HOME

Wednesday, June 13, 2012

LOVASKET 2

FOR THE LOVE OF THE GAME
Luna Torashyngu


SATU
DUK!
“Aduh!”
Hampir aja Niken jadi korban hantaman benda bulat berwarna oranye yang meluncur deras ke arahnya. Hampir, karena benda itu cuman nyerempet bahu kirinya dikit.
“Eehh... maaf, Kak...,” ujar seorang cowok kelas satu yang datang menghampiri Niken.
“Liat-liat dong kalo maen!” sungut Niken sambil memperhatikan cowok yang mengambil bola basket yang tergeletak nggak jauh dari tempat Niken berdiri itu.
“Salah kamu sendiri, siapa suruh berdiri di dalam lapangan...” Terdengar suara cowok dari arah samping Niken. Niken menoleh dan melihat Rei yang tau-tau udah berdiri di sampingnya.
“Eh... itu...” Niken baru sadar dia emang berdiri sedikit di dalam lapangan basket. Untung cowok kelas satu yang tadi melempar bola ke arahnya udah pergi, jadi nggak melihat wajah Niken yang memerah menahan malu.
“Emang kamu mikirin apa sih? Sampai nggak sadar berdiri di dalam lapangan?” tanya Rei sambil cengar-cengir.
“Kamu liat Vira, nggak?” tanya Niken tanpa basa-basi.
“Kamu nyariin Vira?” Rei malah balik nanya.
“Bukan... nenek kamu!” jawab Niken kesal. Udah jelas dia nanyain Vira, ya pasti nyariin tuh cewek. Pake nanya segala!
Rei malah jadi ngakak mendengar jawaban Niken.
“Kamu tambah cantik deh kalo lagi kesel,” goda Rei, bikin Niken tambah tersipu-sipu.
“Udah deh... jangan bercanda. Kamu liat Vira, nggak?”
Rei menghentikan ketawanya dan malah menatap Niken.
“Dia nggak bilang ke kamu?” Rei balik nanya lagi.
“Bilang apa? Pas bel pulang tuh anak langsung ngabur nggak bilang-bilang. Amel juga nggak tau. Pas ditelepon, HP-nya nggak aktif.”
“Vira kan mo nonton pertandingan basket di C‟tra. Kalo nggak salah, dia pergi bareng Rida, Debi, Mia, dan anak-anak basket cewek lainnya. Masa dia nggak bilang ke kamu?”
Niken menggeleng.
“Kamu nggak diajak?” tanya Niken.
“Diajak sih... tapi aku kan ada janji dengan pacarku tersayang...”
“Jangan mulai jayuz, Rei...,” sungut Niken.
Rei kembali ngakak sambil mengacak-acak rambut Niken.
“Reiiii!!!”
* * *
Vira emang sahabat baik Niken. Malah boleh dibilang soulmate. Mereka kompak dalam segala hal, kecuali satu... Basket. Kalo dalam hal satu ini boleh dibilang kedua cewek ini bagai bumi dan langit. Vira terkenal jago basket, andalam tim basket cewek SMA 31. Sedang Niken, sebulan belajar basket, dia baru bisa menembak bola ke ring, itu juga nggak selalu masuk. Niken juga selalu lupa peraturan-peraturan basket, dan selalu nanya ke Rei atau Vira kalo nonton pertandingan basket bareng mereka.
Mungkin itu sebabnya kali ini Vira nggak ngajak Niken nonton pertandingan. Mungkin Vira pengin sekali ini menikmati pertindangan tanpa diganggu
pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kenapa sih disentuh dikit aja langsung pelanggaran?” Mungkin kali ini Vira pengin nonton basket bareng temen-temen setimnya, yang bisa diajak diskusi soal pertandingan yang mereka tonton. Mungkin itu juga sebabnya Vira juga nggak ngajak Amel, karena nggak mau terganggu suara dengkuran Amel yang selalu ketiduran setiap diajak nonton pertandingan (padahal suasana pertandingan pasti rame, tapi tetap aja Amel bisa ketiduran tanpa terganggu suara-suara ribut di sekelilingnya).
Apa pun alasannya, siang ini Vira bersama temen-temen setimnya bergabung bersama ribuan penonton lain yang menyaksikan pertandingan persahabatan antara tim basket putri Jawa Barat melawan tim basket putri Kalimantan Timur. Pertandingan ini merupakan salah satu ajang latihan bagi kedua tim yang akan menghadapi kualifikasi kejuaraan nasional (kejurnas) yang akan berlangsung bulan depan.
“Hebaat!” seru Rida sambil bertepuk tangan ketika salah seorang pemain putri Jabar berhasil memasukkan bola ke ring lawan dengan caray lay-up.
“Yang nomor 9 itu hebat ya... Maennya udah kayak cowok. Dia juga banyak bikin angka,” lanjut Rida.
“Maksud kamu Lusi Chyndana Dewi?” Vira balik nanya.
“Iya... Lusi... Lusi siapa tadi?”
“Lusi Chyndana Dewi. Jelas aja... dia kan atlet nasional. Andalan Indonesia di berbagai event internasional, termasuk SEA GAMES kemaren,” Vira menjelaskan.
“Ooo... gitu yaaa...”
“Yang nomor 7 juga bagus tuh maennya...,” kata Mia.
“Mira Wulandari? Dia pemain nasional juga, walau nggak selalu jadi starter,” kembali Vira menjelaskan.
“Kamu tau banyak soal mereka, ya?” tanya Rida.
“Aku kan baca koran...,” jawab Vira sambil cengengesan.
* * *
Saat akan keluar dari C‟tra Arena setelah pertandingan selesai, Vira melihat sosok yang begitu dikenalnya, yang juga akan keluar dari pintu yang sama.
Stella! batin Vira.
Ternyata nggak cuman Vira, yang lainnya pun melihat kehadiran Stella bersama anak-anak basket Altavia. Dan Stella pun melihat mereka.
“Itu bukannya Stella?” tanya Rida lirih pada Vira. Yang ditanya cuman mengangguk.
Vira menunggu apa yang akan dilakukan Stella kali ini. Tapi ternyata Stella nggak ngelakuin apa-apa. Dia melengos dan melanjutkan langkahnya, diikuti teman-temannya.
“Masih tetep sombong aja dia!” sungut Mia.
“Udahlah... nggak usah dipikirin. Mending makan yuk! Kan dari tadi kita belum makan siang,” sahut Vira.
Seketika itu juga terlihat wajah ragu-ragu dari Debi, Mia, juga Rida.
“Aku yang traktir...,” lanjut Vira, langsung membuat wajah ketiga temennya itu berubah seperti baru dapet undian berhadiah aja!
* * *
Vira baru pulang menjelang magrib. Udah bisa ditebak, dia dapet omelan dari Niken.
“Dari mana aja sih kamu? Pergi kok nggak bilang-bilang? Kenapa HP-nya dimatiin?” semprot Niken.
“Sori... baterainya abis... Aku lupa nge-charge tadi malem,” sahut Vira sambil nyengir, lalu buru-buru ke kamarnya. Dia nggak mau ngeladenin Niken. Tuh anak kalo udah ngomel-ngomel mending jangan diladenin, kalo nggak mau urusannya bisa panjang. Apalagi kalo Niken sampe meriksa HP Vira, tambah panjang urusannya. Soalnya baterai HP itu sebenarnya tidak habis, tapi emang sengaja dimatiin supaya nggak ngeganggu keasyikan Vira nonton basket. Mending mandi, trus ngerjain PR buat pelajaran besok. Biarin aja Niken, besok pasti dia udah biasa lagi...
Niken merengut begitu Vira nggak meladenin omelannya. Dengan wajah mendung, dia pun kembali melanjutkan kegiatannya tadi sebelum Vira pulang. Baca novel sambil nonton TV.
Sejak tiga bulan yang lalu Niken emang tinggal bareng Vira, di rumah yang dulunya dikontrak Vira bareng mamanya. Rumah itu lalu dibeli oleh keluarga Vira dan direnovasi seperlunya untuk tempat tinggal Vira di Bandung, sementara kedua ortunya tinggal di Jakarta. Karena Vira sendirian (sebetulnya berdua bareng Bi Sum, pembantunya), Niken diminta tinggal di situ buat nemenin Vira. Niken sih oke-oke aja, dan ibunya juga ngizinin. Toh rumah Vira juga deket dengan rumahnya. Kalo ada apa-apa tinggal lompat pagar pembatas kompleks. Lagi pula dengan tinggal bareng, Niken yang disiplin dan tegas itu diharapkan bisa mengatur Vira yang kadang-kadang suka seenaknya sendiri. Contohnya ya kayak sekarang, Vira baru pulang pas menjelang malem. Masih pake seragam sekolah, lagi!
* * *
Pagi harinya, ternyata Niken masih kesel ama Vira. Buktinya waktu sarapan roti yang dibikin Bi Sum, dia cuman diam, sama sekali nggak negur Vira.
“Kamu tau aku ketemu siapa di GOR kemaren?” Vira mencoba membuka pembicaraan.
Niken cuman diam, nggak menjawab ucapan Vira.
“Ya udah kalo nggak mau tau...,” ujar Vira lagi. Dia lalu berdiri dan siap-siap berangkat ke sekolah.
“Emang kamu ketemu siapa?” tanya Niken tiba-tiba.
Vira yang membelakangi Niken tersenyum. Pancingannya mengena!
“Hah? Apa?” tanya Vira sambil berbalik.
“Kamu ketemu siapa di sana?” tanya Niken.
“Siapa? Ketemu di mana?” tanya Vira berlagak bloon.
“Tadi kan kamu bilang ketemu ama seseorang di GOR. Siapa?”
“Ooo... itu...” Vira menggaruk-garuk kepalanya.
“Ya banyak... ada wasit, pemain basket, anak sekolah lain, satpam, sampe tukang parkir. Maksud kamu yang mana?” jawab Vira sekenanya, bikin Niken cuman melongo. Vira segera meninggalkan Niken yang lima detik kemudian baru sadar dirinya baru aja dikerjain.
“Viraaaa...!!!”
* * *
“Jadi semuanya menolak main kalau tuntutan mereka tidak kita kabulkan?”
“Mereka bilang begitu.”
“Kamu sudah bilang mengenai kondisi kita dan bilang soal itu kita bicarakan setelah babak final?”
“Saya sudah coba semua cara untuk meyakinkan mereka, termasuk yang Bapak katakan. Tapi gagal. Mereka tetap pada tuntutan mereka.”
“Apa mereka tidak punya fanatisme kedaerahan lagi?”
“Menurut saya, fanatisme kedaerahan bagi mereka sudah tidak penting lagi. Bagi mereka yang terpenting sekarang adalah diri sendiri.”
“Besok saya akan coba bicara langsung dengan mereka. Tapi untuk berjaga-jaga, sebaiknya mulai sekarang Anda bersiap-siap untuk membentuk tim baru.”
“Membentuk tim baru? Tapi apa mungkin? Dengan waktu yang semakin dekat...”
“Apa Anda ingin kita mengundurkan diri? Mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai hal itu terjadi? Belum lagi kita pasti mendapat sanksi dari pengurus pusat.”
“Saya tahu...”
“Saya yakin, masih banyak pemain berbakat di luar sana yang punya fanatisme kedaerahan dan tidak semata-mata bermain untuk kepentingan diri sendiri. Soal prestasi, mungkin harus kita lupakan dulu tahun ini.”
DUA
PERTANDINGAN persahabatan basket putri antara tim SMA 31 melawan SMA 12 sudah memasuki detik-detik akhir. Sampai saat ini tim putri SMA 31 masih unggul 43-27 dan kelihatannya keunggulan itu akan terus bertahan sampai akhir pertandingan.
Lay-up manis dari Rida menjadi angka terakhir, karena nggak lama kemudian pertandingan berakhir.
“Lima-kosong,” ujar Rei menyambut yang duduk di pinggir lapangan.
“Maksudnya?” tanya Niken yang duduk di sampingnya.
“Sejak final turnamen antar-SMA, tim basket cewek udah lima kali melawan SMA lain, dan belum pernah kalah,” jawab Rei dengan nada bangga.
“Kalo tim cowoknya, Rei?” celetuk Vira yang lagi ngelap keringatnya.
Mendengar pertanyaan Vira, Rei cuman nyengir.
“Vir, kamu yakin nggak punya saudara cowok yang juga jago maen basket kayak kamu?” sahut Rei.
“Atau kamu ikut aja tim basket cowok, Vir! Ajarin cara maen basket yang bener biar bisa menang...,” Niken ikut-ikutan menimpali.
Mendengar ucapan Rei dan Niken, Vira cuman bisa ngakak. Tapi dia segera terdiam. Matanya menangkap sosok yang begitu dikenal, sedang menuju ke arahnya.
“Bentar yaa...,” ujar Vira, lalu menghampiri seorang pria berusia setengah baya yang sangat dikenalnya.
“Pak Andryan... Bapak ada di sini? Ada apa?” tanya Vira sambil menjabat tangan Pak Andryan, pelatih basket SMA Altavia.
“Untuk melihat perkembangan permainan kamu. Ternyata permainan kamu meningkat pesat ya...,” jawab Pak Andryan.
“Ah, Bapak bisa aja... Semua ini juga berkat Bapak yang ngelatih saya dari awal.”
“Jangan merendah... Bapak tahu kamu sudah main basket sejak SMP. Lagi pula, pada dasarnya kamu memang berbakat, jadi Bapak hanya tinggal memoles kamu sedikit.”
Vira cuman menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir.
* * *
“Itu bukannya bekas pelatih Vira di Altavia?” tanya Niken pada Rei.
Yang ditanya cuman mengangguk.
“Ngapain dia ke sini?”
Kali ini Rei menggeleng, tanda tidak tahu.
“Kamu tau, Da?” tanya Niken pada Rida.
Yang ditanya cuman mengangkat bahu tanda nggak tahu. Juga Debi, Mia, dan pemain cewek SMA 31 lainnya.
* * *
“Bapak nggak mungkin sengaja datang ke sini cuman untuk melihat Vira main, kan?” tebak Vira.
“Memang... selain ingin melihat permainanmu, Bapak juga ingin meminta kamu untuk datang besok sore ke GOR Padjadjaran. Kamu besok tidak ada acara, kan?”
Vira menggeleng.
“Memang ada apa, Pak?” tanya Vira.
“Nanti kamu juga tau, yang jelas masih ada hubungannya dengan basket.”
Ucapan Pak Andryan itu jelas membuat Vira bertanya-tanya.
“Oya, sekalian ajak juga temen kamu yang rambutnya diikat ke belakang. Itu yang nomor 23.”
Vira menoleh ke arah yang ditunjuk Pak Andryan.
“Maksud Bapak, Rida?”
“Iya. Kalian berdua. Bapak tunggu yaa... jangan telat dan bawa perlengkapan untuk main.”
* * *
Keesokan sorenya, jam tiga kurang dikit, Vira udah ada di depan GOR Padjadjaran. Bareng Rida tentunya.
“Kok sepi, Vir?” tanya Rida.
“Emang kamu ngarepin apa? Banyak orang?”
“Kirain ada pertandingan.”
Rida salah. Dari luar GOR Padjadjaran emang terlihat sepi, tapi saat mereka berdua masuk ke dalam, suasananya agak ramai. Lebih dari dua puluh orang ada di dalam GOR, kebanyakan cewek. Ada yang duduk atau berdiri di pinggir lapangan basket sambil ngobrol, ada juga yang di tengah lapangan sambil latihan, baik latihan dribel, shooting, atau yang lainnya.
“Kok kayak mo latihan, ya?” komentar Vira. Rida cuman mengangguk.
Sebuah bola basket menggelinding dan berhenti di dekat Vira. Nggak laam kemudian cewek pemilik bola basket tersebut mendekat, bermaksud mengambil bola miliknya.
“Alexa?” sapa Vira heran.
Cewek yang dipanggil Alexa menengadahkan kepalanya.
“Vira?”
Vira nggak nyangka bakal ketemu Alexa, teman setimnya dulu di Altavia yang sekarang jadi rivalnya.
Tapi, kalo ada Alexa di sini, jangan-jangan ada...
“Lo juga dateng!?”
Stella berdiri nggak jauh dari Vira, di sebelah Alexa.
“Pasti dia yang nyuruh lo ke sini, ya?” tanya Stella dengan angkuh.
“Dia? Maksud lo Pak Andryan?”
“Siapa lagi...?”
“Iya. Dan kenapa sih lo makin songong aja? Lo boleh nggak suka ama Pak Andryan, tapi lo harus hormati dia, karena dia kan pelatih lo.”
“Nggak lagi...”
Ucapan Stella itu bikin heran Vira.
“Maksud lo?” tanya Vira.
“Jadi lo belum tau? Dia nggak cerita ke lo?”
“Cerita apa?”
“Pak Andryan udah nggak jadi pelatih basket di Altavia lagi,” Alexa yang menjelaskan.
“Oya? Sejak kapan?”
“Sejak dia merasa dirinya sebagai pelatih besar dan terlalu banyak bicara daripada melatih,” jawab Stella.
Vira menatap Stella.
“Kok gue ngerasa kalo ini ulah lo?” ujar Vira sambil melototi Stella, membuat rivalnya itu balik menatap tajam ke arahnya.
“Lo jangan macem-macem...”
“Halo, Viraa...”
Suara yang memotong ucapan Stella itu terasa lembut di telinga Vira. Vira menoleh ke arah datangnya suara dari tribun di belakangnya.
“Stephanie!” seru Vira.
Tanpa memedulikan Stella, Vira naek ke tribun diikuti Rida, lalu memeluk Stephanie yang berdiri di sana.
“Lo juga ada di sini?”
“Iya dong... emang lo aja yang boleh ikut seleksi?” jawab Stephanie sambil tertawa.
Ucapan Stephanie tentu aja membuat Vira makin bingung, apalagi setelah melihat mantan kakak kelasnya itu udah memakai pakaian basket lengkap dengan sepatunya.
“Seleksi? Seleksi apa?”
Stephanie nggak perlu menjawab pertanyaan Vira, karena saat itu terdengar suara peluit berbunyi. Yang meniup peluit itu seorang pria setengah baya. Pak Andryan berdiri di sampingnya.
“Tuh! Kita udah disuruh kumpul! Ntar aja ganti bajunya!” tukas Stephanie sambil menepuk pundak Vira.
Vira makin bingung. Rida apalagi.
* * *
Pria di samping Pak Andryan memperkenalkan diri. Namanya Pak Dibyo dan dia mengaku sebagai salah satu pelatih basket tim Jawa Barat.
“Mungkin Adik-adik sudah tahu maksud Adik-adik diundang kemari. Adik-adik akan mengikuti seleksi untuk pembentukan tim junior Jawa Barat untuk kejuaraan beberapa bulan lagi.” Demikian Pak Dibyo menjelaskan.
Mendengar itu, Vira dan Rida berpandangan. Seleksi untuk tim basket Jawa Barat? Mereka nggak tahu itu sebelumnya.
“Nanti kami akan memilih dua belas orang sebagai anggota tim. Karena itu, kami harap Adik-adik bisa mengeluarkan kemampuan terbaik Adik-adik dalam seleksi, karena kami hanya memilih yang terbaik...,” lanjut Pak Dibyo.
* * *
Seleksi yang dilakukan ternyata bermain basket. Para calon yang diseleksi dibagi menjadi dua tim yang berhadapan. Bukan hasil pertandingan yang dilihat, tetapi kemampuan individu.
“Tapi jangan lupakan kerja sama tim. Kami lebih memilih pemain yang bisa bekerja sama secara tim daripada pemain yang punya skill bagus tapi individualis...,” Pak Dibyo mengingatkan.
* * *
“Aku tadi mainnya jelek, ya?” tanya Rida pada Vira saat mereka ganti pakaian usai seleksi. Rida tadi satu tim bareng Vira di tim biru. Nggak tahu kenapa, mereka berdua tadi mainnya nggak sebagus biasanya, terutama Rida. Beberapa kali dia malah melakukan kesalahan yang mendasar seperti salah mengoper, atau tembakannya nggak akurat. Dan itu merupakan salah satu penyebab timnya kalah melawan tim merah yang dimotori Stella, Alexa, dan Stephanie.
Vira cuman tersenyum mendengar ucapan Rida.
“Kamu inget waktu kita lawan SMA 2 di semifinal kejuaraan basket antar-SMA dulu?” Vira balik nanya.
“Aku kayak gitu lagi, ya?”
“Seperti biasa, kalo kamu nervous,” jawab Vira sambil mengikat tali sepatunya. “Tapi nggak papa kok... aku juga sedikit kaget karena nggak nyangka bakal ikut seleksi untuk tim provinsi. Kirain tadinya cuman diundang untuk main atau sekedar latihan,” lanjutnya.
“Kayaknya aku nggak bakal lolos seleksi...,” keluh Rida.
“Kamu pengin jadi anggota tim provinsi?”
“Tentu aja. Siapa sih yang nggak bangga kalo terpilih mewakili daerahnya? Apalagi dengan cara itu, siapa tau aku bisa jadi atlet nasional, maen di turnamen tingkat internasional. Apa kamu nggak pengin terpilih juga?”
“Ya pengin juga sih...,” kata Vira. “Udah deh... kamu optimis aja... siapa tau kamu terpilih masuk tim. Kita tunggu aja hasilnya,” lanjutnya menghibur Rida.
* * *
Jam dua belas malam tinggal kurang dikit saat mobil yang dikemudikan Stella memasuki halaman rumahnya. Setelah memarkir mobilnya di garasi, dia lalu memasuki rumah besar dan mewah yang udah terlihat sepi dan lengang.
“Mom udah pulang, Bi?” tanya Stella pada pembantunya yang usianya udah hampir setengah abad.
“Belum, Non...,” jawab pembantunya pendek.
Stella hanya menghela napas.
Pasti Mom nggak pulang lagi! batinnya. Dia lalu mengambil HP dari tasnya, dan menghubungi sebuah nomor.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...
Cuman itu suara yang didengar Stella melalui HP-nya. Stella lalu mematikan HP dan berjalan dengan gontai menuju kamarnya di lantai dua. Dia nggak tahu alasan HP Mom-nya nggak aktif, tapi yang jelas malam ini dirinya akan kembali tidur sendirian di dalam rumah yang mewah ini, seperti beberapa malam sebelumnya.
TIGA
PAGI-PAGI Niken udah kesel bin sebel bin mangkel ama Rei. Itu gara-gara Rei telat menjemput dia. Akibatnya mereka berdua telat juga sampe ke sekolah dan harus berhadapan dengan guru piket supaya diizinkan masuk ke kelas.
“Tau gini kan aku bisa pergi sendiri ato ikut Vira?” sungut Niken saat keluar dari ruang guru piket. Rei cuman diem.
Niken pantes kesel. Ini udah ketiga kalinya dia telat masuk sejak jadian dengan Rei. Padahal biasanya kan... selalu nggak dateng... hi hi hi...
Nggak ding! Jangankan telat, Niken adalah salah satu anak SMA 31 yang selalu dateng paling awal ke sekolah. Bahkan kadang-kadang pintu gerbang sekolah belum dibuka, nih anak udah ngejogrok di depan pintu gerbang, saingan dengan satpam sekolah yang bertugas membuka pintu gerbang.
Tapi sekarang, rekor nggak pernah telat Niken udah tercoreng, bahkan berkali-kali. Dan semuanya gara-gara makhluk bernama Rei, yang sering telat kalo menjemput Niken. Kalo ditanya, alasan Rei bisa macem-macem, mulai dari jalanan macet, ban kempes, sampe telat bangun gara-gara ngerjain PR (alasan yang terakhir ini kayaknya bohong deh, soalnya Niken tahu siapa Rei sebenarnya, dan ngerjain PR bukan merupakan salah satu hobi cowoknya itu).
Alhasil, Niken baru masuk kelas sekitar dua puluh menit dari saat Bu Narsih memulai pelajaran biologinya. Untung Bu Narsih nggak ngomong apa-apa setelah Niken menunjukkan surat izin masuk dari guru piket, jadi dia bisa langsung duduk.
“Gara-gara Rei lagi?” tanya Amalia yang duduk di sebelah Niken.
Niken nggak menjawab, malah langsung mengambil buku dari tasnya. Dia juga nggak sadar Vira lagi menatapnya dari bangku belakang dengan tampang kasihan.
* * *
“Kenapa kamu nggak jujur aja sih bilang ke Niken, alasan kamu sering telat bangun?” tanya Vira pada Rei saat ketemu di jam istirahat.
“Nggak mungkin lah... bisa-bisa Niken marah ke aku,” jawab Rei.
“Bukannya sekarang juga Niken udah marah ke kamu karena kamu sering telat jemput die?”
“Beda... Kalo aku telat sih, Niken paling marah sampe jam istirahat. Abis itu paling udah biasa lagi. Nah kalo sampe dia tau aku sering pulang pagi, apalagi gara-gara ikut streetball, bisa ngamuk dia... Bakal lama marahnya,” sahut Rei. “Oya... anak-anak nanyain kamu tuh! Kamu udah lama nggak nongol. Apalagi Elmo... dia kan masih penasaran ama kamu...” Mendadak Rei ganti topik.
Mendengar ucapan Rei, Vira tertawa.
“Bilang Elmo tunggu aja... kalo dia nggak keburu mati penasaran!” ujar Vira di sela-sela ketawanya.
“Tapi, kenapa sih kamu nggak pernah ikut lagi?” tanya Rei.
“Rei... kamu kan tau Niken sekarang tinggal bareng aku. Pasti dia bakal curiga liat aku pergi malem-malem, apalagi bawa-bawa kaos dan celana basket.”
“Ya kamu bilang aja mo ke mana kek...”
“Kalo kamu nggak berani bilang ke Niken, apa aku juga berani? Apalagi kita tau sifat dia...”
“Bedalah... kamu kan cuman temennya. Dia pasti nggak begitu marah ke kamu.”
“Sama aja... Niken bisa bilang ke Kak Aji.”
Vira lalu hendak meneruskan langkahnya.
“Mo ke mana?” tanya Rei.
“Ke kelas Rida. Ada berita penting buat dia.”
“Dia lolos seleksi untuk tim provinsi, kan?” tebak Rei.
“Kamu tau dari mana?”
“Nebak aja... dan aku yakin, kamu juga pasti lolos.”
Vira cuman nyengir.
“Berarti bakal ada acara makan-makan nih...”
“Makan-makan sih gampang... yang penting, kamu liat Rida nggak?”
Rei menggelengkan kepala.
“Dari tadi pagi nggak liat tuh... Aku lewat depan kelasnya juga nggak keliatan. Nggak masuk, kali,” ujar Rei.
“Masa sih?”
* * *
Ucapan Rei emang seratus persen ngawur. Rida ternyata ada di kelasnya. Dan bisa ditebak, dia girang banget mendengar kabar baik yang dibawa Vira.
“Bener, Vir?” tanya Rida.
“Iya... Ngapain aku boong? Pak Andryan yang nelpon sendiri ke aku, mastiin soal ini,” tegas Vira.
* * *
“Kamu tau nggak, kenapa Rei suka banget telat akhir-akhir ini?” tanya Niken di dalam mobil, saat pulang sekolah. Niken emang nggak pulang bareng Rei, bukan karena masih kesel (walau sebetulnya emang masih kesel sih), tapi karena Rei mo ke rumah temennya. Katanya sih mo bantuin betulin motor, karena gitu-gitu Rei sedikit tahu soal mesin motor.
Vira udah menduga, cepat atau lambat Niken bakal nanya soal Rei.
“Kok kamu malah nanya aku sih? Kamu kan pacarnya...” Vira pura-pura balik nanya.
“Kalo aku yang nanya, jawaban Rei pasti macem-macem. Tapi yang jelas, aku tau dia nyembunyiin alasan yang sebenarnya. Mungkin aja kamu tau, atau dia pernah cerita ke kamu. Kan kamu suka ngobrol ama dia pas latihan basket.”
“Tapi Rei nggak pernah cerita soal dia selalu telat,” jawab Vira, tentu aja bohong. Dalam hati Vira sebetulnya kasihan juga melihat ekspresi Niken. Tapi dia udah berjanji untuk nggak membocorkan kegiatan Rei yang sebenarnya, apa pun yang terjadi.
“Tunggu deh... nanti juga aku yang akan ngomong langsung ke Niken,” kata Rei saat meminta supaya Vira nggak cerita ke Niken.
“Tapi sampe kapan, Rei? Cepat atau lambat Niken pasti bakal curiga. Apalagi kamu akhir-akhir ini lebih sering telat jemput dia.”
“Yaaa... Aku sih sebetulnya juga nggak mau telat. Tapi mo gimana lagi? Aku udah berusaha bangun pagi, tapi tetep aja nggak bisa. Kecapekan, kali.”
“Emang kamu maen berapa kali sih, sampe kecapekan gitu? Perasaan dulu-dulu nggak pernah deh...”
“Bukan masalah maennya, tapi kali ini beda. Duitnya lebih gede. Aku biasanya maen tiga sampe empat kali.”
“Sampe empat kali?”
Vira cuman geleng-geleng. Seingat dia, dulu dia ama Rei paling cuman maen dua atau tiga kali setiap ikut streetball. Tiga juga jarang banget, cuman kalo lagi rame. Itu juga badan Vira udah terasa remuk. Dan Rei juga udah kecapekan. Tapi sekarang, Rei bisa maen tiga bahkan empat kali semalam. Pantes aja kalo dia selalu telat bangun.
“Kenapa sih? Mo ngejar setoran? Dulu juga kamu cuman maen malam Minggu aja, tapi sekarang hampir tiap hari,” tanya Vira.
“Hmmm... Mungkin karena sekarang lebih menantang, kali ya? Lagi pula aku punya rencana tersendiri. Boleh dibilang untuk Niken.”
“Oya? Kejutan apa?”
“Hmmm...” Rei celingak-celinguk, sebelum mendekati Vira dan membisikkan sesuatu di telinga cewek itu.
“Yang bener, Rei?” tanya Vira nggak percaya.
“Bener. Masa sih aku boong soal ini?”
“Vir...”
Suara Niken membuyarkan lamunan Vira.
“Kok malah bengong sih? Awas... ntar nabrak loh!” Niken memperingatkan Vira.
“Eh... nggak... aku nggak bengong kok.”
“Masa”
“Iya... aku cuman lagi konsentrasi nyetir ke depan,” tukas Vira, lagi-lagi bohong.
Untung Niken nggak bertanya apa-apa lagi.
Maafin gue ya... gue cuman juga bingung harus berpihak ke siapa! batin Vira.
EMPAT
Minggu pagi...
MEREKA yang terpilih sebagai anggota tim basket junior Jawa Barat udah berkumpul di GOR Padjadjaran, untuk latihan pertama. Di antara cewek-cewek yang terpilih itu terdapat Vira, Rida, Stella, Alexa, dan Stephanie. Vira juga melihat wajah-wajah yang dikenalnya waktu turnamen antar-SMA kemaren yang tentu aja merupakan pemain andalan sekolah mereka masing-masing. Tapi ada juga wajah-wajah yang baru dilihatnya sekarang. Sepertinya mereka bukan berasal dari Bandung.
Di hadapan wajah-wajah muda ini sekarang berdiri seorahg pelatih yang udah dikenal sebagian dari mereka, termasuk Vira. Dia adalah Isman Sujana, pelatih yang kemarin sukses membawa tim senior putri Jawa Barat lolos ke putaran vinal kejurnas yang akan diselenggarakan sebulan lagi di Jakarta. Dan suatu kejutan, karena selain menangani tim senior, Pak Isman juga akan menangani tim junior.
“Adik-adik tentu sudah tahu... Adik-adik semua terpilih untuk mewakili Jawa Barat pada kejuaraan basket tingkat nasional nanti...,” Pak Isman memulai “pidato” pembukaannya. Kayak pejabat aja pake pidato-pidatoan segala.
“Adik-adik terpilih setelah melewati seleksi yang ketat. Kami menilai berdasarkan penampilan Adik-adik di berbagai turnamen yang Adik-adik telah ikuti, hingga seleksi akhir dua hari yang lalu. Karena itu, saya harap Adik-adik mampu menjaga penampilan Adik-adik, mau berlatih keras, dan harus punya tekad
untuk berbuat yang terbaik bagi Jawa Barat. Apa Adik-adik semua mau melakukan hal itu!!??”
Semua diam, nggak ada yang menyahuti ucapan Pak Isman.
“ADIK-ADIK MAU MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK JAWA BARAT!!??” Pak Isman mengulangi ucapannya, kali ini dengan suara keras. Ternyata kali ini gebrakannya itu manjur. Cewek-cewek muda di hadapannya menyahuti dengan penuh semangat dan hampir serentak.
“YA... KAMI BERSEDIA!!!”
Kayak anak TK aja.
“Kami akui... agak terlambat untuk membentuk tim ini. Tapi sudah tidak ada waktu. Tapi kami juga tahu, sebagian besar Adik-adik di sini masih bersekolah. Jadi kami akan memberikan toleransi untuk yang bersekolah. Kita akan latihan setiap sore, kecuali pada hari Minggu atau libur, kita latihan dari pagi. Untuk yang berasal dari luar Bandung, kami sedang mengusahakan untuk memindahkan sekolah kalian untuk sementara ke sini. Kalian juga akan kami carikan tempat tinggal dengan tanggungan kami. Jadi kami minta yang terbaik dari Adik-adik semua...”
“Pidato pembukaan” dari Pak Isman disusul dengan perkenalan seluruh anggota tim dan tim pelatih yang ada. Anehnya, Pak Andryan nggak kelihatan dari tadi.
“Pak Andryan nggak ikut ngelatih?” tanya Rida ke Vira.
“Pak Andryan nggak masuk dalam tim karena ada kerjaan di tim lain. Dia sekadar membantu menyeleksi pemain untuk tim ini...,” sahut Vira.
“Dia ngelatih di sini? Jangan mimpi! Emang dia kira dia siapa, bisa ngelatih tim provinsi?” tiba-tiba Stella yang kebetulan ada di dekat situ dan mendengar pembicaraan Vira dengan Rida ikut nyeletuk.
“Gue nggak ngomong ama lo!” bales Vira.
Anehnya, Stella nggak menanggapi ucapan Vira. Dia malah menatap Rida.
“Seingat gue, kemaren lo maennya jelek banget. Tapi kok bisa kepilih ya? Apa lo kenal ama pelatihnya? Atau lo nyogok?” ujar Stella sinis.
“Hei! Lo mau cari gara-gara lagi!?” Vira yang maju membela Rida.
“Mungkin lo bisa masuk dalam tim, tapi jangan harap bisa ngegeser gue untuk jadi starter. Dan lo juga, Vir! Mulai dari sekarang gue peringatin lo. Kalo lo masih maen ama anak kampung ini, bisa-bisa lo jadi cadangan abadi juga. Gue kasian aja ama lo...”
“Lo emang ember...”
Vira maju hendak menampar Stella, tapi secara nggak terduga. Rida menahan tangannya.
“Jangan, Vir...” cegah Rida lirih.
Vira menoleh ke arah Rida, dan melihat tatapan mata Rida yang seperti memohon.
Untun gaja, Stella buru-buru ditarik Stephanie yang juga melihat situasi yang mulai panas.
“Lo mau dikeluarin dari tim?” tanya Stephanie dengan nada ketus pada Stella. Yang ditanya cuman mendengus, lalu pergi dari situ.
“Kamu kenapa sih nggak biarin aku nampar dia?” tanya Vira masih dengan nada kesal.
“Karena itu yang dia mau,” jawab Rida.
“Maksud kamu?”
“Kalo kamu nampar dia, akan timbul keributan. Dan orang-orang di sini akan jadi saksi kamu yang pertama nampar. Mereka nggak tau soal ucapan Stella sebelumnya. Kamu bisa dihukum, atau bahkan dikeluarin dari tim. Dan sebetulnya itu yang diinginkan Stella. Dia tau kalo kamu pasti ngebela aku, makanya dia manfaatin itu.”
Dalam hati, Vira mengakui kebenaran ucapan Rida.
“Kamu bener. Tumben kamu pinter,” ujar vira.
Rida cuman tersenyum.
“Tapi apa kamu nggak sakit hati dengan ucapan Stella tadi?” tanya Vira.
“Sakit hati sih... tapi aku punya impian untuk masuk tim ini. Jadi aku nggak mau hal-hal sekecil tadi ngerusak impianku. Apalagi kata-kata Stella tadi juga ada benernya. Sampe sekarang aku juga heran kenapa bisa lolos.”
“Kamu kenal ama Pak Isman, Pak Dibyo, atau ofisial lainnya?” tanya Vira.
“Nggak.”
“Kamu nyogok supaya masuk tim?”
“Jangan bercanda... duit dari mana?”
Vira menepuk pundak Rida.
“Kalo begitu, kamu masuk tim ini karena kemampuan kamu. Mungkin kamu nggak sadar, tapi yang jelas, mereka-mereka itu lebih bisa melihat kemampuan kamu yang sebenarnya, yang tersembunyi. Karena itu buktiin dong kamu bisa masuk starter. Kalo kamu maennya seperti di turnamen dulu, kamu pasti bisa. Percaya deh!” tukas Vira.
“Kamu emang paling bisa kalo ngasih semangat.”
* * *
Latihan pertama hari itu adalah latihan fisik, disusul sedikit latihan teknik, dan akhirnya ditutup dengan sebuah mini game sesama pemain.
“Anda yakin dengan kemampuan mereka?” tanya Pak Dibyo saat melihat permainan anak-anak asuhannya.
“Tidak ada jalan lain. Hanya mereka harapan kita satu-satunya.”
“Tapi mereka masih muda dan belum berpengalaman.”
“Walau begitu mereka punya teknik dan bakat yang bagus. Terutama yang dua itu. Yang rambutnya diikat dan yang memakai kaus biru. Mereka berdua punya teknik di atas yang lainnya, bahkan sudah mendekati para senior. Persis seperti yang dibilang Pak Andryan.”
Pak Dibyo melihat ke arah yang ditunjuk Pak Isman.
“Vira dan Stella. Apa Pak Andryan juga bilang mereka berdua bermusuhan?” tanya Pak Dibyo.
“Bermusuhan? Maksudnya?”
“Mereka tadinya satu tim di sekolah. Tapi karena satu hal, Vira pindah sekolah. Dan sekarang mereka bersaing untuk sekolah masing-masing, ditambah ada sedikit masalah pribadi antara mereka berdua. Sayang, Bapak tidak melihat turnamen antar-SMA beberapa bulan yang lalu.”
“Saat itu saya berada di luar kota. Jadi sampai sekarang mereka masih bermusuhan?”
“Benar. Karena itu untuk latihan saya tidak pernah memasukkan keduanya dalam satu tim. Kita juga tidak bisa mencoret salah satu, karena kita membutuhkan kedua-duanya. Lagi pula menurut Pak Andryan, Vira dan Stella merupakan duet yang hebat, kalau saja mau bekerja sama dan melupakan permusuhan mereka.”
“Begitu ya?” Pak Isman manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Dibyo.
* * *
“Lo kalo maen bisa nggak sih kalo nggak kasar?” seru Vira ke Stella setelah untuk kesekian kalinya bertabrakan (atau sengaja ditabrak) dengan cewek itu.
“Kenapa? Lo udah mulai lembek?” Stella malah balas mengejek, lalu meninggalkan Vira.
“Dasar cumi! Lo kira gue nggak bisa kayak lo!?” Vira bangun lalu mengejar Stella yang lagi memegang bola.
Rida yang melihat adegan tersebut jadi deg-degan, takut emosi Vira mulai “terpancing”.
* * *
“Aku tadi kelihatan mulai emosi, ya?” tanya Vira pada Rida seusai latihan.
“Agak sih...,” jawab Rida.
“Sori... tapi tadi sebetulnya aku emang sengaja kok ngelakuin itu. Biar Stella tau aja. Kalo dibiarin, dia bakal ngelunjak. Buktinya kan setelah aku bales maen agak kasar, dia jadi diem.”
“Tapi kamu juga dapet peringatan...”
“Hee... heee... hee... emang sih tadi agak kelepasan, tapi untungnya sih masih bisa aku kontrol. Kamu tenang aja... aku nggak bakal kok berbuat hal-hal yang konyol. Kalo Stella mungkin...”
Tiba-tiba Vira meringis sambil memegang betisnya.
“Kambuh lagi?” tanya Rida sedikit cemas.
“Dikit.”
Tapi nggak sampe semenit, Vira udah berjalan normal lagi.
“Udah nggak papa kok,” katanya.
“Kamu udah periksain betis kamu ke dokter?” tanya Rida lagi.
“Udah.”
“Kapan?”
“Abis turnamen dulu.”
“Itu kan udah lama. Kalo sekarang?”
“Belum.”
“Ya ampun... Vira. Ntar kalo ada apa-apa...”
Vira cuman tersenyum.
“Tenang aja deh... ini cedera lama kok. Emang kadang-kadang kambuh, tapi nggak terlalu mengganggu. Biasa-biasa aja.”
“Tapi...”
“Udah... nggak usah dipikirin,” tandas Vira sambil membuka pintu mobilnya.
* * *
Setelah nganterin Rida, Vira nggak langsung pulang. Ada yang mau dibelinya. Karena itu dia mampir dulu ke mal. Tentu aja sebelumnya Vira ngasih tau Niken lewat telepon. Dia nggak mau dapet “ceramah” lagi gara-gara pulang kemaleman.
Capek dan laper, itu yang dirasakan Vira sekarang. Karena itu setelah mendapat apa yang dicarinya, dia langsung menuju tempat makan. Nggak usah yang mahal-mahal, saat ini Vira malah pengin makan di foodcourt, bukan kafe atau sejenisnya.
Tapi ternyata foodcourt penuh banget. Nggak ada meja yang tersisa. Maklum aja, pas jam makan malam. Vira yang baru sowan ke tempatnya Kolonel Sanders (alias KFC) cuman bisa bengong. Sambil menenteng-nenteng baki berisi makanan, dan berkeliling mencari meja yang kosong. Dalam hati Vira menyesali kebodohannya. Kenapa dia tadi nggak nyari meja dulu baru mesen. Tahu nggak dapet tempat kan mending dia makan di restoran atau kafe.
Setelah hampir lima menit berkeliling di area foodcourt, Vira akhirnya nyerah juga. Harapan untuk mendapat meja yang kosong udah nggak ada. Tangannya juga udah pegel nenteng-nenteng baki yang lumayan berat (karena pesanan Vira emang banyak. Laper berat dia!). Satu-satunya jalan paling gabung dengan orang lain dalam satu meja, asal masih ada kursi yang kosong. Dan pandangan Vira langsung tertuju ke sebuah meja dengan empat kursi, tapi hanya ditempati oleh seorang cewek berambut pendek yang duduk membelakanginya.
Biarin deh gue semeja kalo emang dibolehin ama dia! batin Vira. Lagian cewek itu kelihatannya cuman sendiri, jadi Vira nggak begitu merasa kagok. Kalo nanti cewek itu bisa diajak ngobrol ya tinggal ngobrol. Itung-itung nambah temen. Tapi kalo ternyata si cewek termasuk penganut aliran “diam itu emas”, ya paling diem-dieman aja kayak di angkot!
“Permisi... boleh ikut duduk nggak? Soalnya meja yang lain udah penuh,” tegur Vira seramah mungkin.
Cewek yang lagi asyikmakan mi hotplate itu menoleh ke arah Vira, dan...
“Hah? Elo?”
Raut wajah Vira berubah begitu melihat wajah si cewek. Wajah yang pernah dikenalnya. Hal yang sama juga terjadi pada si cewek. Dia seolah-olah baru melihat hantu.
LIMA
“BOLEH ikut gabung, nggak?”
Suara itu menghentikan dua cewek yang lagi asyik bermain basket di lapangan sekolah, sesuai jam pelajaran. Seorang cewek berambut pendek mendatangi mereka.
“Ikut ekskul basket juga?” tanya cewek berambut pendek tersebut.
“Iya,” jawab cewek yang berambut agak ikal. Sedang temennya yang lebih tinggi serta berwajah setengah bule cuman diam sambil memandang orang yang baru dateng dan mengganggu keasyikan bermain mereka.
“Kalo gitu sama dong. Kenalin... gue Vira, dari kelas 1-A,” ujar cewek yang berambut pendek itu sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh cewek berambut agak ikal yang tadi menjawabnya.
“Gue Hera, dan ini Stella. Kami berdua dari kelas 1-D.”
“Heh... bengong aja!”
Suara cempreng Amel mengagetkan Vira yang lagi bengong di bangkunya.
“Tumben, nggak keluar pas istirahat. Lagi tapa?” tanya Amel.
“Kamu tumben ke sini?” Vira malah balik nanya. Dia dan Amel emang beda kelas.
“Abis nggak liat kamu di kantin. Kata Amalia, kamu nggak keluar kelas. Ada apa sih?” tanya Amel lagi.
“Nggak, nggak ada apa-apa. Lagi males keluar kelas aja,” jawab Vira ngasal.
“Bener?”
“Iya. Emang kenapa sih?”
“Nggak. Cuman Amel liat kamu terakhir kayak gini waktu kita masih di Altavia. Waktu ada masalah dengan papa kamu.”
Vira menatap Amel.
“Kali ini beda. Percaya deh... nggak ada apa-apa. Lagi males keluar aja...,” tukas Vira.
“Ya udah kalo gitu.”
Amel duduk di sebelah Vira.
“By the way, any way, busway... kamu kabarnya satu tim ama Stella, ya? Gimana dia?” tanya Amel lagi.
“Emang penting kamu nanya soal itu?” Vira balik nanya dengan nada rada ketus. Bikin Amel jadi sedikit mengkeret.
“Ya nggak sih... pengin tau aja...,” sahut Amel lirih, takut Vira tersinggung lagi.
“Dia nggak berubah,” jawab Vira pendek, tapi itu udah cukup untuk Amel.
* * *
Pandangan Vira tertuju ke arah pintu kelas. Dari sana Niken masuk sambil membawa seabrek map dan kertas-kertas lainnya.
“Kok udah beres?” tanya Vira yang tahu kalo jam istirahat ini Niken mo ngadain rapat OSIS.
“Beres dari Hongkong!?” jawab Niken ketus. “Nggak jadi rapat.”
“Kenapa?”
“Ruang OSIS-nya dikunci. Nggak tau kuncinya dipegang siapa...”
Vira cuman senyum-senyum mendengar jawaban Niken. Pasti itu ulah salah satu pengurus OSIS yang nggak pengin ada rapat. Padahal kata Niken rapat kali ini cukup penting, yaitu tentang rencana pemilihan ketua OSIS baru. Tapi emang salah Niken juga sih... ngadain rapat OSIS pas jam istirahat. Ya jelas aja banyak yang nggak setuju. Udah otak pusing dijejelin materi pelajaran di kelas, eh, pas istirahat harus ikut rapat yang kadang-kadang juga bikin pusing.
“Abis kalo rapatnya setelah bubaran sekolah, malah banyak yang kabur.” Begitu alasan Niken.
Emang serbasalah sih. Kalo soal rapat OSIS pasti banyak yang nggak berminat. Coba deh kalo rapatnya diselingi ama acara makan-makan gratis plus doorprize, ditanggung deh pasti bakal banyak yang ikutan, yang bukan pengurus OSIS sekalipun. Hi... hi... hi...
* * *
Selain yang berasal dari Bandung, dari dua belas orang anggota tim basket junior cewek Jawa Barat kali ini, tiga di antaranya berasal dari kota lain di Jawa Barat. Masing-masing dari Tasikmalaya, Purwakarta, dan Bogor. Dan karena berasal dari luar kota padahal latihan dilakukan setiap hari, terpaksa ketiga orang itu pindah sementara ke Bandung (karena nggak mungkin harus tiap hari bolak-balik dari dan ke kota asal mereka. Selain berat di ongkos, juga ngabisin waktu dan tenaga). Mereka akhirnya mencari tempat tinggal sementara di Bandung, sementara untuk sekolah (karena kebetulan ketiganya masih SMA) dititipkan di salah satu SMA Negeri yang ditunjuk oleh Pengda PERBASI Jawa Barat.
Salah seorang dari mereka bernama Sita, nama lengkapnya Sita Setyasari, berasal dari salah satu SMA swasta di Tasik. Vira sendiri secara nggak sengaja bisa kenal lebih deket dengan Sita di hari pertama latihan karena satu tim saat mini game. Dan nggak disangka, kota kecil seperti Tasik punya seorang pemain basket yang berbakat, yang skill-nya nggak kalah dari pemain-pemain dari kota besar. Apalagi tubuh Sita emang menunjang banget untuk jadi pemain basket. Tubuhnya tinggi, hampir sama dengan Vira, cuman Sita lebih kurus. Sita juga jago tembakan tiga angka, bahkan kayaknya itu merupakan spesialisasinya.
Pertama kali kenal, Vira udah suka ama Sita. Selain maennya bagus dan bisa diajak kerja sama, Sita juga tipe temen yang baik. Orangnya sedikit pendiam dan nggak banyak bicara. Mungkin karena dia belum kenal semua orang di sini. Sebetulnya hampir semua anggota tim juga belum pada saling kenal sih, kecuali mungkin Vira, Rida, Stella, Alexa, atau Stephanie. Tapi nggak tahu kenapa, Vira
lebih deket aja ke Sita sebagai temen barunya dibanding yang lain. Bahkan saat tahu Sita lagi cari tempat kos selama tinggal di Bandung (sementara ini katanya dia numpang di rumah temen bapaknya sampe dapet tempat kos yang murah tapi layak), Vira langsung nawarin Sita untuk tinggal di rumahnya.
“Gratis kok. Hehe...,” kata Vira.
Sita mau, dan Niken juga nggak keberatan. Itung-itung buat bikin rumah tambah rame. Kebetulan di rumah Vira emang masih ada satu kamar kosong, yang biasanya dipake kalo papa-mama Vira ke Bandung. Mama Vira juga nggak keberatan kalo kamarnya dipake sementara untuk Sita.
“Kalo Mama ama Papa nanti ke Bandung kan bisa nginep di hotel, atau Mama tidur bareng kamu,” kata mama Vira lewat telepon saat dikasih tahu Vira.
“Lho... ntar Papa tidur di mana?” tanya Vira.
“Kan masih ada sofa di ruang tamu...,” jawab mamanya, bikin Vira ngikik.
Ada-ada aja!
Kebetulan sekolah tempat Sita belajar selama tinggal di Bandung satu jurusan dengan angkot yang lewat di depan kompleks rumah Vira. Jadi Sita cukup satu kali naek angkot untuk pulang-pergi ke sekolah. Kadang-kadang Vira juga nganterin ke sekolah, kalo bangunnya nggak kesiangan. Atau Vira ngejemput Sita saat pulang, sekalian ngajak jalan-jalan sebelum latihan, jadi Sita bisa lebih mengenal Bandung, tempat yang jarang-jarang dia datengin.
Dekat dengan Sita membuat Vira jadi punya tambahan pendukung di tim. Paling nggak buat menghadapi Stella yang kayaknya juga mulai menyebarkan pengaruh ke anggota tim lainnya. Salah satunya Monika, point guard dari SMA 2 Bandung yang juga anak seorang perwira tinggi kepolisian. Boleh dibilang, selain Alexa, Monika jadi “pengikut setia” Stella. Ke mana-mana selalu ngikutin, kayak buntut aja.
Melihat Monika, Vira jadi ingat Lisa, yang juga jadi “buntut” Stella. Udah lama dia nggak melihat Lisa. Stella selalu datang ke GOR sendirian.
Aneh! batin Vira. Sebab yang dia tahu, Lisa itu soulmate-nya Stella. Ke mana pun Stella pergi, pasti dia ikut walau dia sama sekali nggak punya urusan di situ. Dulu saat Vira dan Stella latihan basket di Altavia, Lisa juga pasti selalu ngejogrok di
pinggir lapangan dari awal latihan sampe selesai. Beda dengan Amel dan almarhumah Diana yang datengnya lebih sering kalo latihan udah mo selesai, atau malah ngaret, bikin yang lain nunggu.
Tapi Vira nggak terlalu mikirin soal nggak adanya Lisa sekarang. Selain karena udah males berurusan dengan segala sesuatu yang berbau Stella, Vira juga berpikiran positif aja. Siapa tahu Lisa punya urusan lain yang lebih penting dari sekadar jadi buntut orang ke mana-mana. Misalnya belajar, atau ikut bimbel. Apalagi dia kan udah kelas 3, dan walau Vira nggak yakin, tapi mungkin aja Lisa udah insaf, nggak hura-hura lagi serta lebih serius untuk belajar.
Tapi kok kayaknya nggak mungkin, ya? Vira membantah pikirannya sendiri.
Tapi udahlah... buat apa juga dia mikirin urusan orang lain?
* * *
Sore ini sesi latihan kembali ditutup dengan mini game. Dan kali ini Pak Isman mengubah susunan pemain setiap tim. Tujuannya jelas, agar setiap pemain terbiasa bermain dengan rekan tim lainnya.
Apa yang ditakutkan Vira (dan mungkin juga Stella) akhirnya datang juga. Mereka berdua jadi satu tim! Mau nggak mau, mereka harus bekerja sama untuk bisa memenangi permainan. Soalnya dalam mini game ini, tim yang kalah mendapat hukuman, yaitu mendribel bola keliling lapangan sebanyak sepuluh kali. Lumayan capek juga.
“Jangan harap gue mau oper bola ke lo.” Belum apa-apa Stella udah ngeluarin ancaman ke Vira.
“Lo kira gue sudi nerima bola dari lo?” bales Vira.
Stephanie yang juga satu tim dan kebetulan mendengar ucapan mereka berdua cuman bisa geleng-geleng kepala.
Bakal kacau nih! batin Stephanie.
Stephanie benar. Tim Merah yang diperkuat Vira dan Stella emang bener-bener kacau-balau. Padahal dari materi tim, sebetulnya tim merah lebih unggul. Selain Stella dan Vira, ada juga Stephanie yang kemampuan tekniknya di atas rata-rata
yang lain. Bahkan boleh dibilang, tim merah ini merupakan “bayangan” tim inti nanti.
Tapi di lapangan, semua itu nggak terlihat. Yang ada adalah tim yang kacau dan sama sekali nggak ada kerja sama antarpemain. Apalagi pada Vira dan Stella. Nggak heran kalo tim putih yang diperkuat Rida, Alexa, dan Sita bisa menguasai permainan, walau sebetulnya kerja sama antarmereka belum juga begitu baik, tapi nggak separah lawannya.
Permainan tim merah agak membaik begitu Vira ditarik keluar, disusul Stella beberapa menit kemudian. Tapi udah terlambat. Sampai peluit panjang dibunyikan Pak Isman tanda selesainya pertandingan, keunggulan tim putih tetap bertahan. Dan hukuman harus diterima anggota tim merah.
Akibat buruknya permainan mereka, seusai latihan, Vira dan Stella dipanggil oleh Pak Isman.
“Bapak sebetulnya sudah mendengar tentang perselisihan kalian, tapi tadinya Bapak yakin perselisihan kalian itu tidak memengaruhi tim ini. Karena itu Bapak sengaja memasang kalian dalam satu tim, dengan harapan kalian mengeluarkan kemampuan terbaik kalian, seperti yang pernah Bapak dengar dari Pak Andryan tentang kalian. Tapi harapan Bapak salah.”
Vira dan Stella cuman bisa diam mendengar ucapan Pak Isman.
“Walau kalian berdua punya teknik yang termasuk paling bagus di antara yang lain, percuma saja jika kalian tidak bisa bekerja sama. Basket itu permainan tim, bukan individu. Dan bagi Bapak, yang terpenting adalah mereka yang bisa bekerja sama dalam tim, bukan yang tekniknya paling bagus. Kalian mengerti kan maksud Bapak?”
Vira mengangguk pelan, sedang Stella cuman diam.
“Bapak tidak ingin tahu apa masalah kalian dan bagaimana menyelesaikannya. Jika kalian berdua ingin tetap dalam tim ini, tunjukkan kemampuan terbaik kalian. Kalian masih mau masuk dalam tim ini, kan?” tanya Pak Isman.
“Mau, Pak,” jawab Vira.
“Kamu Stella?”
Stella cuman mengangguk.
“Kalau begitu buktikan bahwa kalian pantas berada di tim ini. Lima hari lagi kita akan beruji coba dengan salah satu tim mahasiswa. Dan Bapak harap saat itu kalian bisa membuktikan bahwa kalian pantas berada dalam tim ini. Mengerti?”
Vira dan Stella mengangguk hampir berbarengan.
* * *
Suara berisik di luar membangunkan Stella yang udah tertidur lelap. Cewek itu lalu melirik jam yang tergantung di depan tempat tidurnya.
Jam dua pagi!
Walau udah tahu penyebab suara berisik itu, Stella tetap bangun dan keluar dari kamarnya.
Suasana di luar kamarnya sangat sepi. Keadaan terlihat remang-remang karena cuman beberapa lampu di sudut-sudut ruangan yang dinyalakan. Stella menuruni tangga menuju ruang tengah rumahnya. Terlihat lampu di ruang tengah dinyalakan seseorang. Dan Stella tahu siapa.
“Mom! Are you drunk again?”
Yang ditanya, seorang wanita berusia empat puluh tahunan, menoleh ke arah Stella.
“Stella, kamu belum tidur?” wanita itu malah balik bertanya.
Tanpa menunggu jawaban Stella, wanita yang ternyata adalah mamanya itu langsung merebahkan diri di sofa panjang yang ada di ruang tengah.
“Mom!”
Stella mendekati mamanya yang ternyata udah tertidur lelap di sofa. Bau alkohol yang kuat tercium dari mulut wanita itu.
“Mom...”
Stella segera memanggil pembantunya. Untung pembantunya belum tidur, walau juga nggak langsung dateng begitu dipanggil.
“Bantu angkat Mom ke kamar,” perintah Stella.
Berdua mereka memapah tubuh mama Stella menuju kamar. Cukup susah walaupun tubuh mamanya nggak begitu gede. Mereka harus naik tangga menuju
kamar yang berada di lantai dua. Setelah hampir setengah jam dan dengan keringat yang membasahi tubuh masing-masing, akhirnya mama Stella sukses juga dibaringkan ke tempat tidurnya. Stella segera melepaskan sepatu mamanya. Beberapa saat lamanya dia menatap wajah mamanya, sebelum akhirnya keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya.
Di kamarnya, Stella mengambil HP-nya dan menelepon seseorang. Tapi ternyata nggak tersambung. Beberapa kali mencoba, hasilnya sama aja. Telepon yang dihubungi lagi sibuk.
C’mon, Dad! Where are you? tanya Stella dalam hati.
ENAM
VIRA baru aja pulang dari latihan ketika melihat Rei lagi duduk di teras rumahnya. Hari ini adalah hari libur walau bukan hari Minggu, jadi latihan dilakukan pagi sampe siang.
“Rei... tumben di luar? Nggak masuk?” sapa Vira. Heran juga, biasanya Rei selalu masuk ke dalam kalo ke rumah Vira, bahkan udah menganggap rumah Vira sebagai rumahnya sendiri. Maksudnya, tanpa ragu-ragu Rei suka duduk sendiri di ruang tengah tanpa perlu dipersilakan, suka ngambil minuman sendiri di kulkas (bahkan kadang-kadang ikutan ngambil makanan), atau bahkan sering ketiduran di kursi kalo lagi ngantuk. Tinggal Vira yang sering bingung kalo camilan yang dia taruh di kulkas maupun yang ada di meja makan sering hilang tanpa bekas. Tapi untungnya Vira nggak pernah marah kalo ada makanannya yang hilang. Baginya itu udah takdir. Itung-itung ikut memberantas kelaparan di negeri ini (ceilee... lebay amat yaa...).
“Eh... nggak. Di sini aja,” jawab Rei yang lagi asyik ngutak-ngutik HP-nya. Kayaknya sih lagi SMS-an.
Vira melongok ke dalem rumahnya, tapi dia nggak masuk.
“Niken?” tanya Vira.
“Ada di dalem. Di kamar, kali,” jawab Rei.
“Kamu cuman sendiri? Sita mana?” Rei balik nanya. Dia emang udah kenal Sita, karena pernah suatu saat ke rumah Vira, pas Sita yang bukain pintu. Apalagi mereka berdua sama-sama pemain basket, jadi kalo ngobrol cepet nyambungnya.
“Dia lagi ke Tasik. Kakaknya hari ini married.”
“Tapi kan kalian tetep latihan?”
“Iya... tapi Sita udah minta izin buat absen selama dua hari.”
Vira duduk di kursi yang ada di samping Rei.
“Ada apa lagi, Rei?” tanya Vira.
“Hah? Apaan?”
“Perang dingin lagi?”
Rei cuman menggaruk-garuk kepalanya.
“Kalian itu, baru jadian bentar, tapi demen amat perang dingin.”
“Bukan aku... Niken yang mulai terus.”
“Kali ini masalahnya apa?”
“Biasalah... soal yang kemaren-kemaren.”
Vira diam sebentar mendengar ucapan Rei sambil mengambil minum dari dalam tas sport-nya.
“Kenapa sih kamu nggak bilang aja?” kata Vira lirih, takut kedengeran Niken. Sebelumnya dia celingukan dulu ke dalam rumahnya, memastikan keadaan aman.
“Jangan... kan aku udah bilang, belum saatnya.”
“Tapi kapan? Daripada kalian berantem mulu?”
“Tenang aja... pasti deh aku cerita, tapi bukan sekarang.”
“Terserah deh. Risiko tanggung sendiri.”
* * *
Setengah jam berlalu, tapi Niken belum juga keluar dari kamarnya. Bahkan usaha Vira untuk membujuknya keluar kamar nggak berhasil.
“Ngapain juga Rei masih di sini? Aku kan udah nyuruh dia pulang!” bentak Niken saat Vira berusaha membujuknya dari luar pintu kamar.
Akhirnya Rei nyerah juga setelah Niken nggak keluar-keluar. Selain itu dia harus ikut bimbel sore nanti.
“Tenang aja, Rei... kamu kan tau sifat Niken. Besok juga dia udah biasa lagi. Ntar aku bantuin bujuk dia deh...,” janji Vira.
“Tapi jangan cerita soal itu yaa...”
“Nggak bakal. Trust me...”
Saat Rei udah mau menstarter motornya, tiba-tiba Vira seperti ingat sesuatu.
“Rei... bentar!”
Rei menoleh.
“Ada apa, Vir?”
Vira mendekat ke arah Rei.
“Hmm... Apa bener di tempat yang sekarang duitnya lebih gede?” tanya Vira.
“Iya.”
“Berapa banyak?”
“Berapa ya? Mungkin bisa sampe tiga kali lipat dari yang dulu. Kenapa? Tertarik lagi? Tapi bukannya sekarang duit bukan masalah buat kamu?” Rei balik bertanya.
“Bukan buat aku, tapi orang lain.”
“Siapa?”
* * *
Udah berbulan-bulan Vira mengenal Rida, tapi dia sama sekali belum bisa mengerti jalan pikiran cewek itu. Dulu Rida begitu semangat masuk tim Jawa Barat. Tapi tiba-tiba, udah dua hari ini dia nggak ikut latihan. Bukan karena sakit, karena Rida tetep masuk sekolah setiap hari. Saat ditanya Vira kenapa nggak dateng latihan, Rida nggak mau menjawab.
Bahkan saat uji coba melawan Tim Putri Universitas Parahyangan (Unpar), Rida juga nggak dateng. Untung aja kedatangan Rida nggak begitu memengaruhi tim, karena masih ada Stella sebagai starter. Dan walau tim junior Jawa Barat kalah, Pak Isman nggak kecewa, karena emang yang dihadapi adalah salah satu tim basket
putri mahasiswa terbaik di Jawa Barat. Kalahnya juga tipis. Yang penting permainan tim udah menunjukkan sedikit kemajuan, terutama dalam hal kerja sama tim. Stella dan Vira juga udah menunjukkan kemampuan mereka. Ternyata mereka berdua berhasil menyingkirkan ego masing-masing dan bekerja sama.
“Gue nggak mau dikeluarin dari tim gara-gara lo,” ucap Stella pada Vira sebelum pertandingan.
“Lo kira gue juga rela dikeluarin dari tim gara-gara lo?” balas Vira.
Jadinya, duet Stella dan Vira bermain kompak dalam pertandingan sore ini. Mereka bisa bermain secara tim, walau mungkin belum sekompak dulu saat Vira masih di SMA Altavia. Itu yang mengobati kekecewaan Pak Isman dan sedikit melupakan nggak hadirnya Rida yang emang dipersiapkan sebagai pengganti Stella. Vira dan Stella pun selamat dari kemungkinan dikeluarkan dari tim.
“Gitu dong kalo maen basket,” ledek Stephanie pada Vira saat mereka mo ganti baju.
Vira cuman mencibir.
* * *
Tadinya Vira juga nggak begitu memperhatikan absennya Rida. Pikirnya, mungkin Rida lagi bosan main basket, atau lagi konsen ke pelajaran. Maklum, mereka kan udah kelas 3. Sebentar lagi bakal menghadapi ujian kelulusan. Jadi nggak boleh main-main soal pelajaran. Bisa aja Rida sekarang udah berubah pikiran, lebih mentingin soal sekolah daripada basket walau itu berarti membuat cita-citanya untuk jadi pemain nasional.
Akhirnya Vira tahu alasan Rida nggak dateng lagi ke latihan dari Debi.
“Ibu Rida lagi dirawat di rumah sakit, jadi dia pulang sekolah harus nungguin ibunya,” kata Debi saat Vira nanyain soal Rida pas jam istirahat. Vira sengaja nanya ke Debi karena hari ini Rida nggak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.
“Emang ibunya sakit apa?”
“Katanya sih sesak napas gitu... Dadanya sakit.”
“Terus kenapa dia sekarang nggak masuk?”
Debi cuman mengangkat bahunya tanda nggak tahu.
Ternyata nggak cuman itu. Saat Vira menyempatkan diri membesuk di rumah sakit, Rida cerita keluarganya kesulitan membiayai pengobatan ibunya. Padahal, sakit yang diderita ibunya bukanlah masalah enteng. Soal jantung emang nggak boleh main-main, bisa berakibat fatal. Ibu Rida harus menjalani operasi sampai beberapa kali untuk menormalkan fungsi jantungnya. Dan setiap tahap operasi memakan biasa yang nggak sedikit. Ini yang jadi masalah bagi Rida dan keluarganya sekarang.
“Karena itu, aku nggak bisa konsen dulu di basket. Bahkan mungkin nanti di sekolah. Aku pengin bantu cari uang untuk biaya operasi ibu, tapi nggak tau gimana caranya, sedang aku juga masih sekolah.”
Sebetulnya Rida nggak perlu terlalu pusing kalo aja dia mau menerima tawaran Vira yang berniat meminjamkan uang untuk biaya operasi ibunya. Itu juga kata Vira dibayarnya nanti aja kalo keluarga Rida udah punya uang. Tapi Rida nggak mau. Selain kata Rida nggak mau bikin repot Vira, keluarganya juga masih berusaha mendapatkan uang bukan dengan cara berutang.
“Kami takut nggak bisa bayar, apalagi kalo utangnya nanti terlalu besar,” ujar Rida.
“Trus, dari mana keluarga kamu mendapat uang?”
“Kakak mo jual motornya. Selain itu mungkin kami akan menggadaikan sertifikat rumah.”
“Yah... itu sih minjem-minjem juga.”
“Tapi beda... Paling nggak kami nggak minta belas kasihan orang lain, seperti yang diajarkan Ayah dan Ibu. Aku juga berusaha ikut bantuin, walau kecil. Mungkin aku bakal cari kerjaan part time, soalnya Ibu ngelarang aku berhenti sekolah.”
Sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, Rida emang tinggal bareng ibu, dua kakak yang semuanya udah bekerja, dan adiknya yang masih kelas 2 SMP.
Karena Rida tetep nggak mau menerima bantuin dari Vira walau udah dipaksa, Vira harus mencari cara lain untuk menolong Rida. Cara yang bisa diterima Rida, tapi juga menghasilkan duit yang lumayan gede.
Setelah lama berpikir, tiba-tiba Vira menepuk keningnya.
“Dasar pikun!” ucap Vira. Dia seakan berkata pada dirinya sendiri.
“Kenapa, Vir?” tanya Rida heran.
“Hmmm... kamu mau dapet duit lumayan banyak tapi nggak ngutang, kan?”
* * *
Malam harinya, Vira memarkir mobilnya di halaman parkir sebuah gedung yang biasa digunakan untuk bermain futsal.
“Kita mo maen futsal?” tanya Rida.
“Udah... ikut aja,” jawab Vira, walau dirinya juga nggak yakin dengan jawabannya itu.
“Ya... tapi aku kan nggak bisa maen futsal... Katanya mo maen basket.”
“Siapa juga yang mo ngajak kamu maen futsal?”
Vira melirik secarik kertas yang dari tadi dipegangnya.
Alamatnya bener kok! katanya dalam hati. Vira lalu mengambil HP-nya dan menghubungi HP Rei.
Yah... malah nggak aktif!
“Vir, tempatnya bener, kan?” tanya Rida lagi.
“Bener kok,” jawab Vira sambil melirik jam tangannya. Udah jam sembilan malem lewat dikit.
“Yuk!” ajak Vira sambil membuka pintu mobilnya.
Dengan sedikit ragu-ragu, Vira dan Rida masuk ke gedung futsal yang masih buka, walau udah terlihat agak sepi.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Seorang cowok di meja depan menegur Vira dan Rida. Dari seragam yang dipakainya, jelas menunjukkan dia karyawan di situ.
“Hmmm... anu, Mas, tempat buat maen basket di mana ya?” tanya Vira sambil celingukan ke dalam. Sekilas di dalam emang cuman kelihatan lapangan futsal, sama sekali nggak ada bau-bau basketnya.
“Maen basket? Ini lapangan futsal, Dik, bukan lapangan basket,” jawab cowok itu.
“Iya, tau Mas, tapi...”
“VIRA!!”
Vira—juga Rida—menoleh ke arah suara itu. Ternyata seorang cowok berambut panjang diikat yang memanggil dia.
“Hai, Mo!” balas Vira mengenali cowok itu.
Cowok berambut panjang itu mendekat. Dia memakai kaus dan celana basket, cuman masih pake sandal jepit. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan disambut oleh Vira.
“Tumben lo ke sini. Kata Rei lo udah nggak mau main lagi,” celoteh si cowok.
“Bukan nggak mau... tapi nggak sempet aja. Gue kan udah kelas tiga. Bentar lagi ujian, jadi harus konsen belajar,” Vira memberi alasan.
“Halah alesan aja lo! Rei juga kelas tiga, tapi dia hampir tiap hari dateng.”
“Kalo Rei sih nggak ngaruh... mo ikut streetball ato nggak, tetep aja dia nggak pernah belajar. Ngeluyur mulu. Lagian dia kan punya misi tersendiri.”
“Oya, denger-denger lo ikut tim basket Jabar, ya?”
“Cuman tim junior...”
Vira seperti teringat sesuatu.
“Oya, kenalin temen gue, Rida,” katanya sambil melirik ke arah Rida yang dari tadi diem aja.
“Da, ini Elmo, temennya Rei. Kita sering jadi tim kalo main bertiga.”
Rida menyambut uluran tangan Elmo.
“Rida temen sekolah gue, juga temen di tim basket, baik tim basket sekolah maupun tim Jabar. Hati-hati... posisi lo bisa tergeser ama dia... maennya jago banget,” ujar Vira setengah berpromosi.
“Coba aja kalo bisa,” balas cowok bernama Elmo itu sambil terkekeh.
“Bener tempatnya di sini? Kok di gedung futsal?” tanya Vira.
“Iya, emang di sini kok,” jawab Elmo.
“Tapi tadi gue tanya karyawan di sini...”
“Lo nanyanya gimana?”
“Gue tanya tempat maen basket di sini. Tapi si mas itu bilang nggak ada,” tukas Vira sambil menunjuk karyawan yang tadi dia tanyai.
“Kalo lo nanyanya gitu, dia emang nggak bakal ngasih tau. Sekarang ini kita mesti hati-hati. Karena itu rahasia, tempat ini bener-bener dijaga. Sekarang cuman orang yang tau atau diundang aja yang boleh dateng, nggak kayak dulu bisa siapa aja. Makanya tempatnya juga di dalam gedung, ketutup kegiatan futsal di sini.”
Elmo lalu memberi tanda untuk mengikuti dia masuk ke dalam gedung. Kayaknya dia udah dikenal di sini, buktinya dia nggak ditanya-tanya karyawan yang ada di meja depan, cuman senyum aja.
“Kalo lo ditanya di meja depan, bilang aja mo maen di lapangan dua tiga perempat. Itu sandinya,” kata Elmo sambil terus berjalan.
Lapangan dua tiga perempat? batin Vira. Kok mirip-mirip Harry Potter, ya?
Emang di gedung futsal yang cukup besar itu terdapat dua lapangan. Dan dua-duanya tentu aja dipake untuk maen futsal. Trus, di mana tempat untuk streetball?
Elmo menuju sebuah pintu yang berada pada salah satu sudut gedung, yang di sampingnya terdapat sebuah konter kecil yang menjual makanan dan minuman ringan.
“Rei kayaknya belum dateng. Kita masuk aja dulu,” kata Elmo sambil membuka pintu.
Vira udah bisa nebak kenapa Rei belum datang. Tadi abis magrib dia dateng ke rumah. Dan kalo sampe sekarang belum dateng ke tempat ini, berarti tuh anak belum sukses membujuk Niken yang masih kesel bin sebel bin mangkel.
Begitu pintu terbuka, terdapat tangga ke bawah. Tanpa ragu-ragu Elmo langsung turun menyusuri tangga.
Saat Vira hendak mengikuti Elmo, tangannya dicekal Rida.
“Nggak papa,” ujar Vira, seolah-olah bisa membaca pikiran Rida.
Mereka bertiga turun ke basement. Ternyata basement gedung futsal itu sangat luas.
“Tempat ini tadinya pusat perbelanjaan grosir. Lalu tutup karena nggak laku dan gedung beserta tanahnya dijual. Oleh pemilih yang baru, gedung ini lalu direnovasi dan diubah jadi gedung futsal. Tapi basement bekas tempat parkir masih
ada dan jarang dipake, karena yang dateng kebanyakan males parkir di basement,” Elmo menjelaskan.
Sayup-sayup terdengar suara keramaian. Suara yang nggak terdengar dari atas.
“Canggih juga idenya. Tersembunyi dan nggak menarik perhatian. Tapi apa pemilik gedung tau kalo basement-nya dijadiin tempat streetball?” tanya Vira.
“Jangan kuatir... Anaknya yang punya gedung ini emang pemain streetball. Ide dibikin arena streetball di basement juga dari dia. Jadi kita aman. Lagi pula sejak dipindah ke sini, kita bisa mulai agak sorean, karena nggak takut lagi ada penggerebekan. Jadi bisa banyak game yang dimainkan.”
Dari kejauhan, Vira udah bisa melihat arena streetball yang belum begitu rame. Nggak ada ram-ram besi seperti di arena yang dulu. Sebagai gantinya ditaruh drum-drum bekas di sepanjang sisi lapangan.
“Nggak ada ram besinya?” tanya Vira.
“Susah bikin ram di sini tanpa merusak lantai, sedang yang punya nggak pengin lantainya rusak. Jadi kita taruh aja drum bekas buat pembatas. Ya kalo keluar lapangan lumayan lah kebentur drum,” jawab Elmo sambil terkekeh. Vira mengernyitkan keningnya, sementara Rida tiba-tiba bergidik ngeri.
TUJUH
PAGI-PAGI kamar Vira udah kedatangan tamu yang nggak diundang. Niken tiba-tiba masuk ke kamarnya dan ngebangunin dia.
“Ada apa sih?” tanya Vira yang masih setengah sadar. Walau matahari udah setinggi Gunung Tangkuban Perahu, Vira nggak peduli. Tadi malam dia pulang jam dua dini hari, jadi sekarang masih ngantuk. Apalagi sekarang hari Minggu, jadi Vira bisa bebas tidur semau dia. Paling nggak sampe sore nanti, saat dia harus pergi latihan.
Vira pikir Niken akan membahas soal kenapa dia pulang jam dua pagi sambil ngomel-ngomel. Tapi ternyata nggak. Setelah sukses membangunkan Vira, Niken cuman diam di samping tempat tidur. Nggak berkata apa-apa. Tapi Vira melihat matanya berkaca-kaca.
“Ada apa?” tanya Vira bingung.
Nike nggak menjawab. Dia masih tetap diam.
“Ken,” Vira bangun dan duduk di sebelah Niken. Lalu dia mengguncang bahu sahabatnya itu.
“Ada apa?” tanya Vira lagi.
“Aku... aku...,” suara Niken terdengar bergetar. Lalu dia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sesenggukan. Itu bikin Vira tambah bingung.
“Niken... ada apa sih? Jangan bikin orang bingung dong...”
“Aku... aku putus ama Rei...,” ujar Niken lirih, hampir-hampir nggak terdengar oleh Vira.
“Apa?” Walaupun sebetulnya Vira udah mendengar ucapan Niken, dia ingin lebih memastikan lagi apa yang didengarnya.
“Aku... aku udah putus ama Rei...,” Niken mengulangi ucapannya, kali ini terdengar lebih keras, disusul dengan tangis sesenggukan.
Vira segera merengkuh Niken ke pelukannya, lalu membelai rambut sahabatnya itu.
“Siapa yang mutusin?” tanya Vira.
“Aku...”
“Kenapa?”
Niken nggak langsung menjawab pertanyaan Vira, dia malah sesenggukan lagi, bikin Vira tambah bingung.
“Ken...”
“Aku rasa... Rei udah nggak sayang lagi ama aku...,” jawab Niken akhirnya.
“Kok bisa gitu? Kamu tau dari mana?”
Niken menengadahkan wajahnya.
“Rei... akhir-akhir ini sering nggak nepatin janji. Kalopun nepatin, sering terlambat. Dia juga udah nggak merhatiin aku kalo lagi ngobrol. Kadang-kadang suka ketiduran, ato pikirannya ke mana-mana. Kalo ditanya alasannya, Rei cuman bilang dia capek. Tapi pas ditanya emang dia ngapain aja sampe capek gitu, dia nggak mau bilang. Aku rasa ada yang dia sembunyiin.”
Vira cuman menghela napas. Mendadak dirinya serasa berada di tepi jurang yang dalam, dan di belakangnya terdapat kobaran api yang siap membakar tubuhnya. Serbasalah. Diam di tempat, dirinya pasti bakal terbakar. Mau menyelamatkan diri, satu-satunya jalan cuman loncat ke dalam jurang, dan itu sama juga boong. Dia tahu sebagian alasan Rei sampai sering nggak nepatin janji ke Niken. Dia ingin memberitahukan itu supaya Niken nggak salah sangka atau bahkan putus dari Rei. Tapi Vira juga ingat, Rei berulang kali mengingatkan Vira supaya nggak ngomong apa-apa ke Niken, apa pun yang terjadi, bahkan kalopun Niken sampe ngambek atau marah berat.
Tapi ini kan Niken mo putus! Dan Vira nggak bisa membiarkan Niken mengambil keputusan atas dasar dugaan yang salah. Dia harus menyelamatkan hubungan mereka. Vira harus ngomong semua yang dia ketahui, apa pun yang dikatakan Rei nanti.
“Ng... Ken, sebenarnya...”
Suara HP Vira memotong ucapannya. Tadinya Vira ingin mengabaikan panggilan di HP-nya, tapi HP-nya berbunyi terus.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Niken.
Dengan perasaan malas, Vira beringsut dari tempat tidur dan meraih HP-nya yang berada di atas meja belajar.
Dari Rei! batin Vira. Dia menoleh pada Niken.
“Siapa?” tanya Niken.
“Rei...,” jawab Vira lirih, seolah-olah dia meminta persetujuan Niken untuk menjawab telepon itu.
“Jawab aja. Tapi kalo dia nanya aku, bilang aku udah pergi...” Niken seolah-olah mengerti apa yang ada di pikiran Vira.
“Pagi-pagi gini?”
“Ya... bilang aja aku pulang ke rumah, ke sekolah, atau ke mana kek...”
“Halo, Rei...”
“Vira... Niken masih di rumah?” Terdengar suara cempreng Rei dari seberang telepon.
“Enggg... nggak...”
“Nggak masalah kalo dia udah pergi. Aku nelepon kamu bukan untuk nyari dia kok. Aku cuman mo ngingetin janji kamu, supaya apa pun yang terjadi, jangan kamu cerita apa pun soal aku.”
“Tapi, Rei...”
“Aku tahu risikonya. Jangan kuatir, aku tahu Niken. Nanti juga dia akan mengerti.”
Vira nggak ngomong apa-apa lagi, bahkan sampai Rei mengakhiri pembicaraan.
“Rei bilang apa? Dia nanyain aku, kan?” tanya Niken. Dia udah nggak sesenggukan lagi.
Vira mengangguk pelan.
“Kamu bilang aku udah pergi, kan?”
“Kamu dengar sendiri. Rei cuman pesen aku bilang ke kamu nanti kalo dia nyariin kamu,” jawab Vira berbohong.
“Buat apa? Sekarang sok sibuk nyariin aku. Dulu-dulu, mana dia peduli aku ada di mana...”
Vira cuman diam, teringat ucapan Rei tadi di telepon.
“Oya, kamu tadi mo ngomong apa?” tanya Niken lagi.
“Hah? Apa?”
“Tadi... sebelum Rei nelepon, kayaknya kamu mo ngomong sesuatu...”
“Ngomong? Oh itu...” Vira menepuk keningnya. “Nggak... aku cuman mo ngomong, sebenarnya kalian nggak perlu putus. Kan bisa dibicarain baik-baik...” Vira mengalihkan pembicaraan.
“Nggak ada yang perlu dibicarain. Rei udah nggak jujur ke aku. Kalo dia pengin bicarain soal ini, dia harus mulai dengan bicara yang sebenarnya.”
“Tapi kamu sebetulnya masih cinta dia, kan?”
“Bukan itu masalahnya...”
“Kamu masih cinta Rei, kan?”
Niken terdiam saat Vira mengulangi ucapannya.
“Aku mo pulang dulu ke rumah. Mungkin nginep sampe besok.” Niken mengalihkan pembicaraan sambil beranjak dari tempat tidur.
Vira cuman geleng-geleng kepala melihat kelakuan Niken.
“Ternyata kamu keras kepala juga ya...,” ujar Vira.
Niken nggak mengacuhkan ucapan Vira.
* * *
“Makasih yaa...,” kata Rida pada Vira saat mereka mau mulai latihan. “walau belum cukup untuk membiayai pengobatan Ibu, paling nggak uang yang aku dapat tadi malam bisa meringankan biaya rumah sakit...,” lanjutnya.
“It’s okay...,” jawab Vira. “Kalo kamu mau, kamu bisa ikut lagi. Nanti malam juga bisa. Aku kira lama-lama kamu bisa membiayai seluruh biaya pengobatan ibu kamu...”
“Aku nggak tau. Tadi aja aku diinterogasi kakak-kakakku. Mereka nanya dari mana, kok baru pulang jam dua pagi. Padahal aku udah berkali-kali bilang latihan basket bareng kamu. Aku sendiri sampe sekarang masih bingung kalo kakak-kakakku nanya dari mana asal uang yang aku dapat tadi malam.”
“Jadi kamu belum nyerahin duit hasil maen tadi malam ke kakak kamu?” tanya Vira.
Rida menggelengkan kepalanya.
“Nanti aja kalo aku udah temukan alasannya,” tandasnya.
* * *
Seperti biasanya, sebelum latihan para pemain dikumpulkan dulu untuk menerima pengarahan soal materi latihan pagi ini dan cuap-cuap lain dari para pelatih.
Tapi kali ini ada yang berbeda. Di samping Pak Isman nggak cuman berdiri Pak Dibyo sebagai asisten pelatihnya, tapi juga seorang pria lain berpakaian rapi yang usianya kira-kira hampir sama dengan Pak Isman; ia mengenakan kaus berkerah hijau yang dibungkus jaket parasut dan celana katun serta sandal kulit. Pak Isman lalu memperkenalkan pria di samping kanannya itu sebagai Pak Nurdin Tahir, salah seorang anggota pengurus daerah PERBASI Jawa Barat, tepatnya di bidang Pembinaan Prestasi. Setelah memperkenalkan, Pak Isman pun mempersilakan Pak Nurdin untuk berbicara.
Diawali dengan batuk-batuk kecil kayak pejabat yang mo pidato, Pak Nurdin memulai cuap-cuapnya.
“Adik-adik sebelumnya tentu sudah tahu untuk apa Adik-adik berkumpul dan berlatih di sini, bukan?” tanya Pak Nurdin seperti guru SD aja.
Nggak semua menjawab pertanyaan itu.
“Rencananya Adik-adik memang akan dikirim mengikuti Kejuaraan Nasional Junior. Tapi sesuai hasil rapat Pengda PERBASI Jabar kemarin dan berdasarkan
evaluasi hasil latihan Adik-adik, kami bermaksud menyampaikan berita gembira untuk Adik-adik...”
Pak Nurdin berhenti sebentar, seolah-olah menunggu reaksi dari para pemain. Tapi nggak ada yang bereaksi secara berlebihan, paling cuman bisik-bisik.
“...Kami akan menurunkan Adik-adik pada Kualifikasi Kejuaraan Nasional Basket Putri Tingkat Senior yang akan berlangsung di Bandung. Kami ingin memberi kesempatan pada Adik-adik untuk menimba pengalaman dan mengasah kemampuan Adik-adik.”
Ucapan Pak Nurdin seketika itu juga mengubah suasana. Turun di Kejurnas Senior? Kalimat itu sontak menimbulkan kegaduhan di antara pemain. Mereka saling bisik-bisik sendiri dan nggak memedulikan ucapan Pak Nurdin selanjutnya.
“Gilaa... kita mo ditandingin ama tim senior daerah lain? Bisa abis kita...,” komentar salah seorang pemain.
“Jangan pesimis dulu...”
“Karena itu, saya minta Adik-adik berlatih dengan lebih serius, karena Kualifikasi Kejurnas ini sudah dekat, yaitu seminggu lagi...,” lanjut Pak Nurdin, membuat para pemain tambah ribut.
Seminggu lagi? Semua pemain berpandangan mendengar ucapan Pak Nurdin. Saat ini mungkin mereka semua punya pikiran yang sama.
Nggak salah tuh!?
* * *
“Gue udah yakin kalo kita dari awal emang mo diturunin di kualifikasi Kejurnas,” kata salah seorang pemain saat mereka udah selesai latihan dan lagi pada ganti baju. Namanya Agnes, dan sekarang kuliah di Unpar, satu angkatan dengan Stephanie.
“Maksud lo?” tanya salah seorang pemain.
“Apa lo semua nggak pernah baca berita? Dari awal nggak ada yang namanya Kejurnas Junior. Paling nggak untuk tahun ini. Kejurnas Junior baru diadakan tahun depan, dan terlalu awal kalo mulai latihan sekarang. Kejuarana berskala nasional
yang diadakan tahun ini adalah kualifikasi Kejurnas, dan finalnya sebulan lagi di Jakarta...,” Agnes menjelaskan.
“...dan selama kita latihan di sini, apa kita pernah melihat tim putri senior latihan?”
Ucapan Agnes seakan menyadarkan yang lain. Benar juga. Beberapa minggu latihan, nggak pernah terlihat satu pun para pemain senior latihan. Padahal tim junior latihan hampir tiap hari. Cuman pernah terlihat beberapa cewek yang dikenal sebagai anggota tim senior Jawa Barat di sekitar GOR, tapi bukan dalam rangka latihan.
“Mungkin mereka latihan di tempat lain...?” kata Vira.
“Nggak mungkin. Pak Isman adalah pelatih tim senior, tapi kenapa dia juga melatih kita, bahkan hampir seharian. Kalo tiap hari, kapan dia melatih tim senior?”
“Jadi, tujuan kita dari awal dipanggil emang untuk ikut Kejurnas Senior?” tanya Alexa.
“Yup...”
“Agnes benar...,” Stephanie tiba-tiba ikutan ngomong.
“Udah lama gue denger kabar ada masalah di tim senior putri. Pemainnya menuntut uang saku dan fasilitas yang sama dengan tim putra. Karena pihak pengurus nggak mau nurutin keinginan mereka dengan alasan dana terbatas dan semua udah dianggarkan dari awal, akhirnya para pemain jadi mogok latihan. Padahal kualifikasi kejurnas udah deket. Mungkin karena nggak mau menanggung malu karena kualifikasi kejurnas bakal diadain di Bandung, kita dipanggil untuk menggantikan Tim Senior.”
“Lo tau dari mana soal ini?” tanya Alexa.
“Temen kuliah gue. Kakaknya salah satu pemain senior Jabar,” jawab Stephanie.
* * *
Saat Vira menanyakan apa yang dibicarakan oleh Agnes dan Stephanie pada Pak Isman langsung, pria itu nggak membantah atau mengiyakan.
“Siapa pun lawan kalian dan mau diturunkan di event mana pun, Bapak minta kalian tetap berlatih serius dan sepenuh hati...,” jawab Pak Isman. Sama sekali nggak nyambung dengan pertanyaan Vira.
DELAPAN
“MULAI besok, gue nggak mau liat wajah lo di sini. NGERTI!?”
Ucapan keras Vira tentu aja membuat anggota The Roses lainnya kaget, TERUTAMA Hera. Itu karena ucapan itud itunjukan padanya.
“Lo serius, Vir?” tanya Stella.
“Lo kira gue main-main!?” Vira balik bertanya dengan suara keras. Lalu dia balik menatap Hera.
“Dengar... gue nggak mau tau! Pokoknya besok gue nggak mau liat wajah munafik lo di sini!” tegas Vira pada Hera.
“Tapi... gue mo pindah sekolah ke mana?” tanya Hera dengan suara bergetar sambil menahan tangis.
“Terserah lo mo pindah ke mana! Mo ke Arab kek, ke Planet Mars kek... EGP!”
“Vir, ini soal kecil, jangan lo gede-gedein...” Diana mencoba membela Hera, tapi justru itu membuat Vira berbalik menatap dirinya.
“Lo mo ngikut dia!?”
Diana cuman diam. Begitu juga Amel dan Lisa yang berdiri di dekatnya.
“Diana bener. Ini soal kecil, kenapa lo harus kayak gini?” tukas Stella.
“Soal kecil apanya? Dia udah nyakitin perasaan gue...”
“Tapi gue kan nggak sengaja... gue nggak tau itu bakal nyakitin perasaan lo. Gue kan udah minta maaf...,” jawab Hera. Air mata mulai keluar dari kedua matanya. Stella yang berada di dekat Hera segera memeluk temannya itu.
“Lo kira dengan minta maaf, itu bisa ngobatin sakit hati gue?” jawab Vira sambil tersenyum sinis.
“Mau lo apa sih, Vir?” tanya Stella. Emosinya mulai terpancing melihat kelakuan Vira.
“Bukannya tadi gue udah bilang, gue nggak mau liat muka dia lagi di sini. Dia bukan anggota The Roses lagi!” tukas Vira.
“Lo nggak bisa seenaknya nyuruh orang pindah sekolah!” seru Stella.
“Gue nggak nyuruh dia pindah sekolah. Gue cuman nggak mau ketemu atau liat wajahnya di sini. Terserah gimana caranya kalo dia tetep mau sekolah di sini! Kalo sampe gue ketemu dia, dia akan gue buat lebih menderita daripada sekarang.”
“Itu saja aja lo nyuruh Hera pindah sekolah!”
“Jadi lo tetep belain dia!? Lo mau bernasib sama dengan dia!?”
“Lo...!!” Ucapan Stella terhenti karena Lisa menggamit lengannya.
“Udah... udah... lo nggak usah belain gue. Percuma...,” kata Hera sambil mulai terisak-isak.
“Tapi, Her...”
“Gue nggak mau lo ikut susah...”
Stella cuman bisa memeluk Hera yang menangis terisak-isak sambil memandang Vira dengan tatapan penuh amarah.
* * *
Di sekolah saat jam istirahat, Vira berdua bareng Amel di kantin. Niken nggak ikut karena begitu bel istirahat berbunyi tuh anak langsung ngabur keluar kelas. Nggak tahu ke mana dan Vira nggak bermaksud mencari tahu. Paling kalo nggak ke ruang OSIS ya ke perpustakaan. Vira tahu Niken butuh waktu untuk menyendiri.
Vira malah ngomongin soal lain dengan Amel.
“Aku ketemu Hera,” kata Vira.
Amel yang lagi menyantap mi baso merasa lehernya baru aja dipukul dari belakang. Baso yang udah mo ditelannya keluar lagi ke dalam mangkoknya.
“Kamu bilang Hera?” tanya Amel setelah menenangkan diri dan mengatur napas.
“Iya. H-E-R-A. Hera,” Vira mengeja huruf demi huruf nama Hera.
“Dia ada di sini? Bukannya Stella pernah bilang Hera pindah sekolah ke Singapura?” tanya Amel lagi.
“Singapura kan deket dari sini. Orang kayak Hera bisa bolak-balik kapan aja dia mau.”
“Di mana kamu ketemu dia?”
Vira lalu cerita soal pertemuan nggak sengaja mereka di foodcourt.
“Kalian cerita soal apa?” tanya Amel setelah Vira selesai cerita.
Vira menggelengkan kepalanya.
“Dia kebetulan udah selesai makan, dan mo pergi...,” jawab Vira.
“Tapi sempet say hello, kan?”
Kali ini Vira mengangguk.
Amel nggak tahu kalo Vira berbohong. Dia nggak sekadar say hello pada Hero, tapi sempet ngobrol, walau nggak lama.
“Lo mo ke mana?” tanya Vira saat Hera hendak berdiri dari kursinya.
“Gue udah selesai.”
“Makanan lo belum abis. Kalo lo nggak suka ketemu gue, biar gue yang pergi...” Vira langsung membalikkan badannya, hendak mencari meja lain.
“Nggak usah. Lo boleh duduk di sini.”
Suara Hera terdengar lain di telinga Vira. Kali ini nada bicara Hera nggak seketus tadi, walau juga nggak bisa dibilang ramah.
Vira membalikkan badannya.
“Dan lo?” tanya Vira.
“Seperti lo bilang tadi, makanan gue belum abis. Jadi gue akan tetap di sini ngehabisin makanan gue.”
Vira masih berdiri di tempatnya. Dia seperti ragu-ragu dengan ucapan Hera.
“Cream soup nggak enak kalo udah dingin...,” kata Hera yang melihat Vira memesan cream soup selain ayam dan nasi.
“Gimana kabar lo?” Itu kalimat pertama yang diucapkan Vira setelah hampir lima belas menit dia dan Hera cuman diam menikmati makanan masing-masing.
“Baek...,” jawab Hera pendek.
“Masih sekolah di Singapura?”
Hera mengangguk pelan.
“Sekarang lagi libur, jadi gue bisa maen-maen ke sini, sekalian ngunjungin kakek dan nenek gue...,” jawab Hera. “Lo sendiri? Gue denger lo juga udah pindah dari Altavia?” Hera balik nanya setelah mereka kembali diam sejenak.
“Lo denger dari siapa? Stella? Lo ama dia masih sering kontak-kontakan?”
Hera terdiam sebentar mendengar pertanyaan Vira.
“Her?”
“Sejak gue pindah sekolah, gue nggak pernah kontak Stella lagi. Gue juga nggak pernah kontak semuanya. Gue ganti nomor HP gue dan gue bilang ke keluarga gue supaya jangan ngasih tau nomor HP gue ke siapa pun. Gue bener-bener sedih, marah, dan tertekan. Gue pengin ngelupain semua hal yang berhubungan dengan Altavia. Semuanya...”
Ucapan Hera serasa menampar wajah Vira, terutama kalo dia ingat masa lalunya saat masih sekolah di Altavia.
“Jadi, dari mana lo tau soal gue?” tanya Vira.
“Gue tau soal lo dari banyak sumber. Berita soal ditangkapnya bokap lo, rumah lo yang disita, sampe pertandingan final antara SMA lo melawan Altavia. Semua bisa gue dapetin dari TV, surat kabar, dan Internet, juga cerita dari orang lain, tapi yang jelas bukan Stella atau temen-temen lainnya.”
Vira merasa tubuhnya makin mengecil di hadapan Hera.
“Tentang Diana?” tanya Vira.
Mendengar nama Diana, raut wajah Hera berubah.
“Diana selalu baek ke gue. Dulu dia salah satu yang mau dengerin curhat gue selain Stella. Kalo aja saat itu gue ada di sana, gue pasti akan mencegah dia ngelakuin tindakan bodoh itu. Dia pasti mau ngedengerin ucapan gue...,” ujar Hera.
“Tuh kan, ngelamun lagi...”
Suara Amel membuyarkan Vira dari lamunannya.
“Hah? Ada apa?” tanya Vira.
“Nggak... Amel cuman mo bilang tahu isi di piring kamu tinggal satu. Kamu mau?”
Vira memandang tahu isi yang ada di piringnya. Tadi dia emang ngambil tahu isi lima biji dan dia sendiri baru makan sebiji, Amel sebiji sambil makan baso. Jadi seharusnya tinggal tiga biji. Tapi kenapa sekarang cuman tinggal satu?
“Kalo kamu nggak mau, buat Amel, ya? Pedes nih...,” kata Amel sambil mulutnya berdesis kayak ular.
“Bukannya dari tadi kamu udah ngambil? Kenapa sekarang pake minta izin?” tanya Vira, membuat muka Amel memerah karena malu. Dia cuman bisa nyengir.
Vira menyodorkan piring berisi tahu isi yang tinggal sebiji itu pada Amel. Saat itu ekor matanya menangkap bayangan seorang cowok melintas di depan kantin.
Rei!
Dari kemarin Vira mencari Rei, tapi nggak pernah ketemu. HP-nya juga selalu sibuk atau nggak aktif. Eh begitu lagi nggak dicariin, sekarang cowok itu melintas di hadapannya.
Vira segera berdiri dari kursinya.
“Mo ke mana?” tanya Amel.
“Ada perlu sebentar...,” kata Vira sambil meletakkan selembar uang dua puluh ribuan di depan Amel.
“Tolong bayarin ya...,” katanya, lalu segera ngacir mengejar Rei.
* * *
Rei cuman ngakak saat Vira menanyakan soal kelanjutan hubungannya dengan Niken.
“Kamu jangan maen-maen, Rei! Niken tuh serius mo putus ama kamu!” kata Vira.
“Siapa juga yang maen-maen...?” sahut Rei setelah tawanya berhenti.
“Tapi kamu nggak berusaha untuk...”
“Aku kenal Niken dari kecil. Aku tau sifat dia. Jadi kamu nggak usah kuatir. Aku tahu harus bagaimana menghadapi dia,” potong Rei.
“Tapi kamu nggak berniat putus ama dia, kan?”
“Ya nggak lah...”
“Dan kamu bener-bener yakin soal ini?”
“Yakin seribu persen...”
* * *
Pulang sekolah, Vira mendekati Niken yang lagi beresin tas sekolahnya.
“Kamu nggak papa, kan?” tanya Vira.
Niken yang mendengar ucapan Vira malah menatap wajah sahabatnya dengan heran.
“Emang kenapa? Aku nggak papa kok,” katanya.
Niken lalu langsung melangkah keluar kelas.
“Nggak pulang bareng?” Vira menawarkan.
“Thanks, aku masih ada urusan. Aku mo ketemu Pak Danang, mo nyerahin berkas-berkas OSIS.”
“Aku tunggu, ya?”
“Nggak usah... ntar kelamaan. Soalnya aku juga mo ke toko buku dulu. Kamu ntar sore kan mau latihan. Katanya mo ada pertandingan minggu depan?”
“Iya sih...”
* * *
Kejutan nggak menyenangkan menanti Stella saat tiba di rumahnya. Diawali dari laporan pembantunya tentang papanya.
“Tadi Tuan datang...”
“Dad datang? Terus, di mana dia?”
“Pergi lagi, Non... nggak tau ke mana...”
“Mom?”
“Ada di kamar. Kayaknya mereka habis bertengkar hebat...”
Stella segera menuju kamar mamanya.
“Mom...,” panggil Stella sambil mengetuk pintu kamar mamanya pelan-pelan.
Nggak ada jawaban, tapi sayup-sayup Stella mendengar isak tangis tertahan di dalam kamar. Itu membuatnya punya keberanian untuk membuka pintu kamar yang ternyata nggak terkunci.
“Mom!”
Stella mendapati mamanya terpuruk di pinggir tempat tidur, menangis terisak-isak dengan wajah tertelungkup ke tempat tidur. Segera dia memasuki kamar yang ternyata berantakan. Bahkan lampu meja yang ada di samping tempat tidur pecah berantakan di lantai.
“Mom... are you okay?”
Stella membalikkan wajah mamanya dan terkejut melihat apa yang ada di depannya.
“Mom... Who did this to you? Dad?” tanyanya.
Wajah mamanya terlihat biru lebam, terutama di sekitar mata. Darah masih mengalir dari mulut dan hidungnya akibat benturan keras.
Mama stella nggak menjawab pertanyaan anaknya, malah menangis keras di pelukan Stella.
“Mom... kenapa?” tanya Stella sambil membelai rambut mamanya.
Setelah pelan-pelan menghentikan tangisnya, mamanya menatap wajah Stella.
“Mom... Mom... akan bercerai dengan Dad...,” ujar mamanya lirih di sela-sela isak tangisnya. Lalu wanita itu pingsan di pelukan anaknya.
SEMBILAN
STELLA nggak dateng latihan sore ini. Tentu aja ini kejutan besar mengingat dia nggak pernah absen latihan. Tapi nggak cuman itu. Melalui Alexa, terbersit keinginan Stella untuk mundur dari tim. Nggak jelas alasannya.
Vira yang kenal siapa Stella tentu terkejut mendengar kabar dari Alexa. Bukan apa-apa, Stella hampir sama dengan dirinya, sama-sama basketball freak! Stella juga menganggap basket bagian dari hidupnya dan akan melakukan apa pun untuk bisa main basket, bahkan kalo harus main di Kutub Selatan sekalipun pasti bakal dilakoninya. Tapi sekarang, Stella membuang kesempatan emas untuk jadi pemain daerah dan berarti juga membuang kesempatan merintis jalan menjadi pemain nasional. Dan Vira tahu, Stella nggak mungkin melakukan hal itu tanpa alasan yang bener-bener kuat. Stella bahkan rela melupakan sebentar pemusuhan mereka supaya bisa jadi starter tim. Itu berarti bermain basket adalah segala-galanya bagi dia. Tapi sekarang...
“Kira-kira Stella kenapa ya?” tanya Stephanie yang juga nggak percaya mendengar keinginan Stella itu.
Alexa yang ditanya cuman menggeleng tanda dia sendiri nggak tahu. Stephanie mengarahkan pandangannya ke Vira.
Apalagi Vira!
* * *
Vira penasaran soal rencana mundurnya Stella dari tim. Mereka berdua emang musuhan, tapi bagaimanapun Vira harus mengakui bahwa Stella adalah partner bermain basket yang menyenangkan. Bukan berarti Vira nggak bisa bekerja sama dengan yang lain, tapi nggak tahu kenapa, hanya dengan Stella-lah Vira bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.
Rasa penasaran Vira membuat dia bertekad datang ke rumah Stella. Dia sengaja nggak nelepon, karena nggak yakin Stella mau ngomong dengan dirinya. Vira juga nggak punya niat mulia untuk membujuk Stella membatalkan keinginannya itu. Dia cuman pengin tahu, apa yang bisa membuat Stella mengabaikan basket. Walau itu dengan risiko dia bakal disambut dengan wajah dingin Stella, atau mungkin sikap ngajak perang dari cewek itu.
Selesai latihan, Vira langsung menuju rumah Stella. Sendirian. Dia nggak mau ngajak siapa-siapa karena udah bertekad bakal melakukan ini sendiri. Bahkan Sita juga nggak dia ajak, padahal biasanya kan mereka pulang bareng. Kali ini Vira minta Sita pulang sendiri naek taksi dengan alasan mo menjenguk teman yang sakit. Untung Sita bisa ngerti.
“Nggak papa... nanti aku minta temenku untuk jemput,” kata Sita.
“Kamu punya temen di Bandung?” tanya Vira.
“Iya... baru kenal.”
“Siapa? Hati-hati loh dengan orang yang baru kamu kenal, apalagi Bandung kota gede.”
“Jangan kuatir. Orangnya baik kok, dan aku yakin dia nggak bakal macem-macem ke aku.”
“Kamu yakin?”
“Yakin dua ratus persen...”
Vira nggak ngomong apa-apa lagi.
* * *
Mobil Vira sampai ke depan rumah Stella sekitar jam tujuh malam. Sebuah BMW hitam udah lebih dulu diparkir di depan tembok rumah Stella sehingga Vira harus memarkir mobilnya di belakang BMW tersebut. Vira nggak langsung turun dari mobilnya. Dia diam dulu, mengamati situasi. Lima menit kemudian, baru dia turun.
Vira mengira ada tamu di rumah Stella. Tapi ternyata rumah itu kelihatan sepi-sepi aja. Pintu pagar tertutup rapat, walau nggak digembok. Vira menekan bel yang ngumpet di balik nomor rumah. Nggak lama kemudian pintu pagar terbuka.
“Stella ada, Mang?” tanya Vira pada seorang pria setengah baya yang membuka pintu pagar.
“Engg... ada... ada, Neng... Ini kan...?”
“Vira... Mang Uce masih ingat, kan?”
Pria yang dipanggil Mang Uce mengangguk. Dulu, Vira dan anggota The Roses lainnya emang sering maen ke sini. Kalo siang rumah Stella emang sepi, karena mamanya pasti kerja dan Stella cuman tinggal dengan dua pembantu dan seorang penjaga rumahnya, ya Mang Uce itu. Jadi mereka bisa bebas di rumah Stella, mo ngapain aja, dari mulai rujak party sampai pajamas party.
Mang Uce masuk ke rumah melalui pintu samping, sementara Vira menunggu di beranda rumah.
Sambil menunggu Stella—Vira sendiri nggak tahu apa anak itu mau nemuin dia—Vira memperhatikan keadaan sekeliling rumah. Rumah itu nggak berubah, masih sama seperti saat terakhir kali dia ke sini, hanya di beberapa bagian temboknya telah dicat ulang dengan warna yang berbeda.
Bahkan ring basket yang terpasang di depan garasi juga masih ada. Ring itu pemberian Vira setelah dia mematahkan ring yang sebelumnya dipasang Stella. Vira ingat, sebelum dipasang, The Roses rame-rame menandatangani papan pantulannya. Penasaran, Vira coba melihat apakah tanda tangan-tanda tangan itu ada. Tapi cahaya lampu yang dipasang di sekitar garasi masih kurang terang hingga Vira nggak bisa melihat papan pantul dengan jelas, walau udah berusaha dengan berbagai cara. Tapi sekilas Vira melihat cat papan pantul itu masih sama, jadi kemungkinan tanda tangan mereka di situ juga masih ada, kecuali kalo Stella udah menghapusnya.
“Ngapain lo ke sini!?”
Suara itu nggak asing di telinga Vira. Vira menoleh dan melihat wajah jutek Stella keluar dari balik pintu.
“Lo berani juga dateng ke sini. Mo ngajak ribut di sini?” hardik Stella lagi.
“Gue sama sekali nggak mau ngajak lo ribut. Gue cuman mo ngomong,” timpal Vira.
“Mo ngomong apa?” tanya Stella, tetap dengan suara keras. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Gue tau... lo mo tanya kenapa gue nggak ikut latihan hari ini, kan? Atau lo juga mo sekalian nanya kenapa gue mundur dari tim? Pasti menurut lo itu aneh karena nggak sesuai dengan sifat gue,” katanya lagi.
Stella seakan-akan bisa membaca pikiran Vira.
“Atau... lo disuruh Pak Isman ngebujuk gue supaya nggak jadi mundur?” tebaknya lagi.
“Jangan ge-er lo... Nggak ada yang nyuruh gue ke sini. Gue dateng atas kemauan gue sendiri. Dan lo bener, gue emang penasaran ama sikap lo yang aneh. Gue tau siapa lo. Lo nggak mungkin mau ninggalin basket tanpa sebab yang kuat,” potong Vira.
Stella tersenyum sinis mendengar ucapan Vira.
“Heh... sejak kapan lo jadi orang yang pengin tau urusan orang lain? Gue rasa sejak lo berteman dengan orang-orang kampung itu, ya?”
“Mereka bukan orang-orang kampung...”
“Bagi gue iya...”
Vira sadar, Stella mulai cari gara-gara lagi. Karena itu dia berusaha untuk nggak terpancing dengan ucapan Stella yang bernada provokatif. Lagi pula, Vira melihat ada ekspresi lain di balik wajah jutek Stella. Seperti ekspresi kesedihan.
“Terserah lo mo bilang apa. Gue cuman heran aja dengan tindakan lo.”
“Apa yang gue lakuin, itu terserah gue. Suka-suka gue mo ngapain. Lo nggak usah deh jadi rese atau sok care ama gue.”
“Gue nggak sok care ama lo...”
“Tapi rese, kan?”
Vira tetap berusaha tenang.
“Pak Isman bilang, kekuatan tim berkurang tanpa lo. Peluang kita untuk menang di kualifikasi jadi semakin kecil,” kata Vira.
“Itu kata Pak Isman atau kata lo?”
“Kata Pak Isman. Terserah kalo lo nggak percaya.”
“Dan menurut lo?”
Vira menghela napas.
“Gue emang benci ama lo... orang yang udah nikam gue dari belakang saat gue lagi susah, dan gue nggak bisa lupain soal itu begitu aja. Tapi gue juga bukan orang egois. Gue lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan gue sendiri. Tim kita emang sedikit berubah permainannya tanpa lo, walau gue masih yakin peluang untuk menang di kualifikasi masih besar, tanpa lo sekalipun,” ujarnya.
Sesaat lamanya, Stella diam mendengar ucapan Vira. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Suasana hening kayak kuburan.
“Gue lagi ada tamu dan bentar lagi mo pergi, jadi sori kalo gue nggak bisa dengerin ocehan lo lama-lama di sini,” ujar Stella akhirnya.
“Besok semua anggota tim bakal nginep di Sheraton Inn. Selama pertandingan, kami tinggal di sana. Kalo aja lo berubah pikiran, lo bisa langsung nyusul ke sana,” kata Vira.
“Jangan harap gue bakal berubah pikiran.”
“Ya... itu terserah lo... Tapi jujur gue akuin, permainan tim nggak sama tanpa lo. Mungkin sama aja saat gue pindah dari Altavia, lo pasti ngerasa permainan tim basket Altavia sedikit berubah, walau lo nggak mau mengakui itu.”
“Jangan sotoy lo...”
Vira nggak mengacuhkan ucapan terakhir Stella. Dia segera beranjak menuju depan pagar, meninggalkan Stella sendirian di teras depan. Stella sendiri langsung masuk ke dalam rumah.
* * *
“Temen lo?”
Seorang cewek yang duduk di ruang tengah menegur Stella yang baru aja masuk. Cewek itu berwajah blasteran seperti Stella, dengan rambut panjang sebahu yang dipilih kecil-kecil, seperti penyanyi-penyanyi hip-hop Amrik.
“Iya,” jawab Stella pendek, sambil duduk di sofa lain yang ada di situ.
“Teman tim basket?”
“Lo tadi nguping?”
Cewek itu cuman tertawa mendengar pertanyaan Stella.
“Gue tahu lebih banyak dari yang lo kira...,” jawabnya di sela-sela tawanya.
* * *
Saat sampe di pintu gerbang, iseng-iseng Vira bertanya pada Mang Uce yang mengantarnya keluar.
“Mang, kira-kira tau nggak Stella mo pergi ke mana? Kok wajahnya suntuk gitu?”
“Lho? Emang Non Stella nggak bilang ke Non Vira?” Mang Uce malah balik nanya.
Vira menggeleng.
“Nggak tuh. Emang ada apa? Kayaknya lagi ada masalah, ya?”
“Non Stella mo ke rumah sakit.”
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?”
“Nyonya kan masuk rumah sakit, dipukulin ama Tuan...,” jawab Mang Uce polos, membuat Vira terenyak.
SEPULUH
VIRA baru aja memasukkan mobilnya ke garasi saat HP di dalam tas sport-nya berbunyi.
“Halo... iya, Mo.. ada apa?”
“Lo mo maen malem ini?” Terdengar suara Elmo dari seberang telepon.
“Hmmm... gak tau ya... gue harus jaga kondisi. Dua hari lagi gue ada pertandingan.”
“Lo dateng deh... ada yang mo nantangin lo.”
“Nantangin gue?”
“Iya... dia sengaja cari-cari lo. Katanya penasaran pengin lawan lo one on one. Bayarannya gede...”
“Siapa sih? Cowok ato cewek?”
“Cewek lah...”
“Siapa?”
“Ntar lo bakal liat sendiri deh. Pokoknya lo harus dateng yaa...”
“Gimana ya?” gumam Vira sambil menggaruk-garuk kepalanya yang rambutnya mulai panjang lagi.
“Ayolah, Vir...,” bujuk Elmo.
“Emang berapa sih duitnya?” tanya Vira.
“Bukan masalah duitnya, tapi ini masalah kehormatan. Dia pengin tau kemampuan Ratu Streetball kita, masa lo nggak tanggepin tantangannya? Ntar apa pikiran dia dan yang lain yang ada di sini? Dikiranya lo takut...”
“Masalahnya gue capek, Mo... Belum makan, lagi. Apa nggak bisa hari lain? Abis gue pertandingan gitu?”
“Dia maunya malam ini. Soalnya dia bukan orang Bandung. Besok udah harus balik ke Jakarta.”
Vira melenguh pelan.
“Vir? Lo mau, kan?”
“Ada Rei nggak di sana?”
“Rei? Belum keliatan. Tapi tadi gue telepon sih katanya dia mo dateng. Emang lo nggak janjian ama dia? Biasanya kan kalian datengnya barengan?”
“Nggak. Gue hampir seharian ini nggak ketemu dia.”
“Emang kenapa kalo ada Rei?”
“Nggak papa... nanya aja. Ya udah... tunggu gue di sana deh...”
“Bener nih? Bener lo mo dateng?”
“Iyaaa... bawel amat sih lo. Tunggu aja. Gue pasti dateng...”
* * *
Di hadapan Vira berdiri seorang cewek, berambut dipilin kecil-kecil kayak penyanyi hip-hop cewek Amrik dan badannya lebih tinggi sedikit daripada Vira. Mungkin tingginya hampir sama dengan Stella. Usianya juga diperkirakan Vira lebih tua daripada dirinya. Mungkin sekitar tiga-empat tahun di atas dirinya.
Vira tidak pernah melihat cewek ini sebelumnya di arena streetball. Tapi rasa-rasanya sih dia pernah melihatnya, cuman di mana Vira lupa.
“Jadi lo yang namanya Vira?” tanya si cewek. Aksen bahasa Indonesianya kedengeran aneh.
“Lo?”
Cewek itu mengulurkan tangan.
“Panggil aja gue Bianca. Gue denger lo cewek yang paling jago di sini, makanya gue pengin liat kemampuan lo.”
Vira membalas uluran tangan cewek bernama Bianca itu.
Elmo mendekati kedua cewek yang lagi perang saraf itu.
“Okee... jadi pertandingannya one on one, ya?” tanya Elmo di antara gemuruh suara penonton.
“Sure...,” jawab Bianca pendek sambil terus menatap Vira.
“Vir?”
Vira menoleh ke arah Elmo, lalu mengangguk.
“Oke... sistem pertandingannya satu babak dan memakai satu sisi lapangan. Setiap bola masuk mendapat poin satu, kecuali lembaran dari luar area three point shot akan mendapat dua poin. Nggak ada free throw, yang melakukan pelanggaran akan kehilangan giliran untuk menyerang. Free body contact diperbolehkan kecuali memukul, menyikut, menendang, atau tindakan lain yang nggak sportif yang dengan sengaja dilakukan untuk melukai lawan. Siapa yang lebih dulu memperoleh angka lima belas, dia pemenangnya...” Elmo membacakan aturan permainan, atau bahasa kerennya rules of the game.
“...silakan bersiap-siap, pertandingan akan dimulai lima menit lagi,” lanjutnya.
* * *
Rei mendekati Vira yang lagi mengikat tali sepatunya.
“Kamu harus menang. Aku taruhan banyak buat kamu,” kata Rei.
Ucapannya itu membuat Vira menoleh.
“Kamu taruhan banyak?”
“Lumayan buat nambah-nambah kalo menang.”
“Kalo kalah?”
Rei cuman mengangkat bahunya.
“Makanya jangan sampe kalah...,” katanya sambil menepuk bahu Vira, lalu ngeluyur begitu aja, bergabung dengan teman-temannya.
* * *
Bianca mendapat giliran menyerang pertama. Vira coba menghadang sambil mengukur kemampuan lawan. Dribel sebentar, Bianca mencoba masuk melalui sisi kiri Vira. Tentu aja Vira nggak mau membiarkan Bianca lolos begitu aja. Dia coba memblokir gerakan Bianca, sambil tangannya menggapai merebut bola. Tiba-tiba aja Bianca memutarkan badannya 250 derajat.
Gerakan memutar! Udah basi! batin Vira.
Vira nggak terpancing gerakan Bianca. Dia malah mundur hingga masuk ke area three point shot. Vira mengira Bianca akan coba menerobos dari sebelah kanan dirinya. Tapi dia salah. Secara nggak terduga, Bianca langsung melakukan tembakan dari luar area three point shot.
Masuk! 2-0 langsung di awal pertandingan.
Penonton bersorak riuh.
Bianca membawa bola ke garis tengah, lalu berbalik dan siap menyerang kembali.
Vira menunggunya di depan garis three point shot.
Dia nggak akan menembak dari jauh dua kali. Itu terlalu kebetulan, kecuali dia seorang shooting guard! batin Vira.
Tapi dugaan Vira salah. Untuk kedua kalinya Bianca melakukan tembakan dari luar area three point shot.
Dan masuk! 4-0 untuk sang penantang.
Rei menepuk keningnya. Entah apa yang dipikirkannya. Vira yang kelihatan nggak berdaya di awal pertandingan, atau duitnya yang bakal melayang.
* * *
Dia seorang shooting guard! Dan jago menembak tiga angka!
Sekarang Vira tahu posisi Bianca dan dia tahu cara menghadapi penembak-penembak jarak jauh.
Jangan beri mereka ruang menembak!
Bianca kembali menyerang. Kali ini Vira maju menghadang. Bianca coba mengecoh Vira dengan seakan-akan melakukan tembakan. Tapi Vira nggak terkecoh. Dia tahu, menembak bola dalam posisi berdekatan dan jarak yang masih jauh dari ring adalah pekerjaan sia-sia. Dan ternyata Bianca emang nggak menembak. Dia mencoba menerobos lewat kiri bawah, tapi Vira yang tahu gerakannya bergerak lebih cepat. Saat Bianca masih mendribel bola, tangan kirinya menyambar bola. Vira lalu melakukan gerakan memutar dan tangan kanannya menangkap bola yang akan terlempar.
Penonton bersorak riuh termasuk Rei. Vira berhasil mencuri bola!
Giliran Vira melakukan serangan. Dia nggak langsung masuk, tapi hanya mendribel bola di sekitar garis tengah, seakan-akan menunggu Bianca maju menerjang. Tapi Bianca nggak terpancing, hingga Vira akhirnya memutuskan untuk maju. Vira coba melakukan gerakan menipu dengan seolah-olah mau masuk dari sisi sebelah kanan Bianca, lalu tiba-tiba gerakannya berubah ke sisi kiri. Tapi baru aja dia akan melakukan hal itu, Bianca maju menerjang dirinya. Kontak badan yang lumayan keras terjadi. Vira tersentak dan hampir jatuh tersungkur. Pegangannya pada bola terlepas dan Bianca memanfaatkan kesempatan untuk mengambilnya.
Curang! sungut Vira dalam hati.
Bianca menatapnya sinis.
Vira kembali bersiap. Serangan Bianca dihadapinya dengan lebih agresif. Sempat terjadi saling dorong. Bianca ternyata secara jitu berhasil menyelundupkan bola di antara kedua kaki Vira. Vira yang nggak menyangka Bianca bakal melakukan hal itu mencoba menghadang. Tapi tiba-tiba dia merasa kakinya jadi berat, seperti ditahan tangan raksasa dari bawah. Vira cuman bisa pasrah membiarkan Bianca melewatinya dan memasukkan bola ke ring dengan sebuah lay-up yang cantik.
5-0!
Dia benar-benar hebat! Tanpa sadar Vira memuji dalam hati. Gerakan melewati lawan tadi adalah gerakan yang sangat sulit. Salah perhitungan sedikit, bola akan terlepas. Tapi Bianca bisa melakukannya dengan sempurna. Ternyata tuh cewek nggak cuman bisa menembak jauh, tapi jago mengontrol bola dan dribel.
“Jadi cuman segini kemampuan pemain yang jadi andalan tim Jabar? Heh... bikin malu aja...,” kata Bianca sinis.
Dia tau kalo gue pemain tim Jawa Barat? Siapa dia?
“Siapa sebenarnya lo?” tanya Vira.
“Bukan siapa-siapa...,” jawab Bianca sambil bersiap menyerang kembali.
* * *
Sesampai di rumah Vira, Niken nggak menjumpai temannya itu. Cuman ada Sita yang ternyata belum tidur.
“Vira ke mana?” tanya Niken.
“Nggak tau. Tadi sih udah pulang, tapi terus pergi lagi.”
Niken melirik jam tangannya.
Udah hampir jam sepuluh. Ke mana sih dia? tanya Niken dalam hati.
Sebetulnya kebiasaan keluar malam dan pulang dini hari udah sering dilakukan Vira. Cuman biasanya dia melakukannya pas malam Minggu, atau kalo besoknya libur. Tapi besok kan sekolah. Lagi pula Vira harus mengepak pakaiannya karena sepulang sekolah dia langsung pindah ke hotel. Niken baru tahu itu dari Amel yang meneleponnya. Makanya dia bela-belain dateng malem-malem pakai sepeda untuk bantu sahabatnya itu beres-beres. Dia tahu reputasi Vira dalam hal mengepak pakaian. Berantakan!
“Tunggu aja. Kamu tidur sini, kan?” tanya Sita.
Niken mengangguk.
* * *
Pertandingan baru berjalan sekitar lima belas menit, tapi Vira udah tertinggal 9-0. Dia sama sekali nggak punya kesempatan untuk mendapat poin. Apalagi fisiknya kepayahan mengimbangi permainan cepat Bianca. Nggak seperti biasanya, fisik Vira terlihat jeblok. Dia emang bener-bener kecapekan.
Bianca kembali berhasil mengecoh Vira dan dengan sedikit pamer melakukan gerakan slam saat memasukkan bola ke dalam ring. 10-0.
Gue kenapa sih? tanya Vira dalam hati. Seluruh kemampuannya mendadak hilang malam ini. Vira seperti orang yang baru belajar maen basket.
Bianca mengangkat tangannya seperti ketika meminta time-out.
“Pertandingan selesai!” teriaknya lantang sambil menatap sinis pada Vira.
“Apa maksud lo?” tanya Elmo.
Sebagai jawaban, Bianca menunjuk papan skor.
“Kalo gue terusin, kasian dia. Gue nggak mau dia mati kecapekan malam ini. Apalagi dia harus bertanding di Kejurnas dua hari lagi,” jawab Bianca, meremehkan Vira.
Vira menatap Bianca dengan kesal. Apalagi mendengar ucapan Bianca yang meremehkan dirinya.
Kalo aja gue nggak kecapekan! Kalo aja gue udah makan!
“Lagian percuma diterusin, toh kita udah tau siapa yang bakal menang. Gue juga mo langsung balik ke Jakarta malam ini biar bisa langsung tidur di rumah.”
Elmo sebagai “panitia pertandingan” nggak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia membenarkan ucapan Bianca. Percuma kalo pertandingan diteruskan. Vira nggak mungkin bisa mengejar ketinggalannya. Bukan cuman karena skornya yang ketinggalan jauh, tapi karena fisik Vira kelihatan udah nggak memungkinkan. Elmo menatap Vira seolah minta persetujuan. Tapi Vira diem aja, lagi sibuk mengatur napas.
“Payah...”
Bianca berjalan meninggalkan arena pertandingan. Sebelum keluar, dia menoleh pada Vira.
“Jaga fisik lo. Kalo fisik lo masih kayak gini, lo bakal mampus di Kejurnas nanti...,” kata Bianca, seolah-olah sedang menggurui Vira.
Vira cuman mendengus kesal sambil tetap menatap Bianca. Tiba-tiba matanya terbelalak. Sepertinya dia ingat sesuatu.
Shit! Kenapa gue bisa lupa! Dia kan...
“Tunggu!”
Seruan Vira membuat Bianca kembali menoleh ke belakang.
“Pertandingan belum berakhir. Belum ada yang nyampe angka lima belas!” seru Vira lagi.
Bianca membalikkan tubuh.
“Jangan maksain diri deh! Lo jelas udah kalah...,” balas Bianca.
“Siapa bilang? Selama belum ada yang nyampe angka lima belas, belum bisa dibilang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Gue masih punya peluang untuk ngejar dan menangin pertandingan,” tandas Vira.
“Heh! Lo ngigo? Berdiri aja lo udah kepayahan, mo ngomong soal menang...”
“Lo yang ngigo kalo udah nyatain diri jadi pemenang. Gue belum merasa kalah. Gitu kan, Mo?”
Bianca dan Vira sama-sama menatap Elmo yang dari tadi diam, minta keputusan darinya.
“Apa pertandingan udah dinyatakan selesai sedang belum ada yang nyampe angka lima belas?” tanya Vira.
Sekonyong-konyong terdengar seruan dari arah penonton. Seruan yang tadinya hanya berasal dari satu-dua orang, tapi lalu membesar, hingga akhirnya hampir seluruh penonton menyerukan kata yang sama.
“TERUS!! TERUS!!! TERUS!!!”
“Ini konyol...,” gumam Bianca.
“Kenapa? Lo takut ngelanjutin pertandingan?” ejek Vira.
“Takut? Nggak kebalik?”
Vira kembali memandang Elmo.
“Mo, gimana?” tanya Vira lagi.
Setelah berdiam diri beberapa saat, Elmo mengangkat tangan kanannya ke atas.
“Pertandingan belum selesai!” seru Elmo yang disambut sorak-sorai penonton.
* * *
Di sebuah kamar VIP di Rumah Sakit Borromeus Bandung...
Stella duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi wajah mamanya yang tertidur pulas. Luka-luka di wajah dan sekujur tubuh mamanya sebagian udah mulai membaik. Tapi tetap aja butuh waktu yang nggak sebentar untuk memulihkan tubuh mamanya seperti semula, dan bisa butuh waktu lebih lama lagi untuk memulihkan luka kejiwaan yang diderita akibat peristiwa penganiayaan yang baru menimpanya.
Don‟t worry, Mom! Stella nggak akan ngelepasin Dad setelah apa yang dia lakukan pada Mom. Stella janji, Dad pasti akan menerima ganjaran yang setimpal! batin Stella sambil mengelus tangan mamanya.
SEBELAS
PAGI-PAGI, Vira udah mendapat telepon dari Amel.
“Ada apa, Mel?” tanya Vira sambil mengusap-usap rambutnya yang basah pake handuk. Dia baru aja selesai mandi.
“Udah baca koran pagi ini?” tanya Amel, bikin Vira heran. Tumben Amel nelepon dia pagi-pagi cuman buat nanyain apa dia baca koran atau nggak.
“Nggak. Koran apaan?”
“Apa aja... hampir di semua koran ada kok beritanya.”
“Berita apaan?”
“Soal mamanya Stella...”
Penasaran, Vira segera mencari surat kabar pagi ini, yang ternyata lagi dibaca oleh Sita.
“Berita tentang apa?” tanya Sita sambil menyerahkan surat kabar yang ada di tangannya.
“Tentang mamanya Stella...”
“Stella? Stella Winchest? Temen setim kita?”
“Siapa lagi...?”
Setelah agak lama mencari, akhirnya Vira menemukan berita yang dimaksud Amel, di bagian berita kota Bandung dan sekitarnya.
Ini dia! batin Vira.
Bareng Sita, Vira membaca judul berita yang dimaksud:
ISTRI WNA ASAL INGGRIS DIANIAYA SUAMINYA. Polwiltabes Bandung menahan pialang Wall Street.
Membaca berita tersebut, Vira dan Sita berpandangan, seolah-olah mempunyai pikiran yang sama.
* * *
Saat kembali dari membeli makanan di depan rumah sakit, Stella melihat dua orang berdiri di depan pintu kamarnya. Dua orang yang sangat nggak dia harapkan kehadirannya.
“Ngapain kalian ke sini?!” tanya Stella.
Vira dan Amel yang sedang berdiri di depan pintu kamar menoleh.
“Gue cuman mo nengokin keadaan nyokap lo,” jawab Vira pendek. Sementara Amel cuman diam.
“Nengokin? Buat apa? Mom kan bukan nyokap lo! Buat apa lo urusin? Dan lo juga, Mel! Berani-beraninya lo nongol lagi di depan muka gue!” semprot Stella.
“Disemprot” kayak gitu, Amel langsung mengkeret, sementara Vira tetap tenang.
“We are sorry about what happened to your mother.. Kami baru tau beritanya dari koran pagi tadi, jadi baru sekarang sempet ke sini...,” ujar Vira.
“Apa urusan lo ama nyokap gue, sampe lo sok care gitu?”
“Mungkin lo lupa, tapi dulu nyokap lo sangat baek ke gue. Gue nggak mungkin ngelupain nyokap lo begitu aja, walau gue benci ama lo. Apalagi saat ini nyokap lo lagi dalam kesusahan...”
“Siapa bilang nyokap gue lagi dalam kesusahan? Dia baek-baek aja...”
“Lo nggak usah nutup-nutupin lagi. Berita tentang apa yang terjadi pada nyokap lo dimuat di hampir semua koran pagi tadi. Bahkan di TV juga. Dan gue, juga Amel, prihatin atas apa yang terjadi pada nyokap lo. Lupain dulu soal
permusuhan kita. Kami cuman mo liat keadaan nyokap lo, wanita yang udah gue anggap sebagai ibu gue sendiri.”
Kali ini Stella terdiam mendengar ucapan Vira. Dia nggak berkata apa-apa lagi, langsung membuka pintu kamar dan masuk, sedang Vira dan Amel tetap menunggu di luar. Mereka berdua memutuskan baru akan masuk setelah dipersilakan.
Nggak lama kemudian, wajah Stella muncul di balik pintu.
“Nyokap gue lagi tidur. Sori, tapi dia butuh banyak istirahat. Apalagi seharian ini dia baru aja divisum untuk keperluan kasusnya di polisi.”
Vira dan Amel menatap Stella. Mereka nggak tahu Stella berkata jujur atau nggak. Tapi Vira nggak mau bikin suasana jadi runyam. Ini rumah sakit dan dia nggak mau ribut di situ.
Stella langsung menutup pintu kamar.
“Gimana nih?” tanya Amel.
Vira cuman mengangkat bahu.
“Kita nggak bisa maksa dia. Itu haknya,” kata Vira, lalu melangkah meninggalkan pintu kamar, disusul oleh Amel.
Baru sekitar sepuluh meter mereka melangkah, pintu kamar kembali terbuka.
“Woi...!” panggil Stella, membuat Vira dan Amel menoleh.
“Kalian boleh masuk...,” kata Stella pendek.
* * *
Jarum jam udah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Vira belum bisa memejamkan mata. Nggak tahu kenapa. Padahal dari pagi dia belum sempat istirahat. Sepulang sekolah, Vira langsung membesuk mama Stella di rumah sakit bareng Amel. Trus dia pulang, membereskan bajunya dan langsung pergi latihan. Seusai latihan, Vira langsung pergi ke hotel. Lalu tadi habis makan malam, ada brifing sebentar dari Pak Isman. Sampai jam setengah sembilan lebih, baru setelah itu pergi tidur. Tapi Vira sama sekali nggak merasa mengantuk setelah melakukan
berbagai aktivitas seharian ini. Dinginnya AC kamar hotel nggak membuat dia bisa memejamkan mata.
Vira melirik ke tempat tidur di sebelahnya. Stephanie terlihat udah tidur.
“Steph...,” panggil Vira perlahan.
Panggilan itu nggak membuat Stephanie membuka mata. Dia udah tertidur pulas. Mungkin karena kecapekan, atau lagi bermimpi indah karena dia baru aja terpilih secara aklamasi sebagai kapten tim tadi.
Have a nice dream aja deh! batin Vira.
Vira meraih HP-nya. Dia bermaksud menelepon temen-temennya. Niken, Amel, atau siapa aja kek. Sekadar ngobrol.
Mereka udah pada tidur belum ya? tanya Vira dalam hati.
Saat akan menekan tombol di HP-nya Vira baru ingat ada orang tidur di sebelahnya. Gimana kalo nanti suaranya terlalu keras dan bikin Stephanie bangun? Apalagi kalo ngobrol kadang-kadang dia nggak inget tempat. Kadang-kadang suka ngikik, atau bahkan ngakak. Apalagi kalo lagi ngobrol dengan Amel.
Menyadari hal ini, Vira bangkit dari tempat tidurnya. Dan mengganti baju tidurnya dengan T-shirt dan celana selutut. Vira bermaksud pergi ke lobi hotel. Di sana dia bisa menelepon sepuasnya tanpa mengganggu orang lain.
* * *
Lobi hotel masih ramai dengan beberapa tamu yang sedang asyik mengobrol. Vira memilih tempat duduk di pojok, supaya nggak terganggu orang yang lalu-lalang.
Amel atau Niken ya?
Vira menekan nomor HP Amel. Setelah lama menunggu, ternyata cuman dijawab pesan yang mengatakan nomor yang dituju nggak aktif atau di luar jangkauan. Vira tahu, itu artinya Amel udah tidur. Dia tahu kebiasaan Amel yang selalu mematikan HP-nya kalo tidur. Bukan karena Amel nggak mau diganggu, tapi karena dia merasa nggak enak sama anggota keluarganya yang lain kalo tengah malam HP-nya berbunyi. Ada-ada aja alasannya... padahal kan bisa aja HP-nya tetep nyala tapi deringnya di-set silent atau getar doang.
Vira lalu menekan nomor HP Niken. Terdengar nada sambung.
Saat menunggu Niken menjawab teleponnya, secara nggak sengaja pandangan Vira tertuju ke pintu masuk hotel, pada sepasang remaja yang baru aja masuk ke lobi.
Sita?
Cewek yang baru masuk ke lobi emang Sita. Sedang cowok yang bareng dia memakai jaket dan topi, hingga Vira nggak bisa melihat wajahnya. Walau begitu Vira merasa nggak asing dengan jaket dan topi yang dipake cowok tersebut, apalagi postur tubuhnya.
Dia kan...
“Halo, Vira? Halo?”
Tentu aja Vira nggak menjawab panggilan Niken, karena saat itu perhatiannya sedang tertuju pada Sita dan cowok yang bersamanya.
DUA BELAS
PERTANDINGAN kualifikasi Kejuaraan Nasional Bola basket Putri dimulai. Kualifikasi di Bandung diikuti tiga provinsi, yaitu Jawa Barat sebagai tuan rumah, Banten, dan Lampung. Seharusnya ada empat peserta, tapi Bengkulu mengundur-kan diri karena masalah intern di kepengurusan PERBASI daerahnya.
Sistem pertandingannya adalah setengah kompetisi, yaitu setiap tim akan saling bertemu. Tim dengan nilai kemenangan tertinggi akan menjadi juara grup dan berhak ikut babak final di Jakarta sebulan lagi. Hari pertama kualifikasi dibuka dengan pertandingan antara tuan rumah Jawa Barat melawan Lampung.
“Sejauh ini prestasi Lampung memang di bawah kita. Tapi kita tetap harus waspada. Apalagi ini pertama kalinya kalian bermain di turnamen tingkat nasional. Jangan gugup dan tetap fokus pada permainan,” pesan Pak Isman di ruang ganti pemain.
* * *
Penonton yang memadati GOR C‟tra Arena bertepuk tangan meriah saat pemain kedua tim memasuki lapangan. Apalagi saat tim Jawa Barat masuk, tepuk tangan terdengar lebih bergemuruh.
“Terkenang masa lalu?” celetuk Stephanie lirih pada Rida yang berada di sampingnya. Rida cuman tersipu malu. Pikirannya teringat saat bersama tim SMA 31 di turnamen basket antar-SMA se-Bandung Raya, terutama saat di final melawan SMA Altavia. Rida merasa peristiwa itu baru kemarin. Sekarang dia kembali berada di GOR ini, dengan tim dan event yang lain.
Vira menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru arena. Penonton memenuhi hampir seluruh tempat duduk GOR yang berkapasitas sekitar lima ribu penonton itu. Vira coba mencari orang-orang yang dikenalnya, tapi nggak gampang mencari seseorang di antara ribuan penonton, apalagi itu dilakukan sambil berjalan. Walau begitu Vira yakin, pasti ada teman-temannya yang datang menonton. Amel udah janji bakal nonton dan ngajak yang lainnya. Rei juga bilang bakal datang. Cuman Niken yang Vira nggak tahu bakal datang atau nggak. Belakangan ini dia jarang ketemu, apalagi ngobrol dengan cewek itu. Apalagi beberapa hari ini Niken nginep di rumah ortunya dan baru balik ke rumah Vira malam sebelum Vira nginap di hotel. Jadi mereka belum sempat ngobrol banyak.
“Walau usia para pemain Lampung lebih tua daripada kalian, Bapak tahu skill mereka tidak sebagus kalian, kecuali yang bernomor punggung 6, Indriyati. Dia pindahan dari Jawa Tengah dan Bapak tahu dia punya skill yang bagus, terutama dalam hal dribel. Karena itu Bapak tugaskan Rida untuk menjaga dia, dan sedikit dibantu oleh Poppy. Yang lainnya bermain ofensif, termasuk Vira. Untuk quarter pertama ini kita harus langsung tancap gas untuk menjatuhkan mental mereka. Mengerti!?” Pak Isman memberikan instruksi di pinggir lapangan, beberapa saat sebelum pertandingan dimulai.
Di quarter pertama, tim Jawa Barat menurunkan Vira, Stephanie, Rida, Alexa, dan Poppy sebagai starter, memakai kostum biru-biru, sedangkan Tim Lampung memakai kostum kuning-kuning.
Pertandingan quarter pertama dimulai. Tim Lampung memenangi perebutan bola di udara. Mereka langsung melakukan serangan kilat melalui operan panjang langsung ke depan, membuat barisan pertahanan tim Jawa Barat sedikit pontang-panting.
Salah seorang pemain Lampung berhasil menerobos hingga ke bawah ring. Dengan sigap dia berhasil menangkap bola yang dioperkan rekannya dari tengah, lalu berhasil berkelit dari hadangan Poppy, memutar badannya dan melakukan lay-up cantik.
Masuk! Nilai pertama untuk tim Lampung.
Vira sempat melirik pemain yang baru aja masukin bola. No. 6!
Jadi ini pemain pindahan dari Jawa Tengah itu! Boleh juga! batin Vira.
“Ayo... jangan patah semangat!” Stephanie sebagai kapten memberi semangat teman-temannya. Bola sekarang berada di tangan tim Jawa Barat. Alexa mendribel bola sebentar sebelum memberikannya pada Poppy, yang membawa bola hingga melewati garis tengah. Saat itulah salah seorang pemain lawan yang berada di dekatnya mulai menghadang. Poppy nggak mau berduel dan langsung memberikan bola pada Vira yang telah melewati garis tengah.
Seorang pemain lawan mendekati Vira, coba merebut bola. Vira mendribel bola, dan memutar badan membelakangi lawannya. Tiba-tiba Vira melakukan gerakan cepat, badannya sedikit dibungkukkan dan dia coba melewati lawannya dari samping kiri bawah. Vira tertahan oleh tangan lawan yang coba menutup gerakannya.
“Da...”
Dengan cerdik, Vira mengoper bola pada Rida dengan cara memantulkannya ke lantai. Diterima baik oleh Rida dan dia mencoba langsung menuju ring. Gerakan Rida dihalangi oleh center lawan yang bertubuh lebih tinggi darinya. Sambil mendribel bola, Rida melirik ke kanan dan ke kiri, mencari teman.
“Steph...”
Stephanie bersiap menerima bola operan Rida. Tapi seorang pemain lawan yang ada di dekatnya berhasil menghadang operan Rida. Bola pun terpental liar.
Vira berlari hendak mengambil bola, berpacu dengan pemain lawan di dekatnya. Dia berhasil menggapai bola lebih cepat dan langsung mengoper ke Stephanie. Dribel sebentar, Stephanie langsung menusuk ke ring dari sisi kiri, saat dia kembali dihadang, dengan cerdik dioperkannya bola pada Rida yang udah
menunggu di tengah. Rida menembak langsung, dan masuk! Kedudukan sekarang sama kuat.
Tim Lampung kembali mengatur serangan. Mereka mencoba kembali dengan operan panjang. Tapi kali ini tim Jawa Barat udah siap. Rida berhasil mencegat operan panjang ke area three point shot. Dan langsung memberikannya pada Vira.
Fast break! Vira berlari cepat ke depan. Saat guard lawan menghadangnya, dia langsung mengoper bola pada Stephanie yang datang dari belakang. Stephanie langsung masuk ke bawah ring dan melakukan lay-up. Bola masuk ke ring dengan mulus.
Tim Jawa Barat memimpin dan perlahan-lahan mulai menemukan bentuk permainannya.
Selanjutnya, kualitas teknik dari para pemain Jawa Barat mulai terlihat. Walau masih berusia muda, para Young Guns ini nggak terlihat gugup menghadapi lawan yang jauh lebih senior dan berpengalaman. Bahkan yang terlihat di lapangan, tim Lampung yang kelihatan jadi gugup. Apalagi setelah pemain andalan mereka berhasil dimatikan, hingga permainan nggak bisa berkembang. Hingga quarter pertama berakhir, Jawa Barat unggul 16-7. Stephanie menjadi pencetak angka terbanyak di quarter pertama dan Vira jadi penyumbang assist (operan yang menghasilkan angka) terbanyak.
Di quarter kedua dan seterusnya, keadaan tetap nggak berubah. Tim Jawa Barat tetap mendominasi perolehan angka. Lampung sempat menampilkan perlawanan di quarter ketiga, saat beberapa pemain tim Jawa Barat seperti Vira dan Stephanie diganti, hingga perbedaan angka antara kedua tim jadi menipis. Tapi itu nggak berlangsung lama, karena para pemain cadangan tim Jawa Barat pun pelan-pelan mulai menunjukkan mereka nggak kalah dengan para starter. Apalagi setelah Stephanie dan Vira masuk lagi di quarter keempat, perbedaan angka kembali menjauh. Pertandingan pun berakhir dengan skor 71-56 untuk kemenangan tim Jawa Barat.
“Kita menang!” teriak Poppy dengan wajah gembira, sambil berpelukan dengan yang lain. Ini ujian pertama bagi Tim Bola Basket Putri Jawa Barat yang sebetulnya merupakan tim junior, apakah mereka bisa mengemban tugas yang sangat berat,
bertanding di Kejurnas tingkat senior. Dan mereka telah melewati ujian tersebut dengan cukup mudah.
“Jangan dulu gembira... Pertandingan berikutnya akan lebih berat,” Pak Isman mengingatkan di tengah-tengah euforia kegembiraan anak-anak didiknya.
* * *
Di rumah sendirian lama-lama bikin Niken bete. Dari kemarin Niken emang cuman tinggal sendiri di rumah Vira, karena Vira dan Sita nginep di hotel selama pertandingan. Nggak sendiri banget sih karena ada Bi Sum, tapi kan Bi Sum selalu sibuk dengan tugasnya sebagai pembantu, jadi nggak bisa terus menemani Niken ngobrol kalo Niken kesepian.
Kalo sepi begini, Niken pengin tinggal di rumahnya sendiri, kalo aja Vira nggak nitipin rumahnya ke dia. Lagian ibunya juga menyuruh dia tinggal di sini selama Vira nggak ada.
“Kamu jangan kalo lagi seneng aja mau tinggal di situ. Sekali-sekali kamu juga harus punya tanggung jawab. Menjaga rumah Vira selama dia nggak ada itu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kamu,” kata ibunya.
Jadilah sekarang setiap pulang sekolah Niken selalu langsung pulang, nggak mampir dulu ke toko buku sebagaimana hobinya beberapa bulan terakhir ini. Mal di dekat sekolah udah selesai dibandung dan di dalamnya ada toko buku, jadi Niken sering mampir barang satu atau dua jam sepulang sekolah atau kalo hari libur untuk sekadar numpang baca buku-buku atau majalah di situ.
Niken sebetulnya udah berusaha mengusir kesepiannya. Kalo nggak tidur, dia isi waktunya dengan mengerjakan PR, atau latihan soal untuk persiapan Ujian Nasional (UN) atau ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Niken emang punya cita-cita meneruskan kuliah di PTN, supaya biayanya nggak terlalu berat. Karena itu dia harus belajar sungguh-sungguh supaya keinginannya tercapai. Vira sebetulnya pernah menawari Niken untuk ikut salah satu bimbingan belajar (bimbel), supaya persiapan lebih mantap, dengan biaya ditanggung Vira. Tapi Niken nggak mau. Dia nggak mau terus-terusan berutang budi pada Vira walaupun
Vira-nya sendiri nggak pernah mikirin soal utang budi. Tapi Niken tahu diri. Jadi dia tetap berusaha sendiri dan tetap optimis walau tanpa ikut bimbel. Vira sendiri juga nggak ikut bimbel. Kalo ditanya apa dia bakal ikut ujian masuk PTN, dia cuman menjawab dengan wajah pasrah.
“Yaaa... liat aja ntar.”
Tapi walau nggak sepinter Niken, sebetulnya justru Vira yang punya peluang besar masuk PTN dibandingkan Niken, yaitu melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), yaitu jalur khusus merekrut mahasiswa baru tanpa ujian, yang dianggap punya prestasi tersendiri, biasanya prestasi di bidang akademik, olahraga, atau seni. Dan keberhasilan Vira yan gpernah membawa SMA Altavia juara turnamen basket se-Jawa dianggap cukup untuk membawa dia lolos PMDK. Apalagi kalo Vira berhasil membawa Tim Basket Jawa Barat menjadi juara di Kejurnas yang lagi diikutinya, peluangnya akan semakin besar. Niken sendiri nggak tahu Vira mendaftar untuk ikut PMDK atau ngak, karena Vira sendiri nggak pernah cerita soal itu.
Kalo udah capek belajar, biasanya Niken membaca surat kabar, nonton TV, atau nyetel DVD. Tapi tetap aja itu nggak bisa mengusir kesepian yang dirasakan Niken. Rei jug audah nggak pernah lagi datang menemuinya. Sejak putus, Niken emang selalu berusaha menghindar dari Rei, hingga cowok itu menyerah dan nggak pernah berusaha menemuinya lagi. Lengkaplah udah kesepian Niken. Apalagi dia udah nggak jadi ketua OSIS lagi, sejak pemilihan ketua OSIS minggu lalu. Jadi dia nggak punya alasan buat ngadain rapat sepulang sekolah sampe sore seperti yang dulu-dulu.
Sebetulnya Vira mengizinkan Niken mengajak salah satu atau beberapa teman sekolah mereka untuk menginap di rumahnya. Tapi ibu Niken melarang. Kata ibunya, Niken nggak boleh mengajak orang lain menginap di rumah orang lain kalo yang punya rumah nggak ada di rumah—walau itu diperbolehkan yang punya rumah dan itu temen sekolah mereka sendiri. Lagi pula kalo ntar ada apa-apa di rumah karena ada orang lain yang menginap, Niken bisa kena getahnya. Niken sendiri nggak mungkin mengajak ibunya ikut nginep, karena ibunya harus menjaga warung serta membuat pesanan kerupuk dan gorengan tiap hari. Mengajak Panji
adalah hal yang paling dihindari Niken. Bukan apa-apa, Panji nggak bisa diem. Niken takut adiknya ntar malah bikin ulah di rumah Vira. Kalo ada barang yang rusak atau hilang karena ulah Panji, kan Niken dan ibunya yang nggak enak ke Vira, walau mungkin Vira-nya sendiri bisa maklum.
Saat sedang sendiri begini, Niken kadang-kadang teringat pada Rei. Walau dia yang mutusin hubungan mereka, Niken nggak bisa mungkin bahwa dia masih sayang Rei. Niken cuman nggak suka dengan sikap Rei yang nggak mau terus terang dan terkesan nutup-nutupin sesuatu ke dia.
Rei... Rei... kenapa sih kamu jadi gitu? tanya Niken dalam hati.
* * *
Rei udah nunggu di depan bus yang akan membawa rombongan Tim Jawa Barat kembali ke hotel.
“Selamat ya... walau aku rasa kamu maennya belum maksimal, tapi it’s okay for a start...,” kata Rei sambil mengulurkan tangan.
Nggak seperti biasanya, kali ini Vira menyambut uluran tangan Rei dengan wajah dingin. Vira cuman memandang Rei dengan tatapan yang lain dari biasanya.
“Thanks,” jawab Vira pendek.
“Kalo temen kamu waktu di Altavia masuk tim, mungkin kalian bisa maen lebih bagus dari ini. Kenapa sih dia tiba-tiba ngundurin diri?” Rei menanyakan soal Stella, seolah-olah nggak melihat raut wajah Vira yang udah kayak benang kusut.
“Rei... Aku pengin ngomong sesuatu ama kamu. Penting. Tapi nggak sekarang. Sekarang aku capek dan kita harus cepet-cepet balik ke hotel. Jadi sori ya... sekarang aku nggak bisa ngobrol banyak,” sahut Vira.
“Mo ngomong apa?” tanya Rei.
“Ntar aja, ntar aku hubungi kamu,” jawab Vira.
Lalu Vira langsung berjalan melewati Rei, masuk ke bus. Rei cuman bisa bengong melihat sikap Vira. Tapi cuman sebentar...
Saat menunggu bus berangkat, Vira yang duduk di dalam bus sempat melihat melalui jendela. Rei sedang ngobrol dengan seseorang di luar bus dengan akrab.
Cowok itu bahkan sempat memberi selamat pada orang itu dan menepuk-nepuk pipinya.
Dugaan Vira mengenai Rei kini semakin kuat.
TIGA BELAS
SETELAH dirawat beberapa hari di rumah sakit, kondisi mama Stella udah agak mendingan. Sekarang beliau udah bisa makan sendiri sambil duduk di tempat tidur. Luka-luka di sekujur tubuhnya juga udah mulai mengering. Karena kondisi mamanya membaik, Stella yang udah tiga hari membolos pun mulai masuk sekolah lagi.
Siang ini, sepulang sekolah Stella langsung pergi ke rumah sakit. Kali ini dia bareng Lisa. Begitu membuka pintu kamar rawat, Stella kaget sekali melihat siapa yang ditemuinya di dalam kamar mamanya.
Dia lagi!
Vira lagi duduk di samping tempat tidur mama Stella, mengupas jeruk yang dibawanya, untuk kemudian diberikannya pada mama Stella.
“Hai, Stel...,” sapa Vira ramah begitu tahu siapa yang datang. Vira kemudian melihat Lisa yang berada di belakang Stella.
“Hai, Lis... lama nggak ketemu. Tumben lo potong rambut,” sapa Vira pada Lisa. Vira berkomentar demikian karena saat dia masih sekolah di Altavia, Lisa selalu membiarkan rambutnya panjang. Kalo dipotong paling sampai sebatas bahu lewat dikit. Tapi sekarang, Lisa memotong rambutnya pendek, sampai di atas kerah seragam sekolahnya.
Lisa nggak menjawab sapaan Vira, tetap “ngumpet” di belakang Stella. Kayaknya dia masih takut ketemu Vira. Untung Vira nggak ambil pusing dengan sikap Lisa itu.
“Ngapain lagi lo ke sini?” tanya Stella jutek.
“Stella!” Mama Stella memperingatkan anaknya untuk menjaga sikap.
“Engg... maksud Stella, Vira kan sekarang lagi pertandingan dan harusnya nginep di hotel bareng timnya. Kok bisa ada di sini?” Stella pura-pura memberi alasan.
“Hari ini nggak ada pertandingan, jadi gue bisa keluar sebentar,” jawab Vira.
Stella terdiam mendengar ucapan Vira. Di depan mamanya, Stella emang nggak bisa bertindak dan ngomong seenak hatinya. Mamanya sangat sayang pada Vira dan menganggap Vira seperti anaknya sendiri. Andai tahu kelakuan anaknya terhadap Vira saat peristiwa keluarnya Vira dari SMA Altavia, mama Stella pasti nggak akan membiarkan anaknya bertindak sewenang-wenang terhadap Vira. Dia pasti akan membela Vira.
“Kamu udah makan?” tanya mama Stella pada anaknya.
Stella menggeleng. Dari sekolah dia emang langsung ke rumah sakit, belum sempet makan.
“Kalo belum, nih tadi kebetulan Vira bawa nasi dan gurame asam pedas. Sebetulnya buat Mom, tapi Mom barusan makan jatah dari rumah sakit. Jadi buat kamu aja deh, daripada nanti nggak enak kalo dingin. Lisa kalo mau, makan aja, soalnya kayaknya porsinya lumayan banyak. Nggak papa kan, Vir?” kata mama Stella.
“Nggak papa kok, Tante,” sahut Vira sambil melirik Stella.
Stella menggeleng.
“Nggak usah, Mom. Stella belum laper kok,” Stella berusaha menolak secara halus.
Dalam hati, Vira tertawa geli melihat Stella yang jadi salah tingkah di depan mamanya.
* * *
“Gue nggak suka lo sering-sering nemuin nyokap gue,” kata Stella saat berjalan bareng Vira menyusuri koridor rumah sakit. Pada mamanya, Stella beralasan akan mengantar Vira yang akan pulang. Sedang Lisa tetap di kamar.
“Kenapa?”
“Pokoknya gue nggak suka aja! Lo mo cari muka di hadapan nyokap gue!?”
Vira terdiam sebentar mendengar ucapan Stella.
“Terserah lo mo nganggap gue cari muka ke nyokap lo atau apa pun. Yang jelas, gue sering nengokin nyokap lo karena gue care ama dia. Kalo ada orang yang baik ama gue, gue juga akan baik ke dia. Juga sebaliknya.”
Ucapan Vira itu serasa menyindir Stella.
“Ingat... apa yang gue lakuin terhadap lo itu akibat ulah lo juga. Gue nggak akan pernah lupa perbuatan lo ke Hera,” kata Stella nggak mau kalah.
“Kenapa lo selalu aja ngungkit soal itu? Gue kan udah pernah bilang saat itu gue emang salah, dan gue udah ngakuin kesalahan gue.”
“Lo kira ngakuin kesalahan aja udah cukup? Apa yang lo lakuin udah ngubah hidup seseorang! Ngubah hidup Hera. Dia sampai pindah sekolah. Lo udah ngancurin hidup dia!”
Mendengar ucapan Stella, Vira menghentikan langkahnya dan menatap Stella.
“Apa lo yakin hidup Hera jadi ancur gara-gara gue?” kata Vira.
“Maksud lo!? Jelas aja lo udah ngancurin hidup dia. Lo udah bikin dia keluar dari Altavia!”
“Jadi lo pikir kalo Hera nggak sekolah di Altavia, hidupnya akan hancur? Apa lo udah pernah ketemu dia setelah kejadian itu?”
“Ketemu? Hera jadi stres, frustrasi, dan dia nggak mau lagi ketemu atau ngobrol dengan gue, dengan Lisa, dan semua anak Altavia. Hera jadi hilang dari kehidupan gue, padahal dia orang pertama yang jadi temen gue saat gue baru masuk Altavia. Dia yang bikin gue mencintai basket, dari sekadar hobi, lalu menjadi bagian hidup gue. Gue tau Hera sangat betah dan senang sekolah di Altavia. Dia punya impian di sana. Dan lo udah ngancurin impian dia.”
Udah gue duga! batin Vira. Dia ingat ucapan Hera saat ketemu dulu.
“Gue nggak tau apa harus benci atau malah harus berterima kasih ama lo. Setelah pindah dari Altavia, gue malah mendapat berbagai pengalaman menarik yang membuat gue merasa menjadi diri gue yang sebenarnya. Dan terus terang, semua itu nggak akan gue dapetin, kalo gue masih ada di Altavia.”
Vira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Stella. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun, dia melanjutkan langkahnya, tapi bahunya dicekal Stella.
“Lepasin...!” kata Vira.
“Jangan ganggu lagi kehidupan gue, atau keluarga gue. Gue nggak mau liat wajah lo lagi, apalagi deket-deket nyokap gue, atau...”
“Atau apa?”
Stella mendengus kesal dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vira.
“Gue bisa berbuat lebih dari yang gue udah lakuin di Altavia!” tandas Stella.
Vira melepaskan cekalan tangan Stella.
“Lo jangan kuatir... gue nggak akan jenguk nyokap lo lagi. Lagi pula nyokap lo udah baekan, jadi gue nggak kuatir lagi dengan kondisinya...,” jawab Vira, lalu pergi meninggalkan Stella. Baru beberapa langkah, Vira berhenti lagi dan kembali menoleh ke arah rivalnya itu.
“Oya, soal Hera. Kalo lo bener-bener sahabat dia, harusnya lo cari tau soal dia dan gimana keadaannya sekarang. Jangan lo berkoar-koar soal kondisi dia setelah keluar dari Altavia berdasarkan kesimpulan lo sendiri!” ujar Vira.
“Maksud lo?”
Vira nggak menjawab pertanyaan itu. Dia kembali melangkah, meninggalkan Stella yang kebingungan dengan ucapannya.
* * *
HP Pak Isman berbunyi. Pak Isman yang akan kembali ke kamarnya mengambil HP dari pinggangnya.
“Halo...”
“Maaf mengganggu, Pak Isman. Sekarang kami tunggu kehadiran Bapak di kamar 521.”
“Ke... ada apa?”
“Ada perubahan strategi untuk pertandingan besok.”
EMPAT BELAS
LAWAN kedua bagi Tim Jawa Barat adalah Tim Banten. Dibanding Tim Lampung, Tim Banten punya pemain dengan kemampuan teknik lebih baik. Ada dua pemain mereka yang merupakan anggota Tim Nasional. Skill anggota tim lainnya juga cukup baik, bahkan boleh dibilang di atas rata-rata Tim Jawa Barat. Terbukti di pertandingan sebelumnya mereka membantai Tim Lampung dengan angka lebih telak, 85-26.
“Mereka rata-rata berpostur tinggi. Fast break-nya sangat cepat. Jangan melakukan tembakan tiga angka. Untuk itu kalian harus banyak memberikan bola pada Sita jika dia dalam keadaan bebas,” Pak Isman memberikan instruksi. Dia menyaksikan pertandingan antara Tim Banten dan Tim Lampung dua hari lalu.
Untuk pertandingan kali ini Sita diturunkan sebagai starter, menggantikan posisi Poppy sebagai shooting guard. Susunan starter lainnya tetap sama seperti saat menghadapi Lampung.
Tim Jawa Barat sebetulnya mempunyai keuntungan karena punya waktu istirahat lebih lama daripada Tim Banten yang baru aja bertanding dua hari yang lalu. Tapi ini juga bisa merupakan kerugian, karena dengan waktu istirahat yang lama, penampilan sebuah tim bisa menurun, apalagi kalo tim itu sedang bagus-bagusnya. Semoga hal ini nggak terjadi pada mereka.
* * *
Stella yang sedang menyetir tiba-tiba membelokkan mobilnya di sebuah persimpangan.
“Lho? Kok belok? Rumah Gita kan lurus...,” tanya Lisa yang duduk di samping Stella.
Sebagai jawaban, Stella memberikan HP-nya pada Lisa.
“Lo telepon Gita, bilang gue ada urusan sebentar, jadi mungkin agak sorean ke sana.”
“Emang kita mo ke mana sih?”
“Udah... bawel aja lo! Sana gih kalo lo mo ke rumah Gita duluan. Gue turunin lo di jalan.”
Lisa mengkeret mendengar ancaman Stella.
“Kita akan ke rumah temen lama...,” ujar Stella akhirnya.
* * *
Dugaan bahwa stamina Tim Banten bakal terkuras karena waktu istirahat yang lebih sebentar ternyata nggak terbukti. Sejak quarter pertama dimulai, Tim Banten terus mengambil inisiatif serangan dan mengajak bermain cepat. Mereka seolah punya tenaga ekstra. Diimbangi dengan teknik dan strategi permainan yang lebih matang daripada Tim Jawa Barat, nggak heran kalo dalam lima menit pertama Tim Banten udah unggul 8-2. Satu-satunya angka bagi Tim Jawa Barat dibuat oleh Vira yang berhasil menembus masuk pertahanan Tim Banten, setelah sebelumnya beberapa kali serangan mereka dapat dipatahkan oleh guard-guard Tim Banten yang bertubuh tinggi besar.
“Kita nggak bisa maen kayak gini terus!” kata Vira pada Stephanie yang ada di dekatnya, saat Tim Banten baru aja mencetak angka ke-12.
“Maksud lo?”
Vira nggak sempat menjawab pertanyaan Stephanie, karena saat itu seorang pemain lawan menghadang dirinya yang membawa bola. Vira melakukan pivot
(memutar badan sambil mendribel dengan satu kaki sebagai poros putaran) untuk memancing lawan mengikuti gerakannya. Tapi lawannya yang merupakan pemain nasional yang udah senior nggak terpancing gerakan Vira. Dia tetap menunggu di belakang Vira.
Shit! rutuk Vira dalam hati. Dia mencoba mencari temannya melalui ekor matanya. Ada Rida, Alexa, dan...
“Sita...”
Operan Vira ke arah Sita yang tiba-tiba membuat lawannya kaget. Sita yang sebetulnya berada agak jauh dari Vira pun demikian. Tapi akhirnya dia sukses menangkap operan Vira, dan mencoba masuk ke daerah pertahanan lawan. Tapi gerakan Sita nggak jauh karena keburu dihadang.
“Shoot!” seru Pak Isman dari pinggir lapangan.
“Pass... pass!” seru Vira tiba-tiba. Vira yakin Sita nggak akan berhasil kalo memaksakan diri menembak. Dia tahu siapa yang menghadang Sita sekarang. Pemain nasional yang punya lompatan tinggi. Vira pernah melihatnya di TV saat membela Tim Nasional di ajang SEA Games dan dia masih ingat penampilannya saat itu. Vira heran, kok Pak Isman nggak tahu soal ini?
“Tembak... posisi kamu bagus!” seru Pak Isman lagi.
“Jangan tembak! Oper lagi!”
Sita mendengar seruan Vira, tapi dia juga berada dalam posisi yang bagus untuk menembak. Karena itu Sita memilih mendengarkan seruan Pak Isman. Dia menembak.
* * *
Rumah mewah itu dari luar terlihat sepi. Pagarnya tertutup rapat.
“Rumah Hera? Apa Hera ada di sini?” tanya Lisa.
“Gue nggak tau.”
“Trus, kenapa lo ke sini?”
Stella nggak menjawab pertanyaan Lisa. Dia mencari bel pintu yang agak tersembunyi di balik pintu.
Masih di situ! batin Stella. Dia menekan bel.
* * *
Ribuan penonton di C‟tra Arena hampir serentak mengeluarkan seruan kecewa saat tembakan tiga angka Sita dapat diblok oleh lawannya, dan bola keluar lapangan.
Vira cuman geleng-geleng kepala. Dia udah memperingatkan tadi.
“Dari mana kamu tahu tembakan Sita bakal diblok?” tanya Rida.
“Aku udah pernah liat lawannya. Dia kan pemain nasional...”
Rida cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Vira.
* * *
Seorang bapak gendut berusia setengah baya keluar dari pintu pagar. Stella baru kali ini melihat pria itu.
“Cari siapa?” tanyanya.
“Hera ada?” tanya Stella.
“Hera?” Bapak itu mengernyitkan keningnya. “Nggak ada yang namanya Hera di sini.”
“Nggak ada? Tapi ini kan rumahnya...”
“Siapa, Pa!?” terdengar seruan dari dalam halaman rumah.
“Ini, Ma... ada yang cari yang namanya Hera. Mama kenal?” jawab si bapak.
“Hera?”
Nggak lama kemudian, seorang wanita yang usianya nggak terpaut jauh dengan si bapak keluar.
“Adik-adik mencari Hera?” tanya wanita itu.
Stella dan Lisa mengangguk.
“Mama kenal?” si bapak mengulangi pertanyaannya.
“Itu lho, Pak... anaknya Bu Irfan yang katanya lagi sekolah di Singapura. Kan Bu Irfan pernah cerita.”
“Ooo...” Si bapak cuman manggut-manggut.
“Maaf ya, Dik... Yang namanya Hera sudah tidak tinggal di sini lagi. Rumah ini udah dijual ke kami sekitar delapan bulan yang lalu,” wanita itu menjelaskan pada Stella.
“Dijual? Trus mereka pindah ke mana?” tanya Stella.
“Wah... alamat jelasnya Ibu tidak tahu. Ibu cuma tahu bekas pemilik rumah ini pindah ke Jakarta. Kalo tidak salah sih di daerah Mampang atau di mana gitu...”
Mendengar penjelasan si Ibu, Stella menjadi sedikit lemas. Harapannya mendadak hilang.
* * *
Quarter pertama berakhir. Saat ini kedudukan 21-9 masih untuk keunggulan Tim Banten.
“Kalian kurang konsentrasi... Vira, kamu jangan terlalu maju ke depan, juga Rida. Yang lain juga, fokus pada pertahanan...,” Pak Isman memberi instruksi.
“Kita nggak bakal bisa menang kalo begini terus,” potong Vira tiba-tiba.
“Vir...,” Stephanie memperingatkan Vira supaya diam.
“Apa maksud kamu?” tanya Pak Isman.
“Saya tidak tahu tujuan Bapak menerapkan strategi bertahan. Tapi dengan strategi seperti ini, kita nggak bakal menang. Tim Banten emang lebih senior dan punya teknik yang bagus, tapi bukan berarti kita diam aja menunggu mereka menyerang, kemudian mengandalkan serangan balik. Itu sama aja kita menyerahkan diri untuk dibantai,” kata Vira.
“Vira...,” bisik Stephanie lagi.
“Jadi kamu mo bilang strategi Bapak salah? Bapak tidak becus memasang strategi untuk kalian?” balas Pak Isman dengan nada suara mulai meninggi. Dia kelihatan nggak senang dengan ucapan Vira.
“Saya nggak bilang begitu. Strategi yang Bapak terapkan saat melawan Lampung kemaren itu tepat, sehingga kita bisa menang. Tapi untuk pertandingan ini, menurut saya strategi bertahan itu keliru. Kita justru harus tampil menyerang untuk punya peluang menang.”
“Kamu tau apa? Kamu mau kita melayani mereka secara terbuka? Dengan keunggulan teknik dan pengalaman mereka, apa kalian mampu?”
“Mereka boleh dibilang lebih unggul teknik dan pengalaman, tapi bukan berarti nggak bisa dikalahkan, dengan strategi yang tepat. Dan menurut saya, menyerang adalah strategi terbaik saat ini. Apalagi kita udah ketinggalan lumayan jauh. Bertahan malah akan membuat mereka terus menambah angka.”
Dalam hati, semua membenarkan perkataan Vira. Walau begitu nggak ada yang berani bersuara.
“Saya kira Vira benar...,” kata Stephanie akhirnya.
“Saya pikir juga begitu...,” sambung Alexa.
“Cukup!” kata Pak Isman dengan suara agak keras. “Bapak pelatih kalian! Dan Bapak tahu apa yang terbaik untuk tim ini! Tugas kalian hanya bermain dan menuruti instruksi Bapak! Siapa yang tidak mau menuruti instruksi Bapak, silakan keluar dari tim ini! Terutama kamu, Vira! Kalo kamu tidak setuju dengan strategi yang Bapak terapkan, Bapak tidak memaksa!”
Ucapan Pak Isman yang agak keras membuat para pemain terdiam, termasuk Vira.
“Ucapan Bapak sudah jelas!?”
Terdengar suara mengiyakan ucapan Pak Isman. Vira hanya bisa mengangguk nggak rela.
“Baik... sekarang ini strategi untuk quarter kedua.”
LIMA BELAS
“GUE nggak rela kalah dengan cara begini...,” sungut Vira saat berjalan memasuki lapangan untuk memulai pertandingan quarter kedua.
“Lo jangan mulai macem-macem, Vir... Lo mo dikeluarin dari tim?” Stephanie mengingatkan.
“Gue nggak bakal mulai macem-macem kalo gue nggak yakin tindakan gue bener. Strategi Pak Isman itu salah. Lo juga ngerasa begitu, kan?” tukas Vira sambil melirik ke arah Pak Isman yang lagi ngobrol dengan Pak Dibyo.
“Iya sih, tapi...”
“Kalo kita kalah dan gagal ke putaran final, pasti semua bilang, wajar karena kita masih tim junior. Padahal walaupun kita dianggap tim junior, kita bisa ngalahin Tim Banten, asal kita punya strategi yang tepat. Skill mereka nggak beda jauh dengan kita...”
“Trus, lo mo ngapain?”
Vira membisikkan sesuatu di telinga Stephanie.
“Lo gila! Emang bisa?”
“Potong leher gue kalo sampe akhir quarter ini kita nggak bisa menang atau minimal ngedeketin poin mereka,” jawab Vira dengan nada yakin.
“Yakin?”
“Yakin. Lo kasih tau Hanna, gue kasih tau Rida dan Sita. Tapi jangan sampe ketauan Pak Isman atau Pak Dibyo.” Vira setengah berlari menghampiri Rida dan setengah berbisik ke cewek itu.
“Yang bener?” tanya Rida nggak percaya.
“Yup. Steph udah setuju. Kamu ingat kan saat kita melawan SMA 2?”
Rida mengangguk.
“Pak Isman setuju?” tanyanya.
“Kalo kita menang dengan cara ini, dia pasti nggak bakal marah,” jawab Vira sambil mengedipkan mata. Lalu dia beralih ke Sita.
“Apa yang dilakukan Vira?” tanya Pak Dibyo yang melihat Vira sibuk mondar-mandir di lapangan.
Pak Isman nggak menjawab pertanyaan asisten pelatihnya itu. Dia cuman terus menatap Vira.
Awas kalau dia berani macam-macam! batin Pak Isman. Keringat dingin mulai terlihat di wajahnya.
* * *
Vira mulai melaksanakan rencananya. Saat pertandingan quarter kedua dimulai, dia mengambil alih posisi Hanna sebagai power forward. Posisinya sebagai point guard diambil alih Hanna. Dengan posisi demikian, Tim Jawa Barat berubah menjadi tim yang lebih ofensif karena tiga pencentak angka terbanyaknya berada di depan. Vira, Stephanie, dan Rida.
Apa-apaan ini? tanya Pak Isman dalam hati.
Perubahan strategi “dadakan” yang dibuat Vira membawa hasil. Tim Bantel sebetulnya emang udah mengira di quarter kedua ini Tim Jawa Barat bakal tampil lebih ofensif daripada quarter pertama. Tapi mereka nggak mengira Tim Jawa Barat bakal mengubah formasi pemainnya. Vira sekarang berada di depan, menjadi otak serangan Tim Jawa Barat.
“Apa-apaan ini!? Mereka bermain tidak sesuai instruksi kita!” kata Pak Dibyo.
Permainan di lapangan emang terlihat kacau. Tim Jawa Barat seolah tidak memiliki strategi yang jelas. Mereka seakan cuman berlari mengejar bola ke mana pun. Tapi sebetulnya ini malah merepotkan Tim Banten. Mereka jadi nggak bisa bebas melakukan serangan karena terus ditempel putri-putri Jawa Barat tersebut. Nggak jarang para pemain Tim Banten harus mengalami shot clock violation (kehabisan waktu untuk menembak) karena ketatnya penjagaan Tim Jawa Barat. Di sisi lain, permainan cepat yang diterapkan Tim Jawa Barat lama-lama membuat stamina para pemain Banten yang rata-rata udah berumur menjadi sedikit kedodoran. Di sini baru terlihat, waktu istirahat berpengaruh saat permainan. Nggak heran kalo Tim Jawa Barat dapat menghasilkan angka sedikit demi sedikit dan mulai memperpendek ketinggalannya. Vira dan Stephanie menjadi bintang dengan bergantian mencetak angka.
Sita berhasil mencuri bola dari salah satu pemain Banten. Dia langsung mengoper pada Rida dan melakukan fast break ke daerah pertahanan Tim Banten. Dihadang oleh salah seorang pemain lawan, Rida mengoper bola pada Stephanie yang ada di sampingnya. Tanpa buang waktu Stephanie langsung melakukan jump shoot dari three point shot area sebelum bisa dihalangi lawannya.
Gagal! Bola hanya mengenai pinggir ring dan memantul kembali ke lapangan. Saat itu Vira yang berada di bawah ring langsung me-rebound bola dan memasukkannya kembali ke ring dengan dibayang-bayangi seorang pemain lawan.
Angka mendekat menjadi 23-17. Walau masih setengah dari angka tim lawan, perainan Tim Jawa Barat menimbulkan secercah harapan. Penonton yang sebagian besar merupakan suporter Tim Jawa Barat yang tadinya lesu karena timnya ketinggalan di quarter pertama jadi bersemangat lagi. C‟tra Arena pun jadi kembali bergemuruh oleh sorak sorai yang mendukung Vira cs.
Setelah mencetak angka, Tim Jawa Barat nggak langsung mundur ke daerahnya, tapi menunggu lawan di garis tengah. Saat lawan membangun serangan, mereka langsung mendekat.
Operan panjang dari guard Tim Banten langsung ke depan. Rida coba memotongnya, tapi tangannya kurang panjang. Telapak tangannya cuman sempat menyentuh bola, hingga bola berbelok arah dan menuju Hanna. Perebutan bola
terjadi antara Hanna dan salah seorang pemain Tim Banten. Hanna memenangi perebutan bola dan langsung mendribelnya. Si pemain lawan yang nggak rela bolanya lepas berusaha menghalangi Hanna dengan menyenggolnya. Tapi terlalu keras hingga Hanna tersungkur.
Foul!
Hanna sendiri berhasil mengeksekusi dua kali tembakan bebas, hingga kedudukan sekarang menjadi 23-19.
Empat angka lagi! kata Vira dalam hati sambil melihat ke papan skor.
Tim Banten meminta time out. Vira menatap ke arah Stephanie. Dia tahu, pasti Pak Isman bakal mencak-mencak karena strateginya dikacaukan oleh Vira. Bahkan ada kemungkinan Vira bakal diganti.
Dan benar, Pak Isman langsung meluapkan kekesalannya, terutama pada Vira.
“Mau kalian apa sih!? Kalian udah nggak menganggap Bapak sebagai pelatih kalian!? Terutama kamu, Vira! Kamu mau jadi pelatih di sini!? Silakan kalau begitu! Kalian bermain saja sesuka hati kalian!!” semprot Pak Isman. Tinggal Pak Dibyo sebagai asisten pelatih Pak Isman yang berusaha menenangkan atasannya itu.
Semua pemain tertunduk mendengar ucapan Pak Isman.
“Kalian ternyata sama saja! Sama-sama susah diatur!”
“Saya yang salah, Pak. Saya yang memaksa teman-teman untuk bermain menyerang,” Vira mencoba membela teman-temannya.
“Bapak tahu! Dan sebagai hukuman, kamu akan tetap di bangku cadangan sampai pertandingan ini selesai. Setelah itu baru nanti akan diputuskan apakah kamu masih bisa berada di dalam tim ini atau tidak.”
Walau udah menduga Pak Isman akan menjatuhkan hukuman pada Vira, nggak urung ucapan pelatih Tim Jawa Barat ini membuat kaget seluruh pemain. Vira sendiri udah pasrah dengan apa yang akan menimpa diirnya. Dia cuman menyesal, belum sempat menyamakan kedudukan sebelum time out.
“Pak, ini bukan kesalahan Vira, tapi kami semua udah sepakat untuk lebih menyerang. Bahkan saya yang mengusulkan agar Vira jadi forward, karena saya tahu dia juga bagus dalam menerobos ke bawah ring...,” Stephanie berusaha membela Vira.
“Kamu coba membela Vira?”
“Bukan, Pak, tapi...”
“Udahlah, Steph...,” Vira menengahi Stephanie. “Ini semua salah gue, lo nggak usah membela gue. Gue udah puas kok karena apa yang gue rencanain berhasil dengan baik walau gue menyesal kita belum bisa nyamain kedudukan.”
* * *
Pertandingan quarter kedua kembali dilanjutkan. Seperti udah diduga, posisi Vira diganti oleh Alexa, sementara Hanna diganti oleh Poppy. Stephanie juga ternyata ikut diganti oleh Agnes.
Digantinya Vira tentu aja menimbulkan pertanyaan di kalangan penonton. Banyak yang menyayangkan Vira diganti, padahal dialah motor serangan Tim Jawa Barat yang lagi on fire.
“Kok Vira diganti sih? Stephanie juga,” tanya Amel. Nggak tahu dia bertanya pada siapa.
“Suatu saat kalian akan mengerti untuk apa Bapak lakukan semua ini, “kata Pak Isman di depan bangku cadangan. Suaranya udah nggak sekeras tadi.
Semua pemain cuman diam, nggak menanggapi ucapan Pak Isman.
* * *
“Thanks udah belain gue tadi,” ujar Vira pada Stephanie.
“Nggak masalah. Gue rasa lo bener. Pak Isman agak aneh hari ini. Nggak biasanya kan dia marah-marah begitu...,” jawab Stephanie.
“Tapi gara-gara gue, lo jadi ikut susah, ikut diganti. Hanna juga. Padahal tadi kan Pak Isman bilang cuman gue yang diganti.”
“Udah... nggak usah dipikirin. Kita liat aja ntar apa yang terjadi. Siapa tau ada keajaiban, dan kita bisa menang.”
* * *
Tapi keajaiban yang diharapkan ternyata nggak kunjung terjadi. Kembalinya Tim Jawa Barat ke strategi bertahan dan digantinya beberapa pemain inti mereka membuat Tim Banten kembali menguasai permainan. Tim Jawa Barat pun kembali tertekan, dan perbedaan angka kembali membesar. Dari kedudukan 23-19, Tim Banten terus menambah angka hingga 29-19, sebelum Rida membuat dua angka dari rebound hasil pantulan tembakan tiga angka dari Sita.
“Stephanie! Kamu masuk...,” perintah Pak Isman.
Tapi walau Stephanie kembali masuk ke lapangan, disusul oleh Hanna. Tim Jawa Barat tetap nggak terbantu. Strategi bertahan tim membuat mereka selalu tertinggal dalam pengumpulan angka. Para penonton pun mulai gemas. Saat quarter ketiga dimulai, teriakan-teriakan bernada nggak puas mulai terdengar. Banyak yang meminta supaya Vira dimasukkan lagi dan Tim Jawa Barat kembali bermain menyerang.
“Kenapa sih Vira nggak masuk lagi? Apa dia cedera?” tanya Rei yang nonton bersama anak-anak basket SMA 31.
“Jangan-jangan cederanya kambuh lagi, Rei...,” sahut Rendy.
Tapi sampai pertandingan berakhir, Vira nggak masuk lagi ke lapangan. Tim Banten pun memenangi pertandingan dengan skor 63-47 dan berhak lolos ke babak final di Jakarta.
“Yah... ambil aja sisi baiknya. Paling nggak lo bisa jalan-jalan lagi sepulang sekolah, dan gue nggak perlu nitip absen kalo ada kuliah sore...,” celetuk Stephanie pada Vira seperti menghibur dirinya sendiri.
ENAM BELAS
DUA hari kemudian, Vira udah kembali ke rumahnya. Dia mulai bisa melupakan kekalahan Tim Jawa Barat. Dia udah mulai bersikap biasa lagi. Dia udah mulai konsentrasi ke pelajaran, udah mulai konsen lagi maen game NBA LIVE di PS3-nya, juga udah mulai kembali ketiduran di kelas kalo lagi ngantuk berat.
Pagi ini, Vira udah siap berangkat ke sekolah.
“Hai, Vir... nih udah aku bikinin roti...,” sapa Niken yang lagi asyik makan roti sambil membaca surat kabar. Niken emang udah balik lagi ke rumah Vira. Dia juga udah bersikap biasa lagi, nggak sedih atau bete kayak dulu.
“Thanks... tumben kamu yang bikin. Bibi mana?”
“Ada di belakang. Tadi aku mo bikin roti sendiri, ya sekalian aja aku bikinin kamu...”
“Ooo... gitu...”
Vira emang cuman kembali tinggal berdua bareng Niken. Sita udah balik ke Tasik kemaren. Pasca-pertandingan, secara nggak resmi Tim Jawa Barat emang bisa dibilang udah bubar walau belum ada pengumuman resmi dari Pak Isman atau pihak PERBASI Jawa Barat. Soalnya emang udah nggak ada kegiatan lagi. Mereka udah gagal lolos ke babak final bulan depan, jadi nggak perlu lagi ada pemusatan latihan.
“Aku mo ikut bimbel, mulainya ntar sore,” kata Niken.
“Oya? Bagus dong? Ntar aku bayarin deh... Bimbel mana?” tanya Vira.
“Makasih, tapi nggak usah. Ini bimbel punya tante teman SMP-ku. Bukan bimbel gede sih... tapi lumayan lah. Tante temanku itu nawarin aku buat bimbel di sana. Nggak bayar, tapi sebagai gantinya aku bantu-bantu di sana sebelum dan sesudah bimbel...”
“Bantu-bantu? Kamu nggak disuruh ngepel di sana, kan?”
“Ya nggak lah... Aku cuman bantuin soal administrasi, paling bantuin ngetik, masukin data di komputer, atau yang sejenisnya. Soalnya mereka kekurangan tenaga administrasi karena ada pegawainya yang cuti hamil, jadi aku diminta bantuin sementara. Sebagai imbalannya aku boleh ikut salah satu kelas bimbel yang sore tanpa bayar. Itu juga bantuinnya nggak full time kok. Paling aku bantuin satu jam sebelum les, dan sehabis les sebentar. Sebelum magrib juga udah pulang.”
“Ya udah deh kalo itu mau kamu.”
* * *
“Vira!”
Setengah berlari, Rendy menghampiri Vira.
“Ada apa, Ren?” tanya Vira.
“Kamu tau nggak di mana Rei?”
“Rei?” Vira mengernyitkan keningnya. “Kok tanya ke aku? Kan dia satu kelas ama kamu?”
“Dia nggak masuk hari ini.”
“Nggak masuk? Kenapa?”
“Lha... nggak tau. Telepon ke rumahnya sih kata ibunya dari kemaren dia pergi ke Tasik. Tapi sampe sekarang belum balik.”
Rei pergi ke Tasik? Kemaren? Vira tambah heran.
“Kenapa kamu nggak coba nelepon ke HP-nya?” tanya Vira lagi.
“Nggak aktif mulu. Mampus deh...” Rendy tiba-tiba menepuk keningnya.
“Emang ada apa?”
“Rei tuh minjem buku fisika-ku dan nanti abis istirahat bakal ada latihan soal. Aku nggak tau dia mo nggak masuk hari ini.”
“Lho... kenapa baru ribut sekarang? Kalopun buku fisika kamu dibalikin ama Rei hari ini, emang kamu bisa belajar dalam waktu singkat?” tanya Vira.
“Ya nggak... tapi kan masih sempet bikin sontekan dari situ.”
“Dasar...”
* * *
Pulang sekolah, Vira pergi ke sekretariat PERBASI Jawa Barat di GOR Padjajaran. Tadi di sekolah dia di-SMS Pak Isman, menyuruhnya datang. Katanya untuk membicarakan soal kasus Vira saat pertandingan melawan Tim Banten. Vira sendiri sebetulnya udah malas ketemu Pak Isman, apalagi membahas kasusnya. Tapi akhirnya dia datang juga, karena Pak Isman bilang ini sangat penting.
Sekretariat PERBASI Jawa Barat kelihatan sepi. Nggak ada satu orang pun yang kelihatan. Vira sendiri nggak heran dengan suasana seperti ini, karena para pengurus PERBASI, seperti juga organisasi olahraga lainnya di Indonesia, biasanya punya pekerjaan lain yang tetap dan dianggap lebih penting. Jadi, mengurus organisasi olahraga cuman dianggap sebagai hobi atau kerja sampingan. Nggak heran kalo prestasi olahraga di Indonesia nggak berkembang seperti negara lain, karena pengurusnya aja jarang ada yang serius.
“Kamu Vira, kan?”
Suara cewek di belakangnya membuat Vira menoleh. Seorang cewek yang lebih tinggi darinya dan berambut pendek seperti cowok berdiri di hadapannya.
Vira mengenali cewek itu sebagai Lusy Chyndana Dewi. Di belakang Lusi berdiri dua cewek lain yang tingginya kira-kira hampir sama.
“Selamat ya... berkat kalian, untuk pertama kalinya Tim Putri Jawa Barat nggak lolos ke final Kejurnas. Kalian emang hebat...,” sindir Lusi sambil memandang sinis ke arah Vira.
Vira nggak membalas sindiran Lusi. Dia lagi nggak mood buat cari ribut. Dan lagian, ngapain Lusi dan yang lainnya di sini? Mereka kan udah nggak masuk tim daerah lagi?
“Harusnya kalian sadar... Kejurnas itu bukan level kalian. Kalian tuh masih junior, masih harus banyak belajar sebelum turun di Kejurnas,” lanjut Lusi sambil menunjuk pada Vira.
“Vira!”
Untung suara Pak Isman bisa meredam hati Vira yang mulai panas. Pak Isman menghampiri Vira.
“Kalian masih di sini?” tanya Pak Isman pada Lusi dan kawan-kawannya.
Lusi nggak menjawab pertanyaan itu, melainkan langsung melengos dan pergi bersama teman-temannya.
“Pak, mereka...”
“Sudah... jangan pedulikan mereka...,” potong Pak Isman. “Ayo kita jalan-jalan,” lanjutnya sambil memberi tanda supaya Vira mengikutinya.
* * *
Vira dan Pak Isman memasuki lapangan basket di dalam GOR Padjajaran. Seperti di Sekretariat PERBASI, suasana di dalam GOR juga terlihat sepi, karena emang nggak ada yang bertanding atau latihan di situ. Cuman terlihat tiga petugas kebersihan sedang menyapu lantai GOR.
“Lihat ring basket itu?” tanya Pak Isman sambil berjalan menyusuri pinggir lapangan. “Berapa tingginya?”
Vira heran mendengar pertanyaan Pak Isman. Kok malah nanyain tinggi ring basket ke dia?
“Berapa, Vira?” tanya Pak Isman mengulangi pertanyaannya.
“Ehmm... sekitar tiga meter, atau tepatnya tiga meter lebih lima sentimeter,” jawab Vira. Jelas aja dia tahu. Masa pemain basket nggak tahu tinggi ring basket?
“Betul... dan tahukah kamu ada berapa cara untuk memasukkan bola ke ring itu?” tanya Pak Isman lagi, kembali membuat Vira heran.
“Nggg... bisa dengan cara menembak biasa, tembakan tiga angka, tembakan bebas, lay-up, nggg...”
“Kesimpulannya, ada berbagai macam cara untuk memasukkan bola ke dalam ring, kan?”
Vira mengangguk. Dia mulai menerka-nerka ke mana arah pembicaraan Pak Isman.
“Seperti juga ada berbagai macam cara untuk mencapai tujuan kita, tidak harus dengan cara yang sama. Kalau ada cara yang lebih baik, kenapa tidak?” kata Pak Isman lagi.
“Maksud Bapak?”
Sebagai jawaban, Pak Isman menyodorkan selembar kertas yang digulung pada Vira.
“Tadi pagi Komisi Disiplin PB PERBASI pusat mengadakan rapat di Jakarta, dan selesai siang tadi. Hasilnya langsung difaks kemari,” Pak Isman menjelaskan.
“Rapat apa, Pak?”
“Kamu baca sendiri aja. Berita ini bakal ada di surat kabar besok. Makanya Bapak segera undang kamu ke sini. Bapak ingin memberitahukan langsung kepada kamu.”
Vira membaca salinan faks yang diberikan Pak Isman. Raut wajahnya langsung berubah.
“Yang bener, Pak?” tanya Vira.
Pak Isman mengangguk mengiyakan.
* * *
Stella lagi asyik memilih gaun di sebuah butik di mal Parijs Van Java, saat merasa dirinya ditabrak oleh seseorang.
“Eh, maaf...,” kata orang yang menabrak Stella.
Stella memalingkan wajahnya, bermaksud akan “menyemprot” cewek yang menabraknya. Tapi raut wajahnya langsung berubah begitu melihat siapa yang menabraknya.
“Hera?”
* * *
“Jadi Tim Putri Banten didiskualifikasi dari Kejurnas karena memakai pemain yang nggak sah?” tanya Vira nggak percaya.
“Seperti yang kamu baca di situ...”
“Trus, yang menggantikan tempat mereka di babak final?”
“Tentu saja wakil dari grup yang sama, yang menjadi peringkat kedua di grup, dan itu berarti kalian.”
Vira nggak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Kita? Kita ke Jakarta?”
“Iya...”
Vira bersorak dalam hati. Dia udah membayangkan raut wajah yang lain, terutama Rida, saat tahu berita ini.
“Jadi kamu sekarang tahu kan, kenapa kemarin Bapak memerintahkan kalian untuk bermain bertahan dan tidak terlalu ngotot?” tanya Pak Isman.
“Maksud Bapak? Pak Isman udah tahu soal ini?”
“Kasus ini sebetulnya sudah bergulir sejak lama, cuma nggak sampai terekspos media. Tim Banten sebetulnya sudah diperingatkan supaya jangan memakai pemain yang sedang jadi rebutan dengan daerah lain, tapi mereka nggak menggubris peringatan itu dan tetap menurunkannya saat melawan Lampung. Jadi pihak kita sepakat dengan Tim Lampung untuk protes soal ini. Dan baru hari ini keputusannya keluar.”
“Tapi... kenapa Bapak yakin protes kita bakal diterima? Lagi pula, itu kan sebetulnya nggak sportif.”
“Sebetulnya Bapak juga tidak begitu yakin. Tapi pihak pengurus meyakinkan Bapak bahwa protes kita pasti diterima, jadi Bapak putuskan untuk ambil risiko dengan menginstruksikan kalian untuk bermain bertahan, walau dengan konsekuensi bakal kalah. Bapak tidak ingin kalian ada yang cedera, padahal hasil pertandingan sudah tidak menentukan lagi. Apa yang kamu tunjukkan di quarter
kedua kemarin sangat besar risikonya. Apalagi Bapak tahu cedera yang pernah menimpa kamu. Karena itu Bapak segera menarik kamu keluar.
“...dan soal sportivitas, mereka yang lebih dulu tidak sportif dengan memainkan pemain yang tidak sah. Kita hanya menegakkan peraturan yang ada.”
Mendengar ucapan Pak Isman, Vira jadi tertunduk malu. Dia malu karena udah menuduh Pak Isman yang nggak-nggak. Vira sekarang sadar, ternyata Pak Isman punya rencana lain untuk tim.
“Maafin saya, Pak. Saya waktu itu cuman...”
“Sudahlah... Bapak tahu kamu. Bapak juga pernah muda, jadi bisa memahami sikap kalian. Bapak juga minta maaf karena kemarin juga sempat emosi. Soalnya Bapak tidak mengira kamu bisa berani seperti itu.”
“Kenapa Bapak nggak bilang aja terus terang kemarin?”
“Nggak mungkin. Bpak aja waktu itu belum terlalu yakin. Jadi Bapak nggak ingin memberi harapan terlalu jauh pada kalian. Kalau ternyata perkiraan Bapak salah, tentu kalian akan lebih kecewa. Selain itu Bapak juga ingin lebih memantau permainan tim, apakah bisa diandalkan untuk babak final nanti. Ingat, lawan-lawan di babak final bakal lebih berat daripada kemarin. Dan sebetulnya Bapak sangat mengandalkan kamu, Stephanie dan Stella untuk menjadi inspirator bagi yang lain. Tapi sayang, Stella mengundurkan diri, jadi Bapak hanya tinggal berharap pada kamu dan Stephanie.”
Vira cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Isman.
TUJUH BELAS
SEPERTI perkiraan Vira, Rida hampir nggak percaya saat diberitahu soal ini lewat telepon.
“Yang bener, Vir?” tanya Rida.
“Bener. Besok pasti beritanya ada di koran.”
“Jadi kita yang akan ke babak final?” Rida masih nggak percaya.
“Iya... kita akan ke Jakarta bulan depan.”
“Kalo begitu, kapan kita mulai latihan lagi? Tetep tim yang lama, kan? Atau ada perubahan pemain?”
“Nanti dihubungi lagi satu-satu oleh Pak Isman. Soalnya harus nunggu mereka yang dari luar Bandung dan udah balik ke daerah masing-masing,” jawab Vira.
* * *
Vira dan anggota Tim Jawa Barat lain memang sangat menantikan pemanggilan mereka ke dalam pemusatan latihan. Tapi sampai hampir satu minggu setelah berita yang dibawa Pak Isman, belum ada yang menghubungi mereka. Padahal pertandingan babak final kurang dari sebulan lagi.
Sampai suatu saat, Stephanie menelepon Vira, membawa berita yang mengejutkan.
“Kita nggak bakal ikut Kejurnas,” kata Stephanie di seberang telepon.
“Nggak ikut gimana? Kita kan lolos ke babak final? Apa keputusannya berubah lagi?” tanya Vira.
“Tim Jawa Barat emang pasti lolos, tapi bukan kita yang akan menjadi anggota Tim Jawa Barat di babak final.”
“Bukan kita? Maksud lo apa? Kita kan udah berjuang di babak kualifikasi, jadi seharusnya kita dong yang ikut babak final.”
“Oya? Kalo gitu kenapa tadi sore gue liat Lusi dan anggota Tim Senior lainnya latihan di GOR Padjajaran? Dan lo tau siapa yang ngelatih mereka?”
“Siapa?”
“Pak Isman dan Pak Dibyo...”
* * *
Stephanie emang nggak bohong. Keesokan harinya Vira melihat dengan mata kepala sendiri Pak Isman dan Pak Dibyo melatih Tim Basket Putri Senior.
“Maaf, Vira. Tapi semua ini adalah keputusan pihak pengurus. Telah terjadi kata sepakat dengan Tim Senior. Bapak tidak punya wewenang untuk menentukan siapa yang akan bertanding,” kata Pak Isman saat Vira mendatanginya seusai latihan.
“Tapi Bapak kan pelatihnya. Bapak harusnya berhak menentukan, siapa yang seharusnya lebih berhak bertanding di babak final.”
Pak Isman cuman diam mendengar ucapan Vira.
“Bapak bilang akan memberikan kepercayaan pada saya dan anggota lainnya. Tapi mana? Bapak nggak menghargai perjuangan kami di babak kualifikasi.”
“Sudah Bapak bilang, bukan Bapak yang menentukan!” Pak Isman mulai keras lagi suaranya.
“Tapi Bapak harusnya tahu siapa yang terbaik yang layak masuk babak final...”
“Bapak tahu siapa yang terbaik!”
Vira menatap Pak Isman dengan tajam.
“Atau jangan-jangan, Pak Isman juga menganggap kemampuan kami masih di bawah mereka? Bapak sendiri juga menganggap kami nggak layak mewakili Jawa Barat dibanding mereka? Apa Bapak lupa kekalahan kemarin di babak kualifikasi itu karena strategi?” tanya Vira dengan penuh emosi.
“Bapak ingin tau siapa yang terbaik? Beri kami kesempatan. Kami pun bisa menang melawan Tim Senior kalo dikasih kesempatan,” lanjut Vira. Lalu dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Pak Isman yang masih termangu.
“Saya kira bertanding melawan anak-anak junior itu boleh juga. Biar mereka bisa belajar dari kita...,” kata Lusi yang ternyata berdiri di belakang Pak Isman dan sedari tadi mendengarkan pembicaraan pelatihnya dengan Vira.
* * *
Stephanie baru aja selesai makan siang di kantin di kampusnya saat HP-nya yang diletakkan di atas meja berbunyi.
Dari Pak Isman! batin Stephanie.
“Halo...”
“Stephanie? Secepat apa kamu bisa mengumpulkan teman-temanmu di Bandung?”
“Maksud Bapak?”
“Anggota Tim Basket Junior Jawa Barat. Apa kau bisa mengumpulkan mereka dalam dua hari?”
* * *
Sorenya...
Mobil yang dikemudikan Vira berhenti di depan sebuah bangunan yang udah lama dihindarinya.
SMA Altavia! batin Vira.
Untuk beberapa saat lamanya Vira hanya memandang ke bekas sekolahnya dulu. Sekolah yang banyak menyimpan kenangan baginya, baik kenangan indah maupun buruk.
Keadaan SMA Altavia masih sama seperti saat dia pergi dulu. Nggak ada yang berubah. Bahkan petugas jaganya pun masih sama. Dia pun masih mengenali Vira, walau Vira udah lama nggak berstatus siswi di sini. Makanya Vira dibolehin masuk dan Vira juga nggak lupa menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan si penjaga sekolah yang berusia lima puluh tahunan itu.
Nggak berapa lama, Vira udah berada di dalam gedung basket SMA Altavia dengan seragam basket lengkap dengan sepatunya. Dia asyik berlatih menembakkan bola ke dalam ring.
“Udah siap nih?”
Vira menoleh. Hera terlihat memasuki gedung dengan T-shirt dan celana training. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke belakang.
“Lo yang ngundang gue ke sini. Ada apa?” tanya Vira sambil melemparkan bola pada Hera.
“Gue mo pulang besok. Balik ke Singapura,” jawab Hera sambil mendribel bola. Hera lalu maju ke arah ring, dan Vira mencoba menghalang-halanginya. Hera memutar tubuh dan sedikit merunduk. Vira mengulurkan tangan, mencoba merebut bola. Hera sedikit mendorong bola hingga Vira agak terdorong, dan penjagaannya pada Hera lepas sehingga Hera dengan leluasa mendekati ring dan memasukkan bola ke dalamnya.
“Oya? Met jalan aja deh...,” ujar Vira sambil mengambil bola yang baru dimasukkan ke ring. Vira berjalan menuju ke garis tengah, bergantian dengan Hera yang sekarang berada di dalam area three point shot.
“Gue udah ketemu Stella,” ujar Hera sambil coba menghadang Vira. Vira coba mengecoh dengan mendribel bola ke sisi lapangan sebelah kiri. Hera terkecoh, tapi cuman sementara. Dia mundur dan kembali menghadang Vira. Nggak ada pilihan lain, Vira langsung menembak bola. Masuk!
“Lo udah ceritain semuanya?” tanya Vira.
Hera mengangguk. Lalu dia membuka celana training-nya, hingga sekarang memakai celana basket pendek. Setelah itu Hera mengambil bola dan mulai mendribel.
“Dan tanggapan dia?”
Sebagai jawaban, Hera cuman mengangkat bahu.
“Diem aja tuh...,” katanya.
Hera lalu maju menyerang. Dia langsung menusuk dari sisi kanan. Vira kembali menghadang, tapi mendadak Hera berlari ke sisi kiri. Dia memutar tubuh, lalu kembali coba menerobos masuk. Vira nggak terkecoh. Dia mencoba merebut bola dari Hera, tapi gerakan Hera lebih cepat. Hera terus merangsek hingga dekat ring. Dan tanpa diduga, dia melakukan gerakan slam, lalu disusul dengan dunk sambil menceploskan bola ke ring. Gerakan Hera yang nggak kalah dengan aksi pemain-pemain NBA yang sering dilihat Vira di TV itu membuat Vira ternganga. Dia nggak menyangka Hera bisa melakukan hal itu, padahal dulu boleh dibilang kemampuan Hera berada di bawah dirinya atau Stella. Tapi Hera yang sekarang kayaknya punya kemampuan di atas dirinya, atau bahkan Stella.
“Hebat...,” Vira nggak segan-segan memuji gerakan Hera.
“Dari mana lo belajar nombok?” tanyanya. Nombok adalah kata lain dari slam dunk. Bahasa gaul para pebasket di Indonesia.
“Apa gue belum cerita ke lo?” Hera malah balik bertanya sambil menghela napas.
“Cerita apa?”
“Temen sebelah kamar gue orang Filipina. Kakaknya adalah pemain basket profesional di Liga Basket Filipina atau PBA. Gue diajarin berbagai macam gerakan saat kakaknya dateng berlibur di Singapura.”
“Ooo...” Vira cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Hera.
* * *
Beberapa meter dari depan rumahnya, dari dalam mobil, Vira melihat seseorang baru aja keluar dari pintu pagar rumahnya.
Rei!
Vira mengernyitkan keningnya. Ada apa Rei dateng ke rumahnya saat dia nggak ada di rumah. Apa mo ketemu Niken? Tapi kan tadi siang Niken bilang setelah les dia mo pulang ke rumah ibunya, karena ibunya dapet pesanan kerupuk yang cukup banyak untuk acara sunatan tetangganya. Jadi Niken mo bantu-bantu dan kemungkinan nginep di sana.
Apa Niken nggak jadi pulang ke rumah ibunya? tanya Vira dalam hati. Dia mematikan mesin mobil dan memutuskan untuk tetap diam di tempatnya, melihat apa yang akan terjadi.
Pertanyaan Vira terjawab ketika ada seorang cewek keluar dari rumahnya, beberapa saat setelah Rei keluar.
Sita?
Vira ingat, Sita emang rencananya mo dateng hari ini. Vira sendiri nawarin untuk menjemput Sita, tapi dia menolak. Katanya dia udah minta temennya buat jemput di terminal bus.
Sita udah dateng dan ternyata yang menjemput dia itu Rei!
Sita kelihatan mengobrol dengan Rei yang duduk di atas motornya. Mereka kelihatan mesra, sesekali ketawa-ketiwi. Sita dan Rei nggak melihat mobil Vira karena tertutup kegelapan malam.
Nggak lama kemudian Rei menyalakan motor dan memakai helmnya, lalu cabut dari situ.
Vira nggak mau membuang waktu. Dia kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu menjalankannya, mengejar motor Rei.
Motor Rei ternyata berhenti di sebuah bangunan kecil yang kelihatannya lagi direnovasi. Rei turun dan membuka pintu pagar.
Vira yang datang nggak lama kemudian memarkir mobilnya agak jauh dari motor Rei. Lalu dia juga keluar dari mobil.
“Rei!” panggil Vira.
Rei yang akan membuka pintu depan terkejut mendengar suara Vira. Dia menoleh dan mendapati Vira sedang menuju ke arahnya.
“Vira? Kok kamu bisa ada di sini?” tanya Rei.
“Aku mo ngomong ama kamu.”
“Ngomong soal apa?”
“Ya soal kamu...”
“Soal aku?”
DELAPAN BELAS
Minggu sore...
VIRA, Stephanie, Rida, dan pemain Tim Junior Jawa Barat udah berkumpul di GOR Padjajaran. Hari ini mereka akan menghadapi pertandingan yang boleh dibilang sangat penting bagi remaja-remaja putri itu. Pertandingan antara Tim Basket Putri Junior Jawa Barat melawan Tim Basket Putri Senior untuk menentukan siapa yang terbaik dan berhak mewakili Jawa Barat di Kejurnas nanti. Setidaknya itulah janji pengurus PERBASI Jawa Barat bagi pemenang pertandingan ini.
Karena ingin memenangi pertandingan dan tampil di babak final Kejurnas itulah, hampir semua pemain junior Tim Jawa Barat kembali berkumpul di Bandung. Dibilang hampir semua karena ada dua orang yang berasal dari Subang dan Cirebon yang nggak datang dengan alasan yang berbeda. Emang nggak mudah mengumpulkan para anggota tim yang udah kembali ke aktivitas mereka sehari-hari hanya dalam waktu dua hari, terutama yang berada di luar kota Bandung. Jadi sekarang cuman ada sepuluh orang yang masih mencoba menggapai impian mereka.
Vira yang baru aja datang membuka tas besar yang dibawanya.
“Untuk sementara kita pakai ini...,” katanya, lalu membagikan kostum basket berwarna kuning keemasan pada seluruh anggota tim.
“Tadi aku dikasih tau salah seorang petugas di sini, katanya untuk kita udah disiapkan ruang ganti pemain di sebelah timur,” sambung Stephanie.
* * *
“Apa kamu yakin kita bakal menang?” tanya Sita pada Vira di ruang ganti pemain.
“Kalo kamu?” Vira malah balik nanya.
“Mereka lebih senior daripada kita. Pengalaman bertanding lebih banyak. Aku rasa peluang kita untuk menang kecil.”
“Kalo kamu nggak yakin menang, kenapa kamu ada di sini? Perjalanan dari Tasik ke Bandung kan jauh. Apa kamu mau ngelakuin semua ini untuk sesuatu yang menurut kamu adalah sia-sia?”
Sita cuman terdiam mendengar ucapan Vira.
“Lo emang paling jago kalo ngemotivasi orang...,” ujar Stephanie lirih yang mendengar ucapan Vira pada Sita. Tentu aja setelah Sita nggak ada di dekat Vira.
Vira cuman nyengir mendengar ucapan Stephanie.
* * *
“Itu mereka...”
Semua pemain Tim Junior Jawa Barat yang udah bersiap di pinggir lapangan menoleh ke arah pintu masuk yang ditunjuk Poppy.
Lusi dan para pemain Tim Senior memasuki arena. Mereka memakai kostum basket berwarna biru muda, dengan logo provinsi di dada sebelah kiri. Tim Senior menempati sisi lain lapangan, berseberangan dengan Vira cs.
Vira memergoki Lusi sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan. Dia balik menatap Lusi.
Pandangan pertama menentukan! Jangan sampai kalah sebelum bertanding!
Nggak lama kemudian, datang Pak Isman, Pak Dibyo, dan beberapa orang ofisial tim serta pengurus PERBASI Jawa Barat.
“Oke... semua sudah siap!?” tanya Pak Dibyo.
* * *
Akhirnya, penentuan itu pun dimulai. Tim Junior menurunkan starter dengan kekuatan terbaiknya. Stephanie, Vira, Rida, Alexa, dan Poppy. Demikian juga Tim Senior, mereka menurunkan pemain terbaik mereka sebagai starter. Selain Lusi dan Mira, juga ada pemain senior lain seperti Dini, Clara, dan Dewi yang merupakan tulang punggung Jawa Barat saat mereka menjadi runner-up Kejurnas dua tahun lalu.
“Ingat, walau mungkin hasil pertandingan sangat menentukan bagi kalian, Bapak ingin agar kalian tetap bermain secara sportif dan menjunjung tinggi nilai-nilai fair play. Bapak nggak ingin ada yang saling mencederai. Kita ini masih satu tim, satu daerah, dan satu tujuan,” Pak Isman memberikan pengarahan sebelum pertandingan.
Dua orang wasit dan satu wasit cadangan yang berstatus wasit nasional membantu pertandingan ini, sedang Pak Isman dan ofisial lainnya duduk di tribun penonton. Karena kedua tim dilatih oleh pelatih yang sama, untuk pertandingan kali ini, baik Pak Isman maupun Pak Dibyo nggak berada di pinggir lapangan untuk mendampingi salah satu tim. Jadi kedua tim bermain tanpa pelatih.
* * *
Vira mengedarkan pandangannya ke seluruh area GOR. Ada beberapa orang yang terlihat duduk di tribun. Nggak tahu apakah mereka sekadar duduk-duduk atau ingin menonton pertandingan. Vira sempat melihat Rei di salah satu sisi tribun, bersama Rendy dan anak-anak basket cowok SMA 31. Rei sempat melihat ke arahnya dan mengacungkan jempol. Anak-anak basket cewek SMA 31 nggak kelihatan karena mereka pada waktu yang bersamaan lagi melakukan pertandingan di SMA Balawa, yang emang udah dijadwalkan jauh-jauh hari.
Niken juga nggak kelihatan. Dia emang nggak janji mo datang karena lagi seneng-senengnya belajar. Vira maklum. Sedang temen-temennya yang lain nggak
datang mungkin karena nggak tahu, karena Vira emang nggak bilang-bilang soal pertandingan ini di sekolah. Anak-anak basket mungkin tahu dari Rei, sedang Niken jelas aja tahu, wong tinggal serumah dengan Vira.
* * *
“Oke... apa strategi kali ini?” tanya Stephanie pada Vira.
“Hah? Kok nanya gue?”
“Kan lo biasanya jago strategi, terutama kalo dalam situasi kayak gini.”
Vira cuman geleng-geleng kepala mendengar ucapan Stephanie.
“Gue heran, kenapa lo dulu bisa jadi kapten di Altavia, ya?” sindir Vira.
Kali ini giliran Stephanie yang nyengir.
* * *
Para starter dari kedua tim udah berada di lapangan. Kali ini Vira berhadapan langsung dengan Mira di garis tengah. Keduanya bertatapan. Kali ini Vira emang mengambil posisi Rida untuk perebutan bola di tengah pertama kali, yang biasanya dilakukan oleh seorang center. Vira yang tahu sifat Rida nggak mau temannya itu terintimidasi oleh Mira dan kalah sebelum bertanding.
“Kalian bermimpi untuk memakai kostum ini lagi? Jangan harap!!” kata Mira sambil menunjuk kostum dan logo Jawa Barat yang dikenakannya.
“Kostum yang lo pake udah jadul. Kami akan membuat sendiri yang modelnya lebih keren,” jawab Vira ngasal, tapi bikin Mira jadi gregetan.
Wasit meniup peluit dan quarter pertama pun dimulai.
* * *
Tim Senior Jawa Barat boleh dibilang emang unggul segalanya dari juniornya. Unggul teknik, pengalaman, serta stamina. Nggak heran kalo dalam lima menit
pertama Tim Senior langsung unggul 7-0 melalui permainan cepat dan terkoordinasi dengan rapi.
“Steph!”
Stephanie menerima bola operan dari Poppy. Dia langsung mendribel, tapi dihadang oleh Clara. Stephanie benar-benar nggak bisa bergerak ditempel terus oleh Clara.
Rida datang membantu. Stephanie mengoper pada Rida, tapi operannya cepat dipotong oleh Mira yang langsung berlari ke tengah lapangan.
Turn over!
Fast break cepat Tim Senior membuat barisan pertahanan Tim Junior kelabakan. Vira coba maju untuk mencegat Mira, tapi Mira langsung mengoper pada Lusi yang datang dari belakang. Lusi bergerak cepat menyusur sisi kanan daerah pertahanan Tim Junior dengan dibayang-bayangi Poppy. Gerakan Lusi yang cepat membuat Poppy panik hingga dia melakukan kesalahan dengan mencoba memukul bola yang masih berada dalam genggaman tangan Lusi, tapi malah mengenai tangan cewek itu.
Foul! Tembakan bebas untuk Tim Senior.
Lusi yang mengeksekusi tembakan bebas berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Tim Senior semakin jauh meninggalkan adik-adiknya.
Lusi menoleh dan tersenyum sinis pada Vira yang lagi mengatur napas.
Mereka bener-bener kuat! batin Vira. Tapi dalam hati dia gembira bertemu dengan orang yang skill-nya melebihi dirinya. Sama gembiranya saat Vira tahu bahwa skill Hera meningkat pesat sejak dia pindah dari Altavia, bahkan udah mampu mengalahkannya.
“Asal kalian tahu... dua tahun yang lalu kami membantai Lampung dan Banten dengan skor yang sangat telak,” kata Lusi pada Vira.
Vira nggak menanggapi ucapan Lusi.
* * *
“Strategi kamu nggak berjalan,” kata Rida pada Vira saat quarter pertama berakhir.
“Aku tau...,” sahut Vira. Anehnya, dia tetap tenang, nggak kelihatan panik sedikit pun. Padahal di quarter pertama mereka cuman mendapat empat angka, kontras dengan Tim Senior yang menutup quarter pertama dengan enam belas angka.
“Lo nggak punya strategi lain?” tanya Stephanie.
“Ada yang punya?” Vira malah balik bertanya.
Yang lain menggeleng.
“Sebetulnya aku udah punya strategi, tapi aku nggak yakin kalian bakal setuju, soalnya ini rada gila dan nggak masuk akal. Aku juga nggak berani menjamin ideku ini bisa berhasil, walau aku pikir kita harus mencobanya,” ujar Vira.
“Gue suka kalo lo udah punya ide-ide gila...,” sahut Stephanie sambil tersenyum.
* * *
“Sudah saya katakan mempertandingkan mereka adalah ide buruk. Kita semua sudah tahu hasilnya. Ini hanya akan menjatuhkan mental anak-anak muda itu,” kata Pak Nurdin yang duduk di samping Pak Isman.
“Sebaiknya Bapak jangan underestimate dulu. Ini baru quarter pertama. Lagi pula Bapak sudah lihat kan, permainan mereka di babak kualifikasi? Di sini mereka belum mengeluarkan seluruh kemampuan yang mereka miliki. Permainan mereka belum seperti saat pertandingan kualifikasi,” balas Pak Isman.
“Apa mereka bisa menang jika permainan mereka sebaik saat kualifikasi?”
“Lihat saja. Yang jelas pertandingan belum berakhir.”
* * *
“Lo yakin dengan ide lo ini?” tanya Stephanie dengan nada ragu-ragu.
“Gue udah bilang kan ide ini mungkin sedikit aneh.”
“Bukan sedikit... tapi sangat aneh. Apa lo yakin?” Stephanie mengulangi pertanyaannya.
“Nggak.”
“Kalo nggak, kenapa lo cetusin ide ini?” tanya Hanna.
“Makanya gue bilang, kalo aja ada ide yang lebih baik...”
“Bagaimana kalo kita menyerang aja seperti waktu melawan Tim Banten di quarter kedua dulu?” usul Poppy.
“Nggak bisa. Kita nggak bisa secara frontal melawan mereka. Karena itu hanya ide ini yang terpikir sama gue,” jawab Vira.
“Nggg... aku kok jadi ragu-ragu ya...,” ujar Rida.
“Benar, Vir... ini sangat berisiko. Gimana kalo ternyata perkiraan kamu meleset dan mereka bisa kembali menambah banyak poin?”
“Kalo gitu, ya anggap aja sebagai takdir kita.”
* * *
Sebuah kejutan kecil dibuat Tim Junior saat quarter kedua. Vira ternyata digantikan oleh Agnes, dan Alexa diganti oleh Monika. Bahkan Pak Isman pun nggak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Mau apa dia? tanya Pak Isman dalam hati.
“Mereka kayaknya ngubah formasi lagi tuh... Vira nggak main,” kata Dini pada Nita.
“Biarin aja. Mo seratus kali ngubah formasi juga nggak ngaruh. Mereka tetap nggak bakal bisa ngalahin kita,” sahut Lusi.
Sementara itu, Vira duduk di pinggir lapangan sambil sesekali memegangi betis kanannya.
Jangan lagi! batin Vira.
Pergantian dirinya emang merupakan bagian dari strategi yang Vira rencanakan dari awal. Tapi dirinya nggak bisa memungkiri bahwa strategi itu juga menyelamatkan dirinya. Betis kanan Vira mulai terasa kaku dan nyeri. Kalo dia tetep ikut main sekarang, kemungkinan nyeri di betis kanannya akan bertambah dan permainannya pasti nggak maksimal. Vira kuatir, cedera lamanya kambuh lagi
justru di saat-saat yang penting baginya, karena Vira nggak punya rencana untuk istirahat lama-lama. Dia pasti bakal masuk lapangan lagi.
Vira melirik ke arah tribun penonton. Beberapa orang menonton pertandingan ini, nggak tau berasal dari mana. Tapi Vira nggak peduli. Dia cuman mengharapkan sesuatu yang ada di tribun penonton dan yang diharapkannya belum ada.
“Kok gue juga diganti sih? Kita kan butuh angka banyak untuk ngejar ketinggalan? Kok malah Monika yang masuk?” protes Alexa yang nggak rela dirinya diganti.
“Bawel ah... ini bagian dari strategi. Lo gue butuhin nanti,” sahut Vira sambil mengurut-urut betisnya.
“Strategi apaan sih? Lo nggak mau ngasih tau gue?”
“Ntar lo juga tau kalo udah waktunya.”
“Lo nggak papa, Vir?” tanya Hanna yang duduk di samping Vira dan melihat Vira sering memegangi betisnya.
“Eh... nggak kok. Gue cuman ngurut-ngurut kaki gue aja biar nggak kram,” jawab Vira berbohong.
* * *
Pertandingan quarter kedua dimulai. Dengan nggak tampilnya Vira dan Alexa, terlihat penampilan Tim Junior akan sedikit bertahan. Entah apa alasannya.
Formasi baru ini ternyata nggak berjalan dengan baik. Permainan bertahan yang diperlihatkan Tim Junior membuat Tim Senior menguasai lapangan. Mereka bermain lebih menyerang dan nggak memberi kesempatan bagi juniornya untuk melakukan serangan balik. Angka demi angka berhasil dikumpulkan Tim Senior, walau nggak mudah karena Tim Junior berusaha bertahan sebisanya.
Vira melihat papan skor.
Ayolah! Jangan terlalu jauh bedanya! harapnya.
* * *
Di pertengahan quarter kedua, Stephanie diganti oleh Erina. Jabatan kapten tim untuk sementara dipegang Rida.
“Ini bagian dari strategi, kan?” tanya Stephanie yang kelihatannya juga nggak rela dia diganti.
Vira mengangguk.
“Pokoknya usahakan jangan terlalu jauh tertinggal. Sebisa mungkin usahakan melakukan fast break,” Vira memberi instruksi.
“Nggak jauh dari Hongkong...,” sungut Alexa sambil melihat papan skor. Saat ini skor 23-7, masih untuk keunggulan Tim Senior.
* * *
Untuk mengejar angka, Vira memasukkan Sita untuk menggantikan Poppy. Strateginya lumayan sukses, karena dalam waktu lima menit Sita dua kali memasukkan bola dari tembakan tiga angka. Hingga skor pun mendekat jadi 25-13.
“Mereka ngandelin three point,” kata Mira.
“Gue tau, tapi nggak bakal lama,” jawab Lusi. Lalu dia menuju ke bangku cadangan tim senior.
“Dewi, Rina, kalian berdua siap-siap masuk!” Lusi memberikan instruksi.
* * *
“Kita nggak mungkin ngandelin three point terus. Lama-lama mereka pasti akan mengantisipasinya,” komentar Stephanie.
“Gue tau. Ini cuman sementara kok, supaya kita nggak terlalu tertinggal dari mereka,” kata Vira, masih dengan gaya tenang.
“Trus, kapan lo mo keluarin strategi rahasia lo? Quarter kedua udah mo abis.” “Bentar lagi...,” jawab Vira, lalu dia menekan tombol HP yang dari tadi dipegangnya. Vira menjauh dari bangku cadangan dan kelihatan berbicara dengan seseorang.
“Vira nelepon siapa?” tanya Alexa pada Stephanie.
“Meneketehe...”
“Apa lo yakin dengan strategi Vira? Dia kayaknya sengaja bikin kita kalah...,” ujar Alexa lagi.
“Gue emang nggak yakin dengan strategi dia, tapi gue yakin dia nggak bakal sengaja bikin kita kalah. Gue kenal Vira, dia nggak pernah mau kalah dari siapa pun. Gue juga tau jalan pikiran dia yang kadang-kadang nggak bisa dimengerti oleh siapa pun...,” tandas Stephanie.
Nggak lama kemudian Vira kembali ke bangku cadangan.
“Gue ke kamar ganti pemain dulu,” katanya sambil mengambil tasnya.
“Mo ngapain?” tanya Stephanie.
Vira tersenyum. “Sudah saatnya kita ngeluarin senjata rahasia kita...,” katanya sambil mengedipkan mata kanannya.
SEMBILAN BELAS
Beberapa jam sebelumnya...
“GUE butuh bantuan lo buat ngalahin mereka,” kata Vira.
Stella yang berdiri di hadapannya cuman diam nggak menjawab. Dia masih nggak percaya, pagi-pagi Vira udah nongol di depan rumahnya, tepat saat dirinya akan pergi latihan basket di SMA Altavia.
“Gue masih tetap sebel ama lo, tapi demi tim, gue lupain sementara rasa sebel gue. Gue sadar gue butuh tenaga lo kalo mo menang lawan Tim Senior. Lo juga tau gimana hebatnya mereka. Skill individu, pengalaman, kerja sama, semua di atas rata-rata tim kita. Untuk bisa nandingin apalagi ngalahin, kita harus bisa seperti mereka, atau paling nggak mendekati. Kalo ada lo, paling nggak kekuatan tim kita bertambah...”
Vira ingat ucapan Hera tadi malam.
“Gue lihat pertandingan kualifikasi Kejurnas kemaren. Menurut gue, tim lo bagus, tapi serasa ada yang kurang. Kemampuan lo nggak keluar semua di tim itu,” kata Hera.
“Iya, gue juga ngerasa gue nggak maksimal mainnya. Nggak tau kenapa,” balas Vira.
“Gue tau kenapa. Karena lo nggak punya partner yang tepat.”
“Tapi gue bisa maen dengan siapa aja kok...”
“Gue tau, tapi partner lo nggak ada yang bisa ngeluarin kemampuan terbaik lo. Gue udah pernah liat lo waktu bermain di Altavia, dan gue tau cuman satu orang yang bisa bikin lo dan tim lo sekarang ini jadi lebih baik lagi.”
“Yang lo maksud... dia?”
“Kalo gue nggak mau?” Stella akhirnya buka suara.
“Ya udah, gue nggak bisa maksa lo. Tapi gue harap lo masih punya hati nurani. Lo jangan lakuin ini buat gue, tapi buat temen-temen tim, yang juga temen-temen lo. Apa lo tega ngeliat impian mereka kandas begitu aja?” ujar Vira. “Gue nggak minta lo sekali ini aja. Cuman satu pertandingan dan gue nggak akan ganggu lo lagi. Terserah lo mo ikut ke Jakarta atau nggak,” lanjutnya.
“Lo udah ketemu Hera, kan?” tanya Vira, setelah melihat Stella tetap terdiam.
“Gue nggak mau bahas soal itu...,” sentak Stella.
“Gue juga nggak mau bahas itu. Gue ke sini cuman mo minta... mungkin istilahnya bantuan, ya? Sebab gue udah perhitungin, tanpa lo kita nggak mungkin bisa menang. Lo udah tau juga kan kemampuan mereka saat Kejurnas dua tahun lalu? Kita kan nonton bareng finalnya di Jakarta.”
“Iya... gue nggak lupa.”
“Lo pasti juga penasaran kan, pengin menjajal kemampuan mereka? Pertandingannya ntar jam tiga sore di GOR Padjajaran,” kata Vira.
“Liat ajar ntar. Kalo mood gue lagi bagus, gue akan dateng. Tapi jangan ngandelin gue, karena gue nggak mau disalahin kalo tim lo kalah,” tandas Stella.
“Bukan tim gue... tapi tim kita...,” ralat Vira.
* * *
Kembali ke pertandingan...
“Emang apa senjata rahasia kita?” tanya Alexa pada Stephanie.
“Lo jangan nanya melulu ke gue... Gue aja nggak tau apa yang ada di pikiran Vira sekarang,” jawab Stephanie sedikit sewot.
“Trus, kita harus ngapain nih? Nggak ada yang kasih instruksi,” sambung Hanna.
“Tunggu aja sampe Vira balik. Mudah-mudahan dia membawa kabar baik untuk kita...,” jawab Stephanie.
“...dan keajaiban,” sambung Alexa.
* * *
Tapi sampai berakhirnya quarter kedua, Vira belum balik.
“Gimana nih?” tanya Monica dengan napas senen-kemis. Saat ini kedudukan adalah 30-17, masih untuk Tim Senior.
“Gue susul dia ke ruang ganti,” Stephanie mengambil keputusan.
“Biar gue aja...,” potong Hanna, lalu dia beranjak pergi. Tapi baru beberapa langkah, Hanna berhenti.
“Tuh Vira udah balik!”
Seluruh anggota tim berbalik ke arah yang ditunjuk Hanna.
Vira terlihat masuk dari pintu timur.
Dan dia nggak sendiri.
* * *
“Non Niken... ada tamu...”
“Siapa, Bi?”
“Nggak tau, Non.”
Niken keluar dari kamarnya di lantai atas dan terkejut begitu melihat siapa yang ada di ruang tamu.
“Kak Aji?”
* * *
“Jadi, ini senjata rahasia kita?” tanya Stephanie.
“Senjata rahasia? Senjata rahasia apaan?” Stella yang datang bersama Vira jadi bingung.
“Udah... udah... sekarang kita harus fokus pada pertandingan. Sekarang udah menit keberapa?” potong Vira.
“Menit apaan? Quarter dua udah abis, Non... sekarang udah mo quarter tiga,” sambar Stephanie.
“O iya... iya...” Vira melirik ke papan skor, melihat skor sementara.
Lumayan juga ketinggalannya! batin Vira.
“Trus, gimana nih?” tanya Hanna.
* * *
Quarter ketiga dimulai. Di quarter ketiga ini Tim Junior menurunkan formasi pemain Vira, Stephanie, Stella, Hanna, dan Alexa.
“Mereka nurunin pemain baru tuh! Siapa?” tanya Mira.
Melihat Stella, kontan wajah Lusi berubah.
“Kenapa, Lus?” tanya Mira.
“Nggak... nggak papa.”
“Kamu kenal dengan pemain baru mereka?”
“Stella... dia dulu anggota mereka, tapi keluar karena masalah pribadi.”
“Oooo... dia bagus?”
“Lumayan... makanya kita jangan sampai lengah.”
* * *
Nggak cuman di kubu lawan, komentar saat Stella masuk lapangan juga terdengar di tribun penonton.
“Itu bukannya pemain kita yang udah ngundurin diri...? Siapa namanya? Ssstt... Sttt...,” tanya Pak Nurdin.
“Stella. Stella Winchest,” jawab Pak Isman.
“Iya... apa dia masuk tim kita lagi? Kok saya belum dengar soal itu?”
“Hmm... sebenarnya, Vira sudah bicara dengan saya soal ini,” sahut Pak Isman lagi.
“Kapan? Kenapa saya tidak diberitahu?”
* * *
“Udah damai nih...?” goda Stephanie pada Vira.
“Siapa bilang?”
Vira ingat ucapan Stella saat di kamar ganti.
“Gue lakuin ini bukan karena gue mo baikan ama lo. Gue lakuin ini, karena di dalam tim ada temen-temen gue juga, anak-anak basket Altavia. Dan demi mereka gue rela ngelupain sebentar permusuhan kita. Tapi setelah ini, jangan harap sikap gue ke lo berubah. Nggak sama sekali!” Stella menegaskan.
“Iya... gue tau...”
“Vir?”
Sapaan Stephanie mengembalikan Vira ke alam nyata.
“Ini seperti saat kejuaraan antar-SMA se-Jawa-Bali, kan?” tanya Stephanie.
Stephanie benar, formasi Tim Junior saat ini emang hampir sama dengan formasi starter saat SMA Altavia juara di turnamen antar-SMA se-Jawa-Bali setahun yang lalu. Bedanya cuman Hanna, yang dulu nggak masuk sebagai starter.
“Untuk ngalahin mereka, kita harus punya tim yang solid, dan itu nggak bisa kita wujudkan dalam waktu satu hari. Satu-satunya jalan adalah memakai tim yang udah terbukti solid dan udah tau kemampuan pemainnya satu sama lain,” Vira menjelaskan.
“Itu kita, kan? Tim bola basket terbaik yang pernah dimiliki oleh SMA Altavia?”
“Yup. Gue sengaja nggak nyebut-nyebut soal ini di hadapan yang lain, takut menyinggung perasaan mereka karena ngerasa nggak dibutuhin. Padahal kita tetap butuh yang lain sebagai pemain pengganti.”
“Karena itu kita butuh Stella. Tanpa dia, tim kita akan pincang. Bener, kan?”
“Lo udah ngerti...”
“Itulah kenapa gue dipilih jadi kapten tim dulu hee... hee... hee...” Stephanie jadi narsis. Tapi dia segera kembali tersadar pada kondisi yang sedang mereka hadapi.
“...tapi kita udah lama nggak pernah bermain bersama. Trus soal lo dan Stella?” tanyanya lagi.
“Jangan kuatir... gue ama Stella udah sepakat bakal ngelupain persoalan antara kami sementara ini. Gue tau Stella. Dia pasti bakal bersifat profesional.”
Peluit tanda quarter ketiga dimulai berbunyi.
The battle continues...
* * *
“Kak Aji nggak pergi ke GOR Padjajaran?” tanya Niken.
“Ke GOR? Ngapain?” tanya Aji sambil makan kue nastar yang disuguhkan Niken.
“Nonton basket.”
“Kamu tau kan kalo aku nggak suka basket?”
“Tau... cuman kan ini Vira yang main... Kak Aji belum ketemu Vira, kan?”
Aji mengangguk males-malesan. Kayaknya dia setengah hati untuk pergi memenuhi permintaan Niken.
DUA PULUH
MASUKNYA Stella memang benar-benar mengubah permainan Tim Junior. Sebagai center, Stella punya segalanya. Teknik, akurasi menembak, dan stamina yang prima. Apalagi dia baru main di quarter ketiga, jadi tenaganya masih fresh.
Nggak heran, Tim Junior mampu menipiskan ketinggalan. Dari 30-17 pada awal quarter ketiga, diperkecil hingga 39-31. Delapan angka lagi, mereka bisa menyamakan kedudukan. Angka yang didapat Tim Junior bukan cuman berasal dari Stella, tapi juga Vira, Stephanie, bahkan Alexa. Permainan cepat yang diperlihatkan Tim Junior juga membuat lawan kelabakan dan sedikit panik. Nggak heran kalo banyak foul yang dibuat Tim Senior yang merupakan keuntungan bagi Tim Junior.
“Kenapa sih kalian!? Ayo semangat!” seru Lusi memberi semangat pada teman-temannya.
“Pemain baru itu... ternyata dia hebat juga...,” tanpa sadar Dini memuji lawannya, setelah temannya melakukan foul terhadap Alexa hingga menghasilkan tembakan bebas bagi Tim Junior.
“Bukan pemain baru itu yang hebat. Kemampuannya nggak jauh beda dengan yang lain...,” tukas Lusi.
“Trus, kenapa mereka mendadak jadi hebat gitu? Emang mereka pake doping?”
“Nggak tau kenapa, seolah-olah mereka mendapat kekuatan baru. Lo nggak liat kemampuan yang lain juga jadi meningkat? Seakan-akan tadi mereka belum ngeluarin kemampuan mereka,” kata Lusi.
Ucapan Lusi ada benarnya. Sekarang mereka nggak seperti menghadapi Tim Junior, tapi menghadapi lawan yang punya kelas yang sama.
Dua kali tembakan bebas Alexa masuk, menghasilkan angka 39-33. Enam angka lagi selisih angka kedua tim. Sorak-sorai terdengar di kubu Tim Junior.
Dini memegang bola. Dribel sebentar, dia mengoper pada Lusi. Alexa coba mengganggu gerakan Lusi, tapi cewek itu lebih sigap. Dengan skill-nya, dia berhasil melewati hadangan Alexa dan terus mendribel hingga melewati garis tengah lapangan, dan Stella mencoba menghadangnya. Duel dua center kembali terjadi, dan nggak seperti sebelumnya. Duel dua center kembali terjadi, dan nggak seperti sebelumnya, kali ini Stella berhasil memenangi duel tersebut.
Steal! Dan turn over!
Tanpa banyak gerakan, Stella langsung mengoper bola pada Vira yang datang dari arah belakang.
“Defend!” seru Lusi memberi komando. Suaranya udah terdengar serak dan nggak begitu lantang lagi, salah satu indikasi bahwa stamina Lusi udah terkuras juga, karena dia satu-satunya pemain Tim Senior yang belum pernah digantikan sampai quarter ketiga ini. Makanya dia bisa kalah duel ama Stella.
Dengan dibayang-bayangi Ilana, Vira membawa bola menyisiri sisi kiri lapangan lawan, bertukar posisi dengan Alexa yang mundur ke belakang. Dewi coba membantu temannya hingga sekarang posisi Vira terjepit.
“Tembak, Vir!” seru Stephanie. Vira udah berhenti dan menangkap bola, hingga dia nggak mungkin lagi meneruskan mendribel, atau akan terkena double. Dia harus mengoper bola atau menembak ke ring, dan kedua pilihan itu nggak mudah, sementara dua pemain lawan terus mengganggunya.
Di luar dugaan, Vira mengangkat tangan kirinya dan jarinya membentuk huruf O. Nggak ada yang tau apa artinya, sampai Vira bersiap melakukan posisi menembak. Saat Dewi berusaha memblok tembakan Vira, secara nggak terduga Vira
memutar badannya sedikit ke kanan, dan tiba-tiba melemparkan bola ke arah tengah.
Mulanya nggak ada yang tahu kenapa Vira tiba-tiba melempar bola ke tengah lapangan tanpa melihat arah lemparannya, sampai seseorang yang berada di tengah lapangan menangkap bola yang dilemparkan Vira.
Vira melakukan blind pass dan yang menangkap bolanya adalah Stella!
Belum sempat kekaguman lawan atas blind pass yang dilakukan Vira, Stella langsung berlari menuju ring, dan tanpa terkawal dia melakukan lay-up manis.
39-35!
Gor Padjadjaran kembali bergemuruh dengan sorak-sorai pendukung Tim Junior. Walau cuman beberapa orang plus pemain cadangan, sorakan mereka memberikan keriuhan tersendiri. Bahkan Pak Isman pun sampai bertepuk tangan menyambut aksi Vira dan Stella.
“Saya belum pernah melihat yang seperti tadi,” komentar Pak Nurdin.
“Saya pernah melihatnya, walau sudah lama. Itu memang salah satu kebisaan mereka, terutama Vira,” sahut Pak Isman.
* * *
“Untung lo masih ingat kode kita dulu...,” kata Vira pada Stella.
Stella nggak menanggapi ucapan Vira. Dia cuman mendengus pelan.
* * *
Mira berhasil menambah angka untuk Tim Senior melalui jumping shot-nya. Tapi Tim Junior balik membalas melalui tembakan tiga angka Sita yang masuk menggantikan Hanna.
“Time-out, Lus!” Dini minta Lusi sebagai Kapten Tim Senior supaya mengajukan time-out. Tapi Lusi nggak menggubris permintaan Dini.
“Tanggung... tinggal tiga menit lagi.” Lusi memberi alasan.
Sebetulnya permintaan Dini itu wajar. Karena walaupun masih unggul 41-38, sejak awal quarter ketiga permainan Tim Senior nggak berkembang, kalo nggak bisa dibilang menurun. Mereka terus mendapat tekanan dari para junior dan keunggulan angka yang cukup jauh berhasil dipangkas. Dalam permainan basket, jika suatu tim mendapat tekanan terus-menerus dari lawan, atau strategi yang dijalankan nggak berhasil, time-out adalah jalan terbaik. Para pemain bisa beristirahat sejenak sambil merencanakan strategi berikutnya, atau sekadar menarik napas, menenangkan mental para pemain yang biasanya jadi down kalo ditekan tim lawan terus-terusan.
Tapi selama quarter ketiga ini, Tim Senior nggak pernah meminta inisiatif time-out. Inisiatif selalu diambil oleh Tim Junior yang udah minta dua kali time-out. Mereka cuman berulang kali mengganti pemainnya, tapi tetap menerapkan strategi bermain yang hampir sama.
Giliran Tim Senior menyerang. Lusi yang mendapat operan bola dari Clara memutuskan untuk mencoba menerobos pertahanan Tim Junior sendirian. Dari garis tengah dia membawa bola mendekati area three point shot Tim Junior. Selain itu dia masih penasaran dengan duel terakhirnya melawan Stella. Duel dua center kembali terjadi. Lusi kali ini nggak mau kecolongan lagi. Dia berusaha mengecoh Stella dengan melakukan gerakan ke kanan. Tapi Stella nggak mau terpancing. Dia malah melepas Lusi, dan berikutnya giliran Vira yang menghadang.
“Oper, Lus!” seru Mira.
Tapi entah apa yang ada di pikiran Lusi, dia kembali mencoba melewati Vira. Dengan skill individunya, Lusi memutar badannya sambil mendribel. Dan aneh, seperti juga Stella, Vira juga melepas Lusi, nggak mau berduel dengannya.
Apa-apaan ini? tanya Lusi dalam hati sambil terus membawa bola.
Pertanyaan Lusi terjawab saat Stella kembali menghadangnya. Kali ini Stella nggak melepasnya seperti tadi, tapi terus menempel Lusi.
“Oper...!”
Teriakan teman-temannya seakan nggak didengar Lusi. Dia sibuk berusaha lepas dari tempelan Stella. Sementara waktu terus berjalan. Lusi harus segera menembak bola ke ring atau dia akan terkena shot violation.
Dengan susah payah, Lusi berhasil lepas dari hadangan Stella. Dia kemudian langsung menuju ring dan siap memasukkan bola, saat tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang aneh.
Mana bolanya?
Ternyata Lusi udah nggak memegang bola. Benda bulat berwarna oranye itu sekarang ada dalam genggaman Stella.
Bagaimana bisa? Kapan dia merebut bola?
Lusi berusaha merebut kembali bola dari Stella, tapi langkahnya tiba-tiba terasa berat. Sementara itu Stella langsung melemparkan bola ke depan, ke arah Stephanie.
Stephanie berduel dengan Dewi di udara untuk mendapatkan bola operan Stella. Nggak ada yang mendapat bola karena secara nggak terduga Stephanie cuman mendorong bola kembali ke tengah lapangan, tempat seseorang udah siap menanti...
Vira?
Vira menerima bola muntahan hasil duel Stephanie versus Dewi dan langsung menggiringnya menuju ring. Dia berhasil melewati Mira yang udah kecapekan, dan menembak langsung, membawa selisih angka kedua tim makin menipis. Tim Senior sekarang cuman unggul satu angka dari Tim Junior.
* * *
“Kamu kenapa sih? Beberapa menit terakhir ini kamu selalu maen sendiri!” tanya Mira dengan nada kesal pada Lusi saat quarter ketiga berakhir. Kedudukan saat ini adalah 41-40.
“Siapa yang maen sendiri?” elak Lusi.
“Tadi apa buktinya? Kamu bisa oper ke yang lain, tapi kamu maksain untuk masukin sendiri. Apa kamu nggak sadar mereka udah ngincer kamu?”
Ucapan Mira membuat Lusi terperangah.
“Ngincer aku? Maksud kamu?”
“Heh... ternyata anak-anak junior itu nggak sebodoh yang kita kira. Mereka cukup cerdik untuk terus ngincer kamu, satu-satunya pemain yang belum pernah
diganti sejak pertandingan dimulai. Mereka tau kamu udah kecapekan. Buktinya, center mereka dua kali berturut-turut berhasil mencuri bola dari kamu, bahkan yang terakhir dilakukan dengan mudah, seperti merebut permen dari anak kecil aja!”
“Aku nggak kecapekan kok! Sumpah! Aku kuat maen sampe empat quarter tanpa diganti...”
“Lusi... udah deh, jangan bandel. Sebaiknya kamu diganti dulu. Nanti di pertengahan quarter keempat, kamu bisa masuk lagi. Aku kira kalo saat ini ada pelatih di antara kita, mereka pasti bakal ngelakuin ini. Kamu terlalu capek.”
Ucapan Mira yang didukung pemain lain akhirnya membuat Lusi menyerah. Walau begitu, suasana mendung masih belum hilang dari wajahnya.
“Akhirnya Lusi diganti juga tuh...,” kata Alexa.
Vira tersenyum lebar.
“Berarti strategi kita berhasil,” sahut Vira, “dengan keluarnya Lusi, kekuatan mereka jadi berkurang, walau mungkin untuk sementara. Nanti kita tetapkan strategi yan gudah kita susun pada menit kelima.”
Quarter keempat pun dimulai.
DUA PULUH SATU
STEPHANIE digantikan Agnes di quarter keempat, sedang Poppy masuk lagi menggantikan Alexa. Kelihatannya Tim Junior akan melakukan strategi bertahan.
Vira membisikkan sesuatu ke telinga Sita.
“Kamu bisa, kan?” tanya Vira pada Sita.
“Mudah-mudahan.”
Menit-menit pertama quarter keempat atau quarter penentuan. Tim Senior yang kali ini tanpa Lusi coba melakukan fast break. Operan panjang Ilana dari belakang diterima dengan baik oleh Mira, yang lalu mencoba lolos dari hadangan Poppy. Mira berhasil lolos dan langsung mengoper pada Dewi. Saat Dewi mencoba mendribel bola, Sita menghadang, coba merebut bola. Tapi gerakan Sita malah mengganggu pergerakan Dewi, hingga terjadi foul.
Tembakan bebas untuk Tim Senior.
“Nggak papa, tenang aja,” Vira coba menghibur Sita yang merasa bersalah.
Dua kali tembakan bebas masuk. Mengubah kedudukan menjadi 43-40.
Tin junior sekarang memegang bola. Dari Poppy dioper pada Sita, yang langsung mendribel hingga tengah lapangan. Kelihatan banget Sita kebingungan mengoper bola pada siapa, karena Alexa, Stella, dan Vira dijaga ketat masing-masing oleh pemain lawan, sedang Poppy ada di belakangnya. Sita coba memancing lawan supaya terpecah konsentrasinya dengan mencoba masuk ke area three point
shot, tapi nggak ada yang terpancing. Tim Senior rupanya udah tahu bahwa otak Tim Junior adalah Stella dan Vira. Matikan keduanya, dan Tim Junior akan kehilangan setengah kekuatan mereka. Jadi para pemain Tim Senior menjaga ketat Vira dan Stella, bahkan sampai dua orang pemain menutup pergerakan mereka.
Vira mengangkat tangannya, seperti memberi isyarat pada Sita. Wajah Sita terlihat ragu-ragu, tapid ia kembali teringat ucapan Vira saat berbisik tadi.
“Kalo ada kesempatan menembak tiga angka, lakukan. Kapan dan di mana aja. Kita butuh kesempatan mendapat poin sekecil apa pun.”
Ucapan Vira itu seakan memberikan kepercayaan baru pada Sita. Dari jarak yang cukup jauh di luar area three point shot, Sita menembak.
Masuk! Kedudukan sekarang imbang 43-43.
Vira mengacungkan jempolnya ke arah Sita, membuat Sita tersenyum lebar.
Kembali Tim Senior melakukan serangan, yang dibangun oleh Mira. Dari tengah lapangan, Mira memberikan bola pada Clara, yang kemudian berlari menyusuri lapangan. Dihadang oleh Agnes, Clara memilih mengoper bola kembali pada Mira. Sita mencoba menghadang, tapi Mira bisa berkelit dan masuk ke daerah three point shot, berhadapan dengan Stella. Mira mengoper bola pada Dewi. Dewi mencoba menerobos masuk, melewati hadangan Vira. Vira mencoba mengganggu pergerakan Dewi. Dewi mencoba berkelit ke samping. Tapi Vira udah tahu hal itu. Tangan kanannya berhasil menepis bola lepas dari tangan Dewi. Bola liar ke sisi kanan, tapi ada Poppy di situ, yang bergerak lebih cepat daripada Ilana. Poppy berhasil meraih bola, dan langsung mengoperkan pada Stella.
Fast break!
Stella berlari cepat, langsung menuju ring lawan. Ada Clara di sana, tapi posisinya kurang menguntungkan. Clara yang berusia hampir tiga puluh tahun kalah tenaga dan stamina dibanding Stella yang jauh lebih muda. Sekali berkelit, Stella langsung menembakkan bola tanpa ada satu pun lawan yang membloknya.
Nggak masuk!
Bola mengenai bibir ring dan memantul lagi ke dalam lapangan. Nggak disangka-sangka, ada Vira yang berlari dari tengah lapangan. Vira melompat dan
berhasil menangkap bola yang masih berada di udara, lalu coba memasukkannya ke dalam ring dengan cara... slam dunk!
43-45! Untuk pertama kalinya Tim Junior memimpin perolehan angka.
Vira bisa nombok?” tanya Stephanie pada Stella.
“Mana gue tau!” jawab Stella sambil menatap Vira dengan pandangan iri.
* * *
Selanjutnya, angka seperti berkejar-kejaran, hingga menit keenam saat Tin Senior meminta time-out.
“Da, kamu gantiin Stella,” kata Vira.
Ucapan Vira membuat Stella yang lagi minum menoleh ke arahnya.
“Gue masih kuat kok,” kata Stella.
“Bukan masalah lo masih kuat atau nggak, tapi ini strategi,” sahut Vira.
“Strategi apaan? Waktu tinggal enam menit lagi, dan angka masih ketat. Lusi juga masuk lagi tuh! Apa dia bisa nandingin Lusi?” ucapan Stella merujuk pada Rida. Tumben, dia nggak menyebut Rida dengan sebutan anak kampung, seperti yang udah-udah.
“Justru itu. Emang lo mampu nandingin dia yang kembali segar bugar? Mending lo istirahat dulu dan kasih kesempatan Rida yang masih fresh.”
Stella pengin menanggapi ucapan Vira, tapi pundaknya ditepuk Stephanie.
“Siapa sih yang ngasih kewenangan lo jadi pelatih? Kenapa nggak lo aja yang diganti?” Stella mendengus kesal dan duduk di kursi pemain cadangan.
“Oke... jadi Rida gantiin Stella dan Stephanie masuk lagi. Alexa masuk gantiin Poppy, dan langsung tukar posisi dengan Agnes...”
“Tunggu!” Stephanie memotong ucapan Vira. “Agnes nggak keluar? Kalo gitu ada enam orang dong...”
“Nggak. Tetep lima lah...”
“Lho, berarti yang maen gue, lo, Rida, Agnes, Alexa, dan Sita?”
“Siapa bilang gue ikut maen?”
“Jadi?”
“Lo gantiin gue, lalu tuker posisi dengan Agnes, trus Agnes tuker posisi dengan Alexa. Lo bisa jadi guard, kan?” tanya Vira ke Agnes.
Yang ditanya mengangguk.
* * *
“Vira dan Stella diganti? Nekat benar mereka,” komentar Pak Nurdin saat pertandingan dilanjutkan lagi.
“Saya rasa mereka punya pertimbangan tersendiri...,” sahut Pak Isman yang udah mulai bisa memahami jalan pikiran anak-anak didiknya.
* * *
“Lo gila, ya!? Ngeganti gue aja udah merupakan kesalahan, apalagi lo juga ikut-ikutan diganti. Lo mo menang nggak sih?” omel Stella di bangku cadangan.
“Ya maulah...,” jawab Vira.
“Trus kenapa tim cadangan yang turun? Kecuali Alexa dan Steph, yang lainnya kalah skill dari mereka. Udah nggak ada waktu lagi kalo lo mo nerapin berbagai macam strategi. Saat ini kalo mo menang, the best team and the best strategy should be shown. Liat, mereka ternyata lebih ngerti daripada kita,” tandas Stella.
Dengan kembali masuknya Lusi, saat ini emang boleh dibilang Tim Senior turun dengan kekuatan terbaiknya.
“Jangan kuatir... Kita harus kasih kepercayaan ke yang lain untuk nunjukin kemampuan mereka juga. Masih banyak waktu kok,” sahut Vira tenang.
“Gue nggak tau jalan pikiran lo!”
* * *
Vira benar. Kepercayaan merupakan salah satu kunci untuk membangun kebersamaan dalam sebuah tim. Jangan pernah memandang remeh kemampuan teman kita, karena mungkin suatu saat kita akan bergantung kepada teman yang
kita remehkan itu. Dan walau boleh dibilang hanya menurunkan tim cadangan, ternyata Rida dan kawan-kawan bisa mengimbangi permainan Tim Senior yang udah turun dengan pemain-pemain terbaiknya. Faktor stamina yang lebih segar karena sempat beristirahat membuat perbedaan skill mereka dengan Tim Senior menipis, hingga pertandingan tetap berlangsung ketat.
Pada angka 51-49, Lusi terlibat duel di tengah lapangan. Bola yang dipegang pemain berusia 26 tahun itu berhasil ditepis Rida, tapi bisa ditangkap lagi olehnya. Saat Lusi berkelit, Rida cepat mengulurkan tangannya.
Steal!
Rida berhasil memanfaatkan stamina Lusi yang belum sepenuhnya pulih. Saat akan melewatinya, kontrol bola Lusi nggak seketat dalam posisi diam, dan itu membuat Rida berhasil merebut bola.
Shit! rutuk Lusi dalam hati.
Dia tentu aja nggak rela bolanya direbut, apalagi oleh anak junior yang dianggapnya belum tahu apa-apa.
Lusi berusaha merebut kembali bola dari Rida, tapi Rida bisa berkelit. Akibat terlalu memaksakan diri mengikuti gerakan tubuh Rida, Lusi nggak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, dan terjatuh. Sebelum terjatuh Lusi sempat memegang kaus Rida. Akibatnya kaus Rida ikut tertarik ke bawah, dan Rida ikut terjatuh, menimpa tubuh Lusi.
Foul!
Rida segera bangun dan pergi ke sisi lapangan. Tapi anehnya, Lusi tetap tergeletak sambil memegangi betis kirinya dan meringis kesakitan.
Pemain Tim Senior lainnya segera mengerubungi Lusi. Beberapa di antaranya terpancing emosinya melihat rekan satu tim mereka terkapar kesakitan.
“Heh! Maen yang bener dong!” omel Dini sambil menunjuk Rida.
“Yang bener apanya? Udah jelas pemain lo yang coba ngejar dan narik baju. Siapa yang nggak bener!?” Alexa yang maju menanggapi.
Untung suasana nggak keburu memanas karena masing-masing keburu ditenangkan rekan-rekan setimnya. Sementara itu Lusi digotong ke pinggir lapangan sambil menunggu tim medis. Dia masih mengerang kesakitan.
“Lusi kenapa? Cedera?” tanya Hanna dari bangku cadangan.
“Mudah-mudahan cederanya nggak parah dan dia bisa main lagi,” sambung Vira.
“Dasar orang aneh! Justru cederanya dia adalah keuntungan buat kita. Eh, ini malah ngedoain dia bisa main lagi!” sungut Stella.
“Secara pribadi, gue nggak punya masalah ama dia, jadi gue nggak ngedoain cederanya jadi parah. Apalagi suka atau nggak suka, Lusi adalah salah satu pemain terbaik Jawa Barat. Kalo dia sampe cedera, apalagi parah, yang rugi daerah kita juga,” Vira memberi alasan.
“Lagi pula, ngedoain orang yang baik-baik kan dapet pahala, daripada ngedoain yang jelek-jelek. Iya, nggak?” lanjut Vira, bikin Stella tambah kesel.
* * *
Lusi akhirnya emang nggak bisa melanjutkan sisa pertandingan. Bahkan dia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mengatasi cederanya. Posisinya digantikan oleh Ilana.
“Mo main lagi nggak?” tawar Vira pada Stella.
“Dengan sisa waktu segini?” Stella balik nanya. Pertandingan emang tinggal tersisa kurang dari dua menit lagi.
“Emang kenapa? Tim kita masih ketinggalan. Saatnya main habis-habisan...” Vira meneguk minumannya. “Gue mo masuk. Terserah kalo lo nggak mau. Tapi mungkin ini kesempatan terakhir lo main bareng gue,” lanjut Vira, lalu menuju ke tengah lapangan.
“Sialan lo, Vir!” rutuk Stella, kemudian menghabiskan minuman yang dipegangnya dan berdiri menyusul Vira.
* * *
Cederanya Lusi serta masuknya kembali Vira dan Stella membuat hasil akhir pertandingan sepertinya udah diketahui. Setelah Rida menyamakan kedudukan
lewat dua kali tembakan bebas, Vira dan Stella dibantu Stephanie seperti menguasai lapangan. Fast break yang mereka lakukan membuat para pemain senior keteteran. Mereka udah kecapekan dan udah nggak mampu lagi mengimbangi stamina juniornya yang masih kelihatan segar. Vira dan Stella bahkan dua kali membuat blind pass, dan Vira sekali lagi melakukan slam dunk yang dipelajarinya dari Hera. Di akhir-akhir pertandingan, Tim Senior melakukan dua kali time-out untuk mengubah strategi dan mengganti pemain, tapi tetap nggak bisa memperbaiki keadaan mereka. Tim Senior seperti anak ayam kehilangan induk, dan hal itu benar-benar dimanfaatkan juniornya.
* * *
Lima... empat... tiga... dua... satu...
Begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, gemuruh kegembiraan langsung terpancar di kubu Tim Junior. Sebagian dari para pemain cadangan bahkan masuk ke lapangan dan memeluk rekan-rekannya yang bertanding, seolah-olah mereka udah jadi juara di suatu turnamen. Tim Junior berhasil memenangi pertandingan dengan hasil akhir 62-56. Hasil yang cukup meyakinkan mengingat lawan yang mereka hadapi. Selain sebagai tiket mereka ke babak final Kejurnas, kemenangan ini juga membuktikan bahwa kemampuan Tim Junior nggak kalah dengan para seniornya, sekaligus memupuskan keraguan sebagian pihak tentang kemampuan mereka.
“Kita akhirnya ke Kejurnas!” teriak Poppy meluapkan kegembiraannya. Dia lalu memeluk Sita yang juga sedang meluapkan kegembiraan. Kontras dengan suasana di kubu Tim Senior yang terlihat lesu dan muram.
* * *
“Pertandingan yang menarik,” komentar Pak Nurdin.
“Jadi akhirnya kita akan mengirim Tim Junior?” tanya Pak Isman.
“Hmm... soal itu, kita bicarakan dalam rapat besok pagi,” jawab Pak Nurdin singkat.
* * *
Vira mendekati Stella yang lagi minum di pinggir lapangan.
“Makasih...,” ujar Vira.
Stella melirik Vira dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pergi menuju ruang ganti. Meninggalkan yang lain yang masih larut dalam kegembiraan.
DUA PULUH DUA
I don’t like Monday!
Itu adalah istilah yang sering terdengar setiap Senin, saat orang-orang kembali ke aktivitas dan rutinitas semula setelah menikmati liburan akhir pekan. Emang, setelah liburan paling malas untuk kembali ke rutinitas sehari-hari, apalagi jika rutinitas itu dirasa membosankan. Salah satunya adalah sekolah.
Tapi bagi Vira, hari ini adalah Senin yang membahagiakan. Bukan karena hari ini nggak ada ulangan, atau hari ini dia menang undian, tapi karena Vira mengawali hari ini dengan sesuatu yang baru. Ya, mulai hari ini dia menambah satu lagi catatan pentingnya, yaitu menjadi pemain basket putri provinsi Jawa Barat. Status itu sebetulnya udah disandang Vira sejak dia ikut kualifikasi Kejurnas, tapi Vira merasa baru kemarin dia resmi menyandangnya setelah Tim Junior Jawa Barat berhasil mengalahkan seniornya.
Vira sebetulnya lebih suka melihat ekspresi wajah anggota Tim Senior saat quarter keempat berakhir daripada melihat ekspresi wajah teman-temannya. Ekspresi wajah yang kelihatan begitu kesal dan seakan-akan seperti nggak ada harapan untuk hidup lagi. Tapi, Vira juga menyesalkan cederanya Lusi, walau itu bukan salah siapa-siapa. Dia nggak tahu apakah cedera pemain senior itu parah atau nggak. Meskipun kebahagiaannya sedikit berkurang akibat cederanya Lusi, Vira juga gembira karena bisa bermain kembali bersama Stella dalam satu tim dan
menikmati salah satu pertandingan terbaiknya, walau mereka berdua belum berdamai.
“Lo nggak akan berubah pikiran untuk masuk lagi ke dalam tim? Kita mungkin bisa juara kalo lo ikut,” tanya Vira pada Stella.
“Jangan harap...,” jawab Stella.
* * *
Selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah, Vira turun ke lantai bawah. Di sana cuman ada Niken yang lagi mengerjakan latihan soal di ruang tengah.
“Sita udah pergi?” tanya Vira.
“Udah, tadi subuh. Tadinya dia mo bangunin kamu, tapi nggak tega karena kamu pasti kecapekan. Makanya dia cuman nitip salam lewat aku,” jawab Niken.
“Aku tau. Dia udah pamitan kok tadi malem.”
Sita emang pulang ke Tasik pagi-pagi karena dia nggak mau bolos sekolah. Apalagi katanya hari ini ada ulangan di kelasnya. Vira sendiri sangsi, apa Sita bisa ngerjain ulangan padahal nggak sempet belajar. Kalo dia sih mending minta ulangan susulan daripada bela-belain ngejar waktu.
“Sita pergi ke terminal bus ama siapa?” tanya Vira seperti teringat sesuatu.
“Katanya sih ama temennya.”
“Katanya?”
“Sita bilang gitu. Temennya nunggu pake motor di ujung jalan. Katanya dia nggak mau suara motornya bangunin orang karena masih subuh.”
“Gitu ya...” Vira manggut-manggut.
Siapa lagi yang nganterin Sita kalo bukan Rei? batin Vira.
“Kenapa?” tanya Niken.
“Nggak... nggak papa...”
Vira lalu menyantap nasi goreng sosis bikinan Bi Sum. Sementara Niken meneruskan mengerjakan latihan soalnya.
“Vir?”
“Heh?”
“Udah ketemu Kak Aji?”
Ucapan Niken membuat Vira menghentikan gerakannya yang akan menyuap nasi ke dalam mulut.
“Kamu tau kan, Kak Aji lagi ada di Bandung?” tanya Niken.
“Eh... tau...,” jawab Vira tergagap-gagap.
“Udah ketemu dia?”
“Belum... eh... Paling ntar pulang sekolah.”
“Pinjem HP-mu dong... HP-ku baterainya abis, dan aku tadi malem lupa nge-charge,” kata Niken.
“Boleh. Ambil sendiri di tas deh. Emang no nelepon siapa?”
“Kak Aji. Aku lupa mo ngomong sesuatu ke dia. Nomor Kak Aji yang di sini ada di phonebook kamu, kan?”
“Tentu aja...”
Niken menekan nomor telepon Aji di HP Vira. Nggak lama kemudian...
“Nggak aktif,” ujar Niken.
“HP-nya dimatiin, kali, atau baterainya abis.”
“Nggak. Kak Aji selalu nyalain HP-nya, di mana pun. Dan dia juga nggak pernah lupa nge-charge baterai HP-nya kalo udah low.” Niken melihat nomor yang tertera di phonebook HP Vira. “Pantes aja. Ini nomor Kak Aji yang lama. Kamu nggak punya nomor HP Kak Aji yang baru?” tanya Niken.
“Eh... emang dia ganti nomor, ya?” Vira malah balik nanya.
Pertanyaan Vira membuat Niken menoleh dan menatap tajam ke arahnya.
“Kamu nggak punya nomor HP Kak Aji yang baru? Berarti selama dia di sini kamu belum pernah telepon-teleponan ama dia?”
“Eh... kan aku sibuk latihan...”
“Trus, pas dia ganti nomor, dia nggak ngasih tau kamu? Dan dia nggak ngasih tau kamu kalo mo ke Bandung? Tega bener kakakku ya... ke pacarnya sendiri...” Niken seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.
“Dia mo kasih surprise, kali...,” sahut Vira.
“Vir?”
“Ya?”
“Kamu udah putus ama Kak Aji, ya?”
“Kata siapa?”
“Vira...”
Vira terdiam mendengar ucapan Niken. Beberapa menit kemudian dia mengangguk.
“Kak Aji yang bilang ke kamu?” tanya Vira.
“Nggak. Dia nggak cerita apa-apa. Aku ngambil kesimpulan ini setelah liat kalian berdua. Seolah-olah nggak saling kenal.”
“Kapan?” tanya Niken lagi setelah Vira kelihatan cuek aja, bahkan mulai menyendok nasi gorengnya lagi.
“Apa?”
“Kapan kalian putus?”
“Udah agak lama sih... sekitar dua bulanan, gitu...”
Dua bulan? Dan selama itu Niken nggak tahu? Dia juga nggak menangkap perubahan tingkah laku Vira dua bulan yang lalu, nggak seperti orang lain kalo putus cinta, contohnya dirinya. Jadi, siapa yang menyangka kalo Vira udah putus dengan kakaknya?
“Jangan tanya kenapa, karena aku nggak bakal membahasnya...,” tandas Vira.
“Jangan kuatir, aku nggak bakal nanya. Yan gaku heran, kenapa kamu ngerahasiain ini ke aku? Kak Aji juga...”
“Aku emang sengaja ngerahasiain ini. Aku cuman mo jaga perasaan kamu. Kak Aji kan kakak kamu. Dan aku juga minta Kak Aji untuk berbuat hal yang sama.”
Mendengar jawaban Vira, Niken cuman tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Vira... Vira... kenapa sih harus mikirin perasaanku? Walau aku temen kamu dan Kak Aji itu kakakku, aku nggak bakal ikut campur soal hubungan kalian. Bukannya aku nggak peduli. Aku seneng kamu bisa deket ama Kak Aji. Tapi bukan berarti aku bakal maksain kamu harus jadian ama dia. Kalo emang kalian nggak jodoh, ya mo gimana lagi. Bahkan kalo Kak Aji macem-macem ke kamu, aku akan membela kamu, walau dia kakakku...,” tandas Niken.
“Jangan kuatir. Kakakmu orang baik kok. Kami putus bukan karena dia macem-macem atau aku yang salah. Kami putus cuman karena ngerasa udah nggak cocok aja, dan ada perbedaan pandangan di antara kami yang sukar disatukan, walau udah dicari jalan keluarnya. Karena itu kami sepakat untuk putus secara baik-baik,” sahut Vira.
“Syukur deh kalo begitu.”
Vira melirik jam tangannya.
“Berangkat yuk! Ntar terlambat lagi! Kamu mo bareng aku, kan?” kata Vira.
“Emang mo bareng siapa lagi? Kamu udah selesai makannya?”
“Udah.”
Saat Vira akan mengambil tasnya yang ada di ruang tengah, Niken menyerahkan HP Vira yang sedari tadi dipegangnya.
“Kak Aji nggak pernah ganti nomor kok. Nomor dia tetap yang ada di phonebook HP kamu,” kata Niken sambil tersenyum jail.
“Dasar kamu....”
* * *
Pulang sekolah, Vira setengah berlari menuju kelas Rida. Ternyata Rida belum pulang, lagi ngobrol bareng temen-temennya.
“Kamu udah dapet SMS dari Pak Isman?” tanya Vira.
“Belum. Kamu?”
“Belum juga. Aku mo ke GOR Padjadjaran pulang sekolah ini. Mo ngebahas soal kemungkinan masuknya Stella ke dalam tim kita. Kamu mau ikut?”
“Emang Pak Isman ada di sana?”
“Kemaren sih kata Pak Isman ada rapat pengurus PERBASI dan jajaran pelatih sampe siang, jadi pasti Pak Isman ada di sana.”
“Kenapa nggak nelepon dulu?”
“Nggak usah, ntar ngeganggu, lagi. Kalo Pak Isman udah pulang ya udah, nggak masalah. Mo ikut nggak? Sekalian kamu bantu aku ngomong.”
Rida mengangguk mengiyakan.
* * *
Saat Vira sampe di Sekretariat PERBASI Jawa Barat, ternyata rapat belum selesai. Vira harus menunggu hampir satu jam sebelum dia melihat para peserta rapat keluar dari ruangan, termasuk Pak Isman. Dia dan Rida segera menghampiri si pelatih.
“Hai, Vira... kebetulan, Bapak pengin membicarakan sesuatu ke kamu. Juga ke Rida,” kata Pak Isman. Lalu dia memperkenalkan Vira dan Rida ke beberapa pengurus PERBASI Jabar yang ada di situ dan belum mengenal mereka berdua. Anehnya, nggak ada satu pun dari para pengurus itu yang memberi ucapan selamat atas kemenangan Tim Junior kemarin.
Tapi Vira nggak peduli soal itu.
* * *
“Digabung?”
Vira nggak percaya dengan apa yang didengarnya dari Pak Isman. Demikian juga Rida.
“Maksudnya apa?” tanya Rida.
“Tadi rapat pengurus dan pelatih memutuskan, untuk babak final Kejurnas nanti akan segera dibentuk satu tim baru, yang pemainnya merupakan gabungan antara Tim Senior dan Junior. Sebagian pengurus masih lebih yakin dengan kemampuan Tim Senior yang dua tahun lalu berhasil masuk final. Walau begitu, ada beberapa pemain junior yang akan dimasukkan, karena kemampuan tekniknya tidak kalah dari seniornya. Selain itu juga untuk memuluskan proses regenerasi di tim hingga para pemain junior itu akan memperoleh pengalaman di Kejurnas, hingga diharapkan dua tahun lagi para pemain junior itu dapat menggantikan peran para seniornya,” Pak Isman menjelaskan.
Vira nggak bisa membayangkan dirinya berada satu tim dengan Lusi, Mira, atau pemain senior lainnya yang memandang remeh kemampuannya. Apalagi harus bekerja sama dengan mereka. Nggak janji deh...
“Jadi, kita nggak semuanya tampil di babak final?” tanya Vira.
“Tim Junior? Tentu saja tidak. Kita kan hanya akan membawa paling banyak dua belas pemain. Mungkin dari Tim Junior hanya akan dipilih sekitar empat atau lima orang. Bapak baru akan membicarakan soal ini dengan tim pelatih. Tapi Bapak pastikan Vira bakal masuk tim. Rida juga kemungkinan bisa masuk, tergantung evaluasi nanti. Oya, kalau Stella bagaimana? Dia mau bergabung lagi?”
Justru inilah yang akan dibicarakan Vira. Tapi mendengar kabar yang di luar dugaannya itu, Vira memutuskan untuk nggak membahas soal ini. Karena itu dia cuman menggeleng pelan.
“Sayang... padahal duet kalian berdua tidak kalah dengan duet Lusi dan Mira. Ditambah Stephanie, bisa jadi pilihan alternatif kita di Kejurnas nanti.”
Nggak kalah dengan duet Lusi dan Mira? Kami lebih baik dari mereka! batin Vira.
“Kenapa, Pak?” tanya Vira.
“Kenapa apa?”
“Kenapa bukan kami semua yang pergi? Padahal mereka udah janji, pemenang pertandingan kemaren bakal dikirim ke babak final, tanpa embel-embel bakal digabung dengan Tim Senior. Kenapa mereka mengingkari janji lagi?”
Pak Isman menghela napas mendengar pertanyaan Vira.
“Kamu kan tahu, soal pembentukan tim dan sebagainya ditentukan oleh Badan Tim Nasional. Bapak hanya bertugas melatih dan merekrut pemain, tentu saja dengan kriteria yang ditetapkan mereka. Bapak sendiri secara pribadi tidak masalah siapa yang akan pergi, karena baik kalian maupun Tim Senior punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bapak ingin Tim Junior yang pergi sesuai perjanjian kemarin, tapi ternyata pihak pengurus punya rencana tersendiri, dan Bapak tidak bisa berbuat apa-apa karena Bapak tidak punya wewenang di situ.”
Pak Isman berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Dan asal kalian tahu, sebetulnya soal ini diputuskan setelah ada protes dari Tim Senior soal pertandingan kemarin,” lanjut Pak Isman.
“Protes? Soal apa, Pak?” tanya Rida.
“Kehadiran Stella. Mereka tahu Stella sudah keluar dari tim. Jadi kehadirannya kemarin dipertanyakan. Apalagi mereka juga tahu Stella hanya membantu kalian supaya bisa menang di pertandingan itu, tapi tidak ikut ke babak final. Mereka menganggap itu curang. Kalau saja kemarin tidak ada Stella, pasti mereka tidak bakal protes dan kalian akan pergi semuanya.”
Kalo nggak ada Stella, kita bakal kalah dan nggak bakal pergi! batin Vira.
“Tapi Stella kan bagian dari tim juga. Saya sendiri baru aja mo minta bantuan Bapak untuk membujuk dia supaya mau bergabung lagi. Kita punya peluang besar di Kejurnas kalo ada dia,” tandas Vira.
“Memang. Tapi secara administratif dia sudah bukan bagian dari tim.”
“Kenapa harus masalahin soal administrasi? Itu kan cuman masalah kertas? Nggak penting banget!”
“Bagi sebagian orang, justru masalah administrasi sangat penting. Yang jelas, Lusi dan kawan-kawan telah melihat itu sebagai sebuah lubang di kemenangan kalian, dan mereka memanfaatkan lubang itu untuk menggagalkan hasil pertandingan kemarin. Karena itu para pengurus dan pelatih mengadakan rapat untuk mencari jalan tengahnya, dan muncullah rencana penggabungan tim sebagai solusi terbaik.”
“Ini bukan solusi terbaik. Seharusnya Bapak tahu, membentuk tim baru berarti memulai semuanya dari nol. Kerja sama, strategi, dan yang lain. Waktu kita nggak banyak, dan membentuk tim baru adalah sebuah kesalahan, walau dibentuk dari pemain-pemain terhebat sekalipun,” kata Vira.
Ucapan Vira ada benarnya juga. Pak Isman pun mengakui hal itu. Tapi sebagai pelatih, dia nggak mungkin kelihatan kalah di depan anak didiknya.
“Karena itu, pemanggilan akan segera dilakukan. Paling lambat besok sudah akan terpilih anggota tim, mudah-mudahan bisa sore ini. Dan Bapak lihat kalian rata-rata dapat beradaptasi dengan mudah, dan mudah-mudahan perkiraan Bapak ini tepat...”
Tapi jawaban Pak Isman kelihatannya nggak memuaskan Vira.
“Begini saja... Bapak akan usahakan hingga enam orang dari kalian masuk tim. Itu berarti setengah anggota tim. Dan untuk Vira, juga Rida akan Bapak masukkan, apalagi Rida bisa jadi pelapis Lusi yang sedang cedera, walau katanya tidak parah. Berikutnya mungkin Stephanie dan Stella, kalau dia mau. Jadi tinggal mencari dua orang lagi. Apa kalian ada usulan siapa kira-kira?” tanya Pak Isman.
“Makasih, tapi Bapak lebih tau mana yang terbaik untuk tim...,” tolak Vira.
DUA PULUH TIGA
VIRA benar-benar nggak menyangka, jalan menuju babak final yang udah terbentang lebar jadi belok-belok lagi. Walau Pak Isman menjamin dirinya bakal masuk tim inti, itu nggak membuat Vira puas. Tampil di Kejurnas emang merupakan impian setiap pemain, termasuk dirinya. Tapi nggak cuman itu tujuan Vira bermain basket. Dia bermain basket untuk hobi, kesenangan, dan memiliki tempat berbagi. Dan Vira nggak seneng kalo kenikmatan bermain basket yang dia rasakan dicampuri hal-hal lain, di luar permainan basket itu sendiri. Main basket ya main basket, nothing else!
Apalagi Pak Isman bilang keputusan pernyatuan kedua tim dipicu oleh kehadiran Stella dalam pertandingan kemarin. Itu membuat Vira jadi merasa bersalah, karena dia yang membujuk dan membawa Stella. Tapi saat itu dia nggak punya pilihan lain. Tanpa Stella, mereka nggak bakal bisa menang.
“Nggak usah merasa bersalah... Bener kata lo, kita nggak bakal menang tanpa Stella. Malah kita semua nggak jadi pergi,” hibur Stephanie saat ketemu Vira malamnya di sebuah kafe di daerah Dago.
“Tapi gue merasa nggak enak aja ama temen-temen. Gue bisa ikut ke babak final, tapi yang lain nggak. Terutama yang dari luar kota kayak Sita. Mereka udah bela-belain dateng ke sini cuman buat pertandingan kemarin, tapi lalu dibikin kayak gini. Gue harus ngomong apa ke mereka?”
Suara HP menghentikan obrolan mereka berdua. Vira mengambil HP dan melihat SMS yang masuk.
“Dari Sita... nanyain kapan mulai latihan. Dia bilang belum dapat kabar dari Pak Isman,” kata Vira.
“Gue sih udah dapet SMS dari Pak Isman tadi sekitar jam limaan. Besok kita mulai latihan jam tiga sore,” sahut Stephanie.
“Gue nggak tau harus jawab apa. Sita salah satu yang paling bersemangat untuk ikut Kejurnas. Dia bahkan rela bolak-balik Tasik-Bandung cuman untuk memastikan keikutsertaan kita. Pemain yang lain juga kurang-lebih begitu. Gue nggak tega liat kekecewaan mereka, yang lalu berbalik menjadi kebencian pada diri gue, karena gue yang udah menghancurkan impian mereka.”
“Jangan berprasangka buruk. Gue yakin anak-anak yang lain pasti bisa ngerti. Lo udah berbuat yang terbaik bagi tim, dan kalo bukan karena lo, kita nggak bakal bisa sejauh ini. Mungkin kita udah gagak di babak kualifikasi.”
“Tapi gue tetep aja merasa nggak enak.”
* * *
Akibat terlalu banyak berpikir, Vira jadi pusing sendiri. Akibatnya dia nggak nafsu makan. Sama sekali nggak mau menyentuh makan malam yang udah disiapkan Bi Sum.
“Tadi Non Niken juga nggak mau makan, sekarang Non Vira,” sungut Bi Sum yang merasa jerih payahnya nggak dihargai.
“Niken juga nggak mau makan?” tanya Vira.
“Tadi pas Bibi tawarin, alasannya masih kenyang. Trus dia masuk ke kamar dan sampe sekarang nggak keluar-keluar lagi.”
Vira heran, kenapa Niken nggak mau makan? Padahal tadi pagi dia kelihatan fine-fine aja, nggak ada masalah. Di kelas juga Niken bersikap biasa. Vira emang sempat beberapa kali memergoki Niken lagi bengong sendiri dan seperti nggak konsen ke pelajaran. Tapi nggak lama.
Pintu kamar Niken ternyata nggak dikunci, dan Niken belum tidur. Dia lagi mengutak-ngutik HP-nya.
“Kamu belum makan?” tanya Vira.
“Aku belum laper,” jawab Niken.
Vira masuk ke kamar dan duduk di pinggir tempat tidur Niken.
“Ada apa?” tanya Vira.
“Ha?”
“Nggak biasanya kamu nggak mau makan, kecuali kalo udah makan di rumah kamu.”
“Nggak ada apa-apa. Aku belum laper kok,” tandas Niken. Tapi kelihatan jelas dia menyembunyikan sesuatu.
Tumben, kali ini Vira nggak mau memaksa Niken untuk ngaku. Pikirannya sendiri udah pusing dengan masalahnya, dan dia nggak mau menambah pikirannya dengan masalah lain. Paling nggak malam ini.
“Ya udah... aku mo ke kamar dulu. Kamu belum mo tidur?” kata Vira.
“Bentar lagi.”
Vira beranjak keluar kamar Niken. Tapi saat mencapai pintu, Niken memanggilnya.
“Ada apa lagi?” tanya Vira.
“Hmm... Waktu Sita tinggal di sini dan aku lagi nginep di rumah, apa Rei sering ke sini?”
Vira tertegun mendengar pertanyaan Niken.
Jadi dia akhirnya tahu juga! batin Vira.
“Vir?”
“Eh... nggak tau. Pas ada aku di rumah sih nggak pernah tuh. Paling sekali Rei ke sini, tapi dia nanyain kamu, trus pergi lagi deh,” jawab Vira. Paling nggak dia ngasih jawaban yang jujur, karena Rei emang nggak pernah datang saat dia ada di rumah.
Niken termangu mendengar jawaban Vira.
“Emang kenapa?” tanya Vira. Dia bertanya bukannya belum tahu, tapi ingin mengorek, sejauh mana Niken tahu soal Rei dan Sita.
“Aku nggak nyangka. Rei dan Sita...” Niken nggak melanjutkan ucapannya. Dia lalu menghela napas. “Udahlah. Lagi pula, aku kan udah putus ama dia. Kenapa masih pusing-pusing? Dia mo pacaran lagi kek, ama siapa aja, itu udah bukan urusanku lagi.” Niken mencoba menghibur dirinya sendiri. Tapi Vira bisa melihat dengan jelas, mata Niken berkaca-kaca.
Tega kamu, Rei! batin Vira. Tapi dia udah bersumpah untuk nggak mengatakan apa pun tentang yang diketahuinya soal Rei pada Niken. Dan Vira nggak mau melanggar sumpahnya, walau hatinya sering merasa miris kalo melihat Niken memikirkan soal Rei dan hubungan mereka. Vira tahu, Niken sebetulnya masih sayang pada Rei, tapi dia nggak mau menunjukkannya secara terbuka.
“Katanya kamu mo ke kamar? Kok malah bengong?” suara Niken membuyarkan lamunan Vira.
“Eh... iya... tapi, kamu mo ngomong sesuatu? Atau cerita? Nggak papa kok... aku juga belum begitu ngantuk,” balas Vira.
Niken menggeleng.
“Nggak. Aku mo tidur. Besok jadwal piketku, jadi aku harus berangkat lebih pagi,” jawab Niken dengan suara masih bergetar.
“Ya udah kalo begitu.”
“Kamu juga mo tidur?”
“Iya.”
“Nggak main streetball?”
Ucapan Niken kembali mengejutkan Vira. Niken tahu dia sering main streetball? Dari mana?
“Nggak usah ngelak. Kamu kira aku nggak tau kamu sering keluar malem buat main streetball? Kadang-kadang juga ama Rei, kan? Kalian berdua emang kompak kalo soal begini.”
Vira berpikir, apa Niken juga tahu Rida pernah ikutan main?
“Malme ini kamu nggak main?” tanya Niken lagi.
“Nggak. Aku capek.”
“Soal Kejurnas, ya? Nggak usah dipikirin. Toh kamu dan Rida tetep masuk dalam tim.”
“Bukan itu masalahnya...”
“Aku tau. Kamu ngerasa nggak enak dengan yang lain, kan?”
Vira cuman diam. Semua itu tergantung kamu. Apa pun keputusan yang kamu ambil, aku yakin itu yang terbaik. Aku akan selalu mendukung kamu,” tandas Niken.
“Thanks...”
“Ya udah, kamu mo tidur, kan? Jangan sampe besok telat bangun.” Gaya Niken udah kayak Mama Vira aja.
Vira tersenyum, lalu beranjak menuju pintu kamar.
“Goodnight...,” ujar Vira.
“Goodnight to you too...”
DUA PULUH EMPAT
VIRA terlambat datang pada latihan pertamanya sebagai anggota tim gabungan Jawa Barat. Anggota tim yang lain ternyata udah berkumpul. Untung aja latihan belum dimulai, sebab Pak Isman dan pelatih lainnya belum kelihatan di lapangan.
“Kamu terlambat...,” sapa Rida.
“Sori... tadi ada perlu,” sahut Vira.
Vira melirik ke arah Stephanie. Kali ini kapten Tim Junior itu terlihat diam, sama sekali nggak bicara sepatah kata pun. Juga Alexa dan Poppy yang ada di tempat itu. Vira tahu, mereka semua nggak senang dengan apa yang terjadi. Semua merasa dibohongi. Tapi nggak ada yang bisa diperbuat, karena bagaimanapun mereka punya ambisi masing-masing untuk tampil di Kejurnas.
Iseng, Vira menghitung anggota Tim Junior yang datang. Ada lima orang termasuk dirinya. Dan semuanya berasal dari Bandung. Pandangan Vira kemudian beralih ke kerumunan lain di sisi lapangan. Pemain dari Tim Senior berkerumun di sana. Vira menghitung, ada enam orang termasuk Lusi yang kaki kanannya terlihat masih memakai pelindung kaki dan duduk di tribun paling depan dengan dikerumuni rekan-rekannya.
Ada enam orang pemain dari Tim Senior, dan ada lima orang dari Tim Junior. Kalo ada dua belas orang yang bakal dipanggil dan Pak Isman menepati janjinya,
berarti masih ada satu tempat lagi yang bakal diisi oleh pemain dari Tim Junior. Dan kelihatannya Vira bisa menebak siapa yang akan menjadi pemain kedua belas.
“Mo ke mana, Vir?” tanya Rida yang melihat Vira akan beranjak dari tempatnya.
“Sebentar...”
Vira menuju kerumunan pemain Tim Senior. Kedatangannya tentu aja menimbulkan kehebohan di kedua kubu.
“Vira mo ngapain?” tanya Poppy harap-harap cemas.
“Nggak tau,” jawab Alexa.
“Nggak usah kuatir... kalian kayak nggak tau Vira aja. Dia kan udah pernah ngelakuin ini sebelumnya...,” tukas Stephanie sambil tersenyum.
Kedatangan Vira yang “tanpa diundang” jelas menjadi perhatian di kubu Tim Senior.
“Mo apa kamu?” kata Mira menyambut kedatangan Vira.
Vira nggak menggubris perkataan Mira. Dia menuju ke Lusi yang duduk dan tertutup pemain lain.
“Cedera kamu nggak parah, kan?” tanya Vira.
“Kenapa? Kamu ngarepin Lusi cedera parah!?” potong Mira.
“Mir...” Lusi memperingatkan temannya. Lalu dia menatap ke arah Vira.
“Aku harap nggak parah. Sebab kamu sangat dibutuhin dalam tim ini,” lanjut Vira.
Ucapan Vira yang terdengar lembut dan bersahabat membuat tatapan mata Lusi berubah, dari yang tadinya kelihatan “sangar” jadi sedikit melembut.
“Nggak papa kok. Minggu depan juga aku udah bisa main lagi,” jawab Lusi.
“Syukur deh kalo begitu...”
Vira berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Ya udah... see you later...,” lanjutnya, lalu kembali ke teman-temannya diikuti tatapan para pemain senior.
“Vira... Vira...,” gumam Stephanie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
* * *
Lima menit kemudian Pak Isman dan ofisial tim lainnya datang ke lapangan. Melihat kedatangan pelatihnya, Vira segera menghampiri.
“Vira mo ngapain lagi?” tanya Poppy (lagi).
“Mo protes, kali...,” jawab Alexa sekenanya.
Tanpa diduga, Stephanie beranjak menyusul Vira, diikuti yang lainnya.
“Pak, saya mo bicara,” kata Vira.
Pak Isman yang baru aja menaruh tasnya di bangku menoleh ke arah Vira. Juga Pak Dibyo dan ofisial lain yang ada di dekat situ.
“Vira? Nanti saja kalau mau bicara. Sekarang kita sudah terlambat latihan,” sahut Pak Isman.
“Sebentar saja. Hanya lima detik.”
“Oke... kamu mau bicara apa?”
Vira menatap tajam wajah pelatihnya.
“Saya keluar dari tim,” kata Vira mantap.
Ucapannya membuat Pak Isman dan yang lainnya terkejut, termasuk Stephanie dan pemain Tim Junior lainnya yang ada di belakang Vira.
“Apa kata kamu?” tanya Pak Isman.
“Maaf... tapi saya nggak bisa masuk dalam tim ini,” kata Vira.
“Alasannya?”
“Nggak ada alasan bagi saya untuk tetap berada di tim ini. Saya udah nggak punya lagi motivitasi dan hati untuk bermain di sini. Dan Bapak pasti tahu tanpa itu semua, kita nggak akan bisa bermain dengan baik, dan nggak berguna bagi tim. Karena itu saya lebih baik memberi tempat saya pada orang lain yang mungkin lebih berguna bagi tim.”
Ucapan Vira singkat, tapi langsung menuju sasaran.
“Kamu sudah pikirkan baik-baik keputusanmu itu? Kamu adalah salah satu pemain yang sangat dibutuhkan tim. Salah satu pemain yang bisa mengubah permainan sesuai kondisi di lapangan, dan kita membutuhkan itu semua.”
Vira mengangguk mantap.
“Tapi saya tidak akan berguna jika tidak bisa bermain sepenuh hati. Dan saya sudah memikirkan masak-masak keputusan ini. Ini keputusan terberat yang pernah saya ambil,” jawabnya.
Pak Isman menghela napas, dan sejenak mengedarkan pandangannya.
“Baiklah, walau Bapak menyayangkan keputusan kamu, tapi Bapak tidak bisa memaksa kamu untuk tetap masuk tim. Semoga ini keputusan terbaik yang kamu buat,” kata Pak Isman akhirnya.
“Terima kasih, Pak. Semoga tim ini juga bisa sukses.”
“Tapi kamu tidak akan menolak kalau suatu saat nanti dipanggil lagi untuk mewakili daerah, kan?”
“Tentu saja nggak,” jawab Vira sambil tersenyum.
* * *
“Vir...,” ujar Stephanie saat Vira akan pergi.
“Ini keputusan gue sendiri, dengan alasan pribadi gue. Gue nggak akan nganjurin yang lain untuk ikut-ikutan mengundurkan diri. Bagi yang ingin tetap bergabung di tim ini silakan saja, nggak usah merasa ada beban. Dan bagi yan ginin keluar, harus punya alasan yang kuat dan keluar dari pribadinya sendiri. Nggak ada solidaritas tim di sini,” kata Vira.
Vira lalu memegang pundak Rida yang ada di dekatnya.
“Impian kamu jadi pemain nasional, kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini,” ujarnya.
“Tapi...”
“Belum tentu kesempatan seperti ini akan datang dua kali,” potong Vira.
DUA PULUH LIMA
Sore hari...
VIRA lagi asyik bermain basket sendirian di lapangan kompleks rumahnya saat sebuah Honda CRV berhenti di pinggir lapangan. Vira menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan mobil jenis SUV itu. Dari dalam mobil, keluar Stella.
“Ganti mobil nih? Audi lo ke mana?” seru Vira.
Stella yang sore ini memakai T-shirt putih dan celana katum krem nggak menanggapi seruan Vira. Dia berjalan memasuki lapangan. Rambutnya yang agak pirang dan dibiarkan tergerai berkibar ditiup angin sore yang sepoi-sepoi.
“Lo mo ketemu gue?” tanya Vira.
“Lo kira gue punya temen yang harus dikunjungi di daerah pinggiran kayak gini?” jawab Stella. Masih kelihatan angkuh.
“Tumben. Biasanya gue yang ngejar-ngejar lo. Dari mana lo tau alamat gue?”
“Dari Amel. Gue tadi ke rumah lo, tapi kata pembantu lo, lo lagi ada di lapangan kompleks.”
“...dan lo langsung bisa nemuin gue.”
“Kompleks perumahan kecil kayak gini, nggak susah nemuin lapangan basket yang cuman satu-satunya,” sahut Stella sambil melihat ke arah lantai lapangan yang beberapa bagian semennya udah mulai pecah atau retak-retak.
Kaki gue bisa ancur kalo main di sini! batin Stella.
“Kenapa lo nggak nelepon gue dulu? Amel pasti ngasih nomor HP gue, kan?” tanya Vira.
“Apa gunanya nelepon kalo HP lo nggak aktif?”
Mendengar ucapan Stella, Vira langsung membuka tas ranselnya yang diletakkan di bawah ring. Dia mengambil HP-nya yang disimpan di dalam tas.
“Yah... baterainya abis...,” gumamnya kemudian.
* * *
Hari ini bimbel tempat Niken belajar selesai lebih cepat karena salah satu pengajar yang harusnya memberi pelajaran mendadak sakit. Niken bisa pulang lebih cepat, karena tugas administrasi yang dia kerjakan kebetulan nggak terlalu banyak.
Karena pulang cepet, Niken memutuskan untuk mampir dulu ke toko buku. Baca-baca sebentar di sana, baru pulang. Sebelumnya dia akan mampir ke rumah karena tadi pagi sebelum Niken berangkat sekolah, ibunya menelepon, berpesan supaya sepulang sekolah dia mampir dulu ke rumah untuk mengambil pepes ayam buatan ibunya yang merupakan salah satu makanan favoritnya.
Paling pepesnya belum jadi! batin Niken. Jadi daripada dia bete nunggu di rumah dan digangguin Panji, mendingan baca-baca dulu di toko buku, nanti pas mo magrib baru pulang.
Saat melewati tempat parkir motor pelataran toko buku, Niken melihat Rei baru keluar dari toko buku sambil menenteng dus berukuran sedang. Dan yang membuat Niken nggak percaya dengan penglihatannya, ternyata Rei nggak sendiri, tapi bersama seseorang. Kepala Niken seolah mau meledak begitu melihatnya.
Nggak mungkin! batin Niken.
* * *
“Lo dapet panggilan dari Pak Isman, kan?” tanya Vira.
“Iya.”
“Trus, kenapa lo malah di sini? Nggak latihan dengan yang lain?”
Mendengar ucapan Vira, Stella malah geleng-geleng kepala sambil menatap tajam ke arah Vira.
“Gue kira kemaren gue udah ngomong dengan jelas deh. Gue nggak bakalan balik lagi ke tim daerah. Sekali-sekali kuping lo perlu dikorek tuh biar nggak budek,” tukas Stella.
“Nggak perlu. Gue juga masih inget kok apa yang lo bilang. Tapi gue kira lo nggak mau balik ke tim karena ada gue.”
“Jangan ge-er. Gue keluar dari tim sama sekali nggak ada hubungannya ama lo...”
“Tapi karena kondisi nyokap lo, kan? Tapi nyokap lo kan udah sembuh, udah keluar dari rumah sakit. Jadi nggak ada alasan lo nggak masuk lagi ke tim. Atau ada alasan lain?” tanya Vira.
“Kok lo jadi maksa gue masuk tim sih?”
“Siapa yang maksa?”
“Lagian buat apa gue masuk sekarang? Nggak ada pemain yang gue kenal,” kata Stella.
Ucapan Stella membuat Vira heran.
“Maksud lo? Steph, Alexa, Sita... itu kan lo kenal semua,” balas Vira.
“Lo jadul banget sih... nggak update... Apa lo kira mereka semua masuk tim? Boleh telepon satu-satu pake HP, lagi di mana mereka. Yang jelas bukan di GOR Padjadjaran.”
Vira terkejut.
“Jadi... mereka juga keluar dari tim? Semuanya?” tanya Vira.
“Yaaa... semua yang lo kenal...”
“Termasuk Rida?”
“Gue bilang kan semuanya... mulai budek lagi deh...”
* * *
Sampai di rumah, Niken segera menghambur ke kamarnya. Dia nggak peduli walaupun di kamarnya saat ini ada Aji yang lagi tidur siang.
“Niken?”
Aji yang terbangun tiba-tiba mendapati adiknya lagi menangis sesenggukan di meja belajarnya.
* * *
“Gue sebetulnya nggak kepikiran bakal ngomong hal ini sebelumnya ke lo. Tapi gue harus ngucapin salut ke lo. Lo bisa ngelakuin apa yang nggak kepikiran oleh orang lain sebelumnya,” kata Stella.
“Lo ngomong apa sih?” tanya Vira heran.
“Soal lo ngundurin diri dari tim. Lo udah tau Tim Jawa Barat batal ke Kejurnas, kan?”
Vira tambah heran mendengar ucapan Stella.
“Batal? Maksud lo apa? Gue tambah nggak ngerti...”
“Lo belum tau? Nggak ada yang ngasih tau lo?” Stella balik nanya.
“Ngasih tau apa?”
Sebagai jawaban, Stella mengeluarkan HP-nya. Dengan HP model terbaru yang baru sebulan dibelinya itu, dia bisa menjelajah dunia maya dengan lebih cepat dan leluasa, nggak perlu mamakai komputer atau laptop.
“Dasar daerah pinggiran! Sinyal aja lemot gini!” sungut Stella.
Vira cuman tersenyum mendengar sungutan Stella. Dia kembali mendribel bola lalu menembaknya. Bola hanya mengenai bibir ring dan kembali ke tengah lapangan.
Akhirnya Stella mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Nih... baca sendiri. Ini berita dua jam yang lalu, jadi belum ada di TV atau koran.” Stella menyodorkan HP-nya ke Vira. Vira membaca headline di sebuah situs portal berita yang dibuka di HP Stella.
TIM BASKET PUTRI BANTEN TETAP
KE BABAK FINAL KEJUARAAN NASIONAL
Banding mereka diterima,
dinyatakan menggunakan pemain yang sah.
“Apa pun hasil pertandingan dua hari yang lalu nggak berpengaruh. Nggak ada yang dikirim ke babak final,” lanjut Stella.
“Ini beneran?” tanya Vira nggak percaya. Dia mengembalikan HP pada Stella.
“Kalo nggak percaya, tanya aja langsung ke Pak Isman.”
Kenapa jadi begini? batin Vira.
“Gue kira masalahnya bakal jadi panjang, kalo emang bener yang lo ceritain ke gue waktu itu,” ujar Stella.
“Yang mana? Soal yang kita disuruh ngalah waktu lawan Banten?”
Stella kembali memberikan HP-nya.
DIDUGA SENGAJA MENGALAH, TIM BASKET PUTRI
JAWA BARAT DIUSUT PENGDA PERBASI
Buntut dari diterimanya banding Tim Banten,
ofisial tim diduga terlibat.
“... walau hanya menurunkan Tim Junior, sebetulnya Tim Basket Putri Jawa Barat berpeluang besar menang atas Tim Basket Putri Banten. Tapi entah apa alasannya, mojang-mojang Priangan itu melakukan strategi bertahan, walau sempat mengubah strateginya di quarter kedua tapi tidak berlangsung lama. Tidak diturunkannya salah satu andalan Tim Jawa Barat, Savira Priskila sejak quarter kedua tanpa alasan yang jelas juga mengundang pertanyaan...,” Vira membaca salah satu paragraf di berita tersebut.
“Kasus ini bakal panjang, bahkan para pemain bisa ikut terlibat kalo mereka ternyata tau dan ikut mendukung...,” ujar Stella.
“Tapi kita sama sekali nggak tau soal ini. Bahkan gue udah coba ngelawan, tapi akibatnya gue malah nggak diizinin main lagi.”
“Lo harus bisa buktiin soal itu kalo nanti ditanya.”
Vira diam sejenak, seperti memikirkan ucapan Stella.
“Lo belum jawab pertanyaan pertama gue. Kenapa lo ke sini? Nggak mungkin lo ke sini cuman untuk ngasih kabar soal ini,” kata Vira lagi.
“Kenapa gue ke sini? Cuman iseng aja. Emang nggak boleh?”
“Cuman iseng? Lo salah makan, ya? Lo kayak bukan Stella yang gue kenal,” tandas Vira. Walau begitu, seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Gimana kabar nyokap lo? Trus gimana kasus ama bokap lo?” tanya Vira.
“Kenapa sih lo pengin tau? Mo bales dendam?” Stella malah balik nanya.
“Bales dendam apaan? Lo kira gue selama ini nyari kesempatan untuk bales dendam ke lo? Gue cuman pengin tau keadaan nyokap lo aja, dan kalo lo mau, lo bias cerita soal kasus lo dan bokap lo. Siapa tau gue bias bantu. Papa punya banyak kenalan pengacara hebat di Bandung dan Jakarta. Tapi itu juga kalo lo mau cerita. Kalo nggak ya nggak papa.”
“Thanks, tapi lo nggak usah tau soal gue dan bokap gue. Nyokap gue sekarang baik-baik aja, udah kerja lagi.”
“Kenapa? Lo udah nggak percaya lagi ke gue?”
Stella cuman diam. Vira melemparkan bola pada Stella.
“Taruhan yuk. Kita bertanding. Kalo gue menang, lo harus cerita soal kasus lo, selengkap-lengkapnya,” ajak Vira.
“Tanding apa? Lo pati menang karena gue pake pakaian kayak gini. Sepatu aja gue nggak bawa.”
“Gue tau. Karena itu gue nggak bakal nantang lo One on One. Gue juga pengin bertanding secara fair…”
“Trus, lo mo nantang gue apa?”
“Dengan pakaian kayak gini, lo masih bisa three point, kan?”
Stella mengangguk.
“Jadi, lo setuju?”
Sebetulnya Stella adalah tipe orang yang tertutup, yang nggak mau kehidupan pribadinya diketahui orang lain. Tapi dia juga tahu siapa Vira. Vira emang punya skill dan kemampuan di atas ratarata, tapi dia juga punya kelemahan. Salah satu kelemahan Vira yang diketahui Stella adalah tembakan tiga angkanya sangat lemah.
Bahkan ketika Vira masih di SMA Altavia, statistik tembakan tiga angkanya lebih buruk daripada Stella. Vira sendiri tahu itu. Karena itu kalo dia sampai dengan pedenya menantang Stella bertanding tembakan tiga angka, pasti dia udah melakukan sesuatu untuk memperbaiki statistiknya. Dan Stella penasaran juga, ingin tahu sampai di mana kemajuan Vira, karena saat latihan bersama di tim daerah, Vira nggak pernah kelihatan latihan atau menunjukkan kemampuan tiga angkanya.
“Kalo lo kalah?” tanya Stella. Ucapannya itu menunjukkan dia mulai tertarik menerima tantangan Vira.
“Lo mo minta gue ngelakuin apa? Asal gue sanggup, pasti gue lakuin.”
“Bener?”
“Iya. Asal lo jangan minta yang macem-mcem.”
Stella terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata lagi.
“Ajarin gue nombok…,” ujarnya lirih.
DUA PULUH ENAM
KEDATANGAN Vira ke rumah Niken disambut ibu Niken yang supercemas.
“Dari tadi Niken cuman di kamar. Dia tidak mau keluar, apalagi makan,” lapor ibu Niken.
“Kebetulan, Bu. Vira juga mo ngajak Niken keluar,” kat Vira.
“Ke mana?” tanya Aji yang ada di ruang tamu.
Mendengar pertanyaan Aji, Vira menatap kakak Niken yang juga bekas pacarnya itu.
“Kak Aji juga boleh ikut kalo mau…,” katanya.
“Mo ke mana sih Kak Vira? Makan-makan ya? Panji juga boleh ikut, Kak?” tiba-tiba Panji yang lagi asyik main PS nyeletuk.
“Panji…,” ibunya memperingatkan Panji supaya bersikap sopan.
Tapi di luar dugaan, Vira mengangguk.
“Panji juga boleh ikut… Ibu juga boleh ikut kalo mau…,” tandas Vira, membuat Panji melompat kegirangan.
“Ibu mau ada pengajian di masjid malam ini, Nak, jadi tidak bisa ikut…,” jawab ibu Niken.
* * *
Vira akhirnya berhasil menemui Niken di kamarnya. Dan seperti biasa, cuman pada Vira Niken mau bicara.
“Aku liat Rei bareng Sita tadi sore,” kata Niken.
“Bukannya kamu udah tau sebelumny?”
Niken menggeleng.
“Tadinya aku cuman denger dari Bi Sum kalo Rei sering ke rumah kamu untuk ketemu Sita. Tapi tadi, aku liat sendiri mereka berdua di ruko depan.”
Anehnya, Vira seperti nggak terkejut dengan ucapan Niken. Dia juga nggak menanyakan kenapa Sita bisa ada di Bandung, padahal dia nggak kepilih masuk tim.
“Ya udah, cepet kamu cuci muka, trus ganti baju. Aku mo ngajak kamu pergi…,” kata Vira.
“Ke mana?”
“Ntar kamu juga tau.”
“Kamu lagi nggak nyiapin kejutan, kan?” tanya Niken.
“Kejutan apaan? Kak Aji dan Panji juga ikut kok.”
“Mereka ikut?”
“Iya… makanya cepet kamu ganti baju. Kasian mereka udah nungguin.”
* * *
Sampai di ruko tempat Vira biasa memarkir mobilnya kalo dia pergi ke rumah Niken (karena jalan di depan rumah Niken nggak cukup dilewati mobil), Vira nggak langsung menuju mobilnya. Dia malah menuju sebuah ruko yang kelihatan kosong dari luar.
“Kak Aji, bisa bantuin buka ini, nggak?” tanya Vira sambil menunjukk rolling door yang tertutup.
Niken ingat, ini ruko yang sama tempat dia melihat Rei dan Sita keluar tadi malam.
“Kenapa ke sini? Emang ruko ini punya siapa?” tanya Niken.
“Iya, Kak Vira, kenapa kita ke sini? Katanya mo makan-makan?” protes Panji.
“Liat aja…”
Aji mengangkat rolling door yang ternyata nggak dikunci, dan terlihat bagian depan ruko yang dindingnya berupa kaca. Di dalam ruko terlihat gelap, nggak ada cahaya sedikit pun.
Vira membuka pintu ruko yang ternyata nggak terkunci.
“Ayo masuk,” ajaknya.
Niken dan Aji hanya bisa mengikuti Vira masuk ke dalam.
“Panji pulang aja deh… katanya mo makan-makan…,” sungut Panji, lalu bocah berusia sepuluh tahun itu berlari pulang ke rumahnya.
“Panji!” panggil Niken.
“Udah biarin aja…,” kata Aji.
Mereka bertiga masuk ke ruko yang gelap gulita.
“Vira, kita ini…”
Ucapan Niken terhenti karena secara tiba-tiba lampu di dalam ruko menyala.
“Surprise!” kata Vira.
Sekarang ruangan ruko itu jadi terang benderang. Saat itulah mereka bertiga baru bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan. Berbagai rak buku tersusun rapi di pinggir dan tengah ruangan, seperti layaknya toko buku. Sebuah meja berukuran sedang berada di dekat pintu masuk. Ruangan ruko dicat biru laut, dengan berbagai aksesori di dalamnya.
“Vira, ini…”
“Taman bacaan… seperti cita-cita kamu,” tandas Vira.
“Seperti cita-citaku?”
Vira masih ingat, suatu hari Niken pernah bilang ke dia tentang cita-citanya untuk memiliki sebuah taman bacaan.
“Terutama untuk bacaan anak-anak, supaya anak-anak di daerahku bisa membaca secara gratis, jadi pengetahuan mereka bisa bertambah dan waktu senggang mereka nggak digunakan untuk main atau ngelakuin hal-hal yang nggak berguna,” kata Niken waktu itu.
“Ini… taman bacaan punya siapa? Punya kamu?” tanya Niken.
Vira menggeleng.
“Ini punya kamu,” jawab Vira.
“Punya aku? Jangan bercanda…”
Aku nggak bercanda. Liat aja…”
Vira menunjuk ke arah dinding depan mereka, di sana terpampang papan besar dengan tulisan: KEN‟s BOOK RENTAL.
“Ken… kependekan dari Niken,” Vira menjelaskan.
“Ruang untuk membaca ada di lantai atas. Dibikin supaya mereka bisa membaca dengan santai. Mo liat?” lanjutnya.
“Tunggu dulu… Apa maksud kamu dengan semua ini?” tanya Niken masih nggak percaya.
“Kamu membuat taman bacaan ini, lalu nanti akan dikelola oleh Niken. Gitu, kan?” Aji juga ikut-ikutan bertanya.
“Kenapa sih kalian selalu berpikir aku yang membuat semua ini?” Vira malah balik nanya.
“Ya siapa lagi…? Cuman kamu yang bisa ngelakuin ini semua. Kamu juga satu-satunya yang tau soal cita-citaku itu,” jawab Niken.
“Emang cuman aku satu-satunya yang tau soal cita-cita kamu?”
“Ya iya… aku cuman cerita ke kamu…” Tiba-tiba ucapan Niken terhenti. Dia seperti teringat sesuatu. “…dan dia…,” lanjut Niken lirih.
“Siapa, Ken?” tanya Aji.
“Rei… aku pernah cerita juga ke dia.”
Niken memandang ke sekeliling ruangan.
Nggak mungkin dia yang bikin semua ini! Kalo bukan Vira, siapa lagi? batin Niken.
Vira tertawa melihat Niken yang kebingungan.
“Udah, Rei! Jangan ngumpet mulu!” seru Vira.
Dari balik salah satu rak buku, muncul wajah Rei.
“Kamu!” seru Niken. Lalu tanpa ada aba-aba, dia langsung balik badan dan pergi.
“Ken, tunggu!” Vira mencoba menahan Niken, tapi sia-sia. Niken tetap melangkah menuju ke luar tanpa menoleh lagi. Sesampainya di dekat pintu, tiba-tiba pintu terbuka, hampir mengenai Niken.
Seorang cewek masuk, dan dia langsung mengenali siapa yang ada di balik pintu.
“Niken?”
* * *
“Jadi, Rei yang membangun semua ini?” tanya Niken saat berbicara berdua Vira di luar ruko. Vira berhasil menahan Niken yang pengin pergi dari situ.
Vira mengangguk mengiyakan.
“Semua ini dibangun Rei sendiri. Mulai dari menyewa ruko dan membangunnya menjadi taman bacaan,” Vira menjelaskan.
“Nyewa ruko? Duitnya dari mana? Aku tau Rei. Nggak mungkin dia yang ngelakuin ini semua.”
“Kenapa kamu nggak percaya? Emang kenapa kalo Rei bisa membuat semua ini?”
“Dananya? Pinjem kamu?”
Vira menggeleng.
“Aku udah bilang, ini semua kerjaan Rei. Aku nggak ikut campur. Aku aja baru tau setelah proyek ini jalan,” sangkal Vira.
“Dan kamu ngerahasiain ini ke aku seperti Rei?”
“Dia yang minta. Katanya biar ini jadi kejutan buat kamu.”
“Tapi aku tetap nggak percaya, dia bisa mendanai semua ini. Nggak mungkin minta ke ortunya,” kata Niken. Tiba-tiba dia menatap Vira. “Apa dananya hasil dari… streetball?”
Vira hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.
“Tapi masa hasil dari streetball bisa untuk nyewa ruko? Kan sewanya puluhan juta…”
“Sebetulnya untuk ruko bukan aku yang nyewa. Ada donatur…,” potong Rei yang tiba-tiba udah ada di belakang Vira dan Niken.
Mendengar itu Niken menatap Vira yang cuman senyum-senyum aja.
“Oke, di luar soal sewa ruko, yang lainnya itu emang ide Rei. Hasil karya dia. Dan Rei tentu aja ngelakuin ini semua untuk kamu.”
Niken tertunduk mendengar ucapan Vira. Di sisi lain, wajah Rei memerah. Untung di luar ruko suasana gelap sehingga wajah merah Rei yang kayak kepiting rebus nggak kelihatan.
“Ehhmm… sebetulnya belum semuanya selesai. Papan nama untuk di depan baru selesai besok,” Rei mengalihkan pembicaraan.
Melihat Rei sudah bisa menguasai keadaan, diam-diam Vira menyelinap ke dalam ruko.
“Kamu nggak perlu ngelakuin semua ini Rei!” kata Niken setelah Vira kembali masuk ke dalam.
“Aku cuman pengin ngewujudin cita-cita kamu,” kata Rei.
“Tapi nggak harus sekarang, kali… Apalagi dengan ngorbanin diri kamu sendiri.”
“Aku nggak ngerasa ngorbanin diri. Aku enjoy aja ngelakuin semua ini…”
“Dengan pulang pagi hampir tiap hari? Terlambat masuk sekolah? Ketiduran di kelas? Please, Rei… aku nggak mau kamu kayak gitu. Lagi pula aku nggak bisa menerima pemberian kamu ini.”
Rei diam mendengar ucapan Niken.
“Kamu masih marah ke aku?” tanya Rei kemudian.
Mendengar pertanyaan Rei, Niken menghela napas.
“Aku udah nggak marah ke kamu. Tapi kita udah nggak ada hubungan apa-apa, jadi aku nggak bisa nerima pemberian kamu ini.”
Rei mendekat ke arah Niken, sampai embusan napasnya terasa oleh Niken, hingga cewek itu merasa jengah sendiri.
“Aku sayang kamu… masih dan tetap sayang kamu,” kata Rei.
“Apa-apaan sih, Rei…? Gimana kalo Sita liat?” Niken berusaha menghindar.
“Sita?”
“Kamu lagi deket ama Sita, kan?”
Mendengar ucapan Niken, Rei sedikit mundur sambil tertawa kecil.
“Kenapa ketawa? Bener kan kamu lagi deket ama Sita?” tanya Niken lagi.
“Emang…”
“Kenapa kau berani ngedeketin aku…”
“Aku emang deket ama Sita… sebagai temen.”
“Jangan boong, Rei… Aku pernah liat kamu bareng Sita di toko buku.”
Rei menggamit lengan Niken, dan menunjuk ke arah ruko.
“Kamu kira dari mana aku dapat koleksi buku sebanyak itu? Sebagian esar buku anak-anak sesuai keinginan kamu…,” ujar Rei.
Niken diam, nggak menjawab pertanyaan itu.
“Kakak Sita kepala cabang toko buku terbesar di Tasik. Sita membantuku mendapatkan koleksi buku-buku dari toko tempat kakaknya kerja dengan harga miring, atau bahkan gratis. Kakaknya juga membantu mencarikan koleksi lainnya di Bandung yang jelas lebih lengkap, dengan bantuan teman-teman kerjanya di sini. Tapi karena kakaknya sendiri harus kerja, jadi aku dan Sita yang harus mengurusnya sendiri. Jadi ya jelas aja aku bareng Sita bolak-balik ke toko buku untuk ngedapetin koleksi yang belum ada.
“Sita juga ngebantu aku buat ngedekorasi taman bacaan, karena cita-cita dia emang mo jadi desainer interior. Jadi dia sekalian belajar. Hasilnya bagus, kan?” Rei melanjutkan.
Niken emang harus mengakui, desain interior dari taman bacaan yang dibuat Rei sangat bagus, baik layout maupun pewarnaannya. Bisa menarik perhatian dan membuat betah mereka yang membaca di tempat.
“Sekarang ini Sita nggak nginep di tempat Vira karena dateng bareng kakaknya yang lagi cuti. Mereka berdua nginep di hotel,” ujar Rei lagi.
“Jadi… kamu ama Sita nggak ada hubungan apa-apa?”
“Ya nggak lah… kalo aku ada apa-apa dengan Sita, ngapain aku capek-capek nerusin proyek ini buat kamu?”
“Vira tau soal ini?”
Rei mengangguk.
“”Vira emang aku larang ngomong apa pun ke kamu. Bahkan saat kita putus, aku tetap larang dia. Aku tau sifat kamu, dan yakin suatu saat kamu pasti bisa ngerti apa yang kulakukan untuk kamu.”
“Yeee… ge-er… kamu udah maenin perasaan aku, tau. Gimana kalo tau-tau aku punya cowok baru? Bakal gigit jari kamu…” kata Niken. Nada bicaranya udah nggak setegang tadi.
“Emang masih ada yang mau ama kamu?” Rei balik nanya dengan mimik bercanda. Dia lega karena kelihatannya Niken udah nggak marah lagi.
“Yeee… emangnya aku nggak laku?”
Niken dan Rei tertawa.
* * *
“Kayaknya mereka udah damai tuh,” kata Vira yang melihat (atau boleh dibilang mengintip) dari balik pintu.
“Syukur deh…,” sahut Aji yang berdiri di samping Vira.
Tanpa disadari Vira, tangan Aji pelan-pelan menggenggam tangannya dan si pemilik tangan itu menatapnya dengan pandangan penuh arti.
DUA PULUH TUJUH
Tiga bulan kemudian…
“SELAMAT yaa…”
Niken saling pelut dan bersalaman dengan teman-teman sekolahnya. Wajahnya terlihat bahagia. Tentu aja, sebab hari ini adalah pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN). Sebetulnya pengumuman UN untuk SMA 31 dan SMA lainnya di Bandung dilakukan secara nggak langsung, yaitu dengan mengirimkan pengumuman kelulusan ke rumah masing-masing. Para siswa juga bisa mengetahui kelulusan mereka dari Internet mulai tengah malam tadi. Tapi namanya tradisi, nggak afdal rasanya kalo nggak ngumpul-ngumpul di sekolah, merayakan kelulusan bareng. Jadi tetap aja anak-anak kelas 3 datang ke sekolah sejak pagi untuk meluapkan kegembiraan bersama teman-temannya. Apalagi ada gosip tahun ini tingkat kelulusan di SMA 31 nggak 100%, jadi wajar mereka sekalian mencari info siapa teman yang nggak lulus.
Tapi berbeda dengan SMA lain, dalam merayakan kelulusan mereka, para siswa SMA 31 sama sekali nggak pakai acara corat-coret baju, baik menggunakan bolpoin, spidol, cat semprot, apalagi pake cat tembak! Itu semua bukan karena anjuran pihak sekolah yang melarang aksi corat-coret baju saat kelulusan, tapi berkat Niken yang dalam beberapa minggu ini mengadakan gerakan sosial yang melibatkan anak-anak
kelas 3 yang mo lulus. Niken mengusulkan supaya baju-baju sekolah anak kelas 3 yang pasti sebentar lagi nggak kepakai dikumpulkan. Bukan untuk disumbangkan ke panti asuhan atau yayasan sosial seperti yang biasa dilakukan, tapi untuk disimpan di sekolah. Rencananya baju-baju ini nanti setelah diseleksi akan dijual kembali melalui koperasi sekolah untuk siswa-siswi SMA 31 yang butuh, termasuk anak-anak baru nanti, tentu aja dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga baju seragam baru. Bahkan nggak cuman seragam sekolah, segala perlengkapan sekolah yang udah nggak bakal dipakai lagi bisa disumbangkan, mulai dari tas, buku-buku pelajaran, kotak pensil, sampai bolpoin untuk dijual kembali dengan harga murah. Hal ini tentu aja bakal membantu siswa-siswi SMA 31 yang sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah. Soalnya biaya sekolah dan perlengkapannya sekarang emang serbamahal dan kadang-kadang membuat orangtua pusing tujuh belas keliling.
Karena itu, selain berbagi kegembiraan dengan teman-temannya, Niken juga sibuk menerima sumbangan baju dan peralatan sekolah lainnya, karena dia yang jadi koordinatornya. Dia harus selalu stand by di ruang OSIS yang dijadiin posko pengumpulan sumbangan, dibantu juga oleh dua anak kelas 1 dan 2 yang jadi panitia.
Amel muncul di ruang OSIS bersama sopirnya sambil membawa sebuah dus yang ukurannya lumayan gede.
“Hai… nih Amel bawain baju-baju seragam Amel dan juga perlengkapan sekolah lainnya,” kata Amel.
“Oya… makasih banget, Mel. Banyak amat…,” balas Niken.
“Iya… ditaruh di mana?”
“Hmm…” Pandangan Niken berkeliling ke ruangan yang kelihatan penuh sumbangan dari anak-anak lainnya.
“Di situ aja…,” katanya akhirnya sambil menunjuk ke salah satu sudut ruangan yang masih kelihatan cukup kosong.
Setelah meletakkan dus yang dibawanya di tempat yang ditunjuk Niken, sopir Amel langsung keluar, sedang Amel masih tinggal di dalam ruangan.
“Selamat juga yaa… kamu lulus, kan?” kata Amel sambil memeluk Niken.
“Lulus dong… kamu juga, kan?” sahut Niken sambil membalas pelukan Amel. Nggak lama, lalu mereka melepaskan pelukan mereka.
“Vira nggak dateng, ya?” tanya Amel.
“Nggak. Katanya mo latihan pagi ini. Kan finalnya ntar sore. Rida juga nggak dateng tuh,” jawab Niken.
“Tapi mereka lulus, kan?”
“Lulus kok. Semuanya lulus. Kamu ntar sore mo nonton, kan?”
“Iya. Kamu juga? Barengan aja kalo mau,” Amel menawarkan.
“Maunya sih… ntar deh kalo kerjaan di sini udah selesai,” jawab Niken.
* * *
Suasana di GOR Saparua sore ini ramai, penuh sesak. Selain karena lapangan ini biasa dipakai olahraga pada sore hari, juga karena di lapangan basket yang terletak di salah satu sisi sedang digelar ajang Streetball Competition. Dan setelah berlangsung selama lima hari, Sabtu sore ini digelar pertandingan final.
Niken buru-buru turun dari angkot yang membawanya ke GOR Saparua. Melihat lapangan basket yang ramai dan riuh karena teriakan penonton, dia tahu dirinya datang terlambat. Keterlambatan yang sebetulnya nggak disengaja, karena Niken udah cabut dari sekolah satu setengah jam sebelumnya setelah tugasnya sebagai koordinator sumbangan selesai. Tapi karena weekend, di mana-mana jalan di Bandung macet berat. Apalagi beberapa kali angkot yang ditumpangi terhalang konvoi anak sekolah yang merayakan kelulusan. Nggak heran kalo jarak dari SMA 31 ke Lapangan Saparua yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit jadi molor hampir dua kali lipatnya. Sampe Niken sempat ketiduran di angkot.
Niken langsung menuju lapangan basket. Dia harus berjuang menembus kerumunan penonton, sampai ke bagian tribun mini yang ada di sekeliling lapangan.
Setelah lama mengedarkan pandangannya ke seluruh tribun, Niken akhirnya melihat Amel yang duduk di bagian depan. Dengan susah payah, Niken akhirnya bisa sampai ke tempat Amel.
“Hai… sori telat…,” kata Niken.
“Kok baru dateng?” tanya Amel sambil mengambil tasnya yang dia letakkan di sampingnya. Tas itu rupanya untuk menutupi tempat duduk di sebelahnya supaya nggak diduduki orang lain. Niken duduk di sebelah Amel.
“Iya… kerjaan baru beres, trus tadi macet banget. Parah…,” ujar Niken.
Lalu dia melihat ke lapangan.
“Udah lama mulai, ya?” tanyanya.
“Udah mo selesai kayaknya.”
“Kok cepet amat.”
“Lama permainan streetball emang nggak sama dengan basket biasa. Bukan dari waktu, tapi dari siapa yang mencapai angka tertentu lebih dulu,” Amel menjelaskan.
“Oooo… gitu…”
NIken kembali mengarahkan pandangan ke lapangan (atau tepatnya setengah lapangan karena pertandingan hanya menggunakan setngah lapangan basket normal dan satu ring basket). Ada enam cewek yang bertanding di sana, dan dua di antaranya tentu aja dikenal baik oleh Niken. Mereka adalah Vira dan Rida. Sedang yang seorang lagi dikenal Niken, cuman hubungannya nggak begitu baik, yaitu… Stella.
Niken baru kali ini melihat streetball, jadi dia sama sekali nggak tahu peraturannya. Bola basket biasa aja dia nggak tahu, apalagi ini. Dia ingin bertanya pada Amel, tapi nggak enak setelah melihat Amel lagi asyik menonton pertandingan, kadang-kadang sampe berteriak memberi semangat saking tegangnya.
“Siapa yang menang?” tanya Niken.
“Eh… D‟Roses…,” jawab Amel.
“D‟Roses?” Niken mengernyitkan kening. Dia melihat ke papan skor. Di papan skor terlihat dua tim yang bertanding, FUZZY versus D‟ROSES dengan kedudukan sekarang 11-13 untuk D‟Roses.
Vira dan Ria kira-kira masuk tim yang mana ya? tanya Niken dalam hati sambil menduga-duga.
* * *
Dalam posisi menyeang, Stella memimpin serangan. Waktu lagi mendribel, dia dihadang seorang pemain lawan. Stella memutar tubuh dan coba berkelit. Ketika lawan coa menghadang pergerakan bolanya, Stella mengangkat tangan dan mengoper bola ke belakang.
Blind Pass!
Dari belakang muncul Vira yang menerima blind pass dari Stella dan langsung menusuk ke ring. Seorang pemain lawan yang berbadan lebih besar coba menghalangi, tapi Vira lebih cerdik. Dia meliukkan tubuh agak rendah, hingga lawannya kesulitan menghalangi geraknya. Tapi posisi Vira jadi sulit untuk menembak.
“Oper…”
Sebuah suara terdengar di belakang Vira. Itu suara Rida! Vira nggak punya pilihan lain. Dia mengoper bola dengan cara yang unik, yaitu menggelindingkannya!
Rida menerima bola dari VIra dan langsung menembak dari suut yang sempit.
Masuk!
“Iya.. satu angka lagi dan D‟Roses akan memenangi pertandingan!” Demikian suara komentator pertandingan yang terus cuap-cuap kayak tukang obat di pinggir jalan.
Niken melihat papan skor berubah 11-14, untuk keunggulan D‟Roses. Dalam pertandingan ini, tiap bola yang masuk emang akan dihitung satu angka, dari jarak berapa pun. Jadi nggak ada angka khusus untuk tembakan tiga angka.
Jadi namanya D‟Roses! batin Niken. Sebuah tembakan lain dari Rida dapat diblok lawan, hingga sekarang giliran tim Fuzzy menyerang. Seorang pemain lawan yang merupakan kapten tim mencoba masuk ke daerah pertahanan D‟Roses. Stella menghadangnya dengan ketat. Tubuh Stella yang lebih tinggi membuat dia dapat menahan lawannya hingga lawannya terpaksa mengoper bola pada temannya. Tapi di situ ada Vira, dan dia langsung mencega bola operan lawannya. Steal!
“Satu angka lagi…,” kata Vira pada Stella.
“Gue tau…”
Tim D‟Roses ganti menyerang. Kali ini Vira bermain lambat dengan mendribel bola dengan santai. saat salah seorang lawannya datang mendekat, dia langsung meliuk dan menyusuri sisi kiri lapangan. Gerakan Vira memancing seorang lawannya mendekat, hingga dia dikerumuni dua orang.
“Foul!” teriak salah seorang penonton. Dalam streetball emang ada peraturan satu pemain hanya boleh dihadapi oleh satu orang.
Tapi anehnya, wasit nggak meniup peluit tanda pelanggaran. Itu karena salah seorang pemain yang pertama kali membayangi Vira lalu mundur dan menyerahkan tugas pada temannya, yang lalu mendesak Vira hingga ke sudut lapangan. Nggak ada jalan lain, Vira terpaksa mengoper pada Rida.
Operan tinggi dari Vira menuju Rida. Rida melompat menyambut operan Vira dengan dibayangi oleh salah seorang pemain lawan. Tapi anehnya, Rida nggak menangkap bola operan Vira, tapi malah mendorongnya ke sisi kanan. Di sana telah ada yang menunggunya… Stella.
Bagus! Bisa juga lo show off! batin Vira melihat gaya Rida yang impresif. Penonton pun bertepuk tangan.
Stella yang nggak terkawal menerima operan Rida dan melangkah ke arah ring dengan cepat. Saat pemain terakhir lawan coba menghadangnya, Stella melompat sambil bergerak maju, mengarahkan bola ke arah ring.
SLAM DUNK!!
DUA PULUH DELAPAN
“BOKAP gue udah keluar dari penjara…” Stella mulai bercerita.
“Nyokap dan Bokap bikin perjanjian. Nyokap nggak akan nuntut Bokap atas penganiayaan yang dilakukannya. Sebagai imbalannya, Bokap harus mau mengabulkan gugatan cerai Nyokap dan nggak boleh lagi nemuin Nyokap atau gue untuk selamanya…,” lanjutnya.
“Nyokap-bokap lo mo cerai? Kenapa?” tanya Vira yang duduk di samping Stella.
“Nyokap udah lama merasa disakiti Bokap. Tanpa sepengetahuan Nyokap, Bokap selingkuh, bahkan udah punya anak di New York. Saat Nyokap tau soal ini, Bokap jadi marah dan sering memukuli Nyokap. Nyokap nggak tahan, akhirnya memutuskan untuk bercerai. Bokap gue nggak mau, makaya dia nyusuk ke sini untuk membatalkan keputusan Nyokap itu.”
“Kenapa bokap lo nggak mau? Kan dia sendiri yang salah.”
“Sebab… Nyokap ternyata memegang dua pertiga saham perusahaan keuangan yang didirikan oleh mereka. Kalo sampai Nyokap dan Bokap cerai, Bokap bisa kehilangan perusahaannya dan jatuh bangkrut. Makanya Bokap tadinya mati-matian nggak mau cerai dari Nyokap. Tapi di sisi lain, dia nggak mengubah kelakuannya…”
Stella berhenti sebentar. Kalimat terakhirnya diucapkan dengan suara tergetar, tanda dia udah mulai terbawa perasaan.
“Kalo lo nggak mau lanjutin cerita, ya udah. Udah cukup yang gue dengar,” ujar Vira.
“It‟s okay…”
Stella melanjutkan ceritanya.
“Nyokap akhirnya memutuskan untuk menjual seluruh saham miliknya di perusahaan. Dengan kata lain, nyokap gue melepas perusahaan yang dirintisnya dari nol ke tangan Bokap. Itu supaya Bokap nggak ngejar-ngejar dia untuk menuntut perusahaannya. Nyokap udah nggak mau berhubungan lagi dengan Bokap. Gue juga begitu…
“…karena itu, Nyokap minta gue untuk mulai hidup hemat, karena gue dan Nyokap sekarang cuman inggal ngandelin uang hasil penjualan saham dan gaji Nyokap sebagai pialang saham di sini. Salah satunya dengan menukar mobil-mobil yang kami punya ke mobil yang lebih murah. Dalam waktu dekat mungkin kami berdua juga akan pindah ke rumah yang lebih kecil, atau ke apartemen.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Stella, Vira melihat cewek itu menitikkan air mata. Bahkan saat kehilangan Hera dulu, Stella sama sekali nggak mengeluarkan air mata. Ini pasti pukulan yang sangat berat baginya.
Vira melihat jam tangannya, lalu mendongak ke langit.
“Yuk…,” ajaknya kemudian sambil berdiri.
“Mo ngapain?” tanya Stella.
“Gue ajarin nombok. Kan lo mo belajar… Masih ada waktu sekitar sejam sebelum gelap. Gue ajarin dasarnya aja, lo pasti ntar bisa ngembangin sendiri.”
Stella menatap Vira dengan pandangan nggak percaya.
“Gue kan kalah…”
“Siapa bilang lo harus menang untuk bisa belajar nombok?”
* * *
Aksi slam dunk Stella mengubah skor menjadi 11-15, dan itu berarti mengantar D‟Roses menjadi juara Streetball Competition untuk kelas putri. Sorak-sorai pendukung D‟Roses pun nggak tertahan, mereka masuk lapangan untuk menyalami cewek-cewek “bunga mawar” itu.
“Selamat yaa…,” kata Amel sambil menyalami dan memeluk Vira. Hal yang sama dia lakukan juga pada Rida. Saat giliran Stella, Amel kelihatan kagok. Akhirnya dia cuman menyalami Stella. Tapi dia lebih baik daripada Lisa yang juga
menonton pertandingan di tribun lain dan ikut memberi selamat tapi cuman ke Stella.
“Vira ama Rida nggak dikasih ucapan selamat, Lis?” tanya Stella.
“O… iya…” Lisa pura-pura lupa, lalu dia menyalami Vira dan Rida dengan perasaan terpaksa.
“Selamat yaa… Sori aku telat. Abis macet…,” kata Niken pada Vira.
“Nggak papa kok. Aku tau sibuknya pejabat sekolah,” balas Vira sambil tersenyum.
Ucapan selamat juga datang dari Rei dan anak-anak basket SMA 31 yang juga ikut nonton, juga sebagian anak-anak basket SMA Altavia, dan Stephanie yang kali ini datang bareng cowoknya.
“Jadi The Roses ada lagi nih…,” sindir Stephanie.
“Bukan The Roses, tapi D‟Roses… pake „D‟,” Vira mengoreksi.
“Sekarang siapa aja anggotanya?”
“Siapa ya…” Vira melirik ke arah Stella.
“Gue, Vira, Lisa, dan Amel sebagai bekas anggota The Roses, ditambah Niken, dan Rida sebagai anggota baru…,” jawab Stella.
“Dan…,” Vira menambahkan sambil terus menatap Stella, seakan Stella lupa sesuatu.
“Dan apa?”
“Dan semua yang pengin gabung… siapa aja…,” sambung Stella.
“Jadi kalian nggak eksklusif lagi? Nggak ada syarat khusus untuk jadi anggota D‟Roses?” tanya Stephanie lagi.
“Tetep ada syaratnya dong…,” tandas Vira.
“Apa?”
“Di harus cewek… Jadi sori, Rei, gue harus tolak keinginan lo jadi anggota. Ntar aja lo daftar lagi kalo udah operasi kelamin…,” ejek Vira tiba-tiba pada Rei yang ada di dekat Niken. Tentu aja Rei jadi misuh-misuh diejek kayak gitu, sedang yang lainnya cuman ngakak, termasuk Niken.
Di tengah-tengah kegembiraan sang pemenang, dua pria setengah baya datang menghampiri.
“Selamat ya…,” kata salah satu pria itu.
“Pak Andryan? Bapak datang juga… makasih, Pak.” Vira menyambut uluran tangan Pak Andryan, lalu tangan orang yang datang bersama mantan pelatihnya di SMA Altavia itu.
Pak Andryan menatap Stella.
“Bapak senang… Akhirnya kamu bisa menemukan nilai-nilai olahraga yang sesungguhnya,” kata Pak Andryan sambil mengulurkan tangan. Stella yang pandangannya agak menunduk karena dilihatin Pak Andryan menerima uluran tangan itu.
“Ma… makasih…,” ujar Tella singkat.
“Oya… ada seseorang yang ingin Bapak perkenalkan kepada kalian…,” kata Pak Andryan lagi. “Ini Pak Wisnu Tanujaya. Beliau adalah pemilik klub basket Patriot Muda Bandung. Kalian tahu, kan?” Pak Andryan memperkenalkan orang yang bersamanya—seorang pria bermata sipit berusia sekitar 50 tahunan dengan rambut mulai memutih dan perut agak buncit.
Vira, Stella, dan Rida mengangguk. Siapa yang nggak kenal Patriot Muda? Klub basket itu tergabung dalam Indonesia Basket League (IBL), yaitu liga basket profesional Indonesia. Apalagi prestasi klub yang sering disingkat PMB itu lumayan mentereng. Sekali juara liga, dua kali masuk final, dan beberapa kali masuk final four. Jadi, pemain basket kota Bandung pasti nggak ada yang nggak mengenal klub itu.
“Musim depan rencananya IBL akan membentuk liga basket profesional wanita. Nah, untuk itu, Patriot Muda akan membentuk tim wanita untuk ikut liga. Pak Wisnu tadi telah melihat permainan kalian bertiga, dan beliau tertarik untuk mengajak kalian bergabung. Bagaimana?”
Ucapan Pak Andryan benar-benar mengejutkan trio D‟Roses. Bergabung dalam sebuah klub dan ikut kompetisi rutin selama setahun dan dibayar Itu tawaran yang benar-benar sulit untuk ditolak.
“Bener nih, Pak?” tanya Vira.
“Benar. Kami akan membentuk tim wanita. Namanya belum ditentukan, jadi kami merekrut pemain-pemainnya untuk diseleksi. Melihat permainan kalian,
Bapak optimis kalian bisa masuk, karena kami punya kebijakan untuk merekrut pemain-pemain muda yang berbakat untuk dibina lebih lanjut. Jadi kalian bertiga berpeluang besar,” Pak Wisnu yang menjawab.
“Ntar kita diboongin lagi… Udah capek-capek ikut seleksi dan latihan, eh nggak jadi bertanding,” tandas Vira.
Pak Andryan tersenyum mendengar ucapan Vira.
“Bapak sudah mendengar apa yang terjadi pada kalian dan Bapak ikut prihatin. Tapi Bapak pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Kenapa? Karena kali ini kalau lulus seleksi, kalian akan diberi kontrak sebagai pemain. Kontrak itu mencakup sampai kapan kalian bermain di klub, jumlah bayaran kalian, dan hal-hal lain yang merupakan hak dan kewajiban antara pemain dan klub. Dan kontrak itu tidak boleh dilanggar oleh salah satu pihak, atau akan dikenakan sanksi. Bukan begitu, Pak?” kata Pak Andryan menegaskan.
“Betul. Kalian nanti akan dikontrak penuh sebagai pemain profesional selama satu musim kompetisi, dan setelah itu bisa diperpanjang kembali untuk musim berikutnya. Di situ kalian bisa lihat apa hak dan kewajiban kalian. Kontrak itu berkekuatan hukum tetap, jadi kalau ada yang tidak sesuai dengan isi kontrak, pihak yang dirugikan bisa menuntut sampai ke pengadilan. Misalnya kalian menuntut pihak klub, itu bisa saja. Jadi, apa yang kalian lakukan dalam klub sudah sangat jelas dan transparan dan tidak bisa diubah begitu saja,” Pak Wisnu ikut menjelaskan.
“Oya, selain itu di tim wanita nanti, pelatihnya adalah Pak Andryan sendiri,” tambah Pak Wisnu kemudian.
“Pak Andryan pelatihnya? Asyiik dong… bisa minta ditraktir lagi kalo abis latihan,” celetuk Vira.
“Husss… ngaco!” potong Pak Andryan. “Tapi bagaimana? Tertarik?”
“Hmmm… pikir-pikir dulu deh, Pak…,” jawab Vira, membuat Rida dan Stella menatap tajam kepadanya. Bagi mereka, ini tawaran yang bagus. Tapi kenapa Vira malah sok jual mahal gini?
“Sampai berapa lama? Kita harus cepet-cepet membentuk tim karena musim kompetisi sudah dekat. Kita sudah tidak ada waktu,” desak Pak Andryan.
“Halah, Bapak… Masa ngasih waktu lima detik buat mikir aja nggak mau? Pelit ah…,” sergah Vira, bikin semua melongo.
“Lima detik?”
“Nggak deh…,” jawab Vira akhirnya.
“Nggak?”
“Iya… Nggak nolak!”
Nggak ayal lagi, jitakan bertubi-tubi mampir ke kapal Vira yang cuman bisa teriak-teriak pasrah.
Di antara kegembiraan bersama teman-temannya, Amel sepertinya melihat bayangan Diana sedang melihat ke arahnya dari kejauhan. Diana tersenyum manis sambil mengacungkan ibu jarinya, seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan tema-temannya saat ini.
DUA PULUH SEMBILAN
APA pendapat kalian soal permainan bola basket?
Wiki(pedia)
Olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke keranjang lawan.
Amalia (Siswi SMA 31)
Bola keranjang?
Amel (Siswi SMA 31)
Itu permainan favorit sahabat-sahabat Amel. Kalo sehari aja mereka nggak maen basket, lemesnya kyak nggak makan berhari-hari.
Lisa (Siswi SMA Altavia)
Bikin gue capek karena gue harus nonton Stella kalo dia main, padahal gue sama sekali nggak ngerti dan nggak tertarik dengan basket.
Niken (Mantan Ketua OSIS SMA 31)
Permainan yang aku nggak pernah bisa. Padahal kan cowokku pemain basket…
Stephanie (Alumnus SMA Altavia)
Apa ya? Kelihatannya keren sih kalo bisa main basket. Apalagi kalo diliatin cowok-cowok keren bin licin, tambah semangat aja deh mainnya.
Rei (Siswa SMA 31)
Tempat menyalurkan hobiku selain naik motor. Oya, karena basket juga aku jadi punya teman-teman yang menyenangkan…
Elmo (Streetballer)
Sarana buat nyari duit! Lumayan…
Rida (Siswi SMA 31)
Tadinya sih cuman hobi, iseng-iseng ikut ekskul basket di sekolah. Eh, lama-lama jadi keterusan. Gara-gara Vira juga sih yang bikin aku jadi lebih mencintai basket. Apalagi kalo dapet duit dari situ…
Sita (Siswi SMA Puri Luhur Tasikmalaya)
Dengan basket, aku ingin mengangkat nama daerahku. Bangga kan kalo salah seorang putri daerahnya bisa jadi pemain nasional.
Stella (Siswi SMA Altavia)
Yang jelas, basket bikin status gue lebih tinggi daripada anak-anak lain.
Vira (Siswi SMA 31)
Basket bukan sekadar olahraga dan hobi bagi gue, tapi udah merupakan gaya hidup dan cara gue menjalani hidup ini. Gue mendapat banyak pelajaran dari sana terutama pelajaran tentang kehidupan.

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified