Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Breaking Dawn 3

Bagian Tiga



26. BERKILAU

"ENTAH sampai sejauh mana kita sebaiknya memberitahu Renee mengenai hal

ini," kata Charlie, ragu-ragu, satu kakinya melangkah ke luar pintu. Ia meregangkan

ototnya, kemudian perutnya berbunyi.

Aku mengangguk. "Aku tahu. Aku tak ingin membuat Mom kalut. Lebih baik

melindunginya. Hal-hal begini bukan untuk mereka yang penakut."

Bibir Charlie mencebik dengan sikap muram. "Aku juga pasti akan berusaha

melindungimu, seandainya aku tahu bagaimana. Tapi kurasa kau tak pernah masuk

kategori penakut, ya?"

Aku balas tersenyum, menarik napas yang membakar tenggorokanku.

Charlie menepuk-nepuk perutnya dengan sikap sambil lalu. "Akan kupikirkan

sesuatu. Kita punya waktu untuk mendiskusikannya, kan?"

"Benar," aku berjanji padanya.

Ini hari yang sulit dalam beberapa hal, tapi juga sangat mudah dalam beberapa

hal lain. Charlie terlambat makan malam—Sue yang memasak untuk dia dan Billy. Itu

akan jadi malam yang canggung, tapi setidaknya ia akan makan makanan enak; aku

senang ada yang berusaha menyelamatkan Charlie dari kemungkinan kelaparan karena

tidak bisa memasak.

Ketegangan seharian membuat menit-menit berjalan lambat; bahu Charlie tak

pernah rileks sedikit pun. Tapi ia juga tidak buru-buru ingin menyingkir dari sini. Ia

menonton dua pertandingan—syukurlah perhatiannya begitu terserap pada

pertandingan hingga sama sekali tidak menyadari lelucon-lelucon menyerempet

Emmett yang semakin lama semakin terang-terangan dan semakin tak ada

hubungannya dengan football—komentar ofisial dan pemain sehabis pertandingan,

kemudian berita, tidak bergerak sampai Seth mengingatkannya sudah waktunya pergi.

"Kau takkan melupakan janjimu dengan Billy dan ibuku kan, Charlie.' Ayolah. Kau

kan bisa bertemu Bella dan Nessie lagi besok. Bagaimana kalau kita cabut?"

Tampak jelas di mata Charlie bahwa ia sama sekali tidak memercayai penilaian

Seth, tapi dibiarkannya saja Seth mengajaknya keluar. Keraguan masih tampak saat ia

berhenti sejenak sekarang. Awan-awan menipis, hujan sudah berhenti. Matahari bahkan

mungkin muncul tepat sebelum terbenam.

433

"Kata Jake tadinya kalian berniat pergi meninggalkanku," Charlie bergumam

sekarang.

"Sebenarnya aku tak ingin melakukannya kalau memang masih ada jalan lain.

Itulah sebabnya kami masih di sini."

"Katanya, kau bisa tinggal di sini untuk sementara, tapi hanya kalau aku cukup

kuat dan bisa menutup mulutku."

"Benar... tapi aku tak bisa berjanji bahwa kami tidak akan pernah pergi, Dad.

Persoalannya cukup rumit..."

"Hanya yang perlu kuketahui" ia mengingatkanku.

"Benar"

"Tapi kau akan tetap menjengukku, kan, meskipun kau harus pergi?"

"Aku janji, Dad. Sekarang setelah Dad cukup tahu, kurasa bisa dilakukan. Aku

akan berusaha tetap berada sedekat mungkin dengan yang Dad inginkan."

Charlie menggigit-gigit bibir selama setengah detik, lalu pelan-pelan

mencondongkan badan ke arahku dengan kedua lengan terulur hati-hati. Kupindahkan

Renesmee—yang sekarang sudah tidur—ke lengan kiriku, mengunci gigiku rapat-rapat,

menahan napas, dan memekikkan lengan kananku dengan sangat ringan ke pinggang

Charlie yang hangat dan lembut.

"Tetaplah dekat denganku, Bells," gumamnya.

"Sangat dekat."

"Aku sayang Dad," bisikku dari sela-sela gigi. Charlie bergidik dan menarik

tubuhnya. Kujatuhkan lenganku.

"Aku juga sayang padamu, Nak. Terlepas dari apa pun yang sudah berubah, yang

satu itu tidak berubah." Ia menyentuh pipi pink Renesmee dengan satu jari. "Dia jelas

mirip sekali denganmu."

Aku berusaha menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja, meski sama sekali tidak

merasa begitu. "Lebih mirip Edward, kurasa." Aku ragu-ragu, kemudian menambahkan,

"Rambut ikalnya mirip Dad."

Charlie terkejut, kemudian mendengus. "Hah. Benar juga. Kakek." Ia menggelenggelengkan

kepala ragu. 'Apa aku boleh menggendongnya?"

434

Aku mengerjapkan mata shock, kemudian menguasai diri.

Setelah mempertimbangkan selama setengah detik dan menilai keadaan

Renesmee—tampaknya ia benar-benar tidur pulas—aku memutuskan mungkin aku bisa

memaksakan keberuntunganku, mengingat hari ini semua berjalan sangar lancar...

"Ini," kataku, menyodorkan Renesmee. Charlie otomatis membuat semacam

buaian kikuk dengan lengannya, dan kuletakkan Renesmee di sana. Kulit Charlie tidak

sepanas kulit Renesmee, tapi kerongkonganku gatal merasakan kehangatan yang

mengalir di bawah membran tipis itu. Di tempat kulitku bersentuhan dengan kulitnya,

aku bergidik. Aku tak tahu apakah itu reaksi dari suhu tubuhku yang baru atau

sepenuhnya karena alasan psikologis.

Charlie menggeram pelan saat merasakan bobot Renesmee, "Dia... kokoh."

Keningku berkerut. Bagiku dia seringan bulu. Mungkin aku keliru.

"Kokoh itu bagus," sergah Charlie, begitu melihat ekspresiku. Lalu ia bergumam

sendiri, "Dia memang harus kuat, hidup dikelilingi semua hal sinting ini," Ia mengayunayunkan

lengannya pelan, menggerakkannya sedikit ke kanan dan ke kiri. "Bayi tercantik

yang pernah kulihat, selain kau, Nak. Maaf, tapi itu benar."

"Aku tahu itu benar."

Aku bisa melihatnya di wajah Charlie—aku bisa melihatnya di sana. Charlie

ternyata juga tak berdaya menampik daya tarik magis Renesmee, seperti kami semua.

Baru dua detik dalam gendongannya, Renesmee sudah berhasil menawan hati Charlie.

"Boleh aku kembali besok?"

"Tentu, Dad. Tentu saja. Kami pasti ada di sini."

"Sebaiknya begitu," tukas Charlie kaku, tapi wajahnya lembut, masih menatap

Renesmee. "Sampai ketemu besok, Nessie."

"Aduh, masa Dad juga sih!"

'Hah!"

"Namanya Renesmee, Seperti Renée dan Esme, dijadikan satu. Tak ada variasi."

Sekuat tenaga aku berusaha menenangkan diri tanpa menarik napas dalam-dalam kali

ini. "Apakah kau ingin tahu nama tengahnya?"

" Tentu."

"Clarlie. Dengan huruf C. Seperti Carlisle dan Charlie dijadikan satu."

435

Cengiran Charlie yang membuat sudut-sudut matanya berkerut menghiasi

wajahnya, sama sekali tak terduga. "Trims, Bell”

"Aku yang berterima kasih pada Dad. Banyak sekali yang berubah begitu cepat.

Sampai sekarang pun aku masih bingung. Kalau aku tidak memiliki Dad sekarang, entah

bagaimana aku bisa mempertahankan—kenyataan." Hampir saja aku berkata

mempertahankan diriku yang dulu. Mungkin itu lebih dari yang ia butuhkan.

Perut Charlie keroncongan.

"Pergilah makan, Dad. Kami akan berada di sini." Aku ingat bagaimana rasanya—

sensasi bahwa segala sesuatu akan lenyap begitu cahaya pertama matahari muncul.

Charlie mengangguk dan dengan enggan mengembalikan Renesmee padaku. Ia

melayangkan pandangan melewatiku ke dalam rumah; matanya sejenak tampak liar

saat memandangi ruangan besar yang terang benderang itu. Semua ada di sana, kecuali

Jacob, yang bisa kudengar sedang mengobrak-abrik isi kulkas di dapur; Alice dudukduduk

di anak tangga paling bawah dengan kepala Jasper terbaring di pangkuan; Carlisle

menunduk, membaca buku tebal yang diletakkan di pangkuan; Esme berdendang pelan

sambil mencoret-coret di buku, sementara Rosalie dan Emmett membuat fondasi

sebuah rumah kartu yang monumental di bawah tangga; Edward sudah berada di balik

piano dan memainkan musik yang sangat lembut, tak ada tanda-tanda hari ini akan

berakhir, bahwa sekarang mungkin waktunya untuk makan atau - berganti aktivitas

sebagai persiapan menghadapi malam. Terasa ada sesuatu yang tidak kentara telah

mengubah suasana. Keluarga Cullen tidak berusaha sekeras biasanya—sandiwara

mereka sebagai manusia sedikit berkurang, cukup bagi Charlie untuk merasakan

perbedaannya.

Ia bergidik, menggeleng, dan mendesah. "Sampai ketemu besok, Bella." Ia

mengerutkan kening kemudian menambahkan, "Maksudku, bukan berarti kau tidak

tampak... cantik. Nanti juga aku akan terbiasa."

"Trims, Dad."

Charlie mengangguk dan berjalan dengan sikap merenung menuju mobilnya. Aku

mengawasi kepergiannya; setelah aku mendengar roda-rodanya melindas jalan tol, baru

aku sadar aku telah berhasil melewati hari ini tanpa menyakiti Charlie. Dengan usahaku

sendiri. Aku pasti mempunyai kekuatan super!

436

Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Mungkinkah aku benar-benar

bisa memiliki keduanya, keluarga baruku sekaligus keluarga lamaku? Padahal kusangka

kemarin semua sudah sempurna.

"Wow," bisikku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan merasakan lensa kontak

ketigaku luruh.

Suara piano berhenti, dan lengan Edward merangkul pinggangku, dagunya

diletakkan di bahuku.

"Aku baru saja hendak mengatakan hal yang sama.”

“Edward, aku berhasil!"

"Kau berhasil. Sungguh tak bisa dipercaya. Mengingat semua kekhawatiran

menjadi vampir baru, kau malah melewati semuanya sekaligus," Ia tertawa pelan.

"Jangankan vampir baru, aku bahkan tak yakin dia benar-benar vampir," Emmett

berseru dari bawah tangga. "Habis dia terlalu jinak sih,"

Semua komentar memalukan yang ia lontarkan di hadapan ayahku tadi kembali

terngiang di telingaku, dan mungkin ada bagusnya juga aku sedang menggendong

Renesmee, Tak mampu sepenuhnya mengendalikan reaksiku, aku menggeram pelan.

"Ooooo, takut..." Emmett terbahak.

Aku mendesis, dan Renesmee bergerak dalam pelukanku, la mengerjapngerjapkan

mata beberapa kali, lalu memandang berkeliling, ekspresinya bingung. Ia

mengendus, kemudian menggapai wajahku.

"Charlie akan kembali besok," aku meyakinkan dia.

"Bagus sekali," sergah Emmett. Rosalie tertawa bersamanya kali ini.

"Bukan hal yang bijaksana, Emmett," kecam Edward dengan nada mengejek,

mengulurkan kedua tangannya untuk meminta Renesmee dariku. Ia mengedip waktu

aku ragu-ragu, kemudian, sedikit bingung, kuserahkan Renesmee padanya.

"Apa maksudmu?" tuntut Emmett.

"Bukankah menurutmu agak tolol membuat marah vampir paling kuat di rumah

ini?''

Emmett melontarkan kepalanya ke belakang dan mendengus. "Please!"

437

"Bella," bisik Edward sementara Emmett mendengarkan dengan saksama,

"ingatkah kau, beberapa bulan yang lalu, aku memintamu melakukan sesuatu begitu kau

berubah jadi imortal?"

Perkataannya menggemakan lonceng samar-samar. Aku memilah-milah

pembicaraan samar kami saat aku masih menjadi manusia. Sejurus kemudian aku ingat

dan terkesiap, "Oh!"

Alice mengumandangkan tawa merdu melengking yang panjang. Jacob

melongokkan kepalanya dari sudut ruangan, mulutnya penuh makanan.

"Apa?" geram Emmett.

"Kau serius?" tanyaku pada Edward.

"Percayalah padaku," ujar Edward.

Aku menghela napas dalam-dalam, "Emmett, bagaimana kalau kita bertaruh

sedikit?"

Ia langsung berdiri. "Asyik. Ayo saja."

Aku menggigit bibir sebentar. Emmett kan BESAR sekail

"Kecuali kau terlalu takut..,?" tantang Emmett.

Kutegakkan bahuku. "Kau. Aku. Adu panco. Di meja ruang makan. Sekarang"

Seringaian Emmet melebar membelah wajahnya.

"Eh, Bella," Alice buru-buru menyergah, "kurasa itu meja kesayangan Esme. Itu

antik."

"Trims," Esme mengucapkan kata itu tanpa suara.

"Bukan masalah," tukas Emmett dengan senyum cemerlang. "Lewat sini, Bella."

Aku mengikutinya keluar ke belakang, menuju garasi; bisa kudengar semua

mengikuti di belakang. Berdiri di antara bebatuan dekat sungai, ada batu granit yang

cukup besar, jelas ke sanalah tujuan Emmett. Walaupun batu besar itu sedikit bulat dan

tidak beraturan, namun bisa dipakai.

Emmett meletakkan sikunya di atas batu dan melambaikan ringan padaku agar

maju.

438

Bcgitu melihat otot-otot besar di lengan Emmett yang bertonjolan, aku langsung

gugup, tapi aku tetap memasang wajah datar. Edward pernah memastikan aku akan

lebih kuat daripada siapa pun untuk sementara waktu. Sepertinya ia sangat yakin akan

hal ini, dan aku memang merasa kuat. Sekuat itukah? aku bertanya-tanya dalam hati,

memandangi orot-otot biseps Emmett. Tapi aku bahkan belum berumur dua hari, jadi

seharusnya itu berarti sesuatu. Kecuali tak ada yang normal tentang diriku. Mungkin aku

tak sekuat vampir baru yang normal. Mungkin itulah sebabnya aku sangat mudah

mengendalikan diri.

Aku berusaha memasang wajah tenang saat meletakkan sikuku di batu,

"Oke, Emmett,. Kalau aku menang, kau tak boleh mengataiku! apa-apa lagi

tentang kehidupan seksku pada siapa pun, bahkan tidak kepada Rose, Tidak ada lagi

sindiran, kata-kata bersayap—pokoknya tidak ada,"

Mata Emmett menyipit. "Baiklah. Kalau aku menang, itu akan bertambah parah."

Ia mendengar napasku tertahan dan nyengir jail. Tampak kilauan menantang di

matanya.

"Masa kau segampang itu menyerah?" ejek Emmett menantang. "Ternyata kau

tidak terlalu liar, ya? Taruhan, pasti pondok kecil itu bahkan tidak tergores," Ia tertawa,

"Pernahkah Edward memberitahu berapa rumah yang Rose dan aku hancurkan?"

Aku mengertakkan gigi dan menyambar tangannya yang besar. "Satu, dua..."

"Tiga," geram Emmett, dan mendorong tanganku.

Tidak terjadi apa-apa.

Oh, aku bisa merasakan kekuatan yang ia kerahkan. Pikiran baruku sepertinya

sangat lihai melakukan berbagai perhitungan, jadi aku tahu kalau ia tidak mendapatkan

perlawanan apa pun, tangannya pasti akan menghantam batu tanpa kesulitan.

Tekanannya semakin kuat, dan aku sempat penasaran apakah truk semen yang melaju

dengan kecepatan 64 kilometer per jam saat menuruni turunan tajam juga akan

memiliki kekuatan yang sama. Kalau delapan puluh kilometer per jam? Sembilan puluh

enam? Mungkin lebih.

Itu tak cukup kuat untuk menggerakkanku. Tangan Emmett mendorong tanganku

dengan kekuatan luar biasa, tapi rasanya biasa-biasa saja. Anehnya, malah terasa

menyenangkan. Sejak terakhir kali terbangun, aku sangat berhati-hati, berusaha keras

tidak merusak apa pun. Jadi ini menjadi semacam kelegaan yang aneh untuk ototototku.

Membiarkan kekuatanku mengalir daripada berjuang keras menahannya.

439

Emmett menggeram; keningnya berkerut dan sekujur tubuhnya mengejang kaku

dengan target menyingkirkan halangan berupa tanganku yang tak bergerak. Kubiarkan

ia berkeringat—secara harfiah—sebentar sementara aku menikmati sensasi dahsyatnya

kekuatan yang mengalir di lenganku.

Beberapa detik kemudian aku mulai merasa sedikit bosan. Kulenturkan ototototku;

tangan Emmett terdorong dua setengah sentimeter.

Aku tertawa. Emmett menggeram kasar dari sela-sela giginya.

"Tutup mulutmu," aku mengingatkan dia, kemudian menghantamkan tangannya

ke batu besar. Bunyi berderak yang sangar keras menggema ke pepohonan. Batu itu

bergetar, dan sepotong—ukurannya kira-kira seperdelapan massa batu—pecah dan

menghantam tanah. Pecahan batu itu jatuh menimpa kaki Emmett dan aku tertawa

mengejek. Aku juga bisa mendengar suara tawa tertahan Jacob dan Edward.

Emmett menendang pecahan batu itu ke seberang sungai. Pecahan batu itu

mengiris pohon maple yang masih muda menjadi dua sebelum membentur kaki pohon

cemara besar, yang langsung goyah dan jatuh menimpa pohon lain,

"Pertandingan ulang. Besok."

"Kekuatanku takkan pudar secepat itu" kataku. "Mungkin sebaiknya kautunda

dulu satu bulan."

Emmett menggeram, memamerkan giginya. "Besok"

"Hei, terserah kau saja."

Sewaktu berbalik untuk menghambur pergi, Emmett meninju batu granit itu,

menciptakan guguran kepingan dan debu batu. Keren juga kelihatannya, walaupun

kekanak-Linakan.

Terpesona oleh bukti tak terbantahkan bahwa aku lebih kuat daripada vampir

paling kuat yang pernah kukenal, aku meletakkan tanganku, jari-jarinya terbuka lebar,

ke atas batu. Kemudian aku membenamkan jariku pelan-pelan ke dalam batu,

meremukkan, bukan menggali; konsistensinya mengingatkanku pada keju keras.

Hasilnya adalah segenggam batu kerikil,

"Keren," gumamku.

440

Dengan seringaian di wajah, aku tiba-tiba berbalik dan menyarangkan pukulan ala

karate ke batu itu dengan bagian samping tanganku. Batu itu berderak, mengerang,

dan—diiringi kepulan besar debu—terbelah menjadi dua.

Aku mulai terkikik.

Aku tak begitu menggubris suara tawa di belakangku sementara aku meninju dan

menendangi batu yang tersisa menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku terlalu asyik,

tertawa-tawa gembira. Baru setelah aku mendengar suara tawa kecil yang baru,

dentangan lonceng yang melengking tinggi, aku menghentikan permainan konyolku itu,

"Benarkah dia baru saja tertawa?"

Semua orang memandangi Renesmee dengan ekspresi terperangah yang sama

seperti yang pasti terpancar dari wajahku. "Ya," jawab Edward.

"Siapa yang tidak tertawa?" gerutu Jake, memutar bola matanya.

"Kau juga sedikit kalap waktu pertama kali berubah wujud, kan, anjing," goda

Edward, tak ada nada antagonis sama sekali dalam suaranya,

"Itu lain," tukas Jacob, dan dengan kaget kulihat ia berpura-pura meninju bahu

Edward. "Bella kan seharusnya sudah dewasa. Sudah menikah, sudah jadi ibu, dan lain

sebagainya. Berwibawa sedikit, kenapa sih?"

Renesmee mengerutkan kening, dan menyentuh wajah Edward.

"Apa yang dia inginkan?" tanyaku,

"Tak perlu terlalu menahan diri," jawab Edward sambil nyengir. "Dia senang

melihatmu bersenang-senang seperti tadi."

"Aku lucu, ya?" tanyaku pada Renesmee, bergegas menghampiri dan meraihnya

saat ia menggapai padaku. Kuambil ia dari pelukan Edward dan kuberikan padanya

kepingan batu di tanganku. "Kau mau mencoba?"

Renesmee menyunggingkan senyumnya yang berseri-seri dan mengambil batu

itu dengan dua tangan. Ia meremasnya, lekukan kecil terbentuk di antara alisnya

sementara ia berkonsentrasi.

Terdengar suara seperti gerinda berputar, dan sedikit debu mengepul. Renesmee

mengerutkan kening, kemudian mengacungkan potongan batu itu padaku.

"Biar aku saja," kataku, lalu mencubit batu itu menjadi pasir.

441

Renesmee bertepuk tangan dan tertawa; suaranya yang menyenangkan

membuat kami semua ikut tertawa.

Matahari mendadak muncul dari balik awan, menyorotkan sinar merah emasnya

yang panjang ke kami bersepuluh, dan perhatianku langsung beralih ke indahnya kulitku

di bawah cahaya matahari terbenam. Terpesona olehnya.

Renesmee mengelus-elus kulitku yang halus dan berpendar-pendar bagai berlian,

lalu meletakkan lengannya di sebelah lenganku. Kulitnya berpendar redup, tak terlalu

kentara dan misterius. Ia tak perlu bersembunyi di dalam ruangan saat matahari

bersinar terik, tidak seperti kulitku yang berkilauan sekarang ini, Renesmee menyentuh

wajahku, memikirkan perbedaan itu dan merasa tidak senang karenanya,

"Kau yang paling cantik," aku meyakinkan dia.

"Sepertinya aku tidak sependapat," kata Edward, dan waktu aku berpaling untuk

menjawabnya, cahaya matahari di wajahnya membuatku rerpesona hingga tak mampu

mengatakan apa-apa.

Jacob menaungi wajahnya dengan tangan, berpura-pura melindungi matanya

dari kilauan yang menyilaukan. "Bella si makhluk aneh," komentarnya,

"Dia sungguh makhluk yang sangat menakjubkan," gumam Edward, nyaris

menyetujui, seolah-olah komentar Jacob tadi dimaksudkan sebagai pujian. Ia memesona

sekaligus terpesona.

Sungguh perasaan yang aneh—tidak mengejutkan, kurasa, karena semua terasa

aneh sekarang—merasa alami dalam sesuatu hal. Sebagai manusia aku belum pernah

menjadi yang terbaik dalam hal apa pun. Aku berhubungan baik dengan Renée, tapi

mungkin banyak orang lain bisa melakukan yang lebih baik lagi; Phil sepertinya bisa

bertahan. Aku murid yang baik, meski tak pernah menduduki peringkat pertama. Jelas

aku juga tak bisa dibilang atletis. Aku juga tidak artistik, tidak pandai bermain musik,

tidak punya bakat yang bisa dibanggakan. Tak ada yang pernah memberiku piala karena

banyak membaca buku. Setelah delapan belas tahun menjadi biasa-biasa saja, aku

terbiasa jadi orang rata-rata. Baru sekarang aku sadar bahwa sudah sejak lama aku

melupakan aspirasiku untuk berkilau dalam bidang apa pun. Aku hanya melakukan yang

terbaik yang aku bisa, tak pernah benar-benar cocok dengan duniaku.

Jadi ini benar-benar berbeda. Sekarang aku luar biasa—terhadap mereka dan

diriku sendiri. Seakan-akan aku memang dilahirkan untuk menjadi vampir. Pikiran itu

membuatku ingin tertawa, tapi juga membuatku ingin menyanyi. Aku telah menemukan

tempat sejatiku di dunia, tempat di mana aku bisa cocok, tempat di mana aku berkilau.

442

27. RENCANA PERJALANAN

Aku mempelajari Mitologi jauh lebih serius sejak menjadi vampir.

Sering kali, kalau aku menengok kembali masa tiga bulan pertamaku sebagai

makhluk abadi, aku membayangkan bagaimana benang kehidupanku terlihat dalam

tenunan Takdir— siapa yang tahu hal semacam itu benar-benar ada? Aku yakin

benangku pasti sudah berubah warna; kupikir mungkin awalnya berwarna beige lembut,

pokoknya warna yang lembut dan tidak terlalu mencolok, yang akan terlihat manis

sebagai latar belakang. Sekarang warnanya pasti merah tua, atau mungkin emas

mengkilat.

Permadani keluarga dan teman-temanku yang terjalin mengelilingiku adalah

sesuatu yang indah dan berkilau, penuh warna-warni cemerlang yang saling melengkapi.

Kaget juga aku melihat beberapa benang yang kulibatkan dalam hidupku, Para

werewolf, dengan warna-warna kayu mereka yang gelap, benar-benar tak kusangka

akan menjadi bagian hidupku; Jacob, tentu saja, Seth juga. Tapi teman-teman lamaku,

Quil dan Embry, juga menjadi bagian dari permadani itu setelah mereka bergabung

dengan kawanan Jacob, bahkan Sam serta Emily pun baik padaku- Ketegangan di antara

keluarga kami sudah mereda, sebagian besar karena Renesmee. Mudah sekali

mencintainya.

Sue dan Letih Clearwater juga terjalin dalam hidup kami— dua orang lagi yang

sama sekali di luar dugaanku.

Sue tampaknya menugasi diri sendiri untuk memuluskan transisi Charlie ke dunia

khayalan. Sering kali ia datang bersama Charlie ke rumah keluarga Cullen, walaupun

sepertinya ia tak pernah benar-benar nyaman berada di sini, seperti anak lelakinya dan

sebagian besar anggota kawanan Jacob. Ia jarang bicara; ia hanya terdiri dengan sikap

protektif di dekat Charlie. Ia selalu jadi orang pertama yang dipandang Charlie bila

Renesmee melakukan sesuatu yang terlalu cepat untuk usianya—dan itu sering terjadi.

Sebagai jawaban, Sue akan menatap Seth dengan sikap penuh arti seolah-olah berkata,

Yeah, baru tahu ya?

Sikap Leah bahkan jauh lebih kaku daripada Sue. Ia satu-satunya bagian keluarga

besar kami yang terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka atas penggabungan ini.

Namun ia dan Jacob sekarang akrab, dan itu membuat kami semua jadi dekat. Aku

pernah bertanya pada Jacob tentang hal itu—meskipun ragu-ragu; aku tak ingin

mengorek-ngorek, tapi hubungan mereka sangat berbeda dibandingkan dulu hingga

membuatku penasaran. Jacob hanya mengangkat bahu dan mengatakan itu lumrah

443

dalam kawanan. Leah sekarang menjadi wakilnya, "beta"-nya, seperti yang dulu pernah

kusebutkan.

"Kupikir karena aku toh akan jadi Alfa sungguhan," Jacob menjelaskan,

"sebaiknya kulakukan saja sesuai peraturan."

Tanggung jawab baru itu membuat Leah merasa perlu sering-sering mengecek,

keberadaan Jacob, dan karena Jacob selalu bersama Renesmee...

Leah tidak terlalu suka berada di dekat kami, tapi ia merupakan-pengecualian.

Kebahagiaan adalah komponen utama dalam hidupku sekarang, pola dominan di

permadani itu. Sedemikian, rupa hingga hubunganku dengan Jasper sekarang jauh lebih

dekat daripada yang kupikir bakal pernah terjadi.

Meskipun awalnya aku benar-benar jengkel

"Aaaahh!" keluhku pada Edward suatu malam, setelah kami menidurkan

Renesmee di boksnya yang terbuat dari besi tempa. "Aku belum membunuh Charlie

atau Sue, dan itu mungkin tidak bakal terjadi. Kalau saja Jasper berhenti menungguiku

setiap saat!"

"Tak ada yang meragukanmu, Bella, sedikit pun tidak" Edward meyakinkanku.

"Kau tahulah bagaimana Jasper—dia tidak bisa menolak iklim emosional yang baik. Kau

sangat bahagia, Sayang, jadi dia otomatis terus berada di sekelilingmu"

Kemudian Edward memelukku erat-erat, karena tak ada yang lebih

menyenangkannya selain kegembiraanku yang meluap-luap di kehidupan baru ini.

Dan sebagian besar aku memang merasakan euforia kegembiraan. Hari-hari

rasanya tak cukup panjang untuk kupakai mengagumi putriku; malam-malam tidak

memiliki cukup waktu untuk memuaskan hasratku pada Edward.

Namun pasti ada sesuatu di balik semua kebahagiaan ini. Kalau kau membalik

permadani hidup kami, aku membayangkan desain di bagian belakang pastilah

merupakan pintalan benang-benang kelabu penuh keraguan dan ketakutan.

Renesmee mengucapkan kata pertamanya ketika ia menginjak usia tepat satu

minggu. Kata itu adalah Momma, yang seharusnya membuatku senang, tapi masalahnya

aku sangat ketakutan oleh kemajuannya yang begitu cepat hingga nyaris tak sanggup

menggerakkan wajahku unruk membalas senyumnya. Keadaan justru semakin parah

ketika ia beralih dari kata pertama ke kalimat pertama dalam satu tarikan napas.

"Momma, mana Grandpa?" tanyanya dengan suara soprano yang jernih dan jelas,

merasa perlu berbicara dengan suara keras karena aku berada di seberang ruangan* Ia

sudah menanyakannya pada Rosalie, menggunakan cara berkomunikasinya yang normal

444

(atau yang sangat abnormal, kalau dilihat dari sudut pandang lain). Rosalie tidak

mengetahui jawabannya, jadi Renesmee menanyakannya padaku.

Ketika ia berjalan untuk pertama kali, kurang dari tiga minggu kemudian,

kejadiannya pun hampir mirip. Sebelumnya ia hanya memandangi Alice, mengamati

dengan saksama sementara bibinya merangkai bunga di vas-vas yang tersebar di

Seantero ruangan, menari-nari di lantai dengan lengan penuh bunga. Tahu-tahu

Renesmee berdiri, dan tanpa goyah sedikit pun, berjalan melintasi ruangan dengan

langkah-langkah nyaris anggun.

Jacob langsung bertepuk tangan, karena jelas itu respons yang diinginkan

Renesmee. Karena ia begitu terikat pada Renesmee, reaksinya tidaklah terlalu penting;

refleks pertama Jacob adalah selalu memberi Renesmee apa pun yang ia butuhkan. Tapi

saat mata kami bertemu, aku melihat kepanikan dalam mataku menggema juga di

matanya. Kupaksa diriku bertepuk tangan juga, berusaha menyembunyikan perasaan

takutku dari Renesmee. Edward juga bertepuk tangan pelan di sampingku, dan tanpa

harus menyuarakan pikiran, kami tahu pikiran kami sama.

Edward dan Carlisle sibuk melakukan riset, mencari jalan, untuk mengetahui apa

yang mungkin bakal terjadi.

'Ingat sedikit yang bisa ditemukan, dan tak satu pun bisa diverifikasi.

Alice dan Rosalie biasanya memulai hari kami dengan peragaan busana.

Renesmee tak pernah memakai pakaian yang sama dua kali, sebagian karena setelah

dipakai, baju-bajunya langsung tidak muat lagi, dan sebagian lagi karena Alice dan

Rosalie berusaha menciptakan album bayi yang sepertinya mencakup beberapa tahun,

bukan beberapa minggu. Mereka mengambil ribuan foto, mendokumentasikan setiap

fase masa kanak-kanaknya yang sangat cepat.

Di usia tiga bulan, Renesmee bisa disangka bocah satu tahun bertubuh besar,

atau bocah dua tahun bertubuh kecil. Bentuk badannya juga tidak mirip batita; ia lebih

langsing tinggi, anggun, proporsi tubuhnya seperti orang dewasa. Rambut tembaganya

yang ikal menjuntai hingga ke pinggang; aku tak tega memotongnya, walaupun Alice

pasti memperbolehkannya. Renecsmee bisa berbicara dengan tata bahasa dan artikulasi

sempurna, tapi ia jarang mau bicara, lebih suka menunjukkan saja kepada orang-orang

apa yang ia inginkan. Ia bukan hanya bisa berjalan, tapi juga berlari dan menari. Ia

bahkan bisa membaca.

Aku sedang membacakan buku karya Tennyson suatu malam, karena aliran dan

ritme puisi karangannya terasa menenangkan. (Aku harus terus-menerus mencari

materi baru; Renesmee tidak suka bila cerita-cerita pengantar tidurnya diulang-ulang,

seperti yang biasanya disukai anak-anak, dan ia juga tidak menyukai buku cerita

445

bergambar.) Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku, memunculkan gambar

kami dalam pikirannya, tapi dia yang memegang buku. Kuberikan buku itu padanya,

tersenyum.

'"There is sweet tnusic here,'" bacanya tanpa keraguan sedikit pun, '"that sojter

fatts than petals jrom blown roses on the grass, or night-dews on still waters between

walls of shadowy grantte, 'm a gleaming pass...'"

Tanganku seperti robot waktu kuambil lagi buku itu, "Kalau kau membaca, bagaimana

kau bisa tidur?" tanyaku dengan suara yang nyaris tak mampu menyembunyikan

getarannya.

Menurut perhitungan Carlisle, pertumbuhan tubuh Renesmee berangsur-angsur

melambat; namun pikirannya terus berpacu maju. Seandainya taraf penurunan

pertumbuhan ini tetap berlanjut, tetap saja Renesmee akan jadi dewasa kurang dari

empat tahun lagi.

Empat tahun. Dan menjadi wanita tua di usia lima belas tahun.

Hanya punya waktu lima belas tahun.

Tapi ia sangat sehat. Vital, cemerlang, bersinar, dan bahagia. Keadaannya yang

sehat itu membuatku mudah menikmati kebahagiaan bersamanya sekarang dan tidak

berpikir yang bukan-bukan tentang masa depan.

Dengan suara pelan Carlisle dan Edward mendiskusikan pilihan-pilihan kami

untuk masa depan dari setiap sisi. Aku mencoba untuk tidak mendengarkannya. Mereka

tak pernah mendiskusikan hal itu kalau ada Jacob, karena ada satu cara pasti untuk

menghentikan proses penuaan, dan Jacob pasti tidak bakal suka mendengarnya. Aku

juga tidak. Terlalu berbahaya! insting-instingku menjerit padaku. Jacob dan Renesmee

mirip dalam banyak hal, keduanya sama-sama setengah manusia dan setengah makhluk

lain, dua sosok pada saat bersamaan. Dan semua legenda werewolf percaya bahwa

racun vampir sama saja dengan vonis mati, bukan jalan menuju keabadian...

Charlisle dan Edward sudah melakukan semua riset yang bisa mereka lakukan

dari jarak jauh, dan sekarang kami bersiap siap menyusuri legenda-legenda kuno itu ke

sumbernya, Kami akan kembali ke Brasil, memulai pencarian dari sana, suku Ticuana

memiliki legenda tentang anak-anak seperti Renesmee... Kalau anak-anak lain seperti

dia pernah ada, mungkin masih tersisa cerita tentang berapa lama bocah setengah abadi

bisa hidup...

Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah kapan kami pergi.

446

Akulah yang menjadi penghalang. Sebagian kecil karena aku ingin tinggal dekat

Forks sampai setelah masa libur lewat, Demi Charlie. Tapi lebih daripada itu, ada

perjalanan lain yang aku tahu harus dilakukan lebih dulu—itu prioritas yang jelas. Juga,

aku harus pergi sendirian.

satu-satunya argumen antara Edward dan aku sejak aku menjadi vampir.

Keberatan utama adalah masalah "sendirian" ini. Tapi faktanya memang demikian, dan

hanya rencanaku yang masuk akal. Aku harus pergi menemui keluarga Volturi, dan aku

benar-benar harus melakukannya sendirian.

bahkan setelah terbebas dari mimpi buruk, dari mimpi apa pun, mustahil

melupakan keluarga Volturi, Mereka juga tidak membiarkan kami begitu saja tanpa

mengingatkan akan keberadaan mereka.

Ketika hadiah dari Aro datang, aku baru tahu Alice telah mengirimkan

pemberitahuan pernikahan kepada para pemimpin Volturi; kami sedang berada di Pulau

Esme ketika Alice mendapat penglihatan prajurit-prajurit Volturi—di antaranya Jane dan

Alec, si kembar yang memiliki kekuatan mahadahsyat. Caius berencana mengirim

kelompok pemburu untuk melihat apakah aku masih manusia, hal yang bertentangan

dengan perintah mereka (karena aku tahu tentang dunia rahasia vampir, jadi aku harus

bergabung dengannya atau dibungkam.., selamanya). Maka Alice pun segera

mengirimkan pemberitahuan pernikahan, melihat bahwa tindakan itu akan menunda

keberangkatan mereka sementara mereka berusaha mengartikan makna di balik

pemberitahuan itu. Tapi akhirnya mereka pasti datang juga. Itu sudah pasti.

Hadiah itu sendiri tidak mengancam secara terang-terangan. Mewah, ya, nyaris

menakutkan saking mewahnya. Ancaman justru tersirat dalam baris terakhir surat

ucapan selamat dari Aro, yang ditulis dengan tinta hitam di kertas putih polos tebal,

dengan tulisan tangan Aro sendiri;

Aku sudah tidak sabar lagi melihat Mrs.Cullen yang baru

Hadiah itu diletakkan di kotak kayu antik berukir bertatahkan emas dan kerang mutiara,

berhias batu-batu permata dalam aneka warna pelangi. Kata Alice, kotaknya sendiri

sudah merupakan harta karun yang tak ternilai harganya, dan pasti mengalahkan

perhiasan apa pun, kecuali perhiasan yang tersimpan di dalamnya.

447

"Selama ini aku penasaran ke mana hilangnya permata-permata mahkota setelah

John of England menggadaikannya pada abad ketiga belas," kata Carlisle. "Kurasa aku

tidak kaget bila ternyata keluarga Volturi mendapat bagian juga."

Kalungnya sederhana—emas yang dijalin menyerupai tali rantai tebal, seperti

bersisik, bagaikan ular mulus yang melingkari leher. Sebutir permata tergantung di tali

itu: berlian putih seukuran bola golf.

Peringatan yang tidak terlalu halus dalam surat Aro lebih menarik perhatianku

ketimbang perhiasan itu. Keluarga Volturi harus melihat bahwa aku sudah berubah

menjadi immortal, menunjukkan kepada mereka bahwa keluarga Cullen patuh pada

perinrah keluarga Volturi, dan mereka harus segera melihatnya. Jangan sampai mereka

mendekati Forks. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan hidup kami di sini.

"Pokoknya kau tidak boleh pergi sendirian," tegas Edward dengan rahang

terkatup rapat, kedua tangannya mengepal.

"Mereka takkan menyakitiku," kataku dengan nada semenenangkan mungkin,

memaksa suaraku terdengar yakin. 'Mereka toh tak punya alasan untuk itu. Aku sudah

jadi vampir. Habis perkara."

"Tidak. Pokoknya tidak boleh."

"Edward, hanya ini satu-satunya cara melindungi Renesmee."

Dan Edward tak bisa membantah perkataanku itu. Logikaku kuat, tak

terbantahkan.

Bahkan lewat pertemuanku dengan Aro yang hanya sebentar, aku sudah bisa

melihat ia adalah kolektor—dan harta karunnya yang paling berharga adalah makhluk

hidup. Ia mendambakan kecantikan, bakat, dan kelangkaan dari para pengikut

immoltarnya, lebih daripada perhiasan apa pun yang terkunci dalam lemari besinya.

Sayangnya ia sudah mulai menginginkan kemampuan Alice dan Edward. Aku tak ingin

memberinya alasan lagi untuk merasa iri pada keluarga Carlisle. Renesmee cantik,

berbakat, dan unik—tak ada duanya di dunia ini. Jangan sampai Aro melihat Renesmee,

bahkan tidak melalui pikiran orang lain.

Dan hanya aku yang pikirannya tak bisa didengar Aro. Jadi tentu saja aku harus

pergi sendirian.

Alice tak melihat masalah dengan perjalananku, tapi ia mengkhawatirkan kualitas

penglihatannya yang kabur. Katanya, terkadang penglihatannya kabur seperti itu bila

ada keputusan luar yang mungkin menimbulkan konflik, tapi itu belum bisa dipastikan

benar. Ketidakyakinan itu membuat Edward, yang memang sudah ragu, menentang

448

habis-habisan apa yang harus kulakukan, Ia ingin menemaniku sampai ke London,

tempat aku harus berganti pesawat, tapi aku tak ingin meninggalkan Renesmee tanpa

kedua orangtuanya. Jadi Carlisle-lah yang ikut. Itu membuat Edward maupun aku sedikit

rileks, tahu Carlisle hanya akan berada beberapa jam jauhnya dariku.

Alice terus-menerus berusaha melihat masa depan, tapi hal-hal yang ia temukan

tak ada hubungannya dengan apa yang ia cari. Tren baru di pasar modal; kemungkinan

kedatangan Irma untuk melakukan rekonsiliasi, walaupun keputusannya belum mantap;

badai salju yang baru akan menghantam wilayah ini enam minggu lagi; telepon dari

Renée (aku masih melatih suara "parau"-ku, dan semakin lama hasilnya semakin baik—

sepanjang pengetahuan Renée, aku masih sakit, tapi sudah mulai membaik).

Kami membeli tiket ke Italia sehari setelah Renesmee menginjak usia tiga bulan.

Rencananya aku hanya akan pergi sebentar, jadi aku tidak memberitahu Charlie. Jacob

tahu, dan ia berpihak pada Edward. Namun hari ini topik argumennya adalah tentang

Brasil. Jacob bertekad hendak ikut dengan kami.

Kami bertiga, Jacob, Renesmee, dan aku, berburu bersama. Minum darah

binatang bukanlah kesukaan Renesmee—itulah sebabnya Jacob diperbolehkan ikut.

Jacob membuatnya menjadi semacam perlombaan di antara mereka, dan itu membuat

Renesmee bersemangat.

Pandangan Renesmee cukup jelas tentang apa yang baik dan buruk berkaitan

dengan memburu manusia; menurutnya bisa digantikan dengan darah hasil donor.

Makanan manusia bisa membuatnya kenyang dan sepertinya cocok dengan

pencernaannya, tapi ia tidak menyukai semua jenis makanan padat seperti dulu aku

tidak menyukai kembang kol dan buncis. Setidaknya lebih baik minum darah binatang

daripada itu. Pada dasarnya Renesmee suka berkompetisi, dan tantangan Mengalahkan

Jacob membuatnya senang berburu.

"Jacob," kataku, berusaha mengajaknya bicara lagi sementara Renesmee menarinari

di depan kami menuju daerah terbuka yang panjang, mencari bau yang disukainya.

"Kau punya kewajiban di sini. Seth, Leah..."

Jacob mendengus. "Aku kan bukan pengasuh bayi kawananku. Mereka semua toh

punya tanggung jawab masing-masing di La Push."

"Seperti kau? Apakah kau sudah resmi berhenti sekolah kalau begitu? Kalau kau

ingin bisa mengimbangi Renesmee, kau harus belajar lebih keras lagi."

"Hanya cuti sebentar. Aku akan kembali ke sekolah setelah keadaan... tenang

kembali."

449

Konsentrasiku buyar waktu ia mengatakannya, dan otomatis kami menoleh

kepada Renesmee. Ia sedang memandangi kepingan-kepingan salju yang berguguran

tinggi di atas kepalanya, mencair sebelum sempat menempel di rerumputan kuning di

lapangan terbuka berbentuk anak panah tempat kami berdiri. Gaun putih gadingnya

yang berkerut hanya sedikit lebih gelap daripada salju, dan rambut ikalnya yang cokelat

kemerahan tetap berpendar, walaupun matahari tersembunyi jauh di balik awan.

Kami melihatnya membungkuk sebentar kemudian melejit empat setengah

meter ke udara. Kedua tangannya yang mungil meraup sekeping salju, dan ia mendarat

ringan di kedua kakinya,

la berbalik menghadap kami dengan senyum mengagetkan—jelas, kau takkan

pernah terbiasa melihatnya—dan membuka telapak tangannya untuk menunjukkan

bintang es bersudut delapan yang sempurna bentuknya sebelum kemudian mencair.

"Cantik," seru Jacob kagum, "Tapi kurasa kau sengaja mengulur-ulur waktu,

Nessie."

Renesmee berlari-lari kembali kepada Jacob; Jacob mengulurkan kedua

lengannya tepat saat Renesmee melompat ke dalam pelukannya. Gerakan mereka

sangat sinkron. Ia melakukannya bila ada yang ingin ia katakan. Ia masih lebih suka tidak

berbicara.

Renesmee menyentuh wajah Jacob, merengut menggemaskan sementara kami

mendengarkan suara seekor rusa kecil berjalan semakin jauh ke dalam hutan.

"Pastilaaahb kau tidak haus, Nessie," jawab Jacob sedikit menyindir, tapi

sekaligus juga sedikit memanjakan. "Kau hanya takut aku akan menangkap yang paling

besar lagi!"

Renesmee melompat mundur dari gendongan Jacob, mendarat ringan dengan

dua kaki, dan memutar bola matanya— ia sangat mirip Edward waktu melakukannya.

Kemudian ia melesat ke pepohonan.

"Baik," seru Jacob sementara aku mencondongkan badan seperti hendak

mengikuti. Ia merenggut kausnya sambil berlari mengikuti Renesmee memasuki hutan,

sekujur tubuhnya mulai bergetar. "Kalau kau curang tidak masuk hitungan, ya,"

teriaknya kepada Renesmee,

Aku tersenyum pada daun-daun yang menggeletar di belakang mereka,

menggeleng-gelengkan kepala. Terkadang Jacob lebih mirip anak-anak dibanding

Renesmee.

450

Aku terdiam sejenak, memberi kesempatan kepada para pemburuku. Mudah saja

melacak keberadaan mereka, dan Rencsmee senang sekali mengagetkanku dengan

ukuran buruannya.

Lapangan sempit itu sunyi senyap, kosong melompong. Salju yang berguguran

mulai menipis di atasku, nyaris lenyap. Alice mendapat penglihatan bahwa salju rianya

akan bertahan beberapa minggu lagi.

Biasanya Edward dan aku pergi berburu bersama-sama. Tapi Edward sedang

bersama Carlisle hari ini, merencanakan perjalanan ke Rio, berbicara di balik punggung

Jacob... aku mengerutkan kening. Kalau kembali nanti, aku akan berpihak kepada Jacob.

Ia seharusnya ikut bersama kami. la juga mempertaruhkan banyak hal di sini, sama

seperti kami—seluruh hidupnya dipertaruhkan, sama seperti hidupku.

Sementara pikiranku berkelana ke masa depan, mataku menyapu kawasan

pegunungan, sesuatu yang rutin kulakukan, mencari buruan atau bahaya. Aku tidak

memikirkannya; do-imigan itu otomatis saja kulakukan.

Atau mungkin memang ada alasan mengapa mataku menjelajahi kawasan itu,

karena ada semacam pemicu kecil yang berhasil tertangkap indraku yang setajam silet

sebelum aku sempat menyadarinya.

Ketika mataku menjelajahi tepian tebing di kejauhan, yang menjulang tinggi

dengan warna biru-kelabu mencolok berlatar belakang hutan hijau kehitaman, kilauan

warna perak—atau mungkin emas?—menarik perhatianku.

Pandanganku tertuju pada warna yang seharusnya tak ada di sana, begitu jauh di

balik naungan kabut hingga elang pun pasti takkan mampu melihatnya. Aku

memandanginya.

Ia balas memandangku.

Bahwa ia vampir, itu sudah jelas. Kulitnya seputih marmer, teksturnya jutaan kali

lebih halus daripada kulit manusia. Bahkan di bawah naungan awan, kulitnya berpendar

redup. Seandainya bukan kulit yang membuat identitasnya diketahui, tubuhnya yang

diam tak bergerak pasti akan membuatnya ketahuan. Hanya vampir dan patung yang

bisa berdiri diam tak bergerak seperti itu.

Rambutnya pucat, pirang pucat, nyaris perak. Itulah kilauan yang tertangkap

mataku tadi. Rambut itu tergerai lurus seperti penggaris hingga ke dagu, dibelah persis

di tengah.

451

Aku tidak mengenalnya. Aku sangat yakin belum pernah melihatnya sebelum ini,

balikan sebagai manusia. Tak ada wajah dalam ingatan kaburku yang mirip wajah ini.

Tapi aku Langsung tahu siapa dia dari mata emasnya yang gelap.

Ternyata irina memutuskan untuk datang juga.

Sejenak aku hanya bisa menatapnya, dan ia balas memandangiku. Dalam hati aku

bertanya-tanya apakah ia akan langsung mengenaliku juga. Aku baru mengangkat

tangan, bermaksud melambai, tapi bibirnya terpilin sedikit, membuat wajahnya

mendadak terlihat jahat.

Aku mendengar jerit kemenangan Renesmee dari hutan, mendengar lolongan

Jacob yang menggema, dan melihat wajah Irina tersentak ketika suara itu bergema

beberapa detik kemudian. Tatapannya bergerak sedikit ke kanan, dan aku tahu apa yang

dilihatnya. Seekor werewolf cokelat kemerahan besar, mungkin werewolf yang sama

yang membunuh Laurent-nya. Sudah berapa lama ia mengawasi kami? Cukup lama

untuk melihat hubungan kami yang bersahabat tadi, aku yakin. Wajah Irina berkerut

pedih.

Terdorong oleh insting, aku membuka kedua tanganku dengan sikap meminta

maaf. Ia berpaling menghadapiku, dan bibirnya tertarik ke belakang, memamerkan

giginya. Rahangnya terbuka saat ia menggeram.

Ketika suara samar itu mencapai telingaku, ia sudah berbalik dan lenyap ke dalam

hutan.

"Sialan!" erangku.

Aku melesat memasuki hutan, mencari Renesmee dan Jaccob, tak ingin mereka

lepas dari pandanganku. Aku tidak tahu arah mana yang diambil Irina, atau seberapa

marahnya ia sekarang. Balas dendam adalah obsesi yang lumrah dilakukan vampir, yang

tidak mudah diredam.

Berlari dengan kecepatan penuh, aku hanya butuh dua detik untuk mencapai

mereka.

"Punyaku lebih besar" kudengar Renesmee berseru sementara aku menerobos

semak-semak berduri lebat menuju lapangan terbuka kecil tempat mereka berdiri.

Telinga Jacob terlipat begitu melihat ekspresiku; ia merunduk ke depan,

menyeringai memamerkan giginya—moncongnya berlepotan darah hewan buruannya.

Matanya menjelajahi seisi hutan. Bisa kudengar suara geraman muncul di

kerongkongannya.

452

Renesmee sama sigapnya dengan Jacob. Meninggalkan begitu saja bangkai rusa

jantan di kakinya, ia melompat ke lenganku yang terkembang menunggunya,

menempelkan tangannya yang ingin tahu ke pipiku.

"Aku bereaksi berlebihan," aku buru-buru meyakinkan mereka. "Tidak apa-apa,

kurasa. Tunggu."

Kukeluarkan ponselku dan kutekan tombol "Speed Dial" Edward langsung

menjawab pada dering pertama. Jacob dan Renesmee mendengarkan dengan saksama

di sampingku sementara aku menceritakan apa yang terjadi pada Edward.

"Datanglah, ajak Carlisle," kataku dengan kecepatan tinggi hingga dalam hati

sempat bertanya-tanya apakah Jacob bisa mengikuti perkataanku atau tidak. "Aku

melihat Irina, dan dia melihatku, tapi kemudian dia melihat Jacob, lalu marah dan lari

menjauh, kurasa. Dia tidak muncul di sini—belum, setidaknya—tapi dia tampak sangat

marah jadi mungkin saja dia akan muncul. Kalau dia tidak muncul, kau dan Carlisle harus

menemuinya dan bicara dengannya. Aku merasa sangat tidak enak."

Jacob menggeram.

"Kami akan tiba di sana setengah menit lagi," Edward meyakinkanku, dan aku

bisa mendengar embusan angin saat ia berlari.

Kami melesat kembali ke lapangan panjang, kemudian menunggu sambil berdiam

diri sementara Jacob dan aku mendengarkan dengan saksama suara langkah-langkah

kaki yang tidak kami kenali.

Ketika suara itu datang, kedengarannya sangat familier. Dan sejurus kemudian

Edward sudah berada di sampingku, Carlisle menyusul beberapa detik kemudian. Aku

terkejut mendengar langkah-langkah kaki berat mengikuti di belakang Carlisle. Kurasa

tak seharusnya aku merasa shock. Karena Renesmee berada dalam bahaya, tentu saja

Jacob akan memanggil bala bantuan.

"Dia tadi berada di tebing sana," aku langsung memberitahu mereka, menuding

ke satu titik. Kalau Irina benar-benar melarikan diri, dia pasti sudah cukup jauh. Maukah

ia berhenti dulu mendengarkan penjelasan Carlisle? Ekspresinya membuatku ragu.

"Mungkin sebaiknya kautelepon Emmett dan Jasper suruh mereka ikut bersama kalian.

Dia kelihatan... sangat marah. Dia menggeram padaku.''

"Apa?" seru Edward marah.

453

Carlisle meletakkan tangannya di lengan Edward. "Irina sedang berduka. Akan

kucari dia."

"Aku ikut," desak Edward.

Mereka berpandangan lama sekali—mungkin Carlisle sedang menimbang-nimbang

seberapa besar kekesalan Edward pada Irina dibandingkan dengan kegunaannya bisa

membaca pikiran. Akhirnya Carlisle mengangguk, dan mereka bergegas mencari jejak

Irina tanpa memanggil Jasper maupun Emmett,

Jacob mendengus-dengus tidak sabar dan menyenggol punggungku dengan

hidungnya. Ia pasti ingin Renesmee kembali berada di rumah yang aman, hanya untuk

berjaga-jaga. Aku sependapat dengannya, dan kami bergegas pulang bersama Scth dan

Leah yang berlari mengapit kami.

Renesmee tenang dalam gendonganku, sebelah tangannya masih memegang

wajahku. Karena perburuan dihentikan, ia terpaksa harus minum darah donor.

Pikirannya mengatakan agak puas pada diri sendiri.

454

28. MASA DEPAN

CARLISLE dan Edward gagal menyusul Irina sebelum jejaknya lenyap. Mereka

berenang ke seberang untuk melihat apakah jejaknya masih berlanjut, namun hingga

berkilo-kilometer jauhnya di kedua sisi pantai timur, tak ditemukan jejak Irina sama

sekali.

Semua itu salahku. Ia datang, seperti sudah dilihat Alice, untuk berdamai dengan

keluarga Cullen, tapi yang terjadi kemudian ia malah marah melihat keakrabanku

dengan Jacob. Kalau saja aku sempat melihatnya sebelum Jacob berubah wujud. Kalau

saja kami berburu di tempat lain.

Tak banyak yang bisa dilakukan. Carlisle menelepon Tanya dan mendapat kabar

yang mengecewakan. Ternyara Tanya dan Kate sudah lama tidak bertemu Irina, sejak

mereka memutuskan datang ke pernikahanku. Mereka kalut mendengar Irina sudah

begitu dekat tapi belum juga kembali ke rumah; mereka sedih kehilangan saudara,

walaupun perpisahan itu mungkin hanya sementara. Aku bertanya-tanya dalam hati

apakah

kejadian ini membawa kembali kenangan buruk kehilangan ibu mereka berabadabad

yang lalu.

Alice berhasil menangkap beberapa kilasan gambar tentang masa depan Irina

yang akan terjadi dalam waktu dekat, tapi tidak ada yang terlalu konkret. Ia tidak

kembali ke Denali, hanya sejauh itu yang bisa disimpulkan Alice. Penglihatannya kabur.

Yang terlihat oleh Alice hanyalah bahwa Irina jelas kalut; ia berkeliaran di tengah hutan

berselimutkan salju—kemana? Ke timur?—dengan ekspresi merana. Ia belum membuat

keputusan apa-apa untuk menentukan tujuan baru selain sedang berdukacita tanpa

arah yang jelas.

Hari-hari berlalu dan, walaupun tentu saja aku tak pernah melupakan apa pun,

Irina dan kesedihannya terus menggayuti pikiranku. Ada hal-hal lain yang lebih penting

untuk dipikirkan sekarang. Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Italia. Setelah aku

pulang, kami semua akan berangkat ke Amerika Selatan.

Setiap detail sudah dibicarakan berulang-ulang, ratusan kali. Kami akan memulai

pencarian dari suku Ticuana, menyusuri legenda mereka sebaik mungkin dari

sumbernya. Sekarang sudah disepakati bahwa Jacob akan ikut bersama kami, ia

mendapat tugas penting dalam rencana itu—kecil kemungkinan orang-orang yang

percaya pada vampir mau berbicara pada salah seorang di antara kami tentang kisah

mereka. Kalau kami menemui jalan buntu dengan suku Ticuana, ada banyak suku lain

455

yang berhubungan dekat di area sekitar itu untuk melakukan riset. Carlisle punya

beberapa teman lama di Amazon; bila kami bisa menemukan mereka, mungkin mereka

bisa memberi kami informasi juga. Atau paling tidak saran-saran seperti di mana lagi

kami bisa pergi mencari jawaban. Kecil kemungkinan ketiga vampir Amazon itu memiliki

kaitan dengan legenda-legenda vampir hibrida, karena mereka semua wanita. Tak ada

yang tahu berapa lama pencarian kami akan berlangsung.

Aku belum memberitahu Charlie tentang rencana perjalanan kami yang lama, dan

aku bingung memikirkan harus mengatakan apa padanya, sementara diskusi Edward

dan Carlisle terus berlanjut. Bagaimana caranya menyampaikan kabar ini dengan tepat

pada Charlie?

Kupandangi Renesmee sambil berdebat sendiri dalam hati. Ia sedang meringkuk

di sofa, tarikan napasnya lambat karena tertidur nyenyak, rambut ikalnya kusut dan

menyebar di sekeliling wajahnya. Biasanya Edward dan aku membawanya kembali ke

pondok untuk menidurkannya di tempat tidurnya sendiri, tapi malam ini kami lebih lama

bersama keluarga. Edward dan Carlisle masih asyik berdiskusi.

Sementara itu Emmett dan Jasper lebih bersemangat merencanakan berbagai

kemungkinan berburu. Habitat di kawasan Amazon berbeda dengan habitat normal di

daerah kami. Jaguar dan macan tutul, misalnya. Emmett memendam keinginan bergulat

dengan anakonda. Esme dan Rosalie merencanakan apa saja yang akan mereka bawa.

Jacob sedang pergi bersama kawanan Sam, menyusun rencana menghadapi

kepergiannya.

Alice bergerak lambat—untuk ukurannya—mengitari ruangan yang besar itu,

merapikan ruangan yang sebenarnya tak perlu dirapikan lagi, meluruskan hiasan-hiasan

gantung Esme yang terpasang sempurna. Saat itu ia sedang mengatur posisi vas-vas

Esme di meja konsol. Bisa kulihat dari ekspresi wajahnya yang berfluktuasi—sadar,

kemudian kosong, kemudian sadar lagi—bahwa ia sedang menelaah masa depan.

Asumsiku, ia sedang berusaha melihat melalui titik-titik buta yang ditimbulkan

kehadiran Jacob dan Renesmee dalam penglihatannya, apa yang akan menunggu kami

di Amerika Selatan sampai Jasper berkata, "Sudahlah, Alice, dia bukan urusan kita," dan

gelombang ketenteraman menyusup masuk pelan menyebar tanpa kentara ke Seantero

ruangan. Alice pasti sedang mengkhawatirkan Irina lagi.

Ia menjulurkan lidah kepada Jasper kemudian mengangkat vas kristal' berisi

mawar merah dan putih, lalu berbalik menuju dapur. Padahal mawar-mawar putih itu

belum terlalu layu, tapi Alice sepertinya ngotot ingin semuanya serba-sempurna,

sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kurangnya visi yang ia dapatkan malam ini.

456

Karena saat itu sedang memandangi Renesmee, aku tidak melihat ketika vas itu

terlepas dari jari-jari Alice. Aku hanya mendengar embusan angin bersiul melewati

kristal, dan saat aku mengangkat wajah, yang kulihat puluhan ribu keping berlian

bertebaran di lantai dapur yang terbuat dari marmer.

Kami diam tak bergerak saat kristal yang berkeping-keping meloncat dan

berhamburan ke segala penjuru dengan bunyi berdenting nyaring, semua mata tertuju

ke punggung Alice.

Pikiran tak logis pertama yang muncul dalam benakku pastilah Alice sedang

mencandai kami. Karena tidak mungkin Alice tidak sengaja menjatuhkan vas itu. Aku

sendiri bisa melesat ke seberang ruangan untuk menangkap vas itu, kalau aku tidak

berasumsi ia sendiri yang akan menangkapnya. Dan bagaimana vas itu bisa terlepas dari

jari-jarinya? Jari-jarinya kan mantap sekali.

Belum pernah aku melihat vampir secara tak sengaja menjatuhkan apa pun. Tidak

pernah.

Kemudian Alice menghadap kami, memutar badannya begitu cepat.

Matanya separo di sini dan separo lagi terkunci ke masa depan, membelalak,

memandang, mengisi wajahnya yang kurus, hingga wajah itu nyaris tak bisa menampung

semuanya. Menatap matanya seperti melihat ke luar lubang kubur dari dalam; aku

terkubur dalam teror, kengerian, dan ketakutan melihat tatapannya.

Kudengar Edward tersentak, suaranya pecah dan separo tersedak.

"Apa?" geram Jasper, melompat ke sisi Alice dalam gerakan kabur, meremukkan

kristal yang pecah itu dengan kakinya. Disambarnya bahu Alice dan diguncangkannya

keras-keras. Alice seperti mainan tanpa suara di tangan Jasper. "Apa, Alice?"

Emmett masuk dalam pandanganku, menyeringaikan gigi sementara matanya

berkelebat ke jendela, mengantisipasi datangnya serangan.

Sementara Esme, Carlisle, dan Rose hanya bisa diam, membeku kaku seperti aku.

Jasper kembali mengguncang tubuh Alice, Ada apa?"

"Mereka datang menemui kita," Alice dan Edward berbisik berbarengan dengan

sempurna. "Mereka semua."

Sunyi.

Kali itu akulah yang paling cepat memahami—karena ada sesuatu dalam katakata

mereka yang memicu penglihatanku sendiri. Sebenarnya hanya kenangan lama dari

457

sebuah mimpi—samar, transparan, tidak jelas, seolah-olah aku berusaha mengintip dari

balik bebatan kain kassa tebal... Dalam benakku aku melihat barisan makhluk berjubah

hitam menghampiriku, hantu dari mimpi buruk manusiaku yang sudah separo dilupakan.

Aku tak bisa melihat kilau mata merah mereka karena kepala mereka mengenakan

selubung, atau kilatan gigi mereka yang basah dan tajam, tapi aku tahu di mana kilauan

ini seharusnya berada.

Lebih kuat daripada kenangan penglihatan adalah kenangan perasaan kebutuhan

sangat luar biasa untuk melindungi makhluk berharga di belakangku.

Aku ingin menyambar Renesmee ke dalam pelukanku, menyembunyikannya di

balik kulit dan rambutku, membuatnya tak terlihat. Tapi aku bahkan tak bisa berbalik

untuk melihatnya. Aku tidak merasa seperti batu, tetapi es. Untuk pertama kali sejak

terlahir kembali sebagai vampir, aku merasa dingin.

Aku nyaris tak mendengar konfirmasi dari ketakutanku. Aku tidak

membutuhkannya. Aku sudah tahu.

"Keluarga Volturi," erang Alice.

"Mereka semua," Edward mengerang pada saat bersamaan. "Mengapa?" Alice

berbisik kepada diri sendiri. "Bagaimana?"

"Kapan?" bisik Edward.

"Mengapa?" Esme menirukan.

"Kapan?" ulang Jasper dengan suara bagai serpihan es. Mata Alice tak berkedip

sedikit pun, tapi seolah-olah ada yang menutupinya; wajahnya tampak benar-benar

kosong. Hanya mulutnya yang mengangga dengan ekspresi ngeri.

"Tidak lama," ia dan Edward menjawab serempak. Kemudian Alice berbicara

sendirian. "Tampak salju di hutan, salju di kota. Kurang dari sebulan lagi."

"Mengapa?" Kali ini Carlisle yang bertanya, Esme menjawab. "Mereka pasti

punya alasan. Mungkin untuk melihat..."

"Ini bukan tentang Bella," kata Alice hampa. "Mereka semua akan datang—Aro,

Caius, Marcus, setiap anggota pengawal, bahkan istri-istri mereka."

"Para istri tak pernah meninggalkan menara," Jasper menyanggah perkataan

Alice dengan suara datar. "Tidak pernah. Bahkan saat pemberontakan selatan pun tidak.

Juga tidak ketika vampir Rumania berusaha menggulingkan mereka. Bahkan tidak ketika

mereka memburu anak-anak imortal. Tidak pernah."

458

"Sekarang mereka datang," bisik Edward.

"Tapi mengapa?'' tanya Carlisle lagi. "Kita tidak melakukan apa-apa! Dan

kalaupun melakukan sesuatu, perbuatan apa yang kita lakukan hingga bisa

mendatangkan ini bagi kita?"

"Jumlah kita banyak sekali," Edward menjawab muram. "Mereka ingin

memastikan bahwa..." Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.

"Itu tidak menjawab pertanyaan paling krusial! Mengapa?"

Rasanya aku tahu jawaban pertanyaan Carlisle, namun pada saat bersamaan juga

tidak tahu. Renesmee-lah alasannya. Entah bagaimana sejak awal pun aku tahu mereka

pasti akan datang mencarinya. Alam bawah sadarku sudah memberi peringatan

sebelum aku tahu aku mengandung dia. Aku merasakan perasaan mengharapkan yang

ganjil. Seakan-akan selama ini aku sudah tahu keluarga Volturi akan datang dan

merenggut kebahagiaanku.

Namun tetap saja itu tidak menjawab pertanyaan.

"Kembalilah, Alice," Jasper memohon. "Cari pemicunya. Cari."

Alice menggeleng lambat-lambat, bahunya terkulai. "Penglihatan itu muncul

begitu saja, Jazz. Aku tidak mencari penglihatan tentang mereka, atau bahkan tentang

kita. Aku hanya mencari Irina. Dia tidak berada di tempat yang kuharapkan..."

Suara Alice menghilang, matanya kembali berkelana. Matanya sesaat kembali

menerawang.

Kemudian kepalanya tersentak, matanya sekeras batu api. Kudengar Edward

tersentak.

"Dia memutuskan pergi menghadap mereka," kata Alice. "Irina memutuskan

pergi menemui keluarga Volturi. Kemudian mereka akan memutuskan... Seolah-olah

mereka memang menunggu kedatangan Irina. Seakan-akan mereka sudah mengambil

keputusan, dan hanya menunggunya..."

Suasana kembali sunyi sementara kami mencerna kata-katanya. Apa yang akan

dikatakan Irina kepada keluarga Volturi yang akan berakibat pada penglihatan Alice yang

mengerikan ?

"Kita bisa menghentikannya?" tanya Jasper.

"Tidak sempat lagi. Dia sudah hampir sampai ke sana."

459

"Apa yang dia lakukan?" tanya Carlisle, tapi aku tak lagi memerhatikan diskusi itu.

Seluruh perhatianku tercurah pada gambaran yang perlahan-lahan mulai menyatu

dalam benakku.

Aku membayangkan Irina berdiri di tebing, mengawasi. Apa yang dilihatnya saat

itu? Vampir dan werewolf yang bersahabat. Aku terfokus pada gambaran itu, gambaran

yang pasti menjelaskan reaksinya. Tapi bukan hanya itu yang dilihatnya.

Dia juga melihat seorang anak. Bocah yang sangat memesona, menunjukkan

kebolehannya di tengah hujan salju, jelas lebih daripada manusia...

Irina... kakak-beradik yang yatim-piatu... Carlisle pernah bercerita pengalaman

kehilangan ibu mereka karena keadilan yang diterapkan keluarga Volturi telah membuat

Tanya, Kate, ilan Irina menaati hukum tanpa kompromi.

Baru setengah menit yang lalu Jasper sendiri mengatakannya: Bahkan tidak ketika

mereka memburu anak-anak imortal... Anak-anak imortal—kutuk yang tidak boleh

disebut, sesuatu yang tabu untuk dibicarakan...

Dengan masa lalu Irina, bagaimana mungkin ia menerjemahkan apa yang

dilihatnya hari itu di lapangan sempit secara berbeda? Waktu itu ia tidak berada cukup

dekat untuk bisa mendengar detak jantung Renesmee, merasakan panas yang terpancar

dari tubuhnya. Pipi Renesmee yang kemerahan bisa jadi hanya trik yang kami lakukan

untuk mengecohnya, begitu mungkin yang ia kira.

Bagaimanapun, keluarga Cullen berhubungan baik dengan kaum werewolf. Dari

sudut pandang Irina, mungkin itu berarti kami tak segan-segan melakukan apa saja...

Irina, meremas-remas tangannya di tengah hutan bersalju— ternyata tidak

sedang berduka cita mengenang Laurent, tapi tahu sudah kewajibannya melaporkan

keluarga Cullen, tahu apa yang akan menimpa mereka bila ia melakukannya. Rupanya,

nuraninya mengalahkan persahabatan yang sudah terjalin berabad-abad.

Dan respons keluarga Volturi terhadap pelanggaran ini begitu otomatis, sehingga

sudah diputuskan.

Aku berbalik dan menyelubungi tubuh Renesmee yang tertidur dengan tubuhku,

menutupinya dengan rambutku, mengubur wajahku ke rambutnya yang ikal.

"Pikirkan apa yang dilihatnya siang itu," kataku dengan suara rendah,

menginterupsi apa pun yang hendak dikatakan Emmett. "Di mata seseorang yang

pernah kehilangan ibu gara-gara anak imortal, bagaimana dia memandang Renesmee?"

460

Segalanya kembali senyap saat yang lain-lain mulai memahami apa yang sudah

lebih dulu kutangkap.

"Anak imortal," bisik Carlisle.

Aku merasa Edward berlutut di sebelahku, mendekap kami dengan kedua

lengannya.

"Padahal dia keliru.” sambungku. "Renesmee tidak seperti anak-anak lain itu.

Mereka membelai, sementara Renesmee justru tumbuh membesar setiap hari. Mereka

tidak terkendali, tapi Renesmee tak pernah menyakiti Charlie atau Sue, atau bahkan

menunjukkan kepada mereka hal-hal yang mungkin akan meresahkan mereka. Dia bisa

menguasai diri. Dia bahkan lebih cerdas daripada kebanyakan orang dewasa. Jadi tak

ada alasan..."

Aku mengoceh tidak keruan, menunggu mendengar ada yang mengembuskan

napas lega, menunggu ketegangan di ruangan mencair begitu mereka menyadari aku

benar. Ruangan ini sepertinya semakin dingin. Akhirnya, suaraku yang kecil lenyap

sendiri, membisu.

lama sekali tak ada yang mengatakan apa-apa.

Kemudian Edward berbisik di rambutku. "Itu bukan jenis kejahatan yang ingin

mereka sidangkan, Sayang," ia menjelaskan dengan suara pelan. "Aro melihat bukti Irina

dalam pikirannya. Mereka datang untuk menghancurkan, bukan untuk meminta

penjelasan."

"Padahal mereka salah," sergahku keras kepala.

"Mereka takkan menunggu kita menunjukkan itu pada mereka."

Suara Edward masih pelan, lembut, sehalus beledu... meski begitu, kepedihan

dan kesedihan dalam suaranya tak bisa dihindari. Suaranya mirip mata Alice

sebelumnya—seperti di liang kubur.

"Apa yang bisa kita lakukan?" tuntutku.

Renesmee begitu hangat dan sempurna dalam pelukanku, bermimpi dengan

tenang. Padahal tadi aku takut memikirkan pertumbuhannya yang begitu cepat—

khawatir ia hanya akan hidup satu dekade lebih sedikit... teror itu terkesan ironis

sekarang.

Tak sampai satu bulan lagi...

461

Jadi ini batasnya, kalau begitu? Aku telah mengalami kebahagiaan lebih daripada

kebanyakan orang. Apakah ada semacam hukum alam yang menuntut porsi yang sama

besar dari kebahagiaan dan penderitaan di dunia ini? Apakah kegembiraanku merusak

keseimbangan itu? Apakah hanya empat bulan aku bisa merasakan kebahagiaan?

Emmett-lah yang menjawab pertanyaan retorisku.

"Kita melawan.” ujar Emmet tenang.

"Kita tidak bisa menang," geram Jasper. Bisa kubayangkan bagaimana wajahnya,

bagaimana tubuhnya melengkung secara protektif, melindungi tubuh Alice.

"Well, kita juga tidak bisa lari. Tidak bisa karena ada Demetri." Emmett

mengeluarkan suara seperti orang jijik, dan secara instingtif aku tahu ia bukan tidak suka

membayangkan pelacak keluarga Volturi, tapi membayangkan melarikan diri "Dan aku

tak yakin kita memang tidak bisa menang” tukasnya. "Ada beberapa opsi yang bisa

dipertimbangkan. Kita tidak perlu melawan sendirian."

Aku mengentakkan kepalaku begitu mendengarnya. "Kita tidak perlu melibatkan

suku Quileute ke dalam vonis mati kita, Emmett!"

"Tenang, Bella." Ekspresinya tak berbeda dengan saat ia mempertimbangkan

bertarung melawan anakonda. Bahkan ancaman pemusnahan massal tak mampu

mengubah perspektif Emmett, kemampuannya menghadapi tantangan dengan penuh

semangat. "Maksudku bukan kawanan itu. Bersikaplah realistis, tapi—apa kaukira Jacob

atau Sam tidak peduli bila terjadi invasi? Walaupun misalnya tidak berkaitan dengan

Nessie? Belum lagi karena, gara-gara Irina, Aro tahu tentang persekutuan kita dengan

kawanan itu sekarang. Tapi yang kumaksud adalah teman-teman lain"

Carlisle menggemakan perkataanku tadi dengan berbisik. "teman-teman lain

yang tidak perlu kita seret dalam vonis mati."

"Hei, kita beri mereka kesempatan memutuskan sendiri," kita Emmett dengan

nada menenangkan. "Aku tidak mengatakan mereka harus bertempur bersama kita."

Bisa kulihat rencana itu mulai terbentuk dalam pikirannya sementara ia berbicara.

"Kalau mereka mau mendampingi kita, cukup lama untuk membuat keluarga Volturi

ragu-ragu. Bagaimanapun Bella benar. Kalau kita bisa memaksa mereka berhenti dan

mendengarkan. Walaupun itu mungkin akan mengenyahkan SEMUA alasan untuk

bertempur..."

Tampak secercah senyuman di wajah Emmett sekarang. Kaget juga aku belum

ada yang memukulnya. Ingin benar aku melakukannya.

462

"Ya," sambut Esme penuh semangat. "Itu masuk akal, Emmett. Yang perlu kita

lakukan adalah membuat keluarga Volturi berhenti sebentar saja. Cukup lama untuk

mendengar-kan"

"Kalau begitu kita membutuhkan saksi dalam jumlah besar," sergah Rosalie kasar,

suaranya serapuh kaca.

Esme mengangguk setuju, seolah tidak mendengar nada sarkastis dalam suara

Rosalie. "Kita toh bisa meminta teman-teman kita. Hanya menjadi saksi."

"Kalau diminta, kita pun pasti mau," kata Emmett.

"Pasti mau, asal cara kita memintanya benar," gumam Alice.

Aku menoleh dan melihat matanya kembali hampa. "Mereka harus ditunjukkan

dengan sangat hati-hati."

"Ditunjukkan?" tanya Jasper.

Alice dan Edward menunduk menatap Renesmee. Lalu mata Alice menerawang.

"Keluarga Tanya," ujarnya. "Kelompok Siobhan. Amun. Beberapa kaum

nomaden—Garrett dan Mary, sudah pasti Mungkin Alistair."

"Bagaimana dengan Peter dan Charlotte?" tanya Jasper takut-takut, seolah

berharap jawabannya adalah tidak dan kakak lelakinya tak perlu dilibatkan dalam

pembantaian! besar-besaran yang bakal terjadi.

"Mungkin?"

"Kelompok Amazon?" tanya Carlisle. "Kachiri, Zafrina, dan Senna?"

Awalnya Alice seperti tenggelam dalam penglihatannya sehingga tak bisa

menjawab; akhirnya ia bergidik, dan matanya berkedip-kedip, kembali ke masa kini. Ia

menatap mata Carlisle sejenak, kemudian menunduk.

"Aku tidak bisa melihat."

"Apa itu tadi?" tanya Edward, bisikannya bernada menuntut. "Bagian di dalam

hutan itu. Apakah kita akan mencari mereka?"

"Aku tidak bisa melihat," ulang Alice, tak berani menatap mata Edward. Secercah

perasaan bingung melintas di wajah Edward. "Kita harus berpencar dan bergegas—

sebelum salju menempel di tanah. Kita harus mengumpulkan siapa saja dan membawa

mereka ke sini untuk menunjukkan pada mereka.” Ia kembali menerawang. "Tanyalah

pada Eleazar. Ini lebih dari sekadar masalah anak imortal."

463

Kesunyian yang panjang terasa menakutkan sementara Alice berada dalam

keadaan trance. Setelah selesai ia mengerjap pelan-pelan, matanya tampak buram

meskipun faktanya jelas berada di masa sekarang.

"Banyak sekali. Kita harus bergegas," bisik Alice.

"Alice?" tanya Edward. "Tadi itu terlalu cepat—aku tidak mengerti. Apa yang—?"

"Aku tidak bisa melihat!" bentak Alice pada Edward. "Jacob sudah hampir

sampai!"

Rosalie maju selangkah ke pintu depan. "Biar aku yang mengurus..."

"Tidak, biarkan saja dia," kata Alice cepat-cepat, suaranya semakin tegang dan

melengking dalam setiap kata. Ia menyambar tangan Jasper dan mulai menariknya ke

pintu belakang. “Aku akan bisa melihat lebih jelas bila jauh dari Nessie juga. Aku harus

pergi. Aku benar-benar perlu berkonsentrasi. Aku harus melihat semua yang kubisa. Aku

harus pergi. Ayo, Jasper, jangan buang-buang waktu!"

Kami bisa mendengar Jacob menaiki tangga. Dengan tak sabar Alice menyentak

tangan Jasper, Jasper buru-buru mengikuti, sorot bingung terpancar dari matanya, sama

seperti Edward. Mereka melesat ke luar pintu, memasuki malam yang keperakan.

"Cepat!" ia berseru pada kami. "Kalian harus menemukan mereka semua!"

"Menemukan apa?" tanya Jacob, menutup pintu depan setelah ia masuk. "Alice

ke mana?"

Tak ada yang menjawab; kami hanya memandanginya.

Jacob mengibas rambut basahnya dan memasukkan kedua tangannya ke lengan

T-shirt, matanya tertuju pada Renesmee, “Hai, Bells! Kusangka kalian sudah pulang

malam-malam begini..."

Akhirnya ia menengadah padaku, mengerjapkan mata, kemudian menatap kami.

Kulihat ekspresinya waktu akhirnya ia menyadari suasana dalam ruangan itu. Ia

menunduk, matanya membelalak, melihat air yang menggenang di lantai, bunga-bunga

mawar yang berserakan, serta serpihan kristal di mana-mana. Jari-jarinya bergetar.

"Apa?" tanyanya datar. "Apa yang terjadi?"

Aku tak tahu harus mulai dari mana. Yang lain juga tidak sanggup mengatakan

apa-apa.

464

Jacob melintasi ruangan dalam tiga langkah lebar dan jatuh berlutut di samping

Renesmee dan aku. Aku bisa merasakan panas merambati tubuhnya saat getaran

mengguncang kedua lengan hingga ke tangannya.

"Dia baik-baik saja?" tuntut Jacob, menyentuh dahi Renesmee, menelengkan

kepala saat ia mendengarkan detak jantungnya. "Jangan main-main denganku, Bella,

pleasel"

"Tak ada yang salah dengan Renesmee," jawabku tersendat-sendat.

"Kalau begitu siapa?"

"Kami semua, Jacob," bisikku. Dan nada itu juga terdengar dalam suaraku—suara

dari liang kubur. "Sudah berakhir. Kami semua divonis mati."

465

29. DITINGGAL

KAMl duduk di sana sepanjang malam, patung-patung yang dilanda kengerian

dan kesedihan, dan Alice tak pernah kembali.

Kami sudah tak tahan—saking takutnya hingga diam tak bergerak sama sekali.

Carlisle saja nyaris tak bisa menggerakan bibir untuk menjelaskan semuanya pada Jacob.

Menjelaskan kembali seakan-akan membuat keadaan semakin buruk; bahkan Emmett

berdiri diam dan membeku sejak saat ini.

Baru setelah matahari bersinar dan aku tahu Renesmee sebentar lagi akan

bergerak dalam gendonganku, untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya mengapa

Alice pergi begitu lama. Aku berharap akan mengetahui jawabannya sebelum

menghadapi keingintahuan putriku. Bahwa ada jawaban dari keherananku. Hanya

secuil, secuil harapan bahwa aku bisa tersenyum dan menjaga agar kebenaran tidak

membuat Nessie ketakutan.

Aku merasa wajahku kaku, membentuk topeng permanen yang kupakai

sepanjang malam. Entah apakah aku mampu tersenyum lagi.

Jacob mendengkur di sudut ruangan, gulungan bulu di lantai, berkedut-kedut

gelisah dalam tidurnya. Sam tahu semuanya—para serigala bersiap-siap menghadapi

apa yang bakal terjadi. Walaupun persiapan itu takkan menghasilkan apa-apa kecuali

membuat mereka ikut terbunuh bersama seluruh keluargaku.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela belakang, berkilau di

kulit Edward, Mataku belum beranjak sedikit pun darinya sejak kepergian Alice. Kami

saling menatap sepanjang malam, merasa tak sanggup kehilangan diri masing-masing.

Kulihat bayanganku terpantul di matanya yang menderita saat matahari menyentuh

kulitku.

Alisnya bergerak sedikit, lalu bibirnya.

“Alice," ujarnya.

Suara Edward terdengar seperti es yang pecah karena mencair. Kami bergerak

sedikit, mengendurkan kekakuan sedikit. Bergerak lagi.

"Lama sekali dia pergi," gumam Rosalie, terkejut.

"Di mana dia kira-kira?" tanya Emmett, berjalan selangkah menuju pintu.

Esme meletakkan tangan di lengannya. "Kita tidak ingin mengusik..."

466

"Dia kan belum pernah pergi selama ini," kata Edward. Kekhawatiran baru

menggores topeng yang menutupi wajah aslinya. Wajahnya kembali hidup, matanya

tiba-tiba membelalak oleh ketakutan baru, kepanikan ekstra. "Carlisle, mungkinkah

menurutmu—serangan pendahuluan? Mungkinkah Alice sempat melihat jika mereka

mengirim orang untuk mencarinya?"

Kulit transparan Aro memenuhi benakku. Aro, yang pernah melihat seluruh isi

pikiran Alice hingga ke sudut-sudutnya, yang tahu semua yang bisa ia lakukan...

Emmett memaki dengan suara nyaring, membuat Jacob terlonjak kaget dan

berdiri sambil menggeram. Di halaman, geramannya digemakan kawanannya.

Keluargaku bergerak secepat kilat hingga gerakan mereka kabur.

Tetaplah bersama Renesmee!" aku menjerit sekuat tenaga pada Jacob sambil

berlari keluar pintu.

Aku masih lebih kuat daripada mereka semua, dan kekuatan itu untuk memacu

diriku. Dalam beberapa detik aku sudah berhasil menyusul Esme, dan Rosalie beberapa

langkah kemudian. Aku menghambur menembus hutan lebat sampai berada persis di

belakang Edward dan Carlisle.

"Mungkinkah mereka bisa melakukan sesuatu tanpa Alice mengetahuinya lebih

dulu?" tanya Carlisle, suaranya datar seolah-olah ia berdiri diam tak bergerak, bukannya

sedang berlari dengan kecepatan penuh.

"Sepertinya tidak mungkin," jawab Edward. "Tapi Aro mengenal Alice lebih

daripada siapa pun. Lebih daripada aku."

Apakah ini jebakan?" seru Emmett dari belakang kami.

"Mungkin," jawab Edward. "Tidak ada bau lain selain bau Alice dan Jasper. Ke

mana perginya mereka?"

Jejak Alice dan Jasper melengkung membentuk lekukan lebar; pertama

membentang ke timur rumah, tapi mengarah ke seberang sungai, kemudian kembali lagi

ke barat selelah beberapa kilometer. Kami kembali menyeberangi sungai, keenamnya

melompat, masing-masing dengan jeda sedetik. Edward berlari paling depan,

berkonsentrasi penuh.

"Kau mencium bau itu tidak?" seru Esme beberapa saat setelah kami melompati

sungai untuk kedua kalinya. Ia berada paling belakang, di ujung kiri rombongan. Ia

melambaikan tangan ke arah tenggara,

467

"Tetaplah di jalur utama—kita sudah hampir sampai ke perbatasan Quileute,"

Edward memerintahkan dengan nada tegang. "Jangan berpencar. Lihat apakah mereka

berbelok ke utara atau selatan."

Tidak seperti mereka, aku tak tahu persis di mana garis perbatasan, tapi aku bisa

mencium secercah bau serigala dalam angin yang bertiup dari timur. Edward dan

Carlisle memperlambat lari sedikit karena kebiasaan, dan aku bisa melihat mereka

menoleh ke kiri dan ke kanan, menunggu jejak berbelok.

Kemudian bau serigala tiba-tiba menguat, dan Edward tiba-tiba menyentakkan kepala.

Ia mendadak berhenti. Kami semua ikut membeku.

"Sam?" tanya Edward datar, "Ada apa ini?"

Sam keluar dari balik pepohonan beberapa ratus meter dari situ, dengan langkah

cepat ia menghampiri kami dalam wujud manusia, diapit dua serigala besar—Paul dan

Jared. Cukup lama juga waktu yang ia butuhkan untuk mencapai kami; wujud

manusianya membuatku tak sabar. Aku tidak ingin memikirkan apa yang terjadi. Aku

ingin terus bergerak, melakukan sesuatu. Aku ingin memeluk Alice, ingin mengetahui

dengan pasti bahwa ia selamat.

Kulihat wajah Edward berubah pasi ketika ia membaca pikiran Sam. Sam

mengabaikannya, memandang Carlisle lurus-lurus begitu ia berhenti berjalan dan mulai

bicara.

"Tepat selepas tengah malam, Alice dan Jasper datang ke tempat ini dan

meminta izin menyeberangi tanah kami untuk mencapai samudera, Kuizinkan, dan aku

sendiri yang menganut- mereka ke tepi pantai. Mereka langsung masuk ke air dan tak

kembali. Dalam perjalanan menuju ke sana, Alice berpesan agar tidak memberitahu

Jacob bahwa aku telah bertemu dengannya sampai aku berbicara dengan kalian. Aku

harus menunggu di sini sampai kalian datang mencarinya, kemudian memberikan surat

ini. Dia memintaku menaatinya seakan-akan nyawa kamilah taruhannya kalau kami

melanggar."

Wajah Sam muram ketika ia mengulurkan kertas terlipat, huru-huruf hitam kecil

bertebaran di seluruh permukaannya. Kertas yang dirobek dari buku; mataku yang

tajam membaca kata-kata yang tercetak di sana sementara Carlisle membuka lipatan

kertas itu untuk melihat di baliknya. Sisi yang menghadap ke arahku adalah halaman

copyright The Merchant of Venice. Secercah bauku berembus dari kertas itu ketika

Carlisle mengguncangkan untuk melicinkannya. Sadarlah aku kertas itu dirobek dari

salah satu bukuku. Aku memang membawa beberapa benda dari rumah Charlie ke

468

pondok; beberapa setel baju normal, semua surat dari ibuku, juga buku-buku favoritku.

Koleksi novel Shakespeare-ku yang sudah usang tersimpan dalam rak buku ruang duduk

di pondokku yang mungil kemarin pagi...

"Alice memutuskan untuk meninggalkan kita," bisik Carlisle,

"Apa?" pekik Rosalie,

Carlisle membalik kertas itu ke arah kami supaya kami semua bisa membacanya.

Jangan cari kami. Jangan buang-buang waktu. Ingat: Tanya, Siobhan,

Amun, Alistair, semua, vampir kaum nomaden yang bisa kalian temukan. Kami

akan mencari Peter dan Charlotte dalam perjalanan. Kami sangat menyesal

karena harus meninggalkan kalian dengan cara seperti ini, tanpa pamit atau

penjelasan. Hanya ini satu-satunya jalan bagi kami. Kami menyayangi kalian.

Lagi-lagi kami membeku, kesunyian begitu senyap, yang terdengar hanya detak

jantung para serigala serta embusan napas mereka. Pikiran mereka pasti juga lantang,

Edwardlah yang pertama bergerak, merespons apa yang didengarnya dalam benak Sam.

"Ya, keadaan memang sangat berbahaya."

"Cukup berbahaya hingga membuatmu tega meninggalkan keluargamu!?'' Sam

bertanya dengan suara keras, nadanya mengecam. Jelas ia tidak membaca surat itu

sebelum memberikannya kepada Carlisle, Ia tampak marah sekarang, menyesal karena

telah menuruti kata-kata Alice.

Ekspresi Edward kaku di mata Sam itu mungkin akan terlihat marah atau arogan,

tapi aku bisa melihat kepedihan di wajahnya.

"Kita tak tahu apa yang dilihatnya," kata Edward. “Alice bukan orang yang tidak

punya perasaan atau pengecut. Dia hanya tahu lebih banyak daripada kami."

"Kami tidak...," Sam mulai berkata.

"Kalian terikat dengan cara berbeda dengan kami.” bentak Edward. "Kami

masing-masing memiliki kehendak bebas."

Dagu Sam terangkat, matanya tiba-tiba terlihat datar dan hitam.

469

"Tapi sebaiknya kalian mengindahkan peringatan ini," lanjut Edward. "Kalian pasti

tak ingin melibatkan diri dalam hal ini. Kalian masih bisa menghindari apa yang dilihat

Alice."

Sam tersenyum masam. "Kami tak pernah melarikan diri." di belakangnya, Paul

mendengus.

"Jangan sampai seluruh keluargamu dibantai hanya gara-gara keangkuhan,"

Carlisle menyela pelan.

Sam menatap Carlisle dengan ekspresi lebih lembut. "Seperti yang telah

ditegaskan Edward tadi, kami tidak memiliki kebebasan seperti kalian. Renesmee sudah

menjadi bagian keluarga kami sekarang, sama halnya seperti dia bagian keluarga kalian.

Jacob tak mungkin meninggalkannya, dan kami tak bisa meninggalkan Jacob." Matanya

melirik surat Alice, bibirnya terkatup rapat, membentuk garis lurus.

"Kau tidak kenal Alice," tukas Edward.

"Memangnya kau kenal?" balas Sam blak blakan.

Carlisle memegang bahu Edward. "Banyak yang harus kira lakukan, Nak. Apa pun

keputusan Alice, sungguh tolol bila kita tidak mengikuti nasihatnya sekarang. Ayo kita

pulang dan mulai bekerja."

Edward mengangguk, wajahnya masih kaku akibat kesedihan. Di belakangku, aku bisa

mendengar sedu sedan Esme yang tanpa air mata.

Aku tak tahu bagaimana caranya menangis dalam tubuh ini. Aku tidak bisa

melakukan apa-apa kecuali memandangi. Belum ada perasaan apa-apa. Segalanya

terkesan tidak nyata, seolah-olah aku kembali bermimpi setelah beberapa bulan tak

pernah lagi bermimpi. Bermimpi buruk.

"Terima kasih, Sam" kata Carlisle.

"Maafkan aku," jawab Sam. "Seharusnya kami tidak mengizinkannya lewat."

"Kau sudah melakukan yang benar," kara Carlisle. "Alice bebas melakukan apa

saja yang dia inginkan. Aku takkan merenggut kebebasan itu darinya."

Selama ini aku selalu memandang keluarga Cullen sebagai satu kesatuan, unit

yang tidak bisa dipecah-pecah. Mendadak aku ingat bahwa tidak selamanya begitu.

Carlisle menciptakan Edward, Esme, Rosalie, dan Emmert; Edward menciptakan aku.

Secara fisik kami terikat oleh darah dan racun vampir. Aku tak pernah membayangkan

470

Alice dan Jasper sebagai kelompok terpisah—yang diadopsi ke dalam keluarga. Tapi

sebenarnya, justru Alice yang mengadopsi keluarga Cullen. Ia muncul dengan masa lalu

yang tak ada hubungannya sama sekali dengan mereka, membawa Jasper yang memiliki

masa lalu sendiri, dan masuk ke dalam keluarga yang sudah lebih dulu ada. Baik Alice

maupun Jasper tahu ada kehidupan lain di luar keluarga Cullen. Apakah ia benar-benar

memilih menjalani hidup baru setelah melihat kehidupan bersama keluarga Cullen telah

berakhir.'

Habislah kami kalau begitu, benar bukan? Tak ada harapan sama sekali. Tidak ada

sedikit atau secercah harapan pun yang bisa meyakinkan Alice bahwa ia memiliki

peluang untuk selamat bila tetap bersama kami.

Udara pagi yang cemerlang mendadak terasa pengap, jadi lebih gelap, seolaholah

secara fisik jadi semakin gelap akibat kesedihanku,

"Aku takkan menyerah begitu saja tanpa melawan," Emmett menggeram pelan.

"Alice menyuruh kita melakukan sesuatu. Mari kita lakukan."

Yang lain mengangguk dengan ekspresi penuh tekad, dan sadarlah aku, mereka

semua berharap pada entah kesempatan apa yang diberikan Alice pada kami. Bahwa

mereka tak mau menyerah begitu saja tanpa harapan dan menunggu datangnya

kematian.

Ya, kami semua akan melawan. Apa lagi yang bisa kami lakukan? Dan rupanya

kami akan melibatkan yang lain, karena itulah yang dikatakan Alice sebelum ia pergi

meninggalkan kami.

Kami akan melawan, mereka akan melawan, dan kita semua akan mati.

Aku tidak merasakan tekad yang sama seperti yang tampaknya dirasakan yang

lain. Alice tahu seberapa besar peluangnya, la memberi kami satu-satunya kesempatan

yang bisa dilihatnya, tapi kesempatan itu terlalu riskan baginya untuk dipertaruhkan.

Aku sudah merasa babak-belur saat berbalik memunggungi wajah Sam yang

penuh kritik dan mengikuti Carlisle menuju ke rumah.

Kami berlari sekarang, tapi tidak panik seperti sebelumnya. Saat kami mendekati

sungai, kepala Esme terangkat. "Ada jejak lain. Masih baru."

Ia mengangguk ke depan, ke tempat yang dikatakannya tadi pada Edward dalam

perjalanan ke sini. Ketika kami berlari untuk menyelamatkan Alice...

471

"Pasti jejak itu baru ditinggalkan dini hari tadi. Hanya Alice, tanpa Jasper," kata

Edward lesu.

Wajah Esme berkerut, dan ia mengangguk.

Aku bergerak ke kanan, agak tertinggal di belakang. Aku yakin Edward benar, tapi

selain itu... Bagaimanapun juga, mana bisa pesan Alice ditulis di halaman yang dirobek

dari bukuku?

"Bella?" tanya Edward dengan suara tanpa emosi ketika melihatku ragu-ragu.

"Aku ingin mengikuti jejaknya," kataku padanya, mencium bau samar Alice yang

melenceng dari jalur awalnya. Aku baru dalam hal ini, tapi baunya sama persis dalam

penciumanku, hanya minus bau Jasper,

Mata keemasan Edward kosong. "Mungkin jejaknya hanya mengarah kembali ke

rumah."

"Kalau begitu aku akan bertemu denganmu di sana,"

Mulanya kusangka ia akan membiarkanku pergi sendirian, tapi kemudian, setelah

aku bergerak beberapa langkah, mata kosong Edward mengerjap, kembali tersadar.

"Aku akan menemanimu" ujar Edward pelan. "Sampai ketemu nanti di rumah,

Carlisle."

Carlisle mengangguk, dan yang lain-lain pergi. Kutunggu sampai mereka lenyap

dari pandangan, kemudian berpaling pada Edward dengan tatapan bertanya.

"Aku tak mungkin membiarkanmu pergi tanpaku," ia menjelaskan dengan suara

pelan. "Membayangkannya saja aku sudah sedih."

Aku mengerti. Aku mencoba membayangkan berpisah dengannya dan menyadari

aku juga akan merasakan kesedihan yang sama, tak peduli betapa pun singkatnya

perpisahan itu.

Sedikit sekali waktu yang tersisa untuk bersama.

Kuulurkan tanganku padanya, dan Edward meraihnya.

"Ayo cepat," katanya. "Sebentar lagi Renesmee bangun,"

Aku mengangguk, dan kami berlari lagi.

Mungkin ini tindakan tolol, membuang-buang waktu jauh dari Renesmee hanya

demi memuaskan rasa ingin tahu. Tapi surat itu mengusikku. Sebenarnya Alice bisa saja

472

mengukir catatan di batu besar atau batang pohon seandainya ia tidak punya peralatan

untuk menulis. Ia bisa saja mencuri kertas itu dari rumah mana pun di sepanjang tepi

jalan raya. Mengapa harus bukuku? Kapan ia mengambilnya?

Benar saja, jejak Alice mengarah kembali ke pondok dengan memutar yang jauh

dari rumah keluarga Cullen dan para serigala di hutan dekat situ. Alis Edward bertaut

bingung ke jejak itu mengarah ke mana,

la berusaha menjelaskan keheranannya. "Alice meninggalkan dan menyuruhnya

menunggu sementara dia kemari?"

Kami sudah hampir sampai di pondok sekarang, dan aku merasa gelisah. Aku

senang bisa menggandeng tangan edward, tapi aku juga merasa seharusnya aku

sendirian di kini. Ganjil rasanya, merobek selembar halaman buku dan membawanya

lagi ke Jasper, Rasanya seperti ada pesan dalam undanganya itu—yang sama sekali tidak

kumengerti. Tapi itu bukuku, jadi pesan itu pasti ditujukan untukku. Kalau itu sesuatu

yang Alice ingin agar diketahui Edward, bukankah ia akan merobek halaman salah satu

buku Edward...?

"Beri aku waktu sebentar," kataku, menarik tanganku dari gandengan Edward

begitu kami sampai di depan pintu.

Kening Edward berkerut. "Bella?"

"Please? tiga puluh detik saja,"

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku langsung melesat masuk, lalu menutup

pintu rapat-rapat. Aku langsung menuju rak buku. Bau Alice masih segar—kurang dari

satu hari. Api yang tidak kunyalakan berkobar di perapian, kecil tapi panas. Kusentakkan

The Merchant of Venice dari rak dan membuka halaman judul.

Di sana, di sebelah bekas-bekas robekan halaman, di bawah kalimat The

Merchant of Venice by William Shakespeare tertulis sebuah pesan.

Hancurkan ini

Di bawahnya tertulis nama dan alamat seseorang di Seattle.

Ketika Edward masuk hanya setelah tiga belas detik berlalu, bukan tiga puluh, aku

sedang memandangi buku itu terbakar. "Ada apa, Bella?"

"Alice tadi datang ke sini. Ia merobek selembar halaman dari bukuku untuk

menuliskan pesan."

"Mengapa?"

473

"Aku tidak tahu."

"Mengapa kau membakarnya?"

"Aku... aku..." Keningku berkerut, membiarkan semua perasaan frustrasi dan

sedih muncul di wajahku. Aku tak mengerti apa yang ingin disampaikan Alice, kecuali

bahwa ia berusaha keras menyembunyikannya dari orang lain selain aku. Satu-satunya

orang yang pikirannya tak bisa dibaca Edward. Jadi ia pasti ingin agar Edward tidak tahu,

dan mungkin ada alasan kuat di baliknya. "Sepertinya itu hal yang tepat untuk

dilakukan."

"Kita tidak tahu apa yang dia lakukan," kata Edward pelan.

Mataku menerawang menatap lidah api. Akulah satu-satunya orang di dunia ini

yang bisa membohongi Edward. Itukah yang Alice inginkan dariku? Permintaan

terakhirnya?

"Sewaktu kami berada di pesawat menuju Italia," aku berbisik—ini bukan dusta,

kecuali mungkin dalam konteksnya— "dalam perjalanan untuk menyelamatkanmu... dia

berbohong kepada Jasper supaya Jasper tidak mengikuti kami. Dia tahu bila Jasper

menghadapi keluarga Volturi, Jasper bakal mati. Alice rela dirinya saja yang mati

daripada membahayakan hidup Jasper. Rela bila aku yang mati juga. Rela bila kau yang

mati."

Edward tidak menyahut.

"Dia punya prioritas sendiri," kataku. Sakit hatiku menyadari penjelasanku tidak

terasa seperti kebohongan.

"Aku tak percaya," sergah Edward. Ia tidak mengatakannya dengan maksud

mendebatku—ia mengatakannya seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

"Mungkin hanya Jasper yang berada dalam bahaya. Rencana Alice pasti bisa

menyelamatkan kita semua, tapi Jasper bakal mati kalau dia tetap di sini. Mungkin..."

"Kalau benar begitu, dia kan bisa mengatakannya pada kita. Menyuruh Jasper

pergi."

"Tapi apakah Jasper mau pergi? Mungkin Alice membohonginya lagi"

"Mungkin," aku pura-pura sependapat. "Sebaiknya kita pulang. Tak ada waktu

lagi."

Edward menggandeng tanganku, dan kami pun lari.

474

Pesan Alice tidak membuatku merasa berharap. Kalau saja ada cara menghindari

pembantaian yang akan datang, Alice pasti akan tetap tinggal. Aku tidak melihat

kemungkinan lain. Jadi ini pasti sesuatu yang punya tujuan lain. Bukan jalan untuk

meloloskan diri. Tapi apa lagi yang menurutnya pasti kuinginkan? Mungkin cara untuk

menyelamatkan sesuatu? Adakah yang masih bisa kuselamatkan?

Carlisle dan yang lain tidak berdiam diri saja selama kepergian kami. Kami hanya

berpisah dengan mereka selama lima menit, tapi mereka sudah siap berangkat. Di sudut

ruangan Jacob sudah kembali menjadi manusia, bersama Renesmee di pangkuan,

keduanya memandangi kami dengan mata membelalak.

Rosalie sudah mengganti gaun lilit sutranya dengan jins yang kelihatannya

tangguh, sepatu olahraga, dan kemeja berbahan tebal yang biasa digunakan backpacker

untuk melakukan perjalanan jauh. Esme juga mengenakan pakaian yang sama. Di meja

terletak bola dunia, tapi mereka sudah selesai mengamatinya, hanya menunggu kami.

Atmosfer terasa lebih positif sekarang daripada sebelumnya; mereka senang bisa

melakukan sesuatu. Mereka menggantungkan harapan pada instruksi Alice.

Kupandangi bola dunia itu dan bertanya-tanya dalam hati, ke mana kami akan

pergi lebih dulu.

"Kami harus tinggal di sini?" tanya Edward, menatap Carlisle. Kedengarannya ia

kesal.

"Kata Alice, kita harus menunjukkan Renesmee pada orang-orang, dan bahwa

kita harus berhati-hati mengenainya," jawab Carlisle. "Kami akan mengirim siapa pun

yang bisa kami temukan ke sini—Edward, kaulah yang paling mampu menjaga

pertahanan 'ladang ranjau' itu,"

Edward mengangguk kaku, tetap saja merasa tidak senang. "'Banyak sekali

wilayah yang harus didatangi,"

"Kami akan berpencar," jawab Emmett, "Rose dan aku akan mencari para vampir

nomaden."

"Kalian akan sibuk sekali di sini," kata Carlisle, "Keluarga Tanya besok pagi akan

datang, dan mereka sama sekali tidak tahu mengapa. Pertama, kau harus membujuk

mereka agar tidak bereaksi seperti Irina. Kedua, kau harus mencari tahu apa yang

dimaksud Alice tentang Eleazar. Kemudian, setelah semua itu, maukah mereka tetap

berada di sini untuk menjadi saksi bagi kita? Hal yang sama akan terulang lagi begitu

yang lain datang—kalau kami bisa membujuk mereka untuk datang ke sini." Carlisle

mendesah. "Tugas kalian mungkin yang paling sulit. Kami akan kembali untuk

membantu sesegera mungkin."

475

Carlisle meletakkan tangannya ke bahu Edward sebentar, kemudian mengecup

keningku. Esme memeluk kami berdua, kemudian Emmett meninju lengan kami. Rosalie

menyunggingkan senyum kaku pada Edward dan aku, memberi ciuman jauh untuk

Renesmee, lalu melontarkan seringaian perpisahan pada Jacob.

"Semoga beruntung," kata Edward pada mereka.

"Kalian juga," sahut Carlisle. "Kita semua membutuhkan keberuntungan."

Kupandangi kepergian mereka, berharap aku bisa merasakan entah harapan apa

yang menyemangati mereka, dan berharap kalau saja aku bisa menggunakan komputer

sendirian. Aku lurus mencari tahu siapa si J. Jenks ini dan mengapa Alice begitu bersusah

payah memberikan namanya hanya padaku.

Renesmee memutar tubuhnya dalam gendongan Jacob untuk menyentuh

pipinya.

"Aku tidak tahu apakah teman-teman Carlisle mau datang. Mudah-mudahan saja.

Kedengarannya kita sedikit kekurangan orang sekarang," bisik Jacob pada Renesmee.

Kalau begitu Renesmee tahu. Ia sudah bisa memahami dengan jelas apa yang

terjadi. Fakta bahwa werewolf yang ter-imprint akan meluluskan apa pun yang diminta

objek imprint-nya lama-lama membuatku kesal juga. Bukankah melindungi Renesmee

jauh lebih penting daripada menjawab pertanyaan-pertanyaannya ?

Kutatap wajahnya dengan hati-hati Renesmee tidak terlihat takut, hanya gelisah

dan sangat serius saat ia berbicara dengan Jacob dengan caranya yang tidak bersuara

itu.

"Tidak, kita tidak bisa membantu; kita harus tinggal di sini," sambung Jacob.

"Orang-orang akan datang untuk melihatmu, bukan melihat pemandangan."

Renesmee mengerutkan kening.

"Tidak, aku tidak perlu pergi ke mana-mana" kata Jacob. Lalu ia berpaling kepada

Edward, wajahnya terperangah oleh kesadaran bahwa bisa jadi ia salah. "Benar, kan?"

Edward ragu-ragu.

"Katakan saja" kata Jacob, suaranya parau karena tegang, la sudah nyaris tak

tahan lagi, sama seperti kami semua.

476

"Para vampir yang datang untuk membantu tidak 'sama dengan kami," Edward

menjelaskan. "Keluarga Tanya adalah satu-satunya selain keluarga kami yang

menghargai nyawa manusia, tapi bahkan mereka tidak begitu peduli pada werewolf.

Kurasa akan lebih aman..."

“Aku bisa menjaga diri," sela Jacob.

"Lebih aman untuk Renesmee," sambung Edward, "kalau pilihan untuk

memercayai cerita kita tentang dia tidak dinodai dengan persahabatan dengan

werewolf"

"Teman macam apa itu. Jadi mereka tega melaporkan kalian hanya karena

dengan siapa kalian bergaul?"

"Kurasa sebagian besar dari mereka bisa bersikap toleran bila situasinya normalnormal

saja. Tapi kau harus mengerti— menerima Nessie mungkin tidak mudah bagi

mereka. Untuk apa membuatnya semakin sulit?"

Carlisle sudah menjelaskan hukum tentang anak-anak imortal kepada Jacob

semalam. "Seburuk itukah anak-anak imortal?" tanyanya.

"Kau tak bisa membayangkan dalamnya luka yang mereka tinggalkan bagi kondisi

kejiwaan para vampir,"

"Edward..." Masih aneh rasanya mendengar Jacob menyebut nama Edward tanpa

kegetiran,

"Aku tahu, Jake. Aku tahu berat sekali berjauhan dengan Renesmee. Kita lihat

saja nanti—bagaimana reaksi mereka terhadapnya. Pokoknya, Nessie harus

menyembunyikan identitasnya dalam beberapa minggu ke depan. Dia harus berada di

pondok sampai tiba saat yang tepat bagi kami untuk memperkenalkannya. Asal kau bisa

menjaga jarak yang aman dengan rumah utama..."

"Baiklah kalau begitu. Besok pagi kalian akan kedatangan tamu ?"

"Ya, Teman-teman terdekat kami. Dalam kasus ini, mungkin lebih baik kami

membeberkan semuanya sesegera mungkin. Kau bisa tetap di sini. Tanya kan kenal

padamu. Dia bahkan sudah pernah bertemu Seth."

"Benar."

"Sebaiknya kauberitahu Sam apa yang terjadi. Akan banyak orang asing

berdatangan di hutan sebentar lagi."

"Pikiran bagus. Walaupun aku berhak merasa kesal padanya gara-gara semalam."

477

"Mendengarkan perkataan Alice biasanya adalah hal yang tepat."

Jacob menggertakkan gigi, dan bisa kulihat ia juga merasakan hal yang sama

seperti yang dirasakan Sam atas apa yang dilakukan Alice dan Jasper.

Sementara mereka berbicara, aku berjalan menuju deretan jendela belakang,

berusaha menunjukkan sikap linglung dan gelisah. Bukan hal yang sulit dilakukan. Aku

menyandarkan kepalaku di dinding yang melengkung dari ruang duduk ke arah ruang

makan, persis di sebelah salah satu meja komputer. Kularikan jari-jariku di atas

keyboard sementara mataku memandang ke arah hutan, berusaha tampak seolah-olah

sedang melamun. Apakah varnpir pernah melamun? Sepertinya tak ada yang

memerhatikanku, tapi aku tidak berbalik untuk memastikan. Monitor menyala.

Kularikan lagi jari-jariku ke atas keyboard. Kemudian aku melarikan jari-jariku pelan di

atas meja kayu, bersikap seolah-olah aku tidak sedang melakukan apa-apa. Beberapa

sentuhan lagi pada tombol-tombol keyboord.

Kuamati layar monitor.

Tidak ada J. Jenks di sana, tapi kalau Jason Jenks ada. Pengacara, Kusapukan

tanganku ke atas keyboard, berusaha membuatnya terdengar berirama, seperti

mengelus-elus kucing yang kau lupa ada di pangkuanmu. Jason Jenks memiliki situs web

yang keren untuk kantor pengacaranya, tapi alamat yang tertera di homepagenya salah.

Memang di Seattle, tapi kode posnya berbeda. Kulihat nomor teleponnya, kemudian

kusapukan lagi tanganku ke atas keyboard. Kali ini aku mencari alamatnya, tapi tak ada

yang muncul, seakan-akan alamat itu tidak ada. Aku ingin melihat peta, tapi kupikir

sudah cukup aku memaksakan keberuntunganku. Satu sentuhan lagi, untuk menghapus

semua history.

Aku terus saja memandang ke luar jendela dan mengetuk-ngetuk meja kayu

beberapa kali. Kudengar langkah-langkah ringan melintasi ruangan menghampiriku, dan

aku berbalik dengan ekspresi yang kuharap akan terlihat sama seperti sebelumnya.

Renesmee mengulurkan tangan padaku, dan kubuka kedua lenganku lebar-lebar.

Ia melompat ke dalam pelukanku, bau werewolf menyeruak tajam dari tubuhnya, dan

kudekap kepalanya di leherku.

Entah apakah aku sanggup menghadapi ini semua. Walaupun aku takut

memikirkan keselamatanku, keselamatan Edward, juga keselamatan seluruh anggota

keluarga yang lain, itu semua tak ada apa-apanya dibandingkan perasaan ngeri

memikirkan keselamatan putriku. Pasti ada cara untuk menyelamatkannya, walaupun

hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan.

478

Tiba-tiba aku tahu inilah yang kuinginkan. Aku masih sanggup menahan segala hal

kalau memang harus, tapi tidak kalau nyawa Renesmee harus dikorbankan. Yang itu

tidak.

Ia satu-satunya yang harus kuselamatkan.

Tahukah Alice bagaimana perasaanku?

Tangan Renesmee menyentuh pipiku lembut.

Ia menunjukkan padaku wajahku, wajah Edward, Jacob, Rosalie, Esme, Carlisle,

Alice, Jasper, menampilkan wajah seluruh anggora keluarga kami, semakin lama

semakin cepat. Seth dan Leah. Charlie, Sue, dan Billy. Berulang kali. Khawatir, seperti

yang dirasakan kami semua. Tapi ia hanya merasa khawatir. Sejauh yang kulihat, Jake

tidak memberitahu bagian yang terburuk padanya. Bagian tentang bagaimana kami

tidak mempunyai harapan, bagaimana kami semua akan mati dalam tempo satu bulan.

Ia menunjukkan wajah Alice, rindu dan bingung. Di mana Alice?

"Aku tidak tahu," bisikku. "Tapi dia Alice. Dia melakukan hal yang tepat, seperti

biasa."

Hal yang tepat untuk Alice, setidaknya. Aku tidak suka berpikir begitu tentang

Alice, tapi bagaimana lagi situasi ini bisa dimengerti?

Renesmee mendesah, dan kerinduan itu semakin menjadi-jadi.

“Aku juga rindu padanya."

Aku merasa wajahku bergerak, berusaha menemukan eskpresi yang sejalan

dengan kesedihan yang kurasakan dalam hatiku. Mataku terasa aneh dan kering;

mengerjap-ngerjap, berusaha menyingkirkan perasaan tak nyaman itu. Aku menggigit

bibir. Waktu menarik napas, kerongkonganku tercekat, seolah-olah aku tercekik udara.

Renesmee mundur sedikit untuk memandangiku, dan aku melihat wajahku

tecermin dalam benak dan matanya. Aku terlihat seperti Esme tadi pagi.

Jadi begini rasanya menangis.

Mata Renesmee berkilau basah ketika ia menyentuh wajahku. Ia membelai-belai

wajahku, tidak menunjukkan apa-apa, hanya mencoba menenangkanku.

Aku tak pernah mengira akan melihat ikatan kasih ibu dan anak di antara kami

akan terbalik posisinya, seperti yang selalu terjadi antara Renée dan aku. Tapi memang

aku tak bisa membayangkan bagaimana masa depan kami nanti.

479

Air mata menggenang di sudut mata Renesmee. Kuhapus dengan ciuman. Ia

menyentuh matanya dengan takjub dan melihat ujung jarinya yang basah.

"Jangan menangis," kataku. "Semua pasti beres. Kau akan baik-baik saja. Aku

akan mencarikan jalan keluar untukmu."

Kalaupun tak ada hal lain yang bisa kulakukan, aku tetap akan bisa

menyelamatkan Renesmee. Aku yakin sekali inilah yang diberikan Alice padaku. Ia pasti

tahu. Alice pasti akan meninggalkan jalan keluar untukku.

480

30. MENGGEMASKAN

Banyak sekali yang harus dipikirkan.

Bagaimana aku bisa mencari waktu sendiri untuk melacak keberadaan J. Jenks

dan mengapa Alice ingin aku tahu mengenai dia?

Kalau petunjuk Alice tak ada hubungannya dengan Renesmee, apa yang bisa

kulakukan untuk menyelamatkan putriku?

Bagaimana Edward dan aku bisa menjelaskan duduk masalahnya pada keluarga

Tanya besok pagi? Bagaimana kalau mereka bereaksi seperti Irina? Bagaimana kalau

pertemuan besok berubah menjadi pertarungan?

Aku tidak tahu bagaimana caranya bertarung. Bagaimana aku bisa

mempelajarinya hanya dalam satu bulan? Apakah ada kesempatan supaya aku bisa

diajari cukup cepat sehingga bisa menjadi ancaman bagi anggota keluarga Volturi? Atau

aku sudah ditakdirkan menjadi sesuatu yang sia-sia? Hanya vampir baru yang bisa

disingkirkan begitu saja?

Begitu banyak jawaban yang kubutuhkan, tapi aku tidak mendapat kesempatan

mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.

Ingin agar situasi tetap normal bagi Renesmee, aku bersikeras mengajaknya

pulang ke pondok kami pada jam tidur. Jacob merasa lebih nyaman dalam wujud

serigalanya saat ini; ia lebih mudah menghadapi tekanan bila merasa siap bertempur.

Kalau saja aku bisa merasakan hal yang sama, bisa merasa siap. Ia berlari di hutan,

berpatroli lagi.

Setelah Renesmee tidur nyenyak, aku membaringkannya di tempat tidur,

kemudian pergi ke ruang depan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaanku pada

Edward. Pertanyaan yang bisa kulontarkan, setidaknya salah satu hal tersulit adalah

menyembunyikan sesuatu dari Edward, walaupun aku beruntung ia tak bisa membaca

pikiranku.

Edward berdiri membelakangiku, memandangi api unggun.

“Edward, aku..."

Ia berbalik dan secepat kilat berjalan melintasi ruangan, tak sampai satu detik.

Aku baru mengenali ekspresi wajahnya yang garang ketika detik berikut bibirnya sudah

melumat bibirku, dan kedua lengannya memelukku erat seperti capitan baja.

481

Aku tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaanku lagi sepanjang sisa malam itu.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami suasana hatinya, bahkan merasakan

hal yang sama persis seperti yang ia rasakan.

Mulanya aku mengira butuh bertahun-tahun untuk menata gairah meluap-luap

yang kurasakan secara fisik terhadapnya. Kemudian berabad-abad untuk menikmatinya.

Kalau kami hanya punya waktu satu bulan untuk bersama... Well, entah bagaimana aku

bisa menerima bahwa ini bakal berakhir. Saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali

bersikap egois. Yang kuinginkan hanya mencintainya sebanyak mungkin selagi masih

punya waktu.

Sulit rasanya melepaskan diri dari pelukannya kerika matahari terbit, tapi ada

tugas yang harus kami lakukan, tugas yang mungkin lebih sulit daripada pencarian yang

dilakukan seluruh anggota keluarga kami yang lain digabung menjadi satu. Begitu

membiarkan diriku memikirkan apa yang bakal terjadi, aku langsung tegang urat-urat

sarafku seperti direntangkan di atas rak, semakin lama semakin tipis.

"Kalau saja ada cara mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari Eleazar

sebelum kita menceritakan kepada mereka tentang Nessie," gumam Edward sementara

kami terburu-buru berpakaian di ruang ganti berukuran besar yang mengingatkanku

pada Alice, sesuatu yang sedang tak ingin kuingat sekarang. "Untuk berjaga-jaga saja."

"Tapi dia tidak akan memahami pertanyaan itu untuk bisa menjawabnya," aku

sependapat. "Menurutmu mereka mau memberi kita kesempatan untuk menjelaskan?"

"Entahlah."

Kuangkat Renesmee yang masih tidur dari ranjangnya dan kudekap erat-erat

hingga rambut ikalnya menempel di wajahku; tubuhnya wangi sekali, begitu dekat,

mengalahkan bau lainnya.

Aku tak bisa membuang-buang waktu sedetik pun. Banyak jawaban yang

kubutuhkan, dan aku tak tahu apakah aku akan punya banyak waktu berduaan saja

dengan Edward hari ini. Kalau semua berjalan baik dengan keluarga Tanya, mudahmudahan

kami akan kedatangan tamu untuk jangka panjang.

"Edward, maukah kau mengajariku bertarung?" tanyaku, tubuhku tegang

menunggu reaksinya, ketika Edward sedang membukakan pintu untukku.

Reaksinya persis seperti yang kuduga. Ia membeku, lalu menyapukan

pandangannya kepadaku, seperti baru melihatku pertama kali. Matanya berhenti pada

putri kami yang tertidur dalam dekapanku.

482

"Kalaupun terjadi pertarungan, tak banyak yang bisa kita lakukan," elak Edward.

Aku menjaga suaraku tetap datar, "Apa kau tega membiarkan aku tidak bisa

membela diri?"

Edward menelan ludah susah payah, lalu pintu itu bergetar, engsel-engselnya

berderit nyaring, sementara tangannya mencengkeram kuat. Lalu ia mengangguk.

"Kalau menurutmu begitu... kurasa kita bisa segera mulai berlatih begitu ada

kesempatan."

Aku mengangguk dan kami berjalan menuju rumah besar. Kami tidak terburuburu.

Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang bisa kulakukan yang kuharap bisa

membuat perbedaan. Aku agak istimewa, dengan caraku sendiri— kalau memiliki

pengendalian diri yang supranatural bisa benar-benar dianggap istimewa. Apakah aku

bisa menggunakan kemampuan itu untuk sesuatu yang berguna?

"Menurutmu, apa keuntungan terbesar mereka? Apakah mereka memiliki

kelemahan?"

Edward tak perlu bertanya untuk tahu bahwa yang kumaksud adalah keluarga

Volturi,

"Alec dan Jane adalah senjata mereka yang paling hebat," jawab Edward tanpa

emosi, seolah-olah kami sedang membicarakan tim basket. "Para pemain belakang

mereka jarang melihat aksi sungguhan yang sebenarnya,"

"Karena Jane bisa membakarmu di tempat—secara mental, paling tidak. Apa

yang dilakukan Alec? Bukankah kau dulu pernah berkata dia bahkan lebih berbahaya

daripada Jane?"

"Ya. Bisa dibilang, dia penangkal Jane. Jane membuatmu merasakan kesakitan

yang tak terbayangkan. Alec, sebaliknya, membuatmu tidak merasakan apa-apa. Sama

sekali tidak merasakan apa-apa. Kadang-kadang, kalau keluarga Volturi sedang merasa

ingin berbuat baik, mereka menyuruh Alec menganestesi seseorang sebelum orang itu

dieksekusi. Kalau orang itu sudah menyerah atau menyenangkan mereka dengan cara

lain."

"Anestesi? Tapi bagaimana bisa itu malah lebih berbahaya daripada Jane?"

"Karena dia mematikan semua pancaindramu. Tidak merasa kesakitan, tapi juga

tidak bisa melihat, mendengar, ataupun mencium apa-apa. Benar-benar kehilangan

483

sensor. Kau hanya sendirian di tengah kegelapan. Kau bahkan takkan merasakannya bila

mereka membakarmu."

Aku bergidik. Inikah hal terbaik yang bisa kami harapkan? Tidak melihat atau

merasakan kematian ketika kematian itu datang?

"Itu membuat Alec sama berbahayanya dengan Jane," sambung Edward, masih

dengan nada datar, "dalam hal mereka berdua bisa melumpuhkanmu, menjadikanmu

target yang tak berdaya. Perbedaan di antara mereka adalah seperti Aro dan aku, Aro

hanya bisa mendengar pikiran satu orang. Jane hanya bisa menyakiti satu objek.

Sementara aku bisa mendengar pikiran semua orang pada saat bersamaan."

Aku merasa tubuhku dingin waktu memahami arah pembicaraan Edward. "Dan

Alec bisa melumpuhkan kita semua sekaligus pada saat bersamaan?" bisikku.

"Benar" jawab Edward, "Kalau dia menggunakan bakatnya untuk melawan kita,

kita semua akan buta dan tuli sampa mereka bisa membunuh kita—mungkin hanya

dengan membakar kita tanpa merasa perlu mencabik-cabik kita dulu Oh, kita bisa

mencoba melawan, tapi kemungkinan besar kita malah akan saling menyakiti dan

bukannya menyakiti salah seorang di antara mereka."

Kami berjalan sambil berdiam diri beberapa saat:

Sebuah ide terbentuk dalam benakku. Tidak terlalu menjanjikan, tapi lebih baik

daripada tidak sama sekali.

"Apakah menurutmu Alec pandai bertarung?" tanyaku. "Selain yang bisa dia

lakukan, maksudku. Kalau dia harus bertarung tanpa bakatnya. Aku ingin tahu apakah

dia pernah mencobanya..."

Edward melirikku tajam. "Apa yang kaupikirkan?"

Aku memandang lurus ke depan. "Well, mungkin dia tidak bisa melakukannya

terhadapku? Kalau yang dia lakukan itu seperti Aro, Jane, dan kau. Mungkin... bila dia

tidak pernah-benar harus membela diri— dan aku mempelajari beberapa trik..."

"Dia sudah berabad-abad bersama keluarga Volturi," Edward memotong katakataku,

suaranya berubah panik. Ia mungkin melihat bayangan yang sama dalam

kepalaku: keluarga Cullen berdiri tak berdaya, bagaikan pilar-pilar tak berpancaindra di

medan pembantaian—semua kecuali aku. Aku akan menjadi satu-satunya yang bisa

bertempur. "Ya, kau jelas imun terhadap kekuatannya, tapi kau tetap masih vampir

baru, Bella. Aku tak bisa membuatmu menjadi prajurit tangguh hanya dalam beberapa

minggu. Aku yakin dia pasti pernah mendapat pelatihan."

484

"Mungkin ya, mungkin tidak. Itu satu-satunya yang bisa ku lakukan, yang tak bisa

dilakukan orang lain. Jika aku bisa mengalihkan perhatiannya sebentar saja..." Bisakah

aku bertahan cukup lama untuk memberi kesempatan pada yang lain?

"Please, Bella," kata Edward dari sela-sela giginya yang terkutip rapat. "Kita tidak

perlu membicarakan hal ini."

"Bersikaplah logis."

"Aku akan berusaha mengajarimu apa yang kubisa, tapi kumohon jangan buat

aku berpikir untuk mengorbankanmu demi mengalihkan perhatian..." Ia tercekat, dan

tidak menyelesaikan kata-katanya.

Aku mengangguk. Aku akan menyimpan rencana ini sendiri kalau begitu. Pertama

Alec dan kemudian, kalau terjadi mukjizat dan aku bisa menang, Jane, Kalau aku bisa

menyeimbangkan keadaan—menyingkirkan kelebihan kekuatan keluarga Volturi yang

luar biasa itu. Mungkin dengan begitu akan ada kesempatan... pikiranku berputar cepat.

Bagaimana aku bisa mengalihkan perhatian atau bahkan mengalahku! mereka? Jujur

saja, buat apa Jane maupun Alec merasa perlu mempelajari teknik-teknik bertarung?

Aku tidak bisa membayangkan si kecil Jane yang pemarah menyimpan kelebihannya,

bahkan untuk belajar.

Kalau aku bisa membunuh mereka, betapa besar perbedaannya nanti.

"Aku harus mempelajari semuanya. Sebanyak yang bisa kau-jejalkan ke kepalaku

dalam satu bulan," bisikku.

Edward bersikap seolah-olah aku tidak bicara sama sekali.

Siapa berikutnya, kalau begitu? Sebaiknya aku merencanakan urutannya

sehingga, kalau aku masih hidup setelah menyerang Alec, aku tak perlu ragu-ragu lagi

untuk menyerang.

Aku berusaha memikirkan situasi lain di mana kelebihanku mengendalikan diri

bisa menjadi keuntungan. Aku tak tahu banyak tentang apa yang dilakukan vampirvampir

lain. Jelas prajurit-prajurit seperti kelix yang berbadan besar tak mungkin bisa

kutaklukkan. Aku hanya bisa berusaha membiarkan Emmett melakukan bagiannya

dalam hal itu. Aku juga tak tahu banyak mengenai para prajurit Volturi lainnya, selain

Demetri

Wajahku datar tanpa ekspresi saat mempertimbangkan Demetri. Tak diragukan

lagi, ia pasti piawai bertarung. Tak mungkin ia bisa bertahan begitu lama, selalu menjadi

ujung tombak setiap pertempuran. Dan ia pasti selalu memimpin, karena ia pelacak

485

mereka—pelacak terbaik di dunia, tak diragukan lagi. Kalau ada yang lebih baik, keluarga

Volturi pasti akan menggantikannya. Aro hanya mau memakai yang terbaik.

Kalau Demetri tidak ada, kami bisa kabur. Siapa pun dari kami yang masih tersisa.

Putriku, hangat dalam pelukanku... Seseorang bisa pergi bersamanya. Jacob atau

Rosalie, siapa pun yang tersisa.

Dan... kalau Demetri tidak ada, maka Alice dan Jasper akan aman selamanya.

Itukah yang dilihat Alice? Bagian di keluarga kami bisa berlanjut? Mereka berdua, paling

tidak.

Haruskah aku marah pada Alice karena itu?

"Demetri...," kataku.

"Demetri bagianku," tukas Edward dengan suara kaku keras. Aku cepat-cepat

menoleh dan kulihat ekspresinya berubah garang.

"Mengapa?" bisikku.

Mula-mula Edward tidak menjawab. Baru setelah kami sampai di sungai, akhirnya

ia berbisik, "Demi Alice. Ini satu-satunya ucapan terima kasih yang bisa kuberikan

padanya untuk lima puluh tahun terakhir."

Kalau begitu pikirannya sama dengan pikiranku.

Aku mendengar langkah-langkah Jacob yang berat menghantam tanah yang

membeku keras. Beberapa detik kemudian ia sudah mondar-mandir di sampingku,

matanya yang gelap terfokus pada Renesmee.

Aku mengangguk padanya, lalu kembali pada pertanyaan-pertanyaanku. Aku tak

punya banyak waktu.

"Edward, mengapa menurutmu Alice menyuruh kita bertanya kepada Eleazar

tentang keluarga Volturi? Apakah belum Lama ini dia pergi ke Italia? Apa yang mungkin

dia ketahui?"

"Eleazar tahu semua yang berkaitan dengan keluarga Volturi, Aku lupa kalau kau

belum tahu. Dia dulu pernah bergabung dengan mereka."

Tanpa sengaja aku mendesis. Jacob menggeram di sampingku.

"Apa?" seruku kaget, benakku membayangkan kembali sosok lelaki rupawan

berambut gelap yang datang ke resepsi pernikahan kami dengan tubuh terbungkus

jubah panjang keabuan.

486

Wajah Edward kini melembut—ia tersenyum kecil. "Eleazar sangat lembut. Dia

tidak begitu menyukai keluarga Volturi, lapi dia menghormati hukum dan tahu bahwa

hukum harus ditegakkan. Dia merasa sedang bekerja untuk hal yang lebih baik. Dia tidak

menyesal pernah bergabung bersama mereka, lapi ketika menemukan Carmen, dia

menemukan tempatnya di dunia ini. Mereka sangat mirip, keduanya penuh belas kasih

untuk ukuran vampir." Lagi-lagi ia tersenyum. "Mereka bertemu Tanya dan saudarisaudarinya,

dan tak pernah menoleh lagi ke belakang. Mereka sangat cocok menjalani

gaya hidup seperti ini. Kalaupun mereka tak pernah bertemu Tanya, menurutku

akhirnya mereka sendiri pasti akan menemukan cara untuk hidup tanpa darah

manusia."

Gambar-gambar dalam benakku menggerombol. Aku tak bisa mencocokkannya.

Prajurit Volturi yang berbelas kasih?

Edward melirik Jacob dan menjawab pertanyaan yang timbul dalam pikirannya.

"Tidak, dia bukan prajurit mereka, bisa dibilang begitu. Dia memiliki bakat yang mereda

anggap sangat berguna."

Jacob pasti menanyakan pertanyaan berikutnya.

"Dia memiliki kemampuan mengetahui bakat secara instingtif—kemampuan

ekstra yang dimiliki vampir-vampir lain "jelas Edward. "Dia bisa memberi gambaran

umum kepada Aro tentang kelebihan apa yang dimiliki vampir tertentu hanya dengan

berada di dekat vampir tersebut. Ini sangat membantu bila keluarga Volturi maju

berperang. Ia bisa memperingatkan mereka bila seseorang di kelompok lawan memiliki

keahlian yang mungkin akan menyusahkan mereka. Itu kemampuan langka, keahlian

yang luar biasa bahkan untuk menyusahkan keluarga Volturi sesaat saja. Lebih sering

lagi, peringatan itu akan memberi Aro kesempatan untuk menyelamatkan seseorang

yang mungkin berguna baginya. Kelebihan Eleazar juga berfungsi pada manusia, hingga

batasan tertentu. Tapi ia benar-benar harus berkonsentrasi, karena kemampuan laten

itu sangat samar, Aro akan memintanya mengetes orang-orang yang ingin bergabung,

untuk melihat apakah mereka memiliki potensi. Aro kecewa dia pergi,"

"Mereka membiarkan Eleazar pergi?" tanyaku. "Begitu saja?"

Senyum Edward lebih gelap sekarang, sedikit terpilin. "Keluarga Volturi bukan

penjahat seperti anggapanmu. Mereka pondasi kedamaian dan peradaban kita. Setiap

prajurit memilih melayani mereka. Itu sangat prestisius; mereka semua bangga berada

di sana, sama sekali tidak dipaksa" Aku menunduk dan memberengut.

"Mereka hanya dianggap bengis dan kejam oleh para kriminal, Bella.”

“Kita bukan kriminal." Jacob mendengus setuju, "Mereka tidak tahu itu,"

487

"Apa kau benar-benar yakin kita bisa membuat mereka berhenti dan

mendengarkan?"

Edward ragu-ragu sejenak, kemudian mengangkat bahu. "Kalau kita bisa

mendapatkan cukup banyak teman yang mau bersaksi untuk kita. Mungkin."

Kalau mendadak aku merasakan betapa mendesaknya apa yang harus kami

lakukan hari ini. Edward dan aku mulai bergerak lebih cepat, berlari. Jacob menyusul

dengan cepat,

"Sebentar lagi Tanya pasti datang," kata Edward. "Kita harus bersiap-siap."

Tapi bersiap-siap bagaimana, Kami mengatur dan mengatur ulang, berpikir dan

berpikir ulang. Renesmee dilihat secara utuh? Atau disembunyikan lebih dulu? Jacob di

dalam ruangan? Atau di luar? Ia sudah meminta para anggota kawanannya untuk

berjaga-jaga di dekat situ, tapi tidak kelihatan. Apakah sebaiknya ia juga melakukan hal

yang sama?

Akhirnya, Renesmee, Jacob—dalam wujud manusianya lagi—dan aku menunggu

di sudut yang berseberangan dengan pintu depan di ruang makan, duduk di depan meja

besar yang berpelitur mengilat. Jacob membiarkanku memangku Renesmee; ia ingin

menjaga jarak kalau-kalau harus berubah wujud dengan cepat.

Walaupun aku senang bisa mendekap Renesmee dalam pelukanku, itu

membuatku merasa tidak berguna. Mengingatkan aku bahwa dalam pertarungan

dengan vampir dewasa, aku tak lebih dari target yang mudah dilumpuhkan; aku tak

perlu membebaskan tanganku dari memegang apa pun.

Aku berusaha mengingat Tanya, Kate, Carmen, dan Eleazar di pernikahanku.

Wajah mereka kabur dalam kenanganku yang buram. Yang kutahu hanyalah bahwa

mereka- rupawan, dua berambut pirang dan dua lagi cokelat. Aku tak ingat apakah ada

sorot kebaikan di mata meteka,

Edward bersandar tak bergerak di dinding jendela belakang, matanya

menerawangi pintu depan. Ia tidak terlihar seperti sedang menatap ruangan di

hadapannya.

Kami mendengarkan mobil-mobil melesat di jalan tol, tak satu pun

memperlambat laju mereka.

Renesmee meringkuk di leherku, tangannya memegangi pipiku tapi tidak ada

gambar apa-apa di kepalaku. Ia tidak memiliki gambaran untuk menjelaskan

perasaannya sekarang.

488

"Bagaimana kalau mereka tidak suka padaku?" bisik Renesmee, dan mata kami tertuju

padanya.

"Tentu saja mereka akan..." Jacob mulai berkata, tapi kubungkam dia dengan

tatapanku.

"Mereka tidak memahamimu, Renesmee, karena mereka belum pernah bertemu

seseorang seperti kau," kataku, tak ingin membohonginya dengan janji-janji yang

mungkin takkan terkabul. "Masalahnya adalah, bagaimana membuat mereka mengerti."

Renesmee mendesah, dalam benaknya berkelebat gambar-gambar kami dalam

satu ledakan besar. Vampir, manusia, werewolf. Ia tidak termasuk di mana pun.

"Kau istimewa, itu bukan hal buruk."

Renesmee menggeleng tidak setuju. Ia memikirkan wajah-wajah kami yang

muram dan berkata, "Ini salahku."

"Bukan," Jacob, Edward, dan aku menyanggah berbarengan, tapi sebelum bisa

berdebat lebih jauh, kami mendengar suara yang kami tunggu-tunggu: suara mesin

mobil melambat di jalan tol, roda-roda berpindah dari aspal ke tanah gembur.

Edward melesat ke sudut untuk berdiri menunggu di dekat pintu, Renesmee

bersembunyi di rambutku. Jacob dan aku berpandang-pandangan dari seberang meja,

wajah kami tampak putus asa.

Mobil itu melaju cepat menembus hutan, lebih cepat daripada kalau Charlie atau

Sue yang mengemudi. Kami mendengar mobil itu memasuki padang rumput dan

berhenti di teras depan. Empat pintu terbuka dan menutup. Mereka tidak berbicara saat

melangkah mendekati pintu. Edward sudah membukanya sebelum mereka sempat

mengetuk.

"Edward!" seru suara wanita penuh semangat.

"Halo, Tanya. Kate, Eleazar, Carmen."

Ketiganya menggumamkan sapaan.

"Kata Carlisle dia perlu bicara dengan kami secepatnya," suara pertama berkata;

Tanya. Aku bisa mendengar mereka masih di luar. Aku membayangkan Edward berdiri di

pintu, menghalangi jalan masuk. “Ada apa? Persoalan dengan werewolf?”

Jacob memutar bola matanya.

"Tidak," jawab Edward. "Gencatan senjata kami dengan para werewolf justru

lebih kuat daripada yang sudah-sudah." Seorang wanita terkekeh,

489

"Kau tidak mau mempersilakan kami masuk, ya?" tanya Tanya. Lalu ia

melanjutkan tanpa menunggu jawaban. "Mana Carlisle?"

"Carlisle harus pergi."

Sejenak tidak terdengar apa-apa.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Edward?" tuntut Tanya.

"Kuharap kalian mau mendengarkan dulu" Edward menjawab. “Ada sesuatu yang

sulit dijelaskan, dan aku ingin kalian membuka pikiran sampai kalian mengerti."

"Carlisle baik-baik saja, kan?" suara lelaki bertanya cemas. Eleazar,

"Tak seorang pun di antara kami baik-baik saja, Eleazar" jawab Edward, lalu ia

menepuk-nepuk sesuatu, mungkin bahu Eleazar. "Tapi secara fisik Carlisle baik-baik

saja,"

"Secara fisik?" tanya Tanya tajam, "Apa maksudmu?"

"Maksudku seluruh keluargaku berada dalam bahaya besar. Tapi sebelum

menjelaskan, kuminta kalian berjanji. Dengarkan semua yang kukatakan sebelum kalian

bereaksi. Kumohon kalian mendengarkan penjelasanku."

Kesunyian yang lebih lama menyambut petmintaannya. Di tengah kesunyian yang

menyesakkan itu, Jacob dan aku saling memandang tanpa kata. Bibir Jacob yang merah

memucat.

"Kami akan mendengarkan," kata Tanya akhirnya. "Kami akan mendengar semua

penjelasanmu sebelum menghakimi."

"Terima kasih. Tanya," seru Edward sungguh-sungguh. "Kami takkan

melibatkanmu dalam masalah ini seandainya kami punya pilihan."

Edward menepi. Kami mendengar empat pasang kaki berjalan melewati ambang

pintu.

Seseorang mengendus. "Aku tahu para werewolj itu terlibat," gerutu Tanya.

"Benar, dan mereka ada di pihak kami. lagi."

Peringatan itu membungkam Tanya.

"Mana Bella-mu?" tanya salah seorang wanita. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia akan bergabung dengan kita sebentar lagi. Dia baik-baik saja, terima kasih.

Dia menjalani kehidupan barunya sebagai makhluk imortal dengan sangat baik"

490

"Ceritakan pada kami tentang bahaya itu, Edward," pinta Tanya pelan. "Kami

akan mendengarkan, dan kami akan ada di pihakmu, karena memang di sanalah tempat

kami."

Edward menghela napas dalam-dalam. "Aku ingin kalian bersaksi untuk diri kalian

dulu. Dengar—di ruangan lain. Apa yang kalian dengar?"

Suasana senyap, kemudian terdengar gerakan.

"Dengarkan dulu, please" pinta Edward.

"Werewolf, dugaanku. Aku bisa mendengar detak jantungnya," kata Tanya.

"Apa lagi?" tanya Edward,

Sejenak tak terdengar apa-apa.

"Suara apa itu yang menggelepar-gelepar?" Kate atau Carmen bertanya. "Apakah

itu... semacam burung?"

"Bukan, tapi ingatlah apa yang kalian dengar. Sekarang, kalian mencium bau apa?

Selain bau werewolf?"

"Apakah ada manusia di sana?" bisik Eleazar.

"Bukan," sergah Tanya. "Itu bukan manusia... tapi lebih dekat ke manusia

daripada bau-bau lain yang ada di sini. Apa itu, Edward? Rasanya aku tak pernah

mencium bau itu sebelumnya"

"Memang belum pernah, Tanya. Please, please ingat bahwa ini sesuatu yang

sepenuhnya baru bagi kalian. Buang jauh-jauh segala prasangka kalian."

"Aku sudah berjanji akan mendengarkan, Edward,"

"Baiklah, kalau begitu. Bella? Bawa Renesmee, please"

Kakiku kebas, tapi aku tahu itu hanya perasaanku. Kupaksa diriku untuk tidak

menahan langkah, tidak berjalan tersaruk-saruk, ketika aku berdiri dan berjalan

beberapa meter mengitari sudut ruangan. Panas yang terpancar dari tubuh Jacob

membara dekat di belakangku saat ia membayangi Langkah-langkahku.

Aku memasuki ruangan yang lebih besar kemudian membeku, tak mampu

memaksa diriku maju lebih jauh lagi. Renesmee menghela napas dalam-dalam dan

mengintip dari balik rambutku, bahunya yang kecil mengejang kaku, bersiap

menghadapi penolakan.

491

Kusangka aku sudah siap menghadapi reaksi mereka. Siap menerima tuduhan,

teriakan, atau perasaan tertekan yang membuat seseorang terpaku tak bisa bergerak.

Tanya bergerak mundur, cepat sekali, empat langkah, rambut stroberinya yang

ikal bergetar, seperti manusia yang bertemu ular berbisa. Kate melompat jauh ke

belakang, sampai ke pintu depan, dan berpegangan pada dinding di sana. Desisan shock

terlontar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Eleazar melontarkan dirinya di

depan Carmen dengan posisi membungkuk yang protektif.

"Oh please" kudengar Jacob protes dengan suara pelan.

Edward merangkulku dan Renesmee, "Kalian sudah berjanji akan

mendengarkan," ia mengingatkan mereka.

"Ada hal-hal yang tidak bisa didengar!" seru Tanya. "Bisa-bisanya kau berbuat

begitu, Edward? Apa kau tidak rahu apa artinya ini?"

"Kita harus pergi dari sini," seru Kate cemas, tangannya memegang gagang pintu.

"Edward..." Eleazar sepertinya tak tahu harus mengatakan apa.

"Tunggu," pinta Edward, suaranya lebih keras sekarang. Ingat apa yang kalian

dengar, apa yang kalian cium, Renesmee tidak seperti yang kalian kira."

"Tidak ada pengecualian dalam aturan ini, Edward," Tanya balas membentak.

"Tanya," sergah Edward tajam, "kau bisa mendengar detak jantungnya! Berhenti

dan pikirkan apa artinya itu."

"Detak jantungnya?'' bisik Carmen, mengintip dari balik bahu Eleazar,

"Dia. bukan anak vampir murni," jawab Edward, mengarahkan perhatiannya pada

ekspresi Carmen yang tidak terlalu garang. "Dia setengah manusia"

Keempat vampir itu menatap Edward seolah-olah ia berbicara dalam bahasa yang

tidak mereka pahami.

"Dengarkan aku." Suara Edward berubah sehalus beledu, bernada membujuk,

"Renesmee tak ada duanya. Aku ayahnya, bukan penciptanya—tapi ayah biologisnya,"

Tanya menggeleng-gelengkan kepala pelan. Sepertinya ia tidak menyadarinya.

"Edward, kau tak bisa mengharapkan kami untuk.,,," Eleazar hendak berkata.

492

"Katakan padaku penjelasan lain yang lebih pas, Eleazar, Kau bisa merasakan

panas tubuhnya di udara. Darah mengalir dalam pembuluh darahnya, Eleazar, Kau bisa

menciumnya."

"Bagaimana?" desah Kate,

"Bella adalah ibu biologisnya," Edward menjelaskan, "Dia mengandung dan

melahirkan Renesmee saat masih menjadi manusia. Pengalaman itu nyaris membuatnya

terbunuh. Aku berjuang sekuat tenaga memasukkan racun ke jantung Bella untuk

menyelamatkannya."

"Aku belum pernah mendengar tentang hal semacam ini," tukas Eleazar. Bahunya

masih tegak, ekspresinya dingin.

"Hubungan fisik antara vampir dan manusia bukan hal lazim" jawab Edward,

terdengar secercah nada humor dalam suaranya. "Manusia yang selamat dari hubungan

semacam itu bahkan lebih jarang lagi. Kalian sependapat bukan, sepupu-sepupu?"

Baik Kate maupun Tanya memberengut padanya;

"Lihatlah, Eleazar. Kau tentu bisa melihat kemiripannya."

Carmen-lah yang merespons perkataan Edward. Ia maju mengitari Eleazar,

mengabaikan peringatannya yang tidak begitu jelas artikulasinya, dan berjalan hati-hati

untuk berdiri tepat di depanku. Ia membungkuk sedikit, memandangi wajah Renesmee

dengan saksama,

"Sepertinya matamu mirip MATA ibumu," kata Carmen dengan suara pelan dan

tenang, "tapi wajahmu mirip ayahmu." Kemudian, seolah, tak kuasa menahan diri, ia

tersenyum pada Renesmee,

Renesmee menjawabnya dengan senyum cemerlang. Ia menyentuh wajahku

tanpa memalingkan wajah dari Carmen. Ia membayangkan menyentuh wajah Carmen,

bertanya apakah itu boleh.

"Apakah kau keberatan kalau Renesmee menceritakan padamu tentang dirinya?"

tanyaku pada Carmen. Aku masih terlalu tertekan untuk berbicara lebih dari sekadar

berbisik. "Dia punya kemampuan menjelaskan berbagai hal"

Carmen masih tersenyum pada Renesmee. "Kau bisa bicara, mungil?"

"Ya," jawab Remesmee, suaranya melengking tinggi. Seluruh keluarga Tanya

tersentak mendengar suaranya, kecuali Carmen, " Tapi aku bisa menunjukkan padamu

lebih daripada yang bisa kukatakan."

493

Ia meletakkan tangan mungilnya yang montok ke pipi Carmen,

Carmen mengejang seperti kesetrum. Secepat kilat Eleazar langsung berdiri di

sampingnya, kedua tangan memegang bahu Carmen seolah ingin menyentakkannya

jauh-jauh.

"Tunggu," pinta Carmen terengah, matanya yang tidak berkedip terkunci pada

mata Renesmee.

Beberapa saat Renesmee "menunjukkan” penjelasannya kepada Carmen. Wajah

Edward tekun menyimak saat ia menonton bersama Carmen, dan aku sangat berharap

bisa mendengar apa yang didengarnya. Jacob bergerak-gerak tak sabar di belakangku,

dan aku tahu ia juga mengharapkan yang sama.

"Apa yang ditunjukkan Nessie padanya?" gerutu Jacob pelan.

"Semuanya," gumam Edward.

Satu menit lagi berlalu, kemudian Renesmee menurunkan tangannya. Ia

tersenyum penuh kemenangan pada vampir yang terperangah itu.

"Dia benar-benar putrimu, ya?" desah Carmen, mengarahkan mata hijaunya yang

lebar ke wajah Edward. "Sungguh bakat yang luar biasa! Itu hanya bisa diturunkan dari

ayah yang sangat berbakat."

"Percayakah kau pada apa yang dia tunjukkan?" tanya Edward, ekspresinya

serius.

"Tanpa ragu," jawab Carmen sederhana.

Wajah Eleazar kaku karena kalut, "Carmen!"

Carmen meraih kedua tangan Eleazar dan meremasnya, "Walaupun sepertinya

mustahil, Edward mengatakan yang sebenarnya. Biarkan anak itu menunjukkannya

sendiri padamu."

Carmen menyenggol Eleazar agar lebih mendekat kepadaku, kemudian

menganggukkan kepala pada Renesmee. "Tunjukkan padanya, mi querida"

Renesmee nyengir, jelas-jelas gembira melihat penerimaan Carmen, dan

menyentuh dahi Eleazar dengan sentuhan ringan,

"Ay caray!" sembur Eleazar, melompat menjauhinya. "Apa yang dia katakan

padamu?" tuntut Tanya, beringsut mendekat dengan sikap waswas. Kate juga ikut

beringsut maju,

494

"Dia hanya ingin menunjukkan cerita tentang dirinya" Carmen memberitahu

Eleazar dengan nada menenangkan.

Renesmee mengerutkan kening dengan sikap tak sabar, "lihat, please"

perintahnya pada Eleazar. Ia mengulurkan tangan, menyisakan sedikit jarak antara jarijarinya

dengan wajah Eleazar, menunggu.

Eleazar menatap Renesmee dengan pandangan curiga, kemudian melirik Carmen,

minta pertolongan. Carmen mengangguk dengan sikap menyemangati. Eleazar

menghela napas dalam-dalam lalu mencondongkan badan lebih dekat sampai keningnya

menyentuh tangan Renesmee lagi.

Ia bergidik ketika itu dimulai, tapi kali ini ia tetap diam, memejamkan mata,

berkonsentrasi.

"Ahhh," desah Eleazar ketika matanya terbuka kembali beberapa menit

kemudian. "Aku mengerti."

Renesmee tersenyum padanya. Eleazar ragu-ragu, kemudian menyunggingkan

senyum sedikit ragu sebagai balasan.

"Eleazar?" tanya Tanya.

"Itu semua benar, Tanya. Ini memang bukan anak imortal, dia setengah manusia.

Mari. Lihat saja sendiri."

Tanpa bersuara Tanya berdiri waswas di depanku, kemudian kate, keduanya

tampak shock ketika gambar pertama menghantam mereka lewat sentuhan Renesmee.

Namun, sama seperti Carrnen dan Eleazar, tampaknya mereka langsung jatuh hati

begitu Renesmee selesai menunjukkan semuanya.

Aku melayangkan pandangan ke wajah Edward yang datar, bertanya-tanya

mungkinkah memang semudah ini. Mata emasnya tampak jernih, tidak berbayang. Tak

ada tipuan dalam hal ini kalau begitu.

"Terima kasih sudah mendengarkan" ujar Edward pelan,

"Tapi kau tadi mengingatkan kami akan adanya bahaya besar," Tanya berkata.

"Tidak langsung dari anak ini, kalau begitu, tapi tentu dari keluarga Volturi. Bagaimana

mereka bisa tahu mengenai dia? Kapan mereka datang?"

Aku tidak terkejut melihatnya begitu cepat mengerti. Soalnya, siapa lagi yang bisa

mengancam keluarga sekuat keluargaku? Hanya keluarga. Volturi,

495

"Ketika Bella melihat Irina di pegunungan hari itu," Edward menjelaskan, "dia

sedang bersama Renesmee,"

Kate mendesis, matanya menyipit, "Jadi Irina yang melakukannya? Kepada

kalian? Kepada Carlisle? Irina?"

"Tidak," bisik Tanya. "Orang lain..."

"Alice melihatnya pergi menemui mereka," kata Edward. Aku penasaran apakah

yang lain-lain menyadari sikap Edward yang meringis sedikit saat menyebut nama Alice.

"Tega-teganya dia berbuat begitu?" tanya Eleazar, tidak kepada siapa-siapa.

"Bayangkan bila kau melihat Renesmee dari jauh. Bila kau tidak menunggu

penjelasan kami"

Mata Tanya mengeras. "Tak peduli apa pun yang dia pikirkan... kalian tetap

keluarga kami."

"Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi berkaitan dengan pilihan Irina sekarang.

Sudah terlambat, Alice memberi kami waktu satu bulan,"

Baik Tanya maupun Eleazar sama-sama menelengkan kepala. Alis Kate bertaut.

"Sebegitu lama?" tanya Eleazar,

"Mereka semua akan datang. Itu pasti butuh persiapan." Eleazar terkesiap.

"Seluruh pengawal?”

“Bukan hanya pengawal," jawab Edward, dagunya mengeras. "Aro, Caius,

Marcus. Bahkan istri mereka juga."

Shock menyaput wajah mereka semua,

"Mustahil" sergah Eleazar bingung,

"Dua hari lalu aku pun akan mengatakan hal yang sama," kata Edward.

Eleazar merengut, dan saat bicara suaranya nyaris terdengar seperti geraman.

"Tapi itu tak masuk akal. Mengapa mereka sampai membahayakan diri sendiri dan para

istri mereka?"

"Memang tidak masuk akal kalau dilihat dari sisi itu. Menurut Alice ini lebih dari

sekadar penghukuman atas apa yang mereka kira telah kami lakukan. Menurut Alice,

kalian pasti bisa membantu kami."

496

"Lebih dari sekadar penghukuman? Apa lagi kalau begitu?" Eleazar mulai

mondar-mandir, merangsek menuju pintu belakang dan kembali lagi, seolah-olah ia

sendirian di sini, alisnya berkerut sementara ia menunduk memandangi lantai.

"Di mana yang lain-lain, Edward? Carlisle dan Alice dan yang lainnya?" tanya

Tanya.

Keraguan Edward nyaris tak kentara. Ia hanya menjawab sebagian pertanyaan

itu. "Mencari teman-teman yang mungkin bisa membantu kami”

Tanya mencondongkan badan ke arahnya, mengulurkan kedua tangannya ke

depan. "Edward, tak peduli berapa pun banyaknya teman yang berhasil kalian

kumpulkan, kami tidak bisa membantumu menang. Kami hanya bisa mati bersamamu,

kau pasti tahu itu. Tentu saja, mungkin kami berempat pantas mendapatkan itu setelah

apa yang dilakukan Irina sekarang, setelah bagaimana kami gagal membantu kalian di

masa lalu—waktu itu juga demi dia."

Edward cepat-cepat menggeleng. "Kami tidak memintamu bertempur dan mati

bersama kami, Tanya. Kau tahu Carlisle takkan pernah meminta itu."

"Kalau begitu apa, Edward?"

"Kami hanya mencari saksi-saksi. Kalau kami bisa membuat mereka berhenti,

sebentar saja. Kalau mereka mau memberi kami kesempatan menjelaskan..,"

Disentuhnya pipi Renesmee; bocah itu menyambar tangan Edward dan

menempelkannya ke kulitnya. "Sulit meragukan cerita kami kalau kau sudah melihatnya

sendiri."

Tanya mengangguk lambat-lambat. "Kaupikir masa lalu Renesmee akan sangat

berarti bagi mereka?"

"Hanya sebagai petunjuk akan masa depannya. Tujuan pokok pembatasan adalah

agar keberadaan kita tidak diketahui manusia, dari terlalu berlebihnya anak-anak yang

tak bisa dijinakkan."

"Aku tidak berbahaya sama sekali," sela Renesmee. Aku mendengarkan suaranya

yang tinggi dan jernih dengan telinga baru, membayangkan bagaimana kedengarannya

di telinga pihak lain. "Aku tidak pernah menyakiti Grandpa atau Sue atau Billy. Aku cinta

manusia. Dan werewolf-werewolf seperti Jacobku," Ia melepaskan tangan Edwarcl

untuk mengulurkan tangan ke belakang dan menepuk-nepuk lengan Jacob,

Tanya dan Kate saling melirik cepat.

497

"Seandainya Irina tidak keburu datang," renung Edward, "kami pasti bisa

menghindari semua ini. Renesmee tumbuh sangat cepat. Lewat bulan ini, pertumbuhan

yang akan dia capai setara dengan perkembangan selama enam bulan."

"Well, kami bisa bersaksi tentang itu," kata Carmen dengan nada tegas, "Kami

bisa bersumpah melihatnya bertumbuh dengan mata kepala kami sendiri. Bagaimana

mungkin keluarga Volturi mengabaikan bukti semacam itu?"

Eleazar bergumam, "Benar, bagaimana?" tapi ia tidak mendongak, dan terus saja

mondar-mandir seolah tidak memerhatikan sama sekali.

"Ya, kami bisa bersaksi untukmu," kata Tanya, "Kalau hanya itu, tentu bisa. Kami

akan mempertimbangkan apa lagi yang bisa kami lakukan,"

"Tanya," protes Edward, mendengar lebih dalam pikirannya daripada yang

terucap, "Kami tidak mengharapkan kau ikut bertempur bersama kami,"

"Seandainya keluarga Volturi tak mau berhenti sebentar untuk mendengarkan

kesaksian kami, kami tak mungkin hanya berpangku tangan" sergah Tanya. "Tentu saja,

seharusnya aku hanya bicara atas nama pribadi,"

Kate mendengus, "Kau benar-benar meragukanku, ya?"

Tanya tersenyum lebar. "Ini memang misi bunuh diri, bagaimanapun juga,"

Kate balas nyengir dan mengangkat bahu dengan sikap cuek, “Aku ikut."

“Aku juga akan melakukan sebisaku untuk melindungi anak ini," Carmen

sependapat. Kemudian, seolah tak kuasa menahan diri, ia mengulurkan kedua

lengannya kepada Renesmee. "Boleh aku menggendongmu, bebé linda?"

Renesmee menggapai dengan penuh semangat, senang dengan teman barunya.

Carmen mendekapnya erat-erat, berbisik padanya dalam bahasa Spanyol.

Persis seperti waktu bertemu Charlie, dan sebelumnya, dengan seluruh anggota

keluarga Cullen. Renesmee memang menggemaskan. Apakah yang ada dalam diri

Renesmee yang mampu menarik semua orang kepadanya, membuat semua orang

bahkan tela mempertaruhkan nyawa untuk membelanya?

Sesaat aku berpikir mungkin upaya kami ini bisa berhasil. Mungkin Renesmee

mampu melakukan yang mustahil dan merebut hati musuh-musuh kami seperti ia

merebut hati teman-teman kami.

Kemudian aku teringat Alice telah meninggalkan kami, dan harapanku seketika

itu lenyap, secepat kemunculannya.

498

31. BERBAKAT

"apa peran para werewolf dalam hal ini?" tanya Tanya kemudian, mengamati

Jacob.

Jacob sudah berbicara sebelum Edward sempat menjawab. "Kalau keluarga

Volturi tak mau berhenti untuk mendengar tentang Nessie, maksudku Renesmee," ia

mengoreksi ucapannya sendiri, teringat Tanya takkan memahami nama panggilannya

yang tolol itu, "kami yang akan menghentikan mereka."

"Sangat pemberani, Nak, tapi pejuang yang lebih berpengalaman darimu pun

mustahil melakukannya."

"Kau tak tahu apa yang bisa kami lakukan."

Tanya mengangkat bahu. "Itu hidupmu sendiri, jelas, jadi terserah bagaimana kau

mau menggunakannya."

Mata Jacob berkelebat pada Renesmee—masih dalam dekapan Carmen bersama

Kate yang berdiri di dekat mereka— dan tampak jelas sorot rindu di matanya,

"Dia istimewa, bocah mungil itu," renung Tanya. "Menggemaskan."

"Keluarga yang sangat berbakat," gumam Eleazar sambil mondar-mandir.

Temponya semakin cepat; ia berkelebat dari pintu ke Carmen dan kembali lagi dalam

hitungan detik. "Ayah pembaca pikiran, ibu perisai, kemudian entah daya magis apa

yang dikeluarkan bocah luar biasa ini sehingga kita semua terpesona padanya. Heran

juga aku, apakah ada istilah untuk bakat yang dimilikinya, atau ini memang normal

untuk vampir hibrida. Kalau hal semacam itu bisa dianggap normal! Vampir hibrida,

benar!"

"Maafkan aku," sela Edward, suaranya terperangah. Ia mengulurkan tangan dan

menangkap bahu Eleazar saat ia hendak berbalik lagi menuju pintu."Tadi kau menyebut

istriku apa?"

Eleazar menatap Edward dengan sikap ingin tahu, sejenak untuk berhenti

mondar-mandir. "Perisai, kupikir. Dia menghalangiku sekarang, jadi aku tak bisa

memastikannya."

Kutatap Eleazar dengan kening berkerut bingung. Perisai? Apa maksudnya aku

menghalangi dia? Aku hanya berdiri di diam di sebelahnya, sama sekali tak bersikap

defensif.

499

"Perisai?" ulang Edward, tercengang.

"Ayolah, Edward! Kalau aku tidak bisa membaca pikirannya, aku ragu kau juga

bisa. Bisakah kau mendengar pikirannya sekarang ini?" tanya Eleazar.

"Tidak," gumam Edward. "Tapi aku memang tak pernah bisa membaca

pikirannya. Bahkan sewaktu dia masih menjadi manusia.

"Tidak pernah?" Eleazar mengerjapkan mata. "Menarik. Itu mengindikasikan

bakat laten yang sangat kuat, kalau sudah bermanifestasi bahkan sebelum transformasi.

Aku tak bisa menembus perisainya sama sekali. Padahal dia masih hijau— dia kan baru

berumur beberapa bulan." Tatapan yang ditujukannya pada Edward sekarang nyaris

putus asa. "Dan rupanya dia benar-benar tidak menyadari apa yang dia lakukan. Sama

sekali tidak sadar. Ironis. Aro mengirimku ke seluruh penjuru dunia untuk mencari

anomali-anomali semacam ini, tapi kau menemukannya begitu saja dan bahkan tidak

menyadari apa yang kaumiliki," Eleazar menggeleng-geleng tak percaya.

Keningku berkerut, "Maksudmu apa? Bagaimana bisa aku ini perisai? Apa artinya

itu?" Yang ada dalam bayanganku hanya perisai baju zirah para kesatria abad

pertengahan.

Eleazar menelengkan kepala sambil mengamatiku, "Kurasa kami dulu terlalu

formal mengenainya sehubungan dengan pengawal. Sebenarnya, mengategorikan bakat

adalah hal yang subjektif dan sedikit acak; setiap bakat itu unik, tidak pernah ditemukan

dua bakat yang sama persis. Tapi kau, Bella, cukup mudah untuk diklasifikasikan. Bakat

yang murni defensif, yang melindungi sebagian aspek pemiliknya, selalu disebut sebagai

perisai. Pernahkah kau menguji kemampuanmu? Menghalangi orang lain selain aku dan

pasanganmu?"

Butuh beberapa detik, walau bagaimanapun cepatnya otak baruku

bekerja, untuk mengorganisir jawabanku,

"Ini hanya efektif dalam beberapa hal," kataku, "Isi kepalaku bisa dibilang

bersifat,,, pribadi. Tapi itu tidak menghalangi Jasper mempermainkan suasana hatiku

atau Alice melihat masa depanku,"

"Murni pertahanan mental" Eleazar mengangguk-angguk, "Terbatas, tapi kuat,"

"Aro tak bisa mendengar pikirannya," sela Edward, "Walaupun Bella masih

manusia waktu mereka bertemu."

Mata Eleazar membelalak.

500

"Jane mencoba menyakitiku, tapi tidak bisa," aku menambahkan. "Menurut

Edward, Demetri tak bisa menemukanku, dan Alec juga tidak bisa macam-macam

denganku. Itu bagus, tidak?"

Eleazar, masih ternganga, mengangguk. "Sangat."

"Perisai!" seru Edward, suaranya berlumur nada puas. "Tak terpikir olehku. Satusatunya

perisai yang pernah kutemui sebelumnya adalah Renata, tapi yang dia lakukan

sangat berbeda."

Eleazar sedikit pulih dari kekagetan. "Ya, tak ada bakat yang bermanifestasi

secara persis sama, karena tak ada orang yang pernah berpikir secara persis sama."

"Siapa Renata? Apa yang dia lakukan?" tanyaku. Renesmee juga tertarik,

mencondongkan tubuh menjauhi Carmen supaya ia bisa melihat tanpa terhalang Kate.

"Renata adalah pengawal pribadi Aro," Eleazar menjelaskan. "Jenis perisai yang

sangat praktis, dan sangat kuat."

Samar-samar aku ingat sekelompok kecil vampir yang berdiri di dekat Aro di

menara menyeramkan itu, sebagian pria, sebagian wanita. Aku tak ingat wajah para

wanitanya dalam kenangan yang tidak mengenakkan dan menakutkan itu. Salah satu

pasti Renata.

"Aku jadi penasaran,..," renung Eleazar. "Begini, Renata perisai yang sangat kuat

menangkis serangan fisik. Kalau ada yang mendekati dia—atau Aro, karena Renata

selalu berada di samping Aro saat situasi genting—orang itu akan... dialihkan. Ada

kekuatan di sekelilingnya yang bersifat menolak, meski nyaris tak kentara. Tahu-tahu

kau mendapati dirimu melangkah ke arah yang berbeda dari yang kaurencanakan

semula, dengan pikiran bingung mengapa kau ingin pergi ke sana. Ia bisa melontarkan

perisainya beberapa merer darinya. Ia juga melindungi Caius dan Marcus kalau

dibutuhkan, tapi prioritasnya adalah Aro.

"Tapi yang dia lakukan sebenarnya bukan secara fisik. Seperti sebagian besar

bakat yang kita miliki, bakat itu berasal dari pikiran. Kalau dia berusaha menghalangimu

untuk maju, aku penasaran siapa yang akan menang?"

"Momma, kau istimewa" Renesmee mengatakan padaku tanpa nada terkejut,

seperti mengomentari warna bajuku saja.

Aku merasa kehilangan orientasi. Bukankah aku sudah mengetahui bakatku? Aku

memiliki pengendalian diri super sehingga langsung bisa melewati tahun pertama yang

mengerikan sebagai vampir baru. Vampir hanya memiliki paling banyak satu

kemampuan ekstra, bukan?

501

Atau perkiraan Edward memang benar sejak awal? Sebelum Carlisle mengatakan

pengendalian diriku bisa jadi bukan sesuatu yang natural, Edward menganggapnya

hanya hasil persiapan yang baik—fokus dan sikap, begitu katanya waktu itu.

Mana yang benar? Apakah ada lagi yang bisa kulakukan? Nama dan kategori

untuk bakat yang kumiliki?

"Bisakah kau memproyeksikan?" tanya Kate tertarik.

"Memproyeksikan?" aku balas bertanya.

"Mendorongnya keluar dari dalam dirimu," Kate menjelaskan. "Menamengi

orang lain selain dirimu."

"Aku tak tahu. Aku belum pernah mencobanya. Aku tidak tahu kalau seharusnya

aku berbuat begitu."

"Oh, mungkin juga kau tidak bisa," Kate buru-buru berkata. “Asal tahu saja, aku

sudah berlatih berabad-abad, tapi yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan aliran listrik

ke sekujur tubuhku."

Kupandangi dia, bingung.

"Kate memiliki keahlian menyerang" jelas Edward. "Hampir seperti Jane,"

Otomatis aku tersentak menjauhi Kate, dan ia tertawa.

"Aku tidak sadis dalam hal itu" ia meyakinkanku. "Itu hanya sesuatu yang bisa

digunakan saat bertempur."

Kata-kata Kate mulai meresap, mulai membentuk arti. Menamengi orang lain

selain dirimu, begitu katanya tadi. Seolah-olah ada cara lain bagiku untuk memasukkan

orang lain dalam pikiranku yang aneh dan sunyi ini.

Aku ingat bagaimana Edward menggeliat-geliat kesakitan di bebatuan kuno

menara kastil keluarga Volturi. Walaupun itu ingatan manusia, namun gambaran itu

lebih tajam, lebih menyakitkan daripada sebagian besar kenangan lain—seolah-olah

gambaran itu sudah terpatri kuat dalam sel-sel otakku.

Bagaimana kalau aku bisa mencegah hal itu terulang kembali? Bagaimana kalau

aku bisa melindungi Edward? Melindungi Renesmee? Bagaimana kalau ada sedikit saja

kemungkinan aku bisa menamengi mereka juga?

"Kau harus mengajariku bagaimana melakukannya!" desakku, menyambar lengan

Kate tanpa berpikir. "Kau harus menunjukkan padaku bagaimana caranya!"

502

Kate meringis karena cengkeramanku. "Mungkin—asal kau berhenti berusaha

meremukkan tulang lenganku"

"Uuups! Maaf!"

"Kau menamengi, jelas," kata Kate. "Gerakan itu seharusnya menyetrum

lenganmu tadi. Kau tidak merasakan apa-apa barusan?"

"Sebenarnya itu tak perlu, Kate. Dia kan tidak bermaksud mencederaimu," gerutu

Edward pelan. Tak seorang pun dari kami menggubrisnya.

"Tidak, aku tidak merasa apa-apa. Memangnya kau tadi mengalirkan sengatan

listrik?"

"Ya. Hmm. Aku belum pernah bertemu orang yang tidak bisa merasakannya, baik

imortal maupun bukan."

"Katamu tadi kau memproyeksikannya? Dari kulitmu?" Kate mengangguk. "Dulu

hanya bisa dari telapak tangan. Seperti Aro."

"Atau Renesmee," sela Edward,

"Tapi setelah sering berlatih, aku bisa memancarkan listrik dari sekujur tubuhku.

Itu pertahanan diri yang bagus. Siapa pun yang berusaha menyentuhku langsung

terkapar, seperti disengat listrik Hanya melumpuhkan selama satu detik, tapi itu sudah

cukup lama."

Aku hanya separo mendengarkan penjelasan Kate, otakku berputar memikirkan

kemungkinan aku bisa melindungi keluarga kecilku asalkan bisa belajar cukup cepat.

Dengan sepenuh hati aku berharap bisa memproyeksikan dengan baik, seperti

kemampuanku dalam berbagai aspek lain dalam kehidupanku sebagai vampir.

Kehidupan manusiaku tidak mempersiapkanku menerima hal-hal yang datang dengan

sendirinya, dan aku tak mampu meyakinkan diriku bahwa bakat ini akan bertahan.

Rasanya aku tak pernah menginginkan hal lain sebesar aku menginginkan hal ini:

bisa melindungi orang-orang yang kucintai.

Karena begitu sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tidak memerhatikan

percakapan tanpa suara antara Edward dan Eleazar hingga akhirnya mereka sama-sama

bersuara.

"Bisakah kau memikirkan satu pengecualian?" tanya Edward.

Aku menoleh untuk memahami komentarnya, dan menyadari semua orang

memandangi kedua lelaki itu. Mereka saling mencondongkan badan dengan sikap

503

bersungguh-sungguh, ekspresi Edward tegang akibat kecurigaan, sementara Eleazar

tampak tidak senang dan enggan.

“Aku tidak mau memikirkan mereka dengan cara seperti itu" kata Eleazar dengan

gigi terkatup rapat. Aku kaget melihat perubahan suasana yang mendadak.

"Kalau kau benar..." Eleazar mulai bicara lagi.

Edward memotongnya, "Itu pikiranmu, bukan pikiranku."

"Kalau aku benar.., aku bahkan tak bisa memahami apa artinya. Itu akan

mengubah segala sesuatu di dunia yang kita ciptakan ini. Itu akan mengubah arti

hidupku. Dunia di mana aku selama ini menjadi bagiannya."

"Niatmu selalu yang terbaik, Eleazar,"

"Apakah itu penting? Apa yang sudah kulakukan? Berapa banyak nyawa.,,"

Tanya memegang bahu Eleazar dengan sikap menghibur, "Apa yang terlewatkan

oleh kami, Sobat? Aku ingin tahu supaya bisa mendebat pikiran-pikiran ini. Kau tidak

pernah melakukan apa-apa yang membuatmu pantas menghukum dirimu sendiri

dengan cara seperti ini."

"Oh, masa?" gerutu Eleazar. Kemudian ia menepis tangan Tanya dan mulai

mondar-mandir lagi, kali ini lebih cepat.

Tanya menatapnya selama setengah detik kemudian memfokuskannya pada

Edward. "Jelaskan."

Edward mengangguk, matanya yang tegang mengikuti gerakan Eleazar sementara

ia bicara. "Dia berusaha memahami mengapa begitu banyak anggota keluarga Volturi

yang datang untuk menghukum kita. Tidak biasanya mereka berbuat begitu. Jelas, kita

kelompok matang terbesar yang pernah mereka hadapi, tapi di masa lalu kelompokkelompok

lain bergabung untuk melindungi diri sendiri, dan mereka tak pernah

menimbulkan masalah kecuali jumlah mereka yang besar. Kita memang jauh lebih

akrab, dan itu faktor penting, tapi bukan faktor yang besar.

"Eleazar ingat saat-saat lain ketika ada kelompok-kelompok yang dihukum,

karena satu dan lain hal, dan dia melihat pola. Pola yang tidak pernah disadari para

anggota pengawal yang lain, karena Eleazar-lah yang menyampaikan keteranganketerangan

rahasia yang berkaitan dengannya secara pribadi kepada Aro. Pola yang

hanya terulang kurang-lebih satu abad sekali."

504

"Pola apa itu?" tanya Carmen, mengikuti gerak-gerik Eleazar seperti Edward. ,

"Aro sering kali tidak menghadiri sendiri ekspedisi penghukuman," kata Edward.

"Tapi di masa lalu, bila Aro menginginkan sesuatu secara khusus, tak lama kemudian

akan muncul bukti bahwa kelompok ini atau kelompok itu melakukan kejahatan yang

tak termaafkan. Para tetua akan memutuskan untuk ikut dan melihat para pengawal

menegakkan keadilan. Kemudian, setelah seluruh kelompok itu dihancurkan, Aro akan

memberi pengampunan kepada satu orang anggota yang pikiran-pikirannya, dia

mengklaim, paling penuh penyesalan. Selalu, ternyata vampir ini memiliki bakat yang

dikagumi Aro. Selalu, orang ini dijadikan pengawal. Si vampir berbakat tadi dengan

cepat dimenangkan, selalu sangat berterima kasih karenanya. Tak ada pengecualian."

"Pasti sangat membanggakan bisa terpilih," kata Kate.

"Ha!" geram Eleazar, masih terus bergerak,

"Ada seorang pengawal," lanjut Edward, menjelaskan reaksi Eleazar yang marah.

"Namanya Chelsea. Dia bisa memengaruhi ikatan emosional antarorang. Dia bisa

melonggarkan ataupun mengencangkan ikatan ini. Dia bisa membuat seseorang merasa

terikat pada keluarga Volturi, ingin menjadi bagian dari mereka, ingin menyenangkan

mereka..."

Mendadak Eleazar berhenti. "Kami semua mengerti . Dalam pertempuran, bila

kita bisa memisahkan persekutuan di antara para kelompok yang bersekutu, kita bisa

jauh lebih mudah mengalahkan mereka. Kalau kita bisa menjauhkan anggota-anggota

suatu kelompok yang tidak bersalah dari anggota yang bersalah, keadilan bisa

ditegakkan tanpa terjadi kebrutalan yang tidak perlu—mereka yang bersalah bisa

dihukum tanpa gangguan, dan yang tidak bersalah bisa diselamatkan. Jika tidak,

mustahil mencegah satu kelompok untuk maju berperang sebagai satu kesatuan utuh.

Maka tugas Chelsea adalah menghancurkan ikatan yang menyatukan mereka. Bagiku

sepertinya itu kebaikan besar, bukti belas kasihan Aro. Aku memang sempat curiga

Chelsea mengikat kelompok kami menjadi lebih erat lagi, tapi itu juga merupakan hal

baik. Membuat kami lebih efektif. Membantu kami hidup bersama dengan lebih

mudah,"

Penjelasan itu mengklarifikasi kenangan-kenangan lama dalam ingatanku.

Sebelumnya tak masuk akal bagiku bagaimana pengawal itu mematuhi tuan mereka

dengan senang hati, hampir seperti pemujaan terhadap kekasih.

"Seberapa kuat bakatnya?" tanya Tanya dengan secercah nada khawatir dalam

suaranya. Tatapannya dengan cepat menyentuh setiap anggota keluarganya.

505

Eleazar mengangkat bahu. "Aku bisa pergi dengan Carmen." Kemudian ia

menggeleng. "Tapi hal lain yang lebih lemah daripada ikatan antarpasangan bisa

terancam bahaya. Setidaknya dalam kelompok normal. Ikatan yang lebih lemah

daripada yang ada di keluarga kita. Tidak minum darah manusia membuat kita lebih

beradab—membuat kita membentuk ikatan kasih yang sejati. Aku ragu Chelsea bisa

merusak persekutuan kita. Tanya."

Tanya mengangguk, seperti diyakinkan kembali, sementara Eleazar melanjutkan

analisisnya.

"Aku hanya bisa berpikir bahwa alasan Aro memutuskan datang sendiri, dengan

membawa begitu banyak anggota bersamanya, adalah karena tujuannya bukanlah

menghukum melainkan mengakuisisi" kata Eleazar, "Dia merasa perlu berada di sana

untuk mengontrol situasi. Tapi dia membutuhkan perlindungan dari seluruh pengawal

untuk menghadapi kelompok yang sangat besar dan berbakat. Di sisi lain, itu membuat

para tetua lain tidak terlindungi di Volterra. Terlalu berisiko—bisa jadi akan ada yang

berusaha mengambil kesempatan. Jadilah mereka semua datang bersama-sama.

Bagaimana lagi dia bisa memastikan bakat-bakat yang dia inginkan selamat? Dia pasti

sangat menginginkan mereka," jelas Eleazar.

Suara Edward sepelan tarikan napas. "Dari apa yang kulihat dalam pikirannya

musim semi lalu, Aro tak pernah menginginkan hal lain sebesar dia menginginkan Alice."

Aku merasa mulutku ternganga, teringat gambaran mengerikan yang

kubayangkan beberapa waktu lalu: Edward dan Alice berselubung jubah hitam dengan

mata semerah darah, wajah mereka dingin dan tampak jauh sementara mereka berdiri

di dekat bayang-bayang, tangan Aro memegang tangan mereka... Apakah Alice melihat

gambaran itu belum lama ini? Apakah ia melihat Chelsea berusaha merenggut cintanya

bagi kami, mengikatnya pada Aro, Caius, dan Marcus?

"Itukah sebabnya Alice pergi?" tanyaku, suaraku pecah saat menyebut namanya.

Edward menempelkan tangannya di pipiku. "Kurasa pasti begitu. Untuk

mencegah Aro mendapatkan hal-hal yang paling dia inginkan. Untuk mencegah agar

kekuatannya tidak jatuh ke tangan Aro."

Aku mendengar Tanya dan Kate bergumam dengan suara lirih dan ingat mereka

belum tahu tentang Alice.

”Dia juga menginginkanmu," bisikku.

Edward mengangkat bahu, wajahnya tiba-tiba terlalu tenang. "Tidak sebesar dia

menginginkan Alice. Aku tidak bisa.” Diberinya lebih daripada yang sudah dia miliki. Dan

tentu itu tergantung pada apakah dia menemukan cara untuk memaksaku melakukan

506

kemauannya. Dia tahu bagaimana aku, dan tahu betapa kecil kemungkinan itu." Ia

mengangkat sebelah alis dengan sikap sinis.

Eleazar mengerutkan kening melihat sikap Edward yang acuh tak acuh. "Dia juga

tahu kelemahanmu," kata Eleazar, kemudian menatapku.

"Itu tidak perlu kita diskusikan sekarang," Edward buru-buru menyergah.

Eleazar tak menggubris isyarat itu dan melanjutkan. "Aro mungkin menginginkan

pasanganmu juga. Dia pasti tertarik pada bakat yang tak tertembus olehnya, bahkan

saat masih dalam wujud manusia."

Edward tidak suka membicarakan topik ini. Aku juga tidak. Kalau Aro ingin aku

melakukan sesuatu—apa saja—yang perlu ia lakukan hanya mengancam Edward dan

aku akan langsung menurut. Begitu juga sebaliknya.

Apakah kematian konsekuensi yang lebih baik? Benarkah penangkapan yang

seharusnya kami takuti?

Edward mengubah topik. "Kurasa keluarga Volturi menunggu dalih—menunggu

alasan. Mereka tak tahu apa alasannya, tapi rencana itu sudah ditetapkan bila nanti

alasan itu datang. Itulah sebabnya Alice melihat keputusan mereka sebelum Irina

memicunya. Keputusan itu sudah dibuat, hanya menunggu alasan untuk

membenarkannya."

"Kalau benar keluarga Volturi menyalahgunakan kepercayaan yang sudah

diberikan seluruh kaum imortal pada mereka..." Carmen bergumam.

"Apakah itu penting?" tanya Eleazar. "Siapa yang bakal percaya? Dan walaupun

yang lain-lain bisa diyakinkan bahwa keluarga Volturi menyalahgunakan kekuasaan

mereka, apa bedanya? Tak ada yang sanggup melawan mereka."

"Walaupun sebagian kita rupanya cukup sinting untuk mencoba," gerutu Kate.

Edward menggeleng. "Kau di sini hanya untuk bersaksi, Kate. Apa pun tujuan Aro,

aku tidak menganggapnya siap menodai reputasi keluarga Volturi. Kalau kita bisa

menyanggah argumennya terhadap kita, dia terpaksa harus membiarkan kita hidup

damai,"

"Tentu saja," gumam Tanya,

Tak seorang pun terlihat yakin. Selama beberapa menit yang panjang, tak ada

yang mengatakan sesuatu.

507

Kemudian aku mendengar suara roda-roda berbelok keluar dari aspal jalan raya dan

memasuki jalan tanah yang menuju rumah keluarga Cullen.

"Oh sial, Charlie" gerutuku. "Mungkin keluarga Denali bisa menunggu di lantai

atas sampai…"

"Bukan," bantah Edward. Matanya menerawang, memandang kosong ke pintu.

"Itu bukan ayahmu." Tatapannya tertuju padaku, "Ternyata, jadi juga Alice mengirim

Peter dan Charlotte. Saatnya bersiap-siap untuk ronde berikut."

508

32. PARA TAMU

RUMAH besar keluarga Cullen dipenuhi tamu-tamu hingga mustahil rasanya

keadaannya akan nyaman. Itu dimungkinkan hanya karena para tamu tak perlu tidur.

Yang sulit adalah mengatur waktu makan. Para tamu berusaha bekerja sama sebaik

mungkin. Mereka sengaja menghindar dari berburu di Forks dan La Push, hanya berburu

di luar negara bagian; Edward menjadi tuan rumah yang sangat murah hati,

meminjamkan mobilnya bila diperlukan tanpa sedikit pun keberatan. Kompromi itu

membuatku merasa sangat tidak nyaman, walaupun aku berusaha mengatakan pada

diriku sendiri bagaimanapun juga mereka semua toh akan berburu di suatu tempat

entah di mana.

Jacob bahkan lebih kalut lagi. Werewolf ada untuk mencegah hilangnya nyawa

manusia, dan di sini pembunuhan merajalela dan diterima, tak jauh dari perbatasan

para kawanan. Tapi dalam situasi ini, dengan Renesmee terancam bahaya besar, Jacob

menutup mulut rapat-rapat dan memelototi lantai, bukan para vampir.

Takjub juga aku melihat betapa mudahnya Jacob diterima para vampir yang

bertamu itu; masalah yang diantisipasi Edward sebelumnya tak pernah muncul. Jacob

sepertinya kurang-lebih dianggap tak ada oleh mereka, bukan manusia, tapi juga bukan

makanan. Mereka memperlakukan dia seperti orang-orang yang tidak suka binatang

memperlakukan hewan-hewan peliharaan teman mereka.

Leah, Seth, Quil, dan Embry ditugaskan berpatroli bersama Sam sekarang, dan

Jacob sebenarnya mau saja bergabung dengan mereka, hanya saja ia tak tahan

berjauhan dengan Renesmee, dan Renesmee sedang sibuk memikat hati teman-teman

Carlisle yang aneh-aneh.

Kami memutar kembali adegan perkenalan Renesmee kepada para Denali sampai

setengah lusin kali. Pertama untuk Peter dan Charlotte, yang dikirim Alice dan Jasper

tanpa penjelasan sama sekali; seperti sebagian besar orang yang mengenal Alice,

mereka memercayai instruksinya meski tanpa penjelasan. Alice tidak mengatakan apaapa

tentang ke mana ia dan Jasper akan pergi. Ia juga tidak berjanji akan bertemu

dengan mereka lagi di masa yang akan datang.

Baik Peter maupun Charlotte belum pernah melihat anak imortal. Walaupun

mereka tahu aturannya, namun reaksi negatif mereka tidak sekeras para vampir Denali

pada awalnya. Rasa ingin tahu mendorong mereka mengizinkan Renesmee memberi

"penjelasan". Dan begitu saja. Kini mereka juga berkomitmen mau bersaksi, seperti

keluarga Tanya,

509

Carlisle juga mengirim teman-temannya dari Irlandia dan Mesir.

Kelompok Irlandia datang lebih dulu, dan yang mengejutkan, mereka mudah

diyakinkan. Siobhan—wanita yang kehadirannya begitu menakjubkan, tubuh besarnya

cantik sekaligus memesona saat ia berjalan melenggang—adalah pemimpinnya, Tapi ia

dan pasangannya yang berwajah keras, Liam, sudah Lama memercayai penilaian

anggota kelompok mereka yang terbaru. Si kecil Maggie, dengan rambut ikal merahnya,

secara fisik tidak menggetarkan seperti kedua vampir lain, tapi ia memiliki bakat untuk

tahu kapan ia dibohongi, dan vonisnya tak pernah diragukan. Maggie menyatakan

Edward mengatakan hal sebenarnya, maka Siobhan dan Liam langsung memercayai

cerita kami sepenuhnya, bahkan sebelum menyentuh Renesmee.

Lain lagi ceritanya dengan Amun dan para vampir Mesir lain. Bahkan setelah dua

anggota termuda kelompoknya, Benjamin dan Tia, sudah diyakinkan oleh penjelasan

Renesmee, Amun menolak menyentuhnya dan memerintahkan kelompoknya pergi.

Benjamin—vampir periang yang kelihatannya masih sangat muda dan terkesan penuh

percaya diri sekaligus sangat sembrono—membujuk Amun untuk tetap tinggal dengan

beberapa ancaman halus bahwa kelompok mereka bakal bubar. Amun tetap tinggal,

tapi tetap menolak menyentuh Renesmee, dan tidak mengizinkan pasangannya, Kebi,

menyentuh Renesmee juga. Benar-benar kelompok yang tidak kompak—walaupun

vampir-vampir Mesir itu mirip satu sama lain, dengan rambut hitam pekat dan kulit

pucat bernuansa buah zaitun, hingga mereka bisa saja dikira satu keluarga biologis.

Amun anggota senior dan pemimpin yang lugas dalam berbicara. Kebi tak pernah jauhjauh

dari Amun, dan aku tak pernah mendengarnya mengucapkan sepatah kata pun. Tia,

pasangan Benjamin, pendiam walaupun kalau berbicara kata-katanya penuh makna dan

memiliki daya tarik. Meski begitu, sepertinya mereka berputar mengitari Benjamin,

seolah-olah ia memiliki daya tarik magnet yang diperlukan para anggota kelompok lain

untuk keseimbangan- Aku melihat Eleazar memandangi pemuda itu dengan mata

membelalak dan berasumsi Benjamin pasti memiliki bakat yang menarik yang lain-lain

kepadanya.

"Bukan begitu," Edward menjelaskan waktu kami sendirian malam itu. "Bakatnya

tak ada duanya sehingga Amun takut kehilangan dia. Sama seperti kita berencana

menjaga Renesmee agar Aro tidak tahu"—ia mendesah—'Amun juga berniat menjaga

Benjamin agar luput dari perhatian Aro. Amun menciptakan Benjamin, tahu dia bakal

istimewa."

"Apa yang bisa dia lakukan?"

"Sesuatu yang belum pernah dilihat Eleazar sebelumnya. Sesuatu yang belum

pernah kudengar. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dihalangi perisaimu." Ia

menyunggingkan senyum miringnya. "Dia bisa benar-benar memengaruhi unsur-unsur

510

alam—bumi, angin, air, dan api. Manipulasi fisik yang sesungguhnya, bukan ilusi pikiran.

Benjamin masih bereksperimen dengan kelebihannya, dan Amun berusaha

membentuknya menjadi senjata. Tapi kaulihat sendiri betapa mandirinya Benjamin. Dia

tidak mau dimanfaatkan."

"Kau suka padanya," aku menyimpulkan dari nada suara Edward.

"Dia memiliki pandangan sangat jelas tentang mana yang baik dan mana yang

salah. Aku suka sikapnya itu."

Sikap Amun berbeda, ia dan Kebi lebih suka menyendiri berdua, walaupun

Benjamin dan Ha langsung akrab baik dengan kelompok Denali maupun Irlandia. Kami

harap, kembalinya Carlisle akan meredakan ketegangan dengan Amun.

Emmett dan Rose mengirim vampir-vampir individual— teman-teman nomaden

Carlisle yang bisa mereka lacak.

Garrett yang pertama datang—vampir jangkung kerempeng dengan mata merah

penuh semangat dan rambut cokelar pasir panjang yang diikat dengan tali kulit—dan

langsung kentara itu petualang. Dalam bayanganku, kami bisa menantangnya untuk

melakukan apa pun dan ia pasti akan langsung menerima, hanya untuk menguji dirinya

sendiri. Ia langsung tertarik pada Denali bersaudara, bertanya macam-macam tentang

gaya hidup mereka yang tidak biasa. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah

vegetarianisme merupakan tantangan lain yang akan ia coba, hanya sekadar untuk

mengetahui apakah ia bisa melakukannya.

Mary dan Randall juga datang—keduanya sudah berteman, walaupun tidak

bepergian bersama-sama. Mereka mendengarkan cerita Renesmee dan tinggal untuk

menjadi saksi, seperti yang lain. Seperti Denali bersaudara, mereka mempertimbangkan

apa yang akan mereka lakukan seandainya keluarga Volturi tak mau memberi waktu

untuk mendengar penjelasan kami. Ketiga nomaden itu menimbang-nimbang untuk

memihak kami.

Tentu saja Jacob semakin masam saja dengan semakin bertambahnya vampir

yang datang. Sebisa mungkin ia menjaga jarak, dan kalau tak bisa, ia menggerutu kepada

Renesmee dan mengatakan harus ada yang mulai menyediakan indeks kalau ia

diharapkan mengingat nama semua pengisap darah yang ada di sini.

Carlisle dan Esme kembali seminggu setelah mereka pergi, Emmett dan Rosalie

beberapa hari kemudian, dan kami merasa lebih tenang setelah mereka pulang. Carlisle

membawa seorang teman lagi bersamanya, walaupun mungkin istilah teman tidak

begitu tepat. Alistair adalah vampir Inggris yang tidak suka bergaul, yang menganggap

Carlisle kenalan terdekatnya, walaupun ia tidak mau bertamu lebih dari sekali dalam

511

seabad. Alistair lebih suka berkeliaran sendiri, dan Carlisle meminta bantuan banyak

pihak untuk dapat membawanya ke sini. Ia menutup diri dari siapa pun, dan kentara

sekali ia tidak memiliki pengagum di antara kelompok-kelompok yang berkumpul itu.

Vampir pemuram berambut gelap itu memercayai penjelasan Carlisle tentang

asal-usul Renesmee, dan menolak, seperti Amun, untuk menyentuhnya. Edward

memberitahu Carlisle, Esme, dan aku bahwa Alistair takut berada di sini, tapi lebih takut

lagi tidak mengetahui hasil akhirnya. Dia sangat curiga pada semua otoritas, sehingga

dengan demikian wajar bila ia juga curiga pada keluarga Volturi. Apa yang terjadi

sekarang seolah menguatkan semua ketakutannya.

"Tentu saja sekarang mereka akan tahu aku ada di sini," kami mendengarnya

menggerutu sendirian di loteng—tempat favoritnya untuk merajuk. "Tak mungkin

mencegah Aro tahu mengenainya sekarang. Kabur selama berabad-abad, itulah arti

semuanya ini nanti. Semua orang yang diajak bicara oleh Carlisle dalam satu dekade

terakhir akan masuk dalam daftar mereka. Bisa-bisanya aku membiarkan diriku terlibat

masalah ini. Apakah begini caranya memperlakukan teman?"

Tapi kalau ia benar tentang melarikan diri dari keluarga Volturi, setidaknya

peluangnya melakukan itu lebih besar daripada kami semua. Alistair seorang pelacak,

walaupun tidak setepat dan seefisien Demetri. Alistair hanya merasakan tarikan yang

kuat terhadap apa pun yang ia cari. Tapi tarikan itu cukup untuk mengatakan kepadanya

ke arah mana ia harus lari—arah yang sebaliknya dari Demetri,

Kemudian sepasang teman lain yang tidak disangka-sangka datang—tidak

disangka-sangka, karena baik Carlisle maupun Rosalie tak bisa menghubungi kelompok

Amazon.

"Carlisle," seru wanita yang lebih tinggi dari dua wanita bertubuh sangat tinggi,

menyapanya begitu mereka sampai. Mereka terlihat seperti diregangkan—lengan dan

kaki panjang, jari-jari panjang, kepang hitam panjang, dan wajah panjang dengan hidung

panjang. Mereka tidak memakai apa-apa kecuali kulit binatang—rompi kulit dan celana

panjang ketat yang ditalikan dengan tali-tali kulit di sepanjang sisinya. Bukan hanya baju

eksentrik mereka yang membuat mereka terkesan liar, tapi segala sesuatu tentang

mereka, dari mata merah mereka yang tidak berhenti melirik ke sana kemari, serta

gerakan-gerakan mereka yang gesit dan tiba-tiba. Belum pernah aku melihat vampir

yang lebih tidak beradab dibandingkan mereka.

Tapi Alice yang mengirim mereka, dan itu kabar menarik, bisa dibilang begitu.

Mengapa Alice berada di Amerika Selatan? Hanya karena ia melihat tak ada yang

berhasil menghubungi kelompok Amazon?

512

"Zafrina dan Senna! Tapi mana Kachiri?" tanya Carlisle. "Aku belum pernah

melihat kalian bertiga berpisah."

"Alice bilang kami perlu berpencar," Zafrina menjawab dengan suara parau dan

dalam yang sangat pas dengan penampilannya yang liar. "Tidak enak sebenarnya

tetpisah seperti ini, tapi Alice meyakinkan kami bahwa kalian membutuhkan kami di sini,

sedangkan dia sangat membutuhkan Kachiri di tempat lain. Hanya itu yang dia katakan

pada kami, kecuali bahwa dia harus bergegas...?" Pernyataan Zafrina menghilang,

berubah menjadi pertanyaan, dan dengan saraf gemetar yang tak hilang-hilang juga, tak

peduli sudah betapa kali aku melakukannya aku membawa Renesmee keluar menemui

mereka.

Meski penampilan mereka liar, keduanya mendengarkan cerita kami dengan

sangat tenang, kemudian mengizinkan Renesmee membuktikannya. Mereka juga

langsung terpesona pada Renesmee, sama seperti vampir-vampir lain, namun tak urung

aku sempat khawatir melihat gerakan-gerakan mereka yang gesit dan tiba-tiba, begitu

dekat dengan Renesmee. Senna selalu berada di dekat Zafrina, tak pernah bicara, tapi

tidak sama seperti Amun dan Kebi. Tindak-tanduk Kebi terkesan patuh; Senna dan

Zafrina lebih menyerupai dua kaki dari satu organisme yang sama kebetulan saja Zafrina

yang menjadi corongnya.

Kabar tentang Alice, anehnya, terasa menghibur. Jelas, sedang menjalani misi

sendiri yang tidak jelas sambil menghindari apa pun juga yang direncanakan Aro

untuknya.

Edward gembira sekali kelompok Amazon datang menemui kami, karena Zafrina

luar biasa berbakat; bakatnya bisa dijadikan senjata penyerang yang sangat berbahaya.

Bukan berarti Edward meminta Zafrina berpihak pada kami dalam pertempuran, tapi

bila keluarga Volturi tak mau berhenti sejenak waktu melihat saksi-saksi kami, mungkin

mereka akan berhenti bila melihat pemandangan lain.

"Itu ilusi yang sangat apa adanya," Edward menjelaskan setelah diketahui bahwa

ternyata aku tidak bisa melihat apa-apa, seperti biasa. Zafrina tertarik sekaligus takjub

melihat imunitasku sesuatu yang tak pernah ia temui sebelumnya dan ia berdiri gelisah

di dekatku sementara Edward melukiskan apa yang terlewatkan olehku. Mata Edward

sedikit tidak fokus waktu melanjutkan, "Zafrina bisa membuat sebagian besar orang

melihat apa pun yang dia ingin mereka lihat melihat itu, dan bukan hal lain. Sebagai

contoh, sekarang ini aku seperti sedang berdiri sendirian di tengah-tengah hutan hujan.

Gambarannya sangat jelas hingga aku mungkin memercayainya, kecuali fakta bahwa aku

masih bisa merasakanmu dalam pelukanku."

Bibir Zafrina berkedut-kedut dan membentuk senyum Liku. Sedetik kemudian

mata Edward kembali terfokus, dan ia balas menyeringai.

513

"Mengesankan," puji Edward.

Renesmee sangat tertarik mengikuti perbincangan ini, dan ia menggapai-gapai

tanpa takut ke arah Zafrina,

"Bolehkah aku melihat?" tanya Renesmee.

"Kau ingin melihat apa?" tanya Zafrina.

"Apa yang kautunjukkan pada Daddy tadi"

Zafrina mengangguk, dan dengan cemas kulihat mata Renesmee menerawang

kosong. Sedetik kemudian, senyum memesona Renesmee berseri-seri menghiasi

wajahnya.

"Lagi," perintahnya.

Sesudah itu sulit menjauhkan Renesmee dari Zafrina dengan gambar-gambar

indahnya. Aku jadi khawatir, karena aku yakin Zafrina mampu menciptakan gambargambar

yang sama sekali tidak indah, tapi melalui pikiran-pikiran Renesmee aku bisa

melihat visi Zafrina sejelas pikiran Renesmee sendiri, seperti nyata jadi aku bisa menilai

apakah gambar-gambar itu patut dilihat Renesmee atau tidak.

Walaupun aku tak segampang itu menyerahkan Renesmee, harus kuakui aku

senang Zafrina membuat Renesmee terhibur. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.

Banyak sekali yang harus kupelajari, baik secara fisik maupun mental, padahal waktunya

sangat singkat.

Upaya pertamaku belajar bertempur tidak berjalan dengan baik.

Edward berhasil memitingku hanya dalam dua detik. Tapi bukannya membiarkan

aku berjuang membebaskan diri sendiri yang pasti bisa kulakukan Edward malah

melompat berdiri dan melepaskanku. Aku langsung tahu ada yang tidak beres: ia berdiri

diam seperti batu, memandang ke seberang padang rumput tempat kami berlatih,

"Maafkan aku. Bella," ujarnya.

"Tidak, aku tidak apa-apa kok," sergahku. "Ayo kita mulai lagi."

"Tidak bisa,"

"Apa maksudmu, tidak bisa? Kita kan baru saja mulai,"

Edward tidak menjawab.

"Dengar, aku tahu aku kurang bagus dalam hal ini, tapi aku takkan jadi lebih baik

kalau kau tidak membantuku."

514

Edward tidak berkata apa-apa. Dengan sikap bercanda, kuterjang dia. Ia sama

sekali tidak melawan, dan kami berdua terjerembap ke tanah. Ia tidak bergerak waktu

aku menempelkan bibirku ke lehernya.

"Aku menang," seruku.

Matanya menyipit, tapi tidak mengatakan apa-apa. "Edward? Ada apa? Mengapa

kau tidak mau mengajariku?"

Setelah satu menit penuh baru ia berbicara lagi, "Aku hanya tidak... tahan.

Pengetahuan Emmett dan Rosalie juga sama banyaknya denganku. Tanya dan Eleazar

mungkin malah lebih banyak. Minta orang lain saja mengajarimu."

"Itu tidak adil! Kau bagus dalam hal ini. Kau pernah membantu Jasper

sebelumnya kau berkelahi dengannya dan dengan yang lain-lain juga. Mengapa

denganku tidak? Memangnya aku salah apa?"

Edward mendesah, putus asa. Matanya gelap, nyaris tak ada warna emas untuk

menerangi warna hitamnya.

"Memandangimu seperti itu, menganalisismu sebagai target. Melihat berbagai

caraku bisa membunuhmu..." Edward terumuk. "Semuanya jadi terlalu nyata bagiku.

Kita tidak punya banyak waktu, jadi tidak masalah siapa gurumu. Siapa pun bias

mengajarkan dasar-dasarnya padamu." Aku merengut.

Edward menyentuh bibir bawahku yang mencebik dan tersenyum "Lagi pula, itu

tidak penting. Keluarga Volturi akan terhenti. Mereka akan dibuat mengerti."

"Tapi bagaimana kalau mereka tidak mau mengerti! Aku harus belajar bertarung"

"Cari saja guru lain"

Itu bukan pembicaraan terakhir kami berkaitan dengan topik itu, tapi aku tak

pernah berhasil membuat Edward mengubah keputusan.

Emmett sangat bersedia membantuku, walaupun caranya mengajar seperti balas

dendam gara-gara kalah adu panco tempo hari. Seandainya aku masih bisa memar,

mungkin sekujur tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, sudah memarmemar

semua. Rose, Tanya, dan Eleazar—semua sabar dan mendukung. Pelajaranpelajaran

mereka mengingatkanku pada instruksi-instruksi Jasper kepada yang lain

bulan Juni lalu, walaupun kenangan itu kabur dan tidak jelas, beberapa tamu merasa

mendapat hiburan dengan menontonku belajar, dan beberapa bahkan menawarkan

bantuan. Si nomaden Garrett beberapa kali mengambil giliran—yang mengejutkan,

ternyata ia pandai mengajar; secara umum ia berinteraksi dengan sangat mudah dengan

515

yang lain-lain sehingga aku sempat heran mengapa ia tak pernah bergabung dalam

kelompok tertentu. Aku bahkan pernah bertempur sekali dengan Zafrina sementara

Renesmee menonton dari gendongan Jacob, Aku mempelajari beberapa trik, tapi tak

pernah meminta bantuannya lagi. Sejujurnya, walaupun aku sangat menyukai Zafrina

dan tahu ia takkan benar-benar menyakitiku, namun wanita liar itu membuatku sangat

takut.

Aku belajar beberapa hal dari guru-guruku, tapi aku punya firasat pengetahuanku

masih sangat mendasar. Aku tak tahu berapa detik aku sanggup bertahan melawan Alec

dan Jane. Aku hanya bisa berdoa itu cukup lama untuk membantu.

Setiap menit di siang hari yang tidak kulewatkan bersama Renesmee atau belajar

bertempur, aku berada di halaman belakang berusama dengan Kate, berusaha

mendorong perisai internalku keluar dari otakku untuk melindungi orang lain. Edward

mendorongku melatih kemampuanku ini. Aku tahu ia berharap aku akan menemukan

cara lain untuk memberi kontribusi yang memuaskan sekaligus menjauhkanku dari

bahaya.

Tapi itu sulit sekali. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan, tak ada pijakan yang

solid. Aku hanya memiliki keinginan yang kuat untuk berguna, untuk bisa membuat

Edward, Renesmee, dan sebanyak mungkin anggota keluarga yang lain aman

bersamaku. Berulang kali aku berusaha memaksa perisai samarku menamengi hal-hal

lain di luar diriku, namun tak banyak berhasil. Rasanya seperti berusaha menarik gelang

karet yang tidak kasatmata gelang yang sewaktu-waktu akan berubah dari sekeras baja

menjadi tak berwujud seperti asap.

Hanya Edward yang bersedia menjadi kelinci percobaan untuk menerima

sengatan demi sengatan dari Kate sementara aku berjuang keras dengan isi kepalaku.

Kami berlatih selama berjam-jam setiap kali, dan aku merasa seharusnya aku

berkeringat karena kecapekan, tapi tentu saja tubuhku yang sempurna tak bisa

berkeringat lagi. Keletihanku hanya ada dalami pikiran.

Sulit bagiku melihat Edward harus menderita, kedua lenganku memeluknya siasia

sementara ia meringis-ringis kesakitan akibat sengatan listrik "berdaya rendah" yang

dilontarkan Kate. Aku berusaha sekuat tenaga mendorong perisaiku untuk menamengi

kami berdua; sesekali aku berhasil, tapi kemudian lepas lagi.

Aku benci sekali latihan ini, dan berharap kalau saja Zafrina yang membantu,

bukan Kate. Dengan begitu Edward hanya perlu melihat ilusi-ilusi Zafrina sampai aku

bisa membuatnya berhenti melihat ilusi-ilusi itu. Tapi Kate bersikeras aku membutuhkan

motivasi yang lebih kuat dan itu berarti kebencianku melihat Edward kesakitan. Aku

mulai meragukan pernyataannya pada hari pertama kami bertemu bahwa ia tidak sadis

dalam menggunakan bakatnya. Sepertinya ia lebih menikmati ini semua daripada aku.

516

"Hei," seru Edward riang, berusaha menyembunyikan tanda-tanda kesakitan

dalam suaranya. Apa saja rela ia lakukan agar aku tak perlu berlatih bertempur. "Itu tadi

nyaris tidak terasa. Bagus, Bella."

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menangkap apa tepatnya yang

kulakukan dengan benar. Aku menguji gelang karet itu, berusaha keras memaksanya

tetap solid sementara merentangkannya jauh-jauh dariku.

"Lagi, Kate," geramku dari sela-sela gigi yang terkatup rapat.

Kate menekankan telapak tangannya ke bahu Edward. Edward mengembuskan

napas lega. "Kali ini tidak terasa apa-apa."

Kate mengangkat alisnya. "Padahal sengatanku tadi juga tidak pelan."

"Bagus," aku megap-megap.

"Siap-siap," kata Kate padaku, lalu mengulurkan tangan kepada Edward.

Kali ini Edward bergidik, dan desisan pelan terlontar dari sela-sela giginya,

"Maaf! Maaf! Maaf!" seruku, menggigit bibir. Mengapa tidak bisa-bisa juga?

"Kau sudah hebat kok, Bella," kata Edward, mendekapku erat-erat ke dalam

pelukannya. "Kau baru berlatih beberapa hari, tapi kau sudah bisa melontarkannya

secara sporadis. Kate, katakan padanya betapa hebatnya dia."

Kate mengerucutkan bibir. "Entahlah. Jelas dia memiliki kemampuan luar biasa,

tapi kita baru bisa menyentuh permukaannya saja. Dia bisa melakukan yang lebih baik,

aku yakin. Dia hanya kurang motivasi,"

Kutatap Kate tidak percaya, bibirku melengkung, menunjukkan gigi-gigiku. Bisabisanya

ia menganggapku kurang punya motivasi padahal ia menyetrum Edward tepat di

depan mataku?

Aku mendengar gumaman dari para penonton yang semakin banyak menontonku

berlatih awalnya hanya Eleazar, Garmen, dan Tanya, tapi kemudian Garrett bergabung,

disusul Benjamin dan Tia, Siobhan dan Maggie, dan sekarang bahkan Alistair pun

mengintip dari jendela di lanrai tiga. Para penonton itu sepakat dengan Edward mereka

menganggapku cukup baik.

"Kate,..," tegur Edward dengan nada memperingatkan saat ide baru muncul

dalam benak Kate, tapi Kate telanjur bergerak. Ia melesat ke kelokan sungai tempat

Zafrina, Senna, dan Renesmee sedang berjalan-jalan lambat, Renesmee bergandengan

517

dengan Zafrina sementara mereka saling bertukar gambar. Jacob membayangi mereka

beberapa meter di belakang.

"Nessie," seru Kate para tamu dengan cepat memanggilnya dengan nama

panggilan yang menjengkelkan itu "kau mau membantu ibumu, tidak?"

"Jangan," aku separo menggeram.

Edward memelukku dengan sikap menenangkan, Kutepis dia tepat saat

Renesmee berlari melintasi halaman menyambutku, bersama Kate, Zafrina, dan Senna

tepat di belakangnya.

"Benar-benar tidak boleh, Kate," desisku.

Renesmee menggapai padaku, dan aku membentangkan kedua tanganku. Ia

meringkuk dalam pelukanku, menempelkan kepalanya kelekukan di bawah bahuku.

"Tapi Momma, aku ingin membantu," katanya dengan suara penuh tekad.

Tangannya memegang leherku, menegaskan keinginannya dengan gambar-gambar kami

berdua bersama, sebagai satu tim.

"Tidak," tolakku, mundur dengan cepat. Kate sudah maju selangkah ke arahku,

tangannya terulur ke arah kami.

"Jangan dekati kami. Kate," aku mengingatkan dia,

"Tidak." Kate mulai maju. Ia tersenyum seperti pemburu menyudutkan buruan.

Kupindahkan Renesmee sehingga ia sekarang bergelayut di punggungku, terus

berjalan mundur menjauhi Kate. Sekarang kedua tanganku bebas, dan kalau Kate ingin

kedua tangannya tetap tersambung dengan pergelangannya, lebih baik ia menjauh.

Kate mungkin tidak mengerti, karena ia tak pernah merasakan betapa besar

keinginan seorang ibu untuk melindungi anaknya. Ia pasti tidak sadar dirinya sudah

kelewatan. Aku marah sekali sampai-sampai pandanganku tersaput warna merah dan

lidahku seperti logam terbakar. Kekuatan yang biasanya selalu berusaha kuredam

mengalir ke segenap ototku, dan aku tahu aku bisa meremukkannya jadi onggokan

sekeras berlian kalau dia memaksaku terus.

Amarah membuat setiap aspek diriku lebih terfokus. Aku bahkan bisa merasakan

perisaiku semakin elastis sekarang merasakan perisai itu bukan sebagai gelang,

melainkan lapisan, selubung tipis yang membungkusku dari ujung kepala sampai ujung

kaki. Dengan amarah mengguncang tubuh, aku bisa lebih merasakannya, lebih

mengendalikannya. Aku mengulur-kannya ke sekeliling tubuhku, keluar dari tubuhku,

518

membungkus Renesmee rapat-rapat di dalamnya, berjaga-jaga siapa tahu Kate bisa

menembus pertahananku.

Kate maju selangkah lagi dengan penuh perhitungan, dan geraman buas terlontar

dari tenggorokanku, melewati sela-sela gigiku yang terkatup rapat.

"Hati-hati, Kate," Edward mewanti-wanti.

Kate maju selangkah lagi, kemudian melakukan kesalahan yang bahkan bisa

dikenali orang yang tidak berpengalaman seperti aku. Hanya tinggal satu lompatan kecil

dariku, ia berpaling, mengalihkan perhatiannya dariku ke Edward.

Renesmee aman di punggungku; aku melengkungkan tubuh, siap menerjang.

"Bisakah kau mendengar pikiran Nessie?" Kate bertanya kepada Edward,

suaranya kalem dan tenang.

Edward menghambur ke ruang di antara kami, menghalangi jalanku ke Kate.

"Tidak, tidak sama sekali," jawab Edward. "Sekarang, beri kesempatan pada Bella

untuk menenangkan diri. Kate. Seharusnya kau tidak memaksanya seperti itu. Aku tahu

dia memang lebih terkendali daripada vampir baru umumnya, tapi usia Bella baru

beberapa bulan."

"Kita tidak punya waktu melakukannya dengan hati-hati.

“Edward, Kita memang harus memaksa Bella. Kita hanya punya waktu beberapa

minggu, padahal dia punya potensi untuk...”

“Mundur dulu sebentar, Kate,"

Kate mengerutkan kening tapi menanggapi peringatan Edward lebih serius

daripada peringatanku.

Tangan Renesmee menempel di leherku; ia mengingat serangan Kate,

menunjukkan padaku bahwa Kate tidak berniat mencederainya, bahwa Daddy juga ikut

ambil bagian di dalamnya...

Itu tidak membuatku tenang. Spektrum cahaya yang kulihat tampaknya masih

ternoda warna merah. Tapi aku lebih bisa mengendalikan diri, dan bisa memahami

kebijaksanaan yang terkandung dalam kata-kata Kate tadi. Amarah itu membantuku.

Aku bisa lebih cepat belajar bila berada dalam tekanan.

Tapi bukan berarti aku menyukainya.

519

"Kate," geramku. Kuletakkan tanganku di punggung Edward. Aku masih bisa

merasakan perisaiku seperti selubung yang kuat dan elastis, menyelubungi Renesmee

dan aku. Kudorong selubung itu semakin jauh, kupaksa agar melingkupi Edward juga.

Tak ada tanda-tanda kerusakan di selubung yang meregang itu, tak ada ancaman bakal

koyak. Aku terengah-engah sekuat tenaga, dan kata-kata yang keluar dari mulutku

terdengar seperti kehabisan napas, bukan marah. "Lagi," kataku pada Kate, "Edward

saja."

Kate memutar bola mata tapi bergegas maju dan menempelkan telapak

tangannya ke bahu Edward.

"Tidak ada," kata Edward. Aku mendengar senyum dalam suaranya.

"Kalau sekarang?" tanya Kate,

"Masih tidak ada."

"Kalau sekarang?" Kali ini, suara Kate tetdengar seperti mengerahkan segenap

tenaga.

"Tidak ada sama sekali,"

Kate menggeram dan mundur menjauh.

"Kau bisa melihat ini?" tanya Zafrina dengan suara liarnya yang berat, menatap

tajam kami bertiga. Bahasa Inggrisnya beraksen aneh, kata-katanya meninggi di tempattempat

yang tidak lazim.

"Aku tidak melihat apa pun yang seharusnya tidak kulihat," jawab Edward.

"Dan kau, Renesmee?" tanya Zafrina.

Renesmee tersenyum pada Zafrina dan menggeleng.

Amarahku sudah nyaris reda sepenuhnya, dan aku mengatupkan gigi rapat-rapat,

napasku semakin memburu ketika aku mendorong kuat-kuat perisai elastis itu; semakin

lama aku menahannya, semakin berat rasanya. Perisai itu tertarik kembali, menyeret ke

arah dalam.

"Jangan ada yang panik,'" Zafrina mengingatkan kelompok kecil yang sedang

menontonku. "Aku ingin melihat seberapa jauh Bella bisa mengembangkan perisainya."

Terdengar suara-suara terkesiap shock dari semua orang di sana Eleazar, Carmen,

Tanya, Garrett, Benjamin, Tia, Siobhan, Maggie semua kecuali Senna, yang sepertinya

sudah siap menerima apa pun yang akan dilakukan Zafrina. Mata mereka kosong,

ekspresi mereka cemas.

520

"Angkat tangan kalau sudah bisa melihat lagi" Zarrina memerintahkan. "Sekarang,

Bella. Kita lihat berapa banyak yang bisa kautamengi."

Napasku memburu. Kate berada paling dekat denganku selain Edward dan

Renesmee, tapi bahkan dia jauhnya tiga meter dariku. Aku mengunci rahang dan

mendorong sekuat tenaga, berusaha mendorong perisai pelindung yang berat itu

semakin jauh dariku. Senti demi senti aku mengarahkannya pada Kate, melawan reaksi

dorongan balik dengan setiap bagian yang berhasil kuperoleh. Aku hanya memandangi

ekspresi cemas Kate sambil berusaha, dan aku mengerang pelan karena lega ketika

matanya mengerjap dan kembali terfokus, ia mengangkat tangan.

"Hebat sekali!" gumam Edward pelan. "Seperti cermin satu arah, Aku bisa

membaca semua yang mereka pikirkan, tapi mereka tidak bisa meraihku di baliknya.

Dan aku bisa mendengar Renesmee, walaupun aku tidak bisa melakukannya bila aku

berada di luar. Berani bertaruh, Kate pasti bisa menyetrumku sekarang, karena dia juga

berada di bawah perisai. Tapi aku tetap tak bisa mendengar pikiranmu… hmmmm.

Bagaimana cara kerjanya, ya? Aku jadi penasaran apakah..."

Edward terus bergumam sendiri, tapi aku tak bisa mendengar kata-katanya. Aku

mengentakkan gigi, berjuang keras mengulurkan perisaiku ke Garrett, yang berada

paling dekat dengan Kate. Tangannya terangkat.

"Bagus sekali," Zafrina memujiku. "Sekarang..."

Tapi ia berbicara terlalu cepat; dengan terkesiap kaget aku merasakan perisaiku

meloncat seperti karet gelang yang diregangkan terlalu jauh, mengentak, dan kembali

ke bentuk aslinya. Renesmee, mengalami untuk pertama kalinya kebutaan yang

ditimbulkan Zafrina pada yang lain-lain, gemetar di punggungku. Dengan letih aku

melawan tarikan elastis itu, berusaha keras agar perisai itu menyelubunginya lagi.

"Boleh minta waktu sebentar?" aku terengah-engah. Sejak menjadi vampir, aku

tak pernah merasakan kebutuhan untuk beristirahat sekali pun sebelum ini. Sangat aneh

bagaimana aku bisa merasa begitu lelah, tapi juga begitu kuat pada saat yang sama.

"Tentu saja" jawab Zafrina, dan para penonton kembali rileks setelah ia membuat

mereka bisa melihat lagi.

"Kate," seru Garrett ketika yang lain-lain bergumam dan beringsut sedikit

menjauh, merasa terganggu oleh kebutaan sesaat tadi; vampir tidak terbiasa merasa

rapuh. Garrett yang jangkung dan berambut cokelat pasir adalah satu-satunya makhluk

imortal tak berbakat yang sepertinya tertarik pada sesi-sesi latihanku. Aku penasaran

apa gerangan yang menarik minat sang advonturir.

521

"Aku tidak akan berbuat begitu, Garrett," Edward mewanti-wanti.

Garrett terus maju menghampiri Kate, walaupun sudah diperingatkan, bibirnya

mengerucut berspekulasi, "Mereka bilang kau bisa membuat vampir terjengkang."

"Benar," Kate membenarkan. Kemudian, dengan senyum licik ia menggoyanggoyangkan

jarinya dengan gaya bercanda, "Ingin tahu"

Garrett mengangkat bahu, "Itu sesuatu yang belum pernah kulihat. Sepertinya itu

sedikit melebih-lebihkan"

"Mungkin," ujar Kate, wajahnya tiba-tiba serius. "Mungkin itu hanya bisa

memengaruhi vampir lemah atau muda, lihatlah. Tapi kau kelihatan kuat. Mungkin kau

sanggup menahan bakatku." Ia mengulurkan tangan kepada Garrett, telapak tangan

ditengadahkan jelas merupakan undangan. Bibirnya berkedut-kedut, dan aku sangat

yakin ekspresi muramnya merupakan upaya untuk mengelabui Garret.

Garrett nyengir ditantang seperti itu. Dengan penuh percaya diri ia menyentuh

telapak tangan Kate dengan telunjuknya.

Dan kemudian, sambil memekik kaget, lutut Garrett tertekuk dalam ia

terpelanting ke belakang. Kepalanya membentur dinding dengan suara nyaring.

Mengagetkan melihatnya. Instingku meringis melihat makhluk imortal dilumpuhkan

seperti itu sungguh tidak bisa diterima,

"Kubilang juga apa," gerutu Edward.

Kelopak mata Garrett bergetar beberapa detik, kemudian matanya terbuka lebar.

Ia mendongak memandangi Kate yang tersenyum mengejek, dan senyum takjub

membuat wajah Garrett berbinar-binar.

"Wow," puji Garrett.

"Kau menikmatinya?" tanya Kate skeptis.

"Aku kan tidak gila," Garrett terbahak, menggeleng-gelengkan kepala sambil

berdiri pelan-pelan, "tapi itu tadi benar-benar hebat!"

"Memang begitu kata orang,"

Edward memutar bola matanya.

Kemudian terdengar suara ribut-ribut pelan di halaman depan. Aku mendengar

Carlisle bicara di tengah suara-suara riuh bernada kaget.

522

"Apakah Alice yang mengirim kalian?" tanyanya pada seseorang, suaranya tidak

yakin, agak kesal.

Lagi-lagi tamu tak terduga?

Edward melesat masuk ke rumah, diikuti sebagian besar yang lain. Aku mengikuti

dengan langkah lebih lambat, Renesmee masih bertengger di punggungku. Aku ingin

memberi Carlisle waktu beberapa saat. Memberinya kesempatan menyambut tamu

baru itu, memberi penjelasan kepadanya tentang apa yang akan dilihatnya nanti.

Kutarik Renesmee ke dalam gendonganku sementara aku berjalan hati-hati

mengitari rumah untuk masuk melalui pintu dapur, mendengarkan apa yang tidak bisa

kulihat.

"Tidak ada yang mengirim kami" kata sebuah suara dalam yang seperti berbisik,

menjawab pertanyaan Carlisle. Aku langsung teringat pada suara-suara kuno Aro dan

Caius, dan aku membeku di dapur.

Aku tahu ruangan depan penuh hampir semua orang pergi untuk melihat tamutamu

terbaru itu tapi nyaris tidak terdengar suara apa pun. Hanya tarikan napas pendekpendek,

itu saja.

Suara Carlisle kecut saat ia merespons. "Kalau begitu apa yang membawamu ke

sini sekarang?"

"Berita cepat menyebar," suara lain menjawab, sama tipisnya dengan suara

pertama. "Kami mendengar petunjuk yang mengatakan keluarga Volturi akan menyerbu

kalian. Ada rumor yang mengatakan kalian takkan berdiri sendiri. Ternyata rumor itu

benar. Sungguh perkumpulan yang mengesankan."

"Kami tidak menentang keluarga Volturi," bantah Carlisle tegang. "Yang terjadi

hanya salah paham, itu saja. Salah paham yang sangat serius, pastinya, tapi kami

berharap bisa membereskannya. Yang kalian lihat adalah saksi-saksi. Kami hanya ingin

keluarga Volturi mendengarkan. Kami tidak..."

"Kami tidak peduli apa yang mereka katakan telah kalian lakukan," potong suara

pertama. "Dan kami tidak peduli bila kalian melanggar hukum."

"Tak peduli seberapa pun parahnya," sambung yang kedua.

"Kami sudah menanti satu setengah milenium, menunggu sampai ada yang mau

menentang para jahanam Italia itu," tukas yang pertama. "Kalau ada kemungkinan

mereka jatuh, kami harus ada di sana untuk menyaksikan."

523

"Atau pastikan membantu mengalahkan mereka," imbuh yang kedua. Mereka

berbicara sambung-menyambung, suara mereka sangat mirip sehingga telinga yang

tidak begitu sensitif pasti mengira hanya satu orang yang berbicara, "Kalau menurut

kami kalian memiliki peluang untuk berhasil."

"Bella?" Edward berseru memanggilku dengan suara keras. "Bawa Renesmee ke

sini, pfrase. Mungkin sebaiknya kita uji ucapan para tamu Rumania kita,"

Cukup membantu mengetahui bahwa mungkin setengah vampir di ruangan lain

bakal membela Renesmee bila vampir-vampir Rumania ini kesal padanya. Aku tidak

menyukai suara mereka, atau kebengisan yang tersirat dalam kata-kata mereka. Waktu

aku berjalan memasuki ruangan, kentara sekali bukan aku satu-satunya yang menilai

begitu. Sebagian besar vampir yang diam tak bergerak menatap dengan sorot mata

bermusuhan, dan beberapa di antaranya Carmen, Tanya. Zafrina, dan Senna

memposisikan diri dalam pose-pose defensif yang tidak kentara antara para pendatang

baru dan Renesmee.

Kedua vampir di depan pintu bertubuh kecil dan pendek, yang satu berambut

gelap dan lainnya pirang yang sangat kelabu hingga nyaris terlihat abu-abu pucat. Kulit

mereka juga tipis dan transparan seperti kulit keluarga Volturi, walaupun tidak terlalu

kentara. Aku tak bisa memastikan, karena aku tak pernah melihat keluarga Volturi

kecuali dengan mata manusiaku; aku tak bisa membandingkannya dengan sempurna.

Mata mereka yang tajam dan sipit berwarna merah keunguan gelap, tanpa selaput putih

bagai susu. Mereka mengenakan pakaian hitam yang terkesan modern tapi modelnya

kuno.

Vampir yang berambut gelap menyeringai begitu aku muncul. "Well, well,

Carlisle. Ternyata kau memang nakal, ya?"

"Dia bukan seperti yang kaukira, Stefan."

"Dan kami tak peduli," balas si pirang. "Seperti yang kami katakan sebelumnya"

"Kalau begitu kau bebas mengobservasi, Vladimir, tapi jelas kami tidak

menentang keluarga Volturi, seperti yang kami katakan sebelumnya."

"Kalau begitu, kami akan pasrah saja" Stefan memulai.

"Dan berharap kami beruntung," Vladimir menyelesaikan.

Pada akhirnya kami berhasil mengumpulkan tujuh belas saksi—kelompok

Irlandia, Siobhan, Liam, dan Maggie; kelompok Mesir, Amun, Kebi, Benjamín, dan Tia;

kelompok Amazon, Zafrina dan Senna; kelompok Rumania, Vladimir dan Stefan; serta

kaum nomaden, Charlotte, Peter, Garrett, Alistair, Marjl dan Randall—untuk melengkapi

524

kesebelas anggota keluarga kami. Tanya, Kate, Eleazar, dan Carmen bersikeras dianggap

sebagai bagian keluarga kami.

Selain keluarga Volturi, ini mungkin perkumpulan vampir dewasa terbesar yang

bertemu dalam damai sepanjang sejarah makhluk imortal.

Kami semua mulai merasa memiliki sedikit harapan. Bahkan aku pun merasa

begitu. Renesmee telah merebut hati begitu banyak orang dalam waktu sangat singkat.

Keluarga Volturi hanya perlu mendengarkan tak sampai satu detik...

Dua anggota kelompok Rumania yang masih tersisa—terfokus hanya pada

kebencian pahit mereka pada vampir-vampir yang telah menggulingkan kerajaan

mereka seribu lima ratus tahun yang lalu—menyambut semuanya dengan gembira.

Mereka tidak mau menyentuh Renesmee, tapi juga tidak menunjukkan sikap tidak suka

padanya. Diam-diam mereka sepertinya senang melihar persekutuan kami dengan para

werewolf. Mereka menontonku melatih perisaiku dengan Zafrina dan Kate, menonton

Edward menjawab pertanyaan-Pertanyaan yang tidak diucapkan, menonton Benjamin

menarik air mancur panas dari dalam sungai atau membuat embusan angin tajam dari

udara yang tak bergerak hanya dengan pikirannya, dan mata mereka berkilat-kilat

garang oleh harapan bahwa keluarga Volturi akhirnya menemukan lawan sepadan.

Meski tidak mengharapkan hal yang sama, tapi kami semua berharap.

525

33. PEMALSUAN

"CHARLIE, di rumah sekarang masih banyak tamu dan situasinya masih hanya

yang perlu diketahui. Aku tahu sudah lebih dari seminggu Dad tidak bertemu Renesmee,

tapi Dad belum bisa berkunjung ke sini sekarang. Bagaimana kalau aku saja yang

membawa Renesmee menemui Dad?"

Charlie terdiam lama sekali sampai-sampai aku penasaran apakah ia mendengar

ketegangan di balik suaraku.

Tapi kemudian ia menggerutu, "Hanya yang perlu diketahui, ugh," dan sadarlah

aku sikap antipatinya pada hal-hal supranatural-lah yang membuatnya lamban

merespons.

"Oke, Nak," sahut Charlie. "Bisakah kaubawa dia kemari pagi ini? Sue

membawakan makan siang untukku. Dia sama ngerinya dengan masakanku seperti kau

waktu pertama kali ke sini."

Charlie tertawa dan mengembuskan napas mengenang masa lalu.

"Pagi ini akan sempurna." Semakin cepat semakin baik. Aku sudah menundanya

terlalu lama.

"Jake nanti ikut dengan kalian?"

Walaupun Charlie tak tahu apa-apa soal imprint werewolf, siapa pun bisa melihat

kedekatan Jacob dan Renesmee.

"Mungkin." Tak mungkin Jacob rela melewatkan siang bersama Renesmee tanpa

para pengisap darah.

"Mungkin sebaiknya aku mengundang Billy juga," Charlie berpikir-pikir. "Tapi...

hmmm. Mungkin lain kali."

Aku tidak begitu memerhatikan Charlie—tapi cukup untuk menyadari

keengganan aneh dalam suaranya saat ia berbicara tentang Billy, tapi tidak cukup untuk

mengkhawatirkan itu. Charlie dan Billy sudah dewasa; kalau ada apa-apa di antara

mereka, mereka bisa membereskannya sendiri. Masih banyak hal penting lain yang

perlu kupikirkan.

"Sampai ketemu nanti," kataku, lalu menutup telepon.

526

Kepergianku ke sana lebih dari sekadar melindungi ayahku dari 27 vampir aneh

yang semua sudah bersumpah takkan membunuh siapa pun dalam radius tiga ratus mil,

tapi tetap saja... Jelas tak boleh ada manusia di dekat-dekat kelompok ini. Itu alasan

yang kuberikan pada Edward: membawa Renesmee ke Charlie supaya ia tidak

memutuskan untuk datang ke sini. Alasan yang bagus untuk meninggalkan rumah, tapi

bukan alasanku sesungguhnya.

"Mengapa kita tidak membawa Ferrari-mu saja?" protes Jacob waktu ia bertemu

denganku di garasi. Aku sudah siap di Volvo milik Edward bersama Renesmee.

Edward sudah menunjukkan padaku mobil sesudahku; dan seperti telah diduga,

aku tak mampu menunjukkan antusiasme yang tepat. Tentu saja mobilnya cantik dan

jago ngebut, tapi aku lebih suka berlari

"Terlalu mencolok," jawabku. "Kita bisa jalan kaki, tapi itu akan membuat Charlie

ngeri."

Jacob menggerutu, tapi masuk juga ke jok depan. Renesmee merangkak dari

pangkuanku ke pangkuannya,

"Bagaimana kabarmu?" aku bertanya padanya sambil mengeluarkan mobil dari

garasi.

"Menurutmu bagaimana?" balas Jacob ketus, "Aku sudah muak dengan semua

pengisap darah bau ini." Ia melihat ekspresiku dan buru-buru bicara sebelum aku bisa

menjawab. "Yeah, aku tahu, aku tahu. Mereka baik, mereka datang ke sini untuk

membantu, mereka akan menyelamatkan kita semua. Bla bla bla, bla bla bla. Kau boleh

bicara apa saja, tapi aku tetap menganggap Drakula Satu dan Drakula Dua bikin bulu

kuduk merinding."

Mau tak mau aku tersenyum. Kelompok Rumania juga bukan tamu favoritku.

"Aku sependapat denganmu dalam hal itu."

Renesmee menggeleng tapi tidak mengatakan apa-apa; tidak seperti kami yang

lain, ia justru menganggap kelompok Rumania aneh rapi menarik. Ia berusaha mengajak

mereka bicara karena mereka tak mau menyentuhnya. Renesmee menanyakan kulit

mereka yang tidak biasa dan, walaupun takut mereka tersinggung, aku senang juga ia

bertanya. Soalnya aku juga ingin tahu.

Sepertinya mereka tidak tersinggung oleh ketertarikan Renesmee. Mungkin

hanya sedikit sebal.

"Kami duduk diam lama sekali, anakku," jawab Vladimir, bersama Stefan yang

mengangguk-angguk tapi tidak melanjutkan kalimat-kalimat Vladimir seperti yang sering

527

ia lakukan. "Merenungkan kedewaan kami. Itu pertanda kami memiliki kuasa, bahwa

segala sesuatu mendatangi kami. Buruan, diplomat, mereka yang membutuhkan

bantuan kami. Kami duduk di singgasana dan menganggap diri dewa. Untuk waktu lama

kami tidak menyadari bahwa kami berubah hampir membatu. Kurasa keluarga Volturi

berbuat baik pada kami waktu membakar kastil kami. Setidaknya Stefan dan aku tidak

terus membatu. Sekarang mata keluarga Volturi diselubungi kabut kebejatan, tapi mata

kami tetap jernih. Kubayangkan, kami jadi lebih berpeluang mencungkil mata mereka

dari rongganya."

Aku berusaha menjauhkan Renesmee dari mereka sesudah itu.

"Berapa lama kita akan berada di rumah Charlie?" tanya Jacob, menginterupsi

pikiranku. Ia terlihat rileks ketika mobil meninggalkan rumah dan seluruh penghuni

barunya. Membuatku bahagia bahwa ia tidak benar-benar menganggapku vampir. Bagi

Jacob, aku tetap Bella.

"Lumayan lama, sebenarnya."

Nada suaraku menarik perhatian Jacob.

"Memangnya ada urusan lain selain mengunjungi ayahmu?"

"Jake, kau tahu caranya mengendalikan pikiranmu di sekitar Edward?"

Jacob mengangkat alisnya yang hitam tebal. "Yeah?"

Aku hanya mengangguk, melirik Renesmee. Ia sedang memandang ke luar

jendela, dan aku tak tahu seberapa tertarik dirinya dengan percakapan kami, tapi aku

memutuskan untuk tidak mengambil risiko dengan berbicara lebih jauh.

Jacob menungguku mengatakan hal lain, tapi kemudian bibir bawahnya mencebik

memikirkan perkataanku yang sedikit tadi.

Sementara kami melaju dalam keheningan, aku menyipitkan mata melalui lensa

kontak yang menjengkelkan ini untuk bisa menembus hujan yang dingin; cuaca belum

cukup dingin untuk salju. Mataku tidak semengerikan pada awalnya—jelas lebih

mendekati Jingga kemerahan pudar daripada merah darah cemerlang. Sebentar lagi

warnanya akan berubah jadi kekuningan hingga aku tak perlu lagi mengenakan lensa

kontak. Aku berharap perubahan itu tidak akan terlalu membuat Charlie panik.

Jacob masih sibuk memikirkan percakapan kami yang sepotong tadi waktu kami

tiba di rumah Charlie. Kami tidak berbicara saat berjalan dengan langkah-langkah cepat

layaknya manusia menembus hujan. Ayahku sudah menunggu; ia membukakan pintu

sebelum aku sempat mengetuk,

528

"Hei, anak-anak! Rasanya sudah bertahun-tahun tidak ketemu! Coba lihat kau,

Nessie! Mari sini, Grandpa gendong! Sumpah, kau tambah tinggi 25 senti! Dan kau

kelihatan kurus, Ness." Charlie memandang garang padaku. "Memangnya kau tidak

diberi makan ya di sana?"

"Itu hanya karena dia cepat sekali bertumbuh," gumamku. "Hai, Sue." Aku

berseru ke balik bahu Charlie. Aroma ayam, tomat, bawang putih, dan keju merebak

dari dapur; mungkin bagi orang lain baunya sangat lezar. Sementara bagiku baunya

seperti pinus segar dan gabus pengganjal.

Renesmee tersenyum memamerkan lesung pipinya. Ia tidak pernah berbicara di

depan Charlie.

"Well, masuklah, jangan berdingin-dingin di luar, anak-anak. Mana menantuku?"

"Sedang menemani para tamu," jawab Jacob, kemudian mendengus. "Kau sangat

beruntung tidak perlu berada di sana, Charlie, Hanya itu yang akan kukatakan."

Kutinju pinggang Jacob pelan sementara Charlie meringis.

“Aduh," keluh Jacob pelan; well, kusangka aku meninjunya dengan pelan.

"Sebenarnya, Charlie, aku harus mengurus beberapa hal."

"Terlambat belanja hadiah Natal ya, Bells? Kau hanya punya waktu beberapa hari

lho."

"Yeah, belanja hadiah Natal," jawabku asal. Pantas saja ada bau gabus

pengganjal. Charlie pasti sudah memasang dekorasi Natal lama.

"Jangan khawatir, Nessie," bisik Charlie di telinganya. "Aku sudah menyiapkan

hadiah untukmu, untuk berjaga-jaga kalau ibumu lupa."

Aku memurar bola mataku padanya, tapi terus terang, aku sama sekali tidak

berpikir tentang Natal.

"Makan siang sudah siap di meja," Sue berseru dari dapur. "Ayo, semua,"

"Sampai nanti, Dad," aku berpamitan, lalu melirik Jacob sekilas. Walaupun ia tak

bisa tidak memikirkan hal ini saat berdekatan dengan Edward nanti, setidaknya tak

banyak yang bisa ia ceritakan padanya. Ia tidak tahu apa yang akan kulakukan.

Tenru saja, pikirku dalam hati saat naik ke mobil, sebenarnya aku sendiri juga

tidak tahu.

529

Jalanan licin dan gelap, tapi menyetir tak lagi membuatku takut. Refleksku jadi

sangat bagus dalam mengemudi, dan aku tak perlu terlalu memerhatikan jalan. Yang

menjadi persoalan adalah menjaga agar kecepatanku tidak menarik perhatian bila aku

sedang bersama orang lain. Aku ingin menyelesaikan misi hari ini, menuntaskan misteri

itu sehingga bisa kembali ke tugas utamaku untuk belajar. Belajar melindungi beberapa

hal, belajar membunuh yang lain.

Semakin lama aku semakin pintar mengendalikan perisaiku. Kate tak merasa

perlu memotivasiku lagi tidak sulit menemukan alasan untuk marah, setelah sekarang

aku tahu itulah kuncinya jadi aku lebih sering berlatih dengan Zafrina.

Ia senang melihatku bisa memperluas area perlindunganku; aku bisa melingkupi

area seluas tiga puluh meter selama lebih dari satu menit, walaupun itu membuatku

letih. Tadi pagi ia berusaha mencari tahu apakah aku bisa menepiskan perisai itu dari

pikiranku sepenuhnya. Aku tidak melihat kegunaannya, tapi menurut Zafrina, itu akan

membantu menguatkanku, seperti melatih otot-otot perut dan punggung, bukan

sekadar otot lengan. Pada akhirnya kau bisa mengangkat beban yang lebih berat kalau

otot-ototmu lebih kuat.

Aku tak pandai melakukannya. Aku hanya sempat melihat sekilas sungai dalam

hutan yang coba ditunjukkan Zafrina padaku.

Tapi ada beberapa cara untuk bersiap menghadapi apa yang sebentar lagi akan

terjadi, dan dengan hanya dua minggu tersisa, aku khawatir jangan-jangan aku telah

mengabaikan hal terpenting. Hari ini aku akan memperbaiki kelalaian itu.

Aku sudah menghafal petanya, dan aku tidak mendapat kesulitan menemukan

alamat yang tidak ada di Internet, yaitu alamat J. Jenks. Langkah berikut adalah

mendatangi Jason Jenks di alamat yang lain, yang tidak diberikan Alice padaku.

Mengatakan itu bukan lingkungan yang baik rasanya kurang tepat. Mobil

keluarga Cullen yang paling sederhana sekalipun akan tetap terlihat mencolok di jalanan

ini. Chevy tuaku akan terlihat sehat di sini. Jika masih menjadi manusia, aku pasti akan

mengunci semua pintu dan tancap gas secepat mungkin bila melintasi kawasan ini.

Namun sekarang aku justru sedikit takjub. Aku mencoba membayangkan Alice datang ke

tempat ini untuk alasan apa pun, tapi gagal.

Bangunan-bangunannya semua berlantai tiga, semua sempit, semua agak miring

seperti membungkukkan badan diterpa hujan sebagian besar berupa rumah tua yang

dibagi-bagi menjadi beberapa apartemen. Sulit mengenali warna bangunan itu karena

catnya sudah mengelupas. Semua sudah memudar menjadi berbagai nuansa kelabu.

Beberapa bangunan lantai dasarnya dijadikan tempat usaha: bar kotor dengan jendela530

jendela dicat hitam, toko perlengkapan paranormal lengkap dengan gambar tangan dan

kartu tarot dari lampu neon yang menyala, salon tato, dan tempat penitipan anak yang

kaca jendela depannya pecah dan direkatkan kembali dengan lakban. Tak ada lampu

sama sekali di bagian dalam ruangan-ruangan itu, walaupun di luar suasana cukup

muram sehingga manusia seharusnya membutuhkan lampu. Aku bisa mendengar suarasuara

gumaman pelan di kejauhan; kedengarannya seperti suara TV.

Ada beberapa orang di sekitar situ, dua tersaruk-saruk menembus hujan menuju

arah berlawanan, satu duduk di teras pendek kantor pengacara murahan, membaca

koran yang basah sambil bersiul-siul. Suaranya terlalu ceria untuk lingkungan yang

muram itu.

Saking takjubnya melihat orang yang bersiul-siul riang itu, awalnya aku tak

menyadari bahwa bangunan terbengkalai itu adalah alamar tempat yang kucari

seharusnya berada. Tak ada nomor di bangunan bobrok itu, tapi salon tato yang terletak

persis di sebelahnya hanya berbeda dua nomor dari alamat yang kucari.

Aku menepikan mobil dan membiarkan mesinnya menyala sebentar. Aku akan

tetap masuk ke bangunan kumuh itu, tapi bagaimana caraku melakukannya tanpa

dilihat lelaki yang bersiul itu? Aku bisa memarkir mobilku di jalan sebelah dan kembali

ke sini lewat... Mungkin malah lebih banyak saksi di jalanan sana. Mungkin lewat atap?

Apa hari sudah cukup gelap untuk melakukan hal semacam itu?

"Hei, lady" seru lelaki yang bersiul itu, memanggilku.

Kubuka kaca jendela, pura-pura tidak mendengarnya tadi.

Lelaki itu meletakkan korannya. Setelah sekarang aku bisa melihatnya,

pakaiannya membuatku terkejut. Di bawah mantelnya yang panjang dan compangcamping,

pakaiannya agak terlalu rapi. Karena angin tidak bertiup, aku tak bisa mencium

baunya, tapi kilatan di kemeja merah gelapnya terlihat seperti sutra. Rambut hitamnya

kusut dan berantakan, tapi kulitnya yang gelap mulus dan sempurna, giginya putih dan

rapi. Sangat kontradiktif.

Mungkin sebaiknya Anda tidak memarkir mobil Anda di sana, lady" kata lelaki itu.

"Bisa-bisa mobil Anda sudah tak ada di sini lagi saat Anda kembali nanti,"

"Terima kasih peringatannya," ujarku.

Kumatikan mesin dan turun. Mungkin temanku yang bersiul-siul ini bisa

memberiku jawaban yang kubutuhkan lebih cepat daripada kalau aku mendobrak masuk

ke bangunan kumuh itu. Aku membuka payung abu-abu besar—sebenarnya bukan

untuk melindungi gaun sweter kasmir panjang yang kupakai. Tapi memang begitulah

yang lazim dilakukan manusia.

531

Lelaki itu menyipitkan mata menatap wajahku dari balik deras hujan, kemudian

matanya membelalak. Ia menelan ludah, dan aku mendengar jantungnya berpacu cepat

waktu aku mendekat.

"Aku mencari seseorang" aku mulai,

"Aku seseorang," sahutnya tersenyum. "Apa yang bisa kulakukan untukmu,

Cantik?”

“Kau J. Jenks?" tanyaku.

"Oh," ucap si lelaki, ekspresinya langsung berubah, dari antisipasi menjadi

mengerti. Ia berdiri dan mengamatiku dengan mata disipitkan. "Mengapa kau mencari

J?"

"Itu urusanku." Selain itu, karena aku juga tidak tahu alasannya. "Kau J?"

"Bukan"

Kami berhadap-hadapan beberapa saat sementara matanya yang tajam

memandangiku dari atas ke bawah, memerhatikan mantel abu-abu mutiara ketat yang

kupakai. Tatapannya akhirnya kembali ke wajahku. "Kau tidak kelihatan seperti

pelanggan yang biasa."

"Mungkin aku memang bukan yang biasa," aku mengakui, "Tapi aku harus

bertemu dengannya sesegera mungkin."

"Aku tak yakin harus melakukan apa," lelaki itu mengakui.

"Mengapa kau tidak memberitahukan namamu saja?"

Lelaki itu nyengir. "Max."

"Senang bertemu denganmu, Max, Sekarang, bagaimana kalau kaujelaskan

padaku apa yang kaulakukan untuk yang biasa?"

Cengiran Max berubah menjadi kerutan. "Well, klien-kilen J yang biasa tidak ada

yang seperti kau. Golongan kalian mana mau datang ke kantornya di sini. Kalian

biasanya langsung datang ke kantornya yang mewah di pencakar langit sana."

Aku mengulangi alamat lain yang kumiliki, membuat daftar angka-angka itu

sebagai pertanyaan.

532

"Yeah, memang benar itu tempatnya," kata si lelaki, kembali curiga. "Mengapa

kau tidak pergi ke sana saja?"

"Ini alamat yang diberikan kepadaku oleh sumber yang sangat bisa diandalkan."

"Kalau kau bermaksud baik, pasti tidak akan datang ke sini."

Aku mengerucutkan bibir. Aku memang tak pandai menggertak, tapi Alice tidak

meninggalkan banyak alternatif untukku. "Mungkin aku memang bermaksud tidak baik."

Ekspresi Max berubah seperti meminta maaf. "Dengar, lady."

"Bella."

"Baiklah. Bella. Begini, aku membutuhkan pekerjaan ini. J memberiku gaji besar,

kebanyakan hanya untuk duduk-duduk saja di sini seharian. Aku ingin membantumu,

sungguh, tapi—dan tentu saja aku berbicara secara hipotesis, oke? Atau off the record,

atau entah apalah yang baik menurutmu—tapi kalau aku meloloskan seseorang yang

bisa membuatnya mendapat masalah, aku bisa kehilangan pekerjaan. Kau mengerti

masalahku, kan?"

Aku berpikir sebentar, menggigit-gigit bibir, "Kau belum pernah melihat orang

seperti aku di sini sebelumnya? Well, yang agak mirip aku. Saudariku jauh lebih pendek

daripadaku, rambutnya hitam jabrik."

"J kenal saudarimu?"

"Kurasa begitu."

Max memikirkan informasi itu sebentar. Aku tersenyum padanya, dan ia

terkesiap, "Begini saja. Aku akan menelepon J dan menggambarkan sosokmu. Biar dia

yang memutuskan."

Apa yang J. Jenks ketahui? Apakah dengan menggambarkan sosokku bisa berarti

sesuatu baginya? Pikiran itu menggelisahkan,

"Nama keluargaku Cullen," aku memberirahu Max, bertanya-tanya dalam hati

apakah aku terlalu banyak memberi informasi. Aku mulai merasa kesal pada Alice,

Betulkah aku benar-benar harus sebuta ini? Seharusnya ia bisa memberiku satu-dua

petunjuk...

"Cullen, oke."

Kuperhatikan Max memencet serangkaian nomor, aku menghafalnya. Well, aku

bisa menelepon J. Jenks sendiri kalau ini tidak berhasil

533

"Hei, J, ini Max. Aku tahu seharusnya aku tak boleh meneleponmu ke nomor ini

kecuali darurat..."

Memangnya ada yang darurat? Aku mendengar samar-samar suara dari seberang

menyahut.

"Well, tidak juga. Tapi ada cewek yang ingin bertemu denganmu..."

Aku tidak melihat ada yang darurat dalam hal itu. Mengapa tidak kaujalankan

saja prosedur normalnya?

"Aku tidak menjalankan prosedur normal karena dia tidak kelihatan seperti yang

normal..."

Apakah dia polisi?

"Bukan..."

Kau kan bisa memastikan. Apakah dia terlihat seperti anak buah Kubarev...?

"Tidak... beri aku kesempatan bicara dulu, oke? Katanya, kau kenal saudarinya

atau bagaimana."

Kemungkinannya kecil. Orangnya seperti apa?

"Orangnya seperti..." Mata Max mengamatiku dari wajah sampai sepatu dengan

sikap menghargai. "Well, orangnya seperti model top, begitulah kelihatannya" Aku

tersenyum dan Max mengedipkan mata padaku, lalu melanjutkan. "Bodinya yahud,

pucat seperti seprai, rambut cokelat hampir sepinggang, sepertinya sudah lama tidak

tidur nyenyak... apakah kedengaran familier?"

Tidak, kedengarannya tidak. Aku tidak senang kelemahanmu pada wanita cantik

mengganggu...

"Yeah, jadi aku payah setiap kali berhadapan dengan cewek cantik, memangnya

kenapa kalau begitu? Maaf mengganggumu, man. Lupakan saja.”

“Nama," bisikku.

"Oh benar. Tunggu," seru Max. "Katanya namanya Bella Cullen. Apakah itu

membantu?"

Sesaat tidak terdengar apa-apa, kemudian suara di ujung telepon itu tahu-tahu

menjerit, menghamburkan makian kasar yang jarang terdengar di luar tempat istirahat

para-sopir truk. Ekspresi Max langsung berubah; semua gurauannya lenyap dan bibirnya

berubah pucat.

534

"Karena kau tidak tanya" Max balas berteriak, panik.

Sunyi sejenak sementara J menenangkan diri.

Cantik dan pucat? tanya J, sedikit lebih tenang.

"Aku bilang begitu kan, tadi?"

Cantik dan pucat? Apa yang diketahui lelaki ini tentang vampir? Apakah ia sendiri

juga vampir? Aku tidak siap menghadapi konfrontasi semacam itu. Kugertakkan gigiku.

Apa gerangan yang Alice siapkan bagiku?

Max menunggu sebentar sementara ia kembali dihujani makian dan instruksi,

kemudian melirikku dengan mata nyaris ketakutan. "Tapi kau kan hanya bertemu klienklienmu

di sini setiap hari Kamis... oke, oke! Segera kulaksanakan." Ia menggeser ponsel

dan mematikannya.

"Dia mau bertemu denganku?" tanyaku dengan nada riang.

Max melotot. "Seharusnya kaubilang padaku bahwa kau klien penting."

"Aku tak tahu kalau aku klien penting."

"Kusangka kau tadi polisi," Max mengakui "Maksudku, kau memang tidak mirip

polisi. Tapi tingkahmu aneh, Cantik."

Aku mengangkat bahu.

"Gembong narkoba, ya?" tebak Max.

"Siapa, aku?" tanyaku,

"Yeah. Atau cowokmu atau siapalah."

"Bukan, maaf. Aku tidak suka narkoba, begitu pula suamiku. Katakan tidak dan

lain sebagainya."

Max memaki pelan. "Oh, sudah menikah rupanya. Sial."

Aku tersenyum,

"Mafia?"

"Bukan,"

"Penyelundup berlian?"

535

"Astaga! Jadi itu ya, tipe orang-orang yang biasanya berurusan denganmu, Max?

Mungkin kau membutuhkan pekerjaan baru."

Harus kuakui, aku merasa agak senang. Sudah lama aku tidak berinteraksi dengan

manusia selain dengan Charlie dan Sue, Asyik juga melihat Max terkesiap begitu. Aku

juga senang betapa mudahnya bagiku untuk tidak membunuhnya.

"Kau pasti terlibat dalam sesuatu yang besar. Dan buruk," duga Max.

"Sama sekali tidak seperti itu."

"Semua juga bilang begitu. Tapi siapa lagi yang butuh surat-surat? Atau mampu

membayar tarif tinggi yang ditetapkan J untuk itu, begitulah. Bukan urusanku sih," dan

lagi-lagi ia menggumamkan kalimat sudah menikah.

Ia memberiku alamat lain dengan petunjuk arah sekadarnya, kemudian

mengawasi kepergianku dengan sorot curiga bercampur menyesal.

Di titik ini aku siap menghadapi nyaris apa saja—kantor canggih seperti sarang

berteknologi tinggi milik musuh James Bond sepertinya cocok. Jadi kupikir Max pasti

sengaja memberiku alamat yang salah untuk mengetesku. Atau mungkin kantornya ada

di bawah tanah, di bawah mal yang sangat biasa ini, yang berdiri di bukit berhutan di

kawasan hunian yang bagus.

Kuparkir mobilku di tempat kosong dan mendongak, memandangi papan nama

berselera tinggi yang tidak terlalu mencolok, bertuliskan JASON SCOTT, PENGACARA.

Bagian dalam kantornya berwarna heige dengan aksen hijau seledri, tidak

mencolok atau menonjol. Tak ada bau vampir di sini, dan itu membantuku merasa rileks.

Tidak ada apa-apa kecuali bau manusia yang asing. Akuarium ikan dipasang di dalam

dinding, dan resepsionis cantik berambut pirang yang tidak begitu cerdas duduk di

belakang meja.

"Halo," ia menyapaku. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin bertemu Mr. Scott."

"Sudah ada janji?"

"Tidak juga."

Wanita itu tersenyum, sedikit mengejek. "Bakal lama kalau begitu. Bagaimana

kalau Anda duduk dulu sementara saya..."

April', terdengar suara laki-laki berkaok dari telepon di mejanya. Aku sedang

menunggu kedatangan seseorang bernama Mrs. Cullen,

536

Aku tersenyum dan menunjuk diriku sendiri.

Suruh dia langsung masuk. Kau mengerti? Tak peduli aku sedang melakukan apa.

Aku bisa mendengar nada lain dalam suaranya selain tidak sabar. Stres. Tegang.

"Dia baru saja datang," kata April begitu bisa bicara.

Apa? Suruh dia masuk Tunggu apa lagi?

"Segera, Mr. Scott!" Resepsionis itu langsung berdiri, mengibaskan kedua tangan

sambil berjalan mendahuluiku melintasi lorong pendek, menawariku kopi, teh, atau apa

saja yang mungkin kuinginkan.

"Silakan," katanya sambil menyilakanku masuk melalui sebuah pintu ke dalam

ruang kantor yang mewah, lengkap dengan meja kayu besar dan dinding berpanel

"Tutup pintunya," sebuah suara tenor serak memerintahkan.

Kuamati lelaki yang duduk di belakang meja semenrara April buru-buru keluar.

Lelaki itu pendek dan rambutnya mulai botak, usianya mungkin sekitar 55 tahun,

perutnya buncit. Ia mengenakan dasi sutra merah dipadu kemeja garis-garis biru-putih,

dan blazer biru tuanya digantung di punggung kursi. Ia juga gemetaran, wajahnya pucat

seperti mayat, dengan titik-titik keringat menghiasi kening. dugaanku, pasti ada usus

yang melilit di balik perut buncitnya itu.

J berdiri dengan goyah dari kursinya. Ia mengulurkan tangan ke seberang meja,

"Ms. Cullen. Senang sekali bertemu denganmu."

Aku menghampirinya dan menjabat tangannya dengan cepat. Ia meringis sedikit

saat tangannya bersentuhan dengan kulitku yang dingin, tapi sepertinya ia tidak terlalu

terkejut.

"Mr. Jenks. Atau Anda lebih suka dipanggil Scott?"

Lagi-lagi ia meringis. "Terserah Anda."

"Bagaimana kalau Anda memanggilku Bella, dan aku akan memanggil Anda J?"

"Seperti teman lama," ia setuju, mengusapkan saputangan sutra ke keningnya. Ia

melambai padaku, mempersilakanku duduk, dan ia sendiri juga duduk. "Saya harus

bertanya, apakah saya akhirnya bertemu muka dengan istri Mr. Jasper yang cantik?"

Aku menimbang-nimbang pertanyaan itu sesaat. Jadi lelaki ini kenal Jasper,

bukan Alice. Kenal, dan sepertinya takut juga padanya, "Adik iparnya, sebenarnya."

537

J mengerucutkan bibir, seolah-olah berusaha memahami maksud semua ini, sama

seperti aku.

"Saya yakin Mr. Jasper sehat-sehat saja?" tanyanya hati-hati.

"Saya yakin dia sehat. Dia sedang berlibur panjang saat ini."

Kelihatannya keterangan itu menjernihkan sebagian kebingungan J. Ia

mengangguk dan melipat jari-jarinya, "Begitu, Seharusnya Anda langsung saja datang ke

kantor utama. Asisten-asisten saya di sana akan langsung menghubungkan Anda dengan

saya tidak perlu lewat jalur yang kurang ramah."

Aku hanya mengangguk. Entah mengapa Alice memberiku alamat daerah kumuh

itu.

"Ah, well, Anda toh sudah sampai di sini sekarang. Apa yang bisa saya bantu?"

"Surat-surat," jawabku, berusaha memperdengarkan nada yakin dalam suaraku,

seolah-olah aku mengerti apa yang kubicarakan.

"Tentu saja," J langsung mengiyakan. "Apa yang kita maksud ini akte kelahiran,

akte kematian, SIM, paspor, kartu jaminan sosial..?"

Aku menarik napas dalam-dalam dan tersenyum. Aku berutang budi pada Max.

Kemudian senyumku lenyap. Ada alasan mengapa Alice mengirimku ke sini. dan

aku yakin alasannya adalah untuk melindungi Renesmee. Hadiah terakhir Alice untukku.

Satu-satunya hal yang ia tahu kubutuhkan.

Satu-satunya alasan Renesmee membutuhkan dokumen palsu adalah untuk

melarikan diri. Dan satu-satunya alasan Renesmee perlu melarikan diri adalah karena

kami kalah.

Kalau Edward dan aku melarikan diri bersamanya, ia takkan membutuhkan

dokumen-dokumen ini sekarang. Aku yakin kartu identitas adalah sesuatu yang pasti

bisa diusahakan Edward atau bisa ia buat sendiri, dan aku yakin ia tahu cara-cara

melarikan diri tanpa surat-surat. Kami bisa lari ratusan kilometer. Kami bisa berenang

bersamanya menyeberangi samudera.

Kalau kami ada untuk menyelamatkan Renesmee.

Ditambah lagi aku harus merahasiakan semua ini dari Edward. Karena ada

kemungkinan segala sesuatu yang Edward ketahui, akan diketahui juga oleh Aro. Kalau

538

kami kalah, Aro pasti akan mendapatkan informasi yang sangat ia inginkan sebelum ia

menghancurkan Edward.

Persis seperti kecurigaanku. Kami tidak bisa menang. Tapi kami harus bisa

membunuh Demetri sebelum kami kalah, memberi Renesmee kesempatan untuk

melarikan diri.

Matiku masih terasa bagai sebongkah batu besar di dadaku menyesakkan.

Segenap harapanku lenyap seperti kabut diterpa sinar matahari. Air maraku merebak.

Siapa yang akan kuserahi tanggung jawab? Charlie? Tapi ia manusia biasa yang

tak berdaya. Dan bagaimana caraku menyerahkan Renesmee padanya? Ia tidak akan

berada di sekitar lokasi pertempuran. Kalau begitu hanya tersisa satu orang. Dan

sesungguhnya memang tak pernah ada orang lain.

Aku memikirkan semuanya begitu cepat hingga J tidak sadar bahwa aku sempat

terdiam sejenak.

"Dua akte kelahiran, dua paspor, satu SIM," kataku dengan suara rendah dan

tertekan.

Kalau J menyadari perubahan ekspresiku, ia tidak menunjukkannya.

"Nama-namanya?"

"Jacob... Wolfe. Dan... Vanessa Wolfe,'' Nessie sepertinya nama panggilan yang

cocok untuk Vanessa. Jacob pasti senang sekali kalau dia tahu tentang nama Wolfe ini.

Pena J bergerak lancar di atas buku. "Nama tengah?"

"Cantumkan nama generik apa saja,"

"Kalau Anda lebih suka begitu. Umur?"

"Dua puluh tujuh untuk si lelaki, lima untuk si perempuan." Jacob pasti bisa dikira

sudah berumur 27. Ia kan "monster" Dan menilik cepatnya pertumbuhan Renesmee,

lebih baik aku memperkirakan yang tinggi. Jacob bisa menjadi ayah tirinya...

"Saya membutuhkan foto bila Anda lebih suka dokumen yang sudah jadi," kata J,

menyela pikiranku. "Mr, Jasper biasanya suka menyelesaikannya sendiri,"

Well, kalau begitu jelas mengapa J tidak tahu bagaimana rupa Alice.

"Tunggu sebentar," kataku.

539

Beruntung benar. Kebetulan aku menyimpan beberapa foto keluarga dalam

dompetku, dan foto yang pas sekali Jacob sedang menggendong Renesmee di tangga

teras depan baru diambil sebulan yang lalu. Alice memberikannya padaku hanya

beberapa hari sebelum... Oh. Mungkin sebenarnya itu bukan kebetulan sama sekali,

Alice tahu aku memiliki foto ini. Mungkin sebelumnya ia bahkan sudah tahu aku akan

membutuhkannya sebelum ia memberikannya padaku.

"Ini dia."

J mengamati foto itu sesaat. "Putri Anda sangat mirip Anda."

Aku mengejang. "Dia lebih mirip ayahnya."

"Dan ayahnya bukan lelaki ini." J menyentuh wajah Jacob. Mataku menyipit, dan

titik-titik keringat baru bermunculan di kepala j yang mengilat.

"Bukan. Itu teman dekat keluarga."

"Maafkan saya," gumam J, dan penanya kembali bergerak. "Kapan Anda

membutuhkan surat-surat ini?"

"Apakah bisa selesai dalam satu minggu?"

"Itu pesanan kilat. Biayanya dua kali lipat, tapi maafkan saya. Saya lupa kepada

siapa saya berbicara."

Jelas, ia kenal Jasper.

"Katakan saja berapa."

J sepertinya ragu-ragu mengucapkannya dengan suara keras, walaupun aku

yakin, setelah berhubungan dengan Jasper, ia pasti tahu uang bukan masalah. Bahkan

tanpa mempertimbangkan isi berbagai rekening yang tersimpan di seluruh penjuru

dunia dengan berbagai nama Cullen tercatat sebagai pemiliknya, ada cukup banyak

uang tunai tersimpan di seluruh penjuru rumah yang jumlahnya cukup untuk membiayai

kegiatan operasional sebuah negara kecil selama satu dekade; hal itu mengingatkanku

pada ratusan kail yang tersembunyi di bagian belakang laci mana pun di rumah Charlie.

Aku ragu ada orang yang menyadari bahwa ada setumpuk kecil uang yang hilang, yang

kuambil untuk persiapan hari ini.

J menuliskan jumlah yang diminta di bagian bawah buku.

Aku mengangguk kalem. Uang yang kubawa lebih dari cukup. Kubuka tas dan

kuhitung jumlah yang diminta—aku sudah menjepitnya menjadi tumpukan yang masingmasing

berjumlah lima ribu dolar, jadi tidak butuh waktu lama untuk menghitungnya.

540

"Ini."

"Ah, Bella, Anda tidak benar-benar harus memberikan semuanya pada saya

sekarang. Biasanya Anda bayar dulu setengah untuk memastikan pesanan Anda

dikerjakan"

Aku tersenyum lembut pada lelaki yang gugup itu. "Tapi saya percaya pada Anda,

J. Selain itu, saya akan memberi Anda bonus—sejumlah sama begitu saya mendapatkan

dokumen-dokumen itu."

"Itu tidak perlu, sungguh."

"Jangan khawatir soal itu." Aku toh tak bisa membawa uang itu bersamaku. "Jadi

kita bertemu lagi minggu depan, waktu yang sama?"

J menatapku panik. "Sebenarnya, saya lebih suka transaksi dilakukan di tempattempat

yang tidak ada hubungannya dengan bisnis saya."

"Tentu saja. Saya yakin cara saya melakukan ini tidak seperti yang Anda

harapkan."

"Saya sudah terbiasa tidak mengharapkan apa-apa bila berhubungan dengan

keluarga Cullen." Ia meringis dan cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi tenang

kembali. "Bagaimana kalau kita bertemu pukul delapan, seminggu dari sekarang di The

Pacifico? Letaknya di Union Lake, dan makanannya lezat sekali."

"Sempurna" Bukan berarti aku akan ikut makan malam bersamanya. Ia takkan

suka kalau aku ikut makan.

Aku berdiri dan menjabat tangannya. Kali ini ia tidak bergidik. Tapi sepertinya ada

kekhawatiran baru yang mengusik pikirannya. Mulutnya berkerut, punggungnya

mengejang.

"Apakah Anda akan sulit memenuhi tenggat waktu?" tanyaku.

"Apa?" Ia mendongak, terperangah oleh pertanyaanku. "Tenggat waktu? Oh,

tidak. Tidak ada kekhawatiran sama sekali. Dokumen-dokumen Anda pasti akan selesai

tepat waktu."

Seandainya ada Edward di sini, pasti aku bisa mengetahui apa sesungguhnya yang

dikhawatirkan J. Aku mendesah. Merahasiakan sesuatu dari Edward saja sudah tidak

mengenakkan; apalagi harus berjauhan dengannya,

"Kalau begitu, sampai ketemu minggu depan."

541

34.DEKLARASI

Aku sudah mendengar suara musik sebelum turun dari mobil. Edward tidak

pernah lagi bermain piano sejak malam Alice pergi. Sekarang, ketika aku menutup pintu

mobil, kudengar lagu itu bermetamorfosis melalui sebuah bridge dan berubah menjadi

lagu ninaboboku. Edward menyambut kepulanganku.

Aku berjalan lambat-lambat saat menarik Renesmee yang tertidur pulas; kami

pergi seharian dari dalam mobil. Kami meninggalkan Jacob di rumah Charlie katanya ia

akan pulang naik mobil bersama Sue. Aku penasaran apakah ia berusaha mengisi

kepalanya dengan berbagai pertanyaan untuk menghilangkan ingatannya tentang

bagaimana wajahku saat berjalan memasuki pintu rumah Charlie.

Sementara kami berjalan lambat-lambat menuju rumah keluarga Cullen, aku

sadar harapan dan kegembiraan yang seolah menjadi aura yang terpancar di sekeliling

rumah putih besar itu juga kurasakan tadi pagi. Namun bagiku semua itu kini terasa

asing.

Aku ingin menangis lagi, mendengar Edward bermain piano untukku. Tapi

kutenangkan hatiku. Aku tak ingin ia curiga. Sebisa mungkin aku takkan meninggalkan

petunjuk apa pun dalam pikirannya untuk Aro.

Edward menoleh dan tersenyum waktu aku berjalan melewati pintu, tapi terus

bermain.

"Selamat datang," katanya, seolah-olah ini hari normal biasa. Seolah-olah tak ada

dua belas vampir lain dalam ruangan itu yang terlibat dalam berbagai aktivitas, dan

selusin lagi bertebaran di segala penjuru. "Senang bertemu Charlie hari ini?"

"Ya. Maaf aku pergi lama sekali. Tadi aku singgah sebentar untuk membeli hadiah

Natal untuk Renesmee. Aku tahu memang tidak akan ada perayaan besar-besaran,

tapi..." Aku mengangkat bahu.

Bibir Edward tertarik ke bawah. Ia berhenti bermain dan memutar bangku yang

didudukinya agar seluruh tubuhnya menghadap ke arahku. Ia meraih pinggangku dan

menarikku lebih dekat. "Aku tidak terlalu memikirkannya. Kalau kau ingin

merayakannya..."

"Tidak," kupotong kata-kata Edward. Dalam hati aku meringis membayangkan

harus berpura-pura antusias daripada yang harus kulakukan sekarang. "Aku hanya tak

ingin hari itu berlalu tanpa memberinya sesuatu."

542

"Boleh kulihat tidak?"

"Kalau kau mau. Hanya hadiah kecil kok."

Renesmee benar-benar sudah tidak sadar, mendengkur lembut di leherku. Aku iri

padanya. Pasti menyenangkan bisa melepaskan diri dari kenyataan, walau hanya

beberapa jam.

Hati-hati kukeluarkan kantong perhiasan beledu kecil dari dalam tasku tanpa

membukanya lebar-lebar, sehingga Edward tidak melihat banyaknya uang di dalamnya,

"Benda ini menarik perhatianku dari etalase toko barang antik yang kulewati."

Kuguncang kantong perhiasan itu, menjatuhkan sebentuk loket emas kecil ke

telapak tangan Edward. Loket bundar dengan hiasan sulur-sulur anggur ramping terukir

di tepi lingkaran. Di dalamnya ada tempat untuk memajang foto kecil dan, di sisi

berlawanan, terukir tulisan dalam bahasa Prancis.

"Tahukah kau apa artinya ini?" tanya Edward, nadanya berubah, lebih sendu

daripada sebelumnya.

"Kata penjaga tokonya, kurang lebih artinya 'lebih dari hidupku sendiri'. Benar,

tidak?"

"Ya, benar."

Edward mendongak menatapku, mata topaznya menyelidik. Kubalas tatapannya

sebentar, lalu pura-pura mengalihkan perhatian pada televisi.

"Mudah-mudahan dia menyukainya," gumamku.

"Tentu saja dia akan menyukainya," kata Edward enteng, nadanya sambil lalu,

dan detik itu juga aku yakin ia tahu aku menyimpan sesuatu darinya. Aku juga yakin ia

tidak tahu apa itu secara spesifik.

“Ayo kita bawa dia pulang," Edward menyarankan, berdiri dan merangkul

pundakku.

Aku ragu-ragu.

"Apa?" desaknya.

"Aku ingin berlatih dengan Emmett sebentar..." Aku kehilangan waktu seharian

untuk melakukan tugas pentingku tadi; itu membuatku merasa tertinggal.

543

Emmett yang duduk di sofa bersama Rose sambil memegang remote control,

tentu saja mendongak dan nyengir gembira. "Bagus sekali. Hutan memang perlu

ditebangi sedikit."

Edward mengerutkan kening pada Emmett, kemudian padaku.

"Masih banyak waktu untuk itu besok," tukasnya.

"Jangan konyol," protesku. "Tak ada lagi istilah masih banyak waktu. Konsep itu

sendiri sebenarnya tidak ada. Banyak yang harus kupelajari dan..,"

Edward memotong kata-kataku. "Besok."

Ekspresinya begitu bersungguh-sungguh hingga bahkan Emmett pun tidak

membantah.

Kaget juga aku mendapati betapa sulitnya kembali ke rutinitas yang.

bagaimanapun, sama sekali baru. Namun mengenyahkan secuil harapan yang selama ini

kupelihara dalam hatiku membuat segalanya jadi mustahil.

Aku berusaha fokus pada hal-hal positif. Ada kemungkinan putriku selamat

melewati apa yang akan terjadi nanti, demikian pula Jacob. Kalau mereka memiliki masa

depan, berarti itu semacam kemenangan juga, bukan? Kelompok kecil kami pasti bisa

bertahan sendiri agar Jacob dan Renesmee mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Ya, strategi Alice hanya masuk akal bila kami harus bertempur habis-habisan. Jadi, itu

sendiri sudah merupakan kemenangan tersendiri, mengingat keluarga Volturi tak

pernah ditentang secara serius dalam satu abad terakhir.

Itu takkan menjadi akhir dunia. Hanya akhir keluarga Cullen. Akhir Edward, akhir

aku.

Aku lebih suka seperti itu—bagian yang terakhir, setidaknya. Aku tidak ingin

hidup lagi tanpa Edward; kalau ia meninggalkan dunia ini, aku akan ikut bersamanya.

Sesekali aku bertanya-tanya dalam hati apakah ada kehidupan lain bagi kami

setelahnya. Aku tahu Edward tidak benar-benar memercayai hal itu, tapi Carlisle

percaya. Aku sendiri tak bisa membayangkannya. Di lain pihak, aku tidak bisa

membayangkan Edward tidak ada, bagaimanapun, di mana pun. Bila kami bisa bersama

di mana saja, itu berarti akhir yang membahagiakan.

Dan dengan demikian pola hari-hariku berlanjut,, bahkan semakin keras daripada

sebelumnya.

Kami menemui Charlie pada Hari Natal, Edward, Renesmee, Jacob, dan aku.

Semua anggota kawanan Jacob sudah berada di sana, ditambah Sam, Emily, dan Sue,

544

Baik sekali mereka, mau datang ke rumah Charlie yang ruangannya kecil-kecil,

tubuh mereka yang besar dan hangat dijejalkan ke sudut-sudut ruangan, mengelilingi

pohon Natal yang hiasannya jarang-jarang, kelihatan sekali di bagian mana Charlie

merasa bosan dan berhenti menghias dan memenuhi perabotannya. Werewolf memang

selalu bersemangat menghadapi pertempuran, tak peduli pertempuran itu sama saja

dengan bunuh diri. Semangat mereka yang meluap-luap memberikan semacam

kegairahan yang menutupi perasaan lesuku. Edward, seperti biasa, lebih pandai

berakting ketimbang aku.

Renesmee memakai kalung yang kuberikan padanya menjelang fajar, dan dalam

saku jaketnya tersimpan MP3 player hadiah Edward—benda mungil yang bisa

menyimpan lima ribu lagu, sudah diisi dengan lagu-lagu favorit Edward. Di pergelangan

tangannya melingkar gelang anyaman, semacam cincin pertunangan versi Quileute.

Edward mengertakkan gigi melihat gelang itu, tapi aku tidak merasa terganggu.

Nanti, sebentar lagi, aku akan menyerahkan Renesmee kepada Jacob untuk

dijaga baik-baik. Jadi bagaimana mungkin aku merasa terganggu oleh simbol komitmen

yang justru kuharapkan?

Edward menyelamatkan hari dengan memesan hadiah untuk Charlie juga. Hadiah

itu datang kemarin melalui kiriman khusus satu malam dan Charlie menghabiskan

sepanjang pagi membaca buku manualnya yang tebal tentang bagaimana

mengoperasikan alat pancing barunya yang dilengkapi sistem sonar.

Menilik cara para werewolf makan, hidangan makan siang yang disiapkan Sue

pasti lezat sekali. Aku penasaran apa kira-kira pandangan orang luar melihat kami.

Sudahkah kami memainkan peran masing-masing dengan cukup baik? Apakah orang

asing akan menganggap kami sekelompok teman yang berbahagia, merayakan Natal

sambil bergembira bersama?

Kurasa baik Edward maupun Jacob sama leganya denganku ketika tiba waktu

pulang. Aneh rasanya membuang-buang energi dengan bersandiwara menjadi manusia

padahal ada banyak hal penting lain yang bisa dilakukan. Aku sangat sulit

berkonsentrasi. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa bertemu Charlie. Mungkin ada

bagusnya juga aku terlalu kebas untuk benar-benar menyadari hal itu.

Aku tak pernah lagi bertemu ibuku sejak menikah, tapi diam-diam aku bersyukur

hubungan kami sejak dua tahun lalu sedikit demi sedikit mulai renggang. Ia terlalu rapuh

untuk duniaku. Aku tak ingin ia menjadi bagian dari semua ini. Charlie lebih kuat.

Bahkan mungkin cukup kuat untuk berpisah denganku sekarang, tapi aku tidak.

545

Suasana sangat sunyi di dalam mobil; di luar, hujan hanya berupa kabut tipis,

mengambang antara cairan dan es. Renesmee duduk di pangkuanku, bermain-main

dengan loketnya, membuka dan menutupnya berulang kali. Aku memandanginya dan

membayangkan hal-hal yang akan kukatakan pada Jacob sekarang kalau saja aku tak

perlu menjaga agar kata-kataku tidak masuk dalam pikiran Edward.

Kalau keadaan sudah aman, bawa dia ke Charlie. Ceritakan semuanya pada

Charlie kelak. Sampaikan pada Charlie, aku sangat sayang padanya, bahwa aku tak

sanggup meninggalkan dia bahkan setelah hidupku sebagai manusia berakhir. Katakan

padanya dia ayah terbaik. Sampaikan sayangku pada Renée, kudoakan ia bahagia dan

baik-baik saja...

Aku akan memberikan dokumen-dokumennya pada Jacob sebelum terlambat.

Aku akan menitipkan padanya surat untuk Charlie juga. Dan surat untuk Renesmee.

Sesuatu yang bisa ia baca kalau aku sudah tak bisa mengungkapkan sayangku lagi

padanya.

Sepertinya tak ada yang tidak biasa di luar rumah keluarga Cullen saat mobil

memasuki padang rumput, tapi aku mendengar kehebohan pelan di dalam. Banyak

suara rendah bergumam dan menggeram. Kedengarannya serius, seperti berdebat. Aku

bisa mendengar suara Carlisle dan Amun lebih sering daripada yang lain.

Edward memarkir mobilnya di depan rumah, tidak langsung memutar ke

belakang dan masuk garasi. Kami bertukar pandang cemas sebelum turun dari mobil.

Pembawaan Jacob serta-merta berubah; wajahnya serius dan hati-hati. Kurasa ia

sedang mengambil sikap sebagai Alfa sekarang. Jelas telah terjadi sesuatu, dan ia akan

mendapatkan informasi yang ia dan Sam butuhkan.

"Alistair pergi," gumam Edward saat kami bergegas menaiki tangga.

Di ruang depan di dalam, konfrontasi terlihat jelas. Berjajar di dinding tampak

lingkaran penonton, setiap vampir yang telah bergabung bersama kami, kecuali Alistair

dan tiga vampir lain yang terlibat perselisihan. Esme, Kebi, dan Tia berada paling dekat

dengan ketiga vampir di tengah; di tengah-tengah ruangan, Amun mendesis pada

Carlisle dan Benjamin.

Rahang Edward mengeras dan ia bergerak cepat ke sisi Esme, menyeretku

bersamanya. Aku mendekap Renesmee erar-erat di dada.

"Amun, kalau kau ingin pergi, tak ada yang memaksamu tetap tinggal di sini,"

kata Carlisle kalem.

546

"Kau mencuri separo kelompokku, Carlisle!" sergah Amun, menudingkan jari

dengan kasar pada Benjamin. "Itukah sebabnya kau memanggilku ke sini? Untuk

mencuri dariku?"

Carlisle mendesah, dan Benjamin memutar bola matanya.

"Ya, Carlisle mencari gara-gara dengan keluarga Volturi, membahayakan seluruh

keluarganya, hanya untuk merayuku supaya mau datang ke sini, ke kematianku," sergah

Benjamin sarkastis. "Berpikirlah logis, Amun. Aku berkomitmen melakukan hal yang

benar di sini—aku bukan mau bergabung dengan kelompok lain. Kau boleh melakukan

apa saja yang kauinginkan, tentu saja, seperti yang telah dikatakan Carlisle tadi."

"Ini tidak akan berakhir dengan baik," geram Amun. "Alistair-lah satu-satunya

yang waras di sini. Seharusnya kita semua juga lari."

"Pikirkan siapa yang kausebut waras," gumam Tia pelan.

"Kita semua akan dibantai!"

"Tidak akan terjadi pertempuran," tandas Carlisle tegas.

"Itu kan katamu!"

"Kalaupun ya, kau bisa menyeberang ke pihak lawan. Amun, Aku yakin keluarga

Volturi akan menghargai bantuanmu."

Amun tertawa mengejek. "Mungkin memang itu jawabannya"

Jawaban Carlisle lembur dan bersungguh-sungguh. “Aku takkan menghalangimu,

Amun. Kita sudah berteman sekian lama, tapi aku takkan pernah memintamu mati demi

aku."

Suara Amun kini lebih terkendali. "Tapi kau membawa Benjamin mati

bersamamu."

Carlisle meletakkan tangannya di pundak Amun. Amun menepiskannya.

"Aku akan tetap tinggal, Carlisle, tapi mungkin itu justru akan jadi kerugianmu.

Aku akan bergabung dengan mereka kalau memang itu satu-satunya jalan untuk

selamat. Kalian semua tolol kalau mengira bisa mengalahkan keluarga Volturi." Ia

memberengut, lalu mengembuskan napas, melirik Renesmee dan aku, lalu

menambahkan dengan nada putus asa, "Aku akan bersaksi bahwa anak itu bertumbuh.

Memang kenyataannya begitu. Siapa pun bisa melihatnya."

"Dan hanya itu yang kami minta darimu."

547

Amun meringis. "Tapi bukan itu saja yang kalian dapatkan, sepertinya," Ia

berpaling kepada Benjarnin. "Aku memberimu kehidupan. Kau menyia-nyiakannya,"

Wajah Benjamin terlihat lebih dingin daripada yang selama ini pernah kulihat;

ekspresinya sangat kontras dengan air mukanya yang kekanak-kanakan. "Sayang kau

tidak bisa mengganti keinginanku dengan keinginanmu dalam prosesnya; kalau bisa,

mungkin kau akan merasa puas padaku."

Mata Amun menyipit. Ia melambaikan tangan dengan kasar ke arah Kebi, dan

mereka merangsek melewati kami, keluar melalui pintu depan.

"Dia tidak pergi," kata Edward pelan padaku, "tapi dia akan semakin menjaga

jarak mulai sekarang. Dia tidak menggertak waktu mengatakan akan bergabung dengan

keluarga Volturi."

"Mengapa Alistair pergi?" bisikku.

"'Tidak ada yang tahu pasti; dia tidak meninggalkan pesan sama sekali. Dari

gumamannya, jelas sekali dia merasa pertempuran takkan bisa dihindari. Berlawanan

dengan sikapnya, dia sebenarnya terlalu peduli pada Carlisle yang akan menghadapi

keluarga Volturi. Kurasa dia memutuskan bahayanya kelewat besar." Edward

mengangkat bahu.

Walaupun pembicaraan kami jelas hanya berlangsung di antara kami berdua, tapi

tentu saja semua bisa mendengarnya. Eleazar menjawab komentar Edward seolah-olah

itu ditujukan bagi mereka semua.

"Menilik gumaman-gumamannya selama ini, sedikit lebih daripada itu. Kami tidak

banyak membicarakan agenda keluarga Volturi, tapi Alistair khawatir bahwa tak peduli

betapapun hebatnya kami bisa membuktikan kalian tak bersalah, keluarga Volturi tetap

takkan mau mendengar. Menurut anggapannya, mereka pasti akan menemukan alasan

untuk mencapai tujuan mereka di sini"

Para vampir itu saling melirik dengan sikap gelisah. Ide bahwa keluarga Volturi

akan memanipulasi hukum keramat mereka demi mendapatkan keuntungan pribadi

bukanlah ide yang populer. Hanya kelompok Rumania yang tetap tenang, senyum

separo mereka tampak ironis. Mereka sepertinya geli mendengar bagaimana yang lainlain

ingin berpikir baik tentang musuh-musuh bebuyutan mereka.

Berbagai diskusi pelan dimulai pada saat bersamaan, tapi hanya diskusi kelompok

Rumania yang kudengarkan. Mungkin karena Vladimir yang berambut terang itu

berulang kali melirik ke arahku.

548

"Aku sangar berharap Alistair benar dalam hal ini" gumam Stefan kepada

Vladimir. "Tak peduli hasil akhirnya, kabar tetap akan menyebar. Sekarang waktunya

dunia melihat sendiri bagaimana jadinya keluarga Volturi. Mereka takkan pernah jatuh

kalau semua orang memercayai omong kosong tentang mereka yang melindungi

kehidupan kita."

"Paling tidak bila memerintah nanti, kita jujur tentang diri kita apa adanya"

Vladimir menjawab.

Stefan mengangguk. "Kita tidak pernah berlagak baik dan menganggap diri kita

suci."

"Kupikir sudah tiba saatnya bertempur," kata Vladimir. "Bagaimana kau bisa

membayangkan kita akan menemukan kekuatan yang lebih baik untuk melakukannya?

Kesempatan lain sebagus ini?"

"Tak ada yang mustahil. Mungkin suatu saat nanti..."

"Kita sudah menunggu selama seribu lima ratus tahun, Stefan. Dan mereka

semakin lama semakin kuat." Vladimir terdiam sejenak dan memandangiku lagi. Ia tidak

menunjukkan keheranan ketika melihatku memandanginya juga. "Kalau keluarga Volturi

memenangkan konflik ini, mereka akan pergi dengan kekuatan yang lebih besar

daripada saat mereka datang. Dengan setiap penaklukan, mereka memperoleh

tambahan kekuatan. Pikirkan apa yang bisa diberikan vampir baru itu saja kepada

mereka"—ia menyentakkan dagunya ke arahku—"padahal dia belum menemukan

semua bakat yang dimilikinya. Belum lagi si penggoyang bumi itu." Vladimir

mengangguk ke arah Benjamin, yang mengejang. Hampir semua orang sekarang

menguping pembicaraan kelompok Rumania, seperti aku. "Dengan penyihir kembar

mereka, mereka tidak membutuhkan si pesulap atau si sentuhan api." Matanya beralih

ke Zafrina, kemudian Kate.

Stefan memandangi Edward. "Si pembaca pikiran juga tidak terlalu diperlukan.

Tapi aku mengerti maksudmu. Benar, mereka akan mendapat banyak kalau menang."

"Lebih daripada yang kita rela mereka dapatkan, kau sependapat, bukan?"

Stefan mendesah. "Kurasa aku harus sependapat denganmu. Dan itu berarti..."

"Kita harus melawan mereka selagi masih ada harapan."

"Kalau kita bisa melumpuhkan mereka, bahkan, mengekspos mereka..."

"Kemudian, suatu saat nanti, yang lain-lain yang akan menyelesaikannya"

"Dan dendam kita akan terlunaskan. Akhirnya."

549

Mereka saling menatap beberapa saat, kemudian bergumam serempak.

"Sepertinya hanya itu satu-satunya jalan."

"Jadi kita bertempur," kata Stefan.

Walaupun aku bisa melihat hati mereka terbagi, keinginan mempertahankan diri

berperang dengan dendam, senyum yang tersungging di bibir mereka penuh antisipasi.

"Kita bertempur," Vladimir setuju.

Kurasa itu baik seperti Alistair, aku yakin pertempuran mustahil dihindari. Dalam

hal ini, tambahan dua vampir lagi yang mau bertempur di pihak kami akan sangat

membantu. Tapi keputusan kelompok Rumania tetap membuatku bergidik.

"Kami akan bertempur juga," kata Tia, suaranya yang biasanya muram terdengar

lebih khidmat. "Kami yakin keluarga Volturi akan melampaui otoritas mereka. Kami tidak

ingin menjadi bagian dari mereka." Mata Tia menatap pasangannya.

Benjamin menyeringai dan melirik kelompok Rumania dengan sikap nakal.

"Rupanya, aku komoditas panas. Kelihatannya aku harus memenangkan hak untuk

bebas,"

"Ini bukan pettama kalinya aku bertempur untuk melepaskan diri dari kekuasaan

raja," sergah Garrett dengan nada menggoda. Ia menghampiri Benjamin dan menepuk

punggungnya. "Untuk kebebasan dari penindasan."

“Kami berpihak pada Cariisle," kata Tanya. "Dan kami bertempur bersamanya."

Pernyataan kelompok Rumania sepertinya membuat yang lain-lain merasa perlu

mendeklarasikan diri mereka juga.

"Kami belum memutuskan," kata Peter. Ia menunduk memandangi pasangannya

yang bertubuh mungil; bibir Charlotte mengatup tidak puas. Kelihatannya ia sudah

mengambil keputusan. Dalam hati aku bertanya-tanya apa gerangan keputusannya itu.

"Hal yang sama berlaku untukku," kata Randall.

"Dan aku," imbuh Mary.

"Kawanan kami akan bertempur bersama keluarga Cullen," kata Jacob tiba-tiba.

"Kami tidak takut pada vampir," imbuh-nya sambil tersenyum mengejek.

"Dasar anak-anak," gerutu Peter,

"Bocah-bocah ingusan," Randall mengoreksi.

550

Jacob menyeringai mengejek.

"Well, aku ikut," seru Maggie, menepiskan tangan dari cengkeraman Siobhan

yang berusaha menahannya. "Aku tahu kebenaran ada di pihak Cariisle. Aku tak bisa

mengabaikan hal itu,"

Siobhan memandangi anggota junior kelompoknya dengan sorot khawatir.

"Carilisle," katanya, seolah-olah hanya ada mereka di sana, tak menggubris situasi yang

mendadak formal dalam pertemuan ini, bagaimana beberapa pihak tiba-tiba

mendeklarasikan diri. "Aku tak ingin ini menjadi pertempuran"

"Aku juga tidak, Siobhan. Kau tahu aku paling tidak menginginkan hal itu." Carlisle

separo tersenyum. "Mungkin sebaiknya kau berkonsentrasi membuat situasi tetap

damai."

"Kau tahu itu takkan membantu," tukas Siobhan.

Aku teringat pembicaraan Rose dan Carlisle tentang pemimpin kelompok Irlandia

itu; Carlisle yakin Siobhan memiliki bakat yang halus tapi kuat untuk membuat keadaan

menjadi seperti yang ia inginkan—namun Siobhan sendiri tidak meyakininya.

"Tak ada salahnya, kan?" ujar Carlisle.

Siobhan memutar bola matanya. "Haruskah aku memvisualisasikan hasil yang

kuinginkan?" tanyanya sarkastis,

Carlisle terang-terangan menyeringai sekarang. "Kalau kau tidak keberatan."

"Kalau begitu, kelompokku tidak perlu mendeklarasikan dirinya, bukan?" dengus

Siobhan. "Karena tidak ada kemungkinan akan terjadi pertempuran." Ia memegang

bahu Maggie, menarik gadis itu lebih dekat lagi padanya. Pasangan Siobhan, Liam,

berdiri diam tanpa ekspresi.

Hampir semua yang ada di ruangan itu terlihat bingung mendengar percakapan

antara Carlisle dan Siobhan yang jelas bernada bercanda, tapi mereka diam saja.

Itulah akhir pembicaraan dramatis malam ini. Pelan-pelan semua mulai

membubarkan diri, sebagian pergi berburu, sebagian lagi melewatkan waktu dengan

buku-buku Carlisle, menonton televisi, atau bermain komputer.

Edward, Renesmee, dan aku pergi berburu. Jacob ikut.

"Dasar lintah-lintah tolol," gerutu Jacob begitu sampai di luar rumah. "Dikiranya

mereka itu sangat superior." Ia mendengus,

551

"Mereka pasti shock berat kalau bocah-bocah ingusan itu nanti yang

menyelamatkan hidup superior mereka, ya, kan?" goda Edward.

Jake tersenyum dan meninju pundaknya. "Ya, benar sekali."

Ini bukan perburuan terakhir kami. Kami akan berburu lagi nanti mendekati saat

kedatangan keluarga Vbkuri. Karena tenggat waktunya tidak diketahui persis kapan,

rencananya kami akan berada di lapangan bisbol besar yang dilihat Alice dalam

penglihatannya selama beberapa hari, untuk berjaga-jaga saja. Kami hanya tahu mereka

akan datang pada saat salju sudah menutupi tanah. Kami tak ingin keluarga Volturi

berada terlalu dekat ke kota, dan Demetri akan membawa mereka ke mana pun kami

berada. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa yang bakal dilacaknya, dan dugaanku ia

bakal melacak Edward, karena ia tidak bisa melacakku.

Aku memikirkan Demetri sambil berburu, tidak begitu memerhatikan buruanku

ataupun kepingan-kepingan salju yang akhirnya muncul rapi meleleh sebelum sempat

menyentuh tanah yang berbatu-batu. Sadarkah Demetri ia tidak bisa melacakku?

Bagaimana reaksinya mengetahui hal itu? Bagaimana reaksi Aro? Atau Edward keliru?

Ada beberapa pengecualian kecil dari apa yang bisa kutahan, cara-cara menghindari

perisaiku. Semua yang ada di luar pikiranku rapuh terbuka bagi hal-hal yang bisa

dilakukan Jasper, Alice, dan Benjamin. Mungkin bakat Demetri juga sedikit berbeda.

Kemudian sebuah pikiran mendadak muncul dalam benakku, membuat

langkahku berhenti. Rusa yang sudah separo kering terjatuh dari tanganku ke tanah

berbatu-batu. Keping-keping salju menguap hanya beberapa sentimeter dari tubuh yang

hangat dengan suara mendesis-desis kecil. Aku memandang kosong tanganku yang

berlumuran darah.

Edward melihat reaksiku dan bergegas mendatangiku, meninggalkan buruannya

begitu saja.

"Ada apa?" tanyanya pelan, matanya menyapu hutan di sekeliling kami, mencari

apa pun yang memicu reaksiku barusan. "Renesmee," kataku, suaraku tersedak. "Dia di

balik pohon-pohon itu," Edward menenangkanku. "Aku bisa mendengar baik pikirannya

maupun pikiran Jacob. Dia baik-baik saja."

"Bukan itu yang kumaksud," sergahku. "Aku sedang memikirkan perisaiku kau

benar-benar menganggapnya hebat, bahwa bakatku itu akan bisa membantu. Aku tahu

yang lain-lain berharap aku bisa menamengi Zafrina dan Benjamin, walaupun aku hanya

bisa melakukannya selama beberapa detik saja setiap kali. Bagaimana kalau ada

kesalahan? Bagaimana kalau keyakinanmu padaku justru menjadi alasan kita gagal?"

552

Suaraku nyaris histeris, walaupun aku memiliki cukup pengendalian diri untuk

menjaga suaraku tetap pelan. Aku tak ingin membuat Renesmee takut.

"Bella, apa yang membuatmu tiba-tiba berpikir begitu? Tentu saja,

menyenangkan sekali kalau kau bisa melindungi dirimu, tapi kau tidak bertanggung

jawab menyelamatkan siapa-siapa. Jangan membuat dirimu tertekan karena hal yang

tidak perlu."

"Tapi bagaimana kalau aku tak bisa melindungi apa-apa?" bisikku sambil

tersengal panik. "Yang bisa kulakukan ini, ini tidak bisa diandalkan, tidak benar! Tidak

ada dasar atau alasan untuk merasa yakin. Mungkin ini takkan bisa melawan Alec sama

sekali"

"Ssst," Edward menenangkanku. "Jangan panik. Dan jangan khawatirkan Alec.

Apa yang dia lakukan tidak berbeda dengan yang dilakukan Jane atau Zafrina, Itu hanya

ilusi dia tidak bisa masuk ke dalam pikiranmu, sama seperti aku."

"Tapi Renesmee bisa!" Aku mendesis panik dari sela-sela gigiku, "Rasanya begitu

alami, jadi aku tak pernah menanyakannya sebelumnya. Sejak dulu dia memang selalu

begitu. Tapi dia memasukkan pikiran-pikirannya ke dalam kepalaku sama seperti dia

melakukannya pada orang-orang lain. Ada celah di perisaiku, Edward

Kutatap Edward dengan putus asa, menunggunya membenarkan kesadaranku

yang mengerikan itu. Bibirnya mengerucut, seakan-akan ia berusaha memutuskan

bagaimana menjelaskan sesuatu. Ekspresinya tampak sangat rileks.

"Kau sudah lama memikirkan hal ini, ya?" desakku, merasa seperti idiot karena

setelah berbulan-bulan baru menyadari sesuatu yang terpampang begitu jelas.

Edward mengangguk, senyum samar terbentuk di sudut-sudut mulutnya. "Sejak

dia pertama kali menyentuhmu."

Aku mendesah, menyesali kebodohanku sendiri, tapi sikap Edward yang kalem

sedikit membuatku tenang. "Tapi itu tidak membuatmu merasa terganggu? Menurutmu

itu bukan masalah?"

"Aku punya dua teori, yang satu lebih besar kemungkinannya daripada yang lain."

"Beritahukan yang paling tidak mungkin."

"Well, dia anakmu," Edward menjelaskan. "Secara genetis dia separo kau. Dulu

aku sering menggodamu tentang bagaimana pikiranmu berada dalam frekuensi berbeda

dari kami semua. Mungkin frekuensi pikirannya sama denganmu,"

553

Aku tak bisa menerimanya, "Tapi kau mendengar pikirannya dengan jelas. Semua

orang bisa mendengar pikirannya. Dan bagaimana kalau pikiran Alec berada dalam

frekuensi berbeda? Bagaimana kalau...?"

Edward menempelkan jarinya ke bibirku. "Aku sudah mempertimbangkan hal itu.

Itulah sebabnya menurutku teori berikut ini jauh lebih mungkin."

Aku mengertakkan gigi dan menunggu.

"Ingatkah kau apa yang dikatakan Carlisle padaku tentang Renesmee, tepat

setelah dia menunjukkan kenangan pertamanya padamu?"

Tentu saja aku ingat. "Katanya, 'Bakat yang menarik. Seolah-olah dia melakukan

hal sebaliknya dari apa yang bias kaulakukan."'

"Ya. Dan aku juga heran. Mungkin dia mengambil bakatmu dan membaliknya

juga."

Aku mempertimbangkan hal itu.

"Tidak ada yang tahu isi pikiranmu" Edward memulai.

"Dan tak ada yang tidak tahu pikiran Renesmee?" aku menyelesaikan dengan

nada ragu.

"Begitulah teoriku," kata Edward, "Dan kalau dia bisa masuk ke dalam kepalamu,

aku ragu ada perisai di planet ini yang sanggup menjauhkannya. Itu akan membantu.

Dari apa yang kita lihat selama ini, tak ada otang yang bisa meragukan kebenaran pikiran

Renesmee setelah mereka mengizinkannya menunjukkan pikiran-pikiran itu pada

mereka. Dan kurasa, tak ada yang bisa menghalangi Renesmee menunjukkan pikirannya

pada mereka, asal dia bisa berada cukup dekat. Bila Aro memberinya kesempatan

menjelaskan..."

Aku bergidik membayangkan Renesmee berada sangat dekat dengan mata Aro

yang serakah dan berkabut.

"Well" kata Edward, mengusap-usap bahuku yang tegang. "Setidaknya tidak ada

yang bisa menghalangi Aro melihat hal sebenarnya."

"Tapi apakah hal yang sebenarnya cukup untuk menghentikan Aro?" bisikku.

Untuk itu, Edward tidak memiliki jawaban.

554

35. TENGGAT WAKTU

"mau pergi?" tanya Edward, nadanya sambil lalu. Ada semacam ketenangan yang

dipaksakan dalam ekspresi wajahnya. Ia memeluk Renesmee sedikit lebih erat ke

dadanya.

"Ya, ada beberapa urusan yang harus dibereskan.,.," jawabku, sama tenangnya.

Ia menyunggingkan senyum favoritku. "Cepatlah kembali padaku."

"Selalu."

Kubawa lagi Volvonya, dalam hati penasaran apakah Edward membaca odometer

setelah aku pergi waktu itu. Berapa banyak yang bisa disimpulkannya dari semua itu?

Bahwa aku merahasiakan sesuatu, jelas. Bisakah ia menyimpulkan alasan mengapa aku

tidak bercerita padanya? Apakah ia sudah bisa menebak bahwa Aro mungkin akan

mengetahui semua yang ia ketahui? Kupikir Edward pasti bisa menyimpulkan hal itu,

karena ia tidak menuntut penjelasan apa-apa dariku. Kurasa ia berusaha tidak

berspekulasi terlalu banyak, berusaha tidak memikirkan perilakuku. Apakah ia sudah

bisa

Menebak dari sikapku yang ganjil di pagi hari setelah Alice pergi membakar

bukuku di perapian? Entah apakah ia bisa menghubungkannya.

Sore itu sangat muram, hari gelap seperti sudah senja. Aku memacu mobilku

menembus keremangan, mataku tertuju ke awan tebal. Apakah malam ini akan turun

salju? Cukup untuk melapisi tanah dan menciptakan pemandangan seperti yang tampak

dalam penglihatan Alice? Edward memperkirakan kami masih punya wakru kira-kira dua

hari lagi. Kemudian kami akan berjaga-jaga di lapangan, menarik keluarga Volturi ke

tempat yang sudah kami pilih.

Saat melaju melintasi hutan yang semakin gelap, aku memikirkan perjalanan

terakhirku ke Seattle. Kurasa aku tahu tujuan Alice mengirimku ke kawasan kumuh

tempat J. Jenks berurusan dengan klien-kliennya yang berasal dari kalangan bawah. Bila

aku pergi ke kantornya yang lain, yang lebih resmi, mungkinkah aku tahu apa yang akan

kuminta? Seandainya aku bertemu dengannya sebagai Jason Jenks atau Jason Scott,

pengacara baik-baik, mungkinkah aku bisa menemukan J. Jenks, pemalsu dokumendokumen

ilegal? Aku harus melewati rute itu untuk tahu bahwa aku membutuhkan

sesuatu yang melanggar hukum. Itu petunjuk buatku.

Hari sudah gelap ketika mobilku memasuki tempat parkir restoran beberapa

menit lebih awal, mengabaikan para petugas valet di ambang pintu yang bersemangat

555

ingin membantu. Aku mengenakan lensa kontak dan menunggu J di dalam restoran.

Walaupun aku tergesa-gesa ingin segera membereskan urusan menyedihkan ini dan

kembali bersama keluargaku, J sepertinya berhati-hati untuk tidak menodai reputasinya;

aku punya firasat transaksi yang dilakukan di tempat parkir yang gelap pasti akan

menyinggung perasaannya.

Aku memberi nama Jenks di meja depan dan maître d' yang berwajah muram

membimbingku ke lantai atas, ke ruangan pribadi kecil lengkap dengan perapian dari

batu yang apinya berderak-derak. Ia mengambil mantel panjang warna gading yang

kupakai untuk menutupi fakta bahwa aku mengenakan apa yang oleh Alice dianggap

sebagai busana yang tepat, dan si maitre d' terkesiap pelan begitu melihat gaun

koktailku yang terbuat dari satin warna putih kerang. Mau tak mau aku tersanjung juga;

aku masih belum terbiasa dianggap cantik oleh setiap orang selain Edward. Si maitre d'

melontarkan pujian terbata-bata sementara ia meninggalkan ruangan dengan sikap

goyah.

Aku berdiri di depan perapian, menunggu, mendekatkan jari-jariku ke api untuk

menghangatkannya sedikit sebelum berjabat tangan nanti. Walaupun jelas J sudah tahu

ada yang tidak biasa dengan keluarga Cullen, tapi tetap saja ini kebiasaan yang baik

untuk dipraktikkan.

Sekilas aku sempat penasaran bagaimana rasanya memasukkan tanganku ke api.

Bagaimana rasanya terbakar...

Kedatangan J mengalihkanku dari pikiran yang tidak-tidak. Si maître d' juga

mengambil mantelnya, dan terbukti ternyata bukan aku satu-satunya yang berdandan

rapi untuk pertemuan ini,

"Maaf saya terlambat," kata J begitu kami ditinggal berdua saja.

"Tidak, Anda tepat waktu kok"

J mengulurkan tangan, dan kami berjabat tangan. Aku bisa merasakan jari-jarinya

lebih hangat daripada jari-jariku. Namun sepertinya itu tidak membuatnya terganggu,

"Anda tampak memesona, kalau saya boleh lancang mengatakannya, Mrs,

Cullen."

"Terima kasih, J. Please, panggil saya Bella."

"Harus saya katakan, sungguh merupakan pengalaman yang berbeda bekerja

dengan Anda dibandingkan dengan Mr. Jasper. Tidak begitu... menegangkan." Ia

tersenyum ragu.

556

"Benarkah? Padahal selama ini saya merasa kehadiran Jasper justru sangat

menenangkan."

Alis J bertaut. "Begitu, ya?" gumamnya sopan meski jelas-jelas tidak sependapat

denganku. Aneh sekali. Apa yang telah dilakukan Jasper pada lelaki ini?

“Anda sudah lama kenal Jasper?"

J mendesah, tampak gelisah. "Saya sudah bekerja dengan Mr. Jasper selama lebih

dari dua puluh tahun, dan partner lama saya mengenalnya selama lima belas tahun

sebelumnya... Dia tidak pernah berubah." J meringis sedikit.

"Yeah, Jasper memang sedikit aneh dalam hal itu."

J menggeleng-gelengkan kepala seolah tak dapat mengenyahkan pikiran-pikiran

yang mengganggu. "Silakan duduk, Bella."

"Sebenarnya, saya agak terburu-buru. Saya harus menyetir cukup jauh untuk

pulang." Sambil bicara aku mengeluarkan amplop putih tebal dengan bonus untuknya

dari tas dan menyerahkannya padanya.

"Oh," ucap J, ada sedikit nada kecewa dalam suatanya. Ia memasukkan amplop

itu ke saku dalam jasnya tanpa merasa perlu mengecek jumlahnya. "Padahal saya

berharap kita bisa ngobrol-ngobrol sebentar."

"Tentang?" tanyaku ingin tahu.

"Well, biar saya serahkan dulu barang-barang pesanan Anda. Saya ingin

memastikan Anda puas."

Ia berbalik, meletakkan tas kerjanya di meja, lalu membuka kunci-kuncinya. Ia

mengeluarkan amplop besar.

Walaupun tidak tahu apa persisnya yang harus kuteliti, aku melayangkan

pandangan sekilas pada isi amplop. J membalik foto Jacob dan mengubah warnanya

sehingga tidak terlalu kentara bahwa yang tercantum dalam paspor maupun SIM-nya

adalah foto yang sama. Keduanya tampak sempurna di mataku, tapi itu tidak berarti

banyak. Kulirik sekilas foto paspor Vanessa Wolfe, kemudian buru-buru membuang

muka, kerongkonganku tercekat.

"Terima kasih," kataku.

Mata J menyipit sedikit, dan aku merasa ia kecewa aku tidak terlalu cermat

meneliti. "Bisa saya pastikan semua sempurna. Semua pasti akan lolos pemeriksaan

paling ketat oleh ahlinya sekalipun."

557

"Saya yakin begitu. Saya benar-benar menghargai apa yang sudah Anda lakukan

untuk saya, J."

"Sayalah yang senang, Bella. Di masa mendatang jangan segan-segan datang

kepada saya untuk apa saja yang dibutuhkan keluarga Cullen." Ia tidak menyinggungnya

sama sekali, tapi kedengarannya seperti undangan agar aku mengambil alih posisi Jasper

sebagai perantara.

"Tadi kata Anda ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan?"

"Eh, ya. Masalahnya sedikit rumit,.." Ia melambaikan tangan ke perapian batu

dengan ekspresi bertanya. Aku duduk di pinggir batu, dan ia duduk di sebelahku. Titiktitik

keringat kembali bermunculan di keningnya, ia mengeluarkan saputangan sutra bitu

dari saku dan mulai menyeka peluhnya.

"Anda saudari istri Mr. Jasper? Atau menikah dengan saudara lelakinya?" tanya J.

"Menikah dengan saudara lelakinya," aku mengklarifikasi, bertanya-tanya akan

mengarah ke mana pembicaraan ini.

"Kalau begitu, Anda istri Mr. Edward?"

"Benar,"

J tersenyum meminta maaf, "Saya sudah sering melihat nama-namanya, Anda

mengerti. Selamat, walaupun terlambat. Senang rasanya Mr, Edward telah menemukan

pasangan yang sangat memesona setelah sekian lama."

"Terima kasih banyak."

J terdiam sejenak, mengusap-usap saputangannya, "Setelah sekian tahun, Anda

tentunya paham saya sangat respek kepada Mr, Jasper dan seluruh keluarganya."

Aku mengangguk hati-hati.

J menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya tanpa bicara.

"J, katakan saja apa yang ingin Anda katakan."

Lagi-lagi ia menghela napas dan bergumam cepat, kata-katanya menyatu hingga

tidak terdengar jelas.

"Kalau Anda bisa meyakinkan saya bahwa Anda tidak berencana menculik gadis

kecil itu dari ayahnya, saya pasti bisa tidur nyenyak malam ini."

558

"Oh," ucapku, terperangah. Butuh waktu satu menit untuk memahami

kesimpulan keliru yang diambilnya. "Oh tidak. Sama sekali tidak seperti itu." Aku

tersenyum lemah, berusaha meyakinkannya. "Saya sekadar menyiapkan tempat yang

aman untuknya, kalau-kalau terjadi sesuatu pada saya dan suami saya."

Mata J menyipit. "Anda memperkirakan akan terjadi sesuatu?" Wajahnya

memerah, lalu ia meminta maaf. "Sebenarnya itu bukan urusan saya."

Aku melihat semburat merah menyebar di balik membran kulitnya yang tipis dan

merasa senang—seperti yang sering kurasakan—bahwa aku bukan vampir baru biasa. J

sepertinya cukup baik, kalau mengesampingkan sisi kriminalnya, jadi akan sungguh

sayang kalau ia dibunuh. "Kita takkan pernah tahu," desahku,

J mengerutkan kening. "Semoga Anda beruntung kalau begitu. Dan saya mohon,

jangan kesal pada saya, my dear, tapi,., kalau Mr. Jasper datang menemui saya dan

bertanya nama apa yang saya cantumkan dalam dokumen-dokumen itu..."

"Tentu saja Anda harus langsung memberitahunya. Saya akan senang sekali bila

Mr. Jasper tahu tentang seluruh transaksi kita."

Sikap sungguh-sungguhku yang tulus sepertinya mampu meredakan sedikit

keregangan J.

"Bagus sekali" ujarnya. "Dan saya tetap tidak bisa membujuk Anda untuk makan

malam bersama?"

"Maafkan saya, J. Saat ini saya sedang diburu waktu."

"Kalau begitu, sekali lagi, saya doakan Anda tetap sehat dan bahagia. Apa saja

yang dibutuhkan keluarga Cullen, mohon jangan segan-segan menghubungi saya. Bella."

"Terima kasih, J."

Aku pergi dengan membawa barang-barang palsuku, menoleh sekilas dan melihat

J memandangiku, ekspresinya cemas bercampur menyesal.

Perjalanan pulang kutempuh lebih cepat. Malam itu gelap gulita, maka aku

mematikan lampu dan menginjak pedal gas sampai dasar. Sesampai di rumah, sebagian

besar mobil, termasuk Porsche Alice dan Ferrari-ku, tak ada di garasi. Para vampir

tradisional pergi sejauh mungkin untuk memuaskan dahaga. Aku berusaha tidak

memikirkan perburuan mereka di malam hari, meringis membayangkan korbankorbannya.

559

Hanya Kate dan Garrett yang berada di ruang depan, berdebat sambil bercanda

tentang kandungan nutrisi darah binatang. Aku menduga Garrett mencoba berburu

secara vegetarian tapi merasa itu sulit.

Edward pasti membawa Renesmee pulang ke pondok untuk tidur. Jacob, tak

diragukan lagi, pasti berada di hutan dekat pondok. Seluruh anggota keluargaku yang

lain pasti juga sedang pergi berburu. Mungkin pergi bersama keluarga Denali.

Itu berarti pada dasarnya aku sendirian di rumah, dan aku tidak menyia-nyiakan

kesempatan itu.

Dari penciumanku kentara sekali aku orang pertama yang memasuki kamar Alice

dan Jasper setelah sekian lama, mungkin yang pertama sejak malam mereka

meninggalkan kami. Aku memeriksa lemari mereka tanpa suara sampai menemukan tas

yang tepat. Tas itu pasti milik Alice; ransel kulit hitam kecil, model yang biasa digunakan

sebagai dompet, cukup kecil hingga bahkan Renesmee bisa membawanya tanpa terlihat

aneh. Kemudian aku merampok simpanan uang mereka, membawa dua kali jumlah

pendapatan tahunan rata-rata rumah tangga Amerika. Kurasa pencurianku takkan

begitu kentara di sini ketimbang di bagian lain rumah, karena kamar ini membuat semua

orang sedih. Amplop berisi paspor dan KTP palsu masuk ke tas, diletakkan di atas

tumpukan uang. Kemudian aku duduk di pinggir tempat tidur Alice dan Jasper, dengan

sedih memandangi bungkusan tak berarti yang hanya bisa kuberikan kepada putri dan

sahabatku untuk membantu menyelamatkan hidup mereka. Aku bersandar lemas di

tiang tempat tidur, merasa tak berdaya.

Apa lagi yang bisa kulakukan?

Aku duduk di sana selama beberapa menit dengan kepala tertunduk sebelum ide

gemilang muncul dalam benakku.

Seandainya...

Seandainya aku berasumsi Jacob dan Renesmee harus melarikan diri, seharusnya

aku juga berasumsi bahwa Demetri tewas. Dengan demikian, mereka yang selamat

memiliki sedikit ruang untuk bernapas, termasuk Alice dan Jasper.

Kalau begitu, mengapa Alice dan Jasper tak bisa membantu Jacob dan

Renesmee? Kalau mereka bisa dipertemukan kembali, Renesmee akan mendapatkan

perlindungan terbaik yang bisa dibayangkan. Tak ada alasan mengapa ini tidak bisa

terjadi, kecuali fakta bahwa Jake dan Renesmee tidak bisa dilihat Alice. Bagaimana Alice

bisa mulai mencari mereka?

Aku menimbang-nimbang sejenak, kemudian meninggalkan kamar,

menyeberangi lorong menuju kamar suite Carlisle dan Esme. Seperti biasa, meja Esme

560

dipenuhi tumpukan kertas dan cetak biru, semuanya tersusun rapi dalam tumpukan

tinggi. Meja itu memiliki kotak-kotak kecil di permukaannya; salah satunya kotak berisi

kertas surat. Aku mengambil selembar kertas dan bolpoin.

Kemudian aku memandangi kertas kosong berwarna putih gading itu selama satu

menit penuh, berkonsentrasi pada keputusanku. Alice mungkin tak bisa melihat Jacob

atau Renesmee, tapi ia bisa melihatku. Aku membayangkan ia melihatku saat ini

sepenuh hati berharap ia tidak sedang terlalu sibuk untuk memerhatikan.

Lambat-lambat, dengan sengaja, aku menuliskan kata-kata RIO DE JANEIRO

dalam huruf-huruf besar, memenuhi kertas,

Rio sepertinya tempat terbaik ke mana aku bisa mengirim mereka: letaknya jauh

dari sini, Alice dan Jasper menurut laporan terakhir berada di Amerika Selatan, dan

bukan berarti masalah-masalah lama kami hilang hanya karena kami memiliki masalah

yang lebih besar sekarang. Masa depan Renesmee masih misterius, usianya yang melaju

cepat juga masih menyisakan teror. Sebelumnya kami juga sudah berencana pergi ke

selatan. Sekarang akan menjadi tugas Jacob, dan mudah-mudahan Alice, untuk mencari

legenda-legenda itu.

Aku menunduk lagi, menahan desakan tiba-tiba untuk menangis, mengatupkan

gigiku rapat-rapat. Lebih baik Renesmee melanjutkan hidup tanpaku. Tapi aku sudah

sangat merindukan dia hingga nyaris tak sanggup menahan kesedihanku.

Aku menghela napas dalam-dalam dan memasukkan pesan itu di dasar tas ransel,

tempat Jacob akan menemukannya tak lama lagi.

Aku hanya bisa berharap karena kecil kemungkinan di SMA Jacob ada pelajaran

bahasa Portugis Jake setidaknya mengambil kelas Bahasa Spanyol sebagai mata

pelajaran pilihan.

Tak ada lagi yang bisa dilakukan sekarang kecuali menunggu.

Selama dua hari Edward dan Carlisle bertahan di lapangan tempat Alice melihat

keluarga Volturi datang. Lapangan yang sama tempat vampir-vampir baru Victoria

menyerang kami musim panas lalu. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah rasanya

seperti pengulangan bagi Carlisle, seperti déjà vu. Bagiku, semua bakal terasa baru. Kali

ini Edward dan aku akan berdiri bersama keluarga kami.

Kami hanya bisa membayangkan keluarga Volturi akan melacak keberadaan

Edward atau Carlisle. Aku penasaran apakah mereka akan terkejut mendapati buruan

mereka tidak lari. Apakah itu akan membuat mereka waswas? Aku tak bisa

membayangkan keluarga Volturi pernah merasa perlu berhati-hati.

561

Walaupun aku mudah-mudahan tidak terlihat oleh Demetri, aku tetap bersama

Edward. Tentu saja. Kami hanya punya waktu beberapa jam untuk bersama-sama,

Edward dan aku belum melakukan apa-apa sebagai ucapan selamat tinggal

terakhir, juga tidak merencanakannya. Mengucapkan kata itu akan membuatnya

menjadi sesuatu yang final. Sama seperti mengetikkan kata Tamat di halaman terakhir

naskah. Maka kami pun tidak saling mengucapkan selamat berpisah, dan kami selalu

berdekatan, saling menyentuh. Bagaimanapun hasil akhirnya nanti, kami tetap takkan

berpisah.

Kami mendirikan tenda untuk Renesmee beberapa meter ke dalam naungan

hutan yang melindungi. Itu seperti deja vu lagi, mengingat waktu kami berkemah dalam

cuaca dingin bersama Jacob. Hampir tak bisa dipercaya betapa banyaknya yang telah

berubah sejak bulan Juni. Tujuh bulan lalu, hubungan segitiga kami sepertinya mustahil,

tiga hati yang patah tanpa bisa dihindari lagi. Kini semuanya seimbang dan sempurna.

Rasanya sungguh ironis bahwa kepingan-kepingan puzzle itu justru menyatu tepat pada

saat semuanya akan dihancurkan.

Salju mulai turun lagi pada Malam Tahun Baru, Kali ini kepingan-kepingan salju

tidak mencair di tanah lapang yang membatu keras. Sementara Renesmee dan Jacob

tidur Jacob mendengkur sangat keras hingga membuatku heran mengapa Renesmee

tidak terbangun salju mulai membuat lapisan es tipis pertama di tanah, lalu semakin

tebal. Ketika matahari terbit, lengkaplah sudah pemandangan seperti yang dilihat Alice

dalam penglihatannya. Edward dan aku bergandengan tangan, berjalan melintasi

padang putih berkilauan, diam seribu bahasa.

Pagi-pagi sekali yang lain berkumpul, mata mereka memancarkan bukti bisu

mengenai persiapan mereka. Mata mereka sebagian kuning terang, sebagian merah

darah. Tak lama setelah berkumpul kami mendengar para serigala bergerak di dalam

hutan. Jacob muncul dari dalam tenda, meninggalkan Renesmee yang masih tertidur,

untuk bergabung bersama mereka.

Edward dan Carlisle mengatur yang lain-lain dalam formasi longgar, saksi-saksi

kami berdiri di kedua sisi seperti jajaran lukisan di galeri.

Aku menonton dari kejauhan, menunggu di dekat tenda, menjaga Renesmee.

Waktu ia bangun, aku membantunya mengenakan pakaian yang sudah kusiapkan

dengan hati-hati dua hari sebelumnya. Baju yang terlihat manis dan feminin, tapi cukup

praktis dan tidak gampang kusut—walaupun seandainya si pemakai harus memakainya

terus sambil menunggangi serigala raksasa melintasi beberapa negara bagian. Di atas

jaketnya aku memakaikan ransel kulit hitam berisi dokumen-dokumen itu, uang,

petunjuk, dan surat cintaku untuk Renesmee dan Jacob, Charlie dan Renée. Renesmee

cukup kuat hingga itu bukan beban baginya.

562

Matanya membelalak lebar waktu ia melihat kesedihan di wajahku. Tapi ia sudah

bisa menerka sendiri sehingga tidak menanyakan apa yang kulakukan.

“Aku sayang padamu," kataku padanya. "Lebih dari segalanya."

"Aku juga sayang Momma," sahut Renesmee. Ia menyentuh loket di lehernya,

yang sekarang berisi foto dirinya, Edward, dan aku. "Kita akan selalu bersama."

"Dalam hati kita, kita akan selalu bersama," aku mengoreksi sambil berbisik

pelan, sepelan embusan napas. "Tapi kalau waktunya tiba hari ini, kau harus

meninggalkan aku."

Mata Renesmee membelalak, dan ia menyentuhkan tangannya ke pipiku. Kata

tidak yang ia pikirkan justru terdengar lebih lantang daripada bila ia meneriakkannya.

Susah payah aku berusaha menelan ludah; tenggorokanku seperti membengkak.

"Maukah kau melakukannya untukku? Please?"

Renesmee menempelkan jari-jarinya lebih keras lagi ke wajahku. Mengapa?

“Aku tidak bisa memberitahumu," bisikku. "Tapi kau akan mengerti nanti. Aku

janji."

Di benakku, aku melihat wajah Jacob.

Aku mengangguk, lalu menarik jari-jarinya dari wajahku. "Jangan pikirkan itu,"

desahku di telinganya. "Jangan bilang apa-apa pada Jacob sampai aku menyuruhmu lari,

oke?"

Ia mengerti. Ia mengangguk.

Dari saku aku mengeluarkan satu detail terakhir.

Ketika sedang mengemasi barang-barang Renesmee, kilauan warna yang tak

terduga-duga tertangkap olehku. Sinar matahari yang menerobos masuk dari atap kaca

mengenai perhiasan yang tersimpan dalam kotak kuno berharga yang kuletakkan tinggi

di atas rak, di sudut yang tidak tersentuh. Aku menimbang-nimbang beberapa saat,

kemudian mengangkat bahu. Setelah membereskan semua petunjuk untuk Alice, aku

tidak bisa berharap konfrontasi yang terjadi nanti akan berakhir damai. Tapi mengapa

tidak mengawali semuanya seramah mungkin? tanyaku pada diri sendiri. Apa salahnya?

Maka kurasa aku pasti masih memiliki segelintir harapan harapan kecil yang muluk

karena aku kemudian menaiki rak itu dan mengambil hadiah pernikahan yang diberikan

Aro untukku.

563

Sekarang aku mengenakan kalung emas tebal itu di leher dan merasakan berat

berlian besar itu menggelayut di lekukan leherku.

"Cantik" bisik Renesmee. Lalu ia melingkarkan lengannya seperti ular di leherku.

Kudekap ia erat-erat di dada. Dalam posisi berpelukan seperti ini, aku membawanya

keluar dari tenda dan memasuki lapangan.

Edward mengangkat sebelah alis waktu aku mendekat, tapi tidak berkomentar

sama sekali saat melihat Renesmee ataupun aksesori yang kupakai. Ia hanya memeluk

kami lama sekali kemudian, sambil mengembuskan napas dalam-dalam, melepaskan

kami. Aku tidak bisa melihat sorot perpisahan di matanya. Mungkin ia punya harapan

lebih besar akan adanya kehidupan lain setelah kehidupan ini daripada yang selama ini

ia akui.

Kami mengambil tempat masing-masing, Renesmee memanjat punggungku

dengan lincah agar tanganku bebas bergerak. Aku berdiri beberapa meter di belakang

garis depan yang terdiri atas Carlisle, Edward, Emmett, Rosalie, Tanya, Kate, dan Eleazar,

Dekat di sampingku adalah Benjamin dan Zafrina; tugasku melindungi mereka selama

mungkin. Mereka senjata penyerang terbaik kami. Bila keluarga Volturi tidak bisa

melihat, bahkan selama beberapa saat, itu akan mengubah segalanya.

Zafrina kaku dan garang, begitu juga Senna yang berdiri di sampingnya. Benjamin

duduk di tanah, telapak tangannya menempel di tanah, dan menggerutu pelan tentang

garis pembatas. Semalam ia menebar batu-batu kecil dalam gundukan yang terlihat

alami tapi yang sekarang tertutup salju di sepanjang padang rumput, Tidak cukup besar

untuk melukai vampir, tapi mudah-mudahan cukup untuk mengalihkan perhatian.

Para saksi bergerombol di samping kiri dan kanan kami, beberapa berdiri lebih

dekat mereka yang telah mendeklarasikan diri kepada kami adalah yang berdiri paling

dekat. Kulihat Siobhan mengurut pelipisnya, matanya terpejam penuh konsentrasi;

apakah ia berusaha menyenangkan hati Carlislei. Berusaha memvisualisasikan resolusi

diplomatik?

Di hutan di belakang kami, serigala-serigala yang tidak kelihatan berdiri diam dan

siap; kami hanya bisa mendengar napas mereka yang berat, serta jantung mereka yang

berdetak.

Awan bergulung-gulung, menyebarkan cahaya hingga tak jelas apakah sekarang

pagi atau sore. Mata Edward mengeras saat mengamati pemandangan itu, dan aku

yakin ia juga melihat pemandangan yang sama persis detik ini juga pertama kalinya

adalah dalam penglihatan Alice, Pemandangannya akan sama ketika keluarga Volturi

tiba. Berarti waktunya hanya tinggal beberapa menit atau detik sekarang.

564

Seluruh anggota keluarga dan sekutu kami mengejang, bersiap-siap.

Dari dalam hutan, serigala besar berbulu cokelat kemerahan maju dan berdiri di

sampingku; pasti sulit sekali baginya berjauhan dengan Renesmee ketika Renesmee

sedang dalam bahaya besar.

Renesmee mengulurkan tangan untuk menyusupkan jari-jarinya ke pundak si

serigala besar, dan tubuhnya sedikit merileks. Ia lebih tenang kalau ada Jacob di

dekatnya. Aku juga ikut merasa sedikit lebih tenang. Selama ada Jacob bersamanya,

Renesmee akan baik-baik saja.

Tanpa mengambil risiko melirik ke belakang, Edward mengulurkan tangannya ke

belakang, kepadaku. Aku mengulurkan tangan ke depan sehingga bisa menggenggam

tangannya. Edward meremas jari-jariku.

Satu menit lagi berlalu, dan aku mendapati diriku membuka telinga lebar-lebar,

berusaha keras mendengar suara orang datang.

Kemudian Edward menegang dan mendesis pelan dari sela-sela giginya yang

terkatup rapat. Matanya menatap tajam ke hutan di sebelah utara tempat kami berdiri.

Kami memandang ke arah yang dilihatnya, dan menunggu sementara detik demi

detik berlalu.

565

36. HAUS DARAH

mereka datang berarak-arak, begitu anggun.

Formasi mereka kaku dan formal. Mereka bergerak bersama-sama, tapi tidak

seperti sedang berbaris; melainkan mengambang dalam gerakan sinkron dan sempurna

dari balik pepohonan—kesatuan sosok gelap yang tiada putus, seolah mengambang

beberapa sentimeter di atas salju putih, gerakan mereka sangat halus.

Perimeter terluar berwarna abu-abu; semakin ke dalam barisannya semakin

gelap, sampai akhirnya ke jantung formasi yang berwarna paling kelam. Setiap wajah

terlihat tirus, tersaput bayang-bayang. Gesekan pelan kaki mereka begitu teratur

bagaikan musik, ketukan rumit yang tak pernah goyah sedikit pun.

Lewat isyarat yang tak bisa kulihat—atau mungkin memang tak ada isyarat,

hanya hasil latihan berabad-abad—konfigurasi itu melipat ke arah luar. Gerakannya

masih terlalu kaku, kelewat persegi untuk menjadi seperti bunga merekah, walaupun

warnanya memperlihatkan hal itu seperti kipas

terbuka, anggun namun bersegi tajam. Sosok-sosok berjubah abu-abu menyebar

ke sisi kiri dan kanan, sementara sosok-sosok berjubah lebih gelap maju persis di

tengah, setiap gerakannya terkendali sangat rapi.

Gerakan mereka lamban tapi pasti, tidak tergesa-gesa, tidak ada ketegangan,

tidak ada kecemasan. Derap langkah pasukan yang tak terkalahkan.

Ini hampir menyerupai mimpi burukku dulu. Satu-satunya yang kurang hanya

ekspresi mengejek penuh kemenangan yang kulihat di wajah-wajah dalam mimpiku—

senyum senang penuh nafsu membalas dendam. Sejauh ini, keluarga Volturi terlalu

disiplin untuk menunjukkan emosi apa pun. Mereka juga tidak menunjukkan ekspresi

kaget ataupun kecewa melihat kumpulan vampir yang menunggu mereka di sini—

kumpulan yang tiba-tiba saja terlihat berantakan dan tidak siap bila dibandingkan

rombongan mereka. Mereka juga tidak menunjukkan tanda-tanda kaget melihat serigala

raksasa berdiri di tengah-tengah kami.

Aku tak tahan untuk tidak menghitung. Mereka berjumlah 32. Meski tidak

menghitung dua sosok berjubah hitam yang berdiri agak jauh dan menyendiri di barisan

paling belakang, yang dugaanku adalah para istri—posisi mereka yang terlindungi

mengisyaratkan mereka takkan terlibat dalam penyerangan—jumlah kami tetap kalah

banyak. Hanya bersembilan belas dari kami yang akan bertempur, dan tujuh yang akan

566

menonton saat kami dihancurkan. Bahkan dengan tambahan sepuluh serigala, kami

tetap kalah.

"Pasukan berjubah merah datang, pasukan berjubah merah datang," gumam

Garrett misterius pada dirinya sendiri, kemudian terkekeh. Ia bergeser selangkah lebih

dekat pada Kate.

"Mereka benar-benar datang," bisik Vladimir pada Stefan.

"Istri-istri juga," Stefan balas mendesis. "Seluruh pengawal. Mereka semua

bersama-sama. Bagus juga kita tidak mencoba menyerang ke Volterra."

Kemudian, seakan-akan jumlah mereka belum cukup, sementara keluarga Volturi

perlahan-lahan maju dengan anggun, lebih banyak lagi vampir memasuki lapangan di

belakang mereka.

Wajah-wajah dalam barisan panjang vampir yang terus berdatangan dan seolah

tak putus-putus itu merupakan antitesis kedisiplinan keluarga Volturi yang tanpa

ekspresi'—wajah mereka merupakan kaleidoskop emosi yang bermacam-macam.

Awalnya mereka terlihat shock dan beberapa bahkan cemas begitu melihat kekuatan

tak terduga yang menunggu. Tapi kecemasan itu dengan cepat langsung lenyap; mereka

merasa aman karena jumlah mereka yang sangat besar, aman dalam posisi mereka di

belakang pasukan Volturi yang tak terhentikan. Air muka mereka kembali ke ekspresi

yang mereka tunjukkan ketika kami membuat mereka terkejut tadi.

Cukup mudah memahami jalan pikiran mereka—wajah-wajah itu cukup eksplisit.

Ini rombongan yang marah, dilecut nafsu untuk menuntut keadilan. Aku tak sepenuhnya

menyadari perasaan dunia vampir terhadap anak-anak imortal sebelum aku membaca

wajah mereka.

Jelas sekali rombongan yang tak beraturan ini—jumlahnya lebih dari empat puluh

vampir—adalah para saksi dari pihak keluarga Volturi. Kalau kami sudah mati nanti,

mereka akan menyebarkan berita bahwa para kriminal telah dilenyapkan, bahwa

keluarga Volturi telah bertindak tegas, tanpa memihak sama sekali. Sebagian besar

terlihat seperti mengharapkan lebih dari sekadar kesempatan menyaksikan—mereka

ingin membantu mencabik-cabik dan membakar.

Kami tak punya doa apa pun. Walaupun kami berhasil menetralisir serangan

keluarga Volturi, entah bagaimana caranya, saksi-saksi itu masih bisa mengubur kami.

Walaupun seandainya kami bisa membunuh Demetri, Jacob pasti takkan mampu lari

dari kejaran mereka.

567

Aku bisa merasakannya saat pemahaman yang sama meresap dalam pikiran

semua vampir di sekelilingku. Perasaan putus asa menggayut di udara, mendorongku ke

bawah dengan tekanan yang lebih besar daripada sebelumnya.

Satu vampir di pasukan lawan sepertinya tidak tergabung dalam pasukan mana

pun; aku mengenali Irina ketika ia berdiri ragu di antara kedua pasukan, ekspresinya

unik. Sorot ngerinya tertuju pada posisi Tanya di barisan depan. Edward menggeram,

suaranya sangat pelan tapi garang.

“Alistair benar," bisik Edward pada Carlisle.

Kulihat Carlisle melirik Edward dengan sikap bertanya.

"Alistair benar?" bisik Tanya.

"Mereka Caius dan Aro datang untuk menghancurkan dan menguasai," Edward

mengembuskan napas hampir tanpa suara; hanya bagian kami yang bisa mendengar.

"Mereka sudah menyiapkan banyak sekali strategi. Bila tuduhan Irina ternyata tidak

benar, mereka sudah bertekad mencari alasan lain untuk menyerang. Tapi mereka bisa

melihat Renesmee sekarang, jadi mereka sangat optimis tentang tujuan mereka. Kita

masih bisa berusaha membela diri dari tuduhan-tuduhan lain yang sudah mereka

rencanakan, tapi pertama-tama mereka harus berhenti dulu, mendengarkan yang

sebenarnya tentang Renesmee." Kemudian, suaranya semakin pelan. "Mereka

sebenarnya tidak berniat melakukan itu."

Jacob mengeluarkan dengusan kecil yang aneh.

Kemudian, tanpa diduga-duga, dua detik kemudian, prosesi itu benar-benar

berhenti. Alunan pelan musik yang mengiringi gerakan yang tertata tapi itu mendadak

berhenti. Barisan sangat disiplin itu tetap tak terpatahkan; keluarga Volturi membeku

dalam keheningan sebagai satu kesatuan. Mereka berdiri kira-kira sembilan puluh meter

dari kami.

Di belakangku, di semua sisi, aku mendengar degup jantung, lebih dekat daripada

sebelumnya. Aku mencuri pandang ke kiri dan ke kanan, melirik dari sudut mataku

untuk melihat apa yang membuat keluarga Volturi berhenti bergerak.

Serigala-serigala itu datang bergabung.

Di kedua sisi barisan kami yang tidak beraturan, serigala-serigala itu terbagi dua,

membentuk lengan yang panjang dan memagari. Sekilas aku sempat memerhatikan

jumlahnya lebih dari sepuluh, mengenali beberapa yang kukenal dan beberapa yang

tidak pernah kulihat sebelumnya. Seluruhnya ada enam belas serigala, berdiri dalam

jarak yang sama mengitari kami—totalnya tujuh belas, termasuk Jacob. Kentara sekali

568

dari tinggi badan dan ukuran telapak kaki mereka yang sangat besar bahwa para

pendatang baru itu masih amat sangat muda. Kurasa seharusnya aku sudah bisa

menduga hal ini. Dengan begitu banyaknya vampir berkemah di sekitar kawasan ini,

ledakan populasi werewolf tentu tak dapat dihindari.

Lebih banyak anak yang mati. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa Sam

mengizinkan ini terjadi, kemudian sadarlah aku bahwa ia tidak punya pilihan lain. Bila

satu saja serigala membela kami, keluarga Volturi pasti akan mencari sisanya. Mereka

mempertaruhkan seluruh spesies mereka dalam pertarungan ini.

Padahal kami akan kalah.

Tiba-tiba aku marah sekali. Lebih dari marah, aku murka.

Perasaan putus asa dan tak berdaya yang kurasakan lenyap seluruhnya. Kilau

kemerahan samar terpancar dari sosok-sosok gelap di depanku, dan yang kuinginkan

saat itu hanya kesempatan untuk membenamkan gigi-gigiku ke sosok-sosok itu,

mengoyak tangan dan kaki mereka, lalu menumpuknya untuk dibakar. Begitu marahnya

aku hingga sanggup rasanya aku menari-nari mengitari api unggun sementara mereka

terpanggang hidup-hidup; aku akan tertawa sementara abu mereka membara. Bibirku

tertarik ke belakang, dan geraman rendah yang buas terlontar dari kerongkonganku,

keluar jauh dari dasar perut. Sadarlah aku sudut-sudut mulutku terangkat, membentuk

senyuman.

Di sebelahku, Zafrina dan Senna menggemakan geraman pelanku. Edward

meremas tangan yang masih digenggamnya, mengingatkanku.

Wajah-wajah berbayang keluarga Volturi sebagian besar masih tanpa ekspresi.

Hanya dua pasang mata yang menunjukkan emosi. Di bagian tengah, Aro dan Caius

berhenti unruk mengevaluasi, dan seluruh pengawal ikut berhenti bersama mereka,

menunggu perintah untuk membunuh. Mereka tidak saling melirik, namun jelas

keduanya saling berkomunikasi. Marcus, meski menyentuh tangan Aro yang lain,

sepertinya tidak terlibat dalam perbincangan itu. Ekspresinya tidak segarang para

pengawal, tapi nyaris sama kosongnya. Seperti ketika aku bertemu dengannya waktu

itu, ia terlihat sangat bosan.

Sosok para saksi keluarga Volturi condong ke arah kami, mata mereka tertuju

garang pada Renesmee dan aku, tapi mereka bertahan di tepi hutan, memberi jarak

yang cukup lebar antara mereka dan para pengawal Volturi. Hanya Irina yang berada

dekat di belakang keluarga Volturi, hanya beberapa langkah dari para wanita kuno

keduanya berambut pirang dengan kulit transparan dan mata berkabut serta dua

pengawalnya yang berbadan besar.

569

Ada seorang wanita di belakang Aro yang mengenakan jubah abu-abu gelap.

Meski tak bisa memastikan, tapi kelihatannya ia menyentuh bahu Aro. Inikah Renata, si

perisai lain itu? Aku penasaran, seperti halnya Eleazar, apakah ia bisa menolak aku.

Tapi aku takkan menyia-nyiakan hidup dengan berusaha menyerang Caius dan

Aro. Aku punya target-target vital lain.

Aku mencari-cari di antara barisan itu dan tidak kesulitan menemukan dua sosok

mungil berjubah abu-abu gelap yang berdiri agak ke tengah. Alec dan Jane, anggota

pengawal terkecil, berdiri tepat di samping Marcus, dan diapit Demetri di sisi lain. Wajah

mereka yang cantik tak menunjukkan ekspresi apa pun; mereka mengenakan jubah

tergelap setelah jubah hitam pekat yang dikenakan para tetua. Si penyihir kembar,

begitu Vladimir menyebut mereka. Kekuatan mereka merupakan senjata pamungkas

keluarga Volturi. Permata dalam koleksi Aro.

Otot-ototku menegang, dan racun terkumpul dalam mulutku.

Mata Aro dan Caius yang merah dan berkabut berkelebat menyapu barisan kami.

Aku membaca kekecewaan di wajah Aro saat tatapannya menyapu wajah kami berulang

kali, mencari vampir yang hilang. Kekecewaan membuat bibirnya menegang.

Saat itulah, aku merasa sangat bersyukur Alice telah kabur. Saat suasana sunyi

terus berlanjut, kudengar desah napas Edward memburu.

"Edward?" tanya Carlisle, pelan dan cemas.

"Mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Mereka sedang menimbangnimbang

berbagai opsi, memilih target-target kunci aku tentu saja, kau, Eleazar, Tanya.

Marcus membaca kekuatan hubungan kita satu sama lain, mencari titik-titik lemah.

Kehadiran kalompok Rumania membuat mereka kesal. Mereka juga khawatir melihat

wajah-wajah yang tidak mereka kenal Zafrina dan Senna terutama, serta para serigala

sudah pasti. Sebelumnya mereka tak pernah kalah jumlah."

"Kalah jumlah?" bisik Tanya dengan sikap tak percaya.

"Mereka tidak menghitung saksi-saksi mereka," desah Edward. "Mereka bukan

siapa-siapa, tidak berarti apa-apa bagi para pengawal, Aro hanya senang kalau ada yang

menonton."

"Apakah sebaiknya aku berbicara?" tanya Carlisle,

Edward ragu-ragu, kemudian mengangguk. "Ini satu-satunya kesempatan yang

akan kauperoleh,"

570

Carlisle menegakkan bahu dan maju beberapa langkah ke depan garis pertahanan

kami. Aku tidak suka melihatnya sendirian, tak terlindung.

Carlisle membentangkan kedua lengannya, telapak tangan mengarah ke atas

seperti menyapa. "Aro, teman lamaku. Sudah berabad-abad kita tidak bertemu."

Lapangan putih itu sunyi senyap beberapa saat. Aku bisa merasakan ketegangan

bergulung-gulung keluar dari tubuh Edward sementara ia mendengarkan penilaian Aro

terhadap kata-kata Carlisle, Ketegangan semakin memuncak sementara detik demi detik

terus berjalan.

Kemudian Aro melangkah maju dari tengah-tengah formasi keluarga Volturi.

Perisainya, Renata, ikut bergerak bersamanya, seakan-akan ujung-ujung jari Renata

terjahit ke jubah Aro.

Untuk pertama kali barisan Volturi bereaksi. Geraman pelan bergaung di

Seantero barisan, alis-alis bertaut membentuk seringaian, bibir tertarik ke belakang,

memunculkan sederet gigi. Beberapa pengawal membungkuk, siap menerjang.

Aro mengangkat satu tangan ke arah mereka. "Damai."

Ia berjalan beberapa langkah lagi, kemudian menelengkan kepala. Matanya yang

berkabut berkilau penuh rasa ingin tahu,

"Kata-kata yang manis, Carlisle," desahnya, suaranya tipis dan lemah. "Walaupun

tidak pada tempatnya, mengingat pasukan yang kauhimpun untuk membunuhku, dan

membunuh orang-orang kesayanganku."

Carlisle menggeleng dan mengulurkan tangan kanannya, seolah-olah mereka tak

terpisahkan oleh jarak yang kira-kira masih sembilan puluh meter lagi. "Kau tinggal

menyentuh tanganku untuk tahu bahwa aku tak pernah bermaksud seperti itu"

Mata licik Aro menyipit. "Tapi apa gunanya niatmu itu, dear Carlisle, mengingat

apa yang telah kaulakukan?" Ia mengerutkan kening, dan bayang kesedihan melintas di

wajahnya entah itu tulus atau tidak, aku tak tahu.

“Aku tidak melakukan kejahatan apa-apa yang bisa menyebabkan kau datang

menghukumku."

"Kalau begitu menyingkirlah dan biarkan kami menghukum mereka yang

bertanggung jawab. Sungguh, Carlisle, tak ada yang lebih menyenangkanku selain

menyelamatkan hidupmu hari ini,"

"Tak ada yang melanggar hukum, Aro. Izinkan aku menjelaskan." Lagi-lagi, Carlisle

mengulurkan tangan.

571

Belum lagi Aro bisa menjawab, Caius maju dengan cepat ke sisi Aro.

"Begitu banyak aturan tak berguna, begitu banyak bukum tidak perlu yang

kauciptakan untuk dirimu sendiri, Carlisle," desis vampir kuno berambut putih itu.

"Bagaimana mungkin kau membela pelanggaran SATU hukum yang benar-benar

penting?"

"Tidak ada hukum yang dilanggar. Kalau kalian mau mendengarkan..."

"Kami melihat anak itu, Carlisle," geram Caius. "Jangan perlakukan kami seperti

orang-orang tolol."

"Dia bukan anak imortal. Dia bukan vampir. Aku bisa dengan mudah

membuktikan hal ini dalam beberapa saat..."

Caius langsung memotongnya. "Kalau benar dia bukan bocah terlarang, lantas

mengapa kau menghimpun satu batalion untuk melindunginya?"

"Saksi-saksi, Caius, seperti yang kalian bawa," Carlisle melambaikan tangan ke

gerombolan beringas di pinggir hutan; sebagian di antara mereka merespons dengan

menggeram. "Siapa pun di antara teman-teman ini bisa menjelaskan hal sebenarnya

tentang anak ini. Atau lihat saja anak itu, Caius. Lihat semburat merah darah di pipinya"

"Tipuan!" bentak Caius. "Mana informannya? Suruh dia maju!" Ia menjulurkan

leher panjang-panjang sampai melihat Irina berdiri di belakang para istri. "Kau! Kemari!"

Irina memandangi Caius dengan sikap tak mengerti, wajahnya seperti orang yang

belum sepenuhnya terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan. Tidak sabar, Caius

menjentikkan jari-jarinya. Salah seorang pengawal para istri yang bertubuh besar

mendekati Irina dan menyenggol punggungnya dengan kasar. Irina mengerjapkan mata

dua kali, kemudian berjalan lambat-lambat menghampiri Caius dengan sikap linglung. Ia

berhenti beberapa meter jauhnya, matanya masih tertuju pada saudari-saudarinya.

Caius mendekati Irina dan menampar wajahnya.

Tamparan itu pasti tidak sakit, namun tindakan itu sangat merendahkan. Seperti

melihat orang menendang anjing. Tanya dan Kate mendesis berbarengan.

Tubuh Irina mengejang kaku dan matanya akhirnya terfokus pada Caius. Ia

menudingkan jarinya yang berkuku tajam pada Renesmee, yang bergayut di

punggungku, jari-jarinya masih mencengkeram bulu Jacob, Caius berubah warna

menjadi merah sepenuhnya dalam pandangan mataku yang penuh amarah. Geraman

menyeruak dari dada Jacob.

572

"Inikah anak yang waktu itu kaulihat?" tuntut Caius, "Anak yang jelas-jelas lebih

dari manusia?"

Irina menyipitkan mata pada kami, mengamati Renesmee untuk pertama kali

sejak memasuki lapangan. Kepalanya ditelengkan ke satu sisi, ekspresi bingung

menghias wajahnya.

"Well" geram Caius.

"Aku.. aku tidak yakin," jawab Irina, nadanya terperangah. Tangan Caius

bergerak-gerak seolah gatal ingin menampar Irina lagi, "Apa maksudmu?" tanyanya,

suaranya berbisik dingin.

"Dia tidak sama, tapi kurasa dialah anak itu. Maksudku, dia sudah berubah. Anak

ini lebih besar daripada yang waktu itu kulihat, tapi,.."

Sentakan marah Caius terlontar dari sela-sela giginya yang mendadak

menyeringai, dan Irina langsung berhenti bicara tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aro

buru-buru mendatangi Caius dan meletakkan tangan di pundaknya dengan sikap

menahan.

"Tenanglah, brother, Kita punya waktu untuk membereskannya. Tak perlu buruburu."

Dengan ekspresi masam, Caius memunggungi Irina.

"Sekarang, Manis" kata Aro dengan suara bergumam hangat dan semanis madu.

"Tunjukkan padaku apa yang ingin kausampaikan." Ia mengulurkan tangannya pada

vampir yang kebingungan itu.

Ragu-ragu, Irina meraih tangan Aro. Aro memegangi tangannya selama lima

detik.

"Kaulihat kan, Caius?" ujar Aro. "Sederhana saja mendapatkan apa yang kita

butuhkan."

Caius tidak menyahut. Dari sudut mata Aro melirik para penontonnya,

gerombolannya, kemudian berbalik menghadapi Carlisle.

"Kalau begitu sepertinya kita menghadapi sedikit misteri. Kelihatannya anak itu

sudah bertumbuh. Namun ingatan pertama Irina jelas tentang anak imortal. Membuat

penasaran."

"Itulah yang berusaha kujelaskan," kata Carlisle, dan dari perubahan suaranya,

aku bisa menebak kelegaannya. Inilah jeda yang menjadi tumpuan harapan kami semua.

573

Aku sama sekali tidak merasa lega. Aku menunggu, nyaris lumpuh oleh amarah,

menunggu berbagai strategi yang dikatakan Edward tadi.

Lagi-lagi Carlisle mengulurkan tangan.

Aro ragu-ragu sesaat. "Aku lebih suka mendapat penjelasan dari seseorang yang

memegang peranan lebih sentral dalam cerita ini, sobatku. Kelirukah aku berasumsi

bahwa pelanggaran ini bukan hasil perbuatanmu?"

"Tidak ada pelanggaran apa-apa."

"Terserah bagaimana kau menyebutnya, pokoknya aku akan mendapatkan setiap

sisi kebenaran" Suara tipis Aro mengeras.

"Dan cara terbaik mendapatkannya adalah mendapat buktinya langsung dari

putramu yang berbakat." Ia menelengkan kepala ke arah Edward. "Dan karena anak itu

bergayut di punggung pasangannya, aku berasumsi Edward terlibat dalam hal ini."

Tentu saja ia menginginkan Edward. Begitu ia bisa melihat isi kepala Edward, ia

akan mengetahui semua pikiran kami. Kecuali pikiranku.

Edward menoleh cepat untuk mencium keningku dan kening Renesmee, tanpa

menatap mataku. Lalu ia berjalan melintasi lapangan bersalju, meremas bahu Carlisle

waktu lewat. Aku mendengar rintihan pelan dari belakangku—ketakutan Esme tak

tertahankan lagi.

Kabut merah yang kulihat di sekeliling pasukan Volturi berkobar lebih terang

daripada sebelumnya. Aku tak sanggup menyaksikan Edward berjalan melintasi ruang

putih kosong itu sendirian tapi aku juga tak sanggup membawa Renesmee selangkah

lebih dekat ke musuh-musuh kami. Kebutuhan yang saling bertentangan itu seakan

membelah hatiku; aku membeku begitu kaku hingga rasanya tulang-tulangku bakal

remuk saking kuatnya tekanan yang kurasakan.

Aku melihat Jane tersenyum saat Edward berjalan melintasi batas tengah di

antara kami. Kini ia lebih dekat kepada mereka dibandingkan kepada kami.

Senyum kecil penuh kemenangan itulah pemicunya. Amarahku memuncak,

bahkan lebih besar daripada kemurkaan yang kurasakan saat para serigala berkomitmen

membela kami dalam pertempuran celaka ini. Aku bisa merasakan amarah itu di lidahku

aku merasakannya mengalir ke sekujur tubuhku bagaikan gelombang pasang kekuatan

murni. Otot-ototku mengejang, dan aku langsung bertindak. Dengan segenap kekuatan

pikiran, kulemparkan perisaiku, kulontarkan ke tengah padang luas sepuluh kali jarak

terjauhku bagaikan lembing. Napasku menghambur keluar dengan suara mendesis

saking kuatnya lontaran yang kulakukan.

574

Perisai itu melejit dariku dalam naungan energi yang sangat kuat, baja cair yang

bentuknya menyerupai awan jamur. Kekuatan itu berdenyut-denyut seperti makhluk

hidup aku bisa merasakannya, dari puncak hingga ke pinggir.

Bahan elastis itu kini tidak tertarik kembali; dalam serbuan kekuatan instan tadi,

kulihat bahwa tarikan kembali yang kurasakan sebelumnya adalah hasil perbuatanku

sendiri ternyata selama ini aku berpegang erat pada bagian diriku yang tidak terlihat itu

sebagai bentuk pertahanan diri, secara tak sadar tidak rela melepaskannya. Sekarang

aku membebaskannya, dan perisaiku meledak dengan mudahnya sejauh 45 meter

dariku, dengan hanya menyita sedikit konsentrasiku. Aku bisa merasakannya meregang

seperti orot, patuh pada kemauanku. Aku mendorongnya, membentuknya menjadi

panjang dan oval yang lancip. Segala sesuatu di bawah perisai elastis itu tiba-tiba

menjadi bagian diriku aku bisa merasakan kekuatan hidup segala sesuatu yang

dilingkupinya bagaikan titik-titik panas cemerlang, percikan bunga api terang benderang

yang mengelilingiku. Kudorong perisai itu lebih maju lagi di sepanjang lapangan, dan

mengembuskan napas lega waktu merasakan cahaya terang Edward dalam

perlindunganku. Aku menahannya di sana, meregangkan otot baru ini sehingga ia

melingkupi Edward, lapisan tipis tapi tak bisa ditembus yang membatasi tubuhnya

dengan musuh-musuh kami.

Satu detik belum lagi berlalu. Edward masih berjalan menghampiri Aro. Segalanya

telah berubah, tapi tak ada yang menyadari ledakan itu kecuali aku. Tawa terkejut

berkumandang dari bibirku. Aku merasa yang lain melirikku dan melihat mata hitam

Jacob yang besar bergulir memandangiku seolah-olah aku sudah sinting,

Edward berhenti beberapa langkah dari Aro, dan dengan kecewa aku sadar

bahwa walaupun bisa, aku seharusnya tidak menghalangi ini terjadi. Inilah inti semua

persiapan kami: membuat Aro mau mendengar cerita dari sisi kami. Nyaris menyakitkan

rasanya melakukan hal itu, tapi dengan enggan kutarik kembali perisaiku dan kubiarkan

Edward terekspos lagi. Keinginan untuk tertawa itu lenyap. Aku fokus sepenuhnya pada

Edward, siap menamenginya begitu terjadi sesuatu.

Dagu Edward terangkat dengan sikap arogan, dan ia mengulurkan tangan pada

Aro seolah-olah itu kehormatan besar. Aro tampak sangat senang melihat sikapnya, tapi

tidak semuanya ikut merasa senang. Renata bergerak-gerak gugup dalam bayangbayang

Aro, Caius begitu cemberut hingga kulitnya yang setipis kertas dan transparan

terlihat seperti berkerut permanen. Si kecil Jane memamerkan giginya, dan di

sampingnya mata Alec menyipit penuh konsentrasi. Kurasa ia sudah siap, seperti aku,

untuk bertindak dalam tempo sedetik.

575

Aro langsung mendatangi Edward tanpa berpikir dua kali dan memang, apa yang

perlu ia takutkan? Bayang-bayang besar sosok berselubung jubah abu-abu para

petarung berperawakan tegap seperti Felix berdiri hanya beberapa meter darinya, Jane

dan kemampuannya yang bisa membakar sanggup melempar Edward ke tanah,

menggeliat-geliat kesakitan. Alec mampu membutakan dan menulikan Edward sebelum

ia sempat maju satu langkah saja menghampiri Aro. Tak ada yang tahu aku memiliki

kemampuan menghentikan mereka, bahkan Edward sendiri pun tidak.

Sambil tersenyum tenang, Aro meraih tangan Edwatd.

Matanya langsung terpejam, kemudian bahunya tertekuk ke depan, menahan

gempuran informasi.

Setiap pikiran rahasia, setiap strategi, setiap pandangan segala sesuatu yang

didengar Edward dalam pikiran-pikiran di sekelilingnya selama satu bulan terakhir

sekarang jadi milik Aro. Dan jauh lebih ke belakang lagi setiap visi Alice, setiap momen

tenang bersama keluarga kami, setiap gambar dalam pikiran Renesmee, setiap ciuman,

setiap sentuhan antara Edward dan aku... semua itu juga menjadi milik Aro.

Aku mendesis frustrasi, dan perisai itu bergolak karena ke-jengkelanku, berubah

bentuk dan berkontraksi di sekeliling kami.

"Tenang, Bella," bisik Zafrina. Aku mengatupkan gigi rapat-rapat.

Aro terus berkonsentrasi pada pikiran-pikiran Edward. Kepala Edward tertunduk,

otot-otot lehernya mengunci rapat sementara ia membaca kembali semua yang diambil

Aro darinya, dan respons Aro terhadap semua itu.

Pembicaraan dua arah tapi tak seimbang ini berlangsung cukup lama hingga para

pengawal mulai gelisah. Gumaman rendah menjalar sepanjang barisan sampai Caius

menyerukan perintah tajam untuk diam. Jane beringsut maju seperti tak sanggup

menahan diri, dan wajah Renata kaku oleh perasaan tegang. Sesaat aku mengamati

perisai kuat yang sepertinya nyaris panik dan lemah itu; walaupun ia berguna bagi Aro,

kentara sekali ia bukan prajurit. Tugasnya bukan bertempur, tapi melindungi. Tak ada

nafsu haus darah dalam dirinya. Meski masih hijau, aku tahu bila berhadapan

dengannya, aku pasti sanggup mengenyahkannya.

Aku kembali fokus ketika Aro menegakkan badan, matanya terbuka, sorot

matanya takjub bercampur kecut. Ia tidak melepaskan tangan Edward.

Otot-otot Edward sedikit mengendur.

"Kaulihat sendiri, kan?" tanya Edward, suara beledunya kalem.

576

"Ya, aku melihatnya, benar," Aro sependapat, dan yang menakjubkan, ia nyaris

terdengar geli. "Aku ragu apakah ada di antara dewa ataupun kaum fana pernah melihat

dengan begitu jelasnya."

Wajah-wajah disiplin para pengawal menunjukkan sikap tak percaya yang sama

seperti yang kurasakan.

"Kau memberiku banyak hal untuk dipikirkan, Sobat Muda," sambung Aro. "Jauh

lebih banyak dari yang kuduga." Meski begitu ia tidak melepaskan tangan Edward, dan

sikap Edward yang tegang menunjukkan ia mendengarkan.

Edward tidak menjawab.

"Bolehkah aku bertemu dengannya?" tanya Aro hampir memohon dengan

semangat ketertarikan yang tiba-tiba muncul. "Tak pernah terbayangkan olehku

keberadaan makhluk semacam itu selama sekian abad hidupku. Sungguh merupakan

tambahan yang hebat bagi sejarah kita!"

"Apa-apaan ini, Aro?" bentak Caius sebelum Edward bisa menjawab. Pertanyaan

itu saja sudah membuatku menarik Renesmee ke dalam dekapanku, menggendongnya

dengan sikap protektif di dadaku.

"Sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehmu, sobatku yang praktis. Ambil

waktu sebentar untuk mempertimbangkan, karena keadilan yang tadinya ingin kita

tegakkan ternyata tak berlaku lagi."

Caius mendesis kaget mendengar kata-kata Aro.

"Damai, brother" Aro mewanti-wanti dengan nada menenangkan.

Seharusnya ini kabar baik kata-kata yang selama ini kami harapkan, penangguhan

hukuman yang tidak pernah benar-benar kami duga mungkin terjadi. Aro mendengarkan

kebenaran. Aro mengakui tidak terjadi pelanggaran hukum.

Tapi mataku terpaku pada Edward, dan kulihat otot-otot punggungnya

menegang. Aku memutar kembali dalam ingatanku instruksi Aro kepada Caius untuk

mempertimbangkan, dan mendengar makna ganda di dalamnya.

"Maukah kau memperkenalkanku pada putrimu?" tanya Aro lagi kepada Edward.

Caius bukan satu-satunya yang mendesis mendengar istilah baru itu.

Edward mengangguk enggan. Namun Renesmee sudah berhasil merebut hati

banyak orang. Aro sepertinya selalu menjadi pemimpin dari para tetua. Bila ia berpihak

pada kami, bisakah yang lain-lain melawan kami?

577

Aro masih mencengkeram tangan Edward, dan sekarang ia menjawab pertanyaan

yang tak bisa didengar kami semua,

"Kurasa kompromi pada titik ini jelas bisa diterima, mengingat situasinya. Kita

akan bertemu di tengah-tengah."

Aro melepas tangan Edward. Edward berbalik ke arah kami, dan Aro bergabung

dengannya, melingkarkan sebelah tangan dengan santai ke bahu Edward, seolah-olah

mereka bersahabat karib selama itu tetap bersentuhan dengan kulit Edward. Mereka

mulai berjalan melintasi lapangan menuju sisi kami.

Seluruh pengawal ikut bergerak di belakangnya. Aro mengangkat tangan dengan

sikap sembrono tanpa memandang mereka.

"Tahan, teman-teman kesayanganku. Sungguh, mereka tidak akan mencederai

kita bila kita bermaksud baik pada mereka,"

Pengawal merespons perintah itu secara lebih terbuka daripada sebelumnya,

dengan geraman dan desisan protes, tapi tetap bertahan pada posisi masing-masing.

Renata, yang semakin merapat pada Aro daripada yang sudah-sudah, merintih-rintih

cemas.

"Tuan," bisiknya.

"Jangan cemas, sayangku," sahut Aro. "Semua beres"

"Mungkin sebaiknya kaubawa saja beberapa pengawalmu bersama kita," Edward

menyarankan. "Itu akan membuat mereka merasa lebih nyaman."

Aro mengangguk, seolah-olah ini pandangan bijak yang seharusnya terpikirkan

sendiri olehnya. Ia menjentikkan jarinya dua kali. "Felix, Demetri."

Kedua vampir itu langsung berada di sampingnya, terlihat sama persis seperti

waktu aku terakhir kali bertemu mereka. Keduanya bertubuh tinggi dan berambut

gelap, Demetri keras dan langsing seperti pedang, Felix gempal dan menyeramkan

seperti gada berpaku besi.

Mereka berlima berhenti tepat di tengah-tengah lapangan bersalju.

"Bella," seru Edward. "Bawa Renesmee... dan beberapa teman."

Aku menarik napas dalam-dalam. Tubuhku mengejang akibat sikap melawan.

Bayangan membawa Renesmee ke tengah medan konflik... Tapi aku percaya pada

Edward. Ia pasti tahu bila Aro merencanakan pengkhianatan pada tahap ini.

578

Aro memiliki tiga pelindung di sisinya untuk pertemuan puncak ini, jadi aku akan

membawa dua pelindung. Hanya butuh waktu satu detik bagiku untuk memutuskan.

"Jacob? Emmett?" pintaku pelan. Emmett, karena ia gatal ingin ikut. Jacob,

karena ia takkan tahan ditinggal.

Keduanya mengangguk. Emmett menyeringai.

Aku berjalan melintasi lapangan dengan mereka mengapitku. Aku mendengar

geraman para pengawal begitu mereka melihat pilihanku—jelas, mereka tidak percaya

pada werewolf. Aro mengangkat tangan, mengabaikan protes mereka lagi.

"Menarik juga teman-temanmu," gumam Demetri pada Edward.

Edward tidak menyahut, tapi geraman pelan terlontar dari sela-sela gigi Jacob.

Kami berhenti beberapa meter dari Aro. Edward merunduk di bawah lengan Aro

dan dengan cepat bergabung dengan kami, meraih tanganku.

Sesaat kami berhadapan sambil berdiam diti. Kemudian Felix menyapaku dengan

suara pelan.

"Halo lagi, Bella." Ia menyeringai angkuh sambil terus menilai gerak-gerik Jacob

dari sudut matanya.

Aku tersenyum kecut pada vampir raksasa itu. "Hei, Felix."

Felix terkekeh. "Kau kelihatan cantik. Ternyata kau pantas jadi imortal."

"Terima kasih banyak."

"Terima kasih kembali. Sayang..."

Felix tidak menyelesaikan komentarnya, tapi aku tidak butuh kemampuan seperti

Edward untuk bisa membayangkan akhirnya. Sayang sebentar lagi kami harus

membunuhmu.

"Ya, sayang sekali, bukan?"

Felix mengedipkan mata.

Aro tidak menggubris percakapan kami. Ia menelengkan kepala, terpesona. "Aku

mendengar jantungnya yang aneh," gumamnya dengan suara yang nyaris seperti

mengalun. "Aku mencium baunya yang aneh." Lalu matanya yang berkabut beralih

memandangiku. "Sejujurnya, Bella, kau benar-benar terlihat luar biasa menawan

sebagai imortal," ia memuji. "Seolah-olah kau memang dirancang untuk kehidupan ini."

579

Aku mengangguk, menanggapi pujiannya.

"Kau suka hadiahku?" tanyanya, mengamati bandul yang kukenakan.

"Hadiah yang cantik, dan Anda sangat, sangat murah hati. Terima kasih. Mungkin

seharusnya aku mengirim ucapan terima kasih."

Aro tertawa senang. "Ah, itu hanya benda kecil yang selama ini tetgeletak begitu

saja. Kupikir mungkin itu cocok dengan wajah barumu, dan ternyata benar."

Aku mendengar desisan kecil dari tengah-tengah barisan Volturi. Aku melihat ke

balik bahu Aro,

Hmmm. Sepertinya Jane tidak suka mendengar fakta bahwa Aro memberiku

hadiah.

Aro berdeham-deham untuk menarik perhatianku lagi. "Bolehkah aku menyapa

putrimu, Bella cantik?" tanyanya dengan nada manis.

Inilah yang kami harapkan, aku mengingatkan diriku sendiri. Sekuat tenaga

melawan dorongan untuk merenggut Renesmee dan kabur dari sini, aku maju dua

langkah. Perisaiku mengepak-ngepak seperti sayap di belakangku, melindungi seluruh

anggota keluargaku sementara Renesmee tidak terlindungi. Rasanya keliru besar,

mengerikan.

Aro menghampiri kami, wajahnya berseri-seri.

"Luar biasa cantiknya dia," puji Aro. "Sangat mirip kau dan Edward." Kemudian

dengan suara lebih keras, ia berseru, "Halo, Renesmee."

Renesmee cepat-cepat berpaling padaku. Aku mengangguk.

"Halo, Aro," sahutnya dengan sikap formal, suaranya melengking tinggi.

Sorot mata Aro tampak kaget.

“Apa itu?" desis Caius dari belakang. Sepertinya ia marah sekali karena harus

bertanya.

"Setengah mortal, setengah imortal," Aro memberitahu dia dan para pengawal

lain tanpa mengalihkan pandangan takjubnya pada Renesmee. "Dibenihkan, dan

dikandung oleh vampir baru ini ketika dia masih menjadi manusia."

"Mustahil," dengus Caius.

580

"Jadi menurutmu mereka membohongiku, begitu, brother?" Ekspresi Aro terlihat

sangat geli, tapi Caius tersentak. "Apakah detak jantung yang kaudengar juga tipuan?"

Caius merengut, tampak kecewa, seolah-olah pertanyaan-pertanyaan lembut Aro

tadi merupakan pukulan.

"Tenang dan berhati-hatilah, brother" Aro mengingatkan, tetap tersenyum

kepada Renesmee. "Aku tahu benar betapa kau sangat mencintai keadilanmu, tapi tidak

ada keadilan bila kita bertindak melawan makhluk kecil unik ini hanya karena proses

kelahirannya. Dan begitu banyak yang bisa dipelajari, begitu banyak yang bisa dipelajari!

Aku tahu kau tidak memiliki antusiasme sepertiku dalam mengoleksi sejarah, tapi

bertoleranlah padaku, sementara aku menambahkan bab baru yang membuatku

terperangah oleh kemungkinannya. Kita datang, mengira akan menegakkan keadilan

dan sedih karena menyangka teman-teman ini palsu, tapi lihatlah apa yang kita

dapatkan! Pengetahuan baru tentang diri kita, kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita

lakukan."

Aro mengulurkan tangan pada Renesmee dengan sikap mengundang. Tapi bukan

itu yang Renesmee inginkan. Renesmee justru mencondongkan tubuh menjauhiku,

menjulurkan tubuhnya untuk menempelkan ujung-ujung jarinya ke wajah Aro.

Aro tidak bereaksi shock seperti nyaris semua orang saat pertama kali melihat

Renesmee beraksi; ia sudah terbiasa melihat aliran pikiran dan kenangan dari pikiran

orang-orang lain, sama seperti Edward.

Senyumnya melebar, dan ia mendesah puas. "Brilian," bisiknya.

Renesmee rileks kembali dalam pelukanku, wajah mungilnya terlihat sangat

serius.

"Please?" pinta Renesmee pada Aro.

Senyum Aro berubah lembut. "Tentu saja aku tidak berniat mencelakakan orangorang

yang kaucintai, Renesmee sayang."

Suara Aro begitu menenangkan dan penuh kasih sayang hingga membuatku

yakin. Tapi kemudian aku mendengar Edward mengertakkan gigi dan, jauh di belakang

kami, desisan marah Maggie mendengar kebohongannya.

"Aku ingin tahu," kata Aro dengan sikap merenung seolah tidak menyadari reaksi

yang timbul dari kata-katanya barusan. Tanpa terduga matanya beralih kepada Jacob,

dan bukannya memandang Jacob dengan sorot jijik seperti anggota keluarga Volturi lain

memandang serigala raksasa itu, mata Aro justru dipenuhi semacam kerinduan yang

tidak kumengerti.

581

"Tidak bisa seperti itu," tukas Edward, nadanya yang selama ini selalu netral

mendadak berubah kasar.

"Hanya pikiran selintas," kata Aro, terang-terangan menilai Jacob, kemudian

matanya bergerak lambat ke dua baris werewolf di belakang kami. Apa pun yang

ditunjukkan Renesmee padanya membuat Aro tiba-tiba tertarik pada para serigala.

"Mereka bukan milik kami, Aro. Mereka tidak mengikuti perintah kami seperti itu.

Mereka ada di sini karena mereka mau."

Jacob menggeram galak.

"Tapi sepertinya mereka sangat dekat denganmu" kata Aro. "Dan pada

pasanganmu yang muda serta pada... keluargamu. Setia" Suaranya membelai kata itu

lembut.

"Mereka berkomitmen melindungi nyawa manusia, Aro. Itulah yang membuat

mereka bisa hidup berdampingan dengan kami, tapi tidak dengan kalian. Kecuali kalian

mau berpikir ulang tentang gaya hidup kalian."

Aro tertawa riang. "Hanya pikiran selintas," ulangnya. "Kau tahu benar

bagaimana itu. Tak seorang pun di antara kami bisa mengendalikan keinginan bawah

sadar kami."

Edward meringis. "Aku tahu benar bagaimana itu. Dan aku juga tahu perbedaan

antara pikiran semacam itu dengan pikiran yang memiliki tujuan di baliknya. Itu takkan

pernah berhasil, Aro."

Kepala Jacob yang besar berpaling ke arah Edward, dan dengkingan pelan

terlontar dari sela-sela giginya.

"Dia tertarik pada ide tentang... anjing-anjing penjaga," Edward balas berbisik.

Selama satu detik suasana sunyi senyap, tapi sejurus kemudian terdengar

geraman marah dari moncong seluruh kawanan, memenuhi lapangan besar itu.

Terdengar gonggongan tajam bernada memerintah—dari Sam, dugaanku,

walaupun aku tidak berpaling untuk melihat—dan protes-protes itu terdiam menjadi

kesunyian yang menakutkan.

"Kurasa itu sudah menjawab pertanyaanku" kata Aro, tertawa lagi. "Kawanan ini

sudah memilih kepada siapa mereka mau berpihak."

Edward mendesis dan mencondongkan tubuh ke depan. Aku mencengkeram

lengannya, bertanya-tanya apa gerangan yang ada dalam pikiran Aro yang membuat

582

Edward bereaksi begitu garang, sementara Felix dan Demetri serentak memasang kudakuda.

Aro melambaikan tangan lagi kepada mereka. Mereka kembali ke postur awal,

termasuk Edward.

"Begitu banyak yang harus didiskusikan," ujar Aro, mendadak nadanya berubah

seperti pengusaha yang kewalahan memikirkan terlalu banyak hal. "Begitu banyak yang

harus diputuskan. Kalau kalian dan para pelindung kalian yang berbulu itu mengizinkan,

sobat-sobatku keluarga Cullen, aku akan berbicara dulu dengan saudara-saudaraku."

583

37. PENEMUAN

ARO tidak bergabung dengan para pengawalnya yang menunggu gelisah di sisi

utara lapangan; malah, ia melambai menyuruh mereka maju.

Edward langsung mundur, menarik lenganku dan Emmett. Kami bergegas

mundur, mata kami tetap tertuju pada ancaman yang bergerak maju. Jacob mundur

paling akhir, bulu bahunya meremang sementara ia menyeringai memamerkan

taringnya pada Aro. Renesmee menyambar ujung ekornya sementara kami bergerak

mundur; ia memegangnya seolah-olah itu tali kekang, memaksa Jacob tetap bersama

kami. Kami sampai ke tengah keluarga tepat ketika jubah-jubah hitam itu mengelilingi

Aro lagi.

Kini hanya terbentang jarak 45 meter antara mereka dan kami siapapun dari kami

bisa menerjang melewati jarak tersebut hanya dalam sepersekian detik.

Caius langsung berdebat dengan Aro.

"Bagaimana kau bisa tunduk pada kekejian ini? Mengapa kita berdiri tanpa daya

begini padahal kejahatan besar diLakukan di depan mata kepala kita, tertutup tipuan

yang begini konyol?" Lengannya kaku di kedua sisi tubuhnya, tangannya melengkung

membentuk cakar. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa ia tidak menyentuh Aro saja

untuk mengungkapkan pendapatnya. Apakah kami menyaksikan perpecahan di antara

mereka!? Mungkinkah kami seberuntung itu?

"Karena semua itu benar," sahut Aro tenang. "Setiap katanya benar. Lihat betapa

banyak saksi yang siap membuktikan bahwa mereka telah melihat anak ajaib ini tumbuh

dan berkembang hanya dalam waktu singkat selama mereka mengenalnya. Bahwa

mereka merasakan hangatnya darah yang berdenyut dalam pembuluh darah anak itu."

Aro melambaikan tangan ke Amun di satu sisi, sampai kepada Siobhan di sisi yang lain.

Caius bereaksi aneh terhadap kata-kata Aro yang menenangkan, sedikit tersentak

mendengar kata saksi. Amarah lenyap dari wajahnya, digantikan ekspresi dingin penuh

perhitungan. Diliriknya saksi-saksi Volturi dengan ekspresi yang samar-samar terlihat...

gugup.

Aku melirik gerombolan yang marah itu dan seketika melihat bahwa deskripsi itu

tak berlaku lagi. Nafsu bertempur telah berubah menjadi kebingungan. Bisik-bisik

menjalar di Seantero kerumunan saat mereka berusaha memahami apa yang terjadi,

Caius mengerutkan kening, berpikir keras. Ekspresi spekulatifnya menyulut api

amarahku yang masih membara meski pada saat bersamaan membuatku khawatir juga.

584

Bagaimana kalau para pengawal kembali bertindak mengikuti isyarat yang tak

kelihatan, seperti waktu berbaris tadi? Dengan cemas kuperiksa perisaiku; rasanya tetap

tak bisa ditembus, sama seperti tadi. Aku mengulurkannya menjadi semacam kubah

rendah dan lebar yang menaungi kelompok kami.

Aku bisa merasakan berkas-berkas tajam cahaya tempat keluarga dan temantemanku

berdiri masing-masing memiliki rasa individual yang kupikir pasti akan bisa

kukenali bila aku rajin berlatih. Aku sudah bisa mengenali rasa Edward cahayanya paling

terang dibandingkan mereka semua. Ruang kosong ekstra di sekeliling titik-titik

bercahaya itu mengusikku, tak ada penghalang fisik yang ditamengi, sehingga kalau

salah seorang anggota keluarga Volturi yang berbakat masuk di bawahnya, perisai itu

takkan melindungi siapa pun kecuali aku. Aku merasakan keningku berkerut saat

menarik tameng elastis itu dengan sangat hati-hati, makin lama makin dekat. Carlisle

berada paling jauh di depan; kuisap perisaiku kembali sedikit demi sedikit, berusaha

melilitkannya ke tubuh Carlisle serapat yang kubisa.

Perisaiku sepertinya ingin bekerja sama. Tameng itu membungkus tubuh Carlisle;

kalau ia bergeser agar berdiri lebih dekat pada Tanya, tameng elastis itu ikut meregang

bersamanya, tertarik cahayanya.

Terpesona, aku menarik tameng itu lebih jauh lagi, membungkus setiap sosok

berkilauan yang merupakan teman atau sekutuku. Perisai itu membungkus tubuh

mereka dengan mudah, ikut bergerak bila mereka bergerak.

Baru satu detik berlalu, Caius masih menimbang-nimbang.

"Werewolf-werewolf itu," gumam Caius akhirnya.

Tiba-tiba panik, sadarlah aku sebagian besar werewolf tidak terlindungi. Aku baru

mau mengulurkan perisaiku pada mereka waktu menyadari, anehnya, bahwa aku masih

bisa merasakan bunga api mereka. Penasaran, kurapatkan kembali perisaiku, sampai

Amun dan Kebi yang berdiri paling jauh dari kelompok kami berada di luar bersama para

serigala. Begitu mereka berada di luar perisai, cahaya mereka lenyap. Mereka tak lagi

berada dalam indra baruku. Tapi para serigala masih bercahaya cemerlang atau lebih

tepatnya, sebagian dari mereka masih. Hmm,. aku beringsut keluar lagi, dan begitu Sam

berada di bawah naungan perisai, semua serigala kembali memunculkan bunga api

cemerlang.

Pikiran mereka pasti saling terhubung, lebih daripada yang kubayangkan selama

ini. Kalau sang Alfa berada di dalam naungan perisaiku, maka pikiran para anggota yang

lain juga terlindungi.

585

"Ah, brother.." Aro menanggapi pernyataan Caius dengan ekspresi pedih.

"Apakah kau juga akan membela persekutuan itu, Aro?" tuntut Caius. "Anak-anak

Bulan sudah sejak permulaan zaman menjadi musuh bebuyutan kita. Kita sudah

memburu mereka hingga mereka nyaris punah di Eropa dan Asia. Tapi Carlisle malah

menjalin hubungan akrab dengan hama besar ini tak diragukan lagi sebagai upaya

menggulingkan kita. Supaya makin bisa melindungi gaya hidupnya yang tidak lazim."

Edward berdeham-deham keras sekali dan Caius memandang garang pada

Edward. Aro menempelkan tangan yang kurus dan rapuh ke wajahnya sendiri, seperti

malu atas sikap saudaranya.

"Caius, sekarang ini tengah hari," Edward menunjukkan. Ia melambaikan tangan

ke arah Jacob. "Mereka bukan Anak-Anak Bulan, itu jelas. Mereka tidak memiliki

hubungan sama sekali dengan musuh-musuhmu di bagian dunia lain."

"Telah terjadi mutasi genetis di sini," sembur Caius.

Rahang Edward membuka dan mengatup, lalu ia menjawab dengan nada datar,

"Mereka bahkan bukan werewolf, Aro bisa menjelaskannya padamu kalau kau tak

percaya''

Bukan werewolf Kulayangkan pandangan bingung pada Jacob. Ia mengangkat

bahunya yang besar kemudian menjatuhkannya lagi. Ia juga tidak mengerti maksud

Edward,

"Dear Caius, aku akan memperingatkanmu untuk tidak mengungkit masalah ini

seandainya kau mau memberitahuku pikiran-pikiranmu," gumam Aro. "Walaupun

makhluk-makhluk itu menganggap diri mereka werewolf, sebenarnya mereka bukan

werewolf. Nama yang lebih tepat untuk mereka adalah shape-shifter. Pilihan wujud

serigala adalah murni kebetulan. Bisa saja mereka mengambil wujud beruang, atau

elang, atau macan tutul ketika pilihan pertama dibuat. Makhluk-makhluk ini benarbenar

tak ada hubungannya dengan Anak-Anak Bulan. Mereka hanya sekadar mewarisi

bakat ini dari ayah mereka. Ini masalah genetis mereka tidak meneruskan spesies

mereka dengan menulari orang lain seperti yang dilakukan werewolf sejati,"

Caius memandang Aro garang dengan sikap jengkel dan sesuatu yang lain

tuduhan berkhianat, mungkin.

"Tapi mereka tahu rahasia kita," sergah Caius datar.

Edward terlihat seperti hendak menjawab tuduhan itu, tapi Aro berbicara lebih

cepat. "Mereka makhluk-makhluk dari dunia supranatural kita, brother. Mungkin

mereka bahkan lebih berkepentingan merahasiakan keberadaan mereka daripada kita,

586

jadi mereka tak mungkin membocorkan rahasia kita. Berhati-hatilah, Caius. Tak ada

gunanya menuduh yang bukan-bukan,"

Caius menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. Mereka saling melirik lama

sekali, pandangan mereka penuh arti.

Kurasa aku memahami instruksi di balik perkataan Aro yang hati-hati. Tuduhan

palsu takkan membantu meyakinkan para saksi kedua pihak, Aro mewanti-wanti Caius

agar beralih ke strategi berikut. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah alasan di balik

ketegangan yang jelas terlihat antara dua tetua itu keengganan Caius membagi

pikirannya dengan sentuhan adalah karena Caius tidak peduli pada pertunjukan ini

sebagaimana halnya Aro. Bahwa pembantaian yang bakal terjadi jauh lebih esensial bagi

Caius daripada reputasi tak bercela.

"Aku ingin bicara dengan si informan" Caius tiba-tiba berseru, dan mengarahkan

tatapan garangnya pada Irina.

Irina tidak menyimak pembicaraan Caius dan Aro, wajahnya berkerut-kerut

merana, matanya terpaku pada saudari-saudarinya yang berbaris untuk mati. Kentara

sekali di wajahnya bahwa ia sekarang menyadari tuduhannya ternyata salah besar.

"Irina" bentak Caius, tidak senang karena harus memanggilnya.

Irina mendongak, terkejut dan nyalinya langsung ciut. Caius menjentikkan jarijarinya.

Ragu-ragu, Irina bergerak dari formasi pinggir Volturi untuk berdiri di depan Caius

lagi,

"Jadi kelihatannya kau keliru besar dalam tuduhanmu," Caius memulai.

Tanya dan Kate mencondongkan tubuh dengan sikap waswas.

"Maafkan aku," bisik Irina. "Seharusnya aku memastikan dulu apa yang kulihat.

Tapi aku sama sekali tidak tahu..." Ia melambaikan tangan dengan sikap tak berdaya ke

arah kami.

"Dear Caius, masa kau mengharapkan dia bisa menebak seketika itu juga sesuatu

yang begitu aneh dan mustahil" tanya Aro. "Siapa pun dari kita pasti akan berasumsi

sama."

Caius menjentikkan jari-jarinya pada Aro untuk menyuruhnya diam.

587

"Kita semua tahu kau melakukan kesalahan," ujar Caius kasar. "Aku ingin tahu

apa motivasimu."

Dengan cemas Irina menunggu Caius melanjutkan kata-katanya, kemudian

mengulangi," Motivasiku?"

"Ya, datang dan memata-matai mereka pada awalnya"

Irina tersentak mendengar kata memata-matai

"Kau tidak menyukai keluarga Cullen, benar begitu?"

Irina mengarahkan matanya yang merana ke wajah Carlisle, "Ya, benar" ia

mengakui.

"Karena...?" desak Caius.

"Karena para werewolf itu membunuh temanku," bisiknya. "Dan keluarga Cullen

tidak mau menyingkir untuk memberiku kesempatan membalas dendam atas

kematiannya."

"Para shape-shifter" Aro mengoreksi pelan.

"Jadi keluarga Cullen berpihak pada para shape-shifter untuk melawan jenis kita

sendiri melawan teman dari seorang teman, bahkan." Caius menyimpulkan.

Aku mendengar Edward mengeluarkan suara bernada jijik. Caius mulai mencoret

satu demi satu "pelanggaran" dalam catatannya, mencari tuduhan yang bisa dijadikan

alasan.

Bahu Irina mengejang. "Aku melihatnya seperti itu."

Caius menunggu lagi, kemudian mendorong, "Kalau kau mau mengajukan

keluhan secara resmi terhadap para shape-shifter itu dan terhadap keluarga Cullen

karena mendukung aksi mereka sekaranglah saat yang tepat" Ia menyunggingkan

senyum kecil yang kejam, menunggu Irina memberinya alasan berikutnya.

Mungkin Caius tidak mengerti seperti apa keluarga yang sesungguhnya hubungan

yang didasarkan pada cinta, bukan hanya keinginan untuk berkuasa. Mungkin ia kelewat

menilai tinggi potensi untuk membalas dendam.

Dagu Irina terangkat, bahunya ditegakkan.

"Tidak, aku takkan mengajukan keluhan terhadap para serigala, maupun keluarga

Cullen. Kedatangan kalian ke sini hari ini adalah untuk menghancurkan anak imortal,

Ternyata anak imortal itu tidak ada. Itu salahku, dan aku bertanggung jawab penuh

588

atasnya. Tapi keluarga Cullen tidak bersalah, dan kalian tak punya alasan untuk tetap

berada di sini. Aku benar-benar menyesal," kata Irina, kemudian memalingkan wajah ke

para saksi keluarga Volturi. "Tidak ada kejahatan. Jadi tak ada alasan kuat bagi kalian

untuk tetap berada di sini."

Caius mengangkat tangan selagi Irina bicara, dan di tangannya terdapat benda

aneh dari logam, dipahat dan penuh ukiran.

Itu isyarat. Responsnya begitu cepat hingga kami memandang dengan sikap

terperangah tak percaya sementara itu terjadi. Sebelum kami sempat bereaksi,

semuanya sudah berakhir.

Tiga prajurit Volturi melompat maju, dan Irina tertutup sepenuhnya oleh jubah

abu-abu mereka. Pada detik yang sama suara logam terkoyak yang mengerikan merobek

keheningan di lapangan. Caius menyelinap ke pusat pergulatan abu-abu itu, dan suara

memekik shock meledak menjadi hujan bunga dan lidah api yang melesat ke atas. Para

prajurit melompat mundur, menghindari api yang tiba-tiba berkobar, langsung

menempati kembali posisi masing-masing dalam barisan para pengawal yang lurus

sempurna.

Caius berdiri sendirian di samping kobaran api yang melahap sisa-sisa tubuh Irina,

benda logam di tangannya masih menyembutkan lidah api tebal ke api unggun itu.

Dengan suara berdenting kecil, api yang melesat dari tangan Caius lenyap. Suara

terkesiap terdengar dari kerumunan saksi di belakang pasukan Volturi.

Kami terlalu terpana untuk mengeluarkan suara apa pun. Bukan hal aneh

mengetahui kematian datang begitu cepat dan tak terhentikan; tapi melihat itu terjadi

dengan mata kepala sendiri adalah soal lain,

Caius tersenyum dingin. "Sekarang dia sudah bertanggung jawab penuh atas

perbuatannya."

Matanya berkelebat ke barisan depan kami, memandang sekilas sosok Tanya dan

Kate yang membeku kaku.

Detik itu juga aku mengerti Caius tak pernah salah mengartikan kuatnya ikatan

keluarga yang sesungguhnya. Ini memang disengaja. Ia tidak menginginkan keluhan

Irina, ia justru ingin Irina menentangnya. Alasannya menghancurkan Irina adalah untuk

memicu kekerasan yang kini memenuhi udara bagai kabut tebal yang padat. Ia telah

melempar api.

589

Kedamaian yang dipaksakan dalam pertemuan ini kini semakin terancam, seperti

gajah yang berdiri goyah di atas tali yang membentang tegang. Begitu pertempuran

terjadi, tak ada yang bisa menghentikannya. Pertempuran hanya akan semakin menjadijadi

sampai satu pihak musnah. Pihak kami. Caius tahu itu.

Begitu juga Edward,

"Hentikan mereka!" pekik Edward, melompat untuk menyambar lengan Tanya

ketika ia maju ke arah Caius yang tersenyum dengan jeritan buas penuh amarah. Tanya

tak sanggup menepis cengkeraman Edward sebelum Carlisle memeluk pinggangnya dan

menguncinya.

"Sudah terlambat untuk membantu Irina," Carlisle buru-buru membujuknya

sementara Tanya meronta-ronta. "Jangan beri apa yang Caius inginkan!"

Kate lebih sulit ditahan. Berteriak-teriak dengan kata-kata yang tidak jelas seperti

Tanya, ia menghambur untuk menyerang tindakan yang pasti akan berakhir dengan

kematian semua orang. Rosalie berada paling dekat dengannya, tapi sebelum Rose

sempat memitingnya, Kate menyetrumnya begitu kuat hingga Rose langsung terkulai ke

tanah, Emmett menyambar lengan Kate dan menjatuhkannya, lalu terhuyung-huyung

mundur, lututnya goyah. Kate berguling berdiri, kelihatannya tak seorang pun bisa

menghentikannya.

Garrett melompat dan menabraknya, menjatuhkannya ke tanah lagi. Ia

melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Kate, mengunci tangannya sendiri. Kulihat

tubuh Garrert kejang-kejang ketika Kate menyetrumnya. Bola matanya berputar, tapi ia

tidak mengendurkan pitingan,

"Zafrina," teriak Edward.

Mata Kate berubah kosong dan jeritannya berubah jadi erangan. Tanya berhenti

meronta-ronta.

"Kembalikan penglihatanku," desis Tanya.

Susah payah, tapi dengan segenap kemampuan yang aku bisa, aku mengulur

perisaiku semakin kuat menutupi percikan bunga api teman-temanku, menariknya

dengan hati-hati dari Kate sambil berusaha menjaganya tetap melingkupi Garrett,

menjadikannya semacam lapisan tipis di antara mereka.

Kemudian Garrett bisa menguasai diri lagi, masih memegangi Kate di salju.

"Kalau aku melepaskanmu, apakah kau akan melumpuhkanku lagi, Kate?"

bisiknya.

590

Kate menggeram sebagai respons, masih meronta-ronta tanpa bisa melihat.

"Dengarkan aku, Tanya, Kate," kata Carlisle dengan suara berbisik pelan namun

tegas. "Tak ada gunanya membalas dendam. Irina tak ingin kalian menyia-nyiakan hidup

kalian seperti ini. Pikirkan baik-baik apa yang kalian lakukan. Kalau kalian menyerang

mereka, kita semua mati."

Bahu Tanya membungkuk berduka, dan ia menyandarkan tubuhnya pada Carlisle,

meminta dukungan. Kate akhirnya terdiam. Carlisle dan Garrett terus menghibur dua

bersaudara itu dengan kata-kata yang terlalu mendesak untuk bisa menghibur.

Perhatianku kembali ke tatapan puluhan pasang mata yang memandangi

kekacauan yang sempat terjadi dalam kelompok kami. Dari sudut mata bisa kulihat

Edward dan yang lain, selain Carlisle dan Garrett, kembali bersiaga penuh.

Tatapan paling tajam berasal dari Caius, memandang dengan sikap marah

bercampur tak percaya pada Kate dan Garrett yang terduduk di salju. Aro juga menatap

mereka berdua, tidak percaya adalah emosi paling kuat yang terpancar dari wajahnya. Ia

tahu apa yang bisa dilakukan Kate. Ia telah merasakan kemampuannya melalui ingatan

Edward.

Apakah ia mengerti apa yang sedang terjadi sekarang apakah ia melihat perisaiku

telah bertumbuh semakin kuat dan semakin halus, lebih daripada yang Edward ketahui?

Atau apakah ia mengira Garrett memiliki kemampuan imunitasnya sendiri?

Para pengawal Volturi tak lagi berdiri dengan sikap penuh disiplin mereka kini

membungkuk ke depan, siap menerjang.

Di belakang mereka, 43 saksi menonton dengan ekspresi yang sangat berbeda

daripada yang mereka perlihatkan tadi saat memasuki lapangan. Kebingungan berubah

menjadi kecurigaan. Penghancuran Irina yang secepat kilat tadi mengguncangkan

mereka semua. Apa sebenarnya kesalahan Irina?

Tanpa serangan langsung yang diandalkan Caius untuk mengalihkan perhatian

para saksi dari tindakannya yang sewenang-wenang, para saksi Volturi mulai

mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi di sini, Aro menoleh sekilas ke belakang

sementara aku memerhatikan bahwa kejengkelan sempat menyapu wajahnya sekilas.

Keinginannya untuk ditonton kini justru berbalik jadi tidak menguntungkan.

Aku mendengar Stefan dan Vladimir berbisik-bisik, senang melihat kegelisahan

Aro.

Aro jelas ingin tetap mempertahankan posisinya sebagai pembawa keadilan,

seperti istilah vampir-vampir Rumania itu. Tapi aku tak yakin keluarga Volturi akan

591

meninggalkan kami dalam damai hanya demi menyelamatkan reputasi mereka. Setelah

selesai berurusan dengan kami, pasti mereka akan membantai para saksi mereka demi

tujuan itu. Tiba-tiba aku merasa kasihan pada massa asing yang dibawa keluarga Volturi

untuk menonton kami mati. Demetri akan memburu mereka sampai mereka musnah

juga.

Demi Jacob dan Renesmee, demi Alice dan Jasper, demi Alistair, dan demi

vampir-vampir asing yang tak tahu apa yang menanti mereka setelah kejadian ini,

Demetri harus mati.

Aro menyentuh sekilas bahu Caius. "Irina sudah dihukum karena memberi

kesaksian palsu terhadap anak ini" Jadi itulah alasan mereka, Ia melanjutkan" Mungkin

sebaiknya kita kembali ke masalah awal?"

Caius menegakkan badan, dan ekspresinya mengeras, jadi tak bisa dibaca. Ia

memandang lurus ke depan, tatapannya hampa. Anehnya wajah Caius mengingatkanku

pada wajah seseorang yang baru menyadari bahwa ia diturunkan pangkatnya.

Aro melayang maju. Renata, Felix, dan Demetri ikut maju bersamanya.

"Demi kecermatan," ujar Aro, "aku ingin bicara dengan beberapa saksimu.

Prosedur, kau pasti tahu." Ia melambaikan tangan dengan sikap tak acuh.

Dua hal terjadi pada saat bersamaan. Mata Caius terfokus pada Aro, dan senyum

kecil keji itu muncul lagi. Dan Edward mendesis, kedua tangannya mengepal

membentuk tinju yang sangat kuat hingga terlihat seolah tulang-tulang di buku jarinya

akan mengoyak kulitnya yang sekeras berlian.

Ingin benar aku bertanya apa yang terjadi, tapi Aro berada cukup dekat hingga

bisa mendengar bahkan tarikan napas paling pelan sekalipun. Kulihat Carlisle melirik

waswas wajah Edward, kemudian wajahnya sendiri mengeras.

Sementara Caius melancarkan serangkaian tuduhan tak berguna dan upayaupaya

licik untuk memicu pertarungan, Aro pasti menemukan strategi lain yang lebih

efektif.

Aro melayang melintasi salju menuju ujung barat barisan kami, berhenti kira-kira

sembilan meter dari Araun dan Kebi. Serigala-serigala di dekat situ mengejang marah,

tapi tetap dalam posisi masing-masing.

"Ah, AMUN, tetangga selatanku!" sapa Aro hangat "Sudah lama sekali kau tak

pernah lagi mengunjungiku"

592

Amun berdiri diam penuh kecemasan, Kebi mematung di sampingnya. "Waktu

tak berarti banyak, aku tak pernah menyadari waktu berlalu' tukas Amun dari sela-sela

bibir yang tidak bergerak,

"Benar sekali,” Aro sependapat. "Tapi mungkin kau punya alasan lain untuk

menjauh?"

Amun diam saja.

"Dibutuhkan waktu sangat banyak untuk mengorganisir vampir-vampir baru

hingga bisa menjadi sebuah kelompok, Aku tahu betul itu! Aku bersyukur memiliki

pihak-pihak lain yang bisa mengurus hal itu. Aku senang tambahan-tambahan baru

dalam kelompok kalian bisa beradaptasi dengan sangat baik. Aku akan senang sekali

kalau diperkenalkan. Aku yakin kau sebenarnya bermaksud menemuiku sebentar lagi."

"Tentu saja," jawab Amun. nadanya datar tanpa emosi hingga sulit memastikan

apakah ada secercah ketakutan ataupun sarkasme dalam perkataannya barusan.

"Oh well, kita semua berkumpul sekarang! Menyenangkan, bukan?"

Amun mengangguk, wajahnya kosong.

"Tapi alasan kehadiranmu di sini sebenarnya tidak menyenangkan, sayangnya.

Carlisle memanggilmu ke sini untuk memberi kesaksian?"

"Benar."

"Dan apa kesaksianmu untuknya?"

Amun berbicara dengan suara tanpa emosi. "Aku sudah mengamati anak yang

dipertanyakan. Terbukti hampir seketika itu juga bahwa dia bukan anak imortal"

"Mungkin sebaiknya kita mendefinisi ulang istilah itu," sela Aro, "karena sekarang

sepertinya ada klasifikasi baru. Yang dimaksud dengan anak imortal adalah tentu saja

anak manusia yang digigit kemudian berubah menjadi vampir"

"Ya, itulah yang kumaksud."

"Apa lagi yang kauperhatikan tentang anak itu?"

"Hal-hal yang sama seperti yang tentu sudah kaulihat dalam pikiran Edward.

Bahwa itu anak biologisnya. Bahwa anak itu bertumbuh. Bahwa anak itu belajar."

"Ya, ya," sahut Ato, ada secercah nada tak sabar dalam suaranya yang seharusnya

terdengar ramah, '"tapi secara spesifik, selama beberapa minggu keberadaanmu di sini,

apa yang kaulihat?"

593

Amun mengerutkan kening. "Bahwa dia bertumbuh... cepat."

Aro tersenyum. "Dan apakah kau yakin dia seharusnya dibiarkan hidup?"

Desisan terlontar dari bibirku, dan bukan hanya aku sendiri. Separo vampir di

barisanku menggemakan protes yang sama. Suaranya terdengar seperti desisan marah

yang menggantung di udara. Di seberang padang, beberapa saksi Volturi juga

mengeluarkan suara yang sama. Edward mundur dan memegang pergelangan tanganku

dengan sikap menahan.

Aro tidak menanggapi suara-suara itu, tapi Amun memandang berkeliling dengan

sikap resah.

"Kedatanganku ke sini bukan untuk membuat penilaian," ia berdalih.

Aro tertawa renyah. "Hanya pendapatmu."

Dagu Amun terangkat. "Aku tidak melihat bahaya dalam diri anak ini. Dia belajar

lebih cepat daripada dia tumbuh"

Aro mengangguk, menimbang-nimbang. Sejurus kemudian, ia berbalik.

"Aro?" seru Amun.

Aro berputar cepat. "Ya, Teman?"

"Aku sudah memberikan kesaksianku. Aku tak punya urusan lagi di sini.

Pasanganku dan aku ingin pergi sekarang."

Aro tersenyum hangat, "Tentu saja. Aku sangat senang kita bisa mengobrol

sedikit. Dan aku yakin kita akan bertemu lagi nanti."

Bibir Amun merapat membentuk garis lurus saat ia menelengkan kepala,

menyadari ancaman dalam perkataan itu. Ia menyentuh lengan Kebi, kemudian mereka

berlari sangat cepat ke ujung selatan padang rumput dan menghilang ke balik

pepohonan. Aku tahu mereka takkan berhenti berlari untuk waktu sangat lama.

Aro kembali menyusuri barisan kami ke arah timur, para pengawalnya mengikuti

dengan siaga. Ia berhenti di depan sosok Siobhan yang besar.

"Halo, Siobhan sayang. Kau tetap secantik biasanya."

Siobhan menelengkan kepala, menunggu.

"Dan kau?" tanya Aro. "Maukah kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku seperti

Amun tadi?"

594

"Aku mau," jawab Siobhan. "Tapi aku mungkin ingin menambahkan sedikit,

Renesmee mengerti batasan-batasannya. Dia tidak berbahaya bagi manusia dia melebur

lebih baik daripada kita. Dia bukan ancaman yang akan mengekspos keberadaan kita."

"Tidak ada sama sekali menurutmu?'' tanya Aro muram.

Edward menggeram, suara buas yang berasal dari dalam kerongkongannya.

Mata Caius yang berkabut berubah cerah.

Renata mengulurkan tangan dengan sikap protektif pada tuannya.

Dan Garrett melepaskan Kate untuk maju selangkah, mengabaikan tangan Kate

yang kali ini berusaha menenangkannya.

Siobhan menjawab lambat-lambat, "Rasanya aku tidak mengerti maksudmu."

Aro mundur, sikapnya biasa-biasa saja, tapi ia menuju para pengawalnya. Renata,

Felix, dan Demetri berada lebih dekat dengannya daripada bayang-bayangnya sendiri.

"Tak ada hukum yang dilanggar," kata Aro dengan nada menenangkan, tapi kami

masing-masing bisa mendengar ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Sekuat tenaga aku

melawan amarah yang berusaha mencakar keluar lewat tenggorokanku dan

menggeramkan penolakanku. Kulemparkan amarahku dalam bentuk perisai,

menebalkannya, memastikan setiap orang terlindungi.

"Tak ada hukum yang dilanggar," ulang Aro. "Namun, apakah itu serta-merta

memastikan tidak ada bahaya juga? Tidak." Ia menggeleng pelan. "Itu soal lain."

Satu-satunya respons adalah ketegangan yang semakin memuncak, dan Maggie,

yang berdiri paling ujung dalam deretan para pejuang kami, menggeleng-gelengkan

kepala pelan dengan sikap marah.

Aro mondar-mandir dengan sikap terpekur, terlihat seperti melayang dan kakinya

tidak menyentuh tanah. Kulihat semakin lama ia semakin dekat ke arah perlindungan

para pengawalnya.

"Dia unik... sangat, luar biasa unik. Sungguh sayang memang menghancurkan

sesuatu yang begitu manis. Apalagi kita bisa belajar banyak" Aro mengembuskan napas,

seolah-olah tak kuasa melanjutkan. "Tapi ada bahaya, bahaya yang tidak bisa diabaikan

begitu saja."

Tidak ada yang mengiyakan pernyataannya. Suasana sunyi senyap sementara ia

melanjutkan monolog yang kedengarannya seolah-olah percakapannya pada diri sendiri.

595

"Sungguh ironis bahwa seiring dengan kemajuan manusia, sementara keyakinan

mereka pada ilmu pengetahuan bertumbuh dan mengendalikan dunia mereka, semakin

bebas kita dari kemungkinan ketahuan. Namun, dengan semakin leluasanya kita oleh

karena ketidakpercayaan mereka pada hal-hal supranatural, mereka menjadi cukup kuat

dalam teknologi sehingga, kalau mau, mereka bisa benar-benar menjadi ancaman bagi

kita, bahkan menghancurkan sebagian dari kita”

"Selama ribuan tahun, kerahasiaan yang kita jaga lebih merupakan masalah

kenyamanan, ketenangan, dan bukan benar-benar karena keselamatan. Satu abad

terakhir yang keras dan penuh amarah ini telah melahirkan senjata-senjata yang sangat

kuat sehingga membahayakan bahkan para imortal. Sekarang status kita sebagai

sekadar mitos melindungi kita dari makhluk-makhluk lemah yang kita buru”

"Anak menakjubkan ini"—Aro menelungkupkan telapak tangannya, seolah

menempelkannya di atas kepala Renesmee, walaupun ia berdiri 36 meter jauhnya dari

Renesmee sekarang, posisinya hampir kembali berada dalam formasi Vokuri lagi—

"kalau kita bisa mengetahui potensinya—tahu dengan keyakinan mutlak bahwa dia akan

selalu bisa menjaga kerahasiaan kita. Tapi kita tidak tahu dia akan menjadi seperti apa

nanti! Orangtuanya sendiri dihantui ketakutan akan masa depannya. Kita tidak bisa tahu

akan bertumbuh menjadi apa dia nanti." Aro terdiam, pertama-tama memandangi para

saksi kami, kemudian, dengan penuh arti, pada para saksinya sendiri. Ia dengan sangat

lihai memperdengarkan nada seolah-olah hatinya terbagi.

Sambil masih terus memandangi saksi-saksinya, ia berbicara lagi. "Hanya yang

sudah diketahui yang aman. Hanya yang sudah diketahui yang bisa ditolerir. Yang belum

diketahui... masih perlu dipertanyakan."

Senyum Caius melebar keji.

"Kau terlalu berlebihan, Aro," sergah Carlisle dengan nada muram.

"Damai, Teman." Aro tersenyum, wajahnya tetap sebaik dan suaranya tetap

selembut biasa. "Kita tak perlu tergesa-gesa. Mari kita lihat dari segala sisi."

"Bolehkah aku mengungkapkan pendapatku sebagai bahan pertimbangan?"

Garrett meminta dengan nada datar, maju selangkah.

"Nomaden," seru Aro, mengangguk memberi izin.

Dagu Garrett terangkat. Matanya terfokus pada massa yang berkelompok di

ujung padang rumput, dan ia berbicara langsung kepada para saksi Volturi.

596

"Aku datang ke sini atas permintaan Carlisle, seperti yang lain-lain, untuk

bersaksi," ujar Garrett. "Itu jelas tidak diperlukan lagi, berkaitan dengan masalah anak

itu. Kita semua sudah melihat bagaimana dia”

"Aku tetap tinggal untuk memberi kesaksian tentang hal lain. Kalian." Ia

menudingkan jarinya ke para vampir yang waswas itu. "Dua di antara kalian aku kenal

Makenna, Charles dan bisa kulihat banyak di antara kalian juga pengelana seperti aku.

Kita tidak tunduk pada siapa pun. Pikirkan baik-baik apa yang akan kukatakan pada

kalian sekarang.

"Para tetua ini tidak datang untuk menegakkan keadilan seperti yang mereka

katakan pada kalian. Kami sudah curiga sejak awal, dan sekarang kecurigaan kami

terbukti. Mereka datang, atas informasi palsu, tapi dengan alasan valid untuk tindakan

mereka. Lihat bagaimana mereka mencari-cari alasan tak masuk akal untuk melanjutkan

misi mereka yang sesungguhnya. Lihat bagaimana mereka berusaha keras

membenarkan tindakan yang akan mendukung tujuan utama mereka yaitu

menghancurkan keluarga ini." Ia melambaikan tangan pada Carlisle dan Tanya.

"Volturi datang untuk memusnahkan apa yang mereka anggap sebagai saingan.

Mungkin, seperti aku, kalian menatap mata keemasan klan ini dan kagum pada mereka.

Mereka sulit dimengerti, itu benar. Tapi para tetua melihat dan menyadari sesuatu

selain pilihan aneh mereka. Mereka melihat kekuasaan

"Aku menyaksikan ikatan yang terjalin dalam keluarga ini aku menyebutnya

keluarga, bukan kelompok. Makhluk-makhluk aneh bermata emas ini menyangkal sifat

alami mereka. Tapi sebagai balasan, apakah mereka mendapatkan sesuatu yang bahkan

lebih berharga, mungkin, daripada sekadar pemuas gairah? Aku sempat melakukan

penelitian sedikit tentang mereka selama berada di sini, dan sepertinya menurutku hal

intrinsik yang bisa menyatukan keluarga ini dengan begitu kuatnya yang membuat

mereka sanggup bertahan adalah karakter damai yang merupakan prasyarat dalam

kehidupan yang penuh pengorbanan ini. Tak ada sifat agresif di sini, seperti yang kita

lihat dalam klan-klan besar di selatan yang bertumbuh dan kemudian lenyap dengan

cepat dalam perselisihan hebat mereka. Di sini tak ada pikiran untuk mendominasi. Dan

Aro tahu itu lebih baik daripada aku.”

Kupandangi wajah Aro saat kata-kata Garrett menelanjangi maksudnya,

menunggu responsnya dengan tegang. Tapi wajah Aro tetap terlihat sopan bercampur

geli, seperti menunggu anak kecil yang mengamuk menjadi sadar bahwa tak ada orang

yang menggubris amukannya.

"Carlisle meyakinkan kami, waktu dia menyampaikan kepada kami apa yang bakal

terjadi, bahwa dia tidak memanggil kami ke sini untuk bertempur. Saksi-saksi ini

"Garrett menuding Siobhan dan Liam" setuju memberi kesaksian, untuk menunda

597

sejenak serangan keluarga Voltuti, supaya Carlisle bisa mendapat kesempatan untuk

menjelaskan.

"Tapi sebagian dari kami bertanya-tanya" matanya berkelebat memandang wajah

Eleazar" apakah setelah Carlisle menjelaskan hal sebenarnya, itu cukup untuk

menghentikan tindakan yang disebut sebagai keadilan ini? Apakah keluarga Volturi

datang untuk melindungi rahasia kita, atau melindungi kekuasaan mereka sendiri?

Apakah mereka datang untuk menghancurkan ciptaan ilegal, atau menghancurkan gaya

hidup? Bisakah mereka dipuaskan bila bahaya itu ternyata tak lebih dari

kesalahpahaman belaka? Atau mereka akan tetap mempertahankan masalah ini tanpa

alasan menegakkan keadilan?

"Kita semua tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Kita sudah mendengarnya

dalam kata-kata bohong Aro salah seorang dari kita punya bakat untuk mengetahui halhal

semacam itu dan kita melihatnya sekarang dalam senyum Caius yang penuh

semangat. Pengawal mereka hanyalah senjata yang tidak memiliki kehendak bebas, alat

yang digunakan untuk mencapai tujuan tuannya yang ingin menguasai.

"Jadi sekarang timbul lagi pertanyaan baru, pertanyaan yang harus kalian jawab.

Siapa yang memerintah kalian, kaum nomaden? Apakah kalian tunduk pada kehendak

orang lain ataukah kehendak kalian sendiri? Apakah kalian bebas memilih jalan kalian,

atau keluarga Volturi yang akan memutuskan bagaimana kalian harus hidup?

"Aku datang untuk memberi kesaksian. Aku tetap tinggal untuk bertempur.

Keluarga Volturi tak peduli pada kematian seorang anak. Yang mereka cari adalah

kematian dari kehendak bebas kita."

Lalu Garrett berbalik, menghadap para tetua. "Maka ayolah, kataku Jangan ada

lagi kebohongan-kebohongan untuk membenarkan tujuan kalian. Jujurlah

mengungkapkan tujuan kalian, seperti kami juga jujur mengungkapkan tujuan kami.

Kami akan membela kebebasan kami. Kalian akan atau tidak akan menyerang kehendak

bebas kami. Pilih sekarang, dan biarkan para saksi ini melihat masalah yang

sesungguhnya diperdebatkan di sini."

Sekali lagi ia menatap para saksi Volturi, matanya memandang tajam setiap

wajah. Kekuatan kata-katanya terlihat jelas dalam ekspresi mereka. "Kalian mungkin

lebih baik berpikir untuk bergabung dengan kami. Kalau kalian merasa keluarga Volturi

akan membiarkan kalian hidup untuk menyebarkan cerita ini, kalian salah besar. Kita

semua mungkin akan dihancurkan" Garrett mengangkat bahu "tapi sekali lagi, mungkin

juga tidak. Mungkin posisi kita lebih kuat daripada yang mereka ketahui. Mungkin

keluarga Volturi akhirnya bertemu juga dengan lawan seimbang. Tapi aku bisa

memastikan hal ini kepada kalian kalau kami kalah, kalian juga bakal kalah,"

598

Garrett mengakhiri pidatonya yang berapi-api dengan mundur ke sisi Kate,

kemudian bergeser maju dalam posisi separo membungkuk, siap menyerang.

Aro tersenyum. "Pidato yang sangat bagus, temanku yang revolusioner."

Garrett tetap dalam posisi siap menyerang. "Revolusioner?" geramnya.

"Memangnya aku memberontak melawan siapa, kalau boleh aku bertanya? Apakah kau

rajaku? Kau ingin aku memanggilmu tuan juga, seperti pengawal psikopatmu itu?"

"Damai, Garrett," kara Aro dengan sikap toleran. "Aku hanya merujuk pada

zaman kelahiranmu. Tetap seorang patriot, ternyata."

Garrett membalas tatapan Aro dengan pandangan garang.

"Mari kita tanyakan pada saksi-saksi kita," Aro mengusulkan. "Mari kita dengar

pikiran mereka sebelum mengambil keputusan. Katakan pada kami, teman-teman" dan

ia dengan santai memunggungi kami, berjalan beberapa meter menghampiri para

pengamat yang kini berdiri semakin dekat ke pinggir hutan "bagaimana pendapat kalian

dalam hal ini? Aku bisa memastikan bahwa bukan anak ini yang kita takuti. Apakah kita

harus mengambil risiko dan membiarkan anak ini hidup? Apakah kita harus

membahayakan dunia kita hanya agar keluarga mereka tetap utuh? Atau apakah Garrett

yang tulus hati itu berhak melakukannya? Apakah kalian akan bergabung dengan

mereka dalam pertempuran melawan niat spontan kami untuk mendominasi?"

Para saksi membalas tatapan Aro dengan sikap hati-hati. Satu, seorang wanita

mungil berambut hitam, memandang sekilas pasangannya yang berambut pirang gelap,

"Apakah hanya itu pilihan kami?" tanyanya tiba-tiba, tatapannya berkelebat

kembali pada Aro. "Setuju denganmu, atau bertempur melawanmu?"

"Tentu saja tidak, Makenna yang paling memesona," jawab Aro, terlihat ngeri

karena ada yang menyimpulkan seperti itu. "Kau boleh pergi dalam damai, tentu saja,

seperti Amun tadi, walaupun kau tidak sependapat dengan keputusan dewan."

Lagi-lagi Makenna menatap wajah pasangannya, dan pasangannya mengangguk

pelan.

"Kami tidak datang ke sini untuk bertempur." Makenna terdiam sejenak,

mengembuskan napas, kemudian berkata, "Kami datang ke sini untuk menyaksikan. Dan

kesaksian kami adalah bahwa keluarga ini tidak bersalah. Semua yang dikatakan Garrett

tadi benar."

"Ah," ucap Aro sedih. "Aku sedih kalian memandang kami seperti itu. Tapi

memang begitulah tugas kami."

599

"Bukan apa yang kulihat, tapi apa yang kurasakan," pasangan Makenna yang

berambut pirang gelap berbicara dengan nada tinggi dan gugup. Ia melirik Garrett, "Kata

Garrett, mereka tahu kalau ada yang berbohong. Aku juga tahu kapan aku mendengar

hal sebenarnya, dan kapan tidak." Dengan sorot takut ia beringsut lebih dekat pada

pasangannya, menunggu reaksi Aro.

"Jangan takut pada kami, sobatku Charles. Tak diragukan lagi si patriot benarbenar

meyakini ucapannya." Aro terkekeh renyah, dan mata Charles menyipit.

"Inilah kesaksian kami," kata Makenna. "Kami akan pergi sekarang."

Ia dan Charles perlahan-lahan mundur menjauh, tidak berbalik sebelum lenyap

dari pandangan di balik pohon-pohon. Satu vampir asing lain mulai mundur dengan cara

sama, disusul tiga lagi melesat menyusul mereka.

Kuhitung ada 37 vampir yang tetap di tempat. Beberapa di antara mereka terlihat

terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Tapi sebagian besar tampaknya sangat

menyadari ke mana arah konfrontasi ini. Kurasa mereka pergi lebih dulu karena tahu

siapa yang akan mengejar mereka nanti.

Aku yakin Aro juga melihat hal yang sama denganku. Ia berbalik, berjalan kembali

menghampiri para pengawalnya dengan langkah terukur. Ia berhenti di depan mereka

dan berbicara pada mereka dengan suara jernih.

"Kita kalah jumlah, anak-anak buahku tersayang," ujarnya. "Kita tidak bisa

mengharapkan bantuan dari luar. Haruskah kita meninggalkan pertanyaan ini tidak

terjawab untuk menyelamatkan diri kita sendiri?"

"Tidak, Tuan," mereka berbisik serempak.

"Apakah melindungi dunia kita setara harganya, mungkin, dengan kehilangan

sebagian di antara kita?"

"Ya," desah mereka. "Kami tidak takut."

Aro tersenyum dan berbalik menghadap teman-temannya yang berjubah hitam.

"Brothers" ucap Aro muram, "banyak sekali yang harus kita pertimbangkan di

sini."

"Mari kita berunding," ajak Caius penuh semangat.

"Mari kita berunding," ulang Marcus dengan nada tidak tertarik.

Aro memunggungi kami lagi, menghadap ke para tetua yang lain. Mereka

bergandeng tangan membentuk segitiga berselubungkan jubah hitam.

600

Begitu perhatian Aro beralih pada perundingan yang berlangsung tanpa suara,

dua saksi lain diam-diam menghilang, masuk ke dalam hutan. Aku berharap, demi

keselamatan mereka, mereka bisa lari dengan cepat.

Sekaranglah saatnya. Hati-hati, kulepaskan rangkulan tangan Renesmee dari

leherku.

"Kau ingat apa yang kukatakan?"

Air mata menggenangi matanya, tapi Renesmee mengangguk. "Aku sayang

padamu," bisiknya.

Edward menatap kami sekarang, mata topaznya membelalak. Jacob memandang

kami dari sudut mata hitamnya.

"Aku juga sayang padamu," kataku, kemudian aku menyentuh loketnya. "Lebih

dari hidupku sendiri." Kukecup kening Renesmee.

Jacob mendengking gelisah.

Aku berjinjit dan berbisik di telinganya, "Tunggu sampai perhatian mereka

teralihkan sepenuhnya, lalu larilah bersama Renesmee. Larilah sejauh kau bisa. Dan

setelah itu Renesmee memiliki apa yang kalian butuhkan untuk naik pesawat terbang."

Wajah Jacob dan Edward sama-sama menunjukkan mimik ngeri, walaupun salah

satu dari mereka berwujud binatang.

Renesmee menggapai Edward, dan Edward meraihnya ke dalam pelukan. Mereka

berpelukan erat sekali.

"Jadi ini yang kausembunyikan dariku?" bisik Edward di telingaku.

"Dari Aro," desahku.

"Alice?"

Aku mengangguk.

Wajah Edward terpilin, mengerti bercampur sedih. Begitu jugakah ekspresi

wajahku waktu aku akhirnya menyatukan petunjuk-petunjuk Alice?

Jacob menggeram pelan, geraman rendah yang datar dan tak terputus seperti

dengkuran. Bulu-bulunya kaku dan giginya terpampang.

601

Edward mengecup kening Renesmee dan kedua pipinya, kemudian ia

menaruhnya di pundak Jacob. Renesmee naik dengan lincah ke punggung Jacob,

mencengkeram bulunya, dan duduk nyaman di antara tulang bahunya yang besar.

Jacob berpaling padaku, ekspresinya sarat kepedihan, geraman menggetarkan itu

masih terdengar dari dalam dadanya.

"Kau satu-satunya yang bisa kami percaya untuk menjaganya.” bisikku pada

Jacob. "Kalau kau tidak menyayanginya sebesar itu, aku takkan sanggup. Aku tahu kau

bisa melindunginya, Jacob."

Jacob mendengking lagi, lalu menundukkan kepala untuk menyenggol bahuku.

"Aku tahu," bisikku.

"Aku juga sayang padamu, Jake, Kau akan selalu menjadi best man-ku."

Air mata sebesar bola bisbol mengalir ke dalam bulu cokelat kemerahan di bawah

matanya.

Edward menempelkan kepalanya ke pundak tempat ia mendudukkan Renesmee

tadi. "Selamat tinggal, Jacob, saudaraku... anakku."

Yang lain-lain bukan tidak menyadari adegan perpisahan yang terjadi. Mata

mereka terpaku pada segitiga hitam tak bersuara itu, tapi aku tahu mereka

mendengarkan.

"Jadi tak ada harapan lagi kalau begitu?" bisik Carlisle. Tak ada nada takut dalam

suaranya. Hanya tekad dan kepasrahan.

"Jelas masih ada harapan," aku balas berbisik. Itu bisa jadi benar, kataku pada diri

sendiri. "Aku hanya tahu takdirku."

Edward meraih tanganku. Ia tahu ia termasuk di dalamnya. Waktu aku

mengatakan takdirku, tak diragukan lagi bahwa yang kumaksud adalah kami berdua.

Kami setengah yang menjadi satu.

Napas Esme memburu di belakangku. Ia berjalan melewati kami, menyentuh

wajah kami waktu ia lewat, dan berdiri di sebelah Carlisle, menggenggam tangannya.

Tiba-tiba di sekeliling kami terdengar gumaman selamat berpisah dan pernyataan

cinta.

602

"Kalau kita selamat melewati ini" Garrett berbisik pada Kate, "aku akan

mengikutimu ke mana pun kau pergi"

"Kenapa baru sekarang kau bicara begiru?" gerutu Kate.

Rosalie dan Emmett berciuman cepat tapi penuh gairah.

Tia membelai-belai wajah Benjamin. Benjamin membalas senyumnya dengan

riang, memegang tangan Tia dan menempelkannya di pipi.

Aku tidak melihat semua ekspresi cinta dan kesedihan itu. Mendadak perhatianku

tersedot oleh tekanan menggeletar yang tiba-tiba muncul dari luar perisaiku. Aku tak

tahu dari mana asalnya, tapi rasanya seperti diarahkan ke bagian pinggir kelompok

kami, Siobhan dan Liam terutama. Tekanan itu tidak mengakibatkan kerusakan apa-apa,

dan sejurus kemudian hilang.

Tak ada perubahan dalam sosok para tetua yang diam tak bergerak, masih terus

berunding. Tapi mungkin ada semacam isyarat yang tidak kulihat.

"Bersiap-siaplah," bisikku pada yang lain-lain. "Sudah dimulai"

603

38. KUAT

"chelsea berusaha menghancurkan ikatan kita," bisik Edwarcl, "Tapi dia tidak bisa

menemukannya. Dia tidak bisa merasakan kita di sini..." Matanya melirikku. "Kau yang

melakukannya, ya?"

Aku tersenyum muram padanya. "Aku melakukan semuanya"

Edward tiba-tiba menjauh dariku, tangannya terulur pada Carlisle. Pada saat bersamaan

aku merasakan tusukan yang jauh lebih tajam menghunjam tempat perisaiku

membungkus cahaya Carlisle, Tidak menyakitkan, tapi juga tidak menyenangkan.

"Carlisle? Kau baik-baik saja?" Edward tersentak panik.

"Ya. Mengapa?"

"Jane," Edward menjawab.

Begitu Edward menyebut namanya, selusin serangan datang bertubi-tubi,

menghunjam ke seluruh permukaan perisai yang elastis, diarahkan ke dua belas titik

terang berbeda. Aku meregangkan perisaiku, memastikan tak ada yang rusak.

Kelihatannya Jane tidak berhasil menusuknya. Aku cepat-cepat memandang berkeliling;

semua baik-baik saja. "Luar biasa," puji Edward.

"Mengapa mereka tidak menunggu sampai ada keputusan?" desis Tanya.

"Prosedur normal," jawab Edward kasar. "Mereka biasanya melumpuhkan dulu

pihak-pihak yang sedang disidang agar tidak bisa melarikan diri."

Aku menatap Jane di seberang lapangan, yang memandang kelompok kami

dengan tatapan marah bercampur tidak percaya. Aku yakin sekali bahwa, selain aku, ia

tak pernah melihat ada orang yang tetap berdiri setelah diserang olehnya.

Mungkin ini bukan sikap yang matang. Tapi kurasa Aro membutuhkan waktu kirakira

setengah detik untuk menebak kalau itu belum ia lakukan bahwa perisaiku jauh

lebih kuat daripada yang selama ini diketahui Edward; aku toh sudah dijadikan sasaran,

jadi tak ada gunanya lagi merahasiakan apa yang bisa kulakukan. Maka aku pun

menyunggingkan senyum lebar penuh kemenangan pada Jane.

Mata Jane menyipit, dan aku merasakan hunjaman tekanan lagi, kali ini diarahkan

padaku.

Aku menyeringai lebih lebar, memamerkan gigiku.

604

Jane mengeluarkan jeritan menggeram yang melengking tinggi. Semua terlonjak,

bahkan para pengawal yang disiplin sekalipun. Semua kecuali para tetua, yang terus

sibuk berdiskusi. Kembaran Jane menyambar lengannya sementara ia membungkuk

memasang kuda-kuda, siap menerjang.

Kelompok Rumania mulai terkekeh, berharap akan melihat pertempuran.

"Sudah kubilang kan, inilah saatnya," kata Vladimir pada Stefan.

"Lihat saja wajah tukang sihir itu," kekeh Stefan.

Alec menepuk-nepuk bahu saudarinya dengan sikap menenangkan, lalu

merangkul Jane. Ia memalingkan wajah kepada kami, wajahnya mulus sempurna, benarbenar

seperti malaikat.

Aku menunggu munculnya tekanan, tanda-tanda bakal terjadi serangan, tapi

tidak merasakan apa-apa. Ia terus memandang ke arah kami, wajah rupawannya tenang.

Apakah ia menyerang? Apakah ia bisa menembus perisaiku? Apakah aku satu-satunya

yang masih bisa melihatnya? Kucengkeram tangan Edward.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku tercekar.

"Ya," bisik Edward.

"Apakah Alec mencoba?"

Edward mengangguk, "Bakatnya lebih lambat daripada Jane. Merayap. Akan

mencapai kita beberapa detik lagi."

Saat itulah aku melihatnya, setelah tahu apa yang harus kucari.

Kabut bening aneh merambat di permukaan salju, nyaris tak terlihat di atas

bidang berwarna putih. Mengingatkanku pada fatamorgana, pandangan terlihat sedikit

meliuk-liuk, seberkas cahaya berpendar-pendar. Kudorong perisaiku menjauhi Carlisle

dan yang lain-lain di baris depan, takut kabut itu terlalu dekat dengan mereka saat

menghantam nanti, Bagaimana kalau kabut itu menerobos perlindunganku yang tak

kasatmata? Apakah sebaiknya kami lari?

Geraman pelan berdesir di tanah di bawah kaki kami, dan embusan angin

menerbangkan salju menjadi kabut es yang tiba-tiba mengadang di antara kami dan

keluarga Voltuti, Benjamin juga melihat ancaman yang merayap itu, dan sekarang ia

berusaha meniup kabut itu menjauhi kami. Dengan adanya salju mudah saja melihat ke

mana ia melemparkan angin, tapi kabut itu sama sekali tak bereaksi. Rasanya seperti

udara bertiup melalui bayang-bayang; bayang-bayangnya kebal.

605

Formasi segitiga para tetua akhirnya bubar seketika, diiringi suara mengerang

yang dalam, muncul retakan zig-zag sempit dan panjang di tengah-tengah lapangan.

Bumi berguncang di bawah kakiku. Salju berembus masuk ke lubang, tapi kabutnya

lewat terus di atasnya, tidak terpengaruh gravitasi seperti tadi juga tidak terpengaruh

angin.

Aro dan Caius menatap tanah yang menganga dengan mata membelalak. Marcus

menatap ke arah yang sama tanpa emosi.

Mereka tidak berbicara; mereka juga menunggu, sementara kabut menghampiri

kami. Angin melengking semakin keras tapi tidak mengubah arah kabut. Jane sekarang

tersenyum.

Kemudian kabut itu menghantam tembok.

Aku bisa merasakannya begitu kabut itu menyentuh perisaiku rasanya pekat,

manis, memualkan. Samar-samar membuatku teringat rasa kebas di lidah sehabis

menenggak Novo-cain.

Kabut itu melengkung ke atas, mencari celah, mencari kelemahan. Tapi tidak

menemukan apa-apa. Jari-jemari kabut yang terus mencari itu menjalar ke atas dan

mengelilingi perisai, berusaha mencari jalan masuk, dan dalam prosesnya menunjukkan

ukuran menakjubkan selubung perisaiku.

Terdengar suara terkesiap dari kedua sisi rekahan tanah yang dibuat Benjamin.

"Bagus sekali, Bella!" sorak Benjamin dengan suara pelan.

Senyumku kembali.

Aku bisa melihat mata Aro menyipit, untuk pertama kali keraguan membayang di

wajahnya ketika kabut itu berpusar-pusar tanpa bisa mencelakakan siapa pun di sekitar

perisaiku.

Kemudian tahulah aku bahwa aku bisa melakukannya. Jelas aku akan menjadi

prioritas nomor satu, yang pertama harus mati, tapi selama aku bisa bertahan, kekuatan

kami lebih dari sekadar berimbang dengan keluarga Volturi, Kami masih memiliki

Benjamin dan Zarrina; mereka tidak mendapat bantuan supranatural sama sekali.

Selama aku bisa bertahan,

"Aku harus berkonsentrasi," bisikku pada Edward. "Kalau nanti terjadi

pertempuran satu lawan satu, lebih sulit menamengi orang yang tepat."

606

"Akan kujauhkan mereka darimu."

"Jangan. Kau harus melumpuhkan Demetri. Zafrina akan menjauhkan mereka

dariku,"

Zafrina mengangguk khidmat. "Tak ada yang bakal menyentuh vampir muda ini,"

ia berjanji kepada Edward.

"Sebenarnya aku bisa saja menghadapi Jane dan Alec seorang diri, tapi aku lebih

berguna di sini."

"Jane milikku," desis Kate. "Dia harus merasakan akibat perbuatannya sendiri."

"Dan Alec berutang banyak nyawa padaku, tapi aku sudah puas kalau dibayar

dengan nyawanya saja," geram Vladimir dari sisi lain. "Dia milikku."

"Aku hanya menginginkan Caius," sergah Tanya datar.

Yang lain mulai membagi-bagi lawan juga, tapi dengan cepat mereka diinterupsi.

Aro, memandang tenang kabut Alec yang tidak efektif, akhirnya berbicara.

"Sebelum kita melakukan pemungutan suara," ia memulai.

Aku menggeleng marah. Aku sudah muak dengan sandiwara ini. Nafsu haus

darah dalam diriku kembali terpicu, dan aku menyesal karena aku justru lebih berguna

dengan berdiri diam. Padahal aku ingin bertempur.

"Izinkan aku mengingatkan kalian” lanjut Aro, "apa pun keputusan dewan nanti,

tidak perlu ada kekerasan di sini."

Edward menggeramkan tawa pahit.

Aro memandang Edward dengan sedih. "Sungguh merupakan kerugian besar bagi

jenis kita bila kehilangan salah satu dari kalian. Terutama kau, Edward, dan pasangan

vampir barumu. Keluarga Volturi dengan senang hati akan menerima banyak di antara

kalian ke dalam kelompok kami. Bella, Benjamin, Zafrina, Kate. Banyak sekali pilihan bagi

kalian. Pertimbangkanlah."

Upaya Chelsea menggoyahkan kami gagal total karena kekuatan perisaiku.

Pandangan Aro menyapu mata kami yang keras, mencari tanda-tanda keraguan. Dari

ekspresinya, ia tidak menemukan apa pun.

Aku tahu ia bernafsu ingin memiliki Edward dan aku, memenjarakan kami seperti

ia berharap bisa memperbudak Alice. Tapi pertempuran ini terlalu besar. Ia takkan

607

menang kalau aku hidup. Aku senang sekali menjadi begitu kuat hingga tidak

memberinya pilihan untuk tidak membunuhku.

"Mari kita ambil suara, kalau begitu," kata Aro dengan keengganan yang terlihat

jelas.

Caius berbicara dengan semangat terburu-buru. "Bagaimana anak ini, tidak

diketahui secara pasti. Tak ada alasan membiarkan resiko sebesar itu tetap ada. Dia

harus dimusnahkan, bersama semua yang melindunginya." Ia tersenyum penuh harap.

Sekuat tenaga kutelan kembali jeritan marah untuk menjawab senyum puasnya

yang keji.

Marcus mengangkat matanya yang menyorotkan ketidakpedulian, sepertinya

tidak melihat kami sementara ia menyampaikan keputusannya.

"Aku tidak melihat adanya bahaya. Anak ini untuk sementara cukup aman. Kita

akan selalu bisa mengevaluasinya nanti. Sekarang kita bisa pergi dalam damai." Suara

Marcus bahkan lebih lirih daripada desahan setipis bulu saudara-saudaranya.

Tak ada pengawal yang posturnya berubah rileks mendengar keputusan Marcus

yang tidak setuju. Seringaian puas Caius juga tak goyah sedikit pun. Seakan-akan Marcus

tidak berbicara sama sekali.

"Kalau begitu, akulah yang harus mengambil keputusan menentukan," renung

Aro.

Tiba-tiba Edward menegang di sampingku. "Yes!" desisnya.

Aku mengambil risiko meliriknya. Wajah Edward berbinar-binar oleh ekspresi

kemenangan yang tidak kumengerti ekspresi yang akan terpampang di wajah malaikat

maut saat melihat dunia terbakar. Rupawan dan mengerikan.

Terdengar reaksi pelan para pengawal, gumaman gelisah.

“Aro?" seru Edward, nyaris berteriak, kemenangan yang tak bisa disembunyikan

terdengar dalam suaranya.

Aro sejenak ragu, menilai suasana hati yang baru itu dengan waswas sebelum

menjawab. "Ya, Edward? Ada yang ingin kausampaikan...?"

"Mungkin," jawab Edward dengan nada riang, mengendalikan kegembiraannya

yang tak bisa dijelaskan. "Pertama, kalau boleh aku menegaskan satu hal?"

"Tentu saja," jawab Aro, mengangkat alis, nadanya tertarik dan sopan. Aku

mengertakkan gigi, Aro justru sangat berbahaya bila ia sangat murah hati.

608

"Bahaya yang kauperkirakan akan terjadi karena putriku itu sepenuhnya bermula

dari ketidakmampuan kita menduga bagaimana dia akan berkembang nanti? Inikah inti

permasalahannya?"

"Benar, temanku Edward," Aro membenarkan. "Bila kita bisa merasa positif... bisa

memastikan bahwa, saat dia tumbuh nanti, dia bisa tetap tersembunyi dari dunia

manusia tidak membuat keberadaan kita ketahuan..." suaranya menghilang, bahunya

terangkat.

"Jadi kalau kita bisa memastikan dia akan jadi seperti apa persisnya nanti... maka

tidak perlu ada keputusan dewan sama sekali?"

"Kalau ada cara untuk benar-benar merasa yakin," Aro setuju, suaranya yang tipis

sedikit melengking. Ia tidak bisa melihat arah pembicaraan Edward. Aku juga tidak,

"Kalau begitu, ya, tidak ada pertanyaan lagi yang perlu diperdebatkan."

"Dan kita akan berpisah dalam damai, kembali berteman baik?" tanya Edward

dengan secercah nada ironis.

Suara Aro semakin melengking. "Tentu saja, teman mudaku. Tidak ada yang lebih

membuatku senang."

Edward terkekeh senang. "Kalau begitu ada hal lain yang ingin kutawarkan."

Mata Aro menyipit. "Dia sangat unik. Masa depannya hanya bisa ditebak."

"Tidak terlalu unik," Edward tidak sependapat. "Jarang, tentu saja, tapi bukan

satu-satunya."

Kulawan perasaan shock dan harapan yang tiba-tiba muncul, karena hal itu bisa

mengusik perhatianku. Kabut yang tampak menakutkan itu masih berpusar-pusar di

sekitar pinggiran perisaiku. Dan sementara aku susah payah berusaha fokus, aku

merasakan lagi tekanan yang tajam menusuk tameng perlindunganku.

"Aro, bisa tolong minta Jane berhenti menyerang istriku?" pinta Edward sopan.

"Kita masih mendiskusikan bukti"

Aro mengangkat sebelah tangan. "Damai, anak-anak kesayanganku. Kita

dengarkan dulu dia."

Tekanan itu lenyap. Jane menyeringai memamerkan giginya, aku tak tahan untuk

tidak balas menyeringai.

"Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami, Alice?" Edward berseru nyaring.

"Alice," bisik Esme shock.

609

“Alice!”

“Alice, Alice, Alice!”

"Alice! "Alice!" suara-suara lain bergumam di sekelilingku.

"Alice" Aro mendesah.

Kelegaan dan kegembiraan yang meluap-luap menyerbu sekujur tubuhku. Aku

harus mengerahkan segenap daya upaya untuk mempertahankan perisaiku tetap utuh.

Kabut Alec masih mencoba-coba, mencari celah, Jane akan tahu kalau aku meninggalkan

lubang.

Kemudian aku mendengar mereka berlari menembus hutan, terbang,

memperpendek jarak secepat mereka bisa tanpa berusaha memperlambat lari mereka

agar tidak terdengar.

Kedua pihak diam tak bergerak, menunggu. Saksi-saksi keluarga Volturi

mengerutkan kening bingung.

Kemudian Alice menari-nari memasuki lapangan dari arah barat daya, dan aku

merasa kebahagiaan melihat wajahnya lagi bisa membuatku jatuh tersungkur. Jasper

hanya beberapa sentimeter di belakang Alice, matanya yang tajam berapi-api. Menyusul

di belakang mereka tiga sosok asing, yang pertama wanita bertubuh jangkung dan

berotot dengan tambut liar berwarna gelap jelas itu Kachiri. Ia juga memiliki lengan dan

kaki panjang-panjang seperti vampir Amazon lain, bahkan lebih mencolok.

Berikutnya vampir wanita mungil berkulit sewarna buah zaitun dengan rambut

hitam panjang dikepang yang terangguk-angguk di punggungnya. Mata merah

anggurnya berkelebat gugup melihat konfrontasi di depannya.

Dan terakhir seorang pria muda... larinya tidak secepat dan seanggun vampirvampir

lain. Kulitnya cokelat tua menawan. Matanya yang waswas berkelebat

memandangi kumpulan itu, bola matanya sewarna kayu jati hangat. Rambutnya hitam

dan dikepang, seperti vampir wanita, walaupun tidak sepanjang itu. Ia sangat rupawan.

Ketika ia mendekati kami, sebuah suara baru menghantam semua yang

menonton suara detak jantung lain, kencang karena habis berlari.

Alice dengan lincah melompati pinggiran kabut yang mulai menghilang yang

menjilati perisaiku dan langsung berhenti di samping Edward. Aku mengulurkan tangan

untuk menyentuh lengannya, begitu juga Edward, Esme, Carlisle, Tak ada waktu untuk

ucapan selamat datang yang lebih dari itu. Jasper dan yang lain mengikutinya memasuki

perisai.

610

Semua pengawal melihat, spekulasi bermain di mata mereka, sementara para

pihak yang baru datang menyeberangi perbatasan tanpa kesulitan. Para pengawal yang

bertubuh besar, Felix dan yang lain-lain seperti dia, mengarahkan mata mereka yang

mendadak penuh harap kepadaku. Mereka tak yakin apa yang bisa menembus perisaiku,

tapi sekarang jelas perisaiku tak bisa menghentikan serangan fisik. Begitu Aro memberi

perintah, akan langsung terjadi serangan, dan akulah satu-satunya sasaran. Aku

bertanya-tanya dalam hati berapa banyak yang bisa dibutakan Zafrina, dan berapa

banyak itu akan memperlambat gerak mereka. Cukup lama untuk membuat Kate dan

Vladimir menghabisi Jane dan Alec." Aku hanya bisa berharap begitu.

Edward, meski fokus pada perkembangan yang ia arahkan, menegang marah

merespons pikiran-pikiran mereka. Ia mengendalikan diri dan berbicara lagi kepada Aro.

"Alice mencari saksi-saksinya sendiri beberapa minggu terakhir ini" kata Edward

pada para tetua. "Dan dia tidak kembali dengan tangan hampa. Alice, bagaimana kalau

kauperkenalkan saksi-saksi yang kaubawa?"

Caius menggeram. "Waktu untuk saksi-saksi sudah habis! Berikan suaramu, Aro!"

Aro mengangkat jari untuk mendiamkan saudaranya, matanya terpaku pada

wajah Alice.

Alice maju selangkah dan memperkenalkan orang-orang asing itu. "Ini Huilen dan

keponakannya, Nahuel."

Mendengar suaranya... seakan-akan Alice tak pernah pergi.

Mata Caius menegang begitu mendengar Alice menyebut hubungan antara para

pendatang baru itu. Saksi-saksi Volturi mendesis di antara mereka sendiri. Dunia vampir

sedang berubah, dan semua bisa merasakannya.

"Bicaralah, Huilen," perintah Aro. "Beri kami kesaksian yang harus

kausampaikan."

Wanita mungil itu melirik Alice gugup. Alice mengangguk memberi semangat, dan

Kachiri meletakkan tangannya yang panjang di bahu vampir kecil itu.

"Aku Huilen," wanita itu menyatakan dengan suara jernih dan dalam bahasa

Inggris beraksen aneh. Saat ia melanjutkan perkataannya, tampak jelas ia sudah

mempersiapkan diri untuk menyampaikan cerita ini, bahwa ia sudah berlatih. Ceritanya

mengalir seperti dongeng sebelum tidur yang sudah dihafal dengan baik, "Satu setengah

abad yang lalu, aku tinggal bersama sukuku, suku Mapuche. Saudariku bernama Pire.

Orangtua kami menamai dia seperti salju di pegunungan karena kulitnya yang terang.

Dan dia sangat cantik terlalu cantik. Suatu hari dia diam-diam mendatangiku dan

611

menceritakan padaku tentang malaikat yang menemuinya di hutan, yang

mendatanginya pada malam hari. Aku memperingatkan dia," Huilen menggeleng sedih.

"Seolah-olah memar-memar di kulitnya belum cukup menjadi peringatan. Aku tahu itu

Libishomen seperti yang disebutkan dalam legenda kami, tapi dia tidak mau mendengar.

Pire sudah tersihir.

"Dia bercerita dia yakin anak malaikat gelap itu sedang bertumbuh di dalam

rahimnya. Aku tidak berusaha membuatnya melupakan rencananya untuk kabur dari

rumah, aku tahu bahkan ayah dan ibu kami pasti setuju anak itu dimusnahkan, bersama

Pire sekaligus. Aku pergi bersamanya ke pelosok hutan. Dia mencari malaikat hantunya

tapi tidak menemukan apa-apa. Aku merawat dia, berburu untuknya ketika dia sudah

tidak kuat lagi. Dia makan binatang mentah-mentah, minum darahnya. Aku tidak

membutuhkan konfirmasi lagi tentang apa yang dikandung Pire dalam rahimnya. Aku

berharap bisa menyelamatkan nyawanya sebelum membunuh monster itu.

"Tapi dia menyayangi anak dalam kandungannya. Dia menamainya Nahuel,

seperti nama kucing hutan, waktu bayi itu menjadi kuat dan mematahkan tulangtulangnya,

tapi tetap menyayanginya.

"Aku tidak bisa menyelamatkan dia. Anak itu keluar dengan cara mengoyak

perutnya, dan Pire meninggal dengan cepat, memohon-mohon agar aku mau merawat

Nahuel. Itu keinginan terakhirnya, dan aku setuju.

"Nahuel menggigitku waktu aku berusaha mengangkatnya dari tubuh ibunya. Aku

merangkak masuk ke hutan untuk mati. Aku tak bisa pergi jauh-jauh, sakitnya terlalu

luar biasa. Tapi dia menemukanku, bayi yang baru lahir itu susah payah menerobos

semak untuk sampai ke sisiku dan menungguku. Setelah sakitku hilang, dia bergelung di

sampingku, tidur.

"Aku merawatnya sampai dia bisa berburu sendiri. Kami berburu di desa-desa di

sekitar hutan, selalu berdua. Kami tak pernah pergi jauh dari rumah, tapi Nahuel ingin

melihat anak yang ada di sini."

Huilen menundukkan kepala setelah selesai bercerita dan mundur sehingga ia

separo terhalang Kachiri,

Aro mengerucutkan bibir. Ia memandangi pemuda berkulit gelap itu.

"Nahuel, jadi usiamu 150 tahun?" tanya Aro.

"Ditambah atau dikurangi satu dekade," Nahuel menjawab dengan suara yang

jernih dan enak didengar. Aksennya nyaris tidak kentara. "Kami tak pernah

menghitung."

612

"Dan kau mencapai kedewasaan pada usia berapa?"

"Kira-kira tujuh tahun setelah kelahiranku, aku sudah dewasa penuh."

"Dan sejak itu kau tak pernah berubah?"

Nahuel mengangkat bahu. "Sepanjang pengamatanku, tidak."

Aku merasakan getaran mengguncang tubuh Jacob. Aku tidak mau memikirkan

hal itu sekarang. Aku akan menunggu sampai bahaya ini lewat dan aku bisa

berkonsentrasi.

"Dan makananmu?" desak Aro, sepertinya tertarik walau tidak ingin.

"Kebanyakan darah, tapi sebagian makanan manusia juga. Aku bisa bertahan

dengan dua-duanya."

"Dan kau bisa menciptakan makhluk abadi?" Ketika Aro melambaikan tangan ke

arah Huilen, suaranya tiba-tiba menegang. Aku kembali fokus pada perisaiku; mungkin

ia mencari-cari alasan baru.

"Bisa, tapi yang lain-lain tidak bisa."

Gumaman shock pecah dari ketiga kelompok.

Alis Aro terangkat. "Yang lain-lain?"

"Saudari-saudariku." Lagi-lagi Nahuel mengangkat bahu.

Aro memandang liar sesaat sebelum kembali menenangkan wajahnya.

"Mungkin kau mau menyampaikan pada kami seluruh ceritamu, karena

sepertinya masih ada lagi." Nahuel mengerutkan kening.

"Ayahku datang mencariku beberapa tahun setelah kematian ibuku." Wajahnya

sedikit terpilin. "Dia senang bisa menemukanku." Dari nadanya kentara sekali Nahuel

tidak merasakan hal yang sama. "Dia punya dua anak perempuan, tapi tidak punya anak

laki-laki. Dia mengharapkan aku bergabung dengannya, seperti saudari-saudariku.

"Dia terkejut aku tidak sendirian. Saudari-saudariku tidak beracun, tapi apakah itu

berkaitan dengan gender atau karena sebab lain... siapa yang tahu? Aku sudah punya

keluarga sendiri bersama Huilen, dan aku tidak tertarik" ia memilin kata itu "untuk

berubah. Sesekali aku masih sering bertemu dengannya. Aku punya adik perempuan

baru; dia mencapai kedewasaan kira-kira sepuluh tahun lalu."

613

"Nama ayahmu?" tanya Caius dengan gigi-gigi dikertakkan.

"Joham" jawab Nahuel. "Dia menganggap dirinya ilmuwan. Dia merasa

menciptakan ras super yang baru." Nahuel tak berusaha menyembunyikan nada muak

dalam suaranya.

Caius memandangiku. "Putrimu, apakah dia beracun?" runtutnya kasar.

"Tidak " jawabku. Kepala Nahuel tersentak mendengar pertanyaan Aro, dan

matanya yang bagaikan kayu jati menatap wajahku tajam.

Caius memandang Aro untuk meminta konfirmasi, tapi Aro tenggelam dalam

pikirannya sendiri. Ia mengerucutkan bibir dan memandangi Carlisle, kemudian Edward,

dan akhirnya matanya tertuju padaku.

Caius menggeram, "Kita bereskan penyimpangan di sini, kemudian mengurus ke

selatan," desaknya pada Aro.

Aro menatap mataku untuk waktu yang lama dan tegang. Aku tak tahu apa yang

ia cari, atau apa yang ia dapatkan, tapi setelah menilaiku beberapa saat, sesuatu di

wajahnya berubah, dan dari perubahan kecil pada mulut dan matanya, aku tahu Aro

sudah mengambil keputusan.

"Brother," ucapnya lirih pada Caius. "Kelihatannya tak ada bahaya di sini. Ini

perkembangan yang tidak biasa, tapi aku tidak melihat adanya ancaman. Anak-anak

separo vampir ini mirip kita sepertinya."

"Jadi, itu keputusanmu?" tuntut Caius.

"Benar."

Caius merengut. "Dan si Joham ini? Si imortal yang sangat senang

bereksperimen?"

"Mungkin sebaiknya kita bicara dengannya," Aro sependapat.

"Silakan saja kalau kalian ingin menghentikan Joham," sergah Nahuel datar. "Tapi

jangan ganggu saudari-saudariku. Mereka tidak bersalah."

Aro mengangguk, ekspresinya tepekur. Kemudian ia berpaling lagi pada para

pengawalnya dengan senyum hangat.

"Anak-anakku sayang," serunya. "Kita tidak bertempur hari ini."

614

Para pengawal itu mengangguk berbarengan dan menegakkan tubuh mereka

yang tadi membungkuk memasang kuda-kuda. Kabut lenyap dengan cepat, tapi aku

tetap mempertahankan perisaiku. Jangan-jangan ini tipuan lain.

Aku menganalisis ekspresi mereka sementara Aro berbalik menghadapi kami.

Wajahnya tetap seramah biasa, tapi tidak seperti sebelumnya, aku merasakan

kehampaan yang aneh di balik topengnya. Seolah-olah tipu dayanya telah berakhir.

Caius jelas-jelas marah, tapi amarahnya sekarang tertuju ke dalam dirinya; ia menyerah.

Marcus tampak... bosan; benar-benar tak ada kata lain untuk menggambarkannya. Para

pengawal kembali terlihat tanpa ekspresi dan disiplin; tak ada individu-individu di sana,

mereka satu kesatuan. Mereka satu formasi, siap-siap berangkat. Para saksi Volturi

masih waswas; satu demi satu mereka berangkat, berpencar di dalam hutan. Setelah

jumlah mereka banyak berkurang, yang tersisa pun kabur. Tak lama kemudian mereka

sudah lenyap.

Aro mengulurkan kedua tangannya pada kami, nyaris seperti meminta maaf. Di

belakangnya, sebagian besar kelompok pengawal, bersama Caius, Marcus, dan para istri

yang diam dan misterius, sudah mulai beranjak cepat, formasi mereka kembali

serempak. Hanya tiga yang sepetinya merupakan pengawal pribadi yang tetap tinggal

bersamanya.

"Aku senang sekali masalah ini bisa diselesaikan tanpa kekerasan," kata Aro

dengan nada manis. "Sobatku, Cadisle—betapa senangnya aku bisa menyebutmu sobat

lagi! Mudah-mudahan tak ada sakit hati. Aku tahu kau mengerti beban berat yang

diletakkan oleh kewajiban kita di pundak kami."

"Pergilah dalam damai, Aro," pinta Carlisle kaku, "Mohon diingat kami masih

harus melindungi seratus anonim kami di sini, jadi jangan sampai para pengawalmu

berburu di kawasan ini,''

"Tentu saja, Carlisle," Aro meyakinkan dia. "Aku sangat menyesal telah

membuatmu kesal, sobatku yang baik. Mungkin, suatu saat nanti, kau mau memaafkan

aku."

"Mungkin, suatu saat nanti, kalau kau membuktikan kau memang teman kami

lagi."

Aro menundukkan kepala, tampak sangat menyesal, kemudian mundur beberapa

saat sebelum berbalik. Kami mengawasi sambil berdiam diri sampai empat anggota

keluarga Volturi terakhir lenyap di balik pepohonan.

Suasana sunyi senyap. Aku tidak melepas perisaiku.

615

"Apakah sudah benar-benar berakhir?" bisikku pada Edward.

Senyum Edward lebar sekali. "ya. Mereka menyerah. Seperti para preman

umumnya, sebenarnya dalam hati mereka pengecut." Ia terkekeh.

Alice tertawa bersamanya. "Ini benar. Mereka tidak akan kembali. Semua bisa

rileks sekarang."

Sesaat suasana kembali senyap.

"Brengsek" gumam Stefan.

Kemudian kesadaran itu pun menghantam.

Sorak-sorai meledak. Lolongan yang memekakkan telinga memenuhi lapangan.

Maggie memukul punggung Siobhan. Rosalie dan Emmett berciuman lagi, lebih lama

dan lebih bergairah daripada sebelumnya. Benjamin dan Tia berangkulan, begitu juga

Carmen dan Eleazar. Esme memeluk Alice dan Jasper erat-erat. Carlisle mengucapkan

terima kasih dengan hangat kepada para pendatang baru dari Amerika SeIatan yang

telah menyelamatkan kami semua. Kachiri berdiri dekat sekali dengan Zafrina dan

Senna, ujung-ujung jari mereka saling mengait. Garrett mengangkat tubuh Kate dan

memutar-mutarnya.

Stefan meludah di salju. Vladimir mengertakkan gigi dengan ekspresi masam.

Dan aku separo menaiki serigala merah kecokelatan raksasa untuk merenggut

putriku dari punggungnya dan mendekapnya erat-erat di dadaku. Lengan Edward

merangkul kami di detik yang sama.

"Nessie, Nessie, Nessie," dendangku.

Jacob mengumandangkan tawanya yang besar dan menggonggong itu, lalu

menyundul bagian belakang kepalaku dengan moncongnya.

"Tutup mulut," gerutuku.

“Aku boleh tetap tinggal denganmu?" tuntut Nessie. "Selamanya" aku berjanji

padanya.

Kami memiliki selamanya. Dan Nessie akan baik-baik saja, sehat dan kuat. Seperti

Nahuel yang separo manusia itu, dalam usia 150 tahun, Renesmee akan tetap muda.

Dan kami semua akan bersama selamanya.

616

Kebahagiaan membuncah bagaikan ledakan di dalam diriku—begitu ekstrem,

begitu dahsyat hingga aku tak yakin aku telah selamat melewatinya.

"Selamanya," Edward menggemakan kata itu di telingaku.

Aku tak sanggup lagi bicara. Aku mendongakkan kepala dan menciumnya dengan

gairah yang bisa menimbulkan kebakaran hebat di hutan.

Aku pasti tidak akan menyadari kalau itu benar-benar terjadi.

617

39. AKHIR YANG MEMBAHAGIAKAN

"PADA akhirnya itu adalah kombinasi berbagai hal, tapi intinya adalah... Bella,"

Edward menjelaskan. Keluarga kami dan dua tamu yang masih tersisa duduk di ruang

besar rumah keluarga Cullen sementara hutan berubah warna menjadi hitam di luar

jendela-jendela tinggi,

Vladimir dan Stefan sudah menghilang sebelum kami berhenti merayakan.

Mereka sangat kecewa dengan hasil akhirnya, tapi kata Edward, mereka senang melihat

sikap pengecut keluarga Volturi, dan itu cukup untuk menggantikan rasa frustrasi

mereka.

Benjamin dan Tia langsung menyusul Amun dan Kebi, tak sabar ingin segera

memberitahu hasil akhir konflik; aku yakin kami akan bertemu lagi dengan mereka

Benjamin dan Tia, paling tidak. Tak seorang pun kaum nomaden berlama-lama di sana.

Peter dan Charlotte sempat mengobrol sebentar dengan Jasper, kemudian keduanya

juga pergi.

Kelompok Amazon yang berkumpul kembali sudah tak sabar ingin segera pulang

mereka sulit berada jauh-jauh dari hutan hujan mereka yang tercinta walaupun mereka

lebih enggan pulang daripada sebagian yang lain.

"Kau harus membawa anak ini berkunjung ke tempatku," Zafrina bersikeras,

"Berjanjilah padaku, anak muda"

Nessie menempelkan tangannya di leherku, memohon juga.

"Tentu saja, Zafrina," aku mengiyakan.

"Kita akan berteman baik, Nessie-ku," wanita liar itu menyatakan sebelum pulang

bersama saudari-saudarinya.

Kelompok Irlandia juga melakukan eksodus,

"Bagus sekali hasil kerjamu, Siobhan," puji Carlisle saat mereka berpamitan.

“Ah, betapa berkuasanya pikiran yang penuh harapan," Siobhan menyahut

sarkastis, memutar bola matanya. Tapi sejurus kemudian sikapnya berubah serius.

"Tentu saja, ini belum berakhir. Keluarga Volturi takkan melupakan apa yang terjadi di

sini."

618

Edwardlah yang menjawab kekhawatirannya. "Mereka sangat terguncang, rasa

percaya diri mereka berantakan. Tapi, benar, aku yakin suatu saat nanti mereka pasti

akan pulih dari perasaan terpukul ini. Kemudian..." Matanya menegang. " alam

bayanganku, mereka akan berusaha mengusik kita secara terpisah."

“Alice akan mengingatkan kita bila mereka berniat menyerang," kata Siobhan

yakin. "Dan kita akan berkumpul lagi. Mungkin akan tiba saatnya dunia kita siap untuk

terbebas dari keluarga Volturi selamanya."

"Saat itu pasti akan tiba" sahut Carlisle. "Kalau itu terjadi, kita akan berdiri

bersama."

"Ya, Sobat, kita akan berdiri bersama," Siobhan setuju.

"Dan bagaimana kita bisa kalah, kalau aku menginginkan sebaliknya?" Ia

mengumandangkan tawa renyah,

"Benar sekali," ujar Carlisle. Ia dan Siobhan berpelukan, kemudian ia menjabat

tangan Liam. "Cobalah mencari Alistair dan ceritakan apa yang terjadi padanya. Aku tak

ingin dia bersembunyi terus di balik batu selama satu dekade ke depan."

Siobhan terrawa lagi, Maggie memeluk baik Nessie maupun aku, kemudian

kelompok Irlandia pun berlalu.

Keluarga Denali adalah yang terakhir pergi, Garrett bersama mereka dan akan

terus bersama mereka mulai sekarang, aku yakin. Suasana kemenangan terlalu

menyakitkan bagi Tanya dan Kate. Mereka butuh waktu untuk berdukacita atas

meninggalnya saudari mereka.

Huilen dan Nahuel adalah para tamu yang masih tinggal, walaupun aku sempat

mengira mereka akan pulang bersama kelompok Amazon. Carlisle asyik mengobrol

dengan Huilen, Nahuel duduk merapat di sampingnya, mendengarkan sementara

Edward menceritakan tentang konflik tadi sebatas yang ia ketahui.

"Alice memberi Aro alasan yang dia butuhkan untuk keluar dari pertempuran.

Seandainya dia tidak terlalu takut pada Bella, mungkin dia akan tetap melaksanakan

rencana awalnya."

"Takut?" tanyaku skeptis. "Padaku?"

Edward tersenyum padaku dengan ekspresi yang tak sepenuhnya kukenali

pandangannya lembut, tapi juga kagum dan bahkan gemas. "Kapan kau akan

memandang dirimu dengan jelas?" tanyanya lirih. Lalu ia berbicara dengan suara lebih

keras, kepada yang lain selain aku. "Kira-kira sudah 2500 tahun lamanya keluarga Volturi

619

tak pernah bertempur secara adil. Dan mereka tak pernah, sama sekali tak pernah

bertempur dan kalah. Terutama sejak mereka memiliki Jane dan Alec, mereka selalu

melakukan pembantaian tanpa ada yang bisa melawan.

"Seharusnya kaulihat bagaimana mereka melihat kita tadi! Biasanya, Alec

mematikan semua pancaindra dan perasaan korban-korban sementara mereka berpurapura

berunding. Dengan cara itu tak ada yang bisa melarikan diri saat vonis dijatuhkan.

Tapi tadi kita berdiri, siap, menunggu, jumlah kita lebih banyak daripada mereka,

dengan bakat kita masing-masing sementara bakat mereka dibuat tak berguna oleh

Bella, Aro tahu dengan Zafrina di pihak kita, merekalah yang bakal buta begitu

pertempuran dimulai. Aku yakin jumlah kita akan sangat jauh berkurang, tapi mereka

yakin jumlah mereka juga akan berkurang. Bahkan ada kemungkinan mereka bakal

kalah. Mereka tak pernah menghadapi kemungkinan itu sebelumnya. Mereka tidak

menghadapinya dengan baik hari ini,"

"Sulit untuk merasa percaya diri jika kau dikelilingi serigala-serigala yang

ukurannya sebesar kuda," Emmett tertawa, meninju lengan Jacob.

Jacob menyeringai padanya.

"Serigala-serigalalah yang menghentikan mereka pada awalnya," kataku.

"Benar sekali," Jacob sependapat.

"Jelas" Edward membenarkan. "Itu pemandangan lain yang tak pernah mereka

lihat. Anak-Anak Bulan yang sesungguhnya jarang pergi berombongan, dan mereka tidak

pernah terlalu bisa mengendalikan diri. Enam belas serigala besar sekaligus menjadi

kejutan yang tidak siap mereka hadapi. Caius sebenarnya sangat takut pada serigala. Dia

pernah nyaris kalah melawan serigala beberapa ribu tahun lalu dan tidak pernah

melupakan ketakutannya itu."

"Jadi werewolf sungguhan itu benar-benar ada?" tanyaku, "Dengan bulan

purnama, peluru perak, dan segala macam?"

Jacob mendengus. "Sungguhan. Kalau begitu aku ini khayalan?"

"Kau mengerti maksudku."

"Bulan purnama, ya," jawab Edward. "Peluru perak, tidak. itu hanya satu dari

sekian banyak mitos untuk membuat manusia merasa mereka masih punya peluang.

Tapi tak banyak yang masih tersisa. Caius sudah memburu mereka sampai hampir

punah,"

"Tapi kau tak pernah menyebut hal ini karena,,,?"

620

"Itu tidak pernah diungkit."

Aku memutar bola mata, dan Alice tertawa, mencondongkan tubuh ke depan ia

juga dirangkul Edward di lengan yang lain dan mengedipkan mata padaku.

Kupelototi dia.

Aku sangat sayang pada Alice, tentu saja. Tapi sekarang setelah punya

kesempatan menyadari dirinya benar-benar sudah pulang, bahwa kepergiannya hanya

akal-akalan karena Edward harus percaya bahwa ia benar-benar meninggalkan kami,

aku mulai merasa sangat kesal padanya. Ia harus memberi penjelasan.

Alice mendesah, "Keluarkan saja semua unek-unekmu, Bella,"

"Tega-teganya kau berbuat begitu padaku, Alice?”

“Itu memang perlu."

"Perlu?" aku meledak. "Kau membuat kami benar-benar yakin kami semua bakal

mati! Aku merana selama berminggu-minggu,"

"Bisa saja berakhir begitu" ujar Alice tenang. "Dalam hal itu, kau harus siap

menyelamatkan Nessie."

Secara instingtif aku memeluk Nessie yang sekarang tertidur di pangkuanku lebih

erat lagi.

"Tapi kau juga tahu bahwa ada jalan lain" tudingku. "Kau tahu bahwa ada

harapan. Apakah tak pernah terpikir olehmu bahwa seharusnya kau bisa menceritakan

semua padaku? Aku tahu Edward harus mengira tak ada jalan lagi supaya Aro juga

mengira begitu, tapi sebenarnya kau kan bisa member tahu aku"

Beberapa saat Alice memandangiku dengan sikap berspekulasi. "Kurasa tidak,"

tukasnya. "Kau kan bukan aktris yang baik."

"Jadi masalahnya adalah karena kemampuan aktingku?"

"Oh, turunkan sedikit suaramu, Bella. Apakah kau tak tahu betapa rumitnya

mengatur hal ini? Aku bahkan tidak tahu orang seperti Nahuel itu ada, yang kutahu

hanyalah bahwa aku harus mencari sesuatu yang tak bisa kulihat! Coba bayangkan saja

mencari blind spot bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Belum lagi kami harus

mengirim pulang saksi-saksi kunci, seolah kami tidak sedang terburu-buru saja. Dan

masih ditambah lagi dengan keharusan membuka mata lebar-lebar, siapa tahu kau

memutuskan untuk memberiku instruksi-instruksi tambahan. Di suatu titik kau harus

menjelaskan kepadaku apa sesungguhnya yang ada di Rio. Selain semua itu, aku juga

621

harus melihat setiap tipuan yang mungkin akan digunakan keluarga Volturi dan

memberimu sedikit petunjuk sebisaku, supaya kau siap menghadapi siasat mereka,

padahal aku hanya punya waktu beberapa jam untuk melacak semua kemungkinan.

Yang terutama, aku harus meyakinkan kalian semua bahwa aku meninggalkan kalian,

karena Aro harus merasa yakin dulu bahwa kalian tidak menyembunyikan apa-apa atau

dia takkan mengambil jalan keluar seperti yang dilakukannya tadi Dan kalau kaukira aku

tidak merasa seperti orang brengsek.."

"Oke, oke!" selaku. "Maaf! Aku tahu situasinya pasti juga berat bagimu. Hanya

saja... well, aku sangat merindukanmu, Alice. Jangan lakukan itu lagi padaku."

Tawa berdenting Alice membahana di seantero ruangan, dan kami tersenyum

karena bisa mendengar musik itu lagi. “Aku juga merindukanmu, Bella. Jadi maafkan

aku, dan cobalah merasa puas bisa menjadi superhero hari ini."

Yang lain tertawa sekarang dan aku membenamkan wajahku ke rambut Nessie,

merasa malu.

Edward kembali menganalisis setiap perubahan niat dan kendali yang terjadi di

padang rumput hari ini, menyatakan bahwa perisaikulah yang membuat keluarga Volturi

lari pontang-panting dengan ekor terselip di antara kaki belakang. Cara semua orang

memandangku membuatku risi. Bahkan Edward juga. Aku merasa tubuhku seolah-olah

bertambah tinggi hanya dalam sekejap. Aku berusaha mengabaikan tatapan kagum

mereka dengan lebih banyak memandangi wajah Nessie yang tertidur pulas serta

ekspresi Jacob yang tak berubah. Aku tetap Bella bagi Jacob, dan itu sangat melegakan.

Tatapan yang paling sulit diabaikan adalah juga yang paling membuatku bingung.

Bukan berarti Nahuel, makhluk setengah manusia dan setengah vampir itu

pernah memiliki pikiran tertentu tentang aku. Bisa jadi ia mengira aku sudah biasa

menepis serangan para vampir yang datang menyerangku setiap hari dan pemandangan

di padang rumput tadi sama sekali bukan hal yang tidak biasa. Tapi pemuda itu tak

pernah mengalihkan tatapannya dariku. Atau mungkin juga ia memandangi Nessie. Itu

juga membuatku risi.

Ia pasti menyadari fakta bahwa Nessie adalah satu-satunya perempuan dari

jenisnya yang bukan saudari seayahnya.

Kurasa hal itu belum terpikirkan oleh Jacob, Aku berharap itu takkan terjadi

dalam waktu dekat. Sudah cukup rasanya aku mengalami perselisihan.

Akhirnya, yang lain-lain kehabisan pertanyaan untuk diajukan kepada Edward,

dan diskusi beralih ke hal-hal sepele.

622

Anehnya, aku merasa lelah. Tidak mengantuk, tentu saja, tapi rasanya seolaholah

hari ini sangat panjang. Aku menginginkan kedamaian, situasi yang normal. Aku

ingin Nessie tidur di ranjangnya sendiri; aku ingin dikelilingi dinding rumahku sendiri.

Kutatap Edward dan sesaat rasanya seolah-olah aku bisa membaca pikirannya.

Bisa kulihat ia juga merasakan hal yang persis sama. Siap mendapatkan sedikit

kedamaian.

“Apakah sebaiknya kita bawa Nessie..."

"Mungkin itu ide bagus," Edward langsung setuju. "Aku yakin dia pasti tidak tidur

nyenyak semalam, terganggu suara dengkuran."

Edward nyengir pada Jacob.

Jacob memutar bola matanya dan menguap. "Sudah lama sekali aku tak pernah

lagi tidur di tempat tidur. Taruhan, pasti ayahku jantungan melihatku pulang ke rumah."

Kusentuh pipinya. "Terima kasih, Jacob."

Jacob berdiri, menggeliat, dan mengecup puncak kepala Nessie, lalu puncak

kepalaku. Akhirnya, ia meninju bahu Edward. "Sampai ketemu lagi besok. Kurasa

keadaan sekarang pasti bakal sedikit membosankan, ya?"

"Aku benar-benar berharap begitu," jawab Edward.

Kami berdiri setelah ia pergi, aku bangkit dengan hati-hati supaya Nessie tidak

terguncang. Aku sangat bersyukur melihatnya tidur nyenyak. Begitu berat beban yang

disandangkan ke pundak mungilnya selama ini. Sekarang saatnya ia menjadi anak-anak

lagi terlindungi dan aman. Beberapa tahun lagi menikmati masa kanak-kanak.

Pikiran tentang kedamaian dan perasaan aman itu mengingatkanku pada

seseorang yang tidak merasakan hal itu,

"Oh, Jasper?" tanyaku waktu kami beranjak ke pintu.

Jasper duduk diapit Alice dan Esme, tidak seperti biasanya seolah menjadi titik

sentral di tengah keluarga, "Ya, Bella?"

"Hanya penasaran mengapa hanya mendengar namamu saja sudah membuat J.

Jenks ketakutan setengah mati?"

Jasper terkekeh. "Pengalaman mengajariku bahwa ada sebagian hubungan kerja

yang bisa berjalan baik bila tetmotivasi perasaan takut, bukan keuntungan keuangan

semata."

623

Aku mengernyitkan kening dan berjanji dalam hati bahwa mulai sekarang aku

akan mengambil alih hubungan kerja itu dan menyelamatkan J dari kemungkinan

terkena serangan jantung yang pasti bakal terjadi.

Setelah acara peluk cium, kami berpamitan pada keluarga kami. Satu-satunya

yang mengganjal adalah Nahuel lagi, yang memandangi kami dengan tatapan tajam,

seolah berharap bisa mengikuti kami.

Begitu berada di seberang sungai, kami berjalan dengan kecepatan yang tak

melebihi kecepatan manusia, tak terburu-buru, sambil bergandengan tangan. Aku sudah

capek selalu diburu-buru waktu, dan sekarang aku hanya ingin bersantai. Edward pasti

juga merasakan hal yang sama.

"Harus kuakui, aku sangat terkesan pada Jacob sekarang," kata Edward,

"Serigala-serigala itu benar-benar memberi dampak, kan?"

"Bukan itu maksudku. Hari ini tadi, tak sekali pun dia menularkan fakta bahwa,

berdasarkan kesaksian Nahuel, Nessie akan menjadi dewasa penuh hanya dalam enam

setengah tahun."

Aku memikirkan perkataannya itu sebentar. "Jacob tidak melihat Nessie seperti

itu. Dia tidak ingin buru-buru melihat Nessie besar. Dia hanya ingin Nessie bahagia,"

"Aku tahu. Seperti kataku tadi, mengesankan. Berlawanan dengan watakku untuk

mengatakan ini, tapi Nessie bisa saja mendapatkan pasangan yang lebih buruk."

Aku mengernyit. "Aku tidak mau memikirkan hal itu selama kira-kira enam

setengah tahun lagi."

Edward tertawa dan mendesah. "Tentu saja, kelihatannya Jacob bakal punya

saingan yang perlu dikhawatirkan kalau saatnya tiba nanti."

Kerutan di keningku semakin dalam. "Aku juga melihatnya. Aku bersyukur Nahuel

datang hari ini, tapi caranya menatap Nessie sedikit aneh. Tak peduli jika Nessie satusatunya

makhluk setengah vampir yang tidak memiliki hubungan darah dengannya."

"Oh, dia bukan menatap Nessie dia menatapmu."

Rasanya memang seperti itu... tapi rasanya itu tak masuk akal. "Mengapa bisa

begitu?"

"Karena kau hidup," jawab Edward pelan.

"Aku tidak mengerti."

624

"Seumur hidupnya," Edward menjelaskan "dan Nahuel lima puluh tahun lebih tua

dariku"

"Tua bangka," selaku.

Edward tak menggubris kata-kataku. "Dia selalu menganggap dirinya sebagai

keturunan iblis, pembunuh berdarah dingin. Saudari-saudarinya semua juga membunuh

ibu masing-masing, tapi itu tidak membebani pikiran mereka, Joham membesarkan

mereka dengan pemikiran bahwa manusia sama saja dengan hewan, sementara mereka

dewa. Tapi Nahuel dibesarkan oleh Huilen, dan Huilen menyayangi saudarinya lebih dari

siapa pun. Itulah yang membentuk perspektif dalam dirinya. Dan, dalam beberapa hal,

Nahuel benar-benar membenci dirinya sendiri."

"Menyedihkan sekali," bisikku.

"Kemudian dia melihat kita bertiga dan untuk pertama kali menyadari bahwa

hanya karena dia setengah imortal, bukan berarti dia makhluk biadab. Dia menatapku

dan melihat... bagaimana ayahnya seharusnya bersikap."

"Kau memang sangat ideal dalam segala hal," aku sependapat.

Edward mendengus dan sikapnya kembali serius. "Dia menatapmu dan melihat

kehidupan yang seharusnya dimiliki ibunya"

"Kasihan Nahuel," gumamku, kemudian mendesah karena tahu aku takkan

pernah berpikir buruk tentang dirinya setelah ini, meskipun dia membuatku risi dengan

tatapannya.

"Jangan sedih memikirkan dia. Dia bahagia sekarang. Hari ini dia akhirnya mulai

bisa memaafkan diri sendiri."

Aku tersenyum memikirkan kebahagiaan Nahuel, dan kemudian berpikir ini

memang hari yang penuh kebahagiaan. Walaupun pengorbanan Irina menjadi bayangan

gelap yang menodai cahaya putih, menghalangi kesempurnaan momen ini, namun

kegembiraan mustahil bisa disangkal. Hidup yang kuperjuangkan kini kembali aman.

Keluargaku dipersatukan. Putriku memiliki masa depan yang indah dan membentang

luas tanpa akhir di hadapannya. Besok aku akan menemui ayahku; ia akan melihat

ketakutan di mataku telah berganti jadi kegembiraan, dan ia juga akan merasa bahagia.

Tiba-iba, aku yakin ayahku tidak akan sendirian di sana. Selama beberapa minggu

terakhir aku tidak begitu memerhatikan, tapi saat ini seolah-olah aku sudah tahu sejak

dulu. Sue akan bersama-sama dengan Charlie ibu para werewolf dengan ayah vampire

dan Charlie takkan sendirian lagi. Aku tersenyum lebar menyadari hal baru itu.

625

Namun hal yang paling signifikan dalam gelombang kebahagiaan ini adalah fakta

yang paling pasti aku bersama Edward, Selamanya.

Bukan berarti aku mau mengulangi beberapa minggu terakhir ini, tapi harus

kuakui pengalaman ini membuatku lebih menghargai apa yang kumiliki, lebih dari

segalanya.

Pondok bagaikan oase kedamaian di malam yang biru keperakan. Kami

membawa Nessie ke tempat tidur dan membaringkannya di sana. Ia tersenyum dalam

tidurnya.

Aku membuka kalung hadiah Aro dari leherku dan melemparkannya ke sudut

kamar Nessie. Ia bisa bermain-main dengannya sesuka hati, ia suka benda-benda

berkilau.

Edward dan aku berjalan lambat-lambat ke kamar kami, saling mengayunayunkan

lengan.

"Malam untuk perayaan," bisik Edward, ia meletakkan tangannya di bawah

daguku dan membawa bibirku ke bibirnya.

"Tunggu," aku ragu-ragu, menarik diri.

Edward menatapku bingung. Biasanya, aku tak pernah menarik diri. Oke, ini

memang tidak biasa. Ini yang pertama kali.

"Aku ingin mencoba sesuatu," kataku, tersenyum kecil melihat ekspresinya yang

bingung.

Aku meletakkan kedua tanganku di kedua sisi wajahnya dan memejamkan mata,

berkonsentrasi.

Aku tidak begitu lihai melakukannya waktu Zafrina mengajariku sebelumnya, tapi

aku sudah lebih mengenal perisaiku sekarang. Aku memahami bagian yang berjuang

melawan pemisahan dariku, insting otomatis untuk menyelamatkan diri di atas

segalanya.

Tetap tidak semudah menamengi orang-orang sekaligus dengan diriku sendiri.

Aku merasakan tarikan elastis itu melenting kembali sementara perisaiku berusaha

melindungiku. Aku harus mendorongnya sejauh mungkin dariku; dibutuhkan

konsentrasi sangat besar untuk melakukannya.

"Bella!" bisik Edward shock.

626

Saat itulah aku tahu usahaku berhasil, maka aku pun semakin keras

berkonsentrasi, memunculkan kembali kenangan-kenangan spesifik yang sengaja

kusimpan khusus untuk momen ini, membiarkan semuanya membanjiri pikiranku, dan

berharap mudah-mudahan itu semua juga membanjiri pikiran Edward.

Sebagian kenangan itu tidak jelas kenangan-kenangan samar sebagai manusia,

dilihat melalui mata yang lemah dan didengar oleh telinga yang lemah, saat pertama kali

aku melihat wajah Edward... bagaimana rasanya ketika ia memelukku di padang

rumput... suaranya dalam kegelapan menembus kesadaranku yang goyah ketika ia

menyelamatkanku dari James... wajahnya saat ia menunggu di bawah kanopi bunga

untuk menikahiku... setiap momen indah dari bulan madu kami di pulau... tangan

dinginnya menyentuh bayi kami melalui kulitku...

Dan kenangan-kenangan tajam, yang bisa diingat dengan jelas wajah Edward

ketika aku membuka mata di kehidupan baruku, fajar imortalitas yang tak pernah

berakhir... ciuman pertama itu... malam pertama itu...

Bibir Edward, tiba-tiba melumat ganas bibirku, membuyarkan konsentrasiku.

Terkesiap, aku kehilangan kendali atas perisai yang susah payah kujauhkan

dariku. Perisai itu melenting kembali bagaikan karet gelang yang diregangkan, kembali

melindungi pikiranku.

"Uuups, lepas!" desahku.

"Aku sudah mendengarmu tadi," desah Edward. "Bagaimana? Bagaimana caramu

melakukannya?"

"Itu ide Zafrina. Kami melatihnya beberapa kali."

Edward bingung. Ia mengerjap dua kali dan menggeleng.

"Sekarang kau tahu," ujarku ringan, dan mengangkat bahu. "Tak pernah ada yang

mencintaimu sebesar cintaku padamu."

"Kau nyaris benar." Edward tersenyum, matanya masih sedikit lebih lebar

daripada biasanya. "Aku tahu hanya ada satu pengecualian."

"Pembohong."

Edward mulai menciumku lagi, tapi tiba-tiba berhenti.

"Bisakah kau melakukannya lagi?" tanyanya.

Aku meringis. "Sulit sekali."

627

Edward menunggu, ekspresinya penuh semangat.

"Aku tak bisa melakukannya kalau konsentrasiku terpecah sedikit saja," aku

mengingatkan dia.

"Kalau begitu aku tidak akan nakal," Edward berjanji.

Aku mengerucutkan bibir, mataku menyipit. Kemudian aku tersenyum.

Aku menempelkan kedua tanganku ke wajahnya lagi, mengangkat perisai itu

keluar dari pikiranku, kemudian mulai dari saat pikiranku terputus tadi dengan kenangan

sejelas kristal dari malam pertama hidup baruku... berlama-lama dalam setiap detailnya.

Aku tertawa dengan napas terengah ketika ciuman Edward yang bergairah

membuyarkan usahaku lagi.

"Masa bodohlah," geram Edward, menciumi ujung daguku dengan penuh gairah.

"Masih banyak waktu untuk itu," aku mengingatkannya.

"Selama-lamanya," bisik Edward.

"Kedengarannya tepat sekali."

Kemudian kami melanjutkan dengan penuh bahagia dalam naungan kebahagiaan

kami yang sempurna selamanya.

TAMAT

628

INDEX VAMPIR

Dikelompokkan Secara Alfabetis

Keterangan:

* vampir yang memiliki kekuatan supranatural

vampire yang memiliki pasangan

vampir sudah meninggal sebelum awal dari novel ini

Kelompok Amazon

Kachiri

Senna

Zafrina*

Kelompok Denali

Eleazar* Carmen

Irina Laurent

Kate*

Sasha

Tanya

Vasilli

Kelompok Irlandia

Maggie*

Siobhan* Liam

629

Kelompok Mesir

Amun Kebi

Benjamin* Tia

Kelompok Olympic

Carlisle Esme

Edward* Bella*

Jasper* Alice*

Renesmee*

Rosalie Emmett

Kelompok Rumania

Stefan

Vladimir

Kelompok Volturi

Aro* Sulpicia

Caius Athenodora

Marcus* Dydyme*

Pengawal Volturi (sebagian)

Alec*

Chelsea* Afton*

Corin*

Demetri*

630

Felix

Heidi*

Jane*

Renata*

Santiago

Kaum Nomaden Amerika (sebagian)

Garreett

James* Victoria*

Mary

Peter Charlotte

Randall

Kaum Nomaden Eropa (sebagian)

Alistair*

Charles* Makenna

0 Response to "Breaking Dawn 3"

Post a Comment