Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Harimau-Harimau

Di sekeliling mereka hutan masih penuh dengan bunyibunyi
unggas dan beruk. Malahan beberapa puluh meter dari
pohon tempat mereka bersembunyi sekumpulan beruk yang
berbulu kelabu panggil-memanggil dan berayun-ayun dari
sebuah cabang ke cabang yang lain.
Serangga kecil-kecil berterbangan di udara dekat pohon
mereka. Beberapa ekor burung melintas melalui pohon. Sanip
menggores beberapa ekor pacet yang melekat di kaki dengan
parangnya.
Tiba-tiba Buyung merasa hasrat yang amal besar untuk
merokok. Dan berat sekali terasa olehnya melawan
keinginannya hendak merokok ini. Lalu dia teringat pada Pak
Balam, Pak Haji dan Sutan. Apa yang mereka lakukan kini?
Pikirannya kemudian membawanya kembali ke kampungnya.
Apa kerja Zaitun kini? Teringat pada Zaitun menyebabkan dia
teringat pula pada Siti Rubiyah. Apa kerja Siti Rubiyah
sekarang? Bagaimana dengan Wak Hitam? Sudah matikah dia?
Atau telah sembuh dia?
Sanip teringat pada istrinya. Dan tiba-tiba timbul hasratnya
yang besar untuk tidur dengan istrinya. Teringat dia malammalam
dia memeluk badan istrinya terasa ke dadanya buah
dada istrinya — sentuhan paha istrinya ke pahanya - wangi
rambut istrinya yang selalu diminyakinya dengan minyak
kelapa yang dimasak dengan bunga melati dan bunga mawar
dan irisan daun pandan wangi — wangi bedak beras yang
dipakai istrinya di pipinya dan di badannya — dengan jelas
benar dia dapat membayangkan istrinya di depan matanya.
Wak Katok menunggu dengan hati yang penuh amarah. Dia
marah kepada harimau. Dia marah kepada Pak Balam. Pak
Balamlah yang memulai semua kesusahan ini. Seandainya dia
tak diterkam harimau, maka mereka tidak akan sampai begini.
Pak Balam tidak akan membuka rahasia kejahatankejahatannya
yang selama ini telah tertutup rapat dan
dianggapnya tidak akan terbongkar lagi selama-lamany. Dalam
hatinya tak ada kepercayaan kawan-kawannya akan
menyimpan rahasianya seperti selama ini. Hanya dengan
suatu perbuatan yang hebat, seperti jika dia berhasil
membunuh harimau, maka mereka mungkin akan kembali
hormat dan segan padanya seperti dahulu. Hanya jika dia
yang membunuh harimau, dan dengan demikian dialah yang
menyelamatkan jiwa mereka semua, barulah dengan ikatan
serupa ini mereka akan menutup mulutnya. Wak Katok pun
tahu, bahwa tak ada yang lebih hina dan celaka dari seorang
pemimpin yang gagal, dari seorang raja yang gagal, yang
kelemahan-kelemahannya telah terbongkar dan tak berhasil
pula membuktikan kekeramatan dirinya sendiri, yang selama
ini dipuja-puja orang. Dia telah mengatakan, bahwa harimau
itu adalah harimau biasa. Timbul sedikit rasa menyesal dalam
dirinya, mengapa dia tidak mengatakan, bahwa harimau itu
adalah harimau siluman. Jadi sesuatu yang gaib yang mungkin
tak terlawan oleh daya manusia biasa, betapa pun tinggi
ilmunya seperti Wak Katok. Karena siapa yang dapat melawan
kehendak Allah Yang Maha Kuasa?
Akan tetapi mulanya dia tak hendak mengaku bahwa
harimau itu harimau siluman adalah untuk menotak ucapan
Pak Balam, bahwa harimau dikirim oleh Tuhan untuk
menghukum dosa-dosa mereka. Dia juga marah terhadap Pak
Haji, terhadap Sutan, terhadap Buyung, terhadap Talib dan
terhadap Sanip yang telah ikut mengetahui dosa-dosanya, dan
karena mereka telah mengetahuinya, maka kini dia harus
menghadapi bahaya harimau, harus memburu dan membunuh
mati harimau. Dia marah pada mereka. Karena dia kini mesti
melakukan pekerjaan yang amat berbahaya. Sedang dalam
hatinya dia merasa takut. Ya, selamanya dia merasa takut.
Orang mengatakan dia tukang silat yang ulung, pemburu yang
mahir, dukun yang tinggi ilmunya, akan tetapi dalam hatinya
dia selalu merasa takut, sejak dahulu, sejak waktu mudanya.
Apa yang dilakukannya adalah untuk menyembunyikan
ketakulannya. Karena itu waktu dahulu, sejak waklu mudanya.
Waktu dahulu pecah pemberontakan melawan Belanda dialah
yang berbuat paling ganas dan kejam dalam pasukannya.
Dialah yang belajar menuntut ilmu dukun bertahun-tahun,
supaya orang di kampungnya segan dan hormat padanya.
Karena itu dia selalu berusaha unluk menjadi pemburu yang
mahir. Akan tetapi dia selalu takut. Dia tak dapat
meninggalkan rasa takutnya. Dia tak dapat damai dengan
takutnya. Karena itu selalu dia lerpaksa untuk melakukan halhal
berlebihan untuk menutupinya. Dan dia selalu pandai
mengatur semua perbuatan beraninya sedemikian rupa,
hingga dia selalu selamat. Tetapi tak pernah dia mengambil
risiko sebesar sekarang. Dia dengan dua orang anak muda
yang tak bersenjata. Dahulu ketika berontak dia selalu
berlindung di belakang kawan-kawannya. Dan jika keadaan
telah mereka kuasai, maka dialah yang mulai membunuh,
merampok atau memperkosa. Akan tetapi karena berbuat
demikian, maka dialah yang dianggap paling berani. Dan
waktu berburu pun dia selalu beruntung. Belum pernah dia
memburu harimau seperti yang dilakukannya kini. Dan sejak
tadi pagi pun yang sebenarnya bekerja mengikuti jejak
harimau adalah Buyung. Akan tetapi Wak Katok amat
pandainya membuat usaha orang lain kelihatan seakan
dilakukan di bawah pimpinannya. Dia telah belajar berbuat
demikian sejak lama. Sejak mudanya dia telah belajar untuk
memakai topeng, dan memakai warna-warna yang berlainanlainan,
disesuaikan dengan waktu dan keadaan. Dia telah
belajar untuk selalu selamat dalam keadaan apa pun juga, dan
mendapat nama pula dari sesuatu pekerjaan yang sebenarnya
orang lain yang berpikir dan bekerja. Dan sejak tahun-tahun
terakhir, ketika namanya telah terkenal sebagai guru silat
yang ulung, sebagai seorang dukun yang mahir dan
sebagainya pemburu yang utama, ketika semua orang di
kampungnya telah percaya pada keunggulan ilmunya,
keunggulan kecakapannya, keunggulan pimpinannya, maka
peran yang harus dimainkannya bertambah mudah terasa
olehnya. Dia kini dapat memberikan obat, melawan jin dan
membaca mantera. Jika berhasil, maka namanya bertambah
harum, akan tetapi jika si sakit mati, maka dia dapat berkata,
bahwa si sakit goyang imannya, dan karena itu tak berhasil
dimanterainya dan diobatinya. Dia telah biasa menerima
sanjungan dan dimuliakan orang banyak, hingga semakin
lama semakin panjang waktu agar lupa pada ketakutannya
dan kelemahan-kelemahan dirinya, dan percaya sungguh,
bahwa dia adalah apa yang dibayangkan orang, dan apa yang
disangka orang banyak. Jarang-jaranglah dia selama ini
menyadari kelemahan-kelemahannya.
Sejak serangan harimau yang pertama, dan sejak Pak
Balam membongkar rahasia kejahatan-kejahatannya di waktu
dulu, Wak Katok telah berada di bawah tekanan jiwa yang
semakin hari semakin besar. Dia merasa kelemahankelemahannya
yang dirahasiakannya selama ini telah
terbongkar, dan membuat dia lemah kembali. Dan serangan
harimau yang kedua terhadap Talib telah lebih memperbesar
tekanan ini. Dan kini sambil menunggu-nunggu harimau,
datang tekanan lebih besar lagi. Bagaimana jika dia
menembak tak tepat? Jika harimau lolos kembali? Atau jika dia
menembaknya hanya luka, dan harimau dalang mengamuk
menyerang mereka? Mereka kini tidak berada di alas pohon
yang aman. Ingin dia sebenarnya mengusulkan supaya
mereka pindah tempat, naik ke atas pohon, membuat tempat
menunggu di atas pohon. Akan tetapi dia lahu, bahwa usulnya
akan didengar dengan perasaan aneh dan ganjil oleh Buyung.
Karena keadaan kini tidak mengizinkan mereka berburu cara
demikian.
Kini soalnya mengadu kemahiran berburu dan kekuatan
hati dengan harimau. Dan inilah yang dirasakan sekarang
amat kurang cukup dimilikinya. Dia bukan saja takut
menghadapi harimau yang kini datang semakin dekat ke
tempatnya bersembunyi, akan tetapi dia pun tak kurang
takutnya, nanti akan terbukti, di depan mata Sanip dan
Buyung, jika gagal menembak. Bagaimana jika ketika melihat
dan mendengar auman harimau, badannya jadi beku dan
kaku?
Alangkah senangnya jika dia dapat mencari alasan untuk
memberikan senapan kepada Buyung. Biarlah Buyung yang
menembak. Jika meleset, maka Buyunglah yang salah. Akan
dikatakankah, bahwa tangannya sakit, atau kaku, semutan...?
Akan tetapi hatinya amat enggan melepaskan senapan dari
tangannya. Sejak bahaya mengancam, tak pernah dia
melepaskan senapan dari tangannya lagi, jika tak amat perlu
sekali. Dia mendapatkan sesuatu perasaan aman dari besi
laras senapannya. Senapannya itulah yang memberikan
padanya kedudukan pimpinan dan kekuasaan antara mereka
kini. Tanpa senapannya dia tak punya arti. Wak Katok,
meskipun seluruh tampangnya dan mukanya menunjukkan
kekukuhan dan kekerasan dan ketegangan, sebenarnya jauh
dalam lubuk hatinya, adalah seorangyang rusuh hatinya,
kacau perasaannya, ragu-ragu pikirannya, penuh dilanda
kebimbangan, keraguan dan kekhawatiran. Tangan beku dan
jari-jari beku, ketakutan pun meremas-remas hatinya tak
berhenti-henlinya.
Lama mereka menunggu.
Mereka memandang ke atas mengikuti jalan matahari, dan
kecemasan mereka semakin besar. Petang telah bertambah
dekat, dan jika harimau tak muncul dalam waktu setengah
jam lagi, mereka akan harus berangkai, jika masih ingin tiba di
tempat bermalam sebelum saat magrib. Jika mereka
menunggu terlalu lama, mereka akan kemalaman di jalan, dan
keadaan mereka akan amat berbahaya sekali. Akan tetapi
seandainya pun mereka berangkat sekarang, keadaan mereka
tetap berbahaya, karena mungkin kini sang harimau
bersembunyi menghadang di suatu tempat dijalan yang harus
mereka tempuh untuk kembali.
Mereka tak tahu lagi sebenarnya siapa kini yang menjadi
pemburu, dan siapa yang diburu.
Matahari bergerak juga terus perlahan-lahan di langit.
Udara di bawah daun-daun hutan terasa panas. Tanah
hutanyanglembabperlahan-lahan menguapkanairyang
membuat udara jadi panas dan basah. Mereka tak berani
mengusir atau memukul nyamuk yang dalang menyerang dan
harus menahan gigitan nyamuk dengan sabar dan tahan
sekali. Kadang-kadang Buyung merasa seakan hendak
melompat dan memekik, dan memukul nyamuk di tangan, kaki
dan tengkuknya dengan keras, demikian rasanya tekanan di
dalam dirinya mendesak-desak menyuruhnya berbuat sesuatu.
Akan tetapi Buyung pun menginsyafi, bahwa kini keselamatan
mereka tergantung dari kekuatan hati mereka menunggu, dan
menunggu, dan menunggu.
Tak ada kesenangan hal terasa dalam menunggu demikian.
Lain halnya dengan menunggu yang dilakukan orang ketika
mengail ikan, dan berjam-jam dapat mengalir lewat dan hati
merasa tenang dan enak, menunggu tarikan mulut ikan yang
perlama pada umpan pancing di dalam air. Atau menunggu
burung belibis lewat di atas kepala, sedang pemburu
bersembunyi di dalam belukar rawa. Atau menunggu rusa
dalang minum ke tempat air di tengah hutan. Atau menunggu
kekasih yang dalang terlambat.
Di dalam menunggu serupa ini ada terasa bahagia yang
terdiri dari campuran harap-harap dan tak sabar. Akan tetapi
menunggu seperti yang mereka lakukan ini adalah satu
siksaan. Akan tetapi karena sadar, bahwa untuk dapat hidup
terus mereka harus dapat menahan siksaan ini, maka mereka
pun diam dan menunggu. Untuk dapat hidup terus manusia
bersedia berbuat banyak sekali. Tidak saja mengorbankan
kesenangan diri, harta dan kekayaan, akan tetapi menjual
kehormatannya sendiri pun banyak orang yang bersedia
melakukannya. Hidup penuh kemanisan, sedang janji-janji
surga bagi orang yang beramal saleh belum ada seorang
manusia pun yang dapat membuktikannya, baik bagi dirinya
sendiri, apalagi untuk orang lain.
Karena itu orang ingin memperpanjang hidupnya sebanyak
mungkin. Peminta-minta yang paling sengsara sekalipun akan
mencoba juga sedapat mungkin memperpanjang hidupnya,
sedang hidupnya telah begitu getir dan pahit.
Mereka menunggu terus.
0oo0
BUYUNG yang mula-mula menegakkan kepalanya dan
memasang telinganya baik-baik. Beberapa saat dia demikian,
sedang Wak Katok dan Sanip ikut pula memasang telinganya.
Mereka tak mendengar sesuatu apa. Hanya bunyi angin di
antara daun-dauan dan bunyi-bunyi hutan yang biasa.
Buyung berbisik amat halus sekali:
"Saya seakan mendengar suara orang memanggil-manggil!"
Mereka bertiga tegang menajamkan pendengarannya. Akan
tetapi mereka tak mendengar seuatu apa pun juga. Setelah
menunggu beberapa saat lagi dan tidak juga mendengar
sesuatu apa, kembali mereka mengendurkan panca inderanya,
akan tetapi tetap awas menunggu kedatangan harimau. Lima
menit kemudian Buyung mengangkat kepalanya kembali, dan
berbisik perlahan sekali:
"Aku dengar kembali seperti suara orang memanggil!"
Sanip dan Wak Katok memasang telinganya. Mereka
menunggu. Benar, tak lama kemudian, jauh sekali, sayupsayup
sampai, mereka mendengar suara. Akan tetapi apa
yang dipanggil suara itu tak jelas pada pendengarannya.
Suara itu menghilang begitu terdengar ke telinga. Hingga
mereka belum begitu yakin benar, bahwa ada mereka
mendengarnya.
Kini ketegangan memuncak dan berkumpul ketat serta
padat dalam diri mereka. Menunggu kembali. Suara itu
terdengar kembali - sebuah suara seperti seorang berteriak
'oooo-oooo!!!!!' - ataukah 'toooolooooong!!!!!' yang lalu segera
menghilang pula kembali.
Adakah orang minta lolong jauh di sana? Adakah orang lain
di hutan besar ini, yang kini diserang harimau? Mereka
berpandangan. Mereka merasa amat tegang sekali. Kini suara
datang lebih jelas, dan kini dapat mereka mendengar jelas
'...toooooookkkkk!!!!' Orang memanggil Wak Katokkah? Sanip
teringat pada cerita-cerita tentang orang halus di dalam hutan
yang didengarnya waktu kecil, yang kadang-kadang menyaru
sebagai seorang yang dikenal lalu membawanya sesat jauh ke
dalam hutan. Apakah suara itu kini suara orang halus rimba
yang hendak menyesalkan mereka?
Apakah itu suara harimau siluman yang hendak
mengumpan mereka, supaya meninggalkan tempat
persembunyian mereka? Nah, kini suara teriak orang
bertambah jelas — datangnya seakan dari arah hutan yang
telah mereka tempuh tadi, di jalan yang mereka lalui,
mengikuti jejak harimau yang akhirnya membawa mereka ke
tepi sungai, tempat mereka berhenti dan makan sebentar.
Kini mata mereka menuju ke arah hutan yang telah mereka
tinggalkan. Mereka menunggu. Mereka menunggu. Mereka
menunggu.
Tiba-tiba seluruh urat syaraf mereka mengencang amat
sangat, dari tempat mereka makan di pinggir sungai, mereka
mendengar suara auman harimau, dan jerit orang yang
kesakitan dan penuh ketakutan, jeritan suara manusia yang
merobek hati dan jantung, merobek dada dan hati dan perut.
Yang merobek-robek seluruh rasa manusia. Jeritan yang tajam
menembus ke langit, menembus ke dalam bumi yang
menggetarkan seluruh daun-daun di seluruh rimba raya,
jeritan maut yang mengheningkan seluruh bunyi dan suara di
dalam hutan. Jeritan yang membekukan darah mereka
bertiga... harimau telah menyerang korbannya yang ketiga.
Kali ini kebekuan darah dan panca indera mereka lebih
lama bertaku. Dan ketika panca indera mereka mulai bekerja
kembali Sanip menutup mukanya dengan kedua tangannya,
dan bersuara seakan orang yang hendak menangis. Buyung
kaku seluruh mukanya, dan nalurinya yang pertama ialah
hendak melompat memburu ke tempat harimau menerkam
mangsanya, menolong sang korban. Dalam hatinya Wak Katok
merasakan ketakutan yang amat sangat. Dia dapat
membayangkan dirinya sebagai sang korban. Tetapi ia merasa
agak lega, karena harimau telah menyerang sasaran lain. Wak
Katok berdiri, dan mengambil jalan pintas mengambil arah
kembali ke tempat mereka bermalam.
Buyung memegang lengan bajunya dan berbisik: "Tidakkah
kita ke sana menolong orang itu?"
Wak Katok berbisik kembali dengan suara marah:
"Dungunya engkau. Kita tak dapat menolongnya kini. Jika
kita tiba di sana, dia telah hancur dimakan harimau. Paling
cepat dua puluh menit baru kita dapat tiba di sana. Petang
telah larut. Kita mesti cepat pulang."
Wak Katok meneruskan langkahnya cepat-cepat. Buyung
hendak memprotes, akan tetapi dalam hatinya dia pun merasa
senang Wak Katok memutuskan yang demikian. Dia tak terlalu
gembira untuk berlari menuju tempat harimau menerkam
mangsanya.
Mereka berlari sejarak beberapa ratus meter terakhir ketika
akan tiba di tempat bermalam. Dari jauh mereka telah melihat
asap api unggun. Asap menunjukkan tanda hidup, dan mereka
ingin cepat dapat merangkul kehidupan. Pak Haji datang
menyongsong mereka berlari, yang menimbulkan pertanyaan
dalam diri mereka. Telah matikah Pak Balam? Pak Haji telah
terdengar berseru-seru dari jauh, tetapi suaranya tak jelas
terdengar. Baru setelah dekat, mereka mendengar seruan Pak
Haji, yang bertanya:
"Bertemukah kalian dengan Sutan?"
Dan tiba-tiba mereka terhenti dekat pondok mendengar
teriak Pak Haji. Pak Haji pun berhenti berlari menyongsong
mereka. Seluruh kedahsyatan kejadian kini menguasai diri
mereka. Sutanlah yang diterkam harimau! Akan tetapi
mengapa dia meninggalkan tempat bermalam? Bukankah dia
dan Pak Haji harus menjaga
Pak Balam? Apa yang telah terjadi? Mengapa Sutan
meninggalkan Pak Haji dan Pak Balam? Ke mana dia?
Wak Katok menyumpah-nyumpah dengan hebat. Buyung
menceritakan kepada Pak Haji apa yang mereka dengar. Pak
Haji menceritakan apa yang telah terjadi.
"Pak Balam bertambah parah kini," katanya, "aku khawatir
dia tak sampai pagi dapat hidup."
Mereka tergesa menuju pondok hendak melihat Pak Balam.
Pak balam terbaring di tanah, mengerang perlahan-lahan,
napasnya berat, dana kelihatan bahwa demam karena infeksi
luka-lukanya kini telah menyerang seluruh tubuhnya Dia telah
bertambah jauh meninggalkan cahaya hidup, dan telah lebih
dekat pada pinggir jurang kegelapan kematian. Tetapi Buyung
tak dapat lama-lama memperhatikan Pak Balam, yang kini
tetap tak sadar dan tak mengenalnya, meskipun matanya
terus terbuka. Buyung teringat pada Sutan, dan dia
mendesak:
"Bagaimana? Apa yang mesti kita lakukan? Tidakkah kita
harus kembali ke sana? Akan kita biarkan Sutan dimakan
harimau?"
Mereka memandang padanya. Mereka memandang
berkeliling pada hutan yang mulai diselimuti oleh selendangselendang
senja tipis dan amat halus, yang pertama turun dari
langit di sebelah Barat, yang mulai mengurangi
kecemerlangan cahaya petang hari. Dan Buyung pun insyaf
bahwa tak ada gunanya kini bagi mereka untuk kembali.
Belum mereka tiba di tempat itu, Sutan, jika seandainya dialah
yang menjadi korban harimau, telah lama mati dan habis
dikoyak-koyak harimau. Akan tetapi mungkinkah bukan Sutan
itu? Barangkali orang lain? Dan Sutan ke mana dia? Tiba-tiba
Buyung menyesal mengapa dia tadi tidak lebih kuat mengajak
Wak Katok dan Sanip untuk segera mengejar ke tempat
auman harimau menerkam orang.
Pikirannya bingung. Mengapa Sutan melakukan apa yang
telah dilakukannya? Mengapa dia hendak mencekik Pak Balam
yang sakit? Mengapa dia tak tahan mendengar kata-kata dosa
yang diucapkan Pak Balam yang mengigau? Kini pun sekalikali
Pak Balam masih mengucapkan kata itu. Dosa besar
apakah yang disimpan Sutan, hingga dia bertaku demikian?
Susah benar hati Buyung. Dia merasa seakan dunia yang
dikenalnya selama ini telah runtuh di sekelilingnya. Orangorang
yang selama ini dikenalnya disayanginya, dihormati, dan
diseganinya, kini seakan terbuka topeng mereka sehari-hari,
dan mereka memperlihatkan wajah-wajah yang lain. Pak
Balam yang begitu pendiam, Wak Katok yang disegani dan
dihormatinya, gurunya, Talib yang dianggapnya orang baikbaik
di kampung. Dan bagaimana dengan Pak Haji? Dia tentu
juga punya dosa-dosa yang disembunyikannya dari orang lain.
Tiba-tiba Buyung teringat pada dosa-dosanya sendiri, dan
pikirannya bertambah kacau. Mengapa selama ini, meskipun
masing-masing berdosa, mereka dapat hidup biasa? Mengapa
baru kini dosa-dosa ini menonjol begitu tajamnya, dan
menguasai semua pikiran dan perbuatannya? Apakah semua
orang demikian, berubah dari yang biasa jika berada di bawah
tekanan bahaya, atau tekanan lain yang terlalu berat? Maka
lalu dia tak dapat lagi damai dengan dosa-dosanya, dan api
yang selama ini membakar jauh di lubuk hatinya, lalu mencari
jalan ke luar dengan berbagai cara? Buyung sendiri merasakan
ketegangan yang amat sangat. Dia pun bingung dan rusuh,
akan tetapi satu hal tetap jelas baginya, dia tidak akan
menceritakan apa yang telah terjadi antara dia dengan Siti
Rubiyah kepada kepada siapa pun juga. Lebih baik dia mati,
daripada harus mengakui.
Sejak mereka mulai menunggu datangnya harimau di
tempat persembunyian mereka, Buyung dapat merasakan
sesuatu perubahan di dalam diri Wak Katok. Air mukanya yang
keras kini seakan goyah. Seakan Wak Katok meragukan
kekerasan dirinya sendiri. Sesuatu yang goyah yang dapat
membahayakan, bukan saja diri Wak Katok sendiri, akan tetapi
diri mereka semua.
"Pasti Sutan itu," kata Pak Haji kemudian, menyimpulkan
apa yang telah diputuskan sejak semula dalam hati masingmasing,
akan tetapi tak ada yang mau mulai
mengeluarkannya.
Setelah Pak Haji memastikannya, mereka amat merasa
sekali betapa telah tiga orang di antara mereka bertuj uh yang
telah jadi korban harimau. Kini mereka tinggal berempat. Pak
Balam hanya menunggu saatnya yang terakhir saja. Tak
seorang juga di antara mereka yang kini berpikir Pak Balam
akan dapat sembuh.
Dan di antara mereka yang berempat siapakah lagi yang
akan mejadi korban sebelum mereka dapat tiba selamat di
kampungnya? Masing-masing berkeyakinan dan berharap
dialah yang akan selamat, dan biarkan yang lain menjadi
korban harimau, jika perlu.
Mereka terlalu letih mengikuti jejak harimau sepanjang
hari, hingga setelah makan malam, meskipun Pak Balam terus
mengigau, dan hati mereka diberati dengan kematian Sutan
yang diterkam harimau dan bahaya yang masih
mengancamnya, Buyung dan Sanip tertidur juga. Tetapi
mereka tidur dengan gelisah. Wak Katok dan Pak Haji berdua
yang metaksanakan sembahyang magrib dan sembahyang
Isa. Biasanya Wak Katok membangunkan Buyung dan Sanip,
menurut giliran mereka untuk berjaga-jaga, selelah mereka
mulai diserang harimau. Akan tetapi malam itu Wak Katok tak
hendak melepaskan senapan dari pegangannya. Dia duduk
sendiri dekat api. Tiap sebentar matanya mengawasi hutan
gelap di luar lingkaran cahaya api. Semakin lama ketegangan
yang menekan itu semakin besar, dan semakin besar pula dan
semakin besar, dan ada beberapa kali seakan Wak Katok pun
tak dapat menahan rasa takut yang memeras hati dengan
amat kuatnya, dan dia merasa ingin melompat dan menjerit,
melakukan sesuatu kekerasan untuk menghapuskan rasa takut
demikian dari hatinya.
Beberapa kali hatinya berdebar-debar amat kerasnya
mendengar bunyi berkeresekan di antara belukar gelap di luar
cahaya api unggun, dan timbul hasratnya untuk
membangunkan Pak Haji, atau Buyung, atau membangunkan
mereka semua. Akan tetapi ditahannya dirinya. Takut dia akan
merasa malu, mereka akan tahu, bahwa dia merasa takut.
Karena bukankah dia adalah Wak Katok, orang yang paling
berani di kampungnya, yang tidak takut pada setan, jin atau
iblis, seorang dukun yang amat tinggi ilmunya, yang dapat
mengobati segala penyakit, yang dapat memanggil angin dan
hujan, menundukkan api, menundukkan racun dan gunaguna,
seorang pemburu yang merajai semua rimba, guru silat
yang tak ada tandingannya? Demikianlah dia duduk sendiri,
dekat api unggun, seorang manusia yang menganggap dirinya
besar, di dalam dunia kecil lingkaran api unggun, di dalam
perut kegelapan malam dan hutan raya. Dan semakin lama
ketakutannya itu semakin menguasai dirinya, dan semakin
menguasai dirinya ... kenang-kenangan timbul dari lubuk
hatinya, naik ke atas, seperti ikan-ikan yang lama
bersembunyi di dalam lumpur dasar lubuk, dan ketika datang
gangguan yang menggoyang lumpur, maka ikan-ikan
berenang naik ke atas, menonjolkan kepala ke alas permukaan
air yang ditimpa sinar matahari, dan mata-mata ikan terasa
silau dan terbakar melihat terang yang nyalang. Wak Katok
ingat, ingatannya kembali pada semua yang dilakukannya di
masa dahulu. Dia pun tahu bahwa memang dia telah berdosa,
akan tetapi dengan segera pula rasa takutnya mengakui
berdosa menguasai dirinya kembali, dan dia menolak dosadosa
itu sebagai dosa. Dia akan menghapuskannya dari
ingatannya dan dari ingatan kawan-kawannya. Dia menoleh
kepada mereka yang sedang tidur. Alangkah mudahnya
pikirnya - kini saatnya, bunuh saja mereka yang tinggal — Pak
Haji, Sanip dan Buyung. Pak Balam tak lama lagi akan mati.
Dan dia pulang sendiri ke kampung. Mayat mereka akan
segera habis dimakan oleh harimau. Laporkan ke kampung
bahwa dari mereka bertujuh hanya dia sendiri yang tinggal
selamat. Orang kampung malahan akan lebih segan dan
hormat lagi dan akan lebih percaya lagi, bahwa sungguhsungguh
tuahnya besar, keramatnya hebat sekali, hingga dari
mereka bertujuh hanya dia sendiri saja yang dapat selamat.
Dia akan dapat mengatakan kepada orang kampung, bahwa
harimau itu adalah harimau siluman yang datang mengejar
orang-orang bcdosa di antara mereka. Dan meskipun dia telah
mencoba menotaknya, akan tetapi kawan-kawannya yang
menjadi korban rupanya terlalu besar dosanya, hingga sia-sia
usahanya. Nyaris dia sendiri pun hampir jadi korban, jika tidak
ilmunya kuat sekali. Dan dia akan dapat menambahkan
dengan suara yang saleh, ya apa daya kita, jika sudah
kehendak Tuhan untuk menjatuhkan hukuman kepada
hambaNya, maka tak ada suatu kekuasaan di dunia yang fana
ini yang akan dapat menahannya.
Dia hendak bergerak melakukan niatnya, ketika tiba-tiba
sesuatu dalam hatinya menahannya. Jika dibunuhnya mereka
bertiga maka dia akan tinggal sendiri. Membayangkan dirinya
tinggal sendiri di malam gelap itu, dengan harimau menunggu
di dalam gelap di luar batas cahaya api unggun, menimbulkan
takut lebih besar lagi dalam dirinya. Dia masih menghadapi
empat hari empat malam perjalanan lagi, sebelum tiba di
kampung. Dia harus mencari akal agar dia masih mempunyai
kawan hingga malam terakhir. Siang hari terakhir dapatlah dia
sendiri menuju kampung dengan membawa senapannya.
Lebih baik dia menunggu lebih dahulu. Kesempatan untuk
melakukan niatnya masih banyak.
Setelah mengambil keputusan serupa ini hati Wak Katok
merasa lebih senang. Dengan tak disadarinya dia tertidur pula.
Dia dan kawan-kawannya yang lain terbangun oleh bunyi
kokok ayam-ayam hutan yang berderai-derai ketika fajar tiba.
Dan segera pula mereka merasakan sesuatu yang baru di
tempat mereka bermalam. Dengan terkejut mereka menyadari
tak mendengar lagi igauan Pak Balam. Dengan cepat mereka
memeriksa Pak Balam yang terbaring di tanah ... dan melihat
Pak Balam terbaring kaku dan diam. Mereka pun tahu, bahwa
Pak Balam telah berhenti hidup.
Kembali ketegangan menguasai diri mereka, dan hati
mereka jadi rusuh dan pikiran mereka jadi kacau kembali.
Ketakutan kembali datang melanda. Mereka bersembahyang
subuh, dan seruanAllahu Akbar!Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Pak Haji terdengar bertambah khusuk, dan dalam hati mereka
pun lebih-lebih lagi menyerahkan diri mereka ke bawah
perlindungan Allah Yang Maha Kuasa. Setiap orang di antara
mereka menambah doa dalam hatinya, supaya dialah yang
diselamatkan Tuhan.
Kemudian mereka memandikan mayat Pak Balam dan
membungkusnya dengan kain sarung. Bekas luka-luka di
badan dan kaki Pak Balam telah membusuk sama sekali.
Mayatnya berbau busuk. Mereka kemudian menggali kuburan.
Setelah kuburan mereka tutup kembali tiba-tiba Buyung tak
dapat menahan dirinya.
"Wak Katok," katanya, "mari sekarang kita buru harimau itu
sampai dapat. Hatiku panas sekali. Pak Balam, Talib dan Sutan
harus dituntut bela."
Wak Katok memandang kepadanya kemudian kepada Pak
Haji, dan Sanip. Tak ada terniat sebenarnya dalam hatinya
untuk memburu harimau. Satu-satunya rencana ialah secepat
mungkin meneruskan perjalanan untuk kembali ke kampung
dan untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi ini, anak muda yang
menjadi muridnya pula, berani mengusulkan agar mereka
pergi memburu harimau.
"Diam engkau dulu, Buyung. Tunggu orang-orang tua
berunding dulu," kata Wak Katok mendiamkan Buyung.
Buyung hendak membantah, akan tetapi menahan dirinya.
Dia melihat kepada Pak Haji dan Sanip, seakan hendak
meminta bantuan dari mereka. Akan tetapi Pak Haji diam saja,
dan Sanip menundukkan mukanya, lebih suka membiarkan
orang lain saja mengambil putusan. Sejak Talib diterkam
harimau, dan kemarin Sutan, seakan sesuatu patah di dalam
dirinya, dan Sanip yang penggembira dulu seakan tak ada lagi.
Ia kelihatannya lesu sekali. Kecemerlangan hatinya yang
penggembira telah hilang. Seakan cahaya hidup telah padam
dalam dirinya. Sinar matanya pun pudar, tak berkilauan.
Pak Haji berunding dengan Wak Katok, Pak Haji
mengatakan bahwa putusan terserah pada Wak Katok, karena
Wak Katok yang membawa senapan dan Wak Katoklah yang
ahli berburu. Memang kemungkinan besar Sutan telah lama
habis dimakan harimau. Akan tetapi selalu pula ada
kemungkinan dia berhasil melepaskan diri, dan mungkin kini
bersembunyi di atas pohon. Mungkin dia luka. Tidakkah dalam
keadaan demikian kewajiban mereka untuk menolongnya?
Dan bagaimana jika mereka kembali ke kampung dan
kemudian ternyata Sutan masih hidup, dan berhasil pula
kembali ke kampung? Apa kata orang kampung nanti tentang
diri mereka?
Ucapan Pak Haji yang terakhir inilah yang menyebabkan
Wak Katok memutuskan untuk kembali ke tempat mereka
mendengar Sutan diserang harimau. Dia lebih takut lagi jika
namanya akan rusak di kampung, jika orang kampung akan
tahu, bahwa dia takut, apalagi setelah Buyung yang
mengusulkan supaya mereka kembali. Mulut anak muda itu
tak akan berhenti-henti nanti bercerita, pikirnya dengan
marah, bahwa dia telah mengusulkan agar kembali, tetapi
Wak Katok tak mau. Dia takut dan ingin cepat lari ke
kampung. Serasa terdengar olehnya maki-makian orang
kampung terhadap dirinya, jika terjadi yang demikian. Tidak,
hal yang demikian tak dapat dibiarkannya terjadi. Dia harus
tetap memelihara keseganan dan hormat orang kampung
terhadap dirinya. Dia merasa tak dapat hidup, jika dia tidak
lagi dihormati, disegani, dan dipuji-puji orang di kampung. Dia
akan lebih menegaskan lagi pimpinannya dan dia akan
memulai sekarang. Dia menguatkan hatinya, dan berkata:
"Memang aku telah memutuskan untuk memburunya sampai
dapat. Sebelum kita berangkat, aku buat dahulu jimat yang
lebih kuat lagi untuk melindungi diri kalian terhadap
serangannya."
Wak Katok pergi menyendiri ke dalam pondok, dan
mengeluarkan beberapa batu dari dalam kantong ikat
pinggangnya, yang dibungkusnya dalam potongan-potongan
kain putih yang dibawanya, kemudian dijampinya beberapa
lama. Kemudian batu yang telah dibungkusnya diberikannya
kepada mereka seorang satu.
"Turutlah segala perintahku baik-baik," kata Wak Katok,
"yang kita buru bukan sembarang lawan. Hanya jika kalian
menurut semua petunjukku dengan cermat, baru kita akan
berhasil."
Mereka masak, makan pagi, menyiapkan perbekalan.
7
Wak Katok membawa mereka memintas jalan menuju
tempat mereka mendengar Sutan diserang oleh harimau.
Meskipun Wak Katok telah mengatakan, bahwa dia akan
memimpin mereka memburu harimau, akan tetapi dalam
hatinya dia masih mencari jalan ke luar dari tugas ini.
Putusannya untuk memintas jalan merupakan juga sebuah
usahanya untuk menghindarkan selama mungkin kembali ke
tempat jejak harimau mulai. Alasannya benar. Katanya,
supaya mereka lebih lekas sampai dan untuk mengelakkan diri
dari buruan harimau, jika mereka mengikuti jejak harimau
yang lama. Karena harimau telah tahu, bahwa mereka
memburunya, seperti terbukti kemarin. Buyung sendiri pun
sepaham dengan Wak Katok. Putusannya tepat dan benar,
dan sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan tentang
maksud-maksudnya yang sebenarnya. Setelah mereka
berjalan ada-sejam lamanya melintasi tebing dan ngarai,
mereka tiba di sebuah bahagian hutan yang lebat sekali. Sinar
matahari hampir tak dapat masuk. Di tengah hutan udara
separuh gelap. Tanah basah dan di banyak tempat becek
sekali. Daun-daun basah, dan air menetes-netes terus dari
daun yang paling atas hingga ke daun yang paling bawah. Tak
seekor burung pun terbang di bahagian hutan yang gelap ini.
Di sini hanya beterbangan nyamuk, dan serangan pacet amat
hebat. Tiap sebentar mereka harus menggosok tangan dan
kaki dan tengkuk dengan air tembakau.
Tak seorang pun di antara mereka yang telah pernah
memasuki hutan ini. Mungkin sejak dunia mulai terhampar
belum pernah manusia memasukinya. Margasatwa hutan yang
biasa pun tak senang tinggal di hutan serupa ini, kecuali
barangkali babi atau badak.
Ketika mereka melalui hutan gelap itu mereka tak
mendengar sesuatu apa. Hutan seakan sunyi sepi, tak ada
penghuninya, kecuali serangga-serangga kecil. Tak ada bunyi
himbauan beruk atau siamang. Tak ada bunyi paluan burung
pelatuk, tak ada bunyi burung-burung.
Seakan-akan mereka melalui bahagian hutan yang
dikosongkan, yang lain dari yang lain. Udara di dalamnya
panas, lembab dan basah, dan jalan yang mereka lalui berat
sekali, karena mereka harus membuka jalan antara pandanpandan
dan rotan-rotan berduri. Semakin dalam mereka
memasuki hutan, semakin gelap udara di dalam hutan, dan
tanah yang mereka lalui tiap sebentar dilintasi oleh anak-anak
sungai kecil yang mengalir dengan lamban. Jika orang dalam
mimpi pernah memasuki hutan-hutan jahat yang keramat dan
bertuah, tempat orang disesatkan oleh tukang-tukang sihir
yang gaib, dan ditakdirkan akan berputar-putar berkeliling
tersesat di dalam hutan sampai akhir jaman, maka inilah
hutan itu. Rupa pohon-pohon dalam hutan pun menakutkan.
Pohon dan cabang-cabang tebal ditutupi lumut yang panjangpanjang,
dan tanaman yang menjalar memasang sulursulurnya
dari pohon ke pohon, hingga tak ubahnya seakan ada
seekor laba-laba raksasa yang memasang jaring-jaringnya di
seluruh hutan.
Seluruh suasana hutan menekan perasaan dan mereka
berjalan dengan diam-diam. Tak seorang juga berselera
hendak bercakap-cakap. Masing-masing melangkah dengan
pikiran-pikirannya, membawa perasaan-perasaan-nya yang
tambah lama terasa tambah berat.
Buyung merasa setengah menyesal karena telah
mengambil jalan memintas yang tak pernah ditempuh orang
ini. Entah berapa lama lagi mereka harus meng-harungi rimba
jahat ini. Mereka akn lebih terlambat tiba di tempat harimau
menyerang Sutan. Mereka tak dapat berjalan cepat, dan
kerapkali harus berhenti untuk memotong dahan-dahan dan
daun-daun pandan yang berduri. Dan jika memotongnya
menimbulkan bunyi yang terlalu keras, Wak Katok akan
menggeram: "Jangan terlalu ribut kalian."
Bagaimana dapat memotong daun dan dahan tak bersuara?
Mereka menyesal mengikuti Wak Katok yang membawa
mereka melalui hutan ini. Dalam hutan ini orang tak lagi dapat
mengikuti kedudukan matahari. Orang tak dapat lagi
memeriksa ke arah mana dia menuju. Entah di mana Timur,
entah di mana Barat, Selatan atau Utara. Mereka mungkin
tersesat jika keadaan hutan begini terus.
Dalam khayalannya Buyung membayangkan mereka
tersesat, kehabisan makanan, hilang tak tentu rimbanya di
dalam hutan yang dahsyat. Akan tetapi dia menahan hatinya,
tak hendak membiarkan dirinya dihanyutkan oleh pikiranpikiran
yang demikian. Dia teringat nasihat pamannyayangtua,
yang mengatakan kepadanya, bahwa orang tak boleh
memikirkan atau membiarkan pikiran-pikiran yang merugikan
tumbuh dalam kepalanya. Karena pikiran-pikiran demikian
dapat mempengaruhi diri orang. Dan terjadilah hal-hal yang
tak dikehendaki atau ditakuti.
Karena itu Buyung menahan arus pikirannya yang
demikian. Dia mengalihkannya dengan mencoba mengingat
Zaitun. Apa kiranya kerja Zaitun kini? Sedang memasakkah dia
di rumahnya? Atau dia menjahit? Teringat pada Zaitun
membawa pula ingatannya kepada Siti Rubiyah. Dia masih tak
mengerti benar apa perasaanya sebenarnya terhadap Siti
Rubiyah, tetapi tak serupa dengan apa yang dirasakannya
terhadap Zaitun. Dia merasa hanya dapat hidup dengan
Zaitun. Hanya jika dia kawin dengan Zaitun baru dia merasa
dirinya lengkap, baru hidupnya sempurna, baru terisi
kekosongan yang ada di samping dirinya. Kemudian dia
menahan pikirannya kembali, dia tak hendak memikirkan apa
yang harus dilakukannya jika mereka telah kembali ke
kampung, dengan janjinya kepada Siti Rubiyah.
Sanip berjalan dengan diam, dan menebas daun dan dahan
dengan gerak tangan seakan tak disadarinya, akan tetapi yang
bekerja sendiri secara otomatis. Hatinya penuh gundah
gulana. Dia ingin benar cepat-cepat meneruskan perjalanan
pulang ke kampung. Dalam hatinya dia tak setuju mereka
kembali memburu harimau. Lebih baik pulang ke kampung
dan minta bantuan di sana untuk mencari Sutan. Apa yang
dapat mereka lakukan berempat dengan sebuah senapan tua
Wak Katok? Meskipun hatinya agak terobat, karena diberi
jimat baru oleh Wak Katok, akan tetapi keraguannya belum
hilang. Tidakkah Pak Balam memakai jimat, juga Talib dan
Sutan? Dan bukankah mereka juga diserang sampai mati?
Tetapi dia mendiamkan bisikan hatinya yang tak percaya,
karena ini lebih membesarkan kerusuhan hatinya saja. Lebih
baik dia mengingat istrinya ...
Pak Haji yang berada paling belakang berjalan penuh
dengan pikirannya sendiri pula. Hatinya pun segan untuk
mengikuti jalan pikirannya. Selama umurnya yang telah enam
puluh tahun, dari berbagai pengalamannya yang pahit-pahit,
dia sejak lama telah mengambil kesimpulan untuk tidak
hendak mencampuri urusan orang lain. Baginya bersamasama
mencari damar dengan kawan-kawannya yang lain
adalah kerjasama yang sama-sama menguntungkan pada diri
masing-masing. Ia tak hendak mencampuri soal-soal pribadi
mereka, dan dia tidak mengundang orang lain mencampuri
persoalan dirinya. Masing-masing orang wajib mengurus
dunianya sendiri, itulah semboyannya. Dia tidak percaya
adanya manusia yang berjuang dan memikirkan dan malahan
sampai memberikan jiwanya untuk kepentingan umum yang
lebih besar, untuk kebahagiaan manusia-manusia lain yang
lebih banyak. Pengalamannya dalam hal-hal serupa ini telah
terlalu banyak dan terlalu pahit. Telah amat sering dia tertipu
dahulu, waktu mudanya, ketika ia mengembara ke seluruh
dunia, betapa orang-orang yang datang kepadanya dan
mengatakan hendak menolongnya, sebaliknya telah
menimbulkan celaka padanya.
Berkali-kali dia mengalami yang serupa itu sejak waktu
mudanya. Bukan saja dia telah kehilangan kepercayaannya
terhadap sesama manusia, akan tetapi kepercayaannya
terhadap Tuhan pun sebenarnya telah hilang dari hatinya. Dia
memang telah naik haji, telah menunaikan rukun Islam yang
kelima. Dia memang berpuasa dan bersembahyang, akan
tetapi semua ini dilakukannya supaya dia jangan kelihatan
berbeda dengan orang lain. Dia melakukannya karena hal ini
perlu dilakukannya untuk dapat hidup damai dengan orang
lain di kampung.
Tak pernah dia menjumpai manusia yang benar dan yang
adil yang terlebih dahulu melepaskan kepentingan dirinya
untuk kepentingan orang banyak. Dia telah terlalu banyak
mengikuti orang-orang yang berkata demikian, yang terlebih
dahulu lari menyelamatkan dirinya. Karena itu, ketika dia
pulang dari bertualang ke dunia luar, dan tiba di kampungnya
dia selalu menotak untuk dituakan dan dijadikan pemimpin.
Selalu dia dapat memberi alasan mengapa dia tak hendak
memimpin sembahyang, atau melakukan khotbah, atau
dikemukakan dalam berbagai pekerjaan yang dilakukan orang
kampung bersama-sama. Lama-lama orang di kampung biasa
dengan sikapnya yang tak hendak mencampuri sesuatu, dan
membiarkan dia sendiri. Orang tetap memanggilnya Pak Haji,
dan menghormati umurnya yang tua, akan tetapi dia tak
terpandang sebagai salah seorang pemimpin di kampung.
Pak Haji merasa puas dengan kedudukan serupa ini. Dia
tak perlu mengikuti seseorang pemimpin, dan dia pun tak
perlu memberikan pimpinan. Dia tak mencampuri soal-soal
orang lain di kampung dan persoalan dirinya tak pula
dicampuri orang lain
Tentang kepercayaan pada Tuhan, terutama sekali
disebabkan oleh pengalaman-pengalamannya sendiri yang
pahit. Pernah dia ketika menetap di India, jatuh cinta kepada
seorang perempuan di sana dan mereka menikah. Ketika itu
dia berumur tiga puluh tahun. Inilah cintanya yang pertama,
dan dia merasa bahagia sekali. Dia bekerja sebagai pesuruh
sebuah toko, dan gajinya jauh dari cukup, akan tetapi dia dan
istrinya berbahagia dalam kemiskinan mereka Kemudian
istrinya melahirkan anak. Seorang anak laki-laki yang amat
disayanginya. Ketika itu Pak Haji (dia belum jadi haji di kala
itu) memutuskan untuk pulang ke kampung, membawa istri
dan anaknya. Dia berusaha sekuat mungkin menyimpan dan
mendapat penghasilan yang lebih banyak untuk ongkos
mereka pulang. Akan tetapi ketika bayinya berumur enam
bulan, anak itu jatuh sakit, dan uang simpanannya yang
sedikit dengan cepat habis untuk membeli obat dan membayar
tabib. Ketika uangnya telah habis, dan penyakit anaknya
belum juga sembuh, dia pernah menawarkan dirinya akan
bekerja tanpa digaji selama setahun pada seorang tabib, asal
tabib mau mengobati anaknya sampai sembuh. Akan tetapi
tak ada seorang tabib yang bersedia menolongnya dengan
syarat demikian. Dia sampai memberanikan hatinya memasuki
tempat bekerja seorang dokter kulit putih, akan tetapi
bertemu saja pun dia tak dapat dengan dokter itu.
Ketika mencari tabib dan dokter itu sepanjang hari, dia
terus juga menggendong anaknya. Dalam putus asanya dia
mendoa kepada Tuhan supaya Tuhan menolong anaknya —
hanya Engkau saja lagi yang tinggal, yang dapat menolong
anak hamba, serunya dalam hatinya. Akan tetapi esok harinya
anaknya mati. Sejak itu kepercayaannya kepada Tuhan
tergoncang sekali. Dan ketika enam bulan kemudian istrinya
meninggal pula akibat sakit disentri, maka dia pun
meneruskan pengembaraannya. Dia mengembara hingga tiba
di negeri Arab, dan di sana dia ikut naik haji, karena tuannya
yang diikutinya pergi melakukan ibadah haji. Selama
petualangannya tak ada yang baik yang dilihatnya di antara
sifat manusia. Dia hanya melihat manusia menindas manusia,
manusia menipu manusia, manusia merusak manusia,
manusia merampas dan memperkosa manusia. Dia bergerak
melalui lapisan-lapisan kelas rakyat yang terendah di semua
negeri itu, dan yang dilihatnya hanyalah orang kecil yang
ditipu, dipergunakan, diinjak, dan diperas dan diperkosa,
dizalimi oleh orang-orang yang berkuasa, yang kaya, yang
kuat. Rakyat yang diperkosa itu masihlah merupakan jumlah
yang terbesar dari manusia yang terinjak di atas dunia kita.
Dia telah pernah ikut mogok, dia pernah ikut demonstrasi,
dia pernah ikut berontak, dan hasilnya hanyalah dia jadi alat
orang yang berkuasa memukuli mereka, menangkapi mereka,
dan membunuhi mereka.
Pak Haji telah patah hati ketika dia pulang ke kampungnya.
Dan apa yang dilihatnya terjadi di kampungnya tak banyak
berbeda dari apa yang dialaminya di dunia luar. Sebuah
contoh yang dekat saja, lihatlah Wak Katok. Alangkah
angkuhnya dan sombongnya dia, ketika dia berada dalam
lingkungan kampungnya yang aman.
Di sana dia dapat berlagak sebagai guru silat yang besar,
dukun yang berilmu tinggi, pemburu yang perkasa. Semua
orang segan dan hormat padanya. Malahan banyak yang takut
pada ilmu-ilmu gaibnya. Jika dia berbicara pantang disangkal.
Semua kata-katanya hendaknya diaminkan saja. Pak Haji
sejak lama telah dapat melihat kelemahan-kelemahan dalam
pribadi Wak Katok dan juga kelemahan dalam ilmu yang
dimashur-mashurkan orang tentang Wak Katok. Akan tetapi
dia berdiam diri. Apa perlunya? Mengapa dia harus
membongkar kedok Wak Katok pada orang-orang
sekampungnya? Jika mereka senang dan berbahagia
mengikuti Wak Katok, mengangkatnya jadi pemimpin dan
gurunya, maka itu persoalan mereka. Apa untungnya baginya
membuka mata orang banyak? Dialah yang akan celaka. Dia
akan dibenci orang jika dia berbuat demikian. Dia hanya akan
mendapat musuh saja. Dan dia telah bosan pindah dari satu
tempat ke tempat yang lain. Di hari tuanya dia ingin hidup tak
terganggu dan tak mengganggu orang lain. Suka hati orang
lainlah apa yang hendak mereka lakukan.
Hidup mereka adalah hidup mereka, dan hidupnya adalah
hidupnya sendiri. Dia tak percaya pada ilmu-ilmu, manteramantera
dan jimat-jimat Wak Katok, akan tetapi jika diberikan
padanya, diterimanya juga, demi untuk menjaga keadaan,
supaya jangan ada perasaan dan hati yang terganggu. Itulah
yang dikehendaki Pak Haji kini dalam hidupnya. Supaya dia
dibiarkan sendiri. Sejak dia kembali ke kampung sikap ini
dapat dipertahankannya. Akan tetapi kini, dirinya langsung
diceburkan ke dalam sebuah keadaan yang penuh bahaya. Dia
tahu bahwa Wak Katok menghadapi krisis dalam dirinya. Dari
ucapan-ucapan dan tingkah laku Wak Katok, Pak Haji dapat
menyimpulkan, bahwa tekanan yang lebih besar akan
mungkin meledakkan krisis ini, dan tak seorang juga yang
dapat mengatakan apa yang akan dilakukan Wak Katok.
Perbuatannya mungkin akan menimbulkan bencana bagi
mereka semua. Apakah dia akan berdiam diri, dan
membiarkan dirinya ditarik ke dalam kehancuran oleh seorang
pemimpin yang tak hendak mengakui ketidakmampuannya,
dan terus hendak menutup kelemahan-kelemahannya,
ketakutan-ketakutannya, dan kebodohan-kebodohannya
sendiri, dengan memberikan perintah-perintah baru, manteramatera
baru dan jimat-jimat baru? Dan memaksa dan
mengancam orang supaya mengikuti semua kata dan
kehendaknya? Yang berkeras mengatakan, bahwa hanya dia
sendiri yang benar? Sikap Wak Katok tak hendak melepaskan
senapan dari tangannya, lambang kekuatan dan
kekuasaannya, sejak harimau datang menyerang, sebenarnya
tak lain dari sebuah pengakuan kelemahan yang terkandung
dalam dirinya sendiri. Demikianlah dalam berbagai hal yang
hampir-hampir tak kelihatan, sikapnya caranya berbicara dan
berbuat mulai mengalami perubahan, sedikit demi sedikit,
hampir-hampir tak kelihatan, kecuali oleh orang yang
mengamatinya dengan seksama. Pak Haji mengamatinya
dengan seksama sejak semula, karena Pak Haji bertekad
dalam hatinya, tak hendak menjadi korban pemimpin palsu.
Akan dibicarakannyakah perasaan-perasaannya ini dengan
Buyung dan Sanip? Dia merasa, bahwa Buyung akan mudah
sependapat dengan dia, akan tetapi Sanip akan ragu-ragu.
Akan tetapi haruskah dia berbuat demikian? Tidakkah ini
berarti dia membawa campur orang lain ke dalam hidup
dirinya? Akan tetapi jika yang lain tak diberitahunya, mungkin
mereka akan jadi korban. Buyung dan Sanip masih muda.
Akan dibiarkannyakah mereka tak mengetahui kelemahan dan
kepalsuan Wak Katok? Tetapi seandainya mereka jadi korban,
akibat mereka tak dapat menembus topeng kepalsuan Wak
Katok, bukankah itu tanggung jawab mereka sendiri dan
bukan persoalannya? Bukankah persoalannya yang utama kini,
bagaimana dapat menyelamatkan dirinya sendiri, dan masa
bodoh dengan orang lain? Ia ingat ketika sebuah biduk yang
ditumpanginya karam di sungai Kuning di negeri Cina, dan
betapa ketika dia hendak naik ke rakit yang telah banyak
berisi orang, dia didorong kembali ke dalam air. Untunglah dia
dapat berpegang kemudian pada sebuah tiang kayu yang
terapung.
Dia cukup merasa puas dibiarkan sendiri dalam hidup ini,
dan dia kini tidak akan mulai membawa orang lain ke dalam
hidupnya.
Tiba-tiba Wak Katok mengambil putusan dalam dirinya. Kini
dia tahu akal bagaimana mengelakkan memburu harimau. Dia
akan membawa mereka sesat, hingga dekat malam, dan
mereka tidak lagi dapat memburu. Dengan suara yang tegas
dia berkata: "Buyung, Sanip, Pak Haji. Berhentilah kini
memotong daun dan dahan. Rasanya kita tak jauh lagi, nanti
terdengar padanya.
Mereka dapat menerima kebenaran perintah ini. Meskipun
kini perjalanan mereka jadi bertambah sukar, karena mereka
tak dapat memotong jalan, dan baju dan kulit mereka acap
tergores oleh duri daun-daun pandan, mereka menguatkan
hati untuk cepat dapat ke luar dari hutan gelap. Di banyak
tempat mereka terpaksa berjalan membungkuk, belukar lebat
dan rapat sekali.
Mereka tak dapat lagi mengira-ngirakan telah berapa lama
mereka berjalan demikian. Seluruh badan mereka rasanya
sakit dan letih. Mereka juga tidak dapat mengetahui telah jam
berapa kini, karena matahari tetap tak terlihat dari bawah.
Hutan gelap yang basah itu seakan telah menelan mereka.
Dan hutan itu terasa seakan tak ada akhirnya. Napas mereka
terengah-engah, bukan saja karena keletihan, akan tetapi juga
karena hawa panas dan lembab yang memberat di dalam
hutan.
Ketika mereka tiba di pinggir sebuah anak sungai kecil yang
mengalir lambat, Buyung membungkuk dan menunjuk pada
jejak-jejak di pinggirnya, di dalam lumpur. Kelihatannya jejak
baru sekali, karena air masih mengisinya perlahan-lahan.
"Badak," bisik Buyung.
Sanip merasa lega ketika dia melihat, bahwa bukan jejak
harimau. Wak Katok juga. Dan Pak Haji.
"Mari kita makan di sini," kata Wak Katok.
Selama makan mereka pun tak bercakap-cakap. Mereka
terlalu letih. Hanya Buyung yang bertanya, ketika mereka
diajak Wak Katok meneruskan perjalanan.
"Berapa lama lagi kita ke luar dari hutan ini?"
"Tak lama lagi!" kata Wak Katok. Dan Wak Katok terus
melangkah menembus belukar. Sejak mereka dilarangnya
menebas pohon dan dahan, Wak Katoklah yang berjalan di
depan. Karena dialah yang jadi pemimpin, dan yang tahu jalan
dan arah. Buyung sendiri pun merasa seakan kehilangan arah.
Dia tak lagi dapat mengatakan dengan tegas arah mana yang
akan membawa mereka ke tempat Sutan diserang harimau.
Mata angin tak dapat ditentukan karena matahari tak tampak
lagi. Karena itu pun dia puas menyerahkan pada Wak Katok
untuk menentukan arah yang harus mereka ambil.
Akan tetapi ketika menurut perkiraannya telah tiba waktu
sembahyang asyar, dan mereka masih juga mengharungi
hutan yang gelap, yang basah dan panas lembab itu, dan
kelihatannya hutan masih tetap luas dan tebal di sekelilingnya,
mulai timbul keraguan dalam pikiran Buyung, apakah Wak
Katok juga tahu ke arah mana dia membawanya. Kelihatannya
seakan dia tahu, karena dia berjalan dan melangkah seakan
tak ragu-ragu. Buyung memandang kepada Pak Haji dan
Sanip, mencoba untuk mengajuk perasaannya. Apakah
mereka tak merasakan keraguan yang kini dirasakannya
Tetapi tak dapat dia membaca sesuatu apa di muka Sanip.
Dan ketika dia melihat ke wajah Pak Haji ... Buyung melompat
amat cepat mendekati Pak Haji ... parang panjangnya
dihayunkannya, Pak Haji terdorong ke pinggir terkejut ... nah,
kena dia!! Buyung berseru gembira ... muka Pak Haji pucat
ketika melihat badan dan kepala ular hijau yang kini bergerakgerak
jatuh di tanah yang lembab. Ular yang amat berbisa.
Dia hampir saja dipatuk oleh ular yang berbisa itu yang turun
dari pohon ketika ia lewat. Untunglah Buyung memalingkan
mukanya hendak melihat wajah Pak Haji. Mereka semua
terhenti. Wak Katok kembali beberapa langkah. Dan dengan
diam memandangi ular yang telah bercerai kepala dari
badannya di atas tanah. Pak Haji beberapa saat tak dapat
berkata-kata. Wajahnya pucat. Dia masih amat terkejut. Sanip
pun terdiam. Mereka semua terkejut. Ular selalu merupakan
alamat buruk.
"Terima kasih, Buyung. Engkau telah menyelamatkan
jiwaku," kata Pak Haji.
Kemudian Wak Katok berpaling dan meneruskan
perjalanan. Untuk pertama kalinya Pak Haji merasakan
sesuatu yang ganjil di dalam hidupnya. Ada orang yang telah
menolongnya. Malahan telah menyelamatkan jiwanya. Dan
orang itu tidak meminta sesuatu dari dia. Pertolongan
diberikan padanya tanpa diminta dan dengan cepat sekali,
tanpa memperhitungkan bahaya terhadap dirinya sendiri.
Karena jika tebasan parang Buyung tidak tepat, maka dialah
yang akan diserang ular berbisa. Pak Haji mempercepat
langkahnya, dan mendekati Buyung dan berkata kembali:
"Terima kasih Buyung. Engkau bersedia membahayakan
jiwamu untuk menolong aku?"
Buyung memandang kepadanya agak heran.
"Tentu aku bersedia menolong Pak Haji, siapa saja yang
dalam bahaya," katanya dengan sederhana. "Dan tak ada
bahayanya bagiku," tambahnya kemudian.
Pak Haji membiarkan Buyung berjalan dahulu dan dia
berpikir. Aneh, aneh pikirnya, ada juga orang yang serupa itu,
yang bersedia menolong orang lain, tanpa memikirkan bahaya
untuk dirinya sendiri. Dan tak pula dia mengharapkan balas
jasa. Ah, katanya kemudian, mungkin karena Buyung masih
terlalu muda, belum banyak makan pahit garam penghidupan,
karena itu dia berbuat demikian. Akan tetapi pikiran Pak Haji
tidak pula dapat menghapuskan kenyataan yang telah terjadi,
bahwa Buyung telah cepat dan tanpa berpikir panjangpanjang
datang menolongnya, mengelakkan dia, dari bahaya
maut yang tak dilihatnya. Kenyataan itu tetap ada, tak dapat
dihilangkan dengan berbagai dalil-dalil yang dibuat. Apakah
Buyung kurang makan garam pahit penghidupan karena dia
masih muda, atau karena kebodohannya, semua ini tidak
dapat menghapuskan kenyataan yang telah terjadi. Merubah
nilai-nilai yang dipegang teguh selama hidup di hari tuanya,
memang sukar bagi setiap orang. Pak Haji pun tak begitu
mudah hendak melepaskan ukuran-ukuran yang telah
dipasangnya selama ini. Dia kembali mempercepat langkahnya
mendekati Buyung yang berjalan di depannya.
“Buyung," katanya, "sungguh perlukah engkau rasa kita
memburu dan membunuh harimau?"
Buyung memalingkan kepalanya melihat kepada Pak Haji.'
"Aku bukan pemburu, dan aku tak tahu bagaimana harus
memburu binatang buas yang berbahaya serupa itu," Pak Haji
memberikan penjelasan.
"Perlu," kata Buyung.
"Untuk apa? Apakah hanya untuk membalas dan menuntut
bela kematian ketiga kawan kita saja?" tanya pak Haji.
Belum sempat Buyung menjawab, Pak Haji meneruskan:
"Kalau sekedar hanya untuk menuntut bela saja, biarpun
harimau itu kita bunuh, kawan kita yang bertiga tidak akan
hidup lagi, bukan?"
"Untuk menuntut bela, karena harimau telah bersalah
membunuh kawan-kawan kita," jawab Buyung kemudian, "dan
jika tak kita buru kini, maka harimau akan datang ke
kampung, menyerang ternak. Akan habis lembu dan kambing,
dan siapa tahu orang kampung pun akan jadi korbannya.”
"Tetapi tidakkah itu menjadi urusan orang sekampung
nanti?" kata Pak Haji, "mengapa kita saja yang memikul tugas
membunuhnya?"
"Tak sampai ke sana pikiranku," kata Buyung, "menurut
rasa hatiku, di mana kita bertemu dengan yang jahat, dan
hendak merusak kita, atau merusak orang lain, merusak orang
banyak, maka kita yang paling dekat wajib melawannya. Masa
harus kita tunggu dulu diri kita yang kena bala maka baru kita
bangkit melawannya? Masa kita berdiam diri selama diri kita
yang tak kena?"
Dalam hatinya Buyung merasa heran, mengapa Pak Haji
berpikir demikian. Tak disangkanya Pak Haji akan berkata
serupa itu. Akan tetapi dalam hati Buyung timbul ingatan,
mungkin Pak Haji hendak mencoba-coba hatinya.
Buyung tersenyum, memalingkan kepalanya ke depan. Adaada
saja Pak Haji, bisiknya pada dirinya sendiri. Dan Pak Haji
kembali menimbang-nimbang apa yang dikatakan Buyung.
Pak Haji tersentak bangun dari arus pikiran-pikirannya
ketika mendengar Buyung berseru:
"Wak Katok, kita tersesat sudah. Kita kembali lagi ke
tempat yang sudah kita lalui!" Dan Buyung menunjuk pada
daun-daun pandan berduri dan dahan kayu bekas kena tebas
parang, dan ke bekas jejak-jejak kaki di tanah.
Wak Katok berpaling menghadapi mereka. Mukanya keras.
Memang sejak mereka habis makan, dia telah sengaja
membuat mereka tersesat dalam hutan gelap.
Disengajanya berbuat demikian, agar mereka terlambat
tiba di tempat Sutan diterkam. Tak ada maksudnya untuk
membawa mereka kembali ke bekas-bekas yang telah mereka
lalui. Rupanya mereka telah berputar-putar saja sepanjang
hari di dalam hutan gelap. Tetapi dia tahu bahwa waktu asyar
telah lewat, dan beberapa jam lagi malam akan tiba, dan
mereka akan terpaksa menghentikan pemburuan, dan
memasang pondok dan menyatakan api. Dan dia akan selamat
semalam lagi. Dan siapa tahu dalam semalam harimau akan
pindah, mencari mangsanya ke tempat lain.
Akan tetapi mata Buyung yang tajam telah melihat bekasbekas
tebasan daun dan dahan.
"Mengapa tersesat? Sengaja memang aku bawa kalian ke
mari karena jalan terus lebih berat lagi. Ini soal biasa jika kita
mencoba memintas hutan," jawabnya dengan singkat.
Dengan enggan Buyung menahan dirinya. Kembali
mengikuti jalan yang telah mereka tempuh dari pagi akan
mengambil waktu yang begitu lama, hingga mereka akan
beruntung jika dapat ke luar dari hutan gelap sebelum magrib
tiba. Sedang jika mereka memintas siapa tahu, mereka akan
dapat keluar hutan lebih cepat. Akan tetapi dia menutup
mulutnya, karena dia sendiri pun tak terlalu yakin kini arah
mana sebenarnya tempat Sutan diterkam harimau. Dengan
perasaan amat lega, mereka melihat pohon-pohon tumbuh
bertambah jarang, dan tak lama kemudian mereka keluar dari
kegelapan hutan, dan tiba di tempat yang lebih terbuka. Wak
Katok mempercepat langkah, menuruni sebuah lereng bukit
yang ditumbuhi semak-semak, menuju sebuah anak sungai
kecil yang mengalir di antara batu-batu besar. Mereka berlari
menuju sungai, mencuci muka dan tangan mereka, dan
minum air dengan lahapnya.
Air sungai terasa segar dan sejuk sekali. Dengan cepat
mereka kemudian memasang pondok, mengumpulkan kayu
bakar dan memasang api unggun. Mereka cepat-cepat mandi,
segera memasak. Waktu makan mereka tak banyak bercakapcakap.
Pada waktu magrib itu tak seorang juga yang
sembahyang. Pak Haji pun tidak Mereka semuanya merasa
terlalu letih untuk dapat bangkit lagi selelah makan.
Masing-masing duduk dekat api dengan pikiran-pikirannya
sendiri. Kampung mereka, di mana keselamatan menunggu,
rasanya amat jauh sekali. Tiba-tiba Buyung melihat kepada
Wak Katok yang duduk memangku senapannya. Buyung
berdiri dan meraihkan tangannya, dan seakan-akan ia hendak
mengambil senapan, tapi Wak Katok menyentakkan senapan
jauh dari jangkauan tangan Buyung, dan membentak:
"Engkau hendak mengambil senapanku?"
Buyung agak terkejut melihat kerasnya reaksi Wak Katok,
dan berkata:
"Maksudku hanya hendak mengingatkan Wak Katok untuk
memeriksa apakah mesiu di dalam masih kering, dan tidaklah
lebih baik senapan dibersihkan dan dikeringkan lagi, setelah
lewat hutan yang basah tadi?"
Wak Katok melihat padanya penuh curiga, dan kemudian
memandangi Pak Haji dan Sanip dengan air muka yang sama.
Sejak Buyung mengatakan mereka tersesat di hutan gelap,
hatinya bertambah tak enak. Dan dia tahu, bahwa Pak Haji
dan Buyung berbisik-bisik sepanjang jalan di hutan gelap di
belakangnya. Apa yang mereka gunjingkan? Tahukah mereka,
bahwa dia takut? Bahwa dia enggan mengejar harimau?
Tidak percaya lagikah mereka pada pimpinannya, pada
kesaktiannya, pada kejagoannya? Mengapa mereka tak
bercakap-cakap, akan tetapi diam saja. Sungguh sikap mereka
kelihatannya telah berubah kini. Sanip sendiri pun hanya
duduk terpekur saja, dengan kepala terkulai. Yang mesti
diawasi oleh Wak Katok adalah Buyung dan Pak Haji. Dari
mereka bahaya mungkin tiba Apa maksud Buyung hendak
meraih senapan. Apakah Pak Haji dan Buyung telah
berkomplot untuk merebut senapan dari tangannya? Guna
menyelamatkan dirinya sendiri?
Tidak, dia tidak begitu bodoh akan mengeluarkan peluru
dan mesiu dari senapannya. Jika dia berbuat demikian, maka
senjatanya yang ampuh akan tak berdaya. Dia akan
kehilangan kekuatannya menghadapi mereka. Sungguh licin
juga akal mreka untuk membuat dirinya tak berdaya. Tidak,
dia lebih pintar lagi dari mereka. Wak Katok tertawa sendiri.
Mereka memandang padanya keheranan.
"Ha-ha-ha," kata Wak Katok. "Kalian sangka aku bodoh?
Ha-ha-ha!!!" Dia memeluk senapannya lebih kuat, dan
mengamat-amati mereka.
Pak Haji, Sanip dan Buyung berpandangan heran.
"Ya, berpandanganlah kalian, berbuat pura-pura bodoh, tak
tahu sesuatu apa, akan tetapi aku tahu apa yang ada dalam
kepala kalian," kata Wak Katok, "tidak sia-sia aku menuntut
pelajaran jadi dukun puluhan tahun, ha-ha-ha-! kalian hendak
selamat pulang ke kampung?" tanyanya kemudian, suaranya
ganjil, keras dan kaku. "Jika hendak selamat, maka turutlah
kataku. Akuilah dosa-dosa kalian padaku. Mintalah ampun!
Mulailah engkau Sanip!" perintahnya.
"Tetapi aku sudah mengakui dosa-dosaku," kata Sanip.
"Ya, engkau pencuri, pendusta, pembohong!" kata Wak
Katok, dan dia tertawa, buruk dan jahat sekali. "Dan aku mesti
melindungi dan menyelamatkan kalian, orang-orang yang
berdosa ini? ejeknya. "Dan kalian berdua, Pak Haji, dan
Buyung, aku belum mendengar kalian mengakui dosa-dosa
kalian. Apakah kalian berdua orang suci, yang tak berdosa
sama sekali? Ha-ha-haa-haaaa!"dia tertawa terkekeh-kekeh.
"Apakah kalian menyangka, kalian tidak usah mengakui dosadosa
kalian, sedang kalian sudah mengetahui dosa-dosa orang
lain?"
"Nah, Buyung!!! "tiba tiba dia berpaling galak kepada
Buyung. "Berceritalah engkau tentang dosa-dosamu. Apa
kejahatan yang telah engkau lakukan? Engkau telah mencuri,
engkau telah khianat, engkau telah mengambil hak orang lain,
engkau telah berzinah?"
Dia tertawa lebih keras melihat sikap Buyung yang terkejut.
"Ha-haaaa, engkau juga telah melakukan semuanya, ya,
sama juga dengan orang lain? Tetapi engkau ingin pura-pura
suci, anak muda yang bersih, anak muda yang alim, anak
muda yang santun eh??? Ha-aaaaa!!! Kalian merasa diri kalian
lebih baik dan lebih suci dari aku, ya???" Wak Katok berdiri
menghadapi mereka.
"Dan Pak Haji, baiklah pula Pak Haji mengakui dosadosanya.
Pak Haji yang angkuh hati, yang tak hendak campur
dengan orang kampung, tak hendak ikut dengan orang
banyak. Apa benar yang istimewa pada Pak Haji? Karena Pak
Haji sudah lama dan banyak merantau? Mana ilmu yang Pak
Haji kumpulkan? Mengapa tak disiarkan kepada orang
banyak?" Wak Katok tertawa keras. "Pak Haji apakah orang
suci, apakah orang tak berdosa? Ayuh, ceritalah, akuilah dosadosa
kalian. Mulailah engkau, Buyung".
Buyung tinggal duduk dan memandangi Wak Katok dengan
sinar mata yang keras. Dia telah memutuskan untuk tidak
bercerita kepada siapa pun juga tentang apa yang terjadi
antara dia dengan Siti Rubiyah.
"Engkau tak hendak bicara, engkau hendak melawan
akuuuu?" teriak Wak Katok dengan marah. Dia mengacungkan
senapannya kepada Buyung. "Aku bunuh engkau, aku tembak
engkau, jika engkau tidak hendak mengakui dosa-dosamu.
Engkau telah mendengar dari mulut Pak Balam tentang diriku.
Adillah jika kini engkau menceritakan pula dosa-dosamu!
Hayo, lekas!" dan Wak Katok mengacungkan laras senapannya
ke dada Buyung.
Buyung berdiri perlahan-lahan.
"Sungguh hendak Wak Katok tembakkah aku? tanyanya
dengan suara yang agak tergoncang, karena menahan rasa
marahnya.
"Aku tidak main-main, hayo, lekas!" bentak Wak Katok.
"Apakah hak Wak Katok memaksaku?" tanya Buyung,
"dosa-dosaku adalah soalku sendiri. Mengapa aku harus
dipaksa mengakuinya?"
"Karena aku menghendakinya, karena aku adalah gurumu,
karena aku adalah pemimpinmu, karena akulah yang
berkuasa. Engkau lihat ini, senapan lantak ini dapat aku
memaksa siapa pun juga mengikuti keinginanku. Mengertikah
engkau?"
"Aku tak hendak bercerita," kata Buyung dengan singkat,
"tembaklah aku, jika itu yang Wak Katok inginkan!"
Keraguan terlintas di belakang mata Wak Katok
menghadapi kepala batu Buyung. Pak Haji yang sejak tadi
memperhatikan mereka, dengan tak disadarinya, menyela:
"Sabarlah kalian berdua...."
Tetapi Wak Katok cepat berpaling kepadanya, dan
membentak:
"Jangan Pak Haji campuri perkara ini. Giliran Pak Haji
segera juga akan datang. Tunggulah hingga giliran Pak Haji
tiba."
Tetapi Pak Haji menguatkan hatinya:
"Dengarlah kataku dahulu," katanya dengan suara yang
tenang dan sabar. "Mengapa kita jadi begini? Tidakkah kita
masih menghadapi bahaya bersama?"
"Untuk menyelamatkan kalianlah, maka aku menyuruh
kalian mengakui dosa-dosa kalian. Sudah lupakah kalian pada
kata-kata Pak Balam?" balas Wak Katok.
"Baiklah, baiklah," kata Pak Haji, "tetapi kita tak boleh
melakukan paksaan. Ada orang yang tak hendak mengakui
dosanya, malahan pada Tuhan sekalipun dia tak hendak
mengakui dosanya. Tak ada gunanya dipaksa orang yang
demikian. Kalau Wak Katok merasa perlu mendengar dosadosaku,
maka dengan terus terang akan aku akui. Aku telah
melakukan segala dosa yang dilakukan orang di dunia ini, dari
semenjak Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan Tuhan ke
dunia. Aku pun telah mengalami hampir segala dosa yang
dapat dilakukan orang terhadap diriku sebagai manusia. Kalau
akan aku sebutkan satu persatu segala dosa yang aku
lakukan, yang aku lihat dilakukan orang, atau yang dilakukan
orang terhadap diriku, maka sampai pagi aku bercerita,
belumlah akan habis ceritanya. Aku sudah menipu, aku sudah
berzinah, aku sudah merampok, aku sudah berdusta, aku
sudah membunuh, aku sudah mendengki, aku sudah khianat,
dan aku pun sudah ditipu, sudah dirampok, sudah didustai,
sudah didengki, sudah dikhianati orang. Di dunia ini dosa-dosa
yang telah aku lakukan dan yang dilakukan orang terhadap
diriku telah bayar-membayar. Karena itu aku menyendiri,
karena itu aku tak hendak mencampuri soal orang lain, orang
banyak, orang sekampung, karena itu aku ingin dibiarkan
hidup sendiri saja, jangan diganggu karena aku sudah
kehilangan kepercayaanku pada manusia. Orang hanya dapat
hidup untuk dirinya sendiri saja, itulah kepercayaanku selama
ini. Nah itulah supaya Wak Katok tahu, dan jangan aku
diganggu lagi."
Pak Haji duduk membelakangi Wak Katok. Wak Katok
merasa marah sekali, tidak saja dengan Pak Haji, akan tetapi
juga dengan Buyung, dengan Sanip dan dengan semua
manusia. Tetapi dia merasa sikap tak perduli Pak Haji sebagai
sebuah tembok yang sukar dipecahkannya. Dan dia belum
siap untuk menembus tembok tak perduli itu dengan peluru
atau dengan kekerasan lain.
Karena itu dia mengalihkan perhatian kembali kepada
Buyung.
"Engkau Buyung, engkau masih belum bercerita. Ayolah
sekarang, dan cepat...!!!"
Tetapi Buyung tetap tinggal diam, dan hanya memandangi
muka Wak Katok. Air mukanya pun keras dan tegang. Mata
mereka berpandangan. Wak Katok mengangkat laras
senapannya, membidik dada Buyung.
"Aku hitung sampai tiga," katanya, "satu..." Buyung
memandang terus padanya dengan keras.
"Dua..."
Buyung tak membuka mulutnya.
"Ti... ketika itulah mereka mendengar auman harimau yang
dahsyat, yang datang tak jauh dari hutan yang gelap di
sekelilingnya. Wak Katok terkejut, berpaling memandang ke
hutan yang gelap di luar lingkaran cahaya api. Sanip, Pak Haji
dan Buyung terlompat berdiri. Buyung segera menghunus
parang panjangnya, diikuti oleh Sanip dan Pak Haji. Dengan
hati berdebar-debar dan perasaan tergoncang, dengan penuh
takut mata mereka mencari-cari berkeliling. Wak Katok merasa
hatinya diremas dan terhimpit oleh batu besar ketakutan.
Ingin dia hendak lari. Akan tetapi kemana hendak lari?
Harimau itu mengaum kembali, keras dan penuh
mengandung ancaman dan kengerian. Dan masih juga belum
dapat mereka menentukan kira-kira dari mana datangnya arah
aumannya. Wak Katok kelihatan mulutnya komat-kamit, entah
karena membaca mantera-manteranya, entah karena
ketakutan. Buyung membesarkan api unggun dengan
menambah kayu-kayu ke dalam api. Cahaya api meluas, dan
lidah-lidah api unggun melonjak ke atas, menerangi lingkaran
yang lebih besar lagi.
Tiba-tiba mereka mendengar bunyi dahan kering dipijak —
kretek! Dan mereka berpaling ke arah itu. Dan kini mereka
melihat sang harimau — dua buah mata yang bersinar hijau,
seperti sinar belerang di dalam gelap, di antara semak-semak.
"Tembak, Wak! Tembak di antara dua mata hijau itu!" bisik
Buyung dengan amat sangat. Suaranya meminta dan
mendesak dengan kerasnya. Wak Katok seperti orang yang
terpukau, mengangkat senapan ke bahunya, membidik, lamalama,
sepasang mata itu diam saja, seakan tak bergerak, dan
kemudian Wak Katok menarik pelatuk senapan ... berbunyi tik!
Senapan tak meletus! Dia telah mengabaikan nasihat Buyung
untuk mengganti mesiu, dan kini mesiu yang telah basah tak
hendak meletus.
Ketika mendengar bunyi — tik! Buyung terus mengerti, dia
melompat ke api unggun, sambil berseru: "Lemparkan kayu
menyala!" dan cepat Buyung melompat melontarkan sebuah
kayu besar yang terbakar menyala ke arah kedua mata yang
bersinar hijau, disusul oleh lemparan Pak Haji dan Sanip, dan
mereka melihat kedua mata itu berbalik, dan menghilang, dan
suara menggeram-geram.
"Cepat Wak Katok, tukar mesiu baru!" kata Buyung, dan dia
berlari kembali ke api unggun, menyiapkan sebuah kayu yang
menyala di tangannya, sambil berseru pada Sanip, supaya
melemparkan kayu lebih banyak lagi ke atas api.
Mereka menunggu apakah harimau akan kembali. Akan
tetapi setelah beberapa lama mereka menunggu penuh
ketegangan, mereka tak lagi mendengar suaranya mengeram
atau mengaum, dan baru Buyung berpaling melihat pada Wak
Katok telah selesai mengisi senapan dengan mesiu baru.
Alangkah terperanjatnya mereka melihat senapan terlempar
ke tanah dan Wak Katok menggulungkan badannya di dalam
pondok, seakan seorang yang ingin menyembunyikan dirinya
ke dalam perut bumi, jauh dari segala ancaman dan bahaya di
atas dunia.
Dalam sekejap mata, Buyung, Sanip dan Pak Haji insyaf,
bahwa Wak Katok amat ketakutan. Sanip tiba-tiba melompat
dan menarik Wak Katok berdiri, dan menyerangnya. Suara
Sanip penuh amarah, benci.
"Inikah Wak Katok yang gagah perkasa itu, guru paling
besar, dukun paling besar, guru silat yang paling pandai,
pemimpin yang paling besar. Mengapa Wak Katok kini hendak
bersembunyi ke dalam tanah? Engkau guru palsu. Lihat ini ..."
Dia membuka ikatan jimat-jimat di pinggangnya, dan
dilemparkannya ke tanah. "Jimat-jimatmu palsu, manteramanteramu
palsu. Inilah jimat-jimat yang dipakai juga oleh
Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan, lihatlah, di mana mereka
kini, karena mempercayai engkau... mereka telah mati, telah
binasa. Engkau memaksa orang mengakui dosa-dosa, tetapi
bagaimana dengan dosa-dosamu sendiri, dan bukan saja
dosa-dosamu yang diberitahukan oleh Pak Balam. Akan aku
ceritakankah padamu dosamu...?" Wak Katok diam saja.
"Ya," Sanip terus juga berbicara, "aku lihat engkau dengan
Siti Rubiyah ..."
Buyung memandangnya dengan terkejut.
Sedang Sanip berkata, Wak Katok mengambil senapannya
kembali, dan dengan tangan gemetar dan tergopoh-gopoh
mengeluarkan peluru dan mesiu, membersihkan senapannya,
dan memasang mesiu dan peluru baru.
"Ya, kalian mungkin tak percaya, tetapi aku lihat dengan
mata kepataku sendiri. Pangkal celaka kita tak lain adalah Wak
Katok sendiri. Harimau yang datang menyerang kita adalah
harimau Wak Hitam. Karena Wak Katok telah memaksa istri
Wak Hitam, aku lihat, di pinggir sungai..."
"Berhenti engkau berbicara, bangsat!" serunya, "oh,
engkau lihat, ya? Tapi matamu tak cukup tajam. Aku tak
paksa dia. Engkau tahu, aku bayar dia. Dan dia pun akan mau
tidur dengan siapa saja yang mau memberinya uang atau
membelikannya baju. Kalian juga bernafsu hendak tidur
dengan dia, bukan? Kalau tidak mengapa engkau di sana,
Sanip, kalau tidak mengintipnya sedang mandi, bukan? Tapi
kalian bukan jantan, kalian takut pada Wak Hitam, bukan?"
Dia memandangi mereka dengan air muka penuh
kemenangan, Buyung tak tahu apa yang dirasakannya. Rasa
kecewa, bercampur dengan rasa lega. Bukan dia sendiri ...
akan tetapi entah bagaimana, dia merasa seakan kehilangan
sesuatu, sesuatu yang bersih ...
Tiba-tiba Wak Katok berseru:
"Pergi kalian sekarang juga dari sini! Siapa yang tak pergi aku tembak!"
Kelihatan benar pada mereka, bahwa Wak Katok tak dapat
diajak berbicara lagi. Mereka akan ditembaknya. Biarpun sekali
bertiga mereka melompat hendak merebut senapannya, akan
tetapi salah seorang dari mereka pasti akan jadi korban.
Masuk ke dalam hutan yang gelap, di mana harimau berjalan
mondar-mandir, menunggu kesempatan untuk menerkam
berarti maut juga. Akan tetapi maut ini lebih dekat. Manusia
akan memilih maut yang lebih jauh dari maut yang lebih dekat.
Mereka bertiga berdiri, mengambil bungkusan mereka dari
pondok, memegang parang mereka, dan perlahan-lahan
melangkah, dengan langkah yang berat dan hati enggan,
melintasi dunia kecil yang terang dan panas yang diciptakan
oleh api unggun, dan ketika mereka menghilang ke dalam
gelap, Wak Katok berseru:
"Matilh kalian dimakan harimau di sana. Ha-ha-ha-haaa!"
0oo0
KETIKA tiba di kegelapan diluar batas terang api unggun
Buyung berhenti, dan berteriak kepada Pak Haji dan Sanip:
"Tak mungkin kita meneruskan perjalanan dalam gelap.
Kita harus kembali, dan merebut senapan dari Wak Katok."
Mereka bertiga berbisik-bisik mengatur siasat, bagaimana
hendak menyerbu dan merampas senapan dari Wak Katok.
Tiba-tiba Wak Katok merasa sekali, bahwa dia tinggal
sendiri. Hanya dia dengan api unggun, dan hutan besar yang
gelap gulita. Dan lalu hatinya jadi sejuk diremas ketakutan,
karena dia ingat harimau yang berada di dalam gelap hutan.
Akan datangkah harimau kembali? Tidak, harimau akan
menyerang mereka bertiga. Akan tetapi jika harimau datang
terlebih dahulu kepadanya? Dan bagaimana kalau mesiunya
yang baru tak pula meledak? Apa yang mesti dilakukannya?
Dia hanya tinggal sendiri. Rasa takut datang melanda-landa,
seperti ombak yang setinggi pohon kelapa, membantingbanting
hatinya, hingga peluh dingin meleleh di keningnya,
membasahi mukanya, tengkuknya, dan seluruh badannya.
Hingga ke perut dan selangkangnya terasa basah.
Aduh, ada akal! Dia akan memasang api unggun
berkeliling, dan dia akan aman di tengah lingkaran api. Dia
memandang berkeliling, memasang telinganya tajam-tajam,
dan memegang senapannya kuat-kuat. Telinganya
dipaksakannya untuk mendengar dan menafsirkan pada
semua bunyi yang terdengar olehnya. Akan tetapi seluruh
hutan rasanya sunyi dan sepi. Bunyi-bunyi serangga malam
yang biasanya memenuhi rimba pun seakan berhenti. Tibatiba
dia terkejut amat sangat. Dia seakan mendengar bunyi
yang berat dan keras dung-dung-dung - memukul-mukul, dia
memandang berkeliling penuh ketakutan, tetapi tiba-tiba dia
sadar, bahwa yang didengarnya adalah bunyi pukulan
jantungnya sendiri, yang berdebar-debar amat hebatnya. Dia
melepaskan napasnya perlahan-lahan, napas yang ditahannya
entah berapa lama. Karena tahu kini, bahwa suara yang
mengejutkannya tadi adalah pukulan jantungnya sendiri, dia
merasa agak lega, ketegangan yang menekan dirinya agak
kendur. Akan tetapi ketegangan dan ketakutannya kembali
dengan cepat, dan lebih hebat lagi, karena tiba-tiba dia
berpikir, alangkah baiknya jika dia tak mengusir kawankawannya
tadi. Maka dia masih punya kawan-kawan yang
mendampinginya menghadapi harimau.
Bagaimana kalau harimau datang menyerangnya, dan
mereka bertiga yang selamat pulang ke kampung. Bagaimana
jika harimau itu sungguh harimau yang dikirim oleh Wak
Hitam untuk membalas dendamnya, karena dia telah meniduri
Siti Rubiyah? Tiba-tiba dia memutar badannya dengan cepat,
melihat ke belakang. Telinganya seakan mendengar langkah
yang halus, yang datang perlahan, kaki-kaki berjingkat-jingkat
supaya jangan terdengar. Matanya mencoba menembus hitam
daun-daun rapat dan gelap gulita di antara daun-daun.
Kemudian dia melompat berbalik lagi, dan mencoba
menembus gelap. Seakan kini dia mendengar telapak datang
dari arah yang lain.
Lalu dia mengambil keputusan dengan cepat. Dia berlari
mengambil beberapa potong kayu yang menyala, tangannya
gemetar, dan menyusun kayu di tempat lain. Dia hendak
membuat api unggun yang melingkarinya dan dengan
demikian menyelamatkannya. Karena kegugupannya nyala api
berhenti dan hanya ujung kayu yang merah membara saja
yang tinggal. Dengan terburu-buru dia membungkuk,
menghembus-hembus bara merah, dan setelah api menyala,
dia berlari kembali mengambil lagi beberapa potong kayu yang
menyala, dan disusunnya menjadi api unggun yang kedua.
Kemudian dia mengambil potongan-potongan dari onggokannya,
dan membesarkan api unggunnya yang kedua. Lalu dia
melompat memasang api unggun yang ketiga. Seluruh gerakgeriknya
cepat dan penuh kegugupan. Rasanya dia seakan tak
sabar hendak menyalakan api unggun sekaligus, akan tetapi
kakinya hanya dua dan tangannya hanya dua. Jika dia tak
berhasil menyatakan api pada percobaan yang pertama atau
yang kedua, maka rasa tak sabarnya bertambah tinggi, dan
ketegangan yang dirasakannya serasa tak tertahan lagi olehnya.
Ketika dia memasang api unggun yang keempat, Buyung
memberi isyarat, bunyi burung hantu, dan melompat
menyerbu hendak menyergap Wak Katok. Sanip dan Pak Haji
datang menyerang dari jurusan yang lain. Wak Katok
mengangkat kepalanya, tak mengetahui Buyung datang
menyerang dari belakangnya. Dia hanya melihat Pak Haji
muncul dari semak-semak di depannya. Wak Katok yang
memegang senapan dengan tangan kirinya memindahkannya
ke tangan kanannya, dan tanpa membidik menembak ke arah
Pak Haji. Pak Haji jatuh tersungkur, dan Buyung tiba di
punggung Wak Katok. Mereka terjatuh bergumul. Sanip
datang, akan tetapi dalam kehebatan pergumulan, yang tiap
sebentar berpindah tempat, bahkan sampai-sampai terjatuh
ke atas api, untuk berputar ke tanah kembali, sukar Sanip
untuk dapat memberikan bantuan kepada Buyung. Wak Katok
berkelahi dengan hebat, didorong oleh ketakutannya dan
kemarahan hatinya yang amat sangat. Dia lebih kuat dari
Buyung dan memang lebih mahir ilmu silatnya. Buyung mulai
payah, dan kecepatan pergumulan mereka mulai berkurang.
Ketika itulah Sanip mendapat kesempatan dan menghayunkan
sepotong kayu ke kepala Wak Katok. Wak Katok terjatuh, tak
sadarkan dirinya. Buyung berdiri, menggosok-gosok seluruh
badannya yang kesakitan.
"Kuat sekali dia, si tua ini," kata Buyung kepada Sanip.
Dengan cepat Buyung dan Sanip mendekati Pak Haji yang
masih tersungkur di tanah. Mereka membalikkan Pak Haji, dan
melihat darah memenuhi dadanya. Mereka mengangkat Pak
Haji ke dekat api.
"Coba periksa lukanya. Aku isi dulu senapan dengan
peluru," kata Buyung. Dia bergegas mengambil mesiu dan
peluru dari kantong mesiu dan peluru yang disandang Wak
Katok, dan mengisi senapan dengan cepat. Kemudian dia
mendatangi Sanip yang sedang membersihkan luka di dada
kanan Pak Haji. Buyung membasahi sepotong kain dengan air,
dan menggosok kening dan muka Pak Haji. Kemudian mereka
membatut luka Pak Haji dan menutup pakaiannya kembali,
dan membaringkannya baik-baik di dalam pondok.
Wak Katok masih terlentang pingsan di tanah. Buyung
pergi memeriksanya.
"Tak pecah kepalanya," kata Buyung, "nanti juga dia sadar sendiri."
"Tak kusangka dia akan begitu," kata Sanip, suaranya
masih gemetar, dirinya masih dikuasai ketegangan yang amat
sangat yang baru saja mereka alami.
"Sudah gila dia," kata Buyung, "dan dia guru silat kita,
dukun kita. Mengapa selama ini kita tidak tahu?"
Mereka mendengar Pak Haji mengerang. Buyung dan Sanip
bergegas mendekati Pak Haji. Pak Haji membuka matanya,
memandang pada mereka. Matanya berisi pertanyaan. Buyung
mengangkatkan senapan memperlihatkannya kepada Pak Haji.
Senyum kecil timbul di mulut Pak Haji.
"Syukurlah," katanya perlahan. Kemudian matanya terbuka
kembali, mencari Buyung dan Sanip, dan dia berkata: "Kalian
masih muda, ambillah pelajaran dari apa yang terjadi... aku
pun kini sadar ... kita tak hidup sendiri di dunia ... manusia
sendiri-sendiri tak dapat hidup sempurna, dan tak mungkin
hidup sebagai manusia, tak mungkin lengkap manusianya.
Manusia yang mau hidup sendiri tak mungkin
mengembangkan kemanusiaannya. Manusia perlu manusia
lain. Sungguh kini aku sadari. Aku salah selama ini, kehilangan
kepercayaan pada manusia dan pada Tuhan. Tuhan ada,
anak-anak, percayalah. Tapi jangan paksakan Tuhanmu pada
orang lain, seperti juga jangan paksakan kemanusiaanmu
pada orang lain. Manusia perlu manusia lain ... manusia harus
belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain.
Wak Katok jangan dibenci. Maafkan dia. Ampuni dia. Kita
harus selalu bersedia mengampuni dan memaafkan kesalahan
dan dosa-dosa orang lain. Juga kita harus selalu memaafkan
dan mengampuni orang-orang yang berdosa terhadap diri kita
sendiri ... Ingatlah ucapan Bismillahhirrokhmanirrokhiim...
Tuhan adalah yang Maha Pemurah dan Pengampun. Di sinilah
kunci kemanusiaannya manusia yang diturunkan Tuhan
kepada manusia. Sedang Tuhan dapat mengampuni segala
dosa jika yang berdosa datang padanya dengan kejujuran dan
penyesalan yang sungguh. Apalagi kita, manusia yang biasa
dan daif ini, di mana kekuasaan kita untuk menjadi hakim
yang mutlak, dan menjatuhkan hukuman tanpa ampun kepada
sesama manusia? Aku tersesat selama ini, aku telah
menghukum seluruh manusia, dan dengan itu menghukum
diriku sendiri ... aku tahu kini, akulah yang paling berdosa.
Aku lah yang paling tua, akan tetapi hatiku dan pikiranku buta.
Aku terlalu sombong dan angkuh ... aku menghendaki
manusia sempurna, sedang manusia hanya dapat berikhtiar
dan berusaha menjadi sempurna... kini aku sadar,
kemanusiaan hanya dapat dibina dengan mencinta, dan bukan
dengan membenci. Orang yang membenci tidak saja hendak
merusak manusia lain, tetapi pertama sekali merusak manusia
dirinya sendiri... kasihani Wak Katok ... Orang yang berkuasa,
jika dihinggapi ketakutan, selalu berbuat zalim... ingatlah
hidup orang lain adalah hidup kalian juga ... sebelum kalian
membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu
harimau dalam hatimu sendiri ... mengertikah kalian...
percayalah pada Tuhan ... Tuhan ada... manusia perlu
bertuhan...Ashaduala ilaha Mallah, wa asyhadu amia
Muhammadarrosulullah ... ampuni dosa-dosaku, Ya Tuhanku
... Engkau tak dapat hidup sendiri... cintailah manusia...
bunuhlah harimau dalam hatimu..." dan tiba-tiba kepalanya
terkulai, dan sesuatu seakan bergerak dalam dadanya, darah
mengalir ke luar dari mulutnya... Pak Haji pun telah
meninggalkan mereka.
Buyung dan Sanip amat sangat terkejut. Sanip sampai
menggoncang-goncang bahunya, dan berseru-seru: "Pak Haji!
Pak Haji!" Akan tetapi Buyung menahannya, dan berkata
dengan sederhana: "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un ..."*
Mereka melipatkan tangan Pak Haji ke atas dadanya,
menutupkan kelopak matanya.
"Tinggal berdua kita, dan dia itu!" kata Sanip.
"Ya, jika bukan karena dia, Pak Haji masih hidup."
"Kita apakan dia?" tanya Sanip.
Baru Buyung berpikir, bahwa mereka harus mengambil
sikap terhadap Wak Katok. Tak terlintas dalam kepalanya
untuk melakukan sesuatu terhadap diri Wak Katok, selelah
mereka berhasil merebut senapan. Kini dia sadar, bahwa Wak
Katok adalah pembunuh Pak Haji, dan malahan dia telah
bersedia untuk membunuh mereka bertiga, dengan mengusir
mereka ke dalam hutan yang gelap.
"Ikat dia baik-baik!" kata Buyung. Dengan sendirinya,
Buyung kini yang mengambil pimpinan antara mereka berdua.
Sedang Sanip mengikat Wak Katok, Buyung memadamkan
api-api unggun lain yang telah dipasang Wak Katok.
"Tak cukup kayu hingga pagi, jika api unggun begitu
banyak dipasang semuanya," kata Buyung.
Kemudian mereka pindahkan Wak Katok yang masih
pingsan ke dalam pondok, dan mereka duduk di depan
pondok dekat api, bertekad untuk tak tidur sepanjang malam,
akan tetapi akan berjaga-jaga terus.
Ketika Wak Katok sadar dari pingsannya, dia mencoba
duduk, akan tetapi dia tak dapat menggerakkan tangan dan
kakinya, dan kemudian dia tahu, bahwa dia diikat. Kemudian
dia teringat apa yang telah terjadi. Pak Haji yang jatuh
tersungkur ditembaknya, dan kemudian pergumulannya
dengan Buyung. Dia membalikkan kepalanya dan melihat
mayat Pak Haji di sampingnya. Dia terkejut. Kemudian
diangkatnya kepalanya sedikit, dan melihat Buyung dan Sanip
yang duduk membelakangi pondok dekat api. Hati Wak katok
jadi senang sedikit. Buyung dan Sanip akan dapat
dikalahkannya. Mereka masih muda dan belum
berpengalaman. Dia akan dapat menakuti mereka. Dia
mengangkat suaranya, memanggil Buyung. Buyung dan Sanip
berdiri dan masuk ke pondok.
"Lepaskan aku," kata Wak Katok, dan sinar matanya
mengandung kemarahan dan kebencian.
Buyung dan Sanip diam saja.
"Lepaskan aku, mengapa kalian ikat aku?"
"Wak Katok sudah membunuh Pak Haji," kata Buyung.
"Bukan salahku. Mengapa aku kalian serang?"
"Wak Katok mengirim kami mati," kata Buyung.
"Lepaskan aku, kalau tidak aku malerai kalian. Akan mati
kalian, mati dengan perut gembung, aku kirim setan dan jin
menyerang kalian, aku sumpahi kalian tujuh turunan ..." dia
berhenti, melihat Buyung
Buyung mengambil jalan memintas, tetapi mengelakkan
hutan gelap. Dekat sembahyang lohor, mereka tiba di sungai
kecil tempat mereka makan di pinggirnya. Buyung membawa
mereka ke dalam sungai, berjalan memudiki sungai di dalam
air, meloncat dari batu ke batu, dan turun sungai. Kadangkadang
hingga ke pinggang mereka tinggi air.
Mereka berjalan berhati-hati sekali, sebanyak mungkin
tidak membuat bunyi dan ribut. Ketika mereka tiba di tempat
mereka makan, Buyung lama berdiri di tengah sungai, dan
memasang telinganya dan memperhatikan rimba di
sekelilingnya dengan cermat. Kemudian dia memberi tanda,
dan mereka naik ke darat. Buyung mengikuti jalan yang
pernah mereka tempuh, yang tak kelihatan oleh mata biasa.
Buyung hanya dapat mengenalnya karena melihat bekasbekas
daun yang dipatahkan mereka dulu. Dan setelah
sepuluh menit berjalan, tiba-tiba Buyung menunduk
memeriksa tanah di depannya. Dia melihat jejak harimau yang
sudah tua, yang telah beberapa hari umurnya samar-samar di
tanah. Mereka berjalan perlahan-lahan, dan tiba-tiba Buyung
berhenti kembali. Dia melihat sepotong kain yang sobek,
sobek dirobek oleh kuku harimau, terletak di tanah... dan dari
tempat itu mereka mudah mengikuti apa yang telah terjadi...
Di sana Sutan diserang harimau, dia terus rebah ke tanah, dan
mereka melihat bekas-bekas darah tersebar di mana-mana,
sampai ke daun-daun di belukar ... Buyung memberi isyarat
kepada Sanip. Sanip dan Wak Katok datang mendekat. Sanip
dan Wak Katok menahan napas, mereka terkejut ... Mereka
melihat apa yang tinggal dari Sutan tulang belulang, pakaian
yang robek, sarung parangnya, dan kemudian mereka melihat
parangnya terlempar di bawah semak tak jauh dari sana.
Buyung merasa hatinya seakan berhenti berdetak. Tetapi
dengan sekuat tenaganya dia menguasai dirinya dan cepat
bekerja mengumpulkan bekas-bekas Sutan yang sudah busuk,
memasukkannya ke dalam buntelan yang dibuatnya dari kain
sarungnya.
Kemudian dia memberi isyarat kembali, dan dengan hatihati
dia mencari jejak harimau. Sejam kemudian dia melihat,
bahwa jejak harimau mengikuti jejak-jejak mereka kembali ke
tempat bermalam. Buyung tahu bahwa harimau masih terus
memburu setelah dia menyerang dan memakan Sutan. Dia
tahu juga, bahwa harimau itu akan terus memburu. Dalam
kepalanya dia menyusun rencana untuk menunggu harimau.
Dia membawa mereka ke sebuah tempat yang agak terbuka
tak jauh dari sana. Ketika tiba di bawah sebuah pohon,
Buyung memberi isyarat supaya mereka berhenti.
"Mulai kini, diam-diamlah kita semua," katanya berbisik,
"jangan merokok, jangan batuk, dan jangan ribut sedikit pun
juga. Mari kita makan dulu."
Mereka makan dalam keadaan siap sedia. Setelah selesai
makan, Buyung berbisik pada Sanip, dan kemudian memberi
isyarat pada Wak Katok.
"Kaki Wak Katok kami ikat lagi," katanya.
"Mengapa?" tanya Wak Katok.
"Ikut sajalah perintah," kata Buyung.
Akan tetapi Wak Katok hendak lari, dan Buyung berseru,
"Larilah, harimau menunggu."
Dan Wak Katok berhenti, tertegun, ketakutannya pada
harimau lebih besar lagi. Dia membiarkan kainnya diikat, dan
kemudian Buyung dan Sanip menyandarkannya ke pohon, dan
sebelum Wak Katok menyadari apa yang mereka lakukan
terhadap dirinya, maka Buyung dan Sanip telah mengikatkan
badannya ke pohon.
Tiba-tiba Wak Katok sadar apa yang dilakukan mereka. Dan
dengan suara yang gemetar penuh takut dan ngeri, dia
berkata: "Kalian buat aku jadi umpan harimau?" Matanya
terbelatak, dan lidahnya hampir kelu.
"Ya," kata Buyung, "tetapi jangan takut, kami lindungi jiwa
Wak Katok."
"Tapi bagaimana kalau tembakanmu meleset?" tanya Wak
Katok dengan suara gemetar.
"Pakailah segala ilmu Wak Katok untuk membuat
tembakanku tepat sekali," jawab Buyung.
"Tidak, tidak, tak boleh engkau buat begitu," seru Wak
Katok "Apa dosaku, maka aku disiksa serupa ini?"
"Dosa Wak Katok?" kata Buyung, "dengarlah, dosa-dosa
Wak Katok dahulu kami lupakan, dosa Wak Katok hendak
membunuh kami, dan telah membunuh Pak Haji, kami
maafkan, dan biarlah hakim yang mengadili Wak Katok di
dunia ini, dan Tuhan nanti di akhirat untuk dosa-dosa itu
semuanya. Tetapi Wak Katok telah menipu orang banyak, Wak
Katok katanya guru dan pemimpin, tapi Wak Katok telah
memberi pelajaran palsu, mantera palsu, jimat palsu,
pimpinan palsu. Dalam hati Wak Katok selama ini bukan
manusia yang bersarang, tetapi harimau yang buas. Kami
hanya hendak mengumpan harimau dengan harimau
Lalu Buyung memberi isyarat pada Sanip, dan mereka
berdua menjauhkan diri, kira-kira lima belas meter dari tempat
Wak Katok terikat di pohon. Mula-mula Wak Katok diam, akan
tetapi ketakutannya semakin membesar.
Hutan terasa hening dan sepi. Daun-daun seakan tak
bergerak sedikit pun juga. Dia menoleh-nolehkan kepalanya
mencari Sanip dan Buyung, akan tetapi tak dilihatnya mereka.
Dia tak lagi dapat menahan diri, dia hendak berteriak, akan
tetapi tiba-tiba timbul pula takutnya lebih besar lagi, jika dia
berteriak, harimau akan lebih mudah mendengarnya, dan
akan lebih cepat tiba. Akan tetapi jika dia tak berteriak, maka
harimau pun akan datang ... Ah, telah tibakah harimau, itu
suara napas menghembus-hembus di dalam belukar... kretekkretek
dahan dan daun kering ... Wak Katok tak lagi dapat
menahan dirinya, dan berteriak sekeras-kerasnya, teriak
manusia yang dicekik kengerian dan ketakutan hati, teriak
manusia primitip ketika melihat maut hendak datang hinggap
di bahunya.
"Buyuuuuuuuuung dimana engkauuuuuuuuu????
Aduuuuuuuuuh, tolooooooong!!!! Tolooooooooooong!!! Kalian
tinggalkan aku sendiriiiiiiiii! Bohong kalian, kalian lari
meninggalkan akuuuuuuuu! Buyuuuuuuuung!!!
Toloooooooooong!!"
Lama dia berteriak dan menjerit demikian, hingga suaranya
serak, dan setelah dia letih berteriak, maka dia menangis
terisak-isak, dan lalu menjanjikan uang, sawah dan rumah
kepada Buyung dan Sanip, dan ketika ini juga tak berhasil, lalu
dia mencoba mengadu Sanip melawan Buyung, menjanjikan
Sanip uang, ilmu, harta, asal Sanip mau melepaskannya.
Kemudian dia menangis kembali, dadanya seakan hendak
pecah. Sanip sampai tak tahan, dan berbisik pada Buyung,
"Tak kasihan engkau?"
Tetapi Buyung menggelengkan kepalanya. Kemudian tibatiba
Buyung mengangkat kepalanya. Sebuah tali nalurinya
seakan dipetik berdenting ... dia mengangkat senapan
perlahan-lahan. Belum ada sesuatu yang terdengar.
Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Kemudian
mereka mendengar seakan ada sesuatu bergerak dalam
belukar di depannya. Perlahan dan halus sekali. Hanya mata
yang amat tajam sekali dan yang memperhatikannya dengan
seksama dapat membedakan gerakan itu dengan gerakan
daun dan dahan yang dibuai angin. Perlahan-lahan belukar di
depan mereka tersibak, dan mereka melihat muka harimau
muncul, muka harimau yang telah memburu-buru mereka
berhari-hari, yang telah menimbulkan korban begitu banyak
diantara mereka. Kini mereka berhadap-hadapan. Harimau itu
memperhatikan tempat yang agak terbuka di hadapannya dan
kemudian dia menegangkan tubuhnya dan sebuah geram kecil
timbul di dalam rongga dadanya. Dia melihat kepada Wak
Katok yang terikat bersandar ke pohon di hadapannya,
dengan kepala terkulai. Wak Katok telah beberapa waktu
diam, karena keletihaan. Akan tetapi dia mengangkat
kepalanya ketika mendengar harimau mengeram kecil, dan
melihat muka harimau, hanya sepuluh meter di depannya, dia
membuka mulutnya hendak menjerit, akan tetapi tiba-tiba
kepalanya jatuh terkulai, dan yang ke luar dari mulutnya
hanyalah bunyi napas yang dikejutkan ke luar, dan bunyi
erang ketakutan yang menyayat hati. Harimau itu
merendahkan badannya, siap hendak melompat ... Buyung
membidik hati-hati ... membidikkan senapan tepat ke tengah
antara kedua mata harimau. Dengan gembira dia melihat
tangannya tak gemetar. Sepanjang hari hatinya selalu
bertanya-tanya, dan dia merasa khawatir, apakah dia tidak
akan ketakutan dan tak kuasa membidik, tangannya dan
seluruh badannya akan gemetar jika melihat harimau. Akan
tetapi kini dia merasa seluruh badan dan pikirannya tenang.
Dia tahu apa yang dilakukannya, dia menginsyafi bahaya
besar yang mereka hadapi, dia yakin pada dirinya sendiri.
Kemudian melintas dalam kepalanya, dia dapat juga
membiarkan hariamau menerkam Wak Katok dahulu, biarlah
Wak Katok dibunuh harimau, dan kemudian baru dia
menembak ... Hatinya tertarik pada pikiran ini ... tetapi dia
seakan mendengar bisikan Pak Haji - bunuhlah dahulu
harimau dalam hatimu sendiri ... Buyung membidik hati-hati,
memberatkan jari telunjuknya pada pelatuk senapan,
menunggu ... dan ketika harimau membuka mulutnya
mengaum yang dahsyat berkumandang bergelombang di
dalam hutan, bercampur dengan pekik erang sang harimau,
dan mereka melihat seakan harimau ditahan oleh sebuah
tangan raksasa yang maha kuat di udara, dan harimau
terhempas di tanah satu meter dari tempatnya melompat,
meronta-ronta sebentar di tanah, dan kemudian diam, mati terbujur.
Buyung dengan cepat mengisi senapan kembali, dan
beberapa saat mereka menunggu, melihat apakah harimau
benar-benar telah mati. Kemudian dengan hati-hati Buyung
dan Sanip mendekati harimau, dan keduanya lalu berteriak
kegirangan melihat harimau telah mati. Peluru tepat mengenai
tempat di tengah-tengah kedua matanya. Sanip melompatlompat
dan melonjak-lonjak kegirangan. Habislah mengalir lalu
segala ketegangan dan ancaman ketakutan yang dahsyat dan
ngeri yang mereka derita sejak berhari-hari. Tinggallah hanya
kini kenangan sayu pada kawan-kawan yang telah jadi korban.
Harimau itu sungguh besar. Buyung melepaskan tali ikatan
Wak Katok, dan Wak Katok tergelincir jatuh ke tanah. Dengan
cemas Buyung memeriksa pukulan jantungnya. Dia menarik
napas lega. Wak Katok masih hidup. Dia hanya jatuh pingsan
ketakutan. Dan Buyung melihat bahwa celana Wak Katok basah.
"Mari kita kuliti dia cepat, dan kita memasang pondok di
tepi sungai," kata Buyung, "kita bermalam saja di sini malam ini."
Petang itu mereka masih sempat menguburkan sisa-sisa Sutan.
Dalam malam ketika mereka duduk dekat api unggun yang
mereka pasang lebih besar dari biasa, dan Wak Katok duduk
terikat kaki dan tangannya dekat api, Buyung dan Sanip duduk
diam-diam. Mereka tak bernafsu untuk berbicara banyak kini.
Wak Katok tak pernah lagi membuka mulutnya sejak dia sadar
dari pingsannya. Buyung duduk memandangi lidah-lidah api
yang menari-nari. Kegembiraan yang terasa olehnya duduk
demikian dekat api unggun seperti dulu masih belum kembali.
Dia teringat pada apa yang telah terjadi selama beberapa hari
yang lalu. Seakan di celah lidah-lidah api dia dapat melihat Siti
Rubiyah. Jika demikian dirinyalah yang dipikat oleh Siti
Rubiyah. Akan tetapi dia tak menyesal, dan dia tak merasa
benci pada Siti Rubiyah. Sebuah kesadaran baru timbul dalma
dirinya. Dia akan memasang jerat lain untuk menangkap kancil
untuk Zaitun... Buyung tersenyum pada dirinya sendiri ...
kemudian dia teringat pada saat penuh ketegangan, ketika dia
membidik harimau, dan jari menekan pelatuk senapan, di saat
itu sungguh dia amat terpedaya oleh suara iblis yaip
membisikkan ke telinganya untuk menahan pelatuk, agar
harimau menerkam Wak Katok lebih dahulu - akan tetapi dia
sadar, ingat pada kata-kata Pak Haji, bahwa harimau dalam
hatinyalah yang berbisik demikian, dan dia melawannya
dengan kuat. Dan dia merasakan, ketika dia menarik pelatuk,
bahwa bukan saja dengan tarikan pelatuk senapan dia telah
menembak mati harimau rimba yang buas, akan tetapi juga
harimau di dalam dirinya sendiri.
Sebuah kesadaran baru tentang hidup dan manusia terasa
tumbuh dalam dirinya. Dia tahu benar kini, mereka esok akan
pulang ke kampung dan tahu, dia tak akan kembali memenuhi
janjinya pada Siti Rubiyah. Apa yang terjadi antara Siti
Rubiyah dengan dia adalah sebagai air sungai yang telah
mengalir jauh di belakang -telah tertutup, telah habis - dia kini
tahu bahwa hidup manusia tak semudah yang disangkanya.
Siapakah yang menyangka hal-hal yang demikian dalam diri
Pak Balam, Sanip, Wak Katok, Pak Haji, Talib dan Sutan ...?
Setiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga
kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang memencilkan diri,
dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang
menimpa diri orang lain ... besar kecil kezaliman, atau ada dan
tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya
terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia
harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia
haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam
dirinya. Dia kini mengerti benar apa yang dimaksud oleh Pak
Haji dengan kata-katanya - bunuhlah dahulu harimau dalam dirimu ....
Untuk membina kemanusiaan perlulah mencinta, orang
sendiri tak dapat hidup sebagai manusia... ya, dia akan
mencintai manusia, dia akan mulai mencintai Zaitun ... dia
akan belajar dan berusaha jadi manusia yang hidup dengan
manusia lain .... Buyung merasa sesuatu yang segar
memasuki dirinya, seakan sebuah beban berat yang selama ini
menimpa kepala dan seluruh dirinya telah terangkat. Alangkah
enaknya merasa jadi manusia kembali, lepas dari ikatan
takhyul, ikatan mantera dan ikatan jimat yang palsu.
Pinggangnya terasa bebas lepas dari ikatan jimat-jimat
palsu yang diberikan Wak Katok .... Buyung tersenyum, dan
berpaling pada Sanip, dan berkata : "Sanip, ada yang aku
sayangkan kita membuang jimat-jimat Wak Katok ke dalam api."
"Mengapa?" tanya Sanip heran.
"Karena di antara batu-batu jimat itu, ada sebuah batu
yang sebenarnya baik dibuat cincin, diikat dengan suasa,
warnanya merah hati ayam, bagus sekali kalau digosok."
Sanip tertawa:
"Jika engkau ingin batu cincin, esok kita cari di sungai..."
TAMAT

0 Response to "Harimau-Harimau"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified