Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

SIti Nurbaya : Kasih Tak Sampai1

Marah Rusli

I. PULANG DARI SEKOLAH

Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda,

bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka

sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka

hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar

dari atas dan timbul dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih.

Seorang dari anak muda ini, ialah anak laki-laki, yang umurnya

kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana

pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu

hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam

pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya.

Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda.

Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi

dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas, yang

dipukul-pukulkannya ke betisnya.

Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka, anak muda

ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah.

Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa;

karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan

matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan

tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula.

Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak

gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang

jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus,

tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya.

Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak

seorang yang mampu dan tertib sopannya menyatakan ia anak

seorang yang berbangsa tinggi.

Teman anak muda ini, ialah seorang anak perempuan yang

umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai

pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam dan tebal itu,

dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutera, dan diberinya

pula berpita hitam di ujungnya. Gaunnya (baju nona-nona)

terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu

dan kausnya, coklat wamanya. Dengan tangan kirinya dipegangnya

sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu,

pensil, pena, dan lain-lain sebagainya; dan di tangan kanannya

adalah sebuah payung sutera kuning muda, yang berbunga dan

berpinggir hijau.

Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri

sedemikian! Seakan-akan dagang yang rawan, yang bercintakan

sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Pipinya sebagai pauh

dilayang, yang kemerah-merahan warnanya kena bayang baju

dan payungnya, bertambah merah rupanya, kena panas matahari.

Apabila ia tertawa, cekunglah kedua pipinya, menambahkan

manis rupanya; istimewa pula karena pada pipi kirinya ada tahi

lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai

janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga

melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antara

kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagai dua

baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan

pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak,

yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air

embun. Di lehernya yang jenjang, tergantung pada ranjai emas

yang halus, sebuah dokoh hati-hati, yang bermatakan permata

delima. Jika ia minum, seakan-akan terbayanglah air yang

diminumnya di dalam kerongkongannya. Suaranya lemahlembut,

bagai buluh perindu, memberi pilu yang mendengarnya.

Dadanya bidang, pinggangnya ramping. Lengannya dilingkari

gelang ular-ular, yang bermatakan beberapa butir berlian yang

bemyala-nyala sinarnya. Pada jari manis tangan kirinya yang

halus itu, kelihatan sebentuk cincin mutiara, yang besar matanya.

Kakinya baik tokohnya dan jalannya lemah gemulai.

Menurut bangun tubuh, warna kulit dan perhiasan gadis ini,

nyatalah ia bangsa anak negeri di sana; anak orang kaya atau

orang yang berpangkat tinggi. Barangsiapa memandangnya, tak

dapat tiada akan merasa tertarik oleh sesuatu tali rahasia, yang

mengikat hati, dan jika mendengar suaranya, terlalailah daripada

sesuatu pekerjaan. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika

telah sampai umurnya, niscaya akan menjadi sekuntum bunga,

kembang kota Padang, yang semerbak baunya sampai ke manamana,

menjadikan asyik berahi segala kumbang dan rama-rama

yang ada di sana.

"Apakah sebabnya Pak Ali hari ini terlambat datang?

Lupakah ia menjemput kita?" demikianlah tanya anak laki-laki

tadi kepada temannya yang perempuan, sambil menoleh ke jalan

yang menuju ke pasar Kampung Jawa.

"Ya, biasanya sebelum pukul satu ia telah ada di sini.

Sekarang, cobalah lihat! Jam di kantor telepon itu sudah hampir

setengah dua," jawab anak perempuan yang di sisinya.

"Jangan-jangan ia tertidur, karena mengantuk; sebab tadi

malam ia minta izin kepada ayahku, pergi menonton komidi

kuda. Kalau benar demikian, tentulah kesalahannya ini akan

kuadukan kepada ayahku," kata anak laki-laki itu pula, sebagai

marah rupanya.

"Ah, jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan

baru sehari dua bekerja pada ayahmu, melainkan telah bertahuntahun.

Dan di dalam waktu yang sekian lamanya itu, belum ada

ia berbuat kesalahan apa-apa. Bagaimanakah rasanya, kalau kita

sendiri sudah setua itu, masih dimarahi juga? Pada sangkaku,

tentulah ada alangan apa-apa padanya. Jangan jangan ia

mendapat kecelakaan di tengah jalan. Kasihan orang tua itu!

Lebih baik kita berjalan kaki saja perlahan-lahan, pulang ke

rumah; barangkali di tengah jalan kita bertemu dengan dia

kelak," kata anak perempuan itu pula seraya membuka payung

suteranya dan berjalan perlahan-lahan ke luar pekarangan rumah

sekolah.

"Ya, tetapi aku lebih suka naik bendi daripada berjalan kaki,

pulang ke rumah, sebab aku amat lelah rasanya dan hari amat

panas. Lihatlah mukamu, telah merah sebagai jambu air, kena

panas matahari!" jawab anak laki-laki itu, seakan-akan merengut,

tetapi diikutinya juga temannya yang perempuan tadi.

"Benar hari panas, tetapi tak mengapa. Kaulihat sendiri, aku

ada membawa payung yang boleh kita pakai bersama-sama.

Merah mukaku ini bukan karena panas semata-mata, melainkan

memang sejak dari sekolah sudah merah juga."

"Apa sebabnya? Barangkali engkau dimarahi gurumu," tanya

Sam, demikianlah nama anak laki-laki itu, sambil memandang

kepada temannya.

"Bukan begitu, Sam, hanya ... O, itu Pak Ali datang!"

Tiada berapa lama kemudian, berhentilah di muka anak muda

ini sebuah bendi yang ditarik oleh seekor kuda Batak. Rupanya

kuda ini telah lama dipakai, karena badannya basah dengan

peluh. Di atas bendi ini duduk seorang kusir, yang umurnya kirakira

45 tahun, tetapi badannya masih kukuh. Pada air mukanya,

nyata kelihatan, bahwa ia seorang yang lurus hati dan baik budi,

walaupun ia tiada remaja lagi.

"Pak Ali, mengapa terlambat datang menjemput kami?

Tahukah, bahwa sekarang ini sudah setengah dua? Setengah jam

lamanya kami harus berdiri di bawah pohon ketapang, sebagai

anak ayam ditinggalkan induknya," kata Sam seakan-akan

marah, sambil menghampiri bendi yang telah berhenti itu.

"Engku muda*), janganlah marah! Bukannya sengaja hamba

terlambat. Sebagai biasa, setengah satu telah hamba pasang

bendi ini, untuk menjemput Engku Muda. Tetapi Engku

Penghulu**) menyuruh hamba pergi sebentar menjemput engku

Datuk Meringgih, karena ada sesuatu, yang hendak dibicarakan.

Kebetulan Engku Datuk itu tak ada di tokonya, sehingga

terpaksa hamba pergi ke Ranah, mencarinya di rumahnya. Itulah

sebabnya terlambat hamba datang," jawab kusir tua itu dengan

sabar.

"Hm ... Marilah Nur, naiklah, supaya lekas kita sampai ke

rumah, sebab perutku telah berteriak minta makan," kata Sam

pula.

*) Panggilan kepada anak orang yang

berpangkat di Padang

**) Nama pangkat di Padang, yang hampir

sama dengan Wedana di tanah Jawa

Kedua anak muda tadi lalu naiklah ke atas bendi Pak Ali dan

dengan segera berlarilah kuda Batak yang amat tangkas itu,

menarik tuannya yang muda remaja, pulang ke rumahnya di

Kampung Jawa Dalam.

Setelah sejurus lamanya berbendi, berkatalah anak laki-laki

tadi, "Nur, belum kanceritakan kepadaku, apa sebabnya mukamu

merah."

"O, ya, Sam. Tadi aku diberi hitungan oleh Nyonya Van der

Stier, tentang perjalanan jarum pendek dan jarum panjang, pada

suatu jam. Dua tiga kali kucari hitungan itu, sampai pusing

kepalaku rasanya, tak dapat juga. Bagaimanakah jalannya

hitungan yang sedemikian?"

"Bagaimanakah soalnya?" tanya si Sam.

"Demikian," jawab si Nur. "Pukul 12, jarum pendek dan

jarum panjang berimpit. Pukul berapa kedua jam itu berimpit

pula, sesudah itu?"

"Ah, jalan hitungan yang semacam ini, hampir sama dengan

jalan hitungan yang telah kuterangkan dahulu kepadamu," jawab

si Sam, "yaitu tentang perjalanan orang yang berjalan kaki dan

naik kuda. Yang terutama harus kau ketahui pada hitungan yang

sedemikian ini, ialah jarak dari angka XII ke angka XII, pada

jam kalau lingkaran itu dibuka dan dijadikan baris yang lurus.

Berapa?"

Si Nur terdiam, sebagai berpikir.

"Begini. Cobalah pinjami aku batu tulismu itu!" kata si Sam

pula, seraya mengambil batu tulis si Nur dan membuat sebuah

garis yang panjang di atasnya.

Sejenak kemudian si Nur menjawab, "60 menit."

"Benar, 60 menit atau 60 meter atau 60 pal, sekaliannya itu

sekadar nama saja. Panjang yang 60 menit antara dua angka XII

di jam, boleh kita samakan dengan panjang jalan yang 60 Km,

antara dua buah negeri, misalnya antara negeri P dan M.

Sekarang manakah yang lebih cepat, jalan jarum panjangkah

atau jarum pendek?" tanya Sam pula.

"Tentu jarum panjang," jawab si Nur.

"Nah, jarum panjang itu misalkanlah si A, yang menunggang

kuda dari P ke M, dan jarum pendek si B, yang berjalan kaki dari

P ke N." kata si Sam. "Sekarang berapakah kecepatan perjalanan

kedua jarum itu?"

"Jarum panjang 60 menit sejam dan jarum pendek 5 menit,"

jawab si Nur.

"Jadi berapa perbedaan perjalanan kedua jarum itu dalam

sejam?"

"55 menit," jawab si Nur.

"Nah, suruhlah kedua mereka itu sama-sama berangkat! Si A

dari P ke M, dan si B dari P ke N," kata si Sam pula.

"O, ya, benar, benar!" kata si Nur, "sekarang mengertilah

aku."

"Ya, kalau tahu rahasia hitungan, mudah benar mencarinya,

bukan?"

"Benar. Terima kasih, Sam!" kata anak perempuan tadi

sambil melihat ke hadapan. "Hai, dengan tiada diketahui, kita

telah sampai ke rumah."

Ketika itu berhentilah bendi tadi di muka sebuah rumah kayu,

bercat putih dan beratap genting, yang dihiasi sebagai rumah

Belanda. Anak perempuan tadi turun dari kendaraan Pak Ali,

lalu hendak masuk ke rumah ini.

"O ya, Nur, tunggu sebentar," kata si Sam. "Hampir lupa aku.

Tadi, waktu keluar bermain-main, aku telah bermupakat dengan

si Arifm dan si Bakhtiar, akan pergi esok hari ke gunung Padang,

bermain-main mencari jambu Keling, sebab hari Ahad sukakah

engkau mengikut?"

"Tentu sekali suka, Sam," jawab si Nur dengan girang.

"Tetapi aku harus minta izin dahulu kepada ayahku. Jika dapat,

nanti petang kukabarkan kepadamu."

"Baiklah. Tetapi kalau engkau ikut serta, hendaklah kaubawa

apa-apa, yang dapat kita makan bersama-sama di sana.

Perjanjian kami tadi, si Arifin membawa air seterup dan aku

membawa roti. Kalau boleh, aku hendak meminjam bedil angin

si Hendrik, supaya dapat berburu pula sekali, kalau-kalau ada

burung di sana."

"Alangkah senangnya! Kalau diizinkan aku mengikut, nanti

akan kupikirkanlah apa yang baik kubawa," jawab si Nur.

"Baiklah. Tabik, Nur!" .

"Tabik, Sam!"

Setelah itu bendi yang membawa kedua anak muda ini,

masuk ke dalam pekarangan rumah si Sam, yang letaknya di

sebelah rumah yang dimasuki anak perempuan tadi. Ketika anak

laki-laki ini sampai ke rumahnya, kelihatan olehnya di muka

rumahnya, ada sebuah kereta berhenti dan ayahnya duduk

bertutur dengan seorang tamu, di beranda muka.

Sebelum diteruskan cerita ini, baiklah diterangkan lebih

dahulu, siapakah kedua anak muda yang telah kita ceritakan tadi,

karena merekalah kelak yang acap kali akan bertemu dengan

kita, di dalam hikayat ini.

Anak laki-laki yang dipanggil Sam oleh temannya tadi, ialah

Samsulbahri, anak Sutan Mahmud Syah, Penghulu di Padang;

seorang yang berpangkat dan berbangsa tinggi. Anak ini telah

duduk di kelas 7 Sekolah Belanda Pasar Ambacang. Oleh sebab

ia seorang anak yang pandai, gurunya telah memintakan kepada

Pemerintah, supaya ia dapat meneruskan pelajarannya pada

Sekolah Dokter Jawa di Jakarta.

Ia bukannya seorang anak yang pandai sahaja, tingkah

lakunya pun baik; tertib, sopan santun, serta halus budi

bahasanya. Lagi pula ia lurus hati dan boleh dipercayai.

Walaupun ia rupanya sebagai seorang anak yang lemah-lem¬but,

akan tetapi jika perlu, tidaklah ia takut menguji kekuatan dan

keberani¬annya dengan siapa saja; lebih-lebih untuk membela

yang lemah. Dalam hal itu, tiadalah ia pandang-memandang

bangsa ataupun pangkat. Itulah sebabnya ia sangat dimalui

teman-temannya. Kalau tak ada alangan apa-apa, tiga bulan lagi

berangkatlah Samsulbahri ke tanah Jawa, untuk menuntut ilmu

yang lebih tinggi.

Temannya yang dipanggilnya Nur tadi ialah Sitti Nurbaya,

anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang, yang

mempunyai beberapa toko yang besar-besar, kebun yang lebarlebar

serta beberapa perahu di laut, untuk pembawa

perdagangannya melalui lautan. Anak ini pun seorang gadis,

yang dapat dikatakan tiada bercacat, karena bukan rupanya saja

yang cantik, tetapi kelakuan dan adatnya, tertib dan sopannya,

serta kebaikan hatinya, tiadalah kurang daripada kecantikan

parasnya.

Oleh sebab ia anak seorang yang kaya dan karena ia cerdik.

dan pandai pula, ia disukai dan disayangi pula oleh temantemannya.

Hanya ayahnya, bukan seorang yang berasal tinggi,

sebagai Sultan Mahmud Syah, Penghulu yang tinggal di sebelah

rumahnya. Sungguhpun demikian, Penghulu dan saudagar ini

bukannya dua orang yang bersahabat karib saja, tetapi adalah

sebagi orang yang bersaudara kandung. Hampir setiap hari

saudagar Baginda Sulaiman datang ke rumah Penghulu Sutan

Mahmud Syah. Kalau tidak, tentulah Penghulu itu datang ke

rumah saudagar ini. Jika seorang mempunyai makanan, tak dapat

tiada diberikannya juga sebahagian kepada sahabatnya. Barang

sesuatu yang akan diperbuatnya, dirundingkannya lebih dahulu

dengan karibnya.

Oleh sebab itulah, Samsulbahri dan Nurbaya tiada berasa

orang lain lagi, melainkan serasa orang yang seibu sebapa

keduanya. Istimewa pula, karena mereka masing-masing anak

yang tunggal tiada beradik, tiada berkakak. Dari kecil, sampai

kepada waktu cerita ini dimulai, kedua remaja itu belumlah

pernah bercerai barang sehari pun; boleh dikatakan makan

sepiring, tidur sebantal.

Bagaimanakah hal kedua anak muda ini kelak, apabila datang

waktunya, Samsulbahri harus berangkat meninggalkan kampung

halamannya dan ibu-bapa serta handai tolannya? Nantilah akan

diceritakan betapa berat perceraian itu.

Tadi telah dikatakan, tatkala Samsulbahri sampai ke rumahnya,

ayahnya sedang bercakap-cakap dengan seorang jamu, di

serambi muka. Orang ini masuk bilangan sahabat Penghulu itu

juga, sebab ia acap kali kelihatan makan minum di sana.

Menurut air muka dan rambutnya yang telah putih ditumbuhi

uban, nyatalah ia tiada remaja lagi. Akan tetapi, walaupun ia

telah tua, badannya masih sempurna, kukuh dan sehat, karena ia

seorang yang mampu.

Itulah Datuk Meringgih, saudagar Padang yang termasyhur

kayanya, sampai ke negeri-negeri lain. Pada masa itu, di antara

saudagar-saudagar bangsa Melayu di padang, tiada seorang pun

dapat melawan kekayaan Datuk Meringgih ini. Hampir sekalian

toko dan rumah yang besar-besar di Pasar Gedang, kepunyaannya.

Hampir sekalian tanah di Padang, tertulis di atas namanya.

Sawahnya beratus piring dan kebunnya beratus bahu. Hampir

sekalian perahu yang berlabuh di Muara, di dalam tangannya.

Sekalian rotan dan damar, serta hasil hutan yang lain-lain, yang

datang dari Painan dan Terusan, masuk ke dalam tempat

penyimpanannya. Berkapal-kapal kelapa keringnya, yang

dikirimkannya ke benua Eropah. Bergudang-gudang barangbarang

yang dipesannya dari negeri lain-lain.

Siapakah yang tiada mengenal namanya? Sampai ke

Singapura dan Melaka, Datuk Meringgih diketahui orang. Tak

ada seorang bangsa Eropah atau Cina, Arab atau Keling yang

kaya dan berpangkat di Padang, yang tiada bersahabat dengan

dia. Ia pun sangat pula merapati mereka, terlebih-lebih yang

berpangkat tinggi. Adakah maksudnya berbuat demikian? Atau

sebab memang ia seorang yang baik budi? Kelak akan kita

ketahui juga hal ini.

Sungguhpun Datuk Meringgih seorang yang kaya raya, tetapi

tiadalah ia berbangsa tinggi. Konon khabarnya, tatkala mudanya,

ia sangat miskin. Bagaimana ia boleh menjadi kaya sedemikian

itu, tiadalah seorang juga yang tahu, lain daripada ia sendiri.

Suatu sifat yang ada padanya, yang dapat menambah kekayaannya

itu, ialah ia amat sangat kikir. Perkara uang sesen, maulah ia

rasanya berbunuhan. Jika ia hendak mengeluarkan duitnya,

dibolak-balikkannya dahulu uang itu beberapa kali, sebagai tak

dapat ia bercerai dengan mata uang ini, seraya berkata dalam

hatinya, "Aku berikanlah uang ini atau tidak?" Hanya untuk

suatu perkara saja ia tiada bakhil, yaitu untuk perempuan. Berapa

kali ia telah kawin dan bercerai, tiadalah dapat dibilang. Hampir

dalam tiap-tiap kampung, ada anaknya. Tiada boleh ia melihat

perempuan yang cantik rupanya, tentulah dipinangnya. Walaupun

ia harus mengeluarkan uang seribu rupiah sekalipun, tiadalah

diindahkannya, asal sampai maksudnya. Kebanyakan

perempuan yang jatuh ke dalam tangan Datuk Meringgih ini,

semata-mata karena uangnya itu juga. Sebab lain daripada itu,

tak ada yang dapat dipandang padanya. Rupanya buruk, umurnya

telah lanjut, pakaian dan rumah tangganya kotor, adat dan

kelakuannya kasar dan bengis, bangsanya rendah, pangkat dan

kepandaianpuntak ada, selain dari pada kepandaian berdagang.

Akan tetapi karena kekuasaan uangnya, yang tinggi menjadi

rendah, yang keras menjadi lunak dan yang jauh men-jadi dekat.

Bukankah besar kekuasaan uang itu? Tentu, apakah yang

lebih daripada uang? Dunia ini berputar mengelilingi uang.

Sekaliannya ujudnya uang.

"Hai, telah pukul satu!" demikian kata Sutan Mahmud,

tatkala dilihatnya anaknya pulang dari sekolah.

"Sudah setengah dua," jawab Datuk Meringgih, setelah

melihat arlojinya, yang besar, yang berantaikan pita berpintal,

dari kantung atas bajunya.

"Jadi Engku Datuk beri pinjam hamba uang yang 3000

rupiah itu?" tanya Sutan Mahmud.

"Tentu," jawab Datuk Meringgih dengan pastinya.

"Tetapi apakah yang akan hamba berikan kepada Engku

Datuk untuk jadi andalan?" tanya Sutan Mahmud.

"Tidak apa-apa. Hamba percaya kepada Tuanku Penghulu,

karena Tuankn bukan baru hamba kenal. Jika orang lain, tentu

hamba minta jaminan."

"Bukan begitu," kata Sutan Mahmud pula. "Hamba banyak

meminta terima kasih kepada Engku Datuk, sebab percaya pada

hamba; tetapi utang harus ada tandanya. Bila besok lusa hamba

meninggal dunia sebelum utang itu lunas dibayar, bagaimanakah?

Oleh sebab itu, kelak akan hamba kirimkan kepada Engku

Datuk, suatu surat perjanjian, bahwa rumah hamba ini dengan

tanah-tanahnya, telah hamba gadaikan kepada Engku dengan

harga 3000 rupiah."

"Mana suka Tuankulah; sekarang hamba minta diri dahulu,

sebab Tuanku tentulah sudah lapar," jawab Datuk Meringgih.

"Tidakkah Engku datuk makan di sini? tanya Sutan Mahmud.

"Tak usah, kemudian marilah," jawab Datuk Meringgih pula,

sambil berdiri.

Kedua mereka kelihatan berjabat tangan, lalu Datuk

Meringgih turun dari atas rumah itu dan naik ke atas keretanya.

Seketika lagi, hilanglah ia dari mata Sutan Mahmud.

Waktu itu kelihatan Sutan Mahmud menarik napasnya,

sebagai terlepas daripada sesuatu bahaya, lalu masuk ke dalam

rumahnya, sambil berkata, "Kalau tak dapat kupinjam padanya,

tentulah aku akan terpaksa menjual sawah pusaka. Untung

benar! Kepada Baginda Sulaiman, tak hendak kupinta tolong.

Segan aku, kalau-kalau ia tak mau dibayar kembali."

Tatkala ia sampai ke dalam rurnahnya, kelihatan olehnya

Samsulbahri baru keluar dari dalam biliknya dan telah memakai

baju Cina putih dan celana genggang, yang baru dikenakannya;

penukar pakaian sekolahnya.

Setelah dilihat Samsu ayahnya, lalu dihampirinya orang

tuanya itu, seraya berkata, "Kalau Ayah izinkan, hamba hendak

pergi esok hari bermain-main ke gunung Padang."

"Dengan siapa?" tanya Sutan Mahmud.

"Dengan si Arifin dan si Bakhtiar dan barangkali juga dengan

si Nurbaya," jawab Samsu.

"Dengan si Nurbaya?" tanya Sutan Mahmud pula, sambil

berpikir. "Baiklah, tetapi hati-hati engkau menjaga dirimu dan si

Nurbaya! Jangan sampai ada alangan apa-apa dan jangan berlaku

yang tiada senonoh."

"Baiklah, Ayah," jawab Samsu.

Sejurus lagi, duduklah anak dan bapa, makan di meja

bersama-sama ibu Samsu, yang telah lama duduk menanti.

II. SUTAN MAHMUD DENGAN SAUDARANYA

YANG PEREMPUAN

Pada senja hari yang baru diceritakan, kelihatan bendi Sutan

Mahmud masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah gedung di

kampung Alang Lawas. Di dalam bendi ini duduk Sutan

Mahmud.

Memang gagah rupanya Penghulu ini duduk.di atas bendinya,

bertopangkan tongkat ruyung dengan kedua belah tangannya.

Destamya yang berbentuk "ciling menurun" itu adalah sebagai

suatu mahkota di atas kepalanya. Bajunya jas putih, berkancingkan

"letter W," dan ujung lengan bajunya itu berpetam

sebagai baju opsir. Celananya—celana panjang putih, sedang di

antara baju dan celana kelihatan sarungnya, kain sutera Bugis

hitam, yang terjuntai hampir sampai ke lututnya. Sepatunya

sepatu kasut, yang diperbuat dari kulit perlak hitam.

Rupanya Penghulu ini, tak guna kita rencanakan, karena

adalah sebagai pinang dibelah dua dengan rupa anaknya

Samsulbahri. Di antara Penghulu-penghulu yang delapan di kota

Padang waktu itu, Sutan Mahmud inilah yang terlebih dipandang

orang, karena bangsanya tinggi, rupanya elok, tingkah lakunya

pun baik; pengasih penyayang kepada anak buahnya, serta adil

dan lurus dalam pekerjaannya.

Tatkala sampai ke muka gedung tadi, berhentilah bendi Sutan

Mahmud, dan Penghulu ini turun dari atas kendaraannya, lalu

naik ke atas rumah ini. Dari jauh telah nyata kelihatan, gedung

ini kepunyaan seorang mampu, karena rupanya sederhana,

pekarangannya besar dan dipagar dengan kayu yang bercat

hitam. Di dalam pekarangan ini, banyak tumbuh-tumbuhan yang

sedang berbuah dan bunga-bungaan yang sedang berkembang.

Jalan masuk ke rumah ini, bentuknya sebagai bulan sebelah,

dan kedua pintunya, dapat ditutup dengan pagar besi yang bercat

putih. Pada bentuknya nyata, gedung ini buatan lama; karena

bangunnya tinggi, tiangnya besar-besar berukir-ukiran, lantainya

papan, demikian pula dindingnya; atapnya genting dilapisi

dengan rumbia, sehingga tak mudah bocor. Pada dindingnya

yang dicat putih itu, tergantung beberapa gambar Sultan Turki

dengan Wazir-Wazirnya. Kolong di bawah rumah itu, sekelilingnya

berkisi-kisi papan kecil-kecil, yang bercat hitam. Di serambi

muka, yang dipagari kisi-kisi kayu berpahat, ada sebuah lampu

gantung, yang dapat dikerek turun-naik, terbuat dari ukir-ukiran

timah, bertutupkan gelas, sedang di bawah lampu itu adalah

sebuah meja marmar bulat, yang kakinya berukir-ukiran pula, dikelilingi

oleh empat buah kursi goyang, macam dahulu. Serambi

ini tengahnya menganjur ke muka sedikit. Di sanalah bertemu

kedua tangga yang terletak di kanan-kiri serambi.

Rupanya Sutan Mahmud telah biasa masuk rumah ini, karena

ia terus berjalan ke serambi belakang. Di sana kelihatan olehnya

seorang anak gadis yang berumur kira-kira 15 tahun, sedang

duduk menjahit di atas tikar pandan dekat sebuah pelita.

Tatkala Sutan Mahmud melihat anak perempuan ini, berhentilah

ia sejurus, lalu bertanya, "Ke mana ibumu, Rukiah?"

Mendengar perkataan ini, terperanjatlah anak perempuan itu,

lalu mengangkat mukanya menoleh, kepada Sutan Mahmud.

Tatkala dilihatnya Penghulu ini berdiri di belakangnya, segeralah

diletakkannya jahitannya, lalu berdiri, sambil berkata, "Sedang

sembahyang, Mamanda." Kemudian ia hendak masuk ke dalam

sebuah bilik, akan melihat, sudahkah ibunya sembahyang.

"Sudahlah, biarlah! Aku nanti sebentar," kata Sutan Mahmud,

lalu duduk di atas sebuah kursi makan, di sisi sebuah meja

marmar kecil.

Tatkala itu terdengarlah suara seorang perempuan bertanya

dari dalam bilik, tempat perawan tadi akan masuk, "Siapakah itu,

Rukiah?"

"Mamanda Penghulu," jawab Rukiah.

"O, tunggulah sebentar! Kukenakan pakaianku dahulu,

karena aku baru sudah sembahyang."

Sementara itu bertanyalah Sutan Mahmud kepada Rukiah,

"Apakah yang kaujahit itu, Rukiah?"

"Baju kerawang, Mamanda," jawab Rukiah, seraya berkemas,

untuk menyimpan penjahitannya.

"Coba kulihat!" kata Sutan Mahmud pula. Rukiah, membawa

jahitannya, talu memperlihatkannya kepada Sutan Mahmud.

"Bagus benar buatanmu ini," kata Sutan Mahmud. "Untuk

siapa baju ini?"

Mendengar pertanyaan sedemikian, terdiamlah Rukiah, lalu

tunduk kemalu-maluan. "Untuk siapa-siapa saja yang suka,"

jawabnya.

"Yang suka, tentu banyak. Aku misalnya, ingin sekali

memakai baju kerawang yang sedemikian," kata Sutan Mahmud,

akan mempermain-mainkan gadis ini.

"Kalau Mamanda suka, bolehlah Mamanda ambil. Tetapi rasa

hamba baju ini kecil bagi Mamanda."

"Pada sangkaku pun demikian juga, Rukiah. Orang yang

akan memakai baju ini, tentulah remaja yang sebaya dengan

engkau, dan yang badannya seramping badanmu; bukannya lakilaki

tua tambun, sebagai aku ini," jawab Sutan Mahmud dengan

tersenyum.

Rukiah tunduk kembali kemalu-maluan, serta merah mukanya.

Tatkala itu keluarlah seorang perempuan yang umurnya

kira-kira 45 tahun, dari dalam bilik tadi, memakai baju kebaya

panjang, dari cela hitam dan kain Bugis. Rupanya perempuan ini

hampir seroman dengan Sutan Mahmud: hanya badannya kurus

sedikit. Pada air mukanya yang agak berlainan dengan wajah

muka Sutan Mahmud, terbayang tabiatnya yang kurang baik,

yaitu dengki dan bengis.

Tatkala dilihatnya Sutan Mahmud duduk di atas kursi lalu

ditegurnya, "Engkau, Penghulu! Alangkah besar hatiku melihat

engkau ada pula di rumah ini; karena telah sekian lama engkau

tiada datang kemari. Hampir aku bersangka, engkau telah lupa

kepada kami."

"Bukan demikian, Kakanda! Maklumlah hal kami pegawai

Pemerintah! Pekerjaan tiada berkeputusan: rodi, ronda, perkara

jalan, perkara polisi, perkara ini dan itu, tidak berhenti," jawab

Sutan Mahmud.

"Ya, tentu; tetapi ... Rukiah, pergilah masak air panas, untuk

mamandamu ini! Masih adakah kue-kue dalam lemari?"

"Ada, Bunda," jawab Rukiah.

"Ah, tak usah, karena aku baru minum teh di rumah, Rukiah,"

kata Sutan Mahmud pula.

"Mengapa? Tidakkah sudi lagi engkau makan di sini? Tidakkah

percaya lagi engkau kepada saudaramu?" tanya perempuan

itu, seraya rnengangkat mukanya, sebagai hendak marah.

"Ah, apakah sebabnya Kakanda berkata demikian? Masakan

hamba menaruh syak wasangka pada Kakanda? Kalau tiada

Kakanda, siapa lagi yang boleh hamba percayai?" jawab Sutan

Mahmud dengan tenangnya, tetapi, senyumnya mulai hilang dari

bibirnya.

"Pergilah Rukiah masak air, tetapi kopinya jangan terlalu

keras!" kata perempuan itu pula.

Setelah itu, anak perawan ini lalu pergi ke dapur, mengerjakan

apa yang telah dikatakan ibunya.

"Jangan engkau marah, apabila aku berkata demikian kepadamu,

karena sesungguhnya engkau rupanya makin lama makin

kurang kepada kami. Dahulu setiap hari engkau datang kemari,

makan dan minum di sini dan kadang-kadang tidur pula di sini.

Baran apa yang kaukehendaki, engkau minta atau kauambil

sendiri. Rumah ini kaupandang sebagai ramahmu sendiri. Akan

tetapi sekarang ini, jangankan tidur di sini, menjaga kami, datang

melihat kami kemari sekali sejumat pun tidak.

Apabila kuberikan apa-apa kepadamu, tak hendak kaumakan,

sebagai takut dan tak percaya engkau kepada rumah ini dan

isinqa; padahal di sinilah tumpah darahmu, di sinilah tumpah

darahku dan di sinilah pula orang tua-tua kita tinggal telah lebih

dari 80 tahun dan di sini pula ayah-bunda kita berpulang ke

rahmatullah. Bagaimana boleh sampai hatimu sedemikian itu,

tiadalah dapat kupikirkan," kata putri Rubiah, seraya menyapu

air matanya, yang berlinang-linang di pipinya.

Melihat kakandanya menangis, menjadi lemahlah kembali

hati Sutan Mahmud yang tadi mulai panas, lalu ia menjawab,

"Janganlah Kakanda berkecil hati, sebab tidaklah ada hamba

berhati sedemikian itu; hanya maklumlah Kakanda, Tuan

Kemendur ini baru, perintahnya keras; jadi harus berhati-hati

memegang pekerjaan, supaya jangan mendapat nama yang

kurang baik. Kakanda tahu sendiri, sejak dari nenek moyang

kita, yang semuanya bekerja pada kompeni, belum ada yang

mendapat nama jahat, melainkan pujianlah yang diperoleh

selama-lamanya. Alangkah sayangnya dan malunya hamba, bila

nama yang baik itu, pada hamba menjadi kurang baik!"

"Ah, tetapi pada sangkaku, walaupun engkau tiada menjadi

Penghulu sekalipun, engkau akan lupa juga kepada kami dan

rumah ini," kata putri Rubiah pula. "Semenjak engkau telah

kawin dan beranak, tiadalah lain yang kaupikirkan anak dan

istrimu, serta rumah tanggamu saja."

"Jika tiada begitu, bagaimana pula? Kalau tiada hamba yang

harus memelihara anak istri hamba, siapa lagi," tanya Sutan

Mahmud dengan tercengang.

"Lihatlah! Memang benar sangkaku, pikiranmu telah berubah

daripada yang diadatkan di Padang ini. Istrimu sudahlah, sebab

ia tinggal di rumahmu, tetapi anakmu? Bukanlah ada mamandanya,

saudara istrimu? Bukankah anakmu itu kemenakannya?

Bukankah dia yang harus memelihara anakmu, menurut adat

kita?" mendakwa putri Rubiah. "Atau telah lupa pula engkau

adat nenek moyang kita itu?"

"Benar, tetapi si Marhum tak berapa pendapatannya dan

banyak pula tanggungannya yang lain; jadi malu hamba, kalau si

Samsu hamba serahkan ke tangannya," jawab Sutan Mahmud.

"Ya, tetapi apabila kemenakanmu yang menjadi tanggunganmu

sendiri tersia-sia, tiada engkau malu," kata putri Rubiah pula.

"Tersia-sia bagaimana?" tanya Sutan Mahmud.

"Tidakkah tersia-sia namanya itu? Tidak dilihat-lihat dan

tidak diindahkan. Entah berbaju entah tidak, entah kelaparan

entah kesusahan, entah sakit entah mati. Anakmu kaumasukkan

ke sekolah Belanda, kauturut segala kehendaknya, makan tak

kurang, pakaian cukup. Jika hendak pergi, bendimu telah tersedia

akan membawanya, dan tiada lama lagi akan engkau kirim

pula ia ke Jakarta, meneruskan pelajarannya. Dari situ barangkali

ke negeri Belanda pula karena kepandaian di sana, belumlah

memadai baginya. Kalau ada sekolah untuk menjadi raja,

tentulah. ke sana pula kauserahkan anakmu itu, sebab ia tak

boleh menjadi orang sebarang saja, melainkan harus menjadi

orang yang berpangkat tinggi. Bukankah sekalian itu memakan

biaya? Untuk anakmu selalu ada uangmu, untuk anakku

selamanya tak ada."

"Rukiah tidak bersekolah itu bukan salah hamba, melainkan

salah Kakanda sendiri. Sudah berapa kali hamba minta kepada

Kakanda, supaya anak itu disekolahkan, tetapi Kakandalah yang

tak suka, karena tak baik, kata Kakanda, anak perempuan pandai

menulis dan membaca; suka menjadi jahat. Sekarang hamba

yang disalahkan. Lagi pula hamba sekolahkan si Samsu bukan

karena apa-apa, melainkan sebab pada pikiran hamba, kewajiban

bapaklah memajukan anaknya," kata Sutan Mahmud sambil

merengut.

"Bukan kewajibanmu, melainkan kewajiban mamaknya*)"

jawab putri Rubiah. "Untung anakku perempuan, tak banyak merugikan

engkau. Akan tetapi walaupun ia laki-laki sekalipun,

belum tentu juga akan kauserahkan ke sekolah, karena orang bersekolah

itu orang yang hina dan miskin, yang tak dapat makan,

kalau tiada berkepandaian. Anakku putri, bangsanya tinggi, tak

perlu bekerja untuk mencari makan. Biarpun ia bodoh, masih

banyak orang kaya dan bangsawan yang suka kepada ketinggian

bangsanya. Anakmu bukan demikian halnya; ia hanya marah

karena ibunya orang kebanyakan. Kalau tak berkepandaian, tentu

tak laku..." kata putri Rubiah dengan keras suaranya, lalu berhenti

sejurus, sebagai tak dapat meneruskan sesalannya.

*) Saudara ibu yang laki-laki

"Sampai sekarang aku belum mengerti, bagaimana pikiranmu,

tatkala mengawini perempuan itu. Apanya yang kau

pandang? Bagusnya itu saja? Apa gunanya beristri bagus, kalau

bangsa tak ada, Serdadu Belanda bagus juga, tetapi siapa yang

suka menjemputnya?" *)

"Rupanya bagi Kakanda, perempuan itu haruslah berbangsa

tinggi, baru dapat diperistri. Pikiran hamba tidak begitu; bahwa

kawin dengan siapa saja, asal perempuan itu hamba sukai dan ia

suka pula kepada hamba. Tiada hamba pandang bangsa, rupa

atau kekayaannya," jawab Sutan Mahmud yang mulai naik

darahnya.

"Memang adat dan kelakuanmu telah berubah benar. Tiada

lama lagi tentulah akan kautukar pula agamamu dengan agama

Nasrani," kata putri Rubiah.

Sutan Mahmud tiada menjawab melainkan mengangkat

bahunya, seraya menoleh ke tempat lain.

"Pekasih**) apakah yang telah diberikan istrimu itu kepadamu,

tidaklah kuketahui; hingga tidak tertinggalkan olelunu

perempuan itu; sebagai telah tetikat kaki tanganmu olehnya.

Sekalian Penghulu di Padang ini beristri dua tiga, sampai empat

orang. Hanya engkau sendirilah yang dari dahulu, hanya

*) Memberi uang tatkala kawin

**) Ilmu supaya dikasihi atau dicintai, biasanya

memakai obat-obatan (guna-guna di tanah

Jawa).

perempuan itu saja istrimu tidak berganti-ganti, tiada bertambahtambah.

Bukankah harus orang besar itu beristri banyak?

Bukankah baik orang berbangsa itu beristri berganti-ganti,

supaya kembang keturunannya? Bukankah hina, jika ia beristri

hanya seorang saja? Sedangkan orang kebanyakan, yang tiada

berpangkat dan tiada berbangsa, terkadang-kadang sampai empat

istrinya, mengapa pula engkau tiada?"

"Pada pikiranku, hanya hewan yang banyak bininya, manusia

tidak," jawab Sutan Mahmud dengan merah mukanya. "Kalau

perempuan tak boleh bersuami dua tiga, tentu tak harus laki-laki

beristri banyak."

"Cobalah dengar perkataannya itu! Adakah layak pikiran

yang sedemikian? Tiap-tiap laki-laki yang berbangsa dan berpangkat

tinggi, malu beristri seorang, tetapi engkau malu beristri

banyak. Bukankah sttdah bertukar benar pikiranmu itu? Sudah

lupakah engkau, bahwa engkau seorang yang berbangsa dan

berpangkat tinggi? Malu sangat rasanya aku, bila kuingat

saudaraku, sebagai seorang yang tak laku kepada perempuan,

kepada putri dan Sitti-Sitti Padang ini, walaupun bangsa dan

pangkatnya tinggi," kata putri Rubiah. "Dan bukankah rugi itu?

Tentu saja tak sampai-menyampai belanjamu, bila gajimu saja

yang kauharapkan. Cobalah lihat adikmu! Walaupun tiada

bergaji, tetapi tidak pernah kekurangan uang. Belum tahu ia

kemari dengan tiada memberi aku dan kemanakannya. Wahai,

kasihan Anakku! Celaka benar untungnya. Sudah tiada

diindahkan oleh mamandanya, jodohnya pun tak dapat pula

dicarikannya. Anak orang umur 12 atau 13 tahun, setua-tuanya

umur 14 tahun, telah dikawinkan, tetapi anakku, hampir beruban,

masih perawan juga. Kalau masih hidup ayahnya, tentulah tiada

akan dibiarkannya anaknya sedemikian ini, walaupun akan

digadaikannya kepalanya. Dan aku ini mengapalah sampai

begini nasibku? Berbeda benar dengan untung perempuan yang

lain. Meskipun ada saudaraku yang berpangkat tinggi, tetapi aku

adalah sebagai anak dagang, yang tiada berkaum keluarga. Tiada

diindahkan, tiada dilihat-lihat; belanja dan pakaian pun tak

diberi. Kepada siapakah aku akan meminta lagi, jika tiada

kepadamu, Mahmud?" kata putri Rubiah, sambil menangis

bersedih hati.

Sutan Mahmud yang mulai merah mukanya, karena marah

mendengar umpatan yang sedemikian, hatinya menjadi reda

kembali, tatkala melihat saudaranya menangis.

"Sudahlah Kakanda, jangan menangis lagi! Memang maksud

hamba datang ini hendak membicarakan hal Rukiah."

"Apakah gunanya dibicarakan juga lagi? Menambah sedih

hatiku saja. Kalau engkau tak beruang, masakan ia mau.

Sudahlah, biarlah anakku menjadi perawan tua. Bukan aku saja

yang akan malu, tetapi terlebih-lebih engkau; karena tentulah

orang akan berkata, "Seorang Penghulu tiada sanggup mencarikan

suami kemanakannya!"

"Berapa uang jemputan yang dimintanya?" tanya Sutan

Mahmud pula dengan tiada mengindahkan perkataan saudaranya

itu.

"Sudah beberapa kali kukatakan 300 rupiah*)," jawab

perempuan itu.

"Tak mau ia kurang? 200 atau 250 rupiah misalnya?" tanya

Sutan Mahmud.

"Kalau kepada tukang ikan ia akan dikawinkan, tentu tak

usah menjemput sedikit jua pun. Tetapi engkau tentu maklum,

anakku tak boleh dan tak suka kukawinkan dengan sebarang

orang saja. Apakah jadinya dengan keturunan kita kelak?"

"Baiklah, apa lagi permintaannya?" tanya Sutan Mahmud

dengan sabar.

"Arloji mas dengan rantainya, cincin berlian sebentuk,

pakaian selengkapnya, dengan beberapa helai kain sarung Bugis

dan kain batik Jawa, bendi dengan kudanya," jawab putri

Rubiah.

"Astaga! Dari mana akan hamba peroleh sekaliannya itu?"

kata sutan Mahmud.

*) Harga uang dulu tinggi dari uang sekarang

"Bukankah sudah kukatakan; kalau tak cakap engkau

mengadakan permintaan orang itu, janganlah dibicarakan juga

perkara ini. Apa gunanya engkau menyedihkan hatiku? Laki-laki

lain, aku tak suka."

"Sudahlah, apa boleh buat! Jemputlah dia!" kata Sutan

Mahmud, sambil mengeluh. "Perkara bendi itu gampang; jika tak

ada, boleh ambil bendiku."

"Benar?" tanya putri Rubiah, dan matanya terang kembali

karena mendengar perkataan ini.

"Benar," jawab Sutan Mahmud dengan pendek.

"Di mana engkau dapat uang?" tanya perempuan itu pula.

"Dari Datuk Meringgih," jawab Sutan Mahmud. "Berapa?"

"3000 rupiah," jawab Sutan Mahmud.

"O, kalau sekian, tentu cukup; sebab engkau maklum,

perkakas Rukiah untuk penyambut' suaminya, tentu harus cukup.

Ranjangnya tentulah sekurang-kurangnya tiga lapis kelambunya,

daripada sutera. Dan bantal seraga (bantal tinggi) harus dari

sutera pula, diberi bertekat benang Makau sekaliannya harus

diadakan. Belanja alat yang tujuh hari tujuh malam, dengan

biaya perarakan dan gajah mena*) tidak sedikit."

Tatkala itu datanglah putri Rukiah membawa suatu hidangan,

yang berisi semangkuk kopi dengan kue-kue, ke hadapan Sutan

*) Kendaraan atau usung-usungan untuk

pengantin, bentuknya semacam ikan laut

Mahmud, lalu diletakkannya di atas meja. Kemudian masuklah

ia ke dalam biliknya. Rupanya ia mengerti, bahwa orang tuanya

itu sedang memperbincangkan hal yang tak boleh didengarnya,

sebab ketika ia sampai ke sana, tiba-tiba kedua mereka berhenti

sejurus berkata-kata. Tetapi ada juga didengarnya namanya

disebut. "Barangkali mereka memperbincangkan perkara perkawinanku,"

pikir putri Rukiah dalam hatinya. Tetapi tatkala itu

juga ia berkata dalam hatinya, sebagai hendak melenyapkan

pikiran yang demikian, "Ah, tak layak bagi seorang anak

perawan, memikirkan hal ini."

"Jadi bilakah maksud Kakanda hendak melangsungkan

pekerjaan itu?" tanya Sutan Mahmud, tatkala putri Rukiah tak

ada lagi, sambil mengangkat mangkuk kopinya.

"Kehendak hatiku selekas-lekasnya," jawab putri Rubiah.

"Tetapi engkau tentu maklum, pekerjaan ini tak dapat diburuburukan.

Tiga bulan lagi, barulah dapat pada sangkaku, karena

tentulah aku harus bersedia-sedia lebih dahulu. Pakaian Rukiah

belum ada dan pakaian penerimaan Sutan Mansyur, yang bakal

menjadi suaminya itu pun belum cukup. Perkakas ranjang dan

bantal-bantal seraga pun belum disediakan, demikian pula kuekue.

Lagi pula tentulah sekalian kaum keluarga sahabat kenalan

kita yang dekat dan yang jauh, harus diberi tahu lebih dahulu."

"Kepada sanak saudara yang jauh jauh, boleh hamba tulis

surat, tetapi kepada yang dekat-dekat biarlah si Hamzah saja

memberitahukan," kata Sutan Mahmud.

Belum sampai habis diminum kopi itu oleh Penghulu Sutan

Mahmud, tiba-tiba kedengaranlah dari jauh katuk-katuk berbunyi,

alamat ada orang mengamuk. Sutan Mahmud segera

mengangkat kepalanya, akan mendengarkan benar-benar bunyi

itu. Katuk-katuk itu makin lama makin keras dan makin cepat

bunyinya, dan sejurus kemudian disahutinya oleh katuk-katuk

rumah jaga yang dekat dari sana.

"Orang mengamuk!" kata Sutan Mahmud, sambil berdiri

hendak pergi ke luar.

"Ya," kata putri Rubiah dengan gemetar suaranya, "tetapi

janganlah kaupergi ke sana."

"Mesti," jawab Sutan Mahmud, "barangkali dalam daerah

hamba." Tatkala itu juga putri Rukiah keluar dan dalam biliknya,

lalu pergi kepada mamandanya, sarnbil memegang tangan Sutan

Mahmud, dan berkata dengan gemetar dan pucat mukanya,

"Jangan Mamanda pergi! Hamba sangat takut, kalau-kalau orang

itu masuk ke dalam rumah ini."

"Ah, barangkali di kampung Jawa atau di Olo; bukan di

kampung ini," sahut Sutan Mahmud akan menghilangkan takut

kemanakannya.

"Tetapi janganlah pergi! Sebab di sini tak ada laki-laki. Si

Lasa sakit dan si Hamzah tak ada," kata putri Rubiah pula.

Sutan Mahmud terdiri sejurus, tak tahu apa yang akan

diperbuatnya. Pergilah ia menjalankan kewajibannya atau

tinggalkan menjaga saudaranya dan kemanakannya.

"Ke mana si Hamzah?" tanyanya, setelah berdiam seketika.

"Entahlah," jawab saudaranya, "jangan jangan ia yang mendapat

bahaya."

Ketika itu kedengaran suara orang cepat-cepat naik tangga

rumah. Kedua perempuan ini makin bertambah-tambah takut,

lalu datang menghampiri Sutan Mahmud dan berdiri di

belakangnya.

"Siapa itu?" tanya putri Rubiah kepada Sutan Mahmud.

"Ah, barangkali si Ali akan memberitahukan hal ini," jawab

Sutan Mahmud.

"Engkau Ali?" tanyanya. Tiada beroleh jawaban.

Tiada lama kemudian daripada itu berdiri seorang-orang

muda di hadapan mereka, yang rupanya hampir serupa dengan

Sutan Mahmud. Hanya umurnya lebih muda. Anak muda ini

memakai baju putih berkerawang, kain Palembang, selop hitam,

topi sutera hitam yang miring letaknya di atas kepalanya.

Bibirnya merah sebagai baru makan sirih. Di kocek bajunya tergantung

rantai arloji naga-naga, yang terbuat daripada mas. Buah

bajunya pun dari mas pula. Pada jari manisnya kelihatan sebentuk

cincin yang bermata intan. Menurut wajah mukanya,

kecil badannya, bangsa dan mampu, yang dari kecilnya belum

pernah merasai kesengsaraan dan kesusahan. Oleh sebab itu

tiadalah lain yang diketahuinya, melainkan bersuka-suka dan

bersenang-senangan. Perkara yang akan datang dan hal yang

telah lalu tiadalah pernah dipikirkannya.

Apabila ada uangnya 100 rupiah, sehari itu juga dihabiskannya,

diboroskannya atau diperjudikannya. Jika tak beruang, dijual

atau digadaikannya segala barang yang ada padanya. Itulah

sebabnya maka kehidupannya tak tentu; terkadang-kadang ada ia

beruang, terkadang-kadang tak ada. Akan tetapi sebab ia seorang

yang "pandai hidup", sebagai kata peribahasa Melayu, selalulah

rupanya seperti orang yang tak pernah kekurangan.

"Ha, untung engkau datang, Hamzah! Kalau tidak, tak tahu

aku apa yang akan diperbuat waktu ini. Tetapi dari mana

engkau?" tanya Sutan Mahmud.

"Dari tanah lapang, hendak kemari. Tatkala sampai ke rumah

jaga, di ujung jalan ini, kedengaran oleh hamba bunyi katukkatuk;

sebab itu hamba berlari-lari kemari."

"Di mana orang mengamuk?" tanya Sutan Mahmud.

"Entah! Orang jaga pun tak tahu pula," jawab Sutan Hamzah.

"Baiklah, tinggallah engkau di sini, sebab aku hendak pergi

memeriksa pengamukan ini."

"Ah jangan, Mahmud! Biarlah mereka berbunuh-bunuhan di

sana. Apa pedulimu?" kata putri Rubiah.

"Tak boleh demikian. Seorang Kepala Negeri harus

mengetahui dan memeriksa hal ini; lebih-lebih kalau

pengamukan itu terjadi dalam kampung pegangan hamba," jawab

Sutan Mahmud.

"Lebih sayangkah kepada pangkatmu daripada kepada

jiwamu?" tanya putri Rubiah pula.

"Ah, jangan kuatir! Belum tentu hamba mati."

"Kalau di dalam pegangan Kakanda terjadi pengamukan itu,

sedang Kakanda tak ada, tentulah Kakanda dapat nama kurang

baik," kata Sutan Hamzah mencampuri percakapan ini.

Oleh sebab tiada tertahan rupanya oleh putri Rubiah maksud

saudaranya ini, berkatalah ia, "Baiklah, tetapi hati-hati menjaga

diri! Pangkat dapat dicari, tetapi nyawa tak dapat disambung dan

bawalah keris pusaka Ayah itu besar tuahnya."

"Baiklah," jawab Sutan Mahmud, "mana dia?"

"Tunggu!" kata. utri Rubiah, lalu masuk ke biliknya.

Sebentar lagi keluarlah putri Rubiah membawa sebilah keris

tua, yang dibungkus dengan kain putih, lalu diberikannya kepada

Sutan Mahmud: "Hamzah, tutuplah pintu dan tinggallah engkau

di sini! Jaga rumah baik-baik!"

Sambil berkata demikian, Sutan Mahmud pun keluarlah, lalu

turun dan melompat naik bendinya, yang berangkat waktu itu

juga.

III. BERJALAN-JALAN KE GUNUNG PADANG

Pada keesokan harinya, pukul lima pagi. Samsulbahri terperanjat

bangun dari tidurnya, karena mendengar bunyi lonceng jam yang

ada di rumahnya, lima kali memukul. Dengan segera diangkatnya

kepalanya lalu menoleh ke celah-celah dinding biliknya,

akan melihat, sudah adakah cahaya matahari yang masuk ke

dalam rumahnya atau belum. Rupanya ia takut kesiangan. Akan

tetapi walaupun ia menoleh ke sana kemari dan mendengar hatihati,

kalau-kalau ada suara orang, tiadalah lain yang dilihatnya

daripada sinar lampu biliknya sendiri. Sekaliannya masih sunyi

senyap; orang yang telah , meninggalkan tempat tidurnya, belum

ada. Hanya dari jauh kedengaran olehnya kokok ayam jantan

bersahut-sahutan di segala pihak, sebagai orang bersorak berganti-

ganti, karena berbesar hati menyambut kedatangan fajar.

Dari sebelah timur, kedengaran bunyi puput kereta api di

setasiun Padang sekali-sekali, sebagai hendak memberi ingat

kepada mereka yang hendak menumpang dan berangkat pagipagi.

Dari sebelah barat kedengaran ombak yang memecah di

tepi pantai, sebagai guruh pagi hari, yang menyatakan hari akan

hujan sehingga kecillah hati Samsu mendengar bunyi ini, takut

kalau-kalau maksudnya, akan bermain-main ke gunung Padang,

tiada dapat disampaikannya. Dari surau yang dekat di sana,

kedengaran orang bang, memberi ingat kepada sekalian yang

hendak berbuat ibadat kepada Allah subhanahu wataala, bahwa

subuh telah ada.

Oleh sebab nyata oleh Samsu, bahwa hari baru pukul lima

pagi, direbahkannyalah kembali badannya ke atas tilamnya;

bukannya hendak tidur pula, melainkan sekadar berbaringbaring,

menunggu hari siang. Akan tetapi ia gelisah, karena

pikirannya telah digoda oleh kenang-kenangan akan pergi

bersuka-sukaan itu. Sebentar-bentar berbaliklah ia ke kanan dan

ke kiri, sebagai berduri tempat tidurnya. Akhirnya, karena tak

dapat menahan hati, bangunlah ia dari tempat tidurnya, lalu

dibukanya pintu biliknya perlahan-lahan, karena kuatir kalaukalau

ayahnya yang sedang tidur, terbangun pula.

Tatkala sampailah ia ke luar, kelihatan olehnya cuaca amat

terang, bukan karena sinar matahari, melainkan karena cahaya

bulan, yang hampir tenggelam di sebelah barat. Di langit banyak

bintang-bintang yang gemerlapan cahayanya, seakan-akan

embun di tengah padang yang luas, mengilat di celah-celah

rumput. Akan tetapi bintang timur, mulai pudar cahayanya,

diliputi cahaya fajar yang telah menyingsing di sebelah timur.

Burung murai mulai berkicau di pokok kayu, lalu terbang ke

tanah akan menangkap ulat-ulat dan cengkerik yang alpa, belum

masuk bersembunyi ke dalam lubangnya.

Burung-burung yang lain pun mulai pula meninggalkan

sarangnya, ke luar mencari mangsanya. Ada yang melompatlompat

dari cabang ke cabang pohon yang segar rupanya,

ditimpa embun pagi. Ada pula yang bersiul dan berbunyi,

sebagai riang menyambut kedatangan cahaya matahari, yang

memberi kehidupan kepada segala makhluk di atas dunia ini.

Dan ada pula yang memberi makan anaknya, rezeki yang

diperolehnya pagi-pagi itu, sehingga ramailah bunyi mencicitcicit

kedengaran dalam sarangnya. Kemudian ada pula yang

bertengger di atas cabang, membersihkan bulunya, sebagai

mandi mencucikan badannya. Kelelawar mengirap ke sana

kemari dengan deras jalannya, mencari tempat yang gelap,

sebagai orang yang takut kesiangan di tengah jalan. Ayam betina

keluar dari kandangnya, sambil memimpin anaknya, berbunyibunyi

memanggil dan mengumpulkan yang ketinggalan atau

yang pergi ke tempat, lain, takut biji matanya akan sesat di jalan

yang masih gelap. Ayam jantan berlari ke sana kemari memburu

ayam betina, lalu berdiri sejurus, mengangkat kepalanya dan

berkokok dengan tangkasnya, seolah-olah seorang hulubalang

yang sedang mengerahkan laskarnya di medan peperangan. Di

jalan besar mulai kelihatan orang, seorang dua, berjalan tergesagesa,

sebagai ada yang diburunya. Gerobak yang ditarik kerbau

dan lembu atau disorong orang, kedengaran berbunyi gentanya,

sebagai menyatakan hari telah siang. Sesungguhnya di sebelah

timur mulailah tampak cahaya matahari, yang memancar ke sana

kemari menerangi sekalian benda yang ditimpanya.

Samsu pergi ke bilik kusir tuanya Pak Ali, lalu diketuknya

pintu bilik ini sambil bcrkata, "Pak Ali, bangunlah! Hari telah

siang."

Sejurus kemudian terbukalah pintu bilik ini dan kelihatan Pak

Ali mengeluarkan kepalanya dari pintu ini, sambil menggosokgosok

matanya, sebagai hendak menerangkan pemandangannya.

"Pukul berapa sekarang, Engku Muda?" tanya kusir ini.

"Hampir pukul enam," jawab Samsu.

Mendengar jawab ini, keluarlah sais Ali dari biliknya, masuk

ke kandang kudanya akan membersihkan bendi, pakaian kuda,

dan kandangnya. Sementara itu pergilah Samsu mandi ke sumur.

Tatkala ia masuk kembali ke rumahnya, kelihatan olehnya

ayahnya sudah bangun, duduk di kursi malas, serambi belakang.

"Lekas benar engkau bangun pagi ini," kata ayahnya.

"Supaya jangan terlalu kepanasan di jalan, Ayah," jawab

Samsu.

"Jadi juga engkau pergi?" tanya ayahnya pula.

"Jadi, Ayah," sahut Samsu.

"Nurbaya pergi pula?" tanya Sutan Mahmud..

"Pergi, katanya tadi malam," jawab Samsu.

"Hati-hati engkau menjaga anak orang, he!"

"Ya, Ayah," jawab Samsu pula.

"Baiklah," kata Sutan Mahmud, seraya berdiri, lalu turun ke

bawah.

Kira-kira pukul enam lewat seperempat, kelihatanlah

Samsulbahri dengan Nurbaya dalam bendi, yang dikemudikan

sais Ali ke luar pekarangan rumahnya, menuju ke Muara. Di

tengah jalan bertanya Ali kepada Samsu, dengan tiada menoleh

ke belakang, "Terus ke Muara, Engku Muda?"

"Tidak, Pak Ali, ke rumah Arifin dahulu, ke jalan Gereja."

Karena mendengar jawab ini, ditujukan oleh sais Ali bendinya

ke jalan Gereja.

"Nyaris aku kesiangan, Sam," kata Nurbaya dalam bendi itu,

"karena tadi malam aku hampir tak dapat tidur sebab takut

mendengar bunyi katuk-katuk."

"Aku pun ngeri mendengar bunyi tanda bahaya itu, sehingga

pukul dua malam, tatkala ayahku telah datang, barulah aku dapat

tidur. Tetapi pukul lima pagi aku telah terbangun pula," jawab

Samsu.

"Di mana orang mengamuk itu?" tanya Nurbaya.

"Aku pun tak tahu," jawab Samsu. "Katuk-katuk kedengaran

berbunyi pada segenap pihak dan lama pula bunyinya."

Tengah bercakap-cakap demikian, dengan tiada diketahui

mereka, berhentilah bendi itu di hadapan rumah Kopjaksa Sutan

Pamuncak, di Kampung Sebelah. Di muka ini telah berdiri dua

orang anak muda laki-laki, yang umurnya hampir sama dengan

Samsu. Tatkala dilihat mereka bendi Samsu berhenti, lalu

dihampirinya seraya berkata, "Hai! Nurbaya mengikut pula?"

Sebab dilihatnya Nurbaya ada bersama-sama Samsu. "Baiklah!

Lebih banyak orang, lebih girang."

"Mengapa Tiar? Tak bolehkah aku mengikut, sebab aku

perempuan?" kata Nurbaya, sambil tersenyum.

"Ah, masakan tak boleh, Nona," jawab anak muda, yang

dipanggil Tiar oleh Nurbaya. "Aku berkata demikian bukan

karena tak suka bahkan karena suka hatiku, melihat engkau ada

bersama-sama."

"Bohong! Karena ia kuatir tak cukup akan mendapat kue-kue

yang kita bawa," menyela Arifin.

"Baiklah, kalau benar engkau bersuka hati melihat aku

mengikut, niscaya engkau kelak takkan takut memanjat pohon

jambu Keling untuk aku," sahut Nurbaya sambil tersenyum pula

untuk membujuk Bakhtiar, yang mulai merengut mendengar

perkataan Arifin.

"Boleh kaulihat sendiri nanti, mana yang lebih pandai

memanjat, aku atau kera," jawab Bakhtiar dengan bangganya.

"Kalau untuk makan si Tiar memang lebih pandai memanjat

dari kera," mengusik pula Arifin.

Sementara itu kedua anak muda tadi, naiklah ke bendi

Samsu, yang langsung berangkat ke Muara.

Kedua anak muda yang baru kita kenali itu, ialah

Zainularifin, anak Hopjaksa Sutan Pamuncak dan Muhammad

Bakhtiar anak guru kepala sekolah Bumiputra kelas II di

Belakang Tangsi. Keduanya teman sekolah Samsulbahri, yang

tiga bulan lagi akan pergi bersama-sama dengan dia ke Jakarta,

meneruskan pelajarannya; Arifin pada Sekolah Dokter Jawa,

Bakhtiar pada Sekolah Opseter (KWS).

"Pada sangkaku aku terlambat," kata Arifin, setelah ia duduk

dekat Samsu.

"Biarpun engkau terlambat, tentu akan kutunggu juga, sebab

demikian perjanjian kita," jawab Samsu.

"Apa sebabnya engkau akan terlambat?" tanya Nurbaya.

"Sebab aku memang seorang yang suka tidur, apalagi sebab

tadi malam aku tak dapat lekas-lekas tidur," jawab Arifin.

"Mengapa? Ada keramaiankah di rumahmu tadi malam?"

tanya Samsu.

"Ya, memang ada. Keramaian yang amat besar. Sampai

pukul dua belas malam masih jaga aku," jawab Arifin, sambil

menutup mulutnya menahan kuapnya.

"Cobalah lihat, Sam, baik hatinya Arifin ini! Ada keramaian

di rumahnya, tiada dipanggil-panggilnya kita," kata Nurbaya

mengumpat.

"Ah masakan engkau tiada dapat panggilan!" ujar Arifin

pula.

"Benar tidak," jawab Nurbaya.

"Jika demikian, tiada sampailah panggilan itu kepadamu."

"Mengapa tidak?" mendakwa Bakhtiar. "Sebab panggilan itu

dijalankan dengan katuk-katuk."

"Dengan katuk-katuk?" tanya Nurbaya sambil tercengang.

"Macam baru, memanggil orang dengan tanda bahaya."

Mendengar olok-olok Arifin ini Samsu tersenyum. Akan

tetapi Nurbaya belum mengerti sindiran perkataan Arifm itu.

"Tiadakah kaudengar bunyi katuk-katuk tadi malam?" tanya

Arifin pula.

"Betul ada, tetapi pada sangkaku, sebab ada orang

mengamuk," jawab Nurbaya.

"Ya, itulah dia! Bukankah tiap-tiap ada orang mengamuk, di

rumahku ada keramaian besar, sebab orang yang mengamuk,

orang yang diamuk, opas-opas, saksi-saksi, kepala-kepala dan

ketua-ketua kampung dan lain-lainnya, begitu pula orang yang

menonton, sekaliannya datang berkumpul ke rumahku, untuk

memberi selamat kepada kami?" kata Arifin pula seraya tersenyum.

"Ah, itu maksudmu. Kusangka, benar engkau beralat," jawab

Nurbaya kemalu-maluan sebab ia baru merasa telah dipermainkan

oleh Arifin.

"Beralat tidak, tetapi keramaian ada," jawab Arifin sambil

tertawa.

"Memang kau tukang olok-olok; patut jadi alan-alan," jawab

Nurbaya Sambil tertaWa pula.

"Siapa yang mengamuk tadi malam dan di mana ia

mengamuk?" tanya Samsu.

"Siapa yang mengamuk itu tiada kuketahui, tetapi rupanya

sebagai penjahat, kulihat."

"Kaulihat orangnya?" tanya Bakhtiar, mencampuri

percakapan ini. "Tentu, sebab ia dibawa ke rumahku, sebelum

dimasukkan ke dalam penjara," jawab Arifin.

"Cobalah kauceritakan kepada kami, bagaimana asalnya dan

kejadiannya pengamukan itu!" kata Bakhtiar pula.

"O, oleh sebab engkau sekalian minta supaya kuceritakan hal

ini, itulah tandanya engkau sekalian ingin hendak mendengarnya,

bukan? Akan tetapi oleh sebab kita hampir sampai ke

Muara, kutahan keinginan hatimu itu, sampai nanti, kalau kita

telah mendaki, penawar lelah mendaki," kata Arifin.

"Coba lihat, kikirnya Arifin," jawab Bakhtiar yang hendak

membalas dendam pada Arifin. "Sudah tiada dipanggilnya kita,

tatkala ada keramaian di rumahnya, sekarang ditahannya pula

keinginan hati hendak mengetahui keramaian itu. Dimahalkannya

harga barangnya, sebab diketahuinya banyak yang suka

membeli."

"Benar engkau berani? Engkau memang dengan sengaja tiada

kupanggil, sebab aku tahu, engkau lebih suka pergi ke tempat

keramaian yang ada kue-kue, daripada ke tempat keramaian yang

ada darah," jawab Arifin.

Bakhtiar sebagai merengut mendengar sindiran sahabatnya

ini.

"Pada sangkaku lebih baik Arifin menjadi seorang saudagar

daripada menjadi seorang dokter, karena saudagar memang

demikian adatnya. Apabila diketahuinya, orang suka kepada

barang perniagaan, ditahannya barang itu dan dinaikkannya

harganya," kata Samsu. Akan tetapi tatkala itu juga ia merasa

menyesal, telah mengeluarkan perkataan itu, takut kalau-kalau

Nurbaya menjadi gusar kepadanya. Dengan sudut matanya

dikerlingnya Nurbaya, yang duduk di sisinya, tetapi rupanya

gadis ini tiada mendengar celaan itu, karena ia sedang asyik

melihat beberapa perahu kail, yang baru masuk ke muara sungai

Arau.

Sesungguhnya keempat anak muda itu telah sampai ke dekat

sebuah rumah jaga di Muara. Di belakang rumah jaga ini

kelihatan beberapa kuda tambang, sedang dimandikan oleh

kusirnya di pinggir pantai, tempat sungai Arau bermuara ke laut.

Dekat tempat mandi kuda ini adalah sebuah pangkalan, yang

menganjur sampai ke tepi sungai, tempat berlabuh kapal-kapal

api kecil, yang berlayar ke Terusan. Di sebelah pangkalan ini,

berlabuh beberapa perahu kail, yang baru datang dari lapt

membawa ikan-ikan, yang dapat dikailnya pada malam itu. Di

muka pangkalan ini, adalah sebuah rumah tempat pengailpengail

menjual ikannya, dan di sebelah baratnya menjulang

gunung Padang, sebagai kepala seekor ular Naga yang timbul

dari dalam laut. Yang menjadi leher Naga ini ialah bagian yang

rendah, tempat orang naik mendaki gunung Padang. Makin ke

selatan makin bertambah besar gunung ini; itulah badan ular

Naga yang membelok ke timur, diiringkan oleh sungai Arau,

yang mengalir di kakinya.

Di sebelah selatan pangkalan yang diperkatakan tadi, adalah

kantor bea perahu-perahu yang masuk sungai Arau atau kapalkapal

yang berlabuh di pulau Pisang, pelabuhan kota Padang

dahulu yang sekarang telah dipindahkan ke Teluk Bayur. Sejak

dari kantor bea ini, kelihatan di pinggir sungai Arau, yang

menceraikan gunung Padang dari kota Padang, beberapa perahu

besar dan kapal api kecil; berlabuh berleret-leret, sepanjang tepi

su,ngai, yang ditembok dengan batu. Sejajar dengan tembok ini

adalah jalan kereta api dan jalan besar untuk mengangkut

barang-barang ke kota Padang. Pada sebelah utara jalan ini,

berleretlah beberapa gudang, disambung toko-toko, sampai jauh

ke kampung Cina dan Pasar Gedang.

Tempat ini memang bagian kota Padang yang amat indah;

oleh sebab itu kerap kali dikunjungi oleh mereka yang suka

berjalan jalan pada petang hari, tatkala matahari hampir silam,

untuk mengambil hawa yang baik; karena tempat ini baik

letaknya dan banyak memberi pemandangan yang elok-elok.

Lagi pula tiada terlalu ramai, sehingga mereka yang berjalan

jalan di sana, tiada terganggu oleh lalu-lintas. Hanya pada waktu

hari raya, sampai dua tiga hari sesudah puasa, jalan ini hampir

tiada dapat ditempuh orang yang berjalan kaki, karena berpuluhpuluh

bendi dengan berbuka tenda, berlumba-lumba di sana,

mengadu deras lari kudanya. Itulah suatu kesukaan yang sangat

digemari anak muda-muda kota Padang.

Apabila kembali kita, menurut jalan yang telah diceritakan

tadi, arah ke utara, sampailah kita ke pantai laut Padang.

Sepanjang pesisir pantai ini, kira-kira sepal jauhnya, adalah suatu

taman bunga-bungaan, yang dihiasi oleh beberapa jalan kecilkecil.

Pada beberapa tempat, di bawah pohon ketapang yang

rindang, adalah bangku-bangku tempat berhenti mereka yang

lelah karena perjalanannya. Kira-kira, di.tengah taman ini adalah

sebuah rumah punjung yang bundar dan cantik bangunnya,

diperbuat di atas suatu gunung-gunungan, sebagai suatu mahligai

di dalam istana. Tiadalah heran kita, apabila taman ini menjadi

suatu tempat yang sangat menarik hati bangsa Eropah, yang

tinggal di kota Padang; karena sesungguhnya amat senang

perasaan-dan indah pemandangan, apabila pada petang hari

duduk di sana, melihat matahari terbenam di sebelah barat.

Misalkanlah oleh pembaca yang belum ke sana, tempat ini

suatu taman bunga-bungaan yang permai tetapi sunyi senyap. Di

atas sebuah bangku yang ada dalam mahligai yang letaknya di

tengah-tengah taman itu, bernaung di bawah pohon kayu yang

rindang, duduk seorang anak muda yang sedang termenungmenung

ke sebelah barat, kepada suatu kolam yang amat luas,

yang membentahg di sisi taman itu, sedang ombaknya memecah

di kaki anak muda tadi, menyiram bunga-bungaan yang di sana.

Jauh di sebelah barat di tengah-tengah kolam ini, kelihatan

beberapa buah pulau, yang berleret¬leret letaknya sebagai pagar

kolam ini. Di balik pulau-pulau itu adalah suatu mestika yang

bundar, sebagai sebuah bola mas, yang menyala-nyala, memancarkan

cahayanya yang kilau-kemilau ke muka air kolam,

yang seakan-akan suatu kaca besar, membalikkan cahaya yang

jatuh ke atasnya, ke dalam taman tadi, menyinari segala pohonpohonan

dan bunga-bungaan yang ada di sana.

Perlahan-lahan, dengan tak kelihatan jalannya turunlah

mestika itu ke bawah, sebagai ditarik oleh seorang jin, yang tiada

kelihatan sehingga akhirnya tenggelamlah ia ke dalam kolarn

yang ujungnya bagaikan bersabung dengan langit, meninggalkan

gambar-gambar, yang rupanya seakan-akan timbul dari dalam

air. Ada yang sebagai Naga yang sedang berjuang, ada yang

sebagai kuda yang sedang berlari, ada pula yang sebagai kapal

tengah berlayar atau pulau yang merapung di atas air dan lainlain

sebagaiya.

Mereka yang menaruh pilu dan sedih, janganlah ke sana,

pada waktu itu, karena sejauh tepi langit dari tepi kolam itu,

sejauh itu pulalah kelak pikiran dan kenang-kenangan mereka.*)

Tetapi bagi mereka yang berkasih-kasihan tempat itu, pada

waktu terang bulan, adalah sebagai dengan sengaja diperbuatnya.

Sayang di ujung selatan tanian ini ada rumah penjara dan di

ujung utaranya ada kantor pengadilan, keduanya tempat yang

mendatangkan dahsyat dan sedih hati, apabila diingat beberapa

orang yang telah dipenjarakan karena mendapat hukuman di

sana, yang barangkali ada juga di antaranya tiada bersalah.

Sekarang marilah kita kembali mengikuti keempat sahabat

kita, yang kita tinggalkan di atas bendi tadi, sebab kalau terlalu

lama kita berhenti di taman ini, pastilah takkan dapat lagi kita

*) Sayang taman itu sampai sekarang tak dipelihara lagi

susul keempat anak muda itu.

"Bukan demikian," jawab Arifin, tatkala mendengar perkataan

Samsu. "Ada beberapa sebabnya, maka aku tak mau menceritakan

hal yang sangat penting ini, kepadamu sekalian.

Pertama supaya kamu dapat belajar menahan hati, karena itulah

suatu sifat yang baik benar bagi manusia. Orang yang sabar dan

dapat menahan keinginan hatinya, jarang salah barang perbuatannya.

Ingatlah cerita perempuan dengan kucingnya dan

cerita ayam yang bertelur emas itu!"

"Bagaimanakah ceritanya?" tanya Nurbaya.

"Tidak tahukah engkau cerita itu, Nur? Nanti aku ceritakan,"

jawab Samsu.

"Kedua..." kata Arifin pula, akan menyambung uraiannya.

"Hai, kita sudah sampai," kata Bakhtiar, dan seketika itu juga

bendi mereka berhenti dekat sebuah gudang.

"Ya," jawab Samsu, "baiklah kita turun."

Sekaliannya turunlah dari atas bendi, sambil membawa

bekal-masing-masing, lalu pergi ke pinggir sungai Arau, akan

mencari sebuah sampan tambangan, yang dapat membawa

mereka ke seberang.

"Pukul bqrapa Engku Muda pulang?" tanya Pak Ali.

"O ya," jawab Samsu, sambil menoleh ke belakang, "datang

sajalah pukul dua belas."

"Baiklah," jawab Pak Ali, lalu memutar kudanya pulang ke

rumahnya.

Tatkala keempat anak muda itu sampai ke pinggir sungai

Arau, datanglah beberapa sampan mendekat ke sana.

"Di sampanku inilah! Di sini baik, sampan tak oleng! Di sini

seduit seorang!" demikianlah kata tukang-tukang sampan.

"Lebih baik kita tunggu sampan yang datang itu, karena

sampan itu besar, jadi tak oleng," kata Nurbaya.

"Benar," jawab Samsu.

Seketika lagi sampan yang besar itu pun sampailah ke

pinggir, lalu keempat anak muda tadi naik dan didayungkan ke

seberang.

"Kedua," kata Arifin di atas sampan ini tiba-tiba, untuk

menyambung cerita tadi, ' jika kita sangat ingin kepada barang

sesuatu dan lekas kita peroleh keinginan hati kita itu, boleh

mendatangkan penyakit kepada kita.

Ketiga, kebesaran hati karena segera beroleh keinginan itu,

tiada lama, sebab lekas jemu akan benda yang diingini itu.

Misalnya: kita umpamakan, Bakhtiar amat suka kepada kue-kue.

Tetapi itu hanya perumparnaan saja, Bakhtiar, jangan marah,"

kata Arifin pura-pura bersungguh-sungguh tetapi sebenarnya,

akan mempermainkan temannya ini; sehingga dalam hatinya ia

tertawa.

"Walaupun sebenarnya kaukatakan aku suka kue aku tidak

juga akan marah," kata Bakhtiar, "sebab memang suka kue-kue."

"Ya, itulah sebabnya kuambil perumpamaan ini, supaya tepat

kenanya," jawab Arifin. "Kalau misalnya si Bakhtiar dalam

setahun tiada dipertemukan dengan idamannya kue-kue, tentulah

keinginannya hendak memakan kue-kue itu tak dapat_dikatakan

besarnya."

"Biar kujual kepalaku untuk pembeli kue-kue," jawab

Bakhtiar.

"Tetapi kalau engkau tak berkepala lagi, bagaimana pula

engkau dapat memakan kue-kue itu?" tanya Arifin sambil tertawa,

sehingga seisi sampan sekaliannya ikut tertawa pula.

"Memang tak tepat jawabanku," kata Bakhtiar, sambil tertawa

pula bersama-sama. •

"Setelah setahun tak makan kue, tiba-tiba si Bakhtiar dibawa

ke toko kue nyonya Jansen, dan dikatakan kepadanya, "Boleh

kaumakan, apa yang kausukai!" kata Arifin pula.

"Tentulah perkataan itu tak kusuruh ulang lagi," jawab

Bakhtiar dan sesungguhnya, air ludahnya bagaikan keluar,

karena mengingat kue-kue yang enak itu, "dan dengan segera kuterkam

kue tar, bolu, sepekuk, yang lezat cita rasanya itu."

"Sedikitkah atau banyakkah kaumakan kue-kue itu?" tanya

Arifin.

"Sepuas-puas hatiku, sampai tak termakan lagi," jawab

Bakhtiar.

"Nah, itulah dia! Oleh sebab terlalu kenyang, boleh jadi kau

mendapat penyakit atau jemu kepada kue-kue atau tak bernafsu

makan lagi. Bukankah tak baik itu?" kata Arifin.

"Ya, benar," jawab Samsu.

"Jemu katamu? Aku jemu kepada kue kue? Pada sangkaku

jika habis sekalipun umurku, belum juga habis nafsuku kepada

kue-kue," jawab Bakhtiar.

"Aku belum mengerti orang yang tak berumur lagi, masih

bernafsu kepada kue-kue," kata Arifin.

"Bakhtiar, Bakhtiar!" sahut Nurbaya, sambil menggelenggelengkan

kepalanya. "Lebih baik engkau jadi tukang kue saja,

seperti nyonya Jansen, supaya kenyang perutmu."

"Di dalam. sepekan, tentulah jatuh tokoku itu, sebab habis

kumakani segala kueku. Tiap-tiap orang yang hendak membeli

kue-kueku, kuusir, supaya makanari itu jangan habis olehnya,"

kata Bakhtiar. Sekalian yang mendengar tertawa.

"Keempat," kata Arifin pula, "acap kali merusakkan badan.

Ingatlah kalau kuda terlalu,panas, jadi terlalu haus, atau orang

yang telah empat lima hari tiada minum, tiba-tiba diberi minum

terlalu banyak, boleh mendatangkan ajalnya.

Yang kelima, yaitu yang terutama sekali, yang hampir lupa

kusebutkan, yakni supaya kelak jangan engkau rasai lelah

mendaki, karena ingatanmu telah diikat oleh ceritaku yang amat

menarik."

"Keenam," menyela Bakhtiar, "sebab kita telah sampai ke

seberang, haruslah kita bayar sewa sampan orang," seraya ia

mengeluarkan uang empat sen dari koceknya dan memberikan

uang itu kepada tukang sampan, lalu melompat ke darat. Ketiga

temannya pun melompat pula mengikutiny,a.

"Di kedai itu aku lihat ada tebu, marilah kita beli! Tentu kita

nanti akan haus di jalan," kata Samsu.

"Aku ada membawa seterup dua botol," jawab Bakhtiar.

"Kalau cukup; kalau tak cukup, di mana kita cari air nanti?"

kata Samsu pula.

Sesudah membeli tebu, mulailah keempat anak muda ini

mendaki.

Gunung Padang yang tingginya kira-kira 322 M, ialah ujung

sebelah utara gunung-gunung rendah, yang memanjang di

sebelah selatan kota Padang. Itulah sebabnya, maka pinggir laut

di situ pada beberapa tempat curam dan jarang didiami orang.

Asalnya gunung-gunung ini pada Bukit Barisan, yang

memanjang di tengah-tengah pulau Sumatera dari ujung barat

laut ke ujung tenggara. Gunung Padang adalah sebagai suatu

cabang Bukit Barisan itu, yang menganjur ke barat, sampai ke

tepi laut kota Padang.

Orang Belanda menamai Gunung Padang ini Apenberg

(gunung kera*), sebab di puncaknya banyak kera yang jinak

jinak, yang memberi kesukaan kepada mereka yang mendaki

gunung itu. Apabila dipanggil dan diberi pisang, datanglah kerakera

itu berpuluh-puluh banyaknya, memperebut-rebutkan

makanan ini. Kera yang besar-besar, terkadang-kadang berani

merampas pisang atau makanan lain, dari tangan orang.

Sungguhpun demikian., tak ada orang yang berani berbuat apaapa

atas kera-kera ini, sebab pada sangka anak negeri kota

Padang, kera-kera itu keramat, tak boleh diganggu-ganggu. Jika

dibunuh, tentulah yang membunuh itu akan mati pula, dan jika

ditangkap, tentulah yang menangkap itu tak dapat mencari jalan

pulang. Ada pula yang bersangka, bahwa kera-kera itu asalnya

dari sekalian orang yang telah mati, yang dikuburkan di gunung

itu, hidup kembali sebagai kera jadi jadian.

Memang di gunung itu banyak kuburan, sedang di puncaknya

adalah sebuah makam, di dalam suatu gua batu, tempat orang

berkaul dan bernazar. Sekali setahun, tatkala akan masuk puasa

dan pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan laki-laki

dan perempuan, yang datang mengunjungi kuburan sanak

saudaranya, yang telah meninggalkan dunia, untuk mendoakan

*) Sebenarnya yang dinamakan Apenberg itu sebuah daripada

puncaknya, yang dekat ke tepi laut, tingginya 108 m.

arwahnya.

Walaupun gunung ini pada hakikatnya tempat sedih dan duka

cita, akan tetapi sebab pemandangan di atas puncaknya sangat

indah, dijadikanlah, ia tempat bermain-main. Jalan naik ke atas

bertangga-tangga, supaya pada musim hujan, mudah juga dapat

didaki. Di puncaknya didirikan tiang bendera yang tinggi. Pada

tiap-tiap hari Ahad, berkibarlah bendera pada ujung tiang ini.

Dekat tiang bendera itu, diperbuat sebuah rumah punjung yang

bundar, cukup dengan bangku dan mejanya, tempat melepaskan

lelah. Akan menyejukkan badan yang panas karena mendaki,

diperbuatlah pula ayun-ayunan, tempat berangin-angin, ganti

kipas. Sekaliannya ini dijaga dan dibersihkan oleh orang

hukuman. Oleh sebab hal yang sedemikian, pada tiap-tiap hari

Ahad, dikunjungilah tempat ini oleh mereka yang hendak

berjalan jalan mencari kesenangan dan kesehatan tubuhnya,

seraya membawa makanan-makanan dan minuman-minuman.

Ketika Nurbaya dengan teman-temannya sampai ke pertengahan

gunung itu, pada suatu pendakian yang curam, berkatalah

ia sambil mencari batu besar tempat duduk, "Alangkah

baiknya; apabila ada kendaraan yang dapat ditunggang ke atas

ini!"

"Bagaimana? Belum sampai separuh jalan, telah lelah," kata

Arifin, seraya membuka buah bajunya, akan melepaskan hawa

panas yang keluar dari badannya.

"Kalau tulangku sebesar tulangmu, aku tidak akan berkata

sedemikian," jawab Nurbaya.

"Ha, pada sangkaku sekarang datang waktunya, aku akan

menceritakan, betapa asal mulanya keramaian di rumahku tadi

malam, sebab kulihat kamu sekalian berteriak, karena

kelelahan," kata Arifm.

"Ya, ya," jawab Bakhtiar, "mulailah!"

"Baik, dengarlah dan perhatikan benar-benar!" kata Arifin

pula, lalu bercerita, "Tatkala berbunyi katuk-katuk, aku sedang

ada dengan orang tuaku di serambi belakang, hendak makan.

Sangat terkejut kami, sebab bunyi katuk-katuk itu datang dari

rumah jaga, yang tiada berapa jauhnya dari rumah kami. Ayahku

lalu melompat dari kursinya dan berteriak kepada opasnya,

"Saban, suruh pasang bendi!" kemudiap masuklah ia ke dalam

biliknya akan menukar pakaiannya. Seketika lagi, keluarlah pula

ia, lalu berteriak, sambil mengancingkan bajunya, "Sudah,

Saban?"

"Sudah, Engku," jawab opas ini.

Ayahku lalu turun, sambil berkata kepada ibuku, "Masuk ke

dalam dan tutup pintu!"

Ibuku yang rupanya sangat terkejut, tak dapat berkata apaapa,

hanya, "Hati-hati!" tatkala dilihatnya ayahku turun.

"Jangan khawatir!" jawab ayahku, lalu melompat ke atas

bendinya.

Maka tinggallah kami dengan si Baki, sebab tukang kuda tak

ada di rumah. Katuk-katuk itu bunyinya kian lama kian keras,

sehingga kami makin lama makin bertambah takut. Maka

disuruhlah oleh ibuku tutup pintu dan jendela, lalu kami masuk

ke dalam bilik. Karena takut, tiadalah kami ingat akan lapar

kami.

"Ya, benar," kata Samsu, "Kami di rumah pun demikian pula;

hanya bertiga dengan bujang saja. Ayahku sejak pukul lima

petang tak ada di rumah. Coba kalau ada apa-apa, bagaimana

dapat melawan? Untunglah ayah Nurbaya datang ke rumahku,

mengatakan kami tak usah takut, sebab pengamukan itu jauh.

Dan lagi kalau ada apa-apa ia segera datang."

"Itulah yang menjadikan khawatir hatiku," kata Arifin pula,

"sebab memang orang yang memegang pekerjaan sebagai ayah

kita, lebih banyak musuhnya daripada sahabatnya. Walaupun

kucoba menghilangkan takutku dengan berkata ini dan itu

kepada ibuku atau membaca buku, tetapi ngeri itu tiadalah

hendak meninggalkan pikiranku; istimewa pula sebab kadangkadang

kedengaran suara ribut di jalan raya.

Sebentar-sebentar bunyi katuk katuk itu bertambah keras,

sebagai hendak menyatakan, ada pula seorang lagi yang kena

tikam si pengamuk. Dua jam lamanya kami di dalam ketakutan

dan kira kira pukul sebelas, barulah mulai kurang bunyi katukkatuk

itu. Tiada lama sudah itu, hilanglah bunyi ini sekaliannya,

hingga heboh tadi jadi sunyi senyap. Ketika itu, barulah agak

hilang takutku, karena kuketahui si pengamuk tentulah sudah

dapat ditangkap. Tetapi ayahku belum juga pulang. Mataku

mulai mengantuk dan dengan tiada kuketahui tertidurlah aku di

atas kursi. Ibuku, pada sangkaku, tiada dapat memejamkan matanya,

sebab memikirkan ayahku, takut kalau-kalau ia mendapat

celaka."

"Memang pekerjaan polisi sangat berbahaya," jawab Samsu,

"dan acap kali kita dimusuhi orang pula."

"Tetapi kalau kita baik dengan anak negeri," kata Bakhtiar,

"masakan dimusuhinya."

"Tentu lebih disukainya daripada orang yang jahat kepada

mereka. Akan tetapi, walaupun demikian, masih saja dibenci.

Ada juga jalannya, supaya tiada dimusuhi orang, yaitu: yang

bersalah jangan ditangkap, jangan dihukum dan diturutkan

segala kemauannya; sebab meskipun bagaimana berat atau

ringan kesalahan mereka, dihukum tentu mereka tak suka. Dan

apabila dijalankan juga hukuman, tentulah mereka akan menaruh

dendam dalam hatinya. Istimewa pula kalau yang dihukum itu

seorang yang berbangsa tinggi atau kaya, dan yang menghukum,

orang kebanyakan saja."

"Kalau begitu, kita namanya bukan pegawai, melainkan

seorang yang tiada menurut sumpah dan janjinya, orang yang

memperdayakan Pemerintah atau orang yang makan gaji buta

atau pencuri gaji. Kalau tahu Pemerintah kelakuan kita yang

demikian, tentulah kita akan dipecat daripada pekerjaan kita,"

sahut Arifin.

"Lagi pula bagaimana akan dapat menurut kemauan sekalian

orang? Sedangkan kehendak dua orang yang berlawanan, lagi

tak dapat diturut. Misalnya seorang yang tak alim, tidak suka

langgar dibangun dekat rumahnya, sebab terlalu ribut katanya;

tetapi orang sebelah rumahnya, yang keras memegang agama,

minta langgar itu diperbuat di sana, supaya mudah pergi berbuat

ibadat. Betapa dapat menurut kedua kesukaan yang berlawanan

ini?"

"Tentu tak dapat," jawab Samsu. "Memang bagi seorang

pegawai, hal yang sedemikian seperti kata pepatah: Bagai

bertemu buah si mala kamo*). Dimakan, mati bapak, tidak

dimakan, mati mak. Mana yang hendak dipilih?"

"Kalau aku, barangkali tidak kumakan buah itu," kata

Bakhtiar mencampuri perbincangan ini.

"Jadi kau rupanya lebih sayang kepada ayahmu, daripada

kepada ibumu," sahut Nurbaya.

*) Buah perumpamaan, yang hanya ada dalam peribahasa

"Bukan begitu, Nur," jawab Bakhtiar, "kalau perkara sayang,

tentu aku lebih sayang kepada ibuku daripada kepada ayahku,

sebab ibuku suka memberi aku kue-kue, tetapi ayahku suka

memberi aku tempeleng. Dan pada rasaku, kue-kue lebih enak

daripada tempeleng. Tetapi kalau ayahku mati, ibuku tak dapat

mencari kehidupan sebagai ayahku. Betul ia boleh bersuami

pula, tetapi masakan ayah tiriku akan sayang kepadaku seperti

ayah kandungku. Jadi bagaimanakah halku kelak? Dapatkah juga

aku akan meneruskan pelajaranku?"

"Baik, tetapi kalau ayahmu kawin pula, sesudah ibumu

meninggal, bagaimana?" tanya Nurbaya.

"Tidak mengapa, sebab ayahku masih ada, yang dapat

membantu aku," jawab Bakhtiar.

"Kalau mak tirimu itu sayang kepadamu; tapi kalau ia benci

kepadamu, sebagai acap kali terjadi di negeri kita ini, tentulah

akan diasutnya ayahmu, sampai ayahmu pun benci pula

kepadamu. Bagaimana? Mak hilang, ayah benci. Akan tetapi,

kalau makmu masih hidup, walaupun ia tak dapat menolong

kamu ataupun ia bersuami pula, sayangnya tetap padamu. Ia tak

dapat diasut-asut. Bukankah sudah dikatakan dalam peribahasa:

Sayang ayah kepada anaknya sepanjang penggalah, jadi ada

hingganya, tetapi sayang ibu kepada anaknya sepanjang jalan,

tak berkeputusan."

"Ya, benar katamu itu, Nur," jawab Bakhtiar dengan kuatir

rupanya, serasa banar akan terjadi hal itu atas dirinya: "Yang

sebaik-baiknya janganlah aku bertemu dengan buah jahanam itu

dan biarlah ibu-bapakku hidup sampai aku ada pekerjaan, yang

dapat memberi penghidupan kepadaku."

"Sebenarnya orang yang menjadi pegawai Pemerintah," kata

Samsu pula, seakan-akan hendak melenyapkan ingatan yang

kurang enak itu dari dalam hati Bakhtiar, "dalam pekerjaannya

harus dapat berbuat dirinya seperti suatu mesin, yang sebetulbetulnya

menjalankan dan memperbuat segala apa yang harus

diperbuatnya. Artinya, tiada pandang-memandang, tiada menaruh

kasihan, tiada berat sebelah, tiada dapat tergoda oleh uang

atau pemberian dan lain-lain sebagainya."

"Tetapi adakah orang yang sedemikian?" tanya Arifin.

"Dalam seratus, jarang seorang agaknya," jawab Samsu.

"Sebab hal itu sangat susahnya."

"Jika begitu apa sebabnya, maka masih banyak saja orang

yang mau bekerja di kantor polisi? Ada pula yang tiada dapat

gaji, walaupun ia harus berpakaian yang patut, datang ke tempat

pekerjaannya. Sesudah beberapa tahun, barulah dapat uang

bantuan 5 atau 10 rupiah dan beberapa tahun kemudian, barulah

diangkat jadi juru tulis. Akhirnya, apabila telah tua, barulah

dapat jadi menteri polisi atau ajung jaksa," tanya Arifin pula.

"Sebabnya ada bermacam-macam. Ada yang bekerja sesungguhnya

karena hendak mencari kehidupan dengan tiada

mempunyal maksud lain. Itulah yang baik. Tetapi ada pula yang

memandang pangkat saja, sebab pada sangkanya, apabila ia telah

menjadi pegawai, telah tinggilah pangkatnya dengan diharmati

dan ditakuti orang. Lain daripada itu dapat pula ia berbuat

sekehendak hatinya kepada anak negerinya. Tetapi sangkaku

orang yang sedemikian, rnemang orang yang tiada dipandang

dan dihormati orang. Apabila ia seorang yang memang telah

dipandang dan dihormati orang, tentulah ia tidak berkehendak

lagi akan pandangan dan kehormatan, dan tiadalah pula ia akan

bersusah payah, berhabis uang, untuk mendapat pangkat dan

kemuliaan itu; istimewa pula, sebab dalam hal ini, bukan

orangnya melainkan pangkatnya yang dihormati dan dimuliakan.

Oleh sebab itu acap kali, kita lihat, semasa di dalam berpangkat,

sangat dihormati dan dimuliakan orang, tetapi bila telah berhenti,

tiada diindahkan orang lagi. Sebaik-baiknya kehormatan dan

kemuliaan itu jangan timbul dari kekuasaan, melainkan dari hati

yang suci, disebabkan oleh kebaikan kita sendiri.

Ada pula orang yang memang dengan maksud jahat, mencari

pangkat, sebab diketahuinya, pangkat itu besar kuasanya; dengan

demikian lekas dan mudah diperolehnya segala maksudnya.

Akan tetapi pikiran yang semacam ini, hanya ada pada mereka

yang tiada lurus hatinya. Mereka yang mengerti, tentulah akan

tahu, bahwa kekuasaannya tak lebih daripada kekuasaan anak

negerinya dan pangkatnya sebenarnya rendah daripada pangkat

orang yang tiada makan gaji. Karena orang ini bebas, boleh

berbuat sekehendak hatinya, tak perlu menurut perintah, sebab

tak menerima upah. Kalau ia bersalah yang menghukum

bukannya pegawai itu melainkan undang-undang juga. Pegawai

hanya seorang yang digaji Pemerintah, untuk menjalankan

sesuatu kekuasaan, yang tak bersalah, tentu tak dapat

dihukumnya dengan lurus. Untung benar tiada sekalian pegawai

demikian kelakuannya. Banyak yang semata-mata dengan

maksud baik menjabat pekerjaan. Dan sesungguhnya, banyak

kebaikan yang dapat diperbuat mereka, karena kekuasaan tadi."

"Ah, aku tiada memandang kehormatan, kekuasaan, dan

pangkat," jawab Bakhtiar tiba-tiba, "asal cukup dapat uang,

pekerjaan apa pun tiada kuindahkan. Boleh orang memanggil

kuli kepadaku, asal diberinya gaji yang cukup."

"Supaya jangan sampai kekurangan kue-kue, bukan?

Dipanggil hantu kue pun tak mengapa," kata Arifm sambil

tertawa-tawa mengganggu sahabatnya ini.

"Apalagi yang kaucari dalam dunia ini, lain daripada

keenakan dan kesenangan? Engkau belajar sekarang ini dengan

maksud supaya kemudian mendapat kesusahankah?" jawab

Bakhtiar.

"Tentu tidak," kata Samsu pula, yang rupanya hendak

menyabarkan kedua sahabatnya, yang seakan-akan bermusuhmusuhan

itu. "Tetapi di manakah tinggalnya ceritamu tadi,

Arifin? Cobalah teruskan!"

"Benar, tetapi yang terlebih baik ialah kita teruskan

perjalanan kita ini, sebab kalau kita masih berhenti di sini,

sampai hari kiamat pun belum juga kita akan sampai ke atas. Di

jalan kelak kusambung cerita itu."

Keempat anak muda ini mendakilah pula. Setelah sejurus

lamanya mereka mendaki jalan menanjak, berceritalah pula

Arifin, "Belum berapa lama aku tidur, terperanjatlah aku bangun,

karena aku dengar suara orang berkata, "Jangan banyak cakap!

Nanti kupukul kepalamu, sampai engkau tak dapat bergerak

lagi!"

Maka gemetarlah seluruh tubuhku, karena pada sangkaku,

tentulah suara itu suara si pengamuk yang telah menangkap

bujangku, supaya mudah melakukan niatnya yang jahat kepada

kami. Istimewa pula, karena tatkala itu kedengaran suara orang

naik tangga rumahku, lalu mengetuk pintu, menyuruh bukakan

pintu. Sebab takutku, tak tahulah aku apa yang hendak

kuperbuat. Walaupun aku hendak berdiri mencari senjata akan

membela diriku dan ibuku, melawan orang itu tetapi tak dapat

karena kakiku berat rasanya, sebagai terpaku pada lantai. Ketika

aku hendak berteriak minta tolong, suaraku tak hendak keluar,

sebab leherku serasa dicekik orang. Untunglah ibuku berani

bertanya, "Siapa itu?"

"Aku," jawab dari luar.

Walaupun suara itu rupanya sebagai suara ayahku, ibuku

belum percaya juga, sebab ia bertanya pula, "Aku siapa?"

"Engku Hop (hoofd), orang kaya," jawab opas ayahku.

Ketika itu barulah nyata benar kepadaku, bahwa ayahku ada

di luar. Setelah ibuku berkata, "Bukalah pintu, Arifin," barulah

aku dapat bangun dari kursiku, lalu pergi membuka pintu; tetapi

palangnya tiada kulepaskan dari tanganku, supaya dapat

kupergunakan jadi pemukul, bila yang masuk itu bukan ayahku,

sebab khawatirku belum hilang. Tetapi rupanya benar ayahku

yang masuk. Tatkala dilihatnya aku masih jaga, ia bertanya,

"Hai, belum tidur?"

"Belum, Ayah," jawabku, "sebab takut, jadi hilang kantuk."

"Patut engkau jadi hulubalang besar," kata ayahku pula

dengan tersenyum, serta menyuruh pasang lampu kantornya.

Sesudah makan, diperiksalah perkara pengamukan tadi. "Di

sinilah kulihat si pengamuk itu."

"Bagaimana rupanya?" tanya Nurbaya.

"Ah, sebagai orang yang biasa saja. Hidungnya satu, matanya

dua," jawab Arifin.

"Ya, tentu. Tetapi maksudku bukan demikian; serupa

penjahatkah atau serupa orang baik-baikkah ia, tuakah atau

masih mudakah, orang sinikah atau orang lain negerikah?" kata

Nurbaya pula.

"Pada sangkaku bangsa penjudi tetapi masih muda.

Tangannya dibelenggu, bajunya koyak-koyak dan berlumur

darah, mukanya pucat, badannya gemetar dan matanya berputarputar,

sebagai masih marah," jawab Arifin dengan suara yang

seram.

"Hi! Alangkah takutku, kalau melihat orang yang demikian,"

kata Nurbaya, sambil mengecutkan badannya, karena berdiri

bulu romanya.

"Memang, aku pun tak berani dekat. Takut kalau-kalau

datang pula nafsunya hendak mengamuk dan dapat dipatahkannya

belenggunya."

"Ya, tetapi kalau tak ada pisau, bagaimana mengamuk?"

dakwa Bakhtiar, yang hendak mengejek Arifin.

"Dengan tangan dan gigi, seperti engkau mengamuk kuekue,"

jawab Arifin dengan tertawa, sebab ia dapat pula

mengganggu sahabatnya ini.

"Orang mana ia dan apa mulanya, maka ia sampai berbuat

demikian?" tanya Nurbaya, sebagai hendak memadamkan perselisihan

Bakhtiar dengan Arifin.

"Rupanya ia anak kampung Sawahan. Asal perkelahian,

perkara main judi. Sebab ia banyak kalah, matanya jadi gelap,"

sahut Arifin, dengan tiada mengindahkan sahabatnya, Bakhtiar

yang mengerut dahinya.

"Berapa orang yang diamuknya?" tanya Samsu.

"Dua orang; yang seorang mati, sebab kena dadanya; yang

seorang lagi luka parah di kepalanya, lalu dibawa ke rumah

sakit."

"Kasihan!" kata Nurbaya.

"Apa sebabnya, maka lama benar baru ia tertangkap?" tanya

Samsu pula.

"Sebab mula-mula ia lari menyembunyikan dirinya, dan

tatkala hendak ditangkap, ia melawan. Tetapi sebab banyak

orang yang memburunya, jadi dapat juga ia dipersamasamakan,"

jawab Arifin. "Sesudah itu diperiksa oleh ayahku, si

pengamuk terus dibawa ke penjara."

"Bagaimanakah agaknya keputusan perkara itu?" tanya

Nurbaya.

"Pada sangkaku, si pengamuk itu akan dihukum buang,

sekurang-kurangnya sepuluh tahun," jawab Arifin.

"Hura!" demikianlah bunyi sorak Bakhtiar tiba-tiba, "kita

telah sampai."

Sesungguhnya keempat anak muda itu, dengan tiada

dirasainya, telah hampir sampai ke puncak Gunung Padang,

karena tiang bendera dan rumah perhentian yang ada di sana,

telah kelihatan. Tiada lama kemudian daripada itu, Nurbaya

merebahkan dirinya ke atas sebuah bangku, dalam.rumah

perhentian ini, sambil berkata, "Akhirnya sampai juga kita

kemari!"'

"Asal sabar, yakin dan tawakkal, tentulah sampai maksud

yang kekal," jawab Bakhtiar dengan perlahan-lahan, sebagai

seorang yang alim.

"Tetapi kalau tiada diusahakan diri, bagaimana?" tanya Arifin

yang masih menentang Bakhtiar. "Bolehkah Tuan Guru sampai

kemari, jika tiada berjalan lebih dahulu? Dapatkah Tuan Guru

yang sangat alim ini mengaji Quran, apabila tiada dipelajari lebih

dahulu? Dan dapatkah menjadi tukang tambur, sebab perut tiada

diisi lebih dahulu dengan kue-kue, melainkan dengan sabar,

yakin dan tawakkal saja?"

"Ah, dengan engkau memang tak dapat bercakap-cakap;

lebih baik aku pergi ke sana," sahut Bakhtiar dengan sebalnya

lalu keluar rumah perhentian itu, pergi ke buaian.

"Ya, pergilah ke sana dan bercakap-cakap dengan kayukayuan

itu! Tentu tiada dibatalkannya perkataanmu, sebab ia tak

pandai menjawab. Dengan demikian, dapatlah engkau berkata

sesuka hatimu, tetapi seorang diri, seperti orang ... hm," sahut

Arifin, lalu pergi pula ke tempat lain.

Tatkala itu Samsulbahri masih berdiri, rupanya sedang asyik

memandang ke sebelah timur, kemudian memutar kepalanya

perlahan-lahan ke sebelah utara dan akhirnya ke sebelah barat.

Pikirannya sebagai tak ada dekat teman-temannya, melainkan

jauh di balik gunung yang tinggi, di seberang lautan yang dalam.

Bagaikan ada suatu suara yang berbisik di telinganya, demikian:

"Samsulbahri, pandang dan tilik serta perhatikanlah benarbenar

olehmu tanah lahirmu ini, tempat tumpah darahmu, karena

tiada berapa lama lagi engkau akan berangkat meninggalkan

sekaliannya; berangkat jauh ke rantau orang, berjalan bukan

untuk sehari dua, bahkan berbulan dan bertahun. Siapa tahu,

barangkali engkau tak dapat kembali pulang, karena nasib tiaptiap

makhluk yang di atas dunia ini ada di dalam tangan Allah,

dan nyawanya adalah sebagai tergantung pada sehelai benang

sutera, yang halus dan rapuh, sehingga terkadang-kadang angin

yang bertiup sepoi-sepoi pun dapat memutuskan tali pergantungan

itu."

Entah pikiran yang sedemikian, entah keelokan pemandangan

puncak gunung itu yang memberi asyik hati anak muda ini,

tiadalah dapat dilihat pada air mukanya yang bermuram-muram

durja, sebagai mengandung suka dengan duka.

Memang pemandangan di atas Gunung Padang sangat elok,

karena dari sana, nyata kelihatan pertemuan antara daratan

dengan lautan, sebagai garis: putih yang terbentang dari kaki

Gunung Padang arah ke utara, melalui jalan yang berbelokbelok,

yang terkadang-kadang jauh menganjur ke laut, sehingga

terjadilah pada beberapa tempat, di kanan-kiri tanjung-tanjung

ini, teluk yang permai.

Pada beberapa tempat, rupanya baris pinggir laut itu sebagai

bergeiak-gerak, disebabkan oleh ombak, yang memecah di tepi

pantai yang menimbulkan buih yang putih warnanya. Orang

yang memukat ikan, kelihatan sebagai semut berkerumun di sana

sini. Alangkah elok rupanya perhubungan daratan dan lautan itu,

dua benda yang menjadikan dunia ini, tetapi yang sangat

berlainan warna, sifat, hal, dan isinya.

Di sebelah barat dan utara kelihatan lapangan yang sangat

luas dan datar, yang kebiru-biruan warnanya dan yang pada

beberapa tempat sebagai dierami oleh pulau-pulau kecil, yang

berjejer letaknya, dari utara ke selatan, adalah seakan-akan suatu

telaga yang amat besar, yang berdindingkan langit putih di

sebelah barat. Pada sangka ahli bumi, pulau-pulau itu dahulu

kala, berhubungan dengan pulau Sumatera. Karena keruntuhan

di dasar lautan, tenggelamlah perhubungan itu, meninggalkan

beberapa pulau.

Di sebelah timur, kelihatan daratan yang hijau warnanya,

yang penuh ditumbuhi pohon kelapa dan pohon yang lain-lain,

adalah seakan-akan sebuah kebun yang amat luas layaknya. Pada

beberapa tempat kelihatan pohon cemara dan pohon ketapang

yang tinggi-tinggi, sebagai menjulangkan puncaknya dari

tindihan pohon kelapa yang banyak itu, supaya dapat menangkap

angin dan cahaya matahari. Di sana-sini tampak atap rumah yang

merah atau putih warnanya, sebagai mengintip. dari celahcelah

daun kayu. Hanya pada bagian yang dekat ke kaki Gunung

Padang itulah yang banyak rumah dan jalan-jalannya yang berbaris-

baris, sejajar dengan sungai Arau.

Jauh di sebelah timur, kebun yang besar itu dipagari oleh

gunung-gunung yang memtujur pulau Sumatera, yaitu sebagian

daripada Bukit Barisan yang letaknya di tengah-tengah pulau

Sumatera, memanjang dari barat laut ke tenggara. Di belah timur

laut dan utara, kelihatan beberapa puncak gunung yang tinggitinggi,

sebagai ujung tiang pagar tadi. Di antara puncak-puncak

ini, di balik awan yang putih, kelihatan puncak Gunung Merapi

di Padang Panjang, yang terkadang-kadang nyata nampak

asapnya mengepul ke atas, bila cuaca amat terang.

Walaupun di sebelah timur, sekalian mahluk yang mendiami

daratan akan mendapat kehidupan dan kesenangan, di sebelah

barat tiada lain yang akan diperolehnya daripada bahaya dan

maut. Demikian pula kebalikannya jika dibawa sekalian yang

mendiami bagian yang di sebelah barat, ke timur, tentulah segera

akan sampai ajalnya. Di sebelah timur dapatlah manusia berpijak

tanah, tetapi di sebelah barat akan luluslah ia ke dasar lautan.

Setelah sejurus lamanya Samsulbahri termenung sedemikian

itu, tiba-tiba terperanjatlah ia, sebagai terbangun daripada

tidurnya, karena dirasainya bahunya dipegang orang dari

belakang dan didengarnya suara Nurbaya berkata, "Apakah yang

kaulihat, Sam?"

"Ah, tidak, Nur," jawab Samsu, "penglihatan di sini

sesungguhnya amat elok: Lihatlah pohon-pohon kelapa itu,

hampir tak ada hingganya dan di antaranya. Lihatlah pula bukit

barisan yang jauh menghijau samar-samar di sebelah timur itu!

Dan lihatlah tepi pantai negeri Pariaman, Tiku, dan Air Bangis,

yang menggaris terang sampai ke utara."

"Ya, sesungguhnya amat indah," jawab Nurbaya. "Hanya di

laut kurang pemandangan. Manakah pulau Pandan, dan manakah

pulau Angsa Dua?"

"Itulah, yang jauh itu, pulau Pandan, dan yang sebelah

kemari, pulau Angsa Dua," kata Samsu pula, sambil menunjuk

dua buah pulau yang berleret letaknya di sebelah ke muka dan

sebelah lagi di sebelah belakang.

"Jadi sesungguhnya sebagai dalam pantun.

Pulau Pandan jauh di tengah,

di balik pulau Angsa Dua,"

kata Nurbaya pula.

"Memang benar," jawab Samsu. "Tetapi bagaimanakah

sambungan pantun itu?" tanya Samsu.

"Ah, masakan kau tak tahu. Jangan: Kura-kura di dalam

perahu, pura-pura sebagai tak tahu," sahut Nurbaya.

"Sebenarnya pantun itu pantun tua, yang demikian bunyinya:

Pulau Pandan jauh di tengah,

di balik pulau Angsa Dua,

Hancur badan di kandung tanah,

guna baik diingat jua."

kata Samsu pula. "Tetapi oleh anak-anak muda sekarang

ditukar menjadi:

Pulau Pandan jauh di tengah;

di balik pulau Angsa Dua,

Hancur badanku di kandung tanah,

cahaya matamu kuingat jua."

"Ya, tentu, begitu pun boleh juga; bagaimana kehendak yang

berpantun saja," jawab Nuibaya.

Sungguhpun ia berkata demikian, tetapi di dalam hatinya

buah pantun ini menimbulkan suatu pikiran; hanya tiada diperlihatkannya

itu, dan dibuangnyalah mukanya menoleh ke darat

serta bertanya, "Gunung yang tinggi itu, gunung apakah

namanya?"

"Gunung Merapi, sangkaku," jawab Samsu.

"Gunung Merapi yang dekat Padang Panjang?" tanya

Nurbaya.

"Ya, antara Bukit Tinggi dan Padang Panjang," jawab Samsu.

"Dan tahukah pula engkau pantun yang berhubungan dengan

kota Padang Panjang itu?"

"Tidak," jawab Nurbaya, dengan hati yang agak berdebar.

"Begini," kata Samsu.

"Padang Panjang dilingkar bukit,

bukit dilingkar kayu jati,

Kasih sayang bukan sedikit,

dari mulut sampai ke hati."

Mendengar pantun Samsu ini, berubahlah warna muka

Nurbaya, menjadi kemerah-merahan, lalu tunduklah ia melihat

ke tanah, akan menyembunyikan perubahan wajah mukanya ini.

Apabila waktu itu tiada kedengaran suara Bakhtiar minta tolong,

niscaya terbukalah rahasia hati Nurbaya, yang menyebabkan air

mukanya jadi berubah.

Tatkala Samsu mendengar suara sahabatnya minta tolong,

tiadalah ia berpikir panjang lagi, lalu melompat berlari ke tempat

suara itu kedengaran, takut kalau-kalau Bakhtiar mendapat

sesuatu kecelakaan. Apabila sampailah ia ke tempat itu,

kelihatan olehnya, sahabat ini sedang diserang oleh beberapa

kera yang besar-besar, yang hendak merampas pisang yang ada

dalam tangannya.

Walaupun Samsu dengan segera membantu memukul kerakera

ini dengan sekerat kayu, tetapi karena banyaknya, tak

dapatlah dihalaukan sekaliannya, sehingga terpaksa ia meninggalkan

pisang-pisangnya dan menuntun Bakhtiar, keluar dari

kepungan penyamun yang berekor panjang itu, lalu membawa

sahabatnya ini ke rumah perhentian, tempat ia berdiri tadi. Di

tengah jalan bertemulah mereka dengan Nurbaya, yang mengikut

dari belakang hendak membantu pula. Dan sejurus kemudian,

keluarlah Arifin dari dalam semak-semak, berlari-lari menuju

mereka dengan menjinjing suatu bungkusan dalam tangannya.

Tatkala ia sampai kepada mereka, lalu bertanyalah ia dengan tergopoh-

gopoh, "Siapa yang berteriak? Ada apa?"

Setelah diceritakan oleh Samsu hal Bakhtiar diserang oleh

kera-kera itu, tertawalah ia gelak-gelak seraya menekan perutnya,

karena tiada tertahan geli hatinya. Walaupun ia sangat lelah

karena berlari-lari, tiada dirasainya juga kelelahannya itu, karena

tertawa. Akan tetapi Bakhtiar tiada mengindahkan ceinooh

Arifin ini, istimewa pula karena takutnya belum hilang.

"Memang telah kusangka, bahwa panglima perang kita ini,

lebih berani berkelahi dengan makanan, daripada dengan kera.

Sesungguhnya patut dadanya dihiasi dengan bintang kulit jering,

karena gagah beraninya tiada bertara," kata Arifin dalam tertawa

gelak-gelak itu dengan putus-putus suaranya.

Meskipun Samsu dan Nurbaya belum hilang debar hatinya

dan mereka sangat belas kasihan melihat hal Bakhtiar, tetapi

tiadalah dapat ditahannya hatinya hendak tertawa pula, mendengar

perkataan Arifin ini. Akan menghilangkan geli hatinya

ini, pura-pura bertanyalah Samsu kepada Bakhtiar, bagaimana

mulanya sampai diserang kera tadi. Maka diceritakanlah oleh

Bakhtiar, bahwa dengan sengaja dibawanya pisang sesisir, akan

diberikannya kepada kera-kera itu. Tiba-tiba,dilihatnya beberapa

ekor kera yang besar, datang dari segenap pihak mengelilinginya

dan merampas pisang yang ada dalam tangannya. Bahkan ada

pula yang memanjat bahu dan kepalanya, walaupun ia memukul

sekelilingnya. Akhirnya karena terlalu banyak kera itu datang

dan rupa-rupanya binatang ini makin bertambah-tambah marah,

sebab ada beberapa ekor di antaranya yang kena pukul,

berteriaklah ia minta tolong, takut kalau-kalau digigit penyamun

yang telah memperlihatkan giginya dan berbunyi-bunyi itu.

"Sekalian itu karena lokekmu juga, takut engkau sendiri

takkan beroleh pisang. Maksudmu tentulah hendak duduk

seorang diri memakan pisang itu di tengah-tengah kera yang

banyak itu, sebagai sekor raja kera, yang sedang dihadapi segala

menteri, hulubalang dan rakyatnya. Sisamulah yang akan

kauberikan kepada sekalian rakyatmu itu. Siapa mau? Sebab

apabila telah kaumakan niscaya, tak ada sisanya lagi; barangkali

kulit-kulitnya pun habis. Tentu saja tak suka rakyatmu membiarkan

engkau makan sendiri. Mereka pun ingin pula hendak

makan bersama-sama, karena perutnya pun lapar. Coba kau

minta makan bersama-sama mereka dengan perkataan, "Adikadikku

yang kucintai! Silakan makan bersama-sama abangmu

yang sangat merindukan engkau," kata Arifin dengan bersungguh-

sungguh rupanya. Tetapi tak ada seorang pun yang

menyahut, sedang Samsu dan Nurbaya pura-pura menoleh ke

tempat lain, supaya jangan kelihatan tertawa.

Kerena Bakhtiar berdiam diri, berkatalah pula Arifm, "Ada

sesuatu yang belum jelas bagiku. Mengapa tiada kaumakan

pisang itu lekas-lekas sampai habis? Apabila telah habis

sekaliannya masuk perutmu; apalagi yang akan dirampas kerakera

itu? Kepada kera kau pura-pura malu, tetapi kepada

manusia tidak."

"Untung tidak kumakan, pisang-pisang itu," jawab Bakhtiar

yang masih ketakutan, "kalau kumakan, barangkali perutku

dikoyak-koyaknya, akan mengeluarkan pisang yang ada

dalamnya."

"Bukankah akan menjadi kurang isi perutmu dan barangkali

sembuh pula engkau daripada penyakitmu suka makan," kata

Arifin, tatkala dilihatnya Bakhtiar belum juga marah. "Jangan

engkau kecil hati, Bakhtiar. Apabila aku tadi ada dekatmu, tentulah

tiada akan kutolong engkau. Bukan karena tak kasihan

kepadamu, melainkan karena sayang aku pertunjukan yang indah

itu akan lekas habis."

"Memang engkau selamanya begitu, pandai benar memperolok-

olokkan orang," jawab Bakhtiar. "Tetapi apabila engkau

sendiri beroleh hal yang sedemikian, barangkali lebih takutmu

dari padaku. Boleh jadi engkau menangis meraung-raung.

Sedangkan mendengar suara ayahmu sendiri, telah kaku badanmu

ketakutan, tadi malam: "

"Bukan menangis meraung-raung," jawab Arifin dengan

menyindir, "melainkan menyembah saja, minta ampun kepada

kera-kera itu. Aku angkat bendera putih, tanda kalah, tunduk dan

menyerahkan diri; kalau-kalau belas kasihan, ia kepadaku. Biarlah

turun dari raja sampai kepada tawanan. Tak apa asal jangan

dikoyak kera."

"Ah, sudahlah! Sekarang marilah kita pergi ke rumah perhentian

itu, karena aku berasa lapar," kata Samsu, sebagai

hendak menghabiskan pertengkaran ini, lalu berjalan mengajak

teman-temannya ke sana.

Setelah sampailah mereka ke rumah itu, berkatalah Arifm,

"Sebab aku tadi tiada melihat peperanganmu dengan kera,

perlihatkanlah sekarang, peperanganmu dengan makanan! Ini

aku bawa sebungkus jambu Keling. Berapa puluh dapat

kaualahkan dengan gigimu yang tajam itu?" tanya Arifm, sambil

membuka bungkusan yang dijinjingnya dan memperlihatkan

isinya kepada Bakhtiar, sambil tertawa.

"Jangan dimakan begitu saja! Marilah aku kocok dahulu

dengan gula, lada, dan garam supaya lebih nyaman rasanya,"

kata Nurbaya.

"Tetapi lebih dahulu makan roti," kata Samsu, "Kalau tidak,

sakit perut kelak. Apabila hari telah panas, baharulah makan

buah-buahan ini dan rasanya pun akan lebih sedap."

"Perut si Bakhtiar tiada akan sakit, walaupun batu sekalipun

dimakannya, karena telah biasa mengalahkan segala rupa

makanan, biar yang beracun sekalipun," kata Arifin pula, yang

rupanya belum puas mempermainkan temannya ini. Tetapi

ejekan ini pun tiada dijawab oleh Bakhtiar, karena mulutnya baru

penuh berisi roti.

Setelah selesai makan, berkatalah Bakhtiar, hendak pergi

membedil burung, lalu mengambil bedil yang dibawa Samsu

tadi. Akan tetapi karena Samsu khawatir melepaskannya sendiri,

disuruhnyalah Arifin pergi bersama-sama. Maka tinggallah

Samsu dan Nurbaya berdua dalam rumah itu. Nurbaya, sebab

hendak membuat rujak jambu Keling dan Samsu akan menjaganya.

Setelah dicampur Nurbaya buah itu dengan gula, garam, dan

lada dalam sebuah mangkuk besar, lalu ditutupnya mangkuk ini

dan dikocoknya jambu Keling yang ada dalamnya. Setelah

sejurus lamanya Nurbaya mengguncang jambu itu, rupanya ia

mulai lelah digantikan oleh Samsu. Demikianlah diperbuat

mereka berganti-ganti, sehingga buah jambu itu empuk. Maka

diambillah oleh Nurbaya sebutir, lalu dikecapnya.

"Sudah, Sam; terlalu empuk pun tak enak. Cobalah engkau

kecap pula!" kata Nurbaya.

"Ya benar, telah enak rasanya," jawab Samsu, setelah dimakannya

pula sebuah. "Tetapi baiklah ditunggu dahulu

Bakhtiar dan Arifin."

"Tentu," jawab Nurbaya, "kalau tidak, barangkali Bakhtiar

akan menyangka kita telah makan lebih banyak, apabila tak

cukup bagiannya," kata Nurbaya dengan tersenyum.

Setelah keduanya berdiam sejurus, berkatalah Nurbaya tibatiba,

"O ya, baru kuingat janjimu tadi akan menceritakan

perempuan dengan kucingnya dan ayam yang bertelur emas itu.

Bagaimanakah ceritanya?"

"Benarkah engkau belum mendengar cerita ini?" tanya

Samsu.

"Sungguh belum, Sam," sahut Nurbaya.

"Kedua cerita itu ialah hikayat pendek-pendek, yang

mengiaskan pepatah: Tiap-tiap suatu yang hendak dikerjakan

atau dikatakan, haruslah dipikirkan lebih dahulu dengan sehabishabis

pikir dan ditimbang dengan semasak-masaknya: Berkata

sepatah, dipikirkan, supaya jangan salah; sebab kesalahan itu

boleh mendatangkan sesal yang tak habis. Sesal dahulu pendapatan,

sesal kemudian tak berguna.

Cerita yang pertama demikian bunyinya:

Seorang perempuan mempunyai seorang anak yang masih

menyusu dan seekor kucing yang disayanginya. Pada suatu hari,

tatkala ia hendak pergi, ditinggalkannya anaknya di atas suatu

tempat tidur dan disuruh jaganya oleh kucingnya itu. Ketika ia

kembali ke rumahnya, dilihatnya kucingnya itu duduk di muka

rumahnya dengan mulutnya berlumuran darah. Maka berdebarlah

hatinya, lalu ia berlari-lari masuk ke tempat tidur anaknya. Di

sana dilihatnya anaknya telah mati dan badannya pun penuh

darah pula. Oleh sebab pada sangka perempuan itu, tentulah

kucing ini yang membunuh anaknya, dengan tiada berpikir

panjang lagi, diturutkannyalah nafsu marahnya, lalu dipukulnya

kucingnya ini sampai mati. Akan tetapi tatkala diangkatnya

mayat anaknya, dilihatnya di bawah anaknya ini ada seekor ular

yang sangat bisa, telah mati digigit kucingnya tadi. Rupanya ia

berkelahi dengan ular itu, karena hendak membela anak tuannya.

Setelah mati ular itu duduklah ia di muka rumah, menunggu

kedatangan tuannya, seakan-akan hendak memberitahukan mara

bahaya ini.

Di situ menyesalnya perempuan tadi dengan sesalan yang

amat sangat, karena sekarang bukannya anaknya saja yang mati,

tetapi kucingnya yang amat setia dan dikasihinya hilang pula."

"Tentu saja kesalahan yang sedemikian sangat menyedihkan

dan menyusahkan hatinya, dengan sesalan yang tiada berkeputusan,"

kata Nurbaya dengan terpikir dan sedih rupanya.

"Cerita ayam yang bertelur emas itu, lebih-lebih menjadi

ibarat bagi mereka yang loba dan tamak," kata Sam. "Demikian

hikayatnya:

Seorang peladang mempunyai ayam betina beberapa ekor.

Pada suatu hari seekor daripada ayamnya itu bertelur emas.

Bagaimana, besar hati si peladang, tentulah dapat kaumaklumi,

Nur. Karena lobanya, hendak lekas kaya, disembelihnya ayam

itu. Pada sangkanya, tentulah dengan sekaligus akan diperolehnya

sekalian telur emas yang ada dalam perut ayam itu. Akan

tetapi apa kata? Perut ayam itu isinya sebagai isi perut ayam

yang biasa juga dan sebutir telur emas pun tak ada dalamnya.

Jika ditunggunya dengan sabar, mungkin hari kedua ayam itu

bertelur emas pula. Sekarang ayamnya telah mati dan pengharapannya

telah putus."

"Harus begitu hukuman orang yang tamak sedemikian,"

jawab Nurbaya. "Jika tiada dibunuhnya ayamnya, barangkali

diperoleh setiap hari sebutir telur emas."

"Barangkali," jawab Samsu. "Tetapi Nur, sejak kita sampai

kemari, belum kita pergi ke mana-mana. Tiadakah ingin hatimu

hendak bermain-main dan berayun-ayun di buaian itu?"

"Tentu," jawab Nurbaya, "asal engkau yang mengayunkan

aku."

"Memang, siapa lagi. Arif dan Tiar tak ada di sini. Asal suka

saja engkau, berapa lama pun aku ayunkan," kata Samsu pula,

lalu pergi bersama-sama Nurbaya ke tempat sebuah buaian

kawat besi, yang diikatkan pada dua buah tiang kayu, yang tinggi

dan kukuh.

"Tetapi jangan keras-keras kauayunkan aku, Sam!" kata

Nurbaya, sambil duduk di atas ayunan itu.

"Bagaimana sukamu saja," jawab Samsu.

Setelah sejurus lamanya berayun-ayun itu, tiba-tiba berteriaklah

Nurbaya, "Ada kapal api di laut! Kelihatan dari atas ini."

Dengan segera dihentikan Samsu buaian itu, lalu keduanya

mencari sesuatu tempat yang tinggi, untuk melihat kapal yang dikatakan

Nurbaya tadi. Sesungguhnya, di laut kelihatan sebuah

kapal api, yang rupanya baru keluar dari pelabuhan Teluk Bayur,

berlayar dengan tenangnya menuju ke utara. Asapnya yang telah

tebal dan hitam mengepul di udara.

"Ke manakah perginya kapal itu, Sam?" tanya Nurbaya.

"Tentulah ke Aceh dan Sabang, barangkali singgah juga ia di

Sibolga," jawab Samsu.

"Kemudian ke mana terusnya?" tanya Nurbaya pula.

"Kembali pula kemari, lalu ke Jakarta. Bolak-balik saja

kerjanya, membawa penumpang dan muatan dari selatan ke

utara," jawab Samsu. "Barangkali dengan kapal itu kau kelak

pergi ke Jakarta," kata Nurbaya. Mendengar perkataan ini, bertukarlah

wajah muka Samsu, dari riang menjadi muram dan termenunglah

ia berapa lamanya, tiada berkata-kata. Nurbaya

sangat heran melihat hal sahabatnya yang sedemikian itu, lalu

bertanya, "Mengapa kau tiba-tiba berdiam, Sam? Kurang enakkah

badanmu?"

"Bukan, Nur. Hanya sebab engkau tadi menyebut nama

negeri tempat aku akan pergi, tiga bulan lagi," jawab Samsu.

"Pada sangkaku hatimu besar, pergi ke Jakarta," kata

Nurbaya.

"Tentu, Nur, tentu! Karena di sanalah aku akan melihat ibu

negeri Indonesia ini, kota yang sebesar-besarnya dan sebagusbagusnya,

dalam Tanah Air kita. Dan di sanalah pula aku akan

beroleh pelajaran yang akan menjadikan aku seorang yang

berilmu. Tetapi... berat sungguh hatiku akan meninggalkan kota

Padang ini, tanah lahirku, tempat tumpah darahku, kampung

halamanku. Karena di sinilah ada ayah-bundaku, kaum keluargaku,

serta handai tolanku; sedang di sana belum kuketahui dengan

siapa aku akan bersama-sama dan betapa mereka itu. Sampai

kepada waktu ini aku biasa diperlindungi orang tuaku; tetapi di

sana, tentulah aku akan hidup seorang diri."

"Tentu saja, Sam. Memang tak mudah bercerai dengan ibubapa,

handai tolan dan teman sejawat. Tetapi pada sangkaku

kecanggunganmu itu tiada berapa lama. Tiap-tiap permulaan

biasanya susah. Akan tetapi apabila telah sampai engkau ke

Jakarta kelak, tentulah akan hilang juga segala kesusahanmu,

dirintang penglihatan dan pendengaran yang indah-indah.

Barangkali pula lekas engkau beroleh ibu-bapa, sahabat kenalan

yang baru, sehingga bertambah-tambah lekaslah pula engkau

lupa kepada kami," kata Nurbaya sambil tersenyum dan

memandang kepada Samsu.

"Jika rindumu itu tiada hendak hilang, baiklah kaulipur

hatimu dengan pikiran yang begini, "Aku ada di Jakarta ini untuk

sementara, menuntut pelajaran yang akan memberi kepandaian,

pangkat, dan gaji yang besar kepadaku; oleh sebab itu pikiranku

tak boleh tergoda oleh yang lain. Apabila telah sampai maksudku

itu kelak, tentulah aku segera dapat pulang kembali, bertemu

dengan sekalian yang kucintai."

Ingatlah pantun:

Jika ada sumur di ladang,

tentu boleh menumpang mandi.

Jika ada umurku panjang,

tentu boleh bertemu lagi.

Gunung dan lembah yang tiada dapat bertemu, tetapi

manusia, asal ada hayat di kandung badan, tentulah akan berjumpa

juga. Sedangkan ikan di lautan, asam di daratan, bertemu

dalam kuali," kata Nurbaya dengan bermain-main, karena pada

sangkanya, pura-puralah Samsu berbuat sebagai bersusah hati,

sebab akan pergi ke Jakarta itu.

"Barangkali sangkamu, aku pura-pura berbuat susah, karena

akan pergi ke Jakarta itu," kata Samsu pula, "tetapi sesungguhnyalah

sangat khawatir hatiku meninggalkan...."

Hingga ini Samsu berhenti, sebagai tak berani menyebut

nama orang yang dikhawatirkannya itu.

"Meninggalkan siapa, Sam?" tanya Nurbaya. "Adakah orang

di sini tempat hatimu tersangkut?"

"Meninggalkan engkau, Nur," jawab Samsu, terus terang.

"Aku?" tanya Nurbaya pula, seakan-akan heran.

"Ya," jawab Samsu dengan pendek.

Nurbaya termenung mendengar pengakuan ini, lalu menundukkan

kepalanya ke tanah, sehingga tiadalah dapat dilihat,

bagaimana warna mukanya pada waktu itu.

"Jangan engkau salah sangka, Nur! Dengarlah, apa sebabnya

hatiku khawatir meninggalkan engkau. Telah beberapa hari aku

digoda oleh suatu pikiran yang tak baik," kata Samsu.

"Dari mana datangnya pikiran yang sedemikian?" tanya

Nurbaya pura-pura tersenyum, akan melenyapkan perubahan

mukanya yang menjadi kaca hatinya.

"Bagaimana aku takkan khawatir," sahut Samsu. "Pada

malam Jum'at yang telah lalu, aku bermimpi: rasanya aku mendaki

Gunung Padang ini.

Tatkala sampai ke atas ini, tibalah aku rasanya di kota Jakarta

yang ramai dan besar itu. Di tengah-tengah kota ini adalah

sebuah menara yang tinggi. Seorang tua berkata kepadaku, "Hai

Samsu, jika engkau hendak mencapai maksudmu, naiklah

menara ini."

Tatkala aku hendak menaiki menara ini, tiba-tiba kelihatanlah

olehku, engkau mengikut dari belakang, seorang diri. Oleh

sebab itu kutunggulah engkau, supaya dapat naik bersama-sama.

Tiba-tiba datanglah Engku Datuk Meringgih menghelakan

engkau ke bawah, lalu didukungnya, dibawanya lari. Karena

panas hatiku, kurebutlah engkau dari tangannya, sehingga berkelahilah

aku dengan dia. Oleh sebab ia lebih kuat dari padaku,

dapatlah aku ditangkapnya dan dilontarkannya ke, bawah

gunung ini. Engkau pun, sebab membantah, tiada mengikut

kemauannya dijerumuskannya pula ke bawah. Maka jatuhlah

kita berdua terguling-guling ke kaki gunung ini, masuk ke dalam

suatu lubang yang besar, sehingga tak dapat keluar lagi. Ketika

itu terbangunlah aku dengan sangat terperanjat. Badanku basah

kena keringat. Semalam-malaman itu tiadalah dapat aku tidur

lagi dan sejak waktu itu, mimpi ini tiadalah hendak hilang dari

pikiranku."

"Wahai! Rupanya inilah sebabnya engkau kulihat terkadangkadang

termenung seorang diri," kata Nurbaya. "Tetapi janganlah

engkau terlalu percaya akan mimpi itu, karena mimpi

permainan pikiran, tiada selamanya benar; acap kali bohong, tak

ada takbirnya. Melainkan sejak sekarang marilah kita bersamasama

menadahkan tangan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

untuk memohonkan kepada-Nya supaya mudah-mudahan dipelihara-

Nya juga kita di dalam segala hal," kata Nurbaya pula,

sebagai pelipur hati Samsu. Akan tetapi, meskipun ia berkata

sedemikian, hatinya tiada senang juga, karena sesungguhnya

ganjil mimpi Samsu ini pada rasa hatinya.

Tatkala itu kembalilah Bakhtiar dan Arifin tergopoh-gopoh

dari perburuannya, sebagai ada sesuatu yang dilarikannya.

"Apa yang dapat?" tanya Nurbaya.

"Sst, diam! Jangan ribut!" kata Bakhtiar, sambil menyembunyikan

bedilnya."

"Bakhtiar membedil orang," kata Arifrrt perlahan-lahan.

"Membedil orang?" tanya Samsu dengan terperanjat.

"Ya," jawab Arifin, "tetapi nantilah kuceritakan kepadamu.

Sekarang mari kita pulang lekas-lekas!"

"Makanan itu bagaimana?" tanya Nurbaya.

"Kita makan cepat-cepat dan kemudian kita pulang dengan

segera," jawab Arifin.

Tatkala mereka berkata-kata itu, Bakhtiar menyembunyikan

bedilnya dalam rumput-rumput, kemudian datang hendak makan

bersama-sama. Tetapi walaupun ia sangat lapar, tiadalah dapat

juga makan dengan sepertinya, karena ketakutan. Mukanya

pucat, tangannya gemetar.

Setelah selesai makan lalu Bakhtiar membungkus bedilnya

dengan kelopak lopak pisang, supaya jangan kelihatan dari luar.

Kemudian menurunlah mereka bergesa-gesa.

Tatkala sampai ke pangkal pendakian, berhentilah mereka

sejurus di kedai, untuk melepaskan lelahnya. Tiada lama

kemudian daripada itu, turunlah dua orang serdadu dari atas

gunung ini. Seorang dari padanya jalannya seakan-akan pincang

dan paha kirinya dipegangnya dengan tangannya.

Tatkala Bakhtiar dan Arifin melihat serdadu ini, bersembunyilah

mereka ke dalam kedai tadi. Seketika lagi sampailah

kedua serdadu itu ke muka kedai ini, lalu hendak ber-henti

pula di sana. Yang tiada pincang bertanya, "Masih sakitkah

kakimu? Marilah kita berhenti dahulu di sini."

"Ah, tak usah. Baik kita terus pulang, supaya jangan terlambat

sampai ke tangsi," jawab yang sakit. .

"Siapakah yang telah membedilmu pada sangkamu?"

bertanya pula yang tak sakit.

"Tentulah anak-anak. Jika dapat ia kuputar batang lehernya,"

jawab yang sakit.

Kemudian kedua serdadu itu naik sebuah sampan, lalu

menyeberang sungai Arau.

Setelah sampai mereka ke seberang, barulah Bakhtiar dan

Arifin berani ke luar, lalu barkata, "Itulah dia yang kena bedilku

tadi."

"Bagaimana mulanya maka ia sampai jadi kena? Cobalah

kauceritakan!" tanya Nurbaya yang agak pucat mukanya.

"Aku hendak membedil burung Merbah yang ada dalam

semak-semak dan ia tiada kelihatan olehku, karena ia berdiri di

balik pohon kayu. Tatkala kubedil burung itu, tiba-tiba

kedengaran olehku suara orang berteriak, "Aduh! Apa ini?

Tolong!" Ketika itulah nyata olehku bahwa seorang daripada

serdadu tadi telah kena bedilku. Dengan segera aku lari

menyembunyikan diri."

"Memang ada-ada saja yang terjadi padamu, Bakhtiar! Belum

hilang takutku, karena engkau diserang kera, sekarang kau

tembak pula orang. Kalau dapat engkau olehnya tadi,

bagaimana!" kata Nurbaya seraya menggeleng-gelengkan

kepalanya.

"Bukan kusengaja, Nur. Kakinya itu kusangka dahan kayu

yang hitam, sebab badannya tersembunyi di balik pokok kayu.

Siapakah yang 'kan dapat menentukannya dari jauh? Tetapi

apanya yang kena, kaulihat tadi, Nur, tatkala ia melintas di sini?"

tanya Bakhtiar.

"Paha belakangnya yang sebelah kiri," jawab Nurbaya.

"Rupanya berdarah, lagi sakit; sebab selalu dipegangnya pahanya

itu."

"Marilah kita pulang, sebab hari telah setengah satu. Pak Ali

tentu telah ada dan perutku telah lapar," kata Samsu pula.

Setelah minum air seterup seorang segelas, menyeberanglah

keempat mereka, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.

IV. PUTRI RUBIAH DENGAN SAUDARANYA SUTAN

HAMZAH

Pada petang hari Ahad, tatkala Samsu dengan sahabatnya pergi

berjalan-jalan ke Gunung Padang, kelihatan putri Rubiah duduk

di serambi belakang rumahnya, di atas sebuah tikar rumput,

sedang menjahit. Dekat putri itu duduk saudaranya yang bungsu,

Sutan Hamzah, sedang menggulung-gulung rokok daun nipah.

"Bagaimana pikiranmu tentang kakakmu Mahmud,

Hamzah?" tanya putri Rubiah dengan tiada menoleh dari

penjahitannya.

"Pada pikiran hamba, kelakuannya sangat berubah, " jawab

Sutan Hamzah, sambil menoleh kepada saudaranya.

"Pikiranku pun demikian pula. Makin lama makin jarang ia

datang kemari kian hari kian kurang diindahkannya aku dan

Rubiah, serta kaum keluarganya yang lain-lain sebagai takut ia

datang kemari. Katanya karena banyak kerja, dan ia takut kalaukalau

pekerjaannya kurang maju. Benarkah itu?" tanya putri

Rubiah.

"Ah, bohong! Bukannya ia sendiri yang menjadi Penghulu di

Padang ini dan berpangkat tinggi. Apakah sebabnya Penghulu di

lain-lain tiada sebagai dia?" jawab Sutan Hamzah.

"Pikiran yang sedemikian, acap kali timbul pula dalam

hatiku. Memang pangkat itu aku sukai dan harus dijaga benarbenar,

supaya jangan bercacat nama. Tetapi janganlah hendaknya

karena itu, berubah kelakuan adat dan pikiran. Coba kaupikir!

Aku dan Rukiah saudaranya dan kemanakannya yang

perempuan, jadi tanggungannya. Tetapi tiada dijaga, tiada

dikunjung-kunjunginya dan tiada dilihat-lihatnya, apalagi dibelanjainya;

pendeknya tidak diindahkannya. Hanya anak dan

istrinya sahaja yang dijaga dipelihara dan dihiraukannya. Kalau

terjadi apa-apa pada malam atau siang hari atau kami ditimpa

bahaya—sekali disebut seribu kali dijauhkan Allah hendaknya,

bagaimana kami? Akan mati seoranglah agaknya," kata Putri

Rabiah dengan sedih.

"Anaknya itu kabarnya akan dikirimkannya pula ke Jakarta,

Sekolah Jawa. Yang bukan tanggungannya ditanggungnya, yang

tanggungannya sendiri, disia-siakan. Kalau anaknya itu tak ada

mamaknya yang akan memikul beban ini, sudahlah; tolonglah

anak itu sebab kasihan Akan tetapi kewajiban, jangan dilupakan;

bahkan itulah yang patut diingat lebih dahulu."

"Si Samsu ke Jakarta?" tanya Sutan Hamzah dengan takjub

"Ya tiga bulan lagi. Dan dari sana, entah ke mana pula,

barangkali ke negeri Belanda. Hendak dijadikannya apa anaknya

itu, tiada kuketahui," jawab putri Rubiah.

"Akan dijadikannya jenderal, agaknya," sahut Sutan Hamzah

dengan tersenyum.

"Bukankah sekalian itu memakan uang saja? Itulah sebabnya

agaknya, maka tiap-tiap aku minta duit kepadanya, jarang dapat;

biasanya tak ada duit, katanya. Ke manakah gajinya yang

sebanyak itu? Tentulah habis untuk anak dan istrinya saja. Apakah

perlunya anak itu dimajukan sejauh itu? Sekolah Belanda ini

saja telah lebih daripada cukup. Berapa orang yang tiada tahu

bahasa Belanda, tetapi dapat juga mencapai pangkat yang tinggi.

Ayah kita, apa kepandaiannya? Menulis pun hampir tak dapat.

Tetapi mengapakah dapat juga ia menjabat pangkat Tuanku

Bendahara*). Siapakah di antara Penghulu-Penghulu yang ada di

Padang ini, yang pandai bahasa Belanda? Tak ada seorang pun.

Bukankah sekaliannya itu bergantung kepada untung nasib satusatunya

orang? Jika baik untungnya, tak pandai pun, ten¬tu akan

mendapat pangkat juga. Tetapi apabila tak baik nasib, walaupun

melangit kepandaiannya, jatuhnya ke pelimbahan juga."

"Pada pikiran hamba, anak itu tak baik untungnya. Segala

usaha Kakanda Mahmud ini, niscaya akan sia-sia belaka.

Cobalah lihat! Arang habis, besi binasa," jawab Sutan Hamzah,

sambil mengisap sebatang rokok yang dibuatnya.

"Mengapa engkau berkata demikian?" tanya putri Rubiah.

*) Pangkat yang hampir sama dengan patih

di tanah Jawa

"Ada suatu tanda padanya, ia akan mati berdarah dan akan

menjadi musuh kita," jawab Sutan Hamzah.

Putri Rubiah termenung sejurus mendengar perkataan adiknya

ini. Kemudian ia berkata pula, "Mauku sekolah Belanda ini

saja, cukuplah. Sudah itu masukkan saja ia ke kantor, jadi juru

tuliskah atau apa saja. Biarpun tak bergaji, tak mengapalah mulamula

ini. Kelak, tentulah akan naik juga pangkatnya dan dapat

juga gaji yang besar, asal ada untungnya. Bukankah sudah ada

pepatah kita yang mengiaskan hal itu: Malang tak boleh ditolak,

mujur tak dapat diraih. Sesudah diikhtiarkan, diserahkan! Ini

tidak; karena hendak memajukan anak sampai berhabis-habisan.

Harta pusaka pun hampir diganggunya pula."

"Harta pusaka kita?" jawab Sutan Hamzah dengan mengangkat

kepalanya. "Hendak hamba lihat, kalau benar ia berani

menghabiskan harta pusaka kita. Walaupun hamba tak berpangkat,

tetapi tak takut melawannya."

"Itulah yang menjadikan bimbang hatiku siang-malam,

hingga acapkali aku tak dapat tidur karena memikirkan hal ini.

Aku takut kalau-kalau benar diperbuatnya sedemikian, menjadi

berbantah kita, antara saudara dengan saudara. Bukan tak baik

saja, perbuatan yang sedemikian, tetapi malu aku kepada orang

lain; sebab tak layak orang yang berbangsa sebagai kita, berbuat

begitu," kata putri Rubiah pula dengan mengeluh.

"Tetapi kalau tak dapat dihindarkan, apa boleh buat! Janganlah

takut, Kanda! Hamba di muka kelak," jawab Sutan Hamzah

dengan garangnya. "Tentu saja ia selalu tiada beruang dan dirundung

susah sedemikian itu; sebab bodoh dan gila. Apakah

sebabnya ditanggung, yang tak perlu ditanggung dan disuruh

pula menuntut ilmu ke mana-mana. Itulah yang dikatakan orang:

Tak beban, batu digalas. Siapa yang mau berbuat sedemikian,

waktu ini? Hanya ia sendiri. Pada sangkanya, akan dipuji orang

perbuatannya ini. Tidak diketahuinya, bahwa ia dicerca dan

ditertawakan orang dari belakang.

Dan apakah sebabnya ia tak mau menerima segala jemputan

orang dan tak suka beristri banyak? Bukankah itu sekaliannya

duit saja! Apabila tiap-tiap kawin, ia beroleh uang jemputan dua

ratus atau tiga ratus rupiah, tak perlu ia makan gaji lagi? Kalau

habis duit, kawin lagi. Apakah salahnya dan susahnya beristri

dan beranak banyak? Karena laki-laki bangsawan tak perlu

memelihara dan membelanjai anak istrinya. Sekaliannya itu

tanggungan orang lain. Apa gunanya bangsa dan pangkat yang

tinggi, kalau tiada akan beroleh hasil?

Coba lihat hamba! Walaupun tiada mempunyai pekerjaan,

makan tak kurang, kocek pun tak kosong. Apabila hamba datang

ke rumah istri hamba, makanan yang lezat citarasanya telah

tersedia: pakaian yang bersihpun, demikian pula. Jika berjalan,

kocek diisi: rokok dan segala keperluan hamba yang lain, diberi.

Ingin hamba hendak berbendi pada petang hari, bendi mentua

hamba telah tersedia; segala kesukaan diadakan, segala kemauan

tiada dilarang. Apa lagi yang dikehendaki? Bukankah bodoh,

laki-laki yang tak suka kepada adat istiadat yang sedemikian?"

"Memang engkaulah saudaraku yang sesungguh-sungguhnya,

membangkitkan batang terendam, yang tahu adat istiadat dan

menjunjung tinggi pusaka nenek moyang kita dan tahu menghargakan

ketinggian kebangsawanan kita dan menjalankan

kewajiban kepada saudara dan kemenakannya," kata putri

Rubiah, memuji-muji adiknya itu.

"Apa yang hamba susahkan?" kata Sutan Hamzah pula.

"Biarpun berpuluh istri hamba, beratus anak hamba, belanja tak

perlu hamba keluarkan dari kocek hamba, sebab istri hamba ada

orang tua dan mamaknya. Demikian pula anak hamba, bukan

tanggungan hamba. Apabila mentua hamba tiada cakap atau

tiada sudi lagi membelanjai hamba, hamba ceraikan anaknya dan

hamba kawini perempuan lain, yang mampu; tentu dapat hamba

uang jemputan dua tiga ratus rupiah dan berisilah pula kocek

hamba. Bukan sebagai kakanda Mahmud; jangankan mendapat

uang, bahkan berugi dan berhabis uang pula ia. Mengapakah tak

dipergunakan bangsa dan pangkatnya yang tinggi itu? Sedang

sekarang, anaknya masih seorang dan istrinya seorang pula,

sudah tak dapat ia berkata apa-apa lagi. Bagaimanakah halnya

kelak, apabila anak dan istrinya sebanyak anak dan istri hamba?

Jangan-jangan mati di jalan besar sendiri saja ia. Karena hamba,

walaupun muda dari padanya, tetapi telah sepuluh orang istri

hamba dan delapan belas orang anak hamba. Sungguhpurt

demikian, hamba tiada susah, tiada kekurangan uang, tiada

meminjam ke sana ke mari. Lebih banyak anak, bukankah lebih

baik, lebih kembang biak dan lebih banyak pula orang yang

berbangsa di Padang ini. Dalam Quran pun diizinkan beristri

sampai empat orang sekali. Apakah sebabnya tak diturutnya itu,

kalau benar ia orang Islam'? Katanya ia cerdik pandai, sebab

bersekolah dan berpangkat tinggi; tetapi kepandaiannya itu

menyusahkan dirinya sendiri. Bukankah lebih baik bodoh

sebagai hamba ini, tetapi tak pernah susah dan menyusahkan

orang.

Anaknya disuruhnya sekolah ini dan sekolah itu, belajar ini

dan belajar itu, akhirnya ia akan menjadi apa? Menjadi raja, tak

dapat. Walaupun berpangkat setinggi apa sekalipun, jika masih

makan gaji masih di bawah perintah orang; berbuat sekehendak

hati tak boleh. Segala perintah dari atas, harus diturut. Biar

malam ataupun siang, biar sakit ataupun senang, lamun

pekerjaan harus dikerjakan; tak boleh mengatakan tidak. Kalau

enggan bekerja, tentu akan diperhentikan dari pekerjaan atau

mendapat nama yang kurang baik. Tetapi hamba, bebas sebagai

burung di udara; tak ada yang melarang dan menyuruh, boleh

berbuat sekehendak hati: Beraja di hati, bersutan di mata hamba

sendiri. Hendak pun tidur selama-lamanya atau duduk bercakapcakap

saja atau bersuka-sukaan sehari-hari, berjalan ke manamana,

tak ada yang membantah. Oleh karena itu benarkah orang

yang berilmu dan berpangkat tinggi itu lebih senang daripada

orang yang bodoh dan berpangkat rendah? Di sini ada contohnya,

tak perlu mengambil misal jauh jauh. Perbandingkanlah

Kakanda Mahmud dengan hamba.

Anaknya Samsu itu memang harus disekolahkannya ke

mana-mana, untuk menuntut ilmu yang tinggi-tinggi, sebab jika

tak demikian, tentulah anak itu tiada akan menjadi orang kelak.

Orang yang sebagai dia, harus membanting tulang, jika tak kaya;

sebab bangsanya kurang. Tetapi pada pikiran hamba, walaupun

tak menjadi orang anak itu, apa peduli kita? Bukan tanggungan

kita. Yang akan malu, mamaknya. Oleh sebab itu tak habis pikir

hamba mengapa tidak mamaknya yang memajukan anak itu?

Lagi pula kesalahan siapa, Kanda Mahmud sampai beroleh anak

itu? Siapa yang menyuruh dia kawin dengan perempuan biasa

itu? Kurangkah putri-putri yang baik di Padang ini? Apa gunanya

memandang rupa saja, kalau bangsa tak ada? Coba kalau ia

kawin dengan putri bangsawan, niscaya anaknya takkan turun

bangsanya, tetap sutan. Sekarang anaknya hanya marah."

"Itulah yang menjadikan heran hatiku; tak dapat kupikirkan

bagaimana ingatannya sekarang ini. Bukankah telah adat nenek

moyang kita, yang sebagai itu? Mengapa tiada hendak diturutnya?

Malu aku rasanya mempunyai saudara sedemikian ini.

Orang yang tak tahu niscaya akan bersangka saudarakulah yang

tak laku kepada perempuan; barangkali karena ada cacatnya.

Tatkala kunyatakan kepadanya sesat pikirannya ini, jawabnya,

"Binatang yang beristri banyak." Coba kaupikir! Adakah patut

jawaban yang seperti itu dikeluarkannya di hadapanku?" kata

putri Rubiah pula.

"Demikian jawabnya?" tanya Sutan Hamzah dengan merah

mukanya.

"Sungguh," jawab putri Rubiah.

"Jadi binatanglah sekalian laki-laki yang ada di Padang ini!

Sebab sekaliannya beristri banyak. Hanya ia sendiri yang beristri

seorang. Jika demikian katanya, sesungguhnyalah pikirannya

telah bertukar dan otaknya telah miring. Barangkali telah

termakan perbuatan orang*), sehingga lupalah ia akan dirinya

dan jalan yang benar," sahut Sutan Hamzah, seraya menggelenggelengkan

kepalanya.

"Pikiranmu sesuai benar dengan pikiranku. Rasa hatiku

memang telah "berudang di balik batu," kata putri Rubiah pula,

* Kena ramuan guna-guna (pekasih)

sambil menoleh kepada saudaranya.

"Sekarang tahulah hamba, apa sebabnya ia sebagai benci saja

melihat kita. Sedangkan pekerjaan hamba sehari-hari dicelanya."

sahut Sutan Hamzah.

"Pekerjaan apa?" tanya putri Rubiah pula.

"Katanya tak patut seorang bangsawan berjudi dan

rnenyabung ayam. Bukankah itu permainan anak raja dan

saudagar yang kaya-kaya? Yang tak beruang dan tak berbangsa

itulah yang bekerja, menerima upah dari orang lain; takut kalaukalau

mati kelaparan. Tetapi hamba, masakan sedemikian?"

jawab Sutan Hamzah.

"Tentu," kata putri Rubiah, "orang yang berbangsa tinggi, tak

perlu bekerja mencari penghidupan, melainkan bersuka-sukaan

itulah kerjanya.

Tetapi sekarang marilah kita bicarakan, apa akal kita tentang

hal si Mahmud ini. Bagaimanakah baiknya pada pikiranmu,

supaya ia menjadi biasa kembali? Karena walau bagaimana

sekalipun, ia saudara kita juga, tak dapat kita tidakkan; sekalian

orang tahu. Apabila ada terjadi apa-apa atas dirinya, tentu kita

akan terbawa-bawa juga dan nama kita pun akan bercacatlah.

Jika kita bencanakan dia, menjadi sebagai: menepuk air di

dulang pekerjaan kita itu; muka kita sendiri juga yang akan

basah.

Kalau benar ia telah kena "perbuatan" orang, seharusnya kitalah

yang akan mengobatinya. Itulah kewajiban orang bersaudara.

Jangan kita musuhi dia, sebab tentulah akan bertambah-tambah

penyakitnya, karena dari kanan dan dari kiri, tak dapat

pertolongan. Kalau timbul sesuatu kecelakaan atas dirinya, tetapi

hendaknya—malang tersebut, mujur yang datang—, misalnya ia

meninggal dunia atau sakit, bukan istrinya itu yang akan

bersusah payah melainkan kita. juga. Sungguhpun demikian,

oleh si Penghulu tiada diingatnya itu. Sekarang apa akalmu?"

tanya putri Rubiah.

"Baiklah kita cari dukun yang pandai untuk mengobatinya."

"Tahukah engkau seorang dukun yang pandai?"

"Tahu, rumahnya dekat di sini, Juara Lintau gelarnya."

"Adakah ia sekarang di rumahnya gerangan? Cobalah suruh

lihat oleh si Abu! Barangkali ada di rumah. Biarlah kini kita

suruh datang ia kemari, supaya bangat pekerjaan ini."

"Abu!" teriak Sutan Hamzah.

Tatkala datang bujang Abu, berkatalah Sutan Hamzah perlahan-

lahan kepadanya, sebagai takut ia perkataannya akan terdengar

oleh orang lain, "Abu, coba engkau pergi sebentar ke

rumah Juara Lintau! Kalau ia ada di rumah, mintalah datang

sebentar kemari, sebab ada keperluan yang hendak dibicarakan

dengan dia. Akan tetapi, apabila ada orang lain di sana, tunggulah

sampai orang itu pulang, supaya jangan ada orang yang tahu

engkau memanggil Juara ini."

"Baiklah, Engku Muda," jawab si Abu, lalu berangkat.

"Kalau ia datang, hendaklah lebih dahulu kausuruh tenungkan

olehnya, benarkah si Penghulu kena ilmu orang atau tidak.

Kalau benar, suruhlah obati, supaya terlepas ia daripada perbuatan

orang itu. Kemudian hendaklah kausuruh kerjakan pula,

supaya ia benci kepada istrinya," kata putri Rubiah perlahanlahan.



0 Response to "SIti Nurbaya : Kasih Tak Sampai1"

Post a Comment