Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Thalita 2

Santi berdiri di depan pintu rumahnya dengan perasaan galau. Jam segini Mama belum pulang juga, dan entah kenapa Santi jadi khawatir. Padahal ini bukan pertama kalinya Mama pulang larut malam. Malah, sering Mama pulang dalam keadaan mabuk, dan diantar orang-orang yang nggak Santi kenal. Hanya kali ini Santi benar-benar cemas. Bukan cuma karena Mama belum pulang, tapi juga karena sejak kemarin malam Andra belum juga keluar dari kamarnya. Santi terakhir kali melihat Andra masuk ke kamar kemarin malam, dengan ekspresi wajah yang aneh, seperti gusar, tapi bercampur sedih yang mendalam.
Santi nggak berani masuk ke kamar Andra, tapi dia juga khawatir kalau-kalau terjadi hal-hal yang buruk sama kakaknya itu. Itulah kenapa sekarang Santi memutuskan untuk menunggu Mama pulang. Mungkin nanti Mama bisa memanggil Andra keluar dari kamarnya.
Baru dua jam kemudian sebuah sedan mewah yang entah milik siapa berhenti di depan rumah, dan Mama keluar dari dalamnya sambil terhuyung. Santi cepat-cepat membukakan pintu untuk Mama.
“Ma…,” Santi berusaha memulai pembicaraan setelah Mama masuk ke rumah. Kayaknya pembicaraan ini bakal susah, karena Mama sudah dalam kondisi setengah sadar. Siapa yang bisa diajak bicara kalau sudah dalam kondisi teler begitu?
“Hmm…,” gumam Mama nggak jelas. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang keras.
“Kak Andra… udah seharian ini nggak keluar dari kamarnya…”
“So?”
“Aku… aku jadi khawatir…”
Mama mengibaskan tangannya. “Ah, nggak usah sok khawatir kamu. Dia kan udah biasa kayak gitu, hoaaahhhmmmm…” Mama menguap.
“Iya, tapi kali ini aneh banget, Ma. Kak Andra bahkan nggak keluar untuk mandi atau makan. Itu kan aneh banget! Aku cuma takut Kak Andra kenapa-napa…”
“Udahlah, Santi, kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh! Kamu tuh kebanyakan nonton sinetron! Kakakmu nggak kenapa-kenapa! Dan apa kamu yakin Andra ada di rumah? Bisa aja dia keluyuran nggak jelas sama teman-teman brengseknya itu dan nggak pulang!” Mama yang teler jadi senewen, dan mulai mengomeli Santi.


ENAM
Thalita berdiri lemas di samping makam Andra yang baru saja ditutup. Dia sudah nggak bisa meneteskan air mata lagi. Air matanya sudah terkuras habis sejak dia mengetahui Andra meninggal.
Ternyata Andra sudah dua hari meninggal sewaktu jenazahnya ditemukan di kamar. Itu pun karena Santi, yang khawatir karena kakaknya nggak keluar-keluar juga dari kamar, akhirnya menelepon Darius di tengah malam dan meminta cowok itu datang. Darius datang lalu mendobrak pintu kamar Andra karena temannya itu nggak kunjung menyahut walaupun dipanggil berkali-kali. Waktu pintu itu berhasil didobrak, mereka mendapati Andra tergeletak di atas ranjang dengan tangan dan kepala menjuntai ke bawah. Di sampingnya banyak sekali plastik kosong bekas wadah sabu-sabu, juga bong dan jarum suntik. Santi yang histeris langsung pingsan. Terpaksa Darius yang mengurus semuanya, mulai dari menelepon ambulans dan polisi, karena mama Andra terlalu mabuk di kamarnya untuk mengurus itu semua.
Polisi datang kurang dari sepuluh menit kemudian, disusul ambulans yang sirene membuat penduduk yang tinggal sekompleks dengan rumah Andra terbangun. Dari hasil autopsi, Andra diketahui overdosis zat adiktif atau narkoba. Darius yang mendengar hasil autopsi itu cuma bisa menghela napas. Dia nggak pernah menyangka sahabatnya akan berakhir seperti ini. Tapi Darius sadar semua ini adalah kenyataan yang nggak bisa diubah. Dia memutuskan untuk menghubungi papa Andra, juga Thalita, dan beberapa teman dekat mereka.
Selama satu hari jenazah Andra disemayamkan, dan sepanjang itu mamanya terus menjerit memanggil-manggil anak yang selama hidup diabaikannya itu. Santi menangis di bahu papanya, sementara Tante Retno dan Ayu berulang kali meneteskan air mata. Beberapa tetangga datang melayat, tapi tak banyak karena Andra memang kurang disukai tetangga-tetangganya, yang tahu dia tergolong anak berandalan. Yang datang juga sebagian besar ibu-ibu kompleks yang iba pada Santi, dan ingin mengetahui keadaan anak itu. Teman Andra hanya segelintir yang datang, karena sejak Andra menjadi junkies, jumlah temannya juga meluntur sedikit demi sedikit.
Dulu, Andra nggak pernah tau bahwa drugs akan membuat kehidupan sosialnya begitu berantakan. Membuat orang-orang yang dulu menyukainya meninggalkannya



“Ya, ya, Papa tau…” Papa kini duduk di hadapan Thalita, dan menggenggam tangan Thalita lembut, sementara Thalita bisa merasakan pipinya mulai dibasahi air mata. “Pasti berat sekali untuk kamu.”
Thalita mengangguk dalam tangisnya. “Aku kehilangan dia banget, Pa… Aku nggak akan bisa melihat dia lagi…”
“Tapi kamu sudah pernah berusaha untuk menyelamatkan dia, kan? Nggak ada yang perlu kamu sesali, Tha. Kamu sudah mencoba sebisa kamu, tapi Andra sendirilah yang akhirnya memutuskan mengambil jalan seperti ini.”
Kata-kata Papa mirip kata-kata Jennie, batin Thalita pahit.
“Kamu salah jika kamu nggak pernah berusaha membantu Andra. Tapi kamu membantunya, kan? Berapa kali kamu memohon dia untuk masuk rehab, tapi dia nggak pernah nurut? Jangan salahkan dirimu, Tha. Papa tau ini berat, dan Papa nggak akan bilang „I‟ve told you so‟, meskipun sudah sering Papa khawatir Andra akan berakhir seperti ini.”
“Tapi dia…”
“Tha, ada hal-hal yang memang harus terjadi, supaya kamu belajar dari hidup ini. Papa nggak pernah mengharap ini akan kamu alami secara langsung, tapi dengan begini kamu bisa melihat sendiri, apa yang bisa direnggut narkoba. Andra masih muda, dan mungkin saja akan punya masa depan yang cerah jika dia nggak pernah mencicipi drugs. Dia seharusnya tau, kematianlah yang akan menantinya di ujung jika dia masih berurusan dengan barang haram itu. Tapi dia nggak berusaha lari jauh-jauh, dia malah mendekat pada kematian itu.”
Thalita menyusut air matanya perlahan.
“Kehilangan orang yang kamu sayangi, apalagi dengan cara seperti ini, memang berat. Tapi dengan begitu, kamu akan lebih menghargai hidup yang kamu miliki, dan nggak akan mempertaruhkan diri untuk coba-coba narkoba, karena kamu tahu apa yang menunggumu nanti jika kamu melakukannya. Kuatlah, Tha. Papa yakin kamu bisa melalui semua ini.”
Papa memeluk Thalita, dan Thalita merasakan kasih sayang, perlindungan, dan kehangatan, seketika melingkupinya. Ada rasa aman dan damai saat Papa memeluknya, dan ia benar-benar mensyukuri hal itu. Itu membuat jiwanya yang remuk seakan dilekatkan kembali.
* * *
“Tha… ada tamu nih,” panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar Thalita lembut. Thalita masih tetap terdiam di atas ranjangnya, nggak bereaksi.


keranjang berisi buah-buahan di atas meja, yang tadi sama sekali nggak tertangkap mata Thalita.
“Oh,” gumam Thalita, surprised. Nita dan Tatyana aja nggak menjenguk dia, tapi cowok ini… yang bahkan bukan teman sekelas atau teman dekatnya, sengaja datang untuk menjenguk. Darren baik banget. Kalau saja hati Thalita nggak terisi penuh oleh Andra, pasti sudah dari dulu-dulu dia luluh oleh cowok yang satu ini. “Makasih ya… Jadi ngerepotin…”
“Ah, nggak papa. Oya, besok lo udah masuk sekolah belum?”
Thalita menggeleng. “Gue nggak tahu…”
“Tapi lo udah ngerasa baikan, kan? Maksud gue… udah lebih fit?”
“Gue…” Thalita menatap Darren, dan menyadari cowok itu menatapnya balik. Lalu Thalita sadar, keberadaan Darren di dekatnya selalu membuatnya tak bisa menahan diri untuk curhat. Darren seperti… tempat dia bisa menumpahkan perasaannya. Entah kenapa bisa seperti itu.
“Darren, Andra… Andra udah nggak ada, Ren…” Air mata Thalita tumpah tanpa bisa dicegah lagi. Berhari-hari menangis dan menyimpan kesedihannya ternyata membuat cadangan air mata Thalita semakin banyak, dan sekarang semua air mata itu keluar begitu saja di hadapan Darren.
Darren terdiam, seolah Thalita baru saja bicara dalalm bahasa yang nggak ia mengerti. Tapi beberapa saat kemudian Darren menghela napas dalam-dalam. “Gue ikut sedih dengernya, Tha,” katanya kemudian. “Kalau gue boleh tahu, kenapa Andra…?”
“Overdosis,” tukas Thalita sebelum Darren sempat menyelesaikan kalimatnya. “Dan gue merasa… guelah penyebab dia sampai seperti itu…” Thalita sesenggukan.
“Kenapa lo ngerasa gitu?”
“Karena… hari di waktu dia meninggal adalah hari… hari kita ketemu dia di PIM, dan gue mengaku-aku lo sebagai cowok gue…”
Seperti ada yang menghentikan aliran waktu untuk sesaat, karena yang terdengar di ruangan itu cuma sedu sedan Thalita.
“Temen gue, namanya Jennie, bilang itu sama sekal ibukan salah gue… Karena kalaupun Andra kecewa sama gue, dia nggak akan meninggal kalau dia nggak pakai drugs… Jennie juga bilang ini semua salah Andra sendiri, karena dia nggak pernah mau menuruti kata-kata gue untuk rehab. Tapi tetap aja… tetap aja gue merasa bersalah…”
Tangis Thalita semakin kencang, dan Darren terpaksa pindah duduk ke sofa di sebelah Thalita, untuk bisa menenangkan cewek itu.
“Sssttt, Tha, udah ya, udah… Gue tau ini berat banget buat lo, tapi gue percaya, ada rencana Tuhan di balik semua ini. Everything happened for a reason,” kata Darren sambil


Darren cuma bisa menghela napas begitu menyadari hari itu adalah hari Sabtu. Malam Minggu, dan adiknya baru pergi nge-date, sementara dia sendiri kelihatannya bakal menghabiskan malam ini dengan main PSP seperti sebelum-sebelumnya.


* * *
Thalita menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah mal, lalu mengambil tas selempangnya di kursi belakang mobil, dan berjalan menuju pintu masuk mal tersebut.
Udara sejuk dari AC yang ada di dalam mal menyambutnya begitu dia melangkah memasuki mal yang masih terbilang baru di Jakarta itu. Dia melewati beberapa SPG yang menawarinya parfum keluaran paling gres dengan senyum sekilas, dan berjalan nggak tentu arah selama sepuluh menit kemudian.
Thalita sendiri nggak tahu kenapa dia bisa “mendarat” di mal ini, apalagi dengan kondisinya sekarang. Dia nggak tahu mau ngapain di sini, mau beli apa, atau mau ke mana, tapi dia merasa nyaman ada di antara banyak orang. Ini jauh lebih baik daripada pilihan untuk kembali ke kamarnya yang sepi di rumah dan mulai menangisi Andra lagi.
Thalita berjalan terus, dan akhirnya sampai di depan sebuah kafe yang sepi. Ia melihat poster-poster makanan yang terpajang di bagian depan kafe. Fish and chips, tuna sandwich, french fries with lemon sauce… dan entah kenapa perutnya tiba-tiba terasa lapar. Barulah Thalita sadar dia belum makan dari pagi, sementara sekarang sudah jam empat sore.
Akhirnya Thalita memutuskan untuk memasuki kafe itu dan duduk di meja paling pojok, di depan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan jalanan Jakarta yang macet total. Seorang waiter mendatanginya, mengangsurkan daftar menu. Thalita memesan fish and chips dan strawberry milkshake, lalu waiter itu meninggalkannya sendiri.
Jalanan di luar masih macet, mobil-mobil merayap perlahan, seperti iring-iringan siput yang berjalan lambat. Lamat-lamat Thalita mendengar sebuah lagu yang diputar di kafe itu…
Tak kan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri…
Bulu kuduk Thalita meremang tanpa disadarinya. Lagu ini…
Adakah di sana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu kuputar
Kan kutunggu dirimu…
Jantung Thalita berdetak cepat. Dia mengenali lagu ini. Mengenangmu milik Kerispatih, lagu lama yang sudah sering didengarnya sebelum ini, tapi entah kenapa kini terasa benar-benar mengiris. Mengingatkannya kembali pada Andra, bahkan saat Thalita belum benar-benar bisa melupakan cowok itu…
Biarlah kusimpan
Sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi…
Mata Thalita membasah, dan dalam sekejap, air matanya sudah membanjir, membuat waiter yang mengantarkan pesanannya kebingungan. Tapi akhirnya si waiter meletakkan saja pesanan Thalita di meja, dan berlalu pergi dari situ.
Sepuluh menit kemudian, Thalita beranjak pergi dari kafe itu, dengan meninggalkan uang di atas meja, di sebelah piring fish and chips pesananannya yang masih utuh dan sudah dingin. Juga di dekat gelas besar strawberry milkshake yang masih penuh, dengan titik-titik embun yang membasahi bagian luarnya, yang meninggalkan genangan air di atas meja.
Sama seperti genangan air yang tertampung di pelupuk mata Thalita.
* * *
Hari demi hari berlalu, dan tanpa terasa tahun berganti. Desember terlewatkan dalam hujan deras yang mengguyur sepanjang hari. Januari bergulir menjadi Februari, dan tiba-tiba saja Valentine sudah di depan mata. Anak-anak kelas X-5 SMA Persada Bangsa sibuk mempersiapkan acara Valentine mereka dengan pacar atau gebetan masing-masing.
Verina dan Andika bakal merayakan second anniversary mereka tepat Hari Valentine tahun ini. Tatyana dan Sugeng rencananya mau candlelight dinner di salah satu kafe yang terkenal romantis karena lokasinya yang outdoor. Nita diajak pergi cowok yang tinggal satu kompleks perumahan dengannya ke acara V-Day sebuah radio remaja. Sementara Thalita? Memikirkan Valentine akan datang saja dia sudah miris rasanya.
Valentine tahun lalu dia masih berstatus pacar Andra. Mereka pergi ke sebuah pesta kembang api, dan tertawa-tawa bersama. Tapi tahun ini… Andra sudah nggak ada lagi untuk menemaninya. Thalita sendiri, kesepian, pahit…




“Tha, I‟m so sorry to hear that…,” desah Jennie setelah Thalita cerita tentang e-card yang dikirim Andra. “Lo jadi ingat lagi ya, sama dia?”
“Gue memang nggak pernah ngelupain dia, Jen…” Thalita menggigit bibirnya kuat-kuat. Perih, tapi belum seperih hatinya.
“Tapi, gue rasa udah waktunya lo ngelupain dia…”
Thalita melirik Jennie tajam, membuat sobatnya itu salah tingkah.
“Maksud lo apa?” tanyanya tajam.
“Tha, gue bukannya mau menghilangkan Andra dari hidup lo, tapi… kita harus terima kenyataan dia udah nggak ada, kan? Dan lo nggak mungkin kayak gini terus. Lo masih muda, tau. Hidup lo masih panjang. Nggak mungkin lo tetep berkubang dalam keadaan lo yang sekarang.”
“Nggak usah mulai ceramah lagi deh, Jen,” kata Thalita sambil mengibaskan tangannya, seolah dia nggak mau mendengar apa pun lagi yang keluar dari mulut Jennie.
“Gue tahu lo bakal bersifat defensif kayak sekarang. Itu wajar kok, Tha.”
“Gue nggak defensif,” sangkal Thalita ketus.
“Dengan bilang kayak gitu aja lo udah membuktikan lo defensif,” balas Jennie halus, tahu pasti dia bakal memenangkan debat ini. “Ayolah, Tha, lo udah terlalu banyak sedih setahun ini. Kadang-kadang gue nunggu lo menyerah dan memutuskan untuk bahagia lagi…”
Thalita menatap seprai ranjangnya yang bermotif bunga-bunga, berusaha menulikan telinga, tapi kata-kata Jennie barusan telanjur menusuk dalam.
“Tapi…”
“Andra bilang apa di e-card-nya? Walau pelangi menghilang dan hujan datang menggantikan, dia akan selalu ada? Oh… bullshit! Buktinya, sekarang dia nggak ada di sini! Gimana bisa dia menjanjikan hal muluk kayak gitu ke elo, kalau untuk menuruti omongan lo buat masuk rehab aja dia nggak mau?”
“Jen, jangan ngejelekin Andra…”
“Gue nggak ngejelekin, gue cuma bicara fakta kok. Gue dulu nggak benci Andra, tapi kalau ngeliat kondisi lo sekarang, gue jadi benci banget sama dia. Dia hidup, lo sengsara. Sekarang dia udah nggak ada, lo tambah sengsara. Thalita, Thalita… lo tahu gimana cara ngilangin rasa pahit sehabis minum kopi tanpa gula? Makan permen yang manis, bukannya dengan membiarkan rasa pahit itu tetap ada di lidah lo!”
Thalita terkesiap. Jennie kayaknya memang highly trained banget untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang menusuk begini.
“Jadi… menurut lo, gue harus nyari cowok lagi, gitu?”


“Hai,” sapa Thalita sambil menjatuhkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Darren. “Sori gue telat. Biasa, macet.”
“Nggak papa, gue juga baru dateng kok. Eh, lo pesen aja dulu.”
Thalita mengangguk, lalu memesan Copa Banana dan Almonetta, plus segelas Toffee‟O di kasir. Agak maruk sih makan sebanyak itu, tapi mumpung ditraktir! Hihi…
Mereka lalu membahas pertandingan-pertandingan Liga Italia kemarin. Beberapa kali adu debat, tapi kebanyakan Thalita dan Darren senyam-senyum karena ternyata tim yang mereka jagokan sama. Thalita merasa fun banget bisa ngobrol-ngobrol bareng Darren kayak gini lagi. Berbulan-bulan mereka nggak pernah punya waktu untuk seru-seruan kayak gini cuma karena masalah Andra, tapi sekarang Thalita bersyukur banget karena udah mendapatkan teman diskusi bolanya lagi.
Tanpa terasa, pesanan mereka sudah habis semua. Dua jam sudah berlalu, dan Thalita baru sadar setelah melirik jam yang tertera di LCD HP-nya.
“Eh, udah malam,” gumamnya.
Darren mengikuti arah pandangan Thalita. “Iya ya…”
“Ren, makasih ya, gue seneng banget malem ini. Udah lama gue nggak hepi kayak gini, dan gue utang budi sama lo…”
“Ya ampun, Tha, kok ngomong gitu sih? Gue tuh seneng bisa lihat lo balik jadi ceria gini lagi. Tadinya gue kira, gue bener-bener udah kehilangan sosok Thalita yang fun dan asyik kalau diajak ngobrolin bola itu, tapi thanks God, I don‟t.”
Thalita tersenyum kecil, dan dia jadi merasa bersalah karena mendadak teringat tingkahnya pada Darren dulu, padahal cowok ini begini baiknya sama dia. “Gue juga mau minta maaf, soalnya… mungkin lo nyadar, di awal-awal kita kenal, gue seperti menjaga jarak banget dari lo…”
“Iya, sampai-sampai lo nggak ngizinin gue ke rumah lo walaupun itu buat kerja kelompok. Dan waktu mau nraktir lo aja, gue nyaris ditolak,” kelakar Darren. Cowok ini bener-bener easy going, kelihatannya dia nggak pernah pusing akan satu hal pun.
“Maaf ya,” pinta Thalita nggak enak. “Gue kayaknya jutek banget waktu itu, padahal… cewek-cewek lain pasti bakal dengan senang hati tukar posisi sama gue. Dan lo… lo juga pasti nggak pernah ditolak cewek, kan? Sementara gue seenaknya aja…”
“Nggak juga,” potong Darren. “Cewek yang benar-benar gue sayang malah nolak gue habis-habisan.”
Seperti ada yang baru menyumbat tenggorokan Thalita dengan sesuatu, karena mendadak dia jadi speechless. Dia, tanpa sadar, sudah memasuki wilayah privasi Darren. Obrolannya dengan Tatyana berbulan-bulan lalu, tentang cewek yang menolak Darren ini, seperti diputar ulang di depan mata Thalita.
“Eh… sori, Ren, gue sama sekali nggak bermaksud…”



“Makasih ya… Hati-hati di jalan,” kata Thalita sebelum menutup pintu mobil.
“Iya. Eh, Tha?”
“Ya?” Thalita melongokkan kepalanya ke dalam mobil lagi.
“May I try?” tanya Darren, dia menatap Thalita lurus-lurus.
Jantung Thalita berdegup kencang. Apa cowok ini barusan meminta izin untuk mendekatinya? “Try what?”
“Replacing Andra…”
Thalita mengerjap. Dugaannya nggak salah. “Permen manis”-nya sudah ada.
“You may,” jawab Thalita sambil tersenyum, lalu menutup pintu mobil Darren dan berjalan menuju pagar rumahnya.


Darren meringis., lalu mengacak rambut Tatyana. “Makasih ya, Lit. Doain lagi supaya semuanya bisa lancar dan seperti yang lo dan gue inginkan, oke? Dan jangan ngulangin hal konyol itu lagi!”
“Oke!”
* * *
“Thaaaa, ngaku aja deh!”
“Apa sih, Nit???” desis Thalita jengkel. Sedari tadi Nita mengusiknya terus, sampai-sampai dia nggak konsen menyelesaikan latihan Kimia-nya, padahal buku latihan harus dikumpulkan kurang dari sepuluh menit lagi!
“Lo jadian ya, sama Darren? Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan?”
“Nggak!”
“Ihh… ngaku aja kenapa sih? Kan biar gue nggak gangguin lo lagi! Gue penasaran banget, tahu nggak? Mana anak-anak pada tanya semua ke gue! Gue kan keki juga kalau gue bilang nggak tahu, padahal lo sahabat gue!”
Thalita manyun. Memang wajar kalau anak-anak SMA Persada Bangsa curiga dan kepengin tahu, soalnya bisa dibilang Darren dan Thalita sekarang kayak kembar siam. Ke mana-mana mereka nempel terus dan nggak pernah lepas! Yah… lepasnya cuma sekali-sekali sih, kalau Nita minta ditemani ke kantin tapi dia nggak mau jadi obat nyamuk, atau kalau Darren lagi ngumpul sama teman-temannya. Fakta di-mana-ada-Thalita-di-situ-pasti-ada-Darren-dan-sebaliknya itu jelas membuat sebagian besar isi SMA Persada Bangsa blingsatan saking penasarannya. Dan sekarang Nita jadi ikut-ikutan heboh, kayak wartawan infotainment yang kepengin mengorek gosip terpanas.
“Ya ampun, Nita… Ya lo bilang aja kalau gue nggak jadian sama Darren! Kenyataannya gitu kok!”
“Tapi kalo nggak jadian, kok kalian bisa deket banget? Dia pedekate sama lo, ya?”
“Nggak tahu!” jawab Thalita sewot. Tujuh menit sebelum waktu pengumpulan buku latihan.
“Yeee… kok nggak tau? Gimana sih?”
“Aduh, Nit, udahlah… nanti kalau misalnya gue jadian atau apa gitu, pasti lo yang pertama gue kasih tahu kok!”
“Bener?” tanya Nita, dan Thalita melihat mata sobatnya itu berbinar. Haduh, ampun deh anak satu ini!
“Iya! Sekarang diam deh!”
Nita diam, dan Thalita setengah mati berusaha konsen menyelesaikan latihan Kimia-nya. Sayang, dia gagal, karena waktu dia baru mau menulis rumus untuk soal


“Iya, Tatyana juga bilang gitu kok.” Darren menendang batu-batu kecil yang kebetulan berada di depan kakinya. “Jadi… sekarang ini kita bisa dekat bukan karena lo dipaksa Tatyana, kan?” tanya Darren memastikan.
Thalita kontan menggeleng. “Nggak lah, Ren…”
Darren tersenyum, sementara Thalita masih merasa nggak enak dalam hatinya.
“Sebenernya,” lanjut Thalita, “kalau boleh jujur, gue memang dulu awalnya berusaha deketin lo karena disuruh Tatyana. Dia nggak tega lihat lo kecewa terus-menerus sama cewek yang bikin lo patah hati dulu itu. Tapi setelah gue kenal elo… gue justru merasa berterima kasih sama Tatyana. Kalau dulu dia nggak nyuruh gue, mungkin gue nggak akan tahu lo ternyata orang yang menyenangkan banget.”
“Oh, jadi gue nggak kelihatan menyenangkan ya kalo dari luarnya aja?”
“Haha… bukan gitu. Tapi lo kan… cakep. Idola sekolah. Dan biasanya cowok-cowok semacam itu tuh belagu banget. Snob. Gue nggak nyangka aja lo ternyata orang yang care sama temen dan friendly banget.”
Darren tampak terpukau karena Thalita barusan memujinya.
“Tapi sekarang udah ketahuan kan kalo gue humble, nggak sok seperti yang lo bayangin sebelumnya?”
“Itulah. Dan gue senang banget bisa kenal Darren yang humble itu,” kata Thalita lucu, sengaja menekankan suaranya pada kata “humble”.
“Gue juga seneng banget karena lo ngasih gue kesempatan untuk bisa mengenal lo. Makasih ya, Tha.”
Thalita cuma bisa merah padam seperti kepiting rebus waktu dia menyadari tangan Darren sudah melingkari bahunya. Rasanya aneh, tapi juga… hangat. Sama seperti ketika Darren memeluknya sebelum-sebelum ini.
Dengan heran Thalita tersadar, perasaan hangat seperti inilah yang dulu dimilikinya kalau Andra ada di dekatnya. Sekarang ada orang lain yang mampu menghadirkan perasaan yang sama di hatinya setelah Andra nggak ada.
* * *
Darren menghentikan motornya di tepi jalan, tepat di puncak bukit. Thalita turun dari jok motor dan melepas helm teropongnya. Angin dingin menerpa, tapi Thalita nggak sempat menggigil, karena dia sudah keburu melongo saat dihadapkan pada pemandangan indah yang membentang di depannya.
Malam ini Darren bilang mau menunjukkan sesuatu yang indah pada Thalita. Tadinya Thalita bingung “sesuatu” itu apa. Tapi sekarang dia tahu, pasti yang


“Emang kenapa?” tanya Thalita nggak minat. Di sekolah, Nita merongrongnya dengan pertanyaan ini, eh… sekarang di rumah, Acha juga melakukan hal yang sama!
“Ya kan kalau udah jadian, ada pajaknya,” jawab Acha sambil mengedip usil.
Oohh… ternyata ini maksud Acha nanya-nanya! gerutu Thalita dalam hati. “Kalau udah urusan perut aja, dia mau repot!
“Gue belum jadian kok.”
“Ah… jangan bohong!” Acha maju beberapa langkah dan menepuk bahu Thalita kuat-kuat. “Atau lo mau menghindar dari kewajiban nraktir? Jangan harap ya! Dulu waktu gue baru sepuluh menit jadian sama Ruben, lo udah nodong traktiran! Jadi jangan kira sekarang gue nggak akan melakukan hal yang sama!”
“Apaan sih? Orang gue jawab jujur, juga!” Thalita mulai sewot.
“Eh? Jadi bener nih belum jadian? Tapi, Tha, kok gue lihat kalian dekeeettt banget gitu. Dan itu kan… udah hampir dua bulan? Masa Darren masih pedekate sih? Kelamaan tau! Lo bisa keburu basi ntar!”
Thalita terdiam, dalam hati mengakui kata-kata Acha ada benarnya juga. Sudah hampir dua bulan sejak Darren meminta kesempatan pada Thalita untuk menggantikan Andra, tapi sampai sekarang Darren belum nembak juga.
Bukannya Thalita mau buru-buru ditembak sih, tapi kan…
Okeee… sekarang dia memang MENGHARAP Darren bakal segera menyatakan perasaannya. Soalnya, jujur aja nih, Thalita mulai gerah sama pertanyaan orang-orang di sekitarnya soal status dia dan Darren. Dibilang belum jadian, nggak ada yang percaya. Tapi dibilang jadian juga belum, dan Thalita nggak mau sok berkoar-koar. Bisa gawat kan kalau Darren tahu soal ini dan buntut-buntutnya malah ilfil?!
Selain itu… Thalita juga menyadari, dia sudah benar-benar sayang sama Darren. Cowok itu selalu ada di dekatnya saat dia butuh, dan selalu bisa mengerti dia. Seperti menemukan pengganti Andra dalam sejuta kali lebih baik. Dan Thalita nggak bisa membayangkan kalau nantinya dia bakal kehilangan Darren. Sama siapa lagi dia bisa ngobrolin bola sampai berjam-jam? Sama siapa lagi dia bakal menjelajah kafe-kafe seantero Jakarta? Cowok mana lagi yang bisa membawanya ke puncak bukit indah dan menyebut dirinya “istimewa”? Cowok mana lagi kalau bukan Darren?
“Tha! Eeehh… malah ngelamun ini anak!” Acha mengomel. “Darren udah nunjukin tanda-tanda bakal nembak belum sih?!”
“Udahlah, Cha, lo nggak usah heboh gitu deh. Gue nggak mau jadi kepikiran gara-gara semua omongan lo barusan. Gue udah cukup hepi kok sama kondisi gue yang sekarang.”
“Iya sih lo hepi, tapi gue gemeesss! Gimana kalau…”

“Ya udah sabar aja, kaleeee. Darren kan jelas-jelas menunjukkan dia suka sama lo. Perhatian, sering ngajak jalan, dan dia juga terang-terang minta kesempatan ke lo untuk berusaha menggantikan tempat Andra! Itu udah cukup menunjukkan dia suka sama lo, tau nggak? Soal peresmian status sih tinggal masalah waktu. Lo-nya aja yang nggak sabaran!”
“Jadi, gue nunggu aja nih?” Thalita berusaha memastikan sekali lagi, berharap Jennie punya saran yang lebih tokcer. Ngasih guna-guna ke Darren biar cowok itu nggak pedekate kelamaan, mungkin.
“Lhaelaahh… masih nanya? Ya udah tunggu aja! Kecuali lo emang udah ngebet dan mau nembak duluan, gue rasa itu boleh juga.”
“Ih… Jennie! Ya nggaklah! Gue tuh tipe cewek „penunggu‟, tau nggak?”
“Penunggu kuburan? Hwahahaha…!” Jennie terbahak. Thalita jadi manyun. “Udahlah, Neng, nyatai aja, oke? Gue seneng banget ngeliat lo yang sekarang, dan gue jadi berterima kasih juga sama Darren karena udah bikin lo bisa punya semangat hidup lagi. Tapi kalau lo mau nunggu ditembak, ya lo sabar aja… Dalam waktu dekatlah, prediksi gue.”
Thalita terdiam. Malam ini saja sudah dua orang terdekatnya yang mengatakan mereka sangat bersyukur ada cowok bernama Darren di dekat Thalita: Acha dan Jennie. Berarti Darren memang sudah mendapat tempat di hati orang-orang terdekat Thalita. Dan gimana mungkin Darren nggak mendapat tempat di hati Thalita juga?
“Ya udah ya, gue mau tidur lagi nih! Ngantuk! Dadahhh!”
Tanpa menunggu jawaban Thalita lagi, Jennie menutup teleponnya.
“Huuuh! Ya sudahlah… Kok gue jadi pusing gini? Emang gue sekarang sayang banget sih sekarang sama Darren… tapi kok kayaknya gue jadi ngebet gini, ya? Hii… jadi serem sama diri sendiri!” Thalita bergidik, lalu membenamkan diri ke balik selimut. Dalam waktu kurang dari lima menit, dia sudah terlelap.
* * *
Menurut nasihat Jennie, Thalita berusaha lebih sabar kalau ada di dekat Darren. Berulang kali cowok itu menunjukkan gelagat mau nembak, tapi ujung-ujungnya malah dia cuma melakukan tindakan manis, seperti memberi Thalita bunga atau mengajaknya menjelajahi kafe-kafe yang terkenal dengan menunya yang sedap-sedap.
Thalita juga berpikir, bego banget dia kalau malah kepikiran soal kapan-Darren-akan-menembaknya ini terus-menerus, karena bisa-bisa dia jadi nggak menikmati setiap momen bersama Darren.

sebelum acara, apalagi kalau posisi meja tersebut strategis, pasti menghabiskan uang yang nggak sedikit.
“Iya. Habis kalau nggak, ntar kita nggak dapat tempat, lagi. Lo lihat deh, acara belum mulai aja tempatnya udah penuh gini. Kalau gue nggak reservasi, bisa-bisa kita cuma dapat tempat di sana tuh!” Tangan Darren menunjuk ke bagian belakang kafe, yang jelas memiliki tingkat kenyamanan jauh di bawah tempat mereka sekarang.
“Iya sih… tapi kenapa lo reservasi meja paling depan?”
“Mmm… nggak papa sih. Gue cuma pengin mastiin lo dapat tempat terbaik aja,” jawab Darren.
Thalita speechless mendengar jawaban itu. Wow! Dia nggak pernah dapat perlakuan semanis ini sebelumnya!
Sekali lagi waiter datang, dan meletakkan dua botol coke di atas meja, lengkap dengan dua gelas besar berisi es batu. Dia juga meletakkan sekeranjang french fries kuning keemasan yang kayaknya yummy banget.
“Ada pesanan tambahan, Mas?” tanya waiter itu.
Darren dan Thalita sama-sama menatap kartu berisi daftar menu yang ada di atas meja.
“Lo mau pesan, Tha?”
Thalita menggeleng. “Kan udah ada french fries nih.” Dia menuding keranjang mungil di hadapan mereka.
“Ya itu kan cuma camilan. Nanti lo nggak kenyang. Pesan lagi, ya? Mumpung bolanya belum mulai?”
Thalita jadi bingung, dan dia juga nggak bisa menutupi rasa mupengnya melihat tulisan Cajun Calamari, Omelette with Onion and Sausages, Club Sandwich, dan lain sebagainya di kartu menu di hadapannya itu.
“Mmm… kalau gitu Club Sandwich satu deh,” pesannya. Sang waiter dengan sigap mencatat pesanan Thalita dalam notes mungil yang ada dalam genggamannya.
“Saya Cajun aja deh kalau gitu,” Darren ikut memesan.
Waiter itu mencatat sekali lagi, lalu beranjak dari situ. Lima belas menit kemudian dia kembali sambil membawa pesanan Darren dan Thalita, menguarkan aroma sedap yang membuat perut Thalita meronta-ronta.
Begitu sandwich itu terhidang di hadapannya, Thalita langsung melahapnya. Dia nggak ingat lagi untuk memotongnya menjadi potongan kecil-kecil, hal yang PASTI akan dilakukan sejuta cewek jaim lainnya kalau mereka makan semeja dengan cowok seperti Darren. Untunglah, Darren kayaknya nggak keberatan dengan kelakuan Thalita yang selebor itu.


cuci piring juga sekarang berubah jadi berseri-seri, kayak anak kecil yang baru dibelikan es krim satu wadah penuh dan diizinkan menghabiskannya. Dan entah Thalita berhalusinasi saking kagetnya atau apa, dia juga menyadari seluruh waiter di Random Cafe, bahkan beberapa pengunjung yang belum pulang, sekarang menatapnya dengan pandangan berterima kasih karena sudah mengizinkan mereka menyaksikan adegan romantis secara live.
“Ini…”
“Maaf ya, aku sampai harus bikin kamu khawatir kayak tadi,” kata Darren sambil tersenyum.
Thalita bengong mendengar Darren menggunakan aku-kamu dalam kalimatnya. Selama ini kan mereka selalu ngomong pakai lo-gue, kenapa sekarang…? Ah ya, Darren kan baru saja menembaknya. Dan kalau mereka jadian (in case THalita menjawab “ya”), nggak mungkin mereka masih tetap bicara dengan lo-gue, kan?
“Ren, ini…”
“What‟s your answer?”
Thalita menelan ludah. Dia nggak bisa bohong. Sudah beberapa minggu belakangan ini dia menunggu untuk bisa menjawab pertanyaan itu, tapi sekarang, saat pertanyaan itu benar-benar diajukan, rasanya lidah Thalita mendadak kelu… Apalagi, di sekitarnya sekarang penuh dengan orang yang memandangi mereka, yang dengan nggak sabaran menunggu jawaban keluar dari mulut Thalita. Bahkan, Thalita bisa menangkap dengan ekor matanya, di pojok kiri sana ada cewek yang kelihatannya gemas sekali ingin berteriak “YA!” pada Darren. Sayang, cewek itu punya satu masalah. Pertanyaan itu ditujukan pada Thalita, bukan padanya. Jadi, sudah jelas dia sama sekali nggak punya hak untuk menjawab.
“Udaaahhh… terima aja! Lama amiirr jawabnya! Gue mau pulang nih! Ngantuk!” seru seseorang entah siapa dari belakang Thalita. Kayaknya dia nggak sabaran banget menunggu Thalita memberikan jawaban. Celetukan orang itu jelas memancing tawa seisi kafe. Thalita dan Darren sendiri juga nggak tahan untuk nggak nyengir.
Tapi situasi itu cuma berlangsung selama beberapa detik, karena sesaat sesudah itu, Thalita jadi tegang lagi.
“Tha?” panggil Darren. “Kamu… belum bisa ngelupain Andra? Aku belum berhasil menggantikan dia?”
Thalita mengerjap, berusaha setengah mati untuk nggak melakukan tindakan bodoh di sini saking kacau-balaunya perasaannya. Dia jelas nggak mau diingat sebagai cewek yang membentur-benturkan kepalanya di meja kafe karena ditembak seorang cowok charming macam Darren di depan begitu banyak orang, kan?


“Eh, tapi… yang mana sih Darren? Yang mana?” tanya Jennie bingung. Dia memang satu-satunya di antara mereka berempat yang belum tahu tampang Darren.
“Itu… yang pakai polo shirt putih! Yang ceweknya pakai tank top pink!” sembur Acha. Jennie menoleh mencari-cari, lagaknya bak burung elang baru dikasih tahu kandang yang penuh berisi anak ayam.
“Kurang ajar dia! Baru jadian sama Thalita berapa hari udah berani-beraninya selingkuh!” geram Jennie. “Mesra pula sama ceweknya!”
“Iya! Minta dilabrak tu orang!” Acha mengompori. “Biar kita tangkap basah aja dia sekarang!”
“Boleh!” Jennie manggut-manggut. “Tapi, Cha, kita kan mesti mantengin dia dulu. Nanti kalau dia lebih mesra sama tu cewek, baru kita pergokin. Dan lo juga harus ngumpet. Dia kan tahu tampang lo!”
Acha seperti baru tersadar dia baru aja melakukan hal luar biasa bodoh. Dia menyuruh Thalita dan Nita yang tampangnya dikenal Darren untuk sembunyi, tapi dia sendiri masih duduk-duduk tenang pamer wajah di situ. Benar-benar seperti burung unta yang memasukkan kepalanya dalam lubang tapi pantatnya jelas-jelas masih menyembul keluar deh! Tanpa dikomando dua kali, akhirnya Acha menempelkan kepalanya di meja juga. Dia nggak tahu tindakannya itu jadi membuatnya lupa memegangi kepala Thalita. Alhasil, Thalita duduk tegak lagi, dan melihat Darren yang cuma semeter darinya. Darren benar-benar lagi bareng cewek, dan Thalita jadi nggak tau harus berkata apa-apa.
Celakanya lagi, tepat saat itu Darren balik menatapnya.
“Yah… dia lihat gue,” gumam Thalita tanpa sadar. Kepala Acha, juga Nita, langsung menyembul keluar lagi karena mendengar gumaman Thalita.
“Aaahh! Stupid lo, Tha! Dia bisa langsung kabur sebelum kita nge-gep dia!” Acha menonyor kepala kakaknya.
Thalita diam saja, karena dia masih beradu tatap dengan Darren. Anehnya, cowok itu sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda cowok yang salting karena kepergok selingkuh oleh pacarnya.
Dan Thalita baru tau kenapa wajah Darren terlihat begitu innocent, saat dia sadar siapa cewek yang bersama cowoknya itu.
“Thalita! Haaaaiii!” panggil Tatyana, yang langsung melangkah lebar-lebar ke meja Thalita. “Eh! Ada Nita! Hai, Nit!” Dia menyala Nita juga. “Kalian… berempat aja?”
“Cih,” gerutu Acha, kepergok bukannya malu, malah SKSD.”
Thalita melotot mendengar gerutuan Acha.


SEMBILAN
Seperti yang bisa diduga, berita jadian Darren dan Thalita langsung jadi hot gossip di SMA Persada Bangsa. Semua bibir di sekolah itu kayaknya sampai dower membicarakan dua orang itu. Yah, memang sih mereka udah sering melihat dua orang itu jalan bareng, tapi tetap aja fakta kedua orang itu—yang selama ini selalu menyangkal namun akhirnya jadian juga—bikin anak-anak SMA Persada Bangsa heboh.
Alasan lainnya?
3. Darren kan termasuk salah satu most wanted guys di sekolah itu
4. Sementara Thalita cuma cewek biasa. Manis sih iya, tapi jelas masih agak “jomplang” kalau dijejerkan dengan Darren.
5. Selama ini, Darren nggak pernah jadian dengan cewek mana pun, dan terkenal dengan reputasi “freezer kulkas”-nya, jadi sekalinya dia jadian sama cewek, langsung deh bikin heboh.
6. Selain itu, para fans Darren terlihat seperti orang-orang tanpa semangat hidup setelah dapat kepastian idola mereka udah jadian. Hilangnya semangat sebagian besar murid cewek di sekolah itu jelas membuat guru-guru heboh juga melihat keadaan murid-murid mereka. Buntutnya, mereka malah ikut ngomongin Thalita dan Darren.
Thalita benar-benar risi sama semua orang yang membicarakannya itu, dan jadi menyesal karena sudah mengakui terang-terangan pada Gio (Bayangkan! GIO! Sang corong gosip sekolah!) bahwa Thalita dan Darren sudah jadian pada saat cowok itu bertanya. Kesalahan fatal sekali, karena dalam waktu sehari saja, berita itu sudah menyebar ke seluruh sekolah. Reputasi Gio sebagai corong gosip memang nggak perlu diragukan lagi.
“Halooo penganten baruuu!” seru Gio kenes begitu melihat Thalita turun dari boncengan motor Darren. Thalita yakin, Gio sengaja menunggu di parkiran motor ini untuk menggodanya dan Darren. Dasar kurang kerjaan!
“Halo juga seksi publikasi,” balas Darren.
Thalita terkikik. Jelas Darren terganggu juga oleh ulah cowok centil di depan mereka ini. Sayang, Gio kayaknya sama sekali nggak merasa tersindir. Itu terbukti dengan senyumnya yang masih terus mengembang lebar.



“Ke mana sih mereka berdua itu?” Thalita duduk di kursi meja makan dan menopangkan dagunya di tangan. Otaknya berpikir keras.
Masalah apa yang sebegitu beratnya sampai bikin Darren dan Tatyana nggak bisa atau nggak mau diganggu? Apa masalah keluarga?
Thalita terkesiap begitu satu dugaan muncul di kepalanya.
“Apa… nyokap mereka tiba-tiba muncul lagi?” pikir Thalita dengan kening berkerut. Dia tahu betapa Tatyana dan Darren nggak sudi bertemu ibu mereka lagi, dan mungkin perempuan itu tiba-tiba muncul dan mengakibatkan kedua orang itu shock! Siapa tau?
“Ya Tuhan, kalau sampai dugaan gue benar, pantas aja Darren sama Tatyana nggak bisa dihubungi… Mereka mungkin lagi terguncang, dan butuh waktu untuk sendiri…” Thalita mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, lalu menghela napas.
Selama ini, Darren udah menjagi pacar yang baik baginya. Cowok itu sangat pengertian dan nggak pernah memaksa Thalita untuk melakukan apa pun. Mungkin sekarang saatnya Thalita membuktikan dia juga bisa jadi pacar yang baik, dengan membiarkan Darren sendiri untuk sementara. Besok lusa, kalau masih belum ada kabar juga, baru dia akan nekat mendatangi rumah Darren.
Satu yang jelas, cowok itu nggak mungkin lagi mengurung diri di kamar sambil mendengarkan lagu mellow akibat mood yang jelek saat PMS, kan?
Karena orang paling sabar sedunia pun bisa jadi sangat galak kalau diganggu dalam masa PMS. Dan karena kemungkinan Darren mengalami itu nol persen, Thalita bisa sedikit lega. Seenggaknya, dia nggak bakal mendapat sambitan sandal kalau nekat mendatangi rumah cowoknya itu.
* * *
“Tatyana?” Pak Adam celingak-celinguk dari balik buku absensi yang dipegangnya. “Tatyana nggak masuk lagi, ya? Sudah dua hari nih…”
“Nggak, Pak,” nyaris seisi kelas kompak menjawab.
“Sugeng, kamu tahu kenapa Tatyana nggak masuk?” tanya Pak Adam pada Sugeng.
“Nggak, Pak. Dari kemarin saya coba menghubungi HP-nya juga nggak bisa.”
Thalita menatap Sugeng dengan heran. Cowok itu balik menatapnya dan mengedikkan bahu.
Rupanya Tatyana juga nggak ngasih kabar ke cowoknya sendiri, batin Thalita bingung. Ke mana ya Tatyana dan Darren?


Atau… ini berhubungan dengan nyokapnya yang sangat dia benci, makanya dia nggak sudi membahasnya?
Thalita masih penasaran. Dia memutuskan untuk mengajak Tatyana bicara jam istirahat nanti.
* * *
Jam istirahat, Thalita menghampiri bangku Tatyana. Cewek itu masih bertampang nggak bersemangat seperti tadi pagi. Thalita jadi ragu untuk mengajaknya bicara. Gimana kalau mood Tatyana sedang jelek-jeleknya, dan Thalita nanti malah disemprot karena dianggap terlalu pengin tau urusan orang lain?
“Eh, Tha, lo ngapain di situ?”
Thalita tersentak. Tatyana rupanya menyadari dirinya sedang diperhatikan, jadi dia menoleh dan mendapati Thalita berdiri hanya dua langkah dari bangkunya, dengan tampang yang sulit dijelaskan.
“Mmm… eehh, nggak… gue cuma mau nanya kenapa lo nggak ke kantin, hehe…” Thalita cengengesan nggak jelas. Dia sadar basa-basinya barusan parah banget.
“Ah, lo pasti mau nanya-nanya ke gue, ya?” tembak Tatyana langsung. Thalita jadi salting mendengarnya. Ketahuan deh… Tapi baguslah, dia jadi nggak perlu susah-susah menjelaskan maksudnya lagi pada Tatyana.
“Iya sih sebenernya. Itu pun kalau boleh…”
“Darren nggak cerita ke lo?”
Thalita menggeleng. Itulah kenapa gue pengin tau dari lo, Na, Thalita membatin.
Tatyana terlihat menghela napas. “Anak itu! Padahal gue udah bilang sama dia supaya jujur sama lo, tapi ternyata dia bener-bener keras kepala! Gue nggak habis pikir kenapa dia bisa segitu nyebelinnya!”
“Jujur… soal apa?”
“Emang dia bilang apa ke lo waktu lo tanya kenapa dia nggak masuk tiga hari kemarin?”
“Dia… dia bilang itu nggak usah dibahas, soalnya yang penting kan dia udah masuk lagi sekarang.”
Tatyana langsung cemberut mendengar itu. Malah, dia melengos.
“Na, lo… mau nggak jelasin ke gue apa yang sebenernya terjadi? Kenapa lo sama Darren nggak masuk tiga hari? Kenapa kalian juga nggak bisa dihubungi?”
Tatyana terlihat seperti baru menelan sesuatu yang mengerikan. Wajahnya tiba-tiba pucat.


Darren terdiam, wajahnya tiba-tiba memucat. Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.
“Sebenarnya tiga hari itu kamu ke mana?” desak Thalita. “Aku bisa ngerti kalau kamu jadi kayak gini karena kamu ada masalah atau apa, tapi seenggaknya kamu cerita ke aku dong. Aku itu bingung sama sikapmu…”
Thalita nggak berniat menangis, tapi ternyata air matanya menitik begitu saja di luar kendalinya. Mungkin inilah puncak rasa kesalnya pada perubahan Darren. Dia nggak tahan penasaran lebih lama lagi. Pokoknya hari ini dia harus mendesak Darren untuk menjelaskan semuanya. Harus!
“What you don‟t know won‟t hurt you, Tha…”
“Oohh… bullshit! Apa pun itu, nggak akan lebih melukai aku daripada sikapmu yang aneh belakangan ini!”
“Kamu yakin kamu mau dengar apa yang terjadi sebenarnya?”
Sesaat tiba-tiba ada perasaan takut menyusup dalam hati Thalita. Kenapa Darren bilang Thalita akan terluka setelah mendengar penjelasan dari cowok itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia benar-benar bisa menerima apa pun penjelasan Darren nanti? “Aku nggak akan kenapa-kenapa. Kamu cerita aja.”
“Oke. Hari pertama aku menghilang tanpa kabar itu, sebenarnya aku udah mau berangkat untuk jemput kamu, tapi waktu aku keluar dari rumah… di depan pintu udah ada Cheryl…”
“Cheryl…?” Thalita memutar otaknya.
Cheryl adalah… cewek yang membuat Darren patah hati sampai dia tanpa sadar jadi “dingin” pada cewek-cewek lain.
Cheryl adalah… cewek yang Darren kira bisa membuatnya lupa dengan kekecewaannya pada ibunya yang berselingkuh, tapi ternyata malah membuat luka hatinya makin dalam.
Cheryl adalah… cewek yang menantang Darren mencoba drugs…
“Ngapain… ngapain dia ke rumahmu?” suara Thalita bergetar.
Ingatan Darren kembali pada hari itu, saat dia nyaris terlonjak mendapati Cheryl di depan rumahnya. Seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
* * *
“Mau apa lo ke sini?” tanya Darren dengan suara tercekat karena menahan marah.
“Gue butuh ngomong sama lo,” jawab Cheryl tanpa beban.
Darren hanya bisa melongo mendengar jawaban itu. Lebih-lebih lagi, dia kaget banget melihat Cheryl, yang penampilannya sudah sangat berbeda dengan yang terakhir diingatnya.


“Oh ya, udah jelas sekarang, lo masih suka sama dia. Thalita cuma mainan aja buat lo, lo nggak pernah benar-benar sayang sama dia, ya kan? Gue jadi menyesal udah membuatnya kenal sama cowok brengsek kayak lo!”
* * *
“Jadi…” Thalita seperti kehabisan napas. “Apa kamu…”
“Cheryl tetap datang ke rumah selama tiga hari berturut-turut, dan aku nggak tega melihatnya kayak gitu, Tha… Dia udah berusaha keras demi aku, dia…” “Lalu aku? Aku harus gimana?”
Darren menatap Thalita, nanar. “Kalau aja aku benar-benar bisa memilih di antara kalian. Dia orang yang pertama aku sayangi, Tha… Tapi aku juga sayang sama kamu…”
“Stop, Darren! Stop! Kamu tinggal bilang, siapa yang kamu pilih. Kalau kamu memilih Cheryl, aku…”
“Tha, kamu nggak ngerti… Ini sulit banget buat aku… Coba kamu bayangin ada di posisi aku. Saat kita pacaran, lalu… lalu seandainya Andra datang ke rumahmu dengan kondisi yang sehat, dan dia bilang dia masuk rehab demi kamu, dan dia sembuh, siapa yang akan kamu pilih?”
“Tentu saja aku milih kamu!” teriak Thalita histeris. “Andra boleh aja masuk rehab demi aku, dia boleh aja sembuh, tapi dia nggak ada saat aku butuh dia! Kamu yang ada! Itu saja sudah cukup untuk menunjukkan siapa yang benar-benar sayang sama aku!”
“Tapi kalau Andra sembuh demi kamu, apa kamu…”
“Udah, Ren, cukup! Kalau itu semua cuma alasanmu supaya aku mengerti kenapa kita harus putus, aku terima. Sekarang kamu bebas. Kamu boleh kembali ke Cheryl, atau ke cewek mana pun, terserah kamu.”
Setelah mengatakan itu, Thalita membuka pintu mobil Darren, dan turun dari mobil. Dia berjalan menuju halte busway terdekat dengan mata berlinang. Air matanya makin deras begitu dia menyadari Darren sama sekali nggak menyusulnya, apalagi mengatakan dia memilih Thalita dan bukannya Cheryl. Cowok itu malah berlalu pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Thalita yang sakit hati dan terduduk lemas di halte. Sakit hati yang lebih parah dibanding yang pernah dibuat Andra padanya dulu.
* * *



0 Response to "Thalita 2"

Post a Comment