Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Breaking Dawn 2

Bagian Dua



16. TIDAK MAU TERLALU BANYAK TAHU

AKU berangkat pagi-pagi sekali, jauh sebelum matahari terbit. Aku hanya sempat

tidur sebentar, itu pun tidak tenang, sambil bersandar di sisi sofa. Edward

membangunkanku ketika wajah Bella memerah, dan ia menggantikan posisiku untuk

mendinginkannya. Aku meregangkan otot-ototku dan memutuskan sudah cukup segar

untuk mulai bekerja lagi.

"Terima kasih," ucap Edward pelan, melihat rencanaku, "Kalau keadaan aman,

mereka akan berangkat hari ini."

"Akan kuberitahu kau nanti."

Enak rasanya bisa kembali menjadi diri hewanku. Tubuhku pegal karena duduk

terlalu lama. Aku memperlebar langkah, berusaha mengendurkan otot-ototku yang

kaku.

Pagi, Jacob, Leah menyapaku.

Bagus, kau sudah bangun. Sudah berapa lama Seth selesai berpatroli?

Belum selesai, pikir Seth mengantuk. Hampir sampai. Apa yang kaubutuhkan?

Apa kau masih bisa berpatroli satu jam lagi?

Tentu saja. Bukan masalah. Seth langsung berdiri, mengibas-ngibaskan bulunya.

Ayo kita berlari ke arah dalam, ajakku pada Leah, Seth, ikuti garis melingkar.

Beres. Seth langsung berlari-lari kecil dengan santai.

Berangkat lagi untuk mengurusi urusan vampir, gerutu Leah.

Kau ada masalah dengan itu?

Tentu saja tidak. Aku senang sekali bisa membantu lintah-lintah kesayangan itu.

Bagus. Kita lihat seberapa cepat kita bisa berlari. Oke. Kalau itu aku jelas mau!

Leah berada di pinggir lingkaran sebelah barat. Daripada memotong lingkaran

yang dekat dengan rumah keluarga Cullen, ia tetap berlari menyusuri lingkaran saat

berpacu menemuiku. Aku melesat ke arah timur, tahu walaupun aku mulai lebih dulu,

Leah akan berpapasan denganku sebentar lagi kalau aku lengah bahkan satu detik saja.

264

Jangan sombong, Leah. Ini bukan perlombaan, ini misi untuk mencari tahu posisi

musuh.

Aku bisa melakukan dua-duanya dan tetap mengalahkan-mu,

Kuiyakan saja kata-katanya itu. Aku tahu. Leah tertawa.

Kami berlari menyusuri jalan yang berkelok-kelok melintasi pegunungan sebelah

timur. Rute yang familier. Kami sudah sering menjelajahi pegunungan ini setelah para

vampir pergi setahun lalu, menjadikannya bagian dari rute patroli kami agar bisa lebih

melindungi rakyat kami di sini. Kemudian kami memundurkan kembali garis batasnya

ketika keluarga Cullen kembali. Ini memang tanah mereka sesuai kesepakatan.

Tapi fakta itu mungkin tidak berarti apa-apa bagi Sam sekarang. Kesepakatan itu

sudah mati. Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa besar risiko yang berani diambil

Sam untuk menyebarkan kekuatannya. Apakah ia akan mencari anggota keluarga Cullen

yang berkeliaran sendirian unruk berburu tanpa izin di tanah mereka atau tidak? Apakah

Jared mengatakan hal yang sebenarnya atau ia sengaja memanfaatkan kesunyian yang

terjadi di antara kami?

Kami semakin jauh masuk ke wilayah pegunungan tanpa menemukan satu pun

jejak kawanan. Jejak-jejak vampir yang sudah hampir memudar bertebaran di manamana,

tapi bau mereka sekarang sudah familier bagiku. Aku menghirupnya sepanjang

hari.

Aku menemukan bekas jejak yang dalam dan belum lama ditinggalkan di salah

satu jalur—mereka semua pergi bersama-sama, kecuali Edward. Satu alasan mereka

berkumpul di sini yang pasti langsung terlupakan begitu Edward membawa istrinya yang

sedang hamil dan sekarat pulang. Aku mengertakkan gigi. Apa pun itu, itu tidak ada

hubungannya denganku.

Leah tidak memaksa dirinya berpacu melewatiku, walaupun sebenarnya bisa

melakukan itu. Perhatianku lebih tertuju pada setiap aroma baru yang kutemui daripada

adu kecepatan. Ia tetap berada di sebelah kanan, berlari bersamaku, bukan melawanku.

Sudah jauh juga kita berlari, komentar Leah.

Yeah. Kalau Sam memburu vampir-vampir yang berkeliaran, seharusnya kita

sudah menemukan jejaknya sekarang.

Lebih masuk akal baginya sekarang untuk berdiam di La Push, pikir Leah. Sam

tahu kita memberi para pengisap darah itu tambahan tiga pasang kaki dan mata. Ia

takkan bisa melakukan serangan mendadak terhadap mereka.

265

Ini hanya tindakan pencegahan kok.

Kita kati tak ingin parasit-parasit kesayangan kita menghadapi risiko yang tidak

perlu.

Memang tidak, aku sependapat, mengabaikan sikap sarkastisnya.

Kau sudah banyak berubah, Jacob. Seratus delapan puluh derajat

Kau juga bukan Leah yang persis sama seperti yang selama ini kukenal dan

kusayang.

Benar. Jadi aku tidak semenjengkelkan Paul sekarang?

Ajaibnya... ya.

Ah, kesuksesan yang manis.

Selamat

Kami berlari lagi sambil berdiam diri. Mungkin sekarang saatnya berbalik arah,

tapi tak seorang pun dari kami menginginkannya. Enak rasanya lari seperti ini. Selama ini

kami hanya melihat jalan setapak melingkar yang itu-itu saja. Sungguh nyaman bisa

melemaskan otot dan berlari di permukaan tanah yang kasar. Kami tidak terlalu terburuburu,

jadi kupikir mungkin sebaiknya kami berburu dalam perjalanan pulang. Leah

sangat kelaparan.

Nyam, nyam, pikirnya masam.

Itu semua masalah persepsi, kataku. Memang begitulah caranya serigala makan.

Itu natural Rasanya juga enak. Asal kau tidak memikirkannya dari perspektif manusia...

Tidak usah menasihati aku, Jacob. Aku akan berburu. Tapi aku tidak perlu

menyukainya.

Tentu, tentu, aku membenarkan dengan enteng. Bukan urusanku kalau ia ingin

membuat keadaan jadi lebih sulit bagi dirinya.

Leah tidak mengatakan apa-apa selama bebetapa menit; aku mulai berpikir untuk

berbalik arah.

Terima kasih, tiba-tiba Leah berkata dengan nada yang sangat jauh berbeda.

Untuk?

266

Untuk membiarkanku. Mengizinkan aku tinggal Sikapmu lebih baik daripada yang

pantas kuharapkan, Jacob.

Eh, bukan masalah. Sebenarnya aku memang bersungguh-sungguh kok. Aku tidak

keberatan kau berada di sini, ternyata itu tidak seberat yang kukira.

Leah mendengus, tapi nadanya bercanda. Pujian yang menggelora

Jangan ge-er.

Oke—asal kau juga tidak ge-er mendengar ini. Leah terdiam sejenak. Menurutku

kau Alfa yang baik. Tidak persis sama dengan Sam, tapi kau punya gaya sendiri. Kau

pantas diikuti, Jacob.

Pikiranku langsung kosong saking kagetnya. Butuh waktu satu detik bagiku untuk

pulih dari kekagetan dan merespons.

Eh, trims. Tapi aku ragu bisa menahan diri untuk tidak ge-er. Dari mana

datangnya pujian itu?

Leah tidak langsung menjawab, dan aku mengikuti petunjuk tanpa kata-kata dari

pikirannya. Ia memikirkan masa depan—tentang apa yang kukatakan pada Jared pagi

itu. Bahwa waktunya sebentar lagi akan berakhir, kemudian aku akan kembali ke hutan.

Bagaimana aku berjanji ia dan Seth akan kembali ke kawanan setelah keluarga Cullen

pergi.

Aku ingin tetap bersamamu, kata Leah.

Perasaan shock itu melesat merayapi kedua kakiku, mengunci persendian kakiku.

Leah melaju melewatiku, kemudian mengerem. Pelan-pelan ia berjalan kembali ke

tempat aku berdiri membeku.

Aku tidak akan menyusahkan, sumpah. Aku tidak akan membuntutimu. Kau boleh

pergi ke mana saja kau mau, dan aku akan pergi ke mana saja aku mau. Kau hanya perlu

bertahan menghadapiku saat kita menjadi serigala. Leah berjalan mondar-mandir di

depanku, menggoyangkan ekor abu-abunya yang panjang dengan sikap gugup. Dan,

berhubung aku berniat berhenti jadi serigala sesegera mungkin... mungkin itu takkan

sering terjadi.

Aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku lebih bahagia sekarang, menjadi bagian kawananmu, dibandingkan selama

beberapa tahun terakhir ini.

267

Aku juga ingin tetap bersamamu, pikir Seth pelan. Aku tidak sadar ia ternyata

mengikuti pembicaraan kami sementara berlari menyusuri lingkaran luar. Aku suka

kawanan ini.

Hei, sudahlah! Seth, tak lama lagi kawanan ini akan bubar. Aku berusaha

mengutarakan pikiran-pikiranku agar lebih meyakinkan dia. Sekarang kita memiliki

tujuan, tapi bila... setelah itu berakhir, aku akan tetap menjadi serigala. Seth, kau

membutuhkan tujuan. Kau anak baik. Kau tipe yang selalu memiliki sesuatu untuk

diperjuangkan. Dan tidak mungkin bagimu meninggalkan La Push sekarang. Kau akan

lulus SMA dan melakukan sesuatu dengan hidupmu. Kau akan menjaga Sue. Masalahmasalahku

tidak boleh mengacaukan masa depanmu.

Tapi...

Jacob benar, dukung Leah, Kau sependapat denganku?

Tentu saja. Tapi semua itu tidak berlaku bagiku. Aku memang sudah berniat

pergi. Aku akan mencari pekerjaan di tempat lain yang jauh dari La Push. Mungkin kuliah

di akademi. Belajar yoga dan meditasi untuk mengendalikan amarahku yang masih suka

meledak... Dan menjadi bagian kawanan ini demi kesehatan jiwaku. Jacob... kau pasti

tahu bahwa itu masuk akal, kan? Aku tidak akan mengganggumu, kau tidak akan

menggangguku, jadi semua senang.

Aku berbalik arah dan mulai berlari-lari pelan ke arah barat.

Ini agak terlalu sulit untuk diterima, Leah. Beri aku waktu untuk memikirkannya

dulu, oke?

Tentu. Silakan saja.

Kami membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk berlari kembali. Aku tidak

berusaha mempercepat lariku. Aku hanya mencoba berkonsentrasi sehingga tidak

menabrak pohon, Seth mengomel pelan di belakang, tapi aku bisa mengabaikannya. Ia

tahu aku benar. Ia tidak mungkin tega meninggalkan ibunya begitu saja. Seth akan

kembali ke La Push dan melindungi sukunya seperti yang seharusnya ia lakukan.

Tapi aku tidak bisa melihat Leah melakukan semua itu. Dan itu sangat

mengerikan.

Kawanan yang terdiri atas kami berdua? Bukan masalah jarak secara fisik, aku

hanya tidak bisa membayangkan... betapa intimnya situasi itu. Aku bertanya-tanya

apakah Leah sudah mempertimbangkan hal itu masak-masak, atau apakah ia tidak

memedulikan hal itu saking ingin tetap bebas.

268

Leah tidak berkata apa-apa sementara aku menimbang-nimbang. Seolah-olah ia

berusaha membuktikan betapa mudahnya bila hanya kami berdua.

Kami bertemu segerombol rusa ekor hitam tepat saat matahari terbit, sedikit

menerangi awan-awan di belakang kami. Leah mendesah dalam hati tapi tidak raguragu.

Terjangannya mantap dan efisien—anggun, bahkan. Ia menerkam rusa paling

besar, yang jantan, sebelum hewan yang terkejut itu sepenuhnya menyadari bahaya

yang mengancamnya.

Tidak mau kalah, aku menerkam rusa nomor dua paling besar, dengan cepat

mematahkan lehernya dengan rahangku, sehingga hewan itu tidak merasakan sakit yang

tidak perlu. Aku bisa merasakan kejijikan Leah berperang dengan rasa laparnya, dan aku

mencoba membuat keadaan menjadi lebih mudah bagi Leah dengan membiarkan sosok

serigalaku menguasai pikiran. Aku merasakan insting-insting praktisnya mengambil alih,

membiarkannya merasa seperti itu juga. Leah ragu-ragu sejenak, tapi kemudian, pelanpelan,

sepertinya ia bisa bertindak dengan pikirannya dan berusaha memandang

masalah berburu ini dengan caraku. Aneh sekali rasanya— pikiran kami terhubung lebih

erat daripada yang pernah terjadi sebelumnya, karena kami berdua berusaha berpikir

bersama.

Aneh, tapi itu membantunya. Gigi Leah mengoyak bulu dan kulit bahu buruannya,

merobek seonggok tebal daging yang mengucurkan darah. Alih-alih meringis seperti

yang diinginkan pikiran manusianya, Leah membiarkan sosok serigalanya bereaksi

secara instingitif. Seperti mengebalkan diri, mencoba untuk tidak berpikir. Itu

membuatnya bisa makan dengan tenang.

Mudah saja bagiku melakukan hal yang sama. Dan aku senang belum'

melupakannya. Tak lama lagi hidupku akan kembali seperti ini.

Apakah Leah akan menjadi bagian dari kehidupan itu? Seminggu yang lalu aku

pasti akan menganggap itu lebih dari mengerikan. Aku pasti takkan tahan

memikirkannya. Tapi aku lebih mengenal Leah sekarang. Dan ketika terbebas dari sakit

hati yang terus-menerus mendera, ia sekarang bukan lagi serigala yang dulu. bukan lagi

gadis yang dulu.

Kami makan bersama sampai sama-sama kenyang.

Trims, kata Leah kemudian saat ia sibuk membersihkan moncong dan cakarnya di

rumput yang basah. Aku sendiri malas repot-repot, gerimis mulai turun dan kami harus

menyeberangi sungai lagi dalam perjalanan pulang. Aku bisa membersihkan diri di sana.

Ternyata memang tidak parah-parah amat, berpikir dengan caramu.

269

Terima kasih kembali.

Seth berlari sambil menyeret kaki waktu kami sampai di garis lingkaran luar.

Kusuruh ia tidur; Leah dan aku akan mengambil alih tugas berpatroli. Pikiran Seth

menghilang dalam ketidaksadaran hanya beberapa detik kemudian.

Kau mau kembali ke para pengisap darah? tanya Leah.

Mungkin.

Sulit bagimu berada di sana, tapi sulit juga untuk menjauh. Aku tahu bagaimana

rasanya itu.

Kau tahu, Leah, mungkin ada baiknya bila kau berpikir sedikit tentang masa

depan, tentang apa yang benar-benar ingin kaulakukan. Kepalaku bukan tempat yang

paling membahagiakan di bumi. Apalagi kau harus ikut menderita bersamaku.

Leah berpikir bagaimana menjawabku. Wow, sebenarnya tidak enak

mengatakannya. Tapi jujur saja, akan lebih mudah berurusan dengan sakit hatimu

daripada menghadapi sakit hatiku.

Cukup adil

Aku tahu keadaanmu nanti pasti akan sulit, Jacob. Aku mengerti itu—mungkin

lebih baik daripada yang kaukira. Aku tidak suka pada Bella, tapi... ia Sam-mu. Ia

segalanya yang kauinginkan, sekaligus segalanya yang tidak bisa kaumiliki.

Aku tidak mampu menjawab.

Aku tahu keadaanmu bahkan lebih buruk. Kalau aku, paling tidak Sam bahagia.

Paling tidak ia hidup dan baik-baik saja.

Cintaku padanya cukup besar untuk membuatku menginginkan hal itu. Aku ingin

yang terbaik baginya. Leah mendesah. Aku hanya tidak ingin berada terus di dekatnya

dan melihat kebahagiaan itu.

Apakah perlu kita membicarakan hal ini?

Kurasa perlu. Karena aku ingin kau tahu aku tidak akan membuat keadaan jadi

lebih buruk lagi bagimu. Huh, mungkin aku bahkan akan membantu. Aku kan tidak

dilahirkan" sebagai cewek yang tidak punya belas kasihan. Dulu aku ini baik lho.

Ingatanku tidak mampu mengingat sejauh itu.

Kami sama-sama tertawa.

270

Aku ikut prihatin tentang hal ini, Jacob. Aku ikut prihatin kau sedih. Aku prihatin

keadaan semakin memburuk dan bukan membaik.

Trims, Leah.

Ia memikirkan hal-hal yang lebih buruk, gambar-gambar suram dalam pikiranku,

sementara aku berusaha menyembunyikan hal-hal itu darinya, tapi tidak begitu berhasil.

Leah bisa memandangnya tanpa melibatkan perasaan, dengan perspektif berbeda, dan

harus kuakui itu membantu. Aku bisa membayangkan mungkin aku akan bisa

melihatnya dengan cara seperti itu juga, beberapa tahun lagi.

la melihat sisi lucu dari hal-hal menjengkelkan yang terjadi setiap hari sebagai

akibat berdekatan dengan para vampir. Ia suka aku mengolok-olok Rosalie, terkekeh

dalam hati, dan bahkan memunculkan beberapa lelucon cewek pirang baru dalam

pikirannya yang bisa kupakai. Tapi kemudian pikirannya berubah serius, wajah Rosalie

terus terbayang dalam benaknya dengan cara yang membuatku bingung.

Tahukah kau apa yang sinting? tanya Leah.

Well… hampir semuanya sinting sekarang. Tapi apa maksudmu?

Si vampir pirang yang sangat kaubenci itu—aku justru bisa memahami sudut

pandangnya.

Aku sempat menyangka ia bercanda, walaupun leluconnya sangat tidak lucu.

Kemudian, begitu aku sadar ia serius, amarah yang menjalari diriku sulit dikendalikan.

Untung kami tadi berpisah untuk berpatroli. Coba jaraknya cukup dekat sehingga bisa

kugigit...

Tunggu! Biar kujelaskan dulu!

Tidak mau mendengarnya. Aku cabut.

Tunggu! Tunggu! Leah memohon-mohon sementara aku berusaha menenangkan

diri untuk berubah wujud. Ayolah, Jake!

Leah, bukan begini caranya meyakinkan aku untuk mau menghabiskan lebih

banyak waktu denganmu dt masa mendatang.

Ya ampun! Berlebihan banget reaksinya. Kau bahkan tidak tahu apa yang

kumaksud.

Memangnya apa yang kaumaksud?

271

Kemudian tiba-tiba Leah berubah menjadi Leah yang dulu, yang keras hati karena

terlalu banyak merasa sedih.

Maksudku, tentang menjadi kelainan genetik, Jacob.

Kata-katanya yang bernada sinis membuatku tertegun. Aku sama sekali tidak

mengira amarahku akan langsung mereda.

Aku tidak mengerti

Kau pasti bisa mengerti, seandainya kau tidak seperti mereka-mereka yang lain.

Kalau "urusan kewanitaanku"—Leah mernikirkan istilah itu dengan nada sarkastis—

tidak membuatmu kabur mencari perlindungan seperti cowok-cowok tolol lainnya, kau

pasti akan mengerti maksudnya.

Oh.

Yeah, memang tidak ada di antara kami yang suka memikirkan hal-hal yang

terjadi pada Leah. Siapa yang mau? Tentu saja aku ingat betapa paniknya Leah pada

bulan pertama setelah ia bergabung dengan kawanan kami—dan aku ingat reaksiku

yang sengaja menghindari masalah itu, tidak mau memikirkannya, sama seperti yang

lain. Karena Leah tidak mungkin hamil—kecuali telah terjadi mukjizat yang bersifat

supranatural. Ia tidak pernah berpacaran dengan lelaki lain setelah putus dengan Sam.

Kemudian, setelah minggu demi minggu berlalu dan tidak pernah terjadi apa-apa,

barulah Leah sadar tubuhnya tak lagi mengikuti pola normal. Kengerian yang ia alami—

jadi apakah ia sekarang? Apakah tubuhnya berubah karena ia menjadi werewolf? Atau

ia menjadi werewolf justru karena tubuhnya salah? Satu-satunya werewolf wanita

dalam sejarah. Apakah itu karena ia bukan wanita seutuhnya?

Tak seorang pun dari kami yang ingin berurusan dengan kepedihan hati leah.

Jelas, kami kan tidak bisa berempati padanya dalam hal itu.

Kau kan tahu mengapa menurut Sam kita harus mengalami imprint.

Jelas. Untuk meneruskan keturunan.

Benar. Untuk menghasilkan segerombolan werewolf kecil. Agar spesies ini tetap

ada, agar gennya tidak hilang. Kau tertarik pada orang yang memberimu kesempatan

terbaik untuk menurunkan gen serigala.

Aku menunggu Leah menumpahkan semua unek-uneknya padaku.

272

Seandainya aku bisa melakukannya, Sam pasti akan tertarik padaku.

Kepedihan hati Leah begitu terasa hingga membuatku memacu lari lebih

kencang.

Tapi aku tidak bisa. Ada yang tidak beres denganku. Rupanya aku tidak memiliki

kemampuan menurunkan gen itu, padahal aku berasal dari garis keturunan binatang.

Aku jadi makhluk aneh serigala cewek yang tidak ada gunanya. Aku mengalami kelainan

genetik dan kita berdua tahu itu.

Itu tidak benar, aku membantah kata-katanya. Itu kan hanya teori Sam. Imprint

memang terjadi, tapi kita tidak tahu mengapa. Billy justru berpikir lain.

Aku tahu, aku tahu. Menurut pendapat Billy, imprint terjadi agar kita menjadi

serigala yang lebih kuat. Karena kau dan Sam bertubuh sangat besar—lebih besar

daripada ayah-ayah kita. Tapi bagaimanapun, aku tetap tidak bisa menjadi kandidat.

Aku... aku sudah mengalami menopause. Umurku baru dua puluh tahun tapi aku sudah

menopause.

Ugh. Aku benar-benar tidak ingin membicarakan hal ini. Kau kan tidak tahu itu,

Leah. Mungkin ini berkaitan dengan masalah tidak bisa menua itu. Kalau kau berhenti

jadi serigala dan mulai menua lagi, aku yakin keadaan akan... eh... kembali seperti

semula.

Sebenarnya aku juga akan berpikir begitu—tapi masalahnya, tidak ada yang terimprint

padaku, padahal latar belakang keluargaku mengesankan. Kau tahu, Leah

menambahkan dengan sikap serius, kalau tidak ada kau, Seth mungkin yang paltng

memiliki peluang untuk menjadi Alfa—melalui darahnya, setidaknya. Tentu saja, tidak

ada yang akan mempertimbangkan aku...

Apa sih yang sebenarnya kauinginkan, meng-imprint, di-imprint, atau apa?

tuntutku. Memangnya kenapa kalau kau jatuh cinta saja seperti orang normal lainnya,

Leah? Imprint itu sama saja dengan tidak memberimu pilihan.

Sam, Jared, Paul Quil... sepertinya mereka tidak keberatan.

Ah, mereka kan memang tidak bisa berpikir sendiri. Jadi kau tidak mau terkena

imprint?

Ya nggak dong!

Itu karena kau sudah jatuh cinta pada Bella. Perasaan itu akan hilang, tahu, kalau

kau terkena imprint. Kau tidak perlu lagi sakit hati karena dia.

273

Apa kau ingin melupakan perasaanmu terhadap Sam?

Leah menimbang-nimbang sejenak. Kurasa ya.

Aku mengembuskan napas. Berarti Leah lebih sehat daripada aku.

Tapi kembali ke maksud utamaku tadi, Jacob. Aku mengerti mengapa vampir

pirang itu begitu dingin—dalam arti kiasan. Itu karena ia fokus. Perhatiannya tertuju

pada hadiahnya, bukan? Karena kau selalu menginginkan apa yang takkan pernah bisa

kaumiliki.

Jadi kau akan bersikap seperti Rosalie? Kau bersedia membunuh orang—karena

itulah yang dilakukannya sekarang, memastikan tidak ada yang menggalangi kematian

Bella—kau akan melakukan semua itu demi mendapatkan seorang bayi? Sejak kapan

kau jadi suka beranak?

Aku hanya menginginkan pilihan yang tidak kumiliki, Jacob. Mungkin, kalau tidak

ada yang tidak beres denganku, hal itu takkan terpikirkan olehku.

Kau rela membunuh demi itu? desakku, tidak membiarkannya tidak menjawab

pertanyaanku.

Bukan itu yang ia lakukan. Kurasa lebih tepat disebut ia mengambil risiko kelewat

besar. Tapi... kalau Bella memintaku membantunya dalam hal ini... Leah terdiam

sejenak, menimbang-nimbang. Walaupun aku tidak begitu suka padanya, mungkin aku

juga akan melakukan hal yang sama dengan yang di-lakukan si pengisap darah pirang.

Geraman nyaring menyeruak dari sela-sela gigiku.

Karena, kalau situasinya dibalik, aku pasti ingin Bella melakukan yang sama

terhadapku. Begitu juga Rosalie. Kami berdua akan melakukannya seperti yang

dilakukan Bella.

Ugh! Kau sama parahnya dengan mereka!

Di situlah anehnya kalau kau tahu kau tak bisa memiliki sesuatu. Membuatmu

jadi putus asa.

Dan... cukup sudah. Aku tak sanggup lagi. Pembicaraan berakhir di sini.

Baiklah.

Kesepakatan Leah untuk menyudahinya belum cukup bagiku. Aku membutuhkan

kepastian yang lebih kuat daripada itu.

274

Aku berada kira-kira 800 meter dari tempatku meninggalkan pakaianku tadi,

maka aku pun berubah wujud menjadi manusia dan berjalan kaki. Aku tidak memikirkan

percakapan kami tadi. Bukan karena tak ada yang dipikirkan, tapi karena aku tak

sanggup lagi. Aku tidak ingin melihatnya dari sudut pandang itu—tapi karena Leah telah

memasukkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya ke dalam pikiranku, lebih sulit

bagiku mengabaikannya.

Yeah, aku takkan lari dengan Leah kalau semua ini berakhir. Masa bodoh kalau ia

merana di La Push. Satu petintah terakhir dari Alfa sebelum aku pergi untuk selamalamanya

takkan merugikan siapa pun.

***

Hari masih sangat pagi waktu aku sampai di rumah. Bella mungkin masih tidur.

Kupikir aku akan mampir sebentar, mengecek keadaan, memberi mereka lampu hijau

untuk pergi berburu, kemudian menemukan sepetak rumput hijau lembut untuk alas

tidur sebagai manusia. Aku tidak mau berubah wujud sampai Leah tidur.

Tapi kemudian terdengar gumaman pelan di rumah, jadi Bella mungkin tidak

tidur. Kemudian aku mendengar suara mesin dari lantai atas—suara mesin rontgen?

Hebat. Kelihatannya perhitungan mundur ke hari keempat sudah dimulai dengan heboh.

Alice sudah membukakan pintu untukku sebelum aku sempat melangkah masuk.

Ia menggodaku. "Hei, serigala."

"Hei, pendek. Ada apa di atas?" Ruangan besar itu kosong— suara gumamangumaman

tadi berasal dari lantai dua.

Alice mengangkat bahu mungilnya. "Mungkin ada tulang yang patah lagi." Ia

berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan nada sambil lalu, tapi bisa kulihat

kecemasan membayang di matanya. Edward dan aku bukan satu-satunya yang

mencemaskan keadaan ini. Alice juga menyayangi Bella.

"Rusuk lagi?" tanyaku parau.

"Bukan. Kali ini tulang pinggul."

Lucu juga bagaimana setiap informasi selalu menghantamku begitu rupa, seolaholah

setiap hal baru merupakan kejutan. Setiap musibah baru tampak jelas kalau dilihat

lagi ke belakang.

275

Alice memandangi kedua tanganku, melihatnya gemetar. Kemudian kami

mendengar suara Rosalie di lantai atas. "Tuh kan, sudah kuhilang aku tadi tidak

mendengar suara berderak. Pendengaranmu yang harus diperiksa, Edward" Tak ada

sahutan.

Alice mengernyitkan muka. "Kalau begini, lama-lama Edward bakal mencabikcabik

habis Rose. Heran juga aku dia tidak menyadari hal itu. Atau mungkin dia mengira

Emmett pasti bisa menghentikan Edward."

"Biar aku yang menghadapi Emmett," aku menawarkan diri. "Kau bisa membantu

Edward mencabik-cabik dia."

Alice tersenyum kecil.

Saat itulah mereka menuruni tangga—kali ini Edward yang memapah Bella. Bella

memegang cangkir berisi darah dengan dua tangan, wajahnya pasi. Kentara sekali

bahwa, walaupun Edward sedapat mungkin berusaha menyangganya, namun setiap

langkah, walau sekecil apa pun, membuat Bella kesakitan.

"Jake," bisik Bella, tersenyum di sela-sela sakitnya.

Kupandangi dia, tidak mengatakan apa-apa.

Edward mendudukkan Bella hati-hati di sofa, lalu ia sendiri duduk di lantai, dekat

kepalanya. Sekilas aku sempat heran mengapa mereka tidak meninggalkan Bella di

lantai atas, tapi kemudian menyimpulkan ini pasti keinginan Bella sendiri. Ia ingin

bersikap seolah-olah keadaannya normal-normal saja, dengan menjauhi suasana rumah

sakit. Dan Edward menuruti apa saja kemauan Bella. Seperti biasa.

Carlisle yang terakhir turun, pelan-pelan menuruni tangga, wajahnya berkerutkerut

waswas. Sekali ini wajahnya jadi terlihat cukup tua untuk menjadi dokter.

"Carlisle," seruku. "Kami berpatroli sampai setengah jalan menuju Seatle. Tak ada

tanda-tanda kehadiran para kawanan. Kalian aman untuk pergi."

"Terima kasih, Jacob. Waktunya tepat sekali. Banyak sekali yang kami butuhkan,"

Mata hitamnya berkelebat ke cangkir yang dipegang Bella erat-erat.

"Jujur saja, menurutku cukup aman bila kau membawa lebih dari tiga orang. Aku

sangat yakin Sam sekarang sedang berkonsentrasi mengawasi La Push."

276

Carlisle mengangguk setuju. Kaget juga melihatnya langsung menerima saranku.

"Kalau menurutmu begitu. Alice, Esme, Jasper, dan aku akan pergi. Kemudian Alice bisa

mengajak Emmett dan Rosa..."

"Tidak perlu," desis Rosalie. "Emmett bisa pergi bersamamu sekarang."

"Kau harus berburu" kata Cariisle lembut.

Nada Carlisle tak sanggup melunakkan hati Rosalie. "Aku baru akan berburu kalau

dia juga berburu," geram Rosalie, menyentakkan kepala ke arah Edward, kemudian

mengibaskan rambut.

Carlisle mendesah.

Jasper dan Emmett serta-merta menghambur menuruni tangga, dan Alice

langsung bergabung bersama mereka di dekat pintu kaca belakang. Detik itu juga Esme

tiba ke sisi Alice.

Carlisle meletakkan tangannya di lenganku. Walaupun sentuhannya yang dingin

terasa tidak menyenangkan, tapi aku tidak menyentakkannya. Aku diam saja, separo

terkejut dan separo lagi karena aku tak ingin melukai perasaannya.

"Terima kasih," kata Carlisle lagi, kemudian ia melesat keluar pintu bersama

keempat vampir yang lain. Mataku mengikuti saat mereka terbang melintasi halaman

dan sudah lenyap sebelum aku sempat menarik napas. Kebutuhan mereka ternyata

lebih mendesak daripada yang kukira.

Sesaat tak terdengar suara apa-apa. Aku bisa merasakan seseorang

memandangiku dengan garang, dan aku tahu siapa dia. Sebenarnya aku berniat cabut

dan tidur sebentar, tapi sayang rasanya melewatkan kesempatan mengacaukan pagi

Rosalie.

Maka aku pun melenggang menuju sofa berlengan persis di sebelah sofa yang

diduduki Rosalie dan duduk di sana, menjulurkan kedua kaki sehingga kepalaku terkulai

ke arah Bella dan kaki kiriku berada dekat dengan wajah Rosalie.

"Hueek. Tolong keluarkan si anjing dari rumah," gumam Rosalie, mengernyitkan

hidung.

"Sudah dengar yang ini belum, Psikopat? Bagaimana caranya sel-sel otak cewek

pirang mati?"

Ia tidak mengatakan apa-apa.

277

"Woo" tanyaku, "Kau tahu jawabannya atau tidak?"

Rosalie terang-terangan memandangi pesawat TV dan mengabaikan aku.

"Dia sudah mendengarnya belum?" tanyaku pada Edward.

Tak ada ekspresi geli sama sekali di wajah Edward yang tegang ia tak mengalihkan

matanya sedikit pun dari Bella. Tapi ia menjawab, "Belum."

"Asyik. Kau bakal suka mendengar yang satu ini, pengisap darah sel-sel otak

cewek pirang mati sendirian"

Rosalie tetap tidak melihat ke arahku. "Aku sudah membunuh seratus kali lebih

banyak daripada kau, binatang menjijikkan. Jangan lupa itu."

"Suatu hari nanti, Ratu Kecantikan, kau akan bosan jika hanya mengancamku.

Aku tak sabar lagi menunggu saat itu."

"Cukup, Jacob," sergah Bella.

Aku menunduk, dan Bella merengut menatapku. Kelihatannya suasana hatinya

yang baik kemarin sudah lama lenyap.

Well, aku tidak mau mengganggu Bella. "Kau ingin aku pergi saja?" aku

menawarkan.

Belum lagi aku sempat berharap—atau sempat merasa takut—bahwa Bella pada

akhirnya muak juga padaku, Bella mengerjapkan mata, dan cemberutnya kontan lenyap.

Tampaknya ia benar-benar shock aku bisa mengambil kesimpulan seperti itu. "Tidak!

Tentu saja tidak."

Aku mengembuskan napas, dan kudengar Edward juga mengembuskan napas

pelan. Aku tahu ia juga berharap Bella bosan padaku. Sayang ia tak pernah meminta

Bella melakukan apa pun yang bakal membuatnya merasa tidak bahagia.

"Kau kelihatan capek," komentar Bella.

"Capek setengah mati," aku mengakui.

"Aku kepingin sekali membuatmu mati sungguhan," gumam Rosalie, suaranya

sangat pelan hingga Bella tak bisa mendengar.

Aku terenyak semakin dalam di kursi, merasa nyaman. Kakiku yang telanjang

berayun-ayun semakin dekat dengan Rosalie, dan ia mengejang. Beberapa menit

kemudian Bella meminta Rosalie mengisi ulang cangkirnya. Aku merasakan embusan

278

angin saat Rosalie melesat ke lantai atas untuk mengambil darah lagi. Suasana sangat

sunyi. Lebih baik aku tidur sebentar, pikirku.

Kemudian Edward bertanya, "Kau mengatakan sesuatu, ya?" dengan nada

bingung. Aneh. Karena tidak seorang pun berbicara, dan karena pendengaran Edward

sama tajamnya dengan pendengaranku, ia seharusnya tahu tidak ada yang berbicara.

Edward memandangi Bella, dan Bella membalas pandangannya. Mereka berdua

sama-sama bingung.

"Aku?" tanya Bella sedetik kemudian. "Aku tidak mengatakan apa-apa."

Edward mengubah posisinya menjadi berlutut, mencondongkan tubuh ke arah

Bella, ekspresinya berubah sama sekali, mendadak terlihat intens. Mata hitamnya

terfokus pada wajah Bella.

"Apa yang sedang kaupikirkan sekarang ini?" Bella menatapnya hampa. "Tidak

ada. Memangnya ada apa?"

"Apa yang kaupikirkan satu menit yang lalu?" tanya Edward.

"Hanya... Pulau Esme. Dan bulu-bulu."

Kedengarannya Bella asal menjawab saja, tapi kemudian pipinya memerah, dan

aku merasa itu pasti sesuatu yang lebih baik tidak usah kuketahui.

"Katakan sesuatu yang lain," bisik Edward.

"Apa misalnya? Edward, ada apa sebenarnya?"

Wajah Edward berubah lagi, dan ia melakukan sesuatu yang membuat mulutku

ternganga dengan suara terkesiap. Aku mendengar suara seseorang tersentak di

belakangku, dan aku tahu Rosalie sudah kembali, sama tercengangnya denganku.

Edward, dengan sangat ringan, meletakkan kedua tangannya di perut Bella yang

besar dan bundar.

"Si ja..." Edward menelan ludah. "Dia-, si bayi suka mendengar suaramu,"

Sesaat suasana sunyi senyap. Aku tak mampu menggerakkan satu otot pun,

bahkan berkedip pun tidak bisa. Kemudian...

"Astaga, kau bisa mendengarnya" teriak Bella. Detik berikutnya, ia meringis.

Tangan Edward bergerak ke puncak perut Bella dan dengan lembut mengusapusap

tempat bayi tadi menendang perutnya.

279

"Ssst," bisik Edward. "Kau membuatnya kaget..."

Mata Bella membelalak dan terlihat takjub. Ia menepuk-nepuk bagian samping

perutnya. "Maaf, baby."

Edward mendengarkan dengan saksama, kepalanya ditelengkan ke arah perut

yang membuncit.

"Apa yang dia pikirkan sekarang?" tuntut Bella penuh semangat.

"Dia... dia..." Edward terdiam dan mendongak menatap mata Bella. Matanya

dipenuhi ketakjuban yang sama—hanya saja ketakjuban Edward lebih hati-hati dan

ragu. "Dia bahagia" kata Edward takjub.

Napas Bella tersentak, dan mustahil tidak melihat kilau fanatik di matanya. Penuh

cinta dan pemujaan. Butir-butir besar air mata menggenangi pelupuk matanya dan

menetes tanpa suara menuruni wajah dan membasahi bibirnya yang tersenyum.

Saat Edward menatap Bella, wajahnya tidak dipenuhi takut atau marah atau

tersiksa atau ekspresi lain yang membayanginya sejak mereka kembali. Ia ikut kagum

bersama Bella.

"Tentu saja kau bahagia, bayi manis, tentu saja kau bahagia," ucap Bella dengan

nada merdu penuh sayang, mengusap-usap perutnya sementara air mata membanjiri

wajahnya. "Bagaimana mungkin kau tidak bahagia, aman, hangat, dan dicintai? Aku

sayang sekali padamu, Ed kecil, tentu saja kau bahagia."

"Kau memanggilnya apa tadi?" tanya Edward dengan sikap ingin tahu.

Wajah Bella lagi-lagi memerah. "Sebenarnya aku sudah memberinya nama.

Kupikir kau pasti tidak ingin... well, kau tahu sendirilah."

"Nama ayahmu kan Edward juga."

"Ya, memang. Apa..,?" Edward terdiam sejenak kemudian berkata, "Hmm."

“Apa?"

"Dia juga menyukai suaraku."

"Tentu saja dia suka." Suara Bella nyaris seperti sesumbar sekarang. "Suaramu

kan yang paling indah di seluruh jagai raya ini. Siapa yang tidak suka mendengarnya?"

280

"Apa kau punya rencana cadangan?" tanya Rosalie kemudian, mencondongkan

tubuh dari balik punggung sofa dengan ekspresi takjub dan bangga di wajahnya, seperti

yang tampak pada wajah Bella. "Bagaimana kalau dia perempuan?"

Bella mengusap bagian bawah matanya yang basah. "Aku sudah mereka-reka.

Menggabungkan Renée dan Esme. Mungkin namanya... Re-nez-mey."

"Renezmey?"

"R-e-n-e-s-m-e-e, Aneh sekali, ya?"

"Tidak, aku suka kok," Rosalie meyakinkan Bella. Kepala mereka berdekatan,

emas dan mahoni. "Nama yang cantik. Dan lain daripada yang lain, jadi itu pas,"

"Aku masih merasa dia Edward."

Mata Edward menerawang, wajahnya kosong sementara ia mendengarkan.

"Apa?" tanya Bella, berseri-seri, "Apa yang dipikirkannya sekarang?"

Awalnya Edward tidak menjawab, tapi kemudian mengagetkan kami semua lagi,

masing-masing tersentak dan terkesiap kaget ia menempelkan telinganya dengan hatihati

ke perut Bella.

"Dia sayang padamu," bisik Edward, nadanya kagum, "Dia benat-benar

memujamu!'

Saat itulah, aku tahu aku sendirian. Benar-benar sendirian.

Rasanya aku ingin sekali menendang diriku sendiri keras-keras waktu sadar

betapa aku mengandalkan vampir yang menjijikkan itu. Sungguh tolol kayak kau bisa

memercayai lintah saja! Tentu saja akhirnya ia akan mengkhianatimu.

Padahal aku mengira Edward berada di pihakku. Kukira ia akan lebih menderita

daripada aku. Dan, yang paling penting, aku mengandalkannya untuk membenci

makhluk memualkan yang membunuh Bella pelan-pelan, lebih daripada aku membenci

dirinya sendiri.

Selama ini aku percaya pada Edward.

Tapi sekarang mereka bersama, mereka berdua membungkuk di atas monster

yang tidak terlihat dan menghebohkan itu, mata mereka bercahaya seperti keluarga

bahagia.

281

Dan aku sendirian dengan kebencian dan kepedihan hatiku, begitu parahnya

hingga membuatku merasa bagai disiksa. Seperti diseret pelan-pelan di atas hamparan

silet. Sakitnya luar biasa hingga kau lebih memilih mati daripada tersiksa.

Panas itu membuka kunci otot-ototku yang membeku, dan aku serta-merta

berdiri.

Kepala mereka bertiga sama-sama tetangkat, dan kulihat kepedihan melintas di

wajah Edward saat ia menerobos masuk lagi ke pikiranku.

"Ahh," Edward tercekat.

Entah apa yang kulakukan; aku berdiri di sana, tubuhku gemetar, siap meloncat

meloloskan diri lewat jalan pertama yang terpikirkan olehku.

Bergerak secepat kilat sepetti ular, Edward melesat menghampiri meja dan

merenggut sesuatu dari dalam laci di sana. Ia melemparkan benda itu padaku dan

refleks aku menangkapnya.

"Pergilah, Jacob. Pergi dari sini." Edward tidak mengatakannya dengan nada

kasar—ia mengucapkan kata-kata itu seolah-olah perkataannya adalah pelampung

penyelamat. Ia membantuku menemukan jalan keluar yang sangat kubutuhkan.

Benda di tanganku itu kunci mobil.

282

17. MEMANGNYA KELIHATANNYA AKU INI SIAPA? WIZARD OF OZ?

KAU BUTUH OTAK? KAU BUTUH HATI? SILAKAN SAJA. AMBIL HATIKU.

AMBIL SEGALANYA YANG KU PUNYA.

SEBUAH rencana berkecamuk di otakku waktu aku berlari menuju garasi rumah

keluarga Cullen, Bagian kedua rencana itu adalah menghancur leburkan mobil si bangsat

pengisap darah itu dalam perjalanan pulang nanti.

Jadi wajar saja kalau aku kebingungan waktu menekan kuat-kuat tombol keyless

REMOTE, dan ternyata bukan mobil Volvo-nya yang berbunyi "bip" dan lampu-lampunya

menyala berkedip-kedip. Melainkan mobil lain—mobil paling" mencolok di antara

deretan panjang kendaraan yang sebagian besar mampu menerbitkan air liur siapa saja

yang melihatnya.

Apakah Edward benar-benar bermaksud memberikan kunci Aston Martin

Vanquish, atau itu hanya ketidaksengajaani

Aku tidak berhenti untuk memikirkannya, atau itu akan mengubah bagian kedua

rencanaku. Langsung saja aku menghambur memasuki mobil itu dan mengenyakkan

bokongku ke jok kulit sehalus sutra, meraungkan mesinnya sementara kedua lututku

masih tertekuk di bawah kemudi. Dalam kesempatan lain mungkin derum suara

mesinnya yang halus akan membuatku mengerang kegirangan, tapi sekarang ini aku

hanya bisa berkonsentrasi untuk menjalankannya.

Aku menemukan tuas untuk memundurkan jok dan memundurkan tubuhku

sejauh mungkin ke belakang sementara kakiku menginjak pedal gas. Mobil nyaris terasa

seperti terbang saat menerjang maju.

Hanya butuh beberapa detik untuk memacu mobil ini melintasi jalan masuk yang

sempit dan berkelok-kelok. Mobil ini meresponsku seolah-olah pikiran-pikirankulah yang

mengendalikan kemudi, bukan tanganku. Begitu mobil melesat keluar dari terowongan

hijau dan memasuki jalan raya, aku sempat melihat sekilas wajah abu-abu Leah

mengintip cemas dari balik pakis-pakisan.

Selama setengah detik aku bertanya-tanya dalam hati apa yang ia pikirkan,

kemudian sadarlah aku bahwa aku tidak peduli.

283

Aku berbelok ke selatan, karena hari ini aku tidak memiliki kesabaran untuk

berurusan dengan feri atau kepadatan lalu lintas atau hal-hal lain yang membuatku

harus mengangkat kaki dari pedal.

Dengan cara mengenaskan, hari ini adalah hari keberuntunganku. Kalau

keberuntungan berarti berpacu di jalan tol yang lumayan ramai dalam kecepatan 320

kilometer per jam tanpa sekali pun bertemu polisi, bahkan di kota-kota yang memiliki

batas kecepatan hanya 48 kilometer per jam. Benar-benar mengecewakan. Padahal kan

asyik kalau ada sedikit aksi kejar-kejaran, belum lagi kalau keterangan yang bakal

didapat dari nomor polisi mobil ini membuat si lintah terkena getahnya. Memang, ia

bisa saja menyogok untuk bebas dari hukuman, tapi paling tidak itu akan membuatnya

sedikit kerepotan.

Satu-satunya pertanda ada yang mengawasiku adalah se-kelebat bulu cokelat tua

yang melesat menembus hutan, berlari paralel denganku selama beberapa kilometer di

sisi selatan Forks. Quil, kelihatannya. Ia pasti melihatku juga, karena sejurus kemudian ia

menghilang tanpa ribut-ribut. Lagi-lagi, nyaris aku penasaran bagaimana cerita Quil

nantinya sebelum aku teringat bahwa aku tidak peduli.

Aku ngebut mengitari jalan tol berbentuk huruf U itu, menuju kota terbesar yang

bisa kutemui. Itu bagian pertama rencanaku.

Perjalanan terasa lama sekali, mungkin karena aku masih merasa seperti diseretseret

di atas hamparan silet, padahal sebenarnya tak lebih dari dua jam kemudian aku

sudah melaju ke arah utara, memasuki kawasan yang tidak jelas batas wilayahnya, mana

yang masuk kawasan Tacoma dan mana Seattle. Aku memperlambat laju mobilku,

karena aku benar-benar tidak ingin membunuh orang-orang tidak bersalah.

Ini rencana tolol. Takkan berhasil. Tapi waktu aku mencari-cari dalam pikiranku

bagaimana caranya bisa melarikan diri dari kepedihan hatiku ini, apa yang dikatakan

Leah muncul dalam benakku.

Perasaan itu akan hilang, tahu, kalau kau terkena imprint. Kau tidak perlu lagi

sakit hati karena Bella.

Tampaknya mungkin tidak mempunyai pilihan bukanlah hal terburuk di dunia.

Mungkin merasa seperti ini adalah hal yang terburuk di dunia.

Tapi aku sudah melihat semua cewek yang ada di La Push, juga di reservasi

Makah dan di Forks. Aku perlu memperluas wilayah perburuanku.

284

Jadi, bagaimana caranya menemukan jodohmu di tengah keramaian? Well,

pertama, aku harus mencari keramaian. Maka aku pun berputar-putar, mencari tempat

yang paling mungkin. Aku melewati beberapa mal, yang sebenarnya mungkin

merupakan tempat yang sangat tepat untuk mencari cewek-cewek yang sebaya

denganku, tapi aku tak bisa menghentikan laju mobilku. Memangnya aku ingin tetimprint

dengan cewek yang nongkrong seharian di mal?

Aku terus melaju ke utara, dan keadaan semakin lama semakin ramai. Akhirnya

aku menemukan taman besar penuh anak-anak, keluarga, pemain skateboard, sepeda,

layang-layang, orang-orang yang berpiknik, pokoknya komplet. Aku baru menyadarinya

sekarang—hari ini ternyata cerah. Matahari bersinar dan lain sebagainya. Orang-orang

keluar rumah untuk merayakan birunya langit.

Aku parkir melintang di atas dua lahan parkir khusus untuk orang cacat—benarbenar

minta ditilang—lalu melebur ke dalam keramaian.

Aku berjalan berputar-putar untuk waktu yang rasanya berjam-jam. Cukup lama

karena matahari berpindah tempat di langit. Kupandangi wajah setiap cewek yang lewat

di dekatku, kupaksa diriku benar-benar melihat, memerhatikan siapa yang cantik, siapa

yang memiliki mata biru, siapa yang memakai kawat gigi, dan siapa yang riasannya

terlalu tebal. Aku berusaha menemukan sesuatu yang menarik dari masing-masing

wajah, supaya aku tahu aku benar-benar berusaha. Hal-hal seperti; Cewek ini hidungnya

mancung sekali; yang itu seharusnya menyibakkan rambutnya yang menjuntai menutupi

mata; cewek itu sebenarnya bisa jadi model iklan lipstik seandainya wajahnya sama

sempurnanya dengan bibirnya...

Kadang-kadang mereka balas memandangku. Terkadang ada juga yang tampak

ketakutan—seolah-olah mereka berpikir, Siapa cowok besar aneh yang memelototiku

itu? Ada kalanya kupikir mereka tampak tertarik, tapi mungkin itu hanya ego liarku.

Pokoknya, tidak ada perasaan apa-apa. Bahkan ketika mataku tertumbuk pada

seorang cewek yang—tanpa saingan—merupakan cewek paling keren di taman dan

mungkin, di kota itu, dan cewek itu membalas tatapanku dengan tatapan yang

kelihatannya seperti tertarik, aku tetap tidak merasakan apa-apa. Hanya dorongan putus

asa untuk lari dari kepedihan hatiku.

Waktu terus berjalan, dan aku mulai melihat hal-hal yang salah. Hal-hal yang ada

kaitannya dengan Bella, Rambut cewek itu warnanya sama dengan rambut Bella. Mata

cewek ini bentuknya agak mirip. Tulang pipi cewek di sana itu membentuk wajahnya

persis seperti Bella. Yang satu ini memiliki kerutan kecil di antara matanya—membuatku

penasaran apa yang sedang ia khawatirkan...

285

Saat itulah aku menyerah. Karena sungguh tolol mengira telah memilih tempat

dan waktu yang tepat, dan bahwa aku akan begitu mudahnya bertemu jodohku, hanya

karena aku sudah begitu putus asa ingin segera menemukannya.

Lagi pula. tidak masuk akal rasanya bisa menemukan jodohku di sini. Kalau Sam

benar, tempat terbaik aku bisa menemukan padanan genetikku adalah di La Push. Dan

jelas di sana tidak ada siapa-siapa yang tepat dengan kriteriaku. Kalau Billy benar, maka

siapa tahu? Apa yang bisa menghasilkan keturunan serigala yang lebih kuat?

Aku berjalan kembali ke mobil, lalu bersandar lemas ke kap mesin sementara

tanganku memainkan kunci-kuncinya.

Mungkin juga aku sama seperti anggapan Leah tentang dirinya sendiri. Kelainan

genetik. Semacam kelainan yang tak seharusnya diturunkan ke generasi lain. Atau

mungkin hidupku hanyalah lelucon besar yang kejam, dan bahwa aku tak bisa lari dari

keharusan menjadi bulan-bulanan.

"Hei, kau baik-baik saja? Halo? Hei kau, yang membawa mobil curian."

Butuh sedetik bagiku untuk menyadari suara itu berbicara padaku, dan butuh

sedetik lagi untuk memutuskan mengangkat kepalaku

Seorang cewek yang kelihatannya familier memandangiku, ekspresinya agak

cemas. Aku tahu mengapa aku mengenali wajahnya—tadi aku sudah sempat melirik

cewek yang satu ini. Rambut merah terang keemasan, kulit putih, bercak-bercak emas

bertebaran di pipi dan hidungnya, serta mata yang sewarna kayu manis.

"Kalau kau menyesal setelah merampok mobil itu," tukas si cewek, memamerkan

lesung pipinya yang muncul seiring senyumnya, "kau bisa kok menyerahkan diri."

"Ini mobil pinjaman, bukan curian," bentakku. Suaraku terdengar kacau—seperti

habis menangis atau sebangsanya. Memalukan.

"Tentu, itu alasan yang cukup kuat untuk diajukan di persidangan."

Aku melotot. "Kau perlu sesuatu?"

"Tidak juga. Aku cuma bercanda soal mobil itu, tahu. Hanya saja... kelihatannya

kau sangat kalut. Oh, hei, namaku Lizzie." Ia mengulurkan tangan.

Aku hanya memandangi tangan itu sampai ia menariknya kembali.

"Omong-omong...," ujarnya canggung. "Aku hanya penasaran, siapa tahu aku bisa

membantu. Kelihatannya kau tadi mencari seseorang." Ia melambaikan tangan ke arah

taman dan mengangkat bahu.

286

"Yeah."

Ia menunggu.

Aku mendesah. “Aku tidak butuh bantuan. Dia tidak ada di sini."

"Oh. Aku prihatin.”

“Aku juga," gumamku.

Kupandangi lagi dia. Lizzie, Cantik. Cukup baik hingga mau berusaha membantu

orang asing pemarah yang pastilah terkesan sinting. Mengapa ia bukan dia yang kucari?

Mengapa segala sesuatu harus jadi begitu rumit? Cewek yang baik, cantik, dan lumayan

lucu. Mengapa tidak?

"Ini mobil yang bagus sekali," kata Lizzie, "Sayang sekali sekarang sudah tidak

diproduksi lagi. Maksudku, model bodi Vantage memang keren, tapi rasanya ada yang

lain dengan Vanquish..."

Cewek baik yang mengerti mobil. Wow. Aku menatapnya takjub, berharap tahu

bagaimana membuat diriku tertarik padanya. Ayolah, Jake—imprint saja.

"Bagaimana rasanya mengendarai mobil ini?" tanya Lizzie.

"Kau tidak bakal percaya," jawabku.

Lizzie menyunggingkan senyumnya yang berlesung pipi, kentara sekali senang

bisa memaksaku memberi respons yang lumayan beradab, dan dengan enggan aku

balas tersenyum.

Tapi senyumnya tak mampu menghilangkan perasaan pedih dan tersayat-sayat

yang melanda sekujur tubuhku. Tak peduli betapa pun aku sangat menginginkannya,

hidupku tidak akan membaik semudah itu.

Aku belum mampu pulih sebagaimana yang dilakukan Leah. Aku tidak akan bisa

jatuh cinta seperti orang normal. Tidak bila aku hatiku berdarah-darah memikirkan

orang lain. Mungkin—sepuluh tahun lagi, lama setelah jantung Bella berhenti berdetak

dan aku sudah berhasil keluar dari puing-puing kehancuran dalam keadaan utuh—

mungkin saat itulah aku bisa menawari Lizzie naik mobil mewah dan berbicara tentang

merek dan model mobil, mengenalnya, dan melihat apakah aku menyukainya sebagai

manusia. Tapi itu takkan terjadi sekarang.

287

Keajaiban takkan menyelamatkanku. Aku harus menerima siksaan ini dengan

jantan. Menelannya bulat-bulat,

Lizzie menunggu, mungkin berharap aku menawarinya naik mobil. Atau mungkin

juga tidak,

"Sebaiknya kukembalikan mobil ini kepada orang yang meminjamkannya,"

gumamku.

Lizzie tetsenyum lagi. "Senang mendengarmu mau bertobat."

"Yeah, kau berhasil meyakinkanku."

Lizzie memerhatikan aku masuk ke dalam mobil, ekspresinya masih agak

khawatir. Mungkin aku terlihat seperti orang yang hendak menerjunkan mobilku dari

tebing tinggi. Sesuatu yang mungkin saja akan kulakukan, seandainya itu bisa

mematikan werewolf. Ia melambai satu kali, matanya mengikuti mobil.

Mulanya aku mengendarai mobilku secara lebih waras dalam perjalanan pulang.

Aku tidak terburu-buru. Aku tidak ingin pergi ke sana. Kembali ke rumah itu, ke hutan

itu. Kembali merasakan kepedihan hati yang berusaha kutinggalkan. Kembali untuk

benar-benar sendirian bersama kepedihanku.

Oke, itu sih melodramatis. Aku toh tidak sepenuhnya sendirian, walaupun itu

justru tidak menyenangkan. Leah dan Seth harus ikut menderita bersamaku. Untunglah

Seth tak perlu lama menderita. Tidak sepantasnya ketenangan pikiran anak itu dirusak.

Leah juga tidak, tapi setidaknya itu sesuatu yang ia mengerti. Kepedihan hati bukan hal

yang asing lagi bagi Leah.

Aku mengembuskan napas keras-keras waktu memikirkan apa yang diinginkan

Leah dariku, karena sekarang aku tahu ia akan mendapatkannya. Aku masih marah

padanya, tapi aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku bisa membuat hidupnya

lebih mudah. Dan—sekarang setelah aku mengenalnya lebih baik—menurutku ia pasti

rela melakukan hal yang sama untukku, seandainya posisi kami ditukar.

Menarik, paling tidak, juga aneh, memiliki Leah sebagai teman—sebagai sahabat.

Kami akan sering berselisih paham, itu sudah pasti. Ia tidak akan membiarkan aku

berkubang dalami kesedihan, tapi menurutku itu bagus. Mungkin aku membutuhkan

orang yang bisa menegur dan memarahiku sesekali. Tapi kalau dipikir-pikir lagi,

sesungguhnya Leah satu-satunya teman yang dapat memahami apa yang sedang

kualami sekarang.

288

Ingatanku melayang ke perburuan kami tadi pagi, dan betapa dekatnya pikiran

kami pada satu momen itu. Bukan hal buruk. Berbeda, Agak menakutkan, sedikit

canggung. Tapi anehnya, cukup menyenangkan.

Aku sama sekali tidak perlu sendirian.

Dan aku tahu Leah cukup kuat menghadapi bulan-bulan mendatang bersamaku.

Bulan-bulan dan tahun-tahun. Memikirkannya saja sudah membuatku lelah. Aku merasa

seperti memandang ke seberang samudera yang harus kurenangi bolak-balik sebelum

bisa beristirahat lagi.

Begitu banyak waktu yang akan datang, tapi begitu sedikit waktu tersisa sebelum

memulainya. Tiga setengah hari lagi, tapi aku malah berada di sini, membuang-buang

sedikit waktu yang tersisa.

Aku mulai memacu mobilku lagi.

Kulihat Sam dan Jared, masing-masing berdiri di pinggir jalan yang berbeda

seperti penjaga, sementara aku melesat melintasi jalan menuju Forks. Mereka

tersembunyi rapat di balik ranting-ranting lebat, tapi karena aku tahu mereka pasti ada

di sana, aku tahu ke mana harus mencari. Aku mengangguk waktu melesat melewati

mereka, tak sempat lagi memikirkan apa yang mereka bayangkan dari kepergianku

seharian ini.

Aku juga mengangguk kepada Leah dan Seth, saat meluncur melintasi jalan

masuk menuju rumah keluarga Cullen. Hari mulai gelap, awan-awan tebal menggayuti

kawasan ini, tapi aku melihat mata mereka berkilauan diterpa cahaya lampu mobil.

Nanti saja akan kujelaskan kepada mereka. Masih banyak waktu untuk itu.

Kaget benar aku mendapati Edward menunggu di garasi. Sudah berhari-hari aku

tidak pernah melihatnya meninggalkan Bella. Kentara sekali dari wajahnya bahwa Bella

baik-baik saja. Malah wajahnya terlihat lebih damai daripada sebelumnya. Perurku

mengejang waktu teringat dari mana datangnya kedamaian itu.

Sungguh sayang bahwa—saking sibuknya aku merenung— aku jadi lupa

menghancurkan mobil Edward. Oh sudahlah. Mungkin sebenarnya aku juga tidak tega

merusak mobil ini. Mungkin Edward juga sudah bisa menduganya, dan karena itulah ia

berani meminjamkannya padaku.

"Aku mau bicara sebentar denganmu, Jacob," seru Edward begitu aku mematikan

mesin.

Aku menghela napas dalam-dalam dan menahannya sebentar. Kemudian, pelanpelan,

aku turun dari mobil dan melemparkan kunci-kunci itu padanya.

289

"Terima kasih pinjamannya" ujarku masam. Rupanya pinjaman itu ada

bayarannya. "Apa yang kauinginkan sekarang?"

"Pertama-tama... aku tahu kau sangat menentang menggunakan otoritasmu

terhadap kawananmu, tapi..."

Aku mengerjap, terperangah karena Edward menyinggung hal itu. "Apa?"

"Kalau kau tidak bisa atau tidak mau mengontrol Leah, maka aku..."

"Leah?" selaku, berbicara dari sela-sela gigiku, "Apa yang terjadi?"

Wajah Edward mengeras. "Dia datang untuk mencari tahu mengapa kau tiba-tiba

pergi begitu saja. Aku berusaha menjelaskan. Kurasa mungkin penjelasanku tidak bisa

dia terima."

"Apa yang dia lakukan?"

"Dia berubah wujud menjadi manusia dan..."

"Sungguh?" selaku lagi, kali ini shock. Aku tidak sanggup mencernanya. Leah

membiarkan dirinya tanpa pertahanan saat berada di sarang lawan?

"Dia ingin... bicara dengan Bella."

"Dengan Bella?"

Edward langsung berubah garang. "Aku takkan membiarkan Bella kalut seperti itu

lagi. Aku tak peduli sekalipun Leah merasa tindakannya bisa dibenarkan! Aku tidak

melukainya— tentu saja itu tidak mungkin kulakukan—tapi aku tidak segan-segan

melemparnya keluar rumah kalau itu terjadi lagi. Akan kulontarkan dia ke seberang

sungai"

"Tunggu dulu. Apa yang dia katakan?" Semua ini tak masuk akal bagiku.

Edward menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. "Sikap Leah sangat

kasar, padahal itu tidak perlu. Aku tidak akan berpura-pura mengerti mengapa Bella

tidak sanggup melepaskanmu, tapi aku tahu dia tidak bersikap seperti ini untuk

menyakiti hatimu. Dia sudah cukup menderita memikirkan kepedihan hati yang dia

timbulkan padamu, dan padaku, dengan memintamu tetap di sini. Apa yang dikatakan

Leah sangat tidak bisa dibenarkan. Dari tadi Bella menangis..."

"Tunggu... Leah memarahi Bella karena aku?"

290

Edward mengangguk kaku. "Dia membelamu habis-habisan."

Waduh. "Aku tidak memintanya berbuat begitu.”

“Aku tahu."

Aku memutar bola mataku. Tentu saja Edwatd tahu. Ia tahu semuanya.

Tapi luar biasa juga yang dilakukan Leah. Siapa yang menyangka? Leah berjalan

memasuki sarang para pengisap darah dalam wujud manusia untuk memprotes

perlakuan yang aku terima?

"Aku tidak berjanji bisa mengontrol Leah," kataku, "Aku tidak akan berbuat

begitu. Tapi aku akan bicara dengannya, oke? Dan kurasa ini takkan terjadi lagi. Leah

bukan tipe yang suka menahan-nahan perasaan, jadi dia mungkin sudah mengumbar

semua kemarahannya tadi."

"Menurutku juga begitu."

"Omong-omong, aku akan bicara dengan Bella mengenainya juga. Dia tidak perlu

merasa tidak enak. Ini masalahku sendiri."

"Aku juga sudah berkata begitu padanya,"

"Tentu saja kau sudah mengatakannya. Dia baik-baik saja?"

"Dia tidur sekarang. Ditemani Rose."

Jadi si psikopat itu sudah menjadi "Rose" sekarang. Edward benar-benar sudah

menyeberang ke sisi gelap.

Edward tak menggubris pikiran itu, melanjutkan dengan jawaban yang lebih

lengkap untuk menjawab pertanyaanku. "Dia... lebih baik dalam beberapa hal. Kecuali

merasa bersalah karena dimarahi Leah tadi."

Lebih baik. Karena Edward bisa mendengar si monster dan segalanya kini manis,

penuh cinta. Fantastis.

"Sedikit lebih daripada itu" gumam Edward. "Sekarang setelah aku bisa membaca

pikiran anak itu, ternyata dia memiliki kemampuan mental yang luar biasa berkembang.

Dia bisa memahami kami, hingga ke tahap tertentu."

Mulutku ternganga. "Kau serius?"

291

"Ya. Sepertinya samar-samar dia tahu apa yang membuat Bella kesakitan. Dia

berusaha menghindarinya, sebisa mungkin. Dia... mencintai Bella. Dia sudah bisa

mencintai Bella."

Kupandangi Edward, merasa seakan-akan mataku akan melompat keluar dari

rongganya. Di balik ketidakpercayaan itu, aku langsung melihat inilah faktor penentu itu.

Inilah yang mengubah sikap Edward—bahwa monster itu telah membuatnya yakin akan

cinta ini. Edward tak mungkin membenci apa yang mencintai Bella. Mungkin itu juga

mengapa ia tidak bisa membenciku. Tapi ada perbedaan besar di antara kami. Aku tidak

membunuh Bella perlahan-lahan.

Edward melanjutkan kata-katanya, seolah tidak mendengar pikiranku sama

sekali, "Kemajuan ini, aku yakin, lebih daripada yang kita perkirakan. Kalau Carlisle

kembali nanti..."

"Jadi mereka belum kembali?" potongku tajam. Ingatanku melayang pada Sam

dan Jared, yang mengawasi jalanan tadi.

Apakah mereka penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi?

"Alice dan Jasper sudah. Carlisie mengirimkan semua darah yang bisa dia

dapatkan, tapi jumlahnya masih belum sebanyak yang ia harapkan—persediaan ini pasti

sudah akan habis lusa, kalau melihat selera Bella yang semakin meningkat. Carlisie

masih berada di sana untuk mencoba mencari ke sumber lain. Menuturku sekarang itu

belum perlu, tapi Carlisie ingin bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan."

"Mengapa belum perlu? Bagaimana kalau dia membutuhkan lebih banyak lagi?"

Aku tahu Edward memerhatikan dan mendengarkan reaksiku dengan hati-hati

sementara menjelaskan. "Aku berusaha membujuk Carlisie untuk mengeluarkan bayi itu

secepatnya setelah dia pulang nanti."

"Apa?"

"Anak itu sepertinya berusaha untuk tidak terlalu banyak bergerak, tapi sulit.

Tubuhnya sudah terlalu besar. Gila jika kita harus menunggu, padahal dia jelas sudah

berkembang jauh di luar perkiraan Carlisie. Bella terlalu rapuh untuk menunggu terlalu

lama."

Aku selalu saja dikagetkan dengan kejutan-kejutan yang tidak enak. Pertama, saat

terlalu mengandalkan kebencian Edward pada makhluk itu. Sekarang, sadarlah aku

selama ini aku menganggap tenggat waktu empat hari itu sudah pasti. Aku kelewat

mengandalkannya.

292

Samudera kepedihan tak berujung yang menungguku kini terbentang luas di

hadapanku.

Aku berusaha menenangkan napas.

Edward menunggu. Kupandangi wajahnya sementara aku pulih dari kekagetan,

mengenali perubahan lain di sana.

"Menurutmu, Bella akan bisa melahirkan dengan selamat?” bisikku,

"Ya. Itu hal lain yang ingin kubicarakan denganmu,"

Aku tak sanggup berkata-kata. Sejurus kemudian Edward meneruskan katakatanya,

"Ya" ujarnya lagi. "Menunggu anak itu siap, seperti yang selama ini kita lakukan,

ternyata justru sangat berbahaya. Sewaktu-waktu kita bisa terlambat mengatasinya.

Tapi bila kita proaktif, bila kita bertindak cepat, aku tidak melihat alasan mengapa ini tak

bisa dilakukan dengan baik. Mengetahui pikiran anak itu sungguh sangat membantu.

Syukurlah, Bella dan Rose sependapat denganku. Sekarang setelah aku berhasil

meyakinkan mereka bahwa aman bagi anak itu untuk dilahirkan, tidak ada alasan

mengapa ini tidak akan berhasil,"

"Kapan Carlisle pulang?" tanyaku, masih berbisik. Napasku belum kembali

normal,

"Tengah hari besok."

Lututku lemas. Tanganku menyambar bodi mobil untuk berpegangan. Edward

mengulurkan tangan, seperti hendak memegangiku, tapi kemudian ia mengurungkan

niatnya dan menjatuhkan kedua tangannya.

"Maafkan aku" bisiknya. "Aku benar-benar menyesal karena harus menyakiti

hatimu, Jacob. Walaupun kau benci padaku, harus kuakui aku tidak merasakan hal yang

sama terhadapmu. Aku menganggapmu sebagai,,, sebagai saudara dalam banyak hal.

Teman seperjuangan, setidaknya. Aku menyesali penderitaanmu lebih daripada yang

kausadari. Tapi Bella akan selamat" ketika ia mengucapkannya, suaranya garang, bahkan

kasar—"dan aku tahu itulah yang paling penting bagimu."

Mungkin Edward benar. Sulit memastikannya. Kepalaku berputar.

293

"Sebenarnya aku tidak suka melakukan hal ini, di saat kau harus menghadapi

begitu banyak hal, tapi jelas, tidak banyak waktu lagi tersisa. Aku harus meminta sesuatu

darimu—memohon, kalau perlu"

"Tidak ada lagi yang tersisa dariku," jawabku, suaraku tercekat,

Edward mengangkat tangannya lagi, seperti hendak meletakkannya di bahuku,

tapi kemudian membiarkannya jatuh seperti sebelumnya dan mengembuskan napas,

"Aku tahu sudah banyak sekali yang kauberikan," ucapnya pelan. "Tapi ada

sesuatu yang kaumiliki, dan hanya kau yang memilikinya. Aku memintanya dari Alfa

yang sejati, Jacob. Aku memintanya dari keturunan Efraim."

Aku sudah tidak mampu merespons lagi

'Aku meminta izinmu untuk menyimpang dari apa yang kita sepakati bersama

dalam kesepakatan kami dengan Efraim. Kuminta kau memberi kami pengecualian. Aku

minta izin darimu untuk menyelamatkan nyawa Bella. Kau tahu aku tetap akan

melakukannya, tapi aku tidak mau merusak kepercayaanmu terhadap kami kalau

memang tak ada cara lain untuk menghindarinya. Kami tidak pernah berniat melanggar

janji kami sendiri, dan tidak mudah bagi kami untuk melakukannya. Aku menginginkan

pengertianmu, Jacob, karena kau tahu persis mengapa kami melakukan hal ini. Aku ingin

persekutuan antara keluarga kita tetap berjalan setelah semua ini berakhir,"

Aku mencoba menelan ludah. Sam, pikirku. Kau harus memintanya dari Sam,

"Tidak. Otoritas Sam tidak datang dengan sendirinya. Itu milikmu. Kau memang

tidak mau mengambilnya dari dia, tapi tidak ada yang berhak menyetujui apa yang

kuminta ini kecuali kau"

Aku tidak berhak membuat keputusan ini.

"Kau berhak, Jacob, dan kau tahu itu. Satu kata darimu bisa menghukum atau

mengampuni kami. Hanya kau yang bisa memberikannya padaku."

Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak tahu,

"Kita tidak punya banyak waktu." Edward menoleh ke belakang, ke arah rumah.

Tidak, tidak ada waktu lagi. Waktu beberapa hari yang kumiliki sekarang berubah

menjadi beberapa jam.

Aku tidak tahu. Biarkan aku berpikir. Tolong beri aku waktu sedikit saja, oke?

"Baik."

294

Aku mulai berjalan menuju rumah, dan ia mengikuti. Sinting benar betapa

mudahnya aku berjalan melintasi kegelapan bersama vampir di sebelahku. Tidak ada

rasa tidak aman, atau bahkan tidak nyaman, tidak sama sekali. Seperti berjalan bersama

orang biasa saja. Well, orang biasa yang badannya sangat bau.

Semak-semak di pinggir halaman yang luas itu bergerak, dan sejurus kemudian

terdengar suara mendengking pelan, Seth menerobos keluar dari tanaman pakis-pakisan

dan berlari-lari menghampiri kami,

"Hei, Nak," bisikku,

Seth menunduk, dan kutepuk-tepuk bahunya, "Semuanya baik-baik saja,"

dustaku, "Akan kuceritakan semuanya padamu nanti. Maaf kalau aku pergi begitu saja

tadi,"

Seth nyengir padaku.

"Hei, bilang pada kakakmu tidak usah marah-marah lagi, oke? Cukup"

Seth mengangguk satu kali.

Kali ini kudorong bahunya, "Kembali bekerja. Sebentar lagi aku akan

menggantikanmu."

Seth bersandar padaku, balas mendorongku, kemudian berlari memasuki hutan,

"Dia salah seorang yang memiliki pikiran paling murni, paling tulus, paling baik

yang pernah kudengar," kata Edward pelan setelah Seth lenyap dari pandangan, "Kau

beruntung bisa berbagi pikiran dengannya,"

"Aku tahu itu," geramku.

Kami mulai berjalan menuju rumah, dan sama-sama tersentak waktu mendengar

suara seseorang minum dari sedotan, Edward langsung bergegas. Ia melesat menaiki

tangga teras dan langsung lenyap,

"Bella, Sayang, kusangka kau masih tidur," kudengar Edward berkata, "Maafkan

aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu,"

"Jangan khawatir. Aku hanya sangat kehausan—itu yang membuatku terbangun.

Untunglah Carlisle membawakan lagu Anak ini pasti akan sangat membutuhkannya

kalau dia sudah dikeluarkan dari perutku."

295

"Benar. Itu memang benar."

"Aku penasaran apakah nanti dia akan menginginkan hal lain," renung Bella,

"Kurasa nanti kita akan tahu." Aku berjalan melewati pintu,

Alice berseru, "Akhirnya," dan mata Bella berkelebat ke arahku. Senyumnya yang

manis dan memikat tersungging di wajahnya. Tapi kemudian senyum itu goyah, dan

wajahnya berubah. Bibirnya berkerut-kerut, seolah berusaha tidak menangis.

Ingin benar rasanya kutinju mulut tolol Leah sekarang juga.

"Hei, Bells," aku buru-buru berkata. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja," jawabnya,

"Hari yang penting sekali hari ini, ya? Banyak terjadi hal baru."

"Kau tidak perlu bersikap begitu, Jacob."

"Aku tidak mengerti apa yang kaumaksud," sergahku, berjalan menghampirinya

dan duduk di lengan sofa, dekat kepalanya. Edward sendiri sudah duduk di lantai.

Bella melayangkan pandangan menegur ke arahku. "Aku benar-benar minta

ma..." ia mulai berkata,

Kucubit bibirnya hingga menutup dengan ibu jari dan telunjukku,

"Jake," gumam Bella, berusaha menarik tanganku. Gerakan nya sangat lemah

hingga sulit dipercaya ia benar-benar berusaha.

Aku menggeleng. "Kau baru boleh bicara kalau tidak mengatakan hal-hal konyol."

"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya." Kedengarannya ia seperti bergumam.

Kutarik tanganku.

"Maaf!" Bella cepat-cepat menyudahi kalimatnya, lalu nyengir.

Kuputar bola mataku kemudian balas tersenyum. Ketika aku menatap matanya,

aku melihat semua yang kucari di taman tadi.

Esok, Bella akan menjadi orang lain. Tapi mudah-mudahan masih hidup, dan

memang itu yang penting, bukan? Ia akan memandangku dengan mata yang sama, bisa

dibilang begitu. Tersenyum dengan bibir yang sama, nyaris. Ia tetap akan mengenalku

lebih baik daripada siapa pun yang tidak memiliki akses penuh ke dalam pikiranku.

296

Leah mungkin teman yang menarik, bahkan mungkin ia teman sejati—seseorang

yang tidak segan-segan membelaku. Tapi ia bukan sahabatku seperti halnya Bella. Di

luar cinta mati yang kurasakan terhadap Bella, ada juga semacam ikatan, dan ikatan itu

sudah mendarah daging dalam jiwaku.

Esok, Bella akan menjadi musuhku. Atau ia akan menjadi sekutuku. Dan rupanya,

akan menjadi apa ia, sepenuhnya bergantung padaku.

Aku mendesah.

Baiklah! pikirku, memberikan hal terakhir yang bisa kuberikan. Membuatku

merasa hampa. Silakan, Selamatkan dia. Sebagai keturunan Efraim, kau memperoleh

izinku, janjiku, bahwa ini tidak akan dianggap melanggar kesepakatan. Terserah kalau

mereka mau menyalahkan aku. Kau benar—mereka tak bisa menyangkal bahwa aku

berhak menyetujui hal ini.

"Terima kasih." Edward berbisik sangat pelan hingga Bella tidak mendengarnya.

Tapi ia mengucapkannya dengan nada terharu sehingga, dari sudut mata, kulihat para

vampir lain menoleh dan memerhatikan,

"Jadi," ujar Bella, berusaha bersikap biasa-biasa saja, "Bagaimana harimu?"

"Hebat. Tadi aku jalan-jalan naik mobil. Keluyuran di taman."

"Kedengarannya asyik."

"Tentu, tentu."

Tiba-tiba Bella mengernyitkan muka. "Rose?" tanyanya. Kudengar si Pirang

terkekeh. "Lagi?"

"Sepertinya aku sudah menghabiskan dua galon dalam satu jam terakhir saj/'

Bella menjelaskan.

Edward dan aku menyingkir sementara Rosalie datang untuk membantu Bella

berdiri dari sofa dan membawanya ke kamar mandi,

"Boleh aku jalan sendiri?" tanya Bella. "Kakiku kaku sekali."

"Kau yakin?" tanya Edward.

297

"Rose akan menangkapku kalau aku tersandung. Itu mudah saja terjadi, karena

aku tidak bisa melihat kakiku."

Hati-hati Rosalie membantu Bella berdiri, kedua tangannya memegangi bahu

Bella. Bella mengulurkan kedua lengannya ke depan, meringis sedikit.

"Rasanya enak/' desah Bella. "Ugh, gendut sekali aku."

Itu benar. Perut Bella membuncit besar sekali.

"Satu hari lagi," kata Bella, menepuk-nepuk perutnya.

Aku tak mampu menahan kepedihan yang tiba-tiba menohok hatiku, tapi aku

berusaha menyembunyikannya dari wajahku. Aku pasti bisa menyembunyikannya untuk

satu hari lagi, bukan?

"Baiklah, kalau begitu. Uuuups... oh, tidak!"

Cangkir yang diletakkan Bella di sofa terguling, dan darah merah tua tumpah

membasahi kain yang pucat.

Otomatis, walaupun sudah ada tiga tangan yang lebih dulu terulur untuk meraih

cangkir itu, Bella membungkuk, mengulurkan tangan.

Terdengar suara teredam yang sangat aneh, seperti sesuatu terkoyak dari bagian

tengah tubuhnya.

"Oh!" Bella tersentak.

Kemudian tubuhnya seketika terkulai, merosot ke lantai. Detik itu juga Rosalie

menangkapnya sehingga Bella tidak terjatuh ke lantai. Edward juga bergerak, kedua

tangan terulur, melupakan kekacauan di sofa.

"Bella?" tanya Edward, kemudian matanya kehilangan fokus, dan kepanikan

melanda sekujur tubuhnya.

Setengah detik kemudian Bella menjerit.

Dan itu bukan jeritan biasa, namun jerit kesakitan yang menegakkan bulu roma.

Suara mengerikan itu terputus suara seperti orang tersedak cairan, dan mata Bella

membeliak ke atas. Tubuhnya kejang-kejang, melengkung dalam pelukan Rosalie.

Kemudian Bella muntah, menyemburkan darah dari mulutnya.

298

18. TAK ADA KATA YANG SANGGUP MELUKISKANNYA

TUBUH Bella, berlumuran darah, mulai kejang-kejang, kelojotan dalam pelukan

Rose seperti orang kesetrum. Sementara itu wajahnya kosong—tak sadarkan diri.

Gerakan liar dari bagian dalam tengah tubuhnyalah yang mengguncangkan Bella.

Sementara ia kejang-kejang suara retakan dan patahan terdengar seirama dengan

tubuhnya yang terentak-entak.

Rosalie dan Edward membeku sejenak, kemudian langsung bereaksi. Rosalie

menyambar tubuh Bella dan menggendongnya, lalu, sambil berteriak-teriak begitu

cepat hingga sulit menangkap apa yang dikatakannya, ia dan Edward melesat menaiki

tangga menuju lantai dua.

Aku berlari mengejar mereka.

"Morfin!" Edward berteriak kepada Rosalie.

"Alice—telepon Carlisle!" pekik Rosalie.

Ruangan yang kumasuki ditata sebegitu rupa hingga mirip ruang UGD yang dibuat

di tengah perpustakaan, lampu-lampunya cemerlang dan putih. Bella dibaringkan di atas

meja di bawah sorotan lampu, kulitnya putih pucat di bawah terangnya cahaya.

Tubuhnya menggelepar-gelepar, seperti ikan di pasir. Rosalie menahan tubuh Bella,

merenggut dan mengoyak bajunya, sementara Edward menancapkan jarum ke

lengannya.

Berapa kali aku membayangkan Bella telanjang? Sekarang aku malah tidak tega

melihatnya. Aku takut kenangan-kenangan ini akan bercokol dalam kepalaku.

"Apa yang terjadi, Edward?"

"Bayinya tercekik!"

"Plasentanya pasti lepas!"

Di tengah segala kegemparan ini, Bella siuman. Ia merespons seruan-seruan

mereka dengan teriakan yang mencakar-cakar gendang telingaku.

"KELUARKAN dia!" jerit Bella. "Dia tidak bisa BERNAPAS! Lakukan SEKARANG!"

Aku melihat bercak-bercak merah bermunculan di mata Bella ketika jeritannya

memecah pembuluh-pembuluh darah di matanya.

"Morfinnya..." geram Edward.

299

"TIDAK! SEKARANG...!" Darah yang kembali menyembur membuat Bella tersedak.

Edward menegakkan kepala Bella, dengan panik berusaha membersihkan mulutnya agar

ia bisa bernapas lagi.

Alice menghambur memasuki ruangan dan menjepitkan earpiece biru kecil di

bawah rambut Rosalie, Lalu Alice menyingkir, mata emasnya membelalak dan berapiapi,

sementara Rosalie mendesis panik ke dalam corong telepon.

Di bawah cahaya terang benderang, kulit Bella lebih terlihat ungu dan hitam,

bukan putih. Warna merah tua merembes di bawah kulit, di atas perutnya yang

membuncit dan bergetar. Tangan Rosalie menyambar skalpel.

"Tunggu morfinnya menyebar dulu!" teriak Edward.

"Tak ada waktu lagi," desis Rosalie. "Bayinya sekarat!"

Tangan Rosalie turun mendekati perut Bella, dan cairan merah terang muncrat

dari bagian kulit yang ditusuknya. Seperti ember yang dibalik, keran yang dibuka sampai

penuh. Bella mengentak-entak, tapi tidak menjerit. Ia masih terus tersedak.

Kemudian Rosalie kehilangan fokus. Aku melihat ekspresinya berubah, melihat

bibirnya tertarik ke belakang, menampakkan gigi-giginya, dan mata hitamnya berkilatkilat

kehausan.

"Tidak, Rose!" raung Edward, tapi kedua tangannya terperangkap, karena ia

berusaha mendudukkan Bella agar bisa bernapas.

Aku melontarkan tubuhku ke arah Rosalie, melompati meja tanpa repot-repot

berubah wujud. Saat aku menghantam tubuhnya yang sekeras batu, menjatuhkannya ke

arah pintu, aku merasakan skalpel di tangannya menusuk lengan kiriku. Telapak tangan

kananku menghantam wajahnya, mengunci rahangnya, dan menghalangi saluran

napasnya.

Sambil mencengkeram wajah Rosalie, aku memilin tubuhnya sehingga bisa

mendaratkan tendangan keras ke perutnya; rasanya seperti menendang beton. Ia

terbang dan menghantam kusen pintu, membengkokkan salah satu sisinya. Speaker

kecil di telinganya pecah berkeping-keping. Detik berikutnya Alice datang, merenggut

leher Rosalie dan menyeretnya ke ruang depan.

Dan si Pirang patut diacungi jempol—sedikit pun ia tidak melawan. Ia ingin kami

menang. Dibiarkannya saja aku menghajarnya begitu rupa, untuk menyelamatkan Bella.

Well, sebenarnya untuk menyelamatkan makhluk itu.

300

Kucabut skalpel yang menancap di lenganku.

"Alice, bawa dia keluar dari sini!” teriak Edward. "Bawa dia ke Jasper dan kurung

dia di sana! Jacob, aku butuh bantuanmu!”

Aku tidak melihat Alice melaksanakan perintah Edward. Secepat kilat aku

menghambur menuju meja operasi. Wajah Bella sudah berubah biru, matanya

membelalak lebar dan melotot.

"CPR?" geram Edward padaku, cepat dan menuntut. "Ya!"

Dengan cepat aku mengamati wajah Edward, mencari tanda-tanda ia akan

bereaksi seperti Rosalie. Tidak ada-apa-apa kecuali keganasan yang gigih.

"Buat Bella bernapas! Aku harus mengeluarkan bayinya sebelum..."

Lagi-lagi terdengar suara berderak dari dalam tubuh Bella, sangat keras, begitu

kerasnya hingga kami sama-sama membeku kaku, shock menunggu jerit kesakitan Bella.

Tak ada suara apa-apa. Kedua kakinya, yang tadi menekuk kesakitan, kini terkulai lemas,

tergeletak dalam posisi tidak wajar.

"Tulang punggungnya,'' Edward tercekat ngeri,

"Cepat keluarkan bayi itu dari perutnya!" geramku, melambai-lambaikan skalpel

itu padanya, "Dia tidak akan merasakan apa-apa sekarang!"

Kemudian aku membungkuk di atas kepala Bella. Mulutnya tampak bersih, maka

aku menekankan mulutku ke sana dan mengembuskan udara separu-paru penuh ke

dalamnya. Aku merasakan tubuhnya mengembang, berarti tidak ada yang menghalangi

tenggorokannya.

Bibir Bella terasa seperti darah.

Aku bisa mendengar jantungnya, berdetak tak beraturan. Teruslah berdetak,

pikirku panik padanya, mengembuskan udara lagi ke tubuhnya. Kau sudah berjanji.

Usahakan jantungmu terus berdetak.

Aku mendengar suara lembut dan basah skalpel mengoyak perutnya. Lebih

banyak darah menetes-netes ke lantai.

Suara berikutnya membuatku tersentak, sungguh tak terduga, mengerikan.

Seperti suara logam dikoyakkan. Suara itu mengingatkanku kembali pada pertarungan di

lapangan terbuka beberapa bulan lalu, suara para vampir baru dikoyakkan. Aku melirik

301

dan melihat wajah Edward menempel di perut Bella yang membuncit. Gigi vampir—

pasti mampu mengoyak kulit vampir.

Aku bergidik sambil mengembuskan udara lagi ke paru-paru Bella.

Bella terbatuk, matanya mengerjap-ngerjap, berputar-putar tanpa bisa melihat,

"Tetaplah bersamaku, Bella!" teriakku padanya. "Kaudengar aku? Kau tidak boleh

meninggalkan aku. Jantungmu harus terus berdetak!"

Matanya berputar, mencariku, atau Edward, tapi tidak melihat apa-apa.

Aku tetap menatapnya, tak mengalihkan pandanganku darinya.

Lalu tubuhnya mendadak diam di bawah tanganku, walaupun deru napasnya

semakin cepat dan jantungnya terus berdetak. Sadarlah aku diam itu berarti semuanya

telah berakhir. Entakan-entakan dari dalam tubuhnya sudah berhenti. Makhluk itu pasti

sudah keluar dari tubuhnya.

Ternyata memang sudah.

Edward berbisik, "Reneesme,"

Kalau begitu perkiraan Bella salah. Ternyata bukan anak laki laki seperti yang ia

bayangkan. Itu tidak mengherankan bagiku. Apa sih yang pernah Bella perkirakan

dengan benar?

Aku tidak mengalihkan mataku dari matanya yang bebercak-bercak merah, tapi

aku merasakan kedua tangannya terangkat lemah.

"Biarkan aku...," bisik Bella parau. "Berikan dia padaku."

Kurasa seharusnya aku tahu Edward akan menuruti semua yang diinginkan Bella,

tak peduli betapapun tololnya permintaan itu. Tapi aku sama sekali tidak menyangka ia

juga akan menuruti kemauan Bella sekarang. Jadi tidak terpikir olehku untuk

menghentikan Edward.

Sesuatu yang hangat menyentuh lenganku. Itu saja seharusnya sudah menarik

perhatianku. Tidak ada yang terasa hangat di kulitku.

Tapi aku tak sanggup mengalihkan pandanganku dari wajah Bella. Ia

mengerjapkan mata dan memandang, akhirnya bisa melihat. Suara menenangkan yang

aneh, lirih, dan mirip erangan terdengar dari bibirnya.

302

"Renes...mee. Cantik... sekali."

Kemudian ia terkesiap—terkesiap kesakitan.

Waktu aku melihatnya, semua sudah terlambat. Edward telah merenggut

makhluk hangat berlumuran darah itu dari lengan Bella yang terkulai lemas. Mataku

melirik cepat ke kulit Bella. Kulitnya merah oleh darah—darah yang tadi mengalir dari

mulutnya, darah yang melumuri tubuh makhluk itu, dan darah segar yang menggenang

dari bekas gigitan kecil berbentuk bulan sabit ganda, persis di atas payudara kiri Bella.

"Jangan, Renesmee," gumam Edward, seperti mengajarkan sopan santun pada

monster itu.

Aku tidak melihat Edward ataupun makhluk itu. Aku hanya memandangi Bella

saat matanya membeliak ke atas.

Dengan suara berdetak lemah terakhir, jantung Bella terputus-putus dan terdiam.

Setelah jantung Bella tak berdetak selama setengah detik, kedua tanganku

langsung memegang dadanya, menekan-nekan-nya. Aku menghitung dalam hati,

berusaha menjaga agar ritmenya tetap terjaga. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Berhenti sebentar, aku mengembuskan udara lagi ke paru-parunya.

Aku tidak bisa melihat lagi. Mataku basah dan kabur. Tapi aku amat menyadari

suara-suara di ruangan itu. Bunyi glug-glug jantung Bella yang tak mau bereaksi di

bawah tekanan tanganku yang menuntut, bunyi detak jantungku sendiri, dan satu lagi—

detak putus-putus lain yang terlalu cepat, terlalu ringan. Aku tidak tahu bunyi apa itu.

Kupaksa mengembuskan udara lagi ke tenggorokan Bella.

"Apa yang kautunggu?" aku tersedak dengan napas terengah-engah, memompa

jantungnya lagi. Satu. Dua. Tiga. Empat.

"Pegang bayinya," pinta Edward dengan nada mendesak, "Lempar saja keluar

jendela." Satu. Dua. Tiga. Empat. "Berikan bayinya padaku," seru suara pelan dari

ambang pintu.

Edward dan aku menggeram pada saat bersamaan. Satu. Dua. Tiga. Empat.

"Aku sudah bisa menguasai diri," Rosalie berjanji. "Berikan bayinya, Edward. Aku

akan menjaganya sampai Bella..."

Aku mengembuskan udara la'gi ke paru-paru Bella sementara pengalihan itu

terjadi. Suara dug dug dug lemah jantung Bella menghilang perlahan-lahan.

303

"Singkirkan tanganmu, Jacob."

Aku mendongak, mengalihkan pandangan dari mata Bella yang putih, masih terus

memompa jantungnya Edward memegang jarum suntik di tangannya, seluruhnya

berwarna perak, seperti terbuat dari baja.

"Apa itu?"

Tangan Edward yang sekeras batu menepis tanganku agar minggir. Terdengar

suara berderak pelan saat tepisannya itu mematahkan kelingkingku. Pada detik yang

sama ia menancapkan jarum itu langsung ke jantung Bella.

"Racunku," jawab Edward sambil menekan pompa suntik.

Kudengar sentakan di jantung Bella, seolah-olah Edward menggugahnya dengan

pukulan.

"Gerakkan terus," perintah Edward. Suaranya sedingin es, mati. Keras dan tanpa

berpikir. Seolah-olah ia mesin.

Kuabaikan rasa sakit saat tulang kelingkingku mulai pulih. Aku mulai memompa

jantung Bella lagi. Lebih sulit sekarang, seakan-akan darahnya mengental di sana—

semakin kental dan lambat. Sementara mendorong darah yang sekarang kental itu ke

pembuluh darahnya, aku memerhatikan apa yang dilakukan Edward;

Ia seperti mencium Bella, menyapukan bibirnya ke leher, pergelangan tangan,

dan lipatan di bagian dalam lengan Bella. Tapi aku bisa mendengar bunyi kulit Bella

robek saat Edward menggigitnya, berkali-kali, memaksakan racunnya masuk ke dalam

peredaran darah Bella di sebanyak mungkin tempat. Kulihat lidah Edward yang pucat

menjilati luka yang berdarah itu, tapi sebelum itu bisa membuatku mual atau marah,

aku menyadari apa yang ia lakukan. Saat lidah Edward menyapu racun iru di atas

kulitnya, lukanya langsung menutup. Menahan racun dan darah itu di dalam tubuhnya.

Aku mengembuskan udara lagi ke mulut Bella, tapi tak ada reaksi apa-apa. Hanya

dadanya yang terangkat naik tak bernyawa. Aku terus memompa jantungnya,

menghitung, sementara Edward mengerahkan segenap upaya untuk membangunkan

Bella lagi. Semua sudah dikerahkan...

Tapi tidak ada apa-apa di sana, hanya aku, hanya Edward.

Berusaha membangunkan mayat.

Karena hanya itulah yang tertinggal dari gadis yang sama-sama kami cintai. Mayat

yang rusak, babak belur, dan berlumuran darah. Kami tidak bisa membangunkan Bella

lagi.

304

Aku tahu semua sudah terlambat. Aku tahu ia sudah mati. Aku tahu pasti karena

tarikan itu sudah tidak ada. Aku tidak merasa ada alasan lagi untuk berada di

sampingnya. Ia sudah tidak ada di sini. Jadi tubuh ini tidak lagi memiliki daya tarik

bagiku. Kebutuhan tak masuk akal untuk berada di dekatnya lenyap sudah.

Atau mungkin berpindah adalah istilah yang lebih tepat. Sepertinya aku

merasakan tarikan dari arah yang berbeda sekarang. Dari lantai bawah, di luar pintu.

Kerinduan untuk menjauh dari sini dan tidak pernah, tidak akan pernah kembali.

"Pergilah, kalau begitu," bentak Edward, dan ia memukul tanganku lagi,

mengambil tempatku kali ini. Tiga jari patah, rasanya.

Dengan kelu kuluruskan jari-jariku, tak memedulikan sakit yang berdenyutdenyut.

Edward memompa jantung Bella yang sudah mati itu lebih cepat daripada yang

tadi kulakukan.

"Dia belum mati," geram Edward. "Dia akan baik-baik saja."

Aku tidak tahu lagi apakah ia berbicara padaku.

Membalikkan badan, meninggalkan Edward dengan mayatnya, aku berjalan

lambat-lambat ke pintu. Aku tak sanggup menggerakkan kakiku lebih cepat.

Inilah dia kalau begitu. Samudera kepedihan. Pantai begitu jauh di seberang air

yang mendidih. Aku tak bisa membayangkan, apalagi melihatnya.

Lagi-lagi aku merasa hampa, karena sekarang aku telah kehilangan tujuanku.

Menyelamatkan Bella adalah sesuatu yang telah kuperjuangkan sekian lama. Tapi ia

tidak mau diselamatkan. Ia malah rela mengorbankan dirinya dan dikoyak-koyak

keturunan monster itu, jadi perjuanganku sia-sia. Semua su-dah berakhir.

Aku bergidik mendengar suara di belakangku saat terhuyung-huyung menuruni

tangga—suara jantung mati dipaksa berdetak.

Entah bagaimana caranya, ingin benar rasanya aku menuangkan cairan pemutih

ke kepalaku dan membiarkannya menggosongkan otakku. Membakar habis semua

kenangan akan saat-saat terakhir Bella. Aku lebih suka otakku rusak agar bisa

menyingkirkan semua kenangan itu—jeritannya, suara berderak dan' terkoyak saat

monster yang baru lahir itu mengoyak perutnya dari dalam...

Aku ingin berlari menjauh secepatnya, melompati sepuluh anak tangga sekaligus

dan menghambur keluar pintu, tapi kakiku berat seperti digayuti besi dan tubuhku letih

305

sekali, lebih daripada yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku tersaruk-saruk menuruni

tangga seperti orang tua yang cacat.

Aku beristirahat di anak tangga paling bawah, mengumpulkan segenap kekuatan

untuk berjalan keluar pintu.

Rosalie duduk di ujung sofa putih yang masih bersih, memunggungiku, berbisik

dan mengucapkan kata-kata bernada lembut pada makhluk berselubung selimut dalam

pelukannya. Ia pasti mendengarku berhenti, tapi ia mengabaikanku, terhanyut dalam

momen bahagia sebagai ibu yang dicurinya dari Bella. Mungkin sekarang ia akan

bahagia. Rosalie telah mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Bella takkan pernah

datang untuk mengambil makhluk itu darinya. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah

memang itu yang diharapkan si pirang beracun selama ini.

Rosalie memegang sesuatu berwarna gelap di tangannya, dan terdengar suara

mengisap rakus dari pembunuh kecil yang digendongnya itu.

Bau darah di udara. Darah manusia, Rosalie meminumkan darah manusia ke bayi

itu. Tentu saja ia ingin minum darah. Apa lagi yang akan kauberikan pada monster yang

secara brutal memutilasi ibunya sendiri? Sama saja ia minum darah Bella. Mungkin itu

memang darah Bella.

Kekuatanku pulih kembali saat mendengar suara pembunuh kecil itu makan.

Kekuatan, kebencian, dan perasaan panas—panas amarah membasuh kepalaku,

membakar tapi tidak menghapus apa pun. Gambar-gambar di kepalaku ibarat bensin,

semakin menggelorakan api tapi menolak dibakat habis. Aku merasakan getaran

mengguncang tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan aku tidak berusaha

menghentikannya.

Perhatian Rosalie sepenuhnya tercurah pada makhluk itu, ia tak menggubrisku

sama sekali. Ia tidak akan bisa meng-hentikanku pada saat yang tepat, karena

perhatiannya hanya tertuju pada makhluk itu.

Sam benar. Makhluk itu adalah penyimpangan—keberadaannya menentang

hukum alam. Iblis hitam tak berjiwa. Sesuatu yang tidak berhak ada.

Sesuatu yang harus dihancurkan.

Sepertinya tarikan tadi bukan mengarah ke pintu. Aku bisa merasakannya

sekarang, membujukku, menarikku maju. Mendorongku menyelesaikannya,

membersihkan dunia dari kekejian ini.

306

Rosalie pasti akan berusaha membunuhku kalau makhluk itu mati, dan aku akan

melawannya. Entah apakah cukup waktu bagiku menghabisinya sebelum yang lain-lain

datang membantu. Mungkin cukup, mungkin tidak. Aku tidak tedalu peduli.

Aku tak peduli bila para serigala, kelompok mana pun, membalas dendam atas

kematianku atau menuntut keadilan pada keluarga Cullen. Itu semua tak berarti. Yang

penting bagiku adalah keadilanku sendiri. Balas dendamku. Makhluk yang membunuh

Bella itu tak boleh hidup lebih lama lagi.

Seandainya Bella selamat, ia pasti membenciku karena apa yang kulakukan ini. Ia

pasti akan membunuhku dengan tangannya sendiri.

Tapi aku tak peduli. Ia juga tidak peduli pada apa yang ia lakukan terhadapku—

membiarkan dirinya dijagai seperti binatang. Mengapa sekarang aku harus

memedulikan perasaannya?

Begitu juga Edward, Ia pasti terlalu sibuk sekarang—kelewat kalut dalam

penyangkalannya yang gila, berusaha menghidupkan mayat—sehingga tidak akan

mendengar rencanaku.

Maka aku takkan mendapatkan kesempatan menepati janjiku padanya, kecuali—

dan ini bukan sesuatu di mana aku bersedia mempertaruhkan uangku—aku berhasil

memenangkan pertarungan melawan Rosalie, Jasper, dan Alice, tiga lawan satu. Tapi

sekalipun aku menang, kurasa aku tetap tidak akan mau membunuh Edward.

Karena aku tidak memiliki cukup belas kasihan untuk itu. Mengapa harus kubuat

dia tidak merasakan akibat perbuatannya? Bukankah akan lebih adil—lebih

memuaskan—membiarkannya hidup tanpa memiliki apa-apa sama sekali?

Pikiran itu nyaris membuatku tersenyum, hatiku begitu penuh kebencian ketika

membayangkannya. Tidak ada Bella, Tidak ada monster pembunuh itu. Dan ia juga

kehilangan anggota keluarganya sebanyak yang bisa kuhabisi. .Tentu saja mungkin ia

bisa menyatukan mereka kembali, karena aku tak ada waktu untuk membakar bagianbagian

tubuh. Tidak seperti Bella, yang takkan pernah bisa disatukan lagi.

Dalam hati aku penasaran apakah makhluk itu bisa disatukan kembali. Aku

meragukannya. Makhluk itu separo Bella juga—jadi ia pasti mewarisi kerapuhan Bella.

Itu bisa kudengar dari detak jantungnya yang mungil.

Jantung makhluk itu berdetak. Jantung Bella tidak.

Hanya satu detik berlalu saat aku mengambil keputusan yang mudah ini.

307

Getaran itu semakin ketat dan cepat. Aku melengkungkan badan, bersiap

menerkam vampir pirang itu dan merenggut makhluk pembunuh itu dari dekapannya

dengan gigiku.

Rosalie berbicara lagi dengan nada lembut pada makhluk itu, meletakkan botol

logam yang kosong di sampingnya dan mengangkat makhluk itu untuk menempelkan

wajahnya ke pipi si bayi.

Sempurna. Posisi baru itu sempurna untuk seranganku. Aku mencondongkan

tubuh ke depan dan merasakan panas mulai mengubahku sementara tarikan ke arah

pembunuh itu semakin kuat—lebih kuat daripada yang kurasakan sebelumnya, begitu

kuatnya hingga mengingatkanku pada perintah seorang Alfa, seolah-olah itu akan

meremukkanku kalau aku tidak menurut.

Kali ini aku ingin menurut.

Pembunuh itu menatapku melewati bahu Rosalie, tatapan matanya lebih

terfokus daripada bayi makhluk mana pun.

Mata cokelat hangat, warna cokelat susu—warna yang sama persis dengan mata

Bella dulu.

Guncangan tubuhku mendadak berhenti; panas melanda seluruh tubuhku, lebih

kuat dari sebelumnya, tapi ini panas yang baru—bukan panas yang membakar.

Tapi panas yang bersinar-sinar.

Segala sesuatu di dalam diriku seakan terlepas saat aku menatap wajah porselen

mungil bayi setengah vampir setengah manusia itu. Semua ikatan yang mengikatku

terputus oleh sayatan cepat, seperti menggunting tali segerumbul balon. Segala sesuatu

yang membuatku menjadi diriku sekarang—cintaku pada gadis yang sudah mati di lantai

atas itu, cintaku pada ayahku, loyalitasku pada kawanan baruku, cintaku pada saudarasaudaraku,

kebencianku pada musuh-musuhku, rumahku, namaku, diriku.—detik itu

juga terputus dariku—kres, kres, kres—dan melayang ke udara.

Tapi aku tidak dibiarkan melayang-layang tak tentu arah. Seutas tali baru

menahanku di tempatku berdiri.

Bukan hanya satu tali, melainkan sejuta. Bukan tali, melainkan kabel baja. Sejuta

kabel baja mengikatku pada satu hal—pada pusat jagat raya ini.

Aku bisa melihatnya sekarang—bagaimana jagat raya berputar mengelilingi satu

titik ini. Tak pernah aku melihat kesimetrisan jagat raya sebelum ini, tapi sekarang

semuanya jelas.

308

Gravitasi bumi tak lagi menahanku di tempatku berdiri.

Bayi perempuan dalam pelukan vampir pirang itulah yang menahanku di sini

sekarang. Renesmee.

Dari lantai atas terdengar suara baru. Satu-satunya suara yang bisa menyentuhku

dalam sedetik yang tidak ada akhirnya ini.

Degup cepat, detak memburu... Suara jantung yang berubah.

309

BUKU TIGA

bella

310

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

19. PANAS MEMBAKAR

20. BARU

21. PERBURUAN PERTAMA

22. JANJI

23. MEMORI

24. KEJUTAN

25. BANTUAN

26. BERKILAU

27. RENCANA PERJALANAN

28. MASA DEPAN

29. DITINGGAL

30. MENGGEMASKAN

31. BERBAKAT

32. PARA TAMU

33. PEMALSUAN

34. DEKLARASI

35. TENGGAT WAKTU

36. HAUS DARAH

37. PENEMUAN

38. KUAT

39. AKHIR YANG MEMBAHAGIAKAN

INDEX VAMPIR

CREDITS

311

PE N D AH U L U AN

BARISAN hitam yang mendekati kami menembus kabut sedingin es yang terkuak

oleh kaki mereka, bukan lagi sekadar mimpi buruk.

Kita akan mati, pikirku panik. Aku panik memikirkan hal berharga yang kujaga,

tapi aku tak boleh bahkan memikirkannya, karena itu akan mengganggu konsentrasiku.

Mereka melayang semakin dekat, jubah gelap mereka berkibar-kibar pelan

dengan setiap gerakan. Aku melihat tangan mereka melengkung membentuk cakar

sewarna tulang. Mereka berpencar, mendatangi kami dari segala sisi. Jumlah kami kalah

banyak. Semua sudah berakhir.

Kemudian, bagai diterangi sorot lampu kilat, pemandangan itu jadi berbeda.

Namun tak ada yang berubah—keluarga Volturi masih bergerak menghampiri kami,

bersiap membunuh. Yang benar-benar berubah hanya bagaimana gambaran itu terlihat

olehku. Tiba-tiba hasratku membuncah. Aku ingin mereka menyerang. Kepanikan

berubah menjadi haus darah saat aku membungkuk, siap menerjang maju, senyum

tersungging di wajahku, dan geraman menyeruak dari sela gigiku yang menyeringai.

312

19. PANAS MEMBAKAR

Sakitnya membingungkan.

Tepat seperti itulah—aku kebingungan. Aku tidak bisa mengerti, tidak bisa

mencerna apa yang sedang terjadi.

Tubuhku berusaha menolak rasa sakit itu, dan aku tersedot lagi dan lagi ke

kegelapan yang memotong detik-detik atau bahkan mungkin menit-menit penuh

kesakitan, membuatku semakin sulit memahami kenyataan.

Aku berusaha memisahkannya.

Ketidaknyataan berwarna hitam, dan rasanya tidak terlalu menyakitkan.

Kenyataan berwarna merah, dan aku merasa seperti digergaji menjadi dua,

dilindas bus, ditinju petinju profesional, diinjak-injak segerombolan banteng, dan

tenggelam dalam cairan asam, semuanya pada saat bersamaan.

Kenyataan adalah merasakan tubuhku terpilin dan terentak di saat aku tak

mungkin bisa bergerak karena sakit.

Kenyataan adalah mengetahui ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada

semua siksaan ini, tapi tak bisa ingat apa itu.

Kenyataan datang begitu cepat.

Satu saat segala sesuatu berjalan sebagaimana seharusnya. Dikelilingi orangorang

yang kucintai. Senyum di mana-mana. Entah bagaimana, meski kemungkinannya

kecil, sepertinya aku akan mendapat semua yang selama ini kuperjuangkan.

Kemudian satu kecerobohan sepele terjadi dan mengubah semuanya.

Aku melihat cangkirku terguling, darah merah tumpah dan menodai kain putih

bersih itu, dan refleks aku meraihnya. Aku juga melihat tangan-tangan lain yang lebih

cepat, tapi tubuhku tetap bergerak maju, terulur...

Di dalam tubuhku, sesuatu terenggut ke arah sebaliknya.

Terkoyak. Patah. Sakitnya luar biasa.

Kegelapan itu mengambil alih, kemudian berubah menjadi gelombang siksaan.

Aku tak bisa bernapas—dulu aku pernah tenggelam, tapi yang ini berbeda; rasanya

kerongkonganku panas sekali.

313

Bagian-bagian tubuhku remuk, patah, teriris...

Lagi-lagi kegelapan menyelimutiku.

Suara-suara, kali ini berteriak-teriak, saat kesakitan itu kembali.

"Plasentanya pasti lepas!"

Sesuatu yang lebih tajam dari pisau mengoyakku—kata-kata itu, masuk akal di

tengah siksaan-siksaan lain. Plasenta yang terlepas—aku tahu apa artinya itu. Itu berarti

bayiku sekarat di dalam rahimku.

"Keluarkan dia!" jeritku pada Edward. Mengapa Edward belum juga

melakukannya? "Dia tidak bisa bernapas! Lakukan sekarang!"

"Morfinnya.."

Ia ingin menunggu, memberiku obat penghilang sakit, padahal bayi kami

sekarat?!

"Tidak! Sekarang...!" aku tersedak, tak mampu menyelesaikan kata-kataku.

Bercak-bercak hitam menutupi lampu di ruangan itu saat rasa sakit baru

menghunjam dingin ke perutku. Rasanya keliru—otomatis aku berusaha keras

melindungi rahimku, bayiku, Edward Jacob kecilku, tapi aku lemah. Paru-paruku sakit,

oksigen terbakar habis.

Rasa sakit itu kembali memudar, walaupun aku mencengkeramnya kuat-kuat

sekarang. Bayiku, bayiku, sekarat...

Berapa lama waktu telah berlalu? Detik atau menit? Rasa sakit itu hilang. Kebas.

Aku tidak bisa merasa. Aku juga masih tidak bisa melihat, tapi aku bisa mendengar. Ada

udara di paru-paruku lagi, menggesek dalam bentuk gelembung-gelembung kasar yang

melewati tenggorokanku.

"Tetaplah bersamaku sekarang, Bella! Kaudengar aku? Kau tidak boleh

meninggalkan aku. Jantungmu harus terus berdetak!"

Jacob? Jacob masih di sini, masih berusaha menyelamatkanku.

Tentu saja, aku ingin berkata padanya. Tentu saja aku akan berusaha membuat

jantungku tetap berdetak. Bukankah aku sudah berjanji pada mereka berdua?

314

Aku berusaha merasakan jantungku, menemukannya, tapi aku begitu tersesat di

dalam tubuhku sendiri. Aku tidak bisa merasakan hal-hal yang seharusnya kurasakan,

dan semua rasanya berada di tempat yang tidak seharusnya. Aku mengerjap dan

menemukan mataku. Aku bisa melihat cahaya.

Bukan sesuatu yang kucari, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sementara mataku susah payah berusaha menyesuaikan diri, Edward berbisik,

"Renesmee." Renesmee?

Bukan anak lelaki sempurna berkulit pucat seperti yang kubayangkan? Sesaat aku

shock. Lalu perasaan hangat melandaku.

Renesmee.

Aku berusaha menggerakkan bibir, berusaha mengubah gelembung-gelembung

udara menjadi bisikan di lidahku. Aku memaksa mengulurkan kedua tanganku yang

kebas.

"Biarkan aku... Berikan dia padaku."

Cahaya itu menari-nari, pecah berderai dari kulit tangan Edward yang laksana

kristal. Kilauannya bersemu merah oleh darah yang melumuri tangannya. Dan banyak

lagi warna merah di tangannya. Sesuatu yang kecil dan menggeliat-geliat, darah

menetes-netes. Ia menempelkan tubuh hangat itu ke lenganku yang lemah, hampir

seperti aku menggendongnya. Kulitnya yang basah terasa panas—tapi tidak sepanas

kulit Jacob.

Mataku terfokus; tiba-tiba semua tampak sangat jelas.

Renesmee tidak menangis, tapi napasnya tersengal-sengal cepat, terkejut.

Matanya terbuka, ekspresinya begitu sbock hingga nyaris lucu. Kepalanya yang kecil dan

bundar sempurna tertutup rambut ikal lengket berdarah. Iris matanya berwarna cokelat

yang—meski familier—namun menakjubkan. Di balik darah yang melumuri tubuhnya,

kulitnya berwarna gading pucat. Semuanya begitu kecuali pipinya yang bersemu merah.

Wajah mungilnya begitu sempurna sampai-sampai membuatku terperangah. Ia

bahkan lebih rupawan daripada ayah' nya. Tak bisa dipercaya. Mustahil. "Renesmee,"

bisikku. "Cantik... sekali."

Wajah rupawan itu tiba-tiba tersenyum—senyum lebar dan sengaja. Di balik bibir

pinknya yang berbentuk kerang, tampak sederet gigi susu seputih salju yang sudah

lengkap.

315

Ia menundukkan kepala ke depan, ke dadaku, menguburkannya ke kehangatan.

Kulitnya hangat dan sehalus sutra, tapi tidak lembut seperti kulitku.

Kemudian terasa lagi rasa sakit—rasa sakit sekilas yang hangat. Aku terkesiap.

Dan Renesmee pun hilang. Bayiku yang berwajah malaikat itu lenyap entah ke

mana. Aku tak bisa melihat ataupun merasakannya.

Tidak! ingin benar aku berteriak. Kembalikan dia padaku!

Tapi kelemahan itu terlalu kuat melandaku. Kedua lenganku sesaat terasa seperti

slang karet yang kosong, kemudian tidak terasa apa-apa sama sekali. Aku tak bisa

merasakannya. Aku tak bisa merasakan diriku.

Kegelapan itu dengan cepat menutupi mataku, lebih gelap daripada sebelumnya.

Seperti penutup mata yang tebal, kuat, dan cepat. Menutup bukan hanya mataku,

melainkan juga diriku dengan beban yang menekan. Melelahkan sekali mendorong

melawannya. Aku tahu akan jauh lebih mudah untuk menyerah saja. Membiarkan

kegelapan itu menenggelamkanku ke bawah, ke bawah, ke tempat tidak ada kesakitan,

tidak ada kelelahan, tidak ada kekhawatiran, dan tidak ada ketakutan.

Seandainya aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku pasti takkan sanggup

berjuang terlalu lama. Aku hanya manusia biasa, dengan kekuatan tak lebih dari

kekuatan manusia. Aku sudah terlalu lama berusaha mengimbangi kekuatan

supranatural, seperti yang pernah dikatakan Jacob padaku.

Tapi aku tidak hanya memikirkan diriku sendiri.

Kalau aku melakukan hal yang mudah sekarang, membiarkan kegelapan

menghapusku, berarti aku menyakiti hati mereka.

Edward. Edward, Hidupku dan hidupnya terjalin menjadi satu. Potong satu,

berarti kau memotong keduanya. Seandainya dia pergi, aku takkan sanggup hidup tanpa

dia. Seandainya aku pergi, dia juga takkan sanggup hidup tanpa aku. Dan dunia tanpa

Edward akan terasa tiada artinya. Edward harus ada,

Jacob—yang sudah berulang kali mengucapkan selamat berpisah padaku tapi

selalu kembali setiap kali aku membutuhkannya. Jacob yang entah sudah berapa kali

kusakiti hatinya. Akankah aku menyakiti hatinya lagi, yang terparah kali ini? Selama ini

Jacob selalu bersamaku, walau bagaimanapun juga. Sekarang yang ia minta dariku

hanyalah agar aku tetap bersamanya.

316

Tapi di sini sangat gelap, aku tak bisa melihat wajah siapa pun. Semua terasa

tidak nyata. Membuat sulit bagiku untuk tidak menyerah.

Walaupun begitu aku terus berusaha mendorong kegelapan itu, nyaris seperti

refleks. Aku tidak berusaha mengangkatnya. Aku hanya menolaknya. Tidak

membiarkannya menindihku sepenuhnya. Aku bukan Atlas, dan kegelapan itu sama

beratnya dengan planet; aku tak sanggup memikulnya. Yang bisa kulakukan hanyalah

agar tidak sepenuhnya terhapuskan.

Itu menjadi semacam pola dalam hidupku—aku tidak pernah merasa cukup kuat

menghadapi hal-hal di luar kendaliku, menyerang musuh atau lari mendahului mereka.

Menghindari kesakitan. Sebagai manusia lemah, satu-satunya hal yang bisa kulakukan

hanya bertahan. Menahannya Tetap selamat.

Sejauh ini, itu semua cukup. Jadi itu pun harus cukup hari ini. Aku harus bisa

menahannya sampai pertolongan datang.

Aku tahu Edward akan melakukan segalanya yang bisa ia lakukan. Ia t«dak akan

menyerah. Begitu pula aku.

Kutahan kegelapan agar tidak mendekat.

Tapi tekad saja tidak cukup. Sekian lama waktu berlalu dan kegelapan semakin

mengimpitku, aku membutuhkan sesuatu yang lebih untuk memberiku kekuatan.

Aku bahkan tak bisa menarik wajah Edward ke dalam penglihatanku. Tidak juga

wajah Jacob, atau Alice, Rosalie, Charlie, Renée, Carlisle ataupun Esme... Tidak ada apaapa.

Itu membuatku ketakutan, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah semuanya

sudah terlambat.

Aku merasakan diriku terpeleset—tak ada yang bisa kujadikan pegangan.

Tidak!. Aku harus selamat melewati ini. Edward bergantung padaku. Jacob.

Charlie Alice Rosalie Carlisle Renée Esme...

Renesmee.

Kemudian, walaupun aku masih belum bisa melihat apa-apa, mendadak aku bisa

merasakan sesuatu. Seperti tangan-tangan hantu, aku membayangkan diriku bisa

merasakan tanganku lagi. Dan dalam dekapan tanganku, ada sesuatu yang kecil, keras,

dan amat sangat hangat.

Bayiku. Bocah kecil yang menendang-nendang perutku.

317

Aku berhasil. Melewati segala rintangan, ternyata aku cukup kuat untuk

melahirkan Renesmee dengan selamat, mengandungnya sampai ia cukup kuat untuk

hidup tanpaku.

Titik panas di lengan hantuku terasa begitu nyata. Aku mendekapnya semakin

erat. Tepat di sanalah jantungku seharusnya berada. Dengan mendekap erat kenangan

hangat tentang putriku, aku tahu aku akan bisa berjuang melawan kegelapan sampai

selama yang dibutuhkan.

Kehangatan di samping jantungku semakin menjadi-jadi dan semakin nyata,

semakin lama semakin hangat. Semakin panas. Panasnya begitu nyata hingga sulit

rasanya menyakini bahwa aku hanya membayangkannya.

Semakin panas.

Tidak nyaman sekarang. Terlalu panas. Sangat, sangat terlalu panas.

Rasanya seperti memegang ujung yang salah dari alat pengeriting rambut—

respons otomatisku adalah menjatuhkan benda panas membara dalam dekapanku. Tapi

tidak ada apa-apa di sana. Lenganku tidak terlipat ke dada. Lenganku terkulai begitu saja

di sisi tubuhku. Panas itu berada di dalam tubuhku.

Panas membakar itu semakin menjadi-jadi meningkat, memuncak, lalu meningkat

lagi hingga melampaui apa pun yang pernah kurasakan.

Sekarang di balik api yang berkobar itu aku merasakan denyut di dadaku dan

sadar aku telah menemukan jantungku lagi, tepat ketika aku berharap takkan

menemukannya. Berharap bahwa aku telah merengkuh kegelapan itu selagi memiliki

kesempatan. Aku ingin mengangkat kedua lenganku dan mengoyak dadaku dan

merenggut jantungku sendiri—melakukan apa saja untuk menghentikan siksaan ini. Tapi

aku tak bisa merasakan lenganku, tak bisa menggerakkan bahkan satu jari saja.

James mematahkan kakiku dengan menginjaknya. Itu tidak ada apa-apanya

dibandingkan sekarang. Itu ibarat tempat empuk untuk beristirahat di atas kasur bulu.

Kalau disuruh, aku lebih suka memilih yang itu, seratus kali juga boleh. Seratus kali

kakiku dipatahkan. Aku akan menerimanya dan bersyukur.

Bayi itu menendang tulang-tulang rusukku, mematahkannya sedikit demi sedikit

untuk mencari jalan keluar. Itu tak ada apa-apanya. Itu ibarat mengambang di kolam

berair sejuk. Aku bersedia disuruh merasakannya seribu kali lagi. Akan kuterima dengan

penuh rasa syukur.

318

Api ini berkobar semakin panas dan aku ingin menjerit. Memohon agar ada yang

membunuhku sekarang, sebelum aku hidup satu detik lagi dalam kesakitan ini. Tapi aku

tak sanggup menggerakkan bibirku. Beban itu masih di sana, menekanku.

Sadarlah aku bukan kegelapan yang menahanku. melainkan tubuhku. Begitu

berat. Menguburku dalam kobaran api yang menjilat-jilat mencari jalan keluar dari

jantungku sekarang, menyebar dengan kesakitan yang luar biasa ke bahu dan perutku,

membakar tenggorokanku, menjilati wajahku.

Mengapa aku tidak bisa bergerak? Mengapa aku tidak bisa menjerit? Ini bukan

bagian dari cerita-cerita mereka.

Pikiranku sangat jernih dipertajam kesakitan yang luar biasa dan aku melihat

jawabannya seketika itu juga, nyaris bersamaan dengan terlontarnya pertanyaan itu.

Morfin.

Rasanya sudah berabad-abad yang lalu kami membicarakan hal ini Edward,

Carlisle, dan aku. Edward dan Carlisle berharap obat penghilang sakit dalam dosis cukup

dapat membantu mengatasi sakit yang kualami akibat racun vampir itu. Carlisle sudah

pernah mencobanya dengan Emmett, tapi racun vampir itu lebih dulu membakar

daripada obatnya, mengunci pembuluh-pembuluh darah Emmet, Obatnya tidak sempat

lagi menyebar.

Aku membiarkan wajahku tetap tenang dan mengangguk, mensyukuri

keberuntunganku bahwa Edward tidak bisa membaca pikiranku.

Karena aku sudah pernah merasakan morfin dan racun vampir sekaligus dalam

pembuluh darahku sebelumnya, maka aku tahu hal sebenarnya. Aku tahu perasaan

kebas yang dihasilkan morfin sangatlah tidak relevan saat racun itu membakar

pembuluh-pembuluh darahku. Tapi jangan harap .aku akan mengungkit hal itu. Aku

tidak mau mengatakan apa pun yang akan membuat Edward urung mengubahku.

Aku sama sekali tidak menduga morfin akan menghasilkan efek seperti ini

menindih dan membungkam mulutku. Membuatku lumpuh sementara racun itu

membakar tubuhku.

Aku tahu semua ceritanya. Aku tahu Carlisle berdiam diri agar tidak ketahuan

sementara tubuhnya terbakar. Aku tahu bahwa, menurut cerita Rosalie, tak ada

gunanya menjerit. Dan sebelumnya aku berharap mungkin aku bisa menjadi seperti

Carlisle, Bahwa aku akan memercayai kata-kata Rosalie dan tetap diam. Karena aku tahu

setiap jeritan yang keluar dari mulutku akan membuat Edward tersiksa.

Kini rasanya seperti lelucon yang tidak lucu karena harapanku terkabul.

319

Kalau aku tidak bisa menjerit, bagaimana aku bisa mengatakan pada mereka agar

membunuhku?

Padahal yang kuinginkan sekarang hanya mati. Tidak pernah dilahirkan. Seluruh

eksistensiku tidak bisa mengalahkan beratnya siksaan ini. Hidup rasanya tidak sepadan

dengan sakitnya yang begitu luar biasa.

Biarkan aku mati, biarkan aku mati, biarkan aku mati.

Dan untuk jangka waktu yang entah kapan akan berakhir, hanya itulah yang

kurasakan. Siksaan yang menyakitkan, jeritanku yang tanpa suara, memohon-mohon

agar kematian datang. Tidak ada yang lain, bahkan waktu pun tidak ada. Itu membuat

keadaan jadi tidak terbatas, tanpa awal dan akhir. Satu momen penuh kesakitan.

Satu-satunya perubahan datang ketika tiba-tiba, meski mustahil, siksaan itu

bertambah parah. Bagian bawah tubuhku yang sejak awal mati rasa karena morfin tibatiba

juga terbakar. Sesuatu yang tadinya patah tersambung kembali—terjalin oleh lidahlidah

api yang membakar.

Perasaan terbakar yang tanpa akhir itu terus membara.

Mungkin beberapa detik atau beberapa hari telah berlalu, mungkin juga

berminggu-minggu atau bertahun-tahun, tapi akhirnya, waktu kembali memiliki arti.

Tiga hal terjadi pada saat bersamaan, tumbuh dari satu sama lain sehingga aku

tak tahu mana yang datang lebih dulu: waktu diulang dari awal lagi, tindihan morfin itu

semakin berkurang, dan aku semakin kuat.

Aku bisa merasakan kendali tubuhku sedikit demi sedikit mulai pulih, dan

perasaan berangsur-angsur itu merupakan pertanda pertama bagiku bahwa waktu

berjalan. Aku mengetahuinya ketika bisa menggerak-gerakkan jari kakiku, mengepalkan

jari-jari tanganku. Aku mengetahuinya, tapi tidak melakukan apa-apa.

Walaupun perasaan terbakar itu tidak berkurang sedikit pun—faktanya, aku

mulai mengembangkan kapasitas baru dalam merasakannya, sensitivitas baru untuk

menghargai, secara terpisah, setiap lidah api yang menjilati pembuluh darahku—aku

mendapati bahwa ternyata aku bisa berpikir di tengah rasa sakit itu.

Aku ingat mengapa aku tidak boleh menjerit. Aku ingat mengapa aku

berkomitmen rela menjalani sakit yang luar biasa ini. Aku ingat bahwa, walaupun

rasanya mustahil sekarang, ada sesuatu yang pantas diperjuangkan dengan menahan

siksaan ini.

320

Tepat pada saat aku berusaha bertahan, perasaan berat yang menindih tubuhku

terangkat. Di mata orang yang melihatku saat itu, tidak tampak perubahan apa-apa. Tapi

bagiku, sementara aku berjuang keras menahan jeritan dan geliat-geliat kesakitan di

dalam tubuhku, di mana siksaan itu tak dapat menyakiti orang lain, rasanya aku beralih

dari diikat ke tiang dan dibakar hidup-hidup, menjadi mencengkeram tiang untuk

menahan diriku tetap berada di tengah kobaran api.

Aku masih memiliki sedikit kekuatan untuk berbaring tak bergerak sementara

tubuhku dibakar hidup-hidup.

Pendengaranku semakin jernih, dan aku bisa mendengar detak jantungku yang

berpacu cepat untuk menghitung waktu.

Aku bisa menghitung tarikan-tarikan napas pelan dan teratur yang datang dari

suatu tempat di dekatku. Itu gerakan terpelan, jadi aku berkonsentrasi

mendengarkannya. Gerakan-gerakan itu yang paling bisa memberitahu berapa lama

waktu berlalu. Mungkin bahkan lebih daripada gerak pendulum jam, suara tarikantarikan

napas itu menarikku melewati detik-detik yang membakar menuju akhir,

Tubuhku semakin kuat, pikiranku semakin jernih. Bila ada suara-suara baru

datang, aku bisa mendengar.

Ada suara-suara langkah kaki ringan, desir udara ketika pintu dibuka. Langkahlangkah

kaki itu semakin mendekat, dan aku merasakan bagian dalam pergelangan

tanganku ditekan. Aku tidak bisa merasakan dinginnya jari-jari itu. Api itu

menghanguskan setiap kenangan akan perasaan dingin.

"Masih belum ada perubahan?" “Belum."

Tekanan yang sangat pelan, lalu embusan napas di kulitku yang membara.

"Tidak ada bau morfin lagi tersisa.”

“Aku tahu."

"Bella? Kau bisa mendengarku?"

Aku tahu, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa kalau aku membuka mulur,

pertahanan diriku akan jebol—aku pasti akan menjerit, berteriak, menggeliat-geliat,

menendang-nendang tidak keruan. Kalau aku membuka mata, kalau aku menggerakkan

satu jari saja—perubahan apa pun juga pasti akan membuatku kehilangan kendali,

'Bella? Bella, Sayang? Bisakah kau membuka mata? Bisakah kau meremas

tanganku?"

321

Jari-jariku ditekan. Lebih sulit tidak menjawab suara ini, tapi aku tetap lumpuh.

Aku tahu kesedihan dalam suaranya sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan

dengan kesedihan yang bisa terjadi. Sekarang ini, ia hanya takut aku menderita.

Mungkin... Carlisle, mungkin aku terlambat," Suara Edward teredam, pecah saat

mengucapkan kata terlambat. Tekadku sempat goyah sejenak,

"Dengarkan jantungnya, Edward. Lebih kuat daripada jantung Emmett dulu.

Belum pernah aku mendengar detak se-vital itu. Dia akan pulih secara sempurna,"

Ya, aku benar tetap berdiam diri. Carlisle bisa meyakinkan Edward, Ia tidak perlu

menderita bersamaku,

“Dan—dan tulang belakangnya?"

Cedera yang dialaminya tidak lebih parah daripada cedera Esme dulu. Racun itu

akan memulihkannya sebagaimana racun itu dulu memulihkan Esme."

"Tapi dia tenang sekali. Aku pasti melakukan kesalahan."

"Atau melakukan hal yang tepat, Edward. Nak, kau sudah melakukan segala yang

bisa kaulakukan, bahkan lebih. Aku sendiri tak yakin apakah aku bisa memiliki tekad dan

kegigihan sekuat yang kaumiliki untuk menyelamatkannya. Berhentilah menyalahkan

dirimu sendiri. Bella pasti akan selamat,"

Bisikan tercekat. "Dia pasti sangat kesakitan."

"Kita tidak tahu itu. Dia sudah diberi morfin dalam jumlah sangat banyak. Kita

tidak tahu efek yang dialaminya"

Tekanan pelan di bagian dalam lipatan sikuku. Lagi-lagi terdengar suara bisikan.

"Bella, aku cinta padamu. Bella, maafkan aku,"

Aku ingin sekali menjawabnya, tapi tak ingin membuat kesedihannya bertambah.

Tidak selagi aku masih memiliki kekuatan untuk berdiam diri.

Selama itu jilatan api yang membakar tubuhku terus berkobar. Tapi ada sedikit

ruang kosong di kepalaku. Ruang untuk memikirkan kembali percakapan mereka, ruang

untuk mengingat apa yang terjadi, ruang untuk melihat ke depan, dengan ruang lain

yang tak berujung untuk tersiksa di dalamnya.

Juga ruang untuk khawatir.

Di mana bayiku? Mengapa dia tidak ada di sini? Mengapa mereka tidak

membicarakan dia?

322

"Tidak, aku di sini saja," bisik Edward, menjawab pikiran yang tidak terucapkan.

"Mereka pasti bisa membereskannya sendiri,"

"Situasi yang menarik," Carlisle menimpali. "Padahal kusangka aku sudah melihat

semuanya."

"Aku akan membereskannya nanti. Kita akan membereskannya nanti." Sesuatu

menekan lembut telapak tanganku yang melepuh.

"Aku yakin di antara kami berlima, kami bisa menjaganya agar tidak berubah

menjadi pertumpahan darah."

Edward mendesah. "Aku tidak tahu akan memihak siapa. Aku ingin sekali

menghajar dua-duanya. Well, nanti."

"Aku jadi penasaran bagaimana pendapat Bella—pihak mana yang akan

dibelanya," renung Carlisle,

Terdengar suara terkekeh pelan. "Aku yakin dia akan membuatku terkejut. Dia

kan selalu begitu."

Langkah-langkah Carlisle kembali menjauh, dan aku frustrasi karena tidak ada

penjelasan lebih lanjut. Apakah mereka sengaja berbicara semisterius itu hanya untuk

membuatku jengkel?

Aku kembali menghitung tarikan napas Edward untuk menandai waktu.

Sepuluh ribu, sembilan ratus empat puluh tiga tarikan napas berikutnya,

terdengar suara langkah-langkah kaki berbeda mendesir memasuki ruangan. Lebih

ringan. Lebih... berirama.

Aneh juga aku bisa membedakan perbedaan sangat kecil antara kedua langkah

itu padahal sebelum hari ini, aku sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa.

"Berapa lama lagi?" tanya Edward,

"Tidak akan lama lagi," jawab Alice. "Lihat betapa jernihnya dia sekarang? Aku

bisa melihatnya jauh lebih jelas sekarang," Alice mendesah,

"Masih merasa sedikit kesal?"

"Ya, terima kasih banyak kau sudah menyinggungnya," gerutu Alice. "Kalau kau

jadi aku, kau pasti akan kesal juga, kalau menyadari dirimu diborgol kaummu sendiri.

Aku paling jelas melihat vampir, karena aku vampir; aku bisa melihat manusia lumayan

baik, karena dulu aku manusia. Tapi aku tidak bisa melihat makhluk campuran ini sama

sekali karena tidak pernah mengalami jadi mereka. Bah!”

323

“Fokus, Alice,"

"Benar, Bella nyaris terlalu mudah untuk dilihat sekarang." Lama sekali tidak

terdengar apa-apa, kemudian. Edward mendesah. Suara baru, lebih bahagia,

"Dia benar-benar akan pulih kembali," desah Edward. "Tentu saja,"

"Dua hari yang lalu kau tidak begitu yakin."

"Aku tidak bisa melihat dengan benar dua hari yang lalu. Tapi setelah sekarang

dia terbebas dari daerah-daerah buta, gampang sekali,"

"Bisakah kau berkonsentrasi untukku? Pada jam—beri aku perkiraan."

Alice mendesah. "Dasar tidak sabaran. Baiklah, Tunggu sebentar,.."

Tarikan napas tenang,

"Terima kasih, Alice." Suara Edward lebih ceria. Berapa lama? Masa mereka tidak

bisa mengucapkannya dengan keras untukku? Terlalu berlebihankah meminta hal itu?

Berapa detik lagi aku harus terus terbakar? Sepuluh ribu? Dua puluh? Satu hari lagi—

atau delapan puluh enam ribu empat ratus lagi? Lebih dari itu? "Dia akan sangat

memesona,"

Edward menggeram pelan. "Sejak dulu dia juga sudah memesona."

Alice mendengus, "Kau mengerti maksudku. Lihat saja dia,"

Edward tidak menyahut, tapi kata-kata Alice memberiku harapan bahwa mungkin

aku tidak mirip briket arang seperti yang kurasakan. Rasanya seolah-olah aku pasti

menyerupai onggokan tulang-belulang hangus sekarang. Setiap sel tubuhku sudah

terbakar habis menjadi abu.

Kudengar Alice melesat keluar ruangan. Aku mendengar desiran pakaiannya

bergerak, bergesekan. Aku mendengar dengung pelan lampu yang tergantung di langitlangit.

Aku mendengar angin pelan menyapu bagian luar rumah. Aku bisa mendengar

semuanya.

Di lantai bawah, ada yang menonton pertandingan bisbol. Tim Mariners menang

dua putaran,

"Sekarang giliranku" kudengar Rosalie membentak seseorang, dan terdengar

suara geraman rendah sebagai balasan,

"Hei, sudahlah," Emmett mengingatkan.

324

Seseorang mendesis.

Aku mendengarkan lagi, tapi tak ada hal lain selain pertandingan bola. Bisbol

tidak cukup penting untuk mengalihkan perhatianku dari rasa sakit, maka aku pun

mendengarkan tarikan napas Edward lagi, menghitung detik-detiknya.

Dua puluh satu ribu sembilan ratus tujuh belas setengah detik kemudian, rasa

sakit itu berubah.

Kabar baiknya, rasa sakit itu mulai memudar dari ujung-ujung jari tangan dan

kakiku. Memudar perlahan-lahan, tapi paling tidak ada hal baru. Pasti sekaranglah

saatnya. Rasa sakit itu mulai meninggalkan tubuhku...

Kemudian datang kabar buruk. Api di tenggorokanku tidak sama seperti

sebelumnya. Aku bukan hanya terbakar, tapi sekarang tenggorokanku kering kerontang.

Sekering tulang. Haus sekali. Api yang membakar, dan dahaga yang mem-bakar...

Kabar buruk lain: api di jantungku semakin panas. Bagaimana itu mungkin?

Detak jantungku, yang sudah terlalu cepat, kini semakin cepat api mendorong

iramanya menjadi sangat cepat.

"Carlisle," seru Edward. Suaranya pelan tapi jelas. Aku tahu Carlisle pasti bisa

mendengarnya, kalau ia ada di atau dekat rumah.

Api meninggalkan telapak tanganku, membuatnya terbebas dari rasa sakit dan

sejuk. Tapi api kembali menjilati jantungku, yang membakar sepanas matahari dan

berdetak dalam kecepatan baru yang sangat cepat.

Carlisle memasuki ruangan, Alice di sampingnya. Langkah mereka begitu jelas,

aku bahkan sampai bisa tahu Carlisle berdiri di kanan, dan berada hampir setengah

meter di depan Alice.

"Dengar," kata Edward.

Suara terkeras di ruangan itu adalah detak jantungku yang berpacu kencang,

memukul-mukul sesuai irama api.

"Ah," ujar Carlisle. "Sudah hampir berakhir"

Kelegaanku mendengar kata-katanya terhalangi rasa sakit yang luar biasa di

jantungku.

Namun pergelangan tanganku terbebas, begitu juga per-gelangan kakiku. Api

benar-benar sudah padam di sana,

325

"Sebentar lagi," Alice membenarkan dengan penuh semangat. "Akan kupanggil

yang lain. Apakah sebaiknya Rosalie...?"

"Ya—jauhkan bayinya."

Apa? Tidak. Tidak! Apa maksud Carlisle, menjauhkan bayiku? Mengapa ia berbuat

begitu?

Jari-jariku bergetar—kekesalan merusak sandiwara diamku. Ruangan sunyi

senyap, tidak ada suara apa-apa selain debar jantungku yang bertalu-talu saat mereka

semua berhenti bernapas selama sedetik begitu melihat responsku.

Ada tangan yang meremas jari-jariku yang gemetar. "Bella? Bella, Sayang?"

Bisakah aku menjawabnya tanpa menjerit? Sesaat aku menimbang-nimbang,

kemudian api berkobar semakin panas di dadaku, terkuras dari siku dan lututku.

Sebaiknya jangan mengambil risiko.

"Akan kubawa mereka ke sini," kata Alice, suaranya bernada mendesak, dan

kudengar embusan angin saat ia melesat pergi.

Dan kemudian—oh!

Jantungku meloncat, berpacu bagaikan baling-baling helikopter, suaranya nyaris

menyerupai satu nada yang dibunyikan terus-menerus; rasanya seperti hendak

menggesek-gesek rusukku. Api berkobar di tengah dadaku, mengisap sisa-sisa lidah api

terakhir yang masih tersisa dari bagian tubuhku yang lain untuk mengobarkan api yang

paling panas membakar. Rasa sakitnya cukup membuatku tersentak, melepaskan

tanganku yang mencengkeram tiang pembakaran. Punggungku terangkat, melengkung

saat api menyeretku ke atas dari jantungku.

Aku tidak membiarkan bagian tubuhku yang lain meninggalkan barisan saat

tubuhku terempas kembali ke meja.

Terjadi peperangan di dalam tubuhku—jantungku yang berpacu cepat berlari

melawan api yang menggila. Keduanya kalah. Api itu akan mati, karena sudah melahap

habis semua yang bisa dilahap; jantungku berpacu menuju detak terakhirnya.

Api itu mengerut, berkonsentrasi di dalam satu-satunya organ manusia yang

tersisa dengan sentakan akhir yang tak terperikan sakitnya. Sentakan itu dijawab

dengan detakan dalam yang terdengar hampa. Jantungku tergagap dua kali, kemudian

berdetak pelan satu kali lagi.

Lalu tidak terdengar apa-apa. Tidak ada tarikan napas. Bahkan tarikan napasku

pun tidak.

326

Sejenak, hilangnya rasa sakit adalah satu-satunya yang bisa kumengerti.

Kemudian aku membuka mata dan memandang ke atasku dengan terheranheran.

327

20. BARU

Segalanya begitu terang. Tajam. Jelas,

Lampu terang benderang di atas kepalaku masih membutakan, tapi aku bisa

melihat dengan jelas serabut-serabut filamen yang berkilauan di dalam bola lampu itu.

Aku bisa melihat setiap warna pelangi di cahaya putih itu, dan, di bagian spektrum

paling ujung, warna kedelapan yang aku tak tahu namanya.

Di belakang lampu itu aku bisa membedakan setiap serat di lapisan kayu gelap

pada langit-langit di atasku. Di depannya aku bisa melihat kepulan debu di udara, sisi-sisi

yang tersentuh cahaya, dan sisi-sisi gelap, jelas dan terpisah. Debu-debu itu berputar

seperti planet-planet kecil, bergerak mengelilingi satu sama lain bagaikan tarian jagat

raya.

Debu itu begitu indah sampai-sampai aku menghirup napas shock; udara bersiul

memasuki kerongkongan, memutar-mutar kepulan debu itu memasuki pusaran.

Tindakan itu terasa keliru. Aku menimbang-nimbang, dan menyadari bahwa masalahnya

adalah tidak ada kelegaan yang kurasakan akibat tindakan itu. Aku tidak membutuhkan

udara. Paru-paruku tidak butuh udara. Paru-paruku tidak bereaksi dengan masuknya

udara.

Aku tidak butuh udara, tapi aku menyukainya. Di dalamnya aku bisa merasakan

ruangan di sekelilingku—merasakan serbuk-serbuk debu yang indah itu, udara stagnan

yang bercampur dengan aliran udara yang sedikit lebih sejuk dari pintu yang terbuka.

Merasakan embusan sutra yang halus. Merasakan secercah samar-samar sesuatu yang

hangat dan menggairahkan, sesuatu yang seharusnya lembap, namun tidak,,. Bau itu

membuat kerongkonganku terbakar kering, gema samar dari racun yang membakar,

walaupun bau itu sedikit tercampur bau klorin dan amoniak. Dan yang paling kentara,

aku bisa merasakan bau yang nyaris menyerupai madu-lilac-dan-sinar-matahari yang

merupakan bau yang paling kuat, yang paling dekat denganku.

Aku mendengar suara yang lainnya, bernapas lagi setelah melihatku bernapas.

Napas mereka bercampur dengan bau sesuatu yang nyaris menyerupai bau madu, lilac,

dan sinar matahari itu, membawa aroma-aroma baru. Kayu manis, bunga bakung, pir,

air laut, roti yang mengembang, pinus, vanila, kulit, apel, lumut, lavender, cokelat... aku

mengganti selusin perbandingan yang berbeda dalam pikiranku, tapi tak ada yang

benar-benar pas. Begitu manis dan menyenangkan.

328

Televisi di bawah suaranya dimatikan, dan aku mendengar seseorang—

Rosalie?—mengubah posisi duduknya di lantai dasar.

Aku juga mendengar samar-samar suara irama berdetak, dengan suara berteriakteriak

marah mengikuti entakan. Musik rap? Aku terperangah sesaat, kemudian suara

itu berangsur-angsur menghilang, seperti mobil lewat dengan kaca jendela dibuka.

Dengan kaget aku menyadari mungkin memang benar demikian, Mungkinkah aku

bisa mendengar hingga jauh ke jalan tol sana?

Aku tak sadar seseorang memegang tanganku sampai siapa pun ia, meremasnya

dengan lembut. Seperti yang kulakukan sebelumnya untuk menyembunyikan rasa sakit,

tubuhku mengunci lagi karena kaget. Ini bukan sentuhan yang kuharapkan. Kulitnya

mulus sempurna, tapi suhu badannya keliru. Tidak dingin.

Setelah detik pertama aku membeku shock, tubuhku merespons sentuhan tidak

familier itu dengan cara yang semakin membuatku shock.

Udara mendesis melewati kerongkongan, menyembur melalui gigiku yang

terkatup rapat dengan suara rendah dan garang yang terdengar seperti suara

sekawanan lebah. Sebelum suara itu keluar otot-ototku mengejang dan menekuk,

terpilin menjauhi apa yang tidak diketahui. Aku bangkit dan berbalik begitu cepat

sampai seharusnya itu membuat ruangan berputar kabur—tapi ternyata tidak. Aku

melihat setiap serbuk debu, setiap urat kayu di dinding-dingin berpanel kayu, setiap

benang yang terlepas dalam detail mikroskopik sementara mataku berkelebat

melewatinya.

Jadi ketika aku mendapati diriku meringkuk di dinding dengan sikap defensif—

kira-kira seperenambelas detik kemudian—aku sudah mengerti apa yang membuatku

terkejut, dan bahwa reaksiku ini berlebihan.

Oh, Tentu saja. Edward tidak terasa dingin lagi bagiku. Sekarang suhu tubuh kami

sama.

Aku bertahan dalam posisi itu beberapa saat lagi, menyesuaikan diri dengan

pemandangan di depanku.

Edward mencondongkan badan ke seberang meja operasi yang selama ini

menjadi pemangganganku, tangannya terulur ke arahku, ekspresinya cemas.

Wajah Edward adalah yang terpenting, tapi aku melayangkan pandangan ke halhal

lain, hanya untuk berjaga-jaga. Ada insting pertahanan diri yang terpicu, dan aku

otomatis mencari pertanda adanya bahaya.

329

Keluarga vampirku menunggu hati-hati di dinding yang berseberangan denganku,

dekat pintu, Emmett dan Jasper berdiri di depan. Seakan-akan memang ada bahaya.

Cuping hidungku kembang-kempis, mencari-cari ancaman itu. Aku tidak mencium bau

apa-apa yang tidak pada tempatnya. Bau samar sesuatu yang lezat—tapi ternoda bau

kimiawi yang tajam—menggelitik kerongkonganku lagi, membuatnya sakit dan panas

membakar,

Alice mengintip dari balik siku Jasper dengan seringai lebar tersungging di wajah;

cahaya berkilauan memantul dari giginya, membiaskan delapan warna pelangi.

Seringaian itu meyakinkan aku, kemudian aku pun mengerti, Jasper dan Emmett

berdiri di depan untuk melindungi yang lain, seperti sudah kuduga. Yang tidak secara

langsung bisa kutangkap adalah bahwa akulah bahaya itu.

Semua ini tidak penting. Sebagian besar pancaindra dan pikiranku masih tertuju

pada wajah Edward.

Aku belum pernah melihatnya sebelum detik ini.

Sudah berapa kali aku memandang Edward dan mengagumi ketampanannya? Sudah

berapa jam—hari, minggu— hidupku kuhabiskan untuk memimpikan apa yang dulu

kuanggap sebagai kesempurnaan? Kusangka aku telah mengenal wajahnya lebih baik

daripada wajahku sendiri. Kusangka ini hal fisik yang paling pasti dalam seluruh duniaku:

kesempurnaan wajah Edward. Pastilah aku dulu buta.

Untuk pertama kali, dengan telah terlepasnya bayang-bayang buram dan

keterbatasan mata manusiaku, aku melihat wajah Edward, Aku terkesiap dan berjuang

dengan susah payah untuk menemukan kata-kata yang tepat. Aku membutuhkan katakata

yang lebih baik.

Pada titik ini bagian lain perhatianku sudah memastikan tidak ada bahaya selain

diriku sendiri, dan otomatis aku menegakkan tubuhku yang meringkuk; nyaris satu detik

telah berlalu sejak aku terbaring di meja tadi.

Sesaat perhatianku teralih pada cara tubuhku bergerak. Begitu memutuskan

berdiri tegak, aku sudah berdiri tegak. Tak ada jeda waktu saat tindakan itu terjadi;

perubahannya begitu instan, nyaris seolah-olah tak ada gerakan sama sekali.

Aku terus memandangi wajah Edward, tak bergerak lagi.\

330

Ia bergerak pelan mengitari meja—setiap langkah membutuhkan waktu nyaris

setengah detik, setiap langkah mengalun luwes bagai air sungai meliuk-liuk di atas

bebatuan halus—tangannya masih terulur.

Kupandangi gerakannya yang anggun itu, menyerapnya dengan mata baruku.

"Bella?" tanya Edward dengan nada rendah dan menenangkan, tapi ada secercah

kekhawatiran saat ia menyebut namaku.

Aku tidak bisa langsung menjawab, terhanyut dalam alunan suaranya yang

selembut beledu. Simfoni paling sempurna, simfoni lengkap hanya dalam satu

instrumen, yang lebih besar daripada yang pernah diciptakan manusia...

“Bella, Sayang? Maafkan aku, aku tahu ini membingungkan. Tapi kau baik-baik

saja. Semuanya baik-baik saja,"

Semuanya? Pikiranku berputar-putar, berpusar kembali ke detik-detik terakhirku

sebagai manusia. Sekarang saja kenangan itu terasa kabur, seolah-olah aku

menontonnya dari balik kerudung tebal yang gelap—karena mata manusiaku dulu

separo buta. Segalanya sangat kabur.

Waktu ia berkata semuanya baik-baik saja, apakah 'itu termasuk Renesmee? Di

mana dia? Bersama Rosalie? Aku berusaha mengingat wajahnya—aku tahu dulu dia

cantik— tapi sungguh menjengkelkan berusaha melihat melalui ingatan manusiaku.

Wajah Renesmee diselubungi kegelapan, cahayanya begitu suram,,.

Bagaimana dengan Jacob? Apakah ia baik-baik saja? Apakah sahabatku yang

sudah lama menderita itu membenciku sekarang? Apakah ia sudah kembali ke kawanan

Sam? Seth dan Leah juga?

Apakah keluarga Cullen aman, ataukah transformasiku menyulut peperangan

dengan kawanan serigala? Apakah kepastian bahwa semua baik-baik saja seperti yang

dikatakan Edward tadi mencakup semuanya itu? Atau ia hanya berusaha

menenangkanku?

Dan Charlie? Apa yang akan kukatakan padanya sekarang? Ia pasti menelepon

ketika aku sedang terbakar. Apa yang mereka katakan padanya? Menurut pemikiran

Charlie, apa yang terjadi padaku?

Saat aku menimbang-nimbang selama sepersekian detik pertanyaan mana yang

akan kulontarkan lebih dulu, Edward mengulurkan tangan ragu-ragu dan membelaibelai

pipiku dengan ujung-ujung jarinya. Lembut seperti satin, sehalus bulu, dan

sekarang suhu tubuhnya sama persis dengan suhu tubuhku.

331

Sentuhannya seakan menyapu di bawah permukaan kulitku, tepat melewati

tulang-tulang wajahku. Rasanya menggelitik, seperti aliran listrik-—melesat melewati

tulang-tulangku, menjalar menuruni tulang punggungku, dan bergetar di perutku.

Tunggu, pikirku saat getaran itu berkembang menjadi kehangatan, kerinduan.

Bukankah seharusnya perasaan seperti ini hilang? Bukankah merelakan perasaan ini

adalah bagian dari tawar-menawar?

Aku vampir baru. Dahaga yang kering kerontang di kerongkonganku

membuktikan hal itu. Dan aku tahu vampir baru itu seperti apa. Perasaan dan gairah

manusiaku akan kembali nanti dalam bentuk lain, tapi aku sudah menerima kenyataan

bahwa aku takkan merasakannya di masa-masa awal menjadi vampir. Hanya dahaga

yang akan kurasakan. Itu syaratnya, itu harganya. Aku sudah setuju membayarnya.

Tapi saat tangan Edward melengkung dan merengkuh wajahku bagaikan baja

berlapis satin, gairah melesat melewati pembuluh darahku yang kering, berdendang dari

kulit kepala sampai ke ujung-ujung jari kaki.

Ia mengangkat sebelah alisnya yang melengkung sempurna, menungguku bicara.

Kuulurkan kedua lenganku dan kurangkul dia.

Lagi-lagi rasanya seolah-olah tak ada gerakan. Sedetik yang lalu aku masih berdiri

tegak dan diam seperti patung; dan pada detik yang sama, ia sudah berada dalam

pelukanku.

Hangat—atau paling tidak, begitulah persepsiku. Aroma harum menggairahkan

yang tak pernah benar-benar bisa kucium dengan pancaindra manusiaku yang tumpul,

tapi itu seratus persen Edward. Kutempelkan wajahku ke dadanya yang halus.

Kemudian ia menggerakkan tubuhnya dengan canggung. Menarik diri dari

pelukanku. Aku mendongak menatap wajahnya, bingung dan takut melihat

penolakannya.

"Eh... hati-hati. Bella. Aduh."

Kutarik tanganku, kulipat di belakang punggungku begitu aku mengerti. Aku

terlalu kuat. "Uuups," ujarku.

Edward menyunggingkan senyum yang bakal membuat jantungku berhenti

seandainya jantungku masih berdetak.

332

"Jangan panik, Sayang," kata Edward, mengangkat tangannya untuk menyentuh

bibirku, yang terbuka ngeri. "Kau hanya sedikit lebih kuat daripada aku sekarang ini."

Alisku bertaut. Sebenarnya aku juga sudah mengetahuinya, tapi rasanya ini lebih

tidak nyata dibandingkan bagian lain dari momen yang sangat tidak nyata ini. Aku lebih

kuat daripada Edward. Aku membuatnya mengaduh.

Tangannya mengelus-elus pipiku lagi, dan aku langsung melupakan kekalutanku

ketika gelombang gairah lagi-lagi melanda tubuhku yang tidak bergerak.

Emosi-emosi ini jauh lebih kuat daripada yang dulu pernah kurasakan, sehingga

sulit bertahan pada satu alur pikiran meskipun dengan ruang tambahan di kepalaku.

Setiap sensasi baru membuatku kewalahan. Aku ingat Edward dulu pernah berkata—

suaranya dalam ingatanku hanya bayang-bayang samar bila dibandingkan kejernihan

suaranya yang sebening kristal dan mengalun merdu seperti yang kudengar sekarang—

bahwa jenisnya, jenis kami, mudah dialihkan perhatiannya. Aku mengerti kenapa.

Aku berusaha keras untuk fokus. Ada sesuatu yang perlu kukatakan. Hal yang

paling penting.

Sangat hati-hati, begitu hati-hati sehingga gerakan itu sebenarnya tidak kentara,

aku mengeluarkan lengan kananku dari balik punggung dan mengangkat tanganku untuk

menyentuh pipinya. Aku menolak membiarkan perhatianku teralihkan oleh warna

tanganku yang seputih mutiara, oleh kulitnya yang sehalus sutra, atau oleh arus listrik

yang berdesing di ujung-ujung jariku.

Aku menatap mata Edward dan mendengar suaraku sendiri untuk pertama

kalinya.

"Aku mencintaimu,'' kataku, tapi kedengarannya seperti menyanyi. Suaraku

bergema seperti lonceng.

Senyum Edward membuatku terpesona lebih daripada waktu aku masih menjadi

manusia; aku benar-benar bisa melihatnya sekarang.

“Seperti aku mencintaimu," kata Edward.

Ia merengkuh wajahku dengan kedua tangan dan mendekatkan wajahnya ke

wajahku—gerakannya cukup lambat hingga mengingatkanku untuk berhati-hati. Ia

menciumku, mulanya lembut seperti bisikan, kemudian sekonyong-konyong lebih kuat,

lebih ganas. Aku berusaha mengingat untuk bersikap hati-hati dengannya, tapi sulit

mengingat apa pun saat terlanda sensasi seperti itu, sulit mempertahankan pikiran

jernih.

333

Rasanya seolah-olah Edward belum pernah menciumku— seakan-akan ini ciuman

pertama kami. Dan, sejujurnya, ia memang tidak pernah menciumku seperti ini

sebelumnya.

Nyaris saja itu membuatku merasa bersalah. Aku yakin telah menyalahi

kesepakatan. Aku tak mungkin boleh merasakan ini juga.

Walaupun tidak membutuhkan oksigen, napasku memburu, berpacu secepat

seperti waktu aku terbakar. Tapi ini jenis api yang berbeda.

Seseorang berdeham-deham. Emmett. Aku langsung mengenali suaranya yang

berat, nadanya menggoda sekaligus jengkel.

Aku lupa kami tidak sendirian. Lalu aku sadar tubuhku yang meliuk dan

menempel ke tubuh Edward sekarang jelas tidak pantas dilihat orang lain.

Malu, aku mundur setengah langkah, lagi-lagi dengan gerakan sangat cepat.

Edward terkekeh dan melangkah bersamaku, lengannya tetap melingkar erat di

pinggangku. Wajahnya berseri-seri—seperti api putih yang membara di balik kulit

berliannya.

Aku menarik napas yang sebenarnya tidak perlu untuk menenangkan diri.

Betapa berbedanya ciuman tadi! Aku memerhatikan ekspresi Edward saat

membandingkan kenangan-kenangan manusiaku yang tidak jelas dengan perasaan yang

jelas dan intens ini. Kelihatannya ia... agak puas dengan diri sendiri,

"Ternyata selama ini kau menahan diri," tuduhku dengan suaraku yang merdu,

mataku sedikit menyipit.

Edward tertawa, berseri-seri lega bahwa semuanya telah berakhir—ketakutan,

kesakitan, ketidakpastian, penantian, semua itu kini sudah berlalu. "Waktu itu, itu

memang perlu," Edward mengingatkanku. "Sekarang giliranmu untuk tidak mencederai

aku"

Keningku berkerut saat mempertimbangkan hal itu, kemudian Edward bukan

satu-satunya yang tertawa.

Carlisle melangkah mengitari Emmett dan dengan cepat menghampiriku;

matanya hanya tampak sedikit waswas, tapi Jasper tetap membuntuti di belakang. Aku

juga tak pernah benar-benar melihat wajah Carlisle sebelumnya. Aku merasakan

dorongan aneh untuk mengerjap—seolah-olah sedang memandang matahari.

334

"Bagaimana perasaanmu, Bella?" tanya Carlisle.

Aku mempertimbangkan pertanyaan itu selama seperempat menit.

"Kewalahan. Banyak sekali..? aku tidak menyelesaikan kata-kataku,

mendengarkan suaraku yang seperti lonceng berdentang itu.

"Ya, memang bisa cukup membingungkan."

Aku mengangguk, cepat dan kaku, "Tapi aku merasa seperti diriku. Semacam

itulah. Aku tidak mengira bisa seperti itu."

Lengan Edward meremas pelan pergelangan tanganku. "Apa kubilang?" bisiknya*

"Kau sangat terkendali," renung Carlisle. "Lebih daripada yang kuharapkan,

walaupun kau memang sudah mempersiapkan diri untuk ini,"

Pikiranku melayang ke suasana hatiku yang berubah-ubah, kesulitanku

berkonsentrasi, dan berbisik, "Aku tak yakin soal itu."

Carlisle mengangguk serius, kemudian matanya yang seperti permata berkilatkilat

tertarik. "Sepertinya pemberian morfin yang kita berikan kali ini benar. Ceritakan

padaku, apa yang kauingat dari proses transformasi itu?"

Aku ragu-ragu, dengan jelas menyadari embusan napas Edward yang menerpa

pipiku, mengirimkan sinyal-sinyal listrik ke seluruh permukaan kulitku.

"Semuanya... sangat samar-samar sebelumnya. Aku ingat bayinya tidak bisa

bernapas.,."

Aku berpaling dan menatap Edward, sejenak takut oleh kenangan itu,

"Renesmee sehat dan baik-baik saja” janji Edward, kilatan yang tak pernah

kulihat sebelumnya tampak di matanya. Ia mengucapkan nama itu dengan semangat

tertahan. Takzim, Seperti orang-orang saleh berbicara tentang Tuhan. "Apa yang

kauingat setelah itu?"

Aku memasang wajah datar. Padahal aku bukan orang yang pandai berbohong.

"Sulit mengingatnya. Gelap sekali sebelumnya. Kemudian... aku membuka mata dan bisa

melihat semuanya''

"Luar biasa," desah Carlisle, matanya berbinar-binar.

335

Perasaan menyesal melanda hatiku, dan aku menunggu panas membakar pipiku

dan membocorkan rahasiaku. Kemudian aku ingat pipiku takkan pernah bisa memerah

lagi. Mungkin itu akan melindungi Edward dari hal sebenarnya.

Meski begitu aku harus mencari cara untuk memberitahu Carlisle, Suatu hari

nanti. Kalau ia perlu menciptakan vampir lagi. Besar kemungkinan itu tidak akan terjadi,

dan itu membuatku sedikit terhibur karena telah berbohong.

"Aku ingin kau berpikir—menceritakan semua yang kauingat," desak Carlisle

penuh semangat, dan aku tak mampu menahan diri untuk tidak meringis. Aku tidak mau

terus-menerus berbohong, karena nanti aku pasti akan terpeleset. Dan aku tidak mau

mengingat-ingat perasaan sakit saat terbakar tadi. Tidak seperti ingatan manusiaku,

bagian itu sangat jelas dan aku mendapati bahwa ternyata aku bisa mengingat dengan

sangat mendetail.

"Oh, maafkan aku, Bella," Carlisle langsung meminta maaf, "Tentu saja kau pasti

sangat kehausan. Pembicaraan ini bisa ditunda."

Sampai ia mengungkitnya, dahaga itu sebenarnya bukan tidak bisa kutahan. Ada

banyak sekali tuang di kepalaku. Bagian otakku yang terpisah terus mengawasi perasaan

terbakar di tenggorokanku, nyaris seperti refleks. Seperti otak lamaku dulu mengatur

pernapasan dan berkedip.

Namun asumsi Carlisle menyeret perasaan terbakar itu ke bagian terdepan

pikiranku. Tiba-tiba satu-satunya hal yang bisa kupikirkan hanyalah tenggorokan yang

kering itu, dan semakin aku memikirkannya, semakin menyakitkan rasanya. Tanganku

terangkat untuk memegangi leher, seolah-olah dengan begitu aku bisa memadamkan

kobaran apinya dari luar. Kulit leherku terasa aneh di bawah jemariku. Begitu halus

hingga entah bagaimana terasa lembut, walaupun sekeras batu juga.

Edward melepaskan pelukannya dan meraih tanganku yang lain, menariknya

lembut. "Ayo kita berburu, Bella."

Mataku membelalak semakin lebar dan perasaan sakit karena kehausan itu

mereda, berganti dengan shock.

Aku? Berburu? Bersama Edward? Tapi... bagaimana? Aku tidak tahu harus

melakukan apa.

Edward membaca ekspresi ngeri di wajahku dan tersenyum menyemangati.

"Cukup mudah. Sayang. Alami. Jangan khawatir, aku akan menunjukkan caranya

padamu." Waktu aku tidak bergerak, ia menyunggingkan senyum miringnya dan

mengangkat alis. "Padahal selama ini kukira kau selalu ingin melihatku berburu."

336

Aku tertawa geli (sebagian diriku mendengarkan dengan takjub suara tawaku

yang bagai lonceng berdentang) saat kata-kata Edward mengingatkanku pada obrolan

kabur kami semasa aku masih menjadi manusia. Kemudian aku mengambil waktu satu

detik penuh untuk memutar kembali kenangan hari-hari pertamaku bersama Edward—

awal hidupku yang sesungguhnya—dalam ingatanku sehingga aku takkan pernah

melupakannya. Aku tidak mengira mengingatnya akan menjadi pengalaman tidak

menyenangkan. Seperti berusaha menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas di

dalam air yang ketuh berlumpur. Aku tahu dari pengalaman Rosalie bahwa bila aku

cukup sering memikirkan kenangan-kenangan manusiaku, aku tidak akan kehilangan

kenangan-kenangan itu. Aku tidak ingin melupakan satu menit pun yang telah

kulewatkan bersama Edward, bahkan sekarang, saat keabadian membentang di

hadapan kami. Aku harus memastikan kenangan-kenangan manusia itu terpatri

selamanya dalam ingatan vampirku yang tajam.

"Kita pergi sekarang?" tanya Edward. Tangannya terangkat, meraih tanganku

yang masih memegangi leher. Jari-jarinya membelai leherku. "Aku tidak mau kau

kesakitan," imbuhnya dengan suara berbisik pelan. Sesuatu yang dulu pasti takkan bisa

kudengar.

"Aku baik-baik saja kok," sergahku, kebiasaan manusiaku yang masih tersisa.

"Tunggu. Pertama."

Ada banyak sekali. Aku belum sempat bertanya apa-apa. Ada banyak hal penting

lain selain rasa sakit ini.

Carlisle-lah yang berbicara sekarang. "Ya?"

"Aku ingin melihatnya. Renesmee,"

Anehnya, sulit mengucapkan namanya. Putriku; kata itu bahkan lebih sulit untuk

dipikirkan. Semuanya terasa sangat jauh. Aku berusaha mengingat bagaimana

perasaanku tiga hari lalu dan otomatis aku menarik tanganku dari genggaman Edward

dan memegang perutku.

Datar, Kosong. Kucengkeram sutra pucat yang menutupi kulitku, sekali lagi panik,

sementara sebagian kecil otakku memberitahu pasti Alice-lah yang memakaikan baju

untukku.

Aku tahu tidak ada apa-apa lagi di dalam perutku, dan samar-samar ingat adegan

persalinan berdarah-darah itu, tapi bukti fisiknya masih sulit dicerna. Yang kutahu

hanyalah bahwa aku mencintai bayi yang menendang-nendang dari dalam perutku. Di

337

luarku ia seperti sesuatu yang pasti hanya merupakan imajinasiku. Mimpi yang

memudar—mimpi yang setengahnya berupa mimpi buruk.

Sementara aku bergumul dengan kebingunganku, kulihat Edward dan Carlisle

saling melirik dengan sikap hati-hati.

"Apa?" tuntutku.

"Bella," kata Edward, nadanya menenangkan. "Itu bukan ide yang bagus. Dia

setengah manusia, Sayang. Jantungnya berdetak, dan darah mengalir dalam pembuluh

darahnya. Sampai dahagamu positif bisa dikendalikan... Kau tidak ingin

membahayakannya, bukan?"

Keningku berkerut. Tentu saja aku tidak menginginkan itu.

Apakah aku tidak terkendali? Bingung, ya. Perhatianku mudah terpecah, ya. Tapi

berbahaya? Bagi dia? Anakku sendiri?

Aku tidak bisa memastikan jawabannya adalah tidak. Kalau begitu aku harus

bersabar. Kedengarannya sulit. Karena sampai aku melihatnya lagi, dia tetap tidak nyata.

Hanya mimpi yang semakin memudar... orang asing...

"Di mana dia?" Kubuka telinga lebar-lebar, kemudian aku bisa mendengar suara

detak jantung di ruangan di bawahku. Aku bisa mendengar lebih dari satu orang

bernapas—pelan, seperti sedang mendengarkan. Selain itu juga ada suara berdenyut,

ketukan, yang tidak bisa kutebak apa...

Dan suara detak jantung yang begitu menggiurkan dan menggairahkan, hingga air

liurku mulai menitik.

Kalau begitu aku benar-benar harus belajar berburu sebelum melihatnya. Bayiku

yang asing.

"Dia bersama Rosalie?"

"Ya," jawab Edward ketus, dan kentara sekali ada sesuatu dalam pikirannya yang

membuatnya kesal. Kusangka ia dan Rose sudah membereskan masalah mereka.

Apakah perselisihan mereka meledak lagi? Belum lagi aku sempat bertanya, Edward

sudah menarik tanganku dari perutku yang kempis, menariknya pelan,

"Tunggu," protesku lagi, berusaha fokus. "Bagaimana dengan Jacob? Dan Charlie?

Ceritakan padaku semua yang terlewat olehku. Berapa lama aku... tidak sadar?"

338

Edward sepertinya tidak menyadari keraguanku saat mengucapkan kalimat

terakhir. Lagi-lagi ia malah melirik Carlisle dengan sikap waswas.

"Ada apa?" bisikku.

"Tidak ada apa-apa" jawab Carlisle, memberi penekanan pada kalimat terakhir itu

dengan sikap aneh. "Sebenarnya tak banyak yang berubah—kau hanya tidak sadar

selama dua hari. Prosesnya sangat cepat, sebagaimana lazimnya. Edward pandai sekali.

Sangat inovatif—menyuntikkan racun langsung ke jantungmu adalah idenya." Ia terdiam

sejenak untuk tersenyum bangga pada putranya, lalu menarik napas. "Jacob masih di

sini, dan Charlie masih mengira kau sakit. Dia menyangka kau sedang di Atlanta

sekarang, menjalani serangkaian tes di Center of Disease Control. Kami memberinya

nomor yang tidak bisa dihubungi, dan dia frustrasi. Selama ini dia berhubungan dengan

Esme."

"Apakah sebaiknya kutelepon dia..." Aku bergumam sendiri, tapi saat

mendengarkan suaraku sendiri, aku memahami kesulitan-kesulitan baru. Charlie tidak

akan mengenali suara ini. Itu takkan bisa meyakinkan dia. Kemudian perkataan Carlisle

sebelumnya menyentakku. "Tunggu sebentar—Jacob masih di sini?"

Lagi-lagi mereka saling melirik.

"Bella," Edward buru-buru berkata. "Banyak sekali yang perlu didiskusikan, tapi

kita harus membereskan masalahmu dulu. Kau pasti kesakitan..."

Saat Edward menyinggung masalah itu, aku teringat perasaan panas membakar

di kerongkonganku, dan menelan ludah dengan susah payah. "Tapi Jacob..."

"Kita masih punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Sayang," Edward

mengingatkan dengan lembut.

Tentu saja. Aku bisa menunda mendengar jawabannya sedikit lebih lama lagi;

lebih mudah mendengarkan bila kesakitan katena dahaga yang luar biasa ini tak lagi

mengganggu konsentrasiku. "Oke."

"Tunggu, tunggu, tunggu," suara Alice melengking dari ambang pintu. Ia menarinari

memasuki ruangan, gerakannya sangat anggun. Seperti tadi waktu melihat Edward

dan Carlisle, aku juga merasakan perasaan shock yang sama ketika benar-benar

memandang wajahnya untuk pertama kali. Cantik sekali, "Kau sudah berjanji aku akan

ikut menyaksikan ketika itu pertama kali terjadi! Bagaimana kalau kalian nanti berlari

melewati sesuatu yang bisa memantulkan bayangan?"

“Alice..." protes Edward.

339

"Sebentar saja kok!" Dan setelah berkata begitu, Alice melesat keluar ruangan.

Edward mendesah. "Omong apa sih dia?"

Tapi Alice sudah kembali, memboyong cermin besar berbingkai emas dari kamar

Rosalie, yang ukurannya nyaris dua kali tinggi badannya, dan beberapa kali lebih lebar,

Jasper sejak tadi berdiri diam tak bersuara sehingga aku tidak memerhatikannya

sejak ia berjalan masuk mengikuti Carlisle. Sekarang ia bergerak lagi, mengawal ketat

Alice, matanya terpaku pada ekspresiku. Karena akulah yang berbahaya di sini.

Aku tahu ia akan merasakan suasana hati di sekitarku juga, dan ia pasti

merasakan kekagetanku waktu aku mengamati wajahnya, melihatnya dengan saksama

untuk pertama kali.

Dari kacamata manusiaku yang tidak jelas, bekas-bekas luka dari kehidupan

Jasper sebelumnya bersama pasukan vampir baru di Selatan kebanyakan tidak terlihat.

Hanya bila berada di bawah cahaya terang benderang yang memantulkan sinar di atas

bekas lukanya yang sedikit menonjol, baru aku bisa menyadari kehadiran luka-luka itu.

Sekarang setelah aku bisa melihat, bekas-bekas luka itu menjadi fitur paling

dominan dalam diri Jasper. Sulit mengalihkan mataku dari leher dan dagunya yang

carut-marut—sulit dipercaya bahwa bahkan vampir bisa selamat dari begitu banyak

bekas gigitan yang mengoyak lehernya.

Instingtif, aku mengejang sebagai upaya pertahanan diri. Vampir mana pun yang

melihat Jasper pasti bereaksi sama. Bekas-bekas luka itu bagaikan billboard yang

menyala terang. Berbahaya, jerit mereka. Berapa banyak vampir yang pernah mencoba

membunuh Jasper? Ratusan? Ribuan? Jumlah yang. sama mati dalam upaya

membunuhnya.

Jasper melihat dan merasakan penilaianku, perasaan waswasku, dan tersenyum

kecut.

"Edward memarahiku karena tidak mengizinkanmu becermin sebelum menikah"

kata Alice, mengalihkan perhatianku dari kekasihnya yang menakutkan itu. "Aku tidak

mau dikunyah-kunyah lagi seperti itu."

"Dikunyah-kunyah?" tanya Edward skeptis, sebelah alisnya terangkat.

"Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan," gumam Alice sambil membalikkan

cermin menghadapku.

"Dan mungkin ini ada hubungannya dengan kepuasan mengintipmu," balas

Edward,

340

Alice mengedipkan mata padanya.

Aku tidak begitu memedulikan pembicaraan mereka. Sebagian besar

konsentrasiku terpaku pada orang di dalam cermin itu.

Reaksi pertamaku adalah merasa senang. Makhluk asing dalam cermin itu luar

biasa cantik, sama cantiknya dengan Alice atau Esme, Ia luwes bahkan saat berdiam diri,

dan wajahnya yang mulus pucat seperti bulan di dalam bingkai rambutnya yang gelap

dan tebal. Kaki serta tangannya halus dan kuat, kulitnya berkilauan lembut, cemerlang

bagaikan mutiara.

Reaksi keduaku adalah ngeri.

Siapa wanita itu? Saat pertama melihatnya, aku tidak bisa menemukan wajahku

dalam sosoknya yang serbahalus dan sempurna itu.

Dan matanya! Walaupun aku sudah tahu itu akan terjadi, mata wanita itu tetap

membuatku bergidik ngeri.

Sementara aku mengamati dan bereaksi, wajah wanita itu tetap tenang, seperti

patung dewi, sama sekali tidak menunjukkan gejolak hati dalam diriku. Kemudian

bibirnya yang penuh itu bergerak.

"Matanya?" bisikku, tidak tega mengatakan mataku. "Berapa lama?"

"Nanti akan menggelap sendiri setelah beberapa bulan," jawab Edward dengan

nada lembut dan menghibur. "Darah binatang lebih cepat melunturkan warnanya

daripada darah manusia. Matamu nanti akan berubah menjadi cokelat kekuningan,

kemudian kuning emas."

Mataku akan menyala-nyala seperti lidah api merah seperti ini selama berbulanbulan?

"Beberapa bulan?" Suaraku melengking sekarang, srres. Di cermin alisku yang

sempurna terangkat dengan sikap tak percaya di atas mata merahnya yang menyalanyala—

lebih terang daripada apa pun yang pernah kulihat sebelumnya.

Jasper maju satu langkah, terusik kekalutanku yang tiba-tiba memuncak. Ia tahu

sekali bagaimana para vampir baru itu; apakah emosi ini menandai langkah salah di

pihakku?

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Aku memalingkan wajah, memandang

Edward dan Alice. Mata mereka masih sedikit tidak fokus—bereaksi terhadap keresahan

341

Jasper, Mendengarkan penyebabnya, bersiap menanti apa yang akan terjadi

selanjutnya.

Lagi-lagi aku menarik napas dalam-dalam yang sebenarnya tidak perlu.

"Tidak, aku tidak apa-apa," aku meyakinkan mereka. Mataku berkelebat ke orang

asing di dalam cermin dan kembali kepada mereka. "Hanya... masih belum terbiasa."

Alis Jasper berkerut, semakin menonjolkan dua bekas luka di atas mata kirinya.

"Entahlah," gumam Edward,

Wanita dalam cermin itu mengerutkan kening, "Pertanyaan apa yang terlewatkan

olehku?"

Edward menyeringai* "Jasper penasaran bagaimana kau melakukannya."

"Melakukan apa?"

"Mengontrol emosimu, Bella," jawab Jasper. "Aku belum pernah melihat ada

vampir baru yang bisa melakukannya— menghentikan emosi seperti itu. Kau tadi kalut,

tapi waktu melihat kecemasan kami, kau mengendalikannya, menguasai dirimu kembali.

Sebenarnya aku tadi sudah siap membantu, tapi kau tidak membutuhkannya."

"Apakah itu salah?" tanyaku. Tubuhku membeku waktu menunggu vonisnya.

"Tidak," jawab Jasper, tapi suaranya bernada tidak yakin.

Edward mengusap-usap lenganku, seperti membujukku untuk mencair. "Sangat

mengesankan. Bella, tapi kami tidak memahaminya. Kami tidak tahu sampai kapan itu

bisa bertahan."

Aku mempertimbangkan perkataannya itu sejenak. Jadi kapan saja aku bisa

meledak? Berubah menjadi monster?

Aku tidak bisa merasakan hal itu terjadi... Mungkin itu memang tidak bisa

diantisipasi.

"Tapi bagaimana pendapatmu" tanya Alice, agak tidak sabar sekarang, menuding

ke arah cermin.

"Entahlah," elakku, tak ingin mengakui betapa takut aku sesungguhnya.

Kupandangi wanita cantik bermata mengerikan itu, mencari sisa-sisa diriku yang

lama. Ada sesuatu dalam bentuk bibirnya—kalau kau bisa melihatnya di balik

kecantikannya yang mencengangkan itu, kentara bibir atasnya sedikit tidak seimbang,

342

terlalu penuh untuk serasi dengan bibir bawahnya. Menemukan kekurangan kecil yang

familier ini membuatku merasa sedikit lebih nyaman. Mungkin sebagian diriku yang lain

juga ada di sana.

Sekadar coba-coba aku mengangkat tangan, dan wanita dalam cermin mengikuti

gerakanku, menyentuh wajahnya juga. Mata merahnya menatapku waswas.

Edward mendesah.

Aku berpaling dari wanita itu dan menatap Edward, mengangkat sebelah alisku.

"Kecewa?" tanyaku, suaraku yang berdentang terdengar tanpa emosi.

Edward tertawa, "Ya," ia mengakui.

Aku merasa keterkejutan terpancar dari topengku yang tenang, langsung diikuti

perasaan terluka.

Alice menggeram. Jasper mencondongkan tubuhnya lagi, menungguku meledak.

Tapi Edward mengabaikan mereka dan melingkarkan kedua lengannya erat-erat

ke tubuhku yang baru saja membeku, menempelkan bibirnya ke pipiku. "Sebenarnya

aku berharap akan bisa mendengar pikiranmu setelah sekarang kau sama denganku,"

bisiknya. "Tapi ternyata aku tetap sefrustrasi dulu, penasaran tentang apa yang

sebenarnya berkecamuk dalam benakmu."

Aku langsung merasa lega.

"Oh well" ujarku enteng, lega karena ia tetap tidak bisa membaca pikiranku.

"Kurasa otakku takkan pernah bekerja dengan benar. Paling tidak aku cantik."

Semakin mudah bergurau dengannya setelah aku bisa menyesuaikan diri, berpikir

jernih. Menjadi diriku sendiri.

Edward menggeram di telingaku. "Bella, kau tidak pernah hanya sekadar cantik,"

Lalu ia menjauhkan wajahnya dari wajahku, dan mendesah. "Ya deh, ya deh,"

tukas Edward pada seseorang. "Apa?" tanyaku.

"Kau membuat Jasper semakin gelisah. Dia baru bisa rileks kalau kau sudah

berburu."

Kutatap ekspresi khawatir Jasper dan mengangguk. Aku tidak mau meledak di

sini, kalau itu memang akan terjadi. Lebih baik berada di tengah hutan daripada di

tengah keluarga.

343

"Oke. Ayo kita berburu," aku setuju, campuran perasaan tegang sekaligus

bersemangat membuat perutku bergetar. Kulepaskan pelukan Edward, dan sambil

memegang sebelah tangannya, berbalik memunggungi wanita rupawan dan aneh dalam

cermin itu.

344

21. PERBURUAN PERTAMA

"LEWAT jendela?" tanyaku, menunduk memandangi dua lantai di bawah.

Aku tak pernah benar-benar takut ketinggian, tapi karena bisa melihat semua

detail dengan sangat jelas, rasanya jadi agak menakutkan. Sisi-sisi batu di bawah lebih

tajam daripada yang selama ini kubayangkan.

Edward tersenyum. "Ini jalan keluar paling nyaman. Kalau takut, aku bisa

menggendongmu."

"Kita punya keabadian, tapi kau malah mengkhawatirkan berapa lama waktu

yang dibutuhkan untuk keluar lewat pintu belakang?"

Kening Edward berkerut sedikit. "Renesmee dan Jacob ada di bawah...”

“Oh."

Benar. Aku monster sekarang. Aku harus menjauh dari bau-bauan yang mungkin

akan memicu sisi liarku. Terutama dari orang-orang yang kucintai. Bahkan mereka yang

belum terlalu kukenal.

"Apakah Renesmee... baik-baik saja... bersama Jacob di sana?" bisikku. Aku

terlambar menyadari bahwa pasti tadi jantung Jacob-lah yang kudengar di bawah. Aku

membuka telinga lebar-lebar, tapi hanya bisa mendengar satu detak jantung teratur.

"Jacob tidak terlalu suka pada Renesmee."

Bibir Edward menegang aneh. "Percayalah, Renesmee sangar aman. Aku tahu

persis apa yang dipikirkan Jacob."

"Tentu saja," gumamku, kembali memandang tanah.

"Mengulur-ulur waktu nih?" tantang Edward.

"Sedikit. Aku tak tahu bagaimana..."

Dan aku malu sekali diperhatikan keluarga di belakangku, yang menonton sambil

terdiam. Sebagian besar diam. Emmett sempat terkekeh pelan. Sekali saja aku berbuat

kesalahan, ia pasti bakal tertawa berguling-guling di lantai. lalu lelucon tentang satusatunya

vampir kikuk di dunia bakal menyebar...

Dan gaun ini—yang pasti dipakaikan Alice saat aku sangat kesakitan karena

terbakar hingga tidak menyadarinya—bukan baju yang akan kupilih untuk melompat

345

dari jendela atau pergi berburu. Gaun sutra warna biru es ketat? Memangnya dikiranya

aku mau ke mana? Apakah nanti akan ada pesta koktail?

"Perhatikan aku," kata Edward. Kemudian dengan sikap sangat biasa ia

melangkah keluar dari jendela tinggi yang terbuka.

Kupandangi ia dengan saksama, menganalisis bagaimana ia menekuk lutut untuk

meredam benturan. Suara mendaratnya sangat pelan—berdebam pelan seperti suara

pintu ditutup perlahan, atau buku diletakkan hati-hati di meja.

Kelihatannya tidak sulit.

Mengatupkan gigi kuat-kuat sambil berkonsentrasi, aku berusaha meniru langkah

Edward yang sangat biasa saat melompat ke udara.

Hah! Tanah seolah bergerak menyongsongku sehingga tak sulit sama sekali

menjejakkan kaki—sepatu apa yang dipakaikan Alice ke kakiku? Stileto? Alice pasti

sudah sinting—dan mendaratkan sepatu konyolku ini dengan tepat sehingga

pendaratanku tak ada bedanya dengan melangkah di permukaan yang datar.

Aku menumpukan berat tubuhku ke tumit, tak ingin tali sepatuku yang tipis

putus. Pendaratanku sama mudahnya dengan Edward tadi. Aku menyeringai padanya.

"Benar. Gampang"

Edward membalas senyumku. "Bella?"

"Ya?"

"Anggun sekali lompatanmu tadi—bahkan untuk ukuran vampir."

Aku mempertimbangkan perkataannya sesaat, kemudian senyumku merekah.

Kalau Edward asal saja mengucapkan itu, Emmett pasti sudah tertawa. Tapi tak ada yang

menganggap komentarnya lucu, jadi perkataan Edward tadi pasti benar. Ini pertama kali

seseorang mengatakan aku anggun seumur hidupku... atau, well, sepanjang eksistensiku

setidaknya.

"Terima kasih" kataku.

Kemudian aku melepas sepatu satin perakku satu per satu, lalu melemparnya

lewat jendela yang terbuka. Agak terlalu keras mungkin, tapi aku mendengar seseorang

menangkapnya sebelum sepatu itu merusak panel dinding.

Alice menggerutu, "Selera fashion-nya ternyata tidak membaik seperti

keseimbangannya."

346

Edward menggandeng tanganku—aku tak henti-hentinya mengagumi kulitnya

yang mulus dan suhu tubuhnya yang kini terasa nyaman—dan melesat melintasi

halaman belakang menuju tepi sungai. Aku bisa mengimbanginya tanpa kesulitan sama

sekali.

Semua yang berkaitan dengan masalah fisik sepertinya sangat sederhana.

"Apakah kita akan berenang?" tanyaku pada Edward ketika kami berhenti di tepi

sungai.

"Dan merusak gaunmu yang cantik? Tidak. Kita melompat saja."

Aku mengerucutkan bibir, menimbang-nimbang. Sungai itu kira-kira 45 meter

lebarnya. "Kau dulu," kataku.

Edward menyentuh pipiku, dengan cepat mundur dua langkah kemudian berlari,

melompat dengan bertumpu pada batu ceper yang terbenam kuat di tepi sungai.

Kuamati gerakannya yang secepat kilat saat ia melengkung melompati sungai, kemudian

jungkir balik sebelum lenyap di balik pohon-pohon rindang di seberang sungai.

"Dasar tukang pamer," gumamku, dan mendengar tawa Edward yang tidak

terlihat.

Aku mundur lima langkah, untuk berjaga-jaga, lalu menarik napas dalam-dalam.

Tiba-tiba aku kembali waswas. Bukan karena takut jatuh atau terluka—aku lebih

mencemaskan nasib pohon-pohon di hutan sana.

Meski datangnya perlahan, tapi aku bisa merasakannya sekarang—kekuatan luar

biasa merayapi kakiku. Tiba-tiba aku yakin bila ingin menerobos di bawah sungai,

memorak-porandakan bebatuan agar bisa lewat, itu takkan terlalu sulit. Benda-benda di

sekelilingku—pohon-pohon, semak-semak... rumah—semua mulai terlihat sangat rapuh.

Berharap semoga tak ada pohon di seberang sungai yang menjadi kesayangan

Esme, aku mulai berlari. Kemudian berhenti waktu gaun satin ketatku robek sepanjang

lima belas sentimeter di bagian paha. Alice!

Well, karena Alice selama ini memang selalu menganggap pakaian sebagai benda

sekali pakai dan mudah digantikan, ia pasti takkan mempermasalahkan hal ini. Hati-hati

aku membungkuk dan mencengkeram ujung gaun sebelah kanan yang belum robek,

lalu, dengan mengerahkan sedikit tenaga saja, merobek gaun itu hingga pangkal paha.

Berikutnya, aku menyesuaikan robekan di sebelah kiri.

347

Begini lebih nyaman.

Aku bisa mendengar suara tawa teredam di rumah, bahkan suara seseorang

mengertakkan gigi. Suara tawa itu berasal dari lantai atas dan bawah, dan dengan

mudah aku bisa mengenali suara tawa kasar dan serak yang sangat berbeda dari lantai

satu.

Jadi Jacob juga ikut menonton? Tak terbayang apa yang dipikirkannya sekarang,

atau mengapa ia masih di sini, Sebelumnya aku membayangkan reuni kami—kalau ia

bisa memaafkan aku—masih akan lama terjadi, kalau aku sudah lebih stabil, dan waktu

telah menyembuhkan luka-luka yang diakibatkan olehku.

Aku tidak menoleh untuk memandangnya sekarang, mengkhawatirkan suasana

hatiku yang cepat berubah. Tak baik membiarkan emosiku terlalu menguasai pikiran.

Ketakutan Jasper juga membuatku waswas. Aku harus berburu dulu sebelum berurusan

dengan hal-hal lain. Aku berusaha melupakan semua hal lain agar bisa berkonsentrasi.

"Bella?" Edward berseru memanggilku dari hutan, suaranya semakin dekat. "Kau

mau melihat lagi?"

Tapi aku bisa mengingat semuanya secara sempurna, tentu saja, dan aku tak

ingin memberi Emmett alasan untuk semakin kesenangan melihatku belajar. Ini masalah

fisik—seharusnya ini instingtif Maka aku pun menghela napas dalam-dalam dan lari ke

arah sungai.

Tak terganggu rokku, hanya dibutuhkan satu lompatan lebar untuk mencapai tepi

sungai. Hanya dua puluh detik, namun rentang waktu itu sudah cukup lama bagiku—

mata dan pikiranku bergerak sangat cepat hingga satu langkah saja sudah cukup. Mudah

saja memosisikan kaki kananku sedemikian rupa di atas batu ceper dan mengerahkan

tekanan yang cukup untuk membuat tubuhku melayang di udara. Perhatianku lebih

tertuju pada mengarahkan daripada kekuatan, jadi aku keliru menerapkan kekuatan

yang dibutuhkan—tapi paling tidak kesalahanku itu tidak membuatku basah kuyup.

Lebar 45 meter ternyata jarak yang agak terlalu enteng...

Rasanya aneh dan menggetarkan, tapi sangat singkat. Satu detik belum lagi

berlalu, tapi aku sudah berada di seberang sungai.

Mulanya aku mengira pepohonan yang tumbuh rapat akan jadi masalah, tapi

ternyata keberadaan mereka cukup membantu. Mudah saja mengulurkan satu tangan

saat aku terjatuh lagi ke bumi di tengah hutan dan meraih cabang terdekat; aku berayun

ringan di dahan itu dan mendarat di atas kaki, masih empat setengah meter dari ranah,

di atas dahan lebar cemara Sitka.

348

Mengasyikkan sekali.

Di sela-sela derai tawa senang, aku bisa mendengar Edward menghampiriku.

Lompatanku dua kali lebih panjang daripada lompatannya. Waktu ia sampai ke

pohonku, matanya membelalak lebar. Aku meloncat turun dari dahan pohon dan berdiri

di sampingnya, tanpa suara mendarat lagi dengan bertumpu pada tumit.

"Tadi bagus tidak?" tanyaku, desah napasku semakin memburu penuh semangat.

"Bagus sekali." Edward tersenyum setuju, tapi nadanya yang biasa-biasa saja

tidak cocok dengan ekspresi terkejut di matanya.

"Bisakah kita melakukannya lagi?"

"Fokus, Bella—kira sedang berburu."

"Oh, benar." Aku mengangguk. "Berburu."

"Ikuti aku... kalau bisa." Edward nyengir, ekspresinya tiba-tiba menggoda, laki

mendadak ia berlari.

Ia lebih cepat daripadaku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa

menggerakkan kakinya secepat itu, tapi itu semua di luar perkiraanku. Bagaimanapun

juga, aku lebih kuat, dan setiap langkahku setara dengan tiga langkahnya. Maka aku pun

terbang bersamanya menerobos jaring hijau hidup, di sisinya, sedikit pun tidak

mengikutinya. Sambil berlari aku tak kuasa menahan tawa kegirangan merasakan

keasyikannya; tawa itu tidak memperlambat lariku ataupun merusak konsentrasiku.

Akhirnya aku mengerti mengapa Edward tak pernah menabrak pepohonan saat

berlari—pertanyaan yang selalu menjadi misteri bagiku. Sensasinya sungguh

menggetarkan, keseimbangan antara kecepatan dan kejernihan. Karena sementara aku

meroket di atas, di bawah, dan menerobos kerindangan hijau dengan kecepatan yang

seharusnya membuat segala sesuatu di sekelilingku jadi hijau kabur, aku tetap bisa

dengan jelas melihat setiap helai daun kecil di ranting-ranting setiap semak yang

kulewati.

Embusan angin yang ditimbulkan lariku membuat rambut dan gaunku yang robek

berkibar, dan, walaupun aku tahu tak seharusnya begitu, tapi rasanya hangat menerpa

kulit. Sama seperti tanah hutan yang kasar seharusnya tidak terasa seperti beledu di

bawah kakiku yang telanjang, dan ranting-ranting yang menyabet kulitku seharusnya

tidak terasa seperti belaian bulu-bulu.

Suasana hutan jauh lebih hidup daripada yang selama ini kuketahui—makhlukmakhluk

kecil yang keberadaannya tak pernah kuduga memenuhi dedaunan di

349

sekelilingku. Makhluk-makhluk itu terdiam setelah kami lewat, napas mereka memburu

ketakutan. Hewan-hewan itu bereaksi secara lebih bijaksana terhadap bau kami

daripada manusia. Jelas, itu menimbulkan efek berbeda terhadapku dulu.

Aku terus-menerus menunggu untuk merasa lelah, tapi napasku sama sekali tidak

kepayahan. Aku menunggu munculnya rasa ngilu di otot-otot kakiku, tapi kekuatanku

sepertinya malah bertambah setelah mulai terbiasa dengan kecepatan lariku.

Lompatanku semakin panjang, dan tak lama kemudian Edward berusaha

mengimbangiku. Aku tertawa, girang, waktu kudengar ia kalah cepat di belakangku.

Kakiku yang telanjang menyentuh tanah secara tidak beraturan sehingga aku merasa

lebih seperti terbang daripada lari.

"Bella," seru Edward garing, suaranya datar, malas. Aku tidak bisa mendengar

yang lain ia sudah berhenti.

Aku sempat menimbang-nimbang untuk memberontak.

Tapi sambil mengembuskan napas aku berputar dan melesat ringan ke

sampingnya, beberapa meter di belakang. Kutatap ia dengan pandangan menunggu. Ia

tersenyum, sebelah alis terangkat, la sangat tampan sampai-sampai aku hanya bisa

menatapnya.

"Kau mau tetap di hutan?" tanyanya, geli. "Atau kau berencana melanjutkan

perjalanan sampai ke Kanada sore ini?"

"Ini saja bagus," aku menyetujui, tidak begitu memerhatikan perkataannya, tapi

lebih pada cara bibirnya bergerak saat ia bicara. Sulit benar berkonsentrasi pada satu hal

jika ada banyak hal baru yang terasa segar di mata baruku yang tajam. "Kita akan

berburu apa?"

"Rusa besar. Yang mudah-mudah saja untuk awalnya..." Suaranya menghilang

waktu mataku menyipit mendengar kata mudah.

Tapi aku tidak mau membantah; aku terlalu haus. Begitu mulai memikirkan

kerongkonganku yang panas membara, hanya itu yang bisa kupikirkan. Jelas-jelas

semakin parah. Mulutku seperti gurun pasir yang kering kerontang.

"Di mana?" tanyaku, menyapukan pandangan tak sabar ke pepohonan. Sekarang

setelah aku memerhatikan dahagaku, rasanya itu mencemari setiap pikiran lain dalam

benakku, menodai pikiran-pikiran menyenangkan lain seperti berlari, bibir Edward dan

berciuman dengannya dan... dahaga yang kering kerontang. Aku tidak bisa melepaskan

diri darinya.

350

"Diamlah sebentar" pinta Edward, meletakkan tangan di bahuku. Dahagaku yang

mendesak mereda sesaat begitu disentuh olehnya.

"Sekarang pejamkan maramu," bisiknya. Waktu aku menurut, ia mengangkat

kedua tangannya ke wajahku, membelai-belai tulang pipiku. Aku merasakan napasku

memburu dan menunggu pipiku memerah meski itu takkan terjadi.

"Dengar," perintah Edward. 'Apa yang kaudengar?"

Semuanya, aku bisa saja menjawab begitu; suaranya yang sempurna, desah

napasnya, bibirnya yang saling bergesekan saat berbicara, bisikan burung-burung yang

membersihkan bulu mereka di pucuk-pucuk pohon, detak jantung mereka yang

menggelepar, daun-daun maple yang bergesekan, suara semut-semur berbaris menaiki

batang pohon terdekat. Tapi aku tahu yang ia maksud adalah sesuatu yang spesifik,

maka kubiarkan telingaku menjelajah ke luar, mencari sesuatu selain dengung

kehidupan pelan yang mengelilingiku. Ada ruang terbuka di dekat kami—angin

terdengar berbeda di rerumputan yang terbuka—dan sungai kecil, dengan dasar

berbatu-batu. Dan di sana, dekat suara air, terdengar bunyi kecipak yang ditimbulkan

jilatan lidah, suara detak jantung yang nyaring, memompa aliran darah kental...

Rasanya sisi-sisi tenggorokanku terisap menutup.

"Dekat sungai, di sebelah timur laut?"

"Ya." Nadanya menyetujui. "Sekarang... tunggu sampai angin bertiup lagi dan...

bau apa yang kaucium?"

Kebanyakan yang kucium adalah bau tubuh Edward—wangi tubuhnya yang aneh,

campuran bau madu, lilac, dan matahari. Tapi juga bau tajam dedaunan busuk dan

lumut, bau damar di pepohonan yang daunnya selalu hijau, bau tikus-tikus tanah kecil

yang bersembunyi di bawah akar-akar pohon, baunya hangat dan agak mirip kacang.

Kemudian, setelah semakin mempertajam pendengaran, bau air bersih, yang herannya

tidak menggiurkan sama sekali, padahal saat ini aku sedang kehausan. Perhatianku

terfokus pada air dan menemukan bau yang pasti berhubungan dengan bunyi kecipak

dan detak jantung tadi. Dan bau lain yang hangat, kuat, dan tajam, lebih tajam daripada

yang lain-lain. Tapi tetap sama tidak menggiurkannya dengan bau sungai tadi. Aku

mengernyitkan hidung.

Edward terkekeh. "Aku tahu—nanti lama-lama kau akan terbiasa."

"Tiga?" tebakku.

“'Lima. Ada dua lagi di pepohonan di belakang mereka.”

351

“Aku harus bagaimana sekarang?"

Suara Edward kedengarannya seperti tersenyum. "Rasa-rasanya kau ingin

melakukan apa?"

Aku memikirkan pertanyaan itu, mataku masih terpejam sementara aku

mendengarkan dan menghirup bau itu. Dahaga yang menyengat lagi-lagi mengusik

kesadaranku, dan tiba-tiba bau hangat menyengat itu tak lagi terlalu memualkan.

Setidaknya itu akan jadi sesuatu yang panas dan basah di mulutku yang kering

kerontang. Mataku membuka tiba-tiba.

"Jangan dipikirkan," Edward menyarankan saat ia mengangkat kedua tangannya

dari wajahku dan mundur selangkah. "Ikuti saja instingmu."

Kubiarkan diriku terhanyut oleh bau itu, nyaris tak menyadari gerakanku saat aku

melayang menyusuri turunan menuju padang rumput sempit tempat sungai itu

mengalir. Tubuhku otomatis membungkuk ke depan saat aku ragu ragu di samping

pepohonan yang dipagari pakis-pakisan. Bisa kulihat seekor rusa besar, dua lusin tanduk

memahkotai kepalanya, di tepi sungai, dan bayang-bayang empat rusa lain yang berjalan

ke timur, memasuki hutan dengan langkah-langkah tenang.

Aku memusatkan diriku pada bau rusa jantan itu, titik panas di lehernya yang

berjumbai-jumbai, tempat kehangatan berdenyut paling kuat. Hanya 27 meter—dua

atau tiga langkah lebar—jarak yang memisahkan kami. Aku mengejang sebelum

melakukan lompatan pertama

Tapi saat otot-ototku mengejang untuk bersiap-siap, angin berubah arah, bertiup

lebih kencang sekarang, dari arah selatan. Aku tidak berhenti untuk berpikir,

menghambur keluar dari pepohonan, melesat ke arah yang berlawanan dengan rencana

awalku, mengagetkan rusa itu dan membuatnya kabut ke hutan, mengejar bau baru

yang sangat menggiurkan hingga tak ada pilihan lain. Itu kewajiban.

Bau itu menguasaiku sepenuhnya. Pikiranku hanya tertuju pada bau itu saat aku

melacaknya, hanya menyadari dahaga serta bau yang menjanjikan kepuasan. Dahagaku

semakin menjadi-jadi, begitu menyakitkan sekarang hingga membingungkan pikiranpikiranku

yang lain dan mulai mengingatkanku pada panasnya racun yang membakar

dalam pembuluh darahku.

Hanya satu yang masih berpeluang menembus fokusku sekarang, insting yang

lebih kuat, lebih mendasar daripada kebutuhan untuk memadamkan api—yaitu insting

untuk melindungi diriku dari bahaya. Insting menyelamatkan diri sendiri.

352

Mendadak perhatianku waspada oleh fakta bahwa aku sedang diikuti. Tarikan

bau menggiurkan itu berperang dengan dorongan untuk berbalik dan mempertahankan

buruanku. Gelembung-gelembung suara membuncah di dadaku, sudut-sudut bibirku

tertarik ke belakang dengan sendirinya, memamerkan gigiku sebagai peringatan.

Langkahku melambat, dan kebutuhan untuk melindungi diri berperang melawan gairah

untuk memuaskan dahagaku.

Kemudian aku bisa mendengar pemburuku semakin dekat, dan insting membela

dirilah yang menang. Saat aku berbalik, suara membuncah tadi melesat melewati

tenggorokanku dan keluar.

Geraman buas, yang keluar dari mulutku sendiri, sangat tak terduga-duga hingga

langkahku terhenti. Itu membuat ketenanganku terguncang, dan menjernihkan

pikiranku sejenak—kabut yang dikendalikan dahaga itu menipis, walaupun rasa haus itu

terus membakar.

Angin berubah arah, meniupkan bau tanah basah dan hujan yang turun ke

wajahku, semakin membebaskanku dari cengkeraman bau yang lain itu—bau yang

sangat menggiurkan hingga bisa dipastikan itu bau manusia.

Edward ragu-ragu beberapa meter dariku, kedua lengannya terangkat seperti

hendak memelukku—atau menahanku. Wajahnya sungguh-sungguh dan hati-hati

sementara aku membeku, ngeri.

Sadarlah aku bahwa aku tadi nyaris menyerangnya. Tersentak keras, aku

meluruskan tubuh dari posisiku yang membungkuk defensif. Kutahan napasku

sementara aku memfokuskan kembali perhatianku, takut mencium bau kuat yang

berpusar-pusar dari arah selatan.

Edward bisa melihat wajahku kembali waras, dan ia maju selangkah ke arahku,

menurunkan kedua tangannya.

"Aku harus pergi dari sini," semburku dari sela-sela gigiku, menggunakan sisa-sisa

napas yang kumiliki.

Edward tampak shock. "Memangnya kau bisa pergi?"

Aku tidak sempat lagi bertanya apa maksud perkataannya itu. Aku tahu

kemampuanku berpikir jernih hanya akan bertahan selama aku bisa membuat diriku

berhenti berpikir tentang...

Aku kembali berlari, langsung melesat ke arah utara, hanya berkonsentrasi pada

perasaan tak nyaman karena kurangnya pengalaman sensoris yang tampaknya

merupakan satu-satunya respons tubuhku terhadap kurangnya udara. Satu-satunya

353

tujuanku adalah berlari sejauh mungkin hingga bau di belakangku benar-benar hilang.

Mustahil ditemukan, bahkan seandainya aku berubah pikiran...

Sekali lagi aku sadar diriku diikuti, tapi kali ini aku waras. Kulawan insting untuk

menarik napas—menggunakan bau-bauan di udara untuk memastikan itu Edward. Aku

tak perlu berjuang terlalu lama; walaupun aku berlari lebih cepat daripada yang pernah

kulakukan sebelumnya, melesat bagai komet di jalan setapak paling lurus yang bisa

kutemukan di antara pepohonan; Edward berhasil menyusulku tak lama kemudian.

Pikiran baru melintas di otakku, dan langkahku tiba-tiba terhenti, kedua kakiku

menjejak mantap di tanah. Aku yakin aku pasti aman di sini, tapi aku tetap menahan

napas untuk berjaga-jaga.

Edward melesat melewatiku, terkejut karena aku tiba-tiba berhenti. Dengan

cepat ia berbalik dan dalam sedetik sudah berada di sampingku. Ia meletakkan kedua

tangannya di pundakku dan menatap mataku, ekspresi shock masih mendominasi

wajahnya.

"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tuntut Edward.

"Ternyata kau sengaja membiarkanku mengalahkanmu sebelumnya, kan?" aku

balas menuntut, mengabaikan pertanyaannya. Padahal kusangka tadi aku hebat!

Waktu membuka mulut, aku bisa merasakan udara—udara sekarang sudah tidak

terpolusi lagi, tak sedikit pun tersisa jejak aroma menggiurkan yang menyiksa dahagaku.

Hati-hati aku menarik napas.

Edward mengangkat bahu dan menggeleng, tidak mau dibelokkan, "Bella,

bagaimana caramu melakukannya?"

"Lari menjauh? Aku menahan napas."

"Tapi bagaimana bisa kau berhenti berburu?"

"Waktu kau datang ke belakangku... Aku minta maaf soal itu."

"Mengapa kau meminta maaf padaku? Justru akulah yang ceroboh. Kukira tak

ada orang berkeliaran sejauh itu dari jalan setapak, tapi seharusnya aku mengecek lebih

dulu. Sungguh kesalahan tolol! Kau tidak perlu meminta maaf"

"Tapi aku menggeram padamu!" Aku masih ngeri membayangkan diriku mampu

melakukan hal sekeji itu.

"Tentu saja. Itu wajar. Tapi aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melarikan

diri."

354

"Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?" tanyaku. Sikap Edward membuatku

bingung—memangnya apa yang ia ingin agar terjadi? "Bisa saja kan orang itu tadi

seseorang yang kukenal!"

Edward membuatku kaget setengah mati dengan tertawa sangat keras,

melontarkan kepalanya ke belakang dan membiarkan tawanya bergema di pepohonan.

"Mengapa kau menertawakanku?"

Edward berhenti tertawa, kentara sekali ia kembali waswas.

Kuasai dirimu, pikirku dalam hati. Aku harus menahan amarahku. Seolah-olah aku

ini werewojf muda, bukan vampir baru.

"Aku bukannya menertawakanmu, Bella. Aku tertawa karena aku sbock. Dan aku

shock karena benar-benar takjub."

"Mengapa?"

"Seharusnya kau tidak bisa melakukan hal-ha! ini. Seharusnya kau' tidak bersikap

begitu... begitu rasional. Seharusnya kau tidak bisa berdiri di sini, mendiskusikan hal ini

bersamaku dengan tenang dan santai. Dan, jauh lebih penting daripada itu, seharusnya

kau tidak bisa berhenti di tengah-tengah perburuan dengan bau darah manusia

menyeruak di udara. Bahkan vampir-vampir matang pun akan mengalami kesulitan—

kami selalu sangat berhati-hati mencari tempat berburu agar tidak tergoda. Bella, kau

bersikap seolah-olah kau sudah beberapa dekade menjadi vampir, bukan baru beberapa

hari."

"Oh Soalnya aku sudah tahu ini bakal sulit. Itulah sebabnya aku begitu berhatihati.

Aku sudah mengira ini bakal berat.”

Edward merengkuh wajahku lagi, dan matanya dipenuhi kekaguman. "Rasanya

aku rela memberikan apa saja asal bisa melihat ke dalam pikiranmu satu kali ini saja."

Perasaan yang sungguh kuat. Aku sudah siap menghadapi masalah dahaga itu,

tapi ini tidak. Padahal aku sudah yakin keadaannya takkan sama saat ia menyentuhku.

Well, kenyataannya, memang tidak sama.

Perasaan itu justru semakin kuat.

Aku mengangkat tangan dan menyusuri permukaan wajahnya; jari-jariku

berlama-lama di bibirnya.

"Kusangka masih lama baru aku akan merasa seperti ini lagi?" Ketidakyakinanku

membentuk kalimat itu menjadi pertanyaan. "Tapi aku tetap menginginkanmu"

355

Edward mengerjap shock, "Bagaimana kau bahkan bisa berkonsentrasi pada hal

itu? Bukankah kau sangat haus?"

Tentu saja aku haus sekarang; sekarang setelah Edward mengungkitnya lagi!

Aku berusaha menelan ludah kemudian mendesah, memejamkan mata seperti

yang kulakukan sebelumnya untuk membantuku berkonsentrasi. Kubiarkan

pancaindraku berkelana ke sekelilingku, kali ini dengan perasaan tegang, takut kalaukalau

akan tercium lagi aroma menggiurkan yang tabu untuk dirasakan.

Edward menurunkan kedua tangannya, bahkan tidak bernapas sementara aku

menajamkan pendengaran, lebih jauh .dan, lebih jauh lagi menerobos semak dan

pepohonan hijau, memilah-milah berbagai bau dan suara, mencari sesuatu yang tidak

terlalu menjijikkan untuk dahagaku. Samar-samar tercium bau sesuatu yang berbeda,

jejak samar ke arah timur...

Mataku terbuka dengan cepat, tapi fokusku masih tajam saat aku berbalik dan

melesat tanpa suara ke timur. Tanah mendadak menanjak curam, dan aku berlari dalam

posisi membungkuk, dekat ke tanah, siap menerjang, melompati pepohonan kalau itu

lebih mudah. Aku lebih bisa merasakan kehadiran Edward bersamaku daripada

mendengarnya, melaju tanpa suara melintasi hutan, membiarkanku memimpin.

Kerapatan hutan mulai menipis saat kami mendaki semakin tinggi; bau ter dan

damar semakin tajam, begitu juga bau buruan yang kuikuti—baunya hangat, lebih tajam

daripada bau rusa dan lebih menggiurkan. Beberapa detik kemudian aku bisa

mendengar suara langkah-langkah kaki besar menjejak dengan suara teredam, jauh

lebih lembut daripada bunyi jejak kaki berkuku. Suaranya berasal dari atas—di dahandahan

pohon, bukan di tanah. Otomatis aku melompat dari dahan ke dahan, semakin

lama semakin tinggi, mencari posisi strategis, menaiki pohon cemara ftr berdaun

keperakan yang tinggi menjulang.

Langkah-langkah lembut itu terus terdengar, mengendap-endap di bawahku

sekarang; baunya yang menggiurkan begitu dekat. Mataku terarah ke gerakan suara itu,

dan kulihat kulit kecokelatan seekor singa besar menyelinap di dahan lebar cemara,

tepat di bawah sebelah kiri tempatku bertengger. Singa itu besar—ukurannya kira-kira

empat kali massa tubuhku. Matanya tertuju ke tanah di bawah; singa itu juga sedang

berburu. Hidungku menangkap bau sesuatu yang lebih kecil, datar bila dibandingkan

dengan bau buruanku, mengkeret di dalam semak-semak di bawah pohon. Ekor singa

itu berkedut-kedut sementara ia bersiap-siap menerkam.

Dengan gerak ringan tubuhku melayang di udara dan mendarat tepat di dahan

tempat singa itu berada. Hewan itu merasakan kayu bergetar dan berbalik, memekik

kaget sekaligus marah. Ia mengayunkan cakarnya, matanya berapi-api marah. Setengah

356

gila karena kehausan, aku tak menggubris kuku-kuku tajamnya dan menerkam, hingga

kami sama-sama terjatuh ke tanah.

Pertarungannya tidak terlalu seimbang.

Kuku-kukunya yang tajam seperti jari-jari yang membelai lembut kulitku. Giginya

tak mampu menembus bahu atau leherku. Bobot badannya tidak ada apa-apanya.

Gigiku dengan tepat mengarah ke tenggorokannya, dan penolakannya yang instingtif

terasa lemah dibandingkan dengan kekuatanku. Rahangku mengunci dengan mudah

tepat di titik aliran darah terpusat.

Mudah saja menggigitnya, semudah membenamkan gigi ke mentega. Gigiku

bagaikan silet baja; mengoyak menembus kulit, lemak, dan otot-otot seakan-akan

semua itu tak ada.

Rasanya tidak enak, tapi darahnya panas, basah, dan memuaskan dahagaku yang

menggelitik sementara aku minum dengan rakus. Pemberontakan singa itu semakin

lemah, dan jeritannya tersedak deguk-deguk. Hangatnya darah terpancar ke seluruh

tubuhku, bahkan sampai ke ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Singa itu sudah mati sebelum aku selesai mengisap darahnya. Dahagaku kembali

membuncah ketika darah singa itu sudah habis kuminum, dan dengan kasar kudorong

bangkainya dari tubuhku dengan perasaan jijik. Bagaimana mungkin aku masih haus

setelah meneguk darah sebanyak itu? Aku menegakkan badan dalam satu gerakan

cepat. Setelah berdiri, baru aku sadar betapa berantakannya keadaanku. Kuseka

wajanku dengan punggung lengan dan berusaha membenahi gaunku. Cakar yang tadi

tak mampu menembus kulitku berhasil mencabik-cabik gaun satinku yang tipis.

"Hmmm," ujar Edward. Aku mendongak dan melihatnya bersandar santai pada

batang pohon, memandangiku dengan ekspresi bersungguh-sungguh.

"Kurasa mestinya aku bisa melakukannya lebih baik lagi." Sekujur tubuhku

berlepotan tanah, rambutku kusut masai, bajuku berlumuran darah dan compangcamping.

Edward tak pernah pulang dari berburu dalam keadaan seperti ini.

"Kau sudah cukup baik tadi," ia meyakinkanku. "Hanya saja... jauh lebih sulit

bagiku menontonnya."

Kuangkat alisku, bingung.

"Membiarkanmu bergulat dengan singa berlawanan dengan watakku," Edward

menjelaskan. "Aku panik sendiri melihatnya."

"Tolol."

357

"Aku tahu. Kebiasaan lama sulit dihilangkan. Tapi aku lebih suka gaunmu seperti

sekarang ini,"

Kalau saja bisa, wajahku pasti sudah memerah sekarang. Aku langsung mengganti

topik. "Mengapa aku masih haus?"

"Karena kau masih muda."

Aku mendesah. "Dan kurasa tak ada lagi singa gunung di dekat-dekat sini.”

“Tapi ada rusa."

Aku mengernyit. "Baunya kurang enak."

"Herbivora. Hewan pemakan daging baunya memang lebih mirip manusia"

Edward menjelaskan.

"Ah, tidak terlalu mirip," aku tidak sependapat, berusaha tidak mengingatnya.

"Kita bisa saja kembali," kata Edward dengan nada bersungguh-sungguh,

walaupun ada kilatan menggoda di matanya. "Siapa pun yang ada di hutan tadi, kalau

dia laki-laki, dia mungkin tidak keberatan harus mati kalau kau yang membunuhnya.'*

Matanya lagi-lagi jelalatan memandang gaunku yang compang-camping. "Bahkan, bisa

jadi dia malah mengira dirinya sudah mati dan masuk surga begitu melihatmu."

Kuputar bola mataku dan mendengus. "Ayo kita berburu hewan-hewan herbivora

yang baunya tidak enak saja."

Kami menemukan sekelompok rusa bagal dalam perjalanan kembali ke rumah.

Edward berburu bersamaku kali ini, karena sekarang aku sudah mulai terampil

melakukannya. Aku berhasil melumpuhkan rusa besar, hampir sama berantakannya

dengan saat melumpuhkan singa tadi. Edward sudah selesai memangsa dua buruan

sebelum aku menyelesaikan buruan pertamaku, tanpa seutas rambut pun keluar dari

jalurnya, tanpa setitik pun noda mengotori kemeja putihnya. Kami mengejar kawanan

rusa yang kocar-kacir ketakutan itu, tapi kali ini aku tidak berburu lagi, hanya menonton

dengan hati-hati untuk melihat bagaimana ia bisa berburu begitu rapi.

Walaupun dulu aku berharap Edward tidak meninggalkanku waktu ia berburu,

sekarang diam-diam aku sedikit lega. Karena aku yakin melihat hal ini pasti akan sangat

menakutkan. Mengerikan. Bahwa melihat Edward berburu akhirnya akan membuatnya

terlihat benar-benar seperti vampir di mataku.

Tentu saja, persoalannya jadi lain bila aku melihatnya dari kacamata vampir. Tapi

aku ragu bahkan mata manusiaku takkan melihat keindahan semua ini.

358

Mengejutkan, bagaimana ini bisa menjadi pengalaman yang sensual, mengamati

Edward berburu. Terjangannya yang luwes bagaikan serangan ular; tangannya begitu

yakin, begitu kuat, benar-benar tak bisa dihindari; bibirnya yang penuh tampak

sempurna saat terbuka dengan anggun, menampakkan gigi-giginya yang berkilauan.

Sungguh mengagumkan. Aku merasakan sentakan rasa bangga bercampur gairah. Ia

milikku. Tak ada yang bisa memisahkan dia dariku sekarang. Aku terlalu kuat untuk

direnggut dari sisinya.

Gerakannya cepat sekali. Ia berbalik menghadapku dan mengamati ekspresi

banggaku dengan sikap curiga. •

"Tidak haus lagi?" tanyanya.

Aku mengangkat bahu. "Kau mengalihkan perhatianku. Kau lebih piawai berburu

daripada aku."

"Berkat latihan berabad-abad." Ia tersenyum. Bola matanya kini berwarna kuning

keemasan indah.

"Hanya satu abad," aku mengoreksi kata-katanya.

Edward tertawa. "Sudah cukup hari ini? Atau kau masih ingin melanjutkan

perburuan?"

"Cukup, kurasa." Aku merasa kekenyangan, bahkan agak kepenuhan cairan. Aku

tak tahu berapa banyak cairan lagi bisa masuk ke tubuhku. Tapi rasa panas di

tenggorokanku hanya sedikit teredam. Tapi memang, aku sudah tahu dahaga

merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan ini.

Dan itu sepadan dengan kebahagiaan yang kuperoleh.

Aku merasa bisa mengendalikan diri. Mungkin perasaan aman yang kurasakan ini

keliru, tapi aku benar-benar merasa lega karena tidak membunuh manusia hari ini.

Kalau manusia yang sama sekali tidak kukenal saja bisa kuhindari, bukankah aku pasti

bisa menahan diri untuk tidak menyerang werewolf dan anak setengah vampir yang

kucintai?

"Aku ingin melihat Renesmee," kataku. Sekarang setelah dahagaku reda (kalau

tidak bisa dibilang hilang sama sekali), aku sulit melupakan kekhawatiranku tadi. Aku

ingin me-rekonsiliasi bocah asing yang adalah putriku dengan makhluk yang kucintai tiga

hari lalu. Aneh sekali rasanya tanpa dia dalam perutku. Mendadak aku merasa hampa

dan gelisah.

359

Edward mengulurkan tangan. Aku meraihnya, dan kulitnya terasa lebih hangat

daripada sebelumnya. Pipinya sedikit memerah, bayangan di bawah matanya lenyap tak

berbekas.

Aku tak tahan untuk tidak membelai wajahnya lagi. Dan lagi.

Aku jadi lupa diriku menunggu respons atas permintaanku tadi saat aku menatap

mata emasnya yang berbinar-binar.

Hampir sama sulitnya dengan berbalik memunggungi bau darah manusia, tapi

entah bagaimana aku berhasil mengingatkan diriku untuk berhati-hati sementara

berjinjit dan merangkul tubuhnya. Dengan lembut.

Edward sama sekali tak ragu-ragu; kedua lengannya memeluk pinggangku dan

menarikku ke tubuhnya. Bibirnya melumat bibirku, namun terasa lembut. Bibirku tak

lagi melunak saat dilumat olehnya; sekarang bibirku tetap dalam bentuk semula.

Sama seperti sebelumnya, seolah-olah sentuhan kulit Edward, bibirnya,

tangannya langsung terbenam ke kulitku yang halus dan keras, langsung ke tulangtulang

baruku. Ke pusat tubuhku. Sama sekali tak terbayangkan olehku aku bisa

mencintainya lebih lagi.

Pikiranku yang lama tak sanggup menampung cinta sebesar ini. Hatiku yang lama

tak cukup kuat menanggungnya.

Mungkin ini bagian dari diriku yang kubawa untuk semakin diintensifkan dalam

kehidupan baruku. Seperti belas kasihan Carlisle dan pemujaan Esme, Mungkin aku

takkan pernah bisa melakukan hal-hal menarik atau istimewa seperti yang bisa

dilakukan Edward, Alice, dan Jasper. Mungkin aku hanya bisa mencintai Edward lebih

daripada siapa pun sepanjang sejarah dunia ini. Itu sudah cukup bagiku.

Aku teringat pada bagian-bagian ini—menyusupkan jari-jariku ke rambutnya,

meraba dadanya—tapi bagian-bagian lain masih baru bagiku. Edward sendiri terasa

baru-bagiku. Rasanya sungguh berbeda, berciuman dengan Edward tanpa harus merasa

takut, dengan segenap hati. Aku merespons kesungguhannya, kemudian, tiba-tiba saja

kami jatuh.

"Uuups," seruku, dan Edward tertawa di bawahku. "Aku tidak bermaksud

membuatmu jatuh seperti itu. Kau tidak apa-apa?"

Edward membelai-belai wajahku. "Sedikit lebih baik daripada tidak apa-apa"

Kemudian ekspresi bingung terlintas di wajahnya. "Renesmee?" tanyanya ragu,

berusaha meyakinkan apa yang paling kuinginkan saat ini. Pertanyaan yang sangat sulit

untuk dijawab, karena aku menginginkan begitu banyak hal pada saat bersamaan.

360

Aku bisa melihat dari sikap Edward bahwa ia tidak keberatan menunda

kepulangan kami ke rumah, dan sulit sekali memikirkan hal lain selain, kulitnya yang

menempel di kulitku—tak banyak lagi yang tersisa dari gaunku. Tapi kenanganku akan

Renesmee, sebelum dan sesudah kelahirannya, semakin lama semakin menjadi seperti

mimpi bagiku. Semakin tidak nyata. Semua kenanganku akan dia adalah kenanganku

saat masih menjadi manusia; ada aura artifisial melekat di dalamnya. Tidak ada yang

terasa nyata sebelum aku melihatnya dengan mata ini, menyentuhnya dengan tangan

ini.

Setiap menit realita bocah asing itu terhanyut semakin jauh.

"Renesmee," aku menyetujui dengan sikap menyesal, dengan cepat bangkit

berdiri, menarik Edward berdiri bersamaku.

361

22. JANJI

Memikirkan Renesmee membawanya ke panggung utama di otak baruku yang

aneh, lapang, tapi mudah dialihkan perhatiannya itu. Begitu banyak pertanyaan.

"Ceritakan padaku tentang dia," desakku ketika Edward menggandeng tanganku.

Bergandengan tangan tidak memperlambat gerak kami.

"Dia tak ada duanya di dunia ini," kata Edward, dan nada takzim itu kembali

terdengar dalam suaranya.

Aku merasakan sengatan kecemburuan terhadap makhluk asing ini. Edward

mengenalnya, sementara aku tidak. Tidak adil.

"Semirip apa dia denganmu? Semirip apa dia denganku? Aku yang dulu

maksudku."

"Sepertinya dia sama-sama mirip dengamu dan denganku, seimbang."

"Dia berdarah panas" aku merenung.

"Benar. Jantungnya berdetak, walaupun agak lebih cepat

“Daripada jantung manusia. Suhu tubuhnya sedikit lebih panas juga. Dia butuh

tidur.”

“Sungguh?"

"Lumayan sering untuk ukuran bayi baru lahir. Kita satu-satunya orangtua di

dunia yang tidak butuh tidur, tapi anak kita malah tidur sepanjang malam." Edward

terkekeh.

Aku suka mendengar Edward mengatakan anak kita. Kata-kata itu membuat

Renesmee terkesan semakin nyata.

"Warna matanya persis kau—jadi itu tidak hilang." Edward tersenyum. "Matanya

indah sekali"

"Dan bagian-bagian vampirnya?" tanyaku.

"Kulitnya sepertinya nyaris tak bisa ditembus, sama seperti kulit kita. Bukan

berarti ada yang berniat mengetesnya."

Aku mengerjap, agak sbock.

362

"Tentu saja takkan ada yang berbuat begitu," Edward menenangkan

"Makanannya... well, dia lebih suka minum darah. Carlisle masih terus berusaha

membujuknya minum susu formula juga, tapi dia tidak begitu sabar minum susu. Tidak

bisa disalahkan—baunya tidak tertahankan, bahkan untuk ukuran makanan manusia,"

Sekarang aku benar-benar ternganga. Menilik cerita Edward, kedengarannya

Carlisle dan Renesmee seperti mengobrol. "Membujuknya?"

"Dia cerdas, sungguh mengejutkan, dan pertumbuhannya cepat sekali. Walaupun

tidak bisa bicara—belum—tapi dia bisa berkomunikasi secara efektif."

"Tidak. Bisa. Bicara. Belum."

Edward memperlambat langkah, memberiku kesempatan untuk mencerna semua

ini.

"Apa maksudmu, dia bisa berkomunikasi secara efektif?" desakku.

"Kurasa akan lebih mudah bila kau... melihatnya sendiri. Agak sulit

menggambarkannya."

Aku mempertimbangkan hal itu. Aku tahu banyak yang harus kulihat sendiri

sebelum semuanya jadi nyata. Aku tak yakin berapa banyak yang sanggup kudengar lagi,

maka aku pun mengganti topik.

"Mengapa Jacob masih di sini?" tanyaku. "Bagaimana dia bisa tahan. Mengapa

dia harus menahannya?" Suaraku yang nyaring sedikit bergetar. "Mengapa dia harus

menderita lagi?"

"Jacob tidak menderita" kata Edward, nada suaranya berubah, kedengarannya

aneh sekarang. "Walaupun aku mau-mau saja mengubah keadaannya," imbuhnya

dengan gigi terkatup rapat.

"Edward!" desisku, menyentakkannya supaya berhenti (dan merasa agak bangga

karena bisa melakukannya). "Bisa-bisanya kau bicara begitu? Jacob sudah

mengorbankan segalanya untuk melindungi kita! Dia telah banyak menderita karena

aku,..!" Aku meringis karena ingatan samar tentang perasaan malu dan bersalahku.

Sekarang baru terasa aneh mengapa aku sangat membutuhkannya waktu itu. Perasaan

hampa tanpa Jacob di dekatku kini telah lenyap; itu pasti kelemahanku sebagai manusia.

363

"Nanti kau akan lihat sendiri mengapa aku berkata begitu," gumam Edward. "Aku

sudah berjanji akan memberinya kesempatan menjelaskan, tapi aku ragu cara

pandangmu akan berbeda denganku. Tentu saja, aku sering salah menduga pikiranmu,

kan?" Edward mengerucutkan bibir dan menatapku.

"Menjelaskan apa?"

Edward menggeleng. "Aku sudah berjanji. Walaupun aku tak tahu lagi apakah aku

benar-benar berutang budi padanya..." Ia mengertakkan giginya.

"Edward, aku tidak mengerti." Perasaan frustrasi dan kesal menguasai pikiranku.

Edward mengelus-elus pipiku, kemudian tersenyum lembut ketika kerut di

wajahku lenyap, gairah untuk sementara mengalahkan kejengkelan. "Ini lebih sulit

daripada yang kauperlihatkan pada kami, aku tahu. Aku masih ingat."

"Aku tak suka merasa bingung."

"Aku tahu. Ayo kita pulang, supaya kau bisa melihat sendiri semuanya." Sambil

bicara matanya menelusuri gaunku yang compang-camping, dan keningnya berkerut.

"Hmmm." Setelah berpikir sejenak, Edward membuka kancing-kancing kemeja putihnya

dan memeganginya agar aku bisa memasukkan kedua tanganku ke lengannya.

"Separah itu, ya?"

Edward nyengir.

Aku menyusupkan kedua tanganku ke lengan kemeja dan dengan cepat

mengancingkannya, menutupi gaunku yang compang-camping. Tentu saja itu berarti

Edward tidak mengenakan pakaian, dan mustahil tidak terusik olehnya.

"Ayo kita balapan," ajakku, kemudian mewanti-wanti, "kali ini tidak boleh

curang!"

Edward melepas tanganku dan nyengir. "Siap..."

Menemukan jalan menuju rumah baruku ternyata lebih mudah daripada berjalan

kaki di jalan rumah Charlie menuju rumah lamaku. Bau kami meninggalkan jejak yang

jelas dan mudah diikuti, walaupun berlari secepat yang aku bisa.

Edward membiarkanku mengalahkannya hingga kami sampai di sungai. Aku

mengambil kesempatan dan melompat lebih dulu, berusaha menggunakan kekuatan

ekstraku untuk menang.

"Ha!" seruku kegirangan waktu mendengar kakiku menyentuh rumput lebih dulu.

364

Saat menunggu mendengarnya mendarat, aku mendengar sesuatu yang tak

kuduga sama sekali. Sesuatu yang nyaring dan agak terlalu dekat. Bunyi debar jantung.

Pada detik yang sama Edward sudah berdiri di sampingku, kedua tangannya

mencengkeram pangkal lenganku kuat-kuat.

"Jangan bernapas," ia mewanti-wantiku dengan nada mendesak,

Aku mencoba untuk tidak panik sementara membeku dalam posisi setengah

menarik napas. Hanya mataku yang bergerak, secara instingtif jelalatan mencari sumber

suara itu.

Jacob berdiri di batas tempat hutan bertemu dengan pekarangan rumah keluarga

Cullen, kedua lengannya terlipat di tubuh, rahangnya mengatup rapat. Tak terlihat di

dalam hutan di belakangnya, sekarang aku mendengar dua jantung lain yang lebih

besar, dan samar-samar suara ranting berderak diinjak kaki-kaki besar yang berjalan

mondar-mandir.

"Hati-hati, Jacob," kata Edward. Geraman dari hutan menggemakan sikap

waspada dalam suaranya. "Mungkin ini bukan cara terbaik..."

"Menurutmu lebih baik membiarkan dia mendekati bayinya dulu?" potong Jacob.

"Lebih aman melihat bagaimana Bella bereaksi terhadapku. Aku kan bisa pulih dengan

cepat."

Jadi ini semacam uji coba? Untuk melihat apakah aku bisa tidak membunuh Jacob

sebelum aku mencoba tidak membunuh Renesmee? Aku merasakan perasaan mual

yang sangat aneh—itu tak ada hubungannya dengan perutku, hanya dengan pikiranku.

Apakah ini ide Edward?

Kulirik wajahnya dengan cemas; Edward seperti menimbang-nimbang beberapa

saat, kemudian ekspresinya berubah dari waswas menjadi sesuatu yang lain. Ia

mengangkat bahu, kemudian terdengar nada sinis di balik suaranya waktu berkata,

"Terserah, itu kan lehermu sendiri"

Geraman yang berasal dari hutan kini terdengar marah, Leah, tak diragukan lagi.

Ada apa dengan Edward? Setelah semua yang kami lalui, bukankah seharusnya ia

bisa merasakan sedikit kebaikan hati untuk sahabatku? Kusangka—mungkin dugaanku

ini tolol— Edward bisa dibilang sudah menjadi teman Jacob juga sekarang. Aku pasti

salah membaca hubungan mereka.

365

Tapi apa yang dilakukan Jacob? Mengapa ia menawarkan diri sebagai uji coba

untuk melindungi Renesmee?

Sungguh tak masuk akal. Walaupun seandainya persahabatan kami tetap

bertahan...

Dan saat mataku bertemu mata Jacob sekarang, kupikir mungkin persahabatan

kami masih bertahan. Kelihatannya dia masih sahabatku. Tapi memang bukan dia yang

berubah. Terlihat seperti apakah aku baginya?

Lalu Jacob menyunggingkan senyumnya yang familier, senyumnya yang penuh

kasih, dan aku yakin persahabatan kami cetap utuh. Sama seperti dulu, waktu kami

nongkrong di garasi rumahnya yang disulap jadi bengkel, dua sahabat yang

menghabiskan waktu bersama. Mudah dan normal. Lagi-lagi kusadari, perasaan

membutuhkan aneh yang kurasakan terhadapnya sebelum aku berubah, sekarang sudah

benar-benar lenyap. Ia hanya teman biasa, seperti seharusnya.

Tapi tetap saja tak masuk akal apa yang ia lakukan sekarang. Apakah ia benarbenar

begitu tidak egois sehingga mau berusaha melindungiku—dengan

mempertaruhkan nyawanya sendiri—agar tidak melakukan sesuatu yang hanya butuh

sepersekian detik tak terkendali untuk melakukannya, yang akan mengakibatkan

penyesalan seumur hidup? Itu lebih daripada sekadar menolerir keadaanku yang sudah

berubah, atau secara ajaib tetap mau menjadi temanku. Jacob adalah satu dari

beberapa gelintir orang terbaik yang kukenal, tapi sepertinya ini terlalu berlebihan

untuk kuterima dari siapa pun.

Seringaian Jacob melebar, tubuhnya bergidik sedikit. "Mau tak mau harus

kukatakan, Bells. Kau mengerikan."

Aku balas nyengir, dengan mudah masuk ke pola lama. Ini sisi dirinya yang

kumengerti.

Edward menggeram. "Jaga mulutmu, anjing."

Angin berembus dari belakangku dan aku cepat-cepat mengisi paru-paruku

dengan udara bersih agar bisa bicara, "Tidak, dia benar. Mataku benar-benar aneh,

kan?"

"Superseram. Tapi tidak sejelek yang tadinya kusangka."

"Astaga—terima kasih pujiannya!"

366

Jacob memutar bola matanya. "Kau tahu maksudku. Kau masih kelihatan seperti

dulu—sedikit. Mungkin bukan penampilan yang jadi masalah, melainkan bahwa... kau

tetap Bella. Padahal awalnya aku menyangka takkan merasa bahwa kau masih di sini." Ia

tersenyum lagi, tak sedikit pun tersirat nada getir atau tidak suka di wajahnya.

Kemudian ia terkekeh dan berkata, "Omong-omong, kurasa sebentar lagi aku juga akan

terbiasa dengan matamu."

"Benarkah?" tanyaku, bingung. Menyenangkan bahwa kami masih berteman, tapi

rasanya kami tidak akan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama.

Ekspresi aneh melintasi wajahnya, menghapus senyuman itu. Nyaris seperti...

bersalah? Lalu matanya beralih ke Edward.

"Trims," ujar Jacob "Aku tak tahu apakah kau bisa tidak menceritakannya

padanya, janji atau tidak. Biasanya, kau meluluskan apa saja keinginannya."

"Mungkin aku berharap dia akan marah dan mengoyak lehermu" Edward

memberi alasan, Jacob mendengus,

“Ada apa sebenarnya? Kalian merahasiakan sesuatu dariku, ya?" tuntutku, tak

percaya.

"Nanti akan kujelaskan," kata Jacob waswas—seperti tidak benar-benar berniat

melakukannya. Lalu ia mengubah topik, "Pertama, ayo kita tuntaskan masalah ini,"

Sekarang seringaiannya menantang, saat ia pelan-pelan melangkah maju.

Terdengar dengkingan protes di belakangnya, dan sejurus kemudian tubuh abuabu

Leah menyelinap keluar dari balik pepohonan di belakangnya, Seth yang bertubuh

lebih tinggi dan berbulu cokelat pasir menyusul tepat di belakang.

"Tenang, guys" pinta Jacob, "Tidak usah ikut campur."

Aku senang mereka tidak mendengarkan perintahnya, tapi hanya mengikutinya

sedikit lebih lambat.

Angin tidak bertiup sekarang; bau badannya tak lenyap terbawa angin.

Jacob berdiri cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya menyeruak

di antara kami. Kerongkonganku serasa terbakar dibuatnya.

"Ayolah, Bells. Lakukan saja."

Leah mendesis.

367

Aku tidak ingin menarik napas Rasanya tidak tepat membahayakan Jacob begitu

rupa, walaupun ia sendiri yang menawarkan diri. Tapi menurutku itu memang logis.

Bagaimana lagi aku bisa memastikan aku tidak akan menyakiti Renesmee?

"Aku jadi semakin tua, Bella," sindir Jacob, "Oke, teknisnya sih tidak, tapi kau

mengerti maksudku. Ayo, tarik napas."

"Pegangi aku," kataku pada Edward, mengkeret ke dadanya.

Edward mempererat pelukannya.

Aku mengunci otot-ototku, berharap bisa membuatnya membeku. Aku bertekad

akan melakukan setidaknya sebaik yang kulakukan saat berburu tadi. Skenario terburuk

adalah, aku akan berhenti bernapas dan kabur. Takut-takut aku menarik napas sedikit

lewat hidung, tubuhku mengejang penuh waspada.

Agak sakit, tapi kerongkonganku memang sudah seperti terbakar. Bau Jacob tidak

seperti manusia, tapi lebih mirip bau singa gunung. Ada sedikit jejak binatang dalam

darahnya yang langsung membuatku menolak. Walaupun debar jantungnya yang

nyaring dan basah terdengar menggiurkan, namun bau yang menyertainya membuatku

mengernyidcan hidung. Aku jadi lebih mudah melembutkan reaksiku terhadap suara

dan panas darahnya yang berdenyut-denyut.

Aku menarik napas lagi dan merileks. "Hah. Sekarang aku mengerti kenapa orangorang

begitu meributkannya. Kau bau sekali, Jacob,"

Tawa Edward meledak; kedua tangannya meluncur dari pundak dan merangkul

pinggangku, Seth menggonggongkan tawa yang seirama dengan tawa Edward; ia maju

sedikit sementara Leah justru mundur beberapa langkah. Kemudian aku menyadari

kehadiran orang lain waktu mendengar tawa rendah Emmett yang khas, sedikit teredam

dinding kaca yang memisahkan kami.

"Kau sendiri pun bau," tukas Jacob, memencet hidung dengan lagak dramatis.

Wajahnya sama sekali tak berubah saat Edward memelukku, bahkan tidak waktu

Edward berhasil menenangkan diri kembali dan membisikkan "aku mencintaimu" di

telingaku. Jacob terus saja nyengir. Ini membuat harapanku timbul, bahwa hubungan

kami memang akan membaik sekarang setelah sekian lama memburuk. Mungkin

sekarang aku bisa benar-benar menjadi temannya, karena aku membuatnya jijik padaku

secara fisik sehingga ia tidak bisa menyayangiku seperti sebelumnya. Mungkin hanya ini

yang dibutuhkan.

368

"Oke, jadi aku lulus, kan?" tanyaku. "Sekarang, kalian mau kan memberitahukan

rahasia besar itu padaku?"

Ekspresi Jacob berubah sangat gugup. "Itu bukan hal yang perlu kaukhawatirkan

saat ini.,."

Aku mendengar Emmett terkekeh lagi—nadanya penuh harap.

Sebenarnya aku ingin memaksakan kehendakku, tapi waktu mendengarkan tawa

Emmett, aku mendengar suara-suara lain juga. Tujuh orang bernapas. Sepasang paruparu

yang bergerak lebih cepat daripada yang lain. Hanya satu jantung menggelepargelepar

seperti sayap burung, ringan dan cepat.

Perhatianku benar-benar beralih. Putriku berada di balik dinding kaca tipis itu.

Aku tidak bisa melihatnya—cahaya memantul di kaca-kaca jendela seperti cermin. Aku

hanya bisa melihat diriku, tampak sangat aneh—begitu putih dan diam—bila

dibandingkan dengan Jacob. Atau, dibandingkan dengan Edward, aku terlihat sangat

sepadan,

"Renesmee," bisikku. Stres membuatku jadi seperti patung lagi. Renesmee takkan

berbau seperti binatang. Akankah aku membahayakan dia?

"Mari kita lihat," bisik Edward. "Aku tahu kau bisa menghadapinya."

"Kau akan membantuku?" bisikku dari sela-sela bibir yang tak bergerak.

"Tentu saja aku akan membantumu."

"Juga Emmett dan Jasper—untuk berjaga-jaga?"

"Kami akan membantumu. Bella. Jangan khawatir, kami pasti siap. Tak seorang

pun di antara kami akan membiarkan Renesmee dalam bahaya. Kurasa kau pasti akan

kaget melihat betapa pandainya dia membuat kami semua jatuh cinta padanya.

Bagaimanapun dia bakal aman."

Kerinduanku untuk melihatnya, untuk memahami nada memuja dalam suara

Edward, memecahkan kebekuanku. Aku maju selangkah.

Kemudian Jacob menghalangiku, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Kau yakin, pengisap darah?" tuntutnya pada Edward, suaranya nyaris memohon.

Belum pernah kudengar ia berbicara seperti itu kepada Edward. "Aku tidak setuju.

Mungkin sebaiknya dia menunggu..."

"Tadi kau sudah melakukan ujianmu, Jacob."

369

Jadi itu tadi ide Jacob?

"Tapi..."Jacob memulai.

"Tidak ada tapi-tapian," tukas Edward, mendadak terdengar gusar. "Bella perlu

melihat putri kami Minggir, jangan halangi dia."

Jacob melayangkan pandangan ganjil dan panik, kemudian berbalik dan nyaris

mendahului kami memasuki rumah. Edward menggeram.

Aku sama sekali tak habis pikir melihat konfrontasi mereka, tapi aku juga tak bisa

berkonsentrasi memikirkannya. Sekarang aku hanya bisa memikirkan gambaran kabur

seorang anak dalam ingatanku. Aku bersusah payah berusaha menyibak kabut itu,

berusaha mengingat wajahnya dengan tepat.

"Kita masuk?" ajak Edward, suaranya kembali melembut. Aku mengangguk

gugup.

Edward menggandeng tanganku erat-erat dan berjalan mendahuluiku memasuki

rumah.

Mereka menungguku, berdiri berjajar, tersenyum dengan sikap menyambut

sekaligus defensif. Rosalie berdiri beberapa langkah di belakang mereka, dekat pintu

depan. Ia sendirian sampai Jacob bergabung dengannya kemudian berdiri di depannya,

lebih dekat daripada yang biasa dilakukan orang. Meski begitu kedekatan itu tidak

membuat mereka nyaman; keduanya seolah mengkeret karena berdiri terlalu

berdekatan.

Seseorang yang sangat kecil menjulurkan tubuh dari gendongan Rosalie, menatap

Jacob. Bocah itu langsung menarik perhatianku, menyita segenap pikiranku, seperti yang

tak pernah terjadi sebelumnya sejak aku membuka mata.

"Apakah benar aku hanya tidak sadar selama dua hari?" aku terkesiap, tidak

percaya.

Bocah asing dalam pelukan Rosalie pasti usianya sudah beberapa minggu, bahkan

beberapa bulan. Ukurannya mungkin dua kali lebih besar daripada ukuran bayi dalam

ingatanku yang kabur, dan sepertinya ia bisa menyangga tubuhnya dengan mudah saat

menjulurkan dirinya ke arahku. Rambut tembaganya yang mengilat tergerai ikal

melewati bahu. Mata cokelatnya mengamatiku dengan ketertarikan yang sama sekali

tidak kekanak-kanakan; sorot matanya seperti orang dewasa, mengerti dan cerdas. Ia

mengangkat satu tangan, menggapai ke arahku sesaat, kemudian menarik tangannya

lagi untuk menyentuh kerongkongan Rosalie.

370

Seandainya wajahnya tidak menakjubkan dalam kecantikan dan

kesempurnaannya, aku pasti tak bakal percaya itu anak yang sama. Anakku.

Tapi ada Edward dalam raut wajahnya, dan ada aku dalam warna mata dan

pipinya. Bahkan Charlie pun ada, dalam bentuk rambut ikalnya yang tebal, walaupun

warnanya mirip rambut Edward. Ia pasti anak kami. Mustahil, tapi tetap benar.

Namun melihat bocah kecil menakjubkan ini tidak membuatnya jadi semakin

nyata. Itu hanya membuatnya semakin fantastis.

Rosalie menepuk-nepuk tangan yang menempel di lehernya dan bergumam, "Ya,

itu dia."

Mata Renesmee tertuju padaku. Kemudian, sama seperti yang dilakukannya

beberapa detik setelah kelahirannya yang bersimbah darah, ia tersenyum padaku.

Memamerkan sederet gigi putih mengilat dan sempurna.

Dengan hati menggelora, ragu-ragu aku maju selangkah menghampirinya*

Semua bergerak sangat cepat.

Emmett dan Jasper berada persis di depanku, berdampingan, tangan mereka

siap. Edward mencengkeramku dari belakang, jari-jarinya menahan pangkal lenganku

kuat-kuat. Bahkan Carlisle dan Esme bergerak dan berdiri mengapit Emmett dan Jasper,

sementara Rosalie mundur ke pintu, kedua lengan memeluk erat Renesmee. Jacob juga

bergerak, tetap mempertahankan sikap protektif di depan mereka.

Hanya Alice yang tetap diam di tempatnya.

"Oh, hargai Bella sedikit," Alice mencela mereka. "Dia tidak akan melakukan apaapa.

Kalau kalian jadi dia, kalian pasti juga ingin melihat lebih dekat."

Alice benar. Aku bisa menguasai diri. Aku sudah siap menghadapi apa pun—

bahkan bau paling menggiurkan sekalipun, seperti bau manusia di hutan tadi. Godaan di

sini benar-benar tak bisa dibandingkan dengan itu. Aroma Renesmee merupakan

campuran sempurna aroma parfum yang sangat wangi dengan makanan paling lezat.

Cukup banyak aroma vampir untuk mengalahkan bau manusia hingga tidak terlalu

berlebihan buatku.

Aku bisa mengatasinya. Aku yakin.

371

"Aku baik-baik saja," janjiku, menepuk-nepuk tangan Edward yang memegangi

lenganku. Lalu aku ragu-ragu-dan menambahkan, "Tapi jangan jauh-jauh, untuk berjagajaga

saja."

Mata Jasper waspada, fokus. Aku tahu ia tengah menelaah suasana hatiku, dan

aku berusaha tetap menunjukkan sikap tenang. Aku merasakan Edward melepas kedua

lenganku setelah membaca penilaian Jasper. Tapi meski begitu sepertinya ia tidak

terlalu yakin.

Begitu mendengar suaraku, bocah yang terlalu mengerti itu memberontak dalam

gendongan Rosalie, menggapai-gapai ke arahku. Entah bagaimana ia bisa menunjukkan

ekspresi tak sabar di wajahnya.

"Jazz, Em, jangan halangi kami. Bella bisa menguasai diri."

"Edward, risikonya...," sergah Jasper,

"Minimal. Dengar, Jasper... ketika sedang berburu tadi, Bella mencium bau orangorang

yang sedang hiking, yang berada di tempat tidak tepat pada saat tidak tepat..."

Aku mendengar Carlisle tersentak kaget. Wajah Esme mendadak diliputi

kekhawatiran bercampur prihatin. Mata Jasper membelalak, tapi ia mengangguk sedikit,

seolah-olah perkataan Edward tadi menjawab beberapa pertanyaan dalam benaknya.

Mulut Jacob mengerucut, membentuk seringaian jijik, Emmett mengangkat bahu.

Rosalie juga tampak tidak begitu peduli karena sibuk menenangkan bocah yang

menggeliat-geliat dalam gendongannya.

Ekspresi Alice mengatakan padaku ia tidak terkecoh. Matanya yang menyipit

menatap tajam kemeja pinjamanku. sepertinya lebih mengkhawatirkan akibat yang

kutimbulkan pada gaunku daripada hal lain.

"Edward!" tegur Carlisle. "Bagaimana kau bisa seteledor itu?"

"Aku tahu, Carlisle, aku tahu. Aku benar-benar tolol Seharusnya aku lebih dulu

memastikan kami berada di zona aman sebelum membiarkan Bella berkeliaran."

"Edward," gumamku, malu karena mereka memandangiku seperti itu. Seakanakan

mereka berusaha melihat warna merah yang Lebih cerah di mataku.

“Carlisle memang berhak menegurku. Bella," Edward menjelaskan sambil

nyengir. "Aku membuat kesalahan besar. Fakta bahwa kau lebih kuat daripada vampir

mana pun yang pernah kukenal tidak mengubah hal itu."

Alice memutar bola matanya. "Lelucon berselera tinggi, Edward."

372

"Aku tidak bercanda. Aku hanya ingin menjelaskan kepada Jasper mengapa aku

tahu Bella pasti bisa menguasai diri. Bukan salahku kalau semuanya langsung mengambil

kesimpulan yang salah,"

“Tunggu” sergah Jasper. "Jadi dia tidak memburu manusia"

"Awalnya begitu," jawab Edward, kentara sekali ia senang. Aku mengertakkan

gigi. "Seluruh perhatiannya tercurah pada berburu."

"Apa yang terjadi?" sela Carlisle. Matanya mendadak berbinar-binar, senyum

takjub terbentuk di wajahnya. Mengingatkanku pada sebelumnya, ketika ia ingin

mengetahui detail-detail pengalaman transformasiku. Kegairahan karena mendapat

informasi baru.

Edward mencondongkan tubuh ke arahnya, penuh semangat. "Bella

mendengarku di belakangnya dan reaksinya langsung defensif. Begitu pengejaranku

membuyarkan konsentrasinya, dia langsung berhenti mengejar. Belum pernah aku

melihat ada yang seperti dia. Seketika itu juga dia langsung menyadari apa yang terjadi,

kemudian... dia menahan napas dan lari menjauh."

"Wah," gumam Emmett. "Serius?"

"Ceritanya tidak sepenuhnya benar," tukasku, lebih malu daripada sebelumnya.

"Edward tidak menceritakan bagian di mana aku menggeram padanya."

"Jadi kalian sempat bertarung tadi?" tanya Emmett penuh semangat.

"Tidak! Tentu saja tidak."

"Tidak, benar tidak? Kau benar-benar tidak menyerangnya?"

"Emmett!" protesku.

"Aduh, sayang sekali," erang Emmett, "Padahal mungkin hanya kau satu-satunya

yang bisa melumpuhkan Edward — karena dia kan tidak bisa membaca pikiranmu

sehingga tidak bisa berbuat curang—dan kau juga punya alasan untuk menyerangnya."

Emmett menghela napas. "Selama ini aku penasaran, ingin melihat bagaimana Edward

bertarung tanpa kelebihannya itu."

Kutatap dia dengan dingin. "Aku takkan pernah berbuat begitu"''

Kerutan di dahi Jasper menarik perhatianku; ia tampak lebih terganggu daripada

sebelumnya.

373

Edward menempelkan tinjunya pelan ke bahu Jasper, pura-pura meninjunya.

"Kau mengerti kan maksudku?"

"Itu tidak alami," gerutu Jasper.

"Bella bisa saja menyerangmu—dia kan baru berumur beberapa jam!" kecam

Esme, meletakkan tangannya di dada. "Oh, seharusnya kami tadi pergi bersamamu."

Aku tidak terlalu memerhatikan, karena sekarang Edward sudah menyampaikan

leluconnya. Mataku terpaku pada bocah rupawan dekat pintu, yang masih terus

memandangiku. Kedua tangan kecilnya menggapai-gapai ke arahku seolah-olah ia tahu

persis siapa aku. Otomatis tanganku terangkat untuk menirukan gerakannya.

"Edward," ujarku, mencondongkan tubuh melewati Jasper agar bisa melihatnya

lebih jelas. "Please?"

Gigi Jasper terkatup rapat; ia tidak bergerak,

"Jazz, kau tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya," ujar Alice pelan.

"Percayalah padaku."

Mata mereka bertemu selama beberapa detik, kemudian Jasper mengangguk. Ia

menepi, tapi meletakkan sebelah tangannya di pundakku dan bergerak bersamaku

waktu aku pelan-pelan melangkah maju.

Aku memikirkan setiap langkah sebelum melakukannya, menganalisis suasana

hatiku, perasaan terbakar di tenggorokanku, dan posisi yang lain-lain di sekelilingku.

Seberapa kuat yang kurasakan versus seberapa mampu mereka menahanku. Prosesi

yang lambat.

Kemudian bocah dalam gendongan Rosalie, yang menggeliat-geliat dan

menggapai-gapai dengan ekspresi makin kesall, mengeluarkan suara rengekan tinggi

melengking. Semua bereaksi seolah-olahseperti aku mereka belum pernah mendengar

suaranya sebelum ini.

Dalam sekejap mereka sudah mengelilinginya, meninggalkan aku berdiri

sendirian, membeku di tempat. Raungan melengking Renesmee menghunjamku,

menombakku di lantai. Telingaku seperti ditusuk-tusuk, seperti mau robek.

Sepertinya semua orang memegangnya, menepuk-nepuk dan menghiburnya.

Semua kecuali aku.

374

"Ada apa? Dia kenapa? Apa yang terjadi?"

Suara Jacob-lah yang paling keras, nadanya waswas, mengalahkan suara yang

lain. Dengan shock kulihat bagaimana ia mengulurkan tangan kepada Renesmee,

kemudian dengan ngeri kulihat Rosalie menyerahkan Renesmee padanya tanpa

perlawanan,

"Tidak, dia baik-baik saja," Rosalie menenangkan Jacob. Rosalie menenangkan

Jacob?

Renesmee mau saja digendong Jacob, menempelkan tangan mungilnya ke pipi

Jacob kemudian menggeliat-geliat, memutar tubuhnya lagi ke arahku.

"Lihat, kan?" kata Rosalie padanya. "Dia hanya menginginkan Bella."

"Dia menginginkanku?" bisikku.

Mata Renesmee—mataku—menatapku tak sabar.

Edward melesat lagi ke sampingku. Ia meletakkan kedua tangannya di lenganku

dan dengan lembut mendorongku ke depan.

"Sudah hampir tiga hari dia menunggumu," kata Edward padaku.

Kami hanya beberapa meter darinya sekarang. Ledakan-ledakan panas seolah

bergetar keluar darinya dan menyentuhku.

Atau mungkin Jacob-lah yang bergetar. Kulihat kedua tangannya bergetar saat

aku mendekat. Meski begitu, walaupun ia jelas-jelas terlihat tegang, wajahnya lebih

tenang daripada yang pernah kulihat untuk waktu yang sangat lama.

"Jake—aku baik-baik saja," kataku. Aku panik melihat Renesmee dalam

gendongan tangannya yang bergetar, tapi aku berusaha keras menenangkan diri.

Jacob mengerutkan kening padaku, matanya tegang, seakan-akan ia juga sama

paniknya membayangkan Renesmee dalam gendonganku.

Renesmee merengek-rengek penuh semangat dan menjulurkan tubuh, kedua

tangannya yang kecil membuka dan menutup berulang kali.

Saat itulah sesuatu membukakan mataku. Tangisannya, matanya yang akrab,

sikapnya yang seolah lebih tidak sabar ketimbang aku menunggu pertemuan ini—semua

itu terjalin menjadi pola-pola paling natural ketika ia menggapai-gapaikan tangannya.

Tiba-tiba ia menjadi sangar nyata, dan tentu saja aku mengenalnya. Rasanya sungguh

biasa melangkah menghampirinya dan mengulurkan tangan, meletakkan kedua

375

tanganku di tempat paling pas saat aku menariknya dengan lembut ke dalam

gendonganku.

Jacob mengulurkan lengannya panjang-panjang sehingga aku bisa menimang

bayiku, tapi tidak melepaskannya. Ia bergidik sedikit saat kulit kami bersentuhan,

Kulitnya, yang sebelumnya selalu hangat, kini seperti api yang menjilat-jilat kulitku.

Suhunya hampir sama dengan suhu tubuh Renesmee. Mungkin berbeda satu-dua

derajat.

Renesmee tampaknya tidak menyadari dinginnya kulitku, atau setidaknya sudah

sangat terbiasa.

Ia mendongak dan tersenyum padaku lagi, memamerkan gigi-gigi kotaknya yang

mungil serta dua lesung pipinya. Kemudian, dengan sengaja, ia meraih wajahku.

Saat ia melakukannya, semua tangan di tubuhku mencengkeram lebih erat,

mengantisipasi reaksiku. Aku hampir-hampir tak menyadarinya.

Aku tersentak, terperangah, dan takut melihat gambaran aneh dan mengerikan

yang mengisi pikiranku. Rasanya seperti ingatan yang sangat kuat—aku masih bisa

melihat lewat mataku sementara menyaksikan gambaran itu dalam pikiranku— tapi

semuanya sangat tidak familier. Aku menatapnya lewat ekspresi Renesmee yang

berharap, berusaha memahami apa yang terjadi, susah payah berusaha agar tetap

tenang.

Selain mengguncangkan dan asing, gambaran itu sepertinya keliru—aku nyaris

bisa mengenali wajahku sendiri di dalamnya, wajah lamaku, tapi kelihatannya ganjil,

terbalik. Dengan cepat kusadari bahwa aku melihat wajahku sebagaimana orang lain

melihatnya, tidak terbalik seperti bayangan dalam cermin.

Wajahku dalam gambaran itu terpilin, berkerut-kerut, bersimbah peluh, dan

keringat. Meski begitu, ekspresiku dalam gambaran itu berubah jadi senyum memuja;

mata cokelatku berbinar-binar di dalam kelopaknya yang cekung. Gambaran itu

membesar, wajahku jadi semakin dekat, kemudian tiba-tiba lenyap.

Renesmee menurunkan tangannya dari pipiku. Senyumnya merekah semakin

lebar, lesung pipinya muncul lagi.

Ruangan sunyi senyap, yang terdengar hanya bunyi debar jantung. Tak seorang

pun, kecuali Jacob dan Renesmee, berani bernapas. Kesunyian itu terus berlanjut,

sepertinya mereka menungguku mengatakan sesuatu.

376

"Itu... itu... tadi apa?" Aku berhasil bertanya dengan suara tercekik.

"Apa yang kaulihat?" tanya Rosalie ingin tahu, mencondongkan tubuh untuk

melihat melalui Jacob, yang walaupun berdiri menghalangiku, namun pikirannya seperti

berada sangat jauh dari sini. "Apa yang dia tunjukkan padamu?"

"Dia menunjukkan itu padaku?" bisikku.

"Sudah kubilang, sulit menjelaskannya," bisik Edward di telingaku. "Tapi efektif

sebagai sarana komunikasi."

'Apa yang ditunjukkannya tadi?" tanya Jacob.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. "Ehm… Aku Kurasa. Tapi aku

kelihatan kacau sekali."

"Itu satu-satunya kenangan yang dia miliki tentang kau," Edward menjelaskan.

Jelas, Edward juga melihat apa yang ditunjukkan Renesmee padaku saat ia

memikirkannya. Edward masih meringis, suaranya parau karena mengingat kembali

semua kenangan itu. "Dia ingin kau tahu dia mengetahui hubunganmu dengannya,

bahwa dia tahu siapa dirimu."

"Tapi BAGAIMANA dia melakukannya?''

Renesmee sepertinya tidak peduli pada mataku yang membelalak. Ia tersenyum

kecil dan menarik seberkas rambutku.

"Bagaimana aku mendengar pikiran? Bagaimana Alice bisa melihat masa depan?"

tanya Edward retoris, kemudian mengangkat bahu. "Dia memiliki bakat itu."

"Bakat yang menarik," kata Carlisle pada Edward. "Seolah-olah dia melakukan hal

sebaliknya dari apa yang bisa kaulakukan."

"Menarik," Edward sependapat. "Aku jadi ingin tahu..."

Aku tahu mereka berspekulasi, tapi aku tak peduli. Aku menatap wajah paling

cantik di dunia itu. Tubuhnya panas dalam pelukanku, mengingatkanku pada momen

saat kegelapan nyaris menang, ketika rak ada lagi yang tersisa di dunia ini untuk

kujadikan pegangan. Tak cukup kuat untuk menarikku keluar dari kegelapan yang

mengimpit. Momen ketika aku berpikir tentang Renesmee dan menemukan sesuatu

yang takkan pernah kulepaskan.

"Aku juga ingat padamu," kataku pelan.

377

Rasanya sangat natural mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirku ke

dahinya. Aroma tubuhnya sangat menyenangkan. Aroma kulitnya membuat

tenggorokanku seperti terbakar, tapi mudah saja mengabaikannya. Sama sekali tidak

merenggut kebahagiaanku akan momen ini. Renesmee nyata dan aku mengenalnya. Ia

bocah sama yang kuperjuangkan sejak awal. Yang menendang-nendang perutku, yang

mencintaiku dari dalam perutku. Separo Edward, sempurna dan manis. Dan separo

aku—dan yang mengagetkan, itu justru membuatnya lebih cantik, bukan malah

mengurangi kecantikannya.

Ternyata selama ini aku benar. Renesmee memang pantas diperjuangkan.

"Dia baik-baik saja," gumam Alice, mungkin pada Jasper. Aku bisa merasakan

mereka berdiri di dekatku, tidak memercayaiku.

"Kurasa mungkin eksperimennya hari ini sudah cukup?" tanya Jacob, suaranya

satu oktaf lebih tinggi karena stres, "Oke, reaksi Bella hebat, tapi sebaiknya kita tidak

terlalu memaksakan."

Kupelototi dia dengan perasaan jengkel. Jasper bergerak-gerak gelisah di

sebelahku. Kami berdiri berdesak-desakan sehingga setiap gerakan kecil saja langsung

terasa,

"Apa masalahmu, Jacob?" tuntutku. Kutarik pelan tangannya yang menggendong

Renesmee, tapi Jacob malah beringsut mendekatiku. Tubuhnya menempel ke tubuhku,

Renesmee menyentuh dada kami berdua.

Edward mendesis padanya. "Walaupun aku mengerti, bukan berarti aku takkan

melemparmu keluar, Jacob. Reaksi Bella luar biasa baik. Jangan rusak momen ini

baginya,"

"Aku akan membantunya menendangmu, anjing," Rosalie berjanji, suaranya

berdesis. "Kau berutang satu tendangan padaku." Jelas tak ada perubahan dalam

hubungan mereka, kecuali semakin memburuk,

Kupelototi ekspresi cemas Jacob yang separo marah. Matanya terpaku pada

wajah Renesmee. Dalam keadaan semua orang berdesak-desakan seperti ini, tubuhnya

pasti bersentuhan dengan setidaknya enam vampir, tapi itu bahkan tidak membuatnya

terganggu sama sekali.

Benarkah ia melakukan ini semua hanya untuk melindungiku dari diriku sendiri?

Apa yang terjadi selama transformasiku—perubahanku menjadi sesuatu yang

dibencinya—yang begitu melembutkan hatinya hingga ia merasa perlu melakukan

semua ini?

378

Aku bingung memikirkannya, melihat Jacob menatap putriku. Memandanginya seperti...

seperti orang buta melihat matahari untuk pertama kalinya.

"Tidak!" aku tersentak.

Rahang Jasper mengatup dan kedua lengan Edward merangkul dadaku seperti

belitan ular. Detik itu juga Jacob merenggut Renesmee dari pelukanku, dan aku tidak

berusaha mempertahankan dia. Karena aku bisa merasakan kemunculannya—ledakan

emosi tak terkendali yang mereka khawatirkan sejak tadi.

"Rose," kataku dengan gigi terkatup rapat, sangat lambat dan jelas. "Ambil

Renesmee,"

Rosalie mengulurkan kedua tangannya, dan Jacob langsung menyerahkan anakku

padanya. Mereka mundur menjauhiku.

"Edward, aku tak ingin menyakitimu, jadi tolong lepaskan aku."

Ia ragu-ragu.

"Pergi dan berdirilah di depan Renesmee," aku menyarankan.

Ia menimbang-nimbang, kemudian melepaskanku.

Aku membungkuk seperti hendak menerkam dan maju dua langkah mendekati

Jacob.

"Tega-teganya kau," geramku padanya.

Jacob mundur, kedua tangan terangkat, berusaha memberi penjelasan. "Kau tahu

itu bukan sesuatu yang bisa kukendali-kan."

"Dasar anjing tolol Tega-teganya kau? Bayiku?

Jacob mundur keluar pintu depan sementara aku merangsek maju

menghampirinya, separo berlari menuruni tangga. "Itu bukan kemauanku, Bella!"

“Aku baru menggendongnya satu kali, tapi belum-belum kau sudah menganggap

dirimu berhak atas dirinya? Dia milikku"

"Aku bisa kok berbagi," kata Jacob dengan nada memohon sementara ia mundur

melintasi halaman.

379

"Ayo bayar," kudengar Emmett berkata di belakangku. Sebagian kecil otakku

penasaran siapa yang bertaruh bahwa akhirnya bakal seperti ini. Aku tidak membuangbuang

waktu untuk memikirkannya. Aku terlalu marah,

"Berani-beraninya kau meng-imprint bayiku?" Kau sudah gila, ya?"

"Itu tidak kusengaja!" Jacob bersikeras, mundur ke arah pohon-pohon.

Kemudian ia tidak sendirian. Dua serigala besar muncul, mengapitnya di kedua

sisi. Leah mengertakkan giginya padaku.

Geraman mengerikan terlontar dari sela-sela gigiku, membalas geraman Leah.

Suara itu menggangguku, tapi tidak cukup untuk menghentikan langkahku.

"Bella, maukah kau mendengar penjelasanku sebentar saja? Please?" Jacob

memohon-mohon. "Leah, mundur" imbuhnya.

Leah menekukkan bibirnya padaku dan tidak bergerak.

"Mengapa aku harus mendengarkanmu?" desisku. Amarah menguasai pikiranku.

Mengaburkan segalanya.

"Karena kau sendiri yang mengatakan ini padaku. Ingatkah kau? Kau sendiri

pernah berkata bahwa kita akan selalu bersama, benar bukan? Bahwa kita satu

keluarga. Kau berkata begitulah seharusnya kau dan aku. Jadi... sekarang kita jadi satu

keluarga. Itu keinginanmu."

Kutatap dia dengan garang. Samar-samar aku ingat kata-kata itu. Tapi otak

baruku berada dua langkah di depan ocehannya yang tidak masuk akal.

"Kaukira kau akan jadi bagian keluargaku sebagai menantuku sergahku. Suaraku

yang seperti lonceng naik dua oktaf tapi masih terdengar bagaikan musik.

Emmett tertawa.

"Hentikan Bella, Edward," bisik Esme. "Dia akan menyesal nanti kalau dia

menyakiti Jacob."

Tapi aku tidak merasa ada yang mengejarku.

"Tidak!" Jacob juga bersikeras pada saat bersamaan. "Bagaimana kau bahkan bisa

melihatnya seperti itu? Dia masih bayi, demi Tuhan”

"Justru itu maksudku!” jeritku.

380

"Kau tahu aku tidak berpikir begitu mengenai Renesmee! Kaukira Edward akan

membiarkanku hidup selama ini kalau aku berpikir yang tidak-tidak tentang dia? Yang

kuinginkan hanya agar dia aman dan bahagia—apakah itu tidak boleh? Apakah itu

berbeda dari yang kauinginkan?" Ia balas berteriak padaku.

Tak mampu lagi berkata apa-apa, aku meneriakkan geraman padanya.

"Bukankah Bella menakjubkan?" kudengar Edward bergumam.

"Tidak sekali pun Bella berusaha menerkam leher Jacob," Carlisle sependapat,

terdengar kagum.

"Baik, kali ini kau menang," kata Emmett enggan. "Kau tak boleh mendekatinya,"

desisnya pada Jacob. "Aku tak bisa melakukan itu!"

Dari sela gigiku yang terkatup rapat: "Coba, Dimulai dari sekarang"

"Itu tidak mungkin. Tidak ingatkah kau betapa kau sangat menginginkan

kehadiranku tiga hari lalu? Betapa sulitnya kita berpisah? Perasaan itu sudah hilang

darimu, bukan?"

Kutatap dia dengan garang, tidak yakin apa maksudnya.

"Itu karena Renesmee," Jacob menjelaskan. "Dari awal. Kami harus selalu

bersama, bahkan saat itu."

Aku ingat, kemudian aku mengerti; sebagian kecil diriku lega kegilaan itu bisa

dijelaskan. Tapi perasaan lega itu hanya membuatku semakin marah. Apa dikiranya itu

cukup bagiku? Bahwa hanya dengan mengklarifikasi maka aku pasti bisa menerima

kenyataan ini?

"Larilah, selagi bisa," ancamku.

"Ayolah, Bells! Nessie juga suka padaku!” Jacob bersikeras.

Tubuhku membeku. Napasku terhenti. Di belakangku tidak terdengar apa-apa,

yang pasti merupakan reaksi cemas mereka.

"Kau tadi memanggilnya... apa?"

Jacob mundur selangkah, terlihat malu-malu. "Well" gumamnya, "nama yang

kaupilih itu agak susah diucapkan, jadi..."

381

"Kau memberi putriku nama panggilan dari Momter Loch Ness?" pekikku.

Kemudian aku menerkam leher Jacob.

382

23. MEMORI

"AKU benar-benar minta maaf, Seth. Seharusnya aku berada lebih dekat."

Edward masih saja meminta maaf, dan kupikir itu tidak adil dan juga tidak pantas.

Soalnya, bukan Edward yang benar-benar kehilangan kendali dan tidak bisa menguasai

amarahnya. Bukan Edward yang berusaha merobek leher Jacob—dan Jacob bahkan

tidak berubah wujud untuk melindungi diri—kemudian secara tidak sengaja

mematahkan bahu dan tulang selangka Seth waktu ia melompat di antara mereka.

Bukan Edward yang nyaris membunuh sahabatnya.

Bukan berarti sang sahabat tak punya andil dalam menyebabkan hal itu terjadi,

tapi jelas tak satu pun kelakuan Jacob membenarkan sikapku tadi.

Jadi bukankah seharusnya aku yang meminta maaf? Aku mencoba lagi.

"Seth, aku..."

"Jangan khawatir soal itu, Bella, aku baik-baik saja," kata Seth bersamaan dengan

Edward berkata, "Bella, Sayang, tak ada yang menghakimimu. Kau hebat sekali."

Bahkan menyelesaikan omonganku pun aku belum boleh. Lebih parah lagi

senyum Edward tak henti-hentinya merekah. Aku tahu Jacob tak pantas menerima

reaksiku yang kelewat berlebihan seperti tadi, tapi Edward seperti menemukan

semacam kepuasan di dalamnya. Mungkin ia berharap seandainya ia juga punya alasan

sebagai vampir baru; maka ia bisa melakukan sesuatu yang bersifat fisik untuk

melampiaskan kekesalannya pada Jacob,

Aku berusaha menghapus amarah itu dari sistemku sepenuhnya, tapi itu sulit,

tahu Jacob ada di luar bersama Renesmee sekarang. Mengamankannya dariku, vampir

baru yang sinting.

Carlisle memasang penyangga lain ke lengan Seth, dan Seth meringis.

"Maaf, maaf!" gumamku, tahu aku takkan bisa menyuarakan permintaan maaf

dengan benar.

”Jangan panik begitu, Bella," kata Seth, menepuk-nepuk lututku dengan

tangannya yang sehat sementara Edward menggosok-gosok lenganku dari sisi lain.

383

Seth sepertinya tak merasa enggan duduk berdampingan denganku di sofa

sementara Carlisle mengobatinya. "Setengah jam lagi aku akan kembali normal,"

sambungnya, masih menepuk-nepuk lututku, seakan tidak menyadari teksturnya yang

dingin dan keras. "Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama, kalau mendengar

tentang Jake dan Ness..." Seth mendadak berhenti bicara dan cepat-cepat mengubah

topik. "Maksudku, setidaknya kau tidak menggigitku atau apa. Kalau itu, baru gawat

deh."

Aku membenamkan wajahku ke tangan dan bergidik memikirkannya,

kemungkinan yang sangat mungkin terjadi. Padahal werewolf tidak bereaksi sama

terhadap racun vampir seperti tubuh manusia, mereka baru memberitahuku sekarang.

Racun vampir itu benar-benar jadi racun bagi mereka. "Jahat sekali aku ini."

"Tentu saja kau tidak jahat. Seharusnya aku..." Edward mulai bicara.

"Hentikan," tukasku. Aku tidak ingin ia menyalahkan dirinya seperti yang selalu ia

lakukan selama ini.

"Untunglah bisa Ness... Renesmee, tidak beracun," kata Seth setelah terdiam

sesaat dengan sikap canggung. "Karena dia menggigit Jake terus."

Aku menjatuhkan kedua tanganku. "Benarkah?"

"Tentu. Setiap kali dia dan Rose kurang cepat menyuapkan makanan. Rose

menganggapnya lucu sekali."

Kupandangi Seth, shock, sekaligus merasa bersalah, karena harus kuakui

informasi ini sedikit membuatku merasa senang.

Tentu saja aku sudah tahu kalau bisa Renesmee tidak beracun. Aku orang

pertama yang digigitnya. Tapi aku tak ingin mengungkapkan pikiranku itu, karena aku

sedang berlagak tidak menyadari masa-masa awal itu.

"Well, Seth," ujar Carlisle, menegakkan badan dan meninggalkan kami. "Kurasa

hanya ini yang bisa kulakukan. Usahakan untuk tidak bergerak selama, oh, beberapa

jam, kurasa." Carlisle terkekeh. "Kalau saja mengobati manusia bisa langsung sembuh

seperti ini." Ia meletakkan tangan sebentar di rambut Seth yang hitam. "Jangan

bergerak," perintahnya, kemudian menghilang ke lantai atas. Kudengar pintu ruang

kerjanya ditutup, dan bertanya-tanya dalam hati apakah mereka sudah membersihkan

bukti-bukti keberadaanku di sana dulu.

"Aku mungkin bisa duduk diam beberapa saat," Seth menyanggupi setelah

Carlisle pergi, kemudian ia menguap lebar-lebar. Dengan hati-hati, memastikan bahunya

384

tidak bergerak, Seth menyandarkan kepala ke punggung sofa dan memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian mulutnya sudah mengendur.

Aku mengerutkan kening, beberapa saat memandangi wajahnya yang tenang.

Seperti Jacob, Seth sepertinya memiliki kemampuan tertidur pulas kapan saja ia mau.

Tahu tak bisa meminta maaf lagi untuk beberapa waktu, aku berdiri; gerakan itu tidak

mengguncangkan sofaku sedikit pun. Segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah

fisik terasa begitu mudah. Tapi hal-hal lain...

Edward mengikutiku ke jendela-jendela belakang dan meraih tanganku,

Leah mondar-mandir di sepanjang tepi sungai, sesekali berhenti untuk melihat ke

arah rumah. Mudah saja membedakan kapan Leah mencari adiknya dan kapan ia

mencariku. Ia berganti-ganti melayangkan pandangan cemas dan pandangan penuh

dendam kesumat.

Aku bisa mendengar Jacob dan Rosalie di luar, di tangga depan, bertengkar pelan

memperebutkan giliran menyuapi Renesmee. Hubungan mereka tetap antagonis seperti

biasa; satu-satunya hal yang mereka sepakati bersama adalah bahwa aku harus

dijauhkan dari bayiku sampai aku seratus persen pulih dari ledakan amarahku. Edward

menolak vonis mereka itu, tapi aku menerimanya saja. Aku juga ingin meyakinkan diri.

Tapi aku khawatir seratus persenkw dan seratus persen mereka adalah dua hal yang

sama sekali berbeda.

Selain pertengkaran mereka, tarikan napas Seth yang teratur, dan napas

memburu Leah yang sedang kesal, suasana sangat tenang. Emmett, Alice, dan Esme

berburu. Jasper ditinggal untuk mengawasiku. Ia berdiri diam-diam di balik tiang

penyangga, berusaha untuk tidak bersikap menjengkelkan.

Aku memanfaatkan suasana yang tenang ini untuk memikirkan hal-hal yang

dikatakan Edward dan Seth saat Carlisle membebat lengan Seth yang patah tadi. Banyak

sekali yang terlewatkan olehku waktu aku sedang terbakar, dan ini kesempatan pertama

yang sesungguhnya untuk mengejar keter-linggalanku.

Hal utama adalah akhir perseteruan dengan kawanan Sam—itulah sebabnya yang

lain-lain merasa aman untuk datang dan pergi sesuka hati lagi. Gencatan senjata kini

semakin kuat dari yang sudah-sudah. Atau, lebih mengikat, tergantung dari sudut mana

kau melihatnya, aku membayangkan.

Mengikat, karena hukum paling utama dari semua hukum yang berlaku bagi

kawanan itu adalah bahwa tidak ada serigala yang boleh membunuh objek imprint

serigala lain. Kepedihan yang didapat dari hal semacam itu takkan bisa ditolerir seluruh

kawanan. Kesalahan itu, apakah disengaja atau tidak, tak dapat dimaafkan; serigala385

serigala yang terlibat akan bertarung sampai mati—tak ada pilihan lain. Hal semacam itu

pernah terjadi dulu, Seth bercerita padaku, tapi tidak disengaja. Tidak ada serigala yang

secara sengaja menghancurkan saudaranya seperti itu.

Maka Renesmee tak bisa disentuh karena perasaan Jacob terhadapnya sekarang.

Aku mencoba memusatkan pikiran pada perasaan lega karena fakta itu, daripada

merasa sedih karenanya, tapi tidak mudah. Ada cukup ruang dalam benakku untuk

merasakan keduanya secara mendalam pada saat bersamaan.

Dan Sam juga tak bisa marah karena transformasiku, karena Jacob—berbicara

sebagai Alfa yang sejati—telah mengizinkannya. Jengkel rasanya menyadari berulang

kali betapa banyaknya aku berutang budi pada Jacob justru di saat aku sedang ingin

marah padanya.

Aku sengaja mengarahkan pikiran-pikiranku agar bisa mengendalikan emosi. Aku

mempertimbangkan fenomena menarik lain; walaupun kesunyian di antara dua

kawanan terus berlanjut, Jacob dan Sam menemukan fakta bahwa dua Alfa bisa saling

berbicara saat dalam wujud serigala. Tidak persis sama seperti sebelumnya; mereka

tidak bisa mendengar setiap pikiran seperti dulu sebelum mereka berpisah. Lebih mirip

berbicara dengan suara keras, begitu penjelasan Seth. Sam hanya bisa mendengar

pikiran-pikiran yang ingin dibagi Jacob, demikian juga sebaliknya. Mereka mendapati

bahwa ternyata mereka bisa berkomunikasi dari jarak jauh setelah sekarang mereka

kembali saling berbicara.

Mereka baru mengetahui hal ini setelah Jacob pergi sendirian—walau sudah

dilarang Seth dan Leah—untuk menjelaskan kepada Sam tentang Renesmee; itu satusatunya

saat ia meninggalkan Renesmee sejak pertama kali melihatnya.

Begitu Sam mengerti semua telah berubah, ia kembali bersama Jacob untuk

berbicara dengan Carlisle. Mereka berbicara dalam wujud manusia (Edward menolak

beranjak dari sisiku untuk menerjemahkan), dan kesepakatan pun diperbaharui. Namun

atmosfer persahabatan takkan pernah kembali lagi seperti dulu.

Satu kekhawatiran besar sudah berhasil disingkirkan. Tapi masih ada lagi

kekhawatiran lain yang, walaupun tidak berbahaya secara fisik seperti segerombolan

serigala marah, tetap terasa lebih mendesak bagiku. Charlie.

Ia sudah berbicara dengan Esme tadi pagi, tapi itu tidak membuatnya berhenti

menelepon lagi, dua kali, hanya beberapa menit yang lalu, waktu Carlisle sedang

merawat tangan Seth. Carlisle dan Edward membiarkan teleponnya berdering tanpa

diangkat.

386

Apa kira-kira yang bisa kuberitahukan padanya? Apakah keluarga Cullen benar?

Apakah mengatakan kepada Charlie bahwa aku sudah meninggal adalah jalan terbaik?

Apakah aku bisa berbaring diam tak bergerak dalam peti mati sementara Charlie dan

ibuku menangisiku?

Aku merasa itu bukan hal yang tepat. Tapi membahayakan hidup Charlie dan

Renée karena obsesi keluarga Volturi pada kerahasiaan juga jelas bukan pilihan.

Ada juga ideku yang lama—membiarkan Charlie menemuiku, kalau aku sudah

siap, dan membiarkannya berasumsi yang salah. Secara teknis tidak ada peraturan

vampir yang dilanggar. Apakah tidak lebih baik Charlie tahu aku masih hidup—

begitulah—dan bahagia? Walaupun aku aneh, berbeda, dan mungkin menakutkan

baginya?

Mataku, terutama, terlalu menakutkan sekarang. Berapa lama lagi pengendalian

diri dan warna mataku siap menerima Charlie?

"Ada apa, Bella?" Jasper bertanya pelan, membaca keteganganku yang semakin

meningkat. "Tidak ada yang marah denganmu" geraman rendah dari tepi sungai

menyanggah perkataannya, tapi ia mengabaikannya" atau bahkan terkejut, sungguh.

Well, kurasa kami memang terkejut. Terkejut karena kau bisa menguasai diri begitu

cepat. Bagus sekali. Lebih bagus daripada yang diharapkan orang darimu."

Sementara ia berbicara, ruangan jadi sangat tenang. Embusan napas Seth

berubah menjadi dengkuran pelan. Aku merasa lebih damai, tapi aku tidak melupakan

keresahanku.

“Aku memikirkan Charlie sebenarnya."

Di luar sana, pertengkaran itu kontan terhenti.

"Ah," gumam Jasper.

"Kita benar-benar harus pergi, ya?" tanyaku. "Untuk sementara, paling tidak.

Pura-pura sedang berada di Alaska atau sebangsanya."

Aku bisa merasakan tatapan Edward tertuju ke wajahku, tapi aku menatap

Jasper. Dialah yang menjawabku dengan nada muram.

"Ya. Itu satu-satunya cara melindungi ayahmu."

Aku tercenung sebentar memikirkannya. "Aku akan sangat merindukan dia. Aku

akan merindukan semua orang di sini."

387

Jacob, pikirku, meski tidak ingin. Walaupun kerinduan itu sudah hilang dan sudah

bisa dimengerti alasannya—dan aku merasa sangat lega karenanya—ia tetap temanku.

Orang yang memahami aku yang sebenarnya dan menerimaku apa adanya. Bahkan

sebagai monster.

Aku memikirkan perkataan Jacob, yang memohon pengertianku sebelum aku

menyerangnya. Kau sendiri pernah berkata kita akan selalu bersama, ya kan? Bahwa kita

satu keluarga. Kau berkata begitulah seharusnya kau dan aku. Jadi. sekarang kita jadi

satu keluarga. Itu keinginanmu.

Tapi rasanya bukan ini yang kuinginkan. Tidak persis seperti ini. Ingatanku

melayang lebih jauh ke belakang, ke kenangan-kenangan kabur dan lemah kehidupanku

dulu sebagai manusia. Kembali ke bagian yang paling sulit diingat— ke masa tanpa

Edward, masa yang begitu gelap hingga aku berusaha menguburnya dalam kepalaku.

Aku tak bisa mengingat dengan tepat kata-kata persisnya; aku hanya ingat pernah

berharap Jacob saudara lelakiku sehingga kami bisa saling menyayangi tanpa perasaan

bingung atau sakit hati. Keluarga. Tapi tak sedikit pun pernah terlintas dalam pikiranku

ada faktor anak perempuan di dalamnya.

Aku teringat masa yang belum lama lewat—satu dari sekian banyak

kesempatanku mengucapkan selamat berpisah pada Jacob—saat aku mengungkapkan

rasa ingin tahuku dengan siapa ia akan berpasangan nanti, siapa yang akan membenahi

hidupnya setelah apa yang kulakukan terhadapnya. Aku pernah berkata bahwa siapa

pun dia, dia takkan cukup baik bagi Jacob.

Aku mendengus, dan Edward mengangkat sebelah alisnya dengan sikap bertanya.

Aku hanya menggeleng.

Tapi sebesar apa pun aku kehilangan temanku nanti, aku tahu ada masalah lain

yang lebih besar. Apakah Sam, atau Jared, atau Quil pernah melewatkan satu hari saja

tanpa menemui objek fiksasi mereka, Emily, Kim, dan CIaire? Apa mereka BISA? Apa

akibatnya bila Renesmee dipisahkan dari Jacob? Apakah itu akan membuat Jacob

terluka?

Masih tersisa banyak kejengkelan di hatiku yang membuatku senang, bukan

karena kesedihan Jacob, tapi karena membayangkan menjauhkan Renesmee darinya.

Bagaimana aku bisa menerima fakta bahwa ia milik Jacob kalau ia baru saja jadi milikku?

Suara gerakan di teras depan membuyarkan pikiran-pikiranku. Aku mendengar

mereka berdiri, lalu berjalan melewati pintu. Pada saat bersamaan Carlisle menuruni

tangga dengan kedua tangan penuh benda aneh—pita pengukur, timbangan. Jasper

melesat ke sampingku. Seolah-olah ada semacam sinyal yang terlewatkan olehku,

388

bahkan Leah pun duduk di luar dan memandang melalui jendela dengan ekspresi

seakan-akan ia menunggu sesuatu yang familier sekaligus sangat tidak menarik.

"Pasti enam," kata Edward.

"Memangnya kenapa?" tanyaku, mataku tertuju pada Rosalie, Jacob, dan

Renesmee. Mereka berdiri di ambang pintu, Renesmee dalam gendongan Rosalie. Rose

tampak waswas. Jacob resah. Renesmee cantik dan tidak sabaran.

"Saatnya mengukur Ness... eh, Renesmee," Carlisle menjelaskan.

"Oh. Kau mengukurnya setiap hari?"

"Empat kali sehari," Carlisle mengoreksi dengan nada sambil lalu sementara ia

melambaikan tangan, memberi isyarat pada yang lain untuk duduk di sofa. Kalau tidak

salah aku melihat Renesmee mendesah.

"Empat kali? Setiap hari? Mengapa?"

"Dia masih bertumbuh dengan cepat," Edward berbisik padaku, suaranya pelan

dan tegang. Ia meremas tanganku, dan lengannya yang lain merangkul pinggangku eraterat,

hampir seperti perlu berpegangan.

Aku tak sanggup mengalihkan pandangan dari Renesmee untuk mengecek

ekspresinya.

la terlihat sempurna, sehat walafiat. Kulitnya berkilau bagai pualam yang

bersinar-sinar; warna pipinya bagaikan kelopak mawar. Tak mungkin ada yang salah

dengan kecantikan yang begitu berkilau. Pasti tak ada yang lebih berbahaya dalam

hidupnya daripada ibunya. Benarkah begitu?

Perbedaan antara anak yang kulahirkan dengan bocah yang kutemui satu jam

yang lalu tampak jelas oleh siapa pun. Perbedaan antara Renesmee satu jam yang lalu

dengan Renesmee yang sekarang tidak begitu terlihat. Mata manusia takkan mungkin

mendeteksinya. Tapi perbedaan itu ada.

Tubuhnya sedikit lebih panjang. Memang hanya sedikit. Wajahnya tidak begitu

bundar; wajahnya semakin memanjang satu derajat setiap menitnya. Ikal rambutnya

tergantung seperenam belas inci di bawah bahunya. Ia menjulurkan tubuh dengan sikap

membantu dalam gendongan Rosalie waktu Carlisle menempelkan pita pengukur ke

tubuhnya lalu menggunakannya untuk melingkari kepalanya. Carlisle tidak perlu

mencatat; ingatannya sempurna.

389

Kulihat Jacob melipat kedua lengannya erat-erat di dada seperti kedua lengan

Edward yang merangkulku. Alisnya yang tebal bertaut membentuk garis di atas matanya

yang menjorok ke dalam,

Renesmee berkembang dari satu sel menjadi bayi berukuran normal hanya dalam

beberapa minggu. Ia sudah hampir terlihat seperti balita hanya beberapa hari setelah

kelahirannya. Kalau pertumbuhannya terus secepat ini...

Otak vampirku tidak mengalami kesulitan dalam berhitung.

"Kita harus bagaimana?" bisikku, ngeri.

Lengan Edward semakin erat memelukku. Ia mengerti benar maksud

pertanyaanku. "Aku tidak tahu."

"Pertumbuhannya melambat kok," gumam Jacob dari sela-sela giginya.

"Kita membutuhkan data pengukuran selama beberapa hari untuk mengetahui

trennya, Jacob. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa."

"Kemarin dia tumbuh lima senti. Hari ini kurang dari itu."

"Perbedaannya sepertiga puluh dua inci, kalau pengukuranku sempurna," kata

Carlisle pelan.

"Ukur yang sempurna, Dok," sergah Jacob, kata-katanya nyaris terdengar

mengancam. Rosalie mengejang.

"Kau tahu aku akan berusaha semampuku," Carlisle meyakinkan dia.

Jacob menghela napas. "Kurasa hanya itu yang bisa kuminta"

Lagi-lagi aku merasa jengkel, seolah-olah Jacob mengatakan hal-hal yang

seharusnya kukatakan, dan menyampaikannya dengan cara yang salah.

Renesmee juga terlihat jengkel. Ia mulai menggeliat-geliat dan mengulurkan

tangan dengan sikap angkuh pada Rosalie. Rosalie mencondongkan badan agar

Renesmee bisa menyentuh wajahnya. Sedetik kemudian Rose mendesah.

"Apa yang dia inginkan?" tuntut Jacob, mencuri kata-kataku lagi.

"Bella, tentu saja," Rosalie menjawab pertanyaan Jacob, dan kata-katanya

membuat hatiku sedikit hangat. Lalu ia berpaling padaku. "Bagaimana perasaanmu?"

"Khawatir," aku mengakui, dan Edward meremasku.

390

"Kami semua khawatir. Tapi bukan itu yang kumaksud."

"Aku bisa mengendalikan diri," janjiku. Dahaga berada dalam urutan terakhir

dalam daftarku sekarang. Selain itu, bau Renesmee sangat menyenangkan, bukan dalam

konotasi sebagai makanan.

Jacob menggigit bibir tapi tidak berusaha menghentikan Rosalie sementara ia

menyodorkan Renesmee padaku. Jasper dan Edward berdiri tak jauh dariku tapi

membiarkannya. Bisa kulihat betapa tegangnya Rose, dan aku penasaran bagaimana

Jasper merasakan suasana ruangan ini. Atau ia terlalu keras memfokuskan pikiran

padaku sehingga tak bisa merasakan perasaan yang lain-lain?

Renesmee menggapaiku sementara aku mengulurkan tangan untuk meraihnya,

senyum cemerlang menyinari wajahnya. Ia pas benar dalam gendonganku, seolah-olah

lenganku dibentuk khusus untuknya. Langsung saja ia menempelkan tangan kecilnya

yang panas ke pipiku.

Walaupun sudah siap, tetap saja aku tersentak melihat kenangan seperti visi

dalam kepalaku. Begitu terang dan berwarna tapi sekaligus transparan.

Ia mengingat aku menyerang Jacob di halaman depan, mengingat Seth yang

menerjang di antara kami. Ia melihat dan mendengar semuanya dengan kejelasan

sempurna. Makhluk itu tidak terlihat seperti aku, predator anggun yang menerkam

mangsanya seperti panah melesat dari busur. Itu pasti orang lain. Itu membuatku

merasa sedikit tidak bersalah pada Jacob yang berdiri di sana tanpa membela diri sedikit

pun, kedua tangan terangkat di depannya. Kedua tangannya tidak bergetar.

Edward terkekeh, melihat pikiran-pikiran Renesmee bersamaku. Kemudian kami

sama-sama meringis waktu mendengar tulang-tulang Seth berderak patah.

Renesmee menyunggingkan senyum briliannya, dan mata ingatannya sama sekali

tak luput menatap Jacob selama kekacauan yang berlangsung kemudian. Aku merasakan

rasa baru dalam ingatan itu—bukan protektif, tapi lebih condong posesif—saat ia

mengamati Jacob. Samar-samar aku mendapat kesan ia senang Seth menghalangi

terjanganku. Renesmee tak ingin Jacob terluka. Jacob miliknya*

"Oh, hebat," erangku. "Sempurna."

"Itu hanya karena rasa Jacob lebih enak daripada kita yang lain," Edward

meyakinkanku, suaranya kaku karena kesal.

391

"Sudah kubilang, dia juga suka padaku," goda Jacob dari seberang ruangan,

matanya tertuju pada Renesmee. Candanya setengah hati; kerutan alisnya yang tegang

tak kunjung mengendur.

Renesmee menepuk-nepuk wajahku dengan sikap tak sabar, menuntut

perhatianku. Kenangan lain: Rosalie menyisir rambut ikalnya dengan lembut. Rasanya

menyenangkan.

Carlisle dan pita pengukurnya, tahu ia harus menegakkan badan dan tidak boleh

bergerak- gerak. Itu tidak menarik baginya.

"Kelihatannya dia akan melaporkan semua yang terlewatkan olehmu," Edward

berkomentar di telingaku.

Hidungku mengernyit ketika Renesmee memasukkan kenangan lain dalam

benakku. Bau yang berasal dari cangkir logam aneh—cukup keras sehingga tidak

gampang digigit— membuat kerongkonganku langsung terbakar saking hausnya. Aduh.

Lalu Renesmee lenyap dari gendonganku, dan kedua lenganku dipiting ke

belakang. Aku tidak memberontak dari Jasper; aku hanya memandangi wajah Edward

yang ketakutan.

"Memangnya apa yang kulakukan tadi?"

Edward memandang Jasper di belakangku, lalu padaku lagi.

"Tapi Bella mengingat saat dia merasa haus," gumam Edward, keningnya

berkerut-kerut. "Dia mengingat bagaimana rasanya darah manusia."

Jasper memiting lenganku semakin erat. Sebagian otakku menyadari tindakannya

itu tidak terlalu membuatku merasa tidak nyaman, apalagi kesakitan, seperti saat aku

masih menjadi manusia. Hanya menjengkelkan. Aku yakin sanggup mematahkan

piringannya, tapi aku sengaja tak mau melawan. "Ya," aku membenarkan. "Dan?"

Edward mengerutkan kening padaku, lalu ekspresinya melunak. Ia tertawa. "Dan

tidak apa-apa, sepertinya. Kali ini aku yang bereaksi terlalu berlebihan. Jazz, lepaskan

dia."

Tangan yang memitingku lenyap. Aku langsung mengulurkan tanganku lagi pada

Renesmee. Edward menyerahkannya padaku tanpa ragu.

"Aku tidak mengerti," kata Jasper. "Aku tak sanggup lagi."

392

Dengan kaget kulihat Jasper menghambur keluar dari pintu belakang. Leah

beranjak menjauhinya waktu Jasper mondar-mandir di tepi sungai lalu melompat ke

seberang hanya dalam sekali lompatan.

Renesmee menyentuh leherku, langsung memutar kembali adegan kepergian

Jasper tadi, seperti instant replay. Aku bisa merasakan pertanyaan dalam pikirannya,

menggemakan pikiranku sendiri.

Belum-belum aku sudah shock berat melihat bakat Renesmee yang aneh ini.

Tampaknya seperti bagian yang sangat natural, nyaris seperti sudah bisa diduga.

Mungkin karena sekarang aku sendiri sudah menjadi bagian dari sesuatu yang

supranatural itu, aku takkan pernah lagi merasa skeptis.

Tapi Jasper tadi kenapa?

"Nanti juga dia kembali," kata Edward, entah padaku atau Renesmee, aku tak

yakin. "Ia hanya butuh sendirian untuk menyesuaikan kembali perspektirhya tentang

hidup." Tampak sudut-sudut mulut Edward sedikit bergetar, seperti menahan

seringaian.

Lagi-lagi kenangan manusia—Edward mengatakan kepadaku Jasper akan lebih

bisa menerima diri sendiri kalau aku "mengalami kesulitan menyesuaikan diri" sebagai

vampir. Itu ia katakan saat kami sedang mendiskusikan kemungkinan berapa banyak

orang yang akan kubunuh pada tahun pertamaku sebagai vampir baru.

"Dia marah padaku?" tanyaku pelan.

Mata Edward membelalak. "Tidak. Mengapa mesti marah?"

"Kalau begitu dia kenapa?"

"Dia kesal pada dirinya sendiri, bukan padamu, Bella. Dia khawatir tentang...

nubuat yang digenapi sendiri, kurasa bisa dikatakan begitu."

"Bagaimana bisa begitu?" tanya Carlisle sebelum aku sempat bertanya.

"Dia penasaran apakah kegilaan vampir baru itu benar-benar sesulit yang kita kira

selama ini, atau apakah, dengan fokus dan sikap yang benar, siapa pun bisa bersikap

setenang Bella. Bahkan sekarang—mungkin Jasper merasa itu sulit karena dia yakin

kegilaan itu alami dan tak bisa dihindari. Mungkin kalau dia mengharapkan yang lebih

dari dirinya, dia akan bisa memenuhi harapan itu. Kau membuatnya mempertanyakan

banyak asumsi yang sudah berurat akar selama ini, Bella."

393

"Tapi itu kan tidak adil," sergah Carlisle. "Semua orang berbeda; semua punya

tantangannya masing-masing. Mungkin yang Bella lakukan melebihi yang alami.

Mungkin ini kelebihannya, begitulah,"

Aku membeku kaget. Renesmee merasakan perubahan itu, dan menyentuhku. Ia

mengingat detik terakhir dan ingin tahu mengapa.

"Itu teori yang menarik, dan cukup masuk akal" kata Edward,

Sesaat aku sempat kecewa. Apa? Tidak ada visi ajaib, bakat menyerang yang

mengagumkan seperti, oh, menembakkan sinar kilat dari mataku atau sebangsanya?

Tidak ada bakat yang berguna atau benar-benar bebat?

Kemudian sadarlah aku apa artinya itu, bahwa "kemampuan superku" tak lebih

dari pengendalian diri yang luar biasa.

Pertama, setidaknya aku punya bakat. Soalnya bisa saja aku tidak punya apa-apa,

tapi jauh lebih penting daripada itu, kalau Edward benar, itu berarti aku bisa langsung

melewati bagian yang paling kutakutkan.

Bagaimana kalau aku tidak perlu menjadi vampir baru? Dalam arti bukan vampir

gila yang ibarat mesin pembunuh. Bagaimana kalau aku bisa langsung menyesuaikan diri

dengan keluarga Cullen sejak hari pertamaku? Bagaimana kalau kami tidak perlu

bersembunyi di suatu tempat terpencil selama satu rahun, menungguku "matang"?

Bagaimana kalau, seperti Carlisle, aku tak pernah membunuh satu manusia pun?

Bagaimana kalau aku bisa langsung menjadi vampir baik?

Aku bisa bertemu Charlie.

Aku mengembuskan napas begitu realita menyela harapan itu. Aku tidak bisa

langsung menemui Charlie. Karena mata, suara, wajahku yang disempurnakan. Apa yang

bisa kukatakan padanya; bagaimana aku bahkan bisa memulainya? Diam-diam aku

senang memiliki alasan untuk menunda sementara pertemuan itu; walaupun aku sangat

ingin mencari cara untuk mempertahankan Charlie dalam hidupku, aku takut sekali

menantikan pertemuan pertama itu. Melihat matanya membelalak saat ia melihat

wajah baruku, kulit baruku. Tahu bahwa ia takut. Penasaran penjelasan mengerikan apa

yang bakal terbentuk dalam pikirannya.

Aku cukup pengecut untuk menunggu satu tahun sementara warna mataku

memudar. Padahal selama ini kukira aku takkan merasa takut lagi kalau nanti aku sudah

menjadi makhluk yang tak bisa dihancurkan,

394

"Pernahkah kau melihat hal seperti pengendalian diri sebagai suatu bakat?"

Edward bertanya kepada Carlisle. "Kau benar-benar menganggap ini bakat, atau hanya

hasil dari semua persiapan Bella?"

Carlisle mengangkat bahu. "Memang agak mirip dengan apa yang selama ini bisa

dilakukan Siobhan, walaupun dia tidak menganggap itu bakat."

"Siobhan, temanmu di kelompok Irlandia itu?" tanya Rosalie. "Aku malah tidak

tahu dia punya kemampuan khusus. Kusangka justru Maggie yang berbakat dalam

kelompok itu."

"Ya, Siobhan juga merasakan hal yang sama. Tapi dia memiliki ciri khas dalam

menetapkan target-targetnya dan kemudian nyaris... mewujudkannya menjadi

kenyataan. Dia menganggapnya perencanaan yang baik, tapi aku penasaran apakah itu

lebih dari sekadar perencanaan. Waktu dia memasukkan Maggie ke kelompoknya,

misalnya. Liam sangat teritorial, tapi Siobhan ingin itu berhasil, maka itu pun berhasil."

Edward, Carlisle, dan Rosalie duduk di kursi sambil melanjutkan diskusi mereka.

Jacob duduk di sebelah Seth dengan sikap protektif, terlihat bosan. Menilik kelopak

matanya yang berat, aku yakin ia akan tidur selama beberapa saat.

Aku ikut mendengarkan, tapi perhatianku terbagi. Renesmee masih

"menceritakan" harinya padaku. Aku mendekapnya di dekat jendela, kedua lenganku

otomatis menepuk-nepuknya sementara kami bertatapan.

Sadarlah aku yang lain tak punya alasan untuk duduk. Aku merasa nyamannyaman

saja berdiri terus. Sama nyamannya dengan tidur berselonjor di tempat tidur.

Aku tahu aku akan sanggup berdiri terus seperti ini selama satu minggu tanpa bergerak

dan akan tetap merasa serileks hari pertama pada akhir hari ketujuh nanti.

Mereka duduk hanya karena terbiasa. Karena manusia pasti akan merasa ada

yang aneh bila melihat seseorang berdiri berjam-jam tanpa menggerakkan badan dan

memindahkan tumpuan pada kaki yang lain. Bahkan sekarang, kulihat Rosalie

mengusapkan jari-jarinya ke rambut dan Carlisle menyilangkan kakinya. Gerakangerakan

kecil agar tidak terlihat terlalu diam, terlalu vampir. Aku harus mencermati apa

yang mereka lakukan dan mulai berlatih.

Aku beralih menumpukan berat badanku pada kaki kiri. Rasanya konyol.

Mungkin mereka hanya berusaha memberiku kesempatan berduaan saja dengan

bayiku—sendiri tapi tetap aman.

395

Renesmee menceritakan setiap menit yang terjadi dalam hidupnya padaku, dan

menilik maksud yang ia tekankan pada setiap cerita-cerita kecilnya, aku mendapat kesan

ia ingin aku mengenalnya hingga ke hal-hal terkecil, sama seperti aku ingin ia tahu halhal

terkecil mengenai diriku. Ia khawatir karena aku melewatkan banyak hal—seperti

misalnya, burung-burung gagak yang melompat semakin dekat ketika Jacob

menggendongnya, mereka berdua duduk diam tak bergerak di samping pohon cemara

besar; burung-burung itu tidak mau mendekati Rosalie. Atau tentang benda putih yang

sangat menjijikkan—susu formula bayi—yang dimasukkan Carlisle ke cangkir; baunya

seperti tanah masam. Atau lagu yang didendangkan Edward dengan begitu sempurna

untuknya sampai-sampai Renesmee memutarkan adegan itu untukku dua kali; aku

terkejut karena aku berada di latar belakang dalam kenangan itu, diam tak bergerak tapi

tidak tampak terlalu berantakan. Aku bergidik, mengingar waktu itu dari sudut

pandangku sendiri. Api yang menyiksa...

Setelah hampir satu jam—yang lain masih asyik dengan diskusi mereka. Seth dan

Jacob mendengkur berirama di sofa—cerita-cerita kenangan Renesmee mulai

melambat. Gambar-gambar itu mulai mengabur di bagian pinggir dan kehilangan fokus

sebelum sampai pada bagian kesimpulan. Aku baru hendak menginterupsi Edward

dengan panik—apakah ada yang tidak beres dengan Renesmee?—waktu kelopak mata

Renesmee menggeletar kemudian menutup. Ia menguap, bibir pinknya yang montok

membentuk huruf O, dan matanya tidak terbuka lagi.

Tangannya terkulai dari wajahku saat ia terhanyut dalam tidur—bagian belakang

kelopak matanya berwarna keunguan pucat, seperti warna awan-awan tipis sebelum

matahari terbit. Berhati-hati agar tidak mengusiknya, aku mengangkat tangannya dan

menempelkannya lagi ke kulitku dengan sikap ingin tahu. Mulanya tak ada apa-apa,

kemudian, beberapa menit kemudian, sekelebat warna bagaikan sekelompok kupukupu

beterbangan dari pikirannya,

Tersihir, aku menonton mimpi-mimpinya. Tak ada yang masuk akal. Hanya

warna-warna, bentuk-bentuk dan wajah-wajah. Aku senang melihat betapa seringnya

wajahku—kedua wajahku, sebagai manusia yang jelek dan makhluk abadi yang

memesona—muncul dalam pikiran bawah sadarnya. Lebih daripada Edward atau

Rosalie. Jumlahnya hampir sama banyak dengan Jacob; aku berusaha untuk tidak

membiarkan itu mengusik perasaanku.

Untuk pertama kali aku mengerti bagaimana Edward sanggup menontonku tidur

setiap malam, padahal menurutku itu membosankan, hanya untuk mendengarku bicara

dalam tidurku. Aku juga sanggup menonton Renesmee bermimpi selamanya.

396

Perubahan pada nada suara Edward menarik perhatianku waktu ia berkata,

"Akhirnya," dan berpaling untuk memandang ke luar jendela. Di luar malam hitam

pekar, tapi aku bisa melihat sejauh sebelumnya. Tak ada yang tersembunyi dalam

kegelapan; segala sesuatu hanya berubah warna.

Leah, masih merengut, bangkit dan menyelinap ke semak-semak begitu Alice

muncul dari sisi seberang sungai. Alice berayun dari satu cabang ke cabang lain seperti

pemain sirkus, jari kaki menyentuh tangan, sebelum melontarkan tubuhnya ke seberang

sungai dalam gerakan berjumpalitan anggun. Esme melompat secara tradisional,

sementara Emmett mener-j.uig permukaan air, mencipratkan air hingga jauh mengenai

jendela-jendela rumah bagian belakang. Yang mengejutkan, Jasper menyusul tak lama

kemudian, lompatannya yang efisien tampak biasa-biasa saja, bahkan halus,

dibandingkan yang lain-lain.

Cengiran lebar yang menghiasi wajah Alice samar-samar terasa akrab di otakku.

Semua orang tiba-tiba tersenyum padaku—senyum Esme yang manis, Emmett yang

kegirangan, Rosalie yang agak superior, Carlisle yang sabar, dan Edward yang penuh

harap.

Alice melesat memasuki ruangan mendahului yang lain, tangannya terulur dan

ketidaksabaran menghasilkan aura yang hampir bisa dilihat di sekelilingnya. Di telapak

tangannya tergeletak anak kunci kuningan biasa, dihias pita satin pink berukuran sangat

besar.

la menyodorkan kunci itu padaku, dan aku otomatis mendekap Renesmee lebih

erat lagi di lengan kananku agar bisa membuka telapak tangan kiriku. Alice menjatuhkan

kunci itu ke sana.

"Selamat ulang tahun!" pekik Alice.

Kuputar bola mataku. "Tidak ada yang menghitung ulang tahun dari tanggal kau

dilahirkan" aku mengingatkan dia. "Ulang tahun pertamaku baru tahun depan, Alice."

Cengiran Alice berubah jadi senyuman puas, "Kita bukan merayakan ulang

tahunmu sebagai vampir. Belum. Sekarang tanggal 13 September, Bella. Selamat ulang

tahun yang kesembilan belas!"

397

24. KEJUTAN

"Tidak, Tidak mau!" Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat kemudian melirik

senyum puas suamiku yang berwajah bak pemuda tujuh belas tahun itu, "Tidak, ini tidak

termasuk. Aku kan sudah berhenti menua tiga hari yang lalu. Aku akan berumur delapan

belas tahun selamanya"

"Terserah," tukas Alice, mengabaikan protesku dengan mengangkat bahu cepat.

"Pokoknya kita akan tetap merayakan, jadi terima nasib sajalah "

Aku mendesah. Jarang memang bisa menang berdebat melawan Alice.

Cengirannya semakin lebar begitu ia membaca sorot pasrah di mataku,

"Sudah siap membuka hadiahmu?" dendang Alice.

"Hadiah-hadiah" Edward mengoreksi, dan menarik anak kunci lain—kali ini lebih

panjang dan berwarna perak, dengan pita biru yang tidak terlalu norak—dari sakunya.

Susah payah aku menahan diri agar tidak memutar bola mataku. Aku langsung

tahu kunci apa itu—“kunci mobil sesudah" Dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku

harus merasa girang. Rasanya perubahanku menjadi vampir tak lantas membuatku

mendadak tertarik pada mobil-mobil sports.

"Punyaku duluan," sergah Alice, lalu menjulurkan lidah, sudah bisa melihat

jawaban yang akan dilontarkan Edward.

"Punyaku lebih dekat."

"Tapi coba saja lihat caranya berpakaian" Kata-kata Alice nyaris berupa erangan.

"Tanganku sampai gatal melihatnya seharian ini. Itu jelas prioritas."

Alisku berkerut sementara dalam hati aku penasaran bagaimana bisa anak kunci

membuatku mendapat baju-baju baru. Apakah ia menghadiahiku baju sebagasi penuh?

"Aku tahu—kita suit," Alice menyarankan. "Batu, kertas, gunting."

Jasper terkekeh dan Edward mendesah.

"Mengapa tidak kaubilang saja padaku siapa yang menang?" tukas Edward kecut.

Alice berseri-seri. "Aku yang menang. Bagus sekali."

398

"Mungkin lebih baik aku menunggu sampai pagi saja." Edward tersenyum miring

padaku kemudian mengangguk kepada Jacob dan Seth, yang kelihatannya bakal tidur

pulas sepanjang malam; aku jadi penasaran sudah berapa lama mereka tidak tidur kali

ini. "Kurasa akan lebih menyenangkan kalau Jacob sudah bangun dan melihat kadonya

dibuka? Jadi di sana ada orang yang bisa mengekspresikan antusiasme dengan tepat?"

Aku balas menyeringai. Edward tahu benar bagaimana aku.

"Yuhun!" dendang Alice. "Bella, berikan Ness—Renesmee pada Rosalie."

"Biasanya dia tidur di mana?"

Alice mengangkat bahu. "Dalam gendongan Rose. Atau Jacob Atau Esme. Kau

tahu sendirilah. Seumur hidupnya dia buimu pernah diletakkan. Dia akan jadi makhluk

separo vampir paling manja sepanjang eksistensi."

Edward tertawa sementara Rosalie mengambil alih Renesmee dengan ahlinya

dari pelukanku. "Dia juga makhluk separo vampir yang paling tidak manja," sergah

Rosalie. "Itulah enaknya menjadi makhluk yang tak ada duanya di dunia ini."

Rosalie nyengir padaku, dan aku gembira melihat persahabatan baru di antara

kami masih ada dalam senyumnya. Padahal awalnya aku tak yakin persahabatan kami

akan bertahan setelah hidup Renesmee tak lagi terhubung denganku. Tapi mungkin

kami sudah cukup lama berjuang di pihak yang sama sehingga kami akan selalu

berteman sekarang. Akhirnya aku mengambil pilihan yang sama dengan yang akan

diambilnya seandainya ia berada di tempatku. Sepertinya itu melenyapkan

kebenciannya atas semua pilihanku yang lain.

Alice menyurukkan kunci berhias pita itu ke tanganku, lalu ia nyambar sikuku dan

menggiringku ke pintu belakang. "Ayo, ayo," serunya ceria.

"Di luar, ya?"

"Begitulah," jawab Alice, mendorongku maju. "Nikmati hadiahmu," seru Rosalie.

"Itu dari kami semua. dan utama Esme."

"kalian tidak ikut?" Sadarlah aku tak seorang pun beranjak.

"Kami akan memberimu kesempatan menikmatinya sendiri," jawab Rosalie. "Kau

bisa menceritakannya pada kami... nanti."

Emmett tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa suara tawanya membuat pipiku

memerah, walaupun aku tak tahu sebabnya.

399

Kusadari banyak hal tentang aku—seperti benar-benar membenci kejutan, dan

terlebih-lebih lagi, tidak menyukai hadiah secara umum—ternyata belum berubah

sedikit pun. Sungguh melegakan mendapati banyak sifat dasarku ikut bersamaku dalam

tubuh baruku ini.

Aku tidak mengira akan menjadi diriku sendiri. Aku tersenyum lebar.

Alice menarik-narik sikuku, dan aku tak bias berhenti tersenyum saat

mengikutinya memasuki malam yang ungu pekat. Hanya Edward yang ikut bersama

kami.

"Itu baru antusias namanya," gumam Alice menyetujui. Lalu ia melepaskan

lenganku, melompat kecil dua kali, lalu melompat menyeberang sungai.

"Ayo, Bella," serunya dari seberang sungai.

Edward melompat bersamaan denganku; ini sama menyenangkannya dengan

siang tadi. Mungkin sedikit lebih menyenangkan karena malam mengubah segalanya

jadi warna-warna baru yang kaya.

Alice berlari bersama kami yang menempel ketat di belakangnya, menuju ke arah

utara. Lebih mudah mengikuti suara kakinya yang mendesir di tanah dan jejak baru

aroma tubuhnya daripada melihatnya terus melalui vegetasi yang lebat.

Tanpa pertanda yang bisa kulihat, ia berbalik cepat dan merangsek kembali ke

tempat aku berhenti.

"Jangan menyerangku," ia memperingatkan, lalu melesat mendekatiku.

"Apa-apaan kau?" tuntutku, menggeliat-geliat saat ia bergegas menaiki

punggungku dan menempelkan kedua tangannya ke wajahku. Aku merasakan dorongan

untuk melemparkannya, tapi kutahan.

"Memastikan kau tak bisa melihat."

"Aku bisa memastikan hal yang sama tanpa aksi teatrikal itu," Edward

menawarkan diri.

"Kau mungkin akan membiarkannya berbuat curang. Gandeng dia dan tuntun

maju."

"Alice, aku..."

'Tidak usah membantah, Bella. Kita akan melakukannya, ini caraku."

400

Aku merasakan jari-jemari Edward menyusup ke jari-jariku, lingual beberapa

detik lagi, Bella. Kemudian dia bisa pergi dan membuat jengkel orang lain." Edward

menarikku maju. Aku mengikuti dengan mudah. Aku tidak takut menabrak pohon;

pohonnya yang justru bakal roboh kalau kutabrak.

"Sebaiknya kau juga menunjukkan rasa terima kasihmu," tegur Alice padanya. "Ini

juga untukmu, bukan hanya untuk Bella.”

“Benar. Terima kasih sekali lagi, Alice."

"Yeah, yeah. Oke." Suara Alice tiba-tiba meninggi karena kegembiraan. "Berhenti

di sana. Arahkan dia sedikit ke kanan. Ya, seperti itu. Oke. Kau siap?" serunya.

"Aku siap." Ada bau-bau baru di sini, memicu perhatianku, meningkatkan rasa

ingin tahuku. Bau-bau yang tak seharusnya ada di pelosok hutan. Kamperfuli. Asap.

Mawar. Serbuk gergaji? Ada bau mirip logam juga. Bau subur tanah, digali dan itip.ipor

udara. Aku mencondongkan tubuh ke arah misteri.

Alice melompat turun dari punggungku, melepaskan tangannya yang menutupi

mataku.

Aku memandang kegelapan berwarna ungu tua itu. Di sana di lapangan terbuka

kecil di tengah hutan, berdiri pondok batu mungil, abu-abu keunguan di bawah taburan

cahaya bintang.

Pondok itu terlihat sangat pantas berada di sini, seperti tumbuh dari batu,

formasi alami. Kamperfuli merayapi satu bagian dinding seperti pola-pola geometris,

meliuk-liuk tinggi sampai ke atas atap papan yang tebal. Mawar-mawar akhir musim

panas berkembang di sepetak taman mungil di bawah sepasang jendela gelap yang

menjorok ke dalam. Ada jalan setapak kecil tersusun dari batu-batu ceper, berwarna

amethyst di keremangan malam, yang mengarah ke pintu kayu melengkung yang aneh.

Kuremas kunci di tanganku, shock,

"Bagaimana menurutmu?" Suara Alice lembut sekarang; pas sekali dengan

pemandangan yang tenteram dan damai seperti dalam buku-buku dongeng.

Kubuka mulut tapi tidak berkata apa-apa.

"Esme berpendapat mungkin kita ingin punya tempat tinggal sendiri untuk

sementara waktu, tapi dia tidak ingin kita terlalu jauh," bisik Edward. "Dan dia senang

ada alasan untuk melakukan renovasi. Pondok kecil ini setidaknya sudah berdiri sejak

seratus tahun lalu, menjadi rongsokan,"

401

Aku terus saja memandangi pondok itu, mulutku megap-megap seperti ikan.

"Kau tidak suka, ya?" Wajah Alice berubah kecewa. "Maksudku, aku yakin kami

bisa menatanya dengan cara berbeda, kalau kau mau. Emmett sebenarnya sudah siap

menambah ruangan beberapa ratus meter persegi lagi, membuat lantai dua, tiang-tiang

dan menara, tapi Esme berpendapat kau lebih suka penampilan pondok ini sebagaimana

adanya." Suaranya mulai meninggi, semakin cepat. "Kalau dia keliru, kita bisa kembali

bekerja. Tidak butuh waktu lama kok,,."

"Ssst!” akhirnya aku bisa juga bersuara.

Alice mengatupkan bibir rapat-rapat dan menunggu. Butuh beberapa detik

bagiku untuk memulihkan diri dari kekagetan.

"Kalian memberiku rumah untuk hadiah ulang tahun?" bisikku.

"Kita," Edward mengoreksi. "Dan ini hanya pondok, tidak lebih. Menurutku yang

namanya rumah harus lebih besar daripada ini."

"Tak boleh menghancurkan rumahku," bisikku padanya. Alice langsung berseriseri.

"Kau menyukainya." Aku menggeleng. "Suka sekali?" Aku mengangguk.

"Aku tidak sabar lagi ingin segera memberitahu Esme!”

“Mengapa dia tidak datang?"

Senyum Alice sedikit memudar, tidak seceria tadi, seolah-olah pertanyaanku sulit

dijawab. "Oh, kau tahu sendirilah.,, mereka semua ingat bagaimana tanggapanmu kalau

diberi hadiah. Mereka tak ingin membuatmu tertekan dan merasa harus menyukainya."

"Tapi tentu saja aku sangat menyukainya. Bagaimana tidak?"

"Mereka pasti senang mendengarnya." Alice menepuk-nepuk lenganku. "Omongomong,

lemari pakaianmu sudah terisi lengkap. Gunakan dengan bijaksana. Dan...

kurasa hanya ini."

"Memangnya kau tidak akan masuk ke dalam?"

Alice melenggang mundur beberapa meter dengan santai. "Edward bisa

menunjukkannya padamu. Aku akan mampir... nanti. Telepon aku kalau kau tak bisa

memadupadankan bajumu dengan benar." Ia melayangkan pandangan ragu padaku, lalu

tersenyum, "Jazz ingin berburu. Sampai nanti."

Ia melesat ke terigali pepohonan, bagaikan peluru paling anggun.

402

“Aneh," ujarku setelah suara kepergian Alice lenyap sama sekali. "Benarkah aku

separah itu? Mereka tak perlu sampai tidak ikut. Sekarang aku jadi merasa bersalah. Aku

bahkan tidak mengucapkan terima kasih dengan benar. Sebaiknya kita kembali,

mengatakan pada Esme..."

"Bella, jangan konyol. Tak ada yang menganggapmu tidak tahu berterima kasih."

"Kalau begitu apa..."

"Waktu untuk berdua adalah hadiah mereka yang lain. Alice berusaha

mengatakannya secara halus tadi."

"Oh."

Perkataan itu cukup untuk membuat rumah itu lenyap. Kami bisa berada di mana

saja. Aku tidak melihat pohon-pohon, batu-batu, atau bintang-bintang. Yang ada hanya

Edward.

"Mari kutunjukkan apa yang telah mereka lakukan," kata Edward, menarik

tanganku. Tidakkah ia menyadari arus listrik yang berdenyut-denyut di sekujur tubuhku

seperti darah yang terpacu adrenalin?

Sekali lagi aku merasa gamang, menunggu reaksi yang tak mampu lagi diberikan

tubuhku. Saat ini jantungku seharusnya menggemuruh seolah-olah ada mesin uap

hendak menabrak kami. Memekakkan telinga. Seharusnya pipiku saat ini berubah warna

jadi merah terang.

Selain itu, seharusnya aku merasa letih. Hari ini hari paling melelahkan seumur

hidupku.

Aku tertawa keras-keras—hanya tawa kecil shock—begitu menyadari hari ini

takkan pernah berakhir.

"Apa kau akan memberitahukan leluconnya padaku?"

"Leluconnya tidak begitu bagus kok" kataku saat Edward menuntunku ke pintu

kecil bundar, "Aku tadi hanya berpikir—hari ini adalah hari pertama dan terakhir dari

selamanya. Agak sulit mencernanya dalam pikiranku. Bahkan walaupun ada ruang ekstra

di dalamnya untuk berpikir." Lagi-lagi aku tertawa.

Edward ikut terkekeh. Ia mengulurkan tangan ke kenop pintu, memberiku

kehormatan untuk membukanya. Kumasukkan kunci ke lubang kunci dan kuputar.

403

"Kau sangat alami dalam hal ini, Bella; aku lupa betapa sangat aneh pastinya

semua ini bagimu. Seandainya aku bisa mendengarnya'.' Ia merunduk dan menyambar

tubuhku, membopongnya, begitu cepat sampai aku tidak menyadari maksud Edward—

dan itu benar-benar hebat.

"Hei!"

"Ambang pintu adalah bagian dari tugasku," Edward mengingatkan. "Tapi aku

penasaran. Katakan padaku apa yang kaupikirkan sekarang."

Ia membuka pintu—pintu terbuka nyaris tanpa berderit— dan melangkah

memasuki ruang tamu mungil berdinding batu.

"Semuanya," kataku. "Semua pada saat betsamaan, kau tahu. Hal-hal baik, halhal

yang perlu dikhawatirkan, dan hal-hal baru. Bagaimana aku terus-menerus

menggunakan terlalu banyak kata-kata yang berlebihan dalam kepalaku. Sekarang ini

yang kupikirkan adalah bahwa F.sme seniman. Ini benar-benar sempurna!"

Ruangan dalam pondok itu terkesan seperti berada di negeri dongeng. Lantainya

seakan tertutup permadani halus dari batu yang datar. Langit-langitnya yang rendah

terbuat dari balok-balok kayu panjang yang terbukai. Orang setinggi Jacob kepalanya

pasti akan terbentur. Dinding-dindingnya kayu hangat di beberapa tempat, mosaik batu

di tempat-tempat lain. Perapian berbentuk sarang lebah yang terletak di sudut ruangan

masih menyisakan api kecil yang menggeletar pelan. Pembakarannya menggunakan

driftwood—apinya yang kecil berwarna biru dan hijau karena garam.

Perabotannya semua ekletik, tak satu pun yang sama, namun tetap harmonis.

Satu kursi tampaknya seperti berasal dari abad pertengahan, sementara sebuah

ottoman rendah yang diletakkan dekat perapian modelnya lebih kontemporer, dan rak

buku yang penuh berisi buku di jendela ujung sana mengingatkanku pada setting filmfilm

yang lokasi syutingnya di Italia. Entah bagaimana setiap perabot serasi satu sama

lain bagaikan puzzle besar tiga dimensi. Ada beberapa lukisan di dinding yang kukenali—

sebagian adalah lukisan favoritku dari rumah besar. Tak diragukan lagi, itu lukisanlukisan

asli yang tak ternilai harganya, tapi sepertinya lukisan-lukisan itu memang

seharusnya berada di sini, seperti semua perabotan lain.

Ini tempat di mana setiap orang bakal percaya keajaiban benar-benar ada.

Tempat di mana kau berharap akan melihat Putri Salju mendadak muncul sambil

memegang apel di tangan, atau unicom datang memakan semak mawar.

Edward selalu menganggap dirinya berasal dari dunia kisah-kisah horor. Tentu

saja, aku sudah tahu ia keliru besar. Jelas ia berasal dari SINI. Dari negeri dongeng.

404

Dan sekarang aku berada dalam dongeng itu bersamanya.

Aku baru saja hendak memanfaatkan fakta bahwa ia belum sempat

menurunkanku dan" gendongannya dan bahwa wajahnya yang rupawan hanya berjarak

beberapa sentimeter saja dari wajahku waktu mendadak Edward berkata, "Kita

beruntung bahwa terpikir oleh Esme untuk membuat ruang tambahan. Tak ada yang

merencanakan kehadiran Ness— Renesmee."

Aku mengerutkan kening padanya, pikiranku mengarah pada jalur yang kurang

menyenangkan.

"Masa kau juga memanggilnya begitu," protesku.

"Maaf, Sayang. Aku mendengarnya dalam pikiran mereka setiap saat, kau tahu

itu. Jadi lama-lama terpengaruh juga."

Aku mengeluh. Bayiku, si monster danau. Mungkin memang tak tertolong lagi,

Well, aku tidak mau menyerah.

"Aku yakin kau pasti sudah tak sabar lagi ingin segera melihat isi lemari. Atau

setidaknya aku akan memberitahu Alice bahwa kau merasa begitu, untuk

menyenangkan hatinya."

"Apakah sebaiknya aku merasa takut?"

"Ketakutan."

Edward membopongku menyusuri lorong batu sempit dengan lengkunganlengkungan

kecil di langit-langit, seperti miniatur kastil milik kami sendiri.

"Nanti itu akan jadi kamar Renesmee," tunjuk Edward, mengangguk ke kamar

kosong dengan lantai kayu berwarna pucat. "Mereka belum sempat merapikannya,

berhubung banyak werewolf yang marah di luar sana..."

Aku tertawa pelan, takjub melihat betapa cepatnya keadaan membaik setelah

segalanya terlihat bagaikan mimpi buruk seminggu yang lalu.

Sialan Jacob, membuat semuanya sempurna dengan cara seperti ini.

"Ini kamar kita. Esme berusaha membawa sebagian pulaunya kembali ke sini

untuk kita. Dia sudah bisa menebak bahwa kita akan terikat dengan pulau itu."

Tempat tidurnya besar dan putih, dengan tirai putih menerawang menjuntai dari

kanopi ke lantak Lantai kayunya yang pucat sama seperti yang ada di kamar lain, dan

baru sekarang aku menyadari warnanya sama persis dengan pasir pantai yang murni.

Dinding-dindingnya berwarna seperti batu yang bermandikan cahaya matahari, biru

405

yang nyaris putih, dan dinding belakang memiliki pintu-pintu kaca besar yang mengarah

ke taman mungil tersembunyi. Mawar-mawar yang merambat dan kolam kecil bundar,

permukaannya halus bagaikan kaca dan dikelilingi bebatuan mengilap. "Samudera" kecil

kami yang tenang.

Yang bisa kuucapkan hanya, "Oh."

"Aku tahu," bisik Edward.

Kami berdiri di sana selama satu menit, mengenang. Walaupun itu kenangan

manusia dan kabur, kenangan-kenangan itu mengambil alih pikiranku sepenuhnya.

Edward menyunggingkan senyum lebar berseri, kemudian tertawa. "Lemarinya

lewat pintu ganda itu. Aku wajib mengingatkan—ukurannya lebih besar daripada kamar

ini."

Aku bahkan tidak melirik pintu-pintu itu. Tak ada lagi hal lain di dunia kecuali

dia—kedua lengannya memeluk di bawahku, embusan napasnya manis menerpa

wajahku, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari bibirku—dan tak ada yang bisa

mengalihkan perhatianku sekarang, tak peduli aku ini vampir baru atau bukan.

"Nanti kita bilang Alice bahwa aku langsung menyerbu baju-baju itu," bisikku,

menyusupkan jari-jariku ke rambutnya dan menarik wajahku lebih dekat ke wajahnya.

"Akan kita katakan padanya bahwa aku menghabiskan berjam-jam di sana, menjajal

baju-baju. Kita akan berbohong"

Edward langsung menangkap suasana hatiku, atau mungkin ia memang sudah

merasakan hal yang sama, dan hanya memberiku kesempatan untuk mengapresiasi

hadiah ulang tahunku dengan leluasa, layaknya seorang gcntleman. Ia menarik wajahku,

sikapnya tiba-tiba ganas, lenguhan pelan terlontar dari kerongkongannya. Suara itu

membuat sekujur tubuhku seperti disengat listrik, seolah-olah aku tidak cukup cepat

mendekatinya.

Kudengar bunyi kain robek oleh tangan kami, dan aku seuang bajufew,

setidaknya, memang sudah compang-camping. Sudah terlambat menyelamatkan

pakaian Edward. Agak kurang ajar rasanya mengabaikan ranjang putih cantik itu, tapi

kami tak mungkin sempat sampai ke sana.

Bulan madu kedua ini takkan jadi seperti yang pertama.

Waktu kami di pulau menjadi lambang hidup manusiaku. Yang terbaik darinya.

Ketika itu aku sudah sangat siap memanfaatkan waktuku sebagai manusia, hanya untuk

memper-lahankan apa yang kumiliki bersamanya sedikit lebih lama lagi. Karena bagian

fisik takkan sama lagi.

406

Seharusnya aku sudah bisa menduga, setelah mengalami hari seperti hari ini, bahwa hal

itu justru akan membaik.

Aku bisa benar-benar mengapresiasi dia sekarang—bisa dengan tepat melihat

setiap garis indah wajahnya yang sempurna, tubuhnya yang panjang dan mulus dengan

mata baruku yang tajam, setiap sisi dan setiap lekuk tubuhnya. Aku bisa menghirup

aroma tubuhnya yang murni dan tajam dengan lidahku dan merasakan kelembutan kulit

pualamnya yang menakjubkan itu dengan ujung-ujung jariku yang sensitif.

Kulitku juga sangat sensitif di bawah belaian tangannya.

Ia benar-benar jadi sosok yang baru dan berbeda saat tubuh kami bertaut jadi

satu dengan anggunnya di lantai yang sewarna pasir pucat. Udak perlu harus berhatihati,

tidak ada yang harus ditahan-tahan. Tidak ada ketakutan—terutama tidak ada itu.

Kami bisa mencintai bersama—kedua belah pihak sama-sama menjadi partisipan aktif.

Setara pada akhirnya.

Seperti ciuman kami sebelumnya, setiap sentuhan lebih daripada selama ini.

Ternyata selama ini banyak sekali yang ia tahan-tahan. Memang perlu ketika itu, tapi

aku tak percaya sungguh banyak yang terlewatkan olehku.

Aku berusaha tetap ingat bahwa aku lebih kuat daripada Edward, tapi sulit

memfokuskan pikiran pada hal lain dengan sensasi yang begitu intens, menarik

perhatianku ke jutaan tempat berbeda di tubuhku setiap detiknya; kalaupun aku

menyakitinya, ia tidak mengeluh.

Bagian yang amat sangat kecil dalam otakku memunculkan pikiran yang menarik

dalam situasi ini. Aku takkan pernah lelah, begitu juga dia. Kami tidak perlu berhenti

untuk mengatur napas, beristirahat, makan, atau bahkan menggunakan kamar mandi;

tidak ada lagi kebutuhan mendasar manusia yang harus diurus. Ia memiliki tubuh paling

indah dan sempurna di dunia, dan ia milikku seutuhnya, dan rasanya aku takkan pernah

menemukan titik di mana aku akan berpikir, Nah, sudah cukup untuk hari ini. Aku pasti

akan selalu menginginkan lebih. Dan hari ini takkan pernah berakhir. Jadi, dalam situasi

seperti itu, bagaimana kami akan berhenti?

Sama sekali bukan masalah kalau aku tak tahu jawabannya.

Aku agak menyadari kapan langit mulai terang. Samudera kecil di luar berubah

warna dari hitam menjadi abu-abu, dan burung pagi mulai berkicau di suatu tempat di

dekat sini— mungkin bersarang di semak-semak mawar.

407

"Kau merasa kehilangan, tidak?" tanyaku pada Edward ketika nyanyian burung

pagi itu berhenti.

Bukan baru kali ini saja kami bicara, tapi kami tidak bisa dibilang mengobrol juga.

"Kehilangan apa?" gumam Edward,

"Semuanya—kehangatan, kulit yang lembut, bau yang menggiurkan... aku sih

tidak merasa ada yang hilang sama sekali, dan aku hanya penasaran apakah kau metasa

agak sedih karena kau kehilangan sesuatu,"

Edward tertawa, pelan dan lembut, "Sulit menemukan seseorang yang kurang

sedih dibandingkan aku sekarang. Mustahil, aku berani bertaruh. Tak banyak orang bisa

mendapatkan semua yang mereka inginkan, ditambah hal-hal yang tak terpikirkan sama

sekali oleh mereka, pada hari yang sama."

"Kau menghindari pertanyaanku, ya?"

Edward menempelkan tangannya ke wajahku. "Kau hangat kok," ia

memberitahuku.

Itu ada benarnya. Bagiku, tangan Edward memang hangat. ' Tidak seperti

menyentuh kulit Jacob yang panas membara, tapi lebih menyenangkan. Lebih natural.

Kemudian ia menarik jari-jarinya pelan sekali menuruni wajahku, dengan lembut

menyusuri rahang hingga ke leher dan terus turun ke pinggang. Mataku sedikit

membeliak.

"Kau juga lembut."

Jari-jarinya bagaikan satin di kulitku, jadi aku bisa mengerti maksudnya.

"Sementara mengenai bau, well, tak bisa dibilang aku merasa kehilangan.

Ingatkah kau bau para hiker saat kita sedang berburu waktu itu?"

"Selama ini aku berusaha keras untuk tidak mengingatnya."

"Bayangkan saja berciuman dengan orang yang baunya seperti itu."

Kobaran api seolah membakar kerongkonganku, seperti menarik tali balon udara.

"Ok"

"Tepat sekali. Jadi jawabannya tidak. Aku sangat bahagia, karena aku tidak

kehilangan apa-apa. Tidak ada yang memiliki lebih dari yang kumiliki sekarang."

408

Aku baru hendak melontarkan satu pengecualian, tapi bibirku tiba-tiba sangat

sibuk.

Ketika kolam kecil berubah warna menjadi seputih mutiara seiring dengan

terbitnya matahari, muncul pertanyaan lagi dalam benakku.

"Ini akan berlangsung berapa lama? Maksudku, Carlisle dan Esme, Em dan Rose,

Alice dan Jasper—mereka tidak mengunci diri di kamar seharian. Mereka keluar,

berpakaian lengkap, setiap saat. Apakah... keinginan ini akan pernah berakhir?" Aku

meliukkan tubuhku lebih dekat padanya—bisa dibilang itu keberhasilan tersendiri—

untuk menunjukkan dengan jelas maksudku.

"Sulit mengatakannya. Setiap orang berbeda dan, well, sejauh ini kaulah yang

paling berbeda dari semuanya. Rata-rata vampir baru terlalu terobsesi pada dahaga

untuk memerhatikan hal lain selama beberapa waktu. Itu sepertinya tidak berlaku

bagimu. Bagi rata-rata vampir lain, setelah tahun pertama barulah kebutuhan lain

muncul. Baik dahaga maupun gairah lain tidak pernah benar-benar memudar. Tinggal

bagaimana menyeimbangkannya saja, belajar membuat prioritas dan mengaturnya.»"

"Berapa lama?"

Edward tersenyum, mengernyitkan hidung sedikit, "Rosalie dan Emmett yang

paling parah. Butuh satu dekade penuh haru aku tahan berada dalam radius delapan

kilometer dari mereka. Bahkan Carlisle dan Esme pun tidak tahan. Mereka akhirnya

terpaksa mengusir pasangan yang berbahagia itu, Esme membuatkan rumah juga untuk

mereka. Jauh lebih besar daripada ini, tapi Esme tahu kesukaan Rose, dan dia tahu apa

yang kausukai."

"Lalu, setelah sepuluh tahun bagaimana?" Aku sangat yakin Rosalie dan Emmett

tak ada apa-apanya dibanding kami, tapi kedengarannya sombong kalau membuat

perkiraan lebih lama dari satu dekade. "Semua orang kembali normal? Seperti mereka

sekarang?"

Lagi-lagi Edward tersenyum. "Well, aku tak yakin apa yang kaumaksud dengan

normal. Kau sudah melihat bagaimana keluargaku beraktivitas sehari-hari secara

lumayan normal, Tapi selama ini kan kau selalu tidur pada malam hari." Ia mengedipkan

mata. "Banyak sekali waktu tersisa kalau kau tak perlu tidur. Itu membuatmu lebih

mudah menyeimbangkan... ketertarikan-ketertarikan lain. Bukan tanpa alasan aku

musisi terbaik di keluargaku, mengapa—selain Carlisle—aku yang paling banyak

membaca buku, paling banyak mempelajari sains, paling banyak menguasai bahasa

asing... Emmett membuatmu percaya aku tahu semua karena bisa membaca pikiran,

tapi sebenarnya itu karena aku punya banyak waktu luang."

409

Kami tertawa bersama, dan tubuh kami yang berguncang-guncang karena tawa

menimbulkan hal-hal menarik pada tubuh kami yang saling menempel, dan itu langsung

mengakhiri pembicaraan kami.

410

25. BANTUAN

BARU beberapa saat kemudian Edward mengingatkanku pada prioritasku yang

lain.

Ia hanya perlu mengucapkan satu kata,

"Renesmee..."

Aku mendesah. Sebentar lagi ia bangun. Sekarang pasti sudah hampir jam tujuh

pagi. Apakah ia akan mencariku? Tiba-tiba, sesuatu yang menyerupai kepanikan

membuat tubuhku membeku. Akan seperti apa ia hari ini?

Edward merasakan perhatianku telah teralih sepenuhnya karena tertekan. "Tidak

apa-apa. Sayang. Lekaslah berpakaian, kita akan sampai di rumah dalam dua detik."

Aku mungkin terlihat kocak, caraku bangkit berdiri secara tiba-tiba, kemudian

berpaling kembali padanya—tubuhnya yang bagaikan berlian berkilau samar di bawah

sinar matahari yang menyebar—lalu ke arah barat, tempat Renesmee menunggu, lalu

berpaling padanya lagi, lalu kembali ke Renesmee, kepalaku bolak-balik menoleh

setengah lusin kali dalam sedetik, Edward tersenyum, tapi tidak tertawa; ia lelaki yang

kuat.

"Semuanya adalah masalah keseimbangan, Sayang. Kau sangat hebat dalam

semua ini, jadi kupikir tak lama lagi kau ikan bisa meletakkannya dalam perspektif yang

benar."

"Dan kita punya waktu sepanjang malam, bukan?"

Senyum Edward semakin melebar. "Kaupikir aku rela membiarkanmu berpakaian

sekarang kalau bukan karena itu?"

Itu sudah cukup membuatku bertahan melewati pagi dan siang hari. Aku akan

menyeimbangkan gairah yang begitu menggelora ini agar bisa bersikap baik—sulit sekali

memikirkan kata yang tepat. Walaupun Renesmee sangat nyata dan vital dalam

hidupku, masih saja sulit membayangkan diriku sebagai ibu. Tapi kurasa siapa pun akan

merasa seperti itu, jika tak punya waktu sembilan bulan untuk membiasakan diri dengan

pemikiran menjadi ibu. Dan dengan anak yang berubah setiap jam.

Memikirkan Renesmee yang bertumbuh sangat cepat langsung membuatku stres.

Aku bahkan tidak berhenti sejenak di pintu ganda berhias ukiran rumit untuk mengatur

napas sebelum bersiap melihat apa yang telah dilakukan Alice. Aku langsung masuk,

411

bertekad mengenakan pakaian pertama yang kusentuh. Seharusnya aku tahu takkan

semudah ini.

"Yang mana baju-bajuku?" desisku. Seperti sudah dikatakan Edward tadi, ruangan

itu lebih besar^daripada kamar tidur kami. Mungkin bahkan lebih besar (daripada sisa

pondok ini dijadikan satu, tapi aku harus menganggapnya sebagai hal positif. Sempat

terbayang olehku bagaimana Alice berusaha membujuk Esme untuk mengabaikan

proporsi ruangan klasik dan membiarkan ruangan besar aneh ini dibangun. Aku

penasaran bagaimana Alice memenangkan hal ini.

Segala sesuatu terbungkus dalam kantong-kantong garmen, putih bersih,

berderet-deret.

"Sepanjang pengetahuanku, semua kecuali yang ada di rak ini"—Edward

menyentuh tiang yang membujur sepanjang setengah dinding di kiri pintu—"adalah

milikmu."

"Semua ini?"

Edward mengangkat bahu.

"Alice," ujar kami berbarengan. Edward mengucapkan nama itu dengan nada

seolah menjelaskan; aku mengucapkannya dengan nada seru.

"Baiklah," gerutku, dan menarik ritsleting kantong terdekat. Aku menggeram

pelan waktu melihat gaun sutra semata kaki di dalamnya—berwarna baby pink.

Bisa-bisa butuh seharian hanya untuk menemukan baju yang normal untuk

dipakai!

"Biar kubantu," Edward menawarkan diri. Ia mengendus udara dengan hati-hati

dan mengikuti bau itu ke bagian belakang ruangan yang panjang. Di sana ada lemari

berlaci built-in. Ia mengendus lagi, lalu membuka laci. Dengan seringai penuh

kemenangan, ia menyodorkan jins belel.

Aku menghambur menghampirinya. "Bagaimana kau melakukannya?"

"Denim kan punya bau khas, sama seperti yang lain. Sekarang... kaus?"

Ia mengikuti penciumannya ke rak pendek, mengeluarkan sehelai T-shirt putih

berlengan panjang. Dilemparkannya kaus itu padaku.

412

"Trims," ujarku penuh terima kasih. Kuhirup setiap kain, menghafal baunya kalau

aku perlu mencarinya lagi di tengah semua kegilaan ini. Aku ingat bau sutra dan satin;

aku akan menghindarinya.

Hanya butuh beberapa detik untuk menemukan baju Edward—seandainya aku

belum pernah melihatnya tanpa pakaian, aku berani bersumpah tak ada yang lebih

menawan daripada Edward dalam balutan celana khaki dan putlover pulih gading

pucat—kemudian ia menggandeng tanganku. Kami melesat melewati taman, dengan

enteng melompati dinding

tinggi itu, dan berlari secepat kilat menembus hutan. Kutarik tanganku dari

genggamannya supaya kami bisa berlomba pulang. Edward mengalahkanku kali ini.

Renesmee sudah bangun; ia duduk di lantai, ditemani Rose dan Emmett yang

memperhatikan, bermain-main dengan perabotan makan dari perak yang sudah

bengkok-bengkok. Ia membengkokkan sendok di tangan kanannya. Begitu melihatku

dari balik kaca, ia melemparkan sendok itu ke lantai—lemparannya meninggalkan

lekukan di kayu—dan menunjuk ke arahku dengan sikap angkuh. Para penontonnya

tertawa; Alice, Jasper, Esme, dan Carlisle duduk di sofa, menontonnya seolah-olah ia

film yang sangat menarik.

Aku sudah masuk ke rumah bahkan sebelum mereka mulai lertawa, melesat

melintasi ruangan dan meraup Renesmee dari lantai pada detik yang sama. Kami saling

menyunggingkan senyum lebar.

Ia berbeda, tapi perbedaannya tak terlalu banyak. Lagi-lagi agak lebih panjang,

proporsi tubuhnya bergeser dari seperti bayi menjadi seperti anak-anak. Rambutnya

bettambah panjang lima senti, ikalannya bergoyang seperti pegas setiap kali bergerak.

Aku tadi membiarkan imajinasiku terlalu liar dalam perjalanan kembali ke sini, dan aku

membayangkan yang

lebih parah daripada ini. Untunglah, ketakutanku yang overdosis membuat

perubahan-perubahan kecil ini nyaris melegakan. Bahkan tanpa diukur Carlisle, aku

yakin perubahannya lebih lambat daripada kemarin.

Renesmee menepuk-nepuk pipiku. Aku meringis. Ia lapar lagi.

"Sudah berapa lama dia bangun?" tanyaku sementara Edward menghilang ke

balik pintu dapur. Aku yakin ia ke dapur mengambilkan sarapan untuk Renesmee,

karena ia bisa melihat pikiran Renesmee sama jelasnya denganku. Dalam hati aku

penasaran apakah Edward akan menyadari kelebihan kecil Renesmee, seandainya dia

satu-satunya yang mengenalnya. Bagi Edward, mungkin sama saja seperti mendengar

pikiran orang-orang lain.

413

"Sebentar lagi, ya," kata Rose. "Sebenarnya kami berniat memanggilmu sejak

tadi. Dia sudah berulang kali menanyakan-mu—menuntut mungkin lebih tepat. Esme

sampai mengorbankan peralatan makan peraknya yang nomor dua paling bagus supaya

si monster kecil tidak rewel." Rose tersenyum pada Renesmee dengan perasaan sayang,

sehingga perkataannya tadi sama sekali tidak menyinggung perasaan, "Kami tidak

ingin... eh, mengganggumu."

Rosalie menggigit bibir dan membuang muka, berusaha menahan tawa. Bisa

kurasakan tawa Emmett yang tanpa suara di belakangku, membuat fondasi rumah

bergetar.

Kuangkat daguku tinggi-tinggi. "Kita akan segera membereskan kamarmu,"

kataku pada Renesmee. "Kau pasti menyukai pondok itu. Suasananya sangat magis."

Aku mendongak pada Esme. "Terima kasih, Esme. Terima kasih banyak. Pondok yang

sempurna sekali."

Belum lagi Esme sempat menjawab, Emmett sudah tertawa lagi--kali ini tidak lagi

tanpa suara.

"Jadi pondoknya masih berdiri?'' tanyanya di sela-sela tawanya yang heboh.

"Kusangka pondok itu sudah tinggal puing gara-gara kalian. Apa yang kalian lakukan

semalam? Memhit arakan masalah utang negara?" Ia tertawa melolong-lolong.

Aku mengenakkan gigi dan mengingatkan diriku sendiri, ada konsekwensi negatif

kalau aku membiarkan amarahku tak terbendung seperti kemarin. Tentu saja, Emmett

tidak serapuh Seth...

Ingatan tentang Seth membuatku penasaran. "Di mana serigala-serigala hari ini?"

Aku melirik dinding yang berjendela, tapi waktu pulang tadi, aku tidak melihat sedikit

pun landa-tanda kehadiran Leah.

"Jacob pergi pagi-pagi sekali tadi," Rosalie menjawab pertanyaanku, sedikit

kerutan terbentuk di dahinya. "Seth mengikutinya keluar.''

"Apa yang membuatnya begitu kalut?" tanya Edward sambil berjalan memasuki

ruangan dengan cangkir Renesmee. Pasti ada lebih banyak hal dalam ingatan Rosalie

daripada yang kulihat dalam ekspresinya.

Tanpa bernapas, kuserahkan Renesmee pada Rosalie. Mungkin aku memiliki

pengendalian diri super, tapi tidak mungkin aku bisa memberi Renesmee makan. Belum.

414

"Aku tidak tahu—atau peduli," gerutu Rosalie, tapi ia menjawab pertanyaan

Edward secara lebih lengkap. "Jacob sedang menonton Nessie tidur, mulutnya

menganga seperti orang tolol—dan ia memang tolol—lalu tanpa alasan apa-apa tahutahu

dia melompat berdiri—yang bisa kulihat, setidaknya— dan menghambur keluar.

Aku sih senang-senang saja dia pergi. Semakin banyak waktu yang dia habiskan di sini,

semakin kecil kemungkinan kita akan bisa menyingkirkan baunya."

"Rose," tegur Esme lembut.

Rosalie mengibaskan rambutnya. "Kurasa itu bukan masalah. Kita toh takkan

berada di sini lebih lama lagi."

"Aku masih berpendapat sebaiknya kita langsung saja berangkat ke New

Hampshire untuk membereskan semuanya," kata Emmett, jelas melanjutkan

pembicaraan sebelumnya, "Bella kan sudah terdaftar di Dartmouth. Kelihatannya dia

tidak butuh waktu lama untuk bisa kuliah." Ia berpaling padaku dengan cengiran

menggoda. "Aku yakin kau pasti bisa lulus secara gemilang dari setiap mata kuliah..,

kelihatannya tak ada hal menarik yang bisa kaulakukan pada malam hari kecuali

belajar."

Rosalie terkikik.

Jangan satnpai amarahmu meledak, jangan sampai amarahmu meledak, batinku

berulang-ulang. Dan aku bangga pada diriku sendiri karena tetap tenang.

Jadi aku kaget sekali waktu Edward justru tidak.

Ia menggeram—raungan kasar yang tiba-tiba—dan ekspresi marah yang garang

menggelapkan wajahnya seperti awan badai.

Sebelum kami sempat merespons, Alice sudah berdiri.

"Apa sih yang dia lakukan? Apa yang dilakukan anjing itu sehingga menghapus

jadwalku sepanjang hari? Aku tidak bisa melihat apa-apal Tidak Ia melayangkan

pandangan tersiksa padaku. "Lihat dirimu! Kau butuh aku untuk menunjukkan

bagaimana caranya menggunakan lemari pakaianmu."

Sesaat aku mensyukuri apa pun yang dilakukan Jacob.

Kemudian kedua tangan Edward mengepal dan ia menggeram, "Dia bicara pada

Charlie. Ia mengira Charlie mengikutinya. Datang ke sini. Hari ini."

Alice mengatakan sesuatu yang kedengarannya sangat ganjil diucapkan oleh

suaranya yang bak burung berkicau dan lady-like itu.

415

"Dia memberitahu Charlie?" aku tersentak. "Tapi... tidakkah kau mengerti? Tegateganya

dia berbuat begitu!" Charlie tak pernah tahu tentang aku! Tentang vampir! Itu

akan membuat Charlie masuk dalam daftar orang-orang yang harus disingkirkan, dan

bahkan keluarga Cullen pun takkan bisa menyelamatkannya. "Tidak!"

Edward berbicara dengan mulut terkatup rapat. "Sebentar Jacob sampai."

Agak ke timur, hari pasti hujan. Jacob masuk melewati pintu sambil mengibasngibaskan

rambutnya yang basah seperti anjing, butir-butir air berjatuhan membasahi

karpet dan menghasilkan titik-titik berwarna kelabu di bagian yang berwarna putih.

Giginya cemerlang, kontras dengan bibirnya yang gelap; matanya bersinar-sinar dan

penuh semangat. Ia berjalan dengan gerak kaku, seperti orang yang kelewat senang bisa

menghancurkan hidup ayahku.

"Hei, guys!” sapa Jacob, nyengir.

Suasana sunyi senyap.

Leah dan Seth menyelinap di belakangnya, dalam wujud manusia—untuk

sekarang ini; tangan mereka gemetar karena tegangnya suasana di dalam ruangan.

"Rose," pintaku, mengulurkan kedua lenganku. Tanpa berkata apa-apa Rosalie

menyerahkan Renesmee padaku. Aku mendekapnya erat-erat ke jantungku yang tak

berdetak, memeluknya seperti jimat untuk mencegah perbuatan sembrono. Aku akan

tetap mendekapnya dalam pelukanku sampai yakin keputusanku membunuh Jacob

sepenuhnya didasari pada penilaian rasional, bukan amarah semata-mata.

Renesmee diam tak bergerak, menonton dan mendengarkan. Berapa banyak

yang ia mengerti?

"Sebentar lagi Charlie akan sampai di sini," Jacob menyampaikan padaku dengan

nada biasa-biasa saja. "Sekadar pemberitahuan. Asumsiku, Alice pasti sudah

membelikanmu kacamata hitam atau sebangsanya?"

"Kau berasumsi terlalu jauh" aku menyemburkan kata-kataku dari sela-sela

gigiku. "Apa. Yang. Sudah. Kaulakukan?"

Senyum Jacob goyah, tapi ia masih terlalu tegang untuk menjawab dengan serius.

"Si pirang dan Emmett membangunkanku tadi pagi dengan ocehan mereka tentang

rencana pindah ke luar kota. Seolah-olah aku akan membiarkanmu pergi saja. Persoalan

terbesarnya adalah Charlie, kan? Well, masalahnya sudah diatasi."

416

"Apakah kau tidak menyadari akibat perbuatanmu? Bahaya yang kautimbulkan

baginya?"

Jacob mendengus. "Aku sama sekali tidak membahayakan dia. Kecuali darimu.

Tapi kau kan memiliki semacam pengendalian diri yang supranatural, benar? Tidak

sebagus membaca pikiran, kalau kautanya pendapatku. Kurang asyik."

Saat itulah Edward bergerak, melesat menyeberangi ruangan dan berdiri persis di

depan wajah Jacob. Walaupun ia setengah kepala lebih pendek daripada Jacob, Jacob

mundur selangkah menghindari amarah Edward, seakan-akan Edward menjulang tinggi

di atasnya.

"Itu hanya teori, anjing," geramnya. "Kaukira kami harus mengetesnya pada

Charlie? Tidakkah kau mempertimbangkan kesakitan fisik yang kautimbulkan pada Bella,

kalaupun dia bisa menolaknya? Atau kesakitan emosional, kalau dia tidak bisa? Kurasa

apa yang terjadi pada Bella tak ada urusannya lagi denganmu!" Edward menyemburkan

kata terakhir itu.

Renesmee menempelkan jari-jarinya dengan cemas ke pipiku, keresahan

mewarnai pemutaran ulang adegan tadi dalam kepalanya.

Kata-kata Edward akhirnya berhasil menembus suasana hati Jacob yang berapiapi.

Mulutnya tertarik ke bawah, cemburu. "Memangnya Bella akan kesakitan?"

"Seperti menyurukkan setrika panas ke tenggorokannya!"

Aku tersentak, teringat bau darah manusia murni.

"Aku tak tahu kalau akan seperti itu," bisik Jacob.

"Kalau begitu mungkin sebaiknya kau tanya dulu," geram Edward dari sela-sela

giginya.

"Kau pasti akan menghentikanku."

"Kau seharusnya memang dihentikan..."

"Masalahnya bukan aku," selaku. Aku diam tak bergerak, menggendong

Renesmee dan mempertahankan kewarasanku. "Masalahnya adalah Charlie, Jacob.

Bagaimana mungkin kau bisa membahayakan hidupnya seperti ini? Sadarkah kau sekarang

dia harus menghadapi pilihan antara mati atau menjadi vampir juga?" Suaraku

bergetar karena air mata yang tak bisa keluar lagi.

417

Jacob masih terganggu oleh tudingan Edward, tapi tuduhan-ku sepertinya bukan

masalah sama sekali baginya. "Rileks, Bella. Aku tidak memberitahu dia apa pun yang

tidak ingin kauceritakan padanya."

"Tapi dia datang ke sini!"

"Ya, memang itu tujuannya. Bukankah membiarkannya berasumsi yang salah'

adalah bagian dari rencanamu? Kupikir aku hanya menyediakan umpannya saja, bisa

dibilang begitu."

Jari-jariku membuka menjauhi tubuh Renesmee. Aku melengkungkannya

kembali. "Katakan yang sebenarnya, Jacob. Kesabaranku sudah habis."

"Aku tidak mengatakan apa-apa tentang kau, Bella. Tidak juga. Aku menceritakan

padanya tentang aku. Well, menunjukkan mungkin istilah yang lebih tepat,"

"Dia berubah wujud di hadapan Charlie," desis Edward,

Aku berbisik, "Kau apa?"

"Charlie pemberani. Pemberani seperti kau. Tidak pingsan, atau muntah, atau

apa. Harus kuakui, aku terkesan. Tapi coba kaulihat wajahnya waktu aku mulai

membuka pakaian. Tak ternilai," Jacob terkekeh-kekeh.

"Dasar tolol! Bisa-bisa dia kena serangan jantung, tahui"

"Charlie baik-baik saja kok. Dia kuat. Kalau kau mau berpikir satu menit saja, akan

kaulihat bahwa sebenarnya aku membantumu."

"Kau punya waktu setengahnya, Jacob." Suaraku datar dan kaku. "Kau punya

waktu tiga puluh detik untuk menceritakan padaku setiap kata yang kauucapkan

sebelum aku memberikan Renesmee pada Rosalie dan menebas kepala tololmu itu. Seth

takkan sanggup menghentikanku kali ini."

"Ya ampun, Bells. Dulu kau tidak sok melodramatis begini. Itu ciri khas vampir,

ya?"

"Dua puluh enam detik."

Jacob memutar bola matanya dan mengempaskan diri ke kursi terdekat.

Kawanan kecilnya beranjak dan berdiri mengapitnya, sikap mereka sama sekali tidak

serileks Jacob; mata Leah tertuju padaku, memamerkan sedikit giginya.

418

"Jadi tadi pagi aku mengetuk pintu rumah Charlie dan mengajaknya jalan-jalan.

Dia bingung tapi waktu kubilang ini tentang kau, dan bahwa kau sudah kembali ke kota,

dia mengikutiku ke hutan. Kubilang padanya kau tidak sakit lagi, dan situasinya agak

sedikit aneh, tapi bagus. Dia sudah berniat langsung pergi menengokmu, tapi kukatakan

aku harus menunjukkan sesuatu padanya dulu. Kemudian aku berubah wujud."

Gigiku terasa seperti catok yang mengatup rapat. "Aku ingin dengar setiap kata,

monster."

"Well, kaubilang tadi aku hanya punya waktu tiga puluh detik—oke, oke."

Ekspresiku pasti meyakinkan dia bahwa aku tak sedang ingin bercanda. "Baiklah... aku

berubah wujud kembali dan berpakaian, kemudian setelah Charlie mulai bisa bernapas

lagi, aku bilang begini, 'Charlie, kau tidak tinggal di dunia seperti yang selama ini kaukira.

Kabar baiknya adalah, tak ada yang berubah—kecuali sekarang kau sudah tahu. Hidup

akan berjalan seperti biasa. Kau bisa kembali berpura-pura tidak percaya pada hal-hal

seperti ini'

"Butuh beberapa saat bagi Charlie untuk memikirkan semuanya, kemudian ia

ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, dengan penyakit langka itu. Kubilang

kau memang pernah sakit, tapi sekarang sudah sembuh-—bahwa kau berubah sedikit

dalam proses menjadi sembuh itu. Dia ingin tau apa yang kumaksud dengan 'berubahdan

kubilang padanya sekarang kau lebih mirip Esme daripada Renée."

Edward mendesis sementara aku menatapnya ngeri; pembicaraan ini menuju ke

arah berbahaya.

"Beberapa menit kemudian dia bertanya, suaranya pelan sekali, apakah kau juga

berubah menjadi binatang. Dan kujawab, “Dia sih berharap bisa sekeren ini.” Jacob

terkekeh.

Rosalie mengeluarkan suara seperti orang jijik.

"Aku mulai menceritakan padanya tentang werewolf, tapi aku bahkan tak sempat

mengucapkan kata itu sampai selesai—Charlie keburu memotongku dan berkata dia

'lebih suka tidak tahu secara spesifik.' Lalu dia bertanya apakah kau sudah tahu kau

melibatkan dirimu ke dalam apa waktu menikahi Edward, dan kujawab, 'Tentu, dia

sudah tahu tentang semua ini sejak bertahun-tahun lalu, sejak pertama kali datang ke

Forks.' Charlie tidak begitu suka mendengarnya. Kubiarkan dia marah-marah sampai

hatinya lega. Setelah tenang kembali, dia hanya menginginkan dua hal. Dia ingin

bertemu denganmu, dan kubilang lebih baik kalau dia memberiku kesempatan

memberitahu kalian lebih dulu."

419

Aku menghirup napas dalam-dalam. "Lalu apa lagi yang dia inginkan?"

Jacob tersenyum. "Kau pasti suka mendengarnya. Permintaan utamanya adalah

agar dia diberitahu sesedikit mungkin tentang semua ini. Kalau memang tidak terlalu

esensial baginya mengetahui sesuatu, kau tak perlu memberitahunya. Hanya yang perlu

diketahui."

Aku merasakan kelegaan untuk pertama kalinya sejak Jacob melangkah masuk.

"Aku bisa mengatasi bagian yang itu."

"Selain itu, dia hanya ingin berpura-pura keadaan normal-normal saja." Senyum

Jacob berubah menjadi seringai penuh kemenangan; ia pasti sudah mengira aku akan

mulai merasa sedikit berterima kasih padanya,

"Apa yang kaukatakan padanya mengenai Renesmee?" Susah payah aku

berusaha tetap memperdengarkan nada galak, melawan keinginan untuk berterima

kasih. Masih terlalu dini. Masih banyak yang salah dalam situasi ini. Bahkan intervensi

Jacob mendatangkan reaksi yang lebih baik dari Charlie daripada yang selama ini

kuharapkan.»

"Oh yeah. Aku juga memberitahu dia bahwa kau dan Edward mewarisi mulut

kecil baru untuk diberi makan." Diliriknya Edward. "Dia anak perwalianmu yang yatimpiatu—

seperti Bruce Wayne dan Dick Grayson," Jacob mendengus. "Kurasa kau tidak

keberatan aku berbohong. Itu semua bagian dari permainan, kan?" Karena Edward tidak

meresponsnya sama sekali, Jacob melanjutkan. "Pada tahap ini Charlie sudah tidak bisa

shock lagi, tapi dia sempat bertanya apakah kalian mengadopsi dia, 'Maksudmu anak

perempuan? Maksudmu aku sudah jadi kakek?* adalah kata-kata persisnya. Aku

mengiyakan. 'Selamat, Kek,' dan lain sebagainya. Dia bahkan sempat tersenyum sedikit."

Mataku kembali perih, tapi kali ini bukan karena takut dan sedih. Charlie

tersenyum membayangkan dirinya sudah jadi kakek? Charlie akan bertemu Renesmee?

" Tapi Renesmee berubah sangat cepat" bisikku*

"Kubilang pada Charlie Renesmee jauh lebih istimewa daripada kita semua

dijadikan satu," Jacob menerangkan dengan lembut. Ia berdiri dan menghampiriku,

melambaikan tangan pada Leah dan Seth waktu mereka bermaksud mengikutinya.

Renesmee menggapai-gapai padanya, tapi kupeluk ia 'semakin erat. "Kubilang padanya,

'Percayalah padaku, kau tak ingin tahu tentang ini. Tapi kalau kau bisa mengabaikan

semua yang aneh, kau akan takjub. Renesmee orang paling menakjubkan di seluruh

dunia.' Kemudian kukatakan padanya bahwa kalau dia bisa menerima hal itu, kau akan

tetap di sini untuk sementara waktu, jadi dia akan bisa mengenal bocah ini. Tapi kalau

420

itu terlalu berat baginya, kau akan pergi. Charlie berkata asal tak ada orang yang

memaksa menjejalkan terlalu banyak informasi padanya, dia oke-oke saja."

Jacob memandangiku dengan senyum separo terkembang, menunggu,

"Aku tidak akan berterima kasih padamu," tukasku. "Kau tetap membahayakan

hidup Charlie"

"Aku benar-benar menyesal kalau itu menyakitimu. Aku sama sekali tidak tahu

tentang hal itu. Bella, keadaan kita berbeda sekarang, tapi kau akan selalu jadi

sahabatku, dan aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku mencintaimu dengan cara yang

benar sekarang. Akhirnya ada keseimbangan. Kita berdua memiliki orang-orang yang

tanpa mereka, kita tidak bisa hidup."

Ia menyunggingkan senyum Jacob-nya yang istimewa. "Kita masih berteman,

kan?"

Mengerahkan segenap kemampuanku untuk menolak, aku harus membalas

senyumnya. Senyum kecil saja.

Jacob mengulurkan tangan: sebuah tawaran.

Aku menarik napas dalam-dalam dan memindahkan Renesmee ke tangan yang

lain. Aku menyalaminya dengan tangan kiriku—ia bahkan tidak tersentak metasakan

kulitku yang dingin, "Kalau aku tidak membunuh Charlie malam ini, akan

kupertimbangkan untuk memaafkanmu atas ulahmu ini."

"Kalau kau tidak membunuh Charlie malam ini, kau berutang budi padaku,"

Aku memutar bola mataku.

Ia mengulurkan tangannya yang lain pada Renesmee, kali ini berupa permintaan.

"Bolehkah aku?"

"Sebenarnya aku menggendongnya supaya kedua tanganku tidak bebas

membunuhmu, Jacob. Mungkin nanti saja."

Jacob mendesah tapi tidak memaksaku. Bijaksana juga dia.

Saat itulah Alice menghambur memasuki pintu, kedua tangannya bergerak-gerak

dan ekspresinya mengisyaratkan amarah.

"Kau, kau, dan kau," bentak Alice, memandang garang pada para werewolf.

"Kalau kalian memang harus tetap di sini, minggir ke pojok sana dan tetaplah di sana

selama beberapa waktu. Aku harus bisa melihat. Bella, sebaiknya kauberikan bayimu

padanya. Kau tidak boleh memegang apa-apa."

421

Jacob menyeringai penuh kemenangan.

Perasaan takut yang amat kuat mencengkeram perutku saat menyadari betapa

besarnya tanggung jawab yang kuimbau saat ini. Aku akan mempertaruhkan

pengendalian Diriku yang rapuh dengan ayahku yang seratus persen manusia sebagai

kelinci percobaan. Kata-kata Edward kembali terngiang di telingaku.

Tidakkah kau mempertimbangkan kesakitan fisik yang kau-mahalkan pada Bella,

kalau ia bisa menolaknya? Atau kesakitan

Emosional, kalau ia tidak bisa?

Tak terbayangkan olehku betapa sakitnya kalau aku gagal. Napasku tersengal.

"Bawa dia," bisikku, menyodorkan Renesmee ke pelukan Jacob.

Jacob mengangguk, keprihatinan membuat keningnya berkerut. Ia memberi

isyarat pada yang lain-lain, dan mereka beranjak ke sudut ruangan. Seth dan Jake

langsung duduk di lantai, tapi Leah menggeleng dan mengerucutkan bibir.

"Boleh aku pergi?" gerutunya. Ia terlihat tidak nyaman dalam tubuh manusianya,

memakai T'shirt kotor dan celana pendek katun yang sama yang dipakainya waktu ia

datang memarahiku ketika itu, rambut pendeknya berantakan. Kedua tangannya masih

gemetar.

"Tentu saja," jawab Jake.

"Tetaplah berada di timur agar tidak melintasi jalur Charlie," Alice menambahkan.

Sedikit pun Leah tidak melirik Alice; ia merunduk melewati pintu belakang dan

menghambur ke semak-semak untuk berubah wujud.

Edward sudah kembali di sebelahku, membelai-belai wajahku. "Kau bisa

melakukannya. Aku tahu kau bisa. Aku akan membantumu; kami semua akan

membantumu."

Kutatap mata Edward dengan wajah meneriakkan kepanikan. Apakah ia cukup

kuat untuk menghentikanku kalau aku melakukan gerakan yang salah?

"Kalau aku tidak percaya kau bisa mengatasinya, kita pasti sudah tidak berada di

sini sekarang. Menit ini juga. Tapi kau bisa. Dan kau akan lebih bahagia kalau memiliki

Charlie dalam hidupmu."

422

Aku berusaha memperlambat deru napasku.

Alice mengulurkan tangan. Di telapak tangannya ada kotak putih kecil, "Ini akan

membuat matamu iritasi—tidak sakit, tapi akan membuat matamu betkabut.

Menjengkelkan memang, Warnanya juga tak sama persis dengan warna matamu dulu,

tapi tetap lebih baik daripada merah terang, kan?"

Ia melemparkan kotak lensa kontak itu dan kutangkap.

"Kapan kau..."

"Sebelum kau berangkat berbulan madu. Aku sudah siap dengan beberapa

kemungkinan."

Aku mengangguk dan membuka wadah itu. Aku belum pernah memakai lensa

kontak, tapi pasti tidak terlalu sulit. Kuambil bulatan lensa berwarna cokelat itu dan

kutempelkan ke bola mata, sisi yang cekung di bagian dalam.

Aku mengerjap-ngerjap, dan kabut itu menghalangi penglihatanku. Aku masih

bisa melihat tentu saja, tapi aku juga bisa melihat tekstur selaputnya yang tipis. Mataku

berulang kali terfokus pada goresan-goresan mikroskopik dan bagian-bagian yang

melengkung.

"Aku mengerti maksudmu," gumamku sambil menempelkan lensa satunya. Kali

ini aku berusaha tidak mengerjap. Mataku otomatis ingin mengeluarkan gangguan itu.

"Bagaimana penampilanku sekarang?"

Edward tersenyum. "Memesona. Tentu saja..."

Ya, ya, dia selalu terlihat memesona," Alice menyelesaikan pikiran Edward

dengan sikap tak sabar. "Lebih baik daripada marah, tapi itu pujian tertinggi yang bisa

kuberikan. Seperti lumpur. Warna cokelatmu jauh lebih cantik. Ingat Bella bahwa warna

itu takkan bertahan selamanya—racun tubuhmu akan meluruhkan warnanya dalam

beberapa jam, kalau Charlie berada di sini lebih lama dari itu, kau harus permisi

sebentar untuk menggantinya. Ada bagusnya sih, karena manusia kan perlu ke kamar

mandi sesekali." Alice menggeleng-gelengkan kepala. "Esme, beri dia beberapa acuan

tentang bagaimana bersikap seperti manusia sementara aku memasukkan lensa-lensa

kontak ke powder room"

"Aku punya waktu berapa lama?"

“Charlie akan sampai di sini lima menit lagi. Jadi yang simpel simpel sajalah."

423

Esme mengangguk, menghampiri lalu menggandengku. "Yang paling penting

jangan duduk terlalu diam atau bergerak terlalu cepat," ia menasihatiku.

"Duduk kalau dia duduk," sela Emmett. "Manusia tidak mungkin hanya berdiri."

"Meliriklah setiap tiga puluh detik sekali, kurang-lebih," Jasper menambahkan.

"Manusia tak mungkin menatap sesuatu terlalu lama."

"Silangkan kaki kira-kira setiap lima menit sekali, lalu julurkan tungkai selama lima

menit berikutnya," kata Rosalie.

Aku mengangguk mendengar setiap saran. Aku juga melihat mereka melakukan

hal yang sama kemarin. Kupikir aku bisa meniru tingkah mereka.

"Dan kedipkan mata sekurang-kurangnya tiga kali dalam semenit," imbuh

Emmett, Ia mengerutkan kening, lalu menghampiri meja kecil tempat remote control

diletakkan.

Ia menyalakan TV yang menayangkan pertandingan fcctball antaruniversitas, dan

mengangguk.

"Gerakkan tanganmu juga. Kibaskan rambut atau pura-puralah menggaruk

sesuatu," kata Jasper.

"Tadi aku menyuruh Esme" protes Alice begitu ia kembali. "Kalian hanya akan

membuat Bella bingung,"

"Tidak, kurasa aku sudah paham semuanya," kataku. "Duduk, melirik, mengerjap,

bergerak-gerak."

"Benar," Esme membenarkan. Ia merangkul pundakku.

Jasper mengerutkan kening. "Kau harus menahan napas selama mungkin, tapi

kau perlu menggerakkan bahumu sedikit agar terlihat sedanalah kau bernapas."

Aku menarik napas kemudian mengangguk lagi.

Edward merangkulku dari sisi berbeda. "Kau pasti bisa melakukannya," ia

mengulangi kata-katanya, membisikkan kalimat yang menguatkan itu di telingaku.

"Dua menit," kata Alice. "Mungkin sebaiknya kau mulai duduk di sofa. Kau kan

pura-puranya habis sakit. Dengan begitu, dia tidak perlu langsung melihatmu bergerak."

424

Alice menarikku duduk di sofa. Aku berusaha bergerak pelan-pelan,

menggerakkan tungkai secara lebih canggung. Alice memutar bola mata gemas, jadi

gerakanku pasti kurang meyakinkan.

"Jacob, aku membutuhkan Renesmee," kataku,

Jacob mengerutkan kening, bergeming.

Alice menggeleng. "Bella, aku tidak bisa melihat kalau begitu."

"Tapi aku membutuhkan dia. Dia membuatku tenang." Tak salah lagi, terdengar

secercah nada panik dalam suaraku.

"Baiklah," erang Alice, "Peluk dia dan usahakan jangan terlalu banyak bergerak

dan aku akan mencoba melihat di sekitarmu" Ia mengembuskan napas letih, seperti

diminta kerja lembur pada hari libur. Jacob ikut-ikutan mengembuskan napas, tapi toh

membawa Renesmee padaku, kemudian cepat-cepat mundur kembali begitu dipelototi

Alice.

Edward duduk di sebelahku, merangkul Renesmee dan aku. mencondongkan

tubuh dan menatap mata Renesmee dengan sangat serius.

"Renesmee, seseorang yang istimewa akan datang menemuimu dan ibumu,"

katanya dengan nada takzim, seolah Renesmee memahami setiap perkataannya. "Tapi

dia tidak seperti kita, atau bahkan seperti Jacob. Kita harus sangat berhati-hati

dengannya. Kau tidak boleh bercerita padanya seperti kau bercerita pada kami."

Renesmee menyentuh wajah Edward,

"Tepat sekali," ujar Edward. "Dan dia akan membuatmu haus. Tapi kau tidak

boleh menggigitnya. Dia tidak akan sembuh seperti Jacob."

"Apakah dia bisa memahamimu?" bisikku.

“Dia mengerti Kau akan berhati-hati, bukan, Renesmee? dan akan membantu

kami?"

Renesmee menyentuh Edward lagi.

"Tidak, aku tidak peduli kalau kau menggigit Jacob. Itu tidak apa-apa." Jacob

terkekeh.

"Mungkin sebaiknya kau pergi, Jacob," sergah Edward dingin, memandangnya

garang. Edward belum memaafkan Jacob, karena ia tahu tak peduli apa pun yang terjadi

sekarang, aku akan tetap merasa sakit. Tapi dengan senang hati akan kutanggung rasa

sakit seperti terbakar kalau memang itu hal terburuk yang harus kuhadapi malam ini.

425

"Aku sudah bilang pada Charlie bahwa aku akan di sini," tukas Jacob, "Dia

membutuhkan dukungan moral."

"Dukungan moral apa," dengus Edward. "Sepanjang yang diketahui Charlie, kau

monster paling menjijikkan dibandingkan kami semua."

"Menjijikkan?" protes Jacob, kemudian ia tertawa pelan.

Kudengar bunyi ban mobil berbelok keluar jalan raya dan memasuki jalan tanah

yang sunyi dan lembap, menuju rumah keluarga Cullen. Napasku kembali memburu.

Kalau masih berfungsi, jantungku pasti sudah bertalu-talu. Aku jadi gelisah karena

tubuhku tidak bereaksi sebagaimana mestinya.

Aku berkonsentrasi pada detak jantung Renesmee yang teratur untuk

menenangkan diriku sendiri. Teknik itu ternyata sangat jitu.

"Bagus sekali, Bella," Jasper berbisik setuju.

Edward mempererat rangkulannya di pundakku.

"Kau yakin?" tanyaku.

"Positif. Kau bisa melakukan apa saja" Edward tersenyum dan mengecupku.

Walaupun kecupannya tidak persis di bibir, namun reaksi khas vampirku yang liar

lagi-lagi membuatku terperangah. Bibir Edward bagaikan zat kimia adiktif yang

disuntikkan langsung ke sistem sarafku. Seketika itu juga aku menginginkan lebih.

Dibutuhkan segenap konsentrasi untuk mengingat bayi dalam dekapanku ini.

Jasper merasakan perubahan suasana hatiku. "Eh, Edward, mungkin ada baiknya

kau tidak membuat konsentrasinya pecah sekarang. Bella harus bisa fokus."

Edward menjauhkan dirinya dariku. "Uuups," ujarnya.

Aku tertawa. Padahal dulu akulah yang selalu bilang begitu, dari sejak awal sekali,

sejak ciuman yang pertama.

"Nanti," kataku, dan antisipasi membuat perutku mengelui.

'Fokus, Bella" desak Jasper.

"Baik." Kusingkirkan perasaan gemetar itu jauh-jauh. “ Charlie, itu yang utama

sekarang. Amankan Charlie hari ini. Kami punya waktu sepanjang malam...

426

"Bella"

'Maaf, Jasper." Emmett tertawa.

Suara mobil patroli Charlie semakin dekat. Semua terdiam. Aku menyilangkan

kaki dan berlatih mengerjap-ngerjapkan mata.

Mobil berhenti di depan rumah dan mesinnya tetap menyala selama beberapa

detik. Dalam hati aku penasaran apakah Charlie juga sama gugupnya denganku. Sejurus

kemudian mesin dimatikan, dan terdengar bunyi pintu ditutup. Tiga langkah melintasi

rerumputan, kemudian delapan dentuman langkah yang bergema di tangga kayu. Empat

langkah lagi melintasi teras. Lalu sepi. Charlie menarik napas dalam-dalam berkali-kali.

Tok, tok, tok.

Aku menghela napas, mungkin untuk terakhir kali. Renesmee meringkuk semakin

rapat dalam pelukanku, menyembunyikan wajahnya di rambutku.

Carlisle membukakan pintu. Ekspresi tertekannya berubah menjadi ekspresi

selamat datang, seperti mengubah channel di televisi.

"Halo, Charlie," sapa Carlisle, berlagak bingung. Soalnya, harusnya kami berada di

Atlanta, di Center for Disease Control. Charlie tahu ia dibohongi.

"Carlisle," sapa Charlie kaku, "Mana Bella?"

"Di sini, Dad."

Ugh! Suaraku sangat berbeda. Tambahan lagi, aku menghabiskan suplai udaraku.

Cepat-cepat aku mereguk udara lagi, lega bau Charlie belum memenuhi ruangan.

Ekspresi kosong Charlie mengatakan betapa aneh suaraku. Matanya terpaku

padaku dan membelalak.

Aku membaca berbagai emosi yang melintasi wajahnya.

Shock. Tidak percaya. Sedih. Kehilangan. Takut, Marah. Curiga. Sedih lagi.

Aku menggigit bibir. Rasanya aneh. Gigi baruku sekarang lebih tajam di kujit

granitku daripada gigi manusiaku dulu di bibir manusiaku yang lembut.

"Itu benar kau, Bella?" bisiknya.

"Yep," Aku meringis mendengar suaraku yang seperti genta angin. "Hai, Dad."

Charlie menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

427

"Hai, Charlie" Jacob menyapanya dari sudut ruangan. "Apa kabar?"

Charlie melotot garang pada Jacob, bergidik mengingat apa yang terjadi,

kemudian menatapku lagi.

Lambat-lambat Charlie melintasi ruangan sampai jaraknya hanya tinggal

beberapa meter dariku. Ia melayangkan pandangan menuduh pada Edward, kemudian

matanya berkelebat kembali padaku. Suhu tubuhnya mulai menghantamku dengan

setiap denyut jantungnya.

"Bella?" tanyanya lagi.

Aku berbicara dengan suara lebih pelan, berusaha agar tidak terdengar seperti

dentang lonceng. "Ini benar-benar aku." Rahang Charlie terkunci. "Maafkan aku, Dad,"

ujarku.

kau baik-baik saja?" tuntutnya.

"Sangat dan benar-benar baik" janjiku. "Segar bugar dan sehat walafiat."

habis sudah oksigenku.

"Jake mengatakan padaku bahwa ini... perlu. Bahwa kau sekarat!” Ia

mengucapkan kata-kata itu dengan sikap seolah-olah ia sama sekali tak percaya.

Aku menguatkan diri, memfokuskan pikiran pada Renesmee yang hangat,

mencondongkan tubuh kepada Edward untuk meminta dukungan, dan menarik napas

dalam-dalam

Aroma Charlie bagaikan tinju api, langsung menohok ke kerongkonganku. Bukan

hanya sakit. Tapi sekaligus gairah yang panas dan menusuk. Aroma Charlie jauh lebih

menggiurkan daripada apa pun yang pernah kubayangkan. Kalau para hiker yang

kutemui ketika berburu itu saja sudah menggiurkan, bau Charlie dua kali lebih

menggoda. Dan ia hanya beberapa meter dariku, tubuhnya memancarkan panas dan

cairan yang menitikkan air liur ke udara yang kering.

Tapi aku tidak sedang berburu sekarang. Dan ini ayahku.

Edward meremas pundakku dengan sikap bersimpati, sementara Jacob

melayangkan pandangan meminta maaf padaku dari seberang ruangan.

428

Aku berusaha menguasai diri dan mengabaikan rasa sakit sekaligus dahaga yang

berteriak minta dipuaskan. Charlie menunggu jawabanku.

"Apa yang dikatakan Jacob benar."

"Kalau begitu, ada juga di antara kalian yang jujur," geram Charlie.

Aku berharap Charlie bisa melihat, bahwa di balik segala perubahan di wajah

baruku, ada penyesalan yang dalam di sana.

Di bawah rambutku Renesmee mengendus-endus saat aroma tubuh Charlie

tercium olehnya. Kupeluk ia semakin erat,

Charlie melihatku menunduk cemas dan mengikuti arah pandangku. "Oh"

ujarnya, dan semua amarah lenyap dari wajahnya, berganti shock. "Ini dia. Anak yatimpiatu

yang kata Jacob kalian adopsi."

"Keponakanku," dusta Edward lancar. Ia pasti memutuskan kemiripannya dengan

Renesmee terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja. Yang terbaik adalah menyatakan

mereka memiliki hubungan keluarga sejak awal.

"Lho, kusangka kau kehilangan seluruh anggota keluargamu," sergah Charlie,

nada menuduh kembali terdengar dalam suaranya.

"Aku kehilangan kedua orangtuaku. Kakak lelakiku diadopsi, sama seperti aku.

Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah itu. Tapi pengadilan berhasil

menemukanku setelah dia dan istrinya tewas dalam kecelakaan mobil, meninggalkan

anak tunggal mereka yang sebatang kara."

Edward lihai sekali memberi alasan. Suaranya tenang, bahkan ada sedikit

keluguan di dalamnya. Aku harus berlatih kalau ingin bisa seperti itu.

Renesmee mengintip dari balik rambutku, mengendus-endus lagi. Malu-malu

diliriknya Charlie dari balik bulu matanya, lalu bersembunyi lagi.

"Dia... dia, well, dia cantik."

"Memang," Edward membenarkan.

"Meski begitu lumayan berat juga tanggung jawabnya. Kalian kan baru saja

menikah."

"Apa lagi yang bisa kami lakukan?" Edward membelai pipi Renesmee, Kulihat ia

menyentuh bibir bocah itu sekilas—untuk mengingatkan. "Kalau kau jadi kami, apa kau

tega menolaknya.""

429

"Hmph. Well" Charlie menggeleng. "Kata Jake, kalian memanggilnya Nessie?"

"Tidak, itu tidak benar," bantahku, suaraku terlalu tajam dan melengking.

"Namanya Renesmee."

Perhatian Charlie kembali tertuju padaku. "Bagaimana perasaanmu terhadap hal

ini? Mungkin Carlisle dan Esme lusa..."

"Dia milikku," potongku. "Aku menginginkan dia."

Charlie mengerutkan kening. "Masa kau akan membuatku jadi kakek di usia

muda?"

Edward tersenyum. "Carlisle juga sudah jadi kakek."

Charlie melayangkan pandangan tak percaya pada Carlisle, yang masih berdiri di

samping pintu depan; ia terlihat bagaikan adik dewa Zeus yang lebih muda dan lebih

tampan.

Charlie mendengus kemudian tertawa. "Kurasa itu membuatku merasa lebih

baik." Matanya tertuju kembali pada Renesmee, "Aku yakin dia pasti cantik sekali."

Renesmee mencondongkan badan ke arah bau itu, menyibak rambutku dan

menatap wajah Charlie untuk pertama kali, Charlie tersentak.

Aku tahu apa yang dilihat Charlie. Mataku—matanya— terrcetak sangat

sempurna di wajah Renesmee.

Charlie mulai megap-megap. Bibirnya bergetar, dan aku bisa membaca angkaangka

yang ia ucapkan tanpa suara. Ia menghitung ke belakang, berusaha memasukkan

hitungan sembilan bulan ke satu bulan. Berusaha mencari penjelasan yang masuk akal

tapi tak bisa memaksa bukti yang berada lepat di depannya untuk menjadi masuk akal.

Jacob bangkit dan menghampiri Charlie, menepuk-nepuk punggungnya. Ia

membungkuk untuk membisikkan sesuatu di telinga Charlie; hanya saja Charlie tak tahu

kami semua bisa mendengarnya.

"Hanya yang perlu diketahui, Charlie. Semua beres. Aku jamin."

Charlie menelan ludah dan mengangguk. Kemudian matanya berapi-api waktu ia

maju selangkah menghampiri Edward dengan dua tangan terkepal.

"Aku tidak ingin mengetahui semuanya, tapi aku sudah muak dengan

kebohongan!"

430

"Maafkan aku," kata Edward kalem, "tapi kau lebih perlu mengetahui cerita versi

publik daripada yang sebenarnya. Kalau kau ingin menjadi bagian rahasia ini, cerita versi

publik adalah yang terpenting. Itu untuk melindungi Bella dan Renesmee, juga kami

semua. Bisakah kau menerima semua kebohongan itu demi mereka?"

Ruangan itu dipenuhi patung-patung. Kusilangkan tungkaiku.

Charlie mendengus dan mengarahkan tatapan garangnya padaku. "Seharusnya

kau bisa memberiku peringatan dulu, Nak."

"Apakah itu akan membuat keadaan jadi lebih mudah?"

Charlie mengerutkan kening, lalu berlutut di lantai, di depanku. Aku bisa melihat

darah mengalir di lehernya, di bawah kulitnya. Aku bisa merasakan denyutan hangatnya.

Begitu juga Renesmee, Ia tersenyum dan mengulurkan telapak tangannya yang

pink kepada Charlie. Kutarik Renesmee, Ia menekankan tangannya yang lain ke leherku,

dahaga, keingintahuan, dan wajah Charlie berkecamuk dalam pikirannya. Ada sedikit

kegelisahan dalam pesan itu, yang membuatku berpikir ia sepenuhnya mengerti

perkataan Edward; ia memnjukkan bahwa ia haus, tapi langsung menyingkirkan itu dari

pikirannya.

"Wow," Charlie terkesiap, matanya tertuju pada deretan gigi Renesmee yang

sempurna. "Umur berapa dia?"

"Hh..”

"Tiga bulan," jawab Edward, kemudian menambahkan lambat-lambat, "atau lebih

tepatnya, ukuran tubuhnya mirip bayi tiga bulan, kurang-lebih. Dia lebih muda dalam

beberapa hal, sekaligus lebih matang dalam hal-hal lain."

Dengan sengaja Renesmee melambaikan tangan pada Charlie.

Charlie mengerjap tegang.

Jacob menyikutnya. "Sudah kubilang dia istimewa, kan?"

Charlie mengkeret, menjauhi sentuhan Jacob.

"Oh, ayolah, Charlie," erang Jacob. "Aku orang yang sama seperti dulu. Anggap

saja peristiwa siang tadi tak pernah terjadi,"

Ingatan itu langsung membuat bibir Charlie memutih, tapi m mengangguk. "Apa

sebenarnya peranmu dalam semua ini, Jake?" tanyanya. "Berapa banyak yang diketahui

431

Billy? Mengapa kau ada di sini?" Ditatapnya wajah Jacob, yang berseri-seri saat ia

menatap Renesmee.

"Well, sebenarnya aku bisa saja memberitahukan semuanya padamu—tentu saja

Billy tahu semua—tapi itu melibatkan banyak hal tentang werewolf."

"Ughh!” protes Charlie, menutup telinga. "Sudahlah, tidak usah saja."

Jacob nyengir. "Semua pasti akan beres, Charlie. Asal kau berusaha untuk tidak

langsung memercayai apa pun yang kaulihat."

Ayahku menggerutu tidak jelas.

"Wuuu!" Suara bass Emmett yang berat tiba-tiba menggelegar. "Maju terus,

Gators!"

Jacob dan Charlie terlonjak. Kami yang lain-lain membeku.

Charlie pulih dari kagetnya, lalu memandang Emmett dari balik bahunya. "Florida

menang, ya?"

"Baru saja membuat skor touchdown pertama' Emmett membenarkan. Ia

melayangkan pandangan ke arahku, memainkan alis dengan mimik jail. "Di sini juga ada

yang kepingin mencetak skor."

Kutelan kembali desisanku. Di depan Charlie? Benar-benar keterlaluan.

Tapi Charlie sudah tak bisa lagi menyadari arti petunjuk iseng dari Emmet.

Kembali ia menarik napas dalam-dalam, mengisap udara seolah-olah ingin menariknya

hingga jauh ke jari kaki. Iri benar aku padanya. Ia bergegas maju, mengitari Jacob, dan

separo terjatuh ke kursi. "WUU" desahnya. "Kurasa ada baiknya kita lihat apakah

mereka bisa bertalian memimpin."


0 Response to "Breaking Dawn 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified