Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Harimau-Harimau 2

Tak ada jalan lain Buyung selain pura-pura tak mengerti
apa yang dimaksud oleh Sutan, dan kembali mukanya merah,
dan orang-orang lain tertawa.
"Memang Buyung mesti lekas kawin, supaya dia mengerti
hidup sedikit," kata Sanip.
Muka Buyung tambah merah, dan sekali ini Sutan melihat
air mukanya. Sutan tertawa lebih besar lagi dan menunjuk
kepada Buyung sambil berkata: "Lihat si Buyung. Merah
mukanya. Engkau masih perawan ya?" katanya menggangu.
Buyung tak tahan rasanya mendengar gangguan mereka.
Dia segera memperbaiki duduk keranjangnya yang penuh
berisi damar, dan pergi cepat ke sungai.
"Aku hendak mandi dulu dan mengambil air sembahyang,"
katanya. Dia berjalan menuju ke sungai dituruti oleh tawa
kawan-kawannya dan teriakan Sutan dan Talib dan Sanip
mengganggunya.
Ketika mandi, pikiran dan hati Buyung kacau. Mengingat
apa yang terjadi tadi pagi menimbulkan rasa bahagia dan rasa
takut, dan rasa senang, dan keragu-raguan dalam dirinya.
Berdosakan dia? Ya, dia telah berdosa. Terang dalam
pelajaran agamanya mengatakan, bahwa apa yang telah
dilakukannya adalah dosa. Dia telah berzinah. Dosa besar,
yang hukumannya adalah neraka. Akan tetapi anehnya, dalam
dirinya dia tak merasa terlalu berdosa. Malahan, dia
merasakan satu kesenangan, satu kegembiraan hidup yang
tak pernah dirasakannya selama ini. Dan lebih aneh lagi bagi
dirinya, ialah dia dapat berbuat demikian, tanpa menggangu
perasannya tentang Zaitun. Dia merasa bahwa apa yang
terjadi antara dirinya dengan Siti Rubiyah adalah sesuatu yang
wajar, yang harus terjadi, dan telah ditakdirkan harus terjadi
demikian. Dia masih dapat merasakan panas badan Siti
Rubiyah. Dan napasnya yang hangat. Seluruh badannya terasa
panas kembali mengingat perempuan muda itu.
Perasaan tidak berdosanya diperkuat pula oleh cerita Siti
Rubiyah tentang kejahatan-kejahatan Wak Hitam. Kemudian,
sesudahnya, ketika mereka berbaring di bawah pohon di balik
tabir belukar, Siti Rubiyah berbantalkan dadanya, dan
menceritakan kepadanya semua kejahatan Wak Hitam. Kini
pun dia masih ngeri mendengarnya.
Siti Rubiyah bercerita, bahwa Wak Hitam suka membuatkan
racun yang dijualnya kepada orang-orang yang datang
memintanya untuk membunuh musuh-musuh mereka,
dibuatnya dari kotoran manusia yang dicampur dengan bulu
bambu, disuruhnya mencampurkan ke dalam kopi atau
makanan orang yang akan diracun. Dia juga membuat gunaguna,
ada yang dibuat dari kotoran kuku atau kotoran orang
yang hendak memakai guna-guna itu, dari rambut perempuan
yang hendak diguna-guna, dan ada pula yang dia tidak
mengerti. Ingatkah kakak, tanyanya, orang-orang yang
berangkat waktu kakak datang bermalam? Orang-orang yang
berbaju hitam dan tidak banyak bercakap-cakap? Ya, Buyung
ingat sekali. Orang-orang itu telah beberapa kali datang ke
sana, ada tiga kali dalam waktu tiga bulan, dan tiap kali
datang membawa uang atau barang-barang emas untuk Wak
Hitam. Kata Wak Hitam dia berdagang bersama-sama mereka.
Tetapi kelihatan padaku, kata Siti Rubiyah, mereka bukan
pedagang sama sekali. Buyung pun merasa demikian, mereka
sama sekali bukan pedagang, malahan lebih banyak
merupakan penyamun.
Tidak, dia tak merasa terlalu berdosa. Malahan dia merasa
gembira. Dia lelah dapat memberikan kebahagiaan pula pada
Siti Rubiyah, seperti Siti Rubiyah telah memberikan
kebahagiaan padanya. Dia mengatakan kepada Siti Rubiyah,
supaya Siti Rubiyah menunggu di ladang dahulu. Jika dia telah
menjual damar, maka dia akan datang kembali ke huma,
pura-pura hendak berburu. Dan sementara itu mereka akan
mencari jalan ke luar, bagaimana Siti Rubiyah dapat
diselamatkan dari Wak Hitam. Dalam hatinya Buyung
berharap, siapa tahu dalam waktu dua atau tiga minggu yang
akan datang, Wak Hitam akan mati karena penyakitnya. Maka
dengan sendirinya Siti Rubiyah akan terlepas dari siksaan Wak
Hitam, dan dia sendiri tak perlu berbuat sesuatu apa lagi.
Tiba-tiba dia teringat pada Zaitun. Ah, berat juga
perasaannya. Apa yang telah dilakukannya, tak dapat
dibantahnya adalah mengkhianati cintanya terhadap diri
Zaitun. Akan tetapi apa dayanya? Dia telah melakukannya
seakan di luar kehendak sadarnya sendiri, seakan ada
dorongan tenaga gaib yang amal kuat dan yang tidak kuasa
dia lawan. Engkau telah mengikuti bisikan setan bahwa
nafsumu, suara kecil berkata dalam hatinya. Apa dayaku
terhadapnya, katanya pada dirinya membenarkan
perbuatannya. Tak seorang manusia juga dapat melawan
nasib yang diturunkan Tuhan terhadap dirinya. Sudah takdir.
Hatinya senang sedikit dengan bujukan sendiri ini, tetapi
kemudian timbul pula keraguan hatinya. Bagaimana jika nanti
ternyata Wak Hitam tidak mati dan masih hidup? Dia tidak
dapat membawa Siti Rubiyah begitu saja, dan apakah dia
hendak kawin dengan Siti Rubiyah? Bagaimana dengan
Zaitun? Dan bagaimana dengan janjinya dengan Siti Rubiyah
hendak melepaskannya dari cengkeraman Wak Hitam?
Dengan tiba-tiba Buyung merasa, bahwa dia telah
melakukan sesuatu, yang melontarkannya ke dalam sebuah
persoalan yang jauh lebih besar dari yang diduganya semula,
sebuah persoalan yang dia mungkin tak sanggup akan
menyelesaikan atau mengatasinya. Baru dia mulai mengerti,
bahwa hidup dan hubungan manusia tak semudah seperti
yang disangka hati mudanya. Dan perlahan-lahan mulai timbul
pula sedikit rasa menyesal dalam dirinya, mengapa dia
berbuat demikian? Bukankah Siti Rubiyah istri orang lain?
Mengapa dia harus mencampuri soal-soal orang lain? Tidakkah
lebih baik jika dia menjauhi campur tangan dan jangan
memikirkan soal-soal orang lain? Apa perdulinya dengan nasib
orang lain? Bukankah lebih mudah jika dia hanya membatasi
dirinya pada cintanya pada Zaitun saja, dan memikirkan
kebahagiaan dan penghidupan mereka berdua? hatinya jadi
susah.
Akan tetapi pertanyaan-pertanyaan ini pun tak dapat
dijawabnya dengan mudah. Karena dia pun merasa, dan
teringat akan segala cerita penderitaan Siti Rubiyah, bahwa
dia tak dapat bersikap tak acuh terhadap penderitaan orang
lain. Dia ingat kembali perasaannya mendengar pengaduan
Siti Rubiyah, dan dia kembali merasakan kezaliman yang
dilakukan Wak Hitam terhadap Siti Rubiyah, dan dia kembali
merasa, bahwa wajib bagi setiap orang untuk melawan
kezaliman seseorang terhadap orang lain. Meskipun kezaliman
itu tidak ditimpakan atas dirinya sendiri.
Tetapi mengapa hatimu masih ragu dan seakan tak
senang? Buyung mencoba memeriksa hatinya. Yang terang,
dia tak berniat hendak kawin dengan Siti Rubiyah. Dia tetap
cinta dan ingin berumah tangga dengan Zaitun. Apakah yang
diharapkan Siti Rubiyah dari padanya? Agar dia
melepaskannya saja dari cengkeraman Wak Hitam? Atau'juga
agar kemudian dia mengawininya? Akan tetapi mereka tak
pernah berbicara tentang hendak kawin. Siti Rubiyah pun tak
pernah menyentuh soal ini. Jadi ini bukan persoalan. Hanya
pikirannya sendiri yang membawa masuk persoalan ini,
mengapa dia sampai berpikir demikian?
Sungguh Buyung merasa bingung, perasaannya
bercampur-campur antara harap dan cemas, ragu dan takut,
senang dan tak senang, dan dia amat ingin dirinya bukan
seorang muda yang kebingungan yang untuk pertama kalinya
melakukan sesuatu yang didorongkan oleh birahi badan dan
hatinya, akan tetapi seorang tua yang berpengalaman yang
mungkin dapat menilai semua ini dengan lebih tenang dan
bijaksana.
Dan kepada siapa dia akan meminta nasihat?
Dia tak berani menceritakan kepada siapa pun juga, biar
dia sampai digantung, tentang apa yang telah terjadi.
Bagaimana rasa kasihannya terhadap perempuan muda
yang kesepian dan malang itu dapat membawanya pada
keadaan pelik serupa ini? Mengapa hasratnya hendak
menolong seorang yang ditimpa kezaliman dapat
membawanya ke dalam kesusahan? Dia tidak mengerti
mengapa terjadi seperti ini. Disangkanya orang yang berbuat
perbuatan ksatria akan berbahagia lerus. Memang bersalah
benarkah dia telah menurutkan nafsu birahinya? Akan tetapi
apakah dia salah berbuat demikian? Bukankah dia tak
memaksa Siti Rubiyah dan tak pernah mencoba untuk
menggoda Siti Rubiyah? Selintas pun tak ada masuk ke dalam
kepalanya untuk berbuat demikian dengan Siti Rubiyah. Tak
ada perasaan yang bukan-bukan dalam hatinya. Dia pun tahu,
bahwa orang yang baik-baik tak boleh mempunyai pikiran dan
perasaan demikian terhadap istri orang lain. Bukan saja
dilarang oleh agama, akan tetapi adat istiadat, sopan santun,
akal sehat, budi baik, semuanya melarang yang demikian.
Akan tetapi apa yang terjadi antara dia dengan Siti Rubiyah
nampaknya tak ubahnya seperti air yang mengalir turun,
mencari tanah rendah mengalir seperti hukum alam yang telah
menentukannya, dan baik Siti Rubiyah maupun dia tak
berkuasa menahannya. Salahkah mereka telah mengikuti
hukum alam?
Buyung terkejut terbangun dari pikiran-pikiran yang datang
bergelombang-gelombang menggodanya, ketika mendengar
Sutan memanggil namanya.
"Buyung, Buyuuuuung! Mari cepat, magrib sudah tiba!
Mengapa engkau selama itu di air?"
Dengan cepat-cepat dia mengeringkan badannya,
mengambil air sembahyang dan bergegas ke pondok mereka.
Dia girang, karena tak ada waktu bagi Sutan atau kawankawannya
yang lain untuk memperhatikan keragu-raguan
yang mungkin tercermin di mukanya, karena mereka terus
sembahyang magrib bersama-sama.
Pak Haji dengan suaranya yang berat dan bagus
memanggilkan Allahu Akbar! Allahu Akbar!Allahu Akbar! Dan
Ashadu ala ilaha illallah, wa ashaduanna
Muhammadarrasulullah! memenuhi langit yang mulai gelap
samar di tengah hutan belantara, mengalir melingkupi seluruh
kalbu Buyung, dan dalam hatinya dia menyerahkan diri
sepenuhnya kepada haribaan Tuhan, dan ketika mereka mulai
sembahyang, dan Buyung mengucapkan
Bismillahirohmanirrohiim, dia mengucapkan dengan kesadaran
dan keyakinan yang lain dari biasa, dan dalam mengingatkan
bahwa Tuhan adalah yang Maha Pengampun dan Maha
Penyayang, Buyung merasa hati dan perasaannya jadi tenang
kembali, jika aku berdosa, ya Tuhanku, bisiknya dalam
hatinya, ampunilah aku, tiada maksudku dengan sadar hendak
berdosa, akan tetapi hatiku tergerak hendak menghibur hati
perempuan muda yang gundah gulana itu, ampunilah dosa
kami berdua, dan selamatkanlah dia dari kezaliman suaminya,
dan selamatkanlah kami semua seterusnya!
Setelah sembahyang, mereka duduk berkeliling api unggun,
dan makan. Waktu-waktu serupa inilah yang merupakan
hadiah bagai keletihan orang-orang yang bekerja di hutan
mencari nafkahnya. Duduk di sekeliling api unggun, setelah
sehari bekerja keras atau berjalan jauh, dikelilingi hutan yang
mulai diselimuti gelap malam, sedang di langit bintang-bintang
mulai menampakkan diri, masih pudar akan tetapi cepat akan
bersinar berkilauan, dengan wangi kayu basah mengisi udara,
dan wangi dendeng atau ikan asin yang dibakar oleh Talib
atau Sanip di bara api, makan nasi dengan sambal cabai, dan
minum kopi hitam hangat-hangat, membuat mereka
semuanya merasa berbahagia sekali dan melupakan jerih
mereka sepanjang hari.
Di saat serupa inilah antara mereka merasa dekat sekali,
dan tak jarang di waktu-waktu serupa itu, ada saja di antara
mereka yang membuka hatinya, melupakan rasa segan dan
maju yang biasanya mengikat mereka dalam pergaulan biasa.
Agak mudahlah meminta Pak Haji bercerita tentang
pengalaman-pengalaman, atau Wak Katok tentang waktu dia
belajar silat di tanah Aceh. Pak Balam yang pendiam pun akan
bercerita tentang pengalaman-pengalamannya kepada siapa
pun juga. Dan biasanya setelah Sanip memainkan beberapa
lagu yang merdu dengan dangung-dangungnya, diikuti oleh
Sutan atau Buyung dengan suling, maka mereka akan mencari
tempat tidur di dalam pondok, dan dengan enaknya mereka
pun akan tidur mendekur. Di luar pondok api unggun menyala
kecil, dan sekali-sekali juga sepanjang malam siapa di antara
mereka yang terbangun, akan melemparkan beberapa buah
potong kayu ke dalam api, dan api akan menyala besar
kembali selama beberapa waktu, kemudian mengecil kembali
ketika kayu hendak habis, hingga ada lagi yang terbangun dan
melemparkan kayu lagi ke dalam api.
Hutan menjadi tambah gelap, dan mereka tidur diiringi oleh
bunyi-bunyian malam yang bermacam-macam dalam hutan.
Buyung bermimpi dia rasanya naik perahu hendak
menyeberang danau, dan di langit berkumpul awan gelap
menandakan badai hendak turun, akan tetapi dia hendak
menyeberangi danau juga, dan ketika dia telah agak jauh dari
pantai, dia melihat Zaitun datang berlari memanggilmanggilnya.
Mimpinya demikian nyata terasa olehnya, hingga
ketika dia terbangun dan duduk terkejut, di telinganya masih
mengiang seruan Zaitun memanggilnya pulang:
"Yuuuuuungngng!"
Beberapa saat kemudian, baru dia menyadari bahwa yang
terdengar di telinganya adalah lengkingan suara rusa, dan
kesadarannya ini ditimbulkan ketika rusa melengking sekali
lagi. Buyung melihat, bahwa Wak Katok juga terbangun oleh
suara rusa, dan Wak Katok berkata kepadanya: "Baiklah esok
kita coba memburunya."
4
Esok paginya, apabila yang lain masih lidur, lama sebelum
subuh tiba, Buyung telah membangunkan Wak Katok dan
Sutan. Mereka bertiga akan pergi berburu rusa. Tempat
mereka bermalam di pinggir sungai ditumbuhi pohon-pohon
yang jarang, dan kurang lebih satu kilometer ke mudik sungai,
hutan berganti dengan belukar-belukar jarang dan di tempattempat
yang terbuka tumbuh rumput dan lalang. Buyung
berkata, bahwa mungkin mereka akan dapat menjumpai rusa
di sana, karena daerah itu adalah tempat rusa. Mungkin pagipagi
sekali mereka berhasil menjumpai rusa di sana.
"Tapi itu juga tempat nenek," kala Sutan, "dimana ada rusa
ada nenek." Maksudnya harimau.
"Huss," kata Wak Katok. Jangan disebut-sebut namanya."
Mereka cepat berpakaian, Buyung menyandang senapan
lantak Wak Katok. Wak Katok tahu, bahwa dalam terang
remang-remang dinihari, mata buyung yang muda lebih tajam
dari matanya, dan dia pun tahu, meskipun belum
mengakuinya di depan umum, bahwa Buyung lebih pandai
menembak dari dia. Sutan membawa parang panjang dan
pisau belatinya. Wak Katok hanya membawa pisau belati saja.
Buyung berjalan di depan sekali. Mereka melangkah cepat
dalam samar gelap menjelang dini hari, melangkah memudik
sungai dengan hati-hati agar tidak berbunyi.
Ketika mereka tiba di tempat yang dimaksud Buyung,
dinihari lelah mulai datang dari Timur. Ayam hutan mulai
berkokok. Embun membasahi tanah, daun, pohon dan batubatu,
dan kabut yang tipis menyamarkan semuanya. Mereka
berjalan lebih perlahan-lahan dan lebih berhati-hati. Tiba-tiba
mereka mendengar suara seekor rusa melengking, yang
dibalas oleh seekor rusa lagi dari bagian hutan yang lain.
Mereka bertiga berdiri tegang, diam tak bergerak-gerak,
dan mencari-cari dengan matanya.
Tak lama kemudian mereka mendengar bunyi-bunyi,
belukar bergerak, dan kira-kira dua ratus meter ke mudik dari
tempat mereka berdiri mereka melihat seekor rusa melangkah
ke luar dari sebuah kumpulan semak-semak, berdiri di pinggir
belukar, dan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rusa
itu melengking memanggil kembali.
Rusa itu seekor rusa jantan yang masih muda. Tampan
benar badannya. Kakinya kukuh dan ramping, dan tanduknya
sedang besarnya.
Dua ratus meter terlalu jauh untuk senapan lantak tua Wak
Katok. Karena itu mereka menunggu. Apalagi udara masih
terlalu gelap untuk dapat menembaksejauh itu. Tak lama
kemudian di seberang sungai, keluar seekor rusa betina, yang
melangkah berlari kecil menyeberangi sungai, menuju rusa
jantan.
Mereka bertemu di tanah terbuka di pinggir sungai.
Buyung bergerak perlahan-lahan mendekati mereka. Kini
kedua ekor rusa berada di seberang sungai dari tempat
mereka berdiri. Akan tetapi segera Buyung berdiri diam-diam,
dan memasang popor senapan ke bahunya ketika dia melihat
kedua ekor rusa itu melangkah perlahan menghiliri sungai
mendekati tempat mereka berdiri.
Kedua ekor rusa datang bertambah dekat, tak syak sedikit
juga pun bahwa maut menunggu mereka.
Buyung mengikuti rusa jantan dengan ujung laras bedilnya,
dan dia menahan napasnya, ketika rusa datang bertambah
dekat, masuk ke dalam jarak tembakan, dan kemudian
dengan perlahan-lahan dia menarik pelatuk senapan. Ledakan
mesiu dan lidah api yang menyembur ke luar dari laras
senapan seakan sama-sama terjadi, bergegar memenuhi
rimba, dan Buyung melihat rusa jantan terlompat ke atas,
sedang rusa betina melompat lari amat cepatnya, dan
menghilang ke dalam belukar. Rusa jantan setelah terlompat
ke alas lalu jatuh terbaring, kakinya menghentam-hentam
tanah, dan kemudian terbaring diam.
Buyung berteriak kegirangan, disambut oleh Sutan dan
Wak Katok.
Sutan dan Wak Katok berlari menyeberangi sungai, Sutan
dengan parang panjang terhunus di tangannya.
Buyung menahan dirinya, dengan cepat mengisi senapan
lantak kembali.
Di dalam rimba senjata harus selalu sedia untuk
dipergunakan, karena bahaya atau kemungkinan mendapat
perburuan setiap saat, dan senjata yang tak siap sama juga
dengan ditinggalkan di rumah. Selelah senapan diisinya
kembali, barulah dia bergegas menyeberangi sungai.
Ketika dia tiba, Wak Katok telah menyembelih leher rusa. Di
tanah darah rusa menghitam ke atas rumput yang penuh
dengan embun. Sutan memuji tembakannya.
"Tepat di belakang telinganya, lihat ..." kata Sutan
menunjuk.
"Sungguh pandai engkau menembak Buyung," Wak Katok
memujinya.
"Ah, kebetulan saja," kata Buyung, pura-pura merendah diri
sedang dalam hatinya dia merasa senang dan bangga benar.
Dianggap seorang pemburu ahli, apalagi bagi seorang
muda seperti dia, adalah sebuah pujian yang amat besar di
kampungnya, di mana setiap orang menganggap dirinya
seorang pemburu yang cakap. Dan pujian yang dalang dari
Wak Katok, yang dianggap termasuk salah seorang pemburu
yang tercakap di kampungnya, adalah satu pujian yang
sungguh-sungguh tidak dapat ditolak. Kemashurannya sebagai
pemburu nanti akan bertambah tersiar di kampungnya dan ke
kampung-kampung lain. Sutan dan Wak Katok akan bercerita,
betapa dia menembak dari jarak jauh, dalam udara yang gelap
samar, dan penuh kabut. Orang akan memuji ketangkasannya
membidik, ketenangannya menembak, Zaitun akan
mendengar cerita-cerita ini — ah, senang sungguh hati
Buyung.
"Lebih baik panggil kawan-kawan yang lain," kata Wak
Katok, "biar kita dukung rusa ini ke tempat kita bermalam. Di
sana saja kita kuliti.
Sutan berdiri, dan berlari kembali menyeberangi sungai,
dan dia terus berlari kecil pergi memanggil kawan-kawannya
yang lain.
Mereka mendengar auman harimau untuk pertama kalinya,
ketika mereka telah tiba membawa rusa di tempat bermalam
dan rusa telah digantungkan kepada sebuah cabang pohon
yang kuat, dan Wak Katok baru saja selesai mengulitinya.
Auman harimau itu datangnya seakan dari tempat mereka
menembak rusa, harimau mengaum sekali saja, keras, dan
hebat, akan tetapi singkat.
Ketika mendengar bunyi harimau mengaum, mereka
serentak terhenti bekerja. Wak Katok menghentikan pisaunya
yang hendak sekaligus melepaskan kulit rusa dari badannya,
dan yang lain duduk, atau berdiri kaku. Mereka memasang
telinga, mereka menunggu auman kedua, akan tetapi setelah
beberapa waktu, auman harimau tak berulang kembali,
mereka saling berpandangan.
Seluruh rimba ikut terdiam. Serangga pun berhenti
menyanyi.
Wajah mereka membayangkan rasa terkejut yang mereka
rasakan. Sutan yang mula-mula memecahkan kesunyian,
dengan berkata:
"Aduh, ada nenek dekat di sini."
Ucapan Sutan seakan melepaskan mereka dari kekuatan
gaib yang memukau mereka.
Pak Haji menyela: "Barangkali dia lagi berburu."
"Jangan-jangan dia lagi memburu rusa ini, ketika kalian
menembaknya dan merebutnya dari dia," kata Pak Balam yang
selalu cepat melihat segi yang tergelap dari setiap keadaan.
"Ah, tadi tak ada di sana," kata Buyung membela diri, "rusa
jantan ini malahan menunggu-nunggu betinanya, ketika kami
tiba. Kalau dia diburu oleh si nenek tak akan dia memanggilmanggil
betinanya di sana."
"Ah, benar juga," kata Sanip, merasa lega.
"Paling baik, rusa ini cepat kita kemasi, dan kita cepat
berangkat meninggalkan tempat ini," kata Pak Haji.
Mereka pun dengan cepat memotong-motong daging rusa,
sedang Sanip dan Talib bergegas masak makanan pagi.
Daging rusa mereka bagi-bagi, dan setelah mereka garami
dan beri bumbu yang lelah mereka sediakan dari kampung,
lalu daging dibungkus di dalam daun pisang hutan, dan
mereka simpan ke keranjang mereka masing-masing.
"Sayang tak sempat kita asapi," kala Talib.
"Nanti saja, di tempat kita bermalam nanti," kata Sanip.
Sanip membakar hati rusa untuk mereka makan pagi itu,
dan sebentar kemudian wangi hati bakar memenuhi udara,
dan membuat mereka lupa pada harimau yang mengaum.
Ketika mereka akan berangkat, Wak Katok berkata kepada
Buyung: "Biar aku yang membawa senapan."
Mereka lalu menyeberangi sungai, karena dari sini mereka
mengambil jalan singkat mendaki dan menuruni gunung,
untuk tiba kembali nanti petang di pinggir sungai tempat
mereka akan bermalam.
Mereka berjalan beriringan, seorang demi seorang, dengan
Wak Katok yang membawa senapan berjalan paling belakang.
Pak Haji berjalan paling depan. Tanpa disuruh oleh siapa pun
juga, mereka kini berjalan lebih hati-hati, dan lebih sering
memasang telinga mereka, dan mala mereka lebih waspada
dan lebih tajam memperhatikan hutan di sekeliling mereka.
Setiap gerak dan bunyi kini mereka perhatikan dan artikan
lebih cermat dari biasa.
Dalam rimba belantara sebuah kealpaan kecil dapat
menjadi sebab terjadinya kecelakaan besar, atau malahan
kehilangan nyawa sendiri. Mereka tidak menyebut-nyebut
harimau, akan tetapi masing-masing amat menyadari beban
daging rusa segar yang disimpan di dalam daun pisang hutan
di dalam keranjang punggung. Daging yang masih amat segar
dan berdarah ilu meninggalkan jejak yang amat jelas bagi
harimau atau binatang buas lain. Mereka pun tahu bahwa
darah daging rusa ada yang menetes turun dari keranjang ke
tanah yang mereka lewati.
Sepanjang pagi mereka berjalan secepal mungkin, tanpa
banyak berkata-kata. Jalan pun agak licin karena rupanya
kemarin hujan. Baru lewat lengah hari, mereka mulai merasa
agak lega dalam hati, selelah sepanjang hari tidak melihat
tanda-tanda harimau mengikuti mereka. Dan ketika mereka
berhenti untuk makan lengah hari di pinggir sebuah anak
sungai kecil yang turun cepat dari gunung, hampir-hampir
mereka dapat melupakan ancaman harimau, meskipun mereka
masih tetap awas dan terus juga memperhatikan rimba di
sekelilingnya.
Mereka tak lama berhenti di sana, akan tetapi segera
setelah makan lalu meneruskan perjalanan. Mereka ingin tiba
di tempat bermalam yang baru, lama sebelum senja akan tiba.
Mereka tiba di sana jam selengah lima petang. Dengan
cepat mereka membuat pondok bermalam. Jika biasanya
pondok tak mereka beri dinding, akan tetapi sekali ini mereka
pasang dinding dengan dahan-dahan dan daun-daun di ketiga
sisinya, kecuali di sisi depan yang menghadap ke api unggun.
Anak-anak muda, seperti Buyung, Sanip, Talib dan Sutan
mengumpulkan kayu api banyak-banyak. Mereka bermaksud
hendak memasang api unggun, mungkin sampai pagi.
Mereka juga hendak mengasap daging rusa supaya jangan
busuk. Wak Katok tetap memegang senapannya.
Hari telah hampir jam enam ketika mereka siap. Talib telah
menanak nasi. Mereka lalu mengambil air sembahyang. Bunyibunyi
hutan yang biasa terdengar di waktu senja kini
memenuhi udara senja seperti biasa.
Mereka sembahyang magrib bersama-sama dekat api
unggun. Merasa aman di dalam panas dan terang api unggun
semakin lama udara di atas mereka semakin kabur. Langit di
sebelah Barai kuning kemerah-merahan dan di bahagian langit
yang lebih tinggi tersebar warna ungu tua, dan kemudian tibatiba
seluruh langit menjadi gelap dan malam pun turun.
Tinggallah hanya api unggun yang kuning dan merah
membakar tinggi dan besar, menerangi lingkaran di depan
pondok tempat mereka tidur, merupakan sebuah pulau berisi
manusia di tengah rimba belantara yang gelap dan penuh
rahasia.
Mereka bertujuh sembahyang di dalam keamanan pelukan
sinar api dan seruan Allahu Akbar Pak Haji terdengar lantang
mengisi malam, menyampaikan segala pujian, kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa, pencipta seluruh jagat dan alam luas,
rimba belantara, dan dunia terang api unggun kecil mereka di
tengah lautan gelap rimba belantara, dan pencipta diri mereka
pula.
Setelah sembahyang mereka makan. Mereka membakar
daging rusa. Kini mereka makan dengan lezat sekali, keletihan
berjalan cepat dan kekhawatiran yang memburu mereka
sepanjang hari kini diganti dengan keenakan makan dan
melepaskan lelah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka
mulai berangkat tadi pagi, kini Sanip mulai berketakar dan
tertawa. Perlahan-lahan kekencangan urat syaraf mereka
mulai kendur. Mereka mulai merasa biasa kembali.
Selelah makan Pak Balam merasa perutnya mules. Pak Haji
berkata bahwa dia terlalu banyak makan daging rusa. Pak
Balam berdiri dan pergi kesungai. Tempat dia melakukan
hajatnya tak jauh dari tempat mereka bermalam. Sinar api
unggun masih mencapai pinggir sungai, dan Pak Balam duduk
di daerah perbatasan yang samar-samar antara pinggiran
lingkaran cahaya api unggun dan pinggiran tempat mulainya
kegelapan hutan di sungai. Pak Balam duduk mencakung di
atas batu, menghadap api unggun, dan membelakang ke
kegelapan hutan. Dan itulah kesalahan besar yang
dilakukannya .:.
0oo0
SANG harimau telah dua hari menderita lapar. Dia telah
tua. Tenaganya tak cukup kuat lagi, dan larinya tak cukup
cepat pula untuk mengejar buruannya yang biasa seperti babi
atau rusa. Dia dahulu sungguh seekor harimau jantan yang
gagah perkasa, dan lama sekali menjadi raja di hutan besar.
Sepanjang ingatannya tak pernah dia menderita kelaparan
seperti sekarang. Badannya besar dan tinggi. Pada waktu
muda dengan mudahnya dia dapat menerkam dan melarikan
seekor rusa yang besar. Dan pernah dia beberapa kali
menerkam dan membunuh dan menyeret ke dalam hutan
beberapa ekor sapi yang dijumpai di luar desa. Sejak dua hari
dia telah mengejar-ngejar sepasang rusa, seekor jantan dan
betina muda. Akan tetapi kedua ekor rusa itu amat awas
sekali, dan selalu dapat melarikan diri sebelum dia sempat
menerkamnya.
Kini dia mulai merasa letih.
Tadi pagi ketika dia merasa telah dekat sekali pada rusa
betina, pemburuannya terganggu oleh bunyi yang amat hebat
sekali, yang memecahkan dan merobek udara dalam hutan.
Rusa betina yang dilihatnya telah mendekati rusa jantan, lari
terbang amat cepatnya, sedang rusa jantan jatuh. Dia pun
melarikan diri segera setelah bunyi keras yang
mengejutkannya memenuhi udara. Dan kemudian, beberapa
jam kemudian, didorong oleh rasa laparnya, maka dengan
hati-hati dia kembali ke tempat rusa jantan terjatuh. Yang
tinggal hanya bekas-bekas darah yang telah membeku di
tanah. Dengan lidahnya dijilatinya darah rusa yang telah
membeku. Darah yang dijilatinya hanya tambah mengobarkan
rasa laparnya, dan rasa laparnya mendorongnya untuk
mengikuti jejak manusia yang kini bercampur dengan bau
rusa. Mudah sekali baginya mengikuti jejak mereka. Dia
menjumpai tempat mereka menguliti dan memotong daging
rusa. Dan di sana dia menemui tulang-tulang, usus rusa, yang
dengan lahapnya dimakannya. Akan tetapi apa yang tertinggal
sama sekali tidak menenangkan rasa laparnya. Sebaliknya dia
merasa bertambah lapar.
