Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Bridesmaid’s Story

IRENA TJIUNATA



KRRIING... Krriingg...!
“Haahh?!” Kesya Artyadevi, pemilik suara serak tadi, belum sadar sepenuhnya.
Jiwanya masih sibuk berkelana di dunia mimpi.
“Kesya, ini Cecil! Kamu udah bangun belum?!”
Tentu saya Kesya sudah bangun. Memangnya siapa yang mengangkat telepon
kalau bukan Kesya? Lagi pula, diteriaki dengan suara kencang seperti itu, Kesya jadi
sadar seratus persen dari tidur panjangnya.
“Iya iya, Cil. Aku udah bangun. Ngapain sih pagi-pagi begini telepon? Aku
masih capek nih!” protes Kesya, masih dengan suara serak. Dia baru tidur jam dua
pagi karena harus menyelesaikan pesanan perhiasan dari seorang pelanggan.
“Kesh, temani aku sarapan ya! Sekalian ada pengumuman penting yang mau
aku kasih tau!” Cecilia Almira Saraswati, sahabat Kesya sejak TK, tidak
memedulikan protes Kesya.
Dahi Kesya mengernyit bingung. Tumben Cecil semangat amat. Dia sendiri
masih ingin meringkuk di dalam selimutnya.
Kesya menghela napas. “Iya, tapi aku mandi dulu ya...”
“Oke! Tapi nggak pake lama. Lima menit lagi aku akan jemput kamu!”
“Iya.”
Kesya meletakkan teleponnya. Dia bangun dari ranjang, menggeliat sebentar,
lalu melepas baju tidur. Dia berjlana ke kamar mandi yang juga terletak di dalam
kamarnya.
Setelah semuanya selesai, dia duduk di depan meja rias. Bersiap untuk
mempercantik wajahnya.
Kriingg...
Kesya menghela napas. Pasti si Cecil lagi. Heran juga sama gadis yang satu ini.
Kesya sudah menjadi sahabat Cecil sejak mereka sama-sama duduk di bangku TK,
tapi sampai sekarang, ketika mereka sama-sama telah menginjak usia 26 tahun, sifat
nggak sabaran Cecil bukannya sembuh malah betah bermukim di pribadi gadis itu.
Kesya mengangkat telepon dan langsung menyambar, “Iya, Cil. Aku udah siapsiap
kok...”
“Ehm, hhaa... llooo... Kesya...”
Jantung Kesya berdetak dua kali lebih cepat daripada sebelumnya saat ia
mendengar suara yang sama sekali berbeda dengan suara Cecil yang meledak-ledak.
Suara ini terdengar gugup, suara gugup yang disukai Kesya.
“Ehm... Jansen... tumben telepon pagi-pagi. Ada apa?”
“Oohh... ehm... nggak apa-apa sih. Cuma... cuma pengin denger suara kamu...,”
sahut laki-laki gugup yang dipanggil Jansen itu.
Walau cuma begitu, Kesya sudah senang banget.
“Kamu... kamu lagi ngapain?” Jansen bertanya.
“Lagi siap-siap. Cecil minta ditemenin sarapan.”
“Ooh gitu...”
Kesya terdiam. Kehabisan bahan pembicaraan.
“Oh ya... foto kamu sudah jadi. Kapan kamu mau ambil?”
Kesya tersenyum. Jansen seorang fotografer. Fotografer pribadi Kesya, tepatnya.
Hehehe... Entah mengapa, kalau Jansen yang mengabadikan gambar Kesya, pasti
jadinya akan bagus sekali. “Oh... yang waktu itu ya? Gimana? Bagus?”
“Ya... ya pasti bagus lah. Kamu... Kamu kan ayu...” Suara Jansen terdengar
berdeguk. Seperti suara seorang yang sedang menelan ludah.
Kesya tersenyum kecil. Diam-diam menikmati kegugupan Jansen.
“Oke deh. Nanti kalau keburu, pulang dari ketemu Cecil aku ambil deh.”
“Oke kalau... kalau begitu. Udahan dulu deh... Sampai... sampai nanti ya...”
Ting tong...
Masih sambil tersenyum kecil, Kesya membuka pintu.
“Morning, Kesya...” Cecil langsung memeluk Kesya dengan hangat. Kesya
tersenyum lebih lebar lagi. Cecil selalu begitu. “Kamu sudah siap, kan?” tukas Cecil,
tanpa memperhatikan senyum Kesya yang masih lebar banget. Tampaknya Cecil
benar-benar punya pengumuman penting pagi ini.
Kesya mengangguk. Dia mengambil tasnya kemudian keluar mengikuti Cecil.
Jalanan Minggu pagi masih lenggang. Sudah jelas! Siapa sih yang mau bangun
pagi-pagi di hari Minggu? Setelah satu minggu bekerja gila-gilaan, hari Minggu
adalah hari “balas dendam” untuk tidur sampai puas!
Kesya duduk di samping Cecil. Sebenarnya dia masih ngantuk banget. Kemarin
malam dia terpaksa menyelesaikan rancangan kalung dari seorang anak
konglomerat. Pesanan itu bisa dibilang dadakan juga, tapi bayarannya lumayan.
Makanya Kesya mati-matian menyelesaikan rancangan kalung itu sampai larut
malam.
Mereka sarapan di kafe dekat apartemen Kesya. Seporsi nasi goreng dan
secangkir kopi latté cukup menyegarkan mata Kesya. Cecil hanya memesan
semangkuk bubur ayam. Kesya melirik mangkuk bubur ayam Cecil, lalu matanya
beralih ke tubuh langsing Cecil. Kesya menggeleng, dirinya tidak mungkin akan
kenyang kalau cuma makan bubur ayam seperti itu.
“So? Pengumuman penting apa? Kamu dapat promosi di kantor? Kamu menang
undian satu miliar? Kamu dapat hadiah undian jalan-jalan keliling dunia? Atau
malah jalan-jalan keliling Planet Mars?” tanya Kesya sambil menyuap nasi
gorengnya. Rambutnya terlepas dari selipan telinganya. Jatuh terjuntai lemas
menutupi pipinya. Kesya kembali menyelipkan rambutnya ke balik telinga.
Cecil tersenyum. Tangannya juga ikut terangkat dan menyibak rambut
keritingnya. Mata Kesya menyipit. Apa itu di jari manis Cecil?
Cincin?
Cincin berlian?!
Kesya melotot. Napasnya tertahan, matanya berbinar-binar, menangkap
kebahagiaan di wajah Cecil. “Cecil...”
Cecil mengangguk penuh semangat. Tawanya lebar sekali. Kesya sampai silau
melihat cerahnya senyum itu.
“Iya! Aku dilamar Arlo kemarin!!!” ujarnya penuh semangat.
Mata Kesya berkedip-kedip haru. Akhirnya! Akhirnya!!! Setelah sepuluh tahun
pacaran. Setelah sepuluh tahun yang penuh badai topan (mengingat Cecil adalah
drama queen yang sangat emosional). Setelah sepuluh tahun putus-sambung.
Akhirnya mereka akan menikah juga!
“Selamat!” Kesya merangkul Cecil. “Aku senang sekali! Gimana ceritanya?”
Cecil masih tersenyum lebar. “Aku udah cerita kan, kemarin kami ikut tur
keliling kota tua...”
Kesya mengangguk. Hari Sabtu kemarin, Alvaro Nicholai Andersen, biasa
dipanggil Alo—yang karena kesibukannya mengurusi perusahaan keluarga di
Singapura lebih banyak berada di negeri Singa itu—pulang ke Jakarta dan mengajak
Cecil tur keliling kota tua Jakarta.
“Waktu lagi liat-liat di dalam museum, Alo bilang dia mau ke toilet. Lalu, tibatiba,
aku dengar ada yang manggil-manggil namaku dari pengeras suara. Ternyata
itu Alo. Dia pake megaphone punya si tour guide. Aku kaget banget. Dia bilang, „Cecil,
will you marry me?‟ Kemudian, dia berlutut di hadapanku dan membuka kotak cincin
ini.” Cecil memperlihatkan sebentuk cincin berlian yang indah sekali.
Sebagai seorang perancang perhiasan, Kesya tahu benar kualitas cincin itu.
Buatannya benar-benar halus dan sempurna. Alo benar-benar tahu cara mengambil
hati Cecil. Apalagi acara lamarannya yang menarik perhatian banyak orang seperti
itu. Seorang drama queen seperti Cecil pasti akan sangat senang mendapat perlakuan
seperti itu.
“Jelas aku nggak bisa nolak. Aku juga nggak bisa bilang apa-apa. Aku speechless
saking kagetnya. Aku cuma bisa ngangguk. Terus Alo memasang cincin ini dan
mengangkat tangan aku, terus... dia cium aku...” Cecil melanjutkan ceritanya sambil
tersipu-sipu. Tangannya kembali terangkat, menyentuh rambut keritingnya,
sekaligus memperlihatkan cincin pertunangannya.
Kesya tertawa. Walaupun tersipu malu begitu, dia tahu banget Cecil pasti
sangat menikmati perhatian orang-orang.
“Semua orang ngeliatin kami begitu. Semua orang tepuk tangan dan kasih
selamat ke kami. Aku senang sekali...”
Kesya tersenyum. Dia ikut bahagia melihat binar di wajah Cecil. Sahabatnya ini
benar-benar sedang bersinar bahagia. Kesya dapat merasakan aura kebahagiaan
yang terpancar kuat dari seluruh pori-pori tubuh Cecil.
“Lalu, kapan big day-nya?”
“April tahun depan!” desah Cecil bahagia.
Kesya menghitung dalam hati. Sekarang bulan Oktober, berarti hanya tersisa
enam bulan.
“Udah mulai ngurusin segala pernak-perniknya? Katanya repot banget tuh...”
Kesya mengutip artikel-artikel yang pernah dia baca di majalah pernikahan.
Menurut artikel itu, setidaknya satu tahun sebelum hari pernikahan, semua
persiapan harus sudah mulai dilakukan. Mulai dari pemesanan gedung, gaun,
gereja, katering, ini, itu... banyak banget deh!
Cecil menggeleng. “Belum lah. Baru juga dilamar. Makanya aku butuh bantuan
kamu...”
Alis Kesya terangkat. Dia menangkap maksud tertentu dalam nada suara Cecil.
“Aku mau kamu jadi bridesmaid-ku,” ujar Cecil sambil menggenggam tangan
Kesya. “Kamu sudah jadi temanku sejak kita masih TK, masih sama-sama ingusan,
dan masih sama-sama suka nangis kalau ditinggal mama-mama kita. Selama ini,
kamu sahabatku yang terbaik. Kamu yang paling ngerti aku. Kamu juga yang paling
tahu perjalanan pacaranku sama Alo. Kamu yang paling pantas jadi bridesmaid-ku.
Mau ya, Kesh...”
Kesya menghela napas. Mendengar pernyataan Cecil seperti itu, ditambah
tatapan memohon dan mata yang bersinar sayu, siapa yang bisa menolaknya? Lagi
pula, dia memang akan dengan senang hati ikut ambil bagian dalam hari besar
sahabatnya. Tanpa diminta menjadi bridesmaid pun, dia pasti akan membantu Cecil.
Kesya mengangguk dan tersenyum.
Cecil tersenyum lebih lebar dan merangkul Kesya erat.
* * *
Saat Kesya kembali ke apartemennya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh
malam. Biasa deh, kalau sudah pergi dengan Cecil, Kesya pasti tidak bisa pulang
cepat. Ada aja alasan Cecil untuk menahannya berlama-lama di jalan. Cecil juga
ikut. Dia akan menginap di apartemen Kesya. Rencananya mereka akan
membicarakan konsep pernikahan Cecil yang tinggal enam bulan lagi.
“Eh, apa tuh?” Cecil memungut sebuah amplop cokelat besar dari lantai.
Kesya mengambil amplop itu dari tangan Cecil. Belum sempat dia
membukanya, lagu Love of My Life mengalun lembut dari ponsel Kesya. Itu nada
dering pribadi untuk Jansen.
“Halo...”
“Ha... halo, Kesh...” Suara gugup Jansen terdengar dari ujung sambungan.
“Siapa?” tanya Cecil tanpa suara.
“Jansen,” jawab Kesya juga tanpa suara.
“Ka... kamu lagi ada di mana?”
“Nyalain speaker phone-nya,” kata Cecil pada Kesya, tentu tanpa suara. Kesya
terpaksa memecah konsentrasinya antara menjawab pertanyaan Jansen dan
menjawab pertanyaan Cecil.
“Aku baru pulang nih sama Cecil.”
“Kok... kok lama banget?”
Cecil bergerak-gerak di hadapan Kesya. Wajahnya tampak tidak sabar.
“Mau ngapain sih?” Kesya menggerakkan bibirnya tanpa suara sambil melotot
sebal. Sahabatnya memang agak antipati dengan Jansen. Menurut Cecil, Jansen sama
sekali bukan tipe pacar yang cocok untuk Kesya, tapi... tahu apa sih dia?
“Aku pengin denger dia ngomong apa,” jawab Cecil tanpa suara, sambil
tersenyum jail.
“Iya nih, biasa deh Cecil. Kalau udah keluar pasti lama,” Kesya kembali
berbicara dengan Jansen.
Cecil merebut ponsel Kesya dan menekan tombol speaker phone. Suara Jansen
terdengar dengan jelas oleh Cecil.
“Aku... aku tadi ke tempat kamu...” Jansen terdiam, tampak kesulitan mengatur
napas. Cecil terkikik geli mendengar napas Jansen yang Senin-Kamis.
“Cecil!” bisik Kesya sambil melotot tajam ke arah Cecil.
“Aku... aku tunggu-tunggu, udah... udah hampir dua jam, tapi... tapi kamu
nggak pulang-pulang.”
“Dua jam? Selama itu?” Kesya terkejut.”Kenapa kamu nggak telepon aku aja?”
“Oh, iya ya... tadi nggak kepikiran telepon kamu... Hehe...” Tawa Jansen
terdengar serbasalah.
“Memang kamu mau ngapain ke rumahku?”
“Aku... aku mau nganterin foto kamu. Tadi pagi kan aku udah bilang foto kamu
sudah jadi...”
“Terus, sekarang fotonya di mana?”
“Aku... aku tadi udah selipin di bawah pintu apartemen kamu. Masih ada satu
lagi sih, tapi... tapi tadi aku lupa bawa...”
Cecil masih terus cekikikan. Sekarang ditambah lagi dia meniru-niru tingkah
Jansen kalau lagi gugup, mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat.
“Oh, aku udah terima fotonya. Yang amplop cokelat, kan?” Kesya mengambar
amplop cokelat yang masih berada dalam genggaman Cecil.
“Eh... iya. Betul. Yang amplop cokelat,” Jansen membeo.
Cecil tetap cekikikan geli.
Kesya mencubit paha Cecil. Lumayan keras juga sampai gadis itu menjerit.
“Lho... itu suara siapa?”
“Ooh... ehm... itu Cecil. Matanya lagi kelilipan...”
“Kelilipan? Kelilipan apa?”
“Kelilipan gajah!” sahut Cecil sebal. Kelilipan apa kok masih ditanyain? Ya
kelilipan kan biasanya kelilipan debu. Mana pernah ada orang kelilipan yang lainlain?
“Sekarang gajahnya udah keluar?” tanya Jansen.
Haah?!
Cecil cekikikan lagi. Parah banget si Jansen ini! Masa dia percaya begitu saja
omongan ngawur Cecil?
“Nggaklah...,” ujar Kesya, berusaha menyelamatkan Jansen. “Cecil kalo
bercanda emang suka keterlaluan,” tambahnya sambil melirik sebal ke arah Cecil.
“Oke deh, kapan-kapan aku ambil fotok uyang lainnya ya.”
“O... oke deh. Good night, Kesya yang ayu...,” ujar Jansen dengan lembut.
Okay, that’s it! Tanpa bisa ditahan-tahan lagi, meledaklah tawa Cecil. Kesya
melotot ke arha Cecil sambil buru-buru mematikan ponselnya.
“Cecil! Kamu nih apa-apaan sih? Kenapa kamu ngetawain Jansen gitu?!”
geramnya.
Cecil masih terus tertawa. “Kesya... Kesya... Kamu nemu di mana sih cowok
ajaib kayak gitu? Gugupan, badan kurus kerempeng, sama sekali nggak seksi. Terus
tadi? Kesya yang ayu?! Well, that’s so sweet... tapi pada tahun empat puluhan!” Cecil
tertawa lagi.
“Oh, come on, Kesh...,” ujar Cecil saat melihat keruh di wajah Kesya. “Mana ada
sih cowok zaman sekarang yang ngerayu cewek dengan kata-kata seperti itu? Heran
aku, kok kamu masih betah aja sama dia?” Cecil mengernyit geli. “Kesya yang ayu...,”
dengusnya.
Kesya terdiam. Memang Jansen agak unik. Yah, bisa dibilang agak ketinggalan
zaman. Tapi, memangnya kenapa? Kesya suka sama Jansen. Jansen bisa membuat
Kesya tampak cantik dari balik lensa kameranya.
Kesya bertemu Jansen pertam akali dua tahun yang lalu. Saat itu ada pameran
perhiasan emas di universitas tempat dia belajar dulu. Kesya mendapat undangan
plus tiket ke Jepang. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Kesya pun
menghadiri pergelaran itu. Di sana dia bertemu Jansen, fotografer kikuk yang
kebetulan diundang untuk meliput acara itu. Tanpa sengaja, Jansen membidik
Kesya dengan kameranya.
Keesokan harinya, Jansen mati-matian mencari Kesya untuk memberikan hasil
bidikannya. Bagi Kesya, itu pengalaman yang sangat romantis. Walaupun Jansen
waktu itu amat sangat gugup (dia bahkan menjatuhkan kamera mahalnya!), hasil
bidikannya amat sangat indah. Dalam foto itu Kesya tampak sedang serius
memperhatikan salah satu perhiasan yang dipajang di sana. Kecantikannya yang
natural terpancar dengan kuat dalam bidikan itu. Sejak saat itu mereka
berhubungan, dan sejak saat itu Kesya merasa jatuh cinta pada Jansen.
Kesya tersenyum kecil mengingat pertemuannya dengan Jansen. Saat tersadar,
dia melirik amplop cokelat yang masih berada dalam genggamannya. Perlahan
dibukanya amplop cokelat itu.
Kesya menahan napas. Foto itu diambil Jansen ketika cowok itu tiba-tiba datang
ke apartemennya pada suatu pagi. Saat itu Kesya sedang sibuk membuat sarapan
untuk dirinya sendiri. Di foto itu Kesya sedang memegang panci; sebuah sendok
dimasukkan ke dalam mulutnya yang tersenyum. Kesya ingat, waktu itu dia sedang
mencicipi bubur ayam yang dia buat.
Kesya tersenyum.
Dia tampak sangat cantik di foto itu...
* * *
Kesya memperhatikan daftar yang telah mereka—dia dan Cecil—buat. Hari sudah
larut malam, Cecil sudah tidur kelelahan setelah mendiskusikan ide-ide pesta
pernikahannya. Kesya menyalakan laptop dan mengecek e-mail. Rutinitasnya
sebelum tidur. Iseng-iseng dia juga browsing situs bridesmaid101.com. Dia telah
dipercaya Ceci luntuk menjadi bridesmaid-nya, maka dia harus menjalankan
tugasnya sebaik mungkin.
Dari situs itu Kesya baru tahu bahwa tugas seorang bridesmaid bukan hanya
membantu pengantin pad ahari pernikahan. Jauh sebelum itu, seorang bridesmaid
bertugas membantu pengantin dalam mempersiapkan pestanya. Well, oke. Itu sudah
dilakukannya saat ini. Dia memperhatikan corat-coret rancangan pesta pernikahan
Cecil. Dia mulai merasa menyukai tugas ini.
Seorang bridesmaid juga harus menjadi sahabat yang paling baik di saat-saat yan
gmungkin akan menjadi momen yang paling emosional dalam kehidupan seorang
wanita. Kesya mengernyit. Dia melirik Cecil yang tertidur pulas di sofa. Hmmm...
tampaknya ini akan menjadi salah satu tugas yang cukup sulit.
Pada hari-hari biasa, Cecil sudah menjadi seorang yang emosional. Menjelang
pernikahannya, dia pasti akan menjadi amat sangat emosional, double emosional.
Dan berada di dekat Cecil yang emosional akan menjadi sangat sulit.
Kesya menghela napas. Cecil sahabatnya sejak kecil. Dia akan menjadi sahabat
yang baik dengan berada di saat-saat tersulit Cecil.
Kesya kembali membaca tulisan dalam situs itu. Oh ya, dia juga harus
mempersiapkan dirinya sendiri. Bridesmaid juga harus tampil cantik pada acara
pernikahan. Hei... dia baru tahu bahwa seorang bridesmaid dipakaikan baju yang
mirip dengan si pengantin untuk mengecoh roh jahat yang mungkin akan mengusik
si pengantin.
What?!
Jadi maksudnya, kalau ada roh jahat yang akan mengusik si pengantin, maka
yang akan kena tulah adalah bridesmaid-nya?!
Kesya bergidik ngeri. Diusirnya pikiran itu dari dalam benaknya. Dia sudah
menerima tugas ini. Tugas terhormat bagi seorang sahabat sejati. Dan dia akan
melaksanakan tugasnya sebaik mungkin.
* * *
“Ayo dong, Kesh! Cepetan!” Cecil setengah menarik Kesya.
“Sabar sebentar, Cecil...” Kesya pasrah saja tangannya ditarik Cecil. Sebenarnya
dia sudah berjalan di atas kecepatan normalnya, tapi tetap saja bagi Cecil itu masih
kurang cepat.
Yang pertama kali harus mereka lakukan, menurut Cecil, adalah hunting gaun
pengantin. Oleh karena itu, hari ini Kesya menemani Cecil melihat-lihat gaun
pengantin. Ini sudah menjadi salah satu tugasnya sebagai seorang bridesmaid. Cecil
mengajaknya ke Bride‟s World, bridal yang paling lengkap di Jakarta. Katanya, Cecil
mendapat rekomendasi dari seorang temannya yang baru saja menikah. Kesya agak
berdebar-debar juga. Dia belum pernah masuk ke bridal mana pun. Dia menerkanerka
seperti apa bentuk bridal.
“Selamat pagi, Mbak Cecil. Selamat datang di Bride‟s World. Apa kabar? Nama
saya Anita. Saya yang akan membantu Mbak Cecil di sini,” sapa seorang gadis
cantik yang mengenakan seragam Bride‟s World.
Cecil langsung mencium pipi kiri dan pipi kanan Anita. Satu kebiasaan yang
tidak terlalu disukai Kesya. Padahal Cecil, sama juga seperti Kesya, baru pertama
kali bertemu Anita di sini. Ngapain juga pake cium pipi kiri dan kanan? Kesannya
kok sok akrab. Kalau memang sudah akrab, Kesya lebih memilih sebuah pelukan
yang hangat daripada acara cium pipi basa-basi seperti itu.
“Baik, baik...,” jawab Cecil sambil tersenyum lebar. “Eh, ini kenalin. Kesya. Dia
nanti yang bakal jadi bridesmaid. Dia sahabat aku...”
“Selamat pagi, Mbak Kesya...” Anita sudah mencondongkan tubuhnya, siap
untuk bercipika-cipiki dengan Kesya. Namun, Kesya segera mengulurkan
tangannya. Anita tampak sedikit terkejut, tapi sambil menebar senyum manis, dia
membalas uluran tangan Kesya dengan profesional.
“Hari ini saya mau lihat-lihat baju pengantin ya...,” ujar Cecil.
“Oohh... mari silakan. Madame Daphne sudah menunggu di atas...”
“Madame?” bisik Kesya pelan, merasa terganggu dengan julukan yang diberikan
di depan nama perancang busana itu. “Kok kayak panggilan untuk peramal sih?”
“Sst...” Cecil menatap tajam ke arah Kesya. “Orangnya memang rada unik.”
Kesya mengangguk-angguk. Sambil menapaki tangga, dia berusaha merekareka
seperti apa rupa Madame Daphne yang menurut Cecil unik itu.
Anita mengajak mereka ke lantai dua gedung itu. Pintu diketuk, dan seorang
wanita paruh baya membuka pintu dari dalam.
“Hai, Cecil...,” sapa wanita itu dengan suara berbisik.
“Halo, Madame Daphne...,” balas Cecil tak kalah ramah.
Kesya melongo. Ini yang namanya Madame Daphne?! Wanita paruh baya ini
mengenakan pakaian ala gadis-gadis Gipsi, lengkap dengan bandana yang
menutupi rambutnya. Di lehernya tergantung berlapis-lapis kalung. Bukan kalung
lapis yang sedang ngetop belakangan ini. Kalung-kalung itu tampak menyeramkan.
Ada kalung yang menyerupai taring ular, duri-duri mawar yang tajam, sampai
motif tengkorak. Belum lagi riasan wajahnya, Madame Daphne membingkai
matanya dengan celak yang sangat hitam. Bibirnya tertutupi listrik yang juga
berwarna hitam. Dengan dandanan seperti ini, rasanya Madame Daphne tidak
cocok berprofesi sebagai desainer baju pengantin yang berpengalaman. Madame
Daphne, hmmm... Madame Daphne mungkin lebih tepat, lebih cocok berprofesi
sebagai cenayang! Hmm... mungkin itu sebabnya dia dipanggil Madame Daphne...
Cecil menyikut rusuk Kesya. Kesya pun tersadar, lalu menutup mulutnya yang
sedari tadi masih terbuka lebar.
“Kenalkan... ini Kesya, bridesmaid saya...” Cecil mendorong tubuh Kesya maju ke
depan. Madame Daphne tersenyum sangat lebar. Pipinya yang diberi blush-on
merah terang tampak bergerak-gerak.
“Hmmm... bridesmaid-nya juga cantik ya... Kalian berdua memang sama-sama
cantik...”
Kesya tersenyum dan mengulurkan tangan. Madame Daphne membalas uluran
tangan Kesya dengan jabatan yang erat. Kalungnya bergemetaran ketika Madame
Daphne bergerak.
“Hari ini saya mau liaht-lihat baju pengantin, Madame...,” ujar Cecil sambil
tetap tersenyum cerah. Keinginan untuk melihat-lihat gaun pengantin rancangan
Madame Daphne telah membuatnya berseri-seri sepanjang hari. Cecil sangat
mengagumi Madame Daphne. Perancang busana yang satu ini kepiawaiannya telah
diakui dalam skala internasional. Madame Daphne sering memenangkan berbagai
lomba perancang busana tingkat internasional. Prestasinya yang terakhir adalah
merancang gaun pengantin dari kulit jagung.
“Ooh... silakan... Ini desain-desain terbaru saya. Kamu boleh lihat-lihat sampai
puas...” Madame Daphne menggandeng tangan Cecil, membawanya ke ruang
koleksi baju pengantin rancangannya. Cara jalannya sangat misterius. Rok panjang
lipit yang dikenakannya menutupi kakinya. Kesya mengikuti kedua perempuan itu
sambil memandang ke arah rok lebar Madame Daphne, berusaha mencari sepasang
kaki dari balik rok itu. Apa jangan-jangan dia memang nggak punya kaki ya? Kesya
bergidik ngeri.
Suara tawa tertahan di sebelahnya membuat Kesya tersadar. Rupanya Anita.
Gadis itu masih berdiri di sana dan sekarang sedang memperhatikan Kesya sambil
terkikik geli. Wajah Kesya memerah, pasti dia kelihatan konyol banget tadi! Atau
malah bodoh banget! Waah... lebih parah dong.
Kesya buru-buru memperbaiki sikapnya, tidak mau kelihatan konyol lagi. Dia
memandang ke sekeliling ruangan dan baru menyadari betapa megahnya ruang
pengepasan gaun pengantin ini. Ruangannya sangat besar. Di kanan-kiri terpasang
kaca yang sekaligus berfungsi sebagai dinding. Siraman lampu kuning membuat
ruangan ini terasa nyaman.
Madame Daphne membuka salah satu kaca besar di sisi ruangan.
Oohhh... rupanya kaca itu bukan kaca biasa. Terdapat lemari besar di baliknya.
Di dalam lemari itu tersimpan banyak sekali gaun pengantin.
“Hmmm... what kind of wedding gown do you like, dear?”
Cecil duduk di salah satu bangku panjang yang memang diletakkan di tengahtengah
ruangan. Kaki jenjangnya disilangkah dengan anggun.
“Hmmm...” Dia memuntir-muntir rambut keriting pendeknya. “I want to look
sexy, but gorgeous!”
Madame Daphne tersenyum misterius.
Kesya bergidik lagi melihat senyum itu.
“Bagaimana kalau yang ini?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuah gaun
pengantin dari plastik penutupnya.
Gaun berwarna putih yang terbuat dari bahan brokat itu memang terlihat sangat
indah. Modelnya sederhana dan sangat bersahaja. Benar-benar indah!
“Ayo, coba yang ini dulu...,” ajak Madame Daphne. Tangannya melambai
kepada Anita yang langsung sigap datang. Cecil masuk ke ruang kecil di sudut
ruangan, diikuti oleh Anita.
“Kesya, kamu tunggu di sini dulu ya...,” pinta Cecil.
Kesya mengangguk, lalu duduk di bangku panjang yang tadi diduduki Cecil.
Cukup lama juga Cecil dan Anita berada di dalam ruang ganti itu. Malas duduk
terus, Kesya bangkit dan melihat-lihat koleksi gaun pengantin rancangan Madame
Daphne. Jiwa desainernya mulai bangkit melihat gaun yang indah-indah itu. Di
dalam otaknya berkelebat berbagai macam desain perhiasan. Semuanya saling sikut,
saling dorong memenuhi rongga kepalanya. Semuanya terinspirasi dari gaun
pengantin yang indah-indah ini.
Suara gemeresik gaun menyadarkan Kesya dari baku hantam ide di kepalanya.
Cecil telah keluar dari balik ruang pengepasan. Tampak sangat cantik dengan gaun
pengantin indah itu!
“Gimana?” tanya Cecil pelan.
Kesya tersenyum lebar. “Bagus banget, Cil!” pujinya.
Wajah Cecil tidak tersenyum. “Aku nggak suka bahannya. Kelihatannya berat.
Aku jadi kelihatan gendut deh!”
Dahi Kesya mengernyit. “Gendut?!” Kesya memperhatikan tubuh Cecil dari atas
sampai bawah. Hmm... tidak tampak sedikit pun timbunan lemak. “Kamu
kerempeng gitu kok dibilang gendut?! Gimana bisa gendut sih, Cil?!”
Cecil tambah cemberut lagi. “Aku nggak suka deh. Nggak cocok di badanku.”
Kesya mengangkat bahu. Dia masih tetap merasa gaun itu sangat indah dipakai
Cecil. “You’re the bride. Ya terserah kamu aja...”
“Ya udah, kita lihat yang lain aja ya...,” ajak Madame Daphne sambil mengambil
gaun yang lain lagi. Kali ini, menyesuaikan pilihannya dengan komentar Cecil
barusan, gaun pengantinnya terbuat dari bahan sutra yang ringan dan lembut.
Beberapa menit kembali dihabiskan Cecil dan Anita di balik ruang ganti. Ketika
keluar, lagi-lagi Kesya merasa gaun yang dipakai sangat cocok dengan lekuk tubuh
Cecil.
“Bagus...,” puji Kesya.
Namun, lagi-lagi tidak ada senyum di wajah Cecil. Dia menatap pantulan
bayangannya di cermin raksasa dengan dahi mengernyit dan mulut memberengut.
Lalu dia berbalik menatap Kesya dan Madame Daphne.
“Gaun ini terlalu simpel. Aku nggak merasa kayak putri!” keluh Cecil sambil
menatap pantulan dirinya di cermin.
Kesya menghela napas. It’s gonna be a long day..., desahnya dalam hati.
Benar, kan?! Waktu Cecil bilang terima kasih kepada Madame Daphne, waktu
sudah menunjukkan pukul enam sore. Dan selama itu Cecil sudah mencoba 27 gaun
pengantin rancangan Madame Daphne. Selama itu juga Kesya sudah beberapa kali
mengganti posisi duduknya. Dari duduk manis ala putri bangsawan Inggris: duduk
dengan kaki dirapatkan, posisi menyamping ke kanan. Duduk gaya sekretaris seksi:
duduk tegak, posisi menyamping, dengan satu kaki menopang kaki lainnnya.
Duduk ala cowok macho: kaki membuka lebar, badan condong ke depan dengan
kedua siku menumpu pada masing-masing lutut—oh ya, tidak lupa jemari tangan
saling ditautkan. Sampai duduk kelelahan: duduk dengan punggung direbahkan ke
sandaran kursi, kepala terkulai lemas di atas sandaran kursi, satu tangan tergeletak
lemah hampir menyentuh lantai, dan tangan lainnya ditaruh di atas perut, kaki
diselonjorkan ke depan, tidak peduli orang yang mau lewat di depannya tersengkat
jatuh!
Dan... setelah mencoba begitu banyak gaun, Cecil belum dapat memutuskan
gaun mana yang akan dipilihnya. Benar-benar deh Cecil! Untung Madame Daphne
wanita yang sabar. Katanya, calon pengantin memang tidak pernah langsung
menetapkan gaun pilihannya. Perlu beberapa kali melihat-lihat, baru kemudian
dapat yang cocok. Madame Daphne sepertinya sudah berpengalaman menghadapi
calon pengantin yang terkadang tidak dapat ditebak kemauannya.
Kesya hampir tidak mendengar ketika Cecil mengajaknya keluar dari Bride‟s
World. Pikirannya sudah setengah melayang. Dia menyesal sekali kenapa buku
sketsanya ketinggalan di apartemen. Biasanya kalau menunggu lama begini, Kesya
suka mengisi waktu dengan menggambar apa saja di buku sketsanya. Lumayan,
siapa tahu hasil coretan isengnya itu bisa membuahkan perhiasan yang dapat dijual
di toko perhiasannya, Kesya‟s Collection.
“Hah?” tanyanya setengah tidak sadar pada Cecil yang sudah berdiri di
depannya. Penampilan Cecil masih tampak anggun tidak bercela. Lipstiknya masih
tetap menempel dengan sempurna. Rambut keritingnya tetap rapi. Wajahnya tetap
segar dan berseri-seri. Padahal mereka sudah berada di sana selama, Kesya
mengejek jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ya ampun... sudah hampir
tujuh jam!!!
Dengan lesu Kesya mengikuti Cecil keluar dari Bride‟s World. Benar-benar
tanpa semangat, dia mengikuti Cecil berjalan ke Peugeot 307 merah milik
sahabatnya itu. Komentar Cecil tentang ke-27 gaun pengantin yang dicobanya tadi
hanya ditanggapi Kesya dengan hah, huh, he-eh, dan sesekali oh ya...
Kesya benar-benar tidak ada tenaga sekarang....
2
JAM sudah menunjukkan pukul 17.30. Kesya masih berada di ruang kerjanya. Dia
masih menyelesaikan sketsa rancangan barunya. Sketsa itu terinspirasi dari gaungaun
pengantin yang dilihatnya saat menemani Cecil mengepas gaun pengantin.
Untung sekali Kesya dianugerahi daya ingat yang luar biasa sehingga walaupun
stres dan kelelahan berat saat menghabiskan waktu tujuh jam untuk menunggu
Cecil mengepas baju pengantin, otaknya masih dapat berkarya secara kreatif.
Hasil karya terbarunya kali ini adalah sebuah bros berbentuk lima buah berlian
indah yang tersusun rapi vertikal. Tepinya dihiasi emas putih yang berbentuk
ranting-ranting kering. Kesya memperhatikan sketsa rancangannya, kemudian
menambahkan sedikit detail untuk mempermanisnya.
“Bu Kesya...” Sebuah suara centil terdengar dari pintu ruang kerjanya. Itu Mona,
salah seorang penjaga tokonya. “Ada telepon di line tiga,” ujar Mona sambil
tersenyum manis.
“Thanks, Mona,” ujar Kesya juga sambil tersenyu. “Halo...”
“Kesya, can you please do me a favor?”
Kesya menghela napas. “Ya, Cecil...”
“Alo rencana mau ngepas jas hari ini. Dia minta aku temenin, tapi aku nggak
bisa. Ada rapat dengan Pak Anto, pemilik hotel. Nggak bisa ditinggal sama sekali...
Dan kamu tau sendiri, biasanya meeting sama pemilik hotel bisa alot banget!”
Dahi Kesya mengernyit. “Bukannya memang seharusnya kamu yang nemenin
Alo ngepas jas?”
“Aduh, tolong deh. You are my bridesmaid...”
“Tapi...”
“Aduh, meeting-nya udah mau mulai. Thanks before ya, Kesh...”
Dan telepon pun diputus.
Sekali lagi Kesya menghela napas. Dia menyimpan sketsa rancangannya di
brankas ide, untuk disempurnakan nantinya. Kemudian dia mengambil tas
tangannya dan beranjak keluar dari toko.
Groom‟s Bestfriend terletak di salah satu pusat pertokoan di tengah kota Jakarta.
Alo, tunangan Cecil, sudah tiba di sana. Dia kini sedang melihat-lihat model jas
pengantin dalam buku.
“Hai, Alo...,” sapa Kesya.
Alo mendongak, tampak terkejut dengan kehadiran Kesya.
“Hai, Kesh...” Alo memeluk hangat Kesya. “How are you?”
“Fine... Selamat ya, untuk pertunangan kamu dan Cecil. I’m so happy for both of
you.” Kesya balas memeluk Alo. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan Alo,
teman semasa SMA-nya ini. Kesya tahu dari Cecil bahwa Alo baru kemarin tiba di
Jakarta. Beristirahat beberapa minggu dari kesibukannya memimpin medan perang
di perusahaannya. Itu istilah Cecil. Menurut Kesya sih istilah itu terlalu berlebihan.
Biasa deh Cecil.
“Thanks. Mana Cecil?” tanya Alo sambil melihat ke belakang Kesya. Mencari
sosok Cecil.
“Lho? Cecil nggak bilang, ya?” tanya Kesya.
“Bilang apa?” giliran Alo yang bertanya.
“Dia nggak bisa datang. Ada meeting dadakan dengan pemilik hotel, makanya
dia suruh aku ke sini untuk temenin kamu...”
Kepala Alo terangguk-angguk. Agak risi juga Kesya melihat penjaga toko
mencuri pandang ke arahnya. Mungkin dia berpikiran bahwa Kesya adalah calon
pengantin Alo.
“Saya bridesmaid-nya...,” ujar Kesya menjawab pertanyaan tersirat si penjaga
toko.
Alo tersenyum melihat ulah Kesya. “I’m so glad that you can be with me. Aku suka
bingung kalau disuruh milih-milih begini. Jadi bingung sendiri!” ujarnya sambil
melihat-lihat katalog bahan.
“Emangnya kamu mau model jas yang seperti apa?” Kesya berusaha membantu.
“Hmm... yang biasa aja. Yang nyaman dipakainya.”
Kesya tersenyum. Khas Alo banget. Alo memang orangnya nggak suka yang
ribet-ribet. Yang penting dia harus merasa nyaman.
“Hmm... gimana kalo model yang ini?” tanya Kesya.
Alo memperhatikan gambar jas yang ditunjuk Kesya. “Boleh deh,” ujarnya.
Setelah menentukan model dan bahannya, Alo langsung diukur oleh penjahit.
Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk menyelesaikan tugasnya.
Alo laki-laki yang sangat kooperatif.
“Apa kabar orangtua kamu?” tanya Alo. Tubuhnya masih diukur oleh penjahit.
“Thanks for asking. Mereka baik-baik aja.”
Alo tersenyum. “Gimana dengan kamu? Kapan kamu nyusul aku dan Cecil?”
Wajah Kesya sedikit berubah mendengar pertanyaan Alo. Sebuah pertanyaan
yang sebenarnya biasa saja, tapi bagi Kesya, pertanyaan itu supersensitif. Dia
memaksakan seulas senyum.
“Kamu gimana sih? Calon aja aku belum punya,” jawab Kesya.
“Lho, yang namanya Jansen itu siapa? Cecil sering nyebut-nyebut nama dia
lho...”
Kurang ajar Cecil! Pasti dia cerita yang jelek-jelek tentang Jansen! maki Kesya dalam
hati.
“Apa pun yang kamu dengar dari Cecil, jangan percaya deh. Pasti nggak bener!”
Alo tersenyum.
“Hmmm, by the way, siapa yang jadi bestman-nya?” tanya Kesya. Daripada Alo
terus membicarakan topik sensitif itu, lebih baik Kesya mengubah topik
pembicaraan.
“My best friend. Namanya Marco. Seharusnya dia juga bikin jas hari ini, tapi aku
belum berhasil mengontak dia. Dia orang sibuk,” Alo menjawab sambil tersenyum.
Kesya mengangguk-angguk. Marco... namanya bagus juga, pikirnya.
* * *
“Ayo, lihat ke arah kanan... Ya, begitu. Satu... dua... tiga...”
Jepret!
Dan lampu flash pun menyala terang.
Kesya memperhatikan Jansen sambil bersandar di dekat pintu. Lagu This Lovenya
Maroon 5 mengalun cukup keras dari CD player. Jansen sedang bersemangat
sekarang. Setiap kali bekerja, cowok itu harus ditemani musik. Jenis musik yang
didengarkan mengindikasikan perasaan hatinya.
“Mbak Kesya...” Lindi, pengarah gaya yang sering bekerja sama dengan Jansenlah
yang pertama kali menyadari kehadiran Kesya. Jansen terlalu sibuk membidik
modelnya sehingga tidak menyadari kehadiran Kesya.
Kesya mengangguk singkat sambil menempelkan telunjuk di bibir. Tanda agar
kehadirannya jangan sampai mengganggu kerja Jansen.
Lindi mengangguk pelan, lalu kembali pada kesibukannya membantu Jansen.
Dua puluh menit kemudian, sesi pemotretan itu akhirnya selesai.
“Terima kasih ya...,” ujar model cantik itu sambil mengecup pipi Jansen. Jansen
terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Meja plastik yang menjadi salah satu alat
peraganya tanpa sengaja tersenggol dan jatuh dengan bunyi keras.
Catherine, model cantik itu, tersenyum melihat kekikukan Jansen. Tapi dia
sudah terbiasa menghadapi fotografer itu. Dengan santai dia melenggang ke kamar
ganti.
“Eh, Mbak Kesya... apa kabar?” Catherine tampak baru menyadari kehadiran
Kesya. Dia langsung membenturkan pipinya ke pipi Kesya. Lagi-lagi tindakan sok
akrab yang sangat dibenci Kesya.
“Baik. Kamu sendiri gimana?” Kesya berusaha menjawab basa-basi Catherine.
“Naik dua kilo...,” desahnya pelan.
Haah?!
Kesya melongo heran. Sepertinya tadi dia menanyakan bagaimana kabar
Catherine. Kenapa jawabannya malah naik dua kilo?
“Yah... gara-gara belakangan ini banyak party-party yang harus aku host-in,
jadinya badanku melar dua kilo... Lihat deh perutku, tambah gendut, kan?” ujarnya
sambil menunjuk ke arah perutnya.
Kesya tambah melongo. Perut yang ditunjuk Catherine tampak rata.
Aneh! Orang udah kayak penderita anoreksia gitu kok masih dibilang kegendutan!
Apa sih maunya para model ini?
Tanpa memedulikan kebingungan Kesya, Catherine melenggang pergi.
Kesya menghampiri Jansen, masih dengan tatapan heran. Jansen tersenyum
gugup melihat mimik bingung Kesya.
“Begitulah model-model itu... selalu... selalu yang dipedulikan hanyalah berat
badan mereka...,” komentarnya sambil membereskan peralatannya. Salah satu lensa
kamera tergelincir dari tangan Jansen. Hampir saja jatuh. Untung Lindi sigap
menangkap lensa itu sebelum mencium lantai.
Jansen tersenyum lebih gugup lagi. Kini dia menggosok lensa itu berulangulang.
Kesya ikut tersenyum. “Kasihan juga ya mereka...,” ujarnya, berusaha
menetralisir suasana canggung itu.
“Siapa?” tanya Jansen. Wajahnya terlihat bingung. Kacamatanya melorot di
hidungnya yang berminyak.
“Model-model itu...,” jawab Kesya ikut bingung.
“Lho, memangnya kenapa?” Jansen masih melongo seperti anjing ompong yang
dikasih tulang keras untuk makan malamnya.
Dahi Kesya mengernyit. Tadi kita sedang membicarakan model-model, kan? pikirnya
bingung. Apa aku yang salah tanggap?
“Tadi kan Mbak Kesya dan Mas Jansen lagi ngomongin soal model-model yang
mati-matian menjaga berat badan,” Lindi berusaha mengingatkan.
“Ooh iya ya...,” Jansen mengangguk-angguk. “Iya, itu kan aset terbesar mereka.
Kalau sampai badan mereka melar, bisa-bisa mereka nggak laku lagi...,” timpal
Jansen lagi.
“Omong-omong, tadi itu sesi pemotretan buat apa sih?”
“Buat majalah fashion. Gaun malam gitu deh...”
“Bagus-bagus ya bajunya,” ujar Kesya sambil memegang-megang beberapa baju
yang tadi diperagakan Catherine.
“Iya, Mbak Kesya. Ini baju rancangan Madame Daphne... perancang busana
terkenal itu. Dia itu sebenarnya perancang gaun pengantin, tapi sekarang mau cobacoba
merancang gaun malam juga,” timpal Lindi.
“Ooh... Madame Daphne...” Kesya mengangguk-angguk. “Aku pernah ketemu
dia.”
“Yang bener, Mbak?” Mata Lindi berbinar.
Kesya mengangguk. “Sahabatku mau menikah. Dia berencana memakai
rancangan gaun pengantin Madame Daphne untuk pernikahan. Rancangan dia
memang bagus-bagus sih.”
“Wah, saya ngefans banget sama dia. Orangnya gimana, Mbak Kesya?” tanya
Lindi penuh semangat.
“Hmm...” Kesya bingung. Masa dia harus bilang idola Lindi itu orang yang unik
mendekati aneh? Nggak mungkin dong. Apalagi melihat binar silau di mata Lindi.
Nggka tega rasanya harus berkomentar seperti itu...
“Hmmm dia orang yang... yang kreatif, bertanggung jawab, tidak pernah
terlambat membayar pajak, dan selalu membuang sampah pada tempatnya...”
Lho, lho, lho?
Gitu deh jadinya kalau Kesya harus berkata tidak yang sebenarnya. Sejak kecil
Kesya tidak pernah bisa berbohong. Kalaupun harus berbohong, akhirnya ya... yang
keluar dari mulutnya adalah hal-hal aneh yang tidak masuk akal.
“Benar, Mbak Kesya? Wah... saya yakin Madame Daphne pasti orang yang taat
pajak!” ujar Lindi. Keceriaan di wajahnya tidak berkurang sedikit pun.
Kesya jadi bingung... Masa sih Lindi percaya apa yang baru saja dikatakannya?
“Lain kali, kalau Mbak Kesya ketemu Madame Daphne lagi, saya minta titip
tanda tangannya ya, sekalian fotonya,” ujar Lindi bersemangat.
Kesya mengangguk, sebagian karena tidak tega melihat keceriaan di wajah
Lindi, sebagian lagi takjub karena Lindi begitu saja percaya dengan apa yang
dikatakannya.
Lindi berlalu pergi, masih dengan keceriaan yang terus menempel di wajahnya.
Kesya memandang kepergian Lindi, masih dengan tatapan tidak percaya.
“Wah, hebat ya si Madame Daphne. Aku selalu respek pada orang-orang yang
tidak membuang sampah sembarangan...,” komentar Jansen.
Haah? Jadi Jansen juga percaya?!
“Smile...,” ujar Jansen sambil mengarahkan kamera Polaroidnya ke arah Kesya.
Kesya tidak jadi menyuarakan kebingungannya dan... jepret...!
Tidak sampai dua detik, hasil foto yang diambil Jansen itu keluar. Jansen
mengibas-ngibaskan lembar foto itu, lalu memberikannya kepada Kesya.
“Ayu,” ujarnya sambil menaikkan kacamatanya yang melorot di hidung.
Kesya memperhatikan ekspresi wajahnya dalam foto itu. Selalu bagus jadinya
kalau Jansen yang membidiknya. Entah kenapa, tapi kalau dipotret oleh orang lain,
hasilnya tidak pernah secantik ini.
* * *
Tulisan besar itu terpampang di pintu masuk JCC. Gedung megah nan besar itu
ramai oleh pengunjung yang berbondong-bondong datang menyaksikan pameran
yang telah 25 kali diselenggarakan. Pameran besar yang diadakan dua tahun sekali
itu memang sangat dinanti-nantikan para pencinta perhiasan. Ada yang memang
berniat membeli perhiasan, ada juga yang hanya iseng-iseng cuci mata.
“Gila... rame juga ya orangnya...,” ujar DeeDee sambil tersenyum penuh gairah.
Kesya tersenyum. DeeDee itu adik kelasnya saat dia menuntut ilmu sebagai
desainer perhiasan di Jepang. Nama aslinya Diana Divia, tapi biasa dipanggil
DeeDee. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan pulang ke Jakarta untuk
menimba pengalaman sebagai asisten Kesya.
“Kamu ikutan pameran juga kan, Kesh?” tanya DeeDee.
Kesya mengangguk. Dia dan teman-temannya di Asosiasi Perancang Perhiasan
Indonesia (APPI) memang diharuskan mengikutsertakan karya mereka dalam
pameran. Hal ini dilakukan agar kreativitas mereka tetap terasah, sekaligus agar
nama mereka dikenal masyarakat luas.
“Kamu pasti suka deh ngeliat pameran ini. Banyak perancang ngetop yang juga
ikutan pameran,” ujar Kesya.
DeeDee mengangguk penuh semangat. Poninya ikut bergoyang. Antusiasme
terpancar dari wajahnya, membungkus seluruh tubuhnya bagai sinar aura. Berdua
mereka masuk ke dalam gedung JCC. Karena ramai, Kesya terpaksa memarkir
mobilnya agak jauh dari pintu masuk utama. Sekarang mereka berdua berjalan
menuju pintu masuk, agar tersandung-sandung karena jalanan yang tidak rata plus
sepatu high-heels yang bikin repot.
Kesya berdandan ekstra hari ini. Maklum, kalau ada pameran begini, biasanya
para customer juga akan berbondong-bondong datang. Kesya harus menjaga citranya
sebagai desainer muda yang profesional di hadapan para customer-nya. Salah
satunya adalah dengan menjaga penampilan.
Dentingan piano mengalun lembut di dalam ruangan besar itu. Banyak sekali
etalase kaca yang ditata apik. Lampu kuning membuat perhiasan-perhiasan yang
dipamerkan tampak berkilauan indah.
“Waah!” DeeDee menahan napas.
“Kamu tuh nggak berubah ya,” ujar Kesya sambil tersenyum. Kesya ingat,
ketika dia memperlihatkan hasil karyanya yang pertama kepada DeeDee, ekspresi
gadis ini juga seperti ini. Seperti anak kecil yang kegirangan dikasih balon.
“Tapi ini memang bagus banget, Kesh!” Mata DeeDee sibuk melahap apa saja
yang tersaji di hadapannya. “Yang mana desain kamu?”
“Itu.” Kesya menunjuk ke arah stand yang memang sengaja disewa oleh APPI.
DeeDee bergegas menghampiri stand yang ditunjuk Kesya.
Sepuluh buah perhiasan tertata rapi dalam etalase bermandikan sinar kuning
dari lampu sorot. Tulisan Kesya Artyadevi tercantum dalam label yang diletakkan di
tengah-tengah deretan perhiasan itu.
“Sebenarnya masih ada lima lagi, dua kalung dan tiga cincin, tapi belum selesai
dengan sempurna. Baru sampai proses finishing, tapi sudah harus pameran,”
jelasnya.
“Waah! Bagus-bagus banget...,” desah DeeDee, kedua tangannya menangkup
pipi dengan gaya dramatis. “Kapan ya aku bisa seperti kalian?” Kali ini matanya
menerawang.
“Pasti bisa asal kamu mau berusaha!” ujar seorang laki-laki yang baru keluar
dari dalam stand.
“Hai, Tom.” Kesya memeluk erat laki-laki itu. “Kebagian giliran jaga stand, ya?”
Tom mengangguk. “Habis yang lain pada nggak bisa. Kamu juga nggak bisa,
kan?” tanyanya.
Kesya tersenyum. Akhir-akhir ini waktunya memang tersita untuk membantu
persiapan pesta pernikahan Cecil.
“Kesya!” Sebuah suara melengking membuat kepala mereka bertiga menoleh.
Rasanya tidak hanya kepala mereka bertiga yang menoleh, melainkan hampir
semua kepala yang berada di dalam ruangan itu ikut menoleh, mencari asal pemilik
suara melengking seperti banshee itu.
Seorang wanita gemuk dengan dandanan yang kelewat berlebihan berjalan
dengan penuh semangat ke arah mereka bertiga.
“Kesya! Saya sudah yakin kamu pasti akan ada di sini! Yakin sekali kamu pasti
akan ada di sini,” ujarnya sambil membenturkan pipinya yang hampir seluruhnya
tertutup blush-on merah menyala itu ke pipi Kesya. Kesya langsung merasakan
gatal-gatal di pipinya, tapi ditahannya keinginan untuk menggaruk atau sekadar
mengusap pipi. Wanita gemuk ini adalah Nyonya Juliet Anggoro, salah satu
customer penting Kesya.
“Hai, Nyonya Juliet...,” sapa Kesya.
“No no no... Jangan panggil saya Nyonya sekarang... Jangan panggil Nyonya...,”
ujarnya. Dia memang terbiasa mengatakan segala sesuatunya lebih dari satu kali.
Telunjuk gemuk Nyonya Juliet Anggoro bergerak ke kanan dan ke kiri. Kesya
langsung teringat wiper mobilnya. Kepala Nyonya Juliet Anggoro yang ditumbuhi
rambut keriting lebat tampak bertambah besar dengan hiasan rambut yang banyak.
Sekarang kepala itu bergoyang-goyang mengikuti perkataannya. DeeDee menatap
kepala itu dengan khawatir, takut kalau-kalau kepala itu terlepas dari lehernya.
“Apa Anda sekarang berubah menjadi nona?” tanya Kesya bingung.
Nyonya Juliet tertawa terbahka-bahak. Kalau tadi Kesya merasa bahwa hampir
semua kepala yang berada di gedung pameran JCC ini menoleh memandangi
mereka, sekarang Kesya yakin semua orang di JCC ini pasti sedang penasaran
mencari-cari sumber tawa melengking ini.
“Aah... kamu lucu sekali, dear. Lucu sekali... Tidak, saya tidak bercerai dengan
Tuan Anggoro. Tidak bercerai. Mana mungkin saya bisa bercerai dengan dia? Kalau
saya bercerai, dari mana saya bisa dapat uang? Dari mana saya dapat uang?”
Kesya mengangguk sambil memaksakan seulas senyum. Dia merasa risi dengan
tingkah laku Nyonya Juliet sekarang.
“Panggil saya Madame Juliet. Madame Juliet Anggoro.”
Madame?!
Again?!
Kenapa sih sekarang semua wanita menambahkan embel-embel “Madame” di
depan nama mereka?! Waktu itu Madame Daphne, sekarang Madame Juliet? Who’s
next? Madame Kesya Artyadevi???
Kesya menggeleng. Rasanya tidak cocok kalau dia juga menambahkan sebutan
“Madame” di depan namanya!
“Ingat ya, dear... Madame... Madame Juliet Anggoro...,” ujar Nyonya, eh...
Madame Juliet sambil mengejap-ngejapkan bulu mata panjangnya, hasil bonding
jutaan rupiah.
“Hmmmpppfffftttt...” Dari sebelah, terdengar suara seperti tersedak. Kesya
yakin itu suara DeeDee dan Tom yang sedang setengah mati menahan tawa.
Kesya buru-buru menyikut mereka. Dia sendiri juga sudah tidak dapat menahan
tawa. Aksi Madame Juliet memang sudah kelewat berlebihan. Tingkahnya sudah
seperti kucing betina di musim kawin. Lirik sana, lirik sini. Tebar pesona ke manamana.
“Hmmmfffttt... maaf, Madame, saya permisi ke toilet dulu...,” ujar Kesya sambil
buru-buru menarik tangan DeeDee.
“Aahh... pipis memang kegiatan yang menyenangkan ya. Sangat
menyenangkan! Begitu semuanya sudah keluar... hmmm... Rasanya memang sangat
lega. Sangat lega!” komentar Madame Juliet dengan volume suara ekstra keras!
Wajah Kesya merah padam. Perlu nggak sih menjelaskan kegiatan buang air
kecil secara begitu mendetail? Apalagi dengan suara tinggi melengking begitu!
Kalau tidak ingat Madame Juliet adalah salah satu customer yang cukup penting,
ingin rasanya Kesya menonjok wajah bulatnya!
“Nah, siapa laki-laki tampan ini? Siapa laki-laki ini?” Kini pandangan Madame
Juliet beralih kepada Tom yang langsung pucat pasi.
Kesya dan DeeDee tidak tahan lagi. Mereka buru-buru berlari ke toilet dan
tertawa terbahak-bahak di sana.
“Kamu lihat nggak mukanya si Tom begitu Nyonya, eh... Madame Juliet
ngelihat ke arahnya?” komentar DeeDee masih sambil cekikikan.
Kesya mengangguk-angguk, terlalu sibuk terkikik untuk mengeluarkan sepatah
kata dari mulutnya. Bahkan dia tidak dapat menegakkan tubuh lagi. Sambil terus
tertawa, sebelah tangannya memegangi perut dan tangan sebelah lagi menopang
tubuhnya yang terbungkuk-bungkuk menahan geli.
“Ketemu di mana sih customer seajaib dan sevulgar itu?” ujar DeeDee masih
sambil tertawa heboh. Dia masih teringat betapa detail Madame Juliet menerangkan
aktivitas berkemih tadi.
“Orang-orang kaya, tingkah lakunya suka aneh-aneh, hmmfffttt...” Kesya tidak
berhasil menyelesaikan kalimatnya. Rasa geli kembali membuncah di dadanya,
terutama mengingat wajah pasrah Tom saat didekati Madame Juliet Anggoro.
Di samping kehebohan yang ditimbulkan oleh Madame Juliet, semua acara
pameran itu berjalan lancar. Kesya mengajak DeeDee berkeliling, memperlihatkan
perhiasan yang memesona. Dia juga memperkenalkan DeeDee kepada beberapa
temannya. DeeDee senang sekali. Duduk beberapa jam di pesawat dari Jepang ke
Indonesia ternyata tidak menyurutkan semangatnya. DeeDee memang tidak mainmain
kalau sudah menyangkut topik perhiasan. Menjadi desainer perhiasan terkenal
adalah impiannya, dan hal ini pasti akan dilakukannya dengan sebaik-baiknya.
“Kesh!”
Kesya menoleh mendengar namanya dipanggil. Tampak Cecil dan Alo berjalan
menghampirinya. Kesya tersenyum dan menghampiri mereka. Cecil dan Alo
bergantian memeluk erat Kesya.
“Kami udah lihat hasil karya kamu. Bener-bener bagus!”
“Thanks.” Kesya tersenyum lebar. “Oh ya, masih inget DeeDee?” Kesya menarik
tangan DeeDee.
“Hai, DeeDee, apa kabar?” Cecil merangkul DeeDee. Cecil dan DeeDee sudah
saling mengenal. Dua tahun lalu, ketika Kesya pulang ke Indonesia karena libur
akhir tahun, DeeDee ikut dan menginap di rumah Kesya. Sejak itulah, DeeDee
mengenal Cecil. Sementara dengan Alo, baru kali ini DeeDee bertemu muka.
Selebihnya, dia kenal Alo lewat cerita Kesya dan Cecil.
“Baik, baik... By the way, selamat ya atas pertunangan kalian.” DeeDee
menyalami Cecil dan Alo.
Cecil dan Alo sama-sama mengangguk. “Kamu harus datang juga ya, di acara
pernikahan kami.”
Sekarang ganti DeeDee yang mengangguk.
“Tinggal di mana selama di Jakarta?” tanya Cecil.
“Aku tinggal di apartemen Kesya. Untuk sementara dulu deh...” DeeDee
tersenyum jail.
“Kalian lihat-lihat doang atau niat beli?” tanya Kesya.
Cecil mengerling kepada Alo. “Rencananya sih mau liat-liat cincin kawin...”
“Tapi aku dan Cecil ingin kamu yang mendesain cincin kami...,” ujar Alo.
Kesya mengangguk. “Oke. Silakan liat-liat dulu. Siapa tau ada model yang
kalian suka. Nanti aku modifikasi dengan rancangan pribadiku sendiri...”
“Thanks ya, Kesh...”
Cecil menggandeng tangan Alo lalu berjalan ke stand cincin kawin.
“Kesh, aku ke sana dulu ya...” DeeDee menunjuk ke sebuah stand yang
memajang aneka bros.
Kesya mengangguk. “Aku di sini aja ya.” Kakinya sudah lumayan pegal karena
sedari tadi menemani DeeDee berkeliling ruang pameran yang luas ini.
“Kesya...”
Kesya berpaling ketika mendengar namanya dipanggil.
Jansen!!!
Kesya tersenyum lebar. Ia memang mengundang Jansen untuk datang ke
pameran ini, tapi kata Jansen dia tidak bisa datang karena harus melihat lokasi
pemotretan.
“Hai, Jansen...!” sapa Kesya ceria. “Katanya nggak bisa datang? Gimana dengan
lokasi pemotretannya?”
Jansen tersenyum gugup. “Oohh... itu... nggak jadi. Aku... aku memutuskan
untuk datang ke pameran kamu aja...”
Kesya tersenyum manis.
Jansen kembali tersenyum gugup. Seperti biasa, dia menenteng kamera mahal
dan, seperti biasa juga, entah bagaimana saat melihat senyum Kesya, kamera itu
tergelincir dari bahunya. Kesya tertawa diam-diam, menikmati kegugupan Jansen.
Kesya sedang berjalan di sisi Jansen, memperlihatkan karya-karya yang
dipajang di stand APPI, ketika seorang wanita paruh baya mendekat.
Kesya memberi isyarat kepada Jansen bahwa dia harus melayani wanita itu.
“Selamat malam, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kesya. Tom sedang ke
kamar kecil, dan minta tolong Kesya untuk menggantikannya. Kesya
memperhatikan wanita ini. Gayanya classy, cantik, dan anggun sekali. Rambutnya
digelung tinggi. Wanita paruh baya ini kini sedang memperhatikan dengan serius
beberapa perhiasan yang dipajang di dalam etalase stand APPI.
“Boleh saya lihat yang itu...,” tunjuknya.
Kesya tersenyum lebar. Perhiasannyalah yang tengah ditunjuk oleh wanita
anggun ini.
“Sebentar ya, Bu.” Kesya mengeluarkan perhiasan yang diinginkan wanita itu
dan meletakkannya pada piring beludru warna biru.
Wanita anggun itu meraba kalung hasil rancangan Kesya dengan penuh
perasaan.
“Ini harganya?” tanya wanita anggun itu sambil menunjuk bandrol harga yang
tergantung.
Kesya mengangguk. Hatinya berdebar-debar. Berdoa dalam hati agar wanita
anggun ini tertarik untuk memiliki kalungnya.
“Ini permata asli?” tanyanya.
Kesya mengangguk lagi. “Yang terbaik dari jenisnya.”
Wanita anggun itu mengangguk-angguk. Dia mengeluarkan lensa kecil dari
balik tas elegannya. Memperhatikan karat, hasil potongan, dan jenis berlian itu dari
balik lensanya. Tampak sangat ahli.
“Oke. Saya ambil yang ini...”
Yesss! jerit Kesya dalam hati. Perasaan bersemangat yang biasa dia rasakan saat
perhiasan rancangannya berhasil terjual kembali dia rasakan. Dengan penuh
semangat Kesya menyelesaikan urusan jual-beli itu.
“Ini, Bu,” ujarnya sambil menyerahkan perhiasan yang telah dibungkus cantik
itu.
Wanita anggun itu tersenyum. “Kamu perancangnya, ya?”
Kesya mengangguk sambil tersenyum. “Bagaimana Ibu bisa tahu?”
“Ekspresi bangga di wajahmu yang memberitahu saya,” jawabnya sambil
tersenyum. Dia mengeluarkan selembar kartu nama dari balik tasnya. “Ini kartu
nama saya.”
Nama “Lidya Sostronegoro” tercantum di situ. Rupanya ibu classy itu kolektor
perhiasan.
“Terima kasih, Bu Lidya,” ujar Kesya.
Ibu Lidya Sostronegoro mengangguk dan berlalu sambil membawa bungkusan
perhiasan rancangan Kesya.
“Sold out?”
Kesya berpaling dan mendapati DeeDee sedang menatapnya penuh harap.
“Iya dong...” Kesya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk
huruf V untuk Victory.
3
KRRRIIINGGG...!
“Halo...”
“Kesh!”
“Ya, Cecil...”
“Can I borrow a gun?”
Mata Kesya langsung melotot. Gun?! Buat apa Cecil mau pinjam senjata?
“Are you okay, Cil?” tanya Kesya hati-hati.
“No! I just want to die!”
“Cecil... kenapa sih?”
“Inget Finna?”
Dahi kesya mengernyit, dan gambaran soal wanita dengan gigi tonggos dan
rambut panjang keriting tampak bergoyang dombret di pelupuk matanya. Yah,
Finna nggak benar-benar bergoyang dombret sih, tapi Kesya nggak punya istilah
lain untuk menggambarkan Finna. Senyum menyebalkan dan suara cemprengnya
memenuhi rongga kepala Kesya.
“Kenapa dia?” tanya Kesya dengan suara penuh ketakutan.
“Dia datang hari ini...,” jawab Cecil lemah.
“Then?” Kesya berdebar menunggu kelanjutan cerita Cecil.
“Dia maksa-maksa jadi panitia untuk acara wedding-ku. Can you imagine that?!”
suara Cecil terdengar sudah mau menangis.
Pandangan Kesya langsung berkunang-kunang. Finna, sepupu jauh Cecil yang
nyebelin banget. Selalu omdo, omong doang. Orangnya nggak pernah mau kalah.
Selalu membanggakan pacarnya yang keturunan Inggris asli, dan dengan nada sinis
selalu menambahkan bahwa pacarnya itu bukan Inggris campuran seperti Alo.
Padahal Finna tidak pernah sekali pun membawa pacarnya ke acara keluarga. Kesya
dan Cecil bahkan meragukan bahwa Finna memang sungguh-sungguh punya pacar.
Abis, cuma omong doang! Nggak pernah sekali pun mereka melihat si cowok
peranakan Inggris aslinya itu!
Kesya masih ingat pengalaman mengerikan yang pernah dia alami bersama
Finna. Waktu itu mereka masih sama-sama SD. Ketika acara pesta perpisahan, Finna
bilang dress code yang ditentukan adalah kostum halloween. Jadilah Kesya dan Cecil
datang ke pesta perpisahan dengan mengenakan kostum genderuwo dan kostum
suster ngesot. Dan apa yang terjadi? Ternyata mereka dikerjain habis-habisan oleh
Finna. Tidak ada dress code halloween di pesta perpisahan mereka. Anak-anak
perempuan lainnya tampak cantik dan menawan dalam balutan gaun ala putri
kerajaan. Finna sendiri tampil lumayan, yah... tidak ada gaun yang dapat
membuatnya cantik jelita dalam seketika, apalagi dengan gaun kuning gading yang
dijahit mamanya. Waktu itu Kesya menangis tersedu-sedu karena cowok yang
disukainya langsung terbirit-birit melihat penampilannya.
“Kesh... kamu masih dengerin aku nggak sih?”
Teriakan Cecil membuat Kesya tersadar dari lamunannya.
Seolah baru saja memijakkan kaki di bumi setelah sepuluh tahun berada di
bulan, panic attack langsung melanda Kesya. Bayangan mengerikan tentang segala
macam aturan konyol, yang pasti akan diterapkan Finna, menari-nari di depan
matanya.
Mungkin malah nanti dia akan dipaksa mengenakan gaun bridesmaid warna
hitam! Atau lebih parah lagi, Finna dengan sadis memaksanya untuk menanggalkan
seluruh pakaiannya baru kemudian mendampingi Cecil berjalan ke altar!
Oh no! Gila! Ini nggak bisa dibiarkan terjadi!
“Aduh, Cil. Kamu nggak bisa nolak, ya?” tanya Kesya memelas. Dia benar-benar
tidak ingin bekerja sama dengan Finna. Karena sudah cukup baik mengenal Finna,
dia tidak meragukan bahwa salah satu bayangan mengerikan yang dipikirkannya
akan benar-benar terjadi!
“I wish I could!” jerit Cecil. “Si nenek sihir itu langsung bilang ke mamaku dia
mau jadi panitia. Katanya dia sekarang membuka jasa sebagai wedding organizer di
Amerika. Mamaku juga, payahnya, langsung percaya aja. Sekarang mamaku
menurunkan titah untuk menjemput Finna di bandara dan menceritakan secara
detail rencana pernikahanku!” kata Cecil kesal.
“Kalo Finna jadi salah satu panitia kawinan kamu, aku nggak mau jadi
bridesmaid kamu!” teriak Kesya cepat.
“Kamu udah gila ya, Kesh?” bentak Cecil. “Aku udah bete banget karena dia
tiba-tiba memproklamirkan diri jadi salah satu panitia pernikahanku, sekarang
kamu mau mengundurkan diri jadi bridesmaid-ku. Can you just shoot me on my head?
Make it double then!” kata Cecil, sekarang terdengar frustrasi.
Kesya terdiam.
“Kesya...,” bisik Cecil lirih.
Wah, mulai deh! Kesya paling nggak tahan kalau Cecil sudah mengatur volume
suaranya sampai lirih begini. Dia pasti tidak akan tega menolak permintaan Cecil.
Tapi, tidak untuk kali ini.
Aku harus kuat! bisik Kesya dalam hati. Aku nggak mau deket-deket, apalagi
berurusan dengan Finna!
“Nggak, Cil. Aku nggak bisa kalo ada Finna di deket-deket kamu,” ujar Kesya
dengan suara yang dibuat setegas, setegar, dan sekuat mungkin.
“Kesya...” Cecil masih belum menyerah. Kali ini bisikannya bahkan lebih lirih
daripada sebelumnya.
“Nggak, Cil. Aku bener-bener nggak bisa. Kamu tahu sendiri kayak apa Finna
itu...” Kesya masih terus mencoba bertahan.
“Please, Kesh... for our friendship?” Suara Cecil kini hanya berupa bisikan. Bahkan
lebih lirih daripada sebelumnya.
Damn it, Cecil! Kenapa sih mesti bawa-bawa persahabatan di saat-saat seperti ini?
Kesya menarik napas panjang. Tangannya meremas rambut. Pertahan dirinya
mulai runtuh, tetapi dia tetap menguatkan hati untuk terus berkata tidak.
“Kesya... kamu satu-satunya sahabat dekatku. Aku nggak akan mungkin
melewati semua kerepotan ini tanpa support dari kamu. Kamu tahu betapa raphunya
aku. Aku nggak akan bisa kuat kalau kamu nggak mau bantuin aku. Aku nggak
akan kuat kalau kamu nggak ada di sampingku. Aku juga nggak akan bisa ngapangapain
kalau kamu nggak mau jadi bridesmaid-ku. Atau...”
Kesya bisa mendengar Cecil menghela napas.
Atau apa?
“Atau... aku nggak jadi married aja kali ya?” sambung Cecil putus asa.
Hah?! Sudah gila kali ya si Cecil? Masa hanya karena Kesya tidak mau jadi
bridesmaid-nya, lalu dia jadi batal menikah?
“Cecil! Ngaco kamu!” bentak Kesya marah. “Masa cuma gara-gara gitu doang
terus kamu...”
“Ya udah, aku nggak peduli!” sambar Cecil. “Kalau kamu nggak mau jadi
bridesmaid-ku, mendingan aku nggak usah married aja sama Alo! Biarin aja! Biar kita
bubar jalan aja! Biar nanti semua orang...”
“Oke, oke!” potong Kesya kesal. Dia kembali meremas-remas rambutnya. “Aku
tetap akan jadi bridesmaid kamu. Puas?!” ujarnya setengah berteriak.
Nada suara Cecil langsung berubah ceria.
“Banget!”
Sialan Cecil!
* * *
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di bandara.
Cecil berdiri di balik pembatas besi hitam. Tubuhnya yang mungil tampak kalah
tinggi dibandingkan orang=orang lainnya. Kesya berdiri di sampingnya. Mengutukngutuk
dalam hati kenapa dia mau-maunya menemani Cecil menjemput Finna.
“Lama banget sih?” dumel Cecil untuk yang ke-157 kalinya.
“Kita pulang aja deh ya...,” balas Kesya juga untuk yang ke-157 kalinya.
Cecil mendelik ke arah Kesya. “Nggak ada ide yang lebih bagus ya?” bentaknya
kesal karena itu ide yang diulang-ulangKesya selama setengah jam terakhir ini.
“Ada. Aku pulang naik taksi, biar kamu nungguin Finna di sini sendirian!”
tantang Kesya sambil berkacak pinggang.
Cecil berbalik. Mata bulatnya melotot lebih besar ke arah Kesya. Tapi baru saja
dia hendak membalas perkataan Kesya, tiba-tiba sepasang tangan kurus menutup
kedua matanya.
“Siapa ini?” tanya Cecil. Dia paling nggak suka main tebak-tebakan gini. Kayak
anak kecil saja!
Kesya melirik si empunya tangan dan mendengus pelan.
“Coba tebak siapa ini?” ujar si empunya tangan kurus itu.
Nggak usah mikir pun pasti Cecil tahu siapa si empunya suara mendesah itu.
Suara mendesah yang dibikin-bikin itu (maksudnya sih biar kedengaran lebih seksi,
tapi jadinya malah terdengar seperti suara ngeong kucing ketika musim kawin!)
sudah dihakpatenkan oleh Finna!
“Hai, Finna...,” sapa Cecil, masih dengna mata ditutup tangan kurus Finna.
“Hai, Cecil! My beautiful cousin! Si calon pengantin!” Finna membalik tubuh
Cecil dan memeluknya erat.
Kesya mendengus melihat adegan artifisial itu. Dulu Finna tidak pernah sudi
berpelukan dengan Cecil. Menurut Finna, keluarga Cecil kurang berkelas
dibandingkan keluarganya. Mungkin karena sekarang diberi tempat kehormatan
untuk menjadi salah satu anggota panitia dalam pernikahan Cecil, Finna sudi
memberikan pelukan erat kepada Cecil.
Kesya memperhatikan penampilan Finna. Sejak empat tahun yang lalu Finna
tinggal di Amerika, mengurusi usahanya yang, katanya, bergerak di bidang wedding
organizer. Tidak ada yang berubah setelah empat tahun ini. Tubuh Finna tetap kurus
tanpa daging, seperti orang kurang makan. Rambutnya tetap keriting panjang.
Wajahnya tetap over make-up, walaupun semua make-up itu tidak akan pernah
menandingi kehebohan gigi tonggosnya.
“Hai, Kesya...” Kini giliran Kesya yang dipeluk dengan erat.
Kesya memaksakan sebuah senyum di wajahnya. Susah banget! Karena
memang saat ini Kesya sedang tidak ingin tersenyum. Kalau tidak memikirkan
kesopanan, mungkin dia sudah muntah!
“Kita berdua akan jadi bridesmaid yang cantik di pesta pernikahan Cecil.”
Tubuh Kesya menegang dalam pelukan lengan kurus Finna. Apa maksudnya?
“Aku juga jadi bridesmaid-nya Cecil!” ujar Finna dengan suara sengau. Dia
tertawa terkikik-kikik. “Mama kamu yang bilang begitu, Ceil.”
Kesya mengernyit, tidak melihat sisi lucu dari pernyataan Finna. Malah
sebaliknya, dia merasa ketakutan sekali! Tatapan do-you-have-any-idea-about-this?
Kesya menghunjam Cecil.
Cecil menggeleng lemah.
Ya... lebih baik dia nggak tahu apa-apa. Kalo sampai dia tahu sesuatu tapi nggak ngasih
tahu aku, I will kill her! pikir Kesya sadis.
* * *
“Yah... begitu deh kira-kira. Yang paling berkesan buatku itu waktu aku harus
organize wedding party-nya Angelina Jolie-Brad Pitt. Mereka kan udah seleb terkenal
gitu. Mereka juga bisa dibilang seleb yang agak eksentrik. Jadi mereka mau pestanya
yang bener-bener berkesan banget. Extravaganza gitu! Mereka muter-muter nyariin
WO yang bisa mewujudkan pernikahan impian mereka, tapi akhirnya mereka balik
ke aku juga...” Finna terkikik-kikik lagi. Rambut keritingnya bergoyang-goyang
heboh. Tubuhnya juga ikut heboh bergerak-gerak. Sesekali dia membalikkan
tubuhnya menghadap Kesya yang duduk sendirian di kursi belakang.
Cecil melirik Kesya dari kaca spion. Yang dilirik balas melirik dengan tatapan
pasrah.
“Terus ada lagi yang seru juga, waktu aku organize wedding party-nya Nicole
Kidman. Bener-bener berkesan deh. Mereka cuma mau pesta sederhana yang hanya
dihadiri orang-orang terdekat. It’s so repot, you know? Soalnya si Nicole itu maunya
banyak. Pokoknya dia mau yang terbaik untuk tamu-tamunya. Jadi semuanya
nggak boleh sembarangan...
“Blah blah blah...”
Sejak naik ke mobil Cecil, Finna tidak berhenti bercerita soal kehebatannya
sebagai WO sukses di Amerika. Mulai dari pestanya Britney Spears-lah, Christina
Aguilera-lah, Rihanna-lah, Angelina Jolie-Brad Pitt-lah, sampai yang terakhir ini,
pestanya Nicole Kidman.
“Kamu ngurusin pesta gunting kuku Tinkerbelle-nya Paris Hilton, nggak?”
tanya Kesya iseng.
“Tinkerbelle?” sejenak, dahi Finna mengernyit bingung, namun kemudian
senyum gigi tonggosnya terpancang di wajahnya. “Ooh... adiknya Paris Hilton yang
masih baby itu, ya? Iya... waktu itu aku juga sempet...”
Dan Kesya tidak mendengar lagi. Dia harus konsentrasi menahan tawa yang
seketika akan menyembur keluar. Dia melirik ke arah Cecil, dan tampaknya
sobatnya itu juga sedang melakukan hal yang sama.
Siapa juga tahu bahwa Tinkerbelle itu anjing Chihuahua-nya Paris Hilton, bukan
adiknya! Ketauan banget si Finna itu bohong besar!
“Sampai juga...,” ujar Cecil penuh kelegaan. Entah itu kelegaan karena mereka
sudah hampir dua jam duduk saja di dalam Civic metalik Cecil atau kelegaan karena
berhasil keluar dari kebisingan suara serak Finna. Menurut Kesya, sudah pasti lega
karena berhasil keluar dari kebisingan suara serak Finna.
Tante Renata dan Oom Balgi, papa dan mama Cecil, sudah menunggu mereka
di sebuah restoran sea food. Tante Renata dan Oom Balgi sengaja mengundang
mereka makan siang untuk menghormati kedatangan Finna. Orangtua Finna juga
hadir di sana. Mama Finna adalah sepupu Tante Renata.
“Selamat siang, Tante dan Oom sayang...” Sok akrab, Finna langsung memeluk
kedua orangtua Cecil.
“Hai, Mom! Hai, Pap!” sapa Finna pada kedua orangtuanya. Mama dan papa
Finna juga memiliki bentuk gigi seperti gigi Finna. Bentuk gigi itu rupanya
diturunkan dari orangtuanya. Mama Finna juga memiliki rambut keriting seperti
Finna.
Oom Balgi berjengit melihat penampilan Finna yang sangat mencolok mata itu.
Kesya tersenyum kecil. Tidak heran Oom Balgi berjengit. Penampilan Finna
memang superunik, kalau tidak mau dibilang superaneh. Gadis itu mengenakan
atasan tank top berwarna kuning cerah dan bawahan rok supermini berwarna merah
terang. Dari jauh dia tampak seperti pisang yang berdiri di atas apel merah. Yang
paling menggelikan adalah, kentara sekali usahanya untuk bisa kelihatan seksi,
padahal dengan tubuh sekurus itu apa yang bisa diharapkan orang-orang selain
tulang belulang yang menonjol keluar?
Kesya menggeleng, berusaha mengingatkan dirinya sendiri agar tidak
berpikiran terlalu kejam terhadap Finna. Dia menghela napas dan duduk di salah
satu kursi yang masih kosong.
Sementara Finna mulai mengoceh dengan suara nyaringnya, Kesya mendesah
pasrah.
“Hhhh... it’s gonna be another long day....”
* * *
“Kamu beneran mau jadi bridesmaid, ya?” tanya DeeDee sambil menyelonjorkan
kakinya di atas sofa pink di apartemen Kesya.
Kesya mengangguk sambil memasukkan suapan besar es krim ke mulutnya.
Hmmm... makan es krim sehabis menjalani hari yang melelahkan memang benarbenar
nikmat. Malam itu, Kesya dan DeeDee baru saja selesai makan malam. Kesya
menghadiahi dirinya sendiri satu porsi besar es krim rum raisin.
“Kamu nggak takut?”
Pertanyaan DeeDee membuat dahi Kesya mengernyit.
“Takoh apoah??” tanyanya tidak jelas dengan mulut masih penuh es krim.
DeeDee geleng-geleng kepala melihat kelakuan seniornya itu. Walaupun usia
mereka berbeda dua tahun, kelihatannya Kesya malah terlihat lebih kekanakkanakan
daripada dirinya.
“Pernah dengar nenek bilang, „Sekali jadi bridesmaid, selamanya akan terus jadi
bridesmaid‟?”
Kesya menggeleng. “At least, nenekku nggak pernah usil bilang-bilang begitu,”
sahutnya sambil nyengir lebar.
“Kesya!” DeeDee melempar bantal yang sedang dipeluknya ke arah Kesya.
Kesya buru-buru menyelamatkan... mangkuk es krimnya. Buukkkk! Bantal itu
mendarat dengan posisi tidak menyenangkan di wajahnya, tapi Kesya tetap
tersenyum. Mangkuk es krimnya selamat!
“Aku serius nih!” DeeDee menyibak poni yang menutupi wajahnya. “Apalagi
kamu kan sekarang belum punya cowok. Jangan-jangan nanti kamu bakalan jadi
bridesmaid terus.”
Kesya mendelik galak ke arah DeeDee. “Siapa bilang aku nggak punya cowok?
Aku punya kok...,” ujarnya tersinggung. Dia buru-buru memasukkan suapan besar
es krim ke dalam mulutnya.
“Siapa? Si Jansen?” DeeDee juga menyuap es krimnya. “Itu mah bukanc owok
kamu, bukan pacar. Itu baru TTM, teman tapi mesra. Lagian kamu yakin mau
pacaran sama Jansen?” sembur DeeDee.
“Emangnya kenapa?” tanya Kesya.
“Jangan tersinggung ya, tapi Jansen tuh nggak banget deh! You deserve better than
him!” ujar DeeDee serius.
Mata Kesya mendelik lebih lebar ke arah DeeDee. “Jangan sembarangan ya kalo
ngomong! Aku sayang kok sama dia, dan... aku tahu dia juga sayang sama aku...”
“Kalau begitu, kenapa kalian berdua masih belum jadian sampe sekarang?”
potong DeeDee.
Mulut Kesya terkunci rapat. Mati kutu.
Kesya tahu Jansen sangat menyukainya dan dia juga menyukai Jansen, tapi
sampai detik ini belum pernah sekali pun laki-laki itu serius mengajaknya
berpacaran. Belum pernah sekali pun magic words “I love you” terungkat dari mulut
Jansen.
Kesya menghela napas panjang. Matanya menerawang ke jendela besar di
apartemennya. Sebenarnya telah muncul sebersit rasa khawatir dalam hatinya.
Apalagi kini, perlahan-lahan satu per satu sahabatnya telah menikah, merajut hidup
baru dengan pasangan pilihan. Sementara Kesya... masih saja sendiri. Kadang dia
merasa kesepian juga. Bilangnya saja dia punya banyak teman, tidak perlu takut
kesepian, tapi ada saat-saat semua temannya sibuk dengan urusan masing-masing.
Dan apabila saat itu tiba, mau tidak mau Kesya harus cukup puas dengan
kesendiriannya.
“Kesh... udah deh, soal Jansen nggak usah dipikirin.” Perkataan DeeDee
membuyarkan lamunan Kesya. “Malah bagus kalo dia belum pernah nembak kamu.
Aku kan udah bilang, you deserve better than him. Dia tuh nggak cocok buat kamu!”
Lalu, siapa yang cocok buat aku? Kenapa sampai sekarang belum muncul-muncul juga?
* * *
Ruang kerja Kesya yang cukup besar terasa sejuk. Kesya duduk di balik meja
kerjanya, sebuah meja kayu yang dipelitur dengan halus. Lampu meja
memancarkan sinar kuning lembut, cukup menenangkan hati.
Kepala Kesya menunduk di atas meja. Sudah cukup lama kepalanya menunduk
dengan posisi yang sama. Sebuah lensa khusus untuk melihat berlian terpasang
miring di dahinya. Dia sedang mengerjakan sebuah proyek baru. Putri Gubernur
Palembang akan menikah bulan depan, dan Kesya sedang mengerjakan hadiah
untuk putri gubernur itu. Hadiah dari sesama orang penting tentu saja harus
dikerjakan dengan penuh kehati-hatian.
Tok tok tok...!
Kesya mengembuskan napas dengan kesal. Dia sama sekali tidak ingin
diganggu. Rasanya tadi dia sudah memberi instruksi cukup jelas kepada Mona.
“Ya!” sahutnya dengan suara cukup tinggi. Kalau sedang berkonsentrasi penuh,
Kesya merasa sangat marah kalau diganggu.
Kepala Mona tersembul takut-takut. Dua tahun menjadi pegawai Kesya, dia
sudah cukup hafal dengan perangai bosnya itu, tapi saat ini dia benar-benar tidak
berdaya.
“Maaf, Bu Kesya, saya tahu Ibu nggak mau diganggu, tapi saya nggak tahu
harus gimana lagi...,” ujarnya memelas.
“Ada apa?” tanya Kesya tidak sabar.
“Anu... itu... Aduh, gimana ngomongnya ya?” Mona garuk-garuk kepala yang,
Kesya yakin seratus persen, tidak terasa gatal.
“Ada apa sih?!” bentak Kesya tidak sabar. Mood-nya tambah lenyap mendengar
ucapan Mona yang muter-muter nggak jelas.
Mona makin mengerut dengan sikap Kesya, dan bicaranya jadi tambah
ngelantur.
“Saya sudah bilang berkali-kali bahwa Bu Kesya nggak mau diganggu, tapi dia
memaksa terus. Katanya, kalau saya nggak mau bilang ke Bu Kesya, saya akan
dipecat, diadukan ke Komnas HAM, dianggap melecehkan dia...”
Lho, lho, lho? Mona ngomong apaan sih sebenarnya? Kenapa sampai bawabawa
Komnas HAM segala?
“Mona! Kamu tuh kenapa sih? Nggak bisa ngomong langsung ya? Mood-ku jadi
hilang nih! Gara-gara kamu!”
“Anu, itu, ada yang namanya Finna Salsabila telepon. Dia memaksa untuk
ngomong sama Bu Kesya.”
Finna? Mau ngapain dia?
“Bilang aku nggak ada di tempat!” jawab Kesya sambil mengibaskan tangan.
“Saya udah bilang itu dua puluh lima kali, Bu Kesya...,” sahut Mona, setengah
menangis. “Tapi yang namanya Finna itu juga udah dua puluh lima kali telepon ke
sini. Ini kali kedua puluh enam dia telepon. Dan seperti yang saya bilang, kalau Bu
Kesya nggak mau ngomong sama dia, dia mau ngaduin saya ke Komnas HAM!”
Kesya geleng-geleng kepala sendiri. Pegawainya ini sebenarnya tahu nggak sih
apa itu Komnas HAM? Kok percaya begitu saja sama kata-kata si Finna.
“Kamu nggak akan dilaporin ke Komnas HAM!” ujar Kesya. “Kalau kamu
dilaporin, saya pasti akan membela kamu, karena saya itu bos kamu. Saya
bertanggung jawab atas diri kamu!”
Wajah Mona berubah riang. “Bener, Bu Kesya? Wah, Bu Kesya benar-benar bos
yang baik ya!” Dan dia pun berlalu dari ruang kerja Kesya.
Kesya mengembuskan napas kesal. Konsentrasinya sudah buyar! Mood-nya
sudah hilang! Dia berjalan ke jendela berukuran sedang. Dari sana dia dapat
mengamati kesibukan kota Jakarta. Cukup lama Kesya berdiam di sana, berusaha
mengumpulkan kembali konsentrasinya yang menguap bersamaan dengan ocehan
Mona yang tidak keruan.
Ketika Kesya sudah duduk kembali di kursi kerjanya, bersiap melanjutkan
pekerjaannya, pintu ruang kerjanya kembali diketuk.
Kesya menggeram marah. “Mona! Saya sudah bilang, saya nggak mau
diganggu!”
Tapi, Mona malah menerjang masuk dan buru-buru mengangkat telepon di
ruang kerja Kesya. Dia menempelkan telepon itu ke telinga Kesya.
“Kalau begitu Bu Kesya ngomong sendiri sama yang namanya Finna ya...,”
ujarnya sambil buru-buru kabur keluar.
“HALO!” sapa Kesya. Untung saja Finna tidak berdiri di sini. Kalau Finna ada di
hadapannya, dia akan melumat-lumat tubuh ceking Finna!
“Aih, Kesya...” Suara sengau Finna terdengar garing di telinga Kesya. “Galak
amat sih?”
“Ada apa, Finna? Aku lagi sibuk banget nih!”
“Sesibuk apa sih sampai nggak bisa diganggu?” Finna tertawa sengau, mungkin
maksudnya supaya terdengar seksi, tapi di telinga Kesya terdengar seperti lenguhan
orangutan jantan di Taman Safari.
“Finna! Aku benar-benar lagi sibuk! Kalau kamu nggak mau langsung bilang
apa maumu, aku akan langsung tutup telepon ini!”
“Deuuu... segitu aja marah. Jangan gampang marah-marah gitu dong. Nanti
kamu cepet tua lho... Kasian kan kalau kamu kelihatan tua. Nanti cowok-cowok
tambah nggak mau lagi sama kamu...”
Damn it! Apa maunya si Finna, sampai ngomong seperti itu?
Finna tertawa mendengar leluconnya sendiri.
“kalau kamu telepon cuma untuk ngomong begitu doang, rasanya nggak
penting banget deh!”
Finna tertawa lagi. “Nggak deh. Sebenarnya aku mau ngajak kamu pilih
dekorasi pelaminan buat Cecil!”
Sambil menahan amarahnya, Kesya menjawab lagi, “Buat apa? Itu kan urusan
Cecil dan Alo!”
“Lho lho lho, nggak bisa begitu, Kesya sayang... Kita berdua kan bridesmaid-nya,
jadi kita juga harus bertanggung jawab dalam pemilihan dekorasi pelaminannya...”
Dahi Kesya mengernyit. Rasanya Cecil tidak pernah memberitahukan bahwa
salah satu tugas bridesmaid adalah membantumu memilih dekorasi pelaminan!
“Cecil nggak pernah bilang begitu!”
“Sekarang Finna yang bilang! Sama aja, kan?”
Kesya menggeram marah.
Tuuttt... tuuuttt... tuuuttt... Terdengar nada sela.
“Tunggu sebentar!” Kesya menekan line 2. “Halo!” bentak Kesya. Kesabarannya
kini sudah benar-benar berada di ambang batas. Seenaknya saja Mona menghubungkan
line teleponnya. Kesya sudah memberikan perintah yang sangat jelas
bahwa hanya segelintir orang penting yang boleh langsung terhubung dengan line
teleponnya. Selebihnya harus disortir dulu oleh Mona.
“Kesya! Begitu ya cara kamu ngomong sama Mama?” terdengar suara ibunya.
Kesya mendengus kesal. Oke, Mama termasuk salah satu orang penting yang
dimaksud tadi, tapi kali ini Kesya benar-benar tidak ada tenaga lebih untuk
berargumen.
“Kenapa kamu udah beberapa minggu ini nggak pernah telepon ke rumah?
Kamu sudah lupa ya, kamu punya seorang ibu tua dan seorang ayah tua yang selalu
menanti-nantikan kabar dari anak gadisnya yang tinggal sendirian di Jakarta? Jauh
terpisah dari orangtuanya?”
Kesya mengerang pelan, “Aduh, Mama, nggak usah berlebihan gitu deh...”
“Kamu yang berlebihan! Berminggu-minggu nggak ngasih kabar ke orangtua
kamu! Mama nggak tahu apa muka kamu udah berubah jadi kotak atau persegi,
atau masih tetap lonjong seperti dulu!”
“Oke! Mukaku masih tetep lonjong seperti dulu, cuma sekarang kupingku rada
kegedean karena harus dengerin omelan Mama.”
“Mama bukannya ngomel! Mama cuma mau ngingetin kamu! Kamu tuh
seharusnya sering-sering telepon ke rumah. Ceritain kabar kamu, nanyain kabar
papa dan mamamu! Mama dan Papa punya anak, tapi serasa nggak punya anak!”
“Iya, Ma, iya!” jawab Kesya tidak sabar.
“Mama dengar kamu jadi bridesmaid-nya Cecil, ya?” Suara Mama kini terdengar
melunak.
Kesya menghela napas. Kali ini lebih panjang.
“Iya.” Dia sudah tahu ke mana ujung pembicaraan ini akan bermuara.
“Cecil saja sudah mau menikah. Kapan kamu mau serius cari pacar?”
Nah kan, benar! Itu lagi, itu lagi! Selalu saja itu yang ditanyakan Mama.
Memangnya salah Kesya kalau tidak ada cowok yang bilang cinta kepadanya? Masa
dia harus mengemis cinta kepada cowok-cowok untuk menunjukkan kepada Mama
bahwa dia serius cari pacar? Kesya serius cari pacar! Serius banget malah. Tapi,
cowok-cowok aja yang nggak tahu pada ngumpet ke mana!
“Hei! Kamu denger omongan Mama nggak sih?” Suara Mama kembali
meninggi.
“Denger, Ma. Aku bahkan sudah hafal banget sama omongan Mama.”
“Jadi begitu ya?” Suara mamanya terdengar bergetar.
Wah, repot deh! pikir Kesya. Kalau sudah mengeluarkan getaran, berarti Mama
sudah tersinggung dan siap-siap meledak.
“Kalau dibilangin Mama, kamu selalu nggak senang! Padahal Mama kan cuma
khawatir sama kamu. Kalau nggak senang ya sudah, nggak usah jadi anak Mama
saja!”
Klik!
“Aaarggghhh!” Kesya berteriak kesal.
“Kesya! Halo... Halo...”
Itu suara Finna. Dia masih setia menunggu Kesya di line 1!
“Ya, Finna!”
“Kamu kenapa sih teriak-teriak kayak Tarzan gitu? Kayaknya kamu punya
masalah kepribadian, ya? Tadi kamu marah-marah, sekarang kamu teriak-teriak.
Mungkin kamu butuh bantuan psikolog?”
Praaaakkkk! Kesya membanting gagang telepon kembali ke tempatnya.
Finna sialan! Sekarang dia bilang aku gila!
Kkrrriiinnnggggg! Kesya menutup telinganya. No more telephone!
Krrriiiinnnngg! Krrrriiiinnnngggg! Kkkrrrriiinnngggg!
Tapi, rupanya telepon itu tidak menyerah begitu saja. Telepon itu dengan gigih
terus berbunyi. Memanggil-manggil Kesya. Usahanya bahkan lebih gigih
dibandingkan pendemo yang biasanya suka mangkal di Bundarah HI.
Kkkkkkkkkkkrrrrrrrrriiiiiiiiiinnnnggggggggg!!!
Tuh kan, telepon itu masih bunyi.
“Aku nggak mau terima telepon!” teriak Kesya. Dia membanting teleponnya,
tapi tanpa sadar tangannya menekan tombol speaker phone. Segera sebuah suara
berat laki-laki memenuhi ruangan itu.
“Halo? Kesya?”
Kesya segera memandang telepon itu. Suara siapa itu? Rasanya dia tidak pernah
mengenal laki-laki dengan suara seperti ini? Suaranya berat dan enak sekali
didengar.
Ragu-ragu, Kesya menjawab sapaan suara berat itu, “Ya, ini Kesya. Kamu siapa
ya?”
“Saya Marco, bestman-nya Alo.”
Marco? Bestman-nya Alo?
“Ya, ada apa?”
“Saya baru datang dari Singapura. Pesawat saya baru saja tiba, tapi tidak ada
yang bisa menjemput saya. Kamu bisa tolong jemput saya?”
“Enak saja! Memangnya saya sopir kamu?!” bentak Kesya marah.
“Waaah... suara kamu keras sekali ya.” Terdengar tawa kecil dari seberang.
Kesya tidak suka ditertawakan, apalagi saat dia sedang merasa marah. Dia jadi
tambah marha.
“Jangan ngetawain saya!”
“Ehm, sori. Tapi saya benar-benar tidak tahu jalan. Saya juga tidak ingin naik
taksi sendirian. Jadi please, jemput saya sekarang.”
“Enak aja! Ka...”
Tuut tuut tuut tuut.
Lho? Lho? Lho?
“Kurang ajar!” maki Kesya lalu membanting teleponnya. Laki-laki ini harus
diberi pelajaran! Kesya menggerutu dalam hati. Dia segera menyambar kunci mobil
dan dengan langkah lebar keluar dari kantornya.
Kesya menghampiri meja Mona. Mona langsung mengerut ketakutan melihat
Kesya datang mendekat.
“Kalau lain kali kamu tidak meng-cut telepon untuk saya, kamu akan saya
pecat!”
4
KESYA mendengus kesal. Sudah dua jam dia keliling-keliling mencari alamat yang
secara tidak jelas diucapkan oleh bestman Alo ini.
Dua jam lalu, ketika Kesya sampai di bandara, bestman Alo yang bernama Marco
Raphael Eagan ini langsung melemparkan travel bag-nya ke dalam bagasi mobil
Kesya.
“Jalan Disco, Kelapa Gading...,” begitu dia bergumam tidak jelas lalu
mengempaskan tubuhnya di samping Kesya.
Kesya sungkan untuk bertanya lagi. Nanti disangkanya dia gadis kampungan
yang tidak tahu jalan di kota Jakarta ini. Dengar-dengar dari cerita Alo, sejak kecil
Marco tinggal di Singapura. Orangtuanya orang Indonesia, tapi mereka sudah lama
bermukim di Singapura. Marco sendiri lahir di Singapura. Sekarang dia juga bekerja
di sana. Kali ini dia ke Jakarta untuk menyelesaikan sebuah proyek, sekaligus
menjadi bestman dalam pernikahan Alo.
Namun, putar sana putar sini, Kesya akhirnya menyerah juga. Dia berpaling,
merasa kesal karena Marco sejak tadi tidak membantu menunjukkan jalan sedikit
pun. Dan saat melihat kedua kelopak mata Marco yang terpejam rapat, hati Kesya
tambah kesal.
Cowok kurang ajar! makinya dalam hati. Emangnya aku sopirnya? Aku capek-capek
nyetir, muter-muter cari alamat yang nggak jelas. Mana jalanan macet, lagi! Eh, dia malah
enak-enakan tidur! makiannya bertambah dahsyat.
Jengkel, Kesya terus memperhatikan Marco yang masih tetap tertidur pulas.
Berpikir untuk menjitak kepala Marco.
Jalan di depannya agak tersendat, jadi Kesya agak leluasa untuk memperhatikan
pendampingnya dalam acara pernikahan Cecil. Kesya tertawa dalam hati.
Pendamping yang mendampingi pendamping pengantin. Hihi... lucu juga.
Dddiiinnnn...!
Kesya tersentak kaget. Buru-buru dimajukannya mobilnya. Berhenti lagi. Pelanpelan,
Kesya melirik ke arah Marco lagi. Laki-laki itu masih tidur. Gila! Pulas sekali
tidurnya. Dasar kebo!
Ehm... tapi... kalau diperhatikan, Marco keren juga. Alisnya tebal. Rahang
perseginya tampak kebiru-biruan, kentara habis dicukur. Bibir penuhnya tampak
merah. Kata orang, laki-laki yang berbibir penuh adalah laki-laki yang tidak pernah
bohong. Mereka juga sering memberi pujian kepada wanita pujaannya.
Ups, sudah maju lagi.
Kesya melirik Marco lagi. Napas teratur laki-laki itu menandakan dia masih
tertidur pulas.
Kira-kira, dia udah punya pacar belum ya?
Kesya terkejut. Lalu menggeleng kuat-kuat. Pikiran dari mana itu?
Kesya kembali berpaling memperhatikan Marco. Kali ini cukup serius sampai
dahinya berkerut-kerut. Kaus polo kuning yang Marco kenakan tampak menonjolkan
maskulinitas tubuhnya. Di tangannya tampak urat-urat yang menonjol.
Hmmm... tipe pekerja keras. Kesya suka laki-laki pekerja keras.
Ups, buru-buru diralatnya lagi pikiran itu. Dihapusnya sampai tidak tersisa lagi.
Kalau melihat kesan pertama saat bertemu tadi, Marco tampaknya laki-laki yang
suka tebar pesona. Yang sangat mengagung-agungkan maskulinitasnya. Yang gila
olahraga, gila film-film action yang hanya menampilkan adegan berantem terus, gila
nonton pertandingan tinju atau WWF yang penuh dengan sadisme.
Hiiyyy...! Kesya bergidik. Dia tidak akan pernah mau berurusan dengan lakilaki
semacam itu.
Kesya jadi ingat Jansen. Laki-laki bertubuh kecil yang tidak pernah sok-sok tebar
pesona itu menyukai musik dan teater, sama seperti dirinya. Jansen juga tidak suka
film action. Dia lebih memilih film drama daripada action.
Tapi, Jansen tidak segagah Marco...
Kesya terkejut. Dari mana lagi datangnya pikiran itu?
Diiinnn! Dddiiinnnn! Dddiiinnn!
Aduh! Jalan di depannya sudah lengang lagi. Buru-buru Kesya memajukan
mobilnya lagi. Suara tawa kecil di sebelahnya membuatnya menoleh kaget.
Kelopak mata Marco masih terpejam rapat, tapi sudut-sudut bibirnya tertarik ke
atas dengan seksi, membentuk seulas senyum kecil.
Dada Kesya berdebar-debar. Marco tampak lebih macho lagi!
“Dari sepuluh menit yang lalu, kamu sudah lima kali menoleh untuk
memperhatikan aku. Berarti tiap dua menit sekali, kamu ingin melihatku.” Tiba-tiba
Marco berbicara!
Dada Kesya berdebar lebih kencang. Sialan! Rupanya sejak tadi laki-laki ini
pura-pura tidur. Kini hawa panas terasa mengalir naik ke wajah Kesya. Dia
ketahuan sedang memperhatikan Marco. Aduh malu banget deh! Jangan-jangan
Marco pikir, aku gadis kesepian yang sangat mendambakan laki-laki.
Aduh, pikiran dari mana lagi itu? Kok jadi kayak iklan-iklan kontak jodoh di
tabloid sih?
“Kenapa? Kamu suka ya, ngeliatin aku?” Kini mata Marco sepenuhnya terbuka,
tapi Kesya malah tidak berani memalingkan wajah. Hawa panas yang lebih panas
daripada terik matahari di Gurun Sahara kini menyerbu wajahnya. Wajahnya pasti
merah seperti lobster matang.
Marco tertawa kecil lagi. Kali ini dia menertawakan wajah Kesya yang memang
merah seperti lobster matang.
Kesya mengutuk dalam hati. Memaki-maki dirinya sendiri kenapa dia harus
satu mobil dengan laki-laki brengsek ini. Dan lebih memaki-maki dirinya sendiri
kenapa dia harus memperhatikan laki-laki brengsek ini lima kali dalam sepuluh
menit terakhir!
“A... aku nggak tau Jalan Disco ada di mana. Aku mau tanya, tapi aku lihat
kamu tidurnya nyenyak banget. Jadi aku nggak enak banguninnya...,” ujarnya
mencari-cari alasan.
Marco masih tersenyum. Senyum seksi yang menggoda.
Dug! Dug! Dug! Dug dug dug dug dug dug!!!
Sialan! Siapa sih yang mukul beduk dalam hatiku! maki Kesya pelan.
“Belok sini,” ujar Marco.
“Hah sini?” Kesya buru-buru membelokkan setir mobilnya.
“Lurus saja sampai ujung sana...,” ujar Marco lagi.
Kesya mematuhi petunjuk Marco sambil tetap memandang lurus ke depan. Dia
masih tidak berani menatap Marco. Masih mengutuki orang yang memukuli beduk
dalam hatinya.
“Stop depan saja...”
Kesya melongo. Ini toh yang namanya Jalan Disco? Yang dilihat Kesya hanya
sebidang tanah kosong yang cukup luas. Mau ngapain Marco ke sini? Tadi, pikir
Kesya, Marco minta diantarkan ke tempat menginapnya di Jakarta. Tapi ini...
“Eh, tunggu...,” seru Kesya saat Marco membuka pintu di sampingnya.
“Tolong buka bagasinya.”
Kesya membuka bagasinya lalu mengikuti Marco.
Dari travel bag-nya, laki-laki itu mengeluarkan sebuah kamera digital. Dia lalu
berjalan mendekati tanah kosong itu. Memotret dari berbagai sudut. Berhenti.
Melihat-lihat. Berjalan ke tengah. Lalu memotret lagi. Berhenti. Melihat-lihat ke atas,
lalu memotret lagi.
Kesya bersandar pada mobilnya. Masih bingung akan apa yang dilakukan
Marco. Tapi dia memutuskan untuk diam saja. Tidak mau banyak bicara kepada
laki-laki ini, terutama setelah kejadian memalukan tadi.
Marco tampaknya telah menyelesaikan urusannya. Dia memasukkan kamera
digitalnya ke dalam travel bag. Setelah menutup bagasi, dia masuk ke mobil Kesya
lagi.
Dengan hati dongkol, Kesya juga ikut masuk ke mobil. Mobil-nya!
“Ke Apartemen Magenta...,” ujar Marco tanpa sempat Kesya bertanya.
Kesya mendengus kecil. Mereka bermobil dalam diam. Dari Jalan Disco sampai
ke Apartemen Magenta makan waktu dua jam.
Saat tiba di Apartemen Magenta, Kesya lelah luar biasa. Tubuhnya penat.
Matanya mengantuk. Dia menghela napas panjang, teringat perjalanan yang masih
harus dia tempuh untuk pulang ke apartemennya sendiri. Tapi... Aneh! Kok
sepertinya Kesya mengenali pemandangan di sini...
Kesya, setengah linglung, memajukan mobilnya ke parking booth. Dia
menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Selamat malam, Bu Kesya...,” sapa petugas parkir dengan akrab. “Kok malam
baru pulang, Bu?”
Kesya tersenyum bingung. “Iya nih, tadi ada urusan...” Kesya setengah bingung
setengah tidak percaya, karena dia juga merasa mengenali wajah petugas parkir
Apartemen Magenta dan dikenali oleh si petugas parkir itu.
Celingak-celinguk, dia melihat ke sekeliling lagi. Rasanya dia benar-benar
familier dengan lingkungan apartemen ini.
Tiba-tiba Kesya tersentak. Seolah mendapat pencerahan, matanya bersinar
tajam. Ini kan... Apartemen Magenta? Apartemen Magenta kan apartemennya!
“Kamu akan tinggal di sini?” seru Kesya terkejut.
Marco mengangguk pelan. “Selama di Jakarta, sampai selesai pesta pernikahan,
Alo dan Cecil menyarankan agar aku tinggal di Apartemen Magenta.”
“Apartemen nomor berapa?” buru Kesya cepat.
“1525.”
1525! Itu kan terletak di sebelah apartemennya!
“Itu tepat di sebelah apartemenku!” jerit Kesya.
Alis Marco terangkat. “Oh, bagus kalau begitu,” ujarnya santai.
Bagus? Apanya yang bagus? Kesya kesal sekali dengan ulah Alo dan Cecil yang
mencarikan bestman mereka apartemen tepat di sebelah apartemen Kesya, tanpa dia
sendiri tahu apa-apa soal itu.
“Kamu nggak bisa tinggal di sana!”
“Kenapa nggak bisa?” Marco balik bertanya.
“Karena... karena...” Kesya kebingungan. Tidak tahu alasan apa yang harus
diutarakan. Benar juga ya, kenapa Marco tidak boleh tinggal di apartemen sebelah
Kesya? Tidak ada alsan yang jelas untuk melarang. Kesya hanya tahu, dia tidak suka
berdekatan dengan Marco, laki-laki tukang tebar pesona ini.
Marco tersenyum lagi. Senyum seksi yang, lagi-lagi, membuat dada Kesya
bergemuruh kencang.
“Karena kamu takut jatuh cinta sama aku, ya?” tanya Marco enteng.
Deg! Wajah Kesya berubah merah lagi. Kali ini warnanya seperti warna tomat
matang.
“Kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu?” tantang Kesya. Matanya membulat,
menatap berani ke arah Marco. Padahal, kalau menuruti kata hatinya, Kesya sudah
mau menghilang saja ditelan bumi saking malunya.
Marco tersenyum lebih lebar. “Karena aku seksi,” jawabnya sambil
mengedipkan sebelah mata. “Dan... karena kamu telah memperhatikan aku setiap
dua menit...,” tambahnya dengan senyum menggoda.
“Gila!” maki Kesya.
Mobil Kesya telah terparkir sempurna. Marco turun tanpa berkata lagi. Dia
mengambil tas dari bagasi yang telah dibuka Kesya, lalu berjalan menuju lift. Kesya
mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tiinggg...
Mereka berdua masuk lift. Jemari Marco menekan tombol 15. Kesya merasakan
lift bergerak naik. Dia masih merasa kesal. Sebenarnya bukan kesal karena Marco
tinggal di sebelah apartemennya. Dia kesal lebih karena Cecil dan Alo, tapi Kesya
percaya ini semua adalah ide Cecil, tidak memberitahunya apa-apa mengenai
pengaturan ini. Dalam hati dia berjanji akan mencabik-cabik Cecil besok pagi, segera
setelah fajar mulai menyingsing!
Tiiinnngg...
Mereka berbelok, berjalan sedikit, lalu berhenti. Eh? Lho, kok berhenti di
apartemen nomor 1523? Marco menekan bel pintu.
“Eh...” Kesya tidak jadi berkomentar karena DeeDee telanjur membuka pintu.
“Siapa?” Itu suara DeeDee.
Pintu terbuka dan kepala DeeDee menyembul dari dalam apartemen. Gadis itu
memegang sumpit. Dari pintu yang terbuka, tampak semangkuk mi yang
mengepulkan asap diletakkan di atas meja pendek, di ruang tamu, di depan televisi.
Kebiasaan jelek DeeDee, makan selalu sambil nonton televisi!
“Mau cari Kesya, ya? Kesya-nya belum pu...” Kalimat DeeDee tidak selesai.
Berhenti menggantung seakan menguap di udara. DeeDee sendiri berdiri mematung
memperhatikan sosok Marco yang menjulang, dua kepala lebih tinggi daripada
dirinya. Matanya berbinar-binar tanpa berkedip. Sumpit yang tadi dipegangnya
terjatuh satu, sementara yang satu lagi masih menempel di mulutnya. Tadi, DeeDee
berbicara sambil memasukkan sumpit ke dalam mulutnya.
“Halo...,” sapa Marco sambil tersenyum.
DeeDee, seolah terhipnotis, memandangi Marco tanpa berkedip. Dia tidak
membalas sapaan Marco, hanya terpukau memandang sosok pria itu.
“Saya Marco, bestman-nya Alo. Saya akan tinggal di apartemen sebelah selama
berada di Jakarta. Hmm... sampai acara pernikahan Alo dan Cecil selesai.” Marco
menyelesaikan monolog perkenalannya.
“Good night, Kesya.” Marco mengangguk sopan ke arah Kesya. “Good night,
DeeDee.” Kini Marco mengangguk ke arah DeeDee. Kemudian dia melenggang
masuk ke apartemn nomor 1525. Begitu pintu apartemen 1525 menutup, DeeDee
langsung bereaksi.
“Dia tahu namaku!” pekiknya senang.
“Then what?” Kesya mencibir sambil masuk ke apartemennya.
“Kenapa dia nggak tinggal di sini aja?” DeeDee masih memekik.
“Sssst!” Kesya menegurnya. Takut pekikan DeeDee terdengar sampai ke
sebelah dan membuat Marco kege-eran. “Apa-apaan sih kamu? Dia nggak mungkin
tinggal di sini!”
“Kenapa?”
“Aku nggak akan mengizinkan!”
“Kenapa nggak?”
“DeeDee!” bentak Kesya. “Kamu ngaco ya. Masa kamu membiarkan orang asing
seperti dia tinggal sama-sama kita!”
“Orang asing yang seksi.” DeeDee tersenyum lebar.
“Sinting!” maki Kesya lalu masuk ke kamarnya.
DeeDee menyusul langkah Kesya. Makan malamnya segera terlupakan.
“Kamu yang sinting kalau menolak cowok seseksi itu menginap di apartemen
ini!” balas DeeDee tak kalah sengitnya.
“Gila!” Kesya memperkaya kosakata makiannya sambil menggeleng-geleng.
“Di mana sih, Alo ketemu cowok seksi kaya gitu?” DeeDee mengempaskan
tubuh di ranjang.
Kesya lagi-lagi geleng-geleng kepala.
“Marco sahabatnya Alo, makanya bisa jadi bestman-nya Alo.”
“Dia seksi banget lho, Kesh...,” desah DeeDee.
Kesya mencebikkan bibir. “Apaan?” cibirnya. “Cowok tukang tebar pesona!
Cowok model begitu sangat mengagungkan maskulinitasnya! Nggak banget! Itu
bukan tipeku sama sekali!”
DeeDee terdiam memandang Kesya. Tidak memedulikan makian Kesya.
“Aku punya feeling dia bakal jadian sama kamu deh...”
Kesya melotot, menampilkan ekspresi terhina mendengar ucapan DeeDee
barusan, tapi hatinya berdebar juga.
“Feeling kamu salah banget kalau begitu! Aku nggak mau!” bantahnya.
“Mendingan Jansen...,” tambahnya pelan.
DeeDee menggeleng-geleng. Gayanya persis nenek Kesya waktu Kesya kecil
menolak makan nasi.
“Kesya, Kesya... Dibandingin Jansen, Marco jelas jauh ke mana-mana. Dia
seratus ribu kali lebih baik daripada Jansen.”
“Sinting!” Kesya melemparkan guling ke arah DeeDee. Dia lalu keluar dari
kamar tamu, berjalan menuju kamar mandi yang terletak di sebelah dapur. Saat
tangannya terulur hendak memegang hendel pintu, tiba-tiba terdengar suara bel
pintu.
Kesya berjalan ke pintu dan melihat dari lubang siapa orang yang berkunjung
malam-malam begini.
Ternyata Marco! Mau apa dia?
Kesya membuka pintu. Alisnya terangkat saat melihat Marco menyodorkan
sebuah bungkusan. “Apa ini?” tanyanya. Harum makanan menguar dari bungkusan
itu.
“Aku pesan makanan untuk kamu. Dari tadi kamu belum makan malam, kan?”
Kesya tertegun. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Good night.” Marco mengangguk sopan, lalu berlalu.
“Siapa?” kepala DeeDee menyembul dari dalam kamar Kesya.
“Marco,” jawab Kesya pelan. “Dia bawain makan malam untukku. Katanya aku
belum makan malam.”
“Wuaahh! Perhatian banget dia!” DeeDee melonjak kegirangan.
Dug! Dug! Dug! Pemukul beduk dalam hati kesya beraksi lagi!
* * *
Krriingggg!
Kesya meraih gagang telepon yang terletak tepat di sebelahnya. “Halo...”
“Ha... halo...”
Suara Jansen!
Kesya mengecilkan volume televisi. Butuh usaha cukup keras untuk
mendengarkan percakapan terpatah-patah Jansen. Biar begitu, Kesya sangat
menikmatinya.
“Hai... Udah malem kok belum tidur?” Kesya melirik jam yang terpasang di
dinding. Jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka sepuluh.
“Ka... kamu sendiri kok belum tidur?”
“Aku?” Kesya memperhatikan sketsa perhiasan di pangkuannya. “Aku habis
makan malam, tiba-tiba dapet ide, jadi buru-buru digambar. Kalau nggak, nanti
keburu lupa.”
Jansen tertawa kecil.
Praannggg...!
“Lho, suara apa tuh?” tanya Kesya terkejut.
“Ooh... itu... itu piring makanku pecah.”
Ya ampun Jansen! Di telepon pun masih bisa gugup begitu!
Kesya tersenyum kecil.
“Kamu juga baru selesai makan?”
“I... iya nih. Ba... baru aja se... selesai kerja.” Jansen tertawa lemah.
“Oh gitu...”
Hening. Baik Kesya maupun Jansen tampaknya kesulitan menemukan topik
pembicaraan yang bagus.
Akhirnya Jansen yang pertama kali memecahkan keheningan di antara mereka.
“Kesya... besok sore kamu ada kerjaan nggak?” Jansen terdengar berusaha mengatur
napasnya.
Kesya berpikir sebentar. “Kayaknya nggak deh. Emangnya kenapa?”
“Besok aku disuruh motret di konser grup musik jazz La Rouge yang dari
Prancis itu. Terus aku dapat tiket dua. Kamu mau ikut?”
Wah... ada kemajuan. Jansen sudah berani mengajaknya nge-date!
Kesya tersenyum senang. “Boleh. Kamu mau jemput aku jam berapa?”
“Aku... aku jemput kamu dari tempat kerja kamu jam lima aja, ya...”
“Oke... Sampai besok ya...”
“Hmm... I... iya. Good night, Kesya yang ayu...”
Kesya meletakkan gagang telepon sambil tersenyum-senyum.
Kriingg! Telepon berbunyi lagi.
“Kesya...” Kali ini suara Marco yang terdengar.
Kesya tersentak. Dari mana Marco tahu nomor teleponnya?
“Kok kamu tahu nomorku?”
“Nomor teleponmu, nomor ponselmu, alamat kantormu, alamat e-mail-mu, hobi
kamu, makanan kesukaanmu, warna kesukaanmu. Pokoknya apa yang kamu suka
dan kamu nggak suka, aku tahu semuanya.” Marco terdengar tertawa kecil. “Kamu
pikir aku nggak akan menyelidiki dulu siapa pendampingku dalam acara
pernikahan Alo dan Cecil nanti?”
Menyelidiki? Apa maksudnya tuh? Memangnya aku ini psikopat yang harus
diwaspadai? pikir Kesya meradang.
“Oke,” potong Kesya kesal. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Marco. “Jadi
kamu mau apa sekarang?”
“Cuma mau tanya apa kamu sudah makan,” suara Marco melembut.
Kesya tertegun. Menatap piring kosong di hadapannya yang belum sempat
dibereskannya. Makanannya enak. Chinese food kesukaannya.
“Halo?”
“Udah,” Kesya buru-buru menjawab. “Aku udah makan. Thanks ya makanannya.
Aku suka.”
Terdengar suara tawa Marco. “Besok sekitar jam lima, temani aku pergi ya,”
pinta Marco.
“Nggak bisa!” Begitu seriusnya Kesya menolak ajakan Marco, kepalanya sampai
ikut menggeleng. Padahal tentu saja Marco tidak dapat melihat apa yang
dilakukannya.
“Kenapa nggak bisa?” Marco masih berkeras.
“Aku... aku ada janji.” Mengingat ajakan Jansen tadi, hati Kesya jadi membesar
dua kali lipat. Dia bahagia sekali.
“Sama siapa? Pacar? Mau nge-date, ya?” Marco masih belum menyerah.
Apa-apaan sih laki-laki ini? Bukannya mereka baru kenal? Kok Marco kesannya
sudah akrab sekali dengan Kesya. Lagi pula, kenapa juga dari tadi dia selalu mau
tahu urusan Kesya?
“Halo, Kesya? Kok kamu nggak jawab? Berarti benar ya sama pacar? Nge-date
ke mana? Aku ikut dong...”
Kesya tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Kamu mau ikut? Nggak salah nih?” sergah Kesya.
“Emang kenapa? Aku mau tau gimana sih pacar kamu.” Suara Marco terdengar
penuh percaya diri.
Huh! Terlalu percaya diri. Rasa simpati yang sejenak memenuhi hati Kesya
langsung menguap tidak berbekas.
“Jangan aneh-aneh deh!” tukas Kesya.
“Galak amat...,” komentar Marco usil. Kembali terdengar suara tawa.
“Udah ah, aku mau tidur!”
“Night, Kesya!” seru Marco, masih sambil tertawa.
Kesya mencibir, lalu menutup telepon.
Laki-laki yang aneh! Tapi tak urung hati Kesya berdesit juga mengingat
percakapannya dengan Marco. Ada sesuatu yang berbeda pada laki-laki itu. Entah
apa...
Mungkin kepercayaan dirinya saat berhadapan dengan Kesya? Cara bicaranya
yang santai dan penuh canda sangat berbeda jauh dengan Jansen. Kesya tidak
pernah sekali pun mendengarkan nada bicara yang penuh percaya diri saat
berbicara dengan Jansen. Tetapi Marco? Seolah dia sangat yakin akan apa yang
dibicarakannya. Seolah dia yakin bahwa dia dapat menaklukkan dunia. Begitu
yakin, begitu tegas. Berbeda jauh dengan Jansen yang selalu gugup dan hati-hati.
Dug dug dug dug!
Waduh! Ada yang memukul beduk di hatinya lagi! Kalau terus-terusan begini,
Kesya pasti harus diopname! Baru tiga kali berdekatan dengan Marco—siang tadi
saat dia menjemputnya, lalu malam tadi saat Marco membawakannya makan
malam, dan barusan saat Marco meneleponnya—jantung Kesya sudah berdebardebar
tidak keruan.
Tenang, Kesh... Marco itu bukan tipe cowok kamu. Kamu nggak suka tipe cowok suka
tebar pesona kayak dia. Buat kamu, Jansen lebih baik..., ujar hati kecil putihnya.
Tapi... Jansen nggak sepede Marco. Kayaknya Marco lebih bisa nglindungin aku...
Kayaknya Marco bisa lebih yakin akan perasaannya. Daripada Jansen! Selalu gamang, selalu
ragu, selalu hati-hati... Kali ini hati kecil hitamnya yang berbicara.
Gila kamu! Lagian mana mungkin cowok kayak Marco bisa suka sama Kesya? Hati
kecil putihnya ngomel-ngomel ke hati kecil hitamnya.
Lho kenapa nggak mungkin? Emangnya kamu pikir Kesya nggak cantik apa? balas hati
kecil hitamnya tidak kalah sengit.
“Udah, udah! Berisik!” kali ini Kesya yang memekik.
Baru saja ketemu hari ini, mana mungkin aku bisa langsung suka? batinnya.
Kesya bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar. Dia menyimpan sketsa yang
baru saja digambarnya ke dalam brankas idenya, lalu berjalan ke arah tempat tidur
dan merebahkan tubuh. DeeDee sudah tidur di ranjang tambahan. Sebenarnya ada
satu kamar tamu di apartemen Kesya, tapi DeeDee tidak mau menempatinya.
“Kamar itu kan buat tamu. Aku kan bukan tamu. Aku adik kelasmu yang
tersayang,” ujar DeeDee dengan kurang ajar saat Kesya menyuruhnya tidur di
kamar tamu. Jadilah DeeDee tidur di ranjang tambahan di kamar Kesya.
Kesya berbaring dengan mata masih terbuka. Dadanya masih berdebar-debar.
Dia berdiri dan meraba dinding di atas tempat tidurnya. Di balik dinding itu ada
kamar Marco. Kamar di Apartemen Magenta memang dirancang bersebelahan
dengan kamar apartemen sebelahnya. Kesya tahu itu saat dia pertama kali melihatlihat
apartemen ini. Kamar di apartemen 1523 berada persis di sebelah kamar
apartemen 1525.
Dengan hati masih berdebar-debar, Kesya menempelkan telinga ke dinding
pembatas antara kamarnya dan kamar Marco. Tidak terdengar suara apa-apa. Tentu
saja, karena desain kamar memang dibuat kedap suara.
“Ngapain sih aku?” maki Kesya pelan.
“Kesh... kamu nguping, ya?”
Kesya terlonjak kaget mendengar suara itu. Tampak DeeDee duduk dengan
mata terbuka lebar. Senyumnya juga merekah lebar!
“DeeDee, kamu belum tidur?” bisik Kesya pelan.
“Nggak penting!” DeeDee menggeleng cepat. “Kamu barusan nguping, kan?”
Mata DeeDee membulat. Tanda bahwa dia sedang awas akan sesuatu yang sedang
terjadi, atau mungkin akan terjadi.
“Apaan sih? Nggak penting, tau!” bisikan Kesya semakin keras.
Kesya kembali naik ke ranjangnya. Dia menarik selimut sampai menutupi
kepalanya. Menghindari tatapan jail DeeDee.
5
KESYA bangun setengah tujuh pagi keesokan harinya. Dia langsung beranjak ke
dapur untuk membuat sarapan.
“Pagi...”
Kesya melonjak kaget. Kenapa ada Marco di dapurnya?
Marco tersenyum. Di tangannya ada segelas kopi yang mengepul. Rambutnya
masih acak-acakan. Mencuat di sana-sini tidak keruan.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Kesya galak.
Marco benar-benar seperti sosok tuyul bergentayang di apartemennya. Bukan,
bukan tuyul. Tuyul terlalu imut untuk ukuran tubuh Marco yang tinggi besar.
Genderuwo? Bukan juga! Nggak cocok juga!
Apa ya? Vampir? Hmm... ya, mungkin juga. Vampir lebih pas jika diasosiasikan
dengan sosok Marco. Terutama vampir ganteng yang ngetop itu. Siapa namanya?
Edward Cullen? Hhmmm... ya ya ya, Edward Cullen.
Kesya tersenyum.
“Ngapain kamu senyam-senyum sendirian?”
Kesya tersadar dari lamunan ngawurnya. “Kamu belum jawab pertanyaanku!”
desisnya galak. “Ngapain kamu di sini?”
“Minum kopi...,” Marco menjawab dengan polos. Tangannya terangkat,
menunjukkan gelas yang dia gunakan untuk minum kopi.
Mata Kesya melotot melihat gelas yang digunakan Marco. Gelas biru bergambar
beruang Forever Friend! Itu kan gelasnya. Gelas pribadinya. Tidak boleh ada yang
memakai gelas itu kecuali dirinya!
“STOP!” ujar Kesya saat gelas kesayangannya sudah hampir mencapai mulut
Marco.
Marco menurunkan gelas itu. Matanya menatap heran ke arah Kesya.
“Itu gelasku! Gelas pribadiku! Gelas kesayanganku! Nggak boleh ada orang
yang pake gelas itu kecuali aku...”
Marco tersenyum kecil dan tanpa merasa bersalah dia kembali mengangkat
gelas itu.
“Stop! AKU BILANG ST...”
Terlambat! Gelas itu sudah menempel di bibir Marco!
Aarrgghhh! Kesya geram sekali. Dalam hati dia mengingatkan untuk mencuci
gelas itu dengan sabun cairan antiseptik. Dia juga mempertimbangkan untuk
membuang gelas itu, tapi sayang juga ya. Itu gelas pemberian pacar pertamanya saat
dia ulang tahun sweet seventeen.
Marco menurunkan gelas kesayangan Kesya. Dia tersenyum ke arah gadis itu.
Kesya membuang muka. Kalau tangannya memegang ulekan sambal, rasanya
ingin dia ulek saja wajah usil Marco!
“Kenapa kamu bisa ada di sini sih?” tanya Kesya, masih kesal setengah mati
karena Marco minum dari gelas kesayangannya. “Bukannya apartemen kamu itu di
sebelah?”
“DeeDee yang membukakan pintu untukku. Aku kan baru saja sampai di
Jakarta kemarin. Aku belum belanja kopi, dan aku belum tau tempat sarapan yang
enak di sini. Jadi, aku pikir, lebih baik ke sini aja. Lagian, sepi juga sendirian di
sebelah,” jawab Marco santai.
DeeDee! rutuk Kesya dalam hati.
“Di mana DeeDee?” tanya Kesya.
“Tuh... di kamar mandi.” Marco menunjuk dengan dagunya, lalu kembali
minum dari gelas Kesya!
Kesya memalingkan wajah. Tidak sudi melihat pemandangan gelasnya dicium
oleh orang lain.
Pintu kamar mandi terbuka dan DeeDee keluar. Sudah berpakaian rapi.
“DeeDee!” Kesya memanggil. Suaranya sarat ancaman.
“Morning, Kesh!” sapa DeeDee tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Aku harus
ke toko sekarang juga. Ingat nggak, aku kan ada janji dengan klien besar kita itu!”
DeeDee mengambil tas yang sudah disiapkan di atas sofa lalu beranjak keluar.
“Aku nggak sempet sarapan. Buat kalian berdua, selamat menikmati sarapan ya!
Nanti setelah meeting, aku akan segera kabari kamu ya, Kesh!”
Kesya tidak dapat berkutik. Rencananya untuk mendamprat DeeDee karena
seenaknya saja membiarkan Marco masuk hilang sudah. Dia ingat hari ini telah
menugasi DeeDee untuk bertemu dengan seorang klien penting. Seorang perancang
busana ternama yang berniat menggunakan perhiasan dari toko Kesya sebagai
aksesori dalam pergelaran busananya.
“Ada koran?” tanya Marco tanpa memedulikan hiruk pikuk yang terjadi.
Kesya menggeram lalu menunjuk dengan dagu. Penghuni di apartemen ini
memang mendapatkan fasilitas langganan koran gratis, tapi Kesya tidak pernah
menyentuhnya. Kesya memang paling malas baca koran. Paling baca headline-nya
saja. Habis, paling-paling isinya demo sana demo sini, bencana sana bencana sini,
tindak kekerasan sana tindak kekerasan sini. Kan malas bacanya.
Yang menarik minat Kesya adalah berita tentang kesenian. Kalau ada yang
membahas soal pameran mode, pameran perhiasan, atau apa saja yang
berhubungan dengan seni, baru Kesya akan membaca artikel itu sampai habis.
Marco mengambil koran lalu kembali duduk di tempatnya semula. Sambil
matanya terpaku pada koran di tangannya, dia mengambil gelas dan menuang kopi
untuk dirinya sendiri.
Kesya tidak dapat berkata-kata lagi. Dia berjalan ke dapur dan membuat roti
bakar. Selesai membuat roti bakar, dia membawa piringnya dan terpaksa duduk di
hadapan Marco.
“Kok dua? Roti bakar ini buat aku?” tanya Marco sambil menunjuk setangkup
roti bakar yang masih tersisa di piring. Kesya sudah menggigit dengan kasar roti
bakar miliknya.
“Buhkkannn! Itouh puwnyahhh DihDih...,” ujar Kesya sambil mengunyah. Dia
tidak peduli kalau Marco tidak dapat mendengar ucapannya.
“Lho, kan DeeDee sudah pergi.”
Oh iya! Dia lupa. Kesya memang selalu membuat dua tangkup roti bakar. Satu
untuknya dan satu untuk DeeDee. Dia lupa sama sekali bahwa DeeDee sudah
berangkat dengan terburu-buru. Sepertinya, rasa kesal memperlambat daya kerja
otaknya.
Marco tersenyum senang. “Jadi, roti bakar ini buat aku dong...,” ujarnya, alisnya
terangkat. Senyum jail menghiasi wajahnya.
Kenapa jadinya malah begini? Kok Kesya jadi bikinin sarapan untuk Marco?
“Thanks ya, Sayang...” Marco menggigit roti bakarnya dengan penuh perasaan.
Kesya tidak menjawab. Dengan kasar dia mengunyah roti bakarnya, seolah
ingin melampiaskan kekesalannya pada roti bakarnya yang malang.
Sepuluh detik berlalu dalam diam. Kesya masih mengunyah roti bakarnya.
Marco makan sambil membaca koran. Diam-diam, Kesya melirik Marco.
Marco beranjak bangun dari duduknya. Dia rupanya sudah selesai makan.
“Aku mau ke balkon dulu...,” ujar Marco sambil beranjak ke balkon apartemen.
Kesya masih terus memperhatikan. Marco mengeluarkan sebungkus rokok dan
pemantik dari balik saku celananya, menyalakan sebatang rokok, dan mengisapnya
dalam-dalam!
What? A SMOKER!
Mata Kesya melotot hebat. Dia paling tidak suka dengan perokok! Perokok itu
perusak paru-paru, bukan hanya paru-parunya sendiri, tapi juga paru-paru orang
lain. Perokok adalah orang-orang yang egois!
Kesya dongkol sekali. Dia jijik membayangkan asap rokok, yang baunya tidak
enak itu, akan memenuhi ruangan apartemennya. Well, tidak ada yang dapat dia
lakukan sekarang. Dia tidak mungkin mengusir Marco dari apartemennya.
Bagaimanapun, Marco adalah tamu kehormatan Cecil dan Alo. Dan Kesya tidak
akan berbuat suatu hal yang akan menyinggungnya.
Dalam hati dia mencatat, dengan huruf kapital yang diperbesar lagi, untuk
mengingatkan Marco agar tidak merokok di dalam ruangan apartemen.
Ting tong...!
Kesya beranjak ke pintu dan membukanya. Tampak Cecil dan Alo tersenyum
ceria.
“Hai, Kesya!” sapa Cecil. Dia masuk sambil diikuti Alo.
“Cecil!” Kesya langsung setel wajah jutek dan ngomel-ngomel, “Kamu tuh
keterlaluan ya! Punya ide dari mana suruh bestman Alo yang nyebelin, suka tebar
pesona, perokok, dan nggak tau malu tinggal di sebelah apartemenku? Dan kamu
juga nggak bilang apa-apa sama aku!” Kesya tidak memelankan suaranya,
meskipun dia tahu Alo dan mungkin juga Marco akan mendengarnya. Dia bete
banget. Apalagi mengingat Marco adalah seorang perokok!
Cecil tertawa senang. “Aah, jadi Marco sudah datang, ya? Di mana dia?”
tanyanya dengan nada ceria.
“Dia ada di dalam apartemenku! Keterlaluan banget nggak sih? Masa dia ma...”
Cecil tidak memedulikan Kesya dan langsung masuk untuk menemui Marco.
“Hai, Marco... Long time no see...” Cecil langsung memeluk Marco, yang entah
kapan sudah masuk lagi ke dalam apartemen dengan mulut bau rokok.
“Hai! The beautiful bride-to-be!” Marco mencium pipi Cecil.
Iihh! Marco kan bau rokok!
Alo, di belakang Cecil, tersenyum kecil. “Hai, bro...” Mereka berpelukan erat.
“Oohh... now you are going to be the groom!” Marco menepuk-nepuk pundak Alo.
“Cecil... sini...,” bisik Kesya sambil menarik tangan Cecil.
“Apaan sih?” Dahi Cecil mengernyit.
“Kamu tuh apa-apaan sih? Kenapa tanpa bilang-bilang malah menyarankan dia
tinggal di sebelah apartemenku?” Merasa tidak dipedulikan Cecil, Kesya kembali
melancarkan protesnya.
“Lho, memangnya kenapa? Daripada dia tinggal sama orang yang belum dia
kenal, kan mendingan dia tinggal di dekat kamu...,” ujar Cecil dengan mata
membulat.
Hah? Nggak salah dengar nih?
“Lalu aku gimana? Aku kan belum kenal dia!” bisik Kesya dengan suara agak
keras.
Cecil tersenyum, maunya sih menampilkan efek menenangkan, tapi yang
terpancar malah efek nyebelin!
“Ooh... itu toh masalahnya. Tenang aja. He is a nice person. Yang pasti, nggak
mungkinlah aku suruh seorang psikopat tinggal di sebelah apartemen kamu. Kalau
itu yang kamu takutin...,” jawab Cecil dengan santai.
Ggggrrrr! Ingin rasanya Kesya menjitak kepala Cecil.
“Lagian...,” Cecil mengedipkan sebelah matanya, “kalau belum kenal, kamu kan
bisa kenalan sama dia sekarang... Aku punya feeling kamu bakal jadian sama dia...”
Apa sih maksud Cecil? Kenapa tiba-tiba semua orang punya feeling Kesya akan
jadian sama Marco? Tidak mungkin! Benar-benar tidak mungkin!
“Nanti malam kita dinner bareng ya...,” ujar Cecil sambil beranjak lagi ke arah
Marco.
“Aku nggak bisa,” potong Kesya.
“Kenapa?” tanya Alo. “Ayolah, kita dinner sama-sama.”
“Aku ada janji...” Wajah Kesya mulai memerah. Pembicaraan mengenai date
memang sesuatu yang sensitif untuknya.
“Sama siapa?” tanya Alo. Wajahnya tersenyum tulus. Benar-benar ingin tahu.
“Sama Jansen, ya?” potong Cecil sambil mencibir. Kalau ini, Kesya percaya,
adalah cibiran yang juga benar-benar tulus.
Kesya mengangguk pelan.
“Alaaahhh... udah deh... batalin aja! Mending juga pergi sama kami!” Cecil
mengernyit. Pembicaraan tentang Jansen memang selalu membuat Cecil mengernyitkan
wajah, menunjukkan perasaan tidak sukanya pada laki-laki itu.
“Cil, jangan gitu dong. Biarin aja Kesya pergi sama Jansen...,” Alo membela
Kesya. Kesya tersenyum penuh terima kasih kepada Alo dan tersenyum penuh cela
ke arah Cecil.
“Aduh, Sayang. Kamu nggak tau sih seperti apa Jansen itu!”
Tuh kan, Cecil mulai lagi...
“Hei, hei ,hei! Kenapa malah ngomong begitu soal Jansen!” Kesya membela
Jansen. Tidak sudi laki-laki pujaannya dikomentari secara tidak sopan oleh Cecil.
“Ya sudah, nanti kita pergi bertiga saja,” ujar Alo sambil melirik ke arah Marco.
“Sori. Aku juga nggak bisa.” Marco menggeleng pelan.
“Kenapa?” tanya Cecil dan Alo berbarengan. Kesya sih tidak peduli. Urusan
laki-laki itu sama sekali bukan urusannya!
“Aku juga ada date...,” ujar Marco polos. Tampak terlalu polos di mata Kesya.
* * *
“Bagaimana kalau yang ini?” Kesya mengeluarkan kalung bertabur berlian sebesar
tiga karat. Bentuknya yang eksotis membuat setiap orang berdecak kagum.
“My lovely”, itu nama perhiasan yang kini berada dalam genggaman Kesya.
Nyonya, eh salah, Madame Juliet Anggoro menggeleng-geleng dramatis.
“No no no... saya tidak mau yang ini, tidak mau yang ini. Yang ini terlalu kecil,
terlalu kecil untuk ukuran leher saya...”
Sore ini, Madame Juliet Anggoro mengenakan pakaian berwarna merah
manyala. Menurut Madame Juliet, warna pakaiannya mencerminkan perasaan
hatinya. Perasaan hatinya mencerminkan jenis perhiasan yang akan dia beli.
Kalau hari ini dia mengenakan pakaian berwarna merah, itu artinya perasaan
hatinya sedang marah. Rupanya, kemarin malam Madame Juliet merasa kesal pada
suaminya, Tuan Anggoro, karena suaminya pulang terlambat tanpa memberi kabar.
Madame Juliet merasa marah, dan kalau marah, Madame Juliet akan membeli
kalung.
Bingung, kan?
Sewaktu pertama kalinya Madame Juliet menjelaskan tentang pengaruh warna
pakaian terhadap perasaan hatinya dan terhadap jenis perhiasan yang akan
dibelinya, Kesya juga geleng-geleng kepala. Dasar orang kaya! Marah beli perhiasan,
sedih beil perhiasan, malu beli perhiasan, senang ya juga pasti beli perhiasan dong!
Tapi... peduli amat deh. Kalau tidak ada orang-orang seperti Madame Juliet,
mungkin toko perhiasan Kesya tidak akan meraup banyak keuntungan. Mungkin
juga Kesya harus banting setir, alih profesi. Sebagai apa ya? Kesya juga bingung.
Rasanya, dia tidak memiliki keahlian lain selain mendesain perhiasan. Ya, dia
lumayan bisa masak, tapi tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mencari rupiah
lewat masakannya.
Jadi... untung ada orang-orang kaya yang eksentrik seperti Madame Juliet.
“Hmmm... mau yang lebih besar ya...” Awalnya Kesya pikir kalung “My lovely”
itu akan disukai Madame Juliet. Hmm... rupanya dia salah. Sebenarnya Kesya sudah
hafal betul dengan keinginan Madame Juliet. Wanita ini suka yang heboh. Dia
menyukai perhiasan yang bertabur berlian. Semakin banyak berliannya, maka dia
akan semakin suka, tidak peduli walau banyaknya berlian terkadang membuat
tampilan perhiasan berkurang keanggunannya. Rupanya si Madame ingin sesuatu
yang lebih heboh, jauh lebih heboh hari ini!
Mata Kesya dengan tajam mengawasi etalase pribadinya. Madame Juliet kini
berada di ruang kerja Kesya, tanda bahwa perempuan itu adalah salah satu
langganan yang dihormati. Tidak semua pelanggan boleh masuk ke ruang kerja
Kesya dan memilih perhiasan yang baru selesai dibuat. Fresh from the oven.
Kesya tersenyum kecil. Gotcha!
Dia mengeluarkan sebuah kalung panjang. Kalung itu terbuat dari emas 23
karat. Kalung itu menjuntai sepanjang 30 cm dan setiap rantainya diselipi dengan
berlian sebesar 5 karat. Bukan itu saja. Masih ada bandulnya. Bandul bulat dengn
hiasan bintang yang, tentu saja, bertabur berlian juga!
“The Stars Are Always Shining”. Itu nama yang diberikan Kesya.
“Bagaimana kalau ini, Nyo... ehm... Madame Juliet?”
See? Mata Madame Juliet kini bersinar-sinar cemerlang.
“Bagus! Bagus! Bagus sekali!” ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak. Dia
meraba lembut kalung panjang itu. Merasakan tekstur berliannya.
“Saya ambil yang ini! Ini yang ambil saya, eh maksud saya, ini yang saya
ambil!” Tawanya kembali membahana.
Kesya tertawa geli melihat tingkah Madame Juliet. Ini juga sudah menjadi
sesuatu yang dihafal Kesya. Kalau sudah melihat perhiasan yang disukai, Madame
Juliet akan bertingkah linglung. Bicaranya tidak jelas dan dia selalu tertawa
terbahak-bahak. Persis seperti orang yang berada di bawah pengaruh alkohol. Tapi
Madame Juliet mabuk karena pengaruh perhiasan. Jewelholic!
Kesya tersenyum penuh kemenangan. Karyanya berhasil terjual lagi!
“Terima kasih, Madame...,” ujar Kesya sambil tersenyum manis saat Madame
Juliet beranjak keluar dari tokonya.
Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Wah sudah setengah
lima, ujarnya dalam hati. Berarti sebentar lagi Jansen akan datang. Lebih baik dia
bersiap-siap dulu.
Kesya masuk ke ruang kerjanya. Ruangan itu cukup besar dan, tentu saja,
nyaman sekali. Selain meja kerja dengan penerangan cahaya yang baik, Kesya juga
menempatkan sofa untuk tamu-tamu istimewanya. Selain itu, masih ada lagi cermin
besar, agar tamu-tamunya dapat langsung mematut-matut diri mereka dengan
perhiasan rancangan Kesya.
Kesya berjalan mendekati cermin besar itu. Hari ini dia mengenakan atasan
warna pink dan celana panjang ungu tua. Dipolesnya lipstik yang sudah mulai
memudar. Dari laci meja kerjanya, dia mengeluarkan seuntai kalung mutiara lalu
mengenakannya.
Hmm... penampilannya cukup oke. Jansen pasti akan gugup setengah mati
melihat penampilannya ini. Kesya tersenyum kecil membayangkan reaksi Jansen.
“Maaf, kalau Anda belum buat janji, Anda tidak boleh langsung masuk...”
Tiba-tiba terdengar suara gaduh Mona dari balik pintu.
“Saya bilang...”
Dan suara Mona tenggelam, hilang digantikan oleh sosok menjulang. Dahi
Kesya berkerut. Marco! Lagi? Bener-bener deh vampir satu ini! Sekarang sosoknya
menghantui ruang kerja Kesya juga!
Mona masih berusaha menghalang-halangi Marco. Dia tidak mau disemprot
Kesya lagi.
“Pak, saya mohon dengan sangat. Bu Kesya sedang tidak ingin diganggu,” ujar
Mona dengan suara setegas dan seprofesional mungkin.
Kesya jadi geli sendiri mendengar nada tegas dalam suara Mona. Repot juga ya
pekerjaan Mona. Apalagi kalau bertemu engan orang keras kepala seperti Marco.
“Mona, biarkan saja,” ujar Kesya.
Dahi Mona berkerut, namun kemudian dia menepi, memberi jalan masuk untuk
Marco.
Marco tersenyum manis ke arah Mona. Dan, walaupun masih kesal, Mona
membalas juga senyum maut Marco.
Marco masuk, dan menutup pintu di belakangnya.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Kesya. Dia tidak merasa perlu menanyakan lagi
dari mana Marco tahu tempat kerjanya. Dia juga tidak mempersilakan Marco
duduk. Dia masih marah teringat insiden gelas pribadinya tadi pagi.
“Kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir. Ingin lihat-lihat gimana tempat
kerja kamu.” Marco mengedarkan pandangan ke arah ruang kerja Kesya, lalu
tersenyum kecil.
Sedang menilaikah?
Sampai saat ini Kesya tidak tahu apa yang dikerjakan Marco. Saat ini Marco juga
membawa-bawa kamera digitalnya.
“Bu Kesya...” Kepala Mona menyembul dari balik pintu. “Pak Jansen datang.”
Keysa melirik ke pergelangan tangannya. Jam lima. Jansen memang selalu tepat
waktu.
“Aku mau keluar,” ujar Kesya singkat kepada Marco.
“Aku boleh ikut?” tanya Marco.
“Tidak, tentu saja,” jawab Kesya sambil mengernyit. Ini kan acara nge-date, masa
harus bawa-bawa orang lain?
“Jansen itu pacar kamu, ya?” tanya Marco tidak menyerah.
“Bukan urusan kamu!” Kesya beranja keluar. Marco mengekor.
Jansen sedang duduk dan memandangi etalase yang bertabur perhiasan, namun
dia segera berdiri begitu melihat Kesya.
“Ha... hai, Kesya,” sapanya gugup.
Kesya bisa mendengarkan karyawannya tertawa kecil melihat tingkah Jansen.
“Hai,” balas Kesya sambil tersenyum. Hal itu tambah membuat Jansen gugup.
Entah bagaimana sepatunya terlepas dari kakinya saat dia berjalan mendekati
Kesya!
Jansen tertawa salah tingkah sambil mengenakan kembali sepatunya.
“Kamu... kamu sudah siap?”
Kesya mengangguk. “Yuk, kita pergi.”
“Hai, Jansen.”
Kesya, yang sudah setengah jalan ke arah Jansen, jadi berhenti mendadak. Itu
suara Marco. Makhluk satu ini rasanya tidak akan pernah berhenti mengganggunya.
Jansen memperhatikan sosok Marco. Tadi dia tidak menyadari sosok Marco
berada di belakang Kesya. Seluruh perhatiannya hanya terpusat pada Kesya.
“Hai...,” jawab Jansen bingung, merasa tidak mengenal laki-laki tinggi ini.
“Marco.” Marco mengulurkan tangan dengan penuh percaya diri. “Saya teman
Kesya. Baru datang dari Singapura. Kata Kesya, kalian akan pergi, ya?”
Kesya memandang Marco dengan tatapan siap melumat laki-laki itu.
Jansen mengangguk dengan gelisah. “Kami mau nonton konser musik La
Rouge.”
“Boleh ikut? Saya juga suka sekali dengan La Rouge,” ujar Marco sambil
tersenyum mantap.
Wah, ini benar-benar tidak lucu! Tidak mungkin Marco mau ikut date-nya
Kesya!
Marco masih menatap Jansen. Alisnya bertaut. Kesan tegas yang halus kentara
sekali di sana. Kesya menatap Jansen, ingin tahu bagaimana tanggapan laki-laki itu.
Jansen gelisah. Bola matanya berpindah-pindah ke kiri dan kanan. Berkali-kali dia
membasahi bibir.
“Ehm... ya... ya sudah ikut saja kalau begitu. Aku... aku punya dua tiket kok...”
Hah? Rasanya isi perut Kesya anjlok semuanya. Dia tidak percaya reaksi Jansen.
Masa dia merelakan laki-laki yang belum lima menit dikenalnya ikut acara date-nya?
Kesya melirik tajam ke arah Marco, si biang kerok. Tapi Marco hanya
tersenyum. Senyum penuh percaya diri khas Marco. Senyum yang sampai sekarang
masih tampak seksi di mata Kesya.
Hei, hei, hei! Stop right now!
* * *
Dua puluh menit kemudian, dengan hati dongkol bukan main, Kesya duduk satu
meja dengan Marco sementara Jansen sibuk dengan kameranya.
Kenapa jadi begini? rutuk Kesya dalam hati. Seharusnya Jansen yang duduk satu
meja dengannya. Sama-sama mendengarkan musik romantis yang dibawakan band La
Rouge. Kenapa sekarang jadi aku yang duduk sama-sama laki-laki ini?
Suasana di kafe tempat La Rouge manggung agak remang-remang. Kesya dan
Marco duduk di meja bulat dengan diterangi cahaya lilin yang bergoyang-goyang
tertiup angin. Kesya memperhatikan Jansen yang masih sibuk memotret. Dahi
Jansen berkerut-kerut sementara dia memperhatikan hasil bidikannya. Kesya
tersenyum sendiri. Jansen begitu mencintai pekerjaannya, selalu serius dengan
pekerjaannya, dan Kesya suka sekali itu.
Kesya mendengus lagi.
Lagu-lagu La Rouge, suasana kafe, lilin kecil di atas meja bundar... semuanya
menciptakan atmosfer yang amat sangat romantis. Kesya tambah menyesal karena
yang duduk bersamanya adalah Marco, bukan Jansen. Tadinya dia berharap Jansen
akan menyatakan cintanya dan mereka akan menjadi sepasang kekasih...
“Sudah lama kenal dia?” suara Marco tiba-tiba membuyarkan lamunan Kesya.
Gara-gara makhluk serupa vampir ini semua impiannya buyar! Apa di zaman
sekarang orang juga sudah tidak boleh bermimpi, ya?
“Sudah lama kenal dia?” Merasa tidak direspons, Marco mengulangi
pertanyaannya.
“Sudah,” jawab Kesya singkat.
“Kenal di mana?”
“Di pameran.”
“Pameran apa?”
“Pameran perhiasan.”
“Sudah berapa lama de...”
“Ssshhhtttt!” Kesya memotong ucapan Marco. Seperti interograsi petugas
pemerintah kalau mau bikin paspor saja!
Marco tersenyum dan kembali memperhatikan La Rouge. Dia mengeluarkan
sebatang rokok dan menyalakannya. Kesya mendelik. Oh no, seharusnya tadi dia
minta tempat duduk di bagian no smoking! Dia memandang Marco dengan gusar.
Marco tampak tidak peduli dengan kegusaran Kesya. Dia mengisap rokoknya
dalam-dalam dan mengembuskan asapnya ke atas.
“Kamu cantik sekali malam ini...,” ujar Marco pantang menyerah. “Kamu spesial
berdandan untuk pergi sama dia, ya?”
Kesya menggeram kesal. Masih berani juga Marco menggodanya.
Marco menoleh, memperhatikan ekspresi wajah Kesya.
“Kalau aku yang mengajak kamu pergi, apa kamu akan berdandan secantik ini
juga?” tanyanya sambil tersenyum. Kelihatan jelas senyum itu senyum iseng untuk
menggoda Kesya.
Kesya terdiam. Belum sempat dia menjawab pertanyaan itu, Jansen sudah
mengempaskan tubuhnya di bangku kosong sebelah Kesya.
“Selesai juga...,” ujar Jansen sambil memperhtaikan hasil bidikan kameranya.
“Bagus-bagus?” tanya Kesya.
“Apanya?” tanya Jansen dengan dahi mengernyit.
“Foto-fotonya?”
“Foto-foto apa ya?” tanya Jansen lagi.
“Lho, bukannya kamu baru saja selesai foto La Rouge?” sekarang Kesya juga
ikut bingung. Marco memperhatikan percakapan itu dengan senyum geli.
“Oh... oh iya... aku... aku lupa.” Jansen tersenyum gugup. “Bagus nih... Kamu...
kamu mau lihat?” Jansen menyodorkan kameranya ke arah Kesya. Kesya
merapatkan tubuhnya ke arah Jansen.
Pranngg...!
Dengan gugup, Jansen buru-buru berdiri. Gelas di meja bundar itu tersenggol
jatuh olehnya dan pecah.
“Maaf... maaf...,” ujarnya penuh sesal.
Marco tertawa pelan.
Kesya memandang sebal ke arah Marco. Berani-beraninya dia menertawai
Jansen!
“Kita... kita pulang saja yuk...” Jansen beranjak dari duduknya.
Kesya mengikuti dengan kecewa. Buyar sudah harapannya akan kencan
romantis dengan Jansen. Kursi Marco bergeser dan Marco juga ikut berdiri.
“An... Anda mau pulang juga?” tanya Jansen.
Marco mengangguk.
“Yuk, Jansen!” Kesya menggandeng tangan Jansen. Tindakan itu membuat
Jansen terlonjak kaget. Kameranya tergelincir dari pundaknya dan dengan sigap
ditangkap oleh Marco.
“Hati-hati ya... Ini kan kamera mahal.” Marco mengembalikan kamera Jansen.
Jansen tertawa gugup. “Eh... oh... iya... Te... terima kasih ya.”
Kesya tidak berkomentar. Dia kembali menarik tangan Jansen. Tanpa berkata
apa-apa, Kesya dan Jansen keluar dari kafe dan berlalu pergi.
Marco juga keluar dari kafe dan memanggil taksi. Sepanjang perjalanan pulang,
dia merenung. Berpikir....
6
“SI Kesya itu... menurutmu dia itu gadis yang bagaimana?”
Alo dan Marco saat ini sedang berada di Groom‟s Bestfriend, sedang fitting jas
buat Alo juga buat Marco.
“Kenapa kamu tanya-tanya?” Alo memperhatikan Marco dari cermin.
Marco menautkan alis. “Cuma ingin tahu lebih banyak tentang bridesmaid-nya
Cecil.”
Alo tersenyum kecil. Bayangan Kesya—temannya dan Cecil ketika SMA—
berkelebatan dalam benaknya. “Kesya itu gadis yang sangat manis. Dia selalu ada
untuk menolong siapa saja. Terkadang, sebegitu baiknya dia sampai sering
dimanfaatkan orang lain. Aku sering marah sama Cecil karena terlalu sering minta
tolong sama Kesya. Tapi, Kesya sendiri tidak pernah marah sama Cecil, walau aku
tahu dia kesal sekali...”
Marco ikut tersenyum juga. “Ya, dia memang gadis yang lucu.”
Alo berbalik menatap Marco. “You don’t...” dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Alo menatap curiga ke arah Marco.
Senyum Marco bertambah lebar. Matanya bersinar penuh makna.
“Hmmm... boleh juga. Bridesmaid with bestman...” Alo terkekeh.
Marco ikut terkekeh.
“Tahu soal si Jansen?” tanya Marco setelah tawanya mereda.
Alo menggeleng. “Kurang... Yang aku tahu, Cecil sangat tidak suka pada Jansen.
Menurut Cecil, Jansen laki-laki yang tidak tepat untuk Kesya. Aku sendiri belum
pernah lihat yang namanya Jansen.”
Marco mengangguk-angguk.
* * *
Dahi Kesya berdenyut-denyut. Dia sedang duduk di ruang kerjanya. Di
hadapannya, Finna duduk sambil mengoceh panjang lebar. Sejak peristiwa
bantingan telepon dulu, rupanya Finna nekat datang langsung ke ruang kerja Kesya.
“Wah... kamu lumayan juga ya, Kesh. Tapi masih kurang sih kalau dibandingin
Tania Smith, temanku di Amerika. Dia itu perancang perhiasan yang ngetop banget.
Perhiasan rancangannya sering dipake J-Lo lho!”
Sudah dua jam lebih Finna mengoceh tidak keruan seperti itu. Katanya sih dia
ingin membicarakan dekorasi pelaminan Cecil. Entah bagaimana dia mendapat
kesan bahwa Cecil memercayakan tugas penting itu kepadanya.
Kesya memejamkan mata, berusaha meredakan amarah yang perlahan-lahan
naik ke ubun-ubunnya.
“Jadi sekarang kamu ngapain ke sini?” tanyanya dengan suara penuh kendali.
“Ups, ya... sori... Aku jadi lupa...” Finna tersenyum, memamerkan giginya yang
besar-besar. Rambut keritingnya bergoyang-goyang heboh saat dia tertawa. Kesya
bergidik ngeri melihatnya.
“Ini lho, Kesya...” Finna mengeluarkan beberapa gulungan kertas dari dalam
tasnya. Dia menyingkirkan gambar rancangan perhiasan Kesya (Hei!!!) dari atas
meja dan membentangkan gulungan kertasnya.
Kesya memperhatikan apa yang berada di balik gulungan kertas tersebut.
“Nah, ini rancangan pelaminan Cecil yang aku buat. Di sini kita akan taruh
kertas krep warna-warni, di sebelah sana kita akan pakai balon-balon, lalu kita juga
bisa taruh bunga-bunga plastik kecil-kecil di sini...”
Kesya memejamkan mata lagi. Kertas krep warna-warni? Balon? Bunga-bunga
plasti kecil? Apa-apaan sih ini? Memang dia pikir perkawinan Cecil itu pesta ulang
tahun anak-anak? Kenapa tidak sekalian undang badut pesta saja?
“Fin...” Kesya berusaha mengatur volume suaranya. “Ini tuh pesta pernikahan,
bukan...”
“Aku tahu ini pesta pernikahan, makanya aku buat seperti ini. Di Amerika lagi
ngetop lho rancangan pelaminan seperti ini...”
Dengan kertas krep warna-warni? Balon? Bunga-bunga plastik? Yang bener?
Kesya berusaha tersenyum. “Kalau begitu, biar kita bicarakan dengan Cecil dulu
ya...”
“Tapi kata Cecil, dia memercayakan dekorasi pelaminannya kepada kita
berdua,” potong Finna keras kepala.
“Tetap saja. Yang menikah itu Cecil, jadi dia harus tahu seperti apa rancangan
dekorasi pelaminannya.”
End of discussion.
Suara dering di ponsel Kesya membuat Finna, yang mulai protes, terdiam.
“Halo...”
“Kesya, dia ada di sana?” itu suara Cecil. Kesya sudah tahu siapa “dia” yang
dimaksud Cecil.
“Sudah dari dua jam yang lalu,” jawab Kesya menekan amarahnya.
“Kalau dia tetep masih nekat mau dekor pelaminanku, ajak dia ke decoration
artist-nya aja.”
“Dia mau?”
“Bujuk dia deh...”
“Kenapa harus aku yang bujuk dia?”
“Pleasseee...”
Kesya menarik napas panjang. Dia paling tidak bis amenolak permintaan yang
diikuti dengan bunyi please panjang seperti ini.
“Ya udah, aku coba deh.”
“Love you, you’re the best... Mmuaah...!” Suara Cecil langsung ceria dan lega.
Kesya meletakkan ponselnya dan menatap Finna. “Kata Cecil, kita harus
berkonsultasi dengan decoration artist-nya.”
Mata Finna membulat. “Decoration artist apa? Aku decoration artist-nya! Cecil kan
sudah memercayakan semuanya kepadaku. Kamu pasti bohong!
Lho?
Kesya mengembuskan napas, kali ini lebih kencang. “Coba saja kamu telepon
Cecil.”
Finna langsung menghubungi Cecil. Sambil menekan-nekan nomor pada
ponselnya, mulutnya bergumam kesal.
“Halo, Cecil, kok kamu suruh aku ke decoration artist? Aku kan yang akan
mendekor pelaminanmu?”
Kesya berusaha menajamkan pendengarannya, namun tidak satu pun perkataan
Cecil dapat didengarnya. Cecil dan Finna berbicara lama sekali. Selama
pembicaraan, tampak dahi Finna mengernyit secara dramatis. Beberapa waktu
kemudian, Finna mengakhiri pembicaraan dengan wajah tidak puas.
“So?” Kesya mengangkat alisnya.
Tampang Finna jutek abis. Dia langsung ngomel-ngomel dengan suara tinggi.
“Aku nggak ngerti deh sama Cecil! Aku kan decoration artist-nya, jadi seharusnya
aku yang merancang dekorasi pestanya! Lagi pula...”
“Jadi Cecil bilang apa?” potong Kesya tidak sabar.
Finna mendengus kesal. “Kita harus bicarakan rencana dekornya dengan
decoration artist.” Suaranya terdengar amat sangat tidak puas.
“Kita jalan sekarang.” Kesya langsung beranjak bangun.
* * *
Pak James, si decoration artist, adalah orang yang sangat sabar. Sudah empat jam
lebih dia duduk di hadapan Finna dan Kesya, mendengarkan semua ide Finna yang
sangat amat menggelikan. Tidak sekali pun dia terlihat kesal atau tidak sabar. Kesya
jadi takjub melihat kesabarannya. Mungkin Pak James sudah sering mendapat klien
yang ajaib. Padahal Kesya sendiri sudah berulang kali menekan amarah melihat ideide
rancangan Finna yang semuanya aneh. Sepertinya wajahnya sudah berubahubah
warna, dari ungu jadi hijau bahkan jadi merah juga, dalam usahanya menahan
emosi.
“Jadi, kalau yang saya tangkap, Finna ingin dekorasi pesta yang sangat
berkesan?” tanya Pak James perlahan.
“Iya... Itu yang coba saya jelaskan dari tadi. Pesta Cecil ini bukan pesta mainmain,
semuanya harus berjalan dengan sempurna. Saya tidak mau pestanya norak,
kampungan. Pesta ini harus jadi pesta yang diingat sepanjang masa,” celoteh Finna.
Kesya mendengus kecil, teringat akan ide dekorasi yang dibuat Finna. Balon dan
kertas krep. Itu baru yang dinamakan pesta norak dan kampungan!
Pak James memperlihatkan beberapa dekorasi yang telah dirancangnya. Finna
memperhatikan semuanya dengan cepat lalu menggeleng-geleng dramatis.
“Nggak cocok! Semuanya nggak cocok!” ujarnya sambil melemparkan
rancangan dekorasi Pak James.
Dahi Pak James berkerut. Kalau sejak tadi dia tampak sangat sabar, kini
wajahnya menyiratkan sakit hati.
“Mungkin ada saran lain dari Pak James...,” Kesya buru-buru menengahi. walau
dia bete banget sama Finna, dia tidak mau melihat pertumpahan darah antara Finna
dan Pak James. Ralat, dia tidak mau sampai Pak James ngambek dan menolak
menangani dekorasi pelaminan Cecil.
Kalau Finna sih... bodo amat deh!
Pak James menarik napas, tampak berusaha mengendalikan diri.
“Kalau saya bisa bantu, Cecil itu orangnya drama queen. Dia aktif, ceria, dan
selalu ingin jadi pusat perhatian. Sedangkan Alo laki-laki yang sangat matang.
Orangnya tenang dan penuh kendali,” jelas Kesya. “Apa Pak James bisa mengirangira
rancangan dekorasi seperti apa yang cocok bagi mereka?”
“Boleh juga dengan bunga asli yang berwarna pastel. Untuk menampilkan
kepribadian si mempelai pria.” Pak James mengangguk-angguk. “Lalu untuk
mempelai wanita yang aktif dan drama queen...”
“Bagaimana kalau ditambahkan kristal Swarovski? Cecil suka sekali kristal...,”
usul Kesya.
Mata Pak James berbinar. “Bagus sekali. Perpaduan antara bunga berwarna
pastel dan kilau kristal. Pasti akan cantik sekali!” katanya bersemangat.
Kesya tersenyum dan melirik Finna. Finna sedang cemberut. Tampak kesal
karena tidak dilibatkan dalam diskusi mereka.
“Hmm... Finna, menurut kamu gimana?” tanya Kesya, berusaha melibatkan
Finna dalam pembicaraan ini.
“Ya terserah kamu aja deh!” balasnya ketus.
Kesya tidak memedulikan balasan Finna yang ketus. “Kalau begitu, apa Pak
James bisa merancang dekorasinya?”
Pak James mengangguk-angguk penuh semangat. “Saat ini saya sudah bisa
membayangkan gambaran kasarnya. Nanti setelah saya gambar, akan saya e-mail ke
Kesya ya.”
“Baik kalau begitu. Terima kasih banyak, Pak James...”
Semuanya berjalan sangat lancar. Tinggal Finna yang manyun karena tidak
dilibatkan dalam diskusi akhir. Tapi Kesya tidak peduli. Cukup sudah ide-ide norak
dan kampungan yang ditawarkannya. Kesya tidak mau Finna merusak pesta Cecil.
Dia akan mengerahkan segala daya upayanya untuk menghalangi hal itu terjadi.
* * *
Ketika Kesya pulang, DeeDee sedang duduk di sofa ruang tamu dan mencoret-coret
selembar kertas di hadapannya.
“Hai, Kesh!” sapa DeeDee.
“Lagi ngapain kamu?” Kesya menjulurkan kepala, melihat apa yang sedang
dilakukan DeeDee di atas lembar kertasnya.
“Ini...” DeeDee menyingkirkan tangannya dari kertas. Memperlihatkan gambar
kasar sebuah cincin. “Lagi ada ide.”
Kesya mengangguk-angguk.
“Menurut kamu gimana?” tanya DeeDee.
Mata Kesya menyipit. “Di sini bisa ditambahin hiasan lagi. Biar nggak terlalu
sepi,” ujarnya menunjuk bagian kanan cincin.
DeeDee mengangguk. “Itu yang aku pikirin dari tadi. Cuma belum kepikiran aja
hiasan yang cocok...”
“Motif kebalikannya aja dari yang kiri. Kayaknya oke tuh...”
Mata DeeDee membesar. Dia mengangguk-angguk penuh semangat. “Iya juga
ya. Thanks, Kesh!”
Kesya tersenyum membalas antusiasme DeeDee, kemudian masuk ke
kamarnya. Bunyi tanda e-mail masuk membuat Kesya mendekati komputernya.
Rupanya, rancangan Pak James sudah jadi. Kesya membuka file yang diberikan
dan membelalak tidak percaya. Rancangannya indah sekali! Pak James benar-benar
bisa menerjemahkan sebuah ide menjadi rancangan yang sangat indah.
Buru-buru dia mem-print rancangan itu. Sekarang juga dia akan mengantarkannya
ke tempat Cecil.
Kesya keluar lagi dari kamarnya.
“Mau ke mana lagi, Kesh?” tanya DeeDee.
“Aku mau ke rumah Cecil. Mau kasih lihat rancangan dekorasi pestanya,”
jawabnya sambil menunjukkan kertas rancangan yang baru di-print.
Kesya membuka pintu apartemen. Tepat di apartemen sebelah, Marco tampak
baru akan masuk ke apartemennya.
“Hai, Kesh...,” sapanya. Langkahnya tertahan melihat kehadiran Kesya.
Kesya tersenyum. “Hai!” Keindahan rancangan Pak James membuat hati Kesya
sangat senang. Dia sampai lupa bersikap jutek pada Marco.
“Mau ke mana?” tanya Marco.
“Ke rumah Cecil. Mau ngasih lihat rancangan dekorasi ruangan untuk acara
resepsi nanti,” balasnya sambil tersenyum. Dia menunjukkan rancangan yang sudah
di-print-nya. Rancangan yang indah itu.
“Aku ikut ya...”
“Ngapain?”
“Aku kan bestman, jadi aku harus terlibat juga dong dengan segala urusan
pernikahan ini.”
Kesya tidak punya pilihan lain selain mengangguk.
Ketika sampai di rumah Cecil, orangtua Cecil yang menyambut mereka.
Katanya, Cecil baru saja pulang dan sedang mandi. Kesya, Marco, dan kedua
orangtua Cecil duduk di ruang tamu.
“Jadi, ini toh bestman-nya Alo...” Tante Renata, mama Cecil, memandang Marco
dengan tatapan menilai.
“Iya, Tante. Saya Marco.” Marco mengangguk sopan. Pembawaannya sangat
penuh percaya diri. Kesya mendengus. Kapan sih cowok ini tidak penuh percaya
diri?
Tante Renata senyum-senyum sendiri. Tatapannya beralih kepada Kesya, lalu
kembali lagi ke Marco, kemudian kembali lagi kepada Kesya. Hati Kesya langsung
waspada. Dia sudah sangat mengenal tabiat Tante Renata. Maklum... dia dan Cecil
sduah bersahabat sejak TK. Kalau sudah senyum-senyum begitu biasanya sebentar
lagi akan meluncur ide konyol dari mulut Tante Renata. Well, setidaknya konyol
menurut orang lain. Tante Renata sendiri akan sangat serius dengan ide-idenya.
“Kenapa kalian nggak sekalian jadian aja? Siapa tahu nanti bisa langsung
menyusul Cecil dan Alo...”
Tuuuh kan benar! Tidak tahu dari mana datangnya ide super-duper-konyol itu?
Kesya langsung salah tingkah, tidak tahu bagaimana harus merespons. Didengarnya
Marco tertawa kecil di sampingnya.
“Maunya sih begitu, Tante,” respons Marco dengan kurang ajarnya.
What?! Siapa yang mau jadian sama dia?
“Saya juga sedang berusaha. Doakan saya ya,” sambung Marco lagi.
Tante Renata mengangguk-angguk. Oom Balgi, papa Cecil, juga ikut mengangguk-
angguk. Keduanya tersenyum mendukung usaha Marco.
Kesya tidak suka dengan suasana ini. Tante Renata dan Oom Balgi harus tahu
bahwa Kesya sedang menjalin hubungan dengan Jansen. Yah, setidaknya berharap
untuk menjalin hubungan dengan Jansen.
“Oom, Tante... sebetulnya saya...”
“Kesya, Marco!”
Di saat seperti ini, Cecil memanggil mereka. Timing yang sangat tidak tepat,
Cecilia!
Kesya tidak menggubris panggilan Cecil dan masih berusaha menjelaskan
duduk perkaranya kepada mama dan papa Cecil. “Jadi sebetulnya...”
“Kesya!” suara Cecil terdengar tidak sabar.
“Ayo, Sayang...” Marco menarik lengan Kesya dengan lembut.
Kesya menatapnya dan menggeram. Di belakangnya, dia dapat merasakan
Tante Renata dan Oom Balgi saling sikut sambil diam-diam tersenyum.
“Apa-apaan sih kamu?” sembur Kesya ketika mereka sudah berada dalam
kamar Cecil. Marco hanya tersenyum dengan wajah polos.
“Kenapa sih kamu selalu bermasalah sama Marco? Kalian kan harus akur,
setidaknya sampai acara pernikahanku selesai.” Dahi Cecil mengernyit.
“Dia yang kurang ajar duluan. Bertingkah seolah-olah kami lagi pedekate!”
Kesya pasang tampang sejutek-juteknya.
Cecil tersenyum. “Aku sih setuju kalau kalian emang jadian. Marco jauh lebih
bak dibandingkan Jansen.”
Senyum Marco tambah lebar. Senang karena Cecil berada di pihaknya.
Sementara Kesya tampak seperti mau pingsan. Dia mendengus kesal, “Capek deh
ngomong sama orang-orang nggak waras!”
Dia meraih tasnya dan mengeluarkan kertas yang berisi rancangan dekorasi
ruangan dari Pak James.
“Udah deh, nggak usah ngomongin hal yang bisa bikin aku marah! Aku ke sini
mau ngasih liat ini! Kalau Marco ke sini cuma ikut-ikutan aja!” cibirnya kepada
Marco.
“Ooh...” Napas Cecil tertahan begitu melihat rancangan itu. “Bagus banget,
Kesh... Swarovski, lagi...”
“Ini hasil perdebatan panjang dengan Finna,” kata Kesya. Ingat Finna, dia ingat
juga bahwa dia belum memberitahu makhluk satu itu tentang rancangan dekorasi
ini.
“Finna? Siapa Finna?” Marco bingung.
“You don’t want to know...” Kesya geleng-geleng kepala.
Cecil tersenyum kecil. “Finna itu sepupu jauhku. Dia baru pulang dari Amerika
dan katanya di sana dia jadi wedding organizer profesional. Jadi dia mendaulat dirinya
sendiri untuk jadi wedding organizer untuk pestaku,” jelasnya.
“Masa dia tadi ngusulin dekorasi pesta kamu pakai kertas krep dan balon
warna-warni? Bisa bayangin nggak?” Kesya masih bete banget teringat perdebatan
panjangnya tadi siang. “Dan dia juga nggak sopan banget sama Pak James ini.
Untung aja Pak James nggak marah, malah bikin rancangan dekorasi yang bagus
banget...”
Cecil kembali menatap rancangan dekorasinya. “Bener-bener bagus deh! Aku
harus kasih tau Alo dulu.” Dia menyambar ponselnya dan langsung menghubungi
Alo.
Sementara Cecil bercerita tentang dekorasi pestanya kepada Alo, Kesya melihatlihat
ke sekeliling kamar Cecil. Dulu, dia sering banget menginap di kamar Cecil.
Tapi itu sudah lama sekali. Seingat Kesya, terakhir kali dia menginap di rumah Cecil
saat mereka berdua duduk di bangku SMA. Setelah itu dia pergi ke Jepang untuk
kuliah di sana, dan sepulangnya dari Jepang kesibukan kerja yang tidak ada
habisnya membuat mereka jarang melakukan acara menginap lagi.
Kesya menyambar si Bebe, boneka beruang Cecil yang sering dipinjamnya
untuk tidur kalau dia menginap. Marco memperhatikan Kesya sambil tersenyum
kecil. Kesya, merasa diperhatikan, jadi tersipu sendiri. Tiba-tiba matanya tertumbuk
pada kotak warna pink yang diletakkan di atas meja kerja Cecil. Dia meraba tutup
kotak itu. Kotak cantik dengan detail pita yang manis. Foto Cecil dan Alo ditempel
di atas tutup kotak tersebut.
Kesya ingat kotak ini. Ceritanya, dulu dia dan Cecil menyediakan kotak khusus
untuk menyimpan semua kenangan dengan pacar masing-masing. Baik itu kartu
Valentine, kartu Natal, kartu ulang tahun, puisi-puisi cinta, bon-bon restoran, atau
karcis nonton bareng, semuanya disimpan di sana. Kotak Kesya sendiri sudah entah
ke mana. Hubungan cintanya memang tidak pernah awet. Berbeda sekali dengan
hubungan cinta Alo-Cecil. Walau kotak ini sudah sering kali disimpan di gudang
dan kemudian dikeluarkan lagi, lalu disimpan lagi—karena Cecil dan Alo sering
sekali putus-sambung—toh akhirnya kotak itu menempati singgasananya lagi di
atas meja kerja Cecil.
“Liat apa sih?” Cecil menepuk bahu Kesya.
“Aku pinjam ini ya...” Kesya mengangkat kotak itu.
“Buat?”
“Buat ide rancangan cincin pernikahan kalian...”
Cecil tersenyum. “Jangan rusak ya...”
“Pasti dong,” Kesya balas tersenyum. “Alo bilang apa?”
“Dia sih oke aja. Semua keputusan diserahkan ke aku kok.”
Saat mereka pamit dari rumah Cecil, lagi-lagi mama Cecil memperhatikan
Marco dan Kesya sambil senyum-senyum. Namun, kali ini Marco tidak berani lagi
menggoda. Takut Kesya ngambek lagi.
* * *
Sampai di apartemennya, Kesya langsung membuka kotak Cecil.
“Apa tuh?” tanya DeeDee.
“Ini kotak khusus Cecil-Alo.”
Perlahan-lahan, Kesya mengeluarkan isi kotak itu. Ada foto pertama Cecil dan
Alo. Kesya ingat, dialah juru kameranya. Foto itu dibuat seminggu setelah Alo dan
Cecil resmi pacaran, sepuluh tahun yang lalu. Mereka masih sama-sama
mengenakan seragam SMA. Lalu ada juga kartu-kartu dan puisi-puisi cinta yang
ditulis Alo untuk Cecil. Kesya tertawa sendiri melihat itu semua. Alo benar-benar
sayang Cecil. Isi kotak ini mencerminkan semuanya.
“Alo itu romantis, ya?” DeeDee, yang memperhatikan dari samping, ikut
berkomentar.
Kesya mengangguk. “Dia juga sabar sekali menghadapi tingkah laku Cecil yang
suka meledak-ledak. Dia memang paling cocok buat Cecil, walaupun sudah sering
diputusin berkali-kali oleh Cecil. Tau sendiri kan, Cecil orangnya impulsif banget.
Alo tetap saja balik lagi sama Cecil. Mereka memang sudah soulmate.”
DeeDee mendesah pelan, “Kapan ya aku ketemu soulmate-ku?”
Pikiran Kesya mengelana jauh. Mendengar kata soulmate, Kesya jadi teringat
dirinya sendiri. Di usia yang sudah 26 tahun ini dia juga belum menemukan
soulmate-nya. Siapa ya kira-kira yang akan jadi soulmate-nya?
Bayangan seorang laki-laki tinggi dengan senyum seksi memesona terpeta jelas
di benaknya.
Dia? Soulmate-nya?
Kesya menggeleng keras. Tidak mungkin Marco bisa jadi soulmate-nya.
Walau mati-matian menyangkal pikirannya, tak urung jantung Kesya berdebar
juga...
7
MARCO menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Dia seorang perancang taman
dan sekarang sedang merancang sebuah taman kota. Taman kota yang ramah
lingkungan. Taman kota tempat berkumpulnya anak-anak, remaja, dan para orang
tua. Marco menghentikan pekerjaannya dan menggerakkan lehernya yang terasa
kaku. Direbahkannya kepalanya di sandaran kursi. Matanya tertumbuk pada kotak
rokok di samping sketsanya. Disambarnya kotak rokok itu, lalu dia beranjak ke
balkon apartemen.
Langit gelap sekali dan di kejauhan tampak satu bintang yang bersinar redup.
Marco menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya.
Dia memperhatikan bintang yang bersinar redup itu. Dampak dari polusi
udara! Marco tertawa kecil. Sungguh ironis. Dia sedang mengisap sebatang rokok—
yang menyebabkan polusi udara—sementara benaknya mengutuk polusi udara
yang menyebabkan bintang-bintang tidak bersinar cerah lagi.
Marco kembali mengisap rokoknya dalam-dalam. Sebenarnya dia sudah lama
ingin berhenti merokok, namun entah kenapa tidak juga dapat terlaksana.
Ingat rokok, dia teringat Joanelle. Gadis yang luar biasa cantik, juga gadis yang
luar biasa membuatnya patah hati. Karena kisah cinta yang kandas itulah, Marco
mulai merokok. Sebenarnya dia tahu rokok tidak akan menghilangkan rasa gundah
di hatinya. Rokok hanyalah pelarian sesaat. Tapi... memang sulit untuk berhenti dari
kebiasaan buruk ini.
Marco lagi-lagi mengisap rokoknya. Entah dari mana datangnya, sosok wajah
Kesya terbayang. Kemarin, saat dia ke balkon untuk merokok, kebetulan Kesya juga
sedang berada di balkon apartemennya. Karena balkon mereka bersebelahan, Kesya
dapat melihat Marco yang sedang mengembuskan asap mematikan dari mulutnya.
Kesya mendelik marah.
“Egois!!!” begitu katanya.
Marco berpaling dan mengernyit memandangnya.
“Kalian perokok adalah orang-orang egois! Selain merugikan diri sendiri, kalian juga
merugikan orang lain!”
Marco hanya tersenyum dan berbalik masuk ke apartemennya.
Marco tersenyum sendiri mengingat percakapan singkat itu. Dia selalu
merasakan sesuatu yang hangat dalam hatinya saat dekat dengan Kesya. Entah
mengapa, gadis itu menghadirkan getar-getar aneh di relung hatinya. Walau sampai
sekarang Kesya tidak menunjukkan sikap ramah terhadapnya, Marco tahu Kesya
juga mengalami perasaan yang sama dengan dirinya. Dia yakin sekali bahwa dia
dapat memenangkan Kesya dari Jansen.
Marco menoleh ketika mendengar suara pintu balkon sebelah dibuka. Dia
menjulurkan kepalanya. Melihat siapa yang keluar dari balkon sebelah. Kesya atau
DeeDee?
Sosok Kesya keluar dengan mengenakan mantel kamar. Rambut panjangnya
berkibar dipermainkan angin. Kesya merapatkan mantel kamarnya. Tampak
berusaha menghalau dingin malam itu. Satu tangannya memegang gelas kesayangannya.
Uap panas mengepul dari gelas itu.
“Halo...,” sapa Marco. Asap rokok mengembus dari mulutnya.
Kesya terkesiap. “Marco!” tegurnya. “Ngapain kamu? Bikin aku kaget aja!”
Marco tersenyum kecil. “Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, lalu ke
balkon...”
“Merokok lagi?” sindir Kesya. Tangannya menggerakkan sendok mengaduk isi
gelasnya.
Marco mengangguk, tersenyum kecil melihat reaksi Kesya.
“Nggak baik lho merokok terus. Cobalah untuk hidup sehat...”
Suara Kesya terdengar berbeda. Sepertinya Marco menangkap getar perhatian
pada nada suara itu. Benarkah?
“Iya deh... Aku janji, suatu saat nanti aku pasti berhenti.” Marco berbalik, ingin
masuk ke apartemennya. “By the way...,” dia berbalik ke arah Kesya, “thanks ya buat
perhatiannya.” Dia tersenyum lembut.
Dada Kesya berdebar kencang. Apa maksud perkataan Marco tadi? Dan
mengapa senyumnya begitu lembut?
Bodoh!
Mengapa juga dia memperlihatkan perhatian berlebih kepada laki-laki tukang
tebar pesona itu?
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Kesya membawa gelas susu cokelatnya masuk dan mengempaskan diri di sofa.
Tangannya meraih remote dan menyalakan televisi, sekadar mengusir rasa sepi.
Di atas meja tergeletak sebuah majalah wanita yang belum sempat dibaca Kesya.
Tanpa tujuan, Kesya membuka-buka majalah itu. Di sebuah halaman iklan, Kesya
melihat gambar seorang anak perempuan sedang duduk di sebuah ayunan.
Matanya terpaku pada gambar ayunan. Pikirannya kembali ke kenangan masa
kecilnya. Dia sangat suka ayunan. Impiannya saat ini adalah memiliki ranjang
gantung, seperti ayunan. Namun, sampai sekarang impian itu belum juga
terlaksana....
* * *
“Ini semuanya, Kesh...,” DeeDee mengakhiri penjelasannya. Kesya menugasi
DeeDee untuk menangani salah seorang kliennya, seorang perancang busana yang
ingin menggunakan perhiasan Kesya untuk pergelaran busananya. DeeDee baru
saja memberikan laporan singkat tentang perhiasan apa saja yang dipilih si
perancang busana itu.
“Jadi, kapan pergelaran busananya?” tanya Kesya.
“Dua minggu lagi.”
“Semua dokumennya sudah lengkap? Asuransinya? Lalu orang yang
ditugaskan untuk menjaga perhiasanku?”
“Sudah beres semua.” DeeDee mengangguk mantap. Biarpun sehari-hari dia
orang yang agak sembrono, tapi kalau urusan pekerjaan—apalagi bekerja sama
dengan Kesya—DeeDee tidak akan main-main.
“Oke, kalau begitu. Kamu tetap pantau ya...”
“Oke, Bos!” DeeDee memberi hormat gaya militer lalu melenggang keluar.
Kesya tersenyum kecil memperhatikan sosok Deedee yang menghilang, lalu
meneruskan kegiatannya sebelum DeeDee datang.
Krriingggggg...
Bunyi telepon mengalihkan perhatian Kesya.
“Halo...”
“Kesya... jam tiga nanti temani aku ke Bride‟s World ya.”
Kesya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jadi hari ini udah
mau pesen gaun pengantinnya? It’s about time sih. Memang udah seharusnya kamu
udah pesen gaun pengantin.”
Cecil tertawa kecil. “Iya... makanya aku mau minta saran kamu lagi.”
“Saran?” alis Kesya terangkat. “Memang kamu mau dengar saranku? Waktu
kemarin kita ke Bride‟s World aja, kamu nyobain dua puluh tujuh gaun pengantin
tanpa ada satu pun yang kamu suka. Padahal aku udah kasih buanyaaakkkk sekali
saran buat kamu.”
Tawa Cecil tambah kencang. “Iya deh. Kali ini aku pasti akan dengerin kamu.
Eh, omong-omong, kamu lagi ngapain?”
Kesya menatap kertas corat-coret di hadapannya. “Lagi ngerancang cincin
kawin kalian.”
“Really?” Suara Cecil terdengar bersemangat sekali. “Kalau begitu, nanti
sekalian bawa rancangannya ya! Aku mau lihat!”
“Sori, nggak bisa. Rancangannya belum jadi, dan kamu nggak boleh ngintip apa
pun sebelum rancangannya benar-benar sempurna!”
“Apaan sih, Kesh? Kok pake serius gitu? Aku jadi deg-degan nih dengernya...,”
kata Cecil dengan nada meluap-luap.
Kesya tertawa kecil.
“Iya deh. Aku nggak mau ngerusak rahasia kamu. Oke, sampai ketemu nanti
jam tiga ya! Aku tunggu kamu di Bride‟s World.”
Kesya meletakkan teleponnya dan kembali melanjutkan rancangannya. Cincin
kawin Alo dan Cecil benar-benar dirancangnya dengan cermat. Semalaman dia
melihat-lihat semua kenangan Alo dan Cecil dari kotak khusus mereka. Berkat kotak
khusus itu, Kesya mendapat ide cincin yang sangat bagus. Kedua cincin itu
merupakan jalinan emas yang tidak terputus. Yah... walaupun selama pacaran ALo
dan Cecil sering sekali putus-sambung, Kesya berharap pernikahan ini untuk
selamanya. Bukankah memang begitu seharusnya hakikat sebuah pernikahan?
Abadi. Satu untuk selamanya.
Kesya kembali menatap rancangan cincin Alo dan Cecil. Cincin ini haruslah
melambangkan pribadi Alo dan Cecil. Pada badan cincin, Kesya merancang butiranbutiran
berlian kecil yang jumlahnya cukup banyak. Letaknya rapat-rapat, dan
kalau sekilas dilihat, butiran-butiran berlian itu tampak seperti sparkling pada
sampanye. Butiran-butiran sparkling sampanye itu melambangkan kepribadian Cecil
yang selalu bersinar dan ingin jadi pusat perhatian. Sedangkan warna cincin yang
dibuat lembut mencerminkan kepribadian Alo yang tenang. Kesya tersenyum puas
menatap hasil rancangannya.
“Permisi, Bu Kesya...” Kepala Mona menyembul dari balik pintu.
“Ya.” Kesya tersenyum lebar. Pekerjaannya telah selesai dan dia merasa puas
sekali.
“Ini ada Pak Jansen.”
Kesya langsung bangun dari duduknya.
Jansen. Sepertinya sudah lama dia tidak bertemu Jansen. Kesya mengingatingat,
kapan terakhir kali mereka bertemu? Waktu konser La Rouge, hmm... berarti
kira-kira tiga minggu yang lalu. Selama itu tidak ada kontak apa pun. Anehnya,
Kesya tidak merasakan apa pun.
Kesya menghela napas. Apakah rasa itu sudah hilang? Entahlah...
“Hai...,” sapa Kesya.
Jansen yang sedang memperhatikan perhiasan dari balik etalase, langsung
berbalik dengan kikuk.
“Haaiii... Kesya...,” sapanya sambil tersenyum gugup.
“Ayo masuk ke ruang kerjaku.” Kesya tidak ingin kegugupan Jansen menjadi
bahan tertawaan anak buahnya.
Jansen mengikutinya.
Kreeekkk...
Kesya menoleh mendengar suara itu. Di belakangnya, tampak Jansen berdiri
dengan aneh. Entah bagaimana, sebelah kakinya tersangkut pada kaki kursi tempat
dia duduk tadi. Kesya mendengar tawa tertahan para anak buahnya. Jansen
menatap Kesya salah tingkah dan lagi-lagi tersenyum gugup.
“Duduk yuk...” Kesya berusaha terdengar santai. Semoga Jansen juga bisa lebih
santai.
Jansen duduk diikuti Kesya.
“Aku... kita... udah lama nggak ketemuan....” Jansen meremas-remas tangannya.
Kesya memperhatikan semua gerak-gerik Jansen. Tingkah lakunya penuh
kegugupan. Tampak sangat tidak percaya diri.
Mata Kesya menerawang. Tanpa sadar, ia kembali membandingkan Jansen
dengan Marco. Perilaku kikuk dan gugup Jansen berbeda sekali dengan perilaku
penuh percaya diri Marco. Kesya tidak pernah melihat Marco nervous sedikit pun.
Rasa percaya diri seolah terpancar begitu kuat dari setiap pori-pori tubuhnya.
“Jadi... aku... aku mau ajak kamu keluar untuk makan siang...”
Kesya melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi jam dua belas,
memang sudah waktunya makan siang. Baiklah, setelah itu dia akan segera
menemui Cecil.
Kesya beranjak bangun. “Oke,” katanya.
Jansen terlihat bingung. “Kamu mau ke mana, Kesh?”
“Lho... katanya tadi mau ngajak makan siang?”
Jansen tersenyum gugup. “Oh iya... Ayo kita pergi...”
Iih... lama-lama il-fil juga deh dengan gaya Jansen!
Kesya menggeleng cepat, berusaha mengusir il-fil yang baru saja dirasakan. Ini
kan Jansen, laki-laki yang dia sukai. Dia kan sudah menetapkan hati bahwa jansen
adalah yang terbaik untuknya. Seharusnya dia berbahagia dengan ajakan Jansen ini.
Siapa tahu dalam acara kali ini Jansen akan mengutarakan isi hatinya. Isi hatinya
yang sesungguhnya.
Jansen mengajak Kesya makan siang di sebuah kafe. Suasana kafe yang remangremang
berhasil membangun kesan romantis yang ingin ditunjukkan Jansen.
Selesai makan, Jansen mengelap mulutnya juga kedua tangannya. Berulang kali
dia mengganti-ganti posisi duduknya.
Kesya memperhatikannya dalam diam. Entah apa yang berkecamuk dalam
pikiran Jansen.
“Hmm... Kesya yang ayu...,” Jansen memulai.
“Hmm?” Kesya menunggu.
“Aku... kita... sudah cukup lama kenal ya...” Jansen meremas tangannya.
Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Kesya. Kesya merasakan kedua
tangan Jansen bergetar hebat.
“Aaaaku...,” Jansen menarik napas panjang, “aku cin... cinta kamu. Dan aku
ingin kita serius pacaran.”
Suasana tiba-tiba terasa hening.
Kesya tertegun.
Tidak ada gegap gempita, sorak-sorai, tebaran confetti, atau tabuhan fanfare
dalam hatinya. Hatinya terasa biasa-biasa saja. Semua itu tidak dirasakannya.
Padahal entah sudah berapa kali Kesya menanti-nantikan momen ini.
Entah apa yang dirasakannya kini. Kesya sendiri juga bingung.
“Aku...,” ujar Kesya, tergagap.
Jansen menunggu.
“Aku...” Kesya memalingkan wajah. Tidak tahan melihat tatapan memohon di
wajah Jansen. “Aku tidak tahu.”
“Tidak tahu? Mak... maksud kamu?” Alis Jansen bertaut. Ruwet sekali.
Kesya menghela napas. “Aku tidak tahu. Aku harus memikirkan semua ini.
Aku... minta waktu.”
Jansen tampak akan pingsan, tubuhnya bergetar hebat. Namun, tampak sekali
dia berusaha mengendalikan dirinya. “I... iya... aku akan memberi kamu waktu.
Sebanyak... sebanyak yang kamu perlukan, Kesya yang ayu.”
* * *
Kesya disambut oleh Anita saat tiba di Bride‟s World.
“Cecil sudah datang?” tanyanya.
Anita menggeleng. “Kata Mbak Cecil, Mbak Kesya boleh lihat-lihat baju
bridesmaid dulu.”
Kesya mengangguk. Bukankah bridesmaid akan mengenakan baju yang mirip
dengan baju mempelai wanita? Kalau begitu dia harus menunggu baju pilihan Cecil
dulu.
“Hai, Kesya sayang...” Seorang wanita berpakaian sari—pakaian khas wanita
India—berwarna pink terang datang menghampiri Kesya. Wanita itu juga memakai
hiasan rambut dan perhiasan ala India, lengkap dengan celak hitam di mata dan
bindh warna merah di dahi. Tangannya juga digambar mehindi dengan motif bunga.
Kesya memandang takjub wanita ini.
Ini kan... Madame Daphne?
“Ha... hai, Madame.”
Kesya berusaha menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Di belakangnya,
dia dapat mendengar Anita terkikik pelan. Tampaknya Anita sudah cukup maklum
dengan kelakuan bosnya yang agak ajaib. Lain halnya dengan Kesya. Kesya terkejut
melihat penampilan Madame Daphne. Terakhir dia bertemu dengan perancang
busana pengantin itu, si madame berpakaian ala gadis Gipsi. Sekarang dia
berpakaian ala gadis India. Entah apa lagi yang akan dikenakannya pada pertemuan
berikutnya.
Seakan kejutan itu juga belum cukup, tiba-tiba Cecil masuk diikuti oleh... Finna!
Dahi Kesya berkerut. Dia? tanyanya tanpa suara.
Cecil mengangguk pasrah. Wajahnya kusut sekali. Sepertinya dia baru saja
bertarung habis-habisan dengan keinginannya untuk melumat habis sosok Finna.
Sementara itu, Finna sedang beramah-ramah dengan Madame Daphne, tentu saja
dengan menggunakan suara sengaunya.
“Wah... tempat ini... lumayan... Hanya lumayan,” ujar Finna, memberikan
penekanan berlebihan pada kata “lumayan”. Dia mengedarkan pandangan.
Tingkahnya persis seperti agen properti yang sedang menilai suatu tempat. “Ini
belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tempat wedding organizer saya di
Amerika sana.” Kali ini nadanya terdengar sangat melecehkan. Finna tertawa
sengau.
Madame Daphne mengernyit tidak suka. Tentu saja! Siapa yang suka dilecehkan
seperti itu?
Dada Cecil turun-naik, pertanda bahwa dia sedang berusaha keras
mengendalikan amarahnya. Kesya menahan lengan Cecil dan menggeleng pelan.
Dia tidak mau terjadi pertumpahan darah di antara dua wanita dewasa, yah,
seorang wanita dewasa dengan seorang wanita yang sangat tidak dewasa, di sini.
“Madame Daphne...,” panggil Kesya dengan sopan.
Madame Daphne masih memandang dengan tatapan tidak suka ke arah Finna
sebelum berpaling ke arah Kesya. Senyumnya mengembang tipis sekali.
“Boleh kami langsung melihat rancangan gaun pengantin terbaru Anda?”
Senyum Madame Daphne bertambah lebar. Dia langsung merangkul Cecil dan
Kesya ke ruang berikutnya. Tidak dipedulikannya Finna. Diperlakukan seperti itu,
Finna langsung mengentak-entakkan kaki, namun lagi-lagi tidak ada yang
memedulikannya.
“Saya dengar, Madame juga mencoba merancang gaun malam, ya?” Kesya
mengalihkan perhatian Madame Daphne.
Madame Daphne tersenyum. “Benar sekali.”
“saya melihat hasil rancangan Madame di majalah, dan semuanya bagusbagus...”
Madame Daphne tersenyum lebih lebar lagi. Dia membuka sebuah lemari
berukuran besar, tempat menyimpan rancangan gaun pengantin terbarunya. Dia
merentangkan tangan dengan bangga, memperlihatkan semua gaun pengantin
rancangannya, seolah gaun-gaun itu adalah bayi-bayi yang sangat cantik.
“Ini rancangan saya yang terbaru...” Tangannya terentang, mempersilakan Cecil
untuk memilih gaun pengantin yang cocok untuknya.
Cecil meraba semua gaun pengantin itu. Mencari tahu gaun pengantin mana
yang berjodoh dengannya.
“Mau coba yang ini?” Madame Daphne mengeluarkan sebuah gaun. Gaun itu
bergemeresik pelan saat berpindah ke tangan Cecil.
“Saya coba dulu ya,” jawab Cecil.
“Anita, tolong bantu Cecil,” pinta Madame Daphne.
Anita mengangguk dan mengikuti Cecil ke dalam kamar ganti.
Beberapa saat kemudian, Cecil keluar dari kamar ganti. Dia berputar-putar di
depan Kesya dan Madame Daphne.
“Gimana? Gimana?” tanya Cecil bersemangat.
Gaun itu tampak sederhana, terbuat dari bahan brokat dengan motif bunga.
Bahan brokatnya tidak terlihat berat, malah tampak memeluk mesra tubuh Cecil.
Potongan lehernya yang berbentuk V tampak rendah. Di bagian pinggirnya ada pita
warna pink dari bahan satin. Di tengah pita itu tersemat sebuah bros berbentuk
bunga. Keseluruhan gaun itu memang terlihat sederhana, tapi juga sangat elegan.
“Simple, but yet so elegant,” puji Kesya.
Finna terdengar mendengus. Tidak ada yang memedulikannya. Dia mendengus
lebih keras. Lagi-lagi tidak ada yang memedulikannya.
“Aku rasa gaun ini cocok untuk pemberkatan di gereja,” komentar Cecil.
Kesya menghela napas lega. Sepertinya pemilihan gaun pengantin kali ini tidak
akan berlangsung selama yang pertama.
“Sekarang aku butuh gaun untuk resepsinya...” Tubuh Cecil memutar, kembali
menghadap ke jajaran gaun yang indah memesona. Dia kembali meraba gaun-gaun
pengantin rancangan Madame Daphne.
“Ini rancangan yang paling saya suka...” Madame Daphne mengeluarkan
sebuah gaun dengan sangat hati-hati.
Napas Cecil tertahan. Tatapannya sarat kekaguman. Dia masuk ke kamar ganti
diikuti oleh Anita.
Saat Cecil keluar dari kamar ganti, seolah ada cahaya yang menyorot dan hanya
menyinarinya seorang. Dan gaunnya? Gaun itu menyatu dengan indah pada tubuh
Cecil. Setiap helai kainnya melekuk sempurna, membentuk sebuah siluet yang
membuat semua mata sulit berpaling dari Cecil. Berbentuk bustier yang seksi, bagian
bawahnya menyempit, menampilkan lekuk tubuh Cecil, kemudian ujungnya
melebar membentuk ekor gaun yang dramatis. Bagian bawahnya dihiasi rendarenda
kecil dengan desain yang sangat manis. Seluruh gaun dihiasi payet yang
berkilauan. Setiap kali Cecil bergerak, payet itu memantulkan cahaya lampu
sehingga Cecil tampak bersinar cemerlang. Kesya yakin seratus persen, payet-payet
berkilauan itu pasti membuat Cecil jatuh cinta setengah mati.
Perlahan, Cecil meraba gaun itu. Dia bergerak mengamati tubuhnya dalam
balutan gaun pengantin. Sekujur tubuhnya berkelap-kelip heboh. Cecil tersenyum
lebar. Binar kekaguman terpancar kuat dari matanya.
“So beautiful, Cil...,” bisik Kesya. Cecil hanya mengangguk, terlalu gembira
untuk dapat berkata-kata.
Cecil menatap Kesya. Dalam hati Kesya tertawa, baru kali ini Cecil terdiam
cukup lama. Biasanya sahabatnya itu tidak pernah diam lebih dari lima detik.
“You look like a queen...,” puji Kesya tulus. “Your Majesty...” Kesya membungkuk
hormat, seolah yang berdiri di hadapannya adalah seorang ratu mahaagung.
Cecil tertawa. Dia berpaling kepada Madame Daphne. “Saya ambil yang ini
juga,” ujarnya mantap.
“Wait!” Sebuah suara mengejutkan mereka.
Finna!
Mereka lupa sama sekali pada wanita itu! Dan wanita itu tidak suka dilupakan
begitu saja!
“Masa kamu langsung deal begitu saja sih, Cil? Tanpa melihat gaun-gaun
lainnya? Lagian menurutku gaun itu ngak cocok banget sama kamu! Nggak sesuai
dengan kepribadian kamu!” Finna masih terus nyerocos. “Menurutku, kamu lebih
cocok kalau pakai gaun dengan model seperti ini...” Dia menyodorkan kertas yang
entah dari mana telah berada di tangannya.
Cecil menatap gambar itu, Kesya mengintip dari balik bahu Cecil.
Gaun model apa itu? Entah dari mana Finna mendapatkan potongan gambar
itu. Itu gaun teraneh yang pernah dilihat Kesya. Gaun pilihan Finna sebenarnya
hanyalah gaun putih biasa. Yang membuat gaun itu terlihat aneh adalah di bagian
bawahnya terdapat gambar lidah-lidah api yang menjalar dengan hebatnya, terus
sampai ke bagian pinggung gaun! Dan lidah-lidah api itu berupa sablonan yang
kentara sekali tidak dikerjakan dengan teliti.
Kesya memejamkan mata, tidak mau lebih lama lagi menatap gaun itu. Entah
bagian mana dari gaun tersebut yang, menurut Finna, cocok untuk Cecil.
Memangnya Cecil Medusa, si wanita berambut ular yang tatapannya dapat
membuat orang berubah menjadi batu?
“Anda pasti bisa kan, membuat gaun seperti ini?” Finna berpaling menunjukkan
gambar tersebut kepada Madame Daphne.
Madame Daphne melirik gambar itu dan terkesiap. Raut wajahnya
menampilkan rasa sakit hati yang amat sangat.
“Hei!” Kain sari Madame Daphne bergemeresik saat dia berbalik menghadap
Finna. “Anda kira saya perancang kacangan, ya?” bentaknya. “Saya tidak
mengatakan bahwa gaun dalam gambar yang Anda bawa sama sekali tidak
menarik. Gaun tersebut pasti akan terlihat menarik sekali kalau Anda yang
mengenakannya! Tapi, jangan hina saya seperti ini. Gaun-gaun rancangan saya
adalah gaun-gaun yang berkelas. Tidak seperti dalam gambar ini!”
Madame Daphne berbalik pergi. Wajahnya? Duh, tidak dapat dilukiskan dengan
kata-kata. Asem banget!
“Madame...” Cecil buru-buru memanggilnya. Dia kerepotan karena masih
mengenakan gaun pengantin impiannya itu. Dia berbalik ke ruang ganti dan buruburu
melepas gaun itu.
“Kesh...,” panggil Cecil dengan putus asa. Kesya mengangguk paham. Dia
langsung mengejar Madame Daphne.
“Madame...,” panggil Kesya lembut.
Madame Daphne masih terus berjalan. Wajahnya masih tetap ditekuk. Sekarang,
selain asem, wajah itu tampak keras seperti batu!
“Madame Daphne... saya... kami minta maaf.” Kesya masih berusaha
mengimbangi jalan si madame. “Teman saya itu memang agak kasar. Saya harap
Madame tidak memedulikannya.”
Madame Daphne berpaling tiba-tiba. Sari-nya bergemeresik mengikuti
gerakannya.
“Saya sangat menyukai kalian berdua, kamu dan Cecil. Tapi saya sangat tidak
suka dengan perempuan mengerikan itu! Sejak awal dia telah membuat saya sakit
hati!” Suara Madame Daphne bergetar marah.
Yah... bukan cuma Madame Daphne yang sudah dibuat sakit hati oleh Finna, pikir
Kesya.
“Maafkan teman saya itu...,” kata Kesya merendah. Dia akan melakukan apa
saja untuk membuat hati Madame Daphne luluh.
Madame Daphne mendesah panjang, namun kesan keras dan asem di wajahnya
perlahan-lahan luruh. Senyum Kesya mengembang.
“Oke, saya maafkan dia.” Seulas senyum terbit di wajah Madame Daphne.
“Tapi, saya tidak mau dia ikut campur urusan gaun pengantin lagi!” sambungnya
dengan nada tegas.
Senyum Kesya bertambah lebar. Dia mengamit lengan Madame Daphne
kembali ke ruang gaun pengantin. Sambil berjalan, dia berdoa dalam hati semoga
Finna sudah tidak berada di sana.
Doanya terkabul. Entah siapa yang menghalaunya pergi, pokoknya Finna sudah
tidak berada di sana. Kesya bernapas lega. Yang ada di ruang gaun pengantin hanya
Cecil yang duduk dengan lesu dan Anita yang tidak tahu harus berbuat apa.
Begitu melihat Kesya dan Madame Daphne, Cecil langsung berdiri. Dia tidak
berkata-kata saking cemasnya. Senyum Kesya menghapus cemas di wajahnya.
“Jadi bagaimana?” tanya Madame Daphne, seolah tidak pernah terjadi insiden
apa pun sebelumnya. “Kamu jadi ambil gaun yang tadi?”
Cecil mengangguk kuat-kuat.
8
CECIL masih mengomel panjang lebar saat mereka sudah berada di mobil masingmasing.
Kesya membawa mobilnya sendiri, Cecil juga. Ngomelnya? Ya lewat
telepon!
“Nggak ngerti deh gimana jalan pikiran si Finna. Bisa-bisanya dia mengusulkan
aku memakai gaun pengantin mengerikan itu. Kamu liat sendiri kan, betapa
seremnya gaun itu?”
“Iya sih...,” ujar Kesya pelan. Jalar api yang terdapat pada gambar gaun itu
belum juga sirna dari bayangannya.
“Untung ada kamu, Kesh. Aku nggak tau gimana jadinya kalau kamu nggak
berhasil merayu Madame Daphne. I owe you really big!”
Kesya tersenyum. “I’m your bridesmaid...”
“Gimana kalau aku traktir kamu dinner? Tanda terima kasihku karena sudah
membereskan masalah Finna tadi?”
Kesya melirik jam tangannya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tujuh
malam.
“Dinner sounds great...,” jawabnya. “Di tempat yang biasa aja ya?”
“Oke,” jawab Cecil. “Aku harus tegas kali ini. Aku nggak mau lagi Finna bikin
onar di acaraku nanti. Aku harus bersikap benar-benar tegas sama dia!” Cecil masih
menyambung pembicaraan mereka tentang Finna.
Kesya tersenyum lagi. “Udah deh. Nggak usah marah-marah terus. Nanti
keriput lho...”
Cecil mengangguk meskipun Kesya tak bisa melihatnya. “Oh ya, aku belum
kabarin Alo soal gaun pengantinku. Aku telepon dia dulu ya...”
“Sekalian suruh dia dateng aja. Aku mau kasih liat rancangan cincin kalian.”
Mata Cecil membelalak. “Ya ampun! Aku lupa sama sekali soal cincin itu. Jadi,
rancangannya udah jadi?”
Kesya menjawab santai. “He-eh.”
“Sebentar ya, aku telepon Alo dulu...”
Kesya tidak mendengar apa-apa. Cecil menekan tombol hold sementara dia
menghubungi Alo. Tak lama kemudian Cecil kembali bicara dengan Kesya.
“Halo, Kesh...”
“Iya.”
“Kata Alo, kita dinner bareng aja. Aku, Alo, kamu, dan Marco...”
Kesya mengernyit. Dia tidak suka dengan urutan nama yang disebutkan Cecil.
Kesannya kok dirinya dan Marco berpasangan.
Mobil mereka masing-masing meluncur pelan. Tak lama kemudian mereka
sudah berada di dalam restoran. Alo dan Marco rupanya sudah sampai lebih dulu.
Mereka bangkit dari duduknya ketika Cecil dan Kesya tiba di meja.
“Hai, Sayang...” Cecil mengecup mesra pipi Alo sementara Alo mengusap
lembut pipi Cecil.
Kesya jadi jengah sendiri. Ada begitu banyak cinta bertebaran di sekitar Alo dan
Cecil. Dia duduk dengan kikuk di samping Marco.
“Hai, Kesh...,” sapa Marco. Kesya mengernyit. Sekilas dia mencium bau rokok
dari desah napas Marco.
“Abis ngerokok lagi, ya?” Kernyitan Kesya bertambah banyak.
Marco tersenyum. Dia buru-buru memasukkan permen mint ke dalam mulutnya
dan mengunyahnya dengan gaya berlebihan.
Kesya menampilkan ekspresi jijik di wajahnya.
Alo dan Cecil tersenyum melihat ulahnya.
“Kenapa sih kamu, Kesh?” tanya Alo lembut. “Marco is a very nice person lho.”
“Huhh...” Kesya mendengus pelan.
Acara dinner mereka berlalu tanpa insiden yang cukup berarti. Kecuali saat
tangan Kesya tidak sengaja memegang tangan Marco ketika mereka sama-sama
ingin mengambil kecap. Pemukul beduk di hati Kesya beraksi lagi. Kesya memaki
pelan. Mengutuki si pemukul beduk yang kurang ajar. Mukul beduk kok nggak
lihat tempat sih? Toh itu hanya tangan Marco. Tidak lebih. Marco sendiri hanya
tersenyum dan menarik tangannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Selama dinner berlangsung, Cecil tidak berhenti bercerita tentang insiden gaun
pengantinnya. Dia juga menceritakan secara detail tentang gaun pengantin yang
dipilihnya dan memaksa Alo datang ke Bride‟s World untuk memberikan penilaian
tentang gaun pengantinnya.
Setelah mereka semua selesai makan, Cecil memperbaiki duduknya.
“Nah, Kesh... kami mau liat rancangan cincin yang sudah kamu buat...” Cecil
tidak bisa menyembunyikan nada bersemangat dalam suaranya.
Kesya mengulum senyum. Dikeluarkannya buku sketsanya dari dalam tas.
“Ini...” Dia menunjuk gambar cincin yang tadi siang dibuatnya. Kesya menceritakan
detail-detail yang dibuatnya dalam gambar tersebut, sementara Alo dan Cecil
mendengarkan sambil berusaha memvisualisasikan gambar Kesya dalam benak
mereka.
Cecil mengangguk-angguk penuh semangat. Senyum lebar selalu menghiasi
wajahnya, sementara Alo memperhatikan antusiasme Cecil dengan senyum kecil.
“So... gimana?” Kesya mengakhiri presentasi singkatnya sambil berharap-harap
cemas. Bagaimanapun, Cecil dan Alo adalah customer-nya.
“Great!” Cecil buru-buru menjawab. “Aku suka banget detail champagne’s
sparkling-nya. Itu aku banget!”
Kesya tersenyum. Benar, kan?
“Yah, memang harganya akan sedikit lebih mahal karena champagne’s sparklingnya
berupa berlian-berlian kecil, kualitas terbaik tentu saja. Dan aku juga akan
meminta pengrajin emas yang khusus untuk membuat cincin kalian.”
“Itu sih nggak masalah,” sela Alo. “Apa aja yang dia suka...,” ujarnya lagi sambil
menatap Cecil.
Cecil tersenyum dan memeluk erat Alo.
“Tapi aku kurang begitu setuju kalau kamu membuatkan rancangan yang sama
untuk cincinku,” tambah Alo. “Bisa nggak kalau buat aku dibuat lebih simpel lagi?”
Kesya mengangguk. Dia memang sudah menyiapkan rancangan yang lebih
sederhana untuk Alo.
“Seperti ini maksud kamu?” Kesya menunjuk gambar cincin pada halaman
berikutnya. Rancangan yang sama dengan rancangan cincin Cecil, bedanya
berliannya hanya satu.
“Perfect,” ujar Alo mantap.
Kesya tertawa lebar.
“Marco, aku udah kasih kamu CD fotonya, kan?” Alo berpaling kepada Marco.
“Yep.” Marco menepuk-nepuk kantongnya.
“Oke kalau begitu. It’s a really exhausting day. Kita pulang aja ya...”
Mereka semua beranjak bangun.
Alo dan Cecil pulang dengan mobil masing-masing.
“Marco, kamu langsung pulang sama Kesya aja,” ujar Cecil.
Kesya melirik tajam ke arah Cecil, namun Cecil tidak melihatnya. Entah tidak
melihat atau pura-pura tidak melihatnya.
“Oke, Marco?” Alo berpaling meminta persetujuan Marco.
“No problem.”
Alo langsung beranjak pergi, masih dengan lengan yang digelayuti Cecil. Marco
langsung menggandeng tangan Kesya.
Hei! Kenapa nggak ada yang menanyakan pendapat Kesya?
Kesya mendengus kesal. Terpaksa dia harus berduaan saja dengan laki-laki
bernapas asbak ini!
Peugeot merah Kesya meluncur membelah malam yang sudah semakin larut.
Kali ini Marco menawarkan diri untuk menyetir. Kesya diam saja. Dia tidak wajib
beramah tamah dengan Marco.
“You’ve done a great job,” kalimat Marco memecahkan kesunyian di antara
mereka.
“Hmmm...” Hanya itu komentar Kesya.
“Rancangan kamu tadi benar-benar bagus...” Nada suara Marco terdengar lebih
lembut.
Diam-diam Kesya tersenyum. Sekelumit perasaan bangga membuncah di
dadanya.
* * *
Marco tercenung menatap foto-foto mesra pada laptopnya. Foto-foto Alo dan Cecil.
Marco berjanji untuk mengedit foto-foto tersebut. Rencananya nanti, ketika resepsi
pernikahan berlangsung, foto-foto tersebut akan ditampilkan pada sebuah layar
besar, agar semua tamu tahu perjalanan kisah cinta Alo dan Cecil.
Semua foto itu menggambarkan kisah cinta Alo dan Cecil. Ada foto saat mereka
masih mengenakan seragam SMA. Marco bahkan belum mengenal Alo saat itu.
Foto-foto tersebut seperti mengalami metamorfosis. Perlahan-lahan berubah
menunjukkan kedewasaan wajah Alo dan Cecil. Ada foto saat Alo dan Cecil
diplonco saat mahasiswa, lalu foto saat Cecil dan Alo sama-sama diwisuda, foto saat
Alo dan Cecil jalan-jalan bersama, juga foto-foto saat Cecil menemani Alo pertama
kali meeting besar di Malaysia.
Marco tersenyum getir. Will I have this kind of romance story? batinnya. Dia
teringat kisah cintanya yang membuat hatinya hancur lebur beberapa tahun silam.
Kisah cinta dengan Joanelle, gadis yang luar biasa cantik itu, gadis yang dipacarinya
selama dua tahun, gadis yang meninggalkannya mentah-mentah.
“Kenapa?” tanya Marco. Matanya merana menatap Joanelle.
“I need more. I want more.” Tatapan Joanelle keras. Tidak ada sorot kepedihan di
sana. “Sorry to say that.”
Dia lalu beranjak pergi dan naik ke sebuah Jaguar mewah. Milik pacar barunya, seorang
pengusaha beromzet miliaran.
Marco menghela napas. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyelipkannya
di bibir.
Tangannya bergerak, hendak mematikan laptopnya ketika dia melihat sebuah
file yang berjudul video. Rasa ingin tahunya menggerakkan tangannya untuk
membuka file itu.
Tampak adegan Alo dan Cecil sedang...
“Kamu selalu keras kepala,” ujar Alo. Nadanya tidak terdengar meninggi, tidak
seperti orang yang sedang marah. Tapi, bagi orang yang sudah mengenal Alo
dengan baik, esensi suaranya menandakan ada amarah yang bergejolak dalam
dirinya.
“Aku? KERAS KEPALA?”
Tidak diragukan lagi, ini suara Cecil. Tidak ada yang berani melawan Alo,
hanya Cecil yang berani.
Marco menahan senyumnya. Entah siapa yang berani merekam adegan ini.
“Kamu tuh maunya apa sih?” tanya Alo.
“Aku cuma mau kamu perhatiin aku!” bentak Cecil.
Alo menggeleng frustrasi. “Memangnya belum cukup perhatianku selama ini?”
Cecil menggeleng cepat. “Belum!” Cecil berpaling, wajahnya tepat menghadap
ke arah layar. “KESYA!” bentaknya. “Matikan handycam-nya!”
Sekarang yang terlihat adalah wajah Kesya, sedang tertawa cekikikan. Kesya
tampak beberapa tahun lebih muda.
“Hihihi.... ini adegan Alo dan Cecil sedang bertengkar,” bisik Kesya sambil
tersenyum jail. “Taruhan, sebentar lagi mereka pasti udah sayang-sayangan lagi...”
Sorotan handycam beralih lagi ke Alo dan Cecil yang kini semakin kencang
berteriak. Sebenarnya Cecil yang berteriak-teriak. Alo hanya memandangnya
frustrasi dan berkata beberapa patah kata. Alo kemudian memeluk erat Cecil. Tubuh
Cecil mengejang kemudian lunglai, seperti es batu yang mencair disapu hangatnya
sinar matahari, Cecil kemudian menangis.
Alo mencium pipi Cecil berulang kali.
“Sori deh, Sayang. Aku janji akan lebih merhatiin kamu lagi.” Walau diucapkan
cukup lembut, handycam dapat menangkap suara Alo. Cecil tidak menjawab, namun
tangisannya mereda.
Sorotan handycam kembali beralih ke Kesya. “Tuh kan bener...,” bisiknya, masih
terkikik. “Great job, Alo...” Kesya mengacungkan jempolnya ke arah handycam.
“KESYA!!!” Terdengar teriakan Cecil. Handycam buru-buru dimatikan dan
Marco tidak tahu lagi apa yang terjadi kemudian.
Tawa Marco meledak. Dia tidak menyangka akan melihat adegan yang seperti
itu. Adegan yang sangat intim, sangat hangat, dan bersahabat.
Marco melihat satu lagi file foto yang belum dibuka. Marco mengklik foto
tersebut dan layar laptopnya menampilkan foto Alo dan Cecil sedang mengapit
Kesya di tengah-tengah. Mereka merangkul erat Kesya. Kesya sendiri tersenyum
lebar.
* * *
Kesya, Cecil, Alo, dan Marco terguncang-guncang di dalam mobil Alo. Hari ini,
Kesya dan Marco diminta untuk menemani Alo dan Cecil foto pre-wed di daerah
Puncak. Entah kenapa Cecil begitu ngotot minta Kesya menemaninya. Padahal
Kesya malas banget. Alo dan Cecil pasti akan sibuk foto-foto dan hal itu akan
menyebabkan dia menghabiskan waktu bersama Marco. Berduaan saja. Kesya
curiga, jangan-jangan ini salah satu akal bulus Alo dan Cecil untuk mendekatkan
dirinya dengan Marco.
Kesya mengembuskan napas. Padahal dia ingin tidur sampai siang.
Pekerjaannya yang menumpuk, ditambah pekerjaan ekstranya menjadi bridesmaid
yang baik bagi Cecil, membuatnya sangat kurang tidur belakangan ini. Dia
memandang Marco yang asyik mengobrol dengan Cecil dan Alo. Kesya diam saja.
Dia sedang tidak ingin beramah-ramah dengan Alo, Cecil, apalagi dengan Marco!
“Kesh...,” panggil Cecil, meliriknya dari kaca depan mobil. “Kok diam aja sih?”
Kesya balas memandangnya. “Aku ngantuk. Kan aku udah bilang dari tadi aku
nggak mau ikut karena aku mau tidur.”
“Dasar sapi tukang tidur!” cela Cecil.
Kesya meninju bangku Cecil.
“Eh, omong-omong, kamu tau nggak siapa fotograferku?” kata Cecil tetap
antusias.
“Memangnya siapa?”
“Darius!” pekik Cecil.
“Darius?”
“Iya, Darius teman kita waktu masih Sma. Dia semangat banget waktu tau bakal
moto aku dan Alo. Dia juga seneng banget waktu aku bilang kamu juga ikut. Udah
lama banget kan, kita nggak ketemu dia?”
Kesya mengangguk. Darius, teman SMA mereka yang sejak dulu memang hobi
banget foto-foto. Darius juga rekan sekerja Jansen.
Ingan Jansen, Kesya teringat dia masih punya utang kepada lelaki itu. Kesya
memutar kembali ingatan saat Jansen menyatakan cintanya. Kembali berusaha
mencari-cari gegap gempita, sorak sorai, tebaran confetti, dan tabuhan fanfare dalam
hatinya. Dia tidak merasakan apa-apa. Kesya melirik Cecil. Cecil pasti senang banget
kalau Kesya cerita soal perasaannya yang kian memudar terhadap Jansen...
“Sudah sampai.” Alo mematikan mesin mobil dan keluar.
Kesya keluar dan mengernyit. Panas banget! Hmm... pantas! Mereka sedang
berada di tengah-tengah kebun teh.
Cecil langsung menggandeng tangan Alo dan berlari menghampiri Darius yang
tengah bersiap-siap. Seorang wanita, mungkin juru rias, buru-buru menggiring Cecil
duduk di bawah sebatang pohon. Juru rias itu langsung bekerja cepat, merias Cecil.
Alo tampak mengobrol dengan Darius, kemudian melambai ke arah Marco dan
Kesya.
Kesya balas melambai, tersenyum garing, dan menyeret langkahnya
menghampiri Alo dan Darius.
“Ini bridesmaid dan bestman-nya.” Alo memperkenalkan mereka. “Kamu masih
ingat Kesya, kan?”
Mata Darius terbelalak. “Ya ampun, Kesya! Sudah lama sekali kita nggak
ketemu!”
Kesya tersenyum melihat antusiasme Darius.
“Aku dengar, kamu lagi dekat dengan Jansen, ya?” lanjut Darius setelah
menyalami Marco.
Kesya merasakan tubuh Marco mengejang di sampingnya. Entah... mungkin
perasaannya saja. Sementara Alo hanya senyum-senyum tidak jelas. Kesya kembali
berkonsentrasi pada pertanyaan Darius.
“Hmmm... y... yah... begitu deh...,” sahut Kesya gugup.
Darius tersenyum. Dari raut wajahnya Kesya tahu bahwa responsnya aneh
sekali. Bodo ah! Benaknya. Dia tidak mau repot-repot mengklarifikasi responsnya
tadi.
“Hai! Aku cantik nggak?”
Tiba-tiba Cecil sudah berdiri di hadapan Kesya. Wajahnya sudah dirias. Tampak
cantik sekali. Dia juga sudah mengenakan gaun pengantin dengan potongan
sederhana. Cocok sekali untuk suasana perkebunan teh ini.
“Cantik banget, Sayang...” Alo memandang Cecil. Tatapannya lembut, namun
penuh pancaran cinta yang berapi-api.
“Alo, kamu ganti baju dulu aja,” ujar Darius. “Biar aku setting tempatnya dulu.”
Cecil berpaling kepada Kesya. “Kesh... tolong temenin Marco ya, sementara aku
dan Alo foto-foto,” pintanya.
Kesya mengangguk malas-malasan.
Selesai Alo berganti pakaian, mereka meninggalkan Kesya dan Marco berduaan.
Bingung juga harus berduaan saja dengan Marco. Kesya kemudian duduk di tanah
dan mengeluarkan notes kecilnya, buku idenya. Bersyukur sekali karena buku itu
masih sempat dia selipkan di dalam tasnya.
“Lagi ngapain?” Marco juga ikut duduk di sampingnya.
“Corat-coret aja,” sahut Kesya singkat.
“Rancangan baru?”
Kesya mengangguk tidak peduli.
Marco merebahkan tubuh di samping Kesya. Matanya terpejam.
Kesya masih terus sibuk mencorat-coret notes kecilnya. Waktu terus bergulir.
Sesekali terdengar tawa Cecil, Alo, dan Darius dari kejauhan. Tampaknya mereka
sangat menikmati sesi pemotretan kali ini dan tidak menyadari waktu yang terus
bergulir.
“Bosen nih...”
Kesya tersentak mendengar suara itu. Dia kira Marco tidur, tapi ternyata lakilaki
itu tiba-tiba bangun.
“Kamu bisa naik sepeda?” tanya Marco.
Kesya mengangguk pelan. Anggukan yang ragu-ragu. Sebenarnya dia tidak bisa
naik sepeda, namun dia gengsi mengakuinya di hadapan Marco.
“Tadi Alo bilang dia bawa sepeda lipatnya. Ada di bagasi. Kita putar-putar aja
yuk.”
Marco bangkit dan menggandeng tangan Kesya. Kesya langsung panik. Dengan
terburu-buru, dimasukkannya notesnya ke tas. Tersaruk-saruk dia mengikuti Marco.
Marco menggandeng Kesya mendekati Alo dan Cecil. Alo dan Cecil langsung
saling melempar senyum penuh makna saat melihat tangan Kesya dan Marco yang
bertaut. Kesya melepaskan genggaman tangan Marco. Kepalanya tertunduk,
sementara Marco hanya tersenyum.
Dug dug dug! Si pemukul bedug kurang ajar itu kembali beraksi!
“Alo, kami pinjam sepedanya ya. Mau putar-putar aja.”
Alo melemparkan kunci mobilnya. “Ambil aja sendiri. Ada dua tuh, tapi Kesya
kan nggak bisa naik sepeda...”
Marco tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Alo. Dan masih terus
terbahak-bahak saat mereka sudah berada di dekat mobil Alo.
“Memangnya kenapa kalau aku nggak bisa naik sepeda?” tanya Kesya ketus.
“Ya nggak apa-apa sih. Tapi kenapa tadi waktu aku tanya, kamu sok-sokan
bilang bisa naik sepeda? Gengsi?” Marco tersenyum menggoda.
Kesya mengangkat dagu tinggi-tinggi dan berjalan menjauh dari Marco.
Rasanya dia sudah berjalan jauh sekali ketika sebuah sepeda meluncur di
sebelahnya.
“Kesh... jangan marah dong,” bujuk Marco.
Kesya diam saja dan terus berjalan.
“Ayo naik sini...,” bujuk Marco lagi.
Kesya tetap tidak memedulikan Marco dan...
“Hhheiii!”
Kesya menjerit ketika sepasang tangan kokoh Marco merengkuh tubuhnya dan
mendudukkannya di besi melintang di depan sadel sepeda.
“Jangan keras kepala ya...” Marco menggeleng-geleng. Lagaknya seperti sedang
berbicara dengan anak balita. “Kamu harus nurut sama aku.”
Marco mengayuh sepedanya pelan. Kesya kesal, namun pemandangan indah
yang membentang di hadapannya menyurutkan rasa kesalnya. Lagi pula, berada
begitu dekat dengan Marco, begitu intim rasanya.
Dug dug dug dug dug! Si pemukul beduk beraksi lagi!
Kali ini Kesya tersenyum. Menyambut hangat si pemukul beduk. Lama-lama dia
menikmati juga irama tidak teratur si pemukul beduk.
Marco mengayuh sepedanya dengan santai.
“Lihat itu, Kesh...” Marco menunjuk dengan dagunya. “Sunset.”
Dan Kesya terpesona dengan pemandangan di hadapannya. Matahari surut
perlahan-lahan, kembali ke peraduannya. Marco menghentikan laju sepedanya dan
terpaku juga melihat keindahan alam tersebut. Keindahan alam yang alami, namun
sering kali terlupakan karena sibuknya aktivitas sehari-hari.
Selesai melihat sunset, mereka kemudian kembali ke lokasi pemotretan. Marco
mengembalikan sepeda lipat Alo ke dalam bagasi mobil. Tepat saat itu juga, Alo dan
Cecil menghampiri mereka. Rupanya mereka sudah selesai.
“Hai... having great time?” tanya Alo.
Tanpa sadar, Kesya mengangguk.
Senyum cerah di wajah Cecil menunjukkan bahwa Kesya terlalu antusias
merespons pertanyaan Alo. Kesya buru-buru mengembalikan posisi wajahnya ke
level “tidak terlalu antusias”.
Cecil menarik Alo dan berbisik-bisik di telinganya. Mata Kesya menyipit. Entah
apa lagi yang direncanakan si drama queen ini!
Alo menggeleng-geleng dan mengernyit memandang Cecil. Sebaliknya, Cecil
mengangguk kuat-kuat dan tersenyum lebar sekali!
“Kesya, Marco...,” kata Cecil sangat antusias. “Sepertinya kita akan kemalaman,
jadikita menginap saja di sini. Toh hari ini weekend, besok Minggu, dan nggak ada
yang harus kerja.”
“Cecil! Kamu apa-apaan sih? Menginap tanpa rencana begini? Aku kan nggak
bawa baju ganti!”
Cecil tersenyum licik. “Aku bawa baju kamu. Ada di bagasi mobil,” ujarnya
penuh kemenangan.
DeeDee... Kesya mengumpat dalam hati.
“Marco?” Cecil berpaling kepada Marco.
“Aku sih nggak keberatan,” jawab Marco santai.
Dan demikianlah yang terjadi. Kesya kesal sekali dan masih terus marah-marah
saat dia dan Cecil sudah berada di kamar hotel mereka. Alo sekamar dengan Marco.
“Kamu tuh apa-apaan sih, Cil? Aku bilang nggak mau ikut, eh kamu malah
maksa aku nginap di sini. Tanpa rencana, lagi!”
Cecil tersenyum, tidak peduli dengan wajah kusut Kesya.
“Nggak apa-apa kok, sekali-sekali melakukan sesuatu tanpa rencana. Kan seru!”
balasnya sambil melenggang masuk ke kamar mandi. Cecil menutup rapat pintu
kamar mandi. Kesya jadi berhenti marah-marah. Percuma dia marah-marah
sekarang. Cecil sudah menutup pintu, jadi jelas dia tidak akan mendengar omelan
Kesya.
Kesya beranjak ke teras kamar. Dengan pasrah dinikmatinya embusan udara
yang semakin dingin. Dan dia tersentak saat melihat sosok tinggi di teras
sebelahnya. Sosok itu berasap!
Hiiyy!
“Kesya, ngapain di luar?”
Kesya tersedak. Sesaat dia sempat lupa bernapas. Ternyata sosok tinggi berasap
itu adalah Marco yang sedang merokok.
“Ihhh, Marco!” seru Kesya sambil mengernyit.
Marco buur-buru mematikan rokoknya. Kemudian dia mengeluarkan permen
mint dari dalam kantong celananya lalu mengunyahnya.
“Kamu benar-benar nggak suka sama smokers, ya?” tanya Marco lembut.
Kesya duduk, sejenak melupakan pertikaian mereka. “Aku punya teman baik
yang meninggal karena kanker paru-paru. Dia perokok berat. Sehari bisa
berbungkus-bungkus rokok habis diisapnya. Kasihan banget. Masa depannya hilang
karena nikotin.”
Marco tersenyum. “I never know that...,” ujarnya lembut.
“Makanya aku nggak suka sama perokok! Egois!” Kesya mencibir ke arah
Marco.
Marco tergelak. “Iya deh! Aku janji akan quit jadi smoker.” Tangannya terkepal
dan diletakkan melintang di dada.
Kesya tersenyum. Lagak Marco seperti kesatria yang bersumpah pada rajanya.
“Kesh?” panggil Cecil. Rambut keritingnya tampak basah. “Kamu mau mandi
nggak?”
Kesya menggeleng. “Nanti saja.”
“Kalau begitu, kita makan jagung bakar yuk.” Cecil berpaling ke arah Marco.
“Alo mana?”
“Yup, Sayang?” Alo keluar dari dalam kamar.
“Aku pengin makan jagung bakar nih. Tadi sepertinya aku lihat ada yang jualan
di depan hotel deh.”
“Boleh.” Alo tidak pernah menolak permintaan Cecil. “Kesya, Marco, kalian
mau ikut?”
Kesya menggeleng. “Aku mau makan di sini saja. Males mau keluar-keluar
lagi...”
“Kalau begitu aku juga di sini saja. Kalian enjoy aja,” Marco menanggapi.
Alo dan Cecil senyum-senyum lagi. Seharian ini mereka ramah sekali. Senyumsenyum
terus!
“Kamu mau makan apa, Kesh?” tanya Marco ketika Alo dan Cecil sudah berlalu.
“Mmm... liat di restoran hotel saja.”
“Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku ke kamarmu lewat pintu depan,” kata
Marco cepat, lalu menghilang dari teras kamar. Tak lama kemudian Marco sudah
muncul di ambang pintu kamar Kesya dan menghampiri gadis itu.
“Yuk, aku temani ke restoran...” Marco mengulurkan tangan. Kesya ragu-ragu,
namun kemudian menyambut uluran tangan Marco.
Dug dug dug dug! Si pemukul beduk beraksi lagi. Kali ini Kesya menyambut
hangat si pemukul beduk. Benar-benar menikmati suasana ini.
Namun... Blasss! Tiba-tiba lampu di seluruh hotel mati!
“Marco!” panggil Kesya panik. Dia paling tidak suka berada di kegelapan.
Tangannya menggenggam tangan Marco lebih erat lagi.
“Aku di sini.”
Kesya merasakan Marco mendekapnya. Tubuh Kesya menegang, lalu perlahanlahan
santai. Menikmati sensasi berada di pelukan hangat Marco.
“Lihat deh...” Kesya merasa Marco memegang dagunya, menuntun wajahnya
untuk menengadah. “Bintang. Banyak sekali...”
Kesya terperangah. Berjuta-juta bintang berkelap-kelip indah di langit malam.
Kesya tidak pernah melihat bintang sebanyak ini di langit Jakarta. Indah sekali!
Saat Kesya menoleh dan memandang Marco, di bawah sinar bulan dan cahaya
bintang, dilihatnya tatapan lelaki itu melembut.
“Kesh... may I kiss you?” tanya Marco pelan sambil merengkuh kepala Kesya.
Kesya mengangguk, lalu merasakan bibir Marco menyapu lembut bibirnya.
Desah napas Marco bercampur dengan aroma mint. Kesya membuka bibirnya,
memberi kesempatan pada Marco untuk menjelajah ke dalam relung hatinya. Marco
mencium Kesya dengan lembut. Tangannya merangkul erat pinggang Kesya.
Kesya memejamkan mata dan merasa pusing. Pusing yang menyenangkan. Di
dalam dadanya, bergemuruh sorak-sorai, gegap gempita, dan tabuhan fanfare.
Sekilas Kesya juga dapat melihat tebaran confetti, walaupun matanya terpejam rapat.
“Kesh... Kesya...,” panggil Marco lembut.
Kesya merasakan bibir Marco telah lepas dari bibirnya. Dia membuka mata.
“How was that?” tanya Marco sambil tersenyum nakal.
Kesya menjawabnya dengan senyuman, dan Marco menyambutnya dengan
sebuah ciuman yang panjang dan lama....
9
KETIKA mereka pulang keesokan harinya, DeeDee membukakan pintu apartemen
Kesya dengan raut wajah yang sulit ditebak.
“Ada apa?” tanya Kesya waspada.
DeeDee membuka pintu lebih lebar dan Kesya pun tahu apa yang membuat raut
wajah DeeDee seperti itu. Di sofa ruang tamu, Jansen duduk dengan gelisah.
“Dia sudah duduk begitu dari pagi,” bisik DeeDee.
Kesya menatap punggung Jansen dengan cemas. Dia melirik Marco sementara
Marco santai saja. Dia mengekor Kesya menemui Jansen.
“Jansen,” sapa Kesya pelan.
Jansen berpaling dan terkesiap melihat Kesya dan Marco. Tatapannya tajam,
menghunjam postur Marco yang tampak santai di belakang Kesya.
“Kesh... aku mau bicara dengan kamu...,” ujarnya gugup. “Berdua saja...”
Kesya menatap Marco. Marco mengangguk dan beranjak pergi.
Marco menemui DeeDee yang masih menunggu dengan gelisah di pintu masuk.
“Aku... aku lihat foto ini di meja kerja Darius kemarin malam.” Jansen
mengeluarkan beberapa lembar foto yang dicetak ukuran besar. Foto Kesya sedang
duduk di depan sadel, tertawa lebar, sementara Marco duduk di belakangnya.
Rambut Kesya tergerai lemas saat sepeda tampak meluncur menuruni jalan yang
melandai. Wajahnya sangat bahagia. Senyum di wajah Marco tidak kalah lebarnya.
Tampak sekali mereka sangat menikmati momen tersebut.
Di foto yang kedua, tampak Kesya masih duduk santai di atas sepeda. Satu kaki
Marco menapak, sementara tangannya di letakkan di bahu Kesya. Kali ini sepeda
terlihat berhenti. Mereka berdua sedang menatap kagum ke pemandangan sunset
yang indah.
Kesya terkesiap. Dia tampak cantik sekali di kedua foto itu. Biasanya, hanya
Jansen yang mampu membuat Kesya tampak cantik dalam foto. Ternyata bukan
fotografernya yang membuat Kesya tampak cantik, namun orang yang bersamanya,
yang berada di sisinya yang membuatnya tampak sangat cantik. Orang itu adalah...
Marco.
Jepret...!
Kesya mengedip. Bunyi itu mengejutkannya. Jansen mengeluarkan hasil
bidikannya dari kamera Polaroid-nya. Dia menatap foto itu dan tersenyum getir.
“Aku... aku tidak membuat kamu tampak ayu lagi di foto...,” ujarnya sambil
mengangsurkan foto hasil bidikannya kepada Kesya.
Kesya menatap foto itu, wajahnya tampak murung. Sinar-sinar yang biasanya
terlihat dari sekitar wajahnya sirna. Kesya mengangkat wajah dan menatap Jansen.
“Semua gara-gara... gara-gara laki-laki itu, kan?” tanya Jansen pelan.
“Maaf... aku...” Kesya terdiam. Tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
“Sudahlah...,” potong Jansen pilu. “Aku... aku mengerti kok, Kesya yang ayu.”
Jansen beranjak ke arah pintu. Kesya mengikutinya. Tiba-tiba Jansen berbalik
dan berjalan pelan mendekatinya. Wajahnya condong dan dekat sekali dengan
Kesya.
Kesya terkesiap. Dadanya berdebar. Bukan debar menyenangkan yang biasa dia
rasakan ketika bersama Marco. Ini debar yang membuatnya sungguh merasa tidak
nyaman. Kesya bergerak-gerak dengan gelisah sementara tubuh Jansen sudah
merapat ke arah tubuhnya.
“Mau apa kamu?” Marco tiba-tiba berdiri di sebelah mereka. Menatap tajam ke
arah Jansen. Nada suaranya tegas dan berat. Menyurutkan entah apa yang akan
dilakukan Jansen.
Marco mendorong Jansen, membentangkan jarak lebar antara tubuh Jansen dan
tubuh Kesya. “Kalau kamu memang mencintainya, perlakukan dia dengan sopan!”
Suara Marco memancarkan getar kemarahan di setiap katanya.
Jansen memandang Kesya dan Marco bergantian. Dia tersenyum getir.
“Rasanya... rasanya aku memang tidak memanfaatkan waktu yang kumiliki
dengan... sebaik-baiknya,” ujarnya tercekat.
Jansen kembali memandang Kesya. Kali ini tatapannya lama dan mendalam.
Kesya tidak beranjak dari sisi Marco. Lengan Marco melintang kokoh di
hadapan tubuh Kesya. Melindungi gadis itu dari segala bahaya yang mengancamnya.
Tangan Kesya menggamit erat lengan Marco. Mencari perlindungan dari
lengan kokoh itu. Posisi itu sudah sangat jelas bagi Jansen. Dia tahu dia sudah kalah
total!
“Aku... aku kalah. Kamu menang.” Dia menatap Marco. “Jaga dia baik-baik,”
ujarnya, kemudian beranjak dari apartemen Kesya.
* * *
“Jadi?” tanya DeeDee sambil tersenyum. “Gimana cerita lengkapnya?”
Siang itu, DeeDee memaksa Kesya untuk mentraktirnya makan siang sekaligus
menodongnya untuk menceritakan versi lengkap kisah jadiannya dengan Marco.
Wajah Kesya memerah. “Ya begitu aja. Pokoknya aku udah jadian sama dia.”
DeeDee cemberut. “Masa gitu aja? Nggak percaya!” Dia menggeleng keraskeras.
“Masa nggak ada romantis-romantisnya? Marco itu cowok paling romantis
lho!”
Wajah Kesya kembali memerah.
DeeDee tersenyum lebar, “Berarti sudah dong?”
Kesya mengangguk, menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Serius?” DeeDee melonjak dari duduknya. “Gimana rasanya?”
“Wonderful...,” bisik Kesya. Matanya berbinar mengingat kejadian sejuta bintang
Sabtu kemarin.
“Terus, kalian pakai gaya apa?”
Wajah Kesya berubah bingung. “Memang ciuman ada gayanya?” tanyanya
polos.
“Lho?” Wajah DeeDee juga sama bingungnya. “Jadi cuma kissing doang?”
Kesya mengangguk. “Memang maksud kamu apa?”
DeeDee menggeleng-geleng. Matanya melotot.
Kesya terkesiap begitu menyadari apa maksud DeeDee yang sebenarnya. “Ya
ampun, DeeDee! Kami belum have sex sama sekali!” bisiknya histeris.
“Kamu tuh yang „ya ampun‟!” sungut DeeDee. “Baru cerita soal kissing aja udah
blushing begitu! Belon juga ngapa-ngapain!”
DeeDee kemudian memaksa Kesya untuk bercerita apa saja yang terjadi saat
mereka menginap. Kesya menceritakan soal sejuta bintang yang mereka lihat saat
hotel mati lampu. Mata DeeDee berbinar-binar saat mendengar bagian itu.
“Romantis banget, Kesh...,” desahnya. “Marco memang tahu saat yang paling
tepat untuk menyatakan cintanya...”
Kesya tersenyum. Hatinya terasa hangat kalau mengingat ciuman Marco saat
itu. Dan perasaan itu tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Tidak dengan Jansen,
tidak juga dengan mantan-mantan pacarnya dulu. Apa ini yang orang bilang “cinta
sejati”?
* * *
Minggu pagi. Kesya dan Alo duduk berdampingan di Groom‟s Bestfriend sementara
Marco sedang mencoba jas bestman-nya.
“So...” Alo memulai percakapan sambil tersenyum lebar.
Kesya hanya balas tersenyum.
“Marco itu laki-laki yang baik. Dia berusaha berhenti merokok gara-gara kamu.”
“Really?” Kesya memang mengharapkan Marco berhenti merokok, tapi dia tidak
menyangka akan secepat ini.
“Dia merokok karena mantan pacarnya...”
Kesya memperbaiki duduknya. Dia belum tahu cerita ini.
“Diputusin mantannya, terus lari ke rokok. Yah... kira-kira gitu deh.” Alo tidak
ingin membahas detailnya. “Tapi, aku seneng dia sama kamu. Kamu gadis yang
baik. Kalian pasti bisa saling jaga.”
Kesya tersenyum. Saling jaga... Kesya suka ide itu.
Marco keluar dari balik ruang pas. “Gimana?” Dia mengangkat kedua
tangannya. Memperagakan jas yang sedang dikenakan.
“Tanya sama Kesya dong. She is your girl now...,” ujar Alo menggoda.
Marco tersenyum dan memandang Kesya. “Gimana, Sayang?”
Kesya tersenyum. “Bagus. Keliatan gagah banget...”
Marco mematut-matut dirinya di depan cermin. “Gagah, ya? Hmmm...” Dia
tersenyum kepada Kesya dari cermin. “Bener banget penilaian kamu, Yang.”
“Ih, ge-er banget sih!” Kesya pura-pura ngambek.
Marco tersenyum. “Omong-omong, gaun bridesmaid kamu modelnya gimana?”
Gaun bridesmaid?
“Oh iya ya...” Kesya manggut-manggut sendiri. Dia sama sekali belum
diberitahu Cecil soal gaunnya. “Nanti aku tanya Cecil deh.”
Setelah selesai dengan urusannya di Groom‟s Bestfriend, Marco kemudian
meminta Kesya untuk mengantarnya ke suatu tempat. Ke Jalan Disco, tanah kosong
di daerah Kelapa Gading yang dulu pernah didatanginya bersama Kesya. Tapi
sekarang di sana bukan tanah kosong saja. Di sana berdiri sebuah taman yang asri.
“Ini kerjaanku selama ini,” ujar Marco bangga. Tangannya membentang
memperlihatkan hasil kerja kerasnya selama ini.
Kesya berjalan sambil memperhatikan taman yang masih baru itu. Konsep
taman yang asri dan nyaman. Kesya bisa membayangkan, pada sore hari taman ini
pasti ramai dikunjungi oleh orang-orang. Untuk lari sore, untuk mengajak anak
bermain, atau hanya untuk duduk di ayunan sambil membaca.
Ayunan... Kesya suka sekali ayunan.
“Ada ayunan?” tanyanya.
“Tentu ada dong...”
Marco menggandeng tangannya. Ada rasa geli, seperti aliran listrik ketika
tangan Kesya digandeng Marco. Rasa yang baru muncul setelah perasaannya
terhadap Marco berubah. Kesya tersenyum diam-diam, menikmati kedekatannya
dengan Marco.
Marco mengajak Kesya ke area permainan anak. Dia mendudukkan Kesya ke
atas ayunan dan mengayunnya perlahan-lahan.
“Aku suka sekali ayunan,” kata Kesya sambil berayun pelan. “Aku kepingin
sekali punya ranjang ayunan. Jadi sambil tidur aku bisa sambil berayun-ayun.”
Marco mendengarkan sambil terus mengayun Kesya. Senyumnya mengembang
perlahan, matanya menerawang jauh.
* * *
Kesya kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sudah lama sekali dia duduk dan
mencorat-coret notes kecilnya. Banyak ide yang berlalu-lalang di dalam benaknya.
Berebut untuk minta digambar dan direalisasikan. Sebagian besar diilhami dari
pernikahan Alo dan Cecil, juga dair pengalaman romantisnya bersama Marco. Kesya
masih sering senyum-senyum sendiri jika teringat kembali peristiwa sejuta bintang
itu.
“Nih... istirahat dulu...” Marco menyodorkan segelas teh hangat. Marco mampir
untuk menemani Kesya bekerja. Dia menghampiri Kesya dan mengecup ubun-ubun
kepala Kesya. “Biar otakmu yang panas jadi dingin lagi,” ujarnya.
Kesya tersenyum, mengangkat tangannya membelai dagu Marco.
“Kamu nggak ngapa-ngapain?” tanya Kesya sambil menyesap teh hangat yang
dibawakan Marco.
Marco menggeleng. “Proyekku sudah selesai. Aku ambil cuti dari kantor. Jadi,
sekarang tugasku hanya menjadi bestman Alo dan jadi pacar yang baik buat kamu.”
Sekarang Marco meremas bahu Kesya, melemaskan otot yang tegang di
sekitarnya.
Kesya tertawa menahan geli.
“Kamu tegang banget lho,” bisik Marco cemas. Merasakan ketegangan otot bahu
Kesya di bawah tangannya. “Santai saja lah...”
Kesya mengambil notesnya dan memperhatikan rancangannya. “Iya... aku akan
usahain santai deh.”
Kesya tersenyum. Senang juga rasanya diperhatikan seperti ini. Tiba-tiba
ponselnya berbunyi. Nama Cecil tertera pada layar ponsel Kesya.
“Ya, Cil?”
“Besok kosong?” tanya Cecil tanpa basa-basi.
Kesya tersenyum. Dia sudah hafal luar biasa tabiat Cecil. “Aku cek dulu ya...”
Kesya membalik-balik agendanya. Tidak ada janji penting untuk besok.
“Yup. I’m all yours...”
Cecil tertawa. “Kalau begitu besok siang tolong temani aku ketemu mamanya
Alo, ya.”
Kesya terkesiap. “Mamanya Alo?”
“Iya. Dia baru datang dari Singapura, menemani Oom Steven yang lagi meeting
di Jakarta. Tante Jessica, ups salah, aku harus memanggilnya dengan sebutan
Mama,” Cecil meralat panggilannya. Sejak resmi bertunangan dengan Alo, Cecil
harus memanggil orangtua Alo dengan sebutan “mama-papa”.
“Mama, maksudku mamanya Alo, mau keliling-keliling dan Alo minta aku
untuk menemani mamanya,” ujar Cecil sambil menghela napas.
Kesya tahu apa makna di balik helaan napas Cecil. Sejak mereka masih samasama
SMA, sejak Alo dan Cecil baru mulai pacaran, Tante Jessica Lionel Andersen,
mamanya Alo, kurang begitu menyukai Cecil. Menurutnya, Cecil tidak cocok
berpasangan dengan anak kesayangannya. Memang belum pernah ada konfrontasi
terbuka antara mereka berdua, tapi dari bahasa tubuh masing-masing, kentara sekali
mereka saling tidak menyukai.
“Tentang kamu dan Alo, dia sudah tahu?” tanya Kesya hati-hati.
“Ya sudah lah. Alo sudah bilang ke orangtuanya dia akan menikahi aku.
Orangtua Alo datang ke rumah. Mereka memelukku sambil tersenyum,
mengucapkan selamat dan berkata betapa senangnya mereka karena aku akan jadi
menantu mereka.”
“Maksud kamu, Tante Jessica juga memelukmu sambil tersenyum?” tanya
Kesya tidak percaya.
Kalau Oom Steven Andersen, papa Alo, memang orang yang sangat
menyenangkan dan ramah. Beliau juga sangat menyetujui hubungan Alo dan Cecil.
Berbeda 180 derajat dengan Tante Jessica. Rasanya tidak percaya Tante Jessica bisa
memeluk Cecil, apalagi sambil tersenyum!
“Iya lah. Waktu itu kan dia datang sama Oom Steven dan Alo,” cibir Cecil.
Kesya mengangguk-angguk. Di depan Alo dan Oom Steven, Tante Jessica
memang tidak berani terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.
“Dan besok,” Cecil melanjutkan, “Alo minta aku menemani mamanya karena
mamanya mau mengenalku secara lebih akrab,” jawab Cecil sambil memberi
penekanan pada empat kata terakhir.
“Oh, begitu...,” ujar Kesya ragu-ragu.
“katanya sih dia mau menghabiskan waktu bersama-sama, supaya lebih
mengenal calon mantunya gitu. Makanya kamu besok tolong temani aku, ya. Aku
bisa meledak kalau cuma berduaan sama dia,” Cecil mendesah.
“Alo nggak ikut?”
“Dia masih di Singapura. Minggu depan baru datang ke Jakarta. Mamanya
hanya datang dengan cucunya.”
Kesya mendesah. Another long day....
10
HARI masih bisa dibilang pagi, tetapi di lobi hotel para manusia sudah bergerak
dengan aktif. Para portir bergerak ke sana kemari mengantarkan tamu,
membawakan koper-koper, atau mengantarkan tamu sambil membawa setumpuk
koper. Para resepsionis telah melayani banyak sekali tamu, baik yang ingin check-in,
check-out, complaint, atau sekadar menanyakan informasi.
Di lobi inilah Kesya dan Cecil berada, menjemput mamanya Alo. Kesya duduk
dengan gelisah. Berulang kali dia membetulkan posisi duduknya, merapikan
rambut panjangnya, dan mengawasi kumpulan tamu yang baru keluar dari lift.
Sementara Cecil duduk santai di sebelahnya. Untuk hari ini dia sengaja mengambil
cuti dari kantor. Dia duduk sambil membaca majalah bisnis. Rambut keritingnya
jatuh sebagian, menutupi wajah.
Entah kenapa Kesya super duper panik menghadapi Cecil dan Tante Jessica.
Dua-duanya gampang marah, dua-duanya juga keras kepala, dan sudah pasti tidak
mau mengalah. Dan, gawatnya, dua-duanya saling tidak menyukai. Dalam hati
Kesya memutuskan, kalau terjadi perselisihan di antara dua wanita itu, dia akan
beranjak pergi dari medan perang. Menyelamatkan diri sendiri.
Kesya kembali melirik ke arah lift. Salah satu dari enam lift itu terbuka dan
rombongan tamu pun berbondong-bondong keluar dari dalam. Kesya melihat
seorang laki-laki yang cukup berumur menghampiri mereka sambil tersenyum
lebar. Laki-laki itu berkulit putih kemerah-merahan dan berambut cokelat. Raut
wajahnya ramah dan menyenangkan. Itu Oom Steven, papanya Alo.
Cecil juga rupanya sudah menyadari kehadiran Oom Steven. Dia langsung
beranjak bangun dan menghampiri Oom Steven sambil tersenyum lebar.
“Cecil, dear...” Oom Steven memeluk Cecil dengan hangat. Pelukan erat yang
sungguh tulus. “How are you, dear? Semua persiapan pernikahan kamu dengan Alo
lancar, kan?”
Cecil mengangguk. “Sudah ninety-two percents, Papa,” jawab Cecil sambil
tersenyum. “Oh iya, do you still remember Kesya, Papa? She is my bridesmaid, and sdhe
helps me a lot!” Cecil menunjuk Kesya.
“Hai, Oom Steven...” Kesya mengulurkan tangan.
Oom Steven menjabat tangan Kesya dengan hangat.
“Yes, I remember you. One of Alo’s classmates, right?” Oom Steven tersenyum.
Kesya mengangguk. Senyum lebar juga tersinggung di wajahnya. Pribadi Oom
Steven yang ramah, hangat, kebapakan, dan selalu menghargai siapa saja membuat
semua orang merasa nyaman berada di dekatnya, membuat semua orang selalu
ingin tersenyum kepadanya.
“Okay, I have to go now. Meeting.” Oom Steven melirik arloji yang melingkar di
tangannya. “My wife will come down soon.” Oom Steven tersenyum. “Sampai ketemu
lagi ya...”
Kesya dan Cecil mengangguk, kembali duduk. Cecil masih tetap santai,
sementara Kesya kembali tegang. Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun
datang. Paduka Ratu Jessica Lionel Andersen. Perempuan yang sudah berumur itu
masih terlihat segar. Dia menggandeng seorang anak laki-laki bertubuh gempal.
Kelihatannya anak laki-laki itu berusia delapan tahun. Kesya berpaling kepada
Cecil, minta penjelasan.
“Jason, anak kakak perempuan Alo, Meisya,” bisik Cecil tanpa menggerakkan
bibir.
“Halo, Cecil...” Tante Jessica tersenyum. Tangannya terentang untuk memeluk
Cecil. Cecil tersenyum sekadarnya dan membiarkan tubuhnya dipeluk sang calon
mertua. Kesya mengamati senyum Tante Jessica. Tampak artifisial sekali, berbeda
sekali dengan senyum hangat dan ramah milik Oom Steven. Sifat-sifat Tante Jessica
juga snagat berbeda dengan Oom Steven. Tante Jessica adalah tipe wanita yang
judes, dingin, dan selalu memandang rendah orang lain. Sejak masih sekolah dulu,
Kesya tidak terlalu suka dengan Tante Jessica. Perasaan itu bahkan menetap hingga
sekarang.
“Hai... Ma.” Cecil terdengar sulit menyapa Tante Jessica dengan sebutan
“Mama”.
“Hmmm...” Tante Jessica berpaling menatap Kesya. Matanya menyipit, seolah
sedang menilai Kesya.
“Ini bridesmaid saya, Kesya Artyadevi. Sahabat baik saya,” Cecil memperkenalkan.
Kesya mengulurkan tangan sambil tersenyum sopan. Dulu sekali dia pernah
bertemu dengan Tante Jessica, tapi pasti Tante Jessica sudah lupa.
Tante Jessica tersenyum tipis. “Hmmm... agak kurus ya. Sebenarnya Meisya
lebih cocok jadi bridesmaid kamu lho Cecil,” komentar Tante Jessica.
Alis Kesya terangkat. Kalau dia tidak salah dengar, Tante Jessica sedang
mencelanya! Mencelanya... tepat di hadapannya!
Cecil menggeleng. “Nggak. Saya sudah memilih Kesya untuk jadi bridesmaid
saya.” Suaranya terdengar sedingin es.
Tante Jessica mengangkat bahu. “Jason, ayo beri salam sama kedua tante ini,”
ujarnya sambil mengelus sayang bocah laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
Jason tersenyum manis sambil mengulurkan tangan. Tante Jessica tersenyum
memandangnya. Tapi ketika Tante Jessica berpaling untuk beranjak pergi, Jason
memperlihatkan jari tengahnya kepada Kesya dan Cecil. Lidahnya terjulur
mengejek.
Kesya syok melihatnya! Anak usia delapan tahun sudah bertingkah seperti itu!
“Oh ya...,” ujar Tante Jessica sambil berjalan, “Jason ini yang akan membawa cincin
pernikahan.”
Kesya hampir pingsan mendengarnya. Anak laki-laki ini? Yang tidak tahu sopan
santun ini? Yang akan membawakan cincin pernikahan rancangan Kesya?
Masterpiece Kesya? Oh no!
Jason meringis kejam melihat Kesya. “Nanti cincinnya akan aku sembunyikan,
dan akan aku jual setelah pesta selesai. Aku akan dapat banyak uang... Hahaha...!”
bisiknya.
“Cil...” Kesya menoleh panik ke arah Cecil.
“Jangan macam-macam ya kamu!” ancam Cecil. Namun, bocah tengil itu hanya
menjulurkan lidah dan beranjak pergi. Dia memanggil Tante Jessica dengan manis,
lalu menggandeng tangannya.
“Ayo cepat! Kalian jalan lama sekali sih. Masih pada gadis kok lamban sekali...,”
sindir Tante Jessica.
Cecil menggeram pelan.
Tante Jessica berbicara panjang lebar selama bermobil. Dia bercerita tentang
anak perempuannya, Meisya Veroca Andersen—kakak perempuan Alo. Dia juga
bercerita tentang menantu perempuannya—istri Stephanus Robert Andersen, kakak
laki-laki Alo—yang disebutnya sebagai perempuan yang memenuhi kodratnya.
Anak perempuan dan menantu perempuannya, keduanya bisa memasak. Satu hal
yang sangat tidak dikuasai Cecil. Tante Jessica menyindir Cecil terus.
“Repot juga ya. Kamu nggak bisa masak, sementara Alo senang sekali makan
enak.” Tante Jessica tersenyum tipis.
Cecil menggeram pelan. “Buat kami tidak menjadi masalah, Ma,” ujarnya. Kesya
agak terkejut mendengar ketenangan dalam nada suara Cecil, mengingat tadi dia
menggeram pelan. “Walaupun saya tidak bisa masak, nanti kan kami bisa beli
makanan. Sekarang kan warung-warung makanan bertebaran di mana-mana.”
Tante Jessica tertawa. “Alo nggak terlalu suka makanan warung-warung itu. Dia
pernah nyobain, tapi katanya semuanya kalah dibandingkan masakan rumah,
masakan Mama.”
Cecil merengut.
“Aah...,” seru Tante Jessica dramatis. “Ada resto baru di sini. Ayo kita makan
dulu...”
Cecil mengernyit. “Something’s wrong...,” bisiknya kepada Kesya.
Kesya mengernyit. Tidak dapat mencari apa yang salah dengan ajakan makan
dari Tante Jessica. Tanpa banyak komentar, Cecil menepikan mobilnya, lalu turun
bersama Kesya dan mengikuti langkah Tante Jessica dan Jason.
Tante Jessica duduk dan meminta pelayan mengambilkan buku menu. Jason
duduk di sampingnya. Ketika Kesya duduk, diam-diam Jason menendang tulang
kering Kesya.
“Adaow...!” pekik Kesya.
“Hush!” tegur Tante Jessica diikuti dengan tatapan menghunjam. “Kamu apaapaan
sih? Anak gadis kok tidak tahu sopan santun! Ngapain teriak-teriak begitu?”
bisiknya dengan nada setajam silet.
Di sampingnya, Jason tertawa terkikik-kikik.
Kurang ajar! geram Kesya dalam hati.
Tante Jessica memesan sejumlah makanan. Resto ini tidak bisa dibilang baru.
Kesya sudah pernah melihatnya. Seingatnya, resto ini sudah berdiri sejak dua bulan
yang lalu, menjual makanan khas Indonesia. Ada pepes ikan, plecing kangkung,
tahu dan tempe goreng, pecel ayam, pecel ikan. Semuanya makanan khas Indonesia.
“Tante...,” sapa sebuah suara.
Tante Jessica tersenyum lebar sekali. Dia berdiri dan memeluk erat gadis yang
tadi memanggil namanya.
Kesya dan Cecil ikut berpaling, penasaran dengan sosok yang memanggil Tante
Jessica.
Kesya menyikut pinggang Cecil. “Itu kan...”
“Halo, Ningrum yang cantik...” Dengan mesra, Tante Jessica memeluk Ningrum.
Kesya memperhatikan wajah Cecil. Wajah itu bagai baju kusut yang tidak
pernah disetrika. Kesya tahu sekali siapa Ningrum.
Raden Ayu Sekar Ningrum, gadis keturunan bangsawan Jawa itu pacar pertama
Alo. Ketika Cecil mengenal Alo, Alo masih pacaran dengan Ningrum. Namun,
karena ada perbedaan prinsip yang tidak dapat diselesaikan antara mereka berdua,
Alo lantas putus dengan Ningrum dan jadi dekat dengan Cecil. Gosip yang beredar
di sekolah adalah Cecil merebut Alo dari Ningrum. Padahal, bukan begitu keadaan
yang sebenarnya. Justru Cecil pada awalnya menolak Alo karena tidak mau dicap
perebut pacar orang. Tapi, dasar memang sudah cinta, Cecil malah jadian sama Alo.
Dengar-dengar juga, Tante Jessica lebih setuju kalau Alo tetap jadian dengan
Ningrum. Menurut Tante Jessica, Alo lebih cocok dengan Ningrum daripada dengan
Cecil.
“Tante datang lagi di resto saya ini...,” sapa Ningrum dengan ceria.
Cecil mendengus.
Oh... Kesya mengerti sekarang. Jadi resto ini punya Ningrum. Berarti Tante
Jessica dengan sengaja telah menggiring Cecil ke sini. Hmmm... pantas saja tadi
Cecil bilang “Something’s wrong...” Entah drama apa yang akan dipertontonkan
Tante Jessica...
“Ningrum, kamu tuh tambah cuaantik saja...,” puji Tante Jessica tanpa
memedulikan Cecil.
“Ah, Tante bisa saja...” Ningrum tersipu.
Memang benar Ningrum cantik, kecantikan khas putri bangsawan Jawa. Dengan
kulit kuning langsat, wajah klasik, dan rambut hitam panjang. Tapi Cecil juga cantik
kok. Dengan kulit putih, wajah berbentuk hati yang disapu make-up tipis, dan
rambut keriting berpotongan pendek. Kecantikan seorang wanita modern. Dua
wanita dengan dua kecantikan yang berbeda. Hmm... bukankah cantik itu relatif?
Tante Jessica mengajak Ningrum duduk bersama mereka.
“Tante Ningrum, selamat siang...,” sapa Jason manis.
Dasar monster kecil! Rupanya dia juga bersekongkol dengan Tante Jessica
dengan bermanis-manis terhadap Ningrum!
“Ya ampun... Cecil... Kesya!” ujar Ningrum setengah berteriak. Tampaknya dia
baru menyadari kehadiran Cecil dan Kesya. “Sudah lama sekali aku ndak pernah
ketemu kalian. Apa kabar tho?”
“Baik, Ningrum. Kebetulan sekali ya kita bisa ketemu di sini...,” ujar Kesya.
“Resto ini punya Ningrum. Huebatt kan dia...” Tante Jessica menepuk-nepuk
punggung tangan Ningrum. “Cantik, ayu, anggun, pintar masak, lagi. Kamu betulbetul
akan menjadi istri yang ideal. Sayang Tante nggak punya anak laki-laki lagi...”
Ningrum tersenyum. “Sebenarnya saya juga ndak nolak kalau dijadikan istri
anak laki-laki Tante yang bungsu itu... tapi... saya dengar sudah ada calonnya, ya?”
Maksudnya?
Wajah Cecil semakin keruh mendengar perkataan Ningrum.
“Tinggal beberapa bulan lagi, Ningrum. Kamu harus datang ya...,” kata Tante
Jessica sambil menggenggam tangan Ningrum. “Cecil harus banyak belajar dari
kamu. Dia nggak bisa masak, padahal Alo senang sekali makan enak. Alo juga sering
mampir ke sini, kan?”
Uh-oh!
Kesya tidak berani menatap wajah Cecil, tapi dapat dipastikan wajah itu pasti
sekeras batu!
“Oh, jadi Cecil ndak bisa masak, tho!” Mata Ningrum membulat dengan gaya
dramatis. “Wah, wanita kok ya ndak bisa masak. Cecil, yang namanya wanita itu ya
harus pinter masak, biar suami tambah sayang sama kamu. Masak itu memanjakan
suami juga lho...”
Waduh, waduh, waduh! Ningrum juga cari gara-gara!
Kesya memperhatikan wajah Ningrum. Ada kesan kejam di wajah cantiknya.
Rupanya dia dan Tante Jessica sudah berkonspirasi untuk memojokkan Cecil.
Cecil tersenyum manis. “Hmm...,” gumamnya, “Alo tahu saya nggak bisa
masak. Walau begitu, Alo tetap mau menikahi saya, bukan kamu, Ningrum...,” balas
Cecil sambil tersenyum manis.
Kali ini giliran wajah Tante Jessica dan Ningrum yang berubah membatu!
* * *
Cecil mendorong pintu apartemen Kesya dengan bahunya. Kedua tangannya sibuk
sekali, masing-masing menjinjing sebuah kantong kertas berukuran besar. Dari balik
salah satu kantong, tampak buah tomat segar menyembul.
“Udah lengkap belanjaannya?” Kesya mengintip ke dalam kantong-kantong
kertas yang dibawa Cecil. Hari ini Cecil mau masak. Dia bertekad untuk
membuktikan Tante Jessica salah. Dia mau membuktikan dia juga bisa masak!
Atas usul Kesya, Cecil memutuskan untuk masak spageti dengan saus
bolognaise. Menurut Kesya, masakan jenis ini gampang. Siapa saja pasti bisa
membuatnya.
“Udah...” Cecil mengeluarkan bahan-bahan masakannya satu per satu. Spageti,
bawang bombay, bawang putih, daging sapi, saus tomat, buah tomat segar, saus
sambal, dan keju batangan.
Kesya sudah menyiapkan panci-pancinya untuk digunakan Cecil. Hari ini dia
berjanji untuk menjadi mentor Cecil dalam pelajaran memasaknya. Sebenarnya
Kesya agak khawatir dengan keselamatan dapurnya, mengingat Cecil belum pernah
sekali pun bersibuk-sibuk di dapur.
DeeDee melakukan tindakan penyelamatan diri dengan pergi keluar bersama
teman-temannya. Marco diutus Cecil untuk menjemput Alo—dia pulang ke Jakarta
sore ini—kemudian mengantar Alo ke apartemen Kesya ketika spageti sudah siap
disantap.
“Sekarang aku harus ngapain dulu?” tanya Cecil. Celemek Kesya sudah
tergantung manis di tubuhnya. Kesya tersenyum geli melihat tingkah Cecil.
“Daging sapinya harus dicincang dulu.” Kesya mengeluarkan pisau besar untuk
mencincang daging.
“What? Gede banget goloknya!” komentar Cecil dengan mata membelalak. Cecil
menerima pisau besar itu dari tangan Kesya, tampak kepayahan memegangnya.
“Cincang sampai halus ya. Aku mandi dulu...,” ujar Kesya.
Sepuluh menit kemudian, Kesya kembali ke dapur dan mendapati Cecil sudah
bermandi peluh.
“Sudah?”
Cecil menggeleng frustrasi.
Kesya memperhatikan daging yang masih menggumpal dengan bandelnya.
“Nggak dipotong dulu?”
Cecil menggeleng. “Tadi katanya dicincang aja?”
“Iya, tapi biar gampang harus dipotong tipis-tipis dulu.”
“Kamu nggak bilang!” sahut Cecil kesal.
“Ya sudah sini aku yang cincang. Kamu rebus tomatnya deh. Disayat dulu
bagian kulitnya, biar gampang dikelupas nanti.”
“Nggak! Biar aku sendiri aja. Ini masakanku, aku mau bikin sendiri semuanya.”
Kesya mengalah dan memperhatikan Cecil mencincang daging sapi halus-halus.
Setelah itu, Cecil merebus tomat.
“Adaowww!” Cecil menjerit keras sekali.
“Kenapa, Cil?”
“Gila! Panas banget tomatnya. Gimana megangnya nih?” teriak Cecil panik.
“Dibuang dulu airnya, tunggu sebentar, baru diambil tomatnya.” Dengan
cekatan Kesya membuang air rebusan tomat.
Cecil cemberut sambil memperhatikan Kesya. “Aku memang nggak becus, ya!”
Kesya jadi ingat ketika dia pertama kali belajar memasak. Sama seperti keadaan
Cecil sekarang. Merasa tidak berguna, tidak becus.
“Nggak lah. Ini kan gara-gara kamu memang baru pertama kali masak. Kalau
sudah biasa, pasti akan lebih gampang.” Kesya tersenyum menghibur.
Memang tidak mudah masak untuk pertama kalinya. Berturut-turut, Cecil selalu
melakukan kesalahan. Tomat yang sudah direbus digenggamnya terlalu kuat,
sehingga hancur dan mengeluarkan banyak air. Api kompor dinyalakan terlalu
besar sehingga daging yang dimasaknya jadi agak gosong. Lalu, karena tidak sabar
menunggu sepuluh menit untuk merebus spageti, spagetinya jadi masih keras
sekali!
Cecil berurai air mata melihat hasil masakannya yang tidak keruan.
Pada saat itu, bel pintu apartemen berbunyi. Alo dan Marco telah sampai di
apartemen.
“Gimana nih, Kesh?! Hasil masakanku hancur begini!” teriak Cecil panik.
“Ya mau gimana lagi?” Kesya juga putus asa.
“Cecil! Kesya!” Suara Marco terdengan memanggil.
“Ya sudah deh, biarin dia masuk aja,” ujar Cecil lemah.
“Hai, Sayang...” Marco mengecup pipi Kesya.
“Mana Cecil?” tanya Alo. Wajahnya tampak antusias. Ini kali pertama Cecil
memasak untuknya.
“Masih di dapur.” Kesya menunjuk dengan tatapannya.
Alo langsung menghambur ke dapur.
“Sudah jadi, Cil, masakannya?” Antusiasme Alo berubah saat melihat wajah
Cecil yang berlinang air mata. “Kenapa, Sayang? Kok nangis?” suaranya melembut.
Cecil menyeka wajahnya dengan kasar. “Masakanku hancur. Aku memang
nggak bisa masak!”
Alo menghampiri piring yang berisi spageti keras dan saus bolognaise hangus.
Dia mencicipi masakan Cecil sesuap, kemudian menyeka mulutnya.
“Masakan kamu memang hancur, Cil. Kamu memang nggak bisa masak,”
ujarnya tanpa basa-basi. “Lagian kenapa kamu tiba-tiba jadi mau masak?”
Kesya dan Marco terkesiap. Waduh! Cecil pasti ngamuk nih!”
“Karena mama kamu bilang aku harus banyak belajar dari Ningrum yang jago
masak! Karena mama kamu bilang kamu suka sekali makan enak, dan kamu juga
sering datang ke resto Ningrum!”
Alo terkesiap mendengar penuturan Cecil. Wajah Cecil merah padam. Napasnya
memburu. Bibirnya bergetar dan air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Jadi... ini semua... gara-gara Ningrum?” ujar Alo perlahan.
“Ya! Gara-gara Ningrum, pacar pertama kamu itu! Gara-gara Ningrum, gadis
kesayangan mama kamu itu!” jerit Cecil. Pertahanannya runtuh. Air matanya
tumpah ruah. Kesya dan Marco salah tingkah. Saling melirik tanpa tahu harus
berbuat apa.
Alo bergerak memeluk Cecil. “Sshh... sudah, jangan nangis gitu ah...,” bisiknya
lembut.
Cecil meronta, tapi Alo tidak melepaskan pelukannya.
“Biar saja Ningrum pintar masak. Biar saja Ningrum jadi gadis kesayangan
mamaku. Nggak ada urusannya sama aku. Gadis kesayangan aku ya kamu, Cecil.”
Alo mengecup lembut mata Cecil yang masih basah. “Aku nggak peduli kamu
nggak bisa masak. Makan kan bisa di mana aja. I love you just the way you are.
Lengkap dengan ketidakberbakatan kamu di bidang masak-memasak...” Alo
tersenyum lembut.
Cecil masih terisak.
“Come on, Cil. Masa udah sepuluh tahun ini kamu masih jealous aja sama
Ningrum.” Alo menjentik dagu Cecil.
“Tapi kata mama kamu, kamu sering ke restonya...,” Cecil merajuk.
“Dasar Mama nggak berubah tingkah lakunya...” Alo menghela napas.
“Sebenarnya baru satu kali aku ke sana. Itu juga gara-gara aku sedang menjamu
tamu dan tamu aku itu maunya makan di sana. Aku sendiri nggak tahu sama sekali
Ningrum buka resto.”
Cecil masih diam saja.
“Ayo dong, Sayang. Jangan marah lagi... Kita pesan makanan ya. Aku lapar nih.
Kamu mau makan apa? Sushi? Kesukaan kamu, kan...?” bujuk Alo.
Kesya menahan tawa. Mendengar nada lembut suara Alo, Kesya yakin Cecil
tidak akan tahan marah lama-lama.
“Udah deh, Cil,” Kesya ikutan nimbrung. “Masalah kecil nggak usah dibesarbesarin.
Toh Alo sudah bisa menerima kamu apa adanya. Seperti kata Alo tadi,
lengkap dengan paket ketidakberbakatan kamu di bidang masak-memasak.
Hhmmm... liat aja dapurku.”
Kesya mengedarkan pandangan ke arah dapur yang sekarang menyerupai zona
perang di garis depan. Berantakan sekali!
Alo, Cecil, juga Marco ikut mengedarkan pandangan mereka. Alo dan Marco
tertawa terbahak-bahak, sementara Cecil tersipu malu.
“Lain kali, nggak usah dekat-dekat dapur ya, honey...,” bisik Alo kemudian
mengecup lembut dahi Cecil.
* * *
Samuel, ketua Asosiasi Perancang Perhiasan Indonesia (APPI), membuka rapat.
Ruangan berukuran sedang yang sengaja disewa untuk mengadakan pertemuan
antara perancang perhiasan yang tergabung di APPI sudah cukup ramai. Kesya
duduk di sebelah DeeDee. Agenda rapat kali ini adalah tentang lelang perhiasan
bertaraf internasional yang akan diadakan bulan depan. Semua anggota APPI
berkumpul untuk membicarakan siapa yang akan mewakili APPI untuk mengikuti
lelang tersebut.
“Saya sudah punya empat nama yang sekiranya cocok mewakili kita dalam
lelang.” Samuel menuliskan nama-nama tersebut di papan. Nama Kesya dan
DeeDee juga ditulisnya.
Kesya tersenyum, sementara DeeDee tampak ingin melompat-lompat saking
senangnya. Kesempatan ini memang benar-benar kesempatan yang sangat baik.
Bayangkan! Lelang perhiasan bertaraf internasional! Kalau berhasil di lelang ini,
tentu akan menaikkan pamor pribadi di dunia perhiasan!
“Jadi, menurut kalian, siapa yang pantas mewakili kita? Kita pilih dua nama.”
Pemungutan suara yang dilakukan dengan voting tertutup itu memilih Kesya
sebagai perwakilan utama. Kepiawaian Kesya merancang perhiasan yang elegan
tidak diragukan lagi. Kesya pasti bisa menjadi wakil yang membanggakan APPI.
Sebagian besar anggota APPI sepakat memilih Kesya sebagai wakil untuk acara
lelang internasional. Kesya menerima keputusan tersebut dengan senang hati. Ini
tantangan baru baginya, dan dia merasa sangat terhormat bisa mewakili APPI
dalam acara lelang tersebut.
“Sekarang, wakil yang kedua?”
Anggota APPI yang masih sibuk memberi selamat kepada Kesya, kini sontak
terdiam. Mereka menunggu dengan berdebar-debar siapa perwakilan lain dari
APPI.
“Diana Divia!”
Kepala DeeDee tersentak kaget, kemudian senyum yang amat sangat lebar
merekah di wajahnya. Kesya berpaling, menatap bangga adik kelasnya. Walau
termasuk anggota baru di APPI, DeeDee sudah dipercaya menjadi wakil pada suatu
acara bertaraf internasional!
* * *
Kesya mendeskripsikan secara detail bentuk perhiasan yang diinginkan. Pengrajin
emasnya mengangguk-angguk paham. Si bapak pengrajin emas ini memang sudah
sering membuatkan pesanan sesuai dengan rancangan Kesya, namun kali ini Kesya
ekstra cerewet. Ya tentu saja, perhiasan rancangannya kali ini akan diikutsertakan
dalam lelang skala internasional, yang pertama kalinya diselenggarakan di Jakarta.
Jadi, tentu saja Kesya ingin everything’s perfect!
Kesya baru tidur dua jam. Sibuk menyelesaikan rancangannya. Sekarang, pagi
ini, dia langsung mendatangi pengrajin emasnya. Matanya tampak lelah, tetapi
tubuhnya bersemangat sekali. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
“Jadi, Ibu mau bentuk mangkuknya dibuat tidak simetris?” pengrajin emasnya
memastikan segala detail yang telah digambarkan Kesya.
Kesya mengernyit, agak terganggu mendengar ungkapan “mangkuk” yang
dipakai pengrajin emasnya. Dia mengamati gambarnya, memang bentuknya seperti
mangkuk, tapi apa tidak ada ungkapan yang lebih indah lagi?
“Iya.” Kesya mengangguk, tidak ingin mendebat si pengrajin emas. “Jangan
lupa, ukurannya juga dibuat tidak sama ya,” tambahnya lagi.
Pengrajin emasnya mengangguk-angguk paham. “Oh ya, Bu Kesya, ini cincin
pernikahannya sudah selesai.” Dia menyerahkan sepasang cincin sesuai dengan
rancangan Kesya.
Kesya tersenyum lebar. Cincin itu persis seperti yang dibayangkannya.
Sempurna!
Sambil masuk ke mobilnya, dia menghubungi Cecil.
“Cil, cincin kawinnya sudah jadi. Kamu mau lihat?” tanyanya begitu Cecil
menyapa.
“Nanti aja bareng Alo. Sekarang kamu harus cepat ke Bride‟s World.”
“Sekarang juga? Untuk apa?”
“Untuk gaun bridesmaid kamu, Sayang!”
“Oh iya ya...”
“Sekarang kamu cepat ke sini ya...”
“Oke.” Kesya segera membelokkan mobilnya, meluncur ke Bride‟s World.
Sepanjang perjalanan, dia menebak-nebak dandanan seperti apa yang akan
dikenakan Madame Daphne kali ini. Madame yang satu ini kan memang penuh
kejutan.
Kesya turun dari mobil dan melihat Cecil juga baru turun dari mobilnya.
“Hai, Kesh...” Cecil memeluk Kesya. “Aku baru aja dari gereja. Ngurusin
pemberkatan pernikahan. Ternyata agak ribet juga lho...”
“Sendirian?”
Cecil mengangguk. “Alo kebetulan lagi sibuk, harus balik ke Singapura lagi, jadi
nggak bisa nemenin.”
“Kenapa kamu nggak minta aku temenin?”
Cecil tersenyum. “Kamu udah repot. Lagian, urusannya udah hampir beres kok.
Kemarin sih dia nemenin aku. Kami berdua udah selesai ngurus katering. Repot,
tapi fun. Yah... ada berantem-berantem dikit deh...” Cecil tersenyum geli.
Kesya tersenyum mendengar perkataan Cecil. Cecil jadi lain sekarang. Lebih
dewasa dan bertanggung jawab. Apa karena insiden masak tempo hari ya?
“Hai, Mbak Cecil, Mbak Kesya!” sapa Anita.
Rupanya kehadiran Cecil dan Kesya sudah cukup sering sehingga layak
mendapat ucapan selamat datang sehangat itu.
“Mbak Cecil, foto pre-wed-nya sudah jadi lho. Bagus sekali! Foto kanvasnya juga
sudah jadi. Sebentar ya, saya ambilkan.” Anita kemudian menghilang dan muncul
kembali sambil membawa setumpuk album foto dan dua buah kardus besar berisi
foto kanvas Alo dan Cecil.
Kesya terperangah melihat foto-foto itu. Benar-benar indah! Kesya dapat
mendengarkan semua perasaan cinta dan bahagia yang bernyanyi dengan indah
dan harmonis di setiap lembar foto. Alo dan Cecil sungguh-sungguh serasi,
bagaikan dua kutub magnet yang saling menarik kuat.
“Bagus, Cil...,” puji Kesya tulus. Cecil tersenyum, tampak sangat puas dengan
hasil foto pre-wed-nya.
“Sudah ah, sekarang kita fokus ke gaun kamu. Aku sudah lihat beberapa
gaunnya. Bagus-bagus banget lho!” ujar Cecil dengan cepat. Cecil memang selalu
penuh semangat.
“Selamat siang, ladies!” bisik sebuah suara.
Kesya menoleh ke arah suara itu. Walaupun dia sudah mulai terbiasa dengan
penampilans uper duper ajaib Madame Daphne, penampilannya kali ini tetap
membuat Kesya terkejut setengah mati. Madame Daphne mengenakan gaun ala
gadis Pegunungan Alpen. Lengkap dengan bonnet, apron, dan tongkat yang
ujungnya melengkung. Di balik bonnet-nya, dia menata rambutnya menjadi dua
kepangan panjang yang menjuntai di bahu. Gayanya persis sekali dengan gaya Bo
Peep, boneka penggembala perempuan yang jadi pacar Woody di film Toy Story!
“Hmpffttt... Selamat si... siang, Madame Daphne.” Susah payah Kesya mengendalikan
tawa. Cecil buru-buru menyikut rusuknya.
“Jangan ketawa!” bisiknya.
Kesya melotot ke arah Cecil. Curang! Cecil sendiri nyengir lebar banget.
“Cecil sudah fitting gaun pengantinnya. Kamu yang belum memilih gaunmu,”
kata Madame Daphne tanpa memedulikan wajah aneh Kesya yang setengah mati
menahan tawa.
Cecil mencubit pinggang Kesya. Cukup sakit untuk mengubah ekspresi
menahan tawa Kesya menjadi ekspresi menahan sakit.
“Aku sudah pilih beberapa model yang mungkin bakal cocok sama selera
kamu,” kata Cecil. Dia tidak menggubris tatapan “Sialan kamu! Sakit, tau!” yang
dilontarkan Kesya.
Kesya menurut saja ketika Cecil menggiringnya ke ruang gaun pengantin.
“Ini dua buah gaun yang dipilih Cecil untuk kamu.” Madame Daphne
menunjuk kedua buah gaun yang telah dipilihkan Cecil. Satu gaun berwarna pink
dan gaun lain berwarna turquoise.
“Bukannya gaun bridesmaid juga harus berwarna putih, ya? Dan bukannya
model gaunnya harus mirip-mirip sama gaun pengantin?” tanya Kesya setelah
mengamati kedua gaun tersebut. Dia teringat pencariannya di situs
bridesmaid101.com dulu.
“Untuk mengecoh roh jahat yang akan mencelakakan si pengantin wanita?”
Cecil mendengus. “Itu mitos, Kesh! Kamu percaya yang begituan? Zaman sekarang,
gaun bridesmaid sudah berwarna-warni!”
“Oke.” Kesya mengangguk pelan. Tertawa konyol mendengar komentar pedas
Cecil. Cecil paling tidak percaya dengan mitos-mitos. Baginya, itu semua omong
kosong. Hidupnya tidak pernah dikendalikan oleh mitos-mitos. Dialah yang
mengendalikan hidupnya sendiri.
“Silakan dicoba dulu.” Madame Daphne menunjuk ke arah ruang pas.
“Anita...,” panggilnya.
Anita langsung datang dan membantu Kesya mengepas gaun bridesmaid-nya.
Gaun yang pertama dicoba Kesya adalah gaun yang berwarna turquoise. Gaun itu
terbuat dari bahan satin yang lembut. Sejak kecil Kesya suka banget sama jenis
bahan ini. Bahannya terasa dingin di kulit. Dia ingat, ketika masih kecil, dia sering
sekali bermain-main dengan gaun mamanya yang berbahan satin.
Kesya merasakan sensasi yang menyenangkan ketika gaun turquoise itu jatuh
dengan lembut menutupi tubuhnya. Gaun itu panjangnya semata kaki. Dengan
potongan leher agak rendah berbentuk huruf V dan dipercantik dengan aksen pita
dari bahan yang sama, gaun itu terlihat sederhana namun sangat anggun. Kesya
menatap bayangannya di cermin tanpa mengerjap. Sepertinya, kalau dia mengerjap,
bayangan gadis semampai yang mengenakan gaun indah itu akan segera sirna.
Senyum Kesya mengembang. Dia mencoba berputar, mengamati pantulan
bayangannya dari berbagai sudut.
Hmmmm... Perfect.
“Kesh...,” panggil Cecil. “Udah?”
Kesya keluar dari kamar ganti dan tersenyum memandang Cecil dan Madame
Daphne.
Aduh! Kok rasanya seperti dia yang jadi calon pengantinnya ya?
Senyum Cecil mengembang lebar. “Bagus sekali!” ujarnya sambil
mengacungkan jempol.
Madame Daphne mengangguk-angguk bersemangat. Senyum yang tak kalah
lebar juga mengembang di wajahnya. Kedua kepang rambutnya juga ikut
bergoyang.
“What do you think?” tanya Cecil.
Kesya mengangguk. “ Aku suka. Bagus sekali!”
“Coba yang satu lagi...”
Kesya mengangguk dan kembali masuk ke kamar ganti. Anita kembali
membantunya mengenakan gaun yang satunya lagi. Agak sulit mengenakan gaun
yang kedua. Bustier-nya agak ketat. Bawahannya juga agak ketat. Tetapi, ketika
melihat pantulan tubuhnya di cermin, kembali Kesya menahan napas.
“Wow!” desahnya.
Gaun pink itu memeluk erat tubuhnya. Atasannya berupa bustier yang ditaburi
payet warna bening di bagian dada. Terkesan mewah sekali! Sedangkan
bawahannya diberi sedikit aksen kerut di bagian perut. Kesya bersyukur karena
selama ini dia tidak begitu suka dengan makanan berlemak. Good habit itu, ditambah
kebiasaan sit-up seratus kali setiap harinya, membuat perutnya ramping dan
kencang. Kesya memutar tubuh. Di bagian belakang gaun itu terdapat potongan
kain yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat seperti ekor gaun yang
dramatis!
“Wow!”
“Kesh...,” panggil Cecil.
Kesya keluar dari kamar ganti.
“Wow!” Cecil berkomentar sama seperti Kesya.
“Wow!” Kesya membeo lagi.
Madame Daphne tertawa terbahak-bahak melihat komentar mereka berdua.
Sinar bangga terpancar kuat dari wajahnya. Walaupun hanya terdiri atas tiga huruf,
kata “wow” yang keluar dari bibir Kesya dan Cecil adalah bentuk apresiasi terhadap
gaun indah rancangannya.
“Kamu mau pilih yang mana?” tanya Cecil. “Dua-duanya bagus banget di
badan kamu.”
Kesya mengangkat bahu. Seorang bridesmaid sebaiknya tidak tampil lebih heboh
dibandingkan si mempelai wanita. Pusat perhatian dari suatu pernikahan adalah si
mempelai wanita, tentu saja bersama dengan mempelai prianya. Seorang bridesmaid
hanyalah asisten si mempelai wanita. Karena itu Kesya menyerahkan pemilihan
gaunnya kepada Cecil.
“Hmmm...,” Cecil menimbang-nimbang, “kalau dipikir-pikir, gaun yang
turquoise itu modelnya mirip dengan gaun pengantinku yang rencananya untuk
pemberkatan di gereja. Terus, gaun yang ini modelnya mirip dengan gaun
pengantinku yang untuk resepsi...” Cecil mengangguk-angguk mendengar
penjelasannya sendiri. “Oke. Kalau begitu kita ambil dua-duanya. Yang turquoise
untuk pemberkatan di gereja, yang ini...,” Cecil menunjuk gaun pink yang masih
dikenakan Kesya, “untuk resepsinya.”
Mata Kesya melotot. “Gaun turquoise yang tadi kan potongan lehernya rendah
banget! Masa mau dipake buat di gereja?”
Mata Cecil membulat. “Memangnya kenapa?” tanyanya polos.
“Gereja, Cil! Gereja! Masa kamu berpakaian nggak sopan di rumah ibadah?”
“Lho, tubuh kita ini kan ciptaan Tuhan juga. Adam dan Hawa, manusiamanusia
pertama ciptaan Tuhan, malah selalu telanjang. Setiap hari mereka bertemu
dengan Tuhan, ngobrol-ngobrol sama Tuhan tanpa sehelai bulu pun yang menutupi
tubuh mereka!” Cecil juga nggak kalah ngototnya. “Menurutku sih nggak masalah.
Tuhan juga pasti senang kok ngeliat tubuh ciptaan-Nya!”
Kesya menggeleng pelan. “Terserah pendapat kamu mau gimana. Tapi aku
nggak mau seperti itu!”
Kalau soal prinsip, Kesya memang bisa bersikap supertegas.
“Oke...,” akhirnya Cecil mengalah. “Madame, untuk gaun yang turquoise, tolong
diakalin supaya potongan lehernya tidak terlalu rendah. Tentu saja tanpa mengubah
keanggunan gaun itu.”
Madame Daphne mengangguk sambil tersenyum lebar.
11
KESYA meremas tangannya dengan gelisah. Dia merasa ada kupu-kupu yang
beterbangan di perutnya. Bukan kupu-kupu, tapi lebih tepat ada naga yang
beterbangan di perutnya!
Ruangan lelang telah ramai pengunjung. Kesya duduk di deretan kelima dari
depan. Marco, yang duduk di sebelahnya, meraih tangannya.
“Jangan diremas-remas terus jari kamu. Nanti remuk,” candanya.
“Tau nih, Kesya! Pede aja kenapa?” gumam DeeDee. DeeDee telah mendaftarkan
salah satu rancangan perhiasannya pada lelang kali ini. Sebuah cincin kecil
dengan hiasan kupu-kupu bertabur berlian berwarna pink. DeeDee sempat meminta
pendapat Kesya tentang cincin kupu-kupu itu. Menurut Kesya, perhiasan rancangan
DeeDee bagus sekali.
Menanggapi gumaman DeeDee, Kesya tersenyum hambar. Dia benar-benar
tegang. Bagaimana kalau ternyata perhiasannya hanya terjual dengan harga murah?
Bagaimana kalau tanpa sengaja, perhiasannya rusak? Bagaimana kalau—
kemungkinan yang terburuk—tidak ada orang yang tertarik dengan perhiasan
rancangannya? Kesya pasti akan malu besar. Ini kan lelang bertaraf internasional!
“Halo, Kesya! Kesya halo!” sapa sebuah sara melengking.
Kesya berpaling. Fokusnya yang terpecah membuatnya tidak segera menganali
suara itu.
“Kesya, saya yakin sekali kamu pasti ikut acara ini! Yakin sekali kamu ikut!”
Itu Madame Juliet Anggoro. Mata Kesya silau melihat kalung emas bertumpuk
yang dikenakan wanita itu. Sepertinya bagi Madame Juliet, ajang lelang kali ini
sekaligus menjadi ajang pamer. Madame Juliet mengulurkan kedua tangannya dan
Kesya dapat melihat kesepuluh jari wanita itu dihiasi cincin-cincin yang indah.
Kesya mengenali dua di antaranya sebagai cincin rancangannya.
“Perhiasan kamu pasti yang paling bagus! Yang paling bagus!” ujar Madame
Juliet sambil menggenggam tangan Kesya.
Kesya hanya tersenyum gugup. Tidak dapat merespons pernyataan Madame
Juliet.
“Saya akan duduk di sana ya! Duduk di sana! Saya pasti akan menawar
perhiasan kamu dengan harga tinggi! Menawar dengan harga tinggi!” Lalu sambil
tertawa terbahak-bahak, Madame Juliet beranjak ke tempat duduknya.
Marco mengernyit dan Kesya dapat mendengar tawa tertahan DeeDee.
“Jangan tanya,” desis Kesya menjawab pertanyaan yang belum sempat terlontar
dari mulut Marco.
Kepala Kesya berputar memandangi ruangan lelang itu. Sebagian besar
undangan sudah datang.
“Kesh... tenang saja.” Marco meremas lembut tangan Kesya.
Kesya mengangguk. Dia kan perancang perhiasan yang sudah punya nama di
Jakarta. Perhiasannya disukai banyak kalangan. Beberapa pengusaha terkenal di
Jakarta juga sering meminta Kesya merancang perhiasan untuk mereka. Kesya
berusaha memetakan pikiran-pikiran positif tersebut di dalam otaknya. Pikiranpikiran
itu lumayan dapat menenangkannya.
Acara lelang pun dimulai. Perhiasan Kesya mendapat urutan kelima. Tiga buah
kalung rancangan terbaru Kesya. Kesya benar-benar cermat dalam merancang
kalung-kalung ini. Acara lelang ini dapat menjadi ajang promosi yang baik sekali
untuk perhiasan-perhiasan rancangannya.
Perhiasan urutan pertama sampai keempat ternyata terjual cukup cepat. Angka
penjualan tertinggi mencapai harga 50 juta rupiah! Kesya semakin kuat meremasremas
jarinya. Entah apakah harga kalungnya juga akan mencapai, atau bahkan
melampaui, harga tertinggi itu?
Marco tersenyum melihat kegugupan Kesya.
“Udah deh, Sayang. Nggak usah gugup begitu. Kalung rancangan kamu tuh
bagus banget lho!”
Kesya tersenyum mendengar pujian Marco.
“Sekarang, tiga buah kalung rancangan terbaru dari perancang muda berbakat
kita, Kesya Artyadevi!”
Aduh! Mendengar namanya disebut, jantung Kesya seperti akan melompat
keluar. Butiran keringat mulai memenuhi dahinya. Sebenarnya ruangan lelang ini
full AC, tapi tetap saja keringat Kesya ngotot bermunculan. Kesya menyeka
keringatnya dengan panik.
Marco tersenyum dan menyusupkan jarinya di balik tangan Kesya. Dia
meremas lembut jemari Kesya. Berusaha mengalirkan ketenangan pada gadis itu.
“Perhiasan yang pertama... A Cup of Morning Dew...”
Layar besar di belakang pemimpin lelang menampilkan foto perhiasan
rancangan Kesya. Sebuah kalung emas kuning dengan bandul yang terdiri atas
bulatan-bulatan emas yang dibuat cekung menyerupai mangkuk. Ukuran mangkukmangkuk
emas itu tidak sama satu dengan lainnya. Letaknya juga asimetris. Di
mangkuk urutan keempat, sebuah mutiara putih merekat dengan anggun. Sekilas
tampak seperti tetes embun pagi yang terdapat di mangkuk emas. Inspirasinya
berasal dari tetes embun yang dilihat Kesya di kebun teh, saat menemani Alo dan
Cecil foto pre-wed.
“Ayo... silakan, saya mulai dengan harga lima juta. Apa ada yang mau
menambahkan?”
“Tujuh juta!” Terdengar seruan dari arah belakang Kesya.
“Ya! Tujuh juta untuk ibu di sana. Ada yang mau menambahkan?”
Kesya menajamkan pandangannya, berusaha melihat penawar pertamanya.
Namun, keremangan cahaya dalam ruangan membuat matanya tidak dapat melihat
dengan jelas.
“Sepuluh juta!”
“Ya, sepuluh juta untuk ibu berbaju ungu!”
“Dua belas juta!”
“Ya...”
“Empat belas juta! Empat belas jutaaa! Empat belas jutaaaaaa!”
Itu pasti Madame Juliet Anggoro!
Suara pemimpin lelang terdengar kencang sekali. Sementara gumaman dan
seruan penuh semangat terdengar dari para peserta lelang yang sibuk melakukan
penawaran. Kesya terus berdoa. Berharap semoga saja harga yang ditawarkan dapat
terus naik. Begitu tegangnya dia hingga tidak sanggup lagi mendengarkan suarasuara
di sekitarnya.
“Ssstt...,” bisik Marco, “udah sampai dua puluh juta tuh...”
Kesya terkesiap. “Dua puluh juta?” bisiknya setengah tercekik.
Marco mengangguk dan tersenyum kecil melihat reaksi Kesya.
“Ya silakan... Ada penawar yang lain?”
“Dua puluh tiga juta! Dua puluh tiga juta!”
Hah? Dua puluh tiga juta? Kesya bersorak tanpa suara.
“Dua puluh lima juta!”
Kesya menahan napas. Dua puluh lima juta? Dia tidak menyangka sama sekali!
“Ya, ibu yang di sana. Ayo siapa lagi? Dua puluh lima juta! Ada lagi?” Seluruh
ruangan terdiam, seolah menunggu penawar yang masih berani menaikkan harga.
“Tidak ada lagi? Dua puluh lima juta! Going one... two... three... Ya, terjual seharga
dua puluh lima juta rupiah kepada ibu bernomor tiga puluh!”
Tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Marco memeluk Kesya dan mengucapkan
selamat. DeeDee bertepuk tangan kencang sekali. Mulutnya tidak berhenti
mengucapkan kata “hebat” dengan penuh semangat.
Kesya menarik napas, tapi belum sepenuhnya merasa lega. Masih ada dua
perhiasan lagi.
“Berikutnya masih perhiasan rancangan Nona Kesya Artyadevi. Seuntai kalung
yang diberi judul Wings of Love.”
Layar besar kini menampilkan Wings of Love, rancangan Kesya yang kedua.
Sebuah kalung platinum dengan bandul hati bersayap. Hatinya terbuat dari emas
kuning, sedangkan sayapnya terbuat dari emas putih mengilat.
Kesya tersenyum simpul mengingat ide kreatif dari rancangan ini. Sebenarnya
kalung ini merepresentasikan cintanya kepada Jansen yang terbang digantikan oleh
cintanya kepada Marco. Diam-diam dia melirik Marco, salah seorang inspirator
terciptanya kalung ini.
“Saya akan membuka penawaran dengan harga sepuluh juta! Silakan... ada yang
mau menambahkan?”
“Dua belas juta!”
“Ya, dua belas juta untuk bapak nomor lima puluh dua! Silakan yang lainnya...”
Marco bangkit dari kursinya dan mengacungkan papan plastiknya tinggi-tinggi.
“Lima belas juta!” serunya mantap.
“Ya! Lima belas juta untuk bapak dengan nomor dua puluh delapan! Silakan...”
Kesya terkesiap. “Marco!” desisnya. “Ngapain kamu?”
Marco duduk, tersenyum kepada Kesya. “Aku mau beli perhiasan, Sayang.”
“Dua puluh juta! Dua puluh jutaaa!”
Kesya mengembuskan napas kuat-kuat. Madame Juliet lagi.
Marco tersenyum, mengedipkan sebelah matanya dan berdiri lagi.
“Dua puluh lima juta!” serunya lantang.
Kesya menggeleng-geleng. “Kamu beneran mau beli perhiasan itu? Atau hanya
supaya harga perhiasanku bisa ditawar lebih tinggi?” Mata Kesya menyipit curiga.
Marco terbahak. “Ya tentu aku beneran mau beli perhiasan itu dong!”
“Dua puluh lima juta! Ada yang mau menawar lagi?”
“Dua puluh tujuh jutaaa! Dua puluh tujuh jutaaaaaa!” Suara Madame Juliet
terdengar bergetar saking bersemangatnya. Dia tidak mendapatkan perhiasan Kesya
yang pertama dan dia sangat bernafsu mendapatkan perhiasan yang ini.
“Empat puluh juta!”
Seluruh ruangan berdengung. Kesya tersentak, lalu berusaha mencari asal suara
itu. Seorang wanita anggun mengangkat papan plastiknya. Kepalanya terangkat
penuh gaya. Marco, mengikuti arah pandang Kesya, juga melihat wanita itu.
“Ya, empat puluh juta untuk ibu nomor lima puluh.”
“Empat puluh dua juta!” seru Marco.
Mata Kesya membelalak. Perhiasannya dihargai empat puluh dua juta?
“Empat puluh lima jutaaa! Empat puluh lima jutaaaaaa!” teriak Madame Juliet.
“Enam puluh juta!” seru wanita dengan nomor lima puluh lagi.
Kali ini napas Kesya benar-benar berhenti! Enam puluh juta? Benar-benar WOW!
“Ya, enam puluh juta untuk ibu dengan nomor lima puluh! Ada lagi?”
“Aah! Aahhh!” terdengar raungan kesal dari arah Madame Juliet.
“Enam puluh juta! Going one... two... three! Ya! Terjual seharga enam puluh juta
untuk ibu dengan nomor lima puluh!”
Tepuk tangan kini lebih kencang lagi. Marco lagi-lagi memeluk Kesya. DeeDee
melompat-lompat kegirangan. Rasanya dia lebih bersemangat dibandingkan Kesya!
Kesya tersenyum lebar. Hmmm... masih ada satu perhiasan lagi. Semoga harga
perhiasan ini juga sebaik yang sebelumnya.
“Ya... penjualan yang sangat baik!” kata pemimpin lelang. “Sekarang beralih ke
perhiasan berikutnya. Perhiasan ketiga, sekaligus perhiasan rancangan terakhir dari
Nona Kesya Artyadevi. Sebuah kalung yang diberi judul Sparkling. Saya mulai
penawaran dengan harga lima belas juta!”
Layar besar menampilkan kalung terakhir. Kalung dengan tiga buah rantai
bertabur berlian kualitas terbaik. Ketiga buah rantai itu disatukan oleh sebuah
simbul berbentuk bunga, juga bertabur berlian kualitas terbaik.
“Enam belas juta!” teriak seorang laki-laki dengan lantang.
“Ya, bapak dengan nomor sebelas. Ada yang lebih tinggi?”
“Tujuh belas! Tujuh belas juta!” Again, Madame Juliet.
“Dua puluh juta!” seru Marco.
Hah? Yang ini juga mau dibeli?
Marco hanya mengangguk menjawab pertanyaan nonverbal Kesya.
“Dua puluh dua juta!”
“Dua puluh dua juta untuk bapak dengan nomor sebelas! Ayo, ada lagi?”
pemimpin lelang terdengar bersemangat sekali.
“Tiga puluh jutaaa! Tiga puluh jutaaaaa! Ayo berikan perhiasan itu! Berikan!”
jerit Madame Juliet histeris. Dia benar-benar bernafsu sekarang.
“Tiga puluh juta untuk ibu dengan nomor dua puluh satu! Ada lagi yang lain?”
“Tiga puluh dua juta!” seru Marco tidak mau kalah.
“Tiga puluh dua juta untuk bapak dengan nomor dua puluh delapan! Ada lagi
yang mau menambah?”
“Empat puluh jutaaa! Empat puluh jutaaaaa! Juta empat puluh!”
Wah! Madame Juliet benar-benar kalap. Dia tidak pernah tidak mendapatkan
apa yang dia inginkan.
Jantung Kesya berdetak cepat. Ini benar-benar momen yang sangat menegangkan.
Belum pernah dia mengalami euforia seperti sekarang ini.
“Lima puluh juta!”
Seluruh orang terkesiap. Tawaran naik dengan cepat!
“Ya, lima puluh juta untuk ibu dengan nomor lima puluh!”
Lagi-lagi si ibu nomor lima puluh... Siapa sih dia sebenarnya?
“Lima puluh satu jutaaa! Satu lima puluh jutaaaaa!” Madame Juliet benar-benar
tidak mau mengalah.
“Lima puluh lima juta!” balas si ibu dengan nomor lima puluh.
“Lima puluh lima juta untuk ibu dengan nomor lima puluh! Ada penawaran
lain?”
“Enam puluh jutaaa! ENAM PULUH JUTAAAAA!”
Kini, semua peserta terdiam. Mengikuti dengan seru perang harga antar
Madame Juliet dengan ibu nomor lima puluh.
“Enam puluh lima juta!” balas si ibu nomor lima puluh.
“Enam puluh tujuh jutaaa!” balas Madame Juliet.
“Delapan puluh juta!”
“Wuoohhh...,” gumam seluruh orang di ruangan lelang.
“Delapan puluh juta untuk ibu dengan nomor lima puluh!” teriak pemimpin
lelang, tak kalah semangat. “Ada yang mau menambah?”
Ruangan sunyi. Hanya terdengar napas frustrasi Madame Juliet memburu
kencang. Dia kalah lagi!
“Going one... two... three... Gone! Delapan puluh juta untuk ibu dengan nomor
lima puluh! Selamat!”
Seluruh ruangan bertepuk tangan. Marco memeluk Kesya dengan erat. DeeDee
kembali melompat-lompat di sampingnya. Heboh banget! Peserta lelang yang
duduk di sekitar Kesya juga memberikan selamat kepadanya. Kesya bangga sekali.
Acara lelang terus berlangsung. Pada urutan kesepuluh, sebuah gelang yang
sangat cantik ditawarkan. Mata Kesya tertegun memandangi gelang tersebut.
Gelang dengan lima bandul kecil berbentuk butiran salju. Tiap bandulnya dihiasi
dengan sebutir berlian kualitas terbaik, membuatnya tampak seperti butiran salju
sungguhan.
“Ya, penawaran akan saya buka dengan harga lima juta. Ada yang mau
menambahkan?”
“Pinjam nomor kamu...,” bisik Kesya dan langsung mengangkat nomor Marco
tinggi-tinggi. “Enam juta!” teriaknya lantang.
“Enam juta untuk ibu dengan nomor dua puluh delapan! Silakan yang
lainnya...”
“Kamu mau gelang itu?” tanya Marco.
Kesya mengangguk. “Bagus banget...,” desahnya.
Marco mengambil nomornya dari tangan Kesya. “Aku beliin buat kamu...”
“Eh... nggak usah...”
Tapi Marco sudah mengangkat nomornya dan berseru “Sepuluh juta!” dengan
lantang.
“Sebelas juta!”
“Sebelas juta untuk ibu dengan nomor lima puluh!”
Wah! Si ibu nomor lima puluh memang kolektor perhiasan sejati. Dia banyak
sekali membeli perhiasan. Kesya jadi sungkan harus perang harga dengan ibu yang
sudah menjadi pelanggan terbesarnya.
“Lima belas juta!” teriak Marco lagi.
“Enam belas juta!” balas si ibu nomor lima puluh tidak mau kalah.
Marco sudah akan mengangkat nomornya lagi, tapi tangan Kesya menahannya.
“Udah deh...,” bisiknya. “Nggak worth it harganya.”
“Tapi kan kamu mau?” Marco tetap berkeras.
Kesya menggeleng.
“Enam belas juta... ada yang mau menawar lagi? Going one... two... three... Gone!
Enam belas juta untuk ibu nomor lima puluh!”
Kesya menatap gelang cantik di layar untuk terakhir kalinya. Gelang cantik
yang sudah menjadi milik ibu nomor lima puluh. Agak sedih juga melihat gelang
yang disukainya tidak dapat dibeli, tapi ya sudahlah. Toh lelang berakhir dengan
sukses.
Perhiasan rancangan DeeDee juga terjual dengan harga yang bagus sekali.
Namun, rancangan perhiasan Kesya-lah yang menjadi bintang pada acara lelang kali
ini. Karenanya, Kesya mendapat penghargaan sebagai perancang yang paling
diminati. Waktu maju ke panggung untuk menerima penghargaan. Kesya
tersenyum lebar. Bangga sekali rasanya!
Saat peserta lelang mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing, Kesya
bergegas menghampiri si ibu nomor lima puluh. Dia ingin mengucapkan terima
kasih secara pribadi kepada ibu itu.
Kesya menghampiri tempat duduknya dan melihat ibu nomor lima puluh
sedang mengambil tasnya yang diletakkan di bawah tempat duduknya.
“Ibu...,” panggilnya.
Si ibu nomor lima puluh mendongak.
“Oh... ternyata Ibu Lidya Sostronegoro...”
Ibu Lidya Sostronegoro tersenyum. “Kamu masih ingat saya.”
“Tentu saja saya ingat.” Kesya ingat semua pelanggannya. “Terima kasih sudah
membeli rancangan saya ya, Bu.”
Ibu Lidya Sostronegoro mengangguk kecil. “Rancangan kamu semakin bagus.
Kamu semakin berkembang...”
Kesya membalas pujian wanita itu dengan senyum kecil. Hatinya terasa sesak
karena perasaan bangga.
* * *
“Gimana?” Kesya berputar di hadapan Marco. Gaun warna ungu lembut yang
dikenakannya ikut berputar dengan ringan.
Marco berdecak, “Wonderful!”
Kesya tersipu malu.
Marco menggamit lengannya. “Sudah siap?”
Kesya mengangguk. Mereka turun ke lantai paling bawah dan masuk ke dalam
mobil Kesya. Malam ini, APPI mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan
Kesya dan DeeDee dalam acara lelang kemarin. Orangtua Kesya, yang khusus
datang dari Bandung, juga diundang sebagai tamu kehormatan. Mereka meluncur
ke hotel tempat mama-papa Kesya tinggal sementara di Jakarta. DeeDee juga harus
menjemput orangtuanya, yang khusus datang dari Makassar, sebelum menghadiri
pesta perayaan ini.
Kesya dan Marco duduk di lobi hotel. Kesya agak berdebar menantikan
pertemuan orangtuanya dengan Marco. Orangtuanya termasuk tipe orangtua yang
kelewat ingin tahu urusan anak. Yah... bisa dimaklumi sih. Kesya kan anak tunggal,
putri kesayangan mereka, anak satu-satunya. Tapi tetap saja Kesya resah. Ini
pertama kalinya dia akan memperkenalkan Marco kepada kedua orangtuanya.
“Kesya sayang!” itu suara mamanya. Mama memeluk erat Kesya dan mencium
pipinya berulang-ulang. Kebiasaan kecil yang mesra, yang sudah dilakukan Mama
sejak Kesya masih balita sampai sekarang.
“Ma...” Kesya membalas pelukan erat mamanya.
“Ini pasti Marco!” Mama berpaling untuk memeluk erat Marco. Mama sudah
dengar cerita tentang Marco dari laporan Kesya via telepon. Mama dan Papa
memang sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Marco dan merasa senang
luar biasa karena dapat bertemu Marco malam ini. “Tampan sekali kamu. Kesya
memang jago memilih calon suami...”
Uhuk! Kesya tersedak.
Calon suami tadi kata Mama?
Wajah Kesya memerah. Bagaimana Mama bisa sampai pada kesimpulan itu?
Bukannya Kesya menolak. Punya calon suami seperti Marco, tentu saja Kesya akan
menyambut dengan tangan terbuka, tapi Marco sendiri belum mengeluarkan
pernyataan apa-apa.
“Hai, Pa!” Kesya menyapa Papa dengan volume suara yang sengaja dibesarkan,
mengalihkan perhatian Mama. Dia memeluk erat Papa.
“Selamat malam, Oom,” sapa Marco sopan.
“Jadi, kapan kalian akan menyusul Alo dan Cecil?” ujar Papa sambil menjabat
erat tangan Marco.
UGH! Kalau ada sayembara “Orangtua Paling Tidak Peka”, orangtua Kesya
pasti keluar sebagai juara pertama.
“Ayo, kita harus berangkat sekarang kalau tidak mau terlambat.” Kesya
menarik tangan Marco. Sudut bibir Marco terangkat, membentuk senyum kecil.
Para undangan sudah banyak yang hadir saat mereka sampai di tempat acara
diselenggarakan. Kesya menggandeng tangan Marco, sementara orangtuanya
berjalan di belakang mereka. Selain anggota APPI, hadir juga para pemerhati
perhiasan dan para pelanggan, sebagai tamu kehormatan.
Saat Kesya memasuki ruangan pesta, dia mencari-cari sosok Ibu Lidya
Sostronegoro. Dia ingin mengucapkan terima kasih secara personal atas
kepercayaan wanita itu menggunakan perhiasan rancangan Kesya. Namun, Ibu
Lidya tidak hadir. Beliau diwakilkan oleh seorang asistennya.
Kesya malah bertemu dengan Madame Juliet Anggoro. Begitu melihat Kesya
datang, dia langsung memeluk Kesya dengan heboh. Apalagi ketika Kesya
memperkenalkannya kepada orangtuanya dan Marco.
“Kesya ini...,” jari telunjuknya yang gemuk bergoyang-goyang ke arah Kesya,
sementara matanya mengerjap-ngerjap dramatis, “adalah gadis yang sangat
berbakat... sangat berbakat...”
Mama tersenyum lebar mendengar pujian Madame Juliet Anggoro, sementara
Papa mengernyit melihat penampilan wanita itu yang seperti toko perhiasan
berjalan.
“Kamu...,” kali ini Madame Juliet Anggoro menunjuk ke arah Marco, “harus
menjaga dia baik-baik. Jaga dia baik-baik...”
Marco mengangguk sopan, tapi Kesya tahu Marco sebenarnya sudah mau
meledak karena menahan tawa.
“Kalau kamu tidak menjaga dia baik-baik, tidak menjaganya baik-baik, saya
akan mengambilnya menjadi menantu. Menjadi menantu saya...,” ancam Madame
Juliet Anggoro.
Oh, jadi Madame Juliet Anggoro punya anak laki-laki yang belum menikah?
Tapi... Kesy atidak akan sudi menjadi menantu perempuan yang terobsesi dengan
perhiasan. Bisa-bisa dia dipaksa kerja rodi setiap hari untuk merancang perhiasan
untuknya! Kesya bergidik ngeri memikirkan hal itu.
“Kesya tidak akan menjadi istri siapa pun, kecuali istri saya,” ujar Marco
mantap.
Wajah Kesya merona mendengarkan nada suara Marco. Penuh ketegasan dan
keyakinan diri.
Acara berlangsung cukup meriah. APPI bahkan mengundang beberapa
penyanyi terkenal untuk menghibur para tamu. Ketika nama Kesya dan DeeDee
dipanggil untuk menerima ucapan selamat dan penghargaan dari APPI, Mama dan
Papa bertepuk tangan kencang sekali. Mama bahkan sampai berdiri dan berkata—
dengan volume suara yang keras—bahwa Kesya adalah anaknya.
Kesya maju bersama DeeDee—yang senyumnya silau sekali. Berdua, mereka
menerima penghargaan sebagai perancang berbakat versi APPI. Kesya tersenyum
lebar saat menerima penghargaan itu.
12
“BAGAIMANA kalau yang ini, Madame Juliet?”
“No no no no! Yang ini, saya kurang sreg. Kurang sreg...” Madame Juliet
menggeleng-gelengkan kepala. Hiasan rambutnya ikut bergoyang-goyang heboh.
Hari ini tanggal 14 Februari, hari Valentine. Sejak pagi, Madame Juliet sudah
berada di toko Kesya. Katanya, suaminya telah memberinya sejumlah uang yang
cukup besar untuk berbelanja perhiasan. Ini sebagai hadiah Valentine dari Tuan
Anggoro, sang suami. Madame Juliet juga khusus datang untuk membalas dendam
atas ketidakberhasilannya membeli perhiasan rancangan Kesya waktu lelang. Dan
Madame Juliet benar-benar membalas dendam! Lima buah perhiasan rancangan Kesya
sudah menjadi miliknya, dan kini dia sedang berencana untuk membeli perhiasan
yang keenam.
“Yang itu...” Jari gemuk Madame Juliet menunjuk salah satu perhiasan.
Kesya mengeluarkannya dari balik laci kaca. Dia meletakkannya di bawah sinar
lampu agar Madame Juliet dapat melihat keindahannya dengan saksama.
“Hmmm...” Madame Juliet menyipitkan mata. “Yang ini. Saya ambil yang ini.
Ambil yang ini...”
Kesya mengangguk. “Ada lagi, Madame Juliet?”
Madame Juliet terdiam, matanya kembali menyusuri tempat penyimpanan
perhiasan Kesya. Lalu dia menggeleng dengan dramatis. “Cukup untuk hari ini.
Untuk hari ini...,” desahnya.
Kesya tersenyum. Dia kemudian memanggil Mona untuk mengurusi
pembayaran dan pengemasan perhiasan yang sudah dibeli. Karena Madame Juliet
hari ini telah membeli perhiasan dalam jumlah cukup banyak, Kesya menghadiahi
beliau sebuah jam tangan cantik. Mata Madame Juliet berbinar-binar saat Kesya
memperlihatkan jam tangan cantik tersebut.
“Terima kasih, Kesya. Terima kasih! Kamu baik sekali! Baik sekali!” pekiknya
senang. Dia memeluk Kesya dengan erat. Kesya sampai sulit bernapas.
“Hmmppfft... sa... sama-sama, Ma... Madame Juliet...,” jawab Kesya dengan
napas tercekik.
Mona memanggil Madame Juliet untuk menandatangani bukti pembayarannya
sambil berujar, “Bu Kesya, ada telepon. Dari Bu Cecil...”
Kesya mengangguk kecil dan, setelah Madame Juliet keluar ruangan, Kesya
menerima telepon dari Cecil.
“Hai, Cil...”
“Kesh, happy Valentine, dear! Aku dengar soal lelang kamu yang sukses berat!
Sukses berat! Hebat! Huebbaattt!”
Kesya mengernyit. Cecil jadi kedengaran seperti Madame Juliet!
“Happy Valentine juga. Thanks, Cil, untuk ucapan selamatnya... Omong-omong,
gimana acara meeting-nya?”
Cecil tidak bisa hadir dalam acara lelang Kesya karena harus menghadiri meeting
di luar kota. Alo juga masih berada di Singapura.
“Boring... as usual. Yah... What do you expect? Paling males kalau meeting,
ngomongnya sering ngalor-ngidul.”
“So... ada kabar apa sekarang?”
Cecil terkikik. “Mungkin pertanyaannya harus diganti jadi „Apa yang harus aku
lakukan sekarang?‟”
Kesya ikut tertawa. “Iya ya... aku kan bridesmaid. Jadi demi kesejahteraan si calon
pengantin, aku harus jungkir balik, banting tulang, peras keringat, dan berdarahdarah...”
“Iih... Kesya... Nggak segitunya deh...,” kata Cecil terdengar pura-pura marah,
“tapi aku memang benar-benar butuh pertolongan kamu.”
“I’m all yours, Your Majesty.”
Cecil terkikik. “Tentang nulis label undangan. Ternyata kalau cuma aku dan Alo
yang ngerjain, ribet dan lama banget. Kami butuh bantuan kamu dan Marco...”
“Nulis label undangannya emang pakai tangan?” tanya Kesya. Dia
membayangkan harus membantu Cecil dan Alo menulis nama beribu-ribu
undangan. Bisa copot tangannya.
“Nggak dong. Diketik di komputer lah...”
“Terus?” sambung Kesya. “Apanya yang ribet dan lama? Kan komputer sudah
mempermudah semuanya.”
“Ah, Kesya. Kamu nggak tau sih! Kalau cuma aku dan Alo yang ngerjain, pasti
deh ada yang salah. Kami kan sangat-sangat tidak well-organized!”
Ah! Ada-ada aja Cecil. Masa tinggal ngetik nama undangan aja butuh bantuan
orang lain. Tapi... ya sudahlah. Toh sepulang nanti tidak ada yang harus
dilakukannya.
“Oke deh.”
“Thanks, Kesh. Abis itu kami traktir kalian dinner. Valentine’s dinner.”
“Dinner-nya bukan kamu yang masak, kan?”
Cecil terbahak. “Aku sudah memutuskan hubungan dengan dapur. Alo sendiri
sudah menetapkan dapur di rumah kami yang baru hanya akan jadi dapur kering.
Tempat kami masak air untuk bikin kopi dan memanaskan masakan pesanan
restoran.” Tawa Cecil meledak lagi. “Dia juga kapok mencicipi masakanku.”
Kesya ikut tertawa. Alo memang paling memahami Cecil. Mereka memang
pasangan yang cocok luar-dalam.
“Oke kalau begitu. Di mana ketemuannya?”
“Di rumah baru kami. Renovasinya sudah jadi. Aku sekalian mau kasih liat
kamu dan Marco.”
Kesya mengangguk. Selesai bertelepon dengan Cecil dan menghubungi Marco,
dia membereskan ruangannya. Tiba-tiba, teleponnya berbunyi lagi.
“Halo...,” sapa Kesya.
“Ha... halo...,” sapa sebuah suara.
“Jansen, ya?” tebak Kesya. Mendengar kegugupan suara si penelepon, Kesya
yakin seratus persen bahwa yang menelepon adalah Jansen.
“I... iya, Kesh... Kesya sedang apa?”
Kesya tersenyum mendengar suara Jansen. Walaupun Jansen menghubunginya
bertepatan dengan Hari Valentine, debar di hatinya sungguh telah hilang. Debar
hatinya kini hanya beraksi terhadap Marco. Tapi Kesya senang Jansen
menghubunginya. Sudah lama sekali, sejak pertemuan mereka yang terakhir, Kesya
tidak mendengar kabar tentang Jansen.
“Aku lagi nunggu Marco. Mau sama-sama ke rumah Cecil. Tumben kamu
telepon?”
Saat Kesya mengucapkan nama Marco, dia merasakan napas tertahan Jansen.
“Oh... be... begitu. Aku... aku hanya ingin tahu kabarmu. Aku... aku sudah...
sudah baca tentang lelang perhiasanmu yang sukses... Teman... temanku kebetulan
juga meliput. Kamu... kamu... he... hebat. Se... selamat ya.”
“Thanks. Bagaimana kabarmu? Kamu lagi sibuk apa sekarang?”
“Biasalah... motret model untuk majalah...” Jansen tertawa, seolah
menertawakan kegugupannya.
“Hmm... baguslah. Moga-moga ada salah seorang dari model itu yang bisa
merebut hatimu.”
Jansen tertawa. “Model-model itu kebanyakan model cantik saja. Tidak seperti
kamu, Kes... Kamu...” Ucapan Jansen tergantung, tidak jadi diselesaikan.
Kesya ikut tertawa. “Thanks again, Jansen. Tapi aku sungguh berdoa untuk
kamu, biar kamu bisa mendapatkan wanita yang cocok untukmu.”
Jansen tertawa. “Thanks. Hmm... oke deh. Aku... aku hanya ingin tahu kabarmu.
Salam untuk... untuk Marco ya...”
“Oke. Take care ya...”
Pintu ruangan Kesya terbuka dan sosok menjulang Marco berdiri di sana. Kesya
tersenyum dan menghampiri Marco. Marco merengkuh tubuhnya, memeluknya
erat.
“Happy Valentine, Sayang...,” bisik Marco di telinga Kesya. Sedari pagi, Kesya
memang belum bertemu dengan Marco.
Kesya tersenyum, separuh merasa geli, separuh lagi merasa sangat bahagia.
“Happy Valentine juga, Sayang.” Kesya mencium pipi Marco dengan lembut. “Kamu
mau jalan sekarang?” Kesya teringat janjinya dengan Cecil.
Marco menggeleng. “Aku punya kabar baik untuk kamu,” ujar Marco.
Senyumnya merekah. Dia membimbing Kesya duduk berhadap-hadapan.
Tangannya menggenggam erat tangan Kesya. “Selama ini kan aku tinggal di
Singapura. Pekerjaanku lebih banyak di sana.”
Kesya mengangguk pelan. Tangannya terasa hangat dalam genggaman Marco.
“Kalau aku kembali menetap di Singapura...,” Marco menghela napas, “tentu
akan berat bagi kita berdua.”
Dahi Kesya berkerut. Menerka-nerka arah pembicaraan Marco.
“Maka dari itu, aku terima pekerjaan di Jakarta. Sebuah perusahaan real-estate
melihat hasil kerjaku menata taman kota kemarin. Mereka memberikan tawaran
untuk menangani lima proyek taman untuk perumahan yang rencananya akan
mereka bangun. Selama itu, aku akan berdomisili di Jakarta.” Senyum Marco
bertambah lebar.
Telinga Kesya berdesing hebat. Tidak percaya dengan apa yang barusan dia
dengar. Jadi, Marco akan menetap di Jakarta untuk jangka waktu yang belum
ditentukan?
“Mungkin juga akan dipekerjakan sebagai perancang tetap di perusahaan
mereka.”
Bagus sekali! Bahkan ada kesempatan bagi Marco untuk menetap di Jakarta.
Dengan demikian, jarak sudah tidak menjadi masalah lagi bagi hubungan mereka.
“Gimana, Sayang?” tanya Marco tersenyum. “Sounds great?”
Kesya tersenyum lebih lebar. Dia mengangguk. “Perfect.”
Ternyata Marco memang serius untuk melanjutkan hubungan dengannya.
What a wonderful Valentine’s present!
* * *
Jam menunjukkan pukul tujuh malam saat mereka selesai membuat labe lundangan.
Sebenarnya itu pekerjaan mudah, hanya saja Cecil dan Alo terlalu banyak berdebat.
Ada saja yang mereka perdebatkan. Soal penulisan gelar, soal penulisan nama
lengkap, bahkan soal ukuran tulisan. Kehadiran Kesya dan Marco adalah untuk
mencairkan ketegangan perdebatan mereka.
“Ya ampun! Kalian kan belum makan!” Cecil menepuk dahi.
Bergegas mereka menuju restoran yang terletak tidak jauh dari rumah Alo-Cecil.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Kesya mengeluarkan cincin pernikahan
Alo dan Cecil. Ketika mencoba gaun bridesmaid di Bride‟s World, Cecil bilang mau
melihat cincin pernikahannya bersama-sama Alo. Setelah itu Kesya sibuk dengan
acara lelangnya. Cecil dan Alo juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kesya
merasa inilah saat yang tepat untuk memperlihatkan cincin pernikahan rancangannya.
Napas Cecil tertahan ketika melihat cincin itu. Binar-binar di wajahnya tampak
cemerlang sekali!
“Bagus banget, Kesh...” Cecil mengangkat cincin itu dengan sepenuh perasaan.
Lampu di atas meja mereka memantulkan kilau yang indah pada cincin itu.
“Kamu bener-bener berbakat!” puji Alo. “Thanks ya, Kesh.”
Kesya tersenyum senang mendengar pujian tulus dari teman-temannya.
Hampir pukul sepuluh malam baru Kesya dan Marco tiba di apartemen.
DeeDee hari ini menemui ayah dan ibunya di hotel tempat mereka menginap. Sudah
lama sekali dia tidak bertemu dengan orangtuanya.
Marco mengantarkan Kesya masuk ke apartemennya. Kesya mengundang
Marco untuk minum segelas teh hangat. Kesya masuk dan melemparkan tasnya
begitu saja. Dia berjalan tersaruk-saruk ke kamarnya. Tangannya menggapai-gapai,
mencari sakelar lampu.
“Sayang, mau dibantu?” tanya Marco sambil memeluknya dari belakang.
Kesya menggeleng sambil tersenyum. “Aku bisa kok...”
“Yakin?” suara Marco terdengar menggoda. Pelukannya diperketat.
Kesya tersenyum. “Yakin dong. Ini kan kamarku sendiri, masa aku nggak bisa
nyalain lampunya...”
“Oke...,” ujar Marco tanpa melepaskan pelukannya.
Kesya berhasil menyalakan lampu. Lampu menyala terang. Kesya terperangah
ketika sinar lampu menerangi kamar tidurnya.
“Surprise for you, dear,” bisik Marco di telinganya.
Kesya terkesiap. Ranjang tempat dia biasa tidur telah berubah menjadi ranjang
gantung yang cantik sekali. Kesya mendekati ranjang gantung itu. Mendesah tidak
percaya. Ranjang itu mirip sekali dengan ranjang Titania, sang ratu peri dalam cerita
A Midsummer Night’s Dream. Salah satu dongeng Shakespeare yang sangat
disukainya.
“Ranjang yang cantik untuk gadis yang cantik...,” ujar Marco.
Kesya masih belum dapat berkata-kata. Terlalu terkejut untuk dapat
menyuarakan isi kepalanya.
“Suka?” Marco mengangkat Kesya dan mendudukkannya di atas ranjang.
Ranjang itu berayun pelan. Kesya merasakan sensasi romantis yang tidak dapat
diungkapkannya saat berada di atas ranjang itu. Seolah tidurnya akan nyenyak
sekali dan mimpi-mimpi yang hadir dalam tidurnya pastilah mimpi-mimpi indah
penuh tebaran bunga wangi.
Kesya mengangguk pelan. “Aku suka sekali.”
Marco memeluk Kesya dengan erat. Hangat.
* * *
Tanpa terasa, tinggal beberapa minggu lagi rencana pernikahan Alo dan Cecil akan
berlangsung. Persiapan pesta sudah sekitar 98 persen. Tentu saja semua itu tidak
terlepas dari andil Kesya. Kesya banyak membantu Cecil dalam segala hal yang
berhubungan dengan hari besar itu.
Satu hal yang kini mengusik perhatian Kesya. Bridal shower! Kesya juga tidak
akan ingat akan acara yang satu ini kalau DeeDee tidak mengingatkan. Buru-buru
dia searching lagi di bridesmaid101.com.
Thanks to the internet!
Bridal shower ini mirip pesta bujangannya mempelai pria. Bridal shower dihadiri
oleh teman-teman dan kerabat calon mempelai wanita. Pada bridal shower, tamu
yang hadir membanjiri si calon mempelai wanita dengan berbagai macam hadiah.
Jenis hadiah biasanya akan disesuaikan dengan tema bridal shower. Ada yang
temanya lingerie shower, yaitu tamu-tamu menghadiahi calon mempelai wanita
dengan lingerie atau bikini yang seksi. Ada juga yang temanya recipe shower. Hadiah
untuk calon mempelai wanita berupa makanan, berikut resep masakannya,
perangkat memasak, dan piranti makan. Selain itu ada juga yang memilih tema
multicultural shower. Pada tema ini, para tamu membawa makanan khas dari daerah
masing-masing sebaga ihadiah untuk calon mempelai. Wadah yang digunakan
untuk membawa makanan juga diberikan sebagai hadiah.
Untuk bridal shower Cecil, Kesya memilih tema lingerie shower. Kesannya seksi
sekali!
Dibantu DeeDee, dia mulai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan
untuk acara itu. Cecil minta acara diselenggarakan di rumahnya saja. Semua
kerabatnya yang wanita, termasuk juga beberapa teman wanitanya semasa sekolah
dulu, akan diundang untuk menghadiri acara bridal shower tersebut. DeeDee
mendapat tugas membawakan games dalam acara itu. Dia sangat bersemangat. Dia
juga ikutan browsing di bridesmaid101.com untuk mencari tahu jenis permainan yang
cocok untuk acara tersebut.
* * *
Kesya melihat ke sekeliling ruang tamu rumah Cecil dan mengembuskan napas
lega. Dia sudah bekerja keras untuk mempercantik ruangan ini. Mamanya, yang
khusus datang dari Bandung, dan Tante Renata mondar-mandir membantu Kesya
menata makanan. Kesya menghubungi DeeDee.
“Udah siap belum, Dee?” tanyanya.
“Udah beres semua kok, Kesh!” sahut DeeDee. Suaranya terdengar bersemangat
sekali.
Kesya mengangguk. Semangat DeeDee ternyata menular. Kesya juga merasakan
semangat yang tinggi.
Tante Renata dan mama Kesya berlalu di hadapan Kesya.
“Lho? Pada mau ke mana nih?” tanya Kesya melihat tas yang disandang di bahu
mereka masing-masing.
“Kami mau keluar aja. Nggak enak gangguin acara gadis-gadis...” Tante Renata
dan mama Kesya tersenyum malu-malu.
“Yakin nih?” goda Kesya. “Nggak mau ikut acaranya? Padahal kan Mama dan
Tante Renata sudah bantuin aku mengatur makanannya.”
Mama Kesya dan Tante Renata tersenyum malu-malu lagi. “Sebenarnya sih mau
ikutan, tapi... malu ah...”
Kesya tersenyum geli melihat tingkah kedua mama itu.
“Ya sudah. Nanti dikasih lihat foto-fotonya aja deh...”
Mama Kesya dan Tante Renata mengangguk sambil tertawa, kemudian berlalu
pergi.
Cecil keluar dari kamarnya sambil tersenyum lebar. Aura kebahagiaan terpancar
dari wajahnya dan itu membuat penampilannya tampak semakin cantik.
“Wah! Keren banget!” komentar Cecil melihat ke sekeliling ruang tamu. Bungabunga
segar tertata di setiap sudut ruangan. Menebarkan harum ke seluruh penjuru
ruangan. Di atas meja sudah tertata rapi aneka macam roti isi, kue-kue kering dan
basah, sepoci besar teh, juga ada sepoci besar kopi, dan tak lupa... es krim! Lingerie
shower kali ini akan dilaksanakan sore hari, jadi makanannya juga ala tea time.
Pukul empat kurang lima belas menit, DeeDee datang. Dia membawa kotakkotak
yang berisi peralatan untuk games nanti. Setelah itu tamu-tamu mulai
berdatangan. Kesya sempat menyapa dan mengobrol ringan dengan beberapa
teman dari masa sekolah dulu. Teman-teman Cecil membawa beberapa hadiah
berupa lingerie dan pakaian dalam yang superseksi, peralatan mandi, berbagai
macam produk perawatan tubuh, sampai bikini aneka warna.
Lima menit sebelum acara dimulai, Finna datang. Kesya sudah lupa sama sekali
pada Finna. Terakhir kali mereka bertemu adalah... ketika Finna dengan suksesnya
membuat marah Madame Daphne. Hmm... sudah beberapa bulan yang lalu.
“Hai, Finna...,” sapa Kesya. Finna tidak tersenyum, hanya menatap sinis ke arah
Kesya. Dia berlalu begitu saja, tidak juga menyapa Cecil si empunya rumah, dan
duduk dengan wajah ditekuk. Kesya mengangkat bahu.
“Dia masih sakit hati...,” bisik Cecil melihat wajah Finna. “Tapi, dia yang
menghubungi aku, minta diundang datang ke acara ini. Aku tadinya sudah malas
banget, tapi kata mamaku, biar bagaimana dia kan masih saudara. Jadi...” Cecil juga
ikut mengangkat bahu.
Acara kemudian dimulai. DeeDee membuka acara lingerie shower ini dengan
sebuah games pembuka. Cecil ikut aktif dalam games, sementara Kesya sibuk
mengabadikan acara ini.
Ting tong!
Saat games sedang seru-serunya berlangsung, tiba-tiba bel berbunyi.
“Siapa tuh?” Cecil agak terusik dengan interupsi ini.
Kesya mengangkat bahu. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Sepertinya semua
yang diundang sudah datang. Dia beranjak ke pintu dan membukanya. Seorang
kurir datang membawa buket bunga yang besar sekali.
“Untuk Finna Salsabila,” kata kurir itu.
Finna langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan penuh gaya
menghampiri kurir itu. Dia mengambil buket bunganya dan membenamkan wajah
di buket itu. Seluruh orang yang ada di sana mengernyit melihat tingkah laku Finna.
Tapi Finna tidak peduli. Dengan gaya dramatis dia embuka kartu kecil yang terselip
di tengah-tengah buket tersebut.
“Ah...,” dia tertawa sengau. “From Edward Patterson. To my lovely fiancée, Finna
Salsabila.” Dia tertawa lagi.
Ada yang aneh dalam sandiwara ini. Kenapa tunangan Finna, si Mr. Edward
Patterson itu mengirimkan buket bunga superbesar ke alamat Cecil? Bukankah
selama di Jakarta, Finna tinggal di rumah orangtuanya, yang jaraknya lumayan jauh
dari rumah Cecil?
Finna mengerling ke arah Cecil. “Edward benar-benar cowok romantis. Apa Alo
pernah kirimin kamu buket bunga seperti ini, Cil?”
Wajah Cecil berkerut, tapi dia tetap diam. Tidak mau meladeni ulah Finna.
Menanggapi diamnya Cecil, Finna kembali tertawa sengau. “Sepertinya nggak
pernah ya? Memang Alo itu sama sekali laki-laki yang tidak romantis. Inggris
blaster. Bukan darah murni. Nggak seperti tunanganku, Edward Patterson,
darahnya murni Inggris.”
Cecil masih diam.
Merasa di atas angin, Finna kembali berkoar. “Aku dengar mamanya Alo juga
nggak setuju sama pernikahan kalian, ya?”
Kali ini tamu-tamu yang hadir mulai berkasak-kusuk.
“Katanya, mamanya Alo lebih setuju kalau Alo ngambil Ningrum, pacar
pertamanya itu jadi istrinya. Aku dengar juga katanya kamu dulu ngerebut Alo dari
Ningrum. Benar begitu, Cil?”
Tamu-tamu mulai berkasak-kusuk. Dasar manusia gosip! Tadinya mereka
tersenyum lebar ketika melihat kebahagiaan Cecil, tapi sekarang... disodori kalimatkalimat
provokatif sedikit saja, mereka mulai berkasak-kusuk. Lagi pula, bagaimana
Finna kunyuk ini bisa tahu permasalahan antara Cecil dan Tante Jessica? Sampaisampai
persoalan tentang Ningrum juga diketahuinya.
“Tutup mulut kamu, Finna! Cecil nggak pernah merebut Alo dari siapa-siapa!”
bela Kesya. “Hubungan Alo dan Ningrum sudah berlalu ketika Alo mendekati Cecil.
Catat ya, Alo yang ngedeketin Cecil duluan. Bukan sebaliknya!”
Finna kembali tertawa sengau, tidak peduli dengan kata-kata Kesya. “Kamu
nggak mau mempertimbangkan rencana pernikahan kamu, Cil? Bad luck tuh punya
mertua seperti itu. Jangan-jangan, anaknya juga nurunin tingkah laku ibunya...”
Wajah Cecil langsung pucat. Dia tidak sudi Alo dihina seperti itu. Lagi pula, apa
maksud Finna dengan meminta Cecil mempertimbangkan rencana pernikahannya?
Benar-benar asal bunyi saja Finna!
Melihat wajah Cecil yang semakin pucat menahan amarah, Kesya buru-buru
mendekati dan merangkul tubuh sahabatnya yang bergetar hebat.
“Udah, Cil. Nggak usah diladenin,” bisik Kesya.
“Jaga. Mulut. Kamu!” Cecil memberi penekanan pada setiap kata yang keluar
dari mulutnya.
“Kan orangtua yang busuk menghasilkan anak yang busuk juga!” Tatapan
Finna tajam menghunjam.
Tubuh Cecil bergetar lebih hebat lagi. Tubuhnya siap meledak karena amarah
yang tergumpal di dalam hatinya. Susah payah Kesya menahan tubuh Cecil, tapi
Cecil menepis tangannya, dan...
Plaak!
“Jangan sekali-kali ngomong begitu tentang Alo!” sembur Cecil penuh
kemarahan. “Kamu nggak tahu apa-apa soal Alo, jadi jangan pernah menghinanya!”
Finna memegangi pipinya. Wajahnya tampak malu, tapi itu tidak menyurutkan
tekadnya untuk kembali menghina Alo.
“Dari dulu juga aku udah tahu kalau hubungan kalian nggak akan bisa berjalan
mulus!” jerit Finna. “Sekarang Alo sedang mengadakan bachelor party dan kamu
tahu siapa yang juga datang?” Finna tersenyum lebar. “Raden Ayu Sekar Ningrum.”
Wajah Cecil pucat pasi. Tubuhnya kembali bergetar hebat.
Kesya mengernyit. Dari mana Finna tahu soal bachelor party yang diselenggarakan
Alo?
“Silakan kamu cek sendiri kalau kamu nggak percaya!” ujar Finna menantang.
Dengan tubuh bergetar, Cecil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alo.
Kesya menahan tangan Cecil, mencegah Cecil melakukan sesuatu yang akan
memperparah keadaan. Tapi, Cecil menepis kasar tangan Kesya.
Cecil menatap garang ponselnya. Tampaknya ponsel Alo tidak berhasil
dihubunginya. Dia mencoba lagi.
“Halo, Marco...,” sapanya dengan suara bergetar. Rupanya kali ini dan dia
menghubungi Marco. “Alo mana?”
Kesya dan semua tamu memperhatikan perubahan wajah Cecil.
“Ngapain dia juga ada di sana?!” teriak Cecil histeris.
Finna mendengus. Wajahnya ceria bagai bunga yang baru mekar.
“Gimana?” suara Finna penuh kemenangan. “Ada Ningrum kan di sana?”
“Dari mana kamu tahu semua itu?” tanya Cecil. Wajahnya tampak keruh sekali.
Finna mendengus. “Nggak perlu kamu tahu dari mana aku tahu. I just know it.”
Dia berjalan menghampiri Cecil. “Alo bukanlah laki-laki yang setia. Aku sudah tahu
itu dari dulu...,” bisiknya.
Sebuah kertas terjatuh ketika Finna beranjak menjauhi Cecil. Kesya memungut
kertas itu dan memperhatikannya.
Ha!
Kesya tersenyum. “Finna...,” panggilnya pelan. “Bunga itu benar dari tunangan
kamu?”
Finna berputar, menghadap Kesya. Dengan tatapan mencibir dia menjawab,
“Tentu saja. Kenapa? Kamu juga sirik ya? Kalian memang gadis-gadis yang
menyedihkan!”
“Oh begitu... Lalu kenapa di kertas ini tertulis bahwa pengirim bunga itu adalah
Finna Salsabila dan ada notes di sini yang meminta agar bunga itu dikirimkan ke
rumah Cecil?” Kesya mengibarkan kertas merah muda yang tadi terjatuh.
Kini giliran Finna yang memucat. Cecil merebut kertas itu dari tangan Kesya.
Dia memperhatikannya dengan mata menyipit.
“Jadi sebenarnya, kamu punya tunangan atau nggak?” cecar Kesya penuh
amarah.
Kasak-kusuk kembali terdengar. Para tamu kembali diam-diam mengomentari
drama yang tengah terjadi. Pandangan Finna melemah, tidak segarang tadi.
Kesya sebenarnya tidak suka berada di posisinya sekarang. Posisi seorang
eksekutor, tapi dia harus membela Cecil. Dia harus membuktikan bahwa Finna
adalah pembohong, dan semua kata-katanya tentang Alo tidak dapat dipercaya.
“Jadi, sebenarnya kamu punya tunangan atau nggak?” ulang Kesya lagi.
Ting tong! Bel pintu rumah Cecil berbunyi lagi. Dengan sangat enggan, Cecil
beranjak untuk membuka pintu.
Finna masih berdiri mematung. Berubah menjadi si pesakitan dalam drama ini.
Tamu-tamu lain, diam-diam masih berkasak-kusuk. DeeDee mendekati Kesya.
Tampak bingung juga harus bereaksi apa.
Cecil masuk kembali, diikuti dua laki-laki berwajah sangar. Mereka berpakaian
serbahitam.
“Siapa, Cil?” tanya Kesya heran. Dia tambah heran melihat pucat ketakutan di
wajah Finna. Finna merangsek panik dan bersembunyi di belakang DeeDee.
“Jangan...!” teriaknya. “Jangan tangkap saya! Saya pasti akan melunasi utangutang
saya!”
“Kami di sini untuk menjemput Ibu Finna Salsabila,” ujar salah seorang laki-laki
tegap itu. “Ibu Finna diminta untuk segera ikut ke kantor polisi.”
“Jangan!” teriak Finna panik. Dia masih bersembunyi di belakang DeeDee.
Kedua pria kekar tadi beranjak maju dan mencengkeram tangan Finna.
“kalau boleh tahu,” tahan Kesya, “apa yang telah dia lakukan? Lalu, kenapa
Anda bisa tahu Finna ada di sini?”
Lelaki kekar yan gkedua menunjukkan sebuah surat penahanan. “Ibu Finna
Salsabila telah dicari-cari pihak debt collector dari Amerika karena tidak membayar
utang-utang kartu kreditnya. Sekarang pihak penuntut telah membawa kasus ini ke
ke kepolisian Indonesia. Kami memiliki informan yang tersebar di mana-mana.
Salah satunya memantau rumah Ibu Finna dan membuntutinya ke sini. Ibu Finna
Salsabila harus ikut ke kantor polisi sekarang juga!”
“Jangan! Cecil! Kesya! Tolong aku!” jerit Finna panik. Kedua tangannya diseret
oleh kedua laki-laki kekar itu.
“Apa tidak ada cara lain, Pak?” tanya Cecil. Hatinya iba juga melihat Finna
diseret seperti itu.
“Ibu Finna telah berkali-kali kabur dari kejaran kami. Untuk kali ini, kami tidak
akan membiarkannya lolos lagi. Siapa saja yang menghalangi kami akan dianggap
telah bersekongkol dengan Ibu Finna. Dan siapa saja yang bersekongkol dengan Ibu
Finna, akan ditangkap juga!” ujar mereka tegas.
“Cecil! Aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua perbuatanku. Tapi, tolong
aku. Aku nggak mau masuk penjaraaa! Cecil! Kesya!”
Cecil, Kesya, DeeDee, dan semua tamu yang hadir di sana hanya bisa menatap
kepergian Finna tanpa mampu berbuat apa-apa.
13
ACARA bridal shower dibubarkan begitu saja. Cecil memaksa Kesya dan DeeDee
untuk mendatangi tempat bachelor party Alo diselenggarakan. Kesya sendiri sangat
yakin Ningrum tidak mungkin hadir pada acara bachelor party. Bukankah acara
bachelor party biasanya hanya dihadiri kaum laki-laki? Lagi pula, ada Marco yan
gpasti akan menjaga Alo. Bukankah begitu tugas seorang bestman?
“Nggak mungkinlah, Cil, Ningrum bisa sama-sama Alo...,” berulang kali Kesya
meyakinkan Cecil.
“Aku dengar sendiri, Kesh. Ada suara Ningrum di belakang Marco.” Cecil
berkeras untuk mencari tahu sendiri.
Ruangan tempat bachelor party penuh dengan teman Alo. Berbeda dengan bridal
shower Cecil yang diadakan secara sederhana di rumah, acara bachelor party Alo
diadakan secara besar-besaran di sebuah hotel mewah. Ballroom hotel didekorasi
dengan mewah sekali. Ada lampu disko besar di tengah-tengah ruangan. Kesya
memperhatikan beberapa pelayan yang berjalan hilir-mudik. Di atas nampan
mereka tersaji berbagi jenis minuman keras. Kesya bahkan sempat melihat beberapa
artis wanita top ibukota sedang menemani tamu-tamu Alo.
Ada yang aneh di sini. Acara besar-besaran seperti ini tidak cocok sama sekali
dengan kepribadian Alo. Sepertinya acara itu diselenggarakan seseorang yang sama
sekali memiliki kepribadian yang berbeda dengan Alo. Tante Jessica-kah?
Cecil terus menarik Kesya menyeruak kerumunan yang cukup besar. Terseokseok,
Kesya menerobos kumpulan orang itu. Beberapa di antara mereka juga
mengenal Cecil dan Kesya. Wajah mereka tampak terkejut dengan kehadiran
mereka bertiga. Kesya juga agak risi berada di antara sekian banyak laki-laki.
Di tengah ruangan, tampak seorang MC sedang memandu acara. Sebuah layar
proyektor besar menayangkan Alo yang sepertinya sedang dikerjai oleh MC
tersebut.
“Di acara bachelor party ini, mamanya Alo juga hadir. Sayang papanya Alo,
karena kesibukannya, belum dapat hadir. Tepuk tangan untuk Tante Jessica yang
telah menyelenggarakan pesta hebat ini!”
Ha! Benar, kan? Kesya yakin sekali pesta ini buah karya Tante Jessica. Alo tidak
akan mungkin mengadakan pesta seperti ini. Sama sekali tidak cocok dengan
kepribadiannya yang sederhana dan bersahaja.
“Nah, Tante Jessica ini membawa satu tamu istimewa pada acara ini. Mungkin
sebagian dari kalian tahu siapa tamu istimewa ini...” MC tersenyum nakal ke arah
Alo. “Hadirin sekalian...”
Layar besar itu tiba-tiba menampilkan sosok Marco yang berbicara serius
dengan MC. Dahi si MC mengernyit, dan dia melirik Marco dengan tatapan tidak
suka. Tante Jessica menarik Marco agar menjauh dari MC, sementara itu Alo
memperhatikan dengan tatapan bingung.
“Maaf...,” ujar MC, “ada sedikit masalah yang... yah... tidak perlu dibahas lagi.
Hadirin sekalian, kita sambut tamu istimewa kali ini, Raden Ayu Sekar Ningrum!”
Cecil menatap garang layar besar yang sedang men-zoom wajah Ningrum.
Ningrum terlihat sangat cantik. Rupanya dia sengaja ekstra dandan untuk acara ini.
Kesya juga yakin seratus persen ini juga buah karya Tante Jessica. Apa sih
sebenarnya keinginan Tante Jessica? Tadinya Kesya menyangka Tante Jessica telah
menerima dengan ikhlas keputusan Alo untuk menikahi Cecil, tapi ternyata... Tante
Jessica malah melakukan tindakan yang sangat menyakitkan bagi Cecil. Entah apa
salah Cecil kepadanya...
“Bitch!” teriak Cecil, tapi teriakannya teredam riuhnya sorak-sorai teman-teman
Alo. Sebagian dari mereka mengenali Ningrum sebagai pacar pertama Alo. Alo
sendiri tampak sangat terkejut akan kehadiran Ningrum.
“Ningrum ini, bagi mereka yang belum tahu, adalah pacar pertama Alo. Nah,
sekarang kita bernostalgia sebentar dulu ya...”
Cecil merangsek maju dengan garang, mendekati Alo. Wajahnya tampak pucat
dan sangat siap untuk bertempur. Kesya langsung mengikuti Cecil sambil
menggandeng DeeDee. Susah payah mereka menerobos orang-orang yang
berkerumunan lebih rapat lagi, tidak mau melewatkan pemandangan menarik
tentang si calon mempelai pria dan mantan pacarnya. Beberapa kali kaki Kesya
terinjak oleh orang-orang yang melonjak-lonjak. Entah apa yang membuat para lakilaki
ini begitu barbar. Sungguh aneh orang-orang ini, Alo sudah mau menikah kok
masih saja dipanas-panasi dengan pacar pertama!
“Cium! Cium! Cium! CIUM!”
Entah siapa yang memulai, tahu-tahu teriakan soal cium itu menjadi paduan
suara yang semakin keras. Wajah Cecil meradang. Di layar besar, tampak Alo salah
tingkah akan permintaan teman-temannya. Ningrum terlihat tersipu-sipu.
“Ayo, gimana?” MC kembali memanas-manasi.
Alo terlihat menggeleng pelan, tapi Ningrum merengkuh Alo ke dalam
pelukannya dan menciumnya. Layar besar itu men-zoom Alo dan Ningrum yang
sedang berciuman mesra. Seluruh tamu yang hadir bersorak-sorai dan bertepuk
tangan. Cecil berlari maju, menabrak semua orang yang menghalanginya. Kesya
tidak sempat lagi menahannya.
“ALVARO!!!”
Kesya terpaku di tempat. Gambar Alo dan Ningrum di layar besar berhenti
berciuman. Sekarang wajah Cecil tampak jelas di layar besar itu.
Alo tampak sangat terkejut melihat Cecil. Tangan Ningrum masih bergelayut
manja di leher Alo. Dengan kasar Alo menepis tangan Ningrum dan menghampiri
Cecil.
“Sayang...,” panggilnya. Wajah Alo tegang, terlebih ketika dia melihat wajah
Cecil yang pucat dan penuh amarah itu.
Orang-orang di sana mulai menyadari aura cemburu pada diri Cecil. Suasana
jadi hening. Setiap pasang mata terpaku pada tiga tokoh drama baru ini: Alo, Cecil,
dan Ningrum.
“Kenapa dia ada di sini!!” tanya Cecil. Dadanya bergetar turun-naik, menahan
amarah yang bergejolak dalam dirinya.
“Aku juga tidak tahu. Mama yang ajak dia ke sini,” jawab Alo panik.
“Hai, Cecil...” Ningrum tersenyum sambil melangkah maju, lengannya kembali
menggelayut manja di lengan Alo. Tingkah lakunya, kentara sekali, menantang
Cecil!
Alo menepis tangan Ningrum dengan kasar. “Kamu apa-apaan sih?!”
bentaknya.
Kesya merangsek maju. Tampak sosok Tante Jessica. Wanita itu tengah mengamati
perseteruan yang terjadi antara Alo dan Cecil. Senyum kecil tersungging di
bibirnya! Sepertinya dia bahagia karena rencananya untuk merusak hubungan Alo
dan Cecil tampaknya berhasil.
“Cecil, udah deh...,” bisik Kesya yang sudah berhasil mengejar sahabatnya itu.
“Ini sudah direncanakan. Alo nggak salah sama sekali.” Kesya berusaha meredam
amarah Cecil. Dia tidak ingin hal yang buruk terjadi, hanya beberapa hari sebelum
pernikahan diselenggarakan. Biar semuanya dibicarakan dengan kepala dingin. Biar
semuanya diselesaikan secara dewasa.
Cecil menatap Alo. Tatapannya menghunjam. Terluka. Kecewa. Lalu dia
beranjak pergi. Kesya langsung mengekor Cecil.
“Cil...!” panggil Alo panik dan buru-buru mengikuti Cecil.
Lamat-lamat Kesya mendengar Ningrum sedang berusaha mencegah Alo
mengejar Cecil.
“Ini kan pesta kamu, Alo. Kamu ndak boleh meninggalkan tamu-tamu lain
begitu saja...,” ujarnya merajuk.
Cecil masuk mobil dan memacunya dengan kencang. Dia menginjak gas dalamdalam
ketika melihat mobil Alo mengikutinya.
“Cil, hati-hati!” DeeDee berteriak panik.
“Cil, jangan gegabah!” Kesya juga berusaha memperingatkan.
Tapi Cecil tidak peduli. Dia terus memacu mobilnya. Alo juga ngotot mengikuti
Kesya. Soal keahlian mengemudi, Cecil memang juaranya. Ketika SMA dulu, Cecil
sering kali ngebut-ngebutan di jalan raya. Tapi kali ini, emosi Cecil labil sekali.
Ponsel Cecil berdering. Cecil melirik sekilas pada ponselnya kemudian
mematikannya. Ponsel itu berdering lagi, Cecil kembali mematikannya. Untuk
ketiga kalinya, ponsel itu berdering. Cecil membuka kaca jendela dan melemparkan
ponselnya ke luar jendela!
Terdengar suara klakson berulang-ulang dari arah belakang. Kesya menoleh
cemas. Alo juga memacu mobilnya dengan kencang, berusaha mengejar Cecil. Kesya
agak khawatir dengan Alo. Setahunya, Alo tidak terlalu mahir mengebut.
“Cecil, berhenti dulu deh. Dengar dulu penjelasan Alo,” bujuk Kesya.
Cecil tetap membisu. Tatapannya berkonsentrasi ke jalanan. Dengan mahir dia
memainkan setir mobil. Di belakang mereka, mobil Alo tertinggal. Semakin jauh dan
semakin jauh.
“Kamu sebenarnya mau ke mana sih?” desak Kesya. Terus terang, dia paling
tidak tahan berlama-lama berada di dalam mobil yang mengebut kencang. Dia tidak
dapat berkonsentrasi memperhatikan ke mana Cecil memacu mobilnya. Dia benarbenar
ketakutan. Sekarang dia merasa mual, dan kalau lebih lama lagi, sepertinya isi
perutnya akan keluar semua!
“Cil, pelan-pelan dong. Aku takut nih...” Rupanya DeeDee juga merasakan hal
yang sama.
Cecil membelokkan mobil dengan cepat. Rem berdcit, bersinggungan dengan
aspal jalanan. Kesya dan DeeDee berpegangan pada apa saja yang dapat mereka
raih. Menggantungkan keselamatan mereka pada kekuatan cengkeraman tangan
mereka.
“Ini kan...” Suara DeeDee terengah-engah, berbaur dengan rasa takut.
“Bandara?” Kesya menyelesaikan ucapan DeeDee. “Ngapain kita ke bandara?”
Cecil tidak menjawab. Dia masih mengendarai mobilnya seperti orang gila.
Kemudian, tiba-tiba, dia menghentikan mobilnya dan berlari keluar.
Kesya dan DeeDee ikut berlari mengejar Cecil. Mereka tidak memedulikan
mobil yang diparkir sembarangan. Mereka juga tidak memedulikan teriakan
seorang petugas keamanan. Bagi mereka, Cecil adalah prioritas utama. Jangan
sampai Cecil melakukan tindakan bodoh!
Cecil berlari kencang menuju tempat penjualan tiket.
“Selamat malam...,” sapa petugas penjual tiket dengan gaya profesional. “Mau
ke mana?”
“Bali. Penerbangan berikutnya!” sambar Cecil.
“Cecil!” Kesya terengah-engah, berdiri di samping Cecil. “Kamu mau ke mana?”
“Ekonomi atau bisnis?” tanya si petugas.
“Yang mana saja! Penerbangan berikutnya!” teriak Cecil.
“Cecil... mau ke mana?”
Petugas penjual tiket sekilas melirik Kesya.
“Cepat, Mbak!” bentak Cecil sambil melemparkan kartu kreditnya.
“Oh, maaf. Baik, Bu.” Si petugas penjual tiket buru-buru menyelesaikan
pekerjaannya.
“Silakan, ini tiketnya. Satu tiket kelas bisnis untuk penerbangan ke Bali pada
pukul tujuh malam,” ujar si petugas dengan gaya profesional.
“Satu lagi untuk saya. Penerbangan yang sama dengan dia!” Kesya juga
melemparkan kartu kreditnya.
Si petugas penjual tiket tampak bingung, tapi kemudian buru-buru melayani
pesanan Kesya. Cecil sudah beranjak pergi.
“DeeDee!” teriak Kesya. “Kejar Cecil!”
DeeDee mengangguk, lalu buru-buru menyusul Cecil.
Kesya menyelesaikan urusan pembayarannya, lalu bergegas menyusul DeeDee
dan Cecil.
“Dia sudah naik ke ruang tunggu...,” kata DeeDee begitu melihat Kesya berlarilari
menghampirinya.
“Aku mesti kejar dia. Kamu tolong bilang pada Alo dan Marco. Nggak usah
bilang ke mana kami pergi. Bilang saja Cecil baik-baik saja dan aku sama Cecil.
Oke?”
DeeDee mengangguk. “Hati-hati ya...”
Kesya mengangguk dan naik ke ruang tunggu.
* * *
Kesya membuka matanya dan menatap sinar kuning yang memancar dari sebuah
lampu meja. Kesya mengerjap pelan. Dia meraba selimut yang menutupi tubuhnya.
Tekstur selimut terasa asing di tangannya. Kesya membenamkan kepala ke bantal
yang ditidurinya. Harumnya juga terasa asing. Dia mengedarkan pandangan ke
sekeliling ruangan. Bingung mendapati dia berada di sebuah ruangan asing. Ini
bukan tempat tidurnya. Ini bukan kamarnya. Kepalanya sakit luar biasa dan
perutnya keroncongan. Dia berusaha mengingat-ingat kejadian kemarin. Saat
kepingan ingatannya sudah mulai dapat disatukan, dia langsung melompat dari
tempat tidurnya.
“Cecil!” teriaknya. Dia tambah panik mendapati tempat tidur Cecil sudah
kosong. Dia langsung keluar kamar untuk mencari sahabatnya itu. Dia bertanya
kepada petugas hotel tentang keberadaan Cecil. Salah seorang petugas mengatakan
bahwa dia melihat Cecil di kolam renang. Bergegas, Kesya menuju kolam renang.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok Cecil, dalam balutan bikini warna hijau
terang, berenang bolak-balik. Kesya berjalan perlahan di tepi kolam dan duduk di
salah satu bangku, memperhatikan Cecil yang terus berenang bolak-balik tanpa
henti. Hmmm... itu kebiasaan Cecil kalau lagi stres berat. Kesya menghitung berapa
kali Cecil berenang bolak-balik. Diam-diam dia mengagumi stamina Cecil.
Sahabatnya itu kuat berenang bolak-balik tanpa henti! Sampai pada hitungan kedua
puluh, Kesya berhenti menghitung. Cecil masih terus berenang. Tanpa henti. Tanpa
lelah. Seolah ingin melarutkan semua kekecewaan yang dirasakannya.
Kesya agak khawatir juga melihatnya. Entah bagaimana kelanjutan rencana
pernikahan sahabatnya ini. Di pesawat kemarin, Cecil tidak mau bicara sepatah kata
pun. Dia hanya duduk diam dan memandangi jendela pesawat. Berulang kali KEsya
mencoba mengajaknya berbicara, tapi Cecil enggan menanggapi. Begitu check-in di
hotel, Cecil juga langsung tidur, tanpa mau mengucapkan sepatah kata pun. Kesya
menghela napas panjang. Padahal pernikahan Cecil dan Alo akan berlangsung dua
minggu lagi.
Kesya tersentak saat melihat Cecil tiba-tiba naik ke permukaan. Tubuhnya basah
dan napasnya terengah-engah.
“Kita sarapan yuk...,” ajak Cecil sambil berlalu di hadapan Kesya.
Kesya buru-buru mengikuti Cecil. Cecil mengenakan handuk model kimono
dan langsung menuju tempat sarapan. Ini juga satu lagi kebiasaan Cecil kalau lagi
stres. Langsung makan setelah berenang!
Cecil mengambil banyak sekali makanan. Semuanya makanan berminyak,
makanan yang biasa dihindarinya. Wah! Kesya terbelalak melihat hidangan yang
siap disantap Cecil. Ada sosis aneka bentuk, nasi goreng, ayam goreng, kentang
goreng, dua buah telur mata sapi, satu porsi besar salad kentang, aneka roti, dan
satu gelas besar coke! Kalau begini cara makan Cecil, bisa-bisa gaun pengantinnya
tidak akan muat. Tapi Kesya menahan diri untuk tidak berkomentar. Saat ini
sahabatnya sedang stres berat. Kesya harus berada di sebelah Cecil, menghibur dan
menjadi sandaran baginya. That’s what friends are for!
“Kamu makan dikit amat, Kesh?” tanya Cecil sambil mulai makan.
Kesya memperhatikan piringnya. Dia hanya mengisinya dengan dua lembar roti
tawar dan satu buah telur ceplok. Terus terang, dia sudah merasa kenyang melihat
hidangan di piring Cecil.
“Abis ini, kita mau ngapain?” tanya Kesya.
Cecil mengangkat bahu sambil meminum coke. “Aku mungkin mau berenang
lagi...”
Dahi Kesya mengernyit. “Bukannya tadi kamu udah bolak-balik lebih dari dua
puluh kali?”
Cecil tertawa. “Aku masih pengin terus berenang...”
“Jangan sampai kecapekan, Cil. Nanti kamu sakit...”
Cecil menarik napas, lalu mengangguk. “Kamu nggak usah khawatir. I’m a very
tough girl!”
Kesya tertawa sumbang. Tidak tahu harus berkomentar apa.
Setelah selesai makan, Cecil pamit kepada Kesya untuk kembali berenang.
Kesya masih belum menyelesaika makannya. Dia terkagum-kagum dengan
kecepatan Cecil menghabiskan seluruh makanannya dalam waktu singkat. Tiba-tiba
ponselnya berbunyi. Nama Marco tertera pada layar ponsel.
“Sayang...,” sapa Marco begitu mendengar suara Kesya, “kamu lagi di mana?”
Suaranya terdengar khawatir sekali. Kemarin malam, saat di pesawat, Kesya
mematikan ponselnya dan lupa menyalakannya kembali.
“Marco, aku sama Cecil. Kami lagi di Bali. Dia nggak apa-apa, stres berat
pastinya, tapi masih baik-baik saja. Kamu bilang saja ke Alo bahwa Cecil dalam
pengawasanku. Sebaiknya Alo nggak ketemu Cecil dulu. Biar Cecil lebih dingin
dulu.”
Marco menghela napas. “Keterlaluan banget sih Tante Jessica. Padahal kemarin
aku sudah berusaha mencegah Ningrum mendekati Alo, tapi rupanya si MC sudah
berkonspirasi sama Tante Jessica. Sekarang semuanya jadi kacau banget!”
“Kacau gimana?”
“Tante Jessica ngotot membatalkan pernikahan Cecil dan Alo. Dia juga menghubungi
semua vendor dan membatalkan semua pesanan. Dia juga mendesak agar Alo
segera menikahi Ningrum!”
“APA?” Kesya tidak percaya berita yang didengarnya. Benar-benar keterlaluan
Tante Jessica!
“Alo juga lagi stres berat. Dia kehilangan jejak Cecil dan merasa sangat bersalah
pada Cecil. Sekarang dia tambah stres karena Ningrum mengekor dia terus.”
“Tidak tahu diri sekali sih si Ningrum!” maki Kesya.
Marco menghela napas panjang. “Aku juga lagi pusing. Semua vendor minta
konfirmasi ke aku. Mereka semua mendesak apa benar pernikahan Alo dan Cecil
batal... Aku jadi pusing sendiri! Aku konfirmasi ke Alo, dia bilang pernikahan tetap
akan berlangsung. Sedangkan calon pengantin wanitanya malah hilang. It’s so
complicated!”
“Pokoknya, aku akan menjaga Cecil sebaik-baiknya. Aku juga belum berani
ngomong banyak. Takut dia malah tambah down...”
“Ya udah deh. Kamu baik-baik saja di sana. Aku juga harus ngurusin Alo dulu.
See you, Sayang. I love you...”
Kesya masih gusar dengan berita yang disampaikan Marco. Apa hak Tante
Jessica sehingga dia membatalkan pernikahan Alo dan Cecil?
Hari itu bergulir lambat. Kesya menelepon DeeDee, meminta gadis itu menggantikannya
di toko untuk sementara. Kesya mengingatkan DeeDee akan beberapa
janji pertemuan yang dijadwalkan besok. Dia juga meminta DeeDee menggantikannya
menghadiri pertemuan itu. Tak lupa, Kesya menghubungi Mona,
memberitahukan bahwa dia sedang berada di luar kota untuk sementara waktu.
Kata Mona, Madame Juliet datang dan berniat untuk memborong beberapa
perhiasan lagi. Tapi karena Kesya tidak ada di toko, Madame Juliet tidak jadi
membeli. Katanya dia tidak mau dilayani oleh orang lain selain Kesya. Picky sekali si
madame ini...
Sorenya, Cecil mengajak Kesya berbelanja ke sebuah butik.
“Ngapain mesti ke sini?” kata Kesya begitu mereka memasuki butik mewah.
Setahu Kesya, butik ini milik salah seorang pemain sinetrol terkenal.
“Emangnya kamu mau pake baju itu terus?” balas Cecil sambil mencibir ke arah
baju Kesya yang mulai berbau tidak sedap. Kesya baru sadar bahwa dia belum
berganti pakaian sejak acara bridal shower Cecil. Baju ini menempel terus di
tubuhnya ketika dia menemani Cecil mendatangi acara bachelor party-nya Alo,
mengikuti Cecil dalam acara kebut-kebutan gila, mengejar-ngejar Cecil saat di
bandara, bahkan seharian ini baju itu masih terus menempel di tubuhnya. Rasanya,
dia memang perlu beberapa potong pakaian baru. Terutama apabila Cecil belum
memberitahukan berapa lama mereka akan tinggal di Bali.
Kesya kemudian memilih beberapa potong pakaian. Cecil membeli beberapa
gaun seksi untuk mereka berdua.
“Seksi amat, Cil?” komentar Kesya.
“Buat clubbing. Kita harus have fun, Kesh...,” balas Cecil sambil tersenyum.
Cecil yang membayar semua baju mereka. Katanya, ini semua sebagai hadiah
karena Kesya bersedia menemaninya di Bali. Mereka kembali ke hotel. Cecil
memaksa Kesya untuk mengenakan gaun seksi yang baru saja dia beli.
“Iih... kan belum dicuci, Cil...,” komentar Kesya.
“Kampungan banget sih kamu, Kesh...,” gerutu Cecil sambil melemparkan gaun
itu ke hadapan Kesya. “Ganti cepetan sana! Nggak usah banyak komentar deh!”
Kesya terpaksa menurut. Ketika gaun itu sudah menempel di tubuhnya, dia
merasa gatal-gatal. Kesya memang tidak terbiasa mengenakan baju baru tanpa
dicuci terlebih dahulu. Kurang higienis, begitu alasannya.
“Wuuiihh... Cantik banget, Kesh!” puji Cecil sambil bersiul. “Kamu harus
sering-sering pakai baju seksi begini...”
Sementara itu, Kesya sibuk menarik-narik bagian bawah gaunnya yang
dirasanya terlalu pendek. Kesya tidak terbiasa memakai gaun sependek itu dan dia
jadi risi sendiri.
“Jangan ditarik-tarik gitu! Norak banget sih kamu!” maki Cecil sambil tertawa.
“Sialan kamu!” Kesya menimpuk Cecil dengan handuk. “Aku memang nggak
pernah pakai baju seperti ini. Risi banget, tau!”
Tawa Cecil meledak. Dia beranjak untuk berganti pakaian. Ketika keluar, Kesya
berdecak kagum melihat penampilan Cecil. Cecil tampil tidak bercela. Gaun
peraknya superseksi, menampilkan keindahan lekuk tubuhnya. Cecil juga sempat
menyapukan make-up ke wajahnya. Smokey eyes-nya benar-benar oke! Kesya tidak
pernah bisa menghias matanya seperti itu. Entah mengapa hasilnya pasti tidak akan
sebagus mata Cecil.
“Let’s party!” ujar Cecil sambil mengedip nakal.
Mereka memasuki salah satu tempat clubbing yang paling ramai di Bali. Kesya
memejamkan mata, berusaha menguatkan hati untuk masuk. Dia paling tidak suka
clubbing. Berisik, gelap, dan bau rokok! Dia mengingatkan dirinya, bahwa dia berasa
di sini demi Cecil. Dia adalah bridesmaid-nya... Yah, dia sendiri sebenarnya tidak
tahu bagaimana kelanjutan rencana pernikahan Cecil dan Alo, tapi Cecil kan
sahabatnya. Dia harus menemani Cecil saat ini, saat tersulit dalam hidupnya.
Begitu Kesya melangkahkan kakinya masuk, dentuman bas dari speaker besar
yang tergantung di depan pintu menyambutnya. Bertalu-talu. Berdentum-dentum.
Berisik! Lebih parah daripada aksi si pemukul beduk yang sering mengganggu
Kesya. Kesya mencengkeram dadanya, memastikan jantungnya masih berada di
tempat semula. Seperti ada yang memukul-mukul jantungnya.
“Ayo, Miss Norak...” Cecil menarik tangan Kesya masuk dan mengajaknya
duduk di bar. Cecil memesan dua gelas wine untuk mereka.
“For health and success!” teriaknya sambil mengangkat gelasnya. Kesya hanya
menyesap minumannya, tapi Cecil langsung menandaskan isi gelasnya. Dia
meminta refill kepada bartender. Ketika Cecil sudah menghabiskan isi gelasnya yang
kelima, wajahnya sudah merah sekali. Dia juga bernyanyi-nyanyi, tidak jelas lagu
apa yang dinyanyikannya.
“Cil, udah, jangan minum lagi...” Kesya menahan tangan Cecil.
“Apaan sih hik... kamu?” Cecil menepis tangan Kesya. “Aku mau hik... senang
hik... senang hari ini hik... Have hik... fun!” ujarnya meracau. “Boy! Hik... Tambahin
minumku lagi hik...”
Si bartender muda tersenyum sambil mengisi penuh gelas Cecil. Tampaknya dia
sudah maklum sekali dengan tingkah laku para tamu yang sering kali aneh bin
ajaib. Kesya memandang khawatir ketika Cecil, dalam hitungan detik, kembali
menandaskan isi gelasnya.
“Aduh... hik... Aku harus hik... ke toilet hik... dulu...”
Cecil berdiri, terhuyung-huyung dan akhirnya terjerembap jatuh.
“Cecil!” Kesya berusaha membantu Cecil berdiri.
“Hehehe... hik... Aku nggak hik... apa-apa. Hik... Lantainya tidak hik... rata!”
ujar Cecil sambil tertawa.
Wah, gawat! Cecil sudah benar-benar mabuk!
“Aku bantu kamu ke toilet ya...” Kesya merangkul pinggang Cecil.
“Eits! Hik... nggak usah! Aku hik... bisa sendiri hik... kok!”
Cecil menepis tangan Kesya. Masih terhuyung saat berusaha menyeimbangkan
kakinya, lalu berjalan sempoyongan ke arah toilet. Stiletto peraknya menapak goyah.
Kesya memperhatikannya dengan khawatir.
“Tidak usah khawatir,” si bartender menenangkan. “Di dalam toilet juga ada
petugas sekuriti. Your friend will be safe...”
Kesya menarik napas, terbatuk-batuk sedikit karena kontaminasi asap rokok,
lalu menyesap minumannya lagi. Rasanya Cecil sudah terlalu lama berada di dalam
toilet. Kesya berpikir untuk menyusulnya. Baru saja dia bangkit dari tempat
duduknya, tiba-tiba pintu toilet terbuka dengan keras.
“Bitch!”
Samar-samar terdengar suara makian dari toilet. Sepertinya itu suara Cecil!
Kesya berpaling nanar ke arah toilet. Cecil keluar dari toilet sambil menjambak
seorang wanita muda. Petugas sekuriti berusaha memegangi Cecil, tapi dia menepis
tangan petugas sekuriti dan kembali mencengkeram keras rambut si wanita muda.
Wanita itu berteriak-teriak kesakitan dan mencakar wajah Cecil.
“BITCH!” Cecil emradang lalu melayangkan tinjunya ke wajah wanita itu. Kesya
buru-buru melerai mereka berdua.
“Ada Ningrum di sini, Kesh!” teriak Cecil. “Ini dia! Dan dia lagi ngomongin
cowok lain di toilet tadi! Benar-benar bitch ya kamu!” Cecil kembali menjambak
rambut wanita itu.
Wanita malang itu bukan Ningrum. Memang parasnya sekilas terlihat mirip
Ningrum. Sekarang dia berteriak-teriak kesakitan sambil memegang pipinya yang
lebam karena ditinju Cecil.
“Dasar perempuan gila!” makinya.
“Apa kamu bilang?” Plak! Cecil menampar pipi perempuan itu lagi. “Kamu tuh
yang gila! Seenaknya saja merebut calon suami orang! Nih, rasakan! Biar kamu lain
kali nggak sembarangan lagi!” Cecil menendang wanita itu.
Kesya buru-buru menangkap kaki Cecil. Dia menarik tubuh Cecil yang masih
terus berusaha menendang wanita itu.
“LEPASIN, KESH! AKU MAU KASIH PELAJARAN KE WANITA YANG
MEREBUT CALON SUAMIKU!” Cecil meronta-ronta dengan liar. Rambutnya
berantakan dan gaunnya melorot.
“Anda berdua harus meninggalkan tempat ini sekarang juga!” ujar petugas
sekuriti dengan tegas.
Cecil masih menendang-nendang dengan liar. Dia juga berteriak-teriak. Sudah
banyak orang yang berkerumun di sekeliling mereka. Teman-teman si wanita muda
itu berdiri melindungi si wanita muda. Keadaan sudah semakin tidak terkendali.
Kesya terpaksa harus menampar pipi Cecil.
“CIL! DIA BUKAN NINGRUM! KAMU SALAH ORANG!” bentaknya, lalu
menyeret Cecil keluar dari tempat itu. Kesya mendudukkan Cecil di trotoar. “Kamu
tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!” ancamnya. Mata Cecil setengah
terpejam.Sekarang kepalanya terkulai lemah ke satu sisi. Dia sudah benar-benar
mabuk!
Kesya masuk kembali. Dia menghampiri gadis malang tadi.
“Saya minta maaf sekali...,” ujar Kesya.
Si wanita muda mengompres pipinya yang lebam dengan es batu. Matanya
menatap garang Kesya.
“Sebaiknya kamu periksa lebam kamu itu ke dokter. Ini untuk ganti biaya
pengobatannya...” Kesya meletakkan sejumlah uang di hadapan wanita itu. “Sekali
lagi saya minta maaf...”
“Bilang sama teman kamu yang gila itu! Jangan sekali-kali ketemu saya lagi!
Atau akan saya habisi dia!” teriak wanita muda itu penuh emosi.
Kesya mengangguk lalu beranjak pergi.
Di depan kelab, Cecil berbaring di trotoar. Kesya memanggil taksi, lalu
memapah Cecil masuk ke dalamnya.
Taksi meluncur. Membawa Kesya dan Cecil kembali ke hotel.
14
KESYA sarapan sendirian. Cecil belum mau bangun. Katanya kepalanya sakit sekali.
Salah sendiri. Minum wine kok sampai bergelas-gelas. Ya begitu akibatnya.
Kesya sudah memesan sarapan untuk Cecil dan meminta seorang pelayan untuk
mengantar ke kamar. Dia sendiri butuh udara segar. Setelah sarapan, Kesya ingin
berenang sebentar. Dia tidak bawa baju renang, tapi rencananya mau pinjam bikini
Cecil. Mumpung sedang ada di Bali, boleh dong pamer-pamer sedikit. Hehehe....
Ruang makan di hotel ini menghadap langsung ke arah pantai. Tampak
beberapa turis asing berlalu-lalang sambil menenteng papan selancar masingmasing.
Beberapa gadis dengan pakaian renang dan kain pantai menutupi bagian
bawah mereka tertawa genit sambil bercakap-cakap dengan seorang turis asing lakilaki
yang ramah. Di telinga gadis-gadis Bali itu terselip kuntum bunga segar.
Penampilan mereka memang jadi cantik alami.
Kesya tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Samar-samar, suara tabuhan
gamelan menjadi latar belakang acara sarapannya pagi ini. Di balik semua
ketegangan yang terjadi belakangan ini, ternyata masih ada kehidupan normal lain
yang masih berjalan sebagaimana mestinya. Yah... mungkin dia harus lebih
menikmati suasana ini. Dia butuh itu, setelah semua kehebohan yang terjadi di
Jakarta, setelah semua kehebohan yang terjadi semalam.
Kesya baru saja menyesap kopi susunya ketika melihat sosok pria asing berusia
paruh baya menghampirinya.
“Hi, Kesya!E” sapa pria itu ramah.
Ya ampun! pekik Kesya dalam hati. “Itu kan...”
“Oom Steven! How are you?”
“Fine. Rapat yang kemarin berlanjut di sini, tetapi sore ini saya akan segera
kembali ke Jakarta.”
Oom Steven, papanya Alo, memeluk erat Kesya. Suara Oom Steven sangat
ramah. Senyumnya menyejukkan. Dan pelukannya, sungguh terasa hangat.
Hhmmm... sekarang Kesya tahu sifat-sifat Alo itu menurun dari siapa...
“What are you doing here? Bukannya kamu bridesmaid-nya Cecil? Pernikahan kan
tinggal dua minggu lagi. Kenapa kamu malah ada di Bali?” Oom Steven
melontarkan bertubi-tubi pertanyaan dengan wajah tetap cerah ceria.
LHO? Memangnya Oom Steven tidak tahu apa yang sedang terjadi di Jakarta?
Memangnya Oom Steven tidak tahu apa yang membuat Cecil, juga Kesya, berada di
Bali?
Mata biru Oom Steven membulat. Menunggu jawaban Kesya.
Hmm... Sepertinya Oom Steven memang tidak tahu apa-apa tentang prahara
yang terjadi di Jakarta.
“Ehem...,” Kesya berdeham. Membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba
tersumbat. Kenapa dia harus jadi orang yang mengabarkan berita buruk ini ya?
Dan bergulirlah cerita itu dari mulut Kesya. Oom Steven tampak sangat terkejut.
Berkali-kali dahinya terlihat berkerut. Sesekali dia mengusap peluh yang berkumpul
di dahinya.
“Saya berpesan kepada Marco bahwa lebih baik Alo tidak datang menemui
Cecil dulu. Biar Cecil lebih tenang dulu...,” tutur Kesya.
Oom Steven mengangguk.
“Tetapi yang terjadi di Jakarta juga tidak kalah hebohnya. Saya dengar Tante
Jessica memaksa Alo untuk menikahi Ningrum dan membatalkan, secara sepihak,
rencana pernikahan Alo dan Cecil.” Kesya merasa sangat tidak enak harus
memberitahu Oom Steven apa yang dilakukan istrinya di Jakarta, tetapi Kesya
hanya berusaha jujur, berkata apa adanya kepada Oom Steven, yang sangat
disayangkan, tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini.
“Oh my God... Saya tidak tahu semua ini.” Oom Steven mengempaskan
tubuhnya ke sandaran kursi. “Jessica malah meminta saya untuk segera ke Jakarta.
Menghadiri pernikahan Alo. Menghadiri pernikahan Alo dengan... dengan wanita
itu mungkin.” Oom Steven menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih. “Kalau
bukan kamu yang cerita, I won’t believe it at all...” Tangannya mengusap rambut
cokelatnya.
“I’m sorry to say, but that’s what really happened...” Kesya merasa sedih dan
bersalah melihat raut wajah sedih Oom Steven. Dia tidak suka membuat oom yang
baik hati itu jadi sedih, tapi... ya beginilah keadaan yang sebenarnya.
Oom Steven menggeleng-geleng. “Jessica, Jessica... kenapa kamu bisa begitu
ya?” ujarnya penuh penyesalan.
Laki-laki yang baik. Pasti dia sangat terpukul mendengar perilaku istri
tercintanya.
“Berarti sekarang Alo sedang dipaksa untuk menikahi Ningrum?” tanya Oom
Steven. Mata birunya menatap langsung ke arah Kesya.
Kesya mengangguk.
“Cecil di mana?”
“Dia ada di kamar hotel. Kemarin dia stres dan mengamuk di kelab. Sekarang
dia perlu beristirahat.”
Oom Steven mengangguk-angguk. “I have something to do...,” gumamnya.
“Kesya, thanks a lot for the information. I owe you so much...” Oom Steven merangkul
Kesya dengan hangat. Dia bahkan mencium kedua pipi Kesya. Hati Kesya terasa
lapang. Beban berat ini tidak harus dia tanggung sendirian sekarang.
Oom Steven lalu beranjak pergi. Sebelum berjalan terlalu jauh, dia berpaling.
“Don’t say anything about our meeting to Cecil. Okay?”
Kesya mengangguk.
* * *
“Kesh...,” panggil Cecil dengan suara serak. Dia baru saja membuka matanya. Tadi
pagi, setelah sarapan di kamar, dia kembali tidur lagi. Sekarang, setelah waktu
hampir menunjukkan pukul empat sore, dia baru bisa membuka matanya.
“Hah?” sahut Kesya. Dia sedang asyik menyaksikan acara fashion show di
televisi. Siapa tahu dia bisa punya ide baru lagi.
“Ke pantai yuk...,” ajak Cecil.
Kesya berpaling. “Ke pantai?” tanyanya tidak percaya. “Muka kamu tuh masih
muka bantal gitu. Masa mau ke pantai? Malu tuh, diketawain sama ombak!”
“Sialan kamu!” Cecil menimpuk Kesya dengan gulingnya. Timpukan yang
lemah. Guling itu terjatuh sebelum berhasil menyentuh Kesya.
Kesya tertawa.
“Serius nih!” ulang Cecil. “Temani aku jalan-jalan ke pantai ya. Aku suntuk
banget nih. Badanku pegal-pegal semua.”
“Salah sendiri tidur seharian!” ujar Kesya. Dia sendiri merasa tubuhnya sangat
fresh setelah berenang. “Kamu sudah mau bertransformasi jadi sloth, ya?”
“Sloth?” tanya Cecil. Kepalanya kembali berpaling pada Kesya. Matanya? Ya
ampun! Bengkak luar biasa! “Sloth itu apaan ya?”
“Tuh, kan!” Kesya melemparkan gulingnya kembali pada Cecil. Lemparan yang
bagus, tepat mengenai kepala Cecil. “Fungsi otak kamu aja mengalami degradasi.
Sloth itu kan binatang kayak monyet yang doyannya tidur terus. Hellowwh... Kita
udah belajar itu zaman Biologi SMA!”
“Ooh, itu namanya sloth, ya?” Cecil tertawa bego. “Ayo dong, serius nih. Temani
aku jalan-jalan di pantai ya...” Cecil kembali pada topik pembicaraan soal pantai.
Kesya mengangguk. “Sana mandi dulu deh. Tampang lecek gitu, malu sama
bule-bule di pinggir pantai.”
Cecil bangun dan beranjak ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia
keluar. Mengenakan tank top warna kuning dan celana pendek. Wajahnya dipulas
make-up tipis. Tidak lupa dia mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi
bengkak matanya.
Melihat Cecil yang dandanannya canggih itu, Kesya tidak mau kalah. Dia
mengganti pakaiannya dengan gaun sore yang simpel namun elegan. Itu gaun yang
dipilihkan Cecil untuknya. Selera Cecil memang oke. Kesya merasa cantik sekali
dalam balutan gaun sore itu. Biar seragam dengan Cecil, Kesya juga mengenakan
kacamata hitam.
“Ready?” Cecil menyodorkan lengannya.
“Let’s go!” Kesya melingkarkan tangannya di lengan Cecil.
Berdua mereka menyusuri pantai di belakang hotel. Pantai selalu saja ramai
dengan orang. Ada yang hanya jalan-jalan, ada yang berenang, ada yang bermain
bola, ada yang main gitar, ada yang menawarkan jasa membuat temporary tattoo, ada
yang jualan topi, jualan bikini, bahkan ada yang menawarkan jasa kepang rambut.
Kesya dan Cecil melepaskan sepatu mereka. Membiarkan kaki telanjang mereka
dibelai pasir pantai. Sayang pasirnya tidak terlalu bersih.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, ada seorang ibu yang baru saja selesai
menyuapi anaknya makan nasi bungkus dan... dengan seenaknya ibu itu
melemparkan begitu saja bungkusan nasinya! Ya gitu deh ulah-ulah orang yang
tidak bertanggung jawab.
Kesya dan Cecil sama-sama geleng-geleng kepala melihat ulah si ibu. Itu baru
satu orang. Bagaimana kalau ada sepuluh orang seperti ibu itu?
“Sayang ya, pantainya jadi kotor gini...,” komentar Cecil.
Kesya mengangguk. Dia menebarkan kain pantai yang dibawanya, lalu duduk
di atasnya. Matahari sebentar lagi terbenam. Cecil paling suka melihat sunset. Kesya
juga sih... tapi belakangan ini... hmm... dia jadi lebih suka melihat kerlip bintang.
Apalagi hal itu mengingatkannya akan momen romantis pertamanya bersama
Marco....
“Ayo, Cil,” ajak Kesya, menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya. “Udah
mau sunset nih...”
Cecil duduk. Berdua mereka terdiam, menantikan sunset. Cecil agak terganggu
dengan orang-orang yang masih saja sibuk berlalu-lalang di hadapan mereka.
Menurutnya, sunset itu momen sakral yang seharusnya dihormati semua orang. Dia
sebal dengan orang-orang yang tidak menghargai karya Tuhan yang mahaindah itu.
“Cecil!” sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
Cecil menoleh. Kesya menoleh.
Kesya terkejut! Cecil lebih terkejut lagi!
Dari kejauhan, tampak Alo berlari-lari menghampiri mereka. Di belakangnya,
tampak Tante Jessica mengejar. Memaki-maki sambil mengacung-acungkan
tangannya. Di belakang Tante Jessica, tampak Marco mengejar. Rambutnya
berkibar-kibar tertiup angin. Di belakang Marco, tampak Oom Steven. Oom Steven
tidak berlari, hanya berjalan santai. Wajahnya tetap tenang, dengan seulas senyum
kecil tersungging di sana.
Cecil berlari, menjauh dari Alo. Kesya berlari mengejarnya. Dia menyadari
tatapan semua pengunjung pantai terhadap mereka. Pasti mereka tampak aneh
sekali. Berkejar-kejaran seperti anak kecil!
Cecil terus berlari. Kesya terus mengejarnya. Yang lain-lain juga berkejaran
dengan seru.
“Cecil!” panggil Alo. “Tunggu!”
“Alo!” teriak Tante Jessica. “Berhenti sekarang juga!”
“Kesya!” teriak Marco. “Kamu nggak usah ikut-ikutan lari!”
Kesya memperlambat gerakannya. Benar juga ya... Kenapa dia harus ikut-kutan
lari? Biarkan saja Alo dan Cecil menyelesaikan masalah mereka berdua. Laju kaki
Kesya kemudian berhenti. Dia tersengal-sengal mendengarkan debar jantungnya.
Sosok Alo kemudian menyusulnya, masih terus memanggil-manggil nama Cecil.
Tak lama lagi, sosok Tante Jessica pasti akan menyusul Alo, pikir Kesya.
Tapi, sosok tante yang terlalu mencampuri urusan anaknya itu tidak tampak.
Malah Marco yang kemudian berdiri di sebelah Kesya. Kesya memeluk erat Marco.
Dia rindu sekali pada laki-laki itu. Walaupun baru dua hari mereka berpisah, tapi
rasanya kok ya sudah lama sekali. Hmmm... apa ini yang namanya true love?
“Jessy...” Sebuah suara membuat mereka berpaling. Oom Steven dengan santai
meletakkan tangannya di bahu Tante Jessica. Tante Jessica sudah tidak kuat lagi
berlari. Dia membungkuk kepayahan. “Sudahlah. Jangan kamu ganggu lagi
mereka...”
“Nggak bisa, Pap!” Tante Jessica masih ngotot. “Papi nggak tahu...”
“Jessi, dear, kamu ingat kita dulu?” potong Oom Steven lembut.
Entah apa yang harus diingat oleh Tante Jessica, tapi kalimat singkat Oom
Steven itu membuat wajah Tante Jessica berubah. Bahunya yang tegang berubah
rileks. Wajahnya yang keras berubah lembut.
“Alo dan Cecil itu mirip kita dulu... dear Jessy,” kata Oom Steven pelan.
Kesya berpaling pada Marco. Minta penjelasan.
“Nanti aku jelaskan...,” bisik Marco. “Sekarang kita lihat Alo dan Cecil dulu
yuk.”
Kesya mengangguk, membiarkan Marco menggandeng tangannya. Mereka
mendekati Alo dan Cecil, tidak terlalu dekat untuk tetap memberikan privasi bagi
mereka berdua. Yah... dua hari ini emosi Cecil dan Alo benar-benar telah teradukaduk!
“Aku minta maaf atas semua yang kamu alami...,” ujar Alo sambil memeluk
Cecil. Cecil tidak menjawab. “Aku tetap mau menikah dengan kamu... yah... itu
kalau kamu memang masih mau menerimaku jadi suamimu.”
Cecil tetap diam.
Alo melepaskan pelukannya. Sebelah tangannya masih berada di bahu Cecil,
tangan satunya lagi mengangkat dagu Cecil. Kini wajah mereka bertemu.
“Asal kamu tahu ya, Cil, nggak ada wanita lain yang menarik hatiku sedemikian
kuat seperti kamu. Nggak ada satu pun wanita yang chemistry-nya begitu kuat
seperti kamu. You’re the one and only. Now and forever...”
Alo membalikkan tubuh Cecil. Menghadapkan Cecil ke arah sunset, kemudian
berlutut di hadapannya. “Cecilia Almira Saraswati...,” Alo perlahan menggenggam
tangan Cecil, “will you marry me?” tanyanya.
Pada saat yang bersamaan, matahari pelan-pelan bergulir pulang ke
peraduannya. Semburat jingganya bersinar dengan sangat indah. Memantulkan
warna-warni eksotis di permukaan laut.
Yesss! pekik Kesya dalam hati. Alo memang paling bisa mengambil hati Cecil.
Lamaran saat sunset begini, pasti tidak akan ditolak oleh Cecil.
“Cil...,” panggil Alo saat belum mendapatkan jawaban dari Cecil.
Mata Cecil tertuju kepada Alo. Dia tersenyum dan mengangguk pelan.
“Yesss!” jerit Kesya sambil memeluk erat Marco. Marco juga tertawa lebar.
Benar-benar yesss!
* * *
Jadi begini ceritanya...
Ternyata dulu, Tante Jessica juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami
Cecil. Mamanya Oom Steven tidak menyukai Tante Jessica. Menurut mamanya Oom
Steven, Tante Jessica bukanlah calon istri yang cocok untuk Oom Steven. Beberapa
hari mendekati pernikahan mereka, mamanya Oom Steven bahkan mengajak pacar
pertama Oom Steven hadir di acara makan keluarga. Menurut mamanya Oom
Steven, gadis asli Inggris itu lebih cocok bersanding dengan Oom Steven
dibandingkan Tante Jessica. Tante Jessica ngambek dan pulang ke Indonesia. Oom
Steven, yang memang sudah cinta mati pada Tante Jessica, menyusul ke Indonesia.
Mereka akhirnya menikah di Indonesia, walaupun tanpa restu dari mamanya Oom
Steven.
Kesya mengangguk-angguk, mendengarkan penjelasan Marco.
Ketika mendengar cerita Kesya tentang apa yang menimpa Alo dan Cecil, Oom
Steven langsung menghubungi Alo. Mengabari bahwa Cecil berada di Bali. Alo
langsung membeli tiket pesawat ke Bali dan berangkat saat itu juga. Tante Jessica
membeli tiket pesawat yang sama, berusaha mencegah kepergian Alo. Marco juga
ikut menyusul, takut terjadi sesuatu di antara Tante Jessica dan Alo.
Ketika tadi Oom Steven mengatakan. “Jessy dear, kamu ingat kita dulu”, Tante
Jessica tersadar bahwa perbuatannya sama persis dengan perbuatan mama Oom
Steven dulu. Perbuatan yang menyakiti hatinya. Perbuatan yang membuat harga
dirinya terinjak-injak. Perbuatan yang hampir saja melenyapkan cinta sejatinya.
Perbuatan yang hampir saja terulang kembali...
Tante Jessica langsung pulang saat itu juga. Oom Steven ikut menemaninya.
Cecil dan Alo tinggal semalam. Menenangkan hati dan pikiran masing-masing.
Marco juga memutuskan untuk tinggal semalam. Mengistirahatkan tubuh, pikiran,
dan perasaannya yang turun-naik seperti naik jet coster.
Semuanya jadi lebih baik dan indah sekarang.
Semoga saja semuanya akan menjadi semakin baik dan indah nantinya....
* * *
Back to Jakarta!
Ternyata semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Yah... setidaknya untuk
Kesya.
Kesya berbahagia, tulus-murni-jujur sangat berbahagia, atas rujuknya Alo dan
Cecil. Dia tersiksa sekali ketika melihat wajah Cecil yang tidak bergairah ketika
mereka berada di Bali kemarin. Dia juga bahagia sekali melihat binar-binar di mata
Alo dan Cecil bersinar kembali saat mereka bersama-sama lagi. Tapi, itu berarti
tugasnya sebagai bridesmaid bertambah berat. Karena Cecil dan Alo sudah terlalu
lama cuti dari kantor masing-masing, dan mereka masih berencana untuk
mengambil cuti untuk melangsungkan pernikahan plus bulan madu, maka mereka
harus bekerja lembur untuk kantor masing-masing.
Padahaaaalll... Semua vendor harus dikonfirmasi ulang plus diberitahu
perubahan tanggal pernikahan yang semula akan dilaksanakan di akhir bulan April
menjadi tanggal 2 Mei. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Hehe... Mulai
dari gereja tempat berlangsungnya pernikahan, pastor yang bertugas memimpin
jalannya misa pernikahan di gereja, dekorasi gereja, kelompok paduan suara,
ruangan tempat resepsi, katering, dekorasi, gaun pengantin, kartu undangan dan
suvenir, fotografer, dan video shooting.
Ada yang senang sekali karena rencana pernikahan Cecil dan Alo ternyata jadi
dilaksanakan. Ada yang minta laporan eksklusif tentang apa yang sebenarnya
terjadi sampai pernikahan mereka sempat tidak jadi dilaksanakan. Tapi... ada juga
yang marah-marah karena merasa dipermainkan.
“Nanti nggak jadi, nanti jadi, nanti siapa tahu nggak jadi lagi!”
Saat ini Kesya berada di studio fotografer “Klik OK”, dan laki-laki lebay yang
berdiri di hadapannya adalah Johnsonwati, si fotografer itu sendiri.
“Helloowww... Serius nggak sih mau nikah?” jeritnya sambil mengibasngibaskan
jemarinya yang lentik. Dia merapikan syal yang terjuntai di lehernya.
“Eh, boo... asal tau aja ya. Kita semua udah atur jadwal dengan serapi-rapinya,
dengan sebaik-baiknya, dengan se-perfect-perfect-nya, tau-tau... apa... apa... apa...
apa...” Kepala si Johnsonwati bergerak-gerak ke kanand an kiri dengan dramatis.
“Pernikahannya nggak jadi... nggak jadi... nggak jadi... booo... Aduh... pusing deh
akyuuu!” Jari-jari lentiknya mencuat keluar ketika punggung tangannya menyentuh
dahi.
Kesya menarik napas. Berusaha tetap sabar mendengarkan celotehan makhluk
ajaib itu.
“Terus sekarang, tau-tau bridesmaid-nya datang...” Jari-jari lentik Johnsonwati
menunjuk ke dada Kesya. ”And bilang pernikahannya tetap jadi dilaksanakan.
Iddiih... emang kita nggak ada kerjaan laeeennn, kaleee...” Kepala Johnsonwati
menggeleng-geleng. Kali ini mulutnya juga bergerak maju-mundur, mengekspresikan
perasaannya.
“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Kesya. Mati-matian dia
mengatur nada suaranya agar tetap berada pada kondisi normal. Memang sekarang
dia berada di pihak yang salah, di pihak yang memohon, di pihak yang seharusnya
merendah. Hmmm... sabar, Kesh! Sabar!
“Nggak bisa... nggak bisa... pokoknya nggak bisa...” Si Johnsonwati mengangkat
tangan, merentangkan lima jarinya di hadapan wajah Kesya. “Kita nggak bisa lagi
terima order yang seperti ini... Kalau kita terusin, bisa-bisa nanti nggak jadi lagi...
Aah... cuapeekkk... deh...” Jari telunjuknya menunjuk pelipis sambil menggelenggeleng.
Kesya mengedik. Kembali menarik napas panjang.
“Jadi kalian tidak mau?”
“Nggak!” sahut Johnsonwati dengan ketus.
Kesya merasa sudah tidak ada gunanya lagi berdebat dengan Johnsonwati.
“Baik kalau begitu. Terima kasih dan maaf sudah merepotkan.”
Kesya keluar dari tempat makhluk ajaib itu bekerja. Sebenarnya Kesya mau
marah-marah, mau mencaci maki, mau ngomel-ngomel. Tapi, menghadapi makhluk
superajaib seperti Johnsonwati, langkah terbaik adalah menghindar sejauh
mungkin. Percuma deh marah-marah sama dia, malah kita tambah sakit kepala
menghadapi balasan-balasannya yang garing!
“Cil...” Di mobilnya, Kesya menghubungi Cecil. “Fotografer sama video shootingnya
nggak mau. Mereka ngomel-ngomel. Katanya kita nggak serius mau ngadain
acara.”
“Oh my God! Terus gimana dong? Masa acara pernikahanku nggak ada
dokumentasinya...? Gimana dong? GIMANA DONG?” suara Cecil terdengar
merintih panik.
Kesya terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya. Kasihan telinganya kalau
harus mendengarkan rintihan berkepanjangan seperti itu.
“Kira-kira kamu punya cadangan fotografer lain nggak?” tanya Kesya dengan
sabar. Cecil kembali menjadi Cecil the drama queen. Sekarang dia meracau dengan
panik.
“Mmm...” Kesya berpikir keras, tapi otaknya serasa blank mendengar racauan
Cecil. “Darius? Gimana kalau Darius?” Kesya merasa jadi orang paling pintar
sedunia. Tentu saja Darius, yang pernah mengabadikan foto-foto pre-wedding Cecil
dan Alo akan menjadi solusi terbaik. Cecil dan Alo juga sangat puas dengan hasil
fotonya.
“Nggak bisa,” jawab Cecil cepat. “Darius itu spesialis foto pre-wed. Kalau untuk
dokumentasi, nggak terlalu bagus...”
Hancurlah sudah harapan menjadi “orang paling pintar sedunia”!
Kesya berpikir keras lagi. Di seberang sana, Cecil masih terus meracau. Kalau
Cecil terus meracau, daya kerja otak Kesya bisa semakin lemah dan lemah.
“Jansen!” pekik Cecil. “Jansen! Jansen! He is our best solution!”
“Jansen?” Kesya heran. Bukannya Cecil paling anti sama Jansen? “Jansen?”
ulang Kesya tidak percaya.
“Iya. Jansen, TTM-an kamu dulu itu lho...,” Cecil menekankan.
“Iya, aku tahu Jansen yang mana,” Kesya memotong kata-kata Cecil. Tidak
perlu Cecil menjelaskan siapa Jansen yang dimaksud. “Tapi... bukannya kamu
paling males kalau ngomongin soal dia?”
Cecil tertawa. “Aku males waktu dia masih jadi TTM-an kamu. Tapi setelah aku
tahu dia bukan siapa-siapa kamu lagi, aku ya fine-fine aja sama dia. Tolong kontak
dia ya...”
Cecil pun mematikan ponselnya. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Kesya mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Saat kembali memperhatikan
jalan, dia baru menyadari bahwa sekarang ini dia berada dekat dengan lokasi studio
Jansen. Dia lalu membelokkan mobilnya, memutuskan sekalian saja mampir ke
studio Jansen.
“Halo, Mbak Kesya...,” sapa Lindi, si pengarah gaya. “Udah lama banget nggak
main ke sini lagi...”
Kesya tersenyum jengah. Sedang memikirkan alasan apa yang harus
diutarakannya, tapi untung Lindi orang yang tidak membutuhkan alasan.
“Pak Jansen ada di dalam, sedang mengedit foto,” ujar Lindi sambil
mempersilakannya masuk.
Kesya masuk dengan canggung. Sudah cukup lama dia tidak bertemu Jansen. Di
dalam ruangan, tampak Jansen sedang serius memperhatikan layar komputer.
“Jansen...,” panggil Kesya pelan.
“Hah?” Jansen terkejut dan memekik pelan. “Sialan! Ke-delete lagi!”
Kesya juga terkejut. “Jansen, serius? Foto langganan kamu terhapus?”
Butir-butir keringat bermunculan di dahi Jansen. “Sebentar sebentar...”
Tangannya beberapa kali mengklik mouse komputer. Karena kegugupannya, mouse
itu meluncur terjatuh dari tempatnya. “Aduh!” Jansen kembali memekik. Buru-buru
dia mengembalikan mouse itu ke tempat semula dan mengklik berulang-ulang.
“Ooh... masih ada di recycle bin. Hehehe...,” tawanya gugup sambil menghapus
keringat di dahinya. “Aku save dulu ya...” Jari-jari Jansen kembali sibuk mengklik
mouse. “Oke. Sudah.”
Kesya meremas tangannya yang juga terasa keringatan. Jansen dan segala
kegugupannya memang bisa membuat orang lain jantungan!
“Ada apa, Kesya?” tanya Jansen sambil mematikan komputernya.
“Tentang Cecil...,” Kesya memulai.
“Oh, aku sudah dengar tentang Cecil dan Alo. Jadi sekarang mereka bagaimana?”
Wajah Jansen tampak penuh perhatian.
Kesya terkejut. Betapa berita itu sangat cepat tersebar!
“Mereka berdua, Alo dan Cecil, sekarang sudah baik-baik saja,” jawab Kesya.
Tanpa sadar, dia tersenyum sambil mengembuskan napas lega. “Pernikahan tetap
jadi dilaksanakan, walaupun tanggalnya diundur. Nah... itu yang membawa aku ke
sini.”
Dahi Jansen mengernyit.
“Aku harus mengonfirmasi ulang semua vendor, dan tadi aku baru dari tempat
fotografer yang seharusnya mendokumentasikan acara Cecil. Dia tidak mau lagi
terlibat dalam acara pernikahan Cecil.”
Kali ini Jansen mengangguk-angguk.
“Bisa nggak kamu yang mendokumentasikan pernikahan Cecil?” Kesya
menelengkan kepala. Memangan Jansen penuh harap.
“Jadinya... tanggal berapa?”
“Tanggal 2 Mei.”
Jansen membolak-balik organizer-nya. “Oke,” jawab Jansen, membuat wajah
Kesya cerah ceria. “Kebetulan... kebetulan aku nggak ada kerjaan... di tanggal
segitu.”
“Thanks a lot ya, Jansen. Aku tahu tanggalnya memang mepet sekali. Just do the
best you can do!” Kesya tersenyum lebar. Dia bahkan berniat memeluk Jansen, tetapi
diurungkannya niat tersebut. Takut membuat Jansen salah tingkah lagi.
Jansen tersenyum sambil mengangguk.
Keluar dari studio Jansen, Kesya sedikit lega. Sedikit, karena dia teringat akan
vendor lain yang belum sempat dihubunginya. Kesya membolak-balik catatannya.
Kepalanya berdenyut-denyut melihat ada tiga vendor yang belum dihubunginya.
Ponselnya berdering dan nama Marco tertera di layar.
“Sayang...,” sapa Marco, “lunch bareng yuk. Kamu lagi di mana?”
“Nggak bisa, Yang...,” tolak Kesya dengan suara lemah, “masih ada tiga vendor
lagi yang harus aku hubungi.”
“Kamu udah sempat ke toko?” suara Marco terdengar khawatir.
“Belum,” jawab Kesya lemah. Sepulang dari Bali kemarin dia belum sempat
mendatangi tokonya. Padahal hari ini dia ada janji dengan seorang klien. Untung
saja DeeDee dapat menggantikannya. Diam-diam Kesya mengagumi juniornya itu.
Semakin lama, DeeDee semakin cekatan saja. “Dari pagi, aku langsung sibuk
ngurusin ini. Gimana ya, Marco? Aku sudah pusing nih!”
“Hei... hei... hei... Sayang. Calm down. Apa sih yang masih belum dihubungi?”
tanya Marco, berusaha menenangkan Kesya.
Kesya melirik catatannya. “Dekorasi gereja, katering, dan kartu undangan. Plus
suvenirnya.” Kepala Kesya tambah berdenyut-denyut mengetahui bahwa dia belum
menghubungi pihak pembuat kartu undangan.
Perubahan tanggal pernikahan berarti perubahan besar-besaran pada seluruh
kartu undangan. Catat baik-baik ya! Seluruh kartu undangan, yang jumlahnya bisa
mencapai ribuan lembar! Oh... entah caci maki apa lagi yang akan diterima Kesya
saat menghadapi si pembuat kartu undangan nanti.
“Aduh, Marco. Aku nggak bisa banyak ngomong deh. Kerjaanku masih banyak
banget nih!” Kesya diserang panik akut. Dia benar-benar pusing membayangkan
masih harus berurusan dengan vendor-vendor itu. Belum lagi kalau harus
berurusan dengan Johnsonwati-Johnsonwati lainnya.
“Aku sudah menghubungi semua vendor itu,” ujar Marco tenang.
Kesya mempertajam pendengarannya. Tubuhnya sampai miring-miring dalam
usaha merapatkan telinganya ke ponsel. “Hah? Apa? Dekorasi gereja, katering,
kartu undangan, plus suvenirnya sudah kamu konfirmasi?” ulang Kesya tidak
percaya.
“Hei... I’m the bestman. Remember?” Marco tertawa geli.
“Lalu...”
“Semuanya sudah beres, Sayang. Dekorasi gereja, katering, dan kartu
undangannya semuanya sudah dikonfirmasi ulang.”
“Semuanya nggak ada masalah?” tanya Kesya tidak percaya.
“Nope.”
“Sama pihak kartu undangannya juga no problem?” pancing Kesya lagi.
“Nggak tuh. Aku minta maaf bahwa tanggal pernikahannya harus diundur.
Aku juga menawarkan penggantian dana untuk semua undangan yang sudah
dicetak dan tidak dapat dipakai. Yah, beigtu aja sih...,” jawab Marco santai.
“Nggak ada ribut-ribut, dijutekin dan sebagainya?” pancing Kesya lagi. Masih
sungguh-sungguh tidak percaya.
“Nggak, Sayang. It’s not a problem at all,” Marco masih menjawab dengan santai.
Kesya geleng-geleng. Kenapa semuanya jadi lebih mudah kalau Marco yang
bertindak sih? Yah, tapi sudahlah... yang penting pekerjaannya sudah selesai.
15
ACARA makan siang dengan Marco, dengan sangat terpaksa, tidak jadi
dilaksanakan. Kesya lelah luar biasa tadi siang. Makanya, setelah tahu bahwa Marco
sudah mengonfirmasi dekorasi gereja, katering, dan kartu undangan plus suvernir,
Kesya memutuskan untuk pulang dan tidur...
Setelah tidur kira-kira tiga jam, Kesya merasa segar kembali. Dan sekarang, dia
bersiap-siap untuk dinner bersama Marco. DeeDee masuk ke kamar dan duduk di
tepi ranjang gantung. Dia baru saja pulang dari acara pertemuan dengan klien
Kesya. Dia melaporkan hasil pertemuan tersebut dengan singkat. Kesya sangat
berterima kasih kepada DeeDee. Rencananya, Kesya akan memercayakan cabang
baru tokonya untuk dikelola DeeDee.
“Hehehe...,” DeeDee terkekeh.
“Kenapa kamu?” tanya Kesya bingung. Dia baru saja menceritakan rencana
pengembangan tokonya, tetapi DeeDee malah terkekeh-kekeh geli. “Apa yang lucu
ya?
“Setiap kali duduk di sini, aku ngerasa lucu. Takut jatuh, tapi fun juga. Hehehe...
lucu aja...” DeeDee masih terkekeh. DeeDee pernah mencoba tidur di ranjang
gantung ini, tapi akibatnya dia malah tidak bisa tidur. Sepanjang malam dia hanya
terkekeh-kekeh kegelian. Sampai kemudian Kesya, yang sangat terganggu dengan
suara kekehnya yang menyebalkan, mengusir DeeDee untuk kembali menempati
ranjang tamu di sudut kamar.
“Nggak kerasa ya hubungan kamu dan Marco sudah sejauh ini.” Senyum
DeeDee masih tergantung di wajahnya.
“Maksud kamu sejauh ini tuh sejauh apa?” tanya Kesya sambil memilih-milih
gaun.
“Ya... yang tadinya kamu sebel banget sama dia. Bete banget karena dia itu
perokok, terus sekarang jadi soulmate-an gini...” DeeDee tertawa lagi.
Kesya juga ikut tertawa. Baru menyadari bahwa belakangan ini tidak pernah
melihat Marco merokok lagi. Wah, good point! Dia harus ingat untuk memuji Marco
akan perubahan positif itu.
Ting tong...
Pasti Marco.
“Dee, itu sepertinya Marco. Tolong bukain pintu dulu ya...” Kesya masih terus
memilih-milih gaunnya.
DeeDee keluar. Membukakan pintu untuk Marco.
Tak lama kemudian DeeDee masuk lagi. Tangannya membelai poni rambutnya
sambil tersenyum. “He’s really falling in love with you...,” bisiknya.
“Kamu tahu dari mana?” Kesya juga ikut berbisik.
“Dari body language-nya...” DeeDee terkikik. “Berlumuran cinta...” DeeDee
kembali beranjak ke luar.
“Marco, Kesya masih bingung milih baju, jadi sekarang dia belum berpakaian.
Kamu mau tunggu di dalam kamar aja?” goda DeeDee.
Wajah Kesya merona dan buru-buru menutup pintu kamar. “Sayang, kamu
tunggu di luar aja!” teriaknya panik.
Marco ikut tertawa. “Memang aku nggak boleh tunggu di dalam aja, ya?” dia
juga ikut menggoda Kesya.
“Nggak!” balas Kesya cepat.
Kesya buru-buru menyelesaikan acara berpakaiannya. Saat keluar kamar, Kesya
mendapati Marco sedang duduk manis di sofa.
“Sudah?” tanya Marco. Senyum segar merekah di wajahnya.
Kesya mengangguk, kemudian menyodorkan lengannya untuk digandeng
Marco.
“Let’s go, beautiful princess...” Marco menggandeng tangan Kesya.
“DeeDee, kami pergi dulu ya...,” pamit Kesya.
DeeDee mengangguk. “Pulang malam sedikit nggak apa-apa kok. Kalau kalian
nggak pulang, juga nggak apa-apa...,” goda DeeDee sambil mengedipkan mata.
Mata Kesya melotot. “Nggak usah ngasih ide macam-macam ya...”
DeeDee tergelak.
Marco mengajak kesya ke sebuah restoran yang romantis. Keseluruhan restoran
itu dilapisi dinding kaca sehingga Kesya dapat menyaksikan kesibukan malam di
Jakarta. Di tengah-tengah ruangan, digantung sebuah lampu kristal besar berwarna
putih. Untuk membuat suasana romantis semakin terasa, lampu yang diletakkan di
setiap meja bersinar redup.
“Ke sini saja...” Marco membimbing Kesya ke sebuah meja yang sudah dipesan
sebelumnya. Seorang pelayan telah siap mencatat pesanan mereka. Selain
restorannya sangat indah, pelayanan dan makanannya juga memuaskan.
Ketika mereka sedang makan, tiba-tiba sebuah kepala anak laki-laki menyembul
dari pinggir meja. Kepala Jason, keponakan Alo! Anak tengil itu tertawa terkikikkikik
melihat raut terkejut di wajah Kesya.
“Hihihi... Tante Kesya...,” sapanya dengan suara yang juga tengil. “Lagi pacaran,
ya? Habis ini check-in ke hotel dong...”
ASTAGA! Belajar dari mana anak tengil ini? Kok dia sudah tahu istilah check-in
segala?
“Jason!” bisik Kesya agak keras, berusaha kelihatan tegas. “Kamu ke sini sama
siapa?”
Jason mengerling, menunjuk ke sepasang orang dewasa yang wajahnya tampak
mirip dengan dirinya. Kesya mengenali si orang dewasa wanita sebagai kakak
perempuan Alo, yang tabiat dan wataknya sama seperti Tante Jessica.
“Aku mau di sini aja... Males makan sama Mama dan Papa!” Dengan kurang
ajarnya Jason menarik sebuah kursi dari meja sebelah dan duduk bersama Marco
dan Kesya.
“Hai, Jason...,” sapa Marco. “Kamu keponakannya Oom Alo, ya?” Marco
menyodorkan tangan. “Aku Oom Marco, sahabatnya Oom Alo.”
Jason tampak terkesima. Sepertinya dia tidak terbiasa diperlakukan secara
dewasa seperti ini. Di wajah Jason, Kesya menangkap binar kaguma nak itu akan
sosok Marco. Ragu-ragu Jason menyambut uluran tangan Marco.
“Nice to meet you...” Marco menjabat erat tangan anak itu.
Senyum Jason merekah. “Nice to meet you too, Oom Marco.”
Hmmm... sepertinya si makhluk tengil ini mulai dapat dijinakkan Marco.
“Jadi, Oom Marco dan Tante Kesya itu bestman sama bridesmaid, ya?” tanya Jason
sambil menggoyang-goyangkan kaki.
Kesya agak terganggu dengan guncangan meja yang diakibatkan goyangan kaki
Jason, tapi ditahannya keinginan untuk menjitak kepala anak itu.
“Hmm... kata Oma, aku akan jadi pembawa cincin.” Wajah Jason tampak
merengut. “Aku nggak mau jadi pembawa cincin! Aku nggak suka disuruh-suruh!
Biarin aja, nanti cincinnya aku sembunyiin, terus aku jual!”
Kata-kata itu lagi! Sekarang Kesya merasa akan pingsan mendengar kata-kata
itu keluar dari mulut Jason. Dua kali dia mendengarkan pernyataan itu. Tampaknya
Jason akan benar-benar melaksanakan ancamannya. Ooh... masterpiece-nya!
Marco berdeham. Dahinya mengernyit saat dia mendengar komentar Jason dan
memperhatikan Kesya yang sudah siap pingsan.
“Memangnya kalau cincinnya dijual, terus uangnya mau kamu pakai untuk
apa?” tanya Marco.
Lagi-lagi Jason tampak terkejut mendengar pertanyaan Marco. Raut wajahnya
semakin kagum memandang sosok Marco. Sepertinya Jason tipe anak yang tidak
pernah diajak berbicara baik-baik. Mungkin orangtuanya hanya tahu memarahinya,
sementara omanya hanya tahu memanjakannya.
“Aku mau beli yoyo...”
Kesya melongo. Menjual cincin berlian, masterpiece-nya, hanya untuk membeli
yoyo! Kesya bertanya-tanya makhluk apa yang sebenarnya sedang bercokol di
dalam otak Jason.
“Yoyo?!” pekik Kesya keras.
Jason mengangguk.
“YOYO?!”
Jason mengangguk lagi.
“Kamu suka yoyo?” tanya Marco. Tangannya meremas tangan Kesya yang
mulai berkeringat.
Jason mengangguk. “Ini aku bawa yoyo kesayanganku. Aku mau beli lagi. Yang
modelnya lebih keren daripada ini.” Jason mengeluarkan yoyo dari saku celananya.
Marco mengambil yoyo yang disodorkan Jason. Marco mengambil yoyo itu dari
tangan Jason dan mulai memainkannya dengan mahir. Kesya bahkan tidak pernah
tahu Marco bisa memainkan yoyo sebaik itu. Dengan gaya profesional, Marco
memutar-mutar dan melempar-lemparkan yoyonya. Gayanya persis seperti pemain
yoyo profesional yang sering Kesya lihat di Youtube!
Kesya melirik Jason. Marco benar-benar telah memenangkan hati anak tengil itu.
Saat ini, Jason sedang menatap Marco dengan mata tidak berkedip dan mulut
melongo. Sepertinya, sebentar lagi Jason akan berlutut dan menyembah-nyembah
Marco.
Jason bertepuk tangan kuat-kuat saat Marco memutar-mutar yoyonya. Orangorang
di sekeliling meja, terutama anak-anak, mulai berkumpul dan mengeluelukan
Marco. Marco mengakhiri permainannya dengan sangat dramatis. Dia
membungkuk sedikit untuk membalas tepukan tangan dan sorak-sorai orang-orang
yang memperhatikannya.
“Oom Marco, ajarin aku gaya yang tadi dong...,” rengek Jason.
“Jason!”
Saat terdengar seseorang berteriak memanggil namanya, Jason mengerang.
Dengan enggan dia bangkit berdiri dan menghampiri orangtuanya. Baru setengah
jalan, dia berbalik lagi.
“Oom Marco, aku minta nomor telepon Oom dong... Nanti aku telepon, ya...,”
ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mata Kesya hampir copot
melihat ponsel yang dikeluarkan dari saku celana Jason. Blackberry! Anak sekecil ini
sudah membawa-bawa ponsel Blackberry! Memang dia tahu bagaimana cara
menggunakannya? Kesya menggeleng-geleng.
Marco menyebutkan nomor ponselnya.
“Nah, nomor Oom Marco sudah aku save. Aku missed call, ya...”
Marco mengangguk, kemudian menyimpan nomor Jason di ponselnya.
“Bye, Oom Marco! Bye, Tante Kesya! Nice to meet you both...” Jason melambai.
“Nanti aku telepon ya, Oom...”
Marco mengangguk dan melambai. Kesya juga melambai. Mau tidak mau,
bibirnya menyunggingkan senyum.
“Anak yang lucu...,” komentar Marco.
Kesya mengangguk, menyetujui. Sekarang dia tidak lagi melihat Jason sebagai
bocah tengil yang harus dikhawatirkan.
“Kalau kamu tahu bagaimana cara menghadapinya, anak-anak bisa jadi teman
yang sangat menyenangkan...,” ujar Marco seperti memahami isi kepala Kesya.
Kesya mengangguk lagi.
* * *
“Mbak Cecil! Mbak Kesya!” Anita memekik kegirangan. Tingkahnya seperti orang
yang baru saja mendapat kabar bahwa dia memenangkan undian berhadiah satu
miliar. Superheboh!
“Saya udah panik banget waktu mamanya Mas Alo datang dan bilang calon
pengantin wanitanya diganti!” Bola mata Anita berputar-putar dramatis.
“Bayangkan, Mbak Cecil! Bayangkan, Mbak Kesya! Diganti! Diganti! Diganti!” suara
Anita meninggi.
Kesya dan Cecil tersenyum dengan terpaksa. Mereka mulai terganggu dengan
tingkah superheboh Anita, tapi Anita seperti belum mau menyudahi ceritanya.
“Apalagi mamanya Mas Alo minta acara pernikahannya diganti dengan adat
Jawa. Jadi, baju pengantinnya juga baju pengantin Jawa! Heellloooo! Madame
Daphne kan perancang busana pengantin internasional! Waktu saya bilang begitu,
mamanya Mas Alo dan siapa itu... si calon pengantin wanita Jawa itu... mereka
malah marah-marah. Bilang kalau kami tidak profesional!” Anita mendengusdengus,
menunjukkan kemarahannya. “Mereka aja yang aneh. Masa mau beli ikan
datangnya ke tempat jual mobil! Ya nggak ada lah ikannya!”
Cecil dan Kesya tergelak mendengar perumpamaan Anita.
“Makanya, waktu saya dengar dari Mbak Kesya, pernikahan Mbak Cecil dan
Mas Alo tetap dilaksanakan, waduh... saya senang sekali. Nggak apa-apa deh
tanggalnya dimundurin. Yang penting calon pengantin wanitanya Mbak Cecil,
bukan si cewek nyebelin itu!” Anita tetap bersemangat.
Cecil tersenyum. “Oke. Sekarang kami mau ketemu Madame Daphne dulu ya...”
Kalau tidak dipotong seperti ini, Anita masih tahan mengobrol berjam-jam lamanya.
Anita mengangguk. “Langsung ke atas saja. Madame sudah menunggu.”
Kesya mengikuti Cecil. Menerka-nerka penampilan seperti apa yang akan
mereka lihat dari Madame Daphne.
“Halo, Cecil. Halo, Kesya...”
Kali ini Madame Daphne berpakaian ala geisha Jepang. Kimono warna hitam
dengan motif bunga sakura berwarna pink menutupi tubuhnya. Wajahnya dirias
dengan bedak putih. Sebagian bibirnya juga ditutupi dengan taburan bedak putih,
sementara di bagian tengahnya, digambar sebentuk bibir mungil dengan lipstik
warna merah manyala. Rambutnya disanggul dan dikanji dengan keras, sehinga
menyerupai sanggul khas wanita Jepang. Madame Daphne juga mengenakan selop
kayu dan membawa payung kertas warna kuning dengan motif bunga. Kalau sudah
dandan, Madame Daphne memang tidak setengah-setengah.
“Saya senang sekali karena semuanya kembali berjalan dengan baik.” Madame
Daphne menyunggingkan senyum misteriusnya. “Ready for your last fitting, dear?”
Cecil mengangguk bersemangat.
Madame Daphne berjalan perlahan, menghampiri lemari penyimpanan bajunya.
Dengan hati-hati, dia mengeluarkan gaun pengantin Cecil. Dia juga mengeluarkan
gaun Kesya.
Cecil masuk ke kamar ganti dibantu Anita.
Kesya menunggu sambil berdebar. Dia agak khawatir. Selama di Bali, pola
hidup Cecil sangat tidak teratur. Semoga saja semua itu tidak memengaruhi berat
badannya.
Suara gemeresik pelan menandakan bahwa Cecil telah selesai mengepas
bajunya. Dari balik kamar pas, Cecil keluar.
Kesya menghela napas lega. Gaun pengantin yang rencananya dipakai untuk
acara misa di gereja itu masih tetap menempel dengan indah di tubuh Cecil. Pas.
Sesuai. Tepat. Sepertinya, Cecil memang sudah ditakdirkan untuk menikah.
Cecil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar.
“Gimana, Kesh?” tanyanya.
Kesya tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Cecil kembali masuk ke ruang ganti. Ketika Cecil keluar dengan mengenakan
gaun pengantin yang rencananya akan digunakan pada saat resepsi, Kesya kembali
menghela napas lega. Penampilan Cecil tidak bercela. Seluruh tubuhnya, seluruh
jiwanya, seluruh alam pikirnya telah siap untuk menikah. Dia benar-benar akan
menjadi pengantin yang cantik!
* * *
Hari-hari berganti dengan cepat. Tinggal lima hari lagi, Alo dan Cecil akan
mengucap janji untuk setia selamanya sampai maut memisahkan mereka. Kesya dan
Marco sudah menyelesaikan semua tugas mereka. Semua vendor telah dikonfirmasi
ulang.
Hari ini, Kesya akan merampungkan persiapan terakhirnya untuk menjadi
seorang bridesmaid. Dia mengeluarkan catatan tentang barang apa saja yang harus
dibawanya pada hari pernikahan Cecil-Alo.
Sore ini, Kesya dengan ditemani Marco, pergi berbelanja. Belanja kebutuhan yang
tertulis di atas itu. Saat sedang sibuk memilih kipas berukuran kecil yang dapat
menghasilkan angin yang besar, (maklum saja, tas tangan Kesya sebagai seorang
bridesmaid kan kecil sekali!) seorang wanita berwajah indo mendekati mereka.
“Marco...,” sapanya.
Wanita itu cantik sekali. Tubuhnya langsing semampai. Kulitnya kecokelatan,
tampak seperti sering berjemur. Rambutnya terlihat agak pirang. Panjang dengan
gelombang-gelombang besar di ujung rambut. Gayanya, hmm... pakaian, aksesori,
tas, dan sepatunya, tampak amat sangat mahal.
“Joanelle.” Marco tampak terkejut melihat kedatangan wanita itu.
“Hi, Marco!” wanita yang dipanggil Joanelle itu memekik kegirangan. “Long
time no see...” Dia berjinjit dan mencium mesra pipi Marco.
Sebuncah perasaan cemburu menyerang Kesya. Siapa sih cewek ini? Sok akrab
banget! Pake cium-cium segala!
“Hm... glad to see you,” balas Marco. Tangannya terangkat merangkul Kesya,
seolah menunjukkan kepada wanita itu akan hubungan yang sudah mereka jalin.
“Kesh...” Marco mengerling mesra ke arah Kesya. “Ini mantanku, Joanelle.”
Oh! Jadi, ini rupanya mantan Marco! Yang katanya meninggalkan Marco untuk
pacaran dengan seorang pengusaha kaya. Pengusaha kaya yang lebih mapan
dibandingkan Marco.
Mata Kesya menyorot tajam. Tubuhnya menegang. Tapi, Marco meremas
lembut bahunya. Mengirim pesan nonverbal agar Kesya lebih rileks. Mengirim
pesan bahwa sekarang ini Joanelle bukan siapa-siapa lagi bagi Marco. Bukan
ancaman bagi hubungan mereka. Sorot mata Kesya melembut. Tubuh Kesya jadi
lebih rileks.
Daftar barang bawaan untuk pernikahan
Cecil-Alo:
1. Deodoran (untuk menghilangkan bau
badan)
2. Permen pedas (untuk menghilangkan bau
mulut)
3. Kipas (untuk menghilangkan hawa panas)
4. Air mineral (untuk menghilangkan rasa
haus)
5. Tisu (untuk menghilangkan keringat)
6. Lipgloss dan lipstik pink (untuk
menghilangkan kepanikan kalau lipstik di
bibir sudah hilang)
“Ini Kesya Artyadevi, my lovely future wife,” ujar Marco mantap.
Hmm... Future wife... Kesya suka itu. Dia tersenyum kecil.
“Hai, Joanelle.” Kesya mengulurkan tangan. Menyalami mantan pacar Marco.
Menyalami mantan pacar yang kini sama sekali bukan suatu ancaman bagi
hubungan mereka.
“Hai...” Joanelle memeluk dan mencium pipi Kesya. Pelukan dan ciuman
persahabatan. Rupanya dia memang terbiasa bersikap seperti ini terhadap semua
orang. “Senang ketemu dengan gadis yang akan jadi future wife-nya Marco. Saya
Joanelle Wiryatama.”
“So now you are Mrs. Wiryatama,” ujar Marco. Alisnya terangkat.
Joanelle tersenyum menanggapi perkataan Marco. “Yes. Perpisahan kita adalah
keputusan terbaik yang telah aku buat. No hard feeling ya...” Joanelle mengelus
lembut lengan Marco. “Our relationship was great. You are a really nice guy, but you are
not my soulmate.” Kepala Joanelle menggeleng pelan. “Hadi Wiryatama. Dia benarbenar
soulmate buat aku. Kebersamaan kami seperti sesuatu yang natural, sesuatu
yang memang sudah seharusnya terjadi, sesuatu yang tidak terhindarkan. So...,”
Joanelle tersenyum lebar, “I’m sorry that I’ve hurt your feeling, but it’s the best for me.
The best for both of you, too.” Tangan Joanelle kini mengelus lembut lengan Kesya.
“Mommy, can we go now?” seorang anak perempuan, kira-kira berusia dua tahun,
datang mendekati dan menarik rok Joanelle.
“Just a second, dear...,” jawab Joanelle sambil mengelus lembut rambut anak
perempuan itu. “My daughter, Leisha,” ujarnya sambil tersenyum kepada Marco dan
Kesya. “Sorry, I have to go.” Dia mengulurkan selembar kartu nama kepada Kesya.
“Keep in touch ya...,” ujarnya, sambil menggandeng anak perempuannya.
Kesya menatap kepergian Joanelle. Dirasakannya Marco meremas bahunya
lembut.
“Nggak ada perasaan jealous, kan?” tanya Marco hati-hati.
Kesya menoleh. “Jadi dia yang bikin kamu jadi perokok yang menyebalkan?”
tanyanya.
Marco tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Dan kamu yang bikin aku quit dari rokok dan jadi manusia yang lebih
menyenangkan...” Marco memeluk Kesya erat.
Kesya tersenyum. “Oke kalau begitu. Berarti I’m better than her dan aku nggak
perlu jealous sama dia.”
“You’re the best, Kesh...” Marco mempererat pelukannya.
* * *
Satu hari sebelum Hari Pendidikan Nasional. Makan malam di rumah Cecil.
Kesya mengoleskan parfum ke bagian belakang telinganya. Dia siap pergi.
Walaupun ini makan malam keluarga Cecil, Kesya dan orangtuanya juga diundang.
“Kamu harus harus harus harus... datang ya! Ajak Tante Sabrina dan Oom Edo
juga, ya!” kata Cecil saat mengundang Kesya sekeluarga datang ke acara makan
malam keluarganya.
“Bener nggak apa-apa?” tanya Kesya. “Itu kan acara untuk keluargamu, Cil.”
“Kalian adalah keluargaku! You’re my sister!”
Dan di sinilah Kesya berada sekarang. Bersama kedua orangtuanya. Duduk satu
meja dengan Cecil dan orangtuanya. Menikmati makan malam yang nikmat sekali.
Yah... sesekali Kesya terganggu dengan pertanyaan orangtuanya dan beberapa
orang lainnya tentang kapan Kesya-Marco berencana akan menyusul Cecil-Alo.
Setelah acara makan selesai, Kesya berdiri. Memberikan kata-kata manis untuk
Cecil, tugasnya sebagai seorang bridesmaid.
“Cecilia Almira Saraswati...,” Kesya memulai pidatonya, “gadis menyenangkan
yang sudah menjadi sahabat saya sejak kami sama-sama TK. Gadis ceria yang
dicintai setengah mati oleh Alvaro Nikholai Andersen.”
Cecil tersenyum mendengar pidato pembukaan Kesya.
“Hari ini adalah hari terakhirnya menjadi lajang. Besok, dia sudah akan
bersanding dengan Alo. Berjanji sehidup-semati dengan pemuda yang beruntung
itu.” Kesya tersenyum lebar. “Walau demikian, dia tetap akan menjadi Cecilia yang
selama ini kita kenal. Tidak berubah sedikit pun! Dia akan tetap menjadi putri kecil
bagi Tante Renata dan Oom Balgi. Dia akan tetap menjadi keponakan yang manis
bagi para oom dan tantenya. Dia akan tetap menjadi sepupu yang kompak bagi
saudara-saudaranya. Dan dia juga tetap akan menjadi ashabat yang baik bagi saya.
Untuk Cecilia Almira Saraswati!‟ Kesya mengangkat gelasnya.
“CECILIA ALMIRA SARASWATI...” Semua orang di ruangan itu mengangkat
gelas masing-masing.
Cecil bangkit dari duduknya. Kini giliran dia yang harus memberikan
sambutan.
“Terima kasih untuk semua yang hadir di sini. Saya dapat merasakan perhatian,
rasa sayang, rasa cinta kalian semua menari-nari dengan harmonisnya dalam
ruangan ini. Terima kasih untuk Papa dan Mama yang telah membesarkan saya
hingga saat ini, siap menjadi seorang wanita dewasa. Terima kasih juga, terutama,
untuk sahabatku tercinta Kesya Artyadevi. Bridesmaid yang dapat diandalkan, dalam
segala situasi persiapan pernikahan yang emosional, menegangkan, menggembirakan,
menyebalkan, dan mengharukan. Love you so much, Kesya.” Cecil meniupkan
ciuman kepada Kesya.
“Pertanyaan berikutnya adalah...,” Cecil mengerling jail ke arah Kesya, “kapan
kamu akan menyusul aku dan Alo?”
SIALAN CECIL!
16
HARI PENDIDIKAN NASIONAL baru berjalan selama tiga jam.
“Cil... bangun...,” bisik Kesya sambil mengguncang-guncang tubuh sahabatnya.
Cecil menggeliat, berbalik, dan... tidur lagi.
“Cecil!” Kesya semakin keras mengguncang-guncang tubuh Cecil. “Cepat
bangun! Ini tanggal 2 Mei! Hari Pendidikan Nasional! HARI PERNIKAHANMU!”
teriak Kesya.
Mendengar kata “pernikahanmu”, Cecil langsung duduk tegak. “Hah?! Jam
berapa? Sudah jam berapa ini? Apa kita sudah terlambat? SUDAH TERLAMBAT?”
dia meracau.
“Cecil...” Kesya mengguncang-guncang bahu Cecil. “Kita tidak akan terlambat
kalau kamu segera bangun, mandi, dan pergi ke Bride‟s World!”
“Oh...” Cecil baru sepenuhnya terbangun. “Oh, baiklah.” Dia berdiri dan
beranjak ke kamar mandi.
Kesya mengikat rambut panjangnya. Dia sendiri sudah mandi dan berpakaian.
Siap ke Bride‟s World. Sejak jam dua tadi, dia sudah tidak bisa tidur. Aneh juga
rasanya. Yang mau menikah Cecil, yang tidak bisa tidur malah Kesya.
Kesya memperhatikan sekelilingnya. Dia menginap di rumah Cecil. Tidur di
kamar Cecil. Kamar yang sebentar lagi akan ditinggalkan Cecil. Kamar lajangnya...
Alo dan Marco juga menginap bersama. Sejak kemarin malam, Cecil dilarang
bertemu Alo. Sepulang dari acara makan malam keluarga, Kesya langsung
mengomeli Cecil agar cepat tidur. Kesya tidak mau mata Cecil kelihatan bengkak
atau lelah karena kurang tidur.
Kesya bangun dan memeriksa tas kecilnya. Memeriksa perlengkapan yang
harus dia bawa demi kesejahteraan Cecil, si ratu sehari.
“Deodoran, permen pedas, lipgloss dan lipstik, air mineral, kipas, terus... oh ya,
tisu!” Kesya kembali mengingat-ingat lagi. “Oh ya... ini juga nggak boleh lupa!”
Kesya memasukkan catatan daftar acara pernikahan yang kemarin malam diberikan
oleh MC. Sepertinya masih ada satu hal yang dilupakannya. Apa ya? “Hmm...
bedak.”
Kesya mengaduk-aduk laci meja Cecil dan menemukan compact powder milik
Cecil. Dia memasukkan benda itu ke dalam tas kecilnya. Agak takjub juga melihat
benda-benda itu masih bisa muat di tas bridesmaid-nya.
Cecil keluar dari kamar mandi. Rambut keriting pendeknya masih basah.
“Ayo, Kesh...,” ujarnya dengan suara bergetar. Getar kegembiraan.
* * *
Jalanan masih sangat sepi. Matahari masih tertidur, tapi mobil Cecil sudah
membelah jalan dengan gagah. Kali ini Cecil dan Kesya diantar oleh sopir keluarga
Cecil. Mereka tidak diizinkan menyetir sendirian.
Sampai di Bride‟s World, Cecil dan Kesya langsung melompat turun. Sepertinya,
mereka yang pertama kali tiba. Bride‟s World masih sepi. Hanya terlihat Anita,
dengan dandanan rapi seperti biasanya. Kesya jadi curiga, jangan-jangan Anita
tinggal di Bride‟s World. Kalau tidak, bagaimana mungkin pagi-pagi buta begini dia
sudah tampil rapi dan siap melayani para klien seperti ini?
“Selamat pagi, Mbak Kesya, Mbak Cecil...,” sapanya hangat. “Silakan.” Dia
mengangsurkan baki penuh sarapan. “Pasti belum makan, kan?”
Rasanya Kesya dan Cecil ingin mencium Anita. Profesionalitasnya patut
diacungi jempol.
Kesya makan cukup banyak. Dia tidak mau ambil risiko pingsan kelaparan saat
harus bertugas nanti. Sementara Cecil... hmmm... mungkin karena nervous, dia jadi
tidak bisa makan. Dia cuma bisa minum segelas susu dari semua makanan yang
disediakan Anita. Melihat hal itu, diam-diam Kesya membungkus dua potong roti
berselai dan menyelipkannya ke dalam tas. Persediaan saat Cecil kelaparan nanti.
“Ayo, silakan. Siapa yang mau dirias dulu?” si mbak make-up artist sudah siap.
Tentu saja giliran pertama harus diberikan kepada si calon pengantin. Cecil
duduk dengan bergaya. Wajahnya cerah ceria. Bersiap untuk dipercantik. Mbak
make-up artist yang lain datang dan mulai menangani Kesya.
“Mau make-up seperti apa, Mbak?” tanya si make-up artist yang kedua.
“Saya terserah saja. Yang cocok saja menurut Mbak,” jawab Kesya. Poin yang
teramat sangat penting adalah, bridesmaid tidak boleh terlihat lebih cantik
dibandingkan pengantin. Jangan malah heboh sendiri. Jadi, Kesya menyerahkan
semuanya ke tangan si make-up artist. Pasti dia yang paling tahu.
Dua jam kemudian, Kesya sudah selesai dirias. Riasannya membuat wajahnya
terlihat cerah, namun tetap lebih sederhana dibandingkan riasan wajah Cecil, si Ratu
Sehari.
“Mbak, ganti baju dulu di atas. Nanti baru diatur rambutnya,” ujar si make-up
artist.
Kesya naik ke lantai atas Bride‟s World untuk mengenakan baju bridesmaid
warna turquoise-nya.
“Halo, Kesya...” Suara seorang wanita terdengar menyapa Kesya.
Kesya berbalik dan bertatapan dengan... POCAHONTAS!
Kesya hampir saja menjerit kaget ketika menyadari bahwa senyum misterius si
Pocahontas tampak seperti senyum Madame Daphne. Ya ampun! Masih pagi begini,
si Madame sudah berdandan ala Pocahontas. Jam berapa sebenarnya dia bangun
pagi?
“Hai, Madame...,” Kesya membalas sapaan si madame. “Nice costume...”
Madame Daphne tersenyum dan berlalu.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam ketika Kesya selesai berpakaian. Cecil
belum kelihatan, tampaknya dia belum selesai dirias. Kesya sendiri masih harus
menata rambut. Padahal kalau menurut daftar acara yang diberikan MC, pukul
tujuh mereka sudah harus siap di rumah untuk acara penjemputan pengantin.
Kesya buru-buru turun dan memasrahkan rambutnya untuk ditata. Tidak
sampai setengah jam kemudian, tatanan rambut Kesya sudah selesai. Gaya
rambutnya juga sederhana. Pokoknya hari ini, Kesya adalah Ms. Simple. Tapi, tidak
berbeda jauh sih dengan kesehariannya. Kesya memang orang yang sederhana,
tidak suka yang heboh-heboh apalagi yang repot-repot.
“Cecil... ayo cepat sedikit. Udah mau jam setengah tujuh nih...”
Cecil sudah selesai dirias, tapi belum mengenakan gaun pengantinnya.
Dia beranjak bangun dan mencondongkan tubuh, memperhatikan bayangannya
di cermin. “Aku nggak suka rambutku!” katanya sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Wajahnya cemberut.
Tidak ada yang salah dengan rambut Cecil... Rambut keritingnya diberi gel
sehingga menampilkan efek basah kemudian dipercantik dengan bando warna
putih. Menurut Kesya, rambut Cecil kelihatan oke.
“Bagus kok, Cil,” ujar Kesya meyakinkan.
Tidak ada waktu lagi untuk mengubah tatanan rambut. Jarum jam terus
bergerak ke kanan!
“Iya, Mbak Cecil. Begini bagus kok,” si make-up artist juga meyakinkan Cecil.
“Nggak mau,” Cecil berkeras. “Kalau begini, aku kelihatan kayak Tante Jessica,
mamanya Alo. Aku nggak mau! Ganti aja, Mbak!” Cecil kembali duduk.
Kesya melongo. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit!
Tidak mau membuat calon pengantin kesal, si mbak make-up artist langsung
mengubah tatanan rambut Cecil. Kali ini rambut Cecil dipasangkan tiara yang
diletakkan agak mirip ke kanan. Terlihat lebih modern dibandingkan gaya
sebelumnya.
Setelah selesai, si make-up artist menatap Cecil dengan cemas. Untunglah Cecil
tersenyum melihat tatanan rambutnya yang baru.
“Nah, begini baru khas Cecil.”
Kesya langsung memburu Cecil naik ke lantai dua untuk berganti pakaian.
Pukul tujuh kurang lima menit, mereka kembali duduk di mobil.
“Pak, cepat sedikit ya... Jam tujuh kita sudah harus ada di rumah,” ujar Kesya.
“Memangnya sekarang jam berapa?” tanya Cecil, masih belum menyadari
bahwa rambut keritingnya telah banyak menghabiskan waktu mereka.
“Tujuh kurang lima,” jawab Kesya.
“TUJUH KURANG LIMA?!” jerit Cecil histeris saat kesadaran akan waktu telah
merasuki pori-pori kepalanya. “Ya ampun, Kesya! Kenapa kita bisa sampai
terlambat begini?” Cecil langsung panik.
Kesya mendengus. “Tanya saja sama rambut keritingmu!” balasnya kesal.
Mobil Cecil melaju kencang. Menerobos jalanan yang mulai memadat. Sampai di
rumah Cecil pukul tujuh kurang satu menit.
Tante Renata tampak seperti mau pingsan. “Kok lama banget sih?” tanyanya
dengan raut kesal.
“Tanya saja sama rambut keriting Cecil, Tante,” jawab Kesya tidak kalah
kesalnya.
Berempat, bersama Oom Edo, mereka langsung masuk ke dalam kamar Cecil
yang sudah rapi dan cantik. Tante Renata sudah menata beberapa bunga segar
untuk mempercantik kamar itu. Cecil duduk manis menunggu kedatangan Alo.
Yah, tidak bisa dibilang duduk manis sih, karena sebentar-sebentar dia menjulurkan
kepalanya ke arah pintu, mencari-cari sosok Alo. Berulang kali Kesya harus
membenahi tudung pengantin Cecil yang tertarik ke satu sisi.
“Kamu diam saja bisa nggak?” bisiknya kesal. Tudung pengantin Cecil kembali
tertarik ke sisi kanan.
“Nggak sabaran nih. Lama banget!” balas Cecil.
Tepat jam tujuh, mobil pengantin berwarna perak berhenti di depan rumah
Cecil.
Cecil yang mendengar mobil yang menderu lembut langsung bersemangat lagi.
“Itu mereka!” jeritnya penuh luapan kegembiraan. Dia sudah sangat tidak sabar
menanti kehadiran Alo. Cecil merapikan kerutan-kerutan di gaun putihnya. Diamdiam,
Kesya juga melakukan hal yang sama. Dia juga ingin tampak sempurna di
hadapan Marco.
Pintu kamar Cecil terbuka dan di sanalah Alo berdiri. Tersenyum lebar sambil
menggenggam hand bouquet Cecil. Di belakang Alo, Kesya melihat sosok Marco
berdiri dengan gagah dalam balutan jas resmi. Kesya harus menahan diri sekuat
tenaga agar tidak berlari dan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Marco.
Yah... pertama hal itu akan membuat make-up-nya rusak, dan kedua, ini kan
acaranya Cecil. Kesya tidak boleh heboh sendiri.
Jadi, Kesya hanya dapat memperhatikan Marco sambil tersenyum lebar.
Tampaknya Marco juga mengalami hal yang sama. Senyumnya lebar sekali.
Matanya berbinar-binar menatap Kesya. Tubuhnya sesekali berayun maju-mundur,
seperti menahan keinginan kuat untuk memeluk Kesya.
Setelah prosesi penjemputan pengantin selesai, mereka berempat bergegas pergi
ke rumah baru Alo-Cecil. Di sana sudah menunggu keluarga besar Alo untuk
mengadakan tea ceremony. Kesya agak takut juga mengingat di sana akan berkumpul
Tante Jessica beserta seluruh konconya. Semoga Tante Jessica tidak membuat ulah
lagi.
Cecil melakukan tugasnya, menyajikan teh kepada semua anggota keluarga Alo,
dengan sangat baik. Tante-tante Alo yang sudah sepuh bahkan memuji Cecil.
Mereka bilang Cecil gadis cantik yang sangat cocok bersanding dengan Alo. Bahkan
omanya Alo, ibunya Oom Steven yang konon bermasalah dengan hubungan Tante
Jessica-Oom Steven, memeluk Cecil dan mencium kedua pipinya dengan mesra.
Cecil tersenyum lebar saat mendengar pujian ini. Oma Alo senang sekali karena
Cecil menyapanya dalam bahasa Inggris yang sempurna, dengan aksen ala British
pula! Oma Alo memuji-muji Cecil dengan mengatakan bahwa Alo pintar cari calon
istri. Cecil tersipu, tetapi senyumnya merekah. Alo memeluk Cecil dengan mesra,
tidak memedulikan tatapan para senior di keluarganya.
Sementara Tante Jessica... hmmm... tetap tanpa senyum, tapi Kesya sempat
melihat beberapa kali Oom Steven membelai pipinya dengan lembut. Seperti
berusaha menenangkannya.
Pukul setengah dua belas, mereka bergegas menuju Gereka Katedral, tempat
misa pemberkatan pernikahan akan dilaksanakan.
“Kesya, Marco, nanti kalian keluar dulu. Tolong cek semuanya di gereja. Kalau
ada yang nggak beres, tolong diberesin dulu...,” pesan Cecil. Wajahnya tampak
senewen.
Begitu mobil berhenti, Kesya dan Marco turun dan tergesa masuk ke dalam
gereja. Kesya mengedarkan pandangannya ke dalam keremangan gereja. Bunga
altar, beres. Buku misa, beres. Suvenir, beres. Bunga, lilin, dan persembahan lainnya,
beres. Kelompok paduan suara, beres. Petugas gereja... Dia harus menunggu
konfirmasi dari Marco.
“Kesh! Romonya belum datang!” Marco berlari-lari menghampiri Kesya.
“Haah?” jantung Kesya hampir copot mendengar pernyataan Marco. “Ke mana
dia?”
“Katanya ada orang sakit yang perlu diberi sakramen perminyakan. Jadi Romo
pergi ke rumah orang itu dulu. Mungkin sebentar lagi baru kembali ke sini,” jelas
Marco.
Kesya mengangguk. “Ya sudah. Kita kembali ke mobil. Nggak usah bilang apaapa
sama Cecil. Nanti dia tambah panik.”
Marco mengangguk.
Mereka berdua kembali ke mobil.
Kesya tersenyum. “Udah beres semuanya, Cil.”
“Bener? Nggak ada masalah apa pun?”
Kesya menggeleng, tetap tersenyum.
Alo meremas pelan tangan Cecil yang berada dalam genggamannya. “Tenang
aja, Cil. Nggak usah panik gitu. Semua pasti beres,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Tampaknya hari ini Alo sedang mengalami euforia. Tidak ada satu hal pun yang
dapat menghilangkan senyum lebar di wajahnya.
“Terus, kenapa kita belum masuk juga?” tanya Cecil sambil bersiap turun.
Tuk tuk tuk... Kaca jendela diketuk dan kepala bulat Jason tampak menempel di
kaca jendela.
Alo membuka kaca jendela. “Hai, Jason,” sapanya ceria.
“Hai, Oom Alo, Tante Cecil, Tante Kesya, Oom Marco!” sapa Jason riang. “Oom
Marco, aku mau minta diajarin cara main yoyo yang kayak kemarin itu dong. Nih,
aku bawa yoyoku...,” katanya sambil menepuk-nepuk saku kirinya.
“Oke. Nanti ya setelah acara selesai.” Marco tersenyum. “Kamu harus
menjalankan tugas kamu dengan sebaik-baiknya. Mana cincinnya?”
“Beres. Ada di sini...” Jason menepuk-nepuk saku kanannya. “Akan saya jaga
dengan baik. Nyawa saya taruhannya!” ujarnya serius.
Kesya merasa lega. Mau tidak mau dia tersenyum juga melihat reaksi Jason.
Marco dapat membuat Jason menjaga cincin pernikahan rancangannya.
Another good point from Marco, catat Kesya dalam hati.
Jason mengacungkan jempolnya, lalu menghilang ke dalam gereja.
“Ayo!” Perkataan Cecil menyadarkan mereka. “Kita masuk sekarang.”
“Cil, nanti dulu...,” cegah Kesya.
“Kenapa sih?” Cecil sudah tampak senewen.
“Eh... itu...” Kesya kehabisan ide untuk berbohong.
“Karena kita masih harus putar-putar dulu di dalam tempat parkir gereja,”
jawab Marco.
“Haah? Memangnya ada aturan seperti itu?” tanya Cecil dan Alo.
“I... iya. Memangnya kalian nggak tau kalau ada aturan seperti itu?” Marco
berusaha terdengar meyakinkan.
“Oke kalau begitu. Pak...,” Alo memanggil sopir yang keluar sebentar, “kita
putar-putar dulu sebentar.”
Thanks, Marco! Tampaknya Alo dan Cecil memercayai kata-katanya.
Diam-diam Kesya mengembuskan napas lega.
“Mobil pengantin tidak boleh berjalan mundur, Pak,” Marco mengingatkan.
Mobil pengantin kemudian berputar-putar beberapa saat. Ponsel Marco
berbunyi, dan setelah selesai berbicara melalui ponselnya, dia tersenyum lebar dan
berkata dengan mantap, “Kita bisa masuk gereja sekarang.”
Marco-Kesya serta Cecil-Alo berdiri dan bersiap di pintu masuk gereja.
“Ha... hhaaii... Kesya,” sapa Jansen yang telah siap dengan kameranya.
“Hai, Jansen,” balas Kesya.
Jansen tersenyum lemah melihat tangan Kesya bergantung santai di lengan
Marco.
“Jansen!” sapa Cecil ceria. Benar! Sejak Jansen bukan siapa-siapa Kesya lagi,
Cecil lebih ramah terhadapnya. “Thanks banget ya, kamu mau ngurusin foto
liputanku. I owe you a lot! Tapi jangan cuma Kesya yang kamu foto ya...”
Bayangkan! Bahkan Cecil menggodanya!
Rona merah perlahan menjalar ke seluruh wajah Jansen. Marco tersenyum santai
menanggapi candaan Cecil. Tangan Kesya yang menggelayut di lengannya telah
mengukuhkan posisinya sebagai satu-satunya lelaki di hati Kesya. Tidak ada yang
perlu diragukan lagi.
Acara pemberkatan pernikahan berjalan cukup lancar. Alo dan Cecil memang
berkeringat hebat sekali karena ruangan gereja tidak ber-AC. Kesya bolak-balik
memberikan tisu dan kipas kepada Alo-Cecil. Juga bolak-balik membetulkan letak
ekor gaun Cecil agar terlihat megar dan indah saat difoto.
Ada juga insiden kecil saat Cecil tercekat—karena rasa haru—sehingga kesulitan
menyelesaikan kalimat janji pernikahannya. Saat itu Kesya juga ikut merasa
tercekat, seperti ada biji durian yang tersangkut di tenggorokannya. Dia sampai sulit
bernapas. Kesya memang begitu. Ikut terharu kalau ada orang lain yang merasa
terharu.
Untung Alo menggenggam tangan Cecil, memberikan kekuatan kepada Cecil
untuk menyelesaikan janji pernikahannya. Diam-diam, Marco juga menggenggam
tangan Kesya. Kesya membalas genggamannya sambil tersenyum kecil ke arah
Marco.
Saat acara pemasangan cincin, Kesya tetap deg-degan ketika melihat Jason maju
sambil membawa kotak cincin. Masterpiece-nya! Dalam hati Kesya berdoa, semoga
cincin itu dapat sampai dengan selamat di jari Alo dan Cecil. Dan... doanya terkabul!
Jason melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dengan bangga anak itu tersenyum
ke arah Marco dan Kesya. Marco langsung mengacungkan jempol sambil tersenyum
lebar.
Setelah acara pencatatan sipil selesai, mereka pulang. Di mobil, Kesya
menawarkan air mineral pada Cecil. Dan semua menyambutnya dengan penuh
sukacita!
Sesampainya di rumah, make-up artist sudah siap untuk me-retouch make-up Cecil
dan Kesya. Cecil menyambut kedua make-up artist itu dengan penuh gembira. Bulu
mata palsu yang dipasangan si make-up artist terlepas dan itu membuat mata Cecil
perih luar biasa!
Kesya membawakan nasi kotak untuk Cecil dan Alo. Dia sendiri hanya bisa
makan beberapa suap. Entah mengapa, dia juga jadi tegang sekali.
“Kok nggak makan lagi?” tanya Marco, dia baru saja mengajarkan beberapa trik
yoyo kepada Jason. Wajahnya tampak khawatir. “Masih banyak yang harus kamu
kerjakan. Kamu nggak boleh kelaparan...”>
Kesya tersenyum, merasa “kenyang” dengan kata-kata perhatian dan tatapan
berlumuran cinta dari Marco.
“Aku nervous, nggak bisa makan lagi.” Kesya membereskan nasi kotaknya.
“Lagi pula, aku harus segera ganti baju.”
Tadi, sebelum Kesya makan, si make-up artist sudah memberitahunya agar
segera mengganti baju dengan gaun bridesmaid bustier pink-nya.
“Nanti, ketika kita menikah, kamu nggak boleh nervous ya...” Marco tersenyum
dan mengelus sayang rambut Kesya.
Oh my God! Siapa yang tidak merasa kenyang mendengar kalimat seperti itu?
Selesai berganti gaun, Kesya menghampiri Cecil untuk memeriksa keadaannya.
Senyum lebar masih tersungging di wajah Cecil.
“Udah beres, Cil?” tanya Kesya.
Cecil mengangguk. Dia sudah memakai deodoran yang dibawakan Kesya. Dia
berterima kasih sekali saat Kesya menawarkan deodoran itu. Yah... dia kan memang
tidak sempat mandi lagi, tapi juga ingin tetap wangi sepanjang hari. Dia juga sudah
mengenakan gaun pengantin untuk acara sorenya. Gaun pengantin yang indah.
Cocok sekali untuk seorang drama queen seperti Cecil.
“You look gorgeous, Kesh!” puji Cecil tulus.
“You’re the queen for tonight...,” balas Kesya merendah. Ingat peraturan penting
sebagai bridesmaid: tidak boleh tampil lebih cantik daripada si pengantin perempuan.
Tapi, Cecil memang tampak seperti ratu. Cantik! Memesona! Menawan!
Mungkin karena kebahagiaan yang dia rasakan pada malam ini meluap dari
tubuhnya. Mungkin perasaan bahagia itu yang membuat Cecil jadi tampak lebih
cantik. Hhmmm... Kesya jadi berpikir, apakah nanti ketika dia menjadi si pengantin
wanita, dia juga akan tampak cantik memesona seperti Cecil? Kesya tersenyum kecil
memikirkan hal itu.
“Aduh, gawat!” bisik Cecil.
“Kenapa?” Kesya jadi ikutan berbisik.
“Aku... aku mau pipis...,” bisik Cecil. Wajahnya lunglai. Repot banget harus
pipis sambil mengenakan baju pengantin yang megar begini. Bagaimana kalau
bajunya kena air atau kotor? Atau lebih parah lagi, rusak?
“Ya udah, aku bantuin...” Dengan sigap Kesya mengangkat ekor gaun Cecil.
Cecil mencium pipi Kesya. “You are the best bridesmaid in this world!” pekiknya
girang luar biasa.
“Ya... ya... ya...” Tak urung Kesya tersenyum juga melihat reaksi Cecil.
Jam empat kurang, sopir sudah bersiap untuk mengantarkan mereka ke tempat
resepsi.
Marco berdiri dari duduknya. Sejak tadi dia menemani Alo yang tidak berhenti
tersenyum dan membalas semua ucapan selamat dengan senyum yang lebih lebar
lagi.
“Ayo, Sayang, kita harus berangkat sekarang!” kata Cecil.
Alo berdiri dan mencium pipi Cecil sekilas. Cecil menatapnya sambil tersenyum.
Tatapannya? Berlumuran cinta.
Marco tersenyum melihat kelakuan Cecil dan Alo.
“Wooi! Sabar dulu! Kalian masih harus tersenyum dan menyalami semua orang
di acara resepsi nanti!” godanya.
Cecil menjulurkan lidah, meledek Marco. Kemudian dia menggandeng tangan
Alo keluar, meninggalkan Kesya dan Marco.
“Yuk, Sayang...,” panggil Kesya.
Marco berdiri dan mengambil jasnya. “Bisa bantu aku memakai jas?”
Kesya mengangguk dan membantu Marco. Lalu dia membiarkan Marco
menggandengnya dan mereka keluar menuju mobil pengantin.
* * *
Gedung tempat resepsi pernikahan didekorasi sangat megah. Kesya sudah pernah
datang ke gedung ini, ketika harus menemani Cecil dan Alo berdiskusi dengan Pak
James, si decoration artist. Tapi, malam ini gedung ini terlihat berbeda. Lebih spesial.
Lebih istimewa. Lebih indah!
“Kesh, nanti kan kita harus menunggu di ruang tunggu pengantin. Kamu tolong
masuk ke ruang pestanya dulu, ya. Seperti tadi, please make sure that everything is
okay...”
Kesya mengangguk. Apa saja akan dilakukannya untuk si pengantin wanita!
Marco tersenyum. “Nanti aku temani deh...,” ujarnya.
Cecil dan Alo langsung masuk ke ruang tunggu sementara Kesya dan Marco
masuk ke ruang resepsi.
Ketika masuk, Kesya langsung lupa untuk menarik napas. Ruangan itu bukan
lagi ruangan biasa-biasa saja yang pernah Kesya lihat. Malam itu, ruangan itu telah
bertransformasi menjadi ruangan paling indah yang pernah Kesya lihat.
Nuansa bunga pastel bertebaran di sekitar ruangan. Dirangkai dengan cantik
dan penuh gaya. Membuat mata yang memandang terasa teduh dan damai. Harum
bunga segera memenuhi seluruh jiwa Kesya. Kesya menarik napas dalam-dalam.
Mengisi paru-parunya dengan wangi yang cantik dan menenangkan itu. Itu belum
seberapa! Kilau kristal Swarovski membuat ruangan itu tampak elegan. Seakan
kristal-kristal kemilau itu memaksa semua mata yang hadir untuk memperhatikan
mereka. Memuji-muji dan menyanjung-nyanjung mereka. Sungguh perpaduan yang
unik. Representasi nyata dari kepribadian Alo yang bersahaja dan Cecil si drama
queen!
Kesya melangkah dan merasakan pijakan lembut di bawah sepatunya. Dia
menunduk dan terpana melihat taburan kelopak mawar putih menjadi pengganti
karpet merah, tempat biasa pengantin dan keluarga melangkah masuk. Amat sangat
indah! Pak James memang jenius.
“Hai, Kesya.”
Ini dia orangnya.
“Hai, Pak James.” Kesya menjabat tangan si jenius ini dengan erat.
Marco juga ikut menjabat tangan Pak James dan memperkenalkan diri.
“Bagus sekali, Pak James,” puji Kesya. “Saya yakin, Cecil dan Alo juga pasti
suka sekali...” Kesya memandang sekeliling dengan perasaan kagum yang tidak
dapat ditutup-tutupi.
Pak James tersenyum merendah. “Kalau nanti kalian menikah, saya juga
bersedia menangani dekorasi ruang resepsinya,” ujarnya sambil melirik Marco.
Marco tersenyum. Dia menanggapi perkataan Pak James dengan merangkul
Kesya denga mesra. Kesya tersipu dengan pernyataan Pak James. Memang hari ini
semuanya bertaburan cinta!
Kembali ke ruang tunggu, Cecil menyambut mereka dengan cemas.
“Bagaimana?” tanyanya. “Sudah beres semua?”
Kesya tersenyum, “Perfect!” Dia menunjukkan beberapa foto yang sempat dia
ambil lewat ponselnya.
“Bagus banget!” Cecil hampir menangis. Untung ia ingat bahwa hal itu berisiko
membuat bulu matanya terlepas lagi.
Sementara Alo hanya menanggapi foto-foto itu dengan senyum yang lebih lebar
lagi.
“Kesya,” panggil si pembawa acara, “untuk acara malam ini, kamu pakai
korsase ya...” Dia menyerahkan sebuah korsase besar kepada Kesya.
Kesya memandang korsase itu dengan ngeri. Ada baby’s breath di sana! Dan kulit
Kesya paling sensitif kalau bersentuhan dengan baby’s breath. Kesya tahu baby’s
breath adalah bunga yang sangat cantik. Kseya sendiri juga sangat menyukai
tampilan bunga putih kecil itu, tapi... kulitnya tidak menyukai baby’s breath. Ketika
prom-nite, saat Kesya baru lulus SMA, dia juga memakai korsase baby’s breath dan
kulitnya gatal-gatal selama dua hari!
“Cil...” Kesya menghampiri Cecil. Ingin minta izin untuk tidak mengenakan
korsase itu.
“Ayo, Kesya. Kita sudah harus siap-siap.” Cecil menarik tangan Kesya dan
memakaikan korsase itu. Sepertinya Cecil lupa bahwa kulit Kesya alergi terhadap
bunga cantik itu. Kesya merasakan tangannya gatal-gatal. Cecil langsung berdiri di
sebelah Alo dan mendorong Kesya berdiri di sebelah Marco. Kesya tersenyum
lemah kepada Marco.
“Kenapa, Sayang?” tanya Marco khawatir.
“Korsasenya. Kulitku sensitif sama baby’s breath,” bisik Kesya lemah.
Marco memperhatikan lingkaran merah yang mulai terpeta jelas di pergelangan
tangan Kesya. Dia lalu melepaskan korsase itu dan, entah apa yang dia lakukan,
memasang korsase itu dengan manis di baju Kesya.
“Thanks, dear.” Kesya sangat bersyukur.
“Sudah siap?” tanya pembawa acara.
Cecil dan Alo mengangguk mantap.
“Sudah siap?” bisik Marco menirukan si pembawa acara.
Kesya tersenyum dan mengangguk kecil.
17
LAGU I Want to Spend My Lifetime Loving You, theme song film Zorro mengalun
lembut. Itu lagu kenangan Alo dan Cecil. Kesya tersenyum. Dia tahu lagu itu. Dia
tahu bagaimana lagu itu bisa menjadi lagu kenangan Alo da Cecil. Dan dia
tersenyum menyadari betapa banyak yang dia ketahui dari pasangan Alo dan Cecil.
Menjadi bagian dari sejarah hubungan Alo dan Cecil.
Ruangan indah itu tampak lebih indah lagi bagi Kesya. Kali ini dengan
penerangan lampu redup. Membuat suasana jadi terasa sangat romantis.
Kesya memandang Marco, tersenyum, dan melangkah mantap di belakang Alo-
Cecil. Kakinya sedikit terasa aneh saat menapaki karpet kelopak mawar putih.
Sepertinya dia tidak sedang berada di dunia nyata. Sepertinya dia sedang berada
di... ah... negeri dongeng...
Para tamu berdiri merapat. Banyak sekali tamu yang hadir! Padahal Cecil sudah
takut tamu yang hadir hanya sedikit, mengingat tanggal pernikahan mereka sempat
diundur. Semua mata seakan terpusat pada dua insan yang tengah berbahagia.
Pancaran aura cinta yang begitu kuat menyebar dari Alo dan Cecil. Kesya juga dapat
merasakan pancaran aura yang kuat itu. Dia turut bergembira bersama Alo dan
Cecil. Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Pasangan yang saling
melengkapi.
Saat melangkah pelan, Kesya mengalami sensasi menyenangkan yang luar
biasa. Dengan Marco di sampingnya, hidupnya terasa sudah penuh. Tidak ada lagi
ruang kosong yang tersisa di hatinya. Semuanya sudah dipenuhi oleh sosok Marco
dan cintanya.
“Ssstt... Ssstt...”
Rasanya ada seseorang yang memanggil Kesya.
Kesya berpaling dan mendapati DeeDee tengah mengacungkan dua jempol ke
arahnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Kesya balas tersenyum, lalu kembali fokus ke jalan di depannya. Ingat, ini
pernikahan Cecil dan dia hanya jadi bridesmaid. Peraturan utama menjadi bridesmaid:
Jangan sampai para tamu lebih memperhatikan bridesmaid daripada pengantin
perempuan!
Iring-iringan Cecil dan Alo sudah menaiki pelaminan. Kesya juga ikut naik,
memperbaiki letak ekor gaun Cecil, lalu turun lagi. Dia berdiri di sebelah Marco.
Marco menawarkan lengannya dan Kesya menyambutnya sambil tersenyum.
Acara pemotongan kue pengantin, pemberian kue kepada kedua pasang
orangtua pengantin, dan saling suap antarpengantin berlangsung meriah. Kesya dan
Marco, bergiliran, memberikan potongan kue kepada Cecil dan Alo. Saat Cecil dan
Alo harus menyuapkan potongan kue kepada Tante Jessica, tampak Tante Jessica
hanya tersenyum tipis. Tipis sekali, sehingga kalau tidak di-zoom, pasti tidak akan
terlihat.
“Wedding kiss-nya ditahan dulu ya...,” ujar MC lalu berbalik memandang layar
besar yang entah sejak kapan sudah berada di sana. “Sekarang, saya ajak hadirin
sekalian untuk menyaksikan perjalanan cinta Alvaro Nikholai Andersen dan Cecilia
Almira Saraswati!”
Layar besar itu menampilkan foto-foto Alo dan Cecil, hasil karya Marco. Mata
Kesya terbelalak kaget saat melihat dirinya juga ikut ambil bagian dalam foto-foto
itu. Marco tersenyum kecil melihat reaksi Kesya.
Saat pemutaran video yang merekam acara pertengkaran Alo dan Cecil, Cecil
menutup mata dan merebahkan kepalanya ke bahu Alo. Alo mengelus sayang
wajah Cecil. Kesya tersenyum melihatnya.
“Terima kasih untuk teman-teman kami, Kesya Artyadevi yang sudah dengan
jail merekam adegan pertengkaran kami...” Alo mengedipkan sebelah matanya ke
arah Kesya. “Dan Marco Raphael Eagen, yang sudah membaut perjalanan cinta
kami jadi terlihat indah dan menarik!” Alo mengacungkan ibu jarinya ke arah
Marco.
“We love you both! Thank you!” ujar Cecil sambil meniupkan ciuman ke arah
Marco dan Kesya.
“Oke!” Mikrofon kembali diambil alih oleh MC. “Sekarang saatnya momen yang
sudah ditunggu-tunggu. Siap, Alo? Siap, Cecil?”
Alo dan Cecil, saling merangkul, saling memandang, dan tersenyum lebar satu
sama lain, mengangguk dengan mantap.
“WEDDING KISS!”
Letupan confetti dan taburan gelembung sabun menyemarakkan acara wedding
kiss Alo dan Cecil. Dari barisan pemain musik mengalun lagu indah yang menyemarakkan
suasana.
Kesya tersenyum lebar. Inilah cinta sejati yang harus dirayakan dan disuarakan
dengan lantang. Agar semua orang dapat mendengarnya. Agar semua orang juga
ikut berbahagia.
Hmmm...
Semua orang...
Diam-diam Kesya melirik ke arah Tante Jessica. Dan... Kesya terkesiap saat
mendapati Tante Jessica tersenyum tulus! Oom Steven mengecup keningnya dan
tangan Tante Jessica terangkat membelai lembut wajah Oom Steven. Mungkin rasa
tidak suka itu memang sudah mencair. Kesya mencatat dalam hati bahwa dia harus
memberitahukan hal itu kepada Cecil.
“Ayo, Sayang.” Marco menyentuh pelan lengan Kesya.
Kesya tersadar bahwa dia harus membantu Cecil naik ke pelaminan. Kesya
membantu mengatur ekor baju Cecil, meletakkan hand bouquet-nya dengan rapi di
kursi pelaminan, lalu turun lagi.
Berdua dengan Marco, mereka berdiri di samping pelaminan. Memperhatikan
Cecil dan Alo yang tidak henti-hetinya menerima ucapan selamat dari para tamu.
“Mau di sini terus, Kesh?” tanya Marco sambil menyentuh lembut lengannya.
Kesya mengangguk. “Takut kalau Cecil butuh sesuatu.”
Marco ikut tersenyum. Gadisnya ini benar-benar bridesmaid yang sangat
bertanggung jawab.
“Kesh!” DeeDee menghampiri mereka setelah selesai menyalami Cecil dan Alo.
“Kamu cantik banget deh!”
Kesya tersenyum. Dia memang merasa sangat cantik dalam balutan bustier pink
yang seksi dan riasan wajah yang elegan.
“Dia memang cantik sekali...” Marco tersenyum sambil mengecup kening Kesya.
DeeDee mengembuskan napas. “Di sana berlumuran cinta,” ekor matanya
menunjuk ke arah pelaminan, “di sini juga lebih berlumuran cinta!” Dia
mengerucutkan bibir. “Cintaku ke mana ya?” Lalu DeeDee beranjak pergi.
Alo tampak berusaha menarik perhatian Marco dan Kesya.
“Kesh...,” panggil Marco.
Kesya juga ikut memperhatikan Alo. Sepertinya Alo minta minum. Kesya dan
Marco mengangguk lalu beranjak mengambil minuman untuk Cecil dan Alo.
“Ini minumnya...” Kesya memberikan minuman kepada Cecil dan Alo saat
barisan tamu yang memberikan ucapan selamat sudah berhenti.
“Aduh, aku capek banget!” bisik Cecil di sela-sela minumnya. “Stiletto ini bikin
kakiku sakit banget!”
“Kamu cantik banget pakai stiletto ini, Sayang,” puji Alo.
“Thanks, Sayang...” Cecil tersenyum. “Aduh, wajahku juga udah pegel banget
senyum dari tadi.”
Alo melakukan senam wajah. Rupanya wajahnya juga terasa pegal karena
tersenyum terus seharian.
Marco tertawa terbahak-bahak melihat gerakan senam wajah Alo.
“Capek banget ya...” Cecil minum lagi. “Rasanya aku pengin merokok deh!
Marco, kamu punya rokok?”
Alo, Kesya, dan Marco melotot. Yang benar saja? Si pengantin wanita mau
merokok?
“Cecil, kamu jangan ngaco deh...,” bisik Alo.
“Hehehe...” Cecil tersenyum konyol. “Just kidding, Sayang...” Dia mengelus
lembut pipi Alo.
“Aku juga nggak bawa rokok kok,” ujar Marco. “Aku kan udah berhenti
merokok.” Dia melirik Kesya.
Cecil dan Alo tersenyum.
“Sst... ada yang mau salaman lagi tuh...,” bisik Marco.
Cecil dan Alo berbalik dan langsung berdiri untuk menerima ucapan selamat
dari para tamu lagi.
Kesya dan Marco turun dari pelaminan. Kesya sempat bertemu beberapa teman
SMA-nya dan berhenti untuk bercakap-cakap dengan mereka. Beberapa sempat
menanyakan tentang prahara yang menyebabkan pernikahan Cecil dan Alo harus
diundur. Kesya hanya memberikan penjelasan singkat. Tidak baik mengungkitungkit
sesuatu yang buruk di hari yang baik ini.
“Fiiuh... capek juga ya...” Kesya duduk dan meregangkan kakinya yang pegal
akibat sepatu high-heels tujuh sentinya. Cecil yang memaksanya memakai sepatu itu.
Tadinya Kesya hanya ingin memakai sepatu tiga senti, tapi Cecil melotot habishabisan
lalu memilihkan sepatu tujuh senti ini.
Marco duduk di sebelahnya dan memasukkan sebutir permen mint ke dalam
mulutnya.
“Bagi dong...”
Marco mengulurkan satu permen untuk Kesya.
“Aku perhatikan, kamu sekarang sudah tidak merokok lagi, ya?”
Marco tersenyum. “Ada seorang gadis cantik yang mengkhawatirkan
kesehatanku. Aku mau jaga tubuhku baik-baik supaya bisa terus hidup sehat dan
mendampingi gadis cantik itu...”
“And who is that lucky girl?” Kesya memancing.
Marco mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kesya. Napasnya yang beraroma
mint menggelitik telinga Kesya.
“Kesya Artyadevi...” Marco berbisik lembut lalu mencium pipi Kesya.
* * *
Mingle time!
Pada saat ini, Kesya dan Marco kebagian tugas untuk membawakan bunga
mawar yang rencananya akan dibagikan Cecil kepada gadis-gadis lajang. Jadilah
Marco dan Kesya dua orang “penjual bunga”. Beberapa gadis lajang teman Cecil,
yang bukan teman Kesya, memperhatikan Marco dengan tatapan yang tidak disukai
Kesya. Bahkan ada yang dengan sengaja menyelipkan kartu namanya ke dalam
genggaman tangan Marco! Kesya kesal sekali. Dia berusaha keras tidak
menampilkan wajah kecewa atau cemberut. Yah... ini kan pesta Cecil. Jangan sampai
dia mengacaukan segalanya.
Marco tersenyum lembut melihat wajah Kesya. Dia merangkul pinggang Kesya
lalu menyelipkan kartu nama yang baru didapatnya ke tangan Kesya.
“Cil, bestman-nya sudah punya pacar, ya?” Kesya mendengar si teman Cecil
yang tidak dikenalnya itu berbisik kepada Cecil.
Cecil mengangguk sambil tersenyum dan temannya tampak kecewa.
Diam-diam, Kesya tersenyum senang. Merasa menang.
Cecil dan Alo masih beredar. Berbincang kepada hampir semua tamu yang
hadir.
Sementara itu, Kesya sudah mulai capek. Jumlah bunga dalam keranjang
bunganya mulai berkurang, tapi tampaknya Cecil belum ingin kembali duduk.
Kesya memperhatikan tamu-tamu yang hadir. Semuanya tersenyum gembira
menyambut kebersamaan Alo dan Cecil. Tante Renata dan Oom Balgi tampak
berbincang dengan beberapa sahabat mereka. Kedua orangtua Cecil juga sangat
menikmati acara. Ketika pernikahan Cecil terancam batal, mereka berdua sempat
sangat sedih dan kesal kepada Tante Jessica. Kesya memperhatikan bahwa selama
acara berlangsung, orangtua Cecil dan Tante Jessica hanya bertegur sapa dengan
sopan. Terlalu sopan dan kaku, malah.
Tiba-tiba mata Kesya menangkap sesosok wanita yang dikenalnya.
“Cil...” Kesya menyentuh lengan Cecil. “Ada Finna.”
Cecil menoleh ke arah yang ditunjukkan Kesya.
“Kok dia bisa ada di sini? Bukannya dia seharusnya di penjara?” tanya Kesya
bingung.
Cecil tersenyum. “Aku yang menjamin dia keluar. Khusus untuk malam ini saja,
supaya dia bisa menghadiri pestaku. Yah... gimana juga dia kan masih keluargaku.”
Kesya hampir tidak percaya akan apa yang didengarnya. Cecil? So wise! Setelah
apa yang dilakukan Finna terhadap persiapan pesta pernikahan Cecil—membuat
bete Pak James, membuat marah Madame Daphne, sampai hampir membuat Cecil
dan Alo batal menikah—Cecil masih sangat mengharapkan kehadiran Finna.
Bahkan sampai menjaminnya keluar dari penjara!
Kesya tersenyum. Rasanya Cecil The Drama Queen sudah berubah menjadi Cecil
The Saint!
Cecil beranjak mendekati Finna. Alo, Kesya, dan Marco mengikutinya.
Tampaknya Finna tidak ingin kehadirannya diketahui. Dia berdiri di pojok yang
agak gelap. Tidak berbincang dengan siapa pun, tidak makan, hanya minum segelas
air mineral. Penampilannya kusut dan terlihat lelah, Finna menunduk ketika melihat
rombongan Cecil-Alo-Kesya-Marco mendekatinya.
“Finna!” Cecil menyapanya sambil tersenyum. Senyum yang tulus. “Terima
kasih sudah mau datang...” Cecil memeluknya erat.
Finna tampak salah tingkah, tapi kemudian membalas pelukan Cecil.
“I’m really sorry...,” ujarnya terbata, “atas apa yang telah aku perbuat.” Air mata
tergenang di pelupuknya saat dia bergantian menatap Alo dan Cecil.
“Kalian benar-benar pasangan serasi. Benar-benar true love. Hope both of you will
be happily ever after...,” bisiknya tulus.
Cecil tersenyum. Dia mengambil setangkai mawar dan memberikannya kepada
Finna. “Semoga kamu juga cepat menemukan true love-mu...,” bisiknya, kembali
memeluk Finna.
* * *
Cecil dan Alo kembali ke pelaminan. Marco dan Kesya, atas inisiatif sendiri,
mengambilkan minuman untuk kedua mempelai. Mereka juga minum banyak
sekali.
“Sekarang acara first dance dari kedua mempelai...,” MC mengumumkan.
Cecil mengembuskan napas. Wajahnya tampak kelelahan.
“Capek, Sayang?” Alo mengelus lengan Cecil.
“Sedikit.” Cecil minum lagi lalu tersenyum manis kepada Alo. Dia menyambut
uluran tangan Alo dan melangkah turun ke lantai dansa. “Habis ini giliran kalian
ya...,” bisiknya pada Marco dan Kesya.
Setelah satu lagu selesai, Marco mengulurkan tangan kepada Kesya. “Shall we
dance, princess?” tanyanya sopan.
Lagu Can You Feel The Love Tonight mengalun lembut.
Kesya tersenyum. Ini kan love song dari film The Lion King!
Kesya menyambut uluran tangan Marco. Mereka bergerak dengan harmonis.
Kesya belum pernah berdansa dengan Marco, tapi semuanya tampak sangat alami
bagi mereka berdua. Seolah mereka memang telah ditakdirkan untuk berpasangan.
Marco menatap Kesya denagn lembut. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Membentuk senyum seksi yang sangat disukai Kesya. Kesya membalas tatapan
Marco. Mereka tidak berbicara, hanya mata mereka yang berbicara satu sama lain.
Menyuarakan kalimat cinta yang bergaung dengan megah.
Mata Kesya terpaku pada bibir Marco. Napasnya tertahan saat melihat Marco
mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Tampak berusaha keras menahan diri untuk tidak
mencium Kesya.
Jeppreetttt!
Kilau flash menyadarkan mereka berdua. Kesya mencari asal kilau flash dan
melihat Jansen sedang tersenyum gugup memandang mereka.
Kesya melambai dan tersenyum ke arah Jansen. Jansen membalas senyumnya
dan... kameranya tergelincir jatuh dari tangannya!
Marco tergelak. “Dia tidak akan pernah terbiasa dengan kehadiran kamu ya...”
Kesya juga tergelak. Dia masih memperhatikan Jansen. Seorang gadis manis
tampak membantu lelaki itu mengambilkan kamera yang terjatuh. Kesya tersenyum
kecil. Semoga gadis manis itu true love-nya Jansen.
“Ssst...”
Kesya menoleh dan mendapati DeeDee tengah berdansa dengan seorang lakilaki.
“Masih ingat sama Max?” tanya DeeDee. Laki-laki yang dipanggil Max
tersenyum ceria kepada Kesya dan Marco.
“Hai, Max!” sapa Kesya. Max itu adik kelasnya juga, sekaligus mantan pacar
DeeDee. Melihat kedekatan yang mereka tunjukkan saat ini, sepertinya keduanya
sudah pacaran lagi.
Alis Kesya terangkat. Senyum tersungging di bibirnya.
DeeDee tersenyum lebar, dan perlahan-lahan berputar menjauh dari Kesya dan
Marco.
“Sayang...,” panggil Marco, “coba lihat itu.”
Kesya melihat ke arah yang ditunjuk Marco. Tampak Tante Jessica dan Oom
Steven berdansa di dekat Cecil dan Alo. Tanpa sengaja bahu Cecil membentur bahu
Tante Jessica. Cecil berpaling dan terkesiap melihat Tante Jessica. Dia lebih terkesiap
lagi saat melihat Tante Jessica tersenyum tulus kepadanya.
“Sori ya, Cil...,” ujar Tante Jessica dengan ringan.
Kesya dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka.
“Mama nggak sengaja...”
Oom Steven tersenyum lembut kepada Tante Jessica dan mereka berdua
berputar-putar lagi.
Cecil tersenyum lebar dalam dekapan Alo. Tante Renata dan Oom Balgi, yang
juga melihat respons Tante Jessica, tersenyum lega satu sama lain.
Kesya juga ikut tersenyum. Semuanya berakhir dengan indah. Segala perseteruan
dapat diatasi dengan cinta. Kesya senang dapat ambil bagian dalam pernikahan
ini. Segala kerepotan yang harus dialaminya menjelang persiapan pernikahan
Alo dan Cecil terbayar lunas melihat kebahagiaan yang terpancar pada malam ini.
Semua kelelahan dalam membantu Alo dan Cecil dalam mempersiapkan hari indah
ini juga terbayar lunas akan kehadiran Marco di sisinya.
Tanpa terasa, Kesya dan Marco berputar-putar keluar dari ruangan pesta. Musik
yang mengalun terdengar samar-samar. Marco mengajaknya ke sebuah taman, tidak
jauh dari gedung pesta.
Kesya mengernyit. “Lho, kok kita sudah di sini?” tanyanya bingung. Sambil
tersu berdansa, dia memperhatikan keadaan taman di sekelilingnya. Lampu taman
berwarna kuning keemasan mencerahkan suasana taman malam itu.
“Lihat ke atas deh, Sayang...,” bisik Marco.
Kesya menengadah dan sedikit kecewa karena tidak menemukan bintang di
sana. Langit Jakarta! keluhnya. Susah lihat bintang di sini...
Tapi tiba-tiba...
Pyaarr!
Langit malam jadi terang benderang. Diwarnai dengan indah oleh letupan
kembang api. Kesya tersenyum. Dia berhenti berdansa dan menengadah menikmati
keindahan langit. Tangannya bertaut dengan tangan Marco.
Dari sebuah gazebo, terdapat beberapa musisi yang sedang memainkan musik
klasik yang indah. Samar-samar Kesya mengenali lagu tersebut berasal dari film A
Midsummer’s Night Dream, film kesukaannya.
Ketika terhanyut oleh alunan masuik, Kesya merasa ada sesuatu yang terpasang
di tangannya. Dia mengangkat tangannya dan terkesiap. Itu gelang berhiaskan motif
butiran salju yang disukainya! Gelang yang tidak berhasil dibelinya saat lelang dulu!
“Gelang ini...,” tanyanya heran, “kamu dapat dari mana?”
“Halo, Kesya...” Sebuah suara mengejutkannya.
Kesya berpaling, dan di hadapannya berdiri Ibu Lidya Sostronegoro.
“Hai, Ma...,” sapa Marco.
Mata Kesya membulat. Terkejut.
“Ma, ini Kesya, pacarku. Perancang perhiasan favorit Mama,” ujar Marco
kepada Ibu Lidya Sostronegoro.
“Kesya. Meet my mom, Lidya Sostronegoro. She is also your biggest fans,” ujar
Marco sambil tersenyum.
Ibu Lidya Sostronegoro tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah Kesya.
“Jadi...,” Kesya masih terkejut, “jadi, Ibu Lidya Sostronegoro itu mama kamu?”
Marco mengangguk.
Kesya tak menyangka. Soalnya nama belakang Marco kan Eagan, sedangkan Ibu
Lidya memakai nama Jawa.
“Mama memakai nama gadisnya,” jelas Marco.
Kesya hanya bisa melongo heran. “Dan gelang ini?” Kesya mengangkat
tangannya. Matanya menangkap kilau indah dari gelang yang dikenakannya.
“Jadi punya kamu, Sayang...,” ujar Marco sambil perlahan-lahan berlutut.
“Kesya, dear...” Mata Marco menatapnya lembut. “I love you so much. Now and then, I
promise to always be at your side...”
Dada Kesya meletup-letup bahagia.
“Kesya Artyadevi...,” Marco tersenyum lembut, “will you marry me?”
Kesya menatap Marco. Senyum lebar menghiasi wajahnya dan dia mengangguk
perlahan.
Pyaarrr!
Langit malam kembali diwarnai dengan indah oleh letupan kembang api. Marco
berdiri dan memeluk Kesya dengan erat.
Ibu Lidya Sostronegoro tersenyum lebar menyaksikan kebahagiaan Kesya dan
Marco.
* * *
Ruangan pesta mulai lengang. Tamu-tamu mulai beranjak pulang. Kesya
memperhatikan Alo dan Cecil yang masih tersenyum bahagia.
“Nanti saja kita beritahu Alo dan Cecil,” bisik Marco.
Kesya mengangguk. Biar malam ini jadi milik Alo dan Cecil sepenuhnya. Tapi,
dia harus memberitahu seseorang tentang lamaran Marco.
Papa dan Mama? Hmm... sepertinya mereka sudah pulang duluan. Mata Kesya
mencari-cari sosok DeeDee.
“Dee!” panggilnya saat sudah berhasil menemukan gadis itu. Setengah berlari,
Kesya menghampirinya. “Marco baru aja melamarku!” bisiknya sambil tersenyum
lebar. “I’m getting married!”
DeeDee tersenyum lebar dan memeluk Kesya erat. “I’m happy for you. Marco
memang yang terbaik untuk kamu...”
Kesya mengangguk. “Dee, will you be my bridesmaid?” pintanya.
Mata DeeDee membulat. Besar sekali.

###

0 Response to "The Bridesmaid’s Story"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified