Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Harimau-Harimau 1

Harimau Harimau **
……..melintas ketakutan lewat sudut jalan-jalan dan tanah
lapang meratap kengerian angin lalu
ada yang tidur yang lain bangun hati berdebar cemas
turunlah hujan semuanya teror dan sunyi sepi……
1
Hutan Raya terhampar di seluruh pulau, dari tepi pantai
tempat ombak-ombak samudera yang terentang hingga ke
Kutub Selatan menghempaskan diri setelah perjalanan yang
amat jauhnya hingga ke puncak-puncak gunung yang
menjulang tinggi dan setiap hari diselimuti awan tebal. Hutan
raya berubah-ubah wajahnya. Yang dekat pantai merupakan
hutan-hutan kayu bakau, dan semakin jauh ke darat dan
semakin tinggi letaknya, berubah pula kayu-kayu dan tanaman
di dalamnya, hingga tiba pada pohon-pohon besar dan tinggi,
sepanjang masa ditutup lumut, yang merupakan renda-renda
terurai dari cabang dan dahan.
Sebagian terbesar bagian hutan raya tak pernah dijejak
manusia dan di dalam hutan raya hidup bernapas dengan
kuatnya. Berbagai margasatwa dan serangga penghuninya
mempertahankan hidup di dalamnya. Demikian pula tanaman
dan bunga-bunga anggrek, yang banyak merupakan mahkota
di puncak-puncak pohon tinggi.
Di bahagian atas hutan raya hidup siamang, beruk dan
sebangsanya dan burung-burung; dan di bawah, di atas
tanah, hidup harimau kumbang, gajah dan beruang; di
sepanjang sungai tapir, badak, ular, buaya, rusa, kancil dan
ratusan makhluk lain. Dan di dalam tanah serangga
berkembang biak.
Banyak bagian hutan raya yang menakutkan, yang penuh
dengan paya yang mengandung bahaya maut dan hutanhutan
gelap yang basah senantiasa dari abad ke abad. Akan
tetapi pula ada bahagian yang indah dan amat menarik hati,
tak ubahnya seakan hutan dalam cerita tentang dunia peri dan
bidadari, hutan-hutan kecil yang dialasi oleh rumput hijau
yang rata, yang seakan selalu dipelihara dan dibersihkan,
dikelilingi oleh pohon-pohon cemara yang tinggi dan langsing
semampai dan yang menyebarkan wangi minyak cemara ke
seluruh hutan. Di tengah hutan yang demikian sebuah anak
sungai kecil, dengan airnya yang sejuk dan bersih mengalir,
menccraeah, menyanyi-nyanyi dan berbisik-bisik, dan akan
inginlah orang tinggal di sana selama-lamanya.
Di dalam hutan terdapat pula sumber-sumber nafkah hidup
manusia, rotan dan damar dan berbagai bahan kayu. Manusia
yang dahulu hidup di dalam hutan seperti binatang, dan
kemudian meninggalkan hutan untuk membangun kota dan
desa, kini pun selalu kembali ke dalam hutan untuk berburu
atau mencari nafkah.
Mereka bertujuh telah seminggu lamanya tinggal di dalam
hutan mengumpulkan damar. Pak Haji Rakhmad, yang tertua
di antara mereka. Pak Haji demikian panggilannya sehari-hari,
telah berumur enam puluh tahun. Meskipun umurnya telah
selanjut itu, akan tetapi badannya masih tetap sehat dan kuat,
mata dan pendengarannya masih terang. Mendaki dan
menuruni gunung membawa beban damar atau rotan yang
berat, menghirup udara segar di alam terbuka yang luas,
menyebabkan orang tinggal sehat dan kuat. Pak Haji selalu
membanggakan diri, bahwa dia tak pernah sakit seumur
hidupnya. Dia bangga benar tak pernah merasa sakit pinggang
atau sakit kepala.
Di waktu mudanya ketika dia berumur sembilan belas
tahun, dia pernah meninggalkan kampungnya, dan pergi
mengembara ke negeri-negeri lain. Ada lima tahun lamanya
dia bekerja di kapal. Dia pernah tinggal dua tahun di India,
belajar mengaji di sana. Pak Haji juga pernah mengembara ke
negeri Jepang, ke negeri Cina, ke benua Afrika dan ke bandarbandar
orang kulit putih dengan kota-kotanya yang ramai.
Akan tetapi kampung halaman memanggilnya juga kembali.
Dan setelah dua puluh tahun mengembara, akhirnya Pak Haji
menunaikan ibadah haji, dan kemudian kembali ke kampung.
Dia kembali bekerja mencari damar, seperti yang dilakukan
oleh ayahnya dahulu, dan yang telah dilakukannya pula sejak
dia berumur tiga belas tahun mengikuti ayahnya.
Pak Haji selalu berkata, setelah merasakan semua
pengalamannya di dunia, dia lebih senang juga jadi orang
pendamar.
Wak Katok berumur lima puluh tahun. Perawakannya kukuh
dan keras, rambutnya masih hitam, kumisnya panjang dan
lebat, otot-otot tangan dan kakinya bergumpalan.
Tampangnya masih serupa orang yang baru berumur empat
puluhan saja. Bibirnya penuh dan tebal, matanya bersinar
tajam. Dia juga ahli pencak dan dianggap dukun besar di
kampung. Dia terkenal juga sebagai pemburu yang mahir.
Yang muda-muda di antara mereka bertujuh, Sutan,
berumur dua puluh dua tahun dan telah berkeluarga, Talib
berumur dua puluh tujuh tahun dan telah beristri dan beranak
tiga, Sanip berumur dua puluh lima tahun, juga telah beristri
dan punya empat anak, dan Buyung, yang termuda di antara
mereka, baru berumur sembilan belas tahun. Anak-anak muda
itu semuanya murid pencak Wak Katok. Mereka juga belajar
ilmu sihir dan gaib padanya.
Mereka melihat wak Katok merupakan salah seorang yang
dituakan di kampung, yang dianggap seorang pemimpin dan
disegani orang banyak. Mereka tak pernah meragukan
kebenaran kata-kata dan perbuatannya.
Secara tak resmi Wak Katoklah yang merupakan pemimpin
rombongan pendamar itu. Anggota rombongan yang ketujuh
ialah Pak Balam yang sebaya dengan Wak Katok. Orangnya
pendiam, badannya kurus, akan tetapi kuat bekerja. Dia
pernah ditangkap pemerintah Belanda di waktu apa yang
dinamakan pemberontakan komunis di tahun 1926, dan
dibuang oleh Belanda selama empat tahun ke Tanah Merah.
Dia tak punya anak. Isterinya, Khadijah, yang mengikutinya
dahulu ke pembuangan, menderita penyakit malaria ketika
hamil di Tanah Merah, kandungannya keguguran, dan sejak
itu tak pernah lagi dapat beranak. Isterinya terus-menerus
sakit, dan uangnya selalu habis untuk membeli segala rupa
obat.
Mereka bertujuh selalu bersama-sama pergi mengumpulkan
damar, meskipun mereka sebenarnya tak berkongsi, dan
masing-masing menerima hasil penjualan damar yang
dikumpulkannya sendiri. Akan tetapi dengan berombongan
tujuh orang bersama-sama, mereka merasa lebih aman dan
lebih dapat bantu-membantu melakukan pekerjaan.
Mereka termasuk orang baik di mata orang sekampung.
Wak Katok dihormati, disegani, dan malahan agak ditakuti,
karena termashurahli pencak, dan mahir sebagai dukun.
Menurut cerita, pernah seseorang yang tergila-gila pada
seorang perempuan, minta pada Wak Katok dibuatkan gunaguna
untuk merebut hati perempuan itu. Benar juga, si
perempuan sampai minta cerai dari suaminya, meninggalkan
suami dan anak-anaknya. Banyak cerita lain tentang kejagoan
Wak Katok. Diceritakan orang juga, bahwa dulu, sewaktu dia
masih muda, dia pernah berpencak melawan seekor beruang,
ketika beruang menghadangnya di hutan. Dan beruanglah
yang kalah dan lari masuk hutan.
Dan tentang ilmu sihirnya.... orang hanya berani berbisikbisik
saja tentang ini. Kata orang dia dapat bertemu dengan
hantu dan jin.
Pak Balam juga dihormati orang.di kampung, yang
menganggapnya sebagai seorang pahlawan, yang telah berani
ikut mengangkat senjata melawan Belanda. Orang kampung
tahu, bahwa Pak Balam bukan seorang komunis. Dia seorang
yang saleh beragama dan pasti bukan orang komunis. Karena
orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan, dan tidak
percaya pada agama. Pak Balam dan kawan-kawannya dahulu
bangkit melawan Belanda, karena Belanda terlalu menekan
rakyat, memaksa rakyat membayar macam-macam pajak
baru, dan rakyat tidak lagi merasa hidup bebas dan merdeka.
Pak Haji dihormati orang di kampung, karena umurnya dan
hajinya. Akan tetapi orang kampung kurang mengerti dia.
Sejak dia pulang dari pengembaraannya ke dunia luar, dia
seakan mengasingkan diri, memencilkan diri di kampung. Dia
tak hendak menikah, meskipun dipaksa-paksa oleh
keluarganya. Dia tak hendak jadi pemimpin di kampung, baik
pemimpin agama maupun masyarakat. Mula-mula orang
kampung mengatakan dia jadi angkuh karena telah lama di
luar negeri, akan tetapi lama-lama orang biasa juga dengan
tingkahnya yang aneh, dan orang kampung pun tidak lagi
mengacuhkannya. Pak Haji kelihatannya senang
dikesampingkan begitu.
Sutan, Buyung, Talib dan Sanip juga termasuk anak muda
yang dianggap sopan dan baik di kampung.
Mereka orang-orang wajar seperti sebagian terbesar orang
di kampung. Mereka baik dalam pergaulan, pergi sembahyang
ke mesjid, duduk mengobrol di kedai kopi seperti orang lain,
mereka ikut bekerja besama-sama ketika ada orang
membangun rumah, memperbaiki jalan-jalan, bandar atau pun
menyelenggarakan perhelatan. Mereka adalah ayah, suami,
saudara dan kawan yang baik. Mereka tertawa, mereka
menangis, mereka mimpi, mereka berharap, mereka marah,
kesal, sedih seperti juga orang lain di kampung. Mereka tak
berbeda dari orang lain.
Mereka adalah manusia biasa.
Dan kini mereka bekerja di dalam hutan raya. Mencari
nafkah untuk keluarga.
2
Wak Katok membawa senapan lantaknya. Biasanya jarang
dia membawa senapan jika men-damar. Senapan hanya
dipakainya jika berburu rusa atau babi. Tetapi sekali ini dia
mengatakan, hendak mengajak mereka memburu rusa, yang
dua bulan lalu acap datang memasuki huma Wak Hitam,
tempat mereka bermalam di tengah hutan. Senapan lantaknya
sudah amat tua, akan tetapi bagus sekali. Laras besinya penuh
dengan ukiran halus. Buyung amat senang dengan senapan
itu. Dia senang menyandangnya, berganti-ganti dengan Wak
Katok. Senjata adalah perhiasan letaki. Pisau belati, atau keris,
atau parang di pinggang adalah pelengkap pakaian letaki. Dan
senapan di bahu lebih lagi memberi rasa gagah dan perwira
pada seorang letaki.
Wak Katok suka juga meminjamkan senapannya kepada
Buyung, karena dia tahu Buyung senang pada senapan, dan
selalu menjaga dan membersihkannya baik-baik. Tiap kali
setelah Buyung meminjamnya, maka senapan selalu
dikembalikan jauh lebih bersih dan diminyaki pula. Buyung
akan menggosok laras senapan berulang-ulang, beratus kali,
hingga laras besi bersinar biru tua berkilauan ditimpa cahaya,
dan gagangsenapan dari kayu mahoni cokelat kehitaman akan
kelihatan halus dan berkilau seperti beludru. Sekikis debu pun
atau bekas mesiu tak ada yang tertinggal. Buyung telah lama
ingin mempunyai senapan sendiri. Telah dua tahun lamanya
dia menyimpan uang untuk membeli sebuah senapan. Tapi dia
tak bermaksud membeli senapan lantak yang kuno. Senapan
lantak terlalu lamban untuk dibawa berburu. Mula-mula harus
dimasukkan tepung mesiu melalui laras depan. Lalu mesiu
dilantak dengan tongkatnya, supaya padat. Kemudian peluru
dimasukkan, didorong lagi ke dalam. Barulah senapan dapat
ditembakkan. Dan sedang kita berbuat demikian, rusa atau
babi telah lama lari dan menghilang. Akan tetapi, senapan
lantak memaksa orang harus mahir dan tepat membidik dan
menembak. Sekali bidik dan sekali tembak, harus kena dengan
tepat. Jika tidak maka akan hilanglah kesempatan menembak
untuk kedua kalinya. Buyung bangga benar dengan
kepandaiannya menembakkan senapan lantak. Jarang benar
dia meleset. Hampir selalu kena sasarannya.
Dia pernah membidik seekor babi yang sedang lari, yang
dibidiknya tepat di belakang kupingnya, dan di sanalah peluru
mengenai sang babi. Wak Katok sendiri pernah memujinya,
ketika dalam berburu babi ramai-ramai dengan orang
kampung, pelurunya menembus mata kiri seekor babi yang
datang menyerang. Wak Katok dalam kemarahan hatinya
ketika itu mengatakan, bahwa dia sendiri pun tak dapat
memperbaiki tembakan Buyung. Sungguh sebuah pujian besar
datang dari Wak Katok. Buyung merasa amat bangga dan
namanya sebagai penembak yang mahir mulai termashur di
kampung.
Pujian dari Wak Katok sebagai pemburu yang termahir dan
penembak yang terpandai di seluruh kampung, merupakan
semacam pengangkatan resmi juga untuk Buyung. Karena
menurut cerita orang di kampung, tak seorang juga yang
dapat menandingi Wak Katok perkara menembak dan berburu.
Wak Katok pandai membaca segala macam jejak di hutan, dia
mahir mencium kebiasaan dan ketakuan berbagai rupa
mahkluk hutan.
Sejak kecilnya Buyung telah mendengar cerita-cerita
tentang kejagoan dana kebesaran Wak Katok. Karena itu dia
sungguh merasa beruntung dapat ikut mendamar dalam
rombongan Wak Katok, dan malahan diterima pula menjadi
murid pencak dan ilmu sihirnya.
Menurut cerita orang, jika bersilat, Wak Katok dapat
membunuh lawannya, tanpa tangan, kaki atau pisau mengenai
lawannya. Cukup dengan gerak tangan atau kaki saja yang
ditujukan ke arah kepala, perut atau ulu hati lawan, dan
lawannya pasti akan jatuh, mati terhampar di tanah. Sebagai
dukun dia terkenal ke kampung lain. Dia pandai mengobati
penyakit biasa, akan tetapi juga dapat mengobati perempuan
atau letaki yang kena guna-guna; dia punya ilmu yang dapat
membuat seseorang sakit perut sampai mati, dia pandai
membuat jimat yang ampuh, yang dapat mengelakkan bahaya
ular, atau binatang buas yang lain, membuat orang jatuh
sayang atau takut atau segan, membuat orang menerima
permintaan seseorang, dia punya ilmu pemanis untuk orang
muda, letaki atau perempuan, dia punya mantera dan jimat
supaya orang selamat dalam perjalanan, jimat supaya kebal
terhadap senjata, atau jimat supaya kebal terhadap racun
ular, dia dapat membuat orang muntah darah sampai mati,
dan dia punya mantera untuk menghilang, hingga tak dapat
terlihat oleh orang lain.
Buyung dan kawan-kawannya selalu bermimpi akan diberi
pelajaran oleh Wak Katok ilmu sihir yang dahsyat. Dia
terutama sekali ingin dapat belajar mantera pemikat hati
gadis. Dia telah jatuh cinta benar pada si Zaitun, anak Wak
Hamdani, Pak Lebai di kampung, akan tetapi sang gadis
seakan acuh tak acuh saja. Kadang-kadang Zaitun tersenyum
amat manis sekali kepadanya, jika mereka bertemu di jalan
yang menuju pancuran. Dan mata Zaitun akan mencari
matanya, dan memancarkan cahaya yang penuh arti. Akan
tetapi kadang-kadang, jika melihat Buyung dari jauh datang
hendak berpapasan dengan dia, maka dari jauh-jauh dia telah
membuang mukanya, pura-pura asyik bercakap-cakap dengan
kawan-kawannya, dan seakan tak tahu bahwa Buyung lewat
dekatnya.
Tetapi Wak Katok belum hendak memberikan ilmu ini
kepadanya. Engkau masih terlalu muda, kata Wak Katok,
darah masih panas, nanti engkau buat tergila-gila padamu
semua perempuan di kampung ini. Ilmu ini hanya untuk
membela kehormatan letaki, kalau kita dihina perempuan,
atau jika engkau sungguh cinta dan hendak memperistri
seorang perempuan. Akan tetapi tak boleh engkau pakai untuk
menggoda isteri orang.
Buyung dan kawan-kawannya juga amat ingin mendapat
ilmu menghilang. Dia telah bermimpi tentang hal-hal yang
dapat dilakukannya, jika dapat ilmu demikian, alangkah
mudahnya dia mengintip Zaitun lagi tidur, atau lagi mandi ...
darahnya berdebar teringat pada kemungkinan ini, dan
alangkah mudahnya dia menjadi kaya jika dia punya ilmu
serupa itu ....
Ayah Buyung bersahabat dengan ayah Zaitun, dan Buyung
pun sejak kecil berkawan dengan Zaitun. Ketika mereka masih
kanak-kanak, mereka sering main bersama-sama. Dan dia
ingat sering menggangu Zaitun terlalu sekali, sehingga Zaitun
nienangis. Tetapi, tiba-tiba saja, ketika dia berumur dua belas
tahun, Zaitun seakan menjauhkan diri, dan hampir-hampir
mereka tak pernah bertemu lagi. Tiba-tiba saja Zaitun telah
jadi seorang gadis, dan kini dia telah jadi seorang muda, dan
mereka tak lagi dapat bergaul sebebas dahulu.
Buyung tak tahu apa perasaan Zaitun yang sebenarnya
terhadap dirinya. Kadang-kadang Zaitun baik sekali. Jika dia
disuruh ibunya ke rumah Buyung membawa kiriman masakan,
dan kebetulan Buyung ada di rumah, maka terkadang dia baik
dan manis sekali pada Buyung dan akan tersenyum manis pula
dan dia kelihatan amat cantiknya, dan menyapa Buyung
dengan "kakak" padahal. Buyung hanya setahun saja lebih
tua.
Jika Zaitun demikian, maka Buyung merasa hatinya seakan
terlonjak, terlambaung ke langit yang ketujuh, dan kakinya
serasa tak berpijak lagi di lantai, dan sekelilingnya terasa
olehnya terang benderang, penuh bunyi suling dan orang
menyanyi. Tetapi kadang-kadang, jika Zaitun datang ke
rumahnya, maka jangankan dia menegur Buyung, melihat
Buyung saja pun dia tak mau, dan jika Buyung mendekat,
ketika Zaitun berbicara dengan ibunya, maka Zaitun berbuat
tak acuh sama sekali.
Bagaimana hendak memikat hati gadis yang demikian,
kalau tidak dengan mantera Wak Katok? Buyung bersedia
melakukan apa saja, asal Wak Katok mengajarkan mantera
yang diperlukan.
Buyung tahu bahwa orang tuanya, ayah dan ibunya,
berkenan menerima Zaitun sebagai menantu. Buyung pernah
mendengar mereka membicarakan hal ini, ketika ayah dan
ibunya menyangka, bahwa dia tak ada di rumah. Ini terjadi
pada suatu petang, ketika Zaitun datang membawa makanan
untuk ibu Buyung dan setelah Zaitun pergi, Buyung
mendengar dari kamar di sebelah, ayahnya berkata :
"Si Tun sudah gadis benar. Kelihatannya baik takunya."
"Ya," sahut ibu Buyung, "dia rajin bekerja di rumah. Dia
pandai pula menjahit, dan rajin sembahyang dan mengaji. Dia
pun sudah sekolah."
"Si Buyung pun sudah besar. Sudah sembilan belas tahun
umurnya. Dan dia pun sudah pandai bekerja," kata ayahnya.
"Entahlah si Buyung itu," kata ibu Buyung. Di mata ibunya,
dia masih tetap saja seorang anak kecil yang belum dewasa.
Sedang Buyung menganggap dirinya telah dewasa. Dia
telah berumur sembilan belas tahun, dia telah tamat sekolah
rakyat, dia telah tamat Qur'an sampai dua kali, dan dia pun
sudah pandai mencari nafkah sendiri.
"Sebenarnya sudah boleh kita kawinkan dia," terdengar
suara ayahnya. "Kiranya Zaitun senang padanya?"
"Semua gadis kampung akan suka bersuamikan Buyung,"
terdengar olehnya suara ibunya berkata dengan bangga.
Ayahnya tertawa, dan berkata :
"Di matamu tak ada anak yang lebih gagah lagi dari
anakmu sendiri."
Hati Buyung berdebar-debar. Tetapi ayah dan ibunya
berhenti membicarakan Zaitun. Dan tak juga terjawab
pertanyaan, apakah Zaitun suka padanya.
Susah juga hati Buyung sebentar ketika itu. Akan tetapi
hatinya terobat juga mengingat, bahwa ayah dan ibunya
ternyata senang dan suka pada Zaitun.
Buyung tahu, bahwa ayah Zaitun, Pak Lebai senang
padanya. Pak Lebai selalu bersikap baik padanya, dan dia
selalu menanyakan keadaan Buyung, bagaimana pekerjaannya
mencari damar, bagaimana pengajiannya, dan sebagainya,
tiap kali mereka berjumpa. Dan malahan Pak Lebai pernah
meminta pikiran Buyung tentang bagaimana melatih anjing
untuk berburu, karena Pak Lebai amat suka berburu. Buyung
merasa amat bangga dalam hatinya. Pak Lebai punya empat
ekor anjing berburu. Buyung hanya punya seekor, tetapi
anjingnya terkenal amat berani. Jika anjing lain hanya
menyatak-nyatak saja bila mengerubungi babi, maka anjing
Buyung biasanya yang pertama menyerang.
Buyung dalam hati sebenarnya tak melihat sesuatu
halangan untuk menikah dengan Zaitun. Yang meragukan
hanyalah bagaimana sebenarnya hati Zaitun sendiri terhadap
dirinya. Cintakah Zaitun padanya, seperti dia cinta pada
Zaitun. Buyung merasa, bahwa jika Zaitun tak merasa seperti
yang dirasakannya, maka rasanya tak puas hatinya akan
kawin dengan Zaitun, meskipun kedua orang tua mereka
menyetujui perkawinan itu. Buyung tahu, bahwa biasanya
orang kawin menurut pilihan yang dilakukan orang tua saja,
akan tetapi dia sendiri ingin memilih isteri, dan isterinya
memilih dia pula.
Kadang-kadang serasa hilang akal Buyung memikirkan
bagaimana dapat.... membuat Zaitun jatuh cinta padanya,
supaya Zaitun setiap saat ingat padanya, rindu padanya, dan
supaya dirinya selalu terbayang di depan matanya, seperti kini
dia selalu membayangkan Zaitun. Alangkah cantiknya Zaitun.
Buyung pernah mengintip Zaitun sedang mandi dengan
kawan-kawannya di pancuran. Rambut Zaitun panjang, dan
amat hitam warnanya, berombak-ombak, terurai sampai ke
bawah pinggang.
Pinggangnya amat ramping, dan kakinya cantik sekali.
Pergelangan kakinya ramping. Kulitnya kuning langsat, dan
giginya putih dan teratur. Bibirnya merah, meskipun dia tak
makan sirih. Buyung telah memutuskan dalam hatinya, bahwa
jika nanti dia kawin dengan Zaitun, maka Zaitun tidak akan
diizinkannya makan sirih dan kapur yang menghitamkan gigi.
Apalagi bersugi tembakau. Jangan seperti bibi Buyung, sugi
tembakau bibinya bergerak di mana-mana, di bawah bantal, di
atas meja, di dapur, di tangga, di ruangan tamu. Dan
pamannya tak berhenti-hentinya mengeluh tentang sugi
bibinya ini. Dan sugi bibinya besar-besar, hampir sekepal tinju
menurut cerita pamannya. Dan kalau dia berkelahi dengan
paman, maka dia suka lupa dan melempar paman dengan
suginya yang besar. Pamannya selalu bertanya, mengapa bibi
tak dapat membuang sugi dengan teratur ke tempat ludah,
seperti perempuan lain yang makan sirih dan bersugi? Tetapi
pamannya tak pernah berhasil melatih bibinya menyimpan
sugi demikian.
Buyung tak hendak mengalami serupa ini dengan Zaitun.
Suara Zaitun amat merdu. Di waktu mereka sama-sama
sekolah, Zaitun sekelas lebih rendah dari Buyung, dan Zaitun
selalu jadi bintang penyanyi kelasnya. Suaranya amat halus
dan merdu. Waktu mengaji pun suaranyalah yang paling
lembut dan merayu. Ayat-ayat Kitab Suci, jika Zaitun yang
membacanya terdengar seratus kali lebih menarik dari jika
dibacakan oleh Pak Lebai.
Tetapi itu dahulu. Entahlah kini. Telah lama Buyung tak
mendengar Zaitun menyanyi. Pernah juga Buyung mendengar
Zaitun menyanyi di pancuran bersama dengan kawankawannya.
Mereka menyanyikan lagu sedih, lagu seseorang
yang rindu pada kekasihnya yang pergi jauh merantau,dan
bertanya-lanya apabitakah kekasihnya yang dirindukannya
akan pulang ke kampung.
Hampir saja Buyung ke luar dari tempat
persembunyiannya, begitu inginnya dia hendak mendengarkan
lagu Zaitun dari dekat. Akan letapi dia menahan dirinya kuatkuat,
karena teringat apa kata orang sekampung, jika dia
ketahuan mengintip gadis-gadis yang sedang mandi? Aduh,
alangkah malunya .... dan dia akan ditertawakan dan diolokolokkan
oleh seluruh kampung.
Dalam hatinya Buyung amat ingin lekas menjadi lebih
dewasa dan letaki yang matang, seperti kawan-kawannya
yang lain. Umpamanya Sutan, yang lebih pandai bersilat dari
dia, meskipun mereka sama-sama murid Wak Katok, yang
telah menikah, dan amat pandainya bergaul dengan
perempuan, tua atau muda, dan yang pandai pula bekerja
mencari uang. Dia bersawah, berladang, mengambil rotan dan
damar, dan kadang-kadang dia berdagang pula, berjual beli
kambing atau lembu.
Yang paling senang kiranya orang seperti Sanip, pikirnya.
Sanip penggembira sekali. Sanip selalu membawa sebuah
dangung-dangung dalam saku bajunya. Dan setiap ada
kesempatan, maka keluarlah dangung-dangung, dipasangnya
ke mulutnya, dan dia pun memainkan segala macam lagu.
Pandai benar dia memainkan dangung-dangung. Dapat saja
disuruhnya dangung-dangung menyanyi, sekali lagu gembira,
sekali lagu sedih, dan merataplah dangung-dangung... Jika
mereka sedang duduk di sekeliling api unggun di tengah
rimba, dan Sanip menyanyikan lagu-lagu sedihnya dengan
dangung-dangung, maka Talib biasanya tak dapat menahan
dirinya, dan ikutlah dia menyanyi, berpantun yang sedih-sedih.
Buyung pun akan mengeluarkan sulingnya, dan mereka
bertiga akan meratap ber sama-sama. Bunyi dangungdangung
yang hilang-hilang timbul, bunyi suling yang
menangis, dan suara Talib menyampaikan ratap tangis orang
yang kesepian, yang kerinduan, yang kehilangan, sedu-sedan
ratap hati manusia yang haus pada kebahagiaan. Dan mereka
bertujuh duduk di sekeliling api, masing-masing dengan
kenang-kenangan sendiri, hasrat-hasrat sendiri, dan di
sekeliling mereka tegak hutan rimba yang hitam dan besar.
Wak Katok, orang yang bermuka dan berbadan keras, juga
kelihatan terkesan oleh lagu-lagu demikian, dan kelihatan
seakan wajahnya jadi kosong, pikirannya melayang entah ke
mana. Pak Haji akan duduk termenung, menutup matanya,
dan rokok daun enau yang terjepit antara jari telunjuk dan ibu
jarinya akan mati sendiri, terlupa.
Sanip juga seorang pelawak. Jika timbul hatinya hendak
bergembira, maka dangung-dangung disuruh menyanyi
gembira, dan ia pun akan ikut menyanyi dengan suaranya
yang agak serak, dan dia akan berdiri dan menari, sehingga
anak-anak, muda yang lain tak dapat menahan diri, ikut
berdiri, menari dan menyanyi.
Dia suka melucu dan menceritakan kisah-kisah yang lucu.
Banyak benar leluconnya tentang ketakuan lebai, yang
menimbulkan tertawa mereka terkekeh-kekeh. Cocok juga
perangainya yang periang ini dengan badannya yang pendek
dan gemuk.
Buyung juga suka merasa cemburu pada Sanip. Cemburu
pada keriangannya, dan kemahirannya memainkan dangungdangung.
Dia ingin dapat semudah Sanip menyanyi dan
menari dan bercerita. Buyung juga cemburu melihat Sanip
yang dengan mudah menganggap segala apa yang terjadi
seperti soal yang ringan. Kalau umpamanya mereka sedang
menempuh hutan, dan turun hujan yang lebat, hingga jalan
menjadi licin dan badan mereka basah kuyup, maka Sanip
dengan gembira akan berseru "... jangan susah hati, habis
hujan datanglah terang!"
Jika Sutan mengeluh karena beban yang didukungnya amat
berat, maka Sanip akan berkata "... ah, tertawalah, ingatlah
uang yang akan engkau dapat setelah damar terjual di pasar."
Ingin Buyung dapat bersikap demikian.
Pernah sekali mereka pergi berburu, dan Buyung membidik
dan menembak rusa dengan senapan Wak Katok. Akan tetapi
tembakannya tak kena. Rusa lari. Dan meskipun mereka buru
sepanjang hari, tak lagi dapat mereka temukan. Buyung
menyesali dirinya tak putus-putusnya, akan tetapi Sanip enak
saja berkata:
"Apa yang engkau susahkan Buyung, rusa itu akan beranak
lagi, dan artinya akan lebih banyak rusa yang dapat engkau
tembak di hutan."
Sungguh kesal hati Buyung mendengarnya, dan dia
membalas:
"Bagaimana engkau tahu dia akan beranak? Bagaimana
kalau dia diterkam harimau?"
Cepat saja datang balasan Sanip:
"Oh rusa seekor dimakan harimau tidak akan
menghabiskan semua rusa di hutan. Yang penting." katanya
sambil mengerdipkan matanya mengganggu Buyung, "engkau
harus lebih pandai membidik!"
Dan tiba-tiba Buyung merasa, betapa Sanip dan kawankawannya
sebenarnya baik hati terhadap dirinya. Mereka telah
sepanjang hari dibawanya mengejar rusa, karena percaya
akan kemahirannya menembak, dan karena kesalahannya
maka semua susah payah mereka jadi percuma. Buyung
merasa dia harus minta maaf pada kawan-kawannya, dan dia
tak berhak merasa kesal.
Buyung tak mengerti bagaimana Sanip, yang telah beristri
dan punya anak itu dapat berperangai seperti seorang muda
yang masih bujangan saja. Anaknya sudah empat. Biasanya
orang yang demikian telah bersikap seperti orang tua.
Talib seorang pendiam kurus dan jangkung, dan berlainan
sama sekali dengan Sanip, Dunia dan hidup ini gelap saja
terasa olehnya. Menurut cerita orang kampung, ini karena
isterinya tak putus-putusnya mengomeli dan memarahinya.
Menurut cerita si Rancak, adik Zaitun, dia pernah mendengar
SitiHasanah, isteri Talib, memarahi Talib dari pagi hingga
petang, tak putus-putusnya, dan Talib diam saja, tak
menjawab dan tak membalas, yang menyebabkan marah
isterinya tambah lama tambah hebat. Istrinya hanya baru
berhenti karena kehabisan nafas dan keletihan. Tetapi Talib
dan Sanip bersahabat erat. Ke mana-mana mereka berduadua.
Jika hujan turun sedang mereka bekerja di hulu hutan,
mereka pergi berteduh di dalam pondok yang dibuat dari
daun-daun pisang hutan dan keladi, dan Talib akan berkata:
"Aduh, hujan begini akan berhari-hari lamanya!"
Dan Sanip dengan suara gembira akan mengatakan:
"Untung hujan, kita sempat beristirahat."
Dan mereka semua akan tertawa.
Pada suatu kali mereka mengumpulkan damar amat
banyaknya. Beban damar yang harus mereka pikul pulang
amat berat, dan Sanip berseru gembira:
"Aduh, ini dua kali lebih banyak dari yang biasa kita bawa
pulang. Untung besar kita!"
Sedang Talib berkata dengan suara sayu:
"Aduh, asal jangan hanyut saja kita nanti di sungai,
menyeberang dengan beban seberat ini!"
Biarpun Talib pendiam, dan selalu memandang dunia
dengan mala yang gelap, akan tetapi dia seorang.yang berani
juga. Pernah kelika orang sekampung berburu babi, dan
anjing-anjing lelah mengepung babi, maka seorang pemburu
datang mendekati babi hendak menombaknya.
Dia melemparkan tombaknya, akan tetapi babi dapat
mengetak, lalu balas menyerang, tanpa memperdulikan
anjing-anjing yang berkerumun mengelilinginya. Talib tanpa
ragu-ragu menyerang babi dengan tombaknya, dan
menyelamatkan pemburu itu. Sebentar kemudian babi pun
hancur dikoyak-koyak oleh anjing.
Buyung pun merasa hormat pada Pak Haji yang tua.
Badannya sedang, tak tinggi dan tak pendek. Meskipun
rambutnya sudah putih, tetapi masih lebat. Dia masih kuat
mendukung beban damar menandingi siapa pun juga di antara
mereka. Dia sendiri tak banyak berbicara, akan tetapi suka
mendengar percakapan orang lain, dan ikut pula tertawa.
Ketika duduk dekat api unggun di malam hari, jika dipaksa
maka dia maju juga menceritakan pengalamannya selama
merantau ke dunia luar. Dia pernah bercerita, bahwa ketika
dia baru berangkat meninggalkan kampung, maka lama dia
tertahan tak dapat meneruskan perjalanan di Singapura,
karena kehabisan uang. Sampai dia harus bekerja jadi kuli,
jadi tukang masak, dan malahan katanya pernah dia selama
dua bulan bekerja jadi tukang kuda di istana Sultan Johor.
Dia pernah pula bercerita, pernah ikut jadi anggota sebuah
rombongan sirkus. Dia bekerja menjadi tukang dansa yang
mengendarai sepeda. Dia mengembara dengan sirkus kecil
kepunyaan seorang Cina, sampai ke negeri Siam. Dan di
Bangkok katanya dengan terburu-buru dia terpaksa
meninggalkan sirkus, karena suami seorang penyanyi
perempuan Cina, cemburu padanya dan hendak
membunuhnya dengan pisau, "Karena merasa bersalah," kata
Pak Haji dengan Jenakanya, "maka saya pun melarikan diri."
Kemudian dia bekerja sebagai tukang masak disebuah
kapal yang berlayar antara negeri India dengan Jepang.
Sungguh mengasyikkan ceritanya tentang kota-kota besar
seperti Shanghai, Tokyo, bandar Manila, Penang, Rangoon,
Kalkula.
Ketika kapalnya singgah di Kalkuta dia turun ke darat, dan
tak kembali ke kapal. Dia meneruskan perjalanan hingga
Lahore. Di sana katanya dia belajar agama Islam pada
seorang guru besar. Dari India lewat jalan darat bersama
dengan beberapa puluh orang lain dia berjalan menuju negeri
Arab.
"Berbulan-bulan kami di jalan," cerita Pak Haji. "Banyaklah
pelajaran yang aku dapat di perjalanan. Aku pernah ikut jadi
pembantu seorang tukang sunglap dan tukang sihir. Seorang
Afghanistan yang tinggi dan besar. Dia dapat memotong lidah
burung, dan kemudian menyambung lidah itu kembali. Pada
suatu kali dia ditantang oleh seorang ahli sihir lain di sebuah
tempat yang kami lalui untuk mengadu kepandaian. Sekali ini
memotong lidah seorang anak kecil. Tukang sulapku tak
hendak kalah. Dan mengatakan dia pun sanggup. Waktu
diundi dia yang harus memotong lidah anak itu lebih dahulu
dan kemudian menyambungnya kembali. Sebelum dia mulai,
dia berbisik padaku, menyuruh aku kembali ke tempat
penginapan kami, dan menyiapkan semua barang kami.
Sedang aku menyiapkan barang, tiba-tiba dia datang berlari
masuk kamar, dengan cepat mengambil bungkusanbungkusan,
dan memerintahkan aku supaya berlari
mengikutinya.
Aku tak mengerti apa yang terjadi, tetapi aku tahu bahwa
ada bahaya, dan aku pun membawa barang dan mengejar
larinya yang cepat dengan langkah-langkah besar. Jauh di
belakang kami, aku dengar teriakan orang banyak penuh
amarah.
Akan tetapi kami segera tiba di luar kota, dan berlari ke
bukit-bukit batu dan bersembunyi di bukit. Sampai malam
orang kampung mencari kami.
Kemudian aku tanyakan padanya apa yang terjadi. Dia
tertawa besar dan mengeluarkan uncang uangnya. "Sebelum
aku mulai, aku minta supaya orang banyak membayar terlebih
dahulu," katanya. "Kemudian setelah uang aku kumpulkan,
maka aku potong lidah anak itu, cepat sekali dan sedikit
ujungnya saja, hingga kurasa anak itu tak merasa sakit.
Kemudian aku suruh mereka menunggu, karena aku katakan
aku hendak pergi mengambil obat. Tetapi aku terus berlari
menuju tempat kita menginap."
"Tetapi mengapa engkau lari?" tanyaku.
"Ha," katanya, "karena aku tidak pandai menyambung
lidahnya kembali."
"Tetapi bagaimana dengan lidah anak itu, siapa yang akan
menyambungnya?" tanyaku.
"Ah," katanya, "bukankah ada tukang sihir lawanku, yang
mengatakan dia pandai menyambungnya. Biarlah dicobanya.
Kalau dia pandai, maka anak itu mendapat sambungan
lidahnya kembali, jika dia tak pandai, maka orang kampung
akan memukulinya..." dan dia tertawa terbahak-bahak.
Demikian cerita Pak Haji.
Mereka tak dapat memastikan kebenaran cerita Pak Haji ini,
akan tetapi siapa tahu, karena di jaman dahulu banyak sekali
terjadi hal-hal yang gaib dan tak masuk akal kita.
Setelah naik haji, Pak Haji bekerja di kapal yang
berkunjung ke pelabuhan-pelabuhan di benua Afrika dan
Eropah.
Ketika dia tiba di kampung, dia terus kembali bekerja ke
hutan mencari damar dan rotan. Katanya dia telah mencoba
segala hidup di negeri orang lain, tetapi hatinya selalu
menariknya kembali pulang ke kampung. Hidup jadi pendamar
dan perotan juga yang dapat memuaskan jiwanya. Sekali
terlawan oleh hutan, katanya, maka selalu orang akan terikat
padanya. Jadi anak kapal hampir serupa dengan orang yang
bekerja di hutan, ceritanya.
Di atas kita langit luas, dan di malam hari penuh
bertaburan bintang, gelap malam lautan bercahaya di
sekeliling. Tetapi di sana tak ada pohon dan tanaman, dan tak
ada makhluk hutan. Tak ada bunyi-bunyi hutan. Rasanya
seperti kosong di lengah laut. Tetapi di hutan, biar kita di
tengah hulan belantara sekalipun, kita dikelilingi oleh pohon
dan tanaman, oleh margasatwa dan serangga, yang kelihaian
dan tak kelihatan, yang terdengar dan yang tidak terdengar.
Rasanya kita satu dengan hidup di bumi.
Sungguh banyaklah cerita Pak Haji. Asyik sungguh hati
mpndengarnya. Macam-macam saja pengalamanya. Ada yang
dahsyat, ada yang lucu, ada yangsedih dan ada yang gembira.
UNTUK pergi bersama ke rimba tempat mereka
mengumpulkan damar, mereka harus meninggalkan kampung,
Air Jernih, yang terletak di tepi Danau Bantau.
Air Jernih terletak pula di tepi Sungai Air Putih yang
bermuara ke danau. Di pinggir muara sungailah terletak
kampung mereka.
Mereka menuju hutan dengan menyusur pinggir sungai,
memudikinya, memasuki hutan dan mendaki gunung-gunung.
Sungai tak dapat dilalui dengan perahu, karena penuh dengan
batu besar dan karena sungai mengalir dengan derasnya turun
dari gunung-gunung. Tetapi di banyak tempat yang datar, air
sungai membuat lubuk-lubuk yang besar dan dalam, dan di
dalam lubuk-lubuk serupa ini banyaklah ikan besar. Di lubuklubuk
yang dekat ke kampung ikannya tak banyak dan tak
besar-besar lagi, karena selalu ditangkap orang, akan tetapi
jauh ke dalam hutan, maka mudahlah menangkap ikan,
dipancing atau dijala. Mereka selalu membuat tempat
bermalam dekat lubuk-lubuk demikian, dan mereka tak pernah
kekurangan ikan selama dalam hutan.
Sungguh sedap rasanya, setelah bekerja sehari penuh
mengumpulkan damar, atau setelah berjalan sepanjang hari
turun dan naik gunung, duduk di atas batu dan mencoba
mengail ikan. Bunyi air yang menderas di antara batu-batu,
hembusan angin di daun, dan jauh di dalam hutan bunyi
siamang yang mengimbau-imbau tak berhenti-hentinya,
seakan bunyi orang bergendang, amat sangat menyenangkan
perasaan.
Dari Air Jernih ke hutan damar, ada seminggu jauhnya
berjalan kaki. Mereka membawa beras, cabai yang ditumbuk
di dalam bambu, sedikit asam dan garam, dan panci tempat
menanak nasi dan memasak air, kopi dan gula. Mereka
memasang lukah di sungai jika tak membawa jala atau
pancing, yang mereka buat dari bambu dan diletakkan di
antara batu-batu di sungai. Dan kalau mereka rajin dan ada
waktu, mereka memasang jerat untuk menangkap burung
balam yang datang mencari makan di tepi sungai. Jika mereka
tak mendapat ikan atau burung yang jarang terjadi, baru
mereka panggang dendeng atau ikan kering yang dibawa.
Sekali-kali Wak Katok membawa senapan lantaknya, dan
mereka mencoba menembak rusa, dan akan dapat membawa
dendeng rusa pulang. Biasanya setelah selesai mengumpulkan
damar mereka berburu rusa.
Mereka beruntung, karena tak berapa jauh dari hutan
damar, ada sebuah huma kepunyaan Wak Hitam. Di sebuah
pondok di ladang Wak Hitamlah mereka selalu bermalam
selama berada di hutan damar.
Wak Hitam adalah seorang tua yang umurnya hampir tujuh
puluh tahun. Malahan menurut cerita orang lebih lagi. Ada
yang berani bersumpah dan mengatakan, bahwa umur Wak
Hitam lebih dari seratus tahun. Orangnya kurus, kulitnya amat
hitam, seperti orang Keling, tetapi rambutnya masih hitam.
Dia selalu memakai celana hitam, baju hitam dan destar
hitam. Melihatnya saja sudah menimbulkan rasa ngeri, karena
semuanya yang serba hitam pada dirinya. Mengapa dia suka
tinggal berbulan-bulan di humanya yang amat jauh, dua hari
perjalanan dari Batu Putih, kampungnya, macam-macam pula
cerita orang. Padahal rumahnya di Batu Putih besar, dan di
kampungnya ada pula anak bininya.
Bininya empat. Dan kala orang selama hidupnya dia telah
kawin lebih dari seratus kali, dan setiap kawin selalu dengan
anak perawan. Anaknya berserak-serak di tiap kampung, dan
menurut cerita orang dia sendiri pun tak ingat lagi pada
semua anaknya.
Pernah diceritakan ketika dia pulang ke rumahnya di Batu
Putih, dia melihat seorang muda yang enak saja tinggal di
rumahnya seperti rumah sendiri, hingga Wak Hitam memarahi
anak itu, dan berkata:
"Engkau siapa? Engkau berbual seperti rumah ini rumah
ayahmu saja!"
Dan orang itu menjawab:
"Benar, ini rumah bapakku. Aku anak Ibu Khadijah."
Rupanya memang anaknya dari istrinya yang bernama
Khadijah.
Karena hal-hal serupa ini barangkali, maka Wak Hitam lebih
suka memencilkan dirinya jauh dari kampung, dan lebih suka
tinggal di ladangnya di Bukit Harimau, di tengah hutan. Selalu
dia ke sana membawa salah seorang bininya berganti-ganti.
Orang-orang telah kenal baik dengan istri-istrinya yang
dibawanya ke huma. Tetapi yang tercantik adalah istrinya
yang paling muda, Siti Rubiyah, yang baru dikawininya selama
dua tahun terakhir, dan Siti Rubiyah belum lagi mendapat
anak dari dia.
Dan kenyataan ini membuat orang kampung bercerita,
bahwa tenaga Wak Hitam sudah habis, karena biasanya
semua istrinya telah beranak dalam tahun pertama kawin
dengan dia. Malahan menurut Sanip, perempuan kalau
bersalaman saja pun dengan Wak Hitam tentu akan bunting,
begitu hebatnya dia dahulu.
Cerita orang macam-macam tentang ilmu Wak Hitam. Wak
Katok mengakui dia sebagai gurunya dalam ilmu silat dan ilmu gaib.
Anak-anak muda, seperti Sutan. Talib, Sanip dan Buyung
dalam hati takut padanya, meskipun tak pernah mereka
perlihatkan. Karena ada cerita yang mengatakan, bahwa Wak
Hitam bersekutu dengan iblis, setan dan jin, dan dia
memelihara seekor harimau siluman. Kalau dia hendak ke
mana-mana, maka dia selalu mengendarai harimaunya.
Kata orang dia berkali-kali pergi naik haji ke Mekkah
terbang mengendarai harimau silumannya. Ilmunya banyak
benar. Menurut cerita dia kebal. Pernah ketika pemberontakan
dahulu melawan Belanda di tahun 1926 Wak Hitam tertangkap
oleh Belanda, dan dia hendak ditembak mati, akan tetapi
peluru tak dapat menembus badannya, dan dia berhasil
melarikan diri. Diceritakan pula, pada suatu hari serdadu
Belanda mengejarnya, dan Wak Hitam terkepung di dalam
sebuah kebun pisang. Kebun dijaga rapat sekali, seekor
tupaipun tak akan dapat ke luar lari. Lalu serdadu-serdadu
melihat Wak Hitam berdiri bersandar pada sebuah pohon
pisang. Serdadu melompat, mengayunkan kelewangnya, dan
menebas kepala Wak Hitam. Akan tetapi yang putus bukannya
leher Wak Hitam, akan tetapi pohon pisang, dan Wak Hitam
menghilang. Berjam-jam mereka mencari di kebun pisang, tak
lagi mereka dapat menjumpai Wak Hitam.
Dengan ilmunya selalu dia dapat meloloskan diri dari
kepungan tentara Belanda.
Ketika pemberontakan dikalahkan, maka dikabarkan Wak
Hitam lama menghilang dari kampung, akan tetapi tiba-tiba
dia muncul kembali, dan dia pulang membawa harta. Dan kini
dia termasuk orang terkaya di kampung. Mengapa Belanda
kemudian tak menangkapnya, tak seorang juga yang tahu.
Kata orang, berkat ilmunya juga.
Mengapa dia suka tinggal di huma yang jauh di dalam
hutan, banyak pula ceritanya. Ada yang mengatakan dia ke
sana karena harus bertapa, cerita lain mengatakan itulah
perangai orang yang bersekutu dengan setan dan jin, tak
boleh tinggal lama-lama dengan sesama manusia di kampung,
akan tetapi harus menjauhi sesama manusia. Cerita lain
mengatakan, bahwa Wak Hitam masih punya anak buah dari
jaman pemberontakan dahulu, yang bersembunyi di hutan
sampai kini, dan yang kini menjadi penyamun dan perampok.
Cerita lain lagi berkata, bahwa Wak Hitam punya tambang
emas rahasia di hutan, dan dia sendiri saja yang mengerjakan
tambang, supaya jangan ada orang lain yang tahu. Entah
mana yang benar.
Memang di Sungai Air Putih yang juga mengalir dekat
huma Wak Hitam terdapat emas dalam pasirnya. Orang
kampung, dalam musim kemarau, dan jika tak banyak
pekerjaan di sawah atau di ladang ada juga yang suka pergi
ke mudik sungai, dan mencoba mendulang emas. Akan tetapi
pekerjaan ini berat, dan hasilnya tak menentu. Tergantung
dari untung dan nasib juga. Konon ada orang kampung yang
pernah mendapat sebutir emas sebesar kelingking, akan tetapi
tak seorang juga pernah melihatnya.
Mereka bertujuh selalu berusaha untuk pulang ke ladang
Wak Hitam sebelum hari gelap. Akan tetapi jika damar banyak
dan mereka bekerja mengumpulkannya berjauh-jauhan,
hingga terlambat untuk pulang ke ladang Wak Hitam, maka
mereka bermalam saja di hutan.
Bermalam di rumah Wak Hitam di huma kadang-kadang
menyenangkan hati pula. Berbagai orang lain kadang-kadang
ikut menginap di sana.
Rumah Wak Hitam di humanya itu didirikan di atas tiangtiang
yang tinggi. Bahagian depannya merupakan sebuah
beranda yang besar dan panjang. Di sebuah sudut dekat
jendela terletak dapur. Di atas lantai oleh Wak Hitam ditimbun
pasir yang dibatasi dengan papan kayu, dan di atas pasir
dipasang dua buah tungku. Di sinilah istrinya memasak. Di
atas tungku tergantung dendeng rusa, atau ikan sale, bawang,
cabai dan berbagai rupa daun-daunan.
Beranda ini dipisahkan oleh dinding bambu yang dianyam
dari bahagian belakang rumah, yang terdiri dari dua buah
kamar. Sebuah kamar tidur Wak Hitam dengan istrinya, dan
sebuah kamar lagi tempat simpanan Wak Hitam. Di sana dia
menyimpan damar, senapan berburunya, dan entah apa lagi.
Buyung pernah masuk ke sana, ketika disuruhnya
mengambilkan senapan berburunya. Dilihatnya di dalam
kamar ada pula dua buah kopor besar-besar terbuai dari kayu
hitam, dan pinggirannya berlapis lembaga yang sudah tua dan
hijau warnanya.
Sungguh ingin Buyung mengetahui apa isi kopor itu. Akan
tetapi kedua kopor berkunci besar dari besi. Timbul juga syak
dalam hati Buyung, apakah mungkin di dalamnya emas yang
diceritakan orang kampung? Akan tetapi alangkah bodohnya
Wak Hitam menyimpan emas di dalam peti di humanya.
Bukankah amat mudah merampoknya, jika ada orang yang
berniat jahat? Tetapi siapa yang berani berbuat demikian?
Mereka selalu tidur di beranda di atas lantai. Jika mereka
bermalam di sana, maka isteri Wak Hitam yang ikut dengan
dia selalu memasak nasi dan lauk pauk untuk mereka. Mereka
berikan beras dan lauk pauk yang mereka bawa, dan istri Wak
Hitam menanaknya. Mereka senang makan di sana, karena
lain juga rasanya dari makanan yang mereka masak sendiri.
Semua istri Wak Hitam pandai memasak. Lagi pula di
ladangnya banyak ditanamn sayuran, dan selalu mereka
mendapat tambahan masakan dari sayuran di ladang.
Yang paling mereka senangi ialah rebus jagung muda atau
ubi jalar, dan ubi singkong yang dibakar di atas bara yang
panas. Biasanya pagi-pagi sekali Buyung atau Sanip telah
duduk di depan dapur membakar jagung atau ubi. Atau
malam-malam, ketika mereka belum tidur, dan salah seorang
bercerita, maka mereka senang duduk dekat tungku, sambil
membakar jagung atau ubi. Dimakan panas-panas dengan
kopi hitam panas amat enak rasanya. Hilanglah segala penat
dan letih satu hari bekerja di hutan.
Dalam malam serupa itu, Sanip akan mengeluarkan
dangung-dangungnya dan menyanyikan lagu-lagunya. Sekali,
ketika dia melagukan ratap tangis seorang perempuan muda
yang ditinggalkan suaminya, maka Buyung melihat Siti
Rubiyah menghapus air matanya diam-diam.
Mereka semua suka pada Siti Rubiyah. Dia masih muda
benar. Orangnya pun cantik. Jika Buyung tak tergila-gila pada
Zaitun, maka dia akan mudah jatuh cinta padanya. Akan tetapi
kini dia telah jadi bini orang, dan bukan orang sembarangan
pula takinya, tetapi Wak Hitam, yang ditakuti dan disegani.
Karena itu selintas pun tak masuk dalam ingatan Buyung
sesuatu pikiran tak baik terhadap perempuan itu. Meskipun
Buyung harus mengakui, bahwa badannya langsing dan bagus
bentuknya, buah dadanya, meskipun kecil tetapi kuat dan
cantik, dan parasnya dengan hidungnya yang mancung dan
mulutnya yang terdiri dari dua buah bibir yang penuh dan
merah dan selalu basah, dan matanya yang bundar dan
terang bercahaya, ditambah lagi dengan rambutnya yang
hitam, dan panjang hingga sampai ke ujung pantatnya. Sering
Buyung melihat rambul nya terurai jatuh ke bawah, tebal dan
hitam, sedang dia bekerja di kebun dan jika dia sedang
bekerja di kebun di siang hari, maka sinar matahari yang terik
memerahkan pipinya, dan semakin cantik saja dia kelihaian.
Talib dan Sanip sekali waktu tak dapat menahan diri. Ketika
mereka yang muda-muda bersama-sama di hutan, dan orangorang
tua tak ada dekat-dekat, maka Talib atau Buyung alau
Sanip mulai berbicara tentang kecantikan Siti Rubiyah.
"Aduh, coba kalau takinya bukan Wak Hitam," kata Talib.
"Aduh, coba kalau dia belum kawin," tambah Buyung.
"Kemarin aku mimpikan dia," tambah Sanip.
"Engkau lihat bahagian alas buah dadanya, jika dia
membungkuk meniup kayu di tungku? Tadi pagi aku tolong
dia memasang api," kala Buyung.
"Engkau lihatkah mata Pak Haji memandang padanya pada
suatu kali?" tanya Sulan, sambil tertawa penuh arti.
"Pak Haji?" tanya Talib takjub. "Masa Pak Haji punya
pikiran yang begitu?"
"Ya, kan dia sudah tua?" kata Buyung. Sanip tertawa.
"Dengarkan si Buyung berbicara," katanya.
"Lupakah engkau pepatah tua-tua kelapa ....?"
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Tetapi mata Pak Haji masih kalah dengan mata Wak
Katok," kata Sutan menambahkan. "Aduh coba engkau
perhatikan kalau dia melihat pada Siti Rubiyah dan Wak Hitam
lagi tak ada. Seakan hendak ditelanjanginya saja Siti Rubiyah,
dan hendak ditelannya Siti Rubiyah hidup-hidup. Aku pun jadi
cemburu dibuatnya."
Mereka berpandangan.
"Engkau juga," kata Sanip, "sama saja, orang tua atau
orang muda, kalau sudah melihat perempuan cantik, lupa
daratan.
"Ah, aku tidak," kata Buyung membantah, "memang dia
cantik, tetapi aku tak berani merasa seperti kalian. Aku takut
pada Wak Hitam."
"Ho-ho," Sutan dan Sanip dan Talib menertawakan Buyung,
"engkau kan masih bujang masih belum tahu, belum punya
pengalaman apa-apa, karena itu dapat berkata demikian. Kau
belum tahu apa artinya itu."
Dan mereka saling berpandangan dan tertawa,
menertawakan Buyung yang tak berpengalaman.
"Coba kalau nanti kau sudah dipeluk si Zaitun, baru kau
tahu," Sutan mengangguk lagi.
Aduh, merah padam muka Buyung malu. Mereka pun tahu
sudah tentang cintanya yang tak berbalas terhadap Zaitun.
Melihat muka Buyung merah padam karena malu, maka
mereka tertawa lebih hebat lagi.
"Tapi sebelum dengan Zaitun, lebih baik kau belajar dulu
dengan Siti Rubiyah," kata Talib.
Dan mereka tertawa kembali.
Kemudian mereka beralih kembali membicarakan
kemungkinan-kemungkinan Siti Rubiyah di tempat tidur. Atau
tak usah di tempat tidur pun boleh tidur, seperti dikatakan
oleh Sutan, yang menimbulkan tertawa mereka yang hebat
kembali.
Mereka habis-habisan menghantam Wak Hitam yang sudah
tua.
"Entah apa gunanya baginya istri sampai empat," kata
Sutan, "dia sudah tua, sebentar-sebentar sakit, mengapa dia
harus berbini muda lagi seperti Siti Rubiyah?"
"Itu kan adat manusia," kata Sanip, "semakin tua seorang
letaki, semakin dia ingin punya bini muda. Dan perempuan tua
ingin punya suami muda. Untuk menahan umurnya sendiri."
"Aduh, kalau orang tua seperti Wak Hitam kawin dengan
istri muda seperti Siti Rubiyah, bukannya dia menahan
umurnya, akan tetapi hanya akan mempercepat dia masuk
lobang kubur saja," kata Sutan tertawa.
Sejak percakapan mereka demikian, Buyung lebih
memperhatikan kawan-kawannya jika berdekatan dengan Siti
Rubiyah. Memang dia dapat merasakan sesuatu perubahan
dalam sikap mereka. Usaha mereka untuk bersikap dan
berbuat biasa terlalu kelihatan, hingga sebenarnya malahan
menunjukkan adanya perasaan lain dalam dirinya. Buyung
sering merasa khawatir apakah Wak Hitam tak melihatnya
pula.
Akan tetapi dalam beberapa bulan terakhir Wak Hitam
sering sakit-sakit. Dan lebih banyak tinggal di kamarnya saja.
Pak Haji dan Wak Katok dan Pak Bakmi yang datang
mengunjunginya ke kamar tidur. Yang muda-muda hanya
datang sebentar, dan kemudian segera pergi. Karena mereka
tak merasa sesuatu kegembiraan bercakap-cakap dengan Wak
Hitamyang menyeramkan itu.
Belakangan ini badannya bertambah kurus, dan dia masih
selalu memakai pakaian hitam. Matanya cekung mendalam,
kumis dan janggutnya telah banyak putihnya. Akan tetapi
rambutnya masih lebat. Meskipun dia sakit demikian, akan
tetapi seluruh perawakannya masih tetap garang dan
menakutkan. Ada sesuatu dalam dirinya yang menimbulkan
rasa segan orang terhadap dirinya.
Tak obahnya dia seakan seekor harimau yang sakit, akan
tetapi yang jika dilanggar perasaannya, akan dapat melompat
dan menerkam dengan cepat dan mematikan.
Selain dari Siti Rubiyah yang menarik hati mereka untuk
bermalam di ladang Wak Hitam, maka sekali-sekali mereka
berjumpa pula di sana dengan berbagai orangyang anehaneh.
Sekali ketika mereka pulang dari hutan, mereka jumpai
telah ada enam orang lain yang terlebih dahulu tiba.
Mereka semua berpakaian hitam dan membawa parang
panjang. Mereka sapa-menyapa. Akan tetapi mereka tak kenal
pada mereka. Tak pernah mereka melihat orang-orang itu
selama ini singgah di ladang Wak Hitam. Orang-orang itu pun
tak banyak bercerita, dan duduk berkumpul di antara mereka.
Tak lama kemudian, mereka dipanggil masuk ke kamar Wak
Hitam. Buyung lihat dua orang di antaranya membawa dua
buah bungkusan, yang kelihatannya berat isinya. Tak lama
kemudian mereka mendengar suara berbisik-bisik menembus
dinding bambu yang tipis. Akan tetapi betapa juga Buyung
memasang telinganya tak dapat dia mengikuti pembicaraan
mereka di dalam. Siti Rubiyah pun tidak berada di kamar lidur,
akan tetapi tinggal duduk di dekat tungku, memasak kotak ubi
jalar.
Tak lama kemudian mereka ke luar, dan terus minla diri,
dan mereka menghilang ke dalam hutan melalui ladang dalam
gelap malam.
Siapa mereka? Ke mana mereka? Macam-macam timbul
pertanyaan dalam hati tetapi tak seorang pun juga yang
berani menanyakan. Sutan sendiri pun terdiam, seakan
kehadiran orang-orang berbaju hitam yang penuh rahasia itu
menekan perasaannya. Perasaan mereka bertambah tertekan,
melihat sikap Siti Rubiyah yang seakan-akan tak acuh, dan
pura-pura tak tahu bahwa orang yang enam itu telah datang
dan pergi. Dia hanya mengangguk saja ketika mereka
berenam minta diri dan turun ke dalam gelap malam.
Buyung mengikuti mereka dengan pandangannya, betapa
mereka berjalan dalam gelap samar malam di ladang, dan
kemudian hilang dalam pelukan gelap hutan. Rasanya seakan
mereka tak pernah ada. Sesuatu bayangan rahasia yang
dilontarkan oleh gelap malam ke dalam rumah, dan kemudian
dihelanya kembali ke luar dan hilang kembali ke dalam hutan.
Esok harinya Sutan bercerita, bahwa esok paginya dia
bertanya kepada Siti Rubiyah siapakah keenam orang itu,
akan tetapi Siti Rubiyah menjawab dengan singkat:
"Baiklah jangan ditanya."
Semuanya ini menakutkan hati Buyung, akan tetapi
membuatnya menjadi ingin tahu sekali. Macam-macamlah
timbul pikiran mereka untuk memecahkan rahasia ini.
Sutan berkata:
"Jika mereka datang lagi, dan kita masih di sini, mari kita
ikuti mereka dari jauh. Ke mana mereka pergi?"
"Ya, barangkali mereka penjaga gua emas Wak Hitam,"
kata Talib, "coba kalau kita tahu di mana letak gua itu, kan
kita tak usah lagi letih-letih mengumpulkan damar, akan tetapi
cukup kita mengambil emas banyak-banyak, dan selanjutnya
kita jadi orang kaya?"
Akan tetapi sekali-sekali mereka bertemu pula dengan
orang-orang lain yang menarik hati dan menyenangkan
perasaan. Umpamanya beberapa bulan yang lalu, ketika
mereka menginap di sana, kebetulan ikut pula menginap
seorang tukang bercerita keliling. Dia seorang tua dan
membawa sebuah gendang dan sebuah suling. Memang
rupanya kesenangannya bercerita, karena tanpa terlalu susah
payah mengajaknya, maka dia pun berdiri di tengah-tengah
beranda, dan mulai bercerita.
Aduh alangkah pandainya dia bercerita. Cerita kanak-kanak
yang diceritakannya, tentang permusuhan antara seorang
datuk yang memiliki kebun jagung dengan seekor tupai amat
menarik.
Mereka semua terpesona melihat betapa pandainya dia
bercerita. Jika dia bertaku sebagai si datuk tua yang marah
amat sangat, karena jagungnya yang muda dicuri tupai, maka
sungguh-sungguhlah dia berubah menjadi pemilik kebun yang
marah demikian. Dan kemudian tiba-tiba saja lalu dia menjadi
tupai, seekor tupai nakal yang kesenangan mengganggu si
pemilik kebun, dan dari atas dahan pohon yang tinggi dan
aman, mengejek yang empunya kebun, sambil memakan
jagung muda dengan enaknya. Dan yang kelihatan di depan
kita bukan seorang tukang cerita, tetapi sungguh-sungguh
seekor tupai.
Asyiklah mereka dibuatnya dengan macam-macam
ceritanya. Hingga kemudian setelah dia selesai bercerita, maka
mereka memberinya hadiah sedikit uang. Mula-mulanya tak
hendak dia menerimanya, akan tetapi mereka paksa juga.
Pada suatu malam lain, mereka berjumpa di sana dengan
seorang tua dan seorang anak letakinya yang sudah besar.
Mereka hendak pergi ke kampung Aur Kuning, di seberang
hutan, dan mengambil jalan singkat dengan memintas hutan
dan gunung, dan malam itu bermalam di ladang Wak Hitam.
Setelah habis makan malam, ketika mereka bercakapcakap,
lalu orang tua itu memegang tangan Buyung sambil
berkata :
"Anak kelihatannya yang termuda di sini. Mari aku baca
tanganmu."
Lalu dia memperhatikan garis-garis tangan Buyung.
"Anak akan banyak mengalami pengalaman yang hebat.
Anak harus sabar dan tabah menghadapi percobaanpercobaan
hidup," katanya, dan menambahkan, "tetapi akhirnya anak akan mendapat juga apa
yang anak inginkan sekali”
Di sini Sutan tertawa, disusul oleh yang lain-lain. Muka
Buyung merah padam malu-malu. Tetapi dalam hati, Buyung
senang juga. Buyung teringat pada Zaitun.
"Anak panjang umur," katanya pula, "dan anakmu
banyak... tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan."
Sutan mulai lagi tertawa mengangggu Buyung. Muka
Buyung tambah merah padam.
"Hanya satu harus anak hati-hati dalam hidup ini," katanya
melanjutkan, "jangan terlalu percaya pada orang, meski
kawan sendiri pun. Nasib anak dalam hidup selalu akan
dikhianati oleh orang-orang yang dekat dengan anak. Dan
anak jangan lupa, tak boleh memakai pakaian yang terbalik.
Rezeki anak baik, dan anak akan senang nanti di hari tua."
Setelah dia membaca garis tangan Buyung, maka yang lain
pun minta tangannya dibaca.
Pada Sutan dia berkata, supaya Sutan hati-hati terhadap
hatinya sendiri, karena dia mudah tergoda oleh perempuan.
Dia tidak boleh menurut kala hatinya, akan tetapi selalu harus
berpikir dahulu baik-baik sebelum dia berbuat sesuatu apa.
Katanya, Sutan mudah berteman dengan orang, akan tetapi
mudah pula lepas. Selanjutnya dikatakannya pula bahwa
Sutan akan kawin sampai enam kali.
Dan Sutan bukannya malu mendengar itu, melainkan
mukanya penuh bangga. Akan tetapi mendengar ucapannya
kemudian, Sutan terdiam dan mukanyn agak pucat, karena
orang tua itu berkata:
"Orang muda mesti hati-hati sekali. Bahaya besar menanti
orang muda di waktu dekat yang datang. Janganlah turut
nafsu hati."
Buyung merasa seakan ini sindiran terhadap Sutan supaya
jangan mengganggu Siti Rubiyah.
Kepada Wak Katok dia berkata aneh sekali.
"Maaf ya pak," katanya, setelah memperhatikan telapak
tangan kiri dan kanan Wak Katok. "Tak dapat saya membaca
sesuatu."
"Takutkah bapak mengatakan apa yang bapak baca? Saya
tak takut."
Mereka berpandangan mata sebentar, dan kemudian orang
tua itu berkata :
"Gelap saja yang saya lihat, dan saya lihat banyak warna
merah. Entah apa artinya saya tak tahu."
Wak Katok tertawa keras, akan tetapi suara tertawanya
agak tegang, seakan dia menekan perasaannya yang
terganggu.
Juga dia tak hendak membaca tangan Pak Haji dan Pak
Balam, dan mengatakan, bahwa dia tak dapat membaca
sesuatu di garis tangan mereka.
Kepada Talib dan Sanip dia berkata, supaya mereka amat
berhati-hati dalam hidup, karena bahaya selalu
mengancamnya.
Malam itu mereka tidak berbicara dan mengobrol
segembira seperti biasa. Seakan ada sesuatu yang menekan di
beranda rumah di ladang itu, sesuatu yang sejuk yang datang
melayang dari angkasa hitam di atas hutan, sesuatu rahasia
yang gelap dan hitam yang memijit hati dengan jari-jarinya
yang sejuk.
Mereka juga berjumpa di sana dengan orang-orang yang
pernah jauh merantau, dan bercerita tentang orang dan
penghidupan di pulau-pulau lain. Sekali mereka bertemu
dengan seorang yang pernah bekerja di New Caledonia, pulau
jajahan Perancis. Katanya di sana banyak orang Indonesia
yang bekerja dan pandai berbahasa Perancis. Dia sudah
berkeliling dunia, ada dua puluh tahun lebih dia mengembara
dari satu negeri ke negeri yang lain. Asyiklah mendengar
ceritanya, tentang negeri Cina, Jepang, sampai ke negeri
Amerika, Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol, dan Portugis dan Benua Afrika.
Sampai jauh malam mereka mendengar ceritanya gantiberganti
dengan Pak Haji.
0oo0
WAK Katok duduk mencangkung di dalam semak-semak di
pinggir huma. Telah lama juga dia menunggu di sana. Dia
tahu Siti Rubiyah akan lewat jalan kecil itu untuk pergi ke
sungai mencuci. Di seluruh huma itu sunyi sepi. Hanya
terdengar bunyi burung berkicau-kicau mencari makan di
kebun jagung. Wak Hitam, suami Siti Rubiyah tidur di pondok,
menderita demam panas. Kawan-kawannya yang lain di hutan
mengumpulkan rotan. Tiba-tiba Wak Katok memasang
telinganya. Dia mendengar bunyi telapak di tanah. Dan tak
lama kelihatan datang dari kebun Siti Rubiyah membawa
sebungkus cucian, berjalan menuju ke sungai. Wak Katok
menahan napasnya ketika Siti Rubiyah lewat di depannya, dan
kemudian setelah Siti Rubiyah menghilang di belakang jalan di
balik semak-semak dengan perlahan-lahan dia berdiri, dan
mengikuti jauh dari belakang. Wak Katok mengendap masuk
ke dalam semak-semak. Merangkak-rangkak mendekati
pinggir sungai, dan bersembunyi di dalam belukar tebal yang
tumbuh di pinggir sungai.
Matanya tak putus-putusnya mengikuti gerak-gerik Siti
Rubiyah. Perempuan muda itu yang menyangka dirinya
seorang diri di pinggir sungai dengan tenang membuka
pakaiannya. Dia membuka kebaya tuanya dan meletakkan di
atas batu besar. Dia tidak memakai kutang.
Wak Katok menahan napasnya melihat badan Siti Ruhiyah
yang terbuka dengan tiba-tiba, menyala kuning langsat
ditimpa matahari. Buah dadanya tak besar, akan tetapi bagus
bentuknya. Kemudian Siti Rubiyah membuka kainnya. Dia tak
memakai celana dalam. Dan menyusun kainnya di atas
kebayanya di atas batu. Sebentar dia berdiri telanjang bulat di
pinggir sungai di atas batu, seluruh tubuhnya dicium oleh sinar
matahari.
Wak Katok menahan napasnya. Nafsunya datang
menyerang bergelombang-gelombang. Dadanya terasa sesak.
Matanya panas dan seakan hendak meloncat ke luar dari
kepalanya. Selama ini dia hanya dapat membayangkan dan
menerka tubuh Siti Rubiyah yang ditutupi baju dan kain tua.
Akan tetapi kini dia dapat melihatnya sendiri. Seluruh
tubuhnya kencang dan kaku. dan darahnya mengalir di pompa
kuat-kuat oleh jantungnya yang bekerja berdegup-degup amat
cepatnya. Tetapi dia menahan dirinya. Siti Rubiyah cepat
membungkuk dan memakai sebuah kain tua yang hendak
dicucinya. Kemudian dia mengambil onggokan kain kolor dan
merendamnya ke dalam air. Lalu dia duduk mencangkung di
dalam air dan mulai menggosok kain dengan sabun.
Coba aku air sungai yang mengalir itu, pikir Wak Katok. Kini
dia agak tenang. Serangan nafsu berahi telah lewat, dan yang
tinggal ialah api birahi yang membakar kuat, tetapi yang dapat
dikuasainya.
Setengah jam kemudian Siti Rubiyah membuka kain yang
dipakainya, dan mencuci kain. Dia membenamkan bahagian
badannya di bawah pinggangnya dalam air, dan yang
kelihatan oleh Wak Katok hanya badannya bagian atas saja.
Kemudian Siti Rubiyah mandi, dan setelah mengeringkan
badannya dengan sehelai kain, lalu memakai kebaya dan
kainnya. Dia mengumpulkan cuciannya, dan melangkah
kembali ke jalan kecil menuju ladangnya.
"Aduh, terkejut aku, kusangka beruang atau apa," serunya,
menjerit kecil.
Wak Katok tertawa menentramkannya.
"Aku kelupaan rokok di rumah, dan kembali mengambilnya.
Bagaimana Wak Hitam?"
"Masih panas sekali badannya."
"Siti, aku bawakan Siti manik yang Siti minta dulu."
"Aduh, Wak, ada?"
"Marilah," dan Wak Katok memegang tangan Siti dan
menariknya masuk ke dalam belukar....
0oo0
MEREKA telah dua minggu bekerja mengumpulkan damar
berpangkalan di huma Wak Hitam. Lusa pagi mereka akan
kembali ke kampung. Banyak juga hasil mereka sekali ini,
hingga tak terangkat oleh mereka semuanya sekali jalan. Yang
tak dapal mereka angkut, akan mereka tinggalkan di rumah
Wak Hitam. Dan Wak Hitam yang sakit telah berjanji akan
mengirimkannya ke Air Jernih dengan orang yang lewat.
"Bayar saja nanti mereka jika telah tiba di kampung," kata
Wak Hitam.
Sekali ini sakitnya kelihatan tambah berat. Badannya panas,
dan matanya kemerah-merahan hingga wajahnya lebih
menakutkan lagi. Tiap sebentar dia minta minum pada Siti
Rubiyah. Dia menyuruh Siti Rubiyah merebus obatnya sendiri,
terbuat dari ramuan daun-daunan, kulit kayu dan akar-akar.
Pernah Buyung mencoba rasanya dari periuk di tungku
Huuuuhh, pahitnya! Hingga ketika Buyung meludahkannya
kembali keluar melalui jendela, Siti Rubiyah
menertawakannya. Terobat juga lidahnya yang kepahitan
mendengar tertawa Siti Rubiyah yang halus, dan melihat
cahaya yang hinggap di mukanya dan memancar dari
matanya. Siti Rubiyah jarang tertawa. Buyung mengerti.
Terikat kawin pada orang tua seperti Wak Hitam dan tinggal
berminggu-minggu di tengah hutan, jauh dan manusia yang
lain, pasti terlalu berat bagi seorang perempuan muda seperti
Siti Rubiyah yang memerlukan pergaulan dengan perempuanperempuan
yang sebaya dengan dia. Sungguh kejam Wak
Hitam!
Sejak hari pertama mereka tiba di ladang Wak Hitam,
Buyung telah memasang sebuah perangkap kancil di pinggir
ladang dekat ke hutan. Buyung melihat bekas jejak kancil di
sana. Perangkap dibuatnya dari dahan-dahan kayu dan di
dalam perangkap dipasangnya buah jagung muda. Jika dia
dapat kancil atau anaknya, hendak diberikannya nanti pada
Zaitun. Demikianlah maksudnya. Setiap hari sebelum
berangkat ke hutan mengumpulkan damar selalu dia pergi ke
tempat perangkap, memeriksa, dan mengganti umpan. Karena
beberapa kali pintu perangkap telah tertutup, akan tetapi di
dalamnya hanya ada tupai. Selalu tupai dilepaskannya karena
dia tak suka membunuh binatang dengan tak berguna.
Meskipun sebenarnya tupai banyak merusak kebun. Akan
tetapi entah mengapa dia tak sampai hati membunuh tupai.
Binatangnya kecil dan kelihatannya lucu, dan jika dia ingat
cerita tupai dengan Pak Datuk yang kikir, maka perasaannya
selalu berada di pihak sang tupai. Tiap petang pun, jika pulang
dari hutan selalu dia memeriksa perangkapnya.
0oo0
DARI ladang Wak Hitam terbujur berbagai jalan kecil yang
memintas ke hutan dan gunung. Sebuah di antaranya menuju
ke Sungai Air Putih yang mengalir di antara batu-batu besar
dan kerikil dan pasir kira-kira setengah kilometer dari ladang.
Sebuah jalan yang menuju ke Utara adalah jalan yang
membawa mereka pulang ke kampung Air Jernih, yang
menyusuri Sungai Air Putih sebanyak mungkin, kecuali di
beberapa tempat, ketika jalan meninggalkan sungai dan
memilih sendiri tempat-tempat yang mudah dilaluinya.
Ke Selatan sebuah jalan kecil memintasi hutan menuruni
gunung, menuju kampung Wak Hitam, kampung Batu Putih,
ada tiga hari berjalan kaki jauhnya. Jalannya kecil sekali, dan
hampir-hampir tak kelihatan. Kalau bukan orang perimba pasti
akan sesat jika mengikutinya, karena selalu saja tertutup
kembali oleh semak dan pohon-pohon, dan tiap sebentar
orang yang melaluinya harus membukanya kembali dengan
parang.
Mereka selalu mandi ke Sungai Air Putih. Jika pulang dari
hutan di petang hari, maka mereka singgah dahulu di sungai
dan mandi di sana. Siti Rubiyah pun selalu mandi dan mencuci
pakaian di sana, dan meskipun di ladang ada sumur, akan
tetapi, dia lebih suka mengambil air sungai yang airnya jernih
dan sejuk. Dia mengambil air membawa tabung-tabung
bambu. Sekali bawa sampai empat tabung. Sekali-sekali jika
pagi hari Buyung bertemu dengan dia hendak mengambil air,
maka Buyung menolongnya membawakan tabung bambu
airnya. Dan kemudian di hutan Sutan pasti akan mengganggu
Buyung. Kata Sanip, Buyung mencoba-coba hendak menarik
hati Siti Rubiyah.
Tetapi Sutan sendiri suka mandi lebih lama dari kawankawannya
yang lain, menunggu-nunggu Siti Rubiyah tiba. Dua
hari sebelum mereka akan pulang, ketika Buyung pulang dari
hutan menjelang tengah hari, untuk menjemput keranjang
besar tempat damar, buyung memintas jalan di sungai, dan
melihat Siti Rubiyah sedang bermain-main di dalam air. Dia
amat asyik dalam air, hingga tak terdengar olehnya Buyung
datang. Buyung pun berjalan lebih hati-hati dari biasa. Siti
Rubiyah sedang mencoba menangkap ikan-ikan kecil di sungai
dengan tangannya. Dia mendekapkan kedua belah tangannya,
membuat tangannya menjadi semacam cabung yang bulat,
dan memasang tangannya diam-diam di dalam air.
Ditunggunya hingga anak-anak ikan masuk berenang ke
dalam tangannya, dan kemudian dengan tiba-tiba tangannya
diangkatnya ke atas. Akan tetapi ikan-ikan kecil yang
jinak merpati amat cepat dapat melarikan diri, dan lepas dari
tangkapan. Siti Rubiyah pura-pura marah, dan menampar air
beberapa kali, akan tetapi kemudian dia akan memasang
tangannya kembali dan menunggu ikan-ikan kecil masuk.
Sinar matahari menyiram mukanya dan kemudian menari nari
di permukaan air, membuat mukanya yang kuning langsat
seakan penuh dengan siraman cahaya yang berkilauan; terang
matahari bersarang ke rambutnya yang tebal dan yang
kelihatan bertambah hitam dan kini seakan memancarkan
percikan cahaya kecil-kecil, cahaya matahari yang datang dari
langit dan dari permukaan air sungai membasuh seluruh
mukanya, bahunya dan buah dadanya dengan terang dan
bayangan, sungguh terpesona Buyung memandanginya. Jika
dia bosan bermain demikian, maka dia menyanyi. Suaranya
halus dan lagunya sedih, lagu orang kesepian. Rupanya
Buyung terlalu keras menatapinya, karena seakan terkejut dia
mengangkat kepalanya, dan kemudian ketika dia melihat
Buyung yang berdiri di bawah pohon di tepi sungai, sinar
terkejut meninggalkan matanya, dan senyum kecil yang amat
manis menghiasi pula bibirnya, dan dia berseru:
"Engkau itu Buyung! Mengapa telah pulang kini?"
Muka Buyung merah padam, merasa malu, akan tetapi Siti
Rubiyah tak memperlihatkan seakan dia melihat sesuatu yang
ganjil dalam sikap Buyung. Sedang Buyung merasa darahnya
tersirap, dan mengalir cepat sekali dalam badannya dan
jantungnya berdebar-debar keras. Sungguh aneh sekali
perasannya. Dia merasa amat sangat tertarik pada Siti
Rubiyah, ingin dia mendekatinya dan memegangnya dan
memeluknya, akan tetapi pada waktu yang bersamaan hatinya
merasa takut pula. Berbagai macam ketakutan yang timbul
dalam hatinya. Takut pada perasaan hebat yang timbul dalam
dirinya sendiri, takut karena ingat pada Wak Hitam, dan takut
pada Siti Rubiyah sendiri, takut jika dia tahu apa yang
dirasanya terhadap dirinya, maka Sili Rubiyah akan marah,
dan mungkin tak mau lagi tertawa semanis itu padanya, dan
dia pun merasa takut berdosa, karena dia sadar, bahwa
perasaannya yang demikian dilarang oleh ajaran agama.
Tetapi meskipun demikian, Buyung tak dapat menahan dirinya
dari merasa demikian. Tak obahnya seakan sesuatu tenaga
yang lebih besar menguasai seluruh badan dan jiwanya dan
menghapuskan dari pikirannya, dari hatinya, cintanya kepada
Zaitun, takutnya pada Wak Hitam, takutnya kepada Tuhan,
takutnya kepada sikap Siti Rubiyah sendiri, dan takutnya pada
perasaan ganjil yang dahsyat yang menguasai dirinya.
Buyung melangkah ke dalam sungai, mendekati Siti
Rubiyah yang duduk di dalam air. Siti Rubiyah memandang
seraya mengangkat kepalanya kepada Buyung, dan tertawa,
dan berkata:
"Aku coba menangkap ikan kecil. Tetapi mereka cepat lari.
Seakan terasa saja padanya tangan kita akan bergerak untuk
mengangkatnya ke luar dari air."
Dari ketinggian tempat Buyung berdiri, jelas sekali
dilihatnya buah dada Siti Rubiyah yang separuh terbuka, yang
kecil dan bundar akan tetapi membuat belahan pula di antara
keduanya, kulit dadanya halus, dan di rambutnya mutiaramutiara
air berkilauan, bibirnya merah.
Suara Buyung terasa garau ketika berkata:
"Aku pulang hendak mengambil keranjang. Kami dapat
banyak damar."
Tetapi kakinya tak hendak bergerak dari tempat itu, dan dia
berkata, melupakan semuanya: "Marilah aku tolong engkau
menangkap ikan."
Buyung membungkuk dan kepala mereka amal berdekatan,
badan mereka amat berdekatan, dan dengan suka cita Buyung
lihat, bahwa Siti Rubiyah sama sekali tak berusaha
menjauhkan dirinya. Ketika itu Buyung merasa amat dekat
sekali pada Siti Rubiyah, dan lupalah dia sama sekali pada
Zaitun. Mereka sebaya, dan mudah benar Buyung merasa
berkawan dengan dia.
Buyung tak tahu berapa lama keduanya mencari-cari ikan.
Siti Rubiyah banyak bercerita. Dia bercerita, bahwa dia
dipaksa kawin oleh orang tuanya dengan Wak Hitam, sedang
sebenarnya dia tak hendak kawin dengan Wak Hitam. Hampir
dia membunuh dirinya, kalanya, ketika dipaksa kawin dengan
Wak Hitam. Akan tetapi karena menghormati dan takut pada
ayah dan ibunya, maka diturutinya juga kemauan ayah dan
ibunya. Dia tak pernah merasa senang selama kawin dengan
Wak Hitam, cerita Siti Rubiyah. Dia selalu ingin tinggal di
Kampung, dan ingin bergaul dengan kawan-kawan yang
sebaya dengan dia. Akan tetapi Wak Hitam dalam bulan-bulan
terakhir selalu saja membawa dia ke huma, dan istri-istrinya
yang lain ditinggalkannya di kampung.
Dia merasa amat kesepian di ladang, dan merasa tak enak
berdua-dua dengan Wak Hitam di tengah hutan demikian. Dia
sebenarnya takut pada Wak Hitam, katanya mengaku. Wak
Hitam mengawininya, hanya dengan maksud untuk
memperpanjang umurnya. Dia hendak memakai kemudaannya
untuk mempermuda dirinya sendiri. Dan Siti Rubiyah menarik
air muka, seakan dia merasa jijik dan tak senang dengan Wak
Hitam. Jatuh juga hati Buyung melihatnya tak berdaya
demikian. Sungguh kasihan dia, seorang perempuan muda
demikian, dikawini dengan paksa oleh seorang tua, dan
dipaksa pula tinggal bersama di tengah hutan. Pasti dia
kesepian dan ingin berkawan dengan orang-orang muda yang
sebaya dengan dia.
Segan benar Buyung sebenarnya meninggalkan Sili
Rubiyah, akan tetapi kemudian dia teringat tujuannya yang
sebenarnya mengambil keranjang, dan dipaksanya dirinya
meninggalkan suasana yang amat menggembirakan bercakapcakap
dengan Siti Rubiyah, dan dia bergegas ke rumah
mengambil keranjang.
Ketika dia tiba di atas beranda, didengarnya Wak Hitam
memanggil, "Siapa itu?"
"Buyung, Wak," sahutnya enggan, "mengambil keranjang.
Dapat banyak damar kami."
"Marilah sebentar ke mari. Di mana Siti Rubiyah?"
Tersirap darah Buyung sedikit. Tahukah Wak Hitam, bahwa
dia tadi singgah dan lama berbicara dengan Siti Rubiyah?
Buyung ingat akan cerita-cerita tentang ilmunya yang hebat,
dan bukan tak mungkin ilmu firasatnya begitu hebat, hingga
dia dapat mengetahui apa yang terjadi jauh dari dirinya.
Buyung menguatkan dirinya, dan membaca mantera penjaga
diri yang diajarkan Wak Katok padanya dan dia melangkah
dengan tenang ke dalam kamar tidur Wak Hitam. Wak Hitam
terbaring di atas kasur di lantai, berselimut hitam tebal-tebal.
Kepalanya memakai kupiah wol yang tebal yang belang-belang
merah, hitam dan putih. Ketika Buyung masuk dia mengerang.
Rupanya demamnya sedang naik.
"Aduh Buyung, tolong berikan aku air secangkir," katanya
dengan suara yang lemah dan gemetar. Mendengar suaranya
dan melihat keadaannya yang demikian, hilang pula rasa takut
dan was-was dalam hatinya. Cerek tempat air terletak jauh
dari kasurnya. Buyung mengisi semangkuk air teh dan
membawa padanya. Wak Hitam mencoba duduk, tetapi tak
kuat. Buyung mendorong punggungnya dengan sebelah
tangannya, dan tangan kanannya membawakan cangkir ke
bibir Wak Hitam. Wak Hitam memegang cangkir dengan kedua
belah tangannya. Seluruh badannya gemetar, dan cangkir
bergoyang karena getar kedua tangannya, dan air teh akan
tumpah jika cangkir tak dipegang kuat-kuat oleh Buyung. Dia
minum dengan lahap, dan kemudian merebahkan dirinya
kembali. Buyung menyeka keningnya yang penuh keringat
dengan sebuah lap kain merah yang terletak dekat bantalnya.
"Aduh, beginilah kalau sudah tua dan sakit-sakit, tak ada
lagi yang mengurus awak," keluhnya, "di mana Siti Rubiyah?"
"Di sungai, mencuci," sahut Buyung
"Ohhhh," katanya, kehilangan perhatiannya, dan kemudian
timbul kembali kekesalannya dan iba hatinya pada dirinya
sendiri. "Di sungai saja kerjanya. Beginilah Buyung," katanya
kembali, "kalau sudah tua dan sakit-sakit. Bini sendiri pun
tidak lagi memperdulikan kita, apalagi anak-anak atau
keluarga yang lain. Mereka malahan menunggu dan
mendoakan supaya kita lekas saja mati, biar mereka dapat
membagi-bagi harta yang kita tinggalkan."
Kemudian diam diam sebentar, dan kembali memandang
pada Buyung, dan berkata: "Bini yang tua dan bini yang
muda, sama saja, tak hendak mengurus kita dengan benar."
Kemudian dia diam, lalu memandang pada Buyung, dan
berkata: "Pergilah, Buyung, engkau masih harus bekerja."
Hati Buyung lega disuruhnya pergi. Barangkali dia terlalu
bergegas berangkat, akan tetapi dia tak lahan rasanya tinggal
di dalam kamar yang panas dan gelap dengan Wak Hitam
yang demam panas. Kamar terasa seakan sesak, udara dalam
kamar berat dan panas dengan bau badan Wak Hitam yang
sakit, dan dia seakan merasa tak dapat bernapas di dalamnya.
Tiba di luar rumah, udara panas dihirupnya dan terasa amal
segar sekali. Di tengah jalan Buyung bertemu dengan Sili
Rubiyah yang hendak pulang. Dari jauh Siti Rubiyah telah
tersenyum. Kali ini seakan senyumnya mengandung arti yang
lebih dalam. Seakan dari pertemuan mereka, di sungai tadi,
telah tumbuh sesuatu yang mendekatkan mereka. Dan
Buyung bukannya tak senang dengan perasaan ini.
Buyung mengatakan padanya agar dia bergegas, karena
Wak Hitam memanggil-manggilnya, dan panas demamnya
kelihatannya lelah menjadi lebih tinggi.
Siti Rubiyah terus pulang, dan Buyung bergegas kembali ke
hutan. Di tengah hutan ingatannya yang penuh gembira dapat
berjumpa tadi dengan Siti Rubiyah tak terganggu oleh ketokan
burung pelatuk yang mengisi hutan. Dia terkejut ketika
mendengar suara Talib mereka berdua bekerja bersama
mengumpulkan damar.
"Aduh, senang benar hatimu, sampai menyanyi segala."
Dengan tak disadarinya Buyung telah menyanyi rupanya,
dan dia tak sadar telah tiba di tempat mereka bekerja, dan
kini Talib memajukan sebuah pertanyaan yang sukar pula
untuk menjawabnya:
"Mengapa engkau lama?"
Akan tetapi otaknya dengan cepat bekerja dan dia
menjawab:
"Oh, aku memperbaiki perangkap kancilku sebentar."
Dan dia takut Talib akan melihat betapa pipinya memerah,
karena harus berdusta demikian. Akan tetapi Talib terus
berbalik meneruskan pekerjaannya.
"Aduh senang juga hatiku, esok kita akan pulang ke
kampung," kala Talib. "Sudah terlalu lama...." tiba-tiba dia
berhenti berkata, dan menengok ke atas. Enam ekor burung
gagak kelihatan terbang melintas di atas hutan tempat mereka
bekerja, berbunyi-bunyi: gaak-gaak-gaak!
Talib agak berubah air mukanya Dia mengucap
Astagafirullah...dan kemudian berkata: "Aduh, alamat tak baik
itu. Moga-moga Tuhan melindungi kita dan menyelamatkan
perjalanan kita pulang."
"Ah, tahyul saja itu," kata Buyung, "apalagi kita ini kan di
hutan, bukan di kampung."
"Kalau di kampung ada burung gagak terbang melintasi
rumah, dan di rumah itu ada orang sakit, maka artinya si sakit
akan mati," kata Talib.
"Itulah yang kumaksudkan," kala Buyung, "jadi di hutan tak
ada artinya, karena hutan tempat burung gagak tinggal,
bukan?"
"Kuharap benarlah katamu itu," kala Talib.
Hari itu mereka lebih cepat pulang ke huma Wak Hitam,
karena mereka hendak menyiapkan hasil damar yang telah
mereka kumpulkan selama seminggu bekerja di hutan, dan
untuk menyiapkan perbekalan pulang.
0oo0
3
Sebelum Subuh mereka telah bangun. Siti Rubiyah ikut
bangun pagi, dan memasakkan kopi dan makanan pagi untuk
mereka. Buyung merasa agak berat dalam hatinya berangkat.
Dia teringat Siti Rubiyah akan mereka tinggalkan sendiri
dengan Wak Hitam yang masih sakit. Kemarin malam
panasnya naik lagi, hingga dia mengerang-ngerang sepanjang
malam, dan sepanjang malam terdengar dia tak tertidur, akan
tetapi berbalik-balik dengan gelisah di alas tempat tidurnya,
dan tiap sebentar terdengar gerak Siti Siti Rubiyah di dalam
kamar mengambilkan air minum untuknya.
Timbul rasa kasihan yang besar dalam hati Buyung
terhadap perempuan muda itu. Dia melihat kepada kawankawannya,
apakah mereka juga merasa seperti dia. Tetapi dia
tak dapat membaca sesuatu di air muka Pak Haji yang tenang
seperti biasa di air muka Pak Balam, atau di wajah Wak Katok
yang keras dan kukuh, di muka Talib atau Sutan dan Sanip.
Mereka seperti biasa saja. Malahan di wajah Talib, Sutan dan
Sanip dia dapat membaca kegembiraan mereka akan
berangkat pulang, dan tak lama lagi akan berkumpul kembali
dengan keluarganya.
Tetapi Buyung merasa kehilangan perasaan gembira
demikian, perasaan gembira dan hasrat mendesak, yang
biasanya selalu menyertai pagi demikian, bila akan pulang ke
kampung setelah berminggu-minggu di hutan.
Kini malahan hatinya seakan berat hendak meninggalkan
Siti Rubiyah berdua saja dengan Wak Hitam. Dalam hatinya
timbul pertanyaan, seandainya Wak Hitam mati, selelah
mereka berangkat, apakah yang akan dilakukan oleh Siti
Rubiyah? Kepada siapa dia akan dapat minta tolong? Alangkah
ngerinya baginya tinggal berdua di ladang sepi di tengah
hutan itu dengan mayat Wak Hitam. Dan sebagai kata orang,
Wak Hitam orang yang punya ilmu-ilmu, maka siapa tahu
setan-setan akan datang mengganggu. Kemungkinan dia akan
bertemu dengan Zaitun pun tidak dapat menimbulkan
kegembiraan dalam hatinya.
Tetapi dia tahu juga tak banyak yang dapat dilakukannya
untuk menolong Siti Rubiyah. Dia tak dapat tinggal di sana.
Dia juga harus ikut pulang memikul hasil damar yang mereka
kumpulkan.
Ingin dia dapat bercakap-cakap lagi dengan Siti Rubiyah
sebelum berangkat, akan tetapi tak ada kesempatan timbul.
Hanya sebentar, ketika kawan-kawannya yang lagi pergi
mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada Wak
Hitam, dan dia sengaja menunggu hingga terakhir, dia dapat
berkata kepada Siti Rubiyah:
"Kami berangkat kini, Rubiyah, baik-baiklah jaga dirimu.
Moga-moga Wak Hitam lekas sembuh."
Siti Rubiyah hanya memandang padanya dengan air muka
yang penuh arti, dan sinar matanya seakan meminta dengan
amat sangat kepadanya untuk melakukan sesuatu. Sebentar
tertegun perasaan Buyung. Sesaat terasa pula olehnya seakan
Siti Rubiyah hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Seakan
kata-kata hendak terlompat dari mulutnya, telah menunggu
dan bersiap di belakang bibirnya, akan tetapi tak jadi
diucapkannya karena terdengar langkah kawan-kawannya ke
luar dari kamar Wak Hitam. Sinar menghilang dari mata Siti
Rubiyah, dan air mukanya memperlihatkan seakan dia
kecewa, akan tetapi juga tabah menerima, bahwa dia tak jadi
mengucapkan apa yang harus diucapkannya, tangan nasib
atau tangan Tuhan Yang Maha Kuasa telah menghentikan
lompatan kata-kata, dan siapa tahu, jika jadi diucapkan akan
mempengaruhi jalan hidupnya? Ataukah karena tak jadi
diucapkan, apa yang hendak diucapkan akan mempengaruhi
jalan hidupnya? Ataukah karena tak jadi diucapkan, apa yang
hendak diucapkannya ketika itu, maka terjadi apa yang terjadi
kemudian?
Saat-saat gaib demikian selalu ada dalam hidup setiap
manusia, saat-saat yang penuh arti dan pengaruh gaib, saatsaat
yang menyuruh orang melakukan pilihan atau mengambil
putusan, pilihan yang mungkin membawanya ke puncak
kebahagiaan, atau juga ke dasar ngarai gelap kenistaan. Atau
yang membawa kesyukuran ataupun sesalan seumur hidup.
Saat serupa itulah yang tiba akan tetapi berlalu kembali
antara Buyung dan Siti Rubiyah. Dan keduanya seakan
menyadarinya dalam bawah sadarnya. Mereka seakan merasa
lega dan kecewa sekaligus karenanya, dan hal itu juga
menjauhkan mereka akan tetapi mendekatkan mereka pula.
Sekan merupakan sebuah tali halus yang tak kelihatan yang
mengikat jiwa mereka. Saat-saat yang demikian, meskipun
lewat dalam sekilas mata, akan tetapi mungkin dapat
meninggalkan bekas bertahun-tahun, jika tak akan menjadi
kenangan untuk seumur hidup. Menjadi kenangan dan
pertanyaan.
Siti Rubiyah membuang muka dan pergi ke tungku, purapura
memperbaiki kayu api di tungku, dan Buyung melangkah
menuju ke kamar Wak Hitam untuk mengucapkan terima
kasih dan selamat tinggal.
Dia berpapasan dengan kawan-kawannya di pintu kamar,
dan setelah matanya terbiasa dalam gelap kamar, yang hanya
diterangi sinar kecil sebuah pelita lampu minyak kelapa, maka
dia melangkah mendekati tempat Wak Hitam berbaring. Dia
berjongkok dan mengulurkan tangannya memegang tangan
Wak Hitam, dan berkata: "Saya minta diri, Wak Hitam, dan
mengucapkan banyak terima kasih telah diterima bermalam disini."
Wak Hitam hanya mengerang saja, pijitan tangannya
membalas salam Buyung amat lemah sekali, dan kemudian
dengan perasaan tak enak, Buyung melepaskan tangan Wak
Hitam, dan berdiri serta bergegas melangkah ke luar. Dia
merasa malu, malu melihat kelemahan letaki yang begitu
gagah perkasa dahulu, akan tetapi kini direbahkan oleh sakit
demamnya, menjadi susunan daging dan tulang dan olotototyang
tidak berdaya sama sekali, dan dia merasa malu,
karena dia orang muda, segar bugar, penuh kekuatan hidup.
Semua kekayaan dirinya ini dibandingkan dengan kelemahan
orang tua itu. Seakan dia memamerkannya dan
menyombongkan dirinya pada si lemah. Karena itu dia merasa
terdorong harus cepat ke luar dari kamar orang sakit.
Ketika dia tiba di luar kamar, kawan-kawannya semua telah
turun membawa keranjang-keranjang punggung besar yang
berisi damar dan bekal mereka di hutan. Siti Rubiyah masih
tinggal duduk berjongkok di depan tungku. Buyung
menurutkan bisikan hatinya, dan melangkah cepat menuju ke
tungku, dan mengulurkan tangannya, memberi salam selamat
tinggal kepada Siti Rubiyah.
Pegangan Siti Rubiyah terasa keras sekali, amat jauh
berbeda dari tangan sakit Wak Hitam. Tangan Siti Rubiyah
kuat dan lembut, panas penuh kehidupan, penuh darah merah
mengalir. Darah yang memanggil-manggil. Mata mereka
berpandangan, dan Buyung merasa tak perlu berkata sesuatu
apa, dia melihat dalam mata Siti Rubiyah cerminan apa yang
dikatakan matanya sendiri, yaitu bahwa seluruh hatinya dapat
merasakan penderitaan Siti Rubiyah, dan dengan seluruh
hatinya dia ingin dapat menolong Siti Rubiyah pada setiap
waktu..Siti Rubiyah hanya perlu memanggilnya saja.
Buyung melepaskan tangan Siti Rubiyah dan pergi ke ujung
beranda tempat keranjang punggungnya telah menanti.
Dengan cepat keranjang disandangkannya ke atas bahunya,
dia memperbaiki letak parang panjang di pinggangnya,
menyentuh pisau belati di perutnya dengan tangan kirinya,
melihat ke dinding apakah senapan lantak Wak Katok telah
dibawa atau belum. Dia melihat bahwa senapan tak ada lagi
tergantung di dinding. Telah dibawa rupanya oleh Wak Katok.
Kemudian dia memandang kembali kepada Siti Rubiyah
yang masih duduk di depan tungku.
Sesaat Buyung merasa ragu, antara hendak mendatanginya
kembali, atau terus pergi. Akan tetapi dia teringat, bahwa dia
telah memberi salam selamat tinggal. Karena itu dia cepat
turun tangga tanpa berkata sesuatu apa lagi.
Ketika dia tiba di bawah tangga, dia melihat kawankawannya
telah menyeberangi ladang, dan mulai masuk ke
pinggir hutan. Buyung bergegas menyusul mereka.
Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, tiba-tiba
Buyung ingat pada perangkap kancilnya.
"Aduh, aku lupa memeriksa perangkap kancil," katanya
kepada Sutan yang berjalan di depannya.
"Siapa tahu barangkali ada isinya pagi ini."
"Mengapa engkau tak kembali memeriksanya?" kata Sutan.
"Sayang bukan."
"Tetapi aku malas kembali.. Kita telah jauh."
"Mana jauh, kau memang pemalas," kata Sutan, "baru jalan
setengah jam. Tinggalkan saja keranjangmu di pinggir jalan,
tak akan ada orang yang mencurinya. Demikian engkau akan
dapat berjalan lebih cepat. Susul kami nanti di tempat kita
bermalam."
"Ah, biarlah," kata Buyung, masih ragu-ragu.
"Tetapi kalau ada isinya, kancilnya bisa mati kelaparan,"
kata Talib. "Berdosa engkau." - Buyung tambah ragu. Ucapan
Talib menyebabkan dia mengambil kcpulusan untuk kembali.
"Baiklah, aku kembali memeriksa perangkap," katanya,
"kalian terus saja. Nanti aku susul."
Dia melepaskan keranjang punggungnya yang berat dan
meletakkannya ke dalam belukar di bawah sebuah pohon
besar di sisi jalan kecil di hutan.
Kemudian dia berbalik, kembali menuju ladang Wak Hitam.
Dalam hatinya dia berharap benar akan mendapat seekor
kancil. Akan diberikannya kepada Zaitun. Zaitun sudah lama
ingin memelihara seekor kancil. Dan si Rancak, adik Zaitun,
tentu akan tambah sayang pula padanya, jika dia memberi
Zaitun kancil.
Dari uang hasil damarnya, dia akan membeli, apakah yang
akan dibelinya ...? Dia akan menyimpan seringgit untuk
membeli sebuah senapan berburu yang baru. Dia senang,
karena dia tak punya hutang kepada siapa pun juga. Oh, dia
akan membelikan sebuah kain sembahyang yang baru untuk
ibunya. Ibunya akan senang benar dengan kain sembahyang
baru nanti, sebuah kain pelekat yang berwarna merah tua.
Itulah warna yang disenangi ibunya. Kemudian apa lagi?
Oh, dia akan memberi ibunya uang untuk membantu
belanja di rumah. Sejak dia pandai mencari uang, selalu dia
memberi uang pada ibunya, meskipun ibunya mengatakan,
bahwa dia tak perlu memberikan uang, seperti orang
membayar makan saja di rumah orang lain. Ayahmu masih
cukup memberi ibu uang, kala ibunya kepadanya. Akan tetapi
dia berkata, bahwa suka hati ibunyalah akan diapakan uang
yang diberikannya.
Dia juga akan menyimpan uang untuk membeli pakaian
baru untuk hari Lebaran yang akan datang. Dia hendak
membuat baju teluk belanga dari sutera kuning muda, sebuah
peci beludru hitam yang baru, dan sepasang sandal kulit yang
baru. Dia ingin sekali membeli sandal kulit yang berpaku-paku
putih sebagai perhiasannya.
Akan aku berikan uangnya pada ibu supaya disimpan, pikirnya.
Dia terkejut dan terbangun dari mimpi-mimpinya, ketika
mendengar bunyi berkeresek-keresek di dalam belukar di
pinggir jalan. Dia berhenti, tangannya memegang hulu parang
panjangnya. Belukar bergerak-gerak, dan kemudian seekor
babi hutan yang besar muncul, melintas jalan dengan cepat,
tanpa melihat Buyung yang berdiri dengan diam-diam dan siap
untuk melompat ke pinggir jika babi hendak menyerangnya.
Babi telah melintas jalan. Buyung kembali ke dalam hutan.
Kini dia menyadari kembali pohon-pohon di sekelilingnya.
Tombak-tombak sinar matahari yang berhasil menembus
payungan tebal daun-daun hijau memiring dari langit
menimpa tanah hitam di bawah, menimbulkan pola-pola
cahaya dan bayangan yang bertukar-tukar amat menarik hati.
Dia mendengar kembali bunyi-bunyi ratusan ragam serangga
di dalam hutan. Dia mendengar kembali bunyi teriak orang
hutan yang bergendang-gendang berat dari jauh. Dia
mendengar ketukan tajam burungbelatuk mencari ulat dibalik
kulit pohon kayu. Dia mendengar kokok ayam hutan berderaiderai
merdu. Dia melihat rama-rama yang beterbangan di
sinar matahari yang menembus ke dalam hutan, dan melihat
kembali burung burung berwarna hijau, kuning dan merah
yang beterbangan tinggi di antara cabang-cabang pohon.
Dia merasa kembali kesegaran udara pagi di dalam hutan.
Tiap tarikan napas yang memenuhi jantung seakan obat segar
yang mempercepat jalan darah, menguatkan otot dan tulang.
Menggembirakan hati.
Semuanya di sekelilingnya, hutan dengan pohon dan daun,
akar, serangga dan margasatwa yang dirasanya kehadirannya,
langit yang dirasanya berada di atas lapisan payung hijau
rimba, matahari di langit, angin yang datang berhembus,
semuanya menapaskan kehidupan, dan mempertajam
kesadaran dirinya. Kesadaran pada hidupnya, pada alam hidup
di sekelilingnya. Dia merasa amat sangat gembira, dan tanpa
diketahuinya, mulutnya lalu bersiul-siul.
Kegembiraannya bertambah sempurna ketika dia tiba di
tepi ladang tempat dia memasang perangkapnya, dan melihat
di dalam perangkap seekor kancil yang kecil. Kancil itu berlarilari
berkeliling di dalam perangkap yang sempit, ketika Buyung
tiba dekat perangkap.
Alangkah manisnya binatang ini, pikir Buyung, dan dia
teringat pada kisah kancil yang diceritakan ibunya kepadanya
di waktu kanak-kanak. Hidungnya hitam dan basah berkilauan,
kakinya ramping telinganya runcing dan halus, dan matanya
lembab bercahaya.
Dengan cepat dia membuat sebuah keranjang dari cabangcabang
kecil pohon yang liat yang tumbuh di pinggir hutan.
Buyung mengumpulkan rumput kering dan dengan rumput itu
dialasnya keranjang, dan kemudian sang kancil ditidurkannya.
Kancil amat ketakutan ketika dipegangnya. Dadanya dan
perutnya turun naik karena bernapas kencang, dan dia
menggeliat-geliat badannya hendak melepaskan dirinya dari
pegangan si manusia yang ditakutinya. Akan tetapi Buyung
berbicara padanya dengan suara yang halus dan tenang. .
Kemudian dia mengumpulkan daun-daun muda dan rumput
muda dan dimasukkannya ke dalam keranjang.
Lalu keranjang ditutupnya dan dia menjinjing keranjang,
dan melangkah kembali ke hutan. Langkahnya tertegun, dia
memutar badannya, memandang ke pondok tinggi di tengah
ladang sebentar terlintas dalam hatinya hendak pergi
menengok Siti Rubiyah kembali, akan tetapi dia teringat pada
Wak Hitam, dan hal ini menyebabkan dia kembali memutar
badannya, melangkah cepat ke dalam hutan. Kemudian dia
teringat, bahwa mungkin sang kancil akan haus, lalu dia
membalikkan langkahnya, memintas hutan menuju sungai.
Di pinggir hutan dekat sungai, dia berhenti, tertegun
karena tiba-tiba dia melihat Siti Rubiyah duduk di atas batu
rupanya dia baru selesai mandi. Karena dia telah berpakaian,
dan sedang duduk di batu menyisir rambutnya. Tetapi sesuatu
dalam gerak perempuan muda berkata kepada Buyung bahwa
perempuan itu sedang gundah gulana pikirannya. Sebentarsebentar
tangannya yang menyisir rambut yang hitam dan
panjang terhenti, dan dia seakan termenung, duduk menatapi
air yang mengalir, kepalanya tegang kaku, matanya terbuka,
akan tetapi seakan tak melihat sesuatu apa.
Pada saat yang demikian Buyung pun dapat ikut merasakan
dalam dirinya kesepian yang dahsyat yang menawan diri si
perempuan muda yang duduk sendirian di atas batu, di pinggir
sungai di tengah hutan belantara. Seluruh hatinya dan dirinya
berseru menyuruhnya mendekati si perempuan muda, dan
memecahkan kesepian manusia yang sedang diderita Siti
Rubiyah. Dengan tak berpikir lagi Buyung melangkah ke luar
dari naungan atap daun rimba, dan menegur:
"Rubiyah, mengapa engkau bermenung-menung sendiri?"
Perempuan itu tersentak bangun dari arus pikirannya, dan
separuh terkejut mengangkat badannya dari batu, berpaling
cepat ke arah suara Buyung. Air mukanya seperti orang yang
terkejut sekali. Ketika dia melihat Buyung seluruh air mukanya
berubah, cahaya matahari kembali bersinar di dalam matanya,
dan senyum menyambut terang di bibirnya.
"Aduh, tersirap darahku," katanya dengan suara yang
terkejut, dan kedua tangannya dilipatkan menekan dadanya,
gerak dan suara yang mendentingkan tali hati Buyung. Siti
Rubiyah berdiri, dan melangkah di dalam air, menuju Buyung,
memegang tangan Buyung, sambil berkata: "Aduh, kakak
kembali...?" Kemudian dia melihat kancil dalam keranjang, dan
cepat mengerti, ketika Buyung berkata: "Ya, aku kembali ... di
tengah jalan aku teringat, lupa memeriksa perangkap kancil.
Aku kembali, dan benar saja ada kancil di dalamnya ..." dan
dia memperlihatkan kancil kepada Siti Rubiyah.
Siti Rubiyah berteriak kecil girang melihat kancil, dan
mengulurkan jarinya melalui lubang anyaman keranjang.
Mula-mula kancil mencoba mengelakkan kepalanya dari
sentuhan jari perempuan, akan tetapi kemudian dia
membiarkannya, dan memandangi Siti Rubiyah dengan
matanya yang bundar.
Buyung melangkah ke dalam hutan, dan meletakkan
keranjang di bawah sebuah pohon kayu besar, dan mereka
berdua mencangkung dekat keranjang yang berisi kancil.
"Aduh bagusnya dan halusnya dia," kata Siti Rubiyah,
"cantik sungguh rupanya. Untuk siapakah dia?"
Buyung memandang padanya, keraguan timbul dalam
hatinya, antara hendak mengatakan, bahwa kancil itu adalah
untuk Zaitun, kecintaannya di kampung Air Jernih, dan hasrat
yang timbul pula dalam hatinya untuk dengan gagah berkata:
"Jika engkau suka, bolehlah untukmu."
"Belum tahu," kata Buyung kemudian, entah mengapa dia
berkata demikian, dia sendiri pun tak tahu apa yang menyuruh
berkata demikian.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Rubiyah," kata Buyung
kemudian memberanikan hati. "Aku perhatikan engkau tadi
duduk di batu sungai. Tak baik menurutkan susah hati."
Mendengar kata Buyung, air muka Siti Rubiyah yang telah
girang karena melihat kancil, lalu berubah, dan dia kembali
teringat pada kesusahan hatinya, kembali dirinya dipeluk oleh
hal-hal yang menyusahkan pikirannya. Dia membungkukkan
kepalanya, dan mengais-ngais tanah di bawah pohon dengan
jari-jarinya, lupa kepada kancil yang menarik hatinya mulamula
tadi.
"Aduh, kakak," katanya, "bagaimana aku tak bersusah hati.
Aku hanya tinggal berdua dengan Wak Hitam. Penyakitnya tak
hendak sembuh-sembuhnya. Panas badannya bertambah
hebat saja. Dan aku..." dia tertegun, berhenti berbicara, dan
memandang kepada Buyung.
"Apa, apa?" tanya Buyung, penuh rasa ingin tahu, dan
hasrat hendak menolong.
"Malu aku sebenarnya mengatakannya, akan tetapi kepada
siapa kini tempat aku mengadu, jika bukan kepada kakak yang
begitu baik hati padaku?" katanya kemudian, dan memandang
kepada Buyung dengan matanya penuh rasa percaya dan
minta bantuan, yang membuat Buyung melupakan umurnya
yang muda, dan dia merasa dirinya seorang letaki yang
dewasa dan gagah perkasa, dan yang sanggup membela dan
melindungi perempuan muda yang tak berdosa, yang lemah
dan yang sedang dalam kesusahan ini.
"Katakanlah," desak Buyung, "akan aku tolong engkau."
"Aduh, kak, sejak dia sakit, setiap aku ada di rumah, aku
disuruhnya..." dia terhenti lagi, dan tiba-tiba mukanya merah,
malu,"... aku disuruhnya tidur memeluknya, aku tak boleh
berbaju, sedikit pun tak boleh - katanya supaya kesehatan
diriku masuk ke badannya yang sakit — dan menyembuhkan
dia — aku tak tahan lagi, tiap kali aku harus berbuat demikian,
tiap kali terasa tambah berat di hatiku. -- Hatiku tambah
segan dan takut — tolonglah aku kak, aku hendak lari saja,
hendak pulang ke kampung. Bawalah aku pulang ke kampung,
kak — atau ke mana saja sungguh aku tak tahan lagi, aku
tersiksa — itu kalau dia lagi sakit — kalau dia tak sakit... aku
lebih disiksanya lagi. Dia bukan manusia lagi kak, dia sudah
seperti binatang, seperti setan saja — aduh, kakak tak tahu
apa yang dilakukannya pada diriku, dan kudengar dia juga
pada bini-bininya yang lain ..." dan tiba-tiba Rubiyah
melupakan rasa malu dan segannya kepada Buyung, karena
dibawa arus kemarahan dan kasihan dirinya, lalu membuka
kebayanya, membalikkan punggungnya, dan memperlihatkan
kepada Buyung punggungnya yang penuh dengan bekasbekas
seperti cambukan atau cubitan yang mengeluarkan
darah, atau juga goresan kuku yang mengenai daging, atau
pula gigitan, dan kemudian dia membalikkan dadanya,
memperlihatkan dadanya kepada Buyung, dan dengan terkejut
Buyung melihat dadanya penuh bekas-bekas gigitan yang
telah sembuh.
Siti Rubiyah kemudian dengan cepat menutup kembali
dadanya, menundukkan kepalanya, dan air mata mengalir dari
matanya. Dia menangis terisak-isak, hingga sebentar Buyung
bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Perasaannya
amat tergoncang sekali. Apa yang dilihatnya baru sekali itu
dilihatnya, dan terasa padanya amat sangat dahsyatnya.
Semua cerita yang menakutkan dan mengerikan tentang Wak
Hitam kini terbukti kebenarannya.
Inilah Siti Rubiyah, istrinya yang muda, yang merupakan
sebuah saksi dan bukti yang terang sekali.
Meskipun dia belum dapat memahami semua yang terjadi
antara Wak Hitam dan Siti Rubiyah, akan tetapi hatinya
merasakan sungguh nasib malang perempuan muda itu. Dia
kini juga mengerti mengapa Wak Hitam suka membawa istriistrinya
ke huma yang sepi itu. Jika dia berbuat demikian di
kampung, tentu orang kampung akan ribut.
"Tetapi kak, kakak jangan ceritakan pada siapa pun juga
apa yang aku katakan ini. Wak Hitam mengancam aku, bahwa
jika aku membuka rahasianya kepada siapa pun juga, maka
aku mati. Aku akan diracunnya, atau ditenungnya, hingga aku
mati atau jadi gila. Aku takut padanya. Dia berilmu gaib yang
hebat sekali, kak."
Tiba-tiba Buyung merasakan dirinya tak cukup gagah
perkasa untuk dapat melindungi Siti Rubiyah dari kesetanan
dan kebinatangan Wak Hitam. Apa dayanya melawan orang
berilmu gaib yang hehat seperti Wak Hitam? Dia baru
belajarsedikit-sedikil dari Wak Katok. Sedangkan Wak Katok
sendiri mengaku guru pada Wak Hitam. Bagaimana dia, murid
Wak Katok akan dapat menghadapi dan menantang Wak Hitam?
Akan tetapi melihat Siti Rubiyah duduk mencangkung
demikian di depannya, dan menundukkan kepala ke tanah, tak
sampai hatinya untuk mengaku kalah, dan tak berbual apaapa.
Dijangkaukannya tangannya memegang bahu Siti
Rubiyah, dan Siti Rubiyah merebahkan kepalanya ke pangkuan
Buyung, dan Buyung menghapus-hapus kening Siti Rubiyah,
dan berkata:
"Diamlah, diamlah Rubiyah, jangan engkau menangis.
Tenanglah." Kembali rasa letakinya timbul mengalir kuat
bersama darahnya, ketika Siti Rubiyah memegang tangannya,
dan kemudian memeluk pinggangnya dan menyembunyikan
kepalanya ke perut Buyung, sambil berkata:
"Lindungi aku, kak. Tak ada orang yang mau menolong
aku, selain kakak. Kepada siapa aku akan minta tolong kini?"
"Aku tolong engkau, Rubiyah," katanya kemudian.
Pikirannya diputarnya dengan keras mencari jalan bagaimana
menolong Siti Rubiyah. Akan dibawanya kini dengan mereka
pulang ke kampung Air Jernih? Akan mereka tinggalkan Wak
Hitam sendirian sakit di huma? Apa kata ibu dan ayahnya
nanti di kampung? Apa kata orang kampung? Dan apa kata
Zaitun sendiri? Tidakkah dia nanti akan didakwa melarikan istri
orang? Besar juga perkaranya nanti. Atau akan dibawanya Siti
Rubiyah kembali ke kampung Wak Hitam saja? Tetapi juga ini
akan menimbulkan pertanyaan di kampung Wak Hitam.
Keluarganya mungkin akan mendakwanya melarikan istri Wak
Hitam. Dan meninggalkan Wak Hitam sendiri sakit di huma
tidakkah juga salah dan dosa?
Kacau pikirannya. Semua jalan yang mungkin ditempuh
seakan serba salah. Sedang sebenarnya halnya sudah jelas.
Dia hendak menyelamatkan Siti Rubiyah yang tak tahan lagi
tinggal dengan Wak Hitam. Yang terang salah dan kejam ialah
Wak Hitam. Akan tetapi mengapa demikian susahnya
membela yang benar dan yang menjadi korban kezaliman?
Bagaimana mungkin begitu sukar menjelaskan kebenaran?
Dan mengapa harus diperlukan keberanian luar biasa untuk
melakukan sesuatu kejujuran biasa?
Apakah tidak baik dibawanya Siti Rubiyah dahulu ke tempat
kawan-kawannya bermalam, dan di sana meminta nasihat Pak
Haji, Wak Katok dan Pak Balam? Akan tetapi jika dia datang
begitu saja apa pula kata mereka? Mungkin mereka akan
marah padanya, karena berbuat lancang demikian.
Karena merasa pikirannya buntu dan tidak dapat juga
mencari jalan ke luar, iba hatinya terhadap Siti Rubiyah
bertambah besar, dan dengan tak disadarinya dipeluknya
badan perempuan muda itu erat-erat. Dia merasa Siti Rubiyah
membalas pelukannya, dan mengangkat badannya,
mendekapkan dadanya, dan kemudian mata mereka
berpandangan, lalu Buyung pun lupa segala masalah yang
harus dipecahkannya dengan segera.
Napas Buyung terasa sesak, dan mengencang. Belum
pernah dia merasa apa yang dirasanya ketika badannya
menempel pada badan Siti Rubiyah. Bunyi air sungai, pohonpohon
di sekelilingnya, bunyi-bunyi hutan di waktu pagi,
semuanya menghilang dari kesadarannya. Dia hanya tahu dia
memeluk seorang perempuan muda, seluruh tubuhnya
dipanasi oleh darahnya yang mengalir kencang dan kuat. Dan
perempuan muda yang telah berpengalaman itu menolong
tangan Buyung menemukan yang dicari-carinya dengan
kekakuan kebujangan letakinya, dan mendorong kepalanya ke
bawah, dan membawa mulutnya mencari-cari buah dada yang
muda, yang mengeras di antara kedua bibirnya, dan Buyung
mengerang dan kemudian mereka dihempaskan tinggi ke atas
oleh ledakan yang besar yang memenuhi seluruh tubuh
mereka ....
Buyung tak hendak pergi. Dia belum hendak melepaskan
perempuan muda dari pelukannya. Dia belum hendak berpisah
dari kenikmatan baru yang belum pernah dirasakannya selama
ini. Dan tak lama kemudian mereka kembali menaiki arus
panas yang membawa mereka ke puncak-puncak yang tinggi,
lepas dari daya tarik bumi...
0oo0
Hari telah hampir magrib ketika Buyung tiba di tempat
mereka bermalam yang pertama dalam perjalanan pulang dari
ladang Wak Hitam menuju ke kampung Air Jernih.
Mereka sedang mendirikan sebuah pondok yang hanya
diberi atap daun-daun pisang hutan dan tak berdinding. Di
depan pondok telah menyala api unggun. Rupanya mereka
pun belum lama tiba. Lega juga hati Buyung, jika demikian
mereka tidak akan terlalu bertanya mengapa dia begitu lambat
baru tiba.
Dari jauh dia telah berteriak memanggil, dan dia
mendengar suara Sutan menyahut, dan melihat Sutan
melambaikan parang panjang yang dipakainya memotong
daun pisang hutan.
"Aduh, kalian juga baru tiba?" tanya Buyung.
"Ya, kami dibawa Wak Katok berburu rusa, tapi tak dapat,"
kala Talib.
"Sedang jejaknya masih segar sekali," kata Wak Katok,
"tetapi ketika kami melihatnya dan kutembak, bedil tak
meletus. Celaka."
"Tak diulang?" tanya Buyung.
"Rusanya lari mendengar denting pelatuk, masuk ke
rimba," kata Sutan.
"Barangkali besok pagi kita coba lagi," kata Wak Katok.
"Ya, enak juga dapat membawa dendeng rusa pulang,"
kata Pak Haji.
"Tetapi bagaimana dengan kancilmu?" tanya Sutan.
"Dapat," kata Buyung.
Dan tiba-tiba dia merasa menyesal mengatakan dapat,
karena kancil tak dibawanya, dan tentu mereka akan bertanya
mana kancilnya? Coba dikatakannya tak dapat, mereka tidak
akan bertanya lagi. Tetapi, katanya dalam hati cepat, jika aku
katakan tak dapat, dan tiga bulan kemudian kami bermalam
lagi di huma Wak Hilam dan mereka mendengar dari Siti
Rubiyah bahwa aku berikan kancil padanya, pasti mereka akan
syak ada hubungan apa-apa antara aku dengan Siti Rubiyah.
Karena itu hatinya senang kembali, dia telah menjawab
dengan terus terang, bahwa dia mendapat kancil.
"Tetapi aku tinggalkan pada Siti Rubiyah," katanya, "terlalu
berat untuk membawanya sekali ini bersama dengan damar
yang kita dapat begitu banyak. Lain kali saja, aku bawa
pulang."
"Nah, sedikitnya Buyung dapat kancil," kata Pak Haji.
"Asal sungguh dia hanya dapat kancil," Sutan menyindir
mengganggu.
Muka Buyung jadi merah malu dan terkejut, serta takutnya
kembali, akan tetapi dalam samar-samar senja tak ada mereka
yang melihat perubahan air mukanya. Buyung memperbaiki
perasaannya, dan tertawa kecil.
"Apa pula lain dari kancil yang dapat ditangkap di sana?"
katanya. Dan segera dia menyadari kealpaannya berkata
demikian, karena Sutan dengan cepat berkata: "Ho-ho-ho,
dengar dia itu, Talib. Tak tahu dia ada lain dari kancil yang
dapat ditangkap di sana. Tak engkau lihat rusa muda di
sana?"


0 Response to "Harimau-Harimau 1"

Post a Comment