Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Thalita 3

Sama seperti berita jadian mereka yang tersebar heboh di seluruh sekolah, berita putusnya Darren dan Thalita juga jadi hot gossip. Dua orang itu, yang tadinya ke mana-
mana selalu nempel kayak iPod dan earphone-nya, mendadak berubah saling menghindar, seolah masing-masing punya penyakit menular, dan yang lain nggak mau ketularan.
Kalau udah begitu, semua orang jelas bisa menebak bahwa dua orang ini putus. Dan bukan cuma itu, tapi para bigos juga berubah super-agresif dalam hal mencari info dalang putusnya hottest couple sekolah itu. Sayang, usaha mereka semuanya mentok, karena Darren dan Thalita sama-sama nggak mau bicara. Thalita langsung ngacir begitu ada yang menyebut-nyebut nama Darren, sementara Darren suka sok tiba-tiba mengalihkan pembicaraan kalau ada yang menyinggung Thalita di depannya.
“Tha, ke kantin yuk?” tawar Nita.
Thalita menggeleng. “Lo sendiri aja ya, Nit? Gue lagi males…”
“Tapi ntar lo sakit kalau nggak makan.”
“Nggak, tenang aja.”
“THALITA!”
Thalita dan Nita langsung mendongak ke pintu kelas begitu mendengar teriakan itu, dan mereka mendapati Gio ada di sana, ngos-ngosan dan mandi keringat.
“Ada apa sih, Yo?”
“Udah, lo ikut gue!” Gio nggak memedulikan napasnya yang masih ngos-ngosan ataupun protes Thalita, tapi dia langsung menarik cewek itu menuju halaman parkir mobil sekolah. Nita mau nggak mau mengekor di belakang mereka.
“Ada apa sih?” tanya Thalita begitu Gio akhirnya berhenti menyeret-nyeretnya, dan mereka sekarang berada di balik sebuah pohon besar di halaman parkir.
“Ssttt… jangan ribut-ribut! Tuh, lihat!”
Thalita mengernyit, tapi dia melongokkan juga kepalanya dari balik pohon, melihat ke arah yang ditunjuk Gio. Ia terdiam begitu melihat apa yang dimaksud Gio.
Darren sedang duduk di atas kap mobil, bersebelahan dengan seorang cewek berambut pendek model bob yang wajahnya manis sekali, dan Darren merangkul bahu cewek itu erat-erat. Thalita nggak pernah melihat cewek itu sebelumnya, tapi biarpun begitu, dia bisa menebak siapa cewek itu.
“Cheryl…,” desis Thalita tanpa sadar.
Nita mendelik mendengar nama itu. Thalita memang cerita padanya tentang bagaimana dia dan Darren putus, dan mengetahui orang yang bernama Cheryl itu ada di dekat mereka membuat Nita jadi gerah!
“Gue nggak nyangka Darren cepet banget dapat pacar baru setelah putus dari lo,” Gio mulai berceloteh. “Tadi gue mau ambil buku fisika gue yang ketinggalan di mobil, taunya pas gue lewat sini, gue lihat mereka, jadinya yah… gue panggil lo aja.”
Bletakk!


satu ruangan bersama Darren selama dua kali dalam seminggu masih akan bisa diatasinya.
* * *
Sejak putus dari Darren, Thalita jadi jarang ngobrol sama Tatyana. Tatyana juga sepertinya jadi canggung setiap kali ada di dekat Thalita. Sering kali dia lebih memilih menjauh dari Thalita kalau mereka kebetulan ada di tempat yang sama. Sebenarnya, Tatyana kepengin minta maaf sama Thalita untuk semua kelakuan Darren yang brengsek itu, tapi kata-katanya selalu tertelan lagi setiap kali dia berniat melakukannya. Kalau melihat wajah Thalita yang sekarang selalu suram itu, Tatyana jadi merasa benci pada dirinya sendiri. Kenapa dia nggak pernah tahu abangnya ternyata brengsek? Kenapa dia malah mendorong Thalita untuk dekat sama Darren dulu? Dia nggak bakalan melakukan itu kalau aja dia tahu Darren bakal menyakiti Thalita… Dia kan juga cewek, dia bisa mengerti gimana perasaan Thalita sekarang. Tatyana bisa terima kalau Thalita jadi membencinya juga.
Sampai suatu hari, Tatyana nggak tahan lagi. Dia merasa harus minta maaf sama Thalita. Yah, walaupun itu nggak akan mengubah apa-apa, at least dia bisa sedikit mewakili abangnya yang sialan itu untuk minta maaf.
“Tha, gue mau minta maaf…”
Thalita mendongak menatap Tatyana, dan mengerutkan keningnya. “Untuk apa?”
Tatyana gelagapan dia nggak menyangka Thalita bakal seketus ini. Tapi dia salah sangka Thalita nanya kayak gitu bukan bermaksud sinis, tapi dia memang bener-bener bingung kenapa Tatyana tiba-tiba minta maaf. Seingatnya Tatyana nggak punya salah apa-apa ke dia.
“Gue ngerti kenapa sikap lo jadi kayak gitu ke gue, Tha… Gimanapun juga, gue salah satu penyebab lo sakit hati kayak gini… Kalau aja gue dulu…”
“Tunggu, tunggu! Lo salah sangka, Na. Tadi gue nanya „untuk apa‟ itu karena gue bener-bener nggak ngerti kenapa lo mendadak minta maaf ke gue.”
“Oh,” gumam Tatyana. Dia baru ngeh sekarang, dan jadi agak malu juga karena tadinya mengira Thalita bersikap ketus ke dia. “Ng… anu… minta maaf soal Darren…”
“Kenapa lo harus minta maaf soal Darren?”
“Mmm… yah… lo tahu lah… kan bisa dibilang dulu gue yang mendorong lo untuk dekat sama Darren. Sampai akhirnya kalian dekat beneran dan jadian. Lalu Darren… yah, Darren nyakitin lo kayak gini… Gue merasa bersalah banget…” Tatyana meremas jemarinya sendiri. Rasanya berat banget bicara seperti tadi di depan Thalita, tapi


Cheryl, dan dengan begitu dia nggak perlu memutar otak lagi mencari cara untuk minta putus dari Thalita.
Tapi entah kenapa rasanya begitu sakit…
Darren-lah yang dulu menopangnya ketika Andra meninggal. Darren-lah yang dengan hati-hati mendekatinya, pelan tapi pasti, menawarkan diri untuk menggantikan Andra. Darren yang ganteng, tapi humble dan pengertian. Darren yang selalu ada. Disakiti oleh cowok macam itu jelas akan terasa lebih sakit daripada disakiti cowok brengsek. Lukanya menusuk lebih dalam.
Thalita merasa dia sudah dibawa terbang tinggi selama kebersamaannya dengan Darren, tapi kemudian dia dijatuhkan lagi setelah kedatangan Cheryl. Sakitnya lebih terasa kecewanya lebih dalam, dan ada sejuta pertanyaan “kenapa” di otaknya yang ingin dia ajukan, tapi dia tahu itu nggak akan ada gunanya.
Darren memilih Cheryl, bukankah itu sudah jelas?
Kenapa dia masih harus bicara banyak-banyak lagi ke Darren, kalau akhirnya pun dia tahu dia akan sampai pada kenyataan itu?
Akan lebih mudah jika ia memutuskan untuk melupakan cowok itu saja, dan bangkit lagi. Dulu kan dia pernah terpuruk juga, tapi buktinya dia bisa bangkit lagi, kan?
Hanya saja Thalita ragu… Dulu waktu dia jatuh karena Andra, ada Darren yang membantunya berdiri. Tapi sekarang… saat dia jatuh karena Darren, siapa yang akan membantunya berdiri?
Tiba-tiba saja Thalita merasakan matanya panas, dan air mata berkejaran menuruni pipinya.
* * *
Pagi itu Thalita berencana online dulu sebelum bel sekolah. Kepengin ngecek e-mail, siapa tahu ada e-mail yang menarik dalam inbox-nya.
Thalita masuk ke lab komputer, yang pagi itu masih kosong melompong, dan menyalakan komputer favoritnya. Tapi belum sampai logo Windows menghilang dari layar, pintu lab terbuka, dan Darren berdiri di sana.
“Eh,” gumam Darren, kayaknya sih nggak menyangka bakal melihat Thalita di sana.
Thalita cuma balas melihat Darren tanpa bilang apa-apa. Menurutnya, lebih baik dia diam. Dia takut kalau bicara nanti, dia justru mengeluarkan sejuta pertanyaan “kenapa” yang disimpannya itu.
“Ng… sori, gue nggak tahu lo di sini…,” kata Darren lagi, canggung.


“Apa? Akhirnya lo nyadar udah melakukan kebodohan dengan balik sama Cheryl?” tanya Tatyana galak. Setelah ngobrol sama Thalita waktu itu, Tatyana jadi makin kesal sama Darren, dan makin benci pada Cheryl. Coba lihat dong, apa yang sudah dua orang brengsek itu lakukan ke cewek sebaik Thalita? pikir Tatyana kesal.
“Gue sama sekali nggak nyesal,” sergah Darren jengkel.
“You will.” Tatyana menjatuhkan diri ke sofa ruang keluarga lalu menyalakan TV. Dia sengaja mengeraskan suara TV itu, supaya nggak usah mendengar lagi sampah apa pun yang bakal diocehkan Darren sekarang.
“Okay, enough „bout that stuff. Gue bener-bener butuh lo dengerin gue sekarang.”
“Ngomong aja.” Tatyana masih sok asyik dengan remote control TV-nya.
Darren cukup pintar untuk nggak membiarkan aksi cuek Tatyana menghalangi niatnya untuk bicara. Lebih baik to the point aja.
“Gue kepengin pindah sekolah. Ke sekolah Cheryl.”
“LO UDAH GILA???”
Sekali lagi Darren mengabaikan reaksi Tatyana, walau dia senang juga kali ini kata-katanya berhasil membuat Tatyana memperhatikan, bukannya cuek bebek seperti tadi.
“Gue serius. Gue kepengin bantuin Cheryl. Dia agak… kesulitan sama pelajaran-pelajarannya…”
“Pantes aja, otaknya pasti udah bolot gara-gara semua drugs itu. Oh, dia memang asalnya udah bolot sih, sekarang pasti bolotnya makin menjadi-jadi.”
Darren langsung menatap Tatyana tajam, tapi Tatyana cuma mengedikkan bahu. Dia begitu bencinya sama Cheryl sekarang, yang terlihat di matanya hanya sisi negatif cewek itu saja.
“Lo nggak boleh ngomong kayak gitu.”
“Boleh aja, ini kan mulut gue sendiri! Dan kalau lo udah lupa, gue benci banget sama dia! Dia yang dulu ngerusak lo, sampai lo jadi manusia dingin nggak berperasaan! Dan ketika lo udah mulai normal kembali, seenaknya aja dia datang dan merebut lo! Apa yang lo lihat dari cewek kayak dia Darren? Please deh!
“Lit, udah berapa kali gue bilang, dia udah berubah. Dia bukan Cheryl yang dulu lagi. Tuhan aja mau maafin dosa-dosa kita, dosa-dosa lo, masa sih lo nggak mau maafin kesalahan orang lain?”
“Nggak usah bawa-bawa Tuhan deh. Dosa lo nyebut nama Tuhan dengan sembarangan! Lagian, salah Cheryl sendiri kenapa dia segitu nyebelinnya! Bukan salah gue kalau nggak bisa maafin dia!”
Darren jadi bingung kenapa Tatyana jadi mempersulit keadaan kayak gini. Padahal tadinya dia cuma berniat curhat dan minta pendapat soal keinginannya pindah ke sekolah Cheryl, tapi mereka sekarang malah bertengkar!



Cowok-cowok itu mendongak dan jadi saling berbisik begitu menyadari keberadaan Darren. Karena ogah banget dianggap penyusup, Darren berinisiatif mendatangi mereka, dan langsung menanyakan Cheryl.
“Ehm, sori, gue lagi nyari Cheryl, anak sekolah ini. Kalian lihat dia nggak?”
“Cheryl? Yang ngobat itu?” tanya salah satu di antara para cowok itu, yang bertubuh paling gendut. Darren langsung merasa urat di bawah matanya berkedut, yang sering terjadi kalau dia akan marah besar.
Beberapa teman si gendut meliriknya dengan tajam, tapi ia cuma mengedikkan bahu dan kembali meneruskan main basketnya yang sempat tertunda gara-gara diajak bicara Darren tadi.
“Eh, sori, nggak usah dengerin dia, dia emang suka ngaco,” kata cowok jangkung yang berdiri persis di depan Darren. Darren tersenyum datar. “Cheryl yang anak pindahan itu kan maksud lo? Cheryl Davina?”
Darren mengangguk.
“Tadi sih pas bubaran sekolah gue lihat dia nyegat taksi di depan sekolah…”
Kening Darren langsung berkerut. “Nyegat taksi? Terus dia… pergi, gitu?”
“Kayaknya sih. Tapi gue nggak tahu ke mana. Pulang, kali. Buru-buru banget dia.”
Darren makin bingung. Masa sih Cheryl pulang duluan tanpa bilang-bilang dia dulu? Sekolah Cheryl memang bubarannya lebih cepat, tapi sebelum ini juga Cheryl selalu menunggu Darren datang menjemput. Nggak pernah dia pulang duluan kayak gini, apalagi tanpa bilang-bilang.
Mungkin Cheryl… sakit? Ya, kalau sakit pasti dia nggak bisa menunggu Darren. Dia pasti harus secepatnya pulang ke rumah dan istirahat. Kalau gitu, Darren harus cepat-cepat ke sana.
“Oh, gitu. Ya udah, thanks ya.”
Cowok jangkung itu tersenyum, dan Darren bergegas menuju gerbang sekolah tempat motornya diparkir tadi.
* * *
Tante Alena, mama Cheryl, yang membukakan pintu waktu Darren sampai di sana. Darren sudah lumayan akrab sama Tante Alena dan keluarganya. Mereka bahkan sayang banget sama Darren, karena Darren-lah satu-satunya yang masih mau berteman, bahkan pacaran, dengan Cheryl setelah Cheryl keluar dari panti rehabilitasi. Teman-teman Cheryl yang lain sudah ngibrit entah ke mana.
“Lho, Cheryl-nya mana, Darren?” tanya Tante Alena setelah Darren melepas helmnya.


Kejadian Cheryl pergi tanpa bilang-bilang dulu itu mau nggak mau bikin Darren kepikiran juga. Dia jadi makin berniat untuk pindah sekolah. Cheryl butuh bantuan untuk belajar, dan pasti lebih manjur kalau Darren selalu ada di dekatnya untuk membantu dia. Darren kan pintar. Dia bisa menjelaskan ke Cheryl kalau ada pelajaran yang nggak dimengerti cewek itu.
“Ren, Darren, sini deh!” Tatyana berteriak memanggil Darren dari ruang keluarga. Darren langsung menuju ke sana.
“Apaan?”
“Tuh… lihat deh.” Tatyana menuding ke arah TV, dan Darren berusaha melihat apa yang sedang ingin ditunjukkan Tatyana.
Channel TV yang disetel Tatyana entah sedang menayangkan apa. Kelihatannya sih berita…
Di TV terlihat seorang ibu setengah baya yang menggendong bayi yang kelihatannya baru berusia beberapa minggu. Yang membuat Darren melotot, bayi yang digendong ibu itu hanya punya satu kaki dan satu tangan.
Entah reporter entah presenter acara itu menanyakan beberapa hal kepada si ibu. Rupanya bayi yang digendong ibu itu adalah cucunya, putri dari putrinya. Si ibu menceritakan penyebab cucunya lahir cacat… karena putrinya, ibu dari bayi itu, dulu adalah pengguna narkoba.
Darren seperti mengejang.
Sang ibu di TV terus diwawancarai. Dia menceritakan, putrinya masih muda ketika mulai terjerat narkoba, masih SMA. Setelahi itu, putrinya yang alim mendadak berubah jadi liar. Yang tadinya selalu punya nilai bagus di sekolah jadi terancam nggak naik kelas. Kelakuannya pun mulai mencurigakan, sampai puncaknya dia kepergok mencuri uang simpanan milik ibunya, dan menggunakannya untuk beli narkoba.
Waktu semua itu terbongkar, ternyata sudah terlambat. Putri ibu itu sudah hamil dengan pacarnya yang juga sesama pecandu. Tentu saja, pacarnya nggak mau bertanggung jawab, dia kabur. Ironisnya lagi, ketika usia kehamilan putri ibu itu mencapai lima bulan, ia tiba-tiba jadi gila. Dokter yang memeriksa mendiagnosis adanya kerusakan pada otaknya, yang diakibatkan pemakaian obat-obatan terlarang dalam frekuensi dan dosis tinggi, bahkan pada masa kehamilannya. Dia juga sudah sering melakukan usaha bunuh diri, tapi selalu berhasil dicegah oleh keluarganya. Sampai akhirnya dia melahirkan, tapi ternyata bayinya cacat.
“Lo mau, bernasib kayak gitu?” tanya Tatyana.
Darren melotot. “Maksud lo apa, ngomong kayak gitu?”


“Cha, ini nggak ada hubungannya sama Darren. Yah, ada sih… tapi ini lebih ke gue-nya.”
“Maksud lo?”
“Yah, kelakuan childish gue yang kemarin itu kan… karena gue masih nggak bisa terima Darren gitu aja ninggalin gue, tapi sekarang gue udah bisa terima…”
“Kenapa tiba-tiba…?”
“Sorry, it‟s a lil bit private,” potong Thalita sambil nyengir.
“Ah, gaya lo!” Acha melempar salah satu boneka yang ada di atas ranjang Thalita pada pemiliknya, tapi Thalita dengan sukses mengelak. Boneka itu jatuh persis di atas tumpukan baju kotor Thalita di sudut kamar.
“Hehe… yang penting gue udah normal lagi, ya kan?”
“Iya sih… tapi, Tha, gue cuma berharap setelah ini lo lebih selektif lagi milih cowok, ya? Bukannya apa-apa, tapi lo dulu pernah bilang kalau gue bisa percaya pada seseorang untuk nggak membuat lo sakit hati, orang itu adalah Darren. Tapi nyatanya? Dia malah bikin lo lebih down daripada Andra dulu. Gue cuma nggak bisa ngeliat lo down untuk ketiga kalinya…”
Thalita bengong. Dia nggak menyangka adiknya yang usil dan bawel itu ternyata care banget sama dia.
“Cha?”
“Ya?” tanya Acha serius. Dia masih berharap Thalita mau cerita kenapa sekarang kakaknya itu sudah bisa menerima fakta bahwa Darren mencampakkannya.
“Kayaknya lo bener-bener nggak boleh baca Harlequin lagi deh…”
“Hah? Awas lo ya! Sialan! Kurang ajar!” Acha langsung meraih apa pun yang berada dalam jangkauannya dan melemparkannya pada Thalita. Thalita cuma bisa ngakak, kesenangan berhasil menjaili Acha lagi.
* * *
“Hei…”
“Thalita? How are you doing?” Jennie excited banget mendengar suara Thalita di telepon. Sudah lama banget Thalita nggak mengontaknya. Terakhir waktu Thalita curhat plus nangis bombai karena dicampakkan Darren. Jennie sempat berusaha mengontak Thalita beberapa kali lagi setelah itu, tapi Thalita seperti menutup diri. Bukan hanya dari dirinya, Jennie tahu, tapi dari orang-orang sekitarnya juga. Jennie kepengin menolong, tapi entah kenapa suara hatinya bilang untuk membiarkan Thalita sendiri dulu, seenggaknya sampai dia lebih tenang.
“Gue baik. Jen, nggg… gue udah nggak marah lagi sama Darren.”


udah memaafkan Darren, jadi mungkin hanya akan terasa canggung nanti kalau mereka kerja kelompok. Nggak ada perasaan lainnya.
“Tha?”
Thalita menoleh. Tatyana ternyata belum ngabur dari kelas seperti yang lainnya. Sugeng juga. Dia pasti masih menunggu Tatyana.
“Ya?”
“Lo… nggak papa, kan? Sekelompok sama…” Tatyana terdiam, dia ingat, Thalita pernah memintanya untuk nggak menyebut-nyebut lagi nama Darren di depannya. It hurtsso bad, kata Thalita dulu.
“Darren?” Thalita membantu menyelesaikan kalimat Tatyana. “Nggak papa.”
“Oh… oke deh kalau gitu. Tadinya gue takut lo keberatan atau gimana, dan gue mau aja tukeran biar sekelompok sama lo, dan Sugeng sama Darren…”
“Nggak papa, Na. I‟m okay kok.”
“Nanti kalau Darren rese, nyebelin, atau nyakitin bilang ke gue ya? Biar gue jambak tu anak!”
“Hehehe, iya gampang. Ya udah, kita pulang yuk? Mau jalan bareng ke parkiran nggak?”
* * *
Meski Thalita udah maafin Darren, dia masih canggung juga untuk ngomong sama cowok itu, biarpun dalam rangka ngebahas tugas kelompok agama mereka. Dia bingung gimana harus memulai pembicaraan, dan takutnya dikira masih ngarep kalau ia menawarkan rumahnya untuk tempat kerja kelompok. Tapi kalau minta di rumah Darren, ntar juga dikira masih ngarep. Serbasalah banget deh pokoknya. Jadi Thalita cuek aja, membiarkan Darren yang inisiatif membahas duluan.
Untungnya, Darren menangkap gelagat itu, dan siang itu dia nyamperin Thalita yang lagi baca TeenLit terbaru di reading corner perpus sekolah mereka. Tempat yang sama saat mereka pertama mengobrol dulu.
“Hei…”
Thalita mendongak, agak kaget melihat Darren, tapi lalu dia ingat, Darren pasti berniat membahas tugas kelompok mereka.
“Hei. Ada apa?”
“Ng… gue mau ngebahas tugas kelompok kita.”
Tuh kan. Bener. “Oh iya. Boleh. Gimana, gimana?”
“Ng… mau kerja kelompoknya kapan? Di mana?”
“Terserah lo.” Thalita mengedikkan bahu.

wajahnya. Mungkin dia memang sudah menduga bakal mendapat kelakuan seperti ini kalau bertemu anggota keluarga Thalita.
Mungkin seharusnya kerja kelompoknya di rumah Darren, batin Thalita. At least Tatyana nggak bakal mendamprat gue di depan rumahnya kalau gue datang ke sana, seperti yang dilakukan Acha sekarang.
“Cha, udahlah… Darren dateng ke sini buat kerja kelompok…”
“Hah? Kerja kelompok? Lo masih mau, kerja kelompok sama dia?! Yang bener aja, Tha!”
“Bukan mau gue. Gurunya yang nentuin kelompok, puas? Udah, lo masuk aja sana deh.” Acha diam di tempatnya, pasang tampang seperti anak kecil ngambek yang dilarang main keluar oleh ortunya karena harus tidur siang, tapi lalu dia masuk rumah dengan langkah kaki mengentak-entak kesal.
“Sori ya,” kata Thalita setelah Acha pergi. “Gue lupa bilangin Acha kalau lo mau datang. Ngg… tepatnya, gue lupa lo mau datang.”
“Nggak papa, Tha. Wajar dia marah kayak gitu. Setelah… apa yang gue perbuat sama lo.”
Thalita menggeleng kecil. “Masuk yuk.”
Darren mengangguk, dan memasukkan motornya ke carport rumah Thalita. Mereka lalu berjalan ke dalam rumah.
“Bentar ya, gue ambil laptop dulu. Lo duduk aja.” Thalita meninggalkan Darren di ruang tamu, dan beranjak ke kamar mengambil laptopnya.
“Kayak dulu aja, lo yang cari bahan, gue yang nyusun, gimana?” tawar Thalita setelah ia kembali sambil membawa laptop.
“Oke.”
Darren duduk di sofa dan menyalakan laptop, sementara Thalita ke dapur untuk mengambilkan minum. Udara gerah banget siang ini, Darren pasti haus…
Eh, kok gue jadi merhatiin dia? pikir Thalita gusar. Dia kan bukan pacar gue lagi… Yah, anggap aja gue melakukan ini karena gue tuan rumah yang baik. Masa tamu nggak dikasih minum?
Waktu Thalita kembali ke ruang tamu, Darren sudah asyik surfing bahan tugas di Internet. Thalita duduk di sebelah Darren, tapi sengaja menyisakan space di antara mereka. Dua menit pertama, dia memperhatikan aja apa web-web yang dibuka Darren. Dua menit berikutnya, dia sudah mulai gelisah, dan mengambil majalah Mama entah tahun berapa yang ada di rak di bawah meja tamu. Tapi baru sebentar membolak-balik halaman majalah itu, Thalita sudah bosan. Rasanya aneh banget, berada satu ruangan dengan mantan pacar, dengan kebisuan yang mencekik.

seharusnya nggak boleh ke mana-mana tanpa ditemani. Kondisinya masih labil, dia rawan terjerat narkoba lagi…”
Thalita menelan ludah. Dia nggak menyangka kondisi Cheryl ternyata begitu buruk. Bahkan keluar rumah pun harus ditemani karena masih rawan terjerah narkoba lagi? Pantas Darren begitu ingin ada di dekat Cheryl. Melindunginya. Menjaganya.
“Sori, Tha, tapi… gue cabut sekarang nggak papa ya? Nyokapnya Cheryl minta tolong gue cari dia. Nyokapnya nggak bisa keluar rumah sekarang, siapa tahu Cheryl pulang saat dia nggak ada… Tugas kelompoknya, bisa kan…?”
“Iya, iya, nggak masalah. Lo pergi aja, nanti gue selesaikan tugasnya.”
“Makasih ya…”
Lalu Thalita mengantar Darren sampai ke depan rumah, dan menyaksikan Darren memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membuktikan betapa khawatirnya dia pada Cheryl…
* * *
Darren memejamkan mata, dan menghela napas gelisah. Cheryl belum ketemu juga, dan HP-nya masih nggak aktif. Padahal Darren sudah mencarinya ke mana-mana, mulai dari lingkungan sekolahnya, kafe yang sering mereka datangi berdua, bahkan ke pub yang seingat Darren dulu jadi tempat dugem langganan Cheryl, tapi semuanya nihil. Pub itu bahkan masih tutup, karena jelas nggak ada orang yang dugem di siang hari.
Hampir tiga jam Darren mencari Cheryl ke sana kemari, tapi nggak ada sedikit pun tanda keberadaan cewek itu. Dia sudah dua kali menelepon ke rumah Cheryl, yang selalu dijawab dengan terburu-buru oleh Tante Alena yang cemas menunggu kabar, tapi ternyata Cheryl belum pulang juga.
Sampai akhirnya Darren memutuskan pulang dulu ke rumah, karena nggak tahu lagi harus mencari ke mana.
“Kamu ke mana, Cher…?” Darren mengusap wajahnya lagi, menenggelamkan diri di kursi teras. “Kenapa sih kamu menghilang kayak gini…”
Tiba-tiba HP Darren berbunyi nyaring. Caller ID-nya menunjukkan itu telepon dari rumah Cheryl. Darren mendesah. Pasti Tante Alena lagi, yang ingin menanyakan apakah Darren sudah berhasil menemukan Cheryl atau belum.
“Ya?”
“Darren? Cheryl sudah pulang!”
Punggung Darren langsung tegak. “Kapan, Tante? Dia bilang dari mana?”


TIGA BELAS
“Cher?”
Cheryl tersentak dari lamunannya. “Ya?”
“Kamu ngelamun, ya?” tanya Darren, antara geli dan bingung.
“Mmm… iya, sori… tadi aku…” Cheryl terdiam sesaat. “Aku kepikiran ulangan kimia di sekolah…”
“Oya? Kenapa? Susah ngerjainnya?”
“Ng… nggak juga sih… Eh, tadi kamu bilang apa emangnya?”
“Oh. Aku nanya, gimana hasil kerja kelompokmu kemarin? Ada tugas apa emangnya?”
“Oh itu… itu… tugas mading! Iya, iya, tugas mading! Pelajaran bahasa Indonesia!”
Darren mengalihkan perhatian sesaat dari jalanan macet di depannya pada Cheryl, dan ternyata cewek itu sudah melamun lagi. Ditambah, Darren baru memerhatikan, wajah Cheryl pucat pasi… bibirnya pecah-pecah. Matanya juga merah, dan berulang kali dia meringis seolah menahan nyeri. Hari ini dia juga pakai jaket, nggak biasanya…
“Cher? Kamu sakit, ya?”
“Eh? Nggak, aku nggak papa.”
“Kamu pucat banget lho… terus, kamu kayak nahan sakit gitu.”
“Masa sih? Mungkin aku kurang zat besi aja. Aku… aku lagi datang bulan, soalnya… Terus perutku, kram.”
Demi mendengar kata-kata “datang bulan”, Darren nggak berkomentar lagi. Yang pernah dia dengar dari Tatyana adalah, kalau cewek lagi datang bulan, sebaiknya dia nggak digerecokin, karena salah-salah, cewek itu bisa jadi segalak macan!
* * *
Darren dan Thalita baru saja selesai mempresentasikan tugas agama mereka, dan dapat aplaus yang cukup meriah. Waktu Thalita duduk kembali di bangkunya, Nita menyikutnya keras-keras.
“Auw!” Thalita memelototi Nita. “Ada apa sih? Sakit, tau!”


Dua petugas polisi mengecek mobil Darren. Mereka mengintip ke bawah jok, memeriksa laci-laci yang ada pada dasbor, menyenteri celah-celah tersembunyi di dalam mobil, pokoknya nggak ada yang terlewatkan.
“Maaf, boleh sekarang kami memeriksa tas Mbak dan Mas?”
Darren mengangguk, dan salah satu petugas mengambil tas Darren yang ada di jok belakang mobil, lalu menggeledahnya. Setelah selesai, petugas itu memasukkan kembali buku-buku pelajaran Darren dengan rapi. Rupanya dia sangat profesional dalam melakukan razia, teliti tapi tetap membuat orang lain merasa nyaman.
“Maaf, Mbak, boleh kami periksa tasnya?” petugas polisi yang pertama tadi mengulurkan tangannya, meminta tas Cheryl. Cheryl diam kaku, seolah nggak mengerti apa yang dibicarakan petugas itu.
“Mbak, boleh kami periksa tasnya?” ulang petugas polisi itu. Cheryl mengerling ke Darren, dan Darren semakin bingung. Kok Cheryl bertingkah aneh begini? Apa dia membawa barang pribadi yang akan membuatnya malu jika diketahui orang lain? Pembalut, mungkin? Tapi itu kan biasa saja. Sangat normal kalau ada siswi SMA membawa-bawa pembalut dalam tasnya.
Benar-benar aneh. Jiwa Cheryl seperti nggak berada di situ, kayak melayang-layang entah di mana. Tapi dia diam saja waktu akhirnya petugas polisi yang berinisiatif mengambil tasnya.
Rasanya baru sepersekian detik berlalu, waktu Darren mendengar seruan menggelegar.
“ANGKAT TANGAN! MERAPAT KE MOBIL!”
Darren dan Cheryl didesak sampai menempel ke sisi kiri mobil Darren, tangan mereka terangkat ke atas.
“Lho? Lho? Ada apa ini, Pak?” tanya Darren bingung.
“Saudara kami tangkap karena kedapatan membawa narkotika!” Polisi yang tadi mengambil tas Cheryl berseru lantang. Tangan kanannya mengacungkan bungkusan plastik transparan. Di dalamnya, Darren dapat melihat dengan jelas, bubuk-bubuk putih yang memancarkan kilau memuakkan.
Sabu.
Seperti ada tornado yang menghantamnya, Darren menoleh secepat kilat pada Cheryl, tapi cewek itu sekarang menunduk dalam diam, sama sekali nggak berani menatapnya.
“Cher…,” desis Darren nggak percaya. “Kamu bilang, kamu udah bersih…”
Seperti ada yang meninju-ninju perut Darren, rasa sakitnya menyebar ke seluruh tubuh. Nggak pernah Darren merasa dikecewakan dan sakit hati seperti ini seumur hidupnya. Mungkin dulu, waktu mamanya pergi meninggalkan dia, Tatyana, dan


Darren menunggu Tatyana mengeluarkan sejuta makian dari bibirnya untuk Cheryl, tapi ternyata adiknya itu nggak berkomentar lagi. Dia hanya menatap Papa, Sugeng, dan Thalita bergantian, dengan mulut yang masih menganga lebar.
“Sekarang gue baru sadar, dia sudah bohongin gue selama ini. Dia menyia-nyiakan kesempatan yang gue kasih gitu aja. Dia nggak mau berusaha, nggak mau berjuang, seperti yang udah gue lakukan demi dia…”
Dan tanpa bisa dicegahnya, Darren menangis. Ia marah, kecewa, malu, putus asa, dan sedih pada saat yang sama. Kenapa dia bisa begitu bodoh? Kenapa dia mau saja menerima Cheryl tanpa mempertimbangkannya masak-masak lebih dulu? Kenapa dia bisa begitu saja tertipu mulut manis dan janji-janji Cheryl?
“Gue bego banget… tolol… bodoh…” Darren menghujani kepalanya sendiri dengan tinju.
“Ren, udah, Ren…” Tatyana berusaha menahan tangan Darren agar cowok itu berhenti menyakiti dirinya sendiri, tapi gagal. Tenaganya kalah jauh dari Darren.
“Seharusnya gue dengerin semua kata-kata lo, Lit… Seharusnya gue percaya semua yang lo bilang dulu…” Darren makin keras memukuli dirinya, seolah dengan begitu dia bisa menebus kebodohan yang telah dilakukannya.
“Pa, Sugeng… tolong dong…,” Tatyana masih berusaha memegangi tangan Darren. Dia sendiri sekarang berlinang air mata. Dia nggak menyangka kondisi Darren akan sehancur ini.
Tapi Thalita sudah bertindak sebelum papa Tatyana atau Sugeng maju dan ikut memegangi lengan Darren. Dia mencengkeram lengan Darren kuat-kuat, membuat Tatyana ternganga di sela tangisnya.
“Ren, cukup,” desis Thalita tajam.
Entah Darren kaget setengah mati lalu kehilangan tenaganya, atau cengkeram Thalita yang memang sangat kuat, Darren berhenti memukuli kepalanya sendiri.
“Gue dulu juga kacau waktu Andra meninggal. Gue merasa nggak berguna, nggak bisa menolong dia. Tapi waktu itu lo ada buat gue, dan lo yang bantu gue melewati masa-masa sulit itu, memulihkan lagi kepercayaan diri gue. Di mana Darren yang gue kenal waktu itu?”
“Tha, gue…”
“Ingat nggak, lo udah ninggalin gue demi cewek bernama Cheryl ini? Lo kenal Cheryl, lo tahu persis seperti apa dia, tapi lo tetap berani mengambil risiko. Sekarang, gue pengin lihat lo berani juga menghadapi risiko ini. This was your choice, Darren!”
Tatyana makin bengong. Dia nggak menyangka Thalita bakal sevokal ini. Tadi kebetulan Thalita sedang ada di rumah Tatyana untuk mengembalikan catatan agama, ketika ada telepon dari Polda. Mendengar Darren terjerat razia narkoba dan sekarang



memelototinya, dan Thalita menyayangkan kata-kata Tatyana yang keluar pada waktu yang nggak tepat. Biarpun Darren sudah sakit hati banget sama Cheryl, Thalita tahu bahwa Darren masih bersikap protektif terhadap cewek itu. Dia tetap nggak suka Cheryl dijelek-jelekkan, kecuali dia sendiri yang melakukannya, dengan tujuan melindungi harga dirinya sendiri.
“Keluar dari kamar gue deh, Lit,” kata Darren pelan, tapi dengan nada yang menusuk.
Tatyana melongo sesaat, lalu keluar dengan sakit hati. Thalita menyusul di belakangnya.
“Na, sabar ya. Dia lagi emosi,” hibur Thalita.
“Tapi dia nggak pernah sekali pun ngusir gue dari kamarnya, Tha… Nggak pernah sekali pun…” Tatyana kelihatan bakal menangis, dan Thalita jadi merasa makin payah.
“Udah, udah… jangan lo masukin hati. Lo kan tahu, walaupun sakit hati, Darren nggak mungkin begitu saja bisa membenci Cheryl. Dia masih akan memprotes kalau kita menjelek-jelekkannya…”
“Tapi dia sendiri…,” Tatyana memprotes.
“Iya, iya, gue ngerti. Itu cuma upaya Darren untuk menyelamatkan gengsinya. Dia cowok, dan lo tahu sendiri kan, gimana tingginya gengsi seorang cowok?”
Tatyana diam, tapi untungnya nggak menunjukkan tanda-tanda bakal banjir air mata lagi. Thalita menghela napas dalam-dalam.
“Kita nggak bisa berharap Darren bisa langsung terima kenyataan ini, Na. Dia perlu waktu, sama seperti gue dulu perlu waktu untuk recover setelah dia ninggalin gue untuk kembali sama Cheryl. Yang bisa kita lakukan sekarang cuma membantu supaya proses recovery itu lebih cepat. Lo ngerti kan, apa maksud gue?”
Tatyana mengangguk. “Makasih ya, Tha? Gue nggak tahu deh harus ngapain kalau nggak ada lo. Sekarang gue ngerti, kenapa dulu gue kepengin banget lo bisa dekat sama Darren, sampai gue maksa-maksa lo untuk coba deketin Darren segala. Ternyata intuisi gue sudah memilih orang yang tepat dari dulu.”
Thalita cuma bisa nyengir nggak jelas mendengar puja-puji Tatyana.
* * *
Proses recovery Darren ternyata berjalan jauh lebih lambat dari perkiraan Thalita. Cheryl benar-benar sudah menyakiti cowok itu, mengubahnya jadi sosok yang getir dan pahit. Thalita merasakan banget perubahan itu. Sering kali dia harus menghadapi Darren yang kasar, bukan seperti Darren yang dikenalnya dulu. Mungkin, kalau bukan karena Thalita adalah cewek yang dikenalnya sebagai cewek baik-baik (setelah mamanya yang


Darren membantu Thalita berdiri, dan membersihkan debu yang menempel di seragam cewek itu. “Lo nggak apa-apa, Tha?”
Thalita mengangguk gugup. Jadi… dalam sepersekian detik yang cepat tadi, Darren meninju Paul, dan menumbangkan cowok itu ke lantai, sebelum Paul sendiri sempat melakukannya pada Thalita?
“Asal lo tahu aja, gue nggak akan ngebiarin cowok pengecut kayak lo jadi kapten kesebelasan gue. This team deserves a better leader!”
Paul berusaha duduk dengan susah payah, menyusut darah yang menitik di sudut bibirnya, lalu pergi dari situ. Tak satu pun teman satu timnya yang menyusulnya. Entah karena mereka semua takut dibanting juga oleh Darren seperti tadi atau apa.
* * *
“Sori ya, Tha, gara-gara gue, lo jadi harus dapat perlakuan kasar kayak gini,” kata Darren. Dia membelai rambut Thalita dengan sayang, perlakuan yang sudah beberapa bulan ini nggak diterima Thalita, akibat kembalinya Cheryl.
“Nggak papa kok, Ren. Gue juga bego, nekat ngelabrak Paul, lupa badan dan tenaganya kayak gajah…” Thalita memijit-mijit siku kirinya yang masih terasa sakit akibat membentur tembok tadi. Biarpun tingkat benturannya telah diminimalisir oleh Darren saat cowok itu menonjok Paul, tetap aja siku Thalita terasa sakit.
“Tangan lo sakit, ya? Gara-gara jatuh tadi?” Darren berusaha meraih tangan Thalita, ingin memeriksanya.
“Eh… iya. Sedikit. Nggak papa kok, beneran…”
Darren menatap Thalita dan mengangguk pelan. “Ng… Tha, makasih ya, lo udah ngebelain gue sampe segitunya. Kebetulan tadi gue mau ke loker, dan gue denger lo marah-marah sama Paul kaerna dia udah nyebarin gosip gue ini junkies. Dan waktu lo bilang Paul pasti melakukan itu untuk bikin image gue jelek, agar dia yang terpilih jadi kapten kesebelasan…”
“Mukanya merah banget pas gue ngomong gitu tadi,” celetuk Thalita.
Darren tertawa kecil. “I know. Kelihatan kok, meski dari tempat ngumpet gue tadi. Mmm… sori ya, seharusnya gue tadi nggak usah pakai ngumpet segala. Seharusnya gue langsung aja menghajar dia begitu dia mulai ngomong kasar sama lo, tapi…”
“Lo penasaran, sejauh apa gue bakal ngebelain lo?” potong Thalita.
Darren langsung salting. “Ng… itu… jadi… yah…”
“Ren, gue tetap, dan akan selalu ngebelain lo, nggak peduli siapa yang harus gue lawan. Bukan cuma sebagai tanda terima kasih gue karena lo dulu yang membuat gue punya semangat hidup lagi, tapi juga karena…”


“Ya, mantan gue memang meninggal akibat overdosis narkoba yang sering lo konsumsi itu. Gue dan Darren merasa senasib, kehilangan cowok dan cewek yang kami sayangi karena narkoba. Cowok gue, karena meninggal, dan lo, karena narkobalah jurang yang nggak ingin Darren lompati demi lo. Darren membuat gue merasa lengkap, dan punya semangat hidup lagi. We were happy, until you were back…”
Thalita merasa tenggorokannya sakit karena bicara terlalu banyak, tapi ia tahu, ia harus meneruskan semua perkataannya, sampai ke maksud sesungguhnya ia datang ke sini.
“Darren hancur lagi, lebih parah dari yang sudah-sudah. Dan gue nggak bisa… gue nggak bisa melihat dia hancur kayak gitu… Walaupun dia pernah mencampakkan gue demi lo, walaupun dia udah nyakitin hati gue…”
Cheryl menggigit bibir. Air mukanya bercampur antara tegang dan… sedihkan ia? “Gue datang ke sini untuk memohon sama lo, Cher. Kalau nanti lo keluar dari sini, gue mohon… jangan temui Darren lagi. Bukan karena gue takut lo akan merebut dia lagi, tapi karena gue nggak akan sanggup melihat dia hancur lagi lebih dari yang sekarang…”
“Seandainya… seandainya gue kembali tapi nggak menghancurkan dia lagi?” tanya Cheryl, Thalita menangkap harapan dari suaranya.
“Nggak. Gue tetep berharap lo nggak kembali lagi. Kehadiran lo bakal membuat dia teringat luka lamanya, dan itu akan membuat segala usaha gue untuk membuatnya memaafkan lo jadi sia-sia.” Thalita menatap Cheryl lurus-lurus di matanya, dan melihat cewek di hadapannya itu kini menelan kekecewaan. “Kalau Darren memang nggak digariskan untuk gue, gue yakin dengan atau tanpa kehadiran lo sekalipun, suatu saat kami akan terpisah. Tapi walau gue nggak berstatus sebagai pacar Darren lagi, gue tetap ingin dia bahagia menjalani hidupnya.”
“Jadi…”
“Jangan kembali lagi, Cheryl. Lo masih muda, lo bisa menata hidup lo lagi sekeluarnya lo dari sini. Tapi gue mohon… jangan libatkan Darren di dalamnya.”
Cheryl nggak bereaksi, tapi Thalita yakin banget semua kata-katanya sudah meresap ke dalam diri cewek itu. Dan karena semua tujuannya datang ke tempat ini telah terlaksana, Thalita nggak melihat ada gunanya lagi ia tetap di situ.
Ia bangun, dan melangkah pergi meninggalkan ruang tunggu LP wanita itu, dan Cheryl.


“Hmm?” Thalita masih asyik merapikan brosur-brosur tadi. Ia terkagum-kagum melihat ilustrasi yang dibuat oleh perusahaan advertising yang menjadi rekanan mereka. Ilustrasi-ilustrasinya terkesan muda, nggak menggurui, tapi pesannya kena banget deh!
“Nanti malem jadi, kan?”
“Ke bukit Mang Ujang?” tanya Thalita. Sudah lama mereka nggak datang ke bukit tempat mereka melihat bintang dulu itu, dan Darren sudah berjanji mengajaknya ke sana malam ini.
“Iyaaa… jadi, kan?”
“Jadi. Tapi kamu yang bawa makanannya, ya?”
“Yee, dasar nggak mau rugi!”
Untuk kedua kalinya hari ini, Thalita meleletkan lidahnya pada Darren, lalu membawa setumpuk brosur keluar dari ruang sekretariat WHD menuju ruang pimpinan lembaga itu. Kak Isabel, yang masih muda tapi semangatnya benar-benar menginspirasi Thalita untuk semakin memerangi narkoba, adalah ketua WHD. Kak Isabel juga kehilangan pacarnya saat kuliah gara-gara narkoba, tapi ia berhasil bangkit dari situasi itu.
Well, Thalita dan Darren sampai saat ini memang masih berstatus teman. Setahun sebelumnya Thalita disibukkan dengan usaha untuk memulihkan Darren pasca insiden Cheryl, nggak ada waktu untuk cinta-cintaan. Setahun berikutnya, mereka sibuk bareng di WHD, dan masih nggak ada waktu untuk cinta-cintaan. Gimana mau ngomongin cinta? Setiap mereka berduaan, yang dibahas selalu heroin, putaw, sabu, dan lain sebagainya itu! Nggak mungkin dong disambung-sambungin ke masalah cinta?
Mungkin nanti malam, pikir Thalita sambil senyam-senyum sendiri. Darren nggak akan tiba-tiba mengajaknya ke bukit Mang Ujang itu kalau bukan karena dia punya maksud tersembunyi.
Ditambah lagi, beberapa hari lalu Thalita dapat bocoran dari Tatyana yang keceplosan (dan langsung memohon-mohon supaya Thalita nggak membocorkan soal keceplosannya itu pada Darren karena ia nggak mau diomeli habis-habisan gara-gara membuat apa pun yang tengah disiapkan Darren jadi nggak surprise lagi), bahwa Darren memesan lusinan bunga untuk dikirim ke lokasi bukit Mang Ujang tanggal 27 Oktober, yang adalah hari ini, jam tujuh malam.
Entah apa artinya lagi itu, kalau bukan seperti apa yang ada dalam bayangan Thalita sekarang.
Senyum Thalita makin lebar, walaupun ia tahu ada kemungkinan besok bakal bangkrut karena harus membayar pajak jadian pada Acha, Nita, Jennie, Sugeng, dan Tatyana di Poke Sushi atau Sushi Tei.
Kecuali, Darren take over the bill, seperti dulu.
###

0 Response to "Thalita 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified