Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Azab dan Sengsara 1

1. WAKTU SENJA

Hari yang panas itu berangsur-angsur menjadi dingin, karena matahari,
raja siang itu, akan masuk ke dalam peraduannya, ke balik Gunung
Sibualbuali, yang menjadi watas dataran tinggi Sipirok yang bagus itu.
Langit di sebelah barat pun merah kuning rupanya, dan sinar matahari
yang turun itu nampaklah di atas puncak kayu yang tinggi-tinggi, indah
rupanya, sebagai disepuh dengan emas juwita. Angin gunung yang
lemah-lembut itu pun berembuslah, sedap dan nyaman rasanya bagi
orang-orang kampung yang sedang di perjalanan kembali dari kebun
kopi, yang terletak di lereng gunung dan bukit-bukit yang subur itu.
Maka angin itu pun bertambahlah sedikit kerasnya, sehingga daun dan
cabang-cabang kayu itu bergoyang-goyang perlahan-lahan sebagai menunjukkan
kegirangannya, karena cahaya yang panas itu sudah bertukar
dengan hawa yang sejuk dan nyaman rasanya. Batang padi yang
tumbuh di sawah yang luas itu pun dibuai-buaikan angin, sebagai
ombak yang berpalu-paluan di atas laut yang lebar; sawah yang seluas
itu pun tiadalah ubahnya dengan lautan, sedang daun padi itu sebagai
air yang hijau rupanya.
Burung-burung pun beterbanganlah dari sana-sini, seraya berkumpul-
kumpul di atas cabang beringin-beringin yang berdaun rimbun;
masing-masing menyanyi memuji Tuhan dan memberi hormat kepada
raja siang yang sedang turun ke balik gunung yang tinggi itu. Dari jauh
terdengarlah bunyi kelintung kerbau berderang-derang, diiringi suara
dendang anak gembala yang membawa binatangnya itu ke kandangnya.
Di sana-sini nampaklah asap dari bubungan rumah orang desa, sedang
azan orang di menara mesjid besar yang ada di Sipirok itu pun
memperingatkan hamba Allah akan menyembah Dia dan mengucapkan
syukur sebab rahmatnya yang besar itu.
Jalan dan lorong makin sunyi, laki-laki sedang sembahyang magrib
dalam mesjid besar dan perempuan tengah bertanak hendak
menyediakan makanan untuknya anak-beranak. Akan tetapi siapakah
yang duduk di sana, di sebelah rusuk rumah yang beratap ijuk dekat
sungai yang mengalir di tengah-tengah kota Sipirok itu?
Perempuan itu sedang muda remaja. Ia duduk memandang ke pohon
beringin yang di tepi sungai itu. Akan tetapi pandangnya itu lain, yakni
matanya saja yang menatap ke sana, tetapi daun beringin yang
bergoyang-goyang itu tak nampak pada matanya, karena ada sesuatu
yang dipikirkannya. Suara air yang mengalir di sungai yang berbelok-
belok itu pun tak kedengaran di telinganya, karena angan-angannya
sedang sibuk berkisar-kisar. "Belumkah ia datang? Sakitkah dia?
Apakah sebabnya ia sekian lama tak kulihat?" tanya perempuan itu berulang-
ulang dalam hatinya.
Siapakah perempuan itu? Sabarlah dahulu, nanti akan kita kenal
juga dia, meskipun ia tak mengenal kita.
Kota Sipirok kataku... akan tetapi janganlah pembaca membandingkan
negeri itu dengan Sibolga atau Padang. Tiadalah sampai
sedemikian besar dan ramainya Sipirok itu; sungguhpun begitu adalah
ia lebih besar daripada kampung atau dusun. Oleh sebab itu saya
menyebutkan "kota Sipirok"; tambahan pula itulah negeri atau
kampung yang terbesar di dataran tinggi yang luas itu. Kalau tuan
sebutkan juga, bahwa tiadalah pada tempatnya saya meletakkan
perkataan "kota" itu, biarkan sajalah begitu, dan bacalah kota itu
kampung atau dusun. Kalau kutulis dalam buku ini negeri Sipirok,
bacalah "kampung Sipirok", supaya jangan menjadi percedaraan antara
kita.
Akan sekedar menjelaskan bagi pembaca letaknya Sipirok, baiklah
saya terangkan dia.
Kira-kira pada pertengahan Keresidenan Tapanuli (sebenarnya
Tapian na Uli artinya "Tepian yang elok". Tepian yang indah itu
didapati orang dulunya dekat Sibolga; itulah sebabnya negeri atau
keresidenan itu disebutkan Tapanuli; nama itu asalnya dari tatkala
pemerintahan kompeni), di situlah terletaknya dataran tinggi atau luhak
Sipirok, yakni pada Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau
Sumatera. Adapun bentuknya dataran tinggi itu kira-kira empat persegi.
Di sebelah timur diwatasi dolok (gunung) Sipipisan, di sebelah barat
Sibualbuali, gunung yang selalu memuntahkan asap karena berapi.
Simagomago berdiri agak di sebelah selatan, yang menjadi watas
dengan tanah Angkola. Simole-ole menceraikan dataran tinggi itu pada
sebelah utara dengan dataran tinggi Pangaribuan (Toba).
"Masih di sini kau rupanya, Riam," tanya seorang muda yang
menghampiri batu tempat duduk gadis itu.
Yang ditanya itu terkejut, seraya memandang kepada orang yang
datang itu. Ia terkejut, bukan karena suara itu tak dikenalnya, hanya
disebabkan ia tadi duduk termenung-menung dan pikirannya kepada
masa yang lampau, tatkala ia masih kanak-kanak.
"Ah, rupanya hari sudah malam. Dari tadi saya menunggu-nunggu
angkang,"*) sahut gadis itu seraya berdiri dari batu besar itu, yang
biasa tempat dia duduk pada waktu petang. "Marilah kita naik,
Angkang!"
*) Angkang artinya kakak atau abang.
"Tak usah, Riam," jawab orang muda itu. "Saya datang ini hanya
hendak bersua dengan kau sebentar saja. Malam ini saya hendak pergi
ke rumah seorang sahabatku yang baru datang dari Deli."
"Apalah salahnya Aminuddin, naik sebentar, karena mak kita pun
sudah lama hendak bersua dengan kakak."
"Tak usah, saya sebentar saja di sini, kalau Riam suka, duduklah
sebentar, ada yang hendak saya cakapkan."
Kedua orang itu pun duduklah di atas batu yang besar itu. Sejurus
panjang lamanya tiada seorang yang berkata; anak muda itu
memandang ke tanah dan pada mukanya terbayang dukacita yang
memenuhi hatinya. Mariamin, begitulah nama gadis itu dan ia dipanggilkan
orang Riam, mengamat-amati muka orang muda itu, akan
tetapi sebab hari yang gelap itu, tak dapat ia melihat air mata yang
mengalir di pipi orang muda itu. Cuma ia mengerti, ada yang
disusahkan orang itu. Dengan suara yang lemah-lembut ia pun berkata,
"Katakanlah, apa yang hendak angkang katakan itu."
"Riam, jangan terkejut, cinta sayangku kepadamu bukan berkurang,
bahkan makin bertambah dari hari ke hari. Percayalah kau akan
perkataanku itu?"
"Mengapa angkang bertanya lagi?" jawab Mariamin, perempuan
muda itu dengan suara yang lembut, karena itulah kebiasaannya; jarang
atau belumlah pernah ia berkata marah-marah atau merengut,
selamanya dengan ramah-tamah, lebih-lebih di hadapan anak muda,
sahabatnya yang karib itu.
"Saya bertanya, bukan sebab saya menaruh bimbang akan hatimu."
Ia terdiam pula. Perkataan yang akan dikatakannya seolah-olah menahan
napasnya dan kelulah rasa lidahnya akan bercakap. Kemudian ia
pun mengeraskan hatinya, sambil ia menyapukan setangannya yang
basah oleh air matanya itu, ia pun berkata perlahan-lahan, "Anggi*)
Riam! Beratlah rasanya hatiku akan berkata ini. Akan tetapi apa boleh
buat, lambat laun akan kauketahui juga, apalah gunanya kelengahlengahkan.
Saya bermaksud henk dak pergi ke Deli mencari pekerjaan.
Itulah sebabnya saya datang malam-malam ini ke mari, yakni hendak
pergi ke rumah seorang sahabatku, yang baru datang dari Medan. Saya
hendak menanyakan hal pencaharian orang di Deli, karena saya sudah
merasa, lambat launnya saya akan pergi juga dari sini; saya pergi
bukanlah meninggalkan engkau Mariamin. Percayalah engkau akan
saya. Ah, kalau sekiranya Riam tahu, betapa isi hatiku, adalah senang
sedikit perasaanku. Berapa tahun, berapa bulanlah saya sudah
mengandung kenang-kenangan akan bersama-sama dengan engkau,
akan tetapi barulah kuketahui, mustahillah rupanya saya mencapai
*) Anggi artinya adik
maksudku, kalau tiada dengan jalan yang lain, yakni saya harus pergi
ke tanah lain akan mencari pekerjaan. Janganlah terkejut, jangan
berdukacita engkau Riam; ingatlah saya pergi bukan meninggalkan
kau, tetapi mendapatkan kau."
Perkataan yang penghabisan itu dituturkan orang muda itu dengan
suara putus-putus; beratlah baginya melawan hatinya yang pilu itu,
apalagi sesudah kedengaran pada telinganya, orang yang dilawannya
bercakap itu menangis tersedu-sedu.
Kedua orang itu duduk berhadap-hadapan di tempat yang sunyi itu.
Seorang pun tiada yang bercakap, masing-masing tepekur memikirkan
nasib persahabatan mereka itu.
Hari makin gelap, cahaya bulan tak nampak, hanyalah bintangbintang
yang mengilap itu mencoba-coba mengurangkan kegelapan,
yang menyelimuti bumi ini. Kelam rupanya langit itu, muram nampaknya
muka orang muda itu. la duduk tiada bergerak, tetapi pikirannya
tiada berhenti, berkisar-kisar sebagai roda yang digulingkan. Adalah ia
sebagai orang yang hanyut di lautan kesusahan, sebentar-sebentar
hendak tenggelam, karena kekuatannya hampir-hampir habis, sedang
ombak gelombang amatlah hebatnya. Dengan pandang yang sedih, ia
melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada kapal yang dekat, tempat
meminta pertolongan, akan membawa dia ke negeri yang ditujunya itu.
Suara orang bang kedengaran pula dari menara mesjid besar, karena
sudah waktunya akan sembahyang isya. Kedua orang itu terkejut dan
barulah mereka ingat akan dirinya.
"Wah, sudah pukul setengah delapan rupanya," kata orang muda itu,
"bagaimanakah penyakit ibu kita?" tanyanya, sambil ia berdiri.
"Mudah-mudahan sudah berkurang," sahut Mariamin, "cuma tinggal
batuk saja yang menyusahkan dia."
"Ah, tak sempat lagi saya akan bersua dengan beliau. Nanti saya
datang, kalau dapat. Selamat tinggal Anggi! Jangan kau bersusah hati,
mudah-mudahan baik juga kelak kesudahannya. Marilah kita menyerahkan
diri kepada Tuhan Yang Esa," ujar orang muda itu, seraya
menjabat tangan anak dara kecintaannya itu.
Mariamin memandang anak muda itu, sampai lenyap dari penglihatannya.
Dengan langkah yang berat naiklah ia ke rumah, terus
masuk ke bilik tempat ibunya, yang sedang terletak di atas tempat
tidurnya.
"Sudahkah berkurang sesaknya dada Ibuku itu?" tanyanya sambil
dirabanya muka ibunya yang sakit itu. "Syukurlah, badan Ibu tiada
berapa hangat lagi. Mudah-mudahan dua tiga hari lagi dapatlah Ibu
turun barang sedikit-sedikit."
"Ya Anakku! Sudah jauhlah berkurang rasanya penyakitku,
kekuatanku pun sudah bertambah," jawab si ibu dengan suara yang
menghiburkan hati anaknya. "Riam di manakah adikmu? Suruhlah dia
ke mari, janganlah dibiarkan ia tinggal di luar, hari sudah malam, nanti
ia kemasukan angin."
"Tidak, Mak; ia ada di dapur, nanti kusuruh dia ke mari, supaya ada
kawan Mak di sini."
Setelah Mariamin menuangkan obat maknya ke dalam cangkir dan
cangkir itu diletakkannya dekat si sakit, ia pun pergilah ke dapur akan
bertanak. "Tinggallah dahulu Ibu sebentar, saya hendak bertanak. Tadi
saya ada membawa sawi dan ko1 dari kebun kopi, barangkali sudah ada
nafsu Ibu akan makan. Ah, sudah berapa hari Mak tidak makan!" kata
Mariamin.
Si ibu yang sakit itu tiada menjawab perkataan anaknya itu. la
memandang muka Mariamin dengan mata yang menunjukkan, betapa
besar cintanya dan kasih sayangnya kepada anaknya itu. "Ya Allah, ya
Tuhanku, kasihanilah hamba-Mu yang miskin ini," mengucap ia di
dalam hatinya, setelah anaknya itu pergi ke dapur. Ia berbaring di atas
tikarnya dan matanya ditutupkannya, tetapi mata hatinya melihat hal
ihwal rumah tangganya, pada waktu beberapa tahun yang lewat, tatkala
suaminya masih hidup dan ketika harta mereka itu masih cukup;
pendeknya pada masa kesukaan yang sudah lewat itu, karena pada
waktu itu bolehlah mereka itu dikatakan masuk bagian orang yang kaya
dan yang ternama di negeri Sipirok. Akan tetapi sebagaimana kerap
kali kejadian di dunia ini, adalah kekayaan itu tiada kekal dan
kesenangan itu fana jua adanya, karena nasib manusia itu sebagai roda,
kadang-kadang ke atas, kadang-kadang ke bawah, hujan dan panas silih
berganti menimpa bumi, dan burni itu harus sabar menerima apa yang
datang. Si ibu itu pun adalah juga orang yang sabar, tiadalah pernah ia
bersungut-sungut, karena ia dan anaknya hidup sekarang dalam
kemiskinan. "Allah adil dan pengiba," katanya selamanya dalam
hatinya, bila ia, didaya iblis yang selalu hendak membinasakan orang
yang dalam percobaan, supaya orang itu sesat dari jalan kebenaran,
mengatakan Tuhan tak adil, kesudahannya orang itu menyangkal Allah
taala. Itulah kesukaan setan dan iblis, musuh manusia yang jahat itu.
Pada malam itu amatlah susahnya hati perempuan itu. Ia amat mencintai
anaknya yang dua orang itu, Mariamin yang tua dan seorang
budak laki-laki, umur empat tahun, sebagaimana ibu yang lain-lain.
"Pada waktu dahulu sudah tentu saya mendapat pemeliharaan yang
senang, kalau saya sakit," kata perempuan itu dalam hatinya. "Akan tetapi
sekarang, aduh, siapakah yang kuharapkan lagi? Seorang pun tak
ada yang melihat saya, demikianlah rupanya manusia itu di dunia ini.
Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat; bila kita
jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang
karib itu menjauhkan dirinya. Akan tetapi Allah pengiba, anakku sudah
besar dan cakap memelihara saya pada waktu sakit. Cinta orang tua
yang kusimpan baginya, dibalasnya dengan kasih sayang anak kepada
orang tuanya. Demikianlah cinta Riam kepada saya. Kalau ia pergi ke
ladang atau ke sawah, selamanya ia mencari pembawaan akan menyenangkan
hatiku, meskipun yang dibawanya itu tiada seberapa harganya;
seperti tadi cuma kol dan sayur-sayuran yang dibawa untuk saya,
karena telah lama tak ada nafsuku makan. Sayur yang direbus anakku
itu, tentu lebih sedap nanti kumakan, lebih sedap dari sup daging atau
ayam waktu hari kesukaanku, sungguhpun tak enak dirasa lidahku
nanti, akan tetapi lezat juga pada perasaan hatiku. Mariamin, Mariamin,
doakanlah kepada Allah, biar saya lekas sembuh dan lama hidup,
supaya saya dapat menyenangkan hidupmu dengan adikmu. Kalau tiada
demikian, siapakah yang akan mencarikan nafkah untukmu berdua?
Kalau induk ayam itu mati, siapakah lagi yang mengaiskan makanan
untuk anaknya yang kecil-kecil itu? Bila hari hujan, sayap siapakah lagi
tempat mereka berlindung, supaya jangan mati kedinginan?"
"Allah melindungi makhluknya," sahut suara, yang lain dalam
hatinya.
Perempuan itu pun membukakan matanya, karena ia mendengar
suara anaknya yang kecil itu memanggil ibu.
"Belumkah ibu lapar?" tanya anak itu, seraya duduk dekat bantal
emaknya.
"Anakku sudah makan?" tanya si ibu seraya menarik tangan budak
itu, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang.
"Sudah Mak; Kak Riam memberi saya sayur... kol direbus. Enak
Mak, enak. Makanlah Mak! Kak Riam bawa nasi untuk Mak, itu dia
sudah datang," kata budak itu, sambil berbaring dekat ibunya.
"Makanlah Mak dahulu, nasi sudah masak," kata Mariamin, seraya
mengatur makanan dan sayur yang dibawanya sendiri dari gunung
untuk ibunya yang sakit itu.
Ia pun duduklah bersama-sama makan dengan ibu yang sakit itu,
sedang adiknya yang kecil itu sudah tertidur di belakang ibunya.
Tengah makan itu kelihatanlah oleh ibu Mariamin, muka anaknya lain
daripada yang sudah-sudah, adaiah suatu kedukaan yang tersembunyi
dalam hatinya; kedukaan itu terang dilihat si ibu, meskipun Mariamin
menyembunyikannya. Akan tetapi apa sebabnya anak itu bersusah hati,
kuranglah diketahuinya.
"Susahkah hati anakku, karena saya belum sembuh?" tanyanya
seraya mengawasi muka Mariamin. Yang ditanya tiada menjawab,
hanya ia mencoba-coba tersenyum, akan tetapi mukanya merah padam
sedikit.
"Janganlah Riam bersusah hati, dua tiga hari lagi dapatlah ibu turun
sedikit-sedikit. Wah, enak benar sayur yang Riam bawa tadi, anakanda
pun pandai benar merebusnya; nasi yang sepiring itu sudah habis olehku,"
kata si ibu dengan suara yang lembut dan riang akan menghiburkan
hati anaknya itu. Karena bagaimana sekalipun besarnya
dukacitanya, tiadalah ia suka menunjukkan kepada anaknya, karena ia
tahu, anaknya itu masih muda akan, memikul dan menanggung kesusahan
dunia.
"Ya, Ibu! Moga-moga ibuku lekas baik, kalau ibu selalu sakitsakit,
apalah jadinya kami berdua ini," sahut Mariamin.
Si ibu terdiam mendengar perkataan anaknya itu. "Sebenarnyalah
perkataan anakku itu," pikirnya. "Jika sekiranya saya mati, apatah jadinya
biji mataku kedua ini? Benar ada lagi saudara mendiang bapaknya,
tetapi tahulah saya, bagaimana kebiasaan manusia di dunia ini. Sedang
pada masa hidupku tiadalah mereka yang mengindahkanku, apalagi
kalau saya tak ada lagi."
Pikiran yang serupa itulah yang acap kali timbul, dan itulah yang
menyusahkan hatinya. Bila dikenangkannya yang demikian itu, perasaannya
penyakitnya bertambah berat dan kemiskinan mereka itu berlipat
ganda. Kalau ia sekiranya tiada menaruh kepercayaan yang kuat kepada
Allah, tentulah ia akan melarat dan tentu iblis dapat mendayanya.
Tetapi ia seorang yang taat dan yakin kepada agama. Maka keyakinannya
kepada Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang itulah yang
memberi kekuatan baginya akan menerima nasibnya yang baik dan
buruk; sekaliannya ditanggungnya dengan sabar. Dari kecil ia pun
mengukirkan sifat dan tabiat yang demikian itu dalam hati anaknya.
Siang-malam ia mendidik anaknya, supaya di belakang hari menjadi
seorang yang rendah hati, berkelakuan yang baik dan percaya kepada
Tuhan.
"Pergilah anakku tidur! Riam sudah payah sehari ini bekerja; tak
usahlah ibu anakku tunggui," kata mak Mariamin.
Setelah anak gadis itu menyelimuti ibunya dan mengatur apa yang
perlu baginya, ia pun berdirilah. "Kalau Mak mau apa-apa, panggillah
anakanda, nanti anakanda lekas datang. Jangan Mak bangkit-bangkit
dari tempat tidur, seperti yang dulu-dulu, supaya badan Mak jangan
lelah; kalau Mak bersusah-susah, tentu penyakit maka bertambah,
akhirnya anakanda pun susah juga."
"Ya, Riam! Pergilah kau tidur," kata si ibu menyenangkan hati
anaknya itu. Pada waktu itu pun pergilah Mariamin ke bilik tempat
tidurnya.
Sekarang ia sudah jauh dari mata ibunya yang sakit itu. Baru ia
masuk, tiadalah diingatnya lagi memalang pintu bilik itu dari dalam, ia
menghempaskan dirinya ke atas tempat tidurnya. Sekuat-kuat tenaga ia
tadi menahan dukacitanya, sejak bercerai dengan anak muda itu sampai
ia meninggalkan ibunya. Sebagaimana sudah dimaklumi, amatlah susah
baginya menyembunyikan dukanya itu. Pada waktu makan tadi, ibunya
melihat awan yang menutup dahi anaknya itu. Sekarang tak tertahan
lagi olehnya, sudah habis kekuatannya, ibarat mata air yang ditutup,
demikianlah kemasygulannya itu; sekarang sudah datang waktunya
hendak meletus.
"Wahai malangnya aku ini! Sampailah hatimu meninggalkan daku,
Udin?" tangis Mariamin dengan sedihnya. Tak dapatlah ia lagi berkatakata,
karena tangisnya menyumbat tenggorokan, dan air matanya bercucuran
pada pipinya yang halus itu, jatuh ke bantal-gulingnya.
Sejurus lamanya dapatlah ditahannya sedikit tangisnya itu; mata air
yang telah tersumbat itu, mendapat jalan ke luar; dengan memancarmancar
keluarlah dari dalam tanah, dan lama-kelamaan berkuranglah
kuatnya air yang memancar itu. Demikianlah halnya Mariamin. Meskipun
air matanya berlinang-linang, ia pun duduklah, karena bantalnya
sudah basah. Kedua belah tangannya ditongkatkannya ke dagunya dan
matanya memandang ke lampu kecil yang terpasang di hadapannya.
Tetapi tiadalah ia melihat nyala lampu itu, melainkan seolah-olah
barang lainlah yang nampak olehnya, karena duduknya itu sudah dipenuhi
kenang-kenangan. Semua halnya selagi ia anak-anak datanglah
kembali ke hadapannya.
Seorang pun tak ada yang melihat Mariamin duduk termenung itu.
Amatlah kasihan kita melihat gadis yang semuda itu digoda kesusahan.
Hati siapa takkan iba melihat muka yang manis itu menjadi muram dan
bibir yang merah dan tipis itu tiada menunjukkan senyum lagi,
sebagaimana biasanya. Siapa pun yang melihat anak dara itu duduk
sedemikian, tentu tiada sampai hatinya, ia pun akan turut bersedih hati.
Ia akan berbuat sepandai-pandainya untuk menghiburkan hatinya. Akan
tetapi apa boleh buat, tak ada seorang pun yang dapat berbuat begitu
karena gadis itu hanya seorang diri dalam biliknya. Jadi tiadalah heran,
jikalau ia terus juga memikirkan nasibnya itu. Betul, ya, lampu kecil
yang menyala di hadapan dara muda itu, melihat kawan sekamarnya
bersusah hati. Ia seolah-olah berkata, "Janganlah tuan menangis, wahai
gadis yang cantik, tiadakah sayang tuan melihat air mata tuan yang
mahal itu terbuang-buang? Diamlah Tuan, janganlah tuan terlampau
amat bercintakan hal yang belum kejadian. Siapa tahu malang yang
tuan sangkakan itu menjadi mujur kesudahannya." Banyak lagi ucapan
hiburan lampu itu, tetapi Mariamin tiada mendengarnya. Telinganya
sudah tertutup dan matanya pun tak melihat lagi, karena diserang
angan-angan itu. Hidupnya yang dahulu sajalah yang nampak
tergambar di mukanya. Kasihan, gadis yang semuda itu memikul
penanggungan yang sesedih itu!
"Ia akan pergi juga merantau ke Deli yang jauh itu; aku tinggal
seorang diri. Aduhai Angkang Din, sampai hati rupanya tuan
membiarkan aku dalam untungku. Lupakah tuan akan pergaulan kita
sejak dari kecil, yang sudah bertahun-tahun itu? Kasih sayangku amat
besar kepada tuan, dari dahulu sampai sekarang, tetapi rupanya
kecintaan tuan kepadaku tiada cukup kukuhnya akan mempersatukan
kita. Bukanlah aku yang kurang ramah, bukan aku yang kurang
menyayangi angkang, tetapi tuanlah yang lebih dulu meninggalkan
aku."
Perkataan itu dikatakan Mariamin dalam hatinya, tetapi tak tahu
rupanya ia lagi, apa yang ke luar dari mulutnya itu.
"Aku pergi bukan hendak meninggalkan adinda, tetapi mendapatkan
kau. Aku terpaksa, karena suatu hal," terdengar dalam telinga anak dara
itu perkataan kekasihnya, waktu mereka itu bercakap-cakap tadi, di atas
batu besar, di rusuk rumah.
"Apakah makna perkataannya itu?" tanya Mariamin. "Ia merantau
ke Deli, negeri yang sejauh itu. Tetapi ia berkata juga, "Aku tak akan
meninggalkan adinda."
"Itu tak benar. Aku tinggal, hidup dengan untungku, Aminu'ddin tak
melihatku, tiada mendengar suaraku lagi, sebab tuan sudah jauh, tentu
tuan melupakan aku lambat launnya. Hilang dari mata, lenyap dari
pikiran. Hal yang serupa ini telah beratus kali kulihat di dunia ini. Akan
tetapi aku tiada lupa kepadamu, biarpun tuan tak mengingat aku. Sudah
kukatakan, bahwa engkau kucintai, diriku pun sudah kuserahkan kepadamu,
sebab aku berhutang budi dan nyawa kepadamu dan lagi aku
sudah percaya akan kemuliaan hatimu, cuma aku kadang-kadang
bimbang, bila engkau jauh dari anggimu..."
Di luar hari amat dingin. Langit yang lebar itu ditutupi awan yang
gelap, sebutir bintang pun tak nampak. Angin pun berembuslah dengan
kencangnya, sehingga berdengung pada pohon-pohon yang tinggitinggi
yang menghambat perjalanannya itu. Angin yang hebat itu
bercampur pula dengan hujan rintik-rintik. Akan tetapi itu hanya
sebagai tanda, bahwa sebentar lagi awan yang gelap yang menutup
langit itu, akan bertukar menjadi hujan yang lebat. Sunyi-senyap
rupanya di jalan dan lorong-lorong, karena tiada suatu apa yang
kedengaran, hanya bunyi angin yang dahsyat itu; sunyi dan sedih juga
pemandangan mata kita dalam kamar anak dara yang gundah-gulana
itu.
"Riam, apakah sebabnya engkau menangis?" datang suatu suara dari
pintu.
Yang ditanya itu terkejut, seraya melihat ke belakang, yakni ke
pintu kamarnya. Ia terkejut, bukan sebab tak mengenal suara itu, tetapi
ia tiada menyangka, bahwa ibunya yang bertanya itu.
Disapunya matanya dengan lengan bajunya, seraya ia mengawasi
orang yang berdiri di pintu kamarnya itu, karena pada sangkanya
penglihatannya salah. Ya, benarlah dia. Muka yang pucat dan kurus itu
nyata juga kepada matanya, meskipun cahaya lampu yang kecil itu
malap adanya.
"Mak, ampun Mak!" kata si anak seraya melompat memeluk ibunya
itu. Akan tetapi air matanya makin lebat bercucuran ke pipinya.
"Apakah yang anakku tangiskan, sedang jauh malam begini?
Pikirku Riam sudah tertidur," kata si ibu dengan suara perlahan-lahan.
Si ibu terjaga dari tidurnya dan melihat cahaya lampu yang datang
dari pintu bilik Mariamin. Ia mendengar suara yang sayup-sayup, yaitu
suara Mariamin yang mengeluh itu. Oleh sebab itu heranlah hati si ibu,
dan ia pun pergi ke kamar anaknya itu melihat apa yang terjadi di situ.
Oleh karena pintu tiada dikunci, dapatlah ia masuk ke dalam dengan
tiada diketahui anaknya itu.
"Katakanlah apa sebabnya anakku menangis?" tanya ibunya lagi
seraya menyapu-nyapu pipi anaknya yang basah oleh karena air
matanya itu.
Dengan tiada disembunyi-sembunyikan Mariamin menceritakan
sekalian perkataan Aminu'ddin itu.
"Kalau anakku takkan menyusahkan bunda yang sakit-sakit ini,
diamlah kau, dan senangkanlah pikiranmu, engkau harus sabar dan
berserah diri kepada Tuhan," kata si ibu sesudah ia mendengar cerita
anaknya itu.
Mariamin seorang anak perempuan yang penurut; ia membawa
ibunya ke kamarnya, seraya katanya, "Janganlah ibuku bersusah hati,
masakan mau ananda memberatkan hati ibu. Ananda menangis tadi
karena ananda bodoh dan pikiranku muda, sekarang tak mau ananda
lagi menangis. Tidurlah Ibuku, hari sudah jauh malam."
Setelah ibunya pergi, maka pergilah Mariamin merebahkan dirinya
di atas tempat tidurnya itu. la pun mengumpulkan kekuatannya akan
mendiamkan pikirannya yang berkisar-kisar itu. Tiada berapa lamanya
ia pun tertidurlah.
Hujan rintik-rintik itu sudah bertukar dengan hujan yang amat lebat,
sehingga sebagai air dicurahkan dari langit rupanya. Angin yang keras
itu makin kencang dan kilat pun berturut-turut diiringi halilintar yang
gemuruh, sebagai gunung runtuh lakunya.
Dalam rumah kecil yang tersebut sudah sunyi, karena semua sudah
diam, masing-masing tidur dengan nyenyaknya. Hanyalah lampu kecil
yang terpasang di tepi dinding itu yang masih menyala dan cahayanya
yang suram itu mencoba-coba melawan dan mengusir kekuatan dewi
malam yang memerintahkan alam ini.
2. TALI PERSAHABATAN DAN PERKAUMAN
Sekarang baiklah kita tinggalkan rumah kecil tempat kediaman ibu dan
anaknya itu; kita biarkan mereka tidur dengan senangnya, karena tidur
yang nyenyak itu amat berguna kepada mereka, untuk menguatkan
badannya menanggung kemiskinan yang akan datang waktu besok atau
lusa. Marilah kita berjalan melalui jalan besar yang menuju ke luar kota
Sipirok, yang menuju ke sebelah utara. Kalau sekiranya waktu itu siang
dan hari baik, tentu dapatlah kita melihat arah tujuan kita.
Tetapi tak mengapa, kita takkan sesat, sebab jalan itu tak banyak
simpang-siurnya, lagi telah dikenal benar-benar. Tengoklah ke muka!
Apakah yang tampak?
Kiri-kanan jalan besar itu terbentang sawah yang luas, lebih baik
dikatakan jalan itu terentang di tengah-tengah sawah yang luas. Padi
yang sedang hendak berbuah itu hijau daunnya, sehingga lapangan
yang luas itu seolah-olah ditutup dengan beledu hijau yang lebar. Kirakira
satu setengah pal dari Sipirok, nampaklah di tengah-tengah sawah
yang subur itu puncak-puncak pohon nyiur dan kayu-kayuan, antaranya
kelihatanlah rumah-rumah yang beratap ijuk. Makin dekat makin
nyatalah, bahwa tempat itu sebuah kampung, dan itulah tempat lahir
dan tinggal Aminu'ddin, seorang anak muda yang baru berumur
delapan belas tahun. Anak muda itu anak kepala kampung yang
memerintahkan kampung A itu.
Nama kampung itu, hanya huruf awalnya saja yang dituliskan di
sini, sebab kuranglah baik rasanya, kalau disebutkan nama yang
secukupnya.
Ayah Aminu'ddin bolehlah dikatakan seorang kepala kampung yang
terkenal di antero luhak Sipirok. Harta bendanya amatlah banyaknya,
dan kerbau lembunya pun cukup di Padang Lawas*), apalagi sawahnya
berlungguk-lungguk**), sehingga harga padi yang dijualnya tiap-tiap
tahun beratus-ratus rupiah, mana lagi hasil kebun kopi belum terhitung.
Adapun kekayaannya yang sederhana itu tiada sekali diperolehnya,
asalnya peninggalan orang tuanya juga; akan tetapi sebab rajinnya
berusaha, maka hartanya itu pun makin lama makin bertambah-tambah.
*) Padang Lawas yaitu nama suatu luhak di Keresidenan Tapanuli.
Padang Lawas artinya padang yang luas; pekerjaan orang penduduk
negeri itu terutama beternak kerbau dan lembu, karena padang yang
lebar itu amat bagus tempat memelihara kerbau dan lembu. Adapun
hewan yang dipelihara di situ, kebanyakan kepunyaan orang negeri
luaran.
*) Belungguk-lungguk; selungguk artinya setumpuk sawah, yang
luasnya ± 1 km2.
Kekayaan yang sederhana itu, pangkat kepala kampung itu,
ditambahi pula budi yang baik, itulah sebabnya orang itu terkenal di
luhak Sipirok dan anak buahnya, yakni penduduk dusun A itu pun
menyegani dia.
Dua puluh tahun ia sudah memegang pangkat peninggalan bapak
dan neneknya itu. Dalam waktu yang sekian lama itulah ia hidup
bersama-sama dengan istrinya, hidup beruntung sebagaimana orang
yang lain. Sebagaimana orang lain? O, bukan, karena tiadalah semua
orang mendapat rezeki yang sebaik itu. Akan tetapi apakah sebabnya
mereka itu tiada bersenang hati? Perkawinan mereka itu terikat dengan
kecintaan yang bersih dan teguh, apalagi ada juga pertaliannya, yaitu
mereka itu orang berkaum juga. Si laki mengasihi istrinya sejak dari
mula gadisnya sampai ia sudah kawin, dan sampai pada waktu
sekarang. Bagaimana pula ia tiada mencintai istrinya itu, karena
perempuan itu amat baik budinya, dan barang tingkahlakunya pun
adalah setuju dengan si suami. Romannya yang sederhana dan
tabiatnya yang lemah-lembut itu, cukuplah sudah kekuatannya akan
mengikat hati suaminya, akan menarik pikiran si laki kepada istrinya.
Amatlah pandainya ia menghiburkan hati suaminya, bila dalam
kedukaan, dan dalam segala kesusahan ia menolong suaminya, dengan
akal dan bicara, karena ia tahu benar, bahwa seharusnyalah perempuan
itu menyenangkan suaminya. Ia patut tertawa, kalau si laki marah,
supaya kening yang berkerut menjadi licin; oleh sebab senyum simpul
si perempuan yang manis itu dan perkataannya yang lemah-lembut, itu
pun hati si laki yang panas itu menjadi dingin dan tawar. Bila
perempuan mempunyai tabiat yang serupa itu, dapatlah ia memerintahkan
suaminya, boleh dikatakan suaminya itu ada di bawah
kuasa jari kelingkingnya.
Dua tahun mereka itu bergaul, maka si istri pun melahirkan buah
perkawinan mereka itu, yakni seorang anak laki-laki, itulah dia
Aminu'ddin. Tali perhubungan antara kedua laki-istri pun makin kuat,
sehingga seorang mencintai yang lain sebagai dirinya sendiri. Kalau si
ibu menyusukan buah hatinya itu di atas tempat tidur, si bapak pun
tiada dapat menahan sukacitanya. Ia memeluk istrinya, seraya berkata,
"Ah, sungguh saya merasa beruntung karena anak kita ini sebagai
matahari yang menyinari perkawinan kita dengan cahaya kegirangan.
Bukankah benar perkataanku itu, Anggi?"
"Perasaan laki-laki sudah demikian, karena kelahiran anaknya.
Betapa pula lagi besarnya kegirangan hati si ibu, yang menanggung
rupa-rupa penanggungan, waktu melahirkan anaknya, yang menjadi
buah hati dan tangkai kalbunya?" sahut si istri dengan senyum yang
manis, seraya memandang muka suaminya dengan pandang yang tetap.
Cahaya mata si ibu yang cemerlang itu menembus hati si laki; cahaya
mata itu memancar dan masuk ke hatinya, masuk ke jantungnya,
sehingga api hasrat dan kasihnya akan istrinya itu bernyala-nyala. Ia
mendekap dan memeluk istrinya; sekali ini lebih kuat, sambil tangannya
gemetar sedikit.
"Awas, anak kita! Tiadakah engkau sabar lagi? Tunggu sebentar ia
tertidur, biar dahulu ia kuletakkan," sahut si ibu, seraya menidurkan
buah hatinya itu.
"Bukan main cantikmu kupandang ini, aku amat beruntung dipertemukan
Tuhan dengan engkau," kata suaminya seraya ia berdiri,
meninggalkan tempat tidur istrinya itu, dengan muka yang berseri-seri,
menunjukkan kesenangan hatinya.
Setelah Aminu'ddin berumur delapan tahun, maka ia pun disuruh
oleh orang tuanya bersekolah. Dalam kelasnya, ialah anak yang
termuda sekali, kebanyakan sudah berumur sembilan atau sepuluh
tahun, karena pada masa itu orang tua tiada suka menyuruh anaknya
yang masih kecil ke sekolah, lainlah halnya dengan sekarang.
Meskipun ia yang terlebih kecil di antara kawan-kawannya, akan
tetapi ia amat rajin belajar, baik di sekolah atau di rumah, sehingga
gurunya amat menyayangi dia. Bila gurunya berkata-kata atau menerangkan
sesuatu apa, matanya tiada lepas dari muka guru itu. Segala
keterangan guru itu ditangkapnya dengan daun telinganya, serta diperhatikannya
benar-benar, bolehlah dikatakan, sepatah kata pun tiada
yang tak dikenalnya. Jadi tiadalah heran lagi, kalau ia menjadi murid
kesayangan gurunya. Dari kelas satu sampai kelas tiga, ia masuk anak
yang terpandai di kelasnya. Meskipun demikian tiadalah pernah ia menyombongkan
diri, sebagai tabiat yang nampak pada kebanyakan orang
muda-muda. Hatinya rendah dan menilik segala cakap dan lakunya,
nampak benar-benar, bahwa ia tiada mempunyai hati yang meninggi. Ia
disukai oleh kawan-kawannya, seorang pun tiada yang menaruh
cemburu kepadanya, lagi pula tak ada jalan bagi temannya akan membencinya.
Di luar dan di dalam sekolah ia selalu menolong mereka, asal
dapat olehnya. Ia dimarahi sekali-sekali oleh gurunya, kadang-kadang
sampai mendapat hukuman, tetapi bukanlah karena nakal atau jahatnya,
hanyalah karena menolong temannya, waktu berhitung. Sudah tentu
guru gusar oleh karena itu, dan Aminu'ddin menahan juga dalam
hatinya, akan tetapi kadang-kadang ia tiada dapat menahan hati dan
nafsunya, yakni nafsu yang selalu hendak memberi pertolongan kepada
kawannya. Meskipun guru menghukumnya, karena kesalahan itu,
tiadalah bertukar hati gurunya melihatnya, tiadalah pernah gurunya
membencinya ataupun memarahinya dengan kata yang kasar-kasar,
karena tahulah gurunya itu, bahwa budak itu berperasaan yang halus
sebagai perempuan, dan mempunyai kekerasan hati sebagai laki-laki
yang sebenarnya. Semuanya itu dapat dilihat pada matanya yang tajam,
yang terletak di bawah bulu kening yang hitam, melengkung sebagai
busur terpasang.
Waktu ia duduk di kelas tiga, genaplah usianya sepuluh tahun.
Lepas dari sekolah, ia pun membantu bapaknya bekerja di sawah atau
di kebun. Jaranglah ia diam atau bermain-main saja, karena ia dapat
juga mencari pekerjaannya dan bapaknya pun membiasakan dia sebagai
orang tani yang patut. Si ibu yang melihat kelakuan suaminya kepada
anaknya, acap kali berkata, "Janganlah kakanda terlalu keras kepada
anak kita itu! Umurnya belum berapa dan tulangnya belum kuat, tetapi
kakanda selalu menyuruh dia bekerja. Jangan kakanda samakan
kekuatannya dengan kekuatan kakanda. Bukan adinda melarang dia
bekerja, akan tetapi jangan terlampau keras; selagi ia kecil, jangan ia
dipaksa; dia dibawa ke sawah, hanya sekadar membiasakan saja,
supaya tahu ia berusaha di belakang hari."
"Janganlah adinda kuatir, bukanlah kakanda memaksa dia, akan
tetapi anak kita itu amat gemarnya bekerja, tiadalah ubahnya dengan
kakanda, semasa kecilku. Bukankah baik itu, anak mencontoh tabiat
bapaknya? Masakan kakanda tiada menjaga Aminu'ddin, buah hati dan
cahaya mata kakanda itu," sahut si suami dengan suara melembutkan
hati istrinya.
"Adinda pun tahu juga, anak kita itu kakanda cintai, sebagaimana
adinda mencintai dia," kata si istrinya, tetapi suaranya sudah berkurang
kerasnya, oleh sebab bujukan suaminya.
"Tidak benar, ibu lebih menyayangi anaknya daripada bapak," sahut
suaminya itu, seraya tersenyum-senyum.
Percakapan yang serupa itu biasa terjadi waktu malam, sesudah
Aminu'ddin tidur dalam kamarnya, pada sebelah kanan serambi muka,
di muka kamar tidur orang tuanya.
"Sudahkah tertidur Aminu'ddin?" tanya suaminya, setelah sejurus
panjang lamanya ia termenung.
"Adinda rasa sudah," sahut istrinya. "Tadi sesudah makan, ia terus
pergi ke kamarnya, karena ia sudah payah benar bekerja sehari ini."
"Bekerja katamu? Sehari ini kakanda tak ada melihatnya."
"Ia menolong mencangkul sawah mak Mariamin. Hari ini ia libur
sekolah karena hari besar. Karena itu ia pergi tadi pagi ke Sipirok.
Petang inilah baru ia pulang. Tentu ia sudah letih," kata istrinya.
"Menolong Mariamin?" kata suaminya perlahan-lahan, karena
adalah yang dipikirkannya. "Ehm, ehm, baik benar hati anak kita itu
kepada ibu Mariamin. Apakah maknanya itu?"
"Apalah maknanya? Tak ada ... hanya ia merasa rapat hatinya
kepada mamaknya. Bukankah mereka itu kaum kita juga? Adinda amat
setuju dan memuji perbuatan anak kita itu. Sungguhpun ia muda, tetapi
telah tua pikirannya, ia telah mempunyai perasaan kepada mereka yang
dalam kemiskinan itu. Tiadalah sebagai kakanda! Bukankah mendiang
Sutan Baringin saudara kandungku, ipar kandung kakanda dan mamak
Aminu'ddin? Apakah sebabnya kakanda tidak melihat-lihat sawah
mereka itu, sejak sepeninggal saudaraku? Tiadakah kakanda menaruh
perasaan iba? Udin mempunyai kasihan, itulah sebabnya ia menolong
mamaknya." Mendengar itu suaminya tinggal diam, dia tiada marah
mendapat umpatan itu.
"Apakah maksud perkataan adinda, melihat-lihat sawah mereka
itu?"
"Kakanda tiada tahu maksud adinda? Melihat-lihat sawah mereka
itu, artinya menolong mereka itu mengerjakan sawah, karena kalau
sawah mereka itu tiada dicangkul dan ditanami, apalah yang akan
dimakan mereka itu bertiga beranak? Sekarang orang sudah hampir
menanam padi, akan tetapi sawah mereka belum habis dicangkul.
Tiadakah kakanda menaruh kasihan kepada anak dan istri saudaraku
itu?" tanya istrinya.
Suaminya termenung, ia teringat hal iparnya, Sutan Baringin, pada
waktu hidupnya.
Sutan Baringin seorang yang terbilang hartawan lagi bangsawan
seantero penduduk Sipirok. Akan tetapi karena ia sangat suka
beperkara, maka harta yang banyak itu habis, sawah dan kerbau terjual,
akan penutup ongkos-ongkos perkara, akhir-akhirnya... jatuh miskin,
sedang yang dicarinya dalam perkara itu tiada seberapa, bila dibandingkan
dengan kerugiannya. Seorang asisten residen yang sudah
lama memerintah di Padangsidempuan, ibu negeri Sipirok, berkata di
hadapan orang banyak, "Kalau ada perselisihan kamu di kampung
tentang sawah atau harta benda peninggalan orang tuamu atau hal yang
lain, lebih baiklah kamu putuskan saja perselisihan itu dengan jalan
damai. Sekali-kali jangan terburu-buru membawa perselisihan itu ke
hadapan pengadilan, supaya jangan menjadi perkara. Jangan, jangan,
nanti kamu menyesal di belakang hari. Ingatlah nasihatku ini! Siapa
yang menang perkara menjadi bara, dan yang kalah menjadi abu."
Berapa kali Sutan Baringin dilarang istrinya, supaya berhenti dari
pada beperkara, tetapi tiada juga diindahkannya.
Ia kalah di pengadilan yang rendah, pergi lagi ke pengadilan yang
lebih tinggi, yaitu di Padang. Kalah di sana, minta banding lagi ke
pengadilan tinggi di Jakarta. Itu semua karena ia mendengar hasutan
orang yang hendak mencelakakan dia, karena orang itu hendak mencari
upah daripadanya. Upah menulis surat, upah mengarang rekes, upah
ini, upah itu, karena orang itu manusia yang... entah, masuk manusia
apa manusia semacam itu. Di negeri kecil orang menamai mereka itu
pokrol bambu. Lagak dan cakapnya sebagai orang yang pandai, yang
ahli dalam ilmu hakim, akan tetapi pengetahuannya tiada suatu apa,
ibarat gendang, kalau dipalu, keras suaranya, dibelah, tak ada isinya.
Kemalanganlah yang menimpa barang siapa yang pcrcaya kepada
orang yang macam itu.
Kalau ada perselisihan, selesaikanlah dengan jalan damai, panggil
orang tua-tua sekampung, mereka itu nanti memutuskannya dengan
baik. Kerugian tiada berapa, pikiran tiada susah dan kita kembali hidup
damai. Inilah untung yang teramat besar di dunia dan akhirat.
Perhatikanlah, hai saudara-saudaraku!
Sutan Baringin menutup telinganya, tiada hendak mendengarkan
kata istrinya, meskipun beberapa kali perempuan yang baik itu
mengingatkan suaminya. Segala bujuk dan nasihat, yang diucapkan
istrinya, sia-sia saja, sebagai batu jatuh ke lubuk. Si suami menurut
nasihat pokrol bambu juga.
Istri yang baik itu tiada putus as-a. Ia mengumpulkan kaum keluarganya;
Ayah Aminu'ddin, kepala kampung A, pun turutlah. Maksud
ibu yang mulia itu: perkataannya sendiri ditolak suaminya; kalau semua
kaumnya bersama-sama memberi petuah yang baik, barangkali
suaminya ada segan melaluinya.
Akan tetapi apakah kesudahannya? Sekalian ikhtiar istrinya itu siasia.
Suaminya tinggal menegangkan urat lehernya. Pengajaran setan
manusia yang berlidah petah itu sudah masuk benar ke hatinya, dan
matanya pun tak melihat lagi, bagaimana kesudahan perbuatannya itu
di belakang hari. Akan mengerasi dan memaksa suaminya itu tak berani
perempuan yang berhati lemah-lembut itu, karena amatlah hormatnya
kepada suaminya itu. Memberi ingat suami pun tiada berani lagi ia,
sejak Sutan Baringin membentak dia dengan perkataan, "Diam kau;
perempuan tiada patut mencampuri perkara laki-laki; dapur sajalah
bagianmu!"
"Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, Angkang,"
jawab istrinya perlahan-lahan; takut ia kalau-kalau darah suaminya itu
naik. Akan tetapi ia mengucapkan perkataan itu.dengan suara yang
sedih dan air mata berhamburan, karena terasalah olehnya, kemelaratan
yang akan menimpa mereka anakberanak kelak.
"Kakanda, ingatlah perkataan adinda! Tiadakah kakanda menaruh
kasihan kepada anak kita yang dua orang ini?"
"Diam! Perempuan apakah engkau?" sahut suaminya dengan muka
yang merah, seraya ia berdiri; lalu pergi ke luar.
Si ibu memandang anaknya yang menyusu di pangkuannya, sedang
air matanya bercucuran ke atas kepala anak yang hendak tertidur itu.
Hatinya hancur sebagai kaca terempas ke batu, memikirkan nasib
mereka itu di belakang hari.
"Menangiskah Ibuku?" tanya Mariamin, yang baru datang dari
sawah, lalu ia memeluk dan mencium kedua belah pipi ibunya yang
dicintainya itu.
"Wahai ... biji mataku, bagaimanakah nasibmu di belakang hari,"
kata ibunya mengeluh, lalu ia berdiri akan menidurkan anak yang
disusukannya itu ke bilik tempat tidurnya.
Siapakah lawan Sutan Baringin dalam perkara itu?
Sebagaimana diceritakan di atas Sutan Baringin itu beripar dengan
ayah Aminu'ddin, yang tinggalnya tiada berapa jauh dari Sipirok.
Jalannya mereka itu bertali, yakni ibu Aminu'ddin adik kandung Sutan
Baringin. Jadi Aminu'ddin memanggil Sutan Baringin tulang (artinya
mamak) dan kepada ibu Mariamin nantulang (artinya ina tulang = istri
mamak). Menurut adat orang di negeri itu (Batak) seharusnyalah bagi
Aminu'ddin menyebut Mariamin adik (anggi bahasa Batak) dan
perkawinan antara anak muda yang serupa itu amat disukai orang tua
kedua belah pihak. "Tali perkauman bertambah kuat," kata orang di
kampungkampung. Barangkali perkawinan yang serupa itu, tiada biasa
di tempat lain. "Lain padang lain belalang, lain tanah lain lembaganya,"
kata peribahasa.
Sutan Baringin ialah seorang yang berharta; sawah-sawahnya yang
lebar itu mendatangkan keuntungan yang banyak kepadanya. Tiadalah
ia payah dan susah membajak dan menanami tanahnya yang subur itu;
habis tahun ia menerima untung yang bersih, yaitu sebagian dari padi
hasil sawahnya, yang diusahakan orang lain; biasanya dua perlima
bagian yang punya sawah. Sejak orang tuanya meninggal dunia dan ia
telah beristri, ia hidup dalam kesenangan, atau lebih baik dikatakan
dalam kekayaan, karena tiada selamanya orang kaya bersenang hati.
Anaknya dua orang; yang sulung perempuan berumur enam tahun, dan
yang bungsu laki-laki yang masih menyusu. Anak perempuannya itu
bernama Mariamin dan ringkasan namanya Riam. Anak itu seorang
anak yang elok parasnya. Akan tetapi kecantikan rupanya itu belumlah
nampak dengan terangnya, karena ia masih kecil, ibarat bunga yang
belum kembang. Jadi kecantikannya itu belum ke luar, masih
tersembunyi dipalut oleh tajuk bunga yang kuncup itu. Tapi
sungguhpun demikian, barang siapa yang melihat anak itu, tentu ia
mengaku, kecantikan Mariamin bertambah lagi, dan romannya pun
makin elok, yakni bila bunga yang kuncup itu sudah kembang dan
sekalian bagian-bagiannya yang tertutup itu nampak dengan nyatanya,
pendeknya bila anak gadis itu besar dan ia mencapai potongan badannya
yang secukupnya. Lihatlah warna kulitnya yang jernih dan bersih
itu, putih kuning sebagai kulit langsat! Matanya yang berkilat-kilat
serta dengan terang itu, menunjukkan kepada kita, bahwa anak itu
mempunyai tabiat pengasih. Pada bibirnya yang tipis dan merah itu
selamanya terbayang senyum yang manis. Jika ia berkata-kata atau tertawa-
tawa, tampaklah giginya yang putih dan halus, berkilat--kilat
sebagai mutiara. Kalau diamat-amati roman anak dara itu, tampaklah di
mata, air mukanya yang hening dan jernih, suci dan bersih, sebagai seri
gunung waktu matahari akan terbenam adanya. Pendeknya makin lama
mata memandang dia, makin heran hati melihat kecantikan parasnya,
barangkali timbul lagi pikiran mengatakan, "Tak benarlah budak ini
anak manusia, barangkali keturunan bidadari jua, yang menjelma ke
dunia ini."
Setelah Mariamin berumur tujuh tahun, ia pun diserahkan orang
tuanya ke sekolah. Meskipun ibu-bapaknya orang kampung saja, tahu
jugalah mereka itu, bahwa anak-anak perempuan pun harus juga di
sekolahkan. Ia harus tahu membaca dan menulis, mengira dan berhitung,
sebagaimana teman-temannya anak lakilaki. Bukan maksudnya
supaya kepintarannya yang menyamai laki-laki, tetapi sepatutnyalah ia
mempunyai badan yang segar dan pikiran yang tajam dan cerdas. Akan
memperoleh semua yang amat berguna itu, tentu anak-anak itu jangan
dipaksa saja tinggal di rumah, akan tetapi haruslah ia diserahkan ke
sekolah, akan belajar kepandaian yang berguna baginya pada hari
kemudian akan membukakan pikirannya, supaya ia kelak menjadi ibu
yang cakap dan pintar, lebih-lebih dalam hal memelihara rumah
tangganya. Tambahan pula sekolah itu bukan tempat mencari ilmu saja,
tetapi adat lembaga dan kesopanan pun diajarkan juga kepada anakanak,
yang berfaedah baginya di hari besarnya. Bukankah anak-anak
itu, manusia yang nanti menggantikan orang tuanya mendiami bumi
ini?
Mariamin anak yang cantik itu, duduk sekarang di kelas dua dan
Aminu'ddin di kelas empat. Kalau murid-murid sudah ke luar, kedua
budak itu sama-sama pulang ke rumahnya, yang kirakira sepal jauhnya
dari rumah sekolah. Akan tetapi Aminu'ddin harus berjalan kaki lagi ke
kampungnya, yaitu tengah dua pal jauhnya dari Sipirok. Waktu pukul
tujuh pagi Mariamin sudah sedia di hadapan rumahnya menantikan
Aminu'ddin, supaya mereka itu sama-sama pergi ke sekolah. Masingmasing
menyukai temannya dan amatlah karibnya persahabatan kedua
anak itu. Itu tiada mengherankan, karena seorang memandang yang lain
sebagai dirinya, sebab mereka itu berkarib, yakni emak yang seorang
bersaudara seibu-sebapak dengan ayah yang lain. Oleh sebab itu adalah
perasaan mereka itu sebagai bersaudara kandung. Lagi pula bagaimana
rapatnya orang berkaum, dapatlah dilihat di antara orang-orang
kampung. Amatlah jauh perbedaannya dengan orang hidup di pesisir
atau negeri ramai, yang hanya berkaum di mulut, sebagai biasa dikatakan
orang.
Lain daripada itu ada lagi tali lain yang mengikat hati kedua anak
itu, yaitu: sifat dan tabiat mereka yang bersamaan. Seperti yang sudah
diceritakan, Mariamin bertabiat pengiba, Aminu'ddin pun demikian
juga, hanya saja tiada sama jangkanya. Mariamin seorang anak
perempuan, sudah tentu lebih pengiba dari Aminu ddin, seorang anak
laki-laki. Karena menilik kebiasaannya adalah perempuan itu lebih
halus perasaannya, sedang laki-laki itu lebih keras hatinya. Umpamanya
seorang perempuan tiada akan menolak suaminya, yang meminta
ampun akan kesalahannya, meskipun bagaimana sekali besarnya dosa
laki-laki itu kepada istrinya. Penanggungan perempuan yang sakit,
aniaya suaminya yang bengis, dilupakannya, bila ia melihat suaminya
meminta ampun di hadapannya. Kadang-kadang dengan air mata yang
berhamburan, sebab kesedihan hatinya bercampur dengan sukacitanya,
karena kecintaan suaminya kepadanya telah hidup kembali, maka ia
mendekap dan memeluk suaminya, seraya berkata, "Syukurlah. Mudahmudahan
Allah mengampuni dosa kita."
Akan tetapi tiada jarang kejadian seorang laki-laki memandang istri
yang bersalah kepadanya, sebagai musuh besar, meskipun perempuan
itu berlutut dan membasahi kaki suaminya dengan air matanya akan
meminta ampun atas kesalahan yang diperbuatnya dalam pikiran yang
sesat itu. Kerap kali laki-laki itu menerjang kepala istrinya dengan
kakinya yang basah oleh air mata itu, seraya berkata dengan mata yang
merah, "Nyah engkau, perempuan celaka?"
Aminu'ddin anak yang bijaksana, adat dan kelakuannya baik dan
halus budi bahasanya. Oleh sebab itu Mariamin pun amatlah suka bercampur
dengan dia dan ia amat suka mendengar cerita-cerita
Aminu'ddin, yang diceritakannya, bila mereka itu tengah berjalan
pulang atau pergi ke sekolah atau ketika mereka itu bersama-sama di
sawah, karena sawah orang tua mereka itu berwawasan. Aminu'ddin
pun gemar juga mengajak angginya itu berkata-kata, karena amatlah
setuju ia akan tertib dan budi anak gadis yang kecil itu. Mariamin pun
menghormati dan menyayangi dia dengan sebenar-benarnya. Kalau hari
hujan tiadalah ia membiarkan Aminu'ddin pulang ke rumahnya; ia
selalu berkata, "Singgahlah angkang dahulu, menantikan hujan ini
teduh, lagi nasi pun sudah sedia untuk kita, karena mak tahu juga,
angkang tak dapat pulang ke kampung dalam hujan begini."
"Ah, biarlah saya terus, hujan tiada berapa, kalau saya berhenti,
tentu saya pulang sendiri; eloklah ramai-ramai dengan kawan-kawan,"
sahut Aminu'ddin.
Akan tetapi angginya itu bukan anak yang mudah kalah bercakap.
Dengan segera ia memegang tangan Aminu'ddin, seraya berkata, "Ah,
tak baik begitu, nanti angkang sakit sebagai dahulu, karena ditimpa
hujan, bukankah orang tua kita yang susah? Saya kawani nanti pulang,
kalau angkang tak suka berjalan sendiri."
Sudan tentu Aminu'ddin tak dapat menolak ajakan adiknya itu,
karena mamaknya sudah memanggil namanya dari dalam rumah.
Percakapan mereka itu telah kedengaran oleh Sutan Baringin; sebab
itulah ia ke luar mengajak kemanakannya itu masuk ke dalam dan
Aminu'ddin sudah tentu segan melewati rumah mamaknya itu.
Demikianlah halnya, maka ia beberapa kali bercampur gaul dengan
Mariamin. Dari sekolah, waktu pulang ke A, di sawah, di situlah
mereka itu bersama-sama, tiada ubahnya sebagai orang yang kakakberadik.
Karena menilik umur pun adalah demikian rupanya, karena
sekarang genaplah umur Mariamin delapan dan Aminu'ddin sebelas
tahun.
Pada suatu petang, sedang mereka di sawah, Mariamin menyiangi
padinya, supaya padi itu subur tumbuhnya, Aminu'ddin pun memanggil
dari watas sawah mereka itu, "Riam, marilah kita pulang ke kampung,
nanti kita dihambat hujan."
"Saya tengah menyudahkan bengkalai yang tak habis semalam,
biarlah kuhabiskan dahulu pekerjaan ini, supaya hatiku senang. Lagi
pula matahari belum ruyup benar; tunggulah sebentar," kata Mariamin,
lalu ia meneruskan pekerjaannya itu dengan rajinnya.
"Ayo, marilah kita pulang, Riam! Pekerjaan itu boleh disudahkan
besok," sahut Aminu'ddin, seraya menghampiri tempat adiknya bekerja
itu. "Tengoklah matahari tak nampak lagi, karena telah disaputi awan
yang hitam. Baiklah kita pulang ke rumah, sebentar lagi hujan akan
turun dengan lebatnya, lagi amat panasnya sehari ini, sehingga kepalaku
serasa dipanggang."
"Lama lagi hujan akan turun, barangkali nanti malam. Bagaimanapun
lekasnya, saya sempat lagi menyiapkan pekerjaanku yang
terbengkalai ini, tak banyak lagi," jawab Mariamin. Dan dengan suara
yang ramah ia berkata pula, "Barangkali angkang bosan menunggu
saya, eloklah angkang pergi duduk-duduk ke pondok itu!"
Aminu'ddin berdiri juga, tiada tentu pikirannya. Akan tetapi sebab
sahabatnya itu hendak menyudahkan pekerjaan juga, terpaksalah ia
menurutkan kesukaan Mariamin itu. la pun menyingsingkan lengan
bajunya, lalu masuk ke sawah tempat adiknya bekerja itu, karena ia
mengerti apa maksud perkataan Mariamin yang akhir itu, lagi pula
selalu ia bersuka hati menolong temannya itu pada sebarang hal;
barangkali karena ibanya atau kasihnya. Ia pun berkata seraya menghampiri
anak perempuan itu, "Sebenarnya saya sudah letih, Riam,
tengoklah beratnya pekerjaan itu, tetapi ...."
"Saya pun tahu juga, angkang sudah payah; itulah sebabnya
angkang kusuruh pergi berhenti ke pondok itu," kata Mariamin dengan
lekas mendahului perkataan Aminu'ddin. "Tetapi kalau laki-laki biasa
juga letih oleh pekerjaan, bagaimanakah perempuan, manusia yang
lebih lemah, yang tiada mempunyai daya dan kekuatan sebagai lakilaki?"
Aminu'ddin terdiam sebentar, ia tiada meneruskan perkataannya.
Dengan rajinnya ia terus menyiangi sawah itu bersaina-sama dengan
adiknya itu. Sejurus panjang lamanya maka ia pun berkata, "Riam,
rupanya kau memandang laki-laki itu manusia yang tinggi dari
perempuan?"
"Memang," sahut Mariamin dengan segera, "kalau saya lakilaki,
tentu saya kuat bekerja sebagai angkang; saya bersenang hati, karena
pada hari mudaku boleh aku kelak pergi ke sana-sini, pergi ke negeri
orang merantau ke Deli akan mencari pekerjaan. Lainlah halnya dengan
kami perempuan. Perempuan harus tinggal di rumah, tiada boleh acap
kali ke luar-luar, kalau badan sudah besar."
Percakapan kedua orang anak itu berhenti. Mariamin berdiam,
karena hatinya kepada pekerjaan itu saja; Aminu'ddin berdiam pula,
akan tetapi adalah juga yang dipikir-pikirkannya. Bagaimana anganangan
yang memenuhi hatinya, hanya dia saja yang tahu.
Langit pun makin lama makin gelap ditutupi awan yang tebal. Hari
yang terang itu pun menjadi kelam sebagai waktu matahari terbenam.
Guruh pun berbunyilah perlahan-lahan, jauh kedengarannya, antara ada
dengan tiada suaranya, akan tetapi makin lama makin keras. Semuanya
itu memberi tahu kepada mereka, sebentar lagi awan yang tebal itu
hendak kembali kepada asalnya dan hujan yang lebat akan turun
menyirami bumi yang kering.
Kedua anak itu terus juga bekerja; oleh sebab asyiknya, tiadalah
mereka tahu, bahwa hari yang baik itu sudah bertukar adanya.
"Sekarang barulah senang hatiku, sawahku sudah habis disiangi dan
padi itu pun tentu tumbuh dengan suburnya," kata Mariamin seraya
berdiri di atas pematang sawahnya. Dengan muka yang riang, sebagaimana
kebiasaannya ia bertanya pula kepada Aminu'ddin, "Sudah
tentu angkang penat benar? Sekarang baiklah kita pulang ke rumah."
"Pulang ke rumah?" sahut Aminu'ddin mengulangi perkataan
sahabatnya, seraya ia memandang ke kanan dan ke kiri, yakni ke
tempat yang jauh akan melihat puncak-puncak gunung yang mengelilingi
dataran tinggi Sipirok itu. Ditengoknya ke barat, Sibualbuali
sudah hampir hilang dipalut awan. Matanya ditujukannya ke timur,
Sipipisan pun sudah hilang puncaknya yang bagus itu; bentuknya sebagai
bentuk ranggah ayam jantan, yang berdiri dengan gagahnya.
"Kita sudah dihambat oleh hujan. Lekas Riam, baiklah kita berlari ke
pondok itu!" kata Aminu'ddin dengan lekas.
Suara hujan pun sudah kedengaran dan kilat yang diiringi guruh
yang menderu-deru telah memenuhi lingkungan alam ini.
Pada sekejap itu turunlah hujan yang amat lebat, tiada ubahnya
seperti air yang dicurahkan dari langit. Syukurlah budak itu keduanya
sudah sampai pada pondok yang kecil itu.
Waktu itu belum lewat pukul empat, tetapi kalau dilihat udara yang
kelam itu, adalah seperti senja rupanya. Akan sekadar memanaskan
badan, karena angin amat kencangnya itu yang menambah kedinginan
tubuh mereka itu, Mariamin pun menghidupkan api. Dengan sabar
kedua anak yang karib itu duduk berdiang menantikan hujan reda.
Selama mereka duduk, sudah beberapa kali Mariamin memandang
muka kakaknya itu, karena heranlah hatinya melihat Aminu'ddin duduk
berdiam diri saja dan matanya memandang nyala api yang memanaskan
hawa berkeliling tempat itu. Sekalipun matanya menghadap kepada api,
tetapi kelihatan pikirannya dalam kebimbangan. Apa yang dikenangkannya
tiadalah diketahui Mariamin, meskipun sudah beberapa kali ia
melihat muka sahabatnya itu dan mencoba-coba mengira-ngira apa
yang tergores dalam hati anak muda itu.
"Apakah sebabnya angkang termenung? Adakah yang angkang
pikirkan?" ujar Mariamin serta meletakkan tangannya yang halus itu
perlahan-lahan ke atas bahu Aminu'ddin. Aminu'ddin terkejut, barang
kali oleh sebab ia terganggu sedang berpikir-pikir itu. Dengan tiada
berkata suatu apa, ia memandang kepada Mariamin. Rupanya ia tiada
mendengar pertanyaan temannya itu. "Jangan marah sebab saya
mengejutkan angkang. Tapi apakah sebabnya angkang berdiam saja?
Adakah yang disusahkan? Katakanlah supaya kuketahui!" ujar
Mariamin pula, sambil duduk dekat anak muda itu.
"Ah, tidak apa-apa Riam," sahut Aminu'ddin dengan pendek:
"Mana boleh tidak, janganlah Udin menyimpan-nyimpannya, atau
barangkali angkang menaruh rahasia kepadaku," kata Mariamin pula,
seraya memandang mata Aminu'ddin, seolah-olah ia hendak masuk
menyelam ke dalam hati anak muda itu, supaya ia dapat mengetahui
sebabnya ia duduk termenung. Keinginannya bertambah-tambah, akan
tetapi Aminu'ddin tinggal diam saja.
"Katakanlah supaya kudengar," ujar Mariamin lagi dengan muka
yang tiada sabar, akan tetapi dengan suara yang ramah juga.
"Tidak apa-apa, Riam," sahut anak muda itu, "hanya perasaanku
tidak tentu, lain benar daripada yang biasa."
"Lain bagaimana? Sakitkah angkang?" tanya Mariamin dengan
herannya.
"Sakit tidak. Tapi buluku seram dan hatiku berdebar, tak tahu aku
artinya itu. Barangkali mara bahaya yang akan datang, siapa tahu. Tapi
janganlah engkau cemas, Allah memeliharakan hamba-Nya," kata
Aminu'ddin menghiburkan Mariamin, karena dilihatnya muka anak
perempuan itu bertukar menjadi pucat, karena hatinya merasa takut.
Sejurus lamanya mereka itu berdiam diri, hujan makin lebat,
menderu-deru bunyinya dan kilat pun sabung-menyabung dituruti
halilintar yang seolah-olah membelah bumi bunyinya. Angin pun berhembuslah
dengan kencangnya, serta berdengung-dengung. Bunyi
hujan, angin dan guruh itu amat mendahsyatkan hati keduanya yang
berlindung di pondok kecil, di tengah-tengah sawah yang luas itu.
"Bahaya apakah yang akan datang?" tanya anak gadis yang kecil itu
dalam hatinya, sedang kemasygulannya pun bertambah-tambahlah.
3. BANJIR
Aminu'ddin mengetahui, bahwa Mariamin dalam ketakutan yang tiada
tentu, barangkali disebabkan hujan yang amat lebat itu serta melihat
kilat dan mendengar guruh yang tiada berhentinya. Lalu ia pun
menghiburkan hati Mariamin, supaya sahabatnya itu melupakan barang
yang ditakutinya itu.
"Riam," katanya dengan muka yang riang, "saya ada mem punyai
cerita yang bagus, yang baru diceritakan guru kami di sekolah; sukakah
engkau mendengarnya?"
Perkataannya yang dua tiga patah itu menggembirakan hati
Mariamin. Anak perempuan itu pun lupalah akan hal keadaan hari yang
buruk itu. Dengan tersenyum serta matanya bercahaya, ia pun berkata,
"Cobalah angkang ceritakan, betapakah sedapnya mendengarkan dia
itu, apalagi pada waktu yang serupa ini. Mulailah!" kata Mariamin,
seraya ia mendekat duduk kepada Aminu'ddin, supaya suara sahabatnya
bercerita itu jangan dibawa oleh angin yang kencang itu.
"Bukankah engkau bersungut-sungut tadi?" tanya Aminu'ddin.
"Waktu itu kau berkata: amatlah sakitnya jadi perempuan."
"Pabila?"
"Waktu kita menyiangi sawah tadi."
"Ya, apa sebabnya angkang menanyakan itu?"
"O, bukan; saya hanya hendak memberi nasihat saja, yakni, haruslah
kita sabar menerima pemberian Allah," ujar Aminu'ddin. "Dengarlah
cerita seorang yang tiada bersenang hati kepada untungnya. Ia
mengumpat-umpat nasib dirinya, karena berlain dengan orang-orang
yang di atasnya dan dikatakannya Allah taala itu tak adil."
"Bagaimanakah cerita itu?" tanya Mariamin dengan inginnya.
"Dalam sebuah kampung, dekat hutan yang besar, tinggal Seorang
perempuan yang sudah tua." Aminu'ddin memulai ceritanya.
"Pekerjaan perempuan itu mencari kayu api. Kayu itu dijualnya ke
pasar; uang yang sedikit yang diperolehnya dari harga kayu itu dibelikannya
kepada beras dan garam serta apa yang berguna untuk
hidupnya. Dengan bersenang hati serta memuji nama Tuhan, ia pulang
ke rumahnya. Demikianlah kehidupan perempuan itu; siang mengambil
kayu dan malam tidur dalam rumahnya dengan nyenyaknya.
Dekat rumahnya itu diam pula seorang laki-laki tua, pekerjaannya
mengambil kayu juga. Di hutan dan di pasar acap kali kedua orang itu
berjumpa. Dilihat oleh perempuan itu pendapatan orang tua laki-laki itu
lebih banyak mendapat uang dari dia. Kalau ia menerima lima puluh
sen, laki-laki itu menerima delapan puluh sen, kadang-kadang serupiah.
Perempuan itu pun tiada bersenang hati, karena hati yang cemburu
sudah acap kali timbul dalam pikirannya.-Akan tetapi kalau
dipikirkannya lebih panjang, tentu ia tiada bersungut-sungut dalam
hatinya. Orang tua laki-laki itu bekerja tiada akan mencari nafkahnya
sendiri, tetapi anak dan bininya harus pula diberinya makan. Oleh
sebab itu terpaksalah ia memikul beban yang lebih berat, supaya ia
lebih banyak beroleh uang, dan kalau ia tiada kuat, apakah jadinya anak
bininya? Meskipun ia beroleh uang serupiah dalam dua had, jauhlah
lebih senang kehidupan perempuan tua tadi. Akan tetapi hal itu tiada
dipikirkan oleh perempuan tua itu; itulah sebab ia bersungutsungut.
Sekali waktu ia pulang membawa kayu ke rumahnya, ia pun duduklah
berhenti, akan melepaskan lelahnya. Dari jauh ia melihat laki-laki tua
itu memikul kayu juga, sedang berjalan pulang ke kampung. "Wah,
besarnya beban orang itu, tetapi ia tiada keberatan memikulnya," kata
perempuan itu. "Saya hampir setengah mati dan bebanku hanya laku
sepuluh sen. Benarlah Tuhan tidak adil; apakah sebabnya perempuan
kurang kekuatannya daripada laki-laki?"
Pada waktu itu datanglah seorang malaikat ke tempat perempuan
itu. Ia terkejut, karena tiada dikenalnya malaikat itu. Mukanya berseriseri
amat elok parasnya. Malaikat itu menghampiri perempuan tua itu,
seraya berkata, "Janganlah ketakutan; saya ini Jibrail; saya datang ke
mari membawa firman Tuhan. Tadi engkau menyebut Allah taala tak
adil, sebab Ia menjadikan laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Itu
pun kalau engkau suka menjadi laki-laki, katakanlah, supaya jangan
bersungut-sungut juga di belakang hari, mengatakan Allah taala tidak
adil."
Perempuan itu berlutut hendak menyembah malaikat itu. Tetapi
malaikat itu menangkap tangannya, seraya berkata, "Janganlah engkau
menyembah aku, Allah saja yang wajib disembah. Katakanlah, sukakah
engkau menjadi laki-laki?"
"Sudah tentu, lamun Allah taala yang akbar tiada murka akan
hamba," sahut perempuan itu.
"Permintaanmu itu kabul dan menjadilah engkau seorang lakilaki,"
kata malaikat itu. Setelah itu maka Jibrail itu pun gaiblah.
Perempuan itu berdiri seraya melompat-lompat karena suka-citanya.
Ia sudah menjadi laki-laki dan kekuatannya pun sudah jauh bertambah.
"Mulai dari sekarang ini barulah aku amat beruntung, tak ada yang
kususahkan lagi. Sedikit hari lagi tentu aku mempunyai uang yang
banyak," katanya, sambil ia menjinjing bebannya, lalu berlari pulang ke
rumahnya.
Berbulan-bulan sudah itu, ia pun belum juga menjadi orang kaya.
Hidup sendiri kuranglah sedapnya dipandang mata, karena menurut sepanjang
adat, adalah keaiban bagi laki-laki yang tiada beristri itu. Oleh
karena itu ia pun kawinlah. Dua tahun di belakang, lahirlah seorang
anaknya. Sekarang barulah ia tahu, betapa beratnya tanggungan bapak
yang harus memeliharakan anak dan istri serta keperluan rumah
tangganya. Pendapatannya yang sekarang—pada persangkaannya
dulu—dulu telah banyak hampir-hampir tak cukup akan dimakan anakberanak.
Meskipun ia mempergunakan sehabis-habis tenaganya, tetapi
amat susah jugalah rasanya akan mencari yang sesuap pagi dan sesuap
petang. Kesudahannya ia tiada bersenang hati lagi. Pada suatu hari
pekan, sedang ia menjual kayu di pasar, ia pun terpikir, betapa
senangnya kehidupan saudagar-saudagar. Mereka itu menjual kain
yang mahal-mahal dan permata yang indah-indah, sedang kerjanya
tiada berapa. Di tengah jalan, waktu hendak pulang ke rumah, ia pun
berkata sendirinya, "Apakah sebabnya nasib manusia itu beruparupa?
Karena apa maka sedemikian ini untungku ditakdirkan Allah? Sehari
aku tak pergi ke hutan mencari kayu, sudah tentu kami anak-beranak
mati kelaparan. Pendapatanku amat sedikit; hendak menyimpan uang
tak mungkin. Lain benar halnya dengan saudagar-saudagar yang kaya
itu. Mereka itu duduk saja sehari-hari, uang datang sendiri; sedikit pun
tak ke luar keringatnya. Aku ini tiada lepas dari panas dan dingin, hujan
dan angin, akan tetapi tiada lebih kuperoleh daripada yang cukup
dimakan. Kalau aku jadi saudagar yang serupa itu, betapakah
senangnya kehidupanku."
Pada sekejap itu berdirilah Jibrail di hadapannya, seraya berkata,
"Tak usah engkau bersungut-sungut; kesukaanmu itu diperkenankan
Tuhan sarwa sekalian alam."
Orang itu hendak memegang dan memeluk kaki Jibrail itu, akan
tetapi malaikat itu sudah gaib entah ke mana. Dengan bergirang hati
orang itu pun pulanglah ke rumahnya. Sejak daripada hari itu tak perlu
lagi ia pergi mengambil kayu ke hutan. Setiap hari dapat ia tinggal bersama-
sama dengan anak-istrinya dan uang pun tiada kekurangan lagi
akan pembeli apa yang dikehendakinya. Tambahan lagi ia pun menjadi
orang kaya, mempunyai toko yang besar-besar, penuh dengan barang
dagangan, yang memberi laba yang besar. Demikianlah orang itu hidup
senang dan beruntung. Akan tetapi itu pun tiada kekal, karena penyakit
yang lama sudah datang pula menggoda pikirannya.
Pada suatu hari orang pun beramai-ramai dalam negeri itu mengeluelukan
seorang panglima perang yang pulang dari medari peperangan
membawa kemenangan yang besar, karena musuh raja negeri itu sudah
dikalahkannya. Segala bunyi-bunyian serta alat kehormatan kerajaan
pun dikeluarkan oranglah, dan baginda sendiri turut juga menyongsong
panglima besar yang gagah berani itu. Baru panglima perang itu masuk
ke dalam kota, orang pun bertampik dan bersorak, karena semuanya
bersuka-cita, sebab mereku itu telah lepas daripada mara bahaya.
Dengan kehormatan dan kemuliaan yang besar, panglima besar itu diarak
orang sampai ke istana raja.
Melihat hal yang demikian itu saudagar tadi bersungut-sungut pula,
"Hartaku sudah banyak, tapi tak mungkin aku bersenang hati selamalamanya.
Kalau harta orang banyak dan namanya masyhur dan harum,
barulah ia boleh dikatakan beruntung. Kekayaan dan kemasyhuran,
barang yang dua itulah yang menyenangkan manusia di dalam dunia
ini. Ah, apakah sebabnya aku tiada menjadi panglima besar, supaya
kuperoleh keinginanku itu? "
"Tak usah bersusah hati, keinginanmu itu diperlakukan Tuhan
khalikul alam," kata Malaikat Jibrail, yang membawa firman Allah. Sebelum
saudagar itu sekarang telah menjadi panglima besar menyahut
suatu apa, malaikat itu telah aib.
Sekarang tak usah lagi ia bersusah hati. Rumahnya besar dan bagus,
anak dan istrinya dilayani dayang-dayang yang elok-elok rupanya.
Pendeknya amatlah senang kehidupannya, harta dan kemuliaan sudah
diperolehnya, siapa lagi yang di atasnya dalam kerajaan baginda yang
luas itu, kecuali raja yang empunya kerajaan itu?
Semuanya di bawah perintahnya, akan tetapi ada kecualinya.
Pikiran yang demikian inilah yang menjadikan sebab bagi orang itu,
maka ia tiada bersenang hati. "Kalau aku menjadi raja, barulah
sempurna hidupku di dunia ini, karena seorang pun tiada yang jadi
rintangan bagi mataku," kata orang itu pula pada sendirinya.
"Rintangan yang menyusahkan matamu itu kuambil, supaya
kesenanganmu sempurna dalam dunia ini," sahut Jibrail pula.
"Besarlah terima kasih aku kepada tuan, dan sebagai tanda syukur,
aku akan memberi peringatan, yaitu suatu benda yang mahal. Haraplah
tuan sudi menanti dia dalam istanaku ini," titah raja baru itu.
"Emas dan intan tiada berguna untuk kami," sahut Jibrail itu
"penduduk surga lebih menghargakan ibadat serta perbuatan yang baik
daripada harta dunia, dan lagi kepada aku tak boleh engkau mengucap
syukur, karena aku hanya si pembawa firman Allah, Tuhan sekalian
yang ada. Ingat-ingatlah akan perkataanku itu. Allah yang pengasih,
Tuhan sekalian alam, memenuhi apa-apa yang engkau cintakan, kamu
pun harus menyayangi segala umatnya, karena seharusnyalah raja itu
memikirkan kesentosaan rakyatnya, bukanlah raja itu memuaskan hawa
nafsunya saja dan orang banyak menanggungkan kemelaratannya.
Sekali lagi aku ulangi: Kasihanilah makhluk Allah, sebagai Tuhan
menyayangi engkau!"
"Bertahun-tahun lamanya raja itu duduk di atas takhta kerajaannya.
Akan tetapi penyakitnya yang lama itu tiadalah sembuhsembuhnya,
karena sekalipun tidak pernah diobatinya. Seorang yang demam kura,
selalu minum air kelapa muda, sebab ia kehausan, tentu tiada menjadi
baik; sebaliknya, kura itu bertambah-tambah besar dan demamnya
semangkin jadi, akhirnya ia rusak binasa. Demikianlah halnya raja itu.
Nafsunya hendak beroleh yang lebih, selalu diturutinya. Sudah tentu
nafsu itu tiada mati atau puas, jika sudah diturutkan sekali. Kebalikannya
dia menjadi besar, sebagai api yang selalu beroleh kayu akan menjadi
makanannya.
"Manusia yang mendiami bumi ini amat banyaknya. Alangkah baiknya
aku sendiri yang memerintahkan bumi ini. Tuhan hanya satu, raja
pun haruslah satu pula." Pikiran yang demikian itulah yang merusakkan
hati raja itu; siang-malam ia mencari akal akan mencapai maksudnya
itu. Lupalah sudah ia akan perkataan malaikat itu.
"Satu Tuhan satu raja," Begitulah beraninya manusia yang loba dan
tamak itu. Ia mencari kesenangan dalam kekayaan dan kemuliaan:
Orang yang serupa itu tiada pernah akan beroleh kesenangan, karena ia
tiada pernah sabar. Siapa yang sabar dan mempersenang hatinya
dengan pemberian Allah, itulah yang beruntung. Benarkah itu
Mariamin?" tanya Aminu'ddin kepada sahabatnya itu.
Yang ditanya itu menundukkan kepalanya, seraya bertanya, "Bagaimanakah
kesudahannya raja itu, beruntungkah ia di belakang hari?
Dapatkah ia mencapai maksudnya itu?" tanya Mariamin.
"Tentu tidak, bukankah sudah kukatakan, orang tiada pernah
beruntung, kalau ia mencari kesenangan yang sempurna dalam kekayaan
dan kemuliaan dunia," sahut Aminu'ddin, "tetapi sebelum aku
menyudahkan kisah raja itu, baiklah aku menceritakan cerita yang lain,
yang menjadi pelajaran untuk kita. Dalam sebuah negeri adalah seorang
raja. Adapun raja itu amat disayangi rakyatnya, karena ia terlalu cinta
akan anak buahnya. Tetapi adalah suatu tabiat raja itu yang kurang
baik, yakni ia selalu berkehendak supaya ia raja yang lebih besar dan
kuat daripada raja-raja yang lain. Pada suatu hari sedang ia berburu
dengan menteri-menterinya, ia pun sesat dan sampai ke dalam sebuah
lembah yang lebar. Dalam lembah itu diafn seorang gembala. Dari jauh
raja itu mendengar suara gembala itu, menyanyikan lagu yang riangriang;
kadang-kadang berganti dengan suara suling yang merdu. Raja
itu pun berjalanlah menuju tempat pondok gembala itu; amatlah suka
citanya, karena ia telah bersua dengan manusia. Gembala itu
mempersilakan raja itu masuk ke pondoknya meskipun tiada
dikenalnya. Kemudian diajaknya makan bersama-sama. Makanan yang
sederhana, yang diberikan gembala itu, amatlah lezatnya pada perasaan
baginda itu, dan air minum yang diambil dari sungai, dekat pondok
orang itu, lebih enak daripada minum-minuman yang disediakan
dayang-dayang yang ternama dalam istananya. Selama gembala itu
tinggal dalain pondok yang sunyi itu amatlah senang perasaannya, air
mukanya pun selamanya berseri-seri, sehat dan riang nampaknya.
Belum berapa lamanya raja dalam pondok itu, tahulah baginda bahwa
gembala itu hidup beruntung dan berbahagia, lebih daripada dia, raja
yang empunya tanah itu, yang tiada mengenal kekurangan dan
kemiskinan. Setelah sudah makan, gembala itu pun mengantarkan
jamunya itu ke jalan yang benar, yakni jalan pulang ke istana. Waktu
mereka itu hendak bercerai, raja itu berkata, "Belum lama aku tinggal
bersama-sama dengan engkau, tapi sudah terang kuketahui, bahwa
engkau merasa dirimu beruntung. Cobalah katakan apa yang
menyenangkan hatimu dalam hutan yang sunyi ini, jauh dari negeri
yang ramai-ramai, tempat orang berkumpul dan bersenang-senang
diri?"
Gembala itu tersenyum seraya berkata, "Bagaimanakah aku tiada
akan bersenang hati, suatu pun tiada yang kususahkan. Makanan
untukku pagi dan petang cukup, sayur dan ulam pun tiada pernah
kekurangan. Sedang burung-burung yang di bawah langit ini, yang
tiada mempunyai lumbung tempat mengumpulkan makanan, tiada mati
kelaparan, sebab Allah memeliharakan makhluknya, apalagi aku. Dan
air gunung yang kuminum setiap hari itu, adakah dapat diperoleh dalam
negeri yang ramai, tempat penyakit bersarang? Tuan berkata: hutan ini
sunyi; akan tetapi pada perasaanku tiadalah demikian. Kalau matahari
menunjukkan cahayanya di sebelah timur, keluarlah aku dari pondokku.
Di sana-sini kedengaranlah suara unggas yang menyanyi pada
puncak kayu yang tinggi-tinggi, mengucap syukur kepada Tuhan
khalikulalam, yang menjadikan semesta alam ini. Saya pun tak lupa
menyembah dia. Dalam hawa pagi yang semerbak dan segarnya itu
saya halaukan biri-biriku ke padang rumput yang ada di lerenglereng
bukit itu. Kalau hari malam saya tidur dengan nyenyaknya dan segala
keletihanku siangnya itu telah lenyap dan badanku kembali pula.segar
dan kuat serta nafsu bekerja bertambah besar.
Cobalah tuan katakan: Apakah jalan yang membawa saya ke dalam
lautan dukacita, sebagai orang kota? Kalau matahari hendak masuk ke
perhentiannya, ia memancarkan sinar yang seperti emas disepuh ke
puncak gunung dan pokok-pokok kayu yang tinggi-tinggi itu, dan lagi
pelangi yang berwarna-warna, melengkung di sebelah timur, adakah
tontonan yang seindah itu dalam kota yang ramai? Itu kuperoleh
dengan tiada membayar sepeser jua pun. Emas dan perak tak berguna
bagiku, meskipun rumahku emas dan halamanku bertabur intan, takkan
berbahagia saya oleh karena itu. Lagi pula istana raja kita dan
kerajaannya yang besar itu takkan sama harganya dengan tangan dan
mataku. Ah, tak dapatlah saya menceritakan segala barang yang
menyenangkan hatiku di dunia ini. Akan tetapi itu harus kukatakan:
Sekaliannya itu kuperoleh daripada Allah yang rahmat, yang telah
menyediakan kesenangan selama-lamanya bagi hambanya yang
percaya akan dia, yaitu surga yang kekal, ganti dunia yang fana ini.
Itulah sebabnya saya selamanya bernyanyi dengan girang memuji nama
Tuhan seru sekalian alam."
"Engkau orang gunung yang berbahagia," sahut raja itu, "lebih
besarlah tuahmu daripadaku, raja yang memegang kuasa di negeri ini."
Setelah baginda itu mengucapkan terima kasih akan pertolongan
gembala itu, ia pun meneruskan perjalanannya menuju istananya, di
mana hamba-hambanya berusaha akan menyenangkan dia, tetapi ...
dengan semuanya itu tiadalah baginda beroleh bahagia, sebagai yang
diperoleh gembala yang hina dalam pondoknya yang kecil itu."
Aminu'ddin berdiam sebentar, setelah ceritanya habis, Mariamin
pun memegang tangan sahabatnya itu, seraya berkata, "Bagus benar
cerita angkang itu."
"Ya, Anggi," sahut Aminu'ddin, "nanti di belakang hari apabila
engkau besar, barulah kautahu kelezatannya yang sebenarnya, yaitu
bila engkau mengerti akan kias cerita itu."
Anak dara yang kecil itu termenung. Kemudian ia berkata, "Cobalah
angkang teruskan cerita orang pengambil kayu yang tak pernah puas
kepada untungnya itu."
"Sebenarnya aku sudah payah berkata-kata ini, tetapi sebab Riam
ingin juga mendengarkan kesudahan cerita itu, baiklah aku teruskan,"
sahut Aminu'ddin. "Dengarkanlah Anggi!"
Raja yang tadi mengumpulkan tenteranya akan memerangi raja-raja
yang tiada mau takluk kepadanya; karena maksudnya hendak mendirikan
sebuah kerajaan di atas bumi ini dan dialah yang akan memerintahkan
segala bangsa manusia, sebagai Allah menguasai alam ini.
Sudah tentu kerajaan yang lain-lain itu hendak mempertahankan tanah
airnya, dan segala kekuatannya dipakainya untuk melawan, supaya
negerinya jangan terampas oleh raja yang ganas itu. Sudah tentu
perbuatan raja yang loba itu buas adanya. Ia melebarkan kekuasaannya
dengan mengurbankan nyawa rakyatnya; memuaskan cita-citanya
dengan darah dan nyawa manusia yang ada di bumi ini. Beberapa
negeri yang terbakar, perusahaan rusak binasa, sawah dan ladang menjadi
tempat orang berkubur, betapa pula kesusahan dan kesedihan yang
ditanggung anak dan ibu oleh karena si bapak telah mati di medan
perang, mati disebabkan menurut perintah raja yang ganas, raja yang
garang, lebih lagi buasnya dari harimau. Semuanya kecelakaan itu disebabkan
nafsu raja itu saja. Lupalah ia akan arti raja kepada rakyatnya.
Bukankah raja itu menjadi bapak bagi hambanya! Ialah yang harus
mencari keamanan bagi anak buahnya.
Pada suatu petang sedang matahari hendak terbenam, baginda itu
pun berdirilah pada sebuah bukit tempatnya bermalam. Maka ia pun
melayangkan pemandangannya ke negeri musuh yang sudah ditawan
oleh laskarnya pada hari itu. Dengan tersenyum ia pun berkata kepada
wazir-wazirnya, "Seorang pun tiada yang dapat menahan perang kita."
Sembah wazir itu, "Ya, Tuanku. Benar banyak tentara kita yang
mati, tetapi lebih banyak lagi bangkai musuh yang berserak di tengah
padang itu. Lagi pula kemenangan jatuh ke tangan seri paduka tuanku."
Sedang raja itu menunduk-nundukkan kepalanya dan mukanya berseri-
seri, karena ia selalu beroleh kemenangan, maka dengan tidak
disangka-sangka berdirilah Malaikat Jibrail di hadapannya. "Saya
membawa firman Tuhanyang menjadikan alam dan isinya. Segala permintaanmu
sudah dikabulkannya, akan tetapi watasnya sudah lewat dan
ukurannya telah penuh. Darah orang yang tiada bersalah yang tumpah
di tengah padang itu, air mata orang yang kematian, semuanya itu
terang di hadapan Tuhan. Dan sebagai yang saya katakan tadi, perbuatanmu
telah lewat dari watasnya, oleh sebab itu hukuman yang
besarlah yang akan menimpa badan dan jiwamu. Nanti malam engkau
masih boleh tidur, tetapi esok engkau tiada akan melihat matahari,
terbit lagi." Setelah itu malaikat itu pun lenyaplah dari mata raja itu.
Ia tercengang memikirkan perkataan Jibrail itu, tak mungkin terjadi
yang sebagai itu kata hatinya. Pada sangkanya, tiada benar ia bersua
dengan malaikat itu, hanya penglihatan dan pendengarannya juga yang
salah, karena itu ia bertanya kepada menteri-menterinya, kalau-kalau
mereka itu melihat kedatangan seorang malaikat. Dengan tercengang
mereka itu menyahut, bahwa tiada suatu pun yang nampak olehnya.
Hari pun malamlah dan raja itu pun beradulah dengan senangnya
karena esoknya itu ia akan bertentangan lagi dengan musuhnya, yang
sudah tentu akan dikalahkannya pula.
Kehendak Allah tentu berlaku. Waktu fajar menyingsing turunlah
hujan yang amat lebat disertai kilat dan guruh. Sedang baginda, yang
hendak menjadi raja dunia itu, tidur dengan nyenyaknya, maka kemah
tempat baginda beradu itu pun ditembak petir dan ... sekejap itu juga
orang pun mendapati mayat raja itu telah angus terbakar oleh api langit
itu. Demikianlah kesudahannya nasib orang yang tiada mengindahkan
sesamanya makhluk. Badannya binasa dan jiwanya makanan api neraka
yang kekal selama-lamanya."
"He, amatlah ngeri kesudahan cerita itu," kata Mariamin setelah
Aminu'ddin berhenti. "Tak usah aku senang di dunia ini, asal jiwaku
jangan menanggung di akhirat."
"Tentu," sahut Aminu'ddin seraya berdiri hendak menoleh ke luar,
kalau-kalau hujan yang lebat itu sudah berhenti.
Hujan itu belum berhenti benar-benar, akan tetapi karena hari itu
sudah hendak malam, berkemaslah kedua anak itu hendak pulang ke
rumahnya. Sebab rumah Mariamin yang lebih dekat dari tempat itu,
mereka itu pun bersama-samalah berjalan menuju Sipirok. Biasanya
keduanya itu bercerai di tengah jalan, masingmasing pulang ke
kampungnya.
Aminu'ddin pun meminta cangkul adiknya itu, diikatnya bersamasama
dengan cangkulnya serta diletakkannya di atas bahunya.
Demikianlah ia berjalan di muka dan Mariamin tiada membawa suatu
apa. Itulah kesukaan Aminu'ddin, supaya sahabatnya itu dapat berjalan
dengan senang, karena jalan amat licinnya karena hujan lebat itu.
Memang kedua anak itu amat berkasih-kasihan. Lebih-lebih waktu
itu Aminu'ddin sangat menjaga dengan hati-hatinya diri sahabatnya itu,
sedang pada hari yang biasa, tetaplah Mariamin memikul barangnya,
bila. balik dari sawah. Kalau sampai pada jalan yang licin, tiadalah ia
lupa membimbing tangan Mariamin, supaya jangan jatuh tergelincir.
Sebentar-sebentar ia berkata, "Ingat-ingat, Anggi! Tengok benar-benar
jalan itu, jangan engkau tergelincir."
Sejak dari kecil, keduanya telah diikat tali persahabatan. Sudah
besar sedikit, tali itu diperkuat oleh perkauman lagi dan pada waktu
muda lebih kukuh lagi perhubungan itu, karena di antara mereka telah
timbul percintaan, yang akan mempersatukan mereka di belakang hari,
sebagaimana yang telah diceritakan pada permulaan cerita ini.
Tabuh berbunyi di mesjid besar akan memberi tahu kepada orang,
bahwa waktu magrib sudah ada, yakni waktu akan menyembah Tuhan.
Aminu'ddin terkejut mendengar bunyi tabuh itu, karena barulah ia
tahu, siang telah bertukar dengan malam.
"Hampir kemalaman kita ini," katanya kepada Mariamin, "tetapi tak
mengapa, kita sudah dekat; kalau sungai itu telah terseberangi, bolehlah
dikatakan, kita sudah tiba di rumah."
"Ah, bukan main besarnya air itu, dari jauh telah kedengaran
suaranya," sahut Mariamin.
"Ya," ujar Aminu'ddin, "karena hujan pun sebagai dicurahkan lebatnya.
Akan tetapi lain benar perasaanku pada ketika ini, dadaku berdebar
dan seram-seram bulu badanku, apakah maknanya itu?"
Mariamin terdiam mendengar perkataan angkangnya itu karena ia
ketakutan. Melihat itu, maka kata Aminu'ddin. "Ah, aku pikir tiada lain
sebabnya hanya karena aku kedinginan. Baiklah kita lekas sedikit,
supaya kita sampai dengan segera ke rumah. Wah, bukan main
sedapnya nanti berdiang, ya, Anggi," ujar Aminu'ddin pula.
Ia berkata-kata demikian hanya dengan maksud, supaya Mariamin
jangan ketakutan lagi.
Tiada berapa lama sampailah mereka ke tepi sungai yang akan diseberangi
mereka itu. Mariamin terkejut melihat sungai itu banjir. Air,
yang penuh dengan buih itu, mengalir dengan derasnya serta menghanyutkan
batu dan kayu-kayuan. Akan tetapi sebab hari sudah mulai
gelap, tiada nyata kelihatan kehebatan air, sungai itu. Kalau demikian
sudah tentu tiada berani mereka itu melalui titian yang kecil, tempat
orang menyeberangi sungai itu.
Pada permulaan titi itu Aminu'ddin berdiri termenung memandang
sungai yang deras itu. Kemudian ia pun berkata, "Dahululah engkau
Anggi."
Mariamin menjawab, "Angkanglah dahulu. Kalau sudah Angkang
sampai ke seberang, barulah aku menyeberang."
"Baik," sahut Aminu'ddin, "Akan tetapi sebelum aku sampai ke
seberang, jangan engkau meniti!" Aminu'ddin berjalanlah melalui titi
kayu yang kecil itu. Dengan hati-hati ia menjejakkan kakinya dan
matanya tiada lepas dari titi itu. Akan tetapi tiadalah tahu, bahwa
setelah ia lewat pertengahan titi itu, Mariamin sudah datang dari
belakang.
Sedang ia di tengah-tengah, maka kedengaranlah olehnya suara
adiknya itu memekik, "Tolong, 'Kang!" dengan terkejut ia menoleh ke
belakang.
Apakah yang nampak kepadanya?
Dengan sekejap itu dilihatnya Mariamin jatuh ke air. Cangkul yang
dibahunya pun dilemparkannya dan setelah bajunya ditanggalinya, ia
pun mengucap, "Tolong, Tuhan!" Dengan perkataan yang dua patah
itu, Aminu'ddin melompat ke dalam air akan menyusul Mariamin, yang
dihanyutkan banjir yang tiada menaruh iba kasihan kepada kurbannya
itu. Meskipun semuanya terjadi dengan sekejap saja, sudah jauhlah
gadis kecil itu dihanyutkan air. Aminu'ddin berenang dengan sekuatkuatnya,
mengejar anak yang malang itu. Dua tiga kali anak itu
memekik lagi, "Tolong Angkang!" bila ia timbul ke atas. Keempat
kalinya tidak kedengaran lagi; rupanya akalnya sudah hilang.
Suara yang penghabisan itu didengar oleh Aminu'ddin dengan
kesedihannya, hatinya sebagai diremas dan harapannya pun hampir
putus, lebih-lebih setelah Mariamin tiada timbul lagi. Akan tetapi
sungguhpun demikian, ia berenang juga secepat-cepatnya, dan matanya
tiada berhenti melihat ke kanan dan ke kiri.
Hari sudah hampir gelap, suatu pun tak ada yang tampak, selain dari
muka air yang berbuih itu. Maka adalah sungai itu sebagai berhantu
pada pemandangan matanya.
"Biar aku mati, tak mau aku ke luar dari sungai ini, sebelum aku
mendapat Mariamin, adik kesayanganku itu. Kalau mati, sama-sama
berkuburlah kami di sini," kata anak laki-laki yang gagah berani itu
dalam hatinya.
Sik! sik! ... sik! Dua tiga kali berturut-turut kilat datang dan
cahayanya pun memancar-mancarlah menerangi alam yang kelam, itu.
Pada waktu yang sekejap itu nampaklah oleh Aminu'ddin Mariamin
terapung sebentar. Dengan secepat-cepatnya ia pun menangkap anak
perempuan itu, lalu didakapnya dengan tangan kirinya, dan dengan
tangan kanannya ia berenang. Meskipun ia amat payah, kedinginan dan
kekuatannya pun hampir-hampir habis, ia pun berenang juga sedapatdapatnya,
yaitu sambil berhanyut, ia berenang perlahan-lahan ke tepi.
Setelah ia sampai ke pinggir, maka ia pun mengamati Mariamin.
Syukurlah, napasnya masih ada sekali-sekali. Ia pun mendukung anak
itu menuju sebuah pondok, yang ada dekat pada tempat itu. Dengan
tiada pikir panjang, ia pun berlarilah ke rumah memberitahukan kepada
tulang dan nantulangnya (mamaknya laki-laki dan istri mamaknya itu,
yakni orang tua Mariamin). Rumah mereka itu tiada jauh dari sana,
hanya lima menit perjalanan saja.
Sudah tentu semua orang amat terkejut mendengar kabar itu.
Mereka pun berlarilah ke pondok yang tersebut. Api dihidupkan dan
pakaian yang basah itu diganti dengan kain baju yang kering dan
bersih. Dengan usaha serta pertolongan orang-orang sebelahmenyebelah
rumah, anak perempuan itu pun sadarlah akan dirinya. Air
yang terminum olehnya dimuntahkannya.
Adalah empat belas hari lamanya baru Mariamin sembuh dan dapat
kembali bersekolah. Sejak kecelakaan itu sudah tentu persahabatan
mereka itu lebih rapat lagi. Mariamin pun selalu merasa, bahwa ia
berhutang nyawa kepada angkangnya, yang telah mengurbankan dirinya
sendiri untuk keselamatannya itu.
Ya, di belakang hari, bila ia sudah besar, tentu mengertilah ia akan
makna: "Utang mas dapat dibayar, utang budi dibawa mati".
4. LAKI-ISTRI DAN ANAK-BERANAK
Sebelum kisah persahabatan Aminu'ddin dengan Mariamin diteruskan,
baiklah kita kembali dahulu sebentar kepada kematian Sutan Baringin
dan bagaimana jalannya kehidupan orang anakberanak itu jatuh melarat,
sebagai tersebut pada awal cerita ini.
Orang tua Sutan Baringin masuk golongan orang yang kaya di
antara penduduk Sipirok. Hanya ia sendirilah anak orang tuanya yang
laki-laki. Sebagai acap kali kejadian akan tabiat anak tunggal itu,
adalah amat manja dan nakal pada waktu ia masih anakanak, karena
barang apa kesukaannya selamanya dituruti orang tuanya. Meskipun ia
salah atau kelakuannya tiada baik, jaranglah ia dimarahi orang tuanya,
apalagi kena pukul jangan dikata lagi. Kalau bapaknya marah kepadanya
karena nakalnya, ibunya pun datang menarik dia dari hadapan
bapaknya, seraya berkata, "Salah sedikit sudah mau dihantam; kelakuan
bapak apakah demikian kepada anaknya? Tiadakah engkau tahu, ia
hanya sendiri saja yang laki-laki?"
Tohir, demikianlah nama anak itu pada waktu kecilnya, makin lama
makin besarlah. Akan tetapi tiadalah ia anak yang baik dan penurut
kepada orang tuanya. Sehari-hari ia menjadi pokok pertengkaran di
antara ayah dan ibunya dan ia pun tiada mendapat didikan yang baik,
karena ibunya selalu memanjakan dia dan suatu pun tiada dapat si
bapak berusaha akan memimpin anaknya itu, supaya menjadi orang
yang baik di belakang hari. Ia amat bersusah hati karena semua
pekerjaannya percuma dan anaknya semakin nakal dan bengis
kelakuannya. Yang menyebabkan itu semua tiada lain dari sebab perbuatan
istrinya. Kadang-kadang ia marah kepada ibu si Tohir serta
katanya, "Jangan dibiarkan anak kita itu sebagai anak yang tiada
mempunyai orang tua, yang memberi pengajaran yang baik bagi dia."
"Apakah maksud perkataanmu itu? sahut si ibu, yang tiada mengerti
ujud perkataan suaminya itu.
"Maksudku begini: Kalau si Tohir salah harus dimarahi, kalau perlu,
jangan segan memakai pemukul."
"Perkataan apakah itu? Anak hanya satu, kausamakan lagi dengan
anak yang telah besar. Bukankah ia masih kecil? Kalau sudah besar
tentu ia tahu, mana yang salah, dan ia pun sudah tentu takkan mau lagi
berbuat yang salah itu."
"Ia masih kecil, saya tahu juga," sahut si bapak. "Akan tetapi kalau
tiada ia beroleh teguran akan kesalahannya yang sekarang, nanti lamalama,
bila ia sudah besar, tak tahu lagi ia perbuatannya yang salah;
karena pada waktu kecilnya ia berbuat demikian, dan tiada dimarahi
orang tuanya. Lagi pula harus kauingat, manusia itu lahir ke dunia
membawa tabiat yang baik dan buruk. Dua-dua mesti ada, akan tetapi
selama orang itu masih anak-anak belum nyata benar; tetapi kalau
diperhatikan nyata juga. Adapun tabiat atau sifat yang tiada baik, yang
ada pada anak itu, sama halnya dengan benalu. Pada mulanya kecil,
akan tetapi selamanya bertambah-tambah rimbunnya dan akarnya pun
makin panjang. Bagaimana kesudahannya? Kayu tempat benalu itu
tumbuh, makin lama makin kurus dan merana, dan kesudahannya
binasa oleh benalu itu. Demikianlah halnya dengan tabiat yang buruk,
yang ada tersimpan dalam hati seorang anak. Selama anak itu kecil tak
tahu ia tabiatnya itu buruk; itu karena pikirannya masih terlalu muda
akan membedakan yang baik dan yang jahat. Anak itu makin besar dan
tabiat yang buruk itu makin menjalar dalam hatinya. Betapa kejadiannya
kelak? Anak itu tiada menjadi manusia yang baik, sebaliknya ia
jadi orang yang jahat; semua sifat yang baik telah musnah dimakan
akar benalu tadi, yang membinasakan hati dan jiwa anak itu, dan ... ia
pun rusak binasalah.
Kalau dipikir panjang, siapakah yang salah? Tentu orang tuanya.
Bukankah seharusnya bagi orang tua memelihara anaknya? Bukanlah
badannya saja yang harus dijaga, akan tetapi jiwa anak itu pun harus
dipelihara, ya, lebih lagi dari badannya. Kalau nampak benalu itu,
haruslah dipotong dan akar-akarnya dicabut sama sekali, supaya kayu
itu subur tumbuhnya. Inilah pekerjaan dan kewajiban orang tua kepada
anaknya, karena kalau anak itu binasa hidupnya di belakang hari dan
jiwanya jadi makanan api neraka, tentu si ibu dan si bapaklah mendapat
hukuman yang berat pada hari kemudian, karena barang yang
dikurniakan Allah itu disia-siakannya."
"Jadi maksudmu, kita harus berlaku keras kepada si Tohir, bukan?"
jawab si ibu. "Amat pandai engkau berkata-kata; kaubawa ke sana,
kauumpamakan ke mari, tapi kesudahannya memberi nasihat, yang
tiada mungkin di hati ibu, yang mengasihi anaknya sebagai darahnya,
ya, lebih lagi dari dirinya."
"Engkau jangan sebebal itu," ujar suaminya dengan suara agak
keras, karena ia agak kesal, oleh sebab perbuatan istrinya itu. "Aku
pakai kiasan, supaya engkau mengerti benar-benar. Bukankah kautahu,
anak itu boleh diumpamakan dengan kayu? Waktu kecil kayu itu
mudah dibengkokkan; kalau sudah besar tak dapat lagi: kalau
dibengkokkan sekuat-kuatmu ia akan patah."
"Ya, tahulah aku di bengkok-bengkokmu itu," sahut si ibu
merengus, "akan tetapi perkataanmu itu takkan didengar oleh ibu yang
kasih kepada buah hatinya. Perempuan yang memandang anaknya
sebagai barang yang menyusahkan kehidupannya, maulah barangkali
menurut nasihatmu itu."
"Lebih baik engkau diam, kaulah yang membinasakan budak itu,
sesal yang tiada berkeputusanlah hasil perbuatanmu bersitegang urat
leher itu," kata suaminya dengan suara besar, karena ia tak dapat lagi
menahan marahnya.
"Tahulah aku kasih bapak kepada anak," sahut si ibu.
"Diam! Lebih baik engkau menutup mulutmu, perempuan ce....!
Astaga, hampir aku berdosa, lebih baiklah aku pergi," kata suaminya
dalam hatinya. Ia pun meninggalkan istrinya yang membawa anaknya
ke dunia ini, akan tetapi bukan si ibu yang memelihara hati dan jiwa
manusia yang dilahirkannya itu.
Demikianlah halnya didikan yang diperoleh Sutan Baringin pada
waktu kecilnya. Setelah ia besar, benarlah sebagai perkataan bapaknya.
Ia tiada menjadi orang yang berkelakuan baik dan patut. Hormatnya
kepada orang tuanya pun kuranglah daripada yang biasa. Setelah
bapaknya meninggal dunia, tinggallah ia dengan ibunya dan seorang
saudaranya perempuan yang masih kecil. Sekarang timbullah pikiran
dalam hati ibunya hendak memperistrikan anaknya itu. Meskipun si
Tohir*) menjadi anak muda, tetapi apa-apa keperluan orang yang
berumah tangga, belum diketahuinya. Ibunya berpikir, "Siapa tahu usia
manusia ini. Kalau anakku bagaimana-bagaimana di belakang hari dan
ia belum diperistrikan, sudah tentu hilanglah nama bapak dan neneknya
dari atas dunia ini." Itulah sebabnya, maka ibunya lekas mengambil
anak dara untuk jadi istri anaknya itu. Lagi pula kalau anaknya itu
sudah kawin, tentu hatinya lekas tua dan perangainya berubah menjadi
baik.
Pikiran yang serupa itu acap kali didapati pada setengah penduduk
kampung, yang kurang mengindahkan hal perkawinan yang serupa itu
di belakang hari. Mereka itu memandang perkawinan itu suatu
kebiasaan, yakni kalau anaknya yang perempuan sudah genap umurnya
harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah
ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak, kalau
orang tua terlambat memperistrikan anaknya.
") Si Tohir, yaitu Sutan Baringin. Menurut kebiasaan orang Batak
yang mendiami Tapian na Uli, adalah dua nama yang dipakai
masing-masing laki-laki. Satu nama yang diberikan pada waktu
mudanya, artinya sebelum ia kawin. Sesudah kawin, orang itu pun
mempunyai nama yang kedua. Inilah yang disebutkan gelar.
Demikianlah juga si bapak yang dalam cerita ini; waktu anak-anak
ia dipanggil si Tohir, dan Sutan Baringin gelarnya, sesudah
beristri.
Perkawinan memang suatu adat dan kebiasaan yang harus dilakukan
tiap-tiap manusia, bila sudah sampai waktunya. Tuhan yang
menjadikan segala yang ada, itulah yang mengaturkan yang demikian
bagi kita yang mendiami bumi ini, karena la pun menjadikan seorang
laki-laki dan seorang perempuan Adam dan Siti Hawa dan kedua
manusia itu disuruhnya hidup bersama-sama, tolong-menolong,
berkasih-kasihan sama sendirinya. Maka adat yang telah diaturkan
itulah yang kita turut. Tapi menurut sebaiknya haruslah kita pikir lebih
panjang, adakah perkawinan itu akan membawa kesenangan dan
keuntungan bagi laki-laki dan perempuan kedua belah pihak. Dan tali
pengikat perkawinan itu haruslah hendaknya kuat benar, supaya jangan
acap kali kejadian perceraian atau talak, karena inilah suatu hal yang
merusakkan kesempurnaan dan kesenangan orang yang berlaki istri.
Cobalah kita kenangkan, betapa sedihnya hati melihat seorang laki-laki,
yang menceraikan bininya yang sedang mengandung, yang dikurniakan
Tuhan, karena ia memberkati perkawinan yang diaturkannya di antara
hambanya. Kalau anak yang dikandung itu nanti lahir ke dunia, wah,
betapakah pedihnya perasaan hati si ibu melihat anaknya itu. "Aduhai,
Anakku, tangkai kalbuku," katanya, seraya memandang anaknya yang
terletak di pangkuannya, dengan air matanya berjatuhan, "amatlah
malangnya bundamu dan anakku pun lahir ke dunia dengan tiada
mendengar suara bapakmu, karena ia membuangkan ibu dan engkau.
Kalau sekiranya bapakmu menaruh sayang kepadamu, meskipun ia
membenci ibumu, tentu tiada ia akan membuangkan aku, karena
engkau masih dalam kandunganku. Tetapi sekarang kita berdua
tiadalah berguna oleh bapakmu, apa boleh buat karena sudah demikian
takdir pada kita."
Tiadalah sedikit perempuan yang melarat, disebabkan nasib yang
serupa itu, kadang-kadang tiada ia segan memutuskan nyawanya, asal
bercerai daripada anaknya, karena tiadalah ia dapat melihat anaknya
mati tak mati, hidup tak hidup, oleh sebab tiada dapat pemeliharaan
yang sepatutnya. Ya, apa boleh buat, sedang badan si ibu masih kurus
dan mukanya pun pucat, karena baru melahirkan anaknya itu; apalah
dayanya akan mencari makanannya dan keperluan anaknya itu.
Daripada melihat keadaan anaknya yang serupa itu, lebih baiklah
membunuh diri, karena maut sajalah yang dapat melepaskan dia
daripada untungnya yang celaka itu.
Itulah kesudahan perkawinan yang tiada terikat dengan tali percintaan.
Sebagai sebuah contoh betapa kemelaratannya perkawinan
yang tiada kukuh itu, ada tertera di bawah ini:
Seorang perempuan janda pekerjaannya menjadi koki dalam rumah
seorang Eropa di Jakarta. Perempuan itu ada mempunyai seorang anak
pekerjaannya menjadi penjaga anak tuannya yang masih kecil. Setelah
si anak berusia lima belas tahun, datanglah seorang muda meminta dia
akan jadi bininya. Si ibu pun menyampaikan permintaan orang itu
kepada anaknya itu.
"Apakah sebabnya ibuku mempunyai pikiran yang serupa itu," sahut
anak dara itu, "orang muda itu tak kukenal, ibuku pun tidak mengetahui
adatnya; saya masih anak-anak, apakah salahnya kita lebih lama lagi
bersama-sama? Apakah yang ibuku susahkan; kalau ibu tiada kuat
bekerja lagi, biarlah saya sendiri makan gaji; barang pendapatanku itu
cukuplah rasanya kita makan berdua."
"Jadi maksudmu tak akan bersuami? Itu tiada patut di mata dan di
hati orang," kata ibunya.
"Bukan maksud saya akan menyimpang dari adat itu. Akan tetapi
sebagai kata saya tadi, orang muda itu tiada kukenal; maklumlah ibuku,
kota ini amat ramai. Lagi pula saya belum dewasa benar," jawab anak
itu.
Akan tetapi sebagai kebiasaannya, orang tua itu beroleh maksudnya
juga, karena si anak tiada berani mempertahankan dirinya. Meskipun ia
telah melihat dahulu kemelaratan, yang akan menimpa dirinya, tiadalah
sampai hatinya menolak dengan keras maksud orang tuanya, yang
kadang-kadang mempergunakan ancaman kepadanya.
Demikianlah anak dara itu kawin juga dengan laki-laki yang tak
dikenalnya itu. Pekerjaan suaminya itu tak diketahuinya dengan
sebenarnya, hanya menurut cerita orang, ia ada seorang mandur. Di
mana? Mandur apa? Itu tak diketahuinya.
Dua bulan sudah kawin, meninggallah ibunya. Ia mati itu tentu
bersenang hati, karena ia sempat melihat anaknya sudah bersuami, yang
memelihara dan menyayangi anaknya yang seorang itu, lebih daripada
orang tuanya. Akan tetapi tiadalah dipikirkannya. Betapakah nasib
anaknya dalam tangan menantunya itu, bila dia tiada lagi?
Ada juga barang dan uang peninggalan mandiang si ibu, meskipun
tiada banyak, tapi cukuplah untuk orang kebanyakan. Setahun lamanya
anak perempuan itu hidup dengan suaminya barulah ia tahu benar,
suaminya itu orang pemboros benar. Nafsu bekerja tak ada padanya,
kesukaannya hanya menyenang-nyenangkan diri saja. Sudah tentu
sekalian uang peninggalan mentuanya itu habis dan barang-barang diangkut
ke rumah gadai. Pencarian istrinya itu pun, karena ia masih
tetap juga bekerja di rumah tuannya, tiada tinggal, tandas sama sekali,
sebagai hujan jatuh ke pasir. Uang habis, barang sudah tersimpan di
gudang rumah gadai, si suami hilang lenyap, pergi entah ke mana.
Siapakah dapat mencari dia, di kota yang seluas dan sebesar itu? Kalau
ia lari ke Bandung, Semarang, Medan, biar setahun pun dicari, tak akan
berhasil. Lagi pula siapakah yang menyusul dia, polisi? Tentu tidak. la
tiada membunuh orang atau membongkar rumah.
Perempuan yang malang itu tiada mempunyai ibu dan bapak lagi,
tinggallah seorang diri, dengan tiada mempunyai uang sepeser dan
barang sepotong juga, lain daripada pakaian yang lekat di badannya.
Sekarang ia tinggal di kampung, dalam sebuah rumah bambu, sebuah
pondok, karena dua minggu yang lewat ia sudah berhenti bekerja di
rumah tuannya. Sebab ia tiada kuat lagi, karena percampurannya
dengan suaminya diberkati Tuhan dan hampirlah genap bulannya anak
itu dalam kandungannya. Tuannya perlu memakai pembantu, tentu
perempuan itu harus dilepaskan, akan mengambil orang lain. Dengan
menyerahkan nasibnya kepada Allah, perempuan yang sedang
mengandung itu, diam di kampung, dalam sebuah pondok kecil, karena
itu sewanya yang murah. Tenang dan sabar si ibu yang belum berumur
tujuh belas tahun itu, memikirkan untungnya, sebab ia menunggununggu
kelahiran anaknya. "Kalau anakku ini lahir dengan selamat,
barangkali ia membawa perubahan dalam kehidupanku. Sudah tentu
bapaknya bergirang hati melihat tetesan darahnya iVu. Bila ia berbesar
hati, karena kelahiran anak kami ini, sudah tentu terbitlah kecintaan
dalam hatinya, kecintaan kepada anak dan istri, karena akulah yang
melahirkan kesukaan hatinya itu. Aku pun dapatlah mencari pekerjaan
dan suamiku pun tentu berubah kelakuannya, karena ia sekarang
memikirkan keselamatan kami. Anak-beranak hidup bercinta-cintaan,
dan di mana cinta dan sayang itu, di situlah damai dan kesenangan,"
demikianlah pikiran dan harapan perempuan yang sedang hamil itu.
Betul amat sakit penanggungannya dalam pondok bambu yang
berlantaikan: tanah itu, akan tetapi harapannya itulah yang membagi
dia kekuatan akan memikul kemiskinan yang pahit itu. Dan apalah
gunanya dia terlampau bersusah hati, cincin, ikat pinggang, kalau perlu
baju dan sarung, masih ada yang akan digadaikan akan pembeli beras
untuk dimakan. Lagi pun yang ditunggu-tunggu, tak akan lama lagi,
yakni kelahiran anaknya itu. Bukankah anaknya itu nanti sebagaimana
harapannya yang akan membawa sinar kesukaan dan mengusir awan
kedukaan, sebagai kabut yang lenyap oleh sinar matahari pagi?
Dua hari lagi sebelum ia melahirkan, itulah kiranya waktu suaminya
meninggalkan dia. la tinggal seorang diri, tiada mempunyai kaum atau
kenalan. Aduh, betapakah sedihnya hal sebagai ini bagi perempuan itu!
Betapa penanggungan pikiran dan badannya pada waktu ia hamil itu,
pada waktu ia nanti melahirkan anak, anak yang diterimanya dari
suaminya, anak yang akan diserahkan kepada suaminya. Ah, sungguh
amat sedih! Kesedihan itu rasanya tak dapat dituliskan dengan pena,
karena sudah lebih daripada yang patut.
Hari yang dinantikan si ibu pun tibalah, anak yang dikandungnya itu
lahirlah dengan selamat. Tiga minggu lamanya dapatlah ia turun dan
bekerja sedikit, sekadar mencuci dan menanak nasi yang akan dimakannya.
Syukurlah dalam waktu yang sekian lama itu, orang yang
berdekatan dengan dia, menaruh kasihan kepadanya. Adapun anak
yang lahir itu, seorang anak laki-laki. Amatlah bersih dan bagus, gemuk
dan subur tubuhnya. Tak salah ibunya bergirang hati, sebagai ibu yang
lain setelah anaknya lahir.
Bukankah penanggungan perempuan yang sedang melahirkan itu,
penanggungan manusia yang sesakit-sakitnya di atas dunia ini? Akan
tetapi bagaimanapun sakitnya penanggungan itu, demikianlah besarnya
kegirangan hati si ibu itu, setelah ia melihat anaknya itu. Adakah lagi
barang yang kita peroleh di bawah langit ini, yang lebih menghiburkan
hati si ibu itu daripada kelahiran seorang anaknya?
Anak sudah lahir, harapan si ibu pun telah terbang semuanya.
Benarlah anaknya itu membawa perubahan, tetapi perubahan yang
buruk juga. Langit itu makin tebal ditutupi awan; kabut semakin gelap,
sehingga matahari pun tiada lagi memancarkan cahayanya.
Demikianlah kehidupan perempuan yang malang itu. Dahulunya
kurang percayanya, suaminya itu benar-benar meninggalkannya,
sekarang barulah ia tahu, karena genaplah sudah umur anaknya itu
sebulan, suatu pun tiada ia mendengar kabar suaminya itu. Apakah
daya si ibu itu sekarang? Barang yang akan dijual tak ada lagi. Hendak
bekerja, tiada kuat, karena badan kurus dan tiada bertenaga. Bukankah
banyak dirasa dan ditanggung si ibu, waktu anaknya lahir? Jadi tiadalah
mengherankan, kalau si ibu yang tiada dapat pemeliharaan yang baik
dan makanan yang cukup, menjadi kurus dan pucat. Kadang-kadang
menjadi bahaya bagi jiwanya.
Ibu yang muda itu pun sampailah kemelaratannya. Bagaimanakah ia
hendak mencari pekerjaan, kalau badan kurus dan sakit-sakit? Betapakah
tiada demikian, karena sejak ia melahirkan anak, tiadalah memakan
makanan yang menguatkan badan. Syukurlah ia tiada mati kelaparan,
sebab masih ada orang yang membagi nasi kepadanya, karena iba hatinya
melihat. Memberi yang lebih dari itu, takkan mungkin, karena yang
berdekatan rumah dengan dia itu pun orang miskin pula. Betul
perempuan yang melarat itu tahu, bahwa sisa-sisa makanan dari meja
tuannya kadang-kadang dapat dimakannya, waktu ia bekerja, akan
tetapi sekarang tentu tiada berguna lagi ia mengharapkan semuanya itu.
Apakah pertaliannya sekarang dengan tuannya yang dahulu? Bukankah
ia sudah lepas, dan orang lain yang menggantikannya? Boleh jadi
dalam kemelaratan yang sangat itu, timbul kadangkadang pikiran yang
demikian, "Aku mati kelaparan, tetapi orang yang kaya makan berlebih-
lebihan."
Akan tetapi sudahlah demikian halnya, manusia itu mempunyai
nasib bermacam-macam, dan bumi itu penuh dengan rupa-rupa tamasya
dan kejadian.
Semua ada ukurannya. Jikalau tabung itu diisi terlampau penuh,
sudah tentu ia rebah dan isinya tertumpah sama sekali. Si ibu sakit dan
kurus, air susu pun tentu jadi kurang, kelak anak dan ibu sama-sama
melarat. Inilah yang akan dihindarkan perempuan itu. Ibu amat cinta
kepada anaknya dan kecintaan ibu itu acap kali menjadikan orang lupa
akan dirinya; ia mengurbankan badan dan nyawanya untuk keselamatan
anaknya. "Aku binasa tiada mengapa, asal anakku ini selamat," pikir
ibu yang malang itu. la pun memberikan anaknya itu kepada seorang
kaya. Orang itu sudah lama menyuruhkan orang meminta anaknya itu,
karena ia tiada beranak. Lagi amatlah inginnya melihat anak yang
bagus dan gemuk itu. Uang pembelinya pun tiada dipedulikannya,
seberapa akan diminta oleh ibu anak itu, sebegitu dibayarnya.
Bukankah sebenarnya dunia ini penuh dengan kejadian? Orang kaya
itu bercintakan anak, akan tetapi istrinya tiada melahirkan anak.
Kelahiran anak menyusahkan ibu sebagai tersebut dalam cerita ini,
akan tetapi perkawinannya dengan suaminya diberkati Allah yang
mahatinggi. Bukanlah hal itu mengherankan hati? Akan tetapi
demikianlah rupanya keadaan dunia ini.
"Berapa ratus rupiah kauminta?" tanya orang kaya itu kepada ibu
anak yang mengantarkan buah hatinya itu.
"Aku tiada ingin beroleh uang, Tuan," sahut perempuan itu
perlahan-lahan. "Sebabnya aku serahkan anakku ini ke tangan tuan,
tuan maklum juga, bukan sebab memandang uang, hanyalah keselamatan
anakku ini di belakang hari ...."
Di sini terpaksa perempuan itu terdiam, lidahnya tiada berdaya
meneruskan percakapannya, hanya air matanya saja yang mengalir di
pipi yang pucat dan cekung itu, menunjukkan kepada orang yang melihat
dia, betapa beratnya perasaan si ibu bercerai dengan anaknya.
"Ya, ya, jangan susah, jangan susah hati," sahut orang kaya itu,
sambil menggoyang kursinya. Ia pun membuka pundi-pundinya lalu
mengeluarkan uang kertas beberapa helai, lalu katanya, "Pulanglah,
bawalah uang ini akan belanjamu!"
"Tunggu dahulu, Tuan," jawab perempuan itu, seraya memberikan
anaknya yang lagi tidur nyenyak, tiada tahu akan dirinya, bahwa sejak
dari waktu itu tiada akan merasa air susu ibunya lagi, kepangkuan istri
orang kaya itu.
"Uang tuan itu tak dapat kuterima, sebab tiada berguna bagiku;
bahkan uang itu sebagai racun bagiku. Uang yang tuan berikan akan
harga anakku itu akan kubelanjakan, sekali-kali tidak, karena tiadalah
sampai hati kuberbuat yang demikian itu, yaitu hidup dengan harga
badan dan nyawa anakku. Bukankah aku seolah-olah memakan daging
dan meminum darahnya, jika aku menerima uang itu? Tak usah Tuan!
Hanya permintaanku yang dua pasal ini, yang kuharap tuan lakukan
dua laki-istri. Pertama: tuan peliharakanlah anakku yang malang ini
sebagai anak tuan sendiri. Kedua, kalau ia nanti sudah besar dan bila ia
bertanyakan orang tuanya, berkata benarlah tuan, sebab tuan pun tahu
juga halku. Jangan tuan lupa menyebutkan, apa sebabnya ia kuserahkan
ke tangan tuan. Itu pun kalau ia bertanyakan orang tuanya, kalau tiada,
tuan rahasiakan sajalah. Kalau ia nanti hendak mencariku, tuan larang,
sebab tiada gunanya, sudah tentu aku takkan didapatnya lagi; rasanya
matahari yang akan terbit besok pagi, sinarnya takkan kulihat. Inilah
tanda peringatanku untuk dia," ujar perempuan itu sambil memberikan
perhiasan rantai lehernya. Di tengah-tengah perhiasan yang bundar itu
ada gambarnya yang berpinggirkan emas.
Orang kaya itu pun menerima tanda peringatan itu, lalu dimasukkannya
ke kantungnya. Setelah itu ia pun berkata, "Uangmu ini
hendak kusimpan, dan apabila berguna bagimu, beri kabar kepadaku,
nanti kukirim ke tempat tinggalmu."
Perempuan itu tiada menjawab, matanya tiada lepas daripada anaknya,
yang tidur dengan nyenyaknya di atas pangkuan istri orang kaya
itu.
Tengoklah, bagaimana si ibu itu bercerai dengan anaknya, anak
yang dilahirkannya dalam penanggungan yang tiada terderitakan itu.
Matanya tiada kering oleh air mata. Dengan tersedu-sedu ia memegang
kedua belah tangan anaknya itu dengan perlahan, supaya ia jangan terbangun
dari tidurnya.
"Selamat ... selamat tinggal ... cahaya mataku, buah hati ibumu ....!
Di dunia kita bercerai ... di akhirat kita bertemu." Lebih panjang tiada
dapat ibu muda itu berkata lagi. Kepalanya ditundukkannya, dipeluknya
budak itu, serta diciumnya berulangulang, yaitu cium yang penghabisan
sekali.
"Selamat tinggal anakku yang amat kucintai!" berseru si ibu sekali
lagi, lalu ia pun berjalan ke luar rumah itu. Sekali lagi ia menengok ke
belakang, akan melihat kesayangannya itu. Itulah pandang yang
penghabisan.
Demikianlah kesudahannya cerita yang sedih ini. Bagaimanakah kesudahan
si ibu dan si anak itu?
Kesudahannya tiadalah diketahui. Tetapi dari perkataannya, "Esok
hari takkan kulihat lagi cahaya matahari naik," menyatakan, bahwa ia
tak ada di dunia lagi. Bagaimana kematiannya, sudah tentu sungguh
sedih dan ngeri! Tapi apa boleh buat, karena orang yang pendek akalnya,
kalau hidupnya sudah terlampau melarat, tiada ia memandang
nyawanya lagi. "Daripada hidup serupa ini, lebih baik mati membuang
diri." Begitulah kebiasaan keputusan pikiran orang, yang menanggung
serupa itu.
Nyatalah sekarang betapa berbahayanya perkawinan yang dipaksakan
itu, yang tiada disertai cinta kasih keduanya.
Maka jadi kewajibanlah bagi tiap-tiap orang yang tahu akan membuang
adat itu dan kebiasaan yang mendatangkan kecelakaan kepada
manusia itu. Bukankah perkawinan yang lekas-lekas itu membinasakan
perempuan? la dikawinkan oleh orang tuanya dengan orang yang tiada
disukainya. Apa sebabnya ia tiada suka kepada orang itu? Sudah tentu
karena ia tiada mengenalnya. Perkawinan yang serupa itu kerap kali
disudahi kengerian. Sungguh benar! Yang tersebut di atas ini; hanyalah
sekedar keterangan saja. Kalau diceritakan sekalian apa yang dilihat
tentang kemelaratan orang yang kawin, yang tiada dikukuhkan oleh
suka, sayang dan cinta, tentu buku ini penuh dengan kisah sedih-sedih.
Tengoklah sekeliling kita, tidak kurang yang sebagai itu. Kalau kita
bertempat tinggal di negeri besar-besar sebagai Jakarta, Bandung,
Semarang, Medan dan lain-lain tentulah akan terlihat dengan mudahnya
kemelaratan manusia disebabkan talak. Berapa puluh, berapa ratus
perempuan yang berkeliaran pada waktu malam, ya, juga pada siang
hari, melakukan pekerjaan yang tiada senonoh. Mereka itu tiada menghargakan
kehormatannya lagi; agama tiada diindahkannya dan kalau
dapat, undang-undang pun hendak dilanggarnya.
Akan kemelaratan dan kecelakaan yang ditimbulkan perempuan
yang serupa itu, tiadalah akan diuraikan di sini, melainkan semua orang
telah memakluminya, betapa hina dan buruknya pekerjaannya itu,
karena bukanlah agama saja yang melarang, tetapi adat pun mengutuknya.
Sekarang tentu ada orang yang akan bertanya: Apakah sebabnya,
maka perempuan-perempuan itu tiada memandang kehinaan, tiada
takut akan Tuhan dan agama? Karena kalau mereka itu masih
mengindahkan sekalian yang tersebut, tentu mereka tiada akan berlaku
sehina itu.
Sebabnya memang ada; karena perempuan-perempuan yang sedemikian
itu, bukannya lahir ke dunia, supaya menjadi orang yang
serupa itu.
Dengan ringkas dapat dijawab pertanyaan itu. Kebanyakan disebabkan
talak. Sesudah ia diceraikan oleh lakinya, tentu keadaannya
semakin buruk. Badan sudah bertambah tua, tiada berada, kaum kerabat
pun tak ada atau jauh tempatnya. Hendak kawin sekali lagi tak
mungkin, karena rupa sudah berkurang eloknya. Jadi apa kesudahannya?
Disebabkan hati susah, dipaksa kemiskinan, ia pun lupa akan
Tuhan, lalu menjadi perempuan .... Ada pula setengahnya kawin dua
tiga kali lagi, tetapi karena selalu diceraikan si laki-laki yang tiada berperasaan
itu, ia pun ingkar dan tiada lagi mempedulikan malu dan aib.
Dalam hal ini kesalahan itu tak dapat dijatuhkan kepada perempuanperempuan
yang malang itu, tetapi semata-mata laki-lakilah yang bersalah
besar. Oleh sebab perbuatan laki-laki itulah, maka perempuan
sesamanya makhluk Allah itu, gugur ke lubang kemelaratan, sehingga
badan dan jiwanya rusak binasa.
Allah subhanahu wa taala menjadikan laki-laki dan perempuan dan
mempersatukan mereka itu dengan maksud, supaya mereka itu
berkasih-kasihan; si perempuan menyenangkan hati suaminya dan si
suami menghiburkan hati istrinya. Maka seharusnyalah mereka itu
sehidup-semati, artinya; sengsara sama ditanggung, kesenangan sama
dirasa. Itulah kewajiban orang yang berlaki-istri. Maka perkawinan
yang serupa itu adalah membawa bahagia kepadanya. Sebab itu seharusnya
janganlah dilupakan akan ujudnya perkawinan yang diaturkan
Tuhan itu. Janganlah ada lagi kita, yang memandang dia, sebagai
perkara kecil dan mempergunakan aturan yang suci itu akan keperluan
sendiri, sehingga kesudahannya pihak perempuan banyak yang jatuh
terjerumus ke dalam ngarai, yang penuh dengan azab dan sengsara
yang tiada berkesudahan!
Sudah jauh kita meninggalkan pokok cerita ini, disebabkan paparan
tentang ibu Sutan Baringin yang mengawinkan anaknya itu dengan
lekas-lekas. Akan meneruskan cerita ini, baiklah diceritakan dahulu
kisah kehidupannya dan hal perkawinannya dengan istrinya itu.
Adapun anak dara yang dijodohkan ibunya itu, adalah seorang
perempuan yang mempunyai kelakuan yang baik. Seberang tingkahlakunya
sedikit pun tiada dapat dicela. Tertib dan sikapnya pun adalah
menunjukkan kebangsawanannya, artinya setia dan penyabar. Keadaan
itu tampak pada air mukanya yang jernih dan pada matanya yang bercahaya.
Bila dilihat pakaian dan perhiasan dirinya, tahulah kita, bahwa
ia seorang perempuan yang tiada menyukai pakaian yang berlebihlebihan,
karena sekalian barang yang terlekat pada badannya, adalah
menunjukkan, ia orang perendah dan gemar kepada kesederhanaan.
Akan tetapi meskipun ia memakai dengan sederhana, adalah rupa dan
romannya bertambah cantik, karena kecantikannya itu mengalahkan keelokan
pakaiannya itu. Tiadalah sebagai kebanyakan perempuan, yakni
perhiasan lebih bagus daripada badan yang dihiasi; kesudahannya yang
dihiasi itu bertambah buruk atau kebagusannya makin kurang, oleh
sebab dialahkan barang yang menghiasi tubuhnya itu. Adapun tabiat
dan adat perempuan itu berlawanan dengan fiil Sutan Baringin. Ia
penyabar dan tutur bahasanya lemah-lembut; suaminya orang yang
suka marah-marah dan perkataannya pun tiada berapa menyenangkan
hati orang yang mendengarkan. Perempuan itu pengiba, peramah serta
tahu menghormati orang; akan Sutan Baringin adalah sebaliknya:
bengis, angkuh dan hatinya amat tinggi, tiada tahu ia akan hormat
kepada orang lain. Tentang kebaikan perempuan itu dan keburukan
perangai yang laki-laki itu akan terlihat lagi kelak di belakang hari.
Akan tetapi sekarang pun sudah diketahui juga akan tabiat orang itu,
masing-masing jauhlah daripada bunyi pantun ini:
Jeruju dengan durinya,
di tepi jalan orang berlari.
Setuju dengan istrinya,
seperti bulan dengan matahari.
Karena itu dapatlah dimaklumi, bahwa percampuran yang demikian
itu kurang kekalnya; dan nikmatnya pun tentu hilang. Meskipun Sutan
Baringin kurang menyayangi istrinya itu, cinta yang sebenar-benarnya
tiadalah terkandung di dadanya terhadap kepada Nuria adalah pada
pemandangan orang luar, perkawinan mereka itu tiada kurang suatu
apa. Nuria seorang perempuan sejati, selamanya mengusahakan dirinya
akan menutup barang sesuatu apa yang kurang antara kedua mereka itu,
serta menerbitkan kecintaan di dalam hati suaminya. Tahulah ia
rupanya, apa-apa kewajiban perempuan kepada suaminya. Oleh sebab
itu tiadalah ia jemu dan bosan mengambil hati suaminya itu dengan
sepenuh-penuh hati. Seorang pun tiada mengetahui hal itu, hanya ia
sendirilah yang tahu, karena dirasanya benar-benar; acap kali ia
bertanya dalam hatinya, "Apakah sebabnya hati dan pikiranku kurang
terikat kepada suamiku? Kalau ia dalam perjalanan, kuranglah rinduku
kepadanya. Kadang-kadang adalah aku melupakan dia.
Pada waktu mudaku, aku pernah menanggung rindu kepada orang
yang acap kali datang bertandang*) ke rumahku.
Ini aku sudah kawin dengan dia dan kami sudah sekian lama
bersama-sama. Tetapi sungguhpun demikian, tiadalah berapa cintaku
kepadanya. Ia, suamiku, kurang kucintai; orang muda pertandangku**)
kurindui. Sudah tentu aku berdosa kepada suamiku.
Akan tetapi apakah sebabnya itu, karena bukan kusengaja. Tiadalah
kusengaja dahulu menaruh rindu kepada orang muda itu; karena
persahabatan kami timbul dari pergaulan. Di belakang hari
persahabatan itu makin dalam di hati kami, sehingga di antara kami
berdua tumbuh percintaan. Tumbuh percintaan? Memang, karena
bukan kulihat dia sebagai pohon kayu tumbuh, tetapi kurasa; terasa
benar-benar dalam hatiku: Makin lama makin besar cinta itu, sebagai
tanam-tanaman. Lama-lama berurat dan berakar, sehingga aku menaruh
rindu dendam kepadanya. Dia pun demikian juga. Meskipun pada
mulanya aku sembunyikan perasaan itu, tapi pada suatu ketika, sedang
kami duduk berdua saja, ia berkata, "Nuria, selama ini perasaanku
kurahasiakan. Sekarang aku tiada dapat menahan dia lagi, dan
terpaksalah aku mengatakannya: Aku cinta kepadamu. Sekarang
haraplah aku, Nuria berkata benar, adakah Nuria menaruh sedikit
perasaan kepada diriku ini." Mendengar itu, air mukaku berubah,
seraya jawabku, "Perasaanku kepada tuan tiada sedikit, tuanlah yang
menjadi buah angan-anganku."
Sejak itu makin kukuh persahabatan kami, sehingga orang berkata,
bahwa dialah yang akan menjadi jodohku di belakang hari. Sayang!
Orang tuaku tiada setuju. Kalau jadi, sudah tentu aku dapat mengecap
kenikmatan orang berlaki-istri itu, sebagaimana kukenang-kenangkan
pada waktu hari mudaku. Akan tetapi cita-cita itu sudah lenyap, sebagai
kabut ditiup angin. Yang lain, yang tiada disangkasangkakan, itulah
yang terletak di hadapanku sekarang. Sungguh amat menyusahkan hati,
sedang badanku masih muda. Inilah dia waktu yang pertama dalam
perkawinanku, sudah pula begini halnya, betapa pula di belakang hari.
Tapi suatu pun tiada faedahnya aku berkata-kata demikian, karena
perkawinan sudah lalu, tiadalah dapat diundurkan lagi; orang berumah
*) "Martandang" bahasa Batak; dalam bahasa Melayu
"bertandang". Adapun arti semata perkataan "martandang"
itu, ialah mengunjungi orang, dengan maksud hendak
bercakap-cakap. Martandang itu dipakai biasanya kepada
orang muda-muda, karena dalam adat orang Batak bebaslah
orang muda laki-laki datang martandang (mengunjungi)
perempuan-perempuan muda. Maka pada waktu itulah
mereka mendapat waktu yang baik akan berkenal-kenalan.
Adat ini memudahkan bagi laki-laki akan mencari anak dari
yang disetujuinya menjadi istrinya.
*) Pertandang, yaitu laki-laki yang mengunjungi perempuan, ke
rumah untuk berkenal-kenalan.
itu tiada sebagai berdayung, kalau ada barang yang mengalang biduk
dapat dikelokkan. Baiklah aku sabar, dan siapa tahu nanti, barangkali
jerih payahku berbuah. Dan kuusahakanlah diriku untuk suamiku,
karena dialah yang mempunyai aku, dialah yang menjadi tuan dan
rajaku."
Sebenarnyalah perkataan Nuria itu, maksudnya itu pun amat suci,
tetapi amatlah susah diperolehnya. Bagaimanakah ia dapat mencintai
suaminya dengan sepenuh-penuh hatinya, jika yang dicintai tiada
menaruh cinta kepadanya? Sudah tentu tangan kita sebelah kiri tiada
dapat bertepuk, kalau tangan kanan tiada turut.
"Berumah itu tiada sebagai berdayung, yakni kalau biduk tertumbuk,
boleh dikelokkan," katanya tadi.
Akan meluaskan pemandangan dan akan mengetahui sedikit adat
lembaga orang di tanah Batak, baiklah diterangkan arti kalimat itu.
Kalimat itu sebenarnya peribahasa orang Batak, dan adalah kira-kira
begini salinannya dalam bahasa Indonesia. Dari peribahasa itu tahulah
kita, bahwa perkawinan di sana amat kukuhnya. Perkara talak satu, dua,
tiga, amatlah jarangnya kejadian. Kehinaan besar dipadang orang kalau
seorang laki-laki menceraikan bininya. Perempuan yang meminta talak
itu pun tiada berharga di mata orang; kawin kedua kalinya amat susah
bagi dia, karena orang berkata dalam hatinya: "Perempuan itu tiada
baik, ia tak setia kepada suaminya. Sudah tentu orang tiada mau
mengambil dia akan istri. Sepanjang adat pun amatlah beratnya
hukuman orang yang menceraikan kawan sehidupnya itu."
Hal itu menunjukkan juga, bagaimana kuat perkawinan orang Batak
yang sejati. Lebih lima belas tahun saya tinggal di kampung
kelahiranku, yang tiada berapa jauh dari Sipirok, tempat cerita ini
terjadi; tiadalah lebih dari dua kali saja, yang kulihat dan kuketahui
orang yang cerai. Sungguh amat jarang, bukan? Di negeri Medan hal
cerai-mencerai itu adalah seperti kejadian sehari-hari, sedang kawinmengawinkan
itu tiada ubahnya di mata mereka sebagai kebiasaan. Di
sana dengan mudah seorang laki-laki mengusir istrinya dan perempuan
yang meminta talak kepada lakinya tiada kurang. Demikianlah
banyaknya yang nampak seharihari. Jadi nyatalah bagi kita, bahwa
perkawinan orang di negeri ramai itu kuranglah kukuhnya, bila
dibandingkan dengan negeri kecil-kecil, meskipun penduduknya,
belum maju, sebagai sebutsebutan orang pada zaman ini. Maka barang
di mana perkawinan itu kukuh, di situlah langkah serong jarang
kejadian. Akan tetapi sayang, karena orang-orang yang diam di
kampung pun sekarang mulai mempermudah-mudahkan perkawinan
itu. Apakah gerangan yang menyebabkan ini? Sebab orang kampung
yang diam di tanah hulu-huluan juga sudah menurut kemajuan orang
kotakah?
Sebabnya dikatakan demikian, karena pada waktu ini makin acap
kalilah terdengar perceraian itu. Yang tersebut ini di daerah negeri
Sipirok. Karena dalam waktu empat tahun, selama saya meninggalkan
negeriku, lebihlah banyak terdengar orang yang menceraikan kawan
sehidupnya, bila dibandingkan dengan waktu lima belas tahun, waktu
saya masih tinggal di kampung. Bila kupandang hal perubahan yang
buruk itu pada lingkungan bangsaku, amatlah menyedihkan hati.
Hatiku sedih, karena, saya mencintai tanah airku. Maka barang siapa
mencintai tanah airnya itu, sudah tentu bangsanya yang mendiami
tanah itu, disayanginya juga. Kalau ada suatu penyakit atau kecelakaan
yang akan atau sudah menimpa bangsanya, sudah tentu ia mencari
daya-upaya akan menolong bangsanya, karena itulah suatu tanda yang
menunjukkan cinta tanah air.
Kesentosaan dan kenikmatan perkawinan di antara bangsaku terancam
oleh pengaruh talak, dan hal itu amat memilukan hatiku. Apakah
yang menyebabkan itu? Kemajuan yang salahkah atau karena dunia
sudah tua? Sebabnya yang pasti, belumlah kuketahui benar-benar, tapi
sungguh pun demikian saya mengusahakan diriku akan menolong
bangsaku itu.
Tiap-tiap orang bekerja menurut kekuatan dan kepandaiannya; saya
pun menolong bangsaku dengan hal yang demikian itu juga, sebab
dengan menulis buku inilah suatu jalan yang mudah bagiku
menunjukkan jasaku kepadanya. Cerita ini adalah suatu kumpulan apaapa
yang sudah kejadian, dengan maksud, supaya dibaca bangsaku.
Dan saya percaya, yang pembacaan ini membawa kebajikan. Oleh
sebab itu baca dan perhatikanlah. Moga-moga dia membawa bahagia
bagi lingkungan bangsaku yang miskin. Ya, sebenarnyalah bangsaku
miskin; karena tiada menaruh ilmu yang tinggi, sedang pembacaan
masih amat sedikit sekali.
Kita kembali kepada Sutan Baringin dengan istrinya si Nuria. Sudah
sepuluh tahun lamanya mereka bersama-sama. Dalam waktu yang
sekian lama itu tiadalah seberapa yang kejadian di antara mereka itu
anak-beranak. Ibunya masih hidup lagi dan istri nya telah melahirkan
dua orang anak. Yang sulung perempuan, bernama Mariamin, dan yang
bungsu laki-laki, baru berumur tiga bulan. Akan tetapi janganlah
disangkakan, mereka itu hidup dalam kesenangan. Betul bila dilihat
dari luar, tak boleh tidak orang akan berkata, "Orang beruntung
benarlah yang mendiami rumah ini."
Rumahnya besar dan bagus, sawah dan ladangnya lebar, harta
banyak, sedang bangsa pun cukup.*) Jika ditilik demikian, tiadalah
suatu jua yang menyusahkan orang itu. Akan tetapi hal itu sekalian,
tiada lebih daripada tirai yang menghambati pemandangan saja. Bila
kita mengangkat tirai itu dan menengok ke dalam, niscaya tahulah kita,
betapa mereka itu yang sebenarnya. Sutan Baringin anak yang terlalu
amat manja waktu mudanya. Sudah besar, tiadalah berubah
kelakuannya itu, ia tinggi hati, pemarah, pemalas serta pemboros.
Sekalian kekayaannya itu hanya peninggalan bapaknya; jadi bukan
yang dicarinya dengan keringatnya. Semua tabiatnya yang buruk itu
dilihat oleh ibunya dengan hati kesal, karena takutlah ia, kalau-kalau
anaknya itu jatuh miskin; oleh karena sekalian nasihatnya tiada
diindahkan oleh Sutan Baringin. Sekarang barulah ia tahu kebenaran
perkataan suaminya itu: waktu kecil kayu itu dapat dibungkukkan, jika
sudah besar tak dapat lagi.
Kalau si ibu itu lama hidup lagi, tentu -ia melihat betapa kesudahan
hidup anaknya, yaitu rusak binasa dan amat melarat. Tapi syukurlah
baginya, karena ia meninggalkan dunia, setahun lebih dahulu daripada
kejadian yang akan diceritakan di sini. Sungguhpun demikian, amatlah
ia menyesal, setelah dilihatnya, anaknya itu, bukan seorang bapak yang
baik sebagai suaminya, ayah Sutan Baringin. Akan tetapi suatu pun
tiada lagi faedahnya sesalnya itu, hanya memahitkan kehidupannya
sampai pada saat yang penghabisan.


0 Response to "Azab dan Sengsara 1"

Post a Comment