Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

SIti Nurbaya 2

"Tentu," jawab Sutan Hamzah. "Apa gunanya perempuan

yang demikian? Baik rupa saja; harta tidak, bangsa pun rendah.

Kalau untuk hamba, tak terpakai perempuan semacam itu. Tentu

saja sudah diberinya ilmu, Kakanda Mahmud. Kalau tiada,

masakan ia takluk kepadanya dan suka menyuruh majukan

anaknya. Tentulah ia yang mengasut-asut Kakanda Mahmud,

supaya benci kepada sekalian. Ia takut Kakanda Mahmud beristri

pula, kalau-kalau ia tiada terpakai lagi. Sungguh keras ilmu

perempuan jahat itu! Bukan takluk saja laki-laki kepadanya,

tetapi pikirannya pun sampai bertukar pula," kata Sutan Hamzah

seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian berkata

pula ia, "Perkara Rukiah sudahkah dibicarakan dengan dia?"

"Sudah," jawab putri Rubiah.

"Apa jawabnya?"

"Baik, katanya."

"Berapa belanja hendak diadakannya?"

"Katanya tiga ribu rupiah."

"Kalau sekian, boleh cukup; asal jangan terlalu berbesarbesar.

Perarakan gajah mina tanggungan hambalah.

Tetapi di manakah diperolehnya uang itu? Jangan-jangan

harta pusaka kita pula yang dijual atau digadaikannya."

"Tidak," jawab putri Rubiah. "Rumahnya dengan tanahnya

yang di Kampung Jawa Dalam digadaikannya kepada Datuk

Meringgih."

"Kalau rumah itu, suka hatinya; karena rumah itu tiada juga

akan dapat oleh Rukiah, sebab rumah itu khabarnya tertulis di

atas nama istrinya. Coba! Adakah patut kelakuannya itu? Harta

pencariannya dituliskannya di atas nama istrinya, supaya jangan

dapat oleh kemanakannya! Tetapi biarlah, tak mengapa! Kalau ia

mati, tentu dapat juga dirampas segala hartanya itu. Karena

sekalian orang tahu, harta itu pencariannya sendiri."

Tiada lama mereka berkata-kata, kembalilah Abu bersamasama

orang yang dipanggil tadi, lalu dipersilakan oleh Sutan

Hamzah masuk ke ruang tengah (tengah rumah). Setelah

ditutupnya pintu muka dan pintu belakang, lalu duduklah ia

dekat dukun ini seraya memberi rokok kepadanya. Kemudian

berkatalah Sutan Hamzah, "Hamba minta datang Kakak Juara

kemari, karena adalah suatu permintaan hamba yang penting

kepada Kakak. Tetapi sebelumnya hamba keluarkan apa yang

terasa di hati hamba ini, lebih dahulu hamba minta, supaya

Kakak Juara jangan membuka rahasia ini kepada siapa pun."

"Tentu tidak, masakan hamba berani," jawab dukun itu.

"Hamba takut kepada Tuanku Penghulu."

"Itulah yang hamba harapkan; terlebih-lebih sebab perkara ini

memang perkara Tuanku Penghulu sendiri kakak hamba itu,"

kata Sutan Hamzah.

"Perkara apakah itu?" tanya Juara Lintau.

"Begini," jawab Sutan Hamzah. "Tiadakah Kakak Juara

heran Penghulu-Penghulu yang lain? Terutama tak hendak

menerima segala melihat kelakuan kakak hamba itu? Berbeda

benar dengan adat jemputan orang atas dirinya dan tak mau beristri

lagi rupanya, sedang kemanakan dan saudaranya, daranya,

kakak hamba ini, tiada pula diindahkannya."

"Sesungguhnya hal itu telah lama menjadi buah pikiran

hamba dan orang lain pun. Sedang Penghulu-Penghulu yang lain,

empat istrinya, beliau itu; hanya seorang saja. Kurang patut

rupanya bagi orang besar sebagai Tuanku itu," jawab Juara

Lintau.

"Lihatlah, sedangkan Kakak Juara, orang lain lagi, ada

berpikir demikian, istimewa pula kami yang kemanakannya dan

saudara kandungnya. Hanya sendirilah yang tiada merasa

kesalahan perbuatannya itu," kata Sutan Hamzah. "Oleh sebab

itu timbul wasangka di dalam hati kami, kalau saudara hamba itu

telah kena ilmu orang, sampai bertukar kelakuan dan pikirannya.

Apabila benar ia kena ilmu, tentulah tak boleh hamba biarkan."

"Tentu sekali harus ditolong," jawab Juara Lintau.

"Oleh sebab itu berharaplah hamba, supaya Kakak sudi

merenungkan hal itu," kata Sutan Hamzah pula.

"Baiklah," jawab Juara Lintau. "Hamba mohon perasapan

dan kemenyan serta air bersih secambung dan sirih kuning tujuh

lembar."

"Nanti hamba ambilkan," kata putri Rubiah, lalu keluar

mengambil yang diminta itu. Sejurus kernudian kembalilah ia

membawa barang-barang ini.

Setelah Juara Lintau membakar kemenyan, lalu membacabaca

beberapa mantera. Kemudian diasapinya air secambung tadi

dengan sirih tiga kali berganti-ganti, lalu dimasukkannya ketujuh

helai sirih itu ke dalam cambung itu dengan membaca-baca pula.

Setelah itu dipandangnyalah daun sirih itu sehelai-sehelai dengan

hati-hati, lalu ia berkata, "Sesungguhnyalah persangka Engku

Muda tadi. Perubahan kelakuan beliau itu memang karena

perbuatan orang. Sebab keras ilmu dukun yang mengerjakannya,

tak dapatlah beliau berbuat sekehendak hati beliau lagi, melainkan

haruslah menurut kemauan orang yang mengerjakan beliau."

"Apa kataku? Bukankah benar sangkaku?" kata putri Rubiah,

"Dan siapakah yang berbuat demikian?"

"Orang yang berbuat itu tak jauh daripada beliau; orang

dalam rumah itu juga dan dekat amat rupanya kepada beliau,"

jawab Juara Lintau.

"Perempuan atau laki-laki?"

"Perempuan," jawab dukuh.

"Jika demikian, tentulah tak lain daripada istrinya sendiri,

karena tak ada perempuan lain dalam rumahnya," kata putri

Rubiah pula.

"Pikiran hamba pun demikian juga," sahut Sutan Hamzah.

"Sekarang bagaimana akal, supaya terlepas ia daripada ikatan

ini?" tanya putri Rubiah.

"Akal yang lain tak ada, melainkan diobatilah Tuanku dengan

ilmu dan ramuan," jawab Juara Lintau.

"Ya, tetapi hendaknya dibencinya pula istrinya itu, supaya ia

diceraikan. Itulah balasan yang patut bagi perempuan yang

sedemikian," kata putri Rubiah.

"Perkara itu serahkanlah kepada hamba; seberapa boleh,

tentu akan hamba tolong. Hanya suatu permintaan hamba,

adakah agaknya baju atau kain Tuanku Penghulu di sini yang

sudah dipakainya?" tanya Juara Lintau.

"Rasa hamba ada. Coba hamba periksa dahulu," jawab putri

Rubiah, lalu pergi. Tiada berapa lama antaranya, kembalilah ia

membawa sehelai kain Balanipah, seraya berkata, "Ini dia! Kain

ini telah beberapa lama ditinggalkannya di sini. Lupa rupanya ia

mengambil kembali."

"Bolehkah hamba bawa pulang kain ini? Sebab berguna

waktu mengerjakannya," tanya Juara Lintau.

"Boleh, bawalah!" jawab putri Rubiah.

"Lagi pula hamba perlu mendapat rambut orang kaya istri

Tuanku Penghulu itu; sehelai pun cukup. Sebab apabila ia tak

kena kebenci, terus hamba kerjakan dengan si judai, sebab

rupanya penahan ilmu padanya amat kuat. Bolehkah hamba

kerjakan dia sampai gila?" tanya Juara Lintau.

"Itu lebih baik," jawab Sutan Hamzah. "Mati pun tak

mengapa, karena perempuan semacam itu tak harus dipelihara.

Setelah ia gila atau mati, saudara hamba tentu mau kawin pula."

"Perkara rambut itu, nantilah hamba pergi ke rumahnya untuk

mengambilnya," kata putri Rubiah. Setelah itu putri Rubiah

mengeluarkan kue-kue dan kopi, untuk dukun ini. Setelah

makan, diberikan oleh putri Rubiah uang seringgit kepada Juara

Lintau, karena pertolongan. Kemudian minta dirilah dukun ini,

lalu pulang ke rumahnya.

V. SAMSULBAHRI BERANGKAT KE JAKARTA

"Pak Ali, pada sangkaku baik dimulai memasang lampu, karena

hari hampir gelap," kata Samsu kepada kusirnya, di rumah orang

tuanya, di Kampung Jawa Dalam di Padang. Tatkala itu Samsu

telah berpakaian yang baik-baik, sebagai orang hendak pergi ke

mana-mana.

"Baiklah, Engku Muda," jawab sais Ali, sambil pergi

mengambil geretan api.

"Suruhlah si Amat kemari, supaya dapat membantu Pak Ali,"

kata Samsu pula.

Tiada berapa lamanya kemudian daripada itu, datanglah pula

sais Ali bersama-sama Amat, lalu memasang lampu-lampu di

serambi muka.

"Sekalian lampu harus dipasang, Pak Ali!" kata Samsu,

"sampai setengah rumah dan serambi belakang. Dan engkau

Amat, bawalah pot-pot bunga ini ke bawah dan susunlah mejameja

dan kursi-kursi ini di sana, sebab di sini tempat menari; tak

boleh ada apa-apa."

Kedua bujang ini bekerjalah menurut perintah tuannya yang

muda itu. Setelah selesai pekerjaan di serambi muka, masuklah

Samsu ke ruang tengah, lalu menyuruh mengatur meja panjang

dua buah, dengan beberapa kursi makan. Kemudian disuruhnya

tutup kedua meja itu dengan alas meja lenan putih yang berbunga.

Sedang mereka asyik bekerja itu, datanglah Nurbaya dari

rumahnya dengan berpakaian yang indah-indah, membawa dua

ikat karangan dari bermacam-macam bunga yang baik warnanya,

lalu bertanya, "Belum selesai, Sam?"

Tatkala mendengar perkataan ini, menolehlah Samsu ke

belakang dan ketika terpandang olehnya gadis ini, tiadalah

terkata-kata ia sejurus lamanya. Mukanya yang mula-mula riang,

tiba-tiba menjadi muram. Jika Nurbaya tiada lekas menegurnya

pula, barangkali kedatangan Nurbaya ini akan mengeluarkan air

matanya.

"Sakitkah engkau, Sam?" tanya Nurbaya pula.

Barulah Samsu seakan-akan terkejut, ingat akan dirinya

kembali, lalu menahan perasaan hatinya dan menjawab dengan

tersenyum, "Manis benar engkau kupandang hari ini, Nur; sehingga

lupalah aku akan diriku sejurus."

"Dengan sengaja aku memakai-makai hari ini, sebab esok

petang tiadalah engkau akan melihat aku lagi," jawab Nurbaya

sambil tersenyum pula.

Jawaban ini jangankan dapat melipur hati Samsu bahkan

rupanya menambah muram durjanya dan sedih hatinya. Dengan

pendek berkata pula ia, "Sesungguhnyalah katamu itu," lalu

ditundukkannya kepalanya.

Tatkala dilihat Nurbaya hal Samsu yang sedemikian itu,

dihampirinyalah sahabatnya ini, lalu dipegangnya bahunya,

sambil berkata, "Ayuh, Sam! Malam ini kita harus bersukasukaan.

Apabila engkau, yang punya rumah, berdukacita, bagaimanakah

kelak jamu yang datang?" kata Nurbaya, sambil membujuk

saudaranya ini.

"Benar sekali katamu itu, Nun' Tetapi apalah dayaku? Sejak

kemarin hatiku tak enak saja, walau bagaimana pun juga kulipur.

Makin dekat aku kepada hari esok, makin bertambah-tambahlah

duka nestapaku. Sungguhpun demikian, nantilah kukatakan

kepadamu, bagaimana rasa hatiku sekarang ini," kata Samsu

pula.

Ketika itu tiba-tiba masuk Bakhtiar ke tengah rumah, lalu

membuka topi rumputnya dan membungkuk, sehingga kepalanya

hampir sampai ke lututnya, seraya berkata, "Tabik Nyonyanyonya

dan Tuan-tuan sekalian!"

"Ada berapakah Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan di sini,

Bakhtiar?" tanya Nurbaya.

"Ada seratus satu Nyonya-nyonya dan seratus satu pula

Tuan-tuan," jawab Bakhtiar dengan mengeraskan kata "satu" itu.

"Ha... ai, siang-siang sudah datang! Amat rajin," kata Samsu.

"Disengaja, Tuan hamba, siang-siang datang kemari, karena

hendak memeriksa, adalah sekaliannya telah lengkap, untuk

menyambut kedatangan sekalian jamu Tuan-tuan dan Nyonyanyonya,

yang dipersilakan datang bermain-main kemari," kata

Bakhtiar pula dengan menghalus-haluskan bahasanya, sambil

membungkuk pula.

"Bohong," teriak Arifin yang telah berdiri di belakang

Bakhtiar. "Tuan Bakhtiar hendak melihat dahulu, banyakkah

makanan yang disediakan atau tidak. Kalau tak cukup, ia hendak

kembali saja, takut takkan kenyang perutnya. Demikian katanya

di atas bendi tadi."

"Memang engkau tak dapat memegang rahasia, Arifin. Telah

kupesan benar-benar, supaya maksudku yang sebenar-benarnya,

jangan kausampaikan kepada siapa pun juga. Sekarang kepada

orang yang mula-mula kaulihat saja telah kaubukakan rahasia itu

dan kelak, tentulah kepada sekalian orang kaukatakan. Malu aku

rasanya, terlebih-lebih kepada Nyonya Nurbaya, sebagai

sesungguhnyalah aku datang kemari ini, hanya karena kue-kue

saja," kata Bakhtiar pura-pura marah dan malu.

"Tak usah kau menangis, Bakhtiar, karena malu," kata

Nurbaya. "Rahasiamu itu bukan rahasia lagi bagiku, karena telah

lama kuketahui. Apabila kau tak percaya, bahwa makanan

cukup, walaupun untuk sepuluh Bakhtiar sekalipun, marilah

kubawa engkau ke belakang, akan melihat-lihat saja dahulu.

Tetapi hendaklah engkau berjanji dan bersumpah akan menahan

nafsumu dan tiada akan menganggu-ganggu makanan itu," kata

Nurbaya, seraya menghampiri Bakhtiar, akan membawanya

melihat makan-makanan yang telah tersedia.

Bakhtiar berpikir sejurus dengan menggaruk-garuk kepalanya,

seraya berkata dalam hatinya, "Sesungguhnya terlalu ingin

aku hendak melihat segala makanan yang akan kurasai kelak,

tetapi adakah akan dapat kutahan tanganku mengambil makanan

itu?"

"Ah, masakan tak dapat kutahan nafsuku," katanya pula

keras-keras, untuk menjawab perkataan Nurbaya tetapi pada

mukanya nyata kelihatan, bahwa ia tiada akan dapat menurut

janjinya. Maka dibukanyalah topinya, diangkatnya tangannya ke

atas, serta berdiri benar-benar lalu bersumpah, "Di atas nama

segala kue yang sangat kucintai, terutama kue sepekuk, kue

koneng, kue tar, bolu, serikaya, sus dan lain-lain, aku bersumpah

di hadapan tiga saksi, tiada akan mengganggu makanan yang ada

di belakang, Jika aku tiada menurut janjiku ini, maulah aku,

perutku dan perut tujuh keturunanku, selama-lamanya diisinya."

"Baiklah," kata Nurbaya dengan tersenyum. "Sesungguhnya

sumpahmu itu sangat keras, tetapi tiada mendatangkan

kecelakaan kepadamu. Salah tak salah, perutmu akan penuh

berisi kue-kue. Tetapi tak mengapa, marilah kubawa!" lalu

dipegangnya tangan Bakhtiar, hendak dibawanya ke belakang.

"Jangan percaya!" teriak Arifin, "Telah kelihatan olehku di

matanya, ia tiada akan menurut sumpahnya. Aku tahu akal lain

yang lebih sempurna, yaitu kedua belah tangannya harus diikat

ke belakang."

"Engkau benar terlalu amat sangat, Arifin!" kata Bakhtiar

dengan pura-pura merengut. "Masakan aku berani melanggar

sumpahku yang sekeras itu. Tentu aku takut berdosa kepada

segala kue-kue lazat cita-rasanya itu."

"Tidak percaya," kata Arifin pula, lalu datang mengikat

kedua belah tangan Bakhtiar ke belakang dengan sehelai

setangan. Setelah selesai, barulah ia dibawa oleh Nurbaya.

"Pak Ali," kata Nurbaya, tatkala hendak membawa Bakhtiar

ke belakang, "bunga-bungaan itu masukkan ke dalam jambang

bunga itu dan taruh di atas meja makan!"

"Baiklah, Siti," jawab Ali.

Setelah sampailah Nurbaya dan Bakhtiar ke belakang, diperlihatkanlah

oleh Nurbaya kepada Bakhtiar segala kue-kue,

makanan-makanan dan minum-minuman yang lezat-lezat yang

telah tersedia dan teratur di atas beberapa meja, berbagai-bagai

warna dan baunya.

"Sekalian itu aku yang mengatur dan membelinya di toko

Jansen. Cukupkah itu bagimu atau tidak?" tanya Nurbaya.

Tatkala Bakhtiar melihat segala makanan yang enak-enak itu,

timbullah keinginan dalam hatinya, yang rasakan tak dapat

ditahannya lagi, hendak mengecap segala yang lezat-lezat itu.

Apabila tangannya tiada terikat, paslilah ia lupa akan sumpahnya

tadi dan tentulah akan diterkamnya kue-kue itu, walaupun

bagaimana juga keras sumpahnya. Tetapi apa daya? Ia tak dapat

berbuat apa-apa dengan tangannya karena sungguh teguh ikatan

Arifin tadi. Maka berjalanlah ia, sebagai hendak melipurkan

hatinya, dari sebuah meja ke meja yang lain, dengan berkata,

"Alangkah cantiknya buatan kue ini! Bagaimanakah rasanya?

Dan ini, sangat sedap baunya," lalu diciumnya kue itu.

Akan tetapi karena tiada tertahan oleh seleranya, sebelum

diingatnya kembali sumpahnya tadi, telah masuklah giginya ke

dalam suatu kue yang besar dan dapatlah digigitnya sekerat,

sehingga berlubanglah kue itu. Oleh sebab kue itu memakai rum

gula, hidung dan bibir serta muka Bakhtiar, penuhlah berlumur

rum gula ini.

Tatkala Nurbaya melihat hal yang demikian, ditariknya

Bakhtiar ke belakang dengan berkata "Gilakah engkau,

Bakhtiar?" Tetapi ia tertawa gelak-gelak, tatkala melihat muka

Bakhtiar yang penuh berlumuran rum gula, sehingga Samsu dan

Arifin, yang sedang bersedia-sedia di luar, berlari ke belakang.

Setelah sampai mereka ke sana, diceritakanlah oleh Nurbaya,

apa sebabnya muka Bakhtiar sebagai topeng itu. Kedua mereka

itu pun tertawa pula mendekak-dekak, sehingga Arifin

memegang perutnya, karena tak dapat menahan geli hatinya,

melihat temannya seperti alan-alan. Hanya Bakhtiarlah yang

tiada berkata-kata, seakan-akan malu atau menyesal rupanya

akan perbuatannya yang ceroboh itu. Tetapi kue yang telah ada

dalam mulutnya, dikunyahnya juga, lalu ditelannya.

Setelah puaslah mereka mentertawakan Bakhtiar, berkatalah

Arifin, "Kesalahan ini sangat besar; pertama karena tiada

menurut sumpah, kedua karena mencuri dengan mulut;

sedangkan pencuri yang sangat berbahaya sekalipun, hanya baru

dapat mencuri dengan tangan saja. Oleh sebab kepandaian

Bakhtiar ini dapat memberi contoh yang tak baik kepada

penjahat-penjahat lain, haruslah ia dihukum dengan hukuman

yang berpadanan dengan kesalahannya. Marilah kita bertiga

menjadi hakimnya! Apa hukuman yang baik diberikan kepadanya?"

"Aku tahu suatu hukuman yang patut," kata Nurbaya. "Ia tak

boleh mendapat kue-kue lagi kelak, sebab sekarang sudah

dimakannya bagiannya."

"Jangan!" jawab Samsu. "Hukuman yang sedemikian terlalu

berat baginya. Aku khawatir kalau-kalau ia kelak menjadi buas,

apabila melihat temannya sekalian makan enak-enak sedang ia

sendiri tak boleh."

"Lagi pula siapakah yang berani menanggung, ia akan

menjalankan hukumannya itu dengan patuh, kalau tidak diikat

kaki tangannya," kata Arifin pula.

"Pada pikiranku lebih baik begini. Tetapi janganlah kau

ceritakan lebih dahulu, supaya jangan diketahuinya rahasia ini.

Nanti kaulihat sendiri! Maukah engkau menerima hukumanku?"

tanya Arifin kepada Bakhtiar.

"Mau, asal boleh aku ikut makan kue-kue nanti," jawab

Bakhtiar, pura-pura menangis, tetapi gula yang melekat pada

bibirnya, dicobanya juga menjilat dengan lidahnya.

"Baik, sabarlah dahulu!" kata Arifin.

Tiada berapa lama kemudian daripada itu, kedengaranlah

beberapa jamu telah datang di serambi muka. Samsu dan

Nurbaya ke luar menjemput sekalian mereka, yakni murid-murid

sekolah Belanda, sahabat Samsu dan Nurbaya, laki-laki dan

perempuan, lalu dipersilakan duduk, bercakap-cakap dan bersenda

gurau, terlalu ramainya. Meskipun, waktu itu rupanya

telah ada, lalu mulai bermain melagukan lagu mars.

Sedang ramai mereka bersuka-sukaan itu, tiba-tiba dibawalah

Bakhtiar oleh Arifin ke tengah-tengah jamu. Mula-mula

tercengang sekaliannya, karena mereka tiada tahu, apakah

maksud pertunjukan ini. Akan tetapi setelah diceritakan oleh

Arifin hal Bakhtiar mencuri kue dengan mulutnya itu, dari

mulanya sampai ke akhirnya, riuh rendahlah bunyi tertawa, rasa

tak dapat disabarkan. Sudah itu barulah dilepaskan oleh Arifin

ikat tangan Bakhtiar. Akan tetapi baru saja bebas tangan

Bakhtiar dari ikatannya, lalu diambilnya rum gula yang masih

ada melekat di mukanya, dilemparkannya ke muka Arifin, lalu ia

lari ke belakang membasuh mukanya. Arifin yang menjadikan

orang tertawa kembali, pun lari ke belakang, membersihkan

mukanya pula.

Sejurus kemudian musik pun bermain pula, melagukan lagu

wals. Sekalian muda remaja menarilah masing-masing dengan

pasangannya. Samsu menuntun tangan Nurbaya, lalu menari

bersama-sama. Demikianlah perbuatan anak-anak muda itu berganti-

ganti berdiri, menari dan duduk berkata-kata, tertawa

gelak-gelak, bersenda gurau dan bersuka-sukaan. Nurbaya,

setelah menari dengan Samsu menari pula dengan Arifin dan

Bakhtiar. Oleh sebab Bakhtiar dan Arifin selalu berbuat olokolok,

walaupun sedang menari, ramainya tiadalah terkatakan

lagi.

Sementara itu segala kue-kue yang lezat rasanya diedarkanlah,

dibawa kepada sekalian jamu. Demikian pula minumminuman

kopi, teh, coklat, sirop, dan limonade.

Bakhtiar pura-pura membantu menjadi jongos mengedarkan

makanan dan minuman tadi, tetapi terlebih dahulu segala kue

yang dapat disimpannya, dimasukkannya ke kocek baju dan

celananya, sehingga gembunglah pakaiannya rupanya. Dengan

tiada diketahui Bakhtiar digantungkanlah oleh Arifm pada

punggung baju, Bakhtiar, sehelai kertas yang lebar, yang

ditulisnya di atasnya, "Aku inilah gergasi kue-kue". Maka

ramailah pula bunyi suara murid-murid itu mentertawakan

Bakhtiar dengan tiada diketahuinya, apa yang menggelikan hati

mereka.

Setelah diketahui Bakhtiar perbuatan musuhnya Arifin itu,

dicarinyalah akal untuk membalas kelakar ini, lalu pergilah ia ke

belakang meminta beberapa lada kutu yang amat pedas itu, sebab

diketahuinya Arifin sangat takut kepada lada. Lada kutu.ini

dimasukkannya beberapa butir ke dalam sekerat kue lapis,

ditutupnya baik-baik dan ditaruhnya di atas piring, lalu dibawanya

kepada Arifin, sambil berkata dengan hormatnya, akan

menghilangkan syak wasangka hati sahabatnya ini, "Jika Tuan

hamba sudi, persilakanlah santap juadah ini!" Sekalian yang

mendengar basa Bakhtiar ini tersenyum.

Dengan tiada berpikir lagi, dimakanlah oleh Arifin kue itu.

Tetapi setelah dua tiga kali dikunyahnya, tiba-tiba berteriaklah ia

kepedasan. Mulutnya ternganga, sehingga segala kue yang ada di

dalamnya jatuh ke luar. Air ludah dan air matanya meleleh,

sehingga ia hampir tak dapat berkata-kata meminta air dingin

untuk menyejukkan mulutnya yang sangat panas rasanya.

Mula-mula gemparlah sekalian tamu karena tiada tahu apa

sebabnya Arifin jadi demikian. Akan tetapi setelah diceritakannya,

ia termakan lada, kena tipu Bakhtiar, sekaliannya tertawalah

pula gelak-gelak amat ramainya.

Setelah hari pukul sembilan, masuklah sekalian anak muda

itu ke tengah rumah, lalu masing-masing duduk di atas kursi

makan. Sup dan anggur dijalankan. Seorang daripada sahabat

Samsu berdiri dengan memegang gelas anggurnya, lalu berpidato.

Mula-mula ia memberi selamat kepada Samsu, Arifin,

dan Bakhtiar di atas nama sekalian yang datang, karena ketiga

mereka telah tamat pelajarannya dalam sekolah Belanda di

Padang dan sekarang akan meneruskan pelajarannya di Sekolah

Dokter Jawa dan Sekolah Opseter di Jakarta. Diharapnya dengan

sepenuh-penuh pengharapan, mereka di sana akan maju pula

dalam pelajarannya, supaya dapat menjabat pangkat yang tinggi

dan beroleh kesenangan kemudian hari.

Selama mereka bercampur dengan ketiga sahabatnya yang

akan berangkat itu, belumlah pernah berselisih, melainkan selalu

beramah-ramahan dan bersahabat sahabat karib. Oleh sebab itu

ia percaya, tentulah ketiga sahabat ini di Jakarta, akan segera

pula mendapat sahabat dan kenalan baru yang baik, tempat

berkasih-kasihan dan beramah-ramahan sebagai di Padang.

Supaya mereka jangan lekas-lekas lupa kepada sahabat

kenalannya di Padang, diberikannyalah tiga buah potret sekalian

murid sekolah Pasar Ambacang dengan guru-gurunya, kepada

ketiga mereka. Akhirnya diucapkannyalah selamat jalan dan

panjang umur kepada ketiga sahabatnya yang akan berangkat itu

dan didoakan supaya mereka kembali ke Padang dengan pangkat

yang diharapkannya itu. Kemudian bersoraklah sekaliannya,

"Hip, hip, hura!!" tiga kali, disambut oleh musik.

Samsu membalas ucapan ini. Mula-mula ia minta terima

kasih kepada sekalian sahabatnya yang hadir, atas kedatangan

mereka dan tanda mata yang telah diberikan mereka itu. la berjanji

akan menyimpan potret itu sungguh-sungguh dan akan

selalu mengingat sekalian sahabat kenalannya yang akan ditinggalkannya

di Padang, yang banyak menolong dan memberi

kesukaan hatinya. Diharapnya supaya sekalian sahabatnya itu

pun akan lekas pula tamat pelajarannya, supaya dapat melanjutkan

pelajarannya dalam sekolah yang lebih tinggi dan ia berjanji

akan mengirimkan tanda mata kepada sekalian mereka, apabila

ia telah sampai ke Jakarta kelak. Akhirnya ia pun mengucapkan

selamat tinggal, selamat belajar dan umur panjang kepada

mereka itu, lalu bersorak pula tiga kali.

Sekali itu makanlah sekaliannnya, mula-mula sup, kemudian

keroket, sudah itu kentang, salada dan kue-kue; akhirnya barulah

ditutup dengan buah-buahan dan kopi. Tengah makan, tak putusputusnya

Arifin dan Bakhtiar berolok-olok, sehingga banyak

yang batuk, karena salah makan.

Setelah selesai makan, masing-masing berjalan jalan di

halaman rumah, diterang bulan, karena malam itu bulan terang

purnama raya. Sesudah itu menari pulalah mereka dan bersukasuka

hati sampai pukul dua belas malam; barulah pulang masingmasing

ke rumahnya. Yang akan tinggal, memberi selamat jalan

kepada yang akan pergi, dan yang pergi mengucapkan selamat

tinggal kepada yang akan tinggal.

Ketika Nurbaya hendak kembali pula ke rumahnya,

berkatalah Samsu,

"Biarlah kuantarkan engkau ke rumahmu, sebab hari telah

jauh malam. Tak baik perempuan berjalan seorang diri."

Oleh karena Nurbaya setuju dengan maksud Samsu ini,

kedua anak muda ini berjalanlah perlahan-lahan menuju rumah

Nurbaya. Tatkala itu bulan bercahaya bagaikan siang. Bintangbintang

yang serupa mestika, berkilau-kilauan di langit tinggi,

sebagai kunang-kunang di tempat yang gelap. Awan berarak

beriring-iring dari barat lalu ke timur.

"Alangkah terang bulan ini," kata Samsu tengah berjalan itu,

"menambah rawan dan pilu hatiku, sehingga bertambah-tambah

berat bagiku meninggalkan Padang ini. Memang sejak dari

kemarin, tiadalah dapat kulipur hatiku dengan pikiran akan

melihat negeri yang lebih besar dan menuntut pelajaran yang

lebih tinggi saja. Makin dekat aku pada waktu akan berangkat,

makinlah hancur rasa hatiku."

"Apakah yang engkau susahkan? Sekaliannya telah tersedia;

engkau tinggal berangkat saja lagi. Sampai ke sana, lalu belajar.

Apabila telah tamat pelajaranmu kelak, tentulah engkau akan

berpangkat tinggi dan bergaji besar. Kami sekadar akan inelihat

dan berbesar hati dari jauh saja. Perceraian dengan ibu-bapa dan

kami sekalian, tentu saja mula-mula berat bagimu. Akan tetapi,

pada sangkaku, lekas juga engkau biasa kepada keadaan yang

baru itu. Dan bila engkau telah biasa, tentulah tiada akan engkau

rasai lagi keberatan perceraian ini. Ingatlah akan pepatah: Hilang

bisa karena biasa, hilang geli karena gelitik. Tetapkanlah hatimu!

Jangan banyak pikiran yang lain-lain."

"Tentu, tentu," jawab Samsu, "tetapi ada suatu pikiran yang

menggoda hatiku, yang selalu melintas dalam ingatan dan tak

dapat kulupakan siang malam."

"Pikiran apakah itu? Adakah orang atau sesuatu benda yang

mengikat hatimu, sehingga tak dapat engkau tinggalkan?" tanya

Nurbaya, sambil memandang muka Samsu.

"Bukan demikian, Nur. Dahulu tatkala kita berjalan jalan ke

gunung Padang, telah kuceritakan kepadamu mimpiku. Sejak

waktu itu sampai sekarang ini, pikiran yang menggoda itu

tiadalah hendak meninggalkan aku. Beberapa malam aku tak

dapat tidur nyenyak, karena mengenang-ngenangkan mimpi itu.

Sebagai kelihatan olehku bahaya mengintai dan mengikut kita,

barang ke mana kita pergi, menanti saat yang baik akat

menerkam engkau dan aku, bila kita telah bercerai kelak. Itulah

yang memberatkan hatiku; itulah yang menjadikan aku was-was.

Apabila aku tiada ingat akan janjiku kepada ayahku untuk pergi,

tentulah lebih suka aku tinggal menjaga engkau."

Dengan bercakap-cakap sedemikian sampailah keduanya ke

dalam pekarangan Nurbaya, lalu duduklah mereka berdekatdekatan

di atas sebualt bangku, di bawah pohon tanjung yang

rindang, dalam kebun anak gadis ini.

"Sebagai telah kukatakan," kata Nurbaya pula, "janganlah

engkau terlalu percaya akan mimpi itu, karena tiada selamanya

mimpi ada artinya. Bahaya apakah yang akan menimpa diri kita?

Sebab kita tiada berbuat dosa atau kesalahan kepada siapa pun.

Apabila sesungguhnya untung kita ini malang, apa hendak

dikata? Karena sekaliannya itu telah takdir daripada TuhanYang

Mahakuasa. Biar bagaimana sekalipun kita tiada suka, jika telah

nasib sedemikian itu, tak dapat diubah lagi. Siapakah yang dapat

mengubah suratan pada lahulmahfut?

Oleh sebab itu berhati-hatilah menjaga diri, dan marilah kita

pohonkan bersama-sama kepada Rabbul-alamin, supaya mudahmudahan

dipeliharakannya juga kita di dalam segala hal. Jika

kaugoda hatimu dengan pikiran yang semacam tadi, tentulah

pelajaranmu tiada akan maju kelak. Alangkah sayangnya!

Apabila engkau telah menjadi dokter, berapakah besar hati

ibu-bapamu dan hatiku, melihat anak dan saudaranya telah

berpangkat tinggi. Jika Susah bagimu kelak meninggalkan

Padang ini, kaumintalah tetap bekerja di sini supaya dapat bercampur

gaul selama-lamanya dengan sekalian orang yang kau

cintai."

"Engkau tiada tahu rasa hatiku sekarang ini; itulah sebabnya

agaknya kaupermudah saja hal ini. Pikiran yang ada dalam

hatiku rupanya tak ada dalam hatimu, sehingga tak dapat kau

pikirkan halku."

"Pikiran apa pula itu?" tanya Nurbaya, sambil melihat muka

Samsu.

"Nurbaya, karena besok aku akan meninggalkan kota Padang

ini, akan pergi ke rantau orang, entah berbalik entah tidak, sebab

itu pada sangkaku inilah waktunya akan membukakan rahasia

hatiku. Ketahuilah olehmu, Nur, bahwa aku ini sangat cinta

kepadamu. Percintaan itu telah lama kusembunyikan dalam

hatiku; sekarang baru kubukakan, karena pada sangkaku, rahasia

itu harus kauketahui, sebelum kita bercerai. Siapa tahu,

barangkali tak dapat aku kembali lagi; tak dapat kita bertemu

pula. Jika tiada kubukakan rahasiaku ini kepadamu, pastilah ia

menjadi sebagai duri di dalam daging padaku; terasa-rasa

sebilang waktu.

Mula-mula percintaan itu memang percintaan persaudaraan.

Akan tetapi lama-kelamaan, dengan tiada kuketahui, bertukarlah

ia menjadi cinta yang sebenar-benarnya cinta. Barangkali tak

baik aku berbuat demikian, pada pikiranmu, tetapi apa hendak

kukata? Dari kecil kita bercampur gaul, bukan sehari dua hari,

makan sepiring, tidur setilam, lebih daripada saudara kandung

sendiri. Bagaimanakah tiada akan tersangkut hatiku padamu?

Sejenak pun belum pernah kita bercerai; tiba-tiba sekarang aku

harus pergi meninggalkan engkau dengan tiada kuketahui,

bilakah dapat pulang kembali. Bagaimanakah tiada rusak binasa

hatiku? Bagaimanakah aku dapat meninggalkan engkau?

Dengarlah olehmu pantun ini:

Bulan terang bulan purnama,

nagasari disangka daun.

Jangan dikata bercerai lama,

bercerai sehari rasa setahun.

Oleh sebab untung manusia tak dapat ditentukan, itulah

sebabnya sangat ingin hatiku hendak mengetahui, bagaimanakah

hatimu kepadaku? Atau hanya aku sendirilah yang rindu

seorang?" kata Samsu, sambil memegang tangan Nurbaya.

Mendengar perkataan dan pantun Samsu ini, terdiamlah

Nurbaya, sambil menundukkan kepalanya, tidak berkata-kata

sejurus lamanya, sebagai malu rasanya ia akan membukakan

rahasia hatinya. Samsu menghampiri Nurbaya lalu bertanya

perlahan-lahan dengan mendekatkan kepalanya kepada kepala

Nurbaya, "Sudikah engkau kelak menjadi istriku, apabila aku

telah berpangkat dokter?"

"Masakan tak sudi," sahut Nurbaya perlahan-lahan, sebagai

takut mengeluarkan perkataan ini.

Maka diciumlah oleh Samsu perlahan-lahan punggung

tangan perawan ini.

Nurbaya tiada membantah, melainkan dibiarkan perbuatan

Samsu itu.

"Memang telah kusangka," kata Samsu dengan lemah-lembut

suaranya, "engkau tak benci kepadaku dan engkau cinta pula

kepadaku.

Dengarlah olehmu pantun ini!

Seragi kain dengan benang,

biar terlipat jangan tergulung.

Serasi adik dengan abang,

sejak di rahim bunda kandung."

"Sesungguhnya demikian rupanya," jawab Nurbaya, sambil

membalas pantun Samsu:

"Dari Medang ke pulau Banda,

belajarlalu ke Bintuhan.

Tiga bulan di kandung Bunda

jodoh 'lah ada pada Tuan."

Lalu dijawab oleh Samsu:

"Anak Cina duduk menyurat,

menyurat di atas meja batu.

Dari dunia sampai akhirat,

tubuh yang dua jadi satu.

Sekarang maklumlah engkau, bagaimana takkan khawatir

hatiku meninggalkan engkau. Kalau sesungguhnya engkau mendapat

sesuatu bahaya di sini, betapakah rasa hatiku? Hancur

luluh, tak dapat dikatakan. Jika dekat aku padamu, tak kupikirkan.

Hidup mati tidak kuindahkan, asal bersama dengan engkau

sebagai kata pantun:

Berlubur negeri berdesa,

ditaruh pinang dalam puan.

Biar hancur biar binasa,

asal bersama dengan Tuan."

Memang demikian," kata Nurbaya. "Dengarlah pula pantun

ini:

Pulau Pinang kersik berderai,

tempat burung bersangkar dua.

Jangan bimbang kasih'kan cerai,

jika untung bertemu jua.

Jika ada sumur di ladang,

tentulah boleh menumpang mandi.

Jika ada umur yang panjang,

tentulah dapat bertemu lagi.

Ke rimba ke padang jangan,

bunga cempaka kembang biru.

Tercinta terbimbang jangan,

adat muda menanggung rindu.

Ke rimba orang Kinanti,

bersuluh api batang pisang.

Jika tercinta tahankan hati,

kirimkan rindu di burung terbang"

"Benar sekali katamu itu, adikku Nurbaya! Berpantunlah

engkau, berpantunlah! Semalam ini kita dapat bersendau gurau,

besok kakanda tak ada lagi," kata Samsu pula, sambil mencium

punggung tangan kekasihnya yang halus itu, beberapa kali.

"Mempelam tumbuh di pulau

patah sedahan dijatuhkan.

Semalam ini kita bergurau,

esok Adik kutinggalkan "

Maka menyahutlah Nurbaya;

"Berlayarlah ke pulau bekal,

nakhoda makan bertudung saji.

Sambutlah salam adik yang tinggal,

selamat Kakanda pulang pergi.

Ribu-ribu di pinggir jalan,

tanam di ladang kunyit temu.

Jika rindu pandanglah bulan,

di situ cinta dapat bertemu."

Setelah keduanya berdiam diri sejurus, berpantun pulalah

Samsu:

"Kapal kembali dari Jawaa

masuk kuala Inderagiri.

Tinggallah Adik tinggallah nyawa,

besok kakanda akan pergi."

Disahuti oleh Nurbaya:

"Berbunyi gendang di Pauh,

orang menari di halaman.

Sungguh Kakanda berjalan jauh,

hilang di mata di hati jangan."

"Suatu lagi," kata Nurbaya:

"Meletus gunung dekat Bantan,

terbenam pulau dekat Jawa.

Cinta jangan diubahkan,

jika putus, sambungkan nyawa."

Dibalas pula oleh Samsu:

"Jika hari, hari Jumat,

haji memakai baju jubah.

Walaupnn had akan kiamat,

cinta di hati jangan berubah."

"Suatu lagi," kata Samsu:

"Jika Perak kerani Keling,

berlayar tentang Tapak Tuan.

Putih gagak hitamlah gading,

tidak putus cintakan 'Iuan."

"Neng," berbunyi lonceng di rumah jaga, tanda hari sudah

pukul satu malam. Ketika itu barulah asyik dan masyuk ini

sadarkan dirinya:

"Sam!" kata Nurbaya. "Hari telah pukul satu, kalau-kalau

kelak aku ditanya oleh orang tuaku. Biarlah kita bercerai dahulu

sekarang ini, esok kita bertemu pula. Tambahan lagi engkau

akan berangkat tentulah banyak yang akan kausediakan, untuk

dibawa, supaya jangan ketinggalan apa-apa. Pergilah tidur lekaslekas,

supaya jangan terlalu lelah engkau; barangkali esok hari

harus bangun pagi-pagi."

"Nur! Bagiku, asal bersama-sama dengan engkau, tiadalah

aku akan mengantuk dan lelah. Biarpun sampai pagi kita begini

saja, maulah aku; itulah kehendak hatiku. Tak dapatlah kukatakan

bagaimana perasaan dalam kalbuku waktu ini; tak dapat

kuceritakan betapa senang hatiku malam ini, melainkan

Tuhanlah yang lebih mengetahuinya. Telah lama kucita-citakan

pertemuan yang sedemikian ini; baru sekarang kuperoleh,

sebagai kata pantun komidi:

Tinggi-tinggi si matahari,

akan kerbau terlambat.

Sekian lama aku mencari,

baru sekarang aku mendapat.

Sungguhpun kebesaran dan kesenangan hatiku ini takkan

seberapa lama, tetapi tak mengapa, karena sekarang kuketahuilah

sudah, bahwa engkau pun cinta kepadaku. Kini tiadalah syak dan

wasangka lagi aku akan meninggalkan kota Padang ini, untuk

menjelang negeri orang, Nurbaya!" kata Samsu pula, sambil

memeluk Nurbaya. "Malam inilah malam yang sangat penting

bagiku dan bagi kehidupanku di kemudian hari, karena pada

malam inilah aku mendapat cinta hatiku dan jodohku yang

kurindukan siang dan malam. Selagi ada hayatku dikandung

badan, tiadalah akan lupa aku kepada malam ini, yaitu malam

yang memberi harapan yang baik bagiku, kepada waktu yang

akan datang. Itu saksiku, Nur," kata Samsu, seraya menunjuk

bulan dan bintang yang di atas langit, "tiadalah aku akan mencintai

perempuan lain, melainkan engkau seorang. Tiada lain

perempuan yang akan menjadi istriku hanya engkaulah.

Engkaulah harapanku, engkaulah mestika yang mendatangkan

kesenangan dan kesentosaan atas diriku. Bila tiada engkau,

haramlah bagiku perempuan lain," lalu diciumnya pula Nurbaya.

"Aku pun demikian pula, Sam" jawab Nurbaya. "Tuhan

saksiku, tak ada laki-laki di alam ini yang kucintai lain daripada

engkau. Engkaulah suamiku dunia akhirat."

"Sekarang baiklah engkau masuk ke dalam rumahmu, supaya

jangan diketahui orang rahasia ini," kata Samsu, seraya berjalan

berpimpin-pimpinan mengantarkan Nurbaya sampai ke tangga

rumahnya. Tatkala pintu rumah telah dibukakan, yakni setelah

kedua asyik masyuk itu berjabat salam yang amat akrab,

masuklah Nurbaya, dan Samsu pun pulanglah kembali ke

rumahnya.

***

Tiada jauh dari kota Padang, arah ke sebelah selatan, adalah

sebuah pelabuhan yang dinamakan anak negeri Teluk Bayur.

Pelabuhan ini masyhur namanya ke negeri yang lain-lain;

pertama karena selalu disinggahi kapal-kapal besar, yang pulangpergi

ke benua Eropah, sebab letaknya di jalan antara Tanah

Jawa, Hindustan, Arab dan benua Eropah. Kedua karena di

pelabuhan itu dapat mengambil batubara, yang asalnya dari

Ombilin. Tambahan pula pelabuhan ini memang sangat baik

bangunnya. Memanjang dari barat ke timur, kemudian memutar

ke utara, tersembunyilah di balik suatu tanjung dan sebuah pulau

pasir, sehingga terlindung dari gelombang besar-besar, yang

terlebih-lebih pada musim barat sangat hebatnya. Oleh sebab itu

lautan dalam teluk ini sangat tenang, tiada mendatangkan susah

kepada kapal-kapal yang berlabuh di sana. Dan oleh sebab pantai

di sana curam, karena bergunung-gunung, yang memagari

pelabuhan ini. di pihak utara, timur dan selatan air lautan di sana

dalam, sehingga dapat masuk kapal yang besar-besar, yang

mudah dapat ke tepi, pada beberapa pangkalan yang menganjur

ke laut.

Pada sebelah utara dan barat pelabuhan ini, kelihatan di

belakang pangkalan-pangkalan tadi beberapa gudang tempat

menyimpan barang-barang yang datang atau yang akan dikirim

ke mana-mana. Dekat gudang-gudang ini adalah setasiun kereta

api, yang memperhubungkan pelabuhan Teluk Bayur dengan

kota Padang. Jalan raya pun ada pula antara kedua tempat itu,

untuk kendaraan yang lain-lain. Tiada jauh dari setasiun tadi,

kelihatan gudang batu bara yang amat besar, diperbuat pada

suatu tempat yang tinggi. Dari gudang ini adalah sebuah

jembatan kereta api yang tinggi, tempat daripada besi, menganjur

ke laut. Kapal yang hendak dimuati batu bara, berlabuh di bawah

jembatan itu; dengan demikian mudahlah dapat dicurahkan batu

bara yang ada dalam gerobak kereta api itu, langsung ke kapal.

Kelengkapan inilah yang menambahkan indah dan masyhur

nama pelabuhan ini ke negeri lain-lain, sebagai pelabuhan

tempat mengambil batu bara.

Pada keesokan harinya daripada malam Samsu bersukasukaan

di rumahnya, karena hendak berpisah dari sahabat

kenalannya, kelihatan beberapa kapal berlabuh di pelabuhan tadi.

Ada yang hendak berlayar ke selatan, ada yang hendak ke utara

dan ada pula yang hendak terus ke Bombai, Kalkuta, Mesir dan

benua Eropa. Kemudian kelihatan pula kapal Cina dan Jepun,

yang hendak kembali ke negerinya, melalui pulau Pinang dan

Singapura. Kapal Inggris dan Jerman pun ada, nyata kelihatan

pada benderanya, yang berkibar di atas tiang. Sebuah daripada

kapal-kapal itu, ialah kapal yang hendak ditumpangi Samsu dan

sahabat-sahabatnya, berlayar ke Jakarta.

Oleh sebab kapal ini hendak bertolak pukul dua belas siang

dan daripada waktu itu telah pukul sepuluh, sangatlah ramai

dekat kapal ini; riuh rendah pendengaran, tiada keruan. Ada yang

memuat batu bara, ada yang mengeluarkan barang-barang, ada

yang membongkar muatan dan ada pula yang naik-turun berlarilari,

sebagai ada sesuatu yang ketinggalan.

Di atas kapal, kelasi-kelasi sedang asyik mengerjakan

pekerjaan masing-masing dan mualim-mualim sedang ribut

memerintah ini dan itu. Beberapa penumpang geladak mencari

tempat yang baik dan mengatur bawa-bawaannya. Penumpang

kelas dua dan kelas satu, ada yang duduk bercakap-cakap di

meja makan, ada pula yang berdiri di beranda kapal, melihat

sekalian ingar bingar itu. Orang yang berdagang buah-buahan

dan makan-makanan pun tak kurang, berjalan kian kemari,

sambil menawarkan dan menghargakan jualannya.

Pangkalan penuh dengan beratus-ratus laki-laki perempuan,

baik bangsa anak negeri, baik bangsa asing yang akan turut

berlayar atau mengantarkan sanak saudara, sahabat kenalannya.

Ada yang duduk berkata-kata, ada yang berdiri berpayung,

karena kepanasan dan ada pula yang berjalan bolak-balik,

sebagai jemu menunggu.

Di sisi gudang bercakap-cakap seorang perempuan tua

dengan anaknya yang rupanya hendak berlayar, sambil memberi

nasihat, supaya anaknya berhati-hati di jalan dan di negeri orang.

Di atas batu duduk seorang laki-laki tua bertutur-tutur dengan

saudaranya, yang rupanya pun hendak meninggalkan tanah

airnya, berlayar mencari penghidupan di rantau orang. Yang

sekedar datang melihat saja pun tiada kurang pula, tertawa gelakgelak

serta bertanya kepada temannya; bilakah ia akan berlayar

pula.

Di dalam orang yang banyak itu tiadalah kelihatan oleh kita

sahabat kita Samsulbahri, karena ia waktu itu ada di dalam bilik

kelas dua, sedang berkumpul-kumpul dengan ibu-bapak, sanak

saudara dan sahabat kenalannya.

"Tak kelupaan apa-apa engkau Sam?" tanya Sutan Mahmud.

"Tidak, Ayah," sahut Samsu.

"Petimu di mana?" tanya Sutan Mahmud pula.

"Ada di sini sekaliannya."

"Dan uang belanjamu, sudahkah disimpan dalam peti?"

"Ada pada hamba."

"Ingat-ingat engkau di negeri orang, Samsu!" kata ibunya.

"Tahu-tahu membawakan diri: mandi di hilir-hilir, berkata di

bawah-bawah. Janganlah disamakan saja dengan di sini;

janganlah disangka masih anak orang berpangkat juga di sana,

sebab engkau akan berdiri sendiri lagi, jauh daripada kami,

sekalian. Bila ada apa-apa, lekaslah tulis surat kepada Ayahmu!"

lalu Sitti Maryam menyapu air matanya, yang berlinang-linang

di pipinya.

"Belajar sungguh-sungguh, jangan suka beriang-riang tiada

pada tempat dan waktunya; jangan bercampur dengan orang

yang kurang baik, dan jangan pula berbelanja yang tiada keruan,

supaya cukup uang yang akan dikirimkan kepadamu tiap-tiap

bulan," kata ayahnya pula.

Tatkala itu Nurbaya ada berdiri dekat Samsu, bersandar di

pinggir tempat tidur. Walaupun rupanya ia tiada mengindahkan

segala percakapan itu, tetapi pikirannya kepada Samsu saja dan

dipandangnya kekasihnya ini dengan tiada putus-putusnya. Pada

waktu itulah sangat terasa olehnya keberatan perceraian ini.

Sebelum ia berdiri di pinggir laut, yang akan memisahkannya

daripada kekasih dan saudaranya ini, pada sangkanya—tentulah

mudah dapat dilipurnya kesedihan perceraian itu. Akan tetapi

tatkala dilihatnya kapal yang akan membawa jantung hatinya,

jauh daripadanya, barulah dirasainya, bahwa perceraian itu tentu

akan melukai hatinya dengan luka yang parah. Berdebar

jantungnya, jika diingatnya sejurus lagi cahaya matanya ini akan

luput dari pemandangannya, bukan untuk sehari dua hari ataupun

sepekan dua pekan. Entah beberapa tahun lagi, baru dapat pula ia

melihat wajah Samsu tiadalah dapat ditentukan. Dan apabila

teringat olehnya mimpi Samsu yang dahsyat itu, bertambahtambahlah

bimbang dan susah hatinya. Itulah sebabnya selalu

dipandangnya Samsu dan dipuas-puaskannya hatinya melihat

teman sekolah yang dicintainya ini.

Tatkala itu masuklah beberapa orang membawa hadiah buahbuahan

sebagai mangga, jeruk dan nenas, lalu berkata, "Inilah

yang dapat kami berikan kepada Engku Muda, obat mabuk di

jalan. Kami pohonkan kepada Allah supaya mudah-mudahan

Engku Muda selamat pulang pergi."

"Terima kasih," jawab Samsu, sambil menerima pemberian

itu. "Hamba pun berharap, Adik dan Kakak yang tinggal,

sekaliannya dipeliharakan Tuhan selama-lamanya."

Setelah berjabat salam, keluarlah mereka sekalian, sehingga

akhirnya tinggallah Samsu berdua dengan Nurbaya. Maka dipandanglah

oleh Samsu muka kekasihnya ini, serta dipegangnya

kedua belah tangannya, sedang air matanya bercucuran keluar,

dengan tiada dirasainya. Lama ia berdiri sedemikian itu dengan

tiada dapat berkata-kata, karena dadanya bagaikan penuh dan

mulutnya bagai terkunci. Akhirnya keluarlah juga suaranya

walaupun terhenti-henti.

"Nurbaya!" katanya. "Ingat-ingat menjaga diri! ... Jika ada

apa-apa, lekas tulis surat kepadaku ... Meskipun tak dapat aku

tolong engkau dengan tenaga ataupun dengan uang, barangkali

dapat juga dengan nasihat. Mungkin dapat pula kuberi ingat

engkau dan kuberi pelajaran dari jauh. Orang tuaku, janganlah

kauperbedakan dengan orang tuamu dan datanglah kerap-kerap

ke sana, melihat-lihati mereka, walaupun aku tak ada lagi.

Barang apa kesusahanmu, katakanlah pula kepadanya, karena

mereka itu pun sayang kepadamu, sebagai kepadaku.

Bila ada sesuatu hal dalam rumah orang tuaku, kabarkanlah

dengan segera kepadaku, lebih-lebih tentang hal-ihwal ibuku,

karena rupanya ia sangat berdukacita atas perceraian ini.

Kemudian kupinta kepadamu, janganlah engkau lupa akan janji

dan sumpah kita tadi malam, karena sejak waktu itu batinnya

telah kawinlah kita; engkau telah suka menjadi istriku, aku pun

telah suka pula menjadi suamimu. Hanya menurut syarat dunialah,

belum lagi kita berhubung. Tulislah surat kepadaku tiap-tiap

kapal bertolak dari sini dan ceritakanlah hal-hal di sini kepadaku,

supaya aku jangan sangat canggung.

Apabila aku telah sampai kelak ke Jakarta, kukirimkanlah

kepadamu apa-apa yang dapat kubelikan untuk engkau. Sekarang

inilah saja yang dapat kuberikan kepadamu sebagai tanda mata.

Terimalah olehmu dokoh ini! Di dalamnya ada gambarku. Bila

engkau tercinta akan daku, lihatlah gambar itu; itulah ganti

diriku."

Nurbaya menerima tanda mata Samsu itu lalu diciumnya,

sedang air matanya jatuh bercucuran. "Aku banyak minta terima

kasih kepadamu, Sam," jawab Nurbaya, "dan aku berjanji akan

memakai dokoh ini seumur hidupku. Akan jadi tanda mata

daripadaku, tiadalah lain yang dapat kuberikan kepadamu, hanya

cincin inilah. Moga-moga sudi engkau memakainya!" lalu

Nurbaya menanggalkan cincin mutiara yang dipakainya pada jari

manisnya dan memberikan cincin itu kepada Samsu, seraya berkata,

"Engkau pun, jika teringat kepadaku, misalkanlah cincin ini

diriku dan simpanlah ia baik-baik, karena bagiku itulah tali yang

mengikat kita dari dunia sampai ke akhirat. Dengan segera akan

kusuruh perbuat potretku supaya dapat kukirimkan kelak

kepadamu.

Aku pun mengucapkan selamat jalan.kepadamu. Moga-moga

dipeliharakan Tuhan engkau dalam perjalananmu ke negeri

orang, pulang balik, dan sampailah juga maksud yang kautujui,

supaya, apabila engkau telah ada pula di sini, bukannya Samsu

saja lagi namamu, melainkan dapatlah kupanggil engkau dokter

Samsu.

Ingat-ingatlah menjaga diri di negeri orang, karena sekarang

engkau akan berdiri sendiri, jauh daripada ibu-bapak dan handai

tolanmu, sehingga barang sesuatu, engkau sendirilah yang akan

memutuskannya. Dan janganlah sampai tergoda oleh segala yang

tak baik, karena Jakarta negeri besar, banyak godaan yang tak

patut di sana."

Tatkala itu berbunyilah seruling kapal yang pertama, mengingatkan

kepada orang-orang kapal ataupun penumpang, supaya

bersiap, karena kapal akan berangkat. Maka keluarlah Samsu

dengan Nurbaya dari dalam kamar kapal, lalu turun ke

pangkalan. Di sana bersalamlah ia dengan sekalian orang yang

mengantarkan, serta meminta maaf dan ampun atas segala dosa

dan kesalahannya, lahir dan batin, yang boleh memberati dunia

dan akhirat.

Sekalian mereka menangis mencucurkan air mata, karena

hampir sekaliannya sayang, kepada Samsu, sebab adat dan

kelakuannya yang baik. Samsu pun tak dapat pula menahan air

matanya, walaupun digagahinya dirinya. Ayahnya diciumnya

tangannya, dan ibunya dipeluk dan diciumnya pipinya.

Akhirnya pergilah ia kepada Nurbaya, lalu dipegangnya

tangan gadis ini beberapa lamanya, sebagai tak hendak dilepaskannya.

Dadanya rasakan sesak menahan kesedihan yang timbul

dalam hatinya karena perceraian ini, sehingga tiadalah dapat ia

berkata-kata lain daripada, "Selamat tinggal, Nur!... Mudahmudahan

lekas bertemu kembali," lalu berjalanlah ia cepat-cepat

naik ke kapal.

Nurbaya pun tiada pula dapat menjawab apa-apa melainkan,

"Selamat jalan, Sam! ... selamat sampai ke Jakarta!"

Setelah naiklah Samsu ke atas kapal, lalu berdirilah ia bertopang

dagu pada pagar besi yang ada di sisi geladak kapal,

karena pada waktu itu seruling yang kedua telah berbunyi pula.

Dan tiadalah lama kemudian daripada itu berbunyilah seruling

yang ketiga, lalu dilepaskanlah tali-temali dan diangkatlah

jangkar.

Tatkala baling-baling kapal telah berputar, bergeraklah kapal

itu; mula-mula perlahan-lahan, tetapi kemudian bertambahtambah

cepat, sehingga kapal itu makin lama makin jauhlah dari

pangkalan. Setangan berkibaran di sisi kapal, tanda yang pergi

memberi selamat kepada yang tinggal. Dari pangkalan dibalas

oleh yang tinggal dengan mengibarkan setangan pula memberi

selamat jalan kepada yang pergi. Di antara orang-orang ini ada

yang masih berteriak, "Jangan lupa!" ada pula yang berkata,

"Lekas balik!" Dari kapal pun dibalas dengan jawaban,

"Baiklah!"

Samsu tiada lepas-lepas memandang Nurbaya sambil

mengibarkan setangan sutera birunya dan dari daratan tiada pula

putus-putusnya dibalas alamat itu oleh Nurbaya, dengan

setangan merah jambunya.

Makin lama kapal makin jauh dari cerocok dan jalannya pun

bertambah cepat. Akhimya tiadalah dapat dibedakan lagi oleh

Samsu orang-orang yang berdiri di pangkalan, lalu masuklah ia

ke biliknya, tidur berselimut, karena tiada dapat lagi dipandangnya

tanah airnya yang akan ditinggalkannya. Dadanya ditekannya

ke bantal, sebagai hendak menahan sakit yang menyesak ke

hulu jantungnya, dan kepalanya pusing, seperti orang mabuk

cendawan.

Tatkala Nurbaya tiada dapat lagi membedakan kekasihnya,

daripada orang lain, di atas kapal, berjalanlah ia perlahan-lahan

ke ujung suatu tanjung, akan mengikuti kapal itu dengan matanya.

Makin lama makin sunyilah rasanya padanya alam ini.

Sekalian tempik sorak orang yang bekerja di pelabuhan dan

segala bunyi perkakas pembongkar, penaikan dan pembawa

barang-barang, yang masih riuh rendah, pada pendengaran

Nurbaya makin lama makin jauh. Orang yang berpuluh-puluh

banyaknya, berjalan pulang kembali ke muka hanggar, menjadi

kecil-kecil pada pemandangannya. Akhirnya terduduklah ia di

atas batu, lalti bertopang dagu memandang kapal yang membawa

kekasihnya, yang keluar dari kuala.

Tatkala berbunyi meriam yang dipasang di kapal, akan

memberi selamat tinggal kepada pelabuhan Teluk Bayur,

baharulah nyata oleh Nurbaya, bahwa kapal itu telah membelok

menuju ke barat. Di sanalah teringat olehnya, bagaimanakah

halnya kelak, seorang diri di rumahnya. Dengan siapakah ia akan

bercakap-cakap dan bermain-main lagi, waktu dan pulang

sekolah? Bila ada sesuatu halnya, kepada siapakah hendak

dikatakannya? Siapakah tempat ia membukakan rahasia hatinya,

siapakah tempat ia bertanya dan bermupakat dalam halnya yang

sulit-sulit, siapakah yang akan menolongnya lagi, bila ia di

sekolah beroleh hitungan yang sukar?

Demikian ingatan yang timbul dalam hati Nurbaya, tatkala ia

duduk termenung seorang diri di atas batu, walaupun matanya

selalu memandang ke kapal yang hampir lenyap itu.

Tiada berapa lama kemudian daripada itu, hilanglah kapal ini

daripada pemandangan Nurbaya, hilang di balik Bukit Sikabau.

Hanya asapnyalah yang masih tinggal tergantung di udara, di

atas air laut. Tatkala itu hilanglah pula segala penglihatan dan

pendengaran.Nurbaya, sebagai lulus tempatnya berpijak dan tergantung

badannya di awang-awangan. Apabila tak ada ayahnya

dekat padanya, yang memegang bahunya perlahan-lahan dari

belakang, pastilah ia jatuh rebah ke tanah, karena tak ingatkan

dirinya lagi. Untunglah Baginda Sulaiman lekas datang

menolong anaknya, lalu diangkatnya, dipimpinnya berjalan

perlahan-lahan pulang kembali.

VI. DATUK MERINGGIH

Di kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu,

beratapan seng. Letaknya jauh dari jalan besar, dalam kebun

yang luas, tersembunyi di bawah pohon-pohon kayu yang

rindang. Jika ditilik pada alat perkakas rumah ini dan susunannya,

nyatalah rumah ini suatu rumah yang tiada dipelihara benarbenar,

karena sekalian yang ada dalamnya telah tua kotor dan

tempatnya tiada teratur dengan baik.

Di serambi muka hanya ada sebuah lampu gantung macam

lama, yang telah berkarat besi-besinya. Apabila tak ada orang

datang, lampu itu tiada dipasang. Dan oleh sebab yang empunya

rumah rupanya jarang menerima jamu pada malam hari di sana,

minyak tanah yang ada dalam lampu itu, terkadang-kadang

berpekan-pekan belum habis.

Di bawah lampu ini, ada meja bundar, yang rupanya telah

sangat tua, dikelilingi oleh empat kursi goyang dari kayu, yang

warnanya hampir tak kelihatan lagi, karena catnya telah hilang.

Di ruang tengah, hanya ada sebuah lemari makan, yang umurnya

kira-kira setengah abad.

Sebuah meja marmar kecil, yang batunya telah kuning serta

berlubang-lubang, terletak dekat dinding, diapit oleh dua buah

kursi kayu yang tempat duduknya dari kulit kambing, sedang di

lantai terhampar tikar rotan yang telah tua. Ruang tengah ini

pada malam hari diterangi oleh sebuah lampu dinding, yang

dipasang dari setengah tujuh sampai pukul sepuluh malam. Di

serambi belakang, hanya ada suatu perhiasan saja, yaitu kursi

malas kain, yang tak kelihatan lagi coraknya.

Itulah rumah Datuk Meringgih, saudagar yang termasyhur

kaya di Padang. Ia bergelar Datuk bukanlah karena ia Penghulu

adat, melainkan panggilan saja baginya. Walaupun rumahnya ini

katanya sekadar tempat bendi, kereta dan kuda dengan kusirnya,

tetapi memang itulah rumahnya yang sesungguh-sungguhnya;

karena di sanalah ia tetap tinggal, sedang sebuah daripada

tokonya, yang dikatakannya rumahnya yang sebenar-benarnya,

dipakainya hanya untuk menyambut kedatangan sahabat kenalan

saja. Malukah Datuk Meringgih mengaku rumahnya di Ranah itu

tempat kediamannya yang sejati? Barangkali jawab pertanyaan

ini akan bertemu juga nanti. Tatkala cerita ini terjadi, Datuk

Meringgih kelihatan duduk di serambi belakang rumahnya yang

di Ranah itu, di atas kursi malas tadi.

Sebelum diceritakan kekayaannya, baiklah digambarkan

dahulu bentuk dan bangun badannya dan diterangkan pula tabiat

dan kelakuannya, supaya kenal benar kita akan dia dan tiada lupa

lagi, apabila ia kelak berulang-ulang bertemu dalam hikayat ini.

Badannya kurus tinggi, punggungnya bungkuk udang,

dadanya cekung, serta kakinya pengkar, kepalanya besar, tetapi

tipis di muka, serta sulah pula. Rambutnya yang tinggal sedikit

sekeliling kepalanya itu, telah putih sebagai kapas dibusur. Misai

dan janggutnya panjang, tetapi hanya beberapa helai saja, tergantung

pada dagu dan ujung bibirnya, melengkung ke bawah.

Umurnya lebih dari setengah abad. Matanya kecil, tetapi tajam,

hidungnya bungkuk, mulutnya besar, giginya hitam dan kotor,

yang di muka keluar sebagai gigi tupai. Telinganya besar, seperti

telinga gajah, kulit mukanya berkarut marut dan penuh dengan

bekas penyakit cacar.

Menurut gambar yang terlukis di atas, nyatalah Datuk

Meringgih ini bukan seorang yang masih muda remaja dan

bersikap tampan, melainkan seorang tua renta yang buruk.

Sekarang marilah kita ceritakan adat dan tabiatnya, kalau-kalau

berpadanan dengan rupanya.

Saudagar ini adalah seorang yang bakhil, loba dan tamak,

tiada pengasih dan penyayang, serta bengis kasar budi

pekertinya. Asal ia akan beroleh uang, asal akan sampai

maksudnya, tiadalah diindahkannya barang sesuatu, tiadalah

ditakutinya barang apa pun dan tiadalah ia pandang-memandang.

Terbujur lalu, terbelintang patah, katanya.

Apabila ia hendak mengeluarkan uangnya, walau sesen sekali

pun, dibalik-balik dan ditungkuptelentangkannya duit itu beberapa

kali; karena sangat sayang ia akan bercerai dengan mata

uangnya itu.

Ditimbangnya benar-benar, sungguhkah perlu uang itu

dibelanjakan atau tidak dan tak adakah jalan lain yang akan

dapat menyampaikan maksudnya, dengan tiada mengeluarkan

uang atau dengan mengeluarkan belanja yang sedikit.

Dicekiknya lehernya, diikatnya perutnya, ditahannya nafsunya,

asal jangan keluar uangnya. Jika ia makan nasi, hanya

dengan sambal lada atau ikan kering saja yang disimpannya

sampai beberapa hari. Lauk-pauk ini padalah baginya, karena

sangkanya dapur yang berasap setiap hari, tiada berguna dan

banyak mengeluarkan biaya. Makanan dimakan, sedapnya

sehingga leher sudah itu jadi kotoran.

Rumahnya sebagai kandang kambing dan pakaiannya yang

seperti pakaian kuli itu, tiada mengapa baginya, asal jangan

keluar duitnya, untuk sekaliannya itu. "Di luar dibersih-bersihkan,

sedang di dalam perut sendiri tiada terhingga kotornya,"

demikianlah katanya.

Ditulikannya telinganya atas segala maki, nista, dan cacat

orang kepadanya, dibutakannya matanya kepada sekalian

penglihatan yang menyedapkan pemandangan asal uangnya

jangan keluar. Tiada lain kesukaan yang diketahuinya, melainkan

memandang peti hartanya, menghitung mata uang dan

meraba uang kertasnya.

Diguncangnya peti uangnya, akan mendengar bunyi uang

yang ada dalamnya dan ditimang-timangnya tabungnya untuk

mengetahui beratnya. Berjam-jam lamanya ia dapat bermainmain

dengan hartanya itu dan berhari-hari lamanya ia dapat bermain-

main dengan hartanya itu dan berhari-hari lamanya ia dapat

menghitung uangnya itu, dan di dalam hal yang sedemikian,

lupalah ia akan dunia ini dan akan dirinya sendiri.

Berapi matanya, kembang hidupnya, kuncup telinganya, ternganga

mulutnya, gemetar tangannya dan busung badannya, bila

dilihatnya cahaya uang mas dan uang perak yang berkilat-kilatan

atau didengarnya bunyi logam ini mendering. Diambilnya mata

uang itu sebiji-sebiji, lalu diperhatikan dan diamat-amatinya

capnya gerigi pinggirnya, gambarnya dan tulisannya. Gambar

pada uang itu rupanya baginya terlebih indah daripada lukisan

buah tangan pelukis yang masyhur-masyhur. Bunyi uang itu

terlebih merdu didengarnya daripada lagu yang indah-indah yang

dimainkan oleh ahli musik. Oleh sebab itu kerap kali dipermainmainkannya

hartanya itu dan dibawanya tidur bersama-sama

untuk mendapat mimpi yang menyenangkan hatinya.

Harapan, ingatan, dan niatnya, siang malam, petang dan pagi,

tiada lain, melainkan akan menambah harta bendanya yang telah

banyak itu, tiada berkeputusan dan tiada berhingga. Sekalian

kekayaan dunia ini hendaknya janganlah jatuh pada orang lain,

melainkan pada dirinya sendiri sebelumnya. Itu pun agaknya

belum juga puas hatinya. Makmurlah kehidupannya, bila tubuhnya

tertutup dalam timbungan mata benda itu. Takut ia sakit dan

mati, karena tiada dapat bercerai dengan harta dania ini.

Padanya tak ada lagi kesenangan yang lain daripada uang;

sekaliannya uang, uang dan sekali lagi uang. Ibu-bapa, anak-istri,

sanak saudara, sahabat kenalanan, handai tolan, dan pelipur

laranya, tiadalah lain daripada uang. Uang itulah kekasilmya,

uang itulah Tuhannya. "Hidup dengan uang, mati dengan uang,"

katanya. Tiada ia hendak bercerai barang sekejap pun dengan

uangnya. Uang baginya bukan alat untuk memperoleh

kesenangan, tetapi uang itulah kesenangan.

Untuk memperoleh harta benda itu, tiada ia ngeri akan

perbuatan yang kejam dan jahat, tiada ia malu akan kelakuan

yang keji dan hina. Tiada ia pandang-memandang, tilik-menilik,

segan-menyegani; tiada ibu-bapa, tiada adik tiada kakak, tiada

sahabat tiada kenalan, tiada tinggi tiada rendah dan tiada hina

tiada mulia baginya, untuk mencapai keinginannya yang rendah

ini. Tiada ia menaruh takut, tiada menaruh ngeri, tiada menaruh

kasihan, tiada menaruh sedih. Yang mulia dihinakannya, yang

kaya dimiskinkannya, yang berpangkat dijatuhkannya. Hamba

itu diletakkannya di atas singgasana dan anjing itu diangkatnya

ke puncak Gunung Merapi. Terbujur lalu, terbelintang patah,

lamun uang harus diperolehnya.

Demikianlah Datuk Meringgih, saudagar yang termasyhur

kaya di Padang itu. Ia kaya dan beringin hendak bertambah kaya

itulah, artinya karena hendak mempunyai harta. Bukan kekayaan

itu yang dimintanya hanya itulah yang dikehendakinya.

Hai Datuk Meringgih! Apakah paedahnya kekayaan yang

sedemikian bagimu dan bagi sesamarnu? Engkau dilahirkan dari

perut ibumu dengan tiada membawa suatu apa, dan apabila

engkau kelak meninggalkan dunia yang fana ini, karena maut itu

tak dapat kauhindarkan, walaupun hartamu sebanyak harta raja

Karun sekalipun tiadalah lain yang akan engkau bawa ke tempat

kediamanmu yang baka itu, melainkan selembar kain putih yang

cukup untuk menutup badanmu jua.

Semasa engkau masih hidup, berlelah-lelah engkau

mengumpulkan harta benda dengan tiada jemu jemunya. Berapa

kesusahan dan kesakitan yang kaurasai, berapa azab dan

sengsara yang kauderita, berapa umpat dan sumpah yang

kautanggung, berapa maki dan nista yang kaudengar, akan tetapi,

bila engkau kelak berpulang ke rahmatullah, akan tinggallah dan

berbagi-bagilah kembali hartamu itu kepada yang masih hidup.

Harta dunia dan harta akhirat itulah yang dapat kau bawa pulang

ke negeri yang baka dan menolong engkau dalam perjalananmu

ke sana dan kehidupanmu yang kekal di sana kelak.

Semasa hidupmu, engkau rebut harta itu dari tangan orang

lain, bila engkau telah mati niscaya jatuhlah kembali harta itu ke

tangan orang lain itu. lnilah yang dikatakan pepatah; adat dunia

balas-berbalas. Segala sesuatu tiada kekal, melainkan bertukartukar

dan berpindah-pindah juga. Bulan berputar mengedari

matahari, dan matahari berputar pula mengedari alam. Apakah

yang tetap? Tak ada, melainkan Tuhan Yang Esa juga.

Kekayaanmu yang dikurniakan Tuhan kepadamu itu tiada

memberi paedah bagi dirimu sendiri, bagi sesamamu manusia

dan bagi isi dunia ini; melainkan mendatangkan kesenangan dan

kedukaan juga kepada mereka sekalian dan kepada dirimu

sendiri pun.

Sungguhpun telah adat manusia bersifat loba dan tamak,

walaupun tiada sama pada tiap-tiap orang, karena jika telah ada

yang sejari hendak yang sejengkal, bila telah ada yang sejengkal

hendak sedepa, dan bila ada yang sedepa pun hendak lebih juga

tiada berkeputusan, selagi hayat di kandung badan, dan

walaupun sifat yang demikianlah yang membawa manusia itu ke

padang kemajuan, tetapi hendaklah berhati-hati, sebab jalan yang

ditempuh bercabang dua; sebuah jalan kebaikan dan sebuah lagi

jalan kejahatan. Apabila jalan yang baik itu kauturut, berhasillah

pekerjaanmu, karena memberi paedah kepada dirimu sendiri dan

sesamamu manusia. Akan tetapi apabila jalan yang jahat itu yang

kautempu,. takkan tiada pekerjaanmu itu akan mendatangkan

bahaya dan bencana juga kepada sesamamu manusia dan kepada

dirimu sendiri pun.

Apabila hartamu itu kaupergunakan untuk pembela dirimu,

supaya mendapat kehidupan yang senang, makan minum yang

cukup, rumah tangga dan pakaian yang baik, ataupun akan

engkau habiskan, untuk memuaskan hawa nafsumu yang baik,

sudahlah; karena seharusnyalah tiap-tiap manusia itu berikhtiar

mencari kesenangan dan kemajuan segala hal, asal jangan

melewati batas kebaikan.

Sungguhpun demikian, akan lebih berpaedah juga pekerjaanmu,

bila hartamu itu kaupergunakan untuk berbuat baik kepada

sesamamu manusia dan berbuat bakti kepada Tuhanmu supaya

dapat engkau memperbaiki yang rusak, menyelesaikan yang

kusut, menolong yang kesusahan, melipur yang miskin, jadi

mengurangi azab sengsara dunia ini. Karena ketahuilah olehmu,

bahwa dunia ini terlebih banyak mengandung yang susah

daripada yang senang, yang hina daripada yang mulia, yang,

kurang daripada yang cukup, yang miskin daripada yang kaya,

yang daif daripada yang kuat, yang malang daripada yang mujur.

Apabila tiada daripada engkau dan orang-orang kaya-kaya lain,

yang sebagai engkau, daripada siapakah mereka akan mendapat

pertolongan?

Ingatlah! Kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan

kehinaan, kesusahan dan kesenangan, ya sekaliannya, datangnya

daripada Tuhan Yang Esa juga. Jika dikehendakinya, dengan

sekejap mata, bertukarlah kekayaan itu menjadi kemiskinan,

kemuliaan menjadi kehinaan, kesukaan menjadi kedukaan dan

tinggilah yang rendah, kayalah yang miskin, mulialah yang hina,

dan tertawalah yang menangis.

Oleh sebab itu, janganlah sombong dan angkuh, karena

beroleh kekayaan, kemuliaan, kesenangan, dan kesukaan

melainkan insyaflah, bahwa sekalian itu selydar pinjaman, yang

setiap waktu boleh diambil kembali oleh yang empunya.

Dan engkau pun yang berasa miskin dan hina, yang selalu

mendapat bahaya, kesengsaraan, dan kesedihan, janganlah putus

asa, melainkan sabar dan tawakallah juga kepada Tuhanmu serta

pohonkan pertolongan dan kurnia-Nya. Sesudah hujan, niscaya

panas.

Yang beruntung janganlah menghinakan yang malang, dan

yang malang janganlah dengki kepada yang beruntung

melainkan berkasih-kasihanlah selama-lamanya, serta tolongmenolong

dalam segala hal, karena yang ber¬untung perlu

kepada yang malang, dan yang malang perlu pula kepada yang

mujur. Jika tak ada yang malang, niscaya tak ada pula yang

inujur, dan jika tak ada yang beruntung, yang malang pun tak

ada pula.

Apabila engkau pergunakan hartamu itu hai Datuk

Meringgih, untuk kebaikan, takkan tiada kebaikan pulalah yang

akan datang kepadamu, yang terlebih daripada kesukaan dan

kesenangan, yang engkau peroleh daripada bunyi dan cahaya

mata bendamu itu: karena suatu perbuatan atau pil.iran pun,

buruk dan baik, tiada hilang, sebagai hujan jatuh ke pasir,

melainkan hidup selama-lamanya dan timbul kembali pada

dirimu atau diri sesamamu.

Apabila kelak datang waktunya engkau akah meninggalkan

dunia ini dan engkau menoleh ke belakang, kepada jalan yang

telah kautempuh, niscaya perasaan yang sejahteralah yang akan

mengikutmu, karena aku ketahui, bahwa hidupmu tiada kosong,

sebagai padi hampa, melainkan banyak mendatangkan jasa

kepada sesamamu manusia.

Sungguhpun Datuk Meringgih tiada disukai orang, karena

tabiat dan kelakuannya yang buruk dan loba tamaknya itu, tetapi

ia ditakuti dan disegani orang juga, sebab hartanya yang tiada

ternilai banyaknya itu: lebih-lebih oleh mereka yang acap kali

kesusahan uang. Karena ialah tempat walaupun dengan

bunganya yang terkadang-kadang sampai separuh dari pinjaman.

Bila telah sampai kepada waktu perjanjian, hutang itu belum

dibayar oleh yang meminjam, niscaya tiada diberi maaf lagi

Datuk Meringgih, melainkan didakwanyalah mereka dan

dirampasnya panjar gadaian itu.

Di manakah diperoleh Datuk Meringgih harta yang sekian

banyaknya itu? Inilah suatu rahasia yang selalu menjadi permainan

mulut dan buah pikiran isi kota Padang. Acap kali diperbincangkan,

kerapkali diterka-terka, tetapi tiadalah seorang jua

pun yang mengetahui hal itu. Demikian pula tiada seorang juga

yang tahu, siapakah Datuk Meringgih ini sebenarnya dan dari

mana asalnya.

Kira-kira dua puluh tahun yang telah lalu, Datuk ini dikenal

orang di Padang sebagai penjual ikan kering, di pasar di

Kampung Jawa. Tiba-tiba, pada suatu waktu, dibelinya sebuah

kota dan sejak waktu itu sangatlah lekas bertambah-tambah

kekayaannya, sehingga tatkala umurnya telah lebih daripada

empat puluh tahun, ia telah mempunyai beberapa toko-toko yang

besar dan gudang-gudang yang penuh berisi barang-barang

dagangan. Rumah sewaannya berpuluh-puluh, hampir sekalian

tanah di kota Padang ada dalam tangannya. Kebun kelapanya

berbahu-bahu dan sawahnya beratus-ratus piring. Di Muara,

hampir sekalian perahu yang membawa dan mengambil

dagangan, kepunyaannya. Seisi kota Padang heran melihat

kekayaan yang sebanyak itu dan yang bertambah-tambah secepat

itu, dengan tiada diketahui orang bagaimanakah Datuk

Meringgih memperolehnya, karena yang didengar dan dilihat

orang, hanyalah bakhil dan lobanya saja.

Oleh sebab itu, berbagai-bagailah cerita yang kedengaran

tentang asal kekayaan Datuk Meringgih ini. Ada yang berkata ia

mendapat lotere seratus ribu dan ada pula yang berkata ia mendapat

harta yang tersembunyi di dalam tanah. Orang yang keras

beragama menyangka ia telah bertemu dengan Nabi Khaidir

pada malam dua puluh tujuh bulan Ramadhan. Orang yang

percaya kepada takhyul, mengira bersahabat dengan jin. Dan

orang yang benci kepada Datuk ini mengatakan ia memasukkan

candu gelap. Akan tetapi yang sebenarnya, hanyalah Datuk

Meringgih seorang yang mengetahui.

Sekarang marilah kita dekati Datuk Meringgih, yang sedang

duduk di atas kursi malas di serambi belakang rumahnya itu,

untuk mengetahui apakah kerjanya, duduk seorang diri.

Tiada lama datuk meringgih duduk sedemikian itu, hari pun

malamlah dan gelaplah segala yang di darat dan di udara pun

telah masuk ke dalam kandang atau sarangnya. Hanya

kelelawarlah yang ke luar terbang ke sana-sini, mencari

mangsanya. Keluang terbang tinggi beriring-iringan arah selatan,

mencari buah-buahan yang masak. Burung hantu mulai berbunyi

dalam lubang-lubang kayu musang pun bangunlah daripada

tidurnya, lalu mengintip ke sana kemari, akan mengetahui,

tiadakah ada bahaya di luar sarangnya. Ular menjalar di celahcelah

batu mengintip katak dan binatang yang kecil-kecil.

Si sebelah barat, langit tertutup oleh awan hitam yang

mengandung hujan, yang mengembang dari laut ke darat. Cuaca

yang terang, menjadi gelap-gulita, sehingga tiada kelihatan

barang sesuatu pun. Bintang-bintang di langit lenyap, sebagai

ditutup tabir hitam. Hari tenang, angin tak ada, tanda topan akan

datang. Di jalan, raya sunyi senyap, sebagai negeri dialahkan

garuda. Terkadang-kadang melintas orang seorang-seorang yang

berjalan cepat-cepat, sebagai takut akan kehujanan. Pada tiaptiap

rumah tiada kelihatan lampu, sebab jendela-jendela telah

ditutup. Walaupun gelap sedemikian, tetapi Datuk Meringgih

tiada menyuruh menerangi serambi belakang rumahnya. Sebab

bakhilnya pulakah atau sebab yang lain? Segera akan kita

ketahui.

Sekonyong-konyong kelihatanlah sekejap mata, kilat yang

menerangi seluruh alam yang gelap gulita itu dan tatkala itu juga

kedengaran halilintar berbunyi bagai membelah bumi, disertai

oleh hujan yang amat lebat, seperti air dicurahkan dari

langit.Tiada lama kemudian daripada itu bertiuplah angin topan

yang sangat hebat, menumbangkan beberapa pohon kayu yang

besar-besar.

Walaupun hari rupanya seakan-akan kiamat, tetapi Datuk

Meringgih tiadalah masuk ke dalam rumahnya, adalah sebagai

sekalian kekacauan alam itu tiada diindahkannya, bahkan

diingininya, karena ia masih duduk termenung di atas kursinya

memikirkan sesuatu hal yang penting.

Tiba-tiba kedengaran di tempat yang gelap, suara orang batuk

tiga kali. Tatkala itu barulah ingat Datuk Meringgih akan

dirinya, lalu melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada orang

dekat di sana. Kemudian batuk pula ia dua kali. Seketika itu juga

kelihatan, seperti suatu bayang-bayang, bergerak di tempat yang

gelap, kemudian kelihatan seorang-orang yang memakai serba

hitam, datang menghampiri Datuk Meringgih, lalu masuk

keduanya ke dalam sebuah bilik, di serambi belakang. Pintu bilik

ini segera ditutup rapat-rapat oleh Datuk Meringgih.

Di dalam kamar ini, yang hanya diterangi oleh sebuah pelita

minyak kelapa, ada sebuah tilam dan sebuah peti. Di lantai ada

terbentang sehelai tikar pandan dan di atas tikar inilah duduk

kedua mereka itu.

Di sana nyata kelihatan, orang yang baru datang itu memakai

destar hitam yang lembut yang ujungnya dibalikkannya ke

mukanya sehingga dahinya tertutup. Bajunya baju Cina hitam

yang besar lengannya, dan celananya seluar Aceh, yang warnanya

hitam pula. Sarung yang disandangnya di bahunya, yaitu

sarung Bugis hitam.

"Tiada basah engkau, Pendekar Lima?" tanya Datuk

Meringgih perlahan-lahan kepada jamunya ini.

"Tidak, Engku, sebab hamba telah hampir ada di sini, tatkala

hari akan hujan," jawab Pendekar Lima.

"Apa kabar pekerjaan kita yang di Hulu Limau Manis?"

"Tidak baik jadinya."

"Tidak baik? Apa sebabnya?" tanya Datuk Meringgih sambil

mengangkat mukanya, menentang Pendekar Lima. Di situ

kelihatan bengis muka Datuk Meringgih.

"Murid-murid kita tiada menurut aturan yang telah diberikan

kepadanya."

"Siapa yang menjadi guru waktu itu?"

"Si Patah."

"Apakah sebabnya, maka tiada engkau sendiri yang mengajar

di sana? Bukankah telah kuperintahkan kepadamu?"

"Sebab hamba pada waktu itu harus mengajar di Bukit Putus;

karena di sana pun ada ilmu baru yang datang dari Tanah Jawa,

yang sangat besar harganya."

"Si Patah belum cukup kepandaiannya untuk mengajar

murid-murid pada sasaran yang besar-besar dan ia kurang sabar.

Itulah sebabnya, maka salah ajarannya. Sekarang di mana dia?"

"Dalam rumah batu."

"Rumah batu?" tanya Datuk Meringgih dengan mengangkat

kepalanya pula. "Rumah batu di mana?"

"Rumah batu di Lubuk Bagalung, bersama-sama dua orang

murid."

"Itulah upah yang patut, bagi orang yang sedemikian. Tetapi

sudahlah diperiksa perkaranya?"

"Sudah," jawab pendekar Lima, "dan rupanya ia teguh

memegang sumpahnya, karena tiada disebut-sebutnya nama

hamba."

"Cobalah kauceritakan dari mulanya, apa sebabnya maka

sampai jadi sedemikian itu?" ,

"Tatkala hamba ketahui, bahwa hamba tak dapat pergi ke

Hulu Limau Manis," kata Pendekar Lima, "hamba suruhlah

seorang murid tua ke sana, yaitu si Patah, serta hamba katakan

kepadanya aturan yang telah Engku Datuk berikan itu. Mulamula

rupanya ada diturutnya aturan itu, karena sekalian barangbarang,

jatuh ke dalam tangannya. Tetapi pendapatan ini tiada

disimpannya pada tempat yang telah ditetapkan, melainkan hari

itu juga dikirimkannya kemari; dimasukkannya ke dalam

beberapa karung, lalu ditumpangkannya pada tukang pedati,

yang berangkat malam itu juga ke sini. Rupanya pedati itu lama

berhenti di Lubuk Bagalung dan di sanalah kedapatan oleh yang

kuning leher*). Oleh sebab tukang pedati itu mengatakan ia

menerima barang-barang itu dari si Patah, hari itu juga ia

ditangkap dengan kedua muridnya."

"Baiklah, tetapi carilah akal, sebelum hukumannya

dijatuhkan, supaya mereka lepas dari rumah batu itu dan bila

telah lepas, suruhlah si Patah pergi ke Terusan atau ke Painan,

untuk sementara bekerja mengambil rotan, supaya jangan

kelihatan oleh orang. Dan kedua muridnya, suruh ke bukit

Tambun Tulang, belajar di sana dengan sungguh-sungguh," kata

Datuk Meringgih.

"Baiklah, Engku."

"Tentang perkara ilmu yang kaupelajari di Bukit Putus itu,

bagaimana pula? Aku tiada tahu hal itu."

"Sesungguhnya perkara ini belum hamba kabarkan kepada

Engku, sebab sejak waktu itu belum sempat hamba datang

kemari."

"Akan tetapi apakah sebabnya, maka engkau tiada

bermupakat lebih dahulu dengan daku?" tanya Datuk Meringgih

pula.

"Sebab tak sempat. Sebenarnya malam itu hamba akan pergi

ke Hulu Limau Manis, menolong si Patah, sebagai telah Engku

katakan. Tetapi tatkala sampai ke Bukit Putus, dapat kabar dari

*) Opas polisi, pada masa dahulunya opas-opas memakai

setrip kuning ada leher bajunya dan pada celananya.

seorang murid di sana, ada ilmu baru, datang dari Jawa, dengan

kapal yang masuk hari itu. Ilmu itu banyak harganya. Karena tak

sempat balik kemari, memberi tahu Engku, khawatir kalau ilmu

itu segera dibawa ke tempat lain, hamba tuntut sendiri ilmu itu,

sebab rupanya tak berapa susah."

"Dan dapatkah ilmu itu?"

"Dapat, sekarang ditanam dalam tanah, dekat Tanah Merah."

"Kira-kira berapa harganya?"

"Kira-kira enam atau tujuh ratus, semuanya emas dan intan.

Itulah yang hendak hamba mupakatkan, karena dua orang murid

yang bersama-sama pergi dengan hamba, minta bagiannya."

"Nanti kuberi seorang lima puluh."

"Jika boleh, ia minta seratus seorang."

"Masakan seratus, karena harga ilmu itu belum tentu sekian

banyaknya dan gajinya tiap-tiap bulan, tiadakah diingatnya?

Sudahlah, aku beri tiap-tiap orang tujuh puluh lima dan engkau

seratus lima puluh, jika benar ilmu enam atau tujuh ratus

harganya. Janganlah banyak cakap lagi! Bawalah ilmu itu kemari

dahulu! Jika telah kutaksir, tentu segera engkau mendapat

bagianmu masing-masing. Dan bawalah pula tukang mas kita

sekali, supaya lekas dapat dihancurkannya masnya yang

diperbuatnya barang-barang lain; kemudian berikan kepada

tukang penjaja mas in'tan kita, suruh jual ke negeri lain."

"Baiklah, Engku," jawab Pendekar Lima dengan riangnya,

sedang matanya yang sebagai mata burung hantu itu bercayacaya,

karena mengenangkan upah yang akan diperolehnya. Dari

uang yang tiga rarus rupiah itu, tentulah sekurang-kurangnya dua

ratus dapat olehnya, sehingga dapatlah pula ia beberapa hari

minum candu dan berjudi, sesuka hatinya.

"Suatu lagi yang hendak hamba kabarkan kepada Engku.

Tukang cetak kita, malam kemarin mati," kata Pendekar Lima.

"Mati?" jawab Datuk Meringgih dengan terperanjat. "apa

sebabnya?"

"Sakit perut."

"Siapa gantinya."

"Itulah yang hendak hamba tanyakan, siapakah yang akan

menggantikannya?"

"Temannya si Baso, belumkah dapat bekerja sendiri?"

"Sudah," jawab Pendekar Lima. "Pada pikiran hamba, dialah

yang baik pengganti yang mati itu. Tetapi siapakah yang akan

menjadi ganti si Baso pula?"

"Carilah seorang yang boleh dipercaya di antara orang-orang

kita!"

"Baiklah!"

"Hanya sekarang, janganlah terlalu banyak mencetak uang

perak, melainkan uang mas itulah yang harus dilebihkan, sebab

uang perak, lekas dikenal orang."

"Baiklah! Lagi pula tiadakah baik tempat itu dipindahkan?

Sebab hamba baru mendapat sebuah gua batu dalam gunung

yang dekat di sana yang baik rupanya, tersembunyi di pinggir

laut."

"Baiklah, nanti kita periksa bersama-sama."

"Perkara toko Bombai itu, bagaimana?" tanya Pendekar

Lima, yang rupanya sangat rajin hendak bekerja, karena

mengenangkan uang dua ratus rupiah tadi. .

"Perkara itu. nantilah; aku hendak mencari muslihat yang

baik dahulu. Sekarang ini ada perkara lain, yang hendak

kukatakan kepadamu."

"Perkara apa, Engku?" jawab Pendekar lima.

"Aku sesungguhnya tiada senang melihat perniagaan Baginda

Sulaiman, makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia

bersaing dengan aku. Oleh sebab itu hendaklah ia dijatuhkan."

"Akan tetapi bagaimanakah akal kita? Karena barang-barangnya

bukan sedikit, tak dapat diangkat dalam sehari dua. Dan

diambil separuhnya pun, tiadalah dirasainya," kata Pendekar

Lima.

"Bukan aku suruh engkau mencuri barang-barangnya, karena

berapakah yang akan terbawa olehmu? Aku bukan bodoh. Aku

tahu akal yang lebih baik, yaitu gudang-gudang dan tokotokonya

harus dibakar, perahu yang membawa barang-barangnya

dari Painan harus ditenggelamkan dan orang-orang yang ada di

sana dibujuk, supaya jangan mau bekerja dengan dia lagi;

sekalian pohon kelapanya di Ujung Karang, haruslah diobati,

biar busuk dan tak berbuah," kata Datuk Meringgih dengan suara

keras, serta memukul¬mukul telapak tangan kirinya dengan

tangan kanannya, yang dikepalkannya, karena geramnya.

"Esok hari juga engkau mulai bekerja di Ujung Karang!

Beritahukan kepada sekalian murid yang ada di sana! Sekalian

pohon kelapanya hendaklah dibubuh obat, supaya inati.

Kemudian pergilah engkau ke Terusan dan Painan. Bujuklah

sekalian orangnya di sana supaya meninggalkan pekerjaannya

dan masuk kaum kita. Dan bujuklah pula tukang perahunya,

supaya perahu-perahunya, dengan isi-isinya sekali, dikaramkan

di laut. Sudah itu pergilah engkau ke Padang Darat dan ke manamana,

menghasut sekalian toko yang berlangganan dengan dia,

supaya jangan membeli apa-apa lagi padanya.

Dengan demikian dapat kubeli barang-barangnya itu dengan

harga murah. Biar aku rugi. sedikit, asal Baginda Sulaiman jatuh.

Setelah selesai pekerjaan itu, barulah engkau mulai membakar

toko dan gudangnya."

Pendekar Lima termenung seketika mendengar perintah ini,

karena belum pernah ia mengerjakan yang sedemikian. Pada

pikirannya bukan sedikit belanja dan susahnya pekerjaan itu.

Melihat Pendekar Lima berdiam diri, berkata pula Datuk

Meringgih, "Aku tahu, pekerjaan ini memang tak mudah dan

harus berhati-hati benar melakukannya supaya jangan sampai

diketahui orang. Tetapi ia akan memberi keuntungan berpuluh

ribu kepada kita. Dan pada pikiranku engkau cakap menjalankannya.

Oleh sebab itu aku tiada akan memandang berapa biaya

yang berguna; biar aku rugi beribu sekalipun, asal sampai

maksudku ini. Aku tiada senang, kalau di Padang ini masih ada

saudagar yang berani bersaingan dengan daku. Sebelum jatuh ia,

belumlah puas hatiku. Kau boleh memakai duit seberapa sukamu

dan boleh pula menyuruh orang-orangku, kalau perlu."

Mendengar perkataan Datuk Meringgih ini yaitu ia boleh

memakai duit seberapa sukanya, hilanglah takut dan ngeri

Pendekar Lima lalu menjawab dengan gembira, "Baiklah, Engku

Datuk. Jangankan sekian, disuruh membunuh orang senegeri

pun, hamba mau, asal Engku Datuk yang menyuruh."

Dengan berkata demikian, pikirannya melayang kepada uang

beribu-ribu yang akan diterimanya.

"Tetapi ingat!" kata Datuk Meringgih pula. "Kalau tak

sampai maksudku ini, tak perlu engkau datang-datang lagi

kemari."

Mendengar perkataan ini berdebarlah hati Pendekar Lima,

karena artinya tentulah ia akan dilepaskan oleh Datuk

Meringgih, apabila maksudnya ini tak sampai. Dan akan

dapatkah ia mencari tuan yang sebagai Datuk Meringgih ini?

Betul ia sangat bakhil, tetapi tiada memandang apa pun, bila ada

sesuatu hajatnya. Oleh sebab itu berjanjilah ia dalam hatinya

akan menjalankan perintah yang berat ini dengan sesungguhsungguh

hati, walaupun apa pun juga yang akan terjadi atas

dirinya.

Sementara itu masuklah Datuk Meringgih ke dalam

rumahnya dan seketika lagi keluarlah pula ia lalu berkata, "lni

uang seratus untuk belanjamu sementara. Bila habis, uang ini,

boleh kauminta pula kepadaku atau kepada sekalian orangku

yang memegang uang. Nanti kukirimkan surat kepadanya

sekalian."

"Terima kasih, Engku!" jawab Pendekar Lima. "Akan tetapi

pekerjaan hamba di sini bagaimana?"

"Serahkan kepada Pendekar Empat dan suruhlah ia kemari,

supaya kukatakan kepadanya, apa yang harus diperbuatnya."

Tiada berapa lama kemudian daripada itu kelihatanlah

Pendekar Lima keluar dari dalam bilik tadi, lalu hilang di dalam

gelap.

VII. SURAT SAMSULBAHRI KEPADA NURBAYA

Tiga bulan Samsulbahri telah berangkat ke Jakarta, meninggalkan

tanah airnya. Tiga bulan lamanya Nurbaya telah bercerai

dengan kekasihnya, tiada melihat wajahnya dan tiada mendengar

suaranya dan tiga bulan pula lamanya ia tiada bermain-main

dengan Samsu dan mengganggu kakaknya ini. Sejak hari perceraiannya,

sampai kepada waktu itu, kekasihnya ini tiada hilang

barang sekejap pun dari ingatannya. Biarpun buah hatinya ini

telah hilang dari matanya tetapi makin kelihatan ia dalam

kalbunya, makin nyaring kedengaran bunyi suaranya dan makin

bertambah nyata segala tingkah lakunya.

Mula-mula pada sangkanya mudah akan dapat melipur

pikirannya, apabila kesedihan hatinya telah hilang. Akan tetapi

setelah sepekan lamanya ia bagaikan demam dan setelah sembuh

pula ia kembali pada lahirnya, pada batinnya bertambah-tambah

ia menanggung kesakitan; makin lama makin larat, makin

dilupakan makin teringat, makin dilipur makin berat, makin

dijauhkan makin dekat. Ketika itulah baru diketahuinya benarbenar,

betapa besar harga saudaranya dan kekasihnya itu baginya

karena ketika itulah pula dirasainya benar-benar keberatan

perceraian itu sebagai kata pantun:

Anak Cina bermain wayang,

anak Keling bermain api.

Jika siang terbayang-bayang,

jika malam menjadi mimpi.

Terbang melayang kunang-kunang,

anak balam mati tergugur,

jatuh ke tanah ke atas kembang,

kembang kuning bunga cempaka.

Jika siang tak dapat senang,

jika malam tak dapat tidur,

pikiran kusut hati pun bimbang,

teringat kakanda Samsu juga.

Jika datang godaan yang sedemikian itu, dicobanyalah

melipur hatinya dengan pikiran ini: Samsu tiada lama lagi akan

kembali dan tentulah ia akan dapat berteinu pula dengan dia.

Tambahan pula kekasihnya itu pergi untuk menuntut ilmu, yang

kemudian dapat memberi kesenangan dan kemuliaan kepada

dirinya. Apabila Samsu menjadi dokter, tentulah ia akan beroleh

kemuliaan dan kesenangan pula.

"Aduh, alangkah senang hatiku kelak, apabila aku telah

menjadi istri Samsu, kekasihku itu! Memang patut aku duduk

bersama-sama dengan dia, memang dialah jodohku. Bila ia telah

lulus dalam ujiannya, menjadilah aku istri dokter. Jika sakit aku

atau anakku kelak, tak usah memanggil tabib yang lain, karena

suamiku sendiri pandai mengobati kami.

Ya, anakku, kataku. Alangkah senangnya, jika beroleh anak

dari seorang laki-laki yang sebagai suamiku ini! Karena tentulah

anak itu akan baik pula tingkah lakunya, seperti bapaknya dan

rupanya tentulah sebagai pinang dibelah dua dengan bapaknya.

Wahai! Alangkah lncunya kelak Samsu yang kecil itu, suka

bermain-main, sebagai bapaknya dan apabila ia telah besar,

tentulah akan menjadi dokter pula.

Apabila anak itu perempuan, biarlah sebagai rupaku. Jika ia

telah besar, kuajarlah ia sekalian ilmu yang patut diketahui

perempuan; kujadikanlah ia seorang perempuan yang berguna

bagi suaminya kelak, perempuan yang dapat dibawa melarat dan

dapat membantu suaminya di dalam kesukaan dan kedukaan,

supaya menantu itu kelak dapat beroleh kesenangan dan

kesentosaan, sebagai aku akan menyenangkan Samsuku,"

demikianlah kenang-kenangan Nurbaya pada suatu malam Ahad,

tatkala ia duduk di serambi muka rumahnya, sambil memandang

kepada bangku di dalam kebunnya, tempat ia biasa bersenda

gurau dengan kekasihnya itu.

"Ah, tetapi waktu itu masih lama lagi," katanya pula dalam

hatinya, "masih tujuh tahun. Adakah dapat aku menunggu

selama itu? Mengapa tidak," jawabnya sendiri pula. "Ingatlah

kata pantun:

Lurus jalan ke Payakumbuh,

bersimpang lalu ke Kinali.

Jika hati sama sungguh,

kering lautan dapat dinanti.

Betul tetapi hatiku sebenarnya khawatir juga, kalau-kalau ia

kelak tergoda oleh perempuan lain; karena Jakarta negeri besar,

segala godaan ada di sana. Nyonya yang bagus-bagus, tentu tak

kurang dan kabarnya perempuan-perempuan Sunda pun, banyak

pula yang cantik-cantik. Baik aku minta lekas-lekas kawin

dengan dia, supaya terikat ia padaku."

Tetapi sejurus lagi bertukar pula pikirannya dan berkatalah ia

dalam hatinya, "Ah, kurang baik pikiranku ini, sebab ia masih

dalam sekolah kalau-kalau pelajarannya kelak jadi terganggu.

Yang dikejar nanti tak dapat, yang dikandung berceceran. Jangan

terburu nafsu, dengarlah pantun ini!

Encik Amat mengaji tamat,

mengaji Quran di waktu fajar.

Biar lambat asal selamat,

tidak lari gunung dikejar.

Masakan ia akan mengubah janji, mustahil! Tak baik aku

berpikir demikian; aku masih terlalu muda. Bila ia kelak telah

menjadi dokter, umurku telah dua puluh dua tahun, barulah baik

aku bersuami.

Sesungguhnya tak baik kawin muda-muda. Lihatlah putri

Alia, yang dikawinkan oleh orang tuanya, tatkala ia berumur tiga

belas tahun. Badannya tak dapat besar lagi dan anaknya telah

lima orang mati-mati saja. Yang keenam, yang hidup, rupanya

kurang sempurna; badannya lemah, sebagai tiada berdaya.

Tatkala anak ini telah berumur dua tahun, masih belum pandai

jua ia berjalan dan berkata-kata pun rupanya susah. Samsu

kecilku kelak tak boleh sedemikian, harus sehat.dan kukuh

badannya, supaya boleh menjadi orang yang sempurna.

Oleh sebab itu tak boleh aku kawin terlalu muda, tak baik

bagi badanku dan tak baik pula lagi turunanku. Tentu saja,

masakan biji yang belum sempurna tua, jika ditanam, dapat

tumbuh menjadi pohon yang besar dan baik, yang menghasilkan

buah yang banyak dan besar-besar? Tentu tidak. Tetapi,

kebanyakan ibu-bapa di Padang ini tiada mengingat hal itu. Asal

untungnya lepas, katanya senanglah hatinya, dengan tidak

memikirkan anak cucu dan turunannya di kemudian hari.

Apabila sekalian orang kawin muda, tentulah akhirnya

bangsanya akan berkurang-kurang orangnya atau undur dalam

kesehatannya, besarnya, kepandaiannya dan sifatnya yang lainlain,

sehingga bangsanya menjadi suatu bangsa yang daif. Biasanya

orang tua-tua kuno tiada memikirkan hal ini atau tiada

sampai ke sana pikirannya. Pada sangkanya aib, bila anaknya

yang perempuan, tua baru bersuami, sebagai tak laku. Oleh

sebab itu dikawinkannya muda-muda, terkadang-kadang waktu

berumur sebelas tahun. Dan tatkala berumur dua belas tahun,

beranaklah perempuan muda ini. Orang barat yang tiada suka

kawin muda-muda, lihatlah badannya, besar, kukuh, dan sehat."

Tatkala Nurbaya berpikir-pikir sedemikian itu, tiba-tiba didengarnya

suara, "Surat pos," sehingga terkejutlah ia. Di tangga

rumahnya dilihatnya seorang tukang pos berdiri memegang

sepucuk surat. Segera Nurbaya berdiri mengambil surat itu dan

tatkala dibacanya alamatnya, nyatalah surat itu untuk ia sendiri,

datang dari Samsu, kekasihnya, yang sedang diingat-ingatnya

pada waktu itu. Rupanya surat ini baru datang dengan kapal yang

baru masuk hari itu.

Muka Nurbaya berseri, ketika melihat surat itu, karena besar

hatinya, dan pada bibirnya kelihatan gelak senyum, yang mencekungkan

kedua pipinya, menambah manis rupanya. Bertambah-

tambah besar hatinya menerima surat ini, karena telah

dua jumat ia tiada mendapat kabar dari Samsu. Segeralah ia

masuk ke dalam biliknya, lalu dengan hati yang berdebar-debar,

dibukanyalah surat itu. Kelihatan olehnya surat itu amat panjang

dan banyak berisi syair. Demikian bunyinya:

Jakarta, 10 Agustus 1896

Awal bermula berjejak kalam,

Pukul sebelas suatu malam,

Bulan bercaya mengedar alam,

Bintang bersinar laksana nilam.

Langit jernih cuaca terang,

Kota bersinar terang benderang,

Angin bertiup serang-menyerang,

Ombak memecah di atas karang.

Awan berarak berganti-ganti,

Cepat melayang tiada berhenti,

Menuju selatan tempat yang pasti,

Sampai ke gunung lalu berhenti.

Udara tenang hari pun terang,

Sunyi senyap bukan sebarang,

Murai berkicau di kayu arang,

Merayu hati dagang seorang.

Guntur menderu mendayu-dayu,

Pungguk merindu di atas kayu,

Hati yang riang menjadi sayu,

Pikiran melayang ke tanah Melayu.

Angin bertiup bertalu-talu,

Kalbu yang rawan bertambah pilu,

Hati dan jantung berasa ngilu,

Bagai diiris dengan sembilu.

Tatkala angin berembus tenang,

Adik yang jauh terkenang-kenang,

Air mata jatuh berlinang,

Lautan Hindia hendak direnang.

Jika dipikir diingat-ingat,

Arwah melayang terbang semangat,

Tubuh gemetar terlalu sangat,

Kepala yang sejuk berasa angat.

Betapa tidak jadi begini,

Ayam berkokok di sana-sini,

Disangka jiwa permata seni,

Datang menjelang kakanda ini.

Disangka adik datang melayang,

Mengobat kakanda mabuk kepayang,

Hati yang sedih berasa riang,

Kalbu yang tetap rasa tergoyang.

Lipur segala susah di hati,

Melihat adikku emas sekati,

Datang menjelang abang menanti,

Dagang merindu bagaikan mati.

Silakan gusti emas tempawan,

Sila mengobat dagang yang rawan,

Penyakit hebat tidak berlawan,

Sebagai kayu penuh cendawan.

Silalah adik, silalah gusti,

Sila mengobat luka di hati,

Jika lambat adik obati,

Tentulah abang fana dan mati.

Tatkala sadar hilang ketawa,

Dagang seorang di tanah Jawa,

Rasakan hancur badan dan nyawa,

Nasib rupanya berbuat kecewa.

Di sana teringat badan seorang,

Jauh di rantau di tanah seberang,

Sedih hati bukan sebarang,

Sebagai manik putus pengarang.

Tunduk menangis tercita-cita,

Jatuh mencucur air mata,

Lemah segala sendi anggota,

Rindukan adik emas juita.

Teringat adik emas sekati,

Kanda mengeluh tidak berhenti,

Rindu menyesak ke hulu hati,

Rasa mencabut nyawa yang sakti.

Terkenang kepada masa dahulu,

Tiga bulan yang telah lalu,

Bergurau senda dapat selalu,

Dengan adikku yang banyak malu.

Sekarang kakanda seorang diri,

Jauh kampung halaman negeri,

Duduk bercinta sehari-hari,

Kerja lain tidak dipikiri.

Tetapi apa hendak dikata,

Sudah takdir Tuhan semesta,

Sebilang waktu duduk bercinta,

Kepada adikku emas juita.

Setelah jauh sudahlah malam,

Kakanda tertidur di atas tilam,

Bermimpi adik permata nilam,

Datang melipur gundah di dalam.

Datangnya itu seorang diri,

Tidur berbaring di sebelah kiri,

Kakanda memeluk intan baiduri,

Dicium pipi kanan dan kiri.

Tiada berapa lama antara,

Dilihat badan sebatang kara,

Abang terbangun dengan segera,

Hati yang rindu bertambah lara.

Guling kiranya berbuat olah,

Lalu mengucap astagfirullah,

Begitulah takdir kehendak Allah,

Badan yang sakit bertambah lelah.

Memang apa hendak dibilang,

Sudahlah nasib untung yang malang,

Petang dan pagi berhati walang,

Menanggung rindu beremuk tulang.

Walaupun sudah nasib begitu,

Tiada kanda berhati mutu,

Gerak takdir Tuhan yang satu,

Duduk bercinta sebilang waktu.

Jauh malam hampirkan siang,

Mataku tidak hendak melayang,

Di ruang mata adik, terbayang,

Hati dan jantung rasa bergoyang.

Ayam berkokok bersahut-sahutan,

Di sebelah barat, timur, selatan,

Hatiku rindu bukan buatan,

Kepada adikku permata intan.

Di situ terkenang ibu dan bapa,

Adik dan kakak segala rupa,

Handai dan tolan kaya dan papa,

Timbul di kalbu tiada lupa.

Begitulah nasib di rantau orang,

Susah ditanggung badan seorang,

Sakit bertenggang bukan sebarang,

Sebagai terpijak duri di karang.

Setelah siang sudahlah hari,

Berjalan kakanda kian kemari,

Tak tahu apa akan dicari,

Bertemu tidak kehendak diri.

Diambil kertas ditulis surat,

Ganti tubuh badan yang larat

Kesan nasib untung melarat,

Kepada adikku di Sumatra Barat.

Dawat dan kalam dipilih jari,

Dikarang surat di dinihari,

Ganti kakanda datang sendiri,

Ke pangkuan adik wajah berseri.

Wahai adikku indra bangsawan,

Salam kakanda dagang yang rawan,

Sepucuk surat jadi haluan,

Ke atas ribaan emas tempawan.

Mendapatkan adik paduka suri,

Cantik manis intan baiduri,

Di padang konon namanya negeri,

Duduk berdiam di rumah sendiri.

Jika kakanda peri dan mambang,

Tentulah segera melayang terbang,

Menyeberang lautan menyongsong gelombang,

Mendapatkan adik kekasih abang.

Menyerahkan diri kepada adinda,

Tulus dan ikhlas di dalam dada,

Harapan kakanda jangan tiada,

Mati di pangkuan bangsawan muda.

Adikku Nurbaya permata delima,

Dengan berahi sudahlah lama,

Hasrat di hati hendak bersama,

Dengan adikku mahkota lima.

Hendak bersama rasanya cita,

Dengan adikku emas juita,

Jika ditolong sang dewata,

Di dadalah jadi tajuk mahkota.

Tajuk mahkota jadilah tuan,

putih kuning sangat cumbuan,

Menjadikan abang rindu dan rawan,

Laksana orang mabuk cendawan.

Karena menurut cinta di hati,

Asyik berahi punya pekerti,

Sungguhpun hidup rasakan mati,

Baru sekarang kanda mengerti.

Dendam berahi sudahlah pasti,

Tuhan yang tahu rahasia hati,

Kakanda bercinta rasakan mati,

Tidak mengindahkan raksasa sakti.

Siang dan malam duduk bercinta,

Kepada adikku emas juita,

Tiada hilang di hati beta,

Adik selalu di dalam cipta.

Jiwaku manis Nurbaya Sitti,

Putih kuning emas sekati,

Tempat melipur gundah di hati,

Ingin berdua sampaikan mati,

Tidaklah belas dewa kencana,

Memandang kanda dagang yang hina,

Makan tak kenyang tidur tak lena,

Bercintakan adik muda teruna.

Rindukan adik paras yang gombang,*)

Siang dan malam berhati bimbang,

Cinta di hati selalu mengembang,

Laksana perahu diayun gelombang.

Setiap hari berdukacita,

Terkenang adinda emas juita,

Sakit tak dapat lagi dikata,

Sebagai bisul tidak bermata.

Tiada dapat kakanda katakan,

Asyik berahi tak terperikan,

Adik seorang kakanda idamkan,

Tiada putus kakanda rindukan.

Rusaklah hati kanda seorang,

Rindukan paras intan di karang,

Dari dahulu sampai sekarang,

Sebarang kerja rasa terlarang.

*) Min: Tampan, gagah.

Pekerjaan lain tidak dipikiri,

Karena rindu sehari-hari.

Tiada lain keinginan diri,

Hendak bersama intan baiduri.

Ayuhai adik Sitti Nurani,

Teruslah baca suratku ini,

Ilmu mengarang sudahlah fani,

Disambung syair surat begini.

Tatkala Nurbaya membaca syair ini, berlinang-linanglah air

matanya, karena untungnya pun sedemikian pula.

"Adikku Nurbaya!" demikianlah bunyi surat itu, ketika

terus dibaca oleh Nurbaya, "Begitulah penanggunganku.

Bukan sedikit beratnya perceraian ini rasanya. Bukannya

engkau saja yang terbayang di mataku, tetapi ibu-bapa, handai

tolan, dan teman sejawatku, yang kutinggalkan di Padang,

semuanya tiada hendak luput dari mataku. Dahulu aku

dimanjakan oleh ibu-bapakku. Sekaliannya telah disediakan,

telah diselenggarakan. Akan tetapi sekarang haruslah aku

sendiri mengerjakannya. Pakaianku harus kucuci, kulipat dan

kusimpan sendiri; bilik dan tempat tidurku harus pula

dibersihkan sendiri. Sepatuku pun tak ada orang lain, yang

akan menggosoknya. Kehidupanku tiadalah bebas, karena

tinggal di dalam sekolah. Tidur di dalam sebuah kamar

panjang; bersama-sama dengan teman-teman yang lain,

sebagai serdadu dalam tangsi. Hanya akulah yang dapat

sebuah kamar sendiri sebab tak cukup tempat bersama-sama

dengan yang lain.

Pukul sepuluh malam haruslah tidur, tak boleh bercakapcakap

lagi atau bekerja terus. Pukul enam pagi haruslah

bangun; setelah makan, sekolah pun mulai, pukul delapan.

Pelajaran tiada sebagai di sekolah kita di Padang, karena

sekaliannya diserahkan kepada yang belajar sendiri. Bila

hendak pandai rajin-rajinlah; jika tidak, tahu sendiri.. Pukul

satu berhentilah sekolah, akan tetapi terkadang-kadang petang

hari masuk pula.

Sesungguhnya aturan ini baik, karena dengan demikian

dapatlah kami belajar hidup sendiri. Apabila kita telah besar

kelak, tentulah begitu juga jadinya. Masakan selalu akan bergantung

kepada ibu-bapa sahaja?

Sungguhpun demikian, bagiku yang belum biasa hidup

sedemikian berat rasanya. Akan tetapi lama-kelamaan lenyap

juga keberatan itu. Sekarang ini telah mulai biasa aku sedikit

pada aturan itu dan tiadalah berat benar lagi rasanya sebagai

bermula. Barangkali engkau belum tahu, hampir pada tiap-tiap

sekolah tinggi ada suatu adat, yang dinamakan dalam bahasa

Belanda "ontgroening"*).

*) Perpeloncoan.

Adat ini memang ada baiknya, karena maksudnya dengan

bersuka-sukaan, mengajari murid-murid yang baru masuk,

supaya tahu adat-istiadat, tertib sopan kepada teman sejawatnya

atau orang luar pun dan berani atas kebenaran.

Bila ontgroening itu dipandang sebagai permainan saja,

tiadalah mengapa; akan tetapi terkadang-kadang kasar dilakukan,

sehingga boleh mendatangkan kecelakaan kepada muridmurid

yang dipermainkan itu. Permainan yang kasar ini, pada

pikiranku, tak baik diteruskan. Misalnya aku dengar pada

sebuah sekolah menengah, ada permainan yang dinamakan

"melalui selat Gibraltra."

Engkau tentu masih ingat dalam ilmu bumi, selat Gibraltar

itu, ialah suatu selat yang sempit, antara ujung tanah Sepanyol

dan benua Afrika.

Demikianlah diperbuat oleh murid-murid kelas tinggi suatu

selat yang sempit, yang dijadikan oleh kira-kira dua puluh

murid yang tua-tua, yang berleret dalam dua baris. Sekalian

rnurid baru, haruslah berjalan seorang-seorang melalui selat ini

dan tiap-tiap murid kelas tinggi yang berdiri itu meninju dan

menyepak murid-murid baru ini, sehingga ia tertolak dari

kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sampai ke luar dari selat

siksaan itu. Kemudian murid baru itu diangkat bersama-sama,

lalu dicemplungkan ke dalam suatu kolam.

Apakah faedahnya permainan yang kasar serupa ini?

Istimewa pula sebab ia boleh mendatangkan bahaya.

Tambahan lagi, pada sangkaku, dan demikian, murid-murid itu

jadi ber-musuh-musuhan dan berdendam-dendaman. Misalnya

seorang anak Sunda yang kurang suka kepada anak Jawa atau

yang telah mendapat siksaan dari orang anak Jawa, tatkala ia

mula-mula masuk, menaruh dendam dalam hatinya dan berniat

hendak melepaskan dendamnya kelak kepada anak Jawa.

Dengan demikian persahabatan antara kedua suku bangsa ini,

yang diharapkan akan diperoleh karena percampuran dalam

sekolah, boleh menjadi kurang dan akhirnya menjadi putus.

Untunglah permainan yang kasar itu tak ada pada sekolah

kami dan sekalian aturan ontgroening pada sekolah ini,

sesungguhnya permainan atau sesuatu yang memberi paedah,

misalnya murid-murid yang baru itu disuruh bernyanyi, menari

atau memencak, menurut aturan negeri masing-masing, di

hadapan murid kelas tinggi.

Oleh sebab murid-murid yang masuk sekolah ini, sebagai

telah kukatakan dalam suratku dahulu, datang dari beberapa

negeri, seperti Padang, Batak, Deli, Palembang, Jakarta,

Sunda, Jawa; Madura, Ambon, Manado, dan lain-lainnya,

bermacam-macam lagu yang didengar, dinyanyikan dalam

berbagai-bagai bahasa dan bermacam-macam pulalah tari dan

pencak yang dipertunjukkan. Suatu tari yang hebat yaitu tari

orang Manado, yang dinamakan "cakalele," tak ada ubahnya

dengan pencak orang yang hendak perang, dengan tempik

soraknya.

Lain daripada permainan yang, telah kuceritakan itu ada

pula permainan yang mengadu kekuatan, misalnya berhelahelaan

tali berlumba-lumba, melompat tinggi dan mengadu

kekuatan badan. Yang terlebih lucu ialah disuruh membeli

minyak sesen ke kedai, dalam sebuah botol yang besarnya

hampir sebesar aku. Lucu benar rupanya murid itu berjalan

pulang balik memikul botol yang sebesar itu untuk tempat

minyak harga sesen.

Ada pula yang disuruh memburu ayam liar, yang dilepaskan

dalam pekarangan sekolah. Ayam ini harus dapat ditangkap

oleh dua orang murid. Kasihan melihat kedua murid itu

berlelah payah menangkap ayam ini. Akan tetapi untunglah,

setelah tertangkap dipotong dan dimasak atau digoreng.

Ada pula yang disuruh berpakaian yang indah-indah,

seboleh-bolehnya pakaian hitam yang tebal. Kaumaklum Nur,

Jakarta sangat panas hawanya, sehingga murid itu kepanasan

karena pakaiannya itu. Setelah berpakaian indah-indah itu,

disuruhlah ia berjalan sepanjang jalan raya. Tiap-tiap orang

yang tertemu, dengan tiada memandang bangsanya, haruslah

diberinya tabik dengan mengangkat topinya. Sebagai telah

kuceritakan, kota Jakarta itu sangat ramai; orang yang lalulintas

di jalan raya beratus-ratus banyaknya dengan tiada

berkeputusan. Memberi tabik itu, walaupun tiada seberapa

berat, tetapi karena banyak orang yang bertemu, dalam

setengah jam saja pun telah lelah murid itu.

Orang yang diberi tabik, bermacam-macam kelakuannya.

Yang telah tahu akan permainan ini, tersenyum; tetapi yang

belum tahu terkadang-kadang marah, karena pada sangkanya

ia diperolok-olokkan. Ada yang tiada mengindahkan suatu apa,

ada yang menertawakan murid itu, ada yang bingung tiada

mengerti itu dan ada pula yang membalas tabik itu dengan

lebih hormat, sebab pada sangkanya bukan permainan, melainkan

sesungguh-nyalah ia diberi hormat oleh orang yang tiada

dikenalnya tetapi sangat memuliakannya. Anak-anak di jalan

raya menyangka murid itu miring otaknya, sehingga dipermain-

mainkannya dan diganggunya mereka. Berbagai-bagailah

ragam orang-orang itu. Mereka itulah yang ditonton oleh

murid-murid kelas tinggi, yang mengikut dari jauh.

Yang kurang lucu, yaitu disuruh makan obat kina, yang

sangat pahit itu atau disuruh mencium sebangsa hawa yang

sangat busuk atau disuruh makan pisang sesisir di hadapan

bangkai. Ada seorang murid yang sangat penjijik, disuruh

makan pisang itu. Jangankan termakan olehnya, bahkah segala

yang ada dalam perutnyalah keluar semua. Kasihan!

Sungguh permainan yang baru kuceritakan itu kurang lucu,

tetapi ada juga mengandung suatu pelajaran. Dokter itu harus

tahan bau busuk dan rasa yang pahit, serta tak boleh takut dan

geli melihat mayat; sebab itulah diajar di sana. Akhirnya

setelah itu disuruh tidur di kamar mati. Akan tetapi terlebih

dahulu baiklah kuceritakan kepadamu apa bagianku dan

bagian Arifin, daripada permainan yang telah kaudengar tadi,

karena pada sangkaku tentulah engkau ingin juga hendak

mengetahui hal itu. Arifin disuruh memencak, berhela-helaan

tali, membeli minyak dengan botol besar, memburu ayam dan

makan pisang dekat bangkai. Alangkah suka hati Bakhtiar,

apabila dilihatnya Arifin, sebagai anjing mengejar ayam ke

sana kemari! Akan tetapi pada sangkaku, walau perut Bakhtiar

sekalipun, tiadalah 'kan dapat menghabiskan pisang sekian

banyaknya itu di tempat yang sedemikian."

Ketika itu tersenyumlah Nurbaya, sebab teringat kepada

Bakhtiar.

"Aku disuruh bernyanyi, menari, makan kina, dan tidur di

kamar mati. Kamar mati ini, ialah bilik tempat menyimpan

mayat. Di sana ada rangka tulang orang (tulang-belulang) yang

gunanya untuk pelajaran, digantungkan pada suatu tiang. Pada

suatu malam, kira-kira pukul setengah sembilan, disuruhlah

aku ke sana dengan murid yang penjijik tadi. Anak ini bukan

penjijik saja, tetapi teramat penakut pula. Aku, meskipun tiada

tahu apa-yang akan terjadi atas diriku, tiadalah aku tinggal saja

dalam bilik ini, beberapa lamanya. Untuk peringatan

permainan saja. Kami duduk di atas kursi dekat sebuah meja,

berhadap-hadapan; aku melihat kepada rangka itu dan temanku

membelakang ke sana. Pada sangka kami, kami hanya disuruh

tinggal saja dalam bilik ini, beberapa lamanya. Untuk

perintang waktu, kami bercakap-cakap menceritakan hal ihwal

masing-masing, kusuruh ceritakan olehnya negerinya dan aku

pun bercerita pula tentang kota Padang.

Sejak asyik kami bercakap-cakap itu, tiba-tiba kulihat

rangka tadi mengangkat tangannya, sebagai menggamit aku

dari jauh, dan matanya sebagai menyala. Walaupun aku tidak

penakut dan yakin, mustahil tulang-belulang pandai bergerak.

tetapi tatkala kulihat hal itu, berdebar juga hatiku. Akan tetapi

heranku itu tiadalah kuperlihatkan kepada temanku, karena aku

khawatir, kalau-kalau ia menjadi takut; lalu kuperbuat purapura

asyik mendengarkan ceritanya, tetapi mataku acap kali

juga melihat kepada rangka tadi.

Kedua kalinya diangkatnya tangannya, lebih tinggi daripada

bermula, lalu digerak-gerakkannya jarinya, sebagai hendak

memanggil. Melihat hal ini terkejutlah aku, dan karena itu

temanku itu pun menoleh ke belakang.

Tatkala dilihatnya tangan rangka itu bergerak-gerak dan

matanya sebagai berapi, menjeritlah ia sekuat-kuatnya, lalu

melompat memeluk aku, sehingga, terbaliklah kursi dan meja,

yang dekatnya itu. Sebab aku dipeluknya tiba-tiba dengan erat

dan ditariknya ke belakang, terbaliklah pula aku bersama-sama

dengan dia. Akan tetapi leherku tiadalah terlepas dari pelukan

temanku itu, sehingga aku hampir tercekik. Dengan susah

payah, baru dapat kulepaskan tangannya dari leherku.

Setelah terlepas aku dari pelukannya, rebahlah temanku itu

ke lantai, tiada khabarkan dirinya lagi. Mukanya pucat,

peluhnya bercucuran dan badannya gemetar. Tatkala kulihat

halnya yang sedemikian, bingunglah aku, tiada tahu apa yang

hendak kuperbuat.

Kemudian larilah aku ke luar, minta tolong. Seketika itu

juga kelihatan olehku dua orang murid kelas tinggi, entah dari

mana datangnya, tiada kuketahui, lalu bertanya mengapa aku

berteriak. Setelah kuceritakan kepadanya, apa yang terjadi,

kami angkatlah bersama-sama murid yang pingsan tadi ke

tempat tidurnya, lalu diobati merekalah temanku itu, sampai

baik pula. Sungguhpun demikian masih belum dapat ia

berkata-kata; rupanya masih sangat terperanjat dan takut.

Kemudian dibujuklah kami oleh kedua murid kelas tinggi tadi.

Dikatakannya, mustahil tulang-belulang orang yang telah mati

dapat bergerak pula. Sekalian yang kami lihat tadi, tentulah

penglihatan karena takut saja, lalu dibawalah aku oleh seorang

dari mereka kepada rangka tadi dan dipegang-peganglah

tulang-tulang itu. Sesungguhnya tiadalah ia dapat bergerak.

Pada keesokan harinya, barulah aku dapat tahu, apa

sebabnya maka rangka itu bergerak. Tangannya diikat dengan

dawai yang halus, lalu ditarik-tarik dari luar, dan matanya

yang menyala itu, karena diberi suatu obat yang bercahaya di

tempat yang gelap. Sungguhpun sekalian itu hanya permainan

yang gunanya akan menghilangkan takut dan untuk menyatakan,

bahwa segala hantu dan setan itu hanya penglihatan

mereka yang takut saja, tetapi murid yang ketakutan tadi, tiga

hari lamanya demam. Demikianlah percobaan di Sekolah

Dokter Jawa.

Ah, ya, hampir lupa aku menceritakan hal ihwal Bakhtiar.

Ia sekarang rupanya kurus sedikit; barangkali sebab terlalu

berat bekerja menggergaji dan mengetam kayu, inilah kerjanya

mula-mula sehari-hari. Makan rupanya tak dapat sekehendak

hatinya. Acap kali aku bertemu dengan dia pada petang hari.

Baginya dan bagi Arifin pun permulaan ini rupanya susah dan

berat. Tetapi tak jadi apa, karena segala permulaan itu tentulah

berat dan susah. Apabila telah biasa kelak, tentulah akan

hilang juga segala kesusahan dan keberatan itu. Kedua mereka

acapkali teringat kepadamu dan kepada ibu-bapaknya serta

handai tolannya di Padang. Mereka berpesan kepadaku supaya

menyampaikan salamnya kepadamu, bila aku berkirim surat

jua kepadamu.

Sehingga inilah dahulu, adikku Nurbaya! Dengan segera

engkau akan mendapat kabar pula daripadaku. Jika tiada aral

melintang pada hari Ahad yang akan datang ini, kami akan

ber-jalan jalan ke Bogor, melihat-lihat kots itu dan melihat

istana serta Kebun Raya di sana. Jika jadi perjalanan itu

tentulah akan kuceritakan pula kepadamu sekalian yang telah

kulihat di sana.

Tolonglah sampaikan sembah sujudku kepada orang tuamu

dan orang tuaku serta salam tazimku kepada sekalian handai

tolan, teman sejawat kita, dan sambutlah peluk cium dari

kekasihmu yang jauh ini.

SAMSULBAHRI

Tambahan: Suratmu yang terkirim pada hari Jumat yang telah

lalu, sudah aku terima dengan segala selamatnya dan sangatlah

sedih hatiku mendengar, engkau belum dapat melipur

kesedihan perceraian kita. Oleh sebab itu perbanyaklah sabar

dan tetapkanlah hatimu, Nur, serta tawakal kepada Tuhan

Yang Mahakuasa. Mudah-mudahan lekas hilang segala

kesusahan kita itu dan lekaslah pula disampaikan-Nya segala

maksud dan hajat kita. Dengan kapal ini ada kukirimkan pada

seorang kita yang pulang ke Padang, untuk ayahku buahbuahan

sedikit sebagai salak, sauh manila, dan jeruk. Untuk

engkau telah kupisahkan dalam bungkusan itu. Terimalah

pemberianku ini dan makanlah dengan sedapnya. Aku sendiri

yang membeli dan melihatnya, yang lain belum dapat

kukirimkan kepadamu waktu ini.

Setelah dibaca oleh Nurbaya surat itu, lalu diciumnya dan

diletakkannya ke atas dadanya, ke tempat jantungnya yang

berdebar; kemudian disimpannya dalam lemari pakaiannya,

bersama-sama dengan surat yang lain, yang telah diterimanya

dari kekasihnya itu.

Tatkala itu datanglah kusir Ali dari rumah Sutan Mahmud

membawa sekarung buah-buahan untuk Sitti Nurbaya. Tak

dapatlah dikatakan girang hatinya menerima kiriman itu, lalu

dengan segera dibukanya dan dilihatnya isinya. Rupanya masih

baik sekali buah-buahan itu, tak ada yang busuk, lalu

dimakannya dan dibagikannya kepada segala isi rumahnya, serta

dikatakannya buah-buahan itu datang dari kekasihnya. Sayang

ayahnya pada waktu itu tak ada di rumah, pergi ke Padang

Panjang menguruskan perniagaannya, karena rupa-rupanya

segala toko yang biasa mengambil barang-barang dari padanya,

kurang suka lagi memesan apa-apa ke tokonya.

Setelah dimakan oleh Nurbaya buah-buahan itu, berbaringbaringlah

ia di atas tempat tidurnya sampai jauh malam,

mengenangkan halnya. Kemudian dikeluarkannyalah segala

surat-surat dari Samsulbahri, lalu dibacanya pula sehelai-sehelai.

Dengan tiada diketahuinya tertidurlah ia.

Tiba-tiba kira-kira pukul dua malam, terbangunlah ia

daripada tidurnya dengan terperanjat, karena didengarnya bunyi

tabuh pada segala tempat sangat dahsyat, memberi tahu ada

rumah terbakar. Mendengar bunyi tabuh itu, melompatlah ia dari

tempat tidurnya, lalu membuka jendela rumahnya akan melihat

dan manakah api itu. Kelihatan olehnya langit di sebelah

tenggara merah warnanya yang menyatakan di sanalah

kebakaran itu, tetapi rupanya jauh. Tatkala itu kelihatan

Penghulu Sutan Mahmud keluar dengan bendinya dari rumahnya.

Rupanya akan pergi ke tempat kebakaran itu.

Supaya dapat kita ketahui di mana kebakaran ini, marilah kita

tinggalkan Sitti Nurbaya di rumahnya dan kita ikuti Penghulu

Sutan Mahmud. Setelah sampai ia ke pasar Kampung Jawa, bertanyalah

Penghulu itu kepada orang jaga yang ada di sana, di

manakah kebakaran itu. Jawab mereka, di Pasar Gedang, lalu

Sutan Mahmud menyuruh mencambuk kudanya ke sana. Di

tengah jalan banyak kelihatan orang yang telah keluar dari

rumahnya, karena terkejut mendengar bunyi tabuh. Makin dekat

Sutan Mahmud ke Pasar Gedang, makin banyaklah orang

tampak di jalan raya. Ada yang berjalan cepat-cepat, ada yang

berlari menuju api itu, ada yang berteriak dan ada pula yang

menangis, takut kalau-kalau rumahnya atau rumah keluarganya

yang terbakar. Pompa air pun telah dikeluarkan, ditarik cepatcepat

menuju kebakaran itu.

Akhirnya tiada dapat lagi Sutan Mahmud berbendi, sebab

terlalu banyak orang di jalan raya, sehingga segala kendaraan

ditahan, tak boleh terus. Sutan Mahmud turun dari atas bendinya,

lalu berjalan kaki, diiringkan oleh seorang-orang jaga, menuju

tempat kebakaran itu. Di situ nyatalah oleh Sutan Mahmud,

bahwa yang terbakar itu ialah toko Baginda Sulaiman, ayah

Nurbaya; yang sebuah telah habis dimakan api, sedang yang

sebuah lagi tengah, terbakar dan ketiga rupanya tak dapat

ditolong lagi, istimewa pula karena pompa tak dapat bekerja,

sebab tak ada air. Barang-barang suatu pun tak dapat dikeluarkan,

karena api sangat cepat makannya dan udara di sana

sangat panas, sehingga seorang pun tak ada yang berani mendekat.

Polisi-polisi hanya menjaga dari jauh saja, supaya jangan

terjadi kecelakaan apa-apa. Bunga api bermain ke udara,

sehingga menjadi merahlah langit di sana. Terkadang-kadang

kedengaran bunyi peletusan, disertai oleh bunga api yang membangkit

ke atas. Bunyi kayu meletus adalah sebagai mercun

dibakar. Di dalam bunga api yang berkabut itu, kelihatanlah

kelelawar beterbangan ke sana kemari, karena kepanasan.

Sejam kemudian daripada itu, habislah ketiga toko Baginda

Sulaiman terbakar dengan isi-isinya. Tinggal abu dan bekasbekas

rumah saja lagi.

Usaha yang bertahun-tahun, pencarian yang sekian lama,

habis dimusnahkan api dalam sejam. Tatkala itu berembuslah

angin topan, disertai oleh hujan yang sangat lebat sehingga api

dalam sekejap mata pun padamlah.

Terlambat! Bila sejam lebih dahulu datang hujan yang sekian

lebatnya, barangkali dapat juga ketolongan sebuah toko dengan

isinya. Tetapi bukan demikian halnya. Adalah sebagai hendak

dipeliharakan Tuhan sekalian toko lain yang berdekatan di sana,

dan hanya toko Baginda Sulaiman sahaja yang harus dimakan

api.

Tatkala datang angin dan hujan ini, sekalian orang yang ada

dekat kebakaran itu, larilah pulang ke rumahnya masing-masing.

Yang dapat berteduh, berteduhlah dekat-dekat di sana. Hanya

saudagar-saudagar yang telah mengeluarkan barang-barangnya

dari tokonya yang ribut memasukkan barang-barangnya kembali.

Sutan Mahmud pun dengan segera mencari bendinya, lalu

pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sedih dan heran.

"Ajaib," katanya dalam hatinya ketika pulang itu." Apakah

sebabnya lekas amat api itu makan, dan apakah sebabnya maka

bukan toko yang kedua terbakar, sesudahnya toko yang pertama?

Bolehkah jadi api itu melompat dari toko yang pertama ke toko

yang ketiga, melalui toko yang di tengah-tengah? Dan apakah

sebabnya maka kedua toko yang diujung itu hampir serentak

terbakar, sebagai disengaja dibakar orang, bukan terbakar

sendiri? Akan tetapi siapa pula yang akan berbuat sedemikian?

Baginda Sulaiman tak ada musuhnya.

Lagi pula apakah sebabnya hujan ini datang, tatkala ketiga

toko itu telah habis terbakar? Mengapakah tidak lebih dahulu?

Apakah sebabnya dan apakah maksudnya sekalian ini?"

Demikianlah pikiran Sutan Mahmud dalam bendinya, karena tak

mengerti akan kejadian yang ganjil ini. Tiada berapa lamanya

kemudian sampailah ia ke rumahnya.

VIII. SURAT NURBAYA KEPADA SAMSULBAHRI

Matahari silam bintang pun terbit, bintang luput fajar

menyingsing siang hilang berganti malam, malam lenyap siang

pun timbul. Hilang hari berganti hari, habis bulan bersambung

bulan! Musim bergilir takkan bertukar, akan tetapi waktu itu

tiadalah mengindahkan perubahan dan pertukaran ini, melainkan

berjalanlah ia terus-menerus dengan tiada berhenti-henti dari hari

ke hari, dari tahun dan dad abad ke abad. Dari manakah datangnya

waktu itu dan ke manakah perginya? Adakah awalnya dan

adakah akhimya? Wallahu alam.

Di Sekolah Dokter Jawa di Jakarta, dalam masa yang hampir

setahun, tiada banyak perubahan. Pelajaran murid-murid, makin

lama makin dilanjutkan, karena tiada berapa lama lagi akan

puasa dan sekolah tentulah akan ditutup, supaya dapatlah

beristirahat murid-murid yang telah mengusahakan dirinya,

belajar bersusah payah dalam setahun itu.

Samsulbahri dan sahabatnya Arifin rupanya adalah maju

dalam pelajarannya. Pada tiap-tiap ujian yang telah dilangsungkan

tahun itu nyatalah, bahwa mereka tiada tertinggal dalam

pelajarannya daripada teman sejawatnya. Keberatan dan

kesusahan yang sangat dideritanya pada mula-mula mereka

datang ke Jakarta, hilanglah sudah dan biasalah mereka pada

kehidupannya yang baru. Hanya ingatan dan rindu hati Samsulbahri

kepada Nurbayalah yang tiada hendak berkurang-kurang,

bahkan kian hari kian bertambah rasanya, sehingga terkadangkadang

hampir tak dapat ditanggungnya denda yang sedemikian

itu. Terlebih-lebih dalam beberapa hari ini, hatinya sangat rawan

bercampur sedih, dengan tiada diketahuinya apa sebabnya;

sebagai adalah sesuatu mara bahaya, yang telah jatuh ke atas diri

kekasihnya itu. Oleh sebab itu makinlah ia teringat kepada

Nurbaya dan makinlah bertambah ingin hatinya hendak bertemu

dengan adiknya ini.

"Heran," katanya dalam hatinya, tatkala ia duduk termenung

seorang diri, di atas sebuah batu, dalam pekarangan sekolah,

"mimpiku yang dahulu itu datang pula menggoda pikiranku.

Senanglah hatiku, tatkala ingatan kepada mimpi celaka itu mulai

hilang; akan tetapi apakah sebabnya sekarang ini datang pula

sekonyong-konyong menggoda hatiku? Ah, mungkin sebab

pikiranku telah dahulu kembali ke Padang, karena tiada lama lagi

hari akan puasa dan di sanalah kelak akan dapat bertemu dengan

kekasihnya itu."

Sedang ia berpikir-pikir sedemikian, datanglah Arifin membawa

sepucuk surat yang dialamatkan kepada Samsu, lalu

diberikannya surat ini kepada sahabatnya. Tatkala dilihat Samsu

alamat surat itu dan nyata datangnya dari Nurbaya, masuklah ia

ke dalam biliknya, akan membaca surat itu seorang diri. Ketika

akan dibukanya surat ini, berdebarlah hatinya dan ngerilah rasa

badannya, seolah-olah ada sesuatu kabar yang sedih akan

didengarnya; istimewa pula karena kelihatan olehnya, pembungkus

surat itu, sebagai bekas kena titik air.

"Kena hujankah surat ini atau kena air laut?" tanya Samsu

dalam hatinya.

Tatkala akan dikoyaknya pembungkus surat itu, tiba-tiba

jatuhlah gambar Nurbaya yang tergantung pada dinding biliknya,

sehingga hancur kaca dan bingkainya, sedang potret itu sendiri

rusak pula, karena sqbuah daripada pecahan kaca yang runcing,

menembus dada kekasihnya ini, tentang jantungnya. Potret itu

diangkat oleh Samsu, lalu dicabutnya pecahan kaca yang masuk

ke dalam dada Nurbaya perlahan-lahan, takut akan bertambah

rusak gambar itu. Akan tetapi bagaimana pun ia berhati-hati,

kertas potret itu rusak juga tentang dada Nurbaya.

"Ajaib," pikir Samsu dalain hatinya, sambil termenung.

"Apakah artinya alamat ini? Apakah kabar yang akan kudengar?"

Setelah dibersihkannya pecahan kaca-kaca tadi, lalu diambilnyalah

pula surat yang baru datang itu, dibukanya dengan tangan

yang gemetar dan hati yang berdebar-debar. Ketika itu kelihatanlah

olehnya surat itu penuh dengan bekas titik air, serta tulisannya

pun banyak yang kurang terang, sebagai suatu surat yang

tertulis oleh orang yang pikirannya sedang kusut. Demikian

bunyi surat itu:

Padang, 13 Mare11897.

Kekasihku Samsulbahri!

Walaupun kuketahui, bahwa surat yang malang ini, yang

telah kutulis dengan air mata yang bercucuran dan hati yang

sangat sedih lagi pedih, terlebih daripada diiris dengan

sembilu dan dibubuh asam, garam; serta pikiran yang kelam

kabut akan datang membawa kabar yang sangat dukacita

kepadamu, barangkali juga akan memutuskann pengharapanmu,

yang kau amalkan siang dan malam dan walaupun

rasakan putus rangkai jantung hatiku mengenangkan sedih

dan duka nestapa yang akan menimpa engkau karena

mendengar kabar yang malang ini, akan tetapi kugagahilah

juga diriku menulis surat ini, karena takut kalau-kalau engkau

bersangka, bahwa sesungguhnyalah hatiku telah berpaling

daripadamu.

Barangkali juga kabar ini akan menimbulkan murka dan

syak wasangka di dalam hatimu, Sam, dan akan menghilangkan

kepercayaanmu kepadaku dan karena itu tiadalah

hendak kauindahkan lagi aku ini dan kaubuang aku, sebagai

membuang sampah ke pelimbahan, sebab pada sangkamu

sesungguhnyalah aku seorang yang tiada memegang janji dan

tak boleh dipercayai.

Oleh sebab itu biarlah aku bersumpah lebih dahulu,

barangkali engkau percaya kembali kepadaku. Wallah wa

nabi, tiadalah hatiku berubah dari sediakala kepadamu dan

tiadalah ada ingatanku, akan menyakiti hatimu dan memutuskan

pengharapanmu. Tuhan Yang Mahakuasa saksiku, dan

apabila tiada benar aku di dalam hal ini, biarlah diazab dan

disiksanya aku dari dunia sampai ke akhirat. Sesungguhnya

aku beribu kali lebih suka mati berkalang tanah daripada

hidup bercermin bangkai sebagai ini, dan jika tiada takut dan

tiada ingat aku akan engkau, pastilah kubunuh diriku, supaya

jangan menanggung sengsara lagi.

Sekarang apa hendak kukatakan? Karena demikianlah

rupanya nasibku yang telah tertimpa. Walaupun bagaimana

juga hendak kutolak atau kuhindarkan diriku daripadanya,

niscaya akan sia-sia belaka pekerjaan itu, karena untung dan

nasib manusia ditentukan, semenjak di rahim bunda kandung.

Bukankah telah kukatakan dalam pepatah: Malang tak

dapat ditolak, mujur tak dapat diraih? Bukankah setahun yang

telah lalu, telah engkau ketahui untungku, karena engkau

telah mendapat mimpi tentang nasibku itu? Sekarang

datanglah waktunya rupanya, aku harus menepati nasibku itu,

tak dapat dimungkiri lagi. Aduhai sia-sialah segala cita-cita

dan kenang-kenanganku, lenyap segala harapanku, putus tali

tempat bergantung dan ..."

Di situ tak dapatlah Samsu membaca surat ini lagi, karena

kertasnya rupa-rupanya penuh kejatuhan air mata, sehingga

menjadi kembang dan huruf yang tertulis di atasnya menjadi

kurang terang. Oleh sebab itu dilampauilah oleh Samsu tulisan

yang kurang terang itu, lalu dibacanya lanjutannya:

"Supaya dapat kauketahui bagaimana anal mulanya

kecelaka-anku ini, kutulislah juga surat ini. Dengan demikian,

dapatlah kautimbang berapa besar kesalahanku dalam perkara

ini.

Sebagai telah kuceritakan kepadamu, toko ayahku telah

terbakar sekaliannya. Itulah permulaan sengsaraku; dari

situlah asalnya azabku. Seperti cerita yang kudengar dari

ayahmu pada pemeriksaan yang dijalankan kemudian

daripada itu, ada tanda-tanda yang menyatakan pembakaran

itu perbuatan orang, karena dekat di sana, ada bekas tempat

minyak dan puntung suluh. Sungguhpun demikian, Sam,

sampai sekarang belum juga lagi dapat keterangan, siapa yang

berbuat kejahatan itu.

Bertambah-tambah syak hati ayahmu, kebakaran itu perbuatan

khianat, sebab yang mula-mula terbakar, dari ketiga

toko itu, ialah kedua toko yang di sisi. Keduanya hampir

serentak dimakan api. Bila toko-toko itu tiada dibakar orang,

bagaimana-kah api itu dapat melompat dari toko yang

pertama ke toko yang ketiga, dengan melampaui toko yang di

tengah-tengah. Jika dapat pun melompat, tentulah toko yang

pertama itu terlebih dahulu hams terbakar benar-benar,

barulah api dapat melompat ke toko yang ketiga. Tetapi

sebagai kukatakan, kedua toko yang di sisi itulah yang mulamula

sama-sama terbakar, barulah toko yang di tengah.

Oleh sebab kebakaran itu perbuatan orang dan api makan

sangat cepatnya, tiadalah dapat ketolongan sepotong barang

pun, karena tatkala diketahui orang api itu, kedua toko itu

telah hampir habis terbakar. Dan karena panas apinya,

seorang pun tak ada yang berani mendekati toko-toko itu.

Itulah juga sebabnya, maka sehelai benang pun tak ada yang

keluar; sekaliannya habis dimusnahkan api. Oleh sebab ketiga

toko itu belum dimasukkan asuransi, rugilah ayahku pada

malam itu kira-kira lima puluh ribu rupiah.

Suatu lagi yang mengherankan ayahmu, yaitu penjaga toko

itu rupanya tidur nyenyak, sehingga mati kebakaran. Hanya

penjaga toko yang di tengahlah yang terlepas dari bahaya

mati. Akan tetapi jika tiada ditolong, tentulah ia mati pula;

karena tatkala api memakan toko yang di tengah, belum juga

ia terbangun, sehingga ia dihela oleh serdadu ke luar. Di luar,

kelihatan sebagai orang mabuk, tiada insaf akan dirinya.

Sebagai telah kuceritakan kepadamu, ayahku malam itu

tiada ada di rumah, pergi ke Padang Panjang, menguruskan

perniagaannya pada beberapa toko langganannya di sana,

yang rupanya hendak mungkir membayar utangnya dan tak

mau mengambil barang-barang lagi kepada ayahku. Itulah

yang menjadikan pikiran dalam hatiku. Sesungguhnyakah

sekalian itu perbuatan orang? Jika benar, apakah maksudnya

dan siapakah musuh yang tersembunyi ini?

Setelah pulanglah ayahku pada keesokan harinya, sebab

dikirimi surat kawat oleh ayahmu, kuceritakan kecelakaan itu

kepadanya dan kukabarkanlah pula syak hatiku kepada orang

yang telah kaumimpikan itu. Akan tetapi ayahku tiada hendak

mendengar perkataanku ini, karena ia sangat percaya rupanya

kepada orang itu.

"Bukannya ia yang berbuat jahat," kata ayahku, "melainkan

nasib kitalah yang sedemikian. Sungguhpun begitu,

janganlah kaususahkan hal itu!" kata ayahku pula, "karena

kebun kelapaku masih ada dan barang-barang hutan yang kuterima

bulan ini, adalah pula lima perahu banyaknya; cukup

bagiku akan memulai berniaga, sebagai dahulu. Jika dengan

tolong Allah, akan kembalilah segala yang telah hilang itu."

Ayahku, karena sabarnya rupanya dengan sepenuh-penuh

hatinya menyerahkan untungnya kepada Tuhan Yang Mahakuasa

dan memohonkan kurnia-Nya. Itulah pula yang menimbulkan

ajaib hatiku, karena kelak akan nyata kepadamu,

bahwa Tuhan telah meninggalkan kami dan tiada menolong

kami lagi, walaupun tiada kuketahui, apakah dosa dan

kesalahan yang telah kami perbuat. Segala kesangsaraan dan

kecelakaan datangnya bertimpa-timpa, sebagai adalah kutuk

yang telah jatuh ke atas kepala kami; karena dua hari

kemudian daripada itu datanglah anak perahu ayahku yang

biasa membawa dan mengambil barang perniagaan dari

Terusan dan Painan mengabarkan, kelima perahu ayahku

telah karam di laut, dilanggar topan yang berembus, tatkala

malam kebakaran itu. Suatu pun dari muatannya tak ada yang

ketolongan, sedang sekalian anak perahu, niscaya akan mati

di laut, jika tiada ditolong oleh perahu lain.

Bagaimana rasa hati ayahku ketika mendengar kabar itu,

tak dapatlah kuceritakan di sini, melainkan Allah jugalah

yang mengetahuinya. Sungguhpun air mukanya tetap, tiada

berubah, dan rupanya menyerah dan tawakal kepada Tuhan,

tetapi aku tahu, hatinya di dalam remuk redam sebagai kaca

jatuh ke batu. Sejak hari itu kami hidup berhemat-hemat.

Tiada lama kemudian daripada itu, rupanya ayahku

meminjam duit kepada Datuk Meringgih, banyaknya sepuluh

ribu, dengan janji itu bagi ayahku, tiadalah kuketahui.

Barangkali akan pembayar utang atau akan dijalankan pula

membangunkan perniagaannya yang telah jatuh itu. Tetapi

rupanya di dalam tiga bulan itu selalu ia rugi, sehingga

habislah uang itu. Sekalian orangnya di Terusan dan Painan,

lari meninggalkan ayahku dengan membawa uang yang ada

padanya, dan segala toko langganan ayahku di Padang Darat

itu pun mungkir pula tiada hendak membayar utangnya.

Tinggal satu lagi harapan ayahku, yaitu kebun kelapa di

Ujung Karang, tetapi pengharapan ini pun diputuskan pula,

karena kami harus jatuh ke lumpur, tak boleh ditolong lagi.

Iblis yang mendatangkan segala mara bahaya itu rupanya

belum puas melihat kami telah jadi sedemikian. Bukannya

harta kami saja yang akan dilenyapkannya, tetapi jiwa kami

pun akan dicabutnya pula dan bila nasib yang malang ini,

tiada hendak meninggalkan kami, niscayalah maksud

jahanam itu tiada lama lagi akan sampai.

Pohon kelapa yang diharapkan ayahku itu, tiada hendak

berbuah lagi, sedang buahnya yang ada pun, tua muda jadi

busuk, gugur ke tanah. Batangnya pun mati semuanya.

Bagaimanakah boleh jadi kecelakaan datang bertimpatimpa

sedemikian itu, tak habis kupikir-pikirkan. Pecah

otakku mengenangkan apakah dosa ayahku maka sampai

mendapat hukuman serupa itu? Aku tak percaya, ayahku ada

berbuat sesuatu yang tak baik atau kesalahan yang besar,

sampai disiksa sedemikian itu.

Akan tetapi apa hendak dikata? Jika nasib akan jatuh,

sekaliannya boleh menjadi sebab. Bagiku adalah untung itu

sebagai kata pepatah: Disangka panas sampai petang, kiranya

hujan tengah hari. Di situlah nyata kebesaran Tuhan, yang

boleh menjadi tamsil bagi segala hartawan. Jika dikehendakiNya,

harta yang sebagaimana banyaknya pun dapat lenyap

dalam sekejap mata."

Baharu hingga itu terbaca oleh Samsu surat Nurbaya ini,

bercucuranlah air matanya, yang sejak tadi ditahan-tahannya.

"Larilah rupanya bahaya yang kutakutkan itu," pikirnya dalam

hatinya, "Bagaimanakah akhirnya kekasihku ini?"

Setelah disapunya air matanya, lalu diteruskannya membaca

surat itu.

"Setelah sampailah tiga bulan, datanglah Datuk Meringgih

meminta uang kembali, katanya sebab perlu dipakainya,

tetapi ayahku tiada beruang lagi. Walaupun berapa ayahku

minta janji, tiadalah diperkenan-kannya.

Waktu itulah baru tahu ayahku, bagaimana hati Datuk.

Meringgih sebenarnya kepadanya. Waktu itu berulah ia

berasa, Datuk Meringgih bukan sahabatnya, melainkan

musuhnya; jadi musuh yang sebesar-besarnya. Sekalian

sangkaku yang telah kukatakan kepadanya, mulai dipercayainya.

Akan tetapi apa boleh buat, Sam! Gadai telah terlanjur ke

Cina, tak dapat diubah lagi. Siapa tahu, barangkali Datuk

Meringgih inilah yang mendatangkan sekalian malapetaka itu,

sehingga ayahku sampai jatuh sedemikian. Sudah itu dengan

sengaja dipinjaminya ayahku uang, supaya ia jatuh pula ke

dalam tangannya. Jika demikian, sesungguhnyalah Datuk

Meringgih itu penjahat yang sebesar-besarnya, yang mengail

dalam belanga, menggunting dalam lipatan.

Setelah dipinta oleh ayahku dengan susah payah, barulah

diberinya tangguh sepekan lagi, akan tetapi dengan

perjanjian, apabila dalam sepekan itu tiada juga dibayar

hutang itu, tentulah akan disitanya rumah dan barang-barang

ayahku dan ayahku akan dimasukkannya ke dalam penjara.

Hanya bila aku diberikan kepadanya, raksasa buas ini,

bolehlah ayahku membayar utang itu, bila ada uangnya.

Membaca kekejian ini, merah padamlah warna muka Samsu.

Matanya sebagai berapi, urat keningnya membengkak dan

sekujur badannya gemetar. Tangannya dikepalkannya sebagai

hendak menerkam Datuk Meringgih, yang pada penglihatannya

barangkali ada di mukanya.

"Jahanam!" demikianlah perkataan yang keluar dari

mulutnya, "Anjing tua yang tiada berbudi. Ingat rupa dan

umurmu hendak meminta Nurbaya. Dengan hantu, patut engkau

kawin!"




0 Response to "SIti Nurbaya 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified