Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Azab dan Sengsara 2

Setelah ibu Sutan Baringin meninggal, amatlah masygul hati

istrinya itu, karena tahulah ia benar-benar, bahwa suaminya itu tiada

akan mengubah kelakuannya itu lagi. Lebih-lebih sekarang, tiadalah

yang akan melarang atau memberi nasihat kepada dia; ibunya tiada

lagi, dan hidupnya sudah tentu menjadi lepas-lelas, suatu pun tak ada

lagi, yang mengalang-alangi kesukaannya. Apa yang ditakutkan mak

Mariamin itu benarlah kejadian. Pada permulaan Sutan Baringin

bertambah kerap kali meninggalkan rumah malam hari, karena ia pergi

ke kedai nasi atau ke rumah kopi. Maka di sanalah ia selalu bercakapcakap

dengan orangorang banyak; sudah tentu orang itu masuk

golongan orang yang kurang baik. Kalau ia pergi itu belum makan,

terpaksalah istrinya menunggu-nunggu dia. Ia terpaksa, bukan dipaksa

orang, akan tetapi hatinyalah yang memaksa dia berbuat begitu.

*) Sebagaimana sudah dikatakan pada permulaan cerita ini adalah ayah Sutan

Baringin orang kaya dan golongan orang bangsawan, karena dia masih

keturunan raja-raja di Sipirok, tapi sudah agak jauh. Tandanya ia bersuku

Siregar, dan kebanyakan raja-raja di sana mempunyai suku Siregar. Jadi

bolehlah dikatakan suku Siregar itu golongan bangsawan di daerah Sipirok,

tetapi di tempat lain, lain pula. Umpama di Mandailing, Lubis, dan di

Angkola, Harahap. Akan tetapi sebagai di mana-mana, adalah kebangsawanan

itu sudah jauh kurang dipandang orang. Siapa yang pandai, kaya, serta

berilmu, ialah yang lebih dari orang bangsawan.

"Seharusnyalah kami bersama-sama makan, karena kuranglah baiknya,

kalau istri itu lebih dahulu makan daripada suaminya." Demikianlah

pikiran ibu yang setia itu. Kalau sudah berbunyi pukul delapan ia pun

memberi makan anaknya yang dua orang itu, lalu ditidurkannya;

kemudian pergilah ke kamar makan, di sanalah ia menantinanti

kedatangan suaminya. Akan mengurangkan perasaan bosan, ia selalu

mengerjakan pekerjaan yang ringan: menganyam tikar atau menjahit

pakaian anaknya yang koyak, karena siang hari ia tiada sempat

melakukan itu, oleh karena banyak urusannya. Maklumlah, suaminya

itu tiada suka bekerja, oleh sebab itu terpaksalah ia jadi tahanan

sekalian pekerjaan orang berumah tangga itu. Sungguh amat berat

beban yang dipikul si ibu yang penyabar itu. Bila suaminya itu pulang,

tiadalah pernah ia bermuka masam. Dengan suara yang lemah-lembut

ia menanya Sutan Baringin, kalau-kalau ia hendak makan. Jikalau

mereka itu bersama-sama, ia pun selalu menghiburkan hati suaminya

dengan rupa-rupa jalan, misalnya dengan menceritakan ini dan itu atau

apa yang kejadian. Kadang-kadang ia bertanyakan rupa-rupa hal

kepada dia, dengan maksud, suaminya itu suka bercakap-cakap dengan

dia. Rumah dan pekarangan selalu bersih nampaknya dan letaknya

sekalian perkakas rumah rapi dan beraturan. Dan meskipun ia tiada

menghiasi dirinya atau memakai pakaian yang mahal-mahal, tiadalah

kurang kecantikan parasnya. Sebaliknya, kebaya dan sarung yang

sederhana itu seolah-olah menambah kebagusannya. Lagi pun

sebagaimana rapinya bekerja, begitulah hati-hatinya memeliharakan

dirinya. Kalau dilihat air mukanya, suatu pun tiada pertukaran, yang

diubahkan kelahiran anaknya yang dua itu; seri dan cahaya romannya

sebagai pada waktu mudanya juga. Benarlah Sutan Baringin amat

beruntung sekali beroleh kawan sehidup yang serupa itu, akan tetapi

sebagai sudah kita lihat, tiadalah ia mengetahui untungnya itu, atau

lebih terang, kalau dikatakan: tiadalah ia menghargakan dia. Amat

besarnya bahagia laki-laki itu, bila ia beroleh perempuan yang baik dan

setia. Akan tetapi sudahlah menjadi tabiat oleh manusia, yakni jikalau

barang itu sudah hilang, barulah diketahui harganya. Seorang sahabat

yang karib itu kurang karib terasa selagi dalam bergaul. Tetapi sesudah

bercerai, tahulah bahwa ia amat perlu bagi kita. Harga kesehatan badan

itu pun baru diketahui orang, kalau ia di dalam berpenyakit.

Demikianlah halnya dengan Sutan Baringin. Tiadalah ia mencintai

istrinya, sungguhpun si ibu itu mengusahakan dirinya untuk dia. Kalau

ia menaruh kasih dan sayang tentulah ia berlaku manis kepada istrinya

itu, sebagai istrinya kepada dia. Akan segala budi bahasa si ibu yang

ramah-tamah itu, tiadalah menerbitkan suatu apa dalam hatinya. Ia

tiada menaruh perasaan kepada tutur yang manis, bahasa yang rendah

dan perbuatan yang baik, karena anak yang manja waktu mudanya itu,

orang pembengis juga di belakang hari. Manusia yang serupa itu amat

buruknya dan akan hal itu diketahui Nuria benar-benar. Itulah kadangkadang

yang menjadi awan kedukaan bagi dia. Kerap kali kalau hari

sudah jauh malam, sedang ia sendiri tinggal di rumah bersama-sama

dengan anaknya yang sedang tidur itu, dipandang anaknya itu dengan

hati yang sedih. Perasaannya lain, karena terasa olehnya dalam hatinya,

bahwa tali yang mengikat perkawinan mereka itu makin rapuh.

Daripada pihak suaminya tak ada yang diharapkan. Kekuatannya

harnpir-hampir habis. Sepuluh tahunlah sudah ia berusaha itu, suatu

pun tiada hasilnya. Bukanlah ia bosan, tetapi khawatir, kalau-kalau ia

kehabisan tenaga dan ..., kesudahannya perkawinannya putus dan dia

serta anaknya melarat. Tangannya gemetar, peluhnya ke luar, disebabkan

pikiran yang serupa itu. Dengan tiada disengajanya, ia pun

memeluk anaknya itu, diciumnya dengan cinta yang sepenuhpenuhnya,

sambil air matanya bercucuran, laksana mutiara yang gugur dari

karangannya.

Malam itu amat dingin, karena angin amat kencang, bercampur

hujan rintik-rintik. Sekali-sekali kilat menunjukkan sinarnya, seolaholah

menerangi dewi malam yang memenuhi alam ini. Itu semua jadi

alamat hujan akan turun dengan lebatnya, karena langit berwarna hitam

dipalut awan yang tebal, sehingga cahaya bintang-bintang yang berjutajuta

itu hilang lenyap semuanya.

Semalam-malaman itu Sutan Baringin tiada pulang, dan istrinya

tidur penuh dengan kemasygulan. Akan tetapi apakah gunanya ia

pulang, karena meskipun diketahuinya apa yang diderita istrinya itu,

takkanlah ada berfaedah, karena sebagaimana telah dimaklumi, tiadalah

suatu tempat dalam hatinya untuk istrinya; bagi anaknya pun susah

ditentukan. Adalah pada pikirannya, perempuan itu diadakan Tuhan

akan sekedar penyertai laki-laki saja. Apabila laki-laki itu merasa perlu

akan bersama-sama dengan perempuan, di situlah waktunya bagi dia

kawin. Kawin artinya si laki mengambil perempuan, sebab ia perlu

kepadanya. Oleh sebab orang itu ada gunanya bagi dia, haruslah ia

menyediakan belanja untuk istrinya. Itu sajalah kewajiban si laki

kepada si istri. Tetapi perempuan itu harus menyerahkan badan dan

hatinya kepada suaminya. Adalah kewajiban bagi dia mengusahakan

dirinya untuk kesenangan lakinya, karena lakinya mengambil dia untuk

kesenangannya. Ia harus menaruh cinta kepada lakinya, akan tetapi

tiada perlu ia mendapat balasan cinta itu. Pendeknya tiada berwatas

kewajiban perempuan itu. Demikianlah rukun yang diketahui dan yang

patut pada timbangan Sutan Baringin. Yang lebih ganjil lagi:

"Perempuan itu tiada menaruh jiwa; kalau ia sudah mati, habis hidupnya.

Akan akhirat tiada berguna bagi dia". Begitulah persangkaan

Sutan Baringin.

Hujan yang lebat itu, suara guruh dan halilintar yang seperti hendak

membelah bumi, semuanya didengar Nuria. Meskipun ia memejamkan

matanya dan membulatkan pikirannya, tiadalah juga ia tertidur. Apabila

pikirannya hampir-hampir hilang sebab hendak tertidur, tiba-tiba ia terbangun

kembali, sebagai terperan-jat. Ia duduk sebentar, memikirkan

sebabnya, tetapi tiadalah diketahuinya. Sesudah ia membetulkan

selimut anaknya yang tidur dengan nyenyaknya itu, ia pun merebahkan

dirinya pula, sambil mengeluh.

Sesudah tengah malam barulah ia tertidur dengan nyenyak, karena

badannya telah lesu. Maka ia pun bermimpilah: "Sedang matahari baru

ke luar dan memancarkan sinarnya, tiba-tiba diselimuti awan yang amat

hitam serta dengan tebalnya, makin lama makin hilanglah matahari itu

dan cahayanya pun tiada dapat lagi menerusi awan yang gelap itu.

Puncak gunung tinggi-tinggi itu lenyaplah dari pemandangan mata, dan

dataran tinggi Sipirok pun penuhlah oleh kabut. Perlahan-lahan

kedengaran bunyi guruh yang mendayu-dayu; mula-mula jauh,

kemudian makin dekat dan makin keras, sedang gunung Sibualbuali

adalah asyik bekerja memuntahkan asap yang bergumpal-gumpal.

Tanah pun gemetarlah oleh sebab digoyang gempa. Masing-masing

orang berlari ke luar dengan terkejut, karena pada persangkaan orang

adalah mara bahaya besar yang akan datang itu. la pun berlari ke luar

seraya mendukung dan memangku anaknya kedua-duanya. Setelah

sampai ke luar ia pun menengok ke belakang. Maka nampaklah olehnya

tanah perumahan mereka itu mereiigkah. Dengan sekejap itu rumah

dan pekarangan mereka jatuh ke dalam lubang yang terbuka itu. Ia terkejut

serta menangis, karena suaminya, Sutan Baringin, masih di dalam

rumah yang ditelan bumi itu. Maka tanah itu pun kembali tertutup dan

rumah mereka terkubur dalam sekajap itu juga. Pada saat itu juga

kedengaranlah suara yang amat gemuruh. Sibual-buali yang berapi itu

meletus. Asap dan belerang yang cair mengalir membinasakan segala

yang dilaluinya: kebun, sawah, kampung dan lain-lain. Sawah-ladang

mereka pun telah binasa sama sekali, akan tetapi ia dan anaknya itu

sempat lagi melarikan diri."

Tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya. Tiada berapa lama kedengaranlah

olehnya bunyi ayam berkokok. Sejak itu tiadalah ia dapat tidur lagi.

Hatinya gundah gulana, karena ia tiada mengerti akan takwil mimpinya

itu. Setelah fajar menyingsing, ia pun berdirilah, lalu mengambil air

sembahyang. Perempuan yang saleh itu pun menyerahkan dirinya

kepada Tuhan. "Mimpiku ini sebagai tanda, yang memberitahukan apa

yang akan datang atas diriku. Akan tetapi apa-apa yang akan datang itu,

kepada-Mu-lah kuserahkan, ya, Allah yang pengasih dan penyayang."

Setelah ia mengucapkan perkataan itu, maka ia pun sembahyang

subuhlah. Sehabisnya menyembah Tuhan Yang Maha Akbar itu, hatinya

merasa lebih senang. Mimpinya itu pun hampir hilang dari kenangkenangannya.

Kemudian ia kembali ke tempat tidur, tempat anaknya

yang tiada mengetahui kesusahan dunia itu ditidurkannya. Si ibu yang

pengasih dan penyayang itu membetulkan selimut mereka itu. Sudah

itu ia pun menundukkan kepalanya lalu mencium dahi si jantung

hatinya itu berganti-ganti.

Matahari masih tersembunyi di balik dolok*) Sipipisan yang permai

itu; binatang-binatang yang mendiami rimba belantara masih tidur

semuanya, akan tetapi ibu yang rajin dan setia itu, . telah sibuk di dapur

menguruskan pekerjaan rumah tangga. Kalau diperhatikan mukanya,

tahulah kita, betapa perubahan romannya, karena penanggungannya

yang selama itu. Betul ia tiada merasa sakit atau mendapat luka di

badan, akan tetapi penanggungan hati dan jiwa itu lebih berat dari yang

lain-lain, sehingga badannya pun menderita juga olehnya. Demikianlah

halnya dengan ibu itu, amatlah berubah roman mukanya, karena kejadian

semalam itu.

*) dolok = gunung

5. JATUH MELARAT

"Ayah sudah datang, sajikanlah nasi itu Mak, saya pun sudah lapar,"

kata Mariamin, budak yang berusia tujuh tahun itu.

"Baik," jawab si ibu, lalu meletakkan tikar*) yang tengah dianyamnya.

"Panggillah ayahmu, supaya kita bersama-sama makan. Ini sudah

hampir setengah delapan**), nanti Riam terlambat datang ke sekolah."

Setelah itu Mariamin pun pergilah ke bawah, mendapatkan ayahnya.

Ibunya pergi ke kamar makan menyediakan makanan untuk mereka itu

anak-beranak. Tiada berapa lama Mariamin datang, seraya berkata,

"Ayah belum hendak makan."

"Di manakah ia sekarang?" tanya si ibu.

"Di muka rumah itu, lagi bercakap-cakap dengan orang lain. Ia

sudah kupanggil tetapi ia menyuruh saya makan dahulu."

"Baiklah anakku dahulu makan, hari sudah tinggi. Ibulah nanti

kawan ayahmu makan."

Sedang anak itu makan, maka ibunya meneruskan pekerjaannya,

menganyam tikar. Meskipun ia dapat membeli tikar di pasar dengan

uang dua rupiah, tiadalah suka ia mengeluarkan uangnya, kalau tidak

perlu. Benar uang dua rupiah itu tiada seberapa, bila dibandingkan

dengan kekayaan mereka itu. Tetapi ia seorang perempuan dan ibu

sejati. Bukanlah orang yang miskin saja yang harus berhemat, orang

yang berada pun patut demikian juga.

Daripada uang dikeluarkan dengan percuma, lebih baik diberikan

kepada orang yang papa. Demikianlah pikiran mak Mariamin. Anaknya

itu pun diajarnya berpikiran demikian; bibit hati kasihan ditanamkannya

dalam kalbu anaknya itu. Betul itu tiada susah baginya, karena

anaknya itu lahir membawa tabiat si ibu. Syukur tiada seperti si bapak,

orang yang kurang beradab itu. Tadi pagi sebelum Mariamin makan,

ibunya telah menyuruh dia membawa beras dan ikan serta beberapa

butir telur kepada seorang perempuan tua yang amat miskin.

Tempatnya ada sekira-kira sepal dari rumahnya.

*) Meletakkan tikar yang tengah dianyamnya. Biasanya perempuan-perempuan di

kampung duduk bekerja, umpamanya menjahit, merenda; orang yang menganyam

tikar itu pun duduk juga. Kakinya diulurkannya ke muka, tikar yang dikerjakannya itu

diletakkannya di atas kakinya itu. Demikianlah perempuan itu bekerja. Menganyam

tikar itu suatu kerajinan pula; biasanya dibuat dari pandan. Tikar yang halus berharga

kadang-kadang sampai empat rupiah, karena amatlah perlunya bagi orang kampung.

Jamu duduk biasanya di atas tikar, akan tempat tidur pun dipakai juga.

**) Tempo dahulu sekolah rendah masuk pukul delapan.

Oleh sebab melalui jalan yang sejauh itulah, maka Mariamin jadi

lapar, sebagai katanya tadi. Pekerjaan itu, yakni mengantar-antarkan

sedekah ke rumah orang lain, tiadalah paksaan bagi Mariamin, tetapi

itulah kesukaannya. Kadang-kadang ia tegur ibunya, sebab terlampau

lama tinggal bercakap-cakap di rumah orang yang menerima

pembawaannya itu. Mariamin amat bersenang hati campur gaul dengan

orang miskin, tiadalah pernah ia memandang orang yang serupa itu

dengan hati yang jijik sebagai beribu-ribu anak orang kaya.

"Riam, Riam!" panggil seorang budak laki-laki dari bawah.

Mariamin berlari ke jendela itu, karena suara itu telah dikenalnya.

Dengan tersenyum ia berkata, "Naiklah sebentar Angkang, saya hendak

betukar baju lagi."

"Lekaslah sedikit, Riam, biarlah kunanti di sini. Ini sudah hampir

masuk sekolah, kawan-kawan sudah dahulu," jawab Aminu'ddin,

seraya ia melihat matahari yang sedang naik itu. Takutlah ia, kalaukalau

akan terlambat.

Setelah Mariamin turun, mereka itu pun berjalanlah bersamasama

menuju rumah sekolah, dengan langkah yang cepat. Budak yang dua itu

berjalan serta dengan riangnya, tiada ubahnya sebagai orang yang bersaudara

yang karib. Persahabatan siapa lagi yang lebih rapat daripada

mereka itu; bukankah mereka itu masih dekat lagi perkaumannya?

Kelakuan mereka itu pun bersamaan, yang seorang setuju dengan

kehendak seorang. Lebih karib dan rapat lagi mereka itu, sesudah

Aminu'ddin melepaskan adiknya itu daripada bahaya banjir dahulu itu.

Mariamin adalah seorang anak yang cerdik, pengiba dan suka berpikir.

Hal ini ternyata dari pertanyaan-pertanyaannya yang selalu dikemukakannya

kepada ibunya, tatkala mereka itu pada suatu ketika

duduk di hadapan rumah mereka. Barang apa yang dilihatnya selalu diperhatikannya,

dan kalau ia tak mengerti atau tiada dapat menimbang

sesuatu hal yang dilihatnya itu, ia pun bertanyakan kepada ibunya.

"Mak, apakah sebabnya kita kaya, dan ibu si Batu amat miskin?

Makanan mereka itu hanya ubi, jarang-jaranglah ibunya bertanak nasi,

kalau tiada sedekah orang. Bukankah mak sebutkan dahulu: Tuhan

pengiba; kalau begitu, mengapa mereka semiskin itu?" demikianlah

pertanyaan Mariamin kepada ibunya.

Si ibu tercengang sebentar mendengar perkataan anak itu. la tersenyum

seraya bertanya, "Dari manakah anak tahu, bahwa kita kaya?"

"Kita kaya; sawah lebar, kerbau banyak dan uang ayah pun banyak,

demikianlah kata orang saya dengar. Tiada benarkah itu, Mak?"

Budak itu memegang tangan ibunya, seraya memandang mukanya

dengan pandang yang lemah.

Ibunya memeluk dan mencium cahaya matanya itu, seraya berkata,

"Ibu tidak menidakkan pemberian Allah, nafkah kita cukup selamanya,

dan Riam lebih daripada permata yang mahal bagi ibu."

Sudah tentu si anak itu kurang mengerti akan perkataan ibunya itu.

Sebab itu ia melihat muka ibunya lagi dengan herannya.

"Anakku bertanya tadi, apa sebabnya ada orang kaya dan ada pula

orang miskin, sedang Tuhan itu menyayangi sekalian yang diadakan-

Nya. Apa sebabnya orang itu miskin, tak usah saya katakan. Akan

tetapi sebabnya, orang kaya itu kaya, ada. Ibu sudah berkata dahulu,

Tuhan itu amat menyayangi manusia iiu, bukan?"

"Ya, Mak!" sahut Mariamin.

"Bagus. Allah yang rahim amat mencintai hambanya. Oleh sebab itu

haruslah manusia itu menaruh sayang kepada sesamanya manusia.

Mereka itu harus tolong-menolong. Riam berkata tadi ibu si Batu

miskin, kita kaya. Jadi sepatutnya bagi kita menolong mereka itu, itulah

kesukaan Allah. Riam pun haruslah mengasihi urang yang papa lagi

miskin, dan rajin disuruh mak mengantarkan makanan ke rumah orang

yang serupa itu. Sudahkah mengerti Riam, apa sebabnya orang kaya itu

kaya?"

"Sudah, yakni akan menolong manusia yang miskin," sahut si anak

yang cerdik itu.

"Benar, begitulah kehendak Allah!" kata si ibu serta mencium

kening anaknya itu berulang-ulang, matanya basah oleh air mata; dalam

hatinya ia berkata, "Mudah-mudahan Allah memeliharakan anakku ini

dan memberikan hati yang pengiba bagi dia."

Ibu Mariamin lagi menunggu-nunggu suaminya datang, supaya

mereka itu makan pagi. Meskipun perutnya sudah lapar, karena pada

waktu itu telah pukul sembilan, tiadalah sampai hatinya makan lebih

dahulu. Sedang ia menanti-nanti itu, ia pun meneruskan menganyam

tikar dan karung untuk padi di sawah yang sudah masak. Tengah ia

bekerja itu, datanglah suaminya, ia tiada mengetahui kedatangan Sutan

Baringin itu, karena pikirannya tiada lepas daripada mimpinya semalam

itu. "Apakah gerangan makna mimpiku itu?" tanyanya berulang-ulang

dalam hati.

Sutan Baringin itu baru datang dari kantor pos, membawa sebuah

bungkusan kiriman orang dari Deli. Itulah sebabnya ia terlambat

datang. Kiriman itu diiringi sepucuk surat yang bunyinya demikian:

Kakanda yang tercinta!

Bahwa dengan surat ini tiadalah suatu apa yang adinda

kirimkan, hanya sekadar salam dan doa, mudah-mudahan

kakanda anak-beranak, di dalam sehat walafiat adanya.

Demikian juga umur usia kakanda barang dilanjutkan Allah

kiranya dan rezeki pun direndahkannya.

Dengan surat yang secarik ini adinda permaklumkan juga

kabar yang menyenangkan hati, yakni adinda telah mendapat

surat pindah ke Sipirok. Dalam sepuluh hari ini adinda

berangkat dari Binjai. Mudah-mudahan, kalau tiada aral

melintang adalah adinda di sini dalam sebulan ini.

Di sini kakanda terimalah dengan senang hati kiriman

adinda yang tiada dengan sepertinya, yaitu sehelai kain Batu-

Bara *).

Kabar yang lain ada baik.

Salam dan takzim waltakrim,

BAGINDA MULIA

"Bulan di muka ia datang, tiada lama lagi; tepat sesudah padi di

sawah disabit. Jadi pada waktu memangkur sawah ini, sudah tentu ia

meminta sawah bagiannya. Kerbau yang di Padang Lawas itu sudah

tentu akan diselesaikan pula. Utangku, yaitu bagiannya yang

kuhabiskan, haruslah pula kubayar, karena tiada dapat disembunyikan

lagi. Tapi siapa tahu, aku harus mencari akal." Demikianlah Sutan

Baringin berpikir-pikir, setelah surat Baginda Mulia itu dibacanya.

Kain kiriman yang mahal dan bagus itu tiada dipedulikannya lagi.

Pikiran yang buruk itulah timbul dalam hatinya; maksud yang tiada

senonoh itulah balasan hati Baginda Mulia yang baik itu. Ia

memandang Sutan Baringin saudaranya yang menaruh cinta akan dia,

akan tetapi dia dipandang Sutan Baringin sebagai orang yang

menyusah-nyusahkan dia.

Demikianlah budi Sutan Baringin terhadap kepada saudaranya yang

datang dari tanah rantau itu. Hati cemburu, loba, tamak, dengki, dan

khizit, sekaliannya itu sudah berurat berakar dalam darahnya; itulah

yang akan merusakkan diri Sutan Baringin.

Setelah mereka itu dua laki-istri selesai makan, istrinya bertanya,

sekadar akan melawan suaminya bercakap-cakap.

"Dari manakah diri tadi, sehingga kita terlambat makan?"

"Pergi ke kantor pos menerima pospaket kiriman adik kita dari

Binjai," sahut Sutan Baringin dengan ringkas.

*) Kain Batu-Bara itu berasal dari negeri Batu-Bara. Kain ini

terkenal ke mana-mana, karena tenunannya halus dan

benangnya benang sutera; raginya pun amat indah-indah.

Biasanya bertenun kain itu pekerjaan perempuan; boleh

dikatakan itulah, pencarian mereka itu di sana. Tetapi bertenun

itu amat lambat, kadang-kadang tiga minggu barulah siap

sehelai. Harganya pun mahal, sampai dua puluh rupiah.

"Adakah dia dalam selamat saja?" tanya istrinya, karena ia ingin

mengetahui hal saudaranya itu.

"Inilah dia suratnya, bacalah!" jawab suaminya, seraya ia bangun,

lalu pergi ke beranda, duduk-duduk melihat-lihat orang lalu-lintas.

Akan tetapi segala orang yang berjalan di hadapan rumahnya itu, tiada

nampak olehnya, karena kerasnya ia berpikir, betapa jalan hendak

menyembunyikan bagian saudaranya yang akan datang itu.

Bagaimanakah persaudaraan mereka itu?

Nenek mereka itu, yang laki-laki, satu, istrinya dua. Yang muda

itulah nenek perempuan Baginda Mulia. Waktu bapak Baginda Mulia

masih muda, ia pergi merantau ke Deli, karena pada zaman itu adalah

kebilangan ke mana-mana, pekerjaan amat mudah di Sumatera Timur

itu. Orang yang pandai menulis tiada susah beroleh gaji yang besar, dan

pencarian pun amat mudah. Dengan jalan berdagang, berjualan dan

lain-lain banyaklah orang menjadi kaya, karena pada waktu itu negeri

Deli negeri baru, kebun banyak dibuka dan pencarian amat banyak,

sedang anak negeri asli belum banyak yang bersekolah. Beratus orang

muda dan tua yang merantau tiap-tiap tahun ke Sumatera Timur, bukan

dari Tapanuli saja, dari Minangkabau pun banyak juga. Itulah jalannya

maka sampai sekarang amat banyak orang Batak (Tapanuli) dan orang

Minangkabau di daerah Sumatera Timur yang subur.

Merantau ke negeri orang itu tiada selamanya mendatangkan untung

yang baik, karena manusia itu tiada selamanya dapat men-capai

maksudnya; sebaliknya adalah beribu-ribu orang yang bercintakan ini,

tetapi beroleh yang lain. Demikianlah langkah bapak Baginda Mulia itu

langkah kiri, karena bahagia yang dimimpimimpikannya, tatkala ia di

tempat kelahirannya, hilang lenyap sebagai kabut dipanasi matahari

terbit. Anaknya baru seorang, istrinya pun meninggal dunia. la kembali

ke negerinya dengan anaknya yang lagi kecil itu, akan tetapi tiada

berapa tahun antaranya, ia pun mendapatkan istrinya ke dunia yang

lain. Anak piatu itu merasa dirinya kurang senang di tengah-tengah

orang kampung. Setelah ia berusia lima belas tahun, pergilah ia

merantau ke Deli. la lebih beruntung daripada bapaknya. Berkat

usahanya, dapatlah ia bekerja menjadi guru pada sebuah sekolah desa.

Kemudian ia ditempatkan pada sekolah Gubernemen. "Setinggi-tinggi

batu melambung, surutnya ke tanah juga," kata pepatah. Begitu jugalah

halnya dengan Baginda Mulia. Jemulah rasanya ia hidup di rantau

orang, rindu ke negeri sendiri makin keras, sehingga ia minta

dipindahkan ke negerinya. Syukurlah, maksudnya itu dikabulkan.

Waktu berangkat dari kampung dulu hanya dengan sehelai baju,

pulang dari rantau membawa pangkat. Dan yang didapatkan di

kampung pun ada, yakni harta pusaka peninggalan orang tuanya, lebih

baik dikatakan peninggalan neneknya.

Setelah ia menerima surat pindahan itu, ia pun berkirim surat

kepada Sutan Baringin akan menceritakan kegirangan hatinya itu. Hati

persaudaraan adalah lebih rapat padanya daripada Sutan, Baringin. la

tiada mempunyai kakak atau adik yang kandung, oleh sebab itu adalah

pada perasaannya, Sutan Baringin itu jadi kakak kandung bagi dia.

Waktu kesusahan dan kedukaan mereka itu selalu berkirim-kirim surat.

Baginda Mulia berbuat demikian karena cintanya akan saudara; Sutan

Baringin sebab muslihat.

Hal yang serupa itu acap kali terlihat di atas bumi ini. Jauhlah bertambah

kerasnya cinta dan kasih sayang itu, bila orang yang berkaum

atau bersaudara itu tinggal berjauhan, sedang tinggal bersama-sama itu

kerap mendatangkan perselisihan. Dua cabang yang sepokok, kalau

rapat bergesel juga; telur ayam yang seraga itu bergesel juga, meskipun

tiada berkakitangan.

Surat Baginda Mulia yang sekali itu ditulisnya dengan hati yang

suci. Dengan suratnya itu ia menyuruh saudaranya bergirang hati,

karena sedikit hari lagi mereka itu akan bersua.

Bukankah Sutan Baringin selalu menulis di bawah suratnya:

"Terima salam dan takzim daripada kakakmu yang rindu". Di atas ia

menulis: "Adinda yang tercinta". Perkataan itu semua amat mengeraskan

cinta Baginda Mulia kepada kakaknya. Lagi pula tiada satu dua

kali saja Sutan Baringin berkata dalam suratnya, "Ah, kalau adinda

datang mengunjungi kami, betapakah besarnya hati kami anak-beranak!

Belumkah bosan adinda di negeri orang itu?"

Sekarang tak usah lagi ia bertanya kedatangan adiknya, karena

sebulan lagi sudah ada ia di Sipirok. Adakah Sutan Baringin bergirang

hati menerima adiknya itu? Maukah ia berkata, "Bahagialah atasmu.

Tinggallah bersama-sama dengan kami. Ini bagianmu dari harta

peninggalan nenek kita. Terimalah dia dengan hati yang ikhlas!"

Semuanya itu takkan kejadian. Tengoklah bagaimana Sutan

Baringin duduk di kursinya. Mukanya asam, dahinya berkerut, alamat

ia sedang sibuk berpikir. Akan tetapi sayang seribu kali sayang, karena

suara iblis yang berbisik dalam hatinyalah yang didengarnya, sedang

pikiran yang baik tiada diindahkannya lagi.

Tatkala ia duduk-duduk itu datanglah istrinya dari belakang. Surat

itu telah dibaca oleh istrinya dan amatlah ia bersukacita, karena

kedatangan adiknya itu.

"Inikah dia kain kiriman adik kita itu?" tanyanya seraya mengembangkan

kain Batu-Bara yang masih terletak di atas meja. la

mengamat-amati raginya yang bagus dan benangnya yang halus itu.

"Ya, itulah dia!" jawab Sutan Baringin sambil mengerutkan

mukanya.

"Tentu mahal harganya kain ini. Rupanya tiadalah si Tongam*)

melupakan kita. Setiap tahun kita selalu menerima kirimannya. Tahun

ini sudah dua kali, tetapi untukku sendiri belum sebuah juga dalam

tahun ini. Kakaknya sajalah rupanya yang diingatnya, maklumlah orang

bersaudara, sedang perempuan ini orang lain saja."

Istrinya berkata demikian itu sekadar bergurau saja. Akan tetapi

Sutan Baringin tiada mengindahkan percakapan istrinya itu, karena

lainlah yang dipikirkannya. Sejurus lamanya, ia pun berkata, "Si

Tongam itu tiada dapat dipercayai. Tiadakah engkau, tahu orang yang

biasa di negeri ramai itu amat pintarnya; tetapi pintar dalam kejahatan.

Tuturnya manis seperti madu, sehingga kita tiada mengetahui anak

panah yang di dalamnya. Surat si Tongam pun selalu manis bahasanya,

tapi maksudnya amat dalam. Karena engkau seorang perempuan, tentu

tiadalah engkau tahu menduga hatinya. Perempuan mudah diperdayakan.

Akan aku, meskipun si Tongam berbuat seolah-olah hatinya baik

dan rapat kepada kita, kuketahui juga tipunya itu. Sekarang ia sudah

putus asa, karena tiada diperolehnya kekayaan yang berjuta-juta di Deli

itu. Haluannya sekarang ditukarnya, yaitu pulang ke kampung, dan ...

segala harta kita sudah tentu akan dimintanya separuh. Aku tahu benarbenar.

Tapi bolehlah dilihatnya nanti, bagaimana kesudahannya. Aku

akan bersedia, sebelum ia datang. Kalau payungku telah berkembang,

tak pedulilah aku, bagaimana sekalipun lebatnya hujan itu."

Sekalian perkataan Sutan Baringin itu amat mengherankan istrinya;

karena tiada disangkanya suaminya akan mempunyai pikiran yang

seburuk itu terhadap kepada saudaranya.

"Bersungguh-sungguhkah kakanda bercakap itu?" tanya istrinya

dengan muka yang tenang.

"Ya, memang," sahut Sutan Baringin dengan suara yang tetap dan

nyaring.

"Adakah patut kita berbuat seperti itu kepada adik kita? Kita hanya

sebatang kara, dia pun demikian. Betapakah bagusnya kalau kita hidup

dengan dia berkasih-kasihan sebagai orang yang bersaudara kandung;

apalagi ia belum jauh. Diri berkata tadi, si Tongam orang yang tiada

patut dipercayai. Sepanjang dugaanku, adalah ia orang yang berbudi;

dari suratnya tahulah kita, betapa kasihnya akan kita; bukan

perkataannya saja, tetapi dikerjakannya juga. Bukankah kita beroleh

kiriman dari dia setiap tahun? Tiadalah patut kita menaruh bimbang

dan menyangkakan ia orang yang jahat. Sekalipun ia demikian,

*) Si Tongam, nama kecil Baginda Mulia. Arti perkataan itu:

mulia (bahasa Batak). Biasanya nama pertama itu acap kali

bersamaan artinya dengan gelar.

haruslah kita lebih dahulu menegur dia. Tentang harta bagiannya sudah

tentu harus kita serahkan semuanya dengan baik dan damai kepadanya.

Janganlah kita dengar asut-asutan serta ajaran orang, yang hendak mencelakakan

kita."

Nasihat istrinya yang mulia itu tiada diterima Sutan Baringin,

karena ia telah penuh oleh pikiran yang buruk. Dengan amarah ia

berkata, "Betullah perempuan tiada berotak, gampang ditipu engkau

ini. Lebih baik kaudiam, aku lebih tahu apa yang akan aku perbuat."

Itulah jawab yang diterima istrinya yang penyabar itu; itulah

balasan nasihatnya yang dituturkan dengan perkataan yang lemahlembut

itu. Hal yang serupa itu tiada jarang. Berapa kali sudah istrinya

yang setia itu menerima hardik dan dengking daripada suaminya, akan

ganti terima kasih. Akan tetapi ia selalu sabar. Tiadalah ia pernah menunjukkan

muka yang asam, melainkan semuanya itu ditahannya dalam

hatinya. Tetapi bila ia duduk seorang diri saja, tiadalah teduh air matanya

bercucuran, karena terkenang akan nasib perkawinannya yang

celaka itu.

"Diri, perhatikan juga hendaknya perkataan adinda itu, karena sesal

kemudian tak berguna," ujar istrinya dengan suara yang lembut, supaya

suaminya itu jangan bertambah marah kepadanya.

Tutur yang lemah-lembut itu tiada berguna lagi. Bukanlah dia akan

melembutkan hati Sutan Baringin, tetapi menerbitkan nafsu marah saja.

Dengan suafa yang merengus dan keras ia berkata, "Diamlah engkau,

apakah gunanya engkau berkata-kata itu?"

Kemudian ia pun turunlah, hendak pergi mendapatkan sahabatnya

Marah Sait, yang telah kenamaan karena pandainya berkatakata,

apalagi bersoal-jawab, karena ia seorang pokrol bambu.

Sambil mengeluh karena putus asa, ibu Mariamin merebahkan

dirinya ke atas sebuah kursi, duduk bertongkat ruas. Matanya memandang

kepada suaminya. Tiada berapa lama lenyaplah ia dari

pemandangan istrinya itu.

Sementara itu matahari sudah rembang, segala makhluk dan tanamtanaman

beriang hati, karena bumi itu penuh dengan sinar yang amat

bagus itu. Akan tetapi tiadalah diindahkan oleh perempuan itu cahaya

matahari yang menyinari kalbunya. Di atas kepalanya langit dipenuhi

awan yang hitam, alamat kedukaan, sedang lubang yang di hadapannya

makin dalam adanya.

"Hidupku ini penuh dengan percintaan," katanya mengeluh, seraya

berdiri meninggalkan beranda muka itu.

Ia pergi ke dapur, karena matahari sudah di pertengahan langit,

yakni waktu hendak menyediakan makanan tengah hari. Dengan lekaslekas

ia pun menghidupkan api di dapur, dengan maksud akan menghilangkan

hatinya yang susah itu, karena tahulah ia kalau orang

bekerja, lebih kurang dirasanya pikiran yang mendesak di hati daripada

ia duduk diam saja. Akan tetapi sekali ini tiadalah dapat ia melupakan

adat suaminya yang kasar itu, dan mimpinya yang semalam itu pun

selalu terasa-rasa dalam hatinya.

Setelah pekerjaannya di dapur itu selesai dan makanan sudah

tersedia semuanya, kedengaranlah suara tabuh, menandakan waktu

lohor sudah datang. Suara orang azan pun memperingatkan hamba

Allah, supaya mereka menunaikan kewajibannya. Ibu Mariamin mengambil

air sembahyang. Dengan sepenuh-penuh hati ia menyembah

Allah yang akbar itu dan bermohon supaya Ia mengampuni dosa dan

kesalahannya. Sesudah sembahyang, pergilah ia ke beranda muka

menantikan kedatangan Mariamin dari sekolah. Jalan besar makin

ramai, karena murid-murid sekolah makin banyak yang pulang, ada

yang berlari-lari, ada yang berkejar-kejaran, ada pula yang berguraugurau

sepanjang jalan, masing-masing dengan kesukaannya.

"Tertawa dan beriang hatilah kamu, hai anak-anak yang berbahagia!

Waktu masih anak-anak itulah hidupmu yang sesenangsenangnya, pada

hari tuamu kegirangan itu amat jarang, karena makin banyak

penanggungan!" kata ibu Mariamin dalam hatinya. Dari jauh Mariamin

telah melihat ibunya. Maka ia pun berlari-lari mendapatkan rumah

mereka itu. Aminu'ddin menurut perlahan-lahan dari belakang, karena

malulah ia berlari sebab melihat ibu Mariamin itu.

"Di manakah ayah? Aku sudah lapar!" kata Mariamin, seraya memegang

tangan ibunya. Ia melompat seraya mendakap leher ibunya.

Maka mulutnya dirapatkannya ke muka ibunya, dan bibir yang halus

dan tipis itu pun mencium pipi ibunya. Barulah sekarang si ibu lupa

akan susahnya itu, karena matahari kesukaannya, telah menyinari hatinya

yang gundah gulana itu.

"Di manakah ayah?" tanya Mariamin pula.

"Mak tiada tahu, makanlah anakku dahulu!" sahut ibunya.

Mariamin pun makanlah. Tiadalah dilihatnya muka ibunya berubah,

karena menanggung gundah dari semalam sampai hari itu.

Di manakah Sutan Baringin? Ia masih sibuk lagi bercakap-cakap

dengan sahabatnya Marah Sait. Dengarlah percakapan mereka itu!

Setelah Sutan Baringin menceritakan akan kedatangan Baginda

Mulia dan maksudnya itu sekaliannya, maka ia pun bertanyakan ikhtiar

yang akan diperbuatnya.

"Itu mudah," jawab Marah Sait serta tersenyum-senyum. "Bukankah

sudah lebih dua puluh tahun ia di rantau? Kalau ia nanti datang, katakan

saja ia bukan bersaudara dengan engkau. Ringkasnya kamu berdua

tiada waris-mewarisi. Meskipun di muka pengadilan engkau haruslah

tetap mengatakan yang demikian itu. Apakah nanti perkataannya

kepada hakim, suatu pun tiada keterangannya, bahwa ia ada mewarisi

nenekmu itu."

"Kalau ia nanti mendapat orang yang akan jadi saksinya, bahwa ia

waris dari nenekku, apakah nanti yang akan kuperbuat?" tanya Sutan

Baringin.

"Itu tiada mengapa; asal kita cari dahulu saksi kita yang memberi

pengakuan, bahwa mereka itu tiada mengenal Baginda Mulia, dan dia

itu tiada apa-apa dengan engkau," sahut pokrol bambu yang pandai itu.

"Dapatkah kita beroleh saksi serupa itu? Tapi ingat, mereka itu

harus menahan sumpah," kata Sutan Baringin.

"Bersumpah? Apalah susahnya itu. Takutkah engkau dimakan

sumpah? Akulah yang akan mencari orang itu sampai dapat asal

engkau menyediakan ini ...." Ia berkata itu sambil mempergesekkan

telunjuk dengan ibu jarinya yang maksudnya menyediakan uang.

"Pasal itu jangan takut, seratus dua ratus boleh kubagi sekarang,"

ujar Sutan Baringin dengan gembiranya. Demikianlah bodohnya itu;

perkataan yang tiada beralasan, yang tersembur saja dari mulut seorang

pokrol bambu, dipercayainya semua. Berapakah bagusnya kalau ia

mengerti akan maksud orang yang hendak mengambil uangnya itu

dengan tiada mempedulikan bahaya yang akan menimpa dirinya?

Kasihan, sebab dia menurut gerak lidah pokrol yang jahat itu!

Kasihan, karena dia sendiri menggali lubang bagimu! Kasihan, sebab

mereka yang tiada bersalah, terperosok juga kelak ke dalamnya!

Percakapan Sutan Baringin yang lain dari itu dengan sahabatnya

Marah Sait, tiadalah guna dituliskan di sini supaya cerita ini jangan

membosankan, karena semua perkataan pokrol yang pintar itu hanya

yang tiada mungkin dan yang bukan-bukan saja. Tetapi sebab

pandainya berkata-kata serta dengan petah lidahnya, dapatlah ia

memperbodoh-bodohkan sahabatnya itu. Waktu Sutan Baringin hendak

pergi, ia memasukkan uang kertas ke tempat rokok Marah Sait. Berapa

banyaknya, tiadalah diketahui, hanya Sutan Baringin terdengar berkata,

"Lepas dua tiga hari ini kita pergi ke Padang Lawas akan menjual

kerbau barang lima enam ekor."

"Kalau tiada alangan yang menghambat, baiklah," jawab orang itu

dengan girangnya. Mukanya berseri-seri, karena tahulah ia waktu itulah

dapat menohok kawan seiring dan menggunting dalam lipatan.

"Kerbau enarn ekor, tiada sedikit uangnya, sekurang-kurangnya

empat-lima ratus rupiah," katanya dalam hatinya, sambil tersenyumsenyurn

melihat Sutan Baringin yang berjalan turun rumahnya.

Habis hari berganti minggu, habis minggu berganti bulan, habis

bulan berganti tahun. Demikianlah berturut-turut sehingga lima tahun.

Umur manusia itu pun demikian juga makin lama makin panjang, dan

hari matinya pun makin dekat, meskipun seratus tahun sekalipun ia

hidup di dunia ini. Mati itulah suatu "pekerjaan" jaan" banyak orang

mengatakan "hal" yang harus kita lakukan. Segala yang hidup

bernapas, makan dan akhirnya mati. Ketiga perkara itu harus kita

lakukan, oleh sebab kita hidup, dan itulah tandanya suatu benda yang

hidup. Manusia itu harus bernapas dan makan, oleh sebab itu harus

pulalah ia mati. Akan tetapi beratus beribulah manusia pada zaman ini

yang takut meninggalkan dunia ini. Sungguh heran, apakah gunanya

ditakuti, karena yang mesti terjadi tak dapat tiada kejadian? Apalah

gunanya bersusah hati, kalau matahari itu tenggelam ke sebelah barat,

karena tahu jugalah kita, besok hari dia terbit pula di timur?"

Lima tahun genaplah sudah waktunya yang telah lewat; sejak

daripada percakapan Sutan Baringin dengan Marah Sait. Apa yang

sudah dikerjakan itu tentu tinggal begitu, tidak dapat lagi diulangulang,

sebab sudah lewat, lewat dan lalu sebagai hari dan tahun yang

silih berganti. Hari semalam itu tak guna ditunggukan lagi, karena telah

lalu hari besok dapat disongsong. Demikian juga perbuatan kita. Apa

yang telah kita perbuat, buruk atau baik, tak dapat diulangi lagi.

Perbuatan yang baik menyenangkan hati. Kesenangan itu tiada hilang,

meskipun bagaimana lamanya; kalau kita ingat terasa pula di hati kita.

Perbuatan yang jahat mendatangkan sesal, karena tiada pernah lepas

dari pikiran kita, sungguhpuu telah bertahun-tahun. Tetapi apalagi akan

dibuat, yang sudah tinggal sudah, dan sesal kemudian tak berguna.

Oleh sebab itu sudah seharusnya tiap-tiap kita selalu berhati-hati

melakukan pekerjaan waktu kita hidup di dunia ini. Di dalam hadis ada

tersebut: "Rajin-rajinlah bekerja, bagaikan engkau akan hidup selamalamanya,

tetapi kuat-kuatlah berbuat ibadat, bagaikan esok ajalmu akan

sampai."

Cukuplah sudah lima tahun, sejak Sutan Baringin menghardik istrinya

akan balas nasihat yang diterimanya. Apakah hasilnya sekarang?

Sesal yang tiada berkeputusan sampai hari ini matinya.

Bagaimana keadaannya sekarang?

Setelah Baginda Mulia datang dari Deli, tiadalah pernah Sutan

Baringin melawan dia bercakap, menyapa dengan sepatah kata pun

tidak. Betapa herannya Baginda Mulia, tak usah dikatakan lagi; tiadalah

mengerti ia akan sebabnya itu. Akan tetapi di belakang hari barulah

diketahui maksud saudaranya yang pura-pura baik hati itu. Karena

Baginda Mulia seorang yang tenang dan penyabar, tak sukalah ia

menurut nafsu marah dan asutan orang luaran. Ia mengumpulkan kaum

keluarga mereka itu akan memberi nasihat kepada Sutan Baringin dan

memperdamaikan mereka itu. Di antara kaum keluarganya itu bapak

Aminu'ddinlah yang tertua dan ialah yang lebih berkuasa mendamaikan

perselisihan itu. Lagi pun ia seorang kepala kampung, lebih berderajat,

tentu perkataannya lebih dihargai orang.

Sutan Baringin orang yang telah rusak binasa budinya dari kecilnya,

tiada mempunyai hati yang baik, sedikit pun tidak. Loba dan tamak,

dengki dan khianat, itu sajalah yang memenuhi pikirannya. Herankah

lagi kita, kalau segala jerih payah bapak Aminu'ddin itu sia-sia belaka?

Sutan Baringin tinggal bersitegang urat leher saja, perkataan siapa pun

tiada diindahkannya, lain daripada asutan-asutan pokrol bambu yang

cerdik itu.

Setelah dilihat Baginda Mulia saudaranya itu tiada terpujuk oleh

kaum-kaum mereka lagi, maka ia pun memikirkan jalan yang lain akan

menawari hati Sutan Baringin. Pada suatu malam sedang waktu amat

dingin karena hujan datang rintik-rintik, pergilah Baginda Mulia ke

rumah kakaknya itu. "Untung baik," pikirnya, "karena seorang pun

tiada kawan dia di sini." Adapun maksudnya datang itu hendak melawan

Sutan Baringin bermupakat.

Dengan taklimnya ia duduk bersila di hadapan kakaknya itu, tiadalah

ditunggunya Sutan Baringin menegur dia dengan sepatah kata.

Dengan suara yang lemah-lembut serta perlahan-lahan, ia pun berkata,

"Adapun maksud adinda ini datang berjumpa dengan kakanda, yakni

hendak menyerahkan badan diri adinda. Kakandalah yang menjadi ibu

dan bapak bagi adinda yang sebatang kara ini. Kalau sekiranya ada

kesalahan adinda, atau disebabkan adinda kurang hormat dan kurang

bahasa kepada kakanda, besarlah harapan adinda, kakanda akan mengampuni

kesalahan adinda itu semuanya. Tentang pusaka mendiang

nenek kita tiadalah berapa adinda pikirkan, hanya adinda mengharap

dapat bagian barang sedikit, sebagai tanda persaudaraan kita. Sekalikali

tiadalah niat dan maksud adinda berperkara, sebagai asutan orang.

Tentang banyaknya bagian adinda kakandalah yang maklum akan dia,

bukanlah adinda minta seperdua. O, sekali-kali tidak, karena adinda

pun maklum juga, kakandalah yang sulung. Apalah gunanya kita

berselisih karena harta peninggalan nenek kita. Bukankah kebaikan

antara orang bersaudara itu lebih berharga daripada emas dan perak?

Itu pun haraplah adinda ini akan kemurahan kakanda, eloklah kita

berdamai, supaya semangat mendiang nenek kita jangan gusar atas

perbuatan kita itu."

Setelah itu maka ia pun diam menantikan jawab Sutan Baringin.

Matanya tiada lepas dari muka saudaranya itu. Sutan Baringin duduk

termenung, tiada berkata-kata. Entah disebabkan ia terkejut akan

kedatangan adiknya itu, atau karena kekuatan perkataan Baginda Mulia

itu. Maka tiada berapa lama antaranya, ia pun berkata, "Aku sudah

mengerti tajamnya akalmu. Orang sedunia ini kaukumpulkan,

kemudian engkau sendiri datang ke mari, akan tetapi aku takkan

percaya akan orang yang bermulut manis."

Demikianlah dijawabnya akan perkataan saudaranya yang ke luar

dari hati yang ikhlas itu. Akan tetapi apa boleh buat, siapa yang telah

dimasuki setan itu tentu membenci kebaikan.

"Sampai hatikah kakanda menolak permintaan adinda itu? Lebih

sukakah kakanda akan orang daripada kaum sedarah kakanda?" sahut

Baginda Mulia yang putus asa itu.

"Diam, tak kukenal kau, engkau datang ke sini sebagai pencuri

tengah malam, ayoh, nyah!" kata Sutan Baringin dengan suara kasar.

"Sarung yang bengkok dimakan pisau," sahut Baginda Mulia,

sambil berdiri meninggalkan tempat itu.

Setelah lewat sebulan, sampailah perkara itu ke tangan pengadilan

di Padangsidempuan, ibu negeri Pengadilan Angkola dengan Sipirok.

Pada masa itu Asisten-Residenlah yang menjadi kepala pengadilan itu.

Hal itu acap kali kelihatan di negeri yang sunyi: jabatan pengadilan

biasa ditempelkan kepada pegawai pemerintah. Hal itu tentu kuranglah

baiknya. Syukurlah pada waktu ini sudah banyak yang diubah, dan

pemerintahan serta jalan-jalan keadilan pun tentu jauh lebih baik.

Pada hari yang ditentukan dibukalah perkara Sutan Baringin dan

Baginda Mulia itu. Amatlah banyaknya orang yang datang hendak

menyaksikan, dan pokrol bambu pun datanglah dari segenap pihak.

Adalah hal itu sebagai kebiasaan penduduk orang Sipirok. Mungkin di

negeri-negeri lain begitu juga halnya. Bila tiada pekerjaannya yang

perlu, umpamanya habis menyabit padi, datanglah mereka itu berkumpul-

kumpul sekeliling pesanggrahan Sipirok*). Di situlah mereka

mendengar bagaimana kesudahan perkara-perkara orang yang

bermacam-macam. Pokrol-pokrol bambu mendengarkan orang bersoaljawab

itu tentu dengan maksud belajar, supaya tahu ia nanti akan putarputar

bicara. Perkara Sutan Baringin itu telah kebilangan ke manamana,

oleh sebab itu amatlah banyaknya orang menonton.

Sebagaimana kebiasaan, setelah orang yang beperkara sudah naik,

maka Asisten-Residen yang menjadi kepala pengadilan itu, memberi

*) Pesanggrahan di Sipirok, yakni gedung besar, kebiasaan

tempat orang-orang Belanda bermalam, karena di sana tiada

hotel seperti di negeri ramai, Pesanggrahan yang di Sipirok itu

dipergunakan juga sebagian tempat persidangan, karena kantor

pengadilan tak ada.

nasihat kepada kedua mereka itu, Sutan Baringin dengan Baginda

Mulia, supaya mereka itu suka berdamai.

"Tiadakah ada familimu yang menyelesaikan perselisihan ini?

Bukankah lebih baik kamu berdamai saja? Berapa besarnya kerugianmu,

kalau perkara diperiksa oleh hakim? Ongkos rapat, uang

borong pasti dibayar, mana lagi waktu kamu yang terbuang;

perseteruan makin dalam pula di antara kamu yang bersaudara."

Begitulah ujar kepala Pengadilan itu, tetapi tiadalah Sutan Baringin

suka berdamai dengan Baginda Mulia. Jawabnya ringkas saja, "Orang

ini tiada apa-apa kepada saya, Tuan."

"Kalau demikian, kamu jangan menyesal, rapat tentu melakukan

keadilan, karena itulah kewajibannya. Dan ingat-ingatlah, orang yang

beperkara itu amat susah: yang menang menjadi bara, yang kalah

menjadi abu. Sekarang pemeriksaan dimulai," kata Kepala Pengadilan.

Yang busuk itu ketahuan juga. Sarung yang bengkok itu dimakan

mata pisau, kata peribahasa orang tua-tua. Begitu juga halnya dengan

perkara ini. Setelah tiga hari lamanya memeriksa perkara itu,

keputusannya dibaca oleh garipir.

"Sebab sudah terang, Baginda Mulia saudara Sutan Baringin, yakni

saudara senenek, maka rapat memutuskan Baginda Mulia menerima

separuh daripada harta pusaka neneknya itu. Ongkos rapat dan uang

borong harus dibayar oleh Sutan Baringin."

Keputusan sudah terjadi, kebenaran telah ke luar, yang bengkok

sudah nyata, akan tetapi Sutan Baringin mendengar petuah pokrolnya

lagi. la pun minta banding lagi ke Pengadilan Tinggi di Padang. Berapa

ratus kerugian yang sudah-sudah tidak dipedulikannya. Pokrol bambu

pun telah menerima bagiannya, mana lagi upah saksi palsu. "Akan

tetapi tidak mengapa, asal menang juga kesudahannya. Bukankah di

Padang pengadilan yang sebenarnya, di sana diperiksa sekalian perkara

dengan teliti dan tenang," begitulah perkataan Marah Sait, yang

mencelakakan Sutan Baringin yang bodoh itu.

Hati masih panas, bujukan Marah Sait amat manis. Pendek kisah

Sutan Baringin minta banding lagi. Akan tetapi sekali ini haruslah

mereka bersungguh-sungguh, yakni mereka itu berdua akan pergi

sendiri ke Padang, supaya dapat menghadiri persidangan itu. Boleh jadi

ia beroleh pengacara yang pandai di sana. Akan belanja dalam

perjalanan yang sejauh itu sudah tentu berguna uang beratus-ratus pula,

ya beribu-ribu lagi, asal ada, sudah tentu pokrol harus diberi upah yang

cukup, di jalan pun naik kereta saja.

Waktu itu perjalanan ke Padang jauh lebih susah daripada sekarang.

Jadi sudah tentu ongkos pun jauh lebih banyak.

Itu semua tiada dipikirkan Sutan Baringin; ya, kerbau di Padang

Lawas masih banyak. Sekarang haruslah sekaliannya itu dijual, supaya

ada penutup ongkos-ongkos perkara dan perjalanan.

Belanja di jalan, belanja di Padang, ongkos surat-menyurat, untuk

ini itu lagi, semuanya mengosongkan kantung Sutan Baringin. Belanja

pulang pun hampir tiada lagi, sedang yang dimaksud tiada dapat.

Adakah manusia itu dapat membuat yang bengkok itu menjadi lurus,

sungguhpun bagaimana kuatnya uang itu?

Ibu Mariamin yang duduk di rumah dengan masygulnya, ber oleh

surat kawat, supaya ia menjual sawah lima piring dan uangnya harus

dikirimkan dengan segera, supaya ada belanja pulang. Perempuan yang

setia dan penyabar itu pun berbuat sebagai perintah suaminya itu.

Betapa kedatangan Sutan Baringin kembali ke Sipirok, tak usahlah diceritakan

lagi.

Dari Padang ia membuat rekes lagi ke Jakarta kepada Pengadilan

Tertinggi di sana. "Semua ikhtiar haruslah kita perbuat, supaya kita

jangan menyesal di belakang hari," kata pokrol yang cerdik itu. Akan

tetapi ia berkata demikian itu akan mencari untung yang lebih banyak

lagi; membuat rekes tentu mendatangkan upah baginya. Dan Sutan

Baringin masih ada harapan lagi, sebagai orang yang berpenyakit

sering menaruh harapan akan kesehatan, bila ia mendengar orang menceritakan

kernujaraban suatu obat.

Ya, barulah tahu ia sekarang kebenaran perkataan istrinya yang baik

hati itu, kebenaran nasihat kaumnya, kebetulan nasihat Kepala

Pengadilan Sipirok. Akan tetapi sudahlah janjinya, bahwa yang kalah

itu harus menjadi abu. Sekarang tiadalah terhingga sesalnya, karena ia

menolak permintaan saudaranya dan mengusir dia pada malam itu.

Tetapi apalah gunanya sesalnya itu, karena sudah terjadi.

Sekarang pulanglah ia ke kampung seorang diri, membawa malu,

kehinaan, mendukung kemiskinan dan kemelaratan, karena harta telah

habis musnah dalam waktu yang sekian pendek itu.

Memang seorang diri, karena Marah Sait telah mengambil jalan

yang lain, akan menyisihkan Sutan Baringin. Ya, apakah yang dipedulikannya

lagi; habis manis sepah terbuang, bukan?

Kini baiklah kita melayangkan pemandangan dahulu ke rumah

Sutan Baringin di Sipirok, supaya dapat melihat hal si ibu anakberanak

sebelum si bapak kembali.

Dengan hati yang gundah gulana si ibu menantikan suaminya

pulang kembali. Malu, kemiskinan, kemelaratan tiada jauh lagi pada

pemandangannya. Malu melihat orang banyak; miskin karena keadaan

telah licin tandas, ada yang tinggal, harus dibagikan kepada Baginda

Mulia; melarat, karena perbuatan suaminya itu. Akan tetapi apa boleh

buat, semuanya itu harus ditanggung ibu yang malang itu dengan sabar

juga; kepada siapakah akan dikeluhkan, kalau tangan kanan melukai

tangan kiri?

Demikianlah ia berpikir-pikir pada suatu petang, ketika matahari

hampir terbenam. Tatkala itu ia duduk di kebun, yang di belakang

rumah mereka, sedang anaknya yang laki-laki bermain di tempat itu.

Mariamin yang berumur dua belas tahun itu lagi mengerjakan

pelajarannya, yang dibawanya dari sekolah.

Tengah ibu Mariamin duduk berangan-angan itu, nampaklah

olehnya anak itu mengejar seekor kupu-kupu. Kupu-kupu itu hinggap

pada sekuntum bunga melati. Anaknya itu mengambil sepotong kayu

akan memukul binatang itu, karena amat inginnya hendak beroleh dia.

Akan tetapi dengan sebentar itu juga ibu itu berlari, lalu menangkap

tangan anaknya itu.

"Jangan dibunuh binatang itu, Buyung!" katanya, sambil merneluk

dan memangku budak itu, lalu dibawanya ke tempat duduknya.

Anak itu menangis, seraya katanya, "Bukan, Mak, saya hendak

menangkap kupu-kupu itu saja. Tengoklah, Mak, betapa elok sayapnya

itu, berkilat kena sinar matahari. Tangkaplah, Mak! Saya ingin hendak

memegang binatang itu."

"O, jangan!" sahut ibunya, "anakku tiada boleh menyakiti binatang."

"Bukan saya hendak menyakiti, hanya hendak memegang saja."

"Ya, Anakku, akan tetapi kalau engkau memegang sayapnya yang

halus itu, tentu dia koyak. Dan binatang itu merasa sakit. Ah, jangan,

Buyung; ia hidup di dunia hanya sehari saja."

"Kalau saya pegang sayapnya itu, ia merasa sakit, Mak? Adakah

kupu-kupu itu mempunyai perasaan, seperti kita?"

"Ya, tentu. Tengoklah betapa riangnya binatang itu hinggap di atas

bunga itu. Ia diayun-ayunkan angin yang lemah-lembut itu. Kalau ibu

membuai-buaikan engkau, tentu hati anakku girang, bukan?"

Budak yang kecil itu berdiri mengamat-amati kupu-kupu itu. Ibunya

berdiri juga dekat pohon bunga melati itu, tangan anaknya itu dipegangnya.

Sejurus panjang lamanya budak itu pun bertanya, "Kalau

demikian ada juga perasaan binatang itu, ya, Mak?"

"Ya, tentu dia merasa sakit dan senang sebagai kita juga."

"Perasaan saya ada juga, Mak?"

"Ya."

"Di manakah tempatnya?"

"Pada seluruh badanmu, dan di dalam hati. Tengok, kalau kau jatuh,

engkau menangis, sebab kakimu sakit. Kalau hujan datang, anakku

kedinginan. Jadi perasaan itu ada pada seluruh badan kita."

"Dalam hati ada juga, Mak?"

"Ya, Nak. Kalau Riam mengganggu engkau, engkau menangis.

Sebab hati anakku sakit. Hati bunda pun sakit juga, kalau anakku nakal.

Kalau anak manis, mak riang, karena hati mak senang melihatnya."

Budak itu mendekap ibunya, seraya berkata, "Ibu, jangan, saya tidak

mau nakal."

Si ibu memeluk anaknya itu lalu diciumnya berulang-ulang, air

matanya jatuh berlinang-linang, karena perkataan anaknya itu.

Kupu-kupu itu mengembangkan sayapnya yang permai itu, lalu

terbang mencari makanannya.

"Selamat jalan, hai kupu-kupu yang riang! Engkau hidup sebentar di

dunia, akan tetapi suatu pun tak ada yang kaususahkan. Berbahagialah

orang yang serupa engkau," kata ibu yang baik hati itu, sambil

menurutkan dengan matanya kupu-kupu itu terbang, sehingga lenyap

dari pemandangannya.

"Mak! Bunga melati yang kembang itu halus juga. Adakah juga ia

mempunyai perasaan?" tanya budak itu.

Si ibu tiada menjawab pertanyaan anaknya itu: barangkali tiada

didengarnya, karena pada sekejap itu juga Mariamin datang berlari-lari

mendapat mereka. Dari jauh ia telah berseru dengan riangnya, "Apa

pekerjaan mak di sini?"

Setelah ia dekat, lalu berkata pula, "Sukakah ibu mendengar syair?

Saya membawa Suluh Pelajar, yang kupinjam dari Engku Guru."

Si ibu pun duduklah di atas bangku, Mariamin membuka Suluh

Pelajar itu lalu dibacanya syair yang di dalam itu. Meskipun perkataan

dan kalimatnya terlampau tinggi bagi dia, akan tetapi dirasainya juga

akan kenikmatan syair itu.

Beginilah bunyi syair itu:

Apabila bunda membuaikan kita,

Berapa banyak nyanyi dan kata:

"Besarlah buyung intan permata,

Buah hati permainan mata.

Buah hati pengarang jantung,

Tempat bunda mengatakan untung,

Dunia akhirat tempat bergantung,

Harapan bunda janganlah buntung.

Ya Allah, Tuhan sernesta!

Anak 'ku junjung bagai makota,

Akan pakaian permainan mata,

Pengganti gelang cincin permata.

Anakku kandung emas dan urai,

Biarlah sama terjun di ngarai,

Habis daging, tulang berkirai,

Tandanya bunda enggan bercerai.

Bunda tak suka cerai dan genggang,

Biar ke laut ke gunung kerang,

Meskipun dalam tohok dan perang,

Penghabisan kasih anakku seorang.

Jerat semata oleh bunda kandung,

Waktu panas tempat berlindung,

Waktu hujan keganti tudung,

Harapan bunda janganlah kudung.

Putus ... tak ada akan penghubung,

Ke langit rasanya bunda membubung,

Bak rumah tiris tidak berabung.

Bagaikan padi tak berlumbung.

Habislah bulan tahun berganti,

Besarnya anak dinanti-nanti,

Perintah bunda anak turuti,

Dari sekarang sampai 'ku mati.

Besarlah anak bundaku julang,

Anak mencari apa yang hilang,

Pada masa kurang tempat menyelang,

Yang jauh ia akan menjelang.

Haraplah bunda anaknda ingat,

Apa yang di dada bunda tersurat,

Biarpun tuan di dunia melarat,

Asal selamat dalam akhirat."

Pada waktu itu matahari yang menerangi alam itu pun sudahlah

masuk ke balik Sibualbuali; rupanya telah payah, sedang makhluk yang

mendiami bumi itu pun telah bercintakan hari malam, supaya ia

berhenti melepaskan lelahnya. Angin gunung yang lemah dan sejuk

pun bertiuplah membawa udara yang harum dan wangi serta dengan

segarnya.

Sejurus panjang lamanya si ibu itu terdiam, karena hatinya terkena

oleh bunyi syair yang dibacakan anak itu. Sayu dan rayu perasaannya

mendengar suara anaknya itu dan dalam hatinya ia berkata,

"Demikianlah harapan ibu, akan tetapi anakku ini sudah tentu melarat

di belakang hari, meskipun mereka itu tiada bersalah. Ya, Allah, ya,

Tuhanku, janganlah balas dosa orang tuanya kepada umat-Mu yang

tiada bersalah ini."

Tabuh magrib berbunyilah di mesjid besar, si ibu dengan anaknya

itu pun naiklah ke rumah, karena sudah mulai gelap.

Kota Sipirok suatu pun tiada perubahan, akan tetapi dalam rumah

tangga Sutan Baringin sebagai siang dengan malam pertukarannya.

Di manakah rumahnya, karena rumahnya yang dahulu itu telah

didiami orang lain?

Itulah rumahnya, yaitu rumah bambu yang di pinggir sungai itu.

Suatu perubahan yang tak mungkin rupanya, karena seminggu yang

lalu mereka itu masih diam di rumah yang besar serta dengan

bagusnya. Itu memang benar. Karena baru Sutan Baringin pulang dari

Padang, segala hartanya yang tinggal sudah terserah kepada yang

berhak. Rumah dan barang-barang sudah terjual akan pembayar utang.

Sekarang terpaksalah mereka itu anak-beranak membawa periuk,

piring dua tiga buah, ke rumah kecil yang di tepi sungai itu. Sungguh

amat kasihan. Dahulu tinggal di gedung besar, sekarang dalam pondok

kecil dan bambu. Perkakas dan perhiasan rumah yang dahulu itu telah

hilang, hanya yang buruk-buruk sajalah yang tinggal.

Sekarang baiklah kita masuk ke dalam pondok kecil itu, akan

mempersaksikan pertukaran yang amat besar itu.

Seorang laki-laki tidur di atas sebuah tikar pandan. Bantal

pengalang kepalanya hanya sebuah serta dengan kotornya, dan

selimutnya pun telah koyak-koyak karena tuanya. Lihatlah bagaimana

kurus dan pucatnya orang yang tidur itu. Sudah tentu dia itu orang

sakit. Matanya ditutupnya, akan tetapi ia tiada tertidur. Dadanya turun

naik, karena napasnya yang kencang itu, alamat orang itu sakit panas.

Peluhnya mengalir di mukanya; sebentarsebentar dihapus seorang

perempuan yang duduk dekat kepala si sakit, dengan sehelai sapu

tangan. Dengan suara yang mengeluh si sakit meminta air akan

memuaskan dahaganya.

"Diri kehausan, baiklah diri meminum obat ini, karena dia itu pun

dingin juga. Kalau kakanda meminum air banyak-banyak, tentu tiada

baik, karena badan kakanda masih hangat," sahut perempuan itu

dengan suara yang lemah-lembut.

"Tak usah adinda lagi membagi kakanda obat, kakanda sudah jemu

di dunia ini. Lagi pula penyakitku tak akan baik lagi. Baiklah adinda

menyenangkan hatiku," kata orang sakit itu perlahan-lahan.

Perempuan itu tiada menjawab, hanya air matanya yang menitik ke

atas bantal orang sakit. "Benarlah rupanya aku ini orang yang malang;

kalau suamiku ini meninggal, apatah jadinya nasib kami anakberanak?"

pikir perempuan itu dalam hatinya. Ia pun termenungmenung,

tiada memandang ke kiri dan ke kanan. Matanya melihat ke

arah dinding saja, akan tetapi suatu pun tak ada yang tampak olehnya,

karena mata hatinya meninjau ke muka, ke tempat yang jauh, yakni

halnya yang akan datang. Adalah ia melihat jalan kehidupannya makin

lama makin sempit dan berbatu-batu pula. Sekarang temannya dalam

perjalanan itu akan meninggalkan dia. Wah, betapakah jadinya dia

anak-beranak, sedang tempat mengadu pun tiada lagi?

Sambil berpikir-pikir demikian itu, tiadalah diketahuinya air

matanya jatuh bertitik-titik, sebagai air mayang enau baru dipancung.

Orang sakit itu membuka matanya, kesal serta sedih rasa hatinya,

karena tahulah ia yang disusahkan istrinya itu. Melihat muka yang

muram serta air mata yang berlinang-linang itu, hancurlah hati laki-laki

yang keras kepala itu. Ia segan akan berkata. Matanya dipejamkannya

kembali serta ia mengenangkan perbuatannya yang sudah-sudah itu.

Siapakah yang sakit itu, tak lain daripada Sutan Baringin, dan

perempuan yang menjaganya ialah istrinya. Baru ia datang dari

perjalanan dan sesudah harta bendanya jatuh ke tangan orang, ia pun

jatuh sakit. Penyakitnya itu bertambah-tambah, meskipun istrinya,

sudah bersungguh-sungguh mencarikan obat ke sana-sini. Asal mula

penyakit Sutan Baringin itu mungkin karena dukacita yang sudah

terlampau, sebagai katanya tadi, lebih sukalah ia mati daripada hidup

menanggung malu dan kemelaratan yang besar itu. Sungguhpun obat

diminumnya juga, akan tetapi tak adalah ia mengharap akan baik

kembali. Ya, benarlah yang demikian itu, ia pun telah merasa ajalnya

sudah dekat.

Sutan Baringin, amatlah sengsaranya! Dia seorang bangsawan dan

hartawan, sekarang menjadi hina dan dina di mata orang. Semenjak

dari kecil sampai besar hidup dalam kesenangan dan kekayaan,

sekarang waktu akan mengembuskan napas yang penghabisan dalam

azab dan sengsara. Sungguhlah hidupnya yang penghabisan itu penuh

dengan kemelaratan!

Akan tetapi kepada siapakah akan disesalkan, karena sekaliannya

itu kesalahannya sendiri. Pujuk dan rayu, dibuangnya ke belakang saja,

tegur dan nasihat tak dipedulikannya. Di antara kaum keluarganya jauh

dan dekat, seorang pun tiada yang bersalah. Ya, cuma seorang sajalah

tempat dia menyesal, yakni ibunya, yang mendidik jadi anak manja.

Kalau sekiranya ia tiada memanjakan semasa hari mudanya, barangkali

dia tiada semelarat itu, tetapi ya, sudah telanjur. Besarlah tanggungan

ibu dan bapak, kalau anak yang diserahkan Tuhan itu kepada mereka

binasa budi pekertinya.

"Nuria," seru Sutan Baringin dengan suara yang hamper-hampir

putus.

Perempuan itu terkejut serta memandang suaminya.

"Berilah aku air barang sedikit. Tiada tertahan olehku panasnya ini,

kerongkonganku sudah kering dan lidahku pun rasa terbakar."

Dengan perlahan-lahan perempuan itu memberi minum suaminya.

Si sakit itu pun berkumur-kumur, lalu minum. Matanya tiada lepas dari

muka istrinya itu, tetapi sepatah kata pun tiada keluar dari dalam

mulutnya. Kemudian ia pun menyapu air matanya; pilu rasanya hatinya

melihat istrinya, kawan sepenanggungannya itu.

"Nuria, marilah adinda dekat-dekat, supaya adinda dengar suaraku

dengan nyata!" kata suaminya kemudian.

Istrinya pun duduklah dekat bantal si sakit, seraya telinganya

dipasangnya baik-baik, supaya segala perkataan suaminya itu dapat

didengarnya dengan nyata.

"Sebelum kekuatanku habis," kata Sutan Baringin, "selama kakanda

dapat berkata, kakanda hendak mengeluarkan apa yang terisi dalam

dada kakanda ini, supaya adinda mendengar dia. Besok lusa, tak sempat

lagi rasanya, karena ajalku sudah dekat. Keraskan hatimu Nuria,

engkau jangan menangis, karena air matamu yang bercucuran itu

memilukan hatiku. Tiadakah adinda menaruh kasihan kepada kakanda,

hidupku tiada lama lagi? Sudikah adinda mendengar bicaraku ini dan

maukah nanti adinda berkata benar menjawab pertanyaanku?"

Si ibu menganggukkan kepalanya, hendak berkata tak dapat lagi.

"Nuria, adakah adinda kasih akan kakanda ini?"

"Sejak mulai kita kawin sampai saat ini tiadakah kakanda merasa

cintaku?" dengan air mata bercucuran. "Sekali lagi adinda katakan:

Adinda ini amat kasih akan kakanda, sungguh amat kasih, lebih

daripada yang lain. Aduh, betapakah melaratnya adinda anak-beranak

kalau kakanda meninggalkan kami dalam keadaan sebagai ini.

Siapakah lagi gerangan kawan adinda membagi susah dan duka?

Siapakah orang yang mau mendengar keluh kami anak-beranak?"

"Adinda jangan berkata demikian. Sekarang kakanda mengucap

syukur kepadamu. Tiadalah seharusnya bagiku menerima kasih dan

sayang daripadamu, karena selama ini tiadalah kakanda mencintai

adinda sebagaimana yang patut. Sungguh hatimu amat mulia, tiadalah

berpadanan dengan kelakuanku yang hina ini. Oleh sebab itu haraplah

kakanda, adinda mengampuni kesalahanku itu.

Kedua: barulah sekarang kakanda menyesal, sebab tiada mendengar

nasihat adinda. Engkau sampailah rasanya menarik kita semua dengan

sekuat-kuat tenagamu, supaya kita anak-beranak jangan sampai terjerumus

ke lautan kemiskinan; akan tetapi kakandalah yang menenggelamkan

kita sekalian. Itu sudah dengan takdir Allah. Kakanda

orang celaka, itulah yang menyebabkan sengsara besar ini. Dan

seharusnyalah itu akan membalas perbuatanku; akan tetapi adinda dan

anak kita yang dua orang itu menanggung azab juga. Sungguh amat

berat kesalahan kakanda itu. Pikiran yang demikian itulah yang

menyakiti hatiku. Akan tetapi apa boleh buat, sesalku itu tak berguna

lagi. Hanya satu sajalah sekarang yang dapat kuperbuat, yakni mohon

kerahiman Allah yang rahmat, mudah-mudahan dosaku itu diampuni-

Nya. Adinda yang tinggal pun kakanda doakan juga; mudah-mudahan

Allah yang mengasihi makhluknya, memelihara adinda dari bencana

dunia. Terimalah tanganku ini!" di sini Sutan Baringin mengangkat

tangannya, istrinya menerima tangan itu. "Itulah tanda kasihku akan

adinda. Bila kita nanti sudah bercerai, janganlah adinda berkata, "Ia

sudah meninggal, laki yang tiada mengasihi istri. Karena meskipun

dahulu adinda kurang kuindahkan, sekarang mengakulah kakanda,

adindalah cahaya dan biji mataku, adindalah jiwa kakanda, sayang

kakanda yang celaka ini tiada menurut nasihat adinda menuju jalan

yang sempurna itu. Tapi sudahlah takdir Allah yang akbar demikian."

Di sini terhentilah katanya, karena napasnya makin kencang, ia pun

tiada dapat berkata-kata lagi, matanya terbelalang dan ia pun

pingsanlah. Sejurus lamanya sadarlah ia.

"Adinda Nuria," katanya pula, "makin lemah rasanya perasaanku,

kekuatanku hampir tak ada lagi, pikiranku pun sudah jauh dari dunia

ini. Sudah datangkah si Riam?"

Maka dipeluk dan dicium oleh Sutan Baringin anaknya itu bergantiganti

dan air matanya bercucuranlah. Sekaliannya menangislah tersedusedu.

"Selamat tinggal kepada kamu sekalian, adinda yang kucintai

dengan anakku berdua yang malang. Tuhan-lah mengampuni dosaku

yang besar itu!" ujar Sutan Baringin.

Kemudian ia memberi tanda, supaya istrinya pergi ke luar. Maka ia

pun memutar kepalanya lalu tidur.

Berat rupanya beban yang dipikul si sakit itu, tetapi lebih berat lagi

beban si ibu itu, karena suaminya hendak meninggalkan dunia yang

fana ini. Akan tetapi bagi si ibu? Sekarang ialah yang menjadi ayah dan

bunda budak yang dua itu. Ialah yang akan memikul segala

tanggungan, baik di dalam atau di luar rumah. Akan tetapi ia tiada

pernah putus asa. "Pada waktu kesukaan aku tak melupakan Tuhan, dan

pada waktu kedukaan pun tidak. la tiada melupakan hamba-Nya,"

demikianlah perempuan itu berkata dalam hatinya. Syair puji-pujian

pun keluarlah dari mulutnya, sedang ia duduk di rusuk rumahnya

memandang ke arah sungai yang mengalir di tempat itu.

Adapun syair itu dipelajarinya tatkala ia anak-anak. Daripada

ibunya, seorang perempuan yang kuat beribadat. Sayang sedikit syair

itu dalam bahasa Batak. Bacalah, adalah kira-kira begini salinannya.

Isinya yang amat dalam dan berat itulah yang menyenangkan hati

pembaca :

Dalam tanganmu, ya Allah, ya Tuhanku,

Terserah badan dan jiwa serta nasibku,

Engkau Tuhan sarwa sekalian alam,

Sekalian yang ada:

Bulan dan bintang, Manusia dan binatang,

Engkau pelihara dengan sempurna.

Dalam rahmat-Mu, ya Allah, ya Tuhanku,

Bergantung sekalian cinta harapanku,

Hebat dan keras gelombang memukul,

Haluan perahuku di tengah lautan,

Lautan kemiskinan dan kemelaratan,

Tetapi hambamu tiada masygul,

Karena Engkau-Lah yang memelihara,

Sekalian umat-Mu yang sengsara.

Betul hamba kerap kali tersesat,

Dari jalan yang lurus kebenaran,

Disebabkan ombak gelombang dunia,

Akan tetapi, meskipun hamba-Mu sarat,

Oleh karena bala pengajaran,

Tiada hamba berhenti mohon kurnia,

Karena Engkau-lah Tuhan kami sekalian,

Umat yang hina Engkau jadikan.

Keras ombak di lautan,

Angin topan bersiut-siut,

Perahuku hampir tenggelam-tenggelam,

Bulu romaku sudah seram-seram,

Akan tetapi badan dan jiwaku,

Engkau-lah memelihara, ya Tuhanku!

Meskipun ombak makin besar,

Laut bergelora sekuat-kuatnya,

Meskipun hidupku makin sukar,

Azab dunia menunjukkan bisanya,

Tiadalah dia kuindahkan,

Karena—lepas ajalku—

Engkau menerima jiwaku

Dengan Kurnia-Mu, ya Allah yang dermawan.

Hati siapakah yang tiada sayu? Matahari itu makin lama makin

tinggi, akan tetapi cahayanya dihambat oleh awan yang bergumpalgumpal.

Dataran tinggi Sipirok yang jongkat-jangkit itu tiada beroleh

sinar raja siang, karena dilindungi oleh awan yang hitam itu. Angin pun

tiada berembus dan daun kayu-kayuan pun tidak bergerak semuanya.

Lengang dan sunyi rupanya kota Sipirok yang indah itu, sedang orang

banyak pun telah pergi ke ladang dan kebun kopi mereka masingmasing.

Dari mulut Gunung Sibualbuali yang berapi itu keluarlah

perlahan-lahan asap yang bergumpal-gumpal naik lurus ke atas, karena

udara yang memalut bumi ini tiada berjalan adanya.

Bunyi burung-burung, seperti balam dan tekukur pun tiada kedengaran,

sedangkan murai yang biasa berkicau itu pun tiada kedengaran

bunyinya. Semuanya diam dan termenung, seolah-olah

perempuan janda yang berkabung. Hanya bunyi siamanglah yang

kedengaran sekali-kali dalam hutan yang menutup lereng Sibualbuali

itu. Bunyi siamang yang tiada pada waktunya itu, adalah sepanjang

kepercayaan orang kampung alamat ada orang yang akan meninggal.

Hati siapakah yang tiada pilu melihat kejadian di dalam rumah

miskin yang di pinggir Sungai Sipirok itu?

Sutan Baringin memberi isyarat, supaya istrinya menelengkan

telinganya dekat mulutnya. Perempuan itu pun berbuat yang demikian

itu.

Kemudian berkatalah Sutan Baringin, "Ajalku sudah sampai ...

peliharakan anak yang ... dua orang itu. Selamat ..., selamat tinggal!"

Ia pun menarik napas yang panjang. Anak dan istrinya duduk

berkeliling, menanti-nantikan perceraian dunia itu.

Kaki dan tangan si sakit itu tiada bergerak lagi, dadanya pun telah

diam. Tiba-tiba ia membukakan matanya yang telah hilang cahayanya,

seperti lampu yang malap. Sekali lagi ia menarik napas, dan matanya

yang hidup itu memandang muka mereka yang berkeliling itu, mulai

dari anak yang bungsu sampai kepada si ibu.

Itulah pandang yang penghabisan, karena sebentar itu juga ia pun

menutupkan matanya. Arwahnya pun keluarlah meninggalkan jasadnya

(tubuh), karena badan itu hendak kembali kepada asalnya.

6. MAKIN JAUH

Hal Ihwal penduduk rumah kecil yang di pinggir Sungai Sipirok itu

telah kita maklumi. Siapa Mariamin, siapa ayah bundanya, telah

dikenal benar-benar. Jadi tiadalah kita heran jagi, apa sebabnya si ibu

bersusah hati, waktu ia sakit itu, sebagai sudah tersebut pada awal

cerita ini. Nyawa manusia tiada dapat ditentukan, kalau ia mati, apa

pulakah jadinya anak yang dua itu? Yang dipikulnya pun telah berat

sejak suaminya meninggal dunia. Harta habis, bangsa pun hilang. Akan

tetapi si ibu itu seorang perempuan yang sabar dan keras hati. Beban itu

dipikulnya dengan pikiran yang tenang. Karena, meskipun hidupnya di

dunia ini makin sengsara, hatinya pun makin tetap juga dan imannya

bertambah teguh. Sekalian penanggungannya yang berat itu diserahkannya

kepada Tuhan Yang Pengasih, karena tahulah ia, bahwa di

dunia ini suatu pun tiada yang kekal. Mereka anak-beranak dalam

kemelaratan, siapa tahu besok lusa datang perubahannya. Meskipun

kesenangan itu tiada diperoleh di atas dunia ini, tentu kita makin cinta

kepada kesenangan, yang diterima umat Allah yang percaya kepada-

Nya pada hari yang kemudian. Sebab memikirkan itulah si ibu

bertambah-tambah asyiknya berbuat ibadat, dan ke dalam hati anaknya

ia selalu menanam biji pengajaran agama, karena ia tahu, agama itulah

yang menjadi tembok batu tempat kita berdiri di waktu banjir dan air

pasang. Agama itulah yang memberi tenaga bagi kita akan memikul

beban kehidupan kita. Agama itulah yang menghiburkan hati kita yang

gundah gulana sebab keazaban dunia, karena firman Tuhan kita

ketahui, hidup di dunia yang sengsara itu akan bertukar dengan

kesenangan yang kekal di akhirat. Harapan akan kesenangan di akhirat,

tempat bersukacita itulah menjadikan kita terhibur, meskipun air mata

kita di bawah langit ini acap kali tercucur.

Memang berat tanggungan ibu yang saleh itu. Sebenarnyalah itu,

waktu suaminya hidup dan sepe.ninggal dia. Bukankah banyak yang

dideritanya karena suaminya? Akan tetapi meskipun demikian lebih

suka jugalah ia, kalau mimpinya itu tiada kejadian. Benarlah sekarang

apa yang dimimpikannya itu: "Gempa amat kuat, tanah menelan

suaminya, kekayaan habis semua, hanya ia bertiga dengan anaknyalah

yang tinggal". Akan tetapi tak guna duduk bercintakan itu, karena

takdir Allah atas hambanya tak dapat ditolak.

Karena suaminya tiada lagi, harta benda pun tiada yang tinggal,

terpaksalah si ibu membanting tulang akan mencari nafkah, sesuap pagi

dan sesuap petang, untuknya anak-beranak. Tiadalah malu ia mencari

upahan, pada waktu mengerjakan sawah, misalnya menyiangi,

mengirik padi dan lain-lainnya, karena tahulah ia, pekerjaan yang halal

itu tiada menghinakan orang. Dua tahun sudah mereka itu bersakitsakit,

sekalipun belum pernah mereka kekurangan makan, karena usaha

si ibu itu dan berkat Tuhan yang memelihara makhluknya. Pakaian

anaknya pun adalah dengan secukupnya juga, tiadalah nampak di mata

orang, bahwa mereka itu orang melarat. Mariamin anak gadis yang

muda remaja itu pun tiadalah malu, sebagai kebiasaan anak gadis di

Sipirok, bekerja mencari upahan. Ibunya acap kali berkata, "Riam,

tinggallah anakku di rumah, ibu masih hidup, cukuplah ibu sendiri

mencari makan kita."

Apakah jawab si anak itu?

"Barangkali ibuku malu, atau takut dikata-kata orang, sebab

anaknda mencari upahan? Benarlah seperti kata ibu itu, ibu sendiri pun

padalah bekerja untuk kita. Tetapi selagi anaknda bersama-sama

dengan ibu, apalah salahnya, anaknda menolong ibu, supaya ibu dapat

berhenti sehari dua hari."

Mendengar perkataan anaknya itu, si ibu termenung, karena dipikirnya,

sebenarnyalah perkataan anaknya itu. Katanya, "Meskipun

bagaimana juga, lambat-laun kami akan bercerai juga, karena

sepanjang adat haruslah ia dipersuamikan. Wah, sungguh amat susah

benar bercerai dengan anakku ini, karena dialah yang menjadi

penghibur hatiku, tetapi pada suatu masa harus juga ia meninggalkan

aku. Ah, kebiasaan yang diaturkan Tuhan tak boleh diubah. Hanya

itulah harapanku kepada Allah, moga-moga ia beroleh suami yang baik,

janganlah sebagai kurasai ini. Kalau anak beruntung, tentu orang tua

bersukacita." Demikianlah kenang-kenangan si ibu itu.

Pada dugaannya pun tiadalah Mariamin akan lama lagi di tangannya,

sebab badannya telah besar, umur pun sudah sampai. Akan tetapi

sekalian orang yang datang meminta dia, ditolak oleh Mariamin. Tak

adalah orang muda yang disukainya untuk jadi suaminya. Karena itu

bertanyalah ibunya, "Riam, ibu bukan bosan melihat kau. Anakku tahu

betapa kasih sayang ibu kepadamu berdua bersaudara. Tapi apakah

sebabnya engkau menolak permintaan sekalian orang itu, bukankah

sudah layaknya anakku bersuami?"

"Sebenarnyalah perkataan ibu itu," sahut Mariamin, "akan tetapi

bagaimanakah anaknda menerima permintaan orang itu, karena telah

ada yang lebih dahulu tempat anaknda berjanji. Sebagaimana ibu tahu,

adalah anaknda ini berutang budi kepada dia. Waktu ia hendak

berangkat, kami berteguh-teguhan janji pula; adalah kami seolah-olah

bersumpah; masing-masing wajib menepati janji, walau bagaimana

sekalipun, lamun bersetuju dalam pikiran orang tua. Pergaulan anaknda

sejak kecil dengan Aminu'ddin tentu ibu sudah tahu; kelakuannya pun

tak perlu lagi anaknda katakan."

"Bagaimanakah anakku memikirkan yang demikian? Benar

Aminu'ddin masih dekat lagi, akan tetapi adakah mungkin dia berkehendak

kepada anakku? Pertama mereka itu orang berada dan kita

orang miskin. Kedua Aminu'ddin tak ada di sini, ia sekarang di

perantauan. Dan lagi kalau ada pikiran Aminu'ddin serupa itu, tentu ia

datang barang sekali melawan ibu bermupakat, sebelum ia hendak

berangkat."

"Anaknda pun sudah mengatakan itu kepada Aminu'ddin, dan ia

pun amatlah menyukai; dan jawabnya, "Riam, janganlah engkau berkata

yang demikian, kekayaan, kemiskinan tak kuindahkan, karena

kaulah yang kuharapkan. Sebabnya pun ia pergi ke Deli, karena ia akan

dikawinkan orang tuanya. Itu jugalah sebabnya tiada disuruhnya orang

tuanya datang kepada ibu, akan memperkatakan itu. Ia sendiri akan

berunding dengan ibu, sudah tentu kuranglah beratnya perkataanperkataan

itu. Kalau ia sudah beroleh pekerjaan di Medan dan jodohnya

itu telah dikawinkan orang tuanya dengan orang lain, di situlah ia

hendak mupakat dengan orang tuanya tentang maksud kami itu. Kalau

ia dapat permisi, ia sendirilah datang menjemput anaknda akan

dibawanya ke Deli. Demikianlah katanya kepada anaknda. Sekarang

bagaimanakah pikiran ibu? Haraplah anaknda supaya ibu bersetuju

akan keinginan anaknda itu, karena Aminu'ddin sajalah yang anaknda

cintakan akan menjadi menantu ibu."

Mariamin menundukkan kepalanya, dan pada mukanya terbayanglah

awan bimbang gundah, gulana.

Sudah tentu percakapan itu menerbitkan rindu dendamnya kepada

sahabat karibnya itu. Sekalian perkataan Aminu'ddin waktu mereka itu

bercerai, seolah-olah terdengar juga olehnya. Apalagi ketika akan

bercerai, mereka itu berjabat tangan dengan air mata yang bercucuran

dan berjanji tiada akan melupakan seorang akan seorang.

Ibunya duduk termenung memikirkan perkataan anaknya itu. Ia pun

amat ingin, supaya kehendak Aminu'ddin dan anaknya itu lekas

sampai. Akan tetapi bila dikenangnya akan segala hal mereka itu kedua

belah pihak, kuranglah harapannya, karena adalah cita-cita anaknya itu

sebagai pungguk bercintakan bulan di langit.

Ia pun memandang Mariamin, seraya berkata, "Semuanya hal ini

kita serahkan kepada Tuhan, sebab Dia-lah yang tahu mana yang baik

akan hambanya."

"Sekalian angan-angan kita itu benarlah takkan diperoleh, kalau

Allah tiada mengizinkan, tapi ingin jugalah anaknda akan mengetahui,

adakah ibuku mengizinkan anaknda akan jadi istri Aminu'ddin?" tanya

Mariamin.

"Mengapakah ibu tiada mengizinkannya, asal diperkenankan oleh

orang tuanya. Kalau tiada demikian, tentulah Riam menjadi pokok

percederaan antara anak dan orang tua," sahut ibunya.

"Ya, janji kami pun begitu juga, Mak. Itulah sebabnya anaknda

bertanya tadi, kalau-kalau bunda tak bersetuju. Aminu'ddin pun hendak

mupakat juga dengan orang tuanya. Sudah tentu ayah bundanya

berkenan akan permintaannya itu, karena Aminu'ddin sudah besar, jadi

tak maulah mereka itu memaksa dia."

"Itu jangan anaknda tentukan, karena Riam masih anak-anak, ibulah

yang lebih tahu akan hal itu. Dalam perkawinan, perkataan orang tualah

yang berlaku, dan anak itu hanya menurut saja. Demikianlah yang biasa

kejadian di antara bangsa kita. Misalnya banyak, umpamanya ibu

sendiri. Tiadalah ibu ditanya nenekmu dahulu akan kesukaanku, tatkala

ibu hendak dipersuamikan. Tentang perkawinan kami dengan

mendiang ayahmu amatlah menyedihkan hati. Sekali-kali janganlah

bersua yang demikian pada anakku. Itulah sebabnya ibu tiada mau

memaksa engkau. Cuma ibu memberi timbangan; lain fasal kalau anak

belum cukup umur. Percayalah anakku, ibu takkan mau mengerasi kau,

seperti perbuatan kebanyakan orang tua, karena tahulah ibu, bahwa

yang kawin itu si anak, bukan orang tuanya. Siapakah di belakang hari

yang menanggung dan siapa yang menyesal, kalau jodoh si anak itu

tiada bersesuaian pikiran dan tabiat dengan suaminya? Sudah tentu

mereka takkan berkasih-kasihan lagi, akhirnya bercerai. Siapakah yang

menanggungkan, tentu si anak itu juga. Seumur hidupnya menyesallah

ia kepada orang tuanya, yang memaksa dia itu. Bukankah sudah nyata,

bahwa perkawinan anak itu dengan paksa tiada baik? Kewajiban orang

tua hanyalah memberi timbangan, dan itulah sekarang yang ibu

ingatkan. Kalau Riam yakin benar-benar, Amuni'ddin kasih akan

anaknda, amatlah senang hati ibu; dari kecil pun telah ibu mengetahui

perangai Aminu'ddin. Adalah ia masuk golongan anak yang baik-baik;

tetapi sebagai kataku tadi, haruslah kita menyerahkan hal ini kepada

Tuhan Yang Mahamulia, karena Dia-lah yang mengatur sekalian nasib

hamba-Nya."

"Kalau demikian, baiklah anaknda berkirim surat kepada Aminu'ddin

akan membalas suratnya yang baru kuterima itu. Lagi pula

supaya anaknda menceritakan sekalian perkataan bunda itu," kata

Mariamin.

Mariamin pun mengambil surat itu dari kamarnya, lalu dibacalah di

hadapan ibunya, yang kira-kira begini bunyinya :

Adinda yang kucintai!

Tiga bulan sudah lamanya saya meninggalkan negeri tumpah

darah kita, meninggalkan kampung halaman tempat kita bermainmain,

meninggalkan kekasihku, Mariamin. A duh, bukan

buatanlah sedihnya perceraian itu, barulah sekarang kurasa.

Akan tetapi itu tak mengapa, harapanku akan pertemuan kita

nanti di belakang hari, itulah yang menghiburkan hati, ya, Riam?

Dengan girang hatiku, kakanda memaklumkan kepada adinda,

bahwa kakanda telah beroleh pekerjaan, yakni dengan

pertolongan kaum kita, tempat kakanda sekarang menumpang.

Riam, itu semua rahmat Tuhan kepada kita. Lihatlah, cita-cita kita

makin dekat, mogamoga Allah mengabulkannya.

Hal perjalananku dan keramaiannya kota Medan, tiada

kuceritakan sekali ini, karena kakanda menunggu surat balasan

daripada adinda. Kabar yang lain ada baik.

Bagaimanakah hal adinda dan ibu kita sekararrg? Haraplah

kakanda adinda bercerita panjang; maklumlah Riam akan

keinginanku menerima surat dari negeriku, lebih-lebih daripada

orang yang menjadi anganangan dan impianku. Ah, tak dapatlah

kakanda menggambarkan perasaanku dalam surat ini!

Sampai di sinilah dahulu, pekerjaanku amat banyak,

maklumlah, segala pekerjaan itu harus kupelajari.

Terimalah salam daripada

kekasihmu,

AMINU'DDIN

Alamat: AMINU'DDIN

kerani onderneming HALVETIA

MEDAN

Setelah surat itu habis dibacanya, ia pun masuklah ke bilik tempat

tidurnya, lalu ia menulis sepucuk surat akan pembalas surat Aminu'ddin

itu. Dua tiga kali terpaksa ia berhenti daripada me nulis itu, sebab

dadanya sakit karena ia duduk membungkuk itu. Meja dan kursi sudah

tentu tak ada dalam pondok kecil itu. Sebuah peti kayu tempat

menyimpan pakaiannya, itulah ganti meja jati tatkala mereka hidup

dalam kekayaan. Kursi atau bangku tak usah dikata lagi. Anak gadis

yang miskin itu duduk bersila di atas lantai, dan peti itu di hadapannya,

di atas itulah ia menulis. Tangkai pena yang ditangannya pun tiadalah

sebagai yang biasa dipakai orang, hanyalah sepotong pimping. Penanya

dicocokkan saja pada pangkal pimping itu, sebagaimana kita

memasukkan pena ke gagang pena. Demikianlah sakitnya kemiskinan

itu, yang dahulunya biasa dalam kesenangan. Akan tetapi semuanya itu

tiada menyusahkan hati Mariamin. Bukankah cita-cita dan kenangkenangan

mereka itu sudah dekat? Kalau ia nanti bersama-sama dengan

Aminu'ddin, tentu datanglah pertukaran dalam kehidupannya. Ia

menurutkan suaminya makan gaji, meninggalkan Sipirok, tempat orang

yang memandang mereka itu hina. Ia akan pergi ke Deli, tanah emas,

yaitu ke tempat pencarian yang amat murah.

Semua kenang-kenangan yang serupa itulah yang mengurangkan

kesakitan hidup anak gadis itu. Tetapi sungguhpun demikian adalah

juga yang menyedihkan hatinya, tatkala ia menulis surat itu, sehingga

ia terpaksa berhenti beberapa kali. Kadang-kadang tangannya gemetar

dan kaku, kadang-kadang ia diam serta memandang ke muka. Sebabnya

itu, ialah karena terkenang akan pergaulannya dengan Aminu'ddin;

persahabatan yang karib, budi yang baik, cakap yang lemah-lembut,

segala hal mereka itu yang dulu-dulu terkenang dalam hatinya.

"Sekarang ia sudah jauh, Aminu'ddin kekasihku itu," kata anak dara itu,

seraya ia mengeluh. Kemudian ia membulatkan pikirannya seraya

meneruskan suratnya itu. Dalam hatinya ia berkata, "Haruslah saya

menceritakan sekalian perasaanku kepadanya. Benar perempuan itu

harus pandai menyembunyikan rahasianya, akan tetapi kepada

Aminu'ddin tak usahlah saya menaruh rahasia, karena ia itu adalah

sebagai saudaraku sejati. Saya ini harus menyerahkan diri kepadanya,

dialah yang kuasa atas diri saya, karena kasihnya, budinya dan

pertolongannya. Bukankah saya sudah lama berkubur dalam air, jika

sekiranya tiada dengan pertolongannya?"

Tiada berapa lamanya surat itu pun sudahlah. Setelah dibacanya

sekali akan memeriksa susun kalimatnya, lalu dimasukkannya ke dalam

sampulnya. Alamatnya itu ditulisnya lambat-lambat dengan huruf yang

besar. Di sudut sebelah kanan atas sampul itu dibubuhnya perangko,

yang dibelinya dengan uang upah menjahit sarung. Setelah selesai surat

itu, dimasukkannya ke pos. Berapa lama ia menunggu kedatangan

balasannya, tiadalah diketahui lagi. Hanyalah siang dan malam

Mariamin tiada melupakan kekasihnya itu dan harapan akan

kenikmatan persahabatan adalah dari sehari ke sehari makin besar

dalam kalbu anak dara yang menanggung rindu itu.

Setelah surat Mariamin itu diterima oleh Aminu'ddin, amatlah

girang hatinya. Baru dilihatnya alamatnya, ia pun mengenal tulisan

kekasihnya itu. Di pinggir surat itu tertulis pula nama si pengirim. Surat

itu diciumnya, lalu dibukanya dengan tergopoh-gopoh. Jarinya

gemetar, karena sukacita. Surat itu dibacanya berulang-ulang; bunyinya

adalah kira-kira begini:

Kakanda Aminu'ddin!

Rindu dan gundah gulana silih berganti dalam hati adinda

selama kakanda meninggalkan Sipirok yang indah itu. Rindu

karena suara kakanda tak kudengar, muka kakanda tak kulihat

lagi. Bimbang dan gulana hati adinda, karena sudah sekian

lama adinda tiada menerima kabar daripada kakanda. Aduh

Kakanda, tiadalah dapat adinda menceritakan dalam waktu

yang tiga bulan ini; kadang-kadang adinda bertanya dalam hati

adinda sendiri, "Bagaimanakah hal Dangkang*) Aminu'ddin

dalam perjalanan?" Bagaimana lamanya yang tiga bulan itu tak

tahu lagi adinda, karena pada perasaan adinda seolah-olah

lebih dari setahun.

Sekarang, setelah adinda menerima surat kakanda itu, bukan

buatanlah sukacita adinda. Syukur alhamdulillah! Kakanda pun

telah beroleh pekerjaan dan bertemu pula dengan keluarga yang

menaruh kasihan akan kakanda. Mudah-mudahan Allah yang

rahmatlah menyampaikan segala maksud kita.

Akan adinda, tak usahlah kubukakan di sini isi dadaku.

Meskipun bagaimana jauhnya kakanda, tiadalah berkurang

kasihku; gunung yang tinggi kudaki, lurah yang dalam kuturuni,

sungai yang lebar kuseberangi, supaya bertemu dengan

kakanda, lamun waktunya sudah datang. Aminu'ddinlah jiwaku,

kakandalah yang kuharapkan. Bukankah adinda dipaksa hatiku

menyerahkan diri kepada angkang, karena nyawaku pun sudah

angkang lepaskan dari bahaya maut.

Tentang pikiran adinda, ibu kita adalah bersetuju dengan

permintaan adinda. Dengan hati yang ikhlas ia telah memberi

izin. Itulah supaya kakanda maklum.

Kabar yang lain adalah baik. Adinda dan bunda serta

dengan adik dalam sehat, kakanda Aminu'ddin pun adinda

haraplah bersenang hati mendapat surat yang secarik ini.

Sehingga inilah dahulu ceritaku. Benar banyak lagi yang

akan adinda katakan, tetapi biarlah dahulu kita sabar; kelak di

belakang hari akan adinda ceritakan semuanya.

Tuhanlah yang mengasihi hambanya!

Salam takzim dari adinda,

MARIAMIN

*) dangkang = angkang, kakak.

Sekali lagi Aminu'ddin mengulangi membaca surat kekasihnya itu.

Kemudian ia termenung sejurus lamanya, lalu dengan perlahan-lahan ia

mengangkat tangan kirinya ke mulutnya, dan mencium cincin suasa,

yang ada pada jari manisnya itu. Cincin itu pemberian Mariamin.

"Aduh Riam, adinda ingin sekali, tetapi lebih keraslah hasrat

kakanda ini," kata Aminu'ddin, sambil ia berdiri mendapatkan meja

tulisnya.

Maka ia pun menulis surat kepada ayahnya, kepala kampung dusun

A. Dalam surat itu ia meminta dengan keras, supaya orang tuanya

mencarikannya perempuan akan jadi istrinya. Adapun perempuan itu

ialah Mariamin, karena itu sajalah yang disetujuinya. Hal ini harus

lekas diurus, karena amatlah susahnya bagi dia menumpang di rumah

orang; lagi pula banyaklah bencananya bagi dia bekerja di kebun,

tempat perkumpulan laki-laki perempuan yang menjadi pekerja di sana.

Siapa yang telah menjejak Pesisir Timur, tentu telah maklumlah makna

perkataan Aminu'ddin itu.

Kepada Mariamin ia menulis pula sepucuk surat akan menyuruh dia

berkemas. "Waktu pertemuan kedua kalinya sudah dekat. Betapakah

senangnya!" katanya di ujung suratnya itu.

Ya, selambat-lambatnya dua bulan lagi mereka itu akan bersamasama

sebagai pada waktu dahulu. Lebih lagi, karena sekarang tiada

persahabatan saja lagi yang ada di antara mereka itu, tetapi mereka itu

hidup menjadi bersatu, berkasih-kasihan, tiada kelak akan bercerai,

karena cinta mengebat mereka itu telah bertahun-tahun berurat berakar

dalam kalbu mereka.

Lepas dua bulan lagi akan bertukarlah perasaan hidupnya. Bukankah

ia merasa bosan di tanah asing, bercampur gaul dengan orang yang

tiada dikenal, dengan orang lain, sedang orang penghibur hatinya jauh

di balik Bukit Barisan?

Lepas dua bulan lagi akan diperolehnya angan-angan dan citacitanya,

sejak akil balig. Di situlah kelak ia merasa dirinya beruntung,

karena tangkai kalbunya telah di sisinya, yakni Mariamin buah hatinya

itu.

Ya, waktu yang dinanti-nanti Aminu'ddin itu tiada jauh lagi.

Mariamin kelak akan membawa ke hadapannya. Yang perlu hanya ia

harus menunggu dengan sabar apa yang akan datang, itulah yang

menentukannya.

Surat yang dua pucuk itu sampai kepada alamatnya. Mariamin

menerima dengan girang. Sekejap itu dibacanya di hadapan ibunya.

Tiadalah dapat dikira-kira lagi betapa sukacitanya, dan pada malamnya

itu pun ia memimpikan untung bahagia yang akan datang itu.

Orang tua Aminu'ddin pun berbesar hati pula mendengar kabar yang

baik itu. Pekerjaan anak sudah ada, gaji pun adalah sederhana, apakah

lagi yang ditunggu-tunggu? Dahulu ia tak mau kawin, sekarang ia

sendirilah yang memintanya; wah, betapakah baiknya itu? Ibu

Aminu'ddin pun amatlah riangnya mendengar bunyi surat yang dibaca

suaminya itu. "Kita berdua sudah tua, dan amatlah ingin hatiku hendak

mendukung cucuku," katanya kepada suaminya.

Kedua laki-istri itu mupakat akan mencarikan jodoh anak mereka

itu. Apakah yang kurang lagi bagi mereka itu akan memperoleh anak

dara yang patut-patut? Ayah Aminu'ddin seorang kepala kampung yang

dimalui di luhak Sipirok. Uang banyak, sawah lebar, kerbau dan lembu

pun cukup, sedang anaknya orang makan gaji, di Deli pula. Sekali ini

haruslah mereka itu mengambil anak bangsawan sekurang-kurangnya

yang sama dengan mereka itu, yang di bawah pantang. Demikianlah

pikiran orang tua itu. Oleh sebab itu tiadalah ingin mereka itu lagi akan

datang ke rumah istri mendiang Sutan Baringin menanyakan anak dara

kesukaan Aminu'ddin itu; sungguhpun pertalian mereka itu masih

dekat.

Mariamin anak orang miskin akan menjadi istri anak mereka itu?

Tentu tak mungkin, karena tak patut! Bukankah orang itu telah hina di

mata orang, lagi pula tak berada, boleh dikatakan orang yang semiskinmiskinnya

di daerah Sipirok? Orang yang begitukah yang akan jadi

tunangan Aminu'ddin? O, sekali-kali tidak boleh; Aminu'ddin seorang

anak muda, belum tahu ia membedakan bangsa, haruskah didengar

permintaannya itu? Betul anak gadis itu bagus rupanya, lagi masuk

kaum mereka juga, akan tetapi kaum tinggal kaum, perempuan yang

elok dapat dicari.

Begitulah sebabnya ayah Aminu'ddin tak jadi pergi ke rumah ibu

Mariamin. Istrinya mencoba membujuk-bujuk suaminya akan menurut

permintaan anaknya itu, karena meskipun bagaimana melaratnya seisi

rumah Sutan Baringin karena perbuatannya, adalah ia merasa kasihan

juga dalam hatinya kepada ibu dan anak yang dua orang itu. Benar

Sutan Baringin salah, ia tiada mendengar nasihat mereka itu, tetapi

apakah salahnya anak yang dua orang itu? Oleh sebab itu ia pun

mempertahankan kesukaan Aminu'ddin itu. Kalau Mariamin telah

menjadi menantunya, tentu adalah perubahan kemelaratan orang itu,

pikir ibu Aminu'ddin.

Akan tetapi suaminya tiada bersetuju dengan maksud istrinya itu;

untuk menolaknya dia tidak dapat, karena ibu dan anak bersama-sama

melawan dia. Setelah seminggu lamanya, pada suatu malam berkata ia

kepada istrinya, "Kalau engkau mengerasi juga, baiklah. Akan tetapi

baiklah kita berhati-hati, karena mengambil jodoh anak itu tiada boleh

dipermudah-mudahkan. Kamu mengatakan Mariamin juga yang baik

menantu kita; kalau demikian baiklah kita pergi mendapatkan Datu*)

Naserdung, akan bertanyakan untung dan rezeki Aminu'ddin, bila ia

beristrikan Mariamin. Datu itulah yang masyhur sekarang fasal hal

faal**). Pekerjaan ini janganlah dilengahkan lagi. Kalau pertemuan

mereka itu tiada baik menurut faal, baiklah kita carikan yang lain."

Pada keesokan harinya pergilah kedua laki-istri itu membawa nasi

bungkus ke rumah Datu itu. Setelah habis makan, mereka itu pun

menceritakan maksud kedatangan mereka. Datu itu pun bertanya nama

yang laki-laki dan orang tuanya, nama anak gadis itu serta orang tuanya

pula. Kemenyan pun dibakarlah, sehingga rumah itu penuh dengan asap

dan bau kemenyan. Beberapa lamanya dukun itu menganggukanggukkan

kepalanya perlahan-lahan serta berbisik-bisik membaca doa

dan mentera. Kemudian ia membuka buku yang terletak di bawah

pedupaan itu, lalu dibacanya ayat yang tertulis dalamnya.

"Maksud itu kurang baik. Awalnya laki-istri selamat dan beruntung.

Lepas dua tahun, lahir seorang anak laki-laki, tetapi baru ia berusia

tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia," kata Datu itu lambat-lambat

tetapi terang dan nyata suaranya.

Kedua laki-istri bermohon diri, lalu pulang ke rumah; istrinya

dengan hati kesal, karena yang diinginkannya tak jadi; suaminya

dengan girang hati, karena kehendaknyalah yang mesti diturut. Akan

tetapi sepanjang jalan tiadalah ia memperlihatkan sukacitanya itu, takut

kalau-kalau istrinya itu sakit hati.

Dalam rumah kecil yang di pinggir Sungai Sipirok itu duduklah

Mariamin menanti-nanti kedatangan ayahnya (bapak Aminu'ddin).

Sejak ia menerima surat Aminu'ddin itu, amat banyaklah pekerjaannya.

Menyediakan pakaiannya, karena kakaknya berkata demikian. Betul

tiada banyak, tetapi semua dikerjakannya sendiri. Kalau dia orang

berada, tukang jahitlah yang menjahit pakaiannya itu. Membuat seperai

akan dibawa ke Deli; menganyam tikar untuk tempat duduk ayahnya

(bapak Aminu'ddin), kalau ia datang ke rumah hendak bermupakat

dengan ibunya. Tikar itu tentu ganti permadani, supaya kemiskinan

mereka itu jangan mengurangkan adat di rumah mereka. Kalau jamu

datang, malulah ia kalau ia duduk di atas lantai saja.

Serbuk kopi telah sedia tersimpan disalaian, supaya ada minuman

kepala kampung itu, bila ia datang. Juadah pun telah sedia dalam

tempatnya akan kawan air kahwa itu. Semua sudah sedia akan menanti

ayah Aminu'ddin, yang akan menjadi bapaknya pula.

Sekalian telah teratur untuk perjalanan mendapatkan kakandanya

*) Datu = Dukun

**) Faal = tenung

itu. Semua sedia dan teratur, tetapi yang ditunggu-tunggu tak juga

datang.

Ya, dia hanya menunggu, dan menunggu, tetapi yang ditunggu tidak

akan datang. Yang akan sampai ke telinganya hanya kabar yang tiada

disangka-sangka. Kabar yang akan menghamburkan air mata, meremukredamkan

hati sebagai kaca terempas ke batu.

Ketika matahari hampir terbenam, duduklah ayah Aminu'ddin di

beranda rumahnya dengan istrinya. Istrinya pun bertanya, "Siapakah

yang jadi kita ambil akan menantu kita? Jangan diperlambat-lambatkan

lagi."

"Bimbang hatiku, karena pada waktu itu adalah kurang yang akan

dipilih. Itulah sekarang yang kupikir-pikir," sahut Baginda Diatas;

begitulah disebut orang gelar kepala kampung itu.

"Kurang yang akan dipilih?" tanya istrinya. "Negeri Sipirok sebesar

ini, berapa ratus anak gadis di luhak ini, sedang yang akan dicari hanya

seorang juga."

"Aku pun tahu juga. Akan tetapi yang akan diambil bukanlah orang

sembarangan."

Sejurus kedua laki-istri itu berdiam, kemudian Baginda Diatas

berkata, "Cuma seorang sajalah yang kusetujui; rupanya pantas,

bangsanya cukup, akan tetapi kelakuannya belum kuketahui:"

"Apakah marganya?*) Siapa orang tuanya?" tanya istrinya.

"Marganya Siregar, dan bapaknya kepala kampung. Kupikir baik

akan jadi menantu kita. Baiklah aku pergi ke sana. Sepanjang dugaanku

anak itu mungkin kita peroleh; tentang "boli" kita takkan mundur,"**)

jawab suaminya.

Untuk menjelaskan adat-istiadat orang Batak, lebih-lebih adat

perkawinannya, baiklah diterangkan sekadar aturan-aturan yang harus

diturut orang dalam perkawinan itu.

Adapun masing-masing orang Batak mempunyai suku (marga).

Seorang anak yang baru lahir beroleh marga bapaknya. Marga itu ada

bermacam-macam, misalnya di luhak Sipirok, Siregar dan Harahaplah

yang terbanyak; marga lain ada pula umpama: Pane, Pohan, Sibuan dan

lain-lain. Bagaimana timbulnya marga yang banyak itu, tiadalah

hendak diceritakan di sini. Orang yang sebanyak itu dua tiga sajalah

neneknya, yaitu yang empunya keturunan, sedang marga sekarang

banyak ragamnya. Jadi sudah tentu marga Siregar bersaudara juga

dahulunya dengan marga Harahap, Pohan atau yang lain-lain. Di mana

perceraianya itu, wallahualam; karena hal itu adalah bersambung

dengan ceritacerita tambo. Seorang berkata begini, yang lain berkata

begitu, sehingga tiada tahu mana yang benarnya lagi. Lagi pula cerita

*) marga = suku

**) boli atau sere = mas kawin

itu sudah sebagai dongeng di telinga.

Maka barang siapa yang hendak kawin, tiadalah boleh mengambil

orang yang semarga dengan dia. Umpamanya laki-laki marga Siregar

tiada boleh mengambil perempuan marga Siregar, meskipun mereka itu

sudah jauh antaranya; artinya hanya nenek-nenek moyang mereka itu,

yang hidup beratus tahun dahulu, yang bersaudara. Mereka itu tiada

boleh ambil-mengambil dalam perkawinan, karena dilarang keras oleh

adat. Akan tetapi anak muda marga Siregar boleh mengambil seorang

perempuan marga Harahap, meskipun perkaumannya dengan anak

gadis itu masih dekat, umpama senenek dengan dia. Artinya, nenek si

laki dari pihak ibu, nenek si perempuan dari pihak bapak.

Hanya margalah yang berlainan, sebenarnya mereka itu masih

sedarah; akan tetapi sebab pengaruh adat itu, perkawinan yang kedua

ini dilazimkan dan perkawinan yang pertama dilarang keras.

Larangan itu mengherankan hati. Apakah salahnya si Anu kawin

dengan si Itu, kalau pertalian (perkauman) mereka itu sudah jauh, ya,

kadang-kadang tak ada lagi, karena masingmasing tak tahu lagi, di

waktu mana nenek moyang mereka itu bersaudara atau sedarah.

Haruskah perkawinan mereka itu dicegah, oleh sebab mereka itu samasama

Harahap, Pane dan lainlain? Padahal mereka itu telah berkasihkasihan,

seorang ingin kepada yang seorang. Sebab yang tersebut

tiadalah patut menjadi larangan; betul mereka itu semarga, tetapi sudah

jauh dan tiada, sedarah lagi.

Di negeri lain misalnya Deli, Palembang, Jawa, tiada ditemui aturan

yang serupa itu, hanya di Tapanuli.

Ya, kata pepatah: Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain

belalangnya.

Itu benar. Masing-masing daerah mempunyai adat yang berlainan

daripada daerah yang lain. Maka seharusnyalah penduduk daerah itu

setia kepada adatnya yang telah diaturkan nenek moyangnya.

Akan tetapi mengingat peredaran masa ini, tiadalah dapat dipertahankan

semua peraturan-peraturan itu, sudah seharusnyalah

mengubah apa yang kurang baik, dan menghapuskan yang tiada patut.

Salah satu di antaranya ialah, tentang larangan kawin sesuku itu. Ini

tidak dipertahankan lagi. Sebab itu seorang hendaklah dibebaskan

kawin dengan orang lain, meskipun mereka itu sesuku, artinya tali

persaudaraan mereka masih rapat lagi menurut adat.

Tentang emas kawin di tanah Batak adalah suatu adat yang

memberatkan. Emas kawin itu biasa disebut orang sere atau boli.

Adapun sere itu dibayar si laki-laki kepada orang tua anak gadis,

banyaknya dari 200 sampai 400 rupiah. Ini diambil jumlah pertengahan,

karena ada juga yang kurang, umpamanya 120 rupiah, ada

pula yang lebih sampai 600 rupiah. Sere itu boleh dibayar semua

dengan uang semata, atau separuh dengan kerbau atau lembu.

Aturan itu pun sangat memberatkan, sudah seharusnya dihapuskan,

kalau susah, dientengkan. Banyaklah terjadi yang sedih-sedih disebabkan

boli itu. Umpamanya, seorang anak muda yang tiada berada,

haruskah ia tinggal bujang selama hidupnya, karena ia tiada mempunyai

uang 200 rupiah di kantungnya?

Orang yang serupa itu tiada sedikit. Betul uang boli itu tidak akan

masuk kantung orang tua si perempuan semuanya. Separuhnya dipakainya

juga akan pembeli emas, perhiasan anaknya dan pembayar ongkos

perjamuan, umpamanya kenduri, pesta dan sebagainya, ketika anaknya

dikawinkan. Akan tetapi apakah salahnya dihilangkan pesta itu, apakah

faedahnya mengarak anak dara dan pengantin sekeliling kota, karena

uang pembeli kerbau yang disembelih itu terbuang saja?

Kasarlah didengar telinga, bila orang berkata, "Di tengahtengah

Pulau Sumatera yang besar itu masih ada orang menjual anaknya yang

perempuan."

Ya, memang ada yang serupa itu. Kalau akan mengawinkan

anaknya yang perempuan, maka lebih dahulu membicarakan boli. Betul

boli itu berguna juga diterima untuk pembeli yang berguna bagi

anaknya, tetapi bicara itu terbaliklah rasanya. Seharusnya janji kawin

lebih dahulu dipadu, sedang boli perkara kedua. Itulah yang bernama

emas kawin, emas (uang) ongkos-ongkos perkawinan. Halal dan bersih

uang yang serupa itu di tangan! Akan tetapi sere (boli) yang diterima

harga anak itu, tiadalah patut lagi.

Itulah aturan-aturan adat yang berlaku di sana, yang masih dipegang

teguh.

Sekarang marilah diceritakan seorang anak gadis dari sebuah

kampung yang tiada berapa jauh dari Sipirok, karena itulah yang

disetujui Baginda Diatas. Gadis itu anak kepala kampung. "Bangsa"

lebih dari "kepandaian" bagi dia. Kedatangan Baginda Diatas diterima

baik oleh orang tua gadis itu. Melihat keelokan jodoh anaknya itu, terus

mengiakan permintaan Baginda Diatas. Apalagi yang diinginkannya,

berapa pun besarnya boli yang dimintanya akan diperkenankan juga

oleh orang tua bakal menantunya itu. Setelah sampai pada masanya *),

anak gadis itu pun dijemput dan dibawa ke rumah ayah Aminu'ddin,

supaya esok atau lusa berangkat ke Deli.

Adapun sekalian hal ini dilakukan dengan rahasia, supaya jangan

ketahuan oleh Mariamin dengan ibunya.

* Di sana orang masih percaya akan masa (waktu). Kalau

hendak menjemput anak dara, lebih dahulu diperiksa hari

dan jamnya yang baik. Dentikian juga kalau hendak membuat

perjalanan, mendirikan rumah dan lain-lain. Daladn

hal ini Datulah yang menentukan.

Setelah lengkaplah sekalian, Baginda Diatas pun berangkatlah ke

Deli mengantarkan menantunya itu. Sebab dia sendiri pergi, supaya

dapat ia menceritakan kepada anaknya, apa sebabnya maka yang lain

yang diambil mereka itu. Ya, siapakah orang yang mau mengambil

orang celaka? Bukankah sudah dikatakan Datu, bahwa Mariamin itu

anak yang membawa celaka? Kalau Aminu'ddin mendengar keadaan

itu, tentu ia akan menurut kehendak. orang tuanya.

Supaya Aminu'ddin lebih dahulu mengetahui akan kedatangan

mereka itu, ayahnya pun mengetok kawat. Karena banyaklah nanti

yang disediakannya akan menerima istrinya itu. Apakah salahnya, ia

lebih dahulu bersukacita oleh karena kedatangan kekasihnya itu.

Setelah Aminu'ddin menerima surat kawat ayahnya, yang bunyinya

demikian, "Aminu'ddin, bapak membawa menantu songsong ke

stasiun," ia pun meminta permisi kepada sepnya, meskipun lima hari

lagi ayahnya akan tiba. Dengan hati yang girang, pergilah ia kepada

kaumnya, yang mencarikan ia pekerjaan itu, dan diceritakannya kabar

itu, karena dia inilah nanti yang akan menolong dia. Betul ia beroleh

rumah dari perkebunan tempat ia makan gaji, tetapi kuranglah baiknya,

jika ia membawa

Mariamin terus ke rumahnya, karena seorang perempuan pun tak

ada yang mengawani dia.

Pada waktu itu Aminu'ddin menyangka juga akan kedatangan

Mariamin.

Waktu yang lima hari itu terlalu amat lama pada perasaan Aminu'ddin,

lebih lama daripada waktu yang bertahun-tahun yang telah

dirasainya itu. Sementara itu ia pun menyuruh membersihkan rumahnya,

membeli apa-apa yang peirlu, supaya mereka itu lebih lekas

tinggal di rumah sendiri. Terlampau lama di rumah orang, tentu mendatangkan

susah pula bagi orang tempat menumpang. Demikianlah

pikiran Aminu'ddin.

Empat hari sudah lewat. Besoknya pukul sepuluh pagi tentu

bersualah ia dengan kekasihnya itu, yang sekarang akan jadi istrinya,

karena itulah waktunya kereta api pertama tiba di stasiun Medan. Wah,

betapakah senangnya perasaan Aminu'ddin.

Hari yang penghabisan itu amatlah lamanya, tiada berkeputusan

pada perasaannya; matahari itu pun seolah-olah tiada jemu memanasi

bumi yang bercintakan malam. Tetapi meskipun ia lambat-lambat turun

ke sebelah barat, sebagai raja berjalan lakunya, hari yang membosankan

hati Aminu'ddin itu hampirlah bertukar dengan malam. Kuli-kuli

yang beratus-ratus yang bekerja di kebun tembakau yang lebar itu pun,

telah berhenti, masingmasing pulang ke pondoknya, sehingga kebun

yang luas itu sebagai bertabur dengan kepala manusia, karena pohon

tembakau pada waktu itu telah tinggi, sehingga badan mereka itu

kelindungan, hanya kepala sajalah yang terulur ke atas, sebagai

terapung di atas laut rupanya.

Hari pun malamlah; kebun yang luas itu sudah mulai sunyi. Bunyi

gamelan yang dipalu pekerja-pekerja dari Jawa itu pun telah diam,

karena mereka harus pergi tidur, akan mengumpulkan kekuatan untuk

pekerjaan esok harinya yang amat berat itu. Seorang pun tak ada yang

jaga lagi, selain daripada bulan tujuh hari yang memenuhi dataran yang

luas itu dengan sinarnya yang cantik. Bintang-bintang di langit pun

amatlah banyaknya, berjuta-juta sebagai pasir di laut. Adalah dia itu

turut juga membantu raja malam itu menghiasi alam yang lebar ini,

dengan cahayanya yang seperti perak itu.

Sayang, seorang pun tiada yang menyenangkan dirinya dengan cara

melihat kebagusan malam yang indah itu, karena semuanya gedung

tuan-tuan kebun dan pondok teratak pekerja telah gelap, tiada kelihatan

lagi cahaya pelitanya. Tetapi dalam rumah kerani, yang di sisi gedung

tuan besar kebun itu, masih nampak cahaya api, meskipun sudah lepas

pukul sepuluh malam. Yang masih jaga itu, tak lain ialah Aminu'ddin

yang sedang mengenang-ngenangkan kedatangan buah hatinya. la tiada

tidur bukan disebabkan pekerjaannya banyak, hanya matanya tak

mengantuk karena dimabuk kegirangan hatinya. Esok sorenya di situlah

waktunya ia akan melihat adindanya itu. Pedih dan sedih perceraian

yang dahulu itu, akan berobat dengan kegirangan hati nanti melihat

muka Mariamin yang bersih dan sabar itu.

Kenang-kenangan yang serupa itulah yang memenuhi kalbunya,

sehingga ia gelisah.

Ia pun meninggalkan kamarnya yang panas itu, lalu pergi duduk ke

atas bangku yang di hadapan rumahnya, di bawah sebatang pokok nyiur

yang rimbun daunnya. Angan-angannya makin panjang, karena merasai

sedapnya hawa malam itu. Angin gunung pun berembuslah sepoi-sepoi

basa dan kebun tembakau itu berombak-ombak rupanya ditiup oleh

angin itu dan berwarna ilam-ilam, karena cahaya raja malam antara

terang dan gelap.

Aminu'ddin duduk bersandar pada bangku, seraya menghadap ke

sebelah barat ke Bukit Barisan yang membujur Pulau Sumatera. Dari

sanalah akan datang yang dinanti-nantinya itu; dengan teropong wasiat,

memandanglah ia ke bukit yang bertalitali itu akan melihat dan

mengira-ngira, di manakah adihdanya itu tidur pada malam itu. Adakah

juga ia gelisah, karena sukacitanya akan bertemu dengan kakandanya?

Tetapi suatu pun tak ada yang nampak oleh Aminu'ddin, lain

daripada bukit yang berbaris-baris itu. Di ruangan kalbunya terbayangbayang

wajah Mariamin yang cantik itu: Mukanya bundar sebagai

bulan empat belas ... rambutnya hitam serta berkilat-kilat ... sanggulnya

besar dan bulat, tergantung di atas tengkuk yang putih bersih itu ... di

atas leher yang jenjang itu kelihatanlah pipi yang halus yang

memberahikan hati, lebih-lebih kalau senyum yang bersimpul di sudut

mulut anak dara itu keluar, sehingga pipi yang manis itu berliang di

kanan dan di kiri .... Dilihatnya pula bentuk bahu adindanya yang halus

itu ... dada yang penuh itu, ditutupi oleh baju kebaya ... pinggang yang

ramping ... paha yang tambun serta dengan lunaknya, keduanya dipalut

sarung batikar Lasam ... dilihatnya pula betis yang bulat serta dengan

halusnya itu, berjejak di atas tumit yang seperti telur burung ....

Ya, semua bagian-bagian itu tergambar dalam hati Aminu'ddin,

mulai dari ubun-ubun sampai ke telapak kaki.

Karena nyatanya ia melihat gambar adindanya itu, ia pun mendekap

udara yang di hadapannya, pada sangkanya tubuh adindanyalah yang

dipeluknya itu, akan tetapi suatu pun tiada. "O, aku bermimpi," pikir

Aminu'ddin; belum sekarang, besoklah baru aku melihat muka

Mariamin, di situlah aku mendengar suaranya yang merdu itu. "Ah,

sungguh amat lama malam ini, seolah-olah tak berkesudahan rasanya."

Sementara itu bulan dan bintang-bintang telah melewati baris yang

membentang di langit, dari utara sampai ke selatan, yakni yang menjadi

watas timur dan barat. Malam pun telah jauh, suatu pun tak ada yang

kedengaran, hanya suara jengkerik dan makhlul yang•kecil-kecil di

tengah padang yang luas itu. Angin yang lemahlembut itu pun telah

berhenti, sehingga daun tembakau yang leba, itu tiada bergerak lagi.

Aminu'ddin tinggal juga di luar, tiadalah ia dapat tidur. Perjalanan

bintang yang lambat-lambat itu ditentangnya dan kalau ada sebuah

bintang yang lenyap ke batik Gunung Sibualbuali, ia pun menyangkakan,

makin dekatlah kedatangan matahari itu ... makin dekatlah

waktunya ia melihat adindanya. "Kalau ia sakit dan kalau ia ... tentu

adindaku terlambat datang, " pikir Aminu'ddin.

Hati Aminu'ddin gundah gulana dan darah di dadanya berdebardebar,

karena perasaan hatinya yang demikian itu membuat jantungnya

lebih kencang bergerak dan darahnya mengalir dengan cepat dalam

seluruh urat-urat badannya.

Dalam hal yang demikian itu merasalah Aminu'ddin dirinya amat

letih, sedang keringatnya pun mengalir di punggungnya. la pun

tertidurlah dengan amat nyenyaknya. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi

melihat Mariamin hanyut di sungai, yakni sungai yang dahulu itu juga

tempat ia dapat kecelakaan. Akan tetapi terjadinya itu waktu siang hari

dan air pun tiada berapa derasnya. Mariamin meraung dan berteriak

meminta pertolongan.kepada Aminu'ddin, akan tetapi ia diam saja.

Anak gadis itu hanyut serantau, dua rantau ... suaranya pun makin

sayup-sayup ... yang akhirnya lenyap dari mata Aminu'ddin. Dan ... ia

pun melompatlah hendak mengejar adiknya itu.

Aminu'ddin terperanjat daripada tidurnya dengan heran, karena

setelah ia bangun, tahulah ia bahwa ia telah berdiri di atas tanah. la

menggosok-gosok matanya dan mengingat apa yang kejadian atas

dirinya. Tiada berapa lama, ia pun sadarlah akan dirinya dan barulah ia

tahu, penglihatannya itu tiada benar, hanya mimpi jua adanya.

"Apatah gerangan maknanya mimpiku yang ajaib ini? Adakah patut

di akal, aku membiarkan Mariamin dihanyutkan air? Mustahil! Tak

mungkin! Ialah yang lebih berharga bagiku di atas bumi ini. Tetapi

sungguh ajaib mimpiku ini." Demikianlah Aminu'ddin berpikir-pikir

sambil ia duduk di atas bangku yang di muka tempat tidurnya.

Bintang Timur yang menandakan hari akan siang telah ke luar dari

sisi sebelah timur. Awan di langit pun mulailah merah kekuningan

rupanya, makin lama makin nyata dan jernih, langit pun sebagai

disepuh dengan mas juita rupanya dan fajar pun telah menyingsinglah.

Meskipun si penerangi alam ini belum ke luar daripada peraduannya,

akan tetapi cahayanya yang elok itu telah kelihatan. Ke sana-sini

pada segenap lingkungan alam terpancarlah sinarnya yang amat permai

itu, ke luar daripada suatu benda yang bundar, sebagai anak panah yang

melayang daripada busurnya.

Semuanya itu dipandang Aminu'ddin dengan kegirangan hatinya,

karena saat kedatangan matahari itu tiada ternilai harganya pada

Aminu'ddin, sebab bukan sajalah ia membawa panas dan sinar ke bumi

ini, tetapi sekali ini adalah ia seakan-akan membaw.a benda yang lebih

mahal daripada intan dan zamrud, yaitu Mariamin jiwa utamanya itu.

Sebentar lagi ... dilihatnyalah muka adindanya itu, muka yang

sebenarnya, bukan bayangan saja lagi ... ya, sekejap mata lagi ....

Akan tetapi suara Mariamin yang berteriak-teriak dengan sayupsayup

meminta tolong itu masih kedengaran olehnya, tiada berkeputusan.

Semuanya itu tak lain dari angan-angan Aminu'ddin saja.

Setelah habis mandi dan berpakaian, pergilah Aminu'ddin ke stasiun

Pulau Berayan, karena itulah perhentian kereta api yang lebih dekat

pada perkebunan tempat ia bekerja. Sesampai ia di Medan, ia pun

menyewa sado akan pergi ke rumah kaumnya memberitahukan,

kedatangan ayahnya itu. Segala orang yang melihat Aminu'ddin, tiadalah

dipedulikannya. Kuda Batak yang me-' narik sado itu pun berlarilah

dengan kencangnya dan tangkas, sehingga rupanya sebagai burung

terbang. Roda sado itu pun seperti kebiasaan sado di kota Medan,

berlingkar karet, sehingga suaranya tiada kedengaran waktu berputar di

atas jalan-jalan kota yang permai itu, hanyalah suara kuku kuda yang

berlari-lari itu saja yang kedengaran, seolah-olah suara balam yang

mengepakngepakkan sayapnya. Sais yang berpakaian putih itu pun

sudah tentu menambahi eloknya sado itu di mata, membunyikan

cambuknya yang berbunga, apabila sampai di jalan yang ramai suara

lonceng pun kedengaranlah, kalau mereka itu melalui jalan yang berbelok.

"Berhenti, Bang," ujar Aminu'ddin, setelah mereka itu sampai di

Sungai Rengas. Sais itu menarik tali les dan sekejap itu pun kuda Batak

yang mengerti itu menahan kekuatan menarik kereta itu ...; dua tiga

langkah ... ia pun berdirilah di tepi jalan.

"Tunggu, Bang," kata Aminu'ddin, seraya ia turun. Tiada berapa

lama, datanglah ia kembali dengan kaumnya itu, kedua laki-istri.

Mereka itu hendak turut juga mengelu-elukan kedatangan Baginda

Diatas. Dengan memakai dua sado, berkeretalah mereka itu ke stasiun.

Di tengah jalan, orang lalu memperhatikan orang muda itu. "Siapakah

gerangan anak muda itu?" Tanya masing-masing yang bersua dengan

mereka. Pertanyaan itu dapat diketahui Aminu'ddin pada air muka

orang itu. Ya, benar ia seperti orang baru, tetapi bukan disebabkan

pakaiannya lebih buruk daripada yang biasa, tetapi sekali ini lebih

bagus.

Sebagai dimaklumi orang di Medan amat berahi akan potongan

pakaian yang bagus, lebih-lebih di antara laki-lakinya, sedang pada

perempuannya kurang. Di negeri lain perempuanlah yang berkeinginan

benar akan pakaian yang indah-indah, sedang lakilakinya kurang.

Aminu'ddin memakai-makai lebih daripada sehari-hari itu bukanlah

karena hendak melagak; ia memakai baju dan celana sutera Cina ...

kopiah beledu sutera yang lembayung ... sepatu yang berkilat-kilat ...

hanya dengan maksud, supaya ia lebih pantas di mata adindanya itu.

Barangkali pakaiannya yang elok itu dapat menghilangkan mukanya

yang dimakan panas dan angin itu, karena ia bekerja selalu kena panas

dan angin.

Akan tetapi Aminu'ddin menyesal juga, sebab pikirnya, "Pakaianku

bagus dan Mariamin tentu tidak, karena ia baru datang dari perjalanan

yang sejauh itu. Tentu kuranglah baiknya perbuatanku ini. la tiada pula

mempunyai kebaya sutera atau sarung Yogya, sebab ibu kami miskin.

Akan tetapi tak mengapa; pakaian apakah nanti yang tiada akan dapat

kubeli untuk dia, kalau nyawa masih di kandung badan?"

Sedang berpikir-pikir demikian, maka sampailah mereka ke stasiun.

Aminu'ddin membayar sewa sado itu, dan kedua laki istri pun pergilah

duduk ke kamar tempat menunggu kereta api, karena ada setengah jam

lagi baru kereta api dari Tebingtinggi datang.

Setengah jam lagi ... datanglah ia, tapi apakah yang tertulis di papan

yang tergantung dekat jendela tempat membeli karcis itu?

"Kereta api dari Tebingtinggi terlambat dua puluh menit," demikianlah

bunyi tulisan itu dibaca.

Aminu'ddin dengan bersungut-sungut, sebab jam sepuluh itu, yaitu

saat yang nikmat yang akan diterima Aminu'ddin.

"Sabar! Tak mengapa itu, sekian lama sudah dinanti dengan tenang,

apalagi waktu yang dua puluh menit. Waktu yang bertahun-tahun

sekejap mata saja, karena jiwaku telah kembali ke tubuhku," kata

Aminu'ddin dalam hatinya.

Dalam kamar dan ruang stasiun itu telah penuh orang, ada yang

hendak pergi ke perjalanan, ada pula yang menunggu kedatangan kaum

kerabatnya. Di sana-sini pekerja-pekerja dan pegawai kereta api sibuk

dan ramai menjalankan kewajibannya.

Kereta seretan hilir-mudik mengantarkan barang-barang yang

hendak dimuat, amat ribut suaranya, sedang orang yang banyak itu pun

berkumpul di ruang stasiun, akan menantikan kereta yang datang itu;

sebentar-sebentar mereka itu meninjau ke barat, melihat kalau-kalau

asap kereta itu telah nampak.

Bunyi kereta api itu pun kedengaranlah, makin dekat makin kerat.

Asap yang berkepul-kepul beterbanganlah ke kanan dan ke kiri ... dan

kesudahannya kereta itu pun memasuki stasiun itu dengan suara yang

menderu-deru, sehingga tanah itu gemetar karena hebatnya.

"Allah," mengucap Aminu'ddin, "datanglah Mariamin?"

Sabarlah ... hanya sekejap lagi.

Hati Aminu'ddin berdebar-debar, dadanya gemuruh ... tiada berapa

lama antaranya kelihatan bapaknya sudah turun dari kereta, tetapi

Mariamin belum; tentu sebentar lagi ....

Sebagai kijang yang luka kena tembak, Aminu'ddin pun berlarilah

mendapatkan ayahnya itu. Akan tetapi saat yang nikmat itu bergantilah

dengan ketika yang belum pernah dirasa anak muda itu.

Ayahnya itu membawa anak gadis yang bagus, akan tetapi bukanlah

Mariamin yang diharap-harapnya itu ....

Bagaimana pertemuan anak muda itu tak dilukiskan di sini.

Tiadalah dapat menuliskan sedih dan pilu, kesal dan kecewa yang

diderita hati anak muda remaja itu. Sungguh terlampau berat akan

melukiskan hal itu.

Dengan lekas-lekas mereka itu, yang datang dan yang menanti,

berkereta ke rumah famili Aminu'ddin. Semua hal itu sebagai mimpi

bagi dia, tiadalah ia sadar benar akan dirinya.

Lepas makan tengah hari, Baganda Diatas pun bercakaplah

menceritakan kedatangannya dan hal ihwal yang menyedihkan hati

Aminu'ddin itu. Kesudahannya ia berkata, "Benar perbuatan kami ini

tiada sebagai permintaan anaknda, tetapi janganlah anakku lupakan,

keselamatan dan kesenangan anak itulah yang dipikirkan oleh kami

orang tuamu. Oleh sebab itu haruslah anak itu menurut kehendak orang

tuanya kalau ia hendak selamat di dunia. Itu pun harapan bapak, dan

ibumu serta sekalian kaumkaum kita anakku akan menurut permintaan

kami itu, yakni anaknda terimalah menantu ayahanda yang kubawa

ini!"

Meskipun Aminu'ddin mula-mula menolak perkataan itu, tetapi

pada akhirnya terpaksalah ia menurut bujukan dan paksaan orang itu

semua. Bukanlah disebabkan ia tiada setia kepada Mariamin, akan

tetapi apakah dayanya melawan orang yang sebanyak itu? Lagi pula hal

itu sudah terlanjur sekali, tak dapat diundurkan lagi. Apatah kata

bapaknya nanti, bila anak gadis yang dijemput ayahnya itu dikembalikan

kepada orang tuanya? Itu belum pernah kejadian dan bukan adat!

Malu orang tuanya, malu Aminu'ddin juga, sedang menurut kitab

anak itu tiada boleh durhaka kepada orang tuanya.

Sebenar-benarnya Aminu'ddin setia juga kepada adindanya itu, akan

tetapi terpaksalah ia menurut kehendak orang tuanya. Amatlah berat

lidahnya, tatkala akan mengiakan perkataan bapaknya itu.

Pendek kisah, Mariamin yang malang itu hanyut juga, makin lama

makin jauh, sehingga lenyap dari mata, sedang suaranya minta tolong

itu sia-sia saja, sebagai batu jatuh ke lubuk.

Demikianlah kejadian cinta Mariamin yang malang itu.

Siapa yang salah? Dalam hal ini nyatalah adat dan kepercayaan

kepada takhyul itu yang mengurbankan cinta kedua makhluk Allah itu.

Dunia ini tempat panas dan hujan, duka dan suka berganti ganti di

atasnya.

Kesudahannya cinta yang malang itu ada jugalah ekornya.

Sedang Aminu'ddin duduk dalam kamarnya, sebenarnya dalam

kamar kaumnya, tempat ia menumpang sementara itu yaitu sesudah

nikah dilakukan, ia pun berpikir dalam hatinya, "Pada waktu inilah

harus aku berkirim surat kepada Mariamin, memberitahukan hal ini dan

minta ampun kepadanya. Haramlah bagiku akan mengaku orang lain

istriku, sebelum perkataan meminta maaf ke luar dari mulutku; akan

jawabnya tak mungkin dapat ditunggu. Bila aku menulis surat kepada

Mariamin, sudahlah cukup sebagai meminta ampun. Surat yang akan

dibaca Mariamin itu, itulah ganti mukaku berhadapan dengan anak dara

itu."

Maka ia pun mengambil sehelai kertas, lalu menulis surat.

"Anggiku Mariamin yang amat kucinta !

Sebelum kakanda menceritakan sebabnya kakanda berkirim

surat ini, lebih dahulu kakanda meminta doa kepada Allah,

supaya la memberi adinda kekuatan akan menahan kabar yang

akan kuberitakan ini kepada adinda.

Riam, berat yang kupikul, ngeri perasaanku sampai pada

waktu menulis surat ini. ... Hatiku remuk-redam.

Engkau pun tentu demikian. Sebab itu kumpulkanlah

tenagamu, pikullah bebanmu dengan hati yang sabar sebagai aku.

Anggi Riam, kasihku tiada berkurang akan dikau. Percayalah,

engkau tak kulupakan dari dahulu sampai sekarang, ya, sehingga

matiku. A ku pun percaya, adinda kasih juga akan diri kakanda,

sebab itu lebih dahulu aku minta ampun, dan keampunan itu

harap aku peroleh, sebab Riam kasih kepada kakanda anak yang

terbuang-buang di rantau ini.

Sekarang sampailah tulisanku ini kepada kabar yang

meremukkan hatimu. Ayah kita sudah datang ke Medan membawa

anak yang lain, dan kawan sehidupku.

Riam tahu benar, bukanlah dia yang kuminta, tetapi adindalah.

Akan tetapi sudah jauh terlanjur, sehingga tak dapat diulangi lagi.

Dengan nama Allah kakanda bersumpah, bahwa kakanda tak

bersalah, adinda pun tidak. Ya, hanya ini sajalah yang kakanda

katakan: Sekaliannya itu terjadi dengan takdir Allah Yang

Mahakuasa. Oleh sebab itu kepada Dia-lah kita serahkan

penanggungan kita yang sedih ini. Allah yang kasih akan

hambanya, Dialah yang dapat membuat hal ini berkesudahan

yang baik, baik kepada kakanda, baik kepada adinda.

Dan sekarang kita lupakanlah sekalian angan-angan dan janji

kita yang dahulu itu. Ya, apa boleh buat, sekaliannya telah hanyut

ke taut kedukaan.

Kalau adinda ada semupakat, inilah kita janjikan, yakni kasih

dan cinta yang bertahun-tahun itu kita biarkan hidup dalam kalbu

kita berdua.

Anggi Riam, buah hatiku, percayalah bahwa kakanda takkan

melupakan adinda, selama ada hayat di kandung badan, Orang

lain, istriku yang sekarang pun, tiadalah dapat kukasihi dengan

sepenuh-penuh hatiku, karena ruangan kalbuku telah penuh

olehmu.

Akan penutup suratku ini, kakanda memberi pengakuan kepada

adinda, yakni pengakuan yang ke luar dari fuad zakiyat, bahwa

surat ini kusurat dengan perkataan yang terbit dari piala

keikhlasan hatiku. Dan sebagai permintaan yang penghabisan,

tetapi ini tak kuharapkan, kakanda ingin sekali menerima surat

balasan daripada adinda, yakni surat keampunan, supaya ombak

waswas yang berpalu-paluan di atas karang wasangka hati

kakanda itu, agak teduh sedikit rasanya.

Selamat ..., selamatlah engkau Riam. Tuhan memberkati

jiwamu !

Salam takzim daripada kakanda yang gundah gulana,

AMINU'DDIN

Sambil ia menghapus air matanya yang jatuh menitik ke atas surat

itu, ia memasukkan surat itu ke dalam sampulnya, lalu dibawanya

malam itu juga ke kotak pos. Istrinya yang baru itu heran melihat

perbuatan suaminya itu, lebih-lebih melihatnya yang balut itu, ajaib

benar kepada dia, sebagai teka-teki yang tak dapat diterka.

Sebulan lamanya Baginda Diatas di Deli mengunjungi kaumkaumnya.

Maka ia pun kembalilah dengan membawa pesanan yang

wajib dilakukan. Karena kalau tiada demikian, tak suka Aminu'ddin

menurut perkataan itu. Lagi pula menurut adat, seharusnyalah ia

berbuat demikian.

Apakah pesan yang dibawa bapaknya itu?

Yaitu setelah sampai di Sipirok, ia dan istrinya harus membawa nasi

bungkus ke rumah ibu Mariamin*) meminta maaf, sebab Aminu'ddin

telah berjanji dengan Mariamin akan kawin. Akan penutup perbuatan

yang salah itu, haruslah mereka itu memberikan seekor lembu dan

kerbau kepada ibu Mariamin.

Hal itu diminta keras oleh Aminu'ddin kepada ayahnya, bukan

supaya menurut adat saja, tetapi maksud menolong adindanya yang

miskin itu, lebih berat padanya daripada adat.

Suatu tanda, bahwa Aminu'ddin bertabiat yang mulia terhadap

kepada sahabatnya yang malang itu.

Jadi nyatalah, bahwa ia tiada dusta, waktu menulis, "Saya mengaku,

takkan berkurang kasihku akan dikau, Riam."

*) Menurut adat orang Batak, orang yang meminta ampun

akan kesalahannya, harus membawa nasi ke rumah

orang tempat ia meminta ampun itu, supaya langkahnya

berat. Nasi itu biasa dibungkusdengan daun pisang;

sebab itu nasi itu bernama nasi bungkus.

Ya, benar; akan tetapi acap kali kejadian di dunia ini bahwa huruf

yang terukir di hati manusia itu amat mudah lenyap, apabila tukang

ukir yang lain datang.

7. DALAM'RUMAH BAMBU MARIAMIN

"Kak Riam! Ini surat, yang diberikan seorang tukang pos," kata seorang

budak, yang berlari-lari dari halaman rumah mereka itu masuk ke

dalam.

Mariamin menerima surat itu dengan gemetar tangannya, karena

tulisan surat itu dikenalnya. "Surat ini dari Medan, dari Aminu'ddin,

Mak!" katanya, sambil membuka surat itu.

$elum habis Mariamin membaca surat itu, maka pucatlah mukanya,

peluhnya mengalir pada seluruh badannya. Pemandangannya pun sudah

salah, suatu pun tak ada yang terang dilihatnya, semua berpusingpusing

di matanya. Kalau si ibu tiada menangkap dia, sudah tentu ia

jatuh terbalik karena ... ia sudah pingsan.

"Astagfirullah!" mengucap mak Mariamin, sambil meletakkan anaknya

itu ke atas tikar yang terkembang. Yang pingsan itu terletak tiada

bergerak, dan surat yang menghancurkan jiwanya itu dipegangnya

kuat-kuat dengan tangan kirinya. Pipi, bibir serta kelopak mata yang

halus itu amat pucat, tiada ubahnya dengan mayat, hanya dada yang

turun naik sekali-kali itulah yang membe:i tanda, bahwa ia masih bernyawa.

"Bukankah bunda sudah berkata, kita orang yang hina? Anakku

bercintakan orang yang kaya juga. Beginilah kesudahannya," kata

ibunya sambil menangis, dan air matanya bercucuran ke atas pipi

anaknya yang malang itu.

Beberapa lamanya barulah Mariamin sadar akan dirinya, karena ibu

yang sudah bingung itu tiada berbuat suatu apa akan menyadarkan

anaknya, umpama menyapukan air dingin ke muka si sakit. Bagaimanakah

ia mengingat itu, karena ia pun sudah kehilangan akal pula.

Anak gadis itu membuka kelopak matanya yang pucat itu. Ia melihat

ibunya menangis, dan surat di tangan kirinya. Sekarang tahulah ia

apa yang terjadi di atas dirinya. Maka bertangis-tangisanlah keduanya.

Bukankah hati manusia yang acap kali mendapat azab pada kehidupan

ini, amat halus perasaannya? Jikalau ia luka, maka luka yang

sudah bertahun-tahun itu pun, menambahi sakit dan pedihnya luka yang

baru itu.

"Janganlah anakku membaca surat itu juga, karena hati anakku

masih dalam masygul!" ujar ibunya, sambil surat itu dihelakannya

perlahan-lahan dari tangan Mariamin.

"Ya, Mak, simpanlah dahulu surat itu," sahut Mariamin dengan

keluh yang panjang.

Entah berapa hari, entah berapa Jumat, entah berapa bulan anak

gadis itu tiada lagi meninggalkan tempat tidurnya. Tetapi lama, lebih

lama daripada dugaan orang, karena suatu pun tak ada obat yang

menyembuhkan penanggungannya itu. Benarlah seperti bunyi peribahasa

ini: "Luka di tangan dapat ditahan, luka hati apa obatnya?"

Akan tetapi sungguhpun demikian, penanggungannya itu adalah makin

berkurang, sehingga setelah beberapa lamanya, dapat ia serta bekerja

menolong ibunya.

Mukanya yang penuh dahulunya, sekarang sudah kurus dan pucat

dan mata yang hitam jernih itu sudah kurang cahayanya, amat

kasihanlah kita melihatnya. Seharusnya tubuhnya yang lemah itu

jangan dahulu dibawanya kerja; tetapi apa boleh buat, orang yang

miskin itu harus minum keringatnya dan makan dagingnya.

Tepat pada hari yang pertama, setelah Mariamin sembuh, maka

datanglah Baginda Diatas dengan istrinya membawa nasi bungkus ke

rumah ibu Mariamin. Waktu itu si ibu tak ada di rumah, hanya

Mariamin sajalah yang tinggal di rumah. Setelah dilihatnya orang tua

Aminu'ddin datang itu maka ia pun berlari ke luar mengajak mereka

masuk. Dengan muka yang ramah ia mempersilakan jamu itu duduk di

atas ... tikar, yaitu tikar yang dianyamnya sendiri itu, untuk tempat

duduk ayah Aminu'ddin dua laki-istri.

Serbuk kopi, juadah yang tersimpan itu pun dikeluarkannyalah, lalu

diletakkannya ke hadapan tamu yang berdua itu. Dengan hormatnya ia

berkata, "Ayah dan Bunda, minumlah air panas yang dengan tiada

sepertinya ini! Hamba hendak pergi sebentar memberitahukan mak

akan kedatangan ayah dan bunda; dia sekarang ada menjemur padi."

"Pergilah Anakku!" sahut Baginda Diatas.

Ia menyesal akan perbuatannya yang sudah-sudah itu, karena terkena

hatinya oleh budi bahasa anak gadis miskin itu; sikap dan tertibnya

pun adalah menarik hatinya. Muka yang pucat itu pun menerbitkan

belas kasihan dalam hatinya. Bukan belas dan kasihan saja, tetapi

dengan sesalnya. Sekarang ia amatlah menyesal sebab melalui

keinginan anak muda yang berdua itu.

"Siapa tahu, karena perbuatanku itu aku memusnahkan untung dan

mujur Aminu'ddin dan Riam?" pikirnya dalam hatinya. Pikir istrinya,

"Sebenarnyalah pendapatku itu yang lebih baik, tetapi apa boleh buat,

perkataan datulah yang lebih berat di hatimu."

Setelah itu Mariamin pun datanglah dengan ibunya. Orang itu pun

makanlah bersama-sama. Sesudah makan dan minum, Baginda Diatas

pun membuka tutur, yakni mengatakan maksud kedatangan mereka itu.

Semua pesan Aminu'ddin itu disampaikannya. Sesudah mereka itu meminta

maaf atas kesalahannya itu, Baginda Diatas pun berjanji, bahwa

sejak daripada itu mereka itu akan mengubah kelakuan yang selama ini,

yakni tali perkauman itu takkan putus, melainkan bertambah kukuh

dalam hati mereka itu.

Jamu itu pun pergilah; ibu Mariamin bersenang hati, bukan karena

pembawaan kerbau dan lembu itu, akan tetapi disebabkan janji yang

mulia itu.

Mariamin, meskipun ia beroleh emas dan perak atau apa pun yang

lain, akan tetapi barang yang amat diinginnya itu tetap juga hilang,

hilang selama hidupnya.

Tetapi sungguhpun demikian ia memuji budi Aminu'ddin yang baik

itu. Sementara itu ia mengambil surat Aminu'ddin dari bawah bantalnya,

lalu dibacanya perlahan-lahan. Air mukanya tak berubah lagi,

tinggal tenang saja. Kemudian ia pun mencabik kertas kitab tulisnya

yang sudah lama, lalu ia menulis surat akan memenuhi permintaan

Aminu'ddin itu dengan seikhlas-ikhlas hatinya.

Yang terhormat Kakanda Aminu'ddin!

Surat kakanda itu sudah adinda terima. Ya, apa boleh buat,

sudahlah demikian takdir Tuhan berlaku atas hambanya.

Semuanya itu takkan kusesalkan kepada kakanda.

Ya, apa disesal kepada puan, puan suasa tempaan Bantan.

Apa disesal kepada tuan, nasibku itu pendapatan badan.

Dan tentang angan-angan dan cita-cita kita yang dahulu itu,

sebenarnyalah perkataan kakanda itu, lebih eloklah kita

melupakan dia daripada hati kita. Oleh sebab itu baiklah kita

buat sementara jangan berkirim-kiriman surat, agar supaya luka

hati kita jangan terantuk-antuk. Maklumlah kakanda Aminu'ddin,

bagaimana penderitaan adinda ini. Ya, perempuan itu mempunyai

perasaan yang lebih halus, dan luka hatinya itu tiada

mudah sembuh, sebagai laki-laki. Oleh sebab itu baiklah kita

membiarkan, yang sudah tinggal sudah, janganlah kita

mengulang-ulangi dia.

Permintaanmu itu, Aminu'ddin, kukabulkan dengan segala

suci hati. Lagi pula seharusnyalah kita bermaaf-maafan. Tetapi

sungguhpun perhubungan kita sudah putus, adinda ini harap

juga, supaya kita sebagai orang yang bersaudara.

Ya ... lebih dari itu tak mungkin lagi. Sehingga ini dahulu

suratku ini, surat yang terbit daripada hati yang putih.

Salam waltakrim daripada adikmu,

MARIAMIN

Habis siang berganti malam, habis minggu berganti bulan, demikianlah

adanya sehingga setahun, akan tetapi suatu pun tak ada

perubahan dalam rumah bambu tempat ibu dan anak yang miskin itu ....

Memang suatu pun tak ada perubahan selama tahun yang pertama,

akan tetapi pada tahun yang kedua telah ada lainnya. Lebih-lebih pada

waktu yang kemudian ini.

Mariamin, anak gadis yang ... di dalam duka nestapa itu, sekarang

lebih sibuk bekerja daripada yang biasa, seolah-olah melakukan persediaan

untuk perjalanan, serupa tahun yang dahulu. Tetapi sekali ini ia

bekerja itu tiada dengan girang hati, tangannya yang bekerja itu

bergerak dengan tak tetap dan muka yang halus itu kurang cahayanya,

karena dimuramkan hati yang bimbang itu.

Hari waktu berangkat tak lama lagi, hanya menunggu seorang muda

yang datang dari Padangsidempuan.

Dengan orang itulah ia akan kawin. Maksud orang itu yakni hendak

beroleh untung, karena sebagai kepercayaannya, perkawinan itu membawa

untung kepada laki-laki dan perempuan. Akan tetapi bagi anak

gadis itu, tiadalah perkawinan itu membawa untung dan mujur bagi dia,

ia perempuan, yang telah kenyang oleh kesedihan, meskipun umurnya

belum seberapa.

Perkawinan itu tiada akan memutuskan azab dan sengsara yang bertali-

tali itu, tetapi akan menambah kemelaratan lagi bagi dia, anak gadis

yang malang itu.

Semuanya itu dilihatnya, dirasanya, bukan dengan urat sarafnya,

tetapi hatinya mengatakan padanya.

Akan tetapi apa boleh buat, tiadalah dapat ia menolak beban yang

akan dipikulnya itu. la telah mengerti, bahwa hidupnya di dunia ini

tiada lain daripada menanggung dan menderita bermacam-macam

sengsara.

Bagaimanakah dapat ia menolak perkawinan itu, karena ibunya berkehendak

demikian. Menerangkan keberatannya serta perasaan

kemauannya, tetapi membantah perkataan ibunya tak sampai hatinya;

karena belum pernah diperbuatnya.

Betul ibunya tak memaksa dia, hanya sekadar menyuruh dia.

Karena bolehlah nanti di belakang hari mendatangkan malu, apabila

anaknya itu tiada dipersuamikan. Orang yang tinggal gadis itu menjadi

gamit-gamitan dan kata-kataan orang. Itulah yang ditakutkan ibunya.

Itulah yang menyebabkan si ibu menyuruh anaknya menerima

pinangan orang itu.

"Bukan mudah menjadi perempuan," kata ibunya, "laki-laki itu lain.

Meskipun ia melambat-lambatkan perkawinan, tak seberapa menyusahkan

dia. Bila hatinya nanti tergerak hendak beristri, dapatlah ia dengan

segera mencari perempuan. Akan tetapi perempuan itu, kalau ia hendak

bersuami, bolehkah ia nanti masuk ke luar negeri orang akan mencari

jodohnya? Oleh sebab itu baiklah anakku jangan melalui permintaan

bunda ini; lagi pula manusia itu harus jua diperjodohkan, jadi tiadalah

faedahnya kita, segan-seganan karenanya."

Kebenaran dan pertimbangan yang dituturkan ibunya itu, benar pula

dalam pikiran Mariamin. Tetapi terasa dalam hatinya bahwa perkawinan

itu, yang akan dilakukannya akan membawa dia ke jalan

kemelaratan. Akan tetapi ia merasa demikian dalam hatinya, jadi tiadalah

dapat diberinya keterangan. Itulah sebabnya ia terpaksa juga akhirakhirnya

menurut kesukaan ibunya itu.

Kesudahannya ia kawin dengan orang muda dari Padangsidempuan,

orang muda yang tiada dikenalnya, orang muda yang tiada dicintainya,

jodoh yang tak disukainya.

Orang muda? Sebenarnya tiada demikian, hanya katanya ia orang

muda. Di Medan, tempat ia makan gaji, ada lagi bininya. Ia pulang ke

Tapanuli hanya mengunjungi negerinya saja. Dalam pada waktu itu

dilihatnya ada seorang gadis anak orang miskin. "Itu tentu dapat diperoleh,

karena aku kaya, makan gaji, kerani di Medan, sedang anak itu

orang kebanyakan," begitulah pikir orang itu. Istrinya yang di Medan

itu tiada susah menguruskannya, jatuhkan saja talak tiga, habis perkara;

gantinya telah ada, lebih muda lagi. Kelakuan yang serupa itu sudah

banyak sekali dilakukan orang muda itu.

Ya, kalau dikatakan laki-laki itu buas dan ganas tabiatnya, kasar

didengar telinga, tetapi tiada salahnya lagi. Bukankah banyak

perempuan yang melarat karena perbuatan laki-laki yang semacam itu?

Sungguh amat keji perbuatan itu.

Orang yang jadi suami Mariamin itu pekerjaannya kerani. Tentang

bentuk dan rupanya begini: dia tak dapat dikatakan muda lagi; raut

mukanya panjang, kurus sedikit, hidungnya pendek dan bibirnya tebal.

Cahaya matanya tajam dan berkilat-kilat, menyatakan ia pintar dan

cerdik, tetapi pintar dalam tipu daya.

Begitulah rupa si Kasibun, yaitu nama orang itu, yang akan jadi

suami anak gadis yang molek itu. Sekalipun rupanya tak dapat dikatakan

elok, akan tetapi karena pandainya memakai dan memelihara

dirinya, kelihatanlah badannya yang agak tua itu lebih muda dipandang

daripada yang sebenarnya.

Kasibun pun datanglah ke rumah orang tua Mariamin.

Mariamin telah sedia akan meninggalkan Sipirok, menuju ke Medan

tempat yang ramai itu. Waktunya berangkat pun sudah dekat, yakni

besok hari Jumat, karena kawan di jalan telah dapat. Malam itu yakni

malam Jumat, pergilah si ibu dengan Mariamin memliawa cambung

yang berisi air dengan limau purut serta bunga-bungaan, pergi

mengunjungi kuburan mendiang Sutan Baringin. Setelah mereka itu

sampai, maka Mariamin pun menyiramkan air yang dicambung itu ke

atas kuburan bapaknya, dan ibunya berdiri memandang ke tanah, suatu

pun tak ada ia berkatakata, karena terkenang olehnya kejadian yang

sudah-sudah, tatkala Sutan Baringin masih hidup.

Mariamin meletakkan cambung itu, lalu mereka itu duduk bersamasama

di sisi kubur itu.

Sunyi serta lengang rupanya tanah ,oekuburan itu, karena seorang

manusia yang lain tak ada di situ; matahari pun telah terbenam, hanyalah

cahaya senja saja yang kelihatan di langit. Burung-burung pun telah

bersembunyi dalam sarangnya, juga udara yang memenuhi muka bumi

ini diam, seolah-olah orang musafir yang telah payah rupanya. Tempat

pekuburan yang sunyi itu menambah kesedihan hati si ibu; karena

waktu kegirangan yang sudah-sudah tergambar dalam hatinya, dan

gambar itu amat menyedihkan hatinya, karena sekaliannya itu telah

hilang terkubur, sebagai suami yang terkubur di tempat itu. Kini

tinggallah ia anak-beranak dalam kemiskinan, apalagi sekarang anak

yang sulung hendak bercerai pula dengan dia. Tetapi apa hendak dikata,

sudahlah demikian janjinya. Lagi pula perceraian dengan anaknya

itu barangkali adalah akan membawa perubahan bagi mereka itu.

Banyaklah yang diharapkannya, karena itu ia berkata kepada anaknya,

"Mariamin, sekaranglah kuluaskan cita-cita yang terkandung dalam

dada bunda ini. Anakku telah maklum akan kemiskinan kita sejak dari

matinya ayahmu. Bukanlah bunda yang salah, dialah yang menyebabkan

kita demikian. Tapi itu tiada boleh kita sesalkan kepadanya,

karena bukan dengan sengajanya, lagi pula ia telah meninggal. Karena

itu haruslah kita melupakan yang sudah-sudah itu. Tetapi sebagai

keinginan ibu, ibu berusaha akan memperbaiki keadaan kita, tapi

sampai kini suatu pun tak ada yang kuperoleh. Itulah sebabnya, maka

ibu ingin mempersuamikan anakku, karena si Kasibun itu tiada

berorang tua lagi, hanyalah saudaranya yang ada. Jika anakku pandai

mengambil hatinya, sampai ia sayang akan anakku, tentu ia memandang

bunda sebagai ibunya sendiri, dan adikmu itu pun diperbuatnya

sebagai saudara kandungnya pula. Kalau demikian dapatlah

kita kelak diam bersama-sama, karena gajinya pun besar, kata orang.

Bukankah lebih bnik kita meninggalkan luhak Sipirok ini, sawah

setelempap atau lembu sebulu kepunyaan kita tak ada di sini. Itulah

harapan bunda. Dengan sepandai-pandaimulah membawakan dirimu

kepada si Kasibun. Dan anakku ingatlah perkawinan ini sajalah yang

dapat menyudahkan sengsara kita yang bertimbun-timbun ini."

"Sedapat-dapatnya anakanda akan menurut perkataan bunda itu,"

sahut Mariamin, akan tetapi dalam hatinya ia merasa bala yang akan

menimpa dirinya.

8. DI TANAH ASING

Bukit-bukit yang berbaris-baris di Pulau Samosir itu sebagai tertutup

dengan beledu nampaknya dari jauh; langit yang tak berawan itu adalah

seperti payung ubur-ubur, yang diperbuat daripada sutera hijau,

masing-masing melihat bayang-bayangnya ke muka air Danau Toba

yang jernih itu, seolah-olah dua orang bidadari yang berdiri di muka

kaca besar, akan mempersaksikan parasnya yang elok. Bunga-bunga

yang berkembangan di pantai Laut Tawar*), serta cahaya embun yang

berhamburan pada daun rumput-rumput, adalah pada mata kita sebagai

halaman yang permai, penuh dengan intan permata. Pemandangan yang

permai itu ditambahi suara alam yang merdu, sehingga telinga kita pun

merasai kenikmatan dunia ini.

Pada segenap padang rumput yang terletak di lereng-lereng bukitbukit

berkeliling danau itu, kelihatan hewan beratus-ratus banyaknya.

Padang- itu ingar oleh suara kerbau yang menguak, lembu yang

mengeluh, dan kuda Batak yang termasyhur itu pun tiada kurang

bilangannya, karena di sinilah tempatnya, dan dari negeri itulah orang

menjual binatang-binatang itu pada segala penjuru Tapanuli, seperti ke

Medan, pun juga sampai ke Jawa. Siapakah yang tak suka melihat

jalannya kuda Batak yang kencang itu, siapakah yang tak ingin

menungganginya, karena meskipun ia berpacu atau mendua, pandailah

ia menjaga, supaya tuannya yang mendudukinya itu diam dan tiada

terlonjak-lonjak.

Tengoklah perahu yang di atas muka air itu! Haluannya terhadap ke

utara, dan ia baru meninggalkan Balige, ibu negeri daerah Toba. Angin

sedang berembus dari belakang, sehingga perahu itu berlayar dengan

lajunya; layar pun terkembang semua, sebagai sayap burung yang

sedang melayang di udara. Kalau dihampiri perahu itu tentu

kedengaranlah suara orang menumpang yang bercakap-cakap dengan

riangnya; ada yang tertawa gelakgelak, ada yang bernyanyi, ada pula

yang bersiul. Siapakah yang tiada bergirang hati melihat pemandangan

yang seindah itu?

Tetapi di antara orang banyak itu ada juga seorang perempuan yang

duduk bermuram durja. Meskipun ia mencoba-coba menghilangkan

dukacitanya, tak juga dapat olehnya. Kadang-kadang ia memaksa

dirinya akan tertawa menyertai orang yang terbahakbahak sekelilingnya

itu, akan tetapi ia tertawa itu sekedar akan menyama-nyamai orang itu

saja.

*) Danau Toba dinamai orang juga Laut Tawar,

artinya laut yang airnya tawar.

Siapakah perempuan muda itu? Tak lain ialah Mariamin, dan perahu

itulah yang membawa mereka dengan kawannya seperjalanan ke Tiga-

Ras. Dari situ berjalan darat ke Pematangsiantar, dan kemudian terus ke

Medan. Pada waktu itu adalah susah berlayar dari Balige ke Tiga-Ras,

karena kapal api kecil belum ada.

Sudah tiga hari lamanya Mariamin bersama-sama dengan suaminya,

tetapi sampai waktu itu belum dapat olehnya hati suaminya itu, sedang

tabiatnya pun belum diketahuinya. Akan mengambil hati orang,

haruslah lebih dahulu kita kenal adat dan tabiatnya. Makin lama mereka

itu bersama-sama, sebenarnya, makin dekat mereka itu ke Medan,

tujuan perjalanan mereka itu,, makin besar waswas yang timbul dalam

hatinya. Oleh sebab itu' sudah tentu ia tiada beriang hati, setelah

mereka itu sampai di Medan.

"Mustahil aku selamat di tangannya. Inilah rupanya sebabnya aku

selama ini berhati syak melihat dia. Tetapi tak mengerti aku, ya, tak

kusangka-sangka, ia ada dalam hal yang demikian itu," kata Mariamin

dalam hatinya. Waktu itu suaminya pun sudah pergi kerja; ia sendirilah

yang tinggal di rumah. Semua pekerjaannya telah habis: makanan

tengah hari telah sedia, rumah dan pekarangan pun telah bersih

disapunya. la duduk sekarang menantikan suaminya pulang dari kerja.

Pada ketika itu ia mengenangngenangkan perjalanan kehidupannya

sejak dari kecil, sebagaimana kebiasaan perempuan yang baru kawin.

Apabila ia memikirkan kan hal suaminya itu, berdebarlah hatinya sebab

ketakutan.

"Patutlah ia pucat dan kurus," kata Mariamin pula dalam hatinya.

"Seharusnyalah saya menjaga diriku supaya jangan menjangkit

penyakitnya itu kepadaku. Kalau aku beroleh dia, sudah tentu badanku

binasa." Ia gemetar, karena takutnya memikirkan penyakit yang serupa

itu. "Akan tetapi kalau ia memaksaku, apakah jawabku? Karena

kewajibanlah bagi perempuan menyerahkan dirinya, bila suaminya

meminta yang demikian. Itu tak boleh ditolak, karena atas itu ada hak

suami kepada perempuan. Kalau aku tak memenuhi hasratnya, tentu

aku dimarahinya, lamakelamaan dibencinya. Kesudahannya percederaanlah

yang timbul antara kami. Apakah jadinya pengakuanku,

tatkala aku dengan ibuku bersama-sama di kuburan ayahku itu?

Kalau diturut keinginan suamiku itu, tentu binasalah badanku.

Sebab itu baiklah aku menjaga diriku, itulah yang terutama aku

lakukan. Mula-mula aku akan berlaku halus kepadanya, kubujuk dan

kusuruhkan dia rajin berobat. Kalau dia sudah sembuh, barulah ia

menguasai tubuhku. Sebelum itu belum boleh." Demikianlah keputusan

pikiran Mariamin perempuan yang berhati keras itu.

Pada malam itu datanglah apa yang disangka-sangka perempuan itu.

Akan tetapi ia menjawab dengan muka yang jernih serta suara yang

lemah-lembut, "Sabarlah Kakanda, apakah gunanya berdua sama-sama

susah di belakang hari. Kalau kakanda sudah baik masakan itu tak

kuturut. Oleh sebab itu haruslah dahulu kakanda kuat-kuat berobat."

Si laki meminta berulang-ulang, dengan bujuk, dengan perkataan

keras, tetapi perempuan itu menyahut, bahwa tak mungkin ia dapat

memenuhi kehendak itu. Meskipun bahasanya lemah-lembut, akan

tetapi Kasibun merasa juga bahwa istrinya itu tak dapat dibujuk atau

dipaksa. Oleh sebab itu diamlah ia. Oleh karena perantaraan mereka

berlaki-istri sudah kurang baik, karena si laki itu pun kecil hatinya dan

malu akan dirinya sendiri.

Dari kejadian itu dapat dimaklumi, apa sebab Mariamin menolak

kehendak suaminya. Memang Kasibun mengandung penyakit yang berbahaya,

yang mudah menular kepada istrinya. Maklumlah kehidupan

orang di negeri yang besar-besar itu. Kuranglah orang mengindahkan

hukum syarak dan larangan kitab. Godaan pun amat banyaknya. Karena

itu banyaklah orang yang kurang hati-hati akan memeliharakan dirinya,

lebih-lebih orang-orang muda. Mereka itu terlampau asyik akan

permainan dunia, amat suka menyenang-nyenangkan diri, melakukan

kepelesiran, ... akan tetapi tiadalah dipikirkannya terlebih dahulu, mana

yang salah, mana yang dilarang kitab. Sekaliannya itu tak diindahkannya,

asal hati dan nafsunya puas, ia sudah mengerjakannya, sehingga

lama-kelamaan ia menjadi budak nafsunya, bukanlah ia lagi yang memerintahkan

dirinya. Orang yang serupa itu tentu akan binasa di

belakang hari. Kasibun, suami Mariamin yang suci itu, masuk golongan

orang yang serupa itu.

Akan tetapi apa boleh buat; siapakah orang mengetahui dia itu?

Sipirok bukan kota besar, di Sipirok tak adalah orang yang berkeliaran

pada waktu malam hari.

Kesudahannya Mariamin anak yang bersih itu menjadi kurbannya,

karena ia tiada sempat, sebenarnya tak mendapat paksa akan

memeriksa itu. Mereka itu pun kawin dengan tiada kenalmengenal.

Pada waktu itu amatlah ramai kota Medan, lebih daripada yang

biasa. Jalan-jalan besar penuh dengan kereta yang hilir mudik, sehingga

amatlah susahnya bagi orang yang berjalan kaki melalui jalan itu, debu

pun bangkit ke udara, karena air yang disiramkan itu kering dengan

sebentar itu juga. Keramaian yang serupa itu terjadi dua kali sebulan,

yaitu tanggal satu dan tanggal enam belas hari bulan. Di situlah

waktunya orang-orang bekerja di kebun datang ke Medan, beribu-ribu

banyaknya, Belanda, Cina dan Bumiputra.

"Siapakah orang muda yang datang itu? Jalannya dan lenggangnya

masih kuingat-ingat," tanya Mariamin dalam hatinya. Ia amat heran,

karena tiadalah biasa ia dikunjungi jamu, lebih-lebih laki-laki, karena

seorang pun tak ada kenalannya dalam kota Medan yang besar itu.

Orang itu makin dekat, dan nyatalah pada Mariamin, dia itu datang

menuju rumahnya. Akan tetapi rupa muka orang itu belum terang

dilihatnya; jalannya sudah dikenalnya benar-benar. Berulang-ulang ia

bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang itu. Dia itu mesti

dikenalnya, akan tetapi pada waktu itu belum terang dalam hatinya.

"Astaga!" mengucap Mariamin dengan muka pucat. "Aminu'ddinlah

rupanya orang itu," katanya terburu-buru, serta dadanya berdebardebar.

Sebelum orang itu melihat dia, ia pun berlarilah masuk ke dalam. Ia

duduk di atas sebuah kursi di kamar muka, akan menahan hatinya yang

berdebar-debar itu. Tiada berapa lama ia pun berpikir, "Boleh jadi

orang itu orang lain, manusia banyak yang serupa dari jauh. Aku bodoh

sekali, tiada kuperiksa benar-benar."

Adapun orang itu tiadalah lain memang Aminu'ddin. Waktu itu

tanggal enam belas yakni waktu istirahat bagi orang kebun. Ia sudah

mendengar kabar perkawinan Mariamin itu, itulah sebabnya ia datang

ke Medan, dengan maksud hendak bersua dengan Mariamin, sahabatnya

yang tak dilupakannya itu.

Sedang Mariamin berpikir-pikir demikian, maka ia pun berdirilah

hendak melihat dari pintu itu ke luar. Inginlah ia hendak mengetahui

yang sebenarnya. Lagi pula ia berlari ke dalam- itu bukan disebabkan

jaiznya, hanya hendak meneduhkan ombak gelora yang hebat dalam

dadanya jua.

Akan tetapi baru ia hampir ke pintu, maka kedengaranlah olehnya

suara orang itu bertanya, "Inikah rumah kerani Kasibun, adakah ia di

rumah?"

"Ya, itulah dia. Orangnya tentu ada di dalam, karena pintunya

terbuka," jawab seorang anak yang ditanyai Aminu'ddin.

Mariamin makin pucat, karena suara orang itu telah dikenalnya,

sehingga tak tahulah ia apa yang akan diperbuatnya.

Sementara itu masuklah Aminu'ddin ke dalam dengan langkah

perlahan-lahan. Baru ia naik dan berdiri di pintu, mukanya pun pucat

menentang Mariamin. Persuaan itu amat menyedihkan hati.

"Mariamin," kata Aminu'ddin, bibirnya gemetar, dan suaranya

putus-putus, seraya memberikan tangannya.

Mariamin menerima tangan Aminu'ddin. Ia berdiri itu termangumangu.

Amatlah belas dan sedih perasaan hatinya, sehingga ia tak

dapat mengeluarkan sepatah kata jua pun akan mengajak Aminu'ddin

duduk. Kakinya gemetar, peluhnya mengalir pada muka yang makin

pucat itu, sehingga pipi yang halus itu putih sebagai kapas. Maka

lemahlah segala tulang anggotanya dan pikirannya seakan-akan hilang.

"Aminu'ddin!" katanya sambil ia jatuh terbalik. Suaranya hampir

tiada kedengaran.

"Mengapakah Mariamin ...?" kata Aminu'ddin, seraya menangkap

tubuh perempuan itu. Akan tetapi yang ditanya itu tak mendengar dan

melihat suatu apalagi, karena ia telah pingsan.

Hati siapakah yang takkan remuk redam, siapakah yang dapat

menahan persuaan yang sesedih itu? Mungkin ada yang kuat imannya,

tetapi Mariamin tidak. Bagi dia yang melarat itu, sedikit saja duri yang

menyentuh hatinya adalah sebagai membelah dadanya, apalagi

kedatangan Aminu'ddin yang tak disangkasangkanya itu.

Aminu'ddin menyandarkan Mariamin ke atas kursi yang panjang,

dan anak itu disuruhnya mengambil air dingin ke dapur.

Perlahan-lahan ia membasahi muka yang pucat itu. Sapu tangannya

yang dibasahinya diletakkannya pada ubun-ubun yang pingsan itu.

Sedang ia memandang air muka yang pucat itu, teringatlah ia kepada

cita-citanya yang sudah-sudah. Mimpinya itu pun diingatnya dan suara

Mariamin yang hanyut itu didengarnya. "Aminu'ddin! Sampai hatilah

kamu membiarkan aku dihanyutkan banjir keazaban!" bunyi suara yang

didengarnya berulangulang dalam telinganya. la pun tiadalah dapat

menahani air matanya, lalu ia menangis dengan tiada bersuara.

Mariamin pun sadarlah akan dirinya. Matanya itrr dibukanya perlahanlahan.

Maka sesudah ia melihat air mata Arninu'ddin yang bercucuran

itu, ia pun menangislah tersedu-sedu.

"Diamlah Riam, janganlah menangis lagi, sudahlah untung kita

demikian," kata Aminu'ddin seraya mengeringkan air matanya.

"Ya, apa boleh buat," sahut Mariamin, "tetapi kedatanganmu itulah,

Aminu'ddin, yang menyentuh luka hatiku yang dalam itu. Bagi

angkang tiada seberapa, tetapi bagi saya tak dapatlah diduga dalamnya

luka yang kutanggungkan ini."

Sejurus lamanya kedua mereka itu duduk berhadap-hadapan dan

seorang pun tak ada yang berkata, masing-masing termenung, karena

terkenang akan pergaulan mereka yang sudah bertahun-tahun dahulu.

Maka amatlah sunyinya dalam rumah itu, suatu pun tak ada yang

kedengaran, hanya suara kereta dan kaki kuda, yang lalu-lalang di jalan

besar kota Medan yang indah itu.

Kemudian Mariamin berkata, "Aminu'ddin, tentangan yang sudahsudah,

biarlah tinggal begitu, jangan kita pikir-pikirkan lagi."

"Maafkanlah kesalahanku itu," kata Aminu'ddin.

"Semuanya itu sudah lama kulupakan," sahut Mariamin.

"Ya, kesalahanku ini, karena saya datang seolah-olah menyakitkan

hatimu pula."

"O, itu tak mengapa, karena saya tahu yang engkau datang mengunjungiku,

sebab ramahmu dan tali perkauman kita. Seharusnyalah

saya mengucap terima kasih akan kebaikan budimu itu. Maaf

Aminu'ddin, saya hendak pergi sebentar ke dapur hendak mengambil

air panas. Dan saya harap Aminu'ddin sudi makan tengah hari di sini."

"Terima kasih, Riam, sebab dengan kereta pukul 12 saya mesti

balik."

"Kalau demikian air panas sajalah!"

"Baik," kata Aminu'ddin.

Mariamin pun pergilah ke dapur. Maka ia pun membawa kopi tiga

cangkir serta kue-kue sedikit, lalu diletakkannya ke hadapan

Aminu'ddin. Dengan muka yang ramah ia pun mengajak minum

bersama-sama. Sedang minum, Aminu'ddin berkata, "Di manakah tuan

kerani?"

"Belum pulang dari kantornya," sahut Mariamin. "Sudah berapa

lama Mariamin di sini?" "Belum genap sebulan."

"Tentu Mariamin ada bersenang hati di tangannya, bukan?"

Mariamin mengeluh, seraya menjawab, "Apakah gunanya Aminu'ddin

bertanyakan hal itu?"

"Saya ingin akan mengetahuinya. Bukankah orang yang bersahabat

itu harus mengetahui halnya masing-masing? Kalau engkau senang

tentu saya pun bersukacita."

"Hidupku takkan lepas dari sengsara," kata Mariamin. "Mengapa

engkau berkata demikian? Tiadakah sayang kerani itu akan dikau?"

tanya Aminu'ddin.

"Wallahu alam."

"Jangan demikian, Riam. Haruslah kita pandai mengambil hati

orang dan memasukkan diri kita."

"Ah, lebih dari itu kuperbuat," sahut Mariamin dengan suara yang

sedih. Air matanya jatuh, waktu ia mengeluarkan perkataan itu.

Aminu'ddin melihat air mata Mariamin bercucuran, tak meneruskan

percakapan lagi, takutlah ia kalau hati Mariamin bertambah-tambah

sedih. Akan tetapi dalam pikirannya tahulah ia hidup Mariamin amat

sengsara dan suaminya itu kurang mengasihi dia.

Itu benar. Kasih tak ada dalam hatinya, sebaliknya kebencian yang

tumbuh, karena Mariamin tak suka menurut kehendaknya, meskipun ia

yang salah.

Pukul setengah dua belas pulanglah Aminu'ddin meninggalkan

rumah itu, meninggalkan Mariamin. Matanya basah oleh air mata,

sebab sedihnya mengenangkan perceraian mereka itu, perceraian yang

akhir sekali di atas bumi ini, karena sejak itu tak pernah lagi mereka itu

bertentangan muka.

Kita kembali kepada hidup kedua laki-istri, Kasibun dan Mariamin,

sebagai yang sudah dikatakan, kuranglah baiknya percampuran kedua

orang itu. Yang laki selalu menaruh cemburu dalam hatinya, dan

kadang-kadang ia berpikir, "Barangkali disebabkan ia bagus dan muda,

aku lebih tua dan buruk, itulah sebabnya ia tak tertarik hatinya

kepadaku, dan selalu menolak kehendakku." Maka timbullah dalam

hatinya rupa-rupa pikiran yang busuk-busuk tentang Mariamin; ya,

pikiran yang tak patut-patut. Maklumlah, siapa yang jahat itu tentu

memikirkan orang lain jahat pula sebagai dia. Perkataan dan

kelakuannya pun sudah jauh berkurang kepada Mariamin, lebih-lebih

setelah ia mendengar, bahwa Aminu'ddin datang ke rumahnya, tatkala

ia ada di kantor. Sejak itu amatlah ia membenci Mariamin.

"Perempuan yang tak boleh dipercayai," katanya kepada Mariamin

kalau hatinya panas.

"Apakah sebabnya saya menerima perkataan yang serupa itu?"

sahut Mariamin. Tiadalah dapat ditahaninya, kalau orang menaruh syak

akan dia.

"Orang lain kauterima. Suamimu tak kauindahkan," kata suaminya

itu.

"Tiadalah pernah langkahku salah. Dia itu kaum dan senegeri

dengan saya; salahkah, kalau ia mengunjungi saya? Tuan tak kuindahkan,

pabilakah itu?" jawab Mariamin.

"Selamanya tiadakah engkau tahu, bahwa aku lakimu? Engkau

kubeli*), karena itu harus menurut kehendakku!"

"Sebenarnyalah yang demikian itu. Saya menolak kehendak tuan,

bukan dengan maksud yang salah, hanya menghindarkan celaka."

Pertengkaran yang serupa itu kerap kali kejadian di antara mereka

itu, sehingga akhir-akhirnya Kasibun yang bengis itu tak segan

menampar muka Mariamin. Bukan ditamparnya saja, kadang-kadang

dipukulnya, disiksanya ....

Penanggungan Mariamin itu tiadalah ditambah-tambahi. Bahkan

ada yang lebih dari itu, banyak lagi yang keji dan ngeri, yang tak patut

diceritakan.

Meskipun begitu baik juga diceritakan kebengisan yang dilakukan

Kasibun itu pada suatu malam atas diri Mariamin yang malang itu,

*) Engkau kubeli. Perkataan itu menghinakan

perempuan. Si laki yang membayar boli,

merasa dirinya berkuasa mengatakan, "Engkau

kubeli!" bila ia marah kepada bininya.

supaya dapat digambarkan siksaan yang ditanggung seorang

perempuan daripada suaminya.

Semalam-malaman itu Mariamin diusirnya dari tempat tidur, ke luar

dari kamar tiada boleh, pintu sudah dikuncinya. Di atas lantai batu

kamar itu tak ada tikar, sepotong pun tiada. Hendak tidur di atasnya, itu

pun tak mungkin, karena lantai itu dirusnya dengan air. Kalau ia

menangis sehingga suaranya kedengaran, Kasibun pun menyepak atau

menempelengnya serta dengan perkataan, "Tutup mulutmu, saya mau

tidur!" Kalau matanya berat dan ia malas bangkit dari tempat tidur,

tongkatnya sajalah dipukulkannya kepada Mariamin, apanya yang kena

tak dipedulikannya.

Paginya itu ia pergi bekerja, sesen pun tak ditinggalkannya uang

kepada Mariamin. Meskipun api tak menyala di dapur tiada peduli ia,

untuk makannya takkan kurang, rumah makan banyak di Medan.

Kesudahannya Mariaminlah yang kelaparan. la sudah berapa kali diusir

oleh suaminya, akan tetapi ke manakah ia akan pergi? Seorang tak ada

kaumnya yang dikenalnya di Medan. Kepada ibunya di Sipirok telah

dua kali ia mengirim surat, akan tetapi siapakah orang yang akan

datang mengambil dia? Sebaliknya ia menyusahkan hati ibunya lagi.

Bagaimanakah perasaan ibu itu, bila ia menerima kabar kesengsaraan

anaknya?

Kalau Mariamin perempuan yang dilahirkan di kota besar, atau

yang biasa diam di negeri yang ramai ... barangkali ia sudah nekat*).

Karena bagi dia, seorang perempuan yang muda dan cantik lagi

bersih, Mariamin memang cantik, bersih ... ya, sampai waktu itu

dirinya masih suci, tiadalah susah mencari kehidupan dalam kota yang

ramai sebagai Medan, asal ia jangan memandang kehormatannya.

Bukankah beratus, ya beribu-ribu perempuan yang berkeliaran pada

waktu malam? Kebanyakan itu disebabkan nekatnya, hatinya panas, ia

putus asa, karena perbuatan suaminya.

Kesudahannya mereka itu tak mau lagi kawin, mereka itu telah

menerima kesengsaraan yang cukup daripada laki-laki. Dan akan

pengisi perut, ia menjual kehormatannya.

Mariamin mengetahui itu sekalian, akan tetapi tak sampai hatinya

melakukan yang demikian, meskipun godaan yang terlalu itu selalu

dirasanya, dan sangat melarat.

Pada suatu pagi sedang jalan-jalan kota Medan belum berapa ramai,

keluarlah Mariamin dari rumahnya. Ia berlari ke jalan besar, lalu naik

kereta yang ada di situ.

"Ke kantor polisi, Bang," katanya. Sais itu pun membunyikan

cambuknya dan kereta yang bagus itu pun berlarilah dengan ken-

*) Lari

cangnya. Mariamin menutup mukanya yang bengkak-bengkak. Dengan

sapu tangannya ia mengeringkan darah yang mengalir dari luka yang

pada keningnya. Amat sakit yang ditahannya, tetapi sedikit pun tak

mau dia mengerang, air matanya pun tak ke luar.

Di hadapan kantor polisi itu berhenti kereta itu. Mariamin turun lalu

berjalan ke dalam, sedikit pun tak segan atau takut perempuan yang

muda itu. Polisi yang berdiri di pintu itu terkejut melihat orang itu,

akan tetapi hatinya belas melihat mukanya yang teraniaya itu. Dari

pakaian Mariamin tahulah dia bahwa Mariamin orang Batak*), seorang

bangsanya. Polisi itu membawanya ke hadapan mentri polisi. Mariamin

pun menceritakan sekalian perbuatan suaminya itu. Perkara diperiksa,

si laki yang ganas itu dipanggil. Selama perkara belum putus, Mariamin

pun disuruh tinggal di rumah penghulu, karena seorang pun tak ada

kenalannya.

Akan tetapi apakah hukuman yang diterima laki-laki yang bengis

itu? Tiada lain daripada ia didenda dua puluh lima rupiah, dan

perkawinan mereka itu diputuskan. Kesudahannya Mariamin terpaksa

pulang ke negerinya membawa nama yang kurang baik, membawa

malu, menambah azab dan sengsara yang bersarang di rumah kecil

yang di pinggir Sungai Sipirok itu.

Demikian perempuan yang malang itu menjadi kurban adat yang

sudah kuno itu. Kalau sekiranya persahabatan kedua anak muda itu,

persahabatan dari waktu anak-anak sehingga besar, bertambah rapat

kalau sekiranya jiwa manusia yang kedua itu dipadu menjadi satu,

sudah tentu bertambah dua orang manusia'di atas bumi ini yang hidup

beruntung serta bersenang hati.

*) Orang "Batak", penduduk Tapanuli, dikatakan

orang di Deli orang "Mandailing" akan

membedakan daripada orang "Batak Karo".

9. PENUTUP KALAM

Bagaimanakah hal Mariamin sesudah itu dan seterusnya?

Marilah kita masuki lagi rumah kecil yang di pinggir sungai itu.

Hanya sekali ini saja lagi hendak dilukiskan apa yang kejadian di

rurnah yang malang itu. Inilah yang penghabisan. Oleh sebab itu

marilah kita ke sana. Itulah dia, di pinggir sungai! 0, bukan: itu pondok

yang lain, ke hilir lagi.

Itulah dia tempat perumahan itu !

Pondok teratak yang tua itu sudah rebah, atap lalang itu pun hampir

menjadi tanah, hanya tiang-tiang bambu itulah yang tinggal berserakserak

di atas bumi. Tempat kesengsaraan itu sudah lenyap dari

pemandangan mata, karena halaman dan belakang sudah ditutup oleh

rumput-rumput dan tumbuh-tumbuhan yang menjalar. Perumahan yang

sunyi itu sudahlah dilupakan oleh penduduk Sipirok, tetapi tempat itu

takkan lenyap dari muka bumi ini, karena dia itu sudah terlukis dalam

buku ini, terlukis dengan huruf, supaya dibaca oleh semua yang mempunyainya.

Rumah itu sudah rebah, tempat itu sudah lengang, ke manakah yang

mendiaminya?

Tempat anak gadis itu ada diketahui. Tetapi ke mana perginya si ibu

dan anaknya yang seorang lagi itu? Itu hanya Allah yang mengetahuinya.

Sekarang kita tinggalkan perumahan yang sial, sarang kemalangan

itu. Kita ambillah jalan besar yang menuju ke kampung A, kampung

Baginda Diatas, ayah Aminu'ddin itu.

Di situkah tinggalnya Mariamin sekarang? Tetapi janganlah dahulu

kita terus ke kampung itu. Nah, ini satu simpang: sekarang kita harus

menyimpang membelakang ke jalan besar.

Berhentilah, kita sudah tiba.

Sawah yang arnat luas itu berganti kulit, sebagai dialas dengan bidai

yang luas, karena waktunya mengerjakan sawah.

Langit yang terbentang di was kepala itu amat bersih, tiada berawan.

Warna langit yang hijau itu bertambah hcning dan jernih, karena

matahari itu baru lenyap dari puncak Gunung Sibualbuali yang permai

itu. Angin yang lemah-lembut berembuslah akan menyegarkan dada

orang tani yang sudah payah itu dan sekarang sedang di tengah jalan

pulang sawah ke rumah mereka.

Makin lama makin sunyi di luar kota, karena masing-masing telah

meninggalkan pekerjaannya. Yang lebih lengang sekali, yaitu tempat

kita berdiri ini. Seram bulu roma rasanya melihat ke kanan dan ke kiri,

lebiti-lebih bila dipikirkan, bahwa tempat itu kuburan, tempat

perhentian manusia yang telah meninggalkan pekerjaannya di dunia ini.

Orang tani bekerja, pulang ke rumah akan berhenti, dan besoknya

bekerja kembali. Mereka itu laki-laki perempuan, berhenti di kuburan

itu, bukan berhenti akan mengumpulkan kekuatan untuk pekerjaan

esoknya, melainkan ... mereka itu berhenti, sambil menunggu akan

kedatangan hari yang akhir.

Hidup Mariarnin, pokok cerita ini, telah habis, dan kesengsaraannya

di dunia ini telah berkesudahan!

Lihatlah kuburan yang baru itu! Tanahnya masih merah ... itulah

tempat Mariamin, anak dara yang saleh itu, untuk beristirahat selamalamanya.

Nyawanya sudah bercerai dengan badan, daging dan tulangtulang

itu busuk menjadi tanah, akan tetapi arwah yang suci itu rlaik ke tempat

yang mahamulia, yang disediakan Tuhan seru sekalian alam untuk

umatnya yang percaya kepada-Nya. Maka di sanalah air mata itu kering

karena suatu pun tak ada lagi yang menyusahkan hati. Azab dan

sengsara dunia ini telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jazad

badan yang kasar itu.

SELESAI

0 Response to "Azab dan Sengsara 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified