukan bulan yang tinggi di atas langit yang

biru, demikian pulalah duduk seorang perempuan muda, termenung

berawan hati, di jendela sebuah rumah di kampung

Belantung di kota Padang; adalah sebagai seorang yang sedang

merindukan kekasihnya, yang jauh dari matanya.

Jika ditilik pada rupanya, adalah perempuan ini seorang janda

yang masih remaja kira-kira berumur tujuh atau delapan belas

tahun. Rupanya cantik, badannya lemah semampai dan kulitnya

kuning langsat. Rambutnya yang hitam lagi ikal itu, jatuh

berlingkar-lingkaran di keningnya, sebagai rambut gadis bangun

tidur. Sanggulnya yang besar itu tergantung bagaikan terurai

pada kuduknya. Matanya yang lembut pemandangannya itu

merenung dengan tiada berkeputusan, bulan, yang hampir

diselimuti mega, di atas langit. Pada air mukanya nyata

kelihatan, ia sangat berdukacita, karena dari matanya yang

merah, jatuhlah berderai ke tanah, air matanya yang telah

berlinang-linang di pipinya, sebagai mutiara putus pengarang.

Tangannya yang putih kuning, dihiasi gelang emas ular-ularan,

yang nyata kelihatan, tatkala lengan baju sutera jepunnya surut

ke bawah, tiadalah lelah menopang dagunya, yang sebagai lebah

bergantung.

Siapakah perempuan muda itu? Apakah sebabnya maka ia

berdukacita sedemikian itu dan mengapakah pula maka selalu ia

memandang kepada bulan yang tinggi di atas langit, sebagai di

sanalah tempat yang menjadikan dukacita hatinya?

"Aduh kekasihku yang sangat kucintai! Betapakah akhirnya

aku ini? Karena semenjak aku kautinggalkan, adalah halku ini

sebagai orang yang tiada bemyawa lagi dan adalah dunia ini

rasanya telah menjadi sangat sempit, tiada lebih besar daripada

engkau berdiri seorang diri, tempat aku bergantung:

Jika begini condongnya padi,

tentu ke barat jatuh buahnya.

Jika begini bimbangnya hati,

tentu melarat badan akhirnya.

Jika begini naga-naganya,

kayu hidup dimakan api.

Jika begini rasa-rasanya,

badan hidup rasakan mati.

Lurus jalan ke Payakumbuh,

kayu jati bertimbal jalan.

Hati siapa tidakkan rusuh,

ayah mati kekasih berjalan.

Anak Judah duduk mengarang,

syair dikarang petang pagi:

Alangkah susah hidup seorang,

bagi menentang langit tinggi.

Jika 'ndak tahu di Tanjung Raja,

bermalam semalam di kampung Pulai,

mudik berkayuh ke Merangin,

Cerana Nanggung di Supayang.

Jika 'ndak tahu diuntung saya,

lihat kelopak bunga bulai,

kalau pecah ditimpa angin,

entah ke mana terbang melayang.

Wahai jantung hatiku, cahaya mataku! Betapakah sampai

hatimu meninggalkan aku ini seorang diri dengan nasibku yang

malang ini? Jika siang tiadalah lain yang kupikirkan, melainkan

engkau dan untungku yang celaka ini. Bekerja yang lain tiada

dapat, karena pikiranku selalu melayang. Walaupun badanku ada

di sini, tetapi nyawaku tiadalah jauh daripadamu. Wajah mukamu

senantiasa terbayang-bayang di mataku. Jangankan bekerja,

sedangkan makan dan minum tiada ingin, karena nasi dimakan

rasa sekam, air diminum rasa duri.

Tiadalah lain yang kukerjakan sehari-hari, melainkan duduk

termenung bertopang dagu, memandang dengan tiada berkeputusan

kepada benda yang tiada kulihat. Ini, lihatlah! Telah

berapa lamanya aku duduk sedemikian ini, tiadalah kuketahui.

Selalu kupandang bulan yang jauh di atas langit, karena ialah

yang dapat memperhubungkan pemandangan kita berdua. Jika

engkau pun melihat pula kepada bulan itu, niscaya bertemulah

pemandangan kita di sana. Aduhai! Betapakah baiknya, bila

bulan itu dapat pula menyambung perkataan dan perasaan kita!

Apabila hari telah malam, tiadalah dapat kupejamkan mataku

barang sekejap pun, karena bayang-bayangmu berdiri di mukaku.

Suaramu terdengar di telingaku, ciunvnu terasa di pipiku.

Walaupun aku telah tertidur, sebab lelah pikiran dan badanku,

acap kali aku terbangun kembali, karena bermimpikan engkau.

Wahai! Sebagai sungguhkah rasanya engkau datang kepadaku,

akan menghibur hatiku yang kecewa ini dengan perkataan yang

lemah-lembut, serta memeluk dan menciumku, akan memperlihatkan

hatimu yang belas kasihan kepadaku. Maka hilanglah

segala kesusahan dan duka nestapa yang menggoda pikiranku.

Akan tetapi, ya Allah! Bila tersadar pula aku dan teringat, bahwa

sekalian itu hanya permainan kalbuku saja dan nyata pula

olehku, bahwa aku masih ada di dalam tempat tidurku, terbaring

seorang diri, hanya ditemani oleh guling dan bantalku,

bertarnbah-tarnbahlah sedih hatiku dan hancur luluh rasa

jantungku. Air mataku bercucuran membasahi bantal dan kasurku

dan mataku tiada dapat kututupkan lagi.

Tatkala berkokoklah ayam bersahut-sahutan di segala tempat,

barulah terperanjat aku, karena bunyi itu kudengar sebagai

suaramu, mernanggil aku dari jauh. Bunyi ombak yang menderuderu

memecah di tepi pantai, sebagai mengingatkan aku, bahwa

kekasihku jauh di seberang lautan yang dalam, di balik gunung

yang tinggi. Dadaku rasakan belah, tali jantungku rasakan putus.

Maka menelungkuplah aku, menekankan dadaku ke bantal, akan

menahan sakit yang mengiris hatiku, sehingga terkadang-kadang

pingsanlah aku, tiada khabarkan diri. Waktu yang dua belas jam,

menjadi dua belas tahun lamanya, karena lama menanti siang.

Bila menyingsinglah fajar di sebelah timur dan bersuitlah

burung di dahan kayu, alamat hari akan siang, bangunlah aku

seorang diri, keluar perlahan-lahan, supaya jangan menyusahkan

orang. Walaupun had masih gelap dan dingin, aku basuh

mukaku, karena malu, kalau diketahui orang halku, melihat

mataku yang bengkak dan merah: Tetapi hawa yang sejuk dan

embun yang mengabut itu pun tiada juga dapat menyegarkan

badanku dan menenangkan pikiranku, melainkan bertambahtambahlah

sedih hatiku, sebab di sana nyata benar olehku buruk

untungku, sunyi daripada scgala makhluk yang dapat mengobati

penyakitku.

Sungguhpun pada siang hari banyak pekerjaan yang boleh

dikerjakan, tetapi luka hatiku tak dapat ditawari dengan

pekerjaan. Dan bila malamlah pula hari, penyakit yang hebat ini

datang kembali berlipat ganda kerasnya, menggoda aku.

Wahai nasib yang malang, bilakah engkau lepaskan aku dari

kungkunganmu?

Ketika itu berlinang-linanglah pula air mata perempuan ini,

mengalir ke pipinya, yang dihiasi oleh sebuah tahi lalat yang

hitam.

"Bagimu, kekasihku, karena engkau ada di negeri besar,

tentulah kesusahanmu tiada seberapa, sebab banyak yang dapat

mclipur hatimu. Tetapi aku yang ada di negeri Padang ini,

terkurung dalam rumah yang kecil, tempat aku menumpangkan

diriku yang malang ini, tiada beribu-bapa, tiada bersanak

saudara, atau sahabat kenalan, siapakah 'kan dapat melipur

hatiku ini? Seorang pun tiada.

Ya Allah, ya Tuhanku! Apakah sebabnya hamba-Mu disiksa

sedemikian ini? Apakah kesalahanku, maka tiada boleh mendapat

ampun dan maaf, supaya terlepas dari azab dunia ini,

karena tiadalah sanggup rasanya hamba-Mu menanggung

siksaan ini. Jika tiada lekas aku terlepas dari sengsara ini,

niscaya luputlah badan dan nyawaku dari negeri yang fana ini.

Akan tetapi, bila sesungguhnya aku tiada akan mendapat ampun

lagi, sebaik-baiknyalah dengan lekas diceraikan nyawaku dari

tubuhku, karena tiadalah terderita lagi olehku azab yang

sedemikian ini:

Ya Allah, ya Rabbana,

Tiadakah kasih hamba yang hina?

Menanggung siksa apalah guna,

Biarlah hanyut ke mana-mana.

Tiada sanggup menahan sengsara,

Sebilang waktu mendapat cedera,

Dari bencana tidak terpiara,

Seorang pun tiada berhati mesra.

Mengapakah untung jadi melarat?

Bagai dipukul gelombang barat,

Suatu tak sampai cinta dan hasrat,

Kekasih ke mana hilang mengirat?

Apakah dosa salahku ini?

Maka mendapat siksa begini,

Badan yang hidup berasa fani,

Seorang pun tiada mengasihani.

Semenjak ayahku telah berpulang,

Godaan datang berulang-ulang,

Sebilang waktu berhati walang,

Untung yang mujur menjadi malang.

Ditinggal ibu ditinggal bapa,

Kekasih berjalan bagaikan lupa,

Sudahlah malang menjadi papa,

Penuh segala duka nestapa.

Mengapa nasib hamba begini?

Azab siksaan tidak tertahani,

Jika tak sampai hayatku ini,

Biarlah badan hancur dan fani.

Aduhai bunda, aduh ayahda!

Mengapa pergi tinggalkan ananda?

Tiada kasihan di dalam dada,

Melihat yatim berhati gunda.

Mengapa ditinggalkan anak sendiri?

Biasa dijaga sehari-hari,

Sakit sebagai inengandung duri,

Ke mana obat hendak dicari?"

Maka bercucuranlah pula air mata perempuan ini, jatuh berderai

tiada berasa. Tatkala kedengaran kokok ayam bersahutsahutan,

karena hari telah pukul dua malam, bertambahlah pilu

dan sedih hatinya, lalu menangkup ke jendela, menangis tersedusedu,

karena terkenang akan nasibnya yang malang; sudah yatim

piatu, mendapat pula beberapa kesengsaraan yang amat sangat.

Sedang ia menangis sedemikian itu, tiba-tiba dirasainya

bahunya dipegang orang dari belakang dan didengamya suara

yang lemah-lembut, demikian bunyinya, "Nur, belum juga

kautidur? Hari telah jauh malam; lonceng telah berbunyi dua

kali."

Tetapi pertanyaan ini tiada dapat disahuti oleh Sitti Nurbaya,

yang sedang menangis, menyadari untungnya, di runiah saudara

sepupunya Sitti Alimah, di kampung Belantung.

"Pada sangkaku engkau telah tidur, karena engkau lekas

masuk ke bilikmu tadi. Kalau aku tahu engkau masih bangun,

tetulah aku datang menemani engkau di sini."

Perkataan ini pun belum dapat disahuti oleh Nurbaya karena

belum dapat ia mengeluarkan suaranya, sebab hatinya terlarnpau

arrlat sedih.

"Tutuplah jendela ini, Nur, supaya engkau kelak jangan

mendapat penyakit! Rasailah angin yang masuk ini!" Lalu

Alimah memegang tangan Nurbaya perlahan-lahan, seraya

mengangkatnya dan memimpinnya ke tempat tidurnya.

Setelah didudukkannya Nurbaya, yang sebagai tiada sadar

akan dirinya, di tempat tidurnya, pergilah ia menutup jendela

tempat Nurbaya duduk menangis tadi. Tatkala itu terperanjatlah

ia amat sangat, karena tampak olehnya di bawah jendela itu,

seakan-akan ada orang yang memakai serba hitam, bersembunyi.

Hendak ia menjerit, takut kalau-kalau orang itu memaksa dia

membukakan jendela itu kembali. Jika demikian, apalah

dayanya, karena waktu itu laki-laki tak ada dalam rumah. Oleh

sebab itu dengan gopoh-gopoh dikuncinya jendela uni, lalu

pergilah ia mendapatkan Nurbaya,.yang sedang duduk termenung,

melihat gambar Samsulbahri, yang ada dalam

medaliunnya. Kemudian duduklah ia di sisi Nurbaya, memegang

tangan kirinya, sedang tangannya yang lain mengusap-usap

rambut adiknya ini, sambil berkata perlahan-lahan, "Nur,

janganlah engkau turutkan benar hatimu yang sedih itu!

Sabarkanlah sedikit! Tiadakah engkau kasihan akan dirimu?

Lihatlah, badanmu telah kurus, mukamu telah pucat dan matamu

telah bengkak, karena menangis bersedih hati sehari-hari.

Apakah jadinya engkau kelak, jika selalu berawan hati, sebagai

ini?"

Sungguhpun Alimah berkata-kata itu, tetapi pikirannya masih

juga kepada orang yang telah dilihatnya di bawah jendela tadi.

Siapakah orang ini dan apakah maksudnya di sana, tiada dapat

dipikirkannya. Maka diberanikannya hatinya, supaya jangan

nyata takutnya oleh Nurbaya.

"Lim, perkataanmu itu benar sekali," sahut Nurbaya yang

baru dapat berkata-kata, dengan sedih dan putus-putus suaranya.

"Aku banyak meminta terima kasih kepadamu, atas kesudian

hatimu, menolong aku yang tengah berdukacita ini. Di dalam

halku ini, hanya engkau seoranglah yang masih setia kepadaku;

suka bersusah payah memimpin aku, supaya aku jangan sesat

kepada jalan yang salah. Engkaulah yang selaiu masih menghiburkan

hatiku dan engkaulah yang masih sudi memberi nasihat

yang baik kepadaku. Oleh sebab itu, bagiku pada waktu ini,

engkaulah jua yang menjadi ganti Ibu bapaku."

Tatkala menyebut kedua perkataan yang akhir ini, berlinanglinanglah

pula air matanya lalu meratap, "Aduhai Ibu-bapaku

yang kucintai! Sampai hati Ayah-bunda meninggalkan ananda

seorang diri, dengan nasib yang malang ini'. Apakah sebabnya

tiada dibawa bersama-sama supaya terlepas ananda daripada

azab yang tiada terderita ini."

"Nur, adikku yang manis!" kata Sitti Alimah, yang sangat

cinta dan sayang kepada Nurbaya. "Itu bukan tanda engkau

sayang kepada orang tuamu. Engkau tahu, mereka sedang

berjalan, menempuh jalan yang sulit, akan mendapatkan

Tuhannya. Bila engkau panggil dan engkau tangisi juga, tentulah

akan tertahan-tahan mereka di dalam perjalanannya.

Sudahlah, jangan dipanggil-panggil jupyang telah berpulang

itu! Senangkanlah hatimu dan doakanlah kepada Tuhan, mudahmudahaq

selamat mereka di dalam kubur!"

Setelah sejurus, berkata pula Nurbaya, "Lim, kebaikanmu ini

tiada dapat kubalas, melainkan kupohonkanlah siang dan malam

kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, moga-moga dilimpahkannya

rahmat dan rahim, berlipat ganda kepadamu, supaya bolehlah

engkau mendapat selamat dan kesenangan dunia akhirat."

"Nur, jangan berkata begitu!" jawab Alimah, "atas pekerjaanku

ini, tak perlu kau ininta terima kasih, sebab aku berbuat

demikian, bukan karena berharap barang sesuatu daripadamu

sebagai pembalasan, tetapi semata-mata sebab aku sangat kasih

dan sayang kepadamu. Maklumlah, aku ini sebagai engkau pula,

tiada bersaudara, melainkan hidup menunggal diri. Oleh sebab

itu pada perasaanku, engkaulah adikku dunia akhirat, tempat aku

bergantung, tempat aku melindungkan diri dan menyerahkan

nasibku, yang jauh daripada baik ini. Tambahan pula, seharusnyalah

aku membantu engkau dalam segala halmu. Jika tiada

aku, siapa lagi?" kata Sitti Alimah pula, sambil mengurut-urut

rambut dan tangan Nurbaya.

"Itulah sebabnya maka segala nasihatmu hendak kuturut,

kutaruhkan dalam hati, dan itulah pula sebabnya maka aku selalu

mencari daya upaya, supaya jangan sampai mengecilkan hatimu.

Akan tetapi, apa dayaku, Lim?

Walaupun kulipur hatiku, walaupun kucoba menghilangkan

kenang-kenangan yang menggoda pikiranku tiadalah dapat juga:

makin dilupakan makin teringat, makin dijauhkan makin dekat,

makin dienyahkan makin datang. Putus pengharapanku, akan

dapat menyenangkan hatiku," sahut Nurbaya dengan berlinanglinang

air matanya, sambil memeluk Alimah.

Oleh Alimah dipeluknya pula adiknya ini dan diciumnya

pipinya, seraya berkata dengan manis suaranya, "Walaupun

demikian, janganlah putus asa, melainkan perbanyaklah juga

sabar dan tawakkal kepada Seru Sekalian Alam, karena Tuhan

itu pengasih penyayang. Bukankah segala sesu,atu terjadi atas

kehendaknya? Masakan tiada dipertemukannya engkau dengan

kekasihmu dan tiada disampaikannya hasrat yang kaucita-citakan

slang dan malam itu? Masakan selalu hujan dengan tiada

berganti-ganti panas'? Barangkali pada waktu ini, belurn

masanya engkau beroleh keinginan hatimu itu; oleh sebab itu

sabarlah dahulu!"

"Memang, Lim; pada mulanya demikianlah pikiranku.

Dengan pengharapan itulah kulipurkan hatiku yang rawan ini.

Tetapi entah apa sebabnya, tiada kuketahui; pengharapan itu

makin lama makin kurang, sehingga akhirnya putuslah ia. Tiaptiap

aku berpikir, seperti kaukatakan tadi, sebagai ada pula suatu

suara yang timbul dalam hatiku, mengatakan, pengharapanku itu

akan sia-sia belaka, karena dalam dunia ini tiadalah akan

disampaikan Tuhan cita-citaku itu dan tiadalah pula akan

dikabulkan-Nya permintaanku itu, meskipun hasrat berurat

berakar dalun hatiku.




0 Response to "SIti Nurbaya 3"

Post a Comment