Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Breaking Dawn 1

BREAKING DAWN

by Stephenie Meyer

Copyright © 2008 by Stephenie Meyer

This edition published by arrangement with

Little, Brown and Company, New York, New York, USA

All rights reserved.

AWAL YANG BARU

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Editor: Rosi L. Simamora

Ebook: AXRA, Otoy, Riz Nesia

GM 312 09.002

Ilustrasi cover oleh Dianing Ratri

Hak cipta terjemahan Indonesia

Breaking Dawn



BUKU SATU

bella

7

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

1. BERTUNANGAN

2. MALAM PANJANG

3. HARI H

4. KEJUTAN

5. PULAU ESME

6. MENGALIHKAN PERHATIAN

7. TAK TERDUGA

8

PENDAHULUAN

Aku sudah cukup sering mengalami peristiwa ketika aku nyaris mati, tapi bukan

berarti dengan begitu aku jadi terbiasa.

Namun anehnya, lagi-lagi aku harus berhadapan dengan kematian, dan tak bisa

mengelak darinya.

Meski begitu kali ini sangat berbeda dari yang sudah-sudah.

Kau bisa melarikan diri dari orang yang kautakuti, kau bisa melawan orang yang

kaubenci. Semua reaksiku siap menghadapi pembunuh-pembunuh semacam itu—para

monster, para musuh.

Tapi bila kau mencintai orang yang membunuhmu, kau tak punya pilihan lain.

Bagaimana kau bisa melarikan diri, bagaimana kau bisa melawan, jika melakukannya

berarti mencelakakan orang yang kaucintai? Bila nyawamu satu-satunya yang harus

kauberikan untuk orang yang kaucintai, bagaimana mungkin kau tidak memberikannya?

Bila itu orang yang benar-benar kaucintai?

9

1. PERTUNANGAN

Tak ada yang menatapmu, aku meyakinkan diriku sendiri. Tak ada yang

menatapmu. Tak ada yang menatapmu.

Tapi karena aku tidak pintar berbohong, bahkan pada diriku sendiri, aku merasa

harus mengeceknya.

Sambil duduk menunggu lampu berubah hijau di depan salah satu dari tiga lampu

merah kota ini, aku melirik ke kanan di dalam minivannya Mrs, Weber jelas-jelas

berputar menghadapku. Matanya menghunjam dalam-dalam ke mataku; dan aku

bergidik, bertanya-tanya dalam hati mengapa ia tidak cepat-cepat memalingkan wajah

atau terlihat malu. Bukankah tidak sopan menatap orang? Ataukah aturan itu tidak

berlaku terhadapku?

Lalu aku teringat bahwa jendela-jendela mobil ini hitam pekat sehingga Mrs.

Weber mungkin tidak menyadari bahwa akulah yang berada di balik kemudi, apalagi

mengetahui aku memergokinya menatapku. Aku berusaha menghibur diri dengan

kenyataan ia tidak benar-benar bermaksud menatapku, melainkan menatap mobil ini.

Mobilku. Ya ampun.

Aku melirik ke kiri dan mengerang. Dua pejalan kaki tertegun di trotoar, tidak jadi

menyeberang gara-gara melongo. Di belakang mereka, Mr, Marshall memandang ke

luar etalase toko suvenir kecilnya dengan mulut ternganga. Yah, setidaknya ia tidak

menempelkan hidungnya di kaca etalase. Belum.

Lampu berubah hijau dan, saking terburu-buru ingin kabur dari situ, aku

menginjak pedal gas tanpa berpikir- seperti kalau aku menginjak pedal gas truk Chevy

tuaku untuk menjalankannya.

Mesin meraung bagaikan macan tutul sedang berburu, dan mobil melesat begitu

cepat hingga tubuhku membentur jok berlapis kulit hitam dan perutku tertekan ke

belakang,

"Arrgh!" seruku kaget sementara kakiku meraba-raba mencari rem. Sambil

menenangkan diri kusentuh pelan pedal rem. Seketika mobil berhenti.

Aku tak berani melihat sekeliling untuk mengetahui reaksi orang-orang. Kalau

tadi mereka bertanya-tanya siapa yang mengendarai mobil ini, sekarang pertanyaan

mereka pasti sudah terjawab. Dengan ujung sepatu pelan-pelan kusentuh pedal gas

sedikit saja, dan mobil kembali melesat.

10

Aku berhasil sampai ke tujuan, yaitu pompa bensin. Kalau bukan karena tanki

bensinku sudah nyaris kosong, aku tidak bakal pergi ke kota sama sekali. Belakangan aku

sampai rela meninggalkan kesenangan dan kemudahan hidup, seperti Pop-Tarts dan tali

sepatu, hanya karena tak ingin tampil di depan umum.

Bergerak cepat seolah-olah sedang berlomba, aku membuka pintu tanki, melepas

penutupnya, memindai kartu, dan memasukkan slang ke tanki hanya dalam hitungan

detik. Tentu saja tak ada yang bisa kulakukan untuk membuat angkaangka meteran

pompa bergerak lebih cepat. Angka-angka itu bergerak lambat, seperti sengaja ingin

membuatku kesal.

Walaupun matahari tidak terik—cuaca kelabu seperti yang biasa terjadi di Forks,

Washington—aku tetap merasa ada lampu sorot diarahkan padaku, menarik perhatian

orang ke cincin yang melingkari jari manis kiriku. Di saat-saat seperti ini, ketika

merasakan rarapan orang di punggungku, aku merasa seolah-olah cincin itu berpendarpendar

seperti lampu neon papan iklan: Lihat aku, lihat aku.

Tolol memang minder begini, dan aku tahu itu. Selain ayah dan ibuku, apa

peduliku bagaimana omongan orang tentang pertunanganku? Tentang mobil baruku?

Tentang diterimanya aku secara misterius di salah satu kampus bergengsi? Tentang

kartu kredit hitam mengilat yang terasa panas di sakuku sekarang ini?

"Yeah, masa bodoh dengan pikiran mereka," gerutuku pelan.

“Eh, Miss?" seorang pria memanggilku.

Aku berbalik, kemudian berharap tidak melakukannya.

Dua pria berdiri di sebelah SUV mewah dengan dua kayak baru diikat di atapnya.

Tak satu pun dari mereka menatapku; keduanya melongo menatap mobilku.

Sejujurnya aku tidak mengerti. Tapi itu sebenarnya wajar, karena bisa

membedakan mana mobil yang bermerek Toyota, Ford, dan Chevy saja aku sudah

bangga. Mobil ini memang hitam mengilat, mulus, dan keren, tapi tetap saja bagiku ini

hanya mobil.

"Maaf mengganggu, tapi boleh tahu mobil apa yang kau-kendarai itu?" yang

jangkung bertanya. "Eh, Mercedes, bukan?"

"Benar," jawab laki-laki itu sopan, sementara temannya yang lebih pendek

memutar bola mata mendengar jawabanku. "Aku tahu. Tapi aku penasaran, benarkah

itu... Mercedes Guardian?" Lelaki itu mengucapkan nama itu dengan sikap takzim.

Firasatku mengatakan, lelaki ini pasti bisa bergaul akrab dengan Edward Cullen...

tunanganku (sebenarnya tidak ada gunanya menyangkal istilah itu karena pernikahan

11

toh akan dilangsungkan beberapa hari lagi). "Mobil itu seharusnya belum tersedia di

Eropa," sambung lelaki itu. "Apalagi di sini."

Sementara matanya menyusuri lekuk-liku mobilku di mataku kelihatannya tak

ada bedanya dengan sedan-sedan Mercedes lainnya, tapi tahu apa sih aku? sejenak aku

memikirkan masalahku berkaitan dengan kata-kata seperti tunangan, pernikahan,

suami, dsb.

Rasanya aku tidak mampu menyatukan ketiga kata itu dalam benakku.

Di satu sisi, aku dibesarkan untuk mengerutkan kening pada gaun putih

mengembang dan buket bunga. Tapi lebih dan itu, aku benar-benar tidak bisa

menyatukan konsep suami yang serius, terhormat, dan membosankan dengan konsepku

tentang Edward. Rasanya seperti menempatkan malaikat dalam posisi akuntan; aku

tidak sanggup membayangkan Edward dalam peran yang paling biasa mana pun.

Seperti biasa, begitu mulai memikirkan Edward, aku langsung terperangkap

dalam fantasi-fantasi yang memusingkan. Lelaki tadi sampai harus berdeham-deham

untuk menarik perhatianku, ia masih menunggu jawabanku tentang nama dan asal-usul

mobil ini.

"Aku tidak tahu," jawabku sejujurnya.

"Kau keberatan kalau aku berfoto dengan mobil ini?"

Butuh sedetik bagiku untuk memprosesnya. "Serius nih? Kau ingin berfoto

dengan mobil ini?"

"Tentu tidak ada yang bakal percaya kalau aku tidak punya buktinya "

"Eh. Oke. Baiklah."

Dengan sigap kukembalikan slang bensin ke tempatnya lalu beringsut masuk ke

kursi depan untuk bersembunyi, sementara si penggemar mobil mengeluarkan kamera

canggih dari tas ranselnya. Ia dan temannya bergantian bergaya di depan kap mesin,

kemudian mereka mengambil gambar bagian belakangnya juga.

"Aku rindu trukku," aku mengerang sendiri.

Sangat, sangat kebetulan terlalu kebetulan malah trukku mengembuskan napas

terakhirnya hanya beberapa minggu setelah Edward dan aku menyepakati perjanjian

kami yang berat sebelah itu, di mana salah satu detail kesepakatannya adalah bahwa

Edward diperbolehkan mengganti trukku kalau sudah rusak nanti. Edward bersumpah ia

tidak melakukan apa-apa, trukku sudah menjalani kehidupan yang panjang dan penuh

dan kedaluwarsa karena sebab-sebab alamiah. Menurut dia. Dan, tentu saja, aku tidak

12

tahu bagaimana memverifikasi cerita itu atau bagaimana membangkitkan trukku dari

kematian. Mekanik favoritku...

Aku langsung menghentikan pikiran itu, menolak menyimpulkannya. Aku

mencoba menyimak suara kedua lelaki di luar, yang teredam badan mobil.

"...menerjang penyemprot api di video online. Catnya bahkan tidak terkelupas."

"Jelas tidak. Dilindas tank saja tidak mempan kok. Tidak banyak pasar untuk

mobil semacam ini di sini. Mobil ini dirancang untuk para diplomat Timur Tengah,

pedagang senjata, dan gembong narkoba."

"Menurutmu cewek ini orang penting?" si pendek bertanya, suaranya pelan. Aku

merunduk, pipiku merah padam.

"Hah" sahut si jangkung. "Mungkin. Entah apa yang mungkin muncul di sekitar

sini sampai-sampai kau membutuhkan kaca tahan misil dan bodi baja yang sanggup

menanggung beban hingga dua ribu kilogram. Pasti dia sedang menuju tempat lain yang

lebih berbahaya."

Bodi baja. Bodi baja yang mampu menahan beban hingga dua ribu kilogram. Dan

kaca tahan misil? Keren. Apa yang terjadi dengan kaca anti peluru biasa?

Well, setidaknya ini masuk akal kalau selera humormu aneh.

Aku bukannya tidak mengira Edward akan memanfaatkan kesepakatan kami,

sengaja membuatnya berat sebelah agar ia bisa memberi jauh lebih banyak daripada

yang ia terima. Aku setuju ia boleh mengganti trukku kalau memang perlu diganti,

meskipun tidak menyangka momen itu akan datang begitu cepat, tentu saja. Ketika aku

terpaksa mengakui trukku sudah berubah jadi tugu peringatan bagi Chevy klasik di

pinggir jalan depan rumahku, aku tahu mobil pengganti pilihan Edward kemungkinan

besar akan membuatku malu. Menjadikanku fokus perhatian dan bisik-bisik. Untuk

urusan itu ternyata aku benar. Tapi bahkan dalam imajinasi terliarku sekalipun, aku

sama sekali tidak mengira ia akan memberiku dua mobil.

Mobil "sesudah" dan "sebelum", begitu alasan Edward waktu aku mengamuk.

Yang ini baru mobil "sebelum". Kata Edward, ini hanya mobil pinjaman dan

berjanji akan mengembalikannya setelah pernikahan nanti. Semua itu tidak masuk akal

bagiku. Sampai sekarang.

Ha ha. Karena aku manusia yang sangat rapuh, mudah celaka, sering menjadi

korban kesialanku sendiri, rupanya aku membutuhkan mobil yang tak mempan dilindas

13

tank agar tetap aman. Menggelikan. Aku yakin Edward dan saudara-saudara lelakinya

kenyang menertawakanku di belakang punggungku.

Atau mungkin, mungkin saja, suara kecil berbisik dalam benakku, itu bukan

lelucon, tolok Mungkin Edward memang benar-benar mengkhawatirkanmu. Ini bukan

pertama kalinya ia agak berlebihan dalam usahanya melindungimu.

Aku mendesah.

Aku belum melihat mobil "setelah". Mobil itu tersembunyi di balik selubung dan diparkir

di bagian paling ujung garasi keluarga Cullen. Aku tahu kebanyakan orang pasti sudah

mengintip sekarang, tapi aku benar-benar tidak ingin tahu.

Mungkin mobil itu tidak dilengkapi bodi baja—karena aku tidak akan

membutuhkannya setelah bulan madu nanti. Tidak bisa mati hanyalah satu dari sekian

banyak kelebihan yang kunanti-nantikan. Hal terbaik menjadi anggota keluarga Cullen

bukanlah memiliki mobil mahal dan kartu kredit mengesankan,

"Hei," seru si jangkung, menaungi matanya dengan tangan di kaca mobil dan

berusaha mengintip ke dalam. "Kami sudah selesai. Terima kasih banyak!"

"Sama-sama," sahutku, kemudian tegang saat menyalakan mesin dan menginjak

pedal dengan sangat pelan...

Tak peduli berapa kali aku bermobil pulang menyusuri jalan yang familier ini, aku

masih saja belum sanggup mengabaikan selebaran-selebaran yang kusam oleh hujan itu.

Setiap selebaran, dipancangkan ke tiang-tiang telepon dan ditempelkan di papan-papan

penunjuk jalan, bagaikan tamparan keras di wajah. Ingatanku tersedot kembali ke

pikiran yang tadi kuinterupsi. Aku tak bisa menghindarinya di jalan ini. Tidak dengan

foto-foto mekanik favoritku berkelebat lewat dalam interval tertentu.

Sahabatku. Jacobku.

Poster-poster bertuliskan APAKAH ANDA MELIHAT PEMUDA INI? bukanlah ide

ayah Jacob. Tapi ide ayahku, Charlie, yang mencetak selebaran-selebaran itu dan

menyebarkannya ke seluruh penjuru kota. Dan bukan hanya di Forks, melainkan juga

Port Angeles, Secjuim, Hoquiam, Aberdeen, dan kota-kota lain di sepanjang

Semenanjung Olympic, Ia memastikan semua kantor polisi di negara bagian Washington

dindingnya juga dipasangi poster yang sama. Di kantornya sendiri ada papan yang

khusus diperuntukkan untuk menemukan Jacob. Papan yang nyaris kosong,

membuatnya kecewa dan frustrasi.

Kekecewaan ayahku bukan hanya karena tidak adanya respons. Ia paling kecewa

pada Billy, ayah Jacob—teman terdekat Charlie.

14

Ia kecewa karena Billy enggan terlibat dalam pencarian anaknya yang berusia

enam belas tahun yang "kabur dari rumah". Kecewa karena Billy menolak memasang

poster-poster di La Push, reservasi yang terletak di tepi pantai, tempat kediaman Jacob.

Karena Billy sepertinya pasrah atas lenyapnya Jacob, seakan-akan tak ada lagi yang bisa

ia lakukan. Karena ia berkata, "Jacob sekarang sudah dewasa. Dia akan pulang kalau

memang sudah ingin pulang."

Dan ia frustrasi padaku, karena aku memihak Billy. Aku juga tidak mau memasang

poster-poster itu. Karena baik Billy maupun aku tahu di mana Jacob berada, bisa

dibilang begitu, dan karena kami tahu takkan ada orang yang melihat pemuda ini.

Selebaran itu seperti biasa membuat kerongkonganku tercekat dan mataku

memanas, dan aku senang Edward pergi berburu Sabtu ini. Kalau ia melihat reaksiku, itu

hanya akan membuatnya merasa bersalah.

Tentu saja, ada ruginya juga ini hari Sabtu. Saat aku membelokkan mobil pelanpelan

dan hati-hati memasuki jalan masuk rumahku, aku bisa melihat mobil polisi

ayahku bertengger di halaman. Ia absen mancing lagi hari ini. Masih merajuk soal

pernikahan rupanya.

Itu artinya aku tidak bisa memakai telepon di dalam. Padahal aku harus

menelepon...

Kuparkir mobilku di belakang "monumen" Chevy itu dan mengeluarkan ponsel

yang diberikan Edward untuk keadaan darurat dari laci mobil. Aku menghubungi sebuah

nomor, ibu jariku siap di atas tombol "end" saat nada tunggu berbunyi. Untuk jaga-jaga

saja.

"Halo?" Seth Clearwater menjawab, dan aku mengembuskan napas lega. Aku

terlalu pengecut untuk bicara dengan kakaknya, Leah. Kalimat "kubikin mampus kau"

bukan sekadar omong kosong kalau diucapkan oleh Leah.

"Hai, Seth, ini Bella."

"Oh, halo, Bella! Apa kabar?"

Tercekat. Begitu ingin mendapat kepastian. "Baik."

"Ingin tahu kabar terbaru?"

"Ternyata kau paranormal."

"Sama sekali tidak. Aku bukan Alice—hanya saja kau gampang ditebak," canda

Seth. Di antara anggota kawanan Quileute di La Push sana, hanya Seth yang berani

15

menyebut anggota keluarga Cullen dengan nama mereka, bahkan membuat lelucon

tentang calon adik iparku yang nyaris maha tahu itu.

"Memang." Aku ragu sejenak. "Bagaimana keadaannya?"

Seth mendesah. "Seperti biasa. Dia tidak mau bicara, walaupun kami tahu dia

bisa mendengar kami. Dia berusaha untuk tidak berpikir secara manusia, kau tahu.

Hanya mengikuti instingnya."

"Kau tahu di mana dia sekarang?"

"Di sekitar Kanada utara. Di provinsi mana persisnya, aku tidak tahu. Dia tidak

terlalu memerhatikan garis batas antar-negara bagian."

"Ada tanda-tanda dia bakal..."

"Dia tidak mau pulang, Bella. Maaf''

Aku menelan ludah. "Baiklah, Seth. Aku toh sudah tahu jawabannya sebelum

bertanya tadi. Boleh saja kan, berharap."

"Yeah. Perasaan kita semua sama kok."

"Terima kasih telah sabar menghadapiku, Seth. Aku tahu yang lain pasti

mengecam sikapmu."

"Mereka memang bukan penggemar beratmu," Seth membenarkan dengan nada

riang. "Agak menyebalkan, menurutku. Jacob membuat keputusannya sendiri, kau

membuat keputusanmu. Jake tidak menyukai sikap mereka mengenainya. Tentu saja,

dia juga tidak senang kau selalu menanyakan kabarnya."

Aku terkesiap. "Lho, kusangka dia tidak mau bicara dengan kalian?"

"Dia tidak bisa menyembunyikan semuanya dari kami, sekeras apa pun dia

berusaha."

Jadi Jacob tahu aku khawatir. Aku tak yakin bagaimana perasaanku mengetahui

hal itu. Well, setidaknya ia tahu aku tidak kabur begitu saja menyongsong matahari

terbenam dan melupakannya sepenuhnya. Ia mungkin sempat mengira aku tega

berbuat begitu.

"Kalau begitu sampai ketemu di... pernikahanku" kataku, memaksa mengucapkan

kata-kata itu,

"Yeah, aku dan ibuku pasti datang. Baik sekali kau mengundang kami."

16

Aku tersenyum mendengar nada antusias dalam suaranya. Walaupun

mengundang keluarga Clearwater sebenarnya ide Edward, aku gembira itu terpikirkan

olehnya. Senang rasanya ada Seth di sana—ia merupakan penghubung, walaupun tipis,

dengan best man-ku yang lenyap entah ke mana. "Tidak menyenangkan kalau tidak ada

kau."

"Sampaikan salamku untuk Edward, oke?"

"Tentu."

Aku menggeleng. Persahabatan yang terjalin antara Edward dan Seth masih saja

membuatku terheran-heran. Namun itu bukti bahwa keadaan tidak harus menjadi

seperti sekarang ini. Bahwa vampir dan werewolf bisa hidup berdampingan, terima

kasih banyak, kalau mereka menghendakinya.

Tapi tidak semua orang menyukai ide ini.

"Ah," ujar Seth, suaranya naik saru oktaf. "Eh, Leah pulang."

"Oh! Sudah dulu, ya!"

Hubungan langsung terputus. Aku meletakkan ponselku di jok dan mempersiapkan

mental untuk masuk ke rumah, tempat Charlie pasti sudah menunggu.

Ayahku yang malang saat ini sedang banyak pikiran. Kaburnya Jacob dari rumah

hanya satu dari sekian banyak beban yang ditanggungnya. Ia juga sama khawatirnya

memikirkan aku, putrinya yang belum sepenuhnya dewasa, yang beberapa liari lagi akan

menikah.

Aku berjalan lambat-lambat menembus gerimis, mengingat malam waktu kami

memberitahunya.

***

Begitu mendengar suara mobil polisi Charlie mendekat, cincin itu tiba-tiba terasa

sangat berat di jari manisku. Ingin rasanya kusurukkan tangan kiriku ke saku, atau

mungkin mendudukinya, tapi genggaman tangan Edward yang dingin dan erat

membuatnya tetap di pangkuan.

"Berhenti bergerak-gerak, Bella. Ingatlah kau bukan hendak mengaku telah

membunuh orang."

17

"Mudah bagimu untuk bicara begitu."

Aku mendengarkan suara mengerikan sepatu bot ayahku menapaki trotoar.

Kunci-kunci bergemerincing di pintu yang tidak dikunci. Suara itu mengingatkanku pada

film horor saat si korban sadar ia lupa menyelot pintunya.

"Tenanglah, Bella," bisik Edward, mendengarkan detak jantungku yang semakin

cepat.

Pintu dibuka hingga membentur dinding, dan aku tersentak seperti ditampar.

"Hai, Charlie," seru Edward, sikapnya benar-benar rileks. "Jangan!" protesku

pelan. "Apa?" Edward balas berbisik. "Tunggu sampai dia menggantung pistolnya dulu!"

Edward terkekeh dan menyusupkan tangannya yang bebas ke sela-sela rambut

perunggunya.

Charlie muncul dari sudut ruangan, masih mengenakan seragam, masih

bersenjata, dan berusaha tidak mengernyit waktu melihat kami duduk di sofa dua

dudukan. Belakangan, ia berusaha keras untuk lebih menyukai Edward. Tentu saja, apa

yang akan kami sampaikan ini jelas akan langsung membuatnya berhenti mencoba.

"Hei. Ada apa?"

"Ada yang ingin kami bicarakan," kata Edward, sangat tenang. "Ada kabar baik"

Dalam sedetik ekspresi Charlie berubah dari keramahan yang dipaksakan menjadi

kecurigaan.

"Kabar baik?" geram Charlie, memandangku lurus-lurus,

"Duduklah, Dad."

Alis Charlie terangkat sebelah, memandangiku selama lima detik, berjalan sambil

mengentakkan kaki ke kursi malas, lalu duduk di ujungnya dengan punggung tegak.

"Jangan tegang begitu, Dad," kataku setelah hening yang menjengahkan.

"Semuanya beres."

Edward nyengir, dan aku tahu ia tidak menyukai istilah beres yang kugunakan, la

sendiri mungkin akan menggunakan istilah baik-baik saja atau sempurna atau

menyenangkan.

"Tentu, Bella, tentu. Kalau benar semuanya beres, lantas mengapa keringatmu

besar-besar sebiji jagung begitu?"

"Aku tidak berkeringat," dustaku.

18

Aku mengkeret dipandangi begitu galak oleh ayahku, merapat pada Edward, dan tanpa

sadar mengusapkan punggung tangan kananku ke dahi untuk menghilangkan barang

bukti.

"Kau hamil!" Charlie meledak. "Kau hamil, kan?"

Walaupun pertanyaan itu jelas-jelas ditujukan padaku, rapi tatapan garangnya

sekarang tertuju kepada Edward, dan berani sumpah aku sempat melihat tangannya

bergerak hendak meraih pistol.

"Tidak! Tentu saja aku tidak hamil!" Ingin rasanya aku menyikut rusuk Edward,

tapi tahu gerakan itu hanya akan membuat sikuku memar. Sudah kubilang kepada

Edward, orang-orang pasti bakal langsung menyimpulkan begitu! Apa lagi alasan orang

waras menikah di usia delapan belas tahun? (Jawaban Edward waktu itu membuatku

memutar bola mata. Cinta. Yang benar saja.)

Kemarahan Charlie sedikit mereda. Biasanya memang sangat jelas tergambar di

wajahku apakah aku berkata jujur, dan ia sekarang percaya padaku. "Oh. Maaf"

"Permintaan maaf diterima."

Lama tidak terdengar apa-apa. Sejurus kemudian baru aku sadar semua orang

menungguku mengatakan sesuatu. Aku mendongak memandang Edward, dicekam

kepanikan. Tidak mungkin aku mampu bicara.

Edward tersenyum padaku, menegakkan bahu, dan berpaling pada ayahku.

"Charlie, aku sadar telah melakukannya dengan cara tidak lazim. Secara

tradisional, seharusnya aku meminta izin dulu darimu. Aku tidak bermaksud kurang ajar,

tapi karena Bella sudah mengiyakan dan aku menghargai keputusannya, jadi alih-alih

meminta izin padamu untuk melamarnya, aku memintamu merestui kami. Kami akan

menikah, Charlie. Aku mencintai Bella lebih daripada apa pun di dunia ini, lebih daripada

hidupku sendiri, dan—ajaibnya—dia juga mencintaiku. Maukah kau merestui kami?"

Edward terdengar sangat yakin, sangat tenang, Dalam sekejap, mendengarkan

keyakinan luar biasa dalam suaranya, aku seperti mengalami momen pencerahan yang

sangat jarang terjadi. Aku bisa melihat, sekilas, bagaimana dunia terlihat di mata

Edward. Selama satu detak jantung, kabar ini terasa sangat masuk akal.

Kemudian mataku menangkap ekspresi Charlie, matanya kini tertuju ke cincinku.

Aku menahan napas sementara wajah Charlie berubah warna—putih ke merah,

merah ke ungu, ungu ke biru. Aku beranjak bangkit—tak yakin apa sebenarnya yang

akan kulakukan; mungkin melakukan manuver Heimlich untuk memastikan ia tidak

19

tercekik—tapi Edward meremas tanganku dan bergumam, "Beri dia waktu sebentar"

begitu pelan hingga hanya aku yang bisa mendengar.

Kali ini keheningan yang terjadi jauh lebih panjang. Kemudian, berangsur-angsur,

rona wajah Charlie kembali normal. Bibirnya mengerucut, alisnya berkerut; aku

mengenali ekspresi "berpikir keras"-nya. Ia mengamati kami lama sekali, dan aku

merasakan Edward merileks di sisiku.

"Kurasa aku tidak terlalu terkejut," gerutu Charlie. "Aku sudah tahu tak lama lagi

aku bakal harus menghadapi hal semacam ini."

Aku mengembuskan napas.

"Kau yakin tentang hal ini?" desak Charlie, memandangku garang.

"Aku seratus persen yakin tentang Edward," aku menjawab pertanyaan ayahku

dengan mantap,

"Tapi menikah? Mengapa harus terburu-buru?" Sekali lagi ia mengamatiku

dengan curiga.

Terburu-buru karena semakin hari aku semakin mendekati sembilan belas tahun,

sementara Edward tetap dalam kesempurnaan usia tujuh belasnya, seperti yang terjadi

selama sembilan puluh tahun ini. Dalam pandanganku, kenyataan ini memang tidak

mengharuskan pernikahan, tapi itu harus dilakukan sebagai akibat dari kompromi rumit

dan berbelit yang dibuat Edward dan aku hingga akhirnya sampai ke titik ini, menjelang

transformasiku dari fana ke abadi.

Hal-hal ini tidak bisa kujelaskan kepada Charlie,

"Kami akan kuliah ke Dartmouth bersama musim gugur nanti, Charlie," Edward

mengingatkan. "Aku ingin melakukannya, well, secara benar. Begitulah caraku

dibesarkan." Edward mengangkat bahu.

Ia tidak melebih-lebihkan; masyarakat pada masa Perang Dunia I kan terbilang

kuno dalam hal moral.

Mulut Charlie mengerucut miring. Mencari sesuatu yang bisa didebat, Tapi apa

lagi yang bisa ia katakan? Aku lebih suka kau hidup bergelimang dosa saja? Ia kan

seorang ayah; ia tidak punya pilihan lain.

"Sudah kuduga ini bakal terjadi," gerutunya pada diri sendiri, keningnya berkerut.

Kemudian, sekonyong-konyong, wajahnya mulus dan ekspresinya tak terbaca,

20

"Dad?" tanyaku waswas. Kulirik Edward, tapi aku juga tidak bisa membaca

wajahnya, sementara ia mengawasi Charlie.

"Ha!" Charlie meledak. Aku terlonjak di kursiku. "Ha, ha, ha!"

Kupandangi Charlie dengan sikap tak percaya waktu ia tertawa sampai

terbungkuk-bungkuk; sekujur tubuhnya berguncang hebat.

Kupandangi Edward, meminta, penjelasan, tapi bibir Edward terkatup rapat,

seolah-olah ia sendiri juga menahan tawa.

"Oke, baiklah," sergah Charlie, suaranya tercekik. "Menikahlah." Lagi-lagi

tawanya meledak, mengguncangnya. "Tapi..."

"Tapi apa?" tuntutku.

"Tapi kau sendiri yang harus memberitahu ibumu! Aku tidak mau mengucapkan

satu patah kata pun kepada Renée! Itu tanggung jawabmu!" Ia tertawa terbahak-bahak.

Aku berhenti dengan tangan memegang gagang pintu, tersenyum. Tentu, waktu

itu kata-kata Charlie membuatku ngeri. Memberitahu Renée sama saja artinya dengan

kiamat. Pernikahan dini menduduki urutan lebih tinggi dalam daftar hitamnya

dibandingkan merebus anak anjing hidup-hidup.

Siapa yang bisa meramalkan reaksinya? Aku sih tidak. Jelas bukan Charlie.

Mungkin Alice, tapi ketika itu tak terpikir olehku untuk bertanya padanya.

"Well, Bella," kata Renée setelah dengan tersendat dan terbata-bata aku

mengucapkan kata-kata mustahil itu: Mom, aku akan menikah dengan Edward! "Aku

sedikit kesal karena baru sekarang kau mengatakannya padaku. Padahal tiket pesawat

yang dibeli mendadak itu kan mahal sekali. Oooh," omelnya. "Menurutmu gips Phil

sudah dibuka belum ya, saat itu? Bisa jelek foto-fotonya nanti kalau dia tidak pakai

tukse..."

"Tunggu sebentar, Mom." Aku menahan napas. "Apa maksud Mom, baru

sekarang mengatakannya? Aku kan baru ber... ber~."—aku tak sanggup memaksa diriku

mengucapkan kata bertunangan—"semuanya memang baru diputuskan hari ini."

"Hari ini? Benarkah? Itu baru mengejutkan. Asumsiku..."

"Mom berasumsi apa? Kapan Mom berasumsi?"

"Well, waktu kau datang mengunjungiku bulan April lalu, kelihatannya hubungan

kalian sudah sangat serius, kalau kau mengerti maksudku. Kau tidak sulit dibaca, Sayang.

Tapi aku tidak mengatakan apa-apa karena tahu itu tak ada gunanya. Kau mirip sekali

21

dengan Charlie." Renée mendesah, pasrah. "Begitu sudah memutuskan sesuatu, tak ada

gunanya lagi mencoba membujukmu. Tentu saja, persis seperti Charlie, kau juga akan

memegang teguh keputusanmu."

Kemudian ia mengatakan hal terakhir yang tak pernah kusangka akan keluar dari

mulut ibuku,

"Kau tidak melakukan kesalahan seperti aku, Bella. Kedengarannya kau sangat

ketakutan, dan dugaanku, itu pasti karena kau takut padaku." Renée terkikik. "Takut

pada apa yang akan kupikirkan. Dan aku tahu aku memang banyak bicara tentang

pernikahan dan ketololan—dan aku tidak akan menarik kata-kataku —tapi kau perlu

menyadari, hal-hal itu secara khusus berlaku untukku. Kau sangat berbeda dariku. Kau

membuat kesalahanmu sendiri, dan aku yakin kau juga akan menyesali beberapa hal

dalam hidupmu. Tapi kau tak pernah punya masalah dengan komitmen, Sayang.

Peluangmu memiliki pernikahan yang langgeng lebih besar daripada kebanyakan orang

berusia empat puluh tahun yang kukenal." Lagi-lagi Renée tertawa. "Anak remajaku

yang separo baya. Untunglah, kau sepertinya menemukan pasangan yang berjiwa sama

tuanya denganmu."

"Jadi Mom... tidak marah? Menurut Mom, aku tidak membuat kesalahan besar?"

"Well, tentu, aku berharap kau mau menunggu beberapa tahun lagi. Maksudku,

memangnya aku sudah kelihatan cukup tua untuk jadi ibu mertua? Jangan dijawab. Tapi

ini bukan tentang aku. Ini tentang kau. Apakah kau bahagia?"

"Entahlah. Aku seperti melayang keluar dari tubuhku sekarang ini."

Renée terkekeh. "Dia membuatmu bahagia, Bella?"

"Ya, tapi..."

“Apakah kau akan menginginkan orang lain?"

"Tidak, tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi apakah Mom tidak akan mengatakan omonganku ini seperti remaja lain

yang mabuk kepayang sejak zaman kuno dulu?"

"Kau tidak pernah jadi remaja, Sayang. Kau tahu apa yang terbaik untukmu."

Selama beberapa minggu terakhir, tak disangka-sangka Renée tenggelam

sepenuhnya pada urusan persiapan pernikahan. Berjam-jam ia habiskan untuk

bertelepon-teleponan dengan ibu Edward, Esme—tak perlu ada kekhawatiran para

22

besan takkan bisa berhubungan baik. Renée memuja Esme, tapi memang, aku ragu ada

yang bakal tidak memuja wanita baik hati calon ibu mertuaku itu.

Itu membuatku terbebas dari segala kerepotan mengurusi tetek-bengek

pernikahan. Keluarga Edward dan keluargaku mengurus segalanya tanpa aku harus ikut

campur atau terlalu repot memikirkannya.

Charlie marah sekali, tentu saja, tapi yang asyik, ia bukannya marah padaku.

Renée-lah yang jadi pengkhianat. Padahal ia berharap Renée bakal menolak rencanaku

mentah-mentah. Apa yang bisa ia lakukan sekarang, bila ancaman utamanya—

memberitahu Mom—ternyata hanya ancaman kosong? Ia tidak memiliki apa-apa, dan ia

tahu itu. Akibatnya, kerjanya sekarang hanya bermuram durja sepanjang hari,

menggerutu bahwa ia tidak bisa memercayai siapa pun di dunia ini...

"Dad?" panggilku sambil mendorong pintu depan. "Aku sudah pulang."

"Tunggu, Bells, tetaplah di sana."

"Hah?" tanyaku, otomatis menghentikan langkah.

"Tunggu sebentar. Aduh, mati aku, Alice,"

Alice?

"Maaf, Charlie," sahut Alice,'suaranya melengking, "Bagaimana kalau begini?"

"Gawat."

"Kau baik-baik saja. Tidak gawat kok—percayalah pada-ku."

"Apa yang terjadi?" tuntutku, ragu-ragu di ambang pintu. "Tiga puluh detik,

please, Bella," pinta Alice. "Kesabaranmu akan mendapat imbalan setimpal.”

“Hahhh," sungut Charlie.

Aku mengetuk-ngetukkan kaki, menghitung setiap ketukan. Belum sampai

hitungan tiga puluh, Alice sudah berseru, "Oke, Bella, masuklah!"

Bergerak dengan hati-hati, aku memasuki ruang duduk.

"Oh," aku terperangah. "Aw. Dad. Dad kelihatan..."

"Tolol?" sela Charlie.

"Menurutku lebih tepat dibilang gagah"

23

Charlie merah padam. Alice meraih sikunya dan memutar tubuh Charlie pelanpelan

untuk memamerkan tuksedo abu-abu muda itu.

"Sudahlah, Alice. Aku kelihatan seperti idiot."

"Tidak ada orang yang kudandani pernah kelihatan seperti idiot."

"Dia benar, Dad. Dad tampan sekali! Ada acara apa?"

Alice memutar bola mata. "Ini pengepasan terakhir. Untuk kalian berdua."

Untuk pertama kali aku mengalihkan pandanganku dari Charlie yang elegan ke

kantong gaun putih mengerikan yang diletakkan dengan hati-hati di sofa.

"Aaaah."

"Pergilah ke tempat bahagiamu, Bella. Tidak butuh waktu lama kok."

Aku menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Dengan mata

terpejam aku rersaruk-saruk menaiki tangga menuju kamarku. Aku menanggalkan

pakaianku hingga tinggal pakaian dalam saja dan mengulurkan lenganku lurus-lurus ke

depan.

"Kau bersikap seolah-olah aku hendak menyisipkan serpihan bambu ke bawah

kukumu!” gerutu Alice sambil mengikutiku masuk kamar.

Aku mengabaikannya. Aku sedang berada di tempat bahagiaku.

Di tempat bahagiaku, seluruh kerepotan mengurusi pernikahan sudah beres dan

berakhir. Sudah lewat. Sudah selesai dan dilupakan.

Kami sendirian, hanya Edward dan aku. Setting-nya kabur dan terus berubahubah—

mulai dari hutan berkabut ke kota yang dinaungi awan hingga malam di

antartika—karena Edward merahasiakan lokasi bulan madu kami untuk memberiku

kejutan. Tapi aku tidak begitu pusing memikirkan di mana kami akan berbulan madu.

Edward dan aku akan bersama-sama, dan aku telah memenuhi kompromiku

secara sempurna. Aku menikah dengannya. Itu yang paling penting. Tapi aku juga sudah

menerima semua hadiahnya yang berlebihan dan telah terdaftar, meski percuma, di

Dartmouth College untuk musim gugur nanti. Sekarang giliran Edward.

Sebelum ia mengubahku menjadi vampir—kompromi besarnya—ia punya satu

syarat lagi yang harus dipenuhi.

Edward memendam semacam kepedulian obsesif tentang pengalamanpengalaman

manusia yang akan kukorbankan, pengalaman-pengalaman yang ia tidak

24

ingin kulewatkan. Sebagian besar di antaranya—seperti prom, misalnya—terasa konyol

bagiku. Hanya ada satu pengalaman manusia yang aku khawatir tak bisa kurasakan.

Tentu saja itu justru satu-satunya hal yang Edward harap akan kulupakan sepenuhnya.

Masalahnya begini. Aku tahu sedikit tentang bagaimana jadinya aku nanti kalau

sudah bukan manusia lagi. Aku sudah pernah melihat sendiri vampir-vampir yang baru

lahir, dan aku sudah mendengar cerita renrang hari-hari pertama yang liar itu dari calon

keluargaku. Selama beberapa tahun, ciri kepribadian terbesarku adalah dahaga.

Dibutuhkan waktu cukup lama sebelum aku bisa menjadi diriku lagi Dan bahkan saat

sudah bisa mengendalikan diri, aku tidak akan pernah bisa secara persis merasakan apa

yang kurasakan sekarang.

Manusia... dan mencintai dengan penuh gairah.

Aku menginginkan pengalaman yang utuh sebelum menukar tubuhku yang

hangat, rapuh, dan dipenuhi feromon ini dengan sesuatu yang indah, kuat... dan tak

dikenal. Aku menginginkan bulan madu yang sesungguhnya bersama Edward. Dan,

meski takut akan membahayakan diriku, ia setuju untuk mencoba.

Aku hanya samar-samar menyadari kehadiran Alice dan belaian bahan satin di

kulitku. Saat ini aku tak peduli kalaupun seantero kota membicarakanku. Aku tidak ambil

pusing memikirkan kehebohan yang bakal kutimbulkan sebentar lagi. Aku tidak khawatir

bakal tersandung cadarku yang panjang atau tertawa mengikik pada momen yang salah

atau menikah terlalu muda atau menjadi tontonan para tamu atau bahkan

mengkhawatirkan kursi kosong yang seharusnya diduduki sahabatku.

Aku berada bersama Edward di tempat bahagiaku.

25

2. MALAM PANJANG

"BELUM-BELUM aku sudah rindu padamu."

"Aku tidak perlu pergi. Aku bisa tetap di sini...”

“Mmm."

Hening yang cukup panjang, hanya detak jantungku bertalu-talu, desah napas

kami yang tersengal, dan bisikan bibir kami yang bergerak dengan sinkron.

Terkadang sangat mudah melupakan kenyataan aku sedang berciuman dengan

vampir. Bukan karena ia terkesan biasa-biasa saja atau mirip manusia—sedetik pun aku

takkan pernah melupakan bahwa aku mendekap seseorang yang lebih menyerupai

malaikat daripada manusia—tapi karena ia memberi kesan seakan-akan bukan masalah

menempelkan bibirnya di bibirku, wajahku, leherku. Ia mengaku sudah lama mampu

mengatasi godaan yang dulu pernah ditimbulkan darahku terhadap dirinya, bahwa

bayangan akan kehilangan diriku telah membuat gairahnya untuk mengisap darahku

lenyap sama sekali. Tapi aku tahu bau darahku masih membuatnya nyeri—masih

membakar kerongkongannya seakan-akan ia menghirup api.

Aku membuka maca dan melihat matanya juga terbuka, menatap wajahku.

Rasanya tidak masuk akal setiap kali ia memandangiku seperti itu. Seolah-olah aku ini

hadiah, bukan pemenang yang justru sangat beruntung.

Sesaat tatapan kami bertemu; matanya yang keemasan begitu dalam hingga aku

membayangkan bisa memandang jauh hingga ke dalam jiwanya. Konyol rasanya bahwa

kenyataan itu—eksistensi jiwanya—pernah dipertanyakan, walaupun ia vampir. Ia

memiliki jiwa yang paling indah, lebih indah daripada pikirannya yang brilian atau

wajahnya yang rupawan atau tubuhnya yang indah.

Ia membalas tatapanku seolah-olah ia bisa melihat jiwaku juga, dan seolah-olah

ia menyukai apa yang dilihatnya.

Tapi ia tidak bisa melihat ke dalam pikiranku, seperti ia bisa melihat pikiran orang

lain. Entah mengapa bisa begitu, tak ada yang tahu—mungkin ada yang aneh dengan

otakku yang membuatnya kebal terhadap hal-hal luar biasa dan menakutkan yang bisa

dilakukan sebagian makhluk imortal. (Hanya pikiranku yang kebal; tubuhku masih bisa

dipengaruhi para vampir dengan kemampuan yang berbeda dengan Edward.) Tapi aku

benar-benar bersyukur pada entah kelainan apa yang membuat pikiranku tetap

misterius. Memalukan sekali kalau yang terjadi justru sebaliknya.

26

Kutarik lagi wajah Edward ke wajahku.

"Kalau begitu, jelas aku akan tetap di sini," gumam Edward sejurus kemudian.

"Tidak, tidak. Ini kan pesta bujanganmu. Kau harus pergi."

Meski mulutku berkata begitu, jari-jari tangan kananku tetap meremas

rambutnya, dan tangan kiriku merengkuh punggungnya. Kedua tangannya yang dingin

membelai wajahku.

"Pesta bujangan dirancang untuk orang-orang yang sedih karena akan

meninggalkan masa lajangnya. Sedang aku justru bersemangat melepasnya. Jadi

sebenarnya tak ada gunanya,"

"Benar." Aku mengembuskan napas di kulit lehernya yang dingin membeku.

Ini nyaris mirip dengan tempat bahagiaku. Charlie tidur nyenyak di kamarnya, jadi

praktis kami hanya berduaan saja. Kami bergelung di tempat tidurku yang kecil, sebisa

mungkin berpelukan erat, walaupun terhalang selimut afgban tebal yang kulilitkan di

tubuhku bagai kepompong. Sebenarnya aku tidak suka memakai selimut, tapi

bagaimana bisa bermesraan kalau gigi-gigiku bergemeletukan. Charlie bakal curiga kalau

aku menyalakan pemanas di bulan Agustus...

Setidaknya, walaupun tikti terbungkus rapat oleh selimut, kemeja Edward

tergeletak di lantai. Sampai sekarang aku masih saja takjub melihat betapa

sempurnanya tubuh Edward— putih, dingin, dan mulus seperti marmer. Kini tanganku

membelai dadanya yang sekeras batu, mengelus permukaan perutnya yang datar, hanya

mengagumi. Edward bergidik nyaris tak kentara, lalu kembali melumat bibirku. Edward

mendesah. Napasnya yang wangi membelai wajahku.

Edward bergerak hendak menarik diri—itu respons otomatisnya setiap kali ia

menganggap kami kelewat batas, reaksi refleksnya setiap kali ia sebenarnya ingin

melanjutkan. 1 lampir sepanjang hidupnya, Edward menolak setiap jenis kenikmatan

fisik. Aku tahu mengerikan baginya mencoba mengubah kebiasaan itu sekarang.

"Tunggu," cegahku, mencengkeram pundaknya dan merapatkan tubuhku.

"Dengan berlatih, semua akan sempurna,"

Edward terkekeh. "Well, seharusnya sekarang kita sudah sempurna, bukan? Apa

kau pernah tidur selama bulan lalu?"

"Tapi ini latihan terakhir," aku mengingatkan dia, "padahal kita baru melatih

beberapa adegan. Sekarang bukan saatnya untuk 'bermain aman."

27

Kusangka Edward bakal tertawa, tapi ia tidak menyahut, tubuhnya bergeming

oleh perasaan tertekan yang tiba-tiba menyergap. Warna emas di matanya seolah

mengeras, dari cair menjadi padat.

Aku memikirkan kata-kataku, menyadari apa yang mungkin ia dengar di

dalamnya.

"Bella...," bisiknya,

"Jangan mulai lagi," tukasku. "Kesepakatan adalah kesepakatan."

"Entahlah. Terlalu sulit berkonsentrasi bila kau bersamaku seperti ini. Aku—aku

tidak bisa berpikir jernih. Aku takkan bisa menguasai diri. Kau bisa terluka."

"Aku akan baik-baik saja,"

"Bella..."

"Ssstt!" Aku menempelkan bibirku ke bibirnya untuk menghentikan serangan

paniknya. Aku sudah pernah mendengar ini sebelumnya. Ia tidak boleh berkelit dari

kesepakatan kami. Tidak setelah ia bersikeras agar aku menikah dulu dengannya,

Edward menciumku sejenak, tapi aku tahu pikirannya tak sepenuhnya tertuju ke

sana lagi. Khawatir, selalu khawatir. Betapa akan sangat berbeda bila ia tidak perlu

mengkhawatir-kanku lagi. Apa yang akan dilakukan Edward di waktu senggangnya? Ia

harus mencari hobi baru.

"Bagaimana kakimu?" tanyanya.

Tahu yang ia maksud sebenarnya adalah perasaanku, aku menjawab, "Panas

membara."

"Sungguh? Tak ada keraguan? Sekarang belum terlambat untuk berubah pikiran."

"Kau berusaha mencampakkanku, ya?"

Edward terkekeh. "Hanya memastikan. Aku tidak mau kau melakukan hal-hal

yang tidak kauyakini."

"Aku yakin tentang kau. Yang lain-lain bisa kulalui."

Edward ragu-ragu, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku salah omong

lagi.

28

"Apakah kau bisa?" tanyanya pelan. "Maksudku bukan pernikahannya—itu sih

aku yakin pasti bisa kaulalui dengan baik walaupun kau gelisah memikirkannya—tapi

sesudahnya... bagaimana dengan Renée, bagaimana dengan Charlie?"

Aku menghela napas. "Aku akan merindukan mereka." Lebih parahnya lagi,

mereka pasti akan rindu padaku, tapi aku tak ingin semakin menyulut kekhawatiran

Edward.

"Angela, Ben, Jessica, dan Mike juga."

"Aku juga akan merindukan teman-temanku." Aku tersenyum dalam gelap.

"Terutama Mike. Oh, Mike! Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?"

Edward menggeram.

Aku tertawa tapi kemudian berubah serius. "Edward, kita sudah berkali-kali

membicarakan ini. Aku tahu pasti sulit, tapi inilah yang kuinginkan. Aku

menginginkanmu, dan aku menginginkanmu selamanya. Seumur hidup saja tidak cukup

bagiku."

"Membeku selamanya di usia delapan belas," bisik Edward.

"Itu impian setiap wanita," godaku.

"Tidak pernah berubah... tidak pernah bergerak maju."

"Apa artinya itu?"

Edward menjawab lambat-lambat. "Ingatkah kau waktu kita memberitahu Charlie

bahwa kita akan menikah? Dan dia mengira kau... hamil?"

"Dan dia sempat berniat menembakmu," tebakku sambil tertawa, "Akuilah—

walaupun hanya sedetik, dia pasti sempat mempertimbangkannya."

Edward tidak menyahut.

"Apa, Edward?"

"Aku hanya berharap... well, aku berharap kalau saja dia benar."

"Hah?" aku terkesiap,

"Bukan sekadar kalau saja, malah. Tapi bahwa kita bisa memiliki keturunan. Aku

tak suka merampas kemungkinan itu darimu."

Aku terdiam beberapa saat. "Aku tahu apa yang kulakukan."

29

"Bagaimana kau bisa mengetahuinya, Bella? Lihat ibuku, lihat adik-adik

perempuanku. Pengorbanan itu tak semudah yang kaubayangkan."

"Esme dan Rosalie toh baik-baik saja. Kalaupun kelak itu jadi masalah, kita bisa

melakukan seperti yang dilakukan Esme—mengadopsi."

Edward menghela napas, kemudian suaranya berapi-api. "Itu tidak benar! Aku tak

mau kau berkorban untukku. Aku ingin memberimu banyak hal, bukan malah

mengambilnya darimu. Aku tidak mau mencuri masa depanmu. Seandainya aku

manusia..."

Kubekap bibirnya dengan tanganku. "Kaulah masa depanku. Sekarang hentikan.

Jangan muram lagi, atau kupanggil saudara-saudaramu untuk datang dan

menjemputmu. Mungkin kau memang membutuhkan pesta bujangan.''

"Maafkan aku. Aku memang bermuram durja, ya? Pasti karena gugup,"

"Kau gugup karena akan menikah?"

"Bukan gugup seperti itu. Aku sudah menunggu selama seabad untuk

menikahimu, Miss Swan. Aku sudah tak sabar lagi menunggu upacara pernikahan—"

Edward mendadak menghentikan kata-katanya. "Oh, demi semua yang kudus!"

"Ada apa?"

Edward mengertakkan giginya. "Kau tidak perlu memanggil saudara-saudaraku.

Rupanya Emmett dan Jasper takkan membiarkanku mangkir malam ini."

Kupeluk tubuhnya lebih erat lagi selama satu detik, kemudian kulepaskan. Aku

tidak bakal bisa melawan keinginan Emmett. "Selamat bersenang-senang."

Terdengar deritan di jendela—ada orang yang sengaja menggoreskan kuku

mereka yang sekeras baja di kaca agar timbul suara berderit yang menegakkan bulu

kuduk. Aku bergidik.

"Kalau kau tidak juga menyuruh Edward keluar," Emmett— masih tidak terlihat

dalam gelap—mendesis dengan nada mengancam, "kami akan masuk dan

menjemputnya!"

"Pergilah," aku tertawa. "Sebelum mereka menghancurkan rumahku."

Edward memutar bola matanya, tapi bangkit berdiri dalam satu gerakan luwes, dan

dengan cekatan mengenakan kembali kemejanya. Ia membungkuk dan mengecup

keningku.

"Tidurlah. Besok hari besar."

30

"Trims! Kata-katamu jelas membuat perasaanku semakin tenang,"

"Sampai ketemu di depan altar."

"Aku akan mengenakan gaun putih" Aku tersenyum karena kata-kataku

terdengar sangat klise.

Edward terkekeh, menimpali, "Sangat meyakinkan'* Kemudian ia merunduk siap

melompat, otot-ototnya meregang seperti per. Ia lenyap—melompat keluar dari

jendelaku dengan gerakan sangat cepat hingga mataku tak sanggup mengikuti.

Di luar terdengar suara berdebum pelan, dan aku mendengar Emmett memaki.

"Awas, jangan membuatnya terlambat," bisikku, tahu mereka bisa mendengar.

Kemudian wajah Jasper mengintip di jendelaku, rambutnya yang berwarna madu

tampak keperakan tertimpa cahaya lemah bulan yang terhalang awan.

"Jangan khawatir, Bella. Kami akan membawa Edward pulang jauh sebelum

waktunya."

Tiba-tiba saja aku merasa tenang, dan semua kegelisahanku terasa tidak penting.

Jasper, dengan caranya sendiri, sama ber-bakatnya dengan Alice dengan prediksiprediksinya

yang sangat akurat. Medium Jasper adalah suasana hati, bukan masa depan,

dan mustahil bisa menolak merasakan apa yang ia ingin agar kaurasakan.

Aku duduk dengan canggung, masih terbelit selimutku. "Jasper? Apa yang

dilakukan vampir dalam pesta bujangan? Kau kan tidak membawanya ke kelab tari

telanjang, kan?"

"Jangan beritahu dia!" geram Emmett dari bawah. Terdengar suara berdebam

lagi, dan Edward tertawa pelan.

"Tenanglah," kata Jasper—dan aku langsung merasa tenang, "Kami keluarga

Cullen memiliki versi sendiri. Paling-paling hanya beberapa singa gunung, atau satu-dua

ekor beruang grizzly. Hampir seperti malam-malam biasanya."

Aku penasaran apakah aku akan bisa bersikap begitu sombong tentang diet

vampir "vegetarian" seperti itu. "Trims, Jasper."

Jasper mengedipkan mata dan lenyap dari pandangan. Sunyi senyap di luar.

Dengkur teredam Charlie menembus hnding.

Aku berbaring di bantal, sekarang mengantuk. Dari balik kelopak mataku yang

berat, kupandangi dinding-dinding kamarku yang kecil, putih pucat dalam cahaya bulan.

31

Malam terakhirku di kamarku. Malam terakhirku sebagai Isabella Swan. Besok

malam, aku akan menjadi Bella Cullen. Walaupun pernikahan ini bagaikan duri dalam

daging, namun harus kuakui aku senang mendengarnya.

Kubiarkan pikiranku berkelana sejenak, berharap kantuk .ikan menguasaiku. Tapi,

setelah beberapa menit, aku malah merasa semakin siaga, kegelisahan kembali

merayapi perutku, memilinnya dalam berbagai posisi tidak enak. Kasur terasa terlalu

lembek, terlalu hangat tanpa Edward di sampingku. Japer berada jauh sekali, dan

perasaan damai serta rileks telah ikut lenyap bersamanya.

Besok akan jadi hari yang sangat melelahkan.

Aku menyadari sebagian besar ketakutanku tolol—aku hanya perlu menguasai

diri. Perhatian adalah bagian yang tak lusa dihindari dalam hidup. Aku tidak selalu bisa

melebur dengan sekelilingku. Bagaimanapun, aku memiliki beberapa kekhawatiran

khusus yang sepenuhnya beralasan.

Pertama, soal ekor gaun pengantin. Alice jelas-jelas membiarkan selera seninya

mengalahkan segi kepraktisan dalam hal itu. Rasanya mustahil bisa menuruni tangga

rumah keluarga Cullen dengan sepatu hak tinggi dan gaun berekor panjang. Seharusnya

aku berlatih dulu.

Kemudian, masalah daftar tamu.

Keluarga Tanya, klan Denali, akan datang beberapa saat sebelum upacara.

Bukan perkara mudah menyatukan keluarga Tanya dalam satu ruangan dengan

tamu-tamu kami dari reservasi Quileute, ayah Jacob, dan keluarga Clearwater. Klan

Denali tidak menyukai werewolf Bahkan, saudara Tanya, Irina, tidak bakal datang ke

acara pernikahan. Ia masih menyimpan dendam terhadap werewolf karena membunuh

temannya, Laurent (yang waktu itu berniat membunuhku). Gara-gara dendam itu pula,

klan Denali lepas tangan dan tidak mau membantu keluarga Edward saat mereka sedang

sangat membutuhkan bantuan. Namun sungguh tidak disangka-sangka, persekutuan

para vampir dengan serigala Quileute justru berhasil menyelamatkan nyawa kami

semua saat para vampir baru itu menyerang...

Edward berjanji padaku bahwa tidak berbahaya membiarkan klan Denali

berdekatan dengan para tamu dari Quileute. Tanya dan seluruh anggota keluarganya—

selain Irina—merasa sangat bersalah gara-gara persoalan waktu itu. Gencatan senjata

dengan para werewolf hanyalah harga kecil yang harus mereka bayar atas

pengkhianatan mereka waktu itu, dan mereka bersedia membayarnya.

Itu masalah besarnya, tapi ada juga masalah kecil: kepercayaan diriku yang

rapuh.

32

Aku belum pernah bertemu Tanya sebelumnya, tapi aku yakin pertemuanku

dengannya nanti tidak akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi egoku. Dulu

sekali, mungkin sebelum aku lahir. Tanya pernah mencoba mendekati Edward—bukan

berarti aku menyalahkan dia atau orang lain karena menginginkan Edward. Meski

begitu, pilihannya adalah ia akan terlihat cantik, atau memesona. Walaupun Edward

jelas-jelas—meski itu tidak bisa dimengerti—lebih memilih aku, tanpa bisa dicegah aku

pasti akan membandingkan diriku dengannya.

Aku sempat menggerutu sedikit sampai akhirnya Edward, yang mengetahui

kelemahanku, membuatku merasa bersalah,

"Hanya kita yang bisa mereka anggap sebagai keluarga, Bella," Edward

mengingatkanku. "Mereka masih merasa seperti yatim-piatu, kau tahu, walaupun sudah

sekian lama."

Maka aku pun setuju, menyembunyikan kegelisahanku.

Tanya sekarang memiliki keluarga besar, hampir sebesar keluarga Cullen. Mereka

berlima; Tanya, Kate, dan Irina, ditambah Carmen dan Eleazar yang bergabung dengan

mereka hampir seperti Alice dan Jasper bergabung dengan keluarga Cullen,

dipersatukan oleh keinginan mereka untuk hidup secara lebih beradab dibandingkan

dengan vampir lain pada umumnya.

Walaupun jumlah mereka banyak, di satu sisi Tanya dan adik-adiknya masih

sendirian. Mereka masih berduka. Karena dulu sekali, mereka juga pernah punya ibu.

Aku bisa membayangkan lubang yang ditinggalkan oleh kehilangan sebesar itu,

bahkan walaupun seribu tahun telah berlalu; aku berusaha membayangkan keluarga

Cullen tanpa pencipta, inti, dan penuntun mereka—ayah mereka, Carlisle, Aku tidak bisa

membayangkannya.

Carlisle pernah menceritakan tentang riwayat hidup Tanya dulu, saat aku

bermalam di rumah keluarga Cullen, belajar sebanyak mungkin, mempersiapkan diri

sebisa mungkin untuk masa depan yang telah kupilih. Kisah ibu Tanya hanyalah satu dari

sekian banyak kisah serupa, kisah yang menggambarkan satu dari sekian banyak aturan

yang harus kuwaspadai kalau nanti sudah bergabung dengan dunia imortal ini. Hanya

satu aturan sebenarnya—satu aturan yang dipecah menjadi ribuan segi yang berbeda:

Menjaga rahasia ini.

Menjaga rahasia berarti banyak hal—hidup tanpa menimbulkan kecurigaan

seperti keluarga Cullen, berpindah-pindah sebelum manusia di sekitar mereka curiga

mengapa mereka tak pernah menua. Atau sekalian saja hidup menjauh dari manusia—

kecuali saat tiba waktu makan—seperti yang dilakukan vampir nomaden seperti James

33

dan Victoria; seperti teman-teman Jasper, Peter dan Charlotte, yang sampai sekarang

masih hidup. Menjaga rahasia berarti mengendalikan vampir-vampir baru yang

kauciptakan, seperti yang pernah dilakukan Jasper saat ia masih tinggal bersama Maria.

Sesuatu yang gagal dilakukan Victoria terhadap vampir-vampir baru cipta airnya.

Dan itu juga berarti tidak menciptakan vampir baru sama sekali, karena sebagian

vampir baru tidak bisa dikendalikan.

“Aku tidak tahu siapa nama ibu Tanya," Carlisle mengakui waktu itu, matanya

yang keemasan, yang warnanya nyaris sama dengan warna rambutnya yang terang,

terlihat sedih mengingat kepedihan hati Tanya. "Kalau bisa, sebisa mungkin mereka

menghindari berbicara tentang ibu mereka, tidak pernah secara sengaja

memikirkannya."

"Wanita yang menciptakan Tanya, Kate, dan Irina—yang mencintai mereka, aku

yakin—hidup bertahun-tahun sebelum aku lahir, pada masa terjadinya wabah di dunia

kita, wabah munculnya anak-anak imortal."

“Apa yang dipikirkan vampir-vampir kuno itu dulu, aku sama sekali tidak

mengerti. Mereka menciptakan vampir dari manusia yang bahkan masih bayi."

Aku sampai harus menelan kembali cairan lambungku yang naik ke tenggorokan

saat membayangkan cerita Carlisle.

"Mereka sangat menggemaskan" Carlisle buru-buru menjelaskan, melihat

reaksiku. "Begitu memikat, begitu memesona, pokoknya tak terbayangkan. Kau takkan

tahan untuk tidak mendekati dan menyayangi mereka; itu terjadi secara alamiah.

"Namun mereka tidak bisa dididik. Mereka membeku di tahap perkembangan

yang mereka capai sebelum digigit. Bocah-bocah dua tahun menggemaskan dengan

lesung pipi dan ocehan cadel yang sanggup menghancurkan setengah isi desa ketika

mereka mengamuk. Kalau lapar mereka makan, dan tak satu pun kata peringatan

mampu menghalangi mereka. Manusia melihat mereka, kabar beredar, ketakutan

menyebar seperti api menjilati semak kering...

"Nah, ibu Tanya menciptakan satu anak seperti itu. Sama seperti vampir-vampir

kuno lainnya, aku sama sekali tidak mengerti alasannya." Carlisle menarik napas dalamdalam

untuk menenangkan diri. "Keluarga Volturi akhirnya rurun tangan, tentu saja."

Seperti biasa aku bergidik mendengar nama itu, tapi tentu saja satu legiun vampir

Italia—bangsawan menurut anggapan mereka sendiri—adalah inti kisah ini. Percuma

saja ada hukum kalau tidak ada hukuman; dan tidak mungkin ada hukuman kalau tidak

ada pihak yang menjatuhkannya. Tiga vampir tua, Aro, Caius, dan Marcus adalah

pemimpin pasukan Volturi; aku pernah bertemu mereka, tapi dalam pertemuan singkat

34

itu, aku mendapat kesan bahwa Aro, dengan bakat luar biasanya membaca pikiran—

sekali menyentuh saja, ia akan langsung tahu setiap pikiran yang pernah timbul dalam

benak seseorang—adalah pemimpin utamanya.

"Keluarga Volturi mempelajari anak-anak imortal itu, baik di kampung halaman

mereka di Volterra maupun di seluruh penjuru dunia. Caius memutuskan anak-anak itu

tidak akan bisa menjaga rahasia kita. Oleh karena itu, mereka harus dimusnahkan.

"Seperti karaku tadi, mereka menggemaskan. Well, beberapa kelompok vampir

melawan dengan sekuat tenaga sampai titik darah penghabisan—sampai mereka semua

dikalahkan—untuk melindungi anak-anak itu. Pembantaian itu tidak meluas seperti

perang selatan di benua ini, tapi jumlah korbannya jauh lebih banyak. Kelompokkelompok

yang sudah lama terbentuk, tradisi lama, teman-teman,., banyak yang

musnah. Akhirnya praktik itu benar-benar musnah hingga ke akar-akarnya. Anak-anak

imortal tidak boleh lagi disebut-sebut, dan menjadi sesuatu yang tabu untuk

dibicarakan.

"Waktu tinggal dengan keluarga Volturi, aku pernah bertemu dengan dua anak

imortal, jadi aku melihat sendiri betapa menggemaskannya mereka, Aro mempelajari

anak-anak itu selama beberapa tahun setelah malapetaka yang diakibatkan mereka

berakhir. Kau tahu sendiri watak Aro; dia berharap anak-anak itu bisa dijinakkan. Namun

akhirnya ke-putusan bulat diambil: anak-anak imortal tidak diperbolehkan hidup."

Aku sudah lupa pada ibu Denali bersaudara ketika cerita kembali padanya.

"Tidak jelas apa tepatnya yang terjadi pada ibu Tanya," cerita Carlisle. "Tanya,

Kate, dan Irina tidak tahu apa-apa sampai suatu hari keluarga Volturi datang menemui

mereka, ibu mereka, bersama ciptaan ilegal si ibu yang sudah berada dalam tawanan

mereka, Ketidaktahuanlah yang menyelamatkan hidup Tanya dan saudari-saudarinya.

Aro menyentuh mereka dan melihat bahwa mereka benar-benar tidak tahu apa-apa,

jadi mereka tidak dihukum bersama ibu mereka,

"Tak seorang pun di antara mereka pernah melihat bocah lelaki itu sebelumnya,

atau pernah memimpikan keberadaannya, sampai hari itu, saat mereka melihatnya

dibakar dalam pelukan ibu mereka. Aku hanya bisa menduga ibu mereka sengaja

merahasiakannya untuk melindungi mereka dari kemungkinan ini. Tapi mengapa sang

ibu harus menciptakan bocah itu? Siapakah bocah itu, dan apa arti si bocah bagi si ibu,

sampai menyebabkan dia nekat melanggar batas yang paling tidak bisa dilanggar? Tanya

dan yang lain-lain tak pernah mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi

mereka tidak bisa meragukan kesalahan ibu mereka, dan kurasa mereka tak pernah

benar-benar memaafkannya.

35

"Bahkan walaupun Aro sudah memastikan bahwa Tanya, Kate, dan Irina tidak

bersalah, Caius tetap ingin mereka dibakar. Bersalah karena ada hubungan. Mereka

beruntung Aro sedang ingin bermurah hati hari itu. Tanya dan adik-adiknya dimaafkan,

tapi ditinggalkan dengan hati terluka dan sangat menghormati hukum..."

Aku tak tahu di mana persisnya ingatan itu berubah menjadi mimpi. Sesaat aku

merasa seperti mendengarkan cerita Oirlisle dalam ingatanku, menatap wajahnya, dan

sejurus kemudian aku sudah memandang ke padang tandus kelabu dengan bau dupa

terbakar menyengat di udara. Aku tidak sendirian di sana.

Sosok-sosok tubuh yang berkerumun di tengah padang, semua mengenakan

jubah kelabu, seharusnya membuatku ngeri—mereka tidak lain dan tidak bukan adalah

keluarga Volturi, sementara aku, berlawanan dengan apa yang telah mereka

perintahkan di pertemuan terakhir kami, masih rnanusia. Tapi aku tahu, seperti yang

kadang-kadang kuketahui dalam mimpi, bahwa mereka tidak bisa melihatku.

Di sekelilingku tampak bertebaran gundukan yang mengepulkan asap. Aku

mengenali bau wangi yang membubung di udara dan tidak memerhatikan gundukangundukan

itu lebih dekat lagi. Aku tak ingin melihat wajah-wajah vampir yang mereka

eksekusi, setengah takut bakal mengenali seseorang di antaranya.

Prajurit-prajurit Volturi berdiri membentuk lingkaran mengitari sesuatu atau

seseorang, dan aku mendengar suara-suara bisikan mereka meninggi oleh kegelisahan.

Aku beringsut mendekati jubah-jubah itu, terdorong oleh mimpi untuk melihat benda

atau orang yang sedang mereka perhatikan dengan begitu cermat. Menyusup hati-hati

di antara dua sosok jangkung berjubah yang mendesis, akhirnya aku berhasil melihat

objek yang sedang mereka perdebatkan, duduk di puncak bukit kecil di atas mereka.

Bocah lelaki itu tampan, menggemaskan, persis seperti yang digambarkan

Carlisle. Ia masih batita, mungkin baru dua tahun. Rambut ikalnya yang cokelat muda

membingkai wajahnya yang mirip kerubim, dengan pipi bundar dan bibir penuh. Dan

tubuhnya gemetar, matanya terpejam seolah-olah ia terlalu takut melihat kematian

yang setiap detik semakin dekat

Aku dilanda keinginan sangat kuat untuk menyelamatkan bocah tampan yang

ketakutan itu sampai-sampai keluarga Volturi, dengan kekuasaannya yang sanggup

menghancurkan, tak lagi berarti apa-apa bagiku. Aku menerobos kerumunan, tak peduli

kalaupun mereka menyadari kehadiranku. Begitu lepas dari kerumunan, aku berlari

sekencang-kencangnya menghampiri bocah lelaki itu.

Namun aku terhuyung-huyung dan berhenti berlari begitu bisa melihat dengan

jelas bukit tempat bocah lelaki itu duduk. Ternyata bukit itu tidak terdiri atas tanah dan

bebatuan, melainkan tumpukan mayat manusia, kering dan tak bernyawa. Terlambat

36

untuk tidak melihat wajah-wajah mereka. Aku kenal mereka semua—Angela, Ben,

Jessica, Mike,.. Dan persis di bawah bocah menggemaskan itu tergeletak mayat ayah

dan ibuku.

Bocah itu membuka matanya yang cemerlang dan semerah darah.

37

3. HARI H

MATAKU mendadak terbuka.

Selama beberapa menit aku berbaring dengan sekujur tubuh gemetar dan

terengah-engah di tempat tidurku yang hangat, berusaha melepaskan diri dari

cengkeraman mimpi- Langit di luar jendelaku berubah kelabu, kemudian merah muda

pucat sementara aku menunggu detak jantungku melambat.

Setelah sepenuhnya kembali ke dunia nyata di kamarku yang berantakan dan

familier, aku sedikit kesal pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku bermimpi seperti itu di

malam menjelang pernikahan! Itulah akibatnya kalau terobsesi pada cerita-cerita seram

di tengah malam.

Ingin mengenyahkan mimpi buruk itu jauh-jauh, aku bangkit dan berpakaian,

turun ke dapur padahal hari masih sangat pagi. Pertama-tama aku membersihkan

ruangan-ruangan yang sudah rapi, kemudian setelah Charlie bangun, membuatkannya

panekuk. Aku terlalu tegang sehingga tidak bernafsu sarapan—aku hanya duduk sambil

bergerak-gerak gelisah di kursiku sementara Charlie makan.

"Dad harus menjemput Mr. Weber jam tiga nanti!” aku mengingatkan ayahku.

"Aku tak punya kegiatan lain hari ini selain menjemput pendeta, Bells. Jadi tidak

mungkin aku melupakan satu-satunya tugasku." Charlie cuti satu hari khusus untuk

pernikahanku, dan ia gelisah seperti cacing kepanasan. Sesekali matanya diam-diam

melirik lemari di bawah tangga, tempat ia menyimpan peralatan memancingnya,

"Itu bukan satu-satunya tugas Dad. Dad juga harus berpakaian rapi dan tampil

tampan,"

Charlie mencemberuti mangkuk serealnya dan menggerutu, mengucapkan katakata

"baju monyet" dengan suara pelan.

Terdengar ketukan cepat di pintu depan,

"Baru begitu saja sudah Dad anggap berat," kataku, meringis sambil bangkit

berdiri. "Sementara aku akan digarap Alice seharian."

Charlie mengangguk dengan sikap serius, menyimpulkan bahwa

"penderitaannya" lebih ringan daripada aku. Aku membungkuk untuk mengecup puncak

kepalanya sambil berjalan lewat—wajah Charlie memerah dan ia menggeram—untuk

membukakan pintu bagi sahabat sekaligus calon adik iparku.

38

Rambut hitam pendek Alice tidak jabrik seperti biasa— rambutnya disisir

mengikal di sekeliling wajah mungilnya, tampak kontras dengan ekspresinya yang resmi.

Ia menyeretku keluar rumah dan hanya sempat menyapa Charlie sekilas dari balik

bahunya.

Alice memandangiku dengan saksama waktu aku naik ke Porsche-nya.

"Oh, ya ampun, coba lihat matamu!" Ia berdecak-decak dengan sikap mencela.

"Apa yang kaulakukan? Begadang semalam suntuk?"

"Hampir."

Alice melotot. "Aku tidak punya banyak waktu untuk membuatmu tampil

memesona, Bella—seharusnya kau menjaga 'bahan mentahnya' lebih baik lagi,"

"Tak ada yang mengharapkanku tampil memesona. Menurutku lebih gawat kalau

aku tertidur saat upacara dan tidak bisa mengatakan saya bersedia' pada saat yang

tepat, kemudian Edward bakal kabur."

Alice tertawa. "Aku akan melemparimu dengan buketku kalau kau sudah hampir

ketiduran."

"Trims."

"Setidaknya kau punya banyak waktu untuk tidur di pesawat besok."

Aku mengangkat sebelah alis. Besok, renungku. Kalau kami berangkat malam ini

seusai resepsi, dan masih berada di pesawat besok... well, berarti kami bukannya akan

pergi ke Boise, Idaho. Edward sama sekali menolak memberi petunjuk. Bukannya aku

penasaran memikirkan misteri itu, tapi aneh saja rasanya, tidak tahu di mana aku akan

tidur besok malam. Atau kuharap tidak tidur...

Alice sadar ia telah kelepasan bicara, dan keningnya berkerut.

"Barang-barang bawaanmu sudah siap semua," katanya untuk mengalihkan

pikiranku.

Usahanya berhasil. "Alice, sebenarnya aku ingin diperbolehkan mengepak

barang-barangku sendiri!"

"Itu sama saja membocorkan rahasia."

"Dan melenyapkan kesempatanmu untuk shopping"

"Sepuluh jam lagi kau akan resmi jadi kakakku... jadi sudah waktunya kau

melupakan keenggananmu pada baju-baju baru."

39

Aku memandang garang dengan tatapan mengantuk ke luar kaca jendela sampai

kami hampir tiba di rumah. "Dia...sudah pulang belum?" tanyaku.

"Jangan khawatir, pokoknya dia akan berada di sana begitu musik mulai

mengalun. Tapi kau tidak boleh bertemu dengannya, tak peduli kapan pun dia pulang

nanti. Kita akan melakukan ini secara tradisional."

Aku mendengus. "Tradisional!"

"Oke, kecuali mempelai pria dan wanitanya."

"Kau tahu dia sudah mengintip."

"Oh tidak—itulah sebabnya hanya aku yang pernah melihatmu dalam gaun

pengantin. Aku sangat berhati-hati untuk tidak memikirkannya kalau sedang ada dia."

"Well" kataku saat mobil berbelok memasuki halaman. "Ternyata kau memakai

semua dekorasi wisudamu lagi." Jalan masuk sepanjang hampir lima kilometer sekali lagi

dihiasi ribuan lampu kecil berkelap-kelip. Kali ini Alice menambahkan pira satin putih.

"Tak ada salahnya berhemat. Nikmatilah, karena kau tidak boleh melihat dekorasi

di dalam sampai tiba waktunya nanti." Ia memasukkan mobil ke garasi yang besar dan

luas di bagian utara rumah induk; Jeep Emmett masih belum tampak.

"Sejak kapan mempelai wanita tidak dibolehkan melihat dekorasinya?" protesku.

"Sejak si mempelai wanita menugaskan aku mengurus semuanya. Aku ingin kau

baru melihat semuanya saat berjalan menuruni tangga."

Alice menutup mataku dengan tangannya sebelum mengajakku masuk ke dapur.

Bau itu langsung menyerbu indra penciumanku.

"Apa itu?" tanyaku penasaran saat Alice membimbingku memasuki rumah.

"Berlebihan, ya?" Suara Alice mendadak waswas. "Kau manusia pertama yang

masuk ke sini; mudah-mudahan saja aku tidak terlalu berlebihan,"

"Baunya enak sekali!" aku meyakinkan Alice—nyaris memabukkan, tapi tidak

berlebihan, bauran berbagai aroma yang berbeda terasa halus dan mulus, "Orange

blossoms... lilac„. dan bunga yang lain—betul, kan?"

"Bagus sekali, Bella. yang tidak kausebut hanya freesia dan mawar."

Ia tidak melepaskan tangannya dari mataku sampai kami berada di kamar mandinya

yang berukuran superbesar. Kupandangi konter kamar mandi yang panjang, seluruh

40

permukaannya dipenuhi berbagai pernak-pernik seperti di salon kecantikan, dan mulai

merasakan akibat kurang tidurku semalam.

"Apakah ini benar-benar perlu? Dipermak bagaimanapun, aku akan tetap terlihat

biasa di samping Edward."

Alice mendorongku hingga terduduk ke kursi pink yang rendah. "Tidak ada yang

berani menyebutmu biasa setelah aku selesai memermakmu."

"Hanya karena mereka takut kau bakal mengisap darah mereka," gerutuku. Aku

bersandar di kursi dan memejamkan mata, berharap bisa mencuri-curi tidur selama

dirias. Aku memang sempat terhanyut antara sadar dan tidak sementara Alice sibuk

memasker, mengampelas, dan mengilatkan setiap jengkal permukaan tubuhku.

Selepas waktu makan siang, Rosalie melenggang melewati kamar mandi dalam

balutan gaun perak berpendar-pendar, rambut emasnya ditumpuk menjadi mahkota

lembut di puncak kepala. Ia begitu cantik sampai-sampai rasanya aku kepingin

menangis. Apa gunanya berdandan kalau ada Rosalie?

"Mereka sudah pulang," kata Rosalie dan seketika itu juga perasaan meranaku

yang kekanak-kanakan lenyap. Edward sudah pulang.

"Jangan sampai dia masuk ke sini!"

"Dia tidak bakal membuatmu kesal hari ini," Rosalie menenangkan Alice. "Dia

terlalu menghargai hidupnya. Esme menyuruh mereka membereskan sesuatu di

belakang. Kau butuh bantuan? Aku bisa menata rambutnya."

Mulutku langsung menganga. Saking kagetnya aku sampai lupa menutup mulut.

Rosalie tak pernah menyukaiku. Dan, yang membuat hubungan kami semakin

buruk, ia secara pribadi sangat tidak menyetujui pilihan yang kuambil sekarang.

Walaupun memiliki kecantikan luar biasa, keluarga yang mencintainya, dan Emmett

sebagai belahan jiwanya, Rosalie rela menukar semua itu demi bisa menjadi manusia.

Tapi aku justru seenaknya mencampakkan semua yang ia inginkan dalam hidup ini

seolah-olah semua itu sampah. Itu membuatnya semakin tidak menyukaiku.

"Tentu," jawab Alice enteng. "Kau bisa mulai mengepang rambutnya. Aku ingin

tatanan yang rumit. Cadarnya nanti dipasang di sini, di bawah." Kedua tangannya mulai

menyisir rambutku, mengangkat, memilin, menggambarkan secara mendetail apa yang

ia inginkan. Setelah ia selesai, tangan Rosalie menggantikannya, membentuk rambutku

dengan sentuhan sehalus bulu. Alice kembali menekuni wajahku.

41

Setelah Rosalie selesai menata rambutku, ia disuruh mengambil gaunku

kemudian mencari Jasper, yang dikirim untuk menjemput ibuku dan suaminya, Phil, dari

hotel tempat mereka'menginap. Di lantai bawah samar-samar aku bisa mendengar

suara pintu membuka dan menutup berulang kali. Suara-suara mulai terdengar oleh

kami,

Alice menyuruhku berdiri supaya ia bisa mengenakan gaun itu tanpa merusak

tatanan rambut dan makeup-ku. Lututku gemetar sangat hebat saat ia mengancingkan

deretan panjang kancing mutiara di punggungku sampai-sampai gaun satinku

bergoyang-goyang seperti ombak di lantai.

"Tarik napas dalam-dalam, Bella," kata Alice. "Dan cobalah tenangkan debar

jantungmu. Bisa-bisa wajah barumu berkeringat nanti."

Aku menampilkan ekspresi sarkastis terbaikku. "Akan segera kulaksanakan "

"Aku harus berpakaian sekarang. Bisakah kau menahan diri selama dua menit?"

"Eh... mungkin?"

Alice memutar bola matanya dan melesat keluar pintu.

Aku berkonsentrasi menarik napas, menghitung setiap gerakan paru-paruku, dan

memandangi pola-pola lampu kamar mandi yang terpantul di gaunku yang berbahan

mengilat, Aku takut melihat ke cermin—takut kalau-kalau bayangan diriku dalam

balutan gaun pengantin membuatku panik.

Alice sudah kembali sebelum aku sempat menarik napas dua ratus kali,

mengenakan gaun yang menuruni tubuh langsingnya bagaikan air terjun keperakan.

"Alice—wow"

"Ini bukan apa-apa. Tak ada yang bakal melirikku hari ini. Tidak bila aku berada

satu ruangan bersamamu.”

“Ha ha,"

"Sekarang, kau bisa mengendalikan diri, atau aku perlu menyuruh Jasper naik ke

sini?"

"Mereka sudah pulang? Ibuku sudah datang?"

"Dia baru saja melewati pintu. Dia sedang naik kemari."

Renée datang dua hari yang lalu, dan sebisa mungkin aku menghabiskan setiap

menit bersamanya—dengan kata lain setiap menit yang tidak ia habiskan bersama Esme

42

dan deko-msinya. Sepanjang pengamatanku ia gembira sekali, lebih d.iripada anak-anak

yang dikurung di Disneyland selama satu malam. Di satu sisi, aku hampir-hampir merasa

dikhianati, sama seperti yang dirasakan Charlie. Padahal aku sudah sangat ketakutan

membayangkan reaksinya...

"Oh, Bella!" pekiknya sebelum tuntas melewati pintu. "Oh, Sayang, kau cantik

sekali! Oh, aku jadi kepingin menangis! Alice, kau luar biasa! Kau dan Esme seharusnya

membuka usaha wedding planner. Dari mana kau mendapatkan gaun ini? Antiknya!

Sangat anggun, sangat elegan. Bella, kau seperti Ictftru keluar dari film Austen." Suara

ibuku rasanya datang duri tempat yang agak jauh dan segala sesuatu dalam ruangan itu

sedikit kabur. "Idenya sungguh kreatif, merancang tema yang cocok dengan cincin Bella.

Romantis benar! Apalagi mengingat cincin itu sudah jadi milik keluarga Edward sejak

i.ilmn seribu delapan ratusan!"

Alice dan aku bertukar pandang penuh konspirasi. Komentar ibuku tadi

sebenarnya melenceng jauh. Tema pernikahan 1111 sebenarnya bukan dipusatkan pada

cincinnya, melainkan p.ida Edward sendiri.

Terdengar suara deham parau dari ambang pintu.

"Renée, kata Esme sudah waktunya kau turun ke bawah," kata Charlie,

"Well, Charlie, tampan sekali kau!" seru Renée dengan nada yang terdengar

nyaris shock, Mungkin karena itulah respons Charlie jadi terdengar garing.

"Alice memermakku habis-habisan,"

"Benarkah sekarang sudah waktunya?" tanya Renée pada dirinya sendiri,

terdengar nyaris sama gugupnya dengan yang kurasakan. "Cepat sekali waktu berjalan.

Aku merasa pusing."

Berarti ada dua orang yang pusing.

"Peluk aku dulu sebelum aku turun" desak Renée. "Hati-hati, jangan sampai ada

yang robek"

Ibuku meremas pinggangku dengan lembut, lalu berputar ke arah pintu, tapi

setengah berputar lagi sehingga kembali menghadapku.

"Oh astaga, hampir saja aku lupa! Charlie, mana kotaknya?"

Ayahku merogoh-rogoh sakunya beberapa saat, kemudian mengeluarkan kotak

kecil berwarna putih, yang ia berikan kepada Renée, Renée membuka tutupnya dan

mengulurkan kotak itu padaku,

43

"Something blue," kata Renée.

"Sekaligus something old. Itu milik Grandma Swan," Charlie menambahkan.

"Kami meminta seorang pengrajin perhiasan untuk mengganti batunya dengan safir."

Di dalam kotak itu ada sepasang sirkam perak. Batu-batu safir biru dirangkai

membentuk desain bunga rumit di atasnya.

Kerongkonganku tercekat. "Mom, Dad... seharusnya tidak perlu."

"Alice melarang kami melakukan hal lain," kata Renée. "Setiap kali kami

mencoba, dia mengancam bakal mencabik-cabik leher kami."

Tawaku meledak.

Alice maju dan cepat-cepat memasang kedua sirkam itu di rambutku, di bawah

pinggiran kepang tebal. "Berarti sudah ada something old dan somethîng blue" renung

Alice, mundur beberapa langkah untuk menggagumiku. "Dan gaunmu baru jadi tinggal

ini—"

Ia melemparkan sesuatu padaku. Aku mengulurkan tangan, d.ui garter putih tipis

mendarat di telapak tanganku.

"Itu punyaku dan harus dikembalikan," kata Alice.

Pipiku memerah.

"Nah, sudah," kata Alice dengan nada puas. "Sedikit warna—hanya itu yang

kaubutuhkan. Kau sudah sempurna." Sambil menyunggingkan senyum puas melihat

hasil karyanya snudiri, ia berpaling kepada kedua orangtuaku. "Renée, kau harus segera

turun."

"Baik, Ma'am." Renée melambaikan ciuman jauh untukku. Ia bergegas keluar

pintu.

"Charlie, bisa tolong ambilkan buket bunganya, please?"

Begitu Charlie keluar dari ruangan, Alice mencomot garter itu dari tanganku, lalu

menyusup masuk ke balik gaunku. Aku terkesiap dan terhuyung saat tangannya yang

dingin menyambar tungkaiku; disentakkannya garter itu hingga terpasang di tempatnya.

la sudah berdiri lagi sebelum Charlie kembali dengan dua buket berwarna putih.

Aroma mawar, orange blossom, dan fnrsia menyergap lembut hidungku.

Rosalie—musisi terbaik dalam keluarga selain Edward— mulai memainkan piano

di bawah. Canon gubahan Pachelbel. Aku mulai sesak napas.

44

"Tenanglah, Bells," Charlie menenangkan. Ia berpaling gugup kepada Alice. "Dia

terlihat agak pucat. Menurutmu dia bisa menjalaninya atau tidak?"

Suara Charlie terdengar jauh sekali. Aku tidak bisa merasakan kakiku.

"Harus bisa."

Alice berdiri tepat di depanku, berjinjit agar bisa menatap tepat ke mataku, dan

mencengkeram pergelangan tanganku dengan tangannya yang keras.

"Fokus, Bella. Edward menunggumu di bawah sana."

Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri agar tenang.

Alunan musik perlahan-lahan bermetamorfosa menjadi lagu baru. Charlie

menyenggolku. "Bells, kita harus segera mulai."

"Bella?" ujar Alice, masih terus menatapku.

"Ya," jawabku, suaraku mencicit. "Edward. Oke." Kubiarkan Alice menarikku dari

kamar, bersama Charlie yang memegangi sikuku.

Musik terdengar lebih keras di lorong. Melayang ke atas tangga bersama aroma

sejuta bunga. Aku berkonsentrasi membayangkan Edward berdiri menungguku di bawah

agar bisa menggerakkan kakiku maju.

Musiknya familier, wedding march tradisional gubahan Wagner, dengan

improvisasi di sana-sini,

"Giliranku," seru Alice. "Hitung sampai lima baru ikuti aku." Ia mulai berjalan

menuruni tangga dengan langkah lambat dan anggun. Seharusnya aku sadar, sungguh

salah besar menjadikan Alice sebagai satu-satunya pendampingku. Aku bakal terlihat

sangat kikuk berjalan di belakangnya.

Musik tiba-tiba menggema lebih megah dan anggun. Aku mengenalinya sebagai

pertanda bagiku untuk turun.

"Jaga jangan sampai aku jatuh, Dad," bisikku. Charlie menarik tanganku yang

melingkari lengannya dan menggenggamnya erat-erat.

Melangkah satu-satu, kataku dalam hati saat kami mulai menuruni tangga,

seirama dengan tempo musik yang lambat.

Aku tidak mengangkat mataku sampai kedua kakiku aman menjejak lantai dasar,

walaupun aku bisa mendengar gumaman dan suara-suara bergemersik para tamu begitu

45

aku muncul. Darahku mengalir deras ke pipiku mendengar suara ini; pasti aku akan

dianggap sebagai pengantin yang wajahnya merah padam.

Begitu kedua kakiku meninggalkan tangga yang rawan, aku mencari Edward.

Selama sedetik perhatianku sempat beralih ke bunga-bunga putih yang menghiasi segala

sesuatu yang tidak hidup, dengan hiasan pita-pita putih lembut panjang, tapi aku

mengalihkan mata dari kanopi sarat bunga itu dan mengedarkan pandangan ke deretan

kursi berlapis kain satin—pipiku semakin memerah saat aku memandangi ke kerumunan

wajah yang semuanya terfokus padaku—sampai aku akhirnya menemukan dia, berdiri di

depan lengkungan yang berlimpah hiasan bunga dan pita.

Aku nyaris tidak menyadari kehadiran Carlisle yang berdiri di sampingnya, dan

ayah Angela di belakang mereka berdua. Aku tidak melihat ibuku, padahal ia pasti duduk

di deretan depan, atau keluarga baruku, atau para tamu—mereka semua harus

menunggu sampai nanti.

Yang kulihat hanya wajah Edward; wajahnya memenuhi mataku dan menyarati

pikiranku. Matanya lembut dan berkilauan bagai emas membara; wajahnya yang

sempurna nyaris tenang oleh kedalaman emosinya. Kemudian, saat pandangan matanya

bertemu dengan tatapan mataku yang memandangnya takjub, ia tersenyum—senyum

bahagia yang membuat napasku lercekat.

Tiba-tiba, genggaman Charlie di tanganku sajalah yang membuatku tidak berlari

menghambur sepanjang lorong.

Alunan wedding march terasa terlalu lambat sementara aku berusaha

menyamakan langkahku dengan iramanya. Untunglah, lorongnya sangat pendek.

Kemudian, akhirnya, akhirnya, sampai juga aku di sana. Edward mengulurkan tangan.

Charlie meraih tanganku dan, dalam tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad,

meletakkannya di tangan Edward. Aku menyentuh keajaiban kulitnya yang dingin, dan

sampailah aku di tempat seharusnya aku berada.

Janji setia kami sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan jutaan

kali, meskipun belum pernah diucapkan oleh pasangan seperti kami. Sebelumnya kami

sudah meminta Mr, Weber untuk membuat perubahan kecil, la bersedia mengganti

kalimat "sampai maut memisahkan kami" dengan kalimat lain yang lebih sesuai "selama

kami berdua hidup".

Pada momen itu, saat pendeta mengucapkan bagiannya, duniaku, yang sudah

sekian lama jungkir-balik, kini seolah menjejak dalam posisi yang benar. Aku melihat

betapa tololnya aku karena selama ini takut pada pernikahan—seakan-akan itu hadiah

ulang tahun yang tidak diinginkan atau pameran yang memalukan, seperti prom.

Kutatap mata Edward yang memancarkan sorot kemenangan, dan tahu bahwa aku juga

46

menang. Karena tidak ada hal lain yang berarti kecuali bahwa aku bisa bersama

dengannya.

Aku baru sadar diriku menangis setelah tiba waktunya bagiku untuk

mengucapkan janji setia.

"Saya bersedia," berhasil juga akhirnya aku mengucapkan janjiku dengan suara

berbisik yang nyaris tidak terdengar, me-ngerjap-ngerjap untuk menyingkirkan air mara

agar aku bisa melihat wajah Edward.

Ketika tiba giliran Edward bicara, kata-katanya berdentang jernih dan bernada

menang.

"Saya bersedia,''janjinya.

Mr. Weber menyatakan kami sah sebagai suami-istri, kemudian kedua tangan

Edward terangkat, merengkuh wajahku dengan hati-hati, seolah-olah wajahku serapuh

kelopak bunga putih di atas kepala kami. Aku berusaha mencerna, walaupun air mata

mengaburkan pandanganku, fakta indah bahwa sosok yang luar biasa ini adalah milikku.

Mata emasnya menatapku seolah-olah ia juga ingin menangis, seandainya hal itu tidak

inustahil terjadi, la menurunkan kepalanya ke kepalaku, dan aku berjinjit, mengulurkan

kedua lenganku—sambil masih memegang buket bunga—memeluk lehernya.

Ia menciumku dengan lembut dan mesra; aku langsung melupakan para tamu,

tempat ini, waktu, alasan... yang kuingat hanyalah bahwa ia mencintaiku, menginginkan

aku, dan bahwa aku miliknya.

Edward yang memulai menciumku, dan ia pula yang harus mengakhirinya; aku

menggelayut mesra padanya, tak memedulikan decakan dan dehaman para tamu.

Akhirnya, kedua tangan Edward menahan wajahku dan ia menarik wajahnya— terlalu

cepat—dan menatapku. Di permukaan, senyumnya yang mendadak terlihat geli, nyaris

seperti mengejek. Tapi di balik semua itu, ada kebahagiaan mendalam yang sama

seperti yang kurasakan.

Para tamu bersorak, dan Edward memutar tubuh kami sehingga menghadap ke

arah teman-teman dan kerabat. Aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya

untuk melihat mereka.

Ibukulah yang pertama memelukku, wajahnya yang berlinang ait mata adalah hal

pertama yang kulihat waktu akhirnya aku berhasil juga mengalihkan pandangan dari

Edward, meski sebenarnya tidak ingin. Kemudian aku diserahkan ke kerumunan para

tamu, berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain, hanya samar-samar mengenali orang

yang memelukku, karena perhatianku terpusat pada tangan Edward yang menggenggam

47

erat tanganku. Namun aku mengenali perbedaan antara pelukan hangat dari temanteman

manusiaku, serta pelukan lembut dan dingin dari keluarga baruku.

Satu pelukan panas membara terasa berbeda dari yang lain-lain—Seth

Clearwater dengan gagah berani menerobos kerumunan para vampir untuk

menggantikan posisi teman werewolf-ku yang hilang.

48

4. KEJUTAN

PERNIKAHAN beralih dengan mulus ke pesta resepsi—bukti perencanaan Alice

yang sempurna. Senja baru saja turun melingkupi sungai; upacara pernikahan berjalan

tepat waktu, memberi kesempatan pada matahari untuk terbenam di balik pepohonan.

Lampu-lampu di pepohonan berpendar-pendar saat Edward membimbingku melewati

pintu kaca belakang, membuat bunga-bunga putih betkilauan. Di luar sini ada lagi kirakira

sepuluh ribu bunga, berfungsi sebagai tenda yang semerbak dan lapang di atas

lantai dansa yang didirikan di rumput, di antara dua pohon cedar tua.

Suasana sedikit mereda, rileks saat malam bulan Agustus yang hangat mengitari

kami. Kerumunan kecil menyebar di bawah temaram lampu yang berkelap-kelip, dan

kami disambut lagi oleh teman-teman yang tadi memeluk kami. Sekarang waktunya

mengobrol dan terrawa-tawa.

"Selamat, guys" Seth Clearwater menyelamati kami, merundukkan kepala di

bawah hiasan karangan bunga. Ibunya, Sue, menempel ketat di samping Seth,

mengawasi para tamu dengan sikap waswas. Wajahnya kurus dan garang, ekspresi yang

semakin dipertegas pocongan rambutnya yang pendek dan kaku; sependek rambut

putrinya, Leah—dalam hati aku penasaran apakah ia memotongnya seperti itu untuk

menunjukkan solidaritas. Billy Black, yang berdiri di samping Seth, tidak setegang Sue.

Setiap kali aku memandang ayah Jacob, aku selalu merasa seperti melihat dua

orang, bukan satu. Yang satu adalah lelaki tua di kursi roda berwajah keriput dengan

senyum putih cemerlang seperti yang dilihat semua orang. Dan satu lagi sosok seorang

keturunan kepala suku yang kuat dan magis, berselubungkan otoritas yang diwarisinya

sejak lahir. Walaupun kemagisan itu—karena tidak adanya pemicu—melompati

generasinya, Billy masih menjadi bagian dari kekuatan dan legenda. Keajaiban itu

melewatinya. Mengalir ke putranya, pewaris keajaiban, yang justru menolaknya.

Tinggallah Sam Uley yang bertindak sebagai kepala suku para legenda dan magis...

Billy terlihat santai, kalau mengingat para tamu dan acaranya—matanya yang

hitam berbinar-binar seakan-akan ia baru saja mendengar kabar baik. Aku kagum

melihat ketenangannya. Pernikahan ini pasti hal yang sangat buruk, yang terburuk yang

bisa terjadi pada putri sahabatnya, dalam pandangan Billy.

Aku tahu tak mudah bagi Billy untuk menahan perasaannya, mengingat

pernikahan ini akan melahirkan tantangan bagi kesepakatan kuno antara keluarga

Cullen dan suku Quileute—kesepakatan yang melarang keluarga Cullen men-ciptakan

vampir baru. Para serigala tahu kesepakatan itu akan dilanggar, tapi keluarga Cullen

sama sekali tidak tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Sebelum mereka bersekutu, itu

49

berarti serangan langsung. Perang. Tapi sekarang setelah mereka saling mengenal lebih

baik, mungkinkah akan ada pengampunan?

Seolah menjawab pikiranku, Seth mencondongkan tubuh kepada Edward dengan

kedua tangan terulur. Edward balas merangkul Seth dengan sebelah tangannya yang

bebas.

Kulihat Sue bergidik sedikit.

"Senang melihat semuanya berjalan lancar, man" kata Seth. "Aku ikut bahagia."

"Terima kasih, Seth. Itu sangat berarti bagiku." Edward melepaskan diri dari

pelukan Seth, lalu memandang Sue dan Billy. "Terima kasih juga pada kalian. Karena

telah mengizinkan Seth datang. Karena telah mendukung Bella hari ini."

"Sama-sama," balas Billy dengan suaranya yang berat dan serak, dan aku terkejut

mendengar nada optimis dalam suaranya. Mungkin akan ada gencatan senjata yang

lebih kuat lagi.

Mulai terbentuk antrean, maka Seth pun berpamitan dan mendorong kursi roda

Billy ke meja hidangan. Kedua tangan Sue memegangi mereka.

Berikutnya giliran Angela dan Ben menyelamati kami, diikuti orangtua Angela,

kemudian Mike serta Jessica—dan yang mengejutkan, mereka bergandengan tangan.

Aku tidak mendengar kabar mereka berpacaran lagi. Baguslah kalau begitu.

Di belakang teman-teman manusiaku berdiri sepupu-sepupu baruku, keluarga

Denali. Sadarlah aku bahwa aku menahan napas saat vampir yang berdiri paling

depan— Tanya, asumsiku, kalau menilik semburat merah stroberi di rambut pirangnya

yang ikal—mengulurkan tangan untuk memeluk Edward. Di sebelahnya, tiga vampir lain

dengan mata keemasan memandangiku dengan sikap ingin tahu yang terang-terangan.

Yang seorang berambut pirang pucat, lurus seperti rambut jagung. Wanita yang lain dan

laki-laki yang berdiri di sampingnya berambut hitam, kulit mereka yang seputih kapur

memiliki rona sewarna buah zaitun.

Dan mereka begitu rupawan hingga perutku mulas.

Tanya masih memeluk Edward.

"Ah, Edward," ujarnya. "Aku rindu padamu."

Edward tertawa kecil dan dengan luwes melepaskan diri dari pelukan Tanya,

meletakkan tangannya di bahu Tanya dan mundur selangkah, seperti hendak melihat

lebih jelas. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Tanya. Kau kelihatan segar."

50

"Kau juga."

"Izinkan aku memperkenalkan kalian pada istriku." Itu untuk pertama kalinya

Edward menyebut kata itu sejak kami resmi menjadi suami-istri; ia kelihatan seperti mau

meledak saking puasnya bisa menyebutku istrinya. Keluarga Denali tertawa renyah

menanggapinya. "Tanya, kenalkan, ini Bellaku."

Seperti yang sudah bisa kubayangkan dalam mimpi terburukku, Tanya memang

cantik jelita. Ia mengamatiku dengan tatapan spekulatif kemudian mengulurkan tangan

untuk menjabat tanganku.

"Selamat datang di keluarga kami. Bella." Ia tersenyum, senyumnya sedikit

muram. "Kami menganggap diri kami bagian dari keluarga besar Carlisle, dan aku sangat

menyesal tentang, eh, insiden baru-baru ini ketika kami bersikap tidak semestinya.

Seharusnya sudah sejak dulu kami bertemu denganmu. Kau bisa memaafkan kami?"

"Tentu saja," jawabku dengan napas tertahan. "Senang sekali berkenalan

denganmu"

"Keluarga Cullen sekarang genap jumlahnya. Mungkin berikutnya giliran kami,

bagaimana, Kate?" Ia nyengir pada wanita yang berambut pirang.

"Mimpi saja terus," tukas Kate sambil memutar bola matanya yang keemasan, ia

meraih tanganku dari genggaman Tanya dan meremasnya pelan. "Selamat datang,

Bella."

Wanita yang berambut hitam meletakkan tangannya di atas tangan Kate. "Aku

Carmen, ini Eleazar. Kami sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu."

"A—aku juga" sahutku terbata-bata.

Tanya melirik orang-orang yang menunggu di belakang— wakil Charlie, Mark, dan

istrinya. Mata mereka membelalak saat melihat klan Denali.

"Nanti saja kita semakin saling mengenal. Kita punya waktu berabad-abad” tawa

Tanya sementara ia dan keluarganya beranjak pergi

Semua tradisi standar dipertahankan. Mataku sampai silau oleh kilatan lampu

blitz saat kami bersiap memotong kue pengantin yang spektakuler—terlalu mewah,

pikirku, untuk pesta yang hanya dihadiri beberapa teman dekat dan anggota keluarga.

Kami bergantian saling menyuapkan kue; Edward dengan jantan menelan kue jatahnya

sementara aku memandanginya dengan tatapan tidak percaya. Kulempar buket

bungaku dengan keahlian tak terduga, mendarat persis di tangan Angela yang terkejut.

Emmett dan Jasper tertawa melolong-lolong melihat wajahku yang memerah saat

51

Edward melepas garter pinjamanku—yang sudah kuturunkan sampai hampir mendekati

pergelangan kaki—dengan sangat hati-hati menggunakan giginya. Lalu setelah

mengedip cepat padaku, ia langsung melempar garter itu ke wajah Mike Newton.

Dan ketika musik mulai mengalun, Edward menarikku ke dalam pelukannya untuk

tradisi dansa pertama setelah resmi sebagai suami-istri; aku menurut, walaupun

sebenarnya takut berdansa—apalagi di depan orang banyak—bahagia karena berada

dalam pelukannya. Ia yang melakukan semuanya, dan aku berputar mulus di bawah

sinar lampu-lampu kanopi dan kilatan lampu-lampu blitz.

"Menikmati pesta, Mrs. Cullen?" bisik Edward di telingaku.

Aku tertawa. "Butuh waktu membiasakan diri dengan panggilan itu."

"Kita punya banyak waktu," ia mengingatkanku, suaranya gembira, dan ia

membungkuk untuk menciumku sementara kami berdansa. Kamera-kamera berebut

mengabadikan momen itu.

Musik berganti, dan Charlie menepuk bahu Edward.

Tak semudah itu berdansa dengan Charlie. Ia tidak lebih luwes daripadaku, jadi

untuk amannya kami hanya bergerak ke kiri dan ke kanan, membentuk formasi

bujursangkar kecil. Edward dan Esme berp utar-putar mengitari kami bagaikan Fred

Astaire dan Ginger Rogers.

"Aku pasti akan merindukanmu di rumah, Bella. Belum-belum aku sudah merasa

kesepian."

Aku berbicara dengan leher tercekat, berusaha mengubahnya menjadi canda.

'Aku merasa sangat tidak enak membiarkan Dad memasak sendiri—bisa dibilang itu

tindakan kri-minaL Dad bisa menangkapku karena itu."

Charlie nyengir. "Soal makanan masih bisa kuatasi. Tapi telepon aku kapan saja

kau bisa."

"Aku berjanji"

Rasanya aku sudah berdansa dengan semua orang. Senang rasanya bertemu

dengan semua teman lamaku, tapi aku benar-benar ingin bersama Edward, lebih dari

hal lain. Aku senang ia akhirnya menyela, hanya setengah menit setelah aku baru mulai

berdansa dengan seseorang.

"Kau masih saja tidak suka pada Mike, ya?" aku berkomentar saat Edward

menarikku menjauhinya.

52

"Tidak kalau aku harus mendengarkan pikirannya. Masih untung aku tidak

menendangnya. Atau yang lebih parah lagi daripada itu."

"Yeah, yang benar saja."

"Apa kau tidak sempat melihat bayangan wajahmu sendiri?"

"Eh. Tidak, kurasa tidak. Mengapa?"

"Kalau begitu kurasa kau tidak sadar betapa luar biasa cantik dan memesonanya

kau malam ini. Aku tak heran Mike jadi berpikir yang tidak-tidak tentang wanita yang

sudah menikah. Aku benar-benar kecewa Alice tidak memaksamu melihat ke cermin."

"Kau sangat bias, tahu."

Edward mendesah kemudian terdiam, lalu membalikkan badan hingga

menghadap ke arah rumah. Dinding kaca memantulkan bayangan pesta seperti cermin

panjang. Edward menuding ke pasangan yang berada persis di depan kami.

"Aku bias, begitu ya?"

Sekilas aku melihat bayangan Edward—duplikat sempurna dari wajahnya yang

sempurna—dengan wanita cantik berambut gelap di sampingnya. Kulitnya putih

kemerahan, matanya membesar penuh kebahagiaan dan dibingkai bulu mata tebak

Gaun putihnya yang gemerlapan mengembang lembut di bagian ekor, nyaris

menyerupai calla lily terbalik, dipotong dengan begitu ahlinya hingga tubuhnya terlihat

elegan dan anggun—saat sedang tidak bergerak, setidaknya.

Belum lagi aku sempat mengerjap dan membuat wanita cantik itu berubah

kembali menjadi aku, tubuh Edward tiba-tiba tegang dan otomatis ia berbalik ke arah

lain, seolah-olah ada yang memanggil namanya.

"Oh!" ucapnya. Alisnya berkerut sesaat dan sejurus kemudian lurus kembali,

Tiba-tiba senyum cemerlang merekah di wajahnya.

"Ada apa?" tanyaku.

"Ada hadiah pernikahan kejutan."

"Hah?”

Edward tidak menjawab; ia mulai berdansa lagi, memutarku ke arah berlawanan,

menjauh dari lampu-lampu dan memasuki kegelapan yang mengeliling lantai dansa yang

bermandikan cahaya.

53

Ia tidak berhenti hingga kami sampai ke sisi gelap salah satu pohon cedar raksasa.

Lalu Edward memandang lurus ke bayang-bayang yang paling gelap.

"Terima kasih," kata Edward ke arah kegelapan, "Kau sungguh... baik hati."

"Aku memang baik hati," sahut sebuah suara serak yang familier, menjawab dari

kegelapan malam, "Boleh kusela?"

Tanganku terangkat ke leher, dan kalau saja saat itu Edward tidak memegangiku,

aku pasti sudah jatuh pingsan.

"Jacob!” seruku dengan suara tercekat begitu bisa bernapas lagi. "Jacob!"

"Halo, Bella."

Aku tersaruk-saruk menghampiri suaranya. Edward masih tetap memegangi

sikuku sampai sepasang tangan lain yang kuat memegangiku di kegelapan. Panasnya

kulit Jacob membakar menembus gaun satinku yang tipis saat ia menarik tubuhku

mendekat. Ia bergeming, tidak berusaha berdansa, hanya memelukku sementara aku

membenamkan wajah di dadanya. Ia membungkuk dan menempelkan pipinya di puncak

kepalaku.

"Rosalie takkan memaafkanku kalau aku tidak mengajaknya berdansa," gumam

Edward, dan aku tahu ia sengaja meninggalkan kami. Itu hadiahnya untukku—momen

bersama Jacob ini.

"Oh, Jacob." Aku menangis sekarang; kata-kataku tidak terdengar dengan jelas.

"Terima kasih."

"Berhentilah menangis, Bella. Nanti gaunmu kotor. Ini kan hanya aku."

"Hanya? Oh, Jake! Semuanya sempurna sekarang."

Jacob mendengus. "Yeah—-pestanya bisa dimulai. Si bcstman akhirnya datang

juga."

"Sekarang semua orang yang kucintai datang."

Aku merasakan bibirnya menyapu rambutku. "Maaf aku terlambat, Sayang."

"Aku bahagia sekali kau datang!"

"Memang itulah tujuannya."

Aku melirik ke arah para tamu, tapi tidak bisa melihat tempat aku terakhir kali

melihat ayah Jacob di antara kerumunan para tamu yang asyik berdansa. Aku tidak tahu

54

apakah ia masih berada di sini. “Apakah Billy tahu kau datang?" Begitu pertanyaan itu

terlontar, seketika itu juga aku sadar Billy pasti tahu—hanya itu satu-satunya alasan

mengapa ekspresinya begitu gembira tadi.

"Aku yakin Sam sudah memberitahu dia. Aku akan pergi menemuinya... begitu

pesta selesai nanti."

"Dia pasti senang sekali kau pulang."

Jacob mundur sedikit dan menegakkan tubuhnya. Sebelah tangannya masih

memegang punggungku, dan sebelah tangannya yang lain menyambar tangan kananku.

Ia meletakkan tangan kami ke dadanya; aku bisa merasakan jantungnya berdetak di

bawah telapak tanganku, dan aku merasa bahwa pasti bukan tanpa sebab ia meletakkan

tanganku di sana.

"Entah apakah aku bisa mendapatkan lebih daripada hanya satu dansa ini," kata

Jacob, dan ia mulai menarikku berputar-putar dengan gerak lambat yang tidak seirama

dengan musik di belakang kami. "Jadi aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin."

Kami bergerak mengikuti irama detak jantungnya di bawah tanganku.

"Aku senang aku datang," kata Jacob pelan beberapa saat kemudian. "Tadinya

kupikir aku tidak akan datang. Tapi senang rasanya bisa bertemu denganmu sekali lagi.

Ternyata tidak sesedih yang kukira."

"Aku tidak mau kau merasa sedih."

"Aku tahu itu. Dan kedatanganku malam ini bukan untuk membuatmu merasa

bersalah."

"Tidak—aku justru senang sekali kau datang. Ini hadiah terindah yang bisa

kauberikan padaku,"

Jacob tertawa. "Baguslah kalau begitu, karena aku tidak sempat mencari hadiah

sungguhan untukmu"

Mataku mulai bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan, jadi aku bisa melihat

wajahnya sekarang, yang ternyata lebih tinggi daripada perkiraanku semula.

Mungkinkah ia masih terus bertumbuh? Tinggi badannya sekarang pasti sudah dua

meter lebih. Lega rasanya melihat garis-garis wajahnya yang familier itu lagi setelah

sekian lama—sepasang mata yang menjorok ke dalam, dinaungi alis hitam lebat, tulang

pipi tinggi, bibir penuh yang nyengir memamerkan sebaris gigi cemerlang, membentuk

senyuman sarkastis yang sesuai dengan nada suaranya. Tampak ketegangan melingkari

matanya—hati-hati; kentara sekali ia sangat berhati-hati malam ini. Sebisa mungkin ia

55

berusaha membuatku bahagia, berhati-hati agar tidak terpeleset dan menunjukkan

betapa banyak pengorbanannya malam ini.

Aku tak pernah melakukan apa-apa hingga layak mendapatkan teman seperti

Jacob-

"Kapan kau memutuskan untuk kembali?"

"Secara sadar atau tidak sadar?" Ia menghela napas dalam-dalam sebelum

menjawab pertanyaannya sendiri. "Aku tidak begitu tahu. Kurasa sudah sejak beberapa

waktu lalu aku berkeliaran lagi menuju ke sini, dan mungkin itu karena aku memang

ingin mengarah ke sini. Tap baru tadi pagi aku mulai berlari Entah apakah aku bisa

sampai tepat pada waktunya." Ia tertawa. "Kau pasti tidak percaya betapa aneh

rasanya— berjalan dengan dua kaki lagi. Dan mengenakan pakaian! Yang lebih

mengherankan lagi, adalah karena itu terasa aneh. Aku sama sekali tidak menduganya.

Aku sudah lama tidak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan manusia."

Kami berputar-putar teratur.

"Rasanya sayang melewatkan melihatmu seperti ini. Tidak sia-sia aku pulang. Kau

terlihat mengagumkan, Bella. Cantik sekali."

"Alice menginvestasikan banyak waktu untuk meriasku hari ini. Untung juga

sekarang gelap."

"Bagiku kan tidak begitu gelap, kau tahu sendiri,"

"Benar juga." Indra werewolf. Mudah saja melupakan segala sesuatu yang bisa ia

lakukan, karena ia tampak sangat manusiawi. Apalagi sekarang.

"Kau memotong rambutmu," komentarku.

"Yeah. Lebih mudah begini. Kupikir sekalian saja, mumpung aku bisa

menggunakan kedua tanganku."

"Bagus kok" dustaku,

Jacob mendengus, "Yang benar saja. Aku mengguntingnya sendiri, dengan

gunting dapur karatan." Sesaat ia nyengir lebar, kemudian senyumnya memudar.

Ekspresinya berubah serius. "Kau bahagia, Bella?"

"Ya."

"Oke." Bisa kurasakan ia mengangkat bahu, "Itu yang paling penting, kurasa."

"Bagaimana keadaanmu, Jacob? Sebenarnya?"

56

"Aku baik-baik saja, Bella, sungguh. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Kau

bisa berhenti merongrong Seth,"

"Aku tidak merongrong Seth hanya karena kau. Aku suka kok pada Seth,"

"Dia anak baik. Teman yang lebih menyenangkan daripada sebagian orang. Asal

tahu saja, seandainya aku bisa mengenyahkan suara-suara dalam pikiranku, menjadi

serigala akan sangat sempurna."

Aku tertawa mendengarnya. "Yeah, aku juga tidak bisa menghentikan suarasuara

dalam pikiranku."

"Dalam kasusmu, itu berarti kau sinting. Tapi aku sudah tahu kau memang

sinting," godanya.

"Trims."

"Menjadi sinting mungkin lebih mudah daripada mengetahui pikiran setiap

anggota kawanan. Suara-suara dalam pikiran orang sinting tidak mengirim pengasuh

bayi untuk mengawasi mereka."

"Hah?"

"Sam ada di luar sana. Begitu juga sebagian yang lain. Hanya untuk berjaga-jaga,

kau tahu.”

“Untuk berjaga-jaga apa?"

"Siapa tahu aku tidak bisa menguasai diri, semacam itulah. Siapa tahu aku

memutuskan untuk mengamuk di pesta ini." Jacob menyunggingkan senyum sekilas,

mungkin menganggap pikiran itu menarik. "Tapi kedatanganku ke sini bukan untuk

mengacaukan pestamu, Bella. Aku datang untuk..." Suaranya menghilang.

"Menyempurnakannya."

"Itu terlalu berlebihan."

"Kau memang selalu berlebihan."

Jacob mengerang mendengar leluconku yang tidak lucu, kemudian menghela

napas. "Aku datang hanya sebagai teman. Sahabatmu, untuk terakhir kalinya"

"Sam seharusnya tidak berprasangka yang bukan-bukan tentangmu."

57

"Well, mungkin aku saja yang terlalu sensitif. Mungkin kalaupun tidak ada aku,

mereka akan tetap berada di sini, untuk mengawasi Seth. Kan banyak sekali vampir di

sini, Seth tidak terlalu menganggap serius hal itu, seperti seharusnya,"

"Seth tahu dia aman. Dia lebih memahami keluarga Cullen daripada Sam."

"Tentu, tentu," sergah Jacob, buru-buru berdamai sebelum telanjur pecah

perang.

Aneh rasanya melihat Jacob bersikap diplomatis.

"Aku ikut prihatin mengenai suara-suara itu" kataku. "Kalau saja aku bisa

memperbaikinya." Hal yang sebenarnya sangat tidak mungkin.

"Tidak terlalu parah kok. Aku hanya mengeluh sedikit."

"Kau... bahagia?"

"Lumayan. Tapi cukup sudah membicarakan aku. Hari ini kaulah bintangnya,"

Jacob terkekeh. "Aku berani bertaruh kau pasti senang sekali. Menjadi pusat perhatian."

"Yeah. Tidak puas-puas rasanya menjadi pusat perhatian."

Jacob tertawa, kemudian memandang dari atas kepalaku. Dengan bibir

mengerucut ia mengamati gemerlapnya lampu-lampu di pesta resepsi, para tamu yang

berdansa anggun berputar-putar, kelopak-kelopak bunga yang menggeletar dan

berjatuhan dari karangan-karangan bunga; aku ikut melihat bersamanya. Semua rasanya

begitu jauh dari tempat yang gelap dan tenang ini. Hampir seperti melihat salju putih

ber-pusar-pusar di dalam bola kaca.

"Harus kuakui," kata Jacob, "mereka tahu bagaimana caranya menyelenggarakan

pesta,"

"Alice itu ibarat kekuatan alam yang tak bisa dihentikan."

Jacob menghela napas, "Lagunya sudah berakhir. Apa menurutmu aku boleh

berdansa satu lagu lagi? Atau itu permintaan yang terlalu berlebihan?"

Aku mempererat pelukanku. "Kau boleh berdansa sebanyak yang kau mau."

Jacob tertawa. "Menarik juga. Tapi menurutku, dua lagu saja sudah cukup. Aku

tidak mau ada yang menggosipkan kita."

Kami memulai satu putaran lagi.

58

"Kau pasti mengira sekarang aku sudah terbiasa mengucapkan perpisahan

padamu," gumam Jacob.

Aku berusaha menelan gumpalan di kerongkonganku, tapi tidak bisa.

Jacob memandangiku dan mengerutkan kening. Ia mengusapkan jari-jarinya ke

pipiku, menangkap air mataku yang mengalir turun.

"Seharusnya bukan kau yang menangis, Bella,"

"Menangis di pernikahan kan biasa," sergahku, suaraku parau,

"Ini yang kauinginkan, bukan?"

"Benar."

"Kalau begitu tersenyumlah."

Aku mencoba. Jacob tertawa melihat seringaianku. "Aku akan berusaha

mengingatmu seperti ini. Berpura-pura.”

"Berpura-pura apa? Bahwa aku meninggal?"

Jacob mengenakkan gigi. la bergumul dengan dirinya sendiri—dengan

keputusannya untuk membuat kehadirannya di sini sebagai hadiah dan bukannya untuk

menghakimi. Aku hisa menebak apa yang ingin ia katakan.

"Tidak," jawab Jacob akhirnya. "Tapi aku akan mengenangmu seperti ini dalam

pikiranku. Pipi merah jambu. Detak jantung. Dua kaki kiri. Semuanya."

Aku sengaja menginjak kakinya keras-keras.

Jacob tersenyum, "Begitu baru gadisku."

Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian menutup mulutnya rapat-rapat.

Bergumul lagi, gigi mengertak, melawan kata-kata yang tidak ingin ia ucapkan.

Hubunganku dengan Jacob dulu sangat mudah. Semudah bernapas. Tapi sejak

Edward kembali ke kehidupanku, hubungan kami selalu tegang. Karena—di mata

Jacob—-dengan memilih Edward, aku memilih takdir yang lebih buruk daripada

kematian, atau setidaknya setara dengan kematian.

"Ada apa, Jake? Katakan saja. Kau boleh mengatakan apa saja padaku."

"Aku—aku... tidak ada yang ingin kukatakan padamu."

"Oh please. Keluarkan saja unek-unekmu."

59

"Benar kok. Ini bukan... ini—ini pertanyaan. Pertanyaan yang aku ingin

kaujawab."

"Tanyakan saja."

Sejenak Jacob bergumul dengan perasaannya, kemudian mengembuskan napas.

"Tidak usah sajalah. Bukan hal penting kok. Aku hanya ingin tahu saja."

Karena aku sangat mengenal dia, aku mengerti.

"Bukan malam ini, Jacob" bisikku.

Jacob bahkan lebih terobsesi dengan kemanusiaanku daripada Edward. Ia

menghargai setiap detak jantungku, tahu sebentar lagi detak jantung itu akan berhenti,

"Oh," ucapnya, berusaha menyembunyikan kelegaannya, "Oh."

Lagu berganti lagi, rapi kali ini ia tidak menyadarinya. "Kapan?" bisiknya.

"Aku tidak tahu persis. Satu atau dua minggu, mungkin."

Suara Jacob berubah, nadanya kini defensif sedikir mengejek. "Mengapa harus

ditunda?"

"Aku hanya tidak ingin melewatkan masa bulan maduku dengan menggeliatgeliat

kesakitan."

"Memangnya kau lebih suka melewatkannya dengan melakukan apa? Main

checkers? Ha ha."

"Lucu sekali."

"Bercanda, Bells, Tapi terus terang saja, aku tidak melihat itu ada gunanya. Kau

kan tidak bisa berbulan madu sung-guhan dengan vampirmu, jadi mengapa harus repotrepot?

Katakan saja terus terang. Bukan hanya kali ini kau membatalkan sesuatu.

Walaupun itu bagus" tukas Jacob, metidadak bersungguh-sungguh. "Tidak perlu malu

mengakuinya."

"Aku tidak membatalkan apa pun" bentakku. "Dan ya aku bisa menikmati bulan

madu yang sesungguhnya! Aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan! Tidak usah

ikut campur!"

Mendadak Jacob berhenti berputar. Sesaat aku sempat mengira ia akhirnya sadar

lagu sudah berganti, dan aku buru-buru mencari kata-kata yang tepat untuk

memperbaiki ketegangan kecil yang sempat terjadi tadi, sebelum ia berpamitan. Tak

seharusnya kami berpisah dalam suasana tidak enak.

60

Kemudian mata Jacob melotot, ekspresinya bingung bercampur ngeri,

"Apa;" ia terkesiap, "Apa katamu tadi?"

"Tentang apa...? Jake? Kau kenapa?"

"Apa maksudmu? Menikmati bulan madu yang sesungguhnya? Saat kau masih

menjadi manusia? Kau bercanda, ya? Itu lelucon sinting, Bella!"

Kupandangi dia dengan garang. "Sudah kubilang, jangan ikut campur, Jake. Ini

benar-benar bukan urusanmu. Seharusnya aku.., seharusnya kita bahkan tidak perlu

membicarakan hal ini. Ini urusan pribadi..."

Kedua tangan Jacob yang besar mencengkeram pangkal lenganku, mengitari

tubuhku, jari-jarinya saling mengait,

"Aduh, Jake! Lepaskanr

Ia mengguncang tubuhku.

"Bella! Apa kau sudah gila? Tidak mungkin kau setolol itu! Katakan padaku kau

hanya bercanda!"

Ia mengguncang tubuhku lagi. Kedua tangannya, yang mencengkeram kuat,

bergetar, mengirim getaran hingga jauh ke dalam tulang-tulangku.

"Jake—hentikan!"

Kegelapan tiba-tiba jadi sangat ramai.

"Lepaskan dia!" Suara Edward sedingin es, setajam silet.

Di belakang Jacob, terdengar geraman rendah dari kegelapan malam, disusul

geraman lain, meningkahi yang pertama.

"Jake, mundurlah," kudengar Seth Clearwater membujuk. "Kau kehilangan

kendali."

Jacob seperti membeku, matanya yang ngeri membelalak lebar dan terpaku.

"Kau bisa melukainya," bisik Seth. "Lepaskan dia."

"Sekarang!" geram Edward.

Kedua tangan Jacob terjatuh ke sisi tubuhnya, dan darah yang menyerbu ke

dalam pembuluh darahku nyaris terasa menyakitkan. Belum lagi menyadari hal itu,

61

sepasang tangan dingin menggantikan tangan yang panas, dan aku merasakan desiran

udara melewatiku.

Aku mengerjap, tahu-tahu aku mendapati diriku sudah berdiri kira-kira satu

setengah meter dari tempatku berdiri tadi. Edward tegang di depanku. Tampak dua

serigala besar yang siap menerjang di antara dirinya dan Jacob, namun di mataku,

keduanya tak terkesan agresif. Lebih tepatnya berusaha mencegah terjadinya

perkelahian.

Dan Seth—Seth yang sangar dan baru berumur lima belas rahun—melingkarkan

kedua lengannya ke tubuh Jacob yang bergetar, dan menyeretnya menjauh. Kalau Jacob

berubah padahal Seth begitu dekat dengannya...

"Ayo, Jake. Kita pergi."

"Akan kubunuh kau," kata Jacob, suaranya tercekik oleh amarah hingga hanya

berupa bisikan rendah. Matanya, terfokus pada Edward, berapi-api marah. "Aku sendiri

yang akan membunuhmu! Aku akan melakukannya sekarang!" Tubuhnya mengentakentak.

Serigala yang paling besar, yang berwarna hitam, menggeram tajam.

"Seth, minggir," desis Edward.

Seth menyeret Jacob lagi. Jacob begitu dipenuhi amarah sehingga Seth hanya

berhasil menyentakkan tubuhnya beberapa meter ke belakang, "Jangan lakukan itu,

Jake. Menyingkirlah! Ayo."

Sam—serigala yang lebih besar, yang berwarna hitam—bergabung dengan Seth.

Ia meletakkan kepalanya yang besar ke dada Jacob dan mendorong.

Mereka bertiga—Seth yang menyeret, Jake yang gemetaran, dan Sam yang

mendorong—menghilang cepat ditelan kegelapan.

Serigala yang satunya memandangi mereka. Aku tidak tahu persis, dalam

penerangan yang lemah, warna bulunya—cokelat, mungkin? Apakah itu Quil, kalau

begitu?

"Maafkan aku," bisikku pada serigala itu.

"Semua beres sekarang, Bella," bisik Edward.

Serigala itu menatap Edward. Tatapannya tidak bersahabat. Edward mengangguk

padanya dengan sikap dingin. Serigala itu mendengus kemudian berbalik untuk

mengikuti yang lain-lain, menghilang seperti mereka,

62

"Baiklah," kata Edward pada diri sendiri, lalu menatapku, "Ayo kita kembali."

"Tapi Jake..."

"Dia sudah berada dalam pengawasan Sam. Dia sudah pergi,"

"Edward, aku benar-benar minta maaf. Sungguh tolol aku..."

"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun..."

"Aku memang bermulut besar! Mengapa aku harus... seharusnya aku tidak

membiarkan emosiku terpancing seperti itu. Apa yang kupikirkan?"

"Jangan khawatir." Edward menyentuh wajahku. "Kita harus kembali ke resepsi

sebelum ada yang menyadari kita tidak ada."

Aku menggeleng, berusaha mengembalikan orientasiku. Sebelum ada yang

sadar? Benarkah para tamu tidak melihat kejadian tadi?

Kemudian, waktu aku memikirkannya, sadadah aku bahwa konfrontasi yang

bagiku terasa begitu katastropik, nyatanya berlangsung dengan sangat tenang dan

singkat di bawah ke-remangan bayang-bayang.

"Beri aku waktu dua detik," aku memohon.

Isi hatiku berantakan oleh kepanikan dan kesedihan, tapi itu bukan masalah—

bagian luarlah yang penting sekarang. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa adalah

sesuatu yang kutahu harus bisa kukuasai.

"Gaunku?"

"Kau terlihat baik-baik saja. Tidak sehelai rambut pun keluar dari tatanannya."

Aku menarik napas dalam-dalam dua kali. "Oke- Ayo kita pergi"

Edward merangkul pinggangku dan membimbingku kembali ke tengah cahaya.

Aku melirik sekelilingku, memandangi para tamu, tapi sepertinya tidak ada yang

shock atau ketakutan. Hanya wajah-wajah yang paling pucat yang menunjukkan tandatanda

stres, tapi mereka menyembunyikannya dengan baik, Jasper dan Emmett berdiri

di tepi lantai dansa, berdekatan, dan dugaanku, mereka tadi berada di dekat kami saat

terjadi konfrontasi,

"Apa kau..."

"Aku baik-baik saja," aku meyakinkan dia. "Aku tidak percaya aku berbuat begitu

tadi. Apa yang salah denganku?"

63

"Tidak ada yang salah dengan dirimu!'

Padahal tadi aku senang sekali Jacob datang ke sini. Aku tahu pengorbanan yang

dia lakukan. Tapi lalu aku merusaknya, mengubah hadiahnya menjadi bencana.

Seharusnya aku dikarantina saja.

Tapi ketololanku tidak akan merusak suasana lagi malam ini. Aku akan

mengenyahkannya, menyurukkannya ke dalam Jaci dan menguncinya, untuk

kubereskan belakangan. Akan ada banyak waktu ketika aku bisa menghukum diriku

sendiri karena persoalan ini, tapi untuk saat ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.

"Masalahnya sudah selesai," tukasku. "Kita tidak usah memikirkannya lagi malam

ini."

Aku mengira Edward akan langsung menyetujuinya, tapi ia hanya terdiam.

"Edward?"

Edward memejamkan mata dan menempelkan dahinya ke dahiku. "Jacob benar,"

bisiknya. "Apa yang kupikirkan?"

"Dia tidak benar." Aku berusaha menunjukkan ekspresi seolah tidak ada apa-apa,

karena saat itu banyak teman kami yang memerharikan. "Jacob terlalu berprasangka

untuk bisa memandang semuanya dengan jernih."

Edward menggumamkan sesuatu dengan suara pelan yang kedengarannya

hampir seperti "seharusnya kubiarkan dia membunuhku karena berani

mempertimbangkan hal itu..."

"Hentikan," sergahku galak. Kurengkuh wajah Edward dengan kedua tangan dan

kutunggu sampai ia membuka mata, "Kau dan aku. Hanya itu yang penting. Satu-satunya

hal yang boleh kaupikirkan sekarang. Kaudengar aku?"

"Ya," desah Edward.

"Lupakan bahwa Jacob pernah datang" Aku bisa melakukannya. Aku akan

melakukannya. "Demi aku. Berjanjilah padaku kau akan melupakan masalah ini."

Edward menatap mataku beberapa saat sebelum menjawab. "Aku berjanji."

"Terima kasih, Edward, aku tidak takut."

"Tapi aku takut," bisiknya.

"Tidak perlu." Aku menghela napas dalam-dalam dan tersenyum.

"Bagaimanapun, aku mencintaimu."

64

Ia membalasnya dengan tersenyum kecil. "Itulah sebabnya kita berada di sini."

"Kau memonopoli mempelai wanita" sergah Emmert, tahu-tahu muncul di balik

pundak Edward. "Izinkan aku berdansa dengan kakak perempatanku. Bisa jadi ini

kesempatan terakhirku untuk membuat wajahnya memerah." Emmett tertawa nyaring,

seperti biasa tidak terpengaruh atmosfer yang serius.

Ternyata banyak juga yang belum berdansa denganku, jadi itu memberiku

kesempatan untuk benar-benar menenangkan diri dan memantapkan hati. Setelah

Edward meraihku lagi, aku mendapati "laci Jacob"-ku telah tertutup rapat dan erat. Saat

Edward melingkarkan kedua lengannya ke tubuhku, aku mampu mengeluarkan

perasaan bahagiaku seperti yang tadi kurasakan, keyakinanku bahwa segala sesuatu

dalam hidupku berada di tempatnya yang semestinya malam ini. Aku tersenyum dan

meletakkan kepalaku di dadanya. Ia mempererat pelukannya.

"Aku bisa terbiasa dengan ini," kataku.

"Jadi sekarang kau sudah tidak keberatan lagi berdansa?"

"Berdansa ternyata lumayan juga—bersamamu. Tapi maksudku sebenarnya

adalah ini"—dan aku menempelkan nibuhku lebih rapat lagi ke tubuhnya—"yaitu tidak

pernah harus melepaskanmu"

"Tidak akan pernah" janji Edward, dan ia membungkuk untuk menciumku.

Ciuman yang sangat mesra—intens, lambat, tapi makin Lima makin panas...

Aku sampai lupa di mana aku berada saat itu sampai mendengar Alice berseru,

"Bella! Sudah waktunya!"

Aku merasakan secercah perasaan jengkel terhadap ipar baruku yang seenaknya

saja menginterupsi ciuman kami.

Edward tak memedulikan Alice; bibirnya melumat bibirku, lebih bergairah

daripada sebelumnya. Jantungku berpacu kencang dan telapak tanganku terasa licin di

lehernya yang sekeras marmer.

"Kalian mau ketinggalan pesawat, ya?" rongrong Alice, berdiri tepat d) sampingku

sekarang. "Aku yakin kalian pasti senang, berbulan madu di- bandara karena ketinggalan

pesawat dan harus menunggu pesawat lain."

Edward memalingkan wajahnya sedikir dan bergumam, "Pergi, Alice," kemudian

menciumku lagi.

"Bella, jadi kau mau memakai gaun itu di pesawat?" tuntutnya.

65

Aku tidak terlalu memerhatikan kata-kata Alice. Aku benar-benar sedang tidak

peduli.

Alice menggeram pelan. "Aku akan membocorkan kepadanya ke mana kau akan

membawanya, Edward. Jadi tolonglah aku, kalau tidak aku benar-benar akan

mengatakannya."

Edward membeku. Lalu ia mengangkat wajahnya dan memelototi adik

kesayangannya. "Tubuhmu memang kecil, tapi kau luar biasa menjengkelkan."

"Setelah capek-capek memilih gaun untuk pergi berbulan madu, aku kan tidak

mau baju itu jadi mubazir karena tidak terpakai," Alice balas membentak sambil meraih

tanganku, "Ikut aku, Bella."

Aku balas menarik tanganku yang ditarik olehnya, berjinjit tinggi-tinggi untuk

mencium Edward sekali lagi. Alice menyentakkan tanganku dengan sikap tidak sabar,

menyeretku menjauh dari Edward. Beberapa tamu terkekeh melihar ringkah kami. Lalu

aku menyerah dan membiarkannya menyeretku masuk ke rumah yang kosong,

Alice tampak kesal.

"Maaf, Alice," aku meminta maaf.

"Aku tidak menyalahkanmu, Bella." Ia menghela napas. "Kau sepertinya tak bisa

menguasai diri."

Aku terkikik melihat ekspresinya yang pasrah, dan ia langsung merengut,

"Terima kasih, Alice, Ini pernikahan terindah yang pernah ada," kataku sungguhsungguh.

"Semuanya sempurna. Kau adik terbaik, terpintar, dan paling berbakat di

seluruh dunia."

Kata-kataku meluluhkan hatinya; Alice tersenyum lebar. "Aku senang kau

menyukainya,"

Renée dan Esme sudah menunggu di lantai atas. Mereka dengan cepat

membantuku menanggalkan gaun pengantin dan mengenakan gaun bulan madu

berwarna biru tua pilihan Alice. Aku bersyukur seseorang mencopoti jepit dari rambutku

dan membiarkannya tergerai lepas ke punggung, ikal sehabis dikepang,

menyelamatkanku dari kemungkinan sakit kepala. Air mata ibuku tak henti-hentinya

mengalir.

"Aku akan langsung menelepon Mom begitu tahu aku akan pergi ke mana,"

janjiku pada Renée waktu aku memeluknya untuk berpamitan. Aku tahu bulan madu

66

rahasia ini mungkin membuatnya sinting; ibuku paling benci rahasia-rahasiaan, kecuali

bila ia diikutsertakan di dalamnya,

“Aku akan memberitahumu kalau dia sudah pergi nanti," Alice mendahuluiku,

tersenyum mengejek melihat ekspresiku yang terluka. Sungguh tidak adil, selalu saja aku

yang terakhir tahu,

"Kau harus mengunjungi aku dan Phil dalam waktu dekat. Sekarang giliranmu

petgi ke selatan—sekali-sekali melihat matahari kan tidak ada salahnya," kata Renée.

"Hari ini tadi kan tidak hujan," aku mengingatkan Renée, mengelak mengiyakan

permintaannya,

"Itu mukjizat."

"Semuanya sudah siap," seru Alice, "Koper-kopermu sudah di mobil—Jasper

sudah membawa mobilnya ke depan rumah," la menarikku menuruni tangga diikuti

Renée, yang masih separo memelukku.

"Aku sayang padamu; Mom," bisikku saat kami menuruni tangga, “Aku sangat

senang Mom memiliki Phil, Tetaplah saling menyayangi,"

"Aku juga sayang padamu, Bella, Sayang,"

"Selamat tinggal, Mom. Aku sayang padamu," kataku lagi, leherku tercekat.

Edward menungguku di kaki tangga. Aku menerima uluran tangannya tapi

mencondongkan tubuh menjauh, menyapukan pandanganku ke segelintir orang yang

menunggu untuk melepas kepergian kami.

"Dad!" tanyaku, mataku mencari-cari.

"Di sebelah sini," gumam Edward, Ia menarikku menerobos kerumunan tamu,-

mereka menyingkir membukakan jalan untuk kami. Kami mendapati Charlie bersandar

canggung ke dinding, di belakang semua orang lain, terlihat agak bersembunyi.

Lingkaran merah yang mengitari matanya menjelaskan alasannya. "Oh, Dad!”

Kupeluk pinggangnya rapat-rapat, air mataku kembali membanjir—betapa

seringnya aku menangis malam ini. Chariie menepuk-nepuk punggungku.

"Sudah, sudah. Jangan sampai kau ketinggalan pesawat."

Sulit memang berbicara tentang kasih sayang dengan Chariie—kami sangat mirip,

selalu mengalihkan pembicaraan ke hal remeh untuk menghindar dari keharusan

menunjukkan perasaan yang hanya akan membuat kami malu. Tapi sekarang bukan

saatnya untuk merasa malu.

67

"Aku sayang padamu selamanya, Dad," kataku padanya. "Jangan lupa itu "

"Aku juga, Bells. Dulu dan sekarang, dan akan selalu."

Aku mencium pipinya, dan pada saat bersamaan ia juga mencium pipiku.

"Telepon aku," pesannya.

"Segera," aku berjanji, tahu hanya itu yang bisa kujanjikan. Hanya menelepon. Ibu

dan ayahku takkan boleh bertemu lagi denganku; aku akan jadi sangat berbeda, dan

jauh, jauh lebih berbahaya,

"Pergilah, kalau begitu," kata Chariie parau, "Jangan sampai terlambat"

Para tamu kembali menyingkir, membentuk lorong untuk kami. Edward merapatkan

tubuhku ke tubuhnya sementara kami menghambur ke luar.

"Kau siap?" tanyanya,

"Siap," jawabku, dan aku tahu itu benar.

Semua bertepuk tangan ketika Edward menciumku di ambang pintu. Kemudian ia

menarikku ke mobil sementara itu tamu menghujani kami dengan beras. Sebagian besar

tidak mengenalku, tapi seseorang, kemungkinan Emmett, melempar dengan sangat jitu,

dan banyak sekali beras yang terpantul di punggung Edward mengenaiku.

Mobil itu dihiasi bunga-bunga yang menjulur di sepanjang bodinya, serta pita-pita

panjang yang mengikat lusinan sepatu—sepatu bermerek yang kelihatannya masih

baru—bergelantungan di bemper.

Edward melindungiku dari hujan beras waktu aku naik ke mobil, kemudian ia

masuk dan kami langsung meluncur pergi sambil melambai-lambaikan tangan ke luar

jendela dan menyerukan kata-kata "aku sayang kalian" ke teras, tempat para anggota

keluarga membalas lambaian kami.

Sosok yang terakhir kulihat adalah orangtuaku. Kedua lengan Phil merangkul

lembut tubuh Renée. Renée melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Phil, tapi

sebelah tangannya yang lain terulur pada Charlie, Begitu banyak jenis cinta yang

berbeda; harmonis pada momen ini. Pemandangan yang membuat hatiku begitu

hangat.

Edward meremas tanganku.

"Aku cinta padamu," katanya.

68

Aku menyandarkan kepalaku di lengannya. "Itulah sebabnya kita berada di sini,"

aku mengutip kata-kata yang ia ucapkan tadi.

Edward mengecup rambutku.

Saat kami berbelok memasuki jalan tol yang gelap pekat dan Edward menginjak

pedal gas dalam-dalam, aku mendengar suara lain meningkahi derum suara mobil,

berasal dari hutan di belakang kami. Kalau aku saja bisa mendengarnya, Edward pasti

juga bisa. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa sementara suara itu perlahan-lahan

menghilang ditelan jarak yang semakin membentang. Aku juga tidak mengatakan apaapa.

Lolongan melengking tinggi yang mengoyak hati itu semakin sayup dan akhirnya

lenyap sama sekali.

69

5. PULAU ESME

"HOUSTON?" tanyaku, mengangkat alis begitu kami tiba di gerbang

keberangkatan di Seattle,

"Hanya transit sebentar," Edward meyakinkanku sambil nyengir.

Rasanya aku baru saja tertidur waktu ia membangunkanku. Aku masih

sempoyongan karena mengantuk waktu Edward menyeretku melintasi beberapa

terminal, susah payah berusaha mengingat untuk membuka mata setiap kali selesai

mengerjap. Butuh beberapa menit baru aku bisa sepenuhnya tersadar ketika kami

berhenti di depan konter penerbangan internasional, check in untuk penerbangan

berikutnya.

"Rio de Janeiro?" tanyaku, sedikit waswas.

"Transit juga," jawab Edward,

Penerbangan menuju Amerika Selatan panjang tapi nyaman, di tempat duduk

kelas satu yang lebar, dalam dekapan Edward yang merangkulku. Aku tertidur pulas dan

terbangun dalam kondisi bugar saat pesawat terbang mengitari bandara,

Cahaya matahari yang mulai terbenam menerobos miring memasuki jendela

pesawat.

Kami tidak tinggal di bandara untuk menyambung naik pesawat lain seperti

dugaanku semula. Kami malah naik taksi menembus jalan-jalan kota Rio yang gelap,

hiruk-pikuk, dan ramai. Karena tak bisa memahami sepatah kata pun instruksi yang

diucapkan Edward dalam bahasa Portugis kepada sopir taksi, aku hanya bisa menduga

kami pergi untuk . mencari hotel dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Perutku mulas saat memikirkannya, perasaanku gugup seperti demam panggung. Taksi

terus melaju menembus kerumunan orang hingga akhirnya kerumunan mulai menipis,

dan sepertinya kami mendekati kawasan pinggiran kota di ujung barat, mengarah ke

lautan.

Kami berhenti di dermaga.

Edward membimbingku menyusuri deretan panjang kapal pesiar berwarna putih

yang ditambatkan di air yang hitam kelam di malam hari. Ia berhenti di samping kapal

yang ukurannya lebih kecil dibandingkan kapal-kapal lain, jelas dirancang untuk bisa

melaju cepat dan bukan untuk memperoleh ruang yang lega. Meskipun kapal itu mewah

dan lebih anggun daripada yang lain. Dengan enteng Edward melompat naik ke kapal

70

itu, padahal tangannya menenteng koper-koper berat, la menjatuhkan semua

bawaannya di atas dek, lalu berbalik untuk membantuku naik dengan hati-hati.

Aku menonton sambil berdiam diri sementara Edward menyiapkan kapal untuk

berangkat, terkejut melihat betapa terlatih dan nyaman ia kelihatannya, karena selama

ini ia tidak pernah bercerita bahwa ia tertarik dengan kapal, tapi ia memang piawai

nyaris dalam segala hal.

Saat kami melaju ke arah timur menuju laut lepas, aku meninjau kembali

pengetahuan dasar geografi yang tersimpan di kepalaku. Sepanjang pengetahuanku, tak

ada apa-apa di sebalah timur Brazil... kecuali kau sampai di Afrika.

Tapi Edward terus memacu kapalnya sementara lampu-l.impu kota Rio perlahanlahan

mengecil dan akhirnya lenyap sama sekali di belakang kami. Di wajahnya tampak

ekspresi penuh semangat yang familier itu, yang muncul setiap kali ia sedang melaju

kencang. Kapal menerjang ombak, dan tubuhku basah terkena percikan air laut.

Akhirnya rasa ingin tahuku tak bisa dibendung lagi.

"Masih jauh, ya?" tanyaku.

Tidak biasanya ia lupa bahwa aku manusia, tapi aku penasaran jangan-jangan ia

ingin agar kami tinggal di kapal kecil ini selama beberapa waktu.

"Kira-kira setengah jam lagi." Matanya menatap kedua taanganku yang

mencengkeram kursi, dan menyeringai.

Oh well, pikirku dalam hari. Bagaimanapun juga dia kan vampir. Mungkin kami

akan pergi ke Atlantis.

Dua puluh menit kemudian ia berseru memanggil namaku, mengalahkan raungan

suara mesin.

"Bella, lihat di sana." Ia menuding lurus ke depan.

Awalnya aku hanya melihat kegelapan yang hitam pekat, dan cahaya bulan yang

putih memanjang di permukaan air. Tapi aku berusaha mencari-cari tempat yang

ditunjuk olehnya sampai menemukan sebentuk benda hitam rendah menghalangi jejak

cahaya rembulan yang membentang di atas gelombang. Saat aku menyipitkan mata ke

dalam kegelapan, siluet itu semakin jelas. Benda itu berubah bentuk menjadi scgitiga tak

beraturan, satu sisinya membentang lebih panjang daripada sisi lainnya sebelum

terbenam ombak. Kami semakin dekat, dan aku bisa melihat tepian benda itu bergerakgerak

pelan tertiup angin sepoi-sepoi.

71

Kemudian pandanganku kembali terfokus dan potongan-potongan itu

membentuk gambaran yang utuh dalam benakku: sebuah pulau kecil menjulang dari

dalam laut di depan kami, pohon-pohon kelapanya melambai-lambai, pantainya berkilau

temaram di bawah cahaya bulan.

"Di mana kita?" bisikku takjub sementara Edward mengubah arah kapal,

mengarah ke sisi utara pulau.

Ia mendengar, walaupun suara mesin sangat berisik, dan menyunggingkan

senyum lebar yang berkilauan diterpa cahaya bulan.

"Ini namanya Pulau Esme,"

Kapal tiba-tiba melambar, memasuki dermaga pendek dari papan-papan kayu,

putih bersinar tertimpa cahaya bulan. Mesin dimatikan, dan kesunyian yang

mengikutinya begitu senyap. Tidak ada apa-apa kecuali ombak, berdebur pelan

mengenai badan kapal, dan gemersik daun-daun kelapa tertiup angin. Udara hangat,

lembap, dan harum—seperti uap yang tertinggal setelah mandi air panas.

"Pulau Esme?" Suaraku pelan, namun tetap terdengar terlalu keras saat

perkataanku itu memecah keheningan malam.

"Hadiah dari Carlisle—Esme menawarkannya pada kita untuk dipinjam,"

Hadiah. Siapa yang memberikan pulau sebagai hadiah? Keningku berkerut. Aku

baru sadar kemurahan hati Edward yang berlebihan itu ternyata dipelajarinya dari

ayahnya.

Edward meletakkan koper-koper kami di dermaga kemudian berbalik ke arahku,

menyunggingkan senyumnya yang sempurna sambil mengulurkan tangan. Bukannya

meraih tanganku, ia malah langsung menarikku ke dalam dekapannya.

"Bukankah seharusnya kau menunggu hingga kita sampai di ambang pintu?"

tanyaku dengan napas terengah, sementara Edward melompat turun dari kapal dengan

langkah ringan,

“Edward nyengir, "Aku selalu cermat melakukan segala sesuatu."

Mencengkeram pegangan dua koper besar sekaligus dengan satu tangan sambil

merangkulku dengan tangan satunya, ia menggendongku ke dermaga, menapaki jalan

setapak berpasir pucat yang membelah semak-semak gelap.

Beberapa saat keadaan gelap gulita di tengah semak yang sipcrti hutan belantara,

tapi kemudian aku melihat cahaya hangat di depan sana. Begitu menyadari cahaya itu

adalah sebuah rumah—dua benda berbentuk bujur sangkar sempurna dan cemerlang

72

itu ternyata jendela besar yang mengapit pintu depan—demam panggungku menyerang

lagi, lebih kuat daripada sebelumnya, lebih parah daripada waktu kusangka kami akan

pergi mencari hotel.

Jantungku bertalu-talu memukul rusukku, dan napasku seolah tersangkut di

tenggorokan. Aku merasakan mata Edward menatap wajahku, tapi menolak membalas

tatapannya. Aku memandang lurus ke depan, tidak melihat apa-apa.

Edward tidak bertanya apa yang sedang kupikirkan, sesuatu yang tidak biasanya

terjadi. Kurasa itu berarti ia juga tiba-tiba sama gugupnya denganku.

la meletakkan koper-koper di bagian dalam teras untuk membuka pintu—

ternyata tidak terkunci,

Edward menunduk memandangiku, menunggu sampai aku membalas tatapannya

sebelum melangkah melewati ambang pintu.

Ia membopongku masuk ke rumah, kami sama-sama terdiam, menyalakan

lampu-lampu sembari berjalan. Kesan sekilasku tentang rumah itu adalah bahwa

ukurannya sangat besar untuk pulau sekecil itu, dan yang aneh, rumah itu terasa

familier. Aku sudah terbiasa dengan skema warna pucat di atas pucat yang disukai

keluarga Cullen; rasanya seperti berada di rumah. Tapi aku tidak bisa fokus pada hal-hal

spesifik. Denyut nadi di belakang telingaku membuat segalanya sedikit kabur.

Lalu Edward berhenti dan menyalakan lampu terakhir.

Ruangan itu besar dan putih, dan dinding rerujung hampir seluruhnya terbuat

dari kaca—dekor standar untuk vampir-vampirku. Di luar, cahaya bulan cemerlang

menerpa pasir yang putih dan, beberapa meter dari rumah, tampak ombak yang

berkilauan. Tapi aku nyaris tidak memerhatikan bagian itu. Perhatianku lebih terfokus

pada tempat tidur putih besar di tengah ruangan, dengan juntaian kelambu putih yang

menggelembung.

Edward menurunkan aku dari gendongannya.

"Aku... akan mengambil koper-koper kita dulu."

Ruangan itu terlalu hangat, lebih pengap daripada hawa tropis di luar. Titik-titik

keringat bermunculan di pangkal leherku. Aku berjalan pelan-pelan sampai bisa

mengulurkan tangan dan menyentuh kelambu putih lembut itu. Entah mengapa aku

merasa perlu memastikan bahwa semuanya nyata.

Aku tidak mendengar Edward kembali. Tiba-tiba jarinya yang sedingin es

membelai tengkukku, menghapus titik keringat.

73

"Agak panas di sini," kata Edward dengan nada meminta maaf. "Kupikir itulah...

yang terbaik."

"Cermat," gumamku pelan, dan Edward terkekeh. Nadanya gugup, sesuatu yang

jarang terjadi padanya.

"Aku berusaha memikirkan segala sesuatu yang akan membuat ini... jadi lebih

mudah," ia mengakui.

Aku menelan ludah dengan suara keras, masih memunggunginya. Pernahkah ada

bulan madu seperti ini sebelumnya?

Aku tahu jawabannya. Tidak. Tidak pernah ada.

"Aku ingin tahu," kata Edward lambat-lambat, "apakah... perama-tama...

mungkin kau mau berenang tengah malam bersamaku*" la menarik napas dalam-dalam,

suaranya terdengar lebih santai waktu ia berbicara lagi. "Airnya pasti hangat sekali. Ini

jenis pantai yang kausukai."

"Kedengarannya menyenangkan." Suaraku pecah.

"Aku yakin kau pasti membutuhkan 'waktu manusia' sebentar... Perjalanan tadi

sangat jauh."

Aku mengangguk kaku. Aku nyaris tidak merasa seperti manusia lagi; mungkin

aku memang membutuhkan waktu sendirian sebentar.

Bibir Edward menyapu leherku, tepat di bawah telinga. Ia tekekeh dan embusan

napasnya yang dingin menggelitik Kulitku yang terlalu panas. "Jangan terlalu lama, Mrs.

Cullen."

Aku terlonjak sedikit mendengar nama baruku.

Bibir Edward menyusuri leherku hingga ke pangkal bahu. "Kutunggu kau di dalam

air."

Ia berjalan melewatiku menuju pintu kaca yang langsung membuka ke arah

pantai yang berpasir. Sambil berjalan ia melepaskan kemejanya, menjatuhkannya ke

lantai, lalu menyelinap melewati pintu memasuki malam yang diterangi cahaya bulan.

Udara malam yang gerah dan asin berputar-putar memasuki kamar di belakangnya.

Apakah kulitku terbakar? Aku sampai harus menunduk untuk mengecek. Tidak,

tidak ada yang terbakar. Setidaknya, lidak yang bisa dilihat mata.

Aku mengingatkan diriku untuk bernapas, kemudian ber-saruk-saruk

menghampiri koper raksasa yang sudah dibuka Edward di atas rak putih pendek. Itu

74

pasti koperku, karena tas kosmetikku berada di tumpukan paling atas, dan ada banyak

warna pink di dalamnya, tapi aku tidak mengenali satu helai pakaian pun yang ada di

dalamnya. Saat aku mengaduk' aduk pakaian yang terlipat rapi—mencari sesuatu yang

nyaman dan familier, celana pendek usang, mungkin—kulihat ada banyak sekali pakaian

dalam satin berenda-renda di dalamnya. Lingerie. Lingerie yang sangat seksi, dengan

label berbahasa Prancis.

Aku tidak tahu bagaimana atau kapan, tapi suatu saat nanti, Alice harus

membayar perbuatannya ini.

Menyerah, aku pergi ke kamar mandi dan mengintip melalui jendela-jendela

panjang yang menghadap ke arah pantai yang sama dengan pintu-pintu kaca. Aku tidak

bisa melihat Edward; kurasa ia berada di dalam air, tidak merasa perlu muncul ke

permukaan untuk menghirup udara. Di langit di atasnya, bulan menggantung miring,

nyaris purnama, dan pasir tampak putih cemetlang di bawah siraman cahayanya.

Mataku menangkap gerakan kecil—disampirkan di sebatang pohon palem melengkung

yang berjejer sepanjang pantai, pakaian Edward melambai-lambai tertiup angin.

Semburan panas kembali menyerang kulitku.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghampiri cermin yang membentang di

atas konter panjang. Wajahku persis orang yang tidur seharian di pesawat. Aku

menemukan sikat rambut dan menyentakkannya dengan kasar ke rambut kusut di

belakang tengkukku sampai rambutku kembali halus dan gigi sikat itu penuh rambut.

Aku menyikat gigi dengan saksama, dua kali. Kemudian aku mencuci muka dan

mencipratk.m air ke bagian belakang leherku yang terasa panas. Rasanya begitu

menyegarkan hingga aku juga membasuh kedua tangan-ku, dan akhirnya memutuskan

untuk menyerah dan mandi saja sekalian. Aku tahu memang konyol mandi sebelum

berenang, tapi aku perlu menenangkan diri, dan air panas benar-benar bisa diandalkan.

Dan mencukur bulu kaki lagi rasanya boleh juga.

Setelah selesai aku menyambar handuk putih besar dari konter dan melilitkannya

di bawah ketiak.

Kemudian aku dihadapkan pada dilema yang belum pernah kupertimbangkan

sebelumnya. Apa yang harus kukenakan? liukan baju renang, jelas. Tapi rasanya konyol

mengenakan pakaianku lagi. Aku bahkan tidak ingin memikirkan apa yang dicemaskan

Alice untukku.

Napasku mulai memburu lagi dan tanganku gemetar—hilang sudah efek

menenangkan dari mandi tadi. Aku mulai merasa sedikit pening, rupanya aku mulai

panik lagi. Aku duduk di lantai ubin yang dingin dalam balutan handuk besarku dan

75

meletakkan kepala di antara lutut. Aku berdoa semoga Edward tidak memutuskan untuk

datang mencariku sebelum aku menenangkan diri. Bisa kubayangkan apa yang akan

dipikirkannya kalau melihatku gugup seperti ini. Tidak sulit baginya meyakinkan diri

bahwa kami melakukan kesalahan.

Dan aku bukannya takut karena menurutku kami melakukan kesalahan. Sama

sekali tidak. Aku panik karena tidak rahu bagaimana melakukan hal ini, dan aku takut

melangkah keluar dari ruangan ini dan menghadapi sesuatu yang tidak kuketahui.

Apalagi dalam balutan lingerie Prancis. Aku tahu aku belum siap untuk itu.

Rasanya persis seperti berjalan memasuki panggung teater yang disesaki ribuan

penonton tapi lupa dialog-dialognya.

Bagaimana orang-orang melakukannya—menelan semua ketakutan mereka dan

memercayai seseorang lain begitu implisit dengan setiap ketidaksempurnaan dan

ketakutan yang mereka miliki—dengan komitmen absolut yang kurang daripada yang

diberikan Edward kepadaku? Seandainya bukan Edward yang berada di luar sana,

seandainya aku tak tahu dengan setiap sel dalam tubuhku bahwa ia mencintaiku

sebesar aku mencintainya—tanpa syarat dan mutlak dan, jujur saja, tidak rasional—aku

takkan pernah bisa bangkit dari lantai ini.

Tapi Edward-lah yang berada di luar sana, maka aku pun membisikkan kata-kata

"Jangan jadi pengecut" pada diriku sendiri lalu buru-buru berdiri, Kulilitkan handuk

semakin rapat lalu berjalan dengan langkah penuh tekad keluar dari kamar mandi.

Melewati koper yang penuh berisi renda dan tempat tidur besar tanpa sedikit pun

melirik ke sana. Keluar dari pintu kaca dan menjejakkan kaki di pasir yang sehalus bedak.

Segalanya hitam dan putih, disepuh jadi tidak berwarna oleh bulan. Aku berjalan

lambat-lambat menyeberangi pasir hangat, berhenti sebentar di sebelah pohon

melengkung tempat Edward meninggalkan pakaiannya. Aku meletakkan tanganku di

batang pohon yang kasar dan memastikan napasku teratur. Atau cukup teratur.

Aku memandang ke laut yang beriak pelan, hitam dalam kegelapan, mencari

Edward.

Tidak sulit menemukannya. Ia berdiri, memunggungiku, terbenam hingga sebatas

pinggang di air tengah malam, menengadah ke bulan bulat telur. Cahaya bulan yang

pucat menjadikan kulitnya putih sempurna, seperti pasir, seperti bulan itu sendiri, dan

membuat rambutnya yang basah sehitam lautan. Ia diam tak bergerak, kedua tangannya

diletakkan di permukaan air; ombak kecil berdebur di sekeliling tubuhnya seolah-olah ia

batu. Kupandangi garis-garis mulus punggung, pundak, lengan, leher, dan bentuk

tubuhnya yang sempurna...

76

Api di dalam tubuhku bukan lagi hanya menyambar sekilas, tapi sekarang

berkobar lambat dan dalam, membakar semua kecanggunganku, perasaan maluku. Aku

melepas handukku tanpa ragu, meninggalkannya di pohon bersama pakaian Edward,

lalu berjalan memasuki cahaya putih, itu membuat kulitku sepucat pasir.

Aku tidak bisa mendengar suara langkah-langkah kakiku saat berjalan ke tepi air,

tapi kurasa Edward bisa. Ia tidak menoleh. Aku membiarkan ombak pecah di jemari

kakiku, dan mendapati perkiraan Edward tentang air itu ternyata benar—airnya sangat

hangat, seperti air mandi. Aku melangkah masuk, hati-hati melintasi dasar laut yang tak

terlihat, tapi kehati-hatianku ternyata tidak perlu, permukaan pasir tetap mulus,

melandai ke arah Edward. Aku mengarungi arus hingga sampai di sampingnya,

kemudian meletakkan tanganku di atas tangan dinginnya yang berada di atas air.

"Cantik" kataku, menengadah ke bulan juga.

"Lumayan" sahut Edward, tidak terkesan. Perlahan-lahan ia memalingkan

tubuhnya menghadapku, riak-riak kecil bergulir menjauh akibat gerakannya dan

mengempas ke kulitku. Mata Edward tampak perak di wajahnya yang sewarna es. Ia

memilin tangannya sehingga bisa mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jariku di bawah

permukaan air. Air cukup hangat sehingga kulit Edward yang dingin tidak membuatku

merinding.

"Tapi aku tidak akan menggunakan kata cantik” sambung Edward. "Tidak kalau

kau berdiri di sini sebagai pembandingnya".

Aku separo tersenyum, kemudian mengangkat tanganku yang bebas—tanganku

tidak gemetar sekarang—dan meletakkannya di dada Edward. Putih di atas putih, sekali

ini kami serasi. Edward bergidik kecil karena sentuhanku yang hangat. Napasnya

semakin memburu.

"Aku sudah berjanji kita akan mencoba?” bisik Edward, mendadak tegang.

"Kalau... kalau aku melakukan kekeliruan, kalau aku menyakitimu, kau harus langsung

memberitahuku."

Aku mengangguk tenang, mataku tetap tertuju padanya. Aku maju selangkah dan

meletakkan kepalaku di dadanya,

"Jangan takut" bisikku, "Kita ditakdirkan untuk bersama."

Mendadak hatiku diliputi kebahagiaan oleh kebenaran kata-kataku. Momen ini

teramat sempurna, begitu tepat, tak mungkin meragukannya.

77

Kedua lengan Edward melingkariku, memelukku rapat ke dadanya, musim panas

dan musim dingin. Rasanya seolah-olah setiap ujung saraf di tubuhku merupakan kabel

listrik.

"Selamanya" Edward setuju, kemudian perlahan-lahan menarik tubuh kami ke air

yang lebih dalam.

Matahari, terasa panas di kulit punggungku yang terbuka, membangunkanku di

pagi hari. Mungkin sudah menjelang siang, atau telah lewat tengah hari, aku tidak tahu.

Tapi aku bisa mengetahui dengan jelas hal lain selain waktu; aku tahu persis di mana aku

berada—kamar terang benderang dengan tempat tidur putih besar, sinar matahari

menyorot lewat pintu-pintu yang terbuka. Lipatan-lipatan kelambu melembutkan

sinarnya.

Aku tidak membuka mata. Aku terlalu bahagia untuk mengubah apa pun, tak

peduli betapa pun kecilnya. Satu-satunya suara hanyalah debur ombak di luar sana,

embusan napas kami, detak jantungku...

Aku merasa nyaman, walaupun matahari bersinar terik, kulit Edward yang dingin

merupakan penangkal yang sempurna bagi panasnya udara. Berbaring di dadanya yang

sedingin es, kedua lengannya memelukku, terasa sangat mudah dan natural. Malasmalasan

aku mengenang betapa paniknya aku semalam. Semua ketakutanku terasa

konyol sekarang.

Jari-jari Edward dengan lembut menyusuri tulang belakangku, dan aku tahu

bahwa ia tahu aku sudah bangun. Mataku ikut terpejam dan aku malah mempererat

kedua lenganku yang melingkari lehernya, semakin merapatkan tubuhku ke tubuhnya.

Edward diam saja. jari-jarinya terus membelai punggungku, nyaris tidak

menyentuhnya saat ia menyusurinya dengan ujung jari, membentuk berbagai pola di

kulitku.

Aku sudah cukup bahagia berbaring saja di sini selamanya, tak pernah mengusik

momen ini, tapi tubuhku ternyata berpendapat lain. Aku menertawakan perutku yang

tidak karuan. Sepertinya agak membosankan bila aku kelaparan setelah semua yang

terjadi semalam. Seperti dibawa kembali ke bumi setelah sebelumnya berada di

ketinggian.

"Apanya yang lucu?" gumam Edward, masih terus membelai-belai punggungku.

Suaranya, yang serius dan parau, menyeret kembali kenangan semalam, membuat

wajah dan leherku memerah.

Menjawab pertanyaannya, perutku berbunyi. Aku tertawa lagi. "Kau tidak bisa

terlalu lama melepaskan diri dari ke-manusiawianmu."

78

Aku menunggu, tapi Edward tidak ikut tertawa bersamaku, hambat laun,

menembus banyak lapisan kebahagiaan yang memenuhi kepalaku, muncul kesadaran

adanya atmosfer berbeda di luar kebahagiaan yang melingkupiku.

Aku membuka mata. hal pertama yang kulihat adalah kulit leher Edward yang

pucat dan nyaris keperakan, lekuk dagunya di atas wajahku. Dagunya keras. Kutopang

tubuhku dengan siku agar bisa melihat wajahnya.

Ia sedang memandangi kanopi putih di atas kami, dan ia tidak menatapku waktu

aku mengamati garis-garis wajahnya yang muram. Ekspresinya membuatku

terguncang—membuat sekujur tubuhku tersentak.

"Edward" kataku, suaraku sedikit tercekat. "Ada apa? Ada masalah apa?"

"Masa kau harus bertanya lagi?" Suaranya kaku, sinis.

Naluri pertamaku, hasil dari perasaan minder yang kurasakan seumur hidup,

adalah bertanya-tanya apakah aku telah melakukan kesalahan. Otakku berputar,

memikirkan semua yang telah terjadi, tapi sama sekali tidak menemukan keganjilan.

Ternyata semua lebih simpel daripada yang kukira; tubuh kami tepat bagi satu sama lain

seperti kepingan puzzle yang sesuai, dibuat untuk menyatu. Ini memberiku kepuasan

rahasia—secara fisik kami kompatibel, seperti juga dalam hal-hal lainnya. Api dan es,

entah bagaimana bisa hidup berdampingan tanpa saling menghancurkan. Satu lagi bukti

aku memang ditakdirkan untuk bersama dengannya.

Aku tidak bisa memikirkan satu pun yang bisa membuat Edward terlihat seperti

ini—begitu kaku dan dingin. Apa yang terlewatkan olehku?

Jari Edward menghaluskan kerutan khawatir di keningku.

"Apa yang kaupikirkan?" bisiknya.

"Kau marah. Aku tidak mengerti. Apakah aku...?" Aku tak sanggup menyelesaikan

kata-kataku.

Mata Edward menegang. "Separah apa cedera yang kau-alami, Bella?

Sejujurnya—jangan coba-coba memperhalus."

"Cedera?" ulangku, nadaku lebih tinggi daripada biasanya, karena kata itu

membuatku terkejut.

Edward mengangkat sebelah alis, bibirnya terkatup kaku. Dengan cepat aku

membuat penilaian, otomatis meregang-tubuh, mengejangkan dan mengendurkan ototototku.

Tubuhku memang kaku, dan di beberapa tempat terasa nyeri, ini benar, tapi

sebagian besar yang kurasakan hanya sensasi ganjil seakan-akan semua persendian

79

tulangku lepas, dan aku separo berubah lembek seperti ubur-ubur. Tapi itu bukan

perasaan yang tidak menyenangkan.

Kemudian aku merasa agak marah, karena Edward merusak pagi paling sempurna

ini dengan asumsi-asumsinya yang pesimis.

"Mengapa kau harus langsung mengambil kesimpulan seperti itu? Belum pernah

aku merasa lebih baik daripada sekarang."

Edward memejamkan mata. "Hentikan.”

“Hentikan apa?"

"Berhentilah bertingkah seolah-olah aku bukan monster karena sepakat

melakukannya."

"Edward!" bisikku, benar-benar marah sekarang. Ia menyeret kenanganku yang

indah ke dalam kegelapan, menodainya. "Jangan pernah berkata begitu."

Edward tidak membuka mata, seolah-olah ia tak ingin melihatku.

"Lihat saja dirimu, Bella. Jangan bilang aku bukan monster."

Sakit hati dan shock, tanpa berpikir aku mengikuti instruksinya dan terkesiap.

Apa yang terjadi padaku? Aku bingung melihat salju putih lembut yang

menempel di kulitku. Aku menggeleng, dan benda-benda putih berjatuhan dari

rambutku.

Kupungut sepotong benda putih lembut itu dengan jari-jariku. Ternyata isi bantal.

"Mengapa tubuhku tertutup bulu-bulu?*' tanyaku, kebingungan.

Edward mengembuskan napas tidak sabar. "Aku menggigit satu bantal. Atau dua.

Tapi bukan itu yang kumaksud.”

“Kau... menggigit bantal? Mengapa?"

"Dengar, Bella” sergah Edward, nyaris menggeram. Ia meraih tanganku—dengan

sangat hari-hati—dan meluruskannya. "Lihat itu"

Kali ini, aku melihat apa yang dimaksudkannya.

Di balik tebaran bulu aku melihat memar-memar besar keunguan mulai

bermunculan di kulit lenganku yang pucat. Mataku mengikuti jejak memar itu hingga ke

bahuku, kemudian turun ke arah tulang rusuk. Kutarik tanganku dan ku-tusukkan ke

bagian yang mulai berubah warna di lengan atas sebelah kiri, melihat warnanya

80

memudar waktu kusentuh tapi kemudian muncul kembali. Rasanya agak berdenyutdenyut.

Dengan sangat hati-hati hingga nyaris tidak menyentuhku, Edward meletakkan

tangannya di atas memar-memar di lenganku, satu demi satu, memasangkan jari-jarinya

yang panjang di atas pola-pola itu.

"Oh," ucapku.

Aku berusaha memeras otak—berusaha mengingat-ingat apakah aku merasa

sakit—tapi rasanya tidak. Aku tidak ingat apakah cengkeramannya terlalu kuat, apakah

tangannya terlalu keras memegangku. Yang kuingat hanyalah bahwa aku ingin

memelukku lebih erat lagi, dan merasa bahagia waktu ia melakukannya...

"Aku... sangat menyesal, Bella" bisik Edward saat aku memandangi memarmemar

itu. "Seharusnya aku tahu akan begini jadinya. Seharusnya aku tidak—" Ia

mengeluarkan suara seperti jijik. "Aku sangat menyesal, lebih daripada yang bisa

kuungkapkan."

la melontarkan lengannya menutupi wajah dan tubuhnya diam tak bergerak.

Lama sekali aku hanya terduduk diam dan terpaku, berusaha menerima—

sekarang setelah aku mengerti—perasaan merana yang ia rasakan. Itu sangat

berlawanan dengan apa yang kurasakan hingga sulit untuk dicerna.

Perasaan terguncang itu perlahan-lahan memudar, tidak meninggalkan apa-apa.

Yang ada hanya kekosongan. Pikiranku kosong. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Edward dengan cara yang benar? Bagaimana

aku bisa membuatnya sebahagia yang kurasakan—atau yang tadi kurasakan, beberapa

waktu lalu?

Kusentuh lengannya tapi ia diam saja. Kugenggam pergelangan tangannya dan

mencoba menarik lengannya yang menutupi wajah, tapi ia bergeming, rasanya seperti

mencoba menyentakkan patung yang diam tak bergerak.

"Edward."

Ia diam saja.

"Edward?"

Tidak ada sahutan. Jadi, ini akan menjadi monolog, kalau begitu.

81

"Aku tidak menyesal, Edward. Aku... aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya.

Aku sangat bahagia. Itu tidak cukup untuk mengungkapkan kebahagiaanku yang

sebenarnya. Jangan marah. Jangan. Sungguh, aku ba..."

"Jangan bilang kau baik-baik saja." Suara Edward sedingin es. "Kalau kau

menghargai kewarasanku, jangan katakan bahwa kau baik-baik saja."

"Tapi memang itulah yang kurasakan," bisikku.

"Bella" ia nyaris mengerang. "Jangan." Tidak. “Kau yang jangan, Edward."

Edward menyingkirkan lengannya; matanya yang keemasan menatapku kecut.

"Jangan merusak suasana," kataku. "Aku. Sangat. Bahagia."

"Aku sudah terlanjur merusak suasana," bisiknya.

"Maka hentikan," bentakku. Kudengar ia mengentakkan gigi.

"Ugh!" erangku. "Mengapa kau belum juga bisa membaca pikiranku? Betapa

enaknya kalau kau bisa membaca pikiranku!"

Mata Edward membelalak sedikit, perhatiannya sejenak teralihkan.

"Tumben. Biasanya kau justru senang aku tidak bisa membaca pikiranmu,"

"Hari ini tidak." Ia menatapku.

"Mengapa?"

Aku melontarkan kedua tanganku saking frustrasinya, merasakan nyeri di

pundakku yang sebelumnya kuabaikan. Telapak tanganku membentur dada Edward

dengan suara keras. "Karena semua perasaan bersalah ini tidak perlu terjadi kalau saja

kau bisa mengetahui apa yang kurasakan saat ini! Atau lima menit yang lalu, setidaknya.

Aku tadi merasa sangat bahagia. Benar-benar merasa tenang dan damai. Sekarang—

well, bisa dibilang sekarang aku agak marah."

" Memang seharusnya kau marah padaku."

"Well, aku memang marah. Apakah itu membuat perasaanmu lebih enak?"

Edward mendesah. "Tidak. Kurasa tidak ada yang bisa membuat perasaanku lebih

enak sekarang."

"itu" bentakku. "Justru itulah sebabnya aku marah. Kau merusak kebahagiaanku,

Edward."

82

Edward memutar bola matanya dan menggeleng.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku merasakan nyeri-nyeri di sekujur tubuhku,

tapi itu bukan sesuatu yang buruk. Nyaris seperti yang kaurasakan setelah seharian

berolahraga mengangkat beban. Aku pernah melakukannya bersama Renée waktu ia

sedang keranjingan fitness. Enam puluh lima kali angkatan, masing-masing seberat lima

kilogram. Besoknya aku tidak bisa berjalan. Sakit yang kurasakan sekarang ini belum ada

apa-apanya dibandingkan dengan itu.

Kutelan kembali kejengkelanku dan berusaha memperdengarkan nada

menenangkan. “Kita sudah tahu ini pasti dulu. Kusangka itu sudah bisa diperkirakan.

Kemudian—well, Kenyataannya ternyata jauh lebih mudah daripada yang kita

perkirakan. Dan ini benar-benar bukan apa-apa." Kusapukan jari-jariku di sepanjang

lengan. "Menurutku, untuk pertama kali, mengingat kita tidak tahu apa yang

diharapkan, kita justru luar biasa. Dengan sedikit berlatih..."

Ekspresi Edward mendadak berubah marah hingga aku langsung menghentikan

kata-kataku.

"Diharapkan? Jadi kau mengharapkan hal ini, Bella? Jadi kau sudah

mengantisipasi bahwa aku akan mencederaimu? Apa kaupikir itu akan lebih parah? Jadi

kau menganggap eksperimen ini sukses karena kau selamat? Tidak ada tulangmu yang

patah-—itu kauanggap sebagai kemenangan?"

Aku menunggu, membiarkan Edward menumpahkan unek-uneknya. Lalu aku

menunggu beberapa saat lagi sampai napasnya kembali normal. Lalu setelah matanya

tenang, aku menjawab, berbicara lambat-lambat, menekankan setiap kata.

“Aku tidak tahu apa yang kuharapkan—tapi aku jelas tidak mengira betapa...

betapa... indah dan sempurnanya itu." Suaraku berubah menjadi bisikan, mataku beralih

dari wajahnya ke tanganku. "Maksudku, aku tidak tahu bagaimana kau merasakannya,

tapi bagiku, itulah yang kurasakan."

Satu jari dingin mengangkat daguku.

"Jadi, itukah yang kaukhawatirkan?" tanya Edward dengan gigi terkatup rapat.

"Bahwa aku tidak menikmatinya?"

Aku menunduk. "Aku tahu pasti berbeda. Kau bukan manusia. Aku hanya

berusaha menjelaskan bahwa, bagi manusia, well, aku tak bisa membayangkan akan

lebih baik daripada itu."

Edward terdiam lama sekali sampai akhirnya aku terpaksa mengangkat wajah.

Wajah Edward kini melembut, berpikir,

83

"Sepertinya aku harus meminta maaf lagi." Kening Edward berkerut. "Aku sama

sekali tidak mengira kau akan salah menafsirkan perasaanku, menganggap aku tidak

merasa bahwa semalam adalah... well, malam terindah yang pernah kurasakan

sepanjang eksistensiku. Tapi aku tidak ingin berpikir seperti itu, kalau kenyataannya

kau..."

Sudut-sudut bibirku sedikit terangkat. "Sungguh? Yang terindah yang pernah

kaurasakan?" tanyaku, suaraku mencicit.

Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangan, masih waswas. "Aku sempat

berbicara dengan Carlisle setelah kau dan aku membuat kesepakatan ini, berharap dia

bisa membantuku. Tentu saja dia mengingatkanku bahwa ini akan sangat berbahaya

bagimu." Sejenak ekspresinya disapu mendung. "Tapi dia percaya padaku—keyakinan

yang tidak pantas kudapatkan."

Aku membuka mulut hendak memprotes, tapi Edward menaikkan dua jarinya di

bibirku sebelum aku bisa berkomentar.

"Aku juga bertanya kepadanya apa yang seharusnya aku harapkan akan terjadi.

Aku tidak tahu bagaimana jadinya nantinya bagiku... sebagai vampir." Edward

tersenyum setengah hati.

"Menurut Carlisle, itu sesuatu yang sangat kuat, tak ada yang sekuat itu. Katanya

seharusnya aku tidak menganggap remeh hubungan fisik. Dengan temperamen kami

yang jarang berubah, emosi yang sangat kuat dapat mengubah kami secara permanen.

Tapi dia juga berkata aku tidak perlu khawatir tentang hal itu—kau sudah benar-benar

mengubahku." Kali ini senyumnya lebih tulus.

"Aku juga berbicara dengan saudara-saudaraku. Mereka menceritakan itu

sesuatu yang sangat menyenangkan. Hanya kalah dengan minum darah manusia."

Keningnya berkerut. "Tapi aku sudah pernah merasakan darahmu, dan tidak ada darah

lain yang lebih kuat daripada itu... aku tidak menganggap mereka salah, sungguh. Hanya

saja bagi kita berbeda. Ada sesuatu yang lebih."

"Memang lebih. Itu segala-galanya."

"Itu tidak mengubah fakta bahwa perbuatan itu keliru. Walaupun mungkin saja

kau benar-benar merasa seperti yang kau bilang tadi."

"Apa artinya itu? Jadi menurutmu aku mengarang-ngarang, begitu? Mengapa?"

"Untuk meringankan perasaan bersalahku. Aku tidak bisa mengabaikan buktibukti

yang ada. Bella. Atau sejarahmu bahwa selama ini kau selalu melepaskan aku dari

tanggung jawab kalau aku melakukan kesalahan."

84

Aku merenggut dagu Edward dan mencondongkan tubuh sehingga wajah kami

hanya berjarak beberapa sentimeter. "Dengar, Edward Cullen. Aku sama sekali tidak

berpura-pura demi kau, oke? Aku bahkan tidak tahu ada alasan untuk membuatmu

merasa lebih baik sampai kau menunjukkan sikap merana seperti ini. Belum pernah aku

merasa sebahagia ini seumur hidupku—aku tidak merasa sebahagia ini waktu kau

memutuskan bahwa cintamu padaku lebih besar daripada keinginanmu untuk

membunuhku, atau pagi pertama waktu aku terbangun dan kau berada di sana

menungguku... Juga tidak waktu aku mendengar suaramu di studio balet"— Edward

berjengit mengingat bagaimana aku nyaris bertemu dengan vampir yang sedang

berburu, tapi aku tidak menghentikan kata-kataku—"atau waktu kau mengucapkan

'saya bersedia' dan aku menyadari bahwa, entah bagaimana, aku bisa memilikimu

selamanya. Itu kenangan-kenangan paling membahagiakan dalam hidupku, dan ini lebih

baik daripada semua itu. Jadi terima sajalah."

Edward menyentuh kerutan di antara alisku. "Aku membuatmu tidak bahagia

sekarang. Aku tidak ingin seperti itu."

"Jadi jangan merasa tidak bahagia. Hanya itu satu-satunya masalah sekarang."

Mata Edward menegang, lalu ia menghela napas dalam-dalam dan mengangguk.

"Kau benar. Yang sudah berlalu sudah berlalu dan aku tidak bisa melakukan apa-apa

untuk mengubahnya. Tidak masuk akal kalau aku membiarkan suasana hatiku

membuatmu merasa tidak bahagia. Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu

merasa bahagia sekarang."

"Apa saja yang membuatku bahagia?"

Perutku berbunyi saat aku melontarkan pertanyaanku.

"Kau lapar," Edward buru-buru menyergah. Dengan cepat ia melompat turun dari

tempat tidur sehingga bulu-bulu beterbangan. Dan itu mengingatkan aku.

"Jadi, kapan persisnya kau memutuskan menghancurkan bantal-bantal Esme?"

tanyaku, terduduk dan menggoyangkan kepala untuk menyingkirkan bulu-bulu dari

kepalaku.

"Mungkin tidak tepat bila dikatakan aku memutuskan melakukan hal apa pun

semalam," gerutu Edward. "Kita beruntung yang kugigit adalah bantal, bukan kau." Ia

menghela napas dalam-dalam dan menggeleng, seperti hendak mengenyahkan pikiran

buruk dari benaknya. Senyum yang sangat identik terkuak di wajahnya, tapi kurasa ia

harus berusaha cukup keras untuk bisa melakukannya.

Aku meluncur turun dengan hati-hati dari tempat tidur yang tinggi dan

menggeliat lagi, kali ini semakin menyadari bagian mana saja yang sakit dan nyeri di

85

tubuhku. Kudengar Edward terkesiap. Ia membuang muka, kedua tangannya terkepal,

buku-buku jarinya memutih.

"Memangnya penampilanku mengerikan, ya?" tanyaku, berusaha agar nadaku

terdengar ringan. Edward tersentak, tapi tidak berbalik, mungkin menyembunyikan

ekspresinya dariku. Aku berjalan ke kamar mandi untuk melihat sendiri.

Jelas aku pernah mengalami yang lebih parah daripada ini. Tampak bayangan

samar di salah satu tulang pipiku, dan bibirku sedikit bengkak, tapi selain itu, wajahku

baik-baik saja. Sekujur tubuhku penuh bercak-bercak biru dan ungu. Aku berkonsentrasi

pada memar-memar yang paling sulit disembunyikan—di kedua lengan dan bahu. Tidak

parah-parah amat. Kulitku memang gampang memar. Ketika memarnya muncul,

biasanya aku sudah lupa bagaimana aku mendapatkannya. Tentu saja ini semua baru

mulai terbentuk. Aku akan terlihat lebih parah besok. Itu tidak akan membuat keadaan

lebih mudah.

Lalu mataku tertumbuk ke rambutku, dan aku mengerang. "Bella?" Edward sudah

langsung berada di dekatku begitu aku bersuara.

"Aku takkan bisa mengenyahkannya dari rambutku!" Aku menunjuk kepalaku,

yang terlihat seperti sarang ayam. Aku mulai mencabuti bulu-bulu dari kepalaku.

"Kalau rambut saja mengkhawatirkan," gumam Edward, tapi ia berdiri di

belakangku, mencabuti bulu-bulu itu dengan gerakan lebih cepat.

"Bagaimana kau bisa tidak tertawa melihatku? Aku terlihat konyol sekali."

Edward tidak menjawab; ia terus saja mencabuti. Dan aku tahu jawabannya—

tidak ada yang lucu baginya dalam suasana hati seperti ini.

"Percuma saja," keluhku sejurus kemudian. "Sudah telanjur menempel. Aku harus

keramas untuk membersihkan semuanya" Aku berbalik, memeluk pinggang Edward

yang dingin. "Maukah kau membantuku?"

"Sebaiknya aku mencarikan makanan untukmu," kata Edward pelan, dengan

lembut membuka pelukanku. Aku mendesah waktu ia menghilang, bergerak terlalu

cepat.

Kelihatannya bulan maduku sudah berakhir. Pikiran itu membuat tenggorokanku

tercekat.

Setelah rambutku bersih dari bulu dan aku mengenakan gaun katun putih asing

yang menutupi bercak-bercak ungu yang paling mengerikan, aku berjalan dengan kaki

86

telanjang ke darat mengikuti semerbak bau telur, bacon, dan keju yang merangsang

selera.

Edward berdiri di depan kompor stainless steel, meluncurkan sepotong omelet ke

piring biru muda di atas konter. Aroma lezat makanan membuatku kelabakan. Rasanya

aku sanggup memakan habis piring dan wajannya sekalian saking laparnya; perutku

keroncongan.

"Ini," kata Edward. Ia berbalik dengan senyum tersungging di wajah dan

meletakkan piring di meja kecil beralas keramik.

Aku duduk di salah satu kursi logam dan mulai menganyang telur yang masih

panas itu. Panasnya membakar tenggorokanku, tapi aku tak peduli.

Edward duduk di seberangku. "Aku kurang sering memberimu makan"

Aku menelan kemudian mengingatkannya, “Aku kan tidur, omong-omong, ini

enak sekali. Mengesankan untuk ukuran orang yang tidak pernah makan."

"Food Network," jawab Edward, memamerkan senyum miring favoritku.

Aku bahagia melihatnya, bahagia karena Edward sudah bersikap normal lagi.

"Dari mana kau mendapatkan telur-telur ini?"

"Aku memang meminta para petugas kebersihan menyediakan bahan makanan.

Itu pertama kalinya, untuk tempat ini. Aku harus meminta bantuan mereka untuk

membersihkan bulu-bulu itu..." Suaranya menghilang, tatapannya sedikit di atas

kepalaku. Aku tidak menyahut, berusaha tidak mengatakan apa-apa yang hanya akan

membuatnya kalut lagi.

Aku memakan habis semuanya, walaupun Edward memasakkan makanan dalam

jumlah yang cukup untuk dua orang.

"Terima kasih" kataku. Aku mencondongkan tubuh ke seberang meja untuk

menciumnya. Ia balas menciumku, kemudian tiba-tiba mengejang dan menarik

tubuhnya.

Aku mengertakkan gigi, dan pertanyaan yang ingin kutanyakan terlontar seperti

tuduhan. "Kau tidak akan menyentuhku lagi selama kita di sinikan?"

Edward ragu-ragu, lalu menyunggingkan senyum separo dan membelai pipiku.

Jari-jarinya bertengger lembut di kulitku, dan aku tak tahan untuk tidak menyandarkan

wajahku ke telapak tangannya.

"Kau tahu bukan itu maksudku."

87

Ia mendesah dan menjatuhkan tangannya. "Aku tahu. Dan kau benar." Ia terdiam

sejenak, mengangkat dagunya sedikit. Kemudian berbicara lagi dengan penuh

keyakinan. "Aku tidak akan bercinta lagi denganmu sampai kau berubah. Aku tidak akan

pernah menyakitimu lagi."

88

6. MENGALIHKAN PERHATIAN

Hiburanku menjadi prioritas utama di Pulau Esme. Kami pergi snorkelling (well,

aku yang snorkelling sementara Edward memamerkan kemampuannya menyelam tanpa

oksigen untuk jangka waktu tak terbatas). Kami menjelajahi hutan kecil yang

mengelilingi puncak kecil berbatu. Kami melihat-lihat burung beo yang menghuni

kerindangan pohon di selatan pulau, kami menyaksikan matahari terbenam dari teluk

sebelah bukit yang berbatu. Kami berenang bersama penyu-penyu yang bermain di

perairan dangkal yang hangat di sana. Atau setidaknya, aku yang bermain, karena begitu

Edward masuk ke air, penyu-penyu itu langsung menghilang seolah-olah ada hiu

mendekat.

Aku tahu apa yang terjadi. Ia berusaha menyibukkanku, mengalihkan

perhatianku, supaya aku tidak merongrongnya terus mengenai masalah bercinta. Setiap

kali aku berusaha membujuknya untuk santai dan nonton salah satu dari sejuta film DVD

yang tersimpan di bawah TV plasma berlayar besar, ia akan merayuku keluar rumah

dengan kata-kata manis seperti terumbu karang, gua bawah air, dan penyu. Kami pergi,

pergi, pergi terus seharian, supaya akhirnya aku lapar dan kelelahan saat matahari

tenggelam.

Aku terkantuk-kantuk di atas piringku setelah makan malam setiap malam; sekali

aku bahkan benar-benar ketiduran di meja dan ia terpaksa membopongku ke tempat

tidur. Sebagian alasannya karena Edward selalu memasakkan makanan terlalu banyak

untuk dihabiskan satu orang, tapi aku begitu lapar sehabis berenang dan mendaki

seharian sehingga kusikat saja sebagian besar makanan yang terhidang. Lalu,

kekenyangan dan kelelahan, aku nyaris tak sanggup membuka mataku lagi. Semua

bagian dari rencananya, tak diragukan lagi.

Kelelahan tidak menolong usahaku untuk membujuknya. Tapi aku tidak

menyerah. Aku mengajaknya bicara baik-baik, memohon, bersungut-sungut, tapi semua

sia-sia. Biasanya aku sudah tertidur sebelum benar-benar bisa menekankan maksudku.

Kemudian mimpi-mimpiku terasa begitu nyata—sebagian besar mimpi buruk, yang

menjadi lebih hidup, dugaanku, karena warna-warna yang terlalu terang di pulau ini—

sehingga aku terbangun dengan perasaan letih, tak peduli selama apa pun tidurku.

Kira-kira seminggu setelah kami sampai di pulau ini, aku memutuskan untuk

mencoba berkompromi. Dulu toh kami bisa melakukannya.

Sekarang aku tidur di kamar biru. Petugas kebersihan baru akan datang besok,

jadi kamar putih masih diselimuti bulu-bulu putih. Kamar biru lebih kecil, tempat

89

tidurnya lebih proporsional. Dinding-dindingnya berwarna gelap, berlapis panel kayu

jati, dan perabotnya berlapis sutra biru mewah.

Aku sudah terbiasa mengenakan sebagian koleksi lingerie pilihan Alice untuk

tidur malam—itu tidak seterbuka celana bikini minim yang ia kemaskan untukku. Aku

jadi penasaran apakah ia mendapat penglihatan mengapa aku akan menginginkan

benda-benda ini, kemudian bergidik, malu karena pikiran itu.

Mula-mula aku mengenakan pakaian satin putih gading yang sopan, khawatir

kalau aku mengenakan pakaian dalam yang lebih terbuka, itu justru tidak akan

membantu, tapi siap mencoba apa saja. Edward seolah tidak memerhatikan, seakanakan

aku memakai kaus usang seperti yang biasa kupakai di rumah.

Memar-memarku sekarang sudah jauh lebih baik—menguning di beberapa

tempat, dan beberapa lagi bahkan sudah hilang—jadi malam ini aku mengeluarkan salah

satu pakaian dalam yang potongannya lebih menantang, yang sudah kusiapkan di kamar

mandi berpanel. Pakaian dalam itu berwarna hitam, berenda, dan membuatku malu

saat melihatnya, bahkan sebelum dipakai. Aku berhati-hati agar tidak memandang

bayanganku sendiri di cermin sebelum masuk kembali ke kamar. Aku tidak ingin

kehilangan keberanian.

Puas rasanya melihat mata Edward membelalak sedetik .Sebelum akhirnya ia bisa

mengendalikan ekspresinya.

"Menurutmu bagaimana?" tanyaku, berputar-putar genit agar ia bisa melihat dari

setiap sudut.

Edward berdeham-deham. "Kau cantik. Kau memang selalu terlihat cantik."

"Trims" sahutku, agak masam.

Aku terlalu letih untuk tidak cepat-cepat naik ke tempat tidur yang empuk.

Edward memeluk dan menarikku ke dadanya, tapi ini sudah biasa—terlalu gerah untuk

tidur tanpa tubuhnya yang dingin mendekapku.

"Aku akan membuat kesepakatan denganmu.” kataku dengan suara mengantuk.

"Aku tidak mau membuat kesepakatan apa-apa denganmu," jawab Edward.

"Kau bahkan belum mendengar tawaranku."

"Tidak perlu."

Aku mendesah. "Sial. Padahal aku benar-benar ingin... Oh sudahlah."

Edward memutar bola matanya.

90

Aku memejamkan mata dan membiarkan umpan itu menggantung-gantung di

depan matanya. Aku menguap.

Hanya butuh satu menit—tidak cukup lama bagiku untuk tertidur.

"Baiklah. Apa yang kauinginkan?"

Aku mengertakkan gigi sebentar, sekuat tenaga menahan senyum. Satu hal yang

tidak bisa ditolaknya adalah kesempatan memberiku sesuatu.

"Well, setelah kupikir-pikir... aku tahu masalah Dartmouth itu seharusnya hanya

jadi alasan untuk menutupi hal sebenarnya, tapi jujur saja, kuliah selama satu semester

mungkin tak ada ruginya," kataku, meniru kata-kata yang pernah ia ucapkan sekian

waktu lalu, ketika ia berusaha membujukku menunda keinginanku untuk menjadi

vampir. "Berani taruhan, Charlie pasti senang sekali kalau kuceritakan tentang

pengalaman-pengalamanku kuliah di Darrmouth. Memang sih, bakal memalukan kalau

aku tak bisa mengimbangi mahasiswa-mahasiswa genius di sana. Tapi tetap saja...

delapan belas, sembilan belas. Tidak terlalu banyak bedanya. Bukan berarti sudut-sudut

mataku bakal keriput kan, tahun depan,"

Edward terdiam lama sekali. Kemudian, dengan suara pelan ia berkata, "Kau mau

menunggu. Kau mau tetap menjadi manusia."

Aku sengaja diam, membiarkan ia mencerna baik-baik tawaran itu.

"Mengapa kau melakukan ini padaku?" sergah Edward dari sela-sela gigi yang

terkatup rapat, nadanya tiba-tiba marah. “Apa semua ini belum cukup menyulitkan?"

Dengan kasar ia menyambar renda yang menghiasi pahaku. Sesaat aku sempat mengira

ia bakal mengoyakkannya. Kemudian tangannya melemas. "Sudahlah, tidak apa-apa.

Aku tidak mau membuat kesepakatan apa-apa denganmu."

"Aku ingin kuliah."

"Tidak, kau tidak ingin kuliah. Itu tidak sepadan dengan mempertaruhkan

nyawamu lagi. Tidak sepadan dengan menyakitimu."

"Padahal aku benar-benar ingin kuliah. Well, sebenarnya bukan kuliah yang

benar-benar kuinginkan—aku hanya ingin menjadi manusia sedikit lebih lama lagi."

Edward memejamkan mata dan mengembuskan napas lewat hidungnya. "Kau

membuatku gila, Bella. Bukankah kita sudah jutaan kali memperdebatkan hal ini, kau

selalu memohon-mohon untuk secepatnya menjadi vampir?"

"Memang, tapi... well, aku punya alasan mengapa aku ingin menjadi manusia,

alasan yang tidak kumiliki sebelumnya."

91

"Alasan apa itu?"

"Tebak saja," ucapku, lalu menyeret tubuhku dari tumpukan bantal untuk

menciumnya.

Ia membalas ciumanku, walaupun sikapnya belum menunjukkan bahwa aku

menang. Lebih tepatnya, ia seperti berhati-hati untuk tidak menyakiti perasaanku;

menjengkelkan, ia begitu pandai mengendalikan diri. Dengan lembut ia menjauhkan

tubuhku beberapa saat kemudian, dan mendekapku di dadanya.

"Kau sangat manusia, Bella. Dikuasai hormonmu." Edward terkekeh.

"Justru itu intinya, Edward. Aku menyukai bagian kemanusiaanku yang ini. Aku

belum mau meninggalkannya. Aku tidak mau menunggu hingga bertahun-tahun lagi,

setelah melewati tahap keranjingan darah sebagai vampir baru, baru bisa merasakannya

lagi."

Aku menguap, dan Edward tersenyum.

"Kau lelah. Tidurlah, Sayang." Ia mulai mendendangkan lagu ninabobo yang ia

ciptakan untukku waktu kami pertama kali bertemu.

"Heran, mengapa aku capek sekali, ya," sindirku pedas. "Tidak mungkin itu bagian

rencanamu atau semacamnya, kan?"

Edward hanya terkekeh sebentar, kemudian kembali bersenandung.

"Karena aku lelah sekali, kau pasti mengira tidurku bakal lebih nyenyak."

Lagu itu mendadak berhenti. "Selama ini kau tidur nyenyak sekali seperti orang

mati, Bella. Kau tidak pernah mengigau sejak hari pertama kita di sini. Kalau saja kau

tidak mendengkur, aku pasti khawatir kalau-kalau kau koma."

Aku tak menggubris ejekannya tentang masalah dengkuran itu; aku tidak pernah

mendengkur kok. "Memangnya aku tidak berguling-guling dalam tidurku? Aneh. Padahal

biasanya aku berguling-guling ke sana kemari kalau sedang bermimpi buruk. Dan

berteriak-teriak."

"Memangnya kau sering bermimpi buruk?"

"Mimpi-mimpiku sangat jelas. Aku jadi capek sekali." Aku menguap. "Aku tidak

percaya aku tidak mengigau sepanjang malam.”

"Kau bermimpi tentang apa?"

"Macam-macam—tapi sama, kau tahu, karena warna-warnanya..."

92

"Warna-warna?"

"Warna-warnanya begitu cemerlang dan nyata. Biasanya, kalau sedang bermimpi

aku menyadarinya. Kali ini, aku tidak sadar bahwa aku sedang tidur. Itulah yang

membuat mimpi-mimpiku jadi semakin menakutkan."

Suara Edward terdengar cemas waktu ia bicara lagi. "Apa yang membuatmu

ketakutan?"

Aku bergidik pelan. "Kebanyakan..." Aku ragu-ragu.

"Kebanyakan apa?" desaknya.

Entah mengapa, aku tidak ingin bercerita kepada Edward tentang bocah dalam

mimpi burukku yang selalu berulang, ini sesuatu yang pribadi tentang kengerian yang

satu itu. Jadi, bukannya memberi gambaran lengkap padanya, aku hanya menceritakan

satu elemen saja. Itu jelas cukup membuatku atau siapa pun, takut. "Keluarga Volturi"

bisikku.

Edward memelukku lebih erat lagi. "Mereka tidak akan mengganggu kita lagi.

Sebentar lagi kau akan menjadi makhluk immortal, jadi mereka tidak punya alasan untuk

menyerang kita."

Kubiarkan Edward menenangkan hatiku, merasa sedikit bersalah karena ia salah

menangkap maksudku. Bukan seperti itu tepatnya mimpi burukku. Aku bukannya takut

memikirkan diriku sendiri—aku takut karena memikirkan nasib bocah lelaki itu.

Ia bukan bocah yang sama seperti dalam mimpiku yang pertama—bocah vampir

bermata merah yang duduk di atas onggokan mayat orang-orang yang kusayangi. Bocah

yang ku impikan sebanyak empat kali minggu lalu jelas-jelas manusia, pipinya merah dan

matanya yang lebar berwarna hijau lembut. Tapi persis seperti si bocah vampir, anak ini

gemetar ketakutan dan putus asa ketika keluarga Volturi mengepung kami.

Dalam mimpiku, baik yang dulu maupun sekarang, aku merasa harus melindungi

bocah tak dikenal itu. Tak ada pilihan lain. Namun di saat yang sama, aku tahu aku bakal

gagal.

Edward melihat kesedihan di wajahku. "Apa yang bisa kulakukan untuk

membantu?"

Aku menepisnya, "Itu kan hanya mimpi, Edward."

"Kau mau aku menyanyi untukmu? Aku mau kok bernyanyi semalaman kalau

dengan begitu kau tidak bermimpi buruk lagi."

93

"Tidak semua mimpiku buruk. Beberapa ada yang menyenangkan. Begitu...

berwarna. Di dalam air, dengan ikan-ikan dan terumbu karang. Semuanya seperti benarbenar

terjadi—aku tidak tahu bahwa aku hanya bermimpi. Mungkin pulau inilah

masalahnya. Semua terang benderang di sini."

"Kau mau pulang saja?"

"Tidak. Tidak, belum. Tidak bisakah kita tinggal lebih lama di sini?"

"Kita bisa tinggal selama yang kauinginkan, Bella," Edward berjanji padaku.

"Kapan kuliah dimulai? Aku tidak memerhatikannya sebelum ini."

Edward mendesah. Mungkin ia sudah mulai berdendang lagi, tapi aku keburu

terlelap sebelum bisa memastikan.

***

Tak lama kemudian aku terbangun dalam keadaan shock. Mimpiku begitu nyata...

begitu hidup, begitu menggugah panca indra... aku terkesiap dengan suara keras,

kebingungan berada di kamar yang gelap. Baru sedetik yang lalu rasanya, aku berada

dalam cahaya matahari yang terang benderang.

"Bella?" Edward berbisik, kedua lengannya memelukku erat-erat,

mengguncangku lembut. "Kau tidak apa-apa, Sayang?”

"Oh," aku terkesiap. Ternyata hanya mimpi. Tidak nyata. Yang sangat

mengherankan, air mata meleleh begitu saja dari mataku, mengalir deras di wajahku.

"Bella!" seru Edward—suaranya sekatang lebih keras, nadanya cemas. "Ada

apa?" Ia menyeka air mata dari pipiku yang halus dengan jari-jarinya yang dingin dan

panik, tapi air maraki i terus saja mengalir.

"Itu hanya mimpi." Aku tak mampu meredam sedu sedan yung memecah

suaraku. Air mata yang tak kunjung berhenti terasa mengganggu, tapi aku tak kuasa

mengendalikan perasaan sedih yang mencengkeramku. Aku begitu ingin mimpi itu

menjadi kenyataan.

"Tidak apa-apa, Sayang, kau baik-baik saja. Aku di sini." Edward menggerakkan

tubuhku maju-mundur, agak terlalu cepat untuk bisa menenangkan. "Kau mimpi buruk

lagi, ya? ini tidak nyata, itu tidak nyata."

94

"Bukan mimpi buruk." Aku menggeleng-geleng, menggosokkan punggung

tanganku ke mata. "Tapi mimpi yang bagus sekali." Lagi-lagi suaraku pecah.

"Kalau begitu, mengapa kau menangis?" tanya Edward, terheran-heran.

"Karena aku terbangun" rengekku, memeluk leher Edward erat sekali dan tersedu

di sana.

Edward tertawa mendengar jalan pikiranku, tapi suaranya tegang karena prihatin.

"Semua beres, Bella. Tarik napas dalam-dalam."

"Mimpi tadi sangat nyata," tangisku. "Aku ingin mimpi in menjadi kenyataan."

"Ceritakan," bujuk Edward. "Mungkin itu bisa "membantu."

"Kita sedang di tepi pantai..." Suaraku menghilang, aku mundur sedikit untuk

menatap wajah malaikat Edward yang cemas dengan mataku yang berlinang air mata,

tampak samai dalam gelap. Kupandangi dia lekat-lekat sementara kesedihan yang tidak

masuk akal itu mulai mereda.

"Dan?" desak Edward akhirnya.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata unruk menyingkirkan air mata dari mataku,

hatiku sedih sekali. "Oh, Edward..."

"Ceritakan padaku, Bella," ia memohon, sorot matanya liar dipenuhi

kekhawatiran mendengar nada sedih dalam suaraku.

Tapi aku tidak bisa. Aku malah melingkarkan kedua tanganku di lehernya lagi, dan

mencium bibirnya. Itu sama sekali bukan ciuman bergairah—melainkan ungkapan

kebutuhan akut hingga rasanya menyakitkan. Ia langsung merespons, tapi responsnya

dengan cepat berubah menjadi penolakan. Ia berusaha menolakku selembut mungkin,

mencengkeram bahuku dan mendorong tubuhku menjauhinya.

"Tidak, Bella," ia bersikeras, menatapku dengan pandangan seolah-olah ia

khawatir aku sudah sinting.

Kedua lenganku terkulai, kalah, dan air mata yang aneh itu kembali mengalir,

menuruni wajahku, dan aku kembali menangis, Edward benar—aku pasti sudah sinting.

Ia memandangiku dengan tatapan bingung sekaligus sedih.

Ma—ma—maafkan aku," gumamku,

95

Tapi Edward menarikku lagi ke dalam pelukannya, mendekapku erar-erat di

dadanya yang sekeras marmer.

"Aku tidak bisa, Bella, aku tidak bisa!" Erangannya begitu menderita.

“Kumohon," pintaku, suaraku teredam kulitnya. "Kumohon, Edward?"

Entah apakah hatinya luluh karena tangis yang menggetar dari suaraku, atau

apakah ia tidak siap menghadapi serangan yang begitu tiba-tiba, atau apakah

kebutuhannya saat itu sama tak tertahankannya dengan yang kurasakan. Pokoknya apa

pun alasannya, Edward menarik bibirku kembali ke bibirnya, menyerah sambil

mengerang.

Dan kami pun melanjutkan mimpiku yang terputus tadi. Aku diam tak bergerak

waktu terbangun pada pagi hari dan menjaga agar desah napasku tetap teratur. Aku tak

berani membuka mata.

Aku berbaring di dada Edward, tapi ia diam tak bergerak dan lengannya tidak

memelukku. Itu pertanda buruk. Aku tidak berani mengakui diriku sudah bangun dan

menghadapi mataharinya—tak peduli kepada siapa amarah itu ditujukan hari ini.

Hati-hati, aku mengintip dari sela-sela bulu mataku. Edward menengadah ke

langit-langit yang gelap, kedua lengannya ditumpukan di belakang kepala. Kutopang

tubuhku dengan siku agar bisa melihat wajahnya lebih jelas lagi. Wajahnya datar tanpa

ekspresi,

"Seberapa besar masalahku?" tanyaku dengan suara kecil.

"Banyak," jawab Edward, tapi ia memalingkan wajah dan tersenyum jail padaku.

Aku mengembuskan napas lega "Aku benar-benar minta maaf" kataku. "Aku tidak

bermaksud— Well, aku tidak tahu persis tadi malam itu apa.” Aku menggeleng untuk

mengenyah kan bayangan air mataku yang tidak rasional dan kesedihan yang begitu

mengimpit.

"Kau bahkan tidak pernah menceritakan mimpimu pada ku."

"Kurasa memang tidak—tapi aku akan menunjukkan padamu isi mimpiku itu."

"Oh," ucap Edward. Matanya melebar, kemudian ia mengerjapkan mata.

"Menarik."

"Mimpi yang bagus sekali," gumamku. Edward tidak berkomentar, jadi beberapa

detik kemudian aku bertanya, "Apakah aku dimaafkan?"

"Aku sedang memikirkannya,"

96

Aku terduduk tegak, berniat memeriksa keadaanku- tapi setidaknya kelihatannya

tidak ada bulu-bulu. Tapi waktu aku bergerak, gelombang vertigo yang aneh

menghantamku. Aku limbung dan terempas kembali ke bantal.

“Aku tiba-tiba pusing."

Lengan Edward sudah merangkulku ketika itu. "Kau tidur lama sekali. Dua belas

jam,"

"Dua belas?" Aneh sekali.

Sambil bicara aku melayangkan pandangan sekilas ke sekujur tubuhku, berusaha

agar tidak kentara. Sepertinya aku baik-baik saja. Memar-memar di kedua lenganku

yang sudah berumur satu minggu masih menguning. Aku mencoba menggeliat. Aku juga

merasa baik-baik saja. Well, lebih dari baik-baik saja, sebenarnya.

"Sudah selesai menginventarisir?"

Aku mengangguk malu-malu. "Semua bantal sepertinya selamat."

"Sayangnya, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk, eh, gaun

malammu." Edward menganggukkan kepala ke ranjang, tempat cabikan-cabikan kain

hitam berenda bertebaran di seprai sutra.

"Sayang sekali," kataku. "Padahal aku suka yang itu."

"Aku juga."

Apakah ada korban-korban lain?" tanyaku malu-malu. Aku harus membelikan

ranjang baru untuk Esme," Edward mengakui, menoleh ke balik bahunya. Aku mengikuti

arah pandangnya dan kaget bukan kepalang melihat potongan-potongan besar kayu

seperti dicongkel dari bagian kepala ranjang sebelah kiri.

"Hmm." Keningku berkerut. "Kau pasti mengira aku bisa mendengarnya."

"Kelihatannya kau bisa benar-benar tak menyadari apa pun kalau perhatianmu

sedang terfokus ke hal lain."

"Perhatianku memang sedang agak terfokus ke hal lain," aku mengakui, pipiku

merah padam.

Edward menyentuh pipiku yang membara dan mendesah. "Aku akan sangat

merindukan itu."

Kupandangi wajahnya, mencari tanda-tanda kemarahan atau kesedihan yang

kutakutkan. Ia balas menatapku, ekspresinya tenang tapi tak terbaca.

97

"Bagaimana perasaanmu?" Edward tertawa.

"Apa?" tuntutku.

"Kau terlihat sangat bersalah—seolah-olah kau habis melakukan kejahatan."

"Aku memang merasa bersalah," gerutuku.

"Kau merayu suamimu yang langsung menurut begitu saja Itu kejahatan besar."

Sepertinya ia menggoda.

Pipiku semakin panas. "Istilah merayu mengesankan seolah-olah tindakan itu

direncanakan lebih dulu."

"Mungkin istilahnya tidak tepat," Aku mengalah.

"Kau tidak marah?"

Edward tersenyum masam. "Aku tidak marah,"

"Mengapa tidak?"

"Well," Ia terdiam sejenak. "Pertama, karena aku tidak melukaimu. Kali ini lebih

mudah bagiku mengendalikan diri, menyalurkan gairahku yang berlebihan." Lagi-lagi

matanya melirik tempat tidur yang hancur berantakan. "Mungkin karena sekarang aku

sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi."

Senyum penuh harap mengembang di wajahku. "Sudah kubilang, ini hanya

masalah latihan." Edward memutar bola matanya.

Perutku berbunyi, dan Edward tertawa. "Saatnya sarapan untuk manusia?"

tanyanya.

"Please" sahutku, melompat dari tempat tidur, tapi gerakanku terlalu cepat,

akibatnya aku terhuyung-huyung untuk mendapatkan kembali keseimbanganku. Ia

menangkapku sebelum aku telanjur menabrak meja rias.

"Kau tidak apa-apa?"

"Kalau keseimbanganku ternyata tidak lebih baik di kehidupan baruku nanti, aku

akan protes."

Aku memasak pagi ini, menggoreng telur—kelewat lapar untuk membuat

hidangan yang lebih rumit. Tidak sabaran, sebentar saja aku sudah menyendok telur itu

dari penggorengan ke piring.

98

"Sejak kapan kau makan telur ceplok?" tanya Edward.

"Sejak sekarang"

"Tahukah kau berapa banyak telur yang kauhabiskan selama minggu lalu?" Ia

menarik kantong sampah dari bawah bak cuci piring—kantong itu dipenuhi kartonkarton

biru kosong.

"Aneh" komentarku setelah menelan sepotong telur yang masih panas. "Tempat

ini mengacaukan selera makanku" Juga mimpiku dan keseimbanganku yang memang

sudah meragukan. "Aku senang di sini. Tapi mungkin kita harus meninggalkan tempat ini

sebentar lagi bukan, agar bisa sampai di Dartmouth tepat waktu? Wow, kurasa kita juga

perlu mencari tempat tinggal dan hal-hal lain juga."

Edward duduk di sebelahku. "Kau bisa berhenti berpura-pura tentang masalah

kuliah sekarang—kau sudah mendapatkan apa yang kauinginkan. Dan kita tidak

membuat kesepakatan apa-apa, jadi tidak ada kewajiban yang mengikat."

Aku mendengus. "Itu bukan pura-pura, Edward. Aku tidak menghabiskan waktu

luangku merencanakan yang tidak-tidak seperti sebagian orang. Apa yang bisa kita

lakukan untuk membuat Bella capek hari ini?" sergahku, mencoba menirukan cara

Edward bicara tapi gagal total. Ia tertawa, sama sekali tidak merasa malu. "Aku memang

ingin memiliki sedikit waktu lagi untuk menjadi manusia." Aku mencondongkan tubuh

dan menyapukan tanganku di dadanya yang telanjang. "Aku masih belum puas."

Edward menatapku ragu-ragu. "Untuk ini?" tanyanya, menangkap tanganku saat

bergerak turun ke perutnya. "Jadi bercintalah kuncinya selama ini?" Ia memutar bola

matanya. "Mengapa itu tidak terpikirkan olehku?" gerutunya sarkastis. "Tahu begitu,

aku tidak perlu capek-capek berargumen,"

Aku tertawa. "Yeah, mungkin.”

“Kau sangat manusia" tukasnya lagi.

"Memang."

Secercah senyum bermain di bibirnya. "Jadi kita akan ke Dartmouth? Sungguh?"

"Kemungkinan aku akan langsung gagal dalam satu semester,"

"Aku akan menjadi tutormu." Sekarang senyumnya lebar "Kau pasti suka kuliah."

"Menurutmu apa kita masih bisa mendapatkan apartemen sekarang ini?"

Edward nyengir, terlihat bersalah. "Well, sebenarnya kita sudah punya rumah di

sana. Kau tahu, untuk jaga-jaga,"

99

"Kau membeli rumah?"

"Investasi real estate kan bagus."

Aku mengangkat sebelah alis dan tak mempermasalahkannya lebih jauh lagi.

"Jadi kalau begitu kita sudah siap."

"Aku harus melihat apakah kita masih boleh memakai mobil sebelum itu selama

beberapa waktu lagi."

"Ya, jangan sampai aku tak terlindungi dari serbuan tank."

Edward nyengir.

"Berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini?" tanyaku.

"Kita masih punya banyak waktu. Beberapa minggu lagi, kalau kau mau.

Kemudian kita bisa mengunjungi Charlie sebelum berangkat ke New Hampshire. Kita

juga bisa merayakan Natal bersama Renée...''

Kata-kata Edward melukiskan masa depan yang sangat membahagiakan, masa

depan yang bebas dari kesedihan bagi semua orang yang terlibat. Kecuali Jacob yang

sudah terlupakan, berguncang, dan aku meralat pikiranku—hampir untuk semua orang.

Keadaan tidak akan semakin mudah. Sekarang setelah aku ini benar-benar

mengetahui betapa enaknya menjadi manusia, sungguh menggoda untuk menunda dulu

rencana-rencanaku. Delapan belas atau sembilan belas, sembilan belas atau dua puluh.

Apakah itu penting? Aku toh tidak akan berubah banyak dalam setahun. Dan menjadi

manusia bersama Edward... Pilihannya semakin hari semakin sulit.

"Beberapa minggu," aku setuju. Lalu, karena sepertinya aku selalu saja

kekurangan waktu, aku menambahkan, "Jadi kalau kupikir-pikir—kau tahu yang

kukatakan tentang latihan sebelum ini?"

Edward tertawa. "Bisa tolong tunda sejenak pikiranmu itu? Aku mendengar suara

kapal. Petugas kebersihan pasti sudah datang,"

la ingin aku menunda pikiranku. Jadi, apakah itu berarti ia tidak keberatan bila

harus berlatih lagi? Aku tersenyum.

"Aku mau menjelaskan dulu kekacauan di kamar putih pada Gustavo, lalu kita

bisa pergi. Ada tempat di tengah hutan sebelah selatan..."

"Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau menjelajahi seantero pulau hari ini. Aku

ingin tinggal di sini dan menonton film,"

100

Edward mengerucutkan bibir, berusaha untuk tidak tersenyum mendengar

nadaku yang menggerutu, "Baiklah, terserah kau saja. Mengapa tidak kaupilih saja satu

film sementara aku membukakan pintu?"

"Aku tidak mendengar suara pintu diketuk."

Edward menelengkan kepala, mendengarkan. Setengah detik kemudian samarsamar

terdengar suara pintu diketuk pelan. Ia nyengir dan berjalan menuju ruang

depan.

Aku menghampiri rak di bawah televisi berukuran besar dan mulai mengamati

judul-judul film yang ada. Sulit memutuskan akan mulai dari mana. Koleksi DVD mereka

jauh lebih lengkap daripada tempat penyewaan.

Aku bisa mendengar suara Edward yang pelan dan selembut beludru saat ia

kembali menuju lorong, berbicara dengan fasih dalam bahasa yang asumsiku adalah

bahasa Portugis. Suara manusia lain yang lebih kasar menjawab dalam bahasa yang

sama.

Edward berjalan mendahului mereka memasuki ruangan, menuding ke arah

dapur sambil berjalan. Kedua orang Brasil yang menyertainya tampak sangat pendek

dan gelap saat berdampingan dengannya. Satu pria bertubuh gempal, dan satunya lagi

wanita bertubuh ramping, wajah keduanya berkeriput Edward melambaikan tangan ke

arahku sambil tersenyum bangga, dan aku mendengar namaku disebut-sebut,

bercampur dengan kata-kata asing yang diucapkan dalam kecepatan tinggi. Wajahku

sedikit memerah saat pikiranku melayang ke bulu-bulu yang mengotori seantero kamar

putih, yang sebentar lagi akan mereka Lihat. Si pria pendek tersenyum sopan padaku.

Tapi wanita kecil yang kulitnya secokelat kopi sama sekali tidak tersenyum. Ia

menatapku dengan ekspresi shock bercampur khawatir, dan terutama, matanya

membelalak lebar ketakutan. Sebelum aku sempat bereaksi, Edward memberi isyarat

pada mereka untuk mengikutinya ke "kandang ayam" dan mereka pun lenyap.

Waktu muncul lagi, Edward sendirian. Dengan cepat ia berjalan menghampiriku

dan merangkul pundakku.

"Wanita itu kenapa?" aku langsung berbisik, teringat ekspresi paniknya tadi.

Edward mengangkat bahu, tidak merasa terusik. "Kaure berdarah campuran

Indian Ticuna. Dia dibesarkan untuk percaya takhayul atau bisa dibilang lebih peka

daripada mereka yang hidup di dunia modern. Dia curiga padaku, atau kecurigaannya

nyaris mendekati kebenaran." la masih tidak khawatir,"Mereka punya legenda di sini.

Namanya Libisbomen setan peminum darah yang khusus memangsa wanita-wanita

cantik." Ia melirikku dengan pandangan meggoda.

101

Hanya wanita cantik? Well, cukup membuat hati tersanjung.

“kelihatannya dia ketakutan," kataku.

"Memang—tapi sebenarnya dia mengkhawatirkanmu,"

“Aku?"

"Ia takut mengapa aku membawamu ke sini, sendirian." Ia terkekeh masam dan

memandangi dinding yang dipenuhi film. "Oh well, mengapa kau tidak memilih sesuatu

untuk kita tonton? Itu kegiatan yang sangat manusiawi untuk dilakukan."

"Ya, aku yakin menonton film akan bisa meyakinkan Kaure bahwa kau manusia."

Aku tertawa dan memeluk lehernya erat-erat, berdiri sambil berjinjit. Ia membungkuk

agar aku bisa menciumnya, kemudian kedua lengannya merangkulku lebih erat,

mengangkatku dari lantai agar ia tidak perlu membungkuk.

"Movie, schmovie," gumamku sementara bibir Edward menjelajahi leherku, jarijariku

meremas rambutnya yang berwarna perunggu.

Kemudian aku mendengar suara terkesiap, dan Edward langsung menurunkanku.

Kaure berdiri terpaku di luar koridor, rambut hitamnya dipenuhi bulu-bulu, menenteng

kantong penuh berisi bulu, ekspresi horor menghantui wajahnya. Ia menatapku, kedua

matanya melotot, sementara wajahku memerah dan aku menunduk. Sejurus kemudian

ia tersadar dan menggumamkan sesuatu yang bahkan walaupun diucapkan dalam

bahasa asing, jelas merupakan permintaan maaf, Edward tersenyum dan menjawab

dengan nada ramah. Kaure memalingkan wajah dan terus menyusuri lorong.

"Dia pasti mengira seperti yang menurutku dia kira, kan?" gerutuku.

Edward tertawa mendengar kalimatku yang berbelit itu. "Ya."

"Ini" kataku, mengulurkan tangan sembarangan dan menyambar film seadanya di

tanganku. "Nyalakan dan kita bisa pura-pura menonton."

Itu film musikal kuno dengan wajah-wajah penuh senyum dan gaun-gaun lebar di

sampulnya.

"Sangat cocok untuk berbulan madu," Edward setuju.

Sementara para aktor berdansa diiringi lagu pembukaan yang lincah, aku

bersantai di sofa, bersandar dalam pelukan Edward.

"Jadi sekarang kita pindah lagi ke kamar putih?" tanyaku dengan sikap malasmalasan.

102

"Entahlah... aku sudah menghancurkan kepala ranjang di kamar lain tanpa bisa

diperbaiki lagi—mungkin kalau kita membatasi kerusakan hanya pada satu area di

dalam rumah, Esme akan mengizinkan kita datang lagi ke sini suatu saat nanti."

Aku tersenyum lebar. "Jadi, akan ada kerusakan lagi?"

Edward tertawa melihat ekspresiku. "Menurutku akan lebih aman kalau itu

direncanakan lebih dulu, daripada aku menunggumu menyerangku lagi."

"Itu hanya masalah waktu," aku sependapat dengan sikap sambil lalu, tapi

jantungku berpacu keras sekali.

"Ada yang tidak beres dengan jantungmu?"

"Tidak. Jantungku sekuat kuda" Aku terdiam sejenak. "Maukah kau menyurvei

zona kehancuran sekarang?"

"Mungkin akan lebih sopan menunggu sampai hanya kita berdua di rumah. Kau

mungkin tidak sadar bahwa aku menghancurkan perabotan, tapi mereka mungkin akan

sangat ketakutan."

Terus terang saja, aku bahkan sudah lupa ada orang di ruangan lain. "Benar. Sial,"

Gustavo dan Kaure bekerja tanpa suara di seluruh penjuru rumah sementara aku

menunggu mereka selesai dengan sikap tidak sabar, dan berusaha memusatkan

perhatian pada cerita yang berakhir dengan hidup bahagia selama-lamanya di layar

kaca. Aku sudah mulai mengantuk—walaupun, seperti kata Edward tadi, aku tidur

selama setengah hari—waktu suara yang kasar mengagetkanku. Edward terduduk

tegak, sambil letap mendekapku di dadanya, dan menanggapi perkataan Gustavo

dengan bahasa Portugis yang lancar, Gustavo mengangguk dan berjalan tanpa suara

menuju pintu depan.

"Mereka sudah selesai," Edward memberitahuku.

"Berarti kita sudah sendirian sekarang?"

"Bagaimana kalau makan siang dulu?" Edward menyarankan.

Aku menggigit bibir, perasaanku terbagi oleh dilema itu. Aku memang lapar

sekali.

Sambil tersenyum Edward meraih tanganku dan menggandengku ke dapur. Ia

sangat mengenali wajahku, jadi tidak masalah jika ia tidak bisa membaca pikiranku.

"Ini mulai berlebihan," keluhku waktu akhirnya aku merasa kenyang.

103

"Kau mau berenang bersama lumba-lumba siang ini—untuk membakar kalori?"

tanya Edward.

"Mungkin nanti. Aku punya ide lain untuk membakar kalori"

"Apa itu?"

"Well, masib banyak kepala ranjang yang tersisa..."

Tapi aku tidak menyelesaikan kata-kataku. Edward sudah meraupku ke dalam

gendongannya, dan bibirnya membungkam bibirku sementara ia membopong dan

membawaku lari dengan kecepatan tidak manusiawi menuju kamar biru.

104

7. TAK TERDUGA

BARISAN sosok hitam mendekatiku, menembus kabut yang menyelubungi bagai

jubah. Aku bisa melihat mata mereka yang merah tua berkilat penuh gairah, penuh

nafsu membunuh. Bibir mereka tertarik ke belakang, memamerkan gigi mereka yang

tajam dan basah—sebagian menggeram, sebagian tersenyum.

Kudengar bocah di belakangku merintih, tapi aku tak bisa menoleh unruk

menatapnya, Walaupun ingin sekali memastikan ia aman, aku tak boleh mengalihkan

perhatianku sekarang.

Mereka melayang semakin dekat, jubah hitam mereka berkibar-kibar pelan.

Kulihat tangan mereka melengkung membentuk cakar seputih tulang. Mereka beringsut

memperlebar jarak, bersiap menyerbu kami dari segala sisi. Kami dikepung. Kami bakal

mati.

Kemudian, bagai ledakan cahaya senter, seluruh latar itu berbeda. Meskipun

begitu, tidak ada yang berubah—keluarga Volturi masih maju menghampiri kami, siap

membunuh. Yang benar-benar berubah hanya bagaimana gambar itu tampak olehku.

Tiba-tiba aku benar-benar menginginkannya. Aku ingin mereka menyerang. Kepanikan

berubah menjadi nafsu haus darah saat aku merunduk, senyuman tersungging di wajah,

dan geraman terlontar dari sela-sela gigiku yang terpampang.

Aku terduduk, shock karena mimpiku.

Ruangan gelap gulita. Hawa juga sangat panas. Keringat terasa lengket di

pelipisku dan mengalir menuruni leher.

Tanganku menggapai-gapai di seprai yang panas dan mendapati tempat tidur

kosong.

"Edward?"

Jari-jariku menemukan sesuatu yang halus, datar, dan kaku. Selembar kertas,

dilipat. Aku mengambilnya dan berjalan sambil meraba-raba mencari saklar lampu.

Di bagian luar kertas tertulis "Mrs. Cullen".

Aku berharap kau tidak terbangun dan menyadari aku tidak ada, tapi kalaupun

kau terbangun, aku akan segera kembali. Aku hanya pergi sebentar ke daratan untuk

105

berburu. Tidurlah lagi dan aku pasti sudah kembali saat kau bangun lagi nanti, Aku

mencintaimu.

Aku mendesah. Kami sudah dua minggu di sini, jadi seharusnya aku sudah

menduga bahwa suatu saat Edward akan pergi. Tapi masalahnya, aku memang sedang

tidak memikirkan waktu. Kami seperti berada di luar jangkauan waktu di sini, menjalani

hidup yang sempurna.

Aku menyeka keringat dari dahiku. Aku tidak lagi mengantuk, padahal jam di atas

rak baru menunjukkan lewat pukul satu. Aku tahu aku takkan pernah bisa tidur dalam

keadaan segerah dan selengket yang kurasakan sekarang. Belum lagi fakta kalau aku

mematikan lampu dan memejamkan mata, aku yakin bakal melihat sosok-sosok hitam

itu berkeliaran lagi dalam benakku.

Aku berdiri dan dengan malas-malasan menjelajahi seluruh penjuru rumah yang

gelap, menyalakan lampu-lampu. Rumah terasa begitu besar dan kosong tanpa Edward

di sana. Berbeda.

Aku sampai di dapur dan memutuskan mungkin aku membutuhkan makanan

pelipur lara.

Aku mengaduk-aduk isi kulkas sampai menemukan semua bahan untuk membuat

ayam goreng. Bunyi letusan dan desisan ayam goreng di penggorengan terdengar

menyenangkan dan akrab, aku merasa tidak begitu gugup lagi setelah suara itu mengisi

kesunyian.

Bau ayam goreng begitu lezat sampai-sampai aku sudah tak sabar lagi dan

memakannya langsung dari penggorengan. Akibatnya, lidahku terbakar. Namun pada

gigitan kelima atau keenam, ayam gorengnya sudah mulai dingin sehingga aku mulai

bisa merasakannya. Kunyahanku melambat. Apakah ada yang aneh dengan rasanya?

Kuperiksa, dan kulihat dagingnya sudah berwarna putih seluruhnya, tapi aku bertanyatanya

apakah ayam ini benar-benar sudah matang. Kucoba makan gigit lagi; aku

mengunyah dua kali. Ugh—benar-benar tidak enak. Aku melompat dan

memuntahkannya ke bak cuci piring. Tiba-tiba bau ayam bercampur minyak membuatku

mual. Kuambil piring dan kubuang isinya ke tong sampah, Lalu kubuka jendela-jendela

untuk menyingkirkan baunya. Angin sejuk berembus di luar. Terasa nyaman membelai

kulitku.

Aku merasa sangat lelah, tapi tidak ingin kembali ke kamar yang gerah. Maka aku

membuka lebih banyak lagi jendela di ruang TV dan berbaring di sofa persis di

106

bawahnya. Aku menyalakan film sama yang kami tonton kemarin dan langsung tertidur

begitu lagu pembukaannya yang ceria terdengar.

Waktu aku membuka mata lagi, matahari sudah separo beranjak ke langit, tapi

bukan cahaya yang membangunkanku. Lengan dingin merangkulku, mendekapku ke

dadanya. Pada saat bersamaan, rasa sakit tiba-tiba memilin perutku, nyaris seolah-olah

perutku habis ditinju.

"Maaf," bisik Edward sambil mengusapkan tangannya yang sedingin es ke

keningku yang lembap, "Aku tidak berpikir panjang. Tidak terpikir sama sekali olehku

bahwa kau bakal kegerahan kalau aku tidak ada. Aku akan memasang AC sebelum aku

pergi lagi."

Aku tidak bisa berkonsentrasi pada kata-katanya, "Permisi!" sergahku,

memberontak dari pelukannya.

Edward melepaskan pelukannya. "Bella?"

Aku menghambur ke kamar mandi dengan tangan membekap mulut. Tubuhku

benar-benar kacau rasanya sehingga awalnya aku bahkan tidak peduli bahwa Edward

berada di sampingku waktu aku membungkuk di atas kloset dan muntah-muntah.

"Bella? Ada apa?"

Aku belum bisa menjawab. Edward memelukku cemas, menyibakkan rambut dari

wajahku, menunggu sampai aku bisa bernapas lagi.

"Ayam basi sialan," erangku.

"Kau tidak apa-apa?" Suara Edward tegang.

"Baik," jawabku terengah-engah. "Hanya keracunan makanan. Kau tidak perlu

melihat. Pergilah."

"Jangan harap, Bella."

"Pergilah," erangku lagi, bangkit dengan susah payah agar aku bisa berkumur.

Edward dengan lembut membantuku, tak menggubris meskipun aku berusaha

mendorongnya dengan lemah.

Setelah mulutku bersih, ia membopongku ke tempat tidur mendudukkanku

dengan hati-hati, menyanggaku dengan kedua lengannya.

"Keracunan makanan?"

107

"Yeah," jawabku parau. "Aku membuat ayam goreng sendiri. Rasanya aneh, jadi

kumuntahkan. Tapi aku sempat makan beberapa suap."

Edward meraba keningku dengan tangannya yang dingin. Rasanya nyaman.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?"

Aku memikirkannya sejenak. Mualku sudah hilang, sama mendadaknya dengan

kedatangannya tadi, dan aku merasa sesehat biasanya. "Normal-normal saja. Sedikit

lapar sebenarnya"

Edward menyuruhku menunggu satu jam, dan setelah aku berhasil minum

segelas besar air tanpa memuntahkannya, barulah ia menggorengkan beberapa butir

telur untukku. Aku merasa normal-normal saja, hanya sedikit lelah karena terbangun

tengah malam. Edward menyetel CNN—selama ini kami tidak mengetahui

perkembangan dunia luar, jangan-jangan di luar sana telah pecah perang dunia ketiga

tapi kami sama sekali tidak tahu—dan aku duduk terkantuk-kantuk di pangkuannya.

Aku bosan menonton berita dan berbalik untuk menciumnya. Sama seperti tadi

pagi, rasa sakit yang tajam menusuk perutku waktu aku bergerak. Aku menghambur

turun dari pangkuan Edward dengan tangan membekap mulut. Aku tahu kali ini aku

takkan sampai di kamar mandi tepat pada waktunya, maka aku pun berlari ke bak cuci

piring di dapur.

Lagi-lagi Edward memegangi rambutku.

"Mungkin sebaiknya kita kembali ke Rio, periksa ke dokter" Edward mengusulkan

dengan nada cemas waktu aku berkumur sesudahnya.

Aku menggeleng dan beranjak menuju lorong. Dokter berarti suntik. "Aku akan

baik-baik saja setelah menggosok gigi"

Setelah mulutku lebih enak, aku membongkar tas, mencari kotak P3K yang

dikemas Alice untukku, penuh barang-barang kebutuhan manusia seperti plester, obat

penghilang rasa sakit, dan—yang kucari sekarang—Pepto-Bismol. Mungkin aku bisa

mengobati perutku dan menenangkan Edward.

Tapi sebelum menemukan Pepto, aku menemukan benda lain yang dikemas Alice

untukku. Kuambil kotak biru kecil itu dan kupandangi lama sekali, melupakan yang lain.

Lalu aku mulai berhitung dalam hati. Satu kali- Dua kali. Lagi.

Ketukan di pintu mengagetkanku, kotak kecil ini terjatuh kembali ke dalam koper.

"Kau baik-baik saja?" tanya Edward dari balik pintu, "Kau muntah lagi ya?"

108

"Ya dan tidak" jawabku, tapi suaraku terdengar tercekik.

"Bella? Boleh aku masuk sekarang?" Nadanya sekarang khawatir.

"O... ke?"

Edward masuk dan mengamati posisiku, duduk bersila di lantai dekat koper, dan

ekspresiku, yang kosong dan menerawang. Ia duduk di sebelahku, tangannya meraba

keningku sekali lagi.

"Ada apa?"

"Sudah berapa hari kita menikah?" bisikku.

"Tujuh belas" jawab Edward otomatis. "Bella, ada apa?"

Aku menghitung lagi dalam hati. Aku mengacungkan jari padanya, menyuruhnya

menunggu, dan menghitung sendiri tanpa suara. Ternyata aku salah menghitung jumlah

hari. Ternyata kami sudah lebih lama berada di sini. Aku mulai lagi.

"Bella!" bisik Edward kalut,

"Aku sudah mulai gila"

Aku mencoba menelan ludah. Sia-sia. Maka aku pun merogoh ke dalam tas

sampai menemukan kotak biru kecil berisi i.tmpon itu lagi. Kuacungkan kotak itu tanpa

suara.

Edward memandangiku bingung. "Apa? Maksudmu sakitmu sekarang ini karena

sindrom pramenstruasi?"

"Bukan," jawabku dengan suara tercekik, "Bukan, Edward. Maksudku adalah,

menstruasiku terlambat lima hari."

Ekspresi Edward tidak berubah. Seolah-olah aku tidak berbicara sama sekali.

"Kurasa aku bukan keracunan makanan," imbuhku.

Edward tidak merespons. Ia sudah berubah menjadi patung.

"Mimpi-mimpi itu," gumamku pada diri sendiri dengan suara datar. "Tidur terus.

Menangis. Makan banyak sekali. Oh. Oh. Oh."

Tatapan Edward mengeras, seakan-akan ia tidak bisa melihatku lagi.

Refleks, nyaris tidak sengaja, tanganku jatuh ke petut. "Oh!" pekikku lagi.

109

Aku langsung berdiri, melepaskan diri dari pegangan tangan Edward yang

membeku. Aku masih mengenakan celana dan kamisol sutra yang kupakai tidur

kemarin. Kusingkapkan kamisol biru itu dan kupandangi perutku.

"Mustahil," bisikku.

Aku tidak punya pengalaman sama sekali dengan kehamilan atau bayi atau apa

pun yang berkaitan dengan itu, tapi aku bukan idiot. Aku sudah cukup sering menonton

film dan acara televisi untuk mengetahui bahwa orang hamil tidak seperti ini. Haidku

baru terlambat lima hari. Kalau aku memang hamil, tubuhku pasti belum mengenali

fakta itu. Aku belum akan mual-mual di pagi hari. Pola makan dan tidurku juga pasti

belum berubah.

Dan yang terpenting, pasti belum ada gundukan yang, meski kecil tapi terlihat

jelas, mencuat di antara kedua pinggulku.

Aku mengamatinya dari segala sudut, seolah-olah gundukan itu akan hilang

sendiri. Kularikan jari-jariku di gundukan kecil itu, terkejut saat menyadari betapa keras

rasanya gundukan itu di bawah kulitku,

"Mustahil," kataku lagi, karena, ada atau tidak ada gundukan, ada atau tidak ada

menstruasi (dan memang jelas tidak ada menstruasi, walaupun aku belum pernah

terlambat sehari pun seumur hidupku), yang jelas aku tidak mungkin hamil Satu-satunya

yang pernah berhubungan seks denganku hanya vampir, jadi tidak mungkin terjadi

kehamilan.

Vampir yang masih membeku di lantai tanpa ada tanda-tanda ia akan bergerak

lagi.

Kalau begitu pasti ada penjelasan lain. Ada yang tidak beres dengan diriku.

Penyakit Amerika Selatan aneh yang gejala-gejalanya mirip kehamilan, tapi lebih cepat...

Kemudian aku ingat sesuatu, pagi saat aku melakukan riset Internet yang

sepertinya sudah terjadi lama berselang. Duduk di meja tua di kamar di rumah Charlie

dengan cahaya bulan bersinar muram menembus jendela, memandangi komputer tuaku

yang berdengung-dengung, melahap semua keterangan yang tercantum dalam situs

web bernama "Vampir dari A sampai Z". Saat itu, kurang dari 24 jam sebelumnya, Jacob

Black, yang mencoba menghiburku dengan cerita tentang legenda-legenda suku

Quileute yang waktu itu belum ia yakini, memberitahuku bahwa Edward adalah vampir.

Waktu itu dengan cemas aku membaca entri pertama dalam situs itu, yang berisi mitosmitos

tentang vampir di seluruh dunia. Danag bagi orang Filipina, Estrie bagi bangsa

Yahudi, Varacolaci bagi orang Rumania, Stregoni Benefici bagi orang Italia (legenda yang

sebenarnya didasarkan pada pertemuan awal ayah mertuaku dengan keluarga Volturi,

110

walaupun waktu itu aku tidak mengetahuinya)... semakin lama aku semakin tidak

tertarik karena cerita-ceritanya juga semakin tidak masuk akal. Samar-samar aku hanya

ingat potongan beberapa kisah yang kubaca belakangan. Sebagian besar terkesan

seperti alasan yang mengada-ada untuk menjelaskan hal-hal seperti tingkat kematian

bayi dan perselingkuhan. Tidak, Sayang, aku bukannya berselingkuh! Wanita sakti yang

kaulihat menyelinap keluar dari rumah sebenarnya adalah succubus (Succubus: makhlulf

halus berwujud wanita cantik (lawan jenisnya adalah incubus, makhluk halus berwujud

lelaki)). Beruntung aku masih hidup! (Tentu saja, dengan apa yang kuketahui sekarang

tentang Tanya dan saudari-saudarinya, aku curiga sebagian alasan itu bisa jadi benar)

Ada juga yang korbannya para wanita. Teganya kau menuduhku berselingkuh hanya

karena kau pulang dari berlayar selama dua tahun dan aku hamil? Ini gara-gara si

incubus. Ia menghipnotisku dengan ilmu vampir mistiknya...

Tulisan itu merupakan bagian dari definisi incubus—kemampuan membenihkan

anak dengan mangsanya yang tidak berdaya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, pusing. Tapi... Ingatanku melayang pada

Esme, dan terutama Rosalie. Vampir tidak bisa punya anak. Kalau itu mungkin, Rosalie

pasti sudah menemukan caranya sekarang. Mitos incubus itu tidak lebih dari fabel.

Kecuali... well, sebenarnya ada bedanya. Tentu saja Rosalie tidak bisa punya anak,

karena tubuhnya membeku selamanya pada saat ia beralih dari manusia menjadi bukan

manusia. Sama sekali tidak berubah. Padahal tubuh wanita manusia harus berubah saat

mengandung. Perubahan konstan siklus bulanan, itu hal pertama, kemudian dibutuhkan

perubahan lain yang lebih besar untuk mengakomodir pertumbuhan bayi. Sementara

tubuh Rosalie tidak bisa berubah.

Tapi tubuhku bisa. Tubuhku berubah. Kusentuh gundukan di perutku yang

kemarin tidak ada.

Dan manusia lelaki—well, bisa dibilang tubuh mereka tetap sama mulai dari

pubertas hingga meninggal. Aku jadi ingat pada pertanyaan kuis trivia yang entah

kudengar dari mana: Charlie Chaplin sudah berusia tujuh puluhan waktu ia

membenihkan anak bungsunya. Kaum lelaki tidak memiliki batasan kapan mereka bisa

punya anak dan kapan siklus subur mereka.

Tentu saja, bagaimana orang bisa tahu apakah vampir lelaki bisa mempunyai

anak, kalau orangtua mereka tidak bisa? Vampir apa di bumi ini yang memiliki

pengekangan diri yang diperlukan untuk menguji teori itu dengan wanita manusia? Atau

kecenderungan untuk itu?

Aku hanya bisa memikirkan satu nama.

111

Sebagian pikiranku memilah-milah berbagai fakta, ingatan, melalui spekulasi,

sementara setengahnya lagi bagian yang mengontrol kemampuan menggerakkan

bahkan otot-otot terkait terpana hingga tak mampu melakukan fungsi-fungsi normal.

Aku tak mampu menggerakkan bibir untuk berbicara, walaupun aku ingin meminta

Edward agar ia bersedia menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku perlu

kembali ke tempat ia duduk, menyentuhnya, tapi tubuhku menolak mengikuti instruksi.

Aku hanya bisa menatap mataku yang shock di dalam cermin, jari-jariku dengan hatihati

menekan gundukan kecil di tubuhku.

Kemudian, seperti mimpi buruk yang begitu jelas semalam, adegan itu tiba-tiba

berubah. Semua yang kulihat di dalam cermin tampak benar-benar berbeda, walaupun

sebenarnya tidak ada yang berbeda,

Yang membuat segalanya berubah adalah ada sesuatu yang kecil dan pelan

menonjok tanganku—dari dalam tubuhku.

Detik itu juga telepon Edward berdering, nyaring dan mendesak. Kami samasama

bergeming. Telepon berdering berkali-kali. Aku berusaha mengenyahkan suara itu

dari pikiranku sementara menekankan jari-jariku ke perut, menunggu. Di cermin

ekspresiku tak lagi keheranan tapi penasaran. Aku nyaris tidak menyadari ketika air

mata yang asing dan tanpa suara mulai mengalir membasahi pipiku.

Telepon terus berdering. Aku berharap Edward mengangkatnya ini momen besar

bagiku. Mungkin yaug terbesar sepanjang hidupku.

Kriing! Kriing! Kriing!

Akhirnya, kejengkelanku memuncak. Aku berlutut di samping Edward aku

mendapati diriku bergerak lebih hati-hati, seribu kali lebih menyadari setiap gerakan

dan menepuk nepuk semua kantongnya sampai menemukan ponsel. Aku separo

berharap ia akan mencair dan menjawabnya sendiri, tapi Edward diam tak bergerak.

Aku mengenali nomornya, dan bisa dengan mudah menebak mengapa ia

menelepon.

"Hai, Alice," sapaku. Suaraku tidak lebih baik daripada sebelumnya. Aku

berdeham-deham.

"Bella? Bella, kau baik-baik saja?"

"Yeah, Eh. Ada Carlisle tidak?"

"Ada. Memangnya ada apa?"

"Aku belum... seratus persen... yakin..."

112

“Apakah Edward baik-baik saja?" tanya Alice waswas. Ia menjauhkan corong

telepon, berseru memanggil Carlisle, kemudian menuntut penjelasan,"Mengapa dia

tidak mau mengangkat telepon?" sebelum aku bisa menjawab pertanyaan pertamanya.

"Entahlah."

"Bella, apa yang terjadi? Barusan aku melihat..."

"Apa yang kaulihat?"

Alice tidak menjawab. "Ini Carlisle," akhirnya ia berkata.

Rasanya seolah-olah ada air dingin disuntikkan ke pembuluh darahku. Kalau

dalam visinya Alice melihatku bersama anak bermata hijau dan berwajah malaikat

dalam pelukanku, ia pasti akan menjawab pertanyaanku tadi, bukan?

Sementara menunggu sepersekian detik sebelum Carlisle berbicara, visi yang

dalam bayanganku dilihat Alice menari-nari di pelupuk mataku. Seorang bayi mungil

rupawan, bahkan lebih rupawan daripada bocah dalam mimpiku—Edward kecil dalam

pelukanku. Perasaan hangat menjalari segenap nadiku, mengusir perasaan dingin tadi.

"Bella, ini Carlisle. Ada apa?"

"Aku..." aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Apakah Carlisle akan

menertawakan kesimpulanku, mengataiku sinting. Atau apakah aku sedang bermimpi?

"Aku agak khawatir memikirkan Edward... Bisakah vampir mengalami shock?”

“Apakah dia mengalami cedera?" Suara Carlisle tiba-tiba lirih.

" Tidak, tidak," aku meyakinkan dia. "Hanya... terkejut."

"Aku tidak mengerti. Bella."

"Kupikir... well, kupikir.., mungkin... bisa jadi aku..” Aku menarik napas dalamdalam.

"Hamil."

Seakan hendak mendukung kebenaran kata-kataku, terasa sundulan kecil di

perutku. Tanganku langsung melayang ke perut.

Setelah terdiam cukup lama, ilmu kedokteran Carlisle langsung beraksi.

"Kapan hari pertama menstruasi terakhirmu?"

"Enam belas hari sebelum menikah." Aku sudah menghitung dalam hati dengan

cukup saksama sehingga bisa memberi jawaban pasti.

"Bagaimana perasaanmu?"

113

"Aneh" kataku dan suaraku pecah. Air mata kembali mengalir menuruni pipiku.

"Kedengarannya memang sinting dengar, aku tahu ini masih terlalu dini. Mungkin aku

memang sinting. Tapi aku mengalami mimpi aneh, makan terus, menangis, dan muntah,

dan.. dan... aku berani bersumpah ada sesuatu bergerak di dalam perutku barusan"

Kepala Edward tersentak.

Aku mengembuskan napas lega.

Edward mengulurkan tangan, meminta telepon, wajahnya putih dan keras.

"Eh, sepertinya Edward ingin bicara denganmu."

"Baiklah," kata Carlisle, suaranya tegang.

Tidak sepenuhnya yakin apakah Edward bisa bicara, aku meletakkan ponsel ke

tangannya yang terulur.

Edward menempelkan ponsel ke telinganya. "Apakah itu mungkin?" bisiknya.

Ia mendengarkan lama sekali, matanya menerawang.

"Dan Bella?" tanya Edward. Lengannya memelukku sementara ia berbicara,

mendekapku erat-erat.

Ia mendengarkan lama sekali, kemudian berkata, "Ya. Ya, akan kulakukan."

Ia menurunkan ponsel dari telinganya dan menekan tombol "End". Setelah itu ia

langsung menghubungi nomor lain.

"Apa kata Carlisle?" tanyaku tidak sabar,

Edward menjawab dengan nada datar. "Menurut dia, kau hamil."

Kata-kata itu membuat sekujur tubuhku hangat. Si penyundul kecil bergetar di

perutku.

"Kau menelepon siapa sekarang?" tanyaku begitu melihat Edward menempelkan

ponselnya lagi ke telinga.

"Bandara. Kita pulang."

Edward menelepon selama lebih dari satu jam tanpa henti. Kupikir ia pasti

berusaha mencari pesawat pulang untuk kami, tapi aku tidak yakin karena ia tidak

berbicara dalam bahasa Inggris. Kedengarannya ia berdebat, sering kali ia berbicara

sambil mengertakkan gigi.

114

Sambil terus berdebat ia mengemasi barang-barang. Secepat kilat ia mondarmandir

ke seluruh penjuru rumah seperti tornado mengamuk, hanya bedanya, ia justru

membuat ruangan jadi bersih, bukan malah porak poranda. Ia melempar satu setel

bajuku ke tempat tidur tanpa melihat lagi, jadi aku berasumsi sekarang waktunya aku

berganti baju. Ia melanjutkan argumennya sementara aku berpakaian, menggerakgerakkan

tangan dengan gemas dan gelisah.

Ketika aku tak sanggup lagi menahankan energi kemarahan yang terpancar dari

dalam dirinya, diam-diam aku meninggalkan kamar. Konsentrasi Edward yang

berlebihan membuat perutku mual tidak seperti mual di pagi hari, hanya merasa tidak

nyaman. Aku akan menunggu saja di suatu tempat sampai suasana hatinya kembali

tenang. Aku tidak bisa berbicara dengan Edward yang dingin dan terfokus ini, yang

sejujurnya membuatku sedikit takut.

Sekali lagi aku berakhir di dapur. Aku melihat sebungkus pretzel di lemari dapur.

Aku mulai mengunyah-ngunyah pretzel itu tanpa berpikir, memandangi pasir, bebatuan,

pepohonan, samudera di luar jendela, segala sesuatu tampak berkilauan tertimpa

cahaya matahari.

Seseorang menyundulku.

“Aku tahu," ujarku. "Aku juga tak ingin pergi."

Aku memandang ke luar jendela beberapa saat, tapi si penyundul tidak

merespons.

"Aku tidak mengerti," bisikku. "Apa yang salah di sini?"

Mengejutkan, jelas. Mencengangkan. Tapi apakah salah?

Tidak.

Lantas, mengapa Edward begitu marah? Padahal justru dia yang berharap kami

menikah karena "kecelakaan”. Aku berusaha mencernanya.

Mungkin tidak terlalu membingungkan bila Edward menginginkan kami pulang

secepatnya. Ia pasti ingin Carlisle memeriksaku, memastikan asumsiku benar, walaupun

jelas saat ini aku sama sekali tidak ragu. Mungkin mereka ingin mencari tahu mengapa

aku sudah sangat hamil, dengan perut sedikit menonjol, sundulan, dan segala macam.

Itu tidak normal.

Begitu itu terpikir olehku, aku yakin perkiraanku benar. Edward pasti sangat

khawatir memikirkan bayi ini. Aku malah belum sempat merasa panik Otakku bekerja

lebih lambat daripada otaknya, otakku masih terpaku pada gambaran sebelumnya:

115

bocah kecil yang matanya mirip mata Edward hijau, seperti matanya waktu ia masih

menjadi manusia putih dan rupawan, tergolek dalam pelukanku. Aku berharap

wajahnya mirip Edward, sama sekali tanpa jejak diriku.

Lucu juga bagaimana visi ini mendadak jadi begitu penting. Dari sentuhan kecil

pertama tadi, seluruh dunia berubah. Kalau dulu hanya ada satu hal yang membuatku

tidak bisa hidup tanpanya, sekarang ada dua. Tidak ada pembagian cintaku tidak terbagi

di antara mereka sekarang, bukan seperti itu. Lebih tepat bila dikatakan hatiku

bertumbuh, menggelembung jadi dua kali ukuran awalnya. Semua ruangan ekstra itu

sudah terisi. Peningkatannya nyaris memusingkan.

Aku tak pernah benar-benar bisa memahami kesedihan dan kebencian Rosalie

sebelumnya. Aku tidak pernah membayangkan diriku sebagai ibu, tidak pernah

menginginkannya. Mudah saja bagiku berjanji kepada Edward bahwa aku tidak peduli

mengorbankan kemampuan memiliki anak demi dia, karena aku memang benar-benar

tak peduli. Anak-anak, dalam wujud abstrak, tak pernah menarik hatiku. Bagiku mereka

hanya makhluk berisik, sering kali meneteskan semacam cairan menjijikkan. Aku tidak

pernah menyukai mereka. Kalau aku membayangkan Renée memberiku saudara, aku

selalu membayangkan seorang saudara yang lebih tua. Seseorang yang menjagaku,

bukan sebaliknya.

Anak ini, anak Edward, sangat berbeda.

Aku menginginkannya seperti aku menginginkan udara untuk bernapas. Bukan

pilihan melainkan kebutuhan.

Mungkin sebenarnya imajinasiku memang sangat buruk. Mungkin itulah

sebabnya aku tak mampu membayangkan bahwa aku sudah menikah sampai tidak

membayangkan bahwa aku menginginkan seorang bayi, tapi bayi itu hadir... aku

meletakkan tangan di perutku, menunggu sundulan berikut, air mata kembali

membasahi pipiku.

“Bella?”

Aku menoleh, cemas mendengar nada suara Edward. Terlilit dingin, terlalu hatihati.

Wajahnya persis sama dengan kulitnya, kosong dan kaku.

Kemudian dilihatnya aku menangis,

"Bella!" Secepat kilat ia melintasi ruangan dan merengkuh wajahku dengan

tangannya. "Kau kesakitan?"

" Tidak, tidak..."

116

Ia mendekapku ke dadanya. "Jangan takut. Enam belas jam lagi kita sampai di

rumah. Kau akan baik-baik saja. Carlisle sudah siap begitu kita sampai di sana. Kita akan

membereskannya, dan kau akan baik-baik saja, kau akan baik-baik saja.”

"Membereskannya? Apa maksudmu?"

Edward menjauhkan tubuhnya dan menatap mataku lekat-lekat. "Kira akan

mengeluarkan makhluk itu sebelum dia melukai organ tubuhmu. Jangan takut. Aku tidak

akan membiarkannya menyakitimu."

"Makhluk itu?" aku terkesiap.

Edward berpaling dengan tatapan tajam, berjalan menuju pintu depan.

"Brengsek! Aku lupa Gustavo dijadwalkan datang hari ini. Akan kusuruh dia pergi,

sebentar lagi aku kembali." Ia melesat ke luar ruangan.

Tanganku mencengkeram konter, menyangga tubuh! Lututku lemas.

Edward tadi menyebut penyundul kecilku sebagai makhluk Ia mengatakan

Carlisle akan mengeluarkannya.

"Tidak," bisikku.

Ternyata dugaanku keliru. Edward sama sekali tidak peduli pada bayi ini. Ia ingin

menyakitinya.. Bayangan indah dalam benakku tiba-tiba berubah, berubah jadi sesuatu

yang gelap. Bayiku yang rupawan menangis, lenganku yang lemah tak cukup kuat untuk

melindunginya...

Apa yang bisa kulakukan? Bisakah aku meminta pengertian mereka? Bagaimana

kalau tidak bisa? Apakah ini menjelaskan sikap aneh Alice yang diam saja waktu kutanya

di telepon tadi? Itukah yang dia lihat? Edward dan Carlisle membunuh bocah pucat

sempurna ini sebelum ia bisa hidup?

"Tidak," bisikku lagi, suaraku lebih kuat. Itu tidak boleh terjadi. Aku takkan

mengizinkannya.

Aku mendengar Edward berbicara lagi dalam bahasa Portugis. Berdebat lagi.

Suaranya semakin dekat, dan kudengar ia menggeram putus asa. Kemudian aku

mendengar suara lain, rendah dan malu-malu. Suara wanita.

Edward memasuki dapur, mendahului wanita itu, dan langsung mendatangiku. Ia

menyeka air mata dari pipiku dan berbisik di telingaku dengan bibir terkatup rapat dan

membentuk garis tipis yang keras.

117

"Dia bersikeras ingin meninggalkan makanan yang dibawanya dia memasakkan

makan malam untuk kita." Seandainya ia tidak setegang dan sekalut itu, aku tahu

Edward pasti akan memutar bola matanya. "Itu hanya alas an dia ingin memastikan aku

belum membunuhmu." Suaranya berubah sedingin es di bagian akhir.

Kaure beringsut-ingsut gugup di pojok dapur, tangannya memegang wadah

bertutup. Seandainya saja aku bisa berbicara Portugis, atau kemampuan bahasa

Spanyol-ku tidak terlalu minim, aku bisa mencoba mengucapkan terima kasih kepada

wanita ini, yang berani membuat marah vampir hanya demi mengecek keberadaanku.

Mata Kaure berkelebat, menatap kami bergantian. Kulihat

Ia mengamati warna wajahku, dan mataku yang basah. Mengumumkan sesuatu

yang tidak kumengerti, ia meletakkan wadah itu di konter.

Edward mengatakan sesuatu padanya dengan nada membentak, belum pernah

aku mendengarnya bersikap sangat tidak sopan. Wanita itu berbalik untuk pergi, dan

gerakan berputar cepat dari roknya yang panjang menghamburkan aroma makanan ke

wajahku. Baunya kuat bawang dan ikan. Aku tersedak dan secepat kilat menghambur ke

bak cuci piring, Aku merasakan tangan Edward memegangi keningku dan mendengarnya

menenangkanku dengan suara lembut di sela-sela suara gemuruh di dalam telingaku.

Tangannya menghilang sejenak, dan aku mendengar suara pintu kulkas dibanting.

Syukurlah, bau itu lenyap bersama suara itu dan tangan Edward kembali menyejukkan

wajahku yang berkeringat. Semua berakhir dengan cepat.

Aku berkumur membersihkan mulutku dengan air keran sementara Edward

membelai-belai bagian samping wajahku.

Terasa sundulan kecil di rahimku.

Semua beres. Kita baik-baik saja, batinku pada tonjolan di perutku.

Edward membalikkanku, menarikku ke dalam pelukannya. Aku meletakkan

kepalaku di dadanya. Kedua tanganku, secara naluriah, terlipat di atas perut.

Aku mendengar suara terkesiap kecil dan mendongak.

Wanita itu masih di sana, ragu-ragu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan

separo terulur, seolah-olah menawarkan diri untuk membantu. Matanya terpaku ke

tanganku membelalak shock. Mulutnya menganga.

Kemudian Edward ikut terkesiap. Ia tiba-tiba berpaling menghadapi wanita itu,

mendorongku sedikit ke balik tubuhnya. Lengannya melingkari tubuhku, seperti

menahanku belakang.

118

Tiba-tiba Kaure meneriaki Edward suaranya keras dan bernada marah, katakatanya

yang tak bisa kumengerti berhamburan ke seluruh ruangan bagaikan pisau. Ia

mengangkat tinjunya yang kecil tinggi-tinggi di udara dan maju dua langkah,

mengacung-acungkannya pada Edward. Meski garang kentara sekali matanya

memancarkan kengerian.

Edward maju menghampirinya, dan aku mencengkengkram lengannya, takut ia

akan menyakiti wanita itu. Tapi waktu ia menyela amukan wanita itu, suaranya

membuatku terkejut apalagi mengingat betapa tajam nada Edward tadi saat Kaure tidak

berteriak-teriak memarahinya. Suaranya sekarang pelan nadanya memohon. Bukan

hanya itu, tapi suaranya berbeda lebih rendah, tanpa irama. Sepertinya ia tidak lagi

berbicara dalam bahasa Portugis.

Sesaat wanita itu memandanginya keheranan, kemudian matanya menyipit saat

ia memberondong Edward dengan sederet pertanyaan panjang dalam bahasa asing

yang sama.

Kulihat wajah Edward berubah sedih dan serius, dan ia mengangguk satu kali.

Wanita itu mundur selangkah dengan cepat dan membuat tanda salib.

Edward mengulurkan tangan pada wanita itu, melambai ke arahku, kemudian

meletakkan tangannya di pipiku. Wanita itu menyahut lagi dengan nada marah,

menggerak-gerakkan memperingati dengan sikap menuduh pada Edward, lalu

mengibaskan tangan ke arahnya. Setelah ia selesai, Edward kembali memohon dengan

suara rendah bernada mendesak yang sama.

Ekspresi wanita itu berubah ia menatap Edward dengan akspresi yang jelas-jelas

ragu, matanya berulang kali melirik wajahku yang bingung. Edward berhenti berbicara,

dan wanita itu sepertinya mempertimbangkan sesuatu. Ia menatap kami bergantian,

kemudian, seolah tanpa sadar, ia melangkah maju.

Ia membuat gerakan dengan kedua tangannya, membuat bentuk seperti balon

membuncit di perutnya. Aku kaget apakah legenda-legendanya tentang makhluk

peminum darah juga termasuk hal ini? Mungkinkah ia tahu apa yang tumbuh dalam

perutku?

Wanita itu maju beberapa langkah, kali ini mantap, dan mengajukan beberapa

pertanyaan singkat, yang dijawab Edward dengan tegang. Kemudian giliran Edward yang

bertanya satu pertanyaan singkat. Wanita itu ragu-ragu, kemudian perlahan-lahan

menggeleng. Waktu Edward bicara lagi, suaranya begitu tersiksa sampai-sampai aku

mendongak dan menatapnya dengan shock. Wajahnya tampak sangat sedih.

119

Sebagai jawaban, wanita itu maju pelan-pelan sampai ia berada cukup dekat

untuk meletakkan tangannya yang kecil di atasku, di atas perutku. Ia mengucapkan satu

kata dalam bahasa Portugis.

"Morte" desahnya pelan. Kemudian ia berbalik, bahunya terkulai seolah-olah

pembicaraan tadi membuatnya letih, lalu meninggalkan ruangan.

Aku tahu arti kata itu dalam bahasa Spanyol.

Edward kembali membeku, memandangi kepergian wanita itu dengan ekspresi

tersiksa di wajahnya. Beberapa saat kemudian, aku mendengar mesin kapal meraung

hidup, lalu menhilang di kejauhan.

Edward tidak bergerak sampai aku beranjak ke kamar mandi. Kemudian

tangannya memegangi bahuku.

"Kau mau ke mana?" Suara Edward berupa bisikan sedih.

"Mau menggosok gigi lagi."

"Jangan khawatirkan kata-katanya tadi. Itu. semua hanya legenda, dusta lama

yang dimaksudkan untuk menghibur."

"Aku tidak mengerti apa-apa," sergahku, walaupun tidak sepenuhnya benar.

Seolah-olah aku bisa menepiskan sesuatu hanya karena itu legenda saja. Hidupku

dikelilingi legenda. Dan semuanya nyata.

"Aku sudah memasukkan sikat gigimu ke tas. Aku akan mengambilkannya

untukmu."

Ia berjalan mendahuluiku ke kamar.

"Kita akan pulang sebentar lagi?" aku berseru padanya.

"Segera setelah kau selesai."

Ia menunggu untuk menyimpan kembali sikat gigiku, berjalan mondar-mandir

tanpa suara di dalam kamar. Kuserahkan sikat gigi itu padanya setelah selesai.

"Akan kumasukkan tas-tas ke dalam kapal."

"Edward..."

Ia berbalik. "Ya?"

Aku sangsi, berusaha mencari cara untuk bisa sendirian beberapa saat. "Bisakah

kau... mengemas sedikit makanan? Kau tahu, untuk jaga-jaga, siapa tahu aku lapar lagi."

120

"Tentu saja," jawab Edward, matanya tiba-tiba melembut. "Jangan khawatirkan

apa pun. Beberapa jam lagi kita akan bertemu Carlisle. Sebentar lagi semua akan

berakhir."

Aku mengangguk, tak mampu bicara.

Ia berbalik dan meninggalkan ruangan, masing-masing tangannya menjinjing satu

koper besar.

Secepat kilat aku berbalik dan menyambar ponsel yang ia tinggalkan di konter.

Tidak biasanya ia pelupa begini—lupa Gustavo akan datang, lupa meninggalkan

ponselnya tergeletak di sini. Edward begitu tertekan sampai nyaris bukan dirinya sendiri.

Aku membuka ponsel dan mencari di antara nomor-nomor yang sudah

diprogramkan di dalamnya, takut Edward memergokiku. Sudahkah ia berada di kapal

sekarang? Atau sudah kembali? Apakah ia bisa mendengarku dari dapur kalau aku

berbisik?

Aku menemukan nomor yang kuinginkan, nomor yang tidak pernah kuhubungi

sebelumnya seumur hidupku. Kutekan tombol "Send" dan menyilangkan jari-jariku.

"Halo?" suara yang berdenting bagaikan lonceng angin itu menjawab.

"Rosalie?" bisikku. "Ini Bella. Please. Kau harus menolongku.

121

BUKU DUA

Jacob

122

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

8. MENUNGGU PERTENGKARAN SIALAN ITU DIMULAI

9. SUNGGUH TAK KUDUGA SAMA SEKALI

10. MENGAPA AKU TIDAK LANGSUNG HENGKANG SAJA? OH YA. BENAR AKU IDIOT

11. DUA HAL YANG PALING TIDAK INGIN KULAKUKAN

12. SEBAGIAN ORANG MEMANG TIDAK BISA MENGERTI KONSEP "TIDAK DITERIMA"

13. UNTUNG AKU TIDAK MUDAH JIJIK

14. KAU TAHU KEADAAN MULAI GAWAT WAKTU KAU MERASA BERSALAH BERSIKAP

KURANG AJAR PADA VAMPIR

15. TIK TOK TIK TOK TIK TOK

16. TIDAK MAU TERLALU BANYAK TAHU

17. MEMANGNYA KELIHATANNYA AKU INI SIAPA? WIZARD OF OZ? KAU BUTUH OTAK? KAU

BUTUH HATI? SILAKAN SAJA. AMBIL HATIKU. AMBIL SEGALANYA YANG KU PUNYA.

18. TAK ADA KATA YANG SANGGUP MELUKISKANNYA

123

namun, sejujurnya, akal sehat dan cinta nyaris tak berjalan seiring sekarang ini.

William Shakespeare A Midsummer Night's Dream Act III, Scene i

124

PENDAHULUAN

Hidup menyebalkan, lalu kau mati. Yeah, seandainya aku seberuntung itu.

125

8. MENUNGGU PERTENGKARAN SIALAN ITU DIMULAI

“ASTAGA, Paul, memangnya kau tidak punya rumah sendiri, ya?”

Paul yang duduk santai menempati seluruh sofaku, menonton pertandingan

bisbol di TV tuaku, nyengir padaku, kemudian dengan gerakan sangat pelanmengangkat

sekeping keripik Doritos dari bungkusan di pangkuannya dan nienjejalkannya ke mulut.

"Mudah-mudahan itu keripik yang kaubawa sendiri dari rumah."

Kriuuk. "Nggak" jawabnya sambil mengunyah. "Kakakmu bilang silakan, aku boleh

ambil apa saja yang kuinginkan."

Aku berusaha membuat suaraku terdengar seolah-olah aku tidak ingin

meninjunya. "Jadi Rachel ada di sini sekarang?"

Tidak berhasil. Ia mengendus maksudku dan menyurukkan bungkusan itu ke balik

punggung. Bungkusan itu berderak waktu ia menghantamkannya ke bantal sofa.

Keripiknya remuk. Kedua tangan Paul terangkat membentuk tinju, dekat ke wajahnya

seperti petinju.

"Sikat saja, Nak. Aku tidak butuh Rachel untuk melindungiku."

Aku mendengus. "Ya, yang benar saja. Kayak kau tidak bakal mengadu padanya

saja di kesempatan pertama."

Paul tertawa dan duduk rileks, menurunkan kedua tangannya. "Aku tidak akan

mengadu pada cewek. Kalau kau beruntung bisa memukulku, itu antara kita saja. Begitu

juga sebaliknya, benar?"

Baik juga dia memberiku "undangan". Kuenyakkan tubuhku di sofa seolah-olah

sudah menyerah. "Baiklah."

Mata Paul melirik TV.

Aku menerjang.

Hidungnya remuk dengan suara berderak yang sangat memuaskan waktu tinjuku

menghantamnya. Ia berusaha menyambar tubuhku, tapi dengan sigap aku berkelit

sebelum ia bisa meraihnya, memegang bungkusan keripik Doritos yang sudah hancur

dengan tangan kiriku.

126

"Kau mematahkan hidungku, tolol."

"Antara kita saja, benar kan, Paul?"

Aku pergi untuk menyimpan keripikku. Waktu aku kembali, Paul sudah

membetulkan bentuk hidungnya sebelum tulangnya sempat pulih dalam keadaan

bengkok. Darah sudah berhenti mengalir; hanya menetes di bibir dan dagu. Paul

memaki, meringis waktu menarik tulang rawannya.

"Kau ini benar-benar menyebalkan, Jacob. Sumpah, aku Iebih suka nongkrong

dengan Leah."

"Aduh. Wow, berani taruhan, Leah pasti senang sekali mendengar kau suka

menghabiskan waktu bersamanya. Itu akan menghangatkan hatinya."

"Lupakan saja aku pernah bilang begitu."

"Tentu saja. Aku yakin aku tidak bakal keceplosan."

"Ugh" gerutu Paul, kemudian kembali bersandar di sofa, menyeka sisa darah

dengan kerah T-shirt-nya. "Cepat juga kau, Nak. Itu harus kuakui." Ia mengalihkan

perhatian kembali ke pertandingan.

Aku berdiri selama satu detik, lalu menghambur ke kamar, mengomel panjangpendek

tentang penculikan orang oleh makhluk angkasa luar.

Dulu Paul siap berkelahi kapan saja. Tidak perlu harus memukulnya dulu—diejek

saja ia pasti sudah mengamuk, gampang saja memicu amarahnya. Sekarang, tentu saja,

di saat aku benar-benar ingin mencari gara-gara dan bergulat lubis-habisan, ia malah

bersikap lunak.

Apakah belum cukup menyebalkan, lagi-lagi ada anggota kawanan yang terkena

imprint karena, yang benar saja, itu berarti sekarang semuanya berjumlah empat dari

sepuluh orang! Kapan ini bakal berhenti? Mitos tolol kan seharusnya jarang terjadi, demi

Tuhan! Masalah cinta pada pandangan pertama wajib ini benar-benar memuakkan!

Apakah harus dengan kakakku? Apakah harus dengan Paul?

Ketika Rachel pulang dari Washington State pada akhir semester musim

panaslulus lebih cepat, dasar kutu buku kekhawatiran terbesarku adalah bahwa akan

sulit menyimpan rahasia dengan adanya dia di rumah. Aku tidak suka harus

merahasiakan sesuatu di rumahku sendiri. Itu membuatku kasihan pada anak-anak

seperti Embry dan Collin, yang orang tuanya tidak tahu mereka werewolf Ibu Embry

mengira ia sedang dalam tahap usia di mana ia suka memberontak. Akibatnya Embry

selalu dihukum karena bolak-balik menyelinap ke luar, tapi, tentu saja, tak banyak yang

127

bisa dilakukan Embry mengenainya. Ibunya memeriksa kamarnya setiap malam, dan

setiap malam pula kamarnya kosong. Lantas ibunya memarahinya dan Embry diam saja

dimarahi, tapi kemudian melakukan hal yang sama lagi keesokan harinya. Kami sudah

berusaha meminta Sam untuk memberi kelonggaran pada Embry dan membiarkan

ibunya mengetahui rahasia ini, tapi menurut Embry itu sama sekali bukan masalah.

Rahasia ini terlalu penting.

Maka aku pun siap menjaga rahasia itu. Tapi kemudian dua hari setelah Rachel

sampai di rumah, Paul bertemu dengannya di pantai. Dan simsalabim—cinta sejati! Tak

perlu ada rahasia bila kau menemukan belahan jiwamu, dan segala omong kosong

tentang imprinting werewolf konyol itu.

Rachel tahu semuanya. Dan suatu hari nanti, Paul akan menjadi kakak iparku. Aku

tahu Billy juga tidak terlalu senang mengenainya. Tapi ia lebih bisa menerimanya

daripada aku. Jelas, belakangan ini kan ia lebih sering kabur ke rumah keluarga

Clearwater. Padahal itu kan tidak lebih baik. Tidak ada Paul, tapi ada Leah.

Aku jadi penasaran apakah kalau pelipisku ditembus peluru, aku bisa benar-benar

mati atau itu hanya akan meninggalkan sesuatu yang harus kubereskan?

Aku melempar tubuhku ke tempat tidur. Aku lelah belum tidur sama sekali sejak

patroli terakhirku tapi aku tahu aku tidak bakal bisa tidur. Isi kepalaku terlalu ruwet.

Berbagai pikiran berkecamuk di benakku, seperti segerombolan lebah. Berisik, Sesekali

mereka menyengat. Pasti hornet, bukan lebah. Lebah kan mati sehabis menyengat.

Padahal pikiran yang sama menyengatku berulang kali.

Penantian ini membuatku sinting. Sudah hampir empat minggu berlalu. Aku

memperkirakan, di satu sisi kabar itu seharusnya sudah datang sekarang. Bermalammalam

aku tidak tidur, membayangkan bagaimana bentuk kabar itu. Charlie menangis

tersedu-sedu di telepon. Bella dan suaminya hilang dalam kecelakaan. Pesawat jatuh?

Sulit untuk berpura-pura hilang dalam kecelakaan pesawat. Kecuali lintah-lintah itu tidak

keberatan membunuh segerombolan orang untuk memberi kesan autentik, dan

mengapa pula mereka mesti keberatan? Mungkin mereka akan mengorbankan sebuah

pesawat kecil saja. Mungkin mereka punya pesawat sendiri dan bisa mengorbankan

salah satu untuk keperluannya.

Atau mungkin si pembunuh akan pulang sendiri, gagal menjadikan Bella salah

satu dari mereka? Atau malah mungkin belum sempat sampai ke sana. Mungkin Edward

meremukkan Bella seperti ia meremukkan keripik kentang tadi? karena nyawa Bella tak

lebih penting bagi Edward ketimbang kenikmatannya sendiri...

128

Ceritanya akan sangat tragis Bella hilang dalam kecelakaan mengerikan. Korban

penculikan yang salah sasaran, tersedak makanan dan meninggal. Kecelakaan mobil,

seperti ibuku. Begitu jamak. Terjadi setiap saat.

Apakah Edward akan membawa jenazah Bella pulang? Menguburnya di sini demi

Charlie? Peti matinya tertutup rapat, tentu saja. Peti mati ibuku bahkan dipaku rapat,.-

Aku hanya bisa berharap Edward akan membawa Bella kembali ke sini, dalam

jangkauanku.

Mungkin tidak akan ada cerita apa-apa. Mungkin Charlie akan menelepon ayahku

kalau ia sudah mendapat kabar apa saja dari Dr. Cullen, yang tahu-tahu saja tidak

muncul di tempat kerjanya suatu hari nanti. Rumahnya ditinggal begitu saja. Tak satu

pun keluarga Cullen bisa dihubungi. Misteri itu tercium oleh salah satu tayangan berita

kelas dua, yang menayangkannya dengan kecurigaan adanya permainan kotor,..

Mungkin rumah putih besar itu akan terbakar habis, seluruh anggota keluarga

terjebak di dalamnya. Tentu saja, mereki memerlukan beberapa mayat kalau ceritanya

seperti itu. Delapan manusia yang ukuran badannya kira-kira sama. Gosong hingga tidak

bisa dikenali lagi bahkan sudah tidak bisa di identifikasi lagi melalui rekam gigi.

Yang mana pun itu, semuanya bakal sulit bagiku, maksudnya. Sulit mencari

mereka kalau mereka tidak ingin ditemukan. Tentu saja, aku punya waktu selamanya

untuk mencari. Kalau kau memiliki waktu tidak terbatas, kau bisa memeriksa setiap

lembar jerami dalam tumpukan, satu demi satu, untuk mencari jarumnya.

Sekarang ini, aku tidak keberatan menyisir setumpuk jerami satu demi satu.

Setidaknya dengan begitu ada sesuatu yang bisa dilakukan. Aku tidak senang mengakui

aku bisa kehilangan kesempatan. Memberi para pengisap darah itu waktu untuk

meloloskan diri, kalau memang itu rencana mereka.

Kami bisa pergi malam ini. Kami bisa membunuh siapa saja yang bisa kami

temukan.

Aku menyukai rencana itu karena aku cukup mengenal Edward untuk tahu

bahwa, kalau aku membunuh salah satu anggota kelompoknya, aku akan mendapat

kesempatan berhadapan dengannya. Ia pasti datang untuk membalas dendam. Dan aku

akan meladeninya takkan kubiarkan saudara saudaraku menghadapinya bersama-sama.

Ini urusanku dengannya. Yang lebih kuatlah yang akan menang.

Tapi Sam sama sekali tidak mau mendengarku. Kita tidak akan melanggar

kesepakatan. Biar saja mereka yang melanggar lebih dulu. Hanya karena kami tidak

punya bukti keluarga Cullen telah melakukan pelanggaran. Belum. Kau harus

menambahkan kata belum, karena kami tahu itu tidak bisa dihindari. Bella akan kembali

129

sebagai salah seorang dari mereka, atau tidak kembali sama sekali. Yang mana pun itu,

hidup seorang manusia sudah hilang. Dan itu berarti pertandingan lusa segera dimulai.

Di ruangan sebelah Paul terkekeh seperti keledai. Mungkin ia sudah mengganti

saluran ke acara komedi. Mungkin iklannya lucu. Masa bodoh. Suara tawa itu mengirisiris

sarafku.

Terpikir olehku untuk meremukkan hidungnya lagi. Tapi bukan Paul yang ingin

kuhajar. Tidak terlalu.

Aku berusaha mendengarkan suara-suara lain, angin bertiup di pepohonan.

Rasanya tidak sama, tidak dengan telinga manusia. Ada jutaan suara dalam angin yang

tidak bisa kudengar dengan tubuh ini.

Tapi telinga-telinga ini cukup sensitif. Aku bisa mendengar jauh melewati

pepohonan, ke jalan, suara-suara mobil berbelok di tikungan terakhir tempat kau

akhirnya bisa melihat pantai pemandangan indah pulau-pulau, karang-karang, serta

samudera biru luas membentang hingga ke batas cakrawala. Polisi-polisi ka Push senang

nongkrong di sana. Soalnya turis-turis tak pernah memerhatikan peringatan harus

mengurangi kecepatan yang terpasang di pinggir jalan sana.

Aku bisa mendengar suara-suara di luar toko suvenir di tepi pantai. Aku bisa

mendengar lonceng sapi berdentang setiap kali pintu dibuka dan ditutup. Aku bisa

mendengar suara ibu Embry di depan mesin kasir, mencetak bon.

Aku bisa mendengar ombak berdebur memecah karang di tepi pantai. Aku bisa

mendengar anak-anak menjerit saat air sedingin es mengejar mereka, terlalu cepat

untuk bisa dihindari. Aku bisa mendengar para ibu mengeluh karena baju mereka basah.

Dan aku bisa mendengar suara yang familier...

Aku mendengarkan dengan begitu saksama sehingga ledakan tawa Paul yang

tiba-tiba membuatku separo terlontar dari tempat tidur.

"Pergi dari rumahku!” gerutuku. Tahu Paul tidak bakal perduli, aku mengikuti

saranku sendiri. Kubuka jendelaku lebar-lebar dan memanjat keluar supaya tidak perlu

bertemu Paul lagi. Godaan itu kelewat besar. Aku tahu aku akan meninjunya lagi, dan

Rachel bakal mengamuk, la akan melihat darah di kemeja Paul dan langsung

menyalahkanku tanpa menunggu bukti. Tentu saja ia benar, tapi kan tetap saja.

Aku berjalan ke pantai, kedua tangan kubenamkan ke saku. Tidak ada yang

melirikku waktu aku berjalan melintasi lapangan tanah di First Beach. Itulah enaknya

musim panas— tidak ada yang peduli meskipun kau hanya bercelana pendek.

130

Aku mengikuti suara akrab yang kudengar tadi dan dengan mudah menemukan

Quil. Ia berada di sebelah selatan pantai yang berbentuk bulan sabit, menghindari

bagian yang dipadati turis. Mulutnya tak henti-henti meneriakkan peringatan.

"Jangan masuk ke air, Claire, Ayolah. Tidak, jangan. Oh! Bagus. Nak. Serius nih,

kau mau aku dimarahi Emily, ya? Aku tidak mau membawamu ke pantai lagi kalau kau

tidak— Oh, yeah? Jangan—ugh. Kau kira itu lucu, ya? Hah! Siapa yang tertawa sekarang,

hah?"

Quil sedang memegangi tungkai si batita yang tertawa terkikik-kikik itu waktu aku

sampai di tempat mereka. Bocah itu memegang ember dengan satu tangan, dan jinsnya

basah kuyup. Bagian depan kaus Quil juga basah.

"Taruhan lima dolar untuk kemenangan si gadis kecil," katanya.

"Hai, Jake."

Claire menjerit dan melempar embernya ke lutut . "Turun, turun!"

Quil menurunkannya dengan hati-hati dan bocah itu berlari menghampiriku. Ia

memeluk kakiku erat-erat. "Unca Jay!”

“Apa kabar, Claire?"

Bocah itu terkikik. "Quil sekarang basaaaaaah!'

"Kelihatan kok. Mana mamamu?"

"Pergi, pergi, pergi," dendang Claire. "CIaire main sama Quil seeeeeharian. Claire

nggak pernah pulang." Ia melepaskan aku dan menghambur ke Quil. Quil meraup dan

mendudukkan bocah itu di bahunya.

"Kedengarannya sudah terrible two nih."

"Sebenarnya tiga," Quil mengoreksi. "Kau tidak melihat pestanya sih. Temanya

Princess. Dia menyuruhku memakai mahkota, kemudian Emily mengusulkan agar

mereka mencoba peralatan makeup mainan mereka yang baru padaku."

"Wow, aku benar-benar menyesal tidak melihatnya."

"Jangan khawatir, Emily punya foto-fotonya kok. Pokoknya aku kelihatan oke

banget."

"Dasar banci."

Quil mengangkat bahu. "Claire senang. Itu yang penting."

131

Aku memutar bola mata. Sulit memang bergaul dengan orang-orang yang sudah

ter-imprint. Tak peduli mereka ada di tahap mana—yang hampir menikah seperti Sam

atau pengasuh yang diperlakukan secara semena-mena seperti Quil—kedamaian dan

keyakinan yang selalu mereka pancarkan benar-benar memuakkan.

Claire menjerit di pundak Quil dan menunjuk ke tanah "Batu cantik, Quil!

Untukku, untukku!"

"Mau yang mana, kiddo? Yang merah?"

"Nggak mau merah!"

Quil berlutut Claire menjerit dan menarik-narik rambutnya seperti menarik

kekang kuda. "Yang biru?"

"Tidak, tidak, tidak..." gadis kecil itu berdendang, girang dengan permainan

barunya.

Dan anehnya, Quil juga sama gembiranya dengan Claire. Wajahnya sama sekali

tidak menunjukkan tanda-tanda bosan seperti yang ditunjukkan para ayah dan ibu yang

sedang berpiknik di sini, wajah yang berharap waktu tidur siang cepat cepat datang.

Tidak pernah ada orangtua yang begitu bersemangat memainkan entah permainan

konyol anak-anak apa yang terpikirkan oleh berandal kecil mereka. Aku pernah melihat

Quil main ciluk ba selama satu jam penuh tanpa merasa bosan.

Dan aku bahkan tidak bisa mengolok-oloknya dalam hal itu aku justru iri berat

padanya.

Walaupun sebenarnya menurutku sungguh menyebalkan ia harus bertingkah

seperti badut selama empat belas tahun sampai Claire menginjak usia yang sama

dengannya sekarang bagi Quil, paling tidak, untunglah werewolf tidak menjadi lebih tua.

Tapi bahkan waktu selama itu sepertinya tidak terlalu membuatnya terusik.

"Quil, pernahkah terpikir olehmu untuk berkencan?" tanyaku.

"Hah?"

"Nggak, nggak mau kuning!" rengek Claire.

“Kau tahu. Cewek sungguhan. Maksudku, untuk sekarang kau mengerti kan?

Kalau kau sedang tidak menjaga bayi."

Quil memandangiku, mulutnya ternganga.

"Batu cantik! Batu cantik!" jerit Claire waktu Quil tidak menawarinya pilihan lain.

Dipukulnya kepala Quil dengan imjunya yang mungil.

132

"Maaf, Claire-bear. Bagaimana kalau yang ungu ini?"

"Nggak," kikiknya. "Nggak mau ungu."

"Kasih petunjuk dong. Kumohon, kid"

Claire berpikir sebentar. "Hijau," akhirnya ia berkata.

Quil memandangi batu-batu, mengamatinya. Ia memungut empat butir dalam

nuansa hijau yang berbeda-beda, lalu mengulurkannya pada Claire.

"Ada yang kau suka?"

"Yay!"

"Yang mana?”

“Seeeemua!"

Claire menekukkan telapak tangannya dan Quil menuangkan batu-batu kecil itu

ke sana. Claire tertawa dan langsung melempari kepala Quil dengan batu. Quil purapura

meringis kemudian berdiri dan mulai berjalan kembali ke lapangan parkir. Mungkin

takut Claire kena pilek gara-gara bajunya basah. Ia lebih parah daripada ibu mana pun

yang paranoid dan terlalu protektif terhadap anaknya.

"Maaf kalau aku lancang, mati, soal cewek itu tadi," kataku.

"Ah, tidak apa-apa," sahut Quil. "Aku hanya kaget. Itu tak pernah terpikir olehku."

"Taruhan, Claire pasti mengertikan, kalau dia dewasa nanti. Dia tidak akan marah

kalau kau menikmati hidup saat dia masih pakai popok,"

"Tidak, aku tahu itu. Aku yakin dia pasti bisa mengerti," Quil tidak mengatakan

apa-apa lagi.

"Tapi kau tidak mau melakukannya, kan?" tebakku.

"Aku tidak bisa melihatnya," kata Quil pelan, "Aku tidak bisa membayangkannya.

Aku benar-benar tidak bisa... melihat siapa pun dalam hal itu. Aku tidak memerhatikan

cewek lain lagi, kau tahu. Aku tidak bisa melihat wajah mereka."

"Itu, ditambah tiara dan tanpa makeup, maka mungkin Claire bisa punya saingan

yang perlu dikhawatirkan."

133

Quil tertawa dan membuat suara-suara seperti orang berciuman padaku. "Kau

tidak ada acara apa-apa Jumat ini, Jacob?"

"Enak saja," tukasku, lalu mengernyitkan wajah. "Yeah, kurasa aku memang tidak

punya acara apa-apa."

Quil ragu-ragu sejenak kemudian bertanya, "Pernahkah terpikir olehmu untuk

berkencan?"

Aku mendesah. Salahku sendiri, melontarkan pertanyaan itu tadi.

"Kau tahu, Jake, mungkin ada baiknya bila kau mulai berpikir untuk meneruskan

hidup."

Ia tidak mengucapkannya dengan nada bercanda. Suaranya terdengar bersimpati.

Itu malah lebih parah.

"Aku juga tidak melihat mereka, Quil. Aku tidak bisa melihat wajah mereka."

Quil ikut-ikutan mendesah.

Jauh di sana, terlalu pelan untuk didengar orang lain kecuali kami berdua di selasela

deburan ombak, terdengar lolongan melengking dari arah hutan.

"Brengsek, itu Sam," kata Quil Kedua tangannya terangkat untuk menyentuh

Claire, memastikan bocah itu masih di sana. "Aku tidak tahu di mana ibunya berada!"

"Biar aku saja yang pergi untuk melihat ada apa. Kalau kami membutuhkanmu,

akan kuberitahu nanti." Aku berbicara dengan cepat. Kata-kataku tidak terdengar jelas.

"Hei, bagaimana kalau kaubawa saja dia ke rumah keluarga Clearwater? Billy bisa

menjaganya kalau perlu. Mereka mungkin perlu tahu apa yang terjadi."

"Oke cepatlah pergi, Jake!"

Aku langsung berlari, tidak ada jalan setapak menerobos ilalang, tapi mengambil

jalan tersingkat menuju hutan. Aku melompati barisan pertama pohon driftwood

kemudian menerobos semak-semak briar, terus berlari. Aku merasakan air mataku

menitik ketika duri-durinya mengoyak kulitku, tapi aku mengabaikannya. Tusukan duriduri

itu pasti sudah sembuh sebelum aku mencapai hutan.

Aku memotong di belakang toko suvenir dan melesat menyeberang jalan.

Seseorang mengklaksonku. Setelah aman berada di dalam hutan, aku berlari lebih cepat,

langkah-langkahku lebih lebar. Aku bakal jadi tontonan kalau orang melihatku berlari

seperti ini di tempat terbuka. Manusia normal tidak bisa berlari secepat ini. Kadangkadang

aku berpikir asyik juga kalau ikut lomba kau tahu kan, men coba Olimpiade atau

134

sebangsanya. Pasti asyik melihat ekspresi di wajah-wajah para bintang atletik itu waktu

aku mengalahkan mereka. Hanya saja, aku yakin tes yang mereka lakukan untuk

memastikan kau tidak menggunakan steroid mungkin bakal menunjukkan sesuatu yang

sangat aneh dalam darahku.

Begitu aku sudah benar-benar berada di dalam hutan, tidak terlihat dari jalan

ataupun rumah, aku berhenti dan melucuti celana pendekku. Dengan gerakan cepat dan

terlatih aku menggulung dan mengikatkannya ke tungkai dengan tali kulit.

Saat masih mengencangkan ikatan, tubuhku mulai berubah. Tubuhku bergetar

pelan dari atas dan merambat menuruni punggung di sepanjang lengan dan kaki. Hanya

butuh sedetik. Panas melanda tubuhku, dan aku merasakan getaran senyap yang

menjadikanku sosok berbeda. Aku mendaratkan cakarku yang berat ke tanah lembap

dan meregangkan punggungku yang memanjang.

Sangat mudah berubah wujud kalau aku berkonsentrasi. Aku tidak punya

masalah lagi dengan amarah. Kecuali kalau amarah itu terhalang.

Selama setengah detik ingatanku melayang ke momen mengerikan pada acara

pernikahan menyebalkan itu. Waktu itu aku begitu kalut oleh amarah hingga tidak bisa

mengendalikan tubuhku. Aku terperangkap, tubuhku bergetar dan terbakar amarah,

tidak bisa berubah dan membunuh monster yang berdiri hanya beberapa meter dariku.

Benar-benar membingungkan. Ingin sekali aku membunuhnya. Tapi tidak berani

menyakiti hati Bella. Dihalangi teman-temanku. Kemudian, waktu aku akhirnya bisa

mengambil bentuk yang kuinginkan, datang perintah dari pemimpinku. Titah dari sang

Alfa. Seandainya malam itu hanya ada Embry dan Quil tanpa Sam... mungkinkah aku

berhasil membunuh si pembunuh?

Aku benci bila Sam menegaskan peraturan seperti itu. Aku paling tidak suka

merasa tidak punya pilihan. Atau harus patuh.

Kemudian aku sadar ada yang mengamati pikiranku. Aku tidak sendirian dalam

pikiranku.

Selalu saja asyik dengan pikiran sendiri, pikir Leah.

Yeah, tapi tidak ada yang munafik dalam pikiranku Leah, aku balas berpikir.

Hentikan guys, Sam menegaskan pada kami.

Kami terdiam, dan aku merasa Leah meringis mendengar kata guys. Sensitif,

seperti biasa.

Sam pura-pura tidak menyadarinya. Mana Quil dan Jared?

135

Quil sedang menjaga Claire. la akan mengantarnya ke rumah keluarga

Clearwater.

Bagus. Sue bisa menjaganya.

Jared sedang ke rumah Kim, pikir Embry. Besar kemungkinan ia tidak mendengar

panggilanmu.

Terdengar geraman pelan di tengah kawanan. Aku ikut mengerang bersama

mereka. Saat Jared akhirnya muncul nanti, tak diragukan ia pasti masih memikirkan Kim.

Dan tidak ada yang ingin melihat apa yang sedang mereka lakukan sekarang.

Sam duduk di kedua kaki belakangnya dan sebuah lolongan lain mengoyak

keheningan. Itu sinyal sekaligus perintah.

Kawanan berkumpul beberapa kilometer di sebelah timur tempatku berada

sekarang. Aku berlari menerobos hutan lebat untuk menemui mereka. Leah, Embry, dan

Paul sedang menuju ke sana juga. Leah berada di dekatku—tak lama kemudian aku

mendengar langkah-langkah kakinya tak jauh di dalam hutan. Kami terus berlari dalam

garis paralel, memilih untuk tidak berlari bersama-sama.

Well, kita tidak akan menunggunya seharian. Terpaksa ia menyusul saja nanti.

Ada apa, Bos? Paul ingin tahu.

Ada yang perlu dibicarakan. Telah terjadi sesuatu.

Aku merasa pikiran Sam berkelebat ke arahku bukan hanya Sam, tapi juga pikiran

Seth, Collin, dan Brady. Collin dan Brady si anak baru hari ini memang berpatroli

bersama Sam, jadi mereka pasti sudah tahu apa pun yang diketahui Sam. Aku tidak tahu

mengapa Seth sudah berada di sini, dan tahu mengenainya. Sekarang bukan gilirannya

berpatroli.

Seth, ceritakan pada mereka apa yang kaudengar.

Aku berpacu lebih kencang, ingin segera sampai di sana. Kudengar Leah juga

berlari lebih cepat. Ia tidak suka dikalahkan. Menjadi yang tercepat adalah satu-satunya

yang dibanggakan Leah.

Coba saja kalau bisa tolol, desis Leah, kemudian ia benar benar memacu kakinya

secepat kilat. Aku menarik masuk kuku-kukuku dan melesat maju.

Sepertinya Sam sedang tidak bernafsu meladeni perselisihan kami. Jake, Leah,

hentikan.

136

Tak seorang pun di antara kami memperlambat larinya.

Sam menggeram, tapi membiarkannya saja. Seth?

Charlie menelepon ke mana-mana, mencari Billy, dan akhirnya menemukannya di

rumahku.

Yeah, aku sempat bicara dengannya, Paul menambahkan.

Aku merasa seperti tersengat listrik begitu Seth memikir kan nama Charlie. Ini

dia. Penantianku berakhir. Aku berlari semakin cepat, memaksa diriku bernapas,

walaupun paru-paruku tiba-tiba saja terasa agak kaku.

Cerita mana yang akan kudengar?

Charlie sangat kalut. Ternyata Edward dan Bella sudah pulang minggu lalu, dan...

Impitan di dadaku berangsur-angsur mereda.

Bella masih hidup. Atau paling tidak ia tidak mati dalam arti mati yang

sebenarnya.

Baru sekarang aku menyadari berapa besar perbedaan itu bagiku. Selama ini aku

membayangkan Bella meninggal, dan aku baru menyadarinya sekarang. Sadarlah aku

bahwa aku tidak pernah percaya Edward akan membawanya pulang hidup-hidup.

Sebenarnya itu tidak penting, karena aku tahu apa yang akan terjadi nanti.

Yeah, bro, tapi ada kabar buruk. Charlie berbicara dengan Bella, tapi katanya

Bella terdengar aneh. Bella mengatakan pada Charlie ia sakit. Carlisle mengambil alih

dan mengatakan kepada Charlie bahwa Bella terkena semacam penyakit langka di

Amerika Selatan. Katanya, ia sekarang dikarantina. Charlie patuh sekali, karena bahkan

dia pun tidak diperbolehkan melihat Bella. Kata Charlie, ia tidak peduli bila ketularan,

tapi Carlisle bergeming. Tidak ada yang boleh menjenguk. Carlisle mengatakan kepada

Charlie bahwa penyakit Bella sangat serius, tapi ia melakukan semua yang bisa ia

lakukan. Sudah berhari-hari Charlie kalut memikirkannya, tapi baru menelepon Billy

sekarang. Katanya, suara Bella terdengar lebih parah hari ini.

Suasana senyap setelah Seth selesai bercerita. Kami semua mengerti.

Jadi Bella akan meninggal karena penyakit ini, sepanjang yang Charlie tahu.

Apakah mereka akan mengizinkan Charlie melihat mayatnya? Tubuh putihnya yang

pucat, tidak bergerak, dan tidak bernapas? Mereka tidak akan mengizinkan Charlie

menyentuh kulit Bella yang dingin—nanti ia akan menyadari betapa kerasnya kulit itu.

Mereka harus menunggu sampai Bella bisa diam tak bergerak bisa tahan untuk tidak

membunuh Charlie dan para pelayat lain. Berapa lama itu kira-kira? Apakah mereka

137

akan menguburkannya? Apakah Bella akan keluar sendiri dari dalam kubur, atau para

pengisap darah itu yang akan mengeluarkannya?

Yang lain mendengarkan spekulasiku sambil terdiam. Aku lebih banyak

memikirkan masalah ini daripada mereka.

Leah dan aku memasuki lapangan terbuka hampir bersamaan. Leah yakin

moncongnya sampai lebih dulu. Ia langsung duduk di kedua kaki belakangnya, di

samping adiknya, sementara aku berlari-lari kecil dan berdiri di sebelah kanan Sam. Paul

berlari mengitar dan menyediakan tempat untukku.

Kau kalah lagi, pikir Leah, tapi aku nyaris tidak mendengarnya.

Aku penasaran mengapa hanya aku yang berdiri. Bulu-bulu ku berdiri tegak di

pundakku, bergetar tidak sabar. Well, apa yang kita tunggu? tanyaku.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tapi aku mendengari perasaan mereka yang

ragu-ragu.

Oh, ayolah! Kesepakatan sudah dilanggar!

Kita tidak punya bukti mungkin Bella benar-benar sakit...

OH, YANG BENAR SAJA!

Oke, memang bukti tak langsungnya sangat kuat. Tapi tetap saja..., Jacob. Pikiran

Sam lambat, ragu. Apakah kau yakin memang ini yang kauinginkan? Apakah ini benarbenar

tindakan yang tepat? Kita semua tahu apa yang Bella inginkan.

Kesepakatan itu tidak mempermasalahkan keinginan korban. Sam!

Apakah Bella benar-benar korban? Akankah kau melukainya seperti itu?

Ya!

Jake, Seth berpikir, mereka bukan musuh kita.

Tutup mulutmu, anak kecil. Hanya karena kau kagum pada sikap si pengisap

darah yang sok pahlawan itu, itu tetap tidak mengubah hukum yang ada. Mereka tetap

musuh kita. Mereka berada dalam teritori kita. Kita habisi mereka. Aku tidak peduli kau

pernah menikmati bertempur bersama Edward Cullen dulu.

Jadi apa yang akan kaulakukan kalau Bella bertempur bersama mereka Jacob?

Hah? tuntut Seth, Dia bukan Bella lagi. Kau yang akan menghabisinya?

Aku tak mampu menahan diriku untuk tidak meringis.

138

Tidak, bukan kau yang akan menghabisinya. Jadi, apa? Kau menyuruh salah satu

dari kami untuk melakukannya? Kemudian selamanya memendam dendam pada siapa

pun yang melakukan itu?

Aku tidak akan...

Tentu saja tidak akan. Kau belum siap untuk pertempuran itu, Jacob.

Insting mengambil alih dan aku membungkuk, siap menikam, menggeram pada

serigala sangar berbulu sewarna pasir di seberang lingkaran.

Jacob! Sam mengingatkan. Seth, tutup mulutmu sebentar.

Seth menganggukkan kepalanya yang besar.

Brengsek, aku ketinggalan apa? pikir Quil. Ia berlari mendatangi tempat kami

berkumpul dengan kecepatan tinggi. Aku mendengar tentang telepon dari Charlie...

Kita bersiap-siap akan pergi, kataku padanya. Bagaimana kalau kau mampir ke

rumah Kim dan menyeret Jared keluar dari sana dengan gigimu? Kita membutuhkan

semuanya.

Langsung saja ke sini, Quil, Sam memerintahkan. Kami belum memutuskan apaapa.

Aku menggeram.

Jacob, aku harus memikirkan yang terbaik untuk kawananmu Aku harus memilih

jalan yang paling bisa melindungi kalian semua. Zaman sudah berubah sejak leluhur kita

membuat kesepakatan itu. Aku, well sejujurnya aku tidak percaya keluarga Cullen

berbahaya bagi kita. Dan kita tahu mereka tidak akan lama lagi berada di sini Tentu saja,

begitu mereka mengungkap kan cerita mereka, mereka akan pergi. Hidup kita bisa

kembali normal,

Normal?

Kalau kita menantang mereka, Jacob, mereka akan membela diri dengan baik.

Jadi kau takut?

Apa kau siap kehilangan saudaramu? Sam terdiam sejenak. Atau saudari? Sam

menambahkannya setelah berpikir sebentar.

Aku tidak takut mati.

139

Aku tahu itu, Jacob. Itulah alasannya aku mempertanyakan penilaianmu dalam

hal ini.

Kutatap mata Sam yang hitam. Kau berniat menghormati kesepakatan leluhur

kita atau tidak?

Aku menghormati kawananku. Aku melakukan yang terbaik bagi mereka.

Pengecut.

Moncong Sam mengejang, tertarik ke belakang menampak kan gigi-giginya.

Cukup, Jacob. Penilaianmu ditolak. Suara pikiran Sam berubah.

memperdengarkan getaran ganda aneh yang mau tidak mau kami turuti. Suara seorang

Alfa. Ia membalas tatapan setiap serigala dalam lingkaran itu.

Kawanan ini tidak boleh menyerang keluarga Cullen tanpa provokasi. Semangat

kesepakatan tetap dipegang teguh. Mereka tidak berbahaya bagi rakyat kita, juga tidak

berbahaya bagi warga kota Faks. Bella Swan memilih sendiri apa yang ia inginkan, dan

kita tidak akan menghukum mantan sekutu kita atas pilihannya itu.

Setuju, sambut Seth antusias.

Sudah kuhilang, tutup mulutmu, Seth

Uuups. Maaf, Sam… Jacoh, mau ke mana kau?

Aku berlari meninggalkan lingkaran, bergerak ke arah barat agar bisa

memunggunginya. Aku akan berpamitan pada ayahku. Ternyata tidak ada gunanya aku

bertahan sekian lama.

Ah, Jake—jangan lakukan itu lagi!

Diam, Seth, beberapa suara berpikir serentak.

Kami tidak mau kau pergi, Sam memberitahuku, pikirannya lebih lunak daripada

sebelumnya.

Kalau begitu, paksa aku tinggal, Sam. Ambil saja keinginanku. Jadikan aku budak.

Kau tahu aku tidak mungkin berbuat begitu.

Kalau begitu tak ada lagi yang perlu kukatakan.

Aku berlari menjauhi mereka, berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan

hal berikutnya. Malah, aku berkonsentrasi mengenang kembali bulan-bulan panjangku

sebagai serigala, melupakan hidupku sebagai manusia hingga aku lebih menyerupai

140

binatang daripada manusia. Hidup untuk saat ini, makan kalau lapar, tidur kalau lelah,

minum kalau haus, dan berlari—berlari hanya untuk berlari. Keinginan-keinginan

sederhana, jawaban sederhana untuk keinginan-keinginan itu. llasa sakit datang dalam

bentuk yang lebih mudah diatasi. Sakit karena lapar. Sakit karena menginjak es yang

dingin. Sakit karena taringku terluka saat mangsa buruanku melawan. Setiap kesakitan

memiliki jawaban sederhana, aksi nyata yang bisa menghentikan kesakitan itu.

Tidak seperti menjadi manusia.

Namun begitu aku sudah berada dekat dengan rumahku, aku berubah wujud

menjadi manusia. Aku perlu berpikir sendiri tanpa diketahui orang lain.

Aku melepas lilitan celana pendekku dan memakainya la berlari menuju rumah.

Aku berhasil melakukannya. Aku berhasil menyembunyikan apa yang kupikirkan

dan sekarang sudah terlambat bagi Sam untuk menghentikanku. Ia tidak bisa lagi

mendengar pikiranku sekarang.

Aturan Sam sangat jelas. Kawanan tidak boleh menyerang keluarga Cullen. Oke.

Ia tidak menyinggung tentang individu yang bertindak sendiri.

Tidak, kawanan itu memang tidak akan menyerang siapa pun hari ini.

Tapi aku akan menyerang.

141

9. SUNGGUH TAK KUDUGA SAMA SEKALI

SEBENARNYA, aku tidak berniat pamitan pada ayahku.

Soalnya, ia tinggal menelepon Sam dan bakal ketahuanlah niatku sebenarnya.

Mereka akan mencegat dan memaksaku. Mungkin berusaha membuatku marah, atau

bahkan menyakitiku, entah bagaimana caranya, pokoknya memaksaku berubah wujud

agar Sam bisa menetapkan aturan baru.

Tapi Billy sudah menunggu kedatanganku,, tahu pikiranku pasti sedang kalut. Ia

ada di halaman, duduk di kursi rodanya dengan mata tepat ke titik kemunculanku dari

hutan. Aku melihatnya memandang ke arahku berjalan mengarah langsung melewati

rumah menuju bengkel buatanku sendiri.

"Punya waktu sebentar, Jake?"

Aku mengerem langkahku. Aku memandanginya, kemudian menoleh ke garasi.

"Ayolah, Nak. Setidaknya bantu aku masuk ke dalam" Aku mengertakkan gigi, tapi

memutuskan kecil kemungkinan ayahku akan mencari gara-gara dengan Sam kalau aku

jujur padanya sebentar.

"Sejak kapan kau butuh bantuan. Pak Tua?"

Billy mengumandangkan tawanya yang bergetar. "Kedua lenganku letih. Aku tadi

mendorong kursi rodaku dari rumal Sue."

"Jalannya kan menurun, Dad tinggal meluncur saja."

Aku mendorong kursinya ke jalur kursi roda kecil yang kubuat untuknya dan

masuk ke ruang tamu.

"Ketahuan deh. Kecepatanku tadi kira-kira hampir lima puluh kilometer per jam.

Asyik juga."

"Bisa hancur kursi roda itu nanti. Kalau sudah begitu, Dad terpaksa menyeret

badan ke mana-mana nanti."

"Tidak mungkin. Nanti kau yang bertugas menggendongku."

"Dad tidak akan bisa ke mana-mana."

Billy meletakkan kedua tangannya di roda dan mulai meng gelindingkan kursinya

menghampiri kulkas. "Masih ada makanan?"

142

"Itulah. Paul tadi seharian di sini, jadi mungkin tidak ada,'

Billy mendesah. "Harus mulai menyembunyikan belanjaan nih, kalau kita tidak

mau kelaparan."

"Suruh Rachel tinggal di rumahnya saja"

Nada bercanda Billy seketika itu lenyap, sorot matanya melembut. "Rachel hanya

akan di rumah selama beberapa minggu. Ini pertama kalinya dia pulang setelah sekian

lama Sulit memang kakak-kakak perempuanmu usianya sudah lebih tua darimu waktu

ibu kalian meninggal. Lebih sulit bagi mereka berada di rumah ini."

"Aku tahu."

Rebecca bahkan tidak pernah pulang sejak menikah, walaupun alasannya kuat.

Tiket pesawat dari Hawaii sangat mahal Washington State cukup dekat sehingga Rachel

tidak bisa mengajukan alasan yang sama. Tapi dia mengambil beberapa mata kuliah

selama semester musim panas, dan bekerja dua shift sekaligus selama masa liburan

Natal di kafe kampus. Kalau bukan karena Paul, dia mungkin sudah cepat-cepat pergi

lagi. Mungkin itulah sebabnya Billy tidak mengusir Paul dari rumah.

"Well, ada beberapa hal yang harus kukerjakan..." Aku mulai beranjak ke pintu

belakang.

"Tunggu dulu, Jake. Apa kau tidak akan menceritakan padaku apa yang terjadi?

Apakah aku harus menelepon Sam untuk meminta penjelasan?"

Aku berdiri memunggungi ayahku, menyembunyikan wajah.

"Tidak terjadi apa-apa. Sam tidak mau menghukum mereka. Berarti sekarang kita

ini sekelompok pencinta lintah.”

“Jake..."

"Aku tidak mau membicarakannya.”

“Kau mau pergi, Nak?"

Sejenak ruangan sunyi senyap sementara aku menimbang-nimbang bagaimana

mengatakannya.

"Rachel bisa menempati kamarnya lagi. Aku tahu dia tidak suka tidur di kasur

tiup."

"Dia lebih suka tidur di lantai daripada kehilangan kau. Begitu juga aku."

143

Aku mendengus.

"Jacob, please. Kalau kau butuh... waktu. Well, kau boleh mengambilnya. Tapi

jangan terlalu lama. Kembalilah."

"Mungkin. Mungkin nanti aku kembali kalau ada yang menikah lagi. Menjadi

camto di pernikahan Sam, lalu Rachel. Tapi mungkin Jared dan Kim yang akan menikah

lebih dulu. Mungkin aku harus punya jas atau sebangsanya.”

“Jake, lihat aku."

Aku memutar tubuhku lambat-lambat. "Apa?" Billy menatap mataku lama sekali.

"Kau mau ke mana?”

“Tidak ada tujuan khusus."

Billy menelengkan kepala ke satu sisi, matanya menyipit, "Benarkah begitu?"

Kami berpandangan. Detik-detik berlalu.

"Jacob," kata ayahku. Suaranya tegang. "Jacob, jangan. Tidak ada gunanya."

"Aku tidak mengerti maksud Dad."

"Jangan ganggu Bella dan keluarga Cullen. Sam benar."

Aku menatap ayahku sedetik, kemudian berjalan melintasi ruangan hanya dalam

dua langkah panjang. Kusambar telepon dan kutarik kabel dari colokan dan soketnya.

Kugumpalkan kabel abu-abunya di telapak tanganku.

"Bye. Dad."

"Jake, tunggu..." ayahku berseru memanggilku, tapi aku sudah keluar dari pintu,

berlari.

Naik sepeda motor memang tidak secepat berlari, tapi dengan begini aku bisa

menyembunyikan pikiranku. Dalam hati aku bertanya-tanya berapa lama waktu yang

dibutuhkan Billy untuk menjalankan kursi rodanya ke toko, lalu minta bantuan

seseorang untuk menelepon dan menyampaikan pesan pada Sam. Aku berani bertaruh

Sam pasti masih berwujud serigala. Masalahnya hanya kalau Paul kembali ke rumah

kami dalam waktu dekat. Ia bisa langsung berubah wujud dan memberi tahu Sam apa

yang kulakukan ini...

Aku tidak mau mengkhawatirkannya. Aku akan memacu sepeda motorku secepat

mungkin, dan kalau mereka menangkapku, baru kupikirkan apa yang akan kulakukan.

144

Dengan kasar kunyalakan mesin motor dan memacunya. Aku tidak menoleh ke

belakang waktu melewati rumah.

Jalan raya dipadati mobil turis, aku meliuk-liuk di antara mobil-mobil, mendapat

hadiah klaksonan dan makian. Aku berbelok memasuki jalan 101 dengan kecepatan 112

kilometer per jam tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Aku terpaksa ikut mengantre

sebentar agar tidak terlindas sebuah minivan. Bukan karena itu bisa membunuhku, tapi

itu hanya akan membuatku terlambat sampai ke sana. Patah tulang-tulang besar, paling

tidak membutuhkan waktu berhari-hari untuk pulih sepenuhnya, seperti pernah kualami

sendiri.

Kepadatan agak berkurang, dan kupacu motorku hingga kecepatan 120 kilometer

lebih. Aku tidak mengerem hingga mendekati jalan masuk yang sempit, kupikir aku

sudah aman di sana. Sam tidak akan pergi sejauh ini untuk menghentikanku. Sudah

terlambat.

Barulah pada saat itu waktu aku yakin berhasil aku mulai memikirkan apa

tepatnya yang akan kulakukan sekarang. Aku memperlambat laju motorku menjadi 48

kilometer per jam, meliuk-liuk di antara pepohonan dengan lebih hati-hati daripada

yang perlu kulakukan.

Aku tahu mereka akan mendengar kedatanganku, naik motor atau tidak. Tidak

mungkin menyembunyikan maksudku, Edward akan langsung mendengar rencanaku

begitu aku cukup dekat. Mungkin ia malah sudah bisa mendengarnya. Tapi aku tetap

berpikir ini masih bisa berhasil, karena aku mengandalkan ego Edward. Ia pasti ingin

melawanku sendirian.

Aku akan berjalan masuk, melihat sendiri bukti berharganya Sam, kemudian

menantang Edward berduel.

Aku mendengus. Si parasit mungkin bakal menyukai situasi dramatis ini.

Kalau aku sudah selesai berurusan dengannya nanti, akan menghabisi sebanyak

mungkin yang bisa kuhabisi belum mereka menghabisiku. Hah—aku jadi ingin tahu,

apakah Sam akan menganggap kematianku sebagai provokasi. Mungkin ia bakal

menganggap aku mendapatkan apa yang. pantas kudapatkan. Tidak mau menyinggung

perasaan sohib sohib pengisap darahnya.

Jalan masuk membuka ke arah padang rumput, dan bau ini menghantam indra

penciumanku seperti tomat busuk menam par wajah. Ugh. Dasar vampir-vampir berbau

busuk. Perutku mulai berontak. Bau itu nyaris tak tertahankan bila keadaan nya seperti

ini tidak bercampur bau manusia yang bisa membuatnya sedikit tersamar, seperti waktu

145

aku datang ke sini dulu walaupun tidak separah menciumnya langsung dengan hidung

serigalaku.

Entah apa yang kuharapkan bakal rerjadi, tapi tidak adi tanda-tanda kehidupan di

sekitar rumah putih besar itu. Tentu saja mereka tahu aku datang ke sini.

Aku mematikan mesin dan mendengarkan kesenyapan. Sekarang aku bisa

mendengar gumaman tegang dan marah dan balik pintu ganda yang lebar. Ada orang di

rumah. Aku mendengar namaku disebut dan tersenyum, senang membayangkan diriku

membuat mereka sedikit tertekan.

Aku menghirup udara banyak-banyak di dalam baunya pasti lebih parah dan

melompat menaiki tangga teras dalam satu langkah.

Pintu sudah terbuka sebelum tinjuku sempat menyentuhnya, dan sang dokter

berdiri di ambang pintu, matanya muram.

"Halo, Jacob," sapa sang dokter, lebih tenang daripada yang kuharapkan. "Apa

kabar?"

Aku menghela napas dalam-dalam lewat mulut. Bau busuk yang menghambur ke

luar pintu sangat memualkan.

Kecewa juga aku karena Carlislelah yang membukakan pintu. Aku lebih suka

Edward yang muncul di depan pintu, dengan taring terpampang. Carlisle sangat...

manusia atau apalah. Mungkin karena ia pernah datang ke rumahku dan mengobatiku

musim semi yang lalu waktu aku babak belur. Tapi aku merasa tidak nyaman menatap

wajahnya dan tahu bahwa aku berniat membunuhnya kalau bisa.

"Kudengar Bella pulang dalam keadaan hidup," kataku.

"Eh, Jacob, sekarang benar-benar bukan waktu yang tepat." Dokter itu tampak

kikuk, tapi sikapnya tidak seperti yang kuharapkan. "Bagaimana kalau nanti saja?"

Kupandangi dia, terperangah. Apakah dia meminta menunda duel maut ke waktu

yang lebih tepat?

Kemudian aku mendengar suara Bella, parau dan serak, dan serta-merta aku

tidak bisa memikirkan hal lain.

"Mengapa tidak?" tanya Bella pada seseorang. "Apakah kita merahasiakannya

dari Jacob juga? Apa gunanya?"

Suaranya tidak seperti yang kuharapkan. Aku mencoba mengingat kembali suara

para vampir muda yang berduel dengan kami musim semi lalu, tapi seingatku suara

146

mereka hanya berupa geraman. Mungkin suara vampir baru itu juga tidak tajam dan

melengking seperti vampir-vampir lain yang lebih tua. Mungkin semua vampir baru

suaranya parau.

"Silakan masuk, Jacob," kata Bella dengan suara lebih nyaring.

Mata Carlisle menegang.

Dalam hati aku penasaran apakah Bella haus. Mataku juga menyipit.

"Permisi," kataku pada si dokter saat berjalan mengitarinya.

Sangat sulit aku melawan segenap naluriku untuk berbalik dan lari menjauhi

mereka. Tapi bukan berarti mustahil. Kalau ada istilah vampir aman, pemimpin mereka

yang lembut inilah orangnya.

Aku akan menjauh dari Carlisle begitu perkelahian dimulai nanti. Jumlah mereka

sudah cukup banyak untuk dibunuh tanpa aku harus membunuh dia.

Aku melewati Carlisle dan masuk ke rumah,. menjaga punggungku tetap

menghadap dinding. Mataku menyapu seisi ruangan—suasananya sangat berbeda.

Terakhir kali aku ke sini ruangan ini dihias indah untuk keperluan pesta. Sekarang semua

benderang dan pucat. Termasuk enam vampir yang berdiri berkelompok di dekat sofa

putih.

Mereka semua ada di sini, seluruhnya, tapi bukan itu yang membuatku terpaku di

tempatku berdiri dan mulutku ternganga lebar.

Tapi Edward. Ekspresinya.

Aku pernah melihatnya marah, dan aku pernah melihatnya bersikap arogan, dan

aku juga pernah melihatnya kesakitan. Tapi ini ini lebih dari menderita. Matanya separo

sinting. Ia tidak mendongak untuk memelototiku. Ia menunduk memandangi sofa di

sampingnya dengan ekspresi seolah-olah ada orang yang membakarnya. Kedua

tangannya seperti cakar kaku di kedua sisi tubuhnya.

Aku bahkan tidak bisa menikmati penderitaan Edward. Dalam benakku, hanya

satu hal yang bisa membuatnya terlihat seperti itu, dan mataku mengikuti arah

pandangnya.

Tepat ketika aku mencium aroma tubuh Bella, aku melihatnya.

Bau manusia yang hangat dan bersih.

Bella agak tersembunyi di balik lengan sofa, meringkuk seperti janin dalam

kandungan, kedua lengan melingkari lutut. Sesaat aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali

147

bahwa ia masih Bella yang kucintai, kulitnya masih berwarna peach pucat yang lembut,

matanya juga masih cokelat seperti dulu. Jantungku berdebar tidak keruan, dalam hati

aku bertanya-tanya apakah ini hanya mimpi dan sebentar lagi aku akan terbangun.

Lalu barulah aku benar-benar melihat Bella.

Tampak lingkaran hitam di bawah matanya yang terlihat sangat mencolok karena

wajahnya begitu kuyu, Benarkah ia bertambah kurus? Kulitnya tampak tegang—seolaholah

tulang pipinya akan merobek menembusnya. Rambutnya ditarik ke belakang dan

diikat berantakan, tapi beberapa helai menempel di kening dan lehernya yang basah,

sekujur tubuhnya mengilat karena keringat. Ada sesuatu di jari-jari dan pergelangan

tangannya yang tampak begitu rapuh hingga terkesan menakutkan.

Bella memang sakit. Sakit parah.

Itu bukan dusta. Cerita yang dikisahkan Charlie kepada Billy ternyata bukan

karangan. Sewaktu aku memandanginya dengan mata terbelalak, kulit Bella berubah

warna jadi hijau muda.

Si pengisap darah berambut pirang yang cantik jelita itu, Rosalie membungkuk di

atas tubuh Bella, menghalangi pandanganku, dengan sikap protektif yang janggal.

Sungguh aneh. Aku mengetahui perasaan Bella mengenai nyaris apa saja jalan

pikirannya sangat jelas, terkadang seperti sudah terpatri dengan jelas di keningnya. Jadi

ia tidak perlu menceritakan setiap situasi hingga sedetail-detailnya untuk membuatku

mengerti. Aku tahu Bella tidak menyukai Rosalie. Kentara dari bibirnya yang mengatup

rapat bila ia membicarakan wanita itu. Bukan hanya tidak menyukai Rosalie. Bella juga

takut pada Rosalie. Atau tadinya begitu.

Tapi tidak ada sorot ketakutan di mata Bella saat ia menengadah dan menatap

Rosalie sekarang. Ekspresinya seperti meminta maaf atau apa. Lalu Rosalie menyambar

wadah dari lantai dan memeganginya di bawah dagu Bella, dan tepat saat itu ia muntah

ke wadah dengan suara berisik.

Edward jatuh berlutut di sisi Bella sorot matanya tampak tersiksa dan Rosalie

mengulurkan tangan, memperingatkannya untuk tidak mendekat.

Tak ada yang masuk akal.

Setelah bisa mengangkat kepala, Bella tersenyum lemah padaku, sepertinya

malu. "Maaf soal tadi," bisiknya.

Edward mengerang sangat pelan. Kepalanya terkulai ke lutut Bella. Bella

meletakkan sebelah tangannya di pipi Edward. Seolah-olah menghibur dia.

148

Aku tidak menyadari kedua kakiku bergerak maju sampai Rosalie mendesis

kepadaku, tiba-tiba berdiri di antaraku dan sofa. Ia seperti orang di layar televisi. Aku tak

peduli ia ada di sana. Ia seperti tidak nyata.

"Rose, jangan," bisik Bella. "Tidak apa-apa."

Si pirang menyingkir dari jalanku, walaupun kentara sekali dari sikapnya bahwa ia

tidak senang melakukannya. Sambil mencemberutiku, ia meringkuk dekat kepala Bella,

siap menerkam. Mudah sekali untuk tidak menggubrisnya.

"Bella, ada apa?" bisikku. Tanpa berpikir, tahu-tahu aku juga sudah berlutut,

mencondongkan tubuh dari balik punggung sofa, berseberangan dengan. suaminya.

Edward seolah tidak memerhatikanku, dan aku nyaris tidak meliriknya. Aku

mengulurkan tangan untuk meraih tangan Bella yang bebas, merengkuhnya dengan

tanganku. Kulitnya sedingin es. "Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan tolol. Bella tidak menjawab.

Walaupun aku tahu Edward tidak bisa mendengar pikiran Bella, tapi ia sepertinya

mendengar suatu makna yang tidak kumengerti. Lagi-lagi ia mengerang, ke dalam

selimut yang menyelubungi tubuh Bella, dan Bella membelai-belai pipinya.

"Ada apa, Bella?" desakku, mengenggam erat jari-jarinya yang dingin dan rapuh

dengan kedua tanganku.

Bukannya menjawab, Bella malah memandang sekeliling ruangan seperti mencari

sesuatu, sorot matanya terlihat memohon sekaligus mengingatkan. Enam pasang mata

berwarna kuning menyorot waswas, balas memandangnya. Akhirnya, ia berpaling

kepada Rosalie.

"Bantu aku, Rose?" pintanya.

Sudut-sudut bibir Rosalie tertarik, memperlihatkan giginya, la memandangku

garang seolah-olah ingin merobek leherku. Aku yakin memang itulah yang ia inginkan.

"Please, Rose."

Si pirang mengernyit, tapi kembali membungkuk di atas Bella, di sebelah Edward,

yang tidak bergeser sesenti pun. Ia merangkul pundak Bella dengan hati-hati.

"Tidak," bisikku. "Jangan berdiri..." Bella terlihat begitu lemah.

"Aku menjawab pertanyaanmu," bentak Bella, terdengar sedikit mirip gaya

bicaranya yang biasa.

149

Rosalie membantu Bella bangkit dari sofa. Edward tetap di tempat, terkulai ke

depan sampai wajahnya terbenam di bantalan kursi. Selimut jatuh ke lantai di kaki Bella.

Tubuh Bella membengkak, menggelembung aneh dan tidak wajar. Tubuhnya

mendesak kaus abu-abu pudarnya yang kebesaran untuk bahu dan lengannya. Anggota

tubuhnya yang lain sepertinya lebih kurus, seolah-olah gundukan besar itu bertumbuh

dari apa yang diisapnya dari Bella. Butuh sedetik bagiku untuk menyadari apa bagian

yang membuncit itu—aku tidak mengerti sampai Bella melipat kedua tangannya dengan

lembut di perutnya yang membuncit, satu di atas dan satu di bawah. Seolah-olah

menggendongnya.

Aku melihatnya waktu itu, tapi aku masih belum memercayainya. Baru sebulan

yang lalu aku bertemu Bella. Tidak mungkin ia hamil. Tidak sebesar itu.

Kecuali bahwa memang benar demikian adanya.

Aku tidak ingin melihatnya, tidak mau memikirkannya Aku tidak ingin

membayangkan lelaki itu bercinta dengannya. Aku tidak ingin mengetahui bahwa

sesuatu yang sangat kubenci telah berakar dalam tubuh yang kucintai. Perutku

memberontak, dan aku terpaksa menelan kembali isi perutku.

Tapi ini lebih buruk daripada itu, jauh lebih buruk. Tubuh Bella tidak berbentuk,

tulang-tulang bertonjolan di kulit wajahnya. Aku hanya bisa menduga bahwa ia terlihat

seperti ini hamil besar tapi sangat kepayahan adalah karena apa pun yang ada dalam

perutnya merampas hidup Bella untuk menyokong hidupnya sendiri...

Karena makhluk itu monster. Sama seperti ayahnya.

Aku sudah mengira Edward pasti akan membunuh Bella.

Kepala Edward tersentak saat mendengar kata-kata dalam pikiranku. Baru sedetik

yang lalu kami sama-sama berlutut, dan sekarang ia sudah berdiri, menjulang tinggi di

atasku Matanya hitam datar, lingkaran di bawahnya berwarna ungu tua.

"Di luar, Jacob," geramnya.

Aku ikut berdiri. Menunduk menatap Edward sekarang. Memang itulah tujuanku

datang ke sini. "Ayo kita tuntaskan," aku setuju.

Si vampir bertubuh besar, Emmett, merangsek maju ke sisi Edward. Vampir yang

kelihatannya lapar, Jasper, tepat di belakangnya. Aku benar-benar tidak peduli. Mungkin

kawananku akan membersihkan sisa-sisa tubuhku setelah mereka selesai

mengeroyokku. Mungkin juga tidak. Itu tidak penting.

150

Selama sepersekian detik, mataku berkelebat ke dua sosok yang berdiri di

belakang. Esme. Alice. Tubuh mereka yang mungil dan kefemininan mereka mengusik

perhatianku. Well, aku yakin yang lain-lain akan membunuhku sebelum aku sempat

melakukan apa pun terhadap mereka. Aku tidak mau membunuh wanita... bahkan

vampir wanita.

Walaupun aku mau saja membuat pengecualian untuk si pirang itu.

"Tidak" sergah Bella terengah, tersaruk-saruk maju, tubuhnya limbung, hendak

mencengkeram lengan Edward. Rosalie bergerak bersamanya, seolah-olah ada rantai

yang mengikat mereka satu sama lain.

“Aku hanya perlu bicara dengannya, Bella," kata Edward pelan, berbicara hanya

pada istrinya. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Bella, membelainya. Ini

membuat ruangan berubah warna menjadi merah, membuat pandanganku gelap

bahwa, setelah apa yang Edward lakukan padanya, ia masih diperbolehkan menyentuh

Bella seperti itu. "Jangan paksa dirimu," sambung Edward, memohon. "Kumohon,

istirahatlah. Kami akan kembali beberapa menit lagi."

Bella menatap wajah Edward, membacanya dengan saksama. Kemudian ia

mengangguk dan terkulai ke sofa. Rosalie membantu mendudukkan Bella di atas bantalbantal.

Belfl memandangiku, berusaha menatap mataku.

"Jaga sikapmu" desak Bella. "Kemudian kembalilah."

Aku tidak menanggapi. Aku tidak mau berjanji apa-apa hari ini. Aku memalingkan

wajah, lalu mengikuti Edward keluar ke pintu depan.

Sebuah suara sumbang di kepalaku mengatakan bahwa memisahkan Edward dari

kelompoknya ternyata tidak terlalu sulit, bukan?

Edward terus berjalan, tak pernah menoleh untuk melihat apakah aku hendak

menerkam punggungnya yang tidak terlindung. Kurasa ia tidak perlu mengecek. Ia pasti

tahu kapan aku memutuskan menyerang. Itu berarti aku harus mengambil keputusan

dengan sangat cepat.

"Aku belum siap dibunuh olehmu, Jacob Black," bisik Edward sambil berjalan

cepat-cepat menjauhi rumah. "Kau harus sedikit lebih bersabar."

Seolah-olah aku peduli. Aku menggeram pelan. "Kesabaran bukan spesialisasiku."

Ia berjalan terus, mungkin beberapa ratus meter menyusuri jalan masuk,

menjauh dari rumah, bersamaku yang membuntut tepat di belakangnya. Sekujur

tubuhku panas, jari-jariku gemetar. Gelisah, siap dan menunggu

151

Edward berhenti tanpa aba-aba dan berbalik menghadapiku Ekspresinya lagi-lagi

membuatku terpaku.

Selama sedetik aku seperti kanak-kanak lagi bocah yang seumur hidup tinggal di

kota kecil yang sama. Hanya bocah ingusan. Karena aku tahu aku harus menjalani hidup

lebih lama, menderita lebih banyak, untuk bisa memahami kepedihan hebat yang

membayang di mata Edward.

Ia mengangkat tangan seolah hendak menyeka keringat dari dahinya, tapi jarijarinya

menggores wajahnya seolah hendak mengoyak kulit granitnya yang keras. Mata

hitamnya membekas di dalam kelopaknya, nanar, atau melihat hal-hal yang sebenarnya

tidak ada. Mulutnya terbuka seolah hendak menjerit, tapi tak ada suara yang keluar.

Beginilah wajah orang yang dibakar hidup-hidup.

Sesaat aku tak mampu bicara. Ini terlalu nyata, wajah Ini—aku pernah melihat

bayangannya di rumah, melihatnya di mata Bella dan di mata Edward, tapi ini membuat

segalanya menjadi final. Paku terakhir yang menutup peti mati Bella.

"Itu membunuhnya, kan? Dia sekarat." Dan aku tahu saat mengucapkannya

bahwa wajahku juga sama basahnya dengan wajah Edward. Lebih lemah, berbeda,

karena aku masih shock, Aku belum sepenuhnya mencerna apa yang sesungguhnya

terjadi—kejadiannya begitu cepat. Sementara Edward tahu lebih dulu sehingga memiliki

waktu untuk sampai pada titik ini. Dan berbeda, karena aku sudah begitu sering

kehilangan Bella, dalam banyak hal, dalam benakku. Dan berbeda, karena Bella tak

pernah benar-benar menjadi milikku sehingga aku bisa mengatakan aku kehilangan dia.

Dan berbeda, karena ini bukan salahku.

"Kesalahanku," Edward berbisik, lututnya goyah. Ia terkulai di hadapanku, tak

berdaya, sasaran yang sangat empuk untuk dihabisi.

Tapi aku merasa sedingin salju—tak ada lagi api di dalam diriku.

"Ya," erang Edward sambil menunduk ke tanah, seperti sedang mengaku dosa

kepada bumi. "Ya, itu membunuhnya." Sikap Edward yang tidak berdaya membuatku

kesal. Aku ingin bertarung, bukan mengeksekusi. Di mana sikap sok superiornya

sekarang?

"Mengapa Carlisle tidak melakukan apa-apa?" geramku. "Dia dokter, kan?

Keluarkan saja makhluk itu dari perut Bella."

Edward mendongak dan menjawab pertanyaanku dengan nada letih. Seolah-olah

ia sudah menjelaskan hal yang sama kepada seorang anak TK untuk kesepuluh kalinya.

"Bella tidak mengizinkan kami."

152

Butuh waktu semenit baru aku bisa memahami kata-kata nya. Astaga, sungguh

khas Bella. Tentu saja, mati demi keturunan monster. Itu sangat Bella.

"Kau sangat mengenalnya," bisik Edward. "Betapa cepatnya kau melihat... aku

sama sekali tidak melihat itu. Tidak pada waktunya. Dia tidak mau bicara padaku dalam

perjalanan pulang, tidak banyak yang dia katakan. Kusangka dia takut itu wajar.

Kusangka dia marah padaku karena membuatnya harus mengalami hal ini, karena

membahayakan hidupnya Lagi. Tak pernah terbayang olehku apa yang sebenarnya dia

pikirkan, apa tekadnya. Tidak sampai keluargaku menjemput kami di bandara dan dia

langsung menghambur ke dalam pelukan Rosalie. Rosalie! Kemudian aku mendengar

pikiran Rosalie. Aku tidak mengerti sampai aku mendengar pikiran itu. Tapi dalam

sedetik saja, kau langsung mengerti..." Edward setengah mendesah, setengah

mengerang.

"Mundur dulu sebentar. Dia tidak mengizinkan kalian." Kesinisan terasa pahit di

lidahku. "Tidakkah terpikir olehmu bahwa tenaganya tak lebih dari tenaga manusia

perempuan normal? Dasar vampir-vampir tolol. Pegangi dia dan bius saja supaya teler."

"Aku memang ingin berbuat begitu," bisik Edward. "Carlisle sebenarnya mau."

Tapi apa, mereka kelewat mulia untuk melakukannya?

"Tidak. Bukan itu. Tapi bodyguard Bella membuat situasi semakin rumit."

Oh. Cerita Edward sebelumnya tidak terlalu masuk akal, tapi sekarang semua

jelas. Jadi karena itu ada si Pirang di sana. Apa kira-kira yang ia inginkan? Apakah si ratu

kecantikan begitu menginginkan Bella mati?

"Mungkin," jawab Edward. "Rosalie tidak melihatnya seperti itu."

"Kalau begitu, lumpuhkan saja dulu si Pirang. Jenis kalian bisa disatukan kembali,

bukan? Buat saja dia jadi puzzle, setelah itu baru urus Bella."

"Emmett dan Esme mendukungnya. Emmett takkan pernah mengizinkan kami...

dan Carlisle tidak mau membantuku kalau Esme menentangnya..." Suara Edward

menghilang.

"Seharusnya kautinggalkan saja Bella denganku."

"Ya."

Tapi sekarang sudah agak terlambat. Mungkin seharusnya hal ini sudah dipikirkan

Edward sebelum ia menyebabkan Bella mengandung monster pengisap kehidupan ini.

153

Edward menatapku dari dalam neraka pribadinya, dan bisa kulihat ia sependapat

denganku.

"Kami tidak tahu," kata Edward, kata-katanya sepelan embusan napasnya. "Itu

tidak pernah terbayangkan olehku. Belum pernah ada pasangan seperti aku dan Bella

sebelumnya. Bagaimana kami tahu seorang manusia bisa dibuahi dan mengandung

dengan jenis kami...

"Karena dalam prosesnya manusia pasti sudah mati tercabik-cabik lebih dulu?"

"Benar," Edward membenarkan dengan bisikan tegang. "Yang seperti itu memang

ada, vampir-vampir sadis, incubus, succubus. Mereka memang ada. Tapi rayuan

hanyalah pendahuluan sebelum manusianya menjadi mangsa. Tak seorang pun selamat"

Ia menggeleng-geleng seolah-olah gagasan itu menjijikkan baginya. Seolah-olah ia

berbeda saja.

"Aku baru tahu mereka memiliki nama tersendiri untuk jenis seperti kau"

semburku.

Edward menatapku dengan wajah yang terlihat amat letih.

"Bahkan kau pun, Jacob Black, tidak bisa membenciku sebesar aku membenci

diriku sendiri."

Salah, pikirku, saking marahnya hingga tak sanggup bicara.

"Membunuhku sekarang takkan bisa menyelamatkan Bella," kata Edward pelan.

"Jadi apa yang bisa menyelamatkannya?"

"Jacob, kau harus melakukan sesuatu untukku."

"Jangan harap aku mau, parasit.'"

Edward terus memandangiku dengan mata yang setengah letih setengah sinting.

"Demi Bella?"

Kugertakkan gigiku kuat-kuat. "Aku sudah melakukan apa saja yang kubisa untuk

menjauhkan dia darimu. Apa saja. Sekarang sudah terlambat."

"Kau mengenal dia, Jacob. Kau bisa berhubungan dengannya dalam taraf yang

aku sendiri bahkan tidak mengerti. Kau bagian darinya, dan dia bagian darimu. Dia tidak

mau mendengarkan aku, karena dia mengira aku meremehkan kemampuannya. Bella

mengira dia cukup kuat untuk ini..." Edward tercekik, kemudian menelan ludah.

"Mungkin dia mau mendengar nasihatmu."

154

"Mengapa dia mau mendengar nasihatku?"

Tiba-tiba Edward bangkit berdiri, matanya lebih berapi-api daripada sebelumnya,

lebih liar. Dalam hati aku penasaran jangan-jangan ia sudah berubah sinting. Bisakah

vampir jadi

"Mungkin," Edward menjawab pikiranku. "Aku tidak tahu. Kasanya seperti itu." Ia

menggeleng. "Aku harus mencoba menyembunyikan ini di depan Bella, karena stres

membuat kondisinya semakin parah. Sekarang saja dia sudah tidak bisa makan. Aku

harus tetap tenang, aku tidak bisa membuat keadaan semakin sulit. Tapi itu bukan

masalah sekarang. Dia harus mendengarkan nasihatmu!"

"Tidak ada lagi nasihat yang bisa kukatakan padanya yang belum kaukatakan

sendiri. Kau ingin aku melakukan apa? Mengatakan padanya bahwa dia tolol? Bella

mungkin sudah tahu itu. Mengatakan padanya bahwa dia akan meninggal? Aku berani

bertaruh dia pasti juga sudah tahu itu,"

"Kau bisa menawarkan apa yang dia inginkan."

Kata-kata Edward tidak masuk akal. Apakah itu bagian dari kesintingannya?

"Aku tidak peduli pada hal lain selain agar Bella tetap hidup," sergah Edward,

tiba-tiba fokus sekarang. "Kalau memang dia ingin punya anak, dia bisa punya anak.

Setengah lusin pun bisa. Apa pun yang dia inginkan." Sedetik Edward terdiam. "Bella

bisa punya anak-anak anjing, kalau memang itu bisa menyelamatkannya."

Sesaat Edward membalas tatapanku dan wajahnya mengharu biru di balik

selubung penguasaan diri yang tipis. Seringaian cemberutku lenyap saat aku memproses

kata-katanya, dan aku merasakan mulutku ternganga lebar saking shock nya.

"Tapi tidak dengan cara seperti ini!" desis Edward sebelum aku sempat pulih dari

kekagetanku. "Jangan makhluk yang membunuhnya pelan-pelan sementara aku hanya

bisa berdiri tak berdaya! Melihat Bella sakit dan kondisinya semakin parah. Melihat

makhluk itu menyakitinya." Edward menarik napas cepat seolah-olah ada yang meninju

perutnya. "Kau harus membuatnya mengerti, Jacob. Dia tidak mau mendengar kan katakataku

lagi. Rosalie selalu mendampinginya, menyokong kegilaannya,

menyemangatinya. Melindunginya. Tidak, melindungi makhluk itu. Hidup Bella tidak

berarti apa-apa bagi Rosalie."

Suara yang keluar dari tenggorokanku kedengaran seolah-olah aku tercekik.

Apa maksud Edward? Bahwa Bella harus... apa? Memiliki bayi? Dengan siapa?

Apa? Bagaimana? Apakah ia rela melepaskan Bella? Atau Edward mengira Bella tidak

akan keberatan dirinya dibagi-bagi?

155

"Yang mana saja. Apa saja asal dia bisa bertahan hidup."

"Itu hal paling sinting yang pernah kaukatakan," gumamku.

"Dia mencintaimu."

"Tidak sebesar itu."

"Dia siap mati untuk bisa punya anak. Mungkin Bella mau menerima sesuatu yang

tidak terlalu ekstrem."

"Kau sama sekali tidak mengenal dia, ya?"

"Aku tahu, aku tahu. Pasti sulit sekali meyakinkan Bella. Itulah sebabnya aku

membutuhkanmu. Kau tahu bagaimmana pikirannya. Buatlah dia mau diajak berpikir

logis.”

Aku tidak bisa memikirkan usul Edward itu. Sungguh ke terlaluan. Mustahil Salah.

Gila. Meminjam Bella selama akhir pekan kemudian mengembalikannya pada hari Senin

pagi seperti film pinjaman? Sungguh gila.

“Sungguh menggoda.”

Aku tidak ingin mempertimbangkan, tidak ingin membayangkan, tapi bayanganbayangan

itu tetap datang. Aku sudah terlalu sering berfantasi tentang Bella dengan

cara seperti mi, dulu ketika masih ada kemungkinan bagi kami, kemudian lama sesudah

keadaan menjadi jelas bahwa semua fantasi itu hanya akan meninggalkan luka bernanah

karena sudah tidak ada kemungkinan lagi, tidak ada fantasi sama sekali. Aku tidak bisa

menghentikan diriku sendiri ketika itu. Aku juga tidak bisa menghentikan diriku sendiri

sekarang. Bella dalam pelukanku, Bella mendesah mengucapkan namaku...

Yang lebih parah lagi, bayangan baru ini tidak pernah muncul dalam benakku

sebelumnya, tak pernah berhak untuk kubayangkan. Belum. Bayangan yang aku tahu

tidak akan menyiksaku selama bertahun-tahun ke depan seandainya Edward tidak

menjejalkannya ke kepalaku sekarang. Tapi bayangan itu menetap di sana, menyusup ke

otakku seperti semak belukar beracun dan tidak bisa dibunuh. Bella, sehat dan berseriseri:

tubuhnya, tidak tak berbentuk, berubah secara lebih alami. Bulat karena

mengandung anakku.

Aku berusaha melepaskan diri dari belitan semak beracun dalam pikiranku itu,

"Membuat Bella bisa berpikir logis? Memangnya kau hidup di alam mana?"

"Setidaknya cobalah."

156

Aku menggeleng kuat-kuat. Edward menunggu, tak menggubris jawaban negatif

itu karena ia bisa mendengar konflik dalam pikiranku.

"Dari mana omong kosong sinting ini berasal? Usul itu muncul begitu saja dalam

benakmu?"

"Aku tidak memikirkan apa-apa kecuali bagaimana menyelamatkan Bella sejak

aku menyadari apa yang ingin dia lakukan. Bahwa dia rela mati untuk melakukannya.

Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungimu. Aku tahu kau tidak akan mau

menerima teleponku. Seandainya kau tidak datang hari ini, aku pasti sudah pergi

mencarimu dalam waktu dekat. Tapi rasanya sulit meninggalkan Bella, bahkan hanya

untuk beberapa menit. Kondisinya, berubah-ubah begitu cepat. Makhluk itu... terus

bertumbuh. Dengan cepat. Aku tidak bisa jauh-jauh darinya sekarang."

"Makhluk apa sebenarnya itu?"

"Tak seorang pun dari kami tahu. Tapi makhluk ini lebih kuat daripada Bella

Sudah lebih kuat sekarang."

Tiba-tiba aku bisa melihatnya sekarang—melihat makhluk yang membengkak itu

dalam benakku, merobek perut Bella dari dalam.

"Bantu aku menghentikan makhluk itu," bisik Edward. "Bantu aku menghentikan

semua ini agar tidak terjadi."

"Bagaimana? Dengan cara menawari Bella layanan tempat tidur?" Edward

bahkan tidak tersentak mendengarku berkala begitu, meski aku sendiri tersentak. "Kau

benar-benar sinting, Bella tidak akan pernah mau mendengar."

"Cobalah. Tak ada ruginya sekarang. Tidak akan menyakiti siapa-siapa, kan?"

Itu akan menyakitiku. Apakah penolakan Bella selama ini belum cukup?

"Sedikit sakit demi menyelamatkan dia? Apakah itu harga yang terlalu tinggi?"

"Tapi itu tidak akan berhasil."

"Mungkin tidak. Tapi mungkin itu akan membuat Bella bimbang. Mungkin

tekadnya akan goyah. Sedikit keraguan, itu saja yang kuperlukan."

"Kemudian kau akan membatalkan tawaranmu? 'Hanya bercanda, Bella begitu?"

"Kalau Bella ingin punya anak, dia akan mendapatkan anak. Aku tidak akan

mangkir."

157

Aku tidak percaya aku bahkan mempertimbangkan usulan ini. Bella akan

menonjokku walaupun aku tidak peduli, tapi aku mungkin akan membuat tangannya

patah lagi. Seharusnya tidak membiarkan Edward bicara padaku, mengacaukan

pikiranku. Seharusnya kubunuh saja dia sekarang.

"Jangan sekarang," bisik Edward. "Belum. Benar atau salah, itu akan

menghancurkan Bella, kau tahu itu. Tidak perlu tergesa-gesa. Kalau dia tidak mau

mendengar saranmu, kau akan mendapatkan kesempatan itu. Begitu jantung Bella

berhenti berdetak, aku pasti akan memohon-mohon agar kau membunuhku."

"Kau tidak perlu memohon terlalu lama."

Secercah senyum letih menarik sudut-sudut bibir Edward. "Aku sangat

mengharapkan itu,”

“Kalau begitu kita sepakat."

Edward mengangguk dan mengulurkan tangan dinginnya yang sekeras batu.

Menelan perasaan jijikku, aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.

Jari-jariku menggenggam tangan yang sekeras batu, dan mengguncangnya satu kali.

"Kita sepakat," ia menyetujui.

158

10. MENGAPA AKU TIDAK LANGSUNG HENGKANG SAJA? OH YA.

BENAR, KARENA AKU IDIOT

Aku merasaa aku tidak tahu harus merasa bagaimana. Seakan-akan ini tidak

nyata. Seolah-olah aku sedang bermain dalam sitkom versi Goth yang jelek. Bukannya

jadi cowok culun yang akan mengajak ketua pemandu sorak pergi bareng, ke prom, aku

malah menjadi werewolf kelas dua. yang akan meminta istri vampir bercinta dan

menghasilkan anak. Bagus sekali.

Tidak, aku tidak mau melakukannya. Itu sinting dan salah Aku akan melupakan

semua yang dikatakan Edward.

Tapi aku akan bicara dengan Bella. Aku akan membuatnya mendengarkan katakataku.

Dan Bella tidak akan mau menurutiku. Seperti biasa.

Edward tidak menjawab ataupun mengomentari pikiran pikiranku saat ia berjalan

mendahului kembali ke rumah. Aku bertanya-tanya dalam hati, tentang tempat yang

dipilihnya tadi. Apakah cukup jauh dari rumah supaya yang lain-lain tidak bisa

mendengar bisikannya? Itukah tujuannya?

Mungkin. Waktu kami memasuki pintu, mata anggota keluarga Cullen yang lain

tampak curiga dan bingung. Tidak ada yang terlihat jijik atau marah. Jadi mereka pasti

tidak mendengar apa yang diminta Edward padaku.

Aku ragu-ragu di ambang pintu yang terbuka, tak yakin harus melakukan apa

sekarang. Lebih baik di sini, ada sedikit udara yang bisa dihirup dari luar.

Edward berjalan ke tengah kerumunan, bahunya tegang. Bella menatap Edward

cemas, sesaat kemudian matanya berkelebat ke arahku. Lalu mata itu kembali menatap

Edward.

Wajah Bella berubah jadi pucat keabu-abuan, dan aku mengerti maksud Edward

tadi waktu mengatakan stres membuat kondisi Bella semakin buruk.

"Kita akan memberi Jacob dan Bella kesempatan untuk berbicara berdua" kata

Edward. Suaranya sama sekali tanpa emosi. Seperti robot.

"Langkahi dulu mayatku" desis Rosalie. Ia masih berdiri di samping kepala Bella,

sebelah tangannya yang dingin memegang pipi Bella yang cekung dengan sikap posesif.

159

Edward tak menghiraukan Rosalie. "Bella," katanya dengan nada datar yang

sama. "Jacob ingin bicara denganmu. Takutkah kau ditinggal berdua saja dengannya?"

Bella menatapku, bingung. Kemudian ia menatap Rosalie.

"Rose, tidak apa-apa. Jacob tidak akan menyakiti kami. Kau pergi saja dengan

Edward."

"Bisa jadi ini hanya tipuan," si Pirang mengingatkan.

"Tidak mungkin" bantah Bella.

"Kau akan selalu bisa melihat Carlisle dan aku, Rosalie," kata Edward. Suaranya

yang tanpa emosi pecah, menunjukkan kemarahan di baliknya. "Kamilah yang Bella

takuti."

“Tidak," bisik Bella. Matanya berkaca-kaca, bulu matanya basah. "Tidak, Edward.

Aku tidak..."

Edward menggeleng, tersenyum kecil. Sungguh menyakitkan melihat senyum itu.

"Bukan begitu maksudku, Bella. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku."

Memuakkan. Edward benar Bella menyalahkan dirinya sendiri karena telah

melukai perasaan Edward. Benar-benar cewek tipe martir klasik. Sungguh, Bella

dilahirkan di abad yang salah. Seharusnya ia hidup dulu, pada zaman ia bisa diumpankan

ke singa-singa kelaparan demi alasan mulia.

"Semuanya," seru Edward, tangannya melambai kaku ke pintu. "Please."

Pertahanan diri yang coba Edward kendalikan demi Bella terancam runtuh. Bisa

kulihat betapa ia sudah nyaris seperti orang yang dibakar hidup-hidup, seperti waktu di

luar tadi. Yang lain juga melihatnya. Tanpa bersuara mereka berjalan keluar lewat pintu

sementara aku menyingkir memberi jalan. Mereka bergerak cepat; jantungku baru

berdebar dua kali, dan semua sudah meninggalkan ruangan kecuali Rosalie, yang berdiri

ragu di tengah ruangan, dan Edward, yang masih menunggu di dekat pintu.

"Rose," ujar Bella pelan. "Aku ingin kau pergi."

Si Pirang memandang Edward garang dan memberinya isyarat untuk pergi lebih

dulu. Edward menghilang keluar pintu. Rosalie menatapku garang kuna sekali, lalu pergi.

Setelah hanya tinggal kami berdua, aku melintasi ruangan dan duduk di lantai di

sebelah Bella. Kuraih kedua tangannya yang dingin dengan kedua tanganku,

mengusapnya hati-hati.

"Trims, Jake. Rasanya enak."

160

"Aku tidak mau berbohong, Bells. Kau jelek sekali.”

“Aku tahu," desah Bella. "Aku terlihat mengerikan.”

“Mengerikan seperti makhluk rawa," aku mengoreksi. Bella tertawa. "Senang

sekali kau datang ke sini. Enak rasanya bisa tersenyum. Aku tidak tahu berapa banyak

drama lagi yang bisa kutahan."

Aku memutar bola mataku.

"Oke, oke," Bella sependapat. "Ini gara-gara ulahku sendiri.”

“Yeah, memang. Apa sih yang kaupikirkan, Bells? Serius nih!"

"Dia menyuruhmu memarahiku, ya?"

"Begitulah. Walaupun aku tak habis pikir mengapa dia mengira kau mau

mendengarkan kata-kataku. Sebelumnya kau toh tidak pernah mau."

Bella mendesah.

"Sudah kubilang..." aku mulai berkata,

"Tahukah kau bahwa sudah kuhilang itu memiliki saudara, Jacob?" sergah Bella,

memotong perkataanku. "Namanya 'Tutup mulutmu!"

"Bagus juga balasanmu."

Bella nyengir. Kulitnya mengejang tegang di balik tulang-tulangnya. "Itu bukan

karanganku—aku mendapatkannya dari tayangan ulang The Simpsons"

"Aku tidak nonton episode yang itu."

"Episode yang itu lucu."

Kami tidak berbicara lagi selama semenit. Kedua tangannya mulai hangat.

"Apakah Edward benar-benar memintamu bicara denganku?"

Aku mengangguk. "Supaya kau mau berpikir logis. Padahal bisa dibilang aku

sudah kalah sebelum bertanding”

“Jadi, mengapa kau setuju?"

Aku tidak menjawab. Aku tidak yakin aku tahu.

Ini yang kutahu setiap detik yang kuhabiskan bersama Bella hanya akan

memperparah luka hati yang bakal kudapat nanti. Seperti pecandu narkoba yang hanya

161

memiliki si terbatas, tahu hari yang menentukan itu pasti akan datang. Semakin banyak

narkoba yang kukonsumsi, semakin sulit keadaanku bila persediaanku habis nanti.

"Semua pasti akan berakhir dengan baik," kata Bella setelah terdiam beberapa

saat. "Aku yakin itu."

Perkataannya membuat amarahku memuncak. "Jadi, pikun itu salah satu

gejalanya, ya?" bentakku.

Bella tertawa, walaupun amarahku begitu nyata sampai sampai kedua tanganku

yang menggenggam tangannya bergetar.

"Mungkin," ujarnya. "Aku tidak mengatakan semua akan berakhir baik dengan

mudah, Jake. Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup melewati semua yang pernah

kualami dan tidak meyakini bahwa pada titik ini, keajaiban itu ada?"

"Keajaiban?"

"Terutama bagimu," kata Bella. Ia tersenyum. Ditariknya sebelah tangannya dari

genggamanku dan ditempelkannya ke pipiku. Lebih hangat daripada sebelumnya, tapi

terasa dingin di kulitku, seperti sebagian besar benda-benda lain terasa di kulitku. "Lebih

daripada orang lain, ada keajaiban menantimu untuk membuat keadaanmu lebih baik."

"Kau omong apa sih?"

Masih tersenyum. "Dulu Edward pernah menceritakan padaku bagaimana

rasanya masalah imprint yang kalian alami. Katanya, itu seperti di A Midsummer Night's

Vreutn, seperti keajaiban. Kau akan menemukan seseorang yang benar-benar kaucari,

Jacob, dan mungkin baru pada saat itu lah semua akan jadi masuk akal."

kalau saja Bella tidak terlihat begitu rapuh, aku pasti sudah berteriak,

Tapi aku memang menggeram padanya.

"Kalau kaupikir imprint bisa membuat semua kegilaan ini masuk akal..." Susah

payah aku mencari kata-kata yang tepat. "Apakah kau benar-benar mengira hanya

karena suatu hari nanti aku akan meng-imprint seseorang yang tidak kukenal maka

semua ini boleh kaulakukan?" Dengan kasar kutuding tubuh Bella yang membengkak.

"Katakan padaku apa gunanya, Bella? Apa gunanya aku mencintaimu? Apa gunanya Aku

mencintai dia? Kalau kau mati" kata-kata itu keluar berupa geraman "bagaimana

mungkin itu bisa membuat kelihatan jadi lebih baik? Apa gunanya semua kepedihan ini?

kepedihan yang aku, kau, dia rasakan! Kau juga akan melihatnya mati, walaupun aku

tidak peduli tentang hal itu."

162

Bella tersentak, tapi aku maju terus. "Jadi apa gunanya kisah cintamu yang ganjil

ini, pada akhirnya? Kalau ada sedikit saja alasan masuk akal dalam hal ini, kumohon,

tunjukkan padaku, Bella, karena aku tidak melihatnya."

Bella mendesah. 'Aku belum tahu, Jake. Aku hanya... merasa... semua ini akan

berakhir dengan baik, walaupun sulit melihat itu sekarang. Kurasa, itulah yang disebut

iman"

"Kau akan mati sia-sia, Bella! Sia-sia!"

Ia menurunkan tangannya dari pipiku dan menaruhnya di perutnya yang

membuncit, membelai-belainya. Tanpa harus mengatakan apa-apa, aku sudah tahu apa

yang dipikirkan bella. Ia rela mati demi makhluk itu.

"Itu omong kosong, Bella. Sudah terlalu lama kau berusaha mengimbangi hal-hal

supranatural. Tak ada orang normal yang mampu melakukan ini. Kau tidak cukup kuat."

Kurengkuh wajahnya. Aku tidak perlu mengingatkan diriku untuk bersikap lembut.

Segala sesuatu dalam diri Bella seolah meneriakkan kata rapuh.

"Aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya," gumam Bella, sangat mirip

cerita anak-anak tentang Thomas si lokomotif kecil yang bisa melakukan apa saja.

"Kelihatannya tidak begitu menurutku. Jadi, apa rencanamu? Kuharap kau punya

rencana,"

Bella mengangguk, tidak membalas tatapanku, "Tahukah kau dulu Esme terjun

dari tebing? Waktu dia masih manusia, maksudku,"

"Memangnya kenapa?"

"Esme sudah benar-benar hampir mati sehingga mereka bahkan tidak merasa

perlu membawanya ke UGD—mereka langsung membawanya ke kamar mayat. Tapi

jantung Esme masih berdetak waktu Carlisle menemukannya,,,"

Itulah yang Bella maksudkan sebelumnya, tentang mempertahankan jantungnya

tetap berdetak,

"Kau memang tidak berencana selamat melewati ini dan tetap menjadi manusia,"

ujarku, nadaku muram.

"Tidak. Aku tidak setolol itu." Ia membalas tatapanku, "Tapi kurasa kau mungkin

memiliki opini sendiri dalam hal itu."

"Vampirisasi darurat," gumamku.

163

"Itu bisa berhasil pada Esme. Juga Emmett, dan Rosalic, bahkan Edward. Tak

seorang pun di antara mereka berada dalam kondisi sehat. Carlisle mengubah mereka

karena hanya itu pilihannya atau mati. Carlisle tidak mengakhiri hidup, tapi

menyelamatkannya."

Aku mendadak merasakan secercah perasaan bersalah terhadap dokter vampir

baik hati itu, seperti sebelumnya. Kuenyahkan pikiran itu jauh-jauh dan mulai

memohon-mohon.

"Dengarkan aku, Bells, Jangan lakukan ini dengan cara seperti itu." Seperti

sebelumnya, ketika telepon dari Charlie datang, bisa kulihat betapa besar perbedaan

semua ini bagiku. Aku sadar aku membutuhkan Bella tetap hidup, dalam wujud tertentu.

Dalam wujud apa pun. Aku menghela napas dalam-dalam. "Jangan tunggu sampai

terlambat, Bella. Jangan seperti itu. Pokoknya kau harus hidup. Oke? Hidup, itu saja.

Jangan lakukan ini padaku. Jangan lakukan ini pada Edward." Suaraku semakin keras,

semakin nyaring. "Kau tahu apa yang akan dia lakukan kalau kau mati. Kau pernah

melihatnya sebelum ini, Kau ingin dia kembali ke pembunuh-pembunuh Italia itu?”.

Bella mengkeret semakin dalam ke sofa.

Tidak kukatakan bahwa kali ini Edward tidak perlu ke Italia.

Berusaha sekuat tenaga membuat suaraku terdengar lebih lembut, aku bertanya,

"Ingat waktu aku babak belur gara-gara para vampir baru itu? Apa yang kaukatakan

padaku?"

Aku menunggu, tapi ia tidak mau menjawab. Ia mengatupkan bibirnya rapatrapat.

"Kau menyuruhku bersikap baik dan mendengarkan Carlisle," aku mengingatkan

Bella. "Dan apa yang kulakukan? Aku menuruti si vampir. Demi kau."

"Kau menurut karena itu memang hal yang tepat untuk dilakukan"

"Oke—kau boleh pilih salah satunya"

Bella menarik napas dalam-dalam. "Itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan

sekarang." Tatapannya menyentuh perutnya yang bulat besar dan ia berbisik pelan,

“Aku tidak akan membunuh putraku."

Kedua tanganku kembali bergetar. "Oh, aku belum mendengar kabar baik itu. Jadi

bayimu laki-laki, heh? Seharusnya tadi aku membawa balon biru."

Wajah Bella berubah jadi pink. Warnanya sangat indah membuat perutku terpilin

perih seperti ditusuk pisau. Pisau bergerigi kasar, karatan.

164

Aku bakal kalah. Lagi.

"Aku tidak tahu apakah dia laki-laki" Bella mengakui, sedikit malu-malu. "Alat

USG tidak bisa bekerja. Membran yang melingkupi bayi ini terlalu keras—seperti kulit

mereka. Jadi dia sedikit misterius. Tapi aku selalu membayangkan bocah laki-laki."

"Bukan bayi lucu dan menggemaskan yang ada di dalam sana, Bella."

"Kita lihat saja nanti," tukas Bella. Hampir seperti puas dengan dirinya sendiri.

"Kau takkan bisa melihatnya" geramku.

"Kau pesimis sekali, Jacob. Jelas aku punya peluang untuk melewati ini dengan

selamat."

Aku tak mampu menjawab. Aku menunduk dan menghela napas dalam-dalam

dan lambat-lambat, berusaha mengendalikan amarahku.

"Jake," ujar Bella, Ia menepuk-nepuk rambutku, membelai pipiku. "Semua pasti

akan berakhir dengan baik. Ssshhh, Semua pasti akan beres."

Aku tidak mendongak. "Tidak. Tidak mungkin ini berakhir dengan baik."

Bella menyeka sesuatu yang basah dari pipiku. "Ssshhh."

"Bagaimana kesepakatannya, Bella?" Aku memandangi karpet yang pucat. Kakiku

yang telanjang kotor, meninggalkan jejak-jejak kotor. Bagus. "Kusangka intinya adalah

bahwa kau menginginkan vampirmu lebih daripada segalanya. Tapi sekarang kau malah

menyia-nyiakan dia? Itu tidak masuk akal. Sejak kapan kau begitu ingin menjadi ibu?

Kalau memang sangat kauinginkan, lantas mengapa kau menikah dengan Vampir?"

Berbahaya, aku sudah nyaris menyinggung tawaran yang Edward ingin agar

kuajukan. Bisa kulihat kata-kataku mengarah ke sana, tapi aku tak mampu mengubah

arah.

Bella mendesah. "Bukan begitu. Aku tidak benar-benar peduli soal punya anak.

Aku bahkan tidak memikirkannya. Ini bukan sekadar masalah punya bayi. Tapi... well...

bayi ini"

"Bayi ini pembunuh, Bella. Lihat saja keadaanmu sekarang."

"Dia bukan pembunuh. Penyebabnya aku sendiri. Hanya karena aku lemah dan

manusia, "tapi aku bisa menguatkan diri dan bertahan menghadapi ini, Jake. Aku bisa..."

165

“Ah, yang benar saja! Tutup mulut, Bella. Kau bisa saja menjejalkan omong

kosong ini ke si pengisap itu, tapi kau tidak hisa membodohi aku. Kau tahu kau tidak

bakal selamat melewati ini."

Bella menatapku garang. "Aku tidak tahu itu. Aku memang mengkhawatirkannya,

tentu saja."

"Mengkhawatirkannya," ulangku dari sela-sela gigi yang terkatup rapat.

Bella terkesiap, lalu mencengkeram perutnya. Amarahku langsung lenyap seperti

lampu yang tiba-tiba dimatikan.

"Aku baik-baik saja" Bella megap-megap. "Tidak apa-apa,"

Tapi aku tidak mendengar kata-katanya; kedua tangan Bella menyingkapkan

sweternya ke satu sisi, dan aku melotot, ngeri, melihat kulit yang terpampang di

baliknya. Perut Bella terlihat seperti dihiasi bercak-bercak besar tinta ungu-hitam.

Bella menyadari tatapanku, dan menyentakkan bajunya kembali menutupi perut.

"Dia kuat, itu saja," sergah Bella dengan nada membela.

Bercak tinta itu adalah memar

Aku nyaris muntah, dan aku mengerti apa yang dimaksud Edward, tentang

melihat mahkluk itu menyakiti Bella.” Mendadak, aku sendiri merasa sedikit sinting.

"Bella," kataku.

Bella mendengar perubahan suaraku. Ia mendongak, napasnya masih berat,

matanya bingung. "Bella, jangan lakukan ini."

"Jake.”

"Dengar aku. Jangan menyela dulu. Oke? Dengarkan dulu. Bagaimana kalau?”

“Bagaimana kalau apa?"

"Bagaimana kalau ini bukan seperti yang kaukira? Bagaimana kalau ternyata

pilihannya bukan semua atau tidak sama sekali? Bagaimana kalau kau bersikap baik

dengan menurun nasihat Carlisle dan tetap bertahan hidup?"

"Aku tidak akan..."

"Aku belum selesai. Jadi kau tetap bertahan hidup. Kemudian kau bisa memulai

semua dari awal lagi. Tidak apa-apa kalau yang ini tidak berhasil. Kau bisa mencoba

lagi."

166

Bella mengerutkan kening. Ia mengangkat satu tangan dan menyentuh tempat

alisku saling bertaut. Jari-jarinya meng haluskan keningku sesaat sementara ia berusaha

memahami perkataanku.

"Aku tidak mengerti.., apa maksudmu, mencoba lagi? Kau tidak menganggap

Edward akan membiarkanku,,,? Dan apa bedanya? Aku yakin bayi mana pun..."

"Memang," bentakku. "Bayi mana pun yang dia benihkan pasti akan sama."

Wajah Bella yang letih tampak semakin bingung. "Apa?"

Tapi aku tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Tak ada gunanya. Aku takkan

pernah bisa menyelamatkan Bella dari dirinya sendiri. Sejak dulu pun aku tak pernah

bisa melakukannya.

Kemudian Bella mengerjapkan mata, dan kulihat bahwa ia mengerti.

"Oh. Ugh. Please, Jacob. Kaupikir sebaiknya aku membunuh bayiku dan

menggantinya dengan pengganti generik Inseminasi buatan.'" Ia marah sekarang. "Masa

aku mau mengandung bayi orang asing? Maksudmu itu tidak ada bedanya? Bayi mana

saja bisa?"

"Bukan begitu maksudku," gerutuku. "Bukan bayi orang asing."

Bella mencondongkan tubuh ke depan. "Kalau begitu, apa maksudmu?"

"Tidak ada. Tidak ada maksud apa-apa. Sama seperti biasa."

"Dari mana datangnya ide itu?”

“Lupakan saja. Bella."

Ia mengerutkan kening, curiga. "Apakah Edward menyuruhmu mengatakan itu?"

Aku ragu, terkejut karena Bella bisa begitu cepat menyimpulkan. "Tidak."

"Itu ide Edward, kan?"

"Bukan, sungguh. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang apa pun yang sifatnya

dangkal."

Wajah Bella melembut, dan ia membenamkan tubuhnya kembali ke tumpukan

bantal, terlihat lelah. Matanya menerawang ke satu sisi waktu ia berbicara, tidak

menujukan perkataannya padaku. "Edward rela melakukan apa saja untukku. Dan aku

membuatnya sangat menderita... Tapi apa sih yang ada dalam pikirannya? Apa dikiranya

167

aku rela menukar ini tangan Bella menelusuri perutnya"dengan bayi orang asing.." Ia

menggumamkan bagian terakhir itu, kemudian suaranya menghilang. Matanya basah.

"Kau tidak perlu membuatnya menderita," bisikku. Mulutku seperti terbakar

racun karena harus memohon-mohon demi Edward, tapi aku tahu pendekatan ini

mungkin yang terbaik yang bisa membuat Bella bertahan hidup. Walaupun peluang nya

masih sangat kecil. "Kau bisa membuatnya bahagia lagi, Bella. Dan aku benar-benar

yakin dia sudah kehilangan akal. Jujur saja, menurutku begitu."

Sepertinya Bella tidak mendengarkan, tangannya bergerak membuat lingkaranlingkaran

kecil di perutnya yang beran-takan sambil menggigit bibir. Lama sekali tidak

terdengar suara apa-apa. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah keluarga Cullen telah

menyingkir jauh-jauh. Apa mereka mendengar usahaku yang menyedihkan untuk

membujuk Bella?

"Bukan orang asing?" gumam Bella pada diri sendiri. Aku meringis. "Apa tepatnya

yang dikatakan Edward padamu?" tanyanya pelan.

"Tidak ada. Dia hanya merasa kau mungkin mau mendengar nasihatku."

"Bukan itu. Tentang mencoba lagi"

Matanya terpaku ke mataku, dan aku tahu sudah terlalu banyak yang kuungkap.

"Tidak ada,"

Mulut Bella ternganga sedikit, "Wow." Beberapa saat tidak terdengar suara apaapa.

Aku menunduk memandang kakiku lagi, tak mampu membalas tatapannya.

"Dia benar-benar rela melakukan apa saja, ya?" bisik Bella.

"Sudah kuhilang, dia sudah kehilangan akal Secara harfiah, Bell”

"Heran juga aku, kau tidak langsung mengatakan itu padanya. Menghajarnya

sampai babak belur."

Waktu aku mendongak, kulihat Bella nyengir.

"Sebenarnya itu terpikirkan olehku." Aku berusaha membalas cengirannya, tapi

bisa kurasakan senyumku kali ini jelek sekali.

Bella tahu apa yang kutawarkan, tapi ia bahkan tidak mau

mempertimbangkannya. Aku sudah tahu akan seperti itu. Tapi tetap saja aku merasa

sedikit tersinggung.

168

"Kau juga pasti rela melakukan apa saja demi aku, bukan?" bisiknya. "Aku benarbenar

tidak tahu mengapa kau harus repot-repot. Aku tidak pantas mendapatkan salah

satu dari kalian."

"Tapi tak ada bedanya, bukan?"

"Kali ini tidak." Bella mendesah. "Kalau saja aku bisa menjelaskan kepadamu

dengan benar sehingga kau bisa mengerti. Aku tidak bisa menyakitinya" Bella menuding

perutnya" sama seperti aku tidak bisa mengambil pistol dan menembakmu. Aku sayang

bayi ini."

"Mengapa kau selalu harus mencintai hal-hal yang salah, Bella?"

"Menurutku tidak begitu,"

Aku berdeham-deham untuk membersihkan tenggorokan agar bisa membuar

suaraku terdengar sekeras yang kuinginkan. "Percayalah padaku."

Aku bergerak untuk berdiri.

"Mau ke mana kau?"

"Tidak ada gunanya aku di sini terus."

Bella mengulurkan tangannya yang kurus, memohon. "Jangan pergi,"

Bisa kurasakan kecanduan itu mengisapku, berusaha membuatku tetap berada di

dekat Bella.

"Tempatku bukan di sini. Aku harus pulang."

"Mengapa kau datang ke sini hari ini?" tanyanya, masih mengulurkan tangan

dengan lemas.

"Hanya untuk melihat apakah kau benar-benar masih hidup. Aku tidak percaya

kau sakit seperti kata Charlie."

Aku tidak bisa menerka dari ekspresi wajahnya, apakah ia memercayai

perkataanku atau tidak.

"Apakah kau akan kembali lagi? Sebelum..."

"Aku tidak mau datang hanya untuk menontonmu meregang nyawa, Bella."

Bella tersentak. "Kau benar, kau benar. Kau sebaiknya pergi."

169

Aku berjalan menuju pintu. "Bye," bisik Bella di belakangku. "Aku sayang padamu,

Jake."

Nyaris saja aku kembali. Nyaris saja aku berbalik, berlutut, dan mulai memohonmohon

lagi. Tapi aku tahu aku harus segera meninggalkan Bella, memutus hubunganku

dengannya telak-telak, sebelum ia membunuhku, seperti ia akan membunuh Edward.

"Tentu, tentu," gumamku dalam perjalanan keluar.

Tidak seorang vampir pun terlihat. Kuabaikan motorku yang berdiri sendiri di

tengah padang rumput. Sekarang benda itu tak cukup cepat lagi bagiku. Ayahku pasti

panik sekali—begitu juga Sam. Apa yang dipikirkan kawanan serigala itu saat mereka

tidak mendengarku berubah wujud? Apakah mereka mengira keluarga Cullen

menghabisiku sebelum aku dapat berubah? Kulucuti semua pakaianku, tak peduli kalaukalau

ada yang melihat, dan mulai berlari. Aku berubah menjadi serigala saat tengah

berlari. Mereka menunggu. Tentu saja mereka menunggu. Jacob, Jake, delapan suara

berseru serempak, lega. Pulanglah, sekarang suara Alfa memerintahkan. Sam marah

sekali.

Aku merasa Paul memudar, dan aku tahu Billy serta Rachel pasti menunggu kabar

dariku. Paul terlalu bersemangat ingin menyampaikan kabar baik bahwa aku tidak

menjadi santapan para vampir sehingga tidak mendengarkan cerita seutuhnya.

Aku tidak perlu memberitahu teman-teman sekawananku bahwa aku menuju ke

sana mereka bisa melihat pemandangan hutan yang kabur saat aku berlari cepat untuk

pulang. Aku juga tidak perlu memberitahu mereka bahwa aku setengah gila. Perasaan

muak yang berkecamuk di kepalaku sudah jelas bagi mereka.

Mereka melihat semua kengerian itu perut Bella yang be-bercak-bercak;

suaranya yang serak: bayi ini kuat, hanya itu; wajah Edward yang tersiksa seperti orang

dibakar hidup-hidup: melihat Bella sakit dan kondisinya semakin parah. melihat makhluk

itu menyakitinya; Rosalie membungkuk di atas tubuh Bella yang lunglai: hidup Bella

tidak berarti apa-apa baginya dan kali ini, tak seorang pun sanggup berkomentar.

Shock yang mereka rasakan hanya berupa teriakan tanpa suara di kepalaku.

Tanpa kata-kata.

Aku sudah setengah jalan menuju mereka sebelum semua orang pulih dari

kekagetan. Lalu mereka berlari menyongsongku.

Hari sudah hampir gelap awan sepenuhnya menghalangi matahari terbenam, Aku

mengambil risiko melesat melewati jalan raya tapi berhasil lewat tanpa terlihat.

170

Kami bertemu kira-kira enam belas kilometer di luar La Push, di lapangan terbuka

yang ditinggalkan para penebang kayu. Tempat itu jauh dari mana-mana, terjepit di

antara dua gunung tinggi, dan tak ada orang yang bakal melihat kami di sana. Paul

bergabung waktu aku sampai, jadi kawanan sudah lengkap.

Gemuruh di kepalaku sangat berisik. Semua berteriak pada saat bersamaan.

Bulu Sam berdiri tegak, dan ia terus menggeram sambil berjalan mondar-mandir

mengelilingi lingkaran. Paul dan Jared bergerak seperti bayangan di belakangnya, telinga

mereka terlipat rata di sisi kepala. Semua serigala di dalam lingkaran gelisah, berdiri dan

menggeram-geram dengan suara rendah dan garang.

Awalnya, tidak jelas apa yang membuat mereka marah, dan kusangka mereka

akan memarahiku. Pikiranku terlalu kacau sehingga aku tak peduli. Mereka boleh

melakukan apa saja yang mereka inginkan padaku karena telah melanggar perintah.

Kemudian pikiran-pikiran penuh kebingungan yang tidak terfokus itu mulai

menemukan bentuknya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Apa artinya ini? Apa yang akan terjadi nanti?

Tidak aman. Tidak benar. Berbahaya.

Tidak alami. Monster. Sesuatu yang sangat jahat.

Tidak boleh dibiarkan.

Kawanan sekarang mondar-mandir dalam gerakan teratur, berpikir secara

teratur, semua kecuali aku dan seekor serigala lain. Aku duduk di sebelah entah siapa,

terlalu linglung untuk menoleh baik dengan mata ataupun pikiran untuk melihat .siapa

yang duduk di sampingku, sementara anggota kawanan yang lain mengitari kami.

Ini tidak termasuk dalam kesepakatan.

Ini membahayakan semua orang.

Aku mencoba memahami suara-suara yang berputar, mencoba mengikuti ke

mana arahnya semua ini, tapi tak ada yang masuk akal. Kelebatan pikiran yang terlihat di

pusat benak mereka adalah kelebatan pikiran-pikiranku ingatan-ingatan yang terburuk.

Bercak-bercak di tubuh Bella, wajah Edward saat ia terbakar.

Mereka juga takut.

Tapi mereka tidak akan melakukan apa-apa mengenainya. Melindungi Bella

Swan.

171

Kita tak dapat membiarkan itu memengaruhi kita.

Keselamatan keluarga kita, keselamatan semua orang di sini, lebih penting

daripada keselamatan satu orang.

Kalau mereka tidak bersedia membunuh makhluk itu, kita harus melakukannya.

Melindungi suku kita.

Melindungi keluarga kita.

Kita harus membunuh makhluk itu sebelum terlambat.

Salah satu ingatanku lagi, kali ini ucapan Edward; Makhluk itu bertumbuh.

Dengan sangat cepat.

Aku berjuang untuk fokus, untuk menangkap suara-suara individual.

Jangan buang-buang waktu lagi, pikir Jared. Ini berarti pertarungan, Embry

menimpali hati-hati. Pertarungan besar.

Kita siap kok, desak Paul.

Kita akan membutuhkan kejutan, pikir Sam.

Kalau mereka tidak bersama-sama, kita bisa mengalahkan mereka. Ini bisa

memperbesar kemungkinan kita untuk menang, pikir Jared, sekarang mulai menyusun

strategi.

Aku menggeleng, perlahan-lahan bangkit. Aku merasa gamang seolah-olah

lingkaran serigala itu membuatku pusing. Serigala di sebelahku ikut bangkit. Bahunya

mendorong bahuku, menyanggaku.

Tunggu, pikirku.

Lingkaran sejenak berhenti, lalu bergerak lagi.

Waktunya hanya sedikit, Sam berkata.

Tapi apa sih yang kalian pikirkan? Siang tadi kalian tidak mau menyerang mereka

karena telah melanggar kesepakatan. Tapi sekarang kalian merencanakan serangan,

padahal kesepakatan masih dijunjung tinggi.

Ini bukan sesuatu yang diantisipasi kesepakatan kita, Sam berkata. Ini merupakan

ancaman terhadap setiap manusia di wilayah ini. Kita tidak tahu makhluk seperti apa

yang telah diciptakan keluarga Cullen, tapi kita tahu makhluk itu kuat dan tumbuh

dengan cepat. Dan juga tak cukup umur untuk mengikuti kesepakatan mana pun. Ingat

172

vampir-vampir baru yang kita hadapi itu? Liar, buas, tidak punya akal sehat dan tak bisa

dikendalikan. Coba bayangkan makhluk seperti itu, dilindungi keluarga Cullen.

Kita tidak tahu aku mencoba menginterupsi. Kita memang tidak tahu, ia setuju.

Dan untuk kasus ini kita tidak bisa mengambil risiko dengan ketidaktahuan kita. Kita

hanya bisa mengizinkan keluarga Cullen tetap eksis sepanjang kita benar-benar yakin

bahwa mereka bisa dipercaya tidak akan menimbulkan bahaya. Makhluk... ini tidak bisa

dipercaya.

Mereka juga tidak menyukai makhluk itu.

Sam menarik wajah Rosalie, sikap tubuhnya yang protektif, dari benakku dan

menunjukkannya kepada yang lain.

Ada yang sudah siap berjuang untuknya, tak peduli seperti apa pun makhluk itu.

Demi Tuhan, itu kan cuma bayi. Tidak untuk waktu lama, bisik Leah.

Jake, kawan, ini masalah besar, Quil berkata. Kita tidak bisa mengabaikannya

begitu saja.

Kalian terlalu membesar-besarkannya, sergahku. Satu-satunya yang terancam

bahaya adalah Bella.

Sekali lagi karena pilihannya sendiri, ujar Sam. Tapi kali ini pilihannya

memengaruhi kita semua.

Kurasa tidak.

Kita tidak boleh mengambil risiko. Kita tidak boleh membiarkan makhluk

peminum darah berburu di tanah kita.

Kalau begitu suruh mereka pergi, serigala yang masih mendukungku berkata.

Ternyata Seth. Tentu saja.

Dan membahayakan orang lain? Kalau ada makhluk peminum darah melintasi

tanah kita, kita habisi mereka, tak peduli ke mana mereka merencanakan untuk

berburu. Kita melindungi semua yang bisa kita lindungi.

Ini gila, kataku. Siang tadi kalian khawatir bakal membahayakan kawanan.

Siang tadi aku tidak tahu keluarga kita terancam keselamatannya.

Aku tidak percayai Bagaimana caranya kalian membunuh makhluk ini tanpa

membunuh Bella?

173

Tidak ada kata-kata, tapi keheningan itu begitu sarat makna.

Aku melolong. Bella juga manusiai Tidakkah perlindungan kita berlaku untuknya?

Ia toh sudah sekarat, pikir Leah. Kita hanya mempersingkat prosesnya.

Perkataannya membuat amarahku meledak. Aku melompat menjauhi Seth,

menyasar kakaknya, dengan gigi menyeringai. Aku nyaris menerkam kaki belakang kiri

Leah waktu merasakan gigi Sam mengoyak panggulku, menyeretku kembali.

Aku melolong kesakitan bercampur marah dan berbalik menghadapi Sam.

Hentikan, perintah Sam dengan suara bergaung penuh wibawa, khas Alfa.

Kedua kakiku seperti menekuk di bawah tubuhku. Aku langsung berhenti, dan

berhasil berdiri setelah mengerahkan segenap upaya.

Sam mengalihkan pandangan. Kau tak boleh bersikap keji pada Jacob, Leah, ia

memerintahkan. Mengorbankan Bella adalah harga yang sangat mahal dan kita semua

harus mengakui itu. Mengambil nyawa manusia bertentangan dengan prinsip kita.

Membuat pengecualian dalam hal itu bukanlah pilihan mengenakkan. Kita semua harus

merasa berduka atas apa yang akan kita lakukan nanti malam.

Nanti malam? ulang Seth, shock. Sam kurasa sebaiknya kita bicarakan dulu

masalah ini. Setidaknya berkonsultasi dengan para Tetua dulu. Tidak mungkin kau serius

dengan rencanamu bahwa kita akan...

Kita tak bisa menerima toleransimu terhadap keluarga Cullen sekarang. Tak ada

waktu lagi untuk berdebat Kau harus melakukan apa yang diperintahkan padamu, Seth.

Lutut depan Seth menekuk, kepalanya terkulai ke depan begitu mendengar

perintah sang Alfa,

Sam mondar-mandir mengitari kami berdua.

Kita membutuhkan seluruh anggota kawanan untuk melakukannya. Jacob, kau

yang paling kuat. Kau akan maju bertempur bersama kami malam ini. Aku mengerti ini

pasti berat bagimu, jadi kau harus berkonsentrasi melawan para pejuang mereka—

Emmett dan Jasper Cullen. Kau tidak perlu terlibat dalam... bagian lain. Quil dan Embry

akan bertempur bersamamu.

Lututku gemetar; sekuat tenaga aku berusaha tetap berdiri tegak sementara

suara sang Alfa mencabik-cabik keinginanku.

Paul, Jared, dan aku akan menghadapi Edward dan Rosalie. Menurutku, dari

informasi yang kita dapat dari Jacob, mereka berdualah yang menjaga Bella. Carlisle dan

174

Alice akan berada di dekat mereka, mungkin juga Esme. Brady, Collin, Seth, dan Leah

akan berkonsentrasi menghadapi mereka. Siapa pun yang berpeluang menghabisi….

kami semua mendengar Sam bimbang sesaat ketika hendak menyebut nama Bella

makhluk itu harus segera melakukannya. Menghabisi makhluk itu adalah prioritas utama

kita.

Kawanan menggeram gugup menyatakan persetujuan. Ketegangan menyebabkan

bulu mereka berdiri tegak. Mereka mondar-mandir semakin cepat, dan suara kaki

menginjak tanah payau terdengar semakin tajam, kuku-kuku mereka mengoyak-ngoyak

tanah.

Hanya Seth dan aku yang bergeming, menjadi inti pusaran badai yang dipenuhi

seringaian taring dan telinga yang terlipat di sisi kepala. Hidung Seth nyaris mencium

tanah, membungkuk di bawah perintah Sam. Aku merasakan kesedihan hatinya karena

harus bersikap tidak loyal. Baginya ini merupakan pengkhianatan sejak hari kami

bersekutu, bertempur mendampingi Edward Cullen, Seth telah benar-benar menjadi

teman sang vampir.

Namun tak ada penolakan dalam dirinya. Seth akan patuh meskipun itu sangat

menyakitkan baginya. Ia tidak punya pilihan lain.

Dan pilihan apa yang kupunya? Jika Alfa sudah bertitah, seluruh kawanan akan

menurut.

Sam tidak pernah memaksakan otoritasnya sejauh ini sebelumnya; aku tahu

sejujurnya ia tidak suka melihat Seth berlutut di depannya seperti budak di kaki

tuannya. Ia tidak akan memaksakan kehendaknya kalau tidak percaya dirinya punya

pilihan lain. Ia tidak bisa berbohong pada kami bila pikiran kami saling terhubung seperti

ini. Ia benar-benar percaya kewajiban kami adalah menghabisi Bella dan monster dalam

kandungannya. Ia benar-benar percaya kami tak bisa menyia-nyiakan waktu lagi. Begitu

percayanya ia hingga berani mati untuk itu.

Kulihat dia sendirilah yang akan menghadapi Edward; kemampuan Edward

membaca pikiran kami menjadikannya ancaman terbesar menurut pemikiran Sam. Sam

takkan membiarkan orang lain menghadapi bahaya itu.

Ia menganggap Jasper lawan kedua paling berbahaya, dan karena itulah ia

menugaskan aku menghadapinya. Ia tahu aku memiliki peluang paling baik untuk

memenangkan pertempuran itu. Target-target yang paling mudah ia berikan kepada

para serigala muda dan Leah. Si mungil Alice tidak berbahaya tanpa visi masa depan

yang menuntunnya, dan dari kerja sama kami waktu itu, kami tahu Esme tidak bisa

bertempur. Carlisle mungkin berbeda, tapi ketidaksukaannya pada kekerasan bisa

melemahkannya.

175

Aku merasa lebih mual daripada Seth waktu kulihat Sam menyusun rencana, mencoba

menyusun strategi agar setiap anggota kawanan memiliki peluang terbaik untuk

selamat.

Segalanya terbalik. Padahal siang tadi justru aku yang sangat tidak sabar ingin

segera menyerang vampir-vampir itu. Tapi Seth benar aku tidak siap bertempur. Aku

telah membutakan diriku dengan kebencian. Aku tidak mengizinkan diriku memandang

masalah ini dengan hati-hati karena aku pasti tahu apa yang akan kulihat seandainya itu

kulakukan.

Carlisle Cullen. Menatapnya tanpa kebencian yang memenuhi mataku, aku tak

bisa menyangkal bahwa membunuhnya benar-benar berarti pembunuhan. Ia baik.

Sebaik manusia yang kami lindungi. Mungkin malah lebih baik. Yang lain-lain juga,

kurasa, tapi aku tidak begitu peduli pada mereka. Aku tidak begitu mengenal mereka.

Carlisle pasti takkan melawan, meskipun untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Itulah

sebabnya kami pasti bisa membunuhnya karena ia tidak ingin kami, musuh-musuhnya,

mati.

Ini keliru.

Dan bukan hanya karena membunuh Bella terasa seperti membunuh diriku

sendiri, seperti bunuh diri.

Kuasai dirimu, Jacob, Sam memerintahkan. Keselamatan suku kita harus

didahulukan.

Aku keliru tadi, Sam.

Alasan-alasanmu tadi memang keliru. Tapi sekarang ada kewajiban yang harus

kita penuhi.

Kukuatkan diriku. Tidak.

Sam menggeram dan berhenti di depanku. Ia menatap mataku dan geraman yang

dalam terlontar dari sela-sela giginya.

Ya, sang Alfa menitahkan, suaranya bergetar oleh otoritas. Tidak boleh ada celah

malam ini. Kau, Jacob, akan bertempur melawan keluarga Cullen bersama kami. Kau,

bersama Quil dan Embry, akan menghadapi Jasper dan Emmett. Kau wajib melindungi

suku kita. Karena itulah kau ada. Kau harus melaksanakan kewajiban ini.

Bahuku membungkuk saat perintah itu meremukkanku. Kedua kakiku lunglai, aku

tersungkur di bawah kaki Sam.

Tak ada anggota kawanan yang sanggup menolak titah sang Alfa.

176

11. DUA HAL YANG PALING TIDAK INGIN KULAKUKAN

SAM mulai memerintahkan yang lain untuk membentuk formasi saat aku masih

tersungkur di tanah. Embry dan Quil mengapitku, menungguku pulih dan mengambil

posisi terdepan,

Aku bisa merasakan dorongan, kebutuhan, untuk berdiri dan memimpin mereka.

Tekanan itu menjadi-jadi, dan sia-sia saja aku melawannya, terus bertahan di tanah

tempatku tersungkur.

Embry mendengking pelan di telingaku. Ia tak ingin memikirkan kata-kata itu,

takut pikirannya akan menarik perhatian Sam lagi padaku. Aku merasakan ia memohon

tanpa suara padaku untuk berdiri, untuk bangkit dan menyelesaikan semuanya.

Ketakutan merayapi hati kawanan, bukan karena mengkhawatirkan keselamatan

diri sendiri, melainkan karena mencemaskan nasib keseluruhan. Kami tak bisa

membayangkan kami semua bisa keluar dari pertempuran ini hidup-hidup. Siapa yang

bakal tewas? Pikiran siapa yang akan hilang untuk

selamanya? Keluarga siapa yang harus kami hibur esok pagi?

Pikiranku mulai bekerja dengan pikiran mereka, berpikir sebagai satu kesatuan,

sementara kami menghadapi ketakutan itu. Otomatis aku mengangkat tubuhku dari

tanah dan menggoyangkan bulu-buluku.

Embry dan Quil mengembuskan napas lega. Quil menempelkan hidungnya ke sisi

tubuhku sekali.

Pikiran mereka dipenuhi tantangan dan tugas yang diberikan kepada kami. Kami

mengingat bersama malam-malam saat kami menonton keluarga Cullen berlatih untuk

bertempur menghadapi vampir-vampir baru, Emmett Cullen yang paling kuat, tapi

Jasper akan lebih sulit dihadapi. Ia bergerak seperti kilat—kekuatan, kecepatan, dan

kematian digabungi jadi satu. Berapa abad pengalaman yang ia miliki? Cukup banyak

sehingga semua anggota keluarga Cullen lainnya merasa perlu meminta bimbingan dari

Jasper.

Aku akan mengambil posisi terdepan, kalau kau mengingin kan posisi samping,

Quil menawarkan. Benaknya dipenuhi semangat menggebu-gebu, lebih daripada yang

dirasakan yang lainnya. Sejak menonton instruksi Jasper malam itu, Quil sudah gatal

ingin menjajal kemampuannya menghadapi si vampir. Baginya, ini akan jadi seperti

kontes. Walaupun tahu nyawanya dipertaruhkan, ia tetap menganggapnya seperti itu.

Paul sama saja, begitu juga anak-anak yang belum pernah terlibat dalam pertempuran,

177

Collin dan Brady. Seth mungkin juga sama—kalau saja musuhnya nanti bukan temantemannya.

Jake? Quil menyundulku. Kau ingin bagaimana nanti? Aku hanya menggeleng.

Aku tak bisa berkonsenrrasi—aku merasa seperti boneka yang tangan dan kakinya

digerakkan tali yang terpasang di semua ototku. Satu kaki maju, kaki lain menyusul.

Seth berjalan sambil menyeret langkah di belakang Collin dan Brady Leah sudah

mengambil posisi di depan. Ia mengabaikan Seth saat menyusun rencana bersama yang

lain, dan bisa kulihat ia lebih suka Seth tidak diikutkan dalam pertempuran ini. Rupanya

ia memiliki sedikit naluri keibuan terhadap adik lelakinya itu. Ia berharap Sam akan

menyuruh Seth pulang. Seth tidak mengacuhkan keraguan Leah. Seth juga tampak

seperti boneka yang digerakkan tali-talinya.

Mungkin kalau kau berhenti melawan..., Embry berbisik.

Fokus saja pada bagian kita. Pada yang besar-besar. Kita bisa menghabisi mereka.

Mereka milik kita! Quil menyemangati diri sendiri—seperti pelatih memompa semangat

anak-anak asuhannya sebelum perrandingan besar.

Bisa kulihat betapa mudahnya itu tidak memikirkan hal lain selain bagianku. Tidak

sulit membayangkan menyerang Jasper dan Emmett, Sebelumnya kami pernah nyaris

bertempur. Sudah sejak lama aku menganggap mereka musuh. Aku bisa melakukannya

lagi sekarang.

Aku hanya perlu melupakan bahwa mereka melindungi hal yang sama yang aku

lindungi. Aku harus melupakan alasan mengapa aku justru menginginkan mereka

menang...

Jake, Embry mengingatkan. Jangan biarkan pikiranmu melantur.

Kakiku bergerak sangat lambat, melawan tarikan tali-tali itu.

Tak ada gunanya melawan, Embry kembali berbisik.

Dia benar. Akhirnya aku toh akan melakukan apa yang diinginkan Sam, jika ia

memaksa. Dan ia memang memaksa. Itu sudah jelas.

Ada alasan kuat mengapa otoritas Alfa diperlukan. Bahkan! kawanan sekuat kami

pun tidak bakal efektif tanpa pemimpin. Kami harus bergerak bersama, berpikir

bersama, agar bisil efektif. Dan untuk itu, tubuh membutuhkan kepala.

Tapi bagaimana kalau ternyata kali ini Sam keliru? Tak ada yang bisa melakukan

apa-apa. Tidak ada yang bisa menentang keputusannya.

178

Kecuali.

Dan itu dia pikiran yang tak pernah, tak pernah ingin kumunculkan dalam

benakku. Tapi sekarang, dengan semua kaki terikat tali, dengan lega aku mengenali

pengecualian itu lebih daripada lega, dengan kegembiraan meledak-ledak.

Tak ada yang bisa menentang keputusan Alfa kecuali aku.

Aku belum melakukan apa-apa untuk mendapatkan hak itu. Tapi ada beberapa

hal yang memang sudah menjadi hakku sejak aku dilahirkan, hal-hal yang tak pernah

kutuntut.

Aku tak pernah ingin memimpin kawanan. Aku tidak ingin melakukannya

sekarang. Aku tidak ingin bertanggung jawab atas semua nasib kami. Sam lebih baik

dalam hal itu daripada aku.

Tapi malam ini Sam keliru.

Dan aku tidak terlahir untuk tunduk padanya.

Ikatan yang membelit tubuhku langsung terlepas begitu! aku merengkuh hak

lahirku.

Aku bisa merasakannya berkumpul dalam diriku, kebebasan sekaligus perasaan

berkuasa yang aneh dan hampa. Hampir karena kekuasaan seorang Alfa berasal dari

kawanannya, tapi aku tidak memiliki kawanan. Sesaat, perasaan kesepian melingkupiku.

Sekarang aku tidak memiliki kawanan.

Tapi aku berdiri tegap dan kuat waktu menghampiri Sam yang sedang menyusun

rencana bersama Paul dan Jared. Ia menoleh begitu mendengarku mendekat, mata

hitamnya menyipit.

Sam melompat mundur setengah langkah sambil mengerang shock. Jacob? Apa

yang kaulakukan?

Aku tidak akan mengikutimu, Sam. Tidak untuk sesuatu yang sangat keliru.

Sam menatapku, terperangah. Kau akan... kau akan memilih musuh-musuhmu

ketimbang keluargamu?

Mereka bukan… aku menggeleng-gelengkan kepala, menjernihkannya, mereka

bukan musuh kita. Mereka tidak pernah menjadi musuh kita. Sampai aku benar-benar

berpikir untuk menghancurkan mereka, memikirkannya dengan saksama, aku tidak

menganggapnya begitu.

179

Ini bukan tentang mereka, Sam menggeram padaku. Ini tentang Bella. Dia bukan

jodohmu, dia tak pernah memilihmu, tapi kau terus saja menghancurkan hidupmu demi

dia!

Kata-kata Sam pedas, namun benar. Aku menghirup udara banyak-banyak,

memasukkannya ke dadaku.

Mungkin kau benar. Tapi kau akan menghancurkan kawanan karena Bella, Sam.

Tak peduli berapa banyak yang selamat malam ini, tetap saja mereka akan tercatat

pernah membunuh.

Kita harus melindungi keluarga kita!

Aku tahu apa yang telah kauputuskan, Sam. Tapi kau tidak bisa memutuskan lagi

untukku.

Jacob—kau tidak boleh mengkhianati sukumu.

Kewibawaan bergaung dalam perintah Alfa-nya, tapi kali ini perintah itu

kehilangan kuasanya. Perintah itu tak lagi berlaku bagiku. Sam mengatupkan rahang,

berusaha memaksaku merespons kata-katanya.

Aku menatap matanya yang berapi-api. Putra Efraim Black tidak terlahir untuk

mengikuti putra Levi Uley.

Jadi itu masalahnya, Jacob Black? Bulu Sam berdiri tegak dan moncongnya

tertarik ke belakang, memperlihatkan giginya. Paul dan Jared menggeram dan

menggeletar di kedua sisinya. Walaupun kau bisa mengalahkanku, kawanan takkan

pernah mengikutimu!

Sekarang akulah yang tersentak, dengkingan kaget terlontar dari

kerongkonganku.

Mengalahkanmu? Aku tidak berniat melawanmu, Sam

Kalau begitu apa rencanamu? Aku tidak mau mundur begitu saja supaya kau bisa

melindungi keturunan vampir itu dengan mengorbankan suku kita.

Aku tidak memintamu mundur.

Kalau kau mau memerintahkan mereka mengikutimu... Aku tidak akan pernah

memaksakan kehendakku pada siapa pun.

Ekor Sam bergerak-gerak saat ia tersinggung mendengar nada menghakimi dalam

ucapanku. Kemudian ia maju selangkah sehingga kami kini berdiri berdekatan, giginya

180

yang menyeringai hanya berjarak beberapa sentimeter dari gigiku. Baru pada saat itulah

aku sadar ternyata aku sudah lebih tinggi darinya.

Tidak bisa ada lebih dari satu Alfa. Kawanan telah memilihku. Apakah kau akan

memecah-belah kawanan kita malam ini? Apakah kau akan mengkhianati saudarasaudaramu?

Atau apakah kau akan mengakhiri kegilaan ini dan bergabung lagi dengan

kami? Setiap kata mengandung perintah, tapi itu tidak berlaku bagiku. Darah Alfa

mengalir deras dalam pembuluh darahku.

Aku bisa mengerti mengapa hanya ada satu Alfa jantan dalam satu kawanan,

tubuhku merespons tantangan itu. Bisa kurasakan insting untuk membela hakku

membuncah dalam diriku. Inti primitif diri serigalaku mengejang, siap melakukan

pertempuran demi merebut supremasi.

Aku memfokuskan seluruh energiku untuk mengendalikan reaksi itu. Aku tak mau

terjebak dalam perkelahian yang destruktif dan sia-sia dengan Sam. Sam tetap

saudaraku, walaupun aku menolak dia.

Hanya ada satu Alfa untuk kawanan ini. Aku tidak menyangkalnya. Aku hanya

memilih untuk memisahkan diri.

Jadi sekarang kau bergabung dengan para vampir, Jacob?

Aku tersentak.

Aku tidak tahu, Sam. Tapi ini yang kutahu...

Sam mundur selangkah waktu ia merasakan wibawa Alfa dalam suaraku. Itu lebih

memengaruhi dia daripada yang dapat dilakukan wibawanya terhadapku. Karena aku

memang dilahirkan untuk memimpin dia.

Aku akan berdiri di antara kau dan keluarga Cullen. Aku tidak mau hanya

menonton sementara kawanan membunuh orang-orang yang tidak bersalah—sulit

menyebut vampir dengan istilah ini, tapi itu memang benar. Kawanan ini lebih baik dari

itu. Pimpin mereka ke arah yang benar, Sam.

Aku berbalik memunggunginya, dan serangkaian lolongan mengoyak udara di

sekelilingku.

Sambil membenamkan kuku-kukuku ke tanah, aku berlari menjauhi kegemparan

yang kutimbulkan. Aku tidak punya banyak waktu. Setidaknya Leah satu-satunya yang

berharap bisa berlari mengalahkanku, tapi aku toh sudah mendahuluinya.

181

Lolongan itu semakin memudar, dan aku merasa terhibur saat suara itu terus

terdengar, mengoyak keheningan malam. Itu berarti mereka belum mengejarku.

Aku harus memperingatkan keluarga Cullen sebelum kawanan sepakat dan

menghentikanku. Bila keluarga Cullen siap, itu bisa memberi Sam alasan untuk berpikir

ulang sebelum semuanya terlambat. Aku berpacu menuju rumah putih yang masih

kubenci, meninggalkan kampung halamanku. Kampung halaman yang bukan lagi

milikku. Aku telah meninggalkannya.

Padahal hari ini diawali seperti hari-hari sebelumnya. Pulang ke rumah sehabis

berpatroli pada pagi yang berhujan, sarapan bersama Billy dan Rachel, nonton siaran TV

yang jelek, bertengkar dengan Paul... Bagaimana mungkin hari ini tiba-tiba berubah

begitu drastis, mengubah semuanya jadi mengerikan!? Bagaimana mungkin semua bisa

begitu kacau dan berantakan sehingga aku berada di sini sekarang, sendirian, Alfa yang

tidak ingin memimpin, putus hubungan dengan saudara-saudataku, lebih memilih

vampir daripada mereka?

Suara yang kutakutkan membuyarkan pikiran linglungku suara telapak kaki besar

menjejak tanah, mengejarku. Aku mempercepat lariku, melesat menembus hutan yang

kelam. Aku harus bisa berada cukup dekat dengan rumah putih supaya Edward bisa

mendengar peringatan di kepalaku. Leah takkan bisa menghentikanku sendirian.

Kemudian aku menangkap suasana hati dari pikiran di belakangku. Bukan

amarah, tapi antusiasme. Bukan mengejar melainkan mengikuti.

Lariku melambat. Aku sempat terhuyung ragu dua langkah sebelum memacu

kakiku lagi.

Tunggu. Kaki-kakiku tidak sepanjang kakimu

Seth! Apa yang kau lakukan? pulang!

Seth tidak menyahut, tapi aku bisa merasakan semangatnya sementara ia terus

berlari tepat di belakangku. Aku bisa melihat melalui matanya seperti halnya ia juga bisa

melihat melalui mataku. Pemandangan malam terlihat muram olehku— penuh

keputusasaan. Di mata Seth, justru penuh harapan.

Aku tidak sadar lariku melambat, tapi tiba-tiba saja Seth sudah berada di

sampingku, berlari persis di sebelahku.

Aku tidak bercanda, Seth! Ini bukan tempat yang tepat untukmu. Pergi dari sini.

182

Serigala cokelat sangar itu mendengus. Aku sependapat denganmu, Jacob.

Menurutku kau benar. Dan aku tidak mau mendukung Sam kalau...

Oh ya, kau harus mendukung Sam! Bawa bokong berbulumu itu kembali ke La

Push dan kerjakan apa yang diperintahkan Sam padamu.

Tidak.

Pergi, Seth!

Apakah itu perintah, Jacob?

Pertanyaan Seth menghantamku. Lariku langsung terhenti, kuku-kukuku

terbenam ke dalam lumpur.

Aku tidak akan memerintah siapa pun untuk melakukan apa pun. Aku hanya

menyampaikan apa yang sudah kauketahui.

Seth duduk di atas kaki belakangnya di sampingku. Aku mau memberitahu kau

apa yang aku tahu, aku tahu suasana sunyi sekali. Apakah kau tidak menyadarinya?

Aku mengerjapkan mata. Ekorku bergoyang-goyang gugup waktu menyadari apa

yang ia pikirkan di balik kata-katanya.

Bukan sunyi dalam arti sebenarnya. Lolongan serigala masih memenuhi udara,

nun jauh di sebelah barat sana.

Mereka belum berubah wujud, kata Seth.

Aku tahu itu. Kawanan pasti bersiaga penuh sekarang. Mereka akan

menggunakan jaringan pikiran untuk bisa memandang jelas ke setiap sisi. Tapi aku tidak

bisa mendengar pikiran mereka. Aku hanya bisa mendengar Seth. Yang lain-lain tidak.

Kelihatannya kawanan yang terpisah tidak terhubung satu sama lain. Hah. Kurasa

leluhur kita dulu tidak memiliki alasan untuk mengetahui hal ini. Karena sebelumnya tak

pernah ada alasan untuk membentuk dua kawanan berbeda. Belum pernah ada serigala

dalam jumlah yang cukup besar untuk dibagi menjadi dua kelompok. Wow. Sunyi sekali.

Agak menyeramkan. Tapi sekaligus menyenangkan, bukankah begitu? Berani bertaruh,

pasti lebih mudah seperti ini, bagi Efraim, Quil, dan Leaf Tidak begitu berisik kalau hanya

bertiga. Atau berdua.

Tutup mulutmu, Seth.

Ya, Sir.

183

Hentikan! Tidak ada dua kawanan. Hanya ada SATU kawanan, dan ada aku. Hanya

itu. Jadi kau boleh pulang sekarang.

Kalau memang tidak ada dua kawanan, lantas mengapa kita bisa saling

mendengar tapi tidak bisa mendengar pikiran mereka? Menurutku saat kau

memutuskan untuk tidak mengikuti Sam, itu langkah yang sangat signifikan. Sebuah

perubahan. Dan waktu aku mengikutimu pergi, kurasa itu juga sesuatu yang' signifikan.

Pendapatmu ada benarnya, aku mengalah. Tapi apa yang berubah bisa berubah

kembali.

Seth berdiri dan mulai berlari-lari kecil menuju ke timur.

Tak ada waktu untuk memperdebatkannya sekarang. Kita seharusnya bergegas

sebelum Sam...

Seth benar. Tidak ada waktu untuk memperdebatkan masalah ini sekarang. Aku

kembali berlari, tak lagi memacu lariku sekencang tadi. Seth berlari di belakangku,

mengambil posisi sebagai serigala Kedua dengan berlari di kananku.

Aku bisa berlari di tempat lain, pikir Seth, hidungnya sedikit menunduk. Aku tidak

mengikutimu karena mengincar posisi tertentu.

Larilah di mana pun kau suka. Tidak ada bedanya bagiku.

Tidak ada suara yang mengejar kami, tapi kami mempercepat lari kami pada saat

bersamaan. Aku khawatir sekarang. Kalau aku tidak bisa menyadap pikiran kawanan,

keadaan akan bertambah sulit. Aku takkan tahu apakah aku bakal diserang, aku akan

jadi sama butanya dengan keluarga Cullen.

Kita akan berpatroli. Seth mengusulkan.

Dan apa yang akan kita lakukan bila kawanan menantang kita? Mataku

menegang. Menyerang saudara-saudara kita? Kakakmu?

Tidak—kita memberi peringatan, kemudian mundur. Jawaban yang bagus. Tapi

sesudah itu apa? Kurasa aku tidak...

Aku tahu, Seth sependapat. Kepercayaan dirinya berkurang. Kurasa aku juga tidak

bisa menyerang mereka. Tapi mereka juga pasti tidak suka membayangkan harus

menyerang kita, sama seperti kita juga tidak suka menyerang mereka. Mungkin itu

cukup untuk menghentikan mereka. Tambahan lagi, sekarang mereka hanya

berdelapan.

184

Jangan terlalu.... Butuh waktu semenit untuk memutuskan istilah yang tepat.

Optimis. Aku jadi semakin tegang.

Tidak masalah. Jadi kau lebih suka aku pesimis dan bcr muram durja, atau diam

saja? Diam saja* Bisa, bisa.

Sungguh? Kelihatannya kau tidak bisa. Akhirnya Seth terdiam juga.

Kemudian kami menyeberang dan berlari menembus hutan yang mengitari

rumah keluarga Cullen. Apakah Edward sudah bisa mendengarku sekarang?

Mungkin ada baiknya bila kita memikirkan sesuatu seperti. "Kami datang dalam

damai."

Silakan saja.

Edward? ragu-ragu Seth memanggil nama itu. Edward, kau ada di sana? Oke,

sekarang aku merasa tolol. Kau juga kedengaran tolol. Kaupikir dia bisa mendengar kita?

Jarak kami sekarang kurang dari satu setengah kilometer. Kurasa bisa. Hei,

Edward. Kalau kau bisa mendengarku— keluarlah, pengisap darah. Kau mendapat

masalah.

Kita mendapat masalah, Seth mengoreksi.

Kemudian kami keluar dari lingkupan pepohonan dan berpacu memasuki

halaman yang luas. Rumah itu gelap gulita, tapi tidak kosong. Edward berdiri di teras,

diapit Emmett dan Jasper. Tubuh mereka seputih salju di bawah cahaya bulan yang

pucat.

"Jacob? Seth? Ada apa?"

Aku memperlambat lariku, kemudian berjalan mundur beberapa langkah. Bau itu

begitu tajam menusuk hidung hingga hidungku benar-benar seperti terbakar rasanya.

Seth mendengking pelan, ragu-ragu, kemudian ia juga mundur di belakangku.

Untuk menjawab pertanyaan Edward, kubiarkan pikiranku mengingat lagi

konfrontasiku dengan Sam, memutarnya kembali. Seth berpikir bersamaku, mengisi

ruang-ruang yang kosong, menunjukkan adegan demi adegan dari sudut pandang

berbeda Kami berhenti waktu tiba di bagian tentang "sesuatu yang sangat jahat" karena

Edward mendesis marah dan menerjang turun dari teras.

"Mereka ingin membunuh Bella?" geramnya datar.

Emmett dan Jasper, yang tidak bisa mendengar bagian pembicaraan itu, langsung

menganggap pertanyaan tak bernada itu sebagai pernyataan. Secepat kilat mereka

185

sudah kembali mengapit Edward, memamerkan gigi mereka sambil bergerak

menghampiri kami.

Hei, hati-hati, pikir Seth, mundur menjauh.

"Em, Jazz bukan merekal Tapi yang lain. Kawanan itu akan datang."

Emmett dan Jasper bertumpu pada tumit dan menggerakkan tubuh mereka;

Emmett berpaling kepada Edward sementara Jasper menatap kami lekat-lekat.

"Apa masalah mereka?" tuntut Emmett.

"Sama denganku," desis Edward. "Tapi mereka punya rencana sendiri untuk

menghadapinya. Panggil yang lain. Hubungi Carlisle! Dia dan Esme harus segera kembali

ke sini, sekarang."

Aku mendengking gelisah. Ternyata mereka terpisah-pisah.

"Mereka tidak jauh dari sini," kata Edward dengan nada yang sama datarnya

dengan sebelumnya.

Aku akan melihat-lihat keadaan dulu, kata Seth. Mengitari kawasan sebelah

barat.

"Berbahayakah itu bagimu, Seth?" tanya Edward,

Seth dan aku bertukar pandang.

Kurasa tidak, pikir kami berbarengan. Kemudian aku tambahkan, Tapi mungkin

sebaiknya aku pergi juga. Hanya untuk berjaga-jaga...

Kecil kemungkinan mereka akan menantangku, Bagi mereka, aku hanya anak

ingusan.

Begitu jugalah kau bagiku, Nak.

Aku pergi dulu. Kau harus berkoordinasi dengan keluar Cullen.

Seth berbalik dan melesat masuk ke kegelapan. Aku tidak akan memerintahmerintah

Seth, jadi kubiarkan saja pergi.

Edward dan aku berdiri berhadapan di lapangan rumput yang gelap. Aku bisa

mendengar Emmett berbicara pelan di teleponnya. Jasper memandangi tempat Seth

tadi menghilang di balik hutan, Alice muncul di teras, kemudian, setelah menatapku

cemas beberapa saat. bergegas menghampiri Jasper. Dugaanku, Rosalie ada di dalam

bersama Bella. Masih menjaganya—dari bahaya yang salah.

186

"Ini bukan pertama kalinya aku berutang budi padamu, Jacob," bisik Edward.

"Aku takkan pernah meminta ini darimu."

Ingatanku melayang pada permintaannya siang tadi. Bila berkaitan dengan Bella,

tidak ada yang tidak akan ia lakukan, Kau akan memintanya.

Edward berpikir sebentar, kemudian mengangguk. "Kurasa kau benar dalam hal

itu."

Aku mengembuskan napas berat. Well, bukan baru kali itu juga aku tidak

melakukannya demi kau.

"Benar," gumam Edward.

Tapi Maaf aku tidak berhasil hari Ini. Sudah kubilang, Bella tak mungkin mau

menuruti nasihatku.

"Aku tahu. Aku memang tidak yakin dia mau mendengarmu, tapi..."

Kau tetap harus berusaha. Aku mengerti. Keadaannya sudah lebih baik?

Suara dan mata Edward hampa. "Semakin parah" desahnya.

Aku tidak ingin mencerna ucapan Edward. Aku bersyukur waktu Alice berbicara.

"Jacob, bisakah kau berubah wujud?" tanya Alice, "Aku Ingin mengetahui apa

yang sebenarnya terjadi."

Aku menggeleng, dan saat itu juga Edward menjawab.

"Dia harus tetap terhubung dengan Seth."

"Well, kalau begitu, maukah kau menceritakan padaku apa yang sebenarnya

terjadi?"

Edward menjelaskan dalam kalimat-kalimat ringkas tanpa emosi. "Kawanan

sekarang memandang Bella sebagai masalah. Mereka melihat adanya potensi bahaya

dari... dari apa yang ada dalam kandungannya. Mereka merasa sudah menjadi

kewajiban mereka untuk menyingkirkan bahaya itu. Jacob dan Seth meninggalkan

kawanan untuk memperingatkan kita. Yang lain berencana menyerang kita malam ini."

Alice mendesis, mencondongkan tubuh menjauhiku, Emmett dan Jasper bertukar

pandang, kemudian mata mereka menyapu pepohonan.

Tidak ada siapa-siapa di luar sini, Seth melaporkan. Suasana tenang di kawasan

sebelah barat.

187

Mungkin mereka berkeliling.

Aku akan berkeliling.

"Carlisle dan Esme dalam perjalanan ke sini," kata Emmett "Dua puluh menit,

paling lama."

"Sebaiknya kita mengambil posisi bertahan" kata Jasper.

Edward mengangguk. "Mari kita masuk,"

Aku akan berpatroli dengan Seth. Kalau aku berada jauh darimu sehingga kau

tidak bisa mendengar pikiranku, dengarkan saja lolonganku.

"Baiklah,"

Mereka mundur untuk masuk ke rumah. Sebelum mereka masuk ke rumah, aku

sudah berbalik dan berlari ke barat.

Aku masih tidak menemukan apa-apa, kata Seth padaku.

Aku akan berpatroli dari arah sebaliknya. Bergeraklah yang cepat jangan sampai

mereka menyusup melewati kita.

Seth melesat maju, sekonyong-konyong mempercepat larinya.

Kami berlari dalam diam, dan menit demi menit berlalu. Aku mendengarkan

suara-suara di sekeliling Seth, mengecek ulang penilaiannya.

Hei, sesuatu berlari cepat sekali! Seth memperingatkan setelah lima belas menit

berdiam diri.

Aku akan segera ke sana!

Tetaplah dalam posisimu kurasa itu bukan kawanan, kedengarannya lain. Seth...

Tapi ia menangkap baunya lewat angin yang berembus, aku membacanya dalam

pikirannya.

Vampir. Pasti itu Carlisle.

Seth, mundur. Bisa jadi itu orang lain.

Tidak, itu mereka. Aku mengenali baunya. Tunggu, aku mengubah wujud agar

bisa menjelaskan kepada mereka

188

Seth menurutku tidak... Seth sudah lenyap, cemas aku berlari sepanjang

perbatasan sebelah barat. Konyol sekali kan, kalau aku tidak bisa menjaga Seth untuk

satu malam saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya saat ia dalam

pengawasanku? Leah pasti akan mencincangku hingga tak bersisa.

Untunglah Seth hanya sebentar. Tidak sampai dua menit kemudian aku sudah

bisa merasakannya dalam pikiranku lagi.

Yep. memang Carlisle dan Esme. Ya ampun, mereka kaget sekali melihatku!

Mungkin sekarang mereka sudah berada di dalam rumah. Carlisle mengucapkan terima

kasih.

Ia baik sekali.

Yeah, itu juga salah satu alasan mengapa kita benar dalam hal ini

Semoga saja begitu.

Mengapa kau begitu pesimis, Jake? Aku berani bertaruh, Sam tidak akan

memerintahkan kawanan untuk menyerang malam ini. Tidak mungkin ia mau

melakukan misi bunuh diri.

Aku mendesah. Tidak berarti apa-apa, apa pun yang akan dilakukannya.

Oh. Jadi masalahnya bukan Sam, ya?

Aku berbelok di bagian ujung patroliku. Aku mencium bau Seth di tempat ia

terakhir kali berbelok. Tak satu celah pun luput dari pengawasan kami.

Kau berpikir bahwa bagaimanapun juga, Bella akan tewas, Seth berbisik,

Umh, memang benar.

Kasihan Edward. Ia pasti jadi gila.

Bisa dibilang begitu.

Nama Edward memunculkan kembali kenangan lain-lain

menggelegak di permukaan. Seth membacanya dengan terperangah.

Kemudian ia melolong. Oh, astaga! Tidak bisa! Kau tidak boleh berbuat begitu! Itu

benar-benar ngawur, Jacob! Kau juga tahu itu! Aku tidak percaya kaubilang akan

membunuhnya. Apa-apaan itu? Kau harus menolak permintaannya.

Diam, diam, tolol! Nanti mereka mengira kawanan datang menyerang!

189

Uuups! Seth menghentikan lolongannya.

Aku berbalik dan mulai berlari-lari menuju ke rumah. Jangan ikut campur dalam

hal ini, Seth. Sekarang berkelilinglab satu lingkaran penuh.

Seth marah sekali, tapi aku tidak menggubrisnya.

Bukan apa-apa, bukan apa-apa, aku berpikir sambil berlari mendekat. Maaf. Seth

masih muda. Masih sering lupa. Tidak ada yang menyerang. Bukan apa-apa.

Ketika aku sampai di padang rumput, kulihat Edwatd berdiri di depan jendela

yang gelap, memandang ke luar. Aku berlari mendekat, ingin memastikan ia menangkap

pesanku tadi.

Edward mengangguk satu kali.

Akan jauh lebih mudah seandainya komunikasinya tidak satu arah. Tapi kalau

dipikir-pikir lagi, aku agak lega karena tidak mengetahui isi kepalanya.

Edward menoleh ke belakang, ke bagian dalam rumah, dan kulihat tubuhnya

bergetar. Ia melambai tanpa memandangku dan beranjak pergi, lenyap dari

pandanganku.

Apa yang terjadi?

Seolah-olah aku akan mendapat jawabannya saja.

Aku duduk tak bergerak di padang rumput dan mendengarkan. Dengan telinga ini

aku nyaris bisa mendengar langkah-langkah pelan Seth, berkilo-kilometer jauhnya di

dalam hutan. Mudah saja mendengar setiap suara di dalam rumah yang gelap itu.

"Ternyata bukan apa-apa,” Edward menjelaskan dengan nada hampa, hanya

mengulangi apa yang kukatakan padanya tadi. "Seth marah tentang sesuatu yang lain,

dan dia lupa kita sedang mendengarkan untuk mendapat sinyal dari mereka. Dia masih

sangat muda."

"Pintar sekali, menugaskan balita untuk menjaga benteng," gerutu suara yang

lebih berat. Emmett, pikirku.

"Mereka menolong kita secara luar biasa malam ini, Emmett," kata Carlisle.

"Pengorbanan pribadi yang sangat besar."

"Yeah, aku tahu. Aku hanya iri. Kalau saja aku bisa berada di luar sana."

190

"Seth berpendapat Sam tidak akan menyerang sekarang," kata Edward, suaranya

seperti robot. "Tidak, karena kita sudah mendapat peringatan dini, dan dia kehilangan

dua anggota kawanan."

"Menurut Jacob bagaimana?" tanya Carlisle.

"Dia tidak seoptimis itu"

Tidak ada yang berbicara. Ada suara menetes-neres pelan yang tidak bisa kuterka

apa. Aku mendengar embusan napas mereka yang pelan—dan aku bisa membedakan

suara napas Bella dari yang lain. Embusan napasnya lebih berat, lebih sulit. Suaranya

tersedak dan terpecah dalam ritme yang aneh. Aku bisa mendengar detak jantungnya.

Kedengarannya... terlalu cepat. Aku membandingkannya dengan detak jantungku

sendiri, tapi aku tak yakin apakah detak jantung kami bisa dibandingkan. Aku sendiri

juga tidak normal.

"Jangan sentuh dia! Nanti dia terbangun" bisik Rosalie Seseorang mendesah.

"Rosalie," gumam Carlisle.

"Jangan macam-macam denganku, Carlisle. Kami sudah menuruti kemauanmu

tadi, tapi hanya sampai sebatas itu yang kami izinkan."

Sepertinya Rosalie dan Bella sekarang mulai membahasakan diri dalam kata ganti

jamak. Seolah-olah mereka membentuk kawanan sendiri.

Aku mondar-mandir tanpa suara di depan rumah. Setiap pembicaraan

membawaku semakin dekat. Jendela-jendela yang gelap bagaikan pesawat televisi yang

menyala di ruang tunggu yang muram, mustahil mengalihkan pandangan terlalu lama

dari sana.

Beberapa menit berlalu, beberapa percakapan terjadi, dan buluku sekarang

sudah menyapu pinggiran teras sementara aku berjalan mondar-mandir.

Aku bisa melihat melalui jendela-jendela itu, melihat bagian atas dinding dan

langit-langit, juga lampu kristal yang tidak dinyalakan yang tergantung di sana. Tubuhku

cukup tinggi sehingga kalau aku menjulurkan leherku sedikit saja... dan mungkin sambil

menumpangkan kaki depanku di pinggii teras...

Aku mengintip ke dalam ruang depan yang besar dan terbuka, berharap akan

melihat sesuatu yang sangat mirip dengan pemandangan siang tadi. Tapi keadaan di

dalam sana sudah sangat berubah sehingga awalnya aku merasa bingung. Aku sempat

mengira telah mengintip ruangan yang salah.

191

Dinding kaca sudah lenyap—kelihatannya sekarang diganti dengan dinding

logam. Semua perabot sudah disingkirkan, Bella meringkuk canggung di ranjang sempit

di tengah-tengah ruangan yang terbuka itu. Bukan ranjang normal biasa—melainkan

yang memiliki pagar seperti ranjang rumah sakit. Juga seperti di rumah sakit, di sana ada

monitor-monitor yang dihubungkan ke tubuhnya, serta tube-tube ditusukkan ke

kulitnya. Lampu-lampu di monitor berkedip-kedip, tapi tidak ada suara. Suara menetesnetes

itu ternyata infus yang terpasang di lengannya cairan di dalamnya kental dan

putih, tidak jernih.

Bella tersedak sedikit dalam tidurnya yang gelisah, dan baik Edward maupun

Rosalie beranjak dan berdiri di dekatnya. Tubuhnya berkedut-kedut, dan ia merintih.

Rosalie membelai-belai kening Bella. Tubuh Edward mengejang ia memunggungiku, tapi

ekspresinya pasti mengatakan sesuatu, karena dalam sekejap Emmett sudah menyusup

di antara mereka, la mengangkat kedua tangannya ke arah Edward.

"Jangan malam ini, Edward. Banyak hal lain yang perlu kita khawatirkan."

Edward berpaling dari mereka, lagi-lagi ia terlihat seperti orang yang dibakar

hidup-hidup. Sesaat matanya bersirobok dengan mataku, dan aku menjatuhkan kedua

kaki depanku lalu kembali berdiri dengan empat kaki.

Aku berlari kembali ke hutan yang gelap, berlari untuk bergabung dengan Seth,

melarikan diri dari apa yang ada di belakangku.

Semakin parah. Benar, kondisi Bella memang semakin parah.

192

12. SEBAGIAN ORANG MEMANG TIDAK BISA MENGERTI KONSEP

"TIDAK DITERIMA"

AKU berada tepat di tubir antara bangun dan tidur.

Matahari telah terbit di balik awan-awan satu jam yang lalu—hutan kini kelabu,

tak lagi hitam pekat, Seth bergelung dan tertidur pulas sampai sekitar pukul satu, lalu

kubangunkan ia saat fajar untuk bergantian berpatroli. Bahkan setelah berlari

semalaman, aku tetap sulit mendiamkan otakku cukup lama agar bisa tertidur, tapi lari

Seth yang berirama ternyata bisa membantu. Satu, dua-tiga, empat, satu, dua-tiga,

empat—tuh tuk'tuk tuk—suara langkah kaki pelan membentur tanah yang lembap,

berulang kali saat ia berlari mengelilingi tanah keluarga Cullen. Jejak langkah kami sudah

membentuk jalur tersendiri di tanah. Pikiran Seth kosong, hanya terlihat sekilas

gambaran hijau dan abu-abu kabur saat hutan melesat di belakangnya. Gambaran itu

menenteramkan. Lebih enak mengisi kepalaku dengan apa yang dilihat Seth daripada

membiarkan bayangan-bayanganku sendiri menjadi pusat perhatian.

Kemudian lolongan tajam Seth mengoyak keheningan pagi yang sunyi.

Aku meloncat berdiri, kedua kaki depanku sudah melesat cepat sebelum kaki

belakangku menjejak tanah. Aku berlari ke tempat Seth membeku, bersamanya

mendengarkan suara langkah-langkah kaki berlari ke arah kami.

Pagi, boys.

Dengkingan shock terlontar dari sela-sela gigi Seth. Kemudian kami menggeram

saat membaca lebih dalam pikiran-pikiran baru itu.

Oh astaga! Pergi sana, Leah! erang Seth.

Sesampainya di tempat Seth, aku berhenti, kepalanya mendongak, siap melolong

lagi kali ini untuk memprotes.

Jangan berisik, Seth.

Baik. Ugh! Ugh! Ugh! Ia mendengking-dengking dan mencakar-cakar tanah,

menghasilkan garukan-garukan dalam di tanah.

Leah tampak berlari-lari kecil, tubuhnya yang abu-abu kecil meliuk-liuk

menerobos semak.

193

Berhenti mengeluh, Seth. Cengeng benar kau ini.

Aku menggeram pada Leah, telingaku terlipat. Otomatis ia mundur selangkah.

Memangnya pikirmu apa yang kaulakukan, Leah?

Leah mendengus. Sudah jelas, kan? Aku bergabung dengan kawanan

pemberontak kecil brengsekmu ini. Menjadi anjing-anjing penjaga vampir. Ia

menggonggongkan tawa rendah dan sinis.

Tidak, tidak boleh. Berbaliklah sebelum kurobek-robek salah satu otot-otot

lututmu itu.

Kayak kau bisa mengejarku saja. Leah menyeringai dan melengkungkan

tubuhnya, siap melesat. Mau balapan, pemimpin yang tak kenal takut?

Aku menghela napas dalam-dalam, mengisi paru-paruku sampai kedua sisi

tubuhku menggelembung. Kemudian, ia telah yakin tidak bakal menjerit, aku

mengembuskan napas panjang.

Seth, beritaku keluarga Cutlen, yang datang ternyata hanya kakakmu yang tolol

ini aku sengaja memikirkan kara-kata yang sekasar mungkin. Biar aku saja yang

membereskan masalah ini.

Siap! Seth sangat senang bisa menyingkir dari situ. Ia menghilang menuju rumah.

Leah mendengking, dan ia mencondongkan tubuh ke arah hilangnya Seth tadi,

bulu bahunya berdiri. Masa kaubiarkan dia berlari mendatangi vampir-vampir itu

sendirian?

Aku yakin ia lebih suka dihabisi mereka daripada menghabiskan waktu satu menit

saja denganmu.

Tutup mulutmu, Jacob. Uuups, maaf - maksudku, tutup mulutmu, paduka yang

mulia Alfa,

Brengsek, kenapa kau datang kesini?

Kaukira aku mau enak-enakan duduk di rumah sementara adikku merelakan

dirinya menjadi mainan kunyahan vampir?

Seth tidak menginginkan ataupun membutuhkan perlindunganmu. Faktanya,

tidak ada yang menginginkanmu di sini.

194

Oooh, aduh, itu bakal meninggalkan luka yang sangat dalam. Ha, gonggong Leah.

Katakan, siapa yang memang menginginkan keberadaanku, dan aku bakal langsung

cabut.

Jadi alasanmu sama sekali bukan Seth?

Tentu saja dia. Aku hanya ingin menegaskan ini bukan pertama kalinya

kehadiranku tidak diinginkan. Bukan faktor yang memotivasi, kalau kau mengerti

maksudku.

Aku menggertakkan gigi dan mencoba berpikir jernih. Apakah Sam yang

mengutusmu?

Kalau kedatanganku atas suruhan Sam, kau takkan bisa mendengarku.

Kesetiaanku bukan lagi padanya.

Aku mendengarkan dengan hati-hati pikiran-pikiran yang bercampur dengan

kata-kata Leah itu. Kalau ini taktik untuk mengalihkan perhatian, aku harus cukup

waspada untuk bisa melihat maksud sebenarnya di balik semua ini. Tapi tidak ada apaapa.

Pernyataan Leah tadi adalah kebenaran. Kebenaran yang tidak ia sukai dan nyaris

menyakitkan untuk diakui.

Jadi kau loyal padaku sekarang? tanyaku sinis. He-eh. Yang benar saja.

Pilihanku terbatas. Aku berusaha menerima opsi yang kupunya. Percayalah, aku

sebenarnya juga tidak suka, sama seperti yang kaurasakan.

Itu tidak benar. Ada semacam kegembiraan dalam pikiran Leah. Ia memang tidak

bahagia dengan pilihan ini, tapi ia juga merasakan semacam kepuasan aneh. Aku

mencari-cari dalam pikirannya, berusaha mengerti.

Bulu Leah meremang, tidak menyukai gangguan itu. Aku biasanya mencoba

menulikan diri dari pikiran-pikiran Leah, aku tidak pernah mencoba memahaminya

sebelum ini.

Kami diinterupsi oleh Seth, yang sedang memberikan penjelasan kepada Edward.

Leah mendengking cemas. Wajah Edward, terbingkai jendela yang sama seperti

semalam, tidak menunjukkan reaksi apa-apa terhadap berita itu. Wajahnya hampa,

mati.

Wow, kacau benar ia kelihatannya, gerutu Seth pada diri sendiri. Si vampir juga

tidak menunjukkan reaksi terhadap pikiran itu. Edward menghilang ke dalam rumah.

Seth berbalik dan kembali ke tempat kami, Leah sedikit rileks.

Apa yang terjadi? tanya Leah. Jelaskan semua padaku, cepat

195

Tak ada gunanya. Kau toh takkan lama di sini.

Asal tahu saja, Mr. Alfa, aku akan tetap di sini. Berhubung aku harus menjadi

milik seseorang dan jangan kaukira aku tak pernah mencoba pergi dan hidup sendiri,

kau sendiri tentunya tahu itu tidak bisa dilakukan maka aku pun memilihmu.

Leah, kau tidak suka padaku. Aku juga tidak suka padamu.

Terima kasih. Kapten Tanpa Tedeng Aling-Aling. Itu bukan masalah bagiku.

Pokoknya aku akan tetap bersama Seth.

Kau tidak suka vampir. Apakah menurutmu tidak ada sedikit konflik kepentingan

di sana?

Kau juga tidak suka vampir.

Tapi aku memiliki komitmen terhadap aliansi ini. Kau tidak.

Aku akan menjaga jarak dengan mereka. Aku bisa berpatroli di luar sini saja,

seperti Seth.

Dan aku harus langsung percaya padamu?

Leah menjulurkan leher, mencondongkan tubuh dengan bertumpu pada jari-jari

kakinya, berusaha membuat tubuhnya setinggi aku sementara ia menatap mataku lekatlekat.

Aku tidak akan mengkhianati kawananku.

Ingin rasanya aku mendongak dan melolong, seperti Seth tadi. Ini bukan

kawananmu'. Ini bahkan bukan kawanan. Ini hanya aku, yang memisahkan diri! Ada apa

sih dengan kalian, anak-anak keluarga Clearwater? Mengapa tidak kalian tinggalkan saja

aku sendirian?

Seth, yang muncul di belakang kami, mendengking; aku telah melukai

perasaannya. Hebat.

Aku sudah banyak membantu selama ini, ya kan, Jake?

Kau memang tidak terlalu menjengkelkan, Nak, tapi kalau kau dan Leah satu

paket kalau satu-satunya jalan menyingkirkan dia adalah menyuruhmu pulang... Well,

apa kau akan menyalahkan aku bila menginginkan dia pergi?

Ugh, Leah, kau mengacaukan semuanya!

Yeah, aku tahu, sahut Leah, dan pikirannya dipenuhi perasaan sedih yang berat.

196

Aku bisa merasakan kepedihan yang terkandung dalam tiga kata itu, dan itu lebih

daripada dugaanku. Aku tak ingin merasakannya. Aku tak ingin merasa bersalah karena

Leah. Memang, kawanan kami bersikap kasar padanya, tapi itu salah Leah sendiri.

Kegetiran menodai setiap pikirannya dan membuat kami yang bisa membaca pikirannya

merasa seperti mendapat mimpi buruk.

Seth juga merasa bersalah. Jake... kau tidak benar-benar berniat menyuruhku

pulang, kan? Leah tidak seburuk itu kok. Sungguh. Maksudku, dengan dia di sini, kita

bisa memperluas area patroli. Dan itu berarti jumlah Sam berkurang menjadi tujuh.

Tidak mungkin ia menyerang bila jumlahnya kurang banyak. Mungkin ada baiknya

begini...

Kau kan tahu aku tidak mau memimpin kawanan, Seth.

Kalau begitu, tidak usah memimpin kami, Leah menawarkan.

Aku mendengus. Nggak masalah bagiku. Cepat pulang sana.

Jake pikir Seth. Tempatku di sini. Aku benar-benar suka vampir. Keluarga Cullen,

setidaknya. Bagiku mereka manusia, dan aku akan melindungi mereka, karena memang

itulah yang seharusnya kita lakukan.

Mungkin tempatmu memang di sini, Nak, tapi kakakmu tidak. Padahal ia akan

mengikutimu ke mana pun kau pergi...

Kata-kataku terhenti, karena aku melihat sesuatu waktu mengatakannya. Sesuatu

yang berusaha tidak dipikirkan Leah.

Leah tidak akan ke mana-mana.

Kusangka ini karena Seth, pikirku masam.

Leah tersentak. Tentu saja keberadaanku di sini karena Seth

Dan untuk menjauh dari Sam.

Dagu Leah mengeras. Aku tidak perlu menjelaskan diriku padamu. Aku hanya

harus melakukan perintah. Tempatku adalah di kawananmu, Jacob. Habis perkara.

Aku menjauh darinya, menggeram.

Sial. Itu berarti aku takkan pernah bisa menyingkirkan Leah. Tak peduli

betapapun besarnya perasaan tidak suka Leah padaku, betapapun besarnya

kebenciannya pada keluarga Cullen, betapapun senangnya ia bila disuruh membunuh

semua vampir sekarang atau betapapun sebalnya ia karena harus melindungi mereka itu

semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelegaannya terbebas dari Sam

197

Leah tidak suka padaku, jadi ia tidak sakit hati bila aku berharap ia enyah saja.

Tapi Leah mencintai Sam. Masih. Dan ia tidak sanggup menanggung sakit hatinya

mengetahui Sam berharap ia enyah saja, dan sekarang ia punya pilihan untuk terbebas

dari perasaan sakit hati itu. Leah rela mengambil pilihan lain itu. Walaupun itu berarti

tinggal bersama keluarga Cullen sebagai anjing peliharaan mereka.

Entah apakah aku mau bertindak sejauh itu, pikir Leah. Ia berusaha membuat

kata-kata itu terdengar keras, agresif, tapi sikapnya sangat tidak meyakinkan. Aku yakin

lebih baik aku mencoba bunuh diri dulu beberapa kali.

Dengar, Leah...

Tidak, kau yang harus mendengarkan aku, Jacoh. Berhenti berdebat denganku,

karena itu tak ada gunanya. Aku tidak akan mengganggumu, oke? Aku akan melakukan

apa saja yang kauinginkan. Kecuali kembali ke kawanan Sam dan menjadi mantan pacar

menyedihkan yang tidak bisa ia singkirkan. Dan kalau kau ingin aku pergi Leah duduk di

kaki belakangnya dan menatap lurus-lurus mataku maka kau harus mengusirku.

Aku menggeram padanya, panjang dan penuh amarah. Aku mulai merasa

bersimpati pada Sam, terlepas dari perlakuannya terhadapku, terhadap Seth. Pantas

saja Sam selalu menyuruh-nyuruh kami. Bagaimana lagi ia bisa membereskan

semuanya?

Seth, apa kau akan marah padaku kalau aku membunuh kakakmu?

Seth pura-pura berpikir sebentar. Well... yeah, mungkin. Aku mengembuskan

napas.

Baiklah, kalau begitu, Miss Sok Mau Menang Sendiri. Bagaimana kalau kaujadikan

dirimu berguna dengan menceritakan pada kami apa yang kauketahui? Apa yang terjadi

setelah kami pergi semalam?

Semua melolong-lolong. Tapi mungkin bagian yang itu kau sudah mendengarnya

sendiri. Nyaring sekali hingga butuh beberapa saat baru kami sadar bahwa kami tidak

bisa mendengar pikiran kalian lagi. Sam jadi.... Leah tak mampu mengungkapkannya

dengan kata-kata, tapi kami bisa melihatnya dalam kepala kami, Seth dan aku meringis,

Sesudah itu, dengan cepat disadari bahwa kami harus memikirkan ulang banyak hal.

Sam berencana membicarakan masalah ini dengan para Tetua pagi-pagi sekali hari ini.

Kami diminta berkumpul dan menyusun rencana. Tapi aku bisa menduga bahwa ia tidak

akan menyerang dalam waktu dekat. Itu sama saja bunuh diri, dengan kau dan Seth

memisahkan diri dan para pengisap darah sudah diperingatkan lebih dulu. Entah apa

198

yang akan mereka lakukan, tapi kalau jadi vampir, aku tidak akan berkeliaran di hutan

sendirian. Sekarang sedang musim berburu vampir. Jadi kau memutuskan untuk bolos

rapat pagi ini? tanyaku, Waktu kami berpisah untuk berpatroli semalam, aku minta izin

untuk pulang, untuk menceritakan pada ibuku apa yang terjadi...

Brengsek Kau cerita pada Mom? Seth menggeram. Seth, tunda dulu pertengkaran

antar saudaranya. Teruskan Leah.

Maka begitu berubah lagi menjadi manusia, aku menyisihkan waktu sebentar

untuk memikirkan semuanya. Well, sebenarnya aku memikirkannya sepanjang malam

sih. Taruhan, yang lain lain pasti mengira aku ketiduran. Tapi segala hal tentang dua

kawanan berbeda, dua pikiran kawanan yang berbeda membuatku banyak berpikir.

Akhirnya aku membandingkan antara keamanan Seth dan, eh, kelebihan-kelebihan lain

yang bisa kuperoleh, dengan berkhianat dan mengendusi bau vampir sampai entah

berapa lama. Kau sudah tahu keputusanku. Aku meninggalkan surat untuk ibuku. Aku

menduga, kita pasti bisa mendengarnya bila Sam mendapat kabar tentang hal ini...

Leah menelengkan kepala ke barat.

Ya, dugaanku juga begitu, aku sependapat.

Begitulah ceritanya. Apa yang kita lakukan sekarang? tanya Leah.

Ia dan Seth menatapku dengan sikap menunggu.

Hal seperti inilah yang paling tidak ingin kulakukan.

Untuk sekarang kurasa kita bersikap waspada saja dulu. Hanya itu yang bisa kita

lakukan. Mungkin sebaiknya kau tidur dulu, Leah.

Kau juga kurang tidur, sama seperti aku.

Katanya tadi kau mau menurut kalau kusuruh?

Benar. Lama-lama bakal bosan juga, gerutu Leah, kemudian menguap. Well,

terserahlah. Aku tak peduli.

Aku akan berlari sepanjang perbatasan, Jake. Aku tidak lelah sama sekali. Seth

senang sekali aku tidak memaksanya dan Leah pulang, sampai-sampai ia nyaris

melonjak-lonjak kegirangan.

Tentu, tentu. Aku akan mengecek keadaan keluarga Cullen.

Seth berlari menyusuri jalan setapak baru yang terbentuk di tanah yang Iembap,

Leah menatap kepergiannya dengan sikap berpikir.

199

Mungkin berkeliling satu-dua kali sebelum tidur... Hei. Seth, mau lihat berapa kali

aku bisa menyusulmu? TIDAK!

Sambil menggonggongkan tawa rendah, Leah menerjang ke hutan, mengejar

Seth,

Aku menggeram sia-sia. Hilang sudah peluangku mendapatkan kedamaian dan

ketenangan.

Leah sudah berusaha—untuk ukuran Leah. Ia berpikir sesedikit mungkin saat

berlari mengitari perbatasan, tapi mustahil mengabaikan suasana hatinya yang senang

karena merasa menang. Terpikir olehku istilah "pikiran dua orang bisa menemanimu".

Itu tidak berlaku bagiku, karena satu saja menurutku sudah terlalu banyak. Tapi kalau

memang kami harus bertiga, rasanya aku rela menukar Leah dengan siapa pun.

Paul? Leah menyarankan. Mungkin, balasku.

Leah tertawa sendiri, terlalu girang dan senang untuk merasa tersinggung. Dalam

hati aku bertanya-tanya sampai kapan kegembiraannya karena berbasil melepaskan diri

dari perasaan kasihan Sam ini akan bertahan.

Itu akan menjadi cita-citaku, kalau begitu—tidak lebih menjengkelkan daripada

Paul.

Yeah, usahakan supaya bisa begitu.

Aku berubah wujud beberapa meter dari halaman. Sebenarnya aku tidak berniat

menjadi manusia terlalu lama di sini. Tapi aku juga tak ingin Leah terus berada dalam

pikiranku. Kukenakan celana pendekku yang compang-camping dan mulai berjalan

melintasi halaman.

Pintu terbuka sebelum aku sampai di tangga, dan aku tetkejut melihat Carlisle,

bukan Edward, melangkah keluar menyambut kedatanganku—wajahnya tampak letih

dan kalah. Sesaat jantungku membeku. Aku tergagap dan berhenti, tak mampu bicara.

"Kau baik-baik saja, Jacob?" ranya Carlisle.

"Apakah Bella baik-baik saja?" aku balas bertanya, suaraku tercekik.

"Dia... lebih kurang sama seperti semalam. Aku mengagetkanmu, ya? Maaf. Kata

Edward kau datang dalam wujud manusia, jadi aku keluar untuk menyambutmu, karena

Edward tidak ingin meninggalkan Bella. Dia sedang terjaga."

200

Dan Edward tidak ingin membuang-buang waktunya bersama Bella, karena tidak

banyak lagi waktu yang ia miliki. Carlisle tidak mengatakannya, tapi aku mengerti.

Sudah lama sekali aku tidak tidur sejak sebelum aku melakukan patroli terakhir.

Aku benar-benar mengantuk sekarang. Aku maju selangkah, duduk di tangga teras

sambil bersandar pada birai tangga.

Bergerak nyaris tanpa suara seperti yang hanya bisa dilakukan vampir, Carlisle

ikut duduk di tangga yang sama, bersandar pada birai yang lain.

"Aku belum sempat berterima kasih padamu semalam, Jacob. Kau tak tahu

betapa aku sangat menghargai... belas kasihanmu. Aku tahu tujuanmu adalah untuk

melindungi Bella, tapi aku berutang budi padamu untuk keselamatan seluruh

keluargaku. Edward menceritakan padaku apa yang terpaksa kaulakukan..."

"Itu tidak perlu diungkit lagi," gumamku.

"Kalau kau lebih suka begitu."

Kami duduk berdiam diri. Aku bisa mendengar suara anggota keluarga yang lain

di dalam rumah. Emmett, Alice, dan Jasper berbicara dengan suara pelan dan serius di

lantai atas, Esme berdendang tanpa nada di ruangan lain, Rosalie dan Edward bernapas

di dekat situ aku tidak bisa membedakannya, tapi aku bisa mendengar perbedaan dalam

desah napas Bella yang kepayahan. Aku bisa mendengar detak jantungnya juga.

Kedengarannya... tidak teratur.

Seolah-olah takdir membuatku melakukan semua yang pernah kukatakan takkan

kulakukan hanya dalam 24 jam. Di sinilah aku sekarang, duduk berpangku tangan,

menunggu Bella meninggal.

Aku tidak mau mendengarkan lagi. Lebih baik bicara daripada mendengarkan.

"Dia sudah kauanggap keluargamu?" tanyaku pada Carlisle. Perkataannya tadi

menarik perhatianku, waktu ia mengatakan aku sudah membantu seluruh keluarganya

juga.

"Ya. Bella sudah kuanggap anak perempuanku sendiri. Anak perempuan yang

sangat kucintai."

"Tapi kau membiarkannya mati."

Carlisle terdiam lama sekali hingga aku merasa perlu mendongak. Wajahnya

terlihat amat sangat letih. Aku tahu bagai mana perasaannya.

201

"Aku bisa membayangkan bagaimana penilaianmu terhadap ku dalam hal itu,"

kata Carlisle akhirnya, "tapi aku tak bisa mengabaikan kehendak Bella. Tidak benar bila

aku yang memutuskan itu baginya, memaksanya."

Aku ingin marah padanya, tapi sulit sekali marah pada Carlisle. Rasanya dia

melemparkan kembali kata-kataku kepadaku, hanya saja urutannya kacau. Perkataan itu

kedengarannya tepat sebelum ini, tapi sekarang tidak, Tidak dengan Bella dalam kondisi

sekarat sekarang ini. Meski begitu... aku ingat rasanya terpuruk di tanah di bawah Sam

tidak memiliki pilihan selain terlibat dalam pembunuhan seseorang yang kucintai.

Situasinya tidak sama, tapi Sam salah. Dan Bella mencintai hal-hal yang tidak seharusnya

ia cintai.

"Apakah menurutmu ada peluang Bella bisa selamat? Maksudku, sebagai vampir

dan sebagainya. Dia menceritakan padaku tentang... Esme."

"Menurutku, sampai saat ini peluangnya masih sama besar," jawab Carlisle

tenang. "Aku pernah melihat sendiri mukjizat yang dihasilkan racun vampir, rapi ada

beberapa kondisi di mana bahkan racun vampir pun tak bisa mengatasi. Jantung Bella

bekerja terlalu keras sekarang, dan bila jantungnya berhenti berfungsi... tak ada lagi

yang bisa kulakukan."

Detak jantung Bella berdegup tertatih-tatih, seolah hendak membenarkan

penjelasan Carlisle barusan.

Mungkin bumi mulai berputar ke arah berlawanan. Mungkin hal itu bisa

menjelaskan mengapa segala sesuatu menjadi berlawanan daripada yang terjadi

kemarin—mengapa aku sekarang malah mengharapkan sesuatu yang dulu kuanggap

paling buruk di dunia.

"Apa yang dilakukan makhluk itu padanya?" bisikku. "Kondisi Bella jauh lebih

buruk semalam. Aku melihat... slangslang dan lain sebagainya. Dari jendela."

"Janin itu tidak kompatibel dengan tubuhnya. Pertama terlalu kuat, tapi mungkin

untuk sementara itu masih bisa ditanggung Bella, Masalah yang lebih besar adalah

makhluk itu menghalangi Bella mendapatkan nutrisi yang dia butuhkan. Tubuhnya

menolak nutrisi dalam bentuk apa pun. Aku berusaha memberinya makan lewat infus,

tapi tubuhnya tak bisa menyerap. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisinya

berubah sangat cepat. Aku melihatnya—dan bukan hanya dia, melainkan juga

janinnya—pelan-pelan mati kelaparan. Aku tidak bisa menghentikan semua itu dan tidak

bisa memperlambat lajunya. Aku tidak mengerti apa yang diinginkan makhluk itu."

Suara Carlisle yang letih pecah di akhir kalimat.

202

Aku merasakan hal yang sama kemarin, waktu melihat bercak-bercak hitam di perut

Bella—marah, dan agak sinting.

Aku mengepalkan kedua tinjuku untuk mengendalikan tubuhku yang bergetar.

Aku benci sekali pada makhluk yang menyakiti Bella itu. Ternyata makhluk itu tidak

hanya membuatnya babak belur dari dalam. Tidak, makhluk itu juga membuatnya

kelaparan. Mungkin mencari sesuatu yang bisa ia gigit—leher untuk diisap darahnya

sampai habis. Karena sekarang makhluk itu belum cukup besar untuk membunuh orang

lain, ia cukup puas dengan hanya mengisap habis nyawa Bella.

Kentara sekali itulah yang diinginkan makhluk itu: kematian dan darah, darah dan

kematian.

Sekujur kulitku panas dan gatal. Aku menarik napas dan mengembuskannya

pelan-pelan, berkonsentrasi untuk menenangkan diri.

"Kalau saja aku tahu lebih banyak, makhluk apa tepatnya itu," gumam Carlisle.

"Janin itu terlindungi dengan baik. Aku belum berhasil mendapatkan gambaran melalui

USG. Aku ragu jarum sanggup menembus kantong ketuban, tapi Rosalie menolak

membiarkanku mencoba apa pun."

"Jarum?" gumamku. "Apa gunanya jarum?"

"Semakin banyak yang kuketahui tentang janin itu, semakin aku bisa

memperkirakan apa saja yang bisa dilakukan, janin itu. Ingin benar aku mendapatkan

sedikit saja contoh air ketuban. Seandainya aku bisa mengetahui jumlah

kromosomnya..."

"Kau membuatku bingung, Dok. Kau bisa menjelaskannya secara lebih

sederhana?"

Carlisle terkekeh—walaupun tawanya terdengar letih. "Baiklah. Sudah sejauh

mana pelajaran biologimu? Sudah sampai ke bagian pasangan kromosom?"

"Sepertinya sudah. Jumlah kromosom kita 23, bukan?"

"Manusia memang memiliki 23 kromosom."

Aku mengerjapkan mata. "Kalau kalian berapa?"

"Dua puluh lima."

Sesaat aku mengerutkan kening memandangi tinjuku. "Apa artinya itu?"

"Menurutku itu berarti spesies kami hampir bisa dikatakan sangat berbeda dari

manusia. Kurang memiliki kesamaan dibandingkan singa dan kucing. Tapi kehidupan

203

baru ini— well, ternyata kita lebih kompatibel secara genetis daripada yang kuduga

sebelumnya." Carlisle mengembuskan napas sedih. "Aku tidak tahu sehingga tidak

memperingatkan mereka."

Aku juga ikut-ikutan mengembuskan napas. Mudah saja membenci Edward untuk

keteledorannya. Aku masih membenci dia gara-gara ini. Tapi sulit merasakan hal yang

sama tentang Carlisle. Mungkin karena aku tidak cemburu padanya.

"Mungkin akan membantu bila kita tahu jumlah kromosomnya—apakah janin itu

lebih mendekati kami atau Bella. Jadi kita tahu apa yang kita harapkan. Kurasa aku

hanya berharap ada sesuatu yang bisa dipelajari, pokoknya melakukan apa saja."

"Aku jadi penasaran bagaimana kromosomku," cetusku. Lagi-lagi aku berpikir

rentang tes steroid yang dijalani para atlet Olimpiade, Apakah mereka juga melakukan

pemeriksaan DNA?

Carlisle terbatuk-batuk dengan sikap kikuk. "Jumlah kromosommu 24 pasang,

Jacob."

Pelan-pelan aku menoleh dan menatapnya, mengangkat alisku.

Carlisle tampak malu, "Waktu itu aku... ingin tahu. Jadi sekalian saja kuperiksa

jumlah kromosommu waktu aku merawatmu bulan Juni lalu."

Aku berpikir sebentar. "Mungkin seharusnya itu membuatku marah. Tapi aku

benar-benar tidak peduli,"

"Maafkan aku. Seharusnya aku meminta izin lebih dulu."

"Tidak apa-apa, Dok, Kau tidak bermaksud buruk."

"Tidak, aku jamin aku tidak bermaksud buruk. Hanya saja... aku mendapati

spesiesmu sangat menarik. Kurasa karena aku sudah sangat terbiasa dengan elemenelemen

vampir setelah menjalaninya beberapa abad. Perbedaan keluargamu dengan

manusia biasa jauh lebih menarik. Hampir-hampir ajaib."

"Abrakadabra" gerutuku. Carlisle jadi mirip Bella dengan semua omong

kosongnya tentang keajaiban.

Lagi-lagi Carlisle mengumandangkan tawa letih.

Lalu kami mendengar suara Edward di dalam rumah, dan sama-sama terdiam

untuk mendengarkan,

"Sebentar lagi aku kembali, Bella. Aku ingin bicara sebentar dengan Carlisle.

Rosalie, kau tidak keberatan kan ikut dengan ku?" Suara Edward terdengar berbeda. Ada

204

secercah semangat dalam suaranya yang hampa. Percikan sesuatu. Bukan harapan

tepatnya, tapi mungkin keinginan untuk berharap.

"Ada apa, Edward?" tanya Bella parau.

"Tak ada yang perlu kaukhawatirkan, Sayang. Sebentar saja. Please, Rose?"

"Esme?" panggil Rosalie. "Bisa tolong jaga Bella sebentar?"

Aku mendengar bisikan angin saat Esme meluncur menuruni tangga.

"Tentu saja," jawabnya.

Carlisle mengubah posisi duduk, membalikkan badan dan melihat dengan sikap

penuh harap ke pintu. Edward keluar lebih dulu, Rosalie tepat di belakangnya.

Wajahnya, seperti juga suaranya, tak lagi tampak hampa. Ia kini tampak sangat fokus.

Rosalie terlihat curiga.

Edward menutup pintu di belakangnya.

"Ada apa, Edward?"

"Mungkin selama ini kita salah menanganinya. Aku mendengarkan

percakapanmu dengan Jacob barusan, dan waktu kalian membicarakan.,, keinginan

janin itu, Jacob memikirkan sesuatu yang menarik,"

Aku? Memangnya apa yang kupikirkan? Selain kebencianku pada makhluk itu?

Setidaknya bukan hanya aku yang membencinya. Kentara sekali tidak mudah bagi

Edward menggunakan istilah janin untuk makhluk itu,

"Kita belum pernah melakukan pendekatan dari sudut itu" lanjut Edward.

"Selama ini kita berusaha memenuhi kebutuhan Bella. Dan tubuhnya tidak bisa

menerima dengan baik. Mungkin seharusnya kita memerhatikan kebutuhan... janin itu

lebih dulu. Mungkin kalau kita bisa memuaskannya, kita akan bisa membantu Bella

dengan lebih efektif'

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Edward" kata Carlisle.

"Pikirkan, Carlisle. Kalau makhluk itu lebih menyerupai vampir daripada manusia,

tak bisakah kau menebak apa yang dia inginkan dan apa yang tidak dia dapatkan? Jacob

langsung bisa mengetahuinya.”

Hah, aku? Kuputar kembali ingatanku tentang percakapan kami tadi, berusaha

mengingat hal-hal yang tadi kupikirkan. Aku teringat nyaris bersamaan dengan Carlisle.

"Oh " ucap Carlisle terkejut. "Menurutmu janin ini... haus?"

205

Rosalie mendesis pelan. Ia tidak curiga lagi. Wajah rupawannya yang memuakkan

kontan berseri-seri, matanya membelalak penuh semangat, "Tentu saja," gumamnya.

"Carlisle, kita kan punya persediaan darah O negatif untuk Bella. Itu ide bagus,"

imbuhnya, tanpa memandangku.

"Hmm." Carlisle memegang dagunya, hanyut dalam pikirannya sendiri. "Aku jadi

penasaran... Kemudian, bagaimana cara terbaik untuk memberikannya,,."

Rosalie menggeleng. "Kita tidak punya waktu untuk mencoba-coba. Saranku, kita

langsung mulai saja dengan cara tradisional."

"Tunggu sebentar.” bisikku. "Tunggu dulu sebentar. Maksudmu—menyuruh Bella

minum darah?"

"Itu kan idemu, anjing," sergah Rosalie, cemberut tanpa benar-benar

memandangku.

Kuabaikan dia dan kutatap Carlisle. Bayangan harapan yang tadi kulihat di wajah

Edward kini membayangi mata Carlisle. Ia mengerucutkan bibir, berspekulasi.

"Itu, kan..." aku tak mampu menemukan kata yang tepat.

"Mengerikan!" tanya Edward. "Menjijikkan?"

"Begitulah."

"Tapi bagaimana kalau itu bisa menolongnya?" bisik Edward.

Aku menggeleng marah, "Apa yang akan kaulakukan, menyurukkan slang ke

kerongkongannya?"

"Aku akan menanyakan pendapat Bella. Aku hanya ingin menyampaikannya dulu

pada Carlisle."

Rosalie mengangguk. "Kalau kaukatakan itu akan membantu bayinya, Bella pasti

mau melakukan apa saja. Walaupun kita terpaksa memasukkannya melalui slang."

Saat itulah aku sadar waktu aku mendengar bagaimana suara Rosalie berubah

jadi begitu lembut saat menyebut kata bayi bahwa si Pirang itu akan mendukung

tindakan apa saja yang membantu menyelamatkan si monster pengisap nyawa itu.

Itukah yang sebenarnya sedang terjadi, faktor misteri yang menyatukan mereka? Rosalie

mengincar bocah itu?

Dari sudut mata kulihat Edward mengangguk satu kali, secara sambil lalu, tanpa

melihat ke arahku. Tapi aku tahu ia menjawab pertanyaanku.

206

Hah, Tak kukira sama sekali si Pirang yang sedingin es itu ternyata memiliki sisi

keibuan juga. Ternyata ia bukan melindungi Bella, Rosalie mungkin akan dengan senang

hati menyurukkan sendiri slang ke kerongkongan Bella.

Bibir Edward terkatup membentuk garis keras, dan aku tahu pikiranku ini benar.

"Well, kita tak punya waktu untuk duduk-duduk mendiskusikan hal ini," sergah

Rosalie tak sabar. "Apa pendapatmu, Carlisle? Bisakah kita mencobanya?"

Carlisle menarik napas dalam-dalam, kemudian berdiri. "Kita akan

menanyakannya pada Bella."

Si Pirang tersenyum menang yakin bahwa, kalau pilihan diserahkan kepada Bella,

ia pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kuseret kakiku dari tangga dan kuikuti mereka masuk ke rumah. Entah mengapa

aku ikut. Mungkin karena ingin tahu. Rasanya seperti menonton film horor. Monster dan

darah di mana-mana.

Mungkin aku hanya tak mampu menolak mendapatkan lagi asupan "obat"ku yang

semaian berkurang.

Bella berbaring telentang di ranjang rumah sakit, perutnya membuncit di balik

selimut. Ia seperti lilin pucat dan agak transparan. Orang yang melihatnya akan mengira

ia sudah mati, seandainya dadanya tidak bergerak karena napasnya yang pendekpendek.

Juga matanya, yang mengikuti kami dengan sikap curiga dan letih.

Yang lain sudah berdiri di sampingnya, melesat melintasi ruangan dengan

gerakan cepat dan tiba-tiba. Ngeri melihatnya. Aku melangkah lambat-lambat.

"Ada apa?" tuntut Bella, bisikannya parau. Tangannya yang seputih lilin bergerak

seolah-olah ia berusaha melindungi perutnya yang membuncit,

"Jacob mendapat ide yang mungkin bisa membantumu," kata Carlisle, Dalam hati

sebenarnya aku tak ingin Carlisle membawa-bawa namaku. Aku kan tidak mengusulkan

apa-apa. Serahkan saja pujian itu pada suaminya yang pengisap darah itu. "Memang

bukan sesuatu yang... menyenangkan, tapi..."

"Tapi itu akan membantu bayimu," sela Rosalie penuh semangat. "Ada cara yang

lebih baik untuk memberinya makan. Mungkin."

Kelopak mata Bella menggeletar. Lalu ia membacukkan tawa lemah. "Tidak

menyenangkan?" bisiknya. "Wah, perubahan besar kalau begitu." Matanya mengawasi

slang di lengannya dan terbatuk lagi.

207

Si Pirang ikut tertawa bersamanya.

Bella terlihat sangat kepayahan, seolah-olah ia hanya punya waktu beberapa jam

lagi untuk hidup, dan bahwa ia pasti sangat menderita, tapi masih sempat-sempatnya ia

bercanda. Sungguh khas Bella. Berusaha meredakan ketegangan, menenangkan hati

semua orang.

Edward melangkah di samping Rosalie, wajahnya yang tegang tak menyiratkan

canda sedikit pun. Aku senang melihatnya Itu sedikit membantu perasaanku, bahwa ia

lebih menderita daripada aku. Edward meraih tangan Bella, bukan tangan yang masih

melindungi perutnya yang membuncit.

"Bella, Sayang, kami akan memintamu melakukan sesuatu yang mengerikan,"

kata Edward, menggunakan istilah yang sama seperti yang ia ucapkan padaku tadi.

"Menjijikkan."

Well, paling tidak Edward mengatakannya apa adanya.

Bella menarik napas pendek dan bergetar. "Seberapa parah?"

Carlisle yang menjawab. "Kami pikir janin itu memiliki selera yang lebih

mendekati kami daripada kau. Dugaan kami, dia haus."

Bella mengerjap. "Oh. Oh"

"Kondisimu kondisi kalian berdua semakin memburuk dengan cepat. Kita tidak

boleh menyia-nyiakan waktu, mencari cara lain yang lebih beradab untuk

melakukannya. Cara tercepat untuk mengetes teori itu..."

"Aku harus meminumnya" bisik Bella, Ia mengangguk sedikit nyaris tak ada lagi

tenaga tersisa untuk sekadar menganggukkan kepala. "Aku bisa melakukannya. Hitunghitung

latihan untuk masa depan, bukan?" Bibirnya yang pucat tak berwarna

mengembang membentuk senyum lemah saat ia memandang Edward. Edward tidak

membalas senyumnya.

Rosalie mengetuk-ngetukkan jempol kakinya dengan sikap tak sabar. Suaranya

sungguh menjengkelkan. Dalam hati aku bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan

seandainya aku melemparnya ke dinding sekarang juga.

"Jadi, siapa yang akan menangkapkan beruang grizzly untukku?" bisik Bella.

Carlisle dan Edward saling melirik cepat. Rosalie berhenti mengetuk-ngetukkan

jari kakinya.

"Apa?" tanya Bella.

208

"Tesnya akan lebih efektif bila kita tidak mencoba-coba, Bella," Carlisle

menjelaskan.

"Kalau benar janin itu menginginkan darah," Edward menjelaskan, "berarti bukan

darah binatang yang dia inginkan."

"Tak akan ada bedanya bagimu, Bella. Tidak usah dipikirkan," Rosalie

menguatkan.

Mata Bella membelalak. "Siapa?" desahnya, tatapannya tertuju padaku.

"Aku tidak datang ke sini untuk jadi donor, Bells," gerutuku. "Lagi pula, kalau dia

menginginkan darah manusia, kurasa darahku tidak seperti..."

"Kami punya persediaan darah," Rosalie memberitahu Bella, menginterupsi

sebelum aku selesai bicara, seakan-akan aku tak ada di sana, "Untukmu—untuk jagajaga.

Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Semua beres. Aku optimis, Bell,

Menurutku kondisi bayimu akan membaik." Tangan Bella membelai perutnya.

"Well," desahnya parau, nyaris tak terdengar. "Aku kelaparan, jadi aku yakin dia

pasti juga kelaparan." Lagi-lagi mencoba bercanda. "Ayo kita lakukan. Tindakan vampir

pertamaku."

209

13. UNTUNG AKU TIDAK MUDAH JIJIK

CARLISLE dan Rosalie langsung bergegas pergi, melesat ke lantai atas. Bisa

kudengar mereka berdebat apakah perlu menghangatkan darah itu untuk Bella, Ugh.

Aku jadi kepingin tahu, benda-benda horor apa lagi yang mereka simpan di sekitar sini.

Kulkas penuh darah, ya. Apa lagi? Kamar penyiksaan? Ruang peti mati?

Edward tetap berdiri di tempatnya, menggenggam tangan Bella. Wajahnya

kembali hampa. Sepertinya ia bahkan tidak punya tenaga untuk mempertahankan

secercah harapan yang sempat muncul tadi. Mereka saling menatap, tapi bukan dengan

tatapan mesra berlumur cinta. Seakan-akan mereka sedang berbicara. Agak

mengingatkanku pada Sam dan Ernily.

Tidak, bukan mesra berlumur cinta, tapi itu malah membuatku semakin tak tahan

melihatnya.

Aku jadi mengerti bagaimana perasaan Leah, harus menyaksikan hal itu setiap

saat. Harus mendengarnya di kepala Sam. Tentu saja kami kasihan pada Leah, kami kan

bukan monster—setidaknya dalam hal itu. Tapi kurasa kami menyalahkan caranya

menangani hal itu. Menyemprot semua orang, berusaha membuat kami merana seperti

dirinya.

Aku takkan pernah menyalahkan Leah lagi. Bagaimana orang bisa membantu

menyebarkan kepedihan seperti ini? Bagaimana orang bisa tidak berusaha meringankan

sebagian beban dengan menjejalkan sedikit kepedihan ini pada orang lain?

Dan kalau itu berarti aku harus punya kawanan, bagaimana aku bisa

menyalahkan Leah karena merenggut kemerdekaanku? Aku juga akan melakukan hal

yang sama. Seandainya ada jalan untuk melepaskan diri dari kepedihan ini, aku akan

mengambilnya.

Sejurus kemudian Rosalie sudah kembali, melesat memasuki ruangan seperti

angin ribut, menyeruakkan bau tajam menusuk. Ia berhenti di dapur, dan aku

mendengar derit pintu rak dibuka.

"Jangan yang bening, Rosalie," gumam Edward. Ia memutar bola matanya.

Bella tampak ingin tahu, tapi Edward hanya menggeleng padanya.

Rosalie melesat melintasi ruangan dan menghilang lagi,

210

"Jadi ini idemu?" Bella berbisik, suaranya parau saat berusaha keras membuatnya

terdengar cukup keras untuk bias kudengar. Lupa kalau aku bisa mendengar suaranya

dengan baik. Sering kali aku senang Bella sepertinya lupa aku bukan sepenuhnya

manusia. Aku beringsut mendekat, agar ia tidak perlu berusaha terlalu keras.

"Jangan salahkan aku. Vampirmu yang lancang mencuri dengar komentarkomentar

sinis dari kepalaku."

Bella tersenyum sedikit, "Aku tidak mengira akan melihatmu lagi."

"Yeah, aku juga," kataku.

Aneh rasanya hanya berdiri di sini, tapi vampir-vampir itu telah menyingkirkan

semua perabot untuk memberi tempat pada peralatan-peralatan medis. Aku

membayangkan itu bukan masalah bagi mereka tak ada bedanya kau duduk atau berdiri

kalau kau batu. Sebenarnya itu juga bukan masalah bagiku, hanya saja saat ini aku

benar-benar kelelahan.

"Edward menceritakan padaku apa yang terpaksa kaulakukan. Aku ikut prihatin."

"Tidak apa-apa. Mungkin memang sudah waktunya aku memberontak, tidak mau

melakukan apa yang diperintahkan Sam," dustaku.

"Dan Seth" bisik Bella.

"Sebenarnya dia malah senang bisa membantu.”

“Aku tidak senang membuatmu terkena masalah"

Aku tertawa lebih menyerupai gonggongan daripada tawa.

Bella mengembuskan napas lemah. "Kurasa itu bukan hal baru, ya?"

"Tidak, memang tidak."

"Kau tidak perlu tetap di sini dan menyaksikan," kata Bella, nyaris mengucapkan

kata-kata itu tanpa suara.

Aku bisa saja pergi. Mungkin itu ide bagus. Tapi kalau aku pergi, menilik kondisi

Bella sekarang, bisa jadi aku kehilangan lima belas menit terakhir hidupnya.

"Aku tidak perlu ke mana-mana kok," kataku, berusaha tidak memperdengarkan

emosi apa pun. "Aku sedang tidak begitu tertarik menjadi serigala sejak Leah

bergabung,"

211

"Leah?" Bella tersentak,

"Kau tidak memberitahu dia?” tanyaku pada Edward. Edward hanya mengangkat

bahu tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Bella. Bisa kulihat itu bukan kabar yang

terlalu menggembirakan bagi Edward, sesuatu yang tak ada gunanya diceritakan

mengingat banyaknya peristiwa lebih penting yang sedang terjadi.

Bella tidak menganggap sepele kabar itu. Kelihatannya itu seperti kabar buruk

baginya.

"Mengapa?" desah Bella.

Aku tidak ingin bercerita terlalu detail. "Agar bisa mengawasi Seth."

"Tapi Leah benci pada kami,'' bisik Bella.

Kami. Bagus sekali. Tapi kentara sekali Bella takut.

"Leah tidak akan mengganggu siapa-siapa." Kecuali aku. "Dia bergabung dalam

kawananku" aku meringis saat mengucapkannya “jadi dia menuruti perintahku." Ugh.

Bella kelihatannya tidak yakin.

"Kau takut pada Leah, tapi malah berteman baik dengan si psikopat pirang itu?"

Terdengar desisan rendah dari lantai dua. Keren, ternyata Rosalie bisa

mendengarku.

Bella mengerutkan kening padaku. "Jangan. Rose... mengerti."

"Yeah," gerutuku. "Dia mengerti kau bakal mati tapi dia tidak peduli, selama bisa

mendapatkan bocah mutan ini darimu."

"Jangan jahat begitu, Jacob," bisiknya.

Kondisi Bella yang lemah membuatku tidak tega marah padanya. Jadi kucoba

untuk tersenyum. "Kayak itu mungkin saja."

Bella berusaha untuk tidak membalas senyumku, tapi akhirnya ia tidak berhasil;

sudut-sudut bibirnya yang pucat terangkat.

Kemudian Carlisle dan si psikopat datang. Carlisle memegang cangkir putih di

tangannya lengkap dengan tutup dan sedotan yang bisa ditekuk. Oh jangan yang bening,

sekarang aku mengerti. Edward tidak ingin Bella berpikir yang tidak-tidak. Jadi bukan

cangkir bening yang dipakai, dengan begitu kau sama sekali tidak bisa melihat isi cangkir

itu. Tapi aku bisa mencium baunya.

212

Carlisle ragu-ragu, tangan yang memegang cangkir itu separo terulur. Bella

mengamati Carlisle, wajahnya kembali terlihat takut,

"Kita bisa mencoba metode lain," kata Carlisle pelan,

"Tidak," bisik Bella. "Tidak, aku akan mencobanya dulu. Kita tidak punya waktu

lagi..."

Awalnya kusangka Bella akhirnya mengerti dan mengkhawatirkan dirinya sendiri,

tapi kemudian tangannya bergelar lemah di atas perutnya.

Bella mengulurkan tangan dan menerima cangkir itu dari Carlisle. Tangannya

sedikit gemetar, dan aku bisa mendengar kecipak cairan di dalamnya. Ia berusaha

menyangga tubuhnya dengan satu siku, tapi nyaris tak mampu mengangkat kepalanya.

Sekelebat perasaan panas menjalari tulang punggungku melihat betapa cepatnya ia

melemah hanya dalam waktu kurang dari satu hari.

Rosalie melingkarkan lengannya di bawah bahu Bella, menyangga kepalanya juga,

seperti menyangga kepala bayi yang baru lahir. Si Pirang ternyata sangat tergila-gila

pada bayi.

"Trims," bisik Bella. Matanya memandang berkeliling sekilas pada kami. Masih

cukup awas untuk merasa canggung. Kalau kondisinya sedang tidak terkuras, aku berani

bertaruh pipinya pasti sudah memerah.

"Jangan pedulikan mereka," gumam Rosalie,

Itu membuatku merasa kikuk. Seharusnya aku pergi tadi waktu disuruh Bella,

Tempatku bukan di sini, menjadi bagian dari ini. Sempat terpikir olehku untuk kabur,

tapi kemudian sadar itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk bagi Bella

membuatnya semakin sulit untuk dituntaskan. Ia akan mengira aku terlalu jijik untuk

tetap berada di sini. Walaupun itu nyaris benar.

Tetap saja. Meski aku tidak bakal mau dimintai pertanggungjawaban atas ide ini,

aku juga tidak mau menggagalkannya.

Bella mengangkat cangkir ke wajahnya dan mengendus ujung sedotan. Ia

tersentak, kemudian mengernyit,

"Bella, Sayang, kita bisa cari jalan lain yang lebih mudah," kata Edward,

mengulurkan tangan hendak meraih cangkir itu.

"Tutup hidung saja," Rosalie mengusulkan. Ia menatap garang tangan Edward,

seperti hendak menggigitnya. Aku berharap ia melakukannya. Taruhan, Edward tak

213

mungkin diam saja diperlakukan seperti itu, dan aku pasti senang melihat si Pirang

kehilangan sebelah tangannya.

"Tidak, bukan itu. Tapi.,," Bella menarik napas dalam-dalam. "Baunya enak," ia

mengakui dengan suara kecil.

Susah payah aku menelan ludah, berjuang keras mengenyahkan ekspresi jijik dari

wajahku,

"Baguslah kalau begitu," kata Rosalie dengan nada menyemangati. "Itu berarti

kita berada di jalur yang tepat. Cobalah." Melihat ekspresi si Pirang, heran juga aku ia

tidak lantas menari-nari kegirangan.

Bella menyurukkan sedotan ke sela-sela bibirnya, memejamkan mata rapat-rapat,

dan mengernyitkan hidung. Aku bisa mendengar darah berkecipak lagi di dalam cangkir

ketika tangannya gemetar. Ia menyesapnya sebentar, kemudian mengerang pelan

dengan mata terpejam.

Edward dan aku melangkah maju bersamaan. Edward menyentuh wajah Bella.

Aku mengepalkan kedua tanganku di belakang punggung.

"Bella, Sayang..."

"Aku baik-baik saja," bisik Bella. Ia membuka mata dan mendongak menatap

Edward. Ekspresinya... meminta maaf. Memohon. Takut. "Rasanya juga enak."

Asam lambungku bergolak, terancam naik ke tenggorokan. Aku mengertakkan

gigi.

"Baguslah kalau begitu," ulang si Pirang, masih terpesona. "Pertanda bagus."

Edward hanya menempelkan tangannya ke pipi Bella, melengkungkan jari-jarinya

mengikuti bentuk tulang pipi Bella yang rapuh.

Bella mendesah dan menempelkan bibirnya lagi ke sedotan. Kali ini ia menyedot

sepenuh hati. Tindakan itu sama sekali tidak menunjukkan kondisinya yang lemah.

Seolah-olah tindakannya diambil alih oleh insting.

"Bagaimana perutmu? Kau merasa mual?" tanya Carlisle.

Bella menggeleng, "Tidak, aku tidak merasa mual" bisiknya. "Itu yang pertama,

ya?"

Rosalie berseri-seri, "Bagus sekali."

"Kurasa sekarang masih terlalu dini untuk itu, Rose," gumam Carlisle.

214

Bella menelan lagi seteguk darah. Kemudian ia melayangkan pandangan pada

Edward. "Apakah ini mengacaukan jumlah totalku?" bisiknya. "Atau hitungan baru

dimulai setelah aku jadi vampir?"

"Tidak ada yang menghitung, Bella. Soalnya tidak ada yang tewas dalam hal ini."

Edward menyunggingkan senyum datar. "Rekormu masih bersih."

Aku sama sekali tak mengerti.

"Akan kujelaskan nanti," kata Edward, sangat pelan hingga hanya menyerupai

bisikan.

"Apa?" bisik Bella.

"Hanya bicara pada diri sendiri," dusta Edward luwes.

Kalau ia berhasil dengan idenya ini, kalau Bella hidup, Edward takkan bisa banyak

berkutik bila indra Bella setajam indranya. Ia harus berusaha keras untuk selalu bersikap

jujur.

Bibir Edward berkedut-kedut, menahan tawa Bella mereguk lagi, memandang

melewati kami ke jendela. Mungkin berpura-pura kami tak ada di sini. Atau mungkin

hanya aku. Tak ada orang lain selain aku di sini yang merasa jijik pada apa yang ia

lakukan. Justru sebaliknya mereka mungkin sedang berusaha menahan diri sekuat

tenaga untuk tidak merebut cangkir itu dari Bella. Edward memutar bola matanya.

Astaga, mana mungkin ada orang yang tahan hidup bersama Edward? Sayang

sekali ia tidak bisa mendengar pikiran Bella. Dengan begitu ia kan bisa membuat Bella

jengkel setengah mati, dan akhirnya Bella akan muak padanya.

Edward terkekeh. Mata Bella langsung tertuju padanya, dan ia separo tersenyum

melihat ekspresi geli di wajah Edward. Dugaanku, itu pasti karena ia sudah lama tidak

melihat Edward tertawa.

"Ada yang lucu?" desah Bella.

"Jacob," jawab Edward.

Bella memandangku dengan senyum letih tersungging di wajahnya. "Jake

memang lucu," ia sependapat.

Hebat, sekarang aku yang jadi badut. "Bada bing" gumam ku dengan ekspresi

mabuk.

Ia tersenyum, kemudian minum lagi dari cangkir. Aku tersentak waktu

mendengar sedotan mengisap udara kosong, menimbulkan suara terisap yang nyaring.

215

"Berhasil," seru Bella, terdengar gembira. Suaranya lebih jernih—parau, tapi

bukan bisikan seperti tadi. "Kalau aku tidak memuntahkannya lagi, Carlisle, apakah kau

akan mencabut siang-siang ini dari tubuhku?"

"Sesegera mungkin," Carlisle berjanji. "Jujur saja, siang-siang itu memang tak

banyak pengaruhnya ke tubuhmu sekarang."

Dan semua bisa melihatnya—secangkir penuh darah manusia tadi membuat

perbedaan yang benar-benar nyata. Wajah Bella kembali berseri—ada semburat warna

pink di pipinya yang pucat. Malah sekarang sepertinya ia tak perlu lagi dipegangi Rosalie.

Tarikan napasnya lebih mudah, dan berani sumpah, menurutku detak jantungnya lebih

kuat, lebih teratur.

Segala sesuatu berubah sangar cepat.

Bayangan harapan di mata Edward berubah menjadi nyata.

"Kau mau lagi?" desak Rosalie. Bahu Bella terkulai,

Edward melayangkan pandangan menegur ke arah Rosalie sebelum ia berbicara

kepada Bella, "Kau tidak perlu langsung minum lagi."

"Yeah, aku tahu. Tapi... aku memang ingin" Bella mengakui dengan muram.

Rosalie membelai rambur Bella yang lepek dengan jari-jarinya yang kurus dan

tajam. "Kau tidak perlu malu tentang hal itu, Bella. Kau ngidam. Kami semua mengerti."

Nadanya menenangkan pada awalnya, tapi kemudian ia menambahkan dengan kasar,

"Siapa pun yang tidak mengerti, tidak seharusnya berada di sini,"

Itu berarti aku, jelas, tapi aku takkan membiarkan diriku Terpancing si Pirang. Aku

senang Bella merasa lebih sehat. Memangnya kenapa kalau itu membuatku jijik? Aku

toh tidak berkomentar apa-apa.

Carlisle mengambil cangkir itu dari tangan Bella. "Tunggu sebentar."

Bella memandangiku sementara Carlisle pergi.

"Jake, kau kelihatan berantakan," kata Bella parau”.

"Kau tidak lebih baik."

"Serius, kapan rerakhir kali kau tidur?"

Aku memikirkan pertanyaan itu sebentar. "Hah. Kayaknya aku tidak ingat,"

"Aduh, Jake. Sekarang aku mengacaukan kesehatanmu. Jangan tolol"

216

Aku menggertakkan gigiku. Bella boleh bunuh diri demi monster, tapi aku tidak

boleh melewatkan tidur beberapa malam saja untuk melihatnya melakukannya?

"Istirahatlah, please? sambung Bella, "Di atas ada beberapa tempat tidur kau

boleh memakai yang mana saja,"

Ekspresi Rosalie mengindikasikan aku tidak diharapkan menggunakan ranjang

tertentu. Membuatku heran, untuk apa si Putri yang Tidak Pernah Tidur itu

membutuhkan tempat tidur? Seposesif itukah dia terhadap barang-barang miliknya?

"Trims, Bells, tapi aku lebih suka tidur di tanah. Jauh dari bau, kau tahu

sendirilah."

Bella meringis. "Baiklah."

Carlisle kembali, dan Bella mengulurkan tangan, menerima cangkir berisi darah

secara sambil lalu, seperti sedang memikirkan hal lain. Dengan ekspresi tak acuh yang

sama, ia mulai menyedot isinya.

Ia benar-benar tampak lebih sehat. Ia menarik tubuhnya ke depan, berhati-hati

untuk tidak membuat siang-siang terbelit, dan bangkit untuk duduk, Rosalie berdiri

terus di dekatnya, kedua tangan siap menangkap Bella kalau ia terkulai, tapi Bella tidak

membutuhkannya. Sambil menarik napas dalam-dalam di antara menelan, Bella dengan

cepat menghabiskan isi cangkir kedua,

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Carlisle.

"Tidak mual. Agak lapar,,, hanya saja aku tak yakin apakah aku lapar atau haus,

kau mengerti, kan?"

"Carlisle, lihat saja Bella," gumam Rosalie, terlihat puas seperti kucing yang

berhasil menerkam burung. "Jelas inilah yang diinginkan tubuhnya. Sebaiknya dia

minum lagi,"

"Dia masih manusia, Rosalie. Dia juga membutuhkan makanan. Kita tunggu dulu

sebentar untuk melihat pengaruhnya pada tubuhnya, kemudian mungkin kita bisa

mencoba sedikit makanan lagi. Ada makanan tertentu yang ingin kaumakan, Bella?"

"Telur," jawab Bella langsung, kemudian ia bertukar pandang dengan Edward dan

tersenyum padanya. Senyum Edward rapuh, tapi ada sedikit sinar di wajahnya sekarang.

Aku mengerjap, dan nyaris lupa membuka mataku lagi.

217

"Jacob," gumam Edward, "Kau benar-benar harus tidur. Seperti kata Bella tadi,

kau dipersilakan memanfaatkan akomodasi yang ada di sini, walaupun mungkin kau

lebih nyaman tidur di luar. Jangan khawatir mengenai apa pun aku berjanji akan

mencarimu kalau diperlukan."

"Tentu, tentu," gumamku. Sekarang setelah Bella kelihatannya mulai bisa

bertahan setidaknya hingga beberapa jam lagi, aku bisa pergi dari sini. Pergi dan tidur

melingkar di bawah pohon di suatu tempat... Cukup jauh sehingga bau itu tidak

mengusikku lagi. Si pengisap darah akan membangunkanku kalau ada yang tidak beres.

Setidaknya ia berutang itu padaku.

"Benar" Edward sependapat.

Aku mengangguk dan meletakkan tanganku di atas tangan Bella, Tangannya

sedingin es. "Cepat sehat, ya," pesanku,

"Trims, Jacob," Bella membalikkan tangannya dan meremas tanganku. Aku

merasakan cincin kawinnya yang tipis terpasang longgar di jarinya yang kurus.

"Ambilkan selimut untuknya atau apa," gumamku sambil berbalik menuju pintu.

Belum lagi aku mencapai pintu keluar, dua lolongan mengoyak keheningan udara

pagi. Tak salah lagi, ada nada mendesak dalam lolongan itu. Kali ini tidak mungkin keliru.

"Brengsek," geramku, langsung menghambur keluar pintu. Aku melempar

tubuhku dari teras, membiarkan panas mengoyak tubuhku yang sedang melompat tinggi

di udara. Terdengar suara robekan nyaring saat celana pendekku terkoyak-koyak. Sial.

Itu satu-satunya bajuku yang masih tersisa. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku mendarat

mulus dan langsung berpacu ke barat.

Ada apa? teriakku dalam hati.

Ada yang datang, Seth menjawab. Setidaknya jumlahnya tiga.

Apakah mereka berpencar?

Aku akan kembali ke Seth dalam kecepatan cahaya, janji Leah. Aku bisa

merasakan udara terpompa keluar-masuk paru-parunya saat ia memaksa dirinya berlari

dalam kecepatan luar biasa. Hutan berkelebat di sekelilingnya. Sejauh ini tidak ada titik

serangan lain.

Seth, jangan tantang mereka. Tunggu aku.

218

Mereka memperlambat lari Ugh sangat tidak enak tidak bisa mendengar mereka.

Kurasa... Apa?

Kurasa mereka berhenti. Menunggu anggota kawanan lain? Ssst, Kaurasakan itu?

Aku menyerap kesan-kesan yang diperoleh Seth, Pendar-pendar samar tanpa

suara di udara. Ada yang berubah wujud? Rasanya begitu, Seth sependapat.

Leah melayang memasuki lapangan terbuka kecil tempat Seth menunggu. Ia

mencengkeramkan kuku-kukunya ke tanah, berputar seperti mobil balap.

Aku sudah sampai, bro.

Mereka datang, kata Seth gugup. Pelan. Berjalan kaki.

Aku sudah hampir sampai, kataku pada mereka. Aku berusaha melayang seperti

Leah, Sangat tidak enak terpisah dari Seth dan Leah jika bahaya lebih dekat ke mereka

dibandingkan aku. Ini salah. Seharusnya aku bersama mereka, berdiri di antara mereka

dan entah apa pun itu yang datang menghampiri.

Coba lihat, siapa yang tiba-tiba jadi punya insting melindungi, ejek Leah kecut.

Pusatkan perhatianmu pada masalah di depan, Leah.

Empat, Seth memutuskan. Pendengaran anak itu benar-benar tajam. Tiga

serigala, satu manusia.

Saat itulah aku sampai di lapangan terbuka, langsung menempati posisi terdepan.

Seth mengembuskan napas lega dan menegakkan badan, sudah mengambil posisi di

bahu kananku, Leah mengambil posisi di kiriku dengan tidak begitu antusias.

Jadi sekarang posisinya di bawah Seth, ia menggerutu sendiri.

Siapa cepat, dia dapat, pikir Seth dengan sikap menang. Lagi pula, kau kan belum

pernah menjadi Orang Ketiga-nya Alfa. Ini tetap saja kenaikan jabatan untukmu.

Di bawah adik lelakiku berarti bukan kenaikan jabatan,

Ssst! protesku. Aku tidak peduli di mana kalian berdiri. Tutup mulut dan bersiapsiaplah.

Mereka muncul beberapa detik kemudian, berjalan kaki, persis seperti yang

dipikirkan Seth. Jared di depan, berwujud manusia, dengan kedua tangan terangkat.

Paul, Quil, dan Collin dalam wujud serigala di belakangnya. Postur mereka tidak

menunjukkan tanda-tanda agresi. Mereka menunggu di belakang Jared, telinga tegak,

waspada tapi tenang.

219

Tapi. aneh juga Sam malah mengirim Collin, bukan Embry, Bukan itu yang akan

kulakukan seandainya aku mengirim tim diplomasi ke wilayah musuh. Aku takkan

mengirim seorang anak kecil. Aku akan mengirim pejuang yang berpegalaman.

Mungkin untuk mengalihkan perhatian? pikir Leah.

Apakah Sam, Embry, dan Brady bergerak terpisah? Kelihatannya tidak mungkin.

Mau kuperiksa? Aku bisa berlari sebentar ke perbatasan dan kembali lagi hanya

dalam dua menit.

Apakah sebaiknya aku memperingatkan keluarga Cullen? tanya Seth,

Bagaimana kalau tujuannya adalah untuk menceraiberaikan kita? tanyaku.

Keluarga Cullen pasti tahu kalau terjadi sesuatu. Mereka sudah siap.

Sam takkan bertindak setolol itu... Leah. berbisik, ketakutan mengusik pikirannya.

Ia membayangkan Sam menyetang keluarga Cullen dengan hanya didampingi dua

anggota.

Tidak, Sam takkan berbuat begitu, aku meyakinkan Leah, walaupun aku merasa

agak panik juga melihat bayangan itu dalam pikirannya.

Sementara itu Jared dan ketiga serigala menatap kami, menunggu. Merinding

rasanya tidak bisa mendengar apa yang Quil, Paul, dan Collin katakan satu sama lain.

Ekspresi mereka kosong—tak bisa dibaca.

Jared berdeham-deham, membersihkan kerongkongan, kemudian mengangguk

kepadaku. "Kami mengibarkan bendera putih, Jake, Kami di sini untuk bicara."

Menurutmu itu benar? Seth bertanya.

Masuk akal, tapi..

Yeah, Leah sependapat. Tapi.

Kami tetap waspada.

Kening Jared berkerut. "Akan lebih mudah bicara kalau aku bisa mendengarmu

juga."

Aku hanya memandanginya. Aku takkan mengubah wujud sampai merasa situasi

lebih aman. Sampai keadaan ini masuk akal. Mengapa Collin? Itu bagian yang paling

membuatku khawatir.

220

"Oke. Kurasa aku akan bicara saja, kalau begitu," kata Jared. "Jake, kami ingin kau

kembali."

Quil mendengking pelan di belakangnya. Menguatkan pernyataan itu,

"Kau sudah menceraiberaikan keluarga kita. Padahal seharusnya tidak seperti

ini,"

Aku tidak sepenuhnya tak sependapat dengan hal itu, tapi bukan itu masalahnya.

Ada beberapa perbedaan pendapat yang tak bisa dijembatani antara aku dan Sam saat

ini.

"Kami tahu kau merasa.,, berat memikirkan situasi menyangkut keluatga Cullen.

Kami tahu itu masalah bagimu. Tapi reaksimu ini berlebihan."

Seth menggeram. Berlebihan? Apakah menyerang sekutu kita tanpa peringatan

bukan reaksi berlebihan?

Seth, pernah dengar istilah "pura-pura santai"? Kalem sajalah.

Maaf.

Mata Jared melirik Seth dan kembali padaku. "Sam setuju untuk tidak tergesagesa

bertindak, Jacob. Dia sudah tenang, sudah berbicara dengan para Tetua, Mereka

memutuskan tindakan tergesa-gesa bukan hal tepat untuk dilakukan saat ini."

Terjemahan: Karena mereka sudah kehilangan elemen kejutan, pikir Leah.

Aneh betapa serupanya pikiran bersama kami. Kawanan itu sudah menjadi

kawanan Sam, sudah menjadi "mereka" bagi kami. Pihak luar dan berbeda. Lebih aneh

lagi karena Leah bisa berpikir seperti itu—dia menjadi bagian yang solid dari "kami",

"Billy dan Sue sependapat denganmu, Jacob, bahwa kita bisa menunggu sampai

Bella,., terpisah dari masalah itu. Kami juga tidak merasa nyaman bila harus

membunuhnya."

Walaupun tadi aku menegur Seth, aku sendiri tak mampu menahan geraman

pelan terlontar dari moncongku. Jadi mereka merasa tidak nyaman melakukan

pembunuhan, heh!

Jared mengangkat kedua tangannya lagi, "Tenang, Jake. Kau tahu apa maksudku.

Intinya, kami akan menunggu dan menilai ulang situasinya. Baru akan diputuskan

belakangan bila ternyata ada masalah dengan... makhluk itu."

Hah, pikir Leah. Omong kosong.

221

Kau tidak percaya?

Aku tahu apa yang mereka pikirkan, Jake. Apa yang Sam pikirkan. Mereka

bertaruh bahwa bagaimanapun juga, Bella toh akan mati. Kemudian mereka pikir kau

bakal begitu marah.

Hingga aku akan memimpin penyerangan sendiri. Telingaku menempel erat di

kepalaku. Dugaan Leah tadi kedengarannya sangat mengena. Dan sangat mungkin juga.

Saat,,, kalau makhluk itu membunuh Bella, akan mudah melupakan bagaimana

perasaanku terhadap keluarga Carlisle sekarang. Mereka mungkin akan terlihat seperti

musuh tidak lebih daripada lintah-lintah pengisap darah bagiku, seperti dulu lagi.

Aku akan mengingatkanmu, bisik Seth,

Aku tahu, Nak. Pertanyaannya adalah, apakah aku mau mendengarkanmu.

"Jake?" ujar Jared.

Aku mendengus,

Leah, larilah berkeliling—hanya untuk memastikan. Aku terus berbicara dengan

Jared, dan aku ingin merasa yakin tak ada hal lain terjadi sementara aku berubah wujud.

Sudahlah, Jacob. Kau bisa kok berubah wujud di depanku. Walaupun sudah

berusaha keras, aku sudah pernah kok melihatmu telanjang sebelumnya tidak terlalu

berpengaruh bagiku, jadi jangan khawatir.

Aku bukan mau melindungi kesucian matamu, aku berusaha melindungi posisi

kita. Cepat pergi dari sini

Leah mendengus kemudian melesat memasuki hutan. Aku bisa mendengar

kakinya menginjak tanah, mengayun semakin cepat.

Ketelanjangan memang tidak menyenangkan, tapi itu bagian yang tidak

terhindarkan dalam kehidupan kawanan. Itu tidak menjadi masalah bagi kami sebelum

Leah datang.

Kemudian situasi berubah canggung. Leah tidak begitu pandai menahan amarah

dibutuhkan waktu lumayan lama sebelum ia akhirnya bisa berhenti meledak keluar dari

bajunya setiap kali amarahnya terpancing. Kami sudah pernah melihatnya sekilas. Dan

bukannya tubuh Leah tidak enak dipandang; masalahnya adalah, sangat tidak

mengenakkan bila ia menangkap basah dirimu berpikir mengenainya belakangan.

222

Jared dan yang lain-lain memandangi tempat Leah tadi menghilang ke dalam

semak-semak dengan ekspresi waswas.

"Dia ke mana?" tanya Jared.

Aku tak menggubris pertanyaannya, memejamkan mata dan berkonsentrasi.

Udara seperti bergetar di sekelilingku, membuat tubuhku terguncang-guncang. Aku

berdiri dengan kaki belakangku, dan tepat ketika aku benar-benar berdiri, tubuhku

menggeletar dan aku berubah wujud menjadi manusia.

"Oh," ucap Jared, "Hai, Jake."

"Hai, Jared"

"Terima kasih sudah bicara denganku,"

"Yeah."

"Kami ingin kau pulang, man"

Lagi-lagi Quil mendengking,

"Aku tidak tahu apakah itu mudah, Jared."

"Pulanglah," kata Jared, mencondongkan tubuh. Memohon, "Kita bisa

membereskan masalah ini. Tempatmu bukan di sini. Biarkan Seth dan Leah pulang juga."

Aku tertawa, "Benar. Kayak aku tidak memohon-mohon saja pada mereka untuk

pulang sejak pertama kali mereka bergabung."

Seth mendengus di belakangku,

Jared mempertimbangkannya, sorot matanya kembali hati-hati, "Kalau begitu,

sekarang apa?"

Aku berpikir sebentar sementara ia menunggu, "Entahlah. Tapi aku tak yakin

keadaan bisa kembali normal begitu saja, Jared. Entah bagaimana—rasanya aku tidak

bisa begitu saja mematikan dan menyalakan masalah Alfa ini sesuai suasana hati.

Rasanya ini menjadi hal yang permanen.”

“Kau masih tetap bagian dari kami,"

Aku mengangkat alis. "Tidak mungkin ada dua Alfa di tempat yang sama, Jared,

Ingat bagaimana nyarisnya terjadi perkelahian semalam? Instingnya terlalu kompetitif."

223

"Jadi kau tetap akan bergaul dengan parasit-parasit itu selama sisa hidupmu?"

tuntut Jared. "Kau tidak punya rumah di sini. Sekarang saja kau sudah tidak punya baju

lagi," tudingnya. "Apa kau akan jadi serigala setiap saat? Kau tahu Leah tidak suka

makan dengan cara seperti itu."

"Leah boleh melakukan apa saja yang dia inginkan kalau dia lapar, dia ada di sini

karena pilihannya sendiri. Aku tak pernah menyuruh orang melakukan apa pun,"

Jared mengeluh. "Sam menyesali apa yang dia lakukan terhadapmu."

Aku mengangguk, "Aku tidak marah lagi."

"Tapi?"

"Tapi aku tidak mau pulang, tidak sekarang. Kita akan menunggu dan melihat

kelanjutannya. Dan kami akan menjaga keluatga Cullen selama dibutuhkan. Karena,

tidak seperti dugaan kalian, ini bukan hanya berkaitan dengan Bella. Kami melindungi

mereka yang seharusnya dilindungi. Dan itu juga berlaku bagi keluarga Cullen,"

Setidaknya beberapa di antara mereka.

Seth menyalak pelan setuju.

Jared mengerutkan kening. "Kurasa tidak ada lagi yang bisa kukatakan padamu,

kalau begitu,"

"Tidak sekarang. Kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya."

Jared berpaling untuk menghadap Seth, berkonsentrasi padanya sekarang,

terpisah dariku. "Sue memintaku mengatakan padamu.. bukan, memohon kepadamu…

untuk pulang. Hatinya hancur, Seth. Sendirian. Aku tidak habis pikir bagaimana kau dan

Leah tega berbuat begini padanya. Meninggalkannya begitu saja seperti ini, padahal

ayah kalian baru saja meninggal..."

Seth mendengking-dengking.

"Santai saja, Jared," aku memperingatkan.

"Hanya mengatakan apa adanya saja,"

Aku mendengus. "Benar." Sue lebih tegar daripada siapa pun yang kukenal. Lebih

tegar daripada ayahku, lebih tegar daripada aku. Cukup tegar untuk tidak

memanfaatkan simpati anak-anaknya kalau memang itu yang dibutuhkan untuk

membawa mereka pulang. Tapi tidak adil berbuat begitu terhadap Seth. "Sudah berapa

lama Sue mengetahui hal ini? Dan seberapa sering dia menghabiskan waktu bersama

224

Billy, Old Quil, dan Sam? Yeah, aku yakin dia mati perlahan-lahan karena kesepian.

Tentu saja kau bebas pergi kapan pun kau mau, Seth. Kau tahu itu,"

Seth mendengus.

Kemudian, sedetik kemudian, Jared menelengkan telinga ke arah utara, Leah

pasti sudah dekat. Astaga, cepat sekali dia. Dua detik, dan Leah berhenti berlari di

semak-semak beberapa meter jauhnya. Ia berlari-lari kecil, mengambil posisi tepat di

depan Seth. Ia mendongakkan hidungnya ke udara, jelas-jelas berusaha untuk tidak

melihat ke arahku.

Kuhargai itu.

"Leah?" ujar Jared.

Ia menatap mata Jared, moncongnya sedikit tertarik ke belakang, menampakkan

gigi-giginya.

Jared tampaknya tidak terkejut melihat kegarangannya. "Leah, kau tahu kau tidak

ingin berada di sini."

Leah menggeram padanya. Kulayangkan pandangan memperingatkan padanya

yang tidak ia lihat, Seth mendengking dan menyenggol Leah dengan bahunya.

"Maaf" kata Jared. "Kurasa tidak seharusnya aku berasumsi. Tapi kau tak punya

ikatan apa-apa dengan para pengisap darah,"

Leah dengan sengaja memandang adiknya, kemudian aku, "Jadi kau ingin

menjaga Seth, aku mengerti maksudmu," kata Jared. Matanya terarah pada wajahku,

kemudian kembali pada Leah. Mungkin bertanya-tanya apa maksud Leah memandangku

tadi sama seperti aku juga bertanya-tanya. "Tapi Jake takkan membiarkan apa pun

terjadi pada Seth, dan dia tidak takut berada di sini" Jared mengernyitkan muka, "Apa

pun, please, Leah. Kami ingin kau kembali. Sam menginginkanmu kembali."

Ekor Leah bergoyang-goyang.

"Sam menyuruhku memohon. Bisa dibilang dia menyuruhku berlutut kalau

memang harus. Dia ingin kau pulang, Lee Lee, ke tempatmu seharusnya"

Kulihat Leah tersentak waktu Jared menggunakan nama panggilan Sam untuknya

dulu. Kemudian, ketika Jared menambahkan tiga kata terakhir itu, bulu-bulu Leah berdiri

tegak dan ia melolongkan geraman panjang dari sela-sela giginya. Aku tidak perlu

mengetahui pikiran Leah untuk mendengar sumpah serapah yang ia lontarkan pada

Jared, begitu juga Jared, Rasanya nyaris seperti bisa mendengar sendiri makian Leah.

225

Aku menunggu sampai ia selesai, "Aku berani mengatakan tempat Leah adalah di

mana pun dia ingin berada."

Leah menggeram, tapi karena ia memandang garang Jared, kupikir itu berarti ia

setuju dengan perkataanku.

"Dengar, Jared, kita tetap satu keluarga, oke? Kita pasti bisa menuntaskan

perselisihan ini, tapi sampai kita membereskannya, mungkin sebaiknya kalian tetap

berada di tanah kalian. Hanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada yang

menginginkan perkelahian keluarga, bukan? Sam pasti juga tidak menginginkannya,

bukan?"

"Tentu saja tidak," bentak Jared. "Kami akan tetap berada di tanah kami. Tapi di

mana tanahmu, Jacob? Apakah di tanah vampir?"

"Tidak, Jared, Saat ini aku tidak punya rumah. Tapi jangan khawatir ini takkan

berlangsung selamanya," Aku menarik napas. "Tidak banyak waktu... tersisa. Oke?

Kemudian keluarga Cullen mungkin akan pergi, jadi Seth dan Leah akan pulang,"

Seth dan Leah mendengking berbarengan, hidung mereka serentak terarah

padaku.

"Dan kau sendiri bagaimana, Jake?"

"Kembali ke hutan, kurasa. Aku tidak mungkin kembali ke La Push. Tidak bisa ada

dua Alfa di satu tempat. Lagi pula dulu aku memang sudah berniat pergi ke sana.

Sebelum semua kekacauan ini,"

"Bagaimana kalau kita perlu bicara?" tanya Jared.

"Melolonglah—tapi hati-hati jangan sampai melanggar garis perbatasan, oke?

Kami akan datang menemui kalian. Dan Sam tidak perlu mengirim terlalu banyak, Kita

bukan mau bertempur,"

Jared merengut, tapi mengangguk. Ia tidak suka aku menetapkan syarat untuk

Sam. "Sampai ketemu lagi, Jake. Atau tidak." Ia melambai separo hati.

"Tunggu, Jared, Embry baik-baik saja?"

Kekagetan melintasi wajah Jared, "Embry? Tentu dia baik-baik saja. Kenapa?"

"Hanya ingin tahu mengapa Sam mengirim Collin."

226

Kupandangi reaksinya, masih curiga telah terjadi sesuatu. Aku melihat kilatan

mengerti di mata Jared, tapi tidak seperti yang kuharapkan.

"Itu bukan urusanmu lagi, Jake."

"Kurasa tidak. Hanya ingin tahu."

Aku melihat gerakan di sudut mataku, tapi aku tidak menanggapinya, karena

tidak ingin mengalihkan perhatian Jated kepada Quil. la bereaksi terhadap topik itu,

"Akan kusampaikan,.. instruksi-instruksimu pada Sam, Selamat tinggal, Jacob."

Aku mengembuskan napas. "Yeah, Selamat tinggal, Jared. Hei, sampaikan pada

ayahku aku baik-baik saja, oke? Dan aku minta maaf, dan bahwa aku sayang padanya."

“Akan kusampaikan."

"Ayolah, guys," ajak Jared. la berbalik membelakangi kami, berjalan hingga tidak

kelihatan lagi baru berubah wujud/ karena Leah ada di sini. Paul dan Collin langsung

mengikutinya, tapi Quil ragu-ragu. Ia menyalak lirih, dan aku maju selangkah

menghampirinya.

"Yeah, aku juga rindu padamu, bro"

Quil berlari-lari kecil menghampiriku, kepalanya tertunduk sedih. Kutepuk-tepuk

bahunya. "Semua pasti beres." Ia mendengking.

"Sampaikan pada Embry, aku rindu didampingi kalian berdua."

Ia mengangguk, kemudian menempelkan hidungnya ke keningku. Leah

mendengus. Quil menengadah, tapi bukan kepada Leah. Ia menoleh ke belakang, ke

tempat yang lain-lain tadi menghilang,

"Yeah, pulanglah," kataku padanya,

Quil menyalak lagi, kemudian melesat menyusul yang lain. Taruhan, Jared pasti

tidak terlalu sabar menunggu. Begitu ia lenyap, aku menarik kehangatan dari pusat

tubuhku dan membiarkannya menyebar ke kedua tangan dan kakiku. Dalam waktu

singkat aku sudah kembali berkaki empat.

Kusangka kau tadi mau bermesra-mesraan dengannya, ejek Leah.

Kuabaikan dia.

Oke nggak tadi? tanyaku pada mereka. Aku khawatir karena telah berbicara atas

nama mereka seperti itu, padahal aku tidak bisa mendengar langsung apa yang mereka

227

pikirkan. Aku tidak ingin berasumsi apa-apa. Aku tidak ingin menjadi seperti Jared dalam

hal itu. Apakah aku mengatakan hal-hal yang tidak kalian inginkan? Atau aku tidak

mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan?

Kau hebat kok, Jake! Seth menyemangati.

Sebenarnya kau tadi bisa memukul Jared, pikir Leah. Aku jelas tidak bakal

keberatan.

Kurasa kita tahu mengapa Embry tidak diperbolehkan datang, pikir Seth,

Aku tidak mengerti. Tidak diperbolehkan?

Jake, apa kau tidak lihat Quil tadi? Ia sangat kalut, kan? Taruhan sepuluh lawan

satu, Embry bahkan lebih kalut daripada Quil. Dan Embry tidak memiliki seseorang

seperti Claire. Kalau Quil, ia tidak mungkin pergi begitu saja dan meninggalkan La Vush.

Tapi kalau Embry, mungkin saja. Jadi Sam tidak mau mengambil risiko Embry pindah

haluan. Ia tidak ingin kawanan kita lebih besar daripada sekarang.

Sungguh? Menurutmu begitu? Aku ragu Embry keberatan mengoyak-ngoyak

keluarga Cullen,

Tapi ia sahabatmu, Jake. la dan Quil lebih suka berdiri di belakangmu daripada

melawanmu dalam pertempuran.

Well aku senang Sam menahannya di sana kalau begitu. Kawanan ini sudah cukup

besar. Aku mendesah. Baiklah, kalau begitu. Jadi masalah kita beres, untuk sementara

ini. Seth, kau tidak keberatan berjaga-jaga sebentar, kan? Leah dan aku perlu istirahat

Rasanya situasi cukup tenang, tapi siapa tahu? Mungkin ini hanya taktik untuk

mengalihkan perhatian.

Aku tidak selalu separanoid itu, tapi aku ingat bagaimana rasanya bila Sam

betkomitmen melakukan sesuatu. Fokusnya yang luar biasa untuk menghancurkan

bahaya yang dilihatnya. Akankah ia memanfaatkan fakta bahwa ia bisa membohongi

kami sekarang?

Tidak masalah! Seth bersemangat sekali melakukan apa saja yang bisa ia lakukan.

Kau mau memberi penjelasan kepada keluarga Cullen? Mereka mungkin masih agak

tegang.

Aku mengerti Aku memang ingin mengecek keadaan

Mereka menangkap gambar-gambar yang menderu dalam otakku yang

kelelahan. Hueek.

228

Leah menggoyang-goyangkan kepalanya ke depan dan ke belakang, seperti

berusaha mengenyahkan gambaran itu dari dalam pikirannya. Itu benar-benar hal paling

menjijikkan yang pernah kudengar seumur hidupku. Hueeek. Untung tidak ada makanan

di perutku, kalau tidak, bisa-bisa aku muntah.

Mereka kan vampir, kurasa, kata Seth sejurus kemudian, memberi kompensasi

atas reaksi Leah tadi. Maksudku, itu masuk akal. Dan kalau itu bisa menolong Bella,

berarti itu bagus, kan?

Baik Leah maupun aku sama-sama menatap Seth keheranan. Apa?

Mom dulu sering menjatuhkan dia waktu masih bayi, kata Leah padaku.

Kepalanya dulu, rupanya. Ia dulu juga suka menggigiti pagar boks bayi. Cat timah?

Kelihatannya begitu, pikir Leah. Seth mendengus. Lucu. Mengapa kalian berdua

tidak tutup mulut dan tidur saja?

229

14. KAU TAHU KEADAAN MULAI GAWAT WAKTU KAU MERASA

BERSALAH KARENA BERSIKAP KURANG AJAR PADA VAMPIR

Sesampainya di rumah, tak ada orang menunggu di luar untuk mendengar

laporan dariku. Masih berjaga-jaga? Semua baik-baik saja, pikirku letih.

Mataku dengan cepat menangkap perubahan kecil dalam pemandangan yang kini

terasa familier. Ada setumpuk baju berwarna kalem di undakan teras paling bawah. Aku

berlari dengan langkah-langkah panjang untuk menyelidiki. Sambil menahan napas,

karena bau vampir melekat kuat di baju-baju itu. Aku menyenggol tumpukan itu dengan

hidung.

Ada orang yang meninggalkan baju. Hah. Tadi Edward pasti sempat menangkap

perasaan jengkelku waktu aku menerjang keluar pintu. Well Itu... baik juga dia. Dan

aneh.

Hati-hati kuangkat pakaian itu dengan gigiku ugh dan membawanya ke balik

pepohonan. Hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu ini lelucon yang diprakarsai si

psikopat pirang dan yang diberikan ini ternyata baju cewek. Taruhan, ia pasti sangat

senang melihat ekspresiku waktu aku berdiri di sana telanjang bulat, memegang

sundress.

Aman di balik naungan pohon, aku menjatuhkan tumpukan baju berbau

menyengat itu dan berubah wujud menjadi manusia. Aku mengibaskan pakaian itu,

memukul-mukulkannya ke pohon untuk mengenyahkan baunya. Ternyata pakaian

lelaki—celana panjang cokelat dan kemeja putih berkancing. Tidak cukup panjang, tapi

kelihatannya tubuhku bisa masuk ke sana. Pasti milik Emmett. Kugulung lengan kemeja,

tapi tak banyak yang bisa kulakukan dengan celana panjangnya. Oh sudahlah.

Harus kuakui, aku merasa lebih enak setelah berpakaian, walaupun bajunya bau

sekali dan tidak begitu pas. Sulit rasanya tak bisa mampir pulang sebentar dan

menyambar celana usang setiap kali membutuhkannya. Beginilah kalau jadi

gelandangan—tak ada rumah untuk pulang. Juga tidak punya apa-apa, dan itu tidak

terlalu menggangguku sekarang, meskipun tak lama lagi mungkin akan membuat

jengkel.

Kelelahan, pelan-pelan aku meniti tangga teras rumah keluarga Cullen dalam

balutan baju bekas baruku yang keren, tapi ragu-ragu sesampainya di depan pintu.

Apakah sebaiknya aku mengetuk pintu? Tolol, karena mereka toh tahu aku datang.

Dalam hati aku penasaran mengapa tidak ada yang bereaksi atas kedatanganku, entah

230

mengatakan silakan masuk atau enyah sana. Apa sajalah. Aku mengangkat bahu dan

masuk sendiri ke rumah.

Lagi-lagi perubahan. Ruangan itu telah kembali normal'— hampir—dibandingkan

dua puluh menit yang lalu. Televisi layar datar kini menyala, volumenya pelan,

menayangkan film cewek walau kelihatannya tak ada yang menonton. Carlisle dan Esme

berdiri di dekat jendela belakang, yang terbuka ke arah sungai. Alice, Jasper, dan

Emmett tidak kelihatan, tapi aku mendengar mereka bergumam di lantai atas. Bella

duduk di sofa seperti kemarin, hanya tinggal satu slang yang terpasang di lengan, dan

kantong infus tergantung di belakang sofa. Tubuhnya terbungkus rapat seperti burrtto

dengan dua selimut tebal. Itu berarti mereka mendengar nasihatku, Rosalie duduk

bersila di lantai dekat kepala Bella, Edward duduk di sudut lain sofa, kaki Bella yang

terbungkus rapat culetakkan di pangkuannya. Ia mendongak waktu aku datang dan

tersenyum padaku mulutnya hanya berkedut sedikit seakan-akan ada yang membuatnya

gembira.

Bella tidak mendengarku datang. Ia baru mendongak waktu Edward mendongak,

kemudian ia juga tersenyum. Dengan penuh energi, seluruh wajahnya berseri-seri. Aku

tak ingat kapan terakhir kali ia tampak begitu senang melihatku.

Kenapa sih Bella? Ya ampun, ia kan sudah menikahi Pernikahannya bahagia pula

tidak diragukan lagi cintanya pada sang vampir telah melampaui batas-batas kewarasan.

Apalagi sekarang ia sedang hamil besar.

Jadi mengapa ia harus segirang itu melihatku? Seakan-akan aku memberinya

kebahagiaan besar hanya dengan berjalan memasuki pintu.

Kalau saja ia tidak peduli padaku... atau lebih daripada itu benar-benar tidak

menginginkan keberadaanku. Akan jauh lebih mudah bagiku menjauhi Bella.

Sepertinya Edward sependapat dengan jalan pikiranku gila memang, tapi

belakangan pikiran kami seolah-olah berada dalam frekuensi yang sama. Keningnya

sekarang berkerut, membaca wajah Bella yang berseri-seri melihatku.

"Mereka hanya ingin bicara," gumamku, suaraku lambat oleh perasaan letih. "Tak

ada tanda-tanda penyerangan,"

"Ya," jawab Edward, "Aku mendengar sebagian besar di antaranya."

Itu membuatku sedikit tergugah. Padahal jarak di antara kami tadi hampir lima

kilometer. "Bagaimana?"

231

"Aku mendengarmu lebih jelas—itu masalah familieritas dan konsentrasi. Juga,

pikiran-pikiranmu sedikit lebih mudah didengar bila kau berwujud manusia. Jadi aku

menangkap sebagian besar isi percakapan di luar sana tadi."

"Oh." Aku agak sebal mendengarnya, entah apa alasannya, tapi aku

mengenyahkan perasaan itu. "Bagus. Aku tidak suka kalau harus mengulang-ulang

cetita."

"Sebenarnya aku ingin menyuruhmu tidur," kata Bella, "tapi dugaanku, enam

detik lagi kau toh akan ambruk juga ke lanrai, jadi percuma saja."

Luar biasa betapa jauh lebih baiknya suara Bella sekarang, betapa lebih kuat ia

kini. Aku mencium bau darah segar dan melihat cangkir di tangannya. Betapa banyak

darah yang ia butuhkan untuk bertahan! Apakah pada saatnya nanti mereka terpaksa

harus mulai merambah ke para tetangga?

Aku berjalan menuju pintu, menghitung detik demi detik untuk menanggapi

perkataan Bella tadi sambil berjalan. "Satu Mississippi... dua Mississippi..."

"Di mana banjirnya, anjing?" gerutu Rosalie.

"Tahukah kau bagaimana menenggelamkan cewek berambut pirang, Rosalie?"

tanyaku tanpa berhenti ataupun berpaling padanya. "Tempelkan saja cermin ke dasar

kolam."

Aku mendengar Edward terkekeh saat aku menutup pintu rapat-rapat. Suasana

hatinya tampaknya berbanding lurus dengan kondisi kesehatan Bella.

"Aku sudah pernah dengar lelucon itu," seru Rosalie.

Aku tersaruk-saruk menuruni tangga, tujuanku satu-satunya adalah menyeret

tubuhku cukup jauh memasuki hutan tempat udara akan kembali murni. Aku berniat

melepas pakaian ini kalau sudah cukup jauh dari rumah untuk kupakai lagi nanti, tidak

mengikatkannya ke kakiku, supaya aku tidak berbau seperti mereka juga. Sementara

tanganku berkutat membuka kancing-kancing kemeja baruku, pikiran ngawur muncul

dalam otakku, tentang bagaimana baju berkancing bukan model yang cocok untuk

dipakai werewolf.

Aku mendengar suara-suara saat menyeret kakiku melintasi halaman,

"Mau ke mana kau?" tanya Bella.

"Aku lupa menyampaikan sesuatu padanya."

232

"Biarkan Jacob tidur—itu kan bisa ditunda."

Benar, please, biarkan Jacob tidur.

"Sebentar saja kok."

Pelan-pelan aku berbalik. Edward sudah di luar pintu. Ekspresinya menyiratkan

permintaan maaf ketika ia mendekatiku.

"Ya ampun, ada apa lagi sekarang?”

"Maaf" ujar Edward, kemudian ia ragu-ragu, seperti tak tahu bagaimana

menyuarakan pikirannya.

Apa yang ada dalam pikiranmu, pembaca pikiran?

"Waktu kau bicara dengan delegasi Sam tadi," kata Edward pelan, "aku

mengulanginya kata demi kata untuk Carlisle, Esme, dan yang lain-lain. Mereka

prihatin..."

"Dengar, kami takkan mengendurkan pengawasan. Kau tidak harus memercayai

Sam seperti kami. Bagaimanapun kami tetap membuka mata lebar-lebar."

"Tidak, tidak, Jacob. Bukan tentang itu. Kami percaya pada penilaianmu. Namun

Esme merasa terganggu karena kesulitan yang dialami kawananmu. Dia memintaku

bicara denganmu secara pribadi mengenainya."

Perkataan Edward sungguh di luar dugaan. "Kesulitan?"

"Masalah gelandangan itu, terutama. Dia sangat kalut mengetahui kalian semua

sangat... kekurangan"

Aku mendengus. Induk ayam vampir—aneh sekali. "Kami tegar kok. Katakan

padanya agar tidak usah khawatir."

"Dia tetap ingin melakukan apa yang bisa dia lakukan. Aku mendapat kesan Leah

lebih suka tidak makan dalam wujud serigala?"

"Dan?" desakku.

"Well, kami kan punya makanan manusia di sini, Jacob. Sebagai kedok, dan, tentu

saja, untuk kepentingan Bella juga. Jadi Ieah dipersilakan mengambil makanan apa saja

yang dia suka di sini. Kalian semua juga."

”kan kusampaikan padanya."

"Leah benci pada kami."

233

"Lantas?"

"Jadi tolong sampaikan padanya sedemikian rupa hingga dia mau

mempertimbangkan tawaran ini, kalau kau tidak keberatan."

"Aku akan berusaha semampuku."

"Lalu masalah pakaian"

Aku menunduk, memandangi pakaian yang kukenakan. "Oh ya. Trims." Mungkin

tidak sopan kalau aku menyinggung tentang bau baju-baju yang sangat menyengat ini,

Edward tersenyum sedikit. "Well, kami juga bisa dengan mudah membantu

menyediakan kebutuhan itu. Alice jarang membiarkan kami memakai baju yang sama

dua kali. Jadi kami punya tumpukan pakaian baru yang memang akan disumbangkan,

dan kurasa ukuran tubuh Leah hampir sama dengan Esme..."

"Aku tak tahu apa dia mau mengenakan pakaian bekas pengisap darah. Dia tidak

sepraktis aku."

"Aku yakin kau pasti bisa menawarkan hal itu padanya dengan cara paling baik.

Begitu juga tawaran lain yang berkaitan dengan barang-barang lain yang mungkin akan

kalian butuhkan, atau transportasi, atau hal-hal lain. Juga mandi, karena kalian lebih

suka tidur di luar. Please... jangan menganggap kalian tidak punya rumah."

Edward mengucapkan kalimat terakhir dengan lembut tidak berusaha tenang kali

ini, tapi dengan sedikit emosi nyata.

Aku menatapnya sebentar, mengerjap-ngerjapkan mata mengantuk. "Itu, eh,

kalian baik sekali. Sampaikan pada Esme kami menghargai, eh, perhatian Esme itu. Tapi

perbatasan bersinggungan dengan sungai di beberapa tempat, jadi kami masih bisa

mandi kok, trims."

"Tapi tolong tetap sampaikan tawaran itu."

"Tentu, tentu."

"Terima kasih."

Aku berbalik memunggunginya, tapi langkahku langsung terhenti begitu

mendengar jerit kesakitan lemah dari dalam rumah. Waktu aku menoleh, Edward sudah

lenyap.

Ada apa lagi sekarang?

234

Aku mengikuti Edward, tersaruk-saruk seperti zombi. Sel-sel otakku juga tak

sepenuhnya bekerja. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ada yang tidak beres. Aku akan

melihat apa itu. Tapi pasti aku takkan bisa melakukan apa-apa. Dan aku akan merasa

semakin tidak enak.

Rasanya itu tidak bisa dihindari.

Aku masuk lagi ke rumah. Bella terengah-engah, meringkuk memegangi perutnya

yang membuncit. Rosalie memeganginya sementara Edward, Carlisle, dan Esme berdiri

mendampingi. Aku menangkap sekelebat bayangan di sudut mata, Alice berdiri di

puncak tangga, menunduk memandangi ruangan dengan kedua tangan menempel di

pelipis. Aneh seolah-olah ia dilarang masuk ke ruangan itu.

"Tunggu sebentar, Carlisle," erang Bella terengah-engah,

"Bella," sergah dokter itu cemas, "aku mendengar suara berderak. Aku harus

memeriksanya."

"Aku yakin itu"—terengah-engah—"tulang tusuk. Aduh. Ya. Di sini." Ia menuding

bagian kiri tubuhnya. ber,hati-hati untuk tidak menyentuhnya.

Makhluk itu sekarang mematahkan tulang-tulang Bella.

"Aku perlu melakukan rontgen. Siapa tahu ada serpihan-ser-pihan. Jangan sampai

serpihan itu melukai organ tubuhmu."

Bella menarik napas dalam-dalam. "Oke,"

Rosalie membantu Bella berdiri dengan hati-hati. Edward sepertinya ingin

membantah, tapi Rosalie menyeringai memamerkan gigi-giginya pada Edward dan

menggeram, "Aku sudah memegangi Bella."

Jadi Bella sekarang sudah lebih kuat, tapi makhluk itu ternyata juga semakin kuat.

Kalau yang satu kelaparan, yang lain juga kelaparan, begitu juga kalau yang satu

mengalami kesembuhan. Tidak mungkin bisa menang kalau begini.

Si Pirang memapah Bella dengan cekatan menaiki tangga besar, diikuti Carlisle

dan Edward di belakang, tak seorang pun peduli padaku yang berdiri terperangah di

ambang pintu.

Jadi mereka punya bank darah dan peralatan rontgen di sini? Kurasa si dokter

menggotong semua peralatan kedokterannya ke rumah.

235

Aku terlalu capek untuk mengikuti mereka, terlalu letih untuk bergerak. Aku

menyandarkan diri ke dinding kemudian merosot ke lantai. Pintu masih terbuka, dan

aku mengarahkan hidungku ke sana, bersyukur ada angin segar berembus masuk. Aku

menyandarkan kepala ke ambang pintu dan mendengarkan.

Aku bisa mendengar suara mesin rontgen di lantai atas. Atau mungkin aku hanya

berasumsi itu mesin rontgen. Kemudian suara langkah-langkah ringan menuruni tangga.

Aku tidak mendongak untuk melihat vampir mana yang turun.

"Kau mau bantal?" tanya Alice padaku.

"Tidak," gumamku. Kenapa sih mereka sok melayaniku seperti itu? Bikin

merinding saja.

"Kelihatannya posisimu tidak nyaman," ia mengamati.

"Memang tidak."

"Mengapa tidak pindah saja kalau begitu?"

"Capek. Mengapa kau tidak berada di atas bersama yang lain?" bentakku.

"Pusing," jawab Alice.

Aku berpaling untuk mengamatinya.

Alice kecil mungil. Kira-kira hanya setinggi lenganku. Ia bahkan terlihat lebih

mungil lagi sekarang, duduk membungkuk seperti itu. Wajahnya yang mungil berkerut.

"Memangnya vampir bisa sakit kepala?"

"Vampir normal tidak."

Aku mendengus. Mana ada vampir normal.

"Bagaimana ceritanya kau sekarang tidak pernah bersama Bella lagi?" tanyaku,

membuat pertanyaan itu menjadi tuduhan. Itu tak terpikirkan olehku sebelumnya,

karena kepalaku disibukkan hal-hal lain, tapi aneh melihat Alice tak pernah berada di

dekat Bella lagi, tidak sejak aku datang ke sini. Mungkin kalau ada Alice di sisi Bella,

Rosalie takkan mendampinginya. "Padahal kukira kalian berdua seperti ini." Aku

mengaitkan dua jari menjadi satu.

"Seperti kataku tadi" Alice meringkuk di lantai beberapa meter dariku,

melingkarkan kedua lengannya yang kurus di lututnya yang kurus "pusing."

236

"Jadi gara-gara Bella, kau pusing?"

"Ya."

Keningku berkerut. Pasti aku terlalu lelah untuk berteka-teki. Kubiarkan kepalaku

berpaling lagi ke arah udara segar dan memejamkan mata.

"Bukan Bella, sebenarnya" koreksi Alice. "Tapi... janinnya."

Ah, ternyata ada juga yang merasa seperti aku. Mudah saja mengenalinya. Alice

mengucapkan kata itu dengan ragu, seperti Edward.

"Aku tidak bisa melihatnya," kata Alice, sekaligus menujukan perkataan itu pada

dirinya sendiri. Sepertinya ia menganggapku sudah tidak ada. "Aku tidak bisa melihat

apa-apa mengenainya. Sama seperti kau."

Aku tersentak, kemudian kukatupkan rahangku kuat-kuat. Aku tak suka

dibanding-bandingkan dengan makhluk itu.

"Bella juga menghalangi. Dia begitu melindungi janin itu, jadi dia juga... kabur.

Seperti siaran televisi yang kabur dan tak bisa ditangkap seperti berusaha memfokuskan

matamu pada gambar kabur orang-orang yang bergerak-gerak di layar. Kepalaku pusing

melihatnya. Dan aku memang tidak bisa melihat lebih daripada beberapa menit saja.

Janin itu... menjadi bagian yang terlalu banyak dari masa depan Bella. Begitu Bella

pertama kali memutuskan... begitu ia tahu ia menginginkannya, ia langsung terlihat

kabur dalam pandanganku. Membuatku ketakutan setengah mati."

Alice terdiam sebentar, kemudian menambahkan, "Harus kuakui, lega rasanya

ada kau di dekatku walaupun baumu seperti anjing basah. Semuanya lenyap. Seperti

memejamkan mata. Sakit kepalaku juga berkurang."

"Senang bisa membantu, Ma'am," gumamku.

"Aku jadi penasaran, apa persamaan makhluk itu denganmu... mengapa kalian

sama dalam hal itu."

Rasa panas mendadak muncul di pusat tulang-tulangku. Aku mengepalkan tangan

kuat-kuat untuk menahan getaran.

"Aku tidak punya persamaan apa-apa dengan bangsat pengisap darah itu,"

sergahku dengan gigi terkatup rapat.

"Well, pasti ada sesuatu yang sama"

Aku tidak menanggapi. Rasa panas itu sudah lenyap. Aku terlalu kelelahan untuk

berlama-lama marah.

237

"Kau tidak keberatan aku duduk di sini di dekatmu, kan?" tanya Alice.

"Kurasa tidak. Memang di sini bau sih."

"Trims," sahut Alice, "Ini yang terbaik, kurasa, karena aku kan tidak bisa minum

obat sakit kepala."

"Bisa tolong diam? Aku sedang mencoba tidur nih."

Alice tidak menyahut, seketika itu juga langsung terdiam. Dalam beberapa detik

aku sudah terlelap.

Aku bermimpi sangat kehausan. Dan di hadapanku ada segelas besar air—air

yang dingin sekali, kelihatan dari kondensasi di permukaan gelas. Kusambar gelas itu

dan ku-tenggak isinya banyak-banyak, tapi dengan segera aku tahu ternyata isinya

bukan air—melainkan cairan pemutih. Aku tersedak dan menyemburkannya kembali,

memuncratkannya ke mana-mana, bahkan ada yang muncrat dari hidungku. Rasanya

panas membakar. Hidungku terbakar...

Rasa sakit di hidungku membangunkanku dan membuatku langsung ingat di

mana aku tertidur tadi. Baunya sangat menyengat, padahal hidungku saat itu tidak

berada di dalam rumah. Ugh. Dan berisik sekali. Ada yang tertawa terlalu keras. Tawa

yang familier, tapi tidak cocok dengan bau menyengat itu. Tidak pada tempatnya.

Aku mengerang dan membuka mata. Langit abu-abu muram hari masih terang,

tapi aku tidak tahu jam berapa. Mungkin mendekati waktu matahari terbenam

situasinya sangat gelap.

"Untunglah," gumam si Pirang, tak jauh dari situ; "Bosan juga terus-terusan

mendengar tiruan suara gergaji listrik."

Aku berguling dan mengangkat tubuhku dalam posisi duduk, menyadari dari

mana bau itu berasal. Ada yang menyurukkan bantal bulu besar di bawah wajahku.

Mungkin maksudnya baik, kurasa. Kecuali kalau yang melakukannya Rosalie.

Begitu kepalaku terangkat dari bulu-bulu bau itu, aku menangkap bau-bau lain.

Seperti hacon dan kayu manis, bercampur bau vampir.

Aku mengerjapkan mata, melayangkannya ke seantero ruangan.

Keadaan tak banyak berubah, kecuali sekarang Bella duduk di tengah-tengah

sofa, infusnya sudah dilepas» Si Pirang duduk di dekat kakinya, kepalanya bersandar ke

lutut Bella. Sampai sekarang aku masih merinding melihar betapa kasual-nya mereka

saling bersentuhan, walaupun kurasa itu pasti tanpa pikiran apa-apa, kalau mengingat

kondisinya. Edward duduk di samping Bella, memegang tangannya. Alice juga duduk di

238

lantai, seperti Rosalie. Wajahnya tidak berkerut lagi sekarang. Dan mudah saja melihat

sebabnya ia sudah mendapatkan obat penawar sakit yang lain,

"Hei, Jake sudah bangun!" seru Seth.

Seth juga duduk di samping Bella, di sisi lain, lengannya disampirkan santai di ba

hu Bella, dengan piring penuh makanan di pangkuan, Apa-apaan ini?

"Dia datang mencarimu," kata Edward waktu aku berdiri. "Dan Esme berhasil

memaksanya tinggal untuk menikmati sarapan."

Seth melihat ekspresiku dan buru-buru menjelaskan. "Yeah, Jake aku hanya

mengecek untuk melihat apakah kau baik-baik saja, karena kau tidak kunjung berubah

wujud. Leah sampai khawatir. Aku sudah bilang padanya kau mungkin ketiduran sebagai

manusia, tapi kau tahu sendirilah bagaimana dia. Lalu mereka menyuguhkan semua

makanan ini dan, ya ampun," ia berpaling pada Edward"man, kau benar-benar pintar

masak"

"Terima kasih," gumam Edward.

Aku menarik napas pelan-pelan, berusaha membuka rahangku yang rerkatup

keras. Aku tak mampu mengalihkan pandangan dari lengan Seth.

"Bella kedinginan," Edward cepat-cepat menerangkan.

Benar. Itu toh bukan urusanku. Bella bukan milikku.

Seth mendengar komentar Edward, melihat wajahku, dan tiba-tiba ia

membutuhkan kedua tangan untuk makan. Ia melepaskan lengannya dari Bella dan

langsung menyendok makanan. Aku berjalan dan berdiri beberapa meter dari sofa,

masih berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingku.

"Leah berpatroli?" tanyaku pada Seth. Suaraku masih parau sehabis tidur.

"Yeah," jawabnya sambil terus mengunyah. Seth juga mengenakan baju baru.

Bajunya lebih pas daripada aku. "Dia sedang patroli. Jangan khawatir. Dia akan melolong

kalau ada apa-apa. Kami tadi berganti giliran sekitar tengah malam. Aku berlari selama

dua belas jam," Ia bangga, dan itu kentara sekali dalam suaranya.

"Tengah malam? Tunggu sebentar—memangnya sekarang jam berapa?"

"Sekitar fajar." Ia melirik jendela, mengecek.

Well, brengsek. Ternyata aku tidur sepanjang hari dan sepanjang malam—

meringkuk seperti bola. "Sial, Maaf soal itu, Seth. Sungguh. Seharusnya kautendang saja

aku sampai terbangun."

239

"Tidak, man, kau benar-benar butuh tidur. Kau kan belum istirahat sejak kapan?

Malam sebelum patroli terakhirmu untuk Sam? Kira-kira empat puluh jam? Lima puluh?

Kau bukan mesin, Jake. Lagi pula, kau tidak ketinggalan apa-apa kok."

Tidak ketinggalan apa-apa? Dengan cepat kulirik Bella. Rona wajahnya sudah

kembali seperti yang kuingat dulu. Pucat, tapi dengan semburat merah muda di

baliknya. Bibirnya kembali pink. Bahkan rambutnya terlihat lebih sehat—lebih mengilat.

Ia melihatku menilainya dan menyeringai.

"Bagaimana rusukmu?" tanyaku.

"Sudah dibebat dengan kuat. Aku bahkan tidak merasakannya."

Aku memutar bola mataku. Kudengar Edward mengertak-kan giginya, dan aku

merasa sikap Bella yang sok menganggap sepele kesulitan yang dialaminya mengganggu

Edward juga.

"Sarapannya apa?" tanyaku, sedikit sarkastis. "O negatif atau AB positif?"

Bella menjulurkan lidahnya. Benar-benar sudah jadi dirinya lagi sekarang.

"Omelet" tukasnya, tapi matanya melirik sekilas ke bawah, dan aku melihat cangkir

darahnya dijepitkan di antara kakinya dan kaki Edward.

"Cepatlah sarapan, Jake," kata Seth. "Ada banyak di dapur. Perutmu pasti

keroncongan."

Kuamati makanan di pangkuan Seth. Kelihatannya seperti setengah porsi omelet

keju dan seperempat potong cinnamon roli seukuran piringan Frisbee. Perutku

keroncongan, tapi aku mengabaikannya.

"Leah sarapan apa?" tanyaku pada Seth dengan nada mengkritik.

"Hei, aku mengantarkan makanan untuknya sebelum aku makan sesuatu',' ia

membela diri. "Kata Leah, dia lebih suka makan bangkai binatang yang mati terlindas

mobil, tapi taruhan, dia pasti akhirnya menyerah juga. Cinnamon roli ini benar-benar..."

Seth sampai tak bisa menggambarkannya.

“Aku akan pergi berburu saja dengannya kalau begitu."

Seth mendesah sementara aku berbalik untuk pergi.

"Tunggu sebentar, Jacob?"

240

Carlislelah yang berbicara, jadi waktu aku berbalik lagi, wajahku mungkin tidak

sekurang ajar kalau yang memanggilku orang lain,

"Yeah?"

Carlisle mendekatiku sementara Esme menghilang ke ruangan lain. Ia berhenti

beberapa meter dariku, hanya sedikit lebih jauh daripada jarak normal antara dua

manusia yang sedang mengobrol. Aku menghargai upayanya memberiku ruang gerak.

"Omong-omong soal berburu," Carlisle memulai dengan nada muram. "Itu akan

menjadi masalah bagi keluargaku. Aku mengerti gencatan senjata kita yang lalu tidak

berlaku saat ini, jadi aku membutuhkan saranmu. Apakah Sam akan memburu kami di

luar garis batas yang kalian ciptakan? Kami tidak ingin mengambil risiko mencelakakan

salah satu anggota keluargamu—atau kehilangan salah satu anggota keluarga kami.

Seandainya kau berada dalam posisi kami, apa yang akan kaulakukan ?"

Aku berjengit, agak kaget, ketika Carlisle melontarkannya padaku seperti itu.

Tahu apa aku soal menjadi vampir kaya? Tapi, memang benar, aku tahu bagaimana Sam.

"Memang berisiko,* jawabku, berusaha mengabaikan tatapan pihak-pihak lain

yang menatapku dan hanya bicara dengan Carlisle. "Sam memang sudah lebih tenang,

tapi aku sangat yakin bahwa menurut pendapatnya, kesepakatan itu masih berlaku. Bila

dia menganggap suku, atau seseorang, berada dalam bahaya, dia tidak akan bertanya

lebih dulu, kalau kau mengerti maksudku. Tapi dengan semua itu, prioritas utamanya

tetap La Push. Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk melindungi semua orang

sekaligus mengirim tim pemburu yang cukup besar untuk dapat menghancurkan musuh.

Jadi aku berani bertaruh, dia pasti lebih suka berada tak jauh dari rumah."

Carlisle mengangguk khidmat.

"Jadi kurasa ada baiknya bila kalian pergi sekaligus, untuk berjaga-jaga. Dan

mungkin sebaiknya kalian pergi pada siang hari, karena kami pasti mengira kalian pergi

pada malam hari. Kebiasaan vampir. Kalian kan bisa bergerak cepat—jadi pergilah ke

pegunungan dan berburu di tempat yang cukup jauh sehingga tak ada peluang bagi Sam

untuk mengirim anak buahnya ke tempat yang terlalu jauh dari rumah."

"Dan meninggalkan Bella sendirian, tanpa penjagaan?"

Aku mendengus. "Memangnya kami apa?"

Carlisle tertawa, namun sejurus kemudian wajahnya kembali serius. "Jacob, kau

tak mungkin bertempur melawan saudara-saudaramu."

241

Mataku mengejang. "Aku tidak mengatakan itu tidak akan sulit, tapi kalau mereka

benar-benar datang untuk membunuh Bella aku pasti bisa menghentikan mereka."

Carlisle menggeleng cemas. "Tidak, maksudku bukan berarti kau... tidak mampu.

Tapi itu bukan hal yang benar. Nuraniku tidak mengizinkannya."

"Bukan nuranimu, Dok. Tapi nuraniku. Dan aku mampu menanggungnya."

"Tidak, Jacob. Kami akan memastikan tindakan kami tidak membuatmu harus

menanggung hal itu." Ia mengerutkan kening dengan sikap berpikir-pikir. "Kami akan

pergi tiga-tiga," ia memutuskan. "Mungkin itu hal terbaik yang bisa kami lakukan."

"Entahlah, Dok. Membagi kelompok menjadi dua bukanlah strategi terbaik."

"Kami memiliki kemampuan ekstra yang akan membuat keadaan jadi berimbang.

Kalau ada Edward dalam kelompok itu, dia akan bisa memberi kami beberapa kilometer

radius yang aman."

Kami sama-sama melirik Edward. Ekspresinya membuat Carlisle cepat-cepat

mengoreksi perkataannya.

"Aku yakin ada beberapa jalan lain juga," kata Carlisle. Jelas tak ada kebutuhan

fisik yang cukup kuat untuk membuat Edward mau berada jauh-jauh dari Bella. "Alice,

menurutku kau pasti bisa melihat rute-rute mana yang berbahaya?"

"Rute-rute yang tidak kelihatan dalam pikiranku" jawab Alice, menganggukangguk.

"Gampang."

Edward, yang tegang mendengar rencana pertama Carlisle tadi, mengendur. Bella

menatap Alice dengan sikap tidak senang, kerutan di antara matanya muncul bila ia

merasa tertekan.

"Baiklah kalau begitu," sahutku. "Jadi sudah beres. Aku berangkat sekarang. Seth,

kuharap kau berjaga lagi senja nanti, jadi carilah tempat untuk tidur sekarang, bisa?"

"Tentu, Jake. Aku akan berubah wujud segera setelah selesai makan. Kecuali..." ia

ragu-ragu, menatap Bella. "Apa kau membutuhkan aku"

"Dia kan sudah punya selimut," bentakku.

"Aku baik-baik saja, Seth, trims," kata Bella cepat-cepat.

242

Kemudian Esme muncul lagi, menenteng wadah besar bertutup. Ia berhenti ragu

di belakang siku Carlisle, mata kuning gelapnya yang lebar menatap wajahku. Ia

mengulurkan wadah itu padaku dan maju selangkah dengan sikap malu-malu,

"Jacob," ujarnya pelan. Suaranya tidak setajam yang lain-lain. "Aku tahu... kau

tidak berselera makan di sini, karena baunya yang sangat tidak menyenangkan. Tapi aku

akan senang sekali kalau kau mau membawa sedikit makanan saat kau pergi. Aku tahu

kau tidak bisa pulang ke rumah, dan itu karena kami. Kumohon hilangkan sedikit

perasaan bersalahku. Bawalah makanan ini." Esme menyodorkan makanan itu,

wajahnya lembut dan memohon. Aku tak tahu bagaimana ia melakukannya, karena

penampilannya tidak lebih tua dari pertengahan dua puluh, dan kulitnya juga putih

pucat, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang mendadak mengingatkanku pada ibuku.

Astaga.

"Eh, tentu, tentu," gumamku. "Baiklah. Mungkin Leah masih lapar atau apa."

Aku mengulurkan tangan dan menerima makanan itu dengan satu tangan,

memegangnya jauh-jauh, sepanjang lengan. Aku akan membuangnya di bawah pohon

atau di tempat lain. Aku tak ingin ia merasa bersalah.

Lalu aku teringat pada Edward,

Awas, jangan bilang apa-apa padanya! Biarkan ia mengira aku memakan

semuanya.

Aku tidak memandang kepada Edward untuk melihat apakah ia setuju. Pokoknya

ia harus setuju. Si pengisap darah itu berutang budi padaku.

"Terima kasih, Jacob" kara Esme, tersenyum. Bagaimana mungkin batu bisa

punya lesung pipi, demi Tuhan?

"Eh, terima kasih," ujarku. Wajahku panas lebih panas daripada biasa.

Inilah masalahnya bergaul dengan vampire kau jadi terbiasa dengan mereka.

Mereka mulai mengacaukan caramu memandang dunia. Kau mulai menganggap mereka

teman.

"Kau akan kembali lagi nanti, Jake?" tanya Bella waktu aku bersiap-siap kabur.

"Eh, entahlah."

Bella mengatupkan bibir rapat-rapat, seperti berusaha tidak tersenyum. "Please?

Siapa tahu aku kedinginan."

243

Aku menarik napas dalam-dalam melalui hidung, kemudian menyadari, meski

terlambat, bahwa itu bukan ide yang baik. Aku meringis. "Mungkin,"

"Jacob?" panggil Esme. Aku berjalan mundur ke pintu sementara Esme

melanjurkan kata-katanya. "Aku meninggalkan sekeranjang pakaian di teras. Untuk

Leah. Sudah dicuci bersih—aku berusaha sesedikit mungkin menyentuhnya." Keningnya

berkerut. "Kau tidak keberatan membawakannya untuk dia?"

"Siap," gumamku, kemudian merunduk keluar dari pintu sebelum ada lagi yang

bisa membuatku merasa bersalah dan melakukan hal-hal lain.

244

15. TIK TOK TIK TOK TIK TOK

Hei, Jake, kusangka kau menyuruhku berjaga lagi waktu senja. Jadi mengapa kau

tidak menyuruh Leah membangunkanku sebelum ia tertidur?

Karena aku tidak membutuhkanmu. Aku masih kuat, Seth sudah berlari setengah

lingkaran di sebelah utara. Ada sesuatu?

Tidak. Tidak ada apa-apa sama sekali. Kau sudah sempat melakukan penyisiran?

Seth melihat bekas-bekas jejak kakiku. Ia mengarah ke rute baru.

Yeah—aku menyisir ke beberapa arah. Kau tahu, hanya mengecek. Kalau

keluarga Cullen akan pergi berburu...

Tindakan yang tepat

Seth berlari lagi ke perimeter utama.

Lebih mudah berlari bersama Seth daripada Leah. Walaupun Leah berusaha—

berusaha keras selalu ada hal-hal yang meresahkan pikirannya. Ia tidak ingin berada di

sini. Ia tidak ingin merasakan sikap lunak terhadap vampir yang ada dalam pikiranku. Ia

tidak ingin menerima keakraban Seth dengan mereka, persahabatan yang semakin lama

justru semakin erat.

Lucu tapi, karena kukira masalah terbesar Leah adalah aku. Waktu masih

bergabung dalam kelompok Sam, kami selalu saling membuat jengkel. Tapi tidak ada lagi

perasaan antagonis terhadapku sekarang, hanya terhadap keluarga Cullen dan Bella.

Entah mengapa. Mungkin tidak lebih dari rasa terima kasih Leah karena aku tidak

memaksanya pergi. Mungkin itu karena sekarang aku bisa lebih memahami kemarahan

terpendamnya. Bagaimanapun, berlari bersama Leah ternyata tak seburuk yang kukira.

Tentu saja, ia belum terlalu rileks. Makanan dan pakaian yang dibawakan Esme

untuknya sekarang sedang dihanyutkan arus sungai ke hilir. Bahkan setelah aku

memakan bagianku—bukan karena aromanya begitu menggoda selera setelah jauh dari

bau vampir yang menyengat hidung, tapi sebagai contoh bertoleransi yang baik untuk

Leah—ia tetap menolak. Rusa kecil yang dimangsanya sekitar tengah hari tidak

sepenuhnya membuat Leah puas. Sebaliknya malah merusak selera makannya, Leah

benci makanan mentah.

Mungkin sebaiknya kita menyisir ke arah timur? Seth menyarankan. Masuk jauh

ke dalam hutan, untuk mengecek apakah mereka menunggu di sana.

245

Itu juga terpikir olehku, aku sependapat. Tapi kita akan melakukannya kalau sudah

benar-benar segar bugar. Aku tak ingin kewaspadaan kita hilang. Tapi kita harus

melakukannya sebelum keluarga Cullen mencoba jalur itu. Tak lama lagi.

Baiklah.

Itu membuatku berpikir.

Kalau keluarga Cullen bisa keluar dari wilayah ini dengan aman, mereka benarbenar

tak boleh kembali. Mungkin seharusnya mereka langsung pergi begitu kami

datang memperingatkan mereka. Mereka pasti mampu memulai kehidupan di daerah

lain. Dan mereka punya teman-teman di utara, bukan? Bawa Bella dan pergi dari sini.

Sepertinya itu jawaban yang jelas bagi permasalahan mereka.

Mungkin seharusnya aku menyarankan itu, tapi aku takut mereka akan menuruti

saranku. Padahal aku tak ingin kehilangan Bella—tidak pernah tahu apakah ia bisa

melalui ini dengan selamat atau tidak.

Tidak, itu tolol. Akan kusuruh mereka pergi. Tak masuk akal bila mereka tetap di

sini, dan akan lebih baik—walaupun lebih menyakitkan, tapi lebih sehat—bila Bella pergi

saja.

Mudah mengatakannya sekarang, kalau Bella tidak ada di sana, terlihat gembira

melihatku dan pada saat bersamaan sekarat...

Oh, aku sudah menanyakan hal itu pada Edward, pikir Seth,

Apa?

Kutanya padanya mengapa mereka belum pergi juga. Pergi ke tempat Tanya atau

apa. Ke tempat lain hingga Sam tidak bisa memburu mereka.

Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku baru saja memutuskan akan

memberi saran serupa pada keluarga Cullen. Bahwa itu yang terbaik. Jadi seharusnya

aku tidak perlu marah kepada Seth karena mengambil tugas itu dariku. Tidak marah

sama sekali.

Lantas, bagaimana tanggapannya? Apakah mereka menunggu kesempatan?

Bukan. Mereka tidak akan pergi.

Seharusnya itu tidak kuanggap sebagai kabar baik.

Mengapa tidak? Itu kan tolol.

246

Tidak juga, sergah Seth, nadanya defensif sekarang. Butuh waktu cukup panjang

untuk membangun akses medis seperti yang dimiliki Carlisle di sini Semua yang ia

butuhkan untuk merawat Bella tersedia di sini, juga fasilitas bila membutuhkan lebih. Itu

salah satu alasan mereka ingin pergi berburu. Menurut Carlisle, sebentar lagi mereka

kehabisan darah untuk Bella. Ia sudah menghabiskan semua persediaan darah O negatif

yang mereka simpan untuknya. Ia tidak mau kehabisan. Ia akan membeli lagi persediaan

darah baru. Tahukah kau ternyata kau bisa membeli darah? Bisa kalau kau dokter.

Aku belum siap bersikap logis. Tetap saja rasanya tolol. Mereka toh bisa

memboyong sebagian besar peralatan itu bersama mereka, kan? Dan mencuri apa yang

mereka butuhkan ke mana pun mereka pergi. Siapa yang peduli pada hal-hal legal kalau

kau tidak bisa mati?

Edward tidak ingin mengambil risiko memindahkan Bella.

Bella sudah lebih baik.

Sangat, Seth sependapat. Dalam pikirannya, ia membandingkan ingatanku akan

Bella yang tubuhnya digelantungi siang-siang infus dengan waktu ia terakhir melihat

Bella saat meninggalkan rumah. Bella tersenyum padanya dan melambaikan tangan.

Tapi ia tidak bisa banyak bergerak, kau tahu. Makhluk itu membuatnya babak helur.

Aku menelan kembali cairan asam yang sempat naik ke tenggorokanku. Yeah, aku

tahu.

Rusuknya ada lagi yang patah, Seth memberitahu dengan muram.

Langkahku goyah, dan aku terhuyung-huyung selangkah sebelum lariku kembali

berirama.

Carlisle membebatnya lagi. Hanya retak, begitu kata Carlisle.

Lalu Rosalie mengatakan sesuatu tentang bayi manusia normal yang diketahui

pernah meretakkan tulang rusuk juga. Edward kelihatannya seperti mau mencabik-cabik

kepala Rosalie sampai putus.

Sayang itu tidak dilakukannya.

Seth semakin bersemangat memberi laporan sekarang— tahu itu semua sangat

menarik bagiku, walaupun aku tidak pernah meminta mendengarnya. Mari ini tadi

demam Bella naik-turun. Tidak terlalu panas—hanya keringat kemudian kedinginan.

Carlisle tidak begitu memahami sakitnya—mungkin ia memang sakit. Sistem kekebalan

tubuhnya saat ini pasti sedang tidak bagus.

247

Yeah, aku yakin itu pasti hanya kebetulan.

Tapi suasana hatinya sedang baik. Ia mengobrol dengan Charlie, tertawa-tawa

dan sebagainya...

Charlie! Apa?! Apa maksudmu, ia mengobrol dengan Charlie?!

Sekarang giliran Seth yang larinya tertatih; amarahku membuatnya kaget.

Dugaanku Charlie menelepon Bella setiap hari untuk berbicara dengannya. Kadangkadang

ibunya juga menelepon. Bella kedengarannya sudah jauh lebih sehat sekarang,

jadi ia meyakinkan Charlie bahwa ia sedang dalam tahap pemulihan...

Berada dalam tahap pemulihan? Apa sih yang mereka pikirkan?! Memberi

harapan muluk-muluk pada Charlie sehingga ia bisa hancur lebih parah lagi kalau Bella

meninggal nanti? Kusangka mereka mempersiapkan Charlie untuk menerima hal itu!

Berusaha mempersiapkan dia! Mengapa Bella tega mempermainkan Charlie seperti ini?

Ia mungkin tidak akan meninggal, pikir Seth pelan.

Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

Seth. Walaupun seandainya Bella berhasil melewati ini, ia tidak akan

melakukannya sebagai manusia. Ia tahu itu, begitu juga mereka yang lain. Kalau tidak

meninggal, ia harus bisa berakting meyakinkan sebagai mayat, Nak. Kalau bukan itu,

berarti menghilang. Kusangka mereka ingin membuat situasi menjadi lebih mudah bagi

Charlie. Mengapa...?

Kurasa itu ide Bella. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tapi wajah Edward

hampir seperti yang kaupikirkan saat ini.

Lagi-lagi aku berada dalam frekuensi yang sama dengan si pengisap darah itu.

Beberapa menit kami berlari dalam kesunyian. Aku mulai menyusuri garis baru,

mengarah ke selatan.

Jangan terlalu jauh.

Mengapa?

Bella memintaku menyuruhmu mampir.

Gigiku mengatup rapat.

248

Alice juga ingin kau datang. Katanya ia sudah bosan nongkrong terus di loteng

seperti kelelawar vampir di menara lonceng. Seth mendengus tertawa. Aku bergantian

dengan Edward sebelumnya. Mencoba menjaga suhu tubuh Bella tetap stabil. Dingin ke

panas, sesuai kebutuhan. Kurasa, kalau kau tidak mau melakukannya, aku bisa kembali*.

Udah, aku yang akan melakukannya, bentakku.

Oke. Seth tidak berkomentar lagi. Ia berkonsentrasi sekuat tenaga ke hutan yang

kosong.

Aku tetap bertahan pada rute selatanku, mencari-cari hal baru. Aku berbalik arah

begitu mendekati tanda-tanda pertama permukiman. Memang belum mendekati kota.

tapi aku tak ingin membuat kehebohan lagi dengan rumor-rumor tentang serigala.

Selama ini kami bisa hidup tenang karena tidak terlihat siapa pun.

Aku lewat tepat di garis perbatasan dalam perjalanan pulang, menuju rumah

keluarga Cullen. Walaupun aku tahu itu perbuatan tolol, aku tetap saja tidak bisa

menghentikan diriku sendiri. Aku pastilah seorang masokis.

Tidak ada yang tidak beres denganmu, Jacke. Situasinya memang tidak normal.

Kumohon, tutup mulutmu, Seth.

Ya deh

Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi di depan pintu, aku langsung saja masuk seolaholah

rumah ini milikku. Kupikir dengan begitu aku akan membuat Rosalie kesal, tapi

ternyata tindakanku sia-sia belaka. Baik Rosalie maupun Bella tidak tampak di sana.

Dengan panik aku memandang berkeliling, berharap aku terlewat melihat mereka di

suatu tempat. Jantungku mendesak rusuk dan membuat dadaku sakit.

"Dia baik-baik saja," bisik Edward. "Atau, kondisinya sama saja, kalau boleh

kukatakan."

Edward duduk di sofa sambil menutup wajah dengan kedua tangan; ia tidak

mengangkat wajah untuk berbicara. Esme duduk di sebelahnya, lengannya merangkul

bahu Edward erat-erat,

"Halo, Jacob," sapa Esme. "Aku senang kau kembali."

"Aku juga," seru Alice sambil menghela napas dalam-dalam. Ia menandak-nandak

menuruni tangga, mengernyitkan wajah. Seolah-olah aku terlambat datang.

"Eh, hai," sapaku. Aneh rasanya bersikap sopan.

249

"Mana Bella?"

"Di kamar mandi," Alice menjawab pertanyaanku. "Kau tahu sendirilah, sebagian

besar dietnya kan berupa cairan. Ditambah lagi orang hamil konon sering bolak-balik ke

kamar mandi."

"Ah."

Aku berdiri canggung, bergerak-gerak ke depan dan ke belakang dengan

bertumpu pada tumit.

"Oh, hebat," gerutu Rosalie. Dengan cepat aku berpaling dan melihatnya datang

dari ruang depan yang separo tersembunyi di balik tangga. Ia merangkul lembut bahu

Bella, ekspresi galak terpancar di wajahnya untukku. "Ternyata memang benar aku tadi

mencium bau tidak enak."

Dan, sama seperti sebelumnya, wajah Bella langsung berseri-seri seperti wajah

bocah yang kegirangan melihat tumpukan hadiah di pagi Hari Natal. Seolah-olah aku

membawakannya hadiah paling indah.

Sangat tidak adil.

"Jacob" desah Bella. "Kau datang."

"Hai, Bells."

Esme dan Edward sama-sama berdiri. Aku melihat Rosalie dengan hati-hati

mendudukkan Bella di sofa. Aku melihat bagaimana, walaupun sudah melakukannya

dengan begitu hati-hati, wajah Bella berubah putih dan ia menahan napas— seolah

bertekad tidak akan mengeluarkan suara, tak peduli bagaimanapun sakitnya.

Edward menyapukan tangannya di kening Bella, kemudian lehernya. Ia berusaha

membuatnya terlihat seperti hanya menyibakkan rambut Bella, padahal terlihat seperti

pemeriksaan dokter di mataku.

"Kau kedinginan?" gumam Edward.

"Aku baik-baik saja."

"Bella, kau kan tahu apa yang dikatakan Carlisle padamu," sergah Rosalie.

"Jangan mengecilkan apa pun. Itu tidak akan membantu kami mengurus kebutuhan

kalian"

"Oke. Aku memang agak kedinginan. Edward, bisa tolong ambilkan selimut itu

untukku?"

250

Aku memutar bola mataku. "Bukankah itu salah satu tujuanku berada di sini?"

"Kau kan baru datang," kata Bella. "Taruhan, pasti setelah berlari seharian.

Istirahatlah dulu sebentar. Paling-paling tak lama lagi tubuhku menghangat lagi."

Aku tidak menggubris kata-katanya, kakiku sudah bergerak untuk duduk di lantai

di sebelah sofa sementara ia masih terus berbicara. Namun saat itu, entah bagaimana...

Bella terlibat sangat rapuh, dan aku takut memindahkannya, bahkan melingkarkan

lenganku ke bahunya pun aku tidak berani. Maka aku hanya bersandar sedikit di

sampingnya, membiarkan lenganku menempel sepanjang lengannya, dan

menggenggam tangannya. Lalu aku meletakkan tanganku yang lain ke wajahnya. Sulit

memastikan apakah ia merasa lebih kedinginan daripada biasanya.

"Trims, Jake" ujar Bella, dan aku merasakan tubuhnya bergetar.

"Yeah," sahutku.

Edward duduk di lengan sofa, dekat kaki Bella, matanya tak pernah lepas dari

wajah Bella.

Mustahil mengharapkan, di ruangan yang dipenuhi orang-orang berpendengaran

super, tidak akan ada yang mendengar perutku yang keroncongan.

"Rosalie, bagaimana kalau kauambilkan makanan untuk Jacob dari dapur?" pinta

Alice. Ia kini tidak kelihatan, duduk diam-diam di balik punggung sofa.

Rosalie memandang tak percaya ke tempat suara Alice tadi berasal.

"Tidak usah, terima kasih, Alice, tapi sepertinya aku tidak mau makan makanan

yang sudah diludahi si Pirang. Taruhan, pencernaanku pasti tidak begitu bisa menerima

racun."

"Rosalie takkan pernah mempermalukan Esme dengan melakukan hal yang

sangat tidak sopan seperti itu."

"Tentu saja tidak," sergah Rosalie dengan suara semanis madu yang langsung

tidak kupercaya. Ia bangkit dan melesat keluar ruangan,

Edward mendesah,

"Kau pasti akan memberitahuku kalau dia meracuninya, kan?" tanyaku,

"Ya," janji Edward,

Dan entah mengapa, aku percaya padanya.

251

Terdengar suara berdentang-dentang di dapur, dan—anehnya—suara logam

berderit-derit, seperti protes karena disiksa. Lagi-lagi Edward mendesah, tapi tersenyum

kecil. Sejurus kemudian Rosalie sudah kembali sebelum aku sempat memikirkannya

lebih jauh lagi. Dengan senyum puas ia meletakkan mangkuk perak di lantai di dekatku,

"Selamat menikmati, doggy"

Mungkin mangkuk itu dulunya mangkuk pencampur berukuran besar, tapi Rosalie

menekuk sisi-sisinya hingga kini bentuknya mirip wadah makanan anjing. Mau tak mau,

aku terkesan juga pada keterampilan tangannya. Juga perhatiannya terhadap hal-hal

detail. Ia menggoreskan nama Fido di bagian samping. Tulisan tangannya juga bagus

sekali.

Karena makanannya terlihat sangat lezat—steik, tidak kurang, dan sebutir besar

kentang panggang lengkap dengan segala pernak-perniknya—kukatakan padanya,

"Trims, Pirang."

Rosalie mendengus,

"Hei, kau tahu nggak apa sebutan untuk si pirang yang pandai?" tanyaku,

kemudian melanjutkan dalam satu tarikan napas, "golden retriever''

"Aku juga sudah pernah dengar yang itu," sergah Rosalie, Tak lagi tersenyum.

"Aku akan terus berusaha," janjiku, kemudian mulai menyikat makananku.

Rosalie mengernyit jijik dan memutar bola matanya. Lalu ia duduk di salah satu

kursi berlengan dan mulai memindah-mindah saluran TV, cepat sekali hingga tak

mungkin ia benar-benar mencari sesuatu untuk ditonton.

Makanannya enak, walaupun bau vampir memenuhi udara. Aku benar-benar

mulai terbiasa dengan itu. Hah. Bukan sesuatu yang ingin kulakukan, sebenarnya...

Selesai makan-—walaupun aku sempat mempertimbangkan untuk menjilat

mangkuknya, hanya untuk membuat Rosalie kesal—aku merasakan jari-jari Bella yang

dingin membelai rambutku. Lalu ia menepuk-nepuk tengkukku,

"Saatnya potong rambut, ya?"

"Rambutmu mulai sedikit gondrong," kata Bella. "Mungkin..."

"Biar kutebak, ada seseorang di sini yang dulu pernah memotong rambut di salon

di Paris?"

Bella terkekeh. "Mungkin."

252

"Tidak, terima kasih," tolakku sebelum Bella benar-benar menawarkan. "Aku

masih bisa tahan sampai beberapa minggu lagi."

Dan itu membuatku bertanya-tanya sampai kapan Bella bisa bertahan. Aku

memikirkan cara yang sopan untuk bertanya.

"Jadi... eh... apa, eh, kapan? Kau tahu, kapan monster kedi itu diperkirakan akan

lahir."

Bella memukul bagian belakang kepalaku pelan tapi tidak menjawab.

"Aku serius," sergahku. "Aku ingin tahu berapa lama aku harus berada di sini."

Berapa lama kau akan berada di sini, aku menambahkan dalam hati. Aku berpaling

untuk menatapnya. Matanya tampak seperti berpikir; kerutan stres muncul lagi di

antara kedua alisnya.

"Entahlah," gumamnya. "Tidak pasti. Jelas, umur kehamilanku pasti bukan

sembilan bulan, tapi karena kita tidak bisa mendapatkan gambar USG, Carlisle terpaksa

membuat perkiraan dari ukuran perutku. Orang normal biasanya empat puluh

sentimeter di sini"-—Bella melarikan ujung jarinya persis di bagian tengah perutnya

yang membuncit—"kalau bayinya sudah mencapai pertumbuhan maksimal. Satu

sentimeter setiap minggu. Tadi pagi panjang perutku sudah tiga puluh sentimeter, dan

sehari tumbuh dua sentimeter, kadang-kadang lebih..."

Hari ini sudah dua minggu, hari-hari berlalu bagaikan terbang. Hidup Bella berlalu

bagai dipercepat. Berapa hari lagi kalau begitu, kalau ia menunggu sampai besar

perutnya empat puluh sentimeter? Empat hari? Butuh waktu beberapa saat baru aku

bisa menelan ludah.

"Kau baik-baik saja?" tanya Bella.

Aku mengangguk, tak yakin bagaimana kedengarannya suaraku bila keluar.

Edward memalingkan wajah waktu mendengarkan pikiran-pikiranku, tapi aku bisa

melihat bayangannya di dinding kaca. Lagi-lagi ia terlihat seperti pria yang dibakar

hidup-hidup.

Lucu juga dengan adanya tenggat waktu, lebih sulit bagiku untuk berpikir tentang

pergi, atau menerima kenyataan bahwa Bella harus pergi. Untung Seth menyinggungnya

tadi, sehingga aku tahu mereka akan tetap berada di sini. Itu pasti takkan bisa ditolerir,

bertanya-tanya setiap hari kapan mereka akan pergi, mengambil satu, dua, tiga, atau

empat hari yang tersisa. Empat hariku.

253

Juga lucu bagaimana, bahkan walaupun tahu ini hampir berakhir, ikatan yang

dimiliki Bella terhadapku justru semakin sulit diputuskan. Hampir seolah-olah

berbanding lurus dengan semakin membesarnya perut Bella—seolah dengan semakin

membesar perutnya, kekuatan gravitasi antara kami juga semakin kuat.

Sesaat aku berusaha memandangnya secara terpisah, memisahkan diriku dari

tarikan itu. Aku tahu bukan imajinasiku yang mengatakan kebutuhanku untuk

berdekatan dengan Bella justru lebih kuat daripada biasanya. Mengapa begitu? Karena

ia sedang sekarat? Atau karena aku tahu bahwa walaupun ia tidak sekarat, namun tetap

saja—skenario terbaik—ia akan berubah menjadi sosok lain yang tidak kukenal atau

kumengerti?

Bella melarikan jarinya ke tulang pipiku, dan kulitku panas di tempat ia

menyentuhnya.

"Semua pasti beres," kata Bella dengan sikap sedikit menenangkan. Bukan

masalah bila kata-kata itu tidak berarti apa-apa. Ia mengatakannya seperti orang-orang

mendendangkan lagu ninabobo kepada anak-anak kecil.

"Benar," gerutuku.

Bella bergelung di lenganku, membaringkan kepalanya di bahuku. "Aku tak

menyangka kau mau datang. Kata Seth kau pasti datang, begitu juga Edward, tapi aku

tidak percaya pada mereka."

"Mengapa tidak?" tanyaku parau.

"Kau tidak bahagia di sini. Tapi kau tetap datang,"

"Bukankah kau ingin aku datang?"

"Memang. Tapi kau tidak harus datang, karena tidak adil bagiku menginginkanmu

ke sini. Aku pasti bisa mengerti."

Sesaat suasana sunyi. Edward sudah memalingkan wajahnya kembali. Ta

memandangi layar TV sementara Rosalie terus memindah-mindah saluran. Sekarang ia

sudah sampai ke saluran enam ratusan. Penasaran juga aku berapa lama waktu yang

dibutuhkan untuk kembali ke awal lagi.

"Terima kasih kau sudah mau datang," bisik Bella,

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku,

"Tentu saja."

254

Edward kelihatannya tidak memerhatikan kami sama sekali, tapi ia tahu apa yang

akan kutanyakan, jadi aku tidak tertipu oleh sikap tak acuhnya.

"Mengapa kau ingin aku datang ke sini? Seth kan bisa menghangatkanmu, dan

dia mungkin lebih enak diajak ngobrol, si bocah ceria itu. Tapi begitu aku berjalan

memasuki pintu, kau tersenyum seolah-olah aku ini orang yang paling kausukai di

dunia."

"Kau salah satunya."

"Itu menyebalkan, tahu."

"Yeah." Bella mendesah. "Maaf"

"Tapi mengapa? Kau tidak menjawabnya tadi."

Edward kembali memalingkan muka, seolah-olah memandang ke luar jendela.

Wajah dalam bayangannya tampak kosong.

"Rasanya... lengkap kalau ada kau di sini, Jacob. Rasanya seluruh keluargaku

lengkap. Maksudku, kira-kira seperti itulah—sebelumnya aku tidak pernah punya

keluarga besar. Senang rasanya." Bella tersenyum sekilas. "Tapi tetap tidak utuh rasanya

kalau kau tidak ada,"

"Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari keluargamu, Bella."

Sebenarnya bisa saja. Aku pasti bisa melakukannya dengan baik. Tapi itu hanya

angan-angan masa depan yang sudah keburu layu sebelum berkembang.

"Kau akan selalu menjadi bagian keluargaku," sergah Bella tidak setuju.

Aku mengertakkan gigi gemas. "Itu jawaban omong kosong."

"Jadi apa jawaban yang bagus?"

"Bagaimana kalau, 'Jacob, aku puas kalau melihatmu menderita.'"

Kurasakan Bella tersentak.

"Kau lebih suka aku menjawabnya begitu?" bisik Bella.

"Itu lebih mudah, paling tidak. Aku bisa menerimanya. Aku bisa mengatasinya."

Aku menunduk menatap wajah Bella saat itu, yang begitu dekat dengan wajahku.

Matanya terpejam dan keningnya berkerut.

255

"Kita melenceng keluar jalur, Jake. Kehilangan keseimbangan. Seharusnya kau

menjadi bagian hidupku—aku bisa merasakannya, dan kau pun bisa." Ia terdiam sejenak

tanpa membuka mata—seperti menungguku menyangkalnya. Waktu aku diam saja, ia

melanjutkan kata-katanya. "Tapi tidak seperti ini. Kita melakukan hal yang salah. Tidak,

akulah yang salah. Aku melakukan kekeliruan, dan kita melenceng keluar jalur..."

Suaranya menghilang, dan kerutan di keningnya mengendur hingga tinggal

kerutan kecil di sudut-sudut bibir. Aku menunggunya menuangkan perasan jeruk lagi ke

luka-luka sayatanku, tapi kemudian suara dengkur lembut keluar dari tenggorokan Bella.

"Dia kecapekan," gumam Edward. "Ini hari yang panjang baginya. Sangat

melelahkan. Seharusnya dia tadi tidur lebih awal, tapi dia menunggumu datang,"

Aku tidak memandang Edward.

"Kata Seth, makhluk itu membuat tulang rusuknya patah lagi."

"Ya. Membuatnya semakin sulit bernapas.”

“Hebat."

"Beritahu aku kalau dia mulai kepanasan lagi.”

“Yeah."

Bulu di lengan Bella yang tidak bersentuhan dengan lenganku masih meremang.

Belum lagi aku sempat mengangkat kepala untuk mencari selimut, Edward sudah

menyambar selimut yang tersampir di lengan sofa dan membentangkannya hingga

menutupi tubuh Bella.

Ada kalanya, membaca pikiran bisa menghemat waktu. Sebagai contoh, mungkin

sebenarnya aku tak perlu marah-marah dan mengamuk panjang-lebar berkaitan dengan

masalah Charlie, Segala amarah itu. Edward sudah bisa mendengar betapa marahnya,..

"Ya," ia sependapat. "Itu memang bukan ide bagus,"

"Kalau begitu mengapa'" Mengapa Bella memberitahu ayahnya bahwa dia

sedang dalam tahap pemulihan bila itu hanya akan membuat ayahnya semakin merana?

"Dia tidak tahan menghadapi kegelisahan ayahnya,"

"Jadi lebih baik..."

"Tidak. Bukan lebih baik. Tapi aku tidak akan memaksanya melakukan apa-apa

yang membuatnya tidak bahagia sekarang. Apa pun yang terjadi, ini membuatnya

merasa lebih tenang. Hal lain biar aku yang mengurus."

256

Kedengarannya itu tidak benar. Bella tidak mungkin sengaja membuat Charlie

menderita pada akhirnya, lalu membiarkan orang lain membereskannya. Meskipun' dia

sedang sekarat. Bella tidak seperti itu. Kalau Edward benar-benar mengenal Bella, ia

pasti punya rencana lain.

"Bella sangat yakin dia akan tetap hidup," kata Edward.

"Tapi tidak sebagai manusia."

"Tidak, tidak sebagai manusia. Tapi dia berharap bisa bertemu lagi dengan

Charlie."

Oh, semakin lama semakin baik saja.

"Bertemu. Charlie." Akhirnya aku memandang Edward juga, mataku melotot.

"Sesudahnya. Bertemu Charlie dalam keadaan tubuhnya putih bersinar dan matanya

merah cerah. Aku bukan pengisap darah, jadi mungkin ada yang tidak kumengerti di sini,

tapi Charlie sepertinya pilihan yang aneh untuk menjadi santapan pertama Bella."

Edward mendesah. "Bella tahu dia tidak akan bisa berdekatan dengan Charlie

selama setidaknya satu tahun. Menurutnya, dia mungkin bisa menunda pertemuan

mereka. Mengatakan pada Charlie dia harus pergi ke rumah sakit khusus di belahan

dunia lain. Tetap berhubungan dengannya melalui telepon..."

"Itu kan sinting."

"Memang."

"Charlie bukan orang tolol. Seandainya pun Bella tidak membunuhnya, dia tetap

akan menyadari adanya perubahan."

"Bella justru mengharapkan hal itu."

Aku terus memandanginya, menunggu Edward menjelaskan maksudnya.

"Bella tidak akan menua, tentu saja, jadi itu berarti ada batasan waktu, walaupun

seandainya Charlie menerima alasan apa pun yang bisa Bella ajukan untuk menjelaskan

perubahan-perubahan itu." Edward tersenyum samar. "Ingatkah kau waktu kau

berusaha memberitahu Bella tentang transformasimu? Bagaimana kau membuatnya

menebak?"

Tanganku yang bebas mengepal. "Dia menceritakannya padamu?"

257

"Ya. Dia menjelaskan... idenya. Begini, dia tidak diperbolehkan memberitahukan

hal yang sebenarnya pada Charlie—itu akan sangat berbahaya bagi Charlie. Tapi Charlie

cerdas dan praktis. Menurut Bella, dia nanti pasti punya penjelasan sendiri. Asumsi

Bella, dugaan Charlie itu pasti salah." Edward mendengus. "Bagaimanapun, kami tidak

terlalu mengikuti gaya hidup vampir. Paling-paling Charlie akan membuat asumsi yang

salah tentang kami, seperti yang dilakukan Bella pada awalnya, dan kami akan

menerimanya saja. Menurut Bella, dia pasti bisa menemui Charlie... dari waktu ke

waktu."

"Sinting," ulangku.

"Memang," lagi-lagi Edward sependapat.

Sungguh lemah Edward membiarkan Bella berbuat sesukanya seperti ini, hanya

untuk membuatnya bahagia sekarang ini. Pasti hasilnya nanti tidak baik.

Itu membuatku berpikir, jangan-jangan Edward tidak berharap Bella tetap hidup

untuk mencoba melaksanakan rencana gilanya. Edward ingin menenteramkan hatinya,

sehingga Bella bisa merasa bahagia beberapa saat lagi.

Misalnya saja, sampai empat hari lagi.

"Aku akan menghadapi apa pun yang terjadi," bisik Edward, dan ia memalingkan

wajah, menunduk, supaya aku bahkan tidak bisa melihat bayangannya. "Aku tidak mau

membuatnya sedih sekarang."

"Empat hari?" tanyaku.

Edward tidak mendongak. "Kira-kira."

"Setelah itu apa?"

"Apa maksudmu, tepatnya?"

Aku memikirkan perkataan Bella. Makhluk itu terbungkus nyaman dan rapat

dalam sesuatu yang keras, sesuatu yang menyetupai kulit vampir. Jadi, bagaimana

caranya? Bagaimana makhluk itu akan keluar?

“Dari riset kecil-kecilan yang bisa kami lakukan, kelihatannya makhluk itu

menggunakan giginya sendiri untuk keluar dari rahim," bisik Edward.

Aku terpaksa berhenti sejenak untuk menelan caitan lambung yang naik ke

tenggorokan.

"Riset?" tanyaku lemah.

258

"Itulah sebabnya kau tidak melihat Jasper dan Emmett di sini. Itulah yang

dilakukan Carlisle sekarang. Berusaha mengartikan cerita-cerita dan mitos-mitos kuno,

sebanyak yang kami bisa dengan apa yang kami miliki di sini, mencari apa saja yang bisa

membantu kami memprediksikan perilaku makhluk itu."

Cerita-cerita? Kalau ada mitos-mitos, berarti...

"Berarti, makhluk ini bukan yang pertama dari jenisnya?" tanya Edward,

mengantisipasi pertanyaanku. "Mungkin. Semuanya masih sangat kabur. Mitos-mitos itu

bisa saja produk ketakutan dan imajinasi. Walaupun..." Edward ragu-ragu "mitos-mitos

kalian ternyata benar, bukan begitu? Jadi mungkin saja mitos-mitos kami ini juga benar.

Sepertinya semua terlokalisasi, saling berhubungan..,”

"Bagaimana caranya kalian bisa menemukan...?"

"Ada wanita yang kami temui di Amerika Selatan. Dia dibesarkan dalam tradisi

masyarakatnya. Dia pernah mendengar peringatan tentang makhluk seperti ini, ceritacerita

kuno yang turun-temurun."

"Apa saja peringatannya?" bisikku,

"Bahwa makhluk itu harus langsung dibunuh. Sebelum kekuatannya jadi terlalu

besar"

Persis seperti yang dipikirkan Sam. Apakah ia benar?

"Tentu saja, legenda mereka mengatakan hal yang sama tentang kami. Bahwa

kami harus dimusnahkan. Bahwa kami pembunuh tak berjiwa."

Kedudukan seri kalau begitu,

Edward tertawa keras,

"Apakah di sana juga diceritakan tentang nasib... para ibunya?"

Kepedihan menyayat wajah Edward, dan, saat aku tersentak melihat ekspresi

sedih itu, aku tahu ia tidak akan menjawab pertanyaanku. Aku bahkan ragu ia masih bisa

berbicara.

Rosalielah yang sejak tadi berdiam diri tanpa suara sejak Bella tertidur, sampaisampai

aku nyaris lupa padanya yang menjawab.

259

Ia memperdengarkan suara bernada menghina. "Tentu saja tidak ada yang

selamat," tukasnya. Tidak ada yang selamat, tanpa tedeng aling-aling, tidak peduli.

"Melahirkan di tengah rawa yang menjadi sarang berbagai kuman penyakit, didampingi

dukun yang mengusapkan ludah ke sekujur wajah unruk mengusir roh-roh jahat jelas

bukan metode paling aman. Bahkan separo kelahiran normal saja berakhir dengan

kematian. Tak seorang pun di antara mereka memiliki apa yang dimiliki bayi ini—orangorang

yang berusaha memahami kebutuhan si bayi, yang berusaha memenuhi

kebutuhan itu. Dokter dengan pengetahuan sangat unik rentang sifat alami vampir.

Rencana untuk melahirkan si bayi dengan cara seaman mungkin. Racun yang bisa

mengoreksi apa pun yang tidak berjalan semestinya. Bayi itu akan baik-baik saja. Dan

para ibu yang lain itu mungkin sebenarnya bisa selamat seandainya mereka memiliki

semua itu—seandainya mereka benar-benar ada. Sesuatu yang aku tidak yakin." Rosalie

mendengus dengan nada menghina.

Si bayi, si bayi. Seolah-olah hanya itu yang penting. Nyawa Bella tidak berarti apaapa

bagi Rosalie mudah ditepiskan.

Wajah Edward berubah seputih salju. Kedua tangannya melengkung seperti

cakar. Benar-benar egois dan tak peduli, Rosalie memutar tubuhnya hingga

punggungnya kini menghadap ke arah Edward. Edward mencondongkan tubuh,

membungkuk siap menerjang.

Biar aku saja, usulku.

Edward terdiam sebentar, mengangkat sebelah alis.

Tanpa suara kuangkat mangkuk anjingku dari lantai. Kemudian dengan gerakan

tangan yang kuat dan cepat, kulempar mangkuk itu ke bagian belakang kepala si Pirang,

begitu kerasnya hingga—dengan suara kelontang yang memekakkan telinga—mangkuk

itu langsung gepeng dan terpental ke seberang ruangan, menghantam bagian atas tiang

yang berbentuk bulat di bagian kaki tangga.

Bella bergerak, tapi tidak terbangun.

"Dasar pirang tolol," gerutuku.

Rosalie memutar kepalanya perlahan-lahan, dan matanya berapi-api.

"Kau Menumpahkan Makanan Ke Kepalaku" Aku tak tahan lagi.

Tawaku meledak. Kutarik tubuhku menjauhi Bella agar tidak membuat tubuhnya

terguncang, dan tertawa keras sekali sampai-sampai air mata mengalir menuruni

wajahku. Dari balik sofa kudengar suara tawa Alice yang bergemerincing.

260

Heran juga aku mengapa Rosalie tidak menerjang. Padahal aku agak-agak

mengharapkannya. Tapi kemudian aku sadar suara tawaku membangunkan Bella,

walaupun ia tadi tetap lelap saat suara berdentang keras terdengar.

"Apanya yang lucu?" gumam Bella,

Kumenumpahkan makanan ke rambutnya," aku memberi-tahu Bella, kembali

terkekeh,

"Aku tidak akan melupakan hal ini, anjing" desis Rosalie,

"Tidak sulit menghapus ingatan cewek pirang," balasku, "Tinggal tiup saja

telinganya."

"Cari lelucon baru sana!" bentaknya.

"Sudahlah, Jake. Jangan ganggu Rose la…" Bella menghentikan kata-katanya dan

napasnya tersentak tajam. Detik itu juga Edward mencondongkan tubuh di atasku,

menyentakkan selimut yang menutupi tubuh Bella. Bella sepertinya kejang-kejang,

punggungnya melengkung di atas sofa,

"Dia hanya," kata Bella terengah-engah, "menggeliat,"

Bibir Bella putih, dan ia mengatupkan giginya kuat-kuat seperti berusaha

menahan diri untuk tidak menjerit,

Edward merengkuh wajah Bella dengan kedua tangannya.

"Carlisle?" panggil Edward, suaranya rendah dan tegang,

"Di sini," jawab Carlisle, Aku tidak mendengarnya datang.

"Oke," ujar Bella, napasnya masih terengah dan pendek-pendek. "Rasanya sudah

selesai. Bocah malang, rupanya dia kesempitan, itu saja. Soalnya sekarang dia sudah

besar sekali."

Sulit sekali diterima, nada memuja yang Bella gunakan untuk menggambarkan

makhluk yang membuat tubuhnya babak belur. Apalagi setelah mendengar perkataan

Rosalie yang blak-blakan tadi. Membuatku kepingin melemparkan sesuatu ke kepala

Bella juga.

Tapi Bella tidak menyadari suasana hatiku yang jelek. "Kau tahu, dia

mengingatkanku padamu, Jake," katanya—masih dengan nada sayang—masih

tersengal-sengal,

261

"Jangan bandingkan aku dengan makhluk itu," semburku dari sela-sela gigi yang

terkatup rapat.

"Yang kumaksud adalah pertumbuhanmu yang sangat cepat," jelas Bella,

kelihatannya seolah-olah aku menyakiti perasaannya. Bagus. "Pertumbuhanmu juga

sangat cepat. Kau seperti tumbuh makin tinggi tepat di depan mataku. Dia juga seperti

itu. Pertumbuhannya sangat cepat."

Kugigit lidahku agar tidak mengatakan hal-hal yang ingin kukatakan—saking

kerasnya sampai-sampai aku bisa merasakan darah dalam mulutku. Tentu saja, luka itu

sudah sembuh sebelum aku sempat menelan ludah. Itulah yang dibutuhkan Bella.

Menjadi kuat seperti aku, memiliki kemampuan untuk pulih...

Napas Bella sekarang lebih tenang. Kemudian ia bersandar rileks ke sofa,

tubuhnya melemas.

"Hmmm," gumam Carlisle. Aku mendongak, dan kulihat ia memandangiku.

"Apa?" tuntutku.

Edward menelengkan kepala ke satu sisi sementara ia mempertimbangkan entah

pikiran apa yang ada dalam benak Carlisle.

"Kau tahu aku penasaran tentang susunan genetika janin ini, Jacob. Tentang

kromosomnya.”

“Memangnya kenapa?"

"Well, dengan mempertimbangkan kemiripan-kemiripan kalian..."

"Kemiripan-kemiripan?" aku menggeram, tidak suka karena kemiripan itu

disebutkan dalam bentuk jamak.

"Pertumbuhan yang sangat cepat, dan fakta bahwa Alice tidak bisa melihat kalian

berdua."

Aku merasa wajahku langsung kosong. Aku sudah lupa pada kemiripan yang lain

itu.

"Well, aku jadi penasaran apakah itu berarti kita menemukan jawabannya.

Apakah kesamaan-kesamaan itu bersifat genetik,"

"Dua puluh empat pasang," gumam Edward pelan. "Kau tidak tahu ini,"

262

"Memang tidak. Tapi menarik untuk berspekulasi" kata Carlisle dengan nada

menenangkan. "Yeah. Sangat menyenangkan?

Dengkur halus Bella kembali terdengar, dengan manis memberi penekanan pada

sikap sarkastisku.

Mereka langsung sibuk berdiskusi, dengan cepat membicarakan masalah genetik

ini sedemikian rupa sampai-sampai satu-satunya kata yang bisa kupahami dari

pembicaraan mereka hanya itu dan dan. Dan namaku sendiri, tentu saja. Alice ikut

bergabung, sesekali memberi komentar dengan suaranya yang seperti burung berkicau.

Walaupun mereka membicarakan aku, aku tak berusaha mencari tahu

kesimpulan yang mereka tarik. Masih banyak hal lain dalam pikiranku, fakta-fakta baru

yang kucoba pahami.

Fakta pertama, perkataan Bella bahwa makhluk itu terlindung sesuatu yang

sekeias kulit vampir, sesuatu yang tidak bisa ditembus ultrasound, juga tidak bisa

ditembus jarum. Fakta kedua, perkataan Rosalie bahwa mereka berencana melahirkan

makhluk itu dengan selamat. Fakta ketiga, perkataan Edward bahwa—dalam beberapa

mitos—monster-monster seperti ini akan menggunakan giginya untuk mengoyak perut

sang ibu dan keluar dari sana. Aku bergidik.

Dan fakta itu membuahkan kesadaran yang mengerikan, karena, fakta keempat,

tidak banyak makhluk yang bisa mengoyak sesuatu sekeras kulit vampir. Gigi makhluk

berdarah campuran itu—menurut mitos—ternyata cukup kuat. Gigiku juga cukup kuat.

Dan gigi vampir juga cukup kuat.

Sulit untuk mengabaikan fakta yang sangat jelas itu, tapi dalam hati aku berharap

aku bisa. Karena rasanya aku tahu persis bagaimana Rosalie berencana mengeluarkan

makhluk itu "dengan selamat" dari rahim Bella.

0 Response to "Breaking Dawn 1"

Post a Comment