HOME

Saturday, June 2, 2012

Sengsara Membawa Nikmat

Tulis St. Sati

1. Bermain Sepak Raga
WAKTU asar sudah tiba. Amat cerah hari petang itu. Langit
tidak berawan, hening jernih sangat bagusnya. Matahari
bersinar dengan terang, suatu pun tak ada yang mengalanginya.
Lereng bukit dan puncak pohon-pohonan bagai disepuh rupanya.
Tetapi lembah dan tempat yang kerendahan buram
cahayanya. Demikianlah pula sebuah kampung yang terletak
pada sebuah lembah, tidak jauh dari Bukittinggi.
Dalam sebuah surau, di tepi sungai yang melalui kampung
itu, kedengaran orang berkasidah. Suaranya amat merdu, turun
naik dengan beraturan. Apa-lagi karena suara itu dirintangi
bunyi air sungai yang mengalir, makin enak dan sedap pada
pendengaran. Seakan-akan dari dalam sungai suara itu
datangnya. Hilang-hilang timbul, antara ada dengan tiada.
"Akan menjadi orang laratkah engkau nanti, Midun?" ujar
seseorang dari halaman surau sambil naik. "Bukankah berlagu
itu mengibakan hati dan menjauhkan perasaan? Akhir kelaknya
badan jauh jua karenanya."
"Tidak, Maun," jawab orang yang dipanggilkan Midun itu,
seraya meletakkan tali yang dipintalnya, "saya berkasidah
hanya perintang-rintang duduk. Tidak masuk hati, melainkan
untuk memetahkan lidah dalam bahasa itu saja. Dari manakah
engkau?"
"Dari pasar. Tidakkah engkau tahu, bahwa petang ini diadakan
permainan sepak raga? Mari kita ke pasar, kabarnya sekali
ini amat ramai di sana, sebab banyak orang datang dari
kampung lain!"
"Sudah banyakkah orang di pasar engkau tinggalkan tadi?"
"Banyak juga jenang pun sudah datang. Waktu saya tinggalkan,
orang sedang membersihkan medan."
"Si Kacak, kemenakan Tuanku Laras, sudah datangkah?"
"Belum, saya rasa tentu dia datang juga, sebab dia suka
pula akan permainan sepak raga."
Midun menarik napas. Maka ia pun berkata pula, katanya,
"Ah, tak usah saya pergi, Maun. Biarlah saya di surau saja
menyudahkan memintal tali ini akan dibuat tangguk."
"Apakah sebabnya engkau menarik napas? Bermusuhankah
engkau dengan dia?" ujar Maun dengan herannya.
"Tidak, kawan. Tapi kalau saya datang ke sana, boleh jadi
mendatangkan yang kurang baik."
"Sungguh, ajaib. Bermusuh tidak, tapi boleh jadi
mendatangkan yang tidak baik. Apa pula artinya itu?"
"Begini! Maun! Waktu berdua belas di masjid tempo hari,
bukankah engkau duduk dekat saya?"
"Benar."
"Nah, adakah engkau melihat bagaimana pemandangan
Kacak kepada saya?"
"Tidak."
"Masa kenduri itu kita duduk pada deretan yang di tengah.
Kacak pada deret yang kedua. Engkau sendiri melihat ketika
orang kampung meletakkan hidangan di hadapan kita. Bertimbun-
timbun, hingga hampir sama tinggi dengan duduk kita.
Ada yang meletakkan nasi, cukup dengan lauk-pauknya pada
sebuah talam. Ada pula yang meletakkan penganan dan lainlain
sebagainya, menurut kesukaan orang yang hendak bersedekah.
Tetapi kepada Kacak tidak seberapa, tak cukup
sepertiga yang kepada kita itu."
"Hal itu sudah sepatutnya, Midun. Pertama, engkau seorang
alim. Kedua, engkau disukai dan dikasihi orang kampung ini.
Oleh Kacak hanya derajatnya jadi kemenakan Tuanku Laras
saja yang dimegahkannya. Tentang tingkah laku dan perangainya
tidak ada yang akan diharap. Memang dia kurang disukai
orang di seluruh kampung ini."
"Sebab itulah, maka suram saja mukanya melihat hidangan
di muka kita. Ketika ia melayangkan pemandangannya kepada
saya, nyata benar terbayang pada muka Kacak kebenciannya.
Cemburu dan jijik agaknya dia kepada saya."
"Suka hatinyalah. Bukankah hal itu kemauan orang
kampung. Apa pula yang menyakitkan hatinya kepadamu?"
"Benar katamu, suka hatinyalah. Tapi harus engkau ingat
pula sebaliknya. Kita ini hanya orang kebanyakan saja, tapi dia
orang bangsawan tinggi dan kemenakan raja kita di kampung
ini. Tidakkah hal itu boleh mendatangkan bahaya?"
"Mendatangkan bahaya? Bahaya apa pulakah yang akan tiba
karena itu? Segalanya akan menjadi pikiran kepadamu. Apa
gunanya dihiraukan, sudahlah. Marilah kita pergi bersamasama!"
"Patut juga kita pikirkan, mana yang rasanya boleh mendatangkan
yang kurang baik kepada diri. Tetapi kalau engkau
keras juga hendak membawa saya, baiklah."
"Ah, belum tumbuh sudah engkau siangi. Terlampau arif diri
binasa, kurang arif badan celaka. Engkau rupanya terlalu arif
benar dalam hal ini. Lekaslah, tidak lama lagi permainan akan
dimulai orang."
Maka kelihatanlah dua orang sahabat berjalan menuju arah
ke pasar di kampung itu. Midun ialah seorang muda yang baru
berumur lebih kurang 20 tahun. Ia telah menjadi guru tua di
surau. Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu
menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.
Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat. Tiada lama
berjalan mereka keduapun sampailah ke pasar. Didapatinya
orang sudah banyak dan permainan sepak raga tidak lama lagi
akan dimulai.
Adapun pasar di kampung itu terletak di tepi jalan besar.
Pada seberang jalan di muka pasar, berderet beberapa buah
rumah dan lepau nasi. Di belakang rumah-rumah itu mengalir
sebuah sungai, Pasar itu diramaikan hanya sekali sepekan, yaitu
tiap-tiap hari Jumat. Itu pun ramainya hanya hingga tengah
hari saja. Oleh sebab itu, segala dangau-dangau diangkat
orang. Tetapi dangau-dangau yang sebelah ke tepi pasar dibiarkan
tertegak. Gunanya ialah untuk orang musafir atau siapa
saja yang suka bermalam di situ, atau untuk berlindung daripada
panas akan melepaskan lelah dalam perjalanan dan lainlain
sebagainya. Lain. daripada hari Jumat, pasar itu dipergunakan
orang juga untuk bermain sepak raga, rapat negeri,
dan lain-lain.
Ketika Midun kelihatan oleh beberapa orang muda di pasar
itu, mereka itu pun datanglah mendapatkannya. Mereka itu
semuanya amat bergirang hati melihat Midun. Begitu pula
ketika ia bersalam dengan orang-orang tua yang duduk berkelompok-
kelompok di situ, nyata terbayang pada muka orangorang
itu kesenangan hatinya.
Apakah sebabnya demikian?
Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di
kampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan
santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar;
tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik
hati, penyayang dan pengasih, jarang orang yang sebaik dia
hatinya. Sabar dan tak lekas marah, serta tulus ikhlas dalam
segala hal. Hati tetap dan kemauannya keras; apa yang dimaksudnya
jika tidak sampai, belum ia bersenang hati. Adalah
pula padanya suatu sifat yang baik, yakni barang siapa yang
berdekatan atau bercampur dengan dia, tak dapat tiada senang
hatinya, hilang sedih hati olehnya. Karena itu, tua muda, kecil
besar di kampung itu kasih dan sayang kepada Midun. Hampir
semua orang di kampungnya kenal akan dia. Sebab itu namanya
tergantung di bibir orang banyak, dan budi pekertinya diambil
orang jadi teladan.
Orang sudah banyak di pasar, di sana-sini kelihatan orang
duduk berkelompok-kelompok. Orang yang akan menonton permainan
sepak raga pun sudah banyak pula datang. Anak-anak
sudah berlarian ke sana kemari, mencari tempat yang baik
untuk menonton. Ada pula di antara mereka itu yang bermainmain,
misalnya berkucing-kucing, berkuda-kuda dan lain-lain,
menanti permainan dimulai. Segala orang di pasar itu rupanya
gelisah, tidak senang diam. Sebentarsebentar melihat ke jalan
besar, sebagai ada yang dinantikannya.
Tidak berapa lama antaranya, kelihatan seorang muda
datang menuju ke pasar itu. Ia bercelana batik, berbaju Cina
yang berkerawang pada saku dan punggungnya. Kopiahnya
sutera selalu, berterompah dan bersarung kain Bugis. Sungguh,
tampan dan alap benar kelihatannya dari jauh. la berjalan
dengan gagah dan kocaknya, apalagi diiringkan oleh beberapa
orang pengiringnya.
"Itu dia Engku Muda Kacak sudah datang," kata Maun kepada
kawan-kawannya.
Mendengar perkataan Maun, orang yang duduk berkelompok-
kelompok itu berdiri. Setelah Kacak sampai ke pasar,
semuanya datang bersalam kepadanya. Sungguhpun Kacak
masih berumur 21 tahun lebih, tetapi segala orang di pasar itu,
baik tua ataupun muda, sangat hormat kepadanya dan dengan
sopan bersalam dengan dia. Tetapi mereka ber-salam tidak sebagai
kepada Midun, melainkan kebalikannya. Mereka itu
semuanya seolah-olah terpaksa, sebab ada yang ditakutkannya.
Sudah padan benar nama itu dilekatkan kepadanya, karena
bersesuaian dengan tingkah lakunya. la tinggi hati, sombong,
dan congkak. Matanya juling, kemerah-merahan warnanya.
Alisnya terjorok ke muka, hidungnya panjang dan bungkuk. Hal
itu sudah menyatakan, bahwa ia seorang yang busuk hati. Di
kampung itu ia sangat dibenci orang, karena sangat angkuhnya.
Perkataannya kasar, selalu menyakitkan hati. Adat sopan
santun sedikit pun tak ada pada Kacak. Ke mana-mana berjalan
selalu ia pakai pengiring. Bahkan di dalam pemerintahan ia pun
campur pula, agaknya lebih dar'r mamaknya. Sungguhpun
demikian, seorang pun tak ada yang berani menegurnya, karena
orang takut kepada Tuanku Laras. Kacak pun seolah-olah tahu
pula siapa dia: karena itu ia selalu menggagahkan diri di
kampung itu.
"Sudah sepetang ini hari, belum jugakah jenang datang ke
medan?" ujar Kacak dengan agak keras, sambil melayangkan
pemandangannya, seakan-akan mencari seseorang dalam orang
banyak yang datang bersalaman kepadanya itu.
"Sudah, Engku Muda;" ujar Maun dengan sopan. "Itu beliau di
dalam lepau nasi sedang bercakap-cakap. Agaknya beliau
menantikan kedatangan Engku Muda saja lagi."
"Katakanlah saya sudah datang!" ujar Kacak pula dengan
pongahnya. "Sudah hampir terbenam matahari gila membual
juga."
Tidak lama antaranya, keluarlah seorang yang agak tua dan
bertubuh tegap dari dalam sebuah lepau nasi. Orang itu ialah
jenang permainan sepak raga. Baru saja dilihatnya Kacak,
segera ia datang mendapatkannya. Sambil bersalam jenang
berkata, katanya, "Sudah
lama Engku Muda datang?".
"Lama juga," jawab Kacak dengan muka masam. "Apakah
sebabnya tidak dimulai juga bermain sepak raga? Akan
dinantikan terbenamnya matahari dulu, maka dimulai?"
"Ah, kami sudah dari tadi datang," ujar jenang dengan
hormat, "hanya menantikan Engku Muda saja lagi."
"Mengapa tidak dimulai saja dulu? Sungguh, jika tak ada
saya rupanya takkan jadi permainan ini."
Segala penonton sudah duduk pada tempatnya masingmasing,
yang telah disediakan oleh pengurus medan itu
sebelum bermain. Maka jenang pun pergilah bersalam kepada
beberapa orang penonton yang terpandang, yang maksudnya
tidak saja memberi selamat datang, tetapi seolah-olah
meminta izin juga, bahwa permainan akan dimulai.
"Rupanya banyak juga orang datang dari jorong lain hendak
bermain hari ini," ujar seorang penghulu ketika bersalam
dengan jenang.
"Benar, Datuk," ujar jenang. "Sungguh, luar biasa ramainya
sekali ini."
Setelah jenang masuk ke tengah medan, maka segala
pemain pun datanglah bersalam dengan hormatnya, akan
mengenalkan diri masing-masing. Kemudian segala pemain
berdiri berkeliling, membuat sebuah bundaran di medan itu.
Jenang yang berdiri di tengah medan, lalu melihat berkeliling,
memperhatikan pemain yang berdiri di medan itu.
"Engku Muda Kacak!" kata jenang sekonyong-konyong, "Permainan
akan kita mulai."
Perkataan jenang yang demikian itu sudah cukup untuk
menjadi sindiran kepada pemain, agar segera memperbaiki kesalahannya.
Kacak kemalu-maluan, tetapi apa hendak dikatakan,
karena di medan itu jenang lebih berkuasa daripada dia.
Dengan muka merah dan menggigit bibir karena malu dapat
teguran jenang, Kacak melihat ke kiri-ke kanan, ke muka dan
ke belakang, lalu memperbaiki tegaknya. Segala pemain yang
lain insaf pula akan arti sindiran itu, lalu mereka memperhatikan
betul tidaknya tempat ia berdiri. Syukurlah hanya
Kacak seorang yang tidak sempurna tegaknya di medan itu.
Sesudahnya jenang memperbahasakan tamu, yaitu memberikan
raga supaya disepakkan lebih dulu, permainan pun dimulailah.
Jenang menyepak raga, lalu berkata, "Bagian Engku
Muda Kacak!"
Maka Kacak pun bersiap menanti raga. Dengan tangkas, raga
itu disepaknya tinggi ke atas, lalu berkata, "Bagianmu, Midun!"
Midun bersiap serta memandang ke arah suara itu datang.
Nyata kepadanya, bahwa yang berseru itu Kacak. Dengan tidak
menanti anak raga, lalu Midun mempertubi-tubikan sepaknya
sampai sepuluh kali. Sudah itu disepakkannya pula ke arah
Kacak, lalu berkata, "Sambutlah kembali, Engku Muda!"
Kacak melihat hal Midun dengan kepandaiannya itu tidak
bersenang hati. Ia berkata dalam hatinya, "Berapa kepandaianmu,
saya lebih lagi dari engkau."
Ketika raga tinggi melambung, ia memandang ke atas serta
menganjur langkah ke belakang. Maksudnya akan mencari
alamat, dan hendak melompat sambil menyepak raga, tetapi
celaka! Ketika ia akan menyepak; kakinya yang sebelah kiri
tergelincir, lalu Kacak... bab, jatuh terenyak. Segala yang
main, baik pun si penonton semuanya tersenyum sambil
membuang muka. Mereka itu seakan-akan menahan tertawanya.
Oleh karena itu, tak ada ubahnya sebagai orang sakit gigi
tertawa. Sebabnya, ialah karena orang segan dan takut kepada
kemenakan Tuanku Laras itu. Waktu Kacak terduduk, dan
warna mukanya itu pucat menahan sakit, seorang daripada
mereka yang main itu bernama Kadirun berkata, katanya,
"Cempedak hutan!"
Adapun Kadirun itu ialah teman Midun semasa kecil. Ia amat
pandai membuat orang tertawa. Tak ada ubahnya sebagai alanalan
(badut) pada komidi. Jangankan mendengar perkataannya,
melihat rupanya saja pun orang sudah hendak tertawa. Kadirun
adalah seorang muda yang sabar. Biarpun bagaimana juga
diolok-olokkan orang, ia tertawa saja. Meskipun orang marah
kepadanya, tetapi manakala berhadapan dengan dia, tak dapat
tiada tertawa. Memang sudah menjadi sifat padanya tabiat itu
sejak kecil. Hampir semua orang di kampung itu sudah
mengetahui perangai Kadirun yang demikian.
Kawan-kawan Kadirun waktu masih kanak-kanak dahulu,
lebih kurang ada sepuluh orang yang hadir di sana. Mereka itu
mengerti apa maksud Kadirun berkata begitu. Semuanya
terkenang akan kejadian semasa mereka masih kecil itu, ketika
menggembalakan kerbau di hutan. Karena itu tidak tertahan
lagi perut mereka itu hendak tertawa. Kesudahannya lepas jua,
mereka tertawa gelak-gelak mengenangkan perbuatan masa
dahulu.
Kacak bertambah pucat mukanya karena malu. Apalagi
dalam permainan itu, ia dialahkan Midun. Tubuhnya berasa
sakit terjatuh. Pada pikiran Kacak orang tertawa itu
mengejekkannya. Sekonyong-konyong merah padam mukanya.
Darahnya mendidih, sebab marah. Maka diturutnya Kadirun
akan menanyakan, apa maksud perkataan "cempedak hutan"
itu. Kadirun anak muda yang sabar itu menjawab katanya,
"Tanyakan kepada Midun apa maksudnya, Engku Muda!"
Mendengar perkataan itu, Kacak makin meradang. Hatinya
bertambah panas, lebih-lebih mendengar nama orang yang
dikatakan Kadirun itu, orang yang tidak disukainya. Sejak
kenduri di masjid, hatinya sudah mulai benci kepada Midun.
Dengan tidak berkata-kata lagi, lalu diturutnya Midun.
Ketika ia sampai di hadapan Midun, kebetulan Midun sedang
tersenyum. Pada pikiran Kacak menertawakannya. Ia tidak bertanya
lagi, terus ditinjunya. Midun mengelak, ia tak kena.
Kacak menyerang berturut-turut, tetapi Midun selalu mengelak
diri, sambil undur ke belakang. Kesudahannya Midun tersesak
ke balai-balai dangau, lalu bertalian. Kacak menyerbukan diri
dengan deras. Midun melompat dan mengelak ke kiri. Karena
deras datang, tangannya tertumbuk ke tonggak dangau.
Tonggak dangau itu rebah, Kacak terdorong ke dalam, diimpit
oleh atap dangau itu. Orang tertawa karena geli melihat kepala
Kacak tersembul pada atap rumbia. Jenang lalu melompat akan
melerai perkelahian itu. Makin disabarkan, makin keras Kacak
hendak menyerang. Midun sabar saja, sedikit pun tak ada
terbayang hati marah pada mukanya.
Setelah Kacak disabarkan, Midun disuruh orang menerangkan
apa arti kata "cempedak hutan" yang dikatakan Kadirun itu.
Midun mencari Kadirun dengan matanya di dalam orang banyak,
akan menyuruh menerangkan arti perkataan itu. Tetapi ketika
perkelahian terjadi, Kadirun sudah melarikan diri karena
ketakutan.
Midun berkata, katanya, "Kawan-kawan saya tertawa itu
sekali-kali tidak menertawakan Engku Muda Kacak. Tentu saja
mereka itu tidak berani menertawakannya. Mereka tertawa
karena mengenangkan perangainya semasa kanak-kanak.
Dahulu waktu kami kecil-kecil, pergi menggembalakan kerbau
ke hutan. Sampai dalam hutan, kami duduk saja di atas
punggung kerbau masing-masing. Sambil memberi makan
kerbau kami bernyanyi dan bersenda gurau sesuka-suka hati.
Karena pekerjaan itu tidak berfaedah, melainkan menghabiskan
hari saja, saya ajak kawan-kawan mufakat di bawah sepohon
kayu yang rindang. Saya katakan kepadanya, daripada bernyanyi,
lebih baik kita mencari hasil di hutan itu. Kawan-kawan
tidak mau, karena mereka takut kerbaunya diserang binatang
buas. Maka saya terangkanlah kepada mereka itu bagaimana
cerita ayah saya tentang keinginan kerbau menjaga diri dalam
hutan. Saya katakan juga, manakala kerbau diserang harimau
misalnya, tidaklah akan terjaga, sebab kita semuanya masih
kanak-kanak.
Mendengar saya mengatakan 'harimau', apalagi di dalam
hutan, kawan-kawan saya ketakutan. Mereka melarang saya
menyebut nama itu sekali lagi. Jika saya hendak menyebut
juga, disuruhnya panggilkan saja 'inyi!' Perkataan kawan-kawan
saya itu saya bantah pula. Sedangkan nama Allah disebut orang,
istimewa nama binatang. Apalagi binatang itu tidak akan
mengerti perkataan orang.
Dalam pada saya bercerita itu, tiba-tiba kedengaran bunyi
sebagai barang jatuh dua kali. Bunyi itu kedengaran tidak jauh
daripada kami. Kawan-kawan saya terkejut dan kecut hatinya.
Pada persangkaan mereka, tak dapat tiada harimau yang
melompat. Mereka itu duduk berdesak-desak, masing-masing
hendak ke tengah akan melindungi diri. Berimpit-impit tidak
bertentu lagu. Kelihatan tak ada ubahnya sebagai onggokan
kecil. Seorang pun tak ada yang berani mengeluarkan perkataan,
karena lidahnya sudah kaku dan mulut terkatup. Saya
pun sudah tersepit di tengah-tengah, hampir tidak dapat
bernapas lagi. Dengan segera saya terangkan, bahwa hal itu tak
usah ditakutkan sebelum diperiksa dahulu. Lalu sayapun pergilah
ke arah bunyi itu datang, akan melihat apa yang menyebabkan
bunyi itu.
Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya 'cempedak
hutan' yang baru jatuh. Ketika itu timbullah pikiran saya
hendak memperolok-olokkan kawan-kawan. Saya ambil kedua
cempedak itu, lalu saya berjalan perlahan-lahan ke tempat
kawan-kawan saya. Setelah dekat, saya lemparkan kedua
cempedak itu, sambil berseru, 'Koyak, makan cempedak hutan!'
Mereka itu berjeritan dan bersiap hendak lari. Tetapi kaki
mereka itu tak dapat lagi diangkatnya, sebab sudah kaku
karena ketakutan. Sekonyong-konyong Maun berseru, katanya,
'Jangan lari, kawan, cempedak hutan kiranya.'
Sudah itu berbagai-bagailah senda gurau untuk menghilangkan
ketakutan kami. Lebih-lebih Kadirun yang membuat ulah
ini, selalu kami perolok-olokan dengan cempedak hutan itu.
Sakit-sakit perut kami tertawa melihat tingkah lakunya yang
amat menggelikan hati itu.
Demikianlah kisah kami dengan cempedak hutan masa kami
kecil-kecil itu. Jadi nyatalah kepada Engku Muda Kacak ataupun
sanak-saudara yang lain, bahwa kami tidak menertawakan
Engku Muda, melainkan tertawa mengenangkan perangai
dahulu jua."
Segala orang yang mendengarkan cerita itu jangankan diam,
semakin jadi tertawanya. Amat geli hati orang mendengar
cerita Midun itu. Kacak mendengar orang makin bernyala-nyala.
Rasakan hendak ditelannya Midun ketika itu. Pada pikirannya,
jangankan Midun mendiamkan tertawa orang, tetapi seakanakan
mencari-cari perkataan akan menggelikan hati, supaya
orang makin jadi tertawa. Tetapi apa hendak dikatakan, ia
terpaksa berjalan dari tempat itu karena malu. Akan berkelahi
sekali lagi, tentu tidak dibiarkan orang. Dengan pemandangan
yang amat tajam kepada Midun, Kacak pun pulanglah ke
rumahnya.
Permainan sepak raga dihentikan, karena hari sudah jauh
petang. Maka orang di pasar itu pun pulanglah ke rumahnya
masing-masing. Midun pulang pula ke surau. Sepanjang jalan
tampaktampak olehnya pemandangan Kacak yang amat dalam
pengertiannya itu. Hatinya berdebar-debar, khawatir kalaukalau
hal itu menjadikan tidak baik kepadanya. Tetapi
kemudian timbul pula pikirannya, dan berkata dalam hati, "Ah,
tidak berutang tak membayar, tidak berpiutang tak menerima,
masakan saya akan dimusuhinya. Karena perangai Kadirun saya
akan dimusuhinya, tidak boleh jadi. Lagi pula masakan perkara
yang sekecil itu akan menjadikan dendam kepada Kacak."
2. Senjata Hidup
TIDAK lama antaranya, perkelahian Kacak dengan Midun sudah
tersiar ke seluruh kampung. Di lepau-lepau nasi dan pada tiaptiap
rumah, orang memperkatakan perkelahian itu saja.
Percakapan itu hanyak pula yang dilebih-lebihi orang. Yang
sejengkal sudah menjadi sehasta. Dari seorang makin
bertambah-tambah jua. Ada yang mengatakan, Kacak amat
payah dalam perkelahian itu, sehingga minta-minta air. Ada
pula yang berkata, Midun minta ampun, sebab takut kepada
Tuanku Laras, mamak si Kacak. Berbagai-bagailah perkataan
orang, ada yang begini, ada pula yang begitu, semau-maunya
saja, akan mempertahankan orang yang disukai dan
dikasihinya.
Anak-anak lebih-lebih lagi. Mereka itu berlari-lari pulang
akan memberitahukan apa yang telah terjadi di pasar hari itu.
Baru saja sampai di rumah, dengan terengah-engah karena
lelah berlari, ia menceritakan perkelahian itu kepada ibu dan
adiknya. Ada pula yang menjadikan pertengkaran dan perkelahian
kepada mereka itu, ketika mempercakapkan hal itu
dengan teman-temannya. Sebabnya, ialah karena anak-anak
murid Midun mengaji mengatakan, gurunya yang menang.
Tetapi yang bukan murid mengatakan Kacak yang berani. Belum
lagi terbenam matahari, mereka itu sudah datang ke surau. Di
halaman surau mereka itu duduk berkelompok-kelompok
mempercakapkan keberanian gurunya. Kadang-kadang keceknya
itu disertai pula dengan langkah kaki dan gerak tangan,
meniru-niru bagaimana perkelahian itu terjadi.
Tetapi orang yang berdiri sama tengah dan melihat dengan
matanya sendiri perkelahian itu, memuji kesabaran hati Midun.
Begitu pula ketangkasannya mengelakkan serangan Kacak,
sangat mengherankan hati orang. Mereka itu semuanya
menyangka, tak dapat tiada Midun ahli silat, kalau tidak
masakan sepandai itu benar ia mengalahkan serangan Kacak.
Tetapi di antara orang banyak yang melihat perselisihan Kacak
dengan Midun di pasar itu, ada pula yang amat heran
memikirkan kejadian itu. Apalagi melihat kemarahan hati
Kacak dan caranya menyerang Midun, menakjubkan hati orang.
Pada pikiran mereka itu, masakan sesuatu sebab yang sedikit


saja, menimbulkan amarah Kacak yang hampir tak ada
hingganya. Tentu saja hal itu ada ekornya, kalau tidak takkan
mungkin demikian benar kegusaran hati Kacak kepada Midun.
Memang sebenarnyalah pikiran orang yang demikian itu.
Sejak waktu masih kanak-kanak, sebelum mamak Kacak menjadi
Tuanku Laras, Midun dan Kacak sudah bermusuhan. Ketika
mereka masih kecil-kecil, acap kali terjadi pertengkaran,
karena berlainan kemauan. Hampir setiap bulan ada-ada saja
yang menyebabkan hingga mereka itu keduanya terpaksa
berkelahi, mengadu kekuatan masing-masing. Tetapi setelah
muda remaja dan telah berpikiran, maka keduanya sama-sama
menarik diri. Apalagi sejak mamak Kacak sudah menjadi
Tuanku Laras, Midun telah menjauhkan diri daripada Kacak,
dan ia sudah segan saja kepada kemenakan raja di kampung
itu.
Sekonyong-konyong ketika berdua belas di masjid, Kacak
sudah mulai benci kepada Midun. Kebencian itu lama-kelamaan
berangsur-angsur menjadikan dendam. Tidak saja karena waktu
berdua belas itu Kacak menaruh sakit hati kepada Midun, tetapi
ada pula beberapa sebab yang lain yang tidak menyenangkan
hatinya. Pertama, Midun dikasihi orang kampung, dia tidak,
padahal ia kemenakan kandung Tuanku Laras. Kedua, Kacak
mendengar kabar angin, bahwa Midun sudah mendapat
keputusan silat daripada Haji Abbas, tetapi dia sendiri minta
belajar, tidak diterima oleh Haji Abbas. Ketiga, dalam segala
hal kalau ada permufakatan pemuda-pemuda, Midun selalu
dijadikan ketua, tetapi dia disisihkan orang saja. Pendeknya, di
dalam pergaulan di kampung itu, Kacak terpencil hidupnya,
seakan-akan sengaja ia disisihkan orang.
Oleh karena itu pada pikiran Kacak, tak dapat tiada
sekaliannya itu perbuatan Midun semata-mata. Sesungguhnya,
jika tidak dipisahkan orang dalam perkelahian di pasar itu,
memang ia hendak menewaskan Midun benar-benar. Kebencian
dalam hatinya sudah mulai berkobar. Dan lagi karena
mendengar kabar Midun pandai bersiIat, dan dia sudah paham
pula dalam ilmu starlak, menimbulkan keinginan pula
kepadanya hendak mencobakan ketangkasannya kepada Midun.
Sebermula akan si Midun itu, ialah anak seorang peladang
biasa saja. Sungguhpun ayah Midun orang peladang, tetapi
pemandangannya sudah luas dan pengetahuannya pun dalam.
Sudah banyak negeri yang ditempuhnya, dan telah jauh rantau
dijalaninya semasa muda. Oleh sebab lama hidup banyak
dirasai, jauh berjalan banyak dilihat, maka orang tua itu
dapatlah memperbandingkan mana yang baik dan mana yang
buruk. Tahu dan mengertilah Pak Midun bagaimana caranya
yang baik menjalankan hidup dalam pergaulan bersama.
Dengan pengetahuannya yang demikian itu, dididiknyalah
anaknya Midun dengan hemat cermat, agar menjadi seorang
yang berbahagia kelak.
Setelah Midun akil balig, timbullah dalam pikiran Pak Midun
hendak menyerahkan anaknya itu belajar silat. Ia amat ingin
supaya Midun menjadi seorang yang tangkas dan cekatan. Pak
Midun merasa, bahwa silat itu berguna benar untuk membela
diri dalam bahaya dan perkelahian. Lain daripada itu, amat
besar faedah silat itu untuk kesehatan badan. Karena Pak
Midun sendiri dahulu seorang pandai silat, insaf benarlah ia
bagaimana kebaikan pergerakan badan itu untuk menjaga
kesehatan tubuh.
Ketika Pak Midun dahulu hendak menyerahkan anaknya,
dicarinyalah seorang guru yang telah termasyhur kepandaiannya
dalam ilmu silat. Maka demikian, menurut pikiran Pak
Midun, jika tanggung-tanggung kepandaian guru itu, lebih baik
tak usah lagi anaknya belajar silat. Seorang pun tak ada yang
tampak oleh Pak Midun, guru yang bersesuaian dengan
pikirannya di negeri itu. Lain daripada Haji Abbas, guru Midun
mengaji dan saudara sebapak dengan dia, tak ada yang berkenan
pada pikirannya. Tetapi sayang, sudah dua tiga kali
maksudnya itu dikatakannya, selalu ditolak saja oleh Haji
Abbas. Haji Abbas memberi nasihat: supaya Midun diserahkan
kepada Pendekar Sutan, adik kandungnya sendiri. Dikatakannya,
bahwa sudah tua tidak kuat lagi. Dan kepandaiannya
bersilat pun boleh dikatakan hampir bersamaan dengan
Pendekar Sutan.
Maka diserahkanlah Midun belajar silat oleh ayahnya kepada
Pendekar Sutan. Karena Pak Midun seorang yang tabu dan alif,
tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru, meskipun
tempat anaknya berguru itu adik sebapak dia. Pendekar
Sutan dipersinggah (dibawa, dijamu) oleh Pak Midun dengan
murid-muridnya ke rumahnya. Sesudah makan-minum, maka
diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu
silat, sebagaimana yang sudah dilazimkan orang di Minangkabau.
Syarat berguru silat itu ialah: beras sesukat, kain putih
sekabung, besi sekerat (pisau sebuah), uang serupiah, penjahit
(jarum) tujuh, dan sirih pinang selengkapnya.
Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya.
Arti dan wujudnya:
Beras sesukat, gunanya akan dimakan guru, selama mengajari
anak muda yang hendak belajar itu; seolah-olah mengatakan:
perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebab
hendak mencari penghidupan lain.
Kain putih sekabung, "alas tobat" namanya; maksudnya
dengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerima
pengajaran; samalah dengan kain itu putih dan bersih hati anak
muda itu menerima barang apa yang diajarkan guru. Ia akan
menurut suruh dan menghentikan tegah. Dan lagi mujur tak
boleh diraih, malang tak boleh ditolak, kalau sekiranya ia kena
pisau atau apa saja sedang belajar, kain itulah akan kafannya
kalau ia mati.
Besi sekerat (pisau sebuah) itu maksudnya, seperti senjata
itulah tajamnya pengajaran yang diterimanya dan lagi
janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat
pengajarannya.
Uang serupiah, ialah untuk pembeli tembakau yang diisap
guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu,
hampir searti juga dengan beras sesukat tadi.
Penjahit tujuh, artinya sepekan tujuh hari; hendaklah guru
itu tcrus mengajarnya, dengan pengajaran yang tajam seperti
jarum itu. Dan meski tujuh macamnya mara bahaya yang
tajam-tajam menimpa dia, mudah-mudahan terelakkan olehnya,
berkat pengajaran guru itu. Pengajaran guru itu menjadi
darah daging hendaknya kepadanya, jangan ada yang menghalangi,
terus saja seperti jarum yang dijahitkan.
Sirih pinang selengkapnya, artinya ialah akan dikunyah guru,
waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak
muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang
biasa di tanah Minangkabau.
Setelah beberapa lamanya Midun belajar silat kepada
Pendekar Sutan, maka tamatlah. Sungguhpun demikian Pak
Midun belum lagi bersenang hati. Pada pikirannya kepandaian
Midun bersilat itu belum lagi mencukupi. Yang dikehendaki Pak
Midun: belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas.
Artinya silat Midun seboleh-bolehnya haruslah berkesudahan
atau mendapat keputusan daripada seorang ahli silat yang
sudah termasyhur. Oleh sebab itu, ingin benar ia hendak
menyuruh menambah pengajaran Midun kepada Haji Abbas.
Di dalam ilmu silat, memang Haji Abbas sudah termasyhur
semana-mana di seluruh tanah Minangkabau. Sebelum ia pergi
ke Mekkah, amat banyak muridnya bersilat. Di antara muridnya
itu kebanyakan orang datang dari negeri lain. Tidak sedikit
guru-guru silat yang datang mencoba ketangkasan Haji Abbas
bersilat, semuanya kalah dan mengaku bahwa silat Haji Abbas
sukar didapat, mahal dicari di tanah Minangkabau. Karena
keahliannya di dalam ilmu silat itu, kendatipun ia tidur
nyenyak, jika dilempar dengan puntung apiapi saja, tak dapat
tiada barang itu dapat ditangkapnya.
Tidak hal yang demikian itu saja yang memasyhurkan nama
Haji Abbas perkara silat, tetapi ada lagi beberapa hal yang lain.
Semasa muda, ketika Haji Abbas dan Pak Midun berdagang
menjajah tanah Minangkabau, tidak sedikit cobaan yang telah
dirasainya. Acap kali ia disamun orang di tengah perjalanan,
diperkelahikan orang beramai-ramai. Tapi karena ketangkasannya,
segala bahaya itu dapat dielakkan Haji Abbas. Lebih-lebih
lagi yang makin menambah harum nama Haji Abbas, ketika ia
disamun orang Baduwi antara Jeddah dan Mekkah waktu dalam
perjalanan ke Tanah Suci. Lebih dari sepuluh orang, orang
Baduwi yang memakai senjata tajam hendak merampoknya;
dengan berteman hanya tiga orang saja dapat ditewaskannya.
Sungguhpun berteman boleh dikatakan Haji Abbas seoranglah
yang berkelahi dengan Baduwi itu. Tak dibiarkannya sedikit jua
segala Baduwi itu menyerang kawannya.
Dalam ilmu akhirat pun Haji Abbas adalah seorang ulama
besar. Memang sudah menjadi sifat pada Haji Abbas, jika
menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah. Sebelum
diketahuinya sampai ke urat-uratnya, belumlah ia bersenang
hati. Muridnya mengaji amat banyak. Baik anak-anak, baik pun
orang tua, semuanya ke surau Haji Abbas belajar agama. Tidak
orang kampung itu saja, bahkan banyak orang yang datang dari
negeri lain belajar mengaji kepada Haji Abbas. Oleh karena
Haji Abbas adalah seorang tua, yang lubuk akal gudang bicara,
laut pikiran tambunan budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti
orang di kampung itu.
Keadaan yang demikian itu diketahui Pak Midun belaka.
Itulah tali sebabnya maka besar benar keinginannya hendak
menambah pengajaran Midun bersilat kepada Haji Abbas.
Karena Haji Abbas selalu menolak permintaan Pak Midun,
dengan tipu muslihat dapat juga diikhtiarkannya Midun belajar
silat dengan dia.
Demikianlah ikhtiar Pak Midun:
Mula-mula Pak Midun bermufakat dengan Pendekar Sutan.
Dikatakanlah kepada Pendekar Sutan, bahwa ia hendak menipu
Haji Abbas. Sebabnya ialah karena Midun ingin hendak mendapat
sesuatu dari Haji Abbas, tetapi selalu ditolaknya saja.
Maka diceritakannyalah oleh Pak Midun bagaimana tipu yang
hendak disuruh lakukannya kepada Midun.
"Biarlah, Pendekar Sutan!" ujar Pak Midun, "bukankah silat
Midun sekarang sudah boleh dibawa ke tengah. Tidak akan
gampang lagi orang dapat mengenalnya. Meskipun dua-tiga
orang mempersama-samakan dia, belum tentu lagi ia akan
roboh. Oleh sebab itu, ketika Haji Abbas sedang tidur nyenyak
di surau, kita suruh lempar oleh Midun dengan ranting kayu.
Manakala Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu,
saat itulah Midun harus menyerang Haji Abbas."
"Saya pun sesuai dengan pikiran Pak Midun itu!" jawab
Pendekar Sutan. "Tetapi hal ini tidak boleh kita permudah saja.
Boleh jadi Midun dapat dikenalnya, karena Haji Abbas guru
besar dan sudah termasyhur silatnya. Sungguh, sebenarnya saya
agak khawatir memikirkannya."
"Tak usah dikhawatirkan. Hal itu pun sudah saya pikirkan
dalam-dalam. Tentu tidak akan kita biarkan Midun seorang diri
saja. Kita harus serta pula menemaninya, akan mengamatamati
kalau-kalau ada bahaya. Tetapi hendaklah kita
bersembunyi melihat kejadian itu."
"Kalau demikian, baiklah," kata Pendekar Sutan pula sambil
tersenyum. "Saya pun ingin benar hendak melihat ketangkasan
Haji Abbas, sebab dari dahulu saya hendak belajar kepadanya,
selalu ditolaknya pula, hingga terpaksa saya berjalan kian
kemari mencari guru silat."
Pada suatu hari, sesudah sembahyang lohor, kelihatanlah
Pak Midun, Pendekar Sutan dan Midun di surau Haji Abbas. Pak
Midun dan Pendekar Sutan bersembunyi di surau kecil di
sebelah. Waktu itu Haji Abbas sedang tidur nyenyak di mihrab,
karena sudah larut malam pulang dari mendoa semalam. Midun
pun bersiaplah, lalu melempar Haji Abbas dengan ranting kayu.
Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu. Ketika itu
Midun melompat dan dengan tangkas diserangnya Haji Abbas.
Maka terjadilah pada ketika itu... ya, perkelahian bapak
dengan anak. Tangkap-menangkap, empas-mengempaskan, tak
ubahnya sebagai orang yang berkelahi benar-benar.
Setelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu,
sekonyong-konyong Midun terempas agak jauh. Jika orang lain
yang tak pandai bersilat terempas demikian itu, tak dapat tiada
pecah kepalanya. Tetapi karena Midun pandai silat pula, tak
ada ubahnya sebagai kucing diempaskan saja. Ketika Haji Abbas
bersiap akan menanti serangan, tampak olehnya Midun. Haji
Abbas menggosok matanya, seolah-olah ia tidak percaya
kepada matanya. Ia sebagai orang bermimpi, dan amat heran
karena kejadian itu. Setelah beberapa lamanya, nyatalah
kepadanya bahwa sebenarnyalah Midun yang menyerang dia.
"Sudah bertukarkah pikiranmu, Midun?" ujar Haji Abbas tibatiba
dengan marah. "Hendak membunuh bapakmukah engkau?"
"Tidak, Bapak!" jatvab Midun dengan ketakutan. "Pikiran
saya masih sehat; ayah dan Bapak Pendekar ada di surau kecil
di sebelah."
"O, jadi mereka itukah yang menyuruh engkau melakukan
pekerjaan ini?" kata Haji Abbas pula dengan sangat marah. "Apa
maksudnya berbuat demikian ini? Bosankah ia kepadamu atau
bencikah kepadaku, supaya kita salah seorang binasa? Panggil
dia, suruh datang keduanya kemari! Terlalu, sungguh terlalu!"
Tidak lama antaranya Pak Midun dan Pendekar Sutan
naiklah ke surau. Baru saja ia sampai, Haji Abbas berkata
dengan marahnya, "Perbuatan apa ini yang Pak Midun suruhkan
kepada anak saya? Apakah dendam kamu kedua yang tidak
lepas, maka menyuruh lakukan perbuatan ini kepada Midun?
Sungguh terlalu!"
"Janganlah terburu nafsu saja Haji marah," ujar Pak Midun
dengan agak ketakutan. "Kejadian ini ialah karena kesalahan
Haji sendiri."
"Kesalahan saya?" jawab Haji Abbas dengan heran. "Apa pula
sebabnya saya yang Pak Midun salahkan? Bukankah perbuatan
Pak Midun ini sia-sia benar?"
Ketika itu tampaklah kepada Pak Midun, marah Haji Abbas
sudah agak surut. Pak Midun berkata sambil bersenda-gurau,
"Selalu saya diusik anak Haji, supaya ia dapat menambah
kepandaiannya dengan Haji. Beberapa kali saya disuruhnya
mengatakan kepada Haji, karena ia ingin benar hendak mendapat
sesuatu tentang ilmu silat daripada Haji. Tetapi tiap-tiap
permintaannya itu saya sampaikan, selalu saja Haji tolak.
Kesudahannya terjadilah yang demikian ini. Sekarang kami yang
Haji salahkan. Haji katakan, apa dendam kami yang tak lepas.
Kalau Haji ingin hendak mencoba, berdirilah! Memang saya
sudah ingin hendak bersilat dengan Haji!"
Pak Midun berdiri, lalu mengendangkan tangan dan
melangkahan kaki. Sambil menari ia berkata pula dengan
tertawa, katanya, "Bangunlah, Haji, mengapa duduk juga? Ah,
jadi muda lagi perasaan saya…"
Melihat kelakuan Pak Midun yang jenaka itu, marah Haji
Abbas pun surutlah. Hatinya tenang bagai semula, dan tertawa
karena geli hatinya. Pak Midun duduk kembali, lalu
bermufakatlah ketiga bapak Midun itu. Maka dikabulkanlah oleh
Haji Abbas permintaan Midun hendak belajar dengan dia.
Haji Abbas mengajar Midun amat berlainan dengan
Pendekar Sutan. Midun diajar Haji Abbas tidak pada suatu
tempat atau sasaran. Melainkan, tiap-tiap pulang dari mendoa
atau pulang dari berjalan-jaIan, pada tempat yang sunyi, Midun
sekonyong-konyong diserang oleh Haji Abbas. Maka bersilatlah
mereka itu di sana beberapa lamanya. Demikianlah diperbuat
Haji Abbas ada enam bulan, lamanya. Setelah itu barulah Midun
diberi keputusan silat oleh Haji Abbas.
Pertama, Midun dibawa Haji Abbas bersilat pada sebidang
tanah yang jendul dan berbonggol. Di situ sama-sama berikhtiar
mereka akan mengenai masing-masing. Maksud Haji Abbas
membawa Midun bersilat pada tanah yang demikian, ialah
supaya kukuh ia berdiri, jangan tangkas pada tanah yang datar
saja.
Kedua, atas papan, misalnya di rumah yang berlantaikan
papan. Bersilat di tempat itu sekali-kali tidak boleh berbunyi
langkah kaki. Sekalipun terempas, hendaklah sebagai kucing
diempaskan saja, tidak keras bunyinya dan tidak boleh
tertelentang.
Ketiga, bersilat di dalam bencah atau pada sebidang tanah
yang sudah dilicinkan. Midun tidak boleh jatuh, tetapi harus
menangkis serangan guru.
Keempat, pada sebidang tanah yang diberi bergaris
bundaran. Midun harus bersilat dengan guru tidak boleh
melewati garis, tetapi guru berusaha, supaya Midun melewati
garis itu.
Kelima, bersilat di dalam gelap dan hendaklah dapat
mengalahkan serangan orang yang memakai senjata tajam.
Bagian yang kelima inilah yang sukar. Bagi Midun belum
sempurna benar dapatnya. Sebabnya, karena pada bagian ini,
haruslah tahu lebih dahulu gerak, angin, dan rasa. Hal itu tidak
dipelajari, melainkan timbul sendiri, setelah beberapa lamanya
pandai bersilat.
Mengingat keadaan yang demikian itulah maka Pak Midun
amat terkejut dan khawatir mendengar kabar perkelahian
anaknya dengan Kacak. Dalam hatinya amat marah kepada
anaknya, karena yang dilawan Midun berkelahi itu kemenakan
Tuanku Laras. Tetapi setelah mendengar kabar dari Maun, yang
kebetulan lalu di muka rumahnya hendak ke surau, agak senang
hatinya. Sungguhpun demikian, sebelum bertemu dengan Midun
belum senang benar hatinya. Pak Midun ingin hendak mendengar
kabar itu daripada anaknya sendiri. Rasakan dicabutnya
hari menanti waktu magrib habis, karena waktu itu anaknya
pulang makan. Tegak resah, duduk pun gelisah, sebentarsebentar
ia melihat ke jendela, kalau-kalau Midun datang.
"Maun, suruh pulang anak-anak itu semua!" kata Haji Abbas.
"Katakan kepada mereka itu, malam ini tidak mengaji. Malam
besok saja suruh datang. Saya dengan Midun akan pergi mendoa
malam ini. Engkau tinggal di surau dan kalau ada orang
menanyakan kami, katakan kami pergi mendoa ke rumah Pakih
Sutan."
Sesudah sembahyang magrib, Haji Abbas dan Midun turunlah
dari surau. Sebelum pergi mendoa, lebih dahulu mereka itu
singgah ke rumah Pak Midun. Setelah sudah minum dan
mengisap rokok sebatang seorang, Haji Abbas pun berkata,
katanya, "Betulkah tadi engkau berkelahi dengan Kacak? Belum
cukup sebulan engkau tamat bersifat sudah berkelahi. Itu pun
yang engkau lawan bukan sembarang orang pula."
"Tidak, Bapak, tapi sudah umpama berkelahi juga namanya;
bukan saya yang salah, melainkan dia," jawab Midun dengan
ragu-ragu, sebab ia sendiri merasa tidak ada berkelahi. Akan
dikatakannya berkelahi, ia tidak ada meninju Kacak, melainkan
Kacak yang menyerang dia.
"Ganjil benar jawabmu! Apa maksudmu mengatakan
umpama berkelahi itu?"
Midun melihat kedua bapaknya itu sebagai tidak bersenang
hati mendengar jawabnya. Tampak dan nyata kepadanya pada
muka mereka itu kekhawatiran atas kejadian hari itu. Maka
Midun menerangkan dengan panjang lebar asal mula perselisihannya
dengan Kacak waktu bermain sepak raga. Satu pun
tak ada yang dilampauinya, diterangkannya sejelas-jelasnya.
Mendengar perkataan Midun, legalah hati kedua bapaknya itu.
Apalagi keterangan itu, bersesuaian dengan berita orang
kepada mereka, yang melihat sendiri kejadian petang itu.
Tidak lama kemudian Haji Abbas berkata pula, katanya,
"Meskipun engkau tidak bersalah, tapi percayalah engkau,
bahwa kejadian petang ini tidak membaikkan kepada namamu.
Biarpun tidak salahmu, tapi kata orang keduanya salah. Tak
mau bertepuk sebelah tangan. Yang akan datang saya harap
jangan hendaknya terjadi pula macam ini sekali lagi. Saya tidak
sudi melihat orang suka berkelahi. Kebanyakan saya lihat anakanak
muda sebagai engkau ini, kalau sudah berilmu sedikit
amat sombong dan congkak. Tidak berpucuk di atas enau lagi.
Pikirnya, tak ada yang lebih daripada dia. Lebih-lebih kalau ia
pandai bersilat. Dicari-carinya selisih supaya ia berkelahi,
hendak memperlihatkan kecekatannya. Salah-salah sedikit
hendak berkelahi saja. Begitulah yang kebanyakan saya lihat.
Padamu kami harap jangan ada tabiat yang demikian. Hal
itu semata-mata mencelakakan diri sendiri. Tidak ada yang
selamat, binasa juga akhir kelaknya. Daripada sahabat kenalan
kita pun terjatuh pula. Contohnya ilmu padi, kian berisi kian
runduk. Begitulah yang kami sukai dalam pergaulan bersama.
Satu pun tak ada faedahnya memegahkan diri, hendak memperlihatkan
pandai begini, tahu begitu. Asal tidak akan
merusakkan kesopanan diri, dalam percakapan atau tingkah
laku, lebih baik merendah saja. Bukanlah hal itu menghabiskan
waktu saja. Pergunakanlah waktu itu bagi yang mendatangkan
keselamatan dan keuntungan dirimu.
Berani karena benar, takut karena salah. Akuilah kesalahan
itu, jika sebenarnya bersalah. Tetapi perlihatkan keberanian,
akan menunjukkan kebenaran. Anak muda biasanya lekas naik
darah. Hal itu seboleh-bolehnya ditahan. Dalam segala hal
hendaklah berlaku sabar. Apalagi kalau ditimpa malapetaka,
haruslah diterima dengan tulus ikhlas, tetapi bilamana perlu
janganlah undur barang setapak jua pun; itulah tandanya
bahwa kita seorang laki-laki. Begitu pula halnya dengan hawa
nafsu. Hawa nafsu itu tak ada batasnya. Dialah yang kerap kali
menjerumuskan orang ke dalam lembah kesengsaraan. Jika tak
pandai mengemudikan hawa nafsu, alamat badan akan binasa.
Jika diturutkan hawa nafsu, mau ia sampai ke langit yang
kedelapan—jika ada langit yang kedelapan. Oleh karena itu,
biasakan diri memandang ke bawah, jangan selalu ke atas.
Hendaklah pandai-pandai me-megang kendali hawa nafsu,
supaya selamat diri hidup di dunia ini. Pikir itu pelita hati.
Karena itu pekerjaan yang hendak dilakukan, pikirkan dalamdalam,
timbang dahulu buruk baiknya.
Lihat-lihat kawan seiring, kata orang. Dalam pergaulan
hidup hendaknya ingat-ingat. Jauhi segala percederaan.
Bercampur dengan orang alim. Tak dapat tiada kita alim pula.
Bergaul dengan pemaling, sekurang-kurangnya jadi ajar. Sebab
itu pandai-pandai mencari sahabat kenalan. Jangan dengan
sembarang orang saja berteman. Kerap kali sahabat itulah yang
membinasakan kita. Daripada bersahabat dengan seribu orang
bodoh, lebih baik bermusuh dengan seorang pandai.
Nah, saya katakan terus terang kepadamu! Engkau adalah
seorang anak muda yang cekatan. Budi pekertimu baik. Dalam
segala hal engkau rajin dan pandai. Selama ini belum pernah
engkau mengecewakan hati kami. Segala pekerjaanmu boleh
dikatakan selalu menyenangkan hati kami. Tidak kami saja
yang memuji engkau, bahkan orang kampung ini pun sangat
memuji perangaimu. Oleh karena itu, peliharakanlah namamu
yang baik selama ini. Pengetahuanmu untuk dunia dan akhirat
sudah memadai. Tentu engkau lolah dapat memahamkan mana
yang baik dan mana yang buruk wkianlah nasihat saya.
Midun tepekur mendengar nasihat Haji Abbas itu. Diperhatikannya
dengan sungguh-sungguh. Satu pun tak ada yang
dilupakannya. Masuk benar-benar nasihat itu ke dalam hati
Midun. Kemudian Midun berkata, katanya, "Saya minta terima
kasih banyak-banyak akan nasihat Bapak itu. Selama hayat
dikandung badan takkan saya lupa-lupakan. Segala pengajaran
Bapak, setitik menjadi laut, sekepal menjadi gununglah bagi
saya hendaknya. Mudah-mudahan segala nasihat Bapak itu menjadi
darah daging saya."
"Nasihat bapakmu itu sebenarnya," ujar Pak Midun pula,
ingatlah dirimu yang akan datang. Siapa tahu karena Kacak tak
dapat mengenai engkau, perkara itu menimbulkan sakit hati
kepadanya. Bukankah hal itu boleh mendatangkan yang tidak
baik. Insaflah engkau, pikirkan siapa kita dan siapa orang itu."
Setelah itu maka Haji Abbas dan Midun pergilah mendoa.
3. Dimusuhi
SUDAH umum pada orang kampung itu, manakala ada
pekerjaan berat, suka bertolong-tolongan. Pekerjaan yang
dilakukan dengan upah hampir tak ada. Apalagi di dalam
bahaya, misalnya kebakaran, mereka itu tidak sayang kepada
dirinya untuk menolong orang sekampung. Tidak di kampung itu
saja, melainkan di seluruh tanah Minangkabau, boleh
disebutkan sudah turun-temurun pada anak negeri, suka
bertolong-tolongan itu. Misalnya di dalam hal ke sawah,
mendirikan rumah, dan lain-lain pekerjaan yang berat.
Musim menyabit sudah hampir datang. Ketika itu tidak lama
lagi hari akan puasa. Setiap hari tidak putus-putusnya bendi
membawa orang dari Bukittinggi, berhenti di pasar kampung
itu. Mereka itu baru pulang, karena sudah beberapa tahun
lamanya berdagang mencari penghidupan di negeri orang.
Karena itu hampir setiap hari orang ramai di pasar. Banyak
orang menanti kaum keluarganya yang baru datang. Tiap-tiap
bendi kelihatan dari jauh, hati mereka itu harap-harap cemas,
kalau-kalau di atas bendi itu sanak, mamak, adiknya, dan lainlain.
Dalam beberapa hari saja kampung itu sudah ramai, karena
orang yang pulang merantau itu. Lain tidak yang dipercakapkan
orang, hal orang yang baru pulang saja. Begitu pula yang
datang, menceritakan penanggungannya masing-masing, selama
bercerai dengan kaum keluarganya. Bahkan menceritakan
keadaan negeri tempatnya berdagang itu, tidak pula dilupakannya.
Tidak lama kemudian kedengaranlah si A yang pulang dari
negeri Anu, sudah membeli sawah untuk adik dan ibunya. Si B
yang pulang dari negeri Anu pula, sudah membuatkan rumah
untuk familinya dan lain-lain. Bermacam-macam kedengaran,
banyak di antara mereka itu yang melekatkan uang pencahariannya
kepada barang yang baik bakal hari tuanya kelak.
Hal itu sangat menarik hati kepada orang yang tinggal di
kampung, ingin hendak pergi merantau pula. Tetapi ada pula
yang miskin dan melarat pulang masa itu. Malahan ada yang
inembawa penyakit dari negeri orang. Mereka yang demikian
itu, tentu saja karena ceroboh dan boros di negeri orang. Tidak
hendak memikirkan hari tua, hidup boros dan banyak pelesir


memuaskan hawa nafsunya.
Pada suatu malam Pak Midun berkata kepada anaknya,
"Midun! beritahukanlah kepada kawan-kawanmu, bahwa hari
Ahad yang akan datang ini kita akan mengirik padi di sawah.
Begitu pula kepada Pendekar Sutan dengan murid-muridnya.
Orang lain yang engkau rasa patut dipanggil, panggillah! Sekali
ini biarlah kita memotong kambing untuk penjamu orang yang
datang mengirik ke sawah kita. Saya rasa takkan berapa
bedanya menyembelih kambing dengan membeli daging di
pasar."
"Engkau pula, Polam," kata Pak Midun sambil berpaling
kepada istrinya, "katakanlah kepada kaum keluarga, bahwa kita
akan mengirik padi hari Ahad itu. Ipar besan yang patut diberi
tahu, orang sekampung yang akan dipanggil untuk mengirai dan
mengangin padi dan orang-orang yang akan menolong kerja
dapur. Hal itu semuanya pekerjaanmu."
Ibu dan anak itu menganggukkan kepala, membenarkan perkataan
suami dan bapaknya. Kemudian Midun berkata, "Karena
kita akan memotong kambing, tidak baikkah jika kita ramaikan
kerja itu dengan puput, salung, dan pencak sekadarnya, Ayah?"
"Hal itu lebih baik engkau mufakati dengan mamakmu,
Datuk Paduka Raja. Saya telah memberitahukan kepadanya,
hanya akan mengirik padi hari Ahad saja. Jika sepakat dengan
mamakmu, apa salahnya, lebih baik lagi."
"Baiklah, Ayah! Sekarang juga saya cari beliau. Sudah itu
saya pergi kepada Bapak Pendekar Sutan."
Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik
padi ke sawah. Sampai di sawah iapun menebas tunggul batang
padi untuk orang mengirik. Setelah itu dibuatnya pula sebuah
dataran untuk orang bermain pencak, berpuput-salung, dan
sebagainya. Maka dikembangkannyalah tikar tempat orang
mengirik. Sudah itu diturunkannya seonggok demi seonggok
padi itu daripada timbunannya.
Tidak lama antaranya kelihatanlah orang datang ke sawah
orang tua Midun. Berduyun-duyun, sebondong-sebondong amat
banyaknya. Segala orang itu dengan tertib sopan diterima oleh
Midun beserta bapaknya, lalu dipersilakannya duduk dahulu ke
tikar yang telah disediakan untuk penerima tamu. Dengan
hormat, Midun meletakkan cerana tempat sirih di muka orang
banyak. Rokok yang sudah disediakannya untuk itu, tidak pula
dilupakannya.
Setelah beberapa lama mereka itu bercakap-cakap ini dan
itu, maka dimulailah mengirik padi. Midun kerjanya hanyalah
mengambil padi yang sudah diirik orang. Perempuanperempuan
sibuk mengirai jerami yang sudah diirik. Amat
ramai orang di sawah Midun. Sorak dan senda gurau orangorang
muda tidak ketinggalan. Tertawa dan cumbu tidak
kurang. Suka dan bersenang hati benar rupanya orang mengirik
padi di sawah Midun yang baik hati itu. Bunyi hentam orang
mengirik akan menyatakan, bahwa padi yang diiriknya sudah
habis, sebagai orang menumbuk padi. Belum tinggi matahari
naik, selesailah diirik padi setimbunan besar itu.
Sesudah itu maka segala orang itu dipersilakan oleh Midun
duduk menghentikan lelah ke medan tempat orang memencak.
Sudah makan minum, lalu dimulai pula membunyikan salung
dan puput yang disertai dengan nyanyi. Amat merdu bunyinya.
Kemudian orang berandai, bermencak, menari piring, dan
sebagainya. Sementara itu, orang-orang perempuan mengangin
padi jua, sambil menonton. Demikianlah halnya, hingga padi itu
selesai diirik dan diangin orang. Setelah padi itu dimasukkan ke
sumpit, permainan berhenti. Peralatan kecil itu pindah ke
rumah. Waktu mereka itu akan pulang ke rumah Pak Midun,
pada bahunya masing-masing terletak sesumpit padi yang akan
dibawa ke lumbung. Sepanjang jalan, mereka itu bersalung dan
berpuput jua, sambil bersenda gurau dengan riuhnya.
Tidak jauh dari sawah orang tua Midun, ada pula, sawah
istri Kacak. Luas kedua sawah itu hampir sama. Kebetulan pada
sawah istri Kacak, hari itu pula orang mengirik padi. Tetapi ke
sawah istrinya tidak berapa orang datang. Yang datang itu pun
kebanyakan masuk bilangan keluarganya juga. Kendatipun ada
beberapa orang lain, nyata pada muka orang itu, bahwa
mereka hanya memandang karena sawah istri kemenakan
Tuanku Laras saja. Mengirik ke sawah istri Kacak itu adalah
pada pikirnya sebagai menjalankan rodi. Di sawahnya tidak
kedengaran orang bersorak, apalagi bersuka-sukaan. Mereka itu
bekerja dengan muka muram saja kelihatannya. Oleh orang
bekerja kurang bersenang hati dan tidak seberapa pula, tidak
dapat disudahkan mengirik pada hari itu. Terpaksa harus
disambung pula pada keesokan harinya.
Melihat orang ramai di sawah Midun, Kacak sangat iri hati.
Bencinya kepada Midun semakin berkobar. Apalagi mendengar
sorak dan senda gurau orang di sawah Midun, amat sakit hati
Kacak. Hatinya sangat panas, hingga menimbulkan maksud
jahat. Maka Kacak berkata dalam hatinya, "Jika dibiarkan,
akhirnya Midun mau menjadi raja di kampung ini. Kian sehari
kian bertambah juga temannya dan orang pun makin banyak
yang suka kepadanya. Orang kampung tua muda, laki-laki
perempuan kasih sayang kepadanya. Malahan dia dihormati dan
dimalui orang pula. Hampir sama hormat orang kepada
mamakku Tuanku Laras dengan kepada Midun. Padahal ia
adalah seorang anak peladang biasa saja.
Saya seorang kemenakan Tuanku Laras lagi bangsawan di
kampung ini, tidak demikian dihormati orang. Kenalan saya
tidak seberapa. Orang kampung hampir tak ada yang suka
kepada saya. Hal itu nyata, kalau orang bertemu di jalan
dengan saya. Seakan-akan dicarinya akal supaya ia dapat menghindarkan
diri. Sekarang nyatalah kepadaku bahwa Midunlah
rupanya yang menyebabkan hal itu. Karena dialah maka orang
kampung benci kepadaku. Lihatlah buktinya, ke sawahnya amat
banyak orang datang, tetapi ke sawah istriku tidak seberapa.
Mulai dari sekarang ia kupandang musuhku.
Sayang saya tidak dapat mengenainya dalam perkelahian
tempo hari, karena orang banyak. Jika dapat, sebelum muntah
darah, tidaklah saya hentikan. Saya tanggung, kalau hanya
macam si Midun itu, sekali saja saya masuki dengan starlakku,
membuih air liurnya ke luar. Pedih hatiku tidak dapat saya
mengenainya jika tidak tewas ia olehku, saya berguru starlak
sekali lagi.
Biarlah! Tidak akan terlampau waktunya. Pada suatu masa,
tentu akan dapat juga saya membalasnya sakit hati saya
kepadanya. Ingatingat engkau, MidunP Tak dapat tiada engkau
rasai juga bekas tanganku ini, biarpun engkau sudah mendapat
pelajaran dari Haji Abbas. Kita adu nanti silatmu itu dengan
starlakku. Lagi pula tidakkah engkau ketahui bahwa di sini
kemenakan Tuanku Laras, boleh bersutan di mata, berada di
hati? Tidakkah engkau insaf, bahwa di sini kemenakan raja di
kampung ini, boleh merajalela berbuat sekehendak hati? Aha,
rupanya dia mau tahu siapa saya."
Sejak hari itu Kacak sangat benci kepada Midun. la sudah
berjanji dengan dirinya, akan mengajar Midun pada suatu
waktu. Makin sehari makin bertambah bencinya. Bila bertemu
dengan Midun di jalan, meskipun ditegurnya tidak disahuti
Kacak. Adakalanya ia meludah-ludah, akan menunjukkan benci
dan jijiknya kepada Midun. Kacak selalu mencari-cari jalan,
supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan kiasan itu
Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat
heran, apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya. Padahal ia
merasa belum bersalah kepada kemenakan Tuanku Laras itu.
Dalam perkelahian waktu bermain sepak raga pun, ia tidak ada
mengenai Kacak. Dan lagi hal itu bukan karenanya, melainkan
tersebab oleh Kadirun. Kemudian timbul pula pikiran Midun,
boleh jadi Kacak meludah-ludah itu tidak disengajanya. Oleh
sebab itu tidak dihiraukan amat oleh Midun. Tidak sedikit jua
masuk pada pikirannya, bahwa Kacak akan memusuhinya.
4. Membalas Dendam
PADA suatu hari, pasar di kampung itu sangat ramai. Dari
segala tempat banyak orang datang. Ada yang berbelanja, ada
pula yang menjual hasil tanamannya. Saudagar-saudagar kecil
banyak pula datang dari Bukittinggi ke pasar itu. Mereka pergi
menjual kain-kain dan ada pula yang membeli hasil tanah.
Tidak heran pekan seramai itu, karena tak lama lagi hari akan
puasa. Pekan sedang ramai, orang wdang sibuk berjual-beli,
sekonyong-konyong kedengaran teriak orang mengatakan,
"Awas, Pak Inuh lepas! Pak Inuh lepas! Dia membawa pisau!"
Orang di pasar berlarian ke sana kemari. Mereka lari menyembunyikan
diri, karena takut kepada Pak Inuh. Yang
berkedai meninggalkan kedainya, yang berbelanja meninggalkan
barang yang telah dibelinya. Sangat sibuk di pasar ketika
itu. Berkacau-balau tidak berketentuan lagi.
Adapun Pak Inuh itu, ialah seorang kampung di sana,
keluarga Tuanku Laras. Ia sudah berumur lebih dari 45 tahun.
Semasa muda, Pak Inuh seorang yang gagah berani. Lain
daripada Haji Abbas, seorang pun tak ada yang diseganinya
masa itu. Orang kampung segan dan takut kepadanya. Ketika
Tuanku Laras menjadi Penghulu Kepala di kampung itu, timbul
perusuhan. Waktu itu boleh dikatakan Pak Inuhlah yang
mengamankan negeri. Dengan tidak meminta bantuan kepada
pemerintah, diamankan Pak Inuh kampung itu kembali.
Apakah sebabnya orang takut Pak Inuh datang ke pasar itu?
Pak Inuh sekarang sudah bertukar pikiran. Ia sudah menjadi
gila. Sudah empat tahun sampai kepada masa itu pikirannya tak
sempurna lagi. Dalam empat tahun itu Pak Inuh tidak dibiarkan
keluar lagi oleh Tuanku Laras. Jika dilepaskan selalu mengganggu
orang. Maka oleh Tuanku Laras dibuatkan sebuah rumah
untuk tempat Pak Inuh tinggal. Entah apa sebabnya hari itu ia
dapat melepaskan diri. Hal itu terjadi sudah yang kedua
kalinya. jika datang ke pasar ia merajalela saja. Barang-barang
orang diperserak-serakkannya. Disepakkannya ke sana kemari,
orang di pasar diburunya sambil berteriak-teriak. Jika dapat
orang olehnya, dipukul dan diterjangkannya.
Sekarang Pak Inuh datang ke pasar membawa pisau. Hal itu


lebih menakutkan lagi. Seorang pun tak ada yang berani
mendekati, apalagi akan menangkap, karena Pak Inuh berpisau,
lagi seorang yang berani. Meskipun ada yang akan menangkap,
takut kepada Tuanku Laras. Maka dibiarkan orang saja ia
mengacau di tengah pasar itu. Jika tidak Tuanku Laras sendiri,
sukarlah akan menangkapnya. Tetapi Tuanku Laras tak ada
beliau pergi ke Bukittinggi. Pak Inuh makin ganas lakunya di
tengah pasar. Sungguh amat sedih hati melihat kejadian itu.
Laki-laki perempuan tunggang-langgang melarikan diri. Anakanak
banyak yang terinjak, karena terjatuh. Di sana sini
kedengaran jerit orang, mengaduh karena sakit sebab terantuk
atau jatuh. Lebih-lebih lagi melihat perempuan-perempuan
yang sedang mendukung anak. Anak dipangku, beban dijunjung
sambil melarikan diri jua.
Midun ketika itu ada pula di pasar. Dia sedang duduk di
dalam sebuah lepau nasi. Kejadian itu nyata kelihatan olehnya.
Midun hampir-hampir tak dapat menahan hatinya. Amat sedih
hatinya melihat perempuan-perempuan berlarian ke sanakemari.
Pikirnya, "Akan diberitahukan kepada Tuanku Laras,
beliau pergi ke Bukittinggi. Tentu saja Pak Inuh merusakkan
orang di pasar ini. Pada tangannya ada sebuah pisau. Takkan
satu bangkai terhantar karena dia. Hal ini tidak boleh dibiarkan
saja."
Ketika Midun melihat seorang perempuan diinjak-injak oleh
Pak Inuh, ia pun melompat ke tengah pasar mengejar Pak Inuh.
Baru saja Pak Inuh melihat Midun, ia berkata, "Heh, anak kecil,
ini dia makanan pisauku!"
Sambil melompat lalu diamuknya Midun. Midun sedikit pun
tidak berubah warna mukanya. Kedatangan Pak Inuh dinantinya
dengan sabar. Segala orang yang melihat keadaan itu sangat
ngeri. Lebih-lebih perempuan-perempuan, berteriak menyuruh
Midun lari, karena cemas dan takut. Dengan tangkas Midun
menyambut pisau itu. Dalam sesaat saja pisau Pak Inuh dapat
diambilnya. Pisau itu segera dilemparkan Midun jauh-jauh, dan
disuruhnya pungut kepada orang. Pak Inuh sangat marah, lalu
menyerang Midun sekuat-kuatnya. Dengan mudah dapat ia
menjatuhkan Pak Inuh, lalu ditangkapnya. Bagaimana pun Pak
Inuh hendak melepaskan diri, tidak dapat. Midun berkata,
"Sabarlah, Mamak, takkan terlepaskan tangkapanku ini oleh
Mamak."
Maka Midun menyuruh mengambil tali untuk pengikat Pak
Inuh. Setelah sudah diikat, lalu ditipunya. Dibawanya ke lepau
nasi, diberikannya makan. Luka pada kening Pak Inuh karena
terjerumus, dibebat Midun. Kemudian diantarkannya pulang ke
rumah famili Pak Inuh.
Sehari-hari dan itu Midun saja yang dipercakapkan orang.
Tua muda, kecil besar, laki-laki perempuan di pasar memuji
keberanian dan ketangkasan Midun menangkap Pak Inuh. Ketiga
bapak Midun amat heran mendengar kabar itu. Mereka ketiga
maklum bagaimana keberanian dan pendekar Pak Inuh.
Perbuatan Midun itu dipuji oleh mereka ketiga. Hanya mereka
itu khawatir, kalau-kalau famili Tuanku Laras tak bersenang
hati, karena Pak Inuh luka. Tetapi ketiganya percaya pula,
kalau Tuanku Laras berpikir panjang, hal itu tidak akan
menimbulkan amarah, melainkan menyenangkan hati beliau.
Bukankah perbuatan Midun menjaga keamanan dan keselamatan
negeri.
Kacak ada pula mendengar kabar itu. Waktu hal itu terjadi,
ia ada di kantor Tuanku Laras. Dengan segera ia berlari akan
melihat Pak Inuh. Didapatinya Midun tak ada lagi. Pak Inuh,
yakni jalan mamak kepada Kacak, telah ada di rumah. Tatkala
Kacak melihat Pak Inuh luka pada keningnya, lalu ia bertanya
kepada seseorang, bagaimana Midun menangkap mamaknya.
Orang itu menceritakan bagaimana penglihatannya ketika
Midun menangkap Pak Inuh.
"Jika tak ada Midun," ujar orang itu, "barangkali banyak
bangkai terhantar di tengah pasar. Untung, pisau yang di
tangan Pak Inuh lekas dapat diambil Midun."
"Apakah sebabnya, maka Pak Inuh sampai luka ini?" ujar
Kacak dengan marah.
Jawab orang itu, "Karena tersungkur waktu Midun menyalahkan
tikaman Pak Inuh."
Kacak jangankan memuji Midun mendengar perkataan itu,
makin sakit hatinya. Ia sangat marah karena Midun berani
melukai famili Tuanku Laras.
"Sekarang nyata, bahwa Midun musuhku," kata Kacak dalam
hatinya. "Sudah engkau lukai mamakku, engkau bebat. Maksudmu
tentu supaya kami jangan marah. Kurang ajar sungguh!
Hati-hati engkau, besok dapat bagian daripadaku. Bila Tuanku
Laras pulang dari Bukittinggi, kuceritakan hal itu kepadanya.
Anak si peladang jahanam, berani melukai famili raja di
kampung ini?!"
Pada keesokan harinya pagi-pagi datanglah dubalang Tuanku
Laras, memanggil Midun ke rumah orang tuanya. Midun
didapatinya sedang makan. Dubalang berkata, "Midun, Tuanku
Laras memanggil engkau sekarang juga!"
"Baiklah, Mamak, saya sudah dulu makan," jawab Midun.
"Berhenti makan! Beliau menyuruh lekas datang!" ujar dubalang
dengan hardiknya. ,
Dengan tergopoh-gopoh Midun mencuci tangan, lalu
berangkat ke kantor Tuanku Laras.
"Tunggu," kata dubalang pula, "engkau mesti dibelenggu,
karena begitu perintah saya terima."
"Apakah kesalahan saya, maka dibelenggu macam seorang
perampok, Mamak!" kata Midun.
"Saya tidak tahu, di sana nanti jawab," ujar dubalang.
Midun amat heran, apa sebabnya ia dibelenggu itu. Pikirannya
berkacau, karena ia tidak tahu akan kesalahannya. Dengan
tangan dibelenggu, ia diiringkan dubalang melalui pasar. Sangat
malu Midun, tak ada ubahnya sebagai seorang yang bersalah
besar. Tetapi apa hendak dibuat, terpaksa mesti menurut. Bermacam-
macam timbul pikirannya sepanjang jalan ke kantor
Tuanku Laras. Kemudian maklum juga ia, bahwa yang
menyebabkan ia dipanggil itu, tak dapat tiada perkara Pak Inuh
kemarin. Karena lain daripada itu Midun merasa dirinya tidak
bersalah. Maka tetaplah pikirannya, bahwa ia difitnahkan
orang. Mengerti pula ia masa itu, apa sebabnya ia dibelenggu
dan dikerasi. Tentu Pak Inuh luka itu diambilnya jadi senjata
untuk memfitnahkan. Ketika itu terbayang kepada Midun orang
yang empunya perbuatan itu. Maka terkenanglah ia akan
pemandangan Kacak yang berarti dahulu.
"Tidak mengapa," kata Midun dalam hatinya. "Asal Tuanku
Laras sudi mendengar keterangan saya, tentu beliau insaf,
bahwa saya berbuat baik. Dan pasti beliau akan memuji saya,
karena pekerjaan saya itu menjaga keamanan negeri."
Midun berbesar hati, lalu berjalan dengan senangnya. Tidak
terasa Iagi oleh Midun tangannya dibelenggu, sebab
pekerjaannya kemarin itu baik semata-mata. Orang di pasar
heran melihat Midun dibelenggu. Mereka takjub melihat Midun
sebagai pencuri tertangkap, padahal ia seorang alim dan berbudi.
Seorang bertanya kepada seorang, akan hal Midun dibawa
dubalang itu. Ada satu-dua orang berkata bahwa Midun dipanggil,
berhubung dengan penangkapan Pak Inuh kemarin.
tetapi perkataan itu disangkal orang pula mengatakan, bahasa
hal itu tidak boleh jadi, karena perbuatan Midun kemarin
mendatangkan kebaikan. Kalau karena perkara Pak Inuh tentu
ia tidak dibelenggu. Bermacam-macam persangkaan orang
tentang Midun dibelenggu itu. Karena itu banyak orang yang
mengiringkannya ke kantor Tuanku Laras, ingin tahu apa
sebabnya Midun dipanggil itu.
Ayah bunda Midun amat gusar melihat kedatangan dubalang
dan anaknya dibelenggu itu. Lebih-lebih ibu Midun, hampir ia
berteriak menangis, karena amat sedih hatinya melihat anak
kesayangannya itu dibelenggu sebagai seorang perampok baru
tertangkap. Untunglah Pak Midun lekas menyabarkannya, dan
menerangkan apa sebabnya Midun dipanggil itu. Pak Midun
mengerti apa yang dipanggilkan Tuanku Laras kepada anaknya.
Lain tidak tentang perkara Pak Inuh ditangkap Midun kemarin
itu. Tetapi ia amat heran, karena anaknya dibelenggu dengan
kekerasan. Dengan tergesa-gesa Pak Midun makan. Setelah itu
ia pun pergi ke kantor Tuanku Laras mendengarkan perkara
anaknya. Di jalan Pak Midun sebagai orang bingung saja,
pikirannya melayang entah ke mana. Jika ia ditegur orang
hendak bertanyakan hal anaknya, seolah-olah tidak terdengar
olehnya, karena kepalanya penuh dengan pikiran.
Waktu Midun hampir sampai di kantor, dari jauh sudah kelihatan
olehnya Tuanku Laras berdiri di beranda kantor. Setelah
dekat Midun tidak berani melihat muka Tuanku Laras, karena
dilihatnya Tuanku Laras sebagai orang hendak marah. Dengan
suara menggelegar sebab menahan marah, Tuanku Laras berkata,
"Awak yang bernama Midun?"
"Hamba, Tuanku," jawab Midun.
"Masuk ke dalam," kata Tuanku Laras dengan hardiknya.
Setelah Midun masuk ke dalam, orang lain disuruh pergi.
Maka Tuanku Laras bertanya pula dengan marahnya, "Berani
benar rupanya awak memukul orang gila, sampai luka-luka. Apa
yang awak sakitkan hati kepada Pak Inuh yang tak sempurna
akal itu? Kurang ajar betul awak, ya kerbau!"
"Bukannya demikian, Tuanku!" jawab Midun. Lalu diceritakanlah
oleh Midun dari bermula sampai penghabisan kejadian
kemarin itu. Tetapi Tuanku Laras sedikit pun tidak mengindahkan
perkataan Midun. Jangankan Tuanku Laras reda
marahnya, melainkan bertambah-tambah. Midun menundukkan
kepala saja, karena Tuanku Laras memaki dia dengan tidak
berhenti-henti.
Setelah puas Tuanku Laras berkata, maka Midun menjawab
pula dengan sabar, katanya, "Luka Pak Inuh itu karena beliau
jatuh sendiri. Sekali-kali tidak hamba yang melukai beliau,
Tuanku. Jika tidak ada hamba kemarin, entah berapa bangkai
bergulingan, karena beliau memegang senjata. Jika Tuanku
kurang percaya atas keterangan hamba itu, cobalah Tuanku
tanyakan kepada orang lain. Tetapi jika hamba bersalah berbuat
demikian, ampunilah kiranya hamba, Tuanku."
Mendengar perkataan itu, adalah agak kurang marah Tuanku
Laras sedikit. Tetapi karena pengaduan Kacak termasuk benar
ke dalam hatinya, lalu ia berkata, "Sebetulnya awak mesti
diproses perbal dan dibawa ke Bukittinggi* (ke kantor Tuan Assistent
Resident Fort de Kock). Tetapi sekali ini saya maafkan. Sebagai
ajaran supaya jangan terbiasa, awak dapat hukuman enam
hari. Awak mesti mengadakan rumput kuda empat rajut sehari.
Sudah menyabit rumput, awak bekerja di kantor ini dan jaga
malam."
Midun berdiam diri saja mendengar putusan itu. Ia tak
berani menjawab lagi, sebab dilihatnya Tuanku Laras marah.
Waktu ia akan ke luar kantor, lalu ia berkata, "Bolehkah hari ini
hamba jalani hukuman itu, Tuanku?"
"Ya, boleh, hari ini mulai, " ujar Tuanku Laras dengan
sungutnya.
Midun segera ke luar, lalu diceritakannya kepada ayahnya,
apa sebab ia dipanggil, dan hukuman yang diterimanya.
Mendengar putusan itu, lapang juga dada Pak Midun, karena
anaknya tidak masuk proses perbal dan tidak dibawa ke
Bukittinggi. Maka Pak Midun herkata, "Terimalah dengan sabar,
Midun! Asal di kampung ini, apa pun juga macam hukuman
tidak mengapa. Besar hati saya engkau tidak dibawa ke
Bukittinggi. Tetapi tidak patut engkau menerima hukuman,
karena engkau tidak bersalah. Engkau berbuat pekerjaan baik,
tetapi hukuman yang diterima; apa boleh buat. Bukankah
Tuanku Laras raja kita dapat menghitamputihkan negeri ini."
Midun berdiam diri saja mendengar kata ayahnya. Tetapi
orang yang mengiringkannya bersungut-sungut semuanya mendengar
putusan itu. Midun terus pulang mengambil sabit dan
rajut rumput. Sampai di pasar, banyak orang mengerumuninya,
akan bertanyakan perkaranya dipanggil itu. Midun menerangkan,
bahwa ia dihukum enam hari karena menangkap dan
melukai Pak Inuh. Dan hal itu menurut pikiran Midun sudah
patut, sebab ia melukai orang. Tetapi segala orang yang
mendengar menggigit bibir, karena pada pikiran mereka itu,
tak patut Midun dihukum. Mereka itu berkata dalam hati,
"Tidak adil! Untung luka sedikit, sebetulnya harus dibunuh
serigala itu. Kalau tak ada Midun, barangkali banjir darah di
pasar kemarin. Kurang timbangan, tentu beliau mendengar
asutan orang."
Banyak orang kampung itu yang suka menggantikan
hukuman Midun. Ada pula yang mau menyabit rumput sepuluh
rajut sehari dan menjaga kantor siang-malam, asal Midun
dilepaskan. Tetapi permintaan mereka itu sama sekali ditolak
oleh Midun. Katanya, "Siapa yang berutang dialah yang membayar,
dan siapa yang bersalah dia menerima hukuman. Saya
yang bersalah, saudara-saudara yang akan dihukum, itu
mustahil. Biarlah saya dihukum, tak usah ditolong. Atas
keikhlasan hati sanak-saudara itu, saya ucapkan terima kasih
banyak-banyak."
Sesudah Midun menyabit rumput, lalu bekerja lain pula.
Membersihkan kandang kuda, mencabut rumput di halaman
kantor. Habis sebuah, sebuah lagi dengan tidak berhentihentinya.
Segala pekerjaan itu dimandori oleh Kacak. Ada-ada
saja yang disuruhkan Kacak. Sehari-harian itu Midun tak menghentikan
tangan. Untuk membuat rokok saja, hampir tak
sempat. Jika Midun berhenti sebentar karena lelah, Kacak
sudah menghardik, ditambah pula dengan perkataan yang
sangat kasar. Mengambil air mandi dan mencuci kakus, Midun
juga disuruhnya. Pada malam hari Midun tak dapat sedikit juga
menutup mata sampai-sampai pagi. Tiap-tiap jam Kacak datang
memeriksa Midun berjaga atau tidaknya.
Demikianlah penanggungan Midun dari sehari ke sehari.
Dengan sabar dan tulus, hal itu dideritanya. Apa saja yang
disuruhkan Kacak, diturut Midun dengan ikhlas. Berbagai-bagai
siksaan Kacak kepada Midun, hingga pekerjaan yang berat, yang
tak patut dikerjakan Midun disuruhnya kerjakan. Siang bekerja
keras, malam tak dapat tidur. Hampir Midun tidak kuat lagi
bekerja. Dalam tiga hari saja, Midun tak tegap dan subur itu
sudah agak kurus dan pucat.
Orang di kampung itu sangat kasihan melihat Midun telah
jauh kurusnya. Apalagi ibu Midun, selalu menangis bila melihat
rupa Midun yang sudah berubah itu. Tetapi pada Midun hal itu
tidak menjadi apa-apa. Ia, selalu memohonkan rahmat Tuhan,
agar kekuatannya bertambah, sampai kepada hukumannya
habis dijalaninya. Dipohonkannya pula, moga-moga hati Kacak
disabarkan Allah daripada menganiaya sesama makhluk. Bila
ibunya menangis melihat dia, Midun berkata, "Sabarlah, Ibu,
jangan menangis juga. Ini baru siksaan dunia yang hamba rasai,
di akhirat nanti entah lebih daripada ini penanggungan kita.
Bukankah tiap-tiap sesuatu itu telah takdir Tuhan, Ibu! Jadi apa
yang terjadi atas diri kita tak boleh disesali, karena perbuatan
itu sama halnya dengan mengumpat Tuhan jua. Oleh karena
itu, senangkanlah hati Ibu, takkan apa-apa. Tuhan ada beserta
hamba. Hamba pucat dan kurus ini, karena baru bekerja berat.
Hal ini bukankah baik untuk pelajaran hidup, Ibu!"
Pada hari yang kelima Midun hampir-hampir tak berdaya
lagi. Ketika ia membawa rumput ke kandang kuda, lalu jatuh
tersungkur. Kacak melompat, lalu berkata sambil memukul,
"Inilah balasan engkau melukai mamakku. Rasai olehmu
sekarang! Jangan pura-pura jatuh, bangun apa tidak!?"
Par! Pukulan Kacak tiba di.punggung Midun. Midun hampir
gelap pemandangannya. Kalau tidak lekas ia menyabarkan
hatinya, tak dapat tiada sabitnya masuk perut Kacak. Dengan
perlahan-lahan ia bangun, lalu berkata, "Janganlah terlalu
amat menyiksa saya, Engku Muda! Kesalahan saya tidak
seberapa, tidak berpadanan dengan siksaan yang saya
tanggung. Saya lihat Engku Muda seperti membalaskan dendam.
Apakah dosa saya kepada Engku Muda? Terangkanlah, kalau
nyata saya bersalah, apa pun juga hukuman yang Engku
jatuhkan, saya terima."
"Memang engkau musuhku, jahanam!" ujar Kacak dengan
bengis. "Engkaulah yang mengasut orang benci kepadaku.
Engkau hendak jadi raja di kampung ini, binatang!"
Dengan marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkan
oleh Kacak. Dibalaskannya sakit hatinya yang
selama ini. Untunglah hal itu lekas dilihat Tuanku Laras dari
beranda kantor. Tuanku Laras segera memisahkan, dan
berkata, "Hendak membunuh orang engkau, Kacak?"
Mendengar suara itu, baru Kacak berhenti daripada
memukul Midun. Jika tak ada Tuanku Laras, entah apa jadinya.
Boleh jadi Midun membalas, boleh jadi pula Midun binasa,
sebab sudah tidak berdaya lagi.
Pada keesokan harinya, Midun jatuh sakit. Hari itu ia tidak
kuat lagi menyabit rumput. Pagi-pagi benar Pak Midun telah
pergi menggantikan anaknya menyabit rumput. Belum lagi
matahari terbit, rumput empat rajut itu telah diantarkannya ke
kandang kuda. Kemudian ia pergi kepada Tuanku Laras
menerangkan, bahwa anaknya sakit keras. Ia memohonkan
hukuman yang tinggal sehari itu, dia saja menjalankannya. Baru
saja Tuanku Laras akan menjawab, Haji Abbas datang pula ke
kantor itu. Atas nama guru dan bapak Midun, ia memintakan
ampun muridnya. Apalagi Midun ketika itu di dalam sakit.
Maka Tuanku Laras berkata, katanya, "Karena permintaan
Haji, saya ampuni Midun. Tetapi saya harap anak itu diajar
sedikit, jangan sampai begitu kurang ajar. Terlalu, ya, sungguh
terlalu, melukai orang gila. Orang yang tak sempurna akal,
tentu tidak mengerti apa-apa. Kalau dilawan, tentu kita jadi
gila juga."
Haji Abbas dan Pak Midun diam saja mendengar perkataan
itu. Kemudian mereka bermohon diri dan meminta terima kasih
atas ampunan yang dilimpahkan kepada Midun itu. Di jalan
sampai pulang, keduanya tidak bercakap-cakap sepatah jua
pun. Mereka tahu bahwa perkataan Tuanku Laras itu
kepadanyalah tujuannya. Karena itu amat pedih hati mereka,
padahal anaknya tidak bersalah. Tetapi apa hendak dikatakan,
mereka bertentangan dengan raja di kampung itu. Setelah
sampai di rumah, lama mereka itu duduk berpandangpandangan.
Haji Abbas amat sedih hatinya melihat Midun yang
telah kurus dan pucat itu. Dengan tak diketahui, air mata Haji
Abbas telah berleleran di pipinya. Tidak lama antaranya, Haji
Abbas berkata, "Apamukah yang sakit, Nak? Apakah sebabnya
maka engkau sakit ini?"
Dengan perlahan-lahan Midun menjawab,"... Bapak...!
Karena bekerja terlalu berat. Kalau saya tahu akan begini, mau
saya dibawa ke Bukittinggi daripada dihukum di sini. Kacak
rupanya musuh dalam selimut bagiku. Entah apa dibencikannya,
tiadalah saya tahu. Malah seperti orang melepaskan sakit
hati ia rupanya. Tetapi saya belum merasa bersalah kepada
Kacak. Tak boleh jadi karena saya melukai Pak Inuh, Kacak
menyiksa saya. Seakan-akan sudah lama ia menaruh dendam
kepada saya. Biarlah, Bapak, karena tiap-tiap sesuatu itu
dengan kehendak Tuhan. Siksaan kepada saya itu saya serahkan
kepada Yang Mahakuasa. Penyakit saya ini tidaklah
membahayakan. Selama sakit akan sembuh, selama susah akan
senang."
Lama Haji Abbas termenung memikirkan perkataan Midun
itu. Kemudian ia berkata kepada Pak Midun, katanya, "Anak
kita dikasihi orang di kampung ini; tetapi Kacak dibenci orang,
karena tingkah lakunya tidak senonoh. Tidak ada ubahnya
sebagai anak yang tidak bertunjuk berajari. Karena angkaranya,
orang lain ini binatang saja pada pemandangannya. Boleh jadi
ia sakit hati, karena Midun banyak sahabat kenalannya. Siapa
tahu Midun dihukum ini, barangkali karena perbuatan Kacak.
Tetapi itu menurut persangkaan saya saja. Tentu dengan
gampang saja ia melepaskan dendam, sebab ada Tuanku Laras
yang akan dipanggakkannya* (Dimegahkannya)."
"Benar perkataan Bapak itu," ujar Midun pula. "Saya rasa
begitulah. Waktu berdua belas di masjid dahulu, sudah salah
juga penglihatannya kepada saya. Ketika ia melihat hidangan
bertimbun-timbun di hadapan saya, tampak kebenciannya
kepada saya. Begitu pula ketika ia salah menyabut raga yang
saya berikan kepadanya, saya hendak ditinjunya. Dan dalam
mengirik baru-baru ini, makin nyata juga iri hatinya itu. Sejak
itu saya tegur dia tidak menyahut lagi. Bila melihat saya ia
meludah-ludah dan muram saja mukanya."
"Boleh jadi," kata Pak Midun, "dubalang Lingkik ada
mengatakan, bahwa Kacak benci benar melihat orang banyak di
sawah Midun. Lebih-lebih melihat orang di sawah itu bergurau
senda, marah ia rupanya."
"Nah, sebab itu ingatlah engkau yang akan datang, Midun!"
ujar Haji Abbas. "Dia itu kemenakan raja kita. Tiba di perut
dikempiskannya, tiba di mata dipejamkannya. Insaflah engkau
akan perbuatanmu yang sudah itu. Sama sekali orang memuji
perbuatanmu, tetapi hasilnya engkau dapat hukuman."
Ada kira-kira sebulan, baru Midun sembuh daripada sakit.
Badannya segar, kembali bagai semula. Sejak itu Midun tidak
kerap kali lagi ke pasar. Jika tidak perlu benar, tidaklah ia
pergi. Sedangkan rokok, ibunya saja yang membelikan dia di
pasar. Malam mengaji, siang ke huma, demikianlah kerja Midun
setiap hari. Pulang dari huma, ia mengerjakan pekerjaan
tangan. Sekali-sekali ia menolong adiknya menggembalakan
ternak.
5. Berkelahi
SEKALI peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai
hendak mandi. Tidak jauh ke sebelah hulu, tepian mandi
perempuan. Pada masa itu amat banyak orang mandi, baik di
tepian perempuan, baik pun di tepian laki-laki. Mereka mandi
sambil bersenda gurau. Ada yang berketimbung sambil tertawa
gelak-gelak. Bermacam-macam tingkahnya, menurut kesukaan
masing-masing. Sekonyong-konyong datanglah air besar dari
hulu. Sangat deras air mengalir, karena hujan lebar di mudik.
Batu yang besar-besar, pohon-pohon kayu dan lain-lain banyak
dihanyutkan air. Mereka yang mandi pada kedua tepian itu
berlompatan ke darat. Sangat ketakutan mereka itu rupanya.
Masing-masing menolong diri sendiri-sendiri. Ada yang jauh
juga dibawa air, tetapi dapat melepaskan diri. Tetapi yang
mandi jauh ke tengah, apalagi tak pandai berenang, tak dapat
tiada binasalah. Sibuk orang di tepian, ada yang memekik
sebab ngeri, ada pula yang berteriak menyuruh kawan segera
ke darat. Bunyi air yang deras itu sangat menakutkan. Tiba-tiba
kedengaran teriak orang mengatakan, "Tolong, tolong! Katijah
hanyut! Katijah hanyut!"
Tidak lama kelihatan rambut seorang perempuan di dalam
air. Timbul-tenggelam dibawa air. Midun ketika itu ada pula di
sana, tetapi ia sudah mandi dan hendak berangkat pulang.
Banyak orang lari ke hilir akan menolong yang hanyut itu.
Segala orang di pasar berlarian, dahulu-mendahului akan melihat
atau menolong yang hanyut. Mereka tanya-bertanya siapa
yang hanyut itu. Katijah, yaitu nama perempuan yang hanyut
itu, ialah istri Kacak yang baru dua bulan dikawininya. Banyak
sungguh orang berdiri di tepi sungai. Orang itu semuanya hanya
kadar melihat yang hanyut saja. Seorang pun tak ada yang
berani menolong. Mereka takut dirinya akan binasa, sebab air
terlalu deras. Di dalam orang banyak itu Midun serta pula
melihat. Kasihan benar ia melihat jiwa perempuan yang terancam
itu. Karena dilihatnya tidak seorang juga yang hendak
menolong. Midun bersiap, hendak terjun. Pakaiannya
ditanggalkannya, hingga tinggal celana pendek saja lagi.
Dengan tidak berpikir lagi, Midun lari ke hilir dan melompat ke
dalam sungai. Amat sukar ia akan mencapai perempuan itu,


karena air makin deras. Kayu-kayu besar yang hanyut sangat
mengalangi Midun akan mencapai Katijah. Setelah ia dekat
kepada perempuan yang hendak ditolongnya itu, terpaksa pula
Midun menyelam, karena beberapa alangan. Dengan susah
payah dapat juga ditangkapnya pinggang Katijah, lalu berhanyut-
hanyut ke hilir sambil menepi sungai. Dengan cara
demikian dapatlah Midun mencapai daratan. Sampai di darat
dipegangnya kaki perempuan itu lalu dipertunggangnya* (Kaki ke
atas kepala ke bawah), agar keluar air yang terminum oleh
perempuan itu. Katijah sudah pingsan, tidak tahu akan diri lagi.
Kain di badan tak ada, telanjang bulat.
Maka datanglah orang berlari-lari membawa kain untuk
Katijah. Bersama itu pula Kacak dengan dua orang kawannya.
Di belakang itu orang banyak yang ingin melihat kejadian itu,
bagaimana kesudahannya. Midun berusaha sedapat-dapatnya
supaya Katijah yang pingsan itu siuman akan dirinya. Setelah
orang banyak datang, maka Katijah diserahkan oleh Midun
kepada perempuan, supaya dibela dan diberi pakaian. Kacak
masam saja mukanya melihat Midun. Jangankan minta terima
kasih, melainkan panas hatinya kepada Midun. Benar, sepatutnya
ia minta syukur istrinya telah ditolong. Tetapi apakah
sebabnya maka si Midun, orang yang sangat dibencinya itu pula
yang menolongnya. Lebih panas lagi hatinya ketika diketahuinya
istrinya itu dalam bertelanjang pula. Maka tidak tertahan
panas hatinya lagi, lalu iapun berkata, "Midun, adakah dihalalkan
dalam agama bahwa orang laki-laki itu boleh menyentuh
kulit perempuan orang lain?"
Orang banyak sangat heran dan amat sakit hatinya mendengar
perkataan Kacak itu. Jangankan ia minta terima kasih
atas kebaktian Midun, malahan perkataannya sangat melukai
hati orang. Midun sendiri takjub dan tercengang, karena tidak
disangkanya perkataan macam itu akan keluar dari mulut
Kacak. Maka Midun menjawab, katanya, "Engku Muda, saya
menolong karena Allah. Jika Engku Muda hendak bertanyakan
terlarang atau tidaknya dalam agama, memang hal itu
tersuruh, tak ada larangannya. Jika tidak ada saya, barangkali
istri Engku berkubur di dalam sungai ini."
"Kurang ajar, berani engkau berkata begitu kepadaku?" ujar
Kacak dengan marah. "Engkau kira saya ini patung saja, tidak
tahu menolong istri dalam bahaya? Lancang benar mulutnya
menghinakan daku, seorang kemenakan Tuanku Laras, di muka
khalayak sebanyak ini. Hendak engkau rasai pulakah tanganku
sekali lagi?"
"Saya maklum Engku Muda kemenakan Tuanku Laras," ujar
Midun dengan sabar. "Saya pun tidak menghinakan Engku Muda,
karena perkataan saya itu sebenar-benarnya. Tadi setelah saya
lihat tidak seorang jua yang akan menolong, saya terus saja
terjun ke air akan membela istri Engku. Saya harap janganlah
Engku terlalu benar mengatakan orang 'kurang ajar' sebelum
dipikirkan lebih dahulu."
"Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apa
pikiranmu, anjing!" ujar Kacak dengan sangat marah. "Akan
saya sembahkah engkau hendaknya, binatang!"
Kacak melompat hendak menyerang Midun, tetapi ditahan
orang, lalu disabarkan. Makin disabarkan, makin jadi, diperkitar-
kitarkannya orang yang memegang dia. Orang banyak
berkerumun melihat pertengkaran Kacak dengan Midun. Midun
tidak dapat lagi menahan hati. Apalagi mendengar perkataan
"binatang" dan "anjing" itu di muka orang banyak. Ada juga ia
hendak menyabarkan hatinya, tetapi tiada dapat. Maka ia pun
berkata, "Lepaskanlah, Saudara-saudara, tak usah disabarkan
lagi! Sanak saudara sekalianlah yang akan menjadi saksiku
kelak, bahwa saya dalam hal ini tidak bersalah. Terlalu benar,
sementang kemenakan Tuanku Laras. Datangilah Kacak,
lepaskan dendammu! Menanti atau mendatang?"
Orang banyak rupanya menanti perkataan Midun saja lagi.
Memang orang sangat benci kepada Kacak yang sombong itu.
Mereka telah berjanji dengan dirinya masing-masing, apa pun
akan terjadi lamun ia tetap akan menjadi saksi Midun kelak.
Kacak segera dilepaskan orang dan melapangkan tempat untuk
berkelahi. Dalam perkelahian itu, sekali pun tidak dapat Kacak
mengenai Midun. Tiap-tiap Kacak menyerang selalu jatuh tersungkur.
Kacak hanya berani membabi buta saja, mukanya
berlumur darah. Midun sekali pun tidak mengenai Kacak. Kacak
tersungkur karena deras datang yang selalu dielakkan Midun.
Sedapat-dapatnya Midun menahan hatinya akan melekatkan
tangan kepada Kacak. Kacak payah, akan lari malu, orang satu
pun tiada yang menolong. Akan minta ampun lebih malu lagi,
namanya anak laki-laki. Ia hampir tidak bergaya lagi. Maka
katanya, "Tolonglah saya, kawan! jasamu tidak akan saya lupakan.
Engkau biarkan sajakah saya seorang?"
Teman Kacak yang dua orang tadi maju ke tengah, lalu
berkata, "Ini dia lawanmu Midun, tahanlah!"
Maun melompat lalu berkata, "Satu lawan satu. Engkau
berdua. Sama menolong teman, di sini juga begitu."
"Engkau jangan campur, Maun!" ujar Midun. "Biarkan saya
sendiri, biarpun sepuluh orang. Kalau saya kena atau mati baru
engkau tuntutkan balas. Adat laki-laki berpanjang minta
tolong. Cobakanlah beranimu!"
Maun mengundurkan diri mendengar perkataan sahabatnya
itu. Ia tiada berani membantah, sebab Maun sudah tahu sejak
dari kecil akan tabiat Midun. Midun sekarang melepas
kekuatannya. Dalam sesaat saja kedua orang itu jatuh. Mereka
kedua tak dapat bangun lagi karena tepat benar kenanya.
Melihat hal itu, Kacak melompat menyerang dengan pisau.
Kacak terjatuh pula, tidak dapat bangun lagi. Ketika ia mencoba
hendak bangkit pula, dubalang Lingkik datang dan
menangkap pisau di tangan Kacak, lalu berkata, "Sabar, Engku
Muda, malu kita kepada orang."
Dubalang Lingkik datang itu bersama dengan Penghulu
Kepala. Midun, Kacak, dan dua orang temannya dibawa ke
kantor Tuanku Laras. Kacak dipapah orang sebab sudah payah
dan kesakitan, dan mukanya sudah bersimbah darah. Orang
banyak yang melihat perkelahian itu dibawa semuanya sebagai
saksi. Di muka Tuanku Laras, dubalang Lingkik menerangkan
dengan sebenarnya. Dikatakannya, bahwa pisau itu ditangkapnya
di tangan Kacak. Dan dikatakannya pula Kacak melawan
Midun tiga orang dengan temannya. Kemudian Midun dan Kacak
ditanyai pula oleh Tuanku Laras. Saksi-saksi dipanggil
semuanya, lalu ditanyai. Dengan berani, mereka itu
menerangkan dari awal sampai ke akhir peristiwa itu. Meskipun
Kacak kemenakan Tuanku Laras, tetapi semua berpihak kepada
Midun. Setelah sudah pemeriksaan itu, Midun disuruh pulang.
begitu pula segala saksi-saksi semuanya pulang. Tuanku Laras
mengatakan, bahwa bila nanti dipanggil mesti datang
sekaliannya.
Tuanku Laras berkata kepada Penghulu Kepala, katanya,
"Perkara ini saya pulangkan kepada Penghulu Kepala dan
kerapatan penghulu. Kurang pantas dan tidak laik rupanya,
kalau saya yang memeriksa. Sungguhpun demikian, Penghulu
Kepala tentu maklum."
"Baiklah Tuanku; " jawab Penghulu Kepala. "Insya Allah akan
saya periksa dengan sepatutnya, hingga menyenangkan hati
Tuanku."
Tiga hari kemudian daripada itu, Midun dipanggil Penghulu
hepala. Kacak dan saksi-saksi pun dipanggil semua. Pak Midun,
Haji Abbas, dan Pendekar Sutan pergi pula akan mendengarkan
putusan itu. Orang banyak pula datang akan mendengarkan.
Perkara Midun itu diperiksa oleh kerapatan di kampung itu,
yang dikepalai oleh Penghulu Kepala sebagai ketuanya. Mulamula
Midun ditanya, setelah itu Kacak. Kemudian segala saksisaksi
yang hadir dalam perkelahian itu. Setelah diperbincangkan
panjang lebar, maka perkara itu diputuskan oleh Penghulu
Kepala. Midun harus ronda kampung setiap malam, lamanya
enam hari. Midun dipersalahkan membalas dendam kepada
Kacak, karena kedua orang itu telah lama bercedera.
Setelah perkara itu diputuskan, Haji Abbas pun berdatang
kata, katanya, "Penghulu Kepala dan kerapatan yang hadir!
Karena perkara ini sudah diputuskan, saya sebagai guru dan
bapak Midun, mohon bicara sepatah kata. Saya amat bersenang
hati atas putusan itu, karena Midun membela jiwa seorang
perempuan, sekarang ia dihukum harus ronda malam enam
hari. Hukuman yang diputuskan itu memang seadil-adilnya dan
telah pada tempatnya pula. Saya mengucapkan banyak-banyak
terima kasih kepada Kerapatan dan kepada Penghulu Kepala."
Kerapatan itu diam, seorang pun tak ada yang menjawab
perkataan Haji Abbas yang amat dalam artinya itu. Mereka
berpandang-pandangan seorang akan seorang, tetapi tak ada
yang berani menjawab. Demikianlah halnya sampai kerapatan
itu disudahi dan orang pulang semua. Sampai di rumah Midun,
Haji Abbas berkata, "Pak Midun, orang rupanya hendak
mencelakakan anak kita. Kita yang tua harus ingat-ingat dalam
hal ini. Hal ini tidak boleh kita permudah-mudah saja lagi.
Orang lain sudah campur dalam perkara Midun dengan Kacak.
Asal kita ikhtiarkan, kalau akan binasa juga apa boleh buat.
Maklumlah Pak Midun?" '
"Saya kurang mengerti akan ujud perkataan Haji itu," jawab
Pak Midun dengan heran.
"Sudah setua ini Pak Midun, belum tahu juga akan ujud
putusan itu," ujar Haji Abbas. "Kilat beliung sudah ke kaki, kilat
cermin sudah ke muka. Anak kita masa ini dalam bahaya. Kita
harus beringat-ingat benar."
"Bahaya apa pula yang akan datang kepada Midun," jawab
Pak Midun. "Bukankah perkaranya sudah diputuskan?"
Dengan perlahan-lahan Haji Abbas berkata, "Rapat itu tidak
dapat menghukum Midun dengan hukuman yang lebih berat,
karena saksi semua berpihak dan mempertahankan Midun.
Sebab itu Midun disuruh ronda malam saja. Di dalam Midun
ronda itu, tentu orang dapat mencelakakan Midun, supaya ia
mendapat hukuman yang berat, mengerti Pak Midun?"
"Amboi!" kata Pak Midun sambil menarik napas. Ia insaf dan
tahu sekarang, bahwa Midun dalam bahaya.
"Pendekar Sutan," kata Haji Abbas pula. "Dalam enam
malam ini hendaklah engkau dengan murid-muridmu dan
temanmu semua menemani Midun ronda malam di kampung ini.
Hati-hati engkau jangan orang dapat membinasakan anak kita.
Saya harap dalam enam hari ini jangan ada terjadi apa-apa di
kampung."
"Kamu, Midun," kata Haji Abbas menghadapkan
perkataannya kepada Midun. "Kalau ada temanmu yang sehati
dengan engkau, bawalah ia akan kawan pergi ronda. Saya
sendiri dengan ayahmu akan menolong engkau sedapatdapatnya."
Setelah mereka itu berteguh-teguh janji, maka pulanglah ke
rumah masing-masing. Midun pun pergi mencari kawan, akan
teman pergi ronda. Pendekar Sutan dengan teman dan
muridnya 20 orang dan Midun dengan kawan-kawannya ada pula
12 orang. Mereka itu mufakat, bagaimana harus menjalankan
ronda itu, dan menetapkan tanda-tanda kalau ada sesuatu
bahaya bertemu. Setelah sudah, mereka itu semuanya mulailah
menjalankan ronda.
Lima malam telah lalu adalah selamat saja, tidak kurang
suatu apa-apa. Ketiga bapak Midun dengan temannya, ingat
benar menjaga keselamatan di kampung itu dalam lima malam
yang sudah. Midun sendiri sebagai ketua dari kawan-kawannya,
membagi-bagi ronda itu berempat-berempat. Sekarang tinggal
lagi malam yang penghabisan. Mereka sekarang harus ingatingat
benar, karena ia merasa bahwa malam itu seakan-akan
ada bahaya yang akan datang. Midun mengatur dengan baik,
bagaimana harus melakukan ronda malam itu.
Demikian pula Pendekar Sutan dengan anak muridnya.
Midun dan Maun malam itu tidak bercerai. Keduanya lengkap
dengan senjata, mana yang perlu.
Kira-kira pukul tiga malam, Midun ronda melalui rumah istri
Kacak. Tiba-tiba Midun berhenti karena mendengar sesuatu
bunyi di rumah Kacak. Midun terkenang akan nasihat bapaknya,
bagaimana melihat orang dalam malam yang gelap. Maka ia pun
merebahkan diri dan menangkup, lalu melihat arah ke rumah
Kacak. Di halaman rumah kelihatan oleh Midun sesuatu sosok
tubuh; dan ada pula seorang sedang membuka pintu rumah.
Tak jauh di halaman tampak pula seorang lagi. Dengan
perlahan-lahan Midun berkata kepada Maun, "Maling. Pergilah
panggil Bapak Pendekar dan kawan-kawan, supaya dapat kita
mengepung. Masih ada waktu, dia baru mulai membuka pintu.
Ingatlah, segala pekerjaan ini harus dilakukan dengan perlahanlahan
benar, supaya kita jangan diketahuinya."
Dengan tidak menyahut sepatah jua, Maun pergilah. Tidak
lama antaranya datanglah Pendekar Sutan dengan Maun.
Pekerjaan itu dilakukan dengan diam-diam dan hati-hati benar.
Midun bertanya dengan berbisik, "Sudahkah siap, Bapak?"
"Sudah," ujar Pendekar Sutan. "Pada keliling rumah ini, agak
jauh sedikit, orang sudah bersiap. Sudah saya perintahkan mengepung
rumah, takkan dapat maling melarikan diri. Mereka itu
hanya menanti perintah kita saja. Sudah saya katakan
kepadanya, siapa yang lari, pukul saja."
Dengan sabar, Midun dan kawan-kawannya menantikan
maling itu ke luar, supaya dapat tanda buktinya apabila ditangkap.
Sudah dimufakati, bahwa yang akan menyerang ialah
Midun dan Pendekar Sutan. Maun siap akan membela, manakala
di antara mereka kedua ada yang kena dalam perkelahian itu.
Ada sejam kemudian, keluarlah maling itu, sambil memikul
barang curiannya. Ketika hendak turun janjang, kakinya
tergelincir, lalu ia jatuh, pukulan Midun tiba di kepalanya.
Dengan segera maling itu bangun sambil mencabut pisau
hendak membalas. Tetapi Midun segera mendahului, memukul,
dengan gada sekali lagi. Pukulan itu tepat kena pada kening
maling itu, lalu terjatuh tidak bergerak lagi. Ketika itu Maun
telah ada pada sisinya, lalu berkata, "Biarkanlah orang ini saya
ikat dengan tali. Yang seorang lagi dapat saya pukul, tetapi
karena kurang tepat, masih kuat ia melarikan diri. Pergilah
tolong Mamak Pendekar, beliau sudah bergumul dengan maling
itu. Nyata kedengaran pada saya, bahwa orang itu belum tertangkap."
Dengan tidak berkata sepatah jua, Midun melompat pergi
mendapatkan Pendekar Sutan. Didapatinya maling itu sudah
pingsan terhantar di tanah. Pendekar Sutan kena pisau pada
pangkal lengannya. Untung tidak berat lukanya.
"Dalam luka Bapak?" ujar Midun dengan cemas.
"Tidak," jawab Pendekar Sutan. "Waktu saya menangkapnya,
kaki saya terperosok ke dalam lubang tempat orang memeram
pisang. Ketika itulah saya kena ditikamnya. Untung dapat juga
saya menangkis, kalau tidak tentu tepat kena saya, dan hanya
bangkai yang akan engkau dapati di sini. Engkau bagaimana?"
"Selamat," ujar Midun," orang itu sudah diikat Maun. Marilah
kita ikat pula orang ini."
"Yang satu lagi ke mana?" ujar Pendekar Sutan. Bukankah
engkau mengatakan mereka tiga orang banyaknya?"
"Biarlah, Bapak," kata Midun pula. "Asal yang dua ini dapat,
'sudahlah. Tentu ia sudah melarikan diri. Ia ada juga kena
dipukul oleh Maun. Besok tak dapat tiada yang lari itu akan
tertangkap juga, asal yang dua ini dipaksa menyuruh
menunjukkan temannya yang seorang itu. Sungguhpun
demikian, boleh jadi ia sudah ditangkap kawan-kawan."
Haji Abbas, karena suraunya berdekatan dengan rumah istri
Kacak, mendengar perkelahian itu, memang Haji Abbas tidak
tidur semalam-malaman itu, mendengar kalau-kalau ada yang
terjadi atau orang memanggil dia. Ia segera turun dengan
melalui jendela surau. Tiba-tiba terasa olehnya seakan-akan
ada orang yang hendak bertumbuk dengan dia. Dengan tidak
berpikir lagi. Haji Abbas memainkan kakinya, orang itu
berteriak, "Saya Kacak, mengapa dipukul, aduh...!"
Mendengar suara itu, Haji Abbas menghilang di dalam gelap.
Akan kedua maling itu sudah diikat, lalu diiringkan mereka
beramai-ramai ke rumah Penghulu Kepala. Barang-barang
curian itu dibawa Maun semuanya. Maklumlah anak mudamuda,
tentu mereka tak kurang melekatkan tangan kepada
maling itu, hingga sampai ke rumah Penghulu Kepala. Ketika itu
hari sudah lewat pukul empat pagi. Karena Penghulu Kepala di
rumah istrinya yang seorang lagi, lalu dibawa kedua maling itu
ke rumah Tuanku Laras.
Biasanya pada tiap-tiap kampung yang di bawah
pemerintahan Tuanku Laras itu, diadakan orang tongtong.
Tongtong itu digantungkan pada tiap-tiap rumah jaga, dan
dijagai oleh dua orang sekurang-kurangnya. Manakala ada
bahaya, baru tongtong itu boleh dibunyikan, misalnya
kebakaran, kemalingan, dan lain-lain yang semacam itu. Pada
tiap-tiap bahaya, berlain-lainan cara orang membunyikannya.
Yang lazim, jika kebakaran terus-menerus saja bunyi tongtong
itu. Kalau kemalingan, lain lagi macam bunyinya. Pada malam
kemalingan di rumah Kacak itu, amat sibuk bunyi tongtong.
Bersahut-sahutan kampung yang sebuah dengan kampung lain,
akan memberitahukan bahwa ada bahaya. Mendengar bunyi
tongtong itu, orang maklum sudah, bahaya apa yang terjadi.
Masa itu mana yang berani, berlompatan turun ke halaman
dengan senjatanya. Mereka itu terus lari ke rumah jaga
menanyakan di mana kemalingan. Tetapi si penakut memperbaiki
selimutnya, ada pula yang bangun memeriksa pintu,
dan ada pula yang duduk saja ketakutan di dalam rumahnya.
Demikian pula halnya Tuanku Laras. Ketika ia mendengar
bunyi tongtong itu, ia terkejut lalu bangun. Tuanku Laras amat
heran mendengar bunyi tongtong, karena sudah hampir 5 tahun
sampai waktu itu, belum pernah ada bahaya yang terjadi di
kampung itu, pada pikirannya, "Tak dapat tiada ada orang
maling menjarah dari negeri lain ke kampung ini. Atau boleh
jadi... Tetapi mengapa Penghulu Kepala pulang ke rumah
istrinya di kampung lain?"
Maka ia pun segera memakai baju malam, diambilnya
terkul. Ia terjun ke halaman, diiringkan oleh dua orang
dubalang. Tiada jauh Tuanku Laras berjalan, sudah kelihatan
olehnya suluh berpuluh-puluh buah. Di muka tampak dua orang
yang sudah terikat, dan di belakang amat banyak orang
mengiringkannya. Mereka itu semua menuju ke rumah Tuanku
Laras. Dengan segera seorang dubalang disuruh Tuanku Laras
membawa maling itu ke kantornya.
Kedua maling itu tidak dapat ditanyai malam itu, karena
berlumur darah dan letih. Baru saja sampai di beranda kantor
mereka pingsan tidak sadarkan diri lagi. Tiap-tiap orang
sepanjang jalan mengirimkan sepak terjang kepada maling itu.
Orang banyak itu disuruh pulang oleh Tuanku Laras semua.
Pendekar Sutan, Maun, dan Midun dipanggil ke dalam oleh
Tuanku Laras.
"Di mana kamu tangkap maling ini?" ujar Tuanku Laras.
Midun lalu menerangkan bahwa kemalingan itu di rumah
Engku Muda Kacak. Segala tanda bukti diperlihatkannya semua.
Kemudian diceritakannya, bagaimana caranya menangkap
maling itu sejak dari bermula sampai tertangkap. Pendekar
Sutan luka tidak dikatakan Midun. Mendengar cerita Midun,
Tuanku Laras mengangguk-anggukkan kepala saja. Tetapi pada
mukanya nyata ada sesuatu yang terpikir dalam hatinya.
Setelah habis Midun bercerita, Tuanku Laras bertanya, "Kacak
ada di rumah istrinya?"
"Tidak, Tuanku!" jawab Midun. "Menurut keterangan
istrinya, ia pulang ke rumah istrinya yang lain. Tetapi ke rumah
istri beliau yang mana, tidaklah hamba tahu."
Baru saja habis Midun berkata, Penghulu Kepala datang
dengan terengah-engah. Rupanya Penghulu Kepala berlari dari
rumah istrinya di kampung lain, karena mendengar bunyi
tongtong. Setelah Iepas lelahnya, maka Tuanku Laras dibawa
Penghulu Kepala bercakap ke dalam sebuah bilik kantor itu.
Kira-kira setengah jam, baru keduanya keluar dengan muka
masam. Maka Tuanku Laras berkata, "Midun! Karena kedua
orang maling ini masih pingsan, belum boleh ditanyai, kamu
boleh pulang saja dahulu. Nanti bilamana saya panggil,
hendaklah segera engkau datang." '
"Baiklah, Tuanku, kami mohon minta izin," ujar Midun
dengan hormatnya.
Sampai di rumah, Midun menceritakan kepada ayah
bundanya kejadian pada malam itu. Ibu bapak Midun berbesar
hati dan meminta syukur kepada Tuhan seru sekalian alam,
karena anaknya Ada selamat saja, terhindar daripada bahaya.
Tetapi dalam hati Midun timbul suatu perasaan yang ganjil,
ketika ia mengenangkan perkataan Tuanku Laras menanyakan
Kacak dan ketika Penghulu Kepala membawa Tuanku Laras
bercakap ke dalam bilik. Sebab itu ia ingin hendak mengetahui
bagaimana kesudahan pemeriksaan perkara itu. Pak Midun
mengangguk-anggukkan kepala saja. Ia telah maklum selukbeluk
perbuatan orang hendak mencelakakan anaknya. Apalagi
kabar yang dikatakan Haji Abbas dengan rahasia kepadanya,
tentang kejadian malam itu, makin meneguhkan kepercayaannya.
Ngeri Pak Midun memikirkan, jika anaknya dapat bahaya
pula.
Tetapi senang pula hatinya, karena hal yang sangat
mengerikan itu sekarang sudah terlepas.
Ketika Midun, ayah bunda, dan adik-adiknya sudah makan
pagi itu, kedengaran orang batuk di halaman. Orang yang batuk
itu ialah Haji Abbas; ia naik ke rumah. Setelah Haji Abbas
duduk, kopi dan penganan pun dihidangkan oleh ibu Midun.
Tidak lama kemudian Haji Abbas berkata, "Maklumlah Pak
Midun sekarang, apa ujud orang menghukum Midun enam hari
itu?"
Sedang Pak Midun mengangguk-anggukkan kepala, menyatakan
kebenaran perkataan Haji Abbas, Pendekar Sutan dan
Maun naik pula ke rumah. Baru saja Pendekar Sutan duduk,
Haji Abbas berkata sambil tersenyum dan menyindir, "Midun,
saya dengar kabar bapakmu kena tikam semalam. Hampir saja
kita berkabung hari ini. Waktu saya mendengar kabar itu, saya
menyangka tentu Midun terburai perutnya kena pisau. Sedang
bapaknya yang sudah termasyhur pendekar lagi kena, bahkan
pula anaknya. Kiranya terbalik, anak selamat tetapi bapak...
Ah, sungguh tak ada pendekar yang tidak bulus."
"Benar," ujar Pak Midun pula sambil tersenyum menyela perkataan
Haji Abbas akan mengganggu Pendekar Sutan. "Agaknya
langkah Pendekar Sutan sumbang malam tadi. Yang patut
langkah maju, mundur ke belakang. Dan boleh jadi juga
terlampau tinggi membuang tangan, ketika itu pisau bersarang
ke rusuk Pendekar Sutan."
Seisi rumah riuh tertawa, tetapi Pendekar Sutan merah
mukanya mendengar sindiran mereka berdua. Ia pun berkata,
"Mengatakan saja memang gampang. Jika Haji atau Pak Midun
sebagai saya semalam, barangkali berbunyi cacing gelanggelang
di perut ketakutan, setidak-tidaknya putih tapak
melarikan diri. Sebabnya, pertama orang yang bertentangan
dengan saya itu tidak sembarang orang, saya kenal benar akan
dia. Kedua, kaki saya terperosok masuk lubang, dalam pada itu
tikaman bertubi-tubi pula datangnya. Ketiga, hari gelap amat
sangat, sedikit saja salah menangkis, celaka diri.
Keempat, pikiran tak pula senang, memikirkan anak sedang
berkelahi. Biarpun Midun pendekar, begitu pula Maun, keduanya
masih muda-muda, belum tahu tipu muslihat perkelahian.
Lagi pula maling itu siap dengan alat senjatanya, tetapi kita
tidak demikian benar."
Mendengar perkataan Pendekar Sutan, mereka keduanya
berdiam diri, lalu Haji Abbas berkata, "Berbahaya juga kalau
begitu? Cobalah ceritakan, supaya kami dengar. Siapa dan
bagaimana orang yang berkelahi dengan Pendekar itu."
"Untung dia dengan saya bertentangan," ujar Pendekar
Sutan memulai ceritanya. "Orang itu ialah Ma Atang, seorang
perampok, penyamun, pemaling, ya, seorang pembatak yang
amat jahat. Nama Ma Atang telah dikenali orang di mana-mana
sebab kejahatannya. Keberaniannya dan ketangkasan Ma Atang
pun sudah termasyhur. Ia sudah tiga kali dibuang menjadi orang
rantai. Ketiga kali pembuangannya itu ialah perkara pembunuhan
dan perampokan di Palembayan dahulu. Sungguhpun
demikian, perangainya yang jahat itu tidak juga berubah.
Macam-macam kata orang tentang keberanian Ma Atang. Ada
yang mengatakan ia kebal, tidak luput oleh senjata. Ada yang
mengatakan, kepandaiannya bersilat sebagai terbang di udara.
Bahkan ada pula orang yang mengatakan, bahwa ia tahu
halimunan. Hati siapa takkan kecut, siapa yang takkan gentar
berhadapan dengan orang macam itu. Apalagi hatinya hati
binatang, tidak menaruh kasih mesra kepada sesamanya
manusia. Asal akan beroleh uang, apa saja mau ia
mengerjakannya. Nyawa orang dipandangnya sebagai nyawa
ayam saja. Untung juga saya mengetahui Ma Atang itu setelah
hadir di kantor Tuanku Laras. Jika sebelum itu saya mengetahui
Ma Atang, boleh jadi bergoyang iman saya, dan saya binasa
olehnya.
Semalam, ketika saya mendekati akan memukul kepala Ma
Atang itu, terinjak olehku ranting kayu. Bunyi itu didengarnya,
lalu ia berbalik. Saat itu saya pergunakan, saya gada mukanya.
Dengan tangkas ia mengelak, dicabutnya pisau dari pinggangnya.
Hal itu tampak terbayang kepadaku. Saya tangkis pisau
itu, lalu kami pun bergumul. Dalam perkelahian itu saya selalu
maju dan merapatkan diri, sebab ia berpisau dan hari gelap.
Sedikit pun tak saya beri kesempatan ia menikam. Ma Atang
dapat saya tangkap, dan saya empaskan ke pohon kayu.
Jangankan ia terempas, melainkan seakanakan tak menjejak
tanah ia rupanya. Sebagai kilat cepat Mak Atang berbalik
menikam saya. Ketika saya menyalahkan tikaman itu, kaki saya
terperosok masuk lubang pemeram pisang... pangkal lengan
saya pun kena. Waktu itu belum terasa apa-apa oleh saya kena
pisau. Saya tarik kaki saya kuat-kuat, lalu saya menidurkan diri,
tetapi siap menanti. Dengan muslihat itu, pada pikiran Ma
Atang tepat saja kena tikamannya. Dengan amuk sambil lari,
diulangnya menikam saya sekali lagi. Masa itulah ia dapat saya
kenai; tepat benar kaki saya mengenai...—maaf, ibu Midun—
kemaluannya. Ia pun jatuh pingsan, Midun sudah datang
mengikatnya."
Segala isi rumah ngeri mendengar cerita Pendekar Sutan.
Lebih-lebih ibu Midun, sebentar-sebentar ia menjerit. Maklumlah
seisi rumah itu sekarang, bagaimana keadaan Pendekar
Sutan malam itu. Sebab itu Haji Abbas dan Pak Midun tidak lagi
memperolok-olokkan adiknya. Kemudian Haji Abbas bertanya
pula, "Engkau bagaimana pula lagi dengan musuhmu, Midun?"
"Bagi saya mudah saja, Bapak," ujar Midun. "Ketika Bapak
Pendekar dan Maun datang, kami mufakat lalu berbagi-bagi.
Yang di jalan bagian Maun, yang di pintu gapura bagian Bapak
Pendekar Sutan, dan yang masuk rumah bagian saya. Maun
kami larang menyerang, supaya dapat menolong kami, kalau
ada yang kena. Sungguhpun demikian ia selalu siap. Saya tahu,
bahwa jarak maling itu dengan temannya berjauhan. Saya pun
merangkak ke tangga, di pintu tempat ia masuk. Karena anak
tangga itu betung, dengan mudah saya buka anaknya sebuah.
Saya pun berdiam diri dekat tangga itu menantikan dia turun.
Tidak lama, maling itu turun sambil memikul barang curiannya.
Waktu ia turun semata anak tangga, kakinya tergelincir, jatuh
ke bawah. Ketika itulah saya gada kepalanya sekuat-kuat
tenaga saya. Saya sangka tentu ia terus pingsan. Tetapi tidak,
ia bergerak lagi hendak menyerang saya. Saya pukul lagi
mukanya, ia pun pingsan tak sadarkan dirinya."
Setelah tamat pula cerita Midun, Haji Abbas bertanya pula,
"Engkau bagaimana pula dengan musuhmu, Maun?"
"Saya tidak menyerang, melainkan berdiam diri saja dekat
jalan," ujar Maun. "Waktu saya mendengar Mamak Pendekar
Sutan berkelahi, tiba-tiba saya bertumbuk dengan seseorang
yang rupanya hendak melarikan diri. Dengan segera saya pukul
akan dia. Entah kepala, entah punggungnya yang kena, saya
tidak tahu.
Tetapi dia terus juga lari. Kalau saya kejar tentu dapat,
tetapi saya tidak menepati janji. Lagi pula saya takut akan
digada teman-teman yang sudah berkeliling mengepung rumah
itu. Saya segera mendapatkan Midun, dan dia saya suruh
menolong Mamak Pendekar. Maling yang dipukul Midun itu lalu
saya ikat."
Haji Abbas mengangguk-anggukkan kepala, terkenang
kepada Kacak yang mengaduh kena kakinya semalam itu.
Menurut pikiran Haji Abbas, tak dapat tiada orang yang lari
dipukul Maun dan yang kena sepaknya itu, ialah Kacak. Setelah
adik-adik Midun disuruh pergi bermain, lalu Haji Abbas berkata,
"Midun dan Maun, cerita bapakmu tadi banyak yang patut
engkau ambil jadi teladan. Demikianlah hendaknya muslihat
jika berkelahi dengan orang yang memegang pisau. Dalam
perkelahian yang tidak memakai pisau pun, ada juga tipunya.
Misalnya mengumpan orang dengan pura-pura menyumbangkan
langkah. Tetapi manakala dalam perkelahian banyak, artinya
engkau seorang dipersama-samakan orang, jangan sekali-kali
maju. Hendaklah engkau selalu mengundurkan diri, sambil
menangkis serangan orang. Dan kalau dapat, carilah tempat
vang tiga persegi, yang dinamakan orang: kandang sudut. Di
tempat itu, sukarlah orang mengenai kita."
Maka Haji Abbas menerangkan dengan panjang lebar, bagaimana
tipu muslihat dalam perkelahian kepada Midun dan Maun.
Untuk menjadi misal, Haji Abbas menceritakan keadaannya
dengan Pak Midun semasa muda. Kemudian Haji Abbas menyambung
perkataannya, "Rupanya waktu Ma Atang berkelahi
dengan Pendekar Sutan, nyata bahwa Ma Atang hendak
membunuh lawannya benar. Jika saya tidak salah tampa, tak
dapat tiada Pendekar Sutan disangkanya Midun. Orang yang
dipukul Maun itu, pada hemat saya tentu Kacak. Sudah dapat
pukulan dari Maun, dapat bagian pula dari saya. Tetapi Kacak
sekali-kali tidak tahu, bahwa sayalah yang bertemu dengan dia.
Ingatlah, hal ini harus dirahasiakan benar-benar. Cukuplah kita
yang enam orang ini saja mengetahuinya. Perkara Midun ini
rupanya sudah dicampuri orang tua-tua. Sebab itu jika kurang
hati-hati, tentu kita celaka. Kita ini hanya orang biasa saja,
tetapi Kacak kemenakan Tuanku Laras. Yang akan datang,
hendaklah engkau ingat-ingat benar dalam hal apa juapun,
Midun. Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis, jerat serupa
dengan jerami."
"Baiklah, Bapak," ujar Midun. "Hingga ini ke atas saya akan
berhati-hati benar. Dalam pada itu jika sudah saya ikhtiarkan,
tetapi datang juga bencana atas diri saya, apa boleh buat,
Bapak."
Dari sehari ke sehari Midun menanti panggilan tidak juga
datang. Habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan,
Midun tidak juga dipanggil akan diperiksa tentang maling yang
ditangkapnya itu. Ada yang mengatakan, bahwa maling itu
sudah dikirim ke Bukittinggi. Setengahnya pula berkata,
"Sungguh amat ajaib perkara ini. Semalam kemalingan di rumah
istri Kacak, besoknya Kacak jatuh sakit. Padahal Kacak tidak
ada di rumah istrinya malam kemalingan itu. Dan lagi perkara
itu didiamkan saja, seolah-olah ada berudang di balik batu.
Jangan-jangan pencurian itu ada bertali dengan sesuatu hal
yang muskil, yang tidak diketahui orang."
Demikianlah perkara itu: terapung tak hanyut, terendam
tak basah, hingga sampai Kacak sembuh, Midun belum juga
terpanggi
6. Pasar Malam
MATAHARI telah turun menjelang tirai peraduan di balik bumi,
meninggalkan cahaya yang merah kuning laksana emas baru
disepuh dipinggir langit di pihak barat. Burung-burung beterbangan
pulang ke sarangnya. Dengan tergesa-gesa sambil
berkotek memanggil anak, inasuklah ayam ke dalam kandang,
karena hari telah samar muka. Cengkerik mulai berbunyi bersahut-
sahutan, menyatakan bahwa hari sudah senjakala. Ketika
itu sunyi senyap, seorang pun tak ada kelihatan orang di jalan.
Di jembatan pada sebuah kampung, kelihatan tiga orang duduk
berjuntai. Mereka duduk seakan-akan ada suatu rahasia yang
dimufakatkannya, yang tidak boleh sedikit juga didengar orang
lain. Sambil melihat ke sana kemari, kalau-kalau ,ida orang lalu
lintas, mereka itu mulai bercakap-cakap.
"Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di
Bukittinggi," kata seorang di antara mereka itu yang tidak lain
dari Kacak memulai percakapannya. "Saat itulah yang sebaikbaiknya
bagi kita akan membalaskan dendamku selama ini
kepada Midun. Tak dapat tiada tentu Midun pergi pula melihat
keramaian itu. Orang kampung telah tahu semua, bahwa saya
bermusuh dengan dia. Jadi kalau dia saya binasakan di sini,
malu awak kepada orang. Tentu orang kampung syak wasangka
kepada saya saja, kalau ada apa-apa kejadian atas diri Midun.
Lagi pula ia tak pernah keluar, hingga sukar akan rnengenalnya.
Oleh sebab itu telah bulat pikiran saya, bahwa hanya di
Bukittinggilah dapat membinasakannya. Bagaimanakah pikiran
Lenggang? Sukakah Lenggang menolong saya dalam hal ini? Budi
dan cerih Lenggang itu, insya Allah takkan saya lupakan. Bila
yang dimaksud sampai, saya berjanji akan memberi sesuatu
yang menyenangkan hati Lenggang."
"Cita-cita Engku Muda itu mudah-mudahan sampai," jawab
Lenggang, sambil melihat keliling, takut kalau-kalau ada orang
mendengar. "Kami berdua berjanji menolong Engku Muda
sedapat-dapatnya. Jika tak sampai yang dimaksud, tidaklah
kami kembali pulang. Tidak lalu dendang di darat kami layerkan,
tak dapat dengan yang lahir, dengan batin kami perdayakan.
Sebab itu apa yang kami kerjakan di Bukittinggi,
sekali-kali jangan Engku Muda campuri, supaya Engku jangan


terbawa-bawa. Biarkanlah kami berdua, dan dengar saja oleh
Engku Muda bagaimana kejadiannya. Ada dua jalan yang harus
kami kerjakan. Tetapi... maklumlah, Engku Muda, tentu dengan
biaya. Lain daripada itu ingatlah, Engku-Muda, rahasia ini
hanya kita bertiga saja hendaknya yang tahu. Pandai-pandai
Engku Muda menyimpan, sebab hal ini tidak dapat dipermudah,
karena perkara jiwa."
"Seharusnya saya yang akan berkata begitu," ujar Kacak
sambil mengeluarkan uang kertas Rp 25,- dari koceknya, lalu
diberikannya kepada Lenggang. "Bukankah Tuan-tuan membela
saya, masakan saya bukakan rahasia ini. Biar apa pun akan
terjadi atas diri Lenggang kedua, jangan sekali-kali nama saya
disebut-sebut. Saya ucapkan, moga-moga yang dimaksud
sampai, karena bukan main sakit hatiku kepada Midun, anak si
peladang jahanam itu. Jika dia sudah luput dari dunia ini,
barulah senang hati saya. Sekarang baik kita bercerai-cerai
dulu, karena kalau terlalu lama bercakap-cakap, jangan-jangan
dilihat orang."
Setelah ketiganya berteguh-teguhan janji bahwa rahasia itu
akan dibawa mati, maka mereka pun pulang ke rumah masingmasing.
Lenggang dengan temannya sangat bersuka hati
mendapat uang itu. Gelak mereka terbahak-bahak,
lenggangnya makin jadi, tak ubah sebagai namanya pula.
Bahaya apa yang akan menimpa mereka kelak, sedikit pun tidak
dipedulikan Lenggang. Memang Lenggang sudah biasa menerima
upah semacam itu. Pekerjaan itu sudah biasa dilakukannya.
Sudah banyak ia menganiaya orang, satu pun tak ada orang
yang tahu. Pandai benar ia menyimpan rahasia dan melakukan
penganiayaan itu. Jika ada yang menaruh dendam kepada
seseorang, dengan uang seringgit atau lima rupiah saja, telah
dapat Lenggang disuruh akan membinasakan orang itu.
Pekerjaan itu dipandangnya mudah saja, karena sudah biasa.
Akan membinasakan Midun itu, tidak usah ia berpikir panjang,
karena hal itu gampang saja pada pikirannya. Hanya yang
dipikirkan Lenggang, tentu ia mendapat upah amat banyak dari
Kacak, jika yang dimaksudnya sampai. Kacak seorang kaya,
sedangkan bagi permintaan yang pertama diberinya Rp 25,-
padahal belum apa-apa lagi. Akan mengambil jiwa Midun,
seorang yang boleh dikatakan masih kanak-kanak, tak usah dihiraukannya.
Dua pekan lagi akan diadakan pacuan kuda di Bukittinggi.
Tetapi sekali ini pacuan kuda itu akan diramaikan dengan pasar
malam lebih dahulu. Kabar pasar malam di Bukittinggi itu sudah
tersiar ke mana-mana di tanah Minangkabau. Hal itu sudah
menjadi buah tutur orang. Di mana-mana orang mempercakapkannya,
karena pasar malam baru sekali itu akan diadakan di
Bukittinggi. Demikian pula Midun, yang pada masa itu sedang
duduk-duduk di surau menanti waktu asar bersama Maun, pasar
malam itulah yang selalu diperbincangkan.
"Ah, alangkah ramainya keramaian di kota sekali ini, Maun,"
kata Midun memulai percakapan itu. "Kabarnya 'alat'* (Maksudnya
pacuan kuda) sekali ini akan sangat ramai sekali, sebab disertai
dengan pasar malam. Di dalam pasar malam itu, orang mempertunjukkan
berbagai-bagai kerajinan, ternak, hasil tanah,
dan lain-lain sebagainya. Segala pertunjukan itu, mana yang
bagus diberi hadiah. Permainan-permainan tentu tidak pula
kurang. Tak inginkah Maun pergi ke Bukittinggi? Saya berhajat
benar hendak melihat keramaian sekali ini. Kepada ayah saya
sudah minta izin. Tetapi hati beliau agak berat melepas saya,
berhubung dengan Kacak yang selalu mengintai hendak
menerkam mangsanya. Sungguhpun demikian, beliau izinkan
juga, asal saya ingat-ingat menjaga diri."
"Memang saya ingin pergi ke Bukittinggi," ujar Maun, "Sejak
kecil belum pernah saya melihat pasar malam. Bagi saya tak
ada alangan apa-apa. Perkara Kacak yang engkau katakan itu,
saya juga merasa khawatir. Ia selalu mengintai-intai, Midun!
Kepada saya sendiri, kalau bertemu agak lain pandangnya,
tetapi tidak saya pedulikan. Kemarin, waktu kita pergi
sembahyang Jumat, ada kita berjumpa dengan seorang yang
belum pernah bertemu, apalagi dikenal. Orang itu saya lihat
memandang kepada kita dengan tajam. Sudah kenalkah engKau
kepada orang itu? Bukankah engkau ada ditegurnya?"
"Tidak, sekali-kali tidak, saya heran karena saya ditegurnya
dengan sopan benar, padahal ia belum saya kenali. Saya rasa
tentu ia tidak orang jahat, sebab ada juga sembahyang. Tetapi
waktu kita bertemu dengan dia kemarin, darah saya berdebar.
Entah apa sebabnya tidaklah saya tahu. Malam tadi tak senang
sedikit juga hati saya. Ada saya tanyakan kepada Bapak
Pendekar akan orang itu. Bapak Pendekar menerangkan, bahwa
orang itu bukanlah orang kampung sini. Tetapi beliau kenal
namanya dipanggilkan orang Lenggang. Dahulu memang dia
seorang jahat, pemaling dan pencuri. Kedatangannya kemari
tidak beliau ketahui. Beliau katakan pula, bahwa Lenggang itu
acap kali kelihatan pergi ke rumah famili Tuanku Laras. Karena
itu, menurut tilikan beliau, Lenggang tentu sudah. baik
sekarang, apalagi telah sembahyang. Kalau tidak, tentu ia tidak
berani menampakkan diri ke rumah Tuanku Laras. Sungguhpun
demikian, beliau suruh saya hati-hati juga menjaga diri, jangan
lengah sedikit juga. Musuh dalam selimut, kata beliau."
"Perasaan saya pun begitu, Midun. Lain perasaan saya waktu
melihat orang itu kemarin. Untung beliau telah maklum. Saya
sudah berniat juga hendak mengatakannya kepadamu. Sudah
jauh kita diamat-amatinya juga ngeri saya melihat rupanya,
bengis dan menakutkan sungguh. Ingat-ingat, Midun! Kita harus
hati-hati, supaya jangan binasa."
"Yang sejengkal itu tak mau jadi sedepa, kawan! Tak usah
kita hawatirkan benar hal itu. Syak wasangka dan cemburu
yang berlebih-lebihan merusakkan pikiran dan membinasakan
diri. Jika nasib kita akan dapat malapetaka, apa boleh buat.
Bukankah tiap-tiap sesuatu dengan takdir Tuhan."
"Jadi rupanya Midun menanti takdir saja, dan bila takdir itu
datang, sudahlah."
"Sebenarnya, kawan! Tetapi engkau jangan pula salah
pengertian. Bukan maksud saya berserah diri saja sebab takdir,
sekalikili tidak. Kita dijadikan Tuhan dan diberi pikiran
secukupnya. Dengan pikiran itulah kita menimbang mana yang
baik untuk keselamatan diri kita. Bukankah segala dua dijadikan
Allah? Pilihlah dengan pikiran itu mana yang akan dikerjakan.
Kita wajib mengusahakan diri agar terhindar dari bencana
dunia ini. Bilamana ikhtiar sudah dijalankan, dan kita dapat
malapetaka juga, itulah yang dnamakan nasib. Dan kalau kita
sekarang sekonyong-konyong kena tombak misalnya, padahal
tidak disengaja, itulah yang dikatakan orang takdir. Mengertikah
engkau, Maun? Jadi tentu saja kita harus horhati-hati. Jika
dapat dihindarkan, baik kita hindarkan, supaya jangan dapat
bahaya. Tetapi bila tersesak padang ke rimba, terhentak ruas
ke buku, apa boleh buat, wajib kita membela diri."
"Sekarang mengerti saya maksudmu itu. Nah, bilakah kita
berangkat? Tak perlukah kita membawa apa-apa untuk dijual di
kota akan belanja selama di sana?"
"Tiga hari pasar malam akan dimulai, kita berangkat dari
sini."
"Uang simpananku ada Rp 25,-. Kamu adakah menyimpan
uang?"
"Ada, saya rasa hanya sebanyak uang simpananmu pula
agaknya."
"Mari kita perniagakan uang itu! Saya dengar kabar, lada
dan telur amat mahal sekarang di Bukittinggi. Untungnya itulah
untuk belanja. Lain daripada itu kita tolong pula menjualkan
lada ibu."
Pada tepi jalan di pasar kampung itu kelihatan lada, ayam,
dan lain-lain sebagainya. Dua orang muda memuat barangbarang
itu ke dalam pedati. Setelah selesai, Midun dan Maun
pun bersalam dengan ayah-bunda masing-masing, yang ketika
itu ada pula di sana menolong memuat barang itu ke dalam
pedati. Mereka kedua minta izin, lalu bersiap akan berangkat.
Ketika Midun bersalam minta maaf kepada ibunya, lama benar
tangannya maka dilepaskan ibunya. Amat berat hati ibu itu
melepas anaknya ke Bukittinggi. Sungguhpun Bukittinggi tidak
berapa jauh dari kampungnya, tetapi tak ubah hal ibu Midun
sebagai seorang yang hendak melepas anaknya berjalan jauh.
Amat lain perasaannya, takut kalau-kalau anaknya dapat
bahaya. Rasa-rasa tampak kepada ibu itu bahaya yang akan
menimpa anaknya, karena Midun dimusuhi orang. Tetapi ia
terpaksa harus melepas Midun, anak yang sangat dikasihinya
itu.
Maka berangkatlah Midun dan Maun menumpang pedati yang
membawa barang-barangnya itu. Dari kampungnya ke
Bukittinggi adalah semalam perjalanan dengan pedati. Ia
berangkat pada petang hari Jumat. Pagi-pagi hari Sabtu,
sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi. Di dalam
perjalanan keduanya adalah selamat saja. `
Belum tinggi matahari terbit, barang-barang yang dibawanya
diborong oleh orang Cina dengan harga Rp 160,-. Setelah
itu keduanya pergi makan ke sebuah lepau nasi dan menghitung
laba masing-masing. Barang yang berpokok Rp 50,- dijual Rp
100,- dan beruntung Rp 50,-. Penjualan lain kepunyaan ibunya
Rp 60,- ' disimpan mereka uangnya. Setelah dipotong biaya,
lalu dibaginya dua keuntungan itu, yaitu Rp 20,-, seorang.
Sesudah makan, Midun berkata, "Sungguh bukan sedikit untung
kita, Maun! Patutlah Datuk Palindih lekas benar kayanya. Belum
lama ia jadi saudagar, sudah banyak ia membeli sawah. Uang
yang diperniagakannya pun tidak sedikit, karena berpuluh
pedati ia membawa barang-barang yang telah dibelinya.
Maukah Maun berniaga pula nanti?"
"Baik, saya pun amat suka berniaga," jawab Maun. "Jika
pandai menjalankan perniagaan, memang lekas benar naiknya.
Tapi jatuhnya mudah pula. Lihatlah Baginda Sutan itu! Dari
sekaya-kayanya, jatuh jadi semiskin-miskinnya. Sekarang
pikirannya tidak sempurna lagi."
"Benar katamu itu. Karena Baginda Sutan sangat tamak akan
uang dan sangat kikir pula, ia dihukum Tuhan. Boleh jadi ia
berniaga terlampau banyak mengambil untung, lalu dimurkai
Allah. Kekikirannya jangan dikata lagi. Bajunya baju hitam yang
sudah berkilat lehernya, karena tidak bercuci. Baunya pun
tidak terperikan busuknya. Uang seduit dibalik-baliknya dulu
baru dibelanjakan."
Maka mereka pun menanyakan kepada orang lepau itu, agar
mereka kedua diizinkan bermalam di sana selama ada
keramaian. Bagi orang lepau itu, karena dilihatnya Midun dan
Maun orang baik-baik, tiadalah menjadi halangan mereka kedua
menumpang di lepau itu. Setelah itu Midun dan Maun berjalan
akan melihat-lihat keramaian "pasar malam". Pada kiri kanan
jalan dekat lepau itu sampai ke pintu gerbang dihiasi dengan
pelbagai sulur-suluran dan hunga-bungaan. Bergelung-gelung
amat indah-indah rupanya. Pada tiap-tiap rumah sepanjang
jalan, berkibaran bendera si tiga warna. Dari jauh sudah
kelihatan pintu gerbang pasar malam itu. Tinggi di atas
puncaknya terpancang bendera Belanda yang amat besar,
berombak-ombak ditiup angin. Tonggak pintu gerbang itu dililit
dengan kain yang berwarna-warna. Pelbagai bunga-bungaan
bersusun amat beraturan, menyedapkan pemandangan.
Midun dan Maun sampai di pintu gerbang itu. Dengan heran
inereka melihat keindahannya. Agak ke sebelah dalam sedikit
ada sebuah rumah yang amat kukuh, bangun rumah itu tak
ubah dengan balairung sari buatan orang Minangkabau zaman
dahulu.
Sungguh tertarik hati melihat bangun rumah itu. Atapnya
dari ijuk, berdinding papan berukir. Di tengah-tengah balai itu
ada sebuah pintu masuk yang amat besar. Jika orang hendak
melihat pasar malam, harus melalui pintu balai itu. Di atas
pintu agak sebelah atas, ada kepala kerbau yang bertanduk.
Kepala kerbau itu ialah menjadi suatu tanda kebesaran orang
Minangkabau.
Konon kabarnya, menurut cerita orang: pada zaman dahulu
kala orang Jawa datang ke Minangkabau akan menyerang negeri
itu. Melihat kedatangan orang Jawa yang sangat banyak itu,
orang Minangkabau khawatir, takut akan kalah perang. Oleh
sebab itu, dicarinya akal akan menghindarkan bahaya itu. Maka
dikirimnya seorang utusan oleh raja Minangkabau kepada
panglima perang orang Jawa itu membawa kabar, mengatakan:
bahwa jika berperang tentu akan mengorbankan jiwa manusia
saja. Oleh karena itu, dimintanya berperang itu dihabisi dengan
jalan mengadu kerbau saja. Manakala kerbau orang Minangkabau
kalah, negeri itu akan diserahkan kepada orang Jawa.
Tetapi kalau menang, segala kapal-kapal dengan muatannya
harus diserahkan kepada orang Minangkabau. Permintaan itu
dikabulkan oleh orang Jawa dengan segala suka hati. Maka
dicarinya seekor kerbau yang amat besar. Tetapi orang
Minangkabau mencari seekor anak kerbau yang sudah tiga hari
tidak diberinya menyusu. Pada moncong anak kerbau itu
diberinya berminang yang amat tajam. Setelah datang hari
yang ditentukan hadirlah rakyat kedua kerajaan itu. Ketika
orang Jawa melihat anak kerbau orang Minangkabau, mereka
tertawa dengan riangnya. Pasti kepada mereka itu, bahwa ia
akan menang. Tetapi setelah kedua kerbau itu dilepaskan ke
tengah gelanggang, anak kerbau itu pun berlari-lari kepada
kerbau besar orang Jawa itu, hendak menyusu... sehingga perut
kerbau itu tembus oleh minang yang lekat di moncongnya.
Kerbau orang Jawa itu mati, maka menanglah kerbau orang
Minangkabau itu. Demikianlah ceritanya. Benar tidaknya cerita
itu, wallahu alam.
Balai itu dihiasi dengan amat bagus dan indahnya. Di atas
balai itu kelihatan beberapa orang engku-engku berdiri.
Ketika Midun tercengang-cengang memperhatikan pintu
gerbang itu, tampak olehnya huruf yang dibuat dengan air mas.
Huruf itu terletak pada tengah-tengah gaba-gaba. Sedang
Midun melihat-lihat, datang seorang dekat padanya. Midun
menyangka tentu anak itu murid sekolah, lalu bertanya,
"Buyung, apakah bunyi bacaan yang tertulis pada gaba-gaba
itu?"
Anak itu pun berkata, katanya, "Pasar Malam."
Midun meminta terima kasih kepada anak itu, kemudian
berkata kepada Maun. "Jika orang hendak masuk ke dalam
rupanya membayar. Mari kita beli pula yang seperti dibawa
orang itu, kita masuk ke dalam!"
Sesudah membeli karcis, lalu keduanya masuk. Belum lagi
sampai ke tengah, mereka amat heran melihat kebagusan pasar
malam itu. Pondok-pondok berdiri dengan amat teratur. Los-los
pasar dihiasi dengan bermacam-macam bunga. Midun pergi
melihat-lihat keadaan di pasar itu. Mula-mula dilihatnya pada
sebuah pondok seorang perempuan menenun kain. Midun
sangat heran melihat bagaimana cekatannya perempuan itu
bertenun. Setelah lama diperhatikan, ia pun meneruskan perjalanannya
pula melihat yang lain-lain, misalnya, cara
menanam tumbuh-tumbuhan yang subur, pemeliharaan ternak
yang baik dan lain-lain sebagainya. Segala yang dilihat Midun di
dalam pasar malam itu, diperhatikannya sungguhsungguh.
Setelah petang hari, baru mereka pulang ke lepau nasi. Ketika
ia melalui sebuah los dekat pintu keluar, kedengaran olehnya
orang berseru-seru, katanya, "Lihatlah peruntungan, Saudarasaudara!
Baik atau tidaknya nasib kelak, dapat dinyatakan
dengan mengangkat batu ini!"
Midun dan Maun tertarik benar hatinya hendak melihat, lalu
mereka pergi ke tempat itu. Midun melihat sebuah batu yang
besar bertepikan suasa. Batu itu telah tua benar rupanya.
Agaknya sudah berabad-abad umurnya. Tidak jauh daripada itu
ada pula terletak sebuah pedupaan (perasapan). Bertimbun
kemenyan yang ditaruhkan orang di sana. Maka bertanyalah
Midun kepada orang yang berseru itu, katanya, "Batu apa ini,
Mamak? Bagaimanakah, maka kita dapat menentukan nasib
kelak dengan batu ini?"
"Batu ini ialah batu keramat, pusaka dari Raja Pagaruyung
yang telah berabad-abad lamanya," jawab orang itu. "Jika
orang muda dapat mengangkat batu ini sampai ke atas kepala,
tandanya orang muda akan berbahagia kelak. Tetapi bila tidak
dapat, boleh saya pastikan, bahwa nasib orang muda tidak baik
akhir kelaknya. Dan barang siapa yang tidak percaya akan
perkataan saya, tentu ia dikutuki batu keramat ini."
Midun dan Maun amat takjub mendengar perkataan orang
itu. Karena ia seorang alim pula, bersalahan sungguh pendapat
orang ini dengan ilmu pengetahuannya. Pikirnya, "Ini tentu
suatu tipu untuk pengisi kantung saja. Mengapakah hal yang
semacam ini kalau dibiarkan saja oleh pemerintah? Bukankah
hal ini bersalahan dengan ilmu pengetahuan dan agama? Orang
ini barangkali tidak beragama, karena batu disangkanya dapat
menentukan buruk baik untung orang."
Berkacau-balau pikiran Midun tentang batu yang dikatakan
keramat itu. Tetapi ia tidak berani mengeluarkan perasaannya,
karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya. Tibatiba
datang seorang, lalu membakar kemenyan sebesar ibu jari
pada pedupaan. Ketika ia membakar kemenyan, lalu memohonkan
rahmat kepada hatu itu, moga-moga baik nasibnya kelak.
Kemudian ia memasukkan uang sebenggol ke dalam tabung
yang sudah tersedia. Sambil memperbaiki sikap dan membaca
bismillah, maka diangkatnyalah batu itu perlahan-lahan, sebab
takut akan ketulahan. Telah mengalir peluh di badan orang itu,
jangankan terangkat bergerak pun tidak batu itu. Dengan
bersedih hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak
menoleh-noleh ke belakang.
Midun berbisik kepada Maun, "Bersedih hati benar rupanya
orang itu, karena batu ini tidak terangkat olehnya. Kepercayaannya
penuh, bahwa batu keramat. Tentu saja tidak terangkat
olehnya batu sebesar ini, karena ia sudah tua. Sungguh kasihan
dan boleh jadi ia menyesali hidupnya dan sesalan itu boleh
menimbulkan pikiran, hendak membinasakan diri, karena
sangkanya, daripada hidup sengsara kelak, lebih baik mati
sekarang. Berbahaya benar, tidak patut hal ini dibiarkan."
Maun menarik napas, lalu berkata perlahan-lahan,
"Sungguh, amat banyak orang sesat, karena kebodohan dan
kepercayaan yang bukan-bukan. Janganlah kita bicarakan juga
hal ini. Jika terdengar oleh yang punya dan oleh orang-orang
yang mempercayainya keramat batu ini, boleh jadi kita binasa."
"Baiklah, maukah Maun mengangkat batu ini? Saya ingin
hendak mengangkat berapa beratnya, sebab sudah tiga orang
tak ada yang kuat. Sungguhpun tidak percaya, kita pura-pura
saja seperti orang itu."
Maka Midun membakar kemenyan, kemudian memasukkan
uang lima sen ke tabung. Setelah itu diangkatnya batu yang
dikatakan keramat itu. Oleh Midun, seorang muda yang sehat
dan kuat, dengan mudah saja batu itu diangkatnya. Segala
orang yang melihat amat heran, lalu berkata, "Anak muda yang
berbahagia."
Benci benar Midun mendengar perkataan itu, hampir-hampir
tak dapat ia menahan hati. Tiba-tiba telanjur juga, lalu
berkata, "Tuhan yang dapat menentukan berbahagia atau
tidaknya untung nasib seseorang, tetapi batu ini ...."
Midun dan Maun segera berjalan pulang ke lepau nasi,
karena ketika hendak berkata lagi, dilihatnya muka yang punya
batu berubah sekonyong-konyong. Sepanjang jalan mereka
sepatah pun tidak bercakap, karena memikirkan batu yang
bertepikan suasa itu. Sudah makan, baru mereka mempercakapkan
penglihatannya sehari itu. Tetapi yang menarik
hati mereka benar, ialah memperkatakan batu yang keramat
itu saja.
Pada malam hari Midun dan Maun pergi pula ke pasar
malam. Sesampai di pintu masuk, takjub sungguh Midun
melihat pintu gerbang pasar malam itu. Gaba-gaba diterangi
dengan berpuluhpuluh lampu, melukiskan ukuran yang amat
indah-indah. Balai dihiasi dengan lampu yang berwarna-warna.
Huruf-huruf pada gaba-gaba dan di gonjong balai, seakan-akan
terbuat daripada lampu laiknya. Dengan segera Midun membeli
karcis, lalu masuk ke dalam. Midun dan Maun berjalan tidak
seperti siang tadi, melainkan diperhatikannya isi tiap-tiap
pondok di pasar itu. Banyak penglihatan Midun yang berfaedah
untuk penghidupannya kelak. Misalnya pekerjaan tangan, cara
memelihara ternak, keadaan bibit tanaman yang bagus,
contoh-contoh barang perniagaan, dan lain-lain.
Demikianlah pekerjaan mereka itu dua hari lamanya. Pada
hari yang kelima, pagi-pagi, Midun dan Maun pergi ke pasar.
Mereka herbelanja membeli ini dan itu, karena hendak terus
pulang setelah melihat pacuan kuda lusanya. Tengah hari
kembalilah mereka ke Iopau. Segala barang-barang yang dibeli,
dipertaruhkannya kepada orang lepau itu. Setelah itu Midun
duduk hendak makan, tetapi Maun masih di luar membeli
rokok. Baru saja Midun duduk, Maun berseru dari luar katanya,
"Midun! Midun! Lihatlah, apa ini?"
Midun melompat lari ke luar, hendak melihat yang diseurkan
kawannya itu. Di jalan kelihatan beberapa engku-engku
dan tuan-tuan diarak dengan musik militer. Tiba-tiba Midun
terkejut, karena di dalam orang banyak itu kelihatan olehnya
Kacak. Dengan segera ditariknya tangan Maun, lalu dibawanya
masuk ke dalam lepau.
Dengan perlahan-lahan Midun berkata, "Maun! Adakah
engkau melihat Kacak di antara orang banyak itu?"
"Tidak," jawab Maun dengan cemasnya. "Adakah engkau
melihat dia?"
"Ada, rupanya ia ada pula datang kemari. Ketika saya melihatnya
tadi, ia memandang ke sana kemari, seakan-akan ada
yang dicarinya di antara orang banyak itu. Entah siapa yang
dicarinya dengan matanya itu tidaklah saya ketahui. Saya amat
heran karena ketika saya menampaknya tadi, darah saya berdebar.
Yang biasa tidaklah demikian benar hal saya bilamana
melihat Kacak. Boleh jadi kita di sini diintip orang, Maun! Siapa
tahu dengan tidak disangka-sangka kita dapat bahaya kelak.
Sebab itu haruslah kita ingat-ingat selama di sini."
"Tidak kelihatankah engkau kepadanya tadi? Tetapi saya
rasa takkan berani Kacak berbuat apa-apa kepada kita di dalam
peralatan besar ini. Nyata kepada saya ketakutannya bertentangan
dengan engkau, waktu perkelahian di tepi sungai
dahulu. Sedangkan di kampung demikian keadaannya, apalagi
di sini. Siapa yang akan dipanggakkannya di sini? Karena itu
tidak boleh jadi ia akan menyerang kita. Sungguhpun demikian,
kita harus berhati-hati juga."
"Saya tidak kelihatan olehnya. Tetapi jika tak ada yang dicarinya,
masakan seliar itu benar matanya. Saya pun maklum,
bahwa dia tida k akan berani menyerang kita di sini. Tetapi
karena dia orang kaya, tentu bermacam-macam jalan dapat
dilakukannya akan membinasa. kan kita. Biarlah, asal kita
ingat-ingat saja."
Sesudah makan mereka pun berjalan-jalan ke pasar,
melihat perarakan anak-anak sekolah dan lain-lain: Malam hari
Midun tidak keluar, melainkan tinggal di lepau nasi saja. Lain
benar perasaannya sejak melihat Kacak hari itu. Besoknya
ketika pacuan kuda dimulai, mereka itu tidak pergi melihat,
melainkan tinggal di lepau saja. Hanya pada hari yang kedua
saja mereka hendak pergi sebentar. Sudah itu maksudnya
hendak terus pulang ke kampung.
7. Di Pacuan Kuda.
PAGI-PAGI benar Midun dan Maun sudah bangun. Setelah mandi
mereka kedua pergi sembahyang kepada sebuah surau yang
tidak herapa jauh dari lepau nasi tempatnya menumpang itu.
Sudah sembahyang subuh, mereka pun berkemas membungkus
dan mengikat barang-barang yang telah dibelinya. Setelah
selesai, ditaruhnya dalam sebuah bilik lepau itu. Ketika mereka
itu hendak minum pagi, dilihatnya hari sudah agak tinggi. Maun
berkata, katanya, "Ah, hari sudah pukul tujuh agaknya, Midun!
Boleh jadi kita terlambat. Saya rasa lebih baik kita makan di
pacuan kuda saja nanti. Jika kita minum pula dahulu, tentu
kita tidak dapat lagi melihat orang berpacu book* (Artinya merebut
piala/beker). Sekalipun kita tidak minum, agaknya terlambat juga
sampai ke sana. Marilah kita naik bendi saja ke pacuan kuda.
Pacu boko kabarnya mulai pukul delapan betul."
"Benar katamu, mari kita naik bendi saja," kata Midun.
"Tetapi kabarnya sewa bendi sangat mahal sekarang. Lebih
tiga kali lipat daripada sewa yang biasa. Lagi pula tidakkah
jauh amat, karena kita pergi ke perhentian bendi dahulu?"
"Tidak, kita tawar dahulu berapa sewanya. Dari sini tidak
berapa jauh ke perhentian bendi. Mudah-mudahan sebelum kita
sampai ke sana, bertemu dengan bendi yang mencari muatan."
Keduanya berjalanlah menuju tempat perhentian bendi.
Sampai di sana, lalu ditanyakan Midun berapa sewa bendi ke
gelanggang pacuan kuda. Kusir bendi menjawab pendek saja,
bahwa sewa bendi tidak kurang dari f1,- seorang ke pacuan.
Jadi dua orang f2,-. Maun amat heran mendengar jawab kusir
bendi meminta sewa semahal itu. Padahal antara Bukittinggi
dengan pacuan kuda hanya sepal lebih sedikit. Maka Maun
berkata dengan sungutnya, "Uang dua rupiah itu pada pikiran
kusir murah saja, Midun! Memang lidahnya tidak bertulang,
mudah saja ia menyebutkannya. Marilah kita berjalan kaki saja.
Tidak cukup setengah jam kita sudah sampai. Hari baru pukul
tujuh."
Baru saja Midun berbalik hendak berjalan, tiba-tiba tampaklah
olehnya seseorang melintas jalan. Darah Midun tersirap
melihat orang itu, karena rasa-rasa sudah bertemu dengan dia.
Setelah dipikirkannya di mana orang itu bertemu dengan dia,


baru Midun maklum Dengan suara gagap ia berkata, "Maun!
Lenggang yang bertemu dengan kita pulang dari sembahyang
Jumat di kampung tempo hari ada pula kemari. Itu dia di
seberang jalan. Lihatlah, tajam benar pandangannya kepada
kita. Saya amat heran, sudah dua kali saya bertemu dengan
dia, selalu darah saya saja yang tersirap. Pertemuan yang
kedua ini, tidak darah saya saja yang tersirap, tetapi tegak pula
bulu kuduk saya rasanya. Bukankah ajaib itu?"
Maun, yang memang sejak dahulu tidak senang hatinya
melihat dan mendengar nama Lenggang itu, terperanjat pula,
lalu berhenti berjalan akan melihat orang itu. Sambil berpaling
pula hendak berjalan ia berkata, "Hati-hati, Midun, tidak
darahmu saja yang tersirap, tetapi urat kuduk saya mendenyut
melihat Lenggang itu. Jangan kita bercerai-cerai barang
setapak jua pun. Tertelentang sama terminum air, tertangkup
sama termakan tanah, menyuruk sama bungkuk, melompat
sama patah, musuhmu musuh saya. Saya selalu bersedia akan
membelamu, biar bagaimana juga. Jika ada apa-apa yang terjadi,
jangan engkau larang-larang lagi, sebagai ketika engkau
berkelahi dengan Kacak dahulu. Saya tahu apa yang akan saya
perbuat, untuk keselamatan diri kita berdua. Jangan lagi kita
lama-lama di pacuan. Asal sudah kita melihat pacu boko, kita
terus pulang saja. Tidak perlukah kita membawa pisau, Midun?"
"Nasihatmu itu saya pegang benar-benar. Kita tidak boleh
lengah dan alpa sedikit juga sampai-sampai pulang ke
kampung. Tentang membawa pisau itu tidak usah lagi. Tulang
delapan kerat yang dijadikan Tuhan ini sajalah kita pergunakan.
Banyak bahayanya kita berpisau daripada tidak
berpisau. Jika tikus seekor penggada seratus, artinya dia
banyak kita berdua, kita buat saja langkah seribu, daripada
mengamuk atau menikam orang.
Tentang kesetiaan hatimu itu kepada saya, saya ucapkan
terima kasih banyak-banyak. Tetapi sebenarnya dalam hal ini
engkau tidak campur sedikit jua. Jika misalnya bahaya datang
tiba-tiba—tetapi janganlah hendaknya— saya tidak suka engkau
terbawa-bawa pula sebab saya. Tak beban batu digalas, kata
orang. Tentu saja engkau teraniaya, karena hendak menolong
seorang teman. Tetapi melihat pengakuan dan keyakinanmu
kepada saya, tak dapat saya menolak perkataanmu itu.
Kebersihan dan keikhlasan hati engkau itu, saya hargakan
sungguh-sungguh. Kebanyakan orang bersahabat ialah akan
lawan tertawa saja, tetapi lawan menangis sukar dicari.
Bagimu rupanya tidaklah demikian. Saya telah engkau sangka
seperti saudara kandung seibu seayah, tidak berubah dari mulut
sampai ke hati. Badan saja yang dua, tetapi nyawa umpama
satu."
"Kawanku Midun! Sejak kecil kita tidak bercerai setapak
juapun. Selama itu saya rasa, belum pernah saya menumangkan
engkau. Bagi saya engkau tidak saya pandang orang lain lagi,
melainkan telah seperti saudara kandung. Jika engkau susah,
saya akan lebih berdukacita, dan jika engkau tertawa, saya pun
lebih bersuka hati. Sudahlah, tidak guna kita perbincangkan
lagi. Apa guna dipikirkan, bukanlah kita sekarang dalam
peralatan? Waktu ini kita harus bersuka-suka. Yang segantang
tidakkan mau jadi sesukat. Asal kita ingat saja menjaga diri,
sudahlah!
Benar juga katamu itu, dengan bermacam-macam akal
tentu ia dapat berlaku akan membinasakan kita. Oleh sebab itu
untuk menjaga keselamatan kita, jangan kita berjalan seperti
yang sudah-sudah lagi. Mulai sekarang kita ubah, lebih baik kita
berjalan beriring-iring. Engkau di muka, saya di belakang. Saya
perlu menjaga engkau, karena engkaulah yang dimusuhi orang,
saya tidak. Kalau kita berjalan bersisi-sisi atau engkau di
belakang, tentu gampang orang membinasakan kita. Siapa
tahu, engkau diserang orang dengan tiba-tiba dari belakang.
Manakala saya di belakang, tentu boleh saya memberi ingat
kalau ada apa-apa. Saya tidak akan lengah dan selalu menjaga
dengan ingat-ingat."
"Terima kasih banyak-banyak, Maun! Sebetulnyalah pikiranmu
itu. Bila kita selalu dalam hati-hati, tetapi bahaya jua yang
dapat, sudah suratan badan kita yang celaka dan tidak menjadi
sesalan lagi."
Dengan tidak diketahui mereka kedua, maka sampailah ke
pacuan kuda. Sepanjahg jalan yang dilaluinya itu berkibaran
bendera pada kiri-kanan jalan. Pada pintu masuk pacuan kuda,
ada pula sebuah gaba-gaba yang amat indah-indah, dihiasi
dengan pelbagai bunga-bungaan. Sekeliling pacuan itu penuh
dengan berbagai-bagai bendera. Sebuah daripada bangsalbangsal
di pacuan itu, amat kukuh buatannya. Bangsal itu ialah
tempat engku-engku dan tuan-tuan melihat kuda berpacu.
Amat permai dan cantik bangsal yang sebuah itu, karena dihiasi
dengan bunga-bungaan yang amat bagus. Pada puncaknya
berkibar bendera yang bercorak tiga.
Ada pun pacuan itu dikelilingi oleh bukit. Tiap-tiap bukit itu
berpuluh-puluh pondok didirikan orang. Pondok-pondok itu
ialah tempat orang berjual nasi, juadah, dan lain-lain
sebagainya. Penuh sesak orang di bukit itu, berkelompokkelompok
sangat banyaknya. Hampir dari seluruh tanah
Minangkabau, amat banyak datang melihat pacuan kuda itu.
Sebabnya ialah karena pacuan itu kepunyaan anak negeri, dan
kuda yang dipacu, kuda negeri pula. Pada hari itu orang dua
kali sebanyak kemarinnya. Berdesak-desak orang mencari
tempat akan melihat perlombaan kuda. Hal itu lain tidak
karena orang hendak melihat pacu boko, yang sangat disukai
orang.
Pacu boko itu akan merebut priys yang dinamakan
"Minangkabau Beker". Siapa yang menang tidak saja ia memperoleh
piala, tetapi menerima hadiah uang yang banyak pula.
Sebab itu, kuda yang dipacu tidak sedikit. Tiap-tiap luhak di
Minangkabau, diambil dua ekor kuda yang terkencang. Ketika
itu hanya empat belas ekor kuda sekali lepas. Dengan melihat
pakaian anak pacuannya, tahulah orang dari luhak mana-mana
kuda itu datangnya. Ketika itu ada pula kuda yang datang dari
Padang Hilir*(Negeri-negeri sebelah pesisir dinamai Padang Hilir, sebelah ke
Gunung Padang Darat).
Midun dan Maun mencari tempat yang baik, agar dapat melindungkan
diri dari bahaya. Setelah dapat, mereka berdirilah
di sana. Sungguhpun tempat itu amat baik, Maun selalu ingatingat
jua. Tidak lama kemudian, kuda dilepas orang. Gemuruh
bunyi sorak orang sekeliling pacuan itu. Ada yang menyerukan,
"Agam, Agam," dan ada pula "Payakumbuh, Payakumbuh," yaitu
masing-masing menyerukan luhaknya. Rasakan hendak belah
bumi rupanya. Tidak bersorak saja, musik militer pun selalu
berbunyi selama kuda itu berlari. Tiap-tiap orang gelisah dan
tidak bersenang hati, manakala melihat kuda dari luhaknya
kalah. Tetapi yang menang, orang luhaknya rasa hendak
terbang karena kegirangan hati. Mereka melompat-lompat,
tertawanya berderai-derai dan perkataannya seperti
merendang kacang sebab sukanya. Setelah sudah berpacu,
nyata yang menang masa itu kuda dari luhak Agam. Maka orang
dari luhak itu berlarian ke tengah gelanggang pacuan, berarak,
dan bersorak-sorak menunjukkan suka hatinya. Musik militer
pun turun, lalu kuda yang menang itu diarak sekeliling pacuan.
Orang di gelanggang itu herkacau-balau tidak bertentu lagi.
Midun dan Maun tidak berani keIuar dari tempatnya, melainkan
ia melihat saja dari jauh. Setelah sudah orang mengarak kuda
barulah tenang kembali. Midun berkata kepada Maun, "Maksud
kita sudah sampai, perut sudah lapar, mari kita pergi makan.
Sesudah makan, kita ambil barang-barang kita, terus pulang."
"Di lepau nasi manakah yang baik kita makan?" jawab Maun.
"Mari kita makan ke puncak bukit itu! Di sana tentu senang
kita makan dan tidak terganggu."
Maka keduanya pun naik ke puncak bukit, mencari lepau
nasi yang agak baik. Pada kiri kanan tempat yang dilalui
mereka itu orang duduk berkelompok-kelompok. Di muka
mereka terbentang sehelai tikar dan sebuah piring dengan dadu
dan tutupnya. Berpuluh-puluh uang terletak di muka mereka
itu. Demikianlah halnya tiap-tiap kelompok orang itu. Di sini
kelihatan orang main dadu, di sana dadu kuncang, dan lainlain.
Segala macam judi ada di situ. Berbagai-baga akal mereka
mencari uang. Tidak main dadu saja, bertaruh kuda pun banyak
pula. Midun tidak lama memperhatikan orang main dadu itu,
melainkan ia terus berjalan ke puncak bukit. Setelah didapat
lepau nasi yang berkenan kepadanya, maka makanlah ia di situ.
Sesudah makan, lalu turun pula ke bawah, hendak pergi ke
tempatnya menumpang mengambil barang-barangnya. Belum
jauh berjalan, dilihatnya beberapa orang opas berjalan keliling
tempat orang main itu. Opas itu melemparkan ringgit ke tikar
dadu, kemudian dikembalikan orang ringgit itu dengan sebuah
rupiah akan tambahnya. Sedang Midun memikirkan hal itu,
Maun yang berdiri di belakangnya melihat seseorang bergerak
dekatnya, kemudian terbayang pada matanya sebuah pisau
yang menuju rusuk Midun. Sebagai kilat Maun melompat
menangkap pisau itu, sambil berseru, "Awas, Midun!" '
Midun berbalik, dilihatnya Maun telah berkelahi, lawannya
memegang sebuah pisau. Ketika Midun hendak melompat
menolong Maun, tiba-tiba ia diserang orang pula dengan pisau.
Orang itu ialah Lenggang yang dilihatnya pada perhentian bendi
tadi pagi. Midun lalu menangkis serangan, sambil mengundurkan
diri ke arah Maun berkelahi. Setelah dekat, Midun berkata,
"Lepaskan, jaga di belakang saya!"
Suara itu terdengar oleh Maun, lalu ia melompat ke
belakang Midun. Maun sekarang hanya menjaga kalau-kalau ada
serangan dari kiri-kanan saja. Kedua orang itu Midun sendiri
yang melawan. Bukan main tangkas Midun menyambut dan
mengalahkan tikam lawannya. Tidak lama pisau yang seorang
terpelanting kena sepak Midun. Tinggal lagi Lenggang yang
berpisau. Midun dan Maun selalu mengundurkan diri ke
belakang. Kemudian ia tertumbuk pada dinding sebuah lepau
nasi. Di sana mereka kedua dapat tempat untuk bertahan.
Orang makin banyak menyerang Midun, karena teman Lenggang
selalu berteriak, mengatakan, "Pancacak*(Pencuri, dalam orang
ramai)!"
Karena itu orang menyangka Midun seorang pencuri. Dari
kiri kananin dan dari muka musuh datang; amat sibuk tidak
tentu lawan kawan. Orang banyak itu tidak dipedulikan Midun
amat, melainkan yang sangat dijaganya Lenggang. Bagi orang
banyak itu lain tidak ilmu, sepak terjang saja. Tetapi Lenggang
sengaja hendak membunuh dia. Tidak lain yang kedengaran
masa itu, hanya bunyi sepak terajang, pukulan dan tinju orang
saja. Huru-hara benar di bukit sebuah itu. Anak-anak amat
banyak terinjak oleh orang yang melarikan diri. Perempuanperempuan
yang berpakaian bagus-bagus, tunggang-Ianggang
jatuh ke bawah sebab dilanda orang yang berkelahi. Jerit,
tangis, dan teriak orang mengatakan "bunuh dan amuk", tidak
pula kurang. Polisi bekerja keras memadamkan perkelahian itu.
Meskipun dengan pedang bercabut menghentikan perkelahian
itu, tidak dipedulikan orang. Malahan polisi sendiri ada yang
berguling-guling jatuh ke bawah kena kaki orang. Setelah
datang serdadu selusin dan membunyikan bedil serentak, barulah
peperangan kecil itu aman kembali. Jika tidak lekas
serdadu datang, entah berapa gerangan bangkai terhantar.
Ketika bedil berbunyi, kebetulan dekat Midun ada seorang
yang terhantar di tanah. Tiba-tiba ia telah dipegang Tuan
Kemendur dari rusuk, yang pada ketika itu datang bersamasama
dengan serdadu akan memadamkan perkelahian. Midun
ditangkap karena bajunya berlumur darah. Maun ditangkap
juga, sebab ia berdiri dekat seorang vang terhantar di tanah.
Orang yang terhantar itu terus dibawa ke rumah sakit. Orang
itu ialah Lenggang. Ia pingsan karena perutnya kena amuk oleh
pisaunya sendiri. Tetapi lukanya tidaklah berat benar. Pada
lengan Lenggang ada sebuah pisau yang berlumur darah. Teman
Lenggang melenyapkan diri di dalam orang banyak itu. Orang
lain yang serta dalam perkelahian karena melepaskan dendam
atau mempertahankan diri, ketika bedil meletus berlarian
menyembunyikan badan.
Midun dan Maun dibawa oleh seorang opas. Ketika mereka
itu sampai pada perhentian bendi di gelanggang pacuan kuda,
bertemu dengan Pendekar Sutan. Melihat Midun dan Maun
diiringkan opas, Pendekar Sutan sangat terkejut. Maka ia pun
bertanyakan hal itu kepada Midun. Midun menceritakan perkelahiannya
dengan Lenggang. Setelah sudah, Midun berkata,
katanya, "Hal ini janganlah Bapak beri tahukan dahulu kepada
orang di kampung. Manakala di dalam sepuluh hari ini tak ada
seorang jua di antara kami yang pulang, barulah Bapak
ceritakan hal kami ini."
"Baiklah!" jawab Pendekar Sutan dengan cemasnya, karena
ia maklum dari mana asalnya maka terjadi perkelahian itu.
"Syukurlah, engkau kedua tidak binasa. Saya belum akan
pulang, karena saya hendak menantikan kabarnya. Jika dalam
sepekan ini perkara ini belum juga diperiksa, baru saya pulang
ke kampung. Engkau kedua jangan khawatir, karena sipir dan
beberapa tukang kunci* (Opas Penjara) penjara berkenalan
dengan saya. Biarlah, besok saya temui dia ke penjara akan
mempertaruhkan engkau, supaya jangan diganggu orang di
dalam penjara."
Midun dan Maun terus dibawa ke penjara. Mereka kedua ditahan
di sana, sementara perkaranya belum diputuskan. Empat
hari sesudah peralatan, Midun dan Maun mulai diperiksa oleh
jaksa. Dalam pemeriksaan yang pertama itu, nyata bahwa Maun
tidak campur apa-apa. Oleh jaksa Maun diizinkan pulang, tetapi
manakala dipanggil harus datang sebagai saksi. Maka Maun
pulanglah bersama Pendekar Sutan yang sengaja menanti
kabarnya.
8. Menjalani Hukuman
SETELAH dua bulan lebih kemudian daripada itu, Maun terpanggil
datang ke Bukittinggi. Maka iapun datanglah bersamasama
dengan Pak Midun, Haji Abbas, dan Pendekar Sutan yang
hendak mendengar keputusan perkara itu.
Tiga hari berturut-turut Landraad memeriksa perkara itu
dengan hemat. Pada hari yang keempat, baru dijatuhkan
hukuman masing-masing. Midun dihukum enam bulan. Sebab
menjalankan hukuman. Hukuman itu dijalankannya tidak di
Bukittinggi, melainkan di Padang. Lenggang dihukum setahun
penjara dan dibuang ke Bangkahulu. Ia disalahkan mengamuk,
karena pisaunya berlumur darah.
Setelah Midun keluar dari kantor Landraad, diceritakannyalah
kepada ketiga bapaknya, bahwa ia dihukum ke Padang
lamanya empat bulan. Dan dikatakannya pula besoknya ia mesti
berangkat menjalankan hukuman itu. Midun meminta dengan
sangat kepada ketiga bapaknya itu menyuruh pulang hari itu
juga, jangan ia diantarkan ke stasiun besoknya. Permintaan itu
dikabulkan oleh mereka itu. Pak Midun berkata dengan air mata
berlinang-linang, katanya, "Baik-baik engkau di negeri orang,
Midun! Ingat-ingat menjaga diri! Engkau anak laki-laki, sebab
itu beranikanlah hatimu. Mudah-mudahan janganlah hendaknya
kurang suatu apa engkau menjalankan hukuman. Jika engkau
sudah bebas, lekas pulang. Segala nasihat kami yang sudahsudah,
pegang erat-erat, genggam teguh-teguh."
Baru sekian perkataan Pak Midun, air matanya sudah bercucuran.
Ia tidak dapat lagi meneruskan perkataannya, karena
amat sedih hatinya bercerai dengan anaknya yang sangat
dikasihinya itu. Sambil bersalam dengan Midun, lalu didekapnya
anaknya. Ia pun berjalan dengan tidak menengok-nengok lagi
ke belakang ke lepau tempat ia menumpang. Demikian pula
Haji Abbas dan Pendekar Sutan, hanya sepatah-dua patah saja
menasihati Midun. Setelah bermaaf-maafan, mereka itu berjalan
dengan sedih yang amat sangat.
Hancur luluh hati Midun ketika ditinggalkan ketiga bapaknya
itu. Tetapi dengan kuat ia menahan hati, supaya air matanya
jangan keluar. Ketika Maun bersalam akan meminta maaf
kepadanya, iapun berkata, katanya, "Saudaraku Maun! Sekarang


kita akan bercerai. Nyawa di dalam tangan Allah, tidak tentu
besok atau lusa diambil yang punya. Siapa tahu perceraian kita
ini entah untuk selama-lamanya. Tetapi mudah-mudahan
janganlah hendaknya terjadi demikian. Lekas jua kita dipertemukan
Tuhan kembali."
Suara Midun tertahan karena menahan sedih. Air matanya
bercucuran, seolah-olah tidak sanggup ia bercerai dengan
sahabatnya yang akrab sejak dari kecil itu. Kemudian Midun
menyambung perkataannya pula, katanya, "Sejak kecil kita
bergaul, belum pernah engkau mengecewakan hatiku. Dalam
segala hal hidup bertolong-tolongan, tidak pernah berselisih
paham, melainkan sepakat saja. Hanya saya yang banyak
berutang budi kepadamu. Perbuatanku selama ini terhadap
kepadamu, belum ada yang menyenangkan hati engkau. Saya
ulang sekali lagi akan menyatakan terima kasih saya tentang
perkelahian di pacuan kuda itu. Jika engkau tidak menangkap
pisau teman Lenggang, barangkali jiwaku melayang, karena
saya ditikamnya dari belakang. Untung engkau selalu ingat dan
dapat menangkis. Jadi adalah seakan-akan jiwaku yang
seharusnya telah bercerai dengan badanku, engkau pulangkan
kembali.
Lain daripada itu, Maun! Ibu bapakmu ialah ibu bapak saya.
Thu bapakku saya harap engkau sangka ibu bapakmu pula.
Bagaimana engkau mengasihi ibu bapakmu, begitu pula hendaknya
kepada orang tuaku. Engkaulah yang akan mengulangulangi
beliau selama saya jauh dari kampung. Jangan engkau
perubahkan, buatlah seperti di rumahmu sendiri di rumah ibu
bapakku. Sekianlah petaruh saya kepadamu kembali. Sambutlah
salamku dan maafkanlah saya, Saudara!"
Maun tidak dapat menjawab perkataan sahabatnya itu,
karena sudah didahului oleh air mata yang tak dapat ditahannya
lagi. Ia menangis, hatinya remuk dan sedih amat sangat.
Setelah beberapa lamanya mereka itu bertangis-tangisan, berkatalah
Maun dengan putus-putus suaranya, "Saya membela
sanakku, tidak usah engkau meminta terima kasih pula.
Kesalahanmu tidak ada kepadaku. Jika tidak memikirkan ibu
bapak kita di kampung, tentu saya sama-sama terhukum
dengan engkau. Bukankah mudah saja saya menjalankan jawab
waktu ditanyai hakim, supaya dapat dihukum. Selamat jalan,
Saudara, beranikanlah hatimu!"
Maun mengambil tangan Midun, kemudian dilekaskannya,
lalu berjalan lekas-lekas mengikuti Pak Midun ke lepau nasi
tempat mereka itu menumpang. Dengan tidak menoleh-noleh
ke belakang, ia berjalan terhuyung-huyung, karena sedih hatinya.
Hari itu juga keempatnya terus pulang ke kampung.
Mereka itu berjalan kaki saja, sambil memperbincangkan hal
Midun. Tetapi Pak Midun sepanjang jalan tidak berkata sepatah
juga pun. Hancur luluh hatinya mengenangkan perceraian
dengan anak kesayangannya itu. Amat sakit hatinya memikirkan
apa dan siapa yang menyebabkan perceraian dengan anaknya
itu. Demikianlah hal mereka itu sampai pulang.
Hal Midun dihukum itu tersiar di kampungnya. Segala orang
di kampung itu amat bersedih hati kehilangan Midun, seorang
anak muda yang baik hati dan sangat dicintai oleh segala orang
di kampungnya. Banyak orang di kampung itu yang menyangka
bahwa Midun dihukum itu tak dapat tiada bertali dengan si
Kacak musuhnya. Sejak itu orang di kampung itu semakin benci
kepada kemenakan Tuanku Laras itu. Melihat mukanya saja
orang amat jijik, dan kalau bertemu sedapat-dapatnya
dihindarkannya. Tetapi Kacak mendengar kabar itu sangat
bergirang hati. Orang yang dibencinya tak ada lagi. Kalau ia
bercakap-cakap dengan kawannya, selalu ia berjujat tentang
perangai Midun. Dikatakannya bahwa Midun seorang-orang
jahat, kalau tidak masakan dihukum. Tetapi di dalam hati
Kacak merasa berang dan kesal, karena Midun tidak sampai
tewas nyawanya dalam perkelahian di gelanggang pacuan kuda
itu.
Midun sangat bersedih hati, karena ia akan meninggalkan
negerinya. Makin remuk redam lagi hati Midun, karena ia tidak
dapat menemui bunda dan adik-adiknya yang sangat dikasihinya
itu lebih dahulu. Sepanjang jalan ke penjara pikirannya tidak
bertentu saja. Sebentar begini, sebentar pula begitu
mengenangkan nasibnya yang malang itu. Kadang-kadang besar
dan suka hati Midun dihukum, karena ia dapat menghindarkan
musuhnya yang berbahaya itu. Jika ia di kampung juga, boleh
jadi hidupnya lebih celaka lagi. Bermusuh dengan seorang kaya,
keluarga orang berpangkat dan bangsawan tinggi pula, tentu
saja mudah ia binasa. Asal Midun lengah sedikit saja, tentu
Kacak dapat menerkam mangsanya. Sebelum Midun lenyap di
dunia ini, tidaklah Kacak akan bersenang hati. Makin dikenang
makin jauh, makin dipikirkan makin susah. Dengan pikiran
demikian itu, lain tidak hasilnya sedih dan pilu, padahal
nasibnya takkan berubah, tetap begitu juga. Maka Midun pun
membulatkan pikirannya, lalu berkata di dalam hatinya, "Ah,
sudahlah, memang adat laki-laki sudah demikian. Tiap-tiap
celaka ada gunanya. Tidak guna saya sesalkan, karena hal ini
kemauan Tuhan dan kehendak Allah jua."
Pagi-pagi waktu Midun akan berangkat, ia memohonkan perlindungan
Tuhan, hubaya-hubaya selamat dalam hidup yang
akan dijalaninya itu. Ketika itu hari masih gelap, kabut amat
tebal. Angin tak ada, burung-burung seekor pun tidak
kedengaran berbunyi, seolah-olah bersedih hati pula akan
bercerai dengan Midun. Fajar mulai menyingsing di sebelah
timur, tetapi amat suram, cahaya. Maka turunlah hujan rintikrintik,
angin berembus sepoi-sepoi basa. Segalanya itu seakanakan
berdukacita melepas orang muda yang amat baik hati itu,
yang barangkali entah lama lagi akan dapat menjejak tanah
airnya kembali. Tidak lama datanglah seorang opas, Gempa
Alam namanya, yang akan mengantarkan Midun ke Padang hari
itu. Baru saja opas itu datang, Midun berkata, "Apa kabar,
Mamak? Sekarang saya berangkat ke Padang?"
"Ya, kita sekarang berangkat, sudah siapkah Midun?" ujar
Gempa Alam, sebagai orang yang telah kenal kepadanya,
"kereta api berangkat pukul tujuh, sekarang sudah setengah
tujuh lewat."
"Sudah, Mamak," jawab Midun dengan pendek.
"Kalau begitu, marilah kita berangkat sekarang juga.
Sebetulnya Midun harus saya belenggu, karena begitu perintah
saya terima. Tapi sudah tiga hari Midun saya kenali, saya
jemput dan saya antarkan waktu perkara, nyata kepada saya
bahwa Midun seorang yang baik. Saya percaya Midun tidak akan
melarikan diri. Oleh sebab itu tadi sudah saya pohonkan kepada
sipir, supaya engkau jangan dibelenggu ke Padang. Karena saya
berani menjamin atau menanggung bahasa Midun tidak akan
lari, permintaan saya itu dikabulkan oleh sipir."
"Mamak bukankah sudah tahu bagaimana duduknya
perkaranya. Tentang akan melarikan diri itu, janganlah Mamak
khawatirkan. Sedikit pun tidak ada kenang-kenangan saya
dalam hal itu. Apa yang seolah digerakkan Tuhan atas diri saya,
harus dan wajib saya terima dengan segala suka hati.
Kemurahan Mamak itu, asal tidak akan merusakkan kepada
pekerjaan Mamak, saya ucapkan terima kasih banyak-banyak."
"Midun, jika saya menaruh khawatir kepadamu, dengan
tidak bertanya-tanya lagi belenggu ini sudah saya lekatkan di
tangan Midun. Tetapi karena saya sudah maklum siapa dan
bagaimana engkau, saya pohonkan supaya jangan dibelenggu.
Marilah kita berangkat!"
Maka kelihatanlah Midun dengan seorang opas menuju ke
stasiun. Midun kelihatan sabar saja, sedikit pun tidak ada tanda
ia dalam bersedih hati. Kendatipun pikiran Midun sudah tetap,
tidak lagi akan mengenang-ngenangkan nasibnya, tetapi ketika
lonceng tiga berbunyi, lain benar perasaannya. Pikiran Midun
melayang kepada ayah bunda dan adik-adiknya. Tampaktampak
dalam pikiran Midun segala sahabat kenalannya di
kampung. Pada perasaannya ia meninggalkan kampung 4 bulan
itu, tak ubah sebagai seorang yang tidak akan balik-balik lagi
atau pergi meranto bertahun-tahun. Demikianlah kesedihan
yang selalu menggoda Midun, hingga dengan tidak diketahui
sudah dua buah halte kereta api terlampau.
Melihat muka Midun muram sebagai orang bersedih ha I i
Gempa Alam belas kasihan kepadanya. Akan menghalangkan
duka Midun, maka Gempa Alam berkata, "Midun, sekalipun saya
sudah maklum duduk perkara yang menghukum engkau ini,
ingin juga saya hendak mendengar dari mulutmu sendiri,
bagaimana asal mulanya perkara Midun berkelahi di pacuan
kuda, dan apa yang menyebabkannya. Cobalah ceritakan
kepada saya dari bermula sampai kita naik kereta api sekarang
ini."
"Saya dihukum ini tidak utang yang dibayar, dan tidak
piutang yang diterima, " ujar Midun memulai perkataannya.
"Saya adalah seorang yang teraniaya, Mamak. Dengarlah saya
ceritakan dari bermula sampai tamat. Setelah habis cerita
saya, akan nyata kepada Mamak, bahwa saya teraniaya. Cerita
saya ini tidak saya lebihi dan tidak pula dikurangi, melainkan
sebagaimana yang terjadi atas diri saya saja."
Maka Midun pun bercerita kepada Gempa Alam, mulai dari
ia berdua belas di masjid, sampai ia dihukum itu. Satu pun tak
ada yang dilampaui Midun, habis semua diceritakannya. Karena
asyik mendengar cerita itu, dengan tidak diketahuinya kereta
api sudah sampai di halte Kandangempat, lewat Padang
panjang. Baru saja Midun tamat bercerita, Gempa Alam mengangguk-
anggukkan kepala, sambil menarik napas panjang.
Kemudian ia berkata, "Ceritamu itu hampir bersamaan benar
dengan nasib saya semasa muda. Hanya saja pada permulaannya
yang agak berlainan sedikit. Sebab tidak tahan
hidup di kampung, sudah 15 tahun lamanya saya meninggalkan
negeri. Dalam 15 tahun itu belum pernah sekali jua saya menjejak
kampung tempat kelahiran saya. Amat banyak penanggungan
saya selama itu, macam-macam pekerjaan yang
telah saya kerjakan untuk mengisi perut sesuap pagi, sesuap
petang.
Sekarang sebagai engkau lihat sendiri, saya telah menjadi
komandan opas. Akan pulang ke kampung, takut... ya akan
dapat malapetaka pula, sebab yang memusuhi saya itu masih
memegang jabatannya."
"Mamak, kalau saya tidak salah umur Mamak sudah lebih 40
tahun," ujar Midun. "Selama Mamak hidup, tentu telah banyak
negeri yang Mamak lihat, dan sudah jauh rantau yang Mamak
jelang. Saya rasa tidak sedikit pengetahuan Mamak bertambah.
Tetapi saya, Mamak, umur baru setahun jagung, darah baru
setampuk pinang, pomandangan belum jauh, pendengaran
belum banyak, pengetahuan belum seberapa. Bahkan
meninggalkan kampung barulah sekali ini. Sebab itu saya berharap,
sudilah kiranya Mamak menceritakan hal Mamak itu.
Mudah-mudahan dalam cerita Mamak itu ada yang berguna
akan jadi teladan. Dengan cerita Mamak itu, tentu dapat saya
membandingkan, bagaimana saya harus menjalankan penghidupan
saya kelak."
"Baik, dengarkanlah!" ujar Gempa Alam. "Dahulu waktu saya
masih muda, pekerjaan saya berniaga kecil saja di pasar.
Dengan jalan demikian, dapat saya uang untuk pokok berniaga
yang agak besar. Dengan rajin dan sungguh serta hemat, saya
menjalankan periliagaan. Dalam dua tahun saja saya mendapat
untung yang bukan sedikit jumlahnya. Uang itu dapat saya
pergunakan untuk mengganti pondok orang tua saya dan pembeli
sawah. Saya telah menjadi saudagar, dan nama saya di
kampung sudah harum pula. Sungguhpun uang saya belum
seberapa, tetapi karena sudah sanggup mengganti rumah orang
tua dan membeli sawah, pada pikiran orang, saya sudah kaya
raya.
O ya, saya lupa, Midun! Ketika saya berniaga berkecil-kecil
itu, umur saya sudah 16 tahun. Waktu itu saya sudah beristri.
Sayang istri saya itu tidak lama umurnya. Belum cukup setahun
saya bergaul dengan dia, ia sudah meninggalkan dunia. la meninggal
itu karena kelulusan* (Beranak-muda, belum cukup bulannya),
dan kata setengah orang sebabnya, karena ia terlampau muda
kawin dengan saya. Perkataan orang itu boleh jadi benar,
karena waktu ia kawin, paling tinggi umurnya 13 tahun. Sejak
itu saya tidak mau kawin lagi. Saya beristri itu ialah karena
terpaksa saja. Tidak boleh saya mengatakan tidak mau, melainkan
mesti terima. Biarpun bagaimana saya mengatakan: saya
belum hendak kawin, tetapi mamak saya memaksa juga. Maka
demikian belum ada dalam pikiran saya hendak kawin, karena
ibu bapak saya orang miskin. Saya perlu membela ibu bapak
dan adik-adik saya dulu. Jika tidak saya tolong, tentu sengsara
penghidupan kami.
Nah, setelah istri saya meninggal, saya berusaha, sehingga
mencukupi untuk dimakan petang pagi, sebagai sudah saya
katakan tadi. Saya pun terus juga berniaga menjual barangbarang
hutan. Dengan permintaan kaum famili, saya mesti pula
kawin sekali lagi. 'Patah tumbuh, bilang berganti,' katanya, 'jika
tidak diganti malu kepada orang sekampung.' Permintaan itu
saya terima, karena penghidupan saya telah mencukupi. Maka
saya dikawinkan dengan seorang janda Tuanku Laras di negeri
saya. Amat banyak janda Tuanku Laras itu, Midun! Yang saya
ketahui masa itu, ada 15 orang. Padahal waktu itu ia baru 3
tahun diangkat menjadi Tuanku Laras. Jika sudah 20 tahun ia
memegang pangkatnya itu, entah berapa agaknya janda Tuanku
Laras itu. Ada yang karena diminta orang, ada pula yang karena
maunya sendiri. Manakala perempuan itu sudah beranak
seorang atau sudah bosan ia memakainya, lalu diceraikannya
saja. Tidak karena itu saja, kadang-kadang baru sebulan ia
kawin sudah talak, sebab ia hendak kawin lagi. Sebabnya, ialah
karena menurut agama hanya boleh beristri 4 orang. Jadi yang
empat orang itu selalu berganti tiap-tiap tahun. Jika boleh
beristri sampai 20 orang, barangkali hal itu akan terjadi pada
Tuanku Laras di negeri saya itu. Apa yang akan disusahkannya,
membelanjai tidak, membelikan pakaian istri pun tidak pula.
Dan Tuanku Laras itu, jika pulang kepada salah seorang istrinya,
disembah-sembah, dijunjung-junjung, sangat dihormati
oleh famili si perempuan itu. Yang tidak ada diadakan, dan
yang kurang dicukupkan, asal hati Tuanku Laras itu jangan tersinggung.
Segala janda Tuanku Laras itu, jarang yang bersuami lagi,
Midun! Orang takut akan ketulahan menggantikan istri rajanya.
Oleh sebab itu, kebanyakan janda Tuanku Laras itu janda
sampai tua, jarang yang bersuami lagi. Sebulan sudah kawin,
saya dipanggil berjaga ke kantor Tuanku Laras. Ketika itu
urusan perniagaan saya banyak benar. Sebab yang biasa boleh
diupahkan berjaga itu saya upahkan saja. Tetapi Tuanku Laras
tidak menerima, melainkan harus saya jalani sendiri. Berjaga
itu ialah sebagai berodi juga maksudnya. Tetapi menjaga
kantor itu, mengerjakan segala keperluan Tuanku Laras saja.
Apa yang disuruhkannya mesti diturut. Pendeknya kita jadi
budak benar-benar; lamanya seminggu. Ah, tak usah saya
sebutkan lagi apa yang dikerjakan di sana, Midun! Engkau
sendiri bukankah telah merasai sakitnya. Itu pun bagimu belum
seberapa. Bagi saya, Allah yang akan tahu, tidak kerja lagi yang
dikerjakan, tak ubah sebagai budak belian saya diperbuatnya.
Bukan main azab yang saya terima masa itu; ngeri saya
mengenangkannya. Tidak dari Tuanku Laras saja, lebih-lebih
lagi dari familinya. Karena tidak tertahan, lebih dari azab api
neraka rasanya, saya pun gelap mata. Saya... mengamuk,
Midun! Seorang dari pada kemenakan Tuanku Laras itu saya
tikam, untung tidak mati. Dan saya dihukum ke Padang,
lamanya setahun. Tahukah Midun, apa sebab saya dibuatnya
demikian?"
"Tahu, Mamak," ujar Midun, "tentu saja karena Mamak
berani menggantikan janda Tuanku Laras itu."
"Benar demikian," ujar Gempa Alam pula, lalu meneruskan
ceritanya. "Ini neraka yang kedua lagi, Midun! Engkau tentu
akan merasai pula nanti. Di dalam penjara, tidak sedikit pula
cobaan yang diterima. Siapa berani, siapa di atas. Jika kita
berani, adalah agak disegani orang sedikit. Tetapi siksaan
tidaklah kurang karena itu. Sedikit-sedikit kaki tiba di rusuk.
Terlambat sedikit saja, kepala kena gada. Jika berbuat
kesalahan, kita dipukul dengan rotan. Tidak ubahnya mereka
sebagai memukul anjing saja. Tidak penjaga penjara saja yang
mengazab kita, tetapi sama-sama orang hukuman pun begitu
pula. Ada kalanya kita diadu pegawai penjara sebagai ayam.
Sungguh, bengis dan ganas benar penjaga-penjaga penjara itu.
Tidak sedikit jua berhati kasih mesra kepada sesama makhluk.
Sudah berpancaran tahi orang, air ludah membuih keluar kena
sepak terajang, tidak dipedulikan mereka, melainkan terus saja
disiksanya. Sungguhpun demikian, janganlah Midun gusar. Boleh
jadi sekarang, segala perbuatan yang bengis itu tidak ada lagi.
Kalau ada sekalipun Midun jangan khawatir, beranikan hati
tetapkan iman, insya Allah selamat. Apalagi Midun saya lihat
seorang anak muda yang tangkas, takkan mudah diperbuat
orang semau-maunya saja. Sekali lagi saya katakan, beranikan
hatimu, jangan takut menentang bahaya apa pun jua. Tunjukkan
tanda engkau laki-laki, bila perlu."
Gempa Alam terkenang waktu ia di penjara dahulu. Amat
sedih hatinya melihat Midun, anak muda yang remaja itu akan
menanggung sengsara sebagai dia dahulu pula. Gempa Alam
mengetahui, bahwa sampai masa itu di dalam penjara di
Padang masih dijalankan orang keganasan yang demikian lebihlebih
lagi kepada orang hukuman yang datang dari sebelah
Darat. Hanya ia mengatakan "barangkali sekarang tidak lagi"
kepada Midun, untuk menyenangkan hati Midun saja. Dengan
tidak diketahui, air mata Gempa Alam berlinang memikirkan
Midun, seorang anak yang baik hati dan berbudi pekerti itu.
Hampir-hampir keluar dari mulut Gempa Alam perkataan,
"Lebih baik lari saja, Midun!" Sedang Gempa Alam berpikirpikir,
Midun berkata, katanya, "Atas nasihat Mamak, saya
ucapkan banyak-banyak terima kasih. Jangan Mamak khawatir
melihat saya. Saya maklum bahwa Mamak bersedih hati, lain
tidak karena kasihan kepada saya akan masuk penjara, dan
akan merasai seperti yang telah Mamak tanggungkan dahulu.
Tentang diri saya tidak usah Mamak cemaskan, barangkali saya
tidak akan demikian benar diperbuat orang. Tuhan ada bersama
kita, tentu saja ia akan melindungi yang tidak bersalah. Jika
telah tumbuh baru kita siangi, sebab itu tidak ada gunanya hal
itu kita pikirkan sekarang."
Baru habis Midun berkata, kedengaran condecteur berseru,
"Padang; karcis!"
Mereka kedua sudah hampir di stasiun Padang. Tidak lama
kereta berhenti.
"Di sini kita turun, Mamak?-" ujar Midun.
"Tidak," jawab Gempa Alam, "kita turun di Pulau Air. Kalau
di sini kita turun, jauh lagi ke penjara. Tetapi dari stasiun
Pulau Air hanya kira-kira 10 menit perjalanan."
Setelah sampai di stasiun Pulau Air, mereka keduapun
turunlah. Sebelum pergi ke penjara, Gempa Alam mengajak
Midun pergi makan ke lepau nasi. Sudah makan, Gempa Alam
berkata, "Sekarang engkau terpaksa dibelenggu. Jika tidak,
boleh jadi saya celaka. Tentu saja saya dipandang sipir lalai,
atau mengabaikan pekerjaan."
"Baik, Mamak," ujar Midun, "karena saya, jangan hendaknya
terbawa-bawa Mamak pula."
Midun dibelenggu oleh Gempa Alam. Ketika rumah penjara
itu kelihatan oleh Gempa Alam, darahnya berdebar. Midun
tersirap pula darahnya melihat rumah itu, tetapi lekas ia menghibur
hati, sambil berkata, "Inikah penjara itu Mamak? Pantas
Mamak katakan neraka No. 2, karena hebat sungguh rupanya."
Gempa Alam tidak menyahut, sambil berjalan pikirannya
entah ke mana. Sampai di penjara, Gempa Alam memberikan
surat kepada sipir. Setelah selesai, ia bersalam dengan Midun
akan memberi selamat tinggal. Kemudian Gempa Alam pun
pergi. Sepanjang jalan tampak-tampak oleh Gempa Alam
bahaya apa yang akan menimpa Midun dalam penjara.
"Sambut, si pengamuk datang dari Darat," demikianlah seru
sipir kepada tukang kunci yang tengah berdiri di pintu rumah
penjara itu.
Midun mengerti apa maksud perkataan itu, karena
dilihatnya sipir itu berkata keras dan gagah. Sebab itu Midun
berlaku ingat-ingat, lalu masuk ke dalam.
"Ha, ha! Belum lagi tumbuh rambut di ubun-ubunmu, sudah
berani mengamuk," kata tukang kunci dengan bengis sambil
mengejekkan. "Berani sungguh ...." Pap, Midun melompat
mengelakkan sepak yang sekonyong-konyong datangnya itu.
"Benar, tangkas, nanti kita coba," ujar tukang kunci pula
dengan bengis, sebab Midun berani mengelakkan sepaknya.
"Ayoh, masuk ke dalam kamar ini, tukar pakaian, dan uangmu
mari sini semua!"
Sesudah belenggunya dibuka tukang kunci, dengan segera
Midun mengambil uang dalam saku baju, banyaknya Rp 15,- lalu
diberikannya kepada tukang kunci itu. Pakaiannya ditukar
dengan pakaian orang hukuman. Setelah itu Midun menurutkan
tukang kunci dari belakang. Sampai di muka kamar, tukang
kunci berkata pula, "Masuk, binatang! Lekas, anjing!"
Mendengar perkataan itu tak dapat yang akan dikatakan
Midun, karena sangat pedih hatinya. Tetapi ia terpaksa berdiam
diri saja, lalu masuk ke dalam kamar itu. Setelah kamar
dikuncikan, maka tukang kunci itu berjalan, lalu berkata, "Hatihati
engkau, berani mengelakkan kaki saya."
Midun dimasukkan ke dalam kamar sempit berdinding batu.
Dekat pintu masuk ada sebuah jendela kecil yang berterali
besi. Di dalam kamar itu ada sebuah bangku tempat duduk.
Midun berkata dalam hatinya, "Aduhai, tak ubah saya sebagai
perampok baru ditangkap. Bagaimanakah akan tidur di dalam
kamar sebesar ini? Akan duduk sajakah saya siang malam di
sini? Akan dipengapakannyakah saya, maka disuruhnya hatihati?"
Berkacau-balau pikiran Midun waktu itu. Tidak tentu apa
yang akan dibuatnya, karena ia belum mengerti apa maksud
orang atas dirinya. Dengan hal begitu, tiba-tiba terdengar pula
suara orang, "Keluar!"
Biarpun tidak disuruh, ketika pintu terbuka Midun hendak
keluar juga, karena sangat panas dan pelak di dalam kamar itu.
Tidak saja panas, tetapi napasnya berasa sesak sebab bau
busuk. Sampai di luar dilihatnya berpuluh orang hukuman
bertinggung berjajar. Dengan tolakan yang amat keras, Midun
disuruh pula bertinggung bersama orang-orang hukuman itu.
Setelah disebutkan sipir nama masing-masing, lalu semuanya
disuruh berdiri mengambil perkakas. Ketika Midun hendak
berdiri pula, datang seorang hukuman melandanya dari
belakang, hampir saja ia tersungkur. Karena Midun tahu bahwa
ia dilanda itu dengan sengaja, ia pun berkatalah, "Lihat orang
sedikit, Mamak, kita sama-sama orang hukuman, tidak baik
begitu!"
Midun tidak tahu bahwa orang tempat ia berkata itu,
seorang yang telah masyhur karena keberaniannya. Sebelum
kamar itu terbuka, orang itu sudah disuruh oleh sipir akan
mencobanya. Maka ia pun berkata dengan geramnya, "Hai, anak
kecil, berani engkau berkata begitu kepadaku?"
Belum habis ia berkata, orang itu melompat sambil
menerjang lalu menangkap Midun hendak dihempaskannya.
Midun menyambut dan mengelak badan, sambil merendahkan
diri ia melompat ke tempat yang lapang. Orang hukuman yang
banyak lalu menepi akan melihat perkelahian itu. Orang itu
menyerang pula sekali lagi, menumbuk dan menyepak dengan
sekaligus. Midun merendah, menyebelah diri menangkis, lalu
membuang langkah arah ke kiri. Orang itu tertumbuk ke
tonggak lampu, karena deras datangnya. Sudah dua kali ia
hendak mengenai Midun, tetapi sia-sia. Mukanya merah karena
marah, sebab Midun masih anak muda dan dia sudah
termasyhur berani. Sambil tertawa, sipir berkata, "Cobalah,
Ganjil, sekarang engkau sudah bertemu dengan lawanmu.
Sungguhpun anak muda, tetapi lada padi, cabe rawit, kata
orang Betawi."
Midun maklum, bahwa ia diadu orang. Nyata kepadanya si
Ganjil itu disuruh sipir. Ia ragu-ragu, karena terpikir olehnya
orang itu sudah agak tua, dan karena tersuruh oleh kepala
penjara. Tetapi melihat si Ganjil itu sungguh-sungguh hendak
membinasakan dia, terpaksa ia mesti melawan untuk
memelihara akan diri. Timbul pula pikiran Midun, bahwa ia
sama-sama orang hukuman, dan perlu pula memperlihatkan
lelaki-lakiannya sedikit. Sebab itu Midun bersiap menanti
serangan, seraya berkata, "Rupanya kita diadu sebagai ayam,
apa boleh buat, datangilah!"
Si Ganjil mengendangkan tangan ke muka dan dengan lekas
ia menyerang, sebab marahnya amat sangat. Dengan membabi
buta ia mendesak Midun. Midun selalu menyalahkan serangan
Ganjil, satu pun tidak ada yang mengena. Kemudian Midun
berkata, "Tahan pula balasan dari saya, Mamak."
Dengan tangkas Midun menangkis serangan Ganjil, lalu
mengelik seakan-akan merebahkan diri. Kemudian sebagai kilat
kaki Midun... pap, Ganjil tertelentang tidak, bergerak lagi,
karena tepat benar kenanya. Segala orang hukuman itu
tercengang dan amat heran melihat ketangkasan Midun
berkelahi. Sipir dan segala tukang kunci takjub, karena belum
pernah mereka melihat anak muda yang setangkas itu. Sambil
berjalan, sipir berkata, "Tunggu sampai besok, boleh ia rasai."
Ganjil dipapah orang ke kamarnya, dan Midun disuruh
masuk ke dalam sebuah kamar lain, tetapi tidak kamar yang
mula-mula tadi. Kamar itu agak lapang, di dalamnya ada
sebuah pangkin, yang luas dengan tikar. Sampai di kamar itu,
Midun menarik napas lalu berkata sendirinya, "Ya Allah,
peliharakan apalah kiranya hambaMu ini. Telah engkau
lepaskan saya dari bahaya yang pertama, begitulah pula
seterusnya hendaknya. Sedih hatiku melihat si Ganjil saya
kenai, tetapi apa boleh buat karena terpaksa. Kalau begini,
tentu bermacam-macam siksaan yang akan saya terima..."
Petang hari itu Midun tidak diganggu-ganggu orang. Kira-kira
pukul lima, diantarkan orang nasi. Melihat nasi dengan lauknya
itu, hampir Midun muntah. Nasinya kotor dan merah kehitamhitaman.
Di atas nasi itu ada sepotong daging setengah masak
dan garam sedikit. Baru saja Midun menggigit daging itu, ia
telah muntah. Daging itu tidak masak dan masih berbau. Tetapi
karena perut Midun sudah meminta hendak makan, dimakannya
juga nasi itu dengan garam, sekalipun kersik dalamnya hampir
sama banyak dengan nasinya. Setelah hari malam, Midun
tinggal seorang diri di dalam kamar itu. Lampu tidak ada, sebab
itu ia bergelap-gelap saja. Tetapi tiadalah gelap benar, karena
ada juga cahaya lampu dari luar melalui antara terali besi.
Malam itu Midun tak dapat tidur sekejap jua pun, karena
hatinya tidak senang sedikit jua. Perkelahian hari itu tak dapat
dilupakan Midun.
"Musuhku sudah bertambah seorang lagi; " pikir Midun. "Tak
dapat tiada, Ganjil dendam kepadaku. Jika saya lengah, tentu
binasa. Saya harus ingat-ingat dalam hal apa juapun. Ah,
sungguh malang benar saya ini. Di kampung badan tidak
senang, di sini makin susah lagi."
Setelah lonceng berbunyi dua kali, barulah Midun dapat
menutupkan matanya. Bermacam-macam mimpi yang menggoda
Midun malam itu. Sebentar-sebentar ia terbangun. Kirakira
pukul lima, kedengaran pintu kamarnya dibuka orang.
Midun segera duduk, takut kalau-kalau musuh yang datang.
"Keluar, ambil ransum!" ujar tukang kunci yang menerima
dia kemarin juga.
Midun keluar, lalu berbaris dengan orang-orang hukuman.
Maka Midun mencari Ganjil dengan matanya, musuhnya
kemarin di dalam orang hukuman yang banyak itu. Tetapi biar
bagaimana ia mencari, Ganjil tidak juga kelihatan. Maka
senanglah hatinya, karena pada pikiran Midun, tentu kakinya
kemarin memberi bekas, mati tidak boleh jadi. Atau boleh jadi
Ganjil dipisahkan, sebab belum semua orang hukuman yang
keluar. Midun membawa piring lalu pergi mengambil ransum.
Bukan main ganas tukang-tukang kunci itu. Mereka itu main
tempeleng, sepak, dan terajang saja kepada orang hukuman.
Terlambat sedikit atau kurang beratur berjalan, par,
tempelengnya telah tiba. Pendeknya, asal bersalah sedikit,
dengan tidak ampun lagi, kaki tiba di rusuk. Midun sendiri
dapat bagian pula, ketika ia terlambat mengambil piring
makan. Tidak ubah sebagai binatang segala orang hukuman itu
dibuat oleh pegawai penjara. Makin mengaduh makin disiksa,
jika melawan makin celaka lagi. Sudah meminta-minta ampun
orang kepadanya, tidak hendak berhenti mereka melekatkan
tangan. Midun amat belas kasihan melihat orang-orang
hukuman itu. Tetapi apa hendak dibuat, sedang nasibnya
sendiri belum tentu pula.
Sudah makan, segala orang hukuman itu tersinggung dan
berjajar pula. Nama masing-masing dipanggil sipir, dan harus
menyahut ".iya" bila sampai kepada namanya. Di sini pun tidak
sedikit pula orang hukuman kena terajang, hingga tersungkur
sampai mencium tanah. Manakala terlambat menyahut atau
tidak terdengar namanya dipanggil, pukulan sudah tiba di
pinggang. Kemudian segala orang itu diperiksa badannya. Tibatiba
kedapatan seorang hukuman menaruh uang 5 sen dan
rokok di dalam saku baju. Karena hal itu terlarang di dalam
penjara, orang itu lalu ditarik oleh tukang kunci. Setelah itu ia
diikatkan kepada sebuah tonggak, dan dibuka bajunya. Seorang
tukang kunci yang lain memegang sebuah rotan, lalu
membelasah orang hukuman itu pada punggungnya. Sampai ke
langit hijau agaknya orang hukuman itu memekik karena
kesakitan, tidak sedikit jua diacuhkan tukang kunci itu. Sesudah
dipukul, orang hukuman itu jatuh pingsan, tidak sadarkan
dirinya lagi. Midun tidak sanggup melihat penganiayaan yang
sangat ngeri itu. Entah hagaimana gerangan punggung orang itu
sesudah dipukul...
"Midun bekerja dengan mandor Saman!" ujar sipir setelah
habis nama orang hukuman itu disebutkan semuanya.
Seorang yang bermisai panjang datang menghampiri, sambil
memegang telinga Midun, ia berkata, "Ha, ha, anak ini yang
mengalahkan Ganjil kemarin, Engku?" katanya kepada sipir.
"Hati-hati engkau bekerja dengan saya, mengerti!" ujarnya pula
menghadap kepada Midun.
Midun diam saja, telinganya amat sakit ditarik mandor itu.
Jika dia tidak mandor, tentu Midun melawan agaknya. Mulamula
Midun disuruh mandor itu membongkar tahi di kakus.
Midun enggan mengerjakannya, tetapi karena ancaman,
dikerjakannya juga pekerjaan itu. Sehari-harian itu Midun
bekerja paksa. Tak sedikit jua ia dapat berhenti melepaskan
lelah. Asal saja ia berhenti sebentar, mandor itu sudah menghardik.
Diancamnya Midun dengan perkataan, manakala tidak
bekerja, hukumannya akan ditambah. Hanya waktu makan saja
ia dapat berhenti. Pekerjaan yang dikerjakan Midun sehari itu
pekerjaan berat dan hina pula. Seakan-akan sengaja orang ia
kerja paksa sehari itu. Petang hari Midun amat letih. Ketika
orang hukuman itu berbaris pula, Midun hampir tidak kuat
berjalan lagi. Sedang ia bertinggung, tiba-tiba datang seorangorang
yang besar tinggi kepadanya, lalu berkata, "Hai anjing,
berani engkau menggantikan tempat duduk saya? Ayoh, pergi!"
Mendengar perkataan orang itu, telinga Midun merah.
Sekalipun badannya sangat lesu, mendengar kata anjing itu
kembali kekuatannya, karena sakit hatinya. Orang itu berkata
dengan bahasa lain, sebab itu nyata kepadanya, bahwa orang
itu bukan orang Minangkabau. Apalagi orang itu sama-sama
orang hukuman dengan dia dan bukan bangsanya, makin bertambah
marah dan sakit hati Midun. Midun menjawab dengan
lantang suara, "Jangan begitu kasar, di sini tempat orang
hukuman." Dengan tidak menjawab lagi orang itu melompati
Midun, yang pada waktu itu masih bertinggung jua. Biarpun
Midun sudah letih, tetapi tidaklah kurang kekuatannya
menangkis serangan orang itu. Dia tidak mempermain-mainkan
musuh seperti dengan Ganjil kemarin. Setelah orang itu jatuh,
datang pula seorang lagi. Yang seorang tadi bangun lagi, lalu
berdua-duakannya melawan Midun. Kemudian jatuh pula sekali
lagi, tidak bangun kembali. Tetapi sudah datang pula kawannya
akan menggantikan. Sungguhpun demikian, Midun setapak tidak
undur. Tiga lawan satu, bukan main riuhnya dalam penjara itu.
9. Pertolongan dan Kalung Berlian
ALKISAH maka tersebutlah perkataan bahwa di dalam penjara
itu adalah bermacam-macam bangsa orang hukuman. Mereka
itu tidak ada yang kurang hukumannya dari setahun. Demikianlah,
di antara orang hukuman yang banyak itu ada seorang
Bugis, yang dapat hukuman seumur hidup. Namanya Turigi,
umurnya lebih kurang 50 tahun. Turigi adalah seorang yang
baik, sabar, dan ramah-tamah. Amat dalam ilmunya, dan
banyak pengetahuannya orang tua itu. Dalam hal agama Turigi
alim pula. Konon kabarnya ia seorang bangsawan di negerinya,
dan menjadi penasihat dan dukun. Tetapi kalau ia marah, tak
ada yang berani bertentangan dengan Turigi. Agaknya entah
karena ia dibuang selama hidup itu gerangan. Jika Turigi marah
tidak membilang lawan dan tidak takut kepada siapa pun jua.
Segala orang hukuman itu takut kepada Turigi. Bukan karena
beraninya saja ia ditakuti orang, tetapi terutama ialah karena
sudah orang tua; kedua, dalam pengetahuannya; dan ketiga,
amat baik budi pekertinya. Sipir penjara itu sendiri segan
kepada Turigi, apalagi tukang kuncinya. Sebab itu Turigi di
dalam penjara tidak ada yang berani memerintahi, dan ia
bekerja sesuka-suka hatinya saja. Sekalipun Turigi orang
hukuman, tapi keadaannya di penjara tidak ubah seperti di
rumahnya sendiri, bahkan lebih agaknya. Makannya dilainkan,
diberi tempat tidur yang baik, dan lain-lainnya. Pendeknya,
segala keperluan Turigi dicukupkan.
Ketika Midun berkelahi dengan Ganjil kemarin, Turigi ada
pula melihat. Senang benar hati Turigi melihat orang muda
yang tangkas dan berani itu. Menurut ilmu firasatnya, Midun
seorang anak yang amat baik tingkah laku dan tertib sopannya.
Sebab itu ia amat heran, dan berkata dalam hati, "Apakah
sebabnya orang yang sebaik itu dapat hukuman? Kesalahan
apakah yang telah diperbuatnya? Kasihan, biarlah besok atau
lusa tentu saya ketahui juga kesalahan orang muda itu maka
dihukum. Ingin benar saya hendak berkenalan dengan dia."
Pada keesokan harinya dilihat Turigi, Midun bekerja paksa.
Hampir-hampir tidak terderita oleh Midun pekerjaan yang di
kerjakannya itu. Apalagi melihat Midun mengerjakan pekerjaan
yang amat hina, timbul kasihan Turigi. Tampak nyata oleh


Turigi, Midun hampir tidak kuat lagi menahan siksaan pegawai
penjara. Melihat hal itu, Turigi menarik napas, akan melarang
tidak berani, karena dia sendiri orang hukuman pula. Tetapi
melihat Midun sudah payah bekerja sehari itu sekarang
dipersama-samakan orang pula, Turigi tak dapat lagi menahan
hati.
Pada pikiran Turigi, "Perbuatan itu tidak pantas, dan tidak
boleh dibiarkan. Seorang anak muda sesudah disiksa, disuruh
perkelahikan pula oleh tiga orang."
Dengan tidak berkata sepatah kata jua, Turigi melompat ke
tengah perkelahian itu. Ia berkata dengan geram, "Berhenti
berkelahi! Jika tidak, biar siapa saja saya patahkan batang
lehernya. Tidak adil!"



Tulis St. Sati

1. Bermain Sepak Raga
WAKTU asar sudah tiba. Amat cerah hari petang itu. Langit
tidak berawan, hening jernih sangat bagusnya. Matahari
bersinar dengan terang, suatu pun tak ada yang mengalanginya.
Lereng bukit dan puncak pohon-pohonan bagai disepuh rupanya.
Tetapi lembah dan tempat yang kerendahan buram
cahayanya. Demikianlah pula sebuah kampung yang terletak
pada sebuah lembah, tidak jauh dari Bukittinggi.
Dalam sebuah surau, di tepi sungai yang melalui kampung
itu, kedengaran orang berkasidah. Suaranya amat merdu, turun
naik dengan beraturan. Apa-lagi karena suara itu dirintangi
bunyi air sungai yang mengalir, makin enak dan sedap pada
pendengaran. Seakan-akan dari dalam sungai suara itu
datangnya. Hilang-hilang timbul, antara ada dengan tiada.
"Akan menjadi orang laratkah engkau nanti, Midun?" ujar
seseorang dari halaman surau sambil naik. "Bukankah berlagu
itu mengibakan hati dan menjauhkan perasaan? Akhir kelaknya
badan jauh jua karenanya."
"Tidak, Maun," jawab orang yang dipanggilkan Midun itu,
seraya meletakkan tali yang dipintalnya, "saya berkasidah
hanya perintang-rintang duduk. Tidak masuk hati, melainkan
untuk memetahkan lidah dalam bahasa itu saja. Dari manakah
engkau?"
"Dari pasar. Tidakkah engkau tahu, bahwa petang ini diadakan
permainan sepak raga? Mari kita ke pasar, kabarnya sekali
ini amat ramai di sana, sebab banyak orang datang dari
kampung lain!"
"Sudah banyakkah orang di pasar engkau tinggalkan tadi?"
"Banyak juga jenang pun sudah datang. Waktu saya tinggalkan,
orang sedang membersihkan medan."
"Si Kacak, kemenakan Tuanku Laras, sudah datangkah?"
"Belum, saya rasa tentu dia datang juga, sebab dia suka
pula akan permainan sepak raga."
Midun menarik napas. Maka ia pun berkata pula, katanya,
"Ah, tak usah saya pergi, Maun. Biarlah saya di surau saja
menyudahkan memintal tali ini akan dibuat tangguk."
"Apakah sebabnya engkau menarik napas? Bermusuhankah
engkau dengan dia?" ujar Maun dengan herannya.
"Tidak, kawan. Tapi kalau saya datang ke sana, boleh jadi
mendatangkan yang kurang baik."
"Sungguh, ajaib. Bermusuh tidak, tapi boleh jadi
mendatangkan yang tidak baik. Apa pula artinya itu?"
"Begini! Maun! Waktu berdua belas di masjid tempo hari,
bukankah engkau duduk dekat saya?"
"Benar."
"Nah, adakah engkau melihat bagaimana pemandangan
Kacak kepada saya?"
"Tidak."
"Masa kenduri itu kita duduk pada deretan yang di tengah.
Kacak pada deret yang kedua. Engkau sendiri melihat ketika
orang kampung meletakkan hidangan di hadapan kita. Bertimbun-
timbun, hingga hampir sama tinggi dengan duduk kita.
Ada yang meletakkan nasi, cukup dengan lauk-pauknya pada
sebuah talam. Ada pula yang meletakkan penganan dan lainlain
sebagainya, menurut kesukaan orang yang hendak bersedekah.
Tetapi kepada Kacak tidak seberapa, tak cukup
sepertiga yang kepada kita itu."
"Hal itu sudah sepatutnya, Midun. Pertama, engkau seorang
alim. Kedua, engkau disukai dan dikasihi orang kampung ini.
Oleh Kacak hanya derajatnya jadi kemenakan Tuanku Laras
saja yang dimegahkannya. Tentang tingkah laku dan perangainya
tidak ada yang akan diharap. Memang dia kurang disukai
orang di seluruh kampung ini."
"Sebab itulah, maka suram saja mukanya melihat hidangan
di muka kita. Ketika ia melayangkan pemandangannya kepada
saya, nyata benar terbayang pada muka Kacak kebenciannya.
Cemburu dan jijik agaknya dia kepada saya."
"Suka hatinyalah. Bukankah hal itu kemauan orang
kampung. Apa pula yang menyakitkan hatinya kepadamu?"
"Benar katamu, suka hatinyalah. Tapi harus engkau ingat
pula sebaliknya. Kita ini hanya orang kebanyakan saja, tapi dia
orang bangsawan tinggi dan kemenakan raja kita di kampung
ini. Tidakkah hal itu boleh mendatangkan bahaya?"
"Mendatangkan bahaya? Bahaya apa pulakah yang akan tiba
karena itu? Segalanya akan menjadi pikiran kepadamu. Apa
gunanya dihiraukan, sudahlah. Marilah kita pergi bersamasama!"
"Patut juga kita pikirkan, mana yang rasanya boleh mendatangkan
yang kurang baik kepada diri. Tetapi kalau engkau
keras juga hendak membawa saya, baiklah."
"Ah, belum tumbuh sudah engkau siangi. Terlampau arif diri
binasa, kurang arif badan celaka. Engkau rupanya terlalu arif
benar dalam hal ini. Lekaslah, tidak lama lagi permainan akan
dimulai orang."
Maka kelihatanlah dua orang sahabat berjalan menuju arah
ke pasar di kampung itu. Midun ialah seorang muda yang baru
berumur lebih kurang 20 tahun. Ia telah menjadi guru tua di
surau. Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu
menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.
Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat. Tiada lama
berjalan mereka keduapun sampailah ke pasar. Didapatinya
orang sudah banyak dan permainan sepak raga tidak lama lagi
akan dimulai.
Adapun pasar di kampung itu terletak di tepi jalan besar.
Pada seberang jalan di muka pasar, berderet beberapa buah
rumah dan lepau nasi. Di belakang rumah-rumah itu mengalir
sebuah sungai, Pasar itu diramaikan hanya sekali sepekan, yaitu
tiap-tiap hari Jumat. Itu pun ramainya hanya hingga tengah
hari saja. Oleh sebab itu, segala dangau-dangau diangkat
orang. Tetapi dangau-dangau yang sebelah ke tepi pasar dibiarkan
tertegak. Gunanya ialah untuk orang musafir atau siapa
saja yang suka bermalam di situ, atau untuk berlindung daripada
panas akan melepaskan lelah dalam perjalanan dan lainlain
sebagainya. Lain. daripada hari Jumat, pasar itu dipergunakan
orang juga untuk bermain sepak raga, rapat negeri,
dan lain-lain.
Ketika Midun kelihatan oleh beberapa orang muda di pasar
itu, mereka itu pun datanglah mendapatkannya. Mereka itu
semuanya amat bergirang hati melihat Midun. Begitu pula
ketika ia bersalam dengan orang-orang tua yang duduk berkelompok-
kelompok di situ, nyata terbayang pada muka orangorang
itu kesenangan hatinya.
Apakah sebabnya demikian?
Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di
kampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan
santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar;
tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik
hati, penyayang dan pengasih, jarang orang yang sebaik dia
hatinya. Sabar dan tak lekas marah, serta tulus ikhlas dalam
segala hal. Hati tetap dan kemauannya keras; apa yang dimaksudnya
jika tidak sampai, belum ia bersenang hati. Adalah
pula padanya suatu sifat yang baik, yakni barang siapa yang
berdekatan atau bercampur dengan dia, tak dapat tiada senang
hatinya, hilang sedih hati olehnya. Karena itu, tua muda, kecil
besar di kampung itu kasih dan sayang kepada Midun. Hampir
semua orang di kampungnya kenal akan dia. Sebab itu namanya
tergantung di bibir orang banyak, dan budi pekertinya diambil
orang jadi teladan.
Orang sudah banyak di pasar, di sana-sini kelihatan orang
duduk berkelompok-kelompok. Orang yang akan menonton permainan
sepak raga pun sudah banyak pula datang. Anak-anak
sudah berlarian ke sana kemari, mencari tempat yang baik
untuk menonton. Ada pula di antara mereka itu yang bermainmain,
misalnya berkucing-kucing, berkuda-kuda dan lain-lain,
menanti permainan dimulai. Segala orang di pasar itu rupanya
gelisah, tidak senang diam. Sebentarsebentar melihat ke jalan
besar, sebagai ada yang dinantikannya.
Tidak berapa lama antaranya, kelihatan seorang muda
datang menuju ke pasar itu. Ia bercelana batik, berbaju Cina
yang berkerawang pada saku dan punggungnya. Kopiahnya
sutera selalu, berterompah dan bersarung kain Bugis. Sungguh,
tampan dan alap benar kelihatannya dari jauh. la berjalan
dengan gagah dan kocaknya, apalagi diiringkan oleh beberapa
orang pengiringnya.
"Itu dia Engku Muda Kacak sudah datang," kata Maun kepada
kawan-kawannya.
Mendengar perkataan Maun, orang yang duduk berkelompok-
kelompok itu berdiri. Setelah Kacak sampai ke pasar,
semuanya datang bersalam kepadanya. Sungguhpun Kacak
masih berumur 21 tahun lebih, tetapi segala orang di pasar itu,
baik tua ataupun muda, sangat hormat kepadanya dan dengan
sopan bersalam dengan dia. Tetapi mereka ber-salam tidak sebagai
kepada Midun, melainkan kebalikannya. Mereka itu
semuanya seolah-olah terpaksa, sebab ada yang ditakutkannya.
Sudah padan benar nama itu dilekatkan kepadanya, karena
bersesuaian dengan tingkah lakunya. la tinggi hati, sombong,
dan congkak. Matanya juling, kemerah-merahan warnanya.
Alisnya terjorok ke muka, hidungnya panjang dan bungkuk. Hal
itu sudah menyatakan, bahwa ia seorang yang busuk hati. Di
kampung itu ia sangat dibenci orang, karena sangat angkuhnya.
Perkataannya kasar, selalu menyakitkan hati. Adat sopan
santun sedikit pun tak ada pada Kacak. Ke mana-mana berjalan
selalu ia pakai pengiring. Bahkan di dalam pemerintahan ia pun
campur pula, agaknya lebih dar'r mamaknya. Sungguhpun
demikian, seorang pun tak ada yang berani menegurnya, karena
orang takut kepada Tuanku Laras. Kacak pun seolah-olah tahu
pula siapa dia: karena itu ia selalu menggagahkan diri di
kampung itu.
"Sudah sepetang ini hari, belum jugakah jenang datang ke
medan?" ujar Kacak dengan agak keras, sambil melayangkan
pemandangannya, seakan-akan mencari seseorang dalam orang
banyak yang datang bersalaman kepadanya itu.
"Sudah, Engku Muda;" ujar Maun dengan sopan. "Itu beliau di
dalam lepau nasi sedang bercakap-cakap. Agaknya beliau
menantikan kedatangan Engku Muda saja lagi."
"Katakanlah saya sudah datang!" ujar Kacak pula dengan
pongahnya. "Sudah hampir terbenam matahari gila membual
juga."
Tidak lama antaranya, keluarlah seorang yang agak tua dan
bertubuh tegap dari dalam sebuah lepau nasi. Orang itu ialah
jenang permainan sepak raga. Baru saja dilihatnya Kacak,
segera ia datang mendapatkannya. Sambil bersalam jenang
berkata, katanya, "Sudah
lama Engku Muda datang?".
"Lama juga," jawab Kacak dengan muka masam. "Apakah
sebabnya tidak dimulai juga bermain sepak raga? Akan
dinantikan terbenamnya matahari dulu, maka dimulai?"
"Ah, kami sudah dari tadi datang," ujar jenang dengan
hormat, "hanya menantikan Engku Muda saja lagi."
"Mengapa tidak dimulai saja dulu? Sungguh, jika tak ada
saya rupanya takkan jadi permainan ini."
Segala penonton sudah duduk pada tempatnya masingmasing,
yang telah disediakan oleh pengurus medan itu
sebelum bermain. Maka jenang pun pergilah bersalam kepada
beberapa orang penonton yang terpandang, yang maksudnya
tidak saja memberi selamat datang, tetapi seolah-olah
meminta izin juga, bahwa permainan akan dimulai.
"Rupanya banyak juga orang datang dari jorong lain hendak
bermain hari ini," ujar seorang penghulu ketika bersalam
dengan jenang.
"Benar, Datuk," ujar jenang. "Sungguh, luar biasa ramainya
sekali ini."
Setelah jenang masuk ke tengah medan, maka segala
pemain pun datanglah bersalam dengan hormatnya, akan
mengenalkan diri masing-masing. Kemudian segala pemain
berdiri berkeliling, membuat sebuah bundaran di medan itu.
Jenang yang berdiri di tengah medan, lalu melihat berkeliling,
memperhatikan pemain yang berdiri di medan itu.
"Engku Muda Kacak!" kata jenang sekonyong-konyong, "Permainan
akan kita mulai."
Perkataan jenang yang demikian itu sudah cukup untuk
menjadi sindiran kepada pemain, agar segera memperbaiki kesalahannya.
Kacak kemalu-maluan, tetapi apa hendak dikatakan,
karena di medan itu jenang lebih berkuasa daripada dia.
Dengan muka merah dan menggigit bibir karena malu dapat
teguran jenang, Kacak melihat ke kiri-ke kanan, ke muka dan
ke belakang, lalu memperbaiki tegaknya. Segala pemain yang
lain insaf pula akan arti sindiran itu, lalu mereka memperhatikan
betul tidaknya tempat ia berdiri. Syukurlah hanya
Kacak seorang yang tidak sempurna tegaknya di medan itu.
Sesudahnya jenang memperbahasakan tamu, yaitu memberikan
raga supaya disepakkan lebih dulu, permainan pun dimulailah.
Jenang menyepak raga, lalu berkata, "Bagian Engku
Muda Kacak!"
Maka Kacak pun bersiap menanti raga. Dengan tangkas, raga
itu disepaknya tinggi ke atas, lalu berkata, "Bagianmu, Midun!"
Midun bersiap serta memandang ke arah suara itu datang.
Nyata kepadanya, bahwa yang berseru itu Kacak. Dengan tidak
menanti anak raga, lalu Midun mempertubi-tubikan sepaknya
sampai sepuluh kali. Sudah itu disepakkannya pula ke arah
Kacak, lalu berkata, "Sambutlah kembali, Engku Muda!"
Kacak melihat hal Midun dengan kepandaiannya itu tidak
bersenang hati. Ia berkata dalam hatinya, "Berapa kepandaianmu,
saya lebih lagi dari engkau."
Ketika raga tinggi melambung, ia memandang ke atas serta
menganjur langkah ke belakang. Maksudnya akan mencari
alamat, dan hendak melompat sambil menyepak raga, tetapi
celaka! Ketika ia akan menyepak; kakinya yang sebelah kiri
tergelincir, lalu Kacak... bab, jatuh terenyak. Segala yang
main, baik pun si penonton semuanya tersenyum sambil
membuang muka. Mereka itu seakan-akan menahan tertawanya.
Oleh karena itu, tak ada ubahnya sebagai orang sakit gigi
tertawa. Sebabnya, ialah karena orang segan dan takut kepada
kemenakan Tuanku Laras itu. Waktu Kacak terduduk, dan
warna mukanya itu pucat menahan sakit, seorang daripada
mereka yang main itu bernama Kadirun berkata, katanya,
"Cempedak hutan!"
Adapun Kadirun itu ialah teman Midun semasa kecil. Ia amat
pandai membuat orang tertawa. Tak ada ubahnya sebagai alanalan
(badut) pada komidi. Jangankan mendengar perkataannya,
melihat rupanya saja pun orang sudah hendak tertawa. Kadirun
adalah seorang muda yang sabar. Biarpun bagaimana juga
diolok-olokkan orang, ia tertawa saja. Meskipun orang marah
kepadanya, tetapi manakala berhadapan dengan dia, tak dapat
tiada tertawa. Memang sudah menjadi sifat padanya tabiat itu
sejak kecil. Hampir semua orang di kampung itu sudah
mengetahui perangai Kadirun yang demikian.
Kawan-kawan Kadirun waktu masih kanak-kanak dahulu,
lebih kurang ada sepuluh orang yang hadir di sana. Mereka itu
mengerti apa maksud Kadirun berkata begitu. Semuanya
terkenang akan kejadian semasa mereka masih kecil itu, ketika
menggembalakan kerbau di hutan. Karena itu tidak tertahan
lagi perut mereka itu hendak tertawa. Kesudahannya lepas jua,
mereka tertawa gelak-gelak mengenangkan perbuatan masa
dahulu.
Kacak bertambah pucat mukanya karena malu. Apalagi
dalam permainan itu, ia dialahkan Midun. Tubuhnya berasa
sakit terjatuh. Pada pikiran Kacak orang tertawa itu
mengejekkannya. Sekonyong-konyong merah padam mukanya.
Darahnya mendidih, sebab marah. Maka diturutnya Kadirun
akan menanyakan, apa maksud perkataan "cempedak hutan"
itu. Kadirun anak muda yang sabar itu menjawab katanya,
"Tanyakan kepada Midun apa maksudnya, Engku Muda!"
Mendengar perkataan itu, Kacak makin meradang. Hatinya
bertambah panas, lebih-lebih mendengar nama orang yang
dikatakan Kadirun itu, orang yang tidak disukainya. Sejak
kenduri di masjid, hatinya sudah mulai benci kepada Midun.
Dengan tidak berkata-kata lagi, lalu diturutnya Midun.
Ketika ia sampai di hadapan Midun, kebetulan Midun sedang
tersenyum. Pada pikiran Kacak menertawakannya. Ia tidak bertanya
lagi, terus ditinjunya. Midun mengelak, ia tak kena.
Kacak menyerang berturut-turut, tetapi Midun selalu mengelak
diri, sambil undur ke belakang. Kesudahannya Midun tersesak
ke balai-balai dangau, lalu bertalian. Kacak menyerbukan diri
dengan deras. Midun melompat dan mengelak ke kiri. Karena
deras datang, tangannya tertumbuk ke tonggak dangau.
Tonggak dangau itu rebah, Kacak terdorong ke dalam, diimpit
oleh atap dangau itu. Orang tertawa karena geli melihat kepala
Kacak tersembul pada atap rumbia. Jenang lalu melompat akan
melerai perkelahian itu. Makin disabarkan, makin keras Kacak
hendak menyerang. Midun sabar saja, sedikit pun tak ada
terbayang hati marah pada mukanya.
Setelah Kacak disabarkan, Midun disuruh orang menerangkan
apa arti kata "cempedak hutan" yang dikatakan Kadirun itu.
Midun mencari Kadirun dengan matanya di dalam orang banyak,
akan menyuruh menerangkan arti perkataan itu. Tetapi ketika
perkelahian terjadi, Kadirun sudah melarikan diri karena
ketakutan.
Midun berkata, katanya, "Kawan-kawan saya tertawa itu
sekali-kali tidak menertawakan Engku Muda Kacak. Tentu saja
mereka itu tidak berani menertawakannya. Mereka tertawa
karena mengenangkan perangainya semasa kanak-kanak.
Dahulu waktu kami kecil-kecil, pergi menggembalakan kerbau
ke hutan. Sampai dalam hutan, kami duduk saja di atas
punggung kerbau masing-masing. Sambil memberi makan
kerbau kami bernyanyi dan bersenda gurau sesuka-suka hati.
Karena pekerjaan itu tidak berfaedah, melainkan menghabiskan
hari saja, saya ajak kawan-kawan mufakat di bawah sepohon
kayu yang rindang. Saya katakan kepadanya, daripada bernyanyi,
lebih baik kita mencari hasil di hutan itu. Kawan-kawan
tidak mau, karena mereka takut kerbaunya diserang binatang
buas. Maka saya terangkanlah kepada mereka itu bagaimana
cerita ayah saya tentang keinginan kerbau menjaga diri dalam
hutan. Saya katakan juga, manakala kerbau diserang harimau
misalnya, tidaklah akan terjaga, sebab kita semuanya masih
kanak-kanak.
Mendengar saya mengatakan 'harimau', apalagi di dalam
hutan, kawan-kawan saya ketakutan. Mereka melarang saya
menyebut nama itu sekali lagi. Jika saya hendak menyebut
juga, disuruhnya panggilkan saja 'inyi!' Perkataan kawan-kawan
saya itu saya bantah pula. Sedangkan nama Allah disebut orang,
istimewa nama binatang. Apalagi binatang itu tidak akan
mengerti perkataan orang.
Dalam pada saya bercerita itu, tiba-tiba kedengaran bunyi
sebagai barang jatuh dua kali. Bunyi itu kedengaran tidak jauh
daripada kami. Kawan-kawan saya terkejut dan kecut hatinya.
Pada persangkaan mereka, tak dapat tiada harimau yang
melompat. Mereka itu duduk berdesak-desak, masing-masing
hendak ke tengah akan melindungi diri. Berimpit-impit tidak
bertentu lagu. Kelihatan tak ada ubahnya sebagai onggokan
kecil. Seorang pun tak ada yang berani mengeluarkan perkataan,
karena lidahnya sudah kaku dan mulut terkatup. Saya
pun sudah tersepit di tengah-tengah, hampir tidak dapat
bernapas lagi. Dengan segera saya terangkan, bahwa hal itu tak
usah ditakutkan sebelum diperiksa dahulu. Lalu sayapun pergilah
ke arah bunyi itu datang, akan melihat apa yang menyebabkan
bunyi itu.
Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya 'cempedak
hutan' yang baru jatuh. Ketika itu timbullah pikiran saya
hendak memperolok-olokkan kawan-kawan. Saya ambil kedua
cempedak itu, lalu saya berjalan perlahan-lahan ke tempat
kawan-kawan saya. Setelah dekat, saya lemparkan kedua
cempedak itu, sambil berseru, 'Koyak, makan cempedak hutan!'
Mereka itu berjeritan dan bersiap hendak lari. Tetapi kaki
mereka itu tak dapat lagi diangkatnya, sebab sudah kaku
karena ketakutan. Sekonyong-konyong Maun berseru, katanya,
'Jangan lari, kawan, cempedak hutan kiranya.'
Sudah itu berbagai-bagailah senda gurau untuk menghilangkan
ketakutan kami. Lebih-lebih Kadirun yang membuat ulah
ini, selalu kami perolok-olokan dengan cempedak hutan itu.
Sakit-sakit perut kami tertawa melihat tingkah lakunya yang
amat menggelikan hati itu.
Demikianlah kisah kami dengan cempedak hutan masa kami
kecil-kecil itu. Jadi nyatalah kepada Engku Muda Kacak ataupun
sanak-saudara yang lain, bahwa kami tidak menertawakan
Engku Muda, melainkan tertawa mengenangkan perangai
dahulu jua."
Segala orang yang mendengarkan cerita itu jangankan diam,
semakin jadi tertawanya. Amat geli hati orang mendengar
cerita Midun itu. Kacak mendengar orang makin bernyala-nyala.
Rasakan hendak ditelannya Midun ketika itu. Pada pikirannya,
jangankan Midun mendiamkan tertawa orang, tetapi seakanakan
mencari-cari perkataan akan menggelikan hati, supaya
orang makin jadi tertawa. Tetapi apa hendak dikatakan, ia
terpaksa berjalan dari tempat itu karena malu. Akan berkelahi
sekali lagi, tentu tidak dibiarkan orang. Dengan pemandangan
yang amat tajam kepada Midun, Kacak pun pulanglah ke
rumahnya.
Permainan sepak raga dihentikan, karena hari sudah jauh
petang. Maka orang di pasar itu pun pulanglah ke rumahnya
masing-masing. Midun pulang pula ke surau. Sepanjang jalan
tampaktampak olehnya pemandangan Kacak yang amat dalam
pengertiannya itu. Hatinya berdebar-debar, khawatir kalaukalau
hal itu menjadikan tidak baik kepadanya. Tetapi
kemudian timbul pula pikirannya, dan berkata dalam hati, "Ah,
tidak berutang tak membayar, tidak berpiutang tak menerima,
masakan saya akan dimusuhinya. Karena perangai Kadirun saya
akan dimusuhinya, tidak boleh jadi. Lagi pula masakan perkara
yang sekecil itu akan menjadikan dendam kepada Kacak."
2. Senjata Hidup
TIDAK lama antaranya, perkelahian Kacak dengan Midun sudah
tersiar ke seluruh kampung. Di lepau-lepau nasi dan pada tiaptiap
rumah, orang memperkatakan perkelahian itu saja.
Percakapan itu hanyak pula yang dilebih-lebihi orang. Yang
sejengkal sudah menjadi sehasta. Dari seorang makin
bertambah-tambah jua. Ada yang mengatakan, Kacak amat
payah dalam perkelahian itu, sehingga minta-minta air. Ada
pula yang berkata, Midun minta ampun, sebab takut kepada
Tuanku Laras, mamak si Kacak. Berbagai-bagailah perkataan
orang, ada yang begini, ada pula yang begitu, semau-maunya
saja, akan mempertahankan orang yang disukai dan
dikasihinya.
Anak-anak lebih-lebih lagi. Mereka itu berlari-lari pulang
akan memberitahukan apa yang telah terjadi di pasar hari itu.
Baru saja sampai di rumah, dengan terengah-engah karena
lelah berlari, ia menceritakan perkelahian itu kepada ibu dan
adiknya. Ada pula yang menjadikan pertengkaran dan perkelahian
kepada mereka itu, ketika mempercakapkan hal itu
dengan teman-temannya. Sebabnya, ialah karena anak-anak
murid Midun mengaji mengatakan, gurunya yang menang.
Tetapi yang bukan murid mengatakan Kacak yang berani. Belum
lagi terbenam matahari, mereka itu sudah datang ke surau. Di
halaman surau mereka itu duduk berkelompok-kelompok
mempercakapkan keberanian gurunya. Kadang-kadang keceknya
itu disertai pula dengan langkah kaki dan gerak tangan,
meniru-niru bagaimana perkelahian itu terjadi.
Tetapi orang yang berdiri sama tengah dan melihat dengan
matanya sendiri perkelahian itu, memuji kesabaran hati Midun.
Begitu pula ketangkasannya mengelakkan serangan Kacak,
sangat mengherankan hati orang. Mereka itu semuanya
menyangka, tak dapat tiada Midun ahli silat, kalau tidak
masakan sepandai itu benar ia mengalahkan serangan Kacak.
Tetapi di antara orang banyak yang melihat perselisihan Kacak
dengan Midun di pasar itu, ada pula yang amat heran
memikirkan kejadian itu. Apalagi melihat kemarahan hati
Kacak dan caranya menyerang Midun, menakjubkan hati orang.
Pada pikiran mereka itu, masakan sesuatu sebab yang sedikit


saja, menimbulkan amarah Kacak yang hampir tak ada
hingganya. Tentu saja hal itu ada ekornya, kalau tidak takkan
mungkin demikian benar kegusaran hati Kacak kepada Midun.
Memang sebenarnyalah pikiran orang yang demikian itu.
Sejak waktu masih kanak-kanak, sebelum mamak Kacak menjadi
Tuanku Laras, Midun dan Kacak sudah bermusuhan. Ketika
mereka masih kecil-kecil, acap kali terjadi pertengkaran,
karena berlainan kemauan. Hampir setiap bulan ada-ada saja
yang menyebabkan hingga mereka itu keduanya terpaksa
berkelahi, mengadu kekuatan masing-masing. Tetapi setelah
muda remaja dan telah berpikiran, maka keduanya sama-sama
menarik diri. Apalagi sejak mamak Kacak sudah menjadi
Tuanku Laras, Midun telah menjauhkan diri daripada Kacak,
dan ia sudah segan saja kepada kemenakan raja di kampung
itu.
Sekonyong-konyong ketika berdua belas di masjid, Kacak
sudah mulai benci kepada Midun. Kebencian itu lama-kelamaan
berangsur-angsur menjadikan dendam. Tidak saja karena waktu
berdua belas itu Kacak menaruh sakit hati kepada Midun, tetapi
ada pula beberapa sebab yang lain yang tidak menyenangkan
hatinya. Pertama, Midun dikasihi orang kampung, dia tidak,
padahal ia kemenakan kandung Tuanku Laras. Kedua, Kacak
mendengar kabar angin, bahwa Midun sudah mendapat
keputusan silat daripada Haji Abbas, tetapi dia sendiri minta
belajar, tidak diterima oleh Haji Abbas. Ketiga, dalam segala
hal kalau ada permufakatan pemuda-pemuda, Midun selalu
dijadikan ketua, tetapi dia disisihkan orang saja. Pendeknya, di
dalam pergaulan di kampung itu, Kacak terpencil hidupnya,
seakan-akan sengaja ia disisihkan orang.
Oleh karena itu pada pikiran Kacak, tak dapat tiada
sekaliannya itu perbuatan Midun semata-mata. Sesungguhnya,
jika tidak dipisahkan orang dalam perkelahian di pasar itu,
memang ia hendak menewaskan Midun benar-benar. Kebencian
dalam hatinya sudah mulai berkobar. Dan lagi karena
mendengar kabar Midun pandai bersiIat, dan dia sudah paham
pula dalam ilmu starlak, menimbulkan keinginan pula
kepadanya hendak mencobakan ketangkasannya kepada Midun.
Sebermula akan si Midun itu, ialah anak seorang peladang
biasa saja. Sungguhpun ayah Midun orang peladang, tetapi
pemandangannya sudah luas dan pengetahuannya pun dalam.
Sudah banyak negeri yang ditempuhnya, dan telah jauh rantau
dijalaninya semasa muda. Oleh sebab lama hidup banyak
dirasai, jauh berjalan banyak dilihat, maka orang tua itu
dapatlah memperbandingkan mana yang baik dan mana yang
buruk. Tahu dan mengertilah Pak Midun bagaimana caranya
yang baik menjalankan hidup dalam pergaulan bersama.
Dengan pengetahuannya yang demikian itu, dididiknyalah
anaknya Midun dengan hemat cermat, agar menjadi seorang
yang berbahagia kelak.
Setelah Midun akil balig, timbullah dalam pikiran Pak Midun
hendak menyerahkan anaknya itu belajar silat. Ia amat ingin
supaya Midun menjadi seorang yang tangkas dan cekatan. Pak
Midun merasa, bahwa silat itu berguna benar untuk membela
diri dalam bahaya dan perkelahian. Lain daripada itu, amat
besar faedah silat itu untuk kesehatan badan. Karena Pak
Midun sendiri dahulu seorang pandai silat, insaf benarlah ia
bagaimana kebaikan pergerakan badan itu untuk menjaga
kesehatan tubuh.
Ketika Pak Midun dahulu hendak menyerahkan anaknya,
dicarinyalah seorang guru yang telah termasyhur kepandaiannya
dalam ilmu silat. Maka demikian, menurut pikiran Pak
Midun, jika tanggung-tanggung kepandaian guru itu, lebih baik
tak usah lagi anaknya belajar silat. Seorang pun tak ada yang
tampak oleh Pak Midun, guru yang bersesuaian dengan
pikirannya di negeri itu. Lain daripada Haji Abbas, guru Midun
mengaji dan saudara sebapak dengan dia, tak ada yang berkenan
pada pikirannya. Tetapi sayang, sudah dua tiga kali
maksudnya itu dikatakannya, selalu ditolak saja oleh Haji
Abbas. Haji Abbas memberi nasihat: supaya Midun diserahkan
kepada Pendekar Sutan, adik kandungnya sendiri. Dikatakannya,
bahwa sudah tua tidak kuat lagi. Dan kepandaiannya
bersilat pun boleh dikatakan hampir bersamaan dengan
Pendekar Sutan.
Maka diserahkanlah Midun belajar silat oleh ayahnya kepada
Pendekar Sutan. Karena Pak Midun seorang yang tabu dan alif,
tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru, meskipun
tempat anaknya berguru itu adik sebapak dia. Pendekar
Sutan dipersinggah (dibawa, dijamu) oleh Pak Midun dengan
murid-muridnya ke rumahnya. Sesudah makan-minum, maka
diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu
silat, sebagaimana yang sudah dilazimkan orang di Minangkabau.
Syarat berguru silat itu ialah: beras sesukat, kain putih
sekabung, besi sekerat (pisau sebuah), uang serupiah, penjahit
(jarum) tujuh, dan sirih pinang selengkapnya.
Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya.
Arti dan wujudnya:
Beras sesukat, gunanya akan dimakan guru, selama mengajari
anak muda yang hendak belajar itu; seolah-olah mengatakan:
perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebab
hendak mencari penghidupan lain.
Kain putih sekabung, "alas tobat" namanya; maksudnya
dengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerima
pengajaran; samalah dengan kain itu putih dan bersih hati anak
muda itu menerima barang apa yang diajarkan guru. Ia akan
menurut suruh dan menghentikan tegah. Dan lagi mujur tak
boleh diraih, malang tak boleh ditolak, kalau sekiranya ia kena
pisau atau apa saja sedang belajar, kain itulah akan kafannya
kalau ia mati.
Besi sekerat (pisau sebuah) itu maksudnya, seperti senjata
itulah tajamnya pengajaran yang diterimanya dan lagi
janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat
pengajarannya.
Uang serupiah, ialah untuk pembeli tembakau yang diisap
guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu,
hampir searti juga dengan beras sesukat tadi.
Penjahit tujuh, artinya sepekan tujuh hari; hendaklah guru
itu tcrus mengajarnya, dengan pengajaran yang tajam seperti
jarum itu. Dan meski tujuh macamnya mara bahaya yang
tajam-tajam menimpa dia, mudah-mudahan terelakkan olehnya,
berkat pengajaran guru itu. Pengajaran guru itu menjadi
darah daging hendaknya kepadanya, jangan ada yang menghalangi,
terus saja seperti jarum yang dijahitkan.
Sirih pinang selengkapnya, artinya ialah akan dikunyah guru,
waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak
muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang
biasa di tanah Minangkabau.
Setelah beberapa lamanya Midun belajar silat kepada
Pendekar Sutan, maka tamatlah. Sungguhpun demikian Pak
Midun belum lagi bersenang hati. Pada pikirannya kepandaian
Midun bersilat itu belum lagi mencukupi. Yang dikehendaki Pak
Midun: belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas.
Artinya silat Midun seboleh-bolehnya haruslah berkesudahan
atau mendapat keputusan daripada seorang ahli silat yang
sudah termasyhur. Oleh sebab itu, ingin benar ia hendak
menyuruh menambah pengajaran Midun kepada Haji Abbas.
Di dalam ilmu silat, memang Haji Abbas sudah termasyhur
semana-mana di seluruh tanah Minangkabau. Sebelum ia pergi
ke Mekkah, amat banyak muridnya bersilat. Di antara muridnya
itu kebanyakan orang datang dari negeri lain. Tidak sedikit
guru-guru silat yang datang mencoba ketangkasan Haji Abbas
bersilat, semuanya kalah dan mengaku bahwa silat Haji Abbas
sukar didapat, mahal dicari di tanah Minangkabau. Karena
keahliannya di dalam ilmu silat itu, kendatipun ia tidur
nyenyak, jika dilempar dengan puntung apiapi saja, tak dapat
tiada barang itu dapat ditangkapnya.
Tidak hal yang demikian itu saja yang memasyhurkan nama
Haji Abbas perkara silat, tetapi ada lagi beberapa hal yang lain.
Semasa muda, ketika Haji Abbas dan Pak Midun berdagang
menjajah tanah Minangkabau, tidak sedikit cobaan yang telah
dirasainya. Acap kali ia disamun orang di tengah perjalanan,
diperkelahikan orang beramai-ramai. Tapi karena ketangkasannya,
segala bahaya itu dapat dielakkan Haji Abbas. Lebih-lebih
lagi yang makin menambah harum nama Haji Abbas, ketika ia
disamun orang Baduwi antara Jeddah dan Mekkah waktu dalam
perjalanan ke Tanah Suci. Lebih dari sepuluh orang, orang
Baduwi yang memakai senjata tajam hendak merampoknya;
dengan berteman hanya tiga orang saja dapat ditewaskannya.
Sungguhpun berteman boleh dikatakan Haji Abbas seoranglah
yang berkelahi dengan Baduwi itu. Tak dibiarkannya sedikit jua
segala Baduwi itu menyerang kawannya.
Dalam ilmu akhirat pun Haji Abbas adalah seorang ulama
besar. Memang sudah menjadi sifat pada Haji Abbas, jika
menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah. Sebelum
diketahuinya sampai ke urat-uratnya, belumlah ia bersenang
hati. Muridnya mengaji amat banyak. Baik anak-anak, baik pun
orang tua, semuanya ke surau Haji Abbas belajar agama. Tidak
orang kampung itu saja, bahkan banyak orang yang datang dari
negeri lain belajar mengaji kepada Haji Abbas. Oleh karena
Haji Abbas adalah seorang tua, yang lubuk akal gudang bicara,
laut pikiran tambunan budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti
orang di kampung itu.
Keadaan yang demikian itu diketahui Pak Midun belaka.
Itulah tali sebabnya maka besar benar keinginannya hendak
menambah pengajaran Midun bersilat kepada Haji Abbas.
Karena Haji Abbas selalu menolak permintaan Pak Midun,
dengan tipu muslihat dapat juga diikhtiarkannya Midun belajar
silat dengan dia.
Demikianlah ikhtiar Pak Midun:
Mula-mula Pak Midun bermufakat dengan Pendekar Sutan.
Dikatakanlah kepada Pendekar Sutan, bahwa ia hendak menipu
Haji Abbas. Sebabnya ialah karena Midun ingin hendak mendapat
sesuatu dari Haji Abbas, tetapi selalu ditolaknya saja.
Maka diceritakannyalah oleh Pak Midun bagaimana tipu yang
hendak disuruh lakukannya kepada Midun.
"Biarlah, Pendekar Sutan!" ujar Pak Midun, "bukankah silat
Midun sekarang sudah boleh dibawa ke tengah. Tidak akan
gampang lagi orang dapat mengenalnya. Meskipun dua-tiga
orang mempersama-samakan dia, belum tentu lagi ia akan
roboh. Oleh sebab itu, ketika Haji Abbas sedang tidur nyenyak
di surau, kita suruh lempar oleh Midun dengan ranting kayu.
Manakala Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu,
saat itulah Midun harus menyerang Haji Abbas."
"Saya pun sesuai dengan pikiran Pak Midun itu!" jawab
Pendekar Sutan. "Tetapi hal ini tidak boleh kita permudah saja.
Boleh jadi Midun dapat dikenalnya, karena Haji Abbas guru
besar dan sudah termasyhur silatnya. Sungguh, sebenarnya saya
agak khawatir memikirkannya."
"Tak usah dikhawatirkan. Hal itu pun sudah saya pikirkan
dalam-dalam. Tentu tidak akan kita biarkan Midun seorang diri
saja. Kita harus serta pula menemaninya, akan mengamatamati
kalau-kalau ada bahaya. Tetapi hendaklah kita
bersembunyi melihat kejadian itu."
"Kalau demikian, baiklah," kata Pendekar Sutan pula sambil
tersenyum. "Saya pun ingin benar hendak melihat ketangkasan
Haji Abbas, sebab dari dahulu saya hendak belajar kepadanya,
selalu ditolaknya pula, hingga terpaksa saya berjalan kian
kemari mencari guru silat."
Pada suatu hari, sesudah sembahyang lohor, kelihatanlah
Pak Midun, Pendekar Sutan dan Midun di surau Haji Abbas. Pak
Midun dan Pendekar Sutan bersembunyi di surau kecil di
sebelah. Waktu itu Haji Abbas sedang tidur nyenyak di mihrab,
karena sudah larut malam pulang dari mendoa semalam. Midun
pun bersiaplah, lalu melempar Haji Abbas dengan ranting kayu.
Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu. Ketika itu
Midun melompat dan dengan tangkas diserangnya Haji Abbas.
Maka terjadilah pada ketika itu... ya, perkelahian bapak
dengan anak. Tangkap-menangkap, empas-mengempaskan, tak
ubahnya sebagai orang yang berkelahi benar-benar.
Setelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu,
sekonyong-konyong Midun terempas agak jauh. Jika orang lain
yang tak pandai bersilat terempas demikian itu, tak dapat tiada
pecah kepalanya. Tetapi karena Midun pandai silat pula, tak
ada ubahnya sebagai kucing diempaskan saja. Ketika Haji Abbas
bersiap akan menanti serangan, tampak olehnya Midun. Haji
Abbas menggosok matanya, seolah-olah ia tidak percaya
kepada matanya. Ia sebagai orang bermimpi, dan amat heran
karena kejadian itu. Setelah beberapa lamanya, nyatalah
kepadanya bahwa sebenarnyalah Midun yang menyerang dia.
"Sudah bertukarkah pikiranmu, Midun?" ujar Haji Abbas tibatiba
dengan marah. "Hendak membunuh bapakmukah engkau?"
"Tidak, Bapak!" jatvab Midun dengan ketakutan. "Pikiran
saya masih sehat; ayah dan Bapak Pendekar ada di surau kecil
di sebelah."
"O, jadi mereka itukah yang menyuruh engkau melakukan
pekerjaan ini?" kata Haji Abbas pula dengan sangat marah. "Apa
maksudnya berbuat demikian ini? Bosankah ia kepadamu atau
bencikah kepadaku, supaya kita salah seorang binasa? Panggil
dia, suruh datang keduanya kemari! Terlalu, sungguh terlalu!"
Tidak lama antaranya Pak Midun dan Pendekar Sutan
naiklah ke surau. Baru saja ia sampai, Haji Abbas berkata
dengan marahnya, "Perbuatan apa ini yang Pak Midun suruhkan
kepada anak saya? Apakah dendam kamu kedua yang tidak
lepas, maka menyuruh lakukan perbuatan ini kepada Midun?
Sungguh terlalu!"
"Janganlah terburu nafsu saja Haji marah," ujar Pak Midun
dengan agak ketakutan. "Kejadian ini ialah karena kesalahan
Haji sendiri."
"Kesalahan saya?" jawab Haji Abbas dengan heran. "Apa pula
sebabnya saya yang Pak Midun salahkan? Bukankah perbuatan
Pak Midun ini sia-sia benar?"
Ketika itu tampaklah kepada Pak Midun, marah Haji Abbas
sudah agak surut. Pak Midun berkata sambil bersenda-gurau,
"Selalu saya diusik anak Haji, supaya ia dapat menambah
kepandaiannya dengan Haji. Beberapa kali saya disuruhnya
mengatakan kepada Haji, karena ia ingin benar hendak mendapat
sesuatu tentang ilmu silat daripada Haji. Tetapi tiap-tiap
permintaannya itu saya sampaikan, selalu saja Haji tolak.
Kesudahannya terjadilah yang demikian ini. Sekarang kami yang
Haji salahkan. Haji katakan, apa dendam kami yang tak lepas.
Kalau Haji ingin hendak mencoba, berdirilah! Memang saya
sudah ingin hendak bersilat dengan Haji!"
Pak Midun berdiri, lalu mengendangkan tangan dan
melangkahan kaki. Sambil menari ia berkata pula dengan
tertawa, katanya, "Bangunlah, Haji, mengapa duduk juga? Ah,
jadi muda lagi perasaan saya…"
Melihat kelakuan Pak Midun yang jenaka itu, marah Haji
Abbas pun surutlah. Hatinya tenang bagai semula, dan tertawa
karena geli hatinya. Pak Midun duduk kembali, lalu
bermufakatlah ketiga bapak Midun itu. Maka dikabulkanlah oleh
Haji Abbas permintaan Midun hendak belajar dengan dia.
Haji Abbas mengajar Midun amat berlainan dengan
Pendekar Sutan. Midun diajar Haji Abbas tidak pada suatu
tempat atau sasaran. Melainkan, tiap-tiap pulang dari mendoa
atau pulang dari berjalan-jaIan, pada tempat yang sunyi, Midun
sekonyong-konyong diserang oleh Haji Abbas. Maka bersilatlah
mereka itu di sana beberapa lamanya. Demikianlah diperbuat
Haji Abbas ada enam bulan, lamanya. Setelah itu barulah Midun
diberi keputusan silat oleh Haji Abbas.
Pertama, Midun dibawa Haji Abbas bersilat pada sebidang
tanah yang jendul dan berbonggol. Di situ sama-sama berikhtiar
mereka akan mengenai masing-masing. Maksud Haji Abbas
membawa Midun bersilat pada tanah yang demikian, ialah
supaya kukuh ia berdiri, jangan tangkas pada tanah yang datar
saja.
Kedua, atas papan, misalnya di rumah yang berlantaikan
papan. Bersilat di tempat itu sekali-kali tidak boleh berbunyi
langkah kaki. Sekalipun terempas, hendaklah sebagai kucing
diempaskan saja, tidak keras bunyinya dan tidak boleh
tertelentang.
Ketiga, bersilat di dalam bencah atau pada sebidang tanah
yang sudah dilicinkan. Midun tidak boleh jatuh, tetapi harus
menangkis serangan guru.
Keempat, pada sebidang tanah yang diberi bergaris
bundaran. Midun harus bersilat dengan guru tidak boleh
melewati garis, tetapi guru berusaha, supaya Midun melewati
garis itu.
Kelima, bersilat di dalam gelap dan hendaklah dapat
mengalahkan serangan orang yang memakai senjata tajam.
Bagian yang kelima inilah yang sukar. Bagi Midun belum
sempurna benar dapatnya. Sebabnya, karena pada bagian ini,
haruslah tahu lebih dahulu gerak, angin, dan rasa. Hal itu tidak
dipelajari, melainkan timbul sendiri, setelah beberapa lamanya
pandai bersilat.
Mengingat keadaan yang demikian itulah maka Pak Midun
amat terkejut dan khawatir mendengar kabar perkelahian
anaknya dengan Kacak. Dalam hatinya amat marah kepada
anaknya, karena yang dilawan Midun berkelahi itu kemenakan
Tuanku Laras. Tetapi setelah mendengar kabar dari Maun, yang
kebetulan lalu di muka rumahnya hendak ke surau, agak senang
hatinya. Sungguhpun demikian, sebelum bertemu dengan Midun
belum senang benar hatinya. Pak Midun ingin hendak mendengar
kabar itu daripada anaknya sendiri. Rasakan dicabutnya
hari menanti waktu magrib habis, karena waktu itu anaknya
pulang makan. Tegak resah, duduk pun gelisah, sebentarsebentar
ia melihat ke jendela, kalau-kalau Midun datang.
"Maun, suruh pulang anak-anak itu semua!" kata Haji Abbas.
"Katakan kepada mereka itu, malam ini tidak mengaji. Malam
besok saja suruh datang. Saya dengan Midun akan pergi mendoa
malam ini. Engkau tinggal di surau dan kalau ada orang
menanyakan kami, katakan kami pergi mendoa ke rumah Pakih
Sutan."
Sesudah sembahyang magrib, Haji Abbas dan Midun turunlah
dari surau. Sebelum pergi mendoa, lebih dahulu mereka itu
singgah ke rumah Pak Midun. Setelah sudah minum dan
mengisap rokok sebatang seorang, Haji Abbas pun berkata,
katanya, "Betulkah tadi engkau berkelahi dengan Kacak? Belum
cukup sebulan engkau tamat bersifat sudah berkelahi. Itu pun
yang engkau lawan bukan sembarang orang pula."
"Tidak, Bapak, tapi sudah umpama berkelahi juga namanya;
bukan saya yang salah, melainkan dia," jawab Midun dengan
ragu-ragu, sebab ia sendiri merasa tidak ada berkelahi. Akan
dikatakannya berkelahi, ia tidak ada meninju Kacak, melainkan
Kacak yang menyerang dia.
"Ganjil benar jawabmu! Apa maksudmu mengatakan
umpama berkelahi itu?"
Midun melihat kedua bapaknya itu sebagai tidak bersenang
hati mendengar jawabnya. Tampak dan nyata kepadanya pada
muka mereka itu kekhawatiran atas kejadian hari itu. Maka
Midun menerangkan dengan panjang lebar asal mula perselisihannya
dengan Kacak waktu bermain sepak raga. Satu pun
tak ada yang dilampauinya, diterangkannya sejelas-jelasnya.
Mendengar perkataan Midun, legalah hati kedua bapaknya itu.
Apalagi keterangan itu, bersesuaian dengan berita orang
kepada mereka, yang melihat sendiri kejadian petang itu.
Tidak lama kemudian Haji Abbas berkata pula, katanya,
"Meskipun engkau tidak bersalah, tapi percayalah engkau,
bahwa kejadian petang ini tidak membaikkan kepada namamu.
Biarpun tidak salahmu, tapi kata orang keduanya salah. Tak
mau bertepuk sebelah tangan. Yang akan datang saya harap
jangan hendaknya terjadi pula macam ini sekali lagi. Saya tidak
sudi melihat orang suka berkelahi. Kebanyakan saya lihat anakanak
muda sebagai engkau ini, kalau sudah berilmu sedikit
amat sombong dan congkak. Tidak berpucuk di atas enau lagi.
Pikirnya, tak ada yang lebih daripada dia. Lebih-lebih kalau ia
pandai bersilat. Dicari-carinya selisih supaya ia berkelahi,
hendak memperlihatkan kecekatannya. Salah-salah sedikit
hendak berkelahi saja. Begitulah yang kebanyakan saya lihat.
Padamu kami harap jangan ada tabiat yang demikian. Hal
itu semata-mata mencelakakan diri sendiri. Tidak ada yang
selamat, binasa juga akhir kelaknya. Daripada sahabat kenalan
kita pun terjatuh pula. Contohnya ilmu padi, kian berisi kian
runduk. Begitulah yang kami sukai dalam pergaulan bersama.
Satu pun tak ada faedahnya memegahkan diri, hendak memperlihatkan
pandai begini, tahu begitu. Asal tidak akan
merusakkan kesopanan diri, dalam percakapan atau tingkah
laku, lebih baik merendah saja. Bukanlah hal itu menghabiskan
waktu saja. Pergunakanlah waktu itu bagi yang mendatangkan
keselamatan dan keuntungan dirimu.
Berani karena benar, takut karena salah. Akuilah kesalahan
itu, jika sebenarnya bersalah. Tetapi perlihatkan keberanian,
akan menunjukkan kebenaran. Anak muda biasanya lekas naik
darah. Hal itu seboleh-bolehnya ditahan. Dalam segala hal
hendaklah berlaku sabar. Apalagi kalau ditimpa malapetaka,
haruslah diterima dengan tulus ikhlas, tetapi bilamana perlu
janganlah undur barang setapak jua pun; itulah tandanya
bahwa kita seorang laki-laki. Begitu pula halnya dengan hawa
nafsu. Hawa nafsu itu tak ada batasnya. Dialah yang kerap kali
menjerumuskan orang ke dalam lembah kesengsaraan. Jika tak
pandai mengemudikan hawa nafsu, alamat badan akan binasa.
Jika diturutkan hawa nafsu, mau ia sampai ke langit yang
kedelapan—jika ada langit yang kedelapan. Oleh karena itu,
biasakan diri memandang ke bawah, jangan selalu ke atas.
Hendaklah pandai-pandai me-megang kendali hawa nafsu,
supaya selamat diri hidup di dunia ini. Pikir itu pelita hati.
Karena itu pekerjaan yang hendak dilakukan, pikirkan dalamdalam,
timbang dahulu buruk baiknya.
Lihat-lihat kawan seiring, kata orang. Dalam pergaulan
hidup hendaknya ingat-ingat. Jauhi segala percederaan.
Bercampur dengan orang alim. Tak dapat tiada kita alim pula.
Bergaul dengan pemaling, sekurang-kurangnya jadi ajar. Sebab
itu pandai-pandai mencari sahabat kenalan. Jangan dengan
sembarang orang saja berteman. Kerap kali sahabat itulah yang
membinasakan kita. Daripada bersahabat dengan seribu orang
bodoh, lebih baik bermusuh dengan seorang pandai.
Nah, saya katakan terus terang kepadamu! Engkau adalah
seorang anak muda yang cekatan. Budi pekertimu baik. Dalam
segala hal engkau rajin dan pandai. Selama ini belum pernah
engkau mengecewakan hati kami. Segala pekerjaanmu boleh
dikatakan selalu menyenangkan hati kami. Tidak kami saja
yang memuji engkau, bahkan orang kampung ini pun sangat
memuji perangaimu. Oleh karena itu, peliharakanlah namamu
yang baik selama ini. Pengetahuanmu untuk dunia dan akhirat
sudah memadai. Tentu engkau lolah dapat memahamkan mana
yang baik dan mana yang buruk wkianlah nasihat saya.
Midun tepekur mendengar nasihat Haji Abbas itu. Diperhatikannya
dengan sungguh-sungguh. Satu pun tak ada yang
dilupakannya. Masuk benar-benar nasihat itu ke dalam hati
Midun. Kemudian Midun berkata, katanya, "Saya minta terima
kasih banyak-banyak akan nasihat Bapak itu. Selama hayat
dikandung badan takkan saya lupa-lupakan. Segala pengajaran
Bapak, setitik menjadi laut, sekepal menjadi gununglah bagi
saya hendaknya. Mudah-mudahan segala nasihat Bapak itu menjadi
darah daging saya."
"Nasihat bapakmu itu sebenarnya," ujar Pak Midun pula,
ingatlah dirimu yang akan datang. Siapa tahu karena Kacak tak
dapat mengenai engkau, perkara itu menimbulkan sakit hati
kepadanya. Bukankah hal itu boleh mendatangkan yang tidak
baik. Insaflah engkau, pikirkan siapa kita dan siapa orang itu."
Setelah itu maka Haji Abbas dan Midun pergilah mendoa.
3. Dimusuhi
SUDAH umum pada orang kampung itu, manakala ada
pekerjaan berat, suka bertolong-tolongan. Pekerjaan yang
dilakukan dengan upah hampir tak ada. Apalagi di dalam
bahaya, misalnya kebakaran, mereka itu tidak sayang kepada
dirinya untuk menolong orang sekampung. Tidak di kampung itu
saja, melainkan di seluruh tanah Minangkabau, boleh
disebutkan sudah turun-temurun pada anak negeri, suka
bertolong-tolongan itu. Misalnya di dalam hal ke sawah,
mendirikan rumah, dan lain-lain pekerjaan yang berat.
Musim menyabit sudah hampir datang. Ketika itu tidak lama
lagi hari akan puasa. Setiap hari tidak putus-putusnya bendi
membawa orang dari Bukittinggi, berhenti di pasar kampung
itu. Mereka itu baru pulang, karena sudah beberapa tahun
lamanya berdagang mencari penghidupan di negeri orang.
Karena itu hampir setiap hari orang ramai di pasar. Banyak
orang menanti kaum keluarganya yang baru datang. Tiap-tiap
bendi kelihatan dari jauh, hati mereka itu harap-harap cemas,
kalau-kalau di atas bendi itu sanak, mamak, adiknya, dan lainlain.
Dalam beberapa hari saja kampung itu sudah ramai, karena
orang yang pulang merantau itu. Lain tidak yang dipercakapkan
orang, hal orang yang baru pulang saja. Begitu pula yang
datang, menceritakan penanggungannya masing-masing, selama
bercerai dengan kaum keluarganya. Bahkan menceritakan
keadaan negeri tempatnya berdagang itu, tidak pula dilupakannya.
Tidak lama kemudian kedengaranlah si A yang pulang dari
negeri Anu, sudah membeli sawah untuk adik dan ibunya. Si B
yang pulang dari negeri Anu pula, sudah membuatkan rumah
untuk familinya dan lain-lain. Bermacam-macam kedengaran,
banyak di antara mereka itu yang melekatkan uang pencahariannya
kepada barang yang baik bakal hari tuanya kelak.
Hal itu sangat menarik hati kepada orang yang tinggal di
kampung, ingin hendak pergi merantau pula. Tetapi ada pula
yang miskin dan melarat pulang masa itu. Malahan ada yang
inembawa penyakit dari negeri orang. Mereka yang demikian
itu, tentu saja karena ceroboh dan boros di negeri orang. Tidak
hendak memikirkan hari tua, hidup boros dan banyak pelesir


memuaskan hawa nafsunya.
Pada suatu malam Pak Midun berkata kepada anaknya,
"Midun! beritahukanlah kepada kawan-kawanmu, bahwa hari
Ahad yang akan datang ini kita akan mengirik padi di sawah.
Begitu pula kepada Pendekar Sutan dengan murid-muridnya.
Orang lain yang engkau rasa patut dipanggil, panggillah! Sekali
ini biarlah kita memotong kambing untuk penjamu orang yang
datang mengirik ke sawah kita. Saya rasa takkan berapa
bedanya menyembelih kambing dengan membeli daging di
pasar."
"Engkau pula, Polam," kata Pak Midun sambil berpaling
kepada istrinya, "katakanlah kepada kaum keluarga, bahwa kita
akan mengirik padi hari Ahad itu. Ipar besan yang patut diberi
tahu, orang sekampung yang akan dipanggil untuk mengirai dan
mengangin padi dan orang-orang yang akan menolong kerja
dapur. Hal itu semuanya pekerjaanmu."
Ibu dan anak itu menganggukkan kepala, membenarkan perkataan
suami dan bapaknya. Kemudian Midun berkata, "Karena
kita akan memotong kambing, tidak baikkah jika kita ramaikan
kerja itu dengan puput, salung, dan pencak sekadarnya, Ayah?"
"Hal itu lebih baik engkau mufakati dengan mamakmu,
Datuk Paduka Raja. Saya telah memberitahukan kepadanya,
hanya akan mengirik padi hari Ahad saja. Jika sepakat dengan
mamakmu, apa salahnya, lebih baik lagi."
"Baiklah, Ayah! Sekarang juga saya cari beliau. Sudah itu
saya pergi kepada Bapak Pendekar Sutan."
Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik
padi ke sawah. Sampai di sawah iapun menebas tunggul batang
padi untuk orang mengirik. Setelah itu dibuatnya pula sebuah
dataran untuk orang bermain pencak, berpuput-salung, dan
sebagainya. Maka dikembangkannyalah tikar tempat orang
mengirik. Sudah itu diturunkannya seonggok demi seonggok
padi itu daripada timbunannya.
Tidak lama antaranya kelihatanlah orang datang ke sawah
orang tua Midun. Berduyun-duyun, sebondong-sebondong amat
banyaknya. Segala orang itu dengan tertib sopan diterima oleh
Midun beserta bapaknya, lalu dipersilakannya duduk dahulu ke
tikar yang telah disediakan untuk penerima tamu. Dengan
hormat, Midun meletakkan cerana tempat sirih di muka orang
banyak. Rokok yang sudah disediakannya untuk itu, tidak pula
dilupakannya.
Setelah beberapa lama mereka itu bercakap-cakap ini dan
itu, maka dimulailah mengirik padi. Midun kerjanya hanyalah
mengambil padi yang sudah diirik orang. Perempuanperempuan
sibuk mengirai jerami yang sudah diirik. Amat
ramai orang di sawah Midun. Sorak dan senda gurau orangorang
muda tidak ketinggalan. Tertawa dan cumbu tidak
kurang. Suka dan bersenang hati benar rupanya orang mengirik
padi di sawah Midun yang baik hati itu. Bunyi hentam orang
mengirik akan menyatakan, bahwa padi yang diiriknya sudah
habis, sebagai orang menumbuk padi. Belum tinggi matahari
naik, selesailah diirik padi setimbunan besar itu.
Sesudah itu maka segala orang itu dipersilakan oleh Midun
duduk menghentikan lelah ke medan tempat orang memencak.
Sudah makan minum, lalu dimulai pula membunyikan salung
dan puput yang disertai dengan nyanyi. Amat merdu bunyinya.
Kemudian orang berandai, bermencak, menari piring, dan
sebagainya. Sementara itu, orang-orang perempuan mengangin
padi jua, sambil menonton. Demikianlah halnya, hingga padi itu
selesai diirik dan diangin orang. Setelah padi itu dimasukkan ke
sumpit, permainan berhenti. Peralatan kecil itu pindah ke
rumah. Waktu mereka itu akan pulang ke rumah Pak Midun,
pada bahunya masing-masing terletak sesumpit padi yang akan
dibawa ke lumbung. Sepanjang jalan, mereka itu bersalung dan
berpuput jua, sambil bersenda gurau dengan riuhnya.
Tidak jauh dari sawah orang tua Midun, ada pula, sawah
istri Kacak. Luas kedua sawah itu hampir sama. Kebetulan pada
sawah istri Kacak, hari itu pula orang mengirik padi. Tetapi ke
sawah istrinya tidak berapa orang datang. Yang datang itu pun
kebanyakan masuk bilangan keluarganya juga. Kendatipun ada
beberapa orang lain, nyata pada muka orang itu, bahwa
mereka hanya memandang karena sawah istri kemenakan
Tuanku Laras saja. Mengirik ke sawah istri Kacak itu adalah
pada pikirnya sebagai menjalankan rodi. Di sawahnya tidak
kedengaran orang bersorak, apalagi bersuka-sukaan. Mereka itu
bekerja dengan muka muram saja kelihatannya. Oleh orang
bekerja kurang bersenang hati dan tidak seberapa pula, tidak
dapat disudahkan mengirik pada hari itu. Terpaksa harus
disambung pula pada keesokan harinya.
Melihat orang ramai di sawah Midun, Kacak sangat iri hati.
Bencinya kepada Midun semakin berkobar. Apalagi mendengar
sorak dan senda gurau orang di sawah Midun, amat sakit hati
Kacak. Hatinya sangat panas, hingga menimbulkan maksud
jahat. Maka Kacak berkata dalam hatinya, "Jika dibiarkan,
akhirnya Midun mau menjadi raja di kampung ini. Kian sehari
kian bertambah juga temannya dan orang pun makin banyak
yang suka kepadanya. Orang kampung tua muda, laki-laki
perempuan kasih sayang kepadanya. Malahan dia dihormati dan
dimalui orang pula. Hampir sama hormat orang kepada
mamakku Tuanku Laras dengan kepada Midun. Padahal ia
adalah seorang anak peladang biasa saja.
Saya seorang kemenakan Tuanku Laras lagi bangsawan di
kampung ini, tidak demikian dihormati orang. Kenalan saya
tidak seberapa. Orang kampung hampir tak ada yang suka
kepada saya. Hal itu nyata, kalau orang bertemu di jalan
dengan saya. Seakan-akan dicarinya akal supaya ia dapat menghindarkan
diri. Sekarang nyatalah kepadaku bahwa Midunlah
rupanya yang menyebabkan hal itu. Karena dialah maka orang
kampung benci kepadaku. Lihatlah buktinya, ke sawahnya amat
banyak orang datang, tetapi ke sawah istriku tidak seberapa.
Mulai dari sekarang ia kupandang musuhku.
Sayang saya tidak dapat mengenainya dalam perkelahian
tempo hari, karena orang banyak. Jika dapat, sebelum muntah
darah, tidaklah saya hentikan. Saya tanggung, kalau hanya
macam si Midun itu, sekali saja saya masuki dengan starlakku,
membuih air liurnya ke luar. Pedih hatiku tidak dapat saya
mengenainya jika tidak tewas ia olehku, saya berguru starlak
sekali lagi.
Biarlah! Tidak akan terlampau waktunya. Pada suatu masa,
tentu akan dapat juga saya membalasnya sakit hati saya
kepadanya. Ingatingat engkau, MidunP Tak dapat tiada engkau
rasai juga bekas tanganku ini, biarpun engkau sudah mendapat
pelajaran dari Haji Abbas. Kita adu nanti silatmu itu dengan
starlakku. Lagi pula tidakkah engkau ketahui bahwa di sini
kemenakan Tuanku Laras, boleh bersutan di mata, berada di
hati? Tidakkah engkau insaf, bahwa di sini kemenakan raja di
kampung ini, boleh merajalela berbuat sekehendak hati? Aha,
rupanya dia mau tahu siapa saya."
Sejak hari itu Kacak sangat benci kepada Midun. la sudah
berjanji dengan dirinya, akan mengajar Midun pada suatu
waktu. Makin sehari makin bertambah bencinya. Bila bertemu
dengan Midun di jalan, meskipun ditegurnya tidak disahuti
Kacak. Adakalanya ia meludah-ludah, akan menunjukkan benci
dan jijiknya kepada Midun. Kacak selalu mencari-cari jalan,
supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan kiasan itu
Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat
heran, apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya. Padahal ia
merasa belum bersalah kepada kemenakan Tuanku Laras itu.
Dalam perkelahian waktu bermain sepak raga pun, ia tidak ada
mengenai Kacak. Dan lagi hal itu bukan karenanya, melainkan
tersebab oleh Kadirun. Kemudian timbul pula pikiran Midun,
boleh jadi Kacak meludah-ludah itu tidak disengajanya. Oleh
sebab itu tidak dihiraukan amat oleh Midun. Tidak sedikit jua
masuk pada pikirannya, bahwa Kacak akan memusuhinya.
4. Membalas Dendam
PADA suatu hari, pasar di kampung itu sangat ramai. Dari
segala tempat banyak orang datang. Ada yang berbelanja, ada
pula yang menjual hasil tanamannya. Saudagar-saudagar kecil
banyak pula datang dari Bukittinggi ke pasar itu. Mereka pergi
menjual kain-kain dan ada pula yang membeli hasil tanah.
Tidak heran pekan seramai itu, karena tak lama lagi hari akan
puasa. Pekan sedang ramai, orang wdang sibuk berjual-beli,
sekonyong-konyong kedengaran teriak orang mengatakan,
"Awas, Pak Inuh lepas! Pak Inuh lepas! Dia membawa pisau!"
Orang di pasar berlarian ke sana kemari. Mereka lari menyembunyikan
diri, karena takut kepada Pak Inuh. Yang
berkedai meninggalkan kedainya, yang berbelanja meninggalkan
barang yang telah dibelinya. Sangat sibuk di pasar ketika
itu. Berkacau-balau tidak berketentuan lagi.
Adapun Pak Inuh itu, ialah seorang kampung di sana,
keluarga Tuanku Laras. Ia sudah berumur lebih dari 45 tahun.
Semasa muda, Pak Inuh seorang yang gagah berani. Lain
daripada Haji Abbas, seorang pun tak ada yang diseganinya
masa itu. Orang kampung segan dan takut kepadanya. Ketika
Tuanku Laras menjadi Penghulu Kepala di kampung itu, timbul
perusuhan. Waktu itu boleh dikatakan Pak Inuhlah yang
mengamankan negeri. Dengan tidak meminta bantuan kepada
pemerintah, diamankan Pak Inuh kampung itu kembali.
Apakah sebabnya orang takut Pak Inuh datang ke pasar itu?
Pak Inuh sekarang sudah bertukar pikiran. Ia sudah menjadi
gila. Sudah empat tahun sampai kepada masa itu pikirannya tak
sempurna lagi. Dalam empat tahun itu Pak Inuh tidak dibiarkan
keluar lagi oleh Tuanku Laras. Jika dilepaskan selalu mengganggu
orang. Maka oleh Tuanku Laras dibuatkan sebuah rumah
untuk tempat Pak Inuh tinggal. Entah apa sebabnya hari itu ia
dapat melepaskan diri. Hal itu terjadi sudah yang kedua
kalinya. jika datang ke pasar ia merajalela saja. Barang-barang
orang diperserak-serakkannya. Disepakkannya ke sana kemari,
orang di pasar diburunya sambil berteriak-teriak. Jika dapat
orang olehnya, dipukul dan diterjangkannya.
Sekarang Pak Inuh datang ke pasar membawa pisau. Hal itu


lebih menakutkan lagi. Seorang pun tak ada yang berani
mendekati, apalagi akan menangkap, karena Pak Inuh berpisau,
lagi seorang yang berani. Meskipun ada yang akan menangkap,
takut kepada Tuanku Laras. Maka dibiarkan orang saja ia
mengacau di tengah pasar itu. Jika tidak Tuanku Laras sendiri,
sukarlah akan menangkapnya. Tetapi Tuanku Laras tak ada
beliau pergi ke Bukittinggi. Pak Inuh makin ganas lakunya di
tengah pasar. Sungguh amat sedih hati melihat kejadian itu.
Laki-laki perempuan tunggang-langgang melarikan diri. Anakanak
banyak yang terinjak, karena terjatuh. Di sana sini
kedengaran jerit orang, mengaduh karena sakit sebab terantuk
atau jatuh. Lebih-lebih lagi melihat perempuan-perempuan
yang sedang mendukung anak. Anak dipangku, beban dijunjung
sambil melarikan diri jua.
Midun ketika itu ada pula di pasar. Dia sedang duduk di
dalam sebuah lepau nasi. Kejadian itu nyata kelihatan olehnya.
Midun hampir-hampir tak dapat menahan hatinya. Amat sedih
hatinya melihat perempuan-perempuan berlarian ke sanakemari.
Pikirnya, "Akan diberitahukan kepada Tuanku Laras,
beliau pergi ke Bukittinggi. Tentu saja Pak Inuh merusakkan
orang di pasar ini. Pada tangannya ada sebuah pisau. Takkan
satu bangkai terhantar karena dia. Hal ini tidak boleh dibiarkan
saja."
Ketika Midun melihat seorang perempuan diinjak-injak oleh
Pak Inuh, ia pun melompat ke tengah pasar mengejar Pak Inuh.
Baru saja Pak Inuh melihat Midun, ia berkata, "Heh, anak kecil,
ini dia makanan pisauku!"
Sambil melompat lalu diamuknya Midun. Midun sedikit pun
tidak berubah warna mukanya. Kedatangan Pak Inuh dinantinya
dengan sabar. Segala orang yang melihat keadaan itu sangat
ngeri. Lebih-lebih perempuan-perempuan, berteriak menyuruh
Midun lari, karena cemas dan takut. Dengan tangkas Midun
menyambut pisau itu. Dalam sesaat saja pisau Pak Inuh dapat
diambilnya. Pisau itu segera dilemparkan Midun jauh-jauh, dan
disuruhnya pungut kepada orang. Pak Inuh sangat marah, lalu
menyerang Midun sekuat-kuatnya. Dengan mudah dapat ia
menjatuhkan Pak Inuh, lalu ditangkapnya. Bagaimana pun Pak
Inuh hendak melepaskan diri, tidak dapat. Midun berkata,
"Sabarlah, Mamak, takkan terlepaskan tangkapanku ini oleh
Mamak."
Maka Midun menyuruh mengambil tali untuk pengikat Pak
Inuh. Setelah sudah diikat, lalu ditipunya. Dibawanya ke lepau
nasi, diberikannya makan. Luka pada kening Pak Inuh karena
terjerumus, dibebat Midun. Kemudian diantarkannya pulang ke
rumah famili Pak Inuh.
Sehari-hari dan itu Midun saja yang dipercakapkan orang.
Tua muda, kecil besar, laki-laki perempuan di pasar memuji
keberanian dan ketangkasan Midun menangkap Pak Inuh. Ketiga
bapak Midun amat heran mendengar kabar itu. Mereka ketiga
maklum bagaimana keberanian dan pendekar Pak Inuh.
Perbuatan Midun itu dipuji oleh mereka ketiga. Hanya mereka
itu khawatir, kalau-kalau famili Tuanku Laras tak bersenang
hati, karena Pak Inuh luka. Tetapi ketiganya percaya pula,
kalau Tuanku Laras berpikir panjang, hal itu tidak akan
menimbulkan amarah, melainkan menyenangkan hati beliau.
Bukankah perbuatan Midun menjaga keamanan dan keselamatan
negeri.
Kacak ada pula mendengar kabar itu. Waktu hal itu terjadi,
ia ada di kantor Tuanku Laras. Dengan segera ia berlari akan
melihat Pak Inuh. Didapatinya Midun tak ada lagi. Pak Inuh,
yakni jalan mamak kepada Kacak, telah ada di rumah. Tatkala
Kacak melihat Pak Inuh luka pada keningnya, lalu ia bertanya
kepada seseorang, bagaimana Midun menangkap mamaknya.
Orang itu menceritakan bagaimana penglihatannya ketika
Midun menangkap Pak Inuh.
"Jika tak ada Midun," ujar orang itu, "barangkali banyak
bangkai terhantar di tengah pasar. Untung, pisau yang di
tangan Pak Inuh lekas dapat diambil Midun."
"Apakah sebabnya, maka Pak Inuh sampai luka ini?" ujar
Kacak dengan marah.
Jawab orang itu, "Karena tersungkur waktu Midun menyalahkan
tikaman Pak Inuh."
Kacak jangankan memuji Midun mendengar perkataan itu,
makin sakit hatinya. Ia sangat marah karena Midun berani
melukai famili Tuanku Laras.
"Sekarang nyata, bahwa Midun musuhku," kata Kacak dalam
hatinya. "Sudah engkau lukai mamakku, engkau bebat. Maksudmu
tentu supaya kami jangan marah. Kurang ajar sungguh!
Hati-hati engkau, besok dapat bagian daripadaku. Bila Tuanku
Laras pulang dari Bukittinggi, kuceritakan hal itu kepadanya.
Anak si peladang jahanam, berani melukai famili raja di
kampung ini?!"
Pada keesokan harinya pagi-pagi datanglah dubalang Tuanku
Laras, memanggil Midun ke rumah orang tuanya. Midun
didapatinya sedang makan. Dubalang berkata, "Midun, Tuanku
Laras memanggil engkau sekarang juga!"
"Baiklah, Mamak, saya sudah dulu makan," jawab Midun.
"Berhenti makan! Beliau menyuruh lekas datang!" ujar dubalang
dengan hardiknya. ,
Dengan tergopoh-gopoh Midun mencuci tangan, lalu
berangkat ke kantor Tuanku Laras.
"Tunggu," kata dubalang pula, "engkau mesti dibelenggu,
karena begitu perintah saya terima."
"Apakah kesalahan saya, maka dibelenggu macam seorang
perampok, Mamak!" kata Midun.
"Saya tidak tahu, di sana nanti jawab," ujar dubalang.
Midun amat heran, apa sebabnya ia dibelenggu itu. Pikirannya
berkacau, karena ia tidak tahu akan kesalahannya. Dengan
tangan dibelenggu, ia diiringkan dubalang melalui pasar. Sangat
malu Midun, tak ada ubahnya sebagai seorang yang bersalah
besar. Tetapi apa hendak dibuat, terpaksa mesti menurut. Bermacam-
macam timbul pikirannya sepanjang jalan ke kantor
Tuanku Laras. Kemudian maklum juga ia, bahwa yang
menyebabkan ia dipanggil itu, tak dapat tiada perkara Pak Inuh
kemarin. Karena lain daripada itu Midun merasa dirinya tidak
bersalah. Maka tetaplah pikirannya, bahwa ia difitnahkan
orang. Mengerti pula ia masa itu, apa sebabnya ia dibelenggu
dan dikerasi. Tentu Pak Inuh luka itu diambilnya jadi senjata
untuk memfitnahkan. Ketika itu terbayang kepada Midun orang
yang empunya perbuatan itu. Maka terkenanglah ia akan
pemandangan Kacak yang berarti dahulu.
"Tidak mengapa," kata Midun dalam hatinya. "Asal Tuanku
Laras sudi mendengar keterangan saya, tentu beliau insaf,
bahwa saya berbuat baik. Dan pasti beliau akan memuji saya,
karena pekerjaan saya itu menjaga keamanan negeri."
Midun berbesar hati, lalu berjalan dengan senangnya. Tidak
terasa Iagi oleh Midun tangannya dibelenggu, sebab
pekerjaannya kemarin itu baik semata-mata. Orang di pasar
heran melihat Midun dibelenggu. Mereka takjub melihat Midun
sebagai pencuri tertangkap, padahal ia seorang alim dan berbudi.
Seorang bertanya kepada seorang, akan hal Midun dibawa
dubalang itu. Ada satu-dua orang berkata bahwa Midun dipanggil,
berhubung dengan penangkapan Pak Inuh kemarin.
tetapi perkataan itu disangkal orang pula mengatakan, bahasa
hal itu tidak boleh jadi, karena perbuatan Midun kemarin
mendatangkan kebaikan. Kalau karena perkara Pak Inuh tentu
ia tidak dibelenggu. Bermacam-macam persangkaan orang
tentang Midun dibelenggu itu. Karena itu banyak orang yang
mengiringkannya ke kantor Tuanku Laras, ingin tahu apa
sebabnya Midun dipanggil itu.
Ayah bunda Midun amat gusar melihat kedatangan dubalang
dan anaknya dibelenggu itu. Lebih-lebih ibu Midun, hampir ia
berteriak menangis, karena amat sedih hatinya melihat anak
kesayangannya itu dibelenggu sebagai seorang perampok baru
tertangkap. Untunglah Pak Midun lekas menyabarkannya, dan
menerangkan apa sebabnya Midun dipanggil itu. Pak Midun
mengerti apa yang dipanggilkan Tuanku Laras kepada anaknya.
Lain tidak tentang perkara Pak Inuh ditangkap Midun kemarin
itu. Tetapi ia amat heran, karena anaknya dibelenggu dengan
kekerasan. Dengan tergesa-gesa Pak Midun makan. Setelah itu
ia pun pergi ke kantor Tuanku Laras mendengarkan perkara
anaknya. Di jalan Pak Midun sebagai orang bingung saja,
pikirannya melayang entah ke mana. Jika ia ditegur orang
hendak bertanyakan hal anaknya, seolah-olah tidak terdengar
olehnya, karena kepalanya penuh dengan pikiran.
Waktu Midun hampir sampai di kantor, dari jauh sudah kelihatan
olehnya Tuanku Laras berdiri di beranda kantor. Setelah
dekat Midun tidak berani melihat muka Tuanku Laras, karena
dilihatnya Tuanku Laras sebagai orang hendak marah. Dengan
suara menggelegar sebab menahan marah, Tuanku Laras berkata,
"Awak yang bernama Midun?"
"Hamba, Tuanku," jawab Midun.
"Masuk ke dalam," kata Tuanku Laras dengan hardiknya.
Setelah Midun masuk ke dalam, orang lain disuruh pergi.
Maka Tuanku Laras bertanya pula dengan marahnya, "Berani
benar rupanya awak memukul orang gila, sampai luka-luka. Apa
yang awak sakitkan hati kepada Pak Inuh yang tak sempurna
akal itu? Kurang ajar betul awak, ya kerbau!"
"Bukannya demikian, Tuanku!" jawab Midun. Lalu diceritakanlah
oleh Midun dari bermula sampai penghabisan kejadian
kemarin itu. Tetapi Tuanku Laras sedikit pun tidak mengindahkan
perkataan Midun. Jangankan Tuanku Laras reda
marahnya, melainkan bertambah-tambah. Midun menundukkan
kepala saja, karena Tuanku Laras memaki dia dengan tidak
berhenti-henti.
Setelah puas Tuanku Laras berkata, maka Midun menjawab
pula dengan sabar, katanya, "Luka Pak Inuh itu karena beliau
jatuh sendiri. Sekali-kali tidak hamba yang melukai beliau,
Tuanku. Jika tidak ada hamba kemarin, entah berapa bangkai
bergulingan, karena beliau memegang senjata. Jika Tuanku
kurang percaya atas keterangan hamba itu, cobalah Tuanku
tanyakan kepada orang lain. Tetapi jika hamba bersalah berbuat
demikian, ampunilah kiranya hamba, Tuanku."
Mendengar perkataan itu, adalah agak kurang marah Tuanku
Laras sedikit. Tetapi karena pengaduan Kacak termasuk benar
ke dalam hatinya, lalu ia berkata, "Sebetulnya awak mesti
diproses perbal dan dibawa ke Bukittinggi* (ke kantor Tuan Assistent
Resident Fort de Kock). Tetapi sekali ini saya maafkan. Sebagai
ajaran supaya jangan terbiasa, awak dapat hukuman enam
hari. Awak mesti mengadakan rumput kuda empat rajut sehari.
Sudah menyabit rumput, awak bekerja di kantor ini dan jaga
malam."
Midun berdiam diri saja mendengar putusan itu. Ia tak
berani menjawab lagi, sebab dilihatnya Tuanku Laras marah.
Waktu ia akan ke luar kantor, lalu ia berkata, "Bolehkah hari ini
hamba jalani hukuman itu, Tuanku?"
"Ya, boleh, hari ini mulai, " ujar Tuanku Laras dengan
sungutnya.
Midun segera ke luar, lalu diceritakannya kepada ayahnya,
apa sebab ia dipanggil, dan hukuman yang diterimanya.
Mendengar putusan itu, lapang juga dada Pak Midun, karena
anaknya tidak masuk proses perbal dan tidak dibawa ke
Bukittinggi. Maka Pak Midun herkata, "Terimalah dengan sabar,
Midun! Asal di kampung ini, apa pun juga macam hukuman
tidak mengapa. Besar hati saya engkau tidak dibawa ke
Bukittinggi. Tetapi tidak patut engkau menerima hukuman,
karena engkau tidak bersalah. Engkau berbuat pekerjaan baik,
tetapi hukuman yang diterima; apa boleh buat. Bukankah
Tuanku Laras raja kita dapat menghitamputihkan negeri ini."
Midun berdiam diri saja mendengar kata ayahnya. Tetapi
orang yang mengiringkannya bersungut-sungut semuanya mendengar
putusan itu. Midun terus pulang mengambil sabit dan
rajut rumput. Sampai di pasar, banyak orang mengerumuninya,
akan bertanyakan perkaranya dipanggil itu. Midun menerangkan,
bahwa ia dihukum enam hari karena menangkap dan
melukai Pak Inuh. Dan hal itu menurut pikiran Midun sudah
patut, sebab ia melukai orang. Tetapi segala orang yang
mendengar menggigit bibir, karena pada pikiran mereka itu,
tak patut Midun dihukum. Mereka itu berkata dalam hati,
"Tidak adil! Untung luka sedikit, sebetulnya harus dibunuh
serigala itu. Kalau tak ada Midun, barangkali banjir darah di
pasar kemarin. Kurang timbangan, tentu beliau mendengar
asutan orang."
Banyak orang kampung itu yang suka menggantikan
hukuman Midun. Ada pula yang mau menyabit rumput sepuluh
rajut sehari dan menjaga kantor siang-malam, asal Midun
dilepaskan. Tetapi permintaan mereka itu sama sekali ditolak
oleh Midun. Katanya, "Siapa yang berutang dialah yang membayar,
dan siapa yang bersalah dia menerima hukuman. Saya
yang bersalah, saudara-saudara yang akan dihukum, itu
mustahil. Biarlah saya dihukum, tak usah ditolong. Atas
keikhlasan hati sanak-saudara itu, saya ucapkan terima kasih
banyak-banyak."
Sesudah Midun menyabit rumput, lalu bekerja lain pula.
Membersihkan kandang kuda, mencabut rumput di halaman
kantor. Habis sebuah, sebuah lagi dengan tidak berhentihentinya.
Segala pekerjaan itu dimandori oleh Kacak. Ada-ada
saja yang disuruhkan Kacak. Sehari-harian itu Midun tak menghentikan
tangan. Untuk membuat rokok saja, hampir tak
sempat. Jika Midun berhenti sebentar karena lelah, Kacak
sudah menghardik, ditambah pula dengan perkataan yang
sangat kasar. Mengambil air mandi dan mencuci kakus, Midun
juga disuruhnya. Pada malam hari Midun tak dapat sedikit juga
menutup mata sampai-sampai pagi. Tiap-tiap jam Kacak datang
memeriksa Midun berjaga atau tidaknya.
Demikianlah penanggungan Midun dari sehari ke sehari.
Dengan sabar dan tulus, hal itu dideritanya. Apa saja yang
disuruhkan Kacak, diturut Midun dengan ikhlas. Berbagai-bagai
siksaan Kacak kepada Midun, hingga pekerjaan yang berat, yang
tak patut dikerjakan Midun disuruhnya kerjakan. Siang bekerja
keras, malam tak dapat tidur. Hampir Midun tidak kuat lagi
bekerja. Dalam tiga hari saja, Midun tak tegap dan subur itu
sudah agak kurus dan pucat.
Orang di kampung itu sangat kasihan melihat Midun telah
jauh kurusnya. Apalagi ibu Midun, selalu menangis bila melihat
rupa Midun yang sudah berubah itu. Tetapi pada Midun hal itu
tidak menjadi apa-apa. Ia, selalu memohonkan rahmat Tuhan,
agar kekuatannya bertambah, sampai kepada hukumannya
habis dijalaninya. Dipohonkannya pula, moga-moga hati Kacak
disabarkan Allah daripada menganiaya sesama makhluk. Bila
ibunya menangis melihat dia, Midun berkata, "Sabarlah, Ibu,
jangan menangis juga. Ini baru siksaan dunia yang hamba rasai,
di akhirat nanti entah lebih daripada ini penanggungan kita.
Bukankah tiap-tiap sesuatu itu telah takdir Tuhan, Ibu! Jadi apa
yang terjadi atas diri kita tak boleh disesali, karena perbuatan
itu sama halnya dengan mengumpat Tuhan jua. Oleh karena
itu, senangkanlah hati Ibu, takkan apa-apa. Tuhan ada beserta
hamba. Hamba pucat dan kurus ini, karena baru bekerja berat.
Hal ini bukankah baik untuk pelajaran hidup, Ibu!"
Pada hari yang kelima Midun hampir-hampir tak berdaya
lagi. Ketika ia membawa rumput ke kandang kuda, lalu jatuh
tersungkur. Kacak melompat, lalu berkata sambil memukul,
"Inilah balasan engkau melukai mamakku. Rasai olehmu
sekarang! Jangan pura-pura jatuh, bangun apa tidak!?"
Par! Pukulan Kacak tiba di.punggung Midun. Midun hampir
gelap pemandangannya. Kalau tidak lekas ia menyabarkan
hatinya, tak dapat tiada sabitnya masuk perut Kacak. Dengan
perlahan-lahan ia bangun, lalu berkata, "Janganlah terlalu
amat menyiksa saya, Engku Muda! Kesalahan saya tidak
seberapa, tidak berpadanan dengan siksaan yang saya
tanggung. Saya lihat Engku Muda seperti membalaskan dendam.
Apakah dosa saya kepada Engku Muda? Terangkanlah, kalau
nyata saya bersalah, apa pun juga hukuman yang Engku
jatuhkan, saya terima."
"Memang engkau musuhku, jahanam!" ujar Kacak dengan
bengis. "Engkaulah yang mengasut orang benci kepadaku.
Engkau hendak jadi raja di kampung ini, binatang!"
Dengan marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkan
oleh Kacak. Dibalaskannya sakit hatinya yang
selama ini. Untunglah hal itu lekas dilihat Tuanku Laras dari
beranda kantor. Tuanku Laras segera memisahkan, dan
berkata, "Hendak membunuh orang engkau, Kacak?"
Mendengar suara itu, baru Kacak berhenti daripada
memukul Midun. Jika tak ada Tuanku Laras, entah apa jadinya.
Boleh jadi Midun membalas, boleh jadi pula Midun binasa,
sebab sudah tidak berdaya lagi.
Pada keesokan harinya, Midun jatuh sakit. Hari itu ia tidak
kuat lagi menyabit rumput. Pagi-pagi benar Pak Midun telah
pergi menggantikan anaknya menyabit rumput. Belum lagi
matahari terbit, rumput empat rajut itu telah diantarkannya ke
kandang kuda. Kemudian ia pergi kepada Tuanku Laras
menerangkan, bahwa anaknya sakit keras. Ia memohonkan
hukuman yang tinggal sehari itu, dia saja menjalankannya. Baru
saja Tuanku Laras akan menjawab, Haji Abbas datang pula ke
kantor itu. Atas nama guru dan bapak Midun, ia memintakan
ampun muridnya. Apalagi Midun ketika itu di dalam sakit.
Maka Tuanku Laras berkata, katanya, "Karena permintaan
Haji, saya ampuni Midun. Tetapi saya harap anak itu diajar
sedikit, jangan sampai begitu kurang ajar. Terlalu, ya, sungguh
terlalu, melukai orang gila. Orang yang tak sempurna akal,
tentu tidak mengerti apa-apa. Kalau dilawan, tentu kita jadi
gila juga."
Haji Abbas dan Pak Midun diam saja mendengar perkataan
itu. Kemudian mereka bermohon diri dan meminta terima kasih
atas ampunan yang dilimpahkan kepada Midun itu. Di jalan
sampai pulang, keduanya tidak bercakap-cakap sepatah jua
pun. Mereka tahu bahwa perkataan Tuanku Laras itu
kepadanyalah tujuannya. Karena itu amat pedih hati mereka,
padahal anaknya tidak bersalah. Tetapi apa hendak dikatakan,
mereka bertentangan dengan raja di kampung itu. Setelah
sampai di rumah, lama mereka itu duduk berpandangpandangan.
Haji Abbas amat sedih hatinya melihat Midun yang
telah kurus dan pucat itu. Dengan tak diketahui, air mata Haji
Abbas telah berleleran di pipinya. Tidak lama antaranya, Haji
Abbas berkata, "Apamukah yang sakit, Nak? Apakah sebabnya
maka engkau sakit ini?"
Dengan perlahan-lahan Midun menjawab,"... Bapak...!
Karena bekerja terlalu berat. Kalau saya tahu akan begini, mau
saya dibawa ke Bukittinggi daripada dihukum di sini. Kacak
rupanya musuh dalam selimut bagiku. Entah apa dibencikannya,
tiadalah saya tahu. Malah seperti orang melepaskan sakit
hati ia rupanya. Tetapi saya belum merasa bersalah kepada
Kacak. Tak boleh jadi karena saya melukai Pak Inuh, Kacak
menyiksa saya. Seakan-akan sudah lama ia menaruh dendam
kepada saya. Biarlah, Bapak, karena tiap-tiap sesuatu itu
dengan kehendak Tuhan. Siksaan kepada saya itu saya serahkan
kepada Yang Mahakuasa. Penyakit saya ini tidaklah
membahayakan. Selama sakit akan sembuh, selama susah akan
senang."
Lama Haji Abbas termenung memikirkan perkataan Midun
itu. Kemudian ia berkata kepada Pak Midun, katanya, "Anak
kita dikasihi orang di kampung ini; tetapi Kacak dibenci orang,
karena tingkah lakunya tidak senonoh. Tidak ada ubahnya
sebagai anak yang tidak bertunjuk berajari. Karena angkaranya,
orang lain ini binatang saja pada pemandangannya. Boleh jadi
ia sakit hati, karena Midun banyak sahabat kenalannya. Siapa
tahu Midun dihukum ini, barangkali karena perbuatan Kacak.
Tetapi itu menurut persangkaan saya saja. Tentu dengan
gampang saja ia melepaskan dendam, sebab ada Tuanku Laras
yang akan dipanggakkannya* (Dimegahkannya)."
"Benar perkataan Bapak itu," ujar Midun pula. "Saya rasa
begitulah. Waktu berdua belas di masjid dahulu, sudah salah
juga penglihatannya kepada saya. Ketika ia melihat hidangan
bertimbun-timbun di hadapan saya, tampak kebenciannya
kepada saya. Begitu pula ketika ia salah menyabut raga yang
saya berikan kepadanya, saya hendak ditinjunya. Dan dalam
mengirik baru-baru ini, makin nyata juga iri hatinya itu. Sejak
itu saya tegur dia tidak menyahut lagi. Bila melihat saya ia
meludah-ludah dan muram saja mukanya."
"Boleh jadi," kata Pak Midun, "dubalang Lingkik ada
mengatakan, bahwa Kacak benci benar melihat orang banyak di
sawah Midun. Lebih-lebih melihat orang di sawah itu bergurau
senda, marah ia rupanya."
"Nah, sebab itu ingatlah engkau yang akan datang, Midun!"
ujar Haji Abbas. "Dia itu kemenakan raja kita. Tiba di perut
dikempiskannya, tiba di mata dipejamkannya. Insaflah engkau
akan perbuatanmu yang sudah itu. Sama sekali orang memuji
perbuatanmu, tetapi hasilnya engkau dapat hukuman."
Ada kira-kira sebulan, baru Midun sembuh daripada sakit.
Badannya segar, kembali bagai semula. Sejak itu Midun tidak
kerap kali lagi ke pasar. Jika tidak perlu benar, tidaklah ia
pergi. Sedangkan rokok, ibunya saja yang membelikan dia di
pasar. Malam mengaji, siang ke huma, demikianlah kerja Midun
setiap hari. Pulang dari huma, ia mengerjakan pekerjaan
tangan. Sekali-sekali ia menolong adiknya menggembalakan
ternak.
5. Berkelahi
SEKALI peristiwa pada suatu petang Midun pergi ke sungai
hendak mandi. Tidak jauh ke sebelah hulu, tepian mandi
perempuan. Pada masa itu amat banyak orang mandi, baik di
tepian perempuan, baik pun di tepian laki-laki. Mereka mandi
sambil bersenda gurau. Ada yang berketimbung sambil tertawa
gelak-gelak. Bermacam-macam tingkahnya, menurut kesukaan
masing-masing. Sekonyong-konyong datanglah air besar dari
hulu. Sangat deras air mengalir, karena hujan lebar di mudik.
Batu yang besar-besar, pohon-pohon kayu dan lain-lain banyak
dihanyutkan air. Mereka yang mandi pada kedua tepian itu
berlompatan ke darat. Sangat ketakutan mereka itu rupanya.
Masing-masing menolong diri sendiri-sendiri. Ada yang jauh
juga dibawa air, tetapi dapat melepaskan diri. Tetapi yang
mandi jauh ke tengah, apalagi tak pandai berenang, tak dapat
tiada binasalah. Sibuk orang di tepian, ada yang memekik
sebab ngeri, ada pula yang berteriak menyuruh kawan segera
ke darat. Bunyi air yang deras itu sangat menakutkan. Tiba-tiba
kedengaran teriak orang mengatakan, "Tolong, tolong! Katijah
hanyut! Katijah hanyut!"
Tidak lama kelihatan rambut seorang perempuan di dalam
air. Timbul-tenggelam dibawa air. Midun ketika itu ada pula di
sana, tetapi ia sudah mandi dan hendak berangkat pulang.
Banyak orang lari ke hilir akan menolong yang hanyut itu.
Segala orang di pasar berlarian, dahulu-mendahului akan melihat
atau menolong yang hanyut. Mereka tanya-bertanya siapa
yang hanyut itu. Katijah, yaitu nama perempuan yang hanyut
itu, ialah istri Kacak yang baru dua bulan dikawininya. Banyak
sungguh orang berdiri di tepi sungai. Orang itu semuanya hanya
kadar melihat yang hanyut saja. Seorang pun tak ada yang
berani menolong. Mereka takut dirinya akan binasa, sebab air
terlalu deras. Di dalam orang banyak itu Midun serta pula
melihat. Kasihan benar ia melihat jiwa perempuan yang terancam
itu. Karena dilihatnya tidak seorang juga yang hendak
menolong. Midun bersiap, hendak terjun. Pakaiannya
ditanggalkannya, hingga tinggal celana pendek saja lagi.
Dengan tidak berpikir lagi, Midun lari ke hilir dan melompat ke
dalam sungai. Amat sukar ia akan mencapai perempuan itu,


karena air makin deras. Kayu-kayu besar yang hanyut sangat
mengalangi Midun akan mencapai Katijah. Setelah ia dekat
kepada perempuan yang hendak ditolongnya itu, terpaksa pula
Midun menyelam, karena beberapa alangan. Dengan susah
payah dapat juga ditangkapnya pinggang Katijah, lalu berhanyut-
hanyut ke hilir sambil menepi sungai. Dengan cara
demikian dapatlah Midun mencapai daratan. Sampai di darat
dipegangnya kaki perempuan itu lalu dipertunggangnya* (Kaki ke
atas kepala ke bawah), agar keluar air yang terminum oleh
perempuan itu. Katijah sudah pingsan, tidak tahu akan diri lagi.
Kain di badan tak ada, telanjang bulat.
Maka datanglah orang berlari-lari membawa kain untuk
Katijah. Bersama itu pula Kacak dengan dua orang kawannya.
Di belakang itu orang banyak yang ingin melihat kejadian itu,
bagaimana kesudahannya. Midun berusaha sedapat-dapatnya
supaya Katijah yang pingsan itu siuman akan dirinya. Setelah
orang banyak datang, maka Katijah diserahkan oleh Midun
kepada perempuan, supaya dibela dan diberi pakaian. Kacak
masam saja mukanya melihat Midun. Jangankan minta terima
kasih, melainkan panas hatinya kepada Midun. Benar, sepatutnya
ia minta syukur istrinya telah ditolong. Tetapi apakah
sebabnya maka si Midun, orang yang sangat dibencinya itu pula
yang menolongnya. Lebih panas lagi hatinya ketika diketahuinya
istrinya itu dalam bertelanjang pula. Maka tidak tertahan
panas hatinya lagi, lalu iapun berkata, "Midun, adakah dihalalkan
dalam agama bahwa orang laki-laki itu boleh menyentuh
kulit perempuan orang lain?"
Orang banyak sangat heran dan amat sakit hatinya mendengar
perkataan Kacak itu. Jangankan ia minta terima kasih
atas kebaktian Midun, malahan perkataannya sangat melukai
hati orang. Midun sendiri takjub dan tercengang, karena tidak
disangkanya perkataan macam itu akan keluar dari mulut
Kacak. Maka Midun menjawab, katanya, "Engku Muda, saya
menolong karena Allah. Jika Engku Muda hendak bertanyakan
terlarang atau tidaknya dalam agama, memang hal itu
tersuruh, tak ada larangannya. Jika tidak ada saya, barangkali
istri Engku berkubur di dalam sungai ini."
"Kurang ajar, berani engkau berkata begitu kepadaku?" ujar
Kacak dengan marah. "Engkau kira saya ini patung saja, tidak
tahu menolong istri dalam bahaya? Lancang benar mulutnya
menghinakan daku, seorang kemenakan Tuanku Laras, di muka
khalayak sebanyak ini. Hendak engkau rasai pulakah tanganku
sekali lagi?"
"Saya maklum Engku Muda kemenakan Tuanku Laras," ujar
Midun dengan sabar. "Saya pun tidak menghinakan Engku Muda,
karena perkataan saya itu sebenar-benarnya. Tadi setelah saya
lihat tidak seorang jua yang akan menolong, saya terus saja
terjun ke air akan membela istri Engku. Saya harap janganlah
Engku terlalu benar mengatakan orang 'kurang ajar' sebelum
dipikirkan lebih dahulu."
"Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apa
pikiranmu, anjing!" ujar Kacak dengan sangat marah. "Akan
saya sembahkah engkau hendaknya, binatang!"
Kacak melompat hendak menyerang Midun, tetapi ditahan
orang, lalu disabarkan. Makin disabarkan, makin jadi, diperkitar-
kitarkannya orang yang memegang dia. Orang banyak
berkerumun melihat pertengkaran Kacak dengan Midun. Midun
tidak dapat lagi menahan hati. Apalagi mendengar perkataan
"binatang" dan "anjing" itu di muka orang banyak. Ada juga ia
hendak menyabarkan hatinya, tetapi tiada dapat. Maka ia pun
berkata, "Lepaskanlah, Saudara-saudara, tak usah disabarkan
lagi! Sanak saudara sekalianlah yang akan menjadi saksiku
kelak, bahwa saya dalam hal ini tidak bersalah. Terlalu benar,
sementang kemenakan Tuanku Laras. Datangilah Kacak,
lepaskan dendammu! Menanti atau mendatang?"
Orang banyak rupanya menanti perkataan Midun saja lagi.
Memang orang sangat benci kepada Kacak yang sombong itu.
Mereka telah berjanji dengan dirinya masing-masing, apa pun
akan terjadi lamun ia tetap akan menjadi saksi Midun kelak.
Kacak segera dilepaskan orang dan melapangkan tempat untuk
berkelahi. Dalam perkelahian itu, sekali pun tidak dapat Kacak
mengenai Midun. Tiap-tiap Kacak menyerang selalu jatuh tersungkur.
Kacak hanya berani membabi buta saja, mukanya
berlumur darah. Midun sekali pun tidak mengenai Kacak. Kacak
tersungkur karena deras datang yang selalu dielakkan Midun.
Sedapat-dapatnya Midun menahan hatinya akan melekatkan
tangan kepada Kacak. Kacak payah, akan lari malu, orang satu
pun tiada yang menolong. Akan minta ampun lebih malu lagi,
namanya anak laki-laki. Ia hampir tidak bergaya lagi. Maka
katanya, "Tolonglah saya, kawan! jasamu tidak akan saya lupakan.
Engkau biarkan sajakah saya seorang?"
Teman Kacak yang dua orang tadi maju ke tengah, lalu
berkata, "Ini dia lawanmu Midun, tahanlah!"
Maun melompat lalu berkata, "Satu lawan satu. Engkau
berdua. Sama menolong teman, di sini juga begitu."
"Engkau jangan campur, Maun!" ujar Midun. "Biarkan saya
sendiri, biarpun sepuluh orang. Kalau saya kena atau mati baru
engkau tuntutkan balas. Adat laki-laki berpanjang minta
tolong. Cobakanlah beranimu!"
Maun mengundurkan diri mendengar perkataan sahabatnya
itu. Ia tiada berani membantah, sebab Maun sudah tahu sejak
dari kecil akan tabiat Midun. Midun sekarang melepas
kekuatannya. Dalam sesaat saja kedua orang itu jatuh. Mereka
kedua tak dapat bangun lagi karena tepat benar kenanya.
Melihat hal itu, Kacak melompat menyerang dengan pisau.
Kacak terjatuh pula, tidak dapat bangun lagi. Ketika ia mencoba
hendak bangkit pula, dubalang Lingkik datang dan
menangkap pisau di tangan Kacak, lalu berkata, "Sabar, Engku
Muda, malu kita kepada orang."
Dubalang Lingkik datang itu bersama dengan Penghulu
Kepala. Midun, Kacak, dan dua orang temannya dibawa ke
kantor Tuanku Laras. Kacak dipapah orang sebab sudah payah
dan kesakitan, dan mukanya sudah bersimbah darah. Orang
banyak yang melihat perkelahian itu dibawa semuanya sebagai
saksi. Di muka Tuanku Laras, dubalang Lingkik menerangkan
dengan sebenarnya. Dikatakannya, bahwa pisau itu ditangkapnya
di tangan Kacak. Dan dikatakannya pula Kacak melawan
Midun tiga orang dengan temannya. Kemudian Midun dan Kacak
ditanyai pula oleh Tuanku Laras. Saksi-saksi dipanggil
semuanya, lalu ditanyai. Dengan berani, mereka itu
menerangkan dari awal sampai ke akhir peristiwa itu. Meskipun
Kacak kemenakan Tuanku Laras, tetapi semua berpihak kepada
Midun. Setelah sudah pemeriksaan itu, Midun disuruh pulang.
begitu pula segala saksi-saksi semuanya pulang. Tuanku Laras
mengatakan, bahwa bila nanti dipanggil mesti datang
sekaliannya.
Tuanku Laras berkata kepada Penghulu Kepala, katanya,
"Perkara ini saya pulangkan kepada Penghulu Kepala dan
kerapatan penghulu. Kurang pantas dan tidak laik rupanya,
kalau saya yang memeriksa. Sungguhpun demikian, Penghulu
Kepala tentu maklum."
"Baiklah Tuanku; " jawab Penghulu Kepala. "Insya Allah akan
saya periksa dengan sepatutnya, hingga menyenangkan hati
Tuanku."
Tiga hari kemudian daripada itu, Midun dipanggil Penghulu
hepala. Kacak dan saksi-saksi pun dipanggil semua. Pak Midun,
Haji Abbas, dan Pendekar Sutan pergi pula akan mendengarkan
putusan itu. Orang banyak pula datang akan mendengarkan.
Perkara Midun itu diperiksa oleh kerapatan di kampung itu,
yang dikepalai oleh Penghulu Kepala sebagai ketuanya. Mulamula
Midun ditanya, setelah itu Kacak. Kemudian segala saksisaksi
yang hadir dalam perkelahian itu. Setelah diperbincangkan
panjang lebar, maka perkara itu diputuskan oleh Penghulu
Kepala. Midun harus ronda kampung setiap malam, lamanya
enam hari. Midun dipersalahkan membalas dendam kepada
Kacak, karena kedua orang itu telah lama bercedera.
Setelah perkara itu diputuskan, Haji Abbas pun berdatang
kata, katanya, "Penghulu Kepala dan kerapatan yang hadir!
Karena perkara ini sudah diputuskan, saya sebagai guru dan
bapak Midun, mohon bicara sepatah kata. Saya amat bersenang
hati atas putusan itu, karena Midun membela jiwa seorang
perempuan, sekarang ia dihukum harus ronda malam enam
hari. Hukuman yang diputuskan itu memang seadil-adilnya dan
telah pada tempatnya pula. Saya mengucapkan banyak-banyak
terima kasih kepada Kerapatan dan kepada Penghulu Kepala."
Kerapatan itu diam, seorang pun tak ada yang menjawab
perkataan Haji Abbas yang amat dalam artinya itu. Mereka
berpandang-pandangan seorang akan seorang, tetapi tak ada
yang berani menjawab. Demikianlah halnya sampai kerapatan
itu disudahi dan orang pulang semua. Sampai di rumah Midun,
Haji Abbas berkata, "Pak Midun, orang rupanya hendak
mencelakakan anak kita. Kita yang tua harus ingat-ingat dalam
hal ini. Hal ini tidak boleh kita permudah-mudah saja lagi.
Orang lain sudah campur dalam perkara Midun dengan Kacak.
Asal kita ikhtiarkan, kalau akan binasa juga apa boleh buat.
Maklumlah Pak Midun?" '
"Saya kurang mengerti akan ujud perkataan Haji itu," jawab
Pak Midun dengan heran.
"Sudah setua ini Pak Midun, belum tahu juga akan ujud
putusan itu," ujar Haji Abbas. "Kilat beliung sudah ke kaki, kilat
cermin sudah ke muka. Anak kita masa ini dalam bahaya. Kita
harus beringat-ingat benar."
"Bahaya apa pula yang akan datang kepada Midun," jawab
Pak Midun. "Bukankah perkaranya sudah diputuskan?"
Dengan perlahan-lahan Haji Abbas berkata, "Rapat itu tidak
dapat menghukum Midun dengan hukuman yang lebih berat,
karena saksi semua berpihak dan mempertahankan Midun.
Sebab itu Midun disuruh ronda malam saja. Di dalam Midun
ronda itu, tentu orang dapat mencelakakan Midun, supaya ia
mendapat hukuman yang berat, mengerti Pak Midun?"
"Amboi!" kata Pak Midun sambil menarik napas. Ia insaf dan
tahu sekarang, bahwa Midun dalam bahaya.
"Pendekar Sutan," kata Haji Abbas pula. "Dalam enam
malam ini hendaklah engkau dengan murid-muridmu dan
temanmu semua menemani Midun ronda malam di kampung ini.
Hati-hati engkau jangan orang dapat membinasakan anak kita.
Saya harap dalam enam hari ini jangan ada terjadi apa-apa di
kampung."
"Kamu, Midun," kata Haji Abbas menghadapkan
perkataannya kepada Midun. "Kalau ada temanmu yang sehati
dengan engkau, bawalah ia akan kawan pergi ronda. Saya
sendiri dengan ayahmu akan menolong engkau sedapatdapatnya."
Setelah mereka itu berteguh-teguh janji, maka pulanglah ke
rumah masing-masing. Midun pun pergi mencari kawan, akan
teman pergi ronda. Pendekar Sutan dengan teman dan
muridnya 20 orang dan Midun dengan kawan-kawannya ada pula
12 orang. Mereka itu mufakat, bagaimana harus menjalankan
ronda itu, dan menetapkan tanda-tanda kalau ada sesuatu
bahaya bertemu. Setelah sudah, mereka itu semuanya mulailah
menjalankan ronda.
Lima malam telah lalu adalah selamat saja, tidak kurang
suatu apa-apa. Ketiga bapak Midun dengan temannya, ingat
benar menjaga keselamatan di kampung itu dalam lima malam
yang sudah. Midun sendiri sebagai ketua dari kawan-kawannya,
membagi-bagi ronda itu berempat-berempat. Sekarang tinggal
lagi malam yang penghabisan. Mereka sekarang harus ingatingat
benar, karena ia merasa bahwa malam itu seakan-akan
ada bahaya yang akan datang. Midun mengatur dengan baik,
bagaimana harus melakukan ronda malam itu.
Demikian pula Pendekar Sutan dengan anak muridnya.
Midun dan Maun malam itu tidak bercerai. Keduanya lengkap
dengan senjata, mana yang perlu.
Kira-kira pukul tiga malam, Midun ronda melalui rumah istri
Kacak. Tiba-tiba Midun berhenti karena mendengar sesuatu
bunyi di rumah Kacak. Midun terkenang akan nasihat bapaknya,
bagaimana melihat orang dalam malam yang gelap. Maka ia pun
merebahkan diri dan menangkup, lalu melihat arah ke rumah
Kacak. Di halaman rumah kelihatan oleh Midun sesuatu sosok
tubuh; dan ada pula seorang sedang membuka pintu rumah.
Tak jauh di halaman tampak pula seorang lagi. Dengan
perlahan-lahan Midun berkata kepada Maun, "Maling. Pergilah
panggil Bapak Pendekar dan kawan-kawan, supaya dapat kita
mengepung. Masih ada waktu, dia baru mulai membuka pintu.
Ingatlah, segala pekerjaan ini harus dilakukan dengan perlahanlahan
benar, supaya kita jangan diketahuinya."
Dengan tidak menyahut sepatah jua, Maun pergilah. Tidak
lama antaranya datanglah Pendekar Sutan dengan Maun.
Pekerjaan itu dilakukan dengan diam-diam dan hati-hati benar.
Midun bertanya dengan berbisik, "Sudahkah siap, Bapak?"
"Sudah," ujar Pendekar Sutan. "Pada keliling rumah ini, agak
jauh sedikit, orang sudah bersiap. Sudah saya perintahkan mengepung
rumah, takkan dapat maling melarikan diri. Mereka itu
hanya menanti perintah kita saja. Sudah saya katakan
kepadanya, siapa yang lari, pukul saja."
Dengan sabar, Midun dan kawan-kawannya menantikan
maling itu ke luar, supaya dapat tanda buktinya apabila ditangkap.
Sudah dimufakati, bahwa yang akan menyerang ialah
Midun dan Pendekar Sutan. Maun siap akan membela, manakala
di antara mereka kedua ada yang kena dalam perkelahian itu.
Ada sejam kemudian, keluarlah maling itu, sambil memikul
barang curiannya. Ketika hendak turun janjang, kakinya
tergelincir, lalu ia jatuh, pukulan Midun tiba di kepalanya.
Dengan segera maling itu bangun sambil mencabut pisau
hendak membalas. Tetapi Midun segera mendahului, memukul,
dengan gada sekali lagi. Pukulan itu tepat kena pada kening
maling itu, lalu terjatuh tidak bergerak lagi. Ketika itu Maun
telah ada pada sisinya, lalu berkata, "Biarkanlah orang ini saya
ikat dengan tali. Yang seorang lagi dapat saya pukul, tetapi
karena kurang tepat, masih kuat ia melarikan diri. Pergilah
tolong Mamak Pendekar, beliau sudah bergumul dengan maling
itu. Nyata kedengaran pada saya, bahwa orang itu belum tertangkap."
Dengan tidak berkata sepatah jua, Midun melompat pergi
mendapatkan Pendekar Sutan. Didapatinya maling itu sudah
pingsan terhantar di tanah. Pendekar Sutan kena pisau pada
pangkal lengannya. Untung tidak berat lukanya.
"Dalam luka Bapak?" ujar Midun dengan cemas.
"Tidak," jawab Pendekar Sutan. "Waktu saya menangkapnya,
kaki saya terperosok ke dalam lubang tempat orang memeram
pisang. Ketika itulah saya kena ditikamnya. Untung dapat juga
saya menangkis, kalau tidak tentu tepat kena saya, dan hanya
bangkai yang akan engkau dapati di sini. Engkau bagaimana?"
"Selamat," ujar Midun," orang itu sudah diikat Maun. Marilah
kita ikat pula orang ini."
"Yang satu lagi ke mana?" ujar Pendekar Sutan. Bukankah
engkau mengatakan mereka tiga orang banyaknya?"
"Biarlah, Bapak," kata Midun pula. "Asal yang dua ini dapat,
'sudahlah. Tentu ia sudah melarikan diri. Ia ada juga kena
dipukul oleh Maun. Besok tak dapat tiada yang lari itu akan
tertangkap juga, asal yang dua ini dipaksa menyuruh
menunjukkan temannya yang seorang itu. Sungguhpun
demikian, boleh jadi ia sudah ditangkap kawan-kawan."
Haji Abbas, karena suraunya berdekatan dengan rumah istri
Kacak, mendengar perkelahian itu, memang Haji Abbas tidak
tidur semalam-malaman itu, mendengar kalau-kalau ada yang
terjadi atau orang memanggil dia. Ia segera turun dengan
melalui jendela surau. Tiba-tiba terasa olehnya seakan-akan
ada orang yang hendak bertumbuk dengan dia. Dengan tidak
berpikir lagi. Haji Abbas memainkan kakinya, orang itu
berteriak, "Saya Kacak, mengapa dipukul, aduh...!"
Mendengar suara itu, Haji Abbas menghilang di dalam gelap.
Akan kedua maling itu sudah diikat, lalu diiringkan mereka
beramai-ramai ke rumah Penghulu Kepala. Barang-barang
curian itu dibawa Maun semuanya. Maklumlah anak mudamuda,
tentu mereka tak kurang melekatkan tangan kepada
maling itu, hingga sampai ke rumah Penghulu Kepala. Ketika itu
hari sudah lewat pukul empat pagi. Karena Penghulu Kepala di
rumah istrinya yang seorang lagi, lalu dibawa kedua maling itu
ke rumah Tuanku Laras.
Biasanya pada tiap-tiap kampung yang di bawah
pemerintahan Tuanku Laras itu, diadakan orang tongtong.
Tongtong itu digantungkan pada tiap-tiap rumah jaga, dan
dijagai oleh dua orang sekurang-kurangnya. Manakala ada
bahaya, baru tongtong itu boleh dibunyikan, misalnya
kebakaran, kemalingan, dan lain-lain yang semacam itu. Pada
tiap-tiap bahaya, berlain-lainan cara orang membunyikannya.
Yang lazim, jika kebakaran terus-menerus saja bunyi tongtong
itu. Kalau kemalingan, lain lagi macam bunyinya. Pada malam
kemalingan di rumah Kacak itu, amat sibuk bunyi tongtong.
Bersahut-sahutan kampung yang sebuah dengan kampung lain,
akan memberitahukan bahwa ada bahaya. Mendengar bunyi
tongtong itu, orang maklum sudah, bahaya apa yang terjadi.
Masa itu mana yang berani, berlompatan turun ke halaman
dengan senjatanya. Mereka itu terus lari ke rumah jaga
menanyakan di mana kemalingan. Tetapi si penakut memperbaiki
selimutnya, ada pula yang bangun memeriksa pintu,
dan ada pula yang duduk saja ketakutan di dalam rumahnya.
Demikian pula halnya Tuanku Laras. Ketika ia mendengar
bunyi tongtong itu, ia terkejut lalu bangun. Tuanku Laras amat
heran mendengar bunyi tongtong, karena sudah hampir 5 tahun
sampai waktu itu, belum pernah ada bahaya yang terjadi di
kampung itu, pada pikirannya, "Tak dapat tiada ada orang
maling menjarah dari negeri lain ke kampung ini. Atau boleh
jadi... Tetapi mengapa Penghulu Kepala pulang ke rumah
istrinya di kampung lain?"
Maka ia pun segera memakai baju malam, diambilnya
terkul. Ia terjun ke halaman, diiringkan oleh dua orang
dubalang. Tiada jauh Tuanku Laras berjalan, sudah kelihatan
olehnya suluh berpuluh-puluh buah. Di muka tampak dua orang
yang sudah terikat, dan di belakang amat banyak orang
mengiringkannya. Mereka itu semua menuju ke rumah Tuanku
Laras. Dengan segera seorang dubalang disuruh Tuanku Laras
membawa maling itu ke kantornya.
Kedua maling itu tidak dapat ditanyai malam itu, karena
berlumur darah dan letih. Baru saja sampai di beranda kantor
mereka pingsan tidak sadarkan diri lagi. Tiap-tiap orang
sepanjang jalan mengirimkan sepak terjang kepada maling itu.
Orang banyak itu disuruh pulang oleh Tuanku Laras semua.
Pendekar Sutan, Maun, dan Midun dipanggil ke dalam oleh
Tuanku Laras.
"Di mana kamu tangkap maling ini?" ujar Tuanku Laras.
Midun lalu menerangkan bahwa kemalingan itu di rumah
Engku Muda Kacak. Segala tanda bukti diperlihatkannya semua.
Kemudian diceritakannya, bagaimana caranya menangkap
maling itu sejak dari bermula sampai tertangkap. Pendekar
Sutan luka tidak dikatakan Midun. Mendengar cerita Midun,
Tuanku Laras mengangguk-anggukkan kepala saja. Tetapi pada
mukanya nyata ada sesuatu yang terpikir dalam hatinya.
Setelah habis Midun bercerita, Tuanku Laras bertanya, "Kacak
ada di rumah istrinya?"
"Tidak, Tuanku!" jawab Midun. "Menurut keterangan
istrinya, ia pulang ke rumah istrinya yang lain. Tetapi ke rumah
istri beliau yang mana, tidaklah hamba tahu."
Baru saja habis Midun berkata, Penghulu Kepala datang
dengan terengah-engah. Rupanya Penghulu Kepala berlari dari
rumah istrinya di kampung lain, karena mendengar bunyi
tongtong. Setelah Iepas lelahnya, maka Tuanku Laras dibawa
Penghulu Kepala bercakap ke dalam sebuah bilik kantor itu.
Kira-kira setengah jam, baru keduanya keluar dengan muka
masam. Maka Tuanku Laras berkata, "Midun! Karena kedua
orang maling ini masih pingsan, belum boleh ditanyai, kamu
boleh pulang saja dahulu. Nanti bilamana saya panggil,
hendaklah segera engkau datang." '
"Baiklah, Tuanku, kami mohon minta izin," ujar Midun
dengan hormatnya.
Sampai di rumah, Midun menceritakan kepada ayah
bundanya kejadian pada malam itu. Ibu bapak Midun berbesar
hati dan meminta syukur kepada Tuhan seru sekalian alam,
karena anaknya Ada selamat saja, terhindar daripada bahaya.
Tetapi dalam hati Midun timbul suatu perasaan yang ganjil,
ketika ia mengenangkan perkataan Tuanku Laras menanyakan
Kacak dan ketika Penghulu Kepala membawa Tuanku Laras
bercakap ke dalam bilik. Sebab itu ia ingin hendak mengetahui
bagaimana kesudahan pemeriksaan perkara itu. Pak Midun
mengangguk-anggukkan kepala saja. Ia telah maklum selukbeluk
perbuatan orang hendak mencelakakan anaknya. Apalagi
kabar yang dikatakan Haji Abbas dengan rahasia kepadanya,
tentang kejadian malam itu, makin meneguhkan kepercayaannya.
Ngeri Pak Midun memikirkan, jika anaknya dapat bahaya
pula.
Tetapi senang pula hatinya, karena hal yang sangat
mengerikan itu sekarang sudah terlepas.
Ketika Midun, ayah bunda, dan adik-adiknya sudah makan
pagi itu, kedengaran orang batuk di halaman. Orang yang batuk
itu ialah Haji Abbas; ia naik ke rumah. Setelah Haji Abbas
duduk, kopi dan penganan pun dihidangkan oleh ibu Midun.
Tidak lama kemudian Haji Abbas berkata, "Maklumlah Pak
Midun sekarang, apa ujud orang menghukum Midun enam hari
itu?"
Sedang Pak Midun mengangguk-anggukkan kepala, menyatakan
kebenaran perkataan Haji Abbas, Pendekar Sutan dan
Maun naik pula ke rumah. Baru saja Pendekar Sutan duduk,
Haji Abbas berkata sambil tersenyum dan menyindir, "Midun,
saya dengar kabar bapakmu kena tikam semalam. Hampir saja
kita berkabung hari ini. Waktu saya mendengar kabar itu, saya
menyangka tentu Midun terburai perutnya kena pisau. Sedang
bapaknya yang sudah termasyhur pendekar lagi kena, bahkan
pula anaknya. Kiranya terbalik, anak selamat tetapi bapak...
Ah, sungguh tak ada pendekar yang tidak bulus."
"Benar," ujar Pak Midun pula sambil tersenyum menyela perkataan
Haji Abbas akan mengganggu Pendekar Sutan. "Agaknya
langkah Pendekar Sutan sumbang malam tadi. Yang patut
langkah maju, mundur ke belakang. Dan boleh jadi juga
terlampau tinggi membuang tangan, ketika itu pisau bersarang
ke rusuk Pendekar Sutan."
Seisi rumah riuh tertawa, tetapi Pendekar Sutan merah
mukanya mendengar sindiran mereka berdua. Ia pun berkata,
"Mengatakan saja memang gampang. Jika Haji atau Pak Midun
sebagai saya semalam, barangkali berbunyi cacing gelanggelang
di perut ketakutan, setidak-tidaknya putih tapak
melarikan diri. Sebabnya, pertama orang yang bertentangan
dengan saya itu tidak sembarang orang, saya kenal benar akan
dia. Kedua, kaki saya terperosok masuk lubang, dalam pada itu
tikaman bertubi-tubi pula datangnya. Ketiga, hari gelap amat
sangat, sedikit saja salah menangkis, celaka diri.
Keempat, pikiran tak pula senang, memikirkan anak sedang
berkelahi. Biarpun Midun pendekar, begitu pula Maun, keduanya
masih muda-muda, belum tahu tipu muslihat perkelahian.
Lagi pula maling itu siap dengan alat senjatanya, tetapi kita
tidak demikian benar."
Mendengar perkataan Pendekar Sutan, mereka keduanya
berdiam diri, lalu Haji Abbas berkata, "Berbahaya juga kalau
begitu? Cobalah ceritakan, supaya kami dengar. Siapa dan
bagaimana orang yang berkelahi dengan Pendekar itu."
"Untung dia dengan saya bertentangan," ujar Pendekar
Sutan memulai ceritanya. "Orang itu ialah Ma Atang, seorang
perampok, penyamun, pemaling, ya, seorang pembatak yang
amat jahat. Nama Ma Atang telah dikenali orang di mana-mana
sebab kejahatannya. Keberaniannya dan ketangkasan Ma Atang
pun sudah termasyhur. Ia sudah tiga kali dibuang menjadi orang
rantai. Ketiga kali pembuangannya itu ialah perkara pembunuhan
dan perampokan di Palembayan dahulu. Sungguhpun
demikian, perangainya yang jahat itu tidak juga berubah.
Macam-macam kata orang tentang keberanian Ma Atang. Ada
yang mengatakan ia kebal, tidak luput oleh senjata. Ada yang
mengatakan, kepandaiannya bersilat sebagai terbang di udara.
Bahkan ada pula orang yang mengatakan, bahwa ia tahu
halimunan. Hati siapa takkan kecut, siapa yang takkan gentar
berhadapan dengan orang macam itu. Apalagi hatinya hati
binatang, tidak menaruh kasih mesra kepada sesamanya
manusia. Asal akan beroleh uang, apa saja mau ia
mengerjakannya. Nyawa orang dipandangnya sebagai nyawa
ayam saja. Untung juga saya mengetahui Ma Atang itu setelah
hadir di kantor Tuanku Laras. Jika sebelum itu saya mengetahui
Ma Atang, boleh jadi bergoyang iman saya, dan saya binasa
olehnya.
Semalam, ketika saya mendekati akan memukul kepala Ma
Atang itu, terinjak olehku ranting kayu. Bunyi itu didengarnya,
lalu ia berbalik. Saat itu saya pergunakan, saya gada mukanya.
Dengan tangkas ia mengelak, dicabutnya pisau dari pinggangnya.
Hal itu tampak terbayang kepadaku. Saya tangkis pisau
itu, lalu kami pun bergumul. Dalam perkelahian itu saya selalu
maju dan merapatkan diri, sebab ia berpisau dan hari gelap.
Sedikit pun tak saya beri kesempatan ia menikam. Ma Atang
dapat saya tangkap, dan saya empaskan ke pohon kayu.
Jangankan ia terempas, melainkan seakanakan tak menjejak
tanah ia rupanya. Sebagai kilat cepat Mak Atang berbalik
menikam saya. Ketika saya menyalahkan tikaman itu, kaki saya
terperosok masuk lubang pemeram pisang... pangkal lengan
saya pun kena. Waktu itu belum terasa apa-apa oleh saya kena
pisau. Saya tarik kaki saya kuat-kuat, lalu saya menidurkan diri,
tetapi siap menanti. Dengan muslihat itu, pada pikiran Ma
Atang tepat saja kena tikamannya. Dengan amuk sambil lari,
diulangnya menikam saya sekali lagi. Masa itulah ia dapat saya
kenai; tepat benar kaki saya mengenai...—maaf, ibu Midun—
kemaluannya. Ia pun jatuh pingsan, Midun sudah datang
mengikatnya."
Segala isi rumah ngeri mendengar cerita Pendekar Sutan.
Lebih-lebih ibu Midun, sebentar-sebentar ia menjerit. Maklumlah
seisi rumah itu sekarang, bagaimana keadaan Pendekar
Sutan malam itu. Sebab itu Haji Abbas dan Pak Midun tidak lagi
memperolok-olokkan adiknya. Kemudian Haji Abbas bertanya
pula, "Engkau bagaimana pula lagi dengan musuhmu, Midun?"
"Bagi saya mudah saja, Bapak," ujar Midun. "Ketika Bapak
Pendekar dan Maun datang, kami mufakat lalu berbagi-bagi.
Yang di jalan bagian Maun, yang di pintu gapura bagian Bapak
Pendekar Sutan, dan yang masuk rumah bagian saya. Maun
kami larang menyerang, supaya dapat menolong kami, kalau
ada yang kena. Sungguhpun demikian ia selalu siap. Saya tahu,
bahwa jarak maling itu dengan temannya berjauhan. Saya pun
merangkak ke tangga, di pintu tempat ia masuk. Karena anak
tangga itu betung, dengan mudah saya buka anaknya sebuah.
Saya pun berdiam diri dekat tangga itu menantikan dia turun.
Tidak lama, maling itu turun sambil memikul barang curiannya.
Waktu ia turun semata anak tangga, kakinya tergelincir, jatuh
ke bawah. Ketika itulah saya gada kepalanya sekuat-kuat
tenaga saya. Saya sangka tentu ia terus pingsan. Tetapi tidak,
ia bergerak lagi hendak menyerang saya. Saya pukul lagi
mukanya, ia pun pingsan tak sadarkan dirinya."
Setelah tamat pula cerita Midun, Haji Abbas bertanya pula,
"Engkau bagaimana pula dengan musuhmu, Maun?"
"Saya tidak menyerang, melainkan berdiam diri saja dekat
jalan," ujar Maun. "Waktu saya mendengar Mamak Pendekar
Sutan berkelahi, tiba-tiba saya bertumbuk dengan seseorang
yang rupanya hendak melarikan diri. Dengan segera saya pukul
akan dia. Entah kepala, entah punggungnya yang kena, saya
tidak tahu.
Tetapi dia terus juga lari. Kalau saya kejar tentu dapat,
tetapi saya tidak menepati janji. Lagi pula saya takut akan
digada teman-teman yang sudah berkeliling mengepung rumah
itu. Saya segera mendapatkan Midun, dan dia saya suruh
menolong Mamak Pendekar. Maling yang dipukul Midun itu lalu
saya ikat."
Haji Abbas mengangguk-anggukkan kepala, terkenang
kepada Kacak yang mengaduh kena kakinya semalam itu.
Menurut pikiran Haji Abbas, tak dapat tiada orang yang lari
dipukul Maun dan yang kena sepaknya itu, ialah Kacak. Setelah
adik-adik Midun disuruh pergi bermain, lalu Haji Abbas berkata,
"Midun dan Maun, cerita bapakmu tadi banyak yang patut
engkau ambil jadi teladan. Demikianlah hendaknya muslihat
jika berkelahi dengan orang yang memegang pisau. Dalam
perkelahian yang tidak memakai pisau pun, ada juga tipunya.
Misalnya mengumpan orang dengan pura-pura menyumbangkan
langkah. Tetapi manakala dalam perkelahian banyak, artinya
engkau seorang dipersama-samakan orang, jangan sekali-kali
maju. Hendaklah engkau selalu mengundurkan diri, sambil
menangkis serangan orang. Dan kalau dapat, carilah tempat
vang tiga persegi, yang dinamakan orang: kandang sudut. Di
tempat itu, sukarlah orang mengenai kita."
Maka Haji Abbas menerangkan dengan panjang lebar, bagaimana
tipu muslihat dalam perkelahian kepada Midun dan Maun.
Untuk menjadi misal, Haji Abbas menceritakan keadaannya
dengan Pak Midun semasa muda. Kemudian Haji Abbas menyambung
perkataannya, "Rupanya waktu Ma Atang berkelahi
dengan Pendekar Sutan, nyata bahwa Ma Atang hendak
membunuh lawannya benar. Jika saya tidak salah tampa, tak
dapat tiada Pendekar Sutan disangkanya Midun. Orang yang
dipukul Maun itu, pada hemat saya tentu Kacak. Sudah dapat
pukulan dari Maun, dapat bagian pula dari saya. Tetapi Kacak
sekali-kali tidak tahu, bahwa sayalah yang bertemu dengan dia.
Ingatlah, hal ini harus dirahasiakan benar-benar. Cukuplah kita
yang enam orang ini saja mengetahuinya. Perkara Midun ini
rupanya sudah dicampuri orang tua-tua. Sebab itu jika kurang
hati-hati, tentu kita celaka. Kita ini hanya orang biasa saja,
tetapi Kacak kemenakan Tuanku Laras. Yang akan datang,
hendaklah engkau ingat-ingat benar dalam hal apa juapun,
Midun. Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis, jerat serupa
dengan jerami."
"Baiklah, Bapak," ujar Midun. "Hingga ini ke atas saya akan
berhati-hati benar. Dalam pada itu jika sudah saya ikhtiarkan,
tetapi datang juga bencana atas diri saya, apa boleh buat,
Bapak."
Dari sehari ke sehari Midun menanti panggilan tidak juga
datang. Habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan,
Midun tidak juga dipanggil akan diperiksa tentang maling yang
ditangkapnya itu. Ada yang mengatakan, bahwa maling itu
sudah dikirim ke Bukittinggi. Setengahnya pula berkata,
"Sungguh amat ajaib perkara ini. Semalam kemalingan di rumah
istri Kacak, besoknya Kacak jatuh sakit. Padahal Kacak tidak
ada di rumah istrinya malam kemalingan itu. Dan lagi perkara
itu didiamkan saja, seolah-olah ada berudang di balik batu.
Jangan-jangan pencurian itu ada bertali dengan sesuatu hal
yang muskil, yang tidak diketahui orang."
Demikianlah perkara itu: terapung tak hanyut, terendam
tak basah, hingga sampai Kacak sembuh, Midun belum juga
terpanggi
6. Pasar Malam
MATAHARI telah turun menjelang tirai peraduan di balik bumi,
meninggalkan cahaya yang merah kuning laksana emas baru
disepuh dipinggir langit di pihak barat. Burung-burung beterbangan
pulang ke sarangnya. Dengan tergesa-gesa sambil
berkotek memanggil anak, inasuklah ayam ke dalam kandang,
karena hari telah samar muka. Cengkerik mulai berbunyi bersahut-
sahutan, menyatakan bahwa hari sudah senjakala. Ketika
itu sunyi senyap, seorang pun tak ada kelihatan orang di jalan.
Di jembatan pada sebuah kampung, kelihatan tiga orang duduk
berjuntai. Mereka duduk seakan-akan ada suatu rahasia yang
dimufakatkannya, yang tidak boleh sedikit juga didengar orang
lain. Sambil melihat ke sana kemari, kalau-kalau ,ida orang lalu
lintas, mereka itu mulai bercakap-cakap.
"Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di
Bukittinggi," kata seorang di antara mereka itu yang tidak lain
dari Kacak memulai percakapannya. "Saat itulah yang sebaikbaiknya
bagi kita akan membalaskan dendamku selama ini
kepada Midun. Tak dapat tiada tentu Midun pergi pula melihat
keramaian itu. Orang kampung telah tahu semua, bahwa saya
bermusuh dengan dia. Jadi kalau dia saya binasakan di sini,
malu awak kepada orang. Tentu orang kampung syak wasangka
kepada saya saja, kalau ada apa-apa kejadian atas diri Midun.
Lagi pula ia tak pernah keluar, hingga sukar akan rnengenalnya.
Oleh sebab itu telah bulat pikiran saya, bahwa hanya di
Bukittinggilah dapat membinasakannya. Bagaimanakah pikiran
Lenggang? Sukakah Lenggang menolong saya dalam hal ini? Budi
dan cerih Lenggang itu, insya Allah takkan saya lupakan. Bila
yang dimaksud sampai, saya berjanji akan memberi sesuatu
yang menyenangkan hati Lenggang."
"Cita-cita Engku Muda itu mudah-mudahan sampai," jawab
Lenggang, sambil melihat keliling, takut kalau-kalau ada orang
mendengar. "Kami berdua berjanji menolong Engku Muda
sedapat-dapatnya. Jika tak sampai yang dimaksud, tidaklah
kami kembali pulang. Tidak lalu dendang di darat kami layerkan,
tak dapat dengan yang lahir, dengan batin kami perdayakan.
Sebab itu apa yang kami kerjakan di Bukittinggi,
sekali-kali jangan Engku Muda campuri, supaya Engku jangan


terbawa-bawa. Biarkanlah kami berdua, dan dengar saja oleh
Engku Muda bagaimana kejadiannya. Ada dua jalan yang harus
kami kerjakan. Tetapi... maklumlah, Engku Muda, tentu dengan
biaya. Lain daripada itu ingatlah, Engku-Muda, rahasia ini
hanya kita bertiga saja hendaknya yang tahu. Pandai-pandai
Engku Muda menyimpan, sebab hal ini tidak dapat dipermudah,
karena perkara jiwa."
"Seharusnya saya yang akan berkata begitu," ujar Kacak
sambil mengeluarkan uang kertas Rp 25,- dari koceknya, lalu
diberikannya kepada Lenggang. "Bukankah Tuan-tuan membela
saya, masakan saya bukakan rahasia ini. Biar apa pun akan
terjadi atas diri Lenggang kedua, jangan sekali-kali nama saya
disebut-sebut. Saya ucapkan, moga-moga yang dimaksud
sampai, karena bukan main sakit hatiku kepada Midun, anak si
peladang jahanam itu. Jika dia sudah luput dari dunia ini,
barulah senang hati saya. Sekarang baik kita bercerai-cerai
dulu, karena kalau terlalu lama bercakap-cakap, jangan-jangan
dilihat orang."
Setelah ketiganya berteguh-teguhan janji bahwa rahasia itu
akan dibawa mati, maka mereka pun pulang ke rumah masingmasing.
Lenggang dengan temannya sangat bersuka hati
mendapat uang itu. Gelak mereka terbahak-bahak,
lenggangnya makin jadi, tak ubah sebagai namanya pula.
Bahaya apa yang akan menimpa mereka kelak, sedikit pun tidak
dipedulikan Lenggang. Memang Lenggang sudah biasa menerima
upah semacam itu. Pekerjaan itu sudah biasa dilakukannya.
Sudah banyak ia menganiaya orang, satu pun tak ada orang
yang tahu. Pandai benar ia menyimpan rahasia dan melakukan
penganiayaan itu. Jika ada yang menaruh dendam kepada
seseorang, dengan uang seringgit atau lima rupiah saja, telah
dapat Lenggang disuruh akan membinasakan orang itu.
Pekerjaan itu dipandangnya mudah saja, karena sudah biasa.
Akan membinasakan Midun itu, tidak usah ia berpikir panjang,
karena hal itu gampang saja pada pikirannya. Hanya yang
dipikirkan Lenggang, tentu ia mendapat upah amat banyak dari
Kacak, jika yang dimaksudnya sampai. Kacak seorang kaya,
sedangkan bagi permintaan yang pertama diberinya Rp 25,-
padahal belum apa-apa lagi. Akan mengambil jiwa Midun,
seorang yang boleh dikatakan masih kanak-kanak, tak usah dihiraukannya.
Dua pekan lagi akan diadakan pacuan kuda di Bukittinggi.
Tetapi sekali ini pacuan kuda itu akan diramaikan dengan pasar
malam lebih dahulu. Kabar pasar malam di Bukittinggi itu sudah
tersiar ke mana-mana di tanah Minangkabau. Hal itu sudah
menjadi buah tutur orang. Di mana-mana orang mempercakapkannya,
karena pasar malam baru sekali itu akan diadakan di
Bukittinggi. Demikian pula Midun, yang pada masa itu sedang
duduk-duduk di surau menanti waktu asar bersama Maun, pasar
malam itulah yang selalu diperbincangkan.
"Ah, alangkah ramainya keramaian di kota sekali ini, Maun,"
kata Midun memulai percakapan itu. "Kabarnya 'alat'* (Maksudnya
pacuan kuda) sekali ini akan sangat ramai sekali, sebab disertai
dengan pasar malam. Di dalam pasar malam itu, orang mempertunjukkan
berbagai-bagai kerajinan, ternak, hasil tanah,
dan lain-lain sebagainya. Segala pertunjukan itu, mana yang
bagus diberi hadiah. Permainan-permainan tentu tidak pula
kurang. Tak inginkah Maun pergi ke Bukittinggi? Saya berhajat
benar hendak melihat keramaian sekali ini. Kepada ayah saya
sudah minta izin. Tetapi hati beliau agak berat melepas saya,
berhubung dengan Kacak yang selalu mengintai hendak
menerkam mangsanya. Sungguhpun demikian, beliau izinkan
juga, asal saya ingat-ingat menjaga diri."
"Memang saya ingin pergi ke Bukittinggi," ujar Maun, "Sejak
kecil belum pernah saya melihat pasar malam. Bagi saya tak
ada alangan apa-apa. Perkara Kacak yang engkau katakan itu,
saya juga merasa khawatir. Ia selalu mengintai-intai, Midun!
Kepada saya sendiri, kalau bertemu agak lain pandangnya,
tetapi tidak saya pedulikan. Kemarin, waktu kita pergi
sembahyang Jumat, ada kita berjumpa dengan seorang yang
belum pernah bertemu, apalagi dikenal. Orang itu saya lihat
memandang kepada kita dengan tajam. Sudah kenalkah engKau
kepada orang itu? Bukankah engkau ada ditegurnya?"
"Tidak, sekali-kali tidak, saya heran karena saya ditegurnya
dengan sopan benar, padahal ia belum saya kenali. Saya rasa
tentu ia tidak orang jahat, sebab ada juga sembahyang. Tetapi
waktu kita bertemu dengan dia kemarin, darah saya berdebar.
Entah apa sebabnya tidaklah saya tahu. Malam tadi tak senang
sedikit juga hati saya. Ada saya tanyakan kepada Bapak
Pendekar akan orang itu. Bapak Pendekar menerangkan, bahwa
orang itu bukanlah orang kampung sini. Tetapi beliau kenal
namanya dipanggilkan orang Lenggang. Dahulu memang dia
seorang jahat, pemaling dan pencuri. Kedatangannya kemari
tidak beliau ketahui. Beliau katakan pula, bahwa Lenggang itu
acap kali kelihatan pergi ke rumah famili Tuanku Laras. Karena
itu, menurut tilikan beliau, Lenggang tentu sudah. baik
sekarang, apalagi telah sembahyang. Kalau tidak, tentu ia tidak
berani menampakkan diri ke rumah Tuanku Laras. Sungguhpun
demikian, beliau suruh saya hati-hati juga menjaga diri, jangan
lengah sedikit juga. Musuh dalam selimut, kata beliau."
"Perasaan saya pun begitu, Midun. Lain perasaan saya waktu
melihat orang itu kemarin. Untung beliau telah maklum. Saya
sudah berniat juga hendak mengatakannya kepadamu. Sudah
jauh kita diamat-amatinya juga ngeri saya melihat rupanya,
bengis dan menakutkan sungguh. Ingat-ingat, Midun! Kita harus
hati-hati, supaya jangan binasa."
"Yang sejengkal itu tak mau jadi sedepa, kawan! Tak usah
kita hawatirkan benar hal itu. Syak wasangka dan cemburu
yang berlebih-lebihan merusakkan pikiran dan membinasakan
diri. Jika nasib kita akan dapat malapetaka, apa boleh buat.
Bukankah tiap-tiap sesuatu dengan takdir Tuhan."
"Jadi rupanya Midun menanti takdir saja, dan bila takdir itu
datang, sudahlah."
"Sebenarnya, kawan! Tetapi engkau jangan pula salah
pengertian. Bukan maksud saya berserah diri saja sebab takdir,
sekalikili tidak. Kita dijadikan Tuhan dan diberi pikiran
secukupnya. Dengan pikiran itulah kita menimbang mana yang
baik untuk keselamatan diri kita. Bukankah segala dua dijadikan
Allah? Pilihlah dengan pikiran itu mana yang akan dikerjakan.
Kita wajib mengusahakan diri agar terhindar dari bencana
dunia ini. Bilamana ikhtiar sudah dijalankan, dan kita dapat
malapetaka juga, itulah yang dnamakan nasib. Dan kalau kita
sekarang sekonyong-konyong kena tombak misalnya, padahal
tidak disengaja, itulah yang dikatakan orang takdir. Mengertikah
engkau, Maun? Jadi tentu saja kita harus horhati-hati. Jika
dapat dihindarkan, baik kita hindarkan, supaya jangan dapat
bahaya. Tetapi bila tersesak padang ke rimba, terhentak ruas
ke buku, apa boleh buat, wajib kita membela diri."
"Sekarang mengerti saya maksudmu itu. Nah, bilakah kita
berangkat? Tak perlukah kita membawa apa-apa untuk dijual di
kota akan belanja selama di sana?"
"Tiga hari pasar malam akan dimulai, kita berangkat dari
sini."
"Uang simpananku ada Rp 25,-. Kamu adakah menyimpan
uang?"
"Ada, saya rasa hanya sebanyak uang simpananmu pula
agaknya."
"Mari kita perniagakan uang itu! Saya dengar kabar, lada
dan telur amat mahal sekarang di Bukittinggi. Untungnya itulah
untuk belanja. Lain daripada itu kita tolong pula menjualkan
lada ibu."
Pada tepi jalan di pasar kampung itu kelihatan lada, ayam,
dan lain-lain sebagainya. Dua orang muda memuat barangbarang
itu ke dalam pedati. Setelah selesai, Midun dan Maun
pun bersalam dengan ayah-bunda masing-masing, yang ketika
itu ada pula di sana menolong memuat barang itu ke dalam
pedati. Mereka kedua minta izin, lalu bersiap akan berangkat.
Ketika Midun bersalam minta maaf kepada ibunya, lama benar
tangannya maka dilepaskan ibunya. Amat berat hati ibu itu
melepas anaknya ke Bukittinggi. Sungguhpun Bukittinggi tidak
berapa jauh dari kampungnya, tetapi tak ubah hal ibu Midun
sebagai seorang yang hendak melepas anaknya berjalan jauh.
Amat lain perasaannya, takut kalau-kalau anaknya dapat
bahaya. Rasa-rasa tampak kepada ibu itu bahaya yang akan
menimpa anaknya, karena Midun dimusuhi orang. Tetapi ia
terpaksa harus melepas Midun, anak yang sangat dikasihinya
itu.
Maka berangkatlah Midun dan Maun menumpang pedati yang
membawa barang-barangnya itu. Dari kampungnya ke
Bukittinggi adalah semalam perjalanan dengan pedati. Ia
berangkat pada petang hari Jumat. Pagi-pagi hari Sabtu,
sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi. Di dalam
perjalanan keduanya adalah selamat saja. `
Belum tinggi matahari terbit, barang-barang yang dibawanya
diborong oleh orang Cina dengan harga Rp 160,-. Setelah
itu keduanya pergi makan ke sebuah lepau nasi dan menghitung
laba masing-masing. Barang yang berpokok Rp 50,- dijual Rp
100,- dan beruntung Rp 50,-. Penjualan lain kepunyaan ibunya
Rp 60,- ' disimpan mereka uangnya. Setelah dipotong biaya,
lalu dibaginya dua keuntungan itu, yaitu Rp 20,-, seorang.
Sesudah makan, Midun berkata, "Sungguh bukan sedikit untung
kita, Maun! Patutlah Datuk Palindih lekas benar kayanya. Belum
lama ia jadi saudagar, sudah banyak ia membeli sawah. Uang
yang diperniagakannya pun tidak sedikit, karena berpuluh
pedati ia membawa barang-barang yang telah dibelinya.
Maukah Maun berniaga pula nanti?"
"Baik, saya pun amat suka berniaga," jawab Maun. "Jika
pandai menjalankan perniagaan, memang lekas benar naiknya.
Tapi jatuhnya mudah pula. Lihatlah Baginda Sutan itu! Dari
sekaya-kayanya, jatuh jadi semiskin-miskinnya. Sekarang
pikirannya tidak sempurna lagi."
"Benar katamu itu. Karena Baginda Sutan sangat tamak akan
uang dan sangat kikir pula, ia dihukum Tuhan. Boleh jadi ia
berniaga terlampau banyak mengambil untung, lalu dimurkai
Allah. Kekikirannya jangan dikata lagi. Bajunya baju hitam yang
sudah berkilat lehernya, karena tidak bercuci. Baunya pun
tidak terperikan busuknya. Uang seduit dibalik-baliknya dulu
baru dibelanjakan."
Maka mereka pun menanyakan kepada orang lepau itu, agar
mereka kedua diizinkan bermalam di sana selama ada
keramaian. Bagi orang lepau itu, karena dilihatnya Midun dan
Maun orang baik-baik, tiadalah menjadi halangan mereka kedua
menumpang di lepau itu. Setelah itu Midun dan Maun berjalan
akan melihat-lihat keramaian "pasar malam". Pada kiri kanan
jalan dekat lepau itu sampai ke pintu gerbang dihiasi dengan
pelbagai sulur-suluran dan hunga-bungaan. Bergelung-gelung
amat indah-indah rupanya. Pada tiap-tiap rumah sepanjang
jalan, berkibaran bendera si tiga warna. Dari jauh sudah
kelihatan pintu gerbang pasar malam itu. Tinggi di atas
puncaknya terpancang bendera Belanda yang amat besar,
berombak-ombak ditiup angin. Tonggak pintu gerbang itu dililit
dengan kain yang berwarna-warna. Pelbagai bunga-bungaan
bersusun amat beraturan, menyedapkan pemandangan.
Midun dan Maun sampai di pintu gerbang itu. Dengan heran
inereka melihat keindahannya. Agak ke sebelah dalam sedikit
ada sebuah rumah yang amat kukuh, bangun rumah itu tak
ubah dengan balairung sari buatan orang Minangkabau zaman
dahulu.
Sungguh tertarik hati melihat bangun rumah itu. Atapnya
dari ijuk, berdinding papan berukir. Di tengah-tengah balai itu
ada sebuah pintu masuk yang amat besar. Jika orang hendak
melihat pasar malam, harus melalui pintu balai itu. Di atas
pintu agak sebelah atas, ada kepala kerbau yang bertanduk.
Kepala kerbau itu ialah menjadi suatu tanda kebesaran orang
Minangkabau.
Konon kabarnya, menurut cerita orang: pada zaman dahulu
kala orang Jawa datang ke Minangkabau akan menyerang negeri
itu. Melihat kedatangan orang Jawa yang sangat banyak itu,
orang Minangkabau khawatir, takut akan kalah perang. Oleh
sebab itu, dicarinya akal akan menghindarkan bahaya itu. Maka
dikirimnya seorang utusan oleh raja Minangkabau kepada
panglima perang orang Jawa itu membawa kabar, mengatakan:
bahwa jika berperang tentu akan mengorbankan jiwa manusia
saja. Oleh karena itu, dimintanya berperang itu dihabisi dengan
jalan mengadu kerbau saja. Manakala kerbau orang Minangkabau
kalah, negeri itu akan diserahkan kepada orang Jawa.
Tetapi kalau menang, segala kapal-kapal dengan muatannya
harus diserahkan kepada orang Minangkabau. Permintaan itu
dikabulkan oleh orang Jawa dengan segala suka hati. Maka
dicarinya seekor kerbau yang amat besar. Tetapi orang
Minangkabau mencari seekor anak kerbau yang sudah tiga hari
tidak diberinya menyusu. Pada moncong anak kerbau itu
diberinya berminang yang amat tajam. Setelah datang hari
yang ditentukan hadirlah rakyat kedua kerajaan itu. Ketika
orang Jawa melihat anak kerbau orang Minangkabau, mereka
tertawa dengan riangnya. Pasti kepada mereka itu, bahwa ia
akan menang. Tetapi setelah kedua kerbau itu dilepaskan ke
tengah gelanggang, anak kerbau itu pun berlari-lari kepada
kerbau besar orang Jawa itu, hendak menyusu... sehingga perut
kerbau itu tembus oleh minang yang lekat di moncongnya.
Kerbau orang Jawa itu mati, maka menanglah kerbau orang
Minangkabau itu. Demikianlah ceritanya. Benar tidaknya cerita
itu, wallahu alam.
Balai itu dihiasi dengan amat bagus dan indahnya. Di atas
balai itu kelihatan beberapa orang engku-engku berdiri.
Ketika Midun tercengang-cengang memperhatikan pintu
gerbang itu, tampak olehnya huruf yang dibuat dengan air mas.
Huruf itu terletak pada tengah-tengah gaba-gaba. Sedang
Midun melihat-lihat, datang seorang dekat padanya. Midun
menyangka tentu anak itu murid sekolah, lalu bertanya,
"Buyung, apakah bunyi bacaan yang tertulis pada gaba-gaba
itu?"
Anak itu pun berkata, katanya, "Pasar Malam."
Midun meminta terima kasih kepada anak itu, kemudian
berkata kepada Maun. "Jika orang hendak masuk ke dalam
rupanya membayar. Mari kita beli pula yang seperti dibawa
orang itu, kita masuk ke dalam!"
Sesudah membeli karcis, lalu keduanya masuk. Belum lagi
sampai ke tengah, mereka amat heran melihat kebagusan pasar
malam itu. Pondok-pondok berdiri dengan amat teratur. Los-los
pasar dihiasi dengan bermacam-macam bunga. Midun pergi
melihat-lihat keadaan di pasar itu. Mula-mula dilihatnya pada
sebuah pondok seorang perempuan menenun kain. Midun
sangat heran melihat bagaimana cekatannya perempuan itu
bertenun. Setelah lama diperhatikan, ia pun meneruskan perjalanannya
pula melihat yang lain-lain, misalnya, cara
menanam tumbuh-tumbuhan yang subur, pemeliharaan ternak
yang baik dan lain-lain sebagainya. Segala yang dilihat Midun di
dalam pasar malam itu, diperhatikannya sungguhsungguh.
Setelah petang hari, baru mereka pulang ke lepau nasi. Ketika
ia melalui sebuah los dekat pintu keluar, kedengaran olehnya
orang berseru-seru, katanya, "Lihatlah peruntungan, Saudarasaudara!
Baik atau tidaknya nasib kelak, dapat dinyatakan
dengan mengangkat batu ini!"
Midun dan Maun tertarik benar hatinya hendak melihat, lalu
mereka pergi ke tempat itu. Midun melihat sebuah batu yang
besar bertepikan suasa. Batu itu telah tua benar rupanya.
Agaknya sudah berabad-abad umurnya. Tidak jauh daripada itu
ada pula terletak sebuah pedupaan (perasapan). Bertimbun
kemenyan yang ditaruhkan orang di sana. Maka bertanyalah
Midun kepada orang yang berseru itu, katanya, "Batu apa ini,
Mamak? Bagaimanakah, maka kita dapat menentukan nasib
kelak dengan batu ini?"
"Batu ini ialah batu keramat, pusaka dari Raja Pagaruyung
yang telah berabad-abad lamanya," jawab orang itu. "Jika
orang muda dapat mengangkat batu ini sampai ke atas kepala,
tandanya orang muda akan berbahagia kelak. Tetapi bila tidak
dapat, boleh saya pastikan, bahwa nasib orang muda tidak baik
akhir kelaknya. Dan barang siapa yang tidak percaya akan
perkataan saya, tentu ia dikutuki batu keramat ini."
Midun dan Maun amat takjub mendengar perkataan orang
itu. Karena ia seorang alim pula, bersalahan sungguh pendapat
orang ini dengan ilmu pengetahuannya. Pikirnya, "Ini tentu
suatu tipu untuk pengisi kantung saja. Mengapakah hal yang
semacam ini kalau dibiarkan saja oleh pemerintah? Bukankah
hal ini bersalahan dengan ilmu pengetahuan dan agama? Orang
ini barangkali tidak beragama, karena batu disangkanya dapat
menentukan buruk baik untung orang."
Berkacau-balau pikiran Midun tentang batu yang dikatakan
keramat itu. Tetapi ia tidak berani mengeluarkan perasaannya,
karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya. Tibatiba
datang seorang, lalu membakar kemenyan sebesar ibu jari
pada pedupaan. Ketika ia membakar kemenyan, lalu memohonkan
rahmat kepada hatu itu, moga-moga baik nasibnya kelak.
Kemudian ia memasukkan uang sebenggol ke dalam tabung
yang sudah tersedia. Sambil memperbaiki sikap dan membaca
bismillah, maka diangkatnyalah batu itu perlahan-lahan, sebab
takut akan ketulahan. Telah mengalir peluh di badan orang itu,
jangankan terangkat bergerak pun tidak batu itu. Dengan
bersedih hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak
menoleh-noleh ke belakang.
Midun berbisik kepada Maun, "Bersedih hati benar rupanya
orang itu, karena batu ini tidak terangkat olehnya. Kepercayaannya
penuh, bahwa batu keramat. Tentu saja tidak terangkat
olehnya batu sebesar ini, karena ia sudah tua. Sungguh kasihan
dan boleh jadi ia menyesali hidupnya dan sesalan itu boleh
menimbulkan pikiran, hendak membinasakan diri, karena
sangkanya, daripada hidup sengsara kelak, lebih baik mati
sekarang. Berbahaya benar, tidak patut hal ini dibiarkan."
Maun menarik napas, lalu berkata perlahan-lahan,
"Sungguh, amat banyak orang sesat, karena kebodohan dan
kepercayaan yang bukan-bukan. Janganlah kita bicarakan juga
hal ini. Jika terdengar oleh yang punya dan oleh orang-orang
yang mempercayainya keramat batu ini, boleh jadi kita binasa."
"Baiklah, maukah Maun mengangkat batu ini? Saya ingin
hendak mengangkat berapa beratnya, sebab sudah tiga orang
tak ada yang kuat. Sungguhpun tidak percaya, kita pura-pura
saja seperti orang itu."
Maka Midun membakar kemenyan, kemudian memasukkan
uang lima sen ke tabung. Setelah itu diangkatnya batu yang
dikatakan keramat itu. Oleh Midun, seorang muda yang sehat
dan kuat, dengan mudah saja batu itu diangkatnya. Segala
orang yang melihat amat heran, lalu berkata, "Anak muda yang
berbahagia."
Benci benar Midun mendengar perkataan itu, hampir-hampir
tak dapat ia menahan hati. Tiba-tiba telanjur juga, lalu
berkata, "Tuhan yang dapat menentukan berbahagia atau
tidaknya untung nasib seseorang, tetapi batu ini ...."
Midun dan Maun segera berjalan pulang ke lepau nasi,
karena ketika hendak berkata lagi, dilihatnya muka yang punya
batu berubah sekonyong-konyong. Sepanjang jalan mereka
sepatah pun tidak bercakap, karena memikirkan batu yang
bertepikan suasa itu. Sudah makan, baru mereka mempercakapkan
penglihatannya sehari itu. Tetapi yang menarik
hati mereka benar, ialah memperkatakan batu yang keramat
itu saja.
Pada malam hari Midun dan Maun pergi pula ke pasar
malam. Sesampai di pintu masuk, takjub sungguh Midun
melihat pintu gerbang pasar malam itu. Gaba-gaba diterangi
dengan berpuluhpuluh lampu, melukiskan ukuran yang amat
indah-indah. Balai dihiasi dengan lampu yang berwarna-warna.
Huruf-huruf pada gaba-gaba dan di gonjong balai, seakan-akan
terbuat daripada lampu laiknya. Dengan segera Midun membeli
karcis, lalu masuk ke dalam. Midun dan Maun berjalan tidak
seperti siang tadi, melainkan diperhatikannya isi tiap-tiap
pondok di pasar itu. Banyak penglihatan Midun yang berfaedah
untuk penghidupannya kelak. Misalnya pekerjaan tangan, cara
memelihara ternak, keadaan bibit tanaman yang bagus,
contoh-contoh barang perniagaan, dan lain-lain.
Demikianlah pekerjaan mereka itu dua hari lamanya. Pada
hari yang kelima, pagi-pagi, Midun dan Maun pergi ke pasar.
Mereka herbelanja membeli ini dan itu, karena hendak terus
pulang setelah melihat pacuan kuda lusanya. Tengah hari
kembalilah mereka ke Iopau. Segala barang-barang yang dibeli,
dipertaruhkannya kepada orang lepau itu. Setelah itu Midun
duduk hendak makan, tetapi Maun masih di luar membeli
rokok. Baru saja Midun duduk, Maun berseru dari luar katanya,
"Midun! Midun! Lihatlah, apa ini?"
Midun melompat lari ke luar, hendak melihat yang diseurkan
kawannya itu. Di jalan kelihatan beberapa engku-engku
dan tuan-tuan diarak dengan musik militer. Tiba-tiba Midun
terkejut, karena di dalam orang banyak itu kelihatan olehnya
Kacak. Dengan segera ditariknya tangan Maun, lalu dibawanya
masuk ke dalam lepau.
Dengan perlahan-lahan Midun berkata, "Maun! Adakah
engkau melihat Kacak di antara orang banyak itu?"
"Tidak," jawab Maun dengan cemasnya. "Adakah engkau
melihat dia?"
"Ada, rupanya ia ada pula datang kemari. Ketika saya melihatnya
tadi, ia memandang ke sana kemari, seakan-akan ada
yang dicarinya di antara orang banyak itu. Entah siapa yang
dicarinya dengan matanya itu tidaklah saya ketahui. Saya amat
heran karena ketika saya menampaknya tadi, darah saya berdebar.
Yang biasa tidaklah demikian benar hal saya bilamana
melihat Kacak. Boleh jadi kita di sini diintip orang, Maun! Siapa
tahu dengan tidak disangka-sangka kita dapat bahaya kelak.
Sebab itu haruslah kita ingat-ingat selama di sini."
"Tidak kelihatankah engkau kepadanya tadi? Tetapi saya
rasa takkan berani Kacak berbuat apa-apa kepada kita di dalam
peralatan besar ini. Nyata kepada saya ketakutannya bertentangan
dengan engkau, waktu perkelahian di tepi sungai
dahulu. Sedangkan di kampung demikian keadaannya, apalagi
di sini. Siapa yang akan dipanggakkannya di sini? Karena itu
tidak boleh jadi ia akan menyerang kita. Sungguhpun demikian,
kita harus berhati-hati juga."
"Saya tidak kelihatan olehnya. Tetapi jika tak ada yang dicarinya,
masakan seliar itu benar matanya. Saya pun maklum,
bahwa dia tida k akan berani menyerang kita di sini. Tetapi
karena dia orang kaya, tentu bermacam-macam jalan dapat
dilakukannya akan membinasa. kan kita. Biarlah, asal kita
ingat-ingat saja."
Sesudah makan mereka pun berjalan-jalan ke pasar,
melihat perarakan anak-anak sekolah dan lain-lain: Malam hari
Midun tidak keluar, melainkan tinggal di lepau nasi saja. Lain
benar perasaannya sejak melihat Kacak hari itu. Besoknya
ketika pacuan kuda dimulai, mereka itu tidak pergi melihat,
melainkan tinggal di lepau saja. Hanya pada hari yang kedua
saja mereka hendak pergi sebentar. Sudah itu maksudnya
hendak terus pulang ke kampung.
7. Di Pacuan Kuda.
PAGI-PAGI benar Midun dan Maun sudah bangun. Setelah mandi
mereka kedua pergi sembahyang kepada sebuah surau yang
tidak herapa jauh dari lepau nasi tempatnya menumpang itu.
Sudah sembahyang subuh, mereka pun berkemas membungkus
dan mengikat barang-barang yang telah dibelinya. Setelah
selesai, ditaruhnya dalam sebuah bilik lepau itu. Ketika mereka
itu hendak minum pagi, dilihatnya hari sudah agak tinggi. Maun
berkata, katanya, "Ah, hari sudah pukul tujuh agaknya, Midun!
Boleh jadi kita terlambat. Saya rasa lebih baik kita makan di
pacuan kuda saja nanti. Jika kita minum pula dahulu, tentu
kita tidak dapat lagi melihat orang berpacu book* (Artinya merebut
piala/beker). Sekalipun kita tidak minum, agaknya terlambat juga
sampai ke sana. Marilah kita naik bendi saja ke pacuan kuda.
Pacu boko kabarnya mulai pukul delapan betul."
"Benar katamu, mari kita naik bendi saja," kata Midun.
"Tetapi kabarnya sewa bendi sangat mahal sekarang. Lebih
tiga kali lipat daripada sewa yang biasa. Lagi pula tidakkah
jauh amat, karena kita pergi ke perhentian bendi dahulu?"
"Tidak, kita tawar dahulu berapa sewanya. Dari sini tidak
berapa jauh ke perhentian bendi. Mudah-mudahan sebelum kita
sampai ke sana, bertemu dengan bendi yang mencari muatan."
Keduanya berjalanlah menuju tempat perhentian bendi.
Sampai di sana, lalu ditanyakan Midun berapa sewa bendi ke
gelanggang pacuan kuda. Kusir bendi menjawab pendek saja,
bahwa sewa bendi tidak kurang dari f1,- seorang ke pacuan.
Jadi dua orang f2,-. Maun amat heran mendengar jawab kusir
bendi meminta sewa semahal itu. Padahal antara Bukittinggi
dengan pacuan kuda hanya sepal lebih sedikit. Maka Maun
berkata dengan sungutnya, "Uang dua rupiah itu pada pikiran
kusir murah saja, Midun! Memang lidahnya tidak bertulang,
mudah saja ia menyebutkannya. Marilah kita berjalan kaki saja.
Tidak cukup setengah jam kita sudah sampai. Hari baru pukul
tujuh."
Baru saja Midun berbalik hendak berjalan, tiba-tiba tampaklah
olehnya seseorang melintas jalan. Darah Midun tersirap
melihat orang itu, karena rasa-rasa sudah bertemu dengan dia.
Setelah dipikirkannya di mana orang itu bertemu dengan dia,


baru Midun maklum Dengan suara gagap ia berkata, "Maun!
Lenggang yang bertemu dengan kita pulang dari sembahyang
Jumat di kampung tempo hari ada pula kemari. Itu dia di
seberang jalan. Lihatlah, tajam benar pandangannya kepada
kita. Saya amat heran, sudah dua kali saya bertemu dengan
dia, selalu darah saya saja yang tersirap. Pertemuan yang
kedua ini, tidak darah saya saja yang tersirap, tetapi tegak pula
bulu kuduk saya rasanya. Bukankah ajaib itu?"
Maun, yang memang sejak dahulu tidak senang hatinya
melihat dan mendengar nama Lenggang itu, terperanjat pula,
lalu berhenti berjalan akan melihat orang itu. Sambil berpaling
pula hendak berjalan ia berkata, "Hati-hati, Midun, tidak
darahmu saja yang tersirap, tetapi urat kuduk saya mendenyut
melihat Lenggang itu. Jangan kita bercerai-cerai barang
setapak jua pun. Tertelentang sama terminum air, tertangkup
sama termakan tanah, menyuruk sama bungkuk, melompat
sama patah, musuhmu musuh saya. Saya selalu bersedia akan
membelamu, biar bagaimana juga. Jika ada apa-apa yang terjadi,
jangan engkau larang-larang lagi, sebagai ketika engkau
berkelahi dengan Kacak dahulu. Saya tahu apa yang akan saya
perbuat, untuk keselamatan diri kita berdua. Jangan lagi kita
lama-lama di pacuan. Asal sudah kita melihat pacu boko, kita
terus pulang saja. Tidak perlukah kita membawa pisau, Midun?"
"Nasihatmu itu saya pegang benar-benar. Kita tidak boleh
lengah dan alpa sedikit juga sampai-sampai pulang ke
kampung. Tentang membawa pisau itu tidak usah lagi. Tulang
delapan kerat yang dijadikan Tuhan ini sajalah kita pergunakan.
Banyak bahayanya kita berpisau daripada tidak
berpisau. Jika tikus seekor penggada seratus, artinya dia
banyak kita berdua, kita buat saja langkah seribu, daripada
mengamuk atau menikam orang.
Tentang kesetiaan hatimu itu kepada saya, saya ucapkan
terima kasih banyak-banyak. Tetapi sebenarnya dalam hal ini
engkau tidak campur sedikit jua. Jika misalnya bahaya datang
tiba-tiba—tetapi janganlah hendaknya— saya tidak suka engkau
terbawa-bawa pula sebab saya. Tak beban batu digalas, kata
orang. Tentu saja engkau teraniaya, karena hendak menolong
seorang teman. Tetapi melihat pengakuan dan keyakinanmu
kepada saya, tak dapat saya menolak perkataanmu itu.
Kebersihan dan keikhlasan hati engkau itu, saya hargakan
sungguh-sungguh. Kebanyakan orang bersahabat ialah akan
lawan tertawa saja, tetapi lawan menangis sukar dicari.
Bagimu rupanya tidaklah demikian. Saya telah engkau sangka
seperti saudara kandung seibu seayah, tidak berubah dari mulut
sampai ke hati. Badan saja yang dua, tetapi nyawa umpama
satu."
"Kawanku Midun! Sejak kecil kita tidak bercerai setapak
juapun. Selama itu saya rasa, belum pernah saya menumangkan
engkau. Bagi saya engkau tidak saya pandang orang lain lagi,
melainkan telah seperti saudara kandung. Jika engkau susah,
saya akan lebih berdukacita, dan jika engkau tertawa, saya pun
lebih bersuka hati. Sudahlah, tidak guna kita perbincangkan
lagi. Apa guna dipikirkan, bukanlah kita sekarang dalam
peralatan? Waktu ini kita harus bersuka-suka. Yang segantang
tidakkan mau jadi sesukat. Asal kita ingat saja menjaga diri,
sudahlah!
Benar juga katamu itu, dengan bermacam-macam akal
tentu ia dapat berlaku akan membinasakan kita. Oleh sebab itu
untuk menjaga keselamatan kita, jangan kita berjalan seperti
yang sudah-sudah lagi. Mulai sekarang kita ubah, lebih baik kita
berjalan beriring-iring. Engkau di muka, saya di belakang. Saya
perlu menjaga engkau, karena engkaulah yang dimusuhi orang,
saya tidak. Kalau kita berjalan bersisi-sisi atau engkau di
belakang, tentu gampang orang membinasakan kita. Siapa
tahu, engkau diserang orang dengan tiba-tiba dari belakang.
Manakala saya di belakang, tentu boleh saya memberi ingat
kalau ada apa-apa. Saya tidak akan lengah dan selalu menjaga
dengan ingat-ingat."
"Terima kasih banyak-banyak, Maun! Sebetulnyalah pikiranmu
itu. Bila kita selalu dalam hati-hati, tetapi bahaya jua yang
dapat, sudah suratan badan kita yang celaka dan tidak menjadi
sesalan lagi."
Dengan tidak diketahui mereka kedua, maka sampailah ke
pacuan kuda. Sepanjahg jalan yang dilaluinya itu berkibaran
bendera pada kiri-kanan jalan. Pada pintu masuk pacuan kuda,
ada pula sebuah gaba-gaba yang amat indah-indah, dihiasi
dengan pelbagai bunga-bungaan. Sekeliling pacuan itu penuh
dengan berbagai-bagai bendera. Sebuah daripada bangsalbangsal
di pacuan itu, amat kukuh buatannya. Bangsal itu ialah
tempat engku-engku dan tuan-tuan melihat kuda berpacu.
Amat permai dan cantik bangsal yang sebuah itu, karena dihiasi
dengan bunga-bungaan yang amat bagus. Pada puncaknya
berkibar bendera yang bercorak tiga.
Ada pun pacuan itu dikelilingi oleh bukit. Tiap-tiap bukit itu
berpuluh-puluh pondok didirikan orang. Pondok-pondok itu
ialah tempat orang berjual nasi, juadah, dan lain-lain
sebagainya. Penuh sesak orang di bukit itu, berkelompokkelompok
sangat banyaknya. Hampir dari seluruh tanah
Minangkabau, amat banyak datang melihat pacuan kuda itu.
Sebabnya ialah karena pacuan itu kepunyaan anak negeri, dan
kuda yang dipacu, kuda negeri pula. Pada hari itu orang dua
kali sebanyak kemarinnya. Berdesak-desak orang mencari
tempat akan melihat perlombaan kuda. Hal itu lain tidak
karena orang hendak melihat pacu boko, yang sangat disukai
orang.
Pacu boko itu akan merebut priys yang dinamakan
"Minangkabau Beker". Siapa yang menang tidak saja ia memperoleh
piala, tetapi menerima hadiah uang yang banyak pula.
Sebab itu, kuda yang dipacu tidak sedikit. Tiap-tiap luhak di
Minangkabau, diambil dua ekor kuda yang terkencang. Ketika
itu hanya empat belas ekor kuda sekali lepas. Dengan melihat
pakaian anak pacuannya, tahulah orang dari luhak mana-mana
kuda itu datangnya. Ketika itu ada pula kuda yang datang dari
Padang Hilir*(Negeri-negeri sebelah pesisir dinamai Padang Hilir, sebelah ke
Gunung Padang Darat).
Midun dan Maun mencari tempat yang baik, agar dapat melindungkan
diri dari bahaya. Setelah dapat, mereka berdirilah
di sana. Sungguhpun tempat itu amat baik, Maun selalu ingatingat
jua. Tidak lama kemudian, kuda dilepas orang. Gemuruh
bunyi sorak orang sekeliling pacuan itu. Ada yang menyerukan,
"Agam, Agam," dan ada pula "Payakumbuh, Payakumbuh," yaitu
masing-masing menyerukan luhaknya. Rasakan hendak belah
bumi rupanya. Tidak bersorak saja, musik militer pun selalu
berbunyi selama kuda itu berlari. Tiap-tiap orang gelisah dan
tidak bersenang hati, manakala melihat kuda dari luhaknya
kalah. Tetapi yang menang, orang luhaknya rasa hendak
terbang karena kegirangan hati. Mereka melompat-lompat,
tertawanya berderai-derai dan perkataannya seperti
merendang kacang sebab sukanya. Setelah sudah berpacu,
nyata yang menang masa itu kuda dari luhak Agam. Maka orang
dari luhak itu berlarian ke tengah gelanggang pacuan, berarak,
dan bersorak-sorak menunjukkan suka hatinya. Musik militer
pun turun, lalu kuda yang menang itu diarak sekeliling pacuan.
Orang di gelanggang itu herkacau-balau tidak bertentu lagi.
Midun dan Maun tidak berani keIuar dari tempatnya, melainkan
ia melihat saja dari jauh. Setelah sudah orang mengarak kuda
barulah tenang kembali. Midun berkata kepada Maun, "Maksud
kita sudah sampai, perut sudah lapar, mari kita pergi makan.
Sesudah makan, kita ambil barang-barang kita, terus pulang."
"Di lepau nasi manakah yang baik kita makan?" jawab Maun.
"Mari kita makan ke puncak bukit itu! Di sana tentu senang
kita makan dan tidak terganggu."
Maka keduanya pun naik ke puncak bukit, mencari lepau
nasi yang agak baik. Pada kiri kanan tempat yang dilalui
mereka itu orang duduk berkelompok-kelompok. Di muka
mereka terbentang sehelai tikar dan sebuah piring dengan dadu
dan tutupnya. Berpuluh-puluh uang terletak di muka mereka
itu. Demikianlah halnya tiap-tiap kelompok orang itu. Di sini
kelihatan orang main dadu, di sana dadu kuncang, dan lainlain.
Segala macam judi ada di situ. Berbagai-baga akal mereka
mencari uang. Tidak main dadu saja, bertaruh kuda pun banyak
pula. Midun tidak lama memperhatikan orang main dadu itu,
melainkan ia terus berjalan ke puncak bukit. Setelah didapat
lepau nasi yang berkenan kepadanya, maka makanlah ia di situ.
Sesudah makan, lalu turun pula ke bawah, hendak pergi ke
tempatnya menumpang mengambil barang-barangnya. Belum
jauh berjalan, dilihatnya beberapa orang opas berjalan keliling
tempat orang main itu. Opas itu melemparkan ringgit ke tikar
dadu, kemudian dikembalikan orang ringgit itu dengan sebuah
rupiah akan tambahnya. Sedang Midun memikirkan hal itu,
Maun yang berdiri di belakangnya melihat seseorang bergerak
dekatnya, kemudian terbayang pada matanya sebuah pisau
yang menuju rusuk Midun. Sebagai kilat Maun melompat
menangkap pisau itu, sambil berseru, "Awas, Midun!" '
Midun berbalik, dilihatnya Maun telah berkelahi, lawannya
memegang sebuah pisau. Ketika Midun hendak melompat
menolong Maun, tiba-tiba ia diserang orang pula dengan pisau.
Orang itu ialah Lenggang yang dilihatnya pada perhentian bendi
tadi pagi. Midun lalu menangkis serangan, sambil mengundurkan
diri ke arah Maun berkelahi. Setelah dekat, Midun berkata,
"Lepaskan, jaga di belakang saya!"
Suara itu terdengar oleh Maun, lalu ia melompat ke
belakang Midun. Maun sekarang hanya menjaga kalau-kalau ada
serangan dari kiri-kanan saja. Kedua orang itu Midun sendiri
yang melawan. Bukan main tangkas Midun menyambut dan
mengalahkan tikam lawannya. Tidak lama pisau yang seorang
terpelanting kena sepak Midun. Tinggal lagi Lenggang yang
berpisau. Midun dan Maun selalu mengundurkan diri ke
belakang. Kemudian ia tertumbuk pada dinding sebuah lepau
nasi. Di sana mereka kedua dapat tempat untuk bertahan.
Orang makin banyak menyerang Midun, karena teman Lenggang
selalu berteriak, mengatakan, "Pancacak*(Pencuri, dalam orang
ramai)!"
Karena itu orang menyangka Midun seorang pencuri. Dari
kiri kananin dan dari muka musuh datang; amat sibuk tidak
tentu lawan kawan. Orang banyak itu tidak dipedulikan Midun
amat, melainkan yang sangat dijaganya Lenggang. Bagi orang
banyak itu lain tidak ilmu, sepak terjang saja. Tetapi Lenggang
sengaja hendak membunuh dia. Tidak lain yang kedengaran
masa itu, hanya bunyi sepak terajang, pukulan dan tinju orang
saja. Huru-hara benar di bukit sebuah itu. Anak-anak amat
banyak terinjak oleh orang yang melarikan diri. Perempuanperempuan
yang berpakaian bagus-bagus, tunggang-Ianggang
jatuh ke bawah sebab dilanda orang yang berkelahi. Jerit,
tangis, dan teriak orang mengatakan "bunuh dan amuk", tidak
pula kurang. Polisi bekerja keras memadamkan perkelahian itu.
Meskipun dengan pedang bercabut menghentikan perkelahian
itu, tidak dipedulikan orang. Malahan polisi sendiri ada yang
berguling-guling jatuh ke bawah kena kaki orang. Setelah
datang serdadu selusin dan membunyikan bedil serentak, barulah
peperangan kecil itu aman kembali. Jika tidak lekas
serdadu datang, entah berapa gerangan bangkai terhantar.
Ketika bedil berbunyi, kebetulan dekat Midun ada seorang
yang terhantar di tanah. Tiba-tiba ia telah dipegang Tuan
Kemendur dari rusuk, yang pada ketika itu datang bersamasama
dengan serdadu akan memadamkan perkelahian. Midun
ditangkap karena bajunya berlumur darah. Maun ditangkap
juga, sebab ia berdiri dekat seorang vang terhantar di tanah.
Orang yang terhantar itu terus dibawa ke rumah sakit. Orang
itu ialah Lenggang. Ia pingsan karena perutnya kena amuk oleh
pisaunya sendiri. Tetapi lukanya tidaklah berat benar. Pada
lengan Lenggang ada sebuah pisau yang berlumur darah. Teman
Lenggang melenyapkan diri di dalam orang banyak itu. Orang
lain yang serta dalam perkelahian karena melepaskan dendam
atau mempertahankan diri, ketika bedil meletus berlarian
menyembunyikan badan.
Midun dan Maun dibawa oleh seorang opas. Ketika mereka
itu sampai pada perhentian bendi di gelanggang pacuan kuda,
bertemu dengan Pendekar Sutan. Melihat Midun dan Maun
diiringkan opas, Pendekar Sutan sangat terkejut. Maka ia pun
bertanyakan hal itu kepada Midun. Midun menceritakan perkelahiannya
dengan Lenggang. Setelah sudah, Midun berkata,
katanya, "Hal ini janganlah Bapak beri tahukan dahulu kepada
orang di kampung. Manakala di dalam sepuluh hari ini tak ada
seorang jua di antara kami yang pulang, barulah Bapak
ceritakan hal kami ini."
"Baiklah!" jawab Pendekar Sutan dengan cemasnya, karena
ia maklum dari mana asalnya maka terjadi perkelahian itu.
"Syukurlah, engkau kedua tidak binasa. Saya belum akan
pulang, karena saya hendak menantikan kabarnya. Jika dalam
sepekan ini perkara ini belum juga diperiksa, baru saya pulang
ke kampung. Engkau kedua jangan khawatir, karena sipir dan
beberapa tukang kunci* (Opas Penjara) penjara berkenalan
dengan saya. Biarlah, besok saya temui dia ke penjara akan
mempertaruhkan engkau, supaya jangan diganggu orang di
dalam penjara."
Midun dan Maun terus dibawa ke penjara. Mereka kedua ditahan
di sana, sementara perkaranya belum diputuskan. Empat
hari sesudah peralatan, Midun dan Maun mulai diperiksa oleh
jaksa. Dalam pemeriksaan yang pertama itu, nyata bahwa Maun
tidak campur apa-apa. Oleh jaksa Maun diizinkan pulang, tetapi
manakala dipanggil harus datang sebagai saksi. Maka Maun
pulanglah bersama Pendekar Sutan yang sengaja menanti
kabarnya.
8. Menjalani Hukuman
SETELAH dua bulan lebih kemudian daripada itu, Maun terpanggil
datang ke Bukittinggi. Maka iapun datanglah bersamasama
dengan Pak Midun, Haji Abbas, dan Pendekar Sutan yang
hendak mendengar keputusan perkara itu.
Tiga hari berturut-turut Landraad memeriksa perkara itu
dengan hemat. Pada hari yang keempat, baru dijatuhkan
hukuman masing-masing. Midun dihukum enam bulan. Sebab
menjalankan hukuman. Hukuman itu dijalankannya tidak di
Bukittinggi, melainkan di Padang. Lenggang dihukum setahun
penjara dan dibuang ke Bangkahulu. Ia disalahkan mengamuk,
karena pisaunya berlumur darah.
Setelah Midun keluar dari kantor Landraad, diceritakannyalah
kepada ketiga bapaknya, bahwa ia dihukum ke Padang
lamanya empat bulan. Dan dikatakannya pula besoknya ia mesti
berangkat menjalankan hukuman itu. Midun meminta dengan
sangat kepada ketiga bapaknya itu menyuruh pulang hari itu
juga, jangan ia diantarkan ke stasiun besoknya. Permintaan itu
dikabulkan oleh mereka itu. Pak Midun berkata dengan air mata
berlinang-linang, katanya, "Baik-baik engkau di negeri orang,
Midun! Ingat-ingat menjaga diri! Engkau anak laki-laki, sebab
itu beranikanlah hatimu. Mudah-mudahan janganlah hendaknya
kurang suatu apa engkau menjalankan hukuman. Jika engkau
sudah bebas, lekas pulang. Segala nasihat kami yang sudahsudah,
pegang erat-erat, genggam teguh-teguh."
Baru sekian perkataan Pak Midun, air matanya sudah bercucuran.
Ia tidak dapat lagi meneruskan perkataannya, karena
amat sedih hatinya bercerai dengan anaknya yang sangat
dikasihinya itu. Sambil bersalam dengan Midun, lalu didekapnya
anaknya. Ia pun berjalan dengan tidak menengok-nengok lagi
ke belakang ke lepau tempat ia menumpang. Demikian pula
Haji Abbas dan Pendekar Sutan, hanya sepatah-dua patah saja
menasihati Midun. Setelah bermaaf-maafan, mereka itu berjalan
dengan sedih yang amat sangat.
Hancur luluh hati Midun ketika ditinggalkan ketiga bapaknya
itu. Tetapi dengan kuat ia menahan hati, supaya air matanya
jangan keluar. Ketika Maun bersalam akan meminta maaf
kepadanya, iapun berkata, katanya, "Saudaraku Maun! Sekarang


kita akan bercerai. Nyawa di dalam tangan Allah, tidak tentu
besok atau lusa diambil yang punya. Siapa tahu perceraian kita
ini entah untuk selama-lamanya. Tetapi mudah-mudahan
janganlah hendaknya terjadi demikian. Lekas jua kita dipertemukan
Tuhan kembali."
Suara Midun tertahan karena menahan sedih. Air matanya
bercucuran, seolah-olah tidak sanggup ia bercerai dengan
sahabatnya yang akrab sejak dari kecil itu. Kemudian Midun
menyambung perkataannya pula, katanya, "Sejak kecil kita
bergaul, belum pernah engkau mengecewakan hatiku. Dalam
segala hal hidup bertolong-tolongan, tidak pernah berselisih
paham, melainkan sepakat saja. Hanya saya yang banyak
berutang budi kepadamu. Perbuatanku selama ini terhadap
kepadamu, belum ada yang menyenangkan hati engkau. Saya
ulang sekali lagi akan menyatakan terima kasih saya tentang
perkelahian di pacuan kuda itu. Jika engkau tidak menangkap
pisau teman Lenggang, barangkali jiwaku melayang, karena
saya ditikamnya dari belakang. Untung engkau selalu ingat dan
dapat menangkis. Jadi adalah seakan-akan jiwaku yang
seharusnya telah bercerai dengan badanku, engkau pulangkan
kembali.
Lain daripada itu, Maun! Ibu bapakmu ialah ibu bapak saya.
Thu bapakku saya harap engkau sangka ibu bapakmu pula.
Bagaimana engkau mengasihi ibu bapakmu, begitu pula hendaknya
kepada orang tuaku. Engkaulah yang akan mengulangulangi
beliau selama saya jauh dari kampung. Jangan engkau
perubahkan, buatlah seperti di rumahmu sendiri di rumah ibu
bapakku. Sekianlah petaruh saya kepadamu kembali. Sambutlah
salamku dan maafkanlah saya, Saudara!"
Maun tidak dapat menjawab perkataan sahabatnya itu,
karena sudah didahului oleh air mata yang tak dapat ditahannya
lagi. Ia menangis, hatinya remuk dan sedih amat sangat.
Setelah beberapa lamanya mereka itu bertangis-tangisan, berkatalah
Maun dengan putus-putus suaranya, "Saya membela
sanakku, tidak usah engkau meminta terima kasih pula.
Kesalahanmu tidak ada kepadaku. Jika tidak memikirkan ibu
bapak kita di kampung, tentu saya sama-sama terhukum
dengan engkau. Bukankah mudah saja saya menjalankan jawab
waktu ditanyai hakim, supaya dapat dihukum. Selamat jalan,
Saudara, beranikanlah hatimu!"
Maun mengambil tangan Midun, kemudian dilekaskannya,
lalu berjalan lekas-lekas mengikuti Pak Midun ke lepau nasi
tempat mereka itu menumpang. Dengan tidak menoleh-noleh
ke belakang, ia berjalan terhuyung-huyung, karena sedih hatinya.
Hari itu juga keempatnya terus pulang ke kampung.
Mereka itu berjalan kaki saja, sambil memperbincangkan hal
Midun. Tetapi Pak Midun sepanjang jalan tidak berkata sepatah
juga pun. Hancur luluh hatinya mengenangkan perceraian
dengan anak kesayangannya itu. Amat sakit hatinya memikirkan
apa dan siapa yang menyebabkan perceraian dengan anaknya
itu. Demikianlah hal mereka itu sampai pulang.
Hal Midun dihukum itu tersiar di kampungnya. Segala orang
di kampung itu amat bersedih hati kehilangan Midun, seorang
anak muda yang baik hati dan sangat dicintai oleh segala orang
di kampungnya. Banyak orang di kampung itu yang menyangka
bahwa Midun dihukum itu tak dapat tiada bertali dengan si
Kacak musuhnya. Sejak itu orang di kampung itu semakin benci
kepada kemenakan Tuanku Laras itu. Melihat mukanya saja
orang amat jijik, dan kalau bertemu sedapat-dapatnya
dihindarkannya. Tetapi Kacak mendengar kabar itu sangat
bergirang hati. Orang yang dibencinya tak ada lagi. Kalau ia
bercakap-cakap dengan kawannya, selalu ia berjujat tentang
perangai Midun. Dikatakannya bahwa Midun seorang-orang
jahat, kalau tidak masakan dihukum. Tetapi di dalam hati
Kacak merasa berang dan kesal, karena Midun tidak sampai
tewas nyawanya dalam perkelahian di gelanggang pacuan kuda
itu.
Midun sangat bersedih hati, karena ia akan meninggalkan
negerinya. Makin remuk redam lagi hati Midun, karena ia tidak
dapat menemui bunda dan adik-adiknya yang sangat dikasihinya
itu lebih dahulu. Sepanjang jalan ke penjara pikirannya tidak
bertentu saja. Sebentar begini, sebentar pula begitu
mengenangkan nasibnya yang malang itu. Kadang-kadang besar
dan suka hati Midun dihukum, karena ia dapat menghindarkan
musuhnya yang berbahaya itu. Jika ia di kampung juga, boleh
jadi hidupnya lebih celaka lagi. Bermusuh dengan seorang kaya,
keluarga orang berpangkat dan bangsawan tinggi pula, tentu
saja mudah ia binasa. Asal Midun lengah sedikit saja, tentu
Kacak dapat menerkam mangsanya. Sebelum Midun lenyap di
dunia ini, tidaklah Kacak akan bersenang hati. Makin dikenang
makin jauh, makin dipikirkan makin susah. Dengan pikiran
demikian itu, lain tidak hasilnya sedih dan pilu, padahal
nasibnya takkan berubah, tetap begitu juga. Maka Midun pun
membulatkan pikirannya, lalu berkata di dalam hatinya, "Ah,
sudahlah, memang adat laki-laki sudah demikian. Tiap-tiap
celaka ada gunanya. Tidak guna saya sesalkan, karena hal ini
kemauan Tuhan dan kehendak Allah jua."
Pagi-pagi waktu Midun akan berangkat, ia memohonkan perlindungan
Tuhan, hubaya-hubaya selamat dalam hidup yang
akan dijalaninya itu. Ketika itu hari masih gelap, kabut amat
tebal. Angin tak ada, burung-burung seekor pun tidak
kedengaran berbunyi, seolah-olah bersedih hati pula akan
bercerai dengan Midun. Fajar mulai menyingsing di sebelah
timur, tetapi amat suram, cahaya. Maka turunlah hujan rintikrintik,
angin berembus sepoi-sepoi basa. Segalanya itu seakanakan
berdukacita melepas orang muda yang amat baik hati itu,
yang barangkali entah lama lagi akan dapat menjejak tanah
airnya kembali. Tidak lama datanglah seorang opas, Gempa
Alam namanya, yang akan mengantarkan Midun ke Padang hari
itu. Baru saja opas itu datang, Midun berkata, "Apa kabar,
Mamak? Sekarang saya berangkat ke Padang?"
"Ya, kita sekarang berangkat, sudah siapkah Midun?" ujar
Gempa Alam, sebagai orang yang telah kenal kepadanya,
"kereta api berangkat pukul tujuh, sekarang sudah setengah
tujuh lewat."
"Sudah, Mamak," jawab Midun dengan pendek.
"Kalau begitu, marilah kita berangkat sekarang juga.
Sebetulnya Midun harus saya belenggu, karena begitu perintah
saya terima. Tapi sudah tiga hari Midun saya kenali, saya
jemput dan saya antarkan waktu perkara, nyata kepada saya
bahwa Midun seorang yang baik. Saya percaya Midun tidak akan
melarikan diri. Oleh sebab itu tadi sudah saya pohonkan kepada
sipir, supaya engkau jangan dibelenggu ke Padang. Karena saya
berani menjamin atau menanggung bahasa Midun tidak akan
lari, permintaan saya itu dikabulkan oleh sipir."
"Mamak bukankah sudah tahu bagaimana duduknya
perkaranya. Tentang akan melarikan diri itu, janganlah Mamak
khawatirkan. Sedikit pun tidak ada kenang-kenangan saya
dalam hal itu. Apa yang seolah digerakkan Tuhan atas diri saya,
harus dan wajib saya terima dengan segala suka hati.
Kemurahan Mamak itu, asal tidak akan merusakkan kepada
pekerjaan Mamak, saya ucapkan terima kasih banyak-banyak."
"Midun, jika saya menaruh khawatir kepadamu, dengan
tidak bertanya-tanya lagi belenggu ini sudah saya lekatkan di
tangan Midun. Tetapi karena saya sudah maklum siapa dan
bagaimana engkau, saya pohonkan supaya jangan dibelenggu.
Marilah kita berangkat!"
Maka kelihatanlah Midun dengan seorang opas menuju ke
stasiun. Midun kelihatan sabar saja, sedikit pun tidak ada tanda
ia dalam bersedih hati. Kendatipun pikiran Midun sudah tetap,
tidak lagi akan mengenang-ngenangkan nasibnya, tetapi ketika
lonceng tiga berbunyi, lain benar perasaannya. Pikiran Midun
melayang kepada ayah bunda dan adik-adiknya. Tampaktampak
dalam pikiran Midun segala sahabat kenalannya di
kampung. Pada perasaannya ia meninggalkan kampung 4 bulan
itu, tak ubah sebagai seorang yang tidak akan balik-balik lagi
atau pergi meranto bertahun-tahun. Demikianlah kesedihan
yang selalu menggoda Midun, hingga dengan tidak diketahui
sudah dua buah halte kereta api terlampau.
Melihat muka Midun muram sebagai orang bersedih ha I i
Gempa Alam belas kasihan kepadanya. Akan menghalangkan
duka Midun, maka Gempa Alam berkata, "Midun, sekalipun saya
sudah maklum duduk perkara yang menghukum engkau ini,
ingin juga saya hendak mendengar dari mulutmu sendiri,
bagaimana asal mulanya perkara Midun berkelahi di pacuan
kuda, dan apa yang menyebabkannya. Cobalah ceritakan
kepada saya dari bermula sampai kita naik kereta api sekarang
ini."
"Saya dihukum ini tidak utang yang dibayar, dan tidak
piutang yang diterima, " ujar Midun memulai perkataannya.
"Saya adalah seorang yang teraniaya, Mamak. Dengarlah saya
ceritakan dari bermula sampai tamat. Setelah habis cerita
saya, akan nyata kepada Mamak, bahwa saya teraniaya. Cerita
saya ini tidak saya lebihi dan tidak pula dikurangi, melainkan
sebagaimana yang terjadi atas diri saya saja."
Maka Midun pun bercerita kepada Gempa Alam, mulai dari
ia berdua belas di masjid, sampai ia dihukum itu. Satu pun tak
ada yang dilampaui Midun, habis semua diceritakannya. Karena
asyik mendengar cerita itu, dengan tidak diketahuinya kereta
api sudah sampai di halte Kandangempat, lewat Padang
panjang. Baru saja Midun tamat bercerita, Gempa Alam mengangguk-
anggukkan kepala, sambil menarik napas panjang.
Kemudian ia berkata, "Ceritamu itu hampir bersamaan benar
dengan nasib saya semasa muda. Hanya saja pada permulaannya
yang agak berlainan sedikit. Sebab tidak tahan
hidup di kampung, sudah 15 tahun lamanya saya meninggalkan
negeri. Dalam 15 tahun itu belum pernah sekali jua saya menjejak
kampung tempat kelahiran saya. Amat banyak penanggungan
saya selama itu, macam-macam pekerjaan yang
telah saya kerjakan untuk mengisi perut sesuap pagi, sesuap
petang.
Sekarang sebagai engkau lihat sendiri, saya telah menjadi
komandan opas. Akan pulang ke kampung, takut... ya akan
dapat malapetaka pula, sebab yang memusuhi saya itu masih
memegang jabatannya."
"Mamak, kalau saya tidak salah umur Mamak sudah lebih 40
tahun," ujar Midun. "Selama Mamak hidup, tentu telah banyak
negeri yang Mamak lihat, dan sudah jauh rantau yang Mamak
jelang. Saya rasa tidak sedikit pengetahuan Mamak bertambah.
Tetapi saya, Mamak, umur baru setahun jagung, darah baru
setampuk pinang, pomandangan belum jauh, pendengaran
belum banyak, pengetahuan belum seberapa. Bahkan
meninggalkan kampung barulah sekali ini. Sebab itu saya berharap,
sudilah kiranya Mamak menceritakan hal Mamak itu.
Mudah-mudahan dalam cerita Mamak itu ada yang berguna
akan jadi teladan. Dengan cerita Mamak itu, tentu dapat saya
membandingkan, bagaimana saya harus menjalankan penghidupan
saya kelak."
"Baik, dengarkanlah!" ujar Gempa Alam. "Dahulu waktu saya
masih muda, pekerjaan saya berniaga kecil saja di pasar.
Dengan jalan demikian, dapat saya uang untuk pokok berniaga
yang agak besar. Dengan rajin dan sungguh serta hemat, saya
menjalankan periliagaan. Dalam dua tahun saja saya mendapat
untung yang bukan sedikit jumlahnya. Uang itu dapat saya
pergunakan untuk mengganti pondok orang tua saya dan pembeli
sawah. Saya telah menjadi saudagar, dan nama saya di
kampung sudah harum pula. Sungguhpun uang saya belum
seberapa, tetapi karena sudah sanggup mengganti rumah orang
tua dan membeli sawah, pada pikiran orang, saya sudah kaya
raya.
O ya, saya lupa, Midun! Ketika saya berniaga berkecil-kecil
itu, umur saya sudah 16 tahun. Waktu itu saya sudah beristri.
Sayang istri saya itu tidak lama umurnya. Belum cukup setahun
saya bergaul dengan dia, ia sudah meninggalkan dunia. la meninggal
itu karena kelulusan* (Beranak-muda, belum cukup bulannya),
dan kata setengah orang sebabnya, karena ia terlampau muda
kawin dengan saya. Perkataan orang itu boleh jadi benar,
karena waktu ia kawin, paling tinggi umurnya 13 tahun. Sejak
itu saya tidak mau kawin lagi. Saya beristri itu ialah karena
terpaksa saja. Tidak boleh saya mengatakan tidak mau, melainkan
mesti terima. Biarpun bagaimana saya mengatakan: saya
belum hendak kawin, tetapi mamak saya memaksa juga. Maka
demikian belum ada dalam pikiran saya hendak kawin, karena
ibu bapak saya orang miskin. Saya perlu membela ibu bapak
dan adik-adik saya dulu. Jika tidak saya tolong, tentu sengsara
penghidupan kami.
Nah, setelah istri saya meninggal, saya berusaha, sehingga
mencukupi untuk dimakan petang pagi, sebagai sudah saya
katakan tadi. Saya pun terus juga berniaga menjual barangbarang
hutan. Dengan permintaan kaum famili, saya mesti pula
kawin sekali lagi. 'Patah tumbuh, bilang berganti,' katanya, 'jika
tidak diganti malu kepada orang sekampung.' Permintaan itu
saya terima, karena penghidupan saya telah mencukupi. Maka
saya dikawinkan dengan seorang janda Tuanku Laras di negeri
saya. Amat banyak janda Tuanku Laras itu, Midun! Yang saya
ketahui masa itu, ada 15 orang. Padahal waktu itu ia baru 3
tahun diangkat menjadi Tuanku Laras. Jika sudah 20 tahun ia
memegang pangkatnya itu, entah berapa agaknya janda Tuanku
Laras itu. Ada yang karena diminta orang, ada pula yang karena
maunya sendiri. Manakala perempuan itu sudah beranak
seorang atau sudah bosan ia memakainya, lalu diceraikannya
saja. Tidak karena itu saja, kadang-kadang baru sebulan ia
kawin sudah talak, sebab ia hendak kawin lagi. Sebabnya, ialah
karena menurut agama hanya boleh beristri 4 orang. Jadi yang
empat orang itu selalu berganti tiap-tiap tahun. Jika boleh
beristri sampai 20 orang, barangkali hal itu akan terjadi pada
Tuanku Laras di negeri saya itu. Apa yang akan disusahkannya,
membelanjai tidak, membelikan pakaian istri pun tidak pula.
Dan Tuanku Laras itu, jika pulang kepada salah seorang istrinya,
disembah-sembah, dijunjung-junjung, sangat dihormati
oleh famili si perempuan itu. Yang tidak ada diadakan, dan
yang kurang dicukupkan, asal hati Tuanku Laras itu jangan tersinggung.
Segala janda Tuanku Laras itu, jarang yang bersuami lagi,
Midun! Orang takut akan ketulahan menggantikan istri rajanya.
Oleh sebab itu, kebanyakan janda Tuanku Laras itu janda
sampai tua, jarang yang bersuami lagi. Sebulan sudah kawin,
saya dipanggil berjaga ke kantor Tuanku Laras. Ketika itu
urusan perniagaan saya banyak benar. Sebab yang biasa boleh
diupahkan berjaga itu saya upahkan saja. Tetapi Tuanku Laras
tidak menerima, melainkan harus saya jalani sendiri. Berjaga
itu ialah sebagai berodi juga maksudnya. Tetapi menjaga
kantor itu, mengerjakan segala keperluan Tuanku Laras saja.
Apa yang disuruhkannya mesti diturut. Pendeknya kita jadi
budak benar-benar; lamanya seminggu. Ah, tak usah saya
sebutkan lagi apa yang dikerjakan di sana, Midun! Engkau
sendiri bukankah telah merasai sakitnya. Itu pun bagimu belum
seberapa. Bagi saya, Allah yang akan tahu, tidak kerja lagi yang
dikerjakan, tak ubah sebagai budak belian saya diperbuatnya.
Bukan main azab yang saya terima masa itu; ngeri saya
mengenangkannya. Tidak dari Tuanku Laras saja, lebih-lebih
lagi dari familinya. Karena tidak tertahan, lebih dari azab api
neraka rasanya, saya pun gelap mata. Saya... mengamuk,
Midun! Seorang dari pada kemenakan Tuanku Laras itu saya
tikam, untung tidak mati. Dan saya dihukum ke Padang,
lamanya setahun. Tahukah Midun, apa sebab saya dibuatnya
demikian?"
"Tahu, Mamak," ujar Midun, "tentu saja karena Mamak
berani menggantikan janda Tuanku Laras itu."
"Benar demikian," ujar Gempa Alam pula, lalu meneruskan
ceritanya. "Ini neraka yang kedua lagi, Midun! Engkau tentu
akan merasai pula nanti. Di dalam penjara, tidak sedikit pula
cobaan yang diterima. Siapa berani, siapa di atas. Jika kita
berani, adalah agak disegani orang sedikit. Tetapi siksaan
tidaklah kurang karena itu. Sedikit-sedikit kaki tiba di rusuk.
Terlambat sedikit saja, kepala kena gada. Jika berbuat
kesalahan, kita dipukul dengan rotan. Tidak ubahnya mereka
sebagai memukul anjing saja. Tidak penjaga penjara saja yang
mengazab kita, tetapi sama-sama orang hukuman pun begitu
pula. Ada kalanya kita diadu pegawai penjara sebagai ayam.
Sungguh, bengis dan ganas benar penjaga-penjaga penjara itu.
Tidak sedikit jua berhati kasih mesra kepada sesama makhluk.
Sudah berpancaran tahi orang, air ludah membuih keluar kena
sepak terajang, tidak dipedulikan mereka, melainkan terus saja
disiksanya. Sungguhpun demikian, janganlah Midun gusar. Boleh
jadi sekarang, segala perbuatan yang bengis itu tidak ada lagi.
Kalau ada sekalipun Midun jangan khawatir, beranikan hati
tetapkan iman, insya Allah selamat. Apalagi Midun saya lihat
seorang anak muda yang tangkas, takkan mudah diperbuat
orang semau-maunya saja. Sekali lagi saya katakan, beranikan
hatimu, jangan takut menentang bahaya apa pun jua. Tunjukkan
tanda engkau laki-laki, bila perlu."
Gempa Alam terkenang waktu ia di penjara dahulu. Amat
sedih hatinya melihat Midun, anak muda yang remaja itu akan
menanggung sengsara sebagai dia dahulu pula. Gempa Alam
mengetahui, bahwa sampai masa itu di dalam penjara di
Padang masih dijalankan orang keganasan yang demikian lebihlebih
lagi kepada orang hukuman yang datang dari sebelah
Darat. Hanya ia mengatakan "barangkali sekarang tidak lagi"
kepada Midun, untuk menyenangkan hati Midun saja. Dengan
tidak diketahui, air mata Gempa Alam berlinang memikirkan
Midun, seorang anak yang baik hati dan berbudi pekerti itu.
Hampir-hampir keluar dari mulut Gempa Alam perkataan,
"Lebih baik lari saja, Midun!" Sedang Gempa Alam berpikirpikir,
Midun berkata, katanya, "Atas nasihat Mamak, saya
ucapkan banyak-banyak terima kasih. Jangan Mamak khawatir
melihat saya. Saya maklum bahwa Mamak bersedih hati, lain
tidak karena kasihan kepada saya akan masuk penjara, dan
akan merasai seperti yang telah Mamak tanggungkan dahulu.
Tentang diri saya tidak usah Mamak cemaskan, barangkali saya
tidak akan demikian benar diperbuat orang. Tuhan ada bersama
kita, tentu saja ia akan melindungi yang tidak bersalah. Jika
telah tumbuh baru kita siangi, sebab itu tidak ada gunanya hal
itu kita pikirkan sekarang."
Baru habis Midun berkata, kedengaran condecteur berseru,
"Padang; karcis!"
Mereka kedua sudah hampir di stasiun Padang. Tidak lama
kereta berhenti.
"Di sini kita turun, Mamak?-" ujar Midun.
"Tidak," jawab Gempa Alam, "kita turun di Pulau Air. Kalau
di sini kita turun, jauh lagi ke penjara. Tetapi dari stasiun
Pulau Air hanya kira-kira 10 menit perjalanan."
Setelah sampai di stasiun Pulau Air, mereka keduapun
turunlah. Sebelum pergi ke penjara, Gempa Alam mengajak
Midun pergi makan ke lepau nasi. Sudah makan, Gempa Alam
berkata, "Sekarang engkau terpaksa dibelenggu. Jika tidak,
boleh jadi saya celaka. Tentu saja saya dipandang sipir lalai,
atau mengabaikan pekerjaan."
"Baik, Mamak," ujar Midun, "karena saya, jangan hendaknya
terbawa-bawa Mamak pula."
Midun dibelenggu oleh Gempa Alam. Ketika rumah penjara
itu kelihatan oleh Gempa Alam, darahnya berdebar. Midun
tersirap pula darahnya melihat rumah itu, tetapi lekas ia menghibur
hati, sambil berkata, "Inikah penjara itu Mamak? Pantas
Mamak katakan neraka No. 2, karena hebat sungguh rupanya."
Gempa Alam tidak menyahut, sambil berjalan pikirannya
entah ke mana. Sampai di penjara, Gempa Alam memberikan
surat kepada sipir. Setelah selesai, ia bersalam dengan Midun
akan memberi selamat tinggal. Kemudian Gempa Alam pun
pergi. Sepanjang jalan tampak-tampak oleh Gempa Alam
bahaya apa yang akan menimpa Midun dalam penjara.
"Sambut, si pengamuk datang dari Darat," demikianlah seru
sipir kepada tukang kunci yang tengah berdiri di pintu rumah
penjara itu.
Midun mengerti apa maksud perkataan itu, karena
dilihatnya sipir itu berkata keras dan gagah. Sebab itu Midun
berlaku ingat-ingat, lalu masuk ke dalam.
"Ha, ha! Belum lagi tumbuh rambut di ubun-ubunmu, sudah
berani mengamuk," kata tukang kunci dengan bengis sambil
mengejekkan. "Berani sungguh ...." Pap, Midun melompat
mengelakkan sepak yang sekonyong-konyong datangnya itu.
"Benar, tangkas, nanti kita coba," ujar tukang kunci pula
dengan bengis, sebab Midun berani mengelakkan sepaknya.
"Ayoh, masuk ke dalam kamar ini, tukar pakaian, dan uangmu
mari sini semua!"
Sesudah belenggunya dibuka tukang kunci, dengan segera
Midun mengambil uang dalam saku baju, banyaknya Rp 15,- lalu
diberikannya kepada tukang kunci itu. Pakaiannya ditukar
dengan pakaian orang hukuman. Setelah itu Midun menurutkan
tukang kunci dari belakang. Sampai di muka kamar, tukang
kunci berkata pula, "Masuk, binatang! Lekas, anjing!"
Mendengar perkataan itu tak dapat yang akan dikatakan
Midun, karena sangat pedih hatinya. Tetapi ia terpaksa berdiam
diri saja, lalu masuk ke dalam kamar itu. Setelah kamar
dikuncikan, maka tukang kunci itu berjalan, lalu berkata, "Hatihati
engkau, berani mengelakkan kaki saya."
Midun dimasukkan ke dalam kamar sempit berdinding batu.
Dekat pintu masuk ada sebuah jendela kecil yang berterali
besi. Di dalam kamar itu ada sebuah bangku tempat duduk.
Midun berkata dalam hatinya, "Aduhai, tak ubah saya sebagai
perampok baru ditangkap. Bagaimanakah akan tidur di dalam
kamar sebesar ini? Akan duduk sajakah saya siang malam di
sini? Akan dipengapakannyakah saya, maka disuruhnya hatihati?"
Berkacau-balau pikiran Midun waktu itu. Tidak tentu apa
yang akan dibuatnya, karena ia belum mengerti apa maksud
orang atas dirinya. Dengan hal begitu, tiba-tiba terdengar pula
suara orang, "Keluar!"
Biarpun tidak disuruh, ketika pintu terbuka Midun hendak
keluar juga, karena sangat panas dan pelak di dalam kamar itu.
Tidak saja panas, tetapi napasnya berasa sesak sebab bau
busuk. Sampai di luar dilihatnya berpuluh orang hukuman
bertinggung berjajar. Dengan tolakan yang amat keras, Midun
disuruh pula bertinggung bersama orang-orang hukuman itu.
Setelah disebutkan sipir nama masing-masing, lalu semuanya
disuruh berdiri mengambil perkakas. Ketika Midun hendak
berdiri pula, datang seorang hukuman melandanya dari
belakang, hampir saja ia tersungkur. Karena Midun tahu bahwa
ia dilanda itu dengan sengaja, ia pun berkatalah, "Lihat orang
sedikit, Mamak, kita sama-sama orang hukuman, tidak baik
begitu!"
Midun tidak tahu bahwa orang tempat ia berkata itu,
seorang yang telah masyhur karena keberaniannya. Sebelum
kamar itu terbuka, orang itu sudah disuruh oleh sipir akan
mencobanya. Maka ia pun berkata dengan geramnya, "Hai, anak
kecil, berani engkau berkata begitu kepadaku?"
Belum habis ia berkata, orang itu melompat sambil
menerjang lalu menangkap Midun hendak dihempaskannya.
Midun menyambut dan mengelak badan, sambil merendahkan
diri ia melompat ke tempat yang lapang. Orang hukuman yang
banyak lalu menepi akan melihat perkelahian itu. Orang itu
menyerang pula sekali lagi, menumbuk dan menyepak dengan
sekaligus. Midun merendah, menyebelah diri menangkis, lalu
membuang langkah arah ke kiri. Orang itu tertumbuk ke
tonggak lampu, karena deras datangnya. Sudah dua kali ia
hendak mengenai Midun, tetapi sia-sia. Mukanya merah karena
marah, sebab Midun masih anak muda dan dia sudah
termasyhur berani. Sambil tertawa, sipir berkata, "Cobalah,
Ganjil, sekarang engkau sudah bertemu dengan lawanmu.
Sungguhpun anak muda, tetapi lada padi, cabe rawit, kata
orang Betawi."
Midun maklum, bahwa ia diadu orang. Nyata kepadanya si
Ganjil itu disuruh sipir. Ia ragu-ragu, karena terpikir olehnya
orang itu sudah agak tua, dan karena tersuruh oleh kepala
penjara. Tetapi melihat si Ganjil itu sungguh-sungguh hendak
membinasakan dia, terpaksa ia mesti melawan untuk
memelihara akan diri. Timbul pula pikiran Midun, bahwa ia
sama-sama orang hukuman, dan perlu pula memperlihatkan
lelaki-lakiannya sedikit. Sebab itu Midun bersiap menanti
serangan, seraya berkata, "Rupanya kita diadu sebagai ayam,
apa boleh buat, datangilah!"
Si Ganjil mengendangkan tangan ke muka dan dengan lekas
ia menyerang, sebab marahnya amat sangat. Dengan membabi
buta ia mendesak Midun. Midun selalu menyalahkan serangan
Ganjil, satu pun tidak ada yang mengena. Kemudian Midun
berkata, "Tahan pula balasan dari saya, Mamak."
Dengan tangkas Midun menangkis serangan Ganjil, lalu
mengelik seakan-akan merebahkan diri. Kemudian sebagai kilat
kaki Midun... pap, Ganjil tertelentang tidak, bergerak lagi,
karena tepat benar kenanya. Segala orang hukuman itu
tercengang dan amat heran melihat ketangkasan Midun
berkelahi. Sipir dan segala tukang kunci takjub, karena belum
pernah mereka melihat anak muda yang setangkas itu. Sambil
berjalan, sipir berkata, "Tunggu sampai besok, boleh ia rasai."
Ganjil dipapah orang ke kamarnya, dan Midun disuruh
masuk ke dalam sebuah kamar lain, tetapi tidak kamar yang
mula-mula tadi. Kamar itu agak lapang, di dalamnya ada
sebuah pangkin, yang luas dengan tikar. Sampai di kamar itu,
Midun menarik napas lalu berkata sendirinya, "Ya Allah,
peliharakan apalah kiranya hambaMu ini. Telah engkau
lepaskan saya dari bahaya yang pertama, begitulah pula
seterusnya hendaknya. Sedih hatiku melihat si Ganjil saya
kenai, tetapi apa boleh buat karena terpaksa. Kalau begini,
tentu bermacam-macam siksaan yang akan saya terima..."
Petang hari itu Midun tidak diganggu-ganggu orang. Kira-kira
pukul lima, diantarkan orang nasi. Melihat nasi dengan lauknya
itu, hampir Midun muntah. Nasinya kotor dan merah kehitamhitaman.
Di atas nasi itu ada sepotong daging setengah masak
dan garam sedikit. Baru saja Midun menggigit daging itu, ia
telah muntah. Daging itu tidak masak dan masih berbau. Tetapi
karena perut Midun sudah meminta hendak makan, dimakannya
juga nasi itu dengan garam, sekalipun kersik dalamnya hampir
sama banyak dengan nasinya. Setelah hari malam, Midun
tinggal seorang diri di dalam kamar itu. Lampu tidak ada, sebab
itu ia bergelap-gelap saja. Tetapi tiadalah gelap benar, karena
ada juga cahaya lampu dari luar melalui antara terali besi.
Malam itu Midun tak dapat tidur sekejap jua pun, karena
hatinya tidak senang sedikit jua. Perkelahian hari itu tak dapat
dilupakan Midun.
"Musuhku sudah bertambah seorang lagi; " pikir Midun. "Tak
dapat tiada, Ganjil dendam kepadaku. Jika saya lengah, tentu
binasa. Saya harus ingat-ingat dalam hal apa juapun. Ah,
sungguh malang benar saya ini. Di kampung badan tidak
senang, di sini makin susah lagi."
Setelah lonceng berbunyi dua kali, barulah Midun dapat
menutupkan matanya. Bermacam-macam mimpi yang menggoda
Midun malam itu. Sebentar-sebentar ia terbangun. Kirakira
pukul lima, kedengaran pintu kamarnya dibuka orang.
Midun segera duduk, takut kalau-kalau musuh yang datang.
"Keluar, ambil ransum!" ujar tukang kunci yang menerima
dia kemarin juga.
Midun keluar, lalu berbaris dengan orang-orang hukuman.
Maka Midun mencari Ganjil dengan matanya, musuhnya
kemarin di dalam orang hukuman yang banyak itu. Tetapi biar
bagaimana ia mencari, Ganjil tidak juga kelihatan. Maka
senanglah hatinya, karena pada pikiran Midun, tentu kakinya
kemarin memberi bekas, mati tidak boleh jadi. Atau boleh jadi
Ganjil dipisahkan, sebab belum semua orang hukuman yang
keluar. Midun membawa piring lalu pergi mengambil ransum.
Bukan main ganas tukang-tukang kunci itu. Mereka itu main
tempeleng, sepak, dan terajang saja kepada orang hukuman.
Terlambat sedikit atau kurang beratur berjalan, par,
tempelengnya telah tiba. Pendeknya, asal bersalah sedikit,
dengan tidak ampun lagi, kaki tiba di rusuk. Midun sendiri
dapat bagian pula, ketika ia terlambat mengambil piring
makan. Tidak ubah sebagai binatang segala orang hukuman itu
dibuat oleh pegawai penjara. Makin mengaduh makin disiksa,
jika melawan makin celaka lagi. Sudah meminta-minta ampun
orang kepadanya, tidak hendak berhenti mereka melekatkan
tangan. Midun amat belas kasihan melihat orang-orang
hukuman itu. Tetapi apa hendak dibuat, sedang nasibnya
sendiri belum tentu pula.
Sudah makan, segala orang hukuman itu tersinggung dan
berjajar pula. Nama masing-masing dipanggil sipir, dan harus
menyahut ".iya" bila sampai kepada namanya. Di sini pun tidak
sedikit pula orang hukuman kena terajang, hingga tersungkur
sampai mencium tanah. Manakala terlambat menyahut atau
tidak terdengar namanya dipanggil, pukulan sudah tiba di
pinggang. Kemudian segala orang itu diperiksa badannya. Tibatiba
kedapatan seorang hukuman menaruh uang 5 sen dan
rokok di dalam saku baju. Karena hal itu terlarang di dalam
penjara, orang itu lalu ditarik oleh tukang kunci. Setelah itu ia
diikatkan kepada sebuah tonggak, dan dibuka bajunya. Seorang
tukang kunci yang lain memegang sebuah rotan, lalu
membelasah orang hukuman itu pada punggungnya. Sampai ke
langit hijau agaknya orang hukuman itu memekik karena
kesakitan, tidak sedikit jua diacuhkan tukang kunci itu. Sesudah
dipukul, orang hukuman itu jatuh pingsan, tidak sadarkan
dirinya lagi. Midun tidak sanggup melihat penganiayaan yang
sangat ngeri itu. Entah hagaimana gerangan punggung orang itu
sesudah dipukul...
"Midun bekerja dengan mandor Saman!" ujar sipir setelah
habis nama orang hukuman itu disebutkan semuanya.
Seorang yang bermisai panjang datang menghampiri, sambil
memegang telinga Midun, ia berkata, "Ha, ha, anak ini yang
mengalahkan Ganjil kemarin, Engku?" katanya kepada sipir.
"Hati-hati engkau bekerja dengan saya, mengerti!" ujarnya pula
menghadap kepada Midun.
Midun diam saja, telinganya amat sakit ditarik mandor itu.
Jika dia tidak mandor, tentu Midun melawan agaknya. Mulamula
Midun disuruh mandor itu membongkar tahi di kakus.
Midun enggan mengerjakannya, tetapi karena ancaman,
dikerjakannya juga pekerjaan itu. Sehari-harian itu Midun
bekerja paksa. Tak sedikit jua ia dapat berhenti melepaskan
lelah. Asal saja ia berhenti sebentar, mandor itu sudah menghardik.
Diancamnya Midun dengan perkataan, manakala tidak
bekerja, hukumannya akan ditambah. Hanya waktu makan saja
ia dapat berhenti. Pekerjaan yang dikerjakan Midun sehari itu
pekerjaan berat dan hina pula. Seakan-akan sengaja orang ia
kerja paksa sehari itu. Petang hari Midun amat letih. Ketika
orang hukuman itu berbaris pula, Midun hampir tidak kuat
berjalan lagi. Sedang ia bertinggung, tiba-tiba datang seorangorang
yang besar tinggi kepadanya, lalu berkata, "Hai anjing,
berani engkau menggantikan tempat duduk saya? Ayoh, pergi!"
Mendengar perkataan orang itu, telinga Midun merah.
Sekalipun badannya sangat lesu, mendengar kata anjing itu
kembali kekuatannya, karena sakit hatinya. Orang itu berkata
dengan bahasa lain, sebab itu nyata kepadanya, bahwa orang
itu bukan orang Minangkabau. Apalagi orang itu sama-sama
orang hukuman dengan dia dan bukan bangsanya, makin bertambah
marah dan sakit hati Midun. Midun menjawab dengan
lantang suara, "Jangan begitu kasar, di sini tempat orang
hukuman." Dengan tidak menjawab lagi orang itu melompati
Midun, yang pada waktu itu masih bertinggung jua. Biarpun
Midun sudah letih, tetapi tidaklah kurang kekuatannya
menangkis serangan orang itu. Dia tidak mempermain-mainkan
musuh seperti dengan Ganjil kemarin. Setelah orang itu jatuh,
datang pula seorang lagi. Yang seorang tadi bangun lagi, lalu
berdua-duakannya melawan Midun. Kemudian jatuh pula sekali
lagi, tidak bangun kembali. Tetapi sudah datang pula kawannya
akan menggantikan. Sungguhpun demikian, Midun setapak tidak
undur. Tiga lawan satu, bukan main riuhnya dalam penjara itu.
9. Pertolongan dan Kalung Berlian
ALKISAH maka tersebutlah perkataan bahwa di dalam penjara
itu adalah bermacam-macam bangsa orang hukuman. Mereka
itu tidak ada yang kurang hukumannya dari setahun. Demikianlah,
di antara orang hukuman yang banyak itu ada seorang
Bugis, yang dapat hukuman seumur hidup. Namanya Turigi,
umurnya lebih kurang 50 tahun. Turigi adalah seorang yang
baik, sabar, dan ramah-tamah. Amat dalam ilmunya, dan
banyak pengetahuannya orang tua itu. Dalam hal agama Turigi
alim pula. Konon kabarnya ia seorang bangsawan di negerinya,
dan menjadi penasihat dan dukun. Tetapi kalau ia marah, tak
ada yang berani bertentangan dengan Turigi. Agaknya entah
karena ia dibuang selama hidup itu gerangan. Jika Turigi marah
tidak membilang lawan dan tidak takut kepada siapa pun jua.
Segala orang hukuman itu takut kepada Turigi. Bukan karena
beraninya saja ia ditakuti orang, tetapi terutama ialah karena
sudah orang tua; kedua, dalam pengetahuannya; dan ketiga,
amat baik budi pekertinya. Sipir penjara itu sendiri segan
kepada Turigi, apalagi tukang kuncinya. Sebab itu Turigi di
dalam penjara tidak ada yang berani memerintahi, dan ia
bekerja sesuka-suka hatinya saja. Sekalipun Turigi orang
hukuman, tapi keadaannya di penjara tidak ubah seperti di
rumahnya sendiri, bahkan lebih agaknya. Makannya dilainkan,
diberi tempat tidur yang baik, dan lain-lainnya. Pendeknya,
segala keperluan Turigi dicukupkan.
Ketika Midun berkelahi dengan Ganjil kemarin, Turigi ada
pula melihat. Senang benar hati Turigi melihat orang muda
yang tangkas dan berani itu. Menurut ilmu firasatnya, Midun
seorang anak yang amat baik tingkah laku dan tertib sopannya.
Sebab itu ia amat heran, dan berkata dalam hati, "Apakah
sebabnya orang yang sebaik itu dapat hukuman? Kesalahan
apakah yang telah diperbuatnya? Kasihan, biarlah besok atau
lusa tentu saya ketahui juga kesalahan orang muda itu maka
dihukum. Ingin benar saya hendak berkenalan dengan dia."
Pada keesokan harinya dilihat Turigi, Midun bekerja paksa.
Hampir-hampir tidak terderita oleh Midun pekerjaan yang di
kerjakannya itu. Apalagi melihat Midun mengerjakan pekerjaan
yang amat hina, timbul kasihan Turigi. Tampak nyata oleh


Turigi, Midun hampir tidak kuat lagi menahan siksaan pegawai
penjara. Melihat hal itu, Turigi menarik napas, akan melarang
tidak berani, karena dia sendiri orang hukuman pula. Tetapi
melihat Midun sudah payah bekerja sehari itu sekarang
dipersama-samakan orang pula, Turigi tak dapat lagi menahan
hati.
Pada pikiran Turigi, "Perbuatan itu tidak pantas, dan tidak
boleh dibiarkan. Seorang anak muda sesudah disiksa, disuruh
perkelahikan pula oleh tiga orang."
Dengan tidak berkata sepatah kata jua, Turigi melompat ke
tengah perkelahian itu. Ia berkata dengan geram, "Berhenti
berkelahi! Jika tidak, biar siapa saja saya patahkan batang
lehernya. Tidak adil!"



Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified