Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Sengsara Membawa Nikmat 2

Mendengar perkataan itu, segala orang hukuman menepi.

Sipir dan tukang kunci undur, karena melihat Turigi sangat

marah. Dari ketiga orang yang mempersama-samakan itu, dua

sudah jatuh dikenai Midun. Yang seorang lagi, ketika mendengar

suara Turigi, melompat lari. Orang itu sudah berniat

juga hendak lari, karena selalu kena saja tiap-tiap mendatangi

Midun. Maka ia melawan juga, hanyalah karena malu. Untung

benar ia, Turigi datang memisahkan perkelahian itu. Midun

tidak lari, ia tegak berdiri di.tengah medan perkelahian itu.

Amat heran ia melihat orang itu. Midun tidak mengerti, apa

sebabnya orang habis lari dan sipir, tukang kunci undur ke

belakang mendengar perkataannya.

"Siapakah orang ini?" kata Midun dalam hatinya. "Malaikatkah

atau manusiakah yang hendak menolong saya dalam bahaya

ini? Atau bapakku Haji Abbaskah yang terbang kemari hendak

menolong anaknya? Amboi, jika datang seorang lagi menyerang

saya, tak dapat tiada nyawaku melayang. Untung ... ia datang

menolongku."

Sedang pikiran Midun melayang-layang dan ragu-ragu

melihat orang tua itu, Turigi menghampiri Midun, lalu berkata,

"Apa anakkukah yang kena? Bapak lihat pucat benar!" Mendengar

perkataan itu semangat Midun rasa terbang. Pada

pikirannya, pasti bapaknyalah vang datang membela dia.

Pemandangan Midun tidak terang akan melihat benar-benar

rupa orang itu. Pertama hari sudah samar muka, kedua ia

sangat payah. Midun terduduk karena sangat lelah, lalu

berkata, "Tidak, Pak, hanya badan saya yang letih."

Turigi segera memangku Midun, lalu dibawanya ke

kamarnya. Midun pingsan, tiada tahu lagi akan dirinya. Dengan

perlahan ia ditidurkan Turigi di atas tempat tidur. Setengah

jam kemudian daripada itu, Midun mulai sadar. Ketika ia membukakan

mata, terlihat kepadanya cahaya terang. Ia merabaaba,

terasa olehnya bahwa ia tidur di atas kasur. Midun

menggerakkan kepala akan melihat sekeliling kamar itu. Tibatiba

tampak kepadanya seorang tua sedang sembahyang.

"Hai, bermimpikah aku ini?" pikir Midun dalam hatinya. "Di

manakah saya sekarang? Siapakah yang membawa saya kemari?"

Midun menggosok mata, seolah-olah tidak percaya kepada

matanya. Biar bagaimana juga Midun menggosok mata, tetapi

pemandangannya tetap demikian juga, tiada berubah. Dengan

segera Midun bangun, lalu duduk. Dilihatnya orang tua itu

sudah sembahyang. Maka Midun pun berkatalah, "Di manakah

saya ini, Bapak?"

Turigi menyahut, katanya, "Di penjara, tetapi sama juga

dengan di rumah sendiri, bukan? Sudah baik benarkah, Anak?"

"Sudah, Bapak," ujar Midun. "Siapakah Bapak dan mengapa

Bapak di sini?"

"Bapak ini orang hukuman, sama juga dengan Anak," ujar

Turigi. "Tetapi bapak dihukum selama hidup. Bapak bukan

orang sini, negeri bapak di Bugis. Sudah sepuluh tahun dengan

sekarang, bapak dibuang kemari. Sebab itu bapak pandai

berbahasa orang sini. Nama Anak siapa dan orang mana?

Apakah kesalahan Anak, maka sampai kemari?"

Midun baru insaf, di mana dia dan dengan siapa ia

berhadapan. Tahulah ia, bahwa orang tua itulah yang memisahkan

perkelahian tadi. Midun berkata pula katanya, "Nama saya

Midun, negeri saya di Bukittinggi. Sebabnya saya kemari, sekalikali

tidaklah kesalahan saya, Bapak."

Maka Midun menceritakan hal ihwalnya kepada Turigi sejak

bermula sampai ia dimasukkan ke dalam penjara itu. Setelah

tamat Midun bercerita, Turigi mengangguk-anggukkan kepala.

Ia sangat belas kasihan kepada Midun, karena masih muda

sudah menderita siksa dan malapetaka yang demikian. Tibatiba

Midun berkata pula, katanya, "Saya amat heran, Bapak!

Ada pulakah hukuman selama hidup? Apakah kesalahan Bapak,

maka dapat hukuman yang amat berat itu?"

"Bapak dihukum selama hidup, ialah karena terdakwa membunuh

Kepala Negeri, ketika terjadi perusuhan di negeri bapak

dua belas tahun yang sudah!" ujar Turigi. "Sebelum bapak

dihukum, pekerjaan bapak jadi dukun dan menjadi ketua

kampung. Apa boleh buat Midun, karena sudah nasib bapak

demikian. Hanya sekian lama cerita bapak kepada Midun. Tak

ada gunanya bapak ceritakan panjang-panjang hal bapak,

karena menyedihkan hati saja, padahal nasib bapak akan tetap

begini juga. Di sini bapak sudah sepuluh tahun lebih. Selama di

dalam penjara ini telah banyak bapak melihat kejadiankejadian

yang menyedihkan. Siksaan dan ancaman pegawaipegawai

penjara di sini sungguh terlalu. Mereka berbuat

sekehendak hatinya saja kepada orang hukuman. Tidak ubah

sebagai binatang orang hukuman itu dibuatnya. Dirotan,

ditendang, ditinju, disegalamacamkannya saja. Orang hukuman

yang keluar dari sini agaknya jarang yang selamat hidupnya.

Sebab itu bapak harap kepada Midun, ingat-ingat menjaga diri.

Jangan Anak lengah semenit jua. Bapak bersenang hati sungguh

melihat Midun. Bapak percaya, takkan dapat orang berbuat

semau-maunya saja kepadamu. Ganjil, yang berkelahi dengan

Midun kemarin, adalah seorang hukuman yang sangat berani.

Semua orang hukuman di sini takut kepada Ganjil. Kepada

bapak seorang ia agak segan sedikit. Tetapi Midun gampang

saja menjatuhkan Ganjil. Lebih-lebih ketika bapak melihat

perkelahian Midun tadi, sungguh heran benar hati bapak. Bapak

rasa tidak akan berani lagi orang mengganggu Midun, karena

sudah dilihat mereka sendiri dengan mata kepalanya bagaimana

ketangkasan Midun. Hanya yang bapak takutkan, Midun ditikam

orang dari belakang dengan tiba-tiba. Karena itu, hati-hatilah

menjaga diri yang akan datang."

"Nasihat Bapak itu saya junjung tinggi," ujar Midun. "Tentu

saya akan lebih ingat, karena musuh saya satu dua orang lagi di

penjara ini. Dan saya mengucapkan terima kasih banyak-banyak

atas pertolongan Bapak tadi. Jika Bapak tidak datang memisahkan

perkelahian itu, boleh jadi saya tewas karena tidak satudua

orang yang menyerang saya. Apalagi dari pagi sampai

petang saya selalu bekerja paksa."

Sejak terjadi perkelahian itu, Midun sudah agak senang

bekerja sedikit. Sekalipun berat, tetapi tidak mengerjakan

pekerjaan yang hina lagi. Sebab sudah biasa dari sehari kemari,

tidak lagi terasa berat oleh Midun. Orang hukuman seorang pun

tak ada pula yang berani mengganggunya. Biar bagaimana jua

pegawai penjara mengasut akan berkelahi dengan Midun,

mereka tidak mau. Apalagi Midun dengan Turigi sudah seperti

anak dengan bapak, makin menambah takut orang kepada

Midun. Setiap petang Midun datang kepada Turigi belajar ilmu

obat-obatan dan lain-lain yang berguna kepadanya kelak.

Demikianlah pekerjaan Midun tiap-tiap hari.

Pada suatu hari, kira-kira pukul sebelas lewat, Midun dudukduduk

dengan Turigi, karena sudah hampir waktu makan. Tibatiba

kelihatan oleh Midun seseorang dibelenggu masuk penjara.

Darah Midun tersiap pula, karena orang itu ialah Lenggang yang

akan dikirim ke negeri tempatnya menjalankan hukuman.

Menanti kapal mesti Lenggang bermalam di penjara. Ia terus

dimasukkan tukang kunci ke dalam sebuah kamar. Midun tidak

kelihatan olehnya waktu masuk ke dalam. Ketika Lenggang

dibawa tukang kunci, Midun berkata kepada Turigi, "Bapak!

Itulah orang yang hendak membinasakan saya di pacuan kuda

Bukittinggi dahulu. Rupanya baru sekarang ia dikirim ke negeri

tempatnya dibuang."

Ketika Turigi melihat Lenggang itu, timbul pikirannya

hendak bertanya, bagaimana pikiran Midun terhadap kepada

musuh yang hampir menewaskan nyawanya itu. Turigi berkata,

katanya, "Midun, orang itu barangkali ada seminggu di sini

menanti kapal. Jika engkau hendak membalaskan sakit hatimu,

sekaranglah waktunya. Maukah engkau, boleh bapak katakan

kepada tukang kunci?"

"Kasihan, Bapak, jika begitu tentu dia jatuh ditimpa tangga,

dalam basah kehujanan pula," ujar Midun. "Sungguhpun ia

seorang jahat, tetapi sekarang tentu ia menyesal atas perbuatannya

itu. Ia bukan musuh saya, melainkan karena makan

upah. Sebab tamak akan uang, mau ia membunuh orang.

Sekarang ia tentu menyesal amat sangat, dibuang sekian lama

ke negeri lain, meninggalkan negeri tumpah darahnya. Jika

saya hendak membalas tentu boleh, tetapi tak ada angan-angan

saya macam itu. Cukuplah sudah ia menerima hukuman atas

kesalahannya karena loba akan uang, tidak usah ditambah lagi."

Turigi terdiam diri mendengar perkataan Midun. Dalam

hatinya ia amat memuji pikiran Midun yang mulia itu. Sudah

hampir sebulan Turigi bergaul dengan dia nyata kepadanya,

bahwa Midun, biarpun masih anak muda, amat baik dan lanjut

pikirannya. Sedang Turigi berpikir-pikir itu, datang tukang

kunci kepada Midun, mengatakan ada opas dari Bukittinggi

hendak bertemu sebentar dengan dia. Midun maklum, tak

dapat tiada Gempa Alam yang hendak bertemu itu. Ia segera

keluar mendapatkan Gempa Alam.

"Saya kira engkau telah mati, Midun, kiranya tidak kurang

suatu apa," ujar Gempa Alam. "Adakah selamat saja engkau di

sini?"

"Berkat doa Mamak, insya Allah adalah baik saja, " ujar

Midun. Karena Midun hanya diizinkan sebentar saja boleh bertemu,

dengan ringkas saja ia menceritakan penanggungannya

selama di dalam penjara Padang itu. Gempa Alam memuji dan

bersenang hati melihat Midun selamat. Kemudian diceritakan

Gempa Alam sesalan Lenggang telah menganiaya Midun.

Setelah itu Gempa Alam bersalam memberi selamat tinggal.

Keesokan harinya pagi-pagi, sedang Midun menyapu di

dalam penjara, dilihatnya Lenggang sudah berkelahi dengan

Ganjil. Midun berhenti menyapu, karena ingin hendak melihat

Lenggang berkelahi, seorang yang sudah masyhur jahat itu.

Dalam perkelahian itu Lenggang amat payah. Tiap-tiap

Lenggang mendatangi Ganjil, selalu ia jatuh. Sungguhpun

demikian, Lenggang tak ubah seperti orang kebal. Setelah ia

jatuh, bangun dan menyerang pula. Demikianlah berturut-turut

beberapa kali. Ketika itu nyata kepada Midun, bahwa Ganjil

seorang yang tangkas, dan patut terbilang berani di penjara

itu. Melihat Lenggang jatuh dan tidak bergerak lagi kena kaki

Ganjil, Midun amat kasihan. Biarpun Lenggang musuhnya,

tetapi dapat ia menahin hati. Midun segera melompat, lalu

berkata, "Ini dia yang lawanmu, Ganjil! Mari kita ulang sekali

lagi, sebab tempo hari belum sam-sama puas hati kita!"

Ganjil menganjur langkah surut, sambil memandang kepada

tukang kunci yang melihat perkelahian itu dari jauh. Setelah itu

dengan tidak berkata sepatah jua, Ganjil berjalan. Ia tidak

berani lagi bertentangan dengan Midun, sebab sudah dirasainya

bekas kaki orang muda itu bulan yang lalu. Midun dengan

segera mengambil tangan Lenggang, lalu dibimbingnya ke

kamar. Lenggang amat malu melihat muka Midun. Dengan

memberanikan diri, maka iapun meminta maaf akan segala

kesalahannya kepada Midun. Setelah ia meminta terima kasih

atas pertolongan Midun kepadanya, maka diceritakannyalah

sejak bermula sampai kesudahan akan halnya diupah oleh

Kacak hendak membunuh Midun dahulu itu. Bahkan Midun

diberinya pula nasihat, supaya jangan pulang ke kampung,

karena Kacak sangat benci kepadanya.

Mendengar cerita Lenggang itu, Midun baru insaf benarbenar,

bahwa Kacak itu sudah menjadi musuh besar kepadanya,

hingga hendak menewaskan jiwa orang.

Setelah dua bulan lebih Midun menjalankan hukuman, ia

disuruh bekerja di luar. Dalam pekerjaan itu dimandori oleh

Saman yang bengis itu juga. Tetapi mandor Saman tidak berani

memukuli Midun, sebab ia sudah melihat keberanian anak muda

itu berkelahi. Lagi ia takut kepada Turigi, yang sangat

mengasihi Midun itu. Sungguhpun demikian, Midun selalu dapat

ancaman jua. Ia disuruh mandor Saman bekerja paksa. Bila

Midun lalai sedikit saja atau berhenti sebentar, ia sudah

menghardik dan mengatakan, "Midun lalai, nanti aku adukan

kepada sipir, supaya bertambah hukumanmu." Dengan hal yang

demikian Midun tiap-tiap hari bekerja keras, berhujan berpanas

dengan tidak berhenti-hentinya. Kadang-kadang timbul pikiran

Midun hendak melawan, tetapi ia takut hukumannya akan

bertambah. Sedang hari yang telah dua bulan lebih itu, seraso

dua abad kepada Midun. Rasakan ditariknya hari supaya sampai

4 bulan, supaya lekas ia bertemu dengan ibu bapak, adik, dan

kawan-kawannya.

Tidak sanggup Midun melihat beberapa hal yang sangat

menyedihkan dalam penjara jahanam itu. Ngeri dan tegak bulu

romanya melihat penganiayaan yang dilakukan oleh pegawai

penjaga kepada orang-orang hukuman.

Sebulan Midun bekerja menyapu jalan di kota Padang. Mulamula

ia menyapu di Kampung Jawa. Kemudian dipindahkan pula

ke Muara, pada jalan di tepi laut. Di sana Midun agak senang

sedikit, sebab jalan-jalan di situ tidak kotor benar, karena

sunyi dan jarang orang lalu lintas. Tetapi meskipun senang ia

bekerja, hatinya bertambah sedih. Memang laut lepas itu

jauhlah pikiran Midun daii timbullah beberapa kenangkenangan

dalam hatinya. Apalagi pagi-pagi matahari yang baru

terbit, tersembul dari muka air, menyinari segala alam jagat

ini, amat memilukan hatinya. Perahu pengail yang dilamunlamun

ombak di tengah lautan dan gelombang turun naik beralun

dan sabung-menyabung, seakan-akan memanggil Midun

akan membawanya ke seberang lautan.

Sekali peristiwa hari amat cerah, langit pun hijau laksana

tabir wilis tampaknya. Panas terik amat sangat, hingga orang

tidak ada yang tahan tinggal di dalam rumah. Baik laki-laki,

baik pun perempuan banyak keluar dari rumah akan mendinginkan

badan. Orang yang tinggal dekat-dekat Muara itu banyak

datang ke tepi laut, berlindung sambil bermain di bawah

pohon-pohon. Sungguh senang dan sejuk berlindung di bawah

pohon kayu waktu hari panas. Apalagi jika diembus angin timur

yang datang dari laut dengan lunak lembut. Segala orang

hukuman sudah berhenti menyapu, karena waktu makan sudah

datang. Setelah matahari turun dan panas kurang teriknya,

mereka yang berlindung itu kembali ke rumahnya masingmasing.

Midun dan orang hukuman yang lain mulai pula

menyapu. Ketika Midun menyapu di bawah sebatang pohon

kenari, kelihatan olehnya sebuah kalung berlian terletak di atas

urat kayu yang tersembul ke atas. Barang itu segera diambilnya,

lalu dimasukkannya ke dalam saku bajunya. Ia berniat

hendak mengembalikan barang itu kepada yang punya. Tetapi

timbul pula pikiran lain dalam hati Midun. Melihat berlian itu,

bolak-balik pikirannya akan mengembalikannya. Sedang Midun

termenung mengenangkan barang itu, lalu ia berkata dalam

hatinya, "Kalau saya tidak salah, yang duduk di sini tadi, ada

seorang perempuan cantik. Melihat kepada tampan perempuan

itu, rupanya ia anak gadis. Benarlah dia dan saya kenal tempat

tinggalnya ketika saya menyapu jalan di muka gedung itu.

Rumah gadis itu gedung yang amat indah. Orang Belandakah

gadis itu? Tetapi jika saya jual barang ini, tentu banyak juga

saya beroleh uang dan berapakah gerangan harganya? Seratus

rupiah tentu dapat. Boleh aku pakai jadi pokok berniaga, bila

hukumanku habis. Tetapi, ah, rupanya pikiran saya sesat. Apa

gunanya saya beragama, jika takkan pandai menahan hati

kepada pekerjaan yang salah. Hak milik orang harus saya

kembalikan. Lagi pula orang hukuman mempunyai barang

macam ini, tentu mudah orang mempeduli saya mencuri.

Mudah-mudahan karena dia orang kaya, kalau saya menanam

budi ada juga baiknya kelak."

Midun melihat kian kemari, sebagai ada yang dicarinya.

Setelah diketahuinya mandor Saman pergi ke Kampung Jawa,

Midun segera berjalan ke gedung tempat gadis itu tinggal.

Sampai di pintu gapura, Midun disalak anjing. Tidak lama

keluar seorang perempuan, amat pucat dan kurus rupanya.

Payah benar perempuan itu berjalan, agaknya dalam sakit atau

baru sembuh dari sakit. Perempuan itn dipimpin oleh seorang

gadis yang amat cantik, yaitu gadis yang dilihat Midun di bawah

pohon kenari tadi. Ketika kedua perempuan itu melihat orang

hukuman, mereka itu terkejut ketakutan. Dengan gagap,

perempuan pucat itu berkata, "Masuklah, apa kabar?"

"Bukan orang Belanda kiranya orang ini!" pikir Midun dalam

hatinya. Ia maklum bahwa perempuan itu dalam ketakutan

melihat dia seorang hukuman. Midun berkata sambil masuk

pekarangan rumah, katanya, "Kabar baik, orang kaya. Meskipun

saya orang hukuman, tak usah orang kaya khawatir, karena

saya membawa kabar baik. Kalau saya tidak salah, Unikah yang

datang ke Muara tadi dan berlindung di bawah pohon kenari?"

"Benar," ujar gadis itu dengan heran bercampur takut,

karena ia tidak mengerti apa maksud pertanyaan orang

hukuman itu kepadanya.

"Adakah Uni ketinggalan apa-apa di bawah pohon itu ketika

hendak kembali?" ujar Midun sambil memandang gadis itu

dengan sopan.

Gadis itu meraba lehernya, lalu lari ke dalam seolah-olah

ada yang dicarinya. Tidak lama ia kembali, mukanya pucat, lalu

berkata, "Ibu, kalung berlian hamba tidak ada lagi. Sudah

hamba cari di lemari dan di bawah bantal tidak bertemu. Tadi

rasanya hamba pakai bermain-main ke Muara. Waktu balik ke

rumah, entah masih hamba pakai entah tidak, hamba tidak

ingat. Adakah Ibu melihatnya?"

"Tidak," ujar perempuan itu dengan cemas, ibu dari gadis

itu agaknya. "Ketika kau pulang tadi, tidak memakai kalung

saya lihat. Aduhai, cukuplah rasanya saya makan hati dan

menahan sedih selama bercerai dengan bapakmu, tetapi

sekarang ada-ada pula yang terjadi. Tak dapat tiada, jika

bapak tirimu tahu hal ini, alamat tidak baik jadinya. Sedangkan

perkara kecil saja boleh menjadikan sengketa di rumah ini,

apalagi kehilangan kalung berlian yang semahal itu harganya."

Ketika Midun melihat ibu dan anak itu dalam kecemasan, ia

pun berkata sambil mengeluarkan kalung itu dari saku bajunya,

katanya, "Janganlah Orang kaya dan Uni cemas, sebab saya ada

mendapat kalung itu. Inikah kalung itu, Uni?"

Midun lalu memberikan kalung itu kepada gadis itu. Serta

gadis lalu melihat, diambilnya kalung itu dan segera dikenalinya;

lalu ia pun berteriak, melompat-lompat karena riang

seraya berkata, "Betul, inilah kalung saya. Terima kasih, Udo.

Terima kasih banyak-banyak. Untung Udo yang mendapatkannya,

jika orang lain barangkali tidak akan dikembalikannya."

Gadis itu memandang kepada ibunya, sebagai ada yang

hendak dikatakannya. Ibu itu rupanya mengerti apa maksud

anaknya. Maka ia pun berkata kepada Midun, "Masuklah dulu,

orang muda!"

"Tak usah lagi, Orang kaya," ujar Midun. "Saya orang

hukuman, tidak boleh lama-lama di sini. Saya mohon permisi

hendak balik ke tempat saya bekerja."

Sambil mengeluarkan uang kertas lima rupiah, ibu gadis itu

berkata, "Jika orang muda tidak mau masuk, baiklah. Sebagai

tanda kami bergirang hati mendapat barang itu kembali dan

tanda terima kasih saya, saya harap uang yang sedikit ini orang

muda terimalah dengan suka hati."

Perempuan itu memberikan uang kepada Midun. Tetapi

Midun tidak mau menerimanya, lalu berkata, "Terima kasih

banyak! Saya harap Orang kaya jangan gusar, karena saya

belum pernah menerima uang hadiah macam ini. Saya wajib

mengembalikan barang ini kepada yang punya, karena bukan

hak saya. Dan saya tidak mengharapkan sesuatu dari perbuatan

saya itu. Yang saya lakukan ini adalah menurut agama dan

kemauan Tuhan, karena itu saya harap janganlah orang kaya

memberi saya hadiah."

Biar bagaimana jua mereka itu keduanya menyuruh mengambi

uang itu, Midun selalu menolak. Setelah itu ia pun

kembali ke tempatnya bekerja, lalu menyapu pula. Sedang

menyapu jalan, Midun terkenang akan perkataan perempuan

itu kepada anaknya. Maka ia berkata dalam hatinya, "Sungguh

ajaib dunia ini. Apakah sebabnya perempuan itu makan hati?

Apakah yang disedihkannya? Ia tinggal dalam sebuah gedung

yang indah di tepi jalan besar. Kehendaknya boleh, pintanya

berlaku, sebab uang banyak di peti. Berjongos dan berkoki,

beranak seorang permainan mata. Keinginan apakah lagi yang

dikehendakinya dengan hidup cara demikian? Sungguh heran,

siapa yang akan menyangka orang yang sesenang itu ada

menanggung kesedihan? Benarlah ada juga seperti kata

pepatah: ayam bertelur dalam padi mati kelaparan, itik

berenang dalam air mad kehausan."

Dalam berpikir-pikir hari sudah petang, lalu Midun kembali

ke perkara. Malam itu ia amat bersenang hati, karena meskipun

dia orang hukuman, dapat juga berbuat pahala. Tampaktampak

dalam pikiran Midun wajah gadis itu bergirang hati

setelah barangnya dikembalikan.

"Orang manakah gadis itu? Siapakah bapak tirinya? Sungguh

cantik dan elok rupanya, sukar didapat, mahal dicari."

Pertanyaan itu timbul sekonyong-konyong dalam pikiran

Midun. Kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya sampai pagi.

Hukuman Midun sudah hampir habis. Menurut hematnya

tingga115 hari lagi. Rasakan dibelanya hari yang 15 hari itu,

karena ingin hendak pulang menemui keluarganya. Makin dekat

hari ia akan dilepaskan, makin rajin Midun bekerja. Kemauan

mandor Saman diturutnya belaka, biar apa saja yang disuruhkannya.

Midun amat sabar, dan harapan jangan hendaknya terjadi

apa-apa sampai ia bebas. Tengah hari ketika Midun hendak

pergi mengambil ransum, tibatiba datang seorang perempuan

tua kepadanya, lalu berkata, "Ibu Halimah menyuruh mengantarkan

nasi untuk orang muda."

"Halimah?" ujar Midun dengan heran, "Siapa Halimah itu,

Nek? Saya belum ada berkenalan di sini. Barangkali nenek

salah, bukan saya yang dimaksud ibu Halimah itu agaknya."

Orang tua itu bingung, karena tidak tentu akan jawabnya. Ia

hanya disuruh orang mengantarkan nasi kepada Midun, diantarkannya.

Bagaimana seluk-beluk ibu Halimah dengan Midun,

sedikit pun ia tidak tahu. Sebab itu ia melihat ke sana kemari,

seakan-akan Ada yang dicari orang tua itu.

"Ibu saya menyuruh mengantarkan nasi untuk Udo," ujar

Halimah, sambil keluar dari balik pohon kenari, sebab

dilihatnya nenek itu dalam keragu-raguan akan menjawab

pertanyaan Midun.

"O, Uni gerangan yang bernama Halimah!" ujar Midun

dengan hormat. "Maaf, Uni, karena saya belum tahu nama Uni,

saya katakan tadi kepada nenek ini, bahwa saya belum berkenalan

seorang jua di sini. Mengapakah ibu Uni menyuruh

mengantarkan nasi benar untuk saya, orang hukuman ini? Saya

harap jangan Uni berkecil hati, karena saya tidak sanggup

menerima pembawaan ini. Terima kasih banyak, sudilah

kiranya Uni membawa nasi ini pulang kembali!"

"Benar,h sayalah yang bernama Halimah," ujar gadis yang

kehilangan kalung kemarin itu. "Ibu meminta benar dengan

sangat, supaya Udo suka memakan nasi ini. Saya harap

janganlah Udo bertangguh seperti, kemarin pula!"

"Tidak, Uni, sekali-kali tidak," ujar Midun pula. "Saya mengucapkan

terima kasih banyak saja atas kemurahan Uni dan ibu

itu. Takut saya akan terbiasa, sebab orang hukuman hanya

makan nasi dengan garam. Bawalah balik pulang!"

"Saya sudah payah memasak, tetapi Udo tidak mau pula memakan,"

ujar Halimah sebagai orang beriba hati dan merayu.

"Perkataan Udo mengenai hati saya. Tidak baik begitu, Udo!

Jika Udo tak hendak memakan nasi ini, buangkan sajalah ke

laut itu! Ikan di laut barangkali ada yang suka memakannya."

"Marilah kita pulang, Nenek!" ujar Halimah pula kepada

orang tua itu. "Sebentar lagi kita ambil rantang ini kemari."

Halimah dan nenek itu pulang. Midun tinggal seorang diri

dengan rantang terletak di hadapannya. Ia duduk sebagai orang

teringa-inga. Perkataan Halimah sebagai bunyi buluh perindu

masuk ke telinganya. Merdu sungguh, entah di mana perasaan

Midun ketika itu. Akan menolak permintaan Halimah sekali lagi,

ia rasa tak sanggup. Lagi pula Halimah sudah bergulut saja

pulang, sesudah habis berkata tadi.

"Ah, kalau saya .... Tidak boleh jadi, tak dapat tiada

sebagai si pungguk merindukah bulan. Dan mustahil makanan

enggang akan tertelan oleh pipit," demikianlah pikir Midun

dalam hatinya.

Ketika Midun hendak membuka rantang, tiba-tiba bahunya ''

ditarik orang dari belakang dengan kuat. Sambil menghardik,

orang itu berkata, "Eh, binatang, engkau tidak tahu, orang

hukuman sekalikali tidak boleh bercakap dengan orang preman?

Berani sungguh, itu siapa? Ingat! Hukumanmu boleh bertambah

lagi!"

Mendengar perkataan itu, Midun rasa disambar petir, sebab

terkejut. Kerongkongannya tersumbat, napasnya turun naik menahan

hati, ketika dilihatnya mandor Saman yang menarik dia.

Hampir tidak dapat Midun menahan marahnya mendengar

cerita yang amat keji itu. Lama baru Midun dapat menjawab

perkataan mandor Saman itu. Maka ia pun berkata, "Jangan

terlampau penaik darah, Mamak! Marah gampang, semua orang

dapat berbuat demikian. Tanyakan dulu sebab-sebabnya,

kemudian kalau nyata saya bersalah, biar sepuluh tahun lagi

hukuman saya bertambah, apa boleh buat. Bukan saya yang

membawa orang itu bercakap, melainkan dia yang datang

kepada saya."

Mandor Saman undur ke belakang mendengar perkataan

Midun yang lunak, tetapi pedas itu. Biasanya bila ia melihat

orang hukuman berbuat salah tidak ditanyainya lagi, melainkan

pukulan saja yang tiba di punggung. Tetapi kepada Midun,

mandor Saman agak gentar, karena sudah dilihatnya ketangkasan

anak muda itu. Maka katanya, "Ya, siapa, ini apa? Dan jalan

apa kepadamu orang itu?" Midun menerangkan dengan pendek,

apa yang telah terjadi maka ia mengenali anak gadis itu, lalu

berkata sambil membuka rantang, katanya, "Maafkanlah saya,

Mamak! Bukankah selera Mamak juga yang akan puas. Bagi saya

lebih-lebihnya saja jadilah. Kita tidak usah berjerih payah lagi

mengambil ransum ke penjara."

Melihat goreng ayam, semur, sambal petai, dan lain-lain

itu, mandor Saman lekas-lekas menelan air liurnya yang hendak

berleleran. Sudah 10 tahun dia menjalani hukuman, dan karena

dipercayai sipir sampai diangkat menjadi mandor, lamun

makanannya sama juga dengan orang hukuman yang lain.

Tetapi melihat nasi dengan lauk-pauknya itu, lekum mandor

Saman turun-naik, hampir makanan itu dirampasnya. Maka ia

berkata dengan pendek, "Baiklah, asal setiap hari begini.

Tetapi saya menyesal kalung itu engkau kembalikan. Bodoh

benar, jika dijual betapa baiknya...."

Bukan main mandor Saman mencaruk nasi dengan lauknya.

Hampir tidak dikunyah, terus masuk perutnya. Setelah kenyang

ia pergi. Midun mengangguk-anggukkan kepala saja melihat

mandor Saman yang tamak itu. Bagiannya tinggal sedikit lagi,

tetapi tidak pula dimakannya. Midun merasa malu jika isi

rantang itu habis sama sekali. Mengetahui nama anak gadis itu

saja lebih mengenyangkan daripada makan nasi pada perasaan

Midun. Maka rantang itu disusunnya baik-baik. Ketika orang

hukuman akan pergi mengambil ransum, ia meminta tolong saja

kepada temannya menyuruh bungkus ransum bagiannya.

Tengah hari Halimah kembali pula dengan nenek akan

mengambil rantang. Masa itu Midun masih duduk-duduk, karena

waktu kerja belum tiba. Baru saja Halimah dekat, Midun

berkata, "Terima kasih, Uni! Bersusah payah benar rupanya Uni

memasak, tidak ubah sebagai makanan engku-engku. Segala isi

rantang ini sudah hampir habis oleh saya. Maklumlah, Uni, tiaptiap

orang suka kepada yang enak, apalagi yang belum

dirasainya. Tolonglah sampaikan salam saya kepada ibu Uni,

dan terima kasih saya atas kemurahan beliau kepada anak

dagang yang daif ini."

"Terima kasih kembali, " ujar Halimah. "Janganlah membalikkan

hujan ke langit itu, Udo! Sementara saya orang

dagang, jangan terlampau benar menyindir. Udo nyata kepada

saya orang sini, tetapi saya orang jauh-jauh di seberang laut."

"Sebenarnya, Uni, sekali-kali saya tidak menyindir!" ujar

Midun dengan heran. "Negeri saya di Bukittinggi, saya dihukum

kemari. Uni siapa dan orang mana?"

"Bukittinggi itu bukankah sudah Padang juga namanya," ujar

Halimah. "Tetapi kami orang dari tanah Jawa, dagang larat

yang sudah 10 tahun dibawa untungnya kemari. Jika tidak

beralangan kepada Udo, sudilah Udo menerangkan apa

sebabnya Udo dihukum ini? Ibu pun heran, karena Udo

berlainan dengan orang hukuman yang biasa beliau lihat."

"Benar, sungguhpun Bukittinggi Padang juga, tetapi bukankah

saya sudah meninggalkan kaum keluarga."

Midun menerangkan dengan pendek halnya sampai dihukum

ke Padang itu. Ketika Midun hendak bertanyakan asal dan siapa

bapak tiri Halimah, mandor Saman berkata pula, "Midun, ayoh

kerja, waktu sudah habis."

Hingga itu percakapan mereka terhenti. Halimah dan nenek

itu pulang ke rumahnya. Halimah tahu sudah nama anak muda

itu, ketika mandor Saman memanggil namanya. Demikianlah

hal Midun, setiap hari diantari nasi oleh Halimah ke Muara.

Halimah hanya tiga kali datang, sebab sakit ibunya semakin

keras. Ia perlu menjaga ibunya, sebab itu nenek itu saja yang

pergi ke Muara mengantarkan nasi. Tetapi yang memakan nasi

itu boleh dikatakan mandor Saman saja. Yang dimakan Midun

hanya sisa-sisa mandor Saman. Kadang-kadang timbul pikiran

Midun hendak melawan, karena tingkah laku mandor Saman

yang tidak senonoh itu. Tetapi mengingat hukumannya yang

hanya tinggal beberapa hari lagi, terpaksa ia sabar dan

menurut kemauan mandor itu saja.

Setelah sepekan lamanya, Midun tidak diantari Halimah nasi

lagi. Nenek itu pun tidak pula datang-datang ke Muara. Hal itu

pada pikiran Midun tidak menjadikan apa-apa, karena tentu

tidak boleh jadi ia akan terus-menerus saja diantari orang nasi.

Sungguhpun demikian hatinya tidak senang karena kabar tidak

beripa pun tidak. Berdebar hatinya ketika terkenang olehnya

bahwa ibu Halimah dalam sakit-sakit. Oleh sebab itu pada

suatu pagi Midun lalu pada jalan di muka rumah Halimah. la

ingin hendak mengetahui keadaan mereka itu. Setelah sampai

di muka rumah, dilihatnya pintu tertutup, seorang pun tidak

ada kelihatan. Ketika seorang babu keluar dari gedung sebelah

rumah itu, Midun bertanya, "Uni, bolehkah saya bertanya

sedikit? Gedung ini mengapa bertutup saja? Ke manakah orang

di gedung ini? Pindah rumahkah dan atau tidak di sini lagi?"

"Yang tinggal di gedung ini Nyai Asmanah, baru tiga hari ini

meninggal dunia," ujar babu itu. "Anaknya Halimah kemarin ada

juga saya lihat, tetapi pagi ini, ketika saya hendak menumpang

mandi, tidak ada lagi."

Babu itu masuk, sebab dipanggil induk semangnya ke dalam.

Midun sebagai terpaku di muka jalan itu. Ia amat kasihan mengenangkan

gadis itu ditinggalkan ibunya di negeri orang pula.

Ketika babu menyebutkan Nyai Asmanah, Midun maklum bahwa

bapak tiri Halimah itu orang putih, tidak sebangsa dengan dia.

"Ah, apakah jadinya gadis itu? Kemanakah dia? Kasihan!"

Demikianlah timbul pertanyaan dalam pikiran Midun. Dengan

tidak disangka-sangka ia telah sampai ke tempatnya bekerja

setiap hari. Dalam pekerjaan, pikiran Midun kepada anak gadis

yang baru kematian ibu saja. Biar bagaimana jua pun ia

menghilangkan, tetapi seakan-akan tampak-tampak oleh Midun

penanggungan Halimah.

Tengah hari ia duduk di bawah pohon kayu yang rindang

sambil merenung ke laut lepas. Sekonyong-konyong bahunya

diraba orang dari belakang. Midun melihat kiranya nenek itu

suruh-suruhan Halimah. Ketika ia hendak bertanya, nenek itu

meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, lalu memberikan sepucuk

surat. Kemudian ia berjalan dengan tergopoh-gopoh sebagai

ketakutan.

Melihat tingkah nenek yang ganjil itu, Midun amat heran

dan bingung. Ia tidak mengerti sedikit jua akan perbuatan

nenek yang demikian itu. Surat itu segera dibukanya, tetapi

Midun tidak pandai membaca, karena bertulis dengan huruf

Belanda. Hatinya ingin benar mengetahui isi surat itu, tetapi

apa daya badan tidak bersekolah. Amat sakit hati Midun,

karena ia terpaksa menyimpan surat itu, menanti orang yang

akan menolong membacakannya. Ketika pulang ke penjara, ia

berjalan memencil di belakang. Tiba-tiba kelihatan olehnya

seorang anak sedang membaca buku sepanjang jalan. Midun

lalu menghampirinya, serta ditegurnya, "Buyung, bolehkah saya

meminta tolong sedikit? Tadi saya ada menerima sepucuk surat.

Sukakah Buyung menolong membacakannya sebentar, supaya

kuketahui isinya? Saya tidak pandai membaca tulisan macam

ini."

Midun mengunjukkan surat, lalu diambil anak itu. Demikianlah

bunyinya:

Udo Midun!

Tolong, Udo, saya di dalam bahaya. Saya harap dengan

sungguh, Udo datang mengambil saya ke rumah No. 12 di

Pondok. Jika Udo datang ke sana, hendaklah antara pukul 11

dan 12 malam. Nenek akan menantikan Udo di rumah itu.

Kasihanilah saya; kalau Udo tidak datang saya binasa.

Wassalam saya,

H.

10. Lepas dari Hukuman

SETELAH dibacanya, surat itu dikembalikan anak itu. Maka

Midun meminta terima kasih kepada anak itu, lalu berjalan

pula. Ia maklum, bahwa surat itu dari Halimah. Hati Midun

bertambah kabut, pikirannya makin kusut mendengar bunyi

surat itu. Amat kasihan ia mengenangkan Halimah. Sampai di

penjara, pikirannya sudah tetap akan menolong gadis itu

sedapat-dapatnya. Tetapi bagaimana akan menolong, karena ia

masih dalam hukuman? Sampai di kamarnya, Midun menghitung-

hitung hari, bila ia akan dilepaskan. Dalam pada itu

datang seorang tukang kunci memanggil, lalu ia dibawanya

kepada sipir. Hati Midun mulai tidak senang pula, karena sudah

4 bulan ia dihukum, belum pernah dipanggil sipir. Sampai di

kantor, sipir berkata, "Midun, tadi saya dapat perintah, bahwa

engkau sudah bebas dari hukuman. Besok pagi engkau dapat

surat dari saya, supaya perai ongkos kereta api untuk pulang ke

kampungmu."

Mendengar perkataan itu hampir tidak dapat Midun menjawab,

karena sangat girang hatinya mendengar kabar itu. Ia

bergirang hati bukannya karena hendak pulang ke kampung,

melainkan berhubung dengan surat Halimah. Tetapi kegirangan

hatinya itu tidak lama, karena sipir menyuruh dia pulang ke

kampung. Cemas hatinya memikirkan hal itu, takut kalau-kalau

dipaksa sipir mesti pulang juga. Hati Midun memang agak malas

pulang, mengingat permusuhannya dengan Kacak.

Tentu saja kalau ia pulang Kacak tidak bersenang hati, dan

mencari ikhtiar supaya ia binasa juga. Midun berkata dengan

lemah lembut sambil memohon permintaan, katanya, "Jika ada

kemurahan Engku kepada saya, harap Engku mengizinkan saya

tinggal di sini. Saya tidak hendak pulang, biarlah saya mencari

penghidupan di kota ini saja. Dan kalau tak ada keberatan

kepada Engku, saya bermaksud hendak keluar sekarang."

"Tidak boleh, karena orang hukuman yang sudah bebas

mesti pulang kembali ke kampungnya."

"Atas rahim dan belas kasihan Engku kepada saya, sudi

apalah kiranya Engku mengabulkan permintaan saya itu. Saya

takut pulang, karena saya dimusuhi orang berpangkat di negeri

saya. Yang menghukum saya kemari pun, sebab orang itulah.

Oleh sebab itu, saya berniat hendak tinggal di Padang ini saja

mencari pekerjaan."

Karena Midun meminta dengan sungguh-sungguh dan dengan

suara lemah lembut, maka timbul juga kasihan sipir kepadanya.

Ia pun berkata, katanya, "Sebetulnya hal ini tidak boleh. Tetapi

sebab engkau sangat meminta, biarlah saya kabulkan. Jika

engkau bebas sekarang, di mana engkau akan tinggal? Bukankah

engkau tidak berkenalan di sini dan hari pun sudah petang

pula."

"Di rumah Pak Karto, tempat Engku menyuruh mengantarkan

cucian kepada saya tiap pekan. Orang itu suka menerima

saya tinggal di rumahnya. Dan ia pun mau pula menerima saya

bekerja dengan dia."

"Baiklah, tunggu sebentar, saya buat sebuah surat kepada

Penghulu Kampung Ganting. Besok pagi-pagi hendaklah engkau

berikan surat saya kepadanya, supaya engkau jangan beralangan

tinggal di sini."

Midun bebas, lalu ia pergi menukar pakaian. Uangnya yang

f15,- dahulu diberikan tukang kunci kembali kepadanya. Sudah

itu ia pergi kepada sipir mengambil surat yang dijanjikan

kepadanya itu. Kemudian ia pergi kepada Turigi akan meminta

maaf dan memberi selamat tinggal. Setelah Midun dinasihati

Turigi, mereka kedua bertangis-tangisan, tak ubahnya sebagai

seorang bapak dengan anaknya yang bercerai takkan bertemu

lagi. Setelah itu Midun bersalam dengan kawannya sama orang

hukuman, lalu terus berjalan ke luar penjara.

Midun terlepas dari neraka dunia. Ia berjalan ke Ganting

akan menemui tukang menatu Pak Karto. Memang Midun sudah

berjanji dengan Pak Karto, manakala lepas dari hukuman akan

bekerja menjadi tukang cucinya.

Sepanjang jalan pikiran Midun kepada Halimah saja, maka

ia pun berkata dalam hatinya, "Bahaya apakah yang menimpa

Halimah? Jika saya tidak tolong, kasihan gadis itu. Akan tetapi

bila saya tolong, boleh jadi hidup saya celaka pula. Saya belum

tahu seluk beluk perkaranya dan dalam bahaya apa dia

sekarang. Lagi pula dia seorang gadis, saya bujang, bukankah

ini pekerjaan sia-sia saja. Ya, serba salah. Tetapi lebih baik

saya bertanya kepada Pak Karto, bagaimana pikirannya tentang

Halimah itu. Perlukah ditolong atau tidak?"

Pikiran Midun bolak-balik saja, hingga sampai ke muka

rumah Pak Karto. Didapatinya Pak Karto sedang makan, lalu

Midun dipersilakan orang tua itu makan bersama-sama. Sudah

makan hari baru pukul 8 malam. Mereka itu bercakap-cakap

menceritakan ini dan itu. Setelah beberapa lamanya, Midun

lalu menceritakan hal Halimah dan surat yang diterimanya itu.

Mendengar cerita Midun, apalagi gadis itu berasal dari tanah

Jawa, sebangsa dengan dia, Pak Karto sangat belas kasihan.

Pak Karto sepakat menyuruh Midun membela Halimah, sebab

gadis itu sebatang kara saja di kota Padang. la tidak lupa

menasihati Midun, supaya pekerjaan itu dilakukan dengan

diam-diam, jangan hendaknya orang tahu. Bahaya yang boleh

menimpa Midun diingatkannya pula oleh Pak Karto. Midun

disuruhnya hati-hati melakukan pekerjaan itu, sebab Halimah

seorang gadis. Kira-kira pukul 10 malam, Midun berangkat dari

rumah Pak Karto akan menepati apa yang dikatakan dalam

surat itu.

Karena hari baru pukul 10, pergilah ia berjalan-jalan ke

kampung Jawa akan melihat keadaan kota itu pada malam hari.

Setelah lewat pukul 11, Midun berjalan menuju arah ke

Pondok. Hari gelap amat sangat, jalan sunyi pula. Karena

pakaian Midun disuruh ganti oleh Pak Karto dengan pakaian

yang segala hitam, maka ia tiada lekas bertemu oleh nenek

suruhan Halimah yang telah menantikannya. Midun sangat

berhati-hati dan selalu ingat melalui jalan itu. Tiba-tiba

kedengaran olehnya orang memanggil namanya. Maka ia pun

berhenti, lalu berjalan ke arah suara itu.

"Engkau ini Midun?" ujar orang itu dengan suara gemetar,

sebagai orang ketakutan. "Saya ini nenek, turutkanlah saya dari

belakang."

Midun sebagai jawi ditarik talinya menurutkan nenek itu

dari belakang. Entah ke mana ia dibawa nenek itu, tidaklah

diketahuinya, karena hari amat gelap. Hanya yang diketahuinya,

ia dua kali menyuruki pagar dan menempuh jalan yang

bersemak-semak. Sekonyong-konyong tertumbuk pada sebuah

dinding rumah.

"Neeeek?" bunyi suara perlahan-lahan dari jendela rumah.

"Ada Udo Midun? Sambutlah barang-barang ini!"

"Ada, ini dia bersama nenek," ujar nenek itu perlahanlahan.

"Midun, tolonglah sambut Halimah dari jendela."

Midun lalu mengambil pinggang Halimah, dipangkunya ke

bawah. Sampai di bawah, Halimah berkata, "Ingat-ingat, Udo!

Boleh jadi Udo dipukul orang. Bawalah saya ke mana Udo sukai,

tapi jangan dapat hendaknya kita dicari orang."

Midun yang dalam kebingung-bingungan dan tidak mengerti

suatu apa perkara itu, lalu menjawab, "Ke mana Uni akan saya

bawa, karena saya belum berkenalan di sini. Lain daripada ke

Ganting, tak ada lagi rumah lain. Maukah Uni ke sana?"

"Baiklah, asal saya terhindar dari rumah ini, " ujar Halimah

dengan berbisik.

Mereka itu berjalan perlahan-lahan, takut akan diketahui

orang. Tangan Halimah dipegang oleh Midun, lalu dipimpinnya

ke jalan besar. Ketika hampir sampai di jalan besar, Midun

menyuruh Halimah dan nenek berundung-rundung dengan kain,

supaya mukanya jangan dilihat orang. Dan Midun membenamkan

kopiahnya dalam-dalam menutupi telinganya, supaya

jangan nyata mukanya kelihatan. Sampai di jalan, kebetulan

lalu sebuah bendi. Bendi itu ditahan oleh Midun, mereka ketiga

lalu naik ke atas bendi itu.

"Ke Alanglawas," ujar Midun kepada kusir bendi itu.

Di atas bendi seorang pun tak ada yang berani berkata sepatah

kata jua pun. Mereka itu di dalam ketakutan, takut akan

dilihat orang lalu lintas di jalan. Ketika bendi itu sampai di

Alanglawas, Midun berkata, katanya, "Berhenti di sini, Mamak!"

Mereka itu pun turun dari atas bendi. Belum jauh berjalan,

Halimah berkata, "Mengapa kita di sini turun? Tadi Udo

mengatakan ke Ganting."

"Ya, dari sini kita berjalan kaki saja. Bukankah tidak berapa

jauh dari sini ke Ganting? Maka kita turun di sini, supaya jangan

diketahui kusir bendi tadi ke mana tujuan kita."

Setelah sampai di muka rumah Pak Karto, Midun berseru

perlahan-lahan menyuruh membukakan pintu. Baru sekali saja

ia berseru, pintu sudah terbuka. Memang Pak Karto tidak tidur,

karena menanti-nanti kedatangan Midun. Setelah naik ke

rumah, barulah nyata kepada Midun wajah Halimah yang sangat

pucat dan kurus itu. Midun tidak berani bertanya, karena ia

tahu bahwa Halimah masih di dalam ketakutan.

"Udo Midun!" ujar Halimah, setelah kurang takutnya. "Saya

mengucapkan terima kasih atas pertolongan Udo kepada saya,

anak dagang yang telah dirundung malang ini. Saya berharap,

jika Udo ada belas kasihan kepada saya, tolonglah saya

antarkan ke Betawi, kepada bapak saya di Bogor. Jika di sini

juga, tak dapat tiada hidup saya celaka."

"Janganlah Uni khawatir, saya siap akan menolong Uni bilamana

perlu," ujar Midun. "Permintaan Uni itu insya Allah akan

saya kabulkan. Sungguhpun demikian, cobalah ceritakan hal

Uni, supaya dapat kami ketahui. Lagi pula jika Uni ceritakan,

dapat kami memikirkan jalan mana yang harus kami turut untuk

menjaga keselamatan diri Uni. Sebabnya maka saya ingin tahu,

pekerjaan saya ini sangat sia-sia, karena Uni seorang anak

gadis."

"Sebab hati saya masih di dalam gusar, tak dapat saya menceritakan

hal saya ini dengan panjang lebar," ujar Halimah.

"Oleh sebab itu Udo dan Bapak tanyakan sajalah kepada nenek

ini. Nenek dapat menerangkan hal saya, sejak dari bermula

sampai kepada kesudahannya."

Pak Karto pun bertanyalah kepada nenek itu tentang hal

gadis itu. Maka nenek itu menerangkan dengan pendek sekadar

yang perlu saja, yaitu hal Halimah akan diperkosa oleh bapak

tiri dan orang Tionghoa yang mula-mula pura-pura hendak

menolong gadis itu.

Setelah sudah nenek itu bercerita, Pak Karto berkata,

"Midun, hal itu memang sulit. Jika kurang ingat, kita boleh pula

terbawa-bawa dalam perkara ini. Bahkan boleh jadi diri kita

celaka karenanya. Oleh sebab itu hendaklah kita bekerja

dengan diam-diam benar, seorang pun jangan orang tahu.

Biarlah sekarang juga nenek ini saya antarkan ke rumahnya."

"Jangan, Bapak," ujar Midun, "kalau nenek bertemu di jalan

dengan orang yang dikenalinya, tentu kurang baik jadinya. Tak

dapat tiada orang akan heran melihat Bapak berjalan bersamasama

dengan nenek. Apalagi rumah Bapak diketahui orang di

Padang ini. Biarlah saya saja mengantarkan nenek ke

rumahnya."

"Benar juga kata Midun itu!" ujar Pak Karto pula. "Pergilah

engkau antarkan nenek sekarang juga. Lekas balik!"

Sesudah Halimah bermaaf-maafan dengan nenek itu, maka

Midun pergilah mengantarkan nenek itu ke rumahnya. Di tengah

jalan, Midun berkata kepada nenek itu, bahwa hal itu jangan

sekali-kali dibukakan kepada seorang juga. Setelah sampai di

muka rumah nenek itu, Midun memberikan uang f5,-

kepadanya. Nenek itu pun berjanji, biar nyawanya akan

melayang, tidaklah ia akan membukakan hal itu.

Tidak lama antaranya, Midun sudah kembali dari mengantarkan

nenek itu. Halimah disuruh mereka itu bersembunyi

dalam bilik Pak Karto. Baik siang atau pun malam, Halimah

mesti tinggal di dalam bilik saja untuk sementara.

Semalam-malaman Midun dan Pak Karto mufakat tentang

diri Halimah. Sudah padat hatinya hendak mengantarkan

Halimah ke Bogor. Karena hari sudah jauh larut malam, mereka

pergi tidur.

Halimah tidur dengan istri Pak Karto. Midun tak dapat tidur,

sebab pikirannya berkacau saja. Kemudian Midun berkata

dalam hatinya, "Jika saya pulang, tentu hidup saya makin

berbahaya lagi. Sekarang telah ada jalan bagi saya akan

menghindarkan kampung. Bahkan saya pergi ini, akan menolong

seorang anak gadis. Apa boleh buat, biarlah, besok saya tulis

surat kepada ayah di kampung."

Pagi-pagi benar Midun sudah bangun, lalu pergi mandi.

Sudah mandi ia menulis surat ke kampung, ditulisnya dengan

huruf Arab, demikian bunyinya,

Padang, 12 Januari 19..

Ayah bundaku yang mulia, ampunilah kiranya anakanda!

Sekarang anakanda sudah bebas dari hukuman dengan selamat.

Menurut hemat anakanda, jika anakanda pulang, tak dapat

tiada akan binasa juga oleh musuh anakanda yang bekerja

dengan diam-diam itu. Sebab itu agar terhindar daripada

malapetaka itu, Ayah bunda izinkan apakah kiranya anakanda

membawa untung nasib anakanda barang ke mana. Nanti

manakala hati musuh anakanda itu sudah lega dan dendamnya

sudah agak dingin, tentu dengan segera jua anakanda pulang.

Bukankah setinggi-tinggi terbang bangau, surutnya ke kubangan

juga, Ayah!

Ayah bunda yang tercinta! Nyawa di dalam tangan Allah,

tidak tentu besok atau lusa diambil oleh yang punya. Karena itu

anakanda berharap dengan sepenuh-penuh pengharapan,

sudilah kiranya Ayah bunda merelakan jerih lelah Ayah bunda

kepada anakanda sejak anakanda dilahirkan. Baikpun segala

kesalahan anakanda, yang bakal memberati anakanda di akhirat

nanti, Ayah bunda maafkan pula hendaknya.

Sekianlah isi surat ini, dan dengan surat ini pula anakanda

mengucapkan selamat tinggal kepada Ayah bunda, karena

anakanda akan berlayar ke tanah Jawa. Kepada Bapak Haji

Abbas dan Bapak Pendekar Sutan tolong Ayahanda sampaikan

sembah sujud anakanda. Dan wassalam anakanda kepada Maun,

sahabat anakanda yang tercinta itu. Jangan hendaknya Ayah

bunda perubahkan Maun dengan anakanda, karena dialah yang

akan menggantikan anakanda selama anakanda jauh dari negeri

tumpah darah anakanda.

Peluk cium anakanda kepada adik-adik!

Sembah sujud anakanda,

MIDUN

Setelah sudah surat itu dibuatnya, lalu ia minta tolong

kepada Halimah membuatkan alamatnya. Sudah memasukkan

surat, pergilah Midun mengantarkan surat yang diberikan sipir

itu untuk Penghulu Kampung Ganting. Setelah Penghulu

Kampung itu membaca surat sipir, diceritakannyalah Midun

sebagai anak buahnya di kampung itu. Midun bekerjalah

sebagai tukang cuci Pak Karto.

Pada malam hari, Midun berkata, katanya, "Pak Karto,

bagaimana akal saya akan mengantarkan Halimah ke negerinya?

Jika ditahan lama-lama di sini, tentu diketahui orang juga."

"Benar katamu itu, sehari ini sudah saya pikirkan benarbenar

hal ini;" ujar Pak Karto. "Midun dan Halimah mesti ada

surat pas. Kalau tidak, tentu ia tidak dapat berlayar ke Jawa."

Mendengar perkataan Pak Karto demikian itu, Midun terperanjat

amat sangat. Dalam pikirannya tak ada terbayangbayang

perkara surat pas itu. Maka ia pun berkata, "Jika tidak

memakai surat pas, tidakkah boleh berlayar, Bapak?"

"Tidak boleh! Jika berlayar juga, ditangkap polisi." Midun

termenung, pikirannya berkacau memikirkan hal itu. Tentu saja

tidak dapat meminta surat pas untuk Halimah, jika dimintakan

surat pasnya, tak dapat tiada halnya diketahui orang. Padahal

ia sengaja menyembunyikan gadis itu. Darah Midun tidak

senang, takut dan khawatir silih berganti dalam hatinya. Dalam

pada ia termenung-menung itu, Pak Karto berkata pula,

katanya, "Jangan engkau susahkan hal itu, Midun. Sayalah yang

akan berikhtiar mencarikan surat pas untuk engkau dan

Halimah. Engkau tidak sebangsa dengannya, mau menentang

bahaya untuk menolong Halimah. Apalagi saya sebangsa dengan

gadis itu. Tentu saja sedapat-dapatnya akan saya tolong pula

mengusahakan surat pas itu. Sabarlah engkau dalam tiga empat

hari ini. Barangkali saya dapat mengusahakannya. Banyak orang

yang akan menolong saya di sini, sebab saya banyak berkenalan.

Penghulu Kampung di sini pun berkenalan baik dengan

saya. Sebab itu biarlah saya pikirkan dahulu, bagaimana jalan

yang baik mencari surat pas. Seboleh-bolehnya nama Halimah

jangan tersebut-sebut."

"Terima kasih, Bapak!" jawab Midun. "Bagi saya, gelap perkara

surat pas itu. Sebab itu saya harap Bapaklah yang akan

menolong perkara itu."

Sepekan kemudian daripada itu, pada malam hari Pak Karto

pulang dari berjalan. Sampai di rumah, ia pun berkata kepada

Midun, katanya, "Ini surat pas dua buah sudah dapat saya

ikhtiarkan. Besok pergilah Midun tanyakan ke kantor K.P.M.,

bila kapal berangkat ke Betawi."

Midun dan Halimah sangat berbesar hati mendapat surat pas

itu. Mereka kedua minta terima kasih akan pertolongan Pak

Karto. Midun lalu bertanya, katanya, "Bagaimana Bapak dapat

memperoleh surat pas ini?"

"Hal itu tak usah Midun tanyakan, karena kedua surat pas ini

dengan jalan rahasia makanya saya peroleh. Asal kamu kedua

terlepas, sudahlah."

Midun tidak berani bertanya lagi. Dalam hatinya ia meminta

syukur kepada Tuhan, karena kedua surat pas itu dengan

mudah dapat diikhtiarkan oleh Pak Karto.

Keesokan harinya Midun pergi menanyakan bila kapal

berangkat ke Betawi. Ketika ia akan pergi, Halimah memberikan

sehelai uang kertas f 50,-, lalu berkata, "Bawalah uang

ini, Udo! Siapa tahu barangkali ada kapal yang akan berangkat

ke Betawi. Jika ada, belilah tiket kapal sekali."

Sambil menerima uang itu, Midun berkata, "Maklumlah Uni,

saya baru lepas dari hukuman. Sebab itu uang ini saya terima

saja." Halimah tersenyum sambil memalingkan mukanya.

Midunpun pergi menanyakan kapal. Setelah ditanyakannya,

kebetulan besoknya ada kapal yang akan berangkat ke Betawi.

Dengan segera Midun membeIi dua buah tiket kapal, lalu pulang

ke Ganting.

Pada keesokan harinya Midun dan Halimah bermaaf-maafan

dengan Pak Karto laki istri. Setelah itu mereka berangkat ke

Teluk Bayur.

Dengan tiada kurang suatu apa, mereka itu selamat naik

kapal. Tidak lama menanti, kapal pun bertolak meninggalkan

pelabuhan Teluk Bayur. Penumpang di kapal itu menyangka

Midun dan Halimah dua laki istri. Sebab itu seorang pun tak ada

yang menghiraukannya.

11. Meninggalkan Tanah Air

DI ATAS kapal, berlainan pula keadaan Midun dengan waktu ia

berangkat dari Bukittinggi ke Padang dahulu. Ia berdiri di

geladak kipal, memandang air yang berbuih di buritan kapal.

Sekali-kali Midun melayangkan pemandangannya ke bukit

barisan Pulau Sumatra, yang makin lama makin kecil juga

kelihatannya. Perasaannya jauh, jauh entah di mana ketika itu.

Amat sedih hati Midun meninggalkan kampung halamannya yang

sangat dicintainya itu. Tampak terbayang dalam pikirannya ibu

bapak, adik, dan kawan-kawannya semua di kampung. Tampaktampak

oleh Midun, bagaimana kesedihan ibu dan adiknya,

setelah menerima suratnya itu. Rasa-rasa terdengar olehnya,

tangis ibunya menerima kabar itu. Bertambah hancur lagi hati

Midun, mengenangkan nasibnya yang celaka itu. Pada pikirannya,

nasibnya sangat buruk, berlainan dengan nasib kebanyakan

manusia ini. Dengan tidak diketahuinya air mata-nya jatuh

berderai, karena makin dipikirkannya, semakin remuk hatinya.

Dalam Midun termenung-menung itu, Halimah datang menghampiri,

katanya, "Menyesalkah Udo menolong saya yang celaka

ini, Udo? Apakah yang Udo renungkan? Sedihkah hati Udo

meninggalkan kampung, bercerai dengan ibu bapak, adik, dan

kaum keluarga Udo? Ah, kasihan, karena Halimah, Udo jadi

bersedih hati rupanya."

"Tidak, Uni," ujar Midun sambil berpaling akan menghilangkan

dukanya. "Sungguhpun tidak karena Uni, memang saya

tidak akan pulang juga ke kampung. Saya sudah berjanji

dengan diri saya, jikalau saya lepas dari hukuman, akan tinggal

mencari penghidupan di Padang. Kalau tak dapat di Padang, di

mana pun jua, asal dapat mencari rezeki untuk sesuap pagi dan

sesuap petang.

Sekarang ada jalan kepada saya untuk meninggalkan

kampung yang lebih baik lagi. Apa pula yang akan saya

sesalkan. Jika saya akan bersedih hati ataupun menyesal, tentu

saja Uni tidak saya antarkan. Bukankah sudah saya katakan,

bahwa saya siap akan menolong Uni bilamana perlu. Jangankan

ke tanah Jawa, ke laut api sekalipun saya turut, jika menurut

rasa Uni perlu saya ke sana. Hanya saya termenung itu

memikirkan nasib saya jua. O ya, hampir saya lupa, Uni! Uang

Uni masih ada lebihnya f 25,-. Ambillah uang ini nanti boleh

jadi saya lupa mengembalikan."

"Saya harap Udo janganlah memanggil uni juga kepada

saya," ujar Halimah dengan senyumnya. "Jika kedengaran

kepada orang lain, tentu janggal, dan boleh menimbulkan

pikiran yang salah. Sebab itu panggilkan sajalah 'adik'. Sudilah

Udo beradikkan saya? Tentang uang itu, biarlah pada Udo. Ini

ada lagi, simpanlah oleh Udo semua. Kalau saya yang

menyimpan, boleh jadi hilang, apalagi kita di dalam kapal."

Perkataan Halimah itu terbenar pula dalam pikiran Midun,

karena boleh jadi jika didengar orang menimbulkan salah

tampa. Demikian pula nyata kepada Midun, bahwa Halimah

percaya sungguh kepadanya. Maka ia pun berkata dengan

hormat sambil bergurau, katanya, "Tidakkah hina nama Uni

berkakakkan saya? Percayakah Halimah mempertaruhkan uang

kepada orang hukuman. Bagi saya tidak ada halangan, sekali

dikatakan, seribu kali menerima syukur."

"Sejak saya kenal kepada Udo, Udo selalu merendahkan diri

dan amat pandai menjentik jantung saya," ujar Halimah.

"Biarlah yang sudah itu, tetapi sekarang saya tidak suka lagi

mendengar perkataan yang demikian. Jangankan senang hati

saya mendengarnya, malahan makin mengiris jantung saya. Hal

itu menunjukkan, bahwa saya masih Udo sangka seperti orang

lain. Masakan saya tidak percaya kepada Udo, sedang badan

dan nyawa saya sudah saya serahkan, konon pula uang."

Mendengar perkataan "nyawa dan badan" itu, hati anak

muda yang alim dan saleh itu berdebar jua. Kaku lidah Midun

akan berkata, karena harap-harap cemas. Untung ia lekas

dapat menahan hati, lalu berkata, "Jika demikian permintaan

Adik, baiklah. Sekarang sebagai seoran kakak dengan adiknya,

si kakak itu harus mengetahui hal adiknya. Perkataan ibu Adik

dahulu yang mengatakan 'cukuplah saya makan hati dan

menahan sedih' selalu menjadi kenang-kenangan kepada saya

sampai kini. Dan perkataan Adik 'dirundung malang' itu

menyebabkan saya amat heran dan tidak mengerti sedikit juga.

Sebabnya ialah karena saya lihat hidup Adik tinggal di gedung

besar dan beruang banyak. Cobalah Adik ceritakan kepada saya

sejak bermula sampai kita di kapal ini."

"Baik, dengarkanlah, Udo, " ujar Halimah, lalu memandang

kepada Midun dengan tajam. "Saya bercerita ialah menurut

keterangan ibu dan mana yang saya ketahui. Adapun negeri

saya di Bogor, jauhnya dari Betawi hampir sebagai Padang

dengan Padang Panjang. Bapak saya orang Bogor juga, bernama

Raden Soemintadireja. Beliau bekerja pada sebuah kantor

Gubernemen di sana. Kini entah masih di situ juga ayah

bekerja, entah tidak, tidaklah saya tahu. Sejak beliau bercerai

dengan ibu, belum pernah kami dapat surat dari ayah.

Meninggal dunia tidak mungkin, sebab tentu ada kabar dari

keluarga saya. Sampai kini saya masih ingat bagaimana kasih

sayang ayah kepada saya semasa kecil. Beliau sangat memanjakan

saya, tidak ubah sebagai menatang minyak penuh. Baik

pulang atau pergi ke kantor, tidak lupa ayah mencium sambil

memangku saya. Makan selamanya berdua. Apabila saya

menangis, ayah tiba dahulu. Permintaan saya, satu pun tak ada

yang tidak beliau kabulkan. Jika tidur selalu dininabobokkan;

nyamuk seekor beliau buru. Kerap kali kami bermain di

pekarangan, bergurau dan berkejar-kejaran akan menyukakan

hati. Pada petang hari kami berjalan-jalan di kota Bogor.

Pulangnya saya sudah mendukung makanan. Permainan, missalnya

popi-popi, tidak lupa beliau belikan untuk saya. Karena

masa itu anak beliau baru saya seorang, adalah keadaan saya

jerat semata, obat jerih pelerai demam kepada ayah. Hari

Minggu ayah libur bekerja. Maka kami pergi—kadang-kadang ibu

serta pula—berjalan-jalan ke Kebun Raya, akan menyenangnyenangkan

hati.

Adapun Kebun Raja itu, ialah kepunyaan T.B. Gubernur

Jenderal yang memerintah negeri ini. Sungguh amat bagus

taman itu. Segala pohon-pohonan ada di sana. Bunga-bungaan

tidak pula kurang amat cantik dan harum baunya. Segala

macam warna bunga ada belaka di taman itu. Jalannya turun

naik bersimpang siur amat bersih. Pada tepi jalan itu ditaruh

beberapa bangku tempat untuk orang berhenti melepaskan

lelah. Dekat istana ada pula sebuah telaga yang dihiasi dengan

berbagai-bagai bunga air. Amat indah-indah rupanya. Di

tengah-tengah taman itu ada air mancur, memancar tinggi ke

atas dengan permainya. Pada keliling air mancur itu diperbuat

jalan dan ditaruh beberapa bangku tempat duduk. Ah, tak

ubahnya seperti di surga dunia kita rasanya duduk di sana,.

Udo! Mudah-mudahan selamat saja pelayaran kita, tentu Udo

dapat juga melihat taman yang indah itu."

Halimah berhenti bercakap, karena pikirannya melayang

kepada penghidupannya semasa anak-anak.

Ia terkenang akan tempat kelahirannya yang sudah sepuluh

tahun ditinggalkannya itu. Midun sebagai orang bermimpi mendengar

berita Halimah. Matanya tidak berasak dari bibir yang

merah jambu itu. Apalagi melihat pipi Halimah yang sebentarsebentar

memperlihatkan lesung pipit karena senyumnya,

jantung Midun bunyi orang memukul di dadanya. Imannya

berkocak, karena pemandangan Halimah yang lunak lembut itu.

Melihat kulit yang kuning langsat itu, Midun hampir didaya iblis.

Ia terkenang akan sebuah pantun:

Kayu rukam jangan diketam,

kemuning tua dikerat-kerat.

Jika hitam, banyak yang hitam,

yang kuning jua membawa larat.

"Sungguh saya jadi larat," Midun berkata dalam hatinya "Jika

tidak karena anak gadis ini, tidaklah saya menyeberang laut."

"Aduhai…"

Untung lekas ia menahan hati, ketika hendak mengeluarkan

perkataan, "Ah, alangkah senangnya jika kita berdua saja duduk

pada bangku di dalam taman itu, Adikku!"

Midun segera insaf akan diri dan mengetahui siapa dia dan

siapa pula Halimah. Api asmara yang sedang berkobar di

hatinya itu seperti disiram dengan air layaknya. Hati Midun

kembali bagai semula.

"Lain daripada itu, kami pergi pula ke museum* (Museum

Zoologi di Bogor), yaitu sebuah gedung tempat menyimpan segala

macam binatang dan burung," ujar Halimah meneruskan

ceritanya. "Burung apa saja dan macam-macam binatang, baik

pun yang melata ada di sana. Segalanya itu sudah mati, tetapi

kalau dilibat selintas lalu, sebagai hidup jua. Amat indah-indah

dan bagus nian rupanya, Udo! O, sudah jauh kita terpisah dari

ujud yang akan adinda ceritakan. Maaf, Udo, saya bermimpi

gila mabuk kenang-kenangan."

"Kenang-kenangan yang akan sampai, mimpi yang boleh

terjadi," ujar Midun tiba-tiba. "Susahnya yang sebagai si

pungguk merindukan bulan. Badan loyang disangka emas."

Midun menyesal, karena perkataan itu tidak sengaja terhambur

saja dari mulutnya.

Rasakan hendak dijahitnya bibirnya, karena terdorong itu.

"Di manakah Midun yang saleh itu? Apakah arti perkataan yang

demikian? Senonoh dan layakkah itu? Tidakkah melanggar

kesopanan hidup pergaulan? Pantaskah seorang yang telah

mengaku kakak kepadanya mendengar perkataan macam itu?"

Berbagai-bagai pertanyaan timbul dalam pikiran Midun. Malu

benar ia akan dirinya, apalagi jika Halimah salah tampa dan ...

pula.

"Apa boleh buat," kata Midun sendirinya. "Kata telanjur

emas padahannya!"

Muka Halimah merah padam mendengar perkataan Midun

yang amat dalam pengertiannya itu. Ia memalingkan muka

kemalu-maluan. Dalam hati Halimah, "Rupanya bertepuk tidak

mau sebelah tangan."

Maka ia pun berkata, "Ah, terlampau tinggi benar pikiran

Udo itu. Tiap-tiap sesuatu dengan padannya. Biar bagaimana

pipit itil akan tinggal pipit jua. Mudah-mudahan yang dicita

datang, yang dimaksud sampai."

Siiir, jantung Midun bekerja lebih keras lagi memompa

darah ke seluruh batang tubuhnya mendengar jawab Halimah

itu. Hatinya mundur maju tidak tentu lagi. Muka Halimah

ditatapnya, tetapi ini tidak dapat berkata-kata. Pikiran Midun

berkacau, suka dan girang silih berganti.

Dalam pada itu Halimah berkata pula, katanya,

"Demikianlah kasih sayang ayah kepada saya. Hal itu tidak pula

dapat disesalkan, karena anak beliau baru saja seorang.

Rupanya saya bagi ayah, buah hati pengarang jantung,

timbangan nyawa, semangat badan. Sangat benar beliau

memanjakan saya. Manakala saya demam sedikit saja sudah

cemas, tidak tentu lagi yang akan beliau kerjakan. Saya selalu

dalam pangkuan beliau, dinyanyikan hilir mudik sepanjang

rumah. Kepada ibu, ayah sangat pula sayang dan cinta. Tidak

pernah saya mendengar beliau bertengkar, apalagi berkelahi.

Mereka itu keduanya selalu hidup damai. Tidak pernah berselisih,

melainkan sepakat dalam segala hal. Karena itu kami

selalu hidup dalam suka dan riang. Satu pun tak ada yang

mengganggu, senang sungguh masa itu.

Hidup ini sebagai roda, Udo! Sekali naik, sekali turun, tiaptiap

kesenangan mesti ada kesusahan. Ayah saya itu di Bogor

masuk orang bangsawan, sebab itu bergelar Raden. Orang yang

dipanggilkan Raden di tanah Jawa, biasanya orang bangsawan.

Ayah terpaksa kawin seorang lagi. Beliau terpaksa menerima,

karena perempuan itu anak bapak kecil ayah sendiri. Tidak

dapat ayah mengatakan 'tidak mau', karena yang membelanjai

beliau sejak kecil dan yang menyerahkan sekolah bapak kecil

ayah itulah. Beliau dibesarkan di rumah istri bapak kecil beliau,

karena sejak kecil ayah sudah yatim piatu. Sebab itu ayah

terpaksa mesti menerima. Ibu ada mengatakan, bahwa ada

ayah meminta pertimbangan ibu saya, bagaimana yang akan

baiknya. Ibu pun tidak dapat berkata apa-apa, terpaksa pula

mengizinkan ayah beristri seorang lagi. Kepada ibu hal itu tidak

menjadi alangan, asal kesenangan beliau tidak terganggu, dan

keadaan rumah tangga tetap sebagaimana biasa.

Maka ayah pun beristri sudah. Sungguhpun ayah sudah beristri,

tetapi keadaan kami tidak berubah. Hanya waktu siang

ayah hilang sebentar-sebentar, tetapi malam beliau tetap juga

di rumah ibu. Kupanya ayah tidak sanggup bercerai dengan saya

malam hari, karena saya acap kali sedang tidur memanggil

'papa'. Dengan tidak d isangka-sangka, tiga bulan sesudah itu,

keadaan di rumah berubah. Masa itu saya sudah bersekolah.

Pada suatu hari, ketika saya pulang dari sekolah, saya dapati

ibu sedang menangis. Menurut keterangan ibu, sebabnya karena

ayah marah-marah dengan tidak keruan. Ayah pulang sudah

mulai berganti hari. Tiap-tiap beliau pulang, selalu bermuram

durja. Saya sudah kurang beliau pedulikan. Sebab sedikit saja,

beliau sudah marah-marah. Hidup kami tidak berketentuan

lagi, ibu tak pernah bermata kering. Kesudahannya ayah tidak

pulangpulang lagi, dan belanja sudah berkurang-kurang. Jika

beliau pulang sekali-sekali, jangankan menegur saya, malahan

muka masam yang saya terima. Karena takut, saya tidak pula

berani mendekati beliau. Ibu terpaksa mencari untuk mencukupkan

belanja hari-hari. Saya pun berhenti sekolah, pergi

menurutkan ibu bekal ini dan itu untuk dimakan. Jika tidak

begitu tentu kami mati kelaparan, sebab kami orang miskin.

Belanja dari ayah tidak dapat diharap lagi. Sekali sebulan pun

beliau jarang menemui kami. Entah apa sebabnya ayah jadi

demikian, ibu sendiri sangat heran, karena tidak ada sebab

karenanya. Keadaan kami sudah kocar-kacir, dan terpaksa

pindah ke pondok-pondok, menyewa rumah yang berharga f

1,50,-. Akan lari ke rumah famili, tidak ada yang kandung.

Meskipun ada famili jauh, mereka itu pun miskin pula. Tidak

lama kemudian, ibu diceraikan ayah. Ibu dan saya hidup jatuh

melarat. Ibu hampir tidak dapat menanggungkan kesengsaraan

itu. Beruang sesen pun tidak, makan pagi, tidak petang. Malu

sangat pula, tidak terlihat lagi muka orang di Bogor. Karena

tidak tertahan, ibu membulatkan pikiran, lalu menjual barangbarang

yang ada. Maka kami pun melarik.m diri ke Betawi.

Umur saya masa itu sudah 8 tahun. Bagaimana penghidupan

kami mula datang di Betawi, Allah yang akan tahu. Maklumlah,

Udo, walaupun dekat, kami belum pernah sekali jua ke negeri

itu."

Halimah terhenti berkata, karena air matanya jatuh

berlinang ke pipinya. Pikirannya melayang kepada penghidupannya

masa dahulu. Ia terkenangkan ibunya yang sangat

dikasihinya, tinggal seorang diri di negeri orang, jauh terpisah

dari tanah air, kaum famili semua. Tampak terbayang oleh

Halimah, ketika ibunya akin meninggal dunia memberi nasihat

dengan suara putus-putus. Maka ia pun menangis tersedu-sedu,

karena amat sedih mengenangkan nasibnya yang malang itu.

Melihat hal itu, Midun amat belas kasihan. Ia bersedih hati

pula mendengar cerita itu. Sambil membujuk Halimah, Midun

berkata, "Tidak ada gunanya disedihkan lagi, Halimah! Hal itu

sudah terjadi dan sudah lalu, tidak usah dipikirkan jua. Memang

demikianlah kehendak Tuhan dan kemauan alam. Tidak boleh

kita menyesali, karena sudah nasib sejak di rahim bunda

kandung. Kata Adik tadi, 'hidup ini sebagai roda'. Mudahmudahan

hingga ini ke atas, senang sentosalah hidup Adik."

Halimah menghapus air matanya dengan saputangan.

Kemudian ia pun berkata pula meneruskan ceritanya, "Sampai

di Betawi, uang ibu tinggal f1,- lagi. Tiga hari ibu mencari

pekerjaan ke sana kemari, tidak juga dapat. Hanya uang yang

serupiah itulah yang kami sedang-sedangkan. Supaya jangan

lekas habis, kami tidak makan nasi, melainkan ubi, singkong,

kata orang Betawi. Dalam tiga hari itu kami menumpang di

pondok-pondok orang. Kami tidur di tanah, di atas tikar yang

sudah buruk. Karena pagi-pagi ibu mencuci baju anak orang

pondok itu, ada juga saya diberinya nasi dengan garam. Pada

hari yang keempat ibu pergi pula mencari pekerjaan.

Saya selalu beliau bawa, setapak pun tidak beliau ceraikan.

Hari itu kami tidak beruang sesen jua. Sampai tengah hari, ibu

tidak juga dapat pekerjaan. Hampir semua rumah orang

Belanda kami jalani, tetapi tidak ada yang mencari babu, koki,

dan lain-lain. Panas amat terik, haus dan lapar tak dapat

ditahankan. Ibu membawa saya kepada sebuah sumur bor,

diambilnya air dengan tangan, lalu diminumkannya kepada

saya. Kemudian kami berhenti di tepi jalan, berlindung di

bawah sepohon kayu yang rindang akan melepaskan lelah.

Sambil memandang saya, ibu menangis amat sedih. Muka ibu

saya lihat sangat pucat, agaknya menahan lapar. Saya pun

begitu pula, sebab pagi itu satu pun tak ada yang masuk perut.

Karena lelah dan letih, saya pun tertidur di bawah pohon kayu

itu. Entah berapa lamanya saya tertidur, tidaklah saya tahu.

Ketika saya terbangun, saya lihat ibu sedang menangis. Ibu

mengajak berjalan pula akan mencari pekerjaan. Tetapi saya

hampir tak dapat berjalan, karena sangat lapar. Sungguhpun

demikian kami berjalan jua dengan perlahan-lahan.

Tiba-tiba saya melihat sebuah uang tali di tepi jalan, ibu

rupanya melihat uang itu pula. Dengan segera ibu mengambil

uang itu. Girang benar hati kami mendapat uang tali yang

sebuah itu. Lima sen dibelikan kepada ubi. Untuk saya beliau

beli nasi dengan sayur lima sen pula. Lebihnya disimpari untuk

malam.. Sudah makan badan kami agak segar, lalu meneruskan

perjalanan mencari kerja. Tidak jauh kami berjalan, bertemu

dengan seorang babu sedang mendukung anak. Ibu bertanya

kalau-kalau ada tuan-tuan yang mencari babu, koki, dan lainlain.

Untung benar jawab babu itu mengatakan ada seorang

tuan mencari babu kamar. Maka kami dibawanya kepada

sebuah gedung, yang tidak berapa jauhnya dari situ, ibu pun

bekerjalah di sana, di rumah orang Belanda.

Adapun tuan tempat ibu bekerja itu, beranak seorang

perempuan yang telah berumur 4 tahun. Ibu menjadi babu

kamar, saya menjadi babu noni anaknya. Gaji ibu f 15,- dan

saya f 5,-. Kami bekerja dapat makan dan tinggal dt sana. Tiaptiap

bulan ibu selalu menyimpan separuh dari gaji kami, takut

kalau-kalau ditimpa kesusahan pula sekali lagi. Setelah enam

bulan kami bekerja, maka tuan itu pun pindah kerja ke Padang.

Di Padang ia menjadi kepala pada sebuah kantor Maskapai.

Tuan dan nyonya mengajak kami ikut bersama-sama.

Dijanjikannya, jika ibu mau pergi, akan ditambah gaji, begitu

pula saya. Kendatipun gaji tidak bertambah, ibu memang

hendak ikut juga. Maka demikian, karena ibu tidak suka lagi

tinggal di tanah Jawa. Waktu akan berangkat, ibu berkirim

surat ke Bogor, memberitahukan bahwa kami akan berlayar ke

Padang. Alamat kalau hendak berkirim surat pun kami sebutkan

di dalam surat itu. Maka kami pun berlayarlah.

Di Padang, kami bekerja sebagaimana biasa. Dengan

permintaan ibu kepada tuan, sebab saya masih berumur 8

tahun lebih, maka saya diizinkan meneruskan sekolah. Lima

tahun kemudian saya tamat sekolah. Selama itu penghidupan

kami senang saja, tidak kurang suatu apa. Uang simpanan kami

sudah ada f 500,-. Uang itu kami simpan di Padangsche

Spaarbank. Setelah setahun saya berhenti sekolah, tuan dapat

perlop. Ia dengan anak-anaknya akan pulang ke negeri Belanda.

Karena mereka itu akan singgah ke Betawi dulu, maka ibu

diajaknya pulang. Kata tuan, di mana kamu saya ambil, saya

antarkan pula pulang kembali ke situ. Tetapi ibu tidak mau ke

Betawi lagi, beliau hendak tinggal di Padang saja menunggu

tuan balik. Maka kami dua beranak tinggallah di Padang. Ibu

pindah kerja ke gedung lain, tetapi tidak tinggal di sana. Kami

pun menyewa sebuah rumah yang berharga f 5,- sebulan.

Waktu itu saya sudah gadis tanggung. Ibu berniat hendak

membeli rumah yang kami sewa itu. Pada suatu hari, ibu pergi

kepada yang punya rumah, akan menanyakan kalau-kalau ia

mau menjual rumahnya. Kebetulan orang yang punya rumah

hendak menjual rumahnya karena ia hendak bermenantu.

Besok pagi ia pun datang dengan suaminya akan memutuskan

penjualan rumah itu. Selesai surat-menyurat ibu berjanji

bahwa uang beli rumah itu besoknya akan diberikan di muka

saksi. Setelah itu kami pergi ke kantor bank mengambil uang

sebanyak beli rumah, yaitu f 300,-.

Malam itu terjadi suatu hal yang ngeri, Udo! Sungguh ngeri,

sehingga hampir jiwa saya melayang karenanya. Tengah malam

sedang kami tidur nyenyak, saya terkejut karena bunyi derak

pintu yang ditolakkan orang. Sekonyong-konyong saya, melihat

seorang besar tinggi berbaju hitam. Saya diancamnya kalau

memekik akan dibunuhnya. Orang itu melompat ke jendela

melarikan diri. Ibu terbangun pula, lalu meraba uang di bawah

bantal. Apa yang akan dicari, uang sudah hilang dicuri maling.

Ketika itu ibu dan saya memekik meminta tolong. Tetapi sudah

terlambat, karena maling sudah jauh melenyapkan diri.

Rumah itu tidak jadi dibeli, keadaan kami tidak berketentuan

lagi. Roda penghidupan kami sudah mulai turun pula.

Tiga hari sesudah kemalingan, ibu jatuh sakit. Makin sehari

penyakit beliau makin hebat. Bermacam-macam obat yang

dimakannya, jangankan sembuh melainkan makin jadi. Uang

yang masih tinggal di bank, sudah berangsur habis pembeli obat

dan untuk belanja. Akan bekerja saja tidak dapat, karena tak

ada yang akan membela ibu di rumah. Tiga bulan ibu tidak

turun tanah, baru mulai sembuh. Tetapi badan beliau lemah

saja. Uang hampir habis, hanya tinggal beberapa rupiah saja

lagi.

Di sebelah rumah kami ada tinggal seorang Belanda peranakan.

Ia hidup membujang dan bekerja pada sebuah kantor

di Padang. Ketika ibu sakit, kerap kali dia datang ke rumah.

Amat baik dan penyantun benar ia kepada kami. Banyak kali

ibu diberinya uang, dibelikannya obat dan kadang-kadang disuruhnya

antarkan makanan oleh babunya. Adakalanya ibuku

ditanyanya, apa yang enak dimakan ibu. Tiap-tiap pulang

bekerja, acap kali ibu dibawakannya makanan dari toko.

Bahkan ia serta pula menyelenggarakan ibu dalam sakit itu.

Sungguh amat baik benar budi bahasa orang Belanda itu. Tak

dapat dikatakan bagaimana besarnya terima kasih kepadanya,

karena uang kami telah habis dan pertolongannya datang.

Setelah ibu segar dan sehat benar, dinyatakannya maksudnya,

bahwa ia hendak memelihara ibu. Bermacam-macam bujukannya

agar ibu suka meluluskan permintaannya yang sungguhsungguh

itu. Pandai benar ia berkata-kata manis bagai tengguli.

Barang siapa yang mendengar perkataannya, tak dapat tiada

akan lembut hatinya. Bukankah perkataan yang lemah lembut

itu anak kunci hati segala manusia. Apalagi ibu terkenang pula

akan pantun yang demikian bunyinya.

Pisang emas bawa berlayar

masak sebiji di atas peti.

Utang emas boleh dibayar

Utang budi dibawa mati.

Pulau Pandan jauh di tengah,

di balik Pulau Angsa Dua.

Hancur badan dikandung tanah

budi baik terkenang jua."

Midun kena sindir, tepat benar kenanya. Perjalanan darahnya,

sekonyong-konyong berubah. Hatinya kembang kempis,

darah Midun berdebar, tetapi ia tidak dapat berkata-kata.

"Mengingat keadaan kami masa itu dan mengingat budinya

selama ibu sakit, terpaksa ibu mengabulkan permintaannya

itu," ujar Halimah sambil tersenyum, karena ia melihat perubahan

muka Midun tiba-tiba itu. "Maka orang Belanda

peranakan itupun menjadi bapak tiri sayalah. Kami hidup

senang, tak ada yang akan disusahkan lagi. Bahkan pula tempat

tinggal kami sebagai sudah Udo lihat gedung besar. Kepada

ibu sangat sayang bapak tiri saya itu, kepada saya apalagi,

lebih dari patut. Kira-kira setahun sesudah itu datang pula perubahan.

Saya dengar ibu sudah acap kali berkelahi dengan

bapak tiri saya itu. Ia selalu marah-marah saja di rumah.

Aduhai, ganas benar kiranya dia, main sepak terjang saja.

Beberapa kali saya tanyakan kepada ibu, apa sebab bapak tiri

marah-marah itu, ibu tidak mengatakan. Hanya beliau berkata,

'Jagalah dirimu, Halimah!' Tetapi saya amat heran, sungguhpun

kepada ibu ia selalu marah, kepada saya makin sayang dia. Apa

saja yang saya minta, selalu dikabulkannya. Dengan hal yang

demikian, kesudahannya ibu jatuh sakit.

Tak ubahnya sebagai orang merana, makin sehari makin

sengsara hadan beliau. Udo pun bukankah sudah mempersaksikan

hal itu lengan mata sendiri? Obat apa yang tidak

beliau makan, tetapi semuanya sia-sia saja. Ajal ibu hampir

datang, sakit beliau sudah ayah benar.

Ketika ibu akan meninggal, bapak tiri saya sedang di kantor.

Beliau melarang keras, jangan ada orang pergi memberitahukan

hal itu. Saya selalu duduk dekat ibu. Beliau pun berkata dengan

suara putus-putus, katanya, 'Anakku, Halimah! Ketahuilah

olehmu, bahwa penyakit saya ini takkan dapat diobati lagi.

Penyakit saya ini bukanlah sakit badan, melainkan penyakit hati

yang sudah 10 tahun saya tanggungkan. Hancur luluh hati saya

mengenangkan perceraianku dengan ayahmu. Dengan jalan meninggalkan

negeri itu, saya sangka kesedihan hati saya itu akan

berobat dan dapat dihilang-kan. Kiranya tidaklah demikian,

bahkan bertambah pula dengan makan hati berulam jantung.

Bermacam-macam penanggungan yang telah kita rasai, disebabkan

untuk nasib kita yang celaka jua. Tidak di dalam hal

penghidupan saja, godaan pun tidak sedikit pula. Tetapi

sekaliannya itu saya terima dengan sabar dan tulus ikhlas.

Sekarang tak dapat lagi saya menanggungkan, dan boleh jadi

saya tewas olehnya.

Baru sekian ibu berkata, napas beliau turun naik amat

cepatnya. Sakit ibu bertambah payah. Matanya terkatup, kaki

beliau amat dingin. Saya amat cemas melihat wajahnya yang

sangat pucat itu. Tidak lama beliau membukakan mata pula.

Sambil menarik napas panjang, ibu meneruskan perkataannya,

'Jika tidak mengingat budi orang dan memikirkan engkau,

tidaklah saya mau sebagai perempuan dukana ini. Bukankah

saya sudah melakukan perbuatan yang di luar agama. Apa boleh

buat, Halimah! Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak

berguna. Tetapi yang lebih menyakitkan hati saya, kita tertipu.

Mulut bapak tirimu yang manis dan perbuatannya yang baik itu,

rupanya berudang di balik batu. Dia bukanlah mencintai saya,

melainkan Halimahlah yang dimaksudnya. Hatinya tertarik

kepadamu, karena itu dicarinya jalan dengan mengambil saya

jadi nyainya. Dengan jalan itu, pada pikirannya, burung sudah

di tangan, tidakkan ke mana terbang lagi. Saya disiksanya

setiap hari, tetapi engkau selalu disayanginya.

Aduhai, cukuplah saya seorang yang telah mencemarkan

diri, tetapi kamu saya harap jangan pula begitu hendaknya.

Ambillah keadaan saya ini akan jadi cermin perbandingan, dan

sekaii-kali jangan dapat engkau diperbuatnya sesuka-sukanya.

Halimah telah remaja, sudah dapat menimbang buruk dan baik.

Engkau sudah besar, sebab itu jagalah dirimu, jangan sampai

seperti saya yang keparat ini. Biarpun di negeri orang, saya

tidaklah khawatir meninggalkan engkau. Bukankah engkau

sudah banyak berkenalan di sini, pohonkanlah pertolongannya

dan pergilah kepada ayahmu. Midun, orang hukuman itu,

menurut hemat saya ia amat baik. Lagi pula menurut katanya

kepadamu tempo hari, tidak lama lagi hukumannya akan habis.

Ia bebas. Mintalah pertolongannya. Tentu ia akan suka

menolongmu setiap waktu. Sampaikanlah salam saya kepada

ayahmu, katakan bahwa saya meminta maaf lahir dan batin,

demikian pula kalau ada kesalahannya saya maafkan. Selamat

tinggal, Halimah, jaga diri baik-baik...!'

Ibu meninggal dunia, saya menangis amat sangat, tidak tahu

lagi akan diri. Entah berapa lamanya saya pingsan, tidaklah

saya tahu. Setelah saya sadarkan diri, orang sudah banyak.

Bapak tiri saya itu sudah datang dari kantor. Melihat kepada

roman mukanya tidak sedikit juga ia berdukacita. Amat sakit

hati saya, ketika ia mendekati saya akan membujuk saya. Hari

itu juga ibu dikuburkan dengan selamat. Saya pergi ke

pekuburan mengantarkan beliau. Petang hari pulang dari

pekuburan, saya terus ke kamar, lalu saya kunci pintu dari

dalam. Maka saya pun menangis mengenangkan badan. Saya

tinggal seorang diri, jauh dari kaum keluarga saya dan tanah air

saya. Dengan tidak makan dan minum saya pun tertidur sampai

pada keesokan harinya. Orang pun tak ada yang berani

mengusik saya, tahu ia agaknya bahwa saya dalam bersedih

hati amat sangat."

Halimah berhenti berkata karena menahan air matanya yang

hendak jatuh, mengenangkan waktu ibunya meninggal dunia

itu.

Setelah itu ia pun berkata pula, katanya, "Pada keesokan

harinya, bapak tiri saya tidak bekerja. Sehari itu ia membujuk

saya, supaya jangan memikirkan ibuku yang telah meninggal.

'Ibu sudah terseberang,' katanya. 'Dirimulah lagi yang akan

dipikirkan, Sayang! Apa gunanya dikenangkan juga, akan hidup

dia kembali tidak boleh jadi. Senangkanlah hatimu, mudahmudahan

kita hidup berdua dalam bahagia. Mari kita berjalanjalan

merintang-rintang hari rusuh.'

Mendengar perkataan itu, jangankan hati senang, melainkan

sebagai tercocok duri jantung saya. Hampir saja keluar

perkataan, 'Kalau tidak karena engkau, ibuku tidak akan mati.'

Untung lekas saya menahan hati. Saya berdiam diri saja seperti

patung, mendengar kata-katanya itu. Sebab ibu baru saja

meninggal, maka saya turut saja kemauan bapak tiri saya itu.

Hari itu saya dibawanya pesiar di seluruh kota Padang. Sesudah

pesiar, pergi berbiduk-biduk ke Muara. Penat pula berbiduk,

pergi ke Gunung Padang berjalan-jalan. Sehari-harian itu kami

tidak pulang. Bapak tiri saya itu amat suka dan riang benar

kelihatannya. Ia biasa saja, jangankan berdukacita, melainkan

makin banyak gurau sendanya. Saya sudah maklum apa

maksudnya maka ia berbuat demikian itu. Tetapi karena ibu

saya baru meninggal, tentu belum berani ia menyatakan

niatnya itu. Setelah hari malam, kami pulang kembali ke

rumah. Heran, jongos dan koki yang biasa ada di rumah, kami

dapati tidak ada. Hanya yang ada nenek seorang di rumah.

Waktu saya masuk kamar, bapak tiri saya masuk pula, katanya

ada barang yang hendak diambilnya di kamar saya itu. Dengan

cepat ia mengunci pintu, lalu berkata, 'Halimah! Sudah 4 tahun

saya menahan hati, sekaranglah baru dapat saya lepaskan.

Sesungguhnya saya tidak mencintai ibumu, melainkan engkau

sendirilah, Adikku! Maka ibumu saya pelihara, hanya karena

saya takut Halimah akan diambil orang lain. Sejak engkau

bersekolah, sudah timbul keinginan saya hendak hidup berdua

dengan engkau. Sekarang ibumu sudah meninggal, saya harap

engkau kabulkan permintaan saya. Sukakah Halimah bersuamikan

saya? Baik secara Islam atau cara Kristen saya turut.

Bahkan jika Halimah kehendaki saya masuk orang Islam, pun

saya suka.'

Baru sehari ibu saya meninggal, belum kering air mata saya,

sudah demikian katanya. Amat sakit hati saya mendengar perkataannya

itu. Dengan marah amat sangat, saya memaki-maki

dia dengan perkataan yang keji-keji. Segala perkataan yang

tidak senonoh, saya keluarkan. Macam-macam perkataan saya

mengata-ngatai dia. Mukanya merah, urat keningnya membengkak

mendengar perkataan saya yang pedas itu. Dengan

marah ia berkata, 'Saya sudah banyak rugi. Malam ini juga

mesti engkau kabulkan permintaan saya. Jika engkau tidak

mau, saya tembak.'

Saya tidak sedikit juga gentar mendengar gertak itu. Pada

pikiran saya, daripada hidup macam ini, lebih baik mati bersama

ibu. Maka saya pun berkata dengan lantang, 'Jika Tuan

tidak keluar dari kamar ini, saya memekik meminta tolong.

Kalau Tuan mau menembak saya, tembak sajalah!' .

Dengan perkataan itu rupanya ia undur, lalu keluar sambil

merengut. Saya segera mengunci pintu dari dalam. Semalammalaman

itu saya tidak tidur. Tidak satu-dua yang mengacau

pikiran saya. Takut saya pun ada pula, kalau-kalau pintu

didupaknya. Setelah hari siang, kedengaran nenek memanggil.

Ketika dinyatakannya bahwa tuan sudah pergi, baru saya berani

membuka pintu. Dengan ringkas saya ceritakan kepada nenek,

hal saya semalam itu. Rupanya nenek ada pula mendengar

perkelahian kami—yang saya ceritakan ini, sudah diceritakan

nenek di rumah Pak Karto tempo hari. Tetapi supaya lebih

terang, biarlah saya ulang sekali lagi.-Saya mengajak nenek

segera lari dari rumah itu. Maka saya pun berkemas mana yang

perlu dibawa saja. Sudah itu saya tulis surat kepada bapak tiri

saya. Saya katakan dalam surat itu, bahwa dengan kereta pagi

saya berangkat ke Sawahlunto. Dan keperluan saya ke sana

ialah akan menemui famili saya yang sudah 6 tahun

meninggalkan kampung. Setelah sebulan di Sawahlunto, saya

kembali ke Padang. Isi surat itu sebenarnya bohong belaka.

Kemudian kunci rumah saya tinggalkan kepada jongos, lalu

kami naik bendi. Di tengah jalan saya bertemu dengan seorang

Tionghoa. Menurut keterangan nenek, orang itu induk

semangnya dahulu. Ia adalah seorang yang amat baik hati dan

kaya raya.

Nenek ditegurnya, dan ditanyakannya hendak ke mana

kami. Dengan beriba-iba nenek menerangkan hal saya. Belas

kasihan ia rupanya mendengar cerita nenek, lalu saya diajaknya

pergi dengan dia. Ia menanggung, bahwa di rumahnya tidak

akan terjadi apa-apa. Nenek menanggung pula, bahasa di sana

ada aman sementara menanti kapal ke Betawi. Saya menurut

saja, asal nenek tidak bercerai dengan saya. Maka kami pun

berbendilah ke Pondok, rumah No. 12.

Aduhai, Udo! Pada pikiran saya sebenarnya akan senang

tinggal di situ. Kiranya saya pergi ke rumahnya itu masuk jerat

semata-mata; dan tidaklah salah rasanya bila dikatakan, hal

saya waktu itu adalah seperti lepas dari mulut harimau jatuh ke

dalam mulut buaya. Semalam-malaman itu saya dirayu dan

dibujuknya; agar suka mengikut dia. Dijanjikannya, bahwa saya

akan dipeliharanya baik-baik. Dan dikatakannya pula, sejak

saya datang dengan bapak tiri saya ke tokonya, ia telah

menaruh cinta kepada saya. Supaya jangan terjadi apa-apa,

pura-pura saya mau menerima permintaan itu. Saya katakan,

'Burung dalam sangkar tidak akan ke mana. Sebab itu sabarlah

Baba dulu sampai duka nestapa saya agak hilang, karena

sekarang saya sedang berkabung kematian ibu.' Senang benar

hati orang Tionghoa itu mendengar jawab saya. Setelah ia

pergi, dengan segera saya tulis surat kepada Udo memohonkan

pertolongan. Itulah surat yang diantarkan nenek kepada Udo

itu.

Demikianlah penanggungan kami sejak ibu bercerai dengan

ayah sampai pada waktu ini. Sekarang tentu Udo sudah

maklum, apa arti perkataan ibu yang mengatakan: 'menahan

sedih dan makan hati itu'. Begitu pula arti perkataan saya,

'dirundung malang', Udo!"

Midun mengangguk-anggukkan kepala saja mendengar cerita

Halimah yang menyedihkan hati itu. Setelah habis Halimah

bercerita sepatah pun ia tidak berkata-kata. Midun bermenung

saja, sebagai ada yang dipikirkannya. Amat kasihan ia kepada

gadis yang malu itu. Dalam pada itu, Halimah berkata, "Hari

sudah malam kiranya Udo! Karena asyik bercerita, tahu-tahu

sudah gelap saja. Malam tadi, saya rasa Udo tidak tidur. Saya

pun demikian pula. Tidak mengantukkah Udo?"

"Tidak, Halimah!" ujar Midun. "Saya sudah biasa bertanggang*

(Tidak tidur semalam-malaman) . Adik nyata kurang tidur,

sebab muka adik amat pucat saya lihat. Sebab itu tidurlah

sesenang-senangnya."

"Benar, Udo!" ujar Halimah. "Memang sejak ibu sakit payah

sampai kini saya tidak tidur amat. Tetapi jika saya tidur, Udo

jangan tidur pula, sebab di kapal banyak juga pencuri. Biarlah

kita berganti-ganti tidur, ya, Udo?"

"Siapa pula pencuri di kapal ini?" ujar Midun dengan heran.

"Tidak saja sama-sama penumpang, kelasi pun ada juga,"

ujar Halimah. "Dahulu waktu kami berlayar ke Padang, ada

seorang saudagar kehilangan uang lebih f 200,-. Lain daripada

itu, waktu kami sampai di Bangkahulu, seorang perempuan

beranak kehilangan gelang emas seharga f 150,- lebih. Waktu

akan tidur gelang itu ditaruhnya di bawah bantal. Kasihan kami

melihiat perempuan itu menangis. Biar bagaimana pun kami

menolong, mencarikan, tidak bertemu."

"Baiklah," ujar Midun, "insya Allah tidak akan apa-apa,

tidurlah Adik!"

Belum lama Halimah meletakkan kepala ke bantal, ia pun

tertidur amat nyenyaknya. Midun duduk seorang diri

memikirkan cerita gadis itu. Kemudian ia memandang muka

Halimah, lalu berkata dalam hatinya. "Sungguh cantik gadis ini,

tidak ada cacat celanya. Hati siapa takkan gila, iman siapa

takkan bergoyang memandang yang seelok ini. Kalau alang

kepalang iman mungkin sesat olehnya. Tingkah lakunya pun

bersamaan pula dengan rupanya. Kulitnya kuning langsat,

perawakannya sederhana besarnya, kecil tidak besar pun tidak,

gemuk bukan kurus pun bukan, sedang manis dipandang mata.

Rambutnya ikal sebagai awan berarak. Mukanya bulat bulan

penuh. Matanya laksana bintang timur bersanding dua, dan

hidungnya bagai dasun tunggal. Pipinya seperti pauh dilayang,

bibirnya limau seulas, mulutnya delima merekah, yang tersedia

untuk memperlihatkan senyum-senyum simpul, sehingga

kelihatan lesung-lesung pipit, yang seolah-olah menambah

kemolekannya jua."

Midun mengambil kain, lalu menyelimuti betis Halimah yang

terbuka itu perlahan-lahan. Pikiran Midun berubah-ubah,

sebentar begini, sebentar begitu. Kadang-kadang melihat muka

gadis itu terkenang ia akan adiknya Juriah. Halimah dipandangnya

sebagai adik kandungnya sendiri. Sebentar lagi sesat, dan

berharap kalau Halimah jadi istrinya, amat beruntung hidupnya

di dunia ini. Perkataan Halimah "pipit sama pipit" dan "maksud

sampai" itu tak hendak hilang dalam pikiran Midun. Tidak lama

timbul pula pikiran lain, lalu ia berkata pula dalam hatinya,

"Penanggungan saya belum lagi sepersepuluh penanggungan ibu

Halimah. Sedangkan perempuan demikian berani dan sabarnya

merasai cobaan Tuhan, apalagi saya seorang laki-laki."

Pada keesokan harinya, setelah jauh lewat Bangkahulu,

Midun bertanya pula kepada Halimah, katanya, "Sungguh sedih

ceritanya Adik kemarin. Tetapi ada pula yang menimbulkan

pertanyaan dalam hati saya. Setelah ibu bercerai dengan ayah

Halimah, apakah sebabnya beliau tidak bersuami lagi? Jika

sesudah bercerai segera bersuami, saya rasa tidaklah akan

demikian benar penanggungan ibu dan Adik."

"Saya pun amat heran," ujar Halimah. "Sejak saya berakal,

berulang-ulang saya menyuruh beliau bersuami, tetapi ibu

selalu menggelengkan kepalanya. Ibu menerangkan, bahwa

cukuplah beliau menanggung kesedihan yang hampir tidak terperikan

itu. Jika beliau bersuami pula, dan timbul lagi sesuatu

hal yang menyedihkan, ia tak dapat tiada nyawa tentangannya.

Kiranya perkataan beliau itu benar jua. Sekarang tentu Udo

sudah maklum, apa sebabnya yang menyebabkan ibu meninggal

dunia. Lagi pula ibu sangat cinta kepada ayah, sebab itu tidak

sampai hati beliau akan mengganti ayah dengan orang lain. Jika

tidak karena budi dan keadaan kami yang sangat susah,

istimewa di negeri orang, tidaklah ibu akan mau dipelihara

orang Belanda peranakan itu."

"Sungguh pandai ibu Adinda menahan hati," ujar Midun.

"Jika orang lain berhal demikian itu, boleh jadi menimbulkan

pikiran yang kurang baik di dalam hatinya. Hati siapa takkan

sakit, awak di dalam berkasih-kasihan diganggu orang. Rupanya

ibu Adik maklum apa yang menyebabkan perceraian itu. Bagi

saya sendiri pun sudah terbayang hal itu."

"Dapatkah Udo menerangkannya?" ujar Halimah. "Saya kerap

kali menanyakan kepada ibu, tetapi selalu beliau sembunyikan

dan tidak mau menerangkan sebab perceraian itu."

"Percayalah Halimah," ujar Midun, "sekalipun waktu ayah

akan beristri diizinkan oleh ibu Adik, tetapi di hati beliau

sendiri tidaklah menerima dan tidak izin ayah Adik beristri itu.

Benar perempuan amat pandai menahan hati. Apakah Adik

mendengar cerita anak Nabi Muhammad saw?"

"Tidak, Udo, bagaimanakah ceritanya?" ujar Halimah.

"Pada suatu hari suami Fatimah itu memanggil istrinya," ujar

Midun. "Setelah istrinya datang, maka Saidina 'Ali, demikianlah

nama suaminya itu, meminta izin akan beristri. Dengan rela

hati dan tersenyum manis diizinkan Fatimah suaminya itu

beristri seorang lagi. Tetapi telur mentah yang ketika itu

dipegang Fatimah di tangannya, sekonyong-konyong telah

masak. Demikianlah pandainya Fatimah menahan hati.

Sungguhpun di luar manis, tetapi di dalam sudah remuk dan

badannya panas sebagai api, hingga telur masak di tangannya.

Lebih bertambah sedih lagi, karena ibu Adik mengetahui,

bahwa perceraian ibu dan ayah tidak kasih sayang lagi kepada

Adik, ialah disebabkan perbuatan orang. Saya berani bertaruh,

tak dapat tiada ayah Adik sudah kena guna-guna. Tidak di

negeri Adik saja hal itu terjadi, tetapi di negeri saya pun

banyak pula yang demikian. Tidak sedikit korban yang

disebabkan guna-guna jahanam itu. Orang yang berkasihkasihan

laki istri putus cerai-berai. Dan adakalanya menjadikan

maut kepada kami. Inilah bahaya yang terutama bagi orang

yang suka beristri dua, tiga, sampai empat orang. Masingmasing

si istri itu berlomba-lomba, agar dia sendiri hendaknya

dikasihi suaminya. Karena itu timbul dalam hati mereka

bermacammacam pikiran jahat. Si A misalnya, pergi kepada

dukun B memintakan guna-guna untuk suaminya. Si B

mengetahui bahwa si A perlu meminta obat itu kepadanya.

Nah, di sana lalulah jarum B akan membujuk uang A untuk

pengisi kantungnya. Dengan beberapa tipu muslihat B, uang A

tercurah kepadanya. A yang sangat percaya kepada dukun B,

tidak kayu janjang dikeping, tidak emas bungkal diasah, tidak

air talang dipancung. Belanja yang diberikan suami, dijadikan

untuk keperluan itu. Bahkan kain di badan dijual atau digadaikan

untuk itu, supaya suami kasih dan sayang kepadanya

seorang. Kesudahannya arang habis besi binasa, uang habis

badan celaka. Maksud tak sampai, badan diceraikan suami.

Sebabnya: karena urusan rumah tangga, makanan dan pakaian

suami dan lain-lain, tentu tidak berketentuan lagi. Jika syaratsyarat

bersuami tidak dipakaikan, tak dapat tiada laki-laki itu

memisahkan dirinya.

Menurut pendengaran saya, guna-guna itu terjadi dari

benda yang kotor-kotor. Misalnya tahi orang dan kotoran kuku

dan lainlain sebagainya. Hal itu makin celaka lagi, kalau

makanan itu tidak bersetuju dengan perut suami. Karena

kotornya, boleh jadi mendatangkan penyakit. Akhirnya si suami

itu seperti sirih kerkap tumbuh di batu, mati enggan hidup tak

mau, merana. Lebih berbahaya lagi kalau dukun B itu

bermusuhan dengan suaminya. Dengan gampang saja ia dapat

memberikan racun atau lain-lain. Manakala dendamnya lepas

karena musuhnya lenyap dari dunia ini, tentu si B akan

bersenang hati. Padahal si A sekali-kali tidak mengetahui,

sebab kepercayaannya penuh kepada dukun B itu. Hal ini sudah

terjadi pada salah seorang istri mamak saya. Tidak putusputusnya

ia menyesali hidupnya karena perbuatannya itu.

Orang pun takut memperistri dia lagi. Maka tinggallah ia

menjadi perempuan balu, hidup terpencil dengan tiga orang

anak yang masilI kecil-kecil pula.

Jika maksud A itu sampai, tentu ia bersenang hati. Tetapi

istri suami yang lain teraniaya pula karena perbuatannya itu.

Istri yang diceraikan suami itu tentu menanggung sedih. Tidak

saja bersedih hati, hidupnya pun kocar-kacir, apalagi kalau

sudah beranak-anak. Lihatlah sebagai ibu Adik, sedangkan baru

beranak seorang demikian jadinya. Malu tumbuh, sedih pun

datang, hingga berlarat-larat ke negeri orang membawakan

untung nasib diri."

Midun berhenti berkata, karena waktu makan sudah datang.

Maka ia pun pergi mengambil nasi, lalu makan bersama-sama

dengan Halimah. Di dalam makan itu, Halimah baru maklum

akan mengenangkan segala perbuatan perempuan yang sekalikali

tidak bersetuju dengan pikirannya. Setelah sudah makan,

Midun menyambung perkataannya, katanya, "Sungguhpun

demikian, perbuatan perempuan kepada suaminya tidak pula

dapat disalahkan. Jika ia melakukan perbuatan itu tiada pula

disesalkan. Hanya iman yang kurang pada perempuan itu. Tidak

seperti Fatimah yang saya ceritakan tadi. Tetapi sukar dicari,

mahal didapat perempuan yang berhati begitu. Apa yang

takkan terkerjakan, jika ia dipermadukan. Apalagi yang lebih

sakit daripada itu. Coba kalau hal itu terjadi sebaliknya,

artinya si lakilaki dipermadukan perempuan. Barangkali ... ya,

entah apa yang akan terjadi. Sedangkan dilihat orang saja

istrinya, rasanya hendak diulurnya hidup-hidup orang itu,

apalagi dipermadukan."

Di sini Midun berhenti berkata-kata sebentar, karena ia

teringat akan nasibnya sendiri. Bukankah terjadinya perkelahiannya

dengan Kacak di tepi sungai, karena cemburuan,

dan... sehingga Kacak lupa akan pertolongannya atas Katijah?

Kemudian ia berkata pula, ujarnya, "Hal ini memang tidak

bersesuaian sedikit jua dengan pikiran saya. Benar agama

mengizinkan beristri dari satu sampai empat, tetapi jika ditilik

dalam-dalam, tidak gampang saja mengerjakannya. Menurut

pikiran saya, banyak syarat-syaratnya yang amat sulit. Dalam

seribu sukar seorang yang akan dapat melakukannya. Saya rasa

tidak seorang jua yang akan dapat berlaku adil, seadil-adilnya

kepada keempat istrinya itu; karena demikianlah kehendak

agama. Bahkan yang banyak saya lihat, perempuan itu

dipandangnya sebagai suatu barang untuk pemuaskan hawa

nafsunya saja. Sungguh sedih hati memikirkan nasib perempuan

yang diperbuat suami semau-maunya itu. Tidak berhati

berjantung, tidak menaruh belas kasihan kepada teman

sehidup. Tak ada ubahnya dengan laki-laki gangsang, beranak

satu dibuang, kawin lagi.

Demikianlah terus-menerus. Entah bagaimana nasib

perempuan itu ditinggalkannya, tidak dipedulikannya. Jangankan

memikirkan nasib perempuan itu setelah ditalakkan, sedangkan

masih dalam tangannya belanja berkurang-kurang.

Sekianlah cerita saya; bagi Adik janganlah terjadi demikian

dan jangan pula mendapat suami seperti saya katakan itu

kelak. Saya berharap, moga-moga Adik bersuamikan seorang

laki-laki yang sebenarnya laki-laki. Dapat hendaknya Adik suami

istri hidup sandar-menyandar sebagai aur dengan tebing. Di

dalam segala hal sepakat dan sesuai, percaya-mempercayai

seorang dengan yang lain. Sakit susah sama ditangguhkan,

senang suka sama dirasai. Dan dalam pergaulan selalu berkasihkasihan

dan beramah-ramahan hendaknya. Dengan hal itu tak

dapat tiada kekallah suami istri. Tidaklah bercerai hidup,

melainkan bercerai tembilang."

Midun menatap muka Halimah, seakan-akan mengajuk

bagaimana pikiran gadis itu tentang perkataannya yang

penghabisan itu. Nyata kepadanya pada muka Halimah,

terbayang hati suka dan riang, seolah-olah seseorang mendapat

suatu barang yang tidak ternilai harganya. Halimah tidak

berkata sepatah jua pun. Kemudian sebagai terpaksa, ia pun

berkata juga dengan kemalu-maluan, katanya, "Mudahmudahan

dapatlah sebagai yang Udo cita-citakan itu. Jika

untung, ikan di laut asam di gunung, lamun akan bertemu

takkan dapat disangkal. Sungguhpun demikian, hanya

bergantung kepada nasib jua, Udo!"

Setelah habis perkataan Halimah, maka ia memandang

kepada Midun dengan manis, tetapi mengandung pengharapan.

Kemudian dengan senyum yang amat dalam pengertiannya,

Halimah pura-pura melayangkan pemandangannya ke laut

lepas, melihat ombak Tanjung Cina yang segunung-gunung

tingginya itu. Midun maklum akan arti perkataan dan

pemandangan Halimah. Rasa di awing-awang perasaannya

ketika itu. Napasnya surut lalu semakin cepat, sebentar pula

lambat. Kemudian Midun menarik napas, sebagai orang yang

hendak memutuskan kenang-kenangannya.

Dengan tidak kurang suatu apa, kedua mereka pun sampailah

ke Tanjung Priok, di pelabuhan kota Betawi. Midun dan

Halimali turun dari kapal, lalu terus ke stasiun. Karena hari

masih pagi dan kebetulan ada kereta api ke Bogor, maka

Halimah pun membeli karcis, terus ke negerinya.

12. Tertipu

HARI amat panas, angin berembus lunak lembut. Ketika itu

tengah hari tepat, sedang buntar bayang-bayang. Burungburung

beterbangan dari pohon ke pohon sambil bersiul-siul

dan berbunyi dengan suka dan riangnya. Ada pula yang

melompat-lompat di atas rumput mencari tempat yang

kelindungan, akan melepaskan lelah pulang dan mencari

mangsanya. Pada sebuah bangku dekat sebuah telaga Kebun

Raya di Bogor, duduk seorang muda. Itulah Midun yang sedang

melihat angsa dua sekawan hilir mudik di telaga. Amat berlainan

keadaannya dengan burung-burung di kebun itu. Ia

duduk tidak bergerak, memandang air yang amat jernih dengan

tenangnya. Sungguhpun matanya terbuka, tetapi pikiran Midun

melayang entah ke mana. Entah apa yang terjadi pada

sekelilingnya, tiadalah diketahui Midun. Ia bermenung, seakanakan

ada suatu masalah yang sulit dipikirkannya. Lebih sejam

Midun dengan hal demikian itu, ia pun menarik napas panjang,

sebagai memutuskan pikirannya. Kemudian ia berkata dalam

hatinya, "Sudah hampir sebulan saya di sini, makan tidur saja

sepanjang hari. Akan tinggal menetap saja di sini, apakah yang

akan dapat saya kerjakan, karena di negeri orang. Akan pergi,

berat hatiku meninggalkan Halimah, dan ia sendiri beserta

ayahnya menahani saya pula. Menurut hemat saya, mengingat

pergaulan kami yang sudah-sudah, jika saya katakan apa yang

tercantum di hati saya kepada Halimah, tak dapat tiada enggan

ia menolak, dan tentu diterimanya. Hal itu nyata benar kepada

saya, ketika kami berjalan-jalan berdua saja di kebun ini. Tidak

saya saja yang sangat bercintakan dia, tetapi Halimah kalau

tidakkan lebih, samalah agaknya dengan saya pula. Bukankah

ketika kami duduk di sini, Halimah ada berkata, 'Udo, alangkah

bagusnya angsa dua sekawan itu berenang kian kemari dengan

senangnya, tidak ada yang disusahkannya?' Ketika kami duduk

di bangku dekat sungai sebelah sana, ia berkata pula, 'Aduhai,

Udo! Tampak-tampak oleh saya negeri Padang dan kuburan ibu.

Tahun mana musim pabila, dan dengan jalan apakah lagi maka

tercapai oleh saya negeri yang sangat saya cintai itu?'

Nah, apa lagi, sungguhpun kawat yang dibentuk, ikan di

tebat yang dituju. Bukankah hanya tinggal pada saya saja lagi.

Tetapi, tetapi, kalau saya nyatakan pula perasaan saya dan

diterimanya, apakah yang akan kami makan kelak, karena saya

tidak ada berpencarian. Ah, sudahlah, rezeki elang tak dapat

oleh musang. Jika jodohku tiadakan ke mana, saya perlu mencari

penghidupan dulu. Bukankah pangkal kesenangan itu uang?

Jika ada uang, yang dimaksud sampai dan yang dicita datang.

Tetapi kalau tidak ada uang ... celakalah hidup."

Midun berdiri lalu berjalan menuju Kampung Empang

tempat ayah Halimah tinggal. Pikirannya sudah putus hendak

meninggalkan negeri itu. Segala perasaannya kepada Halimah,

disimpannya dalam peti wasiat di sanubarinya. Nanti jika sudah

datang waktunya, baru ia berani membukakannya. Hampir

sampai ke rumah, dari jauh sudah kelihatan olehnya Halimah

berdiri di tepi jalan di muka rumahnya. Setelah dekat, Halimah

berkata, "Ke mana, Udo? Sudah lama saya menanti belum juga

pulang? Saya sangka Udo sudah sesat, atau ditipu Werak*

(Werner, orang yang mencari-cari kuli kontrak untuk onderneming dan

tambang) supaya Udo suka jadi kontrak." Halimah berkata itu

dengan senyum dan bersenda gurau. Maka Midun berkata pula,

katanya, "Asal orang di sini menipu saya, apa boleh buat.

Sengaja menyeberang kemari, memang akan ditipu orang,

tetapi sampai kini belum juga ada orang yang hendak menipu."

Kedua mereka naik ke rumah. Hidangan sudah tersedia, lalu

mereka itu makan bersama-sama. Setelah sudah makan, ibu tiri

dan ayah Halimah, Midun dan Halimah duduk ke beranda muka.

Tidak lama antaranya, Midunpun berkatalah, "Bapak! Yang saya

maksud dari Padang akan mengantarkan Halimah kemari, sudah

sampai dan selamat tidak kurang suatu apa. Sudah hampir

sebulan saya di sini, hilir mudik tidak keruan saja. Sekarang

biarlah saya mencarikan untung nasib saya barang ke mana.

Akan begini saja sepanjang hari, tentu tidak boleh jadi. Tidak

saja janggal pada pemandangan orang keadaan saya ini, tetapi

bersalahan pula. Saya berjalan tidak jauh, melainkan di tanah

Jawa ini juga.

Akan pulang sekali-kali tidak, karena alangan yang sudah

saya ceritakan kepada Bapak. Sebab itu saya harap Bapak

izinkanlah saya pergi dari sini. Mudah-mudahan kelak, jika ada

hayat dikandung badan, kita bertemu pula."

Muka Halimah pucat mendengar perkataan Midun yang

sekonyong-konyong itu datangnya. Sudah sebulan di Bogor tak

ada disebut-sebut Midun kepadanya tentang hal itu. Setiba-tiba

ia hendak pergi saja. Halimah berpikir kalau-kalau ada

perkataannya yang salah, atau ada yang tidak menyenangkan

hati Midun di rumah itu. Biar bagaimanapun jua ia berpikir,

satu pun tak ada teringat kepadanya. Dalam pada itu, bapak

Halimah berkata, katanya, "Bagi bapak, kalau boleh, Anak

tinggal di sini saja. Anak, bapak pandang tidak sebagai orang

lain lagi, melainkan sudah sama dengan Halimah. Ada sama kita

makan, tidak sama ditahan. Lagi pula Halimah tentu akan

canggung Anak tinggalkan, sebab Anak sudah disangkanya ...

tidak sebagai orang lain lagi."

"Benar kata Bapak itu," ujar Midun, "tetapi akan begini

sajakah selamanya? Syukur kalau Bapak masih mencari, tetapi

jika Bapak tidak kuat lagi, bagaimana? Sebab itu saya berharap

benar-benar, Bapak izinkan juga saya pergi hendaknya. Tentang

Halimah, saya rasa tentu dia akan mengizinkan, sebab saya berjalan

ini dengan maksud baik, lagi tidak jauh. Besok sebolehbolehnya

dengan kereta api pagi saya berangkat ke Betawi."

Walau bagaimana juga ketiga beranak itu menahaninya,

tetapi Midun keras jua hendak pergi. Oleh sebab itu maka

diizinkanlah oleh mereka, tetapi jangan jauh dari Bogor, dan

berharap bertemu jua kelak. Midun berjanji pula, bahwa ia

tidak akan jauh, dan bila akan kembali ke Padang, tentu ia

menemui mereka itu lebih dahulu.

Pada malam itu Midun membuat sepucuk surat untuk

Halimah, yang akan diberikannya. Jika dikatakan dengan mulut

tidak akan terkeluarkan, apalagi di muka bapak Halimah. Surat

itu ditulisnya dengan tulisan cara surau saja. Demikian

bunyinya:

Bogor, 20 Februari 19..

Adikku Halimah!

Sungguhpun Adinda sudah mengaku kakak kepada kakanda,

tetapi perasaan sudah sama-sama dimaklumi. Pada ruangan

mata Adinda, nyata kepada kakanda apa yang tersimpan dalam

dada Adinda. Tetapi kakanda berlipat ganda daripada itu.

Harapan kakanda besar, cita-cita kakanda tinggi terhadap

kepadamu, Adikku! Kakanda minta dengan sangat, harapan

kakanda yang mulia dan suci bersih itu, janganlah kiranya

Adinda putuskan. Jika Adinda abaikan, nyawa kakanda

tentangannya. Sebab itu sudilah kiranya Adinda mengikat erat,

menyimpai teguh untuk sementara waktu. Kepergian kakanda

ini tersebab Adinda dan keperluan kita berdua.

Peluk cium kakanda,

MIDUN

Setelah sudah surat itu dilipatnya, lalu dimasukkannya ke

saku bajunya. Maka Midun pun tidurlah dengan nyenyaknya,

sebab pikirannya sudah tetap. Pagi-pagi benar ia sudah bangun.

Sudah minum pagi mereka pun pergilah bersama-sama

mengantarkan Midun. Baru saja sampai di stasiun, Halimah

pergi membeli karcis ke Betawi. Kemudian karcis itu diberikannya

kepada Midun. Karena Midun merasai selain daripada karcis

ada pula sebuah surat, maka waktu itu Midun segera pula

mengambil surat yang dibuatnya semalam, lalu diberikannya

kepada Halimah. Hal itu seorang pun tak ada yang melihat,

karena bapak ibu dan famili yang lain sudah masuk ke dalam

stasiun.

Kereta sudah datang, maka mereka itu pun bersalamsalaman.

Yang pergi meminta maaf dan memberi selamat

tinggal, yang tinggal begitu pula, lalu memberi selamat jalan.

Ketika Midun bersalam dengan Halimah, tangan mereka

gemetar, s.ama-sama tak hendak melepaskan. Sesaat kemudian

Midun berkata, "Halimah, jangan saya dilupakan!"

Midun melepaskan tangan Halimah, lalu melompat naik

kereta. Sampai kereta api berangkat, ia tidak memperlihatkan

mukanya ke jendela kereta. Amat sedih hatinya bercerai

dengan kekasihnya itu. Tetapi apa hendak dikatakan, karena ia

terpaksa meninggalkan gadis yang dicintainya itu. Halimah pun

lebih-lebih lagi, sekuat-kuatnya ditahannya kesedihan hatinya,

karena takut akan diketahui ayahnya, ibu tiri, dan familinya.

Sungguhpun demikian mukanya sangat pucat, air matanya

berlinang-linang dan ia sebagai terpaku di muka stasiun itu.

Sampai kereta api hilang dari matanya, baru ia pulang. Itu pun

kalau tidak ditarik adiknya, tidaklah ia sadarkan dirinya.

Setelah kereta api berangkat, Midun segera mengambil

surat Halimah dari sakunya. Untung surat itu bertulis dengan

tulisan Arab. Dalam surat itu dilampirkannya sehelai uang

kertas f 50,-. Surat itu demikian bunyinya:

Bogor, 20 Februari 19 ....

Paduka Kakanda yang tercinta! Dengan hormat!

Setelah jauh tengah malam, baru adinda maklum apa

maksud Kakanda meninggalkan adinda. Sekarang insaflah

adinda akan ujud perkataan Kakanda kepada ayah yang

mengatakan "maksud baik" kemarin. Dan adinda mengerti pula,

apa sebabnya Kakanda menyimpan rahasia hati Kakanda selama

ini terhadap kepada adinda. Pergilah Kakanda, pergilah! Lamun

Halimah tidakkan ke mana. Adinda akan setia dari dunia lalu ke

akhirat kepada Kakanda. Sebab itu janganlah Kakanda siasiakan

pengharapan adinda, anak piatu ini. Adinda siap akan

menyerahkan nyawa dan badan adinda, bilamana saja Kakanda

kehendaki.

Bersama ini adinda sertakan uang sedikit untuk belanja di

jalan. Harap Kakanda terima dengan segala suci hati. Selamat

jalan!

Peluk cium adinda,

HALIMAH

Surat ini dimasukkan Midun kembali ke sakunya perlahanlahan.

Pikirannya melayang kepada pergaulannya kelak,

manakala ia sudah menjadi suami istri dengan Halimah.

Kemudian teringat pula oleh Midun akan perjalanannya itu. la

belum pernah ke Betawi, hanya melihat kota itu dari atas

kereta api saja. Ke manakah ia akan pergi, karena seorang pun

belum ada yang kenal kepadanya di Betawi?

Dalam Midun berpikir-pikir demikian itu, sambil melihat ke

luar dari jendela kereta api, kedengaran olehnya suara orang,

katanya, "Assalamu'alaikum!"

Midun melihat lalu menyahut, "Wa'alaikumussalam!" Seorang

Arab bersalam dengan Midun, lalu duduk dekatnya, karena di

situ ada tempat terluang. Setelah orang Arab itu duduk, ia

berkata pula, "Bang hendak ke mana?"

"Hendak ke Betawi!" jawab Midun dengan hormatnya. "Kalau

saya tidak salah, Bang tinggal di Empang, betul?"

"Betul, Tuan juga acap kali saya lihat lalu lintas pada jalan

di muka rumah tempat saya tinggal. Tuan tinggal di Empang

jugakah?"

"Tidak. Saya cuma menumpang saja di situ, di rumah

saudara saya. Sudah dua bulan lamanya sampai sekarang.

Rumah tempat tinggal saya di Betawi. Saya di Bogor, sebab ada

urusan perniagaan."

"Kalau begitu, berniagakah Tuan di Betawi?"

"Ya, betul. Maksud Bang ke Betawi apa pula? Abang orang

berniaga seperti saya juga?"

Mendengar pertanyaan itu, Midun berbesar hati. Dari tadi ia

memikirkan, ke mana ia akan pergi setelah sampai di Betawi.

Sekarang ia sudah berkenalan dengan seorang yang tinggal di

Betawi. Kata Midun dalam hatinya.

"Sekaranglah yang sebaik-baiknya akan menceritakan hal

saya terus terang kepada orang Arab ini. Biarlah saya katakan

saja apa maksud saya ke Betawi. Mudah-mudahan karena ia

seorang Arab, berasal dari Tanah Suci, sudi ia menolong saya.

Ah, kalau ia suka mengajar saya berniaga, alangkah baiknya.

Maka Midun berkata, katanya, "Saya ini bukan saudagar, Tuan!

Saya baru datang ke tanah Jawa ini. Sampai sekarang baru

sebulan saya di sini. Maksud saya ke Betawi ini, hendak mencari

penghidupan. Saya amat ingin hendak menjadi orang berniaga.

Sudikah Tuan mengajar saya berniaga?"

"Jadi Abang orang mana?"

"Saya orang Padang."

"Belum pernahkah Abang ke Betawi?"

"Tidak pernah sekali juga. Dari Padang saya terus saja ke

Bogor."

"Baiklah. Kalau Bang suka, dengan karena Allah saya suka

menolong dan mengajar Abang berniaga."

"Terima kasih banyak, Tuan! Asal Tuan suka mengajar saya

berniaga, sekalipun akan Tuan jadikan orang suruh-suruhan

dulu, saya terima dengan segala suka hati."

"Baiklah. Nanti kalau kereta sudah sampai di Betawi, ikutlah

ke rumah saya! Nama Bang siapa?"

"Nama saya Midun. Saya harap karena Tuan sekarang sudah

saya pandang sebagai induk semang saya, jangan lagi Tuan

memanggil 'abang' kepada saya. Sebut sajalah nama saja!"

"Baiklah. Begitu pula sebaliknya, sebab Midun sudah

mengaku induk semang kepada saya, tentu Midun harus pula

mengetahui nama saya. Saya bernama Syekh Abdullah al-

Hadramut. Sekarang saya mau bertanya sedikit, tapi saya harap

jangan gusar. Waktu Midun datang ke Bogor tempo hari, saya

lihat bersama istri. Tentu saja istri Midun itu orang Padang

pula, sebab Midun belum pernah kemari. Apakah sebabnya

ditinggalkan di rumah orang Sunda di Bogor? Di manakah Midun

berkenalan dengan dia?"

Lama Midun berpikir akan menjawab pertanyaan orang Arab

itu. Akan dikatakannya bukan istrinya, memang gadis itu bakal

istrinya juga.

"Ah, lebih baik dikatakan istri saya saja," kata Midun dalam

hatinya. Maka katanya, "Istri saya itu orang sini, dan kawin

dengan saya waktu di Padang dahulu. Tempatnya menumpang

di Empang itu, rumah orang tuanya sendiri. Jadi sementara

saya mencari pekerjaan, saya suruh ia tinggal bersama orang

tuanya dahulu."

"Oooo, begitu!"

Setelah sampai di stasiun Betawi, Midun pergilah bersama

Syekli Abdullah al-Hadramut, ke rumahnya di Kampung

Pekojan. Maka tinggallah Midun bersama-sama, dengan dia di

rumahnya. Ada sebulan lamanya Midun berjalan hilir mudik saja

menurutkan Arab itu berniaga. Dengan hal demikian, ia telah

mengetahui jalan-jalan di kota Betawi. Bahasa negeri itu pun

sudah mahir pula kepadanya. Begitu pula tentang hal berniaga,

ia sudah agak paham. Maka Midu n pun mulailah berniaga. Uang

yang f 50,- yang diberikan Halimah diambilnya akan jadi pokok.

Syekh Abdullah al-Hadramut memberikan kain seharga f 100,-

kepadanya. Maka ia pun berkata kepada Midun, katanya, "Harga

kain ini f 100,-. Jadi kita berpokok f 50,- seorang. Kalau

beruntung, kita bagi tiga. Sepertiga untuk saya dan dua per tiga

keuntungan bagimu. Sukakah engkau dengan aturan begitu?"

Karena Midun sangat percaya kepada orang Arab, ia pun

menganggukkan kepala saja. Dan menurut aturan berniaga,

memang sudah sepatutnya. Tetapi dalam pada itu Syekh

Abdullah sudah mengambil keuntungan lebih dulu daripada

harga kain itu. Penipuan itu sekali-kali Midun tidak mengetahui.

Bahkan akan menyelidiki benar tidaknya harga kain sekian tidak

pula terpikir di hatinya, karena kepercayaannya penuh kepada

orang Arab itu.

Enam bulan Midun berjaja, pada suatu malam ia berkata

kepada Syekh Abdullah, katanya, "Tuan, rupanya agak kurang

cepat menjual kain di kota ini. Dalam sehari hanya laku limaenam

helai saja. Tidak baikkah kalau saya pergi ke negeri yang

dekat-dekat di sini, misalnya ke Tangerang, Kebayoran, dan

lain-lain?"

"Kalau begitu Midun belum pandai berniaga," ujar Syekh

Abdullah. "Mari saya tunjuki jalannya, supaya lekas tebal.

Memang jika dijual tunai, susah melakukannya di sini. Sebab itu

lebih baik Midun perutangkan di kampung-kampung. Bayarannya

pungut tiap-tiap hari Sabtu, sebab kebanyakan orang sini

gajian satu kali seminggu. Jika diutangkan, taruh harga kain itu

lebih mahal, menurut beberapa ia berani mengangsur tiap-tiap

minggu, Misalnya kalau harga 13,20,-. Jadi tiap-tiap minggu ia

harus membayar f 0,40,-. Bukankah dengan jalan itu kita

beruntung besar? Kesusahannya tidak ada, sebab Midun berjalan

juga tiap-tiap hari."

Perkataan itu tidak sesuai sedikit jua dengan pikiran Midun.

Pada pikirannya perbuatan itu jahat, sebab terlampau memakan

benak orang. Meskipun dia yang sudah-sudah menurut

saja apa yang dikatakan induk semangnya, tetapi sekali ini

pengajaran itu tidak sedikit jua sesuai dengan kemauannya.

Midun termenung saja mendengar perkataan Syekh Abdullah

yang demikian itu. Akan diteruskannya jua menjajakan kain ke

kampung, pasti tidak akan laku. Tiba-tiba timbul pikiran lain

dalam hati Midun, lalu ia berkata katanya, "Sekarang lebih baik

saya jangan menjajakan kain lagi, Tuan! Saya ingin hendak

berkedai di pasar, di tepi-tepi jalan. Biarlah saya beli saja di

toko. Tetapi pokok saya sekarang, tentu tidak mencukupi.

Sudikah Tuan meminjami saya uang barang f 100,-? Jika Tuan

pinjami lagi saya uang f 100,- jumlah uang Tuan pada saya

dengan yang dahulu f 150,-. Sekarang baiklah kita hitung laba

rugi selama saya menjajakan kain."

"Itu lebih baik lagi," ujar Syekh Abdullah, "supaya Midun

dapat belajar sendiri mengemudikan perniagaan. Saya pun

lebih suka, kalau saya tidak campur. Dan saya suka memberi

uang pinjaman, tetapi Midun tahu sendiri, tentu saya

mengambil untung sedikit."

"Tentu saja, Tuan!" ujar Midun. "Dalam hal itu saya ada

timbangan bagaimana yang patut, karena uang Tuan saya

pakai."

Setelah selesai mereka itu membagi keuntungan penjualan

kain yang sudah, maka Syekh Abdullah al-Hadramut menulis

sepucuk surat utang. Surat utang itu disuruhnya tanda tangani

oleh Midun. Dengan tidak berpikir lagi, ia menandatangani

surat itu dengan tulisan Arab, lalu uang itu diambilnya. Ia

berjanji, bahwa uang itu dalam 8 bulan akan dikembalikannya.

Dengan senang hati Midun pergi, karena ia tidak lagi berjalan

kian kemari di seluruh kota Betawi. Ia memuji-muji kebaikan

Syekh Abdullah al-Hadramut, karena mempercayai dia meminjamkan

uang f 150,- itu. Dalam hatinya ia berjanji,

manakala beruntung, akan dibelikannya barang sesuatu untuk

istri Syekh Abdullah. Maka Midun berjalan mencari rumah

tempat membayar makan. Ia mencari rumah yang agak dekat

Pasar Senen, sebab ia bermaksud di sana akan membuka kedai.

Setelah didapatnya rumnh tempat tinggal di Kampung Kwitang,

lalu Midun pergi membeli barang. Pada keesokan harinya, ia

pun mulai berkedai di Pasar Senen. Setelah sudah berkedai

segala kain itu dibawa oleh seorang kuli pulang ke rumahnya.

Demikianlah pekerjaan Midun tiap-tiap hari.

Adapun akan Syekh Abdullah al-Hadramut, sekali seminggu

datang juga ke kedai Midun. Belum cukup sebulan Midun berkedai.

pada suatu hari ia disuruh datang oleh induk semangnya

ke Pekojan. Pada malam yang dijanjikan itu, Midun datanglah

ke rumah induk semangnya. Setelah sudah makan minum, maka

Syekh Abdullah berkata, "Adakah baik jalannya selama engkau

berkedai, Midun?"

"Baik juga, Tuan!" ujar Midun. "Sekurang-kurangnya dalam

sehari terjual seharga f 50,-. Kadang-kadang dicapainya sampai

f 75,-."

"Baik benar kalau begitu. Tidak lama lagi hari akan puasa.

Tidak perlukah Midun menambah pokok lagi?"

"Jika Tuan percaya dan sudi meminjami saya, terima kasih

banyak, Tuan! Memang dengan pokok sebanyak sekarang tak

dapat saya mencukupi kehendak orang. Ada yang meminta kain

ini, kain itu, tetapi tidak ada saya taruh. Sedangkan sekarang

demikian keadaannya, apalagi kalau sedikit hari lagi."

"Baiklah, ini saya tambah f 100,- lagi untuk pokok. Tetapi

supaya terang berapa uang saya kepada Midun, tentu engkau

harus menekan surat utang pula."

"Tentu saja, Tuan! Jika tidak demikian, tidak terang,

berapa uang Tuan pada saya."

Midun menekan surat utang pula sehelai lagi. Uang

diterimanya f 100,-. Jadi jumlah utang Midun sudah f 250,-

dengan yang f 150,dahulu itu.

Maka berniagalah Midun dengan sungguh-sungguh hati.

Karena ia tidak banyak mengambil untung tiap-tiap helai kain,

amat banyak orang membeli kain kepadanya. Pada pikiran

Midun, biar sedikit untung, tetapi banyak laku. Dengan hal

demikian, ada kira-kira empat bulan Midun berniaga.

Pada suatu malam, Midun menghitung berapa keuntungannya

selama berkedai kain. Dengan tidak disangka-sangkanya,

dengan pokok lebih kurang f 300,-, ia mendapat keuntungan

bersih hampir f 200,-. Midun lalu berkata dalam hatinya, "Lain

daripada barang, uang kontan sekarang ada pada saya f 350,-.

Supaya saya jangan bersangkut paut juga pada induk semang

saya, lebih baik besok saya bayar uangnya sama sekali. Setelah

itu saya berikan uang untuk istrinya f 50,-, atau saya belikan

barang yang harga sekian itu. Sudah itu saya berniaga dengan

pokok saya sendiri. Insya Allah, jika Tuhan menurunkan

rahmatnya sebagai yang sudah-sudah jua, barangkali dalam 2

atau 3 bulan lagi sampai apa yang saya citacitakan dengan

Halimah. Ah, alangkah senangnya kami berniaga berdua!

Aduhai…"

Pada keesokan harinya Midun tidak berkedai. Ia pergi ke

rumah induk semangnya ke Pekojan. Dari jauh Midun sudah

tersenyum, ketika Syekh Abdullah melihatnya dari beranda

muka rumahnya. Setelah sampai, Midun dan induk semangnya

bercakap-cakaplah tentang perkara perniagaan. Sesudah minum

kopi, Midun berkata, "Jika tidak ada Tuan, tidaklah saya jadi

begini. Tuanlah yang mengajar saya berniaga. Meskipun saya

belum pandai benar berniaga, tetapi memadailah ajaran Tuan

selama ini untuk berniaga-niaga kecil. Buktinya, dalam empat

bulan saja saya jalankan, sudah beruntung lebih kurang f,200,-.

Oleh sebab itu, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih

kepada Tuan, karena Tuan telah membukakan mata saya dari

pada yang gelap kepada yang terang.

Jika ada izin Tuan, saya bermaksud_ hendak tegak sendiri.

Artinya, iztang saya yang f 250,- kepada Tuan itu akan saya

bayar sekarang. Dan saya mulai berniaga pula dengan pokok

saya sendiri. Menurut aturan, sebab uang Tuan sudah sekian

lama saya pakai, tentu tidak akan saya lupakan. Maka

demikian, akan selamanya saya Tuan tolong, tentu tidak

mungkin. Bila masanya lagi saya akan berdiri sendiri. Sebab itu

Tuan izinkanlah kiranya saya, biarlah saya cobacoba pula

berniaga sendiri. Sungguhpun begitu, saya harap Tuan ulangulangi

juga saya ke kedai saya. Siapa tahu, jika ada hal apaapa

yang menimpa diri saya, sebab malang dan mujur tidak

bercerai, hanya Tuanlah yang saya harap akan menolong saya

di Betawi ini. Tak ada yang lain harapan saya, melainkan Tuan."

"Jika Midun mau berniaga dengan pokok sendiri, bagi saya

tidak ada alangan," ujar Syekh Abdullah. "Itu lebih bagus lagi,

dan saya pun mau menolong Midun bilamana perlu. Sekarang

kalau Midun hendak membayar utang Midun kepada saya,

bayarlah!"

Dengan segera Midun mengeluarkan uang dari saku bajunya

sebelah dalam, lalu dihitungnya f 250,-, sebanyak yang

diberikan Syekh Abdullah kepadanya. Pada pikirannya, setelah

uang itu diterima induk semangnya, ia akan pergi ke belakang,

kepada istri Syekh Abdullah memberikan uang f 50,- lagi atau

dibelikannya barang menurut kehendak istri induk semangnya

itu.

Setelah uang itu dihitung Syekh Abdullah al-Hadramut, ia

pun berkata, "Mana lagi, Midun? Ini belum cukup."

"Yang lain maksud saya akan saya belikan barang untuk istri

Tuan!" ujar Midun.

"Ah, itu tidak perlu. Biarlah saya sendiri membelikan dia.

Kemarikanlah uang itu! Berapa?"

"Kalau begitu, baiklah!" ujar Midun dengan heran, sebab

pada pikirannya, kalau uang diberikan, samalah halnya dengan

bunga uang. Hal itu terlarang menurut agama. Maka Midun

mengeluarkan uang pula f 50,- lalu berkata pula, "Hanya

sebeginilah maksud saya hendak memberikan kepada istri Tuan,

sebab uang Tuan telah sekian lama saya pakai. Uang ini akan

saya berikan kepada beliau, melainkan sebagai hadiah saya,

karena saya sudah beruntung berniaga. Tetapi Tuan meminta

uang ini. Jika Tuan terima uang ini, tidaklah sebagai bunga

uang namanya? Bukankah hal itu terlarang dalam agama kita?

Lupakah Tuan akan itu?"

"Apa? Bunga uang?" ujar Syekh Abdullah al-Hadramut. "Ini

bukan perkara bunga. Uang yang f 250,- ini belum cukup. Midun

mesti bayar sebanyak yang ditulis dalam kedua surat utang

Midun; jumlahnya semua f 500,-."

Terperanjat sungguh Midun mendengar perkataan Syekh

Abdullah itu. la tahu uang yang dipinjamnya, cuma f 250,- tibatiba

sekarang jadi f 500,-. Maka ia pun berkata dengan cemasnya,

katanya, "Berapa, Tuan? f 500,-? Mengapa jadi f 500,-,

padahal saya terima uang dari Tuan cuma f 250,-?"

"Ya, f 500,-!" ujar Syekh Abdullah pula. "Midun mesti bayar

f 500,- sekarang, sebab sekian ditulis dalam surat utang."

Muka Midun jadi merah menahan marah, karena ia maklum,

bahwa ia sudah tertipu. Amat sakit hatinya kepada orang Arab

itu. Ia tidak dapat lagi menahan hati, karena sangat panas

hatinya. Ketakutannya hilang, kehormatannya kepada orang

Arab lenyap sama sekali. Maka ia pun berkata, katanya,

"Selama ini saya takut dan hormat betul kepada Tuan. Pada

pikiran saya Tuan seorang yang suci, sebab berasal dari tanah

Arab. Apalagi Tuan sudah syekh, saya percaya sungguh.

Rupanya persangkaan saya itu salah. Kalau begitu, Tuan

seorang penipu besar, sama halnya dengan lintah darat yang

dikutuki Tuhan. Rupanya saya sudah Tuan jerat. Apakah

maksud Tuan dengan uang yang f 250,- lagi itu? Akan jadi

bunganyakah?

Tidakkah Tuan tahu, bahwa menurut agama Islam terlarang

memperbungakan uang? Bukankah memakan riba dengan cara

demikian itu? Sungguh tidak saya sangka hal ini terjadi pada

orang Arab."

"Diam, engkau jangan berkata begitu sekali lagi," kata Syekh

Abdullah dengan marah. "Jangan terlalu kurang ajar kepada

saya.

Saya amat baik kepadamu, tetapi dengan ini engkau balas.

Jika engkau berani berkata sekali lagi, nanti saya adukan.

Engkau boleh saya bawa perkara, supaya engkau tahu bahwa

saya seorang baik."

"Macam Tuan ini, orang pemakan riba, seorang baik?" ujar

Midun dengan sengit. "Orang gila agaknya orang yang

menyangka demikian itu. Tuan hendak membawa saya perkara?

Ke langit Tuan adukan, saya tidak takut perkara dengan orang

macam ini. Saya berdiri atas kebenaran, ke mana pun jua saya

mau perkara."

Midun segera mengambil uangnya yang f 300,- itu kembali,

lalu dimasukkannya ke dalam saku bajunya. Sambil berjalan

keluar rumah itu, ia pun berkata pula, katanya, "Tak ada

gunanya kita berbalah jua, adukanlah ke mana Tuan suka! Saya

tidak hendak membayar utang saya, sebelum perkara."

Sepanjang jalan pikiran Midun berkacau saja. Hatinya amat

panas, karena tertipu pula. Midun tidak mengerti apa sebabnya

Arab itu berbuat demikian kepadanya. Lagi pula ia amat heran,

sebab seorang Arab seberani itu menipu orang. Maka kata

Midun dalam hatinya, "Sungguh ajaib, sepuluh kali ajaib,

karena hal ini terjadi pada seorang Arab dan syekh pula. Siapa

yang akan menyangka, orang yang demikian itu suka memakan

riba. Benar ajaib dunia ini, jika kurang awas, binasa diri. Pada

pikiran saya, orang Arab ini baik belaka, apalagi yang sudah

syekh. Kiranya ada pula yang lebih jahat dan lebih busuk lagi

tabiatnya. Bahkan tidak bermalu pula; senang saja ia

mengatakan uang f 250,- jadi f 500,- bermuka-muka. (Ia tidak

tahu bahwa dalam surat yang kedua f 300,-. Itulah

kemalangannya tidak tahu di mata surat.) Lain daripada saya,

tentu banyak lagi agaknya orang yang sudah terjerat macam

saya ini. Amat panas hatiku mengenangkan penipuan yang

sangat halus dan menyakitkan hati itu. Biarlah, saya tidak akan

membayar utang itu. Hendak diapakannya saya. Meskipun ia

mengadu, saya tidakkan takut."

Demikianlah pikiran Midun, sebentar begini, sebentar

begitu. Dengan tidak disangka-sangkanya, ia telah sampai di

rumah tempatnya membayar makan. Sampai di rumahnya,

segala barang-barangnya yang masih tinggal dibawanya ke

Pasar Senen, lalu dijualnya semua kepada kawan-kawannya

yang sama berniaga dengan dia. Uang itu, yang jumlahnya

semua lebih f 500,- disimpannya dalam saku bajunya, sedikit

pun tak bercerai dengan dia. Ia tidak berkedai lagi, melainkan

bersenang-senangkan diri saja. Jika ditanyakan orang, apa

sebab Midun tidak berkedai lagi, jawabnya, hendak bersenangsenangkan

diri dulu barang satu atau dua bulan.

13. Memperebutkan Pusaka.

"CING, picing, piiiicing," bunyi murai, waktu senjakala di atas

sepohon kayu di belakang rumah orang tua Midun. Kemudian

kedengaran pula bunyi burung serak di dalam parak dekat

rumah. Menurut kepercayaan, manakala ada orang sakit

kedengaran bunyi demikian, alamat ada yang tidak baik akan

datang. Karena Pak Midun masa itu dalam sakit payah, darah

anak istrinya tersirap mendengar bunyi itu. Juriah memandang

kepada ibunya dengan sayu, lalu menyelimuti bapaknya. Ibunya

segera meminumkan obat sambil mengusap dahi suaminya.

Manjau yang baru saja menutup pintu kandang ayam,

melompat ke rumah mendekati ayahnya. Ibu dan kedua anak

itu dalam kecemasan amat sangat. Tegak resah, duduk gelisah,

sedikit pun tidak senang diam. Sebentar-sebentar si istri

memandang kepada suaminya, si anak melihat kepada bapaknya.

Mereka itu percaya sungguh kepada tahayul, hanya Manjau

yang agak kurang, sebab sudah hersekolah.

Adapun Pak Midun, sejak menerima surat anaknya dari

Padang, selalu dalam bersusah hati. Sungguhpun Maun datang

juga kepadanya tiap-tiap hari, tetapi lamun anaknya yang

sulung itu tidaklah dapat dilupakan orang tua itu. Berbagai

ikhtiar Maun, agar kenangkenangan Pak Midun lenyap kepada

Midun, tetapi sia-sia belaka. Kedatangan Maun jangankan

menyenangkan hatinya, bahkan makin menambah dalam susah

hatinya. Asal ia menampak Maun, Midun sudah terbayang di

matanya. Ia sendiri ada juga berusaha supaya Midun dapat

dilupakannya, tetapi sia-sia saja. Hancur luluh hati Pak Midun

bilamana melihat teman Midun di kampung itu. Keadaannya

tak ubahnya sebagai orang yang kurang sempurna akal, sejak

ditinggalkan anaknya yang sangat dikasihinya itu. Pekerjaan

Pak Midun pun tidak berketentuan lagi. Kerap kali ia

bermenung kemudian menengadah, seakan-akan memasukkan

air mata yang hendak jatuh kembali, yang disukainya pergi ke

tepi sungai, duduk seorang diri sambil memandangi air hilir.

Pikirannya seperti air itu pula, berhanyut-hanyut entah ke

mana. Tidak seorang-dua yang memberi nasihat, agar Midun

dilupakannya, tetapi sia-sia saja. Lebih-lebih Haji Abbas dan

Pendekar Sutan, acapkali datang menasihati Pak Midun.

Mendengar keterangan Haji Abbas, ia berjanji tidak akan

mengenang-ngenangkan Midun lagi. Dia sendiri ada mengatakan

kepada Haji Abbas, "Memang anak laki-laki sudah demikian.

Anak kita hanya dari umur 13 tahun ke bawah. Lewat daripada

itu bukan anak kita lagi. Dan lagi bukankah tidak Midun seorang

saja anak saya. Masih ada dua orang lagi yang akan

menggantikannya."

Tetapi setelah Haji Abbas pergi, pikirannya kepada Midun

timbul pula kembali. Rupanya Pak Midun bersedih hati bukan

karena Midun meninggalkannya pergi merantau ke negeri

orang, melainkan hal yang menyebabkan perceraian itulah yang

sangat melukai hatinya. Apalagi Kacak musuh Midun, masa itu

sudah menjadi Penghulu Kepala. Maka semakin putuslah

harapannya akan bertemu dengan Midun.

Demikianlah hal Pak Midun habis hari berganti pekan, habis

pekan berganti bulan. Ia selalu bercintakan Midun, sedikit pun

tidak hendak luput dari pikirannya. Badan Pak Midun makin

lama makin bertambah kurus. Kesudahannya ia pun jatuh sakit.

Berbagai-bagai obat yang telah dimakannya, jangankan

menyembuhkan, melainkan penyakitnya bertambah dalam.

Anak istri Pak Midun berusaha sedapat-dapatnya, mudahmudahan

penyakit itu sembuh, tetapi sia-sia saja. Sungguhpun

demikian, ibu dan anak itu belum putus harapannya. Mereka

membela dengan sungguh-sungguh hati, karena mereka itu tahu

bahwa orang tua itulah tempatnya bergantung.

Sebulan Pak Midun sakit, datanglah famili Pak Midun menjemput

si sakit akan dibawanya ke rumah saudaranya. Didapati

mereka mamak Manjau yang menjadi penghulu kaumnya ada

pula di situ. Setelah sudah makan minum, maka kemenakan Pak

Midun yang bergelar Sutan Menindih berkata kepada mamak

Manjau katanya, "Mamak! Kedatangan saya kemari, ialah

menurut adat kebiasaan yang sudah kita pakaikan jua. Karena

mamak saya sakit, kami bermaksud hendak membawa beliau ke

rumah kami. Sebab itu saya harap Mamak dan Ibu sudi

mengizinkan."

"Memang kedatangan Sutan ini sudah menurut adat," ujar

Datuk Paduka Raja. "Sungguhpun demikian, karena sakit Pak

Midun saya lihat masih berat, tidakkah dapat ditangguhkan dulu

sampai sakit beliau ringan sedikit?"

"Sudah sebulan beliau sakit di sini, rasanya sudah patut

kami jemput. Jika lebih lama lagi beliau di sini, tentu pada

pemandangan orang, kami sebagai tidak mengacuhkan mamak

kami."

"Benar kata Sutan itu. Bagi saya atau pun ibu Juriah tentu

tidak ada alangannya. Kami tidak kuasa menahannya, karena

sudah menjadi adat kebiasaan kepada kita begitu. Tetapi cobalah

Sutan tanyakan dulu kepada Pak Midun, adakah kurang sakit

beliau dan sanggupkah berjalan?"

"Hal itu tidaklah akan menjadi alangan, Mamak. Jika beliau

tidak dapat berjalan, biarlah kami tandu bersama-sama dengan

kursi."

Maka Sutan Menindih masuk ke bilik tempat Pak Midun

sakit, lalu berkata-katanya, "Saya datang kemari akan menjemput

Mamak. Dapatkah Mamak berjalan atau kami tandu bersama-

sama?"

Pak Midun yang sudah kurus kering dan pucat itu membuka

matanya perlahan-lahan. Ia melihat orang yang berkata

kepadanya, lalu berkata, "Engkau Midun, anakku?"

"Bukan Mamak, saya Sutan Menindih," ujar Sutan Menindih.

"Kami datang kemari akan menjemput Mamak."

"Tidak sampai hati kami melepaskan Mamak Sutan," ujar ibu

Juriah dengan sedih. "Lihatlah, badannya sudah tinggal kulit

pembalut tulang. Rupanya pucat sebagai kain putih. Ia selalu

mengigau menyebut Midun saja. Jangankan berjalan, menggerakkan

badan ia pun tidak dapat."

"Biarlah kami papah perlahan-lahan ke tandu dan kami pikul

lambat-lambat," ujar Sutan Menindih pula.

Pak Midun melihat sekali lagi. Setelah nyata kepadanya

bahwa kemenakannya yang berkata itu, maka katanya

perlahan-lahan, "Saya tak dapat berjalan, tak dapat bergerak,

seluruh tubuh saya sakit. Sebab itu saya jangan dibawa, saya

tidak suka."

"Kalau begitu Mamak hendak memberi malu kami," ujar

Sutan Menindih. "Tentu kami dibodohkan dan dihinakan orang,

sebab Mamak kami biarkan sakit di sini."

Pak Midun menutupkan matanya sebagai menahan sakit.

Napasnya turun naik amat deras, mukanya makin bertambah

pucat. Juriah segera merasai kaki ayahnya. Sambil meminumkan

obat, ia pun berkata, "Ibu, ayah pingsan!"

Segala isi rumah itu cemas mendengar perkataan Juriah.

Lebih-lebih ibu Juriah, sangat terkejut mendengar perkataan

anaknya. Dengan segera ia mendekati, lalu meraba-raba badan

Pak Midun. Orang tua itu tidak berdaya lagi. Jika tidak dirasai

dadanya, tak dapat tiada orang menyangka ia sudah mati.

Sudah dua kali ia selap dengan itu; tetapi yang sekali ini payah

benar. Orang di rumah itu semuanya berdiam diri, seorang pun

tak ada yang berani bergerak, apa pula berkata-kata. Setengah

jam kemudian, Pak Midun membukakan mata pula, lalu berkata,

"Jika sekiranya akan memberi malu orang Tanjung saya di

sini, bawalah! Tetapi ibu Juriah mesti mengikut, karena dia

perlu membela saya."

Maka dibuat oranglah sebuah tandu daripada kursi. Setelah

selesai, Pak Midun diangkat bersama-sama ke tandu itu. Maka

diusung oranglah ia perlahan-lahan menuju rumah familinya.

Ibu Juriah dan Manjau pergi pula mengiringkan tandu itu. Yang

tinggal di rumah hanya Juriah dengan mamaknya. Tidak lama

orang itu pergi, Juriah berkata kepada mamaknya, katanya,

"Mamak! Apakah sebabnya Sutan Menindih tadi mengatakan

'memberi malu kalau ayah sakit di sini?"

"Kau rupanya belum mengerti," ujar Datuk Paduka Raja,

"dengarlah saya terangkan! Adapun ayahmu itu, menurut kata

adat, 'abu di atas tunggul' di rumah kita. Artinya, bila ditiup

angin ia terbang. Ayahmu adalah orang semenda bagi kaum

kita. Jadi ia famili karena perkawinan ibu dan ayahmu. Jikalau

kita tidak suka kepadanya atau kebalikannya, boleh pergi

sembarang waktu. Oleh sebab itu, ayahmu adalah sebagai

orang menumpang di rumah ini. Boleh diusir dan dia pun boleh

pergi bilamana ia suka. Karena itu tentu Sutan Menindih

mengatakan 'memberi malu', mamaknya suka di rumah

penumpangan."

"Tetapi bukankah ayah sakit di rumah anak kandung beliau?

Kamilah yang menyelenggarakan beliau dalam sakit. Lain

perkara kalau kami orang lain, sudah patut ia berkata begitu."

"Dalam hal ini Juriah tidak disebut-sebut," ujar Datuk

Paduka Raja yang agak tersentak oleh pertanyaan kemenakannya.

"Pertanyaanmu itu memang sulit. Menurut kata adat, 'adat

bersendi syara', syara' bersendi adat.' Artinya, syara' dan adat

kita sandar menyandar atau sejalan. Jika menurut syara',

anaklah yang diutamakan, tetapi menurut adat, 'kemenakan'.

Jadi hal itu nyatalah sudah berlawanan. Oleh sebab itu, saya

sendiri ragu-ragu, entah mana yang benar kedua perkataan itu.

Perasaan saya itu sudah saya perbincangkan dengan beberapa

penghulu di sini. Banyak mereka yang mengatakan, bahwa anak

dengan bapak, menurut adat, tak ada pertaliannya. Sebab

orang semenda itu adalah sebagai orang diselang dari suatu

kaum kepada kaum yang lain. Sebab itu kemenakan pulang

kepada mamaknya, tidak kepada bapaknya. Tetapi menurut

pikiran saya tidaklah demikian. Pada hemat saya, anak itu

pulang kepada bapaknya. Artinya bapaknyalah yang harus

menyelenggarakan anaknya. Begitu pula si anak wajib membela

bapak bilamana perlu. Anak itulah yang lebih dekat kepada

bapak daripada kemenakan.

Manakala sudah demikian, sudah sesuai dengan kata adat:

adat bersendi syara' dan syara' bersendi adat. Banyak lagi hal

lain yang bersalah-salahan orang memakainya. Mereka melakukan

adat itu banyak sesat, agaknya karena salah pengertian

jua. Bahkan saya sendiri pun banyak yang kurang paham, sebab

kurang selidik."

Ketika Datuk Paduka Raja akan meneruskan perkataannya

pula, tiba-tiba Manjau berseru di halaman sambil menangis,

katanya, "Juriah, ayah sudah meninggal!"

Juriah terkejut, lalu menangis amat sedihnya. Ia melompat

hendak pergi melihat ayahnya, tetapi lekas dipegang mamaknya.

Datuk Paduka Raja mengucap, katanya, "Inna lillahi wa

inna ilaihi raji'un. Tidakkah sampai ayahmu ke rumah? Juriah,

jangan menangis juga! Nanti kita sama-sama pergi."

"Tidak," ujar Manjau, "Ketika orang memikul tandu naik ke

rumah, anak tangga patah. Orang itu terjatuh, ayah pun jatuh

pula. Untung lekas saya sambut. Sungguhpun demikian, sampai

di rumah ayah pingsan pula. Tidak lama beliau membukakan

mata, lalu memanggil ibu dekat kepada beliau. Entah apa yang

beliau katakan tidaklah saya tahu, sebab ayah berkata berbisik.

Sudah itu ayah menarik napas ... lalu meninggal."

"Jika sekiranya Pak Midun tidak dibawa, boleh jadi ia

sembuh kembali," kata Datuk Paduka Raja sendirinya.

"Sekarang apa jadinya, karena takut malu jadi lebih malu lagi.

Tentu pada persangkaan orang Pak Midun tidak mati seajalnya,

melainkan mati jatuh. Jangan-jangan disangka orang sengaja

dijatuhkan. Sungguh kasihan Pak Midun, boleh jadi juga ia mati

beragan, karena ditinggalkan anaknya Midun. Tentu mereka itu

semua menyesali perbuatannya. Tetapi apa hendak dikatakan:

sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna."

Pada hari itu juga Pak Midun dikuburkan dengan selamatnya.

Tujuh hari lamanya orang mengaji dan makan minum di

rumah famili Pak Midun. Waktu meniga hari dan menujuh hari

diadakan kenduri besar, mendoakan supaya arwah Pak Midun

dilapangkan Allah di dalam kubur. Tidak sedikit uang habis

untuk penyelamatkan si mati itu. Oleh famili Pak Midun, tak

kayu jenjang dikeping, yang tidak ada, diadakan. Dua tumpak

sawah tergadai untuk memenuhi keperluan itu. Ibu Juriah

dalam tujuh hari itu bekerja keras di rumah iparnya. Tidak

sedikit jua ia menghentikan tangan, karena jamu tidak berkeputusan

dan selalu makan minum. Setelah sudah menujuh

hari, barulah ibu Juriah dan anaknya pulang.

Sehari sesudah menujuh hari, Sutan Menindih dan beberapa

orang saudaranya datang ke rumah Ibu Juriah. Setelah sudah

makan minum, dan setelah dianjurkannya dengan perkataan

yang panjang lebar, Sutan Menindih berkata, "Ibu, saya harap

Ibu jangan gusar dan jangan pula berkecil hati. Kedatangan

kami kemari ini, ialah menurut sepanjang adat, yaitu akan

mengambil harta peninggalan mamak kami."

"Benar, Sutan," ujar ibu Juriah, "tetapi apalah peninggalan

mamak Sutan. Uang tak ada, hanya pakaiannyalah yang ada."

"Ah, rupanya Ibu bersembunyi di balik lalang sehelai. Yang

terang saja hak kami, sawah dan huma. Bukankah itu mamak

saya yang membeli dan peninggalan beliau?"

Mendengar perkataan itu ibu Juriah sangat terkejut. Lebihlebih

Manjau, merah mukanya karena menahan marah. Maka

ibu Juriah berkata pula, katanya, "Itu jangan Sutan sebutsebut,

sebab pencaharian kami berdua. Berdikit-dikit kami

menyimpan uang; setelah agak banyak kami belikan tanah

untuk kami usahakan. Pendeknya, yang Sutan sebutkan itu

usaha kami berdua, yang sudah kami untukkan bagi anak kami.

Pak Midun sendiri sudah mengatakan waktu ia hidup, bahwa

segala pencahariannya diuntukkannya kepada anak-anaknya."

"Biar bagaimana juapun keterangan Ibu, kami maklum

bahwa tanah itu pusaka mamak kami. Kami berhak mengambil

bilamana kami sukai. Jadilah, jika benar sudah diuntukkan

mamak kami bagi anaknya, mana keterangannya?"

"Keterangan tentu tidak ada," ujar ibu Juriah sebagai

kehilangan akal.

"Sekarang begini saja, Ibu! Kalau kita bertengkar juga, kesudahannya

menjadikan perselisihan. Faedahnya tidak ada,

melainkan kita beranak bapak putus-putus. Sebab itu Ibu bertanyalah

kepada Mamak Datuk Paduka Raja. Ibu terangkanlah

kepada beliau kedatangan kami kemari. Kami berhak mengambil

harta pusaka mamak kami bilamana saja. Kalau Ibu berkeras

juga, tentu kami terpaksa minta tolong kepada Penghulu

Kepala yang memerintah kampung ini. Sekianlah, kami hendak

pulang dulu."

Baru saja habis Sutan Menindih berkata, kedengaran orang

batuk di halaman. Orang itu ialah Datuk Paduka Raja. Setelah

naik ke rumah, ia pun berkata, katanya, "Sudah lama Sutan

datang?"

"Lama juga, Mamak," ujar Sutan Menindih. "Dari mana

Mamak tadi?"

"Dari pasar, sudah rapat dengan Tuan Kemendur."

"O, ya, saya lihat tadi pagi banyak benar penghulu-penghulu

ke pasar."

Demikianlah percakapan mereka itu, hingga habis rokok

sebatang seorang. Juriah meletakkan kopi dan penganan untuk

mamaknya dan jamu itu. Sesudah minum kopi, Sutan Menindih

pun berkata, katanya, "Mamak! Sebenarnya kedatangan kami

ini, ada sesuatu hajat yang besar jua. Tadi sudah saya bicarakan

juga dengan ibu, tetapi belum lagi putus percakapan kami.

Sekarang kebetulan Mamak datang, jadi lebih baik lagi. Biarlah

saya ulang sekali lagi, apa maksud saya datang kemari ini."

"Baik, Sutan, katakanlah apa yang terasa di hati, terkalang

di mata, supaya sama kita dengar!"

"Kedatangan saya kemari, ialah menurut adat yang sudah

dilazimkan jua. Karena mamak saya Pak Midun sudah meninggal

dunia, saya sebagai seorang kemenakan dari beliau, tentu

menuntut hak kami. Sebab itu haraplah saya, Mamak izinkan

dan tunjukkan mana-mana yang harus saya ambil harta

peninggalan mamak saya."

"Benar kata Sutan itu. Memang kedatangan Sutan sudah

menurut adat sebab pusaka turun kepada kemenakan. Tentu

saja Sutan kemari ini sudah seizin Datuk Raja Bendahara

mamak Sutan, akan menuntut hak Sutan itu. Benarkah

demikian?"

"Betul, Mamak! Memang sudah sepakat dengan beliau. Jika

tidak seizin beliau, tentu saya tidak berani kemari. Mamak

Datuk Raja Bendahara sudah menerangkan kepada saya, manamana

pusaka peninggalan mamak saya. Oleh sebab itu Mamak

izinkanlah saya mengambil harta pusaka saya itu."

"Baiklah, Sutan! Hak milik Sutan itu tidak akan ke mana.

Tapi saya harap Sutan jangan terburu nafsu benar. Saya minta

kepada Sutan, hal ini jangan mendatangkan yang kurang baik

antara kedua pihak. Sebab itu baiklah kita bicarakan dengan

tenang, supaya selamat kesudahannya."

"Baik Mamak! Tapi saya rasa tentu tidak akan demikian

jadinya, sebab yang saya ketengahkan ini, menurut adat di

Minangkabau ini."

"Benar, benar, Sutan! Jadilah, menurut pemandangan Sutan

apaapakah peninggalan Mamak Sutan itu?"

"Hal ini tentu Mamak sudah maklum, yaitu tanah, misalnya

huma dan tanah peruntahan ini serta sawah."

"Ini betul, tapi Sutan jangan pula lupa, bahwa menurut yang

saya ketahui, segala tanah yang dibeli Pak Midun, ialah

pencahariannya dua laki istri. Lagi pula tadi Sutan mengatakan,

hendak mengambil rumah ini. Jadi rumahnya bagaimana? Akan

Sutan suruh angkatkah kepada kami?" ujar Datuk Paduka Raja

agak gusar, sebab mendengar perkataan Sutan Menindih itu.

"Itu pulang maklum kepada Mamak. Bagi saya, mana yang

hak saya tentu saya ambil. Mamak mengatakan pencaharian

berdua. Itu kata Mamak, kata saya tentu tidak begitu. Bagi

kami ada alasan, bahwa segala tanah itu kami yang punya."

"Kalau begitu tentu mendatangkan yang kurang baik, Sutan!"

kata Datuk Paduka Raja dengan sabar pula. "Saya harap dalam

hal ini hendaklah sebagai menghela rambut dalam tepung.

Rambut jangan putus, tepung jangan terserak. Artinya Sutan

beranak bapak jangan berputus-putus karena itu. Jika Sutan

sekeras itu benar hendak mengambil hak milik Sutan, bersalahsalahan

dengan beberapa peribahasa orang kita, yang

menunjukkan kasih sayang kaum Sutan kepada anaknya.

Bukankah ada menurut kata peribahasa, misalnya: Ba' lalo' di

rumah baki* (Sebagai tidur di rumah saudara ayah yang perempuan,

maksudnya enak dan bebas, sehingga tidak sadar hari telah tinggi, karena

senangnya tidur. Jadi tak dapat tiada anak di rumah bako itu amat dimanjakan

dan disenangkan oleh saudara-saudara ayahnya yang perempuan) dan anak

berpisau tajam, bako badagieng taba* (Anak berpisau tajam, saudara

ayah yang perempuan berdaging tebal. Artinya: anak bebas mengambil apa

yang dikehendakinya atas harta benda bakonya. Jadi anak itu sebebasbebasnya:

boleh berbuat semau-maunya asal tidak melanggar tertib sopan

santun di dalam pergaulan umum)

Nah, menilik arti kedua peribahasa itu, sampai hatikah

Sutan menyuruh mengangkat rumah ini kepada Juriah dan

Maninjau? Akan Sutan usirkah mereka itu berumah tangga di

tanah ini? Di manakah lagi tinggalnya sifat'bako' yang pemurah

kepada anak, seperti yang

' dinyatakan oleh kedua peribahasa itu? Cobalah Sutan

renungkan dan pikirkan dalam-dalam hal ini.-Sepatutnya,

setelah Pak Midun meninggal, Sutan dengan famili Sutan

menaruh belas kasihan sedikit kepada anaknya. Tetapi sekarang

demikian, tentu mereka itu: sudah jatuh ditimpa tangga pula."

Mendengar keterangan Datuk Paduka Raja, terbenar pula

pada hati Sutan Menindih. Lama ia termenung memikirkan

perkataan mamak Juriah itu. Tetapi karena ia diasut orang, ia

pun berkata, "Sungguhpun demikian, saya terpaksa meminta

hak saya juga, Mamak!"

"Sekarang beginilah, Sutan! Biarlah hal ini saya bicarakan

dengan mamak Sutan, Datuk Raja Bendahara. Sebab itu

pulanglah Sutan dahulu! Dalam sepekan ini, tentu akan

mendengar bagaimana putusannya." .

"Jika demikian baiklah, Mamak bicarakanlah dengan mamak

saya. Saya mohon pulang dulu, Mamak!"

"Baiklah! Lebih baik kami sama-sama penghulu

menyelesaikan perkara ini."

Sepeninggal Sutan Menindih, Datuk Paduka Raja tidak bersenang

hati atas kedatangan kemenakan Pak Midun itu.

Menurut pikirannya, ibu Juriah dengan anak-anaknya ada

berhak juga menerima pusaka itu. Karena pusaka itu tidak

sedikit harganya, ia berjanji dengan dirinya akan

menyelesaikan perkara itu selekaslekasnya. Maka Datuk Paduka

Raja berkata dalam hatinya, "Kalau dilalai-lalaikan boleh

mendatangkan bahaya. Sekalipun rugi mengadakan rapat adat

untuk menimbang hal ini, apa boleh buat. Jika saya tidak

bersenang hati mendengar putusan rapat adat, biar saya

jadikan perkara. Bilamana sudah putusan pemerintah saya

kalah, sudah puas hati saya. Di sana nanti tentu hitam

putihnya."

Maka ia pun pergi mendapatkan Datuk Raja Bendahara,

penghulu; kaum Sutan Menindih, akan memperbincangkan hal

itu. Setelah putus mufakat kedua penghulu itu, seminggu

kemudian diadakanlah rapat adat. Rapat itu dikepalai oleh

Datuk Seri Maharaja, karena dalam hal adat dialah pucuk bulat,

urat tunggang di negeri itu. Di antara segala penghulu, bangsa

kaum Datuk Seri Maharaja itu sama tinggi dengan bangsa kaum

Tuanku Laras, di bawahnya baru Datuk Paduka Raja. Ada 30

orang penghulu yang ternama rapat hari itu. Sesudah minum

makan, rapat adat pun dimulai. Maka Datuk Maharaja berkata,

katanya, "Datuk Paduka Raja! Kami sudah hadir semua,

ketengahkanlah apa yang terasa di hati, terkalang di mata

maka Datuk mengadakan rapat ini, supaya boleh kami pertimbangkan!"

Datuk Paduka Raja lalu menerangkan duduknya pusaka yang

ditinggalkan Pak Midun. Bagaimana penghidupan Pak Midun laki

istri sejak mulai kawin diceritakannya dengan panjang lebar.

Kemudian diterangkannya pula pendakwaan orang Tanjung

hendak merebut pusaka itu.

Setelah berkata pula, katanya, "Penghulu seadat, Tuanku

('alim) sekitab. Datuk sendiri sudah maklum, bahwa di Alam

Minangkabau ini pusaka turun kepada kemenakan. Bukannya

dia, melainkan Datuk sendiri rupanya yang mendakwa, padahal

Datuk sudah mengetahui. Sungguh heran, saya kurang mengerti

dalam hal ini. Orang Tanjung itu sekali-kali tidak merebut,

melainkan mereka berhak mengambil pusaka kaumnya yang

telah meninggal."

"Benar kata Datuk itu," ujar Datuk Paduka Raja. "Tetapi

lupakah Datuk akan kata adat: Harta pembawaan pulang, harta

tepatan tinggal, harta suarang (pencaharian) dibagi? Dan

sebuah lagi menurut kata adat: adat bersendi syara' dan syara'

bersendi adat?

Menilik kedua kata adat itu, nyatalah bahwa anak Pak Midun

berhak pula menerima pusaka bapaknya itu. Harta itu ialah

harta pencahariannya dua laki istri, sebab itu harus dibagi.

Saya tahu benar bagaimana penghidupan mereka itu sejak

mulai kawin. Menurut pengetahuan saya, sesen pun tak ada Pak

Midun membawa harta orang Tanjung. Dan menurut kata adat

yang saya sebutkan, kemudian tadi, mesti pusaka itu diberikan

kepada anaknya. Jika tidak, tentu tidak sendi-menyendi lagi

adat dengan syara'. Sekianlah permohonan saya. Saya berharap

segala perkataan saya itu, moga-moga menjadi pertimbangan

hendaknya kepada kerapatan yang hadir."

Kerapatan itu tenang, masing-masing memikirkan masalah

itu. Termasuk pada pikiran mereka akan kebenaran perkataan

Datuk Paduka Raja. Dalam pada itu berkatalah Datuk Raja

Bendahara, katanya, "Kata adat menurut yang Datuk katakan

itu, memang sebenarnya. Penghulu tidaklah akan lupa sekalian

itu, sebab sudah pakaiannya. Seseorang penghulu jika lupa atau

tidak tahu selukbeluk adat, tentu sia-sia ia dijadikan penghulu.

Bagi saya, sebagai seorang famili dari Pak Midun, mengetahui

bahwa harta Pak Midun itu masuk harta pembawaan, sekali-kali

tidak harta suarang. Keterangan saya itu dikuatkan oleh

beberapa orang saksi. Bilamana perlu, boleh saya unjukkan

saksi itu, bahwa harta pusaka Pak Midun itu hak milik orang

Tanjung."

Maka kerapatan itu pun ramailah membicarakan bagaimana

duduk pusaka itu dan ke mana jatuhnya. Ada kira-kira dua jam

kerapatan itu menimbang, dan mengeluarkan buah pikiran

masingmasing. Melihat kepada keadaan rapat itu, nyata ada

berudang di balik batu yang datangnya dari seseorang yang

berkuasa di kampung itu. Begitu pula mengingat penjawaban

saksi-saksi yang kurang terang itu untuk mempertahankan

keterangan Datuk Raja Bendahara, tampak nyata bahwa saksisaksi

itu dicari dan diupah. Kesudahannya maka diputuskan

bahwa pusaka itu dijatuhkan kepada kemenakan Pak Midun.

Setelah itu rapat adat lalu ditutup, dan orang pulang ke

rumahnya masing-masing.

Sungguhpun rapat adat di negeri itu sudah memutuskan

demikian, tetapi Datuk Paduka Raja belum lagi bersenang hati.

Maka ia pun membawa perkara itu kepada Hakim Pemerintah.

Dimintanya kepada Tuanku Laras, supaya perkara itu dibawa ke

Bukittinggi, baik pihak anak, baik pun kemenakan sama-sama

memakai pokrol.

Beberapa hari perkara itu ditimbang di Landraad,

kesudahannya menang juga di kemenakan. Tetapi kemenakan

itu hanya menerima kurang dari seperempat pusaka itu lagi,

sebab sudah habis untuk pembayar ongkos pokrol.

Ibu Juriah dengan anak-anaknya terpaksa memindahkan

rumahnya ke tanah kaumnya sendiri. Dua bulan kemudian

daripada itu, Ibu Juriah terkenang akan pesan Pak Midun waktu

akan meninggal dunia. Maka disuruhnyalah familinya ke rumah

orang tua Maun akan menanyakan kalau-kalau Maun mau

beristri. Pesan Pak Midun yang mengatakan bahwa Juriah harus

dipersuamikan dengan Maun, dikatakannya pula. Hal itu pun

disampaikan ibu Maun kepada anaknya. Maun dengan segala

suka hati menerima permintaan ibu Juriah. Tidak saja

mengingat persahabatannya dengan Midun, tetapi ia sendiri

memang sudah lama bercintakan Juriah. Hati Maun sangat

tertarik melihat rupa dan tingkah laku Juriah yang hampir

bersamaan dengan Midun, sahabatnya yang karib itu. Seminggu

kemudian, maka perkawinan itu dilangsungkan dengan selamatnya.

Maka Maun dan Juriah menjadi suami istri, hidup berkasihkasihan

setiap hari.

Manjau kerjanya hilir mudik saja di kampung tiap-tiap hari.

Akan bekerja, tidak ada pekerjaan yang akan dikerjakannya.

Hatinya tidak senang lagi tinggal di kampung itu. Amat sedih ia

memikirkan peninggalan bapaknya diambil orang sama sekali.

Usikan Penghulu Kepala Kacak pun hampir-hampir tidak tertahan

lagi olehnya. Maka diputuskannya pikirannya, lalu ia

pergi meninggalkan kampung, berjalan ke negeri orang membawa

untung nasibnya.

14. Bahagia

SEBERMULA rupanya perkataan Syekh Abdullah al-Hadramut

"hendak mengadukan" Midun itu tiadalah gertaknya saja. Tiada

berapa lama antaranya Midun sudah terpanggil ke muka

pengadilan. Bagaimana juga Midun menerangkan bahwa

uangnya tidak sebanyak itu yang tertulis di atas surat utang itu,

hakim tidak dapat membenarkannya, sebab tidak ada saksi atau

buktinya. Hakim menjatuhkan hukuman, ia mesti membayar

utang yang f 500,- itu, tambah ongkos-ongkos perkara kira-kira

f 35,-.

Beberapa lamanya sesudah putusan itu, Syekh Abdullah

datang mendapatkan Midun. Ditagihnya dengan lemah lembut.

Tetapi Midun, karena ia sudah tertipu itu sudah menetapkan

niatnya tidak akan membayar utangnya itu. Dia tidak tahu

betapa kekuatan acceptatie itu. Dia belum mendengar, bahwa

orang yang berutang itu, boleh ditahan di dalam penjara.

Dalam pada itu Syekh Abdullah tidak putus-putusnya membujuk

Midun. Demi dilihatnya Midun tidak mau membayar, dan pada

sangkanya Midun tidak sanggup membayar, ketika itulah

hendak disampaikannya cita-citanya yang selama ini dikandungnya.

Kalau dapat Midun mengusahakan Halimah, yang disangkakan

oleh Syekh Abdullah istri Midun menjadi istri Syekh

Abdullah, maka segala uang Midun akan dilunaskannya. Mendengar

perkataan Syekh Abdullah demikian itu, naiklah darah

Midun, lalu orang Arab itu diusirnya sebagai anjing. Orang Arab

itu pun pergilah dengan mengandung niat yang jahat akan

melepaskan sakit hatinya.

Tidak berapa lamanya sesudah itu, datanglah deurwaarder

dengan polisi mengambil Midun, mengantarkannya ke penjara.

Walaupun Midun tidak mengerti betul, apa sebabnya ia

dipenjarakan, perintah itu terpaksa juga diturutnya. Setelah

beberapa lamanya Midun dipenjarakan, datanglah pula orang

Arab itu membujuknya, tetapi itu pun tidak berhasil juga.

Sudah dua-tiga kali ia datang membujuk Midun ke penjara,

dengan halus budi bahasanya, tetapi dibalas Midun dengan maki

dan nista jua. Ia mau terkurung selama hidupnya, asal jangan

karena dia Halimah terserah kepada orang Arab mata keranjang

itu. Akhirnya Syekh Abdullah datang sendiri mendapatkan

perempuan yang sangat diharapkannya itu. Setelah dibujuknya

dengan lemah lembut, tetapi tiada berhasil juga, maka

akhirnya digertaknya, bahwa Midun sekarang di bawah kekuasaannya

dan terpenjara di bui Glodok.

"Selama Midun tidak sanggup membayar utangnya kepada

saya," kata orang Arab itu, "dia akan saya tahan juga dalam

penjara itu, dan Neng boleh menantikan laki yang dirindukan

itu sampai tumbuh uban di kepala Neng. Tetapi sebaliknya,

jikalau Neng mau mengabulkan permintaanku itu, segera ia

kukeluarkan dari bui."

Mendengar perkataan yang demikian, Halimah pun marah,

dan Arab itu diusirnya. Tetapi sepeninggal orang Arab itu,

sangatlah susah hatinya memikirkan Midun terpenjara itu. Maka

dibuatnyalah mufakat dengan ayahnya akan membayar utang

Midun itu. Segala barang perhiasannya dijualnya untuk melepaskan

kekasihnya dari penjara. Maka pergilah ia ke Betawi

dengan bapaknya, tetapi sebab Midun sendiri ada mempunyai

uang f 500,- tidak seberapa ia menambah untuk membayar

utang itu.

Mulanya Midun tak mau sedikit juga membayar.utangnya

itu. Tetapi setelah dimufakati dengan panjang lebar dan

setelah mendengarkan bujukan Halimah, diturutnya jugalah

kehendak kekasihnya. Tetapi permintaan Halimah dan ayahnya

supaya ia pergi bersama-sama ke Bogor, tidak diperkenankannya.

Sebabnya ialah karena dia hendak mencari penghidupan

yang lebih sempurna di Betawi.

Selama Midun dalam penjara itu, ada seorang hukuman

bekas orang yang bersekolah juga, yang mengajarkan menulis

dan membaca dan menceritakan berbagai-bagai ilmu

pengetahuan, sehingga banyaklah tokok tambahnya

pengetahuan Midun selama dalam penjara itu. Orang itu Mas

Sumarto namanya. Ketika ia akan meninggalkan bui itu, maka

ditemuinyalah orang itu. Sesudah mengucapkan terima kasih

atas nasihat-nasihat dan kesudian Mas Sumarto mengajarnya

menulis dan membaca selama dalam bui, Midun memberi

selamat tinggal kepada gurunya itu.

Ia berjalan ke luar bui, lalu naik trem yang hendak ke

Kramat. Sudah dua bulan ia di dalam bui, tak ada ubahnya

sebagai burung di dalam sangkar. Sekarang dapat pula ia

melepaskan pemandangannya kian kemari, melihat-lihat kota

Betawi yang indah itu. Amat lega hati Midun masa itu, dadanya

lapang, pikirannya senang. Sampai di Kramat ia pergi ke

Kwitang, ke rumah tempatnya membayar makan dahulu. Induk

semangnya heran melihat kedatangannya itu, karena dengan

tidak berkata sepatah jua Midun pergi, sekarang tiba-tiba

datang pula kembali. Setelah mereka itu duduk lalu diceritakan

Midun nasibnya selama meninggalkan rumah itu. Mendengar

ceritanya itu, mereka belas kasihan dan menasihati Midun,

menyuruh ingat-ingat menjaga diri yang akan datang. Maka ia

pun tinggal pula di sana membayar makan.

Pada petang hari Midun pergi berjalan-jalan. Sampai di

Pasar Senen, ia bertemu dengan Salekan, temannya sama-sama

berkedai dahulu.

"Ke mana engkau, Midun?" ujar Salekan. "Sudah lama saya

tidak melihat engkau."

"Ah, saya pergi bertapa dua bulan ke Glodok," ujar Midun.

"Bertapa bagaimana? Ceritakanlah kepada saya yang

sebenar-benarnya saja, Midun."

"Baik, engkau tidak berkedai hari ini?"

"Tidak, sudah dua hari dengan sekarang. Saya hendak tempo

dulu barang seminggu ini, karena ada urusan sedikit."

"Kalau begitu, marilah kita ke Pasar Baru! Saya ingin hendak

makan nasi goreng, sebab sudah dua bulan tidak mengecap

makanan itu. Nanti di jalan saya ceritakan pertapaan saya yang

dua bulan itu kepadamu."

"Baiklah."

Sepanjang jalan diceritakanlah oleh Midun, bagaimana

halnya yang dua bulan itu. Dalam mereka asyik bercerita, tibatiba

kedengaran olehnya orang berseru, "Awas, serdadu

mengamuk! Lekas lari!"

Midun terkejut, lalu melihat ke sana kemari. Waktu itu ia

sudah sampai dekat pintu masuk ke Pasar Baru. Temannya,

Salekan, baru saja mendengar suara orang menyuruh lari, ia

sudah membuat langkah seribu. Sekonyong-konyong kelihatan

oleh Midun seorang serdadu memegang sebuah pisau yang

datangnya dari arah Kemayoran. Mana yang dapat, apalagi

orang yang mengalangi, terus saja diamuknya. Serdadu itu

terus juga lari mengejar seorang sinyo yang baru berumur 12

atau 13 tahun. Sinyo itu sudah payah, napasnya turun naik,

agaknya sudah lama ia dikejar serdadu itu. Hampir saja ia

dapat kena tikam, karena tidak jauh lagi antaranya. Midun

tidak berpikir lagi, seraya berkata, "Jangan lari, Sinyo, berdiri

saja di belakang saya!"

Baru saja sinyo itu mendengar suara Midun, ia berhenti.

Memang ia hampir tak kuat lagi berlari, sebab sudah payah.

Sambil terengah-engah, sinyo itu pun berkata, "Tolong saya,

Bang, dia hendak menikam saya."

Setelah dekat, Midun melompat menangkap pisau serdadu

itu. Maka kedua mereka itu pun berkelahi, di tengah jalan itu.

Setelah pisau serdadu itu dapat oleh Midun, lalu dilemparkannya,

seraya berkata, katanya, "Ambil pisau itu, Sinyo!"

Ketika pisau itu tak ada lagi, serdadu itu pun menyerang

Midun dengan garangnya. Tetapi dengan mudah Midun dapat

menyalahkan serangannya. Midun melepaskan kekuatannya

pula. Tidak lama antaranya, ia pun dapat menangkap serdadu

itu: Midun berkata pula, "Sinyo, coba ambil ikat pinggang saya

pengikatnya!"

"Ini ada ikat pinggang saya, Bang," ujar sinyo sambil memberikan

ikat pinggangnya. Sekaliannya terjadi dalam beberapa

saat saja.

Setelah serdadu itu diikat Midun, maka opas pun berlompatan

akan menangkapnya. Ketika ia akan dibawa ke kantor

Commissaris, sinyo berkata, "Tak usah dibawa ke sana. Ikut

saya saja!"

Maka serdadu itu pun dibawa oleh sinyo itu kepada sebuah

gedung yang tidak berapa jauhnya dari sana, diiringkan oleh

orang banyak yang berkerumun sesudah si pengamuk itu

tertangkap. Setelah sampai, sinyo terus saja masuk ke dalam.

Kemudian ia ke luar bersama dengan seorang tuan.

Adapun tuan itu ialah Hoofdcommissaris, bapak sinyo yang

ditolong Midun itu. Di muka bapak dan ibunya, diterangkanlah

oleh sinyo itu bagaimana halnya dengan serdadu yang

mengamuk itu. Nyonya Hoofdcommissaris menjerit mendengar

cerita anaknya yang sangat ngeri itu. Tetapi ia bergirang hati,

karena anaknya terlepas dari bahaya. Demikian pula

Hoofdcommissaris, amat senang hatinya kepada Midun yang

menolong anaknya itu. Hoofdcommissaris menelpon, dan tidak

lama antaranya datanglah beberapa orang politie-opziener

akan membawa serdadu yang mengamuk itu.

"Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih karena

keberanianmu menolong anak saya di dalam bahaya," ujar

Hoofdcommissaris kepada Midun.

"Terima kasih kembali, Tuan!" jawab Midun dengan hormatnya.

"Siapa namamu?"

"Nama saya Midun."

"Negerimu di mana?"

"Negeri saya di Padang."

"Apa kerjamu di sini?"

"Tidak bekerja, Tuan!" Maka Midun pun menceritakan nasibnya

kepada Hoofdcommissaris, sejak mulai sampai ke Betawi.

Mendengar cerita Midun, tuan dan nyonya itu amat belas

kasihan. Kemudian Hoofdcommissaris berkata pula, "Kamu

pandai menulis?"

"Pandai, Tuan."

"Baiklah. Besok kamu datang ke kantor saya pukul 8 betul,

ya!"

"Baik, Tuan."

"Sekarang kamu boleh pulang. Jangan lupa, besok mesti

datang di kantor saya."

"Ya, Tuan."

Midun keluar dari gedung itu. Orang banyak yang berkerumun

melihat Midun, mengiringkannya dari belakang. Berbagai-

bagailah pertanyaan orang kepadanya. Midun amat malu

diiringkan orang banyak, lalu ia naik bendi ke Pasar Baru.

Sampai di situ terus masuk ke kedai orang menjual nasi goreng.

Di tempat itu lain tidak yang didengar Midun, percakapan orang

tentang serdadu mengamuk itu saja. Tetapi Midun berdiam diri

saja; sesudah makan nasi goreng, ia naik bendi pulang ke

Kwitang.

Di atas bendi Midun berkata dalam hatinya, "Apa pulakah

yang akan terjadi atas diri saya besok pagi? Celaka pulakah

yang akan datang, sebab saya menangkap serdadu? Tak boleh

jadi, serdadu itu tak ada yang bercela badannya oleh saya. Lagi

pula mendengar perkataan Hoofdcommissaris, tak mungkin saya

akan dihukum karena itu. Tak dapat tiada, sinyo anaknya itu

tidak akan membiarkan saya, karena saya menolongnya."

Sampai di Kwitang, induk semangnya bertanya pula tentang

orang mengamuk di Pasar Baru, kalau-kalau Midun mendengar

kabar itu. Tetapi Midun menerangkan pura-pura tidak tahu

saja, karena ia ke Meester, katanya.

Pada keesokan harinya pagi-pagi Midun sudah bangun.

Sesudah sembahyang dan minum kopi, maka ia pun berpakaian.

Kira-kira pukul 7 Midun berangkat dari rumahnya menuju ke

kantor Hoofdcommissaris. Baru saja ia sampai, datang seorang

politieopziener mendekatinya.

"Kamu yang bernama Midun?" kata politie-opziener. "Saya,

Tuan!" ujar Midun.

Midun dibawa masuk ke dalam sebuah kamar yang terasing

letaknya di kantor itu. Tiba-tiba kelihatan oleh Midun, tuan

yang menyuruhnya datang kemarin itu.

"Tabik, Midun, ada baik?" kata Hoofdcommissaris.

"Baik juga, Tuan," ujar.Midun dengan sopannya.

"Kemarin kamu katakan, kamu tidak bekerja. Mau kamu

bekerja di sini?"

"Kalau Tuan mau menerima saya, dengan segala suka hati

saya terima."

"Baiklah. Sekarang boleh Midun mulai bekerja."

Setelah Hoofdcommissaris bercakap beberapa lamanya di

telepon, Midun dibawa ke dalam sebuah kamar besar. Di situ

dilihatnya amat banyak orang bekerja. Maka Midun pun mulailah

bekerja sebagai juru tulis di kantor Hoofdcommissaris.

Dengan rajin dan sungguh Midun bekerja di kantor itu. Di

dalam dua bulan saja, sudah kelihatan kecakapannya bekerja.

Ia selalu hati-hati dan hemat dalam pekerjaannya. Tidak lama

Midun disuruh mengambil pekerjaan mata-mata. Sebabnya

ialah karena masa itu amat banyak penggelapan candu.

Di dalam pekerjaan itu pun Midun sangat pandai. Tidak

sedikit ia dapat menangkap candu gelap. Pandai benar ia menjelmakan

diri akan mengintip orang membawa candu gelap itu.

Bermacam-macam ikhtiar dijalankannya. Kadang-kadang waktu

kapal masuk pelabuhan, ia menjadi kuli, turut mengangkat

barang dari anggar ke stasiun. Bahkan kuli-kuli itu dapat pula

dipikatnya dengan menjanjikan persen, manakala dapat

menunjukkan orang yang membawa candu gelap. Ada yang ditangkap

Midun candu itu di perut perempuan orang Tionghoa

yang pura-pura hamil. Padahal sebenarnya candu gelap yang

dibalutnya dengan kain di perutnya itu. Ada pula yang

ditangkapnya dalam perban kaki orang, yang pura-pura sakit

kaki. Pendeknya, di dalam hal yang sulit-sulit, yang tak

mungkin pada perasaan orang candu itu ditaruhnya di sana,

dapat ditangkap Midun.

Enam bulan Midun bekerja, nyatalah kepada orang di atas

akan kecakapannya dalam pekerjaannya. Maka ia pun diangkat

menjadi menteri polisi di Tanjung Priok. Seiring dengan

keangkatannya itu, ia mendapat anugerah pula dari pemerintah

beberapa ribu rupiah. Uang itu ialah persen dari candu yang

sudah ditangkapnya. Berlinang-linang air mata Midun sebab

suka, waktu menerima uang sekian itu. Tidak disangkasangkanya

ia akan mendapat uang sebanyak itu. Segala uang itu

dimasukkannya ke bank.

Karena suka dan girang amat sangat mendapat uang dan

menerima angkatan itu, Midun segera menulis surat ke Bogor

kepada ayah Halimah. Maka dinyatakannya hasratnya yang

selama ini dikandungnya. Midun takut Halimah yang sangat

dikasihinya itu akan dapat bencana. Sebab itu hendak

disegerakannya supaya ia menjadi suami istri dengan gadis itu.

Demikian bunyi surat Midun kepada Halimah:

Weltevreden, 9 Desember 19..

Kekasihku Halimah!

Berkat doa Adinda yang makbul jua, kakanda sekarang

sudah menjadi menteri polisi di Tanjung Priok. Oleh sebab itu,

saat inilah yang sebaik-baiknya untuk melangsungkan cita-cita

kita yang selama irii. Bersamaan dengan surat ini ada kakanda

kirim surat kepada bapak, yang isinya menyatakan hasrat

kakanda itu. Di dalam surat itu kakanda sertakan pula uang

banyaknya f 400,- untuk belanja perkawinan kita.

Pada tangga115 Desember ini kakanda perlop, lamanya 14

hari. Waktu itulah kakanda dating kemari. Untuk keperluan

Adinda, kakanda bawa bersama kakanda nanti. Bagaimana

permufakatan bapak dan Halimah, kakanda menurut. Sehingga

inilah dulu, nanti seminggu lagi sambungannya.

Peluk cium kakanda,

MIDUN

Midun dapat perlop, lamanya 14 hari. Beserta dengan

beberapa orang kawan dari Betawi, ia pun berangkatlah ke

Bogor. Sampai di Bogor, didapatinya ayah Halimah sudah siap.

Di muka rumah sudah terdiri sebuah dangau-dangau besar,

dihiasi dengan bagusnya. Orang sedang sibuk bekerja,

mengerjakan ini itu mana yang perlu. Rupanya perkawinan itu

akan dilangsungkan ayah Halimah dengan peralatan yang agak

besar, sebab hanyalah Halimah anaknya yang perempuan.

Kedatangan Midun diterima ayah Halimah dengan segala

suka hati. Maka Midun pun menceritakan halnya sejak keluar

dari bui sampai menjadi menteri polisi di hadapan Halimah,

ayahnya dan beberapa orang lain famili mereka itu. Segala

yang mendengar cerita Midun itu amat bergirang hati. Lebihlebih

Halimah, karena bakal suaminya sudah menjadi ambtenar

pula.

Tiga hari kemudian, perkawinan Midun dan Halimah dilangsungkan.

Dua hari dua malam diadakan peralatan, sangat

ramai, karena banyak sahabat kenalan ayah Halimah hadir

dalam peralatan itu. Begitu pula sahabat kenalan Midun banyak

datang dari Betawi.

Dengan tidak kurang suatu apa, selesailah peralatan itu.

Setelah seminggu Midun tinggal bersama mertuanya, ia pun

berangkat ke Betawi. Ayah, ibu tiri, dan beberapa orang famili

Halimah turut ... mengantarkannya ke Tanjung Priok: Midun

memang sudah siap dengan sebuah rumah yang sederhana,

cukup dengan perkakasnya, bakal mereka itu tinggal dua laki

istri. Maka tinggallah mereka suami istri di rumah itu, hidup

selalu dalam berkasih-kasihan, seia sekata dan turut-menurut

dalam segala hal. Demikianlah pergaulan mereka itu dari sehari

ke sehari.

Midun sudah bekerja sebagai menteri polisi. Namanya

termasyhur di Tanjung Priok. Baik kuli baik pun tidak, amat

segan dan takut kepada menteri polisi Midun. Polisi orang

Melayu atau pun Belanda segan pula kepadanya. Sebabnya ialah

ketika terjadi perkelahian beberapa orang kelasi kapal yang

memperebutkan perempuan durjana. Tidak ubah sebagai

perang kecil waktu terjadi perjuangan itu. Perkelahian yang

asal mulanya dua orang kelasi yang berlainan-lainan kapal

tempatnya bekerja, menjadi ramai sebab mereka mempertahankan

teman masing-masing. Polisi tak dapat lagi memisahkan,

sebab sangat sibuknya. Segala orang yang mempunyai

toko menutup tokonya karena ketakutan. Yang berkedai

mengemasi kedainya, lalu mencari tempat persembunyian.

Amat banyak orang berlarian ke sana kemari menjauhi perkelahian

itu. Huru-hara, tidak berketentuan lagi. Tidak sedikit

polisi baik pun kelasi yang luka. Jika tidak ada Midun, entah

berapa agaknya bangkai terhantar, sebab mereka itu sudah

memakai senjata tajam dalam perjuangan itu. Menteri polisi

Midunlah yang terutama berusaha memadamkan perkelahian

yang hebat itu. Oleh karena itu ia sangat terpuji oleh orang di

atas dalam pekerjaannya.

Belum cukup enam bulan Midun di Tanjung Priok, ia

menerima surat pindah ke Weltevreden. Menerima surat pindah

itu, Midun bersukacita. Di Tanjung Priok hampir ia tak dapat

menidurkan badan. Ada-ada saja yang mesti diuruskannya, baik

siang atau pun malam. Kadang-kadang lewat tengah malam

orang memanggil dia, karena ada sesuatu yang terjadi dan

perlu diselesaikan. Tiga hari kemudian daripada itu, Midun

suami istri berangkat ke Weltevreden. Maka ia. pun bekerjalah

dengan rajinnya di Weltevreden.

Sekali peristiwa Midun dipanggil Hoofdcommissaris datang

ke kantornya. Sampai di kantor, Hoofdcommissaris pun

berkata, "Midun, sekarang kamu mesti berlayar."

"Ke mana, Tuan?" ujar Midun dengan hormatnya.

"Kami dengar kabar ada penggelapan candu yang sangat

besar. Pusat penggelapan itu di Medan, dan ada pertaliannya di

Jawa ini. Sebab itu kamu mesti berangkat minggu di muka ini

ke Medan, akan menyelidiki benar tidaknya kabar itu. Saya

harap, pekerjaanmu di sana memberi hasil yang baik. Nah,

selesaikanlah mana yang perlu, dan berangkatlah minggu di

muka ini!"

"Baik, Tuan!" lalu Midun pulang ke rumahnya.

Setelah perintah itu dikabarkan Midun kepada istrinya,

maka ia pun berkirim surat ke Bogor menyuruh datang

mentuanya ke Betawi. Masa itu mentua Midun sudah pensiun.

Dua hari kemudian, datanglah mentuanya laki istri. Midun

mengabarkan bahwa ia tiga hari lagi berangkat ke Medan.

Dimintanya, selama ia di Medan, supaya mentuanya menemani

Halimah.

Setelah mustaid barang-barang yang perlu dibawa Midun, ia

pun berangkatlah ke Medan. Waktu ia akan berangkat, tidak

dibiarkannya seorang jua mengantarkannya ke kapal. Midun ke

Medan menjelma sebagai seorang saudagar. Sebab itu, ia

menumpang di atas geladak kapal saja.

Sampai di Medan, dengan ditemani oleh seorang matamata,

Midun pun bekerjalah menyelidiki kabar penggelapan

candu yang besar itu. Ada sebulan ia menyelidiki kabar itu

dengan rajinnya. Bermacam-macam ikhtiar dijalankan Midun.

Kemudian nyatalah, bahwa kabar itu bohong belaka. Menurut

pendapatnya, kabar itu hanya dibuat-buat orang saja, untuk

menjalankan maksudnya di tempat lain. Dua hari lagi akan

berangkat ke Betawi, Midun memakai seperti biasa.

la pun pergilah berjalan-jalan dengan temannya itu

melihat-lihat keindahan kota Medan. Setelah hari malam, terus

menonton komidi gambar. Ketika akan pulang lalu diajak oleh

temannya minum-minum kepada sebuah hotel. Baru saja

duduk, datang seorang jongos membawa buku tulis.

"Minum apa, Engku?" ujar Ahmad, temannya itu.

"Apa saja yang Engku sukai," jawab Midun.

Ketika Ahmad menuliskan nama minuman yang akan

diminta, Midun memandang kepada jongos yang berdiri di

belakang kawannya itu. Tiba-tiba ia terperanjat, karena

dilihatnya jongos itu serupa benar dengan adiknya Manjau.

Hatinya tertarik, lalu diperhatikannya tingkah laku jongos hotel

yang seorang itu. Midun amat heran karena jongos itu sebentar

menyeringai, sebentar pula duduk, seolah-olah menahan sakit.

Perjalanannya pun tidak sebagai biasa, melainkan agak lambat.

Maka Midun berkata dalam hatinya, "Tidak boleh jadi Manjau

akan sampai kemari. Tentu saja ia tidak diizinkan ibu dan ayah

meninggalkan kampung, karena saya sudah pergi. Lagi pula

tidak akan sampai hatinya meninggalkan orang tua, yang telah

bersedih hati kehilangan anaknya yang sulung itu. Ah, agaknya

pemandangan saya yang salah, tidak sedikit orang yang serupa

di atas dunia ini. Tetapi apakah sebabnya dia selalu memandang

saya? Dan apakah sebabnya jongos itu selalu menyeringai

dan sebentar-sebentar duduk? Tidak lain tentu karena

korban perempuan-perempuan dukana yang berkeliaran seluruh

kota ini agaknya.

Di dalam Midun termenung memikirkan jongos hotel itu,

tiba-tiba Ahmad kawannya itu berkata, katanya, "Mengapakah

Engku termenung saja dari tadi saya lihat? Apakah yang Engku

menungkan?"

"Tidak apa-apa," ujar Midun menghilangkan pikirannya,

sambil memperbaiki duduknya. "Pikiran saya melayang ke tanah

Jawa."

"Di sini pun tidak kurang kepelesiran seperti di tanah Jawa,

bahkan lebih agaknya. Lihatlah ke jendela tingkat hotel ini. Di

tanah Jawa tidakkan lebih, samalah dengan di sini agaknya."

"Benar, sama dengan di sini. Sungguh berbahaya benar

perempuan-perempuan jahat itu. Tidak sedikit orang yang

telah menjadi korban penyakit itu. Di Betawi lebih-lebih lagi

yang buta, buta juga, anggotanya pun banyak yang rusak.

Sungguh berbahaya benar penyakit jahanam itu."

"Sebenarnyalah perkataan Engku itu. Di sini pun begitu pula.

Bahkan banyak hotel di sini dipergunakan untuk itu saja.

Dipelihara di situ perempuan-perempuan dukana itu, untuk

pemuaskan hawa nafsu orang yang baru datang atau yang ada

di negeri ini. Seolah-olah sengaja rupanya orang memperkembang

biak penyakit keparat itu."

"Benar, kalau begitu sama keadaannya dengan Betawi. Hal

ini tidak boleh sekali-kali dibiarkan. Patut benar pemerintah

berikhtiar, supaya musna kupu-kupu malam yang berkeliaran di

kota-kota di tanah Hindia ini."

Adapun jongos hotel itu terkejut pula ketika melihat muka

Midun. Ia amat heran karena orang itu selalu memandang

kepadanya. Pada pemandangannya tidak ubah sebagai saudaranya

Midun. Dengan darah berdebar-debar, jongos itu berkata

dalam hatinya, "Dari tadi saya diperhatikan orang itu. Rupanya

bersamaan benar dengan saudara saya Midun. Nyata kepada

saya, bahwa sebenarnyalah dia kakak saya. Tetapi tidak boleh

ia segagah ini. Temannya memanggilkan dia "Engku". Tentu ia

seorang berpangkat. Mustahil, sedang menulis pun Midun tidak

pandai dan tidak pula bersekolah. Lagi pula ia dihukum ke

Padang, masakan orang hukuman menjadi orang berpangkat.

Agaknya orang itu serupa dengan Midun. Menurut suratnya ke

kampung dahulu, ia pergi ke tanah Jawa. Suatu hal yang tidak

boleh jadi ia di sini."

Kira-kira pukul sebelas malam, Midun membayar beli

minuman. Maka ia pun pulanglah ke rumah tempatnya

menumpang. Sampai di rumah hati Midun tidak senang sedikit

jua. Jongos hotel itu tidak hendak hilang dalam pikirannya.

Kemudian diputuskannya pikirannya hendak kembali ke hotel

itu, akan menanyakan siapa dan orang mana jongos hotel itu.

Sampai di sana, lalu dipanggilnya jongos itu. Maka ia dibawa

Midun kepada suatu tempat yang terpisah. Midun berkata,

katanya, "Saya harap kamu jangan gusar, karena saya hendak

bertanya sedikit."

"Baiklah, Engku," ujar jongos itu dengan hormatnya.

"Kamu orang mana?"

"Saya orang Minangkabau, Engku."

"Di mana negerimu di Minangkabau?"

"Di Bukittinggi."

"Namamu siapa?"

"Nama saya Manjau."

Mendengar nama itu hati Midun hampir tidak tertahan lagi.

Ketika itu sudah nyata kepadanya, bahwa orang yang bercakap

dengan dia itu, adiknyalah. Tetapi dengan sekuat-kuatnya ia

menahan hati, lalu meneruskan pertanyaannya, katanya,

"Adakah engkau bersaudara?"

"Ada, Engku."

"Siapa namanya?"

"Midun."

"Manjau, adikku kiranya ini," ujar Midun sambil melompat

memeluk Manjau.

Kedua mereka itu bertangis-tangisan, karena pertemuan

yang tidak disangka-sangkanya itu. Tidak lama mereka itu insaf

akan diri. Midun meneruskan pertanyaannya pula, katanya,

"Sudah lamakah engkau di sini? Ayah bunda dan adikku di mana?

Diizinkan mereka itukah engkau merantau kemari? Adakah ia

sehat-sehat saja sampai sekarang?"

Manjau menceritakan dengan panjang lebar penyakit ayahnya

waktu akan meninggal dunia dan perkara pusaka yang diambil

oleh kemanakan ayahnya. Begitu pula perkawinan Juriah

dengan Maun, pesan ayahnya waktu akan berpulang. Dengan

tidak diketahuinya, air mata Midun berlinang-linang, karena

amat sedih hatinya mengenangkan kematian ayahnya yang

dicintainya itu. Maka ia pun berkata, "Ayah sudah meninggal,

apa pula yang engkau turut kemari! Tentu ibu canggung engkau

tinggalkan, suami mati, anak dua orang sudah hilang."

"Saya pergi sudah seizin beliau. Akan tinggal juga saya di

kampung tak ada pekerjaan saya, sebab harta kita sudah habis

sama sekali. Usikan Penghulu Kepala Kacak tidak pula tertanggung

oleh saya. Tidak ada berselang sepekan saya sudah disuruhnya

pula berodi, jaga, ronda malam, dan lain-lain. Karena

itu saya mufakat dengan Maun. la sendiri mengizinkan juga

saya pergi. Kata Maun, "Pergilah, Manjau, mudah-mudahan

engkau bertemu dengan Midun. Saya sendiri pun akan meninggalkan

kampung ini pula, sebab saya tidak senang diam

oleh si Kacak musuh kami dahulu. Biarkanlah ibu dan Juriah

tinggal. Sayalah yang akan menjaga keselamatan ibu. Ke mana

saya pergi, tentu beliau saya bawa."

Maka saya pun pergilah ke Bukittinggi. Mula-mula saya

bekerja menjadi jongos kepada seorang Belanda. Belum lama

saya bekerja, diajak oleh induk semang saya itu kemari.

Tiga bulan saya bekerja dengan dia, induk semang saya itu

pun perlop ke negeri Belanda. Saya tinggal seorang diri, lalu

mencari pekerjaan lain. Dengan seorang kawan bernama

Sabirin, orang Minangkabau juga, kami pergi meminta

pekerjaan kepada sebuah onderneming yang jauhnya lebih

kurang 30 pal dari sini. Kami dapat pekerjaan pada

onderneming itu. Saya jadi juru tulis kontrak dan teman saya

itu jadi mandor. Habis tahun kami dapat perlop 14 hari dan

ekstra gaji 3 bulan.

Sebab kami biasa tinggal di hutan, maka kami pergi kemari.

Di sini pelesir menyenang-nyenangkan hati, akan melepaskan

lelah bekerja terus setahun itu. Ke pelesiran itu rupanya

menjadi sesalan kepada saya sekarang. Teman saya Sabirin itu

meninggal dunia baru sebulan. Sebabnya ialah karena

mendapat penyakit ... perempuan.

Ia mendapat penyakit yang nomor satu. Saya untunglah

dapat yang enteng. Sudah dua bulan sampai sekarang saya

menanggung penyakit itu. Akan kembali ke onderneming sudah

malu, dan rasanya saya tidak kuat lagi bekerja. Maka saya

carilah pekerjaan yang ringan di sini, yaitu menjadi jongos

hotel. Demikianlah hal saya selama Kakak tinggalkan."

Midun mengangguk-anggukkan kepala saja mendengar cerita

adiknya itu. Maka Manjau disuruhnya berhenti bekerja di hotel

itu. Setelah itu dibawanyalah ke rumah tempatnya menumpang.

Sampai di rumah, sesudah Midun berganti pakaian,

maka ia menceritakan nasibnya kepada Manjau sejak meninggalkan

kampung. Tetapi yang diceritakannya, hanyalah

mana yang patut didengarkan adiknya saja. Ketika sampai

kepada menceritakan halnya digoda perempuanperempuan di

Betawi, di situ diperpanjang oleh Midun. Ditanyakannya kepada

Manjau bagaimana keimanannya dalam hal itu. Begitu pula

tentang pergaulan hidup dan caranya berteman dengan orang.

Mendengarkan cerita Midun yang amat panjang itu, Manjau

insaf benar-benar akan dirinya. la menekur dan menyesal amat

sangat perbuatannya yang sudah-sudah. Lebih-lebih ketika

Midun menceritakan bahaya penyakit perempuan itu, maka

Manjau pucat sebagai orang ketakutan.

Menteri polisi Midun berangkat pula kembali ke Betawi.

Manjau dibawanya bersama-sama. Dengan selamat Midun

sampai ke Betawi. Maka Midun menceritakan hal pertemuannya

dengan adiknya itu.

Setelah mendengar keterangan Midun, orang di rumah itu

pun girang hatinya.

Tiga bulan Manjau berulang ke rumah sakit, barulah sembuh

benar penyakitnya. Tetapi setelah sembuh ia harus memakai

tesmak, karena pemandangannya sudah kurang terang. Manjau

tidak dibiarkan Midun bekerja, melainkan bersenang-senangkan

diri saja di rumah. Sekali-sekali jika Midun membawa pekerjaan

pulang, ditolongnya bekerja di rumah. Kemudian Manjau

dimasukkan Midun bekerja di kantor Roofdcommissaris.

15. Pertemuan

SEKALI peristiwa pada suatu petang. Midun dengan istrinya

duduk-duduk di beranda muka rumahnya makan-makan angin.

Sedang ia minum-minum teh, tiba-tiba berlarilah anaknya dari

dalam. Anak itu sudah berumur tiga tahun lebih. Ia membawa

sebuah surat kabar mingguan pada tangannya. Maka anak itu

pun berkata, "Papa, apa ini?"

Anak itu menunjuk sebuah gambar pada surat berkala itu.

Midun melihat, lalu diperhatikannya gambar itu. Kemudian ia

berkata, "Ini gambar negeri bapak. Anak mau pergi ke Padang?"

"Mau," jawab anaknya, yang barangkali kurang mengerti

benar akan perkataan bapaknya.

"Coba lihat!" ujar Halimah meminta gambar itu. "Gambar itu

ialah gambar ngarai atau 'Karbauwengat' di Bukittinggi benar.

Kalau saya tidak salah, hanya 10 menit perjalanan."

Midun terkenang akan negerinya. Tampak-tampak olehnya

jalan-jalan di kampungnya. Ia bermenung, pikirannya melayang

ke kampung. Tiba-tiba terbayang ibu dan adiknya Juriah, yang

sangat dikasihinya itu. Setelah beberapa lamanya dengan hal

demikian itu, Midun berkata kepada istrinya, "Halimah! Jika

saya tidak salah, ketika kita berjalan-jalan di Kebun Raya

dahulu, kau ada berkata, 'Tahun mana musim pabila dan

dengan jalan apakah lagi, maka dapat saya melihat negeri

Padang yang saya cintai itu'. Perkataanmu itu, sebenarnyalah

atau untuk bersenda gurau saja?"

Midun tersenyum, ia terkenang akan halnya masa dahulu,

waktu berjalan-jalan dengan Halimah di Kebun Raya. Halimah

kemalu-maluan. Sambil tersenyum, ia pun berkata, "Apakah

sebabnya sekarang Udo menanyakan hal itu? Belumkah tampak

oleh Udo, bahwa perkataan saya itu sebenarnya?"

"Bagaimana pula akan tampak, karena kita sudah hampir 6

tahun di sini saja."

"Sudah sebesar ini si Basri anak kita, belumlah tampak oleh

Udo, bahwa perkataan saya itu sungguh-sungguh?"

"O, jadi yang kau maksud 'negeri Padang' dahulu itu si Midun

kiranya." Midun tersenyum pula. Kemudian ia berkata lagi,

katanya, "Perkataan saya ini sebetul-betulnya, Halimah. Sudah

hampir 6 tahun saya di sini, ingin benar saya hendak menemui

ibu dan adik saya Juriah. Cukuplah ayah meninggal dunia

karena bercintakan saya, tetapi janganlah hendaknya terjadi

pula sekali lagi pada ibu hal yang demikian itu."

"Menurut pikiran Udo, bagaimana yang akan baiknya?"

"Pikiran saya, jika sepakat dengan Halimah, saya bermaksud

hendak memasukkan rekes meminta pindah ke negeri saya.

Sukakah kau, jika kita kembali pula ke Padang?"

"Menurut hemat saya, hal itu tidak perlu Udo tanyakan lagi

kepada saya. Jika saya akan dua hati juga kepada Udo, tidaklah

saya bersuamikan Udo. Jangankan ke Padang. Ke laut api

sekalipun saya turutkan, jika Udo mau membawa saya, anak

yatim ini. Lain tidak hanya Udolah bagi saya, ketika panas

tempat berlindung, waktu hujan tempat berteduh."

"Saya sudah maklum tentang hatimu. Bukankah baik juga

kita mufakat apa yang harus kita kerjakan. Kalau demikian,

baiklah. Besok saya hendak menghadap Hoofdcommissaris, akan

memohonkan permintaan, mudah-mudahan dikabulkannya dan

dapat pertolongan pula daripadanya."

Pada keesokan harinya pagi-pagi Midun pergilah ke kantor

Hoofdcommissaris. Dari jauh Midun sudah dipanggil Hoofdcommissaris,

karena waktu ia akan masuk kantor, sudah

kelihatan kepadanya. Senang benar hati tuan itu bertemu

dengan dia, karena tidak saja Midun sudah bertanam budi

kepadanya, dalam pekerjaan pun cakap dan terpuji pula.

"Apa kabar, Midun?" ujar Hoofdcommissaris. "Ada baik saja

dalam pekerjaan?"

"Baik, Tuan," ujar Midun dengan hormat, "tidak kurang suatu

apa."

"Sekarang apa maksudmu datang kemari?"

"Jika tak ada alangan pada Tuan; saya ada hendak

memohonkan permintaan sedikit."

"Boleh, katakanlah apa yang hendak kamu minta itu!"

"Sudah hampir enam tahun saya di sini, ingin benar saya

hendak menemui ibu dan adik-adik saya. Entah masih hidup

juga mereka itu sekarang entah tidak. Oleh sebab itu jika izin

Tuan, saya hendak memohonkan, bagaimana baiknya agar citacita

saya itu sampai."

"Jadi Midun ingin bekerja di negeri sendiri?"

"Saya, Tuan. Tetapi kalau tak ada alangan pada Tuan dan

dengan pertolongan Tuan jua."

"Baiklah. Buatlah rekes kepada Residen Padang. Sesudah

kamu buat, berikan kepada saya. Nanti saya sendiri mengirimkan

ke Padang."

"Terima kasih banyak, Tuan," ujar Midun dengan girang.

Dengan petunjuk beberapa orang pegawai kantor itu, maka

dibuatlah oleh Midun rekes kepada Residen Padang memohonkan

suatu pekerjaan di Sumatra Barat. Setelah sudah, lalu

diberikannya kepada Hoofdcommissaris. Kemudian ia pergi

menjalankan pekerjaannya seperti biasa.

Sepuluh hari kemudian daripada itu, pagi-pagi, ketika Midun

mengenakan pakaian di rumahnya, kedengaran olehnya di muka

orang mengatakan "Pos". Halimah segera keluar. Tidak lama ia

kembali, lalu berkata, "Telegram, Udo."

Setelah ditekan Midun surat tanda penerimaan telegram itu,

diletakkannya di atas meja. Sesudah berpakaian, dengan darah

berdebar-debar dan harap-harap cemas, lalu dibukanya

telegram itu. Tiba-tiba ia terperanjat, karena di dalam

telegram itu tersebut, bahwa Midun diangkat jadi assisten

demang di negerinya sendiri, dan mesti selekas-lekasnya

berangkat.

Tidak dapat dikatakan bagaimana kegirangan hati Midun

masa itu. Diciumnya anaknya beberapa kali akan menunjukkan

sukacitanya. Halimah jangan dikatakan lagi. Amat girang

hatinya karena suaminya menjadi assisten demang.

Dengan suka dan girang, Midun berangkat ke kantor

Hoofdcommissaris. Sampai di sana, ia terus saja masuk ke

kamar Hoofdcommissaris, sambil memegang surat kawat di

tangannya.

Midun berkata dengan gagap, diunjukkannya telegram itu

katanya, "Saya diangkat jadi assisten demang di negeri saya,

Tuan!"

Hoofdcommissaris membaca telegram itu. Setelah dibacanya,

ia pun berkata dengan girang, "Selamat, selamat, Midun!

Yang kamu cita-citakan sudah dapat. Keangkatanmu ini tentu

menyenangkan hatimu, karena kamu dipindahkan ke negerimu

sendiri."

Hoofdcommissaris itu berdiri, lalu ditepuk-tepuknya bahu

Midun. Maka ia pun berkata pula, katanya, "Pemandanganmu

sudah luas, pengetahuanmu pun sudah dalam. Sebab itu

pandai-pandai memerintah dan memajukan negerimu. Saya

harap kamu hati-hati dalam pekerjaan, jangan kami dapat malu

karena kamu. Jika kamu rajin bekerja,tidak lama tentu kamu

diangkat jadi demang. Pergilah sekarang juga menghadap Tuan

Residen, memberitahukan keangkatanmu ini. Dialah yang terutama

mengenalkan kamu dalam hal ini. Balik dari sana kemari

lagi. Nanti saya buat sepucuk surat untuk tuan Residen Padang.

Kamu harus berangkat dengan lekas ke Padang."

Midun tidak dapat menjawab perkataan Hoofdcommissaris

lagi, karena disuruh pergi. Dengan menganggukkan kepala saja,

Midun terus pergi menghadap Tuan Residen, akan mengucapkan

terima kasih atas usulnya itu.

Sepekan kemudian daripada itu, Midun dua laki istri dan

Manjau berangkatlah ke Padang. Dengan selamat dan tidak

kurang suatu apa, ia pun sampailah di Pelabuhan Teluk Bayur.

Setelah diantarkannya istrinya ke rumah salah seorang kenalannya

di sana, Midun terus menghadap Tuan Residen akan memberikan

surat dari Hoofdcommissaris Betawi. Surat itu dibaca

Tuan Residen, dan sambil memberi selamat, Midun dinasihatinya

dengan panjang lebar.

Setelah itu ia kembali pulang ke tempatnya menumpang.

Midun dengan istrinya pergi mengunjungi kubur ibu Halimah.

Sudah itu ia pergi mendapatkan Pak Karto ke Ganting. Amat

girang hati Pak Karto bertemu dengan Midun. Apalagi setelah

mendengar kabar, bahwa Midun sudah menjadi assisten

demang, ia sangat bersukacita. Maka ditinggalkan Midun uang

f 100,- untuk Pak Karto. Disuruhnya ganti kubur ibu Halimah

dengan batu, lebihnya untuk Pak Karto.

Pada keesokan harinya pagi-pagi, Midun berangkat ke

Bukittinggi. Maka sampailah mereka itu dengan selamat di

negeri tumpah darahnya. Midun pergi menghadap Tuan Assisten

Residen, akan memberitahukan bahwa ia sudah datang dan

memohonkan perlop barang sebulan, karena ia sudah 6 tahun

tidak pulang ke negerinya. Permintaannya itu dikabulkan oleh

Assisten Residen.

Adapun di kampung Midun pada hari itu Tuan Kemendur

mengadakan rapat besar. Sudah 3 bulan lamanya kampung

Midun dengan daerahnya diwakili oleh demang lain memerintah

di situ, sebab belum datang gantinya. Rapat hari itu ialah rapat

besar, akan menentukan penghulu-penghulu, mana yang harus

diberi bersurat dan mana yang tidak. Oleh sebab itu, segala

penghulu kepala dan penghulu-penghulu yang ternama hadir

belaka, membicarakan bagaimana caranya pengatur hal itu.

Rapat hampir habis, yaitu kira-kira pukul 11, Midun laki istri

dan Manjau sampai di kampungnya dengan selamat. Didapatinya

orang sedang rapat di pasar di kampungnya dan Tuan

Kemendur ada pula di sana. Maka Midun pun pergilah menemui

Tuan Kemendur. Setelah beberapa lamanya Midun bercakap

dengan Tuan Kemendur, Tuan Kemendur memberitahukan pada

kerapatan, bahwa Midunlah yang akan menjadi assisten demang

di negeri itu. Sesudah itu Midun menerangkan pula dengan

pandak, atas kepindahannya dari Betawi ke negerinya sendiri.

Datuk Paduka Raja, mamak Midun yang masa itu ada pula

hadir dalam rapat itu, melompat karena girang mendengar

kabar Midun menjadi assisten demang. Dengan suka amat

sangat ia pun pergi mendapatkan kemenakannya. Baru saja

Midun melihat mamaknya, dengan segera ia menjabat tangan

Datuk Paduka Raja. Keduanya berpandang-pandangan, air

matanya berlinang-linang, karena pertemuan yang sangat

menyenangkan hati itu. Segala penghulu kepala dan penghulupenghulu

bersalam kepada Midun dengan hormatnya.

Bagaimana pulalah halnya dengan Penghulu Kepala Kacak?

Dengan malu dan takut, ia datang juga bersalam kepada Midun.

Itu pun sudah kemudian sekali, yakni setelah orang-orang habis

bersalam dengan Midun. Midun sangat hormat dan merendahkan

diri kepada Kacak. Dirasanya tangan Kacak gemetar bersalam

dengan dia. Sedang bersalam, Midun berkata, "Senang

benar hati saya melihat Engku sudah menjadi penghulu kepala.

Karena Engku sahabat saya yang sangat akrab masa dahulu,

tentu saja kita akan dapat bekerja bersamasama memajukan

negeri kita. Sebab itu saya harap, moga-moga pergaulan kita

sekarang mendatangkan kebaikan kepada negeri ini."

Kacak ketakutan, warna mukanya pucat seperti kain putih.

Sepatah pun ia tidak berani menjawab perkataan Midun itu.

Segala penghulu-penghulu dan penghulu kepala yang lain amat

heran, karena Midun sangat hormat dan merendahkan diri

kepada Penghulu Kepala Kacak. Apalagi melihat muka Kacak

yang pucat itu, semakin takjub orang memandanginya. Tetapi

penghulupenghulu yang mengetahui hal Kacak dan Midun masa

dahulu, mengangguk-anggukkan kepala saja, karena mereka

maklum akan sindiran assisten demang yang demikian itu.

Rapat itu disudahi sebab sudah habis. Midun suami istri dan

Manjau serta mamaknya terus ke rumah familinya. Di jalan

dikabarkan Datuk Paduka Raja, bahwa ibu Midun baru sepekan

di rumah. Ia pergi ke Bonjol menurutkan Maun bekerja.

Sebabnya Maun ke Bonjol, diterangkan Datuk Paduka Raja,

bahwa Maun selalu diganggu Penghulu Kepala Kacak di

kampung. Kepulangan ibunya itu hanya karena hari akan hari

raya saja.

Baru saja Midun naik ke rumah, sudah tampak kepadanya

ibunya, Juriah, dan sahabatnya-sekarang telah menjadi iparnya

duduk di tengah rumah. Mereka itu berlompatan melihat Midun

dan Manjau. Tak ubahnya sebagai orang kematian di rumah itu.

Mereka itu empat beranak berpeluk-pelukan dan bertangistangisan

amat sangat. Lebih-lebih Midun dan Maun dua orang

sahabat yang sangat akrab dahulu. Tidak insaf, kedua mereka

itu lagi, bahasa ia sudah beripar besan. Sama-sama tidak mau

melepaskan pelukan masing-masing. Halimah sendiri turut pula

menangis melihat pertemuan suaminya itu. Ada setengah jam

lamanya, barulah tenang pula di rumah itu. Tidak berapa lama

antaranya, Midun berkata, "Inilah menantu Ibu, namanya

Halimah. Dan ini cucu Ibu, namanya Basri."

Ibu Midun baru insaf akan diri, bahwa beserta Midun ada

pula menantu dan cucunya. Halimah segera mendapatkan

mentuanya lalu menyembah. Ibu Midun mendekap menantunya

itu.

Kemudian diambilnya cucunya, dipangku dan diciumnya beberapa

kali. Maka Halimah diperkenalkan Midun dengan seisi

rumah, dan diterangkannya jalari apa kepadanya orang itu

masingmasing. Ratap tangis mulanya tadi, bertukar dengan

girang dan suka. Tertawa pun tidak pula kurang. Masing-masing

menceritakan halnya sejak bercerai. Ibu Midun bercerita sambil

menangis karena sedih atas kematian Pak Midun. Maka Midun

pun berkata, katanya, "Janganlah Ibu kenangkan juga hal yang

sudah-sudah itu. Harta dunia dapat kita cari. Sekarang kami

sudah pulang, senangkanlah hati Ibu."

Kabar Midun menjadi assisten demang di negerinya itu,

sebentar saja sudah tersiar ke seluruh kampung itu. Amat

banyak teman sejawat Midun dahulu datang mengunjunginya.

Haji Abbas dan Pendekar Sutan datang pula ke rumah. Sehariharian

itu tidak ubahnya sebagai orang beralat di rumah gedang

itu. Hanya famili ayah Midun saja yang tidak datang. Agaknya

mereka itu malu dan takut menemui Midun, karena

perbuatannya yang sudah-sudah itu.

Pada keesokan harinya, Midun mufakat dengan Datuk

Paduka Raja dan Maun, akan membuat rumah dari batu untuk

Juriah. Begitu pula akan membeli sawah untuk ibunya dua

beranak. Lain daripada itu, Midun hendak membuat gedung

pula untuk tempat tinggalnya dengan anak istrinya. Sesudah

permufakatan itu, Datuk Paduka Raja berkata, "Sudah hampir

50 tahun umur saya, tak sanggup lagi saya memegang gelar

pusaka nenek moyang kita. Tidak kuat lagi rasanya saya

memegang jabatan ini, sampai kepada 'mati bertongkat budi'.

Oleh sebab itu saya hendak 'hidup berkerelaan' dengan Midun.

Midun sekarang sudah menjadi assisten demang, jadi sudah

layaknya pula memegang gelar itu. Bahkan sudah pada

tempatnya benar-benar."

"Bagaimana pikiran Mamak, saya menurut," ujar Midun.

"Tapi mufakatlah Mamak dahulu dengan kaum keluarga kita,

karena gelar itu pusaka kita bersama."

"Hal itu sudah mestinya. Saya rasa tentu tidak akan seorang

jua kaum kita yang akan membantahnya."

Sepekan kemudian daripada itu, Midun dijadikan penghulu,

bergelar Datuk Paduka Raja. Oleh sebab itu Midun mengadakan

peralatan yang sangat besarnya. Disembelihnya beberapa ekor

jawi dan kerbau untuk peralatan itu. Peralatan itu diramaikan

dengan tari, pencak, gung, telempong, dan sebagainya, segala

permainan anak negeri ada belaka. Sungguh alamat ramai, dari

mana-mana orang datang. Dari bukit orang menurun, dari lurah

orang mendaki yang buta datang berbimbing yang lumpuh

datang berdukung, yang patah datang bertongkat. Tuan Luhak

dan Tuan Kemendur pun datang pula mengunjungi peralatan

itu. Begitu pula assisten demang dan demang banyak yang

datang ke peralatan itu.

Setelah selesai peralatan itu, Datuk Paduka Raja pun memerintahlah

di negerinya. Dengan sungguh hati ia bekerja

memajukan negeri. Karena anak negeri amat suka diperintahi

D,atuk Paduka Raja, makin sehari negeri anak makin maju.

Apalagi karena assisten demang itu sudah luas pemandangannya

dan banyak pengetahuannya, bermacam-macam ikhtiarnya

untuk memajukan negeri.

Demikianlah hal Midun gelar Datuk Paduka Raja, seorang

yang amat baik budi pekertinya itu. Dengan sabar dan tulus

ikhlas diterimanya segala cobaan atau bahaya. Biarpun apa jua

yang terjadi atas dirinya. Midun tidak pernah berputus asa,

karena ia maklum, bahwa tiap-tiap celaka itu ada gunanya atau

kesengsaraan itu kerap kali membawa nikmat. Imannya teguh

dan tidak pernah hilang akal, kendatipun silih berganti bencana

yang datang kepadanya. Karena pengharapannya yang tidak

putus-putus itu, selalu ia mengikhtiarkan diri akan memperbaiki

nasibnya.

Adapun penghulu kepala musuh Datuk Paduka Raja yang

sangat bengis dahulu itu, sejak pertemuan di pasar waktu

assisten demang baru datang, sudah melarikan diri entah ke

mana. Rupanya ia takut dan malu kepada Datuk Paduka Raja,

musuhnya dahulu. Dan boleh jadi juga sebab yang lain maka ia

melenyapkan diri itu. Hal itu segera diberitahukan Datuk

Kemendur. Maka Tuan Kemendur bersama dengan juru tulisnya

datang dari Bukittinggi akan memeriksa buku-buku dan keadaan

beberapa uang kas negeri. Setelah diperiksa, kedapatan ada

beberapa rupiah uang belasting yang tidak disetornya. Kacak

dicari, didakwa menggelapkan uang belasting. Sebulan

kemudian daripada itu, Kacak dapat ditangkap orang di

Lubuksikaping. Dengan tangan dibelenggu, ia pun dibawa polisi

ke Bukittinggi terus dimasukkan ke penjara. Enam bulan

sesudah itu, perkara Kacak diperiksa. Karena terang ia

bersalah, maka Kacak dihukum 2 tahun dan dibuang ke Padang.

SELESAI

0 Response to "Sengsara Membawa Nikmat 2"

Post a Comment