Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Dylan, I Love You!

Stephanie Zen
Merci, Gracias, Arigatou,
Xiexie, Danke, Tengkyuuu!
Jesus Christ, my Lord and Savior. Thank you, God, for being so gracious to me...
Oma Greetje Jeanne Koamesah, untuk semua doa dan kasihnya.
Papa en Mama, the best parents ever!
Adikku, Wiliam Ronaldo Yozen, yang udah mau buatin segitu banyak lagu dari lirik-lirik
konyol yang aku buat, terutama dari novel Anak Band. Makasih, Cen ;).
Keluarga besar Zen dan Koamesah di mana pun berada, terima kasih semuanya :)
Dessy, my sob, ya ampyuuuunnn, yang ini terbit, Sob! (so much worries behind the scene
yak, hihi...)
Best friends ever: Reni, Jennie, Licu, Fanie, Meli, Jovi (maap udah nyatut nama Anda
buat novel ini :D), Santi, Ingrid & family, makasiihh!!! Juga Leni si ceriwis, rajin-rajinlah
bekerja, Nak! :D
Tim GPU, yang udah begitu sabar menghadapiku yang bawel ini :‖>
Luna, yang udah mau dimintain tolong ngecek website malem-malem dan bantu nanyain
soal naskah melulu, huge thanx, man! :)
Para endorser-ku, makasih banyak ya udah mau meluangkan waktu untuk baca naskahku
:).
For the inspiring songs: DAUGHTRY (of course! The BEST band EVER lah pokoknya!),
ADA Band, and Craig David (Argh! Saya cinta sekali lagu kamu!).
Semua di milis armADA and Innoders, for all the stories and friendships among us.
Makasih banyak yaa...
And last but not least, semua yang udah beli dan baca novel ini, tengkyuu! Ditunggu
komennya di chubby_stephz@yahoo.com, oke?
God bless us,
Steph
GARA-GARA PESTA KELULUSAN!
“JADI, lagunya apa nih? Harus yang berhubungan sama persahabatan lho!” Jerry, ketua kelasku,
mengoceh di depan whiteboard. Sebelah tangannya menggenggam spidol yang tutupnya terbuka,
mengeluarkan bau tinta yang tajam.
“Lagunya itu aja, yang judulnya Graduation, Friends Forever itu!” Sisca berteriak dari bangku
depan.
Jerry mengedikkan bahunya, lalu menoleh meminta persetujuan wali kelas kami, Bu Emmy.
Beliau mengangguk, jadi Jerry menuliskan Graduation, Friends Forever besar-besar di papan tulis.
Oh ya, namaku Alice, lengkapnya Alice Henrietta Hawkins. Sebelah alismu pasti terangkat
gara-gara membaca namaku, ya? Yup, aku memang bule. Setengah bule, tepatnya, dan itu salah
satu alasan kenapa aku sebal banget nget nget sama hidupku!
Bokapku orang Australia, kalau nyokap blasteran Jawa-Cina. Sayangnya, ingredients yang
bagus itu ternyata nggak membuat aku jadi cantik kayak Nadine Chandrawinata atau Julie Estelle.
Aku pesek, pendek, dan jerawatan. Ditambah lagi, rambutku warnanya kusam kayak baju yang
sudah bulukan. Pokoknya, penampilanku bisa digambarkan dengan satu kata: menyedihkan.
Aku sekarang duduk di kelas satu di SMA Harapan, salah satu SMA di Jakarta. Aku bukan
anak populer, tapi juga bukan nerd yang doyannya mojok di perpus tiap jam istirahat. Yah...
pokoknya aku termasuk golongan netral deh, satu hal yang membuatku nggak pernah jadi
istimewa di antara ratusan murid lainnya di sekolah ini.
“Hoi, ngelamun mulu!” Grace, teman sebangkuku, menyikuku keras. “Lo kasih saran dong
mau nyanyi lagu apa?”
Ah, ya. Sekarang ini kelasku lagi mengadakan rapat kelas untuk memutuskan kami bakal
menyanyikan lagu apa di pesta kelulusan anak-anak senior. Aturannya, setiap angkatan harus
menyumbang satu penampilan, dan kelasku terpilih mewakili kelas satu untuk ngeband. Tapi,
sampai sekarang kami belum tahu mau membawakan lagu apa, padahal acara kelulusan itu tinggal
tiga minggu lagi!
“Emangnya lagu apa aja sih yang udah diusulkan?” Aku mendongak menatap whiteboard.
Jerry sudah menuliskan beberapa judul lagu hasil usul anak-anak sekelas di sana.
1. Graduation, Friends Forever Vitamin C
2. Untuk Sahabat Audy feat. Nindy
3. Pengyou gak tau penyanyinya siapa
4. Sahabat Peterpan
5.
“Hmm... apa ya? Gue bilang sih udah bagus tuh pilihan lagunya. Jadi nyanyi berapa lagu?”
tanyaku ke Grace.
“Katanya sih mau dua aja, tapi gue nggak sreg tuh sama pilihan lagunya.” Grace merengut,
bersedekap.
“Emangnya lo mau ngusulin lagu apa?”
“Hehe... nggak tau.” Dia nyengir, memamerkan gigi-giginya yang dipasangi behel.
Aku menopang daguku dengan tampang nggak berminat. Gila, anak-anak kelasku memang
hobi banget bikin segala sesuatu dengan persiapan minim, selalu dibuat menjelang detik terakhir.
Kayaknya nggak bakal ada satu pun alumnus kelas ini yang jadi pemilik EO suatu saat nanti.
Kalaupun ada, pasti EO itu bakal kacau-balau.
“Alice,” tiba-tiba Bu Emmy memanggilku, “kamu ada ide?”
Ups. Aku menatap whiteboard dengan mata membesar, berharap satu judul lagu bakal muncul
di kepalaku. Aku ogah banget kelihatan culun di depan seisi kelasku.
“Mmm...,” aku menggumam, “saya...”
Dan tiba-tiba saja, lagu itu melintas di kepalaku! Lagu yang kudengar di radio dalam
perjalanan ke sekolah tadi pagi!
“Bagaimana kalau lagunya Skillful?”
Alis Bu Emmy terangkat, dan aku maklum banget melihatnya. Mungkin beliau nggak tahu
bahwa Skillful itu nama band.
“Skillful?” Jerry menatapku bingung. “Yang judulnya apa?”
“Eh...” Otakku berusaha keras mengingat judul lagu itu. “Tetap Sahabatku?”
“Yang kayak apa sih lagunya?” Kali ini Sisca menoleh dari bangkunya dan menatapku juga.
“Oh, yang ini nih,” aku mulai menyanyikan sepotong refreinnya, “kau masih tetap
sahabatku... biar kita terpisah waktu... tapi ku kan s‟lalu mengenangmu... mengingat dan
menjagamu...”
Senyap. Aku langsung mencelos. Gawat, kenapa tadi aku pakai nyanyi segala? Omigod, pasti
aku tadi kelihatan tolol banget!
Sekarang tatapan anak-anak sekelasku menghunjam seolah aku ini hewan yang hampir
punah. Sebentar lagi pasti bakal terjadi hal yang membuatku menyesal dilahirkan.
“Bageeeesssss...! Lo aja yang jadi vokalisnya, Lice!” seru Oscar, cowok jangkung yang sudah
terpilih sebagai gitaris band kelas kami, menirukan gaya bicara Indy Barends.
Nah lho, benar, kan, aku sudah tau kalau sesuatu yang buruk pasti bakal terjadi.
Dan kenapa juga aku lupa band kelas ini belum punya vokalis? Nggak ada satu pun yang
dengan rela mengajukan dirinya jadi vokalis, orang yang bakal jadi pusat perhatian puluhan anak
kelas tiga dan guru-guru sekolah ini di pesta kelulusan nanti.
“Wah, ternyata suara lo boleh juga, Lice,” Grace mengedip-ngedipkan matanya
menggodaku.
“Maksud lo, suara gue nggak jelek?” tanyaku takut-takut.
“Ya enggak lah! Suara lo tuh bagus! Unik, lagi!”
“Iya, Bu Emmy, Alice aja yang jadi vokalisnya!” dukung Oscar.
“Iya, iya, gue juga setuju,” tambah Sisca.
Aku nyengir bego, dan cengiran itu semakin kelihatan tolol waktu Bu Emmy
mengumumkan, “Oke, jadi Alice yang akan jadi vokalis band kita di pesta kelulusan nanti.
Sekarang, sudah ada lima pilihan lagu, kita voting saja, ya?”
Voting dilakukan, dan lidahku semakin kelu begitu tahu lagu yang terpilih adalah lagu Pengyou
dan Tetap Sahabatku. Ya ampun, aku kan nggak bisa bahasa Mandarin!!!
* * *
“Hei! Ini CD-nya!” Grace mengacungkan sebuah CD, dengan ilustrasi awan berarak bertuliskan
Skillful, tinggi-tinggi. Aku bergegas menghampirinya.
Yah, apa boleh buat, nggak ada yang mau menggantikan aku jadi vokalis band kelas, jadi
mau nggak mau aku harus mulai berlatih lagu-lagu yang harus dinyanyikan itu. Langkah
pertamanya sudah jelas, aku harus beli CD Skillful, soalnya aku nggak hafal lirik Tetap Sahabatku
itu seperti apa. Aku juga nggak tau pasti lagunya, cuma ingat bagian refreinnya doang. So, di
sinilah aku sekarang, di Duta Suara PS, memaksa Grace menemaniku membeli CD Skillful itu.
“Eh, vokalisnya Skillful ini udah ganti, ya?” tanya Grace sambil menunjuk foto seorang
cowok super-duper-ganteng di back cover CD Skillful.
Dahiku berkerut. Kalau nggak salah sih band ini memang pernah bongkar-pasang personel
beberapa kali, dan vokalisnya yang dulu juga keluar lalu solo karier. Setelah itu, Skillful sempat
vakum sekitar tiga tahun, dan tiba-tiba nongol lagi dengan formasi baru. Aku nggak menyangka
vokalis barunya ternyata cakep buangeeeettt!
“Wah, malah ngelamun dia!” Grace menepuk bahuku kuat-kuat. “Udah, nggak usah
terpesona gitu deh ngeliatnya!”
Aku merengut. “Ya deh, ya deh... Ayo cepet bayar CD-nya, habis itu kita cari makan yuk!
Gue laper banget!” Aku menuding perutku yang (maunya) kelihatan berkurang lima senti dari
ukuran normal.
“Yeee... emangnya yang ngajak beli CD siapa? Lo, kan? Ya udah, ayo deh!”
* * *
Oh Tuhan. Oh Tuhan. Oh Tuhan...
Skillful ternyata keren banget! Aku baru saja mendengarkan CD mereka sampai habis, dan
(hampir) merasa nggak menyesal karena ditunjuk jadi vokalis band kelas tadi siang!
Ternyata si vokalis ganteng itu (namanya Dylan), nggak cuma bertampang super-dupercakep,
tapi juga punya suara yang merdu banget! Suer deh, baru kali ini aku tahu ada cowok
bersuara berat dan ngebas tapi merdu! Ah, gila gila gila... kayaknya aku mulai ngefans nih!
Kira-kira dia udah punya pacar belum, ya? Kalau belum...
Ah, enggak, enggak... Aku kok jadi sinting gini!
“Alice!” Suara Mama menyentakku kembali ke dunia normalku yang membosankan. Mama
sudah masuk ke kamarku, gayanya persis prajurit yang hendak melakukan agresi militer ke daerah
kekuasaan lawan.
“Ada apa, Ma?” tanyaku sok cool. “Aku lagi latihan nyanyi nih...”
“Dipanggil Daddy, disuruh makan tuh!”
“Enggak ah, aku kenyang...”
“Yang bener?” tanya Mama.
“Iya, Ma, bener. Lagi pula, tiga minggu lagi aku bakal jadi vokalis band kelas di acara
kelulusan anak kelas tiga, aku kan kepingin tampil oke. Ini juga aku lagi hafalin lagunya.”
“Oh, gitu. Oke, tapi jangan lupa kerjakan tugas-tugasmu yang lain lho ya,” ujar Mama
mewanti-wanti.
Aku mengangguk, tapi langsung mengernyit sepet begitu melihat tumpukan buku teks dan
kertas di meja belajarku, di samping komputer. Ada dua deadline tugas besok, yang satu tugas
membuat skrip talkshow untuk pelajaran bahasa Indonesia (yang sudah kukerjakan dengan senang
hati, soalnya aku memilih topik “kehidupan selebriti” untuk temanya). Satunya lagi PR biologi,
esai seribu kata tentang klasifikasi hewan, yang baru kutulis judulnya saja di MS Word
komputerku.
“Oke, udah beres semua kok tugas-tugasnya,” aku berbohong.
Mama tersenyum kecil, dan nyaris keluar dari kamarku waktu aku memanggilnya lagi.
“Ma... sini deh! Bentar aja!”
“Apa?” tanya Mama bingung.
Aku meraih cover CD Skillful, dan membaliknya sampai akhirnya foto para personel band itu
terpajang di bagian depan.
“Ini, cowok ini... cakep nggak?” Aku menunjuk Dylan, tentu saja.
Mama mengernyit sedikit. “Masih cakepan Daddy,” kata Mama, lalu melenggang keluar dari
kamarku sambil terkikik.
Ya ampun, aku bertanya pada orang yang salah!
* * *
Aku duduk di kursi pojok ruang musik, sementara Oscar dan Moreno, dua cowok yang jadi
gitaris band kelasku, bolak-balik memutar ulang CD Skillful yang kubeli kemarin. Mereka lagi
pusing mencari kunci-kunci yang dipakai di lagu Tetap Sahabatku. Oscar bilang, gitaris Skillful
ternyata memang benar-benar skillful, tekniknya sudah tinggi, dan dia pakai macam-macam efek
canggih yang membuatnya dan Moreno kebingungan sendiri mencari akor-akor lagu itu.
Aneh, padahal kalau didengar, lagu Tetap Sahabatku tuh minimalis banget lho, sama sekali
nggak mencerminkan efek-efek canggih yang dibilang Oscar tadi. Atau jangan-jangan... Oscar aja
yang nggak bisa menemukan akornya, makanya dia ngaco, pakai sok bilang bahwa kelas Rey,
gitaris Skillful, jauh di atas dia. Haha... pasti itu!
Tapi nggak deh... Oscar sama Moreno kan duo gitaris paling jago di sekolah ini! Kalau
mereka sampai nggak bisa menemukan akor-akornya, pasti lagu ini beneran susah. Ditambah lagi,
Mario, si pemain keyboard band kelas yang juga kembarannya Moreno, juga kelimpungan sendiri
di depan tuts-tuts keyboard-nya. Dia cuma pencat-pencet nggak jelas dari tadi, kayak orang
linglung, padahal aku tahu pasti Mario jago banget main keyboard dan piano. Dia kan satu gereja
sama aku, dan dia pianis paling top di gereja.
Hmm... apa lagu ini memang segitu SUSAHnya?
Kayaknya sih iya, kala uaku mengintip kertas coret-coretan ketiga cowok itu yang sudah
penuh segala macam huruf, mulai dari C, D, E, #?!x^=\+MN dan sebagainya.
Fiuhhh... aku mengembuskan napas kuat-kuat, meniup-niup poniku yang berwarna cokelatenggak-
merah-enggak sampai terangkat dan jatuh nggak beraturan menutupi mataku. Kasihan
juga sih cowok-cowok itu, tapi mau gimana lagi... aku kan sama sekali nggak ngeh sama yang
namanya not, jadi jelas banget aku nggak bisa menolong mereka.
Aku membolak-balik cover CD Skillful di tanganku. Aku sudah hafal luar kepala lagu Tetap
Sahabatku itu, bahkan sampai ke falset-falsetnya segala. Tatapanku kembali lagi ke foto Dylan di
back covernya, dan aku langsung senyam-senyum sendiri.
Gila ya, cowok ini cakep beneeeerrrrr...
Serius nih, dia udah punya pacar belum sih?
Tiba-tiba satu pikiran melintas di otakku, dan dengan semangat aku langsung mencari bagian
“thanks to” di cover album itu. Mana, ya...?
Weits, ini dia! Reynald Sutedjo (gitar)... Dovan Prasetya (bas)... Ernest Affandi (keyboard)...
Dudy Januar (drum)... Dylan James Siregar (vokal)... Hihi... ketemu!
Aku mulai meneliti deretan nama yang ada di ucapan “thanks to” Dylan. Siapa tahu dia
menulis “my other half”, “my luvly”, atau apalah di ucapan terima kasihnya itu yang bisa jadi
petunjuk bahwa dia sudah punya cewek. Duh, Tuhan... semoga nggak ada!
Dylan thanks to:
Allah Bapa di Surga (untuk semua anugerah dan talenta-Nya yang begitu indah pada diriku),
Papa & Mama (buat semua support dan cintanya), abangku Taura Daniel Siregar (i‟m glad for
being ur bro!), Mbak Via, all ma fren: Boim, Dudut, Udik, Varin, Tike, Dora, Emon, Niken,
Karin & family, Calvin, Ellycia. Rey, Dovan, Ernest, en Dudy (for being my second family),
Skillful Management, dan fans Skillful di mana pun berada. God bless us, Dylan.
Yes! Nggak ada!
Tapi... tunggu! Dia punya teman yang namanya Dora dan Emon?! Serius nih? Kenapa nggak
digabungin saja sekalian jadi Doraemon? Hihihi... lucu!
“Heh! Ketawa-ketawa sendiri! Kesambit, ya?”
Aku mendongak, dan mendapati Olivia, si cewek tomboi yang jadi drummer band kelas,
sedang mengetuk-ngetuk kepalaku dengan stik drumnya. Sial, apa kepalaku bentuknya mirip
simbal?
“Maaf, ya, Mbak, tapi drum-nya di sebelah sana tuh,” aku menuding ke arah drum di
seberang ruangan, “bukannya di siniiii...” lalu menuding batok kepalaku lagi.
“Ya gue tau sih, kan gue nggak buta,” Oliv cengengesan. “Gue cuma heran aja, kenapa lo
ketawa-ketawa sendiri tadi.”
Mukaku memerah, membayangkan tampang konyolku yang cekikikan gara-gara tahu Dylan
punya teman yang namanya Dora dan Emon.
“Hmm... gue nggak pa-pa kok! Eh... gimana, udah ketemu akornya?” Aku langsung
mengalihkan pembicaraan, bangun dari kursi yang kududuki dan tergopoh-gopoh menghampiri
bagian tengah ruangan, tempat Oscar dan Moreno duduk di antara lautan bantal dan bolak-balik
memutar CD-ku di boom-box yang ada di sebelah mereka.
“Udah ketemu sih ini...” Moreno menunjuk kertas kusut, yang tadinya kukira sampah, yang
ada di hadapannya. “Mau dicoba latihan sekarang?”
Aku menoleh menatap Oliv, Mario, dan Dion, si basis. Semuanya mengangguk.
* * *
Grace mencomot sepotong bakwan penyet dari piringku. Tampangnya sama sekali nggak
menunjukkan penyesalan karena sudah jadi salah satu pelaku tindak kriminal.
“Heh! Itu punya gue!” Aku memukul tangannya pelan, tapi dia sudah keburu memasukkan
bakwan itu ke mulutnya.
“Bagi dikit, dong! Lo kan juga lagi diet, nggak boleh makan banyak-banyak!” Dia nggak mau
kalah. Huh, maling teriak maling!
“Ya deh, suka-suka lo...” Aku cemberut.
“Idih, anaknya marah! Udah, jangan gitu dong, nanti tambah jelek lho!”
Aku tambah merengut. Akhir-akhir ini memang mood-ku lagi nggak keruan. Pementasan
band kelasku di acara kelulusan anak-anak kelas tiga tinggal tiga hari lagi, dan aku baru merasakan
nggak enaknya perasaan orang yang punya firasat dia bakal jadi bahan tertawaan puluhan orang
dalam hitungan hari.
Acara kelulusan itu sendiri bakal diadakan di aula sekolah, yang ada di lantai dua gedung
sekolah ini. Nantinya kami bakal tampil di tengah-tengah acara, sebelum acara makan-makan.
Oke juga sih, jadi nanti waktu makan-makan aku sudah lega dan nggak perlu takut lidahku
mati rasa saking deg-degannya, hehe...
Tapi, di luar segala macam rasa takutku gara-gara bakal tampil itu, aku juga khawatir akan
satu hal: baju yang bakal kupakai nanti.
Weekend kemarin aku sudah “menyeret” Grace ke Body & Soul, menemaniku mencari baju.
Akhirnya aku membatalkan niat pakai sackdress dan malah beli halter neck berbahan stretch warna
hitam dan celana kain hitam panjang bergaris-garis putih. Kayaknya sih bagus, seenggaknya aku
nggak kelihatan kayak tante-tante kalau pakai baju itu.
Jadi, kenapa aku harus khawatir sama bajuku itu?
Karena baju itu halterneck, yang berarti backless, padahal baju-baju yang jadi kostum
kebanggaanku selama ini cuma kaus dan jins. Aku takut nanti baju itu, yang rencananya mau
membuatku tampil beda, malah jadi bumerang karena dianggap nggak cocok sama anak-anak
lain. Itu kan bisa membuat rasa pedeku langsung drop total, hiks...
“Ada apa? Mikirin baju lagi? Udah deh, tenang aja, baju lo oke banget kok!” Grace
mengacungkan jempol tangannya, dan aku setengah ngeri melihat bakwan penyetku sudah ludes
tiga potong lagi.
“Tapi gue takut... Gimana kalau anak-anak bilang gue nggak pantes pakai baju itu?”
“Ahh... selera orang kan beda-beda,” jawab Grace santai. “Itu acara formal, dan lo jelas
nggak mungkin datang pakai kaus sama celana jins, kan?”
Benar juga.
“Oh ya, gue kayaknya punya kabar bagus buat lo,” tambah Grace sambil tersenyum sok
rahasia.
“Apaan?”
“Minggu depan, di sekolah temen gue bakal ada pensi. Bintang tamunya... Skillful!”
“Oh ya?” Aku yakin banget, mataku yang belo ini pasti membesar jadi tiga kali lipat ukuran
normal. “Serius lo?”
“Ya serius lah... Orang spanduknya udah ada di mana-mana, masa lo nggak pernah lihat satu
pun sih?”
Aku menggeleng. Seminggu terakhir ini aku terlalu puyeng memikirkan acara kelulusan itu,
mana mungkin aku sempat mikirin hal-hal lain macam spanduk apa yang lagi dipasang di jalan?
Tapi kalau bintang tamunya Skillful, mau nggak mau ya...
“Lo mau nonton? Ntar gue temenin deh.”
“Boleh. Hari apa pensinya?” tanyaku sambil menyorongkan piring berisi apa pun yang
tersisa dari seporsi bakwan penyetku ke arah Grace, sebagai imbalan untuk infonya tadi.
“Minggu. Tapi hari Sabtunya personel-personel Skillful bakal datang ke sekolah temen gue
itu, bikin jumpa fans atau apalah namanya. Ntar kita datang juga aja, kan kita libur kalau Sabtu.”
Aku manggut-manggut kayak prajurit yang mendengar strategi perang komandannya.
Sekolahku memang libur kalau hari Sabtu, satu hal yang paling kusuka dari sekolah ini.
“Nah, siapa tau lo bisa ketemu si siapa itu... vokalisnya Skillful itu...”
“Dylan.”
“Ya, itu, si Dylan. Buset dah, nama kok susah bener...” Grace menggeleng-geleng, setengah
berdecak, setengah kepedasan gara-gara sambal bakwan penyet yang dimakannya.
Yah... urusan Dylan nanti dulu deh, yang penting aku nggak mempermalukan diriku sendiri
di pesta kelulusan tiga hari lagi!
* * *
Oscar adalah personel band kelasku yang nongol pertama kali di aula sekolah (yang sudah
didekor dengan bagus buangeeettt!) setelah aku. Ya ampun, aku sempat shock melihatnya pakai jas
dan kemeja! Dia kelihatan keren banget, beda jauh dengan Oscar yang biasanya aku lihat di
sekolah, yang selalu masuk kelas dengan badan bersimbah keringat sehabis jam istirahat gara-gara
main sepak bola di lapangan.
Jangan salah, bukannya dia biasanya bau matahari atau apa. Dia wangi kok, tapi tetap aja...
rasanya keren melihatnya pakai jas begitu. Cool!
“Wah, Alis keren banget, cing!” katanya begitu melihatku. Mulutku berkerut, setengah
senang, setengah jengkel. Senang karena dipuji, tapi bete gara-gara dia memanggilku “Alis”!
“Helllooo... my name is Alice, the pronounciation is ‘ellys’, not ‘alis’, you know?!” geramku kesal, tapi
Oscar malah cekikikan dan beranjak ke tangga karena melihat Moreno dan Mario datang.
Hmm... kayaknya harus sering-sering ada acara formal gini deh, jadi aku bisa sering-sering
melihat cowok-cowok kelasku berubah jadi keren karena pakai jas, hihihi...
Aku duduk di salah satu kursi berlapis kain putih yang ada di ruangan itu. Anak-anak senior
memang belum ada yang datang, kan acaranya baru dimulai jam tujuh nanti. Sementara itu band
kelasku memang harus datang dari sore buat check sound dan segala macamnya sebelum tampil
nanti.
“Whoa... Alis, lo jadi kayak Krisdayanti deh kalau pakai baju gitu!” seru Dion yang tiba-tiba
duduk di sebelahku. Dia nggak pakai jas, tapi hem hitam lengan panjangnya saja sudah
superkeren.
“Eh, cukup ya, manggil gue tuh „ellys‟, bukannya „alis‟! Sebel!”
Aku melipat tanganku di dada, mengutuki namaku yang selalu “terpeleset” di lidah orang
Indonesia. Kenapa sih dulu aku nggak dikasih nama Cindy, Claudia, atau apa kek yang
pengucapannya nggak aneh-aneh gitu? Dulu Mama sama Daddy berharap apa sih, waktu
memberiku nama Alice? Apa mereka mau aku tinggal di Wonderland sama Ratu Hati?
“Wah, lagi sensi nih?” Dion bukannya diam, malah tambah mencelaku.
“Tadi lo bilang Alis mirip siapa, Yon?” tanya Oscar yang sudah mendekat lagi.
“Krisdayanti.”
“Menurut gue, Alis lebih mirip Dewi Sandra,” celetuk Mario sambil cengengesan nggak
penting. Hah? Aku? Mirip Dewi Sandra?
“Ah, enggak ah...” Oscar geleng-geleng. “Lebih mirip sama Agnes Monica!”
Haha... lucu sekali, guys, jadi sebenarnya berapa wajah yang aku punya?
“Udah deh, kalau mau nyela nggak usah kebangetan gitu.” Aku sewot sendiri.
“Nggak, Lis, lo benernya mirip Sarah Azhari kalau pakai baju tali di leher gitu,” tambah
Moreno.
“Eh, diam deh! Mau gue sambit pakai asbak lo?!” Aku mendengus kesal. Cowok-cowok itu
terkekeh. Aku tahu mereka semua cuma menggodaku, bukan menghina, tapi tetap saja aku
jengkel!
“Nah, udah kumpul semua ternyata. Sori gue telat.” Oliv datang dan langsung menghampiri
kami semua. Seperti biasa, dia tomboi banget, mau manggung tapi cuma pakai kemeja hitam
lengan panjang dan jins hitam. Tapi whatever lah, yang penting ada cewek yang bakal menemani
aku menghadapi cowok-cowok tengil yang sedari tadi meledekku mirip Sarah Azhari dan
sebagainya ini.
* * *
Wah! Aku sukses besar nyanyi di panggung tadi. Semua bertepuk tangan waktu aku selesai
menyanyi. Aku bahkan nggak keseleo lidah waktu nyanyi lagu Pengyou! Hihihi... jadi nggak sia-sia
nih tiga minggu belakangan ini Bu Emmy, yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Mandarin di
sekolahku ini, khusus memberiku les setiap jam istirahat supaya aku nggak salah waktu
menyanyikan lagu itu.
Malah, bukannya aku kege-eran nih, aku yakin banget beberapa anak cowok kelas tiga
menatapku terus sejak aku turun dari panggung tadi. Kalau kutatap balik, mereka langsung salting
total dan senyam-senyum sendiri. Haha!
Di akhir acara, Pak Alex, kepsekku, malah menyuruh band kelasku naik panggung dan sekali
lagi membawakan lagu Tetap Sahabatku. Wah wah, kayaknya boleh juga nih aku mempertimbangkan
buat ikut Indonesian Idol. Apa lagi coba alasan Pak Alex menyuruh band kami tampil lagi kalau
bukan karena dia menganggap suaraku bagus?
Yihaaa... what a nice day!
SIAPA BILANG JADI VOKALIS BAND
TERKENAL ITU ENAK?
GUE benci hari ini!
Tadi, setelah gue selesai nyanyi di program Bincang Malam di TOP Channel, gue
langsung ditarik-tarik sama Bang Budy, nggak boleh sedikit pun lebih lama tinggal di studio,
padahal gue masih capek habis loncat-loncat nyanyi lagu upbeat!
Yeah, gue tau dia manajer gue (atau manajer Skillful, tepatnya), tapi harusnya dia jadi
orang yang lebih sabar. Bayangin aja, tadi gue lagi diajak foto sama satu cewek yang katanya
datang jauh-jauh dari Jogja ke Jakarta cuma buat nonton gue manggung, tapi Bang Budy
malah seenaknya menyeret gue pergi! Yah... gue nggak bakal menyalahkan cewek itu kalau
seandainya dia cuap-cuap di mailing list atau forum-forum para fans Skillful nanti. She
deserves to do it.
Sebentar, have I introduce myself? Oh, belum. Sori, gue memang suka agak-agak sewot
kalau lagi sebel sama Bang Budy gini.
Gue Dylan, lengkapnya Dylan James Siregar. Dan kalau dari tadi lo udah nebak-nebak,
dengan senang hati gue bilang tebakan lo bener. Gue memang Dylan yang... ―itu‖. Yang
vokalis band Skillful itu.
Oke, cewek, jangan jejeritan histeris. Gue bukan siapa-siapa, cuma seorang cowok yang
kebetulan bisa menembus sebuah band ngetop yang pernah mati suri selama tiga tahun.
Selain itu, gue cuma mahasiswa fakultas hukum yang kuliahnya nggak kelar-kelar gara-gara
dulu kebanyakan nyanyi dari kafe satu ke kafe lainnya. Dan itu gue lakukan buat cari uang,
bukan karena gue clubbers. Jujur saja, keluarga gue bukan keluarga kaya, dan gue nggak
suka kalau harus minta ini-itu ke ortu gue kalau gue sendiri sebenarnya mampu cari uang
buat beli semua yang gue butuhkan. Tapi sekarang, setelah jadwal Skillful mulai padat, gue
harus cuti kuliah dua semester, supaya konsentrasi gue nggak terpecah. Berat juga
sebenernya, tapi dalam hidup kan kita harus memilih.
Dan, guys, nggak usah mengernyit gitu. Gue bukan cowok tipe boyband yang suka
mainin cewek begitu gue mulai ngetop. Gue malah, sampai sekarang, suka bingung sendiri
kalau ada cewek yang histeris ngeliat gue. Bukannya gue sombong atau apa, tapi sumpah
deh, kalau lo dulu bukan siapa-siapa, dan mendadak lo jadi ngetop, lo pasti bakal ngerasai hal
yang sama kayak apa yang gue rasain sekarang.
―Jalan, Pak.‖
Gue mendongak, melihat Bang Budy yang duduk di jok depan dan memerintahkan sopir
menjalankan mobil. Rey, Dovan, Ernest, dan Dudy sudah duduk di sekitar gue di dalam
mobil. Dari mulut mereka semua ada asap menguap, sementara bibir-bibir mereka menjepit
puntung rokok dengan santai. Ini salah satu hal yang nggak gue suka dalam hidup sehari-hari
anak band: di saat personel-personel lain bebas merokok semau mereka, gue nggak boleh
melakukan hal yang sama karena harus menjaga kualitas suara gue. Damn!
Yah, jadi singkatnya, kehidupan gue nggak semenyenangkan yang orang-orang
bayangkan. Memang sih gue jadi terkenal, punya rekening pribadi yang nggak pernah tekor,
dan bisa jalan-jalan ke mana pun dengan gratis karena fasilitas dari sponsor, tapi gue jenuh.
Hidup gue yang tadinya diisi dengan kitab-kitab hukum yang tebalnya ngalah-ngalahin
kamus, sekarang jadi penuh dengan jadwal manggung dari satu kota ke kota lain. Hari-hari
gue berkutat dari panggung ke panggung, konser ke konser, showcase ke showcase... dan
biarpun banyak kejadian lucu sepanjang itu semua, gue tetap aja jenuh. Gue kangen
kehidupan gue yang lama, dan gue juga kangen sama Karin...
Stop! Gue nggak boleh mikirin Karin lagi! Kalau kayak gini caranya, lama-lama gue bisa
gila...
Tapi nggak ada salahnya cerita sedikit, kan?
Karin itu cewek gue. Mantan cewek gue, tepatnya. Dia cewek paling hebat yang pernah
gue kenal selama ini. Dia bukan model, juga bukan artis. Dia cuma mahasiswi fakultas
ekonomi di kampus gue, tapi dia cantik banget, dan nggak pernah menuntut macam-macam
dari gue...
Waktu dia pertama tau gue diterima jadi vokalis Skillful yang baru, dia histeris! Bener
lho, dia sampai jejeritan di telepon saking senangnya, padahal waktu itu gue sendiri juga
masih agak-agak linglung gara-gara belum sepenuhnya percaya gue berhasil meraih cita-cita
gue selama ini. Hidup dari musik, hal yang dulunya ditentang keras ortu gue.
Sayangnya, itu semua tinggal kenangan sekarang. Gue dan Karin putus karena dia nggak
bisa mengontrol rasa cemburunya. Dia nggak suka gue dekat sama cewek lain, apalagi
dipeluk dan dicium-cium sama cewek selain dia. Gimana bisa, kalau setiap kali gue ketemu
fans, mereka langsung nyosor gitu aja? Gue cuma bisa pasrah kalau tiba-tiba ada cewek nekat
yang naik ke atas panggung dan memeluk gue seakan gue ini gulingnya dan dia mau pergi
tidur.
Tapi alasan utama kami putus adalah karena Karin...
―Lan, ayo turun, udah nyampe hotel,‖ kata Dovan sambil menepuk lutut gue pelan. Gue
mendongak, dan bingung sendiri karena mobil ini memang sudah sampai di hotel. Jadi gue
udah ngelamun berapa lama?
* * *
Gue nonton TV, tapi pikiran gue nggak tahu lagi ada di mana. Sekarang jam tiga subuh, tapi
gue nggak bisa tidur. Ernest, yang selalu sekamar sama gue, sedang berdiri di balkon kamar
hotel, telepon istrinya yang ada di Bandung.
Nggak tau deh, ini keuntungan atau malah petaka, tapi gue satu-satunya personel Skillful
yang masih single. Ernest, Dovan, Rey, dan Dudy, semuanya udah married. Mereka semua
juga udah pada punya anak. Padahal, pacar aja gue nggak punya. Miris nggak tuh?
Dan mungkin karena status gue yang masih jomblo itulah, sembilan puluh persen fans
Skillful malah menamai diri mereka Dylanders, alias fans-nya Dylan, bukan fans Skillful
secara utuh. Gue risih, ngerasa nggak enak sama yang lain, takut dianggap sombong padahal
gue cuma ―anak bawang‖. Untung aja ternyata anak-anak profesional banget. Mereka nggak
pernah protes atau marah sama gue. Dovan malah pernah bilang dia hepi karena bukan dia
yang punya fans paling banyak, soalnya kalau iya, istrinya pasti bakal cemburu. Ada-ada aja
dia.
Tapi tetap aja, gue nggak enak. Dan kadang-kadang gue mikir untuk secepatnya married
dan punya anak juga, biar nggak merasa ―anak bawang‖ kayak gini. Umur gue 24, udah
cukup, kan, buat married?
―Sascha sakit. Sudah dua hari ini dia demam,‖ kata Ernest setelah dia masuk kembali ke
kamar. Dia menutup pintu kaca penghubung ke balkon yang tadinya dibuka lebar-lebar, dan
mengempaskan diri di ranjangnya.
Sascha nama anak Ernest. Anak itu umur tujuh tahun, dan tampangnya persis banget
Ernest. Kadang-kadang, kalau iseng gue lagi kumat, gue sering bilang Sascha itu versi
miniatur Ernest yang dipakaikan rok, dan biasanya, semua orang bakal ngakak mendengarnya,
termasuk Bang Budy yang selalu pasang tampang nggak bersahabat itu.
―Besok an free, gue mau pulang ke Bandung dulu,‖ kata Ernest lagi, seperti bicara pada
udara.
―Salam buat Sascha ya, moga-moga dia cepet sembuh.‖
―Hmmm...,‖ Ernest menggumam, dan membenamkan diri di balik selimut. Beberapa
detik kemudian suara gumamnya sudah berubah jadi dengkur halus yang teratur.
Free satu hari, lalu jumpa fans, dan besoknya manggung lagi di pensi SMA 93. Siapa
bilang jadi vokalis band terkenal itu enak?
* * *
Tora cengengesan waktu gue nongol di rumah. Dia abang gue, tapi banyak yang mengira dia
adik gue, gara-gara gue lebih bongsor. Dan nama ASLI-nya Taura, tapi dia ngotot minta
dipanggil Tora setelah Tora Sudiro ngetop mendadak.
Heran, harusnya dia minta dipanggil Aming aja. Bukannya Aming lebih ngetop?
―Ma... ada artis datang nih!‖ Ledekan khasnya setiap kali gue pulang ke rumah mulai
keluar. Sialan!
Mama muncul dari dapur, senyumnya mengembang melihat gue berdiri sambil
mengendus-endus aroma makanan yang dimasaknya.
―Masak apa, Ma?‖ Gue menjatuhkan travel bag di lantai, dan membuka-buka tudung saji
yan gada di meja makan. Kosong.
―Sayur bening. Ikan pindang. Tempe goreng. Sambal daun bawang. Semuanya masih di
dapur.‖
Perut gue langsung demo. Lapaaaaarrr! Padahal tadi dari hotel, gue sama anak-anak
sempat makan pecel di warung tenda, tapi sekarang gue sudah lapar lagi.
Apa? Kaget tahu ada band ngetop yang personelnya makan di warung tenda? Nggak
usah segitunyalah, itu sudah jadi kebiasaan anak-anak dan kru Skillful kok. Dalam band ini,
ada satu prinsip yang paling utama: berusahalah seirit mungkin. Bukannya pelit atau apa, tapi
kita semua jenis orang yang suka sayang kalau membuang uang cuma buat gengsi. Dan di
Indonesia ini, siapa sih yang bisa meramalkan kapan sebuah band bakal nggak diminati lagi?
Nggak ada, kan? Jadi, selama Skillful masih banyak yang suka, semua personel dan krunya
menabung sebanyak mungkin, buat jaga-jaga kalau besok album kami nggak laku lagi. Kayak
semut yang menimbun persediaan makanan selama musim panas untuk musim dingin gitu
deh.
Haha... sok wise banget deh gue. But that‟s the fact.
―Tadi gue ketemu Karin,‖ kata Tora sambil menarik kursi yang ada di depan gue dan
duduk di situ.
―Di mana? Dia ngapain?‖ Mata gue membesar mendengar nama Karin.
―Hahaha... ketipu!‖ Tora ngakak. Gue menciut. Orang ini menyebalkan! ―Lo masih
segitu cintanya, ya, sama Karin? Dengar namanya aja sampai segitu minatnya!‖
―Nggak usah rese deh.‖ Gue menggelengkan kepala, pura-puranya telinga gue tuli
mendadak. Gara-gara abang gue yang tengil ini, gue jadi teringat lagi sama Karin. Sial!
ASLINYA JAUUUUHHHH
LEBIH CAKEP!
SETELAH acara kelulusan itu, aku jadi lumayan sering diomongin di sekolah. Aku, yang tadinya
cuma cewek setengah bule yang sama sekali nggak ngetop, mendadak sering disenyumin sama
guru-guru kalau kebetulan berpapasan sama mereka di koridor sekolah.
Tapi ternyata suaraku nggak segitu bagusnya sampai bisa membuat cowok-cowok berebutan
naksir aku. Masalahnya, yang ada di acara kelulusan itu cuma anak-anak kelas tiga dan perwakilan
angkatan kelas dua (yang juga tampil dengan operetnya), dan sekarang cowok-cowok senior yang
pernah mendengar suara emasku ini sudah cabut ke sejuta perguruan tinggi di seluruh penjuru
dunia. Nggak ada lagi di antara senior-senior keren itu yang masih tersisa di sekolah ini. Yah...
percuma deh jadi bintang semalam kalau toh penggemarnya juga nggak ada lagi. Sebel!
Yang tersisa cuma cowok-cowok kelasku, yang sama sekali nggak kutanggapi gara-gara
tingkahnya yang norak-norak. Yang cool macam Oscar dan Moreno udah pada punya cewek.
Sisanya cowok-cowok usil kayak Dion, Mario, Jerry, dan yang lainnya, yang jelas bukan jenis
cowok yang bakal aku taksir.
Aku pengiiiinnnn banget punya cowok! Tapi bukan cowok yang seumuran sama aku.
Kayaknya seru punya cowok anak kuliahan. Aku nggak bakal dianggap cupu atau nggak gaul lagi.
Sementara cewek-cewek di kelasku pacarannya cuma sama kakak kelas yang juga masih pakai
seragam sekolah, aku bisa pacaran sama cowok kuliahan! Cihuy!
Tapiiiiii... siapa cowok kuliahan yang mau jadi cowokku? Kayaknya nggak ada deh! Pertama,
cowok kuliahan pasti menganggap anak SMA itu cupu, dan mencarinya sama aja ikutan jadi
cupu. Kedua, aku nggak kenal satu pun cowok kuliahan yang keren.
Oh Tuhan, kenapa sih stok cowok keren di sekolah ini sedikit banget? Di mana aku bisa...
Mendadak aku melongo. Ini kan hari Jumat, besok hari Sabtu. Acara jumpa fans Skillful itu!
Dan pensinya! Woah, pasti bakal banyak cowok kinclong bertaburan di pensi besar macam pensi
SMA 93 itu. Akhirnya aku bisa cuci mata juga! Haha... benar apa kata pepatah, di mana ada
kemauan di situ ada jalan!
Belum lagi, aku jadi bisa melihat secara langsung si Dylan yang ganteng itu.
Yes! Yes! Yes!
Bukannya aku naksir atau apa, tapi sebagai cewek yang sudah pernah menyanyikan lagunya
Dylan di muka umum, aku harusnya punya semacam... yah, something like chemistry gitu, kan?
Nggak semua orang bisa nyanyi lagunya Skillful di muka umum lho! Eits... jangan hitung para
pengamen, meskipun traffic light temrasuk kategori tempat “di muka umum”.
Aku sedang menyesap teh botolku waktu Grace muncul dengan tampang sumringah.
“Ada apa lo? Kok senyam-senyum sendiri?” tanyaku penasaran.
“Besok lo jadi kan ikut ke sekolah temen gue? Nonton jumpa fansnya Skillful?” tanyanya
tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya.
“Ya ikut lah, kan gue mau...” Aku hampir mengucapkan “cari cowok kinclong” waktu aku
akhirnya berhasil mengerem mulutku. Bisa-bisa Grace meledekku habis-habisan kalau tahu aku
mau nonton pensi sekaligus tebar pesona. Kayak aku punya pesona aja, haha...
“Mau ngeliat Dylan, kan?” potong Grace sok tau. “Nah, gue punya kabar yang bagus banget
buat lo!”
“Apaan? Eh... tapi jumpa fans itu kan cuma buat anak-anak 93 aja, ya? Orang luar nggak
boleh masuk, kan? Terus kita gimana dong?”
“Yeee... makanya dengerin dulu omongan gue!” Grace sewot. “Si Kinar, temen gue yang
anak 93 itu, ternyata jadi panitia buat acara pensi ini. Tadi gue udah SMS dia, nanya bisa nggak
besok kita ikutan jumpa fansnya juga, terus dia bilang boleh, asal dari sekolah kita nggak banyak
yang mau ikutan. Ya gue bilang aja kalau yang mau datang cuma gue sama lo, jadi dia nggak usah
khawatir.”
Aku bengong. Memikirkan bakal ketemu face-to-face dengan cowok seganteng Dylan
membuatku mulas.
* * *
From: Grace
Ayo kluar, Lice. Gw udh di dpn rmh lo.
Aku membaca SMS itu, lalu memasukkan HP ke tas. Sebelum keluar dari kamar, aku
mengaca sekali lagi. Aku pakai kaus hitam bertuliskan DON‟T LOOK AT ME berwarna perak,
celana hipster biru muda, dan flat shoes perak. Yak, udah siap!
Aku berpapasan dengan Mama setelah keluar dari kamar. Mama berdecak melihatku.
“Rapi amat? Mau ke mal?”
“Nggak, Ma. Aku mau ke sekolah temennya Grace. Ada pensi di sana, jadi kita mau jalanjalan
ke sana.”
“Oh. Ya udah. Hait-hati di jalan ya.”
Aku mengangguk lalu mencium pipi Mama. Di depan pagar rumahku, Grace sudah
menunggu nggak sabaran di dalam mobilnya. Aku buru-buru masuk ke mobil, tepat ketika dia
mengomel panjang-pendek.
“Buset, lo lama amat! Dandan dulu, ya?”
“Bawel. Udah cepetan jalan, ntar nggak sempat lagi ketemu sama personel Skillful-nya.”
Grace menurut, meskipun mulutnya masih maj-mundur merepet soal aku yang, menurutnya,
kelamaan dandan. Halooo... aku kan keluar kurang dari tiga menit setelah dia SMS!
Jalanan agak macet siang itu. Maklum, jam dua belas lewat dan hari Sabtu, jamnya pulang
buat orang yang kerja setengah hari pada hari Sabtu. Sepanjang jalan aku penasaran, kira-kira
seperti apa tampang Dylan kalau dilihat secara langsung. Bukannya orang-orang bilang kalau
selebriti selalu lebih cantik dan ganteng aslinya daripada yang terlihat di foto ataupun di TV?
Kami sampai di SMA 93 setengah jam kemudian. Grace mengeluh perutnya lapar, tapi aku
ngotot supaya dia bilang dulu ke Kinar bahwa kami sudah sampai di depan sekolahnya. Dia
menurut, lalu menelepon Kinar.
“Nar? Halo? Gue udah nyampe nih. Apa? Di parkiran... Iya, lo turun ya, gue tunggu lo di
gerbang belakang...”
Grace mengakhiri pembicaraannya di telepon, lalu menarikku menuju gerbang belakang
SMA 93, tempat Kinar bakal menemui kami.
Rasanya baru dua detik aku berdiri di gerbang belakang, waktu aku mendengar teriakan
seseorang.
“Grace!”
Aku dan Grace menoleh berbarengan, dan aku melihat seorang cewek cantik dengan
seragam putih abu-abu, berlari mendekati kami.
“Haaaaiiiii...!” Grace langsung memeluk cewek itu, yang aku yakin pasti Kinar.
“Udah lama?”
“Nggak, baru aja kok. Oh ya, Nar, kenalan dulu. Ini Alice, teman sebangku gue di sekolah.
Alice, ini Kinar, temen SMP gue.”
Aku tersenyum sambil menjabat tangan Kinar. Suer, sebagai cewek aja, aku dengan besar
hati mengakui kalau Kinar cantik dan manis banget. Wajahnya bersih, dan pipnya bersemu pink
seperti cewek Jepang. Rambutnya panjang dan dipotong model layer yang cantik banget. Wah,
kalau Kinar sekolah di sekolahku, pasti dia udah jadi rebutan cowok-cowok!
“Skillful-nya udah datang?” tanya Grace.
“Belum.” Kinar melirik jamnya. “Barusan gue telepon manajernya, katanya mereka masih di
markasnya gitu, nunggu pemain keyboard-nya yang belum datang dari Bandung.”
“Oohhh... Terus, gue sama Alice bisa nunggu di mana nih?”
“Masuk aja, ikut sama gue. Tapi sori ya kalau nanti kalian mungkin cuma bisa ngeliat anakanak
Skillful aja, nggak bisa foto bareng atau ngobrol-ngobrol.”
“Lho? Kenapa?”
“Ya, nanti ketahuan dong kalau gue nyelundupin kalian?” Kinar cekikikan. “Lagi pula,
manajernya galak, jutek banget!”
“Oh ya?” Alis Grace terangkat.
“Iya. Tapi nggak pa-pa lah, yang penting nanti bisa ketemu anak-anak Skillful-nya, kan? By
the way, ada yang ngefans sama Skillful?”
Grace menoleh ke arahku dan melancarkan tatapan jailnya yang sudah kukenal betul.
“Ini, si Alice ngefans banget sama Dylan, gara-gara di acara kelulusan kemarin dia jadi
vokalis band kelas dan nyanyiin lagunya Skillful,” celoteh Grace.
Mukaku pasti merah padam saking malunya sama Kinar, tapi cewek itu malah menatapku
kagum.
“Lo jadi vokalis band kelas, Lice? Wah, pasti suara lo bagus banget!”
“Oh... Eh... Enggak kok, biasa aja...”
Kinar tersenyum, lalu dia berpikir sejenak. “Kalau lo cuma mau foto bareng atau ngobrol
sama Dylan aja sih, mungkin nanti bisa gue usahain...”
Aku tercengang. Kayaknya perutku tambah mulas, tapi aku berusaha memasang tampang
sedatar mungkin. Sudah cukup tampang begoku terpamerkan gara-gara Grace tadi! “Lho,
bukannya tadi lo bilang manajernya galak?” tanyaku cepat.
“Iya sih, emang... Tapi kalau cuma sama Dylan sih gue bisa atur.” Kinar mengedipkan
sebelah matanya. Dia membawa kami berjalan menyusuri taman belakang dan akhirnya sampai
ke koridor sekolah yang panjang dan lengang.
“Kok bisa sih? Kok bisa?” repet Grace. Anak satu ini memang rasa ingin tahunya sudah
kelewatan. Kadang-kadang aku merasa di masa pertumbuhannya semasa balita dulu, Grace nggak
puas bertanya ini-itu pada ortunya, dan hal itu baru dilampiaskannya setelah jadi anak SMA
sekarang.
“Yah...” Kinar terdiam. “Gue kenal sama Dylan. Dia kan mantannya Mbak Karin.”
“Mbak Karin kakak lo itu, Nar?” Itu suara Grace lagi, dan pertanyaannya terjawab dengan
anggukan Kinar.
Ah ya, kenapa aku nggak terpikir sampai ke sana, ya? Kalau Kinar aja secantik ini, pasti
kakaknya juga cantik. Dan bukannya nggak mungkin dengan kecantikannya itu dia jadi bisa
pacaran sama Dylan. Pantas saja.
“Dulu, waktu masih jadian sama Mbak Karin, Dylan sering main ke rumah. Hampir tiap
hari. Ya mau nggak mau akhirnya gue kenal juga dong sama dia. Orangnya baiiikkk banget. Tapi
sejak keterima jadi vokalis Skillful dan putus sama Mbak Karin, dia nggak pernah datang ke
rumah lagi.”
“Emangnya, Mbak Karin putus sama Dylan gara-gara apa?” Lagi-lagi Grace.
Kinar mengedikkan bahu. “Gue sendiri nggak yakin, tapi gue rasa Mbak Karin nggak tahan
sering ditinggal keluar kota sama Dylan,” gumam Kinar sedih. “Belum lagi... yah, lo tahulah, anak
band... fansnya banyak. Punya pacar anak band, apalagi yang ngetop, biasanya makan hati mulu.
Dan... ah, sudahlah, jangan ngomongin itu lagi.”
Kami menaiki tangga yang ternyata menuju sebuah aula yang luas. Di bagian depan aula itu
sudah tertata meja panjang lengkap dengan kursinya. Seorang cowok sedang mengutak-atik
perlengkapan sound system di sudut aula.
“Nah, kalian tunggu di sini aja, ya? Lima menit lagi murid-murid bakal ke sini semua. Nanti
gue atur deh supaya kalian bisa ketemu sama Dylan. Gue tinggal dulu, pokoknya kalian berlagak
santai aja kalau ada yang ngeliatin. Pura-pura jadi manajemennya Skillful atau apa gitu kek.” Kinar
nyengir, lalu dia melambaikan tangan dan menuruni lagi tangga yang kami naiki tadi.
“Wah, impian lo bakal terwujud nih,” kata Grace dengan nada usil begitu puncak kepala
Kinar sudah menghilang di balik tangga.
“Maksud lo, impian gue yang mana? Berharap untuk nggak dilahirkan sebagai cewek separo
bule?” tanyaku bete. Memang itulah impianku yang paling utama. Kalau saja aku jadi Aladdin
yang membebaskan jin lampu dan jin itu memberikan tiga permintaan untukku, hal yang pertama
kuminta pasti yang itu.
“Dodol! Bukaaaannn! Ketemu Dylan!” Grace kelihatannya jengkel banget.
Aku nyengir. “Oh. Itu. Sebenernya gue nggak terlalu ngebet pengin ketemu Dylan sih. Gue
cuma pengin lihat aja, dia aslinya ganteng juga atau enggak. Terus, gue ngerasa pengin ketemu dia
karena gue udah pernah nyanyiin lagunya Skillful, jadi ini cuma...”
“Stop!” potong Grace. “Apa pun alasan lo, lo tetap nggak nolak kan kalau diajak ketemu
Dylan?”
Aku bengong. She’s got the point to hit me back!
“Yah... emang sih gue pengin ketemu...” Akhirnya dia memutuskan mengibarkan bendera
damai saja. Berdebat dengan Grace bakal membuatku tambah pusing. Ditambah lagi, dia nggak
bakal membiarkan aku menang berdebat melawannya.
Mulut Grace sudah hampir berceloteh lagi waktu kai mendengar suara bising mendekat. Aku
menoleh ke arah tangga, dan dalam sekejap puluhan kepala murid muncul dari sana. Semuanya
memakai baju seragam persis seperti yang dipakai Kinar, jadi aku yakin mereka pasti anak sekolah
ini yang naik ke aula karena mau nonton jumpa fans Skillful!
Semua murid itu, yang ternyata jumlahnya ratusan, langsung mengambil tempat sendiri di
bagian depan meja. Beberapa berdiri membentuk gerombolan kecil dan sibuk berkasak-kusuk,
beberapa lagi langsung duduk manis, dan sisanya berdiri menyandar ke dinding aula. Aku bisa
lihat dengan jelas yang duduk di barisan terdepan adalah cewek-cewek yang matanya berbinar
dengna rasa penasaran. Kayaknya mereka bakal bersemangat banget memburu Skillful nanti.
“Halo semuanya, tolong tenang dulu ya...! Gue tau kalian semua pada nggak sabar pengin
ketemu sama Skillful, dan dengan senang hati gue mau bilang mereka sekarang udah ada di sini!”
Aku menoleh ke arah meja panjang itu, dan melihat Kinar berdiri di depan sana sambil
berseru di mikrofon. Kata-katanya tadi disambut tepuk tangan riuh ratusan orang yang ada di
aula. Kayaknya Kinar memang sudah pengalaman banget menangani acara-acara jumpa fans
semacam ini.
“Eh,” tiba-tiba Grace mencolekku, “kita pindah ke belakang lagi aja yuk, di sini kayaknya
kita aneh banget deh, berdiri sendirian, yang lainnya pada duduk tuh!” Grace menuding ratusan
orang yang duduk di depan kami.
Iya juga ya, kayaknya kami kok aneh banget berdiri menjulang begini di dekat ratusan orang
yang duduk di lantai.
Grace dan aku berjalan ke bagian belakang aula, lalu duduk di kursi-kursi yang kebetulan ada
di situ. Di dekat kami ada pintu kaca yang kelihatannya menuju bagian aula yang lebih kecil. Ada
beberapa orang laki-laki di ruangan itu, tapi aku langsung pura-pura melihat ke arah lain begitu
salah satu di antara mereka melihat ke arahku.
“Nah, sekarang kita panggil anak-anak Skillful yuk!” Kinar mulai bercuap-cuap lagi di sana.
Dia memimpin ratusan orang di ruangan ini berteriak “Skillful... Skillful...!” dengan hebohnya.
Aku sampai merasa lantai yang kupijak bergetar saking hebohnya teriakan ratusan orang itu.
“Yang keras dong...!” pancing Kinar di depan sana. “Skillful... Skillful... Skillful!”
Seisi aula heboh lagi, dan dari ekor mataku, aku bisa melihat orang-orang yang ada di aula
kecil itu berjalan menuju aula besar.
Oh no.
Nggak mungkin. Itu kan...
“Please welcome, Skillful...!”
Kupingku serasa tuli mendadak begitu ratusan orang itu berteriak heboh, dan kayaknya aku
juga dapat serangan jantung gara-gara di depanku mendadak lewat para personel Skillful!
Sial, ternyata memang benar mereka dan kru-krunya yang ada di aula kecil itu!
Ernest, Dudy, Dovan, dan Rey lewat satu per satu di depan mataku. Aku menoleh dan
nyaris cekikikan melihat Grace yang bengong melihat cowok-cowok itu, sewaktu seorang cowok
melintas lagi.
Omigod, Dylan!
Gila, ternyata aslinya jauuuuhhh lebih cakep! Aku sampai nyaris nggak berkedip melihatnya,
dan cuma bisa bengong waktu aroma parfumnya yang macho menyerbu masuk hidungku.
Ya ampun, aku menatap Dylan sambil termangu kayak orang tolol, sementara cowok itu
berjalan ke bagian depan aula dikawal tiga bodyguard bertampang seram yang berusaha
melindunginya dari serbuan cewek-cewek yang berusaha menyentuh cowok ganteng itu.
“Here they are!” seru Kinar setelah kelima cowok itu berkumpul di sebelahnya. Hujanan sinar
blitz dari puluhan digicam menerpa mereka. Dylan memamerkan senyumnya ke semua orang,
membuatku langsung lemas dari lutut ke bawah.
Oh Tuhan, terima kasih udah menciptakan makhluk seindah ini...
Kinar menyapa kelima cowok itu satu per satu, lalu memperkenalkan mereka ke ratusan
temannya (hal yang kayaknya nggak perlu, mengingat Skillful kan udah ngetop banget. Siapa sih
yang nggak tahu mereka? Tapi ya sudahlah...)
Kelima personel Skillful duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan untuk mereka di bagian
depan aula, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari ratusan anak SMA 93.
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti masuk telingaku, lalu keluar lagi tanpa meninggalkan bekas,
saking terpesonanya aku menatap Dylan. Yang masuk di otakku hanya tawa Dylan, suaranya yang
berat, senyumnya, dan refrein lagu Tetap Sahabatku yang dinyanyikannya tadi.
Dan aku hampir menjerit karena kaget waktu Grace mencolekku lagi.
“Apaan sih?” gerutuku jengkel.
“Tuh, dipanggil Kinar!” Grace menunjuk ke aula kecil, dan aku melihat Kinar melambai
pada kami dari sana. Rupanya posisinya sebagai MC di depan sana sudah digantikan temannya
yang lain. Duh, kayaknya aku nggak berselera deh kalau harus meninggalkan tempat ini sekarang.
Kalau aku pergi kan berarti aku nggak bisa memelototi tampang Dylan yang cakep itu lagi!
Tapi Grace nggak mau mendengar alasanku, dia malah menarik tanganku menuju aula kecil
itu. Menyebalkan! Sampai di depan Kinar saja aku masih merengut, tapi kelihatannya cewek itu
nggak menyadari tampangku yang sudah tertekuk dua.
“Kalian tunggu sebentar ya di sini. Haibs ini jumpa fansnya selesai, dan mereka bakal dibawa
masuk ke sini lagi. Mungkin istirahat sepuluh-lima belas menit gitu, habis itu mereka bakal balik
ke hotel.”
Rasa beteku langsung menguap mendengar omongan Kinar. Wow, aku bakal punya
kesempatan lima belas menit penuh memelototi tampang Dylan! Bukan lima belas menit
menatapnya dari jauh seperti di aula besar tadi!
Hehe... maaf ya, Kinar, tadi akyu sempat sebel sama kamyu...
Aku bersandar di tembok ruangan itu, jantungku berloncatan ke sana kemari karena nervous.
Aduh, kok rasanya kayak sejuta tahun begini sih menunggu Dylan kembali ke ruangan ini?
Suara keluhan bercampur tepuk tangan di luar sana membuat jantungku meloncat sekali lagi.
Kayaknya acara jumpa fans itu sudah selesai, dan pastinya sekarang Dylan bakal dikawal bodyguard
kembali ke ruangan ini lagi. Oh Tuhan oh Tuhan oh Tuhan...
“Dikawal yang benar! Jangan sampai ada yang sentuh!”
Aku mendengar bunyi riuh dan orang-orang yang saling berdesakan di luar sana, juga seruan
galak dengan nada perintah itu. Sedetik kemudian, Dylan masuk dengan susah payah ke dalam
ruangan, diikuti tiga bodyguard yang kepayahan, dan seorang laki-laki bertampang galak. Ah, itu
pasti manajernya, kelihatan kok dari tampang galaknya, hihi...
Tapi aku nggak membuang waktu berlama-lama memandangi si manajer. Mataku yang
berkeliaran gelisah langsung berhenti pada sosok Dylan yang sedang menenggak sebotol air
mineral dengan cepatnya. Setetes air jatuh dari dagunya ke lantai, dan aku masih memandangi
cowok itu dengan mata nggak berkedip.
Personel-personel Skillful lainnya masuk juga ke ruangan ini, lalu mengambil minum untuk
diri mereka masing-masing, dan mencari tempat yang enak untuk duduk. Kru-kru Skillful
mengobrol satu sama lain, ada juga yang merokok. Beberapa orang sempat menatapku dan Grace
dengan pandangan bingung, mungkin penasaran kami ini siapa, tapi aku cuek bebek.
Dan kayaknya jantungku benar-benar copot sewaktu Kinar mendekati Dylan, berbicara
sebentar, lalu menudingkan jarinya ke arahku...
THE GIRLS
GUE minum dengan rakus. Tenggorokan gue kering banget gara-gara menjawab sejuta
pertanyaan di acara jumpa fans tadi. Pertanyaan yang paling membuat gue kepengin ngakak
selebar-lebarnya jelas pertanyaan pertama. Seorang cewek dengan baju seragam berpotongan
superketat (sebenarnya cewek ini lumayan juga, kalau aja bajunya nggak seketat itu dan
membungkusnya seperti lontong) menanyai gue, apa gue masih jomblo atau enggak.
Hahaha... terus, kalau gue jomblo, lo mau apa? Ngelamar jadi cewek gue?
Dan seperti biasanya, gue cuma tersenyum kecut dan bilang bahwa ya, gue memang
jomblo. Semua cewek dari ruangan itu langsung sumringah mendengar jawaban gue. Ya
ampun, apa mereka berharap dengan status jomblo ini, gue bakal bisa memacari mereka
semua sekaligus?
Sebenernya, gue nggak merasa terganggu sama pertanyaan model begitu. Di tiap acara
yang ada sesi tanya-jawabnya, gue selalu dapat pertanyaan itu. Gue ngerti sih apa alasannya,
tapi tetap saja gue bosan kalau setiap sesi tanya-jawab harus menyiapkan jawaban ―Ya, gue
jomblo‖, sampai-sampai pernah suatu kali gue bosan setengah mati dan memutuskan pakai
kaus bertuliskan I‟M SINGLE ke acara jumpa fans. Waktu akhirnya ada yang tanya, ―Dylan
udah punya pacar belum?‖, gue cuma menunjuk tulisan yang ada di kaus gue, dan semua
orang langsung ngakak selebar-lebarnya. Sebenarnya itu ide yang lumayan bagus untuk
menanggapi pertanyaan kayak gitu, sayangnya gue nggak mungkin pakai kaus itu setiap ada
jumpa fans atau showcase kan? Bisa-bisa dikira baju gue cuma itu!
Gue masih minum dengan rakus waktu melihat satu sosok yang sangat gue kenal
berjalan mendekat. Kinar, adiknya Karin. Tadi gue sempat shock waktu melihatnya jadi MC
acara jumpa fans, tapi gue berusaha bersikap normal-normal saja. Tapi sekarang, setelah dia
cuma berada tiga langkah dari gue, mau nggak mau gue panik.
―Hai,‖ katanya begitu kami berhadapan. Gue jadi nervous, jengah melihat bayangbayang
wajah Karin di wajah Kinar.
―Hai juga. Gue lupa lo sekolah di sini,‖ gue basa-basi. Kinar tersenyum. ―By the way,
acaranya seru tadi.‖
―Iya. Makasih ya, kalian semua udah pada mau manggung di pensi sekolah ini. Tadinya
gue kira, band lo nggak bakal mau jadi pengisi acara pensi sekolahan gini. Yah... secara band
lo udah ngetop banget...‖
―Justru ngetop atau enggaknya sebuah band itu bisa dinilai dari sering enggaknya mereka
di-booking untuk manggung di pensi-pensi, kan?‖ Gue tertawa pahit, tapi Kinar masih terus
tersenyum.
Lama-lama gue nggak tahan juga, pertanyaan-pertanyaan tentang Kairn sudah berada di
ujung lidah gue. Gue nggak bisa berlagak everything‟s okay begini terus di depan Kinar. Gue
harus nanya tentang Karin! Gimana kabarnya sekarang? Apa dia udah punya pacar baru? Apa
dia udah ngelupain gue?‖
―Eh, Kin,‖ kata gue, persis ketika Kinar hampir mengatakan sesuatu juga. Gue nyengir
aneh. ―Lo duluan deh.‖
―Ada temen gue yang ngefans sama Skillful, tuh orangnya...‖ Kinar menunjuk dua cewek
yang berdiri nggak jauh dari kami. Kelihatannya mereka berdua sebaya Kinar. Mungkin anak
sekolah ini juga. Tapi kok nggak pakai seragam ya?
―Anak sini?‖
―Oh, bukan. Anak SMA Harapan. Salah satunya teman SMP gue dulu, dan mereka
khusus datang ke sini karena pengin ketemu lo.‖
―Oh,‖ gue menggumam.
―Yuk, gue kenalin. Mereka pengin foto bareng lo tuh.‖
Kinar berjalan menuju kedua temannya itu, yang salah satunya kentara banget bengong
menatap gue, dan gue mengikutinya di belakangnya.
―Hai,‖ sapa gue sambil tersenyum.
―Dylan, kenalin, ini Grace,‖ kata Kinar sambil menunjuk seorang cewek berkulit putih
yang berulang kali mengerjap. ―Grace ini temen SMP gue dulu.‖
―Hai, Grace.‖
―Yang ini Alice, temannya Grace.‖ Kinar menunjuk cewek satunya, yang bengong
menatap gue tadi itu. Wajahnya lucu, dan... I don‟t know, she looks... different. Kelihatannya
dia ini bukan orang Indonesia asli, tapi kalau indo juga kayaknya nggak mungkin. Pendek
begini.
―Hai, Alice.‖ Gue mengangguk dan tersenyum lagi. Hal yang kayaknya salah besar,
melihat Alice yang semakin bengong menatap gue.
Alice mengaduh waktu Grace menyikunya, berusaha membuat temannya itu nggak
bengong lagi. Gue hampir nggak bisa menahan tawa melihatnya. Adegan itu lucu banget,
apalagi pipi Alice langsung merah mendadak. Untungnya, gue nggak sampai tertawa. Sejak
jadi vokalis Skillful, gue udah dibiasakan menahan emosi. Dan itu termasuk nggak boleh
menertawai fans. Bisa gawat kalau akhirnya mereka salah paham dan malah sakit hati.
―Emmm... Eh... Dylan udah punya pacar?‖ tanya Grace tiba-tiba.
Aduh! Pertanyaan itu lagi!
―Belum. Gue jomblo kok.‖ Mau nggak mau, gue harus menjawab juga. Kayaknya lidah
gue ini sudah hafal banget. Ibaratnya menu Messages di HP, kata-kata gue tadi itu sudah
tersimpan di bagian ―templates‖, tinggal di-insert setiap kali dibutuhkan.
Gue bisa melihat mulut Grace membulat, mengucapkan ―ooo...‖ panjang tanpa suara, dan
Alice yang menunduk entah karena apa. Mungkin pipinya sudah tambah merah lagi.
―Oh ya, Lan, Alice ini suaranya keren lho,‖ Kinar angkat bicara. ―Di acara kelulusan
seniornya, dia nyanyi lagunya Skillful!‖
Alice mendongak karena panik, dan, benar dugaan gue, pipinya bertambah merah. Ya
ampun, gue jadi kasihan sama cewek ini! Masa gue bisa bikin cewek speechless sampai
segitunya sih?
―Oh ya?‖ tanya gue tertarik.Gue suka banget kalau ada orang lain yang menyanyikan
lagu Skillful. ―Pasti suara lo bagus, sampai diminta nyanyi di acara kelulusan gitu.‖
―Oh... Eh... Enggak, biasa aja kok...,‖ jawab Alice tergagap, dia menatap gue takut-takut,
seolah gue ini majikan dan dia pembantu gue yang baru memecahkan piring.
Tapi waktu dia menatap gue itulah baru gue bisa melihat bola matanya yang berwarna
cokelat muda, juga rambutnya yang perpaduan antara warna cokelat dan merah. Gue nggak
tahu itu rambut asli atau hasil semiran di salon, tapi kalau dilihat dari aslinya yang juga
sewarna itu...
Nggak mungkin, kan, kalau dia menyemir alisnya juga?
Lho, kok gue jadi ngurusin alis orang sih?
Setelah itu Grace menanyai gue segala macam, mulai dari kampus gue, apa lagu favorit
gue di album Skillful, gimana perasaan gue sebagai personel Skillful yang paling ngetop
(yang ini gue bantah seratus persen, karena gue nggak pernah menganggap diri gue kayak
gitu), dsb, dst, dll. Gue senang-senang aja menjawab semua pertanyaan itu. Rasanya senang
ada yang peduli dan pengin tahu tentang kehidupan gue. Hal yang kayaknya nggak mungkin
gue alami kalau gue nggak bergabung sama Skillful.
Kira-kira sepuluh menit setelah itu, gue mendengar suara yang sudah gue hafal betul.
Bang Budy.
―Ayo, semuanya, masuk bus!‖ teriaknya pada seluruh kru dan personel Skillful yang ada
di ruangan ini. Semua menurut dan langsung berjalan menuju pintu keluar aula kecil, yang
terletak di sisi kiri gue.
―Gue balik dulu ya,‖ pamit gue pada Alice dan Grace. ―Kin, gue balik dulu. Mmm...
salam buat Karin...‖
Kinar terdiam selama beberapa detik, tapi akhirnya dia mengangguk juga. Gue nggak
tahu apa yang ada di pikirannya, mungkin dia kaget karena ternyata gue masih ingat sama
kakaknya.
Ya iyalah, Kin, mana mungkin gue bisa ngelupain kakak lo? Gue nggak pernah sekali
pun ngelupain dia, even though I‟ve tried so hard...
* * *
Gue baru aja mau mandi waktu HP gue berdering. Nomor tak dikenal.
―Halo?‖
―Selamat sore, dengan Dylan Siregar?‖
Siapa nih? Nada suaranya resmi begini.
―Iya, ini siapa?‖
―Saya Mirna, dari bagian produksi acara Pacar Selebriti di TOP Channel,‖ kata orang itu
lagi. Gue melotot. Pacar Selebriti?
―Ehm... Oh ya, ada yang bisa saya bantu, Mbak Mirna?‖
―Ada,‖ jawabnya sambil tertawa kecil. ―Kami ingin minta kesediaan Dylan untuk jadi
bintang tamu di acara kami.‖
Gue mengernyit. Tunggu, kalau nggak salah, Pacar Selebriti itu acara reality show yang
memberi kesempatan ke seorang fans untuk jadi pacar idolanya selama satu hari, kan? Jadi,
maksudnya, gue harus pacaran selama satu hari dengan seorang cewek yang nggak gue
kenal?
―Waduh, Mbak, saya rasa kalau untuk minta saya mengisi acara begini, sebaiknya Mbak
langsung menghubungi ke manajemen Skillful saja...‖
―Ah ya, tadi saya sudah menghubungi Pak Budy, dan beliau bilang oke, tapi saya harus
konfirmasi juga ke Dylan, soalnya ini kan yang jadi bintang tamunya Dylan secara individu,
bukan seluruh personel Skillful.‖
Gue menelan ludah. Gue sih mau-mau aja jalan sehari sama fans cewek, apalagi kalau
cewek itu fans Skillful yang sudah bersusah payah mendaftar ke acara Pacar Selebriti ini.
Seingat gue sih nggak gampang untuk jadi peserta acara ini. Banyak saingannya.
―Saya dijadwalkan untuk episode tanggal berapa, Mbak? Soalnya kalau untuk bulan ini
kayaknya nggak bisa, jadwal Skillful padat banget.‖ Gue melihat kertas schedule Skillful
yang tertempel di tembok kamar gue. Damn, hari yang kosong bisa dihitung jari!
Mbak Mirna terdiam sesaat. ―Ehh... akhir bulan? Sekitar tanggal 26?‖
Gue melirik jadwal lagi. 26 Agustus kosong. Kok bisa pas begini ya? ―Kalau tanggal itu
bisa sih, kebetulan kosong.‖
―Waduh, syukurlah,‖ suara Mbak Mirna terdengar riang lagi. ―Kalau begitu kami bisa
mulai memilih tiga surat penggemar yang terbaik, dan nanti Dylan sendiri yang akan
menentukan pesertanya dari tiga orang yang kami pilih itu.‖
―Oh. Oke deh kalau gitu.‖
―Oke. Terima kasih, Dylan.‖
―Sama-sama Mbak Mirna.‖
Mbak Mirna menutup teleponnya, dan gue langsung menuju kamar mandi. Tora udah
ribut ngajak ke tempat biliar, dan kalau gue nggak selesai mandi dalam lima menit, kayaknya
dia bakal ngebunuh gue. Anak itu kan paling nggak bisa disuruh nunggu.
* * *
Ten Ball ramai banget malam ini. Baru di gerbangnya aja, gue udah nyaris tuli saking
ramainya orang-orang yang lagi main biliar di dalam sana. Waktu gue masuk, beberapa
cewek menoleh, dan terus-terusan memelototi gue seakan gue ini setan.
―Dylan, ya?‖ tanya seorang cewek seksi yang tiba-tiba sudah berdiri di depan gue. Gue
mengangguk. Ya ampun, ni cewek pakaiannya bener-bener kurang bahan deh. Tapi boleh lah,
karena body-nya oke punya.
―Boleh foto bareng?‖ tanyanya lagi. Gue sekali lagi mengangguk. Cewek itu sumringah,
dan langsung mengeluarkan HP-nya untuk foto bareng. Gila, cantik plus seksi begini, HP-nya
N91 pula! Ckckck...
―Makasih ya,‖ cewek itu tersenyum setelah selesai foto bareng gue. Waktu gue hampir
pergi lagi, dia memanggil gue, dan menyelipkan sesuatu ke tangan gue.
Ya ampun. Nomor HP-nya!
―Call me,‖ katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Oke, dia memang cantik, dan seksi, tapi gue nggak suka. Kesannya gampangan banget.
Gue cuma nyengir bego, dan mengikuti Tora dan Mbak Vita (pacarnya Tora) yang sudah
jauh di depan gue.
―Gila, gue dikasih ini nih,‖ kata gue setelah kami mendapat meja yang kosong. Tora
menyandarkan stiknya ke meja biliar, dan menatap kertas yang gue pegang.
―Apa itu?‖
―Nomor HP. Itu, sama cewek yang di sana itu.‖ Gue memberi isyarat dengan mata gue
ke cewek dengan pakaian kurang bahan itu.
Tora berdecak. ―Cihuy banget tu cewek. Kesempatan, Lan!‖
―Nggak ah.‖ Gue menggeleng. ―Males lihat tingkahnya. Jangan-jangan semua cowok dia
kasih nomor HP-nya.‖
―Yee... Kenapa sih lo nggak mau memanfaatkan popularitas lo sedikit aja? Kalau lo mau
nih, semua cewek di Indonesia bisa berjejer di depan lo dan lo tinggal tunjuk!‖
Gue mendengus. ―Gue cuma akan milih Karin.‖
―Okeeeee... gue tau lo masih cinta sama dia, tapi lo harus ingat dong, dia udah ninggalin
lo, man! Justru di saat lo mulai sukses!‖
―Memang. Tapi justru itu yang gue hargai dari dia. Dia nggak silau sama apa yang gue
punya sekarang. Itu kan bukti dia bener-bener sayang sama gue. Beda sama cewek-cewek
lain yang justru berbaris di depan gue setelah gue jadi vokalis Skillful. Dan Karin ninggalin
gue karena salah gue sendiri... Gue mungkin bakal berbuat hal yang sama kalau gue jadi dia.
Siapa sih yang tahan di...‖
―Kok lo jadi sinis gitu?‖ potong Tora, ia mengernyit. ―Cewek di dunia bukan cuma
Karin, tau! Nanti lo pasti ketemu yang lebih baik dari dia.‖
―Ada apa nih ribut-ribut?‖ Mbak Vita muncul sambil membawa tiga kaleng soft drink.
Dia memang tadi pergi ke kasir untuk beli minuman sewaktu gue dan Tora mencari meja
yang kosong.
―Ini, si Dylan,‖ gerutu Tora, ―masa ada cewek mau kenalan sama dia, tapi dia malah
nggak mau?‖
―Bener, Lan?‖ tanya Mbak Vita.
Gue mengangguk. Kadang-kadang gue merasa Tora beruntung banget, bisa punya cewek
kayak Mbak Vita. Orangnya cantik, baik, manis, sabar, sayang pula sama ortu gue. Heran,
gimana caranya Tora yang slenge‟an ini bisa dapat cewek sesempurna Mbak Vita ya?
―Emangnya kenapa lo nggak mau?‖
―Ceweknya payah, Mbak.‖
Kening Mbak Vita berkerut, dan Tora memutuskan saatnya dia angkat bicara. ―Tuh
ceweknya, arah jam tujuh. Yang kayak gitu kok dibilang payah.‖
Mbak Vita melihat ke arah si-kurang-bahan itu, yang sekarang sedang cekikikan dengan
dua temannya sambil curi-curi pandang ke gue.
―Cantik,‖ gumam Mbak Vita sambil mengedipkan matanya menggoda gue.
―Cantik sih cantik, Mbak, tapi aku nggak suka.‖
―Dylan itu sok melankolis, beranggapan cewek kayak gitu cuma demen popularitasnya
aja. C‟mon, kalo lo sama dia, lo bakal sama-sama untung! Dia untung karena bisa jalan sama
vokalis band ngetop, dan lo untung karena dia nggak malu-maluin buat diajak jalan!‖
―Ya kalo gitu lo aja yang jalan sama dia,‖ kata gue kesal.
Muka Tora langsung merah padam, dan gue yakin tadi matanya sempat melirik Mbak
Vita takut, tapi Mbak Vita malah cekikikan.
―Iya, hun,‖ bela Mbak Vita, ―kalau menurut kamu cewek itu segitu qualified-nya, kenapa
nggak kamu aja yang jalan sama dia?‖
Tora ketawa terpaksa. Tuh kan, gue bilang apa, dia beruntung banget dapat cewek kayak
Mbak Vita.
MADAM FORTUNE & PACAR SELEBRITI
AKU mengerjap mencari Grace. Anak itu seenaknya aja menghilang begitu kami sampai di sini.
Stadion Lebak Bulus memang penuh banget sore ini. Alasannya sudah jelas, selain karena pensi
anak-anak SMA 93 yang memang selalu sukses dan gaungnya terdengar di mana-mana, bintang
tamunya juga ngeto-ngeto pbanget. Selain Skillful, yang bakal tampil malam ini adalah Nidji dan
The Upstairs.
Jejeran bintang tamu yang oke itu ditambah lagi dengan booth-booth lucu yang berjajar
sepanjang jalan masuk sampai di pinggir-pinggir stadion. Aduh... booth-nya keren-keren! Nggak
cuma booth produk-produk yang jadi sponsor acara pensi ini aja, tapi juga booth keren hasil kreasi
anak-anak SMA 93 sendiri. Tadi aku sempat melihat booth Madam Fortune (yang pastinya stand
tempat ramal-meramal), booth make-over, dan booth yang berjualan aksesori-aksesori imut yang
murah meriah! Duh, aku suka banget pensi ini!
Tapi teteup dong ya... tujuan utamaku datang ke sini kan buat nonton Dylan. Mau sejuta
cowok keren melintas di depan mataku juga aku nggak bakal peduli.
Hmm... kecuali ada yang mirip Orlando Bloom, mungkin aku...
“Lice! Alice!”
Aku mendengar teriakan yang kukenali sebagai suara Grace, lalu menoleh mencari si pemilik
suara cempreng itu. Ternyata dia lagi enak-enakan duduk di stan penjual burger, dan di meja di
hadapannya bertebaran plastik pembungkus burger dan tisu bekas.
Aku mendatangi Grace dengan tampang cemberut. Sial, aku bingung mencari dia, ehhhhh
dia malah enak-enakan makan di situ!
“Jahat ya lo! Gue bingung nyariin, taunya lo malah enak-enakan makan di sini!” omelku
begitu aku sudah duduk berhadapan dengan Grace.
“Sori mori deh... Tadi soalnya gue ketemu temen les gue di dekat booth peramal situ, terus
gue samperin dia. Pas gue mau balik ke tempat gue pisah sama lo, eh lo-nya udah nggak ada.”
“Ya lo pergi nggak bilang-bilang! Emangnya lo kira gue patung Pancoran, bakal diam terus
di situ?” gerutuku sewot.
“Iya deh iya, gue salah. Maapin yah...” Grace setengah merengek, tapi aku sama sekali nggak
mendengar nada bersalah dalam suaranya. Dasar anak tengil!
“Iya gue maafin, asal lo nggak kayak gitu lagi!”
“He-eh!” Grace mengacungkan dua jarinya.
Aku memesan burger dan teh botol, lalu menghabiskannya dalam waktu singkat. Buset, lapar
banget! Ternyata mencari Grace di arena pensi yang luas kayak gini bisa juga dikategorikan
sebagai olahraga yang menguras energi!
Setelah puas makan, aku dan Grace berkeliling stadion. Baru para opening band yang unjuk
gigi di atas panggung, dan, seperti kataku tadi, aku sama sekali nggak tertarik, soalnya kan aku ke
sini cuma buat nonton Dylan, hehe...
Aku iseng-iseng ke Madame Fortune, dan langsung menyesal karena ternyata ramalannya
sama sekali nggak membawa fortune alias keberuntungan buatku. Si Madam Fortune, yang
ternyata seorang cewek berpakaian gipsi yang menggunakan kartu tarot sebagai medianya untuk
meramal, bilang berdasarkan kartu-kartu tarotnya, aku sedang berada di masa-masa gelap. Ihhh...
plis deh!
Madam Fortune (bagusnya namanya diganti Madam Bad Luck aja deh!) itu juga bilang, aku
nggak bakal mendapatkan hal-hal yang aku inginkan dalam waktu dekat. Bakal banyak halangan,
juga celaan dari orang-orang. Dan, katanya lagi, kalaupun aku berhasil mendapatkan apa pun
yang aku mau itu, bakal lebih banyak lagi cobaan yang akan menimpaku. Alamakjan!
Untungnya (ini yang membuatku mengurungkan niat untuk menyambit si Madam Fortune
dengan sandalku), dia bilang bakal ada satu keberuntungan kecil yang menghiburku, dan—bisa
jadi—keberuntungan itu akan memuluskan jalanku meraih apa yang kuinginkan, kalau aku bisa
memanfaatkannya dengan baik.
Heloooo... memangnya apa sih keberuntungan “kecil” itu??? Dan karena keinginan utamaku
saat ini tuh adalah nggak jadi cewek separo bule yang jelek, apa keberuntungan itu bakal datang
dalam wujud seorang dokter bedah plastik yang sanggup mengoperasiku sampai jadi cantik kayak
Cathy Sharon tanpa biaya apa pun?
Kalau iya, yah... bolehlah...
“Aduh! Kalau jalan pakai mata dong!!”
Ada sesuatu yang basah menciprati kausku. Aku mendongak dan melihat seorang cewek
yang menatapku dengan marah seakan dia gunung berapi yang hampir meledak. Kayaknya aku
tadi jalan sambil melamun deh, lalu tanpa sadar menabrak cewek itu... dan membuat milk tea yang
dipegangnya tumpah membasahi baju kami berdua. Oh, maksudku menciprati bajuku sedikit,
dan membuat tank top putihnya basah kuyup dan penuh bercak cokelat menjijikkan.
“Sori... Gue...”
Aduh, tolongin dong! Aku benar-benar nggak tau harus ngapain! Kejadian kayak gini nih
seharusnya cuma ada di sinetron! Atau di acara Playboy Kabel, waktu si korban termakan rayuan
penggoda dan si pelapor menyiramnya dengan minuman yang kebetulan ada di dekat mereka,
bukannya di dunia nyata, apalagi di duniaku!
Cewek itu nggak mengucapkan apa-apa lagi, tapi dia melengos dan pergi dengan marah.
Aduh... kok hari ini aku udah bikin susah orang sih? Ini gara-gara si Madam Bad Luck itu!
Parahnya, Grace sudah menghilang lagi! Aku nggak tahu dia ke mana, mungkin dia lihat satu
cowok ganteng dan tanpa sadar membuntuti cowok itu dan berpura-pura lupa dia datang ke
pensi ini sama aku. Yah, sudahlah, aku jalan-jalan saja. Kalau dia ada juga nanti dia bakal terusterusan
mengoceh. Dan bagus juga karena dia nggak ada, jadi dia nggak melihat tampang tololku
sewaktu menumpahkan milk tea cewek tadi.
Aku berjalan dari satu booth ke booth lainnya. Booth aksesori, nail-art, photobox, dan stan-stan
games sudah aku datangi semua, tapi acara di panggung masih juga diisi para opening band. Aduh,
lama amat sih Skillful munculnya? Aku kan kepengin lihat Dylan!
Dan waktu aku sudah kecapekan berjalan dan sedang terduduk lemas di salah satu bangku di
stan Japanese food, aku melihat satu booth yang sangat mencolok. Dekorasinya didominasi warna
kuning terang dan pink. Papan namanya terbuat dari font melingkar-lingkar yang cantik,
bertuliskan Pacar Selebriti.
Ah, stan acara TV. Kalau nggak salah ini kan...
Aku bengong. Ya ampun! Aku kan bisa aja mendaftar ikut acara ini dan punya kesempatan
jadi pacar seharinya Dylan!
Ya Tuhan, betul banget!
Aku berjalan dengan nggak sabaran ke arah stan program TV yang terang benderang itu,
seperti pengembara padang pasir yang baru menemukan oase. Jangan-jangan ini yang dimaksud
“keberuntungan kecil” sama si Madam Fortune itu!
Stan itu bising, dengan lampu neon yang menyilaukan, dan foto-foto selebriti bersama
peserta-peserta Pacar Selebriti yang dulu. Ada Fauzi Baadilah, Dwi Andhika, Andien, Dhini
Aminarti, Alam (hah?!), dan banyak banget foto selebriti lainnya. Nggak ada foto Dylan Siregar di
situ, yang berarti Dylan belum pernah terpilih jadi selebriti yang dijadikan pacar di acara ini!
Yihaaaa...!
Aku menoleh ke sekelilingku, dan melihat seorang cowok gendut duduk di balik meja di
sudut kanan stan. Cepat-cepat aku duduk di kursi yang berhadapan dengan cowok itu, dan
memasang tampang paling friendly yang kupunya.
“Hai,” sapaku riang. Cowok itu mendongak sebentar, lalu menunduk lagi. Sial, aku dicuekin!
“Mmm... di sini bisa daftar untuk jadi peserta acara Pacar Selebriti, kan?” aku mencoba lagi. Si
cowok mengangguk pelan. “Okeee... kalau gitu, aku mau daftar. Ada formulir yang harus kuisi
atau gimana?”
Cowok itu mengambil selembar kertas dari laci mejanya, lalu menyerahkannya padaku.
“Isi semua ya,” katanya, lalu dia menunduk lagi. Hei, aku jadi bingung, sebenarnya cowok ini
jenis orang minder yang selalu menunduk dan nggak berani menatap mata lawan bicaranya, atau
aku memang jenis orang yang pantas dicuekin sih?
“Nggak boleh pilih seleb-seleb yang udah pernah ditampilkan di acara Pacar Selebriti ini,” kata
cowok itu lagi seraya menunjuk deretan foto yang terpasang di dinding. Aku mengangguk.
Tenang saja, Mas, saya nggak minta jadi pacarnya Alam kok!
Aku meraih formulir itu dengan bete. Huh, penjaga stan harusnya ramah dan
menyenangkan, kenapa penjaga stan yang ini malah menyebalkan?!
Kulirik kolom-kolom isian di formulir ber-background kuning itu.
Nama: Alice Henrietta Hawkins
Umur: 16
Alamat: Jl. Camar, Bintaro
E-mail: alice_hawkins@yahoo.com
Hobi: (Tunggu dulu... apa hobiku? Aku senang berkhayal ketemu jin Aladdin yang bisa
memberiku tiga permintaan, tapi apa itu bisa disebut hobi? Dan aku juga suka... makan. Ihhh...
hobi-hobi yang nggak bonafid! Akhirnya aku memutuskan menuis yang gampang saja:
mendengarkan musik. (Haha!)
Sekolah/Kampus: SMA Harapan
Selebriti yang ingin dijadikan pacar: (Hihi... sudah jelas dong!) Dylan Siregar (aku
menulis dengan hati-hati. Dan untuk memastikan pihak Pacar Selebriti nggak salah orang kalaukalau
aku menang nanti, aku menambahkan: vokalis band Skillful di belakang nama Dylan.
Yeah, kayak di Indonesia ada banyak selebriti cowok yang namanya Dylan saja!)
Alasan: (Alasan apa? Ohh... alasan kenapa aku memilih Dylan? Ya sudah jelas lah, dia
ganteng gitu lho! Tapi aku menulis: . Aku pernah ketemu dia sekali, dan biarpun
dia nggak kenal aku, dia orangnya baiiiikkk... banget! Low-profile dan mau ngobrol-ngobrol,
nggak kayak cowok selebriti kebanyakan yang gayanya selangit, padahal tampangnya paspasan.
Satu lagi, Dylan is so... friendly! Dia murah senyum dan nggak keberatan menjawab
macam-macam pertanyaan dari fans. Dia juga wangi banget! Pokoknya, nggak ada deh
selebriti lain yang se-oke Dylan!
Aku menghela napas lega setelah mengisi semua kolom jawaban di formulir itu. Tapi mataku
langsung membelalak begitu melihat sebuah kolom tempat memasang foto ukuran postcard di
formulir itu. Ya ampun, memangnya siapa yang bawa-bawa foto ukuran postcard ke pensi kayak
gini?
“Mas? Ini beneran harus dikasih foto ukuran postcard nih di sini?” tanyaku sambil menunjuk
kolom foto itu persis di depan mata si cowok gendut.
“Ya iyalah,” cowok itu menjawab dengan nada bosan dan angkuh, seperti gaya para bodyguard
selebriti yang sudah biasa menghadapi fans-fans psycho yang tingkah lakunya aneh-aneh.
“Tapi aku lagi nggak bawa foto nih. Apa formulirnya boleh dibawa pulang dan dikembalikan
besok aja?”
“Silakan, tapi nanti dikembalikannya langsung ke bagian produksi Pacar Selebriti di kantor
TOP Channel.”
Aku menepuk dahiku. Aduuhhh... kantornya TOP Channel itu jauh banget dari rumahku!
Ibaratnya tuh kalau di peta DKI Jakarta, rumahku di pojok kiri bawah, sementara kantor TOP
Channel ada di pojok kanan atas!
Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu. Bukannya di sini ada stan photobox? Iya! Betul banget, dan
jaraknya juga nggak terlalu jauh dari sini. Aku harus ke sana sekarang!
“Mas, titip sebentar ya formulirnya, aku mau pergi foto dulu!”
Aku meninggalkan formulir itu di si cowok gendut, dan langsung melesat menuju stan
photobox. Tapi sesampainya di sana, aku membelalak. Ya ampun, antreannya apa nggak bisa lebih
panjang dari ini ya? Kayaknya banyak banget nih yang mau menggunakan photobox!
Akhirnya mau nggak mau aku antre juga. Tenang... tenang... stan Pacar Selebriti nggak bakal
menghilang ke mana-mana kok. Setengah jam lagi aku bakal bisa balik ke sana dan...
“Inilah dia... Nidjiiii...!”
Orang-orang yang mengantre di depanku sontak menoleh ke arah panggung begitu
mendengar suara MC yang menggelegar tadi. Sebagian besar dari mereka langsung cabut
meninggalkan antrean, memutuskan batal ber-photobox, dan malah menyemut di depan panggung.
Aku jadi maju sampai urutan antrean ketiga dari mesin photobox. Thanks God! Thanks juga Nidji!
Kalian penyelamatku! Cup cup muah!
Sepuluh menit kemudian, aku masuk mesin photobox dengan napas terengah-engah. Aku
duduk dan langsung mendengar suara begitu memasukkan koin yang sudah kubayar dengan uang
dua puluh ribu perak sebelum masuk ke mesin ini tadi.
“Selamat datang di Chic n’ Style Photobox! Pilihlah warna foto yang Anda inginkan...”
Ada tiga pilihan: berwarna, hitam-putih, dan klasik. Aku memilih yang berwarna.
“Pilihlah ukuran foto yang Anda inginkan...”
Hmm... 1x2 (12 foto, 4 gaya), 3x4 (6 foto, 3 gaya), 4x6 (4 foto, 2 gaya), atau postcard (1 foto, 1
gaya). Absolutely postcard.
“Anda telah memilih ukuran postcard. Anda akan difoto pada hitungan ketiga. Satu... dua... tiga...”
Kilatan blitz menyala, dan aku bengong saking kagetnya. Hah? Nggak salah nih? Kok cepat
banget sih, langsung difoto gitu? Aduuhhh... fotoku pasti jelek banget!
Tenang, tenang... pasti bisa diulang fotonya.
Dua detik kemudian, fotoku yang bengong gaya tolol itu terpampang di layar. Jerawatku juga
terlihat semua di situ! Hii... amit-amit deh fotonya! Aku bener-bener kelihatan jelek!
“Tekan NEXT untuk mencetak foto yang terlihat di layar, atau tekan BACK untuk mengulang.”
Back... Back...! Aku memencet tombol berwarna kuning.
“Terima kasih, foto Anda sedang dicetak.”
Hah?!
Arrggghhh... aku keliru menekan tombol NEXT! Tombol BACK itu yang berwarna biru,
bukannya kuning! Arrghhh... jadi, mau nggak mau, aku harus menyertakan foto itu di formulir
peserta Pacar Selebriti-ku? Lebih baik nggak usah daftar sekalian deh kalau fotonya kayak gini!
Aku keluar dari mesin photobox itu dengan langkah gontai. Apa aku harus kembali ke stan
Pacar Selebriti dan memberikan foto terjelek-seumur-hidupku ini, atau aku nggak perlu kembali?
Tapi sayang banget, kan aku sudah membuang dua puluh ribu buat foto ini, apalagi aku kepengin
banget bisa muncul di acara itu sama Dylan...
Oke, aku bakal kembali ke stan Pacar Selebriti itu. Biar saja fotoku ditertawakan. Siapa tahu
nanti kalau melihat foto ini, Dylan malah bakal menganggapnya unik dan akhirnya memilihku
untuk jadi pacarnya hari itu.
Ya ampun, tolong deh! Unik? Ini namanya JELEK!
Tapi aku sendiri nggak tahu kenapa kakiku tetap melangkah menuju stan Pacar Selebriti.
Beberapa cewek cantik ada di stan itu, kelihatannya sedang mendaftar juga. Dan nggak tahu ini
cuma perasaanku atau memang kenyataan, tapi kayaknya si cowok gendut itu jadi bertingkah
super-ramah kalau di depan cewek-cewek cantik itu. Menyebalkan!
Aku melangkah menuju meja tempatku mengisi formulir tadi. “Tolong formulirku yang tadi,
Mas. Ini aku udah ada fotonya.”
Cowok itu kelihatannya merasa terganggu banget dengan kedatanganku. Dengan enggan dia
meninggalkan kerumunan cewek cantik di dekatnya dan mengambil formulirku dari meja.
“Ini fotonya.” Aku menyerahkan fotoku yang memalukan itu. Dan ekspresi si cowok
sungguh ajaib. Dia sampai mencopot kacamatanya dan mengelap lensa kacamata itu dengan
ujung bajunya sebelum memakainya lagi. Lalu dia menatapku lekat-lekat.
“Kamu beneran mau pakai foto ini?” tanyanya heran. Cewek-cewek cantik di stan itu
menoleh memandangku.
Duh, tolong deh, kalau nanya bisa pelanan dikit nggak suaranya? Aku jadi tontonan nih!
“Iya, aku mau pakai foto yang itu, kenapa memangnya?”
“Kamu... Mmm... kamu tau kalau foto bakal jadi salah satu pertimbangan artis yang
bersangkutan untuk memilih pesertanya?”
Eh?
“Oh... Iya, aku tau...,” jawabku sok tahu.
“Jadi... kamu bakal tetap mau pakai foto ini?”
Aku mengangguk pasti. Sebodo amat lah, cuek aja, beybeh!
“Oke,” ujar si cowok gendut, setengah nggak percaya, lalu menjepit fotoku dengan klip ke
formulir yang tadi kuisi, dan memasukkannya ke sebuah map yang sudah penuh formulir juga.
“Thanks,” kataku, lalu berlalu pergi dari stan itu.
* * *
Setengah jam kemudian, aku menemukan Grace di stan nail-art. Kukunya baru saja dicat dengan
motif pink stripes dan bunga-bunga mungil, dan dia nyengir begitu melihatku.
“Grace! Lo kan udah janji nggak akan menghilang tiba-tiba lagi!” desisku di telinganya.
Biarpun lagi emosi, aku berusaha nggak membuat Grace jadi tontonan di stan ini gara-gara
suaraku. Aku kan nggak kayak cowok gendut penjaga stan Pacar Selebriti itu, yang suka
mempermalukan orang dengan sengaja. Huh!
“Sorrriiii... tadi gue lihat stan ini, terus gue pengin banget ke sini. Gue kira lo masih jalan di
belakang gue. Taunya pas gue noleh ke belakang, eh... lo udah nggak ada!”
Aku terdiam. Mungkin gara-gara insiden milk tea yang kutumpahkan di baju cewek tadi itu,
makanya aku terpisah dari Grace. Tadi itu kan aku sempat berhenti sebentar untuk meminta
maaf ke cewek itu, dan mungkin waktu itu Grace berjalan terus dan akhirnya aku ketinggalan.
Yah, sudahlah, yang penting kan sekarang aku sudah ketemu anak ini lagi.
“Masih lama tu kuteks keringnya?” tanyaku. Nidji sudah selesai tampil, dan kalau aku dan
Grace nggak cepat-cepat cari tempat yang enak di dekat panggung, bisa-bisa kami nggak bisa
nonton Skillful dari dekat!
“Ayo cepat, Skillful udah mau main tuh!” Aku menarik tangan Grace nggak sabaran, dan
cewek itu buru-buru mengeluarkan uang untuk membayar ongkos nail art-nya.
Kami berjalan melalui kerumunan orang yang sudah mulai memadat di sekitar panggung,
dan aku menemukan tempat yang enak banget di bibir panggung sebelah kiri. Dari sini aku bisa
melihat dengan jelas stand mike yang kelihatannya bakal dipakai Dylan nanti. Itu berarti aku juga
bakal bisa dengan jelas melihat Dylan. Sip dah!
Setelah waktu yang rasanya berjam-jam dan langit mulai gelap, akhirnya MC cabut dari
panggung. Asap buatan mulai membubung keluar dari sisi-sisi panggung. Omigod, semua bulu
kudukku langsung merinding mendengar intro lagu Masa Itu milik Skillful. Ini salah satu lagu
Skillful favoritku selain Tetap Sahabatku! Lirik lagu ini ciptaan Dylan, tapi melodinya digarap
Ernest, pemain keyboard Skillful. Kayaknya Dylan nggak bisa main musik deh, karena lagu-lagu di
album Skillful sebagian besar aransemennya dibuat Ernest. Tapi kalau lirik, wah... nyaris
semuanya Dylan yang bikin! Jadi, aku bisa menarik kesimpulan dia nggak bisa main musik, sama
kayak aku, hehe...
Dan sepertinya aku tiba-tiba mendapat semburan adrenalin begitu melihat Dovan muncul di
panggung. Ernest, Rey, dan Dudy juga muncul satu per satu. Cewek-cewek di sekitarku menjerit
histeris dan aku bisa merasakan orang-orang yang berada di belakangku berusaha merangsek
maju ke depan dengan cara dorong-mendorong. Bagus, aku tergencet!
Tapi itu semua belum apa-apa. karena teriakan paling histeris baru terdengar begitu Dylan
muncul di panggung.
“Selamat malam semuanya...!” sapa Dylan dari panggung, dan dia mendapat sambutan
teriakan histeris. Dylan kelihatan amat-sangat-super-duper-cakep dengan kaus hitam bersablon
emas dan celana jins. Rambutnya disisir model biasa, dan agak basah karena gel rambut.
Lagu Masa Itu mengalun cepat. Jenis lagu upbeat yang memang sanggup membangkitkan
semangat penonton sebagai lagu pembuka konser. Cowok-cowok di sekelilingku sibuk
berjingkrak-jingkrak, sementara aku memutuskan memotret dengan santai. Kesempatan buat
dapat foto Dylan sebanyak-banyaknya nih! Dan aku juga sudah siap tempur dengan digicam yang
kapasitasnya kira-kira cukup untuk seribu foto lagi, yang baterainya sudah ku-charge penuh tadi
malam. Ini semua untuk menebus kegoblokanku yang nggak sempat minta foto bareng Dylan
waktu kami ketemu kemarin di SMA 93. Haduh, aku memang bego banget!
Tapi, siapa yang nggak berubah jadi bego mendadak kalau berada di depan cowok seganteng
Dylan?
“Terima kasih! Selamat malam!” sapa Dylan sekali lagi setelah dia menyelesaikan lagu Masa
Itu. Gemuruh tepuk tangan bercampur teriakan membalas sapanya. “Senang banget Skillful bisa
manggung di Cheerful Paradise, pensi anak-anak SMA 93! Tepuk tangan dong buat SMA 93!”
Sekali lagi terdengar tepuk tangan yang riuh.
“Terima kasih juga buat semua fans Skillful yang sudah datang di sini...”
“Dylanders...!” teriak seorang cewek tiba-tiba, dan aku bisa melihat, meskipun dari jauh dan
hanya sekilas, Dylan jadi salting mendengar teriakan cewek itu. Kayaknya Dylanders adalah
sebutan untuk fans Dylan. Hmm... aku baru tahu...
“Berikut ini, lagu dari album terbaru kami, Terlalu Indah...”
Dylan menghilang sebentar ke belakang panggung untuk minum dan mengelap keringat
yang membanjir di dahinya. Sementara itu intro lagu Terlalu Indah yang mellow mulai mengalun.
Kepalaku bergoyang mengikuti lagu itu, mulutku komat-kamit menyenandungkan lirik lagu yang
sudah kuhafal di luar kepala.
Ku pernah mengenal satu cinta
Rasa indah tak pernah terduga
Seluruh belai manja dan sayang
Berikanku sentuhan nirwana...
Masih kurasa pesona ceria
Hari berganti bagai tak terasa
Hadirmu berikan tawa
Bagai cerita teruntai bianglala...
Dirimu sungguh terlalu indah...
Aku terpana... Terbuai...
Jangan pergi tinggalkan kisah
Ku tak mau semua ini usai...
Deg! Ya Tuhan! Ya Tuhan! Dylan menunjukku! Dia menunjukku waktu menyanyikan
“dirimu sungguh terlalu indah”! Aku!!!
Aduh, ternyata dia masih ingat sama aku! Waktu melihatku tadi dia kayaknya kaget, tapi
langsung tersenyum maniiissss... banget dan menunjukku! Mampus, aku rasanya mau pingsan!
Kakiku lemas, dan cewek-cewek di sekitarku, yang nggak terima melihat aku ditunjuk, langsung
menggencetku dari segala arah.
Tolooonggg!!!
* * *
Panggung sudah kosong, dan sekelilingku sudah sepi, tapi aku masih lemas. Kakiku kayaknya
gemetar dan nggak sanggup menopang berat tubuhku. Skillful baru aja selesai tampil, yang
sekaligus menutup pensi ini, tapi aku masih berdiri terbengong-bengong di sini.
Bukan, aku lemas bukannya karena aku digencet atau apa tadi, tapi gara-gara sepanjang di
atas panggung tadi. Dylan terus-menerus menunjukku! Dia menunjukku waktu menyanyikan
“sayangku... hanya dirimu...” di lagu Sayangku, juga di waktu menyanyikan “karena hanya kau
yang ada di hati...” di lagu Akhir Penantian, dan bahkan hampir di setiap lagu yang dinyanyikannya
tadi dia menunjukku!
Aduh, Tuha, sekarang aku tahu yang membuat vokalis-vokalis band di Indonesia punya
banyak fans! Hal-hal kecil seperti menunjuk seorang fans dari panggung, yang mungkin dianggap
sepele oleh orang lain, bisa jadi kenangan yang nggak mungkin dilupakan fans yang ditunjuk itu!
Aku bener-bener cinta mati sama Dylan! Dan aku harus mencari cara supaya aku bisa dekat
sama dia! Tapi gimana...
“Mau sampai kapan bengongnya?” tanya Grace mengagetkanku. Suara ingar-bingar di
stadion sudah lenyap, dan tinggal sedikit banget orang yang ada di dekat kami. Booth-booth juga
sudah mulai dibongkar.
Aku baru mulai berpikir lagi tentang bagaimana caranya mendekati Dylan, tapi Grace sudah
keburu menarik tanganku keluar dari stadion, menuju tempat mobilnya diparkir.
* * *
Aku duduk di depan komputerku, sama sekali nggak konsen mengerjakan laporan percobaan
Kimia yang seharusnya dikumpulkan besok. Duh, memangnya siapa yang peduli sih H2O itu
terdiri atas hidrogen dan oksigen?! (Eh, benar hidrogen dan oksigen kan, ya?)
Gilanya lagi, waktu aku membolak-balik buku teks Kimiaku, yang terlihat di mataku
bukannya gambar molekul-molekul zat dan penjelasan penuh kata-kata yang biasanya malah
membuatku semakin nggak jelas, tapi justru wajah Dylan! Aduuhh... kalau kayak gini caranya, aku
bakal nggak naik kelas nih!
Aku berusaha berkonsentrasi lagi ke soal-soal yang harus kujawab dan penjelasan-penjelasan
di buku Kimia-ku, tapi ternyata aku sama sekali nggak bisa. Parahnya, bukannya semakin
berusaha konsen mengerjakan laporan, aku malah mengambil kertas dan mulai mencorat-coret.
Cara-cara biar aku bisa dekat sama Dylan:
 Ikutan Pacar Selebriti (tapi nggak jamin aku bakal kepilih jadi pesertanya, apalagi
dengan foto sejelek itu)
 Ikut pemilihan model majalah remaja dan berharap aku menang dan akhirnya jadi
bintang sinetron/bintang iklan, dengan begitu jalanku buat dekat sama Dylan bakal lebih
lebar, secara kami sama-sama seleb, gituuu... (yang ini lebih nggak mungkin lagi)
 Ikutan Indonesian Idol atau AFI, alasannya sama seperti kenapa aku mau ikut
pemilihan model majalah remaja, siapa tau aku bakal jadi seleb (yeah, pura-pura lupa saja
bahwa Indonesian Idol dan AFI ini kontes menyanyi untuk orang-orang yang BENARBENAR
bisa menyanyi, bukannya vokalis band amatir yang cuma pernah tampil di acara
kelulusan seniornya)
 Aktif di OSIS, dan berusaha merayu Pak Wondo, si pembina OSIS itu, supaya
pihak sekolah mau bikin pensi dan mengundang Skillful. Kalau aku bisa jadi ketua
panitianya, pasti aku bisa dekat juga sama Skillful sebagai bintang tamunya! (Haha...
mengingat aku yang nggak punya prestasi apa-apa, kayaknya nggak mungkin deh aku terpilih
sekalipun)
 Minta Daddy mem-booking Skillful di pesta ultah Sweet 17-ku tahun depan (Oh
yaaaaa?? Bagaimana kalau saat itu tarif Skillful sekali manggung sudah mencapai dua
ratus juta???)
 Pergi ke dukun dan minta guna-guna untuk memelet Dylan atau pasang susuk di
wajahku (Iiiihhh... nggak banget deh!)
Jadi, semuanya sudah jelas, jalanku menuju Dylan buntu total. Benar apa yang dibilang si Madam
Fortune sialan itu, aku punya terlalu banyak halangan dan cobaan untuk mencapai mimpiku yang
satu ini.
BEGINILAH HIDUP ANAK BAND
GUE kaget banget melihat Alice tadi! Apalagi hari ini wajahnya kelihatan jelas kayak apa,
setelah kemarin dia kerjaannya menunduk terus, dan kalaupun mendongak, wajahnya sudah
berubah warna jadi merah karena malu.
Yang bikin gue senang, kayaknya dia hafal semua lagu Skillful! Sepanjang show tadi gue
bolak-balik melihat dia, dan bibirnya nggak pernah berhenti komat-kamit ikut bernyanyi.
Oke, gue tahu ini cuma hal sepele, kan memang sudah sewajarnya penonton pensi ikut nyanyi
mengikuti bintang tamunya, tapi gue bener-bener menghargai orang-orang yang segitu
appreciate-nya sama lirik-lirik lagu Skillful, sampai bisa menghafal satu album penuh. Itu
bukti mereka punya kaset atau CD Skillful yang original, kan? Kalau lo beli bajakan sih lo
cuma dapat sepotong CD jelek dengan kualitas suara payah, karena si pembajak nggak mau
repot-repot memfotokopikan lirik lagunya buat lo.
Sudahlah, yang penting gue senang banget melihat ada yang bisa mengikuti gue nyanyi.
Dan selain Alice juga tadi gue lihat beberapa anak milis Skillful yang memang sudah
langganan menonton konser-konser kami. Ada juga si Noni, fans Skillful yang lebih
mengklaim dirinya sebagai Dylanders sejati, di antara kerumunan penonton pensi. Bayangin
aja, di tengah-tengah gue menyapa penonton dan menyebut mereka fans Skillful, dia malah
teriak ―Dylanders‖ keras-keras! Gue salting total tadi, ngerasa nggak enak banget sama
Ernest, Rey, Dudy, dan Dovan. Tapi, seperti yang pernah gue bilang, gue sudah terlatih
mengendalikan emosi gue, jadi tadi gue cuma nyengir dan berlagak senang melihat cewek
itu.
Ehm... Bukannya gue benci Noni atau apa, tapi, jujur aja nih, gue agak... takut sama dia.
Dia selalu ada di mana pun Skillful manggung, entah pensi, promo tour, atau taping acara
TV. Tapi yang bikin gue heran adalah dia juga selalu ada kalau kami manggung di acaraacara
formal, kayak acara peluncuran kartu kredit Bank Kencana bulan lalu, yang seharusnya
orang-orang yang ada di sana cuma orang-orang Bank Kencana dan para undangan, karena di
situ acaranya ―invitation only‖. Nyatanya, Noni nongol di sana, berdiri di bibir panggung dan
membuat gue nyaris jatuh kesandung kabel saking kagetnya melihat dia! Dari mana dia dapat
undangan?
Dan dia juga ada waktu Skillful manggung di Bali, di Bandung, di Semarang, dan di
Medan, padahal dia bilang dia tinggal di Jakarta! Nah, gimana gue nggak merasa agak-agak
ngeri juga kalau kayak gitu caranya? Dia jelas mengekor ke mana pun Skillful pergi!
Yah, gue tahu sih seharusnya gue senang punya fans yang ―setia‖ kayak Noni, tapi kalau
dia mulai mencampuri urusan pribadi gue, dan memaksa gue memakai semua aksesori
pemberiannya yang kadang-kadang bikin gue merasa nggak nyaman, itu sih lain lagi
ceritanya. Pernah dia ngasih satu kalung ke gue. Keren sih, tapi bandulnya dari gigi taring
binatang apaaaaa... gitu, dan itu tajam banget. Pas show di TOP Channel, kalung itu nggak
gue pakai, dan waktu Noni lihat, dia marah besar. Sepanjang ngobrol sama gue, dia
mengomel, ―Kok kalungnya nggak dipake sih?! Nggak suka, ya?! Lain kali dipakai dong
kalungnya, kan itu mahal!‖
Dan akhirnya, gue pakai lagi kalung itu, setelah gue patahkan sedikit ujung taringnya.
Waktu Noni tanya, gue bilang aja nggak tau kenapa tuh ujung taring tiba-tiba bisa patah
begitu. Dia merengut, tapi nggak ngomel lagi.
Bagus, gara-gara kalung taring itu, gue kelihatan kayak pemburu binatang-binatang yang
hampir punah.
Tapi biarpun dia benar-benar menyebalkan, sampai sejauh ini gue selalu berhasil
bersikap manis di depan dia. Seperti yang pernah gue bilang, sejak jadi vokalis Skillful, gue
memang sudah terbiasa menyembunyikan emosi gue yang sebenarnya dari orang lain. Dan
itu termasuk nggak boleh menunjukkan tampang bete dan bersikap jutek di hadapan fans
―mengganggu‖ macam Noni.
―Lo nonton apa, Lan?‖ tanya Ernest. Gue mendongak, dan baru sadar dari tadi gue
melongo di depan TV yang menyala, tanpa tahu acara TV apa yang terpampang di depan gue.
―Lo ngelamun?‖ tanya Ernest lagi, terkekeh. ―Mikirin apa sih?‖
―Nggak, gue nggak ngelamun kok... Cuma kalau dibilang gue lagi mikir, ya emang gue
lagi mikir.‖
―Iya... mikirin apa?‖
Gue terdiam. Nggak lucu banget kalau gue bilang gue lagi mikirin si Noni bawel dan
kalung taring pemberiannya itu. Yang ada nanti Ernest bakal mikir gue naksir Noni!
―Eh... gue cuma mikir... kira-kira sampai kapan kita bakal hidup kayak gini.‖
―Hidup kayak gini? Maksud lo?‖
―Ya manggung dari satu konser ke konser lainnya, dari kota satu ke kota lain... Gue
jenuh.‖ Gue bingung sendiri. Kenapa gue tiba-tiba bisa ngomong kayak gitu?
Dan gue kaget banget karena Ernest mendadak ngakak. Dia ketawa lama banget, dan
setelah berhasil menghentikan tawanya itu, baru dia menatap gue, itu pun dengan pandangan
yang masih geli.
―Lo... jenuh? Hoahaha...‖ Gue mengangguk. ―Ya ampun, Lan! Lo baru satu tahun
setengah gabung di band ini, dan lo bilang kalau lo jenuh? Gimana dengan gue dan anakanak,
yang hidupnya udah kayak gini sejak vokalis Skillful masih Indra?‖
―Eh. Iya sih, tapi...‖
―Gue ngerti perasaan lo.‖ Ernest menepuk bahu gue pelan. ―Gue tahu apa yang lo rasain,
karena gue juga pernah ngerasain hal yang sama. Percaya deh, Rey, Dovan, sama Dudy juga
pernah ngerasain itu. Tapi setelah gue pikir-pikir... ya memang beginilah hidup anak band...
Hidup kita terdiri atas rangkaian promo tur, konser, showcase dan interview-interview radio,
dan memang sudah seharusnya seperti itu...‖
―Tapi, apa lo nggak pernah berniat...‖
―Mundur dari Skillful? Ohh... gue sering banget punya niat kayak gitu! Apalagi waktu
Sascha baru lahir, waktu itu Skillful lagi promo tur dua puluh kota. Rasanya gue nggak
sanggup lagi. Waktu itu gue mikir, kenapa gue nggak jadi orang kantoran aja, yang punya
jam kerja nine-to-five, jadi gue bisa ngeliat anak gue setiap pulang kantor, bukannya
nyempat-nyempatin pulang ke Bandung di sela-sela jadwal tur...‖
Gue terdiam. Ernest betul banget, rasa jenuh gue (yang belakangan baru gue sadari
bahwa ternyata rasa jenuh karangan gue itu ada juga) masih belum apa-apa dibanding Ernest.
―Lo mau tau satu-satunya cara mengatasi kejenuhan itu?‖ tanya Ernest.
―Apa?‖
―Enjoy it. Semakin lo kepikiran jenuh, semakin lo akan merasa nggak nyaman dan
akhirnya malah berpengaruh ke performa lo di panggung. Tapi kalau lo coba menikmati itu
semua, lama-lama o bakal lupa juga sama rasa jenuh lo.‖
Gue bengong. Jadi, itu termasuk gue juga harus menikmati pakai kalung taring
pemberian fans yang agak psycho juga, ya?
DYLAN’S NOT THAT WORTH
GRACE menutup kedua telinganya dengan tangan dan menatapku jengkel.
“Lice, gue tau lo ngefans banget sama Dylan, tapi nggak usah ngomongin tentang dia terus
deh... Gue juga tau kalau Dylan itu ganteng, jadi lo nggak perlu bolak-balik bilang...”
Aku mendesah. “Ya habisnya gue harus cerita sama siapa lagi kalau nggak sama lo, Grace?
Lo kan sohib gue.”
“Iya, tapi kalau lo terus-terusan cerita soal betapa ngefansnya lo sama Dylan...”
“Gimana kalau gue nggak ngefans?” potongku cepat.
“Nggak ngefans apanya! Dari tadi tuh lo ngomongin soal Dylan terus!”
“Gimana kalau gue... suka?” tanyaku takut-takut.
Grace bengong, tapi beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Tapi karena
melihatku nggak ikut tertawa juga, dia akhirnya berhenti ketawa dan menatapku dalam-dalam.
“Lo serius? Lo sadar nggak kalau dia itu... SELEB?”
“Gue tau! Gue tau!” desisku jengkel. “Itu alasannya kenapa gue cerita ke lo! Kalau gue suka
sama cowok biasa aja, gue nggak akan sebingung ini...”
Grace terdiam, sepertinya dia berusaha mencerna kata-kataku barusan.
“Lice, gini, lo... bener-bener serius sama omongan lo barusan? Lo nggak lagi ngerjain gue,
kan?” tanyanya curiga.
“Gue nggak bakal bercanda untuk hal-hal kayak gini, Grace,” tegasku. “Dari pertama kali
lihat Dylan, gue udah suka sama dia. Dan sebelum lo tanya lagi, gue sudah tau apa risiko suka
sama cowok seleb kayak Dylan.”
“Ya Tuhan,” Grace mengerjap. “Lo bener-bener udah gila! Dylan itu seleb, Lice, banyak
banget cewek yang suka sama dia! Kemarin waktu di konser aja, lo digencet cuma karena Dylan
nunjuk lo! Apa jadinya kalau lo jadi pacar Dylan? Lo bakal hidup di dalam teror!
Aku tertawa pahit. “Jangan hiperbolis gitu deh, Grace, gue kan bukannya pembongkar kasus
korupsi yang jadi target balas dendam.”
“Ini malah lebih parah daripada itu, tau!” Grace cemberut. “Lo sih nggak tau gimana makan
hatinya Mbak Karin setelah Dylan jadi vokalis Skillful!”
“Memangnya Mbak Karin kenapa? Kok lo bisa tau? Bukannya lo baru tau kalau Mbak Karin
pernah jadian sama Dylan aja karena Kinar yang bilang?”
“Memang. Dan kemarin malam gue telepon-teleponan sama Kinar, dan gue shock begitu tau
alasan sebenarnya Mbak Karin bisa sampai putus sama Dylan.”
“Apa?”
“Dia diteror.”
“What?!”
“Iya, Lice. Dan gue cerita ini bukannya mau nakut-nakutin lo atau apa, tapi Kinar bilang,
sejak fakta Dylan pacaran sama Mbak Karin terungkap, Mbak Karin hidup dalam teror. Kinar
bilang, hampir setiap hari ada surat kaleng yang datang ke rumahnya. Dan SMS-SMS jahat yang
masuk ke HP Mbak Karin udah nggak bisa dihitung lagi.”
Aku terpaku. “Apa semua fans Dylan meneror dia?”
“Gue yakin nggak sampai semua, cuma segelintir orang. Gue percaya ada fans yang benarbenar
baik, yang nggak mencampuri urusan pribadi idolanya.”
“Memangnya Mbak Karin nggak cerita sama Dylan soal teror-teror itu?”
“Ya dia cerita, tapi memangnya lo mengharap Dylan bakal berbuat apa? Memangnya lo kira
Dylan bakal memarahi fans-fansnya itu? Ingat ya, selain nggak ada bukti, fans itu segalanya buat
artis, apalagi yang lagi naik daun.”
“Tapi kan Mbak Karin pacarnya sendiri! Harusnya dia ngebelain pacarnya dong!”
Grace menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dylan nggak bisa ngapa-ngapain. Dia sedih,
marah, atpi dia juga nggak bisa menghilangkan teror-teror itu, kan?”
“Jadi... mereka putus karena...”
“Ya karena Mbak Karin nggak tahan sama semua teror itu. Dia memutuskan putus sama
Dylan, daripada mereka tetap pacaran tapi Mbak Karin makan hati melulu. Memang sih, masih
ada faktor-faktor lainnya yang membuat mereka putus, tapi tetap aja alasan teror itu jadi alasan
yang utama.”
Lidahku serasa kelu. Astaga, padahal waktu kejadian itu pasti Dylan baru ngetop, dan
fansnya mungkin belum sebanyak sekarang. Kalau dulu aja kayak gitu, sekarang bagaimana?
“Gue tau lo orangnya suka spontan, dan mungkin lo... yah... terpesona sama Dylan dua hari
belakangan ini. Tapi percaya deh, lo nggak akan mau ada di posisi Mbak Karin. Rasanya nggak
setimpal aja. Dylan’s not that worth.”
“Grace... gue...,” aku tergagap. “Tapi gue suka...”
“Masih banyak cowok lain yang baik buat lo. Gue bukannya nggak mau mendukung lo, tapi
kita harus realistis... Dylan terlalu jauh buat lo, Lice. Saran gue nih, lo jadi fans yang baik aja. Lo
tetap bisa datang ke konser-konser Skillful, join di milisnya, dan sering ketemu sama Dylan, tapi
cuma sebatas itu aja,” katanya sambil menatapku dalam-dalam. “Jangan berharap terlalu jauh.
Gue cuma nggak mau lo jadi terlalu kecewa nantinya...”
Grace menepuk bahuku, sementara pikiranku campur aduk, antara mau menerima saran
Grace atau mengabaikannya.
Apa aku harus jadi fans yang baik? Nonton konser, join di milis dan memendam semua
mimpiku untuk bisa dekat dengan Dylan secara pribadi?
Atau aku harus terus berusaha mengejar Dylan?
* * *
Aku menutup pintu kamarku sambil berpikir keras. Semua omongan Grace tadi mengendap di
otakku, terutama tentang Mbak Karin yang diteror setelah hubungannya dengan Dylan diketahui
orang banyak.
Membayangkannya saja, aku sudah ngeri. Kenapa sih ada orang yang segitu teganya
mengganggu hidup orang lain? Mbak Karin kan nggak punya salah apa-apa sama orang itu, kenal
juga enggak! Yah, kecuali “pacaran sama Dylan” itu dianggap suatu kesalahan...
Terus... aku sekarang harus gimana dong? Masalahnya, aku nggak bisa bohong sama diriku
sendiri bahwa aku udah naksir setengah mati sama Dylan, dan aku benar-benar belum pernah
merasakan hal kayak gini ke cowok lain. This is my first time, dan aku juga merutuk, kenapa cowok
yang bikin aku klepek-klepek pertama kalinya justru adalah cowok yang susah untuk kugapai.
Atau mungkin justru semua hal unreachable dalam diri Dylan itu yang bikin aku jatuh hati?
Aku ingat, dulu waktu SMP aku pernah menertawai temanku yang ngefans banget sama The
Moffatts, dan berharap suatu hari nanti dia bakal jadian sama Clint Moffatt. Temanku itu marah
banget waktu dulu, tapi aku malah semakin menertawainya! Yah... sekarang aku tau gimana
perasaannya waktu itu. Dia pasti dongkol banget sama aku. Habisnya gimana ya... dulu aku nggak
percaya ada orang yang bisa jatuh cinta sama idolanya. Menurutku, dulu, apa yang kita rasakan ke
idola itu cuma sebatas rasa kagum, karen ada makhluk (dalam hal ini, cowokK) yang bisa
memenuhi semua kriteria kita, terutama dari segi fisik, dan bukannya cinta. Cinta kan lebih rumit
dari itu, melibatkan semua hormon kita, dan bukan sebatas rasa kagum dan tertarik yang muncul
karena hormon pheromone yang dilepaskan si cowok idola yang membuat kita klepek-klepek itu...
Ya Tuhan, kayaknya aku kualat sama temen SMP-ku itu. Jangan-jangan malah sewaktu kesal
dulu, dia menyumpahi aku supaya suatu hari nanti aku jatuh cinta pada cowok yang juga mustahil
kugapai, dan sekarang harapannya itu dikabulkan! Aduh, aku nggak bakal lagi deh menertawai
orang! Takut kualat...
Sudahlah. Kembali ke pertanyaan yang tadi, aku harus gimana? Pastinya aku nggak waras
kalau aku benar-benar mau mengejar Dylan. Pertama, fisikku jelas nggak “cukup kelas” untuk
mengejar Dylan. Belum tentu juga dia bakal naksir aku, si cewek-separo-bule-yang-gendutpendek-
jerawatan ini. Yang ada malah nanti aku bakal makan hati. Kedua, kalaupun Dylan
nantinya mau sama aku (yang kemungkinannya adalah satu dibanding sepuluh juta), bisa jadi aku
bernasib sama seperti Mbak Karin yang harus menghadapi teror. Sekarang sih aku bisa bilang
kalau aku sanggup, tapi nanti...?
Aku benar-benar pusing, sampai kepalaku mau pecah rasanya. Tapi aku sudah bertekad, aku
akan mengejar Dylan. Sebodo amat kalau nantinya aku mentok atau ditolak, yang penting usaha
dulu!
Jadi sekarang... aku harus ngapain nih? Mengejar Dylan jelas harus punya modal, kan? Aku
harus tau di mana jadwal manggung Skillful yang berikutnya, lalu menampakkan diri di sana,
sekadar menunjukkan ke Dylan bahwa aku ini ada. Plus, aku juga harus tau fakta-fakta tentang
cowok itu.
Kalau menurut teori perang Sun Tzu nih, kamu harus mengenali musuhmu dulu untuk
dapat mengalahkannya.
Ehh... tapi Dylan kan bukan musuhku? Kalau gitu, apa teori ini masih berlaku ya?
Ah! Sebodo amat! Yang penting cari info dulu tentang Dylan!
Dan di mana tempat terbaik untuk cari info? Of course, Internet.
Untunglah ada orang yang cukup cerdas untuk menemukan yang satu itu.
Internet, maksudku.
Hai, DyLaNdErs!
Welcome to this mailing list!
Let‟s talk about Dylan Siregar, the Skillful‟s vocalist!
This is the right place to share about his news, his pics, and of course... his
gossips! ;)
Join here, and you‟ll be the first to know everything about Dylan, including
Skillful‟s tour schedule. Don‟t forget to fill in your name and contact‟s details on
Database page, and please... please... please... upload ur pic on Members‟ Pic
folder.
Warm regards,
Mod.
Aku membaca welcome text di milis Dylanders yang baru saja kutemukan di Yahoo! Groups. Aku
sudah bertekad tetap mengejar Dylan, tapi itu jelas nggak mungkin kulakukan kalau aku nggak
tau apa-apa tentang Dylan. So, mencari tahu info-info tentang Dylan di Internet kelihatannya ide
yang boleh juga.
Langsung saja kuklik tombol Join This Group! yang berada di pojok kanan bawah homepage itu,
lalu mengisi data-dataku di bagian database. Setelah itu aku mencari tahu siapa moderator milis ini.
Kutemukan di bagian database juga.
Nama E-mail Friendster Alamat No. Telp/HP Birthdate
Noni Putrinda dylanders4eva dylanders4eva Cilandak, Jaksel 081235068 18 Sept „82
@yahoo.com @yahoo.com
Aku baru saja berniat meng-upload fotoku di folder foto member, tapi urung melakukannya karena
melihat sebuah foto di jajaran new photos. Kayaknya cewek di foto itu berfoto sama Dylan! Ku-klik
foto yang bertuliskan Me & My Soulmate by dylanders4eva. Itu pasti foto Noni, dan aku
penasaran kepingin tau seperti apa wajah cewek yang sudah berhasil membuat komunitas
Dylanders sampai begini besar.
Ya Tuhan...
Aku melongo begitu halaman itu terbuka, karena Noni itu... Omigod! Dia cewek yang
bajunya kutumpahi milk tea di pensi SMA 93 kemarin! Dan foto ini juga pasti foto kemarin,
karena jelas-jelas dia memakai tank top putihnya yang sudah penuh bercak cokelat menjijikkan
akibat ulahku menabraknya!
Aduuuuuuuhhhh... kenapa dunia segini sempintya sih???
Aku jadi merasa nggak enak. Apalagi kemarin dia kelihatannya marah banget! Gara-gara akulah
bajunya jadi penuh bercak menjijikkan, padahal dia mau foto bareng Dylan!
Aku meraih HP-ku, dan mengetik SMS untuk Noni.
To: 081235068
Hai Noni, gw Alice, member br di milis Dylanders. Gw lht no
HP lo di database. Ehh... gw sms ini mau mnta maaf jg, krn lo
trnyt cwe yg bjunya gw tumpahin milk tea di pensi kmrn. Maaf
ya... gw hrp lo udh ga mrh. Gw bnr2 ga sngaja... x’(
Setelah meng-SMS Noni, aku merasa lebih baik, lalu beralih ke bagian Messages.
Join This Group
Bagian Messages ternyata penuh dengan report penampilan Skillful di Cheerful Paradise kemarin.
Anehnya, yang mem-posting report itu bukan Noni, tapi seorang cewek bernama Cynthia Callista,
yang ID-nya c-ta_dylanders. Report dari Cynthia cukup keren. Dia bahkan sudah meng-upload
foto-foto kemarin di folder Cheerful Paradise, 050806. Aku membaca message-message lainnya, dan
ternyata ini benar-benar milis yang keren! Dari setiap konser Skillful selalu ada report dan fotofoto.
Dylanders ternyata nggak cuma ada di Jakarta, tapi juga di Surabaya, Bandung, Balikpapan,
dan kota-kota lainnya. Dan mereka selalu menulis report di milis ini kalau Skillful manggung di
kota mereka! Wowww...
Tapi, ini satu keanehan lagi, Noni justru nggak pernah menulis apa pun di milis. Apa dia
member pasif, ya? Ah... tapi nggak mungkin, dia kan moderator dan owner milis ini. Atau justru
karena itu makanya dia mendelegasikan tugas reporting ke member-member lainnya?
Dan dia nggak membalas SMS-ku! Apa dia masih marah, ya?
Haduhhh... kapan sih aku berhenti jadi cewek tolol dan kikuk yang selalu membuat orang
lain marah???
LHO? INI KAN...
12 Agustus 2006
WAKTU pesawat mendarat tadi, gue kira pilotnya salah bandara. Masalahnya, bandara ini
kecil banget, dan super-duper-sepi! Gue sampai harus tengok kanan tengok kiri beberapa kali
dulu sebelum akhirnya gue bisa melihat satu orang!
Oh ya, sekarang gue lagi di Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur, buat rangkaian
promo tur album. Buset, ini sudah kota ke-13, yang berarti masih tersisa 23 kota lagi yang
harus dijalani.
Gue capek!
Tapi begitu tadi mobil yang menjemput gue melewati pantai, rasa capek gue turun ke
titik nol. Gila, pantai-pantai di sini bagus banget! Lebih bagus dari pantai-pantai di Bali,
malah! Pasirnya putih, dan lautnya benar-benar bersih, warnanya biru muda terang, yang
kalau dilihat dari jauh, laut kelihatan menyatu sama langit. Asli, bagus banget! Sayang
wisatawannya cuma sedikit... Padahal gue rasa pantai-pantai di sini potensial banget jadi
objek wisata.
Oya, tadi Skillful naik panggung mulai jam empat sore, dan konsernya tadi rame banget!
Penonton membludak di lapangan Polda, tempat kami konser. Gue nyanyi lima belas lagu,
dan gue hepi banget karena ternyata penonton-penonton di sini hafal lagu-lagu Skillful.
Kalau someday gue udah nggak jadi anak band lagi, gue yakin, hal yang paling gue
rindukan nanti pasti perasaan bangga gue setiap kali ada di panggung dan mendengar
penonton nyanyi bareng gue.
Dan, Thanks God, tadi si Noni nggak ada. Gue takut gue bakal pingsan di panggung
kalau sampai dia nekat mengejar Skillful sampai ke sini!
14 Agustus 2006
Mataram, Lombok. Kota ke-14.
Astaga, konsernya rusuh! Dan gue sempat dicakar seorang cewek waktu kelar interview
di radio Meta FM tadi. Cakarannya sih nggak seberapa sakit, dan gue yakin tu cewek nggak
berniat buat mencakar gue, tapi Bang Budy marah, man!
Kadang-kadang gue ngerasa gue ini mobil mewan, dan Bang Budy itu pemilik gue.
Kalau ada yang berani meninggalkan satu goresan aja di body mobil mewahnya (yang dalam
kasus ini adalah gue), dia bakal marah besar.
Hari yang melelahkan...
17 Agustus 2006
Merdeka! Hehe...
Gue selalu suka Bali. Bukan cuma karena tempatnya yang bagus banget, tapi juga karena
di sini banyak cewek bule! Haha... bukannya gue berniat cari cewek bule sih, tapi gue senang
aja ngelihatnya. Kayaknya cewek-cewek bule pintar banget mix „n match baju, dan mereka
selalu bisa tampil keren walau cuma pakai T-shirt dan sarung Bali, nggak kayak cewekcewek
yang pernah gue lihat di Ten Ball, yang berusaha tampil keren tapi dandanannya
overdosis dan malah kelihatan menor kayak tante-tante.
Cewek bule oke banget! Cuma buat dilihat aja lho... Gue juga suka lihat cewek Indo.
Kenapa ya... they seemed exotic. Wajahnya unik-unik, dan jarang ada yang mirip satu sama
lain.
Yang kayak Alice itu tampangnya lucu juga. Kayaknya dia beneran indo deh...
Wait, kenapa gue jadi mikirin Alice?
Dan... oh, nggak deh! Gue tadi ngelihat Noni! Dia ada di sini!!!
Mampus gue, Hard Rock Cafe malam nanti bakal nggak semenyenangkan biasanya garagara
cewek tengil itu ada di sini!
Dan ya ampun... kenapa sih ikan bakar di Jimbaran dibakarnya pakai sabut kelapa?!
Asapnya perih banget! Gue sampai nangis berulang kali dan diketawain Dovan (sebelum dia
akhirnya nangis karena matanya perih juga, haha!).
19 Agustus 2006
Berhubung sponsor resmi Skillful itu rokok, barang itu jugalah yang dibagikan ke tiap
penonton yang beli tiket konser kami. Dan malam ini gue benar-benar menyesal kenapa
manajemen nggak pilih produk lainnya aja buat sponsor kami. Permen kek, atau minuman
isotonik. Whatever lah, asal bukan rokok.
Masalahnya, malam ini gue manggung di ruangan tertutup, tepatnya Hall AJBS di
Surabaya, dan kebayang dong... ruangan tertutup penuh asap rokok yang dikepulkan para
penonton? Gue serasa ada di Jimbaran lagi, dengan volume asap sepuluh kali lebih banyak
dan lebih perih!
Dan, parahnya, di sini nggak ada ikan bakar yang bisa dimakan! Yang ada malah Noni!
Damn!
24 Agustus 2006
Di Surabaya kemarin gue benar-benar memuaskan hasrat makan gue. Dudy, yang memang
asli Surabaya, mengajak gue keliling dari tempat makan yang satu ke tempat makan yang lain
(of course kita menyamar pakai topi dan kacamata hitam untuk menghindari dikeroyok fans),
dan gue makan sampai kancing celana jins gue copot karena nggak muat lagi menahan perut
gue yang menggendut secara mendadak!
Rujak cingur (gue baru tahu kalau cingur itu hidung sapi!), nasi bebek (enak banget!
Lain kali kalau ke Surabaya lagi, gue bakal beli lima porsi!), bakso Pak Sabar (yang
gorengannya keras banget dan gue harus bersusah payah menggigitnya—tapi justru itu yang
bikin bakso ini terkenal), dan Rawon Setan (yang gue makan jam dua pagi, dan bukanya tepat
di seberang hotel tempat gue menginap) cuma sebagian dari makanan-makanan di Surabaya
yang gue makan. Tempat itu benar-benar surga makanan!
Dan sekarang Skillful ada di Jogja. Tahu nggak, gue terenyuh banget melihat puingpuing
sisa gempa yang masih ada di mana-mana. Ya Tuhan, gue nggak bisa ngebayangin
gimana kondisi Jogja tepat setelah gempa waktu itu. Tapi sekarang Jogja mulai pulih lagi,
dan gue salut banget melihat semangat hidup orang-orang Jogja yang sangat tinggi.
Suer, kota ini adalah salah satu kota paling berkesan dalam deretan kota yang pernah gue
datangi. Meskipun masih dalam suasana sedih karena gempa, warganya masih ramah
terhadap pendatang, dan antusiasme fans-fans Skillful di sini juga tinggi banget. Gue benarbenar
merasa bahagia waktu di panggung tadi.
25 Agustus 2006
Jakarta, finally. Kayaknya badan gue bakal rontok nih...
Gue masuk mobil jemputan dan menghidupkan HP gue yang mati selama di pesawat
tadi. Satu SMS langsung masuk.
From: +6281331058
Dylan, ini Mirna, dr Pacar Selebriti. Bsk jd ya. Saya sdh
siapin smua utk bsk. Dylan tinggal dtg aja.
Aduh! Pacar Selebriti! Gue lupa! Gila, baru sampai di Jakarta aja, udah ada kerjaan yang
nunggu! Tapi sudahlah, toh gue udah janji.
To: +6281331058
Oke. Bsk mau ktmu dmn mbk? Jam brp?
From: +6281331058
Di kntr manajemen km, bs? Kira2 jam 10 pagi
Eh, nggak deh ya kalau di kantor manajemen! Kalau ada Dovan atau Rey di situ, dan
mereka tahu gue bakal ikut reality show yang namanya Pacar Selebriti, gue pasti bakal
diketawain habis-habisan! Dan karena mereka kenal Tora, gue yakin mereka bakal ngomong
juga ke si cerewet itu, dan gue jamin Tora nggak bakal membiarkan gue lupa sepanjang
hidup, gue pernah ikut Pacar Selebriti! Nggak deh!
To: +6281331058
Jgn di kntr d mbk. Di Kafe Upgraded aja gmn? Di Tebet.
From: +6281331058
Oh... oke. Bsk km bs pilih pesertanya dr surat2 yg sdh kami
terima, hbs itu lgsg syuting.
To: +6281331058
Ok. Bsk ya mbk.
From: +6281331058
Sip. Smp ktmu bsk =)
Gue sampai di rumah setelah melewati jam-jam stres dan macet sepanjang jalan.
Kebetulan gue diantar pulang paling akhir sama Pak Rano, sopir manajemen yang tadi
menjemput kami di bandara, karena rumah gue yang paling jauh dari bandara. Sepanjang
jalan, gue berusaha mengingat-ingat soal reality show Pacar Selebriti itu.
Setau gue, di Pacar Selebriti itu selebnya harus memilih salah satu dari tiga foto dan
surat peserta yang sudah diseleksi (seperti yang dibilang Mbak Mirna tadi). Dan kalau nggak
salah, selebnya harus kasih kado juga buat peserta di acara itu nanti? Argh... iya, iya! Kenapa
gue bisa lupa?
Gue melirik arloji gue. Jam tujuh. Masih sempat ke PS dan beli sesuatu. Tapi apa?
Ah ya, pesertanya pasti cewek, dan kado buat cewek apalagi kalau bukan boneka atau
cokelat? Oke, belikan aja dua-duanya, toh gue kepingin nyenengin fans gue sendiri.
Berangkat!
* * *
Lalu lintas rame banget, dan gue bersyukur karena naik motor, bukannya mobil. Kalau gue
naik mobil, pasti gue bakal terperangkap macet dan baru sampai PS begitu tempat itu tutup!
Bukannya... gue benci naik mobil atau apa, tapi...
Oke, oke, gue ngaku! Gue nggak bisa nyetir mobil!
Ya, ya... silakan ketawa sepuas lo! Kayaknya ini pantas masuk infotainment deh: Dylan
Siregar, yang vokalisnya Skillful itu, nggak bisa nyetir mobil!
Sebenarnya gue pernah belajar mobil, dua tahun yang lalu. Dan waktu pertama kali
belajar mundur, gue nabrak tong sampah tetangga gue sampai batu-batunya ambrol semua!
Waktu itu gue disuruh bayar ganti rugi empat ratus ribu! Bayangin, empat ratus ribu! Apa
nggak hiperbolis tuh tetangga gue?!
Sejak itu, gue trauma belajar mobil. Naik motor nggak jelek-jelek amat kok. Memangnya
orang bakal masuk neraka kalau nggak bisa nyetir mobil? Nggak, kan?
Nggak terasa gue sudah sampai di PS. Setelah parkir, gue cepat-cepat ke toko boneka.
Seperti biasa, gue pakai topi, dan berlagak cuek. Semoga nggak ada yang nyadar ini gue.
Gue sampai di toko boneka, dan langsung memaki diri gue sendiri. Sialan, kenapa tadi
gue kepikiran untuk beli boneka sih? Apa yang lebih konyol daripada cowok, sendirian jalan
di mal, dan menenteng boneka? Kenapa gue nggak sekalian pakai rok dan bando saja? Bawa
tas pink sekalian juga, mungkin?
Parahnya, mbak-mbak toko ini juga sama sekali nggak membantu. Mereka cerewet
banget, dan malah menyarankan gue beli boneka babi seukuran anak umur lima tahun. Ya
ampun, kalau besok gue ngasih boneka itu ke fans gue, gue jamin tu cewek bakal langsung
ilfil!
Akhirnya gue pilih boneka yang paling ―normal‖, boneka beruang warna abu-abu yang
memeluk bantal hati warna merah. Kayaknya ini lumayan.
Gue cepat-cepat membayar boneka itu di kasir, dan kabur secepatnya karena gue sadar
mbak-mbak di toko itu mulai memerhatikan gue. Kayaknya mereka mulai nyadari gue ini
siapa. Salah satu mbak malah terang-terangan berkasak-kusuk sama temannya di depan gue.
Dia menuding-nuding gue, dan gue dengan jelas mendengar dia mendesis ―vokalis Skillful‖
ke telinga temannya.
Kaburrrr!
* * *
Oke, ini konyol.
Dengan alasan apa pun, gue nggak akan pernah ngasih kado benda yang namanya
boneka lagi untuk cewek. Atau untuk anak kecil. Pokoknya untuk siapa pun juga!
Pertama, gue bener-bener kelihatan goblok bawa-bawa boneka di PS kemarin.
Kedua, naik motor sambil bawa boneka juga ternyata nggak gampang. Boneka itu nyaris
jatuh waktu gue ngebut.
Ketiga, waktu motor gue berhenti di traffic light dan gue sibuk menjejalkan boneka itu
ke kantongnya supaya nggak jatuh lagi, gue melihat cewek yang ada di dalam mobil di
sebelah gue cekikikan melihat benda apa yang gue pegang.
Gue tengsin, man!
Tapi mau gimana lagi, toh gue udah telanjur beli boneka itu, dan mau diapakan benda
sialan itu kalau nggak dikasih ke cewek yang ikutan Pacar Selebriti nanti? Maaf deh, tapi gue
nggak mungkin membiarkan boneka itu berada sehari lebih lama di kamar gue. Kalau Tora
lihat boneka itu, jangan-jangan nanti dia mikir gue... Ih!
* * *
Kafe Upgraded pagi itu sepi. Gue masuk dan heran sendiri karena cewek yang membukakan
pintu itu bengong melihat gue. Yang bener aja, gue kan udah sering ke sini, kenapa waiterwaiter-
nya masih suka kagok kalau ngelihat gue?
―Sori. Dylan?‖ sapa seseorang.
Gue menoleh, dan melihat seorang cewek mungil berkacamata berdiri di depan gue. Pasti
cewek ini mau minta foto bareng atau tanda tangan. Oke, gue nggak keberatan.
―Iya. Mau foto bareng?‖
Cewek itu kelihatan bingung. Dia membetulkan letak kacamatanya yang merosot di
hidung.
―Saya Mirna,‖ katanya. ―Dari Pacar Selebriti. Masih ingat?‖
Gue rasanya nyaris mati saking malunya! Kenapa gue sama sekali nggak kepikiran kalau
ini Mbak Mirna?
Iyalah, karena dalam bayangan gue, Mbak Mirna adalah jenis mbak-mbak berpakaian
rapi yang rambutnya disasak dan dikasih apa itu namanya...? Oh ya, hairspray. Kenapa gue
nggak nyadar orang lapangan kayak Mbak Mirna mustahil banget rambutnya disasak, kecuali
kalau dia mau ke kondangan?
―Ohhh... maaf, Mbak Mirna!‖ kata gue sok cool, padahal muka gue mendidih karena
malu. ―Habisnya, kita nggak pernah ketemu sih.‖
―It‟s okay.‖ Mbak Mirna tersenyum. ―Yuk, ikut saya. Kru-kru sudah siap semua di
belakang.‖
Gue mengangguk dan mengikuti Mbak Mirna berjalan ke bagian belakang kafe. Gue
masih bisa merasakan pandangan beberapa orang yang jelas-jelas mengarah ke punggung gue
setelah gue lewat di depan hidung mereka.
* * *
Bagian belakang kafe, yang adalah taman yang luas dan sejuk, ternyata sudah penuh dengan
kru Pacar Selebriti yang hilir-mudik. Mereka semua nyengir waktu gue lewat, yang gue balas
dengan cengiran juga. Gue merasa kayak lagi di lokasi syuting video klip Skillful aja.
Dua bulan lalu Skillful pernah syuting video klip Bidadari di taman yang bagus banget.
Tamannya mirip kayak taman kafe ini. Dan waktu itu modelnya si Aimee. Iya, Aimee yang
itu, yang bule banget dan supercantik itu.
―Mmm... Dylan? Sori... Lan?‖ Mbak Mirna menepuk lengan gue, dan gue langsung
geragapan.
―Eh... sori, Mbak!‖ kata gue nggak enak. Payah, kayaknya hari ini gue lagi nggak konsen
nih!
―Nggak papa,‖ Mbak Mirna nyengir lagi. ―Saya udah biasa dicuekin artis kok. Biasa...
saya kan cuma kru reality show...‖
Gue mengernyit. ―Kenapa Mbak bilang gitu? Artis juga nggak akan ada apa-apanya
tanpa kru, Mbak. Saya bukannya nggak menganggap Mbak Mirna, tapi tadi saya benarbenar...
yah, bilang saja... ngelamun.‖
―Oh. Maaf.‖ Mbak Mirna terpana, dan gue bisa melihat semburat merah yang muncul di
kedua pipinya. ―Jadi kamu... mmm... mau langsung pilih pesertanya? Saya sudah siapkan tiga
surat dan foto peserta.‖
Gue mengangguk, dan Mbak Mirna membawa gue ke bangku taman di sudut taman. Di
meja bangku itu sudah ada tiga amplop.
―Peraturannya, kamu harus baca alasan kenapa mereka memilih kamu dulu, baru kamu
boleh melihat fotonya. Itu untuk... mmm... menghindari...‖
―Ketidakadilan?‖ potong gue sambil tertawa geli. Mbak Mirna mengangguk cepat. Lucu
orang ini, di SMS dan telepon dia kayaknya PD dan formal banget, tapi begitu ketemu faceto-
face, dia jadi gugup dan pemalu begini.
Gue mulai membuka amplop pertama, dan nyaris ngakak begitu membaca apa yang ada
di potongan kertas di dalam amplop.
Alasan: Dylan guanteeeeenggggg...! Gila, gue kepingin banget nyubit
pipinya yang chubby itu! Mana dia cool, lagi! Suer, gue deg-degan kalau
ngelihat dia! Saking ngefansnya, di langit-langit kamar gue ada poster Dylan
supergede yang selalu gue pandangi sebelum tidur!
Hah? Ada cewek yang memasang poster gede gue di langit-langit kamarnya dan selalu
memandangi poster itu sebelum tidur?!
Kayaknya gue mesti hati-hati nih. Jangan-jangan sebentar lagi ada yang nekat ke dukun
pelet dan mengirim guna-guna buat gue.
Maksud gue, apa sih yang ada di pikiran cewek ini waktu memasang poster gede gue di
langit-langit kamarnya? Okeee... gue memang punya beberapa poster gue sendiri di kamar,
tapi gue nggak segitu gilanya pasang poster di langit-langit kamar. Ditambah lagi, posterposter
yang ada di kamar gue itu kan wajah gue sendiri! Jadi itu bisa dianggap... yah... foto
dalam ukuran besar, atau apalah... Memangnya orang nggak boleh memasang fotonya di
kamarnya sendiri?
Ya ampun, fans emang kadang suka antik!
Gue beralih ke amplop kedua.
Alasan: Dylan miriiiiip... banget sama mantan gue! Rambutnya yang belah
samping... dua tindikan di kuping kirinya... matanya yang pakai soft lens min satu
setengah... sama-sama orang Batak pula! Bah, macam mana pula abang yang satu
ini! Ganteng kaliiiiii...!
Gue nyaris tersedak. Orang yang menulis ini pasti gila. DARI MANA DIA TAHU GUE
PAKAI SOFT LENS MIN SATU SETENGAH?! Gue bahkan nggak pernah cerita soal ini ke
Rey, Dudy, atau Dovan. Yang tahu mungkin cuma Ernest, karena dia selalu sekamar sama
gue kalau Skillful promo tur keluar kota.
Dan dia menganggap gue mirip mantan pacarnya! Aduh, maaf deh, Mbak, tapi gue
nggak mau jadi bayang-bayang orang lain. Gue penginnya cewek yang jalan sama gue
menganggap gue sebagai Dylan, bukan orang lain. Yah... biarpun cewek itu jalan sama gue
cuma dalam acara reality show selama sehari...
Amplop ketiga. Baru memegangnya saja perasaan gue udah kacau. Kalau yang ini sama
parahnya kayak yang dua sebelumnya, gue mengundurkan diri saja dari episode Pacar
Selebriti ini!
Alasan:
dia orangnya baiiiikkk... banget! Low-profile dan mau ngobrol-ngobrol, nggak kayak cowok
selebriti kebanyakan yang gayanya selangit, padahal tampangnya pas-pasan. Satu lagi,
Dylan is so... friendly! Dia murah senyum dan nggak keberatan menjawab macam-macam
pertanyaan dari fans. Dia juga wangi banget! Pokoknya, nggak ada deh selebriti lain yang
se-oke Dylan!
Thanks God, akhirnya ada juga peserta yang waras! Sudah jelas gue bakal milih cewek
yang menulis ini, nggak peduli apa dia jorok dan dekil atau suka kentut tiap setengah jam
sekali, pokoknya gue bakal tetap milih yang ini!
Lagi pula, peserta yang ini jujur banget. Gue suka dia nggak menggambarkan gue
dengan kata ―ganteng‖, ―cakep‖, atau lainnya yang semacam itu. Dia malah menggambarkan
gue ―low profile‖ dan ―friendly‖. Kayaknya, kalaupun dua surat sebelumnya nggak edan,
yang ketiga ini yang bakal tetap jadi pilihan gue deh.
―Sudah ada pilihan?‖ tegur Mbak Mirna, dan gue mengangguk, mengangkat amplop dan
kertas yang masih berada di tangan gue.
―Yang ini, Mbak. Kayaknya ini yang paling... mmm...‖ Gue nggak mungkin bilang kalau
ini yang paling waras, kan? ―Ini yang paling... mmm... menyentuh...‖
Mata Mbak Mirna melebar menatap gue. Ya ampun, tadi gue bilang ―menyentuh‖?
Memangnya ini apa, film A Walk to Remember???
―Oke. Mmm... Dylan mau lihat foto peserta nomor satu dan dua dulu, atau langsung foto
peserta nomor tiga?‖
Good. Sekarang gue merasa lagi ada di kuis Super Deal 2 Miliar, dan Mbak Mirna
adalah Nico Siahaan. Anda mau sepuluh juta, atau tirai nomor tiga?
―Memangnya boleh, Mbak?‖
―Boleh. Asal nggak berubah keputusan dan tetap memilih peserta nomor tiga.‖
Yah, sama juga bohong! Itu kan intinya cuma menunjukkan cewek macam apa yang
udah gue tolak jadi date sehari gue, ya kan?
―Nggak papa deh kalau gitu.‖
Mbak Mirna merogoh ke dalam amplop biru berukuran sedang yang ada di tangannya.
Dia meneliti beberapa foto sebentar, lalu menyerahkan selembar ke gue.
―Itu peserta pertama, yang kamu tolak tadi.‖
Tahu nggak, gue nyaris ketawa saking bahagianya! Peserta pertama itu, yang gue tolak
itu, ternyata NONI!
Jadi dia punya poster gede gue di langit-langit kamarnya? Gila.
Sungguh deh, gue merasa baru luput dari malapetaka. Coba bayangin, sepuluh menit
ngobrol sama Noni saja gue merasa kayak ada di neraka, gimana kalau gue wajib, mesti,
kudu, harus, nggak boleh nggak, kencan sehari sama Noni? Jangan-jangan pulang dari date
sama dia, gue harus mampir dulu ke psikolog.
Dan mungkin juga dokter THT, karena ocehannya selama sehari pasti bakal mengontaminasi
kuping gue. Yah, gue memang selalu berusaha bersikap manis sama dia, tapi kalau
lo mau tau, sebenernya gue ngeri sama tu anak!
Hei, bukannya Noni jelek atau apa lho. Dia cantik. Cantik banget, malah. Tapi siapa
yang tahan sama sikap obsesifnya ke gue? Sori, Noni, tapi lo sendiri yang sudah merusak
image lo di mata gue.
―Mau lihat foto peserta kedua?‖ tanya Mbak Mirna lagi. Gue mengangguk, dan Mbak
Mirna mengeluarkan foto kedua dari amplop biru yang ada di tangannya.
Siapa ini?
Gue sedang menatap foto studio seorang cewek yang aneh. Gila, make-upnya menor
banget di sini! Ini sih pantasnya nggak disebut make-up, tapi make-down! Dempulnya, man...
nggak nahan! Dan dia pakai apa ini yang di matanya ini??? Glitter?
Siapa pun dia, gue juga benar-benar bersyukur dia bukan peserta pilihan gue. Kayaknya
cewek ini sifatnya nggak akan jauh beda sama Noni.
―Nah, sekarang peserta pilihan Dylan,‖ kata Mbak Mirna ceria. ―Siap?‖
―Siap!‖ jawab gue dengan gaya prajurit. Mbak Mirna tertawa, dan menyerahkan
selembar foto ke gue.
Lho? Ini kan...
KEBERUNTUNGAN “KECIL”
(KALAU INI “KECIL”, YANG “BESAR”
KAYAK APA?)
AKU selalu merasa jadi cewek separo bule itu nggak ada untungnya. Bener deh, soalnya aku jadi
ada di “area abu-abu” gitu!
Waktu kecil, aku selalu diejek “bule kampung” oleh teman-teman mainku gara-gara
rambutku yang warnanya nggak jelas. Dan mereka selalu mencibir kalau aku bilang aku orang
Indonesia juga, sama seperti mereka. Mereka bilang, orang Indonesia rambutnya hitam, bukan
berwarna aneh kayak rambutku ini.
Gara-gara itu, aku sempat berpikir sebaiknya keluargaku pindah ke Australia saja, negeri asal
Daddy. Tapi waktu aku sekolah di sana selama setahun, ternyata suasananya nggak jauh beda.
Teman-teman sekolahku waktu itu malah memanggilku “asian”, karena aku nggak 100% berdarah
kaukasia. Dan gara-gara itu juga, aku merengek minta kembali ke Indonesia.
See? Sepertinya, aku nggak akan diterima di dua negara itu. Di Indonesia, aku terlalu bule
untuk bisa dibilang orang Indonesia. Di Australia, aku terlalu pesek dan pendek untuk bisa
dibilang orang Australia. Aku benar-benar ada di area abu-abu, nggak jelas aku ini sebenarnya
hitam atau putih.
Tapi sekarang aku nggak peduli lagi. Kayaknya percuma, karena sesering apa pun mengomel
tentang penampilan fisikku, aku bakal tetap begini-begini saja. Jadi aku memutuskan cuek, dan
sebisa mungkin berlagak senang kalau ada yang bertanya kenapa di profil Friendster aku menulis
hometown-ku Jakarta & Melbourne.
Hari ini Minggu pagi yang biasa-biasa saja. Aku punya feeling hari ini bakal jadi hari nggak
istimewa seperti hari-hari lain dalam hidupku. Yah, sejauh ini kan hari-hari spesial di hidupku
masih bisa dihitung pakai jari: hari aku menyanyi di acara kelulusan itu, hari aku pertama kali
ketemu Dylan, hari pensi Cheerful Paradise (soalnya Dylan terus-menerus menunjukku dari
panggung!), terus...
Nah, jari dalam satu tangan saja nggak habis dipakai menghitung hari-hari spesial dalam
hidupku?
Lho? Apa itu?
Aku mendengar lagu Terlalu Indah mengalun, dan itu cuma berarti satu hal: HP-ku bunyi! Di
mana barang jelek itu tadi kutaruh???
Aku geragapan sendiri mencari HP-ku ke seluruh penjuru kamar, tapi akhirnya HP itu malah
kutemukan di meja, di sebelah tempatku duduk tadi.
Ya ampun, aku memang tolol.
Dan siap aini yang telepon? +6281331058. Siapa sih?
“Halo?” sapaku bingung.
“Halo? Dengan Alice?”
“Iya. Ini siapa?” Aku mengernyit. Aku nggak kenal suara orang ini.
“Saya Mirna dari SMA 93, panitia Cheerful Paradise yang kemarin itu.”
Hah? Ngapain panitia Cheerful Paradise meneleponku?
“Eh... ada apa, ya, Mbak?”
“Kamu bisa datang ke tempat saya nggak? Untuk ambil kado?”
“Kado apa?” Kayaknya aku nggak ikut lomba apa-apa deh, jadi aku nggak mungkin menang
kado apa pun.
“Waktu Cheerful Paradise kemarin, kami bikin Lucky Circle. Kebetulan kamu yang terpotret
di antara penonton pensi, dan kami memilih kamu jadi pemenangnya.”
Hah? Eh, tapi boleh juga tuh kayaknya... Hmm... Lucky Circle ya? Pantas aku bisa menang,
itu kan masalah kemujuran saja.
“Jadi... mmm... aku harus datang ke mana? Kapan?”
“Ke Kafe Upgraded, bisa? Di Tebet.”
Oh. Aku tau tempat itu. “Boleh. Kapan?”
“Sekarang,” jawab si Mirna itu.
Whew! “Mmm... boleh...”
“Oke. Saya tunggu. Oh ya, Alice?”
“Ya?”
“Kalau datang sendirian, bisa nggak? Secepatnya?”
Permintaan yang aneh. Tadinya sempat terlintas di otakku untuk minta diantar Grace, siapa
tahu hadiahnya voucher makan, tapi kalau aku harus datang sendiri, yah... sudahlah.
Aku memandang bayanganku yang terpantul di cermin. Okeee... cuma pergi ambil hadiah,
nggak usah dandan lah ya...
* * *
Kafe Upgraded ini bagus banget, tapi aku nggak sering nongkrong di sini. Yah... aku kan bukan
anak gaul yang gaul-gaul banget.
Setelah masuk dari pintu, aku menelepon Mbak Mirna, yang nomornya masih tersimpan di
list received call HP-ku.
“Halo? Mbak? Aku sudah di Upgraded nih.”
“Kamu di mana?”
“Pintu masuk. Aku pakai kaus hijau.”
“Oh, oke. Aku ke sana sekarang.”
Persis di depanku, ada kaca berukuran superbesar. Aku mendekat ke kaca itu dan mengaca
sedikit sambil menunggu Mbak Mirna datang.
Sial, ada jerawat mau keluar di ujung hidungku! Dan ketiakku basah! Arrgggghhh!!!
Aku merengut. Pokoknya nanti setelah terima kado, aku bakal langsung pulang. Nggak akan
deh aku ke mana-mana dengan penampilan pembawa bencana kayak gini!
“Alice?”
Aku menoleh dan melihat seorang cewek bertubuh mungil dan berkacamata sedang
menatapku. Pasti ini Mbak Mirna.
“Mbak Mirna, ya?” tanyaku.
Cewek itu mengangguk. “Selamat, ya,” Katanya sambil menjabat tanganku. “Kamu beruntung
banget!”
Aku nyengir. “Memangnya hadiahnya apa, Mbak?”
Oke, aku tau bertanya kayak gitu itu nggak sopan, tapi toh hadiah itu cepat atau lambat bakal
kulihat juga, jadi nggak ada salahnya kan kalau aku tahu hadiah apa yang kudapat?”
“Lihat aja nanti,” jawab Mbak Mirna sambil tersenyum. Awalnya, aku merasa cewek ini
menyembunyikan sesuatu dariku. Apa sih hadiahnya? Nggak mungkin mobil, kan? Kalau iya, aku
bakal pingsan nanti. Bener deh.
Aku mengikuti Mbak Mirna berjalan melewati kafe sampai ke taman belakangnya. Dan
begitu dia berhenti di tempat yang ditujunya, aku tercengang.
Kenapa banyak kamera dan peralatan syuting di sini?
Mbak Mirna terus berjalan tanpa memedulikan aku yang keheranan, lalu berhenti di salah
satu sudut taman. Aku semakin bingung. Nggak ada apa-apa di situ, kecuali bangku taman. Apa
hadiah Lucky Circle itu bangku taman???
“Alice, saya mau minta maaf,” kata Mbak Mirna. Aku bengong.
“Minta maaf untuk apa?”
“Saya bukan dari SMA 93, dan kamu sebenarnya nggak menang Lucky Circle.”
Aku diam, dan dengan gobloknya mulai menyadari keanehan-keanehan yang tadinya sama
sekali nggak terpikir olehku. Pertama, kalau aku memang menang Lucky Circle, kenapa aku
diminta ke sini untuk mengambil hadiahnya? Harusnya kan hadiah itu kuambil di SMA 93,
bukannya di kafe begini. Dan kenapa juga aku tadi diminta datang sendiri?
Ya ampun, aku memang goblok. Pasti ini acara MTV Gokil atau apa, dan aku lagi dikerjain.
Mungkin ini kerjaannya si Grace, pasti isengnya lagi kumat!
“Jadi, sebenernya Mbak ini siapa? Dan kenapa aku dipanggil ke sini?”
Ya, ya, ya... pasti sebentar lagi Ringgo Agus bakal muncul dan berseru “MTV Gokil, iyey!”
“Kayaknya ini akan menjelaskan.” Dia tersenyum, dan aku mendengar jingle sebuah acara
TV. Oh, ini bukan jingle MTV Gokil, tapi...
Lho, ini kan...?
Nggak mungkin.
Ini...
Dan aku benar-benar nyaris pingsan sewaktu melihat Anastasia Helmy muncul di depanku
bukannya Ringgo Agus yang kubayangkan tadi. Omigod, dia ini kan presenternya Pacar Selebriti,
ngapain dia di sini???
Dan kenapa dia nyengir sama aku?
“Halo Alice,” sapa Anastasia riang. “Selamat datang di Pacar Selebriti!”
Apa dia bilang? Dia... bilang apa tadi?
“Kamu sudah terpilih sebagai peserta Pacar Selebriti episode ini, dan kamu bakal dapat
kesempatan buat kencan sehari bareng... Dylan „Skillful‟!”
Aku bengong. Benar-benar bengong dengan posisi mulut terbuka, tertutup, dan terbuka lagi
dengan cepat, persis seperti ikan koki yang dikeluarkan dari dalam air dan megap-megap mencari
udara.
“Hei, kamu bengong!” kata Anastasia, dan aku mengerjap menatapnya.
“Aku... aku nggak lagi dikerjain, kan?” tanyaku gagap. Ya ampun, kalau ada yang membangunkanku
dan bilang ini mimpi, aku bakal menabok orang itu. Suer deh. Mimpi indah begini!
“Ya enggaklah!” Anastasia tertawa. “Jadi, kamu sudah siap buat syuting?”
“Oh... Mmm...” Aku memandang berkeliling. Kalau ini bukan bohongan, harusnya orang itu
ada di sekitar sini, kan? Harusnya “dia” ada di sini, kan?
“Cari siapa? Dylan?” Anastasia menjawab pertanyaannya sendiri. “Nggak usah khawatir, dia
ada kok di sini!” Cewek itu mengedip centil padaku, dan aku rasanya benar-benar mau mati.
Dylan ada di sini, dan aku bakal kencan sehari sama dia, padahal aku sama sekali nggak
dandan, di ujung hidungku mau muncul jerawat, dan ketiakku basah!
Ya ampun, apa lagi yang lebih buruk dari ini?
* * *
Setelah Mbak Mirna dan Anastasia menjelaskan prosedur acara ini, aku jadi bengong lagi.
Bayangin, aku benar-benar bakal dikasih kesempatan sehari berdua sama Dylan! (Yah...
nggak bisa dibilang berdua juga sih, soalnya ada kru-kru dan kameraman yang bakal membuntuti
kami, tapi kan mereka cuma menjalankan tugas dan nggak bakal mengganggu kami.)
Haha... sejak kapan aku dan Dylan menjadi “kami”? Cihuuuyyy!
Aku duduk di kursi taman, yang sempat kukira sebagai hadiah Lucky Circle itu, dan
mendengarkan Anastasia yang masih terus berceloteh. Tapi suara Anastasia mendadak seperti TV
yang di-mute, begitu aku melihat orang yang muncul dari balik pintu kafe.
Ya Tuhan, itu dia! Dylan!
Aku bakal mati! Aku pasti mati saking groginya! Kenapa aku mendaftar jadi peserta Pacar
Selebriti waktu pensi SMA 93 itu??? Kenapa???
Dari jarak dua meter saja aku sudah bisa mencium harum parfumnya.
“Hai, Alice, kita ketemu lagi,” katanya begitu berdiri di depanku.
Dia ingat namaku!!!
“Oh... Mmm... Iya... ketemu lagi ya,” gumamku tolol. “Apa kabar?”
“Baik banget! Nah, jadi... hari ini kita bakal kencan sehari?” Dylan menatapku lurus-lurus,
dan ujung alisnya terangkat sedikit waktu dia melakukan itu. Aduh, tolong!
“Ehm... Eh... sepertinya begitu...”
“Weiii... stop!” Tiba-tiba Anastasia menyela. “Kok kalian udah saling kenal?”
“Ohh... Alice ini... temennya adiknya mmm... temen gue,” jelas Dylan terpatah-patah.
Yee... Lan, bilang aja aku ini temennya adik mantanmu!
“Tapi bukan karena itu lo milih Alice, kan?” tanya Anastasia curiga. “ini bukan KKN, kan?”
“Yah, lo boleh-boleh aja curiga gitu, tapi gue kan milih peserta berdasarkan alasan mereka
mau jadi pacar gue di acara ini, bukan karena fotonya. Gue tadi bahkan nggak tau kalo yan ggue
pilih itu Alice sampai gue dikasih lihat fotonya. Dan di formulir itu kan nggak ada namanya.”
Dylan mengedikkan bahu.
“Oh,” gumam Anastasia. “Bener juga ya...”
“Lho, ada kok,” potongku. “Aku menulis nama, alamat, dan data-data yang lain di situ.”
“Formulirnya dipotong, jadi yang ditunjukkan ke selebnya cuma bagian tempat calon peserta
menulis alasan kenapa mereka mau jadi pacar seleb pilihan mereka itu,” jelas Anastasia. “Itu...
untuk menghindari KKN, hehe...”
Aku manggut-mangut. Haha... jadi Dylan benar-benar terkesan dengan alasan kenapa aku
memilihnya? Horeeeee!
“Nah, kan... Gimana sih, presenter kok malah nggak hafal prosedur acaranya sendiri,” goda
Dylan. “Mana pakai nuduh orang KKN, lagi!”
Anastasia cengengesan. “Ya udah, untuk menghemat waktu, kita langsung syuting aja,
gimana?”
“Boleh,” jawab Dylan, terdengar sama sekali nggak keberatan. Aku melirik Anastasia, dan
kelihatannya dia juga minta pendapatku.
“Oke,” jawabku akhirnya. “Aku nggak keberatan.”
Anastasia tersenyum senang, dan sedetik kemudian dia sudah berpose dengan manis di
depan kamera.
“Halo halo halo, semuanya! Ketemu lagi sama gue, Anastasia Helmy, di acara reality show
paling heboh dan paling bisa mewujudkan impian lo! Pacar Selebriti! Di sini, lo bisa mewujudkan
impian lo buat ketemu idola lo. Dan nggak cuma itu, lo bahkan bisa kencan sama idola lo itu
sehari penuh! Coba, mana ada reality show lain yang sekeren ini? Nggak adaaaa...”
Aku menatap Anastasia dengan kagum. Ya ampun, cewek ini benar-benar mengucapkan
semua kalimat tadi tanpa jeda! Kayaknya napasnya panjang banget, dan dia bisa mengucapkan
semua itu tadi hanya dalam satu tarikan napas.
“Oh ya, gue punya hadiah buat lo.”
Tiba-tiba sudah ada benda berwarna abu-abu di depanku. Boneka! Dari Dylan!
“Thanks,” gumamku sambil mengambil boneka itu dari tangan Dylan dengan hati senang
setengah mati.
“Tadi gue udah syuting duluan. Bagian awalnya aja sih, waktu gue milih peserta buat acara
ini dan melihat foto-fotonya,” cerita Dylan, sementara Anastasia masih menyerocos di depan
kamera.
Aku nyaris menggigit lidahku sendiri. Ya ampun, fotoku! Dia pasti melihat foto terjelekseumur-
hidupku itu!
“Eh... kamu lihat fotoku?”
Dylan menoleh dan ujung alisnya terangkat sedikit lagi. Aduh, jangan sering-sering
menatapku kayak gini dong! Jangan salahkan aku kalau akhirnya aku jadi lepas kendali dan tibatiba
sudah menciummu lho ya!
“Iya,” katanya geli. “Foto lo lucu.”
“Ah, bilang aja jelek.”
“Ah, nggak kok. Bener. Dan alasan lo bagus. Alasan kenapa lo milih gue untuk jadi pacar di
acara ini, maksudnya.”
“Oh.” Apa sih yang waktu itu kutulis di formulir peserta? “Tapi kenapa kamu milih aku?
Kan peserta-peserta lainnya pasti banyak yang lebih cantik.”
“Lo kira gue mau kencan sehari sama cewek yang mengaku punya poster gede gue di langitlangit
kamarnya?”
“Hah? Siapa?”
“Yah... sebutlah peserta nomor satu.” Dylan nyengir. “Dan... mmm... kalau gue boleh nanya,
apa alasan yang lo tulis di formulir itu jujur? Maksud gue, waktu lo bilang gue friendly dan low
profile?”
Lagi-lagi Dylan menatapku lurus-lurus, dan aku benar-benar salting.
“Eh... jujur dong. Memangnya kenapa?”
“Gue suka banget sama alasan itu. Lo memilih gue di acara ini bukan karena lho
menganggap gue ganteng atau keren, eh... bukannya gue nyombong lho!”
“Nyombong dikit juga nggak pa-pa.” Aku geli sendiri melihat Dylan. “Tapi aku bener-bener
jujur kok. Aku pernah ketemu beberapa seleb, dan mereka gayanya belagu banget. Kamu nggak
gitu...”
Dylan tersenyum. Duh, Tuhan, kenapa ada cowok seganteng ini di dunia? Dan kenapa dia
ini selebriti yang nggak bisa kujangkau?
“Yuhuuu... cukup ya ngobrol-ngobrolnya. Sekarang kita take!” Anastasia muncul lagi di dekat
kami dan langsung menyela. “Ehem! Belum apa-apa, vokalis kita udah mulai pedekate duluan
nih! Yuk yaaaa, mariiiii...,” godanya ke Dylan. Anastasia pintar banget memanfaatkan kesempatan
untuk balas meledek Dylan setelah cowok itu meledeknya sebagai presenter-yang-nggak-hafalprosedur-
acaranya-sendiri tadi. Dylan cuma nyengir mendengar ledekan Anastasia, sementara aku
merasa urat maluku baru ditarik putus.
* * *
Kalau ini yang dimaksud keberuntungan “kecil” sama Madam Fortune dulu itu, aku benar-benar
nggak tau deh, keberutungan “besar”-nya bakal kayak apa.
Tau nggak, hari ini benar-benar sempurna! Totally perfect!
Kami makan siang di Upgraded (sambil disyuting lho!). Sementara itu, seperti biasanya,
Anastasia “hilang” selama acara, dan dia tadi bilang baru akan kembali di akhir acara, waktu harus
“memisahkan” aku dan Dylan. So, here we are, makan enak sambil ngobrol santai dan akrab.
“Oh ya, Lice, kenapa sih lo suka Skillful?” tanya Dylan tiba-tiba.
“Hmm... karena gue pernah nyanyiin lagu kalian di acara kelulusan senior gue di sekolah.”
“Karena itu aja?”
Wah, jadi kamu mau aku mengaku aku suka Skillful karena kamu vokalisnya, ya?
“Ya karena lagu-lagunya Skillful bagus-bagus juga sih. Gue suka lirik-liriknya. Lo yang nulis,
kan, ya?”
“Iya. Gue kan nggak bisa main musik, jadi gue nulis lirik aja. Payah ya gue?”
“Haha... gue juga nggak bisa main musik! Waktu latihan buat acara kelulusan senior itu dan
pemain keyboard band gue menggambar not-not balok di kertas, gue malah mengira itu gambar
kecebong!”
Dylan tertawa sampai suaranya nyaris hilang. Aku juga. Ya ampun, aku nggak rela kalau
semua ini cuma untuk sehari saja. Aku mau semua ini untuk selamanya...
“Oh ya, Lan, gimana kuliah lo? Udah kelar?” Aku mengganti topik.
Suer, aku nggak tau kenapa aku bisa bertanya kayak gitu. Masalahnya, aku kehabisan bahan
pembicaraan, dan tiba-tiba aja salah satu topik di milis Dylanders, tentang kuliah Dylan yang
belum kelar juga, melintas di kepalaku.
Dylan mendongak, tawanya sudah berhenti total. “Kuliah gue baik-baik aja. Mmm... agak
molor gara-gara jadwal Skillful, tapi... sejauh ini oke kok.”
“Oh. Oke.”
“Gue bukan jenis orang yang meremehkan pendidikan, Lice. Yah, lo tau kan, dunia anak
band ini nggak mungkin selamanya gue geluti. Pasti nanti ada hari saat orang sudah nggak suka
Skillful lagi, dan mau nggak mau band ini harus bubar. Kalau gue nggak punya bekal pendidikan,
gue mau jadi apa?” Dylan tersenyum gelisah.
Ya ampun, aku benar-benar nggak pernah kepikiran bakal seperti apa Dylan kalau dia keluar
dari Skillful nanti.
“Yah, lo kan kuliah hukum. Keluar dari Skillful, kalau nggak jadi pengacara, ya lo jadi notaris
lah! Gue udah bisa ngebayangin dari sekarang kok! Dylan James Siregar, SH. Pejabat pembuat
Akte Tanah. Nanti lo bakal berkumis dan pakai kacamata minus. Kayaknya oke juga.” Aku
mengedikkan bahu dan di luar dugaanku, Dylan tertawa lagi.
“Ya ampun, lo lucu banget!”
“Gue?” tanyaku bingung. Aku sendiri juga nggak tau kenapa stok banyolan dan pelesetanku
lagi banyak hari ini. Ada di sebelah Dylan kayaknya punya dua macam pengaruh buatku. Kalau
aku nggak speechless dan jadi bisu mendadak, aku bakal jadi supercerewet dan nggakb isa berhenti
mengoceh.
Tapi kayaknya lebih baik jadi cerewet deh ya...
“Iya! Lo lucu! Udah lama gue nggak ngobrol sama orang yang bisa bikin gue ketawa sampai
kayak gini!”
“Trims. Gue juga senang banget lo milih gue buat acara ini.”
Hening sesaat.
“Eh, gue mau nanya nih... Konser di mana sih yang menurut lo paling berkesan?” Akhirnya
aku punya bahan pembicaraan baru setelah memutar otakku.
“Lho, kok jadi kayak interview radio gini?” Dylan nyengir. “Tapi gue jawab deh. Konser tahun
lalu, di Manado. Gila, waktu itu penontonnya sedikit banget, dan superpasif! Gue sampai nggak
tau lagi gimana harus komunikasi sama mereka. Gue tau sih gue emang sering dijuluki vokalis
band paling payah dalam hal berinteraksi sama penonton, tapi waktu di Manado itu gue udah
nyoba segala cara! Gue bahkan goyang ngebor, tapi penonton-penonton itu masih diam aja!”
Aku bengong, tapi sedetik kemudian tertawa sampai perutku sakit. Dylan goyang ngebor!
Gila, cowok ini lucu banget!
“Yang di Surabaya kemarin itu juga berkesan banget lho,” cerita Dylan riang. Kayaknya dia
senang disuruh cerita tentang konser-konser yang pernah dijalaninya bareng Skillful!
“Oh ya? Kenapa?”
“Yah... berkesan bukan dalam artian „bagus‟ sih, tapi berkesan karena di konser itu gue
nangis.”
“Hah?”
“Iya, gue nangis soalnya venue-nya itu ruang ber-AC dan tertutup, sementara orang-orang
pada ngerokok semua! Jadilah ruangan itu berasap dan gue sampai nangis saking perihnya mata
gue!”
“Hahaha...” Aku tertawa lagi. “Tiap kota punya kesan sendiri-sendiri ya?”
“Betul banget.” Dylan tersenyum. “Oh ya, Lice, ada satu hal yang sebenernya dari dulu
pengin gue tanyain ke lo.”
Ha? Apa? Dia nggak mungkin nembak aku, kan? Maksudku...
“Lo indo, ya?” tanya Dylan sebelum pikiranku bertambah ngawur.
Oh. Ternyata dia cuma mau nanya itu. Fool me, nggak mungkin lah dia nembak aku!
“Emangnya... kelihatan?” tanyaku ragu. “Banyak orang yang nggak percaya bahkan kalaupun
gue terang-terangan mengaku indo.”
“Kelihatan kok. Dan wajah lo tuh unik. Lo blasteran apa?”
Dia memujiku! Karena aku blasteran! Haha... ternyata jadi cewek separo bule itu nggak
sejelek yang kuduga!
“Bokap gue orang Australia. Nyokap campuran Jawa-Cina.”
“I see...” Dylan menenggak air putihnya. “Soalnya, yang gue lihat nih, wajah lo benar-benar
perpaduan bule, Indonesia, dan oriental. Orisinil banget.”
Glek. Aku sampai nyaris nggak bisa ngomong saking ge-er-nya!
“Alice, Dylan, udah siap?”
Aku menoleh, dan dengan kaget menyadari Mbak Mirna sudah berdiri di sampingku.
“Siap apa, Mbak?” tanyaku nggak ngerti. Apa udah mau take lagi, ya?
“Siap ke tempat kencan kita,” potong Dylan sebelum Mbak Mirna menjawab. Aku melotot.
“Memangnya, tempatnya bukan di sini?” Aku memandang berkeliling taman kafe ini dengan
bingung. Peralatan syuting yang tadinya tersebar di taman, sekarang sudah hilang. Yang tersisa
cuma tumpukan rapi kotak hitam besar di pojok taman. Pasti para kru sudah membereskan
semuanya sewaktu aku mengobrol dengan Dylan tadi.
“Lho, lo belum tau, ya?” tanya Dylan. Aku menggeleng. “Kita bakal syuting di Wanna Be.”
Aku melongo, menatap Dylan dan Mbak Mirna bergantian. “Wanna Be?”
“Mmm... begini, Alice... Tim kreatif Pacar Selebriti sudah merancang konsep kalian kencan
sambil merekam lagu duet di CD. Dan kami sudah menentukan tempatnya di Wanna Be. Alice
nggak keberatan, kan?” tanya Mbak Mirna. Ada semburaat cemas di wajahnya, kayaknya dia
khawatir aku bakal menolak konsep acara yang sudah disiapkan.
Aku mengedikkan bahu. “Oke, Wanna Be sounds great,” jawabku akhirnya.
Memangnya aku punya pilihan? Kalau buat aku nih, asal sama Dylan, ke mana pun hayok aja
deh!
* * *
Coba aku tanya, berapa fans yang bisa rekaman sama idolanya? Cuma aku!
Ini benar-benar gila. Aku nggak menyangka dalam hidupku akan ada hari seindah hari ini!
Di Wanna Be, aku memilih tiga lagu untuk duet: Terlalu Indah-nya Skillful (aku nggak akan,
nggak akan, dan nggak akan pernah lupa lagu ini, soalnya itu lagu saat Dylan pertama kali
menunjukku dari panggung!), Love Isn’t-nya Same-Same, dan Surga Cinta-nya ADA Band.
Haha... aku memang sengaja pilih lagu-lagu yang romantis, soalnya kapan lagi aku bisa
rekaman sama Dylan? Ini kan a chance of a lifetime! Apalagi aku bisa membuat cover CD-nya dengan
foto kami berdua! Hebat banget deh!
Selesai rekaman, aku pamit sebentar untuk ke toilet. Mbak Mirna bilang dia mau ke toilet
juga, jadi dia ikut aku, sementara Dylan duduk menunggu di kafe Wanna Be.
“Mmm... Mbak?” panggilku begitu kami sampai di toilet. Tadi waktu masuk, aku sudah
melihat dalam toilet ini nggak ada orang selain aku dan Mbak Mirna, jadi aku memutuskan amanaman
saja kalau aku mau curhat di dalam sini.
“Ya?”
“Dylan tuh orangnya baik banget, ya?”
“Iya. Dia nggak kayak seleb-seleb lainnya...”
“Apa semua seleb yang ikut di acara ini memang selalu baik gitu, Mbak?”
“Oh, enggak!” Aku menangkap nada kesal di suara Mbak Mirna. “Dua minggu lalu kita
syuting dan bintang tamunya si Arnold Fritz, aduuuuhhhh... lagaknya selangit!”
Arnold Fritz? Aku berusaha mengingat-ingat. Oh, pemain sinetron itu. Ganteng sih, tapi
emang dari lagaknya saja sudah ketahuan dia belagu.
“Selangit gimana, Mbak?” tanyaku penasaran.
“Ya seolah kita semua ini asistennya, disuruh ini-itu! Dan waktu jalan sama peserta yang
dipilihnya, dia benar-benar sok! Mbak yakin cewek itu akhirnya malah nggak ngefans sama
Arnold lagi setelah ikut acara ini!”
Mbak Mirna terkikik, aku juga nggak bisa menahan tawaku.
“Kamu beruntung banget milih Dylan, Lice. Orangnya baik, sopan, dan perhatian sama
semua orang. Sama kru-kru juga baik banget. Menurut Mbak, Dylan itu seleb terbaik yang pernah
ikut acara ini deh!”
“Iya ya, Mbak... Aku juga senang buangeeettt hari ini.”
Aku masuk ke salah satu bilik toilet, lalu keluar semenit kemudian. Mbak Mirna sedang
mencuci tangannya di wastafel.
“Yuk,” kata Mbak Mirna setelah aku selesai mencuci tangan juga.
Kami keluar dari toilet, dan berjalan menuju kafe tempat Dylan menunggu. Tapi yang
kulihat begitu aku sampai di kafe benar-benar rmembuatku heran. Dylan berdiri sambil
merogoh-rogoh kantong celananya dan bicara pada para kru Pacar Selebriti, ekspresinya bingung.
“Ada apa, Lan?” tanyaku penasaran.
“HP gue nggak ada. Apa jatuh waktu di Upgraded tadi, ya?” tanyanya bingung.
Aku mencelos. Kalau HP Dylan benar-benar hilang, ini gara-gara aku! HP-nya hilang karena
kencan sama aku! Aku memang bawa sial!
Tapi... tunggu! Kok kayaknya aku sama sekali belum melihat Dylan pegang HP-nya sih?
“HP lo apa, Lan?”
“6680. Kenapa?”
“Mmm.. soalnya kayaknya gue nggak pernah lihat lo pegang HP deh.”
Dylan tercenung. “Eh... iya juga ya...”
“Mungkin ketinggalan di rumah. Coba lo telepon HP lo dulu aja, siapa tahu ada yang
angkat,” saranku.
Dylan manggut-manggut, dan Mbak Mirna langsung menyodorkan HP-nya untuk dipakai
Dylan.
“Makasih, Mbak,” kata Dylan, dan dia mulai memencet nomor HP-nya di HP Mbak Mirna.
Ya ampun, benar apa yang Mbak Mirna bilang tadi, Dylan memang cowok yang sopan dan baik
banget. Lagi panik HP-nya hilang saja,d ia masih ingat bilang terima kasih. Kalau HP-ku yang
hilang, aku pasti sudah panik kayak cacing kepanasan!
“Halo? Hah? Tora? Lo di mana? Ohh... jadi HP gue di rumah? Haha... untung deh... Nggak,
gue lagi jalan-jalan, terus mau SMS, tapi kok HP gue nggak ada... Ya udah, taruh di kamar gue aja.
Thanks, Bro!”
Dylan mengembalikan HP Mbak Mirna. Cengiran lebar mengembang di wajahnya.
“Thanks pinjaman HP-nya, Mbak. Ternyata HP saya ketinggalan di rumah. Tadi kakak saya
yang angkat.”
Aku mengembuskan napas lega. Untung HP Dylan nggak benar-benar hilang!
Mbak Mirna mengangguk dan menerima HP-nya kembali, lalu aku duduk semeja dengan
Dylan dan memesan es krim, sambil menunggu CD rekaman kami tadi selesai dan foto untuk
cover-nya dicetak.
“Seru ya, tadi rekamannya? Gue udah lama nggak hang-out gini.”
“Apalagi setelah lo jadi vokalis Skillful, tambah nggak sempat, ya?” tanyaku simpati. “Kan lo
harus tur keliling Indonesia terus...”
Dylan mengangguk. “Ya, kan dalam hidup ada yang harus dikorbankan, Lice. Gue berhasil
jadi vokalis Skillful, tapi di sisi lain gue juga harus mengorbankan kebebasan gue... Gue jadi nggak
punya waktu jalan-jalan sebanyak yang dipunya orang lain. Gue juga harus cuti kuliah...”
Es krim pesanan kami datang. Aku memakan es krimku dalam diam, mendengar Dylan
bercerita. Saat ini kami nggak disyuting lagi, karena semua adegan yang perlu sudah diambil
sewaktu kami rekaman tadi.
“Hmmm... tapi kan lo bisa menganggap apa yang lo lakukan sekarang ini untuk masa depan
lo,” kataku sok bijak, mengomentari cerita Dylan tadi. “By the way, lo berapa bersaudara sih?
Cuma dua, ya?”
“He-eh. Abang gue namanya Tora, yang angkat HP gue waktu gue telepon tadi itu. Dia baik,
tapi kadang-kadang agak bawel juga.” Dylan tertawa geli. “Kalau lo?”
“Oh. Gue anak tunggal.”
Dylan membuka mulutnya, hampir mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia diam lagi.
“Kenapa? Percaya stereotip anak tunggal itu manja? Gue nggak gitu.”
“Hei, gue kan nggak bilan gapa-apa.”
Ah, iya, dia kan nggak ngomong apa-apa ya barusan? Pipiku langsung terasa panas saking
malunya. Aku memang kadang-kadang tanpa sadar mempermalukan diriku sendiri.
“Gue senang sama hidup gue sekarang,” Dylan mulai bercerita (kelihatannya dia nggak
melihat pipiku yang merah, baguslah), “semuanya teratur dan seperti apa yang gue inginkan.”
“Tapi kan lo nggak punya pacar,” celotehku. Dylan menoleh, dan aku langsung sadar lagilaig
aku sudah mempermalukan diriku sendiri. “Sori,” gumamku pelan.
“Nggak papa. Lo benar, kayaknya gue memang butuh pacar.”
Bagus, sekarang aku sudah membuat cowok yang kutaksir setengah mati berniat cari pacar!
Aku memang cewek tergoblok sedunia! Kalau setelah ini Dylan benar-benar dapat pacar, ini garagara
celoteh tololku barusan!
“Tora punya pacar yang baik banget, namanya Mbak Vita,” Dylan melanjutkan ceritanya.
“Abang gue itu beruntung banget bisa punya pacar kayak Mbak Vita. Orangnya baik, nggak
macam-macam. Nyokap gue aja sayang sama Mbak Vita.”
“Oh, jadi Mbak Vita yang ada di ucapan thanks to di album Skillful itu pacar abang lo?” Aku
teringat ucapan thanks to Dylan yang pernah iseng kubaca untuk cari tahu apakah dia sudah punya
pacar atau belum dulu itu.
“He-eh. Lo baca, ya, ternyata?” Dylan kelihatan geli. “Orang-orang yang gue tulis di situ,
semuanya berarti banget buat gue.”
“Termasuk Doraemon?” aku nggak bisa menahan tawaku lagi. “Lo benar-benar punya
teman yang namanya Dora dan Emon, ya?”
Dylan langsung terbahak-bahak. “Iya, termasuk Doraemon! Gue sendiri nggak tau kenapa
gue sampai bisa punya teman yang namanya matching gitu. Dora itu cewek, teman sekampus gue,
anaknya lucu. Kalau Emon itu... yah... bisa dibilang cewek jadi-jadian, hehe...”
Aku dan Dylan tertawa terbahak-bahak.
“Mmm... Lice, lo bawa kertas?”
“Buat apa?”
“Boleh gue minta nomor HP lo? Gue kan nggak bawa HP, jadi gimana kalau lo tulis nomor
HP lo di kertas, biar kita tetap bisa terus berhubungan? Gue senang banget ngobrol-ngobrol
sama lo.”
Omigod, omigod, omigod!!! Dylan minta nomor HP-ku!!!
Aku benar-benar speechless sampai nggak bisa bergerak. Ini mimpi atau bukan sih? Apa semua
yang kualami hari ini benar-benar nyata?
Masih dengan perasaan bingung luar biasa, aku merogoh-rogoh tas. Semoga ada kertas dan
bolpoin... Semoga ada...
Nggak ada. Bego.
“Ngg... sori, Lan, gue nggak bawa kertas...”
“Oh. Kalau gitu, nanti kita minta sama Mbak Mirna aja kertasnya.”
Aku mengangguk. Dylan tersenyum dan melambai memanggil pelayan dan minta air putih.
Saat itu bagian lengan kausnya tersingkap dan aku melihat sesuatu yang kelihatannya seperti...
tato?
Oke, aku tahu tato di tubuh anak band itu sama wajarnya seperti adanya luka bekas jatuh di
kaki anak SD, tapi ini kan...
“Mmm... Lan?” panggilku setelah pelayan yang tadi pergi untuk mengambilkan pesanan
Dylan. “Lo... punya tato?”
Dylan diam selama beberapa detik. “Iya, punya. Ada beberapa sih, tapi gue nggak mau
nambah lagi kok.”
“Yang di itu gambarnya apa?” Aku menunjuk tangan kiri Dylan.
“Pendekar samurai.”
Dylan menggulung lengan kiri kausnya dan menunjukkan tato itu padaku. Ya ampun,
tatonya keren!
Tapi... yah, tahu kan... sekeren apa pun itu, itu tetap... tato. Dan image tato di masyarakat kita
kan nggak bagus...
Ah, sebodo amat! Yang penting kan Dylan bukan preman atau pelaku curanmor!
“Tato lo bagus,” pujiku jujur.
“Thanks.” Dylan melepas gulungan lengan kausnya sehingga tato itu tertutup lagi. Aku
menangkap kesan dia nggak terlalu suka ada yang tahu soal tatonya itu. Mungkin dia kepengin
membangun image anak baik, dan harusnya anak baik kan nggak punya tato.
Well, kalau gitu aku nggak akan tanya-tanya tentang tato lagi. Biarpun aku penasaran
setengah mati di bagian tubuh mana lagi si Dylan punya tato.
“Halo pasangan baru! Kayaknya romantis banget nih!” goda Anastasia, yang tiba-tiba nongol
entah dari mana. Aku melirik arlojiku dengan panik. Jam setengah sembilan malam! Heh? Jadi
waktuku bersama Dylan sudah habis?
“Oh, harus dong, kan khusus buat Pacar Selebriti, hehe...” Dylan tersenyum.
“Tapi sori banget nih, gue harus memisahkan kalian berdua sekarang!” Anastasia memasang
tampang sok galak, lalu menyela di antara aku dan Dylan.
“Gimana, Lice, puas hari ini?” tanya Anastasia.
“Eh... puas, iya puas. Tapi kok cuma sehari sih?”
“Eits, kalau mau lebih dari sehari, ya kalian usaha sendiri dong! Itu di luar kemampuan gue!
Kencan pertama atas bantuan Pacar Selebriti, selanjutnya terserah Anda!” Anastasia menirukan
slogan iklan kolonye cowok yang terkenal itu. Aku tertawa.
“Nah, mau take sekarang?”
Aku mengangguk dengan berat hati. Anastasia lalu pergi dan mengobrol dengan Mas Ivan,
sang kameraman, dan kru-kru yang lain, sementara aku terdiam di kursiku. Anehnya, Dylan
sudah nggak ada lagi di kursinya. Oohhh... waktuku bareng Dylan tinggal hitungan detik, tapi
cowok itu malah hilang entah ke mana, padahal semenit yang lalu dia berdiri di sebelah Anastasia.
Mungkin dia pergi waktu aku mengobrol dengan cewek itu tadi.
Aduh, aku benar-benar nggak rela pisah sama Dylan! Kenapa sih hal-hal menyenangkan
cuma terjadi sekali seumur hidup? Dan katanya tadi Dylan minta nomor HP-ku? Apa dia cuma
basa-basi saja? Ah, aku memang cewek yang kege-eran...
“Hei, ini kertasnya.”
Aku mendongak dan melihat Dylan berdiri di hadapanku, menyodorkan kertas dan bolpoin.
Ya Tuhan, dia benar-benar minta nomor HP-ku?!
“Kok malah bengong? Gue nggak boleh minta nomor HP lo, ya?”
“Bukannya gitu.” Aku cepat-cepat mengambil kertas dan bolpoin yang disodorkan Dylan.
“Gue tadi cuma lagi mikir aja kok...”
“Mikir apa? Pacar? Hehe...”
Aku hampir keceplosan bilang “aku nggak punya pacar!” waktu aku ingat kalau bilang kayak
gitu bisa berkesan aku ini nggak laku. Ihh... amit-amit! Kecuali kalau Dylan jelas-jelas bertanya,
“lo punya pacar?”, baru aku bakal menjawab aku sebenarnya jomblo, hehe...
“Nggak, bukan mikir pacar kok. Ada deh...”
ayo tanya dong, aku udah punya pacar apa belum? Ayo tanya...
“Ya udah deh kalau gitu. Tulis nomor HP lo ya di kertas itu.” Dylan tersenyum.
Sial, ternyata dia nggak tanya aku sudah punya pacar atau belum! Aku mendesah kecewa, lalu
menuliskan nomor HP-ku di kertas yang diberikan Dylan.
“Nih.” Aku mengembalikan kertas bertuliskan nomor HP-ku itu ke Dylan. Ya Tuhan,
semoga dia benar-bena rmeneleponku nanti. Semoga. Semoga. Semoga.
“Thanks ya.” Dylan melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celananya.
“Yuk, sekarang gue harus benar-benar memisahkan kalian!” Anastasia datang lagi, kali ini
sambil membawa mikrofon.
Ugh... kenapa hari semenyenangkan ini harus berakhir?
KERTASNYA HILANG!
MANA kertas itu? Mana???
Gue merogoh-rogoh saku celana dengan panik. Gue yakin tadi gue memasukkan kertas
itu ke sini, tapi kok nggak ada?
Apa jatuh ya? Sialan, kok gue akhir-akhir ini jadi sembrono begini sih? Tadi siang HP
ketinggalan, sekarang kehilangan kertas!
―Eh, tadi waktu lo pergi, HP lo bunyi terus tuh.‖ Tora nongol di pintu kamar gue, dan
memberi isyarat ke HP gue yang ada di meja.
Gue mengambil HP itu dan berdecak. Gila, 14 unread messages?
―Tadi Rey telepon, terus manajer lo itu juga. Dia bilang besok kalian ada jumpa fans di
Hypermart Karawaci, acaranya Z-Mild tuh,‖ Tora menyebutkan merek rokok yang menjadi
sponsor Skillful. Gue nggak bereaksi, malah membuka SMS-SMS yang masuk.
From: +6285697436
Hai... Ini Dylan Skillful, ya? Boleh kenalan nggak?
Yeah, orang-orang iseng lagi. Nggak perlu dibalas.
Bukannya gue sombong, tapi gue pernah trauma membalas SMS-SMS semacam ini.
Awal-awalnya sih orang-orang ini baik, tapi akhirnya malah berusaha mengorek urusan
pribadi gue. Gue tahu nggak semua orang kayak gitu, tapi lebih baik jaga-jaga, kan?
From: Rey
Lan, SMS ini cuma bwt jaga2 aj klo Tora lupa nyampein psn
gue (biasa, dia kan kna pnurunan daya ingat he3x). Bsk ada
jmpa fans di hypermart karawaci jam 1 siang. Acara Z-Mild.
Kmpul di markas jam 11 ya.
Ah ya, ini yang dibilang Tora tadi. Rupanya hari ini penurunan daya ingatnya nggak lagi
kumat.
From: Udik
Hei, Man! Pa kbr? Payah, skrg tiap hr gw dicariin sm cwe2,
tp mrk smua tujuannya cm 1: mengorek info ttg lo dr gw! Haha!
Gue tersenyum kecut. Udik teman kuliah gue yang paling dekat, dan sudah berapa bulan
gue nggak ketemu dia saking padatnya jadwal Skillful. Biar deh dia yang meng-handle
cewek-cewek itu. Gue rasa dia sebenarnya nggak keberatan dikelilingi cewek gitu!
SMS-SMS lainnya nggak penting. Tora juga sudah menghilang dari pintu kamar gue,
jadi gue memutuskan mencari kertas nomor HP Alice lagi.
Damn! Di mana sih kertas itu???
HE DOESN’T CALL
27 Agustus 2006
SUDAH sepuluh menit ini Grace cuma diam dan bengong, aku benar-benar khawatir.
Maksudku, aku tahu dia bakal kaget kalau kuceritai tentang pengalamanku kencan sehari
bareng Dylan di acara Pacar Selebriti kemarin, tapi aku nggak menyangka reaksinya bakal seaneh
ini.
“Grace? Halooo... Grace? Lo nggak pa-pa?” Aku menggoyang-goyangkan tangan di depan
mata Grace. Dia menatapku, tapi mulutnya masih menganga terbuka.
“Gue nggak pa-pa,” katanya sambil menepiskan tanganku. “Gue cuma masih nggak percaya,
kok bisa-bisanya lo dapat kesempatan kayak kemarin.”
“Jangankan lo, gue aja juga nggak nyangka...”
Aku dan Grace diam. Aku sibuk dengan otakku sendiri, sementara aku nggak tahu apa yang
ada di pikiran Grace.
“Eh, Lice, lo nggak... maksud gue, lo nggak mengarang cerita ini, kan?”
Aku melotot. “Memangnya gue segitu kurang kerjaannya, sampai ngarang cerita segala?
Kalau imajinasi gue sehebat itu, mendingan gue jadi novelis aja deh!” ujarku sewot. “Lagian, gue
punya buktinya nih! Ini, lihat!” Aku menunjuk CD duetku dan Dylan yang kami buat di Wanna
Be kemarin. Huh, ini bukti nyata, kan?
“Sori, sori... gue bukannya mau menuduh lo bohong atau apa, tapi...” Grace mengedikkan
bahunya. “Nggak tau deh, lo bener-bener mujur...”
Aku mengangguk. Memang kemarin aku benar-benar mujur. Siapa sih yang bisa menyangka
aku, cewek setengah bule yang baru meningkat rasa PD-nya kemarin, bisa kencan sehari sama
Dylan? Rekaman lagu berdua, lagi!
Cuma satu yang mengusik pikiranku: Dylan belum telepon atau SMS sekali pun.
Sial. Apa aku kemarin benar-benar kege-eran, ya? Apa dia minta nomor HP-ku cuma untuk
basa-basi?
Ah... jangan dipikirin, jangan dipikirin! Mungkin dia lagi sibuk dan nggak sempat SMS atau
telepon aku... Mungkin juga dia lagi tidur, atau apalah...
“Lice? Dylan udah telepon lo belum?” tanya Grace penasaran. Aduuhhh... kenapa juga
Grace mengingatkanku soal itu??? Aku langsung menyesal cerita Dylan minta nomor HP-ku
kemarin.
“Belum. Lagi sibuk kali dia.”
“Kenapa nggak lo yang telepon atau SMS dia duluan?”
Aku menoleh dan mengembuskan napas keras-keras. “Grace, gue nggak bisa ngelakuin itu!
Pertama, gue gengsi! Masa sih cewek SMS duluan? Kedua, gue takut! Gimana kalau Dylan
menganggap gue „ganggu‟? Ketiga, gue nggak punya nomor HP-nya! Jadi kalaupun nggak gengsi
ataupun takut, gue nggak bisa menghubungi dia duluan!” jelasku panjang-lebar.
Grace memutar bola matanya, jenis tingkah laku yang bakal dilakukannya kalau dia nggak
setuju dengan pendapatku.
“Grace, udah deh... Gue juga maunya gitu, tapi lebih baik gue tunggu aja deh. Sekalian gue
pengin membuktikan Dylan kemarin basa-basi atau nggak pas minta nomor gue. Kalau dia serius,
pasti nanti dia bakal telepon gue. Kalau dia cuma basa-basi, ya udah, memang gue lagi apes.”
“Ihh... lo!” Grace melengos. “Kesempatan bagus kayak gini kok dilewatin gitu aja? Lihat aja
deh, nanti lo pasti bakal frustrasi sendiri kalau Dylan nggak telepon lo duluan!”
Aku cuma bisa mengangkat bahu mendengar celoteh Grace. Aduh, Dylan, telepon dong...
NUMPANG LEWAT???
―HEI! Kenapa lo! Suntuk banget!‖
Gue menoleh dan melihat Tora berdiri di belakang gue. Kayaknya dia mau pergi,
penampilannya tapi begitu.
―Gue nggak papa,‖ jawab gue bohong.
―Hmm... tampang lo udah kayak orang niat pengin bunuh diri gitu kok. Ayolah, ngaku
aja. Apa Skillful lagi sepi job?‖ tanyanya sambil cengengesan.
―Nggak. Justru ini lagi rame-ramenya.‖
―Nah, terus, kenapa lo suntuk?‖
Gue menghela napas dalam-dalam. Mungkin lebih baik gue cerita ke Tora. Siapa tau dia
bisa bantu gue. Dua kepala lebih baik dari satu kepala, kan?
―Gue kehilangan nomor HP nih.‖
―Nomor HP? Nomor HP lo hilang?‖ tanya Tora heran.
―Bukan nomor HP gue, tapi nomor HP... orang.‖
―Cewek?‖ tebak Tora, setengah menahan tawanya. Mau nggak mau gue mengangguk.
―Siapa? Bintang iklan? Model? Bintang sinetron? Cantik nggak?‖
―Bukan artis. Cewek biasa. Tapi orangnya enak banget diajak ngobrol.‖
Tora bersiul. ―Lo naksir, ya?‖
Gue langsung melotot. ―Gue baru beberapa kali ketemu dia, tau. Itu aja cuma sebentar
banget. Baru kemarin gue bisa agak lama jalan bareng dia. Dan gue seneng ngobrol sama
dia.‖
―Ohh... pantes kemarin seharian lo nggak ada di rumah, ternyata kencan, ya?‖ Tora
ngakak. ―Terus lo minta nomor HP-nya?‖
―Iya. Gue catat di kertas... tapi sekarang kertasnya hilang.‖
Tora bengong. ―Lo catat di kertas? Hareee geneee? Ya ampun, kenapa nggak lo simpan
di phonebook HP lo aja sih?‖
―Lha, kan kemarin HP gue ketinggalan di rumah! Lo kan yang ngangkat waktu gue
telepon!‖ seru gue kesal. Ternyata Tora nggak cuma salah dijadikan tempat curhat, tapi
penurunan daya ingatnya juga lagi kumat!
―Oh... iya! Yah... payah lo! Sekalinya ketemu cewek yang nyambung, lo malah lepasin
gitu aja!‖ Tora membego-begokan gue dengan senang hati. Brengsek.
―Nah, itulah kenapa gue suntuk! Dan daripada lo maki-maki gue, mendingan lo bantuin
cari cara deh gimana caranya gue bisa dapat nomor HP tu cewek lagi.‖
―Wah... itu sih susah! Tapi tu cewek anak kampus lo, bukan? Kalau iya, gue bisa deh
usahain nyari nomornya! Temen gue kan banyak yang anak kampus lo, siapa tau ada yang
kenal.‖
―Ehh...‖ Gue menggaruk kepala gue yang nggak gatal. ―Bukan anak kampus gue... Dia...
masih SMA...‖
―Hah???!‖ Tora menjerit. ―Lo demen anak SMA, Lan?‖ tanya Tora nggak percaya. ―Lo
ini serius apa lagi bercanda sih?!‖
―Heh, gue kan nggak bilang gue suka sama dia! Gue cuma bilang gue senang ngobrol
sama dia, soalnya dia nyambung.‖
―Sama aja!‖ Tora menepuk-nepuk dahinya frustrasi. Anak aneh, yang lagi bingung kan
gue, kenapa dia yang tampangnya stres gitu?
Gue mendengar Tora menghela napas panjang-pendek. Kelihatannya dia berpikir serius.‖
―Oke. Langkah awal nih, nama cewek itu siapa?‖ Tora mulai menginterogasi.
―Alice.‖
―Alice, hmm... Sekolah di mana?‖
Gue mengingat-ingat, dan sepotong info melintas di kepala gue. ―SMA Harapan.‖
―Lo kenal dia dari mana?‖
―Dia fans Skillful.‖
―Waduh. Susah!‖ Tora menggeleng-geleng, persis orang yang bingung karena punya
utang ratusan juta. ―Apa gue bikin pengumuman aja ya di koran? Gue tulis: Dyla Siregar,
vkalis Skillful, mencari Cinderella-nya yang hilang. Ciri-ciri: namanya Alice, sekolah di
SMA Harapan. Yang mengetahui keberadaan Cinderella tanpa sepatu kaca ini, harap
langsung menghubungi Dylan di 08154...‖
Gue langsung menoyor kepala Tora. Parah banget anak ini, bukannya bantuin, malah
bikin banyolan!
―Punya teman yang juga temannya dianggak? Kalau iya, kan lo bisa nanya nomor HP
Alice ke temannya yang juga teman lo itu.‖ Tora langsung serius setelah kepalanya gue toyor.
Gue hampir bilang ―nggak punya‖, waktu gue ingat Kinar yang mengenalkan gue ke
Alice. Ya ampun, benar juga, kenapa gue nggak kepikiran sampai situ? Gue kan bisa telepon
Kinar dan minta nomor HP Alice ke dia!
―Ada, Tor! Ada!‖ seru gue riang.
―Telepon gih temennya, tanyain nomor HP si Alice tuh!‖ Tora ikut-ikutan bersemangat.
Gue langsung mengeluarkan HP gue dari kantong celana dan mencari-cari nama Kinar di
phonebook.
Sial, ternyata gue nggak punya nomor HP-nya.
Ah, tapi gue kan punya nomor telepon rumahnya. Dia sudah pulang dari sekolah atau
belum ya jam segini? Dicoba aja deh.
Tut... Tut... Tut...
―Halo, selamat siang...‖
Jantung gue sepertinya berhenti, dan spontan gue memutuskan sambungan. Itu Karin! Itu
tadi karin yang mengangkat telepon gue!
―Kenapa?‖ tanya Tora bingung. ―Nggak diangkat?‖
―Bukan gitu...‖ Gue yakin muka gue sekarang pasti pucat kayak tembok. ―Yan ggue
telepon tadi itu rumah Kinar...‖
―Kinar?‖ Dahi Tora berkerut, tapi sedetik kemudian dia melongo. ―Kinar adiknya
Karin?! Ngapain lo telepon dia?‖
―Ya kan dia temennya Alice...‖ Gue menggigit bibir. Suara Karin yang sudah gue hafal
di luar kepala sepertinya masih bergaung dalam telinga gue.
―Ya ampun! Kenapa sih lo nggak bisa cari gebetan yang bukan teman adik mantan
lo???‖
―Tor, yang angkat teleponnya tadi itu bukan Kinar, tapi Karin,‖ desis gue tanpa
mengacuhkan protes Tora barusan.
Tampang Tora seperti baru mendengar bahwa gue menelepon rumah Kinar tapi yang
mengangkat teleponnya adalah Presiden SBY.
―Ya iyalah! Kinar sama Karin kan serumah! Kalau lo telepon rumahnya, nggak aneh
kalau Karin yang angkat!‖
Gue menggigit-gigit bibir. Apa-apaan ini? Kenapa cuma gara-gara dengar suara Karin,
gue langsung deg-degan begini?
Apa gue...
Of course gue masih sayang sama Karin. Dan gue belum siap kenal sama cewek lain.
Belum.
Dan gue juga nggak mau cewek yang dekat sama gue nanti akhirnya akan diteror seperti
Karin... Ditambah lagi, Alice masih... SMA... Apa kata orang kalau gue sama dia nanti? Dan
kalaupun apa yang gue rasakan ke Alice sekarang bukan cuma semu, memangnya Alic eakal
mau sama gue?
Sepertinya kemarin gue cuma kebawa suasana. Apa mungkin Alice cuma numpang lewat
aja dalam hidup gue???
―Eh, Lan, bukannya lo bilang siang ini ada jumpa fans di Hypermart? Yang kemarin Rey
bilang?‖ tanya Tora mengangetkan.
Ya Tuhan! Acara Z-Mild itu!
Gue langsung melirik arloji gue. Jam sebelas. Sialan.
―Gue cabut dulu, Tor.‖
Dan gue berlari secepatnya keluar rumah. Pasti nanti Bang Budy ngomel-ngomel karena
gue telat!
AN HOUR WITH SKILLFUL
(Masih) 27 Agustus 2006
AKU membanting tas sekolahku ke ranjang. Aku lagi suntuk, dan penyebabnya klise sekali:
belum ada telepon ataupun SMS dari Dylan. Aku benar-benar putus asa. Sesibuk apa sih dia? Apa
susahnya SMS atau telepon? Toh nggak bakal lebih dari lima menit.
Aku merogoh tasku, mengambil kertas dan menulis alasan-alasan kenapa kira-kira Dylan
belum menelepon atau kirim SMS.
Kenapa Dylan belum juga telepon atau SMS aku???
1. Dia cuma basa-basi aja waktu nanya nomor HP-ku (kayaknya alasan ini deh yang
paling masuk akal)
2. Dia lagi nggak punya pulsa (yeah, yang benar aja, honor Skillful sekali manggung
berapa, kok Dylan sampai nggak punya uang buat beli pulsa???)
3. Dia lagi benar-benar amat sangat sibuk sekali (Nggak ah. Alasan nomor satu lebih
masuk akal)
4. Kertas yang ada nomor teleponku itu hilang
Ya Tuhan. Benar juga. Mungkin kertas itu hilang. Siapa tahu?
Ahhh... aku nggak mau mikirin masalah ini lagi! Sepanjang perjalanan pulang tadi Grace
sudah menceramahiku (Mama nggak bisa jemput karena katanya mau pergi ke Hypermart, jadi
aku nebeng pulang Grace), katanya aku yang bego karena nggak mau menuruti sarannya
mengontak Dylan duluan.
Grace, ngomong sih gampang, tapi menjalaninya itu lhooo...
“Liceeee...! Aliceeee...!”
Aku terlonjak di kursiku. Ada apa sih Mama teriak-teriak begitu?
“Alice!”
Pintu kamarku menjeblak terbuka, dan aku melihat Mama berdiri di ambang pintu dengan
muka memerah karena bersemangat.
“Ada apa sih, Ma?” tanyaku sambil menjejalkan kertas penuh corat-coret kenapa-Dylanbelum-
juga-telepon-atau-SMS-aku itu ke dalam laci meja belajarku. Bisa berabe kalau Mama baca
kertas itu.
“Tadi Mama ketemu itu lhooo di Hypermart...”
Alisku terangkat. Ketemu siapa? Tetangga waktu zaman aku kecil dulu?
“Siapa?” tanyaku cuek. Mama kelihatannya heboh banget, mungkin Mama habis ketemu
teman lamanya. Yang jelas, Mama nggak mungkin ketemu Dylan. Mau ngapain dia di
Hypermart? Disuruh nyokapnya belanja? Nggak banget deh!
“Ituuu... cowok yang dulu pernah kamu bilang ganteng itu!”
Aku tambah bingung. Cowok yang pernah kubilang ganteng mungkin ada sejuta! Mana
mungkin aku ingat semua cowok itu satu per satu?
“Yang mana sih, Ma? Yang pernah aku bilang ganteng kan banyak...”
Mama menggeleng-geleng, lalu mengobrak-abrik tumpukan CD-ku yang ada di samping
meja belajar.
Omigod, jangan bilang kalau...
Mama mendekat sambil memegang kotak CD yang sudah kukenal betul karena CD-nya
sudah sejuta kali kuputar belakangan ini. Telunjuk Mama menuding foto orang yang ada di back
cover CD itu.
Itu CD Skillful, dan tangan Mama menuding foto Dylan.
“Nah, Mama ketemu cowok ini! Sama yang lain-lainnya ini juga,” kata Mama riang,
menunjuk foto Rey, Dovan, Ernest, dan Dudy. “Tadi mereka ada jumpa fans gitu di Hypermart.
Rame banget, Lice! Dan ternyata bener apa yang kamu bilang, vokalisnya ini ganteng banget!”
Aku mencelos.
“Yah... Mama, kenapa tadi aku nggak diajak juga ke Hypermart?” Aku cemberut.
“Kan kamu masih ada di sekolah. Masa Mama ke sekolahmu terus ngajak kamu bolos?
Lagian Mama juga baru tahu ada jumpa fans ini pas udah di Hypermart. Kan ada rame-rame gitu,
terus pas Mama deketin taunya...”
Mama berhenti bercerita karena melihat tampangku yang semakin cemberut.
“Udah, jangan sedih gitu dong,” Mama berusaha menghiburku. “Tadi juga Mama nggak bisa
ngedeketin cowok ini kok, habisnya yang nonton banyak banget! Kalau kamu ikut juga mungkin
cuma bisa lihat dari jauh...”
Aku mendongak. “Mama nggak bohong, kan? Mama bilang kayak gitu bukan karena Mama
nggak pengin lihat aku sedih, kan?”
“Aduh... Sayang, ngapain juga Mama bohong sama kamu?” Mama membelai kepalaku. “Nih,
ya, kalau Mama bohong dan tadi bisa ngedeketin cowok yang kamu bilang ganteng itu...”
“Namanya Dylan,” potongku.
“Oke, kalau tadi nggak rame dan Mama jadi bisa ngedeketin si Dylan itu, pasti Mama udah
minta foto bareng dia! Dan Mama juga pasti bakal cerita Mama punya anak gadis cuantiiikkk
yang ngefansssss banget sama dia!”
“Iiihh... Mama!” Aku meninju lengan Mama pelan.
“Nah, buktinya, Mama nggak bisa minta foto bareng, kan? Mana mungkin sih Mama
melewatkan foto bareng cowok seganteng itu kalau Mama punya kesempatan? Mama kan juga
suka yang ganteng-ganteng gitu...”
Aku cekikikan mendengar omongan Mama. Rasa gondokku mulai menipis.
Sudahlah, lain kali aku pasti bisa ketemu Dylan lagi. Mungkin nanti dia bakal menjelaskan
kenapa dia belum juga meneleponku. Setengah berharap, aku melirik HP-ku yang tergeletak di
ranjang, tapi sama sekali nggak terlihat tanda-tanda HP itu akan berbunyi.
* * *
Untuk menghilangkan rasa gondokku karena nggak ikut Mama ke Hypermart tadi, aku surfing di
Internet. Buka official site Skillful ahh...
Aku membuka window baru, dan mengetik alamat official site Skillful di web address-nya. Kapan
ya Skillful manggung lagi? Aku udah pengin banget ketemu Dylan.
Situs Skillful terbuka, dan aku langsung memilih menu schedule. Jadwal Skillful yang padat
langsung muncul di monitor komputerku.
Schedule Skillful September 2006
Tgl. Kota Tempat Keterangan
1 Jakarta Studio 7 TOP Channel An Hour with Skillful
5 Balikpapan Blue Cafe Z-Mild Skillful Tour 2006
6 Samarinda Paradise Pub Z-Mild Skillful Tour 2006
8 Palangkaraya Univ. Sutopo Z-Mild Skillful Tour 2006
10 Pontianak Univ. Bunga Bangsa Z-Mild Skillful Tour 2006
11 Banjarmasin Univ. Harapan Z-Mild Skillful Tour 2006
13 Manado Balai Kota Z-Mild Skillful Tour 2006
14 Kendari Kafe Freedom Z-Mild Skillful Tour 2006
16 Palu Incredible Pub & Resto Z-Mild Skillful Tour 2006
18 Makassar Univ. Hasanuddin Z-Mild Skillful Tour 2006
25 Jakarta Hard Rock Cafe I Like Monday!
27 Jakarta Studio TV9 HUT TV9
Tanggal satu? Skillful bakal manggung tanggal satu nanti di TOP Channel? Ya ampun, itu kan
lima hari lagi! Aku harus nonton!
Aku cepat-cepat meraih HP-ku dan mengetik SMS untuk Grace.
To: Grace
Grace... ntr tgl 1 temenin gw ntn Skillful di TOP Channel
ya? Please...99x
Sending message. Message sent.
Aku menatap jadwal Skillful yang padat itu sekali lagi. Ya ampun, mereka bakal tur ke
Kalimantan dan Sulawesi sampe tanggal 18!
Jangan-jangan kalau Dylan balik ke Jakarta lagi nanti, aku sudah mati saking merananya
berminggu-minggu nggak ketemu dia.
Bagus, Dylan belum juga telepon atau SMs aku. Apa mungkin aku ini nggak pantas buat dia?
Apa aku kelewat jelek? Tapi dia sendiri yang bilang wajahku ini unik...
Aku bangun dari kursi meja belajarku dan setengah berlari ke depan cermin. Aku meneliti
pantulan bayanganku.
Oke, mulai dari rambut. Warna nggak jelas, antara merah dan cokelat kelunturan.
Alis? Nggak jauh beda sama rambut.
Mata? Cokelat gelap. Lumayan.
Hidung? Pesek! Kenapa sih cewek indo hidungnya bisa pesek? Apa karena aku ini anak
pertama (alias anak tunggal), makanya aku jadi produk gagal? Ughhhhh...!
Bentuk wajah? Bulat kayak bakpau. Plus jerawat di kedua sisi pipi. Mengerikan.
Postur tubuh keseluruhan? Ihh... dada kebesaran, pinggang juga kebesaran, pinggul terlalu
lebar, kaki...
Dengan penampilan begini, kok bisa-bisanya aku berharap Dylan bakal mau sama aku?
Dibanding cewek-cewek (para model, bintang iklan, artis sinetron, dll, dsb, dst.) yang ada di
sekelilingnya, aku jelas bukan apa-apa.
Dulu, aku pernah baca artikel di majalah yang menulis punya cewek cantik dan seksi itu
kebanggaan tersendiri bagi cowok. Seperti punya piala berkilau, atau mobil mewah keluarah
terbaru. Pokoknya, sesuatu yang bisa dipamerkan dan bakal menaikkan gengsi sang cowok di
depan orang lain. Nah, sekarang pertanyaannya adalah: kalau ceweknya seperti aku, apa image
Dylan nantinya bukan malah jeblok? Aku jelas bukan piala berkilau yang bisa dibanggakan. Dan
kalau diibaratkan mobil, aku pastinya bukan mobil sport keluaran terbaru, tapi justru mobil tua
yang kalau dijalankan sudah bergetar dan berbunyi bising, seakan onderdilnya mau copot semua.
Bukan jenis mobil yang bagus, kolektor mobil antik pun pasti nggak akan ada yang berminat.
Paling-paling yang berminat cuma tukang besi tua. Hiksss...
Eh, ada SMS masuk. Pasti Grace.
From: Grace
Maxut lo, ntn dr TV di rmh? Itu siy ntn aja di rmh msg2
wekeke...
Sialan Grace, dia malah sok bego di saat aku serius.
* * *
“Sudah dong dandanannya!” Grace menggerutu. “Udah cantik kok!”
Aku memulas maskara di bulu mataku sekali lagi, lalu mengecek wajahku dari segala sudut.
Lumayan.
“Alice...,” Grace merengek, “kalau lo nggak udahan sekarang dandannya, nanti kita telat
masuk ke studio TOP Channel!”
“Sabar dong, Grace,” kataku sok tenang, padahal aku grogi setengah mampus. “Lo sih nggak
tau gimana penampilan gue pas terakhir ketemu Dylan! Waktu itu gue ancur banget, makanya
sekarang gue mau nongol dengan penampilan yang bagusan dikit.”
Aku mengambil tas selempang mungil dari lemariku, lalu memasukkan HP, dompet, dan
bedak compact.
“Nah, ayo berangkat.”
Grace keluar dari kamarku dengan tampang manyun. Dandanannya hari ini asal banget,
cuma kaus putih dan celana jins selutut plus sandal. Ya ampun, anak ini nggak bisa apa ya dandan
manis sedikit aja?
* * *
Perjalanan ke studio TOP Channel lumayan lancar. Aku dan Grace bisa sampai ke sana dalam
waktu satu jam (kalau macet, mungkin besok pagi kami baru sampai!). Waktu kami sampai,
tempat parkirnya sudah lumayan penuh, dan aku bisa melihat buanyaaakkk banget cewek yang
ada di dekat pintu masuk studio. Whew! Bisa-bisa bakal ada aksi gencet-gencetan kayak waktu di
Cheerful Paradise nih!
Hmm... aku kasih tau satu rahasia nih ya: harusnya acara ini pakai tiket, tapi karena kakaknya
Grace punya teman yang kerja di TOP Channel, kami nggak perlu beli tiketnya! Aduh, nggak tau
deh gimana nasibku kalau nggak ada Grace. Pastinya, kalau aku bukan temen Grace, dulu juga
aku pasti nggak mungkin kenal sama Kinar dan bisa ketemu Dylan di SMA 93.
“Nah, lo mau masuk sekarang apa ntar nih?” tanya Grace.
“Ya sekarang dong, biar kita bisa dapat tempat yang pewe!”
Grace manggut-manggut, lalu menarikku menjauh dari pintu masuk studio.
“Lho, hei... kita mau ke mana nih? Pintu masuknya kan di depan situ, Grace?” panggilku
bingung.
“Ya emangnya lo mau nunggu di situ sampai pintunya dibuka? Mau ikut ngantre juga? Apa
gunanya dong gue kenal sama Mbak Sasa?” seru Grace.
Mukaku kontan panas. Iya juga ya, kan Grace kenal sama Mbak Sasa, yang kerja di TOP
Channel itu, ngapain juga kami harus ngantre di pintu depan?
Aku dan Grace berjalan melalui koridor yang lebar dan mewah, sampai ke sebuah pintu
kaca. Grace memencet bel yang ada di samping pintu kaca itu, dan beberapa saat kemudian
seorang cewek berambut panjang yang manis muncul di ambang pintu.
“Haiii... Grace! Aduh, sori... lama nungguinnya, ya?”
“Ah, nggak kok, Mbak. Ini juga baru datang.” Grace nyengir. “Oh ya, kenalin, ini temenku,
namanya Alice. Alice, ini Mbak Sasa, temennya Kak Julia.”
Aku menjabat tangan Mbak Sasa, dan langsung minder sendiri. Ya ampun, biarpun udah
dandan begini, kayaknya aku masih kalah cantik aja nih sama Mbak Sasa... Belum lagi nanti sama
puluhan cewek lainnya yang bakal nonton acara ini. Kayaknya kemungkinan aku menarik
perhatian Dylan cuma satu banding sejuta deh...
“Emm... Skillful-nya udah dateng, Mbak?” tanya Grace setengah berbisik.
“Udah. Lagi siap-siap tuh di dalam.” Mbak Sasa tersenyum. “Kamu mau lihat?”
Refleks, aku meremas tangan Grace. Gila, kalau sama cewek ini, kayaknya akses menuju
Dylan selalu mulus dan lancar. Koneksinya ada di mana-mana!
“Boleh. Ini nih si Alice yang suka banget sama Skillful. Barusan berapa hari yang lalu dia
hoki banget dapat kesempatan jadi pesertanya Pacar Selebriti sama Dylan.”
“Oh ya?” Mata Mbak Sasa melebar. “Kamu beruntung banget! Skillful tuh termasuk seleb
yang ramah banget lho! Apalagi Dylan, pokoknya nggak ribet kalau mau minta mereka
manggung, makanya TOP Channel sering mengundang mereka.”
Aku manggut-manggut mendengar omongan Mbak Sasa.
“Ya udah, kalau gitu sekarang Mbak antar kalian ke dalam studio aja, ya? Lumayan kan bisa
ketemu sama Skillful-nya dulu sebelum manggung? Alice juga pasti udah nggak sabar pengin
ketemu Dylan, ya?”
Aku mengangguk bersemangat, Mbak Sasa sampai tersenyum melihatku.
Mbak Sasa membawa kami melewati selasar yang terang benderang, dan entah ruanganruangan
apa lagi, sampai akhirnya kami sampai ke studio yang luas dan sejuk. Dan di situ... di
bawah panggung, ada Dylan!
Ya ampun, baru melihatnya dari jauh saja, kakiku sudah lemas.
“Mbak tinggal dulu, ya? Masih ada urusan nih. Met nonton!” pamit Mbak Sasa sambil
menepuk bahuku dan Grace.
“Nah, deketin sana gebetan lo, tanya kenapa dia nggak telepon lo,” bisik Grace setelah Mbak
Sasa menghilang. Kepalanya mengedik ke arah Dylan yang sedang mengobrol dengan seorang
cewek di bawah panggung.
“Ihh... gue malu! Masa gue datang-datang terus nanya „kenapa lo nggak telepon gue?‟ Emang
gue siapa?”
“Ya udah, kalau gitu lo sapa aja dia sono!”
“Nggak ah. Ntar aja kalau dia lihat gue duluan.”
“Yeee... inilah kenapa Indonesia nggak maju-maju! Rakyatnya pada sok malu-malu gini sih!
Malu-malu tapi mau!”
Setengah mengomel, Grace menarikku menuju panggung. Keluhanku diabaikannya, dia
malah terus menarik tanganku. Lima meter lagi Dylan bakal melihatku. Aku harus kabur! Dua
meter... Satu meter...
Terlambat, Dylan sudah melihatku. Ekspresinya kaget banget, tapi sedetik kemudian dia
nyengir lebar.
“Alice! Hai!” Dia menyalamiku. “Hai, Grace!”
Aku bisa merasakan jantungku mendadak jadi hiperaktif, dan tanpa sengaja ekor mataku
menangkap wajah jutek cewek di belakang Dylan. Cewek yang tadi diajaknya mengobrol. Oh ya
ampun, itu Noni! Noni yang owner milis Dylanders itu! Yang bajunya kutumpahi milk tea di pensi
dulu! Arghhhh!!!
“Lagi sibuk, ya, Lan?” tanyaku setengah ketakutan melihat ekspresi nggak suka yang
terpancar di wajah Noni karena aku memutus obrolannya dan Dylan. Atau jangan-jangan dia
sudah sadar kalau akulah orang yang dulu “menodai” penampilannya?
“Sibuk? Oh... enggak, lagi ngobrol-ngobrol aja kok tadi.” Dylan tersenyum, dan aku
mengembuskan napas lega karena melihat Noni menjauh dari kami. Aku nggak tau apa dia masih
mengenaliku sebagai cewek yang pernah menumpahkan milk tea ke bajunya, tapi yang pasti aku
senang karena dia pergi. Wajah juteknya benar-benar membuatku salting!
“Eh, Dylan, Alice penasaran tuh kenapa lo nggak telepon dia!” cerocos Grace tiba-tiba.
Mulutku langsung terbuka lebar mendengar celotehan Grace. Apa-apaan sih anak ini?! Dia mau
membuatku mati karena malu di sini?
Dylan kelihatannya agak kagok ditanyai begitu. “Ehm, sori, Lice... Kertas yang ada tulisan
nomor HP lo itu hilang. Kayaknya jatuh, tapi gue sendiri nggak tau jatuh di mana...” Wajah
Dylan benar-benar menyesal.
“Nggak papa,” kataku serak. Seenggaknya Dylan nggak meneleponku karena kertas itu
hilang, bukan karena dia watu itu minta nomor teleponku karena basa-basi atau apa.
“Gue jadi nggak enak sama lo, Lice,” kata Dylan sambil mengeluarkan HP dari saku
celananya. “Boleh gue minta lagi nomor HP lo? Kali ini gue bawa HP, dan nomor lo bakal gue
simpan di phonebook. Gue jamin gue nggak bakal ngilangin HP gue ini juga.”
Aku tertawa, tapi perutku mulas. Dia minta nomor HP-ku lagi lho!
Aku memberinya nomor HP-ku, dan dia memasukkannya ke phonebook.
“Nah,” Dylan mendongak dan tersenyum, “untuk mencegah hal-hal yang nggak diinginkan,
sebaiknya gue kasih lo nomor HP gue juga. Gimana kalau gue miss call ke nomor lo, nanti lo
simpan nomor gue?”
Aku menelan ludah. Dia menawariku nomor HP-nya! Aku mengangguk, dan Dylan me-miss
call HP-ku.
“Lo nggak ngasih nomor lo ke semua orang, kan?” tanya Grace tanpa tedeng aling-aling.
Aku melotot. Grace ini benar-benar seperti air dan api; dalam kadar sedikit, dia penyelamatku,
tapi kalau berlebihan, dia benar-bena rmembuatku malu!
“Grace,” desisku sungkan.
“Nggak papa,” kata Dylan sabar. “Gue nggak ngasih nomor gue ke semua orang, Grace. Ini
karena... mmm... gue benar-benar nggak pengin lose contact sama Alice lagi. Jadi kalau Alice juga
punya nomor gue kan dia juga bisa kontak gue duluan...”
“Oh. Bagus deh.” Grace manggut-manggut. “Tuh, sekarang lo nggak usah malu kalau mau
telepon dia duluan, Lice,” kata Grace tanpa beban. Apa dia nggak tau dia lagi bikin sobatnya
tengsin berat???
“Jadi...” Dylan nggak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena mendadak ada yang
memanggilnya. Itu Dovan, basis Skillful.
Wow, dia cakep juga! Kalau aja dia belum married, pasti aku...
Stop, Alice! Stoooppppp!
“Kenapa?” tanya Dylan ke Dovan.
“Habis ini pintu masuknya mau dibuka. Kita disuruh kumpul di backstage.”
“Oh. Ya udah, ntar gue nyusul ke sana.”
Dovan mengangguk dan berjalan menuju backstage.
“Alice, Grace, sori ya ngobrolnya cuma bentar. Acaranya udah mau mulai nih. Kalian
nonton, kan?”
Aku dan Grace mengangguk bersamaan.
“Ya udah, kalau gitu ntar kita ngobrol lagi setelah acaranya selesai, ya?” Dylan tersenyum,
dan aku benar-benar terpesona.
Bahkan waktu dia sudah menghilang ke backstage, aku masih bengong karena senyumnya.
Aku memang cewek yang menyedihkan.
BUKAN CUMA NUMPANG LEWAT
GUE baru ngobrol sama Alice.
Dan nggak tau kenapa, gue bener-bener senang ngeliat dia.
Bukan, bukan karena gue hepi bisa terhindar dari Noni yang sebelumnya ngobrol sama
gue dan mengoceh segala macam. Gue senang karena... yah, karena yang datang Alice. Gue
jadi teringat tampang lucunya sewaktu pertama kali melihat gue di Upgraded dan gue bilang
seharian itu kami bakal kencan berdua, hehe...
―Kenapa lo ketawa-ketawa sendiri?‖ Dudy menepuk pundak gue. ―Ayo siap-siap naik
panggung. Nggak bakal lupa lirik lagi, kan?‖
Sialan, Dudy selalu menggoda gue sejak kita tampil di acara Bincang Malam dan
presenternya menyebut gue sebagai vokalis-band-yang-paling-sering-lupa-lirik.
Kadang-kadang gue mikir, gue ini vokalis band macam apa sih? Lirik sering lupa,
interaksi sama penonton juga payah... Untung tampang gue bagusan dikit, kalau enggak, gue
jamin gue nggak bakal keterima jadi vokalis Skillful!
―Nggaaakkk. Gue udah hafal kok sekarang.‖
Dudy nyengir, dan gue beranjak mendekati anak-anak yang sudah berjajar di pintu
menuju panggung. Gue berdiri di sebelah Dovan, dan berdoa semoga pertunjukan ini sukses
dan nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.
Lima belas menit kemudian, gue mendengar presenter menyerukan ―Skillful‖ keraskeras,
dan anak-anak mulai naik satu per satu ke atas panggung. Gue selalu dapat giliran
terakhir kalau naik panggung.
―Selamat malam, semuanyaaaa...!‖ seru gue begitu sudah di panggung, dan teriakan gue
langsung disembut histeria.
Oke, di mana Alice? Dia nggak pulang, kan?
Ah, itu dia, berdiri paling depan, di sebelah kanan panggung. Gue bisa dengan mudah
mengenali warna rambutnya yang cokelat kemerahan di tengah kumpulan orang berambut
hitam itu. Matanya berbinar dan dia tersenyum waktu melihat gue. She looks so sweet...
* * *
Gue mengelap keringat dengan handuk kecil yang ada di dalam travel bag gue, lalu minum
air banyak-banyak. Acara barusan bener-bener heboh, plus gue sempat dikerjain sama
penelepon yang ternyata orang-orang TOP Channel juga. Sialan.
―Ayo semuanya, naik mobil!‖ seru Bang Budy. Gue langsung memasukkan barangbarang
gue yang masih berceceran ke tas.
Lho. Tunggu, gue kan tadi janji mau menemui Alice setelah acara ini?
―Dylan! Kenapa kamu masih diam di situ? Ayo cepat naik mobil!‖ Bang Budy meneriaki
gue.
Gue nggak mungkin ikut mobil Skillful. Gue jadi nggak bisa ketemu sama Alice dong?
Apa kata dia nanti? Dan gue bener-bener pengin ngobrol-ngobrol sama dia...
―Lan, ayo! Mobilnya udah nunggu di luar!‖ sekali lagi Bang Budy meneriaki gue.
Dengan kesal gue mengangkat tas dan beranjak menuju pintu keluar studio, tempat mobil
menunggu dan kami bakal dilarikan diam-diam.
* * *
Mobil sudah melaju mulus di jalan raya. Anak-anak pada tidur semua, Bang Budy juga. Pasti
mereka kecapekan.
Gue mengeluarkan HP dari kantong, dan mencari nomor telepon Alice di phonebook.
Semoga dia nggak marah karena gue ingkar janji buat ketemu sama dia tadi...
―Halo? Alice? Ini Dylan...‖
―Iya, Lan, ada apa?‖
―Mmm... sori, ya, Lice, gue nggak bisa nemuin lo habis konser tadi... Gue udah di mobil
nih, tadi disuruh naik cepat-cepat, jadinya gue nggak sempat nyari lo tadi.‖
―Oh, nggak papa kok.‖
Bohong. Gue bisa menangkap nada kecewa dalam suaranya, dan itu semua karena salah
gue.
―Lice, gue bisa ngerti kalo lo marah. Gue memang salah kok.‖
―Nggak, Lan, gue nggak marah. Gue ngerti kok kalo lo tadi harus cepet-cepet pergi.
Lagian, lo pasti capek banget tadi.‖
Ya ampun, cewek ini bener-bener pengertian!
―Tetap aja gue nggak enak sama lo...‖ Gue terdiam.
Hell, sejak kapan gue jadi speechless di depan cewek gini? Alice bahkan nggak ada di
depan gue, tapi gue kehilangan kata-kata!
―Mmm... gini aja, buat menebus kesalahan gue yang tadi, gimana kalau besok kita
ketemuan?‖
Alice nggak bersuara. Apa dia marah banget sama gue dan udah menutup teleponnya?
Gue emang cowok yang goblok!
―Lice? Alice? Lo masih di sana?‖
―Eh, iya... iya, gue masih di sini kok. Lo... lo serius mau pergi sama gue, Lan? Bukannya
lo sibuk banget? Bulan ini lo ada tur di Kalimantan sama Sulawesi, kan?‖
―Iya sih, tapi kan turnya nggak mulai besok. Besok gue masih free kok. Jadi... gimana?
Besok lo nggak keberatan, kan? Gue janji besok gue bakal datang.‖
Mau dong... Ayolah, bilang mau... Gue bener-bener pengin jalan bareng lo lagi...
―Mmm... Boleh deh,‖ jawab Alice lirih, dan gue nyaris teriak saking senangnya! ―Besok
di mana?‖
Ah, iya, gue belum mikir mau ngajak dia ke mana besok. Gue pengin ngobrol-ngobrol
banyak sama dia, di mana ya enaknya? Pastinya harus tempat yang nggak banyak orangnya,
gue nggak mau di tengah-tengah gue ngobrol sama dia, ada orang yang menginterupsi ngajak
foto bareng atau minta tanda tangan.
Bukannya gue nggak suka dimintain tanda tangan atau diajak foto bareng, tapi kan nggak
enak sama Alice... Gue sudah cukup bikin dia jengkel. Pertama, menghilangkan nomor HPnya,
terus nggak menepati janji menemui dia tadi. Gue nggak bakal kaget seandainya dia
menimpuk gue pakai sandal saking kesalnya dia sama gue.
―Lan? Halo? Besok jadinya di mana?‖
Gue tersentak. Alice masih di seberang sana, dan gue belum ngasih jawaban besok bakal
ngajak dia ke mana.
―Oh... Upgraded aja, gimana?‖ Tiba-tiba nama kafe itu melintas di kepala gue. Kenapa
gue nggak kepikiran dari tadi, ya? Kafe itu kan oke banget buat tempat ngobrol!
―Upgraded? Oh... kafe yang kemarin jadi tempat syuting Pacar Selebriti itu?‖
―Iya. Besok jam... mmm... Oya, lo pulang sekolah jam berapa?‖ Gue baru ingat kalau
Alice masih sekolah, dan besok itu hari Sabtu.
―Sekolah gue libur kok kalau Sabtu,‖ kata Alice.
Bagus. ―Ya udah, kalau gitu... jam sebelas? Mau... gue jemput?‖
Alice diam selama beberapa detik. ―Nggak usah, kan gue bareng Grace...‖
Ya ampun! Gue lupa! Kan tadi gue janjinya mau menemui Grace juga! Dan Alice
beranggapan besok gue juga mengajak Grace!
Gue oke-oke aja sih kalau Grace ikut. Dia kan temennya Alice. Tapi... gue tetap lebih
suka kalau bisa pergi berdua sama Alice...
―Oh... iya, iya,‖ kata gue sok santai. ―Kok gue bisa lupa ya, lo kan bareng Grace. Mmm...
ya udah, kalau gitu besok jam sebelas, ya?‖
―Oke.‖
―Oke. Hati-hati di jalan, Lice. Salam buat Grace.‖
―Iya. Lo juga hati-hati di jalan. Bye.‖
―Bye.‖
Gue memutuskan sambungan telepon, dan mendadak hati gue diliputi euforia berlebihan.
Kenapa gue bisa kayak gini, ya? Apa sudah waktunya gue mulai hubungan baru? Dan apa
gue bener-bener suka sama Alice?
Mungkin dia nggak cuma numpang lewat dalam hidup gue...
Mungkin ini sudah saatnya gue melupakan Karin...
Mungkin.
* * *
Besoknya gue bangun jam sembilan, dan langsung mandi. Tora heran melihat gue, tapi dia
nggak banyak tanya setelah gue bilang gue mau pergi sama Alice. Dia malah senyum-senyum
nggak jelas. Mengerikan.
Jam sepuluh, gue mengeluarkan motor dari carport rumah. Gue sampai di Upgraded
dalam waktu 45 menit, biarpun gue udah ngebut dan lewat jalan-jalan tikus. Nggak tahu deh
sampai kapan Jakarta bakal terlibat kemacetan kayak gini. Naik motor aja susah, gimana
yang naik mobil?
Yeah, itu satu lagi alasan kenapa gue merasa nggak perlu belajar mobil. Atau ini cuma
self defense gue sebagai orang yang nggak bisa nyetir? Nggak tau deh.
Gue memilih meja yang posisinya menghadap pintu masuk, jadi gue bisa melihat kalau
Alice, dan Grace, datang. Gue bersyukur banget karena Upgraded sepi, jadi nggak akan ada
banyak orang yang tau gue di sini.
Masalahnya, gue pengin sebisa mungkin menghindari gosip. Wartawan sekarang suka
aneh-aneh, gue ngobrol sama satu cewek aja bisa dibilang kalau udah jadian. Dan gue nggak
mau Alice nanti jadi nggak nyaman kalau ada gosip seperti itu. Dia kan nggak salah apaapa...
―Makan terus, Bang? Ntar tambah gendut lho...‖
Gue tersentak, dan dengan kaget melihat Alice sudah berdiri di depan gue. Dia cekikikan
melihat sendok strawberry cake yang masih ada dalam mulut gue.
―Hai! Duduk... duduk...‖ Gue mempersilakan dia duduk, dan celingak-celinguk heran
setelah sadar dia datang sendiri. ―Lho, Grace nggak ikut?‖
Alice diam sebentar. ―Oh, Grace lagi ada acara keluarga. Kenapa? Kayaknya pengin
banget ketemu Grace?‖ Alice duduk di depan gue dan tersenyum lucu.
Acara keluarga? Yes! Gue bisa ngobrol berdua sama lo dong?
―Eh. Nggak, bukannya gitu... Kan gue cuma nanya. Jadi... lo tadi ke sini naik apa?‖ Gue
berusaha mengalihkan pembicaraan.
―Diantar Daddy.‖
―Heh?‖ Daddy?
―Mmm... Maksud gue, diantar bokap gue. Sori, habisnya gue kalau manggil bokap gue
gitu sih.‖ Alice kelihatan salting.
―Oh iya, ya, bokap lo kan orang Aussie, hehe... Nggak papa lagi, Lice. Bokap lo
sekarang di mana?‖
―Langsung pergi sama nyokap gue. Tadi kan cuma nge-drop gue di sini aja. Sori ya gue
datangnya telat.‖
―Eh, nggak kok, gue aja yang datangnya kepagian.‖ Gue melirik arloji gue. Masih jam
sebelas kurang lima. ―Oya, lo mau minum apa?‖
Gue memanggil pelayan, yang langsung mendekat dan membawakan buku menu untuk
Alice. Cewek itu membalik-balik buku menunya.
Wah, dia lucu banget siang ini! Pakai bando putih dan kaus plus jins aja sih, tapi gue
bener-bener suka lihat dia tampil sederhana gitu. Agak mirip Karin, tapi rambut Karin lebih
panjang dan warnanya kan hitam...
Stop! Gue nggak boleh mikirin Karin lagi! Nggak boleh!
―Lo sering ke sini, ya, Lan?‖ tanya Alice setelah pelayan pergi. Tadi gue sempat dengar
dia pesan strawberry milkshake plus cheesecake, dan gue seneng mendengarnya. Cewek ini
bukan cewek jaim yang suka sok diet kalau pesan makanan di depan gue! Bagus, itu tandanya
dia cewek sehat, bukan penderita anoreksia atau bulimia. Gue suka nggak ngerti sama cewekcewek
yang menyiksa dirinya sendiri dengan nggak makan. Emangnya mereka nggak lapar,
ya?
―Nggak juga. Jarang-jarang aja kok. Kalau lo?‖
―Gue malah baru dua kali ke sini. Pas ditelepon Mbak Mirna dan dibilang kalau gue
menang Lucky Circle itu, taunya gue kepilih jadi peserta Pacar Selebriti... Kedua kalinya ya
sekarang ini.‖
―Oh. Kalau gitu, lo biasanya nongkrong di mana?‖
―Ya PS. PIM. Biasalah, mal. Tapi nggak terlalu sering juga sih, paling cuma kalau
weekend. Bisa bangkrut gue kalau tiap hari ngemal, hehe...‖ Alice tertawa kecil, dan dia
kelihatan semakin imut.
Pesanan Alice datang, dia langsung meminum strawberry milkshake-nya.
―Eh, Lice, gue masih nggak enak soal kemarin nih. Kan gue udah janji sama lo, tapi
taunya...‖
―Kan udah gue bilang nggak pa-pa. Toh, sekarang udah ketemuan lagi, kan? Lagian
kemarin tuh banyak banget penontonnya, malah ada yang ngebelain nungguin lo sama anakanak
Skillful lainnya segala, gimana lo bisa ngobrol sama gue?‖
―Ah, iya...‖
―By the way, jangan marah ya gue nanya gini, tapi... lo lagi ada gebetan nggak?‖
Gue melongo, tapi langsung tersenyum melihat mata bulat Alice yang menatap gue
lekat-lekat.
Kok lo nggak sadar sih kalau gue lagi menggebet lo?
―Nggg... Nggak tau juga sih, belum ketemu yang cocok. Mau bantu cariin?‖
―Boleh. Tapi gue nggak punya temen yang fotomodel atau bintang iklan lho.‖
―Kalau sama lo aja, gimana?‖
Alice bengong menatap gue. Ya ampun, gue kok jadi ngegombal gini sih? Kesalahan
fatal!
―Ehhh... sori, Lice, maksud gue...‖
―Nggak papa... Nggak papa...‖ Alice meminum milkshake-nya lagi. ―Jadi... habis ini
Skillful mau tur Sulawesi dan Kalimantan sampai tengah bulan?‖
Wow, dia pintar sekali ganti topik pembicaraan!
―Iya. Sampai tanggal delapan belas. Gue baru manggung di Jakarta lagi tanggal dua lima
ntar. Di Hard Rock. Lo nonton, ya?‖
―Yah... gue usahain. Itu kan bukan weekend, Lan, dan besoknya gue sekolah.‖
―Oh. Iya, ya... Tapi kalau misalnya gue mau ketemu lo pas hari sekolah, bisa?‖
―Lo... masih mau ketemu gue lagi?‖ tanya Alice nggak percaya. Matanya membulat, dan
gue senang banget melihat bola mata berwarna cokelat gelap itu.
―Ya mau lah... Gue seneng ngobrol-ngobrol sama lo. Dan lo anaknya easy going, nggak
jaim...‖
―Mmhh... Makasih.‖
Hihi... Alice ini lucu banget! Kenapa gue nggak dari dulu aja sih kenal sama dia?
―Lice, lo udah punya pacar?‖ Tiba-tiba aja mulut gue mengoceh, dan gue sendiri nggak
ngerti kenapa bisa kayak gitu. Ekspresi Alice seolah dia baru melihat hantu. ―Mm... sori
kalau gue salah nanya. Lo nggak usah jawab kalau nggak mau...‖
―Belum,‖ jawab Alice, dan gue hampir nggak bisa menahan diri gue untuk nggak
meloncat-loncat. ―Dan gue nggak marah. Kan tadi lo juga nggak marah waktu gue tanya soal
gebetan.‖
―Iya juga. Jadi kita satu-sama, ya? Dan gue nggak perlu takut ada cowok yang marah
kalau gue sering ketemuan sama lo?‖
―he-eh.‖ Alice mengangguk dengan muka merah dan mulai memakan cheesecake-nya.
Setelah itu gue benar-benar kehabisan kata-kata, dan parahnya, Upgraded malah
memutar lagu Pelangi di Matamu-nya Jamrud!
Mungkin butuh kursus merangkai kata... Untuk bicara...
Duh, lagu ini kok nyindir, ya?
* * *
Gue memasukkan motor ke rumah sambil bersiul riang. Tadi gue menunggui Alice sampai
dia dijemput ortunya di Upgraded, tapi waktu gue berniat mau ketemu ortunya untuk kenalan,
Alice malah melarang gue. Dia bilang, nyokapnya bakal terlalu bersemangat nanti kalau tahu
dia pergi bareng gue, dan bisa-bisa nyokapnya mulai mikir yang aneh-aneh.
Biasa, nyokap gue, kata Alice tadi. Dan gue nurut aja. Gue nggak mau ada gosip apa pun
yang beredar soal gue sama Alice nanti. Malah, gue berniat benar-benar menutupi Alice dari
media. Gue nggak mau kalau sampai orang-orang yang dulu meneror Karin tahu gue lagi
dekat sama Alice dan mulai melancarkan aksi-aksi terornya lagi.
―Ehem! Yang baru nge-date sama anak SMA!‖
Brengsek. Rupanya Tora sudah menunggu gue di pintu depan.
―Gimana acara kencan lo? Seru?‖
―Bukan kencan kok, gue cuma ketemuan sama ngobrol-ngobrol.‖
―Yee... itu juga namanya kencan, tau!‖ Tora memutar bola matanya. ―By the way, gue
berasumsi lo udah dapat lagi nomor HP-nya Alice yang hilang itu. Dari mana?‖
―Iya dapat. Kemarin gue ketemu dia di studio TOP Channel, jadi gue bisa minta lagi
nomornya.‖
Gue mengunci motor yang sudah terparkir aman di samping rumah, dan berjalan
melewati Tora.
―Ehh... Lan, lo serius nih sama Alice? Maksud gue... dia kan masih anak SMA, Lan.
Masih... ‗kecil‘.‖
―Emangnya kenapa? Dia dewasa kok. Nggak childish, kalau itu yang lo maksud dengan
‗kecil‘. Dan bukannya lo sendiri yang nyuruh gue cepet-cepet cari cewek waktu di Ten Ball
dulu itu? Kenapa sekarang setelah gue deket sama cewek, lo malah ribut?‖
―Bukannya gitu.‖ Tora menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. ―Tapi tadinya gue kira
lo mau cari pacar di kalangan seleb juga...‖
Gue menggeleng. ―Punya pacar yang sama-sama seleb bakal lebih gampang ketahuan
sama wartawan infotainment, dan gue nggak suka masalah pribadi gue dikorek-korek terus
ditayangkan di TV.‖
―Memangnya... kalau lo jadian sama Alice, lo bakal backstreet sama dia?‖ tanya Tora
penasaran.
―Mungkin.‖ Gue mengedikkan bahu. ―Gue sendiri masih belum tau mau jalan terus sama
Alice apa nggak. Maksud gue, gue kan baru kenal dia, dan kadang-kadang gue masih suka
tanpa sadar ngebandingin dia sama Karin.‖
Tora diam, tapi gue bisa melihat dia sedang berpikir keras.
―Jadi... si Alice ini, dia cuma pelarian lo?‖
―Bukan gitu.‖ Gue mendesah. ―Gue kan udah lama putus sama Karin, jadi gue bukannya
cari pelarian atau apa, tapi lo tau kan Karin itu pacar pertama gue, dan gue jadian sama dia
lumayan lama, jadinya kalau gue udah kenal sama cewek lain pun gue selalu tanpa sadar
membanding-bandingkan cewek itu sama dia...‖
―Hoo... gue ngerti.‖ Tora manggut-manggut. ―Dan jangan salah sangka, Lan, gue
ngomong gini bukan karena ada maksud apa-apa, cuma gue nggak mau lo ngasih harapan
terlalu muluk sama Alice seandainya lo nggak bener-bener suka sama dia...‖
―Hey! Look who‟s talking about being serious! Taura Siregar!‖ Gue nggak bisa menahan
geli. Jarang-jarang Tora ngomong serius begini. Tapi... kayaknya dia emang nggak lagi
bercanda.
―Masalahnya,‖ Tora meneruskan, nggak terpengaruh celetukan nggak penting gue tadi,
―seperti yang gue bilang tadi, Alice masih SMA. Dia pasti masih mikir yang hepi-hepi aja
kalau pacaran, belum mikir jauh ke depan. Gue takut nantinya dia nggak tahan banting kalau
jadi cewek lo. Lo juga pasti tau yang jadi cewek lo akan punya beban tersendiri, kan?‖
Gue mengangguk. Tora benar. Gue belum kenal Alice, dan gue belum tau banyak
tentang dia. Memang, sejauh ini gue melihat Alice dewasa banget, tapi siapa yang tau sampai
di mana dia sanggup menanggung ―beban‖ sebagai cewek yang dekat sama gue?
―Dipikir baik-baik aja dulu, Lan. Jangan buru-buru. Tapi kalau lo udah yakin kalau Alice
cukup tough untuk jadi cewek lo, gue bisa apa lagi selain ngedukung? Dan lo sendiri harus
meyakinkan diri bahwa lo memang sayang sama Alice. Stop membandingkan dia dan Karin.‖
Tora menepuk bahu gue, lalu menghilang ke dalam kamarnya. Gue cuma bisa
menyimpan semua omongannya barusan dalam pikiran gue. Gue nggak menyangka Tora
ternyata bisa dewasa juga.
* * *
Malamnya, gue nggak bisa tidur. Gelisah. Penyebabnya sudah bisa diduga, semua omongan
Tora beberapa jam yang lalu. Gue jadi seperti punya beban pikiran yang berat, sama seperti
satu hari sebelum gue ikut audisi vokalis Skillful dulu. Waktu itu, gue benar-benar pusing
menimbang untung-ruginya dalam hati. Pertama, yang gue pikirkan jelas kuliah gue. Dan
isyarat-isyarat kurang setuju dari Mama dan Papa yang secara samar bisa gue tangkap setiap
kali gue bilang mau jadi penyanyi dan hidup dari situ. Kedua, gue mikirin Karin. Dia
mendukung gue 100%, tapi gue tau dengan jelas dukungan itu pasti akan terkikis sedikit demi
sedikit setelah dia tau apa saja dampak dari gue jadi terkenal.
Sekarang gue dihadapkan pada situasi yang berbeda. Nggak ada profesi atau cita-cita
yang harus gue pilih, gue cuma perlu memastikan apa perasaan gue ke Alice, apa ini cuma
have fun, atau gue bener-bener serius.
Oke, gue tau caranya. Pikirkan aja apa ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta, dan apa
gue mengalami ciri-ciri itu atau nggak.
Orang jatuh cinta, biasanya... deg-degan kalau ketemu.
Gue deg-degan kalau ketemu Alice. Euforia berlebihan, malah.
Terus, orang jatuh cinta... selalu kepikiran orang yang ditaksirnya itu.
Gue kepikiran Alice terus. Ini juga lagi mikirin dia. Berarti gue jatuh cinta, kan?
Tapi... gue jadi teringat omongan Tora tadi. Dia benar, Alice masih... ―kecil‖. Kalau
pacaran, dia pasti cuma mikir hepi-hepi. Dia nggak akan berpikir pacaran sama gue berarti
dia harus menanggung risiko ―dinilai‖ para Dylanders. Dan mungkin jadi musuh para fans
psycho macam Noni. Plus, dia bisa diteror juga seperti Karin dulu... Apa Alice bakal sanggup
menahan semua itu?
Belum lagi... kalau Alice masih kelas satu SMA,d ia pasti masih umur... berapa, ya?
Enam belas mungkin. Paling banter tujuh belas. Dan gue? Dua-empat. Bagus, bedanya aja
udah delapan tahun. Apa nanti ortunya bakal setuju dia pacaran sama gue? Apa Papa-Mama
bakal percaya saat gue bilang gue ini serius sama Alice?
Tapi di atas semua itu, gue sangat menikmati saat-saat gue ada di dekat Alice. Gue
senang banget ngobrol sama dia, dan rasanya gue nggak punya masalah yang harus
diselesaikan setiap kali melihat senyumnya... Dia membuat gue bisa menjadi diri gue
sendiri... Dia bisa membuat gue tertawa lepas, satu hal yang tanpa sadar nggak pernah gue
alami lagi sejak putus sama Karin...
Dan gue nggak mau kehilangan semua itu lagi...
DIA NAKSIR AKU?
NGGAK MUNGKIIINNN...
(MUNGKIN AJA, LAGI!)
KALAU ada yang menabok pipiku sekarang, aku nggak bakal marah. Bener deh. Aku malah lagi
butuh banget orang yang bisa membangunkan aku sekarang, sekadar mengingatkan aku cuma
berkhayal muluk, sebelum khayalanku terbang lebih tinggi dan aku bakal semakin sakit kalau
jatuh nanti.
Masalahnya, samapi sekarang aku belum juga percaya aku baru pergi bareng Dylan!
Hoaaaaa... beneran Dylan yang itu! Yang vokalis Skillful itu!
Hadooohh... kayaknya masa-masa kesuramanku sudah berakhir nih! Ramalan Madam
Fortune itu ternyata bener banget, aku memang awalnya punya banyak banget halangan untuk
dekat sama Dylan, tapi gara-gara keberutungan superbesar (yang nggak mungkin kusebut kecil)
berupa acara Pacar Selebriti itu, aku jadi bisa pergi berdua sama Dylan! Dan aku sekarang punya
nomor HP-nya! Dan dia juga secara nggak langsung bilang diamau pergi sama aku lagi next time!
Dan boleh nggak sih aku ge-er sedikit? Kayaknya dia suka sama aku deh...
Yes! Yes! Yes!
Pikiranku kembali melayang ke acara pertemuan di Upgraded itu lagi. Dylan hari ini banyak
diamnya, padahal biasanya kan aku yang cuma bisa bengong kalau ketemu dia. Dan, seperti biasa,
dia selalu kelihatan ganteng banget! Rasanya tadi aku nggak erla waktu Mama meng-SMS dan
bilang aku udah mau dijemput dari Upgraded. Aku juga nyaris tergoda tawaran Dylan yang
katanya nggak keberatan mengantarku pulang, tapi lagi-lagi aku takut bakal jadi bahan gosip
tetangga. Bu Parno, yang tetangga sebelah rumahku itu, kan mulutnya kayak keran rusak, ngocor
mulu nggak bisa direm. Apa jadinya kalau dia melihat aku pulang diantar Dylan? Jangan-jangan di
arisan PKK yang akan datang, namaku bakal disebut-sebut seratus kali sama dia! Idih, nggak deh!
Mobilku sampai di rumah, dan aku langsung berjalan masuk kamar. Kayaknya aku masih
terbang di awang-awang deh, seneng banget sih habis pergi berdua sama Dylan tadi!
Oke, kayaknya aku norak banget, pergi sama cowok aja kok bisa girang begini. Tapiiii...
cowok yang pergi sama aku ini kan bukan cowok biasa! Ini cowok yang punya ribuan die-hard fans
dan groupies di seluruh Indonesia, cowok yang mungkin ada di impian tiap cewek seumuranku!
Dan aku pergi sama dia! Aku!
Eh, HP-ku bunyi. Ada SMS masuk.
From: Dylan
Lice, sng bgt td bs jln sm lo. Bsk jln lg yuk, mau ngk?
Hah?! Aku beneran nggak hidup di alam khayalku, kan? Dylan ngajak aku jalan LAGI?
Serius deh, ini mimpi bukan sih?
Dan aku bakal jadi cewek terbego sedunia kalau menolaknya.
To: Dylan
Hai, gw mau kok kl bsk jln lg. Mo kmn? Tp di ats jam 11 ya,
kan paginya gw hrs grj dlu.
From: Dylan
Oke, gw jg bsk grj pagi kok =) Tp gw mo ajk lo ke tmpt yg
agk jauh nih, jd mgkn plgnya di atas jam 6. lo senin ngk ad
tes atau tugas kan?
Tempat yang agak jauh? Dia mau ngajak aku ke mana? Dan soal tugas... aduh! Aku kan
harus menyelesaikan tugas fisikaku! Dan PR matematika itu! Kalau aku mau pergi sama Dylan
besok, berarti aku harus menyelesaikan semuanya malam ini dong? Padahal aku capek banget,
penginnya sih mandi air hangat terus tidur. Tapi demi bisa pergi sama Dylan... rela deh begadang!
To: Dylan
Emgnya mo kmn siy? Gw ada deadline tgs siy hr senin, tp bs
gw krjain mlm ini kok.
Sambil menunggu SMS balasan dari Dylan, aku ganti pakaian dan membersihkan muka. SMS
balasannya masuk waktu aku mulai menyalakan komputer.
From: Dylan
Ada dehhh. Pkkny bkl seru hehe. Ya dah lo krjain tgs lo dlu
aj. Good night ;)
Aku duduk di depan komputerku, mulai membuka-buka buku teks fisika, tapi aku sama
sekali nggak konsen. Lima belas menit berikutnya juga yang terpampang di monitor komputerku
masih judul tugas dan soal-soal yang kuketik ulang.
Dylan besok mau mengajakku ke mana ya?
Aku tambah nggak konsen. Sebodo amat deh sama tugas fisika dan PR matematika, ntar hari
Senin nyontek punya Grace aja!
Ehhh... tapi dia ngerjain nggak ya?
* * *
“Kamu bener mau ditinggal di sini?” tanya Mama nggak percaya.
“Iya, Ma. Tinggalin aja nggak pa-pa kok. Bentar lagi juga Grace datang.”
“Tapi di mana dia, kok belum datang juga?” Daddy melirik arlojinya, dan aku jadi merasa
bersalah.
Masalahnya, kemarin malam Dylan SMS lagi, katanya mau jemput aku hari ini. Dan seperti
yang sudah kubilang, aku nggak mungkin minta jemput di rumah, soalnya pasti banyak yang
menginterogasi, mengintip, penasaran, dan sebagainya kalau ada seleb sekelas Dylan muncul di
depan rumahku (Bayangin aja reaksi Bu Parno! Pasti Mrs. Infotainment itu bakal histeris melihat
artis di depan jendela rumahnya! Huh!). Belum lagi kalau naluri Daddy sebagai seorang papa yang
cemburu lihat anak ceweknya mulai dekat sama cowok muncul, ugh... nggak jamin deh kalau aku
bakal bisa pergi sama Dylan!
Jadi, setelah memutar otak semalaman, aku dapat jalan keluar yang, menurutku, lumayan
oke. Aku mengarang cerita sepulang gereja aku mau pergi bareng Grace, dan anak tengil itu bakal
menjemputku di kafe di seberang gereja, jadi aku nggak pulang sama Mama dan Daddy. Padahal
sih... Dylan yang kuminta menjemputku di situ, hehe...
Aku benar-benar anak yang berdosa deh.
“It’s okay, Dad,” kataku sok santai, padahal aku deg-degan juga kalau tau-tau Dylan muncul
di depan kami semua. “She’ll be here in five minutes.”
“Oh. Ya sudahlah. Daddy sama Mama pulang dulu.”
Daddy mencium pipiku, dan aku melambaikan tangan sewaktu mereka menghilang ke
lapangan parkir. Nah, sekarang tinggal tunggu Dylan datang!
“Bokap lo bisa bahasa Indonesia, ya?” tanya suara di belakangku. Aku langsung menoleh
dan tersentak. Dylan?!
“Lo... dari tadi di sini?” tanyaku nggak percaya. Dylan tersenyum dari balik topinya. Dia
kelihatan ganteng banget dengan polo shirt hijau dan topi army-nya itu.
“Nggak juga. Baru lima menit. Gue lihat dari sini, kebaktian lo belum selesai, jadi gue parkir
motor dan gue tunggu di sini.”
“nggak ada yang... Nggak ada yang ngenalin lo?”
Dylan tertawa. “Nggak. Kan ada ini,” katanya sambil menunjuk topinya.
Iya juga, dia kelihatan lain kalau pakai topi. Aku aja tadi mungkin terkecoh sama
penampilannya. Buktinya, aku sudah hampir sepuluh menit berdiri di kafe ini, tapi sama sekali
nggak sadar dia berdiri di dekatku.
“Yuk, mau pergi sekarang?”
Aku mengangguk, tapi pertanyaan yang kusimpan dari tadi malam nggak bisa kutahan lagi.
“Memangnya kita mau ke mana sih?”
“Ada deh. Kan udah gue bilang rahasia. Ntar juga lo tau.” Aku bisa melihat Dylan nyengir
dari balik topinya, lalu aku membuntutinya ke tempat parkir sepeda motor.
“Ehh... Lice, nggak papa kan kalau kita naik motor? Soalnya... gue nggak bisa nyetir mobil,
jadi...”
Hah? Dylan nggak bisa nyetir mobil? Aku bengong dengan suksesnya.
Masalahnya, sejak SMP tuh teman-teman cowokku aja udah bisa nyetir mobil. Apalagi anakanak
sekelasku sekarang. Oscar, Moreno, Mario, dan yang lainnya malah pada bawa mobil sendiri
ke sekolah.
Tapi sebodo amat deh, yang mereka bawa ke sekolah itu kan mobil bokap mereka, bukan
mobil pribadi. Kalau Dylan, aku yakin banget kalau dia sanggup beli mobil dengan koceknya
sendiri, cuma dia nggak bisa nyetirnya...
Dan siapa yang butuh naik mobil kalau bisa boncengan motor sama Dylan? Kalau naik
mobil aku kan nggak bisa peluk dia, tapi kalau naik motor, hehe... aku bisa pura-pura pegangan,
padahal sebenarnya aku meluk dia! Cihuy!
“Lice?” panggil Dylan. “Lo... nggak papa? Sori ya kalau lo...”
“Ah, gue oke-oke aja kok naik motor,” jawabku sambil tersipu gara-gara bayanganku
memeluk Dylan tadi. Baguuusss... sekalian aja membayangkan kami nonton film horor dan aku
pura-pura ketakutan jadi bisa peluk dia!
“Oh. Oke. Ini helm lo.” Dylan mengulurkan helm full face berwarna merah yang kayaknya
masih baru.
“Ini baru, ya?” tanyaku geli.
“Eh... iya. Baru beli kemarin.” Ya ampun, pipi Dylan merah! Hihi... lucu!
“Khusus buat gue?” Aku nggak tahan nggak menggoda Dylan.
“Yah... begitulah.” Dylan memalingkan muka, jadi aku nggak bisa melihat pipinya memerah
lagi atau nggak, but I bet he does. “Naik, Lice.”
Aku memakai helm full face itu dan naik ke boncengan motor Dylan.
* * *
Ya ampun.
Percaya nggak, Dylan mengajakku ke Taman Safari!
He-eh, Taman Safari Bogor yang ada binatang-binatangnya itu!
Pertamanya aku sempat bengong waktu motor yang dikendarai Dylan ini melewati jalanjalan
yang sama sekali nggak pernah kulihat sebelumnya, tapi belakangan aku ngeh kami ternyata
melewati jalan di luar jalan tol (Aku sempat ngeri sendiri, jangan-jangan Dylan berniat yang
nggak-nggak, aku kenal dia kan belum lama, dan dia kan COWOK! Tapi ternyata kecurigaanku
nggak beralasan, dan aku cuma bisa nyengir bego waktu kami melewati gerbang yang terbentuk
dari dua gading raksasa buatan bertaut. Mana mungkin sih Dylan mau berniat jahat di TAMAN
SAFARI?! Plis deh...)
“Kaget, ya?” tanya Dylan sambil melepas helmnya. Kayaknya dia bisa melihat tampang
kagetku begitu tahu kami ada di mana sekarang.
“Eh... lumayan. Nggak kaget-kaget banget sih, cuma nggak nyangka aja lo mau ngajak gue ke
sini.”
“Tapi lo nggak keberatan, kan?”
“Nggak. Gue malah sebenernya pengin ke sini. Udah lama banget gue nggak ke Taman
Safari...”
Dylan tersenyum, dan memakai lagi topi yang sepanjang perjalanan tadi disimpannya di
dalam tas ranselnya.
“Yuk, masuk sekarang?”
* * *
Karena nggak bawa mobil pribadi, akhirnya kami naik bus Taman Safari. Begitu penumpang
penuh, bus berangkat.
“Iiihhh...,” aku memekik waktu binatang sejenis unta yang entah apa namanya itu mendekat
dan menjilat kaca jendela di sisiku. Dylan tertawa.
“Tenang aja, kan cuma kacanya yang dijilat, bukannya kamu.”
“Kamu?” tanyaku heran. Kok tumben dia bilang “kamu”? Biasanya juga dia bilang “lo-gue”!
Apa ini pertanda kalau... Hah?!
“Mmm... kalau misalnya kita sekarang ngomongnya pake aku-kamu nggak papa, kan?” tanya
Dylan dengan suara pelan, pipinya memerah. Aku melotot.
“Eh... itu... ya nggak papa sih...”
Aku salting, dan akhirnya malah mengalihkan pandanganku ke luar jendela bus Taman Safari
yang sedang kami naiki.
Gila, jangan-jangan Dylan beneran naksir aku!
Ah... nggak mungkin ah!
Aku kan cuma cewek biasa yang nggak punya kelebihan apa-apa. Sementara Dylan tinggal di
dunia yang penuh cewek cantik yang tinggal dia tunjuk kalau dia mau salah satunya. Ngapain juga
dia milih aku?
Bus mulai melewati area hewan-hewan buas. Beruang madu, harimau, singa, semuanya
dilewati satu per satu, tapi aku sama sekali nggak bisa memusatkan perhatianku ke situ. Kayaknya
otakku sudah overload sama pertanyaanku tentang Dylan.
Setelah melewati kumpulan gajah, bus berhenti di taman bermain yang ada di akhir Taman
Safari. Di sekitar permainan-permainan ini banyak banget orang yang menjual makanan. Perutku
langsung berdangdut-ria melihat penjual nasi gila dan macam-macam makanan lainnya, tapi aku
gengsi di depan Dylan kalau bilang aku lapar!
Sssttt... mana kemarin waktu di Upgraded, aku keceplosan pesan cheesecake dan strawberry
milkshake di depan Dylan! Suer, aku malu banget! Dan kayaknya Dylan senyum-senyum gitu pas
mendengar apa yang kupesan! Aduh, nggak banget deh kalau aku makan banyak lagi di depan
dia, jangan-jangan nanti dia ilfil! Yang di Upgraded itu anggap aja dispensasi deh, soalnya kemarin
aku grogi banget mau pergi berdua sama Dylan sampai nggak sempat sarapan, dan akibatnya aku
jadi kelaparan di Upgraded!
Ini juga gara-gara ide gila Grace yang pura-pura ada acara keluarga dan nggak mau
menemaniku! Katanya sih, dia pengin membuka jalanku sama Dylan, biar kami bisa berduaan.
Dan dia juga bilang dia nggak mau jadi kambing congek! Huh!
But I really thanked her... Kalau bukan karena ide gilanya, nggak mungkin kemarin aku bisa
ngobrol-ngobrol berdua sama Dylan. Dan mungkin Dylan juga nggak akan mengajakku pergi lagi
hari ini kalau bukan karena dia senang pergi sama aku. Uhuy!
“Lice, makan yuk?”
Aku terperangah. Makan?
“Tuh, ada yang jual hamburger sama hot dog! Atau kamu mau makan nasi? Eh... ada yang jual
es krim juga!” Dylan kedengarannya riang banget melihat semua penjual makanan itu. “Kamu
mau makan apa?”
Tuh kan... Dia nanya, lagi! Makan... enggak...makan... enggak...
“Mmm... Es krim aja deh, kayaknya enak panas-panas gini makan es krim.”
Ya ampun, kapan sih aku berhenti berbuat tolol? Panas apanya? Ini kan Cisarua!
Tapi Dylan percaya-percaya aja sama omonganku yang asli ngaco itu, dan malah mengajakku
ke tempat penjual es krim.
“Kamu mau es krim apa?”
“Conello cokelat.”
“Oke. Conello cokelatnya dua, Bang,” pesan Dylan ke penjual es krim, dan dia ngotot
membayari es krimku.
Kami duduk di bangku yang ada di bawah pohon, dekat permainan sepeda gantung. Dylan
membuka bungkus es krimnya dan memakan es krim itu dengan santai, sementara aku benarbenar
kehilangan kontrol atas detak jantungku. Gila, kalau kayak gini terus kayaknya aku bakal
kena serangan jantung dan mati muda nih!
“Kamu keberatan nggak kalau aku cerita sesuatu?” tanya Dylan tiba-tiba.
“Nggak. Nggak papa, cerita aja...”
“Aku sebenernya nggak mau bawa-bawa kamu dalam masalah pribadiku, Lice, tapi... nggak
tau kenapa, aku seneng banget ngobrol sama kamu. Rasanya kalau aku udah cerita ke kamu, aku
jadi lega.” Dylan tersenyum dan menatapku lurus-lurus. Aduuuhhh... tolooonggg! Senyumnya
itu... nggak nahaaaannnn!
“Aku juga seneng kok kalau kamu mau cerita sama aku, Lan,” jawabku kagok. Suaraku
terdengar kecil dan mencicit seperti suara tikus.
“Thanks ya.” Dylan menghela napas. “Kamu tau apa ketakutanku yang paling besar?”
“Kehilangan fans?”Aku sok bercanda, tapi Dylan cuma tersenyum pahit dan menggeleng.
Ups, the wrong joke in the wrong time!
“Aku paling takut mengalami kesalahan yang sama.”
Aku mengernyit. “Kesalahan apa?”
“Apa aja. Tapi aku paling takut kalau orang-orang tau aku dekat sama seorang cewek, dan
cewek itu jadi bulan-bulanan media. Atau orang-orang yang nggak suka aku dekat sama cewek
itu...”
“Maksudmu... kalau kamu punya pacar dan orang tau tentang itu? Juga kalau ada orang yang
benci sama pacarmu itu dan jadi menerornya?”
Dylan menatapku heran, dan aku baru sadar aku salah bicara.
Ya Tuhan... kenapa otakku selalu korslet di saat-saat genting begini sih?!
“Mmhhh... maksudku, kamu...”
“Kamu tau dari siapa kalau pacarku yang sebelumnya diteror?”
Aduh! “Bukannya gitu, tapi aku...” Aku menghela napas dalam-dalam. Nggak ada gunanya
bohong, toh nanti juga Dylan pasti bisa melihat aku bohong. “Kinar pernah bilang kamu dulu
pacar kakaknya, tapi kalian udah putus... Dan Kinar juga pernah cerita ke Grace kakaknya...
mmm... sering dapat surat kaleng dan SMS iseng sejak kamu gabung sama Skillful dan orangorang
tau kakak Kinar itu pacarmu...”
Dylan menyandarkan punggungnya ke bangku taman, nggak menghabiskan es krim yang ada
di tangannya. Aku juga kehilangan selera makanku.
Gawat! Apa dia marah gara-gara aku kelewat tau urusan pribadinya, ya? Aduhh... janganjangan
kalau dia marah, dia bakal meninggalkanku di Taman Safari sendirian! Aku kan nggak tau
jalan pulang dari sini, gimana dong? Dan apa jadinya kalau aku menelepon Daddy untuk minta
dijemput di Taman Safari, sementara Daddy tadi tahunya aku pergi sama Grace? Aduh, Tuhan,
tolong! Aku bener-bener kualat karena sudah bohong sama ortuku!
Dan mendadak aku ingat satu hal yang lebih gawat lagi jangan-jangan gara-gara semua
omonganku barusan, Dylan jadi mengira Kinar “ngember” ke teman-temannya soal hubungan
Dylan dan Karin dulu! Haduuuuhhhh!!!
“Eh, Dylan, aku tau semua ini bukan karena Kinar ngember atau apa lho,” kataku gugup,
jantungku jungkir-balik dengan perasaan bersalah. “Sebenernya Kinar ngomong itu cuma ke
Grace, dan Grace cerita ke aku karena... karena...”
Aku nggak mungkin bilang Grace memberitahuku semua itu biar aku nggak berharap terlalu
muluk jadi pacar Dylan, kan? Ya ampun, ini jalan buntu!
“Nggak papa, Lice, aku tau Kinar bukan orang yang seperti kamu takutkan itu kok. Aku kan
kenal dia lumayan lama.”
“Oh. Iya...” Aku menunduk, nggak berani menatap Dylan.
“Dan karena kamu udah tau garis besar ceritanya kayak apa, aku jadi nggak perlu ngejelasin
semuanya dari awal ke kamu.”
Suara Dylan terdengar geli, jadi aku memberanikan diri mendongak.
“Kamu... nggak marah sama aku?”
“Marah? Kenapa aku harus marah sama kamu?”
“Ya kan aku...”
“Kamu nggak cerita tentang semua yang dibilang Kinar itu ke orang lain, kan?” potong
Dylan. Aku cepat-cepat menggeleng. “Nah, kalau gitu, aku nggak punya alasan buat marah sama
kamu. Aku kan nggak bisa marah sama orang atas apa yang mereka dengar.”
Aku manggut-manggut tolol.
“Jadi... itu yang paling aku takutkan, Lice. Aku takut hal yang sama bakal terulang,” kata
Dylan sedih. “Dan kalau sekarang aku dekat sama kamu... Tolong, jangan cerita ke siapa-siapa,
ya? Kamu boleh cerita ke Grace, tapi jangan ke orang lain lagi. Aku nggak mau kamu kenapanapa.
Sori, tapi ini semua demi kamu juga...”
Dylan bangun dari kursi taman yang kami duduki, lalu membuang es krimnya yang nggak
habis ke tempat sampah. Setelah itu dia mendekat ke arahku... dan tangannya menyentuh ujung
bibirku.
“Es krimmu cemot di bibir,” katanya geli, seolah dia nggak habis membicarakan hal serius
yang bikin aku pusing tujuh keliling.
Kalau sekarang aku dekat sama kamu...
Kalau sekarang aku dekat sama kamu...
Maksudnya...? Apa maksudnya...?
“Lice?”
“Eh?! Iya?!” Aku terlonjak.
“Kita masuk ke rumah hantu, yuk?”
* * *
“Gue cuma bisa bilang „wow‟,” seru Grace di telepon. “Lo bener-bener gila, Lice! Tau nggak, tadi
waktu ortu lo telepon gue dan nanya jam berapa gue bakal nganter lo pulang, gue bener-bener
shock! Apalagi HP lo nggak bisa dihubungi!”
“Ya gue kan di tengah-tengah Taman Safari, di sana mana ada sinyal?” aku ngeles.
“Iya tapi kan seenggaknya kemarin atau tadi pagi lo bisa bilang lo bohong sama ortu lo,
jadinya gue nggak kaget kayak tadi waktu ortu lo telepon! Untung aja gue banyak akal dan bilang
kalau kita lagi makan dan HP lo low batt. Untungnya lagi, ortu lo nggak minta ngobrol sama lo!
Coba kalau iya, mampus deh gue!” Grace menyerocos.
“Iya, iya... sori deh... Habisnya tadi pagi tuh yang kepikiran di otak gue cuma gimana cara
Dylan nggak jemput gue di rumah, jadinya gue kelupaan mau ngasih tau lo...”
“Hmm... Ya udahlah. Oya, terus tadi gimana caranya Dylan nganterin lo pulang?”
“Ya dia nurunin gue di portal, terus gue jalan sampai ke rumah.”
“Ortu lo nggak curiga?”
“Ya curiga lah! Nyokap nanya, „mana Grace?‟ soalnya kan dikiranya lo yang nganter gue
pulang.”
“Terus lo bilang apa?”
“Gue bilang lo sakit perut, jadi buru-buru pulang dan gue diturunin di portal!”
“Siaul! Nggak bonafid banget sih alasan lo!” omel Grace.
Aku cengengesan. “Tau nggak, habis gue bilang gitu, Nyokap bilang apa?”
“Apaan?” Nada suara Grace masih terdengar jengkel.
“Katanya, „kok Grace nggak disuruh pakai kamar mandi kita dulu aja sih? Kan kasihan dia
kalau harus nahan sakit perutnya sampai rumah. Rumah Grace kan jauh‟ hoahahaha...!
“Aliiiiiccceeeee...! Kurang ajar lo! Bener-bener anak durhaka!”
“Haha... maap... maap...” Aku menghapus titik air di sudut mataku yang menetes gara-gara
aku kebanyakan tertawa.
“Lo yang senang-senang sama Dylan, gue kena imbasnya,” Grace menggerutu. “Tapi nggak
papa deh, gue senang kalau lo hepi, Lice.”
Aku berhenti tertawa. “Trims, ya, Grace. Kalau bukan karena lo, mungkin...”
“Udahlah. Yang penting sekarang lo ingat apa omongannya Dylan, lo nggak boleh ngember
ke mana-mana kalau lo sekarang deket sama dia.”
“Iya, gue ingat kok. Lo juga jangan cerita siapa-siapa, ya?”
“Tenang aja, Bos! Gue kan nggak mau lo sampai diteror. Jujur aja, gue dulu ngenes kalau
ingat kondisinya Mbak Karin menjelang dia putus sama Dylan. Gue nggak mau lo kayak gitu
juga.”
“Moga-moga nggak deh.” Aku menelan ludah.
“Tapi yang gue nggak ngerti, kenapa ada orang yang sampai segitu tega, ya? Maksud gue, toh
mereka nggak bisa juga ngedapetin Dylan dengan cara kayak gitu...”
“Gue juga bingung. Tapi udahlah, nggak usah dipikirin lagi.”
“Ehhh... sebentar! Out of topic nih, jangan kira gue ikhlas melihat image gue jeblok di mata
nyokap lo, ya! Pokoknya besok gue mau makan pangsit bakwannya Pak Amboi dua porsi, dan lo
yang bayar!”
Hah?!
SURPRISE?!
Always said I would know where to find love
Always thought I‟d be ready and strong enough
But sometimes I just felt I could give up
But you came and you changed my whole world now
I‟m somewhere I‟ve never been before
Now I see... What love means...
It‟s so unbelievable... And I don‟t wanna let it go
It‟s something so beautiful, flowing down like a waterfall
I feel like you‟ve always been forever a part of me
And it‟s so unbelievable to finally be in love
Somewhere I never thought I‟d be...
(Unbelievable – Craig David)
GUE sudah memutuskan mengejar Alice. Semuanya sudah benar-benar gue pikirkan, kalau
lo mau tau. Dan gue tipe orang yang menganut moto ―di mana ada kemauan, di situ ada
jalan‖. Toh, gue nggak berniat married sama Alice dalam waktu dekat (yang benar aja!), dan
kita masih punya banyak waktu untuk mencoba. Nah, ―mencoba‖ yang gue maksud di sini
bukan menjalani hubungan dengan iseng dan tanpa tujuan lho ya. ―Mencoba‖ yang gue
maksud adalah lebih saling mengenal dan belajar mengerti pribadi satu sama lain, dan
nantinya, kalau berhasil, bisa beralih ke hubungan jangka panjang.
Gue akui, hubungan gue sama Alice memang banyak halangannya. Tapi tetap aja, gue
bener-bener sayang sama dia. Love conquers all. Dan sekarang yang penting adalah, gue
nggak mau Alice sampai kenapa gara-gara gue. Pokoknya nggak boleh ada yang tau dia dekat
sama gue. Apalagi infotainment. Juga Dylanders. Pokoknya siapa pun.
Bukannya gue takut kehilangan fans atau apa, tapi gue sama sekali nggak tau Dylanders
mana yang bener-bener baik, dan mana yang psycho. Kalau tau hidup gue bakal seribet ini,
mungkin dulu gue nggak bakal ikut audisi vokalis Skillful. Mungkin gue bakal hepi-hepi aja
jadi mahasiswa fakultas hukum yang suka nyanyi di kafe-kafe.
Tapi kalau nggak gara-gara jadi vokalis Skillful, gue juga nggak mungkin kenal Alice,
kan?
―Lan, ini schedule lo.‖ Mas Tyo, salah satu kru Skillful, menyodorkan selembar kertas ke
gue. Jadwal Skillful di Balikpapan, 5 September 2006. Flight dari Cengkareng jam setengah
tujuh pagi, sampai di Balikpapan dan istirahat. Check sound jam empat sore, manggung jam
dua belas malam. Ckckck... kafe, sih!
Gue melipat kertas schedule itu dan memasukkannya ke kantong, lalu mengeluarkan HP.
Hehe... foto Alice yang jadi wallpaper HP gue ini lucu banget! Dia lagi ketakutan setelah
keluar dari rumah hantu kemarin, dan gue iseng memotretnya. Cewek ini bener-bener lucu!
―Foto siapa tuh?‖ tanya Ernest yang ternyata sudah melongok diam-diam dari balik bahu
gue. Gue nyaris loncat saking kagetnya! ―Cewek baru, ya?‖
―Bukan. Bukaaaannn... Ini...‖
―Udahlah, Lan, lo ngaku aja deh. Muka lo udah kayak stroberi busuk tuh merahnya.‖
Ernest cengengesan.
Gue bener-bener salting! ―Eh... bukan cewek gue juga sih... Belum...,‖ kata gue malu,
dan Ernest langsung memamerkan senyum kemenangannya. Biar deh, toh cepat atau lambat
juga dia bakal tau.
―Dari tadi kek ngakunya!‖
―Tapi... Nest, jangan cerita ke yang lain, ya? Gue nggak mau orang-orang tau gue deket
sama cewek ini.‖
―Lho? Kenapa?‖ Dahi Ernest berkerut. Kalau tampangnya serius gitu, baru deh dia
kelihatan kayak bapak beranak satu!
―Kalian ngomongin apa sih?‖ tanya satu suara lagi, dan gue langsung pusing begitu tau
itu suara siapa. Bang Budy! ―Foto siapa itu, Lan? Yang di HP kamu?‖
Yeah, kalau gini sih sekalian aja gue bikin konpers!
―Bukan foto siapa-siapa, Bang.‖ Gue langsung mengganti wallpaper HP gue dengan
gambar lain yang nggak jelas apa.
Kelihatan banget Bang Budy nggak percaya omongan gue barusan.
―Yah, Abang nggak mau ikut campur, itu kan urusan pribadi kamu,‖ kata Bang Budy
sambil mengangkat bahu. ―Tapi kalau cewek itu memang lagi dekat sama kamu, tolong
jangan sampai pers tau, ya? Kamu kan tau sendiri gimana pers, nanti kamu sendiri yang bakal
pusing. Dan ini semua demi kebaikan cewek itu juga.‖
Gue mengangguk cepat. Tanpa dibilang pun gue emang udah berniat begitu. Pokoknya,
jangan sampai Alice dikenal media.
Hell, Bang Budy tuh orangnya sebenernya baik juga lho. Cuma kadang-kadang dia
terlalu overprotektif sama gue...
Dan kalau bukan manajer sehebat dia, nggak mungkin Skillful bisa jadi sengetop
sekarang ini.
* * *
Ya ampun, gue ngantuk banget! Asli ngantuk! Mata gue udah berat aja nih. Dan kayaknya
dari tadi langkah gue seperti nggak memijak lantai.
Ini semua gara-gara Tora! Subuh tadi waktu gue bangun dan mau bikin kopi instan, dia
dengan sengaja mendului gue ke dapur, dan mengambil sachet kopi terakhir yang ada di
sana! Dia pakai kopi itu untuk diminum sendiri, padahal dia PASTI bisa melihat gue lagi
butuh banget asupan kafein, karena gue cuma sempat tidur satu jam, dan kemarin Bang Budy
sudah mewanti-wanti supaya semua kumpul di markas jam setengah enam pagi supaya nggak
ketinggalan flight. Akibat nggak minum kopi itu, sekarang gue jadi limbung, dan agak-agak
nggak nyambung kalau diajak ngobrol saking ngantuknya! Tora sialan!
―Dylan!‖
Gue menoleh. Arghhhh!
Ada Noni di sini! Noni!
Dari mana dia tau gue naik pesawat jam segini? Atau dia emang udah biasa stand by di
bandara dari pagi-pagi buta? Mata gue membeliak lebar melihat Noni berlari-lari
menghampiri gue.
―Hai, Dylan,‖ sapa Noni kenes begitu gue menuju departure gate.
Buset, anak ini dandanannya kayak mau clubbing aja!
―Hai, Noni,‖ sapa gue balik. ―Udah lama nunggunya?‖
―Lama banget, sampai gue dilihatin orang-orang nih,‖ rengeknya.
Ya iyalah, pakaian lo kayak gitu! Gue malah heran kalau orang-orang nggak ngeliatin lo!
―Oh,‖ gumam gue pelan.
Noni mulai berceloteh macam-macam. Tanya ini-itu yang bikin kepala gue serasa mau
pecah. Ya ampun, ini masih pagi, dan gue ngantuk berat, tapi anak ini malah merepet segala
macam di depan gue!
―Eh, Lan, gue cuma pengin mastiin aja nih. Lo masih jomblo, kan?‖
Gue mengernyit mendengar pertanyaannya, tapi secepatnya mengubah kernyitan gue
menjadi cengiran begitu gue ingat gue harus mengendalikan emosi di hadapan fans, termasuk
Noni.
―Ehm... iya, gue masih jomblo kok. Mana mungkin gue cari cewek kalau ada cewek
secantik lo yang perhatian sama gue.‖
Noni membelalak, dan gue rasanya kepengin banget menggigit putus lidah gue gara-gara
omongan gue barusan. Ngomong apa sih gue???! Apa ngantuk berat bisa membuat orang jadi
error dan mengakibatkan ketidaksinkronan antara otak dan mulut???!
―Jadi...‖ Noni kelihatannya nyaris meledak karena bahagia. ―Jadi... lo suka sama gue?‖
Lihat, Dylan, lihat! Itu tuh akibat dari omongan ngaco lo barusan!
Gue nggak menjawab, tapi langsung tolah-toleh mencari orang yang bisa menyelamatkan
gue dari keadaan genting ini. Ah! Ada Dovan!
―Van! Dovan! Kita boarding-nya jam berapa sih?‖ tanya gue setengah berteriak, padahal
mata gue jelas-jelas ngasih isyarat supaya Dovan menyelamatkan gue dari Noni.
―Ehh...‖ Dovan kelihatan bingung, tapi dia berlagak melirik jam tangannya. ―Sekarang
sih. Iya sekarang!‖
Thanks God, dia ngerti isyarat gue!
―Mmm... Noni, sori ya, tapi gue udah mau boarding nih,‖ kata gue sok menyesal,
padahal gue girang banget bisa kabur secepatnya dari sini!
―Oh. Ya udah deh. Hati-hati ya?‖ Noni cemberut. ―Ehh... foto dulu dong!‖ Dia menarik
gue ke sisinya dan dengan cepat memotret menggunakan kamera HP-nya. Gue nyengir
kepaksa.
―Bye,‖ kata gue setengah bersemangat. Huh, gara-gara Noni, dan omongan ngaco gue
barusan, kantuk gue jadi hilang lenyap tak berbekas!
Dan kenapa sih gue harus selalu foto bareng dia tiap kali ketemu? Jangan-jangan semua
foto bareng itu dia bikin kolase terus dia pasang di langit-langit kamarnya juga, di sebelah
poster gede gue. Hiii...!
Gue menenteng tas gue ke area boarding tanpa menoleh lagi ke arah Noni. Begitu udah
di dalam, gue langsung telepon Alice.
―Halo?‖
―Hai!‖ sapa Alice riang. ―Belum berangkat?‖
―Nih udah boarding kok. Kamu jangan nangis ya kalau aku tinggal.‖
Alice tertawa. ―Ya nggak lah! GR deh kamu!‖
―Ya udah, nanti malam aku telepon lagi ya sebelum manggung. Ini Bang Budy udah
ribut aja nyuruh kita naik pesawat.‖
―Oke. Hati-hati ya.‖
―Kamu juga take care ya. See ya.‖
Gue memutuskan sambungan telepon. Kayaknya gue nggak rela deh nggak bisa ketemu
Alice dua minggu penuh...
Gimana kalau selama dua minggu itu ada cowok yang deketin dia?
S**t, cowok itu harus berhadapan sama gue!
* * *
5 September 2006
Balikpapan panas banget! Baru turun dari pesawat aja, baju gue udah basah kuyup. Belum
lagi mobil jemputan panitia Z-Mild yang ternyata telat dan gue harus ngejogrok di atas troli
bandara selama satu jam lebih!
Aduh, ngantuk banget! Tapi mau tidur juga nggak bisa! Orang-orang di sekitar gue udah
mulai penasaran, dan kayaknya beberapa mulai menuding-nuding ke arah gue dan anak-anak.
Untunglah mobil jemputan itu datang juga, dan gue bisa tidur di mobil. Tapi ternyata
jarak bandara ke hotel tempat kami menginap itu dekat banget, jadi gue baru tidur lima menit
waktu gue dibangunin! Ckckck... kalau tau gitu, lebih baik tadi jalan kaki aja deh ke
hotelnya!
Yang lebih parah adalah konsernya. Percaya nggak, tiket konser kami di sini harganya
dua ratus ribu! Memang sih kami manggungnya di kafe, tapi tetap aja menurut gue tarif
segitu tuh nggak berperikemanusiaan banget! Kalau gue calon penontonnya, dan gue lihat
entry charge-nya segitu, gue batal nonton deh!
Konsernya sendiri biasa aja. Gue nyanyi 13 lagu, dan sempat ditarik-tarik beberapa
cewek yang kelewat histeris. Ya ampun, emangnya gue segitu ngegemesinnya, ya?
Oh ya, tadi gue telepon Alice, tapi ternyata dia udah tidur. Ya jelas lah, orang gue
telepon dia sebelum manggung, dan gue manggung tuh jam dua belas, masa gue berharap
Alice masih bangun sih jam segitu? Goblok banget gue.
* * *
6 September 2006
Pagi-pagi gue udah dibangunin sama Ernest. Bus yang kami pakai untuk ke Samarinda udah
siap di bawah, dan Bang Budy udah telepon ke kamar berkali-kali, tapi gue masih juga molor.
Akibatnya, gue pontang-panting sendiri, mandi ala bebek yang secepat kilat, dan baru di gus
gue sadar ada SMS dari Alice.
From: Alice
A sweeter smile...
A brighter day...
Hope everything turn out great 4 U 2day...
(> “ “ <) Have A
( =’o’= ) Nice
(,,) (,,) Day... ;)
Ya ampun, cewek ini bener-bener manis! Pagi-pagi aja dia masih ingat buat
menyemangati gue, padahal gue nggak jadi meneleponnya tadi malam!
Untuk menebus kesalahan, gue menelepon Alice tadi siang, sepanjang jam istirahat
sekolahnya. Dia cerita bulan depan dia dan band kelasnya disuruh nyanyi oleh kepseknya di
depan seisi sekolah, soalnya kepseknya itu suka penampilan mereka. Berarti suara Alice
bagus banget dong ya? Hmm... apa gue bisa usulin ke Bang Budy supaya album Skillful
berikutnya menggandeng penyanyi cewek untuk duet? Gue kan bisa memasukkan Alice,
hehe...
Tengah-tengah ngobrol, pembicaraan gue sama Alice terputus. Taunya pulsa gue habis!
Terpaksa gue minta sopir bus berhenti di kios pulsa yang kita lihat di pinggir jalan. Waktu
gue turun untuk beli pulsa, ternyata pemiliknya mengenali gue! Dan gue diisikan pulsa
seratus ribu GRATIS, asal gue mau foto sama anak ceweknya! Gue bener-bener bingung, dan
gue bilang gue bakal dengan senang hati foto sama anak ceweknya DAN tetap membayar
pulsa gue, tapi yang punya kios nggak mau.
Kadang-kadang jadi vokalis band terkenal enak juga, hehe...
* * *
8 September 2006
Samarinda dua hari yang lalu heboh, tapi Palangkaraya hari ini jauh lebih heboh!
Gue manggung di Universitas Sutopo, dan penontonnya bener-bener membludak! Gila,
padahal gue manggung jam dua siang, tapi penontonnya bisa segitu banyak. malah ada
sekumpulan cewek yang membawa spanduk bertuliskan ―We Love Skillful‖ berukuran
superbesar! Gue sampai nggak bisa berhenti senyum melihat spanduk itu.
Oh ya, gue juga dapat kiriman SMS lucu dari si Dora, dan SMS itu langsung gue forward
ke Alice. Memang sih gue nggak kreatif, tapi mau gimana lagi dong? Gue kan nggak bisa
ngegombal 100%!
SMS-nya kayak gini nih:
To: Alice
Days are too busy... Hours are too few...
Seconds are too fast...
But there is always a time for me to say...
G O O D N I G H T...
And I miss U so...
Hehe, jelas Dora nggak menulis kata-kata ―I miss U so‖ itu di SMS-nya ke gue. Kalau itu
sih tambahan gue sendiri buat Alice.
Ternyata gue tukang gombal juga. Tapi gue emang bener kangen dia sih...
* * *
19 September 2006
Fiuuhhh... gue nggak nyangka kalau setelah pulang tur, barang bawaan gue jadi sepuluh kali
lipat beratnya! Atau gue aja yang tambah gendut gara-gara kebanyakan makan dan akhirnya
malah nggak kuat mengangkat barang-barang bawaan gue sendiri?
Oya, tadi Alice SMS, katanya dia nggak bisa jemput di airport soalnya dia lagi ada tes di
sekolah, dan nggak mungkin banget bolos, sementara pesawat gue landing jam sebelas siang.
Nggak pa-pa deh, yang penting ntar sore gue ketemuan sama dia... And I have a surprise
for her!
* * *
―Kita mau ke mana sih?‖ tanya Alice bingung sewaktu gue menjemputnya di rumah Grace.
Seperti biasa, gue memang nggak bisa langsung menjemput Alice di rumahnya. Selain
karena Alice bilang ortunya super-duper-overprotektif, dia juga bilang tetangga sebelah
rumahnya tuh punya dosis keingintahuan yang di luar batas wajar. Malah, kata Alice, kalau
aja tetangganya yang namanya Bu Parno itu masih muda dan kerja sebagai wartawan
infotainment, orang itu pasti bakal menang award sebagai wartawan terjago mengorek
rahasia selebriti.
Mendengarnya aja, gue udah ngeri. Dalam bayangan gue, Bu Parno bener-bener bikin
gue parno!
―Udah, kamu naik aja.‖
Alice mengedikkan bahu, lalu memakai helm merah yang gue sodorkan.
* * *
―Udah sampai,‖ kata gue saat motor gue berhenti dua puluh menit kemudian. Alice turun dari
boncengan dan menatap gue dengan pandangan nggak ngerti.
―Ini... tempat apa?‖
―Kamu nggak bisa nebak? Nggak ada gambaran sama sekali?‖
Gue bisa melihat kalau Alice bingung. Wajah lucunya itu berkerut heran.
―Tempat ini? Mmm... kantor?‖
―He-eh. Kantor yang seperti apa?‖
―Eh... biasa aja sih... seperti kantor-kantor biasanya...‖
―Hmm... sebenernya ini bukan kantor biasa,‖ kata gue sok serius.
―Dylan... jangan bilang kalau ini kantor manajemen Skillful...‖
―Ini kantor manajemen Skillful,‖ sahut gue puas. Alice langsung bengong.
―Aku... aku boleh masuk?‖ Tangan Alice menuding pintu masuk.
―Ya boleh lah... Aku udah pesan sama Bang Budy supaya malam ini Pak Kirno ngizinin
aku dan satu orang lagi masuk kantor.‖
―Pak Kirno itu siapa?‖
―Satpam di sini. Tuh orangnya.‖ Gue memberi isyarat ke arah pos satpam yang nggak
begitu jauh dari gue, tempat Pak Kirno duduk terkantuk-kantuk.
―Jadi... aku...‖
Gue tersenyum, dan berjalan mendahului Alice ke pintu masuk. Gue lalu membukakan
pintu itu dengan gaya pelayan yang membukakan pintu untuk majikannya.
―Silakan, Tuan Putri...‖
Alice terkikik, dan dia melangkah masuk.
INI PLATINUM? KOK ANEH...?
DYLAN bener-bener gila. Dia baru pulang dari tur Kalimantan-Sulawesi tadi siang, dan malam
ini langsung mengajakku pergi. Hebatnya lagi, aku nggak diajak ke tempat-tempat basi macam 21
atau mal seperti biasanya cowok mengajak cewek.
Aku diajak ke kantor manajemen Skillful!
Waktu aku pertama melihat bangunan kantor ini, aku sama sekali nggak bisa nebak di kantor
inilah Skillful bermarkas. Habisnya, di bayanganku kantor manajemen Skillful adalah jenis kantor
yang dindingnya penuh grafiti dan coretan, tipe khas bangunan yang dihuni para anak band. Tapi
nyatanya, bangunan ini nggak jauh beda dengan kantor-kantor pada umumnya. Bersih, ada
lapangan parkir kecil yang kira-kira cukup untuk tiga mobil, juga pos satpam.
Satpamnya kelihatannya lagi tidur waktu gue dan Dylan datang. Aduh, Pak, bangun dong!
Gimana nanti kalau ada maling?
Ah, sebodo amat. Aku masih bengong waktu Dylan membukakan pintu untukku, dan kami
berada dalam ruang tamu kecil yang terang benderang. Dylan mengambilkan aku sekaleng Coca-
Cola dari lemari es yang ada di situ, dan aku langsung meminumnya, berlagak menutupi
kekagokanku yang sama sekali nggak menyangka bisa menjejakkan kaki di markas Skillful.
Tiba-tiba aku ingat pernah mendengar selentingan dari milis Dylanders bahwa kantor
manajemen ini susaaaaahhhh banget dimasuki orang-orang yang bukan kru atau personel Skillful.
Beberapa anak milis pernah ke sini, tapi mereka nggak berhasil masuk! But now I’m here!
“Mau lihat-lihat studio?” tawar Dylan. Aku langsung mengangguk.
Dylan mengajakku melewati lorong yang nggak begitu lebar, dan kami naik tangga dulu
sebelum akhirnya sampai.
Aku cuma bisa bilang wow.
Studio ini keren banget! Temboknya dilapisi peredam dari bantalan-bantalan berwarna abuabu
muda, dan karpetnya sewarna dengan itu. Dan walaupun aku nggak bisa main musik, aku
nggak bego-bego amat untuk menyadari studio latihan ini punya peralatan band terkeren yang
pernah kulihat! Gitar Fender hitam milik Rey, drum Dudy di pojok sana, deretan keyboard Ernest,
bas Dovan yang tersandar di dinding...
This is awesome!
Dan pandanganku berhenti pada stand mike yang ada di tengah studio. Di stand mike itu ada
mikrofon yang sepertinya familier.
“Lho... kamu selalu pakai mikrofon ini, ya? Waktu di pensi SMA 93... di TOP Channel,
kamu juga pakai mikrofon ini, kan?”
Dylan mengangguk. “Itu memang mikrofon khusus buat aku,” katanya sambil menunjuk ke
label kuning pada mikrofon itu yang bertuliskan “Dylan Skillful”. “Nih, ada namanya segala,
hehe...”
“Jadi, kalau kamu tur ke mana aja, mikrofon ini harus dibawa?”
“Yup.”
Aku manggut-manggut. Begitulah kalau vokalis band terkenal. Mikrofonnya aja khusus
dibawa sendiri.
“Mau lihat ruangan lain? Aku mau nunjukin award room ke kamu.”
“Award room?” Apaan tuh?
“Iya. Ruangan tempat menyimpan semua award yang didapat Skillful. Ada platinum, plakatplakat...
yah, memang agak ngebosenin sih, tapi mungkin kamu...”
“Aku mau lihat!” seruku riang, dan langsung berlari ke arah pintu studio.
Aku mengikuti Dylan menuju ruangan yang ternyata letaknya di sebelah studio ini. Ruangan
itu lebih kecil dari studio yang tadi kumasuki, tapi ruangan ini hebat banget! Dindingnya penuh
pigura berbagai macam penghargaan. Ada dua pigura yang masing-masing berisi dobel platinum
untuk album Skillful yang dulu, sebelum Dylan bergabung. Dan yang terbaru, tergantung di dekat
pintu masuk, pigura-pigura hitam mengilap yang di dalamnya berisi kepingan CD raksasa
bertuliskan “Skillful”.
Gila, mereka udah dapat tujuh platinum buat album yang sekarang ini?
Tujuh platinum berarti... satu juta lima puluh ribu keping...?
“Suka ruangannya?” tanya Dylan.
“Banget! Album kalian laris, ya?”
“Yah... berkat fans juga sih. Kalau bukan karena mereka, nggak mungkin semua award ini ada
di sini,” kata Dylan merendah. Cowok ini bener-bener low profile.
Dan kenapa dia kelihatan tambah ganteng sih setelah tur?!
Aku mengalihkan tatapanku dari wajah Dylan dan memutuskan melihat-lihat lagi award-award
yang ada di ruangan ini. Semua ini punya Skillful dari hasil penjualan album mereka...
Pandanganku terantuk pada sebuah pigura yang isinya berupa piringan CD besar berwarna
perak yang nggak bertuliskan apa-apa. Barang apa ini?
“Ini... apa?” tanyaku sambil menunjuk pigura yang tergantung tepat di tengah ruangan itu.
Sepintas sih isinya nggak jauh beda sama pigura-pigura lain yang ada di ruangan ini, cuma yang
ini nggak ada tulisannya.
“Oh, itu,” gumam Dylan. “Itu award paling berharga. Platinum yang paling unik.”
“Ini Platinum? Kok aneh...?” Aku mendekat ke pigura itu, berusaha melihat lebih teliti.
Dan tiba-tiba lampu mati!
“Lan, lampunya mati...”
“Memang. Kalau nggak kan kamu nggak bisa lihat itu...”
Pikiranku mulai ngaco. Jangan-jangan Dylan...
“Tuh, lihat...”
Dylan menggandengku menuju pigura berisi platinum aneh tadi, dan aku mulai sadar
ternyata cuma lampu ruangan ini yang mati, sementara lampu di lorong luar sana masih menyala
terang benderang. Seberkas cahayanya masuk, tapi ruangan ini masih cukup gelap sehingga...
Oh no.
Aku bener-bener speechless melihat apa yang tertulis di benda yang kusebut platinum aneh itu.
I LOVE YOU
Tulisan glow in the dark pada piringan CD raksasa itu menyala terang di tengah kegelapan, dan
pikiranku mulai sibuk bekerja keras.
Mana mungkin ada penghargaan platinum yang tulisannya “I LOVE YOU”?
Kecuali kalau...
“Eh... Dylan...,” panggilku kagok. “Ini... maksudnya...”
“Aku tau kalau aku nggak selalu bisa ada di dekat kamu, Lice... Kita mungkin juga nggak bisa
jalan bareng di mal, atau di tempat-tempat umum lainnya, tapi... aku bener-bener sayang sama
kamu, dan nggak mungkin bisa kehilangan kamu...”
Omigod, omigod, omigod...
Aku nggak sanggup lagi. Somebody please wake me up! Mimpi ini terlalu bagus, dan aku takut
kalau aku bangun nanti aku bakal bunuh diri saking sedihnya semua kejadian ini cuma terjadi
dalam mimpi!
“Kadang-kadang aku berharap aku ini cuma cowok biasa, bukan vokalis band ngetop yang
hidupnya selalu diubek-ubek sama segala macam gosip,” kata Dylan sambil menggenggam
tanganku erat-erat. “Aku dulu kehilangan Karin karena itu, tapi aku sekarang nggak mau
kehilangan kamu karena hal yang sama...”
“Jadi...”
“Aku tau aku gila kalau minta kamu mau menjalani semua ini diam-diam, tapi aku berusaha
sebisaku untuk melindungi kamu dari... orang-orang yang mungkin bakal menyakiti kamu kalau
tau kamu dekat sama aku... Dan aku sayang banget sama kamu...”
Aku diam. Bibir dan lidahku rasanya baru aja dikeluarkan dari freezer. Beku.
“Aku bisa ngerti kalau kamu nggak mau...”
“Aku... mau kok,” jawabku akhirnya. Nggak tau kenapa bibir dan lidahku mendadak mencair
dengan sendirinya. “Aku tau kamu ngelakuin ini semua demi aku juga, dan aku... aku mau...”
Aku nggak meneruskan kata-kataku. Dylan sudah memelukku erat-erat, dan aku tersenyum
memandang Platinum I LOVE YOU yang masih menyala terang benderang di dinding itu.
Well, I’m officially his girlfriend now.
Kalau dua bulan lalu ada orang yang bilang aku bakal pacaran sama Dylan Siregar, yang
vokalis Skillful itu, aku pasti bakal ketawa terbahak-bahak dan mengatai orang itu gila.
I’M (NOT) SINGLE
YES! Yes! Yes!
Kalau bukan karena akal sehat, gue pasti udah bawa motor sambil berdiri saking
girangnya! Nggak sia-sia gue order khusus tiruan platinum dengan tulisan glow in the dark
itu! Harganya memang lumayan mahal, tapi itu sama sekali nggak ada artinya dibanding
senengnya gue sekarang!
Gue juga bener-bener nggak nyangka Alice mau jadi pacar gue.
Maksud gue, gue kan udah minta terlalu banyak dari dia. Dia harus ngertiin schedule
Skillful yang gila-gilaan dan rela ditinggal-tinggal. Dia juga harus berbesar hati ngeliat gue
dipeluk en dicium fans-fans cewek. Dan yang lebih parah, dia harus rela nggak bisa
menyandang status sebagai pacar gue di depan umum.
Dan dia rela...
Kalau bukan karena gue takut Alice diteror, gue pasti udah dengan bangga bikin konpers
dan bilang gue resmi pacaran sama cewek yang udah bikin gue hepi banget beberapa minggu
belakangan ini. Mungkin gue juga bakal pakai kaos gue yang tulisannya ―I‘M SINGLE‖ itu
lagi, dengan menambahkan kata ―NOT‖ di tengahnya, jadi orang-orang bisa tau gue bukan
jomblo lagi. Tapi gue nggak bisa...
Dan Alice sama sekali nggak keberatan ngelakuin ini semua. Dia nggak jadi euforia
berlebihan dan langsung sorak-sorak karena pacaran sama gue. Dia cuma diam, dan bilang
dia mau pacaran sama gue... She‟s the best girl ever. Dia juga nggak mengumbar statusnya ke
orang-orang, padahal kalau cewek-cewek lain mungkin bakal pamer kalau mereka punya
cowok seleb. Alice sama sekali nggak gitu,d an itu bikin gue jadi tambah sayang sama dia...
Dan merasa bersalah, karena nggak bisa jadi cowok yang baik buat dia, padahal dia
segitu baik dan berkorbannya buat gue...
* * *
Gue bangun gara-gara mendengar suara aneh di kamar gue. Siapa yang masuk kamar gue
pagi-pagi gini?
Tora?
―Hei, lo ngapain?‖ tanya gue dengan suara bantal. Tora nyaris meloncat saking kagetnya.
Dan saat itulah gue melihat dia sedang memegang HP gue sambil tertawa.
―Lo ngapain?‖
Gue menyingkap selimut gue dan bangun dari ranjang, lalu berjalan mendekati Tora.
―Lo udah jadian sam yang namanya Alice itu?‖ tanya Tora sambil cengengesan.
―Ternyata lo bener-bener suka sama dia, ya? SMS-SMS-nya aja romantis begini...‖
Damn, jadi dia baca sent items gue ke Alice?!
―Siapa yang nyuruh lo baca SMS-SMS gue?‖
―Nggak ada. Dan gue nggak ada niat gitu kok. Beneran. Pulsa gue habis, padahal gue
lagi perlu SMS orang, jadi gue pinjem HP lo. Waktu mau hapus sent items gue, gue nggak
sengaja baca sent items lo ke Alice...‖
―Itu sih namanya bukan nggak sengaja, tapi disengaja!‖ gue menggerutu.
―Ya deh, sori. Tapi lo bener jadian sama Alice, ya?‖
Gue mengangguk, dan Tora langsung menepuk bahu gue keras-keras.
―Congratulations, Bro!‖ serunya nggak penting.
―Jangan bilang siapa-siapa.‖
―Lho? Kenapa?‖
―Masa lo udah lupa apa yang terjadi sama Karin setelah orang-orang tau dia cewek gue?
Gue nggak mau Alice kayak gitu juga nantinya...‖
Tora menghela napas. ―Terus, lo pacaran sama dia gimana? Sembunyi di lemari?‖
―Ya nggak lah! Apaan sih lo! Gue biasa aja kok sama Alice, cuma ya terpaksa gue nggak
bisa ke tempat-tempat yang rame sama dia, takut ada yang tau...‖
―Kok kayaknya lo ngenes banget, ya?‖ tanya Tora prihatin.
―Ya gitulah, Tor... Lo sih enak sama Mbak Vita bisa ke mana-mana tanpa beban. Gue
nggak bisa kayak gitu. Sebenernya gue pribadi nggak pa-pa sih, tapi gue kasihan sama
Alice...‖
Tora menepuk-nepuk punggung gue pelan. ―Kalau ke Vita, gue boleh cerita soal ini
nggak?‖
―Boleh. Gue percaya sama Mbak Vita, tapi tolong bilang ke dia biar nggak bilang siapasiapa.‖
―Beres.‖
* * *
Gue sama sekali nggak ngerti apa yang ada di pikiran Tora. Setelah dia tau gue jadian sama
Alice, dia langsung ngasih tau Mbak Vita, dan habis itu dia tiba-tiba aja punya ide supaya
kami pergi berempat. Double date, kalau istilah kerennya.
Jadi di sinilah gue sekarang, dalam mobil, depan rumah Alice, menunggu Alice keluar
dari rumahnya. Karena Tora yang ngajak, dia jugalah yang jadi sopir malam ini. Ya iyalah,
kalau bukan dia, siapa lagi? Gue kan nggak bisa nyetir mobil! Dan kalau dalam mobil,
seenggaknya gue bakal terhindar kalau misalnya si Bu Parno itu iseng-iseng mengintip dari
jendela rumahnya untuk cari bahan bergosip besok pagi. Kan kaca film mobil ini 80%
gelapnya, hehe...
Eh, itu dia Alice!
Gue cepat-cepat turun dari mobil dan membukakan Alice pintu. Setelah dia aman dalam
mobil, baru gue masuk juga.
―Hai,‖ sapa Mbak Vita ke Alice waktu gue menutup pintu mobil. ―Gue Vita, pacarnya
Tora. Lo Alice, kan?‖
―Iya,‖ jawab Alice malu-malu.
―Kalau gue Tora, abangnya Dylan,‖ Tora sok akrab dan ikut-ikutan menoleh dari jok
depan, mengulurkan tangan ke Alice. ―Banyak yang bilang Dylan ganteng dan gue manis.
Sebetulnya ganteng tuh kalau dilihat lama-lama bisa ngebosenin, tapi kalau manis... yah, mau
sampai kiamat juga tetep aja manis!‖
Gue kontan menoyor kepala Tora. Mbak Vita terkikik. Alice menoleh dan menatap gue
dengan matanya yang bulat itu.
―Dylan,‖ katanya sok galak.
―Tuh, Lice, lo lihat deh, cowok lo ternyata nggak punya sopan santun sama abangnya
sendiri, kan?‖ rengek Tora dengan suara anak kecil.
―Tor, mendingan kita pergi sekarang deh, kalau nggak nanti pampers lo keburu penuh
dan lo ngompol di jalan,‖ sahut gue kesal. Tora langsung diam dan mulai memindahkan
persneling. Mbak Vita masih cekikikan di kursi depan.
* * *
Ternyata Tora berhenti di Ten Ball. Gue langsung panik sendiri. Tempat ini kan rame, selain
itu gue sama Tora dan Mbak Vita sering banget ke sini, jadi orang-orang sini pasti udah hafal
tampang kami, termasuk siapa gue ini. Apa jadinya kalau mereka ngeliat gue menggandeng
Alice di tempat ini?
―Tor, kok ke sini sih?‖ desis gue jengkel begitu turun dari mobil, saat nggak mungkin
didengar Mbak Vita dan Alice yang turun dari sisi kiri mobil.
―Kenapa emangnya?‖
―Ya kan tempat ini rame! Banyak yang kenal gue di sini, gimana kalau mereka curiga
ngeliat Alice?‖
―Udahlah, lo tenang aja. Gue tau apa yang lo takutin, dan percaya deh, itu nggak bakal
terjadi di sini. Ini kan tempat biliar, perhatian orang tuh terpusat ke meja dan bola, bukannya
ke pengunjung lainnya,‖ jelas Tora santai.
Tapi tetap aja gue cemas.
―Lo jangan jalan sama Alice dulu sekarang, biar dia jalan sama Vita. Nanti kalau udah di
dalem, lo bisa duduk dan ngobrol sama dia. Gue sama Vita bisa main biliar dan nutupin
kalian dari orang-orang. Lagian, kayaknya di dalam juga masih sepi.‖
Gue mendesah, tapi akhirnya menuruti omongan Tora juga. Anak tengil yang satu ini
memang demen banget main api, gue nggak ngerti apa sebabnya.
* * *
Ten Ball belum terlalu rame, mungkin karena sekarang masih jam enam sore. Sejauh yang
gue lihat, cuma dua meja yang terisi. Tora langsung memilih meja di pojok belakang, yang
paling jauh dari jangkauan pandang orang.
―Nah, lo ngobrol sana sama cewek lo. Gue sama Vita main dulu.‖
Seorang score girl datang dan mengaturkan bola untuk Mbak Vita. Gue menoleh,
berusaha menyembunyikan wajah gue. Ya Tuhan, semoga bener-bener nggak ada yang
ngenalin gue...
―Lan? Kamu kenapa?‖ tanya Alice yang sekarang duduk di sebelah gue.
―Mmm... nggak pa-pa, Say, cuma takut ketauan aja sama orang.‖
Anehnya, muka Alice langsung merah padam. ―Kamu manggil aku ‗Say‘?‖
Gue ketawa. ―Ya iyalah, kan kamu pacarku.‖
―Eh... iya...‖ Alice menunduk, wajahnya tersembunyi di balik rambut cokelatnya yang
sudah mulai panjang.
―Kamu nggak suka, ya?‖ Gue menyelipkan rambut Alice ke belakang telinganya. ―Kalau
kamu nggak suka, aku nggak bakal manggil kamu gitu lagi...‖
―Oh! Bukannya gitu!‖ Alice mendongak. ―Aku cuma... aku... malu...‖
Hah? Malu? ―Kenapa?‖
―Soalnya... soalnya kamu kan pacar pertamaku, jadi aku... belum biasa... Maksudku, aku
pasti keliatan tolol banget di depan kamu... canggung... kikuk...‖
Gue tersenyum dan menggenggam tangannya. ―Sebenernya, aku juga baru pernah
pacaran dua kali.‖
―Bener?‖ tanya Alice nggak percaya. Gue mengangguk.
―Memangnya kamu kira, aku udah berapa kali pacaran?‖
―Eh... nggak tau ya... Sepuluh?‖
Sepuluh???
―Memangnya kamu kir apacaran itu sama kayak gonta-ganti nomor HP? Nomor HP aja
sekarang kita nggak boleh ganti sering-sering karena harus daftar ke pemerintah, apalagi
pacaran.‖
―Sori...‖ Alice menunduk lagi.
―Nggak papa, Say, aku kan nggak mungkin marah sama kamu.‖ Gue mencubit pipi Alice
pelan.
―Aku nggak marah kok.‖ Alice tertawa. ―Say,‖ tambahnya kemudian sambil tersenyum
lucu.
God, I really thanked You that I‟ve found her.
* * *
Studio TV9 penuh sesak. Hari ini memang ada perayaan HUT stasiun TV ini, dan Skillful
jadi salah satu pengisi acaranya. Gue baru aja mau masuk ruang ganti waktu mendengar suara
ribut dari ruang ganti sebelah.
―Ada apa sih?‖ tanya gue ke Dudy yang baru melewati ruang ganti itu.
―Biasa, Hugo,‖ kata Dudy sebal. ―Dia nggak terima dapat ruang ganti itu, penginnya
ruangan yang lebih besar, di tempat kita ini.‖
―Hugo? Hugo... vokalisnya eXisT?‖
―Ya iyalah Hugo dia! Hugo mana lagi yang bisa nyebelin kayak gitu?!‖
Dudy nyelonong masuk ke ruang ganti Skillful, kayaknya ogah banget membahas Hugo
lagi. Yah, sebenernya gue ngerti sih kenapa Dudy bersikap kayak gitu. Dulu dia pernah
nyaris berantem sama Hugo, gara-gara cowok itu mengatai Skillful sebagai band ―cengeng‖.
Gue tau persaingan di industri musik Indonesia memang ketat banget, apalagi persaingan
antarband. Band Hugo, eXisT, termasuk salah satu saingan Skillful yang paling berat. Mereka
punya fans yang kompak dan banyak banget. Album-albumnya juga selalu dapat platinum
berkali-kali. Tapi yang gue nggak ngerti, kenapa Hugo cari gara-gara sama Skillful? Skillful
toh nggak pernah bertengkar sama eXisT sebelum ini. Rey malah berteman baik sama Reza,
drummernya eXisT. Kayaknya cuma Hugo yang nggak seneng sama Skillful.
Ah, gue nggak mau mikirin itu lagi. Lebih baik...
―Surprise!‖
Gue melotot, Alice ada di depan gue, tersenyum riang.
―Kamu ngapain di sini?‖ tanya gue bingung. Gue spontan menoleh kanan-kiri, takut ada
orang yang melihat kami.
―Kan tadi aku udah bilang ‗surprise‘,‖ katanya pelan. ―Nanti kalau ada yang nanya,
bilang aja aku fans yang main ke backstage.‖
Oh, God. Gue bener-bener kasihan sama Alice. Untuk ketemu gue aja, dia sampai rela
pura-pura jadi fans? Sampai kapan dia harus berkorban kayak gini?
―Maafin aku, ya, Say? Kamu jadi nggak bisa bebas ketemu aku...‖ Aku meraih
tangannya. ―Kalau aja aku bisa bikin semuanya lebih baik untuk kamu...‖
―Aku nggak papa, aku bisa ngerti kok. Ini semua kan demi kebaikan aku juga. Lagian,
aku takut kamu kehilangan fans kalau mereka tau kamu udah nggak jomblo lagi.‖
―Kalau itu aku nggak takut. Fans memang berarti banget buat aku, tapi kamu lebih dari
itu. Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa...‖
―Hai Dylan!‖
Gue refleks menarik tangan gue yang masih menggenggam tangan Alice. Alice juga
mundur beberapa langkah. Gue mendongak dan dengan ngeri menyadari Noni sudah berdiri
di depan gue. Gimana caranya anak ini bisa masuk ke backstage?
―Eh... hai, Noni,‖ sapa gue pura-pura ramah. Anak ini kayaknya punya radar untuk
mengetahui keberadaan gue deh! Dan sekarang dia menatap Alice dengan pandangan benci.
Sial, rasanya gue pengin banget mengusir dia dari sini! Noni, maksudnya, bukan Alice.
―Mau manggung, ya? Kemarin lo di Hard Rock, ya? Gue nonton lho! Sayang banget gue
nggak bisa dateng waktu lo manggung di Makassar, padahal gue udah niat mau ke sana, tapi
nggak dapet flight.‖
Terima kasih Tuhan!
―Wah, sayang banget.‖ Gue berlagak kecewa. ―Tapi udah bisa nonton yang di Hard
Rock, kan?‖
―Iya, tapi kan tetep aja beda...‖ Waduh! Dia pegang tangan gue! ―Gue kan Dylanders
paling setia, selalu nonton kalau lo manggung, nggak kayak yang lainnya...‖ Dia melirik
Alice yang masih menunduk.
―Iya. Makasih ya. Gue seneng banget ada Dylanders yang... kayak lo.‖
―Masa? Terus, kenapa lo nggak milih gue jadi peserta Pacar Selebriti waktu lo jadi
bintang tamunya?‖ tembak Noni langsung. ―Kenapa lo milih... dia?‖ Dia menuding Alice,
yang sekarang mendongak dengan wajah cemas.
―Eh... itu...‖ Gue memutar otak. Episode Pacar Selebriti dengan gue sebagai bintang
tamu dan Alice sebagai pesertanya memang baru aja ditayangkan beberapa hari yang lalu,
pasti si Noni nonton. Sialan, kasih alasan apa nih?! ―Itu... emangnya lo daftar juga, ya?‖ Nah,
pura-pura nggak tau memang ide bagus!
―Ya iyalah gue daftar! Dua kali, malah! Gue kirim e-mail ke Pacar Selebriti, terus daftar
juga waktu mereka buka stan di Cheerful Paradise!‖
―Oh... gue nggak tau, Non.‖ Gue nyengir kepaksa. ―Waktu itu gue cuma disodori surat
yang isinya alasan-alasan kenapa orang-orang itu milih gue. Terus gue pilih salah satu, tanpa
tau identitas si penulis sama sekali. Nah, kebetulan yang gue pilih itu Alice.‖ Gue menepuk
bahu Alice. Kasihan dia, wajahnya sampai pucat begini.
―Alice?‖ gumam Noni. Alisnya terangkat. ―Hmm... kalau misalnya, lo tau ada surat gue
dan penulisnya gue, apa lo bakal milih gue jadi peserta?‖
Ya ampun, anak ini nggak tau malu banget sih! Gue harus jawab apa? Kan ada Alice di
sini! ―Eh... ya iyalah... pastinya...‖ Gue benci diri gue!
Noni tersenyum penuh kemenangan. Gue menoleh untuk melihat reaksi Alice, tapi dia
udah menunduk lagi. Gue merasa benar-benar berdosa. Pacar macam apa gue?!
―Eh... ya udah, ya, Non... Gue harus ganti baju... Kan bentar lagi naik panggung.‖ Gue
menunjuk-nunjuk ruang ganti. ―Alice, mmm... gue pamit dulu ya.‖
Alice mengangguk, dan sebelum Noni sempat berceloteh lagi, gue udah kabur ke ruang
ganti dan menutup pintunya rapat-rapat.
KERIKIL-KERIKIL KECIL
(YANG MEMBUAT KAKIKU BERDARAH)
AKU sama sekali nggak marah sama Dylan.
Dari awal aku udah tau aku memang nggak akan pernah bisa diakui sebagai ceweknya di
depan umum. Apalagi di depan Noni tadi.
Tapi tetap aja... rasanya tadi aku nyesek banget waktu Dylan bilang dia bakal memilih Noni
seandainya dia tau cewek itu jadi peserta Pacar Selebriti. He will pick her over me...
Sudahlah.
Mungkin Dylan memang harus bilang begitu untuk menyenangkan hati Noni. Cewek itu kan
salah satu fans Skillful yang paling setia, dan aku nggak mau Skillful sampai kehilangan fans—
apalagi pendiri community terbesar mereka di dunia maya—cuma gara-gara aku, cewek yang nggak
ada apa-apanya, yang cuma secara kebetulan berstatus pacar vokalis band itu.
Ups. HP-ku bunyi. Foto Grace yang sedang nyengir terpampang di layar.
“Lo di mana? Gue telepon ke rumah, katanya lo nggak ada.”
“Gue di studio TV9.”
“Hah? Ngapain lo di sana?” suara Grace terdengar kaget.
“Nonton Skillful.”
“Gila, lo nemuin Dylan di depan banyak orang? Nggak takut ketauan lo?” Kali ini suaranya
sudah berubah jadi bisik-bisik tetangga. Grace memang satu-satunya orang yang tau tentang
hubunganku dan Dylan. Waktu kami pergi ke Ten Ball, aku tanya sama Dylan, boleh nggak aku
cerita sama Grace, soalnya aku nggak sanggup kalau harus menyimpan rahasia sebesar ini
sendirian, dan Dylan bilang boleh, asal aku minta Grace untuk jaga rahasia ini juga. Lagi pula,
Grace kan udah tau aku memang dekat sama Dylan, bisa-bisa nanti dia penasaran sendiri kenapa
kami nggak juga jadian, padahal kami sebenernya backstreet.
Jadi, sekarang yang tau tentang ini cuma aku, Dylan, Bang Tora, Mbak Vita, dan Grace.
Benar-benar hubungan rahasia. Kayak aku istri simpanan aja.
“Ya takut, Grace,” jawabku akhirnya. “Tadi aja pas gue ke backstage malah gue kepergok ama
fansnya...”
Aku menceritakan kejadian di backstage dengan Noni tadi, termasuk tentang Dylan yang
bilang dia bakal milih Noni jadi peserta Pacar Selebriti seandainya dia tau Noni ikut mendaftar.
Gilanya, Grace malah ngakak mendengar itu.
“Memangnya lo berharap Dylan bakal bilang „nggak‟, ya?”
“Ya... nggak juga sih, tapi...”
“Lice, lo kan udah tau apa risikonya pacaran sama Dylan. Lo nggak bisa diakui, nggak bisa
bareng dia di muka umum, harus ikhlas kalau dia ngelakuin semua itu...”
“Iya gue tau, Grace,” ujarku pahit. “Rasanya memang gampang awalnya, tapi begitu semua
itu jadi nyata... gue nggak tau deh...”
“Terus lo mau gimana? Lo mau kalau Dylan buka-bukaan soal hubungan kalian, tapi lo
akhirnya diteror orang-orang jahat yang dulu meneror Mbak Karin? Lo mau kayak gitu?”
“Ya enggak...”
“Ya udah, kalau gitu lo sabar aja ya. Gue yakin Dylan juga pastinya nggak mau kayak gini,
tapi karena situasi... Kita nggak bisa mendapatkan semua yang kita mau, Lice. Kadang kita harus
mengorbankan satu hal untuk mendapatkan hal yang lain...”
Aku terkikik.
“Heh! Kenapa lo malah ketawa?” tanay Grace sewot.
“Nggak papa. Gue nggak nyangka aja kalau lo ternyata bisa dewasa juga.”
“Siaul lo. Ya udah lah, gue dipanggil nyokap gue nih. Lo pulang naik apa?”
“Taksi.”
“Waduh, kesian banget. Lain kali kalo mau nonton Skillful, gue temenin deh.”
Aku tersenyum. “Thanks ya, Grace. Gue nggak tau apa jadinya gue kalau nggak ada lo... Tapi
gue udah nggak papa kok. Gue tadi lihat Dylan nyanyi, dan gue sadar gue sayang banget sama
dia... Gue nggak mungkin bisa lepasin dia...”
* * *
Aku baru aja berdiri di pinggir jalan untuk cari taksi, waktu sebuah mobil berhenti di depanku.
Kaca mobil itu turun sedikit demi sedikit.
“Ayo naik.”
Dylan.
Aku nggak bereaksi, masih bingung dengan perasaanku sendiri. Biarpun aku bisa ngerti dan
sayang banget sama Dylan, aku nggak bisa bohong aku masih agak dongkol gara-gara kejadian di
backstage tadi.
“Marah, ya?” Dylan turun dari mobil dan menyentuh sikuku. Ternyata dia bareng Bang
Tora, tadi aku sepintas meilhat cowok itu dalam mobil. Aku menoleh ke kanan-kiri, takut ada
yang melihat. Untung tempat ini agak jauh dari studio TV9, jadi kemungkinannya kecil ada yang
lihat kami.
“Aku nggak marah. Aku cuma... perlu mikir.”
“Tapi kamu... sebel sama aku?” tanyanya khawatir.
“Sedikit.”
“Pasti gara-gara aku bilalng ke Noni bahwa aku bakal milih dia jadi peserta Pacar Selebriti
seandainya aku tau dia ikut, ya?”
Aku mengernyit. Dari mana Dylan tau? Apa di jidatku ada tulisannya gitu?
“Aku ngerti kalau kamu marah, Say. Siapa pun pasti bakal sakit hati kalau pacarnya milih
cewek lain, apalagi di depan matanya, tapi itu semua cuma untuk menyenangkan Noni, supaya dia
diam dan nggak lagi ngoceh macam-macam...”
Aku diam aja.
“Gini, kamu mungkin belum tau, tapi Noni itu adalah fans yang paling... mmm... unik. Dia
posesif, beranggapan dia satu-satunya orang yang boleh dekat sama aku. Dan memiliki aku.”
Dylan memegang bahuku, dan mau nggak mau aku harus mendongak menatapnya. Oh no,
jangan tatapan lurus ke dalam mataku itu lagi... Aku kan jadi nggak bisa ngambek kalau dia
menatapku dengan tatapannya yang itu!
“Dari fans-fans yang kayak gitulah aku harus lebih melindungi kamu, Say. Orang-orang
seperti Noni itu... nggak akan bisa ngerti aku punya kehidupan sendiri. Dia juga nggak akan bisa
ngerti aku jelasin kamu itu orang yang aku pilih...”
Hati kacau-balau. Aku memang udah nggak marah, apalagi setelah Dylan bilang kayak gitu
tadi. Dan mungkin ini baru awal dari segalanya... Setelah ini pasti masih banyak lagi
penyangkalan, kebohongan, kepura-puraan... Aku harus mulai membiasakan diri. Bukankah
orang yang bisa bertahan pada akhirnya bukan orang paling pintar atau paling kuat, tapi orang
yang bisa beradaptasi?
“Aku antar pulang, ya? Bahaya kalau malam-malam kamu naik taksi.”
Aku mengangguk, dan Dylan merangkulku.
* * *
“Alice, where have you been?”
Aku berbalik, melihat Daddy berdiri persis di depanku. Lampu ruang tamu pun sudah
menyala terang. Rupanya aku salah karena mengira seisi rumahku sudah pada tidur.
“Aku... aku pergi nonton konser, Dad...”
“Dans iapa yang mengantarmu pulang tadi?”
“Errmm... my friend. And his brother.”
“Your friend... or should I say, your boyfriend?”
Aku mendongak, dan memandangi Daddy dengan hati kebat-kebit. Apa... apa Daddy tadi
melihat Dylan mengantarku sampai ke gerbang depan?
“Dad, aku...”
“Daddy tidak marah, Alice,” kata Daddy, seolah bisa membaca pikiranku. “Daddy cuma
ingin tahu. Is that wrong?” Aku menggeleng cepat. “Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang
pacarmu itu?”
“Aku kira... Daddy bakal marah dan melarang...”
“Me? No, I won’t. You’re my daughter, I think you know that I’m not that conservative.” Daddy
berjalan ke arahku dan memeluk bahuku. “Siapa namanya?”
“Dylan.”
“Dylan... nice name. Teman sekolah?”
“Bukan. Dia sudah kuliah.”
“Oh. Umur berapa?”
“Mmm... twenty four.”
Aku bisa dengan jelas melihat mata Daddy melebar.
“Sweetheart, umur kalian berbeda cukup jauh. Apa dia... apa dia memperlakukanmu dengan
sopan? Karena Daddy yakin, cowok seumur dia pastinya...”
“Dia sopan, Daddy. Sangat sopan. Dia nggak pernah macam-macam...”
Daddy manggut-manggut. “Bagus. Karena kalau sampai dia menyakiti gadis kecilku, aku
tidak akan tinggal diam.” Daddy tersenyu. Aku cuma bisa menunduk dengan perasaan campur
aduk. Helooo... aku kan nggak pernah membicarakan cowok dengan Daddy sebelumnya!
“Alice, apa kamu... tahu apa risiko berpacaran dengan cowok yang usianya jauh di atas
kamu?”
Aku terdiam. “I know, Dad,” jawabku akhirnya. “Dand ia bukan cuma berbeda usia jauh
dengan aku, tapi dia juga... seleb.”
Daddy bengong, cuma itu yang bisa kubilang. Dan aku menghela napas dalam-dalam. Aku
memang butuh curhat sekarang ini, dan bukan dengan orang yang sepantaran aku seperti Grace,
tapi dengan orang dewasa yang bisa mengerti aku. Daddy orang yang tepat, dan dia kan daddy-ku,
dia pasti bisa memberikan nasihat yang bagus.
“Did you say celebrity?”
“Ya. Dia penyanyi. Vokalis band, tepatnya.”
“Oh! Apa dia yang kamu bilang „ganteng‟ itu? Vokalis mmm... Skillful?”
Heh??? “How do you know? Did Mama tell you?” tanyaku tak percaya.
“Of course, Sweetheart. Daddy dan Mama tidak punya rahasia apa pun. Dan, c’mon, kamu putri
kami satu-satunya. Apa lagi yang akan kami bahas kalau bukan kamu?”
Aku bengong. Aku nggak akan, nggak akan dan nggak akan pernah cerita apa pun lagi ke
Mama! Aku kira Mama bisa simpan rahasia, ternyata...
“Jadi kamu akhirnya... bukan hanya jadi fans Dylan?”
“Ya, Dad. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa begini beruntung...”
Lalu aku menceritakan semuanya, mulai dari Pacar Selebriti, kencan di Taman Safari, saat aku
dan Dylan jadian, pokoknya semua. Daddy hanya tersenyum selama mendengarnya.
“Jadi dia yang menjemput kamu di kafe di seberang gereja waktu itu?”
Aku melotot. “Daddy tahu???”
“Ya, I know. Dan apa kamu kira Daddy dan Mama bisa meninggalkanmu dengan tenang di
kafe itu kalau Grace belum menjemputmu? Kami mengamatimu dari seberang jalan, dan ternyata
Grace tidak muncul. Tapi kamu malah pergi dengan seseorang naik motor.”
“Jadi... jadi sebenarnya Daddy tahu, dan waktu itu Mama menelepon Grace cuma purapura?”
Aku shock, nggak menyangka kalau ortuku ternyata bisa sebegitu isengnya.
“Alice, kami juga pernah muda. Dan kami juga tahu hubungan backstreet memang
mendebarkan, tapi kamu seharusnya cerita pada kami...”
“I’m sorry...,” kataku lirih.
“That’s alright.” Daddy mencium puncak kepalaku. “Dan ingatlah, kami percaya padamu.
Kamu boleh berpacaran, asal tetap tahu batas. Kamu tahu kan apa artinya?”
Aku mengangguk.
“Dan satu lagi, kamu harus bahagia dengan hubungan yang sedang kamu jalani sekarang ini.
Tidak ada gunanya pacaran kalau kamu terus murung dan bersedih. Kamu masih muda, jangan
habiskan masa mudamu dengan hubungan yang membuatmu stres.”
Aku tertegun, tapi kemudian mengangguk. Apa Daddy bisa melihat beban yang terpancar di
mataku?
* * *
Fiuh... capek banget!
Barusan aku latihan band untuk acara tampil di aula sekolah dua minggu lagi, dan
tenggorokanku kering kerontang. Ini semua gara-gara Pak Alex! Kepsek tengik itu minta band
kelasku tampil lagi sih! Jadi mau nggak mau aku sama anak-anak harus latihan lagi. Duh... grogi
banget deh harus manggung di depan seisi sekolah sekali lagi!
Eh, HP-ku bergetar. Ada SMS kayaknya. Pasti Dylan, cowok tersayangku itu kan selalu kirim
SMS pagi-pagi gini. Apalagi tadi pagi dia berangkat ke Banda Aceh, jadi mungkin sekarang dia
SMS untuk mengabari dia udah sampai. Aku senyam-senyum sendiri, lalu membaca SMS masuk
itu.
Jauhi Dylan! Klo nggak, lo bakal tau akibatnya!
Aku mengerjap.
Ini... nggak mungkin!
Aku membaca lagi isi SMS yang tertera di monitor HP-ku. Dari nomor nggak dikenal.
“Lice!”
Aku terlonjak. Oscar berdiri di belakangku dengan tampang jengkel.
“Lo kenapa? Sakit? Dari tadi gue panggil, tapi lo diem aja.”
“Eh... nggak, gue cuma... nggak denger kalau lo manggil. Sori, gue lagi... baca SMs tadi. Ada
apa?”
“Kita mau ulang lagi nih latihannya. Lo udah siap, kan?”
Aku menoleh dan memandang Mario, Moreno, dan Oliv yang masih sibuk di depan
instrumen mereka masing-masing, tapi jantungku berdetak keras, dan rasanya keringatku
membanjir. Tanpa kusadari, tanganku gemetar dengan sendirinya. Aku takut.
Dan aku nggak mungkin bisa latihan band dalam kondisi kayak gini.
“Mmm... Os, gue nggak ikut dulu ya latihannya? Gue... gue sakit perut... mau ke toilet...”
Dan tanpa babibu lagi, aku langsung menghambur keluar dari ruang musik.
* * *
Aku masuk rumah dengan perasaan kacau-balau. Otakku serasa berputar dengan pertanyaanpertanyaan
yang tak ada jawabannya. Siapa peneror itu? Dari mana dia tau nomorku? Bagaimana
dia bisa tau aku punya hubungan sama Dylan?
“Non... Non Alice!”
Aku menoleh, dan melihat Mbok Sum, pembantu keluargaku, berusaha menyusulku dengan
napas terengah-engah. Di tangannya ada banyak sekali amplop.
“Ada apa, Mbok?”
“Waduh! Non Alice lagi ngelamun, ya? Mbok panggil-panggil kok nggak noleh?”
“Mmm... maaf, Mbok, aku tadi nggak dengar...”
“Ohh... ya sudah. Mbok cuma mau kasih ini kok.”
Dalam sekejap, amplop-amplop yang tadinya berada di genggaman Mbok Sum berpindah ke
tanganku.
Apa ini? Siapa yang mengirimiku surat sebanyak ini? Sejak kapan aku jadi artis yang terima
puluhan surat penggemar setiap hari?
Aku membuka salah satu amplop itu dengan penasaran. Nggak ada nama dan alamat
pengirimnya, jadi aku sama sekali nggka punya gambaran apa isi amplop ini.
Sedetik kemudian aku melotot begitu mengetahui apa isinya. Kertas HVS biasa, yang
ditempeli potongan-potongan huruf dari koran.
GUE KAN UDAH BILANG, JAUHI DYLAN!
LO NGGAK PANTAS BUAT DIA!
Sepertinya aliran darah di tubuhku berhenti. Aku diteror... Benar-benar diteror...
“Surat dari siapa, Non?” tanya Mbok Sum penasaran. Aku terlonjak.
“Ehh... dari temen lama, Mbok,” jawabku ngaco. Aku nggak mau Mbok Sum tau soal surat
teror ini. Nggak ada yang meragukan kemampuan mulut Mbok Sum menyampaikan kabar apa
pun ke Mama, dan kalau Mama sampai tau, pasti Mama khawatir setengah mati. Pastinya Mama
akan cerita ke Daddy, dan mungkin mereka bakal memaksaku putus dengan Dylan. Aku nggak
mau itu semua terjadi.
“Wah... temen lama Non Alice kangen banget, ya? Ngirim suratnya sampai banyak gitu,”
celetuk Mbok Sum.
Aku memandang sisa amplop dalam genggamanku yang belum kubuka, lalu menghela napas
dalam-dalam. Nggak perlu diragukan lagi, isi amplop yang lain pasti sama. Aku cepat-cepat
masuk kamar, lalu menjejalkan semua amplop itu ke salah satu laci meja belajarku.
* * *
Mandi ternyata nggak bisa menghilangkan perasaan kacau-balauku. Padahal tadi aku sudah
mengguyur kepalaku berkali-kali dengan air dingin, berharap air itu bisa melarutkan semua
pikiran yang membuat otakku sumpek ini, tapi sia-sia. Tenagaku rasanya habis untuk berpikir,
jadi aku menjatuhkan diri ke ranjang.
Siapa yang menerorku? Apa dia orang yang dulu juga meneror Mbak Karin?
Kepalaku pusing banget, mungkin gara-gara sepanjang hari ini aku belum makan. Mana bisa
aku makan kalau kepikiran SMS itu? Dan surat-surat sialan itu juga...
Kalau gitu... percuma aja aku dan Dylan pacaran diam-diam, toh akhirnya peneror ini tau
juga. Apa aku harus bilang sama Dylan?
Nggak. Aku nggak boleh bilang sama Dylan, nanti dia khawatir. Dan dia lagi sibuk banget
sama promo tur albumnya di Sumatra sana, aku nggak bisa mengganggu dia dengan hal ini. Pasti
nanti dia jadi kepikiran, dan aku bakal bikin dia sedih...
HP-ku bunyi. Dengan panik aku meraih HP itu, dan langsung mendesah lega melihat foto
Dylan yang terpampang di monitornya.
“Halo?”
“Halo, Say, lagi ngapain?”
“Mmm...” Pandanganku terantuk pada TV di kamarku. “Lagi nonton TV.”
“Udah makan?”
“Eh... udah tadi. Kamu udah?”
“Udah. Sekarang lagi on the way ke Bireun.”
“Terus, ada apa kamu telepon?”
“Kamu kokngomongnya gitu? Ya aku pengin ngobrol sama kamu dong. Nggak tau kenapa,
kayaknya dari tadi siang aku kepikiran kamu terus. Perasaanku nggak enak. Sebenernya aku mau
telepon kamu tadi siang, tapi habis interview di radio kami langsung balik ke hotel dan packing,
makanya aku baru bisa telepon kamu di bus sekarang.”
“Oh,” gumamku pelan.
“Say, nggak ada... nggak ada kejadian buruk, kan? Kamu baik-baik aja, kan?”
Aku tercenung. Apa Dylan bisa telepati, ya? Apa dia bisa merasakan kalau aku lagi gelisah
dan takut gara-gara SMS itu?
“Aku nggak papa. Cuma tadi siang aku... sakit perut, tapi sekarang udah baikan kok. Udah
minum obat,” aku mengarang.
“Oh, untung deh kamu udah baikan. Pasti kamu jajan sembarangan ya, makanya sakit perut
gitu, hayo ngaku...” Dylan terdengar geli.
“Iya, aku memang tadi beli es dawet di pinggir jalan,” jawabku ngaco.
“Tuh kan. Lain kali jangan beli makan sama minum sembarangan, ya? Kalau kamu sakit
perut lagi gimana? Ya udah, sekarang kamu tidur aja, aku juga ngantuk banget, mau tidur dulu.
Besok manggung siang soalnya.”
“Oke. Met bobo.”
“Iya. Kamu juga met bobo ya. I miss you.”
Dylan memutuskan sambungan, dan aku nyaris berteriak saking kacaunya perasaanku. Aku
harus gimana? Dylan segitu perhatiannya sama aku, baru kubilang aku sakit perut aja, dia udah
khawatir banget, gimana kalau aku bilang aku diteror?
Pokoknya, Dylan nggak boleh tau soal ini.
Aku membuka inbox-ku, tempat SMS teror itu tersimpan, dan langsung menghapusnya.
Anggap saja aku nggak pernah terima SMS itu. Dan aku akan melupakan semua surat kaleng itu
juga. Ini semua cuma kerikil-kerikil kecil dalam hubunganku dan Dylan.
* * *
“Lo kenapa? Suntuk banget kayaknya. Ke kantin, yuk!” ajak Grace.
Aku menggeleng. “Gue nggak lapar.”
“Woah. Tumben. Kalau gitu, gue nggak jadi traktir lo bakso Pak Amboi deh.”
Aku nggak menggubris Grace, dan terus menunduk. Sekarang jam istirahat, tapi aku nggak
berniat makan. Tadi pagi ada satu SMS lagi yang masuk, mengancamku supaya aku nggak dekatdekat
Dylan lagi. Satu SMS itu sudah mengacaukan mood-ku hari ini. Hatiku nggak tenang dari
pagi.
“Lice, lo ada masalah, ya?”
Aku duduk tegak. Grace ternyata belum keluar dari kelas untuk istirahat. Dia masih duduk di
sebelahku dan menatapku khawatir.
“Lo pasti lagi ada masalah. Alice yang normal nggak mungkin nggak bereaksi kalau gue
bilang gue mau traktir bakso Pak Amboi.” Grace tersenyum kecil. “Ada yang mau lo ceritain ke
gue? Apa soal Dylan lagi?”
“Nggak. Gue nggak papa kok. Gue cuma lagi... PMS.”
Grace menggeleng. “Lo bohong. Tanggal bulanan lo kan sama ama gue. Paling beda satu
hari doang, dan gue udah selesai dapet dua minggu lalu.”
Aku merutuk. Begini inilah kalau temanmu terlalu mengenalmu. Kamu nggak bisa
menyembunyikan apa pun darinya.
“Gue... telat dapetnya. Nggak tau kenapa bulan ini telat banget,” aku masih berusaha ngeles.
Jangan sampai Grace tau soal masalah ini, pasti dia bakal menyarankan aku untuk cerita ke
Dylan, hal terakhir yang ada di pikiranku sekarang.
Grace melongo. “Lo... nggak ngapa-ngapain sama Dylan, kan?”
Aku melotot. “Maksud lo... lo ngira gue...” Aku menggambar lingkaran di udara dengan
jariku. Grace mengangguk dengan tampang ngeri. “Ya enggak lah, Grace! Ada-ada aja lo!
Emangnya kalau orang telat dapet tuh selalu hamil? Lo mikirnya kejauhan! Gue ama Dylan
ciuman aja belum pernah!” kataku dengan wajah panas. Untunglah yang ada di kelas cuma aku
dan Grace. Nggak tau deh apa jadinya kalau ada anak lain yang mendengar omongan kami
sekarang. Jangan-jangan nanti di sekolah ini bakal beredar gosip aku hamil! Ihhh...
“Ya sorii... Habisnya lo murung banget gitu. Gue kan jadi khawatir.” Grace nyengir. “Jadi, lo
beneran nggak papa?” tanya Grace lagi.
“Bener, Grace. Gue cuma lagi nggak enak badan. Lo ke kantin sendirian nggak pa-pa, kan?
Gue mau di kelas aja dulu, habis ini gue ke UKS.”
Grace kayaknya ragu untuk pergi, jadi aku memasang tampang paling ceria yang bisa
kutampilkan, biar dia nggak khawatir, dan untunglah Grace akhirnya pergi ke kantin tanpa
bertanya macam-macam lagi.
* * *
Siang ini Grace mengantarku pulang. Sepanjang jalan, dia sibuk berceloteh tentang bistro sushi
enak yang baru buka (yang pemiliknya adalah teman Kak Julia, kakak Grace), dan berniat
mengajakku ke sana. Yang ada malah aku nanti bakal mual kalau kupaksa makan.
Mobil Grace sudah memasuki kompleks rumahku sewaktu HP-ku berbunyi. Telepon. Dari
si peneror, yang nomornya sudah kuhafal di luar kepala karena SMS yang dikirimnya kemarin.
Jantungku berdegup cepat, ada rasa takut yang menyelusup. Aku nggak akan mengangkat
teleponnya. Nggak akan.
“Hei, HP lo bunyi tuh!” seru Grace. Aku terperanjat, dan mau nggak mau menjawab telepon
itu, karena Grace sudah menatapku dengan pandangan curiga.
“Ha... Halo...,” kataku tergagap.
“Hei, ternyata lo nggak cuma goblok ya, tapi juga idiot. Terbelakang,” suara seorang cewek
dengan nada benci yang teramat sangat.
Ya Tuhan, ini dia. Ini dia si peneror itu...
“Maaf, tapi kamu...”
“Gue kan udah bilang, JAUHI DYLAN! Lo itu nggak pantas buat dia!”
Dan sambungan diputus dengan sangat kasar, sampai-sampai aku hanya bisa terduduk kaku
di jok mobil Grace, dengan napas yang memburu.
“Siapa, Lice?” tanya Grace, suaranya terdengar khawatir.
“Oh... ini... mmm... salah sambung! Iya, salah sambung!” aku berusaha tersenyum, tapi aku
yakin banget aktingku pasti sama nggak meyakinkannya dengan bintang-bintang sinetron amatir.
“Salah sambung kok tampang lo sampai pucat gitu?” tanya Grace nggak percaya. Nah
kaaannn... apa kubilang? Grace kan nggak bego!
“Mmm... gue...” Aku mengedarkan pandangan ke luar jendela, dan ternyata mobil Grace
sudah berhenti di depan rumahku. “Gue nggak papa, Grace. Thanks ya udah nganterin. Sampai
ketemu besok.”
Dan sebelum Grace sempat mengucapkan apa-apa lagi, aku sudah menghambur keluar dari
mobilnya.
* * *
“Jadi benar, Anda pacaran dengan Dylan Skillful?” kata seorang wartawan.
“Apa Anda nggak merasa terbebani dengan status Anda?” cecar wartawan lainnya.
“Eh, jadi lo pacarnya Dylan? Kok lo nggak ngaca sih?” kata Noni. “Udah jelek, bego pula!
Lo yang numpahin milk tea ke baju gue, kan?”
“Ihhh... itu ceweknya Dylan Skillful? Jelek yaaa... Nggak imbang gitu lho!” Segerombolan
cewek menatapku dari jauh dan sibuk berkasak-kusuk.
“Lo nggak pantas buat Dylan,” kata seorang cewek yang aku bahkan nggak tau namanya.
Nggak pantas...
Nggak ngaca...
Jelek...
“Diaaaaammmm!” jeritku dengan suara parau. Aku duduk dengan napas terengah-engah.
Ternyata mimpi. Yang tadi itu mimpi.
Aku masih duduk di ranjangku dengan napas ngos-ngosan, seolah habis lari puluhan kilo.
Dadaku sesak.
Kenapa aku bisa mimpi kayak gitu? Kenapa aku jadi ketakutan gini? Apa ini yang dulu
dirasakan Mbak Karin? Pantas aja dia melepas Dylan...
Apa aku juga harus melakukan hal yang sama? Mungkin kalau melepas Dylan, aku bakal bisa
hidup tenang lagi, jauh dari teror SMS, surat kaleng, telepon iseng, dan perasaan takut ketahuan...
“Alice! Alice!”
Aku menoleh ke arah pintu yang digedor keras. Terdengar suara Mama dari luar. Aku cepatcepat
berlari ke depan cermin, merapikan rambutku yang acak-acakan dan berusaha kelihatan
senormal mungkin, lalu membuka pintu.
“Kamu kenapa? Kok teriak-teriak?” tanya Mama begitu aku membuka pintu.
“Aku... aku nggak papa kok, cuma mimpi buruk...”
Mama menyipitkan matanya, tapi lalu mengusap kepalaku dengan sayang. “Hmm... mungkin
kamu kebanyakan nonton film horor tuh,” gumam Mama. “Ayo sana mandi dulu, terus makan
ya. Dari pulang sekolah tadi kamu masuk kamar dan belum makan, nanti kamu sakit lho.”
Aku mengangguk pasrah. Kulihat langit di luar sudah gelap. Sudah berapa lama aku tidur?
Pasti aku kecapekan memikirkan semua teror itu, dan tanpa sadar tertidur sebegini lama.
“Oh ya, Mama sampai lupa. Ini tadi ada surat buat kamu.” Mama mengulurkan beberapa
amplop yang ada dalam genggamannya, dan aku hanya bisa melotot ngeri. “Kok tumben kamu
dapat surat banyak banget. Biasanya nggak ada yang ngirim sama sekali...” Mama meneliti
amplop-amplop itu dengan tatapan heran.
“Eh, itu pasti dari teman lamaku, Ma!” Aku merebut amplop-amplop itu dari tangan Mama.
Mama sampai kaget. “Mmm... aku mandi dulu, Ma.”
Cepat-cepat kututup pintu kamarku sebelum Mama semakin curiga.
* * *
“Alice!” teriak Grace begitu aku muncul di sekolah esok paginya. “Sini lo! Sini!” Grace menarik
tanganku keluar dari kelas. Dia baru berhenti setelah kami sampai di depan Lab Biologi yang
sepi.
“Ada apa, Grace?”
“Ada apa? Harusnya gue yang nanya ada apa! Lo kenapa sih, Lice? Berapa hari ini lo
kelihatan aneh banget. Lo ada masalah, ya?”
“Nggak, Grace, gue nggak papa...”
“Bohong!” bentak Grace, aku sampai terlompat karena kaget mendengar bentakannya. “Gue
kira lo menganggap gue sahabat, tapi taunya lo bahkan nggak cukup percaya untuk cerita masalah
lo ke gue!”
Aku bengong, dan Grace menatapku tajam. Seumur-umur, Grace nggak pernah marah
padaku, apalagi membentakku seperti tadi.
“Dengar, Lice, gue hargai kalau lo nggak cerita semua masalah lo ke gue, tapi kalau sampai
ada masalah yang buat lo sampai nggak enak makan, murung terus, dan selalu terlihat ketakutan
kayak sekarang, gue harus tau masalah apa itu!”
Mataku mengerjap dua kali. Grace bilang aku selalu terlihat ketakutan?
“Beberapa hari yang lalu, Oscar cerita lo kelihatan aneh banget di ruang musik. Katanya
kalian lagi break latihan, dan lo sibuk sendiri dengan HP lo, terus tiba-tiba lo jadi aneh waktu
kalian mau latihan lagi. Lo pucat... ketakutan... terus lo mendadak kabur dari ruang musik...”
“Gue waktu itu cuma sakit perut, dan nggak tahan mau ke WC!” potongku cepat.
Grace menggeleng. “Gue nggak percaya.”
“Ya udah!” bentakku sewot. Aku nyaris melangkah pergi dari depan Lab Biologi, tapi Grace
mencengkeram tanganku.
“Lice, jujur sama gue, ya? Apa lo... apa lo diteror?”
Aku terkesiap, dan rasanya mendadak banjir keringat.
“Jawab, Lice! Jawab!” Grace mengguncang-guncangkan bahuku. “Bilang ke gue lo nggak
diteror! Bilang ke gue firasat gue ini salah!”
Aku nggak menyangka ekspresi Grace bakal seaneh itu. Dia kelihatan sama ketakutannya
denganku, bahkan mungkin lebih...
“Lo bener...,” kataku lirih. Grace mendongak menatapku, dan wajahnya langsung pias.
“Lo diteror? Lo bener-bener diteror?”
Aku mengangguk, dan mengeluarkan HP-ku dari saku rok seragam, lalu menunjukkan
beberapa SMS teror yang masih tersimpan di inbox.
“Lo... lo udah bilang sama Dylan soal ini?”
“Belum. Dan gue nggak akan bilang apa pun sama dia.” Grace menggeleng, tapi aku tetap
pada prinsipku. “Lo sendiri dulu pernah bilang Dylan nggak bisa berbuat apa-apa sewaktu Mbak
Karin diteror. Dia marah, sedih, tapi tetap nggak bisa melakukan apa-apa. Lagi pula, gue nggak
mau bikin Dylan khawatir...”
“Jadi lo bakal tetap meneruskan hubungan lo sama Dylan?”
Aku mengangguk.
* * *
Hari ini Dylan pulang dari tur keliling Sumatra-nya, dan dia bakal mengajakku pergi nonton! Ini
pertama kalinya aku bisa nonton bareng sama dia. Aku senang banget! Memang perasaanku
masih kacau gara-gara semua teror itu, tapi aku sudah bertekad nggak akan menunjukkan
ekspresi ketakutan atau apa pun yang bakal membuat Dylan curiga. Aku tetap akan jadi Alice
yang ceria di matanya.
Aku berjalan keluar gerbang sekolah dengan tampang excited, tapi aku langsung bengong
melihat siapa yang menungguku di seberang jalan sekolah.
Bukan, bukan Dylan, tapi Mbak Vita.
“Hai Alice!” sapa Mbak Vita.
“Eh... ada apa, Mbak?” tanyaku kagok. Ngapain Mbak Vita sore-sore gini datang ke
sekolahku? Dan dari mana dia tau aku sekolah di sini?
“Lo kaget ya, kenapa gue bisa ada di sini?”
Aku mengangguk. Kenapa orang-orang selalu bisa membaca apa yang ada di pikiranku sih?
Apa tampangku segitu jelasnya menyiratkan isi kepalaku? Kalau iya, seharusnya aku pakai topeng
aja mulai sekarang.
“Gue dimintain tolong sama Dylan buat ngejemput lo.”
“Jemput?” tanyaku heran.
“Iya. Kan Dylan bilang, dia mau nonton sama lo. Nah, berhubung Dylan nggak mungkin
datang sendiri buat ngejemput lo, dan Tora lagi sibuk banget, gue yang jemput lo di sini. Kita ke
rumah Dylan dulu, nanti dari sana baru kalian pergi nonton.”
Aku manggut-manggut. Kedengarannya memang masuk akal, soalnya Dylan jelas nggak
mungkin banget menjemputku di sini. Yang ada malah nanti bakal jadi acara bagi-bagi tanda
tangan dan foto bareng!
“Yuk, pergi sekarang?” tawar Mbak Vita. Aku menurut, dan sesampainya di mobil Mbak
Vita, aku mengirim SMS ke Mama, bilang aku nggak usah dijemput. Kali ini aku nggak perlu
bohong, aku bisa jujur aku mau pergi sama Dylan, kan Mama dan Daddy sudah menyetujui aku
pacaran, hehe...
* * *
Kami sampai di rumah Dylan, dan aku terpesona begitu turun dari mobil Mbak Vita. Bukan,
bukan karena rumah Dylan mewah kayak istana, tapi karena rumah ini adalah salah satu rumah
terbagus yang pernah kulihat, biarpun ukurannya mungil.
“Yuk, masuk. Dylan mungkin masih mandi. Tadi soalnya pas gue berangkat, dia baru datang
dari airport.”
Aku mengangguk, dan mengikuti Mbak Vita masuk ke halaman rumah Dylan.
Oh wow.
Taman rumah Dylan keren banget! Di bagian tengahnya ditanami rumput gajah hijau segar
yang sepertinya habis disiram. Di sisi dekat lantai teras, berjajar pot-pot bunga anggrek aneka
warna yang ditata rapi di atas kerikil-kerikil hitam. Cuma ada beberapa pohon palem botol yang
masih kecil di taman ini, tapi tamannya bener-bener kelihatan teduh dan sejuk!
“Alice? Kok bengong? Ada apa?” tegur Mbak Vita.
Aku gelagapan. “Ehh... sori, Mbak, habis tamannya bagus banget sih.”
Mbak Vita tersenyum. “Iya, Tante Ana emang paling hebat kalau soal mengurus rumah,
makanya rumah dan tamannya bagus banget meskipun ukurannya nggak terlalu besar.”
“Tante Ana?”
“Iya, nyokapnya Tora sama Dylan. Nanti juga lo kenal, orangnya ada kok di dalam.”
Aku manggut-manggut, tapi dalam hatiku mulai grogi juga. Gawaaattt... bakal ketemu
nyokap Dylan! Aku kan nggak siap mental sama sekali!
Aku serasa bisa mendengar suara Grace yang cempreng di dalam kepalaku. Kalau tau situasi
apa yang kuhadapi sekarang, dia pasti bakal bilang, “Cieeee... kenalan sama camer nih!”
“Lo kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Ah... nggak papa, Mbak. Aku... agak grogi aja,” jawabku malu.
“Oh, grogi ketemu Tante Ana, ya? Tenang aja, Tante Ana orangnya baiiiikkk banget kok.
Gue dulu juga takut, tapi sekarang malah akrab banget sama Tante Ana. Yuk, kita masuk.”
Mbak Vita berjalan melintasi taman dan masuk ke teras, aku mengekor di belakangnya.
“Permisi,” kata Mbak Vita waktu dia membuka pintu rumah. “Dylan? Tante Ana?”
“Hei, Vita, udah kembali?”
Seorang wanita muncul dari ruang tengah, dan aku langsung panas-dingin. Pasti ini Tante
Ana. Mampus deh aku, grogi bangeeeetttt!!!
“Iya, Tante. Kebetulan sekolahnya Alice kan nggak jauh-jauh amat dari sini.”
Tante Ana melongok dari balik bahu Mbak Vita, dan tersenyum melihatku.
“Ah, ini pasti Alice!” serunya senang. “Ayo, ayo, mari duduk dulu. Dylan masih dalam
kamarnya.”
Tante Ana menggandeng tanganku sampai aku duduk di sofa ruang tamu, lalu dia duduk di
sebelahku. Mbak Vita duduk di sofa seberang. Jantungku melompat-lompat nggak keruan. Aku
bakal diapain nih? Dinilai pantas atau nggak jadi pacar anaknya? Aduuuuhhh...
“Alice sekarang kelas berapa?” tanya Tante Ana ramah. Suaranya halus sekali, dan wajahnya
juga benar-benar keibuan. Mungkin aku aja yang kelewat grogi, orang Tante Ana baik begini.
“Kelas satu SMA, Tante,” jawabku sesopan mungkin.
“Oh.” Tante Ana mengangguk. “Berapa bersaudara?”
“Saya... anak tunggal.”
“Wah, apa nggak kesepian kalau di rumah?”
“Ya, kadang-kadang aja sih Tante. Tapi mungkin karena saya sudah terbiasa, jadi nggak
terlalu kesepian.”
“Kalau misalnya lagi nganggur di rumah, main-main aja ke sini, temani Tante, ya?”
Aku melongo. Nggak salah nih?
“Dylan kan sering keluar kota. Tora juga kadang-kadang pergi sama Dylan. Papa Dylan dan
Tora baru pulang kantor kalau udah sore. Untung Vita sering ke sini, jadi Tante nggak kesepian.
Kamu juga sering-sering ke sini aja, biar rumah ini nggak jadi sepi.”
Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Wow, apa aku punya sesuatu yang bikin Tante Ana jadi
senang sama aku? Atau memang Tante Ana sebaik ini sama semua orang?
Aku menoleh ke arah Mbak Vita dengan tampang bingung. Tapi mbak Vita malah
tersenyum dan memberi isyarat dengan matanya supaya aku mengiyakan permintaan Tante Ana.
“Iya, Tante, nanti saya akan sering-sering ke sini sama Mbak Vita,” kataku sambil tersenyum.
Tante Ana kayaknya senang banget mendengar kata-kataku.
“Nah, tu dia Dylan udah selesai,” kata Mbak Vita, dan aku langsung mengikuti arah
pandangannya. Dylan berdiri di depan pintu yang pasti pintu kamarnya, dan dia tersenyum
menatapku.
Oh ya ampun, kenapa cowok ini selalu tambah ganteng kalau aku nggak ketemu dia berharihari?
“Mama,” katanya, “Alice jangan dilamar dulu lho. Dia kan masih harus lulus sekolah dulu.”
Dylan tersenyum.
Kalau ada lubang di sini, aku bakal lompat ke dalamnya, bener deh! Malu banget sih!
* * *
“Kamu kenapa murung terus gitu?” tanya Dylan waktu kami duduk di salah satu kafe di PIM.
Tadi kami baru selesai nonton, dan ternyata hari ini Dylan benar-benar nekat menyamar pakai
topi dan kacamata, cuma supaya kami bisa pergi bareng tanpa dipergoki orang. Well, kayaknya
lumayan juga penyamarannya, sejauh ini nggak ada satu pun orang yang memanggilnya atau
minta foto bareng.
“Say? Kamu nggak papa, ya? Aku kok jadi khawatir lihat kamu, kayaknya kamu punya
masalah yang berat banget gitu.”
Aku menggigit bibir. Nggak mungkin aku bilang kalau aku lagi ketakutan gara-gara SMS
yang masuk ke HP-ku barusan. Nggak seperti biasanya, SMS kali ini sudah bawa-bawa kata
“mati” dan “menyesal seumur hidup”. Aku benar-benar takut, dan walaupun sudah bersusah
payah menyembunyikan rasa takut itu, ternyata Dylan masih bisa melihatnya di wajahku yang
murung.
“Aku... aku nggak kenapa-napa kok. Mungkin karena sekarang udah mau minggu ujian aja,
makanya aku agak stres.”
Dylan diam. “Bukan karena kamu marah sama aku, kan?”
“Kenapa aku harus marah sama kamu?” tanyaku bingung.
“Ya, karena aku pergi tur seminggu lebih, dan kita nggak bisa sering ketemu kayak orangorang
lain yang pacaran. Mau ketemu aja, harus sembunyi-sembunyi kayak gini. Wajar banget
kalau kamu marah sama aku.”
“Nggak, aku nggak marah. Kamu kan emang anak band yang harus tur untuk promo album
kamu. Itu pekerjaanmu, dan aku ngerti kok.”
“Thanks ya, kamu bener-bener pengertian, padahal aku selalu ngecewain kamu. Aku nggak
bisa jadi cowok yang baik buat kamu...”
Dylan menunduk, dan aku asli bingung! Aku jadi murung gini kan gara-gara mikirin soal
SMS teror itu, bukannya karena aku marah ditinggal Dylan tur atau apa.
“Oh ya, ini aku ada sesuatu buat kamu.” Dylan mengeluarkan HP-nya dari saku.
“Apa? HP-mu?” Ngapain dia kasih HP-nya ke aku? Apa dia udah bosan sama HP-nya dan
mau beli yang model terbaru, makanya yang lama dikasih ke aku? Kamu emang bener gitu, ya
lumayan juga sih, hehe...
“Bukan.” Dylan nyengir. “Ini. Dengerin deh.” Dylan memencet-mencet beberapa tombol di
HP-nya, lalu menyerahkan HP itu ke aku.
Waktu HP itu menempel di telingaku, sebuah lagu mengalun. Ternyata Dylan merekam satu
lagu di HP-nya, dan ada yang mengiringi nyanyiannya dengan piano. Pasti Ernest.
Aku memasang telingaku baik-baik.
Kusembunyikan kau dari dunia
Kututupi kisah indah kita
Semua kulakukan untukmu,
Karena duniaku ‘kan menyakitimu...
Aku terpaksa bungkam
Dan kadang menyangkal
Tapi percayalah,
Itu tidak dalam hatiku...
Ini bukan untuk selamanya
Hanya sementara
Sampai mereka mau menerima
Dan mengerti bahwa
Hanya padamu kutemukan cinta...
Ya Tuhan.
Lagu ini... Dylan mengarang lagu ini untukku?
“Itu lagu baru,” kata Dylan waktu dia melihat ekspresi kagetku. “Aku yang tulis liriknya, dan
Ernest yang bikin melodinya. Itu lagu... untuk kamu... Akan aku masukkan di album Skillful yang
baru nanti.”
“Tapi, Say...”
“Ssstt...” Dylan menempelkan telunjuknya di bibirku. “Aku minta maaf sama kamu seribu
kali aja mungkin nggak cukup untuk menebus rasa bersalahku. Anggap lagu ini jadi permintaan
maafku ya? Ini memang nggak bisa menutupi semua sakit hatimu karena aku nggak bisa jadi
pacar yang baik, tapi...”
Cukup sudah. Aku bener-bener nggak peduli dengan segala macam teror itu. Bisa jadi
pacaran sama cowok sebaik Dylan benar-benar harus dibayar dengan harga mahal, dan mungkin
salah satunya dengan perasaan tertekanku gara-gara semua teror itu.
Tapi aku nggak akan pernah bisa melepas Dylan... Jangan-jangan aku mati kalau kehilangan
cowok ini. Aku bener-bener sayang sama dia. Cowok mana lagi yang sanggup bikin lagu sebagus
ini untukku?
* * *
Hari ini aku seneng banget! Pertama karena hari ini nggak ada satu pun SMS atau telepon teror
yang kuterima. Kedua, Grace katanya dapat voucher dari teman Kak Julia yang punya bistro sushi
yang yummy banget itu, jadi dia bakal mengajakku makan di sana, GRATIS! Ketiga, ulangan kimia
tadi dibagikan, dan coba tebak, aku dapat 85! Wuih, ini rekor tertinggiku untuk pelajaran kimia!
Satu-satunya yang membuat aku sedih cuma karena hari ini Dylan lagi nggak di Jakarta, dan
aku nggak bisa ketemu dia. Dia lagi manggung di salah satu kota di Jawa Timur, kalau nggak
salah... Lamongan? Atau Pekalongan, ya? Ehh nggak tau deh, yang pasti baru besok Dylan
pulang. Tapi nggak papa deh, toh aku udah terbiasa ditinggal-tinggal begini. Risiko jadi pacar
anak band, hehe...
Tapi... Grace di mana, ya? Tadi aku menyuruhnya ambil mobil dulu dan menungguku di
seberang gerbang, karena aku masih latihan band sebentar sama anak-anak untuk acara anggung
di aula minggu depan, tapi kok sekarang dia nggak kelihatan batang hidungnya? Hmm... lebih
baik aku menunggunya di seberang gerbang aja.
Aku berjalan dengan santai. Siang ini mendung, jadi udara nggak segerah biasanya. What a
perfect...
“Alice! Awaaaassssss!!!”
Mendadak ada tangan yang menarikku ke belakang sampai aku terjengkang di aspal yang
keras, sementara sebuah mobil melaju sangat kencang di depanku. Jaraknya hanya tiga puluh
sentimeter dari tempatku sekarang. Kalau aku masih berada di tempatku berdiri tadi, pasti aku...
“Lo nggak papa, Lice?” tanya suara di belakangku. Sepertinya dia orang yang menarikku tadi.
Aku menoleh dan melihat Oscar dan Moreno meringis kesakitan di aspal. Cepat-cepat aku
bangun, tapi siku dan kakiku terasa perih.
“Kalian...”
“Mobil tadi mau nabrak lo, Lice! Awalnya dia pelan, tapi begitu sudah mendekati lo,
mendadak dia melaju cepat,” jelas Oscar panik.
“Kalian menyelamatkan gue...,” desisku setengah gagap. “Kalau nggak ada kalian, mungkin
gue...”
“Ada apa ini? Ada apa?” Sebuah suara lain menyerbu. Grace. Aku menoleh dan melihat
mobilnya terparkir sembarangan di dekat kami. Wajahnya merah dan berkeringat.
“Ada orang yang mau nabrak Alice tadi,” jelas Moreno.
“Kalau nggak ada mereka yang menarik gue dari belakang, gue pasti udah... Udah...,” jelasku
terpatah-patah. Grace melotot.
“Itu... apa tadi itu...”
“Itu jelas bukan kecelakaan, Grace,” potong Oscar. “Mobil itu masih pelan jalannya, tapi
begitu mendekati Alice, dia bukannya menurunkan kecepatan, malah semakin tancap gas.”
Aku menoleh menatap Grace dengan ngeri. Apakah ada orang yang dengan sengaja mau...
mau membunuhku...?
HP-ku berbunyi. Nomor si peneror terpampang di layarnya. Dengan takut kudekatkan HP
itu ke telingaku.
“Halo...”
“Cih! Harusnya lo udah MATI!”
“Lo... lo yang...”
“Haha, nggak masalah. Mungkin itu tadi bisa cukup jadi peringatan buat lo yang keras kepala
dan idiot. Kalau lo masih nekat melanjutkan hubungan sama Dylan, lo bakal mengalami hal yang
lebih buruk dari ini, jadi siap-siap aja.”
Telepon terputus, dan aku masih terpaku di tempatku berdiri. Tangan dan kakiku yang lecet
terasa perih dan berdenyut, tapi degup jantungku yang ketakutan mengalahkan semuanya.
“Dia, Grace... Dia...,” kataku lirih. Lalu badanku terasa ringan, dan mendadak sekelilingku
gelap.
* * *
Kepalaku terasa pusing luar biasa, dan aku mencium bau obat yang membuat perutku mual. Di
mana ini?
“Lice? Lo udah sadar? Thank God...”
Suara Grace. Sedetik kemudian aku melihat wajahnya yang khawatir tepat di depan mataku.
“Gue di mana, Grace?”
“UKS. Lo pingsan tadi setelah terima telepon. Gue bener-bener panik! Untung ada Oscar
dan Moreno, merek ayang bantu gue ngebawa lo ke sini.”
Aku membelalak. Oscar... Moreno... apa mereka?
“Lo tenang aja, gue udah bohong sama mereka berdua, dan mereka udah pulang tadi,” kata
Grace pelan, seolah bisa membaca kekhawatiranku.
“Lo... ngomong apa sama mereka?”
“Gue meyakinkan mereka kalau ini pasti murni kecelakaan. Nggak akan ada orang yang
sanggup membunuh lo, karena lo orang baik, dan nggak mungkin punya musuh.”
“Mereka percaya...?”
Grace mengedikkan bahu. “Gue nggak tau. Semoga aja percaya. Tapi gue udah minta
mereka untuk nggak cerita hal ini ke siapa-siapa.”
Aku bangun dari ranjang UKS, berusaha duduk. Tangan dan kakiku masih perih, tapi sudah
terbalut plester. Mungkin perawat UKS yang membalutnya sewaktu aku pingsan tadi.
“Nih, minum dulu.” Grace menyorongkan segelas air mineral, dengan sedotan yang sudah
ditancapkan. Aku cepat-cepat meminumnya.
“Perawat UKS mana?” tanyaku bingung, menyadari cuma aku dan Grace di ruangan ini.
“Udah pulang. Tadi dia mengobati lo, tapi ini sudah jam pulang, jadi gue minta dia pulang
aja, biar gue yang menunggui lo. Dia setuju, dan menitipkan kunci UKS ke gue, yang harus gue
balikin ke dia besok pagi.”
“Lo bilang apa ke dia?”
“Sama seperti apa yang gue bilang ke Oscar dan Moreno. Gue bilang lo keserempet di depan
sekolah. Untung dia bukan jenis ibu-ibu cerewet yang banyak tanya.”
Aku memejamkan mata, lalu berbaring lagi. Kepalaku terasa berat.
“Lice... tadi sebelum lo pingsan, lo bilang...” Grace nggak meneruskan kata-katanya.
“Iya, Grace,” jawabku lirih. “Ini perbuatan dia, si peneror itu...”
“Orang itu benar-benar gila!” maki Grace keras. “Ini udah kelewatan! Dia sudah melakukan
percobaan pembunuhan, dan itu tindak kriminal! Lo harus lapor ke polisi!”
“Nggak, gue nggak mau bikin ortu gue cemas...”
“Nggak mau bikin ortu lo cemas gimana? Ortu lo emang seharusnya cemas kalau tau
anaknya jadi sasaran pembunuh psikopat!”
“Grace, sudahlah... Ini semua kan terjadi karena gue pacaran sama Dylan... Kalau gue nggak
pacaran sama Dylan, ini juga nggak akan terjadi...”
“Jadi... maksud lo, lo mau...”
Aku mengangguk pahit. “Kesabaran gue ada batasnya, Grace. Dan gue juga nggak mau nanti
Dylan jadi cemas mikirin gue. Lebih baik kami putus aja...”
Grace terdiam, tapi dia memelukku erat. Aku menangis di dadanya. Beberapa hari yang lalu
aku begitu yakin aku akan sanggup menghadapi halangan-halangan dalam hubunganku dan
Dylan. Di mataku waktu itu, semua halangan itu hanya kerikil-kerikil kecil. Tapi sekarang kerikilkerikil
kecil itu sudah mulai membuat kakiku berdarah...
Aku nggak bisa bertahan lagi.
IT’S OVER
―KAMU diteror?‖
―Ya. Lewat SMs. Telepon. Surat kaleng... Aku nggak tahan lagi... Aku takut...‖
Alice membuka tasnya, dan mengeluarkan banyak sekali amplop. Gue membuka salah
satu amplop itu dan membaca isinya. Jauhi Dylann, atau lo bakal menyesal seumur hidup.
Gue buka amplop yang lain. Lo ngaca dong, lo itu nggak pantas buat Dylan! Lalu amplopamplop
lainnya. Semakin banyak yang gue baca, isinya semakin mengerikan. Alice juga
menyerahkan HP-nya ke gue, dan gue benar-benar shock membaca puluhan SMS teror yang
disimpannya di inbox. Semua dari nomor yang sama.
―Ternyata ini ya, yang bikin kamu murung belakangan ini? ini yang kamu sembunyikan
dari aku?‖ tanya gue pahit.
Alice mengangguk, air matanya menetes. ―Lan, aku cuma pengin yang terbaik buat
kamu... Selain semua teror ini, aku juga sadar aku nggak cukup baik buat kamu. Masih
banyak cewek yang jauh lebih baik buat kamu di luar sana. Yang lebih cantik, yang samasama
terkenal...‖
Lihat, kan? Dia sekarang bahkan sudah kembali manggil aku ―Lan‖ lagi, bukan ―Say‖
kayak biasanya! Dan omongannya juga mulai melantur! ―Tapi aku nggak mau sama mereka!
Aku maunya sama kamu!‖
Alice menggeleng. ―Aku cuma akan membuat image-mu jeblok kalau nanti fans-fansmu
tau aku pacaran sama kamu. Aku nggak... nggak cukup pantas untuk jadi pacar idola mereka.
Dan, sebelum mereka tau, lebih baik kita putus aja...‖
―Damn!‖ Gue meremas rambut, dan duduk di sebelah Alice. ―Please, jangan tinggalin
aku. Aku ngerti banget ini berat buat kamu... Semua teror itu... Nggak bisa pacaran seperti
layaknya orang normal... Aku memang egois, gampang aja ngomong kayak gini, sementara
kamu yang menghadapi semuanya, tapi aku...‖
―Udahlah. Jangan bikin semuanya jadi tambah sulit. Kita cuma perlu putus.‖
―Kamu jangan bilang gitu...‖
―Aku nggak bercanda, Lan. Kenyataannya memang kita nggak bisa kayak gini terus,
kan? Kita nggak bisa bohong bahwa duniamu sama duniaku itu berbeda jauh... Dunia kita
itu... seperti dua garis lurus yang sejajar, sampai kapan pun nggak akan ada titik temunya...‖
Bagus, sekarang Alice juga sudah mulai pakai perumpamaan. Semua teror itu benerbener
sudah mengacaukan pikirannya.
―Kalau gitu... kita harus membengkokkan salah satu garis itu, supaya ada titik temunya,‖
kata gue kecut. ―Aku... setelah ini aku nggak mau pacaran backstreet lagi sama kamu. Kita
bakal go public, biar aja semua orang tau kita pacaran, dan kamu bisa ganti nomor HP,
supaya orang brengsek itu nggak meneror kamu lagi. Kit amasih bisa mengubah semuanya...‖
Alice melotot, dan gue rasanya nyaris punya harapan, tapi harapan itu kempes waktu gue
lihat Alice menunduk lagi.
―Kamu nggak ngerti, Lan... ini nggak segampang itu...‖
―Apanya yang nggak gue ngerti? Apa?!‖ Gue nggak tahan lagi, emosi gue meledak.
Alice kelihatannya shock mendengar teriakan gue. ―Maafin aku. Aku... aku nggak bermaksud
ngebentak kamu,‖ kata gue setelah berhasil mengatur napas dan emosi.
―Nggak papa, kamu pantas marah. Aku memang lembek, nggak bisa setegar yang kamu
harapkan...‖
Ya Tuhan, jangan bilang kalau kami sudah sampai di jalan buntu.
―Aku nggak punya solusi lain. Kita bener-bener harus putus,‖ kata Alice lagi.
Oke. Selesai sudah. Hubungan gue yang baru berumur sebulan lebih dikit dengan cewek
yang bener-bener gue cintai sudah berakhir. It‟s over. Gue benci diri gue sendiri! Kenapa dari
dulu gue nggak pernah bikin cewek yang jadian sama gue bahagia? Kenapa gue selalu
melukai mereka?
Siapa pun peneror itu, gue berjanji akan mencari dia! Beraninya dia membuat gue
kehilangan dua orang yang paling gue sayangi, memangnya dia kira dia itu siapa?
Gue mencium kening Alice pelan. Ini ciuman pertama kami, sekaligus yang terakhir.
―Maafin aku. Ayo, aku antar kamu pulang.‖
* * *
―Tor... Tora... Bangun!‖
Tora melompat bangun dan langsung duduk di ranjangnya. Dia merengut begitu melihat
gue.
―Apaan sih, Lan? Lo gangguin gue tidur aja!‖ Tora tidur lagi, dan menarik selimutnya
sampai menutupi kepala.
―Gue putus sama alice.‖
Selimut Tora turun sampai ke dagu. ―Kenapa?‖ tanyanya dengan suara bantal.
―Dia nggak tahan diteror terus.‖
Selimut Tora tahan lagi sampai ke dada, dan kali ini dia benar-benar bangun. ―Diteror?
Dia diteror seperti Karin dulu?‖
Gue mengangguk lesu.
Tora berdecak. ―Apa penerornya sama? Maksud gue... yang meneror Karin dan Alice?‖
―Mungkin. Gue nggak tau.‖
―Terus, apa rencana lo sekarang?‖
―Gue kepingin tau siapa peneror itu, Tor. Gue kepingin nonjok dia.‖
―Sabar. Lo nggak bisa berpikir kalau kepala lo panas gitu. Memangnya lo tau gimana
cara menemukan peneror itu?‖
―Gue tau nomor HP-nya. Tadi waktu Alice nunjukin gue SMS-SMs teror di HP-nya, gue
sengaja menghafal nomor pengirimnya.‖
―Ckck... nggak salah ternyata lo masuk fakultas hukum, memori lo kayak komputer!‖
Tora bangun dari ranjangnya. ―Tapi peneror itu pasti nggak goblok, Lan. Dia nggak akan
pakai nomornya sendiri untuk meneror orang. Dia pasti pakai nomor baru. Toh, nomor
perdana sekarang harganya murah meriah. Lima belas ribu juga dapat.‖
―Terus, lo ada ide lain?‖
―Hmm... lo ada perkiraan siapa kira-kira penerornya?‖
―Nggak. Lagian, gue nggak mau sembarang nuduh orang. Dosa, tau.‖
―Itu nggak nuduh. Lo kan cuma menyaring aja siapa yang kira-kira segitu gilanya
meneror pacar-pacar lo,‖ kata Tora dengan gaya bossy.
―Menurut lo siapa?‖
―Ya meneketehe... harusnya kan lo yang tau. Cewek yang pernah lo tolak cintanya, kali,
atau fans lo yang setengah waras, atau orang yang naksir sama lo setengah mati.‖
Gue melongo. Jangan-jangan...
Ah, nggak, gue nggak boleh menuduh orang sembarangan.
PERMINTAAN TANTE ANA
Satu setengah bulan kemudian...
SATU membaca subject message di milis Dylanders dengan tampang datar. Perasaanku sudah nggak
kacau-balau, biarpun aku nggak bisa bohong aku masih sering teringat Dylan.
Tapi kalau kulihat postingan di milis ini, kayaknya Dylan nggak lagi ingat sama aku...
Dylan udah jadian??? cuekz_91rl
Woah! Smlm gw lht Dylan dtg brg Cindy... Send IM
Aku meng-klik subject milis itu, yang isinya langsung terbuka, lebih cepat dari yang kukira.
>> In dylan_siregar@yahoogroups.com, cuekz_91rl wrote:
Woah! Smlm gw lht Dylan dtg brg Cindy di HUT TOP Channel! Tau Cindy, kan?
Penyanyi baru yang cantiks skale itu lho, yang punya lagu duet bareng band Rebel.
Mrk dishoot pas di red carpet, mesera bgt!
Td pagi jg liputan soal ini ada di infotainment Kabar Selebriti. Cindy terang2an
blg klo mrk emg sdg “dekat”. Ga jls deh “dekat” d sini mksdnya apa. Tp tau sndiri kan
seleb tuh kayak apa, bilangnya cuma “temen” atau “kakak-adik” tapi ujung2nya
jadian en merit!
Huhu... gw sedih! Tp ya sdh lah, itu kan privasinya Dylan ya. Qta doain aja apa
yg trbaik buat Dylan, dan smoga dia bkl smakin oke di Skillful.
Lihat, kan? Dylan udah melupakan aku...
Dia sekarang jalan bareng Cindy, penyanyi baru yang cantik dan sophisticated itu...
Tanpa sadar air mataku menetes.
* * *
“Kenapa lo? PMS lagi?” tanya Grace yang baru nongol di kelas.
“Gue sedih...”
“Kenapa?”
Aku mengambil majalah yang ada di hadapanku, lalu menyodorkannya ke Grace. Itu majalah
C-Girl edisi terbaru, dengan Dylan dan Cindy sebagai covernya. Plus, headline superbesar
bertuliskan Dylan-Cindy: Fresh Couple.
“Lo sedih karena ini?” Grace menuding cover majalah itu, persis di wajah Dylan.
Aku mengangguk. “Ternyata gue ini memang cewek yang nggak berarti ya, Grace? Gampang
untuk dilupakan...”
“Hush! Lo itu ngomong apa?”
“Nah, itu buktinya, Dylan jadian sama Cindy minggu lalu, padahal belum dua bulan gue
putus sama dia... Yah... memang gue yang mutusin dia, tapi kan...”
Grace duduk di sampingku, dan menepuk-nepuk bahuku. “Gue tau lo pasti kecewa. Lo
udah berkorban banyak banget buat dia... Tapi lo putus demi keselamatan lo sendiri...”
Aku mengangguk pahit. Grace benar. Aku harus putus dari Dylan kalau nggak mau
membahayakan diriku sendiri. Aku memang lembek karena aku takut... Aku nggak pernah
menyangka risiko menjadi pacar Dylan ternyata seberat itu. Putus dari Dylan mungkin memang
keputusan yang terbaik, karena sejaka ku minta putus dari Dylan, si peneror juga menghentikan
aksinya. HP-ku nggak pernah lagi menerima SMs atau telepon bernada ancaman. Dan pastinya,
nggak pernah ada orang yang berusaha menabrakku lagi kalau aku sedang menyeberang jalan.
Tapi tetap saja, aku kehilangan Dylan...
* * *
“Aduh, Lice, mati gue... Kalau kayak gini caranya, gue nggak bakal naik kelas...” Grace mondarmandir
di depanku dengan gaya bapak-bapak yang menunggui istrinya melahirkan di rumah sakit.
“Makanya lo jangan main terus, lo harus belajar. Yah, gue emang nggak bisa-bisa amat sih,
tapi tadi malam gue sempat belajar, jadi mungkin nggak bakal ancur banget,” kataku lesu.
Tadi kelasku habis tes fisika, dan soal-soalnya susaaaaahhnnyyyaaa minta ampun! Parahnya,
tadi Grace bilang dia nggak bisa mengerjakan satu soal pun! Kasihan dia. Aku sendiri memang
nggak yakin bakal dapat nilai bagus, tapi yakin tadi seenggaknya aku masih bisa mengerjakan
satu-dua soal dari lima soal.
“Eh, HP lo bunyi tuh,” celetuk Grace.
Aku mengubek tasku untuk mengeluarkan HP. Ternyata memang benar bunyi, kok aku
nggak dengar, ya? Kayaknya tes fisika punya efek samping membuat orang jadi linglung dan
nggak peka sama keadaan sekitarnya. Payah.
Lho? Nomor siapa ini? Apa peneror itu lagi?
“Halo?”
“Halo? Alice?”
Oh, bukan ternyata. Suara ibu-ibu, dan nggak ada nada kebencian yang amat sangat seperti
kalau si peneror yang meneleponku.
“Iya. Maaf, tapi ini siapa ya?”
“Ini Tante Ana, mama Dylan...”
Haaaahhh???
“Ehhh... iya, Tante, ada apa?”
“Maaf ya, Tante tiba-tiba telepon. Tadi Tante minta nomor telepon kamu ke Vita, soalnya
Tante nggak punya nomor telepon Alice sih...”
Aku mengernyit. Ngapain Tante Ana bela-belain minta nomorku ke Mbak Vita? Apa ada
perlu yang penting banget ya? Aku memang dulu pernah memberikan nomorku ke Mbak Vita
sih, waktu aku masih jadian sama Dylan. Bang Tora juga punya nomorku.
“Nggak papa kok, Tante. Ada yang bisa saya bantu?”
“Alice lagi sibuk nggak? Kalau nggak lagi sibuk, main ke sini dong, Tante kepingin ngobrolngobrol...”
Glek. Omigod... Omigod... aku diminta ke rumah Dylan?!
“Ehh... gimana, ya, Tante... Bukannya saya nggak mau, tapi kan...”
“Tante ngerti, kamu pasti nggak mau ketemu sama Dylan, kan? Kalian kan sudah putus.”
Aku memejamkan mata, berusaha menahan rasa sakit yang menusuk mendengar Tante Ana
mengatakan aku dan Dylan sudah putus. Itu memang kenyataan, dan tapi meskipun itu udah
lama terjadi, aku tetap merasa sakit kalau mendengar ada orang yang mengucapkannya.
“Iya, Tante. Saya nggak enak kalau datang ke rumah Tante, nanti Dylan kira...”
“Tenang aja, Dylan lagi nggak ada di rumah kok. Tadi dia lagi pergi sama...”
“Cindy?” potongku sebelum aku sempat mencegah lidahku sendiri.
“Iya, sama anak itu.”
Kok kayaknya aku bisa menangkap nada nggak suka dalam suara Tante Ana, ya? Ah, cuma
perasaanku. Atau aku yang mengharap begitu? Sudahlah. Lagi pula, aku dulu pernah janji sama
Tante Ana bahwa aku bakal sering main ke rumahnya, jadi mungkin sekarang Tante Ana
menagih janji itu.
“Gimana? Alice bisa? Tapi kalau nggak bisa juga nggak papa kok, Tante ngerti.”
“Ohh... bisa kok, Tante. Saya ke sana sekarang.”
“Oke. Terima kasih, ya, Alice. Tante tunggu.”
Aku menurunkan HP-ku dari telinga dan menatap Grace. Anak itu masih mondar-mandir.
“Siapa?” Dia menatapku.
“Nyokap Dylan.”
“Hah? Ngapain nyokap Dylan telepon lo?”
“Gue diminta ke rumahnya, Grace. Katanya nyokap Dylan pengin ngobrol-ngobrol sama
gue. Dulu gue emang pernah janji bakal sering main ke rumah Dylan untuk ketemu Tante Ana,
tapi itu sebelum gue sama Dylan putus...”
“Terus, sekarang lo mau ke sana? Apa jadinya kalau lo ketemu Dylan?”
“Makanya itu, gue juga bingung. Tapi Tante Ana tadi bilang Dylan lagi nggak ada di rumah,
jadi gue nggak akan ketemu dia.” Aku menggigit bibirku gelisah.
“Ya udah kalau gitu lo ke sana aja. Gue anterin deh.”
Aku melotot. “Kalau gue ketemu sama Dylan, gimana?”
“Halaah... bukannya lo malah ngarep bisa ketemu? Siapa tau kalian bisa CLBK lagi?” Grace
mengedip.
Grace memang aneh, sejak aku putus sama Dylan, dia bolak-balik mengoceh dia yakin aku
dan Dylan suatu hari nanti bakal ngalamin CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Dia terusterusan
menggodaku soal yang satu itu.
“Udah, lo jangan bengong aja di situ. Gue anterin deh, tapi gue drop aja, ya? Nggak enak
kalau gue ikutan ke rumah Dylan juga, ntar canggung sama nyokapnya.”
Dan sebelum aku sempat protes, Grace sudah setengah menyeretku ke mobilnya. Kayaknya
dia sudah benar-benar lupa sama tes fisikanya tadi.
* * *
Tante Ana ternyata menungguku di teras. Begitu mobil Grace berhenti di depan rumah Dylan
(setelah sebelumnya sempat nyasar gang tiga kali dan salah rumah dua kali gara-gara aku nggak
ingat jalan), Tante Ana langsung menghambur ke pintu pagar.
“Selamat siang, Tante.”
“Siang, siang, Alice... Sama siapa?” tanya Tante Ana sambil melongok ke mobil Grace.
“Teman saya.”
“Kok temannya nggak ikut turun juga?”
“Eh... dia mau langsung pulang, Tante. Dia ada les,” jawabku asal.
“Oh. Ya udah. Yuk, masuk.”
Aku mengangguk dan mengikuti Tante Ana masuk ke rumahnya. Taman rumah ini masih
sama bagusnya seperti waktu aku pertama kali datang, bahkan sekarang lebih bagus lagi.
Kayaknya Tante Ana lagi kecanduan bunga mawar deh, soalnya sekarang di taman ini banyak pot
berukuran sedang yang penuh dengan bunga mawar beraneka warna. Bagus banget!
“Maaf ya, Tante jadi minta kamu datang siang-siang begini.”
“Nggak papa, Tante. Harusnya saya yang minta maaf, kan saya pernah janji bakal sering
main ke sini, tapi saya nggak menepati. Saya...”
“Iya. Tante tau. Kamu pasti nggak mau ketemu Dylan, kan?”
“Bukannya nggak mau ketemu, tapi... saya dan Dylan, kan...”
“Tante benar-benar sedih waktu Dylan cerita kalau kalian putus. Apalagi sekarang, setelah
Dylan... jalan sama anak itu...”
Aku mengernyit. Ini jelas bukan cuma perasaanku. Tante Ana kayaknya selalu menghindar
menyebut nama Cindy.
“Saya rasa ini sudah jalan terbaik, Tante. Cindy lebih pantas untuk Dylan daripada saya. Dia
cantik, terkenal, sukses... Saya dan Dylan putus kan karena... saya merasa kami terlalu jauh
berbeda... Saya nggak bisa jadi pacar yang baik untuk Dylan. Kalau Dylan dan Cindy kan punya
profesi yang sama, mereka lebih cocok...”
Tante Ana duduk di depanku, dan menatapku lurus-lurus. Sekarang aku tahu dari mana
Dylan punya kebiasaan menatapku lurus-lurus kalau dia mau bicara. Juga dari mana dia mewarisi
mata yang cokelat teduh itu. Dia mirip banget sama Tante Ana sekarang.
“Alice, maaf ya kalau Tante kesannya jadi menakut-nakuti kamu, tapi... nggak tau kenapa,
waktu kamu pertama datang ke sini, Tante senang sekali melihat kamu. Tante langsung merasa
sayang sama kamu, merasa dekat sama kamu...”
Aku bengong.
“Sebelum kamu datang, Dylan bilang dia bakal mengajak pacarnya ke sini. Tante waktu itu
heran kenapa Dylan kelihatannya senang sekali. Sudah lama Tante nggak melihat dia seperti itu,
apalagi setelah Dylan putus sama...”
“Karin?” tanyaku.
“Iya, Karin. Alice tau, ya?” Aku mengangguk. “Maaf ya kalau Tante jadi menyebut-nyebut
Karin, tapi Tante ingat betul bagaimana Dylan dulu jadi pemurung dan nggak pernah ceria lagi
sejak mereka putus. Tapi waktu Alice mau datang... Dylan jadi ceria sekali, dan Tante jadi
berpikir kalau yang bisa mengembalikan Dylan yang dulu ini pasti bukan gadis sembarangan...”
Aku menunduk, nggak tau harus bilang apa.
“Dan ternyata dugaan Tante benar. Alice bukan gadis sembarangan. Tante saja langsung
sayang sama Alice waktu pertama ketemu. Tante jadi tau kenapa Dylan bisa kembali ceria setelah
ketemu sama Alice.”
Aku tersenyum.
“Sayang sekali kalian putus... Tante sempat kaget waktu lihat Dylan jadi pendiam lagi. Tante
kira kalian lagi marahan, seperti layaknya anak muda kalau pacaran, tapi Tante sama sekali nggak
menyangka kalian putus... Tante sedih sekali, bukan cuma karena Dylan jadi murung lagi, tapi
juga karena Tante jadi nggak pernah lagi melihat Alice, makanya tadi Tante nekat minta telepon
nomor Alice sama Vita.”
“Maafin saya, Tante, tapi saya...”
“Kalau seandainya Dylan mau kembali sama Alice, Alice mau nggak?”
Hah?
“Eh... itu nggak mungkin, Tante. Maksud saya, sekarang kan Dylan... udah punya pengganti
saya.”
Tante Ana menggeleng. “Memang. Tapi Tante nggak bisa membohongi diri Tante sendiri
bahwa Tante sangat kehilangan Alice. Biarpun kita baru sekali ketemu sebelum ini, tapi Tante
yakin sekali Alice yang paling cocok untuk Dylan. Dylan itu anak Tante, Alice, Tante bisa melihat
gadis mana yang akan membuatnya bahagia dan yang mana yang enggak...”
“Tapi gimana dengan Cindy? Dia nggak salah apa-apa, dan saya nggak mau harus jadi
perusak hubungan orang. Dylan jug apasti sudah melupakan saya...”
“Siapa bilang?” tanya Tante Ana. “Siapa bilang Dylan sudah melupakan Alice?”
Kalau aku nggak lagi berada di depan Tante Ana, yang mengharuskan aku untuk jaim
setengah mati, pasti aku sudah melonjak-lonjak kesenangan. Apa maksud Tante Ana tadi... Dylan
belum melupakan aku?
Tenang, Alice, tenang...
“Tapi Tante... mana mungkin Dylan bisa pacaran dengan Cindy kalau dia belum melupakan
saya?”
Tante Ana tersenyum, seolah tahu satu rahasia yang pasti bakal membuatku mati saking
hebatnya rahasia itu.
“Pernah dengar yang namanya pelarian?” tanya Tante Ana pelan.
Pelarian? Orang yang kabur dari penjara? Apa hubungan... Ya Tuhan. Yang dimaksud Tante
Ana tadi...
“Maaf kalau saya salah, Tante, tapi apa yang Tante maksud... Cindy itu cuma pelarian
Dylan?”
“Ya, Cindy cuma pelarian Dylan. Dylan berusaha melupakan kamu, dan dia kira itu bisa
dilakukannya dengan cara pacaran dengan Cindy, tanpa tau dia salah besar. Tante mengenal
Dylan dari kecil, Alice, dia nggak bisa membohongi Tante.”
Aku menggigit lidahku, berusaha nggak bersorak.
“Kembalilah pada Dylan, Alice... Anak itu seperti... orang kehilangan arah setelah kalian
putus.”
“Tapi, Tante, saya...”
“Tante tau itu berat sekali untuk kamu. Tapi seenggaknya, maukah kamu... mencoba dulu?
Seringlah ke sini, mungkin kalau kalian sering bertemu, kalian akan sadar kalian belum saling
melupakan, dan akhirnya kalian bisa kembali bersama lagi.”
Aku baru mau menjawab “ya” ketika pintu rumah Dylan tersentak terbuka.
Di ambang pintu berdiri Dylan yang sedang menggandeng mesra Cindy.
TERNYATA...
CEWEK ini benar-benar menyebalkan! Udah nggak mau diajak naik motor gara-gara takut
kulitnya hitam, dia juga memaksa gue naik mobilnya sementara dia yang menyetir! Waktu
gue bilang gue nggak bisa nyetir mobil, dia nggak percaya! Dia baru percaya setelah gue
duduk di belakang setir dan nanya gimana caranya memindahkan persneling ke gigi untuk
atret. Setelah itu dia bilang kami bakal tetap pergi naik mobilnya, tapi dia yang menyetir.
Kalau lo jadi gue, gimana perasaan lo?
Cowok, semobil sama ceweknya, tapi si cewek yang nyetir karena cowoknya nggak bisa,
kurang lucu apa lagi, coba?
Dan seakan itu belum cukup menyebalkan, tadi gue juga harus menemani dia beli
underwear! Sialan, apa dia nggak tau bagi cowok bagian underwear cewek di department
store jauh lebih mengerikan dari rumah hantu?
Cukup sudah, gue nggak tahan lagi. Kenapa sih Cindy nggak bisa jadi menyenangkan
sedikit aja? Gue benar-benar goblok waktu gue kira dia bisa bikin gue lupa sama Alice dulu.
Semua ini gara-gara Skillful manggung di Gebyar Bank Independen sebulan lalu.
Kebetulan Cindy dan Rebel jadi pengisi acara juga. Si Angga, gitaris Rebel itu, temen SMA
gue dulu, dan waktu ngeliat gue, dia spontan mengenalkan Cindy yang ada di sebelahnya.
Cindy cantik banget malam itu, dan gue pikir kenapa enggak? Toh cuma kenalan. Akhirnya
kita tukaran nomor HP, dan kontak-kontakan sebulan ini, sampai akhirnya minggu lalu Cindy
bilang dia pengin jadi lebih dari sekadar teman bagi gue.
Gila, baru sekali ini gue ditembak cewek, dan gue bener-bener speechless.
Tapi di pikiran gue, ini peluang bagus untuk belajar melupakan Alice. Kalau gue jadian
sama Cindy, gue nggak akan teringat Alice terus. Apalagi, gue juga menemukan jalan buntu
dalam mencari orang yang meneror Alice, dan itu kan berarti peluang gue balik sama Alice
nol besar.
Goblok banget gue, cewek ini nggak akan bisa menggantikan Alice. Nggak akan pernah
bisa.
Apalagi waktu Cindy tadi ngotot mau main ke rumah dan kenalan sama Mama, gue
bener-bener sadar gue milih cewek yang salah. Gue nggak mungkin mengenalkan sembarang
cewek ke Mama. Cuma cewek yang gue yakin punya masa depan bersama gue-lah yang akan
gue kenalkan ke Mama.
Tapi gue bisa apa? Dia ngotot mau ke rumah, ya gue terpaksa setuju. Sekarang kami
udah di depan rumah, dan dia langsung menggelendot di tangan gue. Gue cuma bisa gelenggeleng
dan berjalan masuk. Semoga Mama lagi nggak ada di rumah, atau ada Tora yang bisa
gue titipin cewek ajaib satu ini.
Ya Tuhan.
Tolong bilang kalau gue lagi berhalusinasi sakign pusingnya sama semua tingkah Cindy
hari ini. Yang duduk di ruang tamu rumah gue itu bukan Alice, kan?
But that‟s her, lagi ngobrol sama Mama. Dia masih pakai seragam sekolahnya yang
putih-hijau itu. Gue nggak mungkin salah orang, itu Alice.
―Mmm... Hai, Dylan.‖ Alice berdiri dari sofa, kelihatan kaget melihat gue dan Cindy.
―Apa kabar?‖
―Siapa sih?‖ bisik Cindy di telinga gue. ―Kenapa ada anak SMA di sini?‖
Setan lo, Cin. Anak SMA itu cewek yang gue sayang banget!
―Kebetulan gue baru pulang sekolah, jadi... mmm... gue mampir untuk ketemu nyokap
lo.‖ Wajah Alice memerah. Ya ampun, gue baru sadar gue kangen banget sama dia!
―Eh, iya, nggak papa,‖ kata gue kagok. ―Sori gue baru pulang.‖
―Nggak papa, gue ke sini buat ketemu nyokap lo kok. Ini juga gue udah mau pulang,
udah sore.‖
Gue menoleh ke arah Mama, dan Mama memelototi gue. Kelihatannya Mama bakal
ngebunuh gue kalau gue membiarkan Alice pergi.
―Gue anterin, ya?‖
Cindy kontan mencubit tangan gue, tapi gue menepis tangannya.
―Gue ambilin helm lo dulu? Helm merah lo?‖ tanya gue setengah memohon.
Jangan pergi, Alice...
―Makasih, tapi gue naik taksi aja.‖ Dia beranjak ke sofa dan mengambil tas sekolahnya.
―Tante, saya pulang dulu...‖
―Kok cepat-cepat? Dylan kan baru aja datang, kamu nggak mau...‖
―Maafkan saya, Tante, tapi saya rasa yang soal pelarian itu salah...‖
Pelarian? Pelarian apa? Tunggu, jangan-jangan Mama...
Alice lewat di depan gue, nyelonong begitu aja seakan-akan gue ini tembok.
―Lice, tunggu...‖
―Honey, kamu kenapa sih? Biarin aja dia pergi!‖
Honey, honey, lo kira gue madu?!
Gue melongok melihat Alice, tapi dia sudah menghilang di balik pagar. Gue harus
mengejar dia. Harus!
―Sori, Cin, tapi kita harus putus. Gue nggak cocok sama lo.‖
―Hah? Tapi kita kan baru seminggu pacaran, honey...‖ Cindy kelihatannya mau nangis,
matanya mulai berkaca-kaca.
―Iya, dan dalam seminggu aja udah banyak keenggakcocokan, apalagi kalau kita
pacarannya lebih lama!‖ Gue berusaha lari untuk mengambil motor gue di carport, tapi
Cindy menarik lengan jaket gue.
―Honey, kamu nggak mungkin ninggalin aku cuma demi mengejar cewek gendut dan
jelek itu, kan?‖
Gue melotot. ―Dia nggak gendut dan jelek, tau! Dia cewek yang gue cintai!‖
―Tapi kita... Aku...‖ Cindy salah tingkah. ―Tante, tolong dong... Dylan nggak mungkin
mutusin saya gini aja, kan?‖ Dia berlari ke arah Mama dan menarik-narik tangan Mama
dengan gaya anak kecil minta dibelikan mainan.
―Aduh, maaf ya, Tante lagi masak nih di dapur, nanti masakan Tante gosong.‖
Hebat, Mama ngeloyor begitu aja ke dapur tanpa menghiraukan Cindy. Gue yakin yang
tadi itu cuma alasan. Gue kenal betul nyokap gue, dia nggak pernah meninggalkan masakan
di dapur. Hobinya kan masak.
―Dylan, honey...‖ Cindy balik lagi ke gue, merengek-rengek. ―Kita nggak boleh putus,
apa kata orang-orang kalau mereka tau tentang ini? Baru seminggu kita muncul dengan
predikat couple, kalau sekarang kita putus...‖
―Makanya jangan ngember ke mana-mana dong! Lo kira gue seneng pas gue bangun
pagi dan tau tampang gue ada di semua infotainment hari itu? Pasti itu ide lo kan, buat
manggil temen-temen wartawan lo di HUT TOP Channel itu? Ngaku aja deh!‖
Mata Cindy melebar. Huh! Dia kira gue nggak tau semua wartawan itu ngejogrok di
TOP Channel karena undangan dia?
―Tapi... tapi publisitas kan baik buat hubungan kita...,‖ katanya terbata-bata.
―Baik buat lo, nggak baik di gue!‖ bentak gue persis di depan muka Cindy. ―Udahlah, lo
pulang aja, kita bener-bener nggak bisa jalan lagi, dan gue harus ngejar Alice!‖
―Dylan... Dylaaaaaaannnn...!‖
Gue nggak menoleh lagi, dan langsung mengambil motor gue yang terparkir di carport
rumah. Untung kuncinya ada di kantong gue!
―Dylan, kalau kamu pergi, kita putus!‖ seru Cindy waktu gue menstarter motor.
―Bagus, emang itu kok yang gue mau! Daaaahhhh...!‖
Gue langsung cabut, meninggalkan Cindy yang masih mencak-mencak di teras rumah
gue.
* * *
Di mana Alice? Di mana dia?
Sudah setengah jam gue keliling kompleks perumahan gue, tapi gue sama sekali nggak
melihat tanda-tanda Alice masih di sini. Gue telepon HP-nya juga nggak diangkat. Apa dia
sudah pergi naik taksi? Ya, dia pasti sudah pergi... Sekali lagi gue kehilangan dia...
Akhirnya gue memutuskan pulang ke rumah, dan syukurlah, Cindy sudah cabut dari
sana. Gue bisa mati berdiri kalau masih harus menghadapi cewek cerewet itu.
―Dylan!‖
Gue mendongak, dan melihat Mama berdiri di depan pintu masuk.
―Alice-nya nggak ketemu, Ma.‖
―Aduh...‖
―Aku udah berusaha cari dia keliling kompleks ini, tapi nggak ketemu. Mungkin dia
udah dapat taksi sebelum aku berhasil nyusul dia.‖
Mama menghela napas panjang. ―Padahal tadi Mama hampir berhasil membujuk dia
supaya mau kembali sama kamu.‖
Gue melotot. ―Mama nggak lagi bercanda, kan?‖
―Ya nggak lah! Kamu pikir kenapa Alice tiba-tiba bisa datang ke sini?‖
Gue cuma bisa bengong sewaktu Mama menjelaskan beliau-lah yang menelepon Alice
dan memintanya datang ke sini (bahkan sampai bela-belain minta nomor Alice ke Mbak
Vita!), cuma supaya Mama bisa membujuk Alice agar mau kembali sama gue.
―Wow. Mama hebat,‖ kata gue nggak percaya.
―Mama cuma nggak mau kamu pacaran dengan cewek yang salah, Dylan. Cindy itu...
Mama nggak sreg sama dia. Kamu boleh marah sama Mama, tapi Mama tetap nggak akan
setuju kalau kamu terus jalan sama dia.‖
Gue tersenyum kecut. ―Tenang aja, Ma, aku sama dia kan udah putus tadi.‖
―Ya... ya, Mama tau. Tapi tetap Mama berharap kamu kembali sama Alice. Begitu
melihat Alice dulu, Mama sudah sayang sama dia. Dia orangnya sopan, sederhana, dan baik
sekali.‖
―Hmm... Mama nggak keberatan kalau dia umurnya selisih delapan tahun sama aku?‖
―Kenapa harus keberatan? Yang Mama minta dari jodohmu nanti cuma empat hal.
Seiman, hormat dan sayang sama kamu dan keluarga kita, sehat, dan rajin. Itu aja.‖
Gue melongo dengan suksesnya.
―Dylan, Mama senang sekali karena Tora sudah menemukan Vita. Tapi Mama akan lebih
senang lagi, kalau kamu bisa kembali sama Alice. Kamu masih sayang dia?‖
―Iya. Tapi...‖
―Nah, sebenarnya alasan kalian dulu putus itu apa? Bukan cuma karena Alice menyadari
kalian terlalu ‗berbeda‘, kan? Alice pasti sudah sadar tentang yang satu itu sejak awal. Nggak
mungkin tiba-tiba dia sadar dan minta putus.‖
Gue menimbang-nimbang dalam hati, apa sebaiknya gue cerita ke Mama tentang terorteror
yang diterima Alice?
Nggak. Itu nggak perlu. Gue nggak mau membuat Mama stres.
Tapi entah gimana caranya gue bisa memenuhi permintaan Mama. Apa Alice masih mau
menanggung risiko diteror sekali lagi kalau dia balik sama gue?
* * *
Tiga hari kemudian...
―Halo?‖
―Dylan, ini gue. Grace.‖
Grace? Ngapain dia telepon gue? ―Eh, hai! Ada apa Grace?‖
―Gue butuh ketemu sama lo, Lan. Secepetnya. Sekarang kalau bisa.‖
―Mmm... boleh. Di mana?‖
―Coffee Bean PS, gimana?‖
―Oke. Gue berangkat sekarang.‖
* * *
Waktu gue masuk Coffee Bean, gue melihat Grace duduk di salah satu sudut dengan
pandangan menerawang. Dahinya berkerut, kelihatannya dia sedang serius berpikir.
―Hai, Grace,‖ sapa gue. Grace tersentak dari lamunannya, lalu tersenyum kecut.
―Eh, lo udah datang. Duduk, duduk...‖
Gue duduk di hadapan Grace. Setengah berharap, gue menoleh ke seluruh penjuru
Coffee Bean. Mungkin Alice ada di sini... Mungkin alasan sebenarnya Grace mengajak gue
ketemuan adalah karena dia disuruh Alice... Mungkin karena bicara dengan Mama tiga hari
yang lalu, dia....
―Gue sendirian, Lan,‖ kata Grace pahit.
Shoot, apa ekspresi kangen gue ke Alice bisa segitu terbacanya?
―Terus ada apa nih tiba-tiba ngajak gue ketemuan?‖
―Gue mau ngomong soal Alice.‖
―Alice kenapa?‖
―Beberapa hari lalu, gue nganter Alice ke rumah lo.‖
Oh. Soal itu. ―Iya. Nyokap gue yang minta dia datang. Nyokap gue kangen sama dia.
Dan sayangnya, waktu itu...‖
―Lo datang sambil menggandeng mesra Cindy?‖ potong Grace.
Gue tersenyum kecut, dan mau nggak mau mengangguk. ―Mungkin lo nggak akan
percaya, tapi gue nggak pernah suka sama Cindy. Dan kami udah putus.‖
―Nggak pernah suka kok bisa sampai jadian?‖
Jleb. Hebat juga nih Grace kata-katanya. Menohok! ―Lo boleh beranggapan gue
membela diri, tapi gue dan Cindy jadian karena Cindy yang nembak gue. Dan waktu itu gue
terima karena gue kira dengan jadian sama dia, gue bisa ngelupain Alice. Fool me.‖
Grace mengedikkan bahu. ―Yah, itu hak lo, Lan. Gue nggak bisa protes, kan? Lagi pula,
bukan itu yang mau gue omongin ke lo sekarang.‖
―Terus apa?‖
―Waktu Alice minta putus ke lo, dia kasih alasan apa?‖
―Dia nggak tahan lagi sama semua teror yang dia terima,‖ jawab gue pahit.
Grace berdecak dan menggeleng-geleng. ―Ah. Gue sudah menduga dia nggak cerita soal
orang yang mau menabrak dia itu.‖
Hah? ―Alice? Ditabrak?‖
―Ya. Sama peneror itu.‖ Grace meminum espresso-nya dengan santai.
―Grace, tolong, cerita ke gue sebenernya ada apa soal tabrakan itu. Gue sama sekali
nggak tau!‖
―Hmm... lo tau, peneror itu, yang mengirimi Alice SMS, surat kaleng, dan terus-menerus
ganggu lewat telepon itu?‖
―Ya.‖
―Sehari sebelum Alice minta putus, kalau nggak salah waktu itu lo lagi ke luar kota,
peneror itu berusaha menabrak Alice. Membunuh, kalau lo mau tau istilah kasar gue.‖
Peneror itu? Mau membunuh Alice? Alice gue?! ―Lo serius?!‖
―Gue nggak akan bercanda untuk hal-hal kayak gini, Lan.‖
―Tapi...‖
―Alice bukan tipe orang yang gampang menyerah. Dia sayang banget sama lo, dan gue
sendiri tau dia nggak mau melepas lo kalau cuma diteror pakai surat, telepon, dan SMS. Dia
sudah kebal sama semua itu. Tapi kalau orang sudah pernah hampir mati, dia pasti akan
berpikir ulang.‖
Gue kehilangan kata-kata.
―Kejadiannya waktu pulang sekolah. Gue ke parkiran ambil mobil, dan janjian untuk
ketemu Alice di seberang gerbang. Waktu itu sekolah udah sepi karena jam pulang memang
sudah lama lewat, tapi Alice masih di sekolah karena dia masih latihan band. Gue waktu itu
nunggu dia karena kita mau pergi makan bareng. Tapi waktu gue sampai di gerbang sekolah,
gue lihat Alice jatuh di pinggir jalan. Dia, juga Oscar dan Moreno, anak-anak bandnya yang
juga temen sekelas gue.
―Oscar bilang, Alice lagi menyeberang jalan, dan ada mobil yang melaju ke arahnya.
Awalnya mobil itu pelan, tapi semakin mendekati Alice, dia malah semakin tancap gas.
Kalau bukan karena Oscar dan Moreno menarik Alice ke belakang tepat sebelum mobil itu
menabraknya, Alice pasti udah tertabrak.‖
Tanpa sadar gue menahan napas, dan baru mengembuskannya lagi setelah dada gue
terasa sesak. Alice... hampir tertabrak?
―Nah, menurut lo, apa orang seperti itu bukan sengaja mau membunuh namanya?‖
―Tapi... dari mana lo tau kalau itu perbuatan peneror itu?‖
―Karena peneror itu menelepon sesudah mobilnya jauh. Dia bilang, Alice harusnya sudah
mati. Tapi dia merasa itu bukan masalah, karena kejadian itu seharusnya bisa jadi peringatan
buat Alice, supaya dia mau menjauh dari lo.‖
Kali ini gue benar-benar benci sama diri gue sendiri. Alice nyaris celaka karena gue! Gue
yang membuat dia diancam diteror... Cewek mana yang sanggup menahan beban seperti itu?
―Untungnya, Oscar sama Moreno nggak bego. Oscar malah sempat mengingat mobil
yang nyaris menabrak Alice itu, lengkap dengan nomor polisinya. Dan dia sempat bilang itu
ke gue, sebelum gue setengah mati meyakinkan dia itu cuma kecelakaan. Kalau Oscar tau ada
yang berusaha menabrak Alice, dia pasti kepingin tau apa motifnya. Dan itu berarti gue harus
cerita panjang-lebar ke dia soal lo yang pacaran diam-diam sama Alice. Gue nggak mau
melakukan itu.‖
Grace menyodorkan sepotong kertas ke gue. Honda Jazz hitam. B21**KV.
―Gue rasa lo tau apa yang harus lo lakukan, iya kan?‖
* * *
―Apa sih?‖ desis Tora marah karena gue menyeretnya dari ruang makan ke ruang tamu. ―Mau
ngomong aja kok pakai bisik-bisik segala?‖
―Hei, lo pernah bilang punya teman polisi yang ditempatkan di bagian Satlantas, kan?‖
―Satlan... Ooh, Bram? Kenapa emangnya? Ahh, gue tau! Lo pasti mau belajar nyetir
mobil lagi, terus mau minta tolong Bram buat ngurusin SIM lo, iya kan?‖
―Sotoy lo!‖ Gue melengos. Tora cengengesan. ―Gue mau minta tolong dia buat ngelacak
nomor mobil, bisa nggak ya?‖
―Weitss... ada apa lagi nih kok pakai ngelacak nomor mobil segala? Lo habis mergokin
orang ditabrak lari, terus mau ngelacak pelakunya, gitu ya?‖
―Bukan cuma mau ngelacak, tapi juga mau nonjok tu orang!‖
―Lho lho... jangan main kasar dong! Ada apa sih emangnya?‖
Gue menceritakan semua yang diceritakan Grace tadi ke Tora. Ekspresi Tora berubah
dari cengengesan nggak penting jadi tegang.
―Lo serius, ya, Lan? Maksud gue, peneror itu segitu gilanya sampai kepingin nabrak
Alice segala?‖
―Makanya itu! Kita harus tau siapa peneror itu! Gue belum bisa tenang nih kalau belum
nonjok dia! Dia nggak tau ya dia itu udah membahayakan nyawa orang lain? Itu kan udah
perbuatan kriminal, Tor!‖
―Iya, iya, gue ngerti... Gue telepon Bram sekarang deh. Mana nomornya?‖
―Tapi, kalau misalnya Bram tanya untuk apa, jangan bilang ini soal tabrak lari, ya? Gue
pengin menangani masalah ini sendiri, belum waktunya polisi ikut campur.‖
Tora mengernyit, tapi dia menerima kertas bertuliskan nomor mobil yang gue sodorkan,
lalu mengambil HP-nya di kamar dan menelepon Bram.
―Halo, Bram! Haha... iya, gue Tora! Ha? Oh, gue baik! Lo gimana? Ah, gue masih sama
Vita. Iya, tetap kok, hehe... Oh ya, gue bisa minta tolong? Tolong bantu gue lacak nomor
mobil. Ha? Ah nggak ada apa-apa. Ada keperluan dikit aja sama yang punya mobil itu.
Hmm... Honda Jazz hitam, B21**KV. Oke... Kapan gue bisa tau? Besok siang? Iya, iya, no
problem kok! Thanks ya Bram! Salam buat Kintan. Bye...‖
―Besok siang?‖ tanya gue.
―Iya. Untung nih punya kenalan Satlantas, jadi bisa dimintain tolong urusan begini. Coba
kalau enggak, kan repot.‖
―Thanks, Tor.‖
―Sama-sama. That‟s what brothers are for,‖ katanya puas.
* * *
Besok siangnya, Bram menelepon Tora. Selesai bicara di telepon, Tora tersenyum lebar dan
bangga.
―Sudah ketemu. Atas nama Handoko Arman. Rumahnya di Cilandak. Gue udah catat
alamat lengkapnya. Lo mau ke sana sendiri atau gue temani?‖
―Eh... tunggu, gue nggak punya lho kenalan yang namanya Handoko itu!‖ seru gue.
―Yah, kan bisa aja mobil itu terdaftar atas nama bokapnya si peneror itu, atas nama
suaminya mungkin, atau siapalah. Yang penting kita ke rumahnya dulu!‖
―Ohh... Oke.‖ Gue manggut-manggut. ―Lo mau pergi sama gue? Bukannya Mbak Vita
mau ke sini?‖
―Ah iya! Gue lupa! Hmm... atau dia diajak aja, gimana? Dia kadang-kadang bisa kasih
ide-ide tokcer, terus dia juga logikanya bagus banget kalau dibanding gue.‖
―Boleh. Logika gue juga lagi mampet. Bagus deh kalau ada orang yang logikanya lancar
ikut sama kita.‖
―Haiii! Pada ngomongin apa nih?‖ Mendadak, Mbak Vita nongol di pintu. Gue sampai
heran sendiri kok bisa-bisanya Mbak Vita datang on-time begini.
―Hei, hun, panjang umur kamu. Aku sama Dylan mau pergi, kamu ikut nggak? Kita lagi
butuh orang yang logikanya jalan soalnya.‖
Mbak Vita bingung. ―Memangnya kalian mau ke mana? Ikut kuis?‖
―Kalau ikut kuis donag sih logika gue masih sampai, hun. Ini lebih gawat. Pokoknya
kamu ikut, ya? Ya? Ya?‖
―Yahh... itu sih bukan ngajak namanya, tapi maksa!‖ Mbak Vita terkikik, dan mau nggak
mau gue ikut tersenyum. ―Ya udah, gue ikut, tapi jelasin dulu kita mau ke mana.‖
―Nanti aku jelasin di mobil,‖ kata Tora.
* * *
―Jadi lo putus sama Alice karena dia diteror, Lan?‖ tanya Mbak Vita setelah gue, sambil
disela berkali-kali oleh Tora, menjelaskan alasan putusnya gue dan Alice.
―Iya, dan karena penerornya udah benar-benar gila, sampai niat mau nyelakain Alice
juga. Aku baru tau kemarin soal usaha tabrakan ini, dan aku shock banget, Mbak.‖
―Gue nggak nyangka, ada orang yang segitu jahatnya,‖ gumam Mbak Vita nggak
percaya. ―Apa mungkin dia terganggu ya jiwanya?‖
―Aku nggak peduli dia terganggu atau nggak, yang jelas dia udah kelewat batas. Dan dia
harus tanggung jawab atas semua yang udah dia lakukan ke Alice.‖
Senyap. Mbak Vita ataupun Tora, semuanya diam. Ternyata omongan gue barusan
menusuk banget.
―Oh ya,‖ Tora angkat bicara, ―kalau udah sampai rumahnya, kita mau ngomong apa nih?
Nggak mungkin dong kita bilang ‗permisiii... kami mau cari orang psikopat yang berusaha
menabrak mantan pacar adik saya, dan setelah kami lacak ternyata rumahnya di siniiii... apa
orangnya ada?‘ gitu?‖
Mbak Vita tergelak, sementara gue ngakak habis-habisan. Tora gila, bisa-bisanya dia
bikin banyolan konyol begitu!
―Lho, malah ketawa? Gue serius lho. Kita kan nggak bisa masuk rumah orang kalau
tujuannya nggak jelas.‖
―Iya juga ya...,‖ gue menggumam.
―Hmm... Lan, menurut lo, peneror ini cewek atau cowok?‖ tanya Mbak Vita.
―Cewek, I bet,‖ potong Tora.
―Menurutku cewek juga sih, Mbak...‖
―Oke, kalau gitu kita bisa pakai siasat gue.‖
―Siasat apaan?‖ Tora penasaran.
―Lan, gue boleh pinjam dompet lo?‖ mbak Vita menoleh dan mengulurkan tangannya ke
gue. Gue mengernyit.
―Buat apa?‖
―Udah, lihat aja nanti.‖ Mbak Vita tersenyum penuh rahasia. Gue mengeluarkan dompet
gue dari kantong dan menyerahkannya ke Mbak Vita.
* * *
Kami sudah sampai. Cukup gampang menemukan alamat rumah yang dibilang Bram.
Rumahnya besar dan mewah, itu kesan yang gue tangkap. Kami turun, dan Tora langsung
menekan bel yang ada di sisi pagar. Mbak Vita masih belum mau juga buka rahasia soal
siasatnya.
―Permisi,‖ kata Mbak Vita begitu seorang pembantu keluar dan melongok ke balik pagar.
―Apa betul di sini rumah Pak Handoko?‖
―Betul. Ada perlu apa, ya, Mbak?‖
―Mmm... Begini, Mbak, kemarin saya ke supermarket di dekat sini, terus parkir di
sebelah mobilnya Pak Handoko. Waktu saya mau masuk mobil, nggak sengaja tabrakan sama
Pak Handoko sampai barang-barangnya berceceran. Terus taunya dompetnya nyasar masuk
ke kantong belanjaan saya. Ini saya mau balikin nih.‖ Mbak Vita mengangkat dompet gue
tinggi-tinggi.
Gue melongo menatap Tora, dan ternyata Tora juga sama bengongnya kayak gue.
―Saya lihat di KTP di dalam dompet ini, alamatnya di sini, jadi saya ke sini. Terus...
mmm... Pak Handoko punya mobil Honda Jazz, ya? Kemarin soalnya mobil itu yang parkir di
sebelah saya. Kalau nggak salah plat nomornya...‖
―B21**KV?‖ potong pembantu itu.
Mbak Vita tersenyum puas. ―Nah, iya yang itu.‖
Lagi-lagi, gue dan Tora saling menatap, bingung sendiri melihat bagaimana siasat Mbak
Vita dengan mudahnya bisa menjebak pembantu itu.
―Tapi... Pak Handoko-nya lagi nggak ada, Mbak...‖
―Wah, gimana ya...‖ Mbak Vita pura-pura bingung. ―Apa masih lama pulangnya?‖
―Mungkin sebentar lagi. Bapak pasit udah dalam perjalanan dari kantor.‖
―Apa boleh kalau saya tunggu aja? Saya kepengin balikin dompet ini ke Pak Handoko
langsung.‖
Pembantu itu tersenyum, dan tanpa curiga sedikit pun membukakan kami pintu! Hebat
banget Mbak Vita!
―Mari masuk. Tunggu di teras saja ya.‖
Kami mengikuti pembantu itu ke teras yang luas, lalu duduk di kursi-kursi yang ada di
situ.
―Oya, Mbak,‖ kata Mbak Vita lagi, ―saya mau tanya aja nih, apa Pak Handoko punya
anak perempuan?‖
―Oh punya, satu orang. Tapi Ndoro Putri juga lagi nggak ada di rumah.‖
―Hmm... apa biasanya putri Pak Handoko itu yang bawa Honda Jazz-nya?‖
Pembantu itu mengangguk. ―Betul. Bapak biasanya diantar sopir naik mobil satunya.
Tapi kadang-kadang Bapak nyetir sendiri kalau perginya ndak jauh. Mungkin kemarin yang
ke supermarket itu juga nyetir sendiri, tapi hari ini naik mobil lain sama sopir kok. Hari ini
Ndoro Putri yang bawa mobil Jazz-nya.‖
―Oh, iya, iya...‖
Tora menatap gue dengan pandangan penuh arti, seolah dia mau bilang kita-sudahmenemukan-
pelakunya. Gue mengangguk. Pasti si ―Ndoro Putri‖ itu pelakunya. Gue sama
sekali nggak kenal orang yang namanya Handoko Arman, jadi nggak mungkin dia yang
meneror Alice. Lebih masuk akal pelakunya putrinya.
―Ada apa tho, Mbak, kok sampai nanya soal Ndoro Putri segala?‖ tanya pembantu itu
dengan tatapan penasaran.
―Ah, nggak ada apa-apa. Saya tanya aja kok.‖ Mbak Vita tersenyum.
Pembantu itu manggut-manggut.
Tiiinnnn... Tiiinnn... Suara klakson mobil.
―Eh... itu Ndoro Putri pulang! Permisi ya, saya mau bukakan pintu dulu.‖
―Mbak,‖ gue memanggil Mbak Vita, tapi dia memberi isyarat supaya gue diam.
―Tenang, Lan, jangan emosi. Gue tau apa yang lo pikirkan, tapi belum tentu putri Pak
Handoko itu yang berusaha menabrak Alice. Bisa aja peneror itu pinjam mobil ini dari putri
Pak Handoko. Pokoknya lo jangan emosi dulu,‖ Mbak Vita mewanti-wanti.
―Iya, Mbak,‖ jawab gue dengan perasaan kacau. Gue benar-benar nggak sabar pengin tau
seperti apa orang yang tega mencelakakan Alice!
Mobil itu masuk perlahan ke carport rumah. Honda Jazz hitam, B21**KV, persis seperti
gambaran yang diberikan Grace. Pintu pengemudi terbuka, seseorang turun, dan...
―Dylan!‖
Gue mendongak, dan sepertinya seluruh tubuh gue kaku melihat siapa yang turun dari
mobil itu.
NONI?!
Jadi dia... dia yang...
―Kok lo bisa ada di rumah gue?‖ tanya Noni dengan mata berbinar. Dalam sekejap dia
sudah berlari mendekat dan memeluk gue.
―Minggir lo!‖ Gue menepis tangannya dan bangun dari kursi yang gue duduki. Gue
nggak bisa menahan emosi gue seperti permintaan Mbak Vita tadi. Gue yakin Noni-lah
pelakunya. Gue yakin!
―Lho? Kenapa? Eh... kok lo belum dikasih minum? Gue bikinin...‖
―Non, gue minta lo jujur ya,‖ suara gue bergetar menahan marah, dan Noni nggak
meneruskan kalimatnya tadi karena bahunya gue cengkeram kuat-kuat, ―apa lo yang berusaha
menabrak Alice dua bulan lalu?‖
Gue bisa melihat wajah Noni berubah jadi pucat luar biasa.
―Dylan, tenang, Lan...,‖ Mbak Vita berusaha melepaskan cengkeraman gue di tangan
Noni.
―Aku nggak bisa tenang, Mbak! Nggak bisa! Dia ini yang selama ini meneror Alice! Dia
yang bikin Alice ketakutan sampai minta putus dari aku! Dan mungkin dia juga yang meneror
Karin...‖
―Iya, tapi kamu tenang sedikit ya? Ini di rumahnya,‖ mohon Mbak Vita, tapi gue sudah
telanjur marah.
―Lo egois, Dylan,‖ tiba-tiba Noni bersuara. ―Yang lo pikirin cuma Alice, Karin, cewekcewek
brengsek itu! Memangnya lo pernah mikirin gimana perasaan gue?‖
―Huh! Perasaan apa?! Lo nggak tau ya, Ni, lo itu udah kelewatan! LO nggak berhak
ganggu hidup orang seperti apa yang lo lakuin ke Alice! Dan memangnya, lo kira lo siapa,
sampai-sampai lo mau menabrak Alice, hah?!‖
―Itu semua salah lo! Itu semua salah lo!‖ jerit Noni.
―Kalau lo nggak ngasih harapan ke gue, gue nggak akan seberani itu!‖
―Harapan apa?‖ tanya gue nggak ngerti.
―Lo jangan pura-pura nggak tau! Selama ini lo baik sama gue, lo selalu mau ngobrol
sama gue, lo pakai kalung dari gue, lo bilang lo bakal lebih milih gue dari Alice seandainya
lo tau kalau gue juga ikut Pacar Selebriti...‖
―Itu bukan harapan!‖ bentak gue. ―Itu karena gue memang pengin bersikap baik sama
semua orang, termasuk sama lo! Gue nggak nyangka, ternyata pikiran lo sempit!‖
―Terus, kenapa waktu di bandara lo bilang kalau lo suka sama gue?‖
Gue melotot. Di bandara? Di bandara kapan?
Ingatan gue berputar, dan berhenti pada satu sisi.
―Ehm... iya, gue masih jomblo kok. Mana mungkin gue cari cewek kalau ada cewek
secantik lo yang perhatian sama gue.”
“Jadi... Jadi lo suka sama gue?”
Ya Tuhan. Omongan ngaco gue sebelum gue berangkat ke Balikpapan itu! Omongan
yang diakibatkan kombinasi fatal antara otak error dan mata ngantuk karena nggak minum
kopi! Dan Noni salah sangka!
―Gue nggak pernah bilang suka sama lo. Itu asumsi lo sendiri. Lo salah paham!‖
―Tapi ini semua salah lo! Lo ngasih harapan ke gue, tapi lo jadian sama cewek lain!‖ jerit
Noni lagi, sepertinya dia nggak mengerti semua penjelasan gue barusan. ―Cewek-cewek itu
pasti menggoda lo, sampai lo lupa sama gue, iya kan? Mereka semua harus pergi jauh-jauh
dari lo! Nggak ada yang boleh deket sama lo selain gue!‖
Gue menelan ludah, benar-benar nggak tau harus ngomong apa lagi. Cuma satu yang ada
di pikiran gue: Noni sakit.
―Memangnya apa sih kurangnya gue di mata lo? Gue lebih segalanya dari Alice, juga
Karin! Gue lebih semuanya dari mereka! Kenapa lo nggak pernah milih gue?!‖ Noni
mencengkeram bagian depan kaus gue dan mengguncang-guncang tubuh gue sambil tersedusedu.
Tora menatap gue bingung, keningnya berkerut. Mbak Vita malah menatap Noni dengan
pandangan kasihan. Si pembantu, yang pasti kebingungan, berdiri beberapa meter dari kami,
cuma bisa termangu.
Gue menghela napas dalam-dalam. Emosi gue sudah mulai mereda, dan gue nggak bisa
mungkir bahwa gue mulai nggak tega melihat Noni nangis begini, biarpun tadi gue marah
banget sama dia.
―Ni, lo memang cantik. Dan gue akui, secara fisik lo mungkin lebih dari semua cewek
yang lo sebutkan tadi. Tapi lo punya kekurangan yang fatal : lo terlalu memaksakan diri.
Kalau gue nggak cinta sama lo, bukan berarti lo harus membuat gue jadi cinta. Ada hal-hal
yang nggak bisa dipaksakan, tau nggak?‖ Intonasi suara gue menurun, dan Noni menatap gue
di sela-sela air matanya yang terus menetes. ―Semua perbuatan lo itu keterlaluan, Ni. Yang lo
lakukan ke Alice itu bahkan sudah tindak kriminal. Memangnya lo mau terus kayak gini?‖
Noni menggeleng. Satu titik air matanya menetes di pergelangan tangan gue.
―Gue akan menganggap semua ini nggak pernah terjadi, dan tetap menghargai lo sebagai
Dylanders yang paling loyal, tapi dengan satu syarat...‖ Noni mendongak. ―Lo harus janji
nggak melakukan teror-teror seperti itu lagi. Karena kalau lo mengulangi itu, gue bakal
sangat membenci lo, paham?‖
―Ya,‖ jawab Noni lirih. ―Gue janji...‖
―Thanks.‖ Gue lalu menoleh menatap Tora dan Mbak Vita. ―Ayo pulang.‖
* * *
―Lo pernah salah ngomong sama cewek itu ya, Lan?‖ tanya Mbak Vita setelah mobil yang
kami naiki keluar dari kompleks perumahan Noni.
―Mmm... iya, Mbak. Waktu aku mau berangkat tur ke Balikpapan dulu, dia nungguin aku
di airport, terus dia mengajak ngomong macem-macem, padahal waktu itu aku lagi ngantuk
banget, dan kalau nggak salah... aku bilang aku nggak mungkin nyari cewek kalau punya fans
secantik dia, dan dia jadi...‖
―Gokil!‖ potong Tora. ―Gue nggak nyangka ternyata lo raja gombal juga!‖
―Hush!‖ Mbak Vita menempelkan telunjuknya di bibir Tora dengan agak kesal. ―Dylan
kan lagi cerita, jangan dipotong dong.‖
―Iya deh iya, maaf...‖ Tora cemberut.
―Jadi, dia salah paham dan berasumsi itu berarti lo suka sama dia?‖ Mbak Vita gelenggeleng.
―Kayaknya setelah ini lo harus lebih hati-hati kalau bicara sama fans-fans lo, Lan.
Bisa gawat kalau ada yang salah paham lagi.‖
―Dan lo juga jangan tebar pesona dan SKSD di mana-mana!‖ cerocos Tora lagi. ―Lihat
tuh si Noni, karena lo baikin dia terus, dia jadi ngerasa lo suka sama dia juga.‖
―Ya terus gue harus gimana kalau ngadepin fans? Jutek? Ketus?‖
―Ya enggak, tapi lo jangan terlalu baik lah... Pokoknya jangan sampai ada yang merasa
dapat harapan kosong lagi kayak Noni gitu. Lo nggak mau kan kalau ada yang nasibnya sama
kayak Alice lagi?‖
Gue tegas-tegas menggeleng.
―Oh ya, ngomong-ngomong soal Alice nih, alasan dia minta putus kan karena dia nggak
tahan diteror sama Noni, tapi sekarang Noni udah janji nggak bakal mengulangi
perbuatannya. Itu kan berarti... lo nggak punya halangan lagi buat balik sama Alice!‖ seru
Mbak Vita senang.
―Eh, iya! Ide bagus!‖ dukung Tora.
Gue melongo, tapi sedetik berikutnya sebuah ide muncul di kepala gue.
GRACE’S CONFESSION
“GRACE! Yang bener aja! Kenapa lo mendadak cerita sama Dylan soal kecelakaan itu?”
“Percobaan pembunuhan itu, maksud lo?” tanya Grace sambil nyengir nggak jelas.
“Yah, terserah lo deh nyebutnya apa!” Aku sewot. Grace baru aja cerita dua hari yang lalu
dia mengajak Dylan ketemuan, dan dia membeberkan ke Dylan tentang aku yang hampir ditabrak
si peneror psikopat. Gokil banget si Grace!
“Lice, emangnya lo nggak mau ya orang yang neror lo itu tertangkap?” Grace tiba-tiba
pasang tampang serius.
Aku terdiam. “Gue nggak tau, Grace... Masalahnya, orang itu kan udah nggak neror gue lagi
sekarang, jadi gue rasa masalah ini nggak usahlah diperpanjang lagi. Kalau masalah ini sampai ke
polisi, gue pasti harus cerita ke bonyok gue juga, dan mereka pasti nanti cemas banget. Gue
nggak mau mereka sampai seperti itu...”
Grace manggut-manggut, tapi aku bisa melihat dia sepertinya menyembunyikan sesuatu.
“Grace, lo nggak nyembunyiin sesuatu dari gue, kan?”
“Mmmm... enggakk... enggak kok, enggak...”
Aku memicingkan mata, dan dengan jelas bisa melihat Grace mendadak salting dan nggak
berani menatap mataku. Ha! Dia pasti menyembunyikan sesuatu! Pasti!
“Lo jangan bohong sama gue deh. Lo bilang apa lagi ke Dylan?”
Grace mendongak dan menatapku dengan ekspresi agak aneh. “Eh, tapi lo jangan marah,
ya? Janji dulu...”
Wah! Ini pasti ada apa-apanya nih! “Iya deh. Ada apa sih?”
“Sebenernya... Oscar sama Moreno sempat melihat nomor mobil yang mau nabrak lo waktu
itu. Mereka bilang ke gue. Dan... mmm... kemarin gue kasih nomornya ke Dylan...”
Hahhhh???!
“Serius lo?” Cuma kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Iya. Dan, ehh... lo tau nggak, Dylan kayaknya berapi-api banget pengin menangkap orang
yang meneror lo itu! Lo tau kan, kayak Superman kalau dengar teriakan minta tolong!”
Aku melongo.
“Harusnya lo lihat tampang Dylan kemarin! Kelihatan banget dia masih sayang sama lo.”
“Ahh... nggak mungkin,” sanggahku dengan pipi memanas.
“Aduh, Alice darling, gue tau, lagi, lo masih suka sama Dylan!”
“Ngaco!” gerutuku, tapi aku bisa merasakan pipiku semakin memanas. Pasti merah deh!
“Nah, supaya lo senang, gue kasih tau satu hal lagi deh... Dylan udah putus sama Cindy!”
Hah? Dia putus sama Cindy? Yes! Yes! Yes!
“Tuh kaaann... lo seneng!”
“Kata siapa?”
“Senyum lo itu, nggak bisa disembunyiin!”
“Lo tambah ngaco, Grace.”
“Yeee... terserah deh kalau nggak mau ngaku. Dan kalau lo mau tau nih, Dylan sama Cindy
jadian karena Cindy yang nembak duluan, dan Dylan terima karena dengan begitu dia kira dia
bisa lupa sama lo!”
“Yang bener? Terus?” tanyaku bersemangat. Aku nggak bisa lagi menyembunyikan rasa
penasaranku. Grace benar-benar pintar memancing orang!
“Nah ya... Nah ya...! Tadi katanya nggak suka, kok sekarang bersemangat gitu?”
Aku nggak bisa berkata-kata lagi, cuma bisa tersenyum kecut mendengar ledekan Grace.
Kalau saja anak tengil itu nggak berada di depanku dengan kepala membesar karena berhasil
meledekku, aku pasti udah loncat-loncat kegirangan.
Dylan masih sayang sama aku lhoooooo!!!
* * *
“Emamgnya, voucher itu masih berlaku?”
“Udah nggak sih, tapi gue kan dapat lagi yang baru!” Grace tersenyum riang sambil
menunjukkan dua lembar voucher dalam genggamannya.
Sore ini kami dalam perjalanan menuju bistro sushi milik teman Kak Julia, yang dulu batal
kami datangi gara-gara aku nyaris ditabrak mobil peneror itu. Dan nggak tau kenapa, Grace
ngotot banget sore ini kami harus ke sana. Hmm... mungkin karena dia nggak pernah bisa
melewatkan apa pun yang berbau gratis!
Setengah jam kemudian kami berhenti di depan sebuah bistro sushi yang rame banget. Mobilmobil
berjajar di lahan parkirnya yang cukup luas, dan Grace langsung menyeretku turun dengan
nggak sabaran.
“Ada apa sih Grace, kok lo nggak sabaran banget?”
“Gue laper, tau! Lapeeeerrrr...” Grace menunjuk perutnya, lalu menyeretku masuk ke bistro
itu.
Begitu masuk ke bistro itu, aku langsung ikut lapar. Bau harum makanan Jepang tercium
hidungku, membuat perutku mulai menyuarakan protes minta diisi. Kami lalu duduk di meja
bagian dalam bistro, agak jauh dari pengunjung-pengunjung lainnya. Grace membolak-balik buku
menu, dan langsung memesan seporsi fusion shrimp roll dan ice cappucino. Berhubung baru pertama
kali ke bistro ini dan nggak tau makanan apa yang enak di sini, aku akhirnya memesan makanan
yang sama.
“Eh, Lice, lo tunggu bentar ya, gue mau ke toiliet dulu.”
“He-eh.”
Aku duduk samgil mengamati sekelilingku. Lagu Pura-Pura Cinta-nya ADA Band terdengar
sebagai backsound. Wah, bistro ini oke punya, interiornya bagus dan cozy banget. Hmm... aku mau
foto-foto dikit ah! Rugi kalau nggak punya kenangan pernah datang ke tempat sebagus ini.
Okeee... Satu-dua-tiga-cheese! Satu-dua-tiga-cheese! Satu-dua-ti...
“Hai.”
Kok Grace bilang “hai” segala sih? Aneh.
Aku menurunkan HP dari hadapan wajahku, dan nyaris pingsan!
Kenapa Dylan bisa ada di sini?????
GRACE: ORANG DI BELAKANG LAYAR
―KOK kaget gitu sih?‖ tanya gue geli. Tampang Alice seperti orang habis melihat setan
lewat.
―Ehh... ngapain lo di sini?‖
―Mau makan. Kan ini bistro sushi.‖
―Tapi... tapi kok...‖
―Kok aku bisa ada di sini saat kamu juga lagi makan di sini?‖ potong gue. Alice
mengangguk. ―Hmmm... jangan marahin Grace, ya?‖
Kening Alice berkerut, tapi gue bisa melihat Alice akhirnya mengerti apa maksud gue.
Ya, kemarin gue memang menelepon Grace, dan minta tolong dia untuk bisa mengajak Alice
ke suatu tempat, di mana gue sudah menunggu, karena gue kepingin banget ngobrol sama
dia. Grace setuju, dan dia menawarkan tempat ini, bistro sushi milik teman kakaknya. So,
here I am, akhirnya bisa ngobrol dengan Alice, sementara Grace sudah gue pesankan segala
macam sushi di VIP room di belakang sana.
―Aku tau kamu pasti nggak mau ketemu sama aku lagi, apalagi setelah kejadian di
rumahku waktu itu, tapi... aku pengin bilang ke kamu bahwa aku udah putus dari Cindy,‖
jelas gue tergagap. Kayaknya ada yang menyumbat tenggorokan gue.
―Oya?‖ Mata Alice melebar, dan dia benar-benar kelihatan cantik dan lucu. Gue nggak
bisa kehilangan dia lagi.
―Lice, aku tau aku salah... Tapi kamu harus percaya aku sama sekali nggak sayang sama
Cindy. Aku jadian sama dia karena kukira dengan gitu aku bisa ngelupain kamu. Itu pun aku
nggak bakal jadian kalau bukan karena Cindy yang nembak...‖
―Tapi kalaupun Cindy nggak nembak, ujung-ujungnya lo yang bakal nembak, kan? Dia
kan cantik, seksi, terkenal, lagi. Cuma cowok bego atau homo yang nggak suka sama dia.‖
―Cuma cowok bego yang mau pacaran sama Cindy karena mengira dengan begitu dia
bakal bisa melupakan cewek yang benar-benar dicintainya,‖ sanggah gue cepat. Alice
terdiam, tapi semburat merah muncul di kedua pipinya.
―Aku masih sayang sama kamu, Lice.‖ Aku pengin kita balik. Dan sekarang kamu nggak
perlu takut diteror, karena aku sudah memaksa orang yang meneror kamu untuk berjanji
untuk nggak akan mengulangi perbuatannya lagi.‖
―Lo tau siapa yang meneror gue?‖ tanya Alice nggak percaya.
―Ya. Noni.‖
Ekspresi Alice benar-benar lucu. Dia bengong, mulutnya terbuka lebar, sementara kedua
alisnya terangkat sampai tersembunyi di balik poni yang menjuntai di dahinya.
―Noni... Noni yang Dylanders itu???‖
―Iya. Noni yang itu. Dia... salah paham karena aku selalu baik sama dia. Dan aku juga
goblok banget karena pernah salah ngomong sampai dia berasumsi aku juga suka sama dia.
Karena itulah, dia jadi merasa berhak menjauhkan aku dari cewek-cewek lain. Dia benarbenar
benci sama semua cewek yang dekat sama aku, sampai nekat melakukan teror-teror...‖
Alice terdiam, kelihatannya dia berpikir keras.
―Pantas,‖ gumamnya kemudian.
―Pantas apanya?‖
―Pantas dia bisa meneror gue. Dia tau nomor HP gue, karena gue pernah SMS dia untuk
minta maaf karena menumpahkan milk tea di bajunya waktu di Cheerful Paradise. Dan
waktu di HUT TV9, dia tau nama gue Alice karena lo yang bilang. Dia juga melihat gue
ngobrol sama lo di backstage. Terus... dia pasti tau alamat dan sekolah gue dari database
milis, karena gue mengisi data-data gue di sana. Noni pasti cukup pintar untuk menyatukan
semua info itu, sampai dia bisa membuat hipotesis bahwa gue adalah Alice, pacar Dylan,
yang dulu meng-SMS-nya untuk minta maaf karena menumpahkan milk tea di bajunya. Dia
tinggal meneror gue, karena data alamat, sekolah, dan nomor HP gue sudah di depan mata,‖
jelas Alice panjang-lebar.
Gue manggut-manggut. Wow, untuk ukuran peneror, Noni benar-benar cerdas sampai
bisa merangkai fakta seperti itu. Lalu gue menceritakan ke Alice bagaimana gue bisa
menemukan Noni sebagai dalang di balik semua teror yang Alice terima. Alice mengerjap
berulang-ulang mendengar cerita gue.
―Jadi, Lice, sekarang... mmm... lo mau balik sama gue nggak? Gue sayang banget sama
lo, dan gue janji kali ini kita nggak perlu lagi backstreet, karena nggak ada yang perlu kita
takuti. Noni juga udah janji nggak bakal mengulangi perbuatannya... Gue nggak akan
menyembunyikan lo lagi, Lice. Kita bisa mengulang semuanya dari awal.‖
Alice diam lagi, dan gue dengan takjub menyadari lagu ADA Band yang diputar di bistro
ini sudah berganti dari Pura-Pura Cinta menjadi Setingginya Nirwana.
Saat kembali memelukmu
Terurai rasa yang semakin mendalam
Kuingin dirimu masih rasakan hal sama
Cintaku setinggi-tingginya nirwana...
Mungkin hatimu pertanyakan
Ada kepastian di lubuk jiwaku
Ku telah bersumpah setia berikrar denganmu,
Tak „kan empaskanmu yang kedua kalinya...
Cinta jangan kautinggalkan aku
Leburkan ke dalam kepedihan
Maafkan aku yang sempat melukaimu...
Cinta kau harus ampuni aku
Atas s‟gala tingkahku yang dulu,
Tiada pantaskah ku „tuk kembali memulainya...
Gue dan Alice sama-sama bengong. Ini sama fantastisnya dengan ADA Band ada di
belakang kami dan menyanyikan lagu ini secara live untuk membantu gue memohon Alice
kembali!
―Aku nggak tau, Lan,‖ kata Alice pelan. ―Kadang-kadang aku masih merasa nggak
pantas jadi pacar kamu. Aku... aku cuma anak SMA biasa, sementara kamu seleb yang dipuja
banyak orang. Dan dunia kita berbeda...‖
―Kamu jangan bicara seolah aku ini hantu dong,‖ gue berusaha bercanda. Berhasil, Alice
tersenyum geli. Itu pertanda bagus, di samping dia sudah mulai menggunakan aku-kamu lagi
kalau ngomong sama gue. ―Kamu nggak mau kasih aku kesempatan?‖
Aku berpikir sebentar. ―Kasih aku waktu satu minggu, nanti aku bakal kasih jawabannya
buat kamu. Aku kan harus mikir juga...‖
Alice tersenyum, dan gue nggak tahan untuk nggak tersenyum juga, biarpun gue ketarketir
menunggu minggu depan.
Di belakang kami, Setingginya Nirwana masih mengalun.
Kau bagai bintang di tengah samudra
Arahkan jiwa yang terlena akan dunia
Ampuni mata ini tak mampu melihat
Ke dalam cintamu sesungguhnya...
Cinta jangan kautinggalkan aku
Leburkan ke dalam kepedihan
Maafkan aku yang sempat melukaimu...
Cinta kau harus ampuni aku
Atas s‟gala tingkahku yang dulu,
Tiada pantaskah ku „tuk kembali memulainya...
(Setingginya Nirwana – ADA Band)
GO PUBLIC!
Satu bulan kemudian...
AKU selalu suka pensi. Selain karena ramai dan banyak booth yang lucu-lucu, juga karena banyak
cowok cakep yang berkeliaran di depan mataku.
Biarpun begitu, aku nggak bisa bebas flirting sama cowok-cowok itu, karena pasti cowok
yang disebelahku ini bakal dengan senang hati menjewer telingaku kalau aku melakukan hal itu.
“Hayoo... nggak boleh ngelirik cowok-cowok!” goda Dylan sambil menjewer telingaku.
“Yeee... daripada aku ngeliatin sesama cewek, mendingan aku ngeliatin cowok dong! Aku
kan masih normal!”
“Iya, tapi kamu kan udah punya pacar! Nih, pacarnya di sini!” Dylan menunjuk dirinya
sendiri, dan kami tertawa geli berdua.
Sian gini memang aku dan Dylan nonton bareng pensi anak-anak SMA 103 di Parkir Timur
Senayan. Skillful jadi salah satu pengisi acaranya, tapi mereka sudah selesai tampil tadi, dan
sekarang Dylan menemaniku nonton.
Apa?
Oya, kami memang udah balik tiga minggu yang lalu. Aku nggak bisa bohong aku benerbener
masih sayang sama Dylan, dan anak tengil itu juga kelihatannya masih sayang banget sama
aku, jadi nggak salah dong kalau kami balikan?
Seperti ap ayang Dylan bilang waktu memintaku kembali sama dia, kali ini kami go public,
alias sama sekali nggak backstreet! Dan tau nggak, rasanya semua terasa lebih ringan dijalani. Aku
dan Dylan nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi kalau mau pergi berdua, dan lebih hebatnya lagi,
nggak ada satu pun teror yang kuterima. Rupanya Noni benar-benar menepati janjinya.
“Hai...”
Aku menoleh, dan mendapati wajah empat cewek yang sama sekali nggak kukenal, dan
mereka semua tersenyum grogi menatapku.
“Hai! Cynthia... Ardelia... Ellya... Xiu Mei,” Dylan menyapa keempat cewek itu ramah.
Aku menelan ludah mendengar nama-nama itu. Kalau nggak salah, mereka ini kan...
“Say, kenalin, mereka anak-anak milis Dylanders,” kata Dylan riang sambil menunjuk
keempat cewek itu. “Ini Cynthia, terus Ardelia, Ellya, yang ini Xiu Mei. Gals, kenalin, ini Alice,
cewek gue...”
“Hai,” sapaku kagok dan salting. Mampus, kalau gini kan...
Ah ya, aku lupa. Sekarang kan aku dan Dylan nggak backstreet lagi...
“Hai!” aku mengulang sapaanku dengan sapaan yang lebih riang dan menyalami mereka satu
per satu. “Apa kabar? Tadi habis nonton Skillful juga, ya?”
“Iya,” sahut cewek ber-tank-top hitam yang seksi, pasti Cynthia.
“Senang banget bisa ketemu di sini,” kataku lagi. “Kalian datangnya bareng? Habis ini masih
mau nonton, kan? Kita nontonnya bareng aja, gimana?”
Ellya bengong, sementara Xiu Mei dan Ardelia saling lihat-lihatan.
“Kenapa? Kalian udah mau pulang?” tanyaku heran.
“Eh, bukannya gitu,” Ellya angkat bicara. “Kita... nggak enak aja kalau jadi gangguin kalian
nonton berdua...”
Aku menatap Dylan dan nyengir lebar. “Nggak, sama sekali nggak ganggu kok. Kan malah
enak nonton rame-rame!”
Mereka berempat kelihatannya bingung banget, tapi akhirnya mengangguk juga, dan aku
langsung tersenyum riang. Mereka juga nyengir.
Mungkin memang seharusnya seperti inilah pacar Dylan dan Dylanders, bisa membaur tanpa
merasakan ada jurang. Dylan memang pacarku, tapi di depan para Dylanders, dia tetap milik
mereka bersama. Aku nggak akan merebutnya dari mereka...
* * *
Esok paginya hari Minggu, dan karena laig nggak ada kerjaan, aku iseng membuka milis
Dylanders. Hmm... report tentang penampilan Skillful di pensi anak-anak SMA 103 kemarin sudah
ada belum ya di milis?
Bagian Messages terbuka, dan aku langsung melongo dengan suksesnya.
Cwe Dylan namanya Alice, orgnya baik bgt! c-ta_dylanders
Hay galz, kmrn gw sm ank2 ktmu Dylan... Send IM
Re: Cwe Dylan namanya Alice, orgnya baik bgt! ellya-susanti
Pantas Dylan milih Alice, dia emg... Send IM
Re: Cwe Dylan namanya Alice, orgnya baik bgt! cuekz_91rl
Oya? Ah, gw jg pgn dunk ktemu & knlan sm Alice... Send IM
Aku terpana dan membuka reply yang paling akhir.
From : cuekz_91rl@yahoo.com
Subj : Re: Cwe Dylan namanya Alice, orgnya baik bgt!
>> In dylan_siregar@yahoogroups.com, cuekz_91rl wrote:
Oya? Ah, gw jg pgn dunk ktemu & knalan sm Alice! Dr ftnya, gw lht Alice manis
bgt! Wihhh... udh manis, baik pula! Gw sirik sm lo-lo pada galz, udh bs ktmu Alice yg
sgitu baiknya. Moga2 Alice sm Dylan awet yak!
Dan... oh ya, mending Alice ke mana-mana deh drpd si Cindy penyanyi sok
ngetop yg doyan publisitas itu!
>> In dylan_siregar@yahoogroups.com, ellya_susanti wrote:
Pantas Dylan milih Alice, dia emg cwe yg baiiiiikkk bgt, sm skali nggak nganggap
Dylanders ganggu. Memang seharusnya kayak gitu cwenya Dylan, bs deket sm
Dylanders, ya nggak?
Dylan, Alice, awet-awet yaaa... Tp nikahnya jgn dlm wktu dkt ah, gw belum siap
lht janur kuning melengkung niy, hehe...
>> In dylan_siregar@yahoogroups.com, c-ta_dylanders wrote:
Hay galz, kmrn gw sm ank2 ktmu Dylan di pensinya anak2 SMA 103. Trnyt
Dylan dtg brg cwenya, namanya Alice. Yg bikin gue kaget, Alice ternyata orgnya
baiiiiikkkk bgt! Dia nawarin gue, Ellya, Xiu Mei, en Ardelia buat nonton pensi brg mrk!
Dia sm skali nggak nganggap qta ganggu, pdhl kan qta jelas-jelas ganggui dia &
Dylan yg lg asyik-asyik nonton pensi!
Haduuuhhh... emang cocok ya Dylan milih cwe ky Alice! TOP BGT dah!
PS: ft kita berempat sm Dylan & Alice udh gw upload. Silakan dilihat! ^-^
Aku melongo, sama sekali nggak menyangka bakal menemukan puji-puji untukku di milis.
Ini benar-benar luar biasa. My life is amazing!
Dan aku nggak akan pernah mengalami semua ini kalau bukan karena cowok bernama
Dylan James Siregar itu...
Aku mengambil HP-ku dan mengetik SMS untuk Dylan.
To: Dylan Chayank
Dylan... I love you!
You know, what? I really do.

0 Response to "Dylan, I Love You!"

Post a Comment