Sepanjang hari dengan hati-hati dia mengikuti manusia dan
daging rusa dari jauh.
Sang harimau bertambah yakin bahwa sekali ini
perburuannya akan berhasil. Dia bersembunyi dan menunggu
dengan sabar di pinggir sungai, dan memperhatikan manusiamanusia
membuat pondok dan memasang api. Wangi daging
yang dibakar menyebabkan rasa laparnya bertambah hebat,
dan dengan susah payah dia menahan diri tidak menggeram,
yang mungkin akan mengejutkan mereka yang diburunya. Dia
menunggu-nunggu kesempatan yang baik untuk melakukan
serangannya.
Tiba-tiba harimau tua bergerak, bersikap siap, ketika
melihat seorang di antara mereka melepaskan diri dari
lindungan cahaya api, dan melangkah sendiri menuju
kegelapan sungai. Orang itu duduk mencangkung di air.
Harimau menegangkan seluruh badan dan otot-ototnya,
siap untuk melompat, dan kemudian -- dengan auman yang
dahsyat dia melancarkan dirinya dari tempat
persembunyiannya — pada saat Pak Balam mendengar bunyi
auman harimau, secepat kilat dalam kepalanya timbul
kesadaran, bahwa dialah yang menjadi sasaran terkaman
harimau. Dia melompat berdiri hendak lari, akan tetapi kakinya
tergelincir dan dia terjatuh sepanjang badannya ke dalam air,
dan belum sempat dia hendak bangun dan lari kembali, sang
harimau telah tiba, dan menerkam kakinya. Seandainya Pak
Balam tak terjatuh, maka sang harimau akan tepat menerkam
kepalanya atau lehernya, akan tetapi kini mulut harimau
dengan gigi-giginya yang tajam dan kuat menerkam betis kaki
kirinya, dan harimau lalu menyeretnya ke dalam hutan. Bunyibunyi
serangga dan margasatwa terdiam beberapa saat
sehabis auman harimau. Kebekuan yang menyerkap mereka
karena amal sangat terkejut mendengar auman harimau yang
menerkam, dengan cepat cair ketika mereka mendengar jerit
Pak Balam minta tolong.
Reaksi kawan-kawannya di sekeliling api unggun cukup
cepat. Wak Katok segera mengambil senapan, yang mudamuda
melompat menghunus parang panjang, dan segera
berlari ke api mengambil sepotong kayu yang menyala, dan
mereka terus berlari ke tempat Pak Balam. Melihat Pak Balam
telah tak ada, mereka lalu berlari mengejar ke seberang
sungai, karena mereka dapat melihat semak-semakyang
bergerak-gerak bekas dilalui harimau, dan dapat mendengar
jeritan Pak Balam yang kesakitan, ketakutan dan minta tolong.
Wak Katok berlari di depan dengan senapannya, disusul
segera oleh Buyung dan yang lain. Sutan melemparkan
potongan kayunya yang menyala-nyala sekuat-kuat tenaganya
ke arah harimau yang melarikan Pak Balam, dan tak lama
kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang agak terbuka,
dan dalam gelap malam mereka dapat melihat harimau berlari
cepat menyeret Pak Balam. Mereka berteriak keras-keras, dan
Wak Katok mengangkat senapannya, dan membidik lalu
menembak.
Mereka melihat harimau melepaskan Pak Balam, dan terus
berlari, menghilang ke dalam hutan yang lebih gelap. Dengan
cepat mereka berlari ke tempat Pak Balam terbaring. Dalam
cahaya samar-samar dari potongan kayu yang menyala
mereka melihat betapa kaki kiri Pak Balam hancur betisnya
kena gigitan harimau, daging dan otot betis koyak, hingga
kelihatan tulangnya yang putih, dan darah mengalir amat
banyak.
Pakaian Pak Balam koyak-koyak, dan seluruh badannya
penuh dengan luka-luka kecil dan gores-gores merah, kena
duri, batu dan kayu ketika dilarikan harimau. Mukanya
berdarah. Darah ke luar dari hidungnya, dari mulutnya. Pak
Balam kelihatannya pingsan, tak sadar diri, dia hanya
terbaring di sana mengerang-ngerang.
Buyung, Sanip, Talib, Pak Haji dan Sutan cepat
mengangkatnya. Wak Katok telah mengisi senapannya
kembali, dan dengan Wak Katok berjalan di belakang, mereka
cepat-cepat membawa Pak Balam ke tempat api unggun.
Ketika tiba di tempat terang, lebih nyata lagi betapa
dahsyatnya luka-luka yang diderita oleh Pak Balam. Selain
gigitan harimau yang membelah betisnya, punggungnya pun
luka dalam kena cakaran harimau, dan seluruh badan lukaluka.
Wak Katok menyuruh Talib memasak air panas.
Dari sebuah kantong di dalam keranjang besarnya, Wak
Katok mengeluarkan daun ramu-ramuan. Mereka
membersihkan luka-luka Pak Balam dengan air panas, dan
Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan daundaunan,
yang kemudian mereka bungkus dengan sobekan
kain sarung Pak Balam. Kemudian
Dewi KZ 84
Wak Katok merebus ramuan obat-obatan sambil membaca
mantera-mantera, dan setelah air mendidih, maka air obat
dituangkan ke dalam mangkok dari batok kelapa. Setelah air
agak dingin Wak Katok meminumkannya pada Pak Balam
sedikit demi sedikit.
Pak Balam sudah agak sadar, akan tetapi belum dapat
berbicara dengan terang. Dia mengerang terus, dan sebentarsebentar
menjerit minta tolong. Baru sejam kemudian, dia
mulai tenang, dan melihat berkeliling, memandangi mereka
seorang demi seorang.
Tiap sebentar Pak Balam mengucap — La ilaha illlallah - La
ilaha illalah - diseling oleh erang kesakitannya.
Kemudian ketika dia lebih tenang, dia memandangi kawankawannya
kembali, lalu berkata: "Sudah sampai ajalku kini.
Rupanya aku mesti juga menebus dosaku."
Pak Haji berkata.
"Hus, diamlah, jangan ingat mati. Awak sudah selamat kini.
Telah pula diobati oleh Wak Katok. Tenanglah. Cobalah tidur."
"Tidak, dengarkan kataku," kata Pak Balam menguatkan
hatinya, "aku telah dapat firasat dan dapat mimpi. Sebelum
kita berangkat dari kampung, dua malam sebelumnya, dan
malam kita akan meninggalkan huma Wak Hitam. Tetapi
ketika itu aku masih berharap Tuhan akan mengampuni
dosaku, dan melindungi kita semua. Tidak aku seorang saja.
Akan tetapi semua kita akan mendapat celaka dalam
perjalanan, yaitu tiap kita yang melakukan dosa besar..."
Buyung tiba-tiba sejuk dalam hatinya, mendengar ucapan
Pak Balam ini. Tahukah Pak Balam tentang dosanya? Dia
melihat kepada kawan-kawannya yang lain, ingin tahu apakah
air muka mereka berubah juga mendengar kisah Pak Balam,
apakah mereka juga masing-masing menyimpan dosa-dosa
besar yang mereka sembunyikan dari orang lain? Ataukah dia
sendiri saja yang mempunyai dosa besar yang harus
ditebusnya?
Tetapi tidakkah dia telah minta ampun kepada Tuhan?
Buyung tak dapat melihat sesuatu apa di wajah kawankawannya
yang samar-samar diterangi cahaya api unggun.
Muka Wak Katok tetap kelihatan keras dan kukuh. Muka
Pak Haji sabar dan tenang, dan di muka kawan-kawannya
yang lain lebih muda seperti Talib, Sanip dan Sutan dibacanya
perasaannya sendiri juga, yang mencerminkan rasa tegang
yang mereka rasakan sejak harimau datang menyerang. Akan
tetapi dia tak dapat membaca di wajah mereka, apakah
mereka juga menyembunyikan dosa-dosa.
Wak Katok berkata: "Apa mimpi awak, Pak Balam? Coba
ceritakan, barangkali masih dapat kita elakkan bala yang
hendak menimpa kita. Mengapa tak awak ceritakan dahulu di
kampung? Aku 'kan dapat membacakan mantera atau
membuat jimat untuk kita semua?"
"Aduh, kini sudah terlambat, salahku juga," kata Pak
Balam. "Dengarlah," tambahnya, "dua hari sebelum kita
berangkat ke hutan damar aku bermimpi. Aku bermimpi
rasanya pergi naik perahu ke danau dengan Wak Katok, Pak
Haji, Sutan dan Sanip. Darr ada dua orang lagi kawan di atas
perahu, akan tetapi tak jelas padaku mukanya. Bukan Buyung
dan bukan Talib. Entah siapa mereka, tak jelas begitu
kemudian, setelah aku terbangun. Kita pergi menangkap ikan
ke tengah danau. Aduh banyaknya ikan yang kita dapat.
Penuh perahu. Pak Haji berkata 'sudah mari kita pulang, nanti
perahu terlalu berat, jika datang angin dan ombak besar,
mungkin terbalik.' Akan tetapi Wak Katok berkata 'jangan kita
berhenti dahulu, kepalang benar, lagi ikan banyak, marilah
kita menangkap ikan terus.' Dan Sutan dan Sanip dan aku pun
menyokong usul Wak Katok. Demikianlah kami terus juga
menangkap ikan. Dan ikan yang kami dapat semakin banyak,
hingga sungguh-sungguh perahu jadi terlalu penuh dan
perahu terbenam dalam. Tak sampai sejari lagi, air pun akan
masuk ke dalam perahu. Dalam mimpiku Wak Katok terus
juga menyuruh kami memancing, sedang aku tak
menyangkalnya, meskipun dalam hatiku, aku tahu, bahwa
sebenarnya kami telah lama harus berhenti, dan harus segera
pulang. Benar juga kekhawatiranku, karena tak lama
kemudian aku mendapat seekor ikan yang sangat besar, dan
meskipun yang lain menolong untuk mengangkatnya ke dalam
perahu, akan tetapi ikan besar itu amat kuat, dan malahan
menarik tali pancing dan perahu beserta isinya ke tengah
danau, dan semakin lama semakin cepat... dan tiba-tiba udara
pun jadi gelap, topan tiba, angin berhembus kencang, ombak
menjadi besar, perahu oleng, dan terus juga ditarik oleh ikan
besar, dan tiba-tiba perahu pun terbalik — habis semua ikan
yang kami tangkap sepanjang hari tertumpah kembali ke
dalam danau, dan kami, semua jatuh ke dalam air — aku
terbangun, basah keringat, di telingaku masih terdengar
pekikan kami semua, ketakutan dan bunyi deru badai dan
angin ....”
“Dan mimpiku yang kedua lebih seram lagi di rumah Wak
Hitam. Aku lagi bermimpi memanjat pohon, hendak
mengambil anak burung beo di sarangnya. Kalian, antaranya
juga Pak Haji berdiri di bawah pohon melihat aku memanjat.
Pohonnya besar dan tinggi, dan anehnya — semakin tinggi
aku memanjat pohonnya terasa bertambah tinggi saja, dan
sarang burung bertambah jauh di atas. Aku memanjat juga
cepat-cepat, akan tetapi pohon tumbuh bertambah tinggi lebih
cepat. Aku merasa letih sekali, tetapi aku paksakan juga
memanjat, dan tiba-tiba pohon tumbang, dan aku turut jatuh
bersama pohon, dan kalian pun berteriak-teriak hendak
melarikan diri, tetapi kita semua terhimpit di bawah pohon,
dan alangkah ngerinya, sedang kita tak dapat bergerak
melarikan diri, datanglah ular besar-besar amat banyaknya
penuh di sekeliling kita. Aku terbangun dengan napas
ketakutan Semuanya ini mimpi alamat-alamat yang tak baik
saja. Aku membaca ayat Qur'an banyak-banyak setelah
bangun, untuk mengusir setan-setan jahat yang datang
menggangu. Tetapi rupanya memang sudah ditakdirkan,
hanya sampai di sini umurku." Pak Balam terdiam, dan
memandangi mereka dengan mata yang kini bersinar sayu.
Mereka tak dapat berkata sesuatu apa, hanya Pak Haji saja
yang perlahan-lahan membacakan ayat-ayat Our'an untuk
menenangkan hati Pak Balam dan juga hati mereka semua.
Kemudian Pak Balam tiba-tiba memutar kepalanya, dan
memandang pada Wak Katok, dan sinar matanya berubah jadi
kencang dan kuat dan keras, dan dia berkata dengan suara
garau:
"Karena engkaulah Wak Katok, maka aku harus menebus
dosaku dulu seperti ini”
Wak Katok memandang padanya, dan ganjil sekali, sebuah
perasaan takut seakan kelihatan melayang menutupi mukanya
sebentar, yang kemudian menghilang cepat. Tak ubahnya
seakan bayangan gelap dan terang dari api unggun yang
selama ini bermain di atas muka dan tubuh mereka dan gelap
hutan di sekeliling, diselingi oleh sesuatu bayangan lain yang
lebih gelap dan lebih menyeramkan hati. Wak Katok berdiam
diri, dan mereka semua berdiam diri. Setiap mereka merasa,
bahwa sesuatu unsur baru yang mengandung rahasia dan
asing seakan telah memasuki dunia kecil mereka di sekeliling
api unggun. Dalam hati mereka seakan ingin hendak
memerintahkan kepada Pak Balam untuk tidak membawa
unsur baru yang tak dikenal dan menakutkan itu ke tengah
mereka. Akan tetapi tak seorang juga mencoba menghalangi
Pak Balam berbicara terus, Wak Katok pun tidak.
"Terjadi dahulu ..." cerita Pak Balam, suaranya kini lebih
kuat, "di waktu pemberontakan di tahun 1926 melawan
Belanda. Aku satu pasukan dengan Wak Katok. Wak Katok
pemimpin pasukan kami. Kami baru saja habis melakukan
pertempuran dengan sepasukan serdadu musuh. Kami
melarikan diri, dan dikejar-kejar oleh pasukan musuh. Akan
tetapi setelah setengah hari dikejar-kejar, kami berhasil
meninggalkan pasukan Belanda, dan bersembunyi di sebuah
ladang yang telah ditinggalkan yang punya. Pasukan kami
telah bercerai berai, dan hanya tinggal kami bertiga yang
masih bersama-sama Wak Katok, Sarip dan aku. Sarip, kawan
kami, luka di pahanya, dan darah di pahanya masih mengalir
terus menetes-netes. Ketika kami tiba di ladang kosong, dia
sudah lemah sekali, hampir-hampir tak lagi dapat berjalan.
Naik ke pondok yang kosong pun terpaksa dia kami tarik. Di
dalam pondok kami batut lukanya sebaik mungkin akan tetapi
kami tak mempunyai obat-obat yang diperlukan. Tempat
persembunyian pasukan kami masih jauh, kira-kira lima jam
berjalan lagi dari ladang itu. Di sana ada bekal makanan. Kami
tak punya makanan sama sekali. Tak mungkin pula membawa
si Sarip ke sana, karena perjalanan akan lambat sekali, dan
kami tak mungkin tiba di sana sebelum hari gelap. Perjalanan
ke tempat persembunyian amat sukar dan berat.
Meninggalkan Sarip di ladang tak mungkin pula. Kami takut
pasukan Belanda dengan mudah dapat mengikuti jejak kami
hingga ke ladang, karena darah Sarip yang menetes
sepanjang jalan. Kami pun merasa khawatir karena setiap saat
pasukan patroli Belanda akan tiba dan menyergap kami di
ladang kosong.
Jika Sarip ditinggalkan, kami khawatir dia akan dipaksa oleh
pasukan Belanda menunjukkan tempat persembunyian kami.
Apa yang mesti dilakukan. Wak Katok mengajak aku pura-pura
pergi ke sumur untuk membicarakannya.
Wak Katok bertanya apa yang mesti dilakukannya, tetapi
aku tak dapat menjawab dengan pasti. Kemudian Wak Katok
berkata, bahwa kami harus berangkat cepat. Bagaimana Sarip,
tanyaku, dan Wak Katok menjawab 'serahkan padaku.' Aku
tak berpikir panjang lagi, dan ketika Wak Katok berkata,
'pergilah engkau dahulu, aku segera menyusul maka aku pun
terus berangkat, tanpa kembali lagi melihat Sarip di dalam pondok.
Tak lama kemudian Wak Katok menyusul aku dan kami
berangkat ke tempat persembunyian. Aku tak pernah
menanyakan kepada Wak Katok apa yang terjadi dengan
Sarip. Aku tahu apa yang terjadi. Wak Katok kembali ke
pondok dan membunuh mati Sarip dan melemparkan Sarip ke
dalam sumur. Ini aku ketahui kemudian, setelah
pemberontakan dikalahkan oleh Belanda. Tetapi aku tak
pernah membicarakannya dengan Wak Katok. Sejak hari itu
hingga saat ini, barulah kini aku menceritakan hal ini.
Aku ikut bersalah. Aku berdosa. Barangkali aku yang lebih
bersalah lagi dari Wak Katok. Karena dalam hatiku aku telah
tahu apa yang hendak dilakukan oleh Wak Katok, ketika dia
membawa aku pergi ke sumur. Tetapi hatiku begitu cinta pada
hidup diriku, hingga aku rela untuk membayar apa saja agar
aku dapat hidup terus. Biarlah Sarip yang mati, asal aku dapat
hidup. Aku amat pengecut sekali, aku takut mati, aku tak mau
mati. Jika aku melarang Wak Katok, dan berkeras supaya
Sarip kami bawa, pasti Wak Katok akan menuruti kehendakku.
Tetapi aku biarkan saja. Orang yang membiarkan orang lain
melakukan kejahatan dan dosa, sedang dia mampu
menghalanginya, sama besar dosanya dengan orang yang
melakukan dosa itu. Apalagi jika dia tahu, bahwa karena
perbuatan dosa itu, dia sendiri mendapat keuntungan. Itulah
perbuatan Wak Katok, kawanku yang amat karib, yang
pertama, yang aku biarkan, dan aku pun tak kurang ikut
memikul dosanya. Selama pemberontakan banyaklah hal-hal
lain yang aku biarkan Wak Katok melakukannya, dan aku pun
harus ikut memikul dosa-dosanya. Seperti ketika Wak Katok
memperkosa istri Demang, kemudian membunuh Demang,
istri dan tiga orang anaknya, dan merampas emas dan perak
di rumah Demang. Aku ada bersama Wak Katok, dan aku tak
berusaha untuk melarang Wak Katok berbuat dosa demikian.
Kami berperang melawan Belanda dan tidak memerangi
perempuan dan anak-anak yang tak berdosa ..."
Pak Balam berhenti berbicara, matanya masih juga
memandangi muka Wak Katok, tetapi kini sinar matanya tak
lagi keras, tetapi berubah jadi lembut, dan dia seakan hendak
mengulurkan tangannya kepada Wak Katok, akan tetapi
rupanya dia merasa tak berdaya, karena tangannya yang telah
mulai bergerak, turun kembali, rebah ke sisinya, dan air muka
Pak Balam bertambah berubah, kini mulai jadi terang dan
seakan segala ketegangan dan tekanan yang selama ini
mengungkung jiwa dan pikirannya mulai menghilang, sinar
matanya menjadi jernih, wajahnya jadi tenang, dan seakan
sebuah senyuman halus hinggap di bibirnya, dan dengan
suara yang halus sekali dia berkata:
"Aku merasa ringan kini aku sudah menceritakan pada
kalian di depan Wak Katok beban dosa yang selama ini
menghimpit hatiku dan kepataku. Aku sudah mengakui dosadosaku,
dan tolonglah doakan supaya Tuhan suka kiranya
mengampuni segala dosaku, dan juga mengampuni dosa-dosa
Wak Katok Pak Balam mendekatkan kedua belah telapak
tangannya seperti orang mendoa, dan mulutnya komat-kamit.
Pak Haji bertakbir, perlahan-lahan: "AllahuAkbar, AllahuAkbar,
Allahu Akbar!"
Wak Katok duduk mencangkung juga diam-diam. Air
mukanya kaku dan keras, dan agak menakutkan.
Kemudian Pak Balam membuka matanya, dan memandang
mencari mata Wak Katok, dan ketika pandangan mereka
bertaut, Pak Balam berkata kepada Wak Katok: "Akuilah dosadosamu,
Wak Katok, dan sujudlah ke hadirat Tuhan, mintalah
ampun kepada Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha
Pengampun, akuilah dosa-dosa kalian, juga kalian yang lain,
supaya kalian dapat selamat ke luar dari rimba ini, terjauh dari
bahaya yang dibawa harimau ... biarlah aku seorang yang jadi
korban”
Pak Balam menutup matanya kembali, dan dia terbaring
demikian, letih telah berbicara begitu banyak.
Mereka duduk mengelilinginya dengan pikiran masingmasing.
Cerita Pak Balam menimbulkan kesan yang dahsyat
sekali dalam hati mereka. Mereka ingin dapat selamat sampai
ke kampung, meninggalkan hutan dengan harimau maut jauhjauh
di belakang. Akan tetapi mengakui dosa-dosa di depan
kawan-kawan semua?
Aku tak berdosa, tak ada dosa yang harus aku akui, pikir
Sanip.
Aku tak punya dosa yang mesti aku akui, kata Talib dalam
hatinya.
Aku tak punya dosa, kata Sutan pada dirinya.
Buyung menyuruh hatinya dan pikirannya diam, jangan
mengingatkannya pada dosa-dosanya.
Pak Haji juga demikian.
Wak Katok duduk diam dengan air muka yang keras, dosadosanya
telah diceritakan sebagian terbesar oleh Pak Balam.
Dan tentang dosanya yang terakhir, dia yakin sekali, tak
seorang juga yang tahu, dan dia tak akan hendak
menceritakannya kepada siapa pun juga. Biarlah orang lain
dahulu mengakui dosa-dosanya.
Pak Balam kemudian terdengar berkata dengan suara
seperti orang mengigau:
"Awaslah, harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk
menghukum kita yang berdosa — awaslah harimau — dikirim
Allah — awaslah harimau -akuilah dosa-dosa kalian - akuilah
dosa-dosa kalian."
Mereka diam saja mendengarkannya, rasa takut mulai
timbul dalam hati mereka, seluruh gelap rimba raya di
sekeliling terasa penuh dengan ancaman dan raksasa hitam
yang ganas yang bersembunyi menunggu saat hendak
menerkam, dan mereka merasa seakan harimau dengan
gelisah berjalan mundar-mandir di seberang batas gelap
antara pinggiran lingkaran api dan gelap hutan, mengawasi
mereka, memeriksa dosa-dosa mereka,' memutuskan siapakah
lagi yang harus dihukum karena dosa-dosanya...
Mereka tak berani lagi saling berpandangan muka, takut
yang lain akan dapat membaca apa yang mereka rasakan dan
pikirkan, karena ucapan-ucapan Pak Balam yang masih terus
juga dari waktu ke waktu ke luar dari mulutnya — "akuilah
dosa-dosa kalian -- bawalah harimau — dikirim Allah - akuilah
dosa-dosa kalian" memaksa mereka untuk memandang
dengan jujur ke dalam lubuk hati, memaksa mereka meninjau
kembali perbuatan-perbuatan selama hidup. Dan aduh,
banyaklah dosa dan kesalahan yang mereka lihat. Mata
mereka silau melihat kejahatan dan dosa-dosa mereka sendiri.
Mereka lebih suka menyembunyikannya dan tak melihatnya.
Tak mengingatnya dan tak membukanya. Jangankan
membukanya kepada orang lain, kepada diri sendiri pun,
masing-masing enggan dan tak hendak mengakuinya. Karena
orang yang mencoba membuka kebenaran dibenci dan
dimusuhi oleh mereka yang bersalah dan berdosa. Banyak
orang yang takut hidup menghadapi kebenaran, dan hanya
sedikit orang yang merasa tak dapat hidup tanpa kebenaran
dalam hidupnya.
Mulai pula timbul, di samping rasa takut mereka, rasa tak
senang terhadap diri Pak Balam, yang mereka kasihani selama
ini, sejak dia diterkam harimau dan berkat ketangkasan
mereka bersama berhasil mereka rebut kembali dari rahang
harimau. Dan kini, Pak Balam yang telah mereka selamatkan
itulah pula yang menyuruh mereka membongkar kopor-kopor
rahasia dalam hati dan jiwa mereka.
Dalam hatinya Wak Katok seakan merasa menyesal,
mengapa mereka telah menyelamatkan Pak Balam.
Seandainya Pak Balam dibiarkan dimakan harimau, maka
sama sekali tak ada timbul persoalan harus mengakui dosadosa
ini untuk menyelamatkan diri. Dan rahasia hidupnya
sendiri, yang selama puluhan tahun telah tertutup rapat, dan
hanya diketahui Pak Balam saja, kini telah diketahui pula oleh
lima orang lain, orang-orang sekampungnya, apakah mereka
akan menutup mulutnya? Tidakkah mereka nanti jika tiba di
kampung akan menceritakan kepada istrinya, atau kawankawan
mereka, apa yang telah mereka dengardari Pak Balam?
Sungguh terkutuklah Pak Balam, terkutuklah harimau itu,
terkutuklah kawan-kawannya sendiri, yang hadir dan
mendengar Pak Balam bercerita. Apa yang mesti dilakukannya
supaya mereka berjanji untuk tidak meneruskan cerita Pak
Balam kepada siapa pun juga? Mengapa Pak Balam tak
membiarkan apa yang telah terjadi tinggal di dalam kubur
masa yang telah mati dan telah jauh ditinggalkan di belakang?
Apa gunanya menariknya kembali, dan menghidupkannya
kembali? Mengapa orang tak membiarkan tulang-tulang yang
telah terkubur tetap tinggal dalam pelukan tanah. Apa
gunanya membongkarnya dan mempertontonkannya kepada
semua orang?
Dan tiba-tiba rasa tak senang juga meliputi kawankawannya
yang lain - Pak Haji, Talib, Sanip, Sutan dan
Buyung. Mereka ini telah mendengar cerita tentang kejahatan
dan dosa-dosa dari mulut Pak Balam, akan tetapi dia, Wak
Katok, tak mengetahui dosa-dosa mereka masing-masing.
Pasti setiap mereka juga mempunyai dosa-dosa yang mereka
rahasiakan dan tutup rapat-rapat. Pak Haji, yang pura-pura
saleh dan bijaksana itu, apa yang tidak dilakukannya selama
hidupnya, apalagi selama petualangnya bertahun-tahun di luar
negeri? Mungkin dia juga telah membunuh orang, telah
menipu orang, dia mungkin telah mencuri dan merampok,
tetapi karena tak ada orang lain yang tahu, maka dia dapat
duduk di sana dekat Pak Balam, seperti seorang keramat dan
seorang saleh, sambil membaca-baca ayat Qur'an, seakan
dirinya bersih dan suci, dan hanya Wak Katok yang penuh
dosa dan kotor dan harus mengakui dosa-dosanya, dan minta
ampun kepada Tuhan, supaya mereka semua selamat dari
bahaya harimau. Dan si Sanip orang muda yang periang, yang
suka menyanyi, siapa tahu itu juga hanya topeng yang
dipakainya saja di depan orang lain. Entah dosa-dosa gelap
apa yang telah dilakukannya dan disembunyikannya di
belakang ketakuannya yang periang dan adatnya yang santun
pada orang-orang tua di kampung. Bukan tak mungkin dia
pun telah pernah mencuri, ataupun berzinah dengan
seseorang umpamanya di kampung. Jangan-jangan dengan
bini muda ayahnya sendiri. Pernah dia digunjingkan orang
kampung, karena ada cerita yang melihat dia bercubit-cubitan
dengan bini muda ayahnya, sedang ayahnya tak ada di
rumah. Dan si Talib, itu pun orang pendiam seperti air di lubuk
yang dalam. Pamannya yang sudah mati dulu pernah dibuang
ke Pulau Nusakambangan, karena mengamuk di pasar dan
menikam sampai enam orang, dan empat orang sampai mati.
Darah keluarganya darah gelap juga. Dia pun mungkin telah
melakukan kejahatan dan dosa-dosa besar, hanya orang lain
saja tak ada yang tahu. Menurut cerita orang meskipun dia
sudah berbini, akan tetapi dia suka juga tidur di surau
bersama dengan anak-anak lelaki yang muda-muda. Dan
Sutan - ah, sedikit pun dia tak dapat dipercaya dengan
perempuan. Dia tukang mengejar perempuan, tak perduli tua
atau muda. Kata orang dia suka bertemu dengan Siti Rafiah,
janda muda. Pasti mereka telah berzinah berkali-kali. Dan si
Buyung, - meskipun dia masih muda, akan tetapi dia juga tak
dapat dipercaya, anak-anak muda sekarang tak lagi
memperdulikan ajaran agama dan adat. Mereka hanya
menurut kernauan dan nafsu saja. Dia sejak lama telah
meminta supaya diajar ilmu guna-guna. Tak lain tujuannya
untuk menggoda perempuan saja. Dia pun tukang berzinah
juga. Mereka semuanya berdosa, Wak Katok memutuskan
dalam hatinya. Akan tetapi mengapa hanya dosa-dosaku saja
yang harus dibongkar oleh Pak Balam?
Dan sebenarnya pula, apakah sungguh dosa yang telah
dilakukannya itu. Bukankah itu perbuatan per-….
**********
Halaman 106-107 hilang
**********
Karena itu mereka dengan penuh harap memandang
kepada Wak Katok. Wak Katok lama berdiam diri, air mukanya
menunjukkan seakan dia berpikir, kemudian dia kelihatan
mengambil putusan, karenanya lalu membuka mulut, dan
berkata:
"Tak mudah untuk memastikan apakah harimau itu
harimau biasa atau harimau jadi-jadian. Apakah kalian semua
memakai jimat pengusir harimau, ular dan binatang buas yang
lain? Jika Pak Balam memakainya, barangkali terlupa
dibawanya ke belakang ketika dia berhajat. Jika pernah
dilakukannya begitu, maka jimatnya tak mempan lagi, dan
harimau biasa akan berani menyerangnya."
Wak Katok lalu berdiri, dan mendekati Pak Balam,
memeriksa pinggangnya, tempat biasanya orang memakai
jimat. Yang lain datang mengingsut mendekati Pak Balam, dan
dengan penuh perhatian mereka memandangi tangan Wak
Katok memeriksa di balik celana Pak Balam, di pinggangnya.
Mereka melihat kain putih yang melilit pinggangnya, yang
berisi berbagai rupa jimat. Wak Katok memeriksanya satu
persatu, dan kemudian dia berpaling pada mereka, dan
berkata:
"Ada jimat pelawan binatang buas dipakainya. Soalnya kini
apakah tadi, ketika dia hendak melakukan hajatnya ke sungai,
jimat ini dipakainya, atau dilepaskannya. Ingatkah kalian,
ketika membawanya pulang tadi, apakah jimat ini masih
terikat di pinggangnya? Jika tidak, siapakah yang
mengikatkannya kembali ke pinggangnya?"
Tak seorang juga dapat memastikan apakah mereka
melihat tali jimat telah terpasang atau belum. Mereka
demikian sibuk dengan kedahsyatan serangan harimau dan
mengejar harimau untuk merebut Pak Balam kembali, hingga
tak seorang juga yang memperhatikan hal yang demikian.
Mereka telah mengganti celana dan pakaian Pak Balam, dan
tak seorang pun ingat apakah tali jimatnya selama itu terikat
pada pinggangnya.
Ketika tak seorang juga yang berani memastikan, maka
Wak Katok berkata: "Jika begitu terpaksa dicoba jalan lain.
Aku harus menanyakan kepada orang halus. Kerja ini
berbahaya juga. Baiklah kalian membelakangi aku. Dan
jagalah jangan Pak Balam sampai dapat melihat kepadaku."
Mereka mengubah duduk, membelakangi api dan melihat
ke dalam gelap hutan. Mereka hanya mendengar bunyi-bunyi
yang dibuat Wak Katok melakukan pemeriksaannya, dan tibatiba
mereka mencium bau menyan mengisi udara. Bau
menyan yang keras dan tajam yang datang menyerang
hidung, menimbulkan pikiran-pikiran dan ingatan-ingatan
kepada dunia dan makhluk gaib. Mengingatkan mereka pada
cerita hantu-hantu dan mayat-mayat yang hidup kembali,
kepada iblis, setan dan jin. Mereka mendengar suara Wak
Katok berbisik-bisik membacakan mantera-rnanteranya.
Mereka mendengar bunyi menggeram yang menakutkan
beberapa kali, yang rupanya ke luar dari tenggorokan Wak
Katok sendiri. Kemudian semua suara berhenti. Mereka
merasakan sekali kesepian dunia kecil mereka di dalam
lingkaran cahaya dan panas api. Tak ubahnya seakan mereka
sedang berada di dalam perut sebuah makhluk raksasa yang
maha besar, yang telah menelannya, dan mereka selamalamanya
tidak lagi akan dapat ke luar dari perut gelap dan
hitam yang besar.
Akan tetapi kemudian suara Wak Katok membangunkan
mereka, ketika mereka mendengar.
"Syukur alhamdulillah, harimau bukan harimau siluman.
Menurut darah di pisau," kata Wak Katok, dan menunjukkan
pada mereka belatinya. Di ujung belati kelihatan bekas darah
yang kini berwarna hitam, dan mereka melihat Wak Katok
mencicip ujung jari kirinya, yang bekas ditusuknya dengan
pisau belati.
"Jika harimau itu harimau siluman, maka darah di pisau
akan tetap tinggal merah setelah dibakar di api," kata Wak
Katok menerangkan. "Akan tetapi lihatlah, darahnya jadi
hitam, jadi darah biasa, dan karena itu darah harimau adalah
juga darah biasa, dan dia adalah harimau biasa."
Terdengar mereka semua menarik napas lega setelah
mendengar kata Wak Katok. Harimau biasa, meskipun
menakutkan, akan tetapi tidak begitu dahsyat menakutkan
seperti harimau siluman. Harimau biasa adalah binatang buas
biasa, yang dapat dilawan. Sedang harimau siluman tak
seorang manusia juga yang kuasa melawannya. Orang merasa
tak berdaya dan tak bertenaga sama sekali jika harus
menghadapi harimau jadi-jadian. Apalagi jika harimau siluman
menjadi pesuruh Yang Maha Kuasa untuk menghukum dosadosa
mereka. Menghadapi harimau demikian orang hanya
tinggal menunggu nasib saja. Menunggu terus-menerus dalam
ketakutan, hingga saat setiap orang tiba untuk dipanggil
kembali ke alam baka. Tetapi harimau biasa dapat dilawan.
Dan Buyung sendiri merasa mempunyai cukup kecakapan
menembak untuk memburu harimau biasa.
Dan yang lebih menyenangkan hati mereka lagi adalah, kini
persoalan harus mengakui dosa-dosanya telah
dikesampingkan. Kini tak perlu lagi mereka memeriksa dirinya,
dan melihat dan berhadapan dengan dosa-dosanya, yang
selama ini mereka simpan jauh-jauh di dasar ingatan,
kesadaran dan hati nuraninya. Tak seorangpun juga merasa
senang menelanjangi dirinya sendiri. Jangankan di depan
orang lain, meskipun pada dirinya sendiri, ketika orang
seorang hanya sendiri dengan dirinya, tak ada yang suka
bertentangan mata dengan hati nuraninya.
Wak Katok pun merasa senang dengan putusannya. Kini
pimpinan direbutnya lebih tegas di tangannya. Ada saat ketika
Pak Balam bercerita, seakan anak-anak muda yang lain
hendak memindahkan hormat, segan dan pimpinan mereka ke
tangan Pak Haji. Akan tetapi kini, Wak Katok dapat melihat
pada air muka mereka, juga dalam cahaya mata Pak Haji,
bahwa mereka semua berterimakasih padanya atas
ucapannya, dan sejak saat itu, mereka akan menerima
pimpinannya tanpa bertanya-tanya. Dia pun tahu pula, bahwa
mereka pun tak akan menyinggung-nyinggung cerita Pak
Balam, malahan akan berusaha untuk melupakannya, seperti
mereka juga selalu berusaha untuk melupakan dosa-dosanya
sendiri.
"Nah," kata Wak Katok, "harimau biasa dapat kita hadapi
bersama. Rasanya untuk malam ini kita akan aman. Harimau
biasa takut pada api. Karena itu harus kita jaga supaya api
tetap besar sepanjang malam. Untunglah cukup banyak kayu
tersedia. Esok pagi kita berangkat lebih siang sedikit. Pak
Balam rasanya tak akan kuat berjalan kaki, karena itu harus
kita pikul berganti-ganti. Esok baiklah kita buatkan usungan
untuknya. Membawa damar sambil mengusung Pak Balam
rasanya tak mungkin. Bagaimana yang baik Pak Haji, akan kita
tinggalkan keranjang yang berisi damar kita semua di sini, dan
kita berganti-ganti mengusung Pak Balam, atau kita tinggalkan
dua keranjang saja, dan kita berganti-ganti mengusung Pak
Balam dan membawa keranjang damar?"
Pak Haji berpikir sebentar sebelum menjawab, kemudian
berkata: "Aku kira sebaiknya kita tinggalkan saja damar di sini.
Kita bawa saja perbekalan makanan. Dengan demikian kita
dapat berjalan lebih cepat, dan tidak merasa terlalu letih
berganti-ganti mengusung Pak Balam. Kita harus cepat pulang
ke kampung."
Pikiran Pak Haji mereka terima.
Kemudian Wak Katok berkata, bahwa lebih baik mereka
mencoba tidur, supaya jangan terlalu letih esok hari. Akan
tetapi tak seorang juga dapat tidur nyenyak dan lama malam
itu. Bukan saja kejadian yang dahsyat masih menegangkan
urat syaraf dan perasaan mereka, dan erang Pak Balam yang
menderita sakit menusuk perasaan, akan tetapi hati nurani
pun secara tak mereka sadari tinggal resah dan gelisah. Dan
tak mudah dan tak cepat dapat menidurkannya kembali,
meskipun mereka coba sekuat-kuatnya.
Masing-masing penuh dengan perasaan dan pikiran tentang
diri sendiri dan tentang kawan-kawannya. Talib teringat pada
Siti Nurbaiti, anak gadis berumur tiga belas tahun yang
terdapat mati di ladang di luar kampung dan membuat heboh
seluruh daerah berbulan lamanya, kurang lebih dua tahun
yang lalu. Pakaian gadis itu koyak-koyak, dan menurut cerita,
dia diperkosa.
Sampai kini tak diketahui siapa yang memperkosa dan
membunuhnya. Siapakah yang berbuat demikian? Adakah dia
di antara mereka ini?
Dia merasa ikut berdosa juga, karena bukan sekali saja
timbul rasa berahinya melihat gadis umur tiga belas yang
badannya lekas menjadi dewasa itu, dengan buah dada yang
besar dan kencang mendorong baju kurungnya, raut mukanya
yang manis, dan cahaya matanya yang berani dan penuh
tantangan. Kemudian dia menutup pikiran dan menahan hati
nuraninya, ketika pikiran-pikiran serupa itu membawanya
terlalu dekat pada dosa-dosanya sendiri.
Pak Haji, Sanip, Sutan, Buyung dan Wak Katok pun tidur
gelisah. Meskipun mereka memicingkan mata, akan tetapi
pikirannya tak berhenti. Ketukan Pak Balam terhadap hati
nurani mereka masih berkumandang juga di dalam relung hati
dan pikiran, bergema ke bawah sadar. Pak Balam sendiri pun,
entah karena lukanya, entah karena hatinya, tidur lebih
gelisah lagi...
Api unggun menyala besar, melontarkan lingkaran cahaya
kecil di tengah gelap rimba raya menahan gelap yang hendak
menelan mereka. Bunyi hutan di malam hari yang penuh
dengan bunyi-bunyi rahasia dan gaib melingkari mereka.
Hati nurani manusia memburu-buru minta pengakuan.
5
Tak seorang juga yang dapat sungguh-sungguh tidur
sepanjang malam, dan ketika bunyi kokok ayam hutan yang
berderai-derai menandakan dini hari telah dekat, mereka pun
segera bangun. Kini mereka memandangi rimba sekelilingnya
dengan lebih awas dan cermat. Mereka memasak air dan
makan, mengambil air sembahyang dan sembahyang, dengan
selalu sebagian utama panca indra mereka memeriksa dan
mengamati rimba di sekelilingnya. Rimba yang kini
mengandung ancaman dan bahaya maut.
Mereka lebih khusuk lagi mendengarkan seruan Allahu
Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! yang diserukan oleh Pak
Haji, dan mereka lebih merasa dengan kesadaran yang amat
dalam, penyerahan dirinya ke bawah lindungan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Tak pernah rasanya mereka merasakan nikmat
sembahyang seperti pada pagi itu. Rasanya seakan mereka
amat dekat sekali pada Tuhan, seakan ketika kening mereka
tunduk menyentuh tanah, dan membacakan Subhana rabbial
a'laa - Maha Suci Tuhan Kami Yang Agung -- merebahkan
kepala mereka ke atas haribaan Tuhan, dan mendapat
pengampunan dan perlindungan dari Tuhan untuk selamalamanya.
Setelah selesai sembahyang hati mereka terasa lebih
tenang, dan kini mereka dapat menghadapi hari yang baru
dengan kepercayaan yang lebih besar.
Pak Balam kelihatan kini menderita demam ringan. Ketika
Wak Katok membuka betisnya untuk mengganti obatnya
dengan ramuan yang baru, kelihatan lukanya seakan kena
infeksi, daging luka yartg terbuka tidak berwarna merah yang
sehat akan tetapi kehitaman, dan nanah kelihatan mulai
menjadi. Ketika perbannya dibuka dan daun-daun ramuan
yang menutupi luka dibuka, dia menjerit kecil kesakitan. Luka
di punggungnya bekas cakaran harimau lebih buruk lagi.
Daging di sekeliling luka kelihatan menggembung dan
warnanya tak sehat.
Wak Katok kelihatan menggelengkan kepalanya, dan Pak
Haji pun kelihatan air mukanya seakan berat. Buyung, Talib,
Sanip dan Sutan pun mengerti apa arti luka itu. Pak Balam
harus segera dibawa ke kampung, dan dari kampung dibawa
ke kota, ke dokter. Biasanya jika luka telah menjadi demikian,
maka obat-obat kampung tak mempan lagi. Yang menderita
harus dibawa ke rumah sakit untuk ditolong oleh dokter.
Keningnya panas terasa ke tangan.
Dia pun tak hendak makan, akan tetapi hanya mau minum
kopi saja sedikit. Talib dan Buyung segera membuat,
usungan setelah mereka makan. Pak Haji, Wak Katok dan
Sutan mengemasi perbekalan makanan dan daging rusa ke
dalam dua buah keranjang, yang akan mereka pikul bergantiganti,
sambil berganti-ganti pula mengusung Pak Balam.
Keranjang-keranjang lain berisi damar yang harus mereka
tinggalkan disimpan baik-baik di dalam pondok.
Mereka baru berangkat setelah hari terang. Wak Katok
berjalan di depan membawa senapannya, di belakangnya
Buyung yang menyandang keranjang dan di tangannya parang
panjangnya yang terhunus, lalu Sanip juga membawa
keranjang dan parang terhunus, disusul oleh Talib dan Sutan
yang mengusung Pak Balam, dan di belakang sekali berjalan
Pak Haji, juga dengan parang terhunus. Menurut kepercayaan
mereka, harimau selalu menyerang dari belakang. Karena itu
tempat Pak Haji adalah yang paling berbahaya. Wak Katok
dengan senapannya sengaja tak berjalan di belakang, karena
dia harus menembak, jika bagian belakang diserang. Jika dia
berjalan di belakang, dan dia diserang, maka mungkin dia tak
sempat menembak, dan mereka semua akan jadi korban
harimau. Dengan cara susunan mereka berjalan seperti kini,
maka jika Pak Haji diserang, Wak Katok akan mendapat waktu
membidik dan menembak. Akan tetapi jika harimau
menyerang dari depan, bagaimanakah? Pertanyaan ini tak
mereka tanyakan. Dalam hidup tak selamanya orang dapat
bersedia menghadapi segala kemungkinan, dan mengambil
risiko selalu perlu.
Yang penting ialah bersiap-siap seperlunya dan kemudian
menghadapi apa yang akan dalang dengan tabah dan berani.
Berjalan mengusung Pak Balam tidak dapat mereka lakukan
dengan cepat. Apalagi jalan yang mereka tempuh masih licin,
dan mereka harus mendaki sejak meninggalkan sungai.
Beberapa kali yang lain terpaksa harus membantu Talib dan
Sutan, karena mereka berdua tak sanggup mengangkat
usungan sambil mendaki tebing.
Baru setengah jam berjalan, mereka telah harus digantikan
oleh dua orang lain. Demikianlah mereka berjalan dengan
susah payah hingga tengah hari, ketika Wak Katok memberi
isyarat supaya mereka berhenti, mengaso dan makan. Selama
itu Wak Katok tak pernah ikut mengusung. Dia terus berjalan
di depan dengan membawa senapannya. Yang lainpun
menerima kenyataan, bahwa Wak Katok tak usah ikut
mengusung, karena kini dialah yang menjadi pemimpin
rombongan. Pemimpin usaha mereka menyelamatkan Pak
Balam dan diri mereka semuanya. Karena itu dialah yang
berjalan paling depan. Dialah yang punya dan yang memegangsenjata
yang paling ampuh untuk menghadapi
harimau. Di tangan Wak Katoklah satu-satunya senjata yang
dapat menyelamatkan mereka. Wak Katoklah yang memegang
kunci keselamatan hidup mereka. Karena itu tak terlintas
sedikit juga dalam kepala mereka untuk membantah suruhan
Wak Katok.
Wak Katok pun dengan sendirinya menganggap dirinya
yang memberikan pimpinan dan perintah. Dia dengan
sendirinya pula mengharapkan mereka akan mengikuti segala
pimpinannya. Tak terpikirkan dalam kepalanya mereka akan
mempunyai pikiran atau pandangan yang lain.
Wak Katoklahyang tahubagaimana menyelamatkan mereka
semuanya dari ancaman harimau. Tidakkah dia yang
memutuskan, bahwa harimau itu adalah harimau biasa?
Bukankah dia maha pemburuyang disegani orang
kampungnya, dan yang telah membunuh tiga ekor harimau?
Harimau ini pun jika masih mengganggu mereka, akan
dibunuhnya juga.
Demam Pak Balam kelihatan tak kurang-kurang. Juga
kelihatan dia amat menderita sekali diusung demikian,
tergoncang-goncang dan terantuk-antuk. Dan sekali dia
menjerit kesakitan, karena Sutan tergelincir jatuh, dan
usungan terhempas ke tanah. Ketika mereka makan, dia pun
tak hendak makan, dan hanya minta minum saja.
Pak Haji mencoba menyuruhnya makan dengan
mengatakan, bahwa lebih baik dia mencoba makan sedikit,
supaya badannya jangan terlalu lemah. Akan tetapi setelah
dicobanya, Pak Balam merebahkan kepalanya kembali,
mengerang sambil menutup matanya, dan dengan suara
lemah mengatakan bahwa dia tak ingin makan. Dia hanya
mau minum kopi pahit sedikit.
Demamnya bertambah panas.
0oo0
DUA jam lewat setelah mereka meninggalkan tempat
bermalam di pinggir sungai, harimau tua yang kelaparan tiba
di sana. Dia mendatangi tempat mereka bermalam dengan
hati-hati sekali. Berbagai bau yang tinggal amat mengganggu
perasaannya.
Bau darah dan daging rusa yang melekat di keranjangkeranjang
berisi damar akhirnya menariknya ke dalam pondok,
dan setelah dia tak merasa syak dan takut lagi pada bendabenda
yang asing baginya, maka laparnya mendorongnya
merebahkan sebuah keranjang dengan tarikan kuku kaki
depan kanannya, dan dia segera menjilat-jilat sisi keranjang
tempat darah rusa yang kering melekat. Tetapi hal ini tak
memuaskannya. Dia mencari keranjang lain yangjuga berbau
rusa yang menimbulkan seleranya. Semua keranjang
dirobohkan dan di bongkarnya, akan tetapi kecuali bekas
darah yang kering, tak ada daging enak yang dapat
dimakannya. Dia menggeram-geram, kecewa dan marah, dan
menghembus-hembus berkeliling di tanah di sekeliling api
unggun yang telah padam.
Di antara bau rusa, bau manusia juga keras sekali tinggal,
dan bau manusia itu kini menimbulkan selera dan laparnya
yang amat sangat pula. Dia mencium-cium tanah mengikuti
jejak-jejak yang ditinggalkan kaki manusia yang tinggal di
tanah, dan dia bergerak menyeberangi sungai, dan kemudian
mencium-cium tanah kembali....
0oo0
"DARI sini ke tempat kita bermalam nanti, jalan tak begitu
sukar lagi, sudah menurun," kata Wak Katok, ketika mereka
selesai makan siang, "cobalah berjalan lebih cepat, supaya kita
tiba di waktu petang, lama sebelum magrib."
Ucapannya segera mengingatkan mereka kembali pada
harimau. Apakah harimau mengikuti mereka dari belakang?
Sebagai seorang pemburu yang mengikuti rusa? Akan tetapi
suasana rimba di siang hari itu tidak menunjukkan tandatanda
adanya harimau di dekatnya. Bunyi-bunyi margasatwa
yang biasa masih memenuhi hutan dan di atas pohon-pohon
yang tinggi mereka melihat beruk-beruk merah yang besar
melintas sambil memanggil-manggil.
Karena itu mereka merasa agak bersenang hati. Bunyi
pukulan burung pelatuk, yang datang dari jauh bergemagema,
lebih-lebih lagi menentramkan perasaan mereka.
Mereka kemudian berangkat meneruskan perjalanan dengan
hati yang lebih tak terganggu.
Wak Katok tetap berjalan di depan sekali. Mungkin
perasaan demikian yang membuat mereka agak lengah, dan
membiarkan Talib tinggal di belakang, kencing di pinggir jalan.
Yang lain berjalan terus sedang Talib membuka celananya
hendak kencing.
Mereka kembali teringat pada bahaya harimau, ketika
mendengar bunyi auman harimau yang amat dahsyat, yang
membekukan darah mereka, dan mengakukan otot-otot
mereka, hingga beberapa saat mereka tak dapat bergerak.
Auman harimau kemudian disusul oleh jerit Talib ketakutan
dan kesakitan, dan baru beberapa saat kemudian mereka
dapat bergerak. Baru darah mereka yang membeku dapat cair
kembali. Dan baru otot-otot mereka yang telah kaku, kembali
jadi liat dan dapat bergerak. Baru panca indera mereka yang
beku kembali bekerja. Mereka merasa tiba-tiba betapa suara
dan bunyi-bunyi margasatwa terhenti. Dan mereka dapat
mendengar pukulan napas dan denyut jantung mereka amat
kerasnya ke telinga. Mereka merasa takut yang amat dahsyat
sekali, yang segera pula dilawan oleh rasa setia kawan. Disela
pula oleh rasa hendak menyelamatkan diri masing-masing.
Semua ini terjadi hanya dalam beberapa saat, lapi waktu
mengalir amat lambat sekali. Kemudian ketika reaksi-reaksi
wajar mereka dapat bekerja kembali dengan cepat. Sutan dan
Sanip yang sedang mengusung Pak Balam menurunkan
usungan ke tanah. Buyung yang mendukung keranjang
menurunkannya cepat ke tanah, dan Wak Katok melompat
berlari ke belakang, menuju tempat Talib hendak kencing.
Yang kelihatan oleh mereka kini hanyalah keranjang yang
didukung oleh Talib terguling di tanah, parang panjangnya
yang terhunus terletak di tanah, dan bunyi berat lari harimau
yang menarik mangsanya ke dalam hutan.
Wak Katok menembak pun tak sempat, karena begitu dia
berpaling harimau telah menghilang melarikan korbannya.
Mereka melihat besarnya jejak itu. Akan tetapi tanpa berpikir
panjang mereka berlari ke dalam hutan mengikuti jejak dan
darah. Pak Balam tinggal terlupa sendirian di atas usungannya.
Mereka berteriak-teriak, berseru-seru sekuatnya dengan
harapan agar harimau melepaskan korbannya. Hanya
beberapa menit kemudian, akan tetapi rasanya berabad-abad
bagi mereka, mereka berhenti di depan pohon-pohon yang
tumbuh rapat, dan merupakan pagar yang lebat, dan mereka
jelas dapat mendengar harimau menggeram-geram. Mereka
melupakan bahaya terhadap diri mereka kini, penuh dengan
semangat dan naluri berburu yang terdapat dalam diri setiap
manusia. Ingat pada nasib kawan mereka yang berada di
dalam kekuasaan harimau, dan dengan parang terhunus
mereka menyerbu ke dalam pohon-pohon yang tumbuh rapat.
Rupanya harimau terkejut juga oleh serangan mereka yang
tak ubahnya seperti sepasukan setan yang datang mengamuk,
karena ketika mereka telah menembus pohon-pohon dan tiba
di tempat kecil yang terbuka, mereka melihat Talib terbaring
di tanah, tak sadarkan diri. Badannya penuh berlumuran darah
dari kepala hingga ke kaki, hingga mereka menyangka dia
telah mati. Darah merah membasahi tanah di sekelilingnya.
Pemandangannya sungguh mengerikan hati. Tetapi saat itu
bukan saat untuk merasa takut lagi. Dengan cepat tiga orang
mengangkat Talib, sedang Wak Katok dan yang lain berjagajaga.
Mereka cepat-cepat kembali ke tempat Pak Balam yang
mereka tinggalkan. Dalam hati mereka timbul pula rasa
kekhawatiran, jangan-jangan harimau kembali menyerang Pak
Balam sedang mereka tak ada. Akan tetapi tak seorang juga
yang mengeluarkan perasaan ini.
Sejak serangan harimau terhadap Talib tak seorang juga di
antara mereka yang berbicara. Hati dan perasaan mereka
penuh dilanda oleh pikiran dan perasaannya sendiri. Perasaan
dan pikiran yang belum mereka sadari telah datang
menyerang, karena seluruh panca indera mereka tertuju
kepada kedahsyatan serangan harimau.
Ketika tiba di tempat mereka meninggalkan Pak Balam,
dengan hati yang lega mereka melihat, bahwa Pak Balam
masih selamat. Pak Balam yang masih diserang demam,
mendudukkan dirinya di alas usungan, dan memandang
mereka datang membawa Talib yang berlumuran darah.
Seluruh muka Pak Balam yang telah pucat bertambah pucat.
Dia mendengar bunyi auman harimau yang dahsyat ketika
mula-mula menerkam Talib. Dia pun ikut menjerit ketakutan
ketika mendengarnya. Dan mendengar jerit Talib ketakutan
dan minta tolong, segala kedahsyatan yang dirasakannya
kemarin malam dirasakannya kembali. Dan ketika mereka
kemudian meninggalkannya sendiri di hutan, dia telah mati
entah berapa ribu kali. Mati ketakutan. Dan kembali jiwanya
tersiksa oleh kesadarannya, bahwa hukuman terhadap dirinya
dan diri kawan-kawannya belum selesai dan belum habis.
Terbukti, bahwa harimau itu datang kembali untuk memburu
dan menghukum dia dan kawan-kawannya. Teringat pula
olehnya bahwa kawan-kawannya mungkin belum hendak
mengakui dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah.
Mereka melihat, bahwa Pak Balam pun tahu apa yang telah
terjadi, dan tak seorang juga yang memberikan penjelasan
kepadanya apa yang terjadi.
Wak Katok menyuruh Buyung dan Sutan cepat membuat
usungan untuk Talib. Kini mereka hanya tinggal berlima yang
masih dapat berjalan. Wak Katok mengatakan, bahwa nanti
akan bermalam di bawah bukit, di pinggir anak sungai kecil,
setengah jam perjalanan dari tempat mereka kini.
Sebenarnya tempat bermalam mereka yang biasa masih
dua jam perjalanan lagi. Akan tetapi karena mereka tak dapat
mendukung keranjang sambil mengusung, maka Wak Katok
memutuskan, untuk mengusung Pak Balam dan Talib dahulu
ke tempat bermalam mereka yang lebih dekat, dan
meninggalkan kedua keranjang, dan kemudian menjemput
kedua keranjang berisi perbekalan makanan.
Segera setelah usungan untuk Talib selesai, mereka
meletakkan Talib ke atas usungan. Talib masih pingsan.
Kelihatannya luka-lukanya amat berat. Tak berani mereka
memeriksa luka-lukanya. Nanti saja di tempat bermalam, Wak
Katok akan mengobatinya. Jalan menuruni bukit licin dan
sukar dan dengan susah payah mereka menurun, dan tiba di
pinggir anak sungai. Di sana mereka cepat-cepat membuat
pondok yang lebih kuat dari biasa, dan memasang dahandahan
pohon melintang di tiga sisinya, kecuali yang
menghadap ke tempat api unggun, yang mereka biarkan
terbuka. Sebentar timbul pertukaran pikiran antara mereka
tentang apakah Wak Katok akan ikut mengawal mereka yang
mengambil keranjang dengan senapannya? Jika bertiga pergi
mengambil keranjang termasuk Wak Katok dengan
senapannya, maka hanya tinggal dua orang yang sehat dan
kuat untuk menjaga dua korban yang tak berdaya. Bagaimana
kalau harimau datang menyerang ke tempat pondok mereka?
Akan tetapi jika yang pergi mengambil keranjang tidak dikawal
dengan senapan, bagaimana jika harimau menyerang mereka
di tengah jalan? Mereka tak akan berdaya melawan harimau
dengan parang panjang saja. Dan jika Wak Katok yang pergi
mengawal yang mengambil keranjang dengan senapannya,
bagaimana dengan Talib, yang harus ditolong dan diobati
dengan segera? Siapa yang menolongnya? Akhirnya, dengan
perasaan enggan yang jelas kelihatan pada air mukanya, Wak
Katok menyerahkan senapannya kepada Buyung, dan berkata,
bahwa biarlah Buyung, Sutan dan Sanip yang pergi mengambil
keranjang dan dia dan Pak Haji tinggal di pondok.
Mereka akan memasang api unggun yang besar untuk
menakuti harimau, dan mereka akan segera memasak air
untuk membersihkan luka-luka Talib dan membuat obat
baginya.
Buyung membawa senapan Wak Katok. Diperiksanya
dengan cermat isi senapan. Dia berjalan paling depan. Mereka
bertiga melangkah cepat, dan memasang panca inderanya
setajam mungkin, masing-masing dengan pikirannya sendiri
yang kini datang mengetuk hati lebih keras, hingga akhirnya
Buyung tak dapat menahan dirinya dan berkata: "Apakah
barangkali benar juga Pak Balam, yang sejak tadi berkata,
bahwa harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita
yang berdosa?"
"Huusss, jangan sebut-sebut namanya, engkau ingin dia
datang menyerang kita?" kata Sutan cepat.
"Maaf, aku lupa tak boleh menyebut nama nenek di hutan,"
jawab Buyung, "tetapi apa tak mungkin Pak Balam benar, dan
kita harus mengakui dosa-dosa kita dan kita minta ampun
kepada Tuhan?"
"Entah, lebih baik jangan kita bicarakan kini. Biar nanti Pak
Haji dan Wak Katok yang memikirkannya," kata Sanip.
Mereka bertiga diam kembali, dan bergegas.
0oo0
APABILA mereka kemudian telah tiba kembali di tempat
mereka bermalam di pinggir anak sungai, senja telah dekat.
Dari jauh mereka telah melihat nyala api unggun di depan
pondok. Dengan hati yang amat lega
Sanip dan Sutan menurunkan keranjang ke tanah, dan
Buyung mengembalikan senapan kepada Wak Katok. Talib
terlentang di atas tanah di dalam pondok. Di sampingnya
terbaring Pak Balam. Talib masih belum sadar, akan tetapi
luka-lukanya telah diobati dan dibatut oleh Wak Katok dengan
kain sarung yang disobek-sobek. Kain sarung yang membatut
luka-lukanya, sekeliling dadanya, kedua kakinya, tangannya,
basah dengan darah merah. Mukanya pucat sekali, dan
napasnya berat dan perlahan.
Pak Balam kelihatan juga bertambah panas demamnya.
Matanya terbuka memandang ke alas, dan sebentar-sebentar
dengan suaranya yang lemah dia berkata: "Akuilah dosa
kalian, akuilah dosa kalian. Harimau itu dikirim Tuhan untuk
menghukum kita." Ketika mereka bertanya kepada Wak Katok
bagaimana dengan luka-luka Talib, Wak Katok menggelengkan
kepalanya, dan berkata, bahwa ia tak banyak harapan Talib
akan dapat selamat.
"Dadanya hancur dicakar, pahanya hancur digigit, sampai
terbuka ke tulang. Kalau dia masih dapat sadar, masih
untung," kata Wak Katok. Tak ubahnya seakan Talib dapat
mendengar kata-kata Wak Katok, karena ketika itu dia
membuka matanya, dan bibirnya bergerak seakan hendak
berkata. Mereka mendekatkan diri, membungkuk di atas
kepalanya hendak mendengarkan apa katanya.
"... dosa ... aku berdosa ... mencuri ... curiiiii, ampun
Tuhan.... la ilaha illl ..." tiba-tiba napasnya terhenti, badannya
mengejang, matanya seakan terbalik, dan Talib lalu berhenti
hidup. Dia telah mati.
Mereka berpandangan.
Seorang dari mereka kini telah mati akibat serangan,
harimau, yang menurut Pak Balam dikirim Tuhan untuk
menghukum mereka yang berdosa. Mungkinkah Pak Balam
benar? Dan harimau itu bukanlah harimau biasa? Akan tetapi
harimau yang dikirim oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, harimau
gaib, yang datang untuk menghukum mereka? Apa daya
mereka terhadapnya, selain menyerahkan diri kepada Tuhan?
Jika memang telah tersurat, bahwa mereka harus mati
diterkam harimau di tengah hutan karena dosa-dosanya, maka
haruslah mereka menerima takdir yang demikian.
Akan tetapi dalam bawah sadar mereka nafsu hidup tetap
menyala dengan kuat. Malahan kini, di tengah ancaman yang
dahsyat, menyala lebih besar dan lebih kuat lagi. Mereka
hendak hidup terus, mereka hendak ke luar dari hutan,
mereka hendak meninggalkan rimba dengan selamat. Mereka
hendak pulang ke kampungnya. Mereka hendak kembali
kepada istri dan anaknya. Mereka hendak mencinta kembali.
Mereka hendak hidup kembali di tengah manusia. Mereka tak
hendak mati diserang harimau yang ganas dan zalim. Bawah
sadar mereka berteriak menyuruh mereka berjuang, berkelahi,
bertarung untuk mepertahankan hak hidupnya.
"Apa Talib mencuri? Apa yang dicurinya?" kata Pak Haji,
memandang kepada Sanip, Buyung dan Sutan berganti-ganti.
Mereka bertiga berpandangan, dan Buyung cepat
menjawab: "Aku tak tahu apa maksudnya."
Akan tetapi di wajah Sanip dan Sutan seakan timbul
keraguan, dan ketika Sutan dan Sanip berpandangan, seakan
mata Sutan hendak menyampaikan peringatan kepada Sanip,
supaya berhati-hati, dan jangan mengatakan sesuatu apa.
Akan tetapi pada saat itu pikiran Pak Balam berada di saatsaat
yang cerah, dan rupanya mendengarkan kata-kata
mereka. Karenanya Pak Balam berkata: "Belum juga kalian
sadar dan insaf. Talib telah mati. Aku akan menyusulnya tak
lama lagi. Aku tahu, badanku tak kuat lagi menahan demam
ini. Akuilah dosa-dosa kalian, supaya kalian diselamatkan
Tuhan. Syukurlah Talib masih sempat mengakui dosanya.
Tobatlah!"
Kemudian dia terdiam, demamnya kembali menguasai
otaknya, dan matanya yang terbuka memandang kaku jauh
melewati pondok, melewati puncak-puncak pohon di pinggir
anak sungai terus sampai ke cakrawala, entah apa yang
dilihatnya.
Tiba-tiba Sanip berdiri seakan tak kuat lagi menahan
dirinya, dan berkata dengan suara yang tegang: "Tidak Sutan,
aku mesti berbicara ..."
Tetapi Sutan melompat mendekatinya dan memegang bahunya:
"Jangan, tutup mulutmu, apa gunanya."
"Tidak," seru Sanip, sesuatu cahaya ganjil timbul dalam
matanya, seakan sesuatu menyelinap ke dalam dirinya dan
memaksanya untuk berkata, dan ini diinsafi oleh Sutan yang
berkata kepadanya dengan suara tegang penuh desakan.
"Jangan, ingat sumpahmu...!"
Tetapi Sanip tak lagi dapat menahan dirinya, dan berseru:
"Memang kami berdosa, kami... Talib, aku dan ...: ketika dia
baru sampai berbicara di sana, Sutan memperkuat
pegangannya di bahu Sanip, dan dengan suara yang keras
berkata: "Sanip!"
Akan tetapi Sanip melepaskan pegangan tangan Sutan dari
bahunya, dan berpaling kepada yang lain. Sutan bertekad
untuk menghentikan Sanip, dan dia melangkah mendekati
Sanip, dan kemudian dengan gerakan tangan dan kaki yang
cepat dia menjatuhkan Sanip ke atas tanah. Sanip membela
diri, dan menghela Sutan jatuh ke tanah. Di tanah mereka
berdua bergumul.
Dengan susah payah yang lain menceraikan mereka.
Selama itu terjadi Wak Katok duduk saja diam-diam
memegang senapannya. Setelah mereka dilerai, Buyung
memegang Sutan, dan Pak Haji memegang Sanip, dan Pak
Haji berkata:
"Sabar, sabarlah, mengapa kita dengan kita berkelahi,
sedang kita semua dalam bahaya besar? Mengapa kalian
berkelahi sebenarnya?"
"Aku hendak mengakui dosa-dosaku," kata Sanip dengan
napas terengah-engah, "biarlah Sutan marah karena aku
melanggar janji atau sumpah. Tetapi aku tak tahan lagi.
Karena aku juga, maka Talib telah jadi korban harimau. Kami
bertiga, Talib, Sutan dan aku, enam bulan yang lalu, yang
mencuri empat ekor kerbau Haji Serdang di kampung
Kerambi..." dan dia melihat kepada Sutan, siap untuk
mempertahankan dirinya, jika Sutan menyerangnya kembali.
Akan tetapi Sutan seakan kini tak perduli lagi terhadap apa
yang hendak dikatakan oleh Sanip. Dia duduk di tanah,
dadanya turun naik, karena napasnya masih kencang, dan dia
hanya melihat saja ke tanah.
"Kami bertiga mencurinya malam-malam, dan ketika
penjaga kerbau mengetahui pekerjaan kami, maka Talib yang
menikamnya, hingga dia rubuh. Dia tak mengenal kami, dan
kami berhasil melarikan kerbau dan menyembelih kerbau dan
menjual dagingnya ke kota. Penjaga kerbau tak mati. Itulah
dosa kami bertiga, tapi Sutan tak suka aku ceritakan."
"Apa lagi dosa-dosaku ..." Sanip tertegun, dalam hatinya
teringat pada rahasianya, ketika dia berumur sembilan belas
tahun, pergi ke kota, dan berkunjung ke rumah perempuan
lacur. Akan diceritakankah ini? Ini terang dosa juga yang amat
dilarang oleh Tuhan. Akan diceritikankah? Atau ketika dia
masih kecil, sering benar dia mencuri durian, mangga, duku.
Dan waktu dia kecil, disuruh mengaji, sedang dia ingin pergi
main bola, hingga dia menendang Qur'an di tengah jalan ke
mesjid tempatnya mengaji. Dia melawan pada ibunya. Hawa
nafsu yang timbul dalam dirinya tiap kali dia melihat
perempuan yang cantik. Hawa nafsu yang membakar perutnya
selama mereka tinggal di ladang Wak Hitam dan dia setiap
hari melihat Siti Rubiyah.
Akan diceritakan semua ini dan banyak lagi yang lain? Dia
ingat, bahwa dia telah melakukan segala dosa, besar dan
kecil. Dia telah merasakan dalam dirinya hawa nafsu setan,
rasa dengki, syirik, cemburu, kesombongan hati, kekejaman,
kekikiran. Dia pernah menghina orang miskin. Dia pernah
menertawakan orang yang cacad, dia pernah ... oh, semuanya
yang tak baik pernah dilakukannya. Dia pernah tak patuh pada
orang tuanya. Dia pernah kurang ajar kepada orangyang lebih
tua dari dirinya. Akan diceritakan semua ini? Akan tetapi jika
diceritakannya, apa lagi yang tinggal dari dirinya. Dia akan
tinggal telanjang! Dirinya akan kehilangan lapisan
pelindungnya selama ini, yang membuat diri serupa dengan
orang lain. Kulit rahasia yang melapisi pribadi setiap
orangyang melindungi seseorang dari orang lain. Jika
diceritakannya semua, jika dilepaskannya lapis pelindungnya
ini, maka dia akan tak berdaya menghadapi orang lain. Dia
tahu, bahwa sebagian terbesar orang bersikap kejam terhadap
orang yang tak berdaya. Jarang sekali orang yang timbul belas
kasihan terhadap orang yang tak berdaya. Kebanyakan orang
bersikap kejam dan hendak menindas orang yang tak berdaya.
Mungkin karena kebanyakan orang melihat dalam diri orang
yang tak berdaya itu kemungkinan bahwa dia pun dapat
berganti tempat dengan orang yang tak berdaya itu, dan
karena itu timbul rasa benci dan kejamnya, dan hendak
dihapuskannya orang-orang yang tak berdaya dari permukaan
bumi ini, supaya mereka jangan teringat pada kemungkinan
dirinya akan dapat jadi demikian pula.
Akan tetapi jika dia berdiam diri, tidaklah pula mungkin dia
akan harus menebus dosanya dengan mati diterkam harimau?
Dan dia tak hendak mati. Dia merasa dirinya masih terlalu
muda untuk mati. Dia masih hendak hidup terus.
Dia terkejut mendengar kata Wak Katok, yang berkata
dengan suara keras dan tajam: "Sanip, berbicaralah! Aku
sebagai pemimpin rombongan berkewajiban untuk
menyelamatkan diri kita semuanya. Menurut tenunganku
harimau itu harimau biasa, akan tetapi mungkin pula harimau
siluman seperti yang dikatakan Pak Balam. Kita tak boleh lebih
memarahkannya. Baiklah engkau mengaku terus terang dosadosamu,
dan minta ampun kepada Tuhan."
"Akan tetapi," kata Sanip, yang masih mencoba untuk
mengelakkan diri dari keharusan menelanjangi dirinya,
"apakah aku sendiri yang berdosa? Mengapa aku sendiri yang
harus mengakui dosa-dosaku? Bukankah aku telah mengakui
dosaku mencuri kerbau?"
"Semuanya, semua dosamu harus engkau akui," terdengar
suara Pak Balam yang lemah, yang mendengarkan percakapan mereka.
Sanip terdiam, enggan benar hatinya hendak mulai.
Sedangkan mengakui dosa-dosanya dalam hati sendiri sudah
amat susah, bagaimana akan mengakuinya di hadapan orang
lain, meskipun kawannya sendiri?.
"Yang lain pun akan mengakui dosa-dosanya," kata Wak
Katok, suaranya keras dan tajam, "jika perlu aku paksa
dengan ini," dan dia menggerakkan senapannya.
Buyung terkejut.
"Setelah Sanip lalu Sutan, kemudian Buyung, dan kemudian
Pak Haji. Dosa-dosaku, telah kalian dengar diceritakan oleh
Pak Balam," katanya dengan suara pahit, "semuanya kita
membersihkan diri, dan minta ampun kepada Tuhan. Mogamoga
si nenek akan pergi meninggalkan kita. Ayoh, mulailah,
Sanip. Tak banyak waktu tinggal. Sebentar lagi malam tiba,
dan dalam gelap entah apa yang akan terjadi."
Dalam hatinya Buyung mengambil tekad tidak akan
menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Siti
Rubiyah, biarlah dia mati, ditembak oleh Wak Katok atau
diterkam harimau sama saja.
Orang mati hanya sekali, pikirnya, tetapi noda yang
tergores di kening dibawa seumur hidup!
Daya Sanip menguasai dirinya patah di bawah ancaman
Wak Katok. Dia lalu bercerita. Semuanya diceritakannya. Tak
ada satu pun yang ditahan-lahannya. Dan dalam bercerita
mulai pula terasa kelegaan dalam hatinya. Akhirnya dia pun
terlepas pula dari tekanan dosa-dosa yang selama ini melekat
di jiwanya.
Buyung mendengarkan dengan penuh takjub. Berbagai
perasaan timbul dalam hatinya. Perasaan marah, kecewa,
kesal, jijik. Mungkinkah Sanip bercerita sekarang adalah Sanip
kawannya selama ini? Sanip yang periang, Sanip yang
termasuk orang baik-baik di kampung, yang dihormati dan
disayanginya, dan dipercayainya selama ini? Ternyata dia
seorang tukang berzinah, seorang pencuri, seorang pendusta?
"Sekarang engkau. Sutan," kata Wak Katok.
Tetapi Sutan duduk saja di tanah, kepalanya menunduk ke
tanah, dan dia tak bergerak, seakan tak mendengar kata Wak
Katok.
"Sutan!" kata Wak Katok dengan suara yang lebih keras.
Sutan diam juga, tak bergerak-gerak.
"Baiklah, cukuplah Sanip saja malam" ini, kalian masih
terkejut, masih ketakutan dan risau pikiran dan hati," kata
Wak Katok kemudian, "akan tetapi esok pagi baiklah kalian
mengakui dosa-dosa kalian semuanya."
Tak seorang juga hendak makan kemudian, setelah mereka
sembahyang magrib. Sembahyang pun mereka dikawal mulamula
oleh Wak Katok, dan kemudian Wak Katok yang
sembahyang, sedang Buyung berjaga-jaga memegang
senapan.
Malam itu tak seorang juga yang dapat tidur. Mereka selalu
ingat pada perkataan Wak Katok: "Esok pagi kita kuburkan
Talib."
Dan sepanjang malam mereka duduk mengelilingi Talib,
mendoa, dan membaca ayat-ayat Qur'an. Buyung teringat
pada isteri dan anak-anak Talib di kampung. Bagaimana
mereka nanti menerima kabar kematian-nya. Akan heboh
besar di kampung, jika mereka pulang. Di sini pikirannya
terhenti, dan takutnya timbul. Dapatkah mereka yang masih
hidup pulang selamat ke kampung? Bacaan doa-doa mereka
tak henti-hentinya diiringi oleh erang Pak Balam, yang
demamnya semakin panas, dan tiap sebentar berbicara tak
keruan. Kata-kata dosa, bersalah, ampun Allah, silih berganti
ke luar dari mulutnya. Pak Haji tiap sebentar menggosok
kening Pak Balam yang basah. Lukanya kelihaian membusuk
sekali. Kakinya gembung di bawah bungkusan kain.
Demikianlah mereka, seorang yang telah jadi mayat, yang
terbujur di tanah, seorang yang menanti mautnya, terbujur di
sebelah mayat, dan mereka berlima duduk dekat yang mati,
dan yang akan mati, di dalam lingkaran api unggun. Mereka
yang hidup dan yang mati di lengah hutan belantara. Dan di
luar lingkaran cahaya di dalam gelap rimba belantara, mereka
seakan merasakan kehadiran harimau yang ganas, yang
mundar-mandir, menunggu kesempatan dengan tak sabar. Di
telinga mereka seakan masih terdengar bunyi aumannya yang
dahsyat, dan pekik Talib. Kini hati mereka bertambah susah
lagi dari kemarin malam.
Kini ancaman terasa lebih dekat dan lebih dahsyat. Dan
rasa tak berdaya tambah terasa. Seakan pegangan tangan
dengan jari-jari es yang sejuk memeras-meras hati mereka. Di
dalam setiap kegelapan, di belakang setiap daun, di belakang
setiap pohon, di belakang setiap dahan dan di belakang setiap
bunyi mereka seakan mendengar bunyi tapak harimau yang
melangkah dengan halus dan hati-hati mendekati, mendekati,
mendekati, mendekati....
6
Esok paginya setelah mereka sembahyang subuh, lalu
menyembahyangkan mayat Talib, dan pagi itu juga mereka
menggali kuburan untuk Talib di tempat yang tinggi, hingga
jika anak sungai banjir, di musim hujan, maka kuburan Talib
tidak akan terendam air. Mereka menyusun batu-batu sungai
di sekeliling kuburan, dan Pak Haji mengatakan, nanti akan
membuatkan batu kepala kuburan di kampung untuk dipasang
nanti jika kembali ke hutan.
Mereka tak banyak berbicara ketika Pak Haji memandikan
mayat Talib. Tubuhnya bekas gigitan dan cakaran harimau
amat menyedihkan dan mengerikan. Dadanya kelihatan
seakan hancur sama sekali, dan pahanya belah dan rusak.
Belum lagi ratusan luka lain yang lebih kecil di seluruh
badannya. Mukanya pun penuh luka akibat diseret harimau ke
dalam hutan.
Pak Haji memandikan dan membersihkan badan Talib, dan
kemudian membungkus mayat dengan kain sarung yang
bersih. Mereka menyembahyangkan mayat. Lalu mereka
usung mayat ke kuburannya. Setelah lobang kuburan ditutup
kembali dengan tanah, maka batu-batu mereka susun di atas
kuburan. Dan Pak Haji kembali membacakan doa-doa.
Beberapa waktu mereka duduk mengelilingi kuburan,
masing-masing dengan pikiran sendiri, sehingga akhirnya Wak
Katok berkata: "Marilah kita berangkat lagi."
Akan tetapi ketika mereka tiba di pondok, kelihatan Pak
Balam menghadapi krisis demamnya. Seluruh badannya amat
sangat panas, dan dia mengigau terus-menerus, menyebutnyebut
dosa dan minta ampun kepada Allah, dan menyuruh
mereka meminta ampun dan mengakui dosa-dosanya.
Wak Katok berkata, bahwa tak mungkin membawa Pak
Balam sedang sakil demikian. Lebih baik mereka menunggu
dahulu sehari lagi. Buyung mengusulkan agar mencoba
memburu harimau. Usul Buyung mula-mula mereka terima
dengan terkejut.
Buyung berkata:
"Lebih baik kita memburunya daripada kita membiarkan dia
memburu kita seperti selama dua hari ini."
Setelah habis terkejutnya, Sutan menyokong usul Buyung.
Wak Katok berkata, bahwa dia hendak membawa Sanip dan
Buyung saja, biarlah Sutan dan Pak Haji tinggal menjaga
pondok.
"Nyatakan terus api unggun, insya Allah harimau tidak akan
berani mendekat," katanya.
Mengingat bahwa akhirnya kini akan berkelahi dan akan
menghadapi musuh, kerusuhan hati mereka yang akan pergi
memburu harimau mulai didorong ke belakang oleh gairah
berburu yang timbul dalam dirinya. Berburu mereka tahu.
Menghadapi harimau yang akan mereka buru, adalah
berlainan dengan menjadi korban yang diburu-buru, dan
merasa tak berdaya. Kini seakan mereka kembali memegang
tali nasib di tangan sendiri. Merekalah yang memberi putusan,
yang mengambil putusan, yang berbuat, mereka yang
memburu. Rasa manusia mereka kembali jadi kukuh dan
menyala. Mereka masak makanan pagi cepat-cepat, dan
membungkus makanan untuk dibawa oleh Wak Katok, Buyung
dan Sanip.
"Kami akan pulang sebelum magrib," kata Wak Katok
kepada Pak Haji, "rebuslah ramuan obat waktu tengah hari
untuk Pak Balam. Paksakan supaya diminumnya."
Kemudian Wak Katok berangkat dengan Buyung dan Sanip
menuju ke tempat harimau menyerang Talib. Mereka yang
tinggal memandangi mereka sampai hilang di antara pohonpohon,
dan tinggallah Pak Haji dan Sutan berdua menjaga Pak
Balam. Keduanya merasa lebih tak berdaya lagi ditinggalkan
tiga orang kawannya. Adanya Pak Balam yang sakit, yang
telah diserang harimau, lebih lebih mengecilkan hati dan
mematahkan semangat. Setiap saat mereka merasa takut
harimau akan datang menyerang. Apa daya? Senapan dibawa
oleh Wak Katok. Dalam hati masing-masing timbul rasa
penyesalan dan kesal terhadap Wak Katok yang membawa
Buyung dan Sanip. Juga timbul rasa iri hati terhadap Buyung
dan Sanip yang beruntung dipilih oleh Wak Katok
mengiringinya.
Bagaimanapun juga mereka bertiga mempunyai senapan,
senjata terampuh yang mereka miliki terhadap harimau, dan
mereka berdua ditinggalkan begitu saja menjaga Pak Balam
tanpa senjata, kecuali parang yang tak banyak gunanya
dipakai melawan harimau.
Sutan dan Pak Haji dikejutkan oleh setiap bunyi dan gerak
yang mereka dengar dan lihat dalam hutan di sekelilingnya.
Dan jika tiba-tiba beruk-beruk berhenti berteriak-teriak, maka
mereka akan berpandangan, khawatir bahwa harimau lelah
tiba dekat mereka.
Dan jika beruk-beruk berbunyi-bunyi kembali, maka
keduanya menarik napas lega, untuk kemudian menegang
kembali, mendengar suara berdetak di balik pohon dan daundaun
di sekelilingnya. Dan igauan Pak Balam yang demamnya
bertambah tinggi tidak membantu menenangkan hati mereka.
Sebaliknya hanya menginginkan ketegangan dan ketakutan hati saja.
Dalam hatinya Sutan sekali-sekali ingin melihat Pak Balam
cepat saja mati, supaya jangan lagi telinganya mendengar
seruan-seruan Pak Balam agar mereka mengakui dosadosanya.
Jika igauan Pak Balam sedang menjadi-jadi, maka
Sutan menutup telinganya, membutakan hati dan pikirannya.
Dia merasa seakan dalam dirinya sesuatu meronta-ronta
merenggut-renggut minta dibukakan pintu.
Sutan tahu, bahwa dia tak boleh membuka pintu dalam
hatinya untuk yang merenggut-renggut dan meronta-ronta itu.
Pintu harus ditutupnya sekeras-kerasnya. Mengapa Pak Balam
tak berhenti mengigau? Mengapa dia harus saja menyebutnyebut
tentang dosa? Tidakkah cukup Talib dan Sanip yang
telah mengakui dosa-dosanya.
Untuk Wak Katok cepat pergi memburu harimau, jika tidak,
dan dia memaksa agar supaya mereka mengakui dosadosanya,
maka Sutan tak tahu apa yang akan dibuatnya. Dia
tak hendak mengakui dosanya. Selama-lamanya tidak.
Mengingatnya saja pun dia tak mau, apalagi untuk
mengakuinya kepada orang lain.
Dia dapat mengingat dosanya seperti di waktu bulan puasa
dia makan sembunyi-sembunyi, akan tetapi waktu berbuka,
terus juga mengaku dia telah berpuasa sehari penuh, atau
ketika dia merokok bersembunyi di dalam kakus, sedang
ayahnya telah melarangnya merokok. Atau dusla-duslanya
kepada ibu dan kawan-kawannya, atau kepada istrinya sendiri.
Dan teringat pada ini, hatinya tak terganggu sama sekali. Dia
juga dapat ingat pada pencurian kerbau yang mereka lakukan.
Dan ini pun tak terlalu menggangu hatinuraninya. Hampir oleh
setiap orang di kampung ada saja yang telah dicurinya,
pikirnya, kalau bukan kerbau, maka kambing, bukan kambing,
ayam, bukan ayam, ikan, bukan ikan, buah kelapa, atau yang
lain. Dia tahu sebagai penyamun, dan mereka hidup selamat
sampai hari tuanya. Malahan ada seorang yang lelah berumur
delapan puluh tahun, dan jika lagi senang bercerita, maka
dengan bangga akan menceritakan bagaimana dia di waktu
mudanya menyamun pedali-pedati yang membawa barangbarang
dagangan ke hari pekan dari desa ke desa yang lain.
Perbuatan penyamunan demikian, malahan dianggap sebagai
perbuatan berani dan gagah, dan bukan dosa dan kejahatan.
Dan tentang perempuan. Ya, dia pun tak luput dari berdosa
demikian, akan tetapi ini pun apakah sungguh merupakan
dosa besar yang tak dapat diampuni, dan harus dihukum
dengan mengirimkan harimau untuk membunuh mereka?
Berapa banyak orang lain yang lebih terhormat dan lebih
mulai kedudukannya yang berbuat demikian pula. Dan
bagaimana dengan datuk-datuk yang kawin di mana-mana,
tiap tahun menceraikan istrinya, dan kawin lagi, dan dengan
cermat menjaga supaya jumlah istrinya tidak melebihi empat
orang batas seperti ditetapkan di dalam Qur'an. Apakah
mereka tak berdosa juga sebenarnya? Bagaimana dengan
ulama Syekh Haji Bakaruddin, yang sejak dia berumur dua
puluh lima tahun hingga tujuh puluh tahun telah kawin tak
kurang dari empat puluh lima kali, jadi tepat tiap tahun dia
mengganti seorang istri, dan tiap kalinya seorang anak perawan?
Akan tetapi ada kata yang meronta-ronta jauh di bawah
lubuk hatinya, "apa yang engkau lakukan adalah kebiadaban
gelap dan hitam, dan adalah dosa dahsyat”
“Diaammmmm! Diam engkau!" Sutan tiba-tiba berteriak,
menyuruh hatinya diam, dan menyuruh Pak Balam yang masih
terus mengigau supaya diam. Kini arus kenangannya. Dia
teringat suatu hari, ketika dia kembali dari memasang jerat
untuk menangkap burung balam, dan jerat dipasangnya di
ladang yang ditinggalkan orang di luar kampung. Dan dia
sedang duduk bersembunyi di bawah pohon dadap, dia
melihat Siti Nurbaiti, gadis berumur tiga belas tahun masuk ke
ladang. Dia membawa sebuah keranjang kecil, dan datang ke
ladang untuk memetik buah rimbang, karena banyak
pohonnya tumbuh di ladang kosong.
Siti Nurbaiti anak yatim piatu di kampung, dan dia tinggal
dengan neneknya yang sudah tua. Dialah yang bekerja
mencari sayuran atau kayu bakar. Bagaimana terjadi apa yang
terjadi kemudian, kini pun tak jelas dapat diingat oleh Sutan.
Mungkin hawa nafsu iblisnya terbangun melihat buah dada
anak gadis itu yang kelihatan, karena pakaian yang dipakainya
sudah koyak bagian depannya.
Dia mendatangai anak itu, dan mengatakan dia akan
menolongnya memetik buah rimbang. Dan kemudian dia
memeluk anak itu, dan melemparkannya ke tanah, dan
kemudian ... ketika anak itu melawan.... dan dia ... dan dia ...
Sutan berteriak berseru "diam! diam!" dan melompat hendak
mencekik Pak Balam, hendak mendiamkan mulutnya yang
terus mengigau --dosa—dosa-dosa akui-akui dosa kalian, dosa kalian.
Pak Haji terkejut, dan dengan susah payah menarik Sutan
dari Pak Balam. Pak Balam kini terdiam, hanya napasnya saja
yang terdengar amat berat tertahan-lahan.
Pak Haji tetap memegang Sutan yang bernapas kencang,
matanya memandang liar.
"Mengapa engkau, Sutan?" kata Pak Haji tajam.
Sutan melepaskan dirinya dari pegangan Pak Haji, memijit
kepalanya dengan kedua tangannya: "Mengapa dia tak mau
diam? Tak tahan aku mendengarnya lagi, siang dan malam
hanya dosa, dosa, dosa saja yang disebutnya. Mengapa dia tak mati?"
Sutan berdiri, dan tiba-tiba seakan dia mengambil putusan,
dia mengambil parangnya, dan berlari-lari kecil meninggalkan
tempat mereka bermalam, masuk hutan, menyusul arah Wak
Katok, Sanip dan Buyung pergi.
Pak Haji ternganga saja, dan baru setelah Sutan
menghilang di antara pohon-pohon, dia dapat bersuara dan
berseru: "Sutan, Sutan! Ke mana engkau? Mari kembali!"
Akan tetapi hanya suara beruk yang menghimbau-himbau
saja yang menyahut seruan Pak Haji.
0oo0
Wak Katok, Buyung dan Sanip telah dua jam mengikuti
jejak harimau dari tempat harimau menyerang Talib. Jejaknya
mudah diikuti, karena tanah di hutan lembab sekali.
Mata mereka yang pandai membaca jejak dapat melihat,
bahwa harimau itu amat besar sekali. Jarak dari jejak kaki
belakangnya ke kaki depannya lebih dari enam langkah,
menandakan bahwa harimau itu panjang dan tinggi, dan
menunjukkan pula, bahwa umurnya lelah lanjut dan tua.
Selelah mereka berhasil melepaskan Talib dari terkaman
harimau, kelihatan harimau lalu lari lebih jauh ke dalam hutan,
akan tetapi kemudian jejak harimau kembali ke tempat Talib
diterkamnya, dan kembali ke tempat Pak Balam ketika
ditinggalkan, dan kemudian memintas kembali ke dalam
hutan. Harimau itu meninggalkan jalan yang mereka tempuh,
karena rupanya perhatiannya teralih oleh seekor babi yang
tercium olehnya di dalam hutan tak jauh dari jalan yang
mereka tempuh. Mereka dapat lihat jejak harimau mengikuti
jejak babi. Babi itu belum merasa bahwa dia diikuti oleh
seekor harimau, karena langkahnya teratur kelihatan di tanah.
Babi menuju sebuah tempat minum di tengah hutan. Dandi
sini kelihatan, bahwa harimau mencoba menerkam babi, akan
tetapi gagal, karena di pinggir tempat minum kelihatan jejakjejak
harimau dan babi yang kacau, dan jejak babi lari
menyeberangi tempat minum terus ke dalam hutan, dan jejak
harimau mengejarnya. Akan tetapi setengah jam berjalan
kemudian kelihatan jejak babi lari terus, sedang jejak harimau
berhenti mengejar babi dan berpaling kembali ke arah jalan
yang telah mereka tempuh. Hati mereka berdebar melihat
perubahan arah jejak harimau. Mereka mengikuti jejak itu
hingga ke pinggir sebuah sungai kecil, dan di sana harimau
berhenti sebentar minum air, kemudian masuk ke sungai.
Akan tetapi ketika mereka tiba di seberang, mereka tak
melihat jejak harimau timbul di seberang sungai.
"Akan perlu waktu untuk mencari jejaknya kembali," kata
Wak Katok, dan dia melihat ke langit mencari matahari yang
terlindung di balik daun-daun kayu. "Lebih baik kita makan
dahulu. Telah tengah hari. Tak banyak waktu tinggal. Kita
mesti pulang ke tempat bermalam sebelum maghrib."
Mereka makan siang di pinggir sungai kecil. Wak Katok
menaksir bahwa dari tempat mereka makan ke tempat mereka
bermalam ada tiga jam perjakinan jauhnya.
"Paling banyak hanya tinggal waktu dua jam lagi untuk
mengikuti jejaknya," kata Wak Katok.
Buyung dan Sanip diam saja. Mereka merasa letih
mengikuti jejak harimau dari pagi. Jalan yang ditempuh
harimau bukanlah jalan yang mudah diikuti oleh manusia.
Tetapi rasa takut mereka pada yang gaib telah berkurang.
Melihat jejak harimau di tanah mengingatkan mereka bahwa
harimau adalah makhluk dari daging dan tulang juga, seperti
rusa, yang dapat diburu dan ditembak mati. Setelah makan,
mereka lalu mencoba mengikuti air sungai mengalir, dan
beberapa kali menyeberang mencari jejak harimau. Beberapa
kali mereka tak berhasil. Wak Katok baru hendak memutuskan
agar mereka memudiki sungai kembali dan mencari ke sebelah
mudik, ketika Buyung yang mencari-cari di kedua pinggir
sungai dengan matanya dari lengah sungai menunjuk ke
pinggir sungai dari arah mereka datang. Sebuah batu sebesar
kepala orang kelihatan baru jatuh dari tebing sungai. Mereka
berlari kesana, dan benar, di pasir tepi sungai yang basah
kelihatan jejak harimau. Mereka mengikuti jejak dan melihat
betapa harimau beberapa lama berhenti di sualu tempat. Dari
tempat harimau berhenti, mereka dapat melihat tempat
mereka makan di pinggir sungai. Bekas jejak harimau di sini
kelihatan lebih segar lagi dari yang di tepi sungai.
Dan tiba-tiba hati mereka seakan diperas oleh sebuah
tangan dingin. Mereka tiba-tiba menginsyafi, bahwa mereka
yang memburu harimau, sejak beberapa waktu telah diburu
oleh harimau. Mereka sadar, bahwa mereka menghadapi
seekor harimau yang pandai pula berburu.
Rasa terkejut mereka cepat dikalahkan oleh hasrat hidup
mereka. Kini mereka harus mengadu kepandaian berburu
dengan kepandaian berburu sang harimau. Siapakah yang
akan menjadi pemburu, dan siapakah yang akan menjadi
korban, tergantung dari kewaspadaan dan kesiapan masingmasing.
Dengan cermat mereka memperhatikan arah jejak
harimau menghilang ke dalam hutan di antara pohon dan
belukar.
Kelihatan arah itu menuju jalan yang telah mereka tempuh
ketika mereka mengikuti jejak harimau. Rupanya harimau itu
sengaja berpaling di sungai dan kembali berputar mengikuti
jejak mereka, dan demikian dapat menyerang mereka dari
belakang. Bagi mereka ada dua kemungkinan. Dengan cepat
mengikuti jejak harimau, hingga dapat menyusulnya dari
belakang, atau lebih baik lagi memasang perangkap bagi sang
harimau, menunggunya muncul mengikuti jejak mereka dari
sungai
Wak Katok memberi isyarat, dan mereka mengerti apa
maksud Wak Katok. Mereka mencari tempat bersembunyi
untuk menghadang harimau. Mereka bergerak dengan
perlahan-lahan sekali, tak membual bunyi dan tak bersuara.
Tak dapat diketahui di mana harimau berada, entah telah
dekat sekali, dan panca indera harimau amat sangat
tajamnya.
Wak Katok membawa mereka mendaki tebing, naik ke atas
jalan bekas jejak harimau lewat yang mereka ikuti, dan
mereka bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Wak Katok
duduk, siap dengan senapannya, dan buyung dan Sanip siap
dengan parang panjang mereka.
Soalnya kini ialah menunggu. Menunggu dengan sabar.
Yang mereka perlukan ialah waktu. Dengan penuh khawatir
mereka melihat pada terang matahari di luar atap daun-daun
kayu di atas kepala.
Matahari telah lebih berat turun ke arah barat. Mereka tak
dapat menunggu lama-lama. Jika mereka menunggu terlalu
lama, maka malam akan turun. Dan jika mereka masih berada
di hutan, sedang malam telah turun, maka harimau mendapat
kelebihan. Senapan mereka tak banyak artinya di malam hari.
Harimau lebih dapat melihat dalam gelap dari mereka. Hati
mereka berdebar-debar menunggu.


0 Response to "Harimau-Harimau 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